-->

Setan Harpa Jilid 11

 
Jilid 11

”KALAU aku enggan menjawab?" "Memangnya sudah kepingin mampus?"

"Haaahh haaahh haaahh tepat sekali perkataanmu itu!" Ong Bun-kim tertawa terbahak bahak.

Bayangan manusia berputar kencang seperti sukma gentayangan saja manusia tanpa sukma itu bergerak maju ke muka menghampiri Ong Bun kim, sebelum tubuhnya tiba, segulung angin pukulan yang berhawa dingin telah menggulung tiba lebih dahulu.

Baru saja Ong Bun-kim hendak menghindarkan diri dari ancaman itu, manusia tanpa sukma sudah melayang mundur kembali ke posisi semula, katanya dengan dingin:

"Sebelum pertarungan dilangsungkan, terlebih dulu aku hendak menanyakan satu persoalan kepadamu!"

"Katakan cepat!"

"Kau pernah membaca isi tulisan yang tertera di atas mata uang kematian tersebut?"

"Benar!"

"Selain dari pada itu, apakah kau adalah putranya Ong See-liat?"

"Perkataanmu juga benar!"

"Kalau begitu, kami lebih-lebih tak akan mengampuni jiwamu!"

Kembali bayangan hitam berkelebat lewat lalu  menerjang ke muka secepat sambaran kilat, tapi berbareng itu pula cahaya putih menyambar ke tengah gelanggang, pada saat yang bersamaan Manusia kilat melepaskan sebuah serangan dahsyat ke tubuh manusia tanpa sukma. Bayangan putih dan bayangan hitam saling berputar satu lingkaran di udara kemudian ke duanya sama-sama melayang mundur satu kaki dari posisi semula.

"Hei, apa-apaan kau?"- tegur Manusia tanpa sukma dengan nada tak senang, hati.

Manusia kilat tertawa dingin.

"Sobat, kalian jangan bertindak seenaknya sendiri, dia adalah orang yang kumaui, kalian tak boleh mengganggu seujung rarhbutnyapun!"

Manusia tanpa sukma berganti tertawa dingin. "Hieehh. .heeehh. heeehh Orang yang kau maui?"

"Benar!"

"Huuhh ! Besar amat bocotmu. "

"Aku berbicara yang sesungguhnya, barang siapa sudah kumaui, maka tak seorangpun diantara mereka yang dapat lolos dari cengkeramanku, mengerti.. !"

"Baah....! Manusia kilat, kamu itu manusia macam apa? Berani betul bicara sesumbar." ejek Manusia tanpa sukma yang berada di sebelah kanan sambil tertawa dingin.

Manusia kilat tertawa seram.

"Kalau tidak percaya, silahkan saja untuk mencobanya sendiri!" demikian dia menantang.

Manusia tanpa sukma tertawa dingin, tubuhnya yang hitam seperti sukma gentayangan dengan membawa desingan angin dingin langsung menerjang ke arah Ong Bun-kim.

Sekali lagi cahaya putih membelah angkasa, Manusia kilat membawa serentetan cahaya putih melejit ke udara dan memapaki datangnya terkaman dari Manusia tanpa sukma.

Di saat manusia kilat itu bertindak, manusia tanpa sukma lainnya tidak pula menganggur, dengan menggunakan kesempatan tersebut ia menubruk ke arah Ong Bun-kim.

Tubrukan itu cepat sekali, mau tak mau si anak muda itu harus membentak keras, harpa bajanya ikut pula dipakai untuk melancarkan serangan.

0oo0dw0oo0

BAB 32

BERBARENG dengan serangan dari harpa baja itu, telapak tangan kirinya diayun pula ke muka melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Pertarungan segera berkobar dengan sengit nya, angin pukulan menderu deru, bayangan hitam menyambar- nyambar.

Di tengah tegangnya suasana, kembali ke-dengaran seseorang tertawa merdu lalu menegur:

"Kenapa kalian berempat musti bertarung seseru ini?"

Sedemikian mendadaknya suara itu muncul membuat kawanan jago yang sedang bertempur serta merta menghentikan pertarungan mereka.

Ong Bun-kim berpaling ke samping, dijumpainya ada dua orang dayang berbaju biru sambil menggotong sebuah tandu berwarna biru bergerak cepat mendekati arena. Dua orang dayang-berbaju biru itu tak lain adalah dua orang pesuruh dari Hui-mo-pang, terkesiap juga Ong Bun- kim menghadapi kejadian ini, pikirnya:

"Jangan-jangan Gin Lo-sat dari Hui-mo-pang telah datang pula ke mari?"

Sementara ia masih termenung, tandu itu sudah tiba di tengah gelanggang pertarungan.

Dua orang dayang berbaju biru ttu melirik Ong Bun-kim sekejap, lalu serunya:

"Sudah sampai!"

Tandu berhenti, horden segera disingkap dan seorang gadis cantik berbaju biru berjalan keluar dari balik tandu itu dengan langkah yang lemah gemulai...

Gagis itu berusia duapuluh satu, dua tahunan, mukanya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, biji matanya bening dan jeli, ia memang tak malu disebut seorang gadis rupawan.

Ong Bun-kim kesemsem dibuatnya menyaksikan kecantikan dara berbaju biru itu.

Dangan matanya yang jeli dara bberbaju biru itdu menyapu sekejaap sekeliling gbelanggang, kemudian sorot matanya berhenti di atas wajah Ong Bun kim, sesudah tertawa dingin katanya.

"Apakah kau yang bernama Ong Bun kim?" "Betul!"

Gadis berbaju biru itu tertawa ringan, kembali tanyanya: "Lantas di manakah sahabatmu itu?"

"Sahabatku yang mana?" "Orang yang telah melukai dayangku itu!"

"Heeehh...heeehhb...heeehhb.,.mau apa kau mencari dia?" tegur Ong Bun kim sambil tertawa.

"Membunuhnya!" .

"Huuuh...! Besar amat bacotmu, tidak takut lidahmu kena disambar geledek sampai putus?"

"Aku tidak membual tidak pula menggertak, aku berbicara apa adanya!" setelah tertawa dingin ia melanjutkan, "nah, sekarang kau harus ikut kami pergi!"

"Pergi ke mana?"

"Ke markas besar perkumpulan kami!" "Siapa kau?"

"Wakil pangcu dari perkumpulan Hui mo pang, orang- orang memanggilku Gin Losat!"

Ong Bun kim kembali tertawa dingin.

"Hmmm....! Kenapa aku musti ke markas perkumpulan kalian? Aku merasa tak pernah kenal dengan kalian!"

"Soal semacam ini lebih baik tak usah kau tanyakan dulu, sampai waktunya kau toh akan mengetahui sendiri!"

"Jadi kedatanganmu ke sini adalah secara khusus untuk mengundang diriku."

"Benar sekali perkataan itu." Ong Bun kim tertawa dingin.

"Heehmm...heehhmm...aku merasa berbangga hati dengan kenyataan ini, sebab ada begini banyak jago kenamaan yang secara khusus datang mencariku, cuma

...kuatirnya aku tak bisa pergi mengikutimu." "Kenapa?"

"Tidakkah ..kau lihat ada begini banyak jago yang berurusan denganku di tempat ini!"

Ong Bun kim cukup jelas denganb keadaan dirinyda, berbicara daari kepandaian sbilat yang dimiliki dua orang Manusia tanpa sukma dan Manusia kilat, ia masih bukan tandingannya, lebih lebih dengan Hu pangcu dari Hui mo pang ini, dia tahu kepandaian silat gadis itu lihay sekali.

Maka timbullah satu ingatan dalam benaknya untuk mengadu domba mereka bertiga, asal ketiga pihak itu sudah bentrok dan tarung sendiri, maka akibatnya dialah yang akan menjadi nelayan yang beruntung.

Sebab itulah dia lantas berusaha memanasi hati Gin Lo sat dengan kata - kata yang tak sedap tadi.

Betul juga, paras muka Gin Lo sat berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, katanya:

"Kalau aku menghendaki kau ikut diriku pergi, siapa yang berani mengatakan tidak?"

