Setan Harpa Jilid 18

 
Jilid 18

SEMENTARA itu. pelan-pelan Ong Bun-kim sudah bangkit berdiri dari atas tanah, ia menyeka noda darah yang menodai ujung bibirnya, kemudian setelah melirik sekejap ke arah Yu Cing dan tertawa getir dia bertanya lirih: "Nona, Yu, kenapa aku harus dibunuh?"

"Kau pantas dibunuh sampai mati!"

"Kenapa? Apakah kau bisa memberikan alasannya?" "Kau betul betul seorang manusia yang tak tahu budi,

seandainya tiada Bunga iblis dari neraka, kau anggap manusia yang bernama Ong Bun-kim masih bisa hidup sampai ini hari?"

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, katanya kembali.

"Apa maksudmu berkata demikian?" Yu Cing tertawa dingin, sahutnya: "Ong Bun kim, bukankah aku telah memberitahukan kepadamu agar baik-baik bersikap terhadap Bunga iblis dari neraka?"

"Benar!"

"Lantas apa yang telah kau berbikan kepadanya?d" "Sebaliknya aapa pula yang teblah ia berikan kepadaku?"

Ong Bun kina balik bertanya, "dia adalah seorang

perempuan rendah yang setiap orang dapat menikmati kehangatan tubuhnya "

"Apa kau bilang ?"

Ditengah bentakan yang amat nyaring, mendadak ia melompat ke depan dan menerjang ke arah Ong Bun kim, kemudian sekali mengayunkan tangannya, ia menampar wajah si anak muda itu.

Mendadak ia menarik kembali gerakan tangannya, lalu dengan sinar mata memancarkan cahaya yang menggidikkan hati, bentaknya:

"Kau mengatakan Bunga iblis dari neraka adalah seorang perempuan rendah yang setiap orang dapat menikmati kehangatan tubuhnya?"

"Benar!"

"Siapa yang mengatakannya demikian?"

"Hiat-hay-longcu (laki-laki romantis dari samudra darah) Teng. Kun!"

Tiba-tiba Yu Cing mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, suaranya keras dan berkepanjangan.

Menyaksikan keadaan tersebut, dengan wajah berubah hebat Ong Bun kim membentak:

"Hei, apa yang kau tertawakan?" "Aku mentertawakan kau Ong Bun-kim, ternyata adalah seorang telur busuk besar, kau anggap perkataan dari Hiat hay longcu dapat dipercaya dengan begitu saja?"

"Memangnya perkataan orang itu bohong dan tidak bisa dipercaya ?" Ong Bun kim balik bertanya.

"Ong Bun kim!" bentak Yu Cing, "terus terang kuberitahukan kepadamu, ketika Bunga iblis dari neraka hendak menyelamatkan jiwamu tempo hari, ia telah mengorbankan kesucian tubuhnya kepada Hiat-hay longcu, demi bisa memperoleh mata uang kematian.."

"Apa. ?"

Mendengar kisah tersebut, Ong Bun kim. menjerit keras, tubuhnya gemetar keras bagaikan disambar geledek, dengan suara gemetar tanyanya lagi:

"Sungguhkah perkataanmu itu?" "Benar."

Serta merta diapun menceritakan apa yang telah terjadi itu kepada Ong Bun kim.

Selesai mendengarkan perkataan itu, Ong Bun kim tak bisa mengendalikan emosinya lagi, ia menjerit keras:

"Oooh thian !"

Diiringi jeritan keras! pemudab itu muntah dardah segar, kemudaian tubuhnya robboh terjengkang keatas tanah.

Walaupun ilmu silat yang dimilikinya merupakan seorang jagoan yang luar biasa bagaimanapun juga dia hanya seorang manusia biasa belaka, mana mungkin bisa menahan pukulan batin yang demikian beratnya ini?

Rasa sedih yang besar membuat hawa darah dalam dadanya menerjang naik keatas kepala, setelah muntah darah segar, tubuhnya segera roboh terjengkang ke atas tanah.

Padahal ia tak mau ditolong oleh Bunga iblis dari neraka bukan berarti ia tidak mencintainya malahan justru dia amat mencintai dirinya, tapi oleh karena dia tak ingin berhutang cinta kepada gadis itu maka sikapnya berubah menjadi begitu.

Pelan-pelan Yu Cing berjalan mendekati sisi tubuh Ong Bun kim. kemudian mengeluarkan sebutir pil dan dimasukkan ke dalam mulut anak muda itu, lalu jalan  darah disekeliling tubuhnya mulai diuruti dengan penuh seksama.

Tak lama kemudian, Ong Bun kim telah sadar kembali dari pingsannya.

Dengan termangu-mangu seperti orang bodoh, dia mengawasi Yu Cing tanpa berkedip, seakan-akan seseorang yang telah kehilangan ingatannya, kemudian seorang diri ia bergumam:

"Oooh Thian! Peristiwa ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mengerikan."

Belum habis ia berkata, mendadak tubuhnya menerjang maju ke depan dan kabur meninggalkan tempat itu dengan secepat-cepatnya..."

Yu Cing yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, ia segera melompat kedepan serta menghadang jalan perginya, kemudian membentak keras-keras:

"Apa yang hendak kau lakukan?" "Minggir!" teriak Ong Bun kim keras-keras "Sebenarnya apa yang hendak kau lakukan" "Aku hendak pergi mencarinya!" "Mencarinya ?"

"Benar, aku hendak mencarinya, hanya cepat minggir!" "Kau jangan bertindak seperti orang gila, kau tak akan

menemukan dirinya..!"

"Aku bersikeras hendak mencarinya sampai ketemu, hayo cepat minggir!"

Ditengah bentakan nyaring sebuah serangan kilat telah dilancarkan ke arah Yu Cing.

Serangan yang dilancarkan dengan kekuatan yang luar biasa ini sungguh amat mengerikan, kehebatannya ibarat gulungan ombak yang menghantam tepian karang.

Yu Cing tidak brerdiam diri sajta, menghadapi sqerangan yang bergitu dahsyatnya, ia segera membentak keras.

"Ong Bun kim, kau sudah edan?"

"Blaaam !" ketika dua gulung tenaga pukulan saling membentur satu sama lainnya, segera terjadilah gulungan angin puyuh yang luar biasa dahsyatnya.

Yu Cing tak sanggup berdiri tegak lagi, secara beruntun ia mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.

Ong Bun-kim kembali menjerit keras seperti orang gila: "Aku harus mencarinya sampai ketemu.. aku harus

mencarinya sampai ketemu..."

Jeritan-jeritannya itu mendekati seperti jeritan orang kalap, suaranya mengerikan sekali, untuk kesekian kalinya dia kabur kembali kedepan.

Yu Cing segera membentak keras, ia menyusul dengan cepat dari belakang sambil melancarkan totokan kilat. Dalam luapan rasa sedih dan duka yang amat besar, gerak gerik Ong Bun kim tidak segesit diwaktu-waktu biasa, ketika termakan oleh totokan Yu Cing tersebut, ia lantas mendengus tertahan dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Selesai merobohkan si anak muda itu, Yu Cing baru menghela napas panjang dengan sedihnya.

Tay khek Cinkun ikut pula merasakan kesedihan yang meluap, setelah menghela napas panjang, katanya:

"Biarkanlah dia tidur sebentar!"

Yu Cing manggut-manggut, dengan pandangan kaku diawasinya Ong Bun kim yang terkapar ditanah itu dengan sinar mata termangu.

Dalam pada itu. tiba-tiba Hian ih lihiap berkata: "Cianpwe,  walaupun  kalian telah  menelan  pil penawar

racun, tapi bukan berarti hawa racun di tubuh kalian telah

punah sama sekali, jika dalam sepuluh hari kalian tidak berhasil untuk mendapatkan, obat penawar, maka semua tenaga dalam yang kalian miliki akan buyar dan lenyap tak berbekas."

