-->

Seruling Haus Darah Jilid 13

 
Jilid 13

BIAR bagaimaaa Han Swie Lim adalah jago tua yang telah berpengalaman, maka dan itu, walaupuu dia mengalami ancaman bahaya kematian, tokh dia tidak meajadi jeri atau gagap.

Dengan cepat dia memutar telapak tangannya, di saat tangan lawan hampir menghantam dadanya, maka Han Swie Lim mengeluarkan seruan yang keras, tahu- tahu tangannya telah menghajar ke arah. batok kepala Gan Hwee-shio.

Itulah suatu serangan yang benar-benar menakutkan dan mengerikan, sebab adanya kedua serangan itu, masing-masing akan mengadu jiwa.

Kalau memang Gan Hwee-shio meneruskan serangannya, maka batok kepalanya juga akan menjadi sasaran dari tangan Han Swie Lim.

Deagaa sendirinya, maka mereka akan sama-sama terbinasa f

Betapa terkejutnya Gan Hwee-shio, dia sampai mengeluarkan jeritan tertahan, dan cepat-cepat menarik pulang tangannya, sambil berbuat begitu, dia juga menjejakkan kakinya melompat ke belakang untuk mengelakkan serangan orang she Han itu.

Waktu dirinya dapat menghindarkan serangan jago she Han itu dan mereka jadi saling berdiri berhadap-hadapan, Gan Hwee-shio berusaha memnangkan goncangan hatinya.

Coba kalau tadi dia kurang sebat dan cepat, tentu dia telah terbinasakan diiasgaa Han Swie Lim, biarpun toca achirnya Han Swie Lim terbinasa ditangan juga, tetapi mereka jadi sama-sama menuju keakherad menemui Giam Lo Ong ! Itulah yang membikin Gan Hwee-shio jadi mengucurkan keringat dingin !

Han Swie Lim setelah melancarkan pernapasannya yang agak memburu, jadi mendengus tertawa dingin.

Matanya berkilat tajam mendelik kepada Hwee-shio itu. Gan Hwee-shio juga tambah gusar dan mendongkol.

Didalara hati si Hwee-shio jadi mau menduga bahwa Han Swie Lim dan isteri atau murid-muridnya itu datang kekuil mereka tentu dengan maksud untuk mengacau, karena setiap serangan dari Han Swie Lim semuanya mematikan.

Maka sekarang Gan Hwee shio sudah tidak segan-segan lagi, dia mengeluarkan seruan yang nyaring, berbareng dengan itu, tubuhnya juga mencelat tinggi sekali, tangannya bergerak dengan cepat, di dalam waktu beberapa detik saja dia telah menyerang dengan menggunakan beberapa jurus serangan yang sangat berbahaya sekali.

Serangan yang mematikan !

Walaupun Han Swie Lim telah gila, tetapi dia memang bekas seorang jago yang kosen sekali.

Maka waktu melihat orang menyerang dirinya dengan serangan-serangan yang dapat memutuskan jiwanya, walaupun dia telah gila, namun sebagai seorang jago yang memiliki kepandaian yang tinggi dan sempurna, dia dapat bergerak dengan cepat.

Waktu tangan Gan Hwee-shio akan mengenai dirinya, dia cepat-cepat menggeser kedudukan kakinya, kemudian dengan sebat dia menggerakkan tangannya untuk menangkis.

Han Swie Lim bukan menangkis sembarangan menangkis, tetapi dia bergerak dengan disertai oleh tenaga Lwee-kang yang penuh, maka di kala dia mengangkat tangannya itu, angin dari tangannya menyambar kuat sekali.

Gan Hwee-shio terkejut, lebih-lebih waktu tangan mereka telah saling terbentur keras.

"Dukkkk !" suara benturan itu terdengar nyata.

Dan, tampak kedua orang yang sedang mengadu jiwa itu, yang satu seorang beribadat dan yang seorang lagi orang sinting, terpental dengan masing-masing mengeluarkan seruan tertahan.

Tetapi Gan Hwee-shio bergerak cepat. Begitu dia dapat menginjak tanah dan berdiri tetap, dia melambaikan tangannya kepada kawan-kawannya, meneriaki kawan-kawannya itu untuk mengepung Han Swie Lim.

Hweeshio-hweeshio lainnya segera juga meluruh untuk mengeroyok Han Swie Lim.

Walaupun kepandaian Hweeshio-hweeshio lainnya tidak setinggi Gan Hwee-shio, toch mereka cukup memiliki kepandaian yaug tinggi, maka Han Swie Lim jadi repot melayani mereka.

Kepandaian Han Swie Lim memang hampir berimbang dengan Gan Hwee- shio, maka sekarang dengan dikeroyok oleh kawan-kawan Gan Hwee-shio, Han Swie Lim jadi agak terdesak.

Han Hoe-jin dan ketiga murid Han Swie Lim dasarnya memang telah gila, walaupun mereka telah melihat Han Swie Lim dikeroyok oleh Hweeshio-hweeshio itu, tetapi mereka bukanaya membantu malah menari-nari sambil bersorak-sorak dengan suara tertawa mereka yang ramai sekali.

Han Hoe-jin malah telah berteriak ;

"Giok-lie mau mandi ! Giok-lie mau mandi !" dan dia menari-nari seperti juga tidak memperdulikan keadaan sekitarnya.

Yang dimaksudkan oleh Han Hoe-jin dengan sebutan Giok lie ialah bidadari. Han Swie Lim telah mengerahkan seluruh   tenagaaya   untuk   bertempur dengan Gan Hwee shio dan kawan-kawan si-Hwee-shio Iainnya, tetapi dia malah

terdesak lebih hebat lagi.

Namun, karena Han Swie Lim telah gila, dia seperti tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi, suatu kali di saat Gan Hwee-shio sedang meayerang dirinya, di saat tangan si Hwee shio sedang menghajar dadanya, Han Swie Lim tidak menangkis, malah dia balas menghajar kepala Gan Hwee-shio.

Si Hwee-shio terkejut melihat kenekadan dari orang she Han ini.

Cepat-cepat dia menarik pulang tangannya dan mengelakkan serangan Han Swie Lim.

Tetapi, karena Gan Hwee-shio dalam keadaan waras dan Han Swie Lim sedang hilang kesadarannya, maka si Hwee-shio menang di atas angin.

Di saat dia menarik pulang tangannya, si Hwee-shio membarengi menyerang

lagi.

Hal ini benar-benar diluar dugaan Han Swie Lim.

Karena pada saat itu Han Swie Lim belum menarik pulang tangannya maka

dengan telak dada si jago tua she Han kena dihajar oleh Hwee shio itu, tubuhnya terpental dan ambruk di tanah dengan keras.

Hwee shio-hwee shio Iainnya kawan Gan Hwee-shio melihat kejadian itu. Mereka bersorak kegirangan.

Tetapi Han Hoe-jin dan ketiga murid Han Swie Lim berbalik jadi terkejut. Mereka berhenti mendadak dari tari-tarian gila nereka itu waktu melihat Han

Swie Lim terbanting keras di tanah, dengan cepat mereka menghampiri Han Swie Lim.

Untuk sementara waktu gila mereka jadi lenyap.

Tetapi itu hanya berlangsung sesaat lamanya, karena setelah mengawasi sekian lamanya, mereka kembali tertawa-tawa lagi bersama Han Swie Lim sendiri

!

Dasar orang gila ! Gan Hwee-shio juga telah melihat bagaimana jago tua she Han dan ketiga murid atau isterinya itu adalah orang-orang gila, maka Hwee-shio tersebut agak menyesal telah mengambil jalan agak keras.

Tetapi, sedang si Hwee-shio menyesali dirinya, tampak Han Swie Lim telah melompat bangun, dia berdiri dengan tenaga yang masih kumpul, ini terlihat dan caranya berdiri, yang tegap dan bertenaga sekali, diiringi oleh kelincahannya.

Belum Gan Hwee-shio sempat menegur, Han Swie Lim telah aienyeraag lagi dengan ir.eaggunakan kedua taugannya.

Angin serangan dari Han Swie Lim sangat besar sekali, dan hal itu membikin Gan Hwee-shio tidak berasi memandang enteng, cepat-cepat dia bergerak dengan cepat, dia menangkis sambil mengelakkan, kemudian disusul oleh gerak langkah kaki untuk menjauhkan diri dari Han Swie Lim.

Jago tua she Han itu jadi tertawa haha hehe waktu melihat orang dapat mengelakkan serangannya.

Dengan cepat Han Swie Lim melakukan penyerangan lagi, dan bukannya menarik pulang tanganaya, Han Swie Lim malah melakukan dan melancarkan tiga serangan yang beruntun dan bisa memtikan !

Gan Hwee-shio melihat itu, walaupun dia mengetahui orang she Han itu adalah orang gila dan kurang waras pikirannya, tokh dia jadi mendongkol juga.

Maka dari itu, dengan cepat dia menggerakkan kedua tangannya, tidak menunggu sampai si jago she Han melancarkan serangannya kembali, Ga Hwee- shio telah melancarkan serangan lagfi.

Dengan cepat tangan Gan Hwee-shio daa Han Swie Lim saling bentur dengan keras.

Suara benturan itu memekakkan anak telinga.

Dan tampak kedua orang itu saling tergempur kuda-kudanya By'a sampai melargkah mundur,

Han Swie Lim sendiri terhuyung-huyung beberapa langkah.

Sedangkan Gan Hwee-shio telah terdesak mundur dua langkah, disusul kemadian dengan jejakkan kakinya, sehingga dia dapat melompat kebelakang menjauhi Han Swie Lim untuk menjaga segala sesuatu kemungkinan yang bisa membabayakan jiwanya.

Tetapi dengan tidak terduga Han Hoe-jin telah melompat ke arah Gan Hwee- shio sambil tertawa agak nyaring, kedua tangannya dipakai untuk menyerang Hwee-shio itu. Hal ini memang berada di luar dugaan kawan-kawan Gan Hwee-shio, mereka sampai mengeluarkan jeritan tertahan waktu menyaksikan hal tersebut.

Gan Hwse-shio sendiri terkejut waktu tahu-tahu kedua tangan Han Hoe jin hampir mengenai dirinya. Tetapi sebagai seorang jago yang kosen, Gan Hwee-shio tidak menjadi gugup.

Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian dengan menyedot dadanya agar melesak beberapa dim, dia bisa meloloskan diri dari serangan tangan kiri Han Hoe jin, sedangkan tangan kanan nyonya Han yang sedang meluncur kearah kepalanya, ditangkis oleh tangan Gan Hwee-sio.

Terdengar suara benturan yang keras, tampak Gan Hwee-shio terhuyung- huyung kembali.

Han Hoe-jin juga mundur ke belakang sambil mengeluarkan jerit kesakitan, sebab tangannya telah berobah merah membengkak.

Hweeshio-hweeshio lainnya yang menjadi kawan Gan Hwee-shio, telah meluruk menyerang Han Hoe-jin.

Si nyonya she Han sedang kesakitan dan memegangi tangan kanannya yang pergelangan tangannya agak membengkak, dia sedang menguruti pergelangannya, atau dengan tidak terduga, berdatangan secara bertubi-tubi beberapa serangan dari beberapa orang Hwe-shio itu.

Han Hoe-jin jadi mendongkol.