Manusia tanpa sukma tidak tahan oleh sindiran tersebut, ia tertawa dingin lalu serunya:

"Huuuh ! Kau sendiri itu manusia macam apa?"

"Aku tidak terhitung manusia macam apa-apa, kalau punya keberanian hayo unjukkan saja kepandaianmu!" ejek Gin Lo sat sambil tertawa cekikikan.

Dengan berlangsungnya perang mulut, situasi dalam arena berubah menjadi tegang, hawa pembunuhanpun menyelimuti seluruh angkasa.

Manusia tanpa sukma yang berada di sebelah kanan segera tertawa dingin, bayangan hitam berkelebat ke depan tiba-tiba ia menerjang ke tubuh Ong Bun kim. "Bajingan yang bosan hidup !" jengek seseorang sambil tertawa sinis.

Bayangan biru melompat pula ke tengah arena, dengan suatu gerakan manis Gin Lo sat menyongsong kedatangan manusia tanpa Sukma.

Di kala Gin Lo sat telah turun tangan, Manusia tanpa sukma lainnya ikut bertindak pula, dia manfaatkan kesempatan itu sebaik baiknya untuk menerkam Ong Bun kim.

Cahaya putih berkelebat lewat. Manusia kilat yang kali ini bertindak untuk menghadang jalan pergi Manusia tanpa sukma itu.

Empat sosok bayangan manusia hampir pada saat yang bersamaan terjun ke dalam gelanggang, bentakan-bentakan nyaring, deruan angin pukulan menciptakan perpaduan suara yang mengerikan.

Ong Bun kim ssperti teringat akan sesuatu, tiba tiba ia memutar tubuhnya sambil membentak.

"Siau Hui un, krita jangan hanyta menganggur, hqayo serahkan jirwa anjingmu kepadaku!"

Ia melompat ke depan dan menubruk ke arah Siau Hui un.

Berbareng dengan tubrukan itu, tangan kiri-nya melepaskan sebuah pukulan dengan sepenuh tenaga.

Siau Hui un menggigit bibirnya, dengan keras lawan keras ia sambut datangnya serangan dari anak muda itu.

Sementara benturan berlangsung, harpa besi di tangan kanan Ong Bun kim berkelebat pula melancarkan tiga buah serangan. Secara beruntun Siau Hui un didesak hingga mundur tujuh-delapan langkah dengan sempoyongan, untunglah di saat yang kritis bayangan biru berkelebat lewat, dua oramg dayang berbaju biru itu secara tiba tiba melancarkan serangan ke arah Ong Bun kim.

Serangan dari kedua orang dayang itu cukup keras, ini membuat anak muda kita naik pitam, dengan geramnya ia menghardik:

"Dayang sialan, kubunuh dirimu "

Harpanya diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan deruan angin tajam, jurus-jurus serangan mematikan berhamburan tiada hentinya.

Di tengah berkobarnya pertarungan sengit, tiba tiba Ong Bun kim mendengar ada suara bisikan lembut seperti suara nyamuk menggema di sisi telinganya.

"Hei bodoh, kalau sekarang tidak kabur mau menunggu sampai kapan lagi ?"

Mendengar bisikan itu Ong Bun kim kaget, betul juga, kalau sekarang tidak angkat kaki, lain waktu pasti sulit untuk kabur dari kepungan jago jago lihay itu.

Tapi musuh besar ada di depan mata, harusnya ia tinggalkan musuhnya untuk melarikan diri? Sudah barang tentu hal ini merupakan suatu perbuatan yang tak mungkin bisa dilakukan.

Untuk kedua kalinya bisikan seperti nyamuk itu berkumandang di sisi telinganya.

"Hei bego, kenapa berdiri mematung terus? Hayo cepat ambil langkah seribu dari situ!"

Walaupun kali ini Ong Bun kim tertegun lagi, tapi ia sama sekali tidak meninggalkan tempat itu, malah sebaliknya sambil membentak ia lepaskan dua serangan untuk membendung gerak maju dayang dayang berbaju biru ku, kemudian badannya ber-kelebat ke samping dan mengejar Siau Hui un yang sementara itu sudah menyingkir ke belakang.

Pada saat ini Ong Bun kim sudah mempunyai niat untuk beradu jiwa, begitu menyerang ia kerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, hebat sekali akibatnya.

Mendadak, bayangan abu abu kembali menyambar lewat, secepat kilat orang itu meluncur ke arah Ong Bun kim dan menggunakan kesempatan dikala pemuda itu tidak siap ia totok jalan darahnya.

Ong Bun kim tidak menyangka bakal ada serangan dari belakang, baru saja merasa kaget badannya sudah menjadi kaku dan tahu-tahu ia sudah dibawa kabur dari sana.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu amat sempurna, dalam beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah mencapai puluhan kaki, sekali pun jalan darahnya tertotok Ong Bun kim masih ada dalam keadaan sadar, segera bentaknya;

"Turunkan aku!"

Manusia berbaju abu abu itu tidak menjawab ia malah tancap gas untuk kabur dari sana.

Dalam waktu singkat beberapa li sudah di lewatkan, akhirnya manusia berbaju abu abu itui menurunkan Oog Bun kim ke atas tanah dan menepuk bebas jalan darahnya yang tertotok.

Dengan cekatan pemuda itu melompat bangun dan mengamati orang itu, tapi dengan cepat ia tertegun.

"Lho, kamu?" serunya-tertahan. "Yaa, memang aku!".

Ternyata orang itu adalah si gadis berbaju-abu abu yang beberapa kali pernah dijumpai Ong Bun kim, sewaktu pemuda itu terkena pedang Liu yap kiam, gadis itu pula yang telah menyelamatkan jiwanya.

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat-bentaknya: "Sebenarnya apa maksudmu berbuat demikian?" "Apa lagi? Tentu saja menolongmu!"

"Menolong aku?"

"Yaa, aku melakukannya untuk menolongmu!"

"Siapa yang suruh kau untuk menolongku?" teriak pemuda itu dengan perasaan tak senang hati. Selesai berkata dengan ketus ia lantas putar badan dan berjalan kembali ke arah tempat semula.

Bayangan abu-abu mendadak berkelebat di depan mata, tahu tahu gadis bsrbaju abu abu itu telah menghadang kembali di hadapannya.

"Ong Bun-kim, kau sudah kepingbin mampus?" terdiaknya.

"Aku piangin mampus atabu tidak apa sangkut pautnya dengan dirimu?" damprat pemuda itu.

Sekujur tubuh si nona berbaju abu - abu menggigil keras, rupanya ucapan itu telah menyinggung perasaan halusnya, dengan wajah berubah teriaknya keras-keras:

"Dari pada kau mampus di tangan orang lain, lebih baik mati di tanganku saja!"

Bayangan abu-abu menyambar ke depan, mendadak ia menghantam tubuh pemuda tersebut. Tangan kanannya diayun ke muka dan . . . "Plaaak!" sebuah tempelengan telah bersarang telak di atas pipi Ong Bun-kim membuat si anak muda itu mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.

"Kau . . . kau memukul aku?" dengan gemetar ia bertanya.

Agaknya nona berbaju abu abupun merasa tertegun sesudah menempeleng Ong Bun-kim, lama, lama sekali, mendadak ia menutupi muka nya sendiri dan menangis tersedu-sedu.

"Enyah! Enyah dari sini!" jeritnya keras-keras.

Sebenarnya Ong Bun-kim merasa marah sekali dan diliputi oleh napsu ingin membalas dendam, tapi setelah nona berbaju abu-abu itu menangis tersedu-sedu, ia malah tertegun dibuat nya sehingga berdiri termangu seperti patung.

Beberapa saat kemudian nona berbaju abu abu itu baru berhenti menangis, mukanya yang pucat pias memancarkan kebulatan tekadnya, setelah melemparkan kerlingan  terakhir ke wajah Ong Bun-kim tiba-tiba ia beranjak dari situ.

Tentu saja tingkah laku gadis itu sangat mencengangkan bati Ong Bun-kim, serunya tak tertahan:

"Nona!"

