Seruling Haus Darah Jilid 07

 
Jilid 07

KHU SIN HOOO Jiauw Pie Jie-lay yang sejak kedatangan keenam orang itu, jadi berdiri menjublek seperti orang kesima, dan dia jadi terkejut waktu melihat Han Han dihajar terpental oleh Han Hoe-jin, ibunya si

bocah itu, dia sampai mengeluarkan seruan dan melompat ke arah si bocah. Pada saat itulah Han Han sedang melompat bangun untuk menubruk dan memeluk Han Hoe-jin lagi, maka Khu Sin Hoo mengulurkan tangannya menjambret tangan si bocah. yang dicekalnya erat-erat.

"Han-jie     '!" bentaknya keras.

Tapi Han Han berontak dari cekalan Jiauw Pie Jie-lay sambil menangis, "Lepaskan! Lepaskan aku !" teriaknya di antara sendat tangisnya. "Ma ! Ini

Han-jie, Ma ! Ma! Maaaa !!"

"Han Han ..... !" bentak Khu Sin Hooo lagi sambil mengerutkan sepasang alisnya, dia mempererat cekalannya agar si bocah tak dapat terlepas dari cekalannya, "Dengarlah Han-jie.....! Orang-orang itu gila semua..... diamlah Han- jie ! "

"Lepaskan ! Lepaskan !!" teriak Han Han kalap. "Itu ayah dan ibuku !! Lepaskan .....! Maaa ! Ini Han-jie, Ma !!" dan si bocah, meronta terus, tapi mana dia bisa melepaskan cekalan Jiauw Pie Jie Lay Khu Sin Hooo, seorang tokoh persilatan yang mempunyai kepandaian luar biasa itu ?

Khu Sin Hooo sendiri jadi melengak mendengar perkataan si bocah, dia sampai mengawasi keenam orang itu dengan tubuh menjublek.

Pada saat itu Han Swie Lim dan yang lain-lainnya telah menari-nati sambil tetap mengeluarkan suara tertawa yang menyeramkan, sebentar pendek, lalu disusul dengan suara tertawa yang panjang sekali, yang dapat mendirikan bulu tengkuk.....mata mereka juga melancarkan sinar yang mengerikan. Mereka sudah tak mengenali Han Han lagi, mereka juga tak mengetahui lagi bahwa bocah itu sebetulnya adalah putranya sendiri ..... semua itu disebabkan karena mereka telah gila. !

Kasihan bocah she Han itu !!

Mungkin saking sedih dan berduka melihat keadaan kedua orang tuanya dan keempat murid ayahnya itu, lagi pula dia tak bisa melepaskan cekalan tangan Khu Sin Hooo, maka setelah meronta sesaat lamanya lagi, setelah mengeluarkan suara keluhan, dia rubuh pingsan dengan air mata masih membanjiri pipinya !

Orang tua she Khu itu sendiri jadi terkejut waktu melihat bocah she Han tersebut jatuh pingsan tak sadarkan diri, cepat-cepat dia membawanya ketepi jalan dan merebahkannya di rumput yang banyak bertumbuhan di sekitar daerah tersebut.

Sedangkan Han Swie Lim dan kelima orang gila lainnya itu jadi berlompat- lompat sambil menghampiri, lalu mengiringi Khu Sin Hoo dan Han Han.

Jiauw Pie Jie Lay Khu Sin Hoo jadi mendongkol waktu melihat Tang Siu Cauw mengulurkan tangannya untuk menjambak rambut Han Han, orang she Khu ini mengeluarkan seruan marah, kemudian menggerakkan tangannya mengibas dengan ujung lengan jubahnya, maka tanpa ampun lagi Tang Siu Cauw terpental dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyeramkan, kemudian ambruk di tanah dengan menjerit-jerit kesakitan.

Han Swie Lim dan orang-orang lainnya yang gila itu jadi mendelik pada Khu Sin Hooo dengan tatapan mata yang bengis, tahu-tahu orang she Han dan Han Hoe-jin telah melompat berbareng menggerakkan tangan mereka menyerang Khu Sin Hoo.

Ternyata, walaupun mereka telah gila, tokh kepandaian ilmu silat mereka tidak hilang. Dengan secara mambabi buta Han Hoe-jin dan suaminya itu menyerang Khu Sin Hoo, tapi setiap serangannya pasti menimbulkan angin serangan yang keras sekali dan berbahaya. Coba kalau yang menghadapi suami- isteri gila itu manusia biasa, pasti orang itu akan hancur kepalanya terhajar oleh tangan Han Swie Lim serta isterinya itu.  !

Tapi bagi Khu Sin Hoo lain. Mana dia anggap kepandaian yang dimiliki oleh Han Swie Lim dan Han Hoe-jin ?! Maka dari itu, melihat orang menyerang dirinya, bukannya dia menyingkir, malah Khu Sin Hoo menggerakkan tangannya menangkis kedua serangan itu, dan di saat terdengar suara 'Dukkk!' dua kali yang keras, maka tampak tubuh Han Swie Lim dan Han Hoe-jin terpental.

Khu Sin Hooo cepat-cepat mengurut tubuh Han Han untuk membikin si bocah tersadar, sedangkan Han Swie Lim dan Han Hoe-jin telah ambruk di tanah sambil menjerit-jerit kesakitan dan memegangi tangan mereka yang dirasakan sakit luar biasa dan tulang-tulang tangan mereka dirasakan seperti mau patah !

Namun, ketika mereka bangun kembali, mereka telah tertawa-tawa sambil menari-nari. Han Swie Lim sendiri telah berteriak-teriak: "Thian mau bertamasya .....! Thian mau berangkat ! Hayo siapa yang mau ikut ?!"

"Hek-seng ingin ikut bersama Thian !!" Tang Siu Cauw dan ketiga Soe- teenya telah berteriak dengan suara yang keras, mereka membahasakan diri Hek- seng, murid, yang biasanya dipergunakan oleh sastrawan.

Han Swie Lim telah tertawa keras.

"Bagus ! Bagus! Mari kita berangkat ! Hayo kita berangkat!!" dan setelah berteriak begitu, Han Swie Lim menjejakkan kakinya, mencelat jauh sekali meninggalkan tempat itu. Kelima orang gila lainnya juga ikut menjejakkan kaki mereka dan tubuh mereka mencelat pesat menyusul Han Swie Lim !

Khu Sin Hoo jadi menarik napas melihat kelukan enam orang gila itu. Dia sangat berduka, diawasinya wajah Han Han yang masih terbaring di atas rumput, wajah bocah itu pucat sekali, disudut matanya tampak bekas-bekas air mata yang sudah mulai mengering. Keadaannya harus dikasihani. Muka bocah tersebut telah berubah kehijau-hijauan, gelap-kelabu. Dan, dengan keadaannya, demikian, maka menandakan bahwa jiwa bocah she Han itu sedang dalam keadaan yang sangat gawat sekali.

Setelah menarik napas berulang kali, maka Khu Sin Hoo mengulurkan tangannya me notok jalan darah Ciang-hie-hiatnya si bocah. Tepat totokan jago tua she Khu tersebut, karena begitu jalan darahnya si bocah tertotok, tampak seketika itu juga tubuh si bocah bergerak-gerak perlahan sekali, wajahnya juga berangsur- angsur berobah merah,

Khu Sin Hoo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan hati berduka waktu melihat keadaan si bocah. Semakin cepat bocah ini tersadar, maka bathin kematian yang mengancam dirinya akan semakin cepat menjelang datang. Semua ini disebabkan semakin pendek jarak antara pingsan dan sadar, dan akan menyebabkan semakin cepatnya saat-saat kematian si bocah, dia tak akan tahan melawan serangan Im dan Yang yang sedang mengamuk di dirinya. Lebih-lebih sekarang dia mendapat pukulan bathin yang hebat, menyaksikan keadaan orang tuanya yang telah gila, dan tak mengingatnya lagi dirinya sebagai putra mereka. Sebagai seorang bocah yang baru berusia di antara sepuluhan tahun, sebetulnya apa yang telah dialaminya selama itu luar biasa sekali dan tak wajar, karena biar bagaimana kuatnya daya tahan dari tubuh seorang bocah, tokh dia masih tetap seorang bocah cilik yang lemah. Jago tua she Khu itu sendiri, sangat kebingungan, dia ingin sekali menyalurkan tenaga Lwee-kangnya untuk membantu bocah itu menggempur dan melawan dua serangan hawa Im dan Yang yang mengendap dalam tubuhnya si bocah, tapi tokh dia jeri kalau-kalau sampai hal itu malah nanti membuka jalan darah Thay-yang-hiatnya si bocah, sehingga hawa Im dan Yang dapat menerobos ke dalam jalan darah itu dan kalau sampai hal itu terjadi, tentu jiwa si bocah tak akan tertolong lagi. Itulah sebabnya, sampai detik itu, orang tua she Khu itu hanya berani memberikan pertolongan darurat belaka, dengan jalan memberikan beberapa totokan saja kepada bocah she Han tersebut.

"Di.....di mana kita, Tay-soe?" tanya Han Han waktu dia membuka rnatanya melihat Khu Sin Hoo. Matanya memancarkan perasaannya yang sedang dalam kebingungan dan keadaan si bocah harus dikasihani benar.

"Tenanglah Han-jie. berbaringlah se saat lagi untuk mengasoh! Kau terlalu

letih !!" bujuk Khu Sin Hoo terharu.

Akan tetapi, baru saja jago tua she Khu tersebut berkata begitu, tiba-tiba Han Han telah melompat dan berteriak seperti orang kalap.

"Mana ayahku? Mana ? Mana ibuku? Mana Thia-thiaku ?" dan bocah ini berlari-lari.

Khu Sin Hooo jadi terperanjat, dia melompat untuk menubruk dan mencekal lengan si bocah erat-erat.

"Han-jie. ! Tenang Han-jie!!" bentaknya dengan suara yang keras.

"Lepaskan!! Lepaskan.! Aku ingin mencari ibu dan ayanku!" teriak Han Han seperti orang kalap. "Lepaskan.....! Ohlepaskanlah. !!"

Khu Sin Hoo jadi terharu sekali melihat keadaan si bocah demikian macam, hampir saja dia meneteskan air mata. Dirangkulnya bocah itu dengan lembut dan penuh kasih-sayang.

"Tenanglah Han-jie.   tenanglah! Duduklah'!" bujuk Khu Sin Hoo.

"Tidak ! Aku mau mencari ibu dan ayahku ! Lepaskan. !" teriak Han Han.

"Ya, ya, ya, kita akan mencari ayah dan ibumu!! Tenanglah nak..... !" bujuk Khu Sin Hoo.

Tapi si bocah yang sedang dalam keadaan kalap seperti itu mana bisa dibujuk dan ditenangkan ?! Dia malah meronta-ronta sambil menangis.

Khu Sin Hooo membujuk beberapa kali lagi, sampai akhirnya setelah berselang sesaat, rupanya orang she Khu tersebut habis sabar, tahu-tahu dia mengayun tangannya, dan, ..... plaaakkk !' si bocah she Han telah di tamparnya keras-keras.

"Anak Han. kau mau diam tidak?" bentaknya dengan alis berkerut.

Han Han waktu ditampar oleh Khu Sin Hoo, dia jadi kaget, sampai tangisnya terhenti mendadak. Dia tak menduga bahwa Kho Sin Hooo akan menamparnya, maka itu dia jadi memandang Khu Sin Hooo seperti orang kesima, air matanya mengalir dipipinya, dia jadi menangis tak bersuara.

Melihat keadaan si bocah, Khu Sin Hooo jadi menyesal telah menamparnya, dia terharu sekali, sampai tanpa disadarinya air mata telah membasahi kedua pipinya. Dipeluknya Han Han.

"Anak Han. ! Anak Han !!" katanya dengan suara yang parau. "Loo-lap tak

sengaja menyakiti dirimu!! Maafkanlah Loo-lap !!"

Han Han juga telah memeluk Khu Sin Hooo juga.

"Ya..... aku memang mengetahui dan merasakan apa yang diderita olehmu, anak Han!" kata Khu Sin Hooo. "Mulai besok sambil menuju ke Hong-san, kita akan mencari juga kedua orang tuamu itu untuk berusaha mengobatinya, agar pikiran mereka kembali menjadi waras !"

"Oh Tay-soe.....budimu terlalu besar dan entah bagaimana aku harus membalasnya nanti .....?!" keluh Han-jie gembira air matanya masih menitik membasahi pipinya, matanya memandang Khu Sin Hooo dengan tatapan berterima kasih.

"Mari kita lanjutkan perjalanan lagi " kata Khu Sin Hoo.

Han Han mengangguk sambil tersenyum dengan butir-butir air mata membasahi pipinya!

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 18

MALAM itu Khu Sin Hoo dan Han Han bermalam di-Kung-an-chung, sebuah kampung y mg cukup besar dan ramai. Mereka bermalam dipenginepan dimana orang-Cong Wie Piauw-kok juga menginap disi-tu. Waktu Khu Sin Hoo dan Han Han memasuki rumah penginepan itu tadi, orang-orang Cong Wie Piauw- kiok yang sedang berkumpul diruangan muka rumah penginepan itu hanya melirik saja, lalu tak mengacuhkan orang tua she Khu dan Han Han.

Waktu berada di dalam kamar, Jiauw Pie Jie-lay berulang-kali menarik napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Han Han melihat kelakuan jago tua she Khu tersebut, dia menanyakannya. "Hmmm..... piauw yang sedang mereka kawal sedang diincer oleh orang-

orangnya Pek Bwee Kauw, tapi mereka masih tak mengendusnya!" Khu Sin Hoo menerangkan sambil tertawa tawar. "Biar apa saja yang terjadi nanti, Loo-lap tak nantinya turun tangan untuk membantu pihak piauw itu, paling-paling juga Loo-lap memberikan kisikan saja pada mereka !!"