Walaupun dia gila, tetapi disebabkan ia menderita kesakitan yang hebat, dan lagi pula dirinya diserang secara beruntun oleh Hweeshio-hweeshio yang menjadi kawan Gan Hwee-shio, nyonya Han itu menjadi gusar.

Dengan tidak memperdulikan perasaan sakit di tanganaya itu dia menangkis semua serangan yang berdatangan menyeraagnya, kemudian setelah itu dia membarengi dengan sabetan kakinya secara berantai ke arah Hweeshio-hweeshio itu.

Hebat kesudahannya.

Yang Lwee-kangnya masih rendah, tampak terpental oleh tangkisan Han Hoe-jin sedangkan yang kepandaiannya agak lumayan, menderita kesakitan yang hebat.

Hweeshio-hweeshio itu jadi merandek disebabkan terkejut dan menahan perasaan sakit. Mereka juga agak jeri kepada Hyonya gila yang ganas tersebut.

Tetapi Han Hoejin tidak man membuang waktu lagi, dia menggerakkan tangannya sambil tertawa-tawa menyerang Hweeshio-hweeshio itu. Kali inipun hebat sekali serangan nyonya gila itu, karena dia menyerang dengan menggunakan seluruh kepandaian Lwee-kangnya, dan Han Hoe-jin menyerang tanpa menggunakan perhitungan yang benar-benar, dia menyerang tanpa memikir keselamatan dirinya.

Dan ini hebat untuk kesudahannya     !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 36

TERDENGAR beruntun beberapa kali teriakan yang menyayatkaa hati, tampak beberapa sosok tubuh terpental dan ambruk ditanah dengan mengeluarkan rintihan, karena tubuh mereka bercacad.

Ternyata yang terpental itu adalah Hweeshio-hweeshio yang kepandaiannya masih rendah, dan mereka menggeletak di tanah disebabkan dada mereka tergempur oleh serangan Han Hoe-jin.

Menyaksikan kesudahan dari pertempuran itu, Gan Hwee-shio jadi menghela napas, dia merangkapkan kedua tangannya sambil menyebut sama sang Budha.

Dengan sinar mata yang bengis Gan Hwee-shio melangkah perlahan-lahan menghampirkan Han Hoe-jin.

Han Hoe-jin sendiri telah tertawa-tawa dengan suara yang agak menyeramkan, dengan terpentalnya beberapa orang Hwee shio yang tadi menjadi lawannya, maka hal itu dianggap oleh Han Hoe-jin lucu sekali.

"Perempuan celaka ! " kata Gan Hwee-shio dengaa suara yang menyatakan kegusarannya. "Ternyata kalian memang sengaja ingin membikia onar di kelenteng Lo-lap ini!"

Han Hoe-jin seperti tidak mendengar perkataan si Hwee-shio, dia masih tertawa haha-hehe.

"Omietohoed !" menyebut si Hwee-shio lagi dengan penuh kegusaran. "Sian-chay ! Sian-chay ! Biarlah hari ini Lo lap membuka pantangan membunuh !"

Dan setelah berkata begitu Gan Hwee-shio menggerakkan kedua tangannya siap-siap akan menyerang. Dia mengerahkan seluruh tenaga Lwee-kangnya pada kedua lengannya, kakinya yaag berdiri tegak itu seperti juga besi kekarnya, kuda- kudanya, besinya, sangat kuat sekali, seperti juga tertancap di tanah!

Han Hoe-jin masih tertawa terus-menerus, dia seperti tidak memperhatikan sikap si Hwee-shio yang sudah mau menyerang, lagak Han Hoe-jin seperti tidak tahu menahu tentang sekelilingnya.

Gan Hwee-shio jadi tambah gusar dan mendongkol, dia seperti juga dianggap enteng oleh si nyonya Han tersebut.

Dengan mengeluarkan seruan keras, si Hwee-shio menjejakkan kakinya, kedua langannya digerakkan dengan disertai oleh tenaga Lwee-kang yang kuat sekali.

Angin serangan si Hwee-shio menyambar dengan membawa hawa kematiaa.

Han Hoe-jin tersadar dari tertawanya itu Waktu merasakan dadanya agak sesak disebabkan angin serangan si Hwee-shio telah berada beberapa dim di dekat dadanya.

Si-nyonya gila itu terkejut untuk sesaat lamanya, tetapi sebagai seorang jago betina yang mempunyai kepandaian lebih kosen dari Han Swie Lim sendiri, maka biarpun dalam keadaan terpepet dan terdesak oleh adanya serangan mendadak itu, tetapi Han Hoe-jin tidak menjadi gugup.

Dia merobah kedudukan kakinya, dengan cepat tubuhnya didoyongkan ke belakang, sehingga dengan sendirinya serangan Gan Hwee-shio jadi mengenai tempat kosong.

Tetapi, walaupun gagal mengenai Han Hoe-jin, tokh kesudahan dari pukulan Gan Hwee-sbio itu hebat sekali.

Di belakang Han Hoe-jin terdapat sebuah pohon yang sudah tua, dan dengan dimiringkannya tubuh Han Hoe-jin, pukulan Gan Hwee-shio jadi mengenai batang pohon itu, yaag terhajar telak, dan dengan mengeluarkan suara beletak yang keras dan berisik sekali, pohon itu tumbang!

Suara berisik dari tumbangnya batang pohon itu menyebabkaa Han Swie Lim dan murid-muridnya jadi terhenti dari menari-narinya, mereka memandang dengan maka tolol ke arah batang pohon yang telah roboh.

Gan Hwee-shio jadi tambah murka melihat serangannya digagalkan oleh Han Hoe-jin, dia merasa dirinya seperti juga dipermainkaa oleh perempuan gila itu. Jelas sekali  tadi dia melibat bahwa serangannya hampir mengenai sasarannya, tetapi  dengan tidak terduga sedikitpun Han  Hoe-jin dapat

mengelakkannya. Maka dari itu, di saat Han Hoe-jin baru dapat berdiri tegak dan yang lainnya juga sedang memandang mereka. Han Swie Lim dan muridnya tengah memandang dengan muka yang ketololan, dan di dalam anggapan Gan Hwee-shio, tatapaa mata Han Swie Lim dan yang lainnya itu seperti juga memandang remeh pada dirinya.

Maka itu, di samping tambah gusar. Gan Hwee-shio gusar bukan main.

Dengan mengeluarkan suara erangan, Gan Hwee shio melompat sambil mengulurkan tangannya akan mencengkeram pundak Han Hoe-jin.

Kalau sampai pundak Han Hoe-jin kena di rabah oteh Gan Hwee-shio, pasti tulang pie-pee di pundak perempuaa yang telah gila itu akan hancur remuk !

Tetapi Han Hoe-jin bukan seoranp perempuan yang lemah, dia dapat bergerak gesit dan kosen sekali. Tanpa menunggu sampainya cengkeraman Gan Hwee-shio, dia telah menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya melompat agak tinggi dan dengan mengeluarkan seruan yang nyaring Han Hoe-jin balas menyerang menotok Kepala Gan Hwee-shio yang gundul licin itu !

Gan Hwee-shio waktu memperoleh kenyataan, serangannya dapat dielakkan oleh lawannya, cepat-cepat dia menarik pulang kedua tangannya, tanpa menunggu sang tubuh turun ke tanah lagi, dia telah melancarkan lagi dua serangan sekaligus.

Kali ini Gan Hwee-shio menyerang dengan menggunakan hampir sembilan bagian tenaga dalamnya, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga serangan dari si Hwee-shio.

Han Hoe-jin sendiri walaupun telah gila, namun menghadapi serangan yang mematikan dari si Hwee-shio menyebabkan dia harus berlaku serius.

Maka itu, menunggu sampai kedua tangan Gan Hwee-shio hampir mengenai dirinya, Han Hoe-jin mengulurkan tangannya akan menotok jalan darah Cie Tiong Hiatnya si Hwee-shio, yang terdapat di pergelangan tangan, dan hal itu akan mematikan si Hwee shio Kalau sampai jalan darahnya kena ditotok oleh Han Hoe- jin.

Si Hwee-shio Gan sampai mengeluarkan jeritan tertahan saking kagetnya. Dia tidak menduga sedikitpun bahwa Han Hoe-jin bisa berlaku begitu nekad.

Maka, dengan cepat dia menarik pulang kedua tangannya dan tak kalah cepatnya, kedua kakinya juga menjejak tanah antuk menjauhkan diri dari perempuan gila itu !

Han Hoe-jin tidak ingin memberikan kesempatan pada Gan Hwee-shio. Melihat orang ingia menjauhkan diri dari serangannya, Han Hoe-jin juga cepat-cepat menjejakkan kakinys, tubuhnya melambung dan dia mengejar Gan Hwee-shio.

Tangannya tetap menotok ke arah jalaa darah Cie Tioag Hiatnya si Hwee-

shio.

Gan Hwee-shio jadi tambah terdesak, dia terkejut bukan main.

Tetapi disebabkan dia terdesak hebat dan tak ada jalan keluar baginya, dia

jadi nekad dan mengambil keputusan pendek, yaitu akan mengadu jiwa.

Maka dari itu, dia tidak mengelakkan diri lagi dari serangan Han Hoe-jin, dia seperti juga tidak memperdulikan serangan maut dari si nyonya gila, yang hampir mengenai dirinya dan bisa membinasakan itu, hanya ksdua tangannya dipakai untuk menggempur dada nyonya gila itu !

Itulah suatu serangan untuk benar-benar mengadu jiwa dengan lawan !

Di samping Gan Hwee shio sendiri akan terbinasa tertotok jalan darahnya juga Han Hoe-jin akan terhajar remuk dadanya olek Hwee-shio itu !

Mereka akan sama-sam terbinasa !

Malah yang hebat, kesempatan untuk meloloskan diri dari serangan masiag- masing itu, Han Hoe-jin dan Gan Hwee-shio sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, mau tak mau mereka harus saling mengerahkan tenaga masing-masing dan mengadu jiwa !

Untuk binasa bersama-sama didalam suatu pertempuran dua orang jago sebetulnya tidak mengherankan, tetapi Gan Hwee-shio sampai mengada jiwa dengan Han Hoe-jin, perempuaa gila itu, inilah benar-benar luar biasa, sebab di antara mereka sebetulnya tidak terdapat persoalan yang berarti.

Han Swie Lim dan Tang Siu Cauw, Hie Beng, Hie Lay serta Soe Niang, telah menari-nari lagi dengan disertai tertawa mereka yaag berisik sekali.

Sedaagkaa Han Hoe-jin dan Gan Hwee-shio sedang mengadu jiwa untuk binasa bersama !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 37 MARI kita tinggalken dulu Han Swie Lim serta marid-muridnya atau Gan Hwee Shio dan Han Hoe-jin yaag sedang mengadu jiwa untuk binasa bersama itu !

Kita menengok sejenak kepada Han Han,

Pada malam itu, setelah berpisah dengaa In In, Han Han tidak bisa tertidur dengan nyenyak.

Dia rebah di pembaringan dengan gelisah sekali, sekejappun matanya tak bisa terpejamkan.

Bayang-bayang wajah In In selalu terbayang di hadapan mukanya, dan Han Han seperti juga menyesali dirinya yang telah menerima pernyataaa nona Thio yang menyatakaa bahwa dirinya si nona Thio telah terikat oleh putranya Thio See Ciang, musuh besarnya Han Han !