Nona berbaju abu-abu itu berhenti lalu berpaling dan memandang Ong Bun-kim sekejap, setelah itu sambil tertawa dingin katanya:

"Benar, mati hidupmu memang tak ada sangkut pautnya dengan aku, kalau toh kau bersikeras ingin mampus, apa sangkut pautnya dengan aku? Kenapa pula aku musti mengurusi nya? Ong Bun-kim, silahkan angkat kaki dari hadapanku!"

Selesai berkata, ia melanjutkan kembali langkahnya berlalu dari tempat itu.

"Nona ... " sekali lagi Ong Bun-kim berteriak.

"Ong Bun-kim, kau masih ada urusan apa lagi yang hendak diperbincangkan dengan aku?"

Ong Bun-kim tertawa getir, katanya:

"Aku hanya ingin mengucapkan bbanyak terima kadsih atas budi paertolongan tempbo hari!"

"Oooh . . itu sih hanya pekerjaan kecil, tak usah kau ucapkan terima kasih kepadaku!"

Memandang wajah si nona yang murung, sedih dan pucat pasi; timbul suatu perasaan dalam hati kecil pemuda itu bahwasanya mereka adalah senasib sependeritaan, hal ini amat menggetarkan perasaannya hingga tanpa terasa ia menghela napas panjang.

"Aaaai . . . ketahuilah nona, dendam sakit hati orang tuaku belum terbalas, tapi kau telah melarikan aku ... "

"Sanggupkah dendammu itu kau tuntut balas?" jengek si nona berbaju abu-abu itu sambil mendengus.

"Tentang soal ini . . ."

"Ong Bun - kim, kau jangan terlampau tekebur, ketahuilah bahwa kepandaian silatmu yang amat cetek itu masih belum cukup sebagai bekalmu untuk membalas dendam, betul Siau Hui un adalah musuh besarmu, tapi otak dari pembunuhan yang sesungguhnya adalah Manusia kilat sendiri, tak usah membicarakan yang lain, sanggup tidak ilmu silatmu menandingi kelihayan si manusia kilat?" "Soal ini "

"Hmm . . . !" kembali nona berbaju abu abu itu mendengus, "manusia kilat yang munculkan diri sekarang tidak lebih hanya salah seorang di antara sekian banyak anggota perguruan San-tiam-bun, seandainya si Manusia kilat yang sesungguhnya telah muncul di hadapanmu, semenjak tadi nyawamu sudah lenyap tak ber bekas. "

"Apa? Manusia kilat itu bukan cuma se orang?"

"Siapa bilang hanya seorang? Jumlahnya paling tidak juga mencapai puluhan orang, Ketua dari perguruan Kilatlah yang merupakan musuh besarmu yang sesungguhnya. "

Bergidik Ong Bun-kim setelah mendengar perkataan itu, sekujur tubuhnya menggigil keras.

Seandainya apa yang dircapkan merupakan kenyataan, keinginannya untuk membalas dendam bukankah jauh  lebih sulit dari pada naik ke langit? Berpikir sampai di situ tanpa terasa lagi dia menghela napas panjang.

Nona berbaju abu-abu itu tertawa dingin. "Bagaimana?" ejeknya, "putus asa?"

Ong Bun-kim terrtawa getir. "Puttus asa sih tidqak "

"Lantars mengapa menghela napas panjang?"

"Aku menghela napas lantaran kenyataan yang sesungguhnya ternyata sama sekali di luar dugaan!"

"Terlepas soal Manusia kilat," kembali nona berbaju abu- abu itu menerangkan, "kelihayan ilmu silat yang dimiliki Manusia tanpa sukma hanya mungkin di atasmu dan tak mungkin lebih lemah dari padamu, hal ini merupakan suatu kenyataan pula, tentunya kau tidak menyangkal bukan?"

"Yaa, aku tidak menyangkal!"

"Hu-pangcu dari Hui-mo-pang lebih-lebih merupakan seorang gembong iblis perempuan yang menakutkan, kelihayan ilmu silatnya tidak berada di bawah kemampuan ketuanya sendiri, baik siapapun yang berhasil menangkan pertarungan itu, kau toh sama saja tak akan bisa lolos dengan selamat..."

"Yaa, ucapanmu memang suatu kenyataan!"

"Oleh karena itulah, sekalipun kau ingin membalas dendam, tapi lebih baik sedikitlah menahan diri!"

Ong Bun-kim tertawa jengah.

"Yaa . . . yaa . . . aku telah memahami maksud hati nona yang sesungguhnya . . . !" ujarnya lirih.

Pelan-pelan sikap si nona berbaju abu-abu pun menjadi lebih lembut dan halus, dengan termangu-mangu diawasinya Ong Bun-kim beberapa kejap, kemudian sambil tertawa getir ia berkata.

"Kalau begitu, kau pasti sudah memaafkan diriku atas sebuah tempelenganku tadi bukan?"

"Tamparan itu memang pantas kuterima!" "Dasar bodoh!" desis si nona.

Ia telah tertawa kembali, malah tertawanya begitu riang dan gembira.

Ong Bun-kim ikut tertawa, cuma tertawanya begitu getir, pahit dan terpaksa.

Tiba-tiba nona berbaju abu-abu itu menarik kembali senyumannya, kemudian dengan wajah serius ia berkata: "Aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, apakah kau bersedia untuk menjawabnya?"

"Katakanlah!"

"Aku dengar kau menyimpan sejilid kitab pusaka, benarkah berita itu?" tanya si nona.

Dengan cepat Ong Bun - kim gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak punya kitab pusaka!"

"Kalau begitu kau pasti mempunyai peta penyimpan harta?"

"Juga tidak ada!" "Aaaaah, tidak mungkin!"

"Sungguh, aku bicara sesungguhnya, buat apa kubohongi dirimu?"

"Kalau memang begitu, sesungguhnya di tubuhmu terdapat benda apa yang berharga?"

Ong Bun-kim tertegun sejenak, kemudian kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak ada! Bsnar-benar tidak ada!"

"Tidak mungkin, pasti ada, bahkan seratus persen pasti ada..."

"Tapi benda apakah yang kau maksudkan?" "Aku sendiripun tak tahu."

Mendengar jawaban itu, Ong Bun-kim segera tertawa.

"Tapi   binar,   aku   betul-betul   tak   punya apa-apa " tegasnya.

"Aku tidak percaya." " Tidak percaya? Bagaimana kalau kulepaskan semua pakaianku sampai telanjang."

Mendadak ia merasa ucapannya telah salah digunakan, kontan saja wajahnya berubah jadi merah padam, kata kata selanjutnyapun ikut ter telan mentah mentah.

Air muka nona berbaju abu-abu itu berubah  pula menjadi merah padam karena jengah.

"Idiih tak tahu malu!" dampratnya.

-oo0dw0oo-

BAB 33

SAKING gelisah dan paniknya, Ong Bun-kim sampai mendepak-depakkan kakinya berulang kali ke tanah, serunya: "Aku benar-benar tak punya benda berharga !"

"Aku rasa benda tersebut pasti ada di dalam tubuhmu, hanya saja hingga kini kau masih belum tahu..."

Ong Bun-kim tertawa lebar.

"Seandainya kitab pusaka itu benar-benar berada di sakuku, masakah aku tidak mengetahuinya?"

"Tapi mungkin juga barang itu bukan se-jilid kitab pusaka!"

"Apa?" tanpa sadar Ong Bun-kimb menjerit kagetd dan menatap sia nona berbaju abbu abu itu dengan termangu.

"Bukan juga benda itu bukan sejilid kitab pusaka!" nona berbaju abu abu itu mengulangi kembali kata katanya.

"Lantas benda apakah itu?"

"Tentang benda apakah itu, aku rasa orang lain tak ada yang tahu, tapi aku bisa menunjukkan bukti yang nyata sekali yakni alasan dari pihak Yu leng bun, San tian jin dan Hui mopang untuk berusaha mendapatkan kau, konon dikarenakan di atas tubuhmu terdapat pusakanya!"