"Mengapa begitu Tay-soe ?" tanya Han Han heran.

"Hmmm ..... selama merantau dalam dunia persilatan, selama limapuluh tahun ini, entah sudah berapa banyak orang yang kutolong dari kesulitan mereka, tapi rata-rata semuanya membalas kebaikanku itu dengan kebalikkannya, air susu dibalas dengan air tuba.....-! Hmm, tadi saja, orang-orang Pek Bwee Kauw, Thian- san Siau-eng, bisa diambil contoh.....pada hari itu kita telah menolongnya dari tangan orang-orangnya Mo-in-shia, tapi tokh mereka malah mempergunakan tipu daya untuk mencelakaimu, Han-jie !"

"Tapi Tay-soe .....sebetulnya persoalan si tabib dan Thian-san-sian-eng tak ada sangkut pautnya dengan orang-orang Piauw ini, maka tak ada salahnya kalau memang orang-orang Piauw dari Cong Wie Piauw-kiok itu mengalami kesulitan, Tay-soe mengulurkan tangan untuk menolongnya dari orang-orang jahat itu."

Khu Sin Hooo melengak mendengar perkataan si bocah, tapi hanya sesaat, karena kemudian dia telah tertawa lebar. Ditepuk-tepuknya bahu si bocah.

"Bagus! Bagus! Ternyata hatimu mulia sekali, Han-jie ! " pujinya. "Aku girang melihat keluhuran budimu, karena biarpun kau dalam keadaan menderita sekali, sedang terserang oleh hawa Im dan Yang yang entah kapan baru dapat dilenyapkan, tapi tokh kau masih memikirkan keselamatan orang lain ! Bagus ! Karena ini memang permintaanmu, maka Loo lap bersedia untuk membantu orang- orang dari Cong Wie Piauw-kiok kalau mereka menemui kesukaran !"

Han Han tertawa gembira, dia cepat-cepat mengucapkan terima kasih.

Kemudian mereka, sang Hwee-shio dan si bocah itu, masing-masing mengasoh.

Ketika menjelang kentongan kedua, Khu Sin Hooo telah memberitahukan kepada Han Han bahwa penjahat-penjahat yang mengincer Piauw yang sedang dikawal oleh Ciong Wie Piauw Kiok, mungkin malam ini akan bekerja. Karena telah berpengalaman dan banyak memakan asam garamnya dunia persilatan, juga merupakan seorang tokoh dari ketujuh jago luar biasa itu, maka Khu Sin Hooo telah mempunyai perasaan yang tajam luar biasa sekali.

Sebetulnya Han Han tak mernpercayai keterangan Hwee-shio itu, tapi dia tak mau membantah atau berdebat. Dia hanya mengiyakan saja. Dalam anggapan si bocah, walaupun Khu Sin Hooo seorang beribadat, tapi tokh dia bukanlah seorang peramal yang dapat menentukan sesuatu yang belum terjadi.

Akan tetapi, dugaan Jiau Pie Jie-lay ternyaia tepat. Karena malam itu, rumah penginapan tersebut telah dikurung oleh orangnya Pek Bwee Kauw. Dan, Han Han tersadar dari tidurnya dikala dia mendengar suara bentakan-bentakan yang nyaring serta bengis. Waktu si bocah menoleh kepembaringan Khu Sin Hooo, dilihatnya Jiauw Pie Jie-lay sedang duduk bersemedi dan sedang menatapnya dengan tersenyum.

"Mereka telah datang, Han-jie. !" kata Khu Sin Hooo perlahan.

Han Han mengangguk, dia turun dari pembaringannnya dan menghampiri orang tua she Khu itu.

"Suara mereka amat bengis, Tay-soe!" kata bocah ini. "Mungkin orang- orang Piauw-kiok itu sedang mengalami kesulitan."

Khu Sin Hoo mengangguk.

"Benar.....! Selain jumlah mereka banyak, pun terdiri dari orang-orang kosen.....mungkin orang-orang Piauw-kok itu akan tergempur dan barang kawalan mereka akan ke-rampas. !" menyahuti Khu Sin Hooo.

"Mengapa Tay-soe tak cepat-cepat menolongnya?'' tanya Han Han gelisah.

Khu Sin Hoo tersenyum lagi, dia hanya mengangguk-angguk dan tak menyahuti.

"Tay-soe.   "panggil Han Han tambah gelisah.

"Belum waktunya!" menyahuti si paderi sambil tetap tersenyum. "Pergilah kau kembali kepembaringanmu."

Si bocah masih ingin mendesak Khu Sin Hooo agar cepat-cepat menolong orang-orang Cong-Wie Piauw-kiok, tapi melihat Khu Sin Hooo mengibaskan tangannya, terpaksa dia kembali kepembaringannya.

Suara orang-orang yang sedang bertempur di luar kamar terdengar berisik sekali. Terdengar juga benturan-benturan senjata tajam dan suara jeritan yang mengerikan. Rupanya banyak yang terluka. Han Han yang mendengar suara berisik itu. jadi tambah gelisah. Dia sering melirik Khu Sin Hooo, yang dilihatnya sedang duduk tenang-tenang. Entah berapa kali si bocah tak dapat mengendalikan perasaannya dan ingin menghampiri orang tua she Khu itu, untuk memintany a agar cepat-cepat menolong orang-orang Cong Wie Piauw-kok.

Khu Sin Hooo sendiri melihat kegelisahan yang sedang meliputi diri si bocah, dia hanya tersenyum. Sampai ketika terdengar suara jeritan yang menyayatkan menggema di sekitar tempat itu terdengar nyaring sekali dan mengerikan, barulah Sin Hooo melompat dari pembaringan dan keluar dari kamarnya. Han Han juga cepat-cepat mengikuti di belakang si Hweesio menuju ke luar dari kamar itu.

Begitu berada di luar kamar, Han Han dan Khu Sin Hooo menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Mayat-mayat bergelimpangan dan darah merah menggenangi lantai rumah penginapan. Kasir dan pelayan rumah penginapan telah bersembunyi di-kolong-kolong meja dengan tubuh menggigil ketakutan. Sedangkan orang-orang Cong Wie Piauw-kiok telah terkurung ketat oleh orang- orang Pek Bwee Kauw. Tampak, pula di situ Hauw loo-tangkeh dan jago-jago kosen Pek Bwee Kauw lainnya, yang berdiri menghadang di depan pintu untuk mencegah orang-orang Piauw-kiok melarikan diri.

Begitu melihat Khu Sin Hooo dan Han Han keluar dari dalam kamar, Hauw Loo-tangkeh Cin Sia Ong dan orang-orangnya hanya melirik saja, lalu mereka tak mengambil perduli pada Hwee-shio dan si bocah.

Khu Sin Hooo waktu melihat orang-orang Piauw-kiok yang telah tinggal delapan orang itu sedang melindungi kereta barang mereka yang akan direbut oleh orang-orang Pek Bwee Kauw, dia hanya tersenyum dingin, lalu tahu-tahu tubuhnya berkelebat cepat kearah gelanggang pertarungan. Kedua tangannya bergerak-gerak dengan cepat sekali, dibarengi oleh suara jerit kesakitan dari orang-orang Pek Bwee Kauw yang sedang mengurung orang-orangnya Cong Wie Piauw-kiok itu, tubuh orang-orang Pek Bwee Kauw terpental dan ambruk dilantai tanpa dapat berkutik lagi. Mereka semuanya telah tertotok.

Hauw Loo-tangkeh dan jago-jago kosen dari Pek Bwee Kauw waktu melihat hal itu, mereka jadi berseru terperanjat, dan ketika melihat orang yang menggempur kepungan anak buahnya itu terhadap orang-orangnya Cong Wie Piauw-kiok adalah si Hwee-shio yang tadi keluar dari dalam kamar, wajah mereka jadi berubah bengis. Dengan gesit Hauw Loo-tangkeh telah berada di hadapannya. "Siapa kau kepala gundul?" bentak Hauw Loo-tangkeh kasar. "Mengapa kau mau mencampuri urusan kami ?!"

Khu Sin Hoo ketawa tawar.

"Hmm.....di tempat ramai kau masih berani membegal !" katanya dingin. "Walaupun setan-iblis neraka, tapi biar bagaimana hari ini Loo-lap harus membuka pantangan membunuh. kalian harus dilenyapkan dari permukaan bumi !!"

Wajah Hauw Loo-tangkeh jadi merah padam, dia membentak sambil menyerang dengan tangannya. Angin serangannya sangat kuat sekali.

Jiauw Pie Jie-lay Khu Sin Hoo mana pandang sebelah mata pada Hauw Loo- tangkeh Cin Sia Ong ?! Maka dari itu, di kala serangan orang akan tiba di dirinya, Khu Sin Hoo mengibaskan tangannya dan terdengar suara jeritan yang menyayatkan, tubuh Cin Sia Ong tampak terpental dan ambruk di lantai rumah penginapan dengan tangan patah dan kepala remuk. Arwahnya sudah lantas terbang ke dunia barat !

Orang-orang Pek Bwee Kauw lainnya jadi terkejut melihat Hauw Loo- tangkeh terbinasakan dalam keadaan begitu. Mereka cepat-cepat mengurung Khu Sin Hoo. Malah Bo Cin dan Cie Siang, telah maju menyerang Khu Sin Hoo sambil membentak :

"Hwee-shio gundul ! Kau mencari mampus ?!" dan kedua tangan mereka telah menyerang dengan hebat.

Kedua orang Pek Bwee Kauw ini mana dapat melukai Khu Sin Hoo ? Sedangkan Hauw Loo-tangkeh, yang kepandaiannya tinggi dan kosen melebihi kedua anak buahnya itu, masih dapat dibinasakan dengan begitu mudah oleh Khu Sin Hoo. Maka dari itu, dia jadi ketawa tawar dan mengibaskan kembali lengan jubahnya. Dengan cepat, tampak tubuh Bo Cin dan Cie Siang terpental dengan mengeluarkan jeritan yang mengerikan.

Waktu tubuh kedua orang tersebut ambruk di lantai, arwah mereka menyusul Hauw Loo-tangkeh, mereka terbinasakan dengan cara yang penasaran sekali, karena mereka tak mengetahui dengan cara bagaimana Khu Sin Hoo membunuh mereka. Hanya, tampak kepala kedua orang itu, Bo Cin dan Cie Siang pecah keluar polohnya. !

Khu Sin Hoo ketawa dingin, dilihatnya semua orang-orang Pek Bwee Kauw dan orang-orang Cong Wie Piauw-kiok berdiri kesima menyaksikan kejadian yang hebat dan terjadi dalam beberapa detik itu. Mereka seperti melupakan keadaan sekeliling mereka. "Cepat kalian menggelinding sebelum Loo-lap merobah pikiran!!" bentak Khu Sin Hoo dengan suara yang bengis.

Dengan cepat orang-orang Pek Bwee Kauw tersadar, mereka mendelik pada si Hwee-shio, kemudian salah seorang merogo sakunya dan tahu-tahu tangannya, bergerak dengan cepat. Seulas sinar putih melesat cepat kearah Hwee-shio diiringi oleh bentakkan orang tersebut: "Mampuslah keledai gundul !!"

Khu Sin Hoo tadi melihat orang menggerakkan tangannya, dia duga orang menyerang dia dengan menggunakan senjata rahasia, maka dari itu waktu melihat seulas sinar putih menyambar padanya dengan cepat, dia mengegoskan ke samping, tangannya bergerak menghajar telak dada orang itu, sehingga dengan memperdengarkan suara 'kreeekkk !' yang n yaring, orang itu terpental dan ambruk dengan dada melesak, karena tulang-tulang dadanya telah hancur remuk dihajar oleh si Hwee-shio Jiauw Pie Jie-lay !

Cahaya putih yang dielakkan oleh Khu Sin Hoo telah meluncur terus dan menyambar kearah Han Han.

Khu Sin Hoo sendiri yang telah dapat menghajar orang yang melepaskan cahaya rahasia itu, jadi terkejut waktu melihat cahaya putih itu menyambar kearah Han Han.

"Ihhh !" seru Khu Sin Hoo sambil mencelat kearah Han Han untuk menyambar senjata rahasia yang dilepaskan orang itu, sebelum tubuhnya dapat mendekati, dilihatnya cahaya putih itu telah menyambar dekat sekali kepada Han Han yang berdiri kesima tak dapat mengelakkan.

Khu Sin Hoo jadi tambah gugup, dia mengibaskan lengan jubahnya dan serangkum angin serangan telah menyambar kearah cahaya putih yang menyambar itu. Tapi, senjata itu hanya oleng sedikit, tahu-tahu Han Han telah menjerit sambil melompat-lompat.

Khu Sin Hoo jadi merandek, dia melengak dan mengawasi dengan mata mendelong. Kepalanya seperti disiram oleh segayung air yang sedingin es.

Han Han sendiri, setelah menjerit-jerit sesaat lamanya sambil melompat- lompat, akhirnya rubuh terjungkel dan tak sadarkan diri.

Khu Sin Hoo jadi tersadar dan dengan hati yang kebat-kebit dia memeriksa keadaan si bocah she Han.

Darahnya jadi meluap waktu melihat ‘senjata rahasia' yang dilepaskan oleh orang tadi, karena ternyata itu bukan seoia-cam senjata rahasia, tapi 'Pek-coa', ular putih, yang sangat beracun sekali. Gigi ular putih yang tajam lancip itu telah terbenam dalam sekali di tangan si bocab she Han, rupanya ular putih tersebut yang terkenal akan Tok atau racunnya, telah menggigitnya keras-keras.