Api dendam semakin berkobar di dalam jiwa pemuda she Han itu.

Dendam disebabkan kegilaan keluarganya dan juga disebabkan oleh perasaan jelus tak memperoleh cintanya si nona she Thio itu.

Suara kentongan telah terdengar empat kali menyatakan telah menjelang tengah malam.

Tetapi Han Han masih tidak dapat tertidur dengan nyenyak.

Dia jadi memikirkan, sebetulnya dia membela Wong Tie Hian ini dengan sepenuh tenaganya, dan seharusaya dia tidak boleh banyak pikir soal resikonya.

Biar bagaimana dia harus membela Wong Tie Hian yang berdiri dipihak yang benar.

Namun karena dia membela Wong Tie Hian, dia harus terpecah dan terpisah dengan nona Thio.

Dan, semakin dia berpikir, semakin sedih hatinya.

Han Han juga baru menyadarinya, bahwa orang berkedok yang telah bertempur dan akhirnya tertotok olehnya itu di dalam gedung Wong Tie Hian ternyata adalah si nona she Thio itu juga.

Waktu angin yang dingin menembusi celah-celah jendela dan menyentuh tubuh Han Han, sehingga anak muda she Han tersebut merasakan dinginnya hawa malam, dia jadi menghela napas.

Samar-samar dia jadi mendengar suara langkah kaki, rupanya orang-orang yang mengawal gedung Wong Tie Hian tersebut sedang melakukan tugas mereka.

Waktu kentongan kelima, barulah Han Han dapat tertidur. Besoknya, Han Han bangun agak terlambat dari biasanya.

Dia terbangun disebabkan mendengar suara yang berisik di muka kamarnya. Cepat-cepat Han Han melompat dari pembaringan:

Dia mencuci muka dan memakai bajunya, kemudian merapihkan rambutnya dan menuju keluar dari kamarnya.

Waktu dia menatap daun pintu kamarnya dia melihat beberapa orang lelaki yang bertubuh tegap sedang mengerumuni sesuata.

Haa Haa menghampiri.

Orang-orang bertubuh tegap itu melihat kedatangan si-anak muda she Han, mereka cepat memecah diri dan memberi hormat sambil mengucapkaa kata-kata selamat siang.

Han Han membalasnya dengan sikap acuh tak acuh.

Lalu dia menanyakan, mengapa tampaknya mereka begitu ribut dan sedang menghadapi sesuatu.

Salah saorang di antara mereka maju ke depan, dia menceritakan segalanya kepada Han Han.

Ternyata, semalam adalah rombongan orang orang ini yang berjaga dan di kala mereka sedang meronda di saat kentongan kelima, mereka melihat dua bayangaa tubuh manusia yang berlompatan di atas genting dengan gerakan yang gesit sekali.

Orang-orang yang berjaga malam itu jadi curiga, cepat-cepat mereka mengejarnya.

Namun kedua bayangan sosok tubuh manusia itu sangat gesit sekali.

Di dalam waktu yang sangat singkat, mereka telah lenyap dari pandangan penjaga-penjaga malam itu.

Saking penasaran, salah seorang diantara penjaga malam itu membangunkan Wong Tie Hian.

Dan jago she Wong cepat-cepat menuju keluar, di sana sudah tidak terlihat apapun.

Tetapi, tiba-tiba jago tua she Wong itu seperti juga tersadar dengan cepat, dengan tidak ayal lagi dia membalikkan tubuhnya dan menuju ke belakang.

Dia menuju kekamar isterinya.

Ternyata, suatu kejadian hebat telah terjadi !

Wong Tie Hian hanya menemui mayat isterinya yang telah membeku dingin dengan mata mendelik !

Di dada isterinya tertancap sebelah pisau yang disertai oleh sehelai surat, yang banyinya antara lain sebagai Berikut : Wong Tie Hian !

Ini adalah suatu peringatan kecil kepadamu, kalau memang kau masih tetap berkepala batu dan tidak mau menyerah kepada pihak kami, berarti seluruh penghuni gedungmu akan mengalami hal yang sama dengan isterimu !

Pikirkanlah baik-baik dengan tenang, dan kudoakan semoga kau dapat melihat gelagat!

Dari adikmu Thio See Ciang

Membaca surat itu tubuh Wong Tie Hian jadi gemetar dengan hebat!

Hampir saja dia jatuh pingsan saking gusarnya. Dadanya dirasakan seperti mau meledak.

Untung saja dia masih bisa menguasai dirinya.

Dan hanya surat dari orang she Thio yang menjadi Kauw-coe dari Pek Bwee Kauw itu diremasnya jadi hancur, waktu dilepaskan, kertas itu jadi terbang dalam kepingan yang kecil.

Pagi-pagi sekali, setelah duduk termenung, setelah mendekati terang tanah, Wong Tia Hian merapihkan pakaiannya, memakai baju jalan malam,yaitn Yang- heng-ie. dan dia mengambil keputusan untuk menyatroni Thio See Ciang untuk mengadu jiwa dengannya.

Tetapi mnrid-murid Wong Tie Hian memintanya untuk menunda maksudnya itu dulu.

Tadinya Wong Tie Hian tidak bisa dibujuknya, tetapi akhirnya setelah maridnya memohon dengan berlutut daa menangis, barulah Wong Tie Hian mengurungkan maksudnya semula.

Wong Tie Hian sendiri memaklumi dan menyadarinya bahwa dengan menyatroni sarang Thio See Ciang, berarti dia akan mengantarkan jiwa secara cuma-cuma, maka akhirnya hati jago tua she Wong yang telah panas itu dapat diredakan.

Dia memerintahkan, beberapa orang muridnya untuk mengatur pemakaman nyonya itu.

Mendengar cerita tersebut, Han Han jadi mendongkol dan gusar bukan main. Tubuh pemuda she Han ini jadi menggigil menahan perasaan gusarnya.

"Di mana Wong Cian-pwee ?" tanyanya setelah orang itu selesai menceritakan segalanya. Mata Han Han berkilat tajam, sehingga orang-orang itu jadi menundukkan kepalanya tidak berani terbentur pandangan mata mereka.

"Wong Loo-cianpwee berada di Toa-thia ruangan tengah," menerangkan salah seorang di antara mereka. "Wong Loo-cianpwee sedang membakar Bau- pwee-hoe, uang kertas perak, di depan peti mati Wong Loo thay-thay!"

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Han Han cepat-cepat menuju keruang tengah gedung itu.

Wakta sampai di tengah-tengah ruangan itu tampak jelas sekali oleh. Han Haa, di dekat pintu tampak sebuah peti mati terbujur, pasti itu peti matinya nyonya Wong, sedangkan Wong Tie Hian sendiri duduk termenung memandang kobaran api yang membakar uang-uangan kertas perak.

Wajah jago tua she Wong itu sangat pucat sekali, kesedihan tampaknya telah meaguasai jago tua tersebut.

Han Han cepat-cepat menghampiri Wong Tie Hian, dia menjura memberi hormat dulu kepada peti mati nyonya Wong, dia memasang tujuh batang hio untuk menyatakan penghormatan terakhirnya.

Baru kemudian Han Han memberi hormat kepada Wong Tie Hian.

Jago tua she Wong itu membalas hormat si pemuda she Han dengan linangan air mata.

Haa Han memberikan kata-kata hiburan kepada jago tua itu.

"Biar bagaimana aku harus membalas sakit hati ini kepada orang she Thio itu, Han Lao-tee !" kata Wong Tie Hian dengan suara agak gemetar. Han Han mengangguk.

"Ya .....manusia she Thio itu harus dilenyapkan dari permukaan bumi ini!" menyahuti Han Han. "Biarlah malam ini Boanpwee akan menyatroni pesanggrahannya."

Wong Tie Hian membenarkan.

"Aku juga akan ikut bersamamu, Lao-tee !" dia berkata dengan cepat. Han Han ragu-ragu sejenak tetapi akhirnya dia mengangguk juga.

"Ya kita sama-sama membasmi orang-orangnya she Thio itu ! " katanya.

Setelah pasang omong sesaat lamanya ia akhirnya Han Han kembali ke kamar. Dia merebahkan dirinya dipembaringan dan pikirannya melayang-layang.

Dia jadi menduga-duga siapakah kedua orangnya Thio See Ciang yang telah menyatroni gedung Wong Tie Hian tersebut dan membunuh isteri Wong Tie Hian? Kalau didengar cerita dari penjaga-penjaga   malam   yang   menceritakan seluruh peristiwa itu kepada anak muda she Han tersebut, maka Han Han bisa menarik kesimpulan bahwa yang datang menyatroni gedung Wong Tie Hian itu tentu orang-orang kosen dari Thio See Ciang, kareaa walaupaa telah dijaga keras

oleh orang-orangnya Wong Tie Hian, tokh masin bisa kebobolan juga !

Di dalam pemikiran Han Han, dia menduga bahwa yang datang menyatroni gedung Wong Tie Hian pada malam tadi tentunya Thio See Ciang sendiri bersama dengan Thio ln In atau salah seorang jago yang kosen dari Pek Bwee Kauw.

Tetapi kalau memang Thio In In dan Thio See Ciang sesdiri yang melakukan pembantaian itu, mengapa mereka melakukan perbuatan yang hina dina itu, melakukannya dengan sembunyi-sembunyi ? Bukankah mereka mempunyai kepandaian yang tinggi ? Dan mengapa mereka harus main sembunyi sembunyi ?

Bukankah sebagai seorang jago yang kosen dan lihai, nama Thio See Ciang akan hancur lebur menjadi seorang Siauw-coet kalau dia melakukan perbuatan itu? Apakah Thio See Ciang memang seorang manusia yang bermartabat rendah?

Akhirnya Han Han tertidur lagi untuk melewatkan waktu menunggu sampai menjelang malam untuk meayatroni pesanggrahan Thio See Ciang !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

MALAM itu rembulan mengambang dengan cahayanya yang indah, karena pada hari itu adalah Cap sie sah-gwe,, bulan tiga tanggal empat belas, dan besok pada tanggal lima belas tepat, bulan akan bercahaya penuh !

Di antara terangnya cahaya rembulan, dan di antara suara kentongan yang terdengar tiga kali dipukul oleh penjaga malam, menandakan telah menjelang tengah malam, tampak di atas rumah penduduk berlari dua sosok tubuh dengan kegesitan yang sangat luar biasa sekali.

Dari cara mereka melompat dari rumah yang satunya lagi bisa diketahui bahwa kepandaian kedua orang tersebut pasti tinggi dan lihai sekali.

Kedua sosok tubuh itu masing-masing menggunakan pakaian Ya-heng-ie, pakaian piranti jalan malam, yang singsat, sehingga mereka leluasa bergerak. Kedua sosok tubuh itu dengan ringan menuju ke arah tenggara kota, dan di dalam waktu yang singkat sekali, mereka telah sampai di dekat sebuah lapangan yang agak gelap.

Dengan kecepatan yang luar biasa kedua bayangan ita melompat kebelakang sebuah batu yang terdapat di situ. Mereka bersembunyi di situ untuk melihat apakah ada sesuatu yang dicurigakan.