"Pusaka?" "Betul, pusaka!"

Kontan saja Ong Bun kim tertawa tergelak-gelak.

"Haaahh...haaahh...haaahh...di atas tubuhku ada pusakanya? Sungguh menggelikan, sungguh menggelikan sekali! Haaahh...haaahh...haaahh. "

"Hei, jangan tertawa dulu!" bentak si-nona. Oag Bun kim segera menghentikan tertawa nya, lalu dengan serius berkata lagi:

"Baik, baik, aku tidak akan tertawa lagi, aku tidak akam tertawa lagi, coba sekarang kau terang kan dulu, pusaka macam apakah yang mereka maksudkan?"

"Ong Bun kim, jangan kita persoalkan dulu masalah itu" ujar nona berbaju abu abu dengan serius, "aku ingin menanyakan satu hal kepadamu."

"Ajukanlah pertanyaanmu itu, akan kudengar kan baik baik."

"Konon menurut cerita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya ilmu silat yang dimiliki ayahmu kecuali Iblis cantik pembawa maut seorang telah tiada tandingannya lagi, benarkah itu?"

"Benar!"

"Dari mana ia peroleh ilmu silatnya?" "Mana aku tahu?"

"Nah, itulah dia! Di sini letak teka teki itu!" "Aku tidak mengerti dengan ucapanmu!"

"Benarkah ayahmu pernah memperoleh sejilid kitab pusaka atau tidak, untuk sementara waktu kita ke sampingkan dulu, tapi aliran dari ilmu silat yang dimiliki ayahmu justru hanya ada satu kemungkinannya saja."

"Kemungkinan apa?"

"Berasal dari warisan seseoranbg!"

"Tapi apa sdangkut pautnya aantara kejadianb itu dengan pusaka yang berada dalam tubuhku?"

"Kuncinya justru terletak di sini!"

"Waaah...waaah... bagaimana sih urusannya? Kok makin lama semakin aneh dan makin membingungkan saja?"

Nona berbaju abu abu itu menarik napas panjang, setelah berhenti sejenak katanya:

"Sebetulnya kejadian ini memang rada aneh dan misterius, menurut pendapatku kalau bukan ayahmu mempelajari ilmu silat itu dari seseorang, maka dia pasti telah berkunjung ke suatu tempat . . ."

"Yaa, kenapa musti dibicarakan lagi? Kalau ilmu silatnya bukan berasal dari warisan orang, tentu saja ia menemukan sejilid kitab ketika pergi ke suatu tempat."

"Yaa betul, memang begitulah maksudku!" "Tapi kenapa pula dengan persoalan ini?"

"Aku pikir tempat itu tentulah tempat pengasingan dari seorang tokoh silat yang berilmu tinggi dan ayahmu tentu sudah memberitahukan letak tempat itu kepadamu . . ."

"Huuuss! Kau jangan ngaco belo tak karuan, sewaktu ayahku mati dulu, aku masih belum tahu urusan!" "Bukan, yang kuartikan adalah ia telah memberitahukan kepadamu lewat "mestika" yang menjadi masalah sekarang ini!"

"Jadi maksudmu, ayahku telah meninggalkan tempat misterius itu kepadaku agar suatu ketika aku bisa berkunjung ke situ untuk mempelajari ilmu silat maha sakti?"

"Benar, aku memang maksudkan demikian!"

"Tapi hal ini tak mungkin terjadi, aku tidak punya apa- apa, mana mungkin bisa kumiliki mestika tersebut."

"Yaa, benar, memang di sinilah letak keanehannya, kalau dugaan ini tidak keliru, kemungkinan kejadian ini bakal ada perkembangan lainnya."

Belum habis si nona berbaju abu abu itu me nyelesaikan kata- katanya mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan kesunyian, lalu seseorang berseru:

"Bocah perempuan, analisamu itu memang tepat dan sangat masuk di akal."

Mendengar ucapan itu dengan perasaan terperanjat Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, maka tampaklah rsi kakek berambtut putih yang pqernah dijumpainrya itu sedang berjalan menghampiri ke arahnya.

Ong Bun kim tertegun dan melongo, hingga sekarang ia masih belum tahu siapa gerangan si kakek berambut putih itu.

Buru buru dia bangkit dan memberi hormat katanya: "Locianpwe, rupanya kau. "

"Ya, betul! Memang aku," sesudah berhenti sejenak, ia berpaling dan memandang nona berbaju abu-abu itu sekejap, kemudian lanjutnya lebih jauh, "nona, siapakah kau?"

"Boanpwe bernama Yu Cing!" nona itu memperkenalkan.

"Bocah perempuan, analisamu tadi sungguh membuat orang menjadi kagum, sesungguhnya mestika yang berada di tubuh Ong Bun kim bukan sejilid kitab pusaka, melainkan suatu "mestika" yang luar biasa hebatnya dan tak ternilai harganya."

"Sudah....sudahlah....kalian jangan merecoki aku terus menerus dengan segala macam mestika!" keluh Ong Bun kim sambil tertawa getir.

"Bocah muda, kami bukan hanya mengigau disiang hari bolong, apa yang kukatakan adalah suatu kenyataan!"

"Kalau kenyataan, coba berilah alasan yang cukup kuat kepadaku agar akupun dapat ikut mempercayainya."

Kakek berambut putih itu memperhatikan Ong Bun kim sekejap, lalu sinar matanya dialihkan ke wajah Yu Cing atau si nona berbaju abu abu itu, katanya:

"Bocah perempuan, menurut pendapatmu tadi, masalah ini bakal muncul kemunculan apa?"

"Boanpwe kuatir salah berbicara."

"Tidak mengapa, coba utarakan saja secara berterus terang."

"Konon sejak Ong See liat muncul kembali ke dalam dunia persilatan setelah berita lenyapnya dia selama banyak tahun, hanya dalam enam-tujuh tahun saja ilmu silatnya telah mendapat kemajuan yang pesat sekali, ini menunjukkan kalau ilmu silatnya itu berasal dari ajaran orang lain." "Dugaan semacam itu memang masuk diakal!"

"Kalau memang demikian, maka di dunia ini hanya ada satu orang saja yang sanggup melakukan pekerjaan besar ini "

"Siapa?" tanpa sadar Ong Bun kim berseru. "Hek mo im (bayangan iblis hitam)"

"Hek mo im?" Ong Bun kim termangu sejenak, "apakah diapun berwujud seorang manusia?"

"Tentu saja!"

Ong Bun kim segera berpaling ke arah kakek berambut putih itu sambil bertanya:

"Siapakah manusia yang bernama Hek mo im itu?" "Seperti pula julukan yang berhasil diraihnya itu, belum

pernah ada seorang manusiapun yang mengetahui siapakah

dia, tapi dia pernah munculkan diri di depan umum, sekalipun wujudnya pada saat itu hanya suatu bayangan hitam yang besar sekali..."

"Kalau begitu dia adalah manusia ?" "Bukan! Dia manusia biasa!" "Manusia macam apakah dia itu?"

"Sejak munculkan diri dalam dunia persilatan Hek mo im hanya muncul sebanyak beberapa kali saja di muka umum, tapi setiap kali pemunculannya selalu menciptakan suatu peristiwa besar yang menggemparkan seluruh dunia persilatan, pada pemunculan yang pertama ia berhasil melenyapkan Mo hay su pah (empat raja bengis dari samudra iblis), pada pemunculan kedua ia menyapu lenyap Tang hay mo ong (raja iblis dari lautan timur) dan pada pemunculannya yang ketiga ia membubar kan perkumpulan Im hun kau..."

"Manusia macam apa saja yang telan ia basmi itu?"

"Mo hay su pah adalah empat orang gembong iblis pembunuh manusia tanpa berkedip, keempat orang itu pernah menciptakan badai darah dalam dunia persilatan, tak seorangpun jago persilatan yang sanggup menandingi kehebatan mereka. Sedangkan Tang hay mo ong serta Im hun kau adalah manusia-manusia yang menciptakan pembantaian manusia secara besar-besaran demi terwujudnya cita-cita mereka untuk merajai dunia persilatan, andaikata Hek mo im tidak muncul tepat pada saatnya, entah bagaimana akibat dari ulah mereka itu."

