Setan Harpa Jilid 13

 
Jilid 13

MENDADAK bayangan putih kembali berkelebat lewat, cahaya putih lainnya tiba-tiba menerjang ke tubuh Ong Bun kim dengan kecepatan luar biasa, dalam sekejap mata di sekeliling tempat itu bermunculan tiga orang manusia kilat lagi.

Salah satu di antara manusia kilat itu telah menyerang Ong Bun kim, serangannya yang hebat serta gerakan tubuhnya yang lihay membuat si anak muda itu sedikit merasa kewalahan.

Mendadak terdengar bentakan keras menggelegar di angkasa, dua orang manusia kilat lainnya serentak maju pula ke depan, dengan dikerubuti oleh empat orang manusia kilat, Ong Bun kim makin terdesak dan mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.

Ong Bun kim membentak penuh kegusaran, teriaknya: "Sungguh tak kusangka dari San tian bunpun bisa

mempergunakan cara rendah yang memalukan semacam ini untuk mengerubuti musuhnya, tindakan kalian ini sungguh jauh di luar dugaan orang!"

Salah seorang Manusia kilat di antaranya segera berkata dengan dingin:

"Bocah keparat, kenapa kau masih belum juga menyerahkan diri?"

"Hayo majulah dan lancarkan seranganmu!" Belum habis perkataan si anak muda itu, empat sosok bayangan putih serentak telah menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa, mereka mengerubuti Ong Bun kim secara gencar-

Satu orang manusia kilat sudah cukup membuat Ong Bun kim kewalahan, apalagi sekarang empat orang turun tangan bersama, sudah barang tentu si anak muda itu menjadi terdesak hebat.

Mendadak....dikala empat orang manusia kilat itu  sedang mengerubuti anak muda tersebut, sesosok bayangan manusia berbaju hijau tanpa menimbulkan sedikit suarapun telah muncul di tengah gelanggang, bentaknya dengan  suara lantang:

"Manusia yang tak tahu malu, lihat pedang!"

Cahaya tajam berkelebat lewat, dengan suatu gerakan yang sama- sekali tak terduga manusia berbaju hijau itu melancarkan dua buah serangan pedang yang sangat hebat, di mana cahaya pedang nya berkelebat lewat segera terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan bati berkumandang memecahkan keheningan.

Salah seorang manusia kilat di antaranya segera termakan oleh bacokan pedang itu dan tewas seketika.

Kejadian ini sangat mangejutkan tiga orang manusia kilat lainnya, serentak mereka menarik diri sambil mundur.

Ong Bun kim sendiri merasa amat terkejut, cepat ia mendongakkan kepalanya, ternyata pendatang itu bukan lain adalah manusia berbaju hijau yang misterius itu.

-ooo00dw00ooo-

Bab 39 DALAM keadaan dan saat seperti ini, manusia baju hijau yang misterius itu dapat muncul di sana, kejadian ini sungguh di luar dugaan siapa pun juga.

Salah seorang manusia kilat itu segera tertawa dingin, lalu katanya: "Siapakah kau?"

"Hmm.......Kalian masih belum berhak untuk mengetahuinya!" sahut manusia berbaju hijau itu dengan wajah tanpa emosi.

"Apakah kau bermaksud untuk mencampuri urusan ini?" "Benar."

"Hmm...! Agaknya kau sudah bosan hidup!" "Mungkin memang begitulah!"

"Bangsat, rupanya kau pingin mampus..."

Bayangan manusia berbaju putih berkelebat lewat, seorang manusia kilat telah menerjang ke depan melancarkan serangan maut ke arah musuhnya.

Manusia berbaju hijau itu segera meloloskan pedangnya dan dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling menyerang sebanyak tiga gebrakan lebih.

Disaat Manusia berbaju hijau itu mulai melancarkan serangan, Ong Bun-kimpun ikut menerjang pula salah seorang manusia kilat lainnya dan mengirim dua buah pukulan gencar.

Pada saat ini Ong Bun-kim sudah mempunyai niat untuk beradu jiwa, maka semua serangan yang dilancarkan disertai dengan tenaga penuh, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan-serangan yang dilancarkan olehnya itu. Tiba-tiba terdengar jerit kesakitan berkumandang memecahkan keheningan, ternyata Manusia kilat yang sedang bertempur melawan orang berbaju hijau itu sudah kena ditusuk dadanya hingga tembus ke punggung.

Begitu musuhnya berhasil dibunuh, manusia berbaju hijau itu segera berkelebat menerjang manusia kilat yang lain, di antara perputaran bunga-bunga pedang di angkasa, secara beruntun ia lepaskan dua buah serangan gencar.

Ilmu pedang yang dimiliki manusia berbaju hijau itu sungguh hebatnya bukan kepalang, di antara gerakan tangannya yang enteng, secara beruntun ia telah membunuh dua orang manusia kilat, andaikata bukan dilihat dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan percaya dengan kenyataan tersebut.

Kembali terdengar jeritan ngeri yang me-milukan hati berkumandang memecahkan keheningan, Manusia kilat yang satu ini pun tewas di ujung pedang si manusia berbaju hijau yang maha lihay itu.

Tindakannya untuk membunuh tiga orang Minusia kilat dilakukan hanya dalam sekejap mata, ketika pedangnya telah disarungkan kembali, air muka manusia berbaju hijau itu masih tetap tenang seperti sediakala, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sudah mengerahkan tenaga yang cukup besar.

Kini, dengan sinar matanya yang lembut ia sedang mengawasi jalannya pertarungan antara Ong Bun-kim melawan manusia kilat.

Dalam pada itu, pertarungan antara Ong Bun-kim melawan Manusia kilat telah berlangsung hampir tujuh delapan jurus banyaknya, di bawah serangkaian serangan gencar dari Ong Bun-kim, dalam waktu singkat si Manusia kilat telah ke teter hebat sehingga sukar untuk mempertahankan diri lagi.

Tiba-tiba Ong Bun-kim membentak keras, harpa besi di tangan kanannya diayun ke muka melancarkan serangan mematikan, sementara tangan kirinya melepaskan pula sebuah pukulan dahsyat.

"Blaang !" kontan saja Manusia kilat itu terhajar telak dan roboh ke atas tanah.

Ong Bun-kim segera melompat ke depan, lalu dicengkeramnya tubuh orang itu.

Sementara ia sedang mencengkeram manusia kilat, manusia berbaju hijau itu telah tertawa getir, tiba-tiba ia berjalan ke depan dan menghampiri pusara dari Coa Siok- oh.

Setelah berdiri di depan pusara Coa Siok-oh, selapis rasa sedih yang amat mendalam segera menyelimuti wajahnya, kalau dilihat dari gerak geriknya itu jelas ia sedang berkabung untuk kematian perempuan itu, seperti juga sedang mengenangkan kembali kenangan masa silamnya.

Tindak tanduk orang itu segera membuat Ong Bun-kim menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Setelah termenung sejenak, dicengkeramnya tubuh manusia kilat itu dan berjalan menuju ke hadapan pusara ibunya.

Manusia berbaju hijau itu masih tetap berdiri tak berkutik di tempat semula.

Lama kelamaan Ong Bun-kim menjadi tak sabar, ia segera memberi hormat seraya berkata: "Locianpwe, terima kasih banyak atas bantuan mu, di mana sebanyak dua kali kau telah menyelamatkan jiwaku!" Pelan-pelan Manusia berbaju hijau itu mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Ong Bun-kim, kemudian katanya:

"Hanya urusan kecil semacam itu, kenapa kau musti berterima kasih kepadaku."

