Setan Harpa Jilid 25

Jilid 25

TIBA-TIBA gadis itu tertawa dingin. Paras muka Ong Bun kim segera berobah hebat, suara tertawa itu dirasakan sebagai suatu penghinaan yang besar baginya, dengan suara keras segera bentaknya: "Apa yang kau tertawakan?"

"Plak! Plok!?" dua tempelengan tahu tahu sudah disarangkan ke wajah Kim losat.

Kedua tamparan tersebut keras sekali sehingga membuat Kim lo sat mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan, dengan sinar mata tercekat ia mengawasi wajah Ong bun kim tanpa berkedip.

"Ku Pek hoa!" bentak Ong Bun kim dengan suara keras, "jangan kau anggap aku tak sanggup membunuhmu, aku tidak membunuhmu kini lantaran aku tidak tega, kalau kau masih menganggap diriku sebagai suamimu, tidak seharusnya kau lakukan perbuatan yang justru merugikan aku, Ku Pek hoa! Aku Ong Bun kim bersedia mengampuni selembar jiwamu, aku berharap kau bisa bertobat dan kembali ke jalan yang benar."

Setelah berkata dia lantas membbalikkan badan ddan berlalu darai situ.

Hati kebcil Ong Bun-kim sedang menitikkan air mata, ia tak bisa melukiskan betapa sedihnya perasaan hatinya waktu itu, seakan-akan baru pertama kali ini dia menjumpai persoalan yang sedemikian peliknya sehingga membuat peningnya kepala.

Memandang bayangan punggung Ong Bun kim yang berjalan keluar dari pintu, Tan Liok menghela napas panjang, gumamnya:

"Aiii ! Rupanya dia adalah seorang pemuda yang baik hati!" Berpikir sampai disana dia lantas mengikuti Ong Bun kim berjalan keluar dari ruangan itu.

Setelah mengundurkan diri dari ruangan, Ong-Bun kim menyaksikan para anggota Hui mo pang yang berada di ruang tengah telah berdiri berjajar dengan kesiap siagaan penuh, dari sikap mereka itu dapat diketahui bahwa orang- orang itu bermaksud untuk menghalangi jalan pergi mereka berdua.

Paras suka Ong Bun kim segera berubah hebat setelah menyaksikan kejadian itu, bentaknya.

"Hayo minggir, apakah kalian semua kepingin mampus?"

Nenek berbaju biru yang rupanya merupakan pimpinan dari rombongan itu segera tertawa dingin, sahutnya.

"Jika tiada ijin dari pangcu, jangan harap kalian berdua bisa pergi meninggalkan tempat ini."

Hawa napsu seketika menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, bentaknya.

"Jadi kaiian benar-benar ingin mampus?" "Benar!"

Baru saja Ong Bun kim akan turun tangan, tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara dari Kim lo sat: "Minggir semua!"

Dengan hormat para jago dari Hui mo pang mengiakan, kemudian pelan-pelan menyingkir ke samping dan membuka sebuah jalan lewat.

Ong Bun kim memandang sekejap ke arah Kim losat, ia saksikan sepasang pipinya itu merah membengkak dan jelas kelihatan bekas telapak tangannya yang membekas dipipi

Dengan suara dingin gadis itu berkata: "Disekeliling markas besar kami penuh dengan penjagaan yang berlapis-lapis, sekalipun kekuatan mereka masih belum terpandang sebelah mata oleh kalian, tapi hal mana sudah jelas akan merupakan sesuatu yang merepotkan, hayolah, akan kuhantar kalian berdua sampai diluar pintu gerbbang sana!"

Seldesai berkata, taidak menanti jabwaban dari Ong Bun kim lagi, dia membalikkan badan dan berjalan lebih dulu menuju keluar.

Tampaknya gadis itu telah mengalami banyak perubahan, ia berubah menjadi begitu menyedihkan mengenaskan.

Dipimpin olehnya, benar juga, sepanjang jalan Ong Bun kim tidak menjumpai halangan apa apa, secara mudah mereka sudah tiba di luar tebing tersebut.

"Sekarang kalian berdua boleh melanjutkan perjalanan sendiri!" kata Kim lo sat sambil tertawa dingin.

Ong Bun kim memandang sekejap ke arahnya, bibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian di batalkan, akhirnya dia membalikkan badan dan berlalu dari sana.

Tan Liok mengikuti di belakang Ong Bun-kim dan dengan cepat telah berlalu dari sana.

Setelah turun dari bukit Thia gau san, Tan liok baru menegur:

"Bagaimana Ong Bun kim?"

Ong Bun kim menghela napas sedih.

"Aai ! Tak usah disinggung lagi" sahutnya. "Aku toh sudah bilang, kau tak akan tega membunuhnya? Sekarang percaya bukan? Ku Pek-hoa memang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan."

"Locianpwe, kau jangan menggoda aku lagi" "Tidak, aku berbicara sejujurnya!"

"Aku tidak tega membunuhnya bukan karena cantik, tapi aku ingin memberi kesempatan sekali lagi kepadanya agar bertobat"

"Kalau memang demikian buat apa kau datang kemari.?" "Aaai..."

Selain menghela napas panjang dengan suara dalam, apalagi yang bisa diucapkan oleh Ong-Bun kim? Dia seharusnya membunuh gadis itu, tapi ia tak tega untuk melakukannya.

Ucapan dari ketua Hiat hoo pay tiba-tiba merasa mendengung kembali disisi telinganya.

"Kau bisa membunuh orang lain, mengapa tak bisa membunuh istrimu sendiri ?"

Ong Bun kim merasa batinnya saling bentrok sendiri, dia merasakan suatu siksaan penderitaan dan kepedihan yang luar biasa akibat dari persoalan itu.

Setelah menghela napas panjang, akhirnya dia bergumam.

"Aku Ong Bun kirm bukan seorangt yang luar biasqa." "Benar, kaur memang bukan orang luar biasa, sekalipun

aku menjadi dirimu mungkin aku juga sulit untuk turun tangan.

Sekali lagi Ong Bun kim menghela napas panjang. "Sekarang kan hendak kemana?" tanya Tan Liok kemudian.

"Entahlah...." Ong Bun kim menggelengkan kepalanya berulangkali.

"Semestinya kau harus mendirikan perguruan Sin kiam - bun pada saat ini !"

"Baiklah, tapi dimanakah aku harus mendirikan perguruan itu?"

"Mengapa tidak di gua Bu cing tong?"

Ong Bun kim termenung sebentar, kemudian mengangguk juga.

"Baiklah, tapi kita akan mendirikannya kapan?"

"Lebih baik memilih hari baik, bagaimana kalau tanggal lima bulan lima saja? Asal berita akan didirikannya perguruan itu disiarkan ke dalam dunia persilaan, sudah pasti akan banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk menjadi anggota."

Ong-Bun kim lantas mengangguk, memang itulah yang dipesankan Hek mo im didalam surat wasiatnya, sebagai orang yang memperoleh pedang tersebut, mengapa ia tidak menurutinya?"

"Baiklah, mari kita berangkat ke gua Bu cing tong lebih dulu, di sana. kita menyusun rencana lagi kemudian baru disiarkan ke dalam dunia persilatan!"

"Begitupun baik juga!"

"Kalau begitu mari kita berangkat!"

Dua orang itu segera menggerakkan badannya berangkat menuju ke bukit Thian mo-san.

Mendadak... Dikala mereka berdua sedang melakukan perjalanan itulah, dari kejauhan sana terdengar seseorang membentak keras, suara tersebut berkumandang datang dari kejauhan sana.

Ong Bun kim serta Tan Liok yang mendengar suara itu menjadi tertegun.

Pada saat itulah tampak sesosok bayangan putih sedang berlarian mendekat dengan langkah sempoyongan, Ong Bun kim segera tahu bahwa orang int tentulah korban yang sedang dikejar orang, tanpa terasa ia berhenti berlari.