"Kalau begitu Bayangan iblis hitam adalah seorang Bu seng (malaikat ilmu silat)?"

"Betul, dia adalah seorang malaikat ilmu silat. Setiap umat persilatan yang menyinggung nama orang ini pasti akan menunjukkan sikap yang sangat menaruh hormat. Cuma berbicara kembali, meskipun Hek mo im hanya tiga kali munculkan diri dalam dunia persilatan, kalau dihitung dengan jari waktunya sudah mencapai enam tujuh puluh tahun berselang."

"Apakah selama ini tak pernah bada seorang mandusiapun yang pearnah bertemu debngan wajah aslinya?" tanya Ong Bun kim dengan perasaan amat tercekat.

"Yaa, selamanya belum pernah ada seorang manusiapun yang pernah menjumpai raut wajah aslinya, cuma menurut cerita orang, Sin kiam (pedang wasiat) yang bikin hati orang keder itu bakal muncul kembali dalam dunia persilatan tak lama kemudian ... " "Pedang wasiat?"

"Betul, pedang wasiat! Pedang tersebut adalah sebilah pedang antik yang luar biasa tajamnya, dengan mengandalkan pedang wasiat inilah Hok mo im telah menyelamatkan dunia persilatan dari beberapa kali badai besar ... "

Setelah berhenti sejenak, kepada Yu Cing kembali ia bertanya:

"Bocah perempuan, mengapa kau mengatakan bahwa Ong See liat pernah berjumpa dengan Hek mo im?"

"Locianpwe, kau kenal dengan Tiang seng lojin (kakek panjang usia) . . . ?" Yu Cing balik bertanya.

"Yaa, kenal, aku kenal, masa dia masih hidup!"

"Betul, dia masih hidup, malah aku pernah berjumpa dengannya, dia bilang ada beberapa jurus serangan yang dipergunakan Ong See liat rada mirip dengan jurus serangan yang dipakai Hek mo in, bahkan persoalan di balik masalah itu katanya amat kacau ..."

"Bagaimana kacaunya?"

"Persoalan ini menyangkut pula diri ayahku!"

Mendengar ucapan tersebut, si kakek be-rambut putih serta Ong Bun kim sama - sama merasa terperanjat.

Lama sekali, kakek berambut putih itu baru berkata: "Kalau begitu coba kau terangkan lebih jauh?"

Yu Cing menghela napas sedih, katanya setelah termenung sejenak:

"Locianpwe, kenalkah kau dengan seorang perempuan yang bernama Leng po siancu di masa lalu?" "Lohu pernah mendengar nama orang ini, tapi belum pernah berjumpa dengan orangnya !"

"Dia adalah ibu kandungku, waktu itu beliau telah jatuh cinta dengan Giok bin hiap (pendekar berwajah pualam), tapi sebelum menikah ibuku telah mengandung, suatu hari Ong See liat datang mencari Giok bin hiap . . ."

"Mau apa ayahku datang mencari ayahmu?" seru Ong Bun kim dengan perasaan terkejut.

"Ayahmu dengan Giok bin hiap abdalah sepasang dsahabat karib, asetiap orang pebrsilatan mengetahui persoalan ini, konon ayahmu mengajak ayahku untuk bersama-sama pergi mencari mestika, tapi sejak kepergian itu mereka lenyap tak ada kabar beritanya ... "

"Tapi ayahku telah pulang ke rumah!" sela Ong Bun kim.

"Nah, di sinilah terletak keanehan dari kejadian itu hingga ayahmu muncul kembali di dalam dunia persilatan, ibuku ingin pergi mencari ayahmu tapi ayahmu lenyap kembali tak berbekas!"

"Mungkin ketika itu ayahku sudah berdiam di lembah Lip jin kok sehingga jejaknya sukar ditemukan ... "

"Tapi ibuku waktu itu menduga bahwa kemungkinan besar ayahku sudah berubah hati!"

"Berubah hati?"

"Yaa, kalau tidak, tak mungkin dia tak akan kembali ke rumah untuk berkumpul kembali dengan kami."

Ong Bun-kim benar-benar tidak habis mengerti apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi, dengan kening berkerut ia lantas berkata:

"Lantas, apa hubungannya antara persoalan ini dengan mestika tersebut . . . ?" "Ini menunjukkan bahwa Ong See-liat dengan Giok-bin- hiap benar-benar sudah pernah bertemu dengan Hek-mo- im, sedangkan mestika yang dimaksudkan berada di tubuhmu, ada kemungkinan adalah Pedang mestika milik Hek mo im tersebut!"

"Jadi maksudnya ayahku telah berhasil mendapatkan pedang mestika tersebut . . .!" seru Ong Bun kim tertegun.

"Sekalipun pedang mestika itu belum didapatkan olehnya, paling tidak ia tahu di manakah pedang mestika tersebut disimpan ... "

"Yaa, aku mengerti sekarang, jadi maksudmu ayahku telah mencatat tempat penyimpanan mestika itu di suatu benda dan kemudian benda itu berada ditubuhku?"

"Betul! Memang demikian yang kumaksudkan!" Ong Bun-kim segera tertawa getir.

"Tapi tak dapat kupikirkan benda apakah yang terdapat di dalam tubuhku sekarang ini!" katanya.

"Badai pembunuhan berdarah sudah berada di ambang pintu dunia persilatan, sekarang aku hendak pergi menyelidiki beberapa persoalan itu, lebih baik masalah tersebut kau pecahkan sendiri saja, karena sekarang juga aku harus pergi dari sini!"

"Silahkan lociapwe!"

Beberapa langkarh kemudian mendtadak kakek beraqmbut putih itu rberhenti lagi, kemudian ujarnya lebih jauh:

"Aku harap baik-baiklah kau menjaga diri-mu, kemungkinan besar tugas berat untuk menanggulangi mara bahaya yang mengancam dunia persilatan dewasa ini sudah terjatuh di atas pundakmu!" "Boanpwe tak akan melupakan peringatan maupun nesehat cianpwe!"

"Bagus, kalau begitu aku akan mohon diri lebih dulu!"

Dengan suatu lompatan kilat kakek berambut putih itu melejit ke udara lalu melesat ke depan.

Sepeninggal kakek berambut putih itu, Ong Bun-kim baru bertanya kepada Yu Cing: "Siapakah orang tadi?"

"Kemungkinan besar adalah Thay-khek cin-kun!" jawab si nona.

Mendengar rama tersebut, Ong bun-kim merasa terperanjat sekali, mungkinkah kakek berambut putih inilah yang pernah memberitahukan kepada ibunya bahwa ayahnya telah dibunuh oleh kui-jin suseng? Benarkah dia adalah Tay-khek cin kun salah seorang di antara Bu lim  sam lo yang amat tersohor namanya itu?

Kejadian tersebut benar-benar di luar dugaan Ong Bun kim, bahkan mimpipun tak pernah ia sangka.

Setelah termenung sejenak, ia baru berkata: "Apa?

Masakah dia adalah Tay khek Cin kun?" "Yaa, kemungkinan besar benar!"

Untuk sesaat lamanya Ong Bun-kim berdiri termangu mangu, ia tak tahu apa yang musti dilakukan sekarang.

Menyaksikan keadaan dari si anak muda itu, Yu Cing segera menghela napas panjang, katanya:

"Ong Bun kim, akupun hendak pergi dari sini "

"Kau hendak pergi ke mana?" "Pulang ke rumah!" "Kenapa tidak melakukan perjilanan bersama-samaku saja . . ." mendadak pemuda itu merasa kata-kata tersebut tidak pantas diucapkan terhadap seorang gadis muda, maka buru buru kata selanjutnya ditelan kembali.

Yu Cing tertawa getir, bisiknya: "Melakukan perjalanan bersamamu ...?"

"Maksudku aku mengajakmu untuk bersama-sama menegakkan keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan!" cepat-cepat pemuda itu membetulkan kesalahan bicaranya.