"Locianpwe, bolehkah aku tahu, apakah kau adalah kenalan lama dari mendiang ibuku?" tanya anak muda itu kemudian.

Dengan wajah serius Manusia berbaju hijau itu manggut- manggut.

"Yaa, benar! Aku memang kenal dengannya!" "Bolehkah aku tahu siapa nama dari locianpwe?"

"Nama dan julukan yang sudah lewat, biarkanlah dimakan masa, buat apa musti disinggung kembali?"

Ong Bun-kim tertawa hambar.

"Apakah locianpwe tidak bersedia mem-beritahukan namamu kepadaku?" pintanya.

Manusia berbaju hijau itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

"Aku bernama Phang Pak-bun!"

"Apa?" tanpa sadar Ong Bun-kim menjerit keras dan mundur dua-tiga depa dengan langkah lebar. "kau... kau adalah Mo-kui-seng-kiam (pedang malaikat setan iblis)?"

Suaranya penuh kecemasan dan rasa terkesiap yang tak terkirakan besarnya.

"Benar!" manusia berbaju hijau itu kembali mengangguk.

Untuk sesaat lamanya Ong Bun-kim berdiri tertegun di situ. Phang Pak-bun! Bukankah dia adalah kekasih pertama dari Coa Siok-oh, ibu kandungnya? Tak nyana kalau ia sudah dua kali menolong dirinya dari ancaman bahaya maut.

Mo-kui-seng-kiam tertawa sedih, lalu menegur; "Kau merasa kejadian ini berada di luar dugaanmu?"

"Benar!"

"Kau sudah tahu tentang hubungan antara ibumu dengan diriku?"

"Yaa, aku tahu!"

Mo kui seng kiam menghela napas panjang, katanya pelan.

"Aaaai ...sayang kami memang tak berjodoh!" "Locianpwe, bolehkah kuajukan sebuah per-tanyaan

kepadamu?"

"Persoalan apa yang membingungkan pikiranmu?

Katakanlah!"

"Sejak ibuku kawin dengan ayahku, apakah kau mengadakan hubungan gelap dengannya?"

"Siapa yang berkata begini?" tanya Phang Pak bun geram. "Siau Hui uni"

"Hmmm! Dia hanya ngaco belo tidak karuan!" serunya cepat, tapi sejenak kemudian sambil menghela napas katanya lebih lanjut. "Yaa,semenjak ia kawin dengan ayahmu, kami memang pernah berjumpa satu kali, tapi perjumpaan kami itu ditandai dengan kesucian dan kebersihan, kita hanya saling mengenang kembali masa- masa silam yang penuh keindahan dan penuh keharmonisan itu, sisanya kamipun hanya menghela napas dan bersedih hati." Setelah menghela napas panjang, kembali katanya:

"Sungguh tak kusangka sekali berpisah puluhan tahun sudah lewat dan sekarang ia telah tiada!"

"Locianpwe, ibuku telah menyia-nyiakan harapanmu, ia membuatmu susah dan bersedih hati!"

"Tidak, aku tidak mempunyai pikiran demikian semuanya ini sudah merupakan suratan takdir!"

"Kalau begitu, kau amat membenci ayahku bukan?"

Kembali Mo-kui-serig-kiam gelengkan kepala nya berulang kali.

"Tidak, aku tidak membenci kepada siapapun, mungkin kami memang tidak berjodoh, kami memang pernah memupuk impian indah, pernah bergembira bersama, selama ini terdapat pula kenangan yang amat indah dan syahdu akan tetapi kesemuanya ini sudah lewat, semuanya telah berakhir."

Ketika berbicara sampai di sini, suaranya kedengaran amat parau, ini menunjukkan bahwa ia memang benar- benar sedang bersedih hati.

Tanpa terasa Ong Bun-kim ikut merasakan pula kepedihan dan kesedihan yang sedang mencskam perasaan orang itu, ia dapat meresapi bagaimana perasaan hatinya sekarang.

Ia telah membayar cintanya dengan mahal, tapi selamanya ia tak dapat merasakan bagaimanakah manisnya cinta itu.

Ia memandang sekejap ke arah Ong Bun kim, lalu tanyanya:

"Apakah ayahmu telah dibunuh oleh Kui-jin-suseng?" "Benar!"

"Apakah Sastrawan setan harpa itu adalah gurumu?" "Binar, dia memang guruku!"

"Sesungguhnya, apa yang telah terjadi di-antara kalian semua?"

Secara ringkas Ong Bun-kim segera menceritakan hubungan cinta dan dendam antara gurunya, ayahnya, Siau Hui-un dan Coa Siok-oh.

Ketika selesai mendengarkan penurutan tersebut. Phang Pak-bun segera bertanya lagi:

"Kalau begitu, orang yang telah membunur ayahmu kecuali Kui-jin suseng, masih ada seorang yang bernama San-tian-mo-kun?"

"Benar!"

"Kini San-tian-mo-kun berada di mana?"

"Tentang persoalan ini, asal kita tanyakan kepada Manusia kilat, ini, mungkin saja dia akan mengetahuinya!"

Selapis hawa pembunuhan yang amat tebal segera menyelimuti wajah Mo-kui-seng-kiam Phang Pak-bun, bentaknya kemudian:

"Kalau begitu, tanyakan persoalan ini kepada-nya!"

Ong Bun-kim manggut-manggut, telapak tangannya secara beruntun menotok beberapa buah jalan darah  penting di sekujur badan Manusia kilat itu, beberapa saat kemudian manusia kilat itupun sadar kembali dari pingsannya.

Manusia kilat ini berusia antara empatpuluh tahunan, mukanya cukup tampan. Dengan wajah menyeringai menyeramkan, Ong Bun-kim segera membentak nyaring:

"Hei manusia kilat, kau pingin mati ataukah pingin hidup?"

Manusia kilat itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, mendadak paras mukanya berubah menjadi pucat, sahutnya.

"Bagaimana kalau ingin hidup? Dan bagaimana pula kalau ingin mati ?"

"Kalau ingin hidup, kau harus menjawab beberapa buah pertanyaan yang kuajukan!"

"Pertanyaan apa- yang hendak kau ajukan kepadaku?" "Benarkah ketua perguruan kalian bernama San-tian-mo-

kun, si raja iblis bertubuh kilat?"

"Benar!"

"Di manakah letak markas besar perguruan kalian?" "Pertanyaan ini tak dapat, kujawab!"

"Apa? Kau enggan menjawab?"

"Yaa, benar, aku tak berani menjawabnya!" Ong Bun-kim segera tertawa seram.

"Heehh....heehh....heehh. buat apa kau musti menerima

siksaan tubuh yang amat menderita? Asal tanganku ini kuayunkan, aku percaya kau tak akan sanggup untuk menerima ilmu memisah otot memilin tulangku ini!"

Mendengar ancaman tersebut, paras muka manusia kilat itu segera berubah hebat.

"Hayo jawab, kau hendak berbicara tidak?" bentak Ong Bun-kim lagi dengan suara keras. "Tidak!"

Ong Bun-kim tak dapat menahan diri lagi, diiringi bentakan lirih tangan kanannya segera diayun kan ke depan berulang kali, dengan suatu gerakan yang amat cepat ia menotok beberapa buah jalan darah penting di tubuh manusia kilat itu.

Mengikuti gerakan tangan dari Ong Bun-kim, manusia kilat segera mendengus tertahan, peluh sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi jidatnya, ia tampak menderita sekali.

"Kalau kau tidak berbicara lagi, segera akan kusuruh kau menderita sampai mampus..." bentak Ong Bun-kim lagi.

"Aku... aku bicara..."