Tetapi keadaan tetap sunyi. '

Salah seorang sosok tubuh itu melompat ke belakang sebuah pohon yang tumbuh di dekat situ, tak ada reaksi apapun, rupanya dia tidak menemukan rintangan apa-apa.

Dengan menggunakan tangannya, dia memberi tanda kepada kawannya agar maju juga ke tempatnya.

Sosok tubuh yang satunya lagi melompat juga kedekat pohon, dan mengawasi keadaan sekitar mereka.

Setelah mendekam sesaat lamanya, akhirnya kedua sosok tubuh itu melompat lagi kedekat rerumpun yang banyak bertumbuhan di situ.

Dari tempat yang baru itu, kedua sosok tersebut dapat melihat dengan tegas di tengah tengah lapangan terdapat banyak tenda-tenda.

Salah seorang di antara kedua sosok tubuh itu menoleh kepada kawannya. "Mari kita menerobos masuk ! " katanya dengan suara yang perlahan, seperti

juga berbisik.

Yang seorangnya mengangguk.

Dengan gesit kedua sosok bayangan itu melompat kearah tenda-tenda dalam beberapa kali menjejakkaa kakinya saja, kedua, orang itu telah dapat mencapai pada tenda yang berada paling depan.

Siapakah kedua sosok bayangan itu ?

Ternyata mereka tak lain dari Wong Tie Hian dan Han Han, sedangkan tenda-tenda yang terdapat di tengah lapangan itu ternyata adalah tenda-tenda tempat orang-orang Pek Bwee Kauw bermalam.

Begitu sampai didekat tenda yang pertama, yang agak besar. Wong Tie Hian dan Han Han mendekam di tanah untuk menjaga segala sesuatu kemungkinan.

Kemudian waktu mereka memperoleh kenyataan tak terdapat sesuatu yang mencurigakan, mereka berindap-indap mendekati tenda itu.

Dengan menggunakan ujung pedang, mereka mencongkel ujung tenda, untuk melihat keadaan dalam tenda itu. Di dalam terdapat tiga orang penjaga yang telah tertidur mungkin disebabkan mengantuk yang sangat.

Han Han menoleh kepada jago tua she Wong itu, pemuda she Han menganggukkan kepalanya memberi tanda kepada Tie Hian.

Jago tua itupun mengangguk, hampir berbareng mereka menjejakkan kaki dan dengan ringan tubuh mereka melewati tenda itu, menuju ketenda yang satunya. Keadaan didalam tenda ini tidak berbeda banyak dengan   tenda   yang pertama, begitu yang berikutnya, di dalamaya hanya terdapat anak buah Pek Bwee

Kauw yang sedang tertidur.

Satelah melewati beberapa buah tenda, Han Han mendekati Wong Tie Hian, dia membisiki.

"Wong Loo-cianpwe, kukira semua tenda-tenda ini terisi oleh anak buah Pek Bwee Kauw!" katanya. "Lebih baik kita cari tenda yang berlainan bentuknya, karena Boanpwee kira tak mungkin tendanya Thio See Ciang akan sama dengan tenda-tenda anak buahnya ini!"

Wong Tie Hian mengangguk, dia membenarkan pendapat dari Han Han.

Maka dari itu mereka telah memutari beberapa tenda lainnya, menuju ketengah. lapangan, dimana tampak sebuah tenda yang bentuknya agak berlainan. Selain bentuknya agak berlainan. Juga warnanya berlainan, juga tenda itu lebih besar dari tenda-tenda lainnya. 

Han Han mengangguk kepada Wong Tie Hian sambil menunjuk ke arah tenda itu.

Dengan berindap-indap mereka mendekati tenda itu.

Mereka berlaku hati-hati, sebab kalau memang benar penghuni tenda itu adalah Thio See Ciang, pasti mereka akan dipergoki kalau tidak berlaku hati-hati.

Sedikit suara langkah kaki saja bisa membikin Thio See Ciang mengetahui kehadiran mereka di situ.

Maka dari itu, Han Han dan Wong Tie Hian berusaha berlaku hati-hati, agar tidak terdengar suara langkah kaki mereka

Keadaan di sekitar lapangan itu, di mana terdapat berpuluh-puluh tenda sangat sunyi sekali.

Hanya terdengar suara kutu malam yang berdendang dan suara mengerosnya orang tidur.

Sebelum meadekati tenda itu terlebih jauh, Han Han menoleh kepada Wong Tie Hian lagi. Mereka jadi saling pandang sekian lama, kemudian tanpa mengatakan sepatah katapun kedua oraag ini telah maju beberapa langkah lagi ke depan.

Mereka mendekati tenda itu lebih dekat lagi, kemudian mendekam untuk mendengarkan sesuatu.

Yang terdengar hanyalah suara orang mengeros karena tertidur nyenyak!

Han Han menggunakan ujung pedangnya mencokel bawah tenda dan mengintai ke dalam dari celah tenda itu.

Tetapi begitu melihat ke dalam, Han Han mengeluarkan seruan tertahan. Kenapa ?

Ternyata tenda itu kosong !

Wong Tie Hian sendiri jadi terkejut Waktu melihat si anak muda seperti terkejut dan mengeluarkan suara seruan tertahan waktu memandang ke dalam tenda. Cepat-cepat jago tua she Wong merangkak mendekati Han Han.

"Ada apa Han Lao-tee ?" tanya jago tua itu dengan keras dan ingin mengetahui.

"Di dalam kosong, Wong Loo-cianpwee !" kata Han Han dengan suara yang perlahan. "Ternyata mereka menggusakan taktik yang benar-benar lihai, yang diduga kosong berisi dan yang diduga berisi tetapi kosong ! Itulah tipu daya dari Lo Sian !

Wong Tie Hian mengangguk, baru saja dia ingin berkata, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang nyaring.

Wong Tie Hian dan Han Han jadi terkejut, mereka melompat bangun, dan disekeliling mereka ternyata telah dikurung.

Orang yang berdiri paling depan adalah Thio See Ciang !

Melihat orang she Thio itu, seketika itu juga meluap darah Wong Tie Hian, napasnya memburu dan kumis jenggotnya jadi bergerak-gerak saking murkanya.

Baru saja dia ingin membentak untuk memaki, tampak Thio See Ciang telah berkata : "Siauw-tee tidak menduga sedikitpun bahwa hari ini Siauw-tee menerima kunjungan dari tamu terhormat seperti Wong Lao-ko !" dan dia tertawa, matanya memain memandang Han Han. Dan, kau Siauw-ko, ternyata kau juga menjadi tamu kehormatan !"

Wajah Wong Tie Hian dan Han Han tidak enak dipandang, karena mereka sedang dalam keadaan gusar. Waktu memandang Thio See Ciang, mereka teringat kepada nyonya Wong yang telah menjadi mayat dan terbujur di dalam peti mati serta belum dikebumikan! Wong Tie Hian menekan perasaan gusarnya, dia membentak deagan suara yang menyeramkan :

"Orang she Thio, kau adalah manusia paling hina-dina di dalam dunia ini !" bentaknya dengan suara yang mengguntur. "Hari ini aku bersumpah, harus dapat membunuhmu, agar dapat membawa batok kepalamu dan hatimu untuk sembayangi arwah isteriku !"

Mendengar perkataan Wong Tie Hian, Thio See Ciang tertawa sabar. "Mengapa musti begitu ?" tanyaaya dengan suara yang sabar. "Bukankah

kalau kita mengambil jalan damai kita bisa mencicipi persaudaraan ? " Wong Tie Hian tertawa dingin.

"Selama kau ada di atas permukaan bumi ini, aku tak mau hidup ! Maka, hari ini aku akan adu jiwa denganmu, di antara kita berdua siapa yang berhak hidup terus di bumi ini !"

Thio See Ciang ketawa dingin, wajahnya agak berubah.

"Wong Toako, kau selalu tidak pernah memberikan kesempatan kepadaku untuk berlaku baik !" kata Thio See Ciang. "Kau selalu mendesak agar aku menggunakan kekerasan ! Apakah menurutmu dengan kekerasan itu akan membawa kebaikan untuk kita kedua pihak ? Bukankah dengan jalan damai kita akan memperoleh kerukunan ?"

Wong Tie Hian menggigil tubuhnya saking gusar dan menahas perasaan murkanya. Jeaggot dan kumisnya jadi bergerak-gerak saking gusarnya.

"Orang she Thio, kalau mendengar perkataanmu yang halus dan manis budi ini, aku tentu tidak akan percaya bahwa kau adalah manasia yang paling hina-dina di dalam dunia ini !" kata Wong Tie Hian. "Tetapi kenyataannya, hmm kau

adalah anjing bermuka manusia ! Kau mengetahui bahwa isteriku tidak mengerti ilmu silat dan merupakan seorang wanita yang lemah, mengapa kau begitu tega membunuhnya ?!"

Wajah Thio See Ciang jadi berubah hebat.

"Apa .....apa kau katakan itu ! " bentaknya dengan gusar. "Siapa yang membunuh isterimu ?"

"Haaaa .....kau masih ingin pura-pura tidak tahu!" kata Wong Tie Hian mengejek. "Bagus! Bagus! Rupanya kau memang seorang pemain sandiwara yang mempunyai bakat ! Hmmm setelah kau bunuh isteriku, kau tinggalkan sepucuk

surat yang bunyinya hina sekali !"

Tubuh Thio See Ciang jadi menggigil. "Wong Tie Hian !" bentaknya dengan suara yang menggetar. "Kau tadi mengatakan bahwa aku telah membunuh isterimu ?"

Wong Tie Hian mengangguk dengan pasti.

"Ya !" dia membenarkan dengan penuh kegusaran." Hmm .....apakah kau benar-benar seorang manusia yang paling hina sehingga tidak berani mengakui apa yang telah kau perbuat ?"

Thio See Ciang ketawa dingin.

"Hmm ..... Thio See Ciang bukan sebangsa manusia pengecut!" katanya dengan tawar. "Setiap apa yang kulakukan pasti akan kuakui, tetapi kalau mengenai pembunuhan isterimu, sedikitpun aku tak mengetahuinya ! Hmmm. orang she Wong ! Janganiah kau sembarangan memfitnah !"

Wajah Wong Tie Hian berubah hebat, dia jadi mengerut kaa alisnya.

Kalau dilihat dari cara berkatanya. Thio See Ciang, memang suatu kemungkinan orang she Thio itu bukanlah pembunuh isterinya. Tetapi kalau bukan Thio See Ciang, lalu siapa yaag telah melakukan perbuatan hina itu, dengaa secara sembunyi-sembunyi membunuh nyonya Wong itu ? Siapa pembunuhnya ?!

Tiba-tiba Han Han ketawa dingin.

"Hmm, bisa kau mencuci tangan, orang she Thio!" katanya mengejek. "Bisa saja kau menyuruh orang-orangmu untuk membunuh nyonya Wong, lalu kau mengatakannya kau tidak tahu menahu ! Hu, suatu akal licik yang telah usang ! "

Wajah Thio See Ciang jadi berubah hebat.

"Kalau memang aku yang membunuhnya mengapa aku menyangkal ?" dia balik menanya dengan suara yang tawar dan hati yang mendongkol sekali. "Hmmm ..... seumpamanya aku membunuh isteri orang she Wong itu, mengapa aku harus jeri mengakuinya ?! Tetapi kalau memang kalian mendesak terus dengan tuduhan dan fitnahan bahwa aku telah melakukan perbuatan hina dina itu, aku juga tidak keberatan menerimanya, karena kalian benar-benar orang tolol yang tidak bisa diberi pengertian ! "

Wajah Wong Tic Hian berubah hebat.