"Sayang sekali kau telah beristri!" Perkataan itu kembali menggetarkan perasaan Ong Bun-kim, ia sampai terbelalak karena kagetnya.

Dengan nada yang pedih Lu Cing kembali bertanya: "Cintakah kau kepada Bunga iblis dari neraka?" "Yaa, aku pernah mencintainya "

"Dan sekarang?"

"Semuanya sudah lewat, semuanya telah berlalu bagaikan segulung hembusan angin malam!"

"Kenapa?"

"Sebab kita berdua tak mampu saling memahami perasaan pihak lainnya, kita tak mempunyai kecocokan hati!"

"Ong Bun-kim, kau keliru besar!" seru Yu Cing dengan cepat, "kalau ditanya gadis manakah di dunia ini yang paling mencintaimu, maka jawabanya hanya dia seorang!"

"Dari mana kau bisa berkata demikian?"

"Karena kau, dia telah..." ketika berbicara sampai di situ, mendadak Yu Cing menutup mulutnya kembali. -ooo0dw0ooo-

BAB 34

"HEl, lantaran aku, apa yang telah ia laku kan?" desak Ong Bun-kim cepat dengan perasaan gelisah.

"Tentang persoalan ini, lebih baik kau tanya kan secara langsung kepadanya, aaai.....! Aku rasa tak mungkin akan kau jumpai perempuan kedua yang begitu baik kepadamu  di dunia ini!"

Ong Bun-kim semakin kebingungan dibuatnya, ia sampai berdiri tertegun dan memandangi wajah Yu Cing dengan wajah termangu.

"Baik-baiklah menghibur hatinya," kata Yu Cing lebih lanjut, "dengan demikian ia akan merasa lebih baikan keadaannya, nah ! aku tak bisa berdiam lebih lama lagi di sini, akupun harus segera tinggalkan, tempat ini, semoga saja kau dapat baik-baik menjaga diri..."

Berbicara sampai di situ, pelan-pelan gadis itu memutar tubuhnya dan berlalu dari sana.

Kali ini Ong Bun kim tidak mencegah kepergiannya, dia hanya memandangi bayangan punggung Yu Cing yang makin menjauh dengan wajah termangu, dalam benaknya kini hanya dipenuhi oleh ucapan terakhir dari si gadis sebelum pergi tadi . . .

Yaa, perkataan itu sangat membingungkan pikirannya, ia tak mampu menebaknya, iapun tak sanggup untuk memecahkannya . . .

Sesudah gundah sekian lama, akhirnya ia menghela napas panjang. Teringat bahwa dendam sakit hatinya yang sedalam lautan belum terbalas juga, timbul kembali perasaan sedih dan dukanya yang amat mendalam.

Mendadak perasaannya agak guncang, mungkinkah ayahnya Ong See liat benar-benar mempunyai suatu benda yang disembunyikan dalam tubuhnya?

Ia mencoba untuk pejamkan matanya sambil membayangkan setiap bagian tubuhnya yang mungkin bisa digunakan untuk menyembunyikan barang, seperti misalnya pakaian, sepatu dan lain-lainnya, tapi tak terbayangkan olehnya benda apakah yang bisa disembunyikan dalam tubuhnya itu.

Akhirnya dia menghela napas panjang, kemudian dengan putus asa bangkit berdiri dan pelan-pelan melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Dia tak tahu harus ke manakah sekarang, yaa, tempat manakah yang pantas dikunjunginya?

Terbayang sampai ke sini, sambil menggertak gigi menahan rasa geramnya ia berbisik:

"Manusia kilat, Siau Hui un, pada suatu hari aku pasti akan menghancur lumatkan tubuhmu menjadi berkeping- keping..."

Belum habis dia bergumam, tiba-tiba kedengaran suara tertawa dingin berkumandang dari kejauhan, menyusul kemudian seseorang berseru nyaring:

"Ong Bun kim, cepat amat kepergianmu itu!"

Ong Bun kim terkesiap dan segera berpaling, tapi dengan cepat wajahoya berubah hebat, ternyata Gin Lo sat beserta dua orang dayangnya sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?" dengan geramnya si anak muda itu membentak:

"Ikut kami pergi dari sini!"

"Hmm . . ! Jangan mimpi disiang hari bolong!" Air muka Gin Lo sat segera berubah hebat.

"Ong Bun kim!" katanya, "kalau tadi kau berhasil kabur dari cengkeraman kami, maka sekarang jangan harap kau bisa melepaskan diri dengan begitu saja!"

"Hmmm! Kenapa tidak segera mencobanya?"

"Ong Bun kim, kalau kau keras kepala terus menerus, jangan salahkan kalau terpaksa kutindak dirimu dengan kekerasan!"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, secepat kilat Gin Lo sat menerjang ke muka menghampiri pemuda itu, sementara kedua orang dayangnya menghadang jalan mundur dari tempat itu.

Bentakan keras menggelegar di angkasa, dengan suatu lompatan ke udara Gin Lo sat menerkam tubuh Ong Bun kim, telapak tangannya langsung mencengkeram batok kepalanya.

Sungguh cepat dan luar biasa cengkeramannya itu, Ong Bun kim tak berani bertindak gegabah, harpa bajanya segera diputar untuk membendung datangnya ancaman itu.

Tapi sebelum serangannya mencapai sasaran, pukulan kedua dari Gin Lo sat kembali telah menyambar tiba.

Kali ini serangannya dilancarkan dengan kecepatan yang makin luar biasa pada hakekatnya tak memberi kesempatan buat si anak muda itu untuk menghindarkan diri. Di tengah menggulungnya desingan angin pukulan kedua dari Gin Lo sat, mendadak menyambar lewat sekilas cahaya putih yang langsung menyambar ke tubuh Gin Lo sat.

"Wahai Gin Lo sat, kembali kita berjumpa muka!" seru orang itu dengan suara lantang.

Ternyata orang yang melancarkan serangan itu bukan lain adalah Manusia kilat.

Kalau dilihat dari kehadiran jago-jago lihay itu, seakan- akan mereka belum merasa puas sebelum berhasil membekuk diri Ong Bun kim.

Demikianlah, disaat manusia kilat menyerang Gin Lo sat, dua sosok bayangan hitam lain secepat sambaran kilat langsung menerjang ke arah pemuda itu, ternyata mereka adalah Yu-leng-jin.

Terpaksa Ong Bun-kim harus memutar harpa bajanya untuk memberi perlawanan, sebuah serangan dahsyat langsung dilontarkan ke tubuh kedua orang manusia tanpa sukma.

"Tahan!" suatu bentakan menggeledek kembali berkumandang memecahkan keheningan.

Suara itu nyaring sekali memekakkan telinga, ini membuat semua orang menjadi terperanjat dan serentak menarik kembali serangannya sambil melompat mundur ke belakang.

Ketika semua orang berpaling, tampaklah seorang manusia baju hijau yang berusia empat-puluh tahunan dengan menggembol sebilah pedang berjalan masuk ke dalam gelanggang. Kemunculan yang tak terduga ini sangat mencengangkan semua orang, hampir setiap jago yang hadir di sana dibikin tertegun olehnya.

Tapi tak seorangpun yang mengetahui siapa gerangan manusia berbaju hijau itu, tapi pancaran sinar wajahnya begitu berwibawa dan agung, membuat siapapun tak berani mengusiknya secara gegabah.

Pelan-pelan manusia berbaju hijau itu mengalihkan sinar matanya ke wajah Ong Bun-kim, kemudian tegurnya:

"Apakah kau yang bernama Ong Bun-kim?" "Benar !"

"Putra dari Ong See-liat?" "Benar!"

Manusia berbaju hijau itu mengerutkan dahinya, seakan- akan terdapat banyak kemurungan yang berkecamuk dalam benaknya, setelah menghela napas panjang ia bertanya lagi:

"Apakah kau dilahirkan oleh Coa Siok-oh?"

Tercekat perasaan Ong Bun-kim mendengar perkataan itu, namun jawabnya juga:

"Benar!"