Jeritannya itu amat menyayatkan hati, membuat orang menjadi bergidik rasanya.

Ong Bun-kim segera melancarkan kembali beberapa buah totokan untuk membebaskan orang itu dari pengaruh totokan.

"Nah, sekarang bicaralah!" ia berseru.

Manusia kilat menghembuskan napas berulang kali, setelah ketegangannya agak berkurang dia baru menjawab:

"Perguruan kami letaknya ada di bukit Thian-mo-san, selat Thian-mo-shia. "

"Berapa banyak seluruh anggota perguruan kalian?" "Limapuluh orang lebih!"

Ong Bun-kim segera mendengus dingin.

"Hmm! Memandang di atas kejujuranmu, aku Ong Bun- kim akan mengampuni selembar jiwamu, cuma, seluruh kepandaian silatb yang kau milikdi akan kupunahkaan sama sekali.b"

Jari tangannya kembali berkelebat lewat, dan seluruh ilmu silat yang dimiliki Manusia kilat itupun lenyap tak berbekas.

Kemudian sambil melemparkan tubuhnya ke atas tanah, ia berkata dengan dingin:

"Sekarang, kau boleh pergi dari sini!"

Setelah memandang sekejap ke arah Ong Bun-kim dengan penuh kebencian, Manusia kilat itu segera memutar badannya dan berlalu dari situ dengan sempoyongan.

Sepeninggal manusia kilat tadi, Ong Bun-kim baru memandang sekejap ke arah Mo-kui-seng-kiam, selanjutnya sinar matanya dialihkan kembali ke atas mayat Siau Hui un yang tergeletak di tanah.

Wajahnya kontan berubah menjadi bengis, setelah tertawa dingin katanya:

"Siau Hui-un, aku hendak mencincang tubuh-mu menjadi berkeping-keping."

Pada saat itulah suara tertawa dingin kembali berkumandang memecahkan keheningan.

"Ong Bun-kim, caramu itu terlampau kejam dan sedikitpun tidak mengenal akan peri kemanusiaan!" kata orang itu.

Cahaya lentera tampak berkelebat lewat, tahu-tahu Ti- teng-khek (tamu pembawa lampu) yang misterius itu telah munculkan diri kurang lebih dua kaki di hadapannya.

Waktu itu rasa benci yang berkobar dalam dada Ong Bun-kim belum terlampiaskan, dengan ketus serunya. "Kejam ? Haaahhh haaahhh....haaahhh.... masa kau tidak tahu kalau orang tuaku telah tewas di tangannya...?"

"Ong Bun-kim, kalau memang begitu persoalan-nya maka tindakanmu itu keliru besar, sekalipun seseorang yang berhati kejam dan selama hidupnya sudah seringkali melakukan kejahatan, setelah mati maka semua dendam sakit hatipun akan ikut punah, tindakanmu mencincang mayat bukanlah suatu tindakan yang terpuji bagi kaum persilatan kita!"

Ong Bun-kim masih mencoba untuk membantah, akan tetapi Phang Pak-bun telah berkata lebih dahulu:

"Benar, apa yang diucapkan saudara ini memang merupakan kata-kata yang benar!"

Tiba-tiba Manusia pembawa lampu itu berseru. "Hei ! bukankah kau adalah lo-Phang?"

Mo-kui-seng-kiam Phang "Pak - bun agak tertegun, lalu sahutnya dengan cepat:

"Benar dan kau. "

"Masa kau tidak dapat menebak diriku dari suara pembicaraanku ini!"

"Ya, sayang sekali aku tak dapat mengenalinya!"

"Phang lo-heng, kau benar-benar seorang pelupa, aku kan Ting Lam-tiong !"

"Apa kau adalah lo-Ting?" "Benar!"

Sementara dalam pembicaraan tersebut, manusia pembawa lampu telah berada di hadapan Mo-kui-seng- kiam, usia orang itu bternyata seimbadng dengan usia aPhang Pak-bun, bcuma saja tubuhnya jauh lebih jangkung dan ceking dari pada rekannya.

Sementara itu Phang Pak-bun telah tertawa terbahak- bahak.

"Haahh...haahh..haahh...sungguh tak kusangka setelah berpisah selama duapuluh tahun, kita dapat saling berjumpa kembali, kejadian ini sungguh di luar dugaanku, lo-Ting, apa maksudmu membawa lampu lentera itu?"

"Maksudku adalah untuk menerangi jalan!" "Huuss ngaco belo tak karuan!"

"Bukan, aku bukannya sedang ngaco belo, aku membawa lampu memang bertujuan untuk menerangi jalan, cuma lampu ini sesungguhnya mempunyai kegunaan lainnya!"

"Lo Ting, sejak berpisah pada duapuluh tahun berselang, apakah selama ini kau berada dalam keadaan baik-baik?"

"Yaa, baik, baik sekali!"

"Bagaimana dengan keadaan Lo-gou?"

"Sudah belasan tahun tak pernah berjumpa dengannya, aku rasa mungkin ia sudah mati."

Belum habis perkataan itu selesai diucapkan, tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia yang langsung menggampar wajah tamu pembawa lampu.

Untung saja Tamu pembawa lampu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, sekali mengigos tahu-tahu dia sudah menghindar ke samping.

"Siapa kau?" segera bentaknya. Tiada seorangpun yang menjawab. Hal mana segera membuat kemarahan tamu pembawa lampu menjadi berkobar, dengan wajah memerah serunya lagi:

"Ai, telur busuk dari manakah....." Belum habis perkataan itu diucapkan, kembali ada segumpal senjata rahasia yang langsung menghantam ke wajah Tamu pembawa lampu.

Tapi kali ini Tamu pembawa lampu telah bersiap sedia, ketika menghindarkan diri dari serangan tersebut, serta merta tubuhnya meluncur ke depan dan menerjang ke arah mana datangnya serangan tadi.

Cahaya lampu berkelebat lewat, tahu-tahu Tamu pembawa lampu sudah menerjang ke muka.

Tapi pada saat yang bersamaan sesosok bayangan hitam telah menerjang pula ke depan, dua sosok bayangan manusia itu segera bertemu menjadi satu di udara kemudian masing-masing berpisah ke arah yang berlawanan.

Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki berbaju hitam yang berusia empatpuluh tahunan, tubuhnya kecil dan pendek.

Menyaksikan kemunculan orang itu, Tamu pembawa lampu agak tertegun, kemudian bentaknya.

"Oooh. rupanya kau?"

"Kenapa?" sahut manusia berbaju hitam itu.

Sambil tertawa dingin, "apakah kau merasa di luar dugaan karena aku belum mampus?"

"Soal ini "

"Hei, telur busuk tua! Kenapa kau menyumpahi aku sudah modar? Kau memang kurang ajar !" Tamu Pembawa larmpu tertawa tertbahak-bahak.

"Hqaaahhh....haaahrhh....haaahhh....orang bilang Cho co, ternyata Cho co segera datang, untung saja aku bilang setan yang mau datang maka yang muncul bukan manusia melainkan setan!"

Kakek berbaju hitam itupun ikut tertawa tergelak

"Ting loji, kau jangan keburu senang lebih dulu, jika aku mampus maka kakimu akan kuseret pula untuk bersama- sama masuk ke dalam liang kubur ...!"

Mo-kui-seng-kiam Phang Pak-bun segera tersenyum. "Saudara Gou" demikian katanya, "sudah belasan tahun

tak pernah berjumpa muka, suuggui tak kusangka kegagahanmu sekarang masin tak kalah dengan kegagahanmu dulu, apakah selama ini kau berada dalam keadaan baik-baik saja?"