Dalam waktu singkat, bayangan putih itu sudah berada lebih kurang satu kaki dihadapan Ong Bun kim, pemuda itu dapat melihat jelas raut wajahnya sekerang, ternyata dia adalah seorang nyonya berusia tiga puluh tahunan yang berwajah cantik.

Noda darah masih mengotori ujung bibirnya dan keadaan tersebut dapat diketahui bahwa luka yang dideritanya tidak enteng.

Ong Bun kim tidak kenal siapakah perempuan cantik berbaju putih itu, dengan cepat dia melejit ke depan dan menghadang jalan perginya perempuan tersebut seraya menegur:

"Kenapa kau?"

Ketika menyaksikan ada orang menghadang jalan perginya, perempuan cantik berbaju putih itu menjerit keras.

Ditengah jeritan kaget yang melengking itu, secara beruntun tubuhnya mundur tiga empat langkah dengan sempoyongan. "Siapa kau ?" tegur Ong Bun kim lagi. "siapa yang sedang mengejar dirimu?"

"Ada beberapa orang hendak memperkosa aku...!" jawab perempuan berbaju putih itu ketakutan.

Mendengar jawaban tersebut, paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat, serunya keras:

"Sungguhkah perkataanmu itu?" "Sungguh!"

"Siapa yang hendak melakukan perbuatan biadab itu?" "Orang..orang-orang Yu leng bun..."

Begitu mendengar "Yu leng bun" tiga patah kata, hawa napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, serunya kemudian.

"Kau tak usah kuatir. selama aku berada disini, jangan harap ada orang yang bisa melaksanakan niatnya!"

Dia lantas menarik perempuan cantik berbaju putih itu kebelakang tubuhnya sementara sorot mata yang tajam segera dialihkan ketempat kejauhan sambil berjaga-jaga.

Tiga sosok bayangan manusia berbaju abu abu, dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.

Si perempuan cantik berbaju putih yang berdiri dibelakang Ong Bun kim itu mendadak mengayunkan tangan kanannya, kemudian dengan kecepatan luar biasa menotok jalan darah di punggung Ong Bun kim.

Tindakan siperempuan cantik bebrbaju putih yandg secara tiba-taiba melancarkanb sergapan maut terhadap Ong Bun kim ini sungguh jauh diluar dugaan siapa saja. Tan Liok maupun Ong Bun kim sedang mengalihkan perhatiannya untuk mengawasi bayangan manusia yang sedang meluncur tiba itu, mana mereka sangka kalau perempuan tersebut bakal berbuat begitu, terdengar dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, tahu- tahu Ong Bun kim sudah roboh terjengkang ke atas tanah.

Tan Liok menjadi tertegun, serunya kemudian: "Kau. "

Belum habis kata-kata tersebut, perempuan cantik berbaju putih itu sudah merangkul tubuh Ong Bun kim kedalam pelukannya

"Kau betul-betul seorang perempuan yang berhati kejam!" bentak Tan Liok dengan suara keras.

Sambil menggerakkan tubuhnya ia lantas menubruk ke depan, sebuah pukulan dahsyat dengan cepat dilontarkan ke depan.

Tapi sebelum ancaman tersebut sempat menghembus keluar, perempuan cantik ber baju putih itu telah- mengancam.

"Apakah kau sudah tidak menginginkan nyawa Ong Bun kim lagi?"

Tan Liok terkesiap buru-buru ia menarik kembali serangannya sambil melompat mundur.

Sinar mata yang penuh pancaran hawa napsu membunuh segera mencorong keluar dari balik matanya, dengan geram ia membentak.

"Apakah kau mempunyai dendam dengan Ong Bun kim?"

"Yaa, benar! Aku dengannya memang mempunyai dendam kesumat yang lebih dalam dari pada samudra!" Sementara pembicaraan sedang berlangsung, ketiga  sosok bayangan manusia itu sudah tiba didepan mata, ternyata mereka adalah Tay khek Cinkun, Phang Pak bun serta Thia Eng.

Ketika sinar mata mereka bertiga dapat menangkap apa yang terjadi disana, kontan saja ketiga orang itu menjerit tertahan.

Sambil tertawa dingin perempuan cantik berbaju putih itu mengejek:

"Tay-khek Cinkun kau tidak mengira bukan kalau aku bakal memperoleh seorang penolong?"

Tay khek Cinkun segera mengalibhkan sinar matadnya ke wajah Taan Liok, setelahb merenung sejenak, tegurnya.

"Sebetulnya apa yang telah terjadi?"

"Dia membohongi kami dengan mengatakan ada orang hendak memperkosanya, kemudian menggunakan kesempatan disaat Ong Bun kim tidak siap, ia telah menyergapnya"

Dengan geramnya Tay khek cinkun meng-gertak gigi erat erat.

"Ciu Li li!" teriaknya, "jika kami tidak merobek kain cadarmu sehingga Ong Bun kim tidak kenal  denganmu, hari ini kau sudah pasti akan mampus ditangan kami."

000OdwO000

BAB 79

"AAAh. jadi dia yang bernama Ciu Li li" seru Tan Liok dengan perataan terkejut, "bukankah dia sudah terjatuh kejurang? Mengapa tidak mampus. ?" Sementara itu Ciu Li li telah tertawa dingin katanya.

"Heeehh.......heeehb heeohh........ tidak kalian sangka bukan, justru karena perbuatan kalian merobek kain cadarku, selembar jiwaku justru berhasil diselamatkan."

"Kau hendak lepas tangan tidak?" bentak Tan Liok kemudian.

"Tidak!"

"Kubunuh dirimu !"

Sambil membentak tubuhnya menerjang maju kedepan kemudian secepat sambaran kilat meluncur kehadapan Ciu Li li sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Tapi begitu Tan Liok melepaskan serangan, Ciu Li li segera mengancam dengan suara keras.

"Kau benar-benar sudah tidak maui nyawa Ong Bun kim?"

Ancaman tersebut diucapkan dengan penuh mengandung hawa napsu membunuh, membuat siapa saja yang mendengar merasakan bula kuduknya pada bangun berdiri.

Menghadapi ancaman seperti ini, Tan Liok terpaksa harus mengurungkan serangannya dan mundur kebelakang.

"Crrriiing !" menggunakan peluang itu Ciu Li li segera meloloskan pedang sin kiam dari saku Ong Bun kim kemudian menempelkan mata pedang diatas tubuh si anak muda tersebut, bentaknya dingin.

"Bila kalian berani turun tangan, dia akan segera mampus diujung pedang sakti ini!" Oleh keadaan yang ter bea tang di depa n mata, semua orang menjadi tertegun d a n tik maaaan berbuat rapa api lagi.

Ctiu Li li memangq seorang perempruan yang licik dan lihay, dikala ia menemukan bahwa Ong Bun kim tidak mengenali dirinya sebagai Ciu Li li, dengan cepat dikarangnya suatu cerita untuk menjebak si anak muda itu.

Selama ini Ong Bun kim seIalu menjumpai Ciu Li li dengan wajah berkerudung, darimana mungkin ia bisa menyangka kalau orang yang berwajah cantik itu bukan lain adalah Ciu Li li dengan wajah aslinya?

"Ciu Lili, mau apa kau sekarang?" tegur Tay khek cin kun kemudian dengan suara dingin.

Ciu Li li tertawa dingin, sahutnya:

"Asal kalian tidak turun tangan, akupun tak akan membinasakan dirinya."

Saking gusarnya hampir meledak dada beberapa orang itu, akan tetapi mereka tak berani turun tangan secara gegabah, kalau tidak bila Ciu Li li ingin membunuh Ong Bun kim maka hal ini akan dilakukannya dengan gampang sekali.

Ciu Li li memandang sekejap sekeliling arena, kemudian katanya.

"Untuk sementara waktu Ong Ban kim akan kubawa pergi, siapa berani menyusul diriku, maka orang pertama yang bakal menjadi korban adalah dia!"

