Setan Harpa Jilid 15

 
Jilid 15

SEKULUM senyuman bmulai menghiasid wajah Yu- leng alojin yang kurubs kering...

senyuman itu kelihatan kaku, dingin dan mengerikan "Dalam musim apakah waktu itu?" dengan suara berat

dan dalam kembali ia bertanya. "Musim dingin!"

"Pakaian apa yang dikenakan pengemis cilik itu?"

"Baju biru, baju yang dekil dan berlubang, ia kedinginan hingga tubuhnya menggigil !"

"Lihatkah kau waktu itu muncul tiga empat orang bocah yang berbaju perlente sedang berjalan menghampirinya."

"Yaa, ya, aku melihatnya!"

"Mereka sedang mencemoohnya, mengejeknya" "Yaa, benar!"

"Lihatkah kau ada seorang bocah kecil berbaju hijau mengambil sebutir batu dan menimpuk pengemis cilik itu?"

"Yaa, aku melihatnya."

"Menyusul kemudian, bocah-bocah yang lain mulai menghajar tubuhnya secara bertubi-tubi?"

Sekujur badan Tay khek Cinkun gemetar semakin keras wajahnya telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tampak sekujur badannya berputar lalu darah kental mulai meleleh keluar membasahi ujung bibirnya. "Yaa, aku melihatnya!" kembali ia menjawab dengan suara gemetar.

Jawaban tersebut hampir saja membuat Ong Bun kim menjerit tertahan saking kagetnya.

Yu leng lojin mulai tertawa, tertawanya kelihatan seram dan mendirikan bulu roma, kembali ia bertanya:

"Coba lihatlah mirip siapakah tampang pengemis cilik itu?"

"Mirip aku!" Tay khek Cinkun menjawab lirih.

"Oooh !" akhirnya Ong Bun kim tak kuasa menahan diri, ia menjerit keras.

Pada hakekatnya kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tidak masuk akal, mimpipun ia tak menyangka kalau ilmu Gi sin tay-hoat bisa membuat orang kehilangan kesadarannya dan terpengaruh oleh khayalan- khayalan yang di-diktekan orang lain

"Bukankah mereka sedang memukuli dirimu secara keji?" kembali Yu leng lojin bertanya dengan suara dingin.

Sekujur badan Tay khek Cinkun bergetar keras beberapa kali, akhirnya ia muntahkan kembali darah kental untuk kedua kalinya, makin pucat raut wajahnya...

"Tidak, mereka rtelah pergi!" ttiba-tiba ia menqyahut. "Apa?"

Kali ini Yu leng lojin yang menjerit sekeras-kerasnya.

Dengan pandangan seram dan ngeri Ong Bun-kim mengawasi mereka tanpa berkedip, ia saksikan paras muka Yu leng lojin mulai berubah menjadi pucat pias, darah segar mulai menyembur ke luar dari mulutnya. Ong Bun kim semakin terkejut, ditatapnya kedua orang itu dengan sepasang mata terbelalak lebar, tak terlukiskan rasa kaget yang menyelimuti hatinya waktu itu.

Suara Yu leng lojin akhirnya berubah menjadi gemetar, kembali ia berbisik:

"Mereka sedang menganiaya dirimu mereka sedang menghajar tubuhmu hingga babak belur..."

"Tidak, mereka mereka telah pergi..."

"Tak mungkin tak mungkin... mereka sedang menganiaya dirimu.... mereka sedang menghajar tubuhmu.."

Teriakan Yu leng lojin kian lama kian bertambah keras, kian lama kian bertambah kalap sehingga kedengaran mengerikan sekali.

"Tidak mereka benar-benar telah pergi!" kali ini Tay khek Cinkun menjawab dengan tegas.

Suasana pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa, tak terdengar sedikit suara pun.

Hawa kematian serasa makin menyelimuti suasana disekeliling tempat itu! meskipun Yu leng lojin melakukan serangan terakhirnya dengan mengerahkan segenap kekuatan yaag dimilikinya, akan tetapi Tay khek Cinkun telah memberikan perlawanannya pula dengan gigih...

Setengah jam telah lewat dalam keheningan yang mengerikan.

Mendadak....

"Uuaak!" Tay khek Cinkun muntah darah segar, tubuhnya yang besar roboh terjengkang keatas tanah. Sebaliknya Yu leng lojin muntah pula darah kental, sepasang matanya segera terpejam rapat-rapat.

Pertarungan gengsipun segera berakhir! Sambil berteriak keras, Ong Bun kim segera menubruk ke arah Tay khek Cinkun: "Locianpwe...?"

Darah kental masih meleleh keluar tiada henti nya dari ujung bibir Tay khek Cinkun, agaknya cukup parah luka dalam yang dideritanya ketika itu...

"Yu leng lojin!" dengan geramnya Ong Bun kim membentak. "kau iblis keji yang tak berperasaan aku akan beradu jiwa denganmu!"

Ditengah bentakan nyaring, sebuah pukulan dahsyat langsung diayunkan ke tubuh Yu leng lojin.

Serangan Ong Bun kim yang dilancarkan dalam keadaan marah ini telah disertakan Tenaga dalam yang luar biasa hebatnya, kekuatan serangan tersebut ibaratnya gelombang samudra yang menyapa tiba, dengan membawa desingan tajam langsung menggulung ke tubuh Yu Ieng lojin.

Disaat yang kritis. bentakan dingin mendadak bergema

membelah angkasa: "Bangsat, cari mati kau!"

Segulung angin pukulan berhawa dingin yang mengerikan segera berhembus ke depan menyongsong datangnya ancaman dari anak muda tersebut.

"Blaaang !" Ong Bun kim tak sanggup berdiri tegak, termakan benturan keras tersebut, tubuhnya mundur sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.

Sesosok bayangan hitam bagaikan sesosok sukma gentayangan tiba-tiba berkelebat lewat didepan mata dan muncul di belakang tubuh Yu leng lojin.... Hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, ketika ia hendak melepaskan pukulan untuk kedua kalinya, tiba-tiba terdengar Tay khek Cinkun membentak:

"Tahan!"

Ong-Bun-kim tercekat, ketika ia berpaling tampaklah Tay khek Cinkun telah bangkit berdiri, sambil membesut noda darah diujung bibirnya, ia berkata dengan dingin.

"Siu Buncu, ilmu Gi sin tay hoat yang kau miliki betul- betul telah membuka lebar-lebar sepasang mataku, sungguh mengagumkan! Sungguh mengagumkan !"

"Kesempurnaan tenaga dalammu jauh diluar dugaanku!" sahut Yu leng lojin seram.

"Hmm, kini pertarungan telah berlangsung, aku rasa menang kalahpun telah bisa ditentukan bukan?"

"Betul!"

"Kalau begitu mari kita pergi!" kata Tay khek Cinkun setelah melirik sekejap ke arah Ong Bun kim.

Tanpa membuang waktu lagi ia beranjak dan melangkah keluar dari pintu ruangan.

Tapi pada saat Tay-khek Cinkun siap beranjak itulah dua sosok bayangan hitam tiba-tiba menghadang jalan pergi mereka.b

Dengan wajah bderubah Taykhek aCinkun segera mbembentak nyaring:

Minggir kalian!"

Salah satu dari kedua bayangan hitan itu mendengus dingin, kemudian sahutnya: "Setelah kalian memasuki pintu Yu-leng-bun, maka jangan harap bisa keluar lagi dari Seng si kwan (batas antara mati dan hidup) sobat! Tinggalkan dulu nyawa kalian!"

Paras muka Tay khek Cinkun kembali berubah hebat, perubahan yang terjadi diluar dugaan ini sungguh membuat hati mereka berdua merasa terperanjat sekali.

Sekalipun ia memiliki kepandaian silat yang amat lihay, akan tetapi dengan luka yang di deritanya sekarang, jelas mustahil baginya untuk bertarung melawan orang lain, betul masih ada Ong Bun-kim disitu, namun tenaga dalam yang dimiliki anak muda itu masih belum cukup untuk menandingi dua kekuatan orang musuhnya.