"Terima kasih banyak, untungnya saja aku selalu sehat wal'afiat!"

Sekarang Ong Bun-kim baru tahu bahwa ke tiga orang itu adalah-sahabat kental, hanya saja dia tak tahu siapa gerangan kakek berbaju hitam ini.

Sementara ia masih termenung, Phang Pak bun telah berseru. "Ong Bun-kim, kemarilah ! Hayo kau jumpai  kedua orang locianpwe ini !"

"Tak usah, kita sudah pernah bertemu muka!" tukas kakek berbaju hitam itu tiba-tiba.

Ong Bun-kim menjadi tertegun, pikirnya.

"Tamu pembawa lampu memang pernah ku-jumpai, tapi sejak kapankah aku pernah berjumpa dengan kakek berbaju hitam ini " Oo00dw00oO

BAB 40

KARENA berpikir demikian iapun alihkan kembali sorot matanya ke arah orang itu.

Rupanya si kakek berbaju hitam itu dapat menebak suara hati Ong Bun-kim, ia lantas berseru: "Hei bocah muda, masakah kau sudah lupa dengan suaraku?"

Tiba tiba Ong Bun-kim teringat akan seseorang, dia lantas berseru dengan terperanjat: "Kau .... kau adalah Kelelawar malam?"

"Tepat sekali!"

"Waaah .... rupanya kau orang tua yang datang, maaf kalau boanpwe bersikap kurang hormat!"

"Tak perlu banyak adat!"

Maka Ong Bun-kimpun segera maju ke depan dan memberi hormat kepada Tamu pembawa lentera . .

Dalam pembicaraan yang kemudian berlangsung, dapat diketahui bahwa mereka bertiga disebut orang persilatan sebagai Bu-lim-sam-eng (tiga pahlawan dari dunia persilatan) dimasa lalu.

Sekarang usia mereka bertiga sudah agak lanjut, akan tetapi ketika tersohor dalam dunia persilatan dulu, ketiga orang tersebut masih muda belia, mereka merupakan jago muda pilihan di waktu itu.

Sementara itu, si Kelelawar malam telah berkata: "Apakah saudara berdua masih sering melakukan

perjalanan, dalam dunia persilatan?" Mo-kui-seng-kiam Phang Pak-bun gelengkan kepalanya berulang kali.

Sedangkan Tamu Pembawa lampu menyahut:

"Aku memang masih sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan !"

"Kalau begitu coba lihatlah, bukankah badai pembunuhan yang mengerikan telah menyelimuti dunia persilatan saat ini?"

"Benar!"

"Siapakah ketua dari perguruan San-tian-bun, hingga kini masih merupakan suatu teka teki besar," kata Kelelawar malam lebih jauh, "cuma, kecuali San tian-mo-kun, masih ada pula perguruan Yu-leng-bun yang akan mendatangkan badai berdarah bagi dunia persilatan kita!"

"Yaa, kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang bisa diterka mulai sekarang!"

"Dewasa ini kedua perguruan rahasia itu masih belum berkutik ataupun melakukan suatu tindak tanduk, entah apa alasannya sampai mereka berbuat demikian, terutama sekali pihak Yu leng-bun, tentang perguruan ini lebih-lebih aneh lagi, sampai sekarang belum ada seorang manusiapun yang tahu siapa gerangan ketua perguruannya itu." Ketika berbicara sampai di sini, Kelelawar malam menghela napas panjang kembali ujarnya:

"Duapuluh tahun berselang, menjelang saat kematiannya Thian jian cuncu telah meramalkan bahwa dunia persilatan pada masa ini akan tertimpa suatu badai pembunuhan yang luar biasa, apabila dugaan ini benar, maka pada masa ini pula Sin-kiam bakal ketemu dengan pemiliknya." Sementara penbicaraan sedang berlangsung, tiba-tiba Ong Bun-kim menyela dari samping:

"Silahkan locianpwe bertiga melanjutkan pembicaraan, aku hendak mohon diri lebih dahulu!"

"Kau hendak ke mana?" Mo-kui-seng-kiam Phang Pak- bun segera menegurnya dengan rasa ingin tahu.

"Aku hendak berkunjung ke perguruan San-tian-bun." "Mengunjungi perguruan San-tian-bun?"

"Benar!"

Phang Pak-bun segera mengerutkan alis matanya. "Berbicara dari ilmu silat yang kau miliki sekarang, jelas

kepandaianmu masih bukan tandingan dari San-tian-mo- kun, sehingga kalau berbicara soal membalas dendam, aku pikir hal ini masih terlalu pagi untuk dibicarakan sekarang."

"Ong Bun kim!" seru Kelelawar malam pula, "menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya kau mempunyai sebuah mestika yang diincar oleh setiap umat persilatan, aku rasa berita yang tersiar luas itu bukanlah suatu berita bohong ataukah suatu berita isapan jempol belaka..."

"Tapi aku benar-benar tidak berhasil menemukan sesuatu yang aneh di atas tubuhku!"

"Ong Bun kim!" kembali Kelelawar malam bertanya, "konon sewaktu ayahmu lenyap dari dunia persilatan tempo hari, masih ada seorang Giok bin hiap yang ikut pula  lenyap dari keramaian dunia, apakah kau mengetahui tentang persoalan ini?"

"Yaa, aku tahu!" "Kemudian ayabhmu telah muncudlkan diri kembaali seorang dirib, sementara sampai kini Giok bin hiap tak pernah tampak batang hidungnya lagi, aku pikir dibalik persoalan ini pasti ada sebab-sebab tertentu, hanya saja untuk sementara waktu hal mana masih sulit  untuk diduga."

Setelah berhenti sebentar, ia berkata lebih jauh: "Coba kau pikirkan kembali, apakah di atas tubuhmu masih terdapat tempat atau bagian lain yang aneh?"

Ong Bun kim gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tak dapat menemukannya!" ia berseru.

Si Kelelawar malam segera mengernyitkan sepasang alis matanya, sesudah berpikir sebentar japun berkata lagi;

"Mungkinkah tempat penyimpanan benda itu telah ditulis di salah satu bagian dari tubuhmu?" Mendengar ucapan tersebut, Ong Bun kim segera merasakan hatinya bergetar keras.

"Ditulis di atas tubuhku?"

"Benar, kecuali demikian rasanya tiada cara lain yang bisa diterima dengan akal segar, coba kau lepaskan seluruh pakaianmu, akan kami periksa apa benar ada tulisan di atas tubuhmu."

"Aaaab hal ini mana mungkin bisa terjadi?"

"Lebih baik kita percaya ada dari pada mengatakan tak ada, di sini toh tak ada perempuan, apa salahnya untuk bertelanjang bulat di hadapan kami bertiga?"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ong Bun kim harus melepaskan semua pakaian yang dikenakan olehnya.

Akan tetapi walaupun Mo kui seng kiam, Kelelawar malam dan tamu pembawa lampu sudah melakukan pemeriksaan yang teliti di atas tubuh Ong Bun kim yang bugil, hasilnya tetap nihil, mereka tidak berhasil menemukan sebuah tulisan-pun.

"Yaa, betul-betul tak ada tulisannya!" keluh si Kelelawar malam kemudian.

Sementara itu Ong Bun kim telah mengenakan kembali pakaiannya, sambil merentangkan tangan nya ia berseru.

"Sekarang, kalian sudah percaya, bukan?"

Baru habis Ong Bun kim berbicara, tiba tiba terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan, lalu muncullah dua sosok bayangan seperti manusia tanpa sukma pada jarak tiga kaki di hadapannya.