Selesai berkata, sambil mengempit tubuh Ong Bun-kim, dia lantas berlalu lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Oag Ban kina t e 1 a b menjadi tuan r*eno longnya ketika d'a pergi meninggalkan tempat tersebu.t a n t o k sesaat tak seorang pon diantara Tan Liok sekalian yang berani melakukan penge jiran.

Ciu Li li segera melarikan diri terbirit-birit, dalam waktu singkat ia sudah berlari setengah li jauhnya, tiba-tiba ia berbelok ke arah timur, kemudian setelah berlarian setengah li lagi, tiba-tiba ia berbelok ke arah barat.

Ia sengaja berbuat demikian agar bisa meloloskan diri dari pengejaran Tay khek Cinkun sekalian:

Setelah berlarian beberapa puluh li jauhnya, dalam waktu singkat tibalah perempuan itu didepan sebuah hutan yang luas dan lebat, akhirnya dia pun menghentikan larinya.

Dia harus mencari suatu tempat yang aman lebih dulu untuk menyembuhkan luka yang dideritanya, kemudian baru menyusun rencana berikutnya..

Setelah mengawasi sekitar tempat itu, akhirnya dibalik sebuah hutan tak jauh dari situ, ia menemukan sebuah kuil kuno bobrok, dengan cepat tubuhnya meluncur kesana.

Kuil itu tidak terlalu besar, tapi debu setebal beberapa inci telah menyelimuti seluruh permukaan tanah, keadaan didalam rumahpun sama banyak yang rusak sehingga keadaannya tampak mengenaskan sekali.

Ciu Li li membaringkan tubuh Ong Bun kim didepan ruangan, pedang Sin kiam tersebut masih tetap ditempelkan didepan dada Ong Bun kim.

Dia harus berjaga-jaga terhadap segala hal yang-tak diinginkan, dia tak mau dirinya bakal disergap orang dikala sedang menyembuhkan luka yang dideritanya.

Maka dengan cepat dia mengeluarkan sebuah pil dan ditelan kedalam perut, setelah itu matanya dipejamkan dan mengatur pernapasan untuk menyembuhkan luka yang dideritanya itu.

Sementara itu Ong Bun kim masih tergeletak tak sadarkan diri dalam ruangan tersebut.

Lebih kurang satu jam kemudian, luka yang dideritanya telah sembuh, perempuan itu kelihatan lebih cantik dan merangsang hati kaum lelaki yang memandangnya.

Berbicara yang sebenarnya, Ciu Li li memang seorang perempuan yang berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan

Dia memandang sekejap kearah Ong Bun-|im, kemudian tertawa dingin, senyuman itu mendatangkan suatu perasaan yang sukar di lukiskan dengan kata-kata, apa yang dia pikirkan? Dan apa pula yang dia hendak lakukan? Rasanya susah diduga.....

Tiba-tiba tangannya bergerak membebaskan totokan jalan darah tidur Ong Bun kim kemudian merubahnya menjadi totokan pada jalan darah kaku.

Pelan-pelan Ong Bun kim sadar kembali dari pingsannya, dia menggerak-geralan kepalanya seperti sudah tidak teringat lagi olehnya apa gerangan yang telah terjadi.

Ketika sinar matanya dialihkan kewajah Ciu Li li, paras mukanya segera berubah hebat, tiba-tiba saja ia menjadi teringat kembali apa yang telah terjadi. Dengan suara keras segera bentaknya.

"Kau kah yang turun tangan menyergap diriku. ?"

"Benar !" "Siapa kau?" "Ciu Lib li!". "Apakah... kau adalah Caiu Li li?" "Benbar!"

Tak terlukiskab rasa kaget Ong Bun kim setelah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka kalau perempuan itu adalah Ciu Li li, tak heran ketika berjumpa tadi perempuan itu sempat menjerit kaget.

Berpikir sampai disitu. Ong Bun kim segera tertawa dingin, serunya ketus.

"Sungguh tidak kusangka kau belum mampus!"

"Hmm! Kau anggap aku bakal melompat ke dalam jurang apabila sebelumnya didasar jurang itu belum kupasang jaring penyelamat?Haaahhh... haahh... haaahhh... dalam hal ini, mungkin kejadiannya jauh diluar dugaan kau bukan?"

"Benar, peristiwa ini memang benar-benar berada diluar dugaanku !"

"Dan sekarang, kau telah terjatuh kembali ditnnganku!" "Apa yang hendak kau lakukan?" seru Ong Bun kim

dengan paras muka berubah.

Tiba-tiba Ciu Li li tertawa cekikikan dengan genitnya, suara tertawanya itu penuh dengan daya pikat yang mempersonakan hati orang, sambil mengerling genit perempuan itu mulai memperlihatkan gerak-geriknya yang jalang.

Ong Bun kim belum pernah berhadapan dengan perempuan sejalang ini, sekeras-kerasnya iman anak muda ini, tak urung berdebar juga hatinya...

Ciu Li li segera menarik kembali senyumannya, kemudian berkata: "Apakah kita boleh berbicara lebih dulu?"

Tanpa sadar Ong Bun kim merasakan sekujur badannya bergidik, dia tahu perempuan yang dihadapannya sekarang adalah seorang perempuan cabul yang sudah terkenal di seantero jagad, ia pun bisa menduga apa yang hendak dilakukan perempuan tersebut terhadap dirinya.

Berpikir apa yang bakal menimpa tubuhnya Ong Bun kim sungguh merasakan hatinya terkejut.

Dengan cepat dia berusaha untuk menenangkan hatinya, kemudian membentak keras.

"Apa yang hendak kau bicarakan?"

"Membicarakan apa soal dirimu, juga membicarakan soal ayahmu, tahukah kau dimasa lalu aku amat mencintai ayahmu?"

"Aku tahu!"

"Tapi ayahmu telah menolak cintaku mentah- mentahan!"

"Maka, kaupun menggunakan pelbagai cara dan akal keji untuk mencelakai jiwanya!"

"Tepat sekali !"

Setelah tertawa hambar, terudsnya:

"Wajahmu mirip sekali debngan ayahmu..."

Mendengar ucapan tersebut, sekali lagi Ong Bun-kim merasakan sekujur badannya bergetar keras, dengan pandangan terkesiap dia awasi wajah Ciu Li-li lekat-lekat.

Ciu Li-Ii segera tertawa jalang, serunya: "Jika aku bisa bermain cinta denganmu pada malam ini, rasanya kejadian ini sudah cukup untuk mengobati rasa rindu dan cintaku kepada ayahmu...!"

"Apa? bilang apa?" teriak Ong Bun kim keras-keras, sekujur badannya bergetar keras..

Kembali Ciu Li li tertawa jalang.

"Mengapa kau harus terperanjat? Sekalipun kita akan bermain cinta semalan suntuk, toh kejadian ini tak akan merugikan dirimu.

"Kau...kau..." saking terperanjatnya Ong Bun kim sampai tak mampu mengucapkan kata apapun.

Tiba-tiba Ciu Li li membungkukkan badan dan mencium bibir Ong Bun kim dengan hebat.

Waktu itu jalan darah Ong Bun kim telah tertotok, dia tak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah dan  memberikan apa saja yang iendak dilakukan perempun jalang itu terhadapnya.

"Sudah pernah melakukan permainan sorgawi yang penuh kenikmatan itu. ? "bisik perempuan itu lagi.

"Kau. kau tak tahu malu!"

Ong Bun kim mencaci maki kalang kabut, tapi Ciu Li li tidak menggubris, dia malah mencium pemuda itu semakin bernapsu.... untuk sesaat lamanya Ong Bun kim menjadi susah bernapas...

Luapan napsu birahi yang membara mulai menyelimuti wajah Ciu Li li yang jalang itu, seluruh bagian tubuhnya mulai memancarkan gairah napsu seks yang merangsang hati orang, ia mulai gemetar keras dan merangkul badan pemuda itu dengan penuh napsu.