Begitu juga Han Han, anak muda she Han ini gusar bukan main.

Tetapi baru saja Wong Tie Han mau memaki dengan suara yang membentak, tiba-tiba terdengar siulan yang panjang dan nyaring sekali dikejauhan, dan dari suara siulan itu, orang sudah menduga bahwa yang mengeluarkan suara sialan itu pasti seorang yang kosen.

Semua orang jadi terdiam, tidak terkecuali Thio See Ciang sendiri. Thio See Ciang mau menduga bahwa orang yang mengeluarkan suara siulan itu pasti jago undangan dari Wong Tie Hian, dan sebaliknya Wong Tie Hian juga menduga bahwa orang yang mengeluarkan suara siulan yang luar biasa itu adalah seorang jago yang kosen sengaja diundang oleh Thio See Ciang.

Disebabkan masing-masing mempunyai pikiran semacam itu, maka kedua pihak masing-masing berdiam diri penuh kegusaran.

Suara siulan itu semakin lama semakin nyaring, menyatakan bahwa orang yang mengeluarkan suara siulan itu sudah berada dekat.

Thio See Ciang dan Wong Tie Hian jadi saling pandang dengan mata mendelik.

Sedang kedua pihak itu, pihak Thio dan pihak Wong, berdiam diri, tampak Thio In In dan Thio Pek Siang, putera Thio See Ciang, yang biasanya dipanggil sebagai Slang-jie itu.

Melihat nona Thio dan Siang-jie yang mendatangi kearah mereka dengan jalan berendeng begitu mesra, darah Han Han jadi meluap.

Timbul rasa jelusnya.

Tatapi baru saja dia mau membentak kearah Thio See Ciang uatuk melampiaskan kegusaran dan kejelusan hatiaya, tiba-tiba suara siulan yang terdengar tadinya begitu nyaring, jadi terhenti, dan tampak berkelebat sesosok tubuh.

Waktu Han Han dan yang lainnya menegaskan ternyata di hadapan mereka telah berdiri seorang kakek-kakek tua yang tumbuh kumis dan jenggot yang panjang, yang telah berubah putih seluruhnya.

Pakaian kakek itu sederhana sekali, dia memegang sebatang seruling ditangan kirinya, yang digoyang-goyangkannya.

"Hmmm .....kalian berkumpul di sini tentu mengandung maksud jelek, bukan !" bentak si kakek setelah menyapu semua orang yang ada di lapangan dengan matanya yang tajam sekali.

Melihat orang yang baru datang itu, Thio See Ciang dan Wong Tie Hian jadi terkejut,

Tie Hian dan See Ciang adalah jago-jago tua yang sudah kenyang makan asam dan garam dunia persilatan, maka mereka mengenal siapa adanya kakek tua itu.

Tetapi berbeda dengan Han Han, dia tidak mengetahui siapa sebenarnya kakek tua itu. "Hei kakek tua, lebih baik jangan kau mencampari urusan kami ! " bentak Han Han dengan suara aseran, karena dia memang sedang mendongkol dan jelus menyaksikan In In dan Siang jie berdiri berendeng dengan sikap yang mesra. "Cepat-cepatlah kau meaggelinding pergi !'"

Mendengar perkataan Han Han, tampak kakek-kakek tua itu melengak sesaat, tetapi setelah tersadar, dia tersadar untuk tertawa keras sekali.

Sedang kakek itu tertawa dengan suara yaag luar biasa, agak menyeramkan, Wong Tie Hian menarik ujung baju Han Han.

Waktu Han Han menoleh, jago tua she Wong itu menggelengkan kepalanya memberi isyarat kepada Han Han bahwa pemuda she Han itu jangan membentur si kakek !

Han Han jadi heran.

Tetapi sebagai seorang anak muda yang kosen mempunyai kepandaian tinggi, maka dia tidak mengenal apa yang disebut takut.

Sambil tertawa dingin, dia tetap menghadapi si kakek luar biasa itu.

"Kau sebagai orang dari golongan muda, berani menegur aku begitu macam?" tanya si kakek dengan suara yang mengejek waktu dia telah terhenti dari tawanya.

Han Han tertawa dingin.

"Mengapa aku harus takut kepadamu?" balik tanya Han Han tawar.

Kakek itu jadi melengak lagi, dia sampai berdiri kesima sesaat lamanya waktu mendengar perkataan Han Han. Namun akhirnya dia tertawa lagi.

"Apakah kau benar-benar tidak jeri padaku?" dia tanya lagi dengaa aseran dan sambil menggoyang-goyangkan seruling yang ada di tangannya.

Han Han menggelengkan kepalanya.

"Biar apapun dan siapapun aku tidak akan jeri atau mundur dari hadapannya!" kata si pemuda she Han dengan berani. "Apa lagi baru kau, hanya seorang kakek tua renta yang tulang belulangnya hampir copot rontok dari tubuhnya.

Kakek itu melangak lagi, sedangkan Wong Tie Hian ingin memberi isyarat lagi kepada. Han Han, tetapi dia tidak mempunyai kesempatan semacam itu. Maka akhirnya dia hanya mengawasi saja dengan penuh kekuatiran, karena dia memang mengetahui siapa adanya kakek luar biasa itu.

Sedangkan kakek luar biasa itu telah gusar bukan main mendengar jawaban Han Han. "Apakah kau bicara sungguh-sungguh bahwa kau tidak jeri kepada Hiat Tiok Sian Jin ?" bentak si kakek.

Mendengar kakek itu menyebutkan gelarannya, Han Han ketawa dingin. "Hmm, jangan kata baru Seruling Haus Darah, sedangkan Seruling Haus

Jiwa akupun tidak jeri !" ejeknya dengan suara yang tawar.

Wajah si kakek jadi berubah hebat. Dia memang Hiat Tiok Sian Jin, itu jago yang bergelar seruliag haus darah, seorang jago yang luar biasa sekali, yang mempunyai kepandaian tiaggi luar biasa, maka jago-jago manapun jeri kepadanya, karena kakek ini beradat Koe koay, aneh, kalau memang dia sedang senang, maka dia akan menolong orang yang sedang dalam kesusahan, atau kemalangan, namun kalau entah bagaimana pamikirannya, atau dia sedang gusar atau mendongkol, maka dia tidak akan segan-segan membunuh orang !

Jiwa manusia seperti juga dianggapnya barang permainan, yang boleh dibunuh sesuka hatiuya !

Disebabkan perangainya yang aneh itu, maka Hiat Tiok Sian Jin sangat disegani oleh jago-jago dari golongan putih atau golongan hitam, semuanya tidak berani berbuat salah terhadap jago tua yang kosen itu.

Adalah luar biasa sekali bagi Hiat Tiok Sian Jin, bahwa di kala dia dijerikan oleh semua orang atau jago-jago di dalam rimba persilatan, adalah seorang bocah yang bernyali besar dan berani memaki-mali dirinya.

Tetapi bukannya Hiat Tiok Sian Jin bergusar atau murka, akhirnya dia malah tertawa gelak-gelak.

Kelakuan Han Han dianggapnya lucu dan luar biasa sekali, karena dia belum pernah bertemu dengan seorang jagopun yang berani berbuat seperti Han Han itu.

Itulah yang luar biasa sekali dalam anggapan Hiat Tiok Sian Jin.

Maka dari itu, dengan keras dia tertawa, kemudian menghampiri Han Han dengan langkah yang perlahan-lahan.

Sinar matanya sangat tajam sekali.

"Apakah kau benar-benar tidak jeri padaku?" bentak Hiat Tiok Sian Jin dengan suara yang tawar, serta menyeramkan bagi pendengaran telinga siapapun yaag ada di situ.

Han Han tertawa dingin.

"Mengapa aku harus jeri padamu ?!" dia balik bertanya dengan suara yang dingin.

Kembali Hian Tiok Sian Jin tertawa gelak. "Aha, selama lima puluh tahun, barulah aku bisa menjumpai kejadian yang luar biasa ini !" si kakek mangoceh dengan suara yang agak keras. "Bagus ! Hei, Bocah! Kau benar-benar luar biasa ! Apakah kau mempunyai kepandaian ilmu silat?"

"Hmm ..... tidak perlu kau ketahui hal itu !" bentak Han Han sangat berani. "Kalau memang kau ingin merasai kelihaian tuan mudamu, majulah !"

Kembali si kakek terkesiap, dia sampai berdiri melengak seperti tidak mempercayai pendengaran telinganya sendiri.

Seumur hidupnya, barulah kali ada orang yang menantang dirinya.

Akhirnya si kakek tersadar untuk tertawa keras, terpingkal-pingkal, dia sampai memegangi perutnya dengan keras, dianggapnya hal yang sedang dihadapinya itu adalah sangat lucu sekali.

"Hebat kau bocah ! Hebat!"' dia kata sambil tertawa. "Kalau begitu kau pantas menjadi muridnya Hiat Tiok Sian Jin !"

Baru saja Han Han ingin menyahuti dengan kata-kata yang ketus, dia melihat tangan Hian Tiok Sian Jin telah menyambar kearahnya dengan kecepatan yang luar biasa sekali.

Hal ini mergejutkan Han Han juga.

Karena orang yang menyerang dengan gerakan yang cepat luar bias», Han Han tidak melihat cara bergerak orang atau jago tua itu, hanya tahu-tahu tangan Hiat Tiok Sian Jin hampir menghajar batok kepalanya.

Untung saja Han Han mempunyai kepandaian yang tinggi dan memang kosen sekali.

Maka dari itu, di saat dia melihat tangan si-kakek tua itu hampir mengenai batok kepalanya, Han Han mengeluarkan seruan yang nyaring, dia melompat ke belakang.

Dan, disebabkan anak muda she Han itu melompat ke belakang, maka serangan si-kakek meluncur ketempat kosong.

"Ngeeeekk ! " terdengar suara oraag tersendat, disusul kemudian dengan suara tertawa si-kakek.

Han Han baru saja mau memaki melihat kecurangan orang yang telah menyerang dirinya secara begitu mendadak, atau tiba-tiba dia mendengar suara robohinya sesosok tubuh !

Cepat-cepat Han Han menoleh ke belakang, dan darahnya jadi tersirap ! Apa yang di saksikannya ? Ternyata, karena Han Han dapat mengelakkan serangan si kakek, angin serangan itu jadi meluncur ke arah salah seorang anak buah Pek Bwee Kauw yang sedang berdiri terpaku menyaksikan kejadian itu.

Anak buah Pek Bwee Kauw yang malang itu tidak dapat menjerit dan juga dia tidak mengetahui dengan cara bagaimana dia terserang, karena dia hanya merasakan ada sesuatu seperti godam yang menghajar dadanya, keras sekali, tanpa disadarinya, dia hanya bisa mengeluarkan suara "Ngeeeekk ! " yang keras, dan putuslah jiwanya melayang ke akherat !

Itulah hebat !

Han Han yang melihat kejadiaa itu jadi gusar bukan main.

Anak muda she Han ini menyesal, mengapa dia mengelakkan serangan si kakek sehingga mengakibatkan kematian anak buah Pek Bwee Kauw itu ? Mengapa dia tidak menangkisnya saja ?