"Apa? Manusia tanpa sukma?" bisik Ong Bun kim pula dengan air muka berubah.

Dalam pada itu, salah seorang di antara Yu leng jin itu telah menegur dengan suara dingin: "Siapakah diantara kalian semua yang bernama Ong Bun kim?"

"Kalau aku, mau apa kau?" sahut Ong Bun kim dengan paras muka berubah.

"Oooh...! Rupanya kau, tolong tanya kenalkah kau dengan seseorang yang bernama Dewi mawar merah?"

" Kenapa dia?" tanya pemuda itu dengan perasaan tercekat.

"Ia telah menjadi tawanan dari perguruan kami..."

Paras muka Ong Bun kim kembalib berubah, bentadknya:

"Sungguhkaah perkataanmu bitu?" "Betul, kedatanganku ke mari adalah karena mendapat perintah dari Bun cu untuk mengundang kehadiran saudara dalam perguruan kami!"

"Kalau aku enggan pergi?"

"Aku pikir tiada alasan bagimu untuk tidak ke situ, sebab Dewi mawar merah toh masih berada dalam cengkeraman kami!"

"Oooh . . jadi kalian hendak menggunakannya sebagai sandera untuk memaksaku?"

"Yaa, boleh saya kau anggap demikian!" "Perguruan kalian terletak di mana?"

"Asal ikut kami, kau toh akan mengetahui dengan sendirinya!"

"Sayang sepanjang hidup aku Ong Bun kim enggan dipaksa apalagi disuruh menuruti perintah orang, setelah kalian berdua datang ke mari rasanya akupun tak dapat membiarkan kalian pergi lagi dengan selamat!"

Di tengah bentakan nyaring, secepat kilat tubuhnya meluncur ke muka dan menerjang ke dua orang tersebut.

"Bekuk dua orang itu hidup-hidup!" bisik Kelelawar malam dengan suara lirih.

Berbareng dengan bentakan tersebut, bayangan manusia berbaju hitam berkelebat lewat, tahu-tahu Kelelawar malam telah menerjang ke muka lebih duluan.

Ong Bun kim tak ambil diam, sambil memutar senjata harpa besinya diapun membuka serangan terhadap seorang Manusia tanpa sukma.

Dalam pada itu, Mo kui seng kiam (pedang malaikat setan iblis) Phang Pakbun telah meloloskan pedangnya dan menerjang pula ke tengah arena dengan kecepatan luar biasa, menyusul kemudian Thi teng khek (Tamu pembawa lampu) ikut pula menerjang ke arena.

Tiga orang jago lihay ditambah Ong Bun kim segera membuka serangan dengan ancaman-ancaman yang mengerikan, sungguh tak terlukiskan kedahsyatan dari serangan tersebut.

Satu jeritan ngeri memekikkan telinga ber-kumandang memecahkan kebeningan, salah seorang manusia tanpa sukma itu roboh terkapar dengan bermandikan darah, jiwanya langsung melayang tinggalkan raganya.

Dengusan tertahan kembali berkumandang, Manusia tanpa sukma kedua ikut pula roboh terkapar ke tanah.

Deugan suatu gerakan cepat Phang Pak bun mencengkeram tubuh Manusia tanpa sukma tersebut, kemudian bentaknya:

"Hayo bicara, di mana letak markas besar perguruan Yu leng bun?"

"Mau apa kau tanyakan persoalan itu?"

"Jawab saja, di mana markas besar dari per-guruan Yu leng bun?"

"Di bukit Thian san!"

Mendengar jawaban tersebut,, Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, serunya tanpa sadar.

"Apa? Berada dir bukit Thian satn?" "Betul!"

"qSiapakah Bun cur (ketua perguruan) kalian?" "Yu leng lojin (kakek tanpa sukma)!" "Di bagian mana dari bukit Thian san?" bentak Phang Pak bun kembali.

"Maaf, aku tak dapat memberitahukan hal ini kepadamu!"

"Huuh, kau enggan berbicara?" Phang Pak bun tertawa dingin tiada hentinya, "memang kau sudah kepingin mencicipi bagaimana rasanya kalau disiksa?"

Seraya berkata, tangan kanannya bergerak cepat melepaskan sebuah totokan ke tubuh orang itu.

Ketika termakan totokan dari Phang Pak bun tersebut, darah kental segera memancar ke luar dengan derasnya dari mulut Manusia tanpa sukma tersebut, lalu diiringi jeritan yang memilukan hati, ia putus nyawa dan tewas dalam keadaan mengenaskan.

Rupanya "Yu leng jin" tersebut telah menggigit lidah sendiri untuk membunuh diri.

Peristiwa ini sangat menegunkan Phang Pak bun, ujarnya kemudian setelah termangu-mangu sesaat:

"Aaah, tak kusangka kalau terhitung seorang laki-laki jantan yang bernyali!"

Sambil berkata, ia lepaskan tubuh lawannya sehingga roboh terkapar di atas tanah.

"Waab, jika perguruan Yu leng bun terletak di atas bukit Thian san, kemungkinan besar hai ini ada hubungannya dengan mata uang kematian," seru Ong Bun kim tanpa terasa.

"Apa yang ditulis di atas mata uang kematian tersebut?" "Thian   san   Bwe   nia   Hong   shia,   bila   dilihat   dari

tertangkapnya Dewi Mawar merah di tempat tersebut, itu berarti besar dugaan jika tebakanku benar, aku musti cepat- cepat menyusul ke situ."

"Mari kutemanimu!" seru Phang Pak bun cepat.

Kemudian sambil berpaling ke arah Tamu pembawa lampu dan Kelelawar malam, ujarnya kembali:

"Bagaimana dengan kalian berdua?"

"Silahkan kalian berangkat!" Maka Ong Bun-kim dan Phang Pak bun berpamitan dengan tamu pembawa lampu serta kelelawar malam untuk melakukan perjalanan, dalam waktu singkat mereka telah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula.

"Adik Ong ... !." mendadak terdengar seseorang berseru nyaring.

Mendengar panggilan itu, Ong Bun kim menghentikan larinya sambil berpaling, tampaklah Bunga iblis dari neraka sedang berjalan menghampirinya.

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, tiba-tiba ia teringat dengan apa yang telah diucapkan Hiat hay longcu kepadanya . . . tanpa terasa api kemarahan berkobar dalam hatinya.

Paras muka Bunga iblis dari neraka kelihatan sangat masgul dan murung, siapapun dapat melihat bahwa perasaannya sedang dicekam oleh rasa sedih dan kesal yang amat sangat.

"Ada urusan apa kau mencariku," tegur Gng Bun kim kemudian dengan ketusnya.

"Adik Ong . ."

"Tutup mulut! aku bukan adik Ong mu." "Kau ..." "Aku membencimu Bunga iblis dari neraka! Aku membencimu setengah mati karena kau telah membohongiku ..."

"Aku membohongimu? Aku telah berbohong apa kepadamu?"

"Kau adalah seorang perempuan lacur yang bisa dijamah dan dinikmati oleh setiap pria..."

"Apa? Kau ..."

Saking gusarnya sekujur tubuh Bunga iblis dari neraka menggigil keras, untuk sesaat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata-pun.

"Hiat hay longcu yang mengatakan kesemuanya itu kepadaku" kata Ong Bun kim lagi dengan ketus, "sekarang katakanlah, apakah kau adalah seorang perempuan baik baik?"

Air mata bercucuran dengan derasnya membasahi wajah Bunga iblis dari neraka yang sayu dan mengenaskan itu, katanya:

"Ong Bun kim, suatu ketika kau akan tahu aku ini seorang perempuan baik atau bukan, sekarang aku tak ingin banyak berdebat denganmu, aku datang hanya ingin memberitahukan satu hal kepadamu!"