"Mari kita berangkat untuk mencari pengobatan." ujar Tay-khek Cinkun kemudian, lalu sambil melirik sekejap kearah Yu Cing sembari dia berkata, "Nona Yu, harap kau membawa serta diri Ong Bun-kim."

"Kukira lebih baik kau saja yang membopong Ong bun- kim, biar aku membawa cianpwe-saja."

Seakan-akan teringat akan sesuatu hal, Tay khek Cinkun segera tertawa, katanya.

"Oya, aku lupa kalau antara laki-laki dan perempuan itu ada batasnya ..baiklah aku akan membawa Ong Bun-kim, silahkan kau membawa Ong cianpwe itu" Demikianlah, Tay khek Cinkun serta Yu Cing masing- masing segera membopong tubuh Ong Bun kim serta Hian ih lihiap untuk melakukan perjalanannya kedepan, dalam waktu singkat beberapa li sudah dilewatkan tanpa terasa.

Setelah menuruni bukit Bwe-nia digunung Thian san mereka bergerak memasuki sebuah lembah yang sempit.

"Locianpwe, kita akan kemana?" tanya Yu Cing tiba- tiba.

"Sebentar kau akan tahu dengan sendirinya!" sahut Tay khek Cinkun cepat.

Dalam pada itu, mereka telah memasuki sebuah lembah yang sempit, disekeliling lembah tersebut penuh berserakan batu-batu cadas yang tak terhitung jumlahnya, batu-batu itu berbentuk sangat aneh, ada yang menyerupai naga sedang mementangkan cakarnya, ada yang mirip harimau siap menerkam, adapula yang berbentuk manusia.

Setelah menembusi hutan batu, mereka pun tiba diluar sebuah hutan yang amat rimbun, tiba-tiba Tay kbek Cinkun mempercepat gerakan tubuhnya menyusup masuk kedalam hutan itu.

Belum jauh mereka berdua masuk kedalam hutan, tiba- tiba terdengar suara bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan:

"Berhenti!"

Mendengar perkataan itu dengan hati terkesiap Yu Cing segera menghentikan tubuhnya, sedangkan Tay khek Cinkun seakan-akan tidak mendengar bentakan tersebut, ia masih melanjutkan terus perjalanannya menuju ke dalam hutan.

Terdengar suara itu kembali berkumandang. "Manusia dari manakah yang sudah bosan hidup, sehingga begitu berani memasuki hutan Tiang seng lim ini?"

"Hidung kerbau tua, kau tak usah berlagak sok" teriak Tay khek Cinkun sambil tertawa. "siapa yang kuatir dengan hutan liang seng limmu ini.?"

Ketika mendengar perkataan itu, orang di balik hutan tersebut, segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah....haaahh....haaah....rbupanya kau si tdelur busuk tua ayang telah databng hayo keluar dari hutan, jangan merepotkan diriku lagi."

Tay khek Cinkun segera tertawa terbahak-bahak, kepada Yu Cing katanya.

"Ikutilah aku, jangan sampai salah jalan, hutan ini telah diatur menurut barisan Ngo heng khi.tin yang lihay..."

Selesai berkata, ia berjalan lebih dalam menuju ke depan sana.

Yu Cing mengikuti terus dibelakangnya dengan ketat, setelah berbelok ke sana kemari selama hampir setengah jam lamanya, mereka baru tiba ditengah hutan, disana tampaklah sebuah rumah kayu yang berdiri di kelilingi pepohonan lebat.

Dan didepan rumah tersebut tampak sebuah papan nama tergantung diatas pintu gerbang itu, pada papan nama tadi terpancanglah tiga huruf yang amat besar.

"TIANG SENG-KI"

Tay khek Cinkun kembali membentak dengan suara keras.

"Hidung kerbau tua, setelah tahu akan kedatanganku, kenapa kau tidak munculkan diri untuk menyambut kedatanganku ini?" "Kali ini aku tidak suka menerima kedatanganmu itu!" jawab orang itu dari dalam ruangan.

"Tidak suka pun harus suka, hayo cepat sambut kedatanganku!"

Sambil berkata dia lantas menerjang masuk ke dalam ruangan.

Yu Cing agak tertegun, ia tidak ikut masuk melainkan hanya berdiri saja didepan pintu.

"Nona Yu, silahkan masuk." seru Tay khek Cin kun keras-keras.

Terpaksa Yu Cing ikut berjalan masuk ke depan, tampak olehnya ruangan dalam rumah kayu itu sederhana tapi  amat bersih, nyaman sekali dalam penglihatan.

"Hei hidung kerbau tua, kalau kau tidak keluar, hati-hati kalau kulepaskan api untuk membakar kandang anjingmu ini!" bentak Tay khek-cinkun lagi.

"Huuh, sudah datang untuk mohon pertolongan, lagaknya masih galaknya bukan kepalang, sungguh tak tahu malu!"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, dari dalam ruangan segera berjalan keluar seorang sastrawan berbaju hijau yang berusia antara empat puluh tahunan.

Menjumpai kemunculan sastrawan tersebut, Yu Cing menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Sebab ketika di dengar dari istilah "hidung kerbau tua" yang dipergunakan Tay khek Cinkun untuk memanggil rekannya ini, jelas usianya tak akan semuda ini, jangan- jangan dia adalah muridnya si "hidung kerbau tua?" Dengan sinar mata yang tajam sbastrawan berbajdu hijau itu memaandang dua oranbg itu sekejap, kemudian katanya kepada Tay-khek Cinkun:

"Aku benar-benar merasa salah karena telah berteman dengan seorang sahabat seperti kau!"

"Kenapa kau berkata demikian?"

"Semua kerepotan telah kau limpahkan pada diriku semua."

"Hidung kerbau tua, apa kau benar-benar memiliki kepandaian meramal untuk meramalkan kejadian yang akan datang?"

"Kau terlalu memuji!"

Yu Cing yang mendengarkan pembicaraan mereka itu, mendadak seperti menyadari akan sesuatu, dia lantas berseru tertahan;

"Kau. kau adalah Tiang seng lojin?"

"Betul, hidung kerbau tua itulah orangnya!" Tay khek Cinkun segera membenarkan.

Kenyataan ini segera menggetarkan kembali perasaan Yu Cing mimpipun ia tak menyangka kalau Tiang seng lojin sesungguhnya tidak tua, melainkan hanya seorang sastrawan yang berusia empat puluh tahunan.

"Locianpwe, aku memang sedang mencari dirimu!" serunya dengan luapan emosi.

Tiang seng lojin tertawa ewa.

"Aku memang tahu kalau kau sedang mencariku, letakkan dulu kedua orang itu ditanah!" Yu Cing serta Tay khik Cinkun segera meletakkan Hian ih Lhiap dan Ong Bun kim keatas tanah.

Tiang seng lojin melirik sekejap ke arah Yu Cing, kemudian katanya pelan:

"Nona Yu, kau mencari aku apakah lantaran masalah yang menyangkut tentang ayahmu?"

"Benar!"

"Apa yang ingin kau ketahui?"

"Ayahku dan Ong See liat telah lenyap bersama waktu itu, ketika mereka lenyap dari dunia persilatan, pernahkah kau berjumpa dengan mereka berdua?"

"Pernah!"

"Apa sebabnya Ong See liat muncul kembali dalam dunia persilatan kemudian, sebaliknya ayah ku belum kembali juga? Apakah dia telah mati?"

"Mungkin belum mati!" "Mungkin?" Yu Cing berbisik

Ooo-dw-ooO

Bab 56

"YAA!" Tiang seng lojin manggut-manggut, "karena setelah terjadinya peristiwa itu, aku tak pernah berjumpar lagi dengan Ontg See liat, denqgan sendirinya rakupun tak yakin kalau ayahmu Giok bin hiap (pendekar berwajah pualam) telah mati atau belum, cuma menurut hasil ramalanku menurut ilmu perbintangan, aku rasa ayahmu masih hidup didunia ini...!" "Kalau dia masih... masih hidup, kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Yu Cing.