Maka setelah wajahnya berubah hebat, Tay khek Cinkun menghimpun kembali segenap sisa kekuatan yang dimilikinya siap untuk melangsungkan pertarungan terakhir

Sementara dimulut diapun menegur dengan sinis: "Buncu, beginilah caramu menetapi janji."

Yu-leng lojin tidak menjawab, dia hanya mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. Tak terlukiskan rasa gusar Ong Bunkim, segera bentaknya dengan penuh kemarahan:

"Bangsat, rupanya kaucari mampus."

Dengan kobaran hawa amarahnya yang berkobar-kobar, Ong Bun-kim melejit ke udara dan menerjang ke arah dua sosok bayangan hitam itu, sebuah pukulan dahayat segera dilepaskan.

Baru saja serangan dari si anak muda itu meluncur ke depan, bayangan hitam berputar kencang, dua gulung telaga pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke udara dan balas menerjang ke arah Ong Bun kim. Dalam keadaan demikian, terpaksa Tay-khek Cinkun harus melepaskan pula pukulan satu-satunya yang masih sanggup ia lancarkan itu.

"Tahan!" mendadak Yu leng lojin membentak dengan suara yang keras dan menggelegar.

Bayangan hitam berkelebat lewat, tahu-tahu ke dua orang manusia msterius itu sudah melayang mundur dari tempat itu.

Tay khek Cinkun dan Ong Bun kim pan bersama sama menarik kembali serangannya sambil mundur kebelakang.

"Pengawal kiri kanan!" Y u leng lojin kembali membentak.

"Siap"

"Jangan kalian susahkan sahababt-sahabatku itud, selamanya akua paling memeganbg janji, maka biarkanlah kedua orang itu pergi meninggalkan tempat ini."

"Baik!"

Selesai menyahut, kedua orang itu berkelebat kembali ke samping untuk memberi jalan lewat.

"Siau Buncu" kata Tay khek Cinkun kemudian sambil tertawa dingin, budi kebaikanmu ini pasti akan kubalas di kemudian hari!"

Sehabis berkata ia memutar badan dan berlalu dari sini. Sepeninggal Tay khek Cinkun dan Ong Bon-kim,

pengawal kanan mendadak berbisik: "Buncu. "

"Tak usah kuatir, mereka pasti akan kem bali lagi." Ucapan tersebut diutarakan dengan penuh keyakinan, tapi atas dasar apakah, ia percaya kalau Tay khek Cinkun dan Ong bun kim bakal kembali lagi ke situ?

Dalam pada itu Tay khek Cinkun dan Ong Bun kim telah berjalan keluar dari Yu leng bun dan tiba di istana bagian tengah, sementara itu wakil ketua dari perguruan Yu-leng bun serta sekalian anggota perguruannya masih belum pergi meninggalkan tempat itu.

Ketika Wakil Buncu sekalian menyaksikan kemunculan kedua orang itu kembali dalam keadaan hidup, paras mukanya segera berubah hebat.

"Engkau hendak pergi?" tegur Hu buncu kemudian sambil menatap Tay-khek Cinkun tajam-tajam.

"Benar." jawaban Tay khek Cinkun hanya singkat sekali, lalu sinar matanya yang tajam itu dialihkan ke atas wajah Dewi mawar merah.

"Dewi mawar merah!" bentaknya kemudian dengan suara dingin, "hayo ikut kami tinggalkan tempat ini!"

"Kenapa?" tanya Dewi mawar merah dengan wajah berubah.

"Soal ini tanyakan saja kepada Yu leng lojin!" Belum habis perkataan dari Tay Khek Cinkun tersebut, suara dari Yu leng lojin telah berkumandang di ruangan:

"Yap tongcu!" "Tecu ada disini!"

"Pergilah bersama mereka, mulai sekarang kau adalah milik mereka."

Air muki Dewi mawar merah segera berubah hebat sekali, jeritnya keras-keras: "Buncu, kau jangan biarkan aku pergi bersama mereka, aku  tak  mau  mengikuti  mereka,  aku  ingin bersamamu....

aku ingin bersamamu menolong mereka yang sengsara. oh

Buncu biarkanlah aku berada disini."r

Jeritan-jeritatnnya itu ternyaqta berubah menjradi isak tangis yang memedihkan hati.

Keadaan semacam ini sungguh mengejutkan siapa pun juga, dari sini pula dapat dibuktikan bahwa daya pengaruh dari Yu leng lojin memang benar-benar mengejutkan hati orang.

Suara dingin dari Yu leng lojin kembali berkumandang tiba:

"Pergi, Pergilah mengikuti mereka, jika kau dapat menampilkan diri secara baik, di kemudian hari mungkin aku masih bisa menerimamu kembali, tapi kalau kau tak mau pergi maka selama hidup jangan harap bisa kembali lagi ke perguruan kita mengerti?"

"Mengerti!"

"Nah, pergilah kau begitu!" "Baik!"

Tercekat juga perasaan Tay-khek Cinkun setelah mengikuti berlangsungnya adegan tersebut, pikirnya:

"Iblis sakti dari kutub utara betul-betul tak malu disebut sebagai iblisnya iblis, manusia sesatnya manusia sesat lain."

Berpikir-demikian, iapun berkata kepada Ong Bun-kim. "Hayo kita berangkat!"

Ong Bun-kim manggut-manggut, kepada Dewi mawar merah segera bentaknya:

"Hayo jalan, ikut kami pergi meninggalkan tempat ini!" Dengan wajah yang sedih dan memelas Dewi mawar merah berjaIan mengikuti dibelakang Tay-khek Cinkun, sementara Ong Bun kim berjalan dipaling belakang sendiri.

Dalam perjalanan keluar dari gua, ternyata sepanjang jalan mereka tidak menjumpai hadangan apapun.

Setelah keluar dari gua, Tay-khek Cinkun melejit keudara dan meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa dalam waktu singkat ia telah berada puluhan kaki jauh nya dari tempat semula, akhirnya berhenti dalam sebuah hutan.

Dengan tatapan dingin ia melirik sekejap ke arah Dewi mawar merah, kemudian sambil duduk katanya:

"Ong Bun-kim, bila aku telah selesai menyembuhkan lukaku nanti, kita baru menyusun rencana berikutnya!"

"Baik!"

Tay khek Cinkun segera memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan, tapi sesaat kemudian tiba-tiba menjerit kaget, paras mukanya berubah hebat dan peluh mulai bercucuran membasahi jidatnya.

Ong Bun kim ikut terperanjat oleh jeritan kaget Tay im Cinkun tersebut, dengan mata terbelalak dan mulut melongo serunya:

"Locianpwe, kenapa kau?" Tay khek-Cinkun tertawa getir, sahutnya.

"Kita semua sudah terkena sergapan kejinya, kita berdua sudah termakan olen racun gilanya yang tak berwujud dan berbahaya.

"Haaahhh !" Ong Bun kim menjerit tertahan. "Kalau tidak percaya, cobalah sendiri..." Ong Bun kim segera duduk bersila sambil mengatur pernapasannya, tapi begitu hawa murninya dihimpun, ia segera merasakan ada segulung hawa dingin yang luar biasa muncul dari pusarnya dan terus naik ke atas....

membekukan sekujur tubuhnya dan membuyarkan tenaga dalam yang dimilikinya, halmana tentu saja amat mengejutkan hati.

"Lebih baik pulang dan menjumpai Bun-cu kami!" sela Dewi mawar merah dengan suara menyeramkan, "kecuali dia seorang, didunia dewasa ini tiada seorang pun yang bisa menolong kalian, kalau tidak maka sekujur tubuh kalian akan merasakan kesakitan yang luar biasa, kemudian akan semakin bertambah sakitnya, hingga kemudian menjadi gila. "

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat.

"Dewi mawar merah, kubunuh dirimu lebih dulu!" bentaknya.