Karena tidak bisa menahan kegusaran hatinya, Han Han jadi memaki sambil menunjuk bengis: "Kau .....kau kakek-kakek kejam ! Hmmm .....kau seperti juga iblis yang tidak mengenal perikemanusiaan !"

Mendengar makian Han Han, si kakek tua itu masih tetap tertawa. Rupanya dia sangat senang sekali.

"Aha, ternyata kau masih ada isinya juga, bocah !" kata si kakek. "Bagus ! Dengan ditambah kepandaian yang akan kuwariskan kepadamu, kau akan jadi seorang jago yang luar biasa sekali ! Siapa gurumu sebelum ini ?"

Han Han mendongkol sekali melihat sikap dan lagak kakek itu, yang angkuh dan sombong sekali.

"Hmmm ..... kakek tua renta ! " bentaknya. "Siapa yang kesudian diangkat menjadi muridmu ?"

Wajah si-kakek jadi berubah merah padam, rupanya dia tersinggung mendengar perkataan anak muda she Han itu.

"Kau ..... kau berani mengeluarkan perkataan semacam itu di hadapan Hiat Tiok Sian-jin ? " bentak kakek itu dengan suara gemetar menahan kegusaran ha tinya.

Han Han ketawa dingin.

"Mengapa aku harus jeri padamu ?" dia balas menghentak dengan tawar. Hiat Tiok Sian Jin jadi mendongkol.

Biar bagaimana dia adalah seorang jago yang luar biasa, yang dengan serulingnya pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ularnya menempur tujuh puluh sembilan orang Hwee-shio Siauw-lim-sie, dan dia memperoleh kemenangan.

Selama hidupnya dia belum pernah dikalahkan oleh lawannya, sehirgga sikap congkak jadi menguasai dirinya.

Sekarang seorang anak muda yang menurut pandangannya masih bau pupuk berani menantangnya begitu macam, maka hal itu jadi meluapkan darahnya.

Maka dari itu, dengan tidak mengeluarkan sepatah perkataan lagi, tahu-tahu tubuhnya telah mencelat kepada Han Han.

Kedua tangannya juga bergerak dengan kecepataa yang luar biasa sekali.

Dia menyerang dengan tipu serangan yang mematikan dan bisa membahayakan jiwa Han Han.

Tetapi biarpun usianya masih muda, tetapi Han Han kosen sekali.

Dia memiliki kepandaian yang tinggi dan dengan mengandalkan kelihaiannya, maka Han Han bisa melihat kearah mana serangan Hiat Tiok .Sian Jin itu.

Disebabkan itu, dikala dia melihat kedua tangan si-kakek seruling haus darah itu, menyambar kearah batok kepalanya dan dadanya, jalan darah Tie Mie Hiatnya, yang terletak di dekat putik dadanya, Han Han cepat-cepat merobah kedudukan kakinya

Dengan berobah kedudukan kakinya itu maka serangan Hiat Tiok Sian Jin pada kepalanya dapat diloloskan.

Sedangkan serangan yang satunya lagi, yang mengincer dada Han Han, dipunahkaa oleh anak muda she Han itu dengan menangkis.

Kedua tangan mereka saling membentur dengan keras sekali, karena disertai oleh Lwee-kaag yang kuat.

Terdengar suara benturan yang keras.

Han Han jadi terkejut waktu merasakan kehebatan tenaga dalam si kakek. Waktu tangannya menangkis tangan si kakek, dia merasakan tangan Hiat

Tiok Sian Jin seperti juga lempengan besi.

Untung saja dia mempunyai kepandaian yang tinggi, maka dengan meminjam tenaga serangan Hiat Tiok Sian Jin itu Han Han dapat melompat mundur ke belakang.

Hiat Tiok Sian Jig juga terkejut waktu tangannya kena ditangkis oleh si-anak muda she Han itu. Tadinya dia menduga bahwa anak muda she Han itu tentunya akan terbinasa putus napas disebabkan pukulannya itu, atau setidaknya akan mengalami celaka yang berat karena dia. telah mengerahkan delapan bagian tenaga dalamnya.

Namun, apa yang dibayangkannya itu berlainan dengan kenyataannya. Selain Han Han tidak mengalami sesuatu malah dia dapat menangkis dengan

baik.

Hanya wajah Han Han tampak agak pucat. Hanya itu, tidak lebih.

Dan, hal ini benar-benar membingungkan si kakek Hiat Tiok Sian Jin. Kejadian luar biasa ini baru pernah dialaminya, belum pernah ada seorang

jago yang dapat menangkis satiap serangannya yang disertai oleh Lwee kang delapan bagian itu. Pasti lawannya akan terbinasa atau terluka parah.

Dan Han Han ternyata lain dari jago-jago itu.

Dia masih dapat berdiri dalam keadaan sehat dan tenang, maka hal itu membikin kegusaran Hiat Tiok Sian Jin tambah meluap.

Pertama-tama Hiat Tiok Sian Jin menyukai Han Han, karena dia melihat ada sesuatu keluar biasaan di diri anak muda she Han tersebut.

Namun, setelah serangannya dapat dipunahkan oleh Han Han dengan begitu mudah hal itu menerbitkam kemurkaan yang sangat pada dirinya, dia jadi mempunyai maksud untuk membunuh dan melenyapkan Han Han dari permukaan bumi.

Dan maksud jahatnya ini terlihat dari cahaya matanya yaag memancar bengis.

Semua orang yang menyaksikan hal tersebut jadi menggidik, lebih-lebih Wong Tie Hian jago tua she Wong tersebut, sampai mengeluarkan seruan tertahan. Thio See Ciang sendiri berdiri mengawasi dengan pandangan mata yang

tajam.

Biar bagaimana dia sebagai seorang Kauw-coe dari sebuah perkumpulan

yang besar, dia mengetahui dan dapat meraba-raba apa sebenaraya maksud kedatangan dari Hiat Tiok Sian Jin tersebut ketempat Pek Bwee Kauw tersebut.

Jago tua dari seruling haus darah itu tenta mempunyai maksud-maksud tertentu.

Maka dari itu, walaupun Hiat Tiok Sian Jin sedang bertempur dengan Han Han, yaeg boleh dihitung sebagai lawaa Pek Bwee Kauw, tohh kauw-coe Pek Bwee Kauw tersebut tetap tidak tenang, dia berlaku hati-hati serta waspada, malah secara diam-diam dia telah memerintahkan pada Siang-ji dan In In untuk melakukan pengepungan yang ketat untuk berjaga-jaga kalau ada sesaatu kejadian yang di luar dugaan.

Di dalam waktu yang sangat singkat sekali, orang-orang Pek Bwee Kauw telah mengurung secara diam-diam pada Wong Tie Hian, Han Han dan Hiat Tiok Sian Jin!

Hal itu dilakukan dengan rapih sekali, sehingga tidak tampak sedikitpun bahwa sebetulnya ketiga orang yang bukan menjadi anggota Pek Bwee Kauw itu telah terkurung rapat.

Hanya Wong Tie Hian seorang diri yang memperhatikan terus keadaan sekelilingnya.

Sebagai seorang jago kawakan, dia mengetahui bahwa mereka telah terkurung.

Namun, jago she Wong ini memang telah nekad, dia bermaksud akan adu jiwa dengan Thio See Ciang, maka itu dia tidak memperdulikan orang-orang Pek Bwee Kauw yang mengurungnya itu, dia hanya memperhatikan Thio See Ciang, Han Han dan Hiat Tiok Sian Jin, sebentar-sebentar Wong Tie Hian memperdengarkan suara tertawa dinginnya ......

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 38

HIAT TIOK SIAN JIN atau si Seruling Haus Darah jadi semakin mendongkol tidak dapat merobohkan Han Han setelah lewat beberapa jurus lagi.

Setiap menyerang, setiap kali juga Hiat Tiok Sian Jin menambah tenaganya, sehingga Han Han biarpun tampaknya tenang-tenang saja menyambuti setiap serangan si Seruling Haus Darah itu, tokh dengan sendirinya dia jadi gelagapan.

Malah, setelah lewat dua puluh jurus lebih lagi, Han Han semakin terdesak.

Lebih-lebih Hiat Tiok Sian Jin tidak mau memberikan kesempatan dan waktu bagi anak muda she Han itu, dia menyarang terus menerus dengan serangan berangkai dan lagi mematikan, sehingga Han Han jadi gugup tidak keruan.

Namun, tidak percuma Han Han telah di didik oleh beberapa orang guru yaag lihai, yang kepandaian dan ilmu silat dari berbagai jago-jago silat kelas wahid itu digabungkan dan dimiliki oleh Han Han, sehingga biarpun dia keripuhan menerima setiap serangan Hiat Tiok Sian Jin, tokh si pemuda she Han tersebut masih bisa mempertahankan diri terus.

Hiat Tiok Sian Jin semakin lama semakin sengit.

Dia benar-benar penasaran tidak bisa menjatuhkan pemuda she Han ini, yang tadinya dia hanya memandang sebelah mata dan dianggap enteng olehnya.

Maka dari itu, setelah berselang beberapa jurus lagi. Hiat Tiok Sian Jin mulai tidak sabar.

Dengan cepat dia mengerahkan seluruh kepandaiannya kelengannya, dia mengerahkan sampai keujung jarinya, kemudian dia memukul dengan jurus 'Siang Tiang Pie Choen', serangan mana mengandung hawa pembunuhan, yang menyebabkan semua orang yang menyaksikan jadi terkejut.

Lebih-lebih wajah Hiat Tiok Sian Jin pada saat itu sangat menyeramkan sekali.

Han Han juga telah melihat betapa bengisnya wajah Hiat Tiok Sian Jin.

Tetapi anak she Han tersebut tidak jeri dia meagerahan tenaga-dalamnya juga waktu melihat Hiat Tiok Sian Jin menyerang dirinya dengan jurus yang hebat itu, Han Han memutar tangannya setengah lingkaran, tangan kirinya dilonjorkan kemuka, kemudian dengan mengeluarkan bentakan keras Han Han mengayunkan kaki kanannya menyepak dengan tiba-tiba.

Inilah hebat sekali !

Han Han ternyata kosen luar biasa, biarpun si kakek Hiat Tiok Sian Jin mempunyai kepandaian yang tinggi, dan menyerang lebih dulu, tetapi dengan ditangkis oleh Han Han menggunakan cara yang seperti diatas, mau tak mau Hiat Tiok Sian jin harus menarik pulang kedua tangannya karena kalau tidak tentu kaki Han Han akan bersarang di selangkangan kakinya, berarti kemaluannya terhajar telak, dan kalau kena jitu, pasti Hiat Tiok Sian Jin bisa terbinasa atau setidak- tidaknya akan mengulun kesakitan hebat!

Begitu melompat kebelakang dan setelah dapat berdiri tetap lagi, mata Hiat Tiok Sian Jin menatap Han Han dengan mendelik lebar menyeramkan.

"Bocah     sebutkan gurumu sebelum aku mengirimmu ke Neraka ! " bentak

Hiat Tiok Sian Jin dengan suara meayeramkan.

Han Han juga balas menatap kakek yang bergelar Seruling Haus darah itu.