"Tentang soal ini rasanya sulit untuk dikatakan, cuma andaikata ia belum mati, maka dalam beberapa waktu belakangan ini kalian pasti dapat berjumpa kembali."

"Terima kasih atas petunjuk dari locianpwe!"

ia berterima kasih, itu belum terhitung seberapa setelah tertawa, ujarnya kepada Tay khek Cinkun, "Saudara Can, bagaimana dengan perkataanku dulu? Seandal nya kau tidak menyimpan kedua butir pil mustikaku itu tempo hari, nyawamu sekarang mungkin sudah berpulang ke alam baka."

Tay khek Cinkun menghela napas panjang.

"Yaa, kali ini anggap saja aku merasa kagum sekali kepadamu"

"Tak usah merasa kagum kepadaku, masih ingat dengan perkataan dari Thian-jian Cuncu?".

"Masih ingat!"

"Apakah waktu pemunculannya sudah makin mendekat?"

"Agaknya memang sudah tak lama lagi!"

"Ketika Ong See liat dan Giok bin hiap datang mencarimu tempo dulu sesungguhnya apa maksud mereka berdua?"

"Panjang sekali hal ini untuk menceritakan, ketika Ong See liat dan Giok bin-hiap datang mencariku dulu, mereka menanyakan suatu tempat kepadaku."

"Tempat manakah itu?"

"Bertanya kepadaku, dimanakah letak Bu-cing tong?" "Gua Bu cing tong?"

"Betul, aku memberitahukan letak gua Bu cing tong itu kepada mereka, sebelum mereka berpamit, aku telah berkata kepada Ong See liat sambil tertawa:

"Ong-See-liat, pohon yang besar lebih gampang mengundang angin, kau musti berhati-hati!"

"Apakah kau tahu mereka telah pergi ke mana?" tanya Tay-khek Cinkun kemudian.

"Tentu saja tahu, ia bertanya kepadaku lagi. "Apakah sulit untuk pergi ke gua Bu cing tong?" Jawabku kemudian: "Ong See-liat, setiap persoalan tak boleh dipaksakan, sebab kalau tidak maka akan mudah mendatangkan bencana, kau musti berhati-hati!..."

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:

"Setelah dia pergi, mereka tak pernah kembali lagi untuk mencari diriku!"

"Sebenarnya mereka telah pergi kemana?" "Gua Bu cing tong!"

"Benar pertama kali ini kudengar tentang nama gua tersebut!"

"Berbicara yang lebih jelas lagi, gua Bu-Cing tong bukan lain adalah tempat tirakat Hek-mo-im!" Tiang-seng-lojin menerangkan.

"Oh, apakah kau maksudkan tempat tersimpannya pedang Sin-kiam tersebut?"

"Benar! Sayang sekali Ong See liat memang sudah ditakdirkan untuk mati muda, ia bukan pemilik pedang sin- kiam yang sah, oleh karena itulah kuberi tahukan kepadanya bahwa semua persoalan tak bisa terlalu dipaksakan!"

"Lantas siapakah yang akan menjadi pemilik pedang sin- kiam yang sah...?"

"Orang kedua yang bertanya kepadaku di manakah letak gua Bu-cing tong, dialah pemilik pedang Sin-kiam yang sah, pesan ini ditinggalkan oleh Thian-jian Cuncu sendiri, mengenai siapakah orang ini, sudah barang tentu aku tidak tahu"

"Kau tahu juga tentang Yu leng lojin?"

"Tahu! Kalian sudah menderita kerugian di tangannya bukan? untung saja, tenaga dalam yang kau miliki cukup sempurna, kalau tidak* sudah bisa dipastikan kaupun akan terpengaruh oleh ilmu hipnotis Gi-Sim- tayhoatnya yang lihay"

"Kau juga mengetahui tentang diri Bu khek lo jin?"

"Ya, tahu! Dia memang sudah ditakdirkan mengalami musibah semacam ini."

"Menurut pendapatmu, siapakah didunia ini yang sanggup- menghancurkan ilmu Gi sim tay hoatnya yang lihay itu?"

"Hal ini tak usah kau kuwatirkan sebab nanti pada waktunya pasti akan muncul orang semacam itu."

Hanya kau ini yang selamanya pintar, kenapa teIah bertindak bodoh? Badai pembunuhan sudah mulai melanda dalam dunia persilatan, kau dan bocah ini sudah  seharusnya memikul tanggung jawab yang amat besar ini."

"Apa maksud perkataanmu?"

"Aku ingin bertanya kepadamu, bbukankah kaliand telah berjumpaa dengan iblis cbantik pembawa maut?" "Darimana kau bisa tahu? Apakah kau benar-benar memiliki kepandaian untuk mengetahui kejadian yang akan datang?"

"Terus terang saja kukatakan aku baru saja pulang setelah kedatangan kalian tadi, bahkan aku lelah membunuh manusia tanpa sukma, itulah sebabnya aku mengetahui jelas semua keadaan kalian!"

"Betul, kami memang sudah berjumpa dengannya" sahut Tay khek Cinkun kemudian.

"Bagaimanakah tenaga dalam yang dimilikinya?"

"Betul-betul lihaynya bukan kepalang, hakekatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan!"

"Nah, itulah dia, bukankah akibat dari pengaruh racun didalam tubuhnya maka setiap satu jam ia harus mendengarkan irama Si sim ci ki?"

"Betul!"

"Tolong tanya, apakah bocah ini adalah seorang ahli dalam menggunakan ilmu harpa."

"Benar"

"Menurut dugaanku, kalau hanya irama Si sim ci ki saja, maka cukup mendengarkan sebanyak tiga kali, rasanya bocah ini sudah dapat menghafalkannya diluar kepala, bukankah demikian?"

"Benar, tapi apa hubungannya dengan masalah ini?" "Sobat    Can,    apakah    kau    masih    belum    paham?

Seandainya Ong Bun kim bisa menguasahi irama Si sim ci ki tersebut, bukankah Iblis cantik pembawa maut tak usah terkurung terus didalam ruang bawah tanah? Asalkan ia tidak terkurung dalam ruangan itu, bukankah dia bisa muncul kembali dalam dunia persilatan? Asalkan Ong Bun kim bisa mainkan irama Si sim ci ki satu kali untuknya setiap sepuluh jam, hal itu sudah lebih dari cukup."

"Benar, benar. " seru Tay khek Cinkun berulang kali. "Asal Ong Bun kim bisa mempelajari irama Si sim ci ki,

rasanya pada saat ini tak mungkin ada kehidupan lagi bagi perguruan Yu leng bun"

Dari perkataan dari Tiang seag lojin tersebut, paras muka Tay khek Cinkun berubah hebat, kejadian ini benar-benar merupakan suatu persoalan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Benar, seandainya dia bisa berpikir sampai kesitu, bukan saja Iblis cantik pembawa maut bisa meloloskan diri dari kurungan, dengan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya, menghancurkan perguruan Yu leng bun rasanya bukan suatu pekerjaan yang terlampau menyulitkan.

Cuma mereka tak pernah menyangka kalau di-sebabkan berhasilnya Yu leng lojin mendapatkan kitab Hek mo keng tersebut, akibatnya mereka bakaI menanggung sedikit tanggung jawabnya.

Dengan penuh rasa menyesal diab berkata: "Kenadpa aku tak pernaah berpikir sambpai ke situ?"

"Kalian telah menyia-nyiakan suatu kesempatan yang sangat baik" kata Tiang seng lojin lagi.

"Benar, kita harus kesana lagi!" "Tak usah kesana lagi!"

"Kenapa? Apakah Iblis cantik pembawa msut telah ketimpa musibah?"

"Musibah sih tidak sampai, cuma ada kemungkinan besar ia sudah dipindahkan ke tempat Iain" "Aai....!" dengan penuh kesedihan Tay khek-Cinkun menghela napas sedih.