"Minggir kau!" bentak Ong Bun-Kim. Sekalipun pemuda itu sudah berusaha untuk membentak dan memaki, sayang tubuhnya sama sekali tak berkekuatan untuk mendorong tubuh Ciu Lili yang telah menindih diatas tubuhnya itu, badannya yang momok dan lembut itu bagaikan baranya api menindih tubuhnya rapat-rapat.

Perempuan cabul yang sudah mulai diliputi oleh napsu birahi itu telah bersiap sedia untuk melangsunrgkan permainan yang paling nikmat di dunia berrsama korbannya...

"Ong Bun kim, bersediakah kau menemani ku melangsungkan permainan surgawi ini..?" gumamnya seperti orang mengigau.

"Kentut busuk!"

Ciu Li li tertawa hambar, dari sakunya dia mengeluarkan sebuah sapu tangan kemudian diayunkan dihadapan Ong Bun kim.

Dengan cepat Ong Bun kim mengendus bau harum aneh yang merangsang tubuh.

"Aduh celaka!" pekiknya dengan perasaan terkejut.

Tapi waktu itu jalan darahnya sudah tertotok, diapun tak sanggup untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan tersebut, ketika bau harum yang sangat aneh itu mulai menyusup ke dalam tubuhnya. Ia mulai merasakan timbulnya sesuatu perasaan yang aneh sekali didalam badannya. Kobaran napu birahi pelan-pelan mulai membara dalam tubuhnya.

Pada akhirnya Ciu Li-li telah menggunakan cara yang paling keji untuk menjebak Ong Bun kim kedalam perangkap napsu cabul. Kesadaran Ong Bun kim lambat laun semakin mundur, ia mulai dikuasahi oleh napsu birahi yang berkobar makin lama semakin ganas.

Ciu Li li tertawa semakin cabul, ia tahu bahwa usahanya untuk melalap pemuda itu segera akan tercapai....

Mendadak sepasang mata Ong Bun kim memancarkan sinar merah yang berapi-api, sambil melotot besar teriaknya keras-keras:

"Aku minta....aku minta. "

"Aku tahu kau musti minta..." jawab Ciu Li li tertawa semakin jalang.

Mendadak ia membopong tubuh Ong Bun kim dan dibawa menuju ke ruang belakang, dalam ruangan sana terdapat sebuah kamar yang sudah kuno, ke dalam kamar itulah perempuan tersebut menuju.

la membaringkan tubuh si anak muda itu diatas pembaringan yang penuh berdebu itu, kemudian menepuk bebas jalan darah Ong Bun kim yang tertotok itu.

Ketika jalan darah Ong Bun kim sudah terlepas dari pengaruh totokan, bagaikan orang kalap ia terjang tubuh Ciu Li li dan memeluknya kencang-kencang, daya kerja obat perangsang yang telah menguasahi tubuhnya itu membuat ia kehilangan kesadaran otaknya.

"Ong Bun kim!" seru Ciu Li li sambil tertawa cabul, "mengapa kau begini terburu napsu?"

Sepasang mata Ong Bun kim semakin membara, tangannya sudah mencengkeram baju yang dikenakan Ciu Li li, kemudian. "Sreeet!" merobeknya sebagian.

Dengan terlepasnya pakaian luar, maka tampaklah pakaian dalamnya yang berwarna merah, sepasang payudaranya yang montok dan kenyal kelihatan gemetar keras.

Bagaikan orang kalap Ong Bun kim memeluk perempuan itu, sementara mulutnya bagaikan orang mengigau berseru.

"Aku minta... aku minta..."

Ciu Li-li tertawa terkekeh-kekeh. dengan suatu gerakan

cepat melepaskan sisa pakaian yang masih melekat ditubuhnya hingga dalam tempo singkat ia berada dalam keadaan telanjang bulat, kemudian ia naik keatas ranjang dan bergulingan dengan sikap menantang.

Ong Bun kim segera menubruk keatas tubuhnya dan menungganginya secara brutal.

"Lepaskan dulu seluruh baju mu." bisik Ciu Li-li kemudian.

Bagaikan orang kalap Ong Bun kim melepaskan pakaiannya kemudian tubuhnya yang bugil menindih kembali diatas tubuh Ciu Li li yang membara seperti api...

Sepasang tangannya secara kasar menggerayangi sekujur tubuhnya, lalu dengan keras meremas payudaranya...

Ciu Li li menggigil keras, tubuhnya dengan penuh kenikmatan.

"Oooh... agak lah pelan sedikit...sakit amat. Rintihan

itu seperti rintihan setan Iblis membuat jantung orang berdebar semakin keras saja.

Tangan Ong Bun kim makin tidak tahu aturan lagi, setelah meremas payudara orang, sekarang tangannya bergerak kebawah dan mulai mencomot bagian bawah tubuh perempuan itu.... Rabaan dan comotannya makin garang dan brutal, tapi anehnya Ciu Li li justru makin bergairah dan senang, sambil meliuk-liukkan tubuhnya yang bugil dengan penuh napsu, rintihan yang syahdu bergema terus-menerus dari bibirnya.

Maka suatu peristiwa yang mengerikan pun segera akan terjadi...

Ong Bun kim yang terpengaruh obat perangsang Ciu Li li, sudah kehilangan sama sekali kesadarannya, dia tak tahu apa yang sedang terjadi, didalam benaknya sekarang hanya terlintas satu tujuan, melampiaskan hawa napsu birahinya yang semakin membara di badannya.

Rabaan, remasan dan comotan sudah berlangsung makin menghebat, kedua belah pihak sudah makin tak sanggup menahan diri lagi...

Akhirnya Ciu Li li memprakarsai tindakan lebih lanjut, rupanya perempuan inipun sudah tak sanggup menahan pancingan-pancingan birahi yang semakin menggila, ia telah bersiap-siap menggiring perahu untuk memasUki pelabuhan....

Tapi apa yang kemudian terjadi?

Baru saja ujung perahu mulai memasuki mulut pelabuhan, pada saat itulah dari luar ruang kamar menggema suara bentakan keras.

"Ciu Li li, kau tak akan lolos dari cengkeraman kami!" Itulah suara bentakan dari Tay khek Cin-kun.

Bentakan yang datangnya secara tiba-tiba ini, kontan saja memadamkan seluruh kobaran api birahi yang sedang membara ditubuh Ciu Li li, bagaikan diguyur oleh air dingin sebaskom dengan cepat ia tersadar kembali. Terdengar suara langkah kaki yang berat berkumandang dari luar ruangan dan makin mendekat.

Dalam keadaan demikian, cepat-cepat Ciu Li-li mendorong tubuh Ong Bun kim dari hadapannya, kemudian melompat bangun dari atas pembaringan, hawa napsu membunuh yang mengerikan memancar keluar dari atas wajahnya yang cantik.

Dengan tergopoh-gopoh ia mengenakan bajunya, kemudian dengan pedang sin kiam berada ditangan ia menyelinap keluar pintu.

Saat itulah terdengar Ong Bun-kim sedang menjerit-jerit seperti orang sinting.

"Aku minta cepat.... cepat... aku minta..."

Menyusul teriakan-teriakan dari Ong Bun kim itu, sesosok bayangan manusia menerjang tiba di depan pintu.

Bayangan manusia itu bukan lain adalah Tay khek Cin kun.

Ketika didengarkan suara teriakan Ong Bun kim tidak wajar, ia segera menyadari bahwa gelagat tidak beres, maka sambil menerjang masuk kepintu ruangan, bentaknya:

"Ciu Li-li kau sedang apakan Ong Bun kim?"

Belum selesai Tay khek Cinkun berkata, Ciu Li-li telah membentak dengan suari dingin.

"Hidung kerbau sialan, kau harus mampus."

Secepat sambran petir ia menerjang maju ke muka, pedang sin-kiam diputar dan langsung menusuk ke tubuh Tay khek cin kun.

Serangan yang dilancarkan oleh Ciu Li li ini boleh dibilang dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, ini menyebabkan Tay khek cin kun menjadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Cahaya tajam berkelebat lewat, jerit kesakitan segera berkumandang memecahkan keheningan.