Diiringi bentakan keras, tiba-tiba saja ia menubruk ke arah Dewi mawar merah dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Akan tetapi sebelum serangan tersebut mencapai sasarannya, tiba-tiba si anak muda itu menjerit kesakitan, lalu tubuhnya yang berada di udara jatuh ke bawah dan terguling-guling.

Tampak sekujur tubuh anak muda itu gemetar keras, dengan suara yang memilukan ia mengeluh:

"Oooh.s.... sakit.. oooh sakit sekali. "

Tay khek Cinkun menjadi amat terperanjat, segera jeritnya.

"Ong Bun kim, kenapa kau? Aduh. " Belum habis ucapannya itu, seperti juga Ong Bun kim, tiba-tiba ia menjerit kesakitan dengan tubuh menggigil keras, mereka berguling-guling diatas tanah seakan-akan sekujur tubuh mereka sudah ditembusi oleh beribu-ribu batang pisau belati, keadaan sungguh mengerikan sekali...

Tiba-tiba... selapis bawa pembbunuhan yang mendgerikan menyeliamuti wajah Dewib mawar merah yang cantik itu, kemudian dengan muka menyeringai seram pelan pelan telapak tangan kanannya diangkat ke udara, dan selangkah demi selangkah dihampirinya Tay khek Cinkun serta Ong Bun kim yang masih bergulingan ditanah penuh kesakitan itu

0000OdwO0000

BAB 46

PADAHAL keadaan Tay khek Cinkun dan Ong  Ban kim ketika itu sangat payah, pada hakekatnya mereka sudah tak bertenaga lagi untuk melancarkan serangan.

Dalam menghadapi Dewi mawar merah yang secara tiba-tiba berubah menjadi seorang pembunuh keji ini, kecuali pasrah memang tiada jalan lagi bagi kedua orang itu untuk menghindarkan diri.

Bisa dibayangkan, seandainya pukulan itu keburu dilancarkan, bagaimana mungkin Tay khek Cin kun dan Ong Bun kim bisa menyelamatkan jiwanya dari kematian?

Sementara itu hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Dewi mawar merah kian lama kian bertambah tebal.

Sambil tertawa dingin, ia bergumam. "Daripada dibiarkan hidup lama-lama, lebih baik sekarang juga kukirim kalian berdua untuk pulang ke alam baka!"

Sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dilepaskan kearah tubuh Ong Bun kim.

Serangan tersebut akhirnya dilepaskan juga bahkan dilancarkan secara keji, dengan tenaga pukulannya yang sebesar sepuluh bagian itu apa yang terjadi bila Ong Bun- kim terhajar telak?

Untunglah disaat yang amat kritis ini, sebuah bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan...

"Tahan!"

Menyusul bentakan tersebut, sesosok bayangan manusia secepat sambaran kilat meluncur masuk ke dalam gelanggang.

Oleh bentakan yang menggelegar itu tanpa sadar Dewi mawar merah menarik kembali hawa serangannya yang dilancarkan kearah Ong Bun-kim itu dan melompat  mundur dari situ.

Sesudah mundur beberapa langkah, ia mendongakkan kepalanya Seorang perempuan berbaju hitam yang anggun tahu-tahu sudah berdiri tegak dihadapan mukanya.

Dengan wajah berubah hebat ia menatap perempuan itu lekat-lekat, kata "Suhu" hampir saja meluncur keluar dari mulutnya.

Ternyata perempuan yang baru sbaja muncul kan ddiri itu bukan alain adalah Hiabn ih-lihiap (pendekar perguruan berbaju hitam).

Dengan wajah tercengang, heran dan sangsi Hian-ih lihiap memperhatikan sekejap keadaan Ong Bun-kim dan Tay khek Cinkun yang bergulingan diatas tanah itu lalu dengan perasaan terperanjat tegurnya:

"Soh cu! Kau sudah edan?"

Air muka Dewi mawar merah berubah hebat, lalu jawabnya ketus; "Aku belum edan!"

"Kau hendak membinasakan kedua orang itu."

Jelas Hian-ih lihiap masih belum tahu kalau Yap Soh-cu yang dididik dan dipeliha ranya selama puluhan tahun bagaikan anak sendiri ini telah terpengaruh oleh ilmu Yu- leng lojin sehingga telah berubah menjadi seorang perempuan yang lain.

"Betul!" jawab Yap Soh cu dengan dingin. "Kenapa kau hendak membunuh mereka?"

"Daripada membiarkan mereka hidup dengan menanggung derita, lebih baik dibunuh saja biar beres."

"Ngaco belo!" "Ngaco belo apa?!"

"Kita sebagai orang-orang kalangan pendekar harus turun tangan menolong orang yang menderita, menolong bukan harus dilakukan dengan cara memusnahkannya, mengerti?"

"Tapi aku harus membunuh mereka!" "Kenapa?"

Dengan wajan berubah menjadi seram dan mengerikan, Dewi mawar merah tertawa dingin tiada hentinya.

"Heehhh....heeeh... heeehh bukan saja aku hendak membunuh mereka, akupun hendak membunuh kau!"

"Apa?" Hampir saja Hian ih lihiap tidak percaya dengan pendengaran sendiri, dengan terkejut ia berseru tertahan lalu mundur tiga empat langkah dengan sempoyongan, ditatapnya Dewi mawar merah dengan mata terbelalak lebar.

Hawa napsu membunuh kembali menyelimuti wajah Dewi mawar merah, ujarnya lagi:

"Akupun hendak membinasakan dirimu."

"Kau... kau...." Hian ih lihiap dibikin terkesiap oleh kejadian yang sama sekali diluar dugaannya ini, sehingga urntuk sesaat lamtanya tak sangguqp mengucapkan srepatah katapun.

"Aku bilang, aku hendak membunuh kau!", seru Dewi mawar merah lagi dengan nada menyeramkan.

"Kau... kau sudah gila?"

"Tidak! Sedikitpun aku tidak gila!" "Lantas, kau. "

"Kenapa aku hendak membunuhmu bukan?" sela Dewi mawar merah dengan suara yang sinis.

Hian ih lihiap betul-betul merasakan batinnya terpukul, dengan perasaan sedih dan penuh penderitaan, serunya dengan suara gemetar:

"Benar!"

"Terus terang kukatakan kepadamu, suamimu-lah pembunuh keji yang telah membunuh ayah ibuku!"

"Apa.....?" sekali lagi Hian ih lihiap menjerit sekeras- kerasnya.

"Buat apa kau musti terkejut? Suamimu adalah pembunuh yang telah membinasakan ayahku dan ibuku, karena ia tak tega membunuh aku maka aku dirawanya pulang ke-rumah."

"Dari mana kau mendengar semua berita tersebut?"

"Aku dapat melihatnya dari tengah ilmu Gi sin-tay-hoat yang dilakukan khusus oleh Yu-leng lojin bagiku!"

"Kau bilang Yu-leng lojin?"

"Benar, dia adalah Buncu ku sekarang, aku telah masuk menjadi anggota perguruan Yu-leng bun."

Kontan saja Hian-ih-lihiap merasakan kepalanya seakan- akan dipukul dengan martil yang berat sekali, matanya menjadi berkunang-kunang, kepalanya menjadi pusing, dada sesak dan wajah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dengan sempoyongan ia mundur ke belakang dan hampir saja roboh terjengkang ke tanah.

Peristiwa ini sungguh berada diluar dugaannya dan amat menggetarkan seluruh perasaan Hian ih liap, Yaa! Bagaimanapun juga, peristiwa ini baginya merupakan suatu peristiwa yang betul-betul menakutkan sekali.

Dengan suara gemetar diapun bertanya kembali:

"Jadi kau benar-benar sudah masuk menjadi anggota perkumpulan Yu-leng bun?"

"Benar?"

"Kau?. " saking gemetarnya menahan luapan emosi, Hian ih lihiap tak sanggup melanjutkan kembali kata- katanya.