Dengan mengeluarkan seruan gusar. Khu Sin Hoo mengulurkan 'angannya meremas ular itu, diiemparnya xiiar yang telah mau seketika itujuga kesamping. Kemudian dengan cepat tangannya bergerak untuk roenotok beberapa jalan darah

.si-bocafa she Han untuk membendung menjalaniya racun ke-arah jantung Han Han.

Tapi, tubuh Han Han telah berubah hijau kehitam-hitaman. Mukanya juga telah bersemu hitam.

Hati Khu Sin Hoo jadi mencelos, dia mengeluh putus asa. Karena, .selain si bocah tergigit oleh ular Pek Coa yang terke nal akan keganasan racunnya, juga si bocah sedang menderita serangan hawa Im dan Yang yang akan menerobos ke jalan darah le-hiatnya dan kalau sampai racun Pek Coa itu ikut mengalir menerobos ke jalan darah le-hiat, jiwa si bocah akan habis sampai di situ saja, sebab biar bagaimana bocah itu hanya seorang anak manusia yang terdiri dari darah daging belaka,

yang tak akan kuat menerima serangan-serangan sari berbagai racun dan hawa Im dan Yang.

Diawasinya Han Han dengan air mata menitik dari pipinya, kemudian Khu Sin Hoo menjerit mengerikan, dia murka sekali. Tubuhnya melompat tinggi, kemudian tangannya bergerak-gerak, tahu-tahu lima orang Pek Bwee Kaow rubuh terjungkal. Mereka binasa seketika itu juga dengan kepala remuk. Kemudian disusul oleh empat orang Pek Bwee Kauw lagi, yang terbinasakan juga. Begitulah, saking murkanya Khu Sin Hoo telah membunuh orang Pek Bwee Kauw. Dia murka sekali, disebabkan oleh orang-orang Pak Bwee Kau itulah maka Han Han sampai tergigit oleh ular yang sangat beracun itu. Kemudian, setelah membunuh semua orang-orang Pek Bwee Kauw yang tak sempat melarikan diri itu, Khu Sui Hoo menjatuhkan diri dan menangis sambil menatap Han Han.

Orang-orang Cong Wie Piauw-kiok jadi berdiri kesima. Sebetulnya mereka ingin menyatakan terima kasih mereka, tapi tokh mereka tidak berani menghampiri si Hwee-shio karena wajah Khu Sin Hoo pada saat itu sangat menyeramkan sekali.

Lama juga Jiauw Pie-Jie Lay mengawasi Han Han, sampai suatu ketika, dilihatnya Han Han menggigil seperti orang kedinginan. Hati Khu Sm Ho jadi semakin pedih dia tahu, tak lama lagi tentu bocah itu akan mati dan arwahnya akan terbang menuju kepintu gerbang gedungnya Giam-lo-ong. !" Han Han waktu tadi merasakan tangannya tergigit oleh Pek Coa, ular putih yang dilepaskan oleh orangnya Pek Bwee Kauw itu merasakan seketika itu juga tangannya menjadi gatal, kemudian tubuhnya seperti digigit beribu-ribu ular, itulah yang menyebabkan bocah. she Han tersebut melompat-lompat seperti orang yang sedang hilang ingatannya. Kemudian, setelah melompat beberapa kali dia merasakan matanya nanar, pandangannya berkunang-kunang, setelah mengeluarkan suara keluhan yang lirih, dan merasakan tubuhnya panas sekali, dia rubuh terjungkal tak sadarkan diri.

Dan sekarang, di kala dia membuka matanya tersadar dari pingsannya, si bocah merasakan tubuhnya sangat panas sekali, hawa dingin dan panas bergabung menjadi satu dan berkumpul di dekat Tan-tian, pusarnya, kemudian mendesak ke arah dadanya, seakan-akan dadanya itu tak tahan lagi akan desakan hawa yang begitu kuat dan bocah she Han tersebut merasakan dadanya seperti mau meledak !

Dengan mengeluarkan seruan yang lirih dia melompat bangun dan melompat tinggi sekali, setinggi empat tombak ! Sambil melompat, dia menjerit sekuat- kuatnya, seakan-akan ingin menyalurkan desakan hawa yang berkumpul di Tan- tiannya dan menyesakkan dadanya, kemudian di saat tubuhnya meluncur turun dan dia dapat berdiri tegak, dia tertawa keras sekali, menggoncangkan rumah penginapan tersebut. Suara tertawanya si bocah luar biasa sekali, dapat diumpamakan runtuhnya langit dan melesaknya bumi!

Khu Sin Hoo sendiri jadi berdiri kesima. Sejak tadi dia menyaksikan kelakuan bocah she Han yang luar biasa itu, sampai akhirnya dia jadi tambah terkejut waktu menyaksikan Han Han melompat setinggi empat tombak dan kemudian.tertawa dengaa suara yang luar biasa.

Dan yang apes adalah dua orang Cong Wie Piauw-kiok. Sedang Khu Sin Hoo Berdiri kesima, adalah dua orang Cong Piauw-kiok itu rubuh terjungkal. mereka tak tahan mendengar suara tertawa Han Han, dan malah nanti begitu mereka tersadar, mereka akan menjadi orang cacad, karena mereka akan menjadi tuli, yang tak dapat mendengar lagi. Selaput gendang telinga mereka telah pecsh. Sedangkan yang enam orang Cong Wie Piauw-kiok lainnya telah berdiri dengan wajah yang pucatdan menutupi telinga dengan kedua tangan mereka. Berhubung kepandaian mereka lebih tinggi kalau dibandingkan dengan kedua kawan mereka yang rubuh itu, maka mereka masih dapat berdiri tegak tak rubuh. Lama juga Han Han tertawa begitu sampai akhirnya dia berhenti dan berdiri tegak dengan mata mendelong. Dadanya dirasakan lapang dan tubuhnya segar sekali. Wajahnya telah berubah merah kembali.

Khu Sin Hoo cepat-cepat menghampiri si bocah. "Apa yang telah terjadi, Han-jie ?" tanya jago tua ini heran,

Han Han menggelengkan kepalanya. "Entahlah!!" dia menyahuti karena dia sendiri juga heran akan kejadian yang telah menimpa dirinya. "Tapi. tapi,

tubuhku jadi ringan, Tay-soe, lihatlah.....aku dapat melompat setinggi ini!" dan Han Han melompat lagi, dia memang dapat melompat setinggi empat tombak lebih! Luar biasa sekali !!

Khu Sin Hoo sendiri jadi tak mengerti. Mengapa bisa terjadi peristiwa yang aneh begitu ?!

Ternyata, karena digigit oleh Pek Coa, ular putih, yang terkenal akan keganasan racunnya, maka racun itu mengamuk di dalam tubuh si bocah she Han tersebut. Biasanya setiap orang yang terkena racun ular Pek Coa, maka jiwanya tak dapat tertolong lagi, karena racun ular putih tersebut bekerja cepat sekali dan dalam dua atau tiga detik si korban pasti akan melayang nyawanya. Akan tetapi berlainan apa yang telah terjadi di diri Han Han. Karena dia sedang menderita dua serangan hawa Im dan Yang, hawa panas dan dingin, maka begitu racun menjalar di dalam tubuhnya mengikuti aliran darah, racun itu jadi saling tempur dengan kedua macam hawa murni, dingin dan panas yang sedang mengendap di dalam tubuh si bocah dan menyebabkan serangkum hawa panas dan dingin berkumpul di tan-tian Han Han untuk memberikan perlawanan pada racun ular Pek Coa itu. Sampai akhirnya, karena hawa dingin dan panas itu adalah hawa murni, maka racun ular jadi punah dan pada saat itulah kedua hawa Im dan Yang menerobos masuk kedalam Tay-yang-hiat dan berkumpul di situ. Coba kalau tak ada racun ular yang mengalir di dalam darahnya, tentu Han Han akan binasa, tapi di sebabkan racun ular Pek Coa itu, walaupun kedua macam hawa murni yang berlawanan itu telah berkumpul di Tay-yang-bi-atnya melalui Ie-hiat, tokh dia masih dapat hidup, karena kedua hawa murni itu telah berobah menjadi semacam hawa yang luar biasa, menyebabkan Han Han seperti juga seorang jago yang telah memakan masa latihan selama lima puluh tahun ! Lwe-kang bocah ini luar biasa sekali, tanpa disadari, dia telah menjadi seorang jago Lwee-kang tenaga dalam, yang benar-benar ajaib ! Khu Sin Hoo menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti, waktu Han Han telah meluncur turun, dia menepuk-nepuk bahu si bocah.

"Apa yang kau rasakan Han-jie?" tegur jago tua she Khu ini. Han Han menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Segar Tay-soe.....tak ada gangguan pada diriku lagi ! " Menyahuti si bocah

ini.

Khu Sin Hoo menatap Han Han dengan pandangan dan mempercayai

perkataan si bocah, tapi tokh dia juga tersenyum.

"Mari kita kembali ke kamar!" katanya sambil menarik tangan si bocah. Han Han mengangguk.

"Bagaimana dengan orang-orang Cong Wie Piauw-kiok, Tay-soe?" tanya si bocah she Han.

"Beres !" menyahuti Khu Sin Hoo. "Para pembegal semuanya telah kubinasakan!!"

Mereka kembali ke dalam kamar tanpa memperdulikan keenam orang Cong Wie Piauw-kiok yang sedang menatap mereka dengan pandangan heran dan kagum, juga mata keenam orang Cong Wie Piauw-kiok ini memancarkan rasa terima kasih. Sampai di saat Khu Sin Hoo dan Han Han telah lenyap dari pandangan mereka, keenam orang Cong Wie Piauw-kiok tersebut ramai membicarakan kejadian yang luar biasa tadi. Sedangkan pelayan rumah penginepan baru berani keluar untuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan keenam orang Cong Wie Piauw-kiok juga mengurus mayat kawan-kawan mereka......

Khu Sin Hoo waktu telah berada di dalam kamar, dia memeriksa keadaan luka di tangan Han Han, dilihatnya luka di tangan bocah itu tak meninggalkan tanda ya»g luar biasa hanya tampak dua luka kecil bekas gigitan ular Pek Coa. Selain itu tak tampak tanda-tanda yang luar biasa.

Khu Sin Hoo juga memeriksa peredaran darah si bocah. Dia menempelkan tangannya pada punggung Han Han, menyalurkan Lwee-kang pada Han Han. Tapi, dia begitu mengerahkan tenaga dalamnya, begitu hatinya mencelos. Wajahnya juga berubah pucat.

Mengapa ?!

Ternyata, di saat Khu Sin Hoo mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, tenaga dalamnya itu mengalir menerobos kedalam tubuh si bocah dengan lancar. Bukan itu yang mengejutkannya, tapi yang benar-benar membikin dia kaget, tenaga dalamnya itu mengalir terus tak dapat dikendalikan dan seperti tersedot oleh Han Han. Dia sebagai seorang akhli Lwee-keh, seorang akhli tenaga dalam, maka dari itu, dia jadi terkejut benar memperoleh kenyataan begitu. Dan yang lebih-lebih mengagetkannya ialah peredaran darah si bocah berlawanan sekali dengan apa yang semestinya. Kalau orang-orang normal biasanya, peredaran jalan darahnya dari kanan kekiri, maka yang aneh untuk bocah she Han itu, jalan darahnya malah dari kiri terus kekanan..... itulah yang membikin Khu Sin Hoo jadi tak mengerti. Dan yang lebih-lebih membikin Khu Sin Hoo jadi pusing tak mengerti ialah, dia seorang jago yang kosen, yang dapat mengendalikan peredaran tenaga dalamnya semau hatinya, tapi sekarang, di kala dia menyalurkan ke-tubuh si bocah, dia merasakan jalan pernapasannya seperti jadi jungkir balik. Untung saja dia masih ingat akan dirinya dan cepat-cepat menarik pulang tangannya, maka dia jadi terlepas dari tempelan tubuh si bocah. Coba kalau dia terlambat sedikit lagi, walaupun dia kosen luar biasa tokh dia pasti akan mati !! Mengapa begitu ?

Sebab, jalan darah Tay-yang-hiat si bocah telah terbuka, malah le-hiatnya juga telah terbuka sehingga hawa murni ditubuh bocah itu dapat keluar masuk ke Tay-yang hiat dengan leluasa. Kalau ada seseorang menyerang atau mengirim tenaga dalam padanya, maka tenaga dalam orang itu akan menerobos masuk dan lenyap ke Tang-yang hiat, seperti juga benda berat yang amblas di dalam lautan .....

lenyap tak keruan parannya. Pula, walaupun masih berusia muda dan tak mempunyai kepandaian ilmu silat, tapi si bocah masih murni, sehingga setiap hawa Lwee-kang. dapat keluar masuk ditubuhnya tanpa memperoleh perlawanan darinya. Dan, selama dalam beberapa hari bersama Khu Sin Hoo, entah berapa kali orang tua she Khu itu mengirimkan tenaga murninya ketubuh si bocah. Sehingga dengan sendirinya sekarang Han Han telah memiliki tenaga Lwee-kang yang luar biasa hebatoya.....tanpa disadarinya, diapun telah menjadi seorang akhli Lwee-keh yang luar biasa sekali  !

"inilah aneh..... !!" menggumam Khu Sin Hoo sambil menatap Han Han dengan menggelengkan kepalanya.

"Apa yang aneh, Tay-soe ? " tanya Han Han tak mengerti.

Jiauw Pie Jie-Iay Khu Sin Hoo tak menyahuti, dia hanya memegang pundak si bocah. Kemudian dibawanya kedekat dinding kamar.

"Berdirilah di sini, Han-jie.....!" kata jago tua Khu Sin Hoo itu. Han Han

heran.

"Apa yang akan Tay-soe lakukan ?" tanyanya bingung. Khu Sin Hoo hanya mengulap-ulapkan tangannya, kemudian dia melangkah menjauh beberapa tombak, setelah itu dia mengawasi Han Han.