Akhirnya Tay khek cin kun gagal untuk menghindarkaa diri dari serangan Ciu Li li, sebuah lengan kirinya segera terpapas kutung dan tergeletak diatas tanah.

Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, Tay khek cin kun segera menjatuhkan diri berguling diatas tanah.

"Hidung kerbau tua, berangkatlah menghadap raja akhirat" bentak Ciu Lili deagan geramnya.

Cahaya tajam berkilauan, pedang mestika itu segera menyambar ke bawah menusuk tubuh Tay khek cin kun.

Tapi sebelum ujung pedang menembusi tubuh korbannya, kembali terdengar bentakan keras menggelegar di udara:

"Ciu Li li, lihat serangan!"

Menyusul bentakan itu segulung tenaga pukulan yang amat kuat dengan cepat menyerang ke punggung Ciu Li li, sedemikian dahsyatnya serangan tersebut membuat perempuan itu mau tak mau harus menarik diri dan menghindarkan diri ke samping.

Ternyata penyerang itu bukan lain adalah Phang Pak bun.

oooOdwOooo

BAB 80

"BANGSAT, kurang ajar rupanya kau sudah ingin mampus..." bentak Ciu Li-li dengan geramnya. Diiringi bentakan tersebut, tubuhnya segera menerjang kearah Phang Pak bun, cahaya pedang berkilauan, dengan suatu gerakan cepat pedang Sin kiam menyambar ke depan melepaskan sebuah bacokan.

Phang Pak bun cukup menyadari akan keterbatasan ilmu silat yang dimilikinya, ia tahu kalau bukan tandingan Ciu Li-li, cepat-cepat badannya berkelit ke samping.

Gagal dengan serangannya, Ciu Li li semakin naik darah, ia melejit kedepan dan sekali lagi menerjang tubuh Phang Pak bun sambil melepaskan sebuah tusukan.

Sementara itu Phang Pak bun telah mengundurkan diri ke ruang tengah kuil tersebut, akhirnya ia berhasil disusul oleh Ciu Li li, dalam keadaan begini cepat dia membalikkan badan sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat....

Ciu Li li membentak keras, tangan kirinya berputar melepaskan pula sebuah pukulan untuk membendung serangan Phang Pak bun kemudian pedang Sin kiam ditangan kanannya melepaskan sebuah tusukan maut.

Jeritan ngeri yang memilukan-hati segera berkumandang memecahkan keheningan.

Tahu-tahu dada Phang Pak bun sudah tertembus oleh pedang sin kiam hingga tembus ke punggung, darah segar muncrat ke empat penjuru, tak ampun lagi tubuhnya segera roboh terjengkang dan tak berkutik lagi untuk selama- lamanya.

Sungguh kasihan jago silat yang gagah perkasa ini, akhirnya dia harus mengorbankan selembar jiwanya diujung pedang perempuan iblis yang tak berperi kemanusiaan itu. Ciu Lili tertawa dingin, dengusnya: "Inilah ganjaran bagi orang yang suka mencampuri urusan orang lain seperti kau!!" Selesai membunuh Phang Pak bun, ia-membalikkan badan dan balik kembali ke ruang belakang, tapi Tay khek cin kun yang sebelumnya tergeletak di situ mendadak lenyap tak berbekas..

"Aduh celaka..." teriaknya tertahan, buru-buru dia lari masuk ke dalam kamar...

Tapi disinipun ia gagal menemukan bayangan tubuh dari Ong Bun kin.

Tak tahan Ciu Li-li kembali menjerit tertahan, dia tahu pastilah dikala ia sedang merobohkan Phang Pak bun tadi, ada orang yang telah datang ke situ dan menyelamatkan Ong Bun kim serta Tay khek cin kun.

Paras mukanya segera berubah hebat, sumpahnya. "Sialan, siapa yang bernyali begitu besar berani

mengacau kesenanganku "

Ia melompat naik ke atas wuwung rumah, ketika memeriksa sekeliling tempat itu, dilihatnya ada sesosok bayangan hitam sedang meluncur keluar hutan sebelah depan......

"Kau anggap bisa kabur dari tanganku?" sumpahnya dengan geram.. Tubuhnya segera berkelebat ke depan dengan ilmu gerakan san tian sin hoat yang cepat bagaikan halilintar itu, arah yang di tuju adalah orang di depan sana.

Dalam pada itu, bayangan manusia tadi sudah menerobos masuk ke dalam sebuah gua.

Ciu Li-li segera tertawa dingin, jengeknya sinis: "Huuuh, pingin mampus rupanya. "

Dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah berada lebih kurang tiga kaki didepan mulut gua tersebut. Mendadak sesosok bayangan manusia melayang turun persis dihadapan muka Ciu Li li ini, membuat perempuan itu amat terperanjat dan cepat-cepat menarik kembali gerakan tubuhnya.

Ternyata orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah Thia Eng, si pemuda berbaju abu-abu yang memiliki ilmu silat sangat lihay itu.

Selapis hawa napsu membunuh yang tebal dan mengerikan telah menyelimuti seluruh wajah Thia Eng, bentaknya.

"Ciu Lili. kau anggap bisa kabur dari cengkeramanku?" "Hm..... enak benar kalau berbicara." bentak Ciu li li,

"justru kau yang sesungguhnya ingin mampus!"

"Ciu Li li, kali ini aku tak bakal melepaskan dirimu dengan begitu saja."

"Kalau memang kau merasa berkemampuan demikian, kenapa tidak dicoba."

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, tampak bayangan putih berkelebat lewat, tahu-tahu perempuan itu sudah menerjang ke arah Thia Eng sementara telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Dalam keadaan demikian, Ciu Li li sudah bertekad untuk beradu jiwa, sementara tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan, Pedang sin kiam di tangan kanannya melepaskan pula sebuah babatan maut.

"Cari mampus...!" bentak Thia Eng dengan suara menggelegar.

Tubuhnya mengigos ke samping menghindarkan diri dari ancaman Ciu Li li tersebut, sementara tubuhnya menerjang maju ke depan, sementara Ciu Li li belum sempat turun tangan, ia sudah melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Ilmu silat maupun gerakan tubuh yang di miliki Thia Eng sungguh luar biasa sekali.

Ketika Ciu Li li kabur sambil membawa luka tadi, tak lain luka tersebut diperolehnya dari pukulan si pemuda berbaju abu-abu ini.

Coba kalau tidak terjadi peristiwa diluar-dugaan yang menolong Ong Bun kim, sudah dapat dipastikan perempuan itu bakal tewas ditangannya semenjak tadi.

Begitu serangan dari Thia Eng meluncur tiba, buru-buru Ciu Li li menghindar ke samping.

Mendadak.....

"Tahan!" suatu bentakadn yang menggelegar berkumandang memecahkan keheningan.

Sesosok bayangan manusia berbaju hitam melintas lewat di depan mata. Tan Liok telah melayang turun ketengah arena.

Thia Eng maupun Ciu Li li bersama-sama menghindar kesamping.

Dengan sinar mata yang tajam seakan-akan memancarkan cahaya hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati, Tan Liok mengawasi raut wajah Ciu Lili itu tanpa berkedip.

Disaat seperti itu, Ciu Li li merasakan hatinya amat terperanjat, selama itu satu hal lain juga segera menghantui pikirannya.

Semula dia menduga bayangan hitam yang dijumpainya memasuki gua tadi adalah Tan Liok, tapi terbukti sekarang Tan Liok tidak masuk kedalam gua melainkan berdiri sendiri disana, lantas siapa pula yang telah menyelamatkan jiwa Tay-khek cinkun serta Ong Bun-kim..? .

"Ciu-Li-li, kaukah yang telah membunuh Phang Pak bun?" hardik Tan Liok dengan sinar mata berapi-api.

"Betul!"

"Apa?" teriak Thia Eng kaget, "Phang Cianpwe telah tewas?"