Dengan tatapan dingin manusia berbaju hijau itu mengerling sekejap ke atas wajah orang-orang yang hadir di sana, kemudian katanya lagi dengan suara ketus:

"Sekarang, kalian semua boleh pergi me-ninggalkan tempat ini!"

"Wouw....! Besar amat lagakmu" seru manusia kilat sambil tertawa dingin. "siapa kau?" "Kau. nggak usah banyak bertanya, sekarang kalau kau betul-betul jantan, hadapilah aku!"

Selesai mengucapkan kata-kata itu, manusia hijau itu segera meloloskan pedangnya, cahaya tajam segera berkilauan memancar keempat penjuru.

Manusia kilat segera tertawa dingin, katanya:

"Ingin kulihat sampai di manakah taraf kehebatan yang kau miliki, sehingga begitu berani mengucapkan kata tidak senonoh di hadapanku!"

Berbareng dengan selesainya ucapan terakhir, tiba-tiba ia menerjang ke arah Ong Bun-kim dengan kecepatan luar biasa.

Manusia berbaju hijau itu membentak pula, pedangnya langsung disapu ke depan.

Cahaya pedang berkelebat lewat, detik itu juga Manusia kilat kena didesak mundur sejauh lima-enam langkah dari posisi semula, sementara ia belum berhasil berdiri tegak, manusia berbaju hijau itu telah menerjang maju lagi sambil melancarkan sebuah tusukan. 

Serangan yang dilancarkan manusia berbaju hijau ini sungguh cepatnya luar biasa, bikin orang menjadi bergidik rasanya, secara beruntun manusia kilat harus mundur sejauh tujuh-delapan langkah untuk menghindarkan diri dari ancaman.

Sementara serangan kedua telah selesai, serangan ketiga kembali menerobos datang.

Cahaya kilat segera memancar ke empat penjuru, tiba- tiba terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan, tampak manusia berbaju hijau itu berkelebat lewat dan melompat kembali ke samping Ong Bun-kim.

Tampaklah manusia kilat yang ternyata adalah seorang kakek berambut putih berusia limapuluh tahunan sudah menggeletak mati di atas tanah dengan dada berlubang.

Darah kental yang berbau amis berhamburan memenuhi seluruh permukaan tanah, keadaan mengerikan sekali.

Gerakan dari manusia berbaju hijau itu memang hebat dan luar biasa, untuk sesaat suasana dalam gelanggang menjadi sepi, hening dan tak kedengaran suara apa apa.

"Siapa lagi yang bermaksud untuk turun tangan?" tegurnya kemudian sambil memandang sekejap sekeliling gelanggang.

Kepandaian silat yang dimiliki manusia berbaju hijau itu terbukti Iihaynya bukan kepalang, kejadian ini sungguh menggetarkan perasaan setiap orang, untuk sesaat lamanya tak seorangpun berani berkutik ataupun mengucapkan sepatah kata.

Karena tiada seorangpun yang bersuara, maka orang itu memandang sekejap ke arah Ong Bun-kim lalu berkata:

"Ong. Bun-kim, mari kita pergi dari sini!"

Sesungguhnya Ong Bun-kim sendiripun tidak kenal dengan manusia berbaju hijau itu, ia tak tahu siapa gerangan orang tersebut, maka ia malah tertegun dibuatnya.

"Tunggu sebentar!" mendadak Gin Lo-sat berseru sambil munculkan diri menghadang jalan pergi mereka.

"Mau apa kau?" tegur manusia berbaju hijau itu. Gin Lo-sat segera tertawa dingin. "Hehh....heehhi...heehh....ilmu silat yang kau miliki betul-betul membuat orang merasa kagum. "

"Ada apa? Kaupun bermaksud untuk menerima beberapa buah tusukan pedangku ?" jengek orang itu dingin.

"Beranikah kbau menghadapi sderangan gabungaan dariku bersamba sahabat dari-Yu-leng-bun ini?"

Manusia berbaju hijau itu segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak. "Haahh haahh haahh siapa bilang kalau aku takut untuk menghadapi serangan gabungan kalian bertiga?"

Manusia berbaju hijau itu segera melintangkan pedangnya sambil berdiri tegak, ia telah bersiap sedia untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal menimpa dirinya.

Gin Lo sat memang seorang perempuan yang cerdik dan berotak licik, adapun tujuannya untuk menyeret kedua orang manusia tanpa sukma untuk melangsungkan pertarungan melawan manusia berbaju hijau itu, tak lain adalah agar memberi kesempatan bagi kedua orang dayangnya untuk menyerang Ong Bun-kim.

Maka begitu tantangannya disambut lawan, serta merta ia memberi tanda kerlingan mata kepada kedua orang dayangnya, lalu pelan-pelan berjalan masuk ke dalam arena.

"Tunggu sebentar!" mendadak Manusia berbaju hijau itu berseru setelah tertawa dingin.

Gin Lo-sat tertegun, ia menghentikan langkah kakinya ke depan.

Dengan suatu gerakan cepat, manusia berbaju hijau itu menggeserkan tubuhnya ke samping Ong Bun-kim. Tindakan itu tentu saja mengejutkan si anak muda itu, tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu manusia berbaju hijau tadi telah berbisik dengan suara lirih:

"Ong Bun-kim, sanggupkah kau untuk menghadapi serangan gabungan dari dua orang dayang tersebut?"

Ong Bun-kim mengangguk.

"Aku ingin bertanya kepadamu lagi," kembali manusia berbaju hijau itu berkata, "kau tahu, kenapa tenaga dalammu yang sebesar seratus tahun hasil latihan itu tak kau gunakan sebagaimana mestinya?"

Baru saja Ong Bun-kim tertegun, orang itu telah berkata lebih lanjut:

"Tentunya kau tidak tahu, bukan? Nah, dengarkan baik- baik! Tenaga dahsyat tersebut tak dapat kau gunakan sebab urat Jin dan tok yang berada dalam tubuhmu belum tembusl Heran! Kenapa, kenapa kedua buah nadi penting itu belum pernah ditembusi?"

"Aku juga tidak tahu!" sahut pemuda itu melongo.

"Kau tahu? Seandainya urat nadi Jin-meh dan Tok-meh yang ada dalam tubuhmu sudah tembus, maka ilmu silat yang kau milikbi jauh di atas dkepandaian silaat yang dimilikib orang-orang ini!"

Ong Bun-kim semakin tertegun, ia merasa setengah percaya setengah tidak terhadap perkataan itu.

"Sekarang berdirilah baik-baik" kata manusia berbaju hijau itu, "aku hendak mempergunakan gerakan paling cepat untuk menembusi nadi Jin-meh dan tok-meh mu itu!"

Sudah barang tentu Ong Bun-kim tidak percaya kejadian itu sebenarnya ada atau tidak, tapi mendengar ucapan  orang itu, dia manggut juga. Manusia berbaju hijau itu segera membentak keras, telapak tangan kirinya tiba-tiba berkelebat ke depan dan secara beruntun melancarkan beberapa buah totokan.

Ong Bun-kim hanya merasakan sekujur tubuhnya menjadi sakit, tiba-tiba saja badannya roboh terjengkang ke tanah.

Gin Lo-sat dan Yu-leng-jin bertiga sama-sama tertegun, sementara mereka belum tahu apa yang musti dilakukan. Manusia berbaju hijau itu telah menggerakkan kembali tangan kirinya untuk melancarkan tiga buah totokan kilat ke atas tiga buah jalan darah penting di tubuh si anak muda tersebut.

Gerak serangan dari Manusia berbaju hijau itu boleh dibilang cepatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, begitu totokannya selesai Ong Bun-kim telah bangkit berdiri kembali.

Ketika hawa murninya kemudian dicoba, terasalah begitu besar hawa murni, yang menggulung-gulung dalam tubuhnya, seakan-akan sebuah bendungan yang jebol terlanda air bah....