Sikapnya sangat tawar sakali, seakan juga dia tidak memandang sebelah mata. "Hmm    apakah orang sepertimu ini pantas menanyakan nama guruku yang

terhormat?!" balik tanya Han Han dengan suara mengejek.

Hiat Tiok Sian Jin merasakan dadanya seperti mau meledak.

Baru pertama kali inilah dia menerima hinaan dari seorang jago muda, karena biasaaya, setiap jago-jago silat di daratan Tiong-goan, umumnya jeri sekali terhadap diri kakek ini.

Dengan tubuh gemetar menahan perasaan gusarnya, Hiat Tiok Sian Jin menghampiri selangkah demi selangkah kepada Han Han, matanya memancarkan nafsu akan membunuh dan mukanya sangat menyeramkan. Bengis.

Han Han cepat-cepat bersiap-siaga dan berwaspada dari segala sesuatu kemungkinan.

Dia bersiap-siap dari segala kemungkinan, karena si-kakek terlalu sering melagukan gerakan yang tiba-tiba dan bisa membahayakan dirinya.

Maka dari itu, Han Han memasang matanya benar-benar melihat segala tingkah laku si kakek.

Napas Hiat Tiok Sian Jin memburu, mukanya merah padam, tangannya agak menggigil seperti orang yang terserang hawa udara dingin, sebab dia menahan marah dan sedang mengerahkan tenaga dalamnya.

Tiba-tiba, dikala dia telah melangkah semakin dekat dengan Han Han dan jarak mereka hanya tertinggal beberapa langkah saja, Hiat Tiok Sian Jin mengeluarkan bentakan yang nyaring, dia juga melompat tinggi, kemudian waktu tubuhnya menukik turun, kedua tangannya bekerja cepat, menyeraag batok kepala Han Han.

Gerakan kakek itu cepat dan bertenaga, seperti juga seekor garuda yang sedang mengincer mangsanya.

Han Han terkejut juga meayaksikan kehebatan tenaga yang digunakan oleh kakek yang bergelar Hiat Tiok Sian Jin ini, dia menarik napasnya dalam, mengumpulkan di Tan-tian, kemudian disalurkan dikedua lengannya, yang lalu dipakai menangkis kedua serangan Hiat Tiok Sian Jin.

Kedua tangan mereka jadi saling bentur dengan beruntun dan mengeluarkan suara yang berisik.

Hebat dari benturan itu !

Tampak Han Han terpental deagan mengeluarkan seruan tertahan dan kaget. Begitu juga dengan Hiat Tiok Sian Jin ! Dia lebih hebat lagi. Karena tubuhnya sedang melambung ke udara maka dia tidak bisa mempunyai pegangan, di kala tubuhnya terdesak ke belakang, dia jadi terpental dan terapung dengan kecepatan yang luar biasa.

Namun sebagai seorang jago yang kosen dan mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, dengan hanya bergulingan beberapa kali di udara, berpoksay, maka dia bisa jatuh di tanah dengan kedua kakinya terlebih dahulu !

Itulah kehebatan Hiat Tiok Sian Jin !

Dan Han Han sendiri, dia juga bergulingan di tanah beberapa kali, sehingga bajunya jadi kotor, namun dengan jalan begitu dia bisa membuang diri dan menyelamatkan diriaya dari gencetan dua tenaga raksasa yaag tadi terbentur. Waktu berdiri kembali, Han Han menggunakan jurus Ikan Lee ie meletik, dan dengan lincah serta gesit sekali, dia telah berdiri lagi !

Kedua lawan jadi saling berdiri berhadap-hadapan lagi dengan penuh kewaspadaan.

Kalau Hiat Tiok Sian Jin mempunyai wajah yang seram, bengis dan menakutkan, adalah Han Han mempnayai wajah yaag cakap dan penuh kewaspadaan.

Kedua lawan saling maju selangkah demi selangkah dengan penuh ketegangan.

Sedikit lengah, berarti jiwa mereka melayang dan menghadap raja akherat ! Wong Tie Hian yang menyaksikan hal tersebut jadi berdebar keras hatinya.

Kalau dia terjun kegelanggang membantu Han Han menghadapi seruling haus darah itu, berarti dia mengundang orang-orang Pek Bwee Kauw untuk mengepungnya.

Tetapi nntuk berdiam diri saja terang Wong Tie Hian tidak bisa, apa lagi dilihatnya Hiat Tiok Sian Jin telah mulai menggunakan seruling mautnya, yang digoyang-goyangkan kekiri dan kekanan.

Seruling itu yang ditakuti oleh jago-jago di rimba persilatan !

Itulah sebabnya seruling itu diberi nama Seruling Haus Darah, karena setiap seruling itu bergerak menyerang lawan, pasti selalu lawannya akan binasa atau sedikitnya luka berat !

Sekarang Hiat Tiok Sian Jin telah menggunakan serulingnya itu untuk menempur Han Han, dan ini berarti bahwa Han Han akan menghadapi bahaya yang besar. Hati Wong Tie Hian jadi tambah berdebar, dia mengawasi dengan mata tak berkedip.

Kegelisahan meliputi diri jago tua she Wong tersebut, dia menguatirkan keselamatan diri Han Han.

Kalau sampai terjadi sesuatu di diri pemuda she Han itu, dia tentu yang tidak akan enak hati.

Pada saat itu, Thio See Ciang sendiri sedang mengawasi jalannya pertempuran dengan bermacam-macam akal memenuhi benaknya.

Dia sedang memikirkan cara untuk mengadu Han Han dan Hiat Tiok Sian

Jin

Rfimnai kedua?nya terbinasa, dan dengan sen» dirinya dia akan ringan

menghadapi Wong Tie Hian, sebab dengan hilangnya pembantu yang selalu diandalkan oleh Wong Tie Hian itu, jaso tua she Wong tersebut pasti akaa bertekuk larut padanya, berarti itu kemenangan untuk dirinya»

Maka dari itu, jalannya pertempuran tak pernah terlepas dari mata Thio See Ciang.

Orang she Thio yang menjadi kauw-coe dari Pek Bwee Kauw tersebut juga melihat bahwa Han Han dan Hiat Tiok Sian Jin mempunyai kepandaian yang hampir berimbang, hanya si-kakek Seruling Haus Darah menang setingkat, dan itu pun disebabkan usia Han Han terpaut jauh kalau dibandingkan dengan kakek tua yang bergelar Hiat Tiok Sian Jin, dengan sendirinya Han Han kurang latihan dan kurang pengalaman.

Han Han dan Hiat Tiok Sian Jin pada saat itu telah saling berhadap-hadapan

lagi.

Mata mereka tidak berkedip memandang lawan masing-masing untuk

bersiap-siap saling tempur lagi.

Han Han sendiri agak kewalahan.

Tadi dia merasakan bahwa tenaga Lwee-kangnya masih kalah satu tingkat kalau dibandingkan dengan Hiat Tiok Sian Jin tadi dia dapat mengimbanginya hanyalah disebabkan dia menggunakan tipu meminjam tenaga memukul lawan.

Coba waktu Hiat Tiok Sian Jin tadi menyerang dan Han Han menangkis dengan jalan kekerasan, pasti anak muda itu akan terluka di dalam.

Atau setidak-tidaknya dia akan memuntahkan darah merah yang segar !

Maka dari itu, selanjutaya Han Han memikirkan cara untuk merobohkan jago tua yang kosen luar biasa itu. Dia menghindarkan diri dari ada kekerasan, karena biar bagaimana Han Han tahu, dirinya tidak akan dapat mengatasi tenaga Lwee-kang si-kakek.

Dari itu, dia mencari jalan lembek untuk merobohkau kakek tersebut.

Hiat Tiok Sian Jin juga tadinya tidak menduga bahwa Han Han mempunyai kepandaian yang mengejutkan dirinya ! Sedikitpun dia tidak menduganya bahwa si bocah kecil yang tadinya dianggap masih bau pupuk, ternyata bisa menandingi dirinya !

Mata Hiat Tiok Sian Jin berkilat-kilat waktu dia memandang Han Han. "Apakah, kau tetap tidak mau menyebutkan nama gurumu, bocah?" bentak

si-kakek.

Han Han tertawa dingin.

"Kau tidak mempunyai harga mengetahui siapa guruku!" menyahuti Han Han dengan tawar, dia sengaja bersikap angkuh begitu untuk memancing kegusaran si-kakek.

Kalau memang si-kakek murka, dengan kegusaran yang meluap-luap, Han Han lebih mudah merebut kemenangan.

Sebab biasaaya kalau orang sedang marah atau gusar, tentu berpikirnya tidak sesempurna orang yang tenang.

Dengan sendirinya, akan mudah di jatuhkan, dirobohkan dan dipecundanginya.

Han Han mau mengambil dari segi itu, dan dengan kelembekan itu, dia akan merobohikan kakek yang bergelar Seruling Haus Darah, yang sangat ditakuti oleh orang-orang dunia persilatan !

Melihat Han Han masih tidak membuka serangan, Hiat Tiok Sian Jin menduga Si-anak muda she Han ini jeri kepadanya.

Dia memutar serulingnya semakin cepat, dan suatu ketika dengan mengeluarkan suatu teriakan yang nyaring, dia melompat dengan kegesitan yang luar biasa.

Serulingnya mengincar jalan darah Pa-Lie Hiatnya Han Han, dan kalau sampai jalan darah Pa Lie Hiatnya Han Han yang terletak di dekat dada itu kena tertotok telak oleh serulingnya Hiat Tiok Sian Jin, pasti napas anak muda she Han ita akan terhenti, dia akan menjadi binasa penasaran, sebab pernapasannya akan berhenti mendadak !

Han Han melihat ketelengasan dari lawan yang menyerang dengan jurus yang mematikan itu, hatinya jadi mendongkol. "Hmmm      kau selalu menyerang dengan menggunakan serangan-serangan

yang mematikan, pada hal di antara kita tak ada permusuhan apapun !" pikir Han Han dengan penuh kemendongkolan. "Baiklah ..... aku juga tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu! "

Dan setelah berpikir begitu, maka dengan cepat Han Han mengerahkan tenaga dalamnya.

Dia menunggu sampai ujung seruling Hiat Tiok Sian-jin itu hampir mengenai kulitnya, dia berkelit dengan kegesitan yang luar biasa,

Juga sambit berkelit Han Han tidak tinggal diam, dia bukan hanya berkelit saja, jari telunjuk tangan kanannya menyentil seruling itu,

"Takkk !" terdengar suara sentilan itu menyentuh seruling kayu si kakek. Tampak seruling milik Hiat Tiok Sian Jin patah tiga dan jatuh ke tanah.

Hal ini mengejutkan Hiat Tiok Sian Jin dia sampai mengeluarkan seruan terperanjat dan cepat-cepat melompat ke belakang dengan wajah yang berubah pucat.

Han telah berdiri tegak.

"Hmm ..... hanya sebegitu saja kepandaianmu ! " tegur Han Han mengejek. "Tidak berarti banyak bagiku !"

Wajah Hiat Tiok Sian Jin yang telah pucat itu berubah jadi merah padam, tubuhnya gemetar menahan perasaan gusarnya!

"Bocah setan !" bentaknya dengan suara gemetar. "Kau ..... kau telah merusak seruling pusakaku ! Hmmm ..... biarpun kau lari keujung dunia, tetap kau harus mampus di tanganku !"