"Mungkin inilah yang dinamakan takdir, dunia  persilatan memang sudah digariskan untuk menerima bencana ini!"

Tay khek Cinkun yang membayangkan kejadian itu, yaa merasa mendongkol yaa merasa keki, katanya kemudian:

"Yaa, apa yang musti kita lakukan sekarang? Apa yang musti kita lakukan sekarang?"

"Kecuali pedang mustika Sim kiam muncul kembali kedalam dunia persilatan, rasanya kalau tidak sulit untuk terhindar dari bencana ini."

"Kalau begitu, coba lihatlah apikah racun yang mengeram ditubuh kami masih bisa tertolong atau tidak?" kata Tay khek Cinkun kemudian dengan suara dalam.

Tiang-seng lojin segera manggut-manggut, sahutnya: "Tentang racun Ciu-sim ci-tok yang mengeram dalam

tubuh kalian berdua, aku memang tak sanggup untuk menyembuhkannya, tapi tentang racun yang mengeram di tubuh Hian ih lihiap, biar kuperiksa lebih dahulu"

Setelah menepuk bebas Hian-ih lihiap dan bercakap- cakap sejenak. Tiang seng lojin baru mulai menguruti jalan darah ditubuh perempuan tersebut.

Lama, lama sekali, Tiang-seng lojin baru bangkit berdiri seraya berkata:

"Keadaan yatg dideritanya tidak menjadi persoalan, aku sanggup untuk menolongnya."

Saking berterima kasihnya, air mata sampai bercucuran membasahi wajah Hian ih li hiap, serunya berulang kali: "Terima kasih banyak cianpwe, atas budi pertolonganmu!"

Terdengar Taykhek Cinkun bertanya lagi.

"Apakah racun Ciu sim ci tok yang mengeram di tubuhku serta Ong Bun kim betul-betul tiada obat lain yang bisa membebaskannya?"

"Adanya sih ada, cuma sulit." "Bagaimana sulitnya?"

"Disakuku hanyar ada separuh buttir obat pemunaqh, sedangkan serparuh yang lain tidak berada dltanganku!"

"Dimana?" "Di Lamhay!"

"Apa? Di Lamhay?" "Benar, di Lam-hay!"

Mendengar jawaban tersebut. Tay khek Cinkun betul- betul menjadi bodoh, untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Sementara itu, Tiong seng lojin telah menepuk bebas jalan darah dari Ong Bun kim, pelan-pelan si anak muda itu tersadar kembali dari pingsannya.

la memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan wajah agak termangu tanyanya.

"Dimanakah aku berada sekarang?" "Di Pesanggrahan Tiang seng ki!" "Dimanakah Iblis bunga dari nereka?"

Ketika kesadarannya pulih kembali, ia masih tetap menanyakan keadaan dari Bunga iblis dari neraka Tan Hong hong, dari sini bisa diketahui betapa gelisahnya pemuda tersebut. Untuk sesaat, semua orang menjadi tertegun dibuatnya.

Belum lagi semua orang sempat menjawab, dia telah bergumam kembali.

"Oooh ya ! Aku teringat sudah kini, bukankah dia sudah pergi meninggalkan tempat ini?"

"Yaa dia sudah pasti" sahut Tay khek Cinkun, "tenang, dikemudian hari kita akan mencarikan untukmu."

Ong Bun kim berdiri kaku dan manggut-manggut dengan penuh kesedihan, agaknya terhadap Bunga iblis dari neraka Tan Hong hong ia merasakan suatu penyesalan dan rasa kasih sayang yang tak terlukiskan.

Demi kepentingan dirinya, gadis itu telah mengorbankan sesuatu yang merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya bagi seorang gadis, sedangkang dia sendiri, apa pula yang telah diberikan kepadanya? Balas budi apakah yang bisa ia bayar demi menebus kehilangan darinya?

Yaa, hakekatnya kehilangan tersebut tak akan terbayarkan untuk selamanya.

Teringat sampai kesitu, tanpa terasa Ong-Bun-kim bergumam kembali dengan lirih.

"Terlalu besar hutangku kepadanya. "

"Yaa, kau memang berhutang sangat banyak kepadanya" kata Yu Cing. "asal kau bisa baik-baik bersikap kepadanya dikemudian hari, aku percaya hatinya yang hancur pasti dapat terhibur"

"Aaaai aku kuatir hal ini amat sulit!" keluh pemuda itu sambil menghela napas panjang. "Persoalan tersebut lebih baik jangan dipikirkan dulu pada saat ini" kata Tay khek Cinkun tiba-tiba, "hayo cepat bangun dan menjumpai Tiang-seng lojin Tu locianpwe!"

Mendengar disebutnya nama "Tiang seng lojin", Ong Bun-kim merasakan hatinya bergetar keras, mencorong sinar-tajam dari balik matanya, sambil menatap wajah Tiong seng lojin lekat-lekat, dia berseru:

"Kau adalah Tiong-seng lojin?" "Betul, itulah lohu!"

"Kalau begitu..."

Tampaknya Ong Bun kim mempunyai beribu-ribu patah kata yang hendak ditanyakan, tapi untuk sesaat dia tak tahu darimana ia harus mulai bertanya, maka ia malah menjadi kebingungan sendiri.

Tampaknya Tiang-seng lojin dapat meraba isi hati pemuda itu, tiba-tiba ujarnya.

"Apakah kau hendak menanyakan soal ayahmu?" "Benar!" pemuda itu mangut manggut, setelah melirik

sekejap wajah Yu cing, ia melanjutkan, "benarkah ayahku dan ayahnya Giok bin hiap telah datang mencarimu pada waktu itu?"

"Benar!"

"Ada urusan apa ia datang mencarimu?"

"Menanyakan letak suatu tempat setelah kuberitahukan kepada mereka, kedua orang itupun segera pergi, tapi semenjak itu ia tak pernah datang lagi kesini"

"Konon ayahku sedang mencari tempat tinggal Hek mo im, benarkah berita ini?"

"Mungkin!" Ong Bun-kim termenung lagi beberapa saat lamanya, setelah menyapu pandang sekejap ke sekeliling arena, iapun berkata:

"Tahukah kalian bahwa orang persilatan selalu beranggapan bahwa ayahku telah meninggalkan semacam mustika ditubuhku?"

"Yaa. tahu!"

Ong Bun kim lantas berpaling kbearah Tiang sendg lojin seraya abertanya kembalbi.

"Locianpwe, bolehkah kuajukan satu pertanyaan kepadamu?"

"Boleh saja, coba utarakan!"

"Tahukah kau. dimana letaknya gua Bu-cing-tong?" "Apa ?"

Hampir semua orang yang hadir disitu bersama-sama menjeritkan perkataan itu, termasuk juga Tiang seng lojin sendiri, sebab barusan ia telah berkata bahwa orang kedua yang bertanya kepadanya letak gua Bu cing tong, kemungkinan besar dialah pemilik dari pedang mustika Sin- kiam.

Ketika menyaksikan semua orang menunjukkan perasaan kaget dan tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, Ong Bun kim ikut tertegun dan merasa tidak habis mengerti.

"Ada sesuatu yang tidak beres?" tanyanya kemudian setelah termangu sejenak.

Tiang seng lojin segera tersadar kembali dari rasa kagetnya, ia balik bertanya.

"Kau bertanya dimana letak gua Bu cing tong?" "Benar!"

00000OdwO00000

BAB 57

TIANG-SENG LOJIN segera memperlunak sikapnya, derean lembut ia berkata; "Ada persoalan apakah kau sampai menanyakan persoalan itu?".

"Sebab benda mestika yang sedang dicari orang-orang persilatan kemungkinan besar berada di tempat itu, karena ayahku telah mengukir tulisan tertebut diatas telapak kakiku!"

"Sungguh?" Benar!"