"Betul, dia sudah tewas diujung pedang Sin kim ku ini!" sahut Ciu Li li sambil menjengek sinis.

"Kemana larinya Ong Bun kim dan Tay khek cin kun?" kembali Tan Liok membentak.

"Barusan kulihat mereka berdua ditolong orang masuk kedalam gua itu." Thia Eng segera rnenerangkan.

"Sungguhkah perkataanmu itu?" "Sungguh!"

Kepada Thia Eng, Tan Liok segera berseru:

"Ciu li li akan kuserahkan kepadamu, akan kuperiksa dulu ke dalam gua itu!"

"Baik."

Begitu mengiakan, dengan kecepatan yang luar biasa Thia Eng segera melejit keudara dan menubruk kearah Ciu Li li, sebuah pukulan dahsyat dengan cepat dilontarkan.

Sementara Thia Eng melepaskan, pukulan dahsyat, Tan Liok telah melompat masuk kedalam gua.

Baru tiba dimulut gua tersebutb, lamat-lamat ida menangkap suaara dengusan napbas yang tidak normal.

Dengaa perasaan kuatir ia lantas menerjang maju lebih kedalam. Tapi sebelum ia sempat meneruskan langkahnya, sesosok bayangan manusia telah menerjang keluar dengan langkah sempoyongan.

"Siapa?" Tan Liok segera membentak. "Aku!"

"Can cianpwekah disitu?" "Betul!"

Tampak paras maka Tay khek cin kun pucat pias seperti mayat, lengan kirinya telah kutung, darah segar masih mengucur keluar dengan derasnya, keadaannya mengenaskan sekali.

Melihat itu, dengan kaget Tan Liok berseru tertahan: "Can Ciaapwe ke... kenapa kau?"

"Lenganku telah dikutungi oleh Ciu Li li cuma aku masih sanggup untuk menahan diri."

"Bagaimana dengan Ong Bun kim ?" tanya Tan Liok dengan perasaan gelisah.

"Didalam sana..."

Belum selesai Tay khek cin kun berkata, Tan Liok sudah menerjang masuk kedalam gua deng n kecepatan luar biasa, tapi apa yang kemudian terlihat olehnya hampir saja membuatnya bersuara tertahan.

Tampak olehnya Ong Bun kim sedang menindih seorang gadis telanjang dan melakukan hubungan senggama yang amat mendebarkan hati.

Kedengaran suara rintihan kesakitan gadis itu diiringi suara mengaduh yang mendesis.

"Aduuh... jangaa yaa.,.. jangan..." Tapi Ong Bun kim tidak ambil perduli akan desisan gadis tersebut, bagaikan orang kalap, ia melalap terus gadis itu dengan penuh napsu birahi.

Tan Liok sangat terkejut menyaksikan kesemuanya itu, tapi sebelum ia tahu untuk berbuat sesuatu, tiba-tiba terdengar Tay khek cin kun berseru dari luar gua.

"Tan tayhiap. cepat mundur kemari!"

Dengan cepat Tan Liok mengundurkan dirinya keluar gua. lalu dengan wajah terkejut bercampur keheranan ia menatap wajah Tay khek cinkun lekat-lekat.

"Mengapa dia?" tegurnya dengan rasa terkejut.

"Kau maksud Ong Bun kim?" tanya Tay khek cin kun "Benar!"

"Ia surdah terkena obatt perangsang yaqng sangat jahatr!"

"Haaah?"

"Ketika Ciu Li li berhasil menangkap Ong Bun kim, sudah pasti pemuda itu telah dica koki semacam obat perangsang yang sangat hebat, bara saja akan melangsungkan perbuatan cabulnya, kebetulan aku datang kesana maka diapun lantas mengutungi sebuah lenganku.."

"Pang Pak-bun, telah tewas!" Tan Liok berkata dengan sedih.

"Apa. ? Dia tewas?"

"Yaa, ketika aku tiba dalam kuil, kusaksikan jenasahnya terkapar disitu!"

"Tak heran Sebelum jatuh pingsan tadi aku tempat mendengar ngeri...aai Sungguh kasihan pendekar budiman tersebut, akhirnya harus tewas secara mengerikan diujung pedang Sin kiam !"

Berbicara sampai disitu. Tay khek cinkun tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, tanpa terasa titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Siapa yang telah menyelamatkan jiwa kalian?" tanya Tan Liok kemudian memecahkan keheningan.

"Seorang nona, aku belum sempat melihat jelas raut wajahnya, jadi akupun tak tahu siapa gerangan orang itu?"

"Aaai.. ..! Nona itu ingin menolong jiwa kalian, siapa tahu dia pun harus mengorbankan pula kesucian tubuhnya."

"Betul...! Bagaimana dengan Ciu Li li?" "Thia Eng sedang bertempur dengannya!"

"Hari ini kita jangan biarkan dia kabur lagi, kalau tidak sukar dibayangkan bagaimana akibatnya!"

Tan Liok merasa perkataan itu ada benarnya juga, bila hari ini Ciu Li li dibiarkan kabur dari situ, dengan pedang sin kiam berada ditangannya, akibat yang bakal terjadi benar-benar tak bisa dibayangkan mulai sekarang.

Maka tanpa membuang waktu dia lantas membalikkan badan dan lari keluar dari situ.

Dalam pada itu Ciu Li-li sudah didesak sedemikian rupa oleh Thia Eng sehingga tidak bertenaga lagi untuk melancarkan serangan balasan, kendatipun dia membawa sebilah pedang Sin-kiam yang luar biasa tajamnya, sayang kehebatan dari senjata tersebut tak sanggup dikerahkan sebagaimana mestinya. Rupanya Ciu Li-li juga sadar, bila pertarungan harus dilangsungkan lebih jauh, besar kemungkinannya dia akan menjumpai mara bahaya.

Maka pada suatu ketika dia lancarkan sebuah serangan tipuan, kemudian secara tiba-tiba ia membalikkan badan dan kabur meninggalkan tempat pertarungan.

Mendadak...

Di kala Ciu Lili sedang melejit ke udara dan siap melarikan diri itulah, Tan Liok telah tiba di arena pertarungan segera bentaknya:

"Ciu Li li, perempuan sundal! Kau anggap masih mampu untuk kabur dari tempat ini dengan selamat?"

Di tengah bentakan tersebut tubuh Tan Liok meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa lalu menghadang jalan perginya, ketika tangan kanannya diayunkan ke depan sebuah pukulan dahsyat segera dilepaskan.

Serangan yang dilancarkan Tan Liok ini sungguh luar biasa cepatnya, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tanpa sadar Ciu Li li dipaksa untuk balik kembali ketempat semula.

Thia Eng segera membentak keras. "Ciu Li li, silahkan kau cicipi lagi sebuah pukulanku ini"

Sebuah serangan yang amat dahsyat dengan cepat dan hebatnya dilontarkan ke pinggang Ciu-li li.

Ilmu silat yang dimiliki Tan Liok maupun Thia Eng boleh dibilang tak terlukiskan dengan kata-kata, jangankan Ciu Li li tak sanggup menahan diri, sekalipun seorang jago yang berilmu lebih hebat daripada kepandaian perempuan inipun belum tentu akan sanggup untuk menahan serangan semacam itu. Belum lewat tiga gebrakan, mendadak...

"Blaaam!" sebuah pukulan dahsyat yang dilancarkan Tan Liok telah bersarang telak ditubuh Ciu Li li.

Sambil menjerit kesakitan, tubuhnya terlempar sejauh tiga kaki lebih sambil muntah darah kental, ia tak mampu berkutik lagi untuk beberapa saat.

Pedang sin kiam yang berada ditangannya juga terlempar dari acekalannya dan btergeletak di atas tanah.

"Kubunuh kau perempuan jahanam " teriak Thia Eng dengan dendamnya.

Sambil berteriak dia maju kedepan dan mengayunkan telapak tangannya ketubuh lawan.