"Terus terang kuberitahukan kepadamu, setelah suamimu membunuh ayahku, ia telah memperkosa pula ibuku kemudian Buncu kami membalaskan dendam bagiku dengan membunuh suamimu serta seluruh anggota perguruannya." "Omong kosong!"

"Tidak! Sama sekali tidak omong kosong, aku berbicara sesungguhnya"

"Aku ingin bertanya, antara suamiku dengan ayah ibumu sebenarnya mempunyai dendam sakit hati apa?"

"Sama sekali tak ada."

"Kalau menuang tak ada, kenapa ia dapat membunuh ayah ibumu?"

"Sebab suamimu terpikat oleh kecantikan ibuku, maka timbul niat jahatnya untuk membunuh ayahku serta menodai ibuku"

"Hal ini tak mungkin bisa terjadi." bentak Hian ih lihiap dengan gusarnya.

"Siapa bilang tak mungkin? Jelas mungkin sekali." "Sekarang Yu leng lojin berada dimana?" bentak Hian ih

lihiap amat geram. "Mau apa kau?"

"Ia telah mengirim orang membunuh suamiku membantai anggota perguruanku, dan sekarang dengan menggunakan ilmu sesat..."

"Tutup mulut!" bentak Dewi mawar merah. "dia adalah orang baik, kularang kau menghina dan mencemooh dirinya."

"Yap Soh cu!" bentak Hian ih lihiap "Perduli ucapanmu itu merupakan kenyataan atau bukan, yang jelas terhadap dirimu aku tak pernah memperlakukannya secara jelek, tak pernah merugikan kau!"

"Yaa tentu saja karena kau punya tujuan!" "Apa tujuanku?"

"Takut dikemudian hari aku membunuh dirimu!" "Ucapan mu itu sama sekali tidak beralasan!" Dewi mawar merah tertawa dingin tiada hentinya.

"Perduli beralasan atau tidak pokoknya aku hendak membunuh kau!"

"Kau berani?" bentak Hian ih lihiap dengan geramnya. "Kenapa tak berani? Sambutlah seranganku ini."

Ditengah bentakan yang amat nyaring, Dewi mawar merah menerjang maju kedepan, kemudian sebuah pukulan dahsyat dilancarkan ke arah Hian ih lihiap.

Gadis itu benar-benat melepaskban serangan yandg dahsyat dan maematikan orang.b

Semua kesadaran dan tabiat sesungguhnya telah dipunahkan oleh pengaruh hipnotis, yang masih tersisa dalam benaknya saat ini adalah kebiasaan dan kejahatan yang dipengaruhi hawa sesat.

Hian ih lihiap sama sekali tidak tahu kalau muridnya telah terpengaruh oleh ilmu hipnotis yang jahat, maka ketika dilihatnya Dewi mawar merah benar-benar melancarkan serangan mematikan ke arahnya, dengan penuh kegusaran dia membentak:

"Yap Soh cu, kau bsraai menyerang aku ?"

Ditengah bentakan nyaring, ia lepaskan pula sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Bayangan manusia saling berputar, dalam waktu singkat kedua belah pihak telah melancarkan tiga buah serangan.

Sudah barang tentu ilmu silat yang dimiliki Dewi mawar merah bukan tandingan dari Hian-ih lihiap, selewatnya tiga gerakan tersebut, ia kena terdesak hingga mundur sejauh satu kaki lebih dari posisinya semula.

"Yap Soh-cu!" kembali Hian-ih lihiap membentak, "jika kau berani turun tangan lagi, jangan salahkan kalau aku benar-benar akan membunuhmu"

"Kalau berani, bunuh saja diriku ini!" bentak Dewi mawar merah setengah kalap.

Ditengah jeritan keras yang memekikkan teIinga, kembali ia menubruk kedepan dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan tersebut.

Habis sudah kesadaran Hian ih lihiap menghadapi tingkah laku muridnya, ditengah bentakan keras, telapak tangan kanannya dibabat keluar melepaskan dua buah serangan kilat yang disertai dengan tenaga pukulan dahsyat.

Yu leng lojin telah menciptakan suatu tragedi yang memilukan hati bagi kedua orang itu.... yaa, akibat dari ulahnya, murid dan guru telah terlibat sendiri dalam suatu pertarungan yang mempengaruhi mati hidup kedua belah pihak.

Dikala guru dan murid sedang terlibat dalam pertarungan yang sengit inilah, Tay-khek Cinkun serta Ong Bun kim tersadar kembal dari pederitaannya.

Mereka menghentikan gerakan tubuhnya yang bergelindingan di tanah, bagaikan orang yang baru sembuh dari penyakit parah, kedua orang itu berbaring ditanah dengan lemas seperti tak bertenaga.

Tapi suara pertarungan antara Hian-ih lihiap dengan Dewi mawar merah dengan cepat menyadarkan kembali Ong Bun-kim, cepat cepat dia bangun berduaduk dan alihkanb sorot matanya ke tengah arena. Berubahlah wajahnya setelah mengetahui siapa yang terlibat dalam pertarungan itu.

Serta merta itu pula Tay Khek Cinkun telah duduk pula sambil menonton jalannya pertarungan, tiba-tiba ia bertanya:

"Ong Bun-kim, siapakah perempuan yang sedang bertarung melawati Dewi mawar merah itu?"

"Suhunya !"

"Apa? Dia adalah gurunya Dewi mawar merah?"

"Benar, dia pula nyonya pangcu dari perkumpulan Hui- yan-pang?"

"Waaah, hal ini mana boleh jadi !"

Belum habis ucapan dari Tay-khek Cinkun tersebut, bentakan keras yang diiringi dengusan tertahan telah berkumandang memecahkan keheningan, menyusul kemudian tubuh Dewi mawar merah mencelat ke belakang dan roboh terjengkang ke atas tanah.

"Kubunuh kau perempuan sialan yang tak tahu budi!" bentak Hian ih lihiap lagi.

Sambil menerjang maju ke depan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke tubuh gadis itu.

"Locianpwe, tahan!" tiba-tiba Ong Bun kim membentak keras.

Oleh bentakan Ong Bun kim yang keras i tu, serta merta Hian ih lihiap menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang, ketika berpaling ke arah anak muda tersebut, tampak sekali wajahnya diliputi oleh luapan emosi. Pelan-pelan Ong Bun-kim bangun berdiri, setelah memandang sekejap ke arah Dewi mawar merah yang tergeletak di tanah, ujarnya dengan nada sedih:

"Locianpwe, jangan kau bunuh dirinya!" "Kenapa?"

"Sebab ia sudah terkena pengaruh ilmu sesat!"

"Ia benar-benar sudah menggabungkan diri dengan perguruan Yu-leng bun ?" tanya Hian ih lihiap.

"Benar !"

"Yaa ampun !" sambil menjerit keras, titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipi perempuan itu.

"Hujin tak perlu bersedih hati" hibur Tay khek Cinkun dengan cepat, "sebab semua perbuatannya dilakukan tanpa sadar, ia sudah terpengaruh oleh ilmu sesat yang bisa menghilangkan kresadaran orang!t"

Hian ih Iihiaqp berpaling ke rOng Bun kim, kemudian katanya.

"Cianpwe ini adalah.. ?"

"Dia adalah Tay khek Cinkun!" Dengan terkejut Hian ih lihiap lantas berseru:

"Oooh ! Kiranya adalah locianpwe, terimalah salam dari Ong Sian bi!"

"Hujin tak perlu banyak adat!"

"Benarkah ia terpengaruh oleh ilmu sesat dari Yu leng lojin?" tanya Hian ih lihiap kemudian.

"Benar."

"Tak heran kalau dia hendak membunuh kalian berdua!" "Apa?" Ong Bun kim dan Tay khek Cinkun menjerit tertahan.

Hian ih lihiap menghela napas panjang, diapun membeberkan peristiwa yang telah dilihatnya barusan kepada kedua orang itu, sudah barang tentu Ong Bun kim berdua merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri mengingat baru saja mereka lolos dari lubang jarum. 