"Aku akan menyerangmu, kalau kau tak tahan, cepat-cepat kau berteriak memberi tanda !" kata Khu Sin Hoo kemudian.

Han Han jadi terkejut.

"Eh ..... Tay-soe, kau..... kau.....kau mau menyerangku ?" tanyanya gugup. "Aku mana tahan menahan seranganmu ?"

Khu Sin Hoo tersenyum.

"Aku akau menyerang dengan diikuti perhitungan !" kata Khu Sin Hoo ccpat. "Jangan takut! Kalau memang kau tak kuat, aku akan menarik pulang tenaga dalamku! Bersiaplah !"

Walaupun masih bingung, tokh Han Han tak banyak bertanya lagi, dia hanya memandang si Hwee-shio dengan pandangan ragu. Tapi akhirnya dihati si bocah mengambil suatu keputusan. Akhir-akhir ini dia telah mengalami banyak penderitaan, tokh kalau memang ternyata Khu Sin Hoo ingin menghajarnya, dia tak akan keberatan, karena pukulan dan hajaran telah biasa baginya .....tak begitu ditakutinya lagi. Maka dari itu, hati si bocah she Han tersebut jadi tenang, dia jadi berdiri dengan menatap Khu Sin Hoo.

Tampak Jiauw Pie Jie Lay telah mengangkat tangannya, dia menyerang dalam jarak jauh, serangkum tenaga dalamnya mengalir keluar dari telapak tangannya dan menghantam Han Han.

Han Han sendiri merasakan tenaga serangan Khu Sin Hoo yang tak tampak itu, merangsek kuat sekali, bocah ini merasakan dadanya seperti tergencet oleh tenaga yarg sangat kuat, merasakan dadanya sesak. Tapi keadaannya itu tak lama, karena dia merasakan dipusarnya seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak, lalu bergolak naik kedadanya, dan napasnya jadi lancar lagi. Serangan Khu Sin Hoo jadi punah.

Yang kaget adalah Khu Sin Hoo. Dia tadi menyerang dengan empat bagian tenaga Lwee-kangnya, tapi begitu dia mengulurkan tangannya mengirim serangkum tenaga Lwee-kang pada si bocah, untuk kagetnya dia merasakan tenaga dalamnya seperti amblas ke dalam tubuh si bocah, punah dengan sendirinya. Si Hwee-shio tua ini sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Ternyata, tenaga murni yang berkumpul di pusar Han Han telah bekerja secara serentak begitu merasakan adanya serangan dari luar. Hawa dingin dan hawa panas yang berkumpul di tubuh si bocah bergolak dan menyedot tenaga serangan Khu Sin Hoo ke daiam Hiat-to Thay-yang-hiatnya Han Han.

Inilah hebat !

Hal itu tak pernah dipikirkan oleh Khu Sin Hoo, karena sejak dia terjun ke dalam dunia Kang-ouw dan mengangkat nama di dalam rimba persilatan, belum pernah disaksikan perihal yang luar biasa macam ini. Maka dari itu, di samping terkejut, juga butir-butir keringat dingin mengucur di keningnya.

Khu Sin Hoo mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya, yang menerobos keluar dan telapak tangannya waktu dia menyerang lagi. Tapi kali inipun sama. Semakin besar dia mengerahkan tenaga dalamnya, maka semakin kuat daya sedotnya yang diterima dari bocah she Han itu. Hal ini benar-benar mengherankan sekali bagi Khu Sin Hoo, sampai berulang kali dia mengeluarkan seruan tertahan.

Han Han sendiri, berulang kali merasakan serangkum tenaga dalam yang manyerang dirinya semakin lama semakin kuat, maka dari itu, dia juga heran, karena setiap kali tenaga dalam itu menyerang dan menyesakkan dadanya, tokh akhirnya lenyap dengan sendirinya. Mau dia menduga bahwa Khu Sin Hoo telah menarik pulang tenaga serangannya itu. Tapi waktu dia melihat wajah Khu Sin Hoo yang pucat dan dipenuhi oleh butir-butir keringat dingin, dia jadi heran. Dihampiriuya jago tua she Khu itu.

"Kenapa kau, Tay-soe?" tanya bocah ini heran. Khu Sin Hoo menarik napas.

"Luar biasa!!" katanya sambil menyatuhkan dirinya duduk di tepi pembaringan yang ada di dekatnya. "Luar biasa sekali ! Inilah benar-benar rejekimu Han-jie!!"

"Apa maksud Tay-soe ?" tanya Han Han tak mengerti, dia bingung melihat kelakuan orang.

Tiba-tiba Khu Sin Hoo tertawa keras, sampai tubuhnya tergoncang. Dia masih tertawa terus dan tak menyahuti perkataan Han Han sehingga membingungkan si bocah she Han tersebut.

"Tay-soe. kenapa kau?" tanya si bocah cepat.

"Hanya Thian yang bisa melimpahkan rejeki demikian besar padamu, Han Han !" kata Khu Sin Hoo. "Bersyukurlah kau bahwa sekarang kau telah menjadi akhli Lwee-keh nomor satu ! Kalau tadi aku terus menyerangmu dengan mengerahkan seluruhnya tenaga dalamku, mungkin aku sudah terbujur kejang tak bernyawa !" "Eh.....kenapa begitu Tay-soe. ?" Tanya Han Han tetap tak mengerti.

Sekali lagi Khu Sin Hoo ketawa, dia mengulurkan tangannya. "Selamat ! Selamat ! katanya,

Han Han masih bingung, dia tak mengerti kelakuan si Hwee-shio yang aneh ini. Dia jadi tak menyambuti uluran tangan si Hwee-shio tersebut.

"Apa yang telah terjadi Tay-soe?!" tanya si bocah lagi.

"Hmmm.....mari kau ikut aku, nanti akan kuterangkan !" kata Khu Sin Hoo dan menghampiri meja.

Walaupun masih bingung, tapi Han Han mengikuti Khu Sin Hoo menuju ke

meja.

Khu Sin Hoo mengambil cawan, diletakkan ditengah-tengah meja, kemudian

JiauwPie Jie Lay meletakkan tangannya di atas meja dia mengerahkan tenaga dalamnya dan cawan itu jadi melekat di atas meja seperti juga dipantek, walaupun diangkat dengan kekerasan, cawan itu tak nantinya bergeming.

"Ambillah cawan itu, Han-jie !!" kata Khu Sin Hoo.

"Untuk apa Tay-soe ?!" tanya Han Han tak mengerti, dia heran melihat kelakuan Khu Sin Hoo pada akhir-akhir ini.

"Aku ingin menguji tenaga dalammu !" menyahuti Khu Sin Hoo.

"Menguji tenaga dalamku ?" tanya Han Han heran. Jiauw Pie Jie Lay menganggnk.

"Ya..... ! Angkatlah cawan itu ! Nanti akan kuterangkan apa yang telah terjadi Han-jie !!" menyahuti jago tua she Khu itu sambil menganggukkan kepalanya.

Han Han masih bingung, tapi tokh dia mengulurkan tangannya untuk mengangkat cawan itu. Tapi, begitu dia mengangkat, hatinya kaget, karena jangankan cawan itu terangkat, bergerak saja tidak ! Dia mengerahkan tenaganya untuk menarik cawan itu dari atas meja dengan sekuat tenaganya, tapi tetap saja cawan itu menempel di permukaan meja seperti juga dipantek.

"Tarik terus Han-jie!!" menganjurkan Khu Sin Hoo. "Tak bisa Tay-soe !!" menyahuti Han Han.

Khu Sin Hoo tersenyum.

"Kau tahan napas setengah menit, kemudian tarik napas empat kali, dua panjang, dua kali pendek, berbareng dengan itu, kau angkatlah cawan itu." kata jago tua she Khu itu. Han Han menuruti petunjuk-petunjuk Khu Sin Hoo. Dia merasakan semacam hawa hangat mengalir ke tangannya waktu dia menarik napas panjang dua kali dan pendek dua kali dia juga merasakan telapak tangannya panas sekali. Waktu dia menarik cawan itu lokh! Cawan itu dengan mudah terangkat!

Melihat itu, Khu Sin Hoo tertawa keras, dia malah berjingkrak saking gembiranya.

"Bagus! Bagus!" katanya gembira. "Kau telah menjadi seorang Lwee-keh yang benar-benar hebat! Malah tenaga dalamku jadi kalah setingkat denganmu, Han-jie !!"

Han Han jadi melengak.

"Heh.   mengapa bisa begitu ?" tanya si bocah tetap heran.

Khu Sin Hoo menjelaskan apa yang telah terjadi di diri si bocah, juga menceritakan perobahan yang telah di alami oleh bocah itu.

Han Han jadi girang berbareng berduka. Girang karena dia memperoleh kemujijatan yang tak terduga. Berduka, sebab tak dapat mencari jejak kedua orang tuanya. Lagi pula, kedua orang tuanya itu telah gila.

Mengingat akan keadaan kedua orang tuanya dan keempat murid ayahnya yang tak waras otaknya itu, dia jadi menangis sesenggukan, membikin Khu Sin Hoo jadi kaget.

"Kenapa kau Han-jie ?" tegurnya.

"Ayahku .....ibuku, Tay-soe !!" kata si bocah di antara isak tangisnya. "Mereka entah di mana.  !!"

Khu Sin Hoo baru mengerti mengapa si bocah menangis, dia jadi merasa iba. Dihiburnya bocah itu.....sampai, setelah menjelang kentongan keempat, mereka baru naik ke pembaringan untuk tidur.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 19

HONG SAN atau gunung Cendrawasih merupakan gunung yang tinggi dan megah. Di gunung ini terdapat banyak tebing yang curam. Dan, setiap lima tahun sekali di gunung inilah ketujuh jago luar biasa yang menguasai daratan Tiong goan mengadakan pertemuan untuk saling bertempur demi menentukan siapa yang terkuat dan terkosen di antara mereka. Selama itu, gunung tersebut merupakan saksi bisu peristiwa berdarah yang sering terjadi di gunung tersebut disebabkan perebutan gelar orang gagah nomor wahid itu !.'

Tapi, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, biarpun para orang-orang gagah itu telah berobah menjadi tua atau kakek-kakek dan nenek-nenek, tapi gunung Hong-san tersebut masih berdiri megah sekali tanpa ada perubahan sedikitpua. Pohon-pohon yang bertumbuhan disitupun masih tetap berwarna hijau. dengan

binatang-binatang buas yang menjadi penghunuiya.

Sebetulnya, walaupun di sebelah selatan dari gunung Hong-san terdapat sebuah kampung yang terletak hanya limapuluh tujuh lie, yang bernama Swie-san- chung, kampung air ginung, tokh dari penduduk kampung itu tak ada seorangpun yang berani mendaki gunung tersebut terlalu tinggi. Sebab, selain terlalu tinggi, gunung tersebut terkenal akan jurang-jurang yang terjal dan tebing-tebing yang curam. Selain orang-orang kosen yang sering mengadakan pertemuan di gunung tersebut, tak ada manusia biasa yang berani mendakinya terlalu tinggi, sebab bisa- bisa yang pulang nantinya hanya nama mereka saja .....sedangkan arwah mereka akan menghadapi Giam-lo-ong disebabkan oleh bahayanya jurang-jurang terjal itu atau binatang buas yang menjadi penghuni dihutan-hutan yang banyak terdapat di gunung tersebut.

Dan pada pagi itu tampak tiga sosok tubuh yang melesat cepat dan gesit sekali melompati jurang-jurang yang curam, gerakaauya lincah sekali, sehingga ketiga sosok tubuh itu lebih mirip disebut sebagai bayangan setan saja. Malah, di kala sampai didekat bukit Sioe-hay-gay, di mana terdapat sebuah jurang yang terkenal akan keangkerannya disebabkan jarak antara kedua tebing yang terpisah dalam puluhan tombak, ketika bayangan itu hanya melompat ringan dan telah berada di tebing yang satunya. Kemudian bagaikan terbang, ketiga sosok tubuh itu melesat menuju kearah puncak gunung Hong-san tersebut.

Hanya dalam waktu yang singkat, ketiga sosok bayangan itu sampai disebuah lapangan rumput di puncak gunung Hong-san itu. Luas lapangan tersebut sebesar empat puluh tombak persegi, malah di sebelah selatan dari lapangan rumput tersebut terdapat suatu jurusan yang mencuat ke dalam, merupakan lapangan kecil, yang seluas tiga belas tombak. Jadi kalau dilihat dari atas tebing, maka lapangan itu berbentuk huruf 'L'. Ketiga sosok bayangan itu berhenti di sebuah batu gunung yang menjorok keluar. Mereka memandang sekeliling lapangan rumput tersebut. Ternyata ketiga orang itu terdiri dari tiga orang Too-jin yang masing-masing berusia di antara empat puluhan.

"Toa-ko, mungkin orang-orang itu mulai besok baru berkumpul di sini" kata salah seorang di antara mereka,

Imam yang dipanggil Toa-ko, kakak yang terbesar, hanya mendengus: Sedangkan imam yang seorangnya, telah   mewakili   menyahutinya   :   "Sha- tee. dalam kekalutan yang akan timbul nanti, kita harus bertindak cepat-cepat!"

"Hmmm..... percuma Sam-kiam Kang-gwa kalau tak dapat menyebabkan orang-orang itu penasaran!" tiba-tiba si Toa-ko berkata. Sam-kiam Kang-gwa adalah tiga pedang dari tembok besar.

Si-imam yang dipanggil Sha-tee itu ketawa dia mengangguk.