Tiang-seng lojin melirik sekejap ke arah Tay khek Cinkun. lirikan itu penuh mengandung maksud dan rasa murung yang tebal, karena pesan yang ditinggalkan Thian jian Cuncu akhirnya menjadi kenyataan.

Setelah menghela napas panjang, katanya:

"Sahabat Can, Thian jian Cuncu benar-benar seorang manusia sakti yang luar biasa!"

"Benar"

"Kau dan aku..."

"Yaa, kau dan aku..."

"Kau dan aku kenapa?" Mereka tidak melanjutkan kata- kata tersebut, tapi dilihat dari mimik wajah mereka yang gelisah tak sulit untuk mengetahui persoalan ini meliputi juga diri mereka berdua.

"Sesungguhnya apa yangb telah terjidi?d" tanya Ong Buna kim setelah tebrtegun sejenak. Tiang seng lojin buru-buru tertawa. "Aah, tidak apa apa!" sahutnya.

"Kalau begitu, di manakah letak gua Bu cing tong itu?"

"Gua Bu cing tong adalah tempat dimana Hek mo im bersemayam dahulu...!"

"Aaaah...!" tak kuasa lagi Ong Bun kim menjerit tertahan, "sungguh perkataanmu itu?"

"Benar, sewaktu ayahmu datang kemari dulu, diapun menanyakan alamat dan tempat tersebut, pedang mustika Sin Kiam justru berada dalam istana gua Bu cing tong hu tersebut!"

Agaknya Ong Bun kira tidak mengira kalau gua Bu cing tong benar-benar adalah tempat Hek mo im bersemayan, untuk sesaat lamanya ia jadi berdiri tertegun ditempat semula.

Kata Tay khek Cinkun kemudian:

"Jadi kalau begitu seharusnya Ong Bun kim adalah pemilik pedang Sin kiam yang sah."

"Betul, jika ramalan dari Thian jian Cuncu tidak meleset, kemungkinan besar memang begitulah keadaan yang sesungguhnya"

"Tapi racun Ciu sim ci-tok yang mengeram di tubuh kami bila tidak dipunahkan dalam sepuluh hari mendatang, bukankah segenap ilmu silat yang dimiliki akan punah?"

"Apa?" Ong Bun kira yang mendengar perkataan itu segera menjerit tertahan, "kami akan kehilangan segenap ilmu silat yang dimilikinya? Bukankah Tan Hong-hong telah membantu kita untuk memunahkan racun tersebut?" "Tidak!" jawab Tay khek Cinkun, "racun Cui sim ci tok dari Yu leng lojin hingga kini masih belum dapat dipunahkan."

Secara ringkas dia lantas menceritakan semua kejadian yang sebenarnya kepada Ong-Bun-kim.

Selesai mendengar keterangan tersebut Ong Bun-kim berdiri bodoh dan untuk sesaat tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Oh Thian! Dalam sepuluh hari yang demikian singkat ini, apa yang bisa ia lakukan? Jika tenaga dalamnya punah sampai kapan dendam sakit hatinya baru dapat terlampiaskan.

Teringat sampai kesitu. tak tahan lagi ia menghela napas panjang, lalu katanya:

"Benarkah kami sudah tidak bisa ditolong lagi?"

"Obat penawarnya sih ada, cuma tidak gampang untuk mendapatkannya."

"Obat penawarnya berada dimana?" "Di Lam hay!"

"Apa? Di Lam hary? Dari sini ket Lamhay entah bqerapa bulan yanrg dibutuhkan? Oya.... berada ditangan siapakah obat penawar itu"

"Lam hay Kaucu!"

"Apa? Lam-hay Kaucu?" Ong Bun-kim menjerit keras.

Sebab ayah dari Hui mo taypangcu yang sekarang bukan lain adalah Lam hay Kaucu itu berarti jika obat mestika itu dimiliki oleh Lam-hay kau-cu, tay pangcu dari Hui mo- pang pun tentu memiliki pula. Ketika ia pergi meninggalkan dirinya tempo hari, dia telah sesumbar dengan mengatakan tak akan memohon lagi kepadanya, sekarang jika dia harus memohon kepada gadis itu lantaran obat mestika tersebut, bukankah hal ini sama artinya dengan menjilat ludah sendiri?

Tak dapat disangkal, tay pangcu dari Hui mo-pang yakni Kim lo sat memang seorang-gadis yang cantik jelita, tapi ia merasa sangat tak puas oleh keangkuhan serta cara kerjanya yang kejam, diapun merasa amat penasaran karena pernah dikalahkan dalam tiga jurus pedangnya.

Ong Bun kim ada hubungan perkawinan dengannya, dalam hal ini dia tak ingin mengingkari, tapi dia hendak mempersunting gadis itu sebagai seorang pemenang, kalau tidak, maka peristiwa ini akan merupakan suatu peristiwa yang amat tak sedap bagi nama baiknya. 

Semua orang menjadi tercengang. ketika dilihatnya pemuda itu hanya berdiri termangu-mangu belaka.

"Kenapa kau?" tanpa terasa Tay khek Cinkun segera menegur.

Ong Bun kim tertawa getir.

"Ooh tidak apa apa, Tu locianpwe! Aku ingin bertanya kepadamu, obat macam apakah yang terada ditangan Lam hay kaucu itu?"

"Ban nian hiat man san (Bubuk darah ikan lehi berusia sepuluh laksa tahun)!"

"Sesungguhnya Lam hay tidak terhitung suatu tempat yang terlampau jauh..."

"Apa maksud dari perkataanmu itu?"

"Karena Hui mo pangcu tak lain adalah putri-nya Lam hay kaucu!" "Benarkah perkataanmu itu?" seru Tay khek Cinkun tanpa terasa.

"Benar, bahkan aku dan dia masih terikat oleh suatu tali perkawinan!"

"Suatu tali perkawinan?" semua orang menjepit kaget hampir berbareng saking kagetnya.

Secara ringkas Oag Bun kim segera mengisahkan bagaimana ayahnya dan Hiat hay khi khek telah mengikat tali perkawinan putra putri mereka dengan sebuah lencana liong hong bei, kemudian bagaimana kejadiannya setelah ia berjumpa dengan Kim Lo sat

Selesai mendengarkan perkataan itu. Tay khek Cinkun lantas berkata:

"Peristiwa ini sungguh merupakan suatu kejadian yang jauh diluar dugaan, cuma apakah kau akan memohon kepadanya?"

"Tidak !"

"Kalau begitu kau berencana membiarkan tenaga dalammu punah tak berbekas."

"Masalah ini bukan cuma suatu persoalan belaka" tiba tiba Yu Cing menimbrung, bahkan kalian masih belum tahu bukan tentang tindakan kejam yang dilakukan pihak Hui mo pang didalam dunia persilatan beberapa hari belakangan ini?"

Terkesiap Ong Bun kim sehabis mendengar perkataan itu, paras mukanya berubah hebat.

"Tindakan kejam apakah yang telah ia lakukan?" tanyanya kemudian.

"Menurat apa yang kudengar, beberapa waktu berselang perkumpulan Cing ih pang dan Lui-hong-kau telah dibasmi oleh mereka, bahkan belakangan ini tindak tanduk mereka bertambah menggila, bukan perkumpulan perkumpulan kecil saja yang dibasmi, bahkan Hoa san, Soat-san dan Tiong cong pay pun ikut disikat sehingga berceceran darah amis diseluruh permukaan tanah"

"Sungguhkah perkataanmu itu?" dengan perasaan tercekat Ong Bun kim bertanya.

"Benari Tampaknya pihak Kun-lun dan Go bi-pay pun tak akan lolos dari tindak keji mereka!"

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, hawa kegusaran segera menyelimuti wajahnya, ia tahu bila keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, maka peristiwa itu sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sukar dibayangkan dengan kata-kata, dari sini terbukti pula bahwa tindakan dari Hui-mo-pangcu Kim-lo-sat betul- betul teramat keji.