Coba kalau Hian ih lihiap tidak muncul tepat pada saatnya, bukankah jiwa mereka berdua telah melayang tinggalkan raga untuk melaporkan diri kepada Raja akhirat?

"Aaah sungguh suatu peristiwa yang mengerikan hati!" gumam Tay kbek Cinkun kemudian.

"Apakah kalianpun sudah terkena tangan jahat dari Yu leng lojin?" tanya hian ih lihiap.

"Benar!" jawab Tay khek Cinkun, kemudian sambil berpaling kearah Ong Bun kim, ujarnya kembali, "sebelum memasuki Yu leng bun tadi, aku telah menduga kalau Yu leng lojin bakal mempergunakan racun untuk mencelakai kita, sebab itu-lah Kuanjurkan kepadamu untuk minum sebutir pil anti racun"

"Yaa memang begitulah!"

"Aaay ! Tapi tidak kusangka sama sekali kalau racun tak berujud dari Yuleng lojin ternyata sedemikian lihaynya sehingga kemanjuran pil anti racunnya tak berdaya sama sekali"

Saking gemas dan mendendamnya, Ong Bun kim menggertak giginya keras-keras.

Mendadak Dewi mawar merah yang tergeletak ditepi arena berteriak keras: "Hian-ih lihiap, kalau kau punya kepandaian, hayo bunuhlah aku."

"Kalau anggap aku tak berani membinasakan dirimu?" bentak Hian-ih lihiap dengan wajah berubah.

"Kalau memang berani, kenapa tidak segera turun tangan?"

Saking gusarnya sekujur badan Hian-ih li hian gemetar keras, tapi sebelum pertarungan itu bertindak sesuatu, Ong Bun-kim telah menerjang lebih dulu sambil membentak.

"Dewi mawar merah, kau ingin mampus?"

Didalam gusarnya ia telah cengkeram tubuh Dewi mawar merah dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Ong Bun-kim, lepaskan dia!" Tay-khek cin kun segera membentak.

Ketika kena dibentak, serta merta Ong Bun kim menurunkan kembali gadis itu keatas tanah.

"Dewi mawar merah!" ujar Tay khek Cinkun kemudian dengan suara dingin, "bukankah kau amat menyanjung Yu leng lojin?"

"Benar!"

"Kau berani tidak melanggar ucapannya?" "Tidak!"

"Nah, bukankah dia telah menyerahkan kau kepada kami? Memangnya kau berani membangkang perkataannya?"

"Tidak berani!"

"Kalau memang demikian, maka kau harus mendengarkan semua perkataan kami, kalau tidak maka perbuatanmu itu sama artinya dengan bersikap tidak hormat terhadap Yu leng lojin!"

0000OdwO0000

BAB 47

DENGAN sendiri Dewi mawar merah menundukkan kepalanya dari tidak berbicara lagi, sementara sinar matanya yang dialihkan kearah Hian ih lihiap masih tetap memancarkan hawa napsu membunuh yang amat tebal, membuat siapapun yang melihatnya merasa hatinya tercekat.

Tiba-tiba Hian ih lihiap bertanya. "Dimanakah letak Yu leng bun?"

Ong Bun-kim menggigil keras, serunya tanpa sadar: "Mau apa kau?"

"Hendak kujumpai dirinya"

Dewi mawar merah segera menuding ke depan sambil berkata:

"Itu dia, didalam gua ditempat kejauhan sana"

Hian ih lihiap memandang sekejap ketempat kejauhan sana, setelah itu dengan hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya ia berkata:

"Aku hendak membunuhnya?"

Selesai berkata ia lantas menggerakkan tubuhnya dan meluncur kearah gua itu dengan kecepatan tinggi.

Terkesiap Ong Bun kim menyaksikan tindakan perempuan itu. "Berhenti!" Tay kbek Cinkun segera membentak.

Ditengah bentakan tersebut, dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya ia melompat kemuka dan menghadang jalan pergi Hian ih li hiap.

"Mau apa kau?" Hian ih lihiap segera berseru dengan kaget.

"Mau apa pula kau?" Tay khek Cinkun balik bertanya. "Aku hendak menjumpai Yu leng lojin untuk membalas

dendam!"

"Hujin aku harap sebelum kau laksanakan hal tersebut, pikirkan dulu tiga kali, camkan dulu bahwa perbuatanmu itu lebih banyak resikonya dari pada keberuntungan."

"Aah, tidak perlu dipikirkan lagi!"

"Ketahuilah hujin, ilmu silatmu masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan kepandaiannya kau masih bukan tandingan bajingan tua tersebut!"

"Tentang soal ini sudah kupikirkan masak-masak, harap kau tak usah menguatirkan diriku!"

Tay khek Cinkun segera menghela napas panjang, katanya kembali:

"Hujin, bukannya aku sengaja menyombongkan diri, dengan mengandalkan tenaga dalam yang kumilikipun masih terkena racun gila tak berwujud Bu heng hong bong ci tok, apalagi kau? Bagaimana seandainya kau berubah menjadi seperti Dewi mawar merah setelah berjumpa dengannya nanti?"

Paras muka Hian ih lihiap segera berubah hebat. Tay khek Cinkun berkata lebih jauh. "Bukan saja dendam sakit hatimu tak terlampiaskan, bahkan kau malahan akan dipergunakan olehnya."

"Jadi, kau menyarankan aku jangan membalas dendam?"

"Aku tidak bermaksud demikian, aku hanya mengingatkan kepadamu agar janganlah disebabkan suatu masalah yang kecil mengakibatkan masalah besar menjadi terbengkalai, dengan mengandalkan emosi dan keberanian saja masih belum cukup untuk mengatasi persoalan, malah bisa jadi akan berakibat fatal!"

"Lantas bagaimanakah aku musti bertindak menurut pendapatmu?"

"Seharusnya kau menyusun rencana jangka panjang lebih dahulu, setelah rencana matang barulah mulai bertindak"

"Aaai....kalau begitu biar kupertimbangkan kembali nasehatmu itu."

"Yaa, memang lebih baik hujin berpikir tiga kali dulu sebelum bertindak!"

Dengan mulut membungkam, perdekar baju hitam termenung dan berpikir beberapa waktu lamanya.

Sementara waktu, Ong Bun kim yang membungkam selama ini tiba-tiba berpaling ke arah Dewi mawar merah sambil menegur:

"Dewi mawar merah, aku ingin bertanya kepadamu..." "Katakanlah!"

"Siapa yang mampu memunahkan pengaruh racun giia tak berwujud ini...?"

"Yu-leng lojin!" "Kecuali dia?" "Didunia ini tak akan kau jumpai orang kedua!"

"Dalam jangka waktu berapa lama racun gila tak berwujud itu baru mulai kambuh dan bekerja?"

Setiap satu jam akan kambuh satu kali, setiap kali kambuh maka tenaga dalam yang dimiliki akan berkurang dari lima sampai sepuluh tahun hasil latihan, bila sampai kambuh untuk ketiga kalinya, maka sekujur badan akan menjadi kering dan tewas."

Bergidik juga Ong Bun-kim setelah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa: "Sungguhkah perkataan itu?"

"Benar!"

Bukan saja Ong Bun-kim dibikin terperanjat oleh perkataan itu, bahkan Tay khek Cin kun pun merasakan jantungnya berdebar keras. tak tahan lagi dia berseru:

"Jadi kalau begitu, kami hanya mempunyai waktu hidup selama dua jam saja?"

"Benar!"

Jawaban tersebut benar-benar menggidikkan hati semua orang, untuk sesaat lamanya Ong Bun kim dan Tay khek Cinkun hanya bisa berdiri tertegun tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Cuma..." kata Dewi mawar merah lagi dengan dingin, tentu saja kalian bisa lolos dari kematian tersebut.

"Apa caranya?" bentak Ong Bun kim.

"Menjumpai Buncu kami Yu leng lojin, hanya dia yang bisa menyelamatkan kalian dari kematian."