Sebenarnya sejak makan obat aneh, tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun - kim telah mencapai enampuluh tahun hasil latihan, apalagi setelah msndapat pemberian obat mestika dari Hian-ih-lihiap, si pendekar berbaju hitam, hakekat nya tenaga dalam yang ia miliki sudah berada di atas delapanpuluh tahun hasil latihan, cuma sayang nya urat penting Jin-meh dan tok-mehnya belum tembus; sehingga hawa murni yang amat dahsyatpun tak bisa dipergunakan sebagaimana mestinya.

Sekarang, urat penting jin-meh dan tok-meh nya sudah tembus, hawa murni yang terhimpun dalam tubuhpun bisa.dipakai sebagaimana mestinya, ini semua membuat si anak muda itu berubah menjadi seorang jago yang sangat lihay, kehebatan ilmu silatnya sudah jauh di atas kepandaian beberapa orang di sana.

Demikianlah, sertelah memandangt sekejap ke araqh Ong Bun-kim, rpelan-pelan manusia berbaju hijau itu masuk ke arena dan berkata:

"Sekarang kalian sudah boleh melancarkan serangan!"

Gin Lo-sat dan Yu-leng-jin serentak bergerak maju ke depan, mereka langsung bergerak menghampiri manusia berbaju hijau itu.

Cahaya kilat segera memancar ke empat penjuru dan menyilaukan mata, dengan sebuah tebasan pedang ia bendung serangan gabungan dari kedua orang musuhnya itu.

Berbareng itu juga....dLpihak lain dua orang dayang berbaju biru itu membentak nyaring, lalu dengan garang menerjang tubuh Ong Bun kim sambil melepaskan sebuah pukulan gencar.

"Kurang ajar, rupanya kalian sudah bosan hidup." bentak Ong Bun kim dengan geramnya.

Di tengah bentakan gusar, senjita harpa besinya disodok ke muka melepaskan sebuah serangan balasan.

Kedua orang dayang itu benar benar tak tahu diri, di bawah serangan harpa besi dari Ong Bun kim, tiba tiba mereka berpisah ke kiri dan ke kanan lalu menerkam bersama.

Ong Bun kim menghardik keras, dengan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimiliki-nya ia melepaskan lagi sebuah serangan dahsyat. Jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ke mana mana.

Dayang berbaju biru yang berada di paling depan terhajar telak oleh serangan itu, tubuhnya kontan mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.

Ong Bun kim kembali membentak nyaring, serangan kedua dilancarkan sekali lagi.

Dayang berbaju biru yang kedua inipun mencelat ke belakang sambil menjerit kesakitan, setelah muntah darah segar ia tergeletak tewas di tempat.

Setelah membereskan dua orang lawannya, Ong Bun kim menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang, untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu di sana, seakan-akan pemuda itu tercengang dia kaget oleh kehebatan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang.

"Adik Ong !" mendadak seseorang memanggilnya dengan suara yang lirih dan memilukan hati.

Dengan perasaan tercekat Ong Bun kim segera mendongakkan kepalanya, tampaklah Bunga iblis dari neraka dengan wajah yang sayu sedang berjalan menghampirinya.

Teringat ucapan dari Yu Cing sebelum pergi tadi, Oag Bun kim agak tertegun juga oleh per-temuan tersebut.

Suara tertawa dingin kembali berkumandang di sana, menyusul kemudian seseorang mengejek "Oh...sungguh merangsang panggilan itu!"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, sesosok bayangan manusia berbaju perlente melesat masuk ke dalam arena. Kemunculan orang itu segera disambut seruan kaget oleh Ong Bun kim maupun Bunga Iblis dari neraka;

"Haaah...Hiat hay long cu, rupanya kau!" Hiat hay long cu kembali tertawa dingin.

"Yaa, betul! Memang aku!"

Air muka Bunga iblis dari neraka berubah hebat, tampaknya ia sedang menahan geram dalam hatinya.

Hawa napsu membunuhpun menyelimuti wajah Ong Bun kim, segera bentaknya nyaring.

"Hiat,hay long cu, kebetulan sekali aku memang sedang mencarimu ..."

"Mau apa kau cari aku?"

"Mau apa lagi? Tentu saja membunuhmu " "Kenapa hendak membunuhku?"

"Masih ingatkah kau dengan hutang sebuah pukulan atas diriku?"

"Yaa, aku masih ingat!"

"Nah, aku sekarang hendak menagih hutang tersebut."

Hiat - hay - longcu (si romantis dari lautan darah) segera tertawa dingin.

"Hehha heehhh heeehh boleh saja, cuma ada satu hal hendak kuberitahukan dulu kepadamu."

-ooo0dw0ooo-

BAB 35

"PERSOALAN apakah, itu?" tanya sang pemuda. "Mengenai diri Tan Hong-hong..."

Mendengar perkataan itu, paras muka Bunga iblis dari neraka segera berubah hebat, dengan menahan geram bentaknya : "Teng Kun, kalau kau berani mengucapkan sepatah kata saja, segera kurenggut nyawamu!"

"Haaahhh haaahhh haaahhh apa toh salahnya kalau kuceritakan kepadanya?" ejek Hiat hay longcu sambil tertawa bergelak.

Menggigil keras sekujur badan bBunga iblis dardi neraka sakinga geramnya menahban amarah, untuk sesaat ia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun...

"Sebenarnya persoalan apakah itu:" kembali Ong Bun Kim membentak dengan nada ingin tahu.

Hiat hay long cu tertawa bangga.

"Haaahbh.. .baaahhb....baaahhh...kau anggap enci Tan yang kau kenal ini adalah seorang perempuan baik-baik."

"Teng kun, kubunuh kau!" bentak Bunga iblis dari neraka dengan penuh kemarahan.

Di tengah bentakan nyaring, tubuhnya melejit ke udara lalu menerjang ke arah Teng Kun dengan kecepatan luar biasa, pie-pa bajanya langsung diayunkan ke atas batok kepalanya.

Pada saat Bunga iblis dari neraka melancarkan serangan mautnya itu, Ong Bun kim membentak pula dengan lantang:

"Tahan!"

Di tengah bentakan nyaring tubuhnya me-nerobos ke tengah arena dan memisahkan kedua orang itu secara paksa. Ong Bun kim agak terpengaruh oleh emosi ketika itu, kembali bentaknya keras keras:

"Teng Kun, rahasia apakah yang terdapat padanya?

Cepat kau beritahukan kepadaku!"

Diam-diam Teng Kun menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia, kemudian sahutnya dingin:

"Kau anggap dia adalah seorang perempuan baik-baik?"

Ong Bun-kim merasakan hatinya terkesiap, ucapan tersebut ibaratnya sebilah pedang tajam yang menembusi ulu hatinya, untuk sesaat si anak muda itu berdiri,bodoh.

"Kau. kau " bisiknya agak gemetar,

"Apa yang kuucapkan adalah kata-kata yang sesungguhnya" sahut Teng Kun lagi sambil tertawa dingin, "dia adalah seorang perempuan murahan yang bisa diperoleh siapapun asal bisa memberi sedikit uang kepadanya, bahkan dengan akupun pernah mempunyai hubungan yang panas dan luar biasa. ...haahh ...

..haaahhb.,...haaahhh. "

"Apa?" Ong Bun-kim menjerit sekeras-kerasnya, ia merasa kepalanya seperti dipukul dengan martil berat, matanya berkunang-kunang dan dadanya menjadi sesak, dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah.

Dikala Ong Bun-kim sedang amat terperanjat itulah tiba tiba Hiat hay longcu membentak keras, kipasnya disambar ke muka dengban kecepatan badgaikan sambarana kilat dan menobtok beberapa buah jalan darah penting di tubuh anak muda itu.

Mimpi pun Ong Bun-kim tidak menyangka kalau Hiat - hay - long cu mempunyai niat sebusuk itu, tahu tahu ia merasa tubuhnya sakit dan mengejang keras, darah kental muntah dari mulutnya dan tahu tahu ia sudah dikempit oleh orang tersebut.

Kemarahan Bunga iblis dari neraka tak terlukiskan lagi dengan kata-kata segera bentak nya nyaring :

-oo0dw0oo--