Saking tak kuatnya menahan gelora emosi, sambil tertawa dingin serunya kemudian.

"Aku bersumpah tak akan berpeluk tangan belaka sebelum berhasil melenyapkan Hui-mo-pang dari muka bumi!"

"Perduli bagaimanapun juga, obat penawar Itu toh berada disakunya" kata Tay-khek Cinkun, "asal kau bersedia untuk kawin dengannya, siapa tahu badai pembunuhan yang kejam ini bisa diselamatkan?"

"Tapi sayangnya aku Ong Bun kim tak sudi untuk kawin dengannya dalam keadaan seperti ini."

"Keadaan macam apakah yang kau harap kan?" "Ketika ilmu silatku dan kedudukanku jauh lebih tinggi daripadanya, cuma aku percaya aku Ong Bun kim pasti akan berhasil mendapatkan obat pemunah itu"

Setelah berhenti sejenak, tanyanya kepada Tiang seng lojin:

"Locianpwe, andaikata dalam sepuluh hari mendatang tidak makan obat pemunah, akan racun yang mengeram dalam tubuhku akan mempengaruhi keseimbangan tenaga dalam yang berada ditubuhku?"

"Pengaruhnya tetap ada walaupun hanya sedikit sekali, tapi kau tak usah kuatir."

"Kalau begitu, dimanakah letak gua Bu cing tong tersebut?"

"Di perbukitan sebelah utara dari Lui im bun, letaknya tak jauh dari bukit Thian mo san!"

Ong Bun kim segera mengangguk-angguk, keningnya berkerut kencang.

"Kalau begitu, boanpwe ingin mohon diri lebih dahulu" katanya.

"Kau hendak kemana?"

"Pergi mencari obat pemunah!"

"Biar aku berjalan bersamamu." seru Tay khek Cinkun cepat-cepat.

"Aku tahu bahwa kalian masih ada banyak urusan yang harus segera diselesaikan, karenanya akupun tidak  menahan lebih jauh" kata Tiang seng lojin kemudian. "biar Hian ih lihiap tetap tinggal disini, akan kupunahkan racun yang mengeram di tubuhnya."

"Baiklah!" Dari sakunya Tiang seng lojin mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam dan diserahkan kepada Ong Bun kim kemudian katanya.

"Telanlah obat ini setelah berhasil mendapatkan obat Ban nian hiat man san, dengan begitu akan punah sama sekali racun Cui sim ci tok tersebut, ambil dan bawalah, aku tak akan mengantar lebih jauh!"

Demikianlah Ong Bun kim, Tay khek Cinkun dan Yu Cing segera berpamit kepada Tiang seng lojin dan berangkat meninggalkan hutan Tiang-seng-lim langsung menuju ke arah bukit Thi gou san.

Suatu hari, sampailah mereka bertiga di suatu tempat yang tak jauh letaknya dari bukit Thi gau san, mendadak Yu Cing menghentikan perjalanannya, lalu dengan wajah murung dan sedih katanya.

"Locianpwe, Ong sauhiap, kita berpisah sampai disini saja".

"Kau hendak ke mana?" "Pulang ke rumah!"

"Baiklah, semoga kau baik-baik menjaga diri"

Dengan sedih dan muiuag gadis itu melirik sekejap ke arah Ong Bun kim, dalam lirikannya itu penuh diliputi oleh perasaan sedih dan murung, bahkan terasa pula sedikit luapan rasa cinta.

Akhirnya ia berkata juga setelah menghela napas sedih: "Kalian pun harus menjaga diri baik-baik!"

Seusai berkata, dia lantas melompat ke depan dan kabur dari situ dengan kecepatan tinggi. Terhadap lirikannya yang terakhir sesaat sebelum berangkat itu, siapapun dapat melihat bahwa lirikan itu membawa luapan rasa cinta yang sangat tebal.

Ong Bun kim berdiri kaku disitu, ia berdiri termangu seperti orang yang kehilangan semangat.

"Mari kita berangkat!" akhirnya Tay khek cinkun berbisik memecahkan kesunyian. Ong Bun kim mengangguk pelan, maka berangkatlah mereka menuju ke bukit Thi-gou san.

Entah berapa lama perjalanan sudah dilakukan, akhirnya sampailah mereka disebuah jalan bukit yang kecil dan sempit yang menghubungkan langsung dengan markas besar perkumpulan Hui-mo pang.

Menelusuri jalan kecil itu, tak lama kemudian dari kejauhan sana lamat-lamat tampak bayangan bangunan rumah yang berdiri megah diatas puncak bukit karang.

Kemudian beberapa waktu lagi, bangunan rumah itu sudah makin mendekat sehingga akhirnya tampaklah halaman luas didepan bangunan megah itu.

"Siapa?"

Suatu bentakan nyaring yang memekikkan telinga tiba- tiba berkumandang memecahkan kesunyian.

Menyusul bentakan itu, dua sosok bayangan manusia berbaju biru secepat kilat melayang datang kehadapan mereka berdua.

Tapi begitu mengetahui akan kedatangan Ong Bun kim, salah seorang diantaranya segera berubah wajah, kemudian sambil tersenyum katanya.

"Oooh...... rupanya Ong sauhiap yang telah datang, entah ada urusan apa kau berkunjung kemari?"

"Aku datang untuk mencari pangcu kalian!" Baru selesai Ong Bun kim berkata, mendadak terdengar seseorang menegur dengan suaranya yang dingin.

"Entah ada persoalan apa kau datang mencari pangcu kami?"

Sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ketengah arena dengan kecepatan luar biasa. Ong Bun kim segera berpaling, maka dikenalinya orang itu sebagai Hiat hay long cu.

Menjumpai kemunculan orang itu paras muka pemuda kita segera berubah hebat.

Hiat hay longcu lah yang telah merenggut kesucian Bunga iblis diri neraka, pemuda play-boy ini pula yang- telah-menghancurkan segala-galanya, dengan sepasang tangan iblisnya dia telah menciptakan neraka bagi mereka berdua, dia pula yang menyebabkan terjadinya tragedi yang memedihkaa hati diantara mereka berdua.

Bukan saja ia telah merenggut segala sesuatu miliknya berdua, karena perbuatannya Bunga iblis dari neraka telah kehilangan segala-galanya, manusia keji yang berhati busuk seperti ini, pantaskah diberi kehidupan lebih jauh?

Hampir saja Ong Bun-kim tak tahan mengendalikan golakan perasaan dendam marah dan kobaran napsu membunuhnya, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang manusia yang berakal panjang, maka setelah termenung sejenak semua luapan bencinya segera dapat dikendalikan.

"Oooh rupanya kau!"serunya kemudian sambil tertawa dingin. Hiat-hay-longcu tertawa sapanya.

"Saudara Ong, ada urusan apa kau datang kemari?" "Pertama, hendak mencari pangcu kalian, kedua hendak

mencari kau pribadi." "Oooh ! Ada persoalan apa kau datang mencariku?"

"Membereskan hutang piutang kita yang sudah tertunda lama!"

"Hutang apa pula yang terikat antara kita berdua?" Ong Bun kim segera tertawa dingin, sahutnya:

"Bukankah kau pernah berkata kepadaku bahwa Bunga iblis dari meraka adalah seorang perempuan murahan yang setiap orang dapat menikmati kehangatan tubuhnya?"

"Benar!"

"Kalau begitu, kau juga pernah menikmati kehangatan tubuhnya bukan ?"

"Tentu saja!"

"Tolong tanya, dengan cara apakah kau bisa menikmati kehangatan tubuhnya itu?"

"Tentang soal ini.. "

Mendadak Ong-Bunkim membentak keras. "Teng Kun, serahkan saja nyawa anjingmu. Ditengah bentakan tersebut, tubuhnya melompat ke depan dan langsung menerjang diri Hiat hay long cu, kemudian telapak tangannya diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat dengan juros Hek ya mo im (Bayangan ialis ditengah malam).