"Benar!" dia menyahuti. "Percuma kita telah memupuk nama selama belasan tahun kalau tak dapat menimbulkan kerusuhan di antara orang-orang itu,"

"Tak percuma Sam-kiam Kang-gwa malang melintang di dalam kalangan Kang-ouw selama belasan tahun ! Biar bagaimana usaha kita harus berhasil, Sha- tee!" kata si Toa-ko. "Dan menurutmu, Jie-tee, bagaimana kalau bersembunyi di belakang batu-batu gunung itu menunggu sampai datangnya mereka?"

Si-imam yang dipanggil Jie-tee, adik kedua, menggeleng.

"Percuma kalau kita bersembunyi di situ!" katanya cepat. "Tempat itu kurang baik letaknya, juga kita tak bisa bergerak leluasa. Lebih baik «ita menunggu di tepi jurang itu, bersembunyi di atas pohon itu .....!" dan si Jie-tee ini menunjuk kesebuah pohon Siong yang tumbuh di tepi tebing itu. Ternyata selain batang Siong tersebut sangat besar, sebesar tiga pelukan orang, juga sangat rindang, sehingga dapat dipakai untuk tempat persembunyian.

"Bagus!" kata si-Toa-ko. "Tempat itu memang baik untuk dipakai sebagai tempat persembunyian ! Mari kita kesana !"

"Tunggu dulu Toa-ko!" cegah si-imam yang dipanggil Sha-tee, adik yang ketiga, sambil mengharnpiri Toa-konya.

"Ada apa?" tanya si Toa-ko.

"Selama ini kita harus bertindak hati-hati, sebab sekali saja kita salah melangkah dan mengambil tindakan yang meleset dari rencana, jiwa kita sulit diperhatikan lagi, karena orang-orang yang akan kita perdayakan itu adalah orang- orang kosen yang mempunyai kepandaian luar biasa!"

Si Toa-ko mengangguk.

"Jadi apa maksudmu, Sha-tee?" tegurnya. "Nanti kita harus bekerja hati-hati, jangan turun tangan sebelum melihat kesempatan yang betul-betul baik ! Dan juga, kalau nanti kita tak mempunyai kesempatan yang bagus, kita jangan bekerja, karena akan kapiran dan percuma saja!" menerangkan si Sha-tee. 

Si imam yang dipanggil Toa-ko dan Jie-tee jadi mengangguk. "Ya.....begitupun boleh !" menyahuti si Toa-ko. "Tapi biasanya Sam-kiam

Kang-gwa belum pernah gagal melakukan sesuatu !"

Ketiga imam itu tertawa, mereka lalu menghampiri pohon Siong itu dan melompat untuk bersembunyi dibalik daundaun Siong yang lebat.

Mereka memang Sam-kiam Kang-gwa, tiga pedang dari tembok luar, masing-masing mempunyai nama yang cukup seram, yaitu si Toa-ko Hek-coa, ular hitam, dan si Jie-tee bernama Pek-hauw atau harimau putih. Sedangkan si Sha-tee, adik yang ketiga dan paling termuda di antara ketiga akhli pedang dari tembok besar itu, bernama Tok Sian Kiam atau si raja pedang beracun. Itulah suatu keanehan ketiga jago pedang tersebut, karena mereka mempunyai nama yang cukup aneh, yang lebih mirip seperti gelaran belaka.

Belum lama ketiga orang dari Sam-kiam Kang-gwa itu memernahkan diri di pohon Siong itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang menyayatkan, yang menyerupai juga suara tertawa yang menyeramkan. Tampak dari lereng gunung sesosok tubuh yang sedang berlari pesat sekali. Dalam waktu yang singkat, orang itu telah berada di lapangan rumput itu.

Waktu dia tiba di lapangan itu, dia tak melihat seorang manusiapun, dia jadi tertawa lagi dengan suara tertawa seperti jeritan yang menyayatkan itu.

Keadaan orang tersebut luar biasa sekali, matanya yang sebelah kanan lebih besar kalau dibandingkan dengan matanya yang kiri, sedangkan hidungnya melesek, mulutnya cablak lebar seperti paso, tubuhnya tinggi kurus, kakinya yang kanan lebih pendek dari kakinya yang kiri, rupanya disebabkan suatu kecelakaan, sehingga waktu dia melangkah perlahan-lahan, jalannya dingklek. Akan tetapi biarpun kakinya cacad, tokh dia dapat bergerak gesit sekali, malah gerakannya tadi hampir menyerupai bayangan setan saja.

Agak lama juga orang itu tertawa, sampai akhirnya matanya mencilak kearah pohon Siong, dia mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin yang perlahan. Dia merogoh sakunya, tahu-tahu tangannya bergerak, tujuh biji catur melesat kearah pohon Siong diiringi oleh bentakannya : "Menggelinding turun kalian !" Begitu biji catur dilemparkaa kepohon oleh orang yang luar biasa tersebut, terdengarlah suara "Ihhh" yang perlahan sekali, kemudian tampak berlompatan tiga sosok tubuh dari Sam Kiam Kang-gwa.

"Siapa kau.....?" bentak Tok Sian Kiam, si adik ketiga dari Sam-kiam Kang- gwa itu.

Orang dengan keadaannya yang luar biasa itu tersenyum tawar mengejek. "Hmm..... tiga cecurut yang mencari mampus!!" katanya dingin. "Apa

maksud kalian bersembunyi di situ ?"

Hek Coa, si Toa-ko jadi berobah wajahnya, rupanya dia gusar sekali orang tadi, telah menyerang mereka dengan biji catur.

"Kami Sam-kiam Kang-gwa tak pernah jeri pada orang, mau apa kau berlaku begitu jumawa !!" katanya dingin. "Siapa kau? " dan kata-katanya yang terakhir ini terdengarnya bengis sekali.

"Hmmm.....Su Tie Kong tak pernah menyembunyikan nama dan julukan !!" menyahuti orang itu.

"Kau. kau Su Tie Kong?" tanya

Hek Coa dengan suara yang agak tergetar, karena sedikitpun ia tak menduga bahwa orang yang bercacad dan keadaannya luar biasa sekali ini, ternyata salah seorang jago yang terkenal namanya.

"Hmmm.....benar!!" menyahuti Su Tie Kong dengan lagak yang uring- uringan. "Aku memang It Kiam Chit-tong !!"

"Kau.....kau    " wajah si Hek Coa jadi berobah tambah pucat.

"Kenapa kau, monyet?" tegur Su Tie Kong dengan suara yang keras. Dia juga tertawa mengejek. "Hmmm.....apakah setelah bertemu denganku kalian masih berharap dapat bernapas terus ?!"

Hebat kata-kata Su Tie Kong, karena dengan dimaksudkan 'dapat bernapas terus', mau diartikan bahwa dia akan membunuh Sam Kiam Kang-gwa!!

Wajah Hek Coa, Tok Sian Kiam dan Pek Hauw jadi berubah merah, mereka gusar, biar bagaimana mereka adalah Sam Kiam Kang-gwa yang telah meropunyai nama besar di dalam kalangan Kang-ouw, maka hari ini orang terlalu meremehkan dirinya, dan juga tak memandang sebelah mata. Mereka mana mau mengerti ?!

Maka dari itu, dengan mengeluarkan bentakan yang keras, tahu-tahu tangan mereka telah mencabut pedang yang tergemblok dipunggung mereka masing2.

"Srettttt!" pedang itu tercabut dari sarungnya, "Hmmm .....apakah kau kira begitu mudah untuk merubuhkan Sam Kiam Kang-gwa ?" kata Hek Coa dengan murka. "Baiklah ! Walaupun kau adalah Su Tie Kong yang terkenal akan keganasannya, tapi kami tak jeri majulah !!"

Su Tie Kong tertawa dingin, dia mengejek melihat sikap ketiga jago dari tembok besar itu.

"Hmmm.....sipakah kalian duga aku pantas untuk melayani tiga monyet- monyet semacam kalian?!" bentaknya dengan suara yang bengis, kemudian sebelum Sam Kiam Kang-gwa tahu apa-apa, Su Tie Kong telah menggerakkan tangannya, dan 'trakkk' tiga kali suara itu terdengar, tampak Sam Kiam Kang-gwa terjungkel terbinasa dengan kepala yang pecah remuk dan mengeluarkan polohnya-

.....!

Hebat Su Tie Kong ini, dia membunuh ketiga lawannya itu tanpa Sam Kiam Kang-gwa dapat memberikan perlawanan !! Walaupun kepandaian Sam Kiam Kang-gwa tak dapat direndengkan dengan kepandaian Su Tie Kong, tapi tokh mereka bukan orang-orang lemah, juga bukannya tak mempunyai kepandaian yang tak berarti. Selama belasan tahun mereka telah malang melintang membuat nama di kalangan Kang-ouw, dan hari ini karena dia mengetahui bahwa ketujuh jago utama akan mengadakan pertemuan di gunung Hong San, maka mereka bermaksud untuk mengintip ilmu silat yang akan digunakan oleh ketujuh jago itu. Malah mereka mengharapkan ketujuh jago itu, akan saling bunuh, sehingga nanti mereka bisa memperoleh keuntungan dengan mengambil kitab ilmu silat milik jago-jago yang binasa itu. Namun belum lagi terwujud, mereka sendiri telah dibinasakan oleh Su Tie Kong dengan cara yang penasaran bekali, sebab mereka tak mengetahui dengan cara bagaimana mereka dibunuh oieh Su Tie Kong.

Sam Kiam Kang-gwa menggeletak tak bernyawa dengan kepala pecah, sedangkan pedang mereka masing-masing masih tergenggam erat-erat mungkin waktu mereka binasa dalam keadaan penasaran itu, mereka sedang mencekal pedang mereka erat-erat.

Su Tie Kong sendiri telah tertawa terbahak-bahak, tubuhnya jadi tergoncang dan suara tertawanya itu menggema disekitar lapangan rumput di atas gunung Hong San tersebut, menyeramkan sekali suara tertawanya itu, seperti jeritan yang panjang dan mengerikan, mendirikan bulu tengkuk.

Tapi, di kala Su Tie Kong tertawa itu, tiba-tiba terdengar suara lainnya: "Sungguh suata perbuatan yang bagus ! Hanya sayang, yang dibunuh itu hanyalah tiga ekor kura-kura yang tak ada artinya !" Mendengar suara itu, yang menggema di sekitar tempat tersebut, wajah Su Tie Kong jadi berubah hebat.

"Loo-sia, mengapa kau main sembunyi-sembunyi seperti itu ?" tegur Su Tie Kong dengan suara yang keras dan dingin sekali, memandang ejekan. "Cepat kau keluar!" Loo-sia ialah katak tua.

Terdengar suara terkekeh dari balik batu-batu gunung.

"Aha.....tadipun aku telah melihat kedatangan ketiga kura-kura ini, karena sejak menjelang fajar aku telah berada di sini !!" kata orang yang muncul dari balik batu itu. "Mereka ternyata mengandung maksud-maksud tertentu, ingin mencari keuntungan di air keruh, maka itu tadi waktu kau datang kenari, sengaja aku telah melemparkan sebulir batu kearah tempat persembunyian mereka itu, sehingga kau mengetahui bahwa di pohon Siong itu bersembunyi ketiga kura-kura cilik itu. !"

dan orang itu ketawa gelak-gelak lagi. Wajah orang yang baru datang ini, yang dipanggil oteh Su Tie Kong sebagai Loo-sia, si katak tua, mempunyai wajah yang biasa, seorang tua berusia di antara tujuhpuluh tahun. Tapi, yang luar biasa adalah kepalanya itu, besar tak seimbang dengan tinggi tubuhnya. Dia juga keluar dari balik batu itu dengan bibir terus tersungging seulas senyuman, ramah sekali tampaknya. Dialah Yan Hoa Piek yang bergelar Tok Sian Sia, seorang jago di antara ketujuh jago utama yang menguasai daratan Tioug-goan ini !

"Hmmm.....!" Su Tie Kong mendengus. "Sejak kedatanganku tadi, aku si orang she Su telah mengetahui bahwa ketiga monyet-monyet kurus tak punya guna ini bercokol di atas dahan pohon Siong itu ! Untuk apa kau sesumbar mengatakan bahwa kau yang telah membantuku?!"

Melihat orang tak mau mengalah. Yan-Hoa Piek tersenyum, dia membawa sikap yang tetap ramah. Tak terlihat sedikitpun rasa gusar atau mendongkol di wajahnya.

"Baik! Kalau memang kau mengatakan pertolonganku itu tak ada gunanya!" dia kata dengan suara yang halus. "Jadi sekarang, kita hanya menunggu lima monyet tua yang belum datang, bukan?"

"Tak salah!" menyahuti Su Tie Kong. "Mengapa kali ini kelima monyet tua itu datang terlambat sekali?''

Mendengar itu Yan Hoa Piek tertawa gelak-gelak, dia melangkah menghampiri Su Tie-Kong.

"Kau seperti tak mengetahui saja!" katanya dengan suara yang lembut, penuh persahabatan. "Kelima monyet tua itu terlalu usil kepada urusan dunia luar, maka mereka pasti menghadapi kesulitan dan tak dapat datang pada saat perjanjian kita ini berlangsung!"

"Hmmm.....kalau memang sampai malam nanti mereka masih tak muncul, mereka kita anggap sebagai pihak yang kalah, hanya tinggal kita berdua mengadu kekosenan kita untuk menentukan siapa yang paling kosen di antara kita berdua."

"Mana bisa begitu?" kata Yan Hoa Piek cepat. "Biar bagaimana kita harus menantikan mereka!"

"Hminm.....kau terlalu baik hati, katak tua!" kata Su Tie Kong sambil mendengus.

Yan Hoa Piek hanya tertawa tawar, dia mengibaskan bajunya, kemudian memandang ke arah sekeliling lapangan itu. Tapi, waktu dia memandang kearah sebelah barat dari gunung Hong San tersebut mukanya jadi agak berubah, lalu dia mendengus sambil tertawa tawar. 