"Apa? Mencarinya?"

"Tentu saja. kalian harus menjumpainya untuk minta obat penawar racun itu!" "Kalau kami enggan menjumpainya?" "Mampuslah kamu berdua!"

Dengan hati bergidik dan wajah memucat, Ong Bun kim berdiri tertegun ditempat sambil membungkam dalam seribu bahasa.

Tiba-tiba Tay kbek Cinkhn berpaling ke arah anak muda itu dan berkata:

"Ong Bun Kim, sekarang hanya ada dua cara buat kita..."

"Cara apa?"

"Pertama adalah mati, kedua adalah jalan hidup, menurut penglihatan ku lebih baik kita pergi saja untuk menjumpai Yu leng lojin dan meminta obat penawar darinya."

"Apa kau bilang?"

"Asal kita dapatkan obat pemunahnya, maka kita baru akan terhindar dari kematian."

Ong Ban kim tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehh heeehhh heeehhh sungguh tak kusangka perkataan semacam inipun bisa kau ucapkan, kalau kau ingin mencarinya, pergilah menjumpai sendiri!"

"Dan kau?"

"Aku Ong Bun kim lebih rela mati keracunan dari pada pergi memohon kepadanya!"

"Kau ingin mati?"

"Benar, terus terang kuberitahukan kepadamu, aku tak akan tuidukkan kepala kepada Yu-leng Lojin, sampai matipun aku tak akan tunduk, mengertikan kau?" Tiba-tiba Tay-khek Cinkun mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh....haaihhh. haaahhh punya semangat! Punya

semangat! Aku memang tak salah menilaimu, betul! Sekalipun harus mati keracunan, kita tak akan tundukkan kepala kepadanya, barisan aku hanya sengaja mempergunakan kata-kata tersebut untuk menyelidiki karakter dan watakmu yang sesungguhnya"

Mendengar perkataan tersebut, Ong Bun kim baru mengerti akan maksud orang, serunya juga:

"Oooh kiranya begitu!"

Tay khek Cinkun menghela napas panjang, ujarnya lagi: "Kau  memang  benar-benar  seorang  manusia   berbakat

yang punya jiwa ksatria, cuma sayang kita benar-benar tak

akan hidup lebih dari dua jam lagi."

Ong Bun kim segera berpaling, kemudian bantahnya: "Dewi mawar merah, ada satu persoalan ingin

kutanyakan lagi kepadamu, kemana larinya ke enam biji mata uang kematian itu?"

"Sudah kuserahkan kepada Buncu dari perguruan Yu- leng bun."

"Kau sudah berkunjung ke benteng Hong-she?" "Belum!"

Ong Bun-kim segera berpaling kembali kearah Tay-khek Cinkun, lalu bertanya:

"Locianpwe, mungkin ia bisa menyelamatkan kita berdua!"

"Siapa yang kau maksudkan?" "Iblis cantik pembawa maut!"

Paras muka Tay khek Cinkun segera berubah.

"Yaa. betul!" serunya. "mungkin ia bisa menyelamatkan jiwa kita berdua"

"Aku tahu dia berada dimana, hayo berangkat, sekarang juga pergi menjumpainya"

Selesai mengucapkan kata tersebut Ong Bun-kim segera berangkat lebih dulu meninggal kan tempat itu.

Tay khek Cinkun memandang sekejap ke arah Hian-ih lihiap berdua, lalu serunya:

"Mari kita ikut pergi!"

Selesai berkata, iapun berangkat menyusul dibelakangnya sianak muda yang telah berangkat duluan itu.

Dewi mawar merah tertawa hambar, dia ikut pun menyusul dibelakang kedua orang ini.

Dalam keadaan demikian mau tak mau Hian-ih Iihiap harus mengikuti pula kepergian Ong Bun-kim berdua, sebab jika Ong Bun kim dan Tay-khek Cinkun sampai roboh kembali karena bekerjanya racun ditubuh mereka, besar kemungkinan-nya kalau Dewi mawar merah akan manfaatkan kesempatan tersebut untuk membunuh kedua orang itu.

Maka diapun menjejakkan kakinya ke tanah dan meluncur kedepan menyusul rekan-rekan lainnya...

Setelah melakukan perjalanan sekian lama, Ong Bun kim telah keluar dari hutan lebat itu dan berlarian menuju ke atas sebuah tebing curam didepan sana. Sebuah bangunan megah yang indah telah muncul didepan mata sana, sesaat kemudian mereka-pun telah tiba dipintu gerbangb diluar dindingd pekarangan yanag tinggi.

Tanpab berpikir panjang. Ong Bun kim segera berkelebat masuk ke dalam pekarangan rumah itu.

Mendadak dikala Ong Bun kim sedang menerjang masuk ke halaman itulah, serentetan suara tertawa dingin yang menggidikkan hati berkumandang memecahkan keheningan, dari balik kegelapan tahu-tahu muncul tiga orang manusia tanpa sukma.

Paras muka Ong Bua kim segera berubah hebat, segera hardiknya keras-keras:

"Siapa disitu?" "Manusia tanpa sukma!"

"Mau apa kalian disana?" Salah seorang diantara tiga orang Manusia tanpa sukma itu mendengus dingin, lalu sahutnya:

"Apakah kau tidak tahu kalau benteng Hong shia ini sudah menjadi tempat terlarang dari perguruan kami?"

"Daerah terlarang?"

"Benar, siapapun dilarang menaiki daerah Hong shia ini!"

Kontan saja Ong Bun kim tertawa dingin tiada hentinya. "Maksud siapakah yang merubah tempat ini menjadi

daerah terlarang...?" tegurnya. "Buncu kami!"

"Yu-leng lojin?" "Benar!" Pelbagai pikiran segera melintas dalam benak Ong Bun- kim, seandainya hal ini merupakan kenyataan, itu berarti terkurungnya Iblis cantik pembawa maut ada sangkut paut yang besar sekali dengan Yu-leng lojin.

Berpikir sampai disitu, dia lantas membentak keras: "Minggir !"

Berbareng dengan bentakan dari Ong Bun kim, Hian-ih- lihiap yang berada dibelakang nya sudah tak tahan lagi, tiba tiba ia pun membentak amat keras:

"Manusia tanpa sukma, serahkan nyawamu!"

Bayangan manusia berkelebat lewat, ia telah menerjang lebih duluan kearah Manusia tanpa sukma tersebut, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ketubuh lawan.

Ong Bun-kim membentak juga, secepat kilat ia menyusulkan pula sebuah pukulan yang tak kalah hebatnya.

Sungguh dahsyat serangan yang dilancarkan Hian ih- lihiap serta Ong-Bun kim, bayangan manusia segera saling menyambar, ketigba orang manusiad tanpa sukma itaupun masing-masbing melancarkan sebuah pukulan.

Hian ih-lihiap tidak menaruh belas kasihan lagi terhadap lawannya, apalagi setelah berjumpa muka dengan musuh dahsyat, suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan keheningan, seorang manusia tanpa sukma tahu-tahu sudah terkena pukulan dan tergeletak mati diatas tanah.

Begitu berhasil merobohkan musuhnya, pendekar perempuan berambut hitam ini segera putar badan dan menerjang kearah Manusia tanpa sukma lainnya, suatu pukulan dahsyat ibaratnya gelombang dahsyat ditengah samudra segera meluncur ke muka. Dalam pada itu, Tay khek Cinkun telah berteriak keras, dalam keadaan seperti ini timbul juga niatnya untuk beradu jiwa, bayangan manusia segera berkelebat lewat, dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya dia menghantam punggung seorang manusia tanpa sukma tersebut...

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati kembali berkumandang memecahkan keheningan.

Sementara itu dua orang manusia tanpa sukma kembali roboh binasa oleh serangan serangan maut mereka..

Ditengah serunya pertarungan yang sedang berlangsung, tiba-tiba Ong Bun kim melompat kedepan dan langsung menerjang ke arah pintu gerbang-bangunan besar itu..