Perasaan Ong Bun kim saat ini pada hakekatnya sudah diliputi oleh hawa napsu membunuh yang berkobar-kobar, dalam melepaskan serangan nya itu, ia telah mengerahkan hampir segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa cepat dan tangguhnya ancaman itu.

Mimpipun Hiat hay longcu tidak mengira kalau  Ong Bun kim bakal melancarkan serangan secara tiba-tiba, dalam keadaan tanpa siaga, diam-diam ia dibikin terkejut juga oleh kejadian itu.

Akan tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang manusia yang berhati tabah, meski terancam bahaya pikirannya tak sampai kalut, kipas di tangan kanannya segera dikebaskan ke muka dan melepaskan sebuah serangan dengan kecepatan luar biasa.

Tampaknya Hiat hay longcu sama sekali tidak memikirkan ancaman dari Ong Bun kim itu kedalam hati, sementara dalam waktu singkat, serangan kedua dari pemuda itu kembali sudah menyambar datang.

Hek mo sin ciang betul-betul merupakan suatu ilmu pukulan yang dahsyat dengan perubahan yang tak terlukiskan banyaknya, kecepatan maupun kekuatan serangannya luar biasa sekali, seandainya Ong Bun kim tidak terkena racun jahat lebih dahulu sehingga tenaga serangannya mengalami kerugian yang amat besar, sudah dapat dipastikan-Hiat hay longcu tak akan mampu menahan ketiga jurus serangannya..

Pada saat Ong Bun kim melancarkan serangan untuk kedua kalinya itulah Hiat hay longcu baru menyadari bahwa perubahan jurus pukulan dari si anak muda itu terlampau aneh, sakti dan ampuh, ia baru terperanjat dibuatnya.

Buru-buru kipasnya dikebaskan berulang kali ke sana kemari, secara beruntun ia lepaskan tiga buah serangan berantai.

Walaupun dengan ketiga buah serangannya itu secara paksa ia berhasil juga mendesak mundur Ong Bun kim, akan tetapi serangan ketiga dari Ong-Bun kim dengan jurusnya Mo kui cing ti wan (iblis berebutan (bangkai) secepat petir telah menerjang. Mendadak...

"Blamm..!" suatu benturan keras terjadi, menyusul kemudian terdengar seseorang mendengus tertahan, sesosok bayangan manusia mencelat ke belakang dan. "Plak!"

roboh terkapar ditanah.

Orang yang roboh terjengkang diatas tanah itu tak lain adalah Hiat hay longcu Teng Kun.

Pada saat tubuh Hiat hay longcu mencelat kedepan tadi. Ong Bun kim diiringi bentakan yang amat nyaring meluncur maju kemuka, lalu secepat kilat mencengkeram ketubuh Hiat hay longcu.

Cengkeraman ini dilakukan dengan kecepatan Iuar biasa, bayangan manusia baru berkelebat lewat, tahu-tahu Hia hay longcbu sudah kena didcengkeram olehnaya.

Tapi berbarbengan dengan cengkeramnya tubuh Hiat hay longcu, ia sendiri pun muntah darah segar.

Sebagaimana diketahui Ong Bun kim adalah seorang yang sudah terkena racun jahat.

Dalam pertarungan yang berlansung tadi, hawa murninya tak berhasil dikendalikan, selama ini dia hanya mengandalkan hawa murninya yang menekan hawa racun ditubuh agar jangan meletus, tapi hawa darah sempat juga menerjang keatas, akibatnya ia tak kuasa menahan diri dan segera muntah darah.

Betapa terperanjatnya Tay khek Cinkun menyaksikan kejadian tersebut.

Dengan napas terengah engah Ong Bun kim berusaha mengendalikan gejolak hawa murni ditubuhnya dan mengatur napas, sementara itu pelan-pelan Hiat hay longcu telah sadar kembali dari pingsannya, melihat itu hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajah Ong Bun kim.

Telapak tangan kanannya diangkat keudara, kemudian bentaknya.

"Hiat hay longcu, mengapa kau memperkosa diri Tan Hong hong?

Sekulum senyuman licik segera tersungging diujung bibir Hiat hay longcu, jawabnya:

"Kau menuduh aku memperkosanya?"

"Memangnya tidak? keperawanannya telah rusak ditanganrnu."

"Tapi toh perbuatanku itu diimbali dengan suatu pembayaran yang cukup tinggi."

"Pembayaran yang tinggi?"

"Betul, aku berbuat dengan membayar mahal, sebab aku telah menyerahkan keempat biji mata uang kematian kepadanya, bukankah empat biji mata uang itu merupakan suatu benda yang tak ternilai harganya?"

Ong Bun kim segera merasa bahwa perkataan itu ada benarnya juga, Hiat hay longcu telah menikmati kehangatan tubuh Bunga iblis dari neraka dengan empat biji mata uang kematian sebagai pembayarannya, itupun atas persetujuan dari Bunga iblis dari neraka Tan Hong-hong pribadi, apa yang bisa dia ucapkan lagi?

000OdwO000

BAB 58 UNTUK beberapa saat lamanya Ong Bun kim hanya berdiri termangu mangu ditempai semula tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Hiat hay longcu tertawa dingin kembali ujarnya.

"Bunga iblis dari neraka menyatakan kerelaannya untuk mengadakan hubungan kelamin dengan-ku, kalau ia pribadi sudah pasrah, masa kau menyalahkan diriku malah?"

Perkataannya ini semakin membubat Ong Bun-kim dtersudut dan taak sanggup membabntah lagi.

Maka setelah tertawa dingin, bentaknya lagi dengan gusar.

"Lalu bagaimana pula pertanggungan jawabmu atas perempuan perempuan lain korban perkosaanmu?"

"Aku pernah memperkosa perempuan lain? Apakah kau menyaksikannya dengan mata kepala sendiri?"

"Kalau memangnya tidak melihat sendiri, bagaimana mungkin perkataan orang lain boleh dipercaya dengan begitu saja?"

"Kalau begitu, kau adalah seorang manusia yang baik sekali?"

"Orang baik sih tidak, cuma aku masih belum pernah melakukan suatu perbuatan yang merusak peraturan dunia..."

Teng Kun yang lihay, kuakui tak sanggup menangkan dirimu dalam bersilat lidah, cuma aku masih mempunyai banyak alasan yang lain untuk membunuh dirimu, ketika berjumpa untuk pertama kalinya dulu, bukankah kaupun telah menghadiahkan sebuah pukulan kepadaku?"

"Benar" "Atas dasar dendam sakit hati ini, aku sudah mempunyai alasan yang kuat untuk membunuhmu"

"Kalau memang begitu, hayolah turun tangan."

"Cuma, sebelum kubunuh kau, terlebih dahulu hendak kutuntut kembali sebuah tamparanmu dulu."

Berbareng dengan selesainya perkataan itu "Plok!" sebuah tamparan keras telah bersarang telak diatas pipi Hiat hay-longcu Teng Kun.

Tamparan ini keras dan berat, membuat si Play-boy dari Htat-hay ini menjadi terpelanting dan mengucurkan darah kental dari mulutnya:

Ong Bun-kim tertawa dingin, katanya kembali:

"Teng Kun, sebuah tempelengan dibayar dengan sebuah tempelengan, aku rasa tindakanku ini tidak kelewatan batas bukan?"

"Tidak!"

"Kalau begitu, aku hendak turun tangan untuk membunuh dirimu!"

Bersamaan dengan selesainya perkataan tersebut, sebuah pukulan segera dilontarkan ke bawah.

Mendadak pada saat Ong Bun-kim belum sempat mengayunkan telapak tangannya itu suatu bentakan nyaring telah menggelegar di udara:

"Tahan!"

Seorang nenek brerbaju biru, detngan kecepatan qtinggi telah mernyusup masuk ke tengah arena.

Setelah melirik sekejap ke arah Ong Bun kim, nenek berbaju biru itupun bertanya: "Siapakah kau? begitu berani mendatangi perkumpulan kami untuk mencari balas?"