"Hei, kerbau she Su, coba kau lihat siapa yang sedang duduk di sana!" kata Yan Hoa Piek sambil menunjuk kearah yang dipandangnya.

Su Tie Kong cepat-cepat menoleh dan memandang kearah yang ditunjuk oleh Yan-Hoa Piek. Dilihatnya di atas sebuah batu gunung yang tinggi sekali, tampak seorang wanita setengah tua yang tubuhnya bongkok sedang duduk numprah di situ.

"Oh kiranya kau si-nenek tua Sian Lie-Lie Hek Coa Tok-mo!" seru Su Tie Kong. "Mengapa kau berdiam di situ seperti nenek lumpuh saja?"

Wanita tua yang duduk diatas batu gunung yang ada di sebelah atas itu memang Sian Lie Lie, itu jago betina yang bergelar Hek Coa Tok Mo atau ular hitam beracun. Dia hanya mendengus ketawa tawar waktu Su Tie Kong mengejeknya, dengan ringan dia melompat turun dari batu gunung itu dan hinggap di lapangan rumput seperti juga tak ada terjadi sesuatu apapun. Padahal, bila kepandaiannya tak sempurna betul, kedua kakinya pasti akan patah, sebab jarak antara batu gunung yang didudukinya tadi dengan lapangan rumput terpisah dalam jarak yang cukup tinggi, yaitu enambelas tombak lebih.

"Su Tie Kong !" katanya dingin. "Kau jangan terkebur, hari ini gelar jago nomor satu akan jatuh pada diriku ! Kalian tua bangka yang sudah mau mampus, tentu akan rubuh di tanganku !!" dan setelah berkata begitu, nenek tua, Sian Lie Lie, mendengus 'hmmm!', 'hmmm!', berulang kali, matanya mencilak sesaat, sikapnya angkuh sekali. Su Tie Kong ketawa dingin. "Apa betul gelar itu akan jatuh di tanganmu ?" ejeknya. "Hm, walaupun kau mempunyai tiga pasang tangan dan sepuluh kaki, belum tentu kau dapat merubuhkanku ! Nenek tua bongkok ! Jangan kau bicara takabur, karena tak lama lagi kita akan berhadapan ! Di saat itulah kita akan dapat melihat dan menentukan siapa yang terlebih kosen di antara kita bertujuh !!"

Sian Lie Lie hanya mendengus 'hmmm!', 'hmmm!' berulang kali, dia tak melayani perkataan Su Tie Kong itu. Hanya dia menoleh kepada Yan Hoa Piek.

"Bagaimana dengan kau?" tegurnya dingin. "Apakah kau telah memperoleh ilmu silat yang baru ? "

Yan Hoa Piek tersenyum sabar.

"Aha .....walaupun aku tak memperoleh kemajuan, tapi tokh kalian belum tentu dapat melayani ilmu 'Sian-pek-lek-chiu '-ku!" menyahuti Yan Hoa Piek. Yang dimaksud dengan Sian-pek-lek-chiu ialah pukulan geledek dewa.

Mendengar perkataan Yan Hoa Piek, Sian Lie Lie kembali mendengus 'hmmm!' berulang kali, matanya juga mencilak.

"Apa keluar-biasaan dari Sian-pek-lek-chiu-mu itu ?!" katanya tetap dengan suara yang dingin sekali. "Nanti kalau sudah bertempur, kau baru melihat, bagaimana aku telah memperoleh kemajuan yang akan mengejutkan kalian semua

!"

Yan Hoa Piek hanya ketawa tawar, sedangkan Su Tie Kong jadi berjingkrak. "Nenek bongkok yang jumawa !" katanya mendongkol. sekarang kau jangan

pentang bacot dulu, lebih baik nanti saja kita buktikan. !"

"Hmmm.....kalau kau mau membuktikannya sekarang, akupun tak keberatan

!" menyahuti nenek she Sian itu sambil ketawa dingin.

Wajah Su Tie Kong jadi berubah merah waktu mendengar perkataan Hek Coa Tok Mo.

"Boleh! Boleh!" dia kata dengan suara aseran. "Sekarangpun boleh!

Cabutlah senjatamu !"

Sian Lie Lie sudah mendengus, ragu-ragu di tangannya telah tergenggam sebatang bambu.

"Gin Tiok-ku ini akan menghabiskan nyawamu, budak tua !!" katanya tawar.

Yan Hoa Piek yang melihat keadaan telah berubah menjadi tegang, dia tertawa dan menyelak di antara kedua orang yang akan bertempur itu.

"Mengapa kalian musti bertempur sekarang?" katanya memisahkan. "Bukankah nantipun sama.....:! Kalau sekarang telah bertempur dulu, lalu, siapa yang menentukannya nanti! Aku seorang diri tak mungkin untuk menjadi wasit, karena ucapanku st orang tua she Yan yang sudah mau mampus ini tak akan dipercaya oleh orang-orang gagah! Sudahlah.....! Nanti kalau keempat tua bangka itu sudah datang, barulah kita mulai memperlihatkan kepandaian kita!"

Sian Lie Lie hanya mendengus 'hmmmm' 'hmmm!' saja, dia mau mengerti dan memasukan bambu peraknya itu.

"Kalau bukan aku memandang si-tua bangka she Yan ini, tentu kepalamu akan hancur oleh bambu perakku ini !!" katanya.

"Hmmm..... apa benar ucapanmu itu? " ejek Su Tie Kong dengan suara dingin. "Aku malah ingin membuktikannya. !"

"Oh tua bangka yang mau mampus!!" teriak Sian Lie Lie jadi gusar kembali. "Apa kau tak takut nanti jadi menghadap ke Giam-lo-ong lebih cepat dari waktu yang sudah ditetapkan !" Dan wanita tua yang bongkok ini jadi berjingkrak saking gusarnya, dia memang beradat tinggi dan aseran, maka dari itu dia jadi mendongkol sekali mendengar ejekan Su Tie Kong. Maka dari itu, tangannya telah mencabut bambu peraknya lagi.

Su Tie Kong sendiri telah tertawa gelak-gelak.

"Apa kau anggap aku ini cecurut yang baru dilahirkan ?" tegur orang she Su itu agak mendongkol juga. "Kukira tak semudah apa yang kau katakan tadi bahwa aku akan rubuh di tanganmu!! Mungkin kau sendiri yang akan kumampusi!"

"Setan tua bangka ! Kau terlalu menghina!" dan Sian Lie Lie telah menjejakkan kakinya akan menyerang.

Tapi baru saja tubuhnya melambung sedikit tahu-tahu Yan Hoa Piek telah menarik bajunya.

"Sabar, nenek Sian.....!!" bujuk Yan Hoa Piek. "Jangan cepat naik darah nanti kau jadi lekas tua.  !!"

Sian Lie Lie jadi batal menyerang, hanya matanya mendelik kearah Su Tie

Kong.

Sedangkan Su Tie Kong sendiri berdiri sambil bertolak pinggang dan

tertawa gelak-gelak. Rupanya dia sengaja membawa sikap begitu untuk membikin Sian Lie Lie jadi mendongkol.

Yan Hoa Piek sendiri telah membalikkan tubuhnya menatap Su Tie Kong. "Tua bangka she Su !" bentaknya. "Janganlah kau membawa lagak ugal-

ugalanmu itu terus menerus! Kalau nanti benar-benar nenek Sian ini menyerangmu dan kau mampus di tangannya, lalu aku nanti jadi kesepian, karena tak ada lawan yang akan menandingi aku lagi !"

Senang hati Sian Lie Lie melihat Yan Hoa Piek berpihak padanya, dia jadi tersenyum dingin dan mendengus 'hmmm!', 'hmmm!' beberapa kali.

Berbeda dengan Sian Li'e Lie, maka Su Tie Kong jadi mendongkol mendengar perkataan Yan Hoa Piek.

"Hei tua bangka she Yan !" bentaknya dengan suara yang aseran. "Kau benar-benar katak tua yang bisanya berdendang saja ! Sekarang dengan berkata begitu kau mau mengartikan bahwa aku akan mampus ditangannya betina bongkok itu ?! Hmmm.....jangan kata merubuhkan diriku, sedangkan untuk menjiwir kupingku saja betina bongkok itu tak akan dapat melakukannya"

Sian Lie Lie jadi mendongkol lagi karena orang memanggil dia dengan sebutan si-betina bongkok, dia sampai berjingkrak sambil berteriak-teriak memaki Su Tie Kong. Yan Hoa Piek jadi tersenyum melihat kelakuan perempuan bongkok ini. Dia menghampirinya dan membujuknya lagi.

Sedang Yan Hoa Piek Tok-sian-sia membujuk nenek bungkuk Hek Coa Tok Mo itu, tiba-tiba di udara mendengung semacam suara yang aneh, waktu ketiga orang itu menegaskan, ternyata suara itu menyerupai suara tertawa yang parau sekali.

"Sian-jin Kiu Lo Heng Ciauw Liong!" kata Yan Hoa Piek sambil tertawa. "Aha.  dia datang agak terlambat sedikit ! "

Tapi .....Yan Hoa Piek tak meneruskan perkataannya waktu dia berkata sampai di situ, dia hanya menatap Sian Lie Lie dan Su Tie Kong bergantian.

"Mengapa. " tanya Sian Lie Lie aseran.

"Hmm---- yang membuatku heran, ke mana ketiga tua bangka lainnya.....

mengapa mereka masih belum datang juga?!" menyahuti Yan Hoa Piek.

Su Tie Kong tertawa gelak-gelak.

"Biarlah mereka tak datang!!" kata orang she Su ini aseran. "Mungkin mereka telah terbang ke dunia barat untuk mengnadap Giam-lo-ong !"

Yang dimaksudkan oleh Su Tie Kong dengan 'terbang kedunia barat menghadap Giam-lo-ong, ialah kematian.  !

Yan Hoa Piek tak menyahuti, dia hanya mendengus, karena orang yang mengeluarkan suara tertawa parau itu, Heng Ciauw Liong, telah sampai di hadapan mereka dengan cepat. "Aha, rupanya aku terlambat ! " kata Heng Ciauw Liong begitu dia sampai di situ. Matanya mencilak. "Mana ketiga keledai tua lainnya ?"

Sian Lie Lie mendengus tertawa mengejek.

"Kau sendiri datang terlambat, mau apa kau menanyakan ketiga kura-kura yang tak keruan parannya itu ?" katanya dengan suara mengejek. "Hu, paling tidak mereka telah mampus !"

Wajah Heng Ciauw Liong jadi berubah.

"Benarkah ucapanmu itu ?" tegurnya sambil matanya agak disipitkan memandang si nenek bongkok dengan kilatan mata yang tajam luar biasa.

"Hu ! Hu ! Rupanya kau jeri pada ketiga tua bangka yang belum datang itu, bukan ?" ejek Sian Lie Lie lagi.

Wajah Heng Ciauw Liong jadi berubah lagi, dia baru menyadari bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh nenek bongkok ini.

"Hei nenek tua bongkok, kau jangan berguyon!" bentakaya dengan suara yang bengis. "Aku menanyakan dengan hati yang tulus keadaan ketiga keledai tua yang belum datang itu, tapi mengapa kau malah bergurau ?!"

"Hmmm .....siapa yang mau berguyon denganmu ?" ejek Sian Lie Lie lagi. "Jangankan kau yang sudah tua bangka dan hampir masuk lobang kubur, sedangkan anak-anak muda yang tergila-gila pada diriku, tetap saja aku tak mau bergurau dengannya ! Hmmm ! Tua bangka yang tak tahu mampus..... lebih baik kau ambil pedangmu dan goroklah lehermu itu ! Kematian secara begitu lebih baik kalau dibandingkan dengan keadaanmu yang sekarang ini yang sudah pikun dan tak punya guna !"

"Plaaakkk l" terdengar suara nyaring, karena Heng Ciauw Liong telah menghajar batu gunung yang terdapat di dekatnya da n batu gunung yang terhajar Heng Ciauw Liong itu sempal disebabkan kerasnya hajaran Heng Ciauw Liong yang disertai oleh tenaga Lwee-kang.

"Betina bongkok ! Mulutmu terlalu berbisa !" kata Heng Ciauw Liong mendongkol. "Usiamu dengan umurku tak berbeda jauh mungkin kau terlebih dulu menghadap si-raja akhirat, mau apa kau malah menyumpahi diriku agar cepat- cepat mampus ? Hmm .....walaupun sekarang aku telah berusia tujuh-puluh empat tahun, tapi aku masih belum bosan hidup dan tak mau mampus !"

Sian Lie Lie ketawa mengejek. Suara ketawanya itu tawar sekali. "Bagus ! Nanti aku yang mengirimkannya kau menghadap Giam-lo-ong !" katanya sinis. "Walaupun kau masih belum mau mampus, tokh aku yang akan memaksanya. !"

Wajah Heng Ciauw Liong jadi merah padam, dia mendongkol sekali. Biar bagaimana dia seorang laki-laki yang bertabiat halus, maka berdebat dengan seorang wanita yang lidah dan kata-katanya tajam seperti Sian Lie Lie itu, dia jadi tak berkutik. Walaupun gusar, dia jadi tak berdaya. Hanya sekali lagi tangannya menghajar batu gunung yang ada di dekatnya. Keras suara tepukannya pada batu gunung itu, karena dia sedang gusar, maka tampak batu gunung itu bertebaran hancur.

"Hmm .....kau tak perlu memperlihatkan kepandaian bangpakmu itu di hadapan kami !" ejek Sian Lie Lie lagi. "Kau jangan kira dengan memperlihatkan tepukan mautmu yang tak ada artinya itu kami akan jeri padamu ! Lebih baik kau menyimpan tenaga untuk nanti mempertahankan jiwa tuamu di dalam pertarungan memperebutkan gelar jago nomor wahid di dunia ini !!"