"Jangan dibunuh!" mendadak terdengar Tay khek Cinkun membentak nyaring.

Mendengar bentakan dari Tay khek Cinkun itu, tanpa terasa Thia Eng menarik kembali tenaga serangannya dan berdiri termangu ditempat dengan wajah keheranan.

"Perempuan jahanam itu jangan dibunuh" seru Tay khek cin kun lagi dengan suara lantang.

"Kenapa?"

"Masih ada empat jilid kitab pusaka milik enam partai besar yang terjatuh ditangannya, bila ia sampai terbunuh, bisa jadi kitab itu tak akan ditemukan kembali untuk selamanya"

Tan Liok membungkukkan badannya dan memungut kembali pedang sin kiam yang tergeletak di atas tanah itu. lalu tanyanya kepada Tay khek cinkun: "Sekarang, apa  yang harus kita lakukan?".. "Tunggu saja sampai Ong Bun kim menyelesaikan pekerjaannya.,.."

Tiba-tiba Thia Eng menjerit kaget, lalu menegur: "Locianpwe, kenapa kau ?"

"Lenganku telah dikutungi oleh Ciu Lili!"

Thia Eng segera menggigit bibirnya menahan kobaran rasa dendam yang menggelora dalam dadanya, dengan gemas dia berseru: "Kalau bisa aku ingin mencincang tubuhnya menjadi berkeping-keping, bagaimana dengan saudara Ong?"

"Dia masih berada didalam..." "Mari kita masuk menengoknya" "Jangan... Jangan masuk. !"

Sementara Thia Eng masih termangu, secara ringkas Tay-khek-cin-kun segera menerangkan apa gerangan yang telah terjadi.

Sementara itu Ong-Bun kim telah melampiaskan  kobaran napsu seksnya terhadap gadis yang belum diketahui siapa gerangan dirinya itu dengan tersalurnya hawa napsu birahi itu maka pengaruh obat perangsang yang menyusup tubuhnya juga punah...

Bagaikan seseorang yang baru sembuh dari penyakit parah, ia menggeletak lemas diatas tanah.

Sambil memejamkan matanya ia mengenang kembali semua peristiwa yang baru saja terjadi. mendadak

telinganya sempat menangkap suara isak tangis yang memilukan hati

Pemuda itu menjadi amat tberperanjat! Akhirnya dia menjuampai dirinya berada dalam keadaan telanjang bulat, sementara disisi tubuhnya berbaring pula seorang gadis dalam ke adaan bugil, gadis itulah sedang menangis terisak waktu itu.

Sekujur tubuh Ong Bun kim menggigil keras, dia sekuat tenaga berusaha untuk mengingat kembali apa gerangan yang telah terjadi... akhirnya pemuda itu menjerit tertahan.

Sekarang, ia sudah teringat kembali apa gerangan yang sebenarnya telah dilakukan olehnya.

Sambil menelan air liur, tegurnya kemudian. "Sii... siapa kau?"

Dia masih mengira perempuan itu adalah Ciu Li li.

Ketika mendengar teguran tersebut, gadis itu segera menghentikan isak tangisnya.

"Sii.... siapakah kau?" kembali Ong Bun kim bertanya dengan suara agak gemetar.

Gadis itu melepaskan tangannya yang menutupi wajah dan mendongakkan kepalanya, dengan wajah yang basah oleh air mata dia memandang si anak muda itu.

Begitu sinar muta Ong Bun kim bertemu dengan wajah gadis tersebut, dia segera menjerit tertahan, kepalanya bagaikan dipukul oleh martil yang sangat berat, kontan saja membikin kepalanya pusing sekali.

"Rupanya kau ? Oh Thian !" gumamnya dengan suara gugup bercampur cemas.

Sesungguhnya siapa gadis itu?

Dengan wajah termangu-mangu gadis itu memandang menatap wajah Ong Bin kim tanpa berkedip. Untuk sesaat lamanya kedua orang itu hanya saling berpandangan dengan wajab tertegun, seakan-akan kejadian semacam ini seharusnya tak boleh sampai terjadi, tapi kenyataannya benar-benar telah terjadi !

"Oooh Thian! Kenapa bisa kau?" kembali Ong Bun kim bergumam dengan perasaan bimbang.

Air mata bercucuran dari mata gadis itu dan membasahi pipinya yang halus, dia merasa sedih tak terlukiskan dengan kata-kata, apa yang bisa dilakukannya sekarang hanya memandang wajah Ong Bun kim sambil membungkam dalam seribu bahasa.

"Bagaimana mungkin bisa kau?" bisik Ong Bun kim lagi dengan suara gemetar, "kenapa kau pun bisa sampai disini?"

Gadis itu berusraha keras untukt mengendalikan qrasa sedih yangr mencekam perasaannya, bisiknya:

"Kau... kau telah mencelakai diriku!" "Kenapa?"

"Aku ingin menolongmu."

la tak tahu bagaimana harus berbicara, akhirya setelah tertawa getir ujarnya lebih jauh:

"Diluar dugaan mu bukan?" "Yaa. benar!"

"Siapa bilang tidak berada diluar dugaanku pula? Inilah kesalahanku sendiri, tidak seharusnya aku datang menolongmu, kalau tidak, tak akan sampai terjadi peristiwa yang hanya akan mendatangkan perasaan menyesal belaka!"

"Ku Pek hoa, kau..."

Ong Bun kim tak tahu apa yang harus dilakukan. Ternyata gadis itu adalah Tay pangcu dari Hui mo pang, Kim lo sat Ku Pek hoa.

"Yaa. tak salah lagi, memang gadis itulah yang menjadi korban!"

Sesungguhnya peristiwa ini sungguh merupakan sesuatu kejadian yang amat mengejutkan, karena Ku Pek hoa telah keluar mengikuti Ong Bun kim, menyelamatkan pemuda itu, bahkan terjadi pula peristiwa yang sama sekali diluar dugaan itu.

Peristiwa ini benar-benar tak bisa diterima dengan jalan pemikiran siapapun juga.

Bagaimana mungkin Ong Bun kim tak kaget setelah mengetahui kejadian ini?

Ia muncul di markas besarnya dengan tujuan hendak membunuh Ku Pek hoa, tapi sekarang ia telah memperkosa gadis itu dan merenggut kehormatannya secara paksa, kendatipun dia sendiripun tak sadar karena terpengaruh obat perangsang, akan tetapi, bagaimanapun juga nasi telah menjadi bubur, apa yang tidak pernah diharapkan sekarang telah menjadi suatu kenyataan, tidak heran kalau Ong Bun kim merasa begitu terperanjatnya sampai dia sediripun kehilangan pegangan.

Sekalipun demikian, Ku Pek hoa sendiri-pun tak pernah menyangka akan terjadi peristiwa semacam ini, dia lebih- lebih tak mengira kalau tujuannya yang semula untuk menolong anak muda itu berakibat hilangnya kehormatan kegadisannya ditangan pemuda itu.

Kini nasi telah menjadi bubur, mereka harus berani menghadapi kenyataan, entah hubungan tersebut akan berakhir dengan kebahagiaan atau tragedi, mereka harus menerimanya. Pelan-pelan gadis itu bangun berdiri, lalu mengenakan bajunya dan menatap pemuda itu lekat-lekat, lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Yaa, dia memang tak tahu apa yang musti diucapkan.

000OdwO000

BAB 81

AKHIRNYA pelan-pelan gadis itu menundukan kepalanya seraya berbisik lirih. "Aku, akan pergi dulu." suaranya lirih, pedih dan penuh mengandung kesedihan yang memilukan hati siapapun. Ong Bun kim turut merasa sedih, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dikatakan, sebab kesalahan berada dipihaknya sudah sewajarnya kalau tanggung jawab inipun dipikul olehnya.

Sementara Itu Ku Pek hoa sudah melanjutkan berjalan keluar dari gua itu.

"Ku Pek hoa!" tiba-tiba Ong Bun-kim berteriak keras.