Mendengar teguran, itu Ong Bun kim segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahh haaahh haaah Hui mo pang toh bukan sarang naga gua harimau, aku Ong Bun kim kenapa tak berani untuk mendatanginya..?"

"Jadi kaulah yang bernama Ong Bun kim?" agaknya nenek berbaju biru itu merasa amat terkejut.

"Benar!"

Paras muka si nenek itu kembali berubah hebat, bentaknya lagi dengan suara dingin: "Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Mencari Kim Lo sat!"

"Kalau memang hendak mencari orang, kenapa kau mencari balas terhadap anggota perguruan kami?"

"Sebab aku mempunyai ikatan dendam dengannya!" "Saudara, kuanjurkan kepadamu alangkah baiknya jika

kau sudahi niatmu untuk membunuh anggota perkumpulan kami, karena Teng tocu adalah orang kepercayaan dari tay- tongcu kami, jika kau membunuhnya, hal ini tak akan mendatangkan kebaikan apa-apa bagi dirimu."

Ong Bun kim tertawa dingin, tiba-tiba telapak tangan kanannya diayunkan ke bawah.

Dikala Ong Bun kim mengayunkan telapak tangan kanannya itu, mendadak sinenek menerjang maju ke muka dengan kecepatan luar biasa, dengan membawa deruan angin serangan yang tajam, toya bajanya langsung diayunkan ke muka. Begitu nenek itu menyerang secara kilat, Tay khek Cinkun yang berdiri disampingnya ikut bertindak, mendadak ia maju sambil menyerang, serangannya itu dengnn tepat mengunci datangnya ancaman dari sinenek.

Serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan kesunyian, dengan batok kepala hancur-lebur dan darah segar berceceran diatas tanah, Hiat hay longcu telah tewas secara mengerikan ditangan Ong Bun kim.

Inilah pembalasan yang harus diterimanya akibat dari perbuatannya selama ini yang penuh dengan kebusukan dan kelicikan.

Menyaksikan Hiat hay longcu sudah terbunuh, nenek itu tertawa seram kemudian serunya:

"Bagus sekali, kau berani benar datang ke perkumpulan kami untuk membunuh orang."

Toya bajanya segera diayunkan kemuka dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan yang semuanya tertuju ketubuh Tay khek Cinkun.

"Tahan!" suatu bentakan nyaring yang lain kembali berkumandang memecahkan keheningan.

Menyusul bentakan itu kembali muncul beberapa sosok bayangan manusia, ketika Ong Bun kim mencoba untuk memperhatikan para pendatang itu, dapat dikenali bahwa salah seorang diantaranya ternyata tak lain adalah Kim Lo sat, tay pangcu dari perkumpulan Hui mo pang yang diiringi oleh empat orang gadis berbaju biru.

Sinenek dan dua orang gadis berbaju biru itu buru-buru memberi hormat seraya berkata: "Menyampaikan salam dan hormat hamba untuk Tay pangcu!"

"Tak usah banyak adat!"

"Terima kasih Tay-pangcu!" merekapun segera mengundurkan diri kesamping arena.

Wajah Kim Lo sat masih tetap jelita seperti sedia kala, dengan biji matanya yang jeli ia melirik sekejap kearah mayat Teng Kun yang tergeletak ditanah, kemudian paras mukanya berubah hebat.

"Siapa yang telah membunuhnya?" ia menegur setelan tertawa dingin tiada hentinya.

"Aku..."

Pelan-pelan Kim Lo sat mengalihkan sinar matanya keatas wajah Ong Bun kim lalu tertawa, tertawa yang amat memikat hati:

Kemudian sambil menarik muka kembali, dia baru bertanya:

"Siapakah lotiang ini?"

"Lohu adalah sahabatnya Ong Buo kim!" sahut Tay khek Cinkun.

Kim Lo sat tersenyum.

"Ong Bun kim!" tegurnya, "kau datang-datang lantas membunuh orang, sebetulnya apa maksudmu?"

"Aku mempunyai dendam dengannya!"

"Apakah kau tak bisa memberi muka kepada-ku dengan mengampuni selembar jiwanya?"

"Aku sama sekali tiada hubungan apa-apa denganmu." Kim Lo sat kembali tertawa dingin, katanya. "Ong Bun kim tampaknya kau masbih belum dapat dmemahami jalan apikiranku, demib kau, aku telah menyerang kesana kemari menaklukkan kolong langit..."

"Biar kuterima dihati saja maksud baikmu itu!"

"Demi kau, aku telah menaklukkan dunia dan menjagoi dunia persilatan, tujuanku tak lain adalah ingin menyerahkan kedudukan yang tinggi dan mulia ini kepadamu mengapa kau begitu tak tahu diri?

"Terima kasih atas maksud baikmu!"

Lagipula meski aku tidak memiliki kecantikan yang luar biasa bagaimanapun juga aku masih pantas untuk mendampingimu, kau tak akan dibuat rugi oleh perkawinan itu.

"Kecantikan nona luar biasa, aku Ong Bun kim merasa tak pantas untuk menerimanya."

"Jadilah seorang pangcu di tempat ini, dari pada musti keluyuran terus di tempat luaran."

"Aku merasa tak pantas untuk menduduki jabatan pangcu ini!"

Paras muka Kim Lo-sat kontan saja berubah hebat. "Jadi apa maksud kedatanganmu kemari?" tegurnya. "Mencari kau!"

"Ada urusan apa mencari aku?" "Mencari kau..."

Ternyata untuk sesaat lamanya Ong Buit kim tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. sebab bagaimanapun juga ia merasa malu untuk membuka suara dan memohon obat dari perempuan ini. Maka dia hanya berdiri termangu-mangu ditempat sambil mengawasi wajah Kim Lo sat lekat-tekat.

Kim Lo sat segera tertawa bangga, katanya lagi:

"Ong Bun kim, ada persoalan apa yang tersimpan dalam hatimu? Hayolah katakan berterus terang!"

Persoalan ini betul-betul membuat Ong Bun kim tak sanggup buka suara, selama hidup belum pernah dia memohon kepada orang lain, apalagi orang ini adalah orang yang membuatnya merasa sangat tidak puas.

Kim Lo-sat bukan orang bodoh, sudah barang tentu ia dapat meraba isi hati pemuda itu, setelah tertawa dingin katanya:

"Jangan-jangan kau Ong Bun kim ada suatu permintaan kepadaku?"

Ong Bun kim menggertak giginya menahan emosi, kemudian jawabnya:

"Benar!"

Jawaban ini benar-benar jauh dbiluar dugaan Kidm Lo sat, untuka sesaat lamanyab ia menjadi tertegun, tapi sejenak kemudian tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehhh... heeehhh... heeehh... jadi lantaran kau hendak memohon, sesuatu kepadaku, maka kau baru datang kemari?"

Perkataan itu telah membuat Ong Bun kim merasa murung dan serba salah, sebagai seorang pemuda yang tinggi hati, mana mungkin ia bisa tahan terhadap kejumawaan dan keketusan dari Kim losat ini.

Paras mukanya kontan berubah, tiba-tiba ia memutar badan dan pergi meninggalkan tempat itu. Kepergian Ong Bun kim yang sangat tiba tiba ini segera membuat Kim Lo sat menjadi tertegun.

Tay khek Cinkun ikut tertegun pula oleh sikap serta tindakan dari si anak muda itu.

"Berhenti !" tiba-tiba Kim Lo sat membentak dengan suara yang keras dan dingin.

Ong Bun kim berhenti lalu memutar badannya. Dengan wajah penuh kegusaran dia berseru:

"Kim Lo sat tidak salah aku Ong Bun kim datang kemari karena hendak memohon kepadamu tapi kau jangan keburu merasa bangga dulu, aku Ong Bun kim bukanlah manusia seperti apa yang kau bayangkan."

-oo0dw0oo--