Dan setelah berkata begitu, dengan kalap Hiat Tiok Sian Jin menyerang Han Han dengan menggunakan beberapa jurus berangkai dan mematikan.

Han Han mendengus mengejek, cepat-cepat dia merobah kedudukan kakinya, sehingga dia dapat mengelakkan serangan-serangan Hiat Tiok Sian Jin dengan mudah.

Tetapi karena sedang kalap dan gusar, maka Hiat Tiok Sian Jin telah mengerahkan seluruh kepandaiannya mendesak terus kepada Han Han menggunakan serangan-serangan yang berbahaya sekali, maka lama kelamaan Han Han jadi kewalahan dan sibuk mengelaki atau menangkis saja setiap serangan lawan .....dia seperti juga jadi hanya membela diri belaka !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya WONG TIE HIAN yang memang sejak tadi sudah gelisah, sekarang waktu melihat Han Han terdesak hebat, jadi tambah gelisah sekali.

Lebih-lebih waktu melihat Hiat Tiok Sian Jin menyerang dengan tangan kanannya dan dapat ditangkis oleh Han Han, namun sedang si pemuda she Han repot menangkis serangan Hiat Tiok Sian Jin itu, tangan dari Seruling Haus Darah itu telah meluncur akan mencengkeram dada Han Han.

Ini benar-benar mengejutkan Wong Tie Hian dia bukan bUaya mengeluarkan seman tertahan, tetapi juga telah menjejakan kaki-nya serta tububnya mencelat dengan cepat kearah si Seruling Haus Darah itu.

Dia bermaksud akan membantui Han Han menghadapi kakek yang ganas itu.

Namun, di kala tubuh Wong Tie Hian sedang mengapung di udara, tiba-tiba sesosok tubuh lainnya memapakinya.

Wong Tie Hian terkejut, karena orang itu muncul begitu tiba-tiba dan di luar dugaannya, apa lagi tubuh jago tua she Wong itu sedang mengapung di udara, maka dia jadi lebih terperanjat waktu orang yang mendadak muncul memapakinya itu menyerang ke-arah batok kepalanya !

Cepat-cepat Wong Tie Hiau mengempos semangatnya, dia mengangkat tangannya, dan 'dukkk !' terdengar suara benturan tangan yang keras.

Tubuh Wong Tie Hian dan orang itu roboh di tanah.

Tetapi Wong Tie Hian kosen, dia dapat berpoksay di udara. sehingga dia tidak sampai jatuh terbanting.

Begitu juga orang itu, yang telah merintangi maksud dari Wong Tie Hian.

Waktu jago tua she Wong itu telah dapat berdiri tetap, maka dia dapat melihatnya, bahwa orang yang berusaha menghalangi dirinya itu ternyata adalah Thio See Ciang, itu Kauw-coe dari Pek Bwee Kauw yaag menjadi musuh besaraya

.....!

Betapa gusarnya Wong Tie Hian, tubuhnya sampai menggigil menahan perasaan gusarnya itu.

"Kau ..... kau ..... " katanya terputus-putus sambil mendelik kepada See Ciang.

Si Kauw-coe Pok Bwee Kauw tertawa sabar.

"Wong Toako, biarkanlah mereka itu bertempur dengan jajur, tidak perlu kita mencampurinya ! " kata Thio See Ciang dengan suara setengah menegur. "Tak baik kalau kita main keroyok, karena itu akan membawa akibat yang tidak baik bagi kita sendiri juga !"

Wajah Wong Tie Hian jadi berubah merah padam, dia bergusar tanpa daya. Dia melirik memandang kearah gelanggang pertempuran lagi.

Dilihatuya Han Han dan Hiat Tiok Sian Jin sedang bertempur dengan masing-masing mengerahkan kepandaian mereka. Tak ada seorangpun di antara mereka mau mengalah.

Rupanya mereka sedang mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga mereka itu untuk mengadu jiwa, demi menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenaug pada akhirnya !

Namun, sebagai seorang jago silat yang telah kawakan, maka sekali pandang saja, Wong Tie Hian segera juga mengetahui bahwa Han Han terdesak di bawah angin, dan dia terdesak sekali, agak kewalahan.

Menyaksikan itu, Wong Tie Hian jadi tambah gelisah lagi.

Entah berapa kali dia melirik kearah Thio See Ciang, dia mengharap-harap orang she Thio yang menjadi Kauw-coe dari Pek Bwee Kauw itu lengah, dan dia akan bisa menggunakan kesempatan untuk membantu Han Han mengepung si Seruling Haus darah !

Tetapi Thio See Ciang ternyata licik sekali.

Thio See Ciang bukan saja kepandainnya juga kosen, pun otaknya licin sekali, cerdas luar biasa.

Pandangan matanya tidak pernah terlepas dari Wong Tie Hian, dan setiap kali orang she Wong itu melirik padanya, maka Thio See Ciang selalu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Hal ini menambah kemendongkolan Wong Tie Hian, si jago tua she Wong jadi gusar dan mendongkol. Namun Wong Tie Hian bergusar atau mendongkol tanpa daya, karena dia memaklumi dan menyadarinya bahwa kepandaiannya masih berada di bawah Han Han, dan dengan sendirinya dengan terjunnya dia ke dalam gelanggang pertempuran mungkin hanya akan menambah kerepotan Han Han untuk melindungi dirinya.

Maka dari itu, dari bersangsi, akhirnya Wong Tie Hian jadi mengambil kepatusan yang tetap.

Dia jadi tenang kembali.

Dia telah mengambil keputusan tidak akan turun kegelanggang pertempuran dulu, dia hanya akan meayaksikan dulu bagaimana perkembangan selanjutnya. Kalau memang Han Han benar-benar mengalami cidera, mau tak mau dia akan mengadu jiwa demi membela Han Han.

Maka dari itu, dengan tenangnya pikiran jago tua itu, dia bisa memandang dan mengikuti jalannya pertempuran dengan baik sekali.

Adalah Han Han yang repot sekali setiap kali mengelakkan setiap serangan Hiat Tiok Sian Jin.

Setiap serangan dari si Seruling Haus Darah itu sangat berbahaya sekali, mematikan dan bisa membahayakan jiwa.

Sekali saja terserang, pasti Han Han akan terbinasakan di saat itu juga !

Harus diketahui, selain tenaga Lwee-kang Hiat Tiok Sian Jin sangat sempurna, pun setiap jurus serangannya itu selalu mengincar tempat-empat yang berbahaya, pula selalu mengiucar jalan darah yang mematikan !

Maka dari itu, Han Han tidak bisa memandang enteng atau membuat main begitu saja !

Mau atau tidak dia juga harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk menangkis atau mengelakkan setiap serangan dari Hiat Tiok Sian Jin.

Adalah si-kakek yaag bergelar si Seruling Haus Darah itu, dia juga dicengkeram oleh kebimbangan dan kegelisahan.

Entah sudah berapa ratus jurus dilewatkan, tetapi tetap saja dia tidak bisa merobohkan Han Han dan tidak bisa merebut kemenangan dari pertempuran itu !

Inilah luar biasa sekali !

Di dalam sejarah hidupnya, Hiat Tiok Sian Jin baru kali ini mengalami hal serupa ini!

Biasaaya tidak pernah lebih dari seratus jurus, pasti lawannya akan dapat dirobohkannya !

Tetapi sekarang, setelah lewat empat ratus jurus lebih, dia masih tidak dapat merobohkan Han Han!

Malah yang lebih hebat lagi, yang membuatnya jadi malu pada dirinya, malu berbareng gusar dan mendongkol, Han Han hanyalah merupakan seorang bocah bau pupuk di dalam pandangan matanya.

Semakin dipikir, semakin mendongkol saja Hiat Tiok Staa Jia dan darahnya juga semakin bergolak.

Maka dari itu, serangan-serangannya jadi semakin hebat dan semakin kuat. Dia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Yang repot dan keripuhan adalah Han Han, dia jadi gugup menerima serangan-serangan yang mematikan dan sangat hebat dari si Seruling Haus Darah ita.

Pernah, Han Han pada suatu kali harus bergulingan di tanah, demi menghindarkan tendangan berantai dari si iblis tua Seruling Haus Darah tersebut.

Namun, belum lagi Han Han bangun berdiri, Hiat Tiok Sian Jin telah mengejarnya, telah menyerangnya lagi dengan hebat!

Wong Tie Hian melihat itu, dia menjerit kaget dan akan melompat maju. Tetapi tiba-tiba dia teringat kepada Thio See Ciang.

Waktu dia menoleh kepada Kauw coe Pek Bwee Kauw itu, maka dilihatnya See Ciang sedang mengawasi dirinya sambil tersenyum penuh arti.

Dengaa sendirinya Wong Tie Hian mengerti maksud dari senyum orang she Thio itu.

Kalau memang Tie Hian menyerang maju untuk membela Han Han, terang hal itu akan dihalang-halangi oleh Kauw-coe Pek Bwee Kauw itu.

Maka, alangkah gusarnya Tie Hian.

Tetapi, waktu dia akan berlaku nekad untuk menerjang maju juga, dia melihat Han Han telah berhasil mengelakkan serangan-serangan Hiat Tiok Sian Jin yang terakhir, malah anak muda she Han itu telah dapat berdiri lagi dan saling bertempur dengan hebat dengan si-kakek Seruling Haus Darah !

Wong Tie Hian menarik napas lega.

Dia jadi membatalkan maksudnya akan membantui si-anak muda she Han

itu.

Dengan sendirinya Tie Hian jadi berdiri menjublek menyaksikan

pertempuran antara Hiat Tiok Sian Jin dengan Han Han yang semakin lama jadi semakin hebat !

Kedua beiak pihak belum ada yang kalah hanya baru tampak Han Han agak terdesak.

Tetapi itupun bukan berarti bahwa Han Han akan terjatuh di dalam tangan Hiat Tiok Sian Jin, karena di dalam pertempuran itu juga, Hiat Tiok Sian Jin sendiri jadi kewalahan dan was-was akan kalah atau dirobohkan oleh Han Han !

Maka dari itu, tidak pernah Hiat Tiok Sian Jin memberikan kesempatan kepada Han Han untuk bernapas.

Dia selain meIancarkan serangan berangkai, yang menyebabkan Han Han harus mengerahkan tenagaaya menangkis atau mau kelit setiap serangan orang. Tetapi, dengan berbuat begitu, sebetulnya Hiat Tiok Sian Jin telah melakukan suatu kesalahan, suatu kesalahan yang tidak bisa disebut kecil!

Mengapa ?!

Karena dengan menyerang secara bernafsu dan secara berangkai terus menerus, itu memakan banyak tenaganya, apa lagi usia Hiat Tiok Sian Jin sudah agak lanjut, maka dari itu, tidak heran, semakin lama semangatnya semakin berkurang, dan juga napasnya telah memburu hebat !

Hal itu disadari oleh Hiat Tiok Sian Jin setelah kasip dan terlambat. Berbeda dengan Han Han.

Semakin bertempur semangatnya jadi semakin terbangun dan keletihan jadi lenyap pada dirinya.

Dia adalah seorang anak muda, yang sedang mempunyai tenaga kuat dan semangat yang luar biasa.

Maka dari itu, semakin lama semakin tampak, bahwa Hiat Tiok Sian Jin berbalik jadi terdesak oleh Han Han.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

(Bersambung)