Tanpa terasa gadis itu menghentikan langkah kakinya seraya berpaling, tanyanya dengan sedih.

"Masih ada persoalan apa lagi yang hendak  kaukatakan?"

"Kau kau sudah pergi?" "Benar!"

"Kau akan ke mana?" "Pulang ke perkumpulan ku !"

"Untuk sementara waktu kau boleh berdiam disini dulu" kata Ong Bun kim sambil menggigit bibir.

"Ada sesuatu yang hendak kau sampaikan kepadaku?" Ong Bun kim tertawa getir.

"Aku..,, aku merasa telah berbuat salah kepadamu, aku malu kepadamu "

Gadis itu tiba-tiba berpaling dan menatap wajah Ong Bun kim lekat-lekat, titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya entah karena terharu oleh perkataan Ong Bun kim, atau karena ia senang memikirkan persoalan lain, yang jelas gadis itu kelihatan amat terharu.

Ong Bun kim sendiri juga merasakan hatinya bergetar keras, secara tiba-tiba ia seperti menemukan kebajikan dan kemuliaan gadis itu, kemuliaan semacam itu belum pernah ditemukan sebelumnya.

Tiba-tiba ia melompat kedepan dan menubruk kedalam pelukan Ong Bun kim, kemudian menangis, menangis tersedu-sedu.

Dengan perasaan yang kaku Ong Bun kim membelai rambutnya yang halus itu dengan penuh kelembutan, dalam keadaan sekarang dia tak bisa mengartikan apakah hal tersebut merupakan suatu penampilan dari perasaan cintanya.

Ong Bun kim merasa hatinya makin sedih, makin pedih dan tak terlukiskan dengan kata-kata.

Isak tangis gadis itu seakan-akan hendak melampiaskan keluar seluruh perasaan sedih dan derita yang mencekam perasaannya selama ini.

Lama... lama sekali akhirnya dia baru berhenti menangis, katanya:

"Ong Bun kim akupun memang bersalah kepadamu, aku merasa berdosa kepadamu!" Ucapan ini membuat perasaan Ong Bun kim bergetar keras, serunya dengan cepat.

"Kau sama sekali tidak berbuat salah kepadaku, kau tidak berbuat dosa kepadaku."

"Aku... aku telah berbuat yang salah selama ini, aku baru merasa... aku baru menyadari sekarang bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan besar..."

Dengan amat sedihnya ia menangis tersedu-sedu.

"Ya, selama hidupnya gadis itu sudah banyak melakukan perbuatan yang salah, dia telah menciptakan badai darah yang mengerikan bagi umat persilatan, padahal dia sendiripun tak tahu apa yang sedang dikejarnya selama ini."

Pelan-pelan Ong Bun kim membangunkannya dari pelukan, kemudian dengan sedih berkata:

"Ong Bun kim percayakah kau bahwa aku cinta kepadamu?"

"Aku..."

Pemuda itu gelagapan dan tak tahu bagaimana musti menjawab.

Setelah tertawa getir, kembali Ku Pek hoa berkata.

"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, atau hal itu tidak terlalu penting, tapi aku harus menerangkan kepadamu! aku cinta kepadamu, meski aku tak pernah memikirkan seorang lelaki didalam hatiku, termasuk juga kau sendiri.

"Aku beranggapan, bila aku telah mencintai ia seseorang maka aku harus menguasahi penuh orang itu, setiap saat aku bisa mengendalikan lelaki yang kucintai itu sekehendak hatiku sendiri, termasuk pula terhadapmu, Ong Bun kim." "Makaa dengan pelbagbai cara aku berusaha merajai seluruh dunia persilatan, menguasahi seluruh-dunia, dengap harapan aku dapat memberikan kesemuanya itu kepadamu, tapi akupun hendak menyuruh kau mendengarkan perkataanku.

"Tapi sekarang aku baru tahu. bahwa aku keliru besar." "Karena hal itu aku telah kehilangan kau, memang kau

berbeda sekali dengan lelaki lain. kaa mempunyai harga diri

yang kuat serta karakter yang keras, halmana belum pernah kubayangkan sebelumnya.

"Kau tidak membunuhku membuat aku merasa bahwa kau sesungguhnya adalah seorang lelaki yang lembut dan berhati bajik.

Dua buah tempelenganmu membuat aku memperoleh diriku yang sebenarnya, ketika kau sudah pergi dari situ. aku beru merata bahwa aku harus memberitahukan kepadamu... aku ini memang salah.

"Tapi siapa yang menyangka setelah kutolong dirimu, peristiwa semacam ini telah terjadi. ?"

Ketika berbicara sampai disitu. titik air mata tak kuasa lagi jatuh berenceran membasahi pipinya.

Ketika Ong Bun kim telah selesai mendengarkan ungkapan kata hati dari gadis tersebut, hatinya merasa girang sekali, serunya kemudian dengan suara tertahan.

"Jadi kau sudah menyesal dengan semua perbuatan yang telah kau lakukan di masa Ialu?"

"Yaa, benar! Aku menyesal sekali!"

"Oooh.... hal ini terlalu baik... hal ini terlalu baik,. ,"

seru Ong Bun kim kegirangan. "Tidak!" Ku Pek hoa menggeleng sambil tertawa getir, "sekarang sebenarnya sudah terlambat."

"Apanya yang terlambat?" "Aku menyesal terlalu lambat !"

"Tidak, sama sekali tidak terrlambat !"

Tapi gadis itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Seluruh umat persilatan membenciku, tak seorang manusia di dunia ini yang mau memaafkan perbuatanku!"

"Tapi aku bersedia untuk memaafkan dirimu!"

"Tapi apalah gunanya? Aaai- setelah berpisah denganmu, akan kubawa segenap anak buahku untuk kembali ke lautan Lam hay."

"Apa? Kau hendak kembali ke Lam hay?"

"Yaa, aku akan kembali ke Lam hay, agar aku dapat melupakan semua perbuatan yang telah kulakukan selama ini!"

"Tidak, kau tak boleh pulang ke Lam hay!?" "Kenapa?"

"Sebab kau adalah istriku!" "Istri...?"

"Apakah kau menyangkal ?"

Gadis itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tidak pantas menjadi istrimu... terlalu banyak kejahatan yang telah kuperbuat selama ini, aku sudah tidak pantas lagi untuk mendampingi dirimu." "Tidak!" seru Ong Bun kim, "kau adalah istriku, siapa yang mau bertobat dia adalah orang yang berpuji, aku dapat mencintaimu, kita sudah mewujudkan arti kata dari suami istri yang sebenarnya, sekarang kita sudah melakukan hubungan intim, maka kau harus tetap tinggal disini mendampingiku."

"Kau benar-benar mencintaiku?"

"Benar, karena aku cinta kepadamu maka kau harus tetap tinggal disini!"

Dengan perasaan berterima kasih dan terharu gadis itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan Ong Bun kim dan menangis sepuasnya, sedang si anak muda itu membelai dengan kasih sayang dan lemah lembut, ia berusaha untuk memberi kehangatan kepadanya.

"Apakah kau meminta kepadaku untuk tetap tinggal disini?" tanya gadis itu kemudian.

"Benar, kau harus tetap tinggal disini!."

"Baiklah, kalau begitu aku akan tetap tinggal disini?"

Ketika mengucapkan perkataan tersebut keduanya menampilkan kebulatan tekadnya yang tebal.

Ong Bun kim tak dapat menahan diri lagi. ia menundukkan kepalanya dan mencium gadis itu.. .Inilah ciuman yang murni dan polos, dia telah memberikan seluruh perasaannya kepada istrinya lewat ciuman tersebut..... istrinya yang baru dicintainya mulai sekarang, Ku Pek hoa.

Ciuman yang mesra dan hangat telah memusnahkan semua dendam dan kemurungan yang mendekam diri mereka selama ini. Lama lama sekali, akhirnya mereka buru saling melepaskan rangkulan.

-oo0dw0oo--