Heng Ciauw Liong tambah gusar, dia hanya mendelik tanpa dapat mengucapkan sepatah katapun.

Yan Hoa Piek telah menghampiri Heng Ciauw Liong.

"Loo-toa, lebih baik kau tak melayani nenek tua itu !" kata Yan Hoan Piek perlahan. Mari kita ketepi jurang itu menanti kedatangan ketiga tua bangka lainnya!"

Heng Ciauw Liong masih mendelik pada Sian Lie Lie, tapi mau juga dia menurut ajakan Yan Hoa Piek. Dia mengikuti orang she Yan tersebut menuju kearah tepian jurang.

Namun, baru saja mereka melangkah tiba-tiba Sian Lie Lie berseru "Lihat

..... tua bangka itu datang !" dan Sian Lie Lie menunjuk ke arah timur.

Tampak mendatangi Khu Sin Hoo dengan gerakan yang gesit dan cepat, di tangan Hwee shio itu mengempit seorang bocah. Namun biarpun dia membawa beban yang cukup berat, tapi gerakannya sebat luar biasa. Dalam waktu yang singkat, Khu Sin Hoo telah berada di lapangan rumput itu dengan wajah yang berseri-seri.

"Rupanya kalian telah tiba lebih dahulu dariku !" kata Khu Sin Hoo sambil menurunkan bocah yang dikempitnya itu, yang ternyata tak lain Han Han.

Sian Lie Lie mendengus. "Hmmm..... kau datang terlambat, tapi kami malah capai menantikan kedatangan kalian, sampai kedua kakiku ini serasa mau copot saja !!" kata si- nenek.

"Kasihan.....!" kata Khu Sin Hoo perlahan, dia menatap nenek she Sian dengan bibir tersungging senyuman.

Sian Lie Lie jadi tak enak melihat senyuman Hwce-shio ini, karena dia merasakan senyuman Jiauw Pie Jie Lay itu seperti juga senyum ejekan. Karena itu, dia jadi mendongkol. Matanya mendelik pada Jiauw Pie Jie Lay.

"Hai apa yang menyebabkan hatimu harus menaruh rasa kasihan kepada kami ?!" tegur si-nenek Sian Lie Lie dengan suara aseran.

Khu Sin Hoo ketawa lagi.

"Aku hanya kasihan kepadamu, betina tua !" kata Khu Sin Hoo tetap ketawa. "Tadi kau mengatakan bahwa kau telah menantikan aku terlalu lama, sehingga menyebabkan kedua kakimu itu serasa mau copot, bukan ?!"

"Betul ! Lalu apa penebus kesalahanmu itu ?!" tegur si-nenek Sian Lie Lie aseran.

"Menebus kesalahan ?! Siapa yang bersalah ?! Aku atau kau?!" balik tanya Khu Sin Hoo. "Yang jelas, kau sendiri bersalah mengapa mempunyai kedua kaki yang tak mempunyai tenaga sedikitpun, yang baru berdiri belum lama mau semper?! Hu! Hu! Kuanjurkan kau melatih lagi kedua kakimu itu !"

Mata Sian Lie Lie jadi mencilak dia jadi berjingkrak murka.

"Hwee-shio gundul !" bentaknya dengan suara yang bengis. "Apakah kau mau mampus ?!"

"Oh tidak ! Aku belum bosan dengan hidup penuh damai dan bahagia ini!" menyahuti Khu Sin Hoo cepat, "Mungkin malah kau yang ingin mampus, betina bongkok! "

Sian Lie Lie jadi murka mendengar perkataan Khu Sin Hoo, apalagi waktu dia melihat Heng Ciauw Liong, Yan Hoa Piek dan Su Tie Kong tertawa, dia jadi tambah gusar, karena diduga orang-orang itu sedang mentertawakan dirinya.

"Kerbau gundul..... kau benar-benar menantangku !" bentaknya nyaring dan tangannya menarik keluar bambu peraknya. " Mari kita bertempur seribu jurus untuk menentukan siapa lebih kosen diantara kita berdua ?!"

"Sabar dulu nenek bongkok!" kata Khu Sin Hoo sambil tertawa mengejek. "Kita jangan bertempur dulu, karena aku takut nanti tak bisa mengendalikan kedua tanganku dan menyebabkan kematianmu! Ha, haa, kalau sampai terjadi hal serupa itu, aku menyesalpun sudah tak ada gunanya lagi, bukan ?!"

Sian Lie Lie benar-benar murka, karena orang meremehkan dirinya. Tubuhnya mencelat kearah si Hwee-shio itu, tapi belum lagi tubuhnya sampai di dekat Khu Sin Hoo si Hwee-shio telah mencelat menjauhinya.

"Sabar nenek bongkok.....!" kata si Hwee-shio dengan suara yang sabar. "Jangan aku untuk turun tangan, karena aku tak menjamin keselamatanmu ! Untuk melawan kawan cilikku ini saja kau belum tentu dapat memperoleh kemenangan !" Wajah Sian Lie Lie jadi berubah, merah padam. Dia mendongkol sekali, karena dia sampai diremehkan begitu macam. Maka dari itu, setelah si Hwee-sio mencelat menjauhi dirinya, si nenek Sian Lie Lie menoleh memandang Han Han. Dilihatnya si bocah she Han itu sedang menatap dirinya, juga mata bocah itu sangat bersinar. Tapi, dihati Sian Lie Lie telah mencetus sesuatu niat dia bermaksud untuk membinasakan bocah itu. Maka dari itu dia mencelat kearah Han Han, dia bergelar Hek Coa Tok Mo, ular hitam beracun, dia juga biasa melakukan perbuatan yang bengis. Membunuh dianggapnya sebagai pekerjaan yang lumrah,

maka dia lantas menggerakkan tangannya untus menghajar si bocah she Han itu.

Khu Sin Hoo melihat kelakuan Sian Lie Lie, dia tak berusaha untuk menolong Han Han, karena dia telah mengetahui apa yang akan terjadi.

Han Han sendiri, walaupun dia pernah diterangkan oleh Khu Sin Hoo bahwa sekarang di dalam dirinya telah mengendap semacam tenaga Lwee-kang yang luar biasa, tokh waktu melihat Sian Lie Lie menyerang dirinya akan mencengkeram batok kepalanya, si bocah tetap saja keder. Tapi, karena daripada menerima kematian dengan berdiam diri, maka si bocah jadi mengangkat tangannnya untuk menangkis.

"Dukkk .....!" tangan Sian Lie Lie dan Han Han saling bentur. Tak keras benturan itu, tapi hebat kesudahannnya. Han Han terpental satu tombak, lalu terjungkal, sedangkan Sian Lie Lie sendiri terhuyung beberapa langkah ke belakang. Wajah jago betina ini pucat-pasi.

Semua orang yang menyaksikan hal tersebut jadi mengeluarkan seruan tertahan, lebih-lebih ketika melihat si bocah she Han itu telah bangun berdiri lagi dengan tak menderita suatu apapun. Su Tie Kong, Heng Ciauw Liong dan Yan Hoa Piek mengetahui bahwa tadi Sian Lie Lie menyerang Han Han dengan menggunakan enam bagian tenaga Lwee-kangnya, yang mengherankan orang- orang itu, mengapa si bocah tak terluka. Mereka diliputi keheranan semacam itu sebab mereka telah mengetahui, kalau orang yang diserang oleh Sian Lie Lie dengan cara begitu tadi, biarpun orang itu mengerti ilmu silat, tokh paling sedikit tangan orang tersebut akan patah ! Yang aneh, bocah she Han itu, begitu dia terjungkal, begitu dia telah bangkit kembali tiada kurang suatu apapun. Malah, Sian Lie Lie sendiri tadi telah terhuyung-huyung dengan wajah yang pucat.

Khu Sin Hoo hanya berdiri menyaksikan sambil tersenyum. Waktu Han Han menoleh kearahnya, si Hwee-shio mengangguk-angguk sambil tertawa lebar, memberi semangat kepada Han Han.

Sian Lie Lie benar-benar tak mengerti dengan kejadian barusan. Waktu tangannya kebentur dengan tangan si bocah she Han itu, dia merasakan tangannya seperti menghajar kapas, lalu kemudian dia malah merasakan tenaga serangannya berbalik menyerang dirinya, yang menyebabkan dia jadi terhuyung mundur ke belakang itu ! Malah yang hebat, dia juga merasakan serangkum tenaga yang panas sekali menuju ke dadanya, sehingga napasnya agak menyesak. Untung saja dia kosen dan tenaga dalamnya hebat, maka dengan cepat dia mengatur jalannya pernapasan, dan seketika juga peruapasannya telah pulih sebagai mana biasa ! Untuk sesaat lamanya jago wanita tua itu jadi berdiri seperti orang kesima menatap bocah she Han itu, yang telah berdiri dengan bibir tersenyum ke arahnya !

Sian Lie Lie mengerutkan alisnya, dia mendelik pada Han Han.

"Nenek tua bongkok ! Lihat saja ! Mana kau sanggup melawanku, sedangkan melawan kawan cilikku saja kau sudah tak mampu !" ejek Khu Sin Hoo sambil tertawa tergelak-gelak.

Wajah Sian Lie Lie jadi merah padam, dia mendongkol sekali. Dia juga memang sedang heran mengapa tadi di saat dia menyelang bocah itu dengan disertai oleh enam bagian tenaga Lwee-kangnya, si bocah tak mengalami cidera sedikitpun ?! Mati juga Sian Lie Lie tak akan menduga bahwa sebetuinya Han Han telah memiliki Lwee kang yang luar biasa tingginya disebabkan oieh serangan. Hawa Im dan Yang dan bercampur dengan racun ular Pek Coa. Coba kalau si bocah telah berlatih selama satu tahun dan telah mahir menggunakan tenaga dalamnya itu dengan tepat sekehendak hatinya, jangan harap tadi Sian Lie Lie masih dapat hidup! Untung saja bocah she Han ini masih tak mengetahui cara untuk menggunakan dan menyaiurkan tenaga dalamnya itu, coba kalau Han Han telah berlatih tentu Sian Lie Lie tak akan berdaya menghadapinya. Itulah memang suatu kemujijatan yang terjadi di diri si bocah. "Hwee-shio gundul!" bentak Sian Lie Lie sambil menatap Khu Sin Hoo dengan mata mencilak. "Ilmu siluman apa kau gunakan untuk membantu bocah ini

?!"

Khu Sin Hoo tertawa keras mendengar pertanyaan Sian Lie Lie.

"Apakah kau anggap aku serendah itu ?" dia balik bertanya. "Hmm.....

jangankan kau, kalau bicara terus terang, aku juga bukan tandingan kawan cilikku itu!"

Semua orang yang ada di situ waktu mendengar perkataan Khu Sin Hoo, mereka jadi heran, sampai mereka melengak. Karena biasanya Kha Sin Hoo sangat tinggi hati, tak pernah mau merendah pada siapapun. Tapi sekarang aneh, dia malah mengaku masih kalah dengan kepandaian seorang bocah ! Inilah hal yang sampai matipun tak diduga oleh jago-jago silat luar biasa yang ada di situ .'

Yan Hoa Piek dan Su Tie Kong sendiri telah melompat ke depan dekat Khu Sin Hoo.

"Hwee shio rudin, cepat kau ceritakan perihal si bocah itu!" kata Su Tie Kong. dia memang agak berangasan, maka dari itu, karena hatinya heran, dia sudah lantas mendesak si Hwee-shio untuk menceritakan padanya perihal Han Han. Khu Sin Hoo tersenyum.

"Sabar.....! Sabar! Nanti juga akan kuceritakan !" Kata Khu Sin Hoo. "Sekarang aku mau tanya, mengapa Kiem-see Hui Hong dan Gin Tiok Su Seng Gauw Lap masih belum datang?!"

Yan Hoa Piek dan Su Tie Kong mengangkat bahu.

"Entahlah..... kami juga heran mereka masih belum muncul !" menyahuti Yan Hoa Piek dan Su Tie Kong hampir berbareng.

"Mereka telah mampus!!" teriak Heng Ciauw Liong, waktu orang-orang menoleh, dilihatnya Heng Ciauw Liong telah duduk tenang di bawah pohon Siong yang herada di dekat situ. Waktu semua orang menoleh, Khu Sin Hoo melihat ketiga mayat Sam Kium Kang-gwa, dia jadi heran.

"Ehh, siapakah yang telah membunuh mereka?" tanya si Hwes-shio sambil menatap Su Tie Kong dan Yan Hoa Piek, lalu beralih kepada Sian Lie Lie.

"Hmmm.....mereka terlalu kurang ajar.!" menyahuti Su Tie Kong. "Aku yang membunuhnya  !"

"Bagus! Sekarang ternyata kau sangat telengas sekali, Tie Kong Looheng!" kata Khu Sin Hoo, "Hmm.....apakah kali ini kita bertempur dengan seluruh kepandaian kita dan tak perlu memandang dari sudut kawan lagi?" Diejek dengan cara begitu, wajah Su Tie Kong jadi merah, tapi baru saja dia mau menyahuti, tiba-tiba Khu Sin Hoo menunjuk kesuatu arah sambil berseru : "Lihat!"

Semua orang menoleh, ternyata dari bawah tebing itu tampak mendatangi seorang laki-laki yang mempunyai wajah rusak serta jalannya dingklek. Laki-laki bermuka rusak yang berpakaian seperti seorang Sioe-chay, seorang sasterawan !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 20

DALAM waktu yang singkat orang bermuka jelek dan berpakaian Sioe-chay itu telah sampai di hadapan para jago-jago yang sedang berkumpul itu. Khu Sin Hoo yang sudah lantas menghampiri dikala Sioe-chay itu sedang manatap orang- orang itudengan pandangan mata berkilat.