"Apa yang hendak kau katakan? Cepat katakan!"

Bunga iblis dari neraka tak ingin mem-beritahukan soal ternodanya dia karena ingin menolong pemuda tersebut, ia merasa penderitaan tersebut lebih baik ditanggung sendiri dari pada rahasia itu diceritakan, toh belum tentu Ong Bun kim akan mempercayainya.

Maka sambil mengendalikan rasa sedih yang mencekam perasaannya, perempuan itu berkata lagi: "Tentang harta mestika yang tersiar dalam dunia persilatan, benda tersebut betul-betul berada di atas tubuhmu ..."

"Darimana kau bisa tahu!"

"Masih ada satu tempat yang belum kau cari!"

"Jangan kuatir!" jengek Ong Bun kim sambil tertawa dingin, "setiap bagian tubuhku telah kami cari dengan seksama."

"Aku bilang masih ada satu bagian tempat yang belum kau periksa!" seru bunga iblis dari neraka lagi dengan tegas.

"Di mana "tanya Phang Pak-bun tak tahan. "Di atas telapak kakinya!"

Jawaban dari Bunga iblis dari neraka ini segera menggetarkan perasaan Oig Bun-kim serta Phang Pak bun, untuk sesaat lamanya mereka hanya bisa memandangi perempuan tersebut dengan termangu-mangu.

"Sebentar kau bboleh memeriksad sendiri telapaak kakimu, coba blihatlah benarkah ucapanku itu, nah! Kita berpisah dulu sampai di sini" bisik Bunga iblis dari neraka dengan sedih.

Selesai berkata ia putar badan dan barlalu dari situ dengan wajah lebih murung dan sedih.

Diam-diam ia memberitahu kepada diri sendiri:

"Ong Bun-kim, selamat berpisah . . . kita tak akan berjumpa lagi untuk selama-lamanya. "

Dengan membawa hati yang hancur tercabik-cabik, dan rasa sedih yang luar biasa, ia berlalu dari situ dan lenyap di balik kegelapan sana. Ong Bun kim hanya memandang bayangan punggungnya dengan wajah penuh kesedihan, dalam hati ia merasa hatinya bagaikan dicabik-cabik dengan pisau tajam, rasanya sakit sekali.

"Ooh Thian . . . !" demikian ia berpekik di hati, "kenapa aku bisa jatuh cinta kepadanya?"

Tiba tiba Pang Pak bun membentak keras; "Ong Bun kim, lopaskan sepatumu! Akan kuperiksa telapak kakimu itu . . . "

Ong Bun kim tersentak bangun dari lamunannya, ia memandang ke arah Phang Pak bun, kemudian bertanya:

"Kau beranggapan bahwa tulisan tersebut bisa ditulis pada telapak kakiku."

"Yaa, siapa tahu memang begitu?"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ong Bun Kim duduk dan melepaskan sepatunya, kemudian ia sodorkan telapak kakinya itu ke hadapan Pang Pak bun sambil berkata:

"Lihatlah sendiri!"

Mo kui sen kiam memandang ke arah telapak kaki pemuda itu dengan seksama, mendadak ia berseru tertahan, wajahnya segera menunjukkan rasa kaget, dan terkesiap yang bukan kepalang . . .

Ong Bun kim merasa terkesiap, paras mukanya segera berubah hebat.

Waktu itu, sorot mata Phang Pak bun tanpa berkedip sedikitpun sedang memperhatikan telapak kaki Ong Bun kim dengan terkesima, ia macam orang yang kehilangan ingatan. "Locianpwe, kenapa kau? "seru Ong Bun kim dengan perasaan terkesiap.

Pelan pelan Pbang Pak bun menenangkan pergolakan dalam hatinya, kemudian sambil menatap wajah anak muda itu, bisiknya:

"Di atas telapak kakimu benar-benar ada tulisan!"  "Hitlah . . . . ? !" seperti kena digodam dengan martil

berat, Ong Bun kim merasakan hatinya terkesiap, ia benar

benar kaget dan bingung oleh kenyataan tersebut.

Benarkah di atas telapak kakinya betul-betul ada tulisan seperti yang barusan dikatakan?

Tapi kalau ditinjau dari perubahan wajah Phang Pak bun, jelas dapat diketahui bahwa apa-apa yang diucapkan memang betul, kalau tidak kenapa ia menunjukkan rasa kaget yang luar biasa?

"Apa bunyi tulisan yang tercantum di situ?" tanya Ong Bun kim kemudian dengan suara gemetar.

"Pada kaki sebelah kanan tercantum tulisan "Bu cing tong" (gua tak berperasaan, sedangkan di kaki sebelah kiri tertulis: "Masuk gua berbelok ke kanan . . . !"

Dengan perasaan sangsi dan setengah percaya setengah tidak, Ong Bun kim memeriksa telapak kaki sendiri, ternyata tulisanb yang tercantumd di situ memanga persis sepertib apa yang diucapkan Phang Pak Bun barusan.

Untuk sesaat lamanya ia menjadi tertegun dan mengawasi wajah Phang Pak bun dengan termangu-mangu.

"Tulisan di atas telapak kakimu itu tampaknya sudah mulai diukir ketika kau masih kecil dulu" kata Pang Pak bun kemudian, "tampaknya ayahmu menaruh maksud yang sangat mendalam dengan tulisan tersebut, siapa tahu kalau disitulah letak harta mestika tersebut diisimpan."

Ong Bun kim merasa perkataan itu ada benarnya juga, Kemungkinan besar gua Bu cing-tong adalah tempat harta mestika itu disimpan, kalau tidak, tak mungkin ayahnya menuliskan kata kata tersebut pada telapak kakinya.

Berpikir demikian, tanpa terasa iapun bertanya: "Di manakah letak gua Bu cing tong itu?"

Phang Pak bun yang ditanya menjadi tertegun, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali.

"Entahlah, aku sendiripun. tak tahu!" "Kau tidak tahu?"

"Yaa, sulit juga buat kita untuk mengetahui di mana letak gua Bu cing tong tersebut, sebab ayahmu sama sekali tidak mencantumkan nama bukit itu di sana, waah ! Kalau begini ceritanya, sulit juga buat kita untuk menemukan tempat itu."

"Sesungguhnya ada berapa banyakkah gua Bu cing tong di dunia ini?"

"Kebanyakan orang persilatan selalu menyebut nama tempat atau nama bukit dengan sekehendak hati sendiri, lalu diberi tulisan sebagai tanda pengenal, sesungguhnya di manakah letak gua Bu-cing-tong itu, sulit juga buat kita untuk menduganya."

"Kalau begitu bukankah tulisan ini percuma saja dicantumkan di atas telapak kakiku?"

Phang Pak-bun kembali gelengkan kepalanya berulang kali. "Bukan begitu maksudnya, bila ditinjau dari perbuatan ayahmu yang mencatat tempat penyimpanan harta mestika itu di atas telapak kakimu, itu berarti beliau beranggapan bahwa suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya letak tempat itu. Nah, sekarang lebih baik kita berpisah untuk melakukan pekerjaan masing-masing!"

"Mengerjakan apa?"

"Kau hendak ke mana? Bukit Thian-san?" tanya Phang Pak-bun setelah termenung sebentar. "Benar!"

"Kalau begitu, kau pergilah seorang diri, sedang aku! Hendak kucari beberapa orang cianpwe sekalian menyelidiki di manakah letak gua Bu-cing-tong tersebut, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Bagus, bagus sekali".