Didalam beberapa kali lompatan saja ia sudah tiba didepan pintu gerbang bangunan tersebut ternyata sudah kuno sekali, terbukti pintu bajapun sudah banyak karatan.

Diatas pintu baja itu terpancang sebuah papan nama besar, lamat-lamat masih bisa terbaca huruf-huruf emas yang sudah mulai luntur warnanya itu:

"BU-LIM HONG-SHIA".

Kalau dilihat dari kekunoan dan keantikan bangunan berloteng tersebut, bisa diketahui bahwa bangunan itu sudah berdiri sejak beberapa generasi berselang, paling tidakpun sudah bersejarah ratusan tahun.

Ong Bun kim memandang pintu baja yang berkarat itu sekejap, lalu sambil tertawa dingin siap melompat masuk kedalam

Tapi pada saat itu juga, terdengarlah suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang memecahkan keheningan. Bayangan hitam berkelebat disana sini, dalam waktu singkat muncul kembali belasan orang manusia tanpa sukma yang segera me ngurungnya rapat-rapat ditengah arena.

Menyaksikan kejadian itu, paras muka Ong Bun-kim berubah hebat.

Hian-ih lihiap rpun memperlihattkan perubahan wqajahnya, hawa nrapsu membunuh segera menyelimuti wajahnya.

Terdengarlah salah seorang manusia tanpa sukma yang berkumandang tertawa dingin tiada hentinya, kemudian berkata:

"Sobat, sungguh tak kusangka kalian beberapa gelintir manusia yang sudah hampir mampuspun masih ada kegembiraan untuk menyelidiki rahasia benteng Hongshia, haaahh haaahhh haahhh."

"Minggir!" bentak Ong Bun kim.

"Tidak Segampang itu sobat, paling tidak kalian harus membayar dulu nyawa dari ketiga orang anggota perguruan kami yang telah kau bunuh barusan"

"Jadi kalian semua ingin mampus?" bentak Hian ih lihiap dengan geramnya.

"Aaah, belum tentu demikian!"

Hian in lihiap tak bisa membendung kemarahannya lagi, sambil membentak keras tubuhnya segera menerkam kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan ke tubuh lawan.

Begitu Hian-lh lihiap mulai unjuk gigi, Ong bun kim pun tak mau Ketinggalan, ditengah bentakan nyaring, ia lepaskan harpa besinya dan menerkam ke muka sambil melepaskan sebuah serangan yang mengerikan.

Tay khek Cinkun tidak ambil diam pula, hawa murninya segera dihimpun sedemikian rupa untuk bersiap sedia melangsungkan suatu pertarungan mati-matian.

Setelah melepaskan sebuah pukulan tadi, Ong Bun-kim mengayunkan pula tangan kirinya untuk melepaskan sebuah pukulan dahsyat, arah sasarannya adalah salah seorang manusia tanpa sukma yang melakukan pengepungan disekitar situ.

Tindakan Ong Bun kim yang nekad dan siap beradu jwa ini memaksa tiga orang manusia tanpa sukma harus mundur cepat-cepat untuk menghindarkan diri, saat itulah tiba-tiba Ong Bun kim berkelebat dan menerjang kearah pintu gerbang.

Gerakan tubuh yang dilakukan anak muda tersebut sungguh teramat cepat, tampak bayangan ma nusia berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah tiba di depan pintu, tangan kirinya segera diayun ke muka menghantan pintu baja itu.

"Blaang !" termakan oleh pukulannya yang amat keras itu, terbukalah piatu gerbang baja itu.

Ketika itulah, lima orang manusia tanpa sukma telah menerjang tiba dari kiri dan kanan, pukulan-pukulan mereka ibaratnya angin puyuh yang berhembus lewat itu sungguh mengerikan hati.

Ong Bun kim membentak keras, sambil putar badan ia sambut datangnya tenaga gabungan tersebut.

Tapi mana mungkin baginya untuk membendung kelima gulung angin pukulan itu bersamaan waktunya?" "Uuuaaakk....begitu bentrokan kekerasan terjadi anak muda itu mencelat kebelakang dan mundur sejauh beberapa puluh langkah, kemudian muntah-muntah darah segar.

Hal ini membuktikan kalau isi perut Ong Bun kim sudah terluka akibat dari serangan gabungan tersebut.

Demikianlah, ketika menyaksikan serangannya berhasil memaksa musuhnya muntah darah, secepat sambaran kilat lima orang manusia tanpa sukma itu meluncur kedepan dan menghampiri Ong Bun kim, rupanya mereka hendak membinasakan anak muda itu diujuog telapak tangannya.

Tiba-tiba Tay khek Cinkun membentak keras, ia melompat kedepan dan sebuah pukulan dilontarkan untuk menyapu tubuh kelima orang manusia tanpa sukma tersebut.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan...

Dua orang manusia tanpa sukma termakan telak oleh hantaman keras itu hingga tergeletak ditanah dan tak berkutik lagi .

Peristiwa ini mencengangkan tiga orang lainnya, mereka berdiri tertegun untuk sesaat.

Tapi hanya sesaat kemudian, beberapa orang Manusia tanpa sukma kembali meluncur tiba dan memenuhi arena.

Tay khek Cinkun gusar sekali, segera bentaknya. "Bangsat rupanya kalian sudah bosan hidup. "

Ditengah bentakan tersebut sekali lagi ia lancarkan sebuah pukulan yang amat dahsyat.

Ketika angin pukulan itu berhembus lewat, kembali ada tiga orang Manusia tanpa sukma yang tewas terhajar serangan tersebut. OOO0dw0OOO

BAB 48

WALAUPUN serangan demi serangan selalu mendatangkan hasil yang gemilang, tapi siapa yang mampu mempertahankan diri setelah terluka parah harus melancarkan serangan yang begitu hebatnya?

Tak ampun lagi Tay-khek Cinkun muntah muntah darah segar.

Dalam keadaan demikian, kakek itu sadar bahwa keadaan mereka bertambah payah, kalau tidak segera mendapatkan tempat berlbindung, akibatndya mereka pastia akan tewas sembua.

Maka kepada Ong Bun-kim teriaknya. "Cepat mengundurkan diri ke dalam loteng."

Ditengah bentakan keras dari Tay khek Cinkun tersebut, dua sosok bayangan manusia telah meluncur masuk kearah pintu gerbang dan menghadang jalan pergi mereka.

Menyusul kemudian tujuh bayangan manusia-ikut menerjang pula ke arah pintu-gerbang.

Ong-Bun kim segera membentak keras, telapak tangan kanannya diayun ke muka melancarkan sebuah pukulan.

Pada saat yang sama Tay khek Cinkun melepaskan juga sebuah pukulan yang tak kalah hebatnya, dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat itu segera memaksa ke tujuh orang manusia tanpa sukma itu terdesak mundur kembali ke belakang.

Dengan napas tersengkal-sengkal, Ong Bun kim membentak keras: "Hayo maju lagi, rasakan dulu beberapa, pukulan dahsyat ini!"

Diluar pintu gerbang, Hian ih lihiap sedang terlibat dalam suatu pertempuran yang amat seru melawan empat orang manusia tanpa sukma, sampai waktu itu sudah ada tiga orang manusia tanpa sukma yang lewas di tangannya.

"Ong Siau bi! cepat mundur!" tiba-tiba Tay khek Cinkun berteriak memperingatkan.

Tapi napsu membunuh yang berkobar dalam dada Hian ih Lihiap sudah tak terbendung lagi ditambah pula rasa dendamnya berkobar kobar, membuat perempuan ini menjadi mata gelap.

Bukan saja tidak berhenti melancarkan serangan, malahan sama sekali tidak menggubris terhadap teriakan dari Tay-khek Cinkun tersebut.

Dipihak lain, Ong Bun-kim telah memperhatikan sekejap bangunan berloteng itu, ia merasa ruangan tersebut amat luas, lebar tapi gelap.