"Kalau begitu, kita berjalan demikian saja!"

Ong Bun-kim manggut-manggut, diapun mengenakan kembali sepatunya.

Phang Pak-bun kembali berkata kepada si anak muda itu:

"Ong Bun-kim, kralau dilihat tutlisan "Thian-saqn Bwe- nia Hong-rshia" tersebut dicantumkan pada mata uang kematian, kemungkinan besar hal itu ada hubungannya dengan Si-ong mo-ci (iblis cantik pembawa maut), kau musti berhati-hati di dalam menghadapi  persoalan tersebut!"

"Boanpwe mengerti!"

"Kalau begitu, kita berpisah sampai di sini saja, baik- baiklah menjaga dirimu."

"Kaupun musti baik-baik menjaga diri!" Mereka berduapun saling berpisah untuk melanjutkan perjalanannya masing-masing.

00OdwO00

Bukit Thian-san

Bunga salju turun dengan derasnya menyelimuti permukaan tanah, udara terasa amat dingin, tanah perbukitan dengan puncaknya yang menyeramkan semuanya terlapis salju yang tebal.

Ong Bun-kim harus membuang waktu yang sangat banyak, sebelum berhasil menemukan bukit Bwe-nia.

Yang dinamakan bukit Bwe-nia adalah suatu hutan bunga sakura yang muncul di antara tanah perbukitan yang dilapisi salju, bunga-bunga sakura itu sedang mekar dengan indahnya, membuat pemandangan alam di sekeliling tempat itu tampak menarik hati.

Dengan kecepatan yang luar biasa Ong Bun-kim lari masuk ke dalam hutan bunga sakura, tapi ia tidak menjumpai benteng Hong-shia seperti yang tercantum dalam mata uang kematian.

Untuk sesaat lamanya pemuda itu menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu sambil mengawasi sekeliling tempat itu, tapi kecuali tebing yang curam, puncak yang tinggi serta bunga salju yang melayang-layang di udara, tiada sesuatu apapun yang terlihat. Sesudah termenung sebentar, sekali lagi dia menjejak kakinya ke atas tanah dan berkelebat menuju ke atas tebing.

Dalam waktu singkat, ia telah berada di puncak yang tertinggi dari bukit Bwe-nia, dengan sorot mata yang tajam ia celingukan ke sana ke mari, mendadak dari antara tebing bukit di sebelah depan sana terlihat sebuah bangunan berloteng yang amat indah. Di antara bunga bunga salju yang melayang di udara, membuat orang hampir sukar untuk melihat dengan jelas apakah bangunan loteng itu betul-betul sebuah bangunan ataukah hanya khayalan atau fatamorgana saja.

Ong Bun-kim merasa amat girang, dengan sekali lompatan ia berkelebat menuju ke arah bangunan loteng di ternpat kejauhan itu.

Setelah menembusi hutan bunga bwe, sampailah ia di depan sebuah jeram yang lebar sekali, kira-kira luasnya mencapai puluhan kaki lebih, air jeram mengalir dengan derasnya.

Ong Bun-kim segera melompat turun ke bawah jeram tersebut, tapi pada saat itulah mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan.

"Datang untuk memenuhi janji?" tegur seseorang. "Memangnya bukan? Toh pihak kalian telah mengutus

dua orang anggota untuk mengundang kedatanganku?"

Mendadak si anak muda itu teringat bahwa dua orang Yu-leng-jin tersebut telah dibunuh, maka buru buru serunya kembali:

"Kenapa kau musti bertanya tanya lagi, tentu saja aku datang untuk memenuhi janji."

"Kalau memang begitu, kenapa tidak tampak kedua orang anggota perguruan kami?"

Ong Bun-kim termenung dan berpikir sejenak, kemudian katanya sambil tersenyum:

"Soal ini cayhe tidak bisa menjawab, sebab aku sendiripun tak begitu tahu."

"Jangan-jangan mereka sudah tewas ditangan mu ?" dengus orang itu tiba tiba dengan suara seram. O000dw000O

BAB 41

"AAAH ! Aku rasa tak sampai demikian, sebab mereka telah pulang lebih dulu dari pada ku. Apakah Dewi mawar merah berada di sini?"

"Benar"

"Karena persoalan apa, Bun-cu kalian mengundangku kemari?"

Manusia tanpa sukma tertawa dingin tiada hentinya. "Heeehhh . . . heeehhh . . . heeehljh . . . Menurut

pengakuan Dewi mawar merah, kau mempunyai hubungan batin yang sangat akrab dengannya, oleh sebab itu sengaja Bun-cu kami mengundang kedatanganmu kemari!"

"Kalau begitu, bawalah aku menemuinya!"

Diam-diam tercekat juga perasaan OngBun-kim sesudah berlangsungnya pembicaraan tersebut, mencoba untuk mendongakkan kepalanya dan menengok sekeliling tempat itu, tapi kecuali suara air dalam jeram, tidak terdengar suara yang lain lagi, tentu saja lebih-lebih tak kelihatan bayangan manusianya.

Menghadapi kesemuanya itu, si anak muda itu merasa bergidik, diam-diam ia menghimpun hawa murninya dan melambung ke udara untuk mendaki ke atas tebing bukit tersebut.

Sesudah bersusah payah, sampailah dia di atas tebing, dari mana ditemukan sebuah jalanan bukit yang langsung menghubungkan tempat tersebut dengan bangunan berloteng yang amat megah itu. Dengan sangat berhati-hati Ong Bun kim bergerak menyelusuri jalanan bukit itu dan meluncur ke depan sana.

Kurang-lebih lima kaki kemudian mendadak

Suara tertawa dingin yang terdengar tadi kembali berkumandang memecahkan keheningan, suaranya dingin menyeramkan membuat siapapua bergidik rasanya.

Ong Bun-kim segera berhenti, lalu bentaknya: "Siapa di sana?"

Mengikuti suara bentakan itu,, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu - tahu muncul empat sosok bayangan manusia berwarna abu-abu yang bagaikan sukma gentayangan melayang turun tepat di hadapan mukanya.

"Yu-leng-jin !" hampir saja ke tiga patah kata tersebut meluncur ke luar dari mulut Ong Bun-kim.

"Engkaukah yang bernama Ong Bun-kim?" terdengar salah seorang" di antara empat manusia tanpa sukma menegur dengan nadba dingin.

"Betudl!"

"Apakah kaua datang memenuhbi janji?" "Benar!"

"Beranikah kau untuk mengikuti aku masuk ke dalam gedung. ?" kembali manusia tanpa sukma menegur.

Ong Bun-kim segera tertawa dingin.

"Heehhh heehhh. heeehh. jangankan cuma sebuah perguruan tanpa sukma, sekalipun bukit golok atau hutan pedangpun aku Ong Bun-kim tak akan mengernyitkan alis mata!"

"Kalau begitu mari ikutlah aku!" "Silahkan!"

Manusia tanpa sukma itupun memutar badan dan bergerak maju ke depan sana, sungguh cepat gerakan tubuhnya ibarat kilat yang menyambar.

Sambil menggertak gigi Ong Bun-kim menghimpun tenaga dalamnya dan menyusul dari belakang.

Si anak muda itu adalah seorang pemuda yang cerdik, mana ia tak tahu kalau Yu leng jin sedang menyandera Dewi mawar merah dan memaksanya untuk menerima syarat yang mereka ajukan, mungkin juga pihak musuh hendak memaksanya untuk masuk menjadi anggota Perguruan Yu leng bun, maka meskipun belum tahu tujuan musuh, ia sadar bahwa perjalanannya menyatroni perguruan Yu leng bun kali ini lebih banyak bahayanya dari pada keberuntungan....