Belum lagi selesai memperhatikan keadaan disitu, bentakan keras telah menggelegar diudara, manusia manusia tanpa sukma yang sedang memperhatikan kearah mereka dengan sorot mata tajam tersebut, telah melancarkan serangan lagi.

Serangan yang dilancarkan ketujuh orang manusia tanpa sukma saat ini boleh dibilang ibaratnya orang kalap, tujuh gulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan hebatnya segera menyambar kemuka.

Tay khek Cinkun membentak keras, sekali lagi diapun melancarkan sebuah pukulan gencar. Kendatipun pukulan yang dilancarkan itu sekali lagi berhasil memaksa mundur kawanan manusia tanpa sukma itu, tapi ia-pun muntah darah segar dan tubuhnya ikut terjungkal ke atas tanah.

Betapa terkejutnya Ong Bun kim menyaksi kau keadaan ini, tangan kirinya segera menyambar ke depan membopong tubuh Tay-khekb Cinkun yang seddang roboh ke taanah kemudian bberusaha membimbingnya untuk mundur.

Tapi pada saat itulah, ketujuh orang manusia tanpa sukma itu sudah menerjang kembali secara terpisah.

Setelah keadaan berubah menjadi begini, niat untuk beradu jiwa segera muncul dalam hati Ong Bun-kim, tiba- tiba ia membentak keras, harpa bajanya diputar untuk melindungi badan, kemudian dengan cepatnya ia menerjang masuk ketengah ruangan.

Sungguh cepat gerakan dari Ong Bun kim ini, bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah tiba didepan ruang utama yang besar dan lebar itu.

Tujuh sosok bayangan manusia segera memburu dari belakang, salah seorang diantaranya membentak keras:

"Ong Bun-kim, sampai kapan kau baru akan menyerahkan diri?"

Angin pukulan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan gelombang ditengah samudra menyambar lagi dengan hebatnya.

Tapi sekarang Ong Bun kim sudah tidak memikirkan mati hidupnya lagi, ia lari terus ke pintu ruang belakang.

Tapi belum lagi tubuhnya melejit kemuka... "Blaang!" pukulan dahsyat itu sudah bersarang telak diatas tubuhnya, seperti layang-layang yang putus benang tubuhnya segera terlempar kedepan dan terjungkal diatas tanah.

"Blaang. !"

Agaknya tubuhnya terbanting ditanah, tapi dikala menyentuh permukaan tanah tersebut, agaknya tubuh itu sama sekali tidak berhenti, bahkan meluncur terus ke bawah.

Menyusul kemudian, terjadi kembali suatu benturan yang sangat keras, kali ini tubuhnya benar-benar tergeletak ditanah, darah yang muntah keluar dari mulutnya berhamburan dimana-mana, sementara ia sendiri jatuh tak sadarkan diri....

Entah berapa lama sudah lewat akhirnya pelan-pelan ia sadar kembali dari pingsannya.

Isi perut yang terluka kini makin bertambah parah, sedemikian hebatnya keadaan itu sehingga tenaga untuk menggeserkan badanpun hampir tidak dimiliki..

Pelan-nelan ia membuka matanya dan mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya, tapi hanya kegelapan pekat yang menyelimuti sana, dibalik kegelapan bahkan secara lamat-lamat membawa kelembaban dan keseraman.

"Tempat apakah ini? Apakah aku sudah mati ? Mungkinkah aku sudah berada di akhirat." demikian gumannya.

Dia mencoba untruk meraba sekittarnya, ternyataq Tay khek Cinkurn masih tergeletak di sana, saat itulah dia baru tahu kalau belum mati, cuma jaraknya dengan kematianpun jelas sudah tak jauh lagi. Ong Bun kim hanya bisa tertawa getir setelah berpikir sampai disitu yaa, apa lagi yang bisa ia lakukan?

Mendadak suatu rasa sakit yang luar

biasa, ibaratnya tubuh disayat sayat dengan pisau menyerang seluruh tubuhnya, ternyata racun gila tak berwujud yang derada ditubuhnya sudan mulai kambuh.

Ditengah jeritan yang keras, sekujur tubuhnya menggigil keras karena kesakitan, tubuhnya berguling guling ditanah setengah sekarat, keadaannya mengenaskan sekali.

Menyusul kemudian, racun jahat yang me ngeram ditubuh Tay-khek Cinkun pun ikut bekerja.

Jeritan-jeritan keras yang memilukan hati dengan cepat memenuhi seluruh ruangan yang gelap gulita itu.

Sampai lama... lama sekali teriakan tersebut baru berhenti.

Suasana disekitar tempat itupun pulih kembali dalam keheningan.

Setelah terluka parah, mana mungkin Ong Bun kim sanggup menahan bekerjanya racun jahat itu?

Seperti dua sosok mayat saja mereka tergeletak tak berkutik ditempat semula.

Kesadaran merekapun ikut lenyap.

Segala sesuatunya seakan-akan sudah terbang meninggalkan badan kasarnya.

Beberapa waktu kemudian, kesadarannya pelan-pelan baru pulih kembali, iapun memberitahu kepada dirinya sendiri.

"Ong Bun-kim wahai Ong Bun-kim, kau tak boleh mati...bagaimanapun juga, kau tak boleh mati." Yaa, jiwanya mulai menjerit, ia tak boleh mati. masih banyak persoalan yang harus diselesaikan olehnya, dendam sakit hati orang tuanya belum dibalas, tugas dari Kui jin suseng belum dilaksanakan, sakit hati dirinya belum dituntut, mana boleh ia mati dengan begitu saja?

Tapi, ia sudah berada ditepi jurang kematian, bagaimana mungkin tidak bisa mati?

Mengenai kabar mengatakan bahwa Iblis cantik pembawa maut tinggal dalam Hong shia, iapun tak berani terlalu memastikan, sebab benar atau tidaknya sama sekali tak diketahui olehnya, apalagi jika iblis cantik pembawa maut benar-benar berada dibangunan ini, tapi dibagian  yang manakah dia? Bagaimana caranya untuk menemukannya?

Semua persoalan tersebut merupakan masalah yang tak mungkin bisa diduga tapi Ong Bun kim bertekad bagaimanapun ju ga dia harus tetap melanjutkan hidupnya di dunia ini.

Berpikir sampai disitu, diapun mengerahkan sisa tenaga dalam yang dimiliki dan menarik tubuh Tay khek Cinkun untuk merambat maju dibalik kegelapan.

Tempat dimana ia lewat agaknya merupakan sebuah tanah lorong yang sempit tapi memanjang, jalannya berliku liku dan penuh dengan tikungan

Entah berapa jauh Ong Bun kim telah merangkak, ia sendiripun tak tahu, tiba tiba....

Dari balik lorong sebelah depan sana berkumandang suara langkah kaki yang bergeser lirih, suara tersebut mirip suara langkah manusia, tapi seperti juga ada benda yang sedang bergerak Suara tersebut dengan cepat menimbulkan rasa bergidik dalam hati Ong Bun kim, ia mencoba untuk mendengarkan dengan seksama, ternyata suara gesekan itu kian lama kian bertambah dekat, kian lama suaranya kian ber-tambah mengerikan.

Akhirnya Ong bun-kim tak kuasa untuk menahan diri lagi, ia segera membentak keras: "Siapa?"

Suara dengungan keras menggema dalam ruang bahwa tanah yang gelap gulita itu, tapi sesaat kemudian segalanya berubah kembali menjadi sepi dan hening, sementara gesekan tadi makin lama makin dekat, sedikitpun tak pernah berhenti

Ong Bun kim menjadi bergidik sekali, kembali ia membentak keras.

"Siapa disitu?"

Belum juga terdengar suara jawaban.

Tiba-tiba dari balik ruang bawah tanah itu berkumandang suara petikan harpa yang memekikkan telinga suara tersebut sede-mikian seramnya hingga mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya

Menyusul berkumandangnya suara irama harpa tersebut, terdengar pula gelak tertawa seram menggelegar memenuhi keheningan.

-oo0dw0oo--