Tapi, bagaimanapun juga dia harus memasuki perguruan tersebut.... sekalipun kepergiannya mungkin akan mengakibatkan kematian, tapi bagaimapun jua dia harus memasukinya juga.

Setelah berjalan sejauh beberapa puluh kaki, sampailah mereka di depan sebuah tebing batu karang yang sangat tinggi, di antara tebing karang tersebut terdapat sebuah gua yang sangat besar. .

Empat orang Yu leng jin tersebut segera menyebarkan diri ke dua belah sisi dan berdiri angker di situ.

Ong Bun kim memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling tempat itu, ia jumpai bangunan loteng itu letaknya berada di ujung gua tersebut, jaraknya lebih kurang duapuluh sampai tigapuluh kaki dari tempat di mana ia berada sekarang.

"Silahkan masuk!" kata Manusia tanpa sukma tersebut. Setelah memandang sekejap ke arah bangunan bertingkat itu, Ong Bun kim kembali mengalihkan sorot matanya ke wajah Yu leng jin, tapi manusia manusia tanpa sukma itu sudah memutar badannya dan berlalu dari situ . . .

Sampai detik ini Ong Bun kim masih belum tahu apakah bangunan berloteng itu adalah perguruan Yu leng bun atau tidak, cuma sekarang ia telah bertekad untuk memasuki sarang harimau, ia harus menyelidiki perguruan itu dan mencari tahu apa tujuan mereka mengundangnya ke mari.

Apalagi Dewi mawar merah telah tertangkap, bagaimanapun jua ia harus berusaha dangan sekuat tenaga untuk menolongnya.

Maka mengikuti di belakang Manbusia tanpa sukmda ia bergerak maenuju ke depan bsana.

Dengan suatu gerakan cepat, manusia tanpa sukma bergerak maju ke depan, ketika tiba tiga empatpuluh kaki dari bangunan berloteng itu. mendadak ia berbelok ke sebelah kiri.

Ong Bun kim tertegun, tanpa terasa ia menghentikan langkahnya dan celingukan ke sana ke mari.

Rupanya Manusia tanpa sukma merasakan juga gerak geriknya itu, ia segera ikut berhenti sambil menegur:

"Kenapa kau berhenti?"

"Sebenarnya di manakah letak perguruan kalian?"

"Ikut saja diriku, toh akhirnya kau akan tahu dengan sendirinya."

Ong Bun kim mengerutkan dahinya dan termenung, untuk sesaat lamanya ia cuma membungkam diri.

Akhirnya sampailah mereka di depan sebuah gua, ketika melihat kemunculan manusia tanpa sukma tersebut, empat orang manusia tanpa sukma yang bertugas di depan gua tersebut segera memberi hormat dengan sikap yang munduk-munduk, kemudian katanya:

"Menyambut kedatangan Congkoan pulang ke perguruan!"

"Tak usah banyak adat!" dengus manusia tanpa sukma itu dengan suara dingin.

"Terima kasih Congkoan!" Ong Bun kim mencoba untuk rnenengok keadaan dalam gua tersebut, yang tampak hanya kegelapan yang mencekam sekeliling tempat tersebut, apapun tidak terlihat.

Sementara ia masih celingukan, manusia tanpa sukma yang dipanggil dengan sebutan "Congkoan" itu telah berkata lagi kepada Ong Bun kim:

"Saudara, mari ikuti aku!" "Silahkan!"

Congkoan tersebut membawa Ong Bun kim masuk ke dalam gua, sedang lainnya tetap tinggal di mulut gua tersebut.

Setelah berjalan sejauh tiga kaki lebih dalam gua itu, sampailah Ong Bun kim berdua disuatu persimpangan jalan yang amat rumit sekali, persimpangan itu bercabang-cabang banyak, entah ke mana saja jalanan itu tertembus.

Berkatalah Congkoan itu kepada Ong Bun kim:

"Baik-baiklah ikuti diriku, jangan sampai salah jalan!" "Tak usah kuatir, silahkan!"

Tampaknya jalanan dalam gua itu diatur dengan sistim suatu barisan yang sangat lihay, sedemikian banyak liku- liku dan tikungan yang berada dalam gua itu sehingga sudah sekian lama mereka berjalan, namun tak terdengar sedikit suara pun.

Tanpa terasa Ong Bun kim menghela napas panjang, katanya:

"Sungguh tak kusangka begini megah bangunan di dalam gua karang ini, sungguh membuat orang merasa kagum!"

"Hm.....! Apanya yang perlu di kagumi?" jengek sang Congkoan dingin.

Merekapun melanrjutkan perjalantan kembali meneqmbusi gua terserbut, setelah berjalan sekian lama akhirnya sampailah dalam sebuah ruang batu yang sangat lebar, ruangan itu merupakan sebuah istana yang besar dengan tiang-tiang penuh ukiran yang indah.

Hampir saja Ong Bun kim tidak percaya dengan apa yaog dilihatnya sekarang, coba kalau tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, ia tak menyangka kalau dalam gua karang tersebut bisa terdapat sebuah bangunan istana yang demikian megahnya.

Butiran mutiara dan permata yang memancarkan sinar berkilauan menghiasi tiap-tiang penyangga yang besar, jumlahnya sampai puluhan biji, pancaran sinar yarg berkilauan tersebut segera menyinari seluruh ruangan dan membuatnya menjadi terang benderang bagaikan disiang hari saja.

Menyaksikan kesemuanya itu, Ong Bun-kim menjadi tertegun dan berdiri terbelalak dengan mulut melongo. . .

"Silahkan mengikuti aku!" kata Congkoan kembali dengan nada dingin.

Ong Bun kim tertawa ewa, mengikuti di belakang sang Congkoan mereka masuk ke dalam ruang istana, beberapa saat kemudian tibalah mereka di sebuah ruangan lain yang lebih megah, puluhan orang manusia tanpa sukma berdiri berjejer dikedua belah sisi ruangan.

Semua manusia tanpa sukma itu mengenakan kain cadar berwarna abu-abu, sehingga sulit buat orang lain untuk melihat paras muka mereka.

Setelah sampai di ujung ruangan, Ong Bun kin pun tiba di depan sebuah istana, di belakang meja batu yang panjang kosong tiada seorang manusiapun, agak berubah wajah Ong Bun kim menghadapi kejadian tersebut.

"Sobat, apa maksudmu dengan kesemuanya itu?" tegurnya ketus.

Sang Congkoan agak tertegun menghadapi teguran tersebut, ia menjadi melongo dan tidak habis mengerti.

"Kalau memang kalian bermaksud mengundang kedatanganku kemari, kenapa tidak tampak tuan rumah, yang menjumpai diriku?"

Sang congkoan tertawa dingin.

"Sebentar lagi majikan kami pasti akan munculkan diri!" sahutnya.

"Apakah aku harus menunggunya ....?" seru Oog Bun kim sambil tertawa dingin.

Belum habis pemuda itu berbicara, mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan:

"Hu buncu tiba?"

Mengikuti bentakan nyaring tersebut puluhan orang- orang Yu - leng jin yang berada di depan istana serentak menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah sambil berseru nyaring. "Menyambut dengan hormat kedatangan Hu buncu !"

Untuk sesaat lamanya Ong Buri-kjm merasa tercekam oleh suasana yang dihadapinya itu, suasana dalam ruanganpun seketika berubah menjadi hening, sepi dan tak terdengar sedikit suarapun.

-oo0dw0oo--