"Siapakah Heng-thay?" tanya si Hwee-shio heran. "Loo-lap kira Heng-thay sesat jalan sebab di sini bukan tempat yang cocok bagi Heng-thay sebagai kaum pelajar.

Pelajar itu tersenyum, wajahnya bertambah jelek.

"Hak-seng hanya ingin menyaksikan keramaian !" menyahuti si sasterawan. Dia membahasakan diri dengan sebutan Hek-seng, murid, suatu kata-kata merendah. Dan tadi Khu Sin Hoo menggunakan kata-kata Heng-thay, saudara, untuk membahasakan diri si-pelajar.

"Apakah Heng-thay tak jeri kalau sampai nanti mengalami sesuatu yang membahayakan jiwa Heng-thay ?!" tegur Khu Sin Hoo lagi.

"Hmm..... apakah dalam pandangan Tay-soe diri Hek-seng ini terlalu lemah?!" balik tanya si-sasterawan sambil tersenyum.

Khu Sin Hoo menyipitkan matanya menatap pelajar itu, dilihatnya wajah orang yang rusak menyeramkan.

"Siapakah Heng-thay sebenarnya ?" tanya Khu Sin Hoo kemudian.

Pelajar aneh itu kembali tersenyum, tahu-tahu dia mengangkat tangannya meraba wajahnya, dan. tampaklah sebuah wajah yang cakap, ternyata wajah yang

jelek dan menyeramkan itu hanyalah kedok kulit belaka. "Oh kau.....Gin Tiok Su Seng?" tanya Khu Sin Hoo sambil tertawa. "Hebat cara penyamaranmu itu, Loo-lap sampai tak dapat mengenalimu !"

Orang berpakaian sasterawan itu memang Gin Tiok Su Seng Gauw Lap, dia tersenyum sambil mengangguk.

"Benar !" menyahuti dia. "Mengapa Tay-soe. harus buat heran akan penyamaranku itu ?"

"Hmm..... kau tentu mengandung sesuatu maksud dengan penyamaranmu itu, bukan ?" kata Khu Sin Hoo, suaranya berubah dingin, dia juga mengerutkan sepasang alisnya. "Lagi pula, apa maksudmu dengan berpura-pura menjadi orang bercacad, berjalan dengan langkah yang dingklek ?!"

Gin Tiok Su Seng jadi menghela napas, wajahnya berduka waktu ditanya begitu oleh Khu Sin Hoo.

"Kalau diceritakan sangat panjang, Tay-soe .....ilmu silatku telah lenyap sebagian besar, semua itu disebabkan oleh seseorang dan untuk masa sekarang ini Hak-seng tak mungkin dapat mengikuti perlombaan lagi ! Maksud kedatangan Hak-seng kemari hanyalah untuk menyaksikan keramaian belaka. !"

Khu Sin Hoo jadi heran mendengar perkataan Gin Tiok Su Seng Gauw Lap. "Siapa yang telah melukaimu?" tanyanya. Gin Tiok Su Seng kembali

menghela napas.

"Sudahlah..... kalau diceritakan semuanya hanya membawa kedukaan saja

!!" katanya. Tiba-tiba dia menoleh kepada Sian Lie Lie dan katanya lagi "Bagaimana dengan kau nenek bongkok, tentunya kau telah memperoleh kemajuan yang pesat, bukan ?"

Sian Lie Lie yang sejak tadi hanya mengawasi saja, jadi mendengus dingin. "Kau pelajar rudin, mau apa kau datang kemari ?" tegurnya. "Tadi kau telah

mengatakan bahwa kepandaian silatmu telah lenyap sebagian besar, maka dengan kedatanganmu kemari bukankah sama juga dengan menghantarkan jiwa mencari kematian ?!"

Gin Tiok Su Seng ketawa dingin.

"Walaupun Hak-seng telah mengalami sedikit cidera, tapi tokh kalau bertempur denganmu, Hak-seng belum tentu rubuh di tanganmu !"

Wajah Sian Lie Lie jadi merah, dia mendongkol sekali.

"Pelajar rudin yang bau !" bentaknya. "Apakah kau masih msmpunyai keberanian untuk menempurku ? Bukankah pada lima tahun yang lalu telah kuberi sedikit hajaran padamu ?" "Hmmm.....lain dulu lain sekarang !" menyahuti Gin Tiok Su Seng. "Sebetulnya kedatangan Hak-seng ini memang hanya ingin menyaksikan keramaian belaka, tapi kalau nanti di babak pertandingan antara kalian berdua telah selesai, kita berdua bolen bertempur dua ribu jurus untuk mengetahui di antara Hak-seng denganmu siapa yang lebih unggul !"

"Baik ! Baik !" kata Sian Lie Lie dengan suara yang keras, karena dia tambah mendongkol. "Nanti jiwamu kukirim ke akhirat !"

Gin Tiok Su Seng tak mau meladeni nenek galak itu, dia hanya melangkah menghampiri Su Tie Kong dan Heng Ciauw Liong. Tapi, tiba-tiba matanya jadi mencilak waktu melihat Han Han.

"Ehhh.....kau berada disini ?" tegurnya dengan suara yang tersendat, menyatakan dia terkejut dan hanya tergoncang hebat.

Sejak Gin Tiok Su Seng mencopot kedok kulit pada wajahnya, Han Han memang sudah mengenali bahwa orang berpakaian pelajar dan bersenjatakan seruling perak tersebutlah yang telah menyatroni dan meuempur ayahnya, maka dari itu, dia jadi mendongkol dan timbul perasaan dendam Gin Tiok Su Seng. Dia mengawasi dengan sorot mata penuh kebencian.

Semua orang jadi heran melibat perubahan wajah Gin Tiok Su Seng waktu melihat bocah Gin Tiok Su Seng waktu melihat bocah she Han itu. Lebih-lebih Khu Sin Hoo sendiri, dia sampai mencelat ke dekat Han Han, takut-takut kalau- kalau Gin Tiok Su Seng melakukan sesuatu yang dapat mencelakakan jiwa si- bocah she Han tersebut.

Han Han sendiri telah menghampiri Gin Tiok Su Seng dengan wajah yaug merah padam.

"Kau..... kau pelajar busuk !" bentak Han Han dengan suara gemetar. "Kau yang telan mencelakai rumah tanggaku, sehingga ayah dan ibuku gila semuanya !"

"Heh.....Han Loo kui giia ?" tanya Gin Tiok Su Seng melengak. "Juga .....

Mawar putih, nyonya Han itu, gila pula ? "

"Hmmm.....semua itu tentu kau yang menganiayanya !" kata Han Han dengan suara yang keras, matanya berkilat tajam, seakan-akan ingin menelan Gin Tiok Su Seng bulat-bulat.

Gin Tiok Su Seng sendiri waktu melihat pancaran mata Han Han, dia jadi mundur beberapa langkah tanpa disadarinya.

"Bocah.....bicaralah yang benar," kata GinTiok Su Seng dengan wajah yang berubah pucat. "Apa yang telah terjadi di diri ibumu ?' "Hmm.   kau telah mencelakai semua keluargaku, sekarang malah kau main

berpura-pura tak mengetahuinya !" bentak Han Han dengan suara yang nyaring. "Biar bagaimana sakit hati keluargaku itu harus di balas .....!" dan dengan berani Han Han menerjang kepada Gauw Lap.

Khu Sin Hoo yang melihat hal itu, cepat-cepat mencekal tangan Han Han, dia takut nanti Gauw Lap menurunkan tangan berat pada si bocah.

Gin Tiok Su Seng sendiri jadi bingung.

"Bocah .....coba kau ceritakan apa yang telah terjadi!" teriak Sian Lie Lie dengan suara aseran.

Mata Han Han mencilak kearah nenek bongkok itu, tanpa dapat dibendung lagi, air matanya membanjir keluar. Sambil menangis, dia menuturkan perihal keadaan ayah dan ibunya, menceritakan juga saat itu di rumahnya terjadi perebutan sejilid kitab, yang menyebabkan pangkal kecelakaan dari ibu dan ayahnya serta keempat murid Han Swie Lim itu.  !

Semua orang waktu mendengar penuturan Han Han, mereka jadi menatap Gin Tiok Su Seng yang kala itu sedang berdiri dengan wajah berduka dan alis berkerut. Waktu Han Han selesai bercerita, Gauw Lap menepuk pahanya.

"Sekarang aku tahu !" kata Gin Tiok Su Seng dengan suara yang keras. "Apa yang kau ketahui, pelajar rudin ?" bentak nenek Sian Lie Lie.

"Semua ini perbuatan Thio See Ciang, Kauw-coe Pek Bwee Kauw !" kata Gauw Lap dengan wajah yang muram. "Pasti dia yang melakukannya."

"Hnmm, dengan seenak isi perutmu, kau ingin menumplekkan semua kesalahan kepada orang lain ! " ejek Sian Lie Lie.

Wajab Gin Tiok Su Seng Gauw Lap jadi berubah, matanya mencilak. Dia menoleh menatap Han Han, kemudian dia menarik napas.

"Baiklah ! Kalian dengarkanlah, aku akan menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah Han Loo-kui !"

"Hmmm.....kau ingin membual, bukan ! " ejek Sian Lie Lie lagi dengan suara yang nyaring, mata si-nenek juga mencilak, karena dia menaruh simpati pada Han Han setelah mendengar riwayat bocah itu.

Gauw Lap tak mau melayani nenek itu, dia mulai menceritakan apa yang telah dialami olehnya di rumah Han Swie Lim, dia juga menceritakan, bagaimana Thio See Ciang telah ketawa sambil mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, sehingga Han Swie Lim dan yang lain-lainnya roboh tak sadarkan diri. Dia juga menceritakan perihal terbunuhnya Ang Bian dan Cioe Ie di tangannya Kauw coe Pek Bwee Kauw itu,

"Dan, lihatlah ini !" kata Gauw Lap kemudian sambil memperlihatkan tangan kirinya. "Cacadku ini disebabkan oleh Han Hoe-jin di dalam pergolakan di rumahnya !"

Semua orang jadi mendongkol mendengar ketelengasan Kauw-coe Pek Bwee Kauw, Khu Sin Hoo sendiri sampai memukul batu gunung yang ada di dekatnya, menyebabkan batu gunung itu terhajar hancur.

"Memang sudah kuduga bahwa Kauw-coe Pek Bwee Kauw itu sangat jahat

.....!" kata Khu Sin Hoo dengan suara mendongkol dan gusar. "Baiklah ! Karena bocah ini memang benar-benar bernasib malang, maka bagaimana kalau nanti setelah kita selesai mengadakan pertandingan, kita lalu masing-masing menurunkan ilmu kita kepada bocah she Han ini ? "

"Tak setuju !" teriak Su Tie Kong dengan suara yang keras.

"Heheh ..... kenapa kau tak setuju?" tegur Sian Lie Lie dengan mata mendelik.

"Aku tak setuju kalau harus menurunkan ilmu silat kita kepada bocah ini, sebab menunggu si bocah sampai menjadi seorang jago yang kosen tentunya akan memakan tempo yang lama sekali! Bagaimana kalau kita beramai-ramai membasmi orang-orang Pek Bwee Kauw?!"

"Maksudmu ? " tanya Khu Sin Ho sabar.

"Kita satroni markas Pek Bwee Kauw dan membasmi seluruh orang-orang Pek Bwee Kauw. Dari Kauw-coenya sampai keanak buahnya, semuanya kita binasakan. Pertama kita menolong membalaskan sakit hati bocah she Han ini, kedua juga kita melenyapkan bibit kejahatan.....di permukaan bumi ini !" menerangkan Su Tie Kong.

Semua orang-orang gagah jadi terdiam, mereka ragu. Ada yang setuju dengan saran Su Tie Kong, ada pula yang menentangnya, sehingga terdengar suara-suara yang sumbang di antara mereka.

"Begini saja !" teriak Khu Sin Hoo akhirnya mengatasi perdebatan di antara orang-orang itu. "Maksud kerbau she Su itu memang benar, kita dapat membalaskan sakit hati Han-jie dalam waktu yang singkat dan orang-orang Pek Bwee Kauw itu dapat kita basmi-bersih ! Tapi....." dan Khu Sin Hoo tak meneruskan perkataannya. "Mengapa ?" tanya Su Tie Kong sambil mengawasi Jiauw Pie Jie Lay dengan tatapan yang tajam.

"Hmmm tapi Han-jie pasti tak puas dengan tindakan kita itu!" kata Khu Sin Hoo lagi. "Dia pasti mengingini musuh keluarganya itu dibasmi oleh tangan dia sendiri.

"Jadi maksudmu kita harus mendidiknya?" tanya Su Tie Kong lagi.

"Tak salah!" menyahuti Khu Sin Hoo cepat. "Kita semuanya berjumlah 6 orang, dan kalau nanti Kim-see Hui Hong CioPuTing datang juga, maka jumlah kita akan menjadi tujuh orang, maka kalau seorangnya mendidik Han-jie selama satu tabun, menurunkan seluruh ilmu silat simpanannya, bukankah dalam tujuh tahun saja Han-jie telah meujadi seorang jago yang luar biasa?!"

"Hmmm.....kalau aku memperoleh kesempatan mendidik bocah itu jatuh pada yang keempat dan kau yang kelima, maka bisa saja kau mengorek seluruh rahasia ilmu silatku melalui mulut si bocah!" bantah Su Tie Kong.

Wajah Khu Sin Hoo jadi berobah. Dia jadi mendongkol.

"Apakah kau kira aku serendah itu?" tegurnya kurang senang. "Dan lagi pula, seandainya memang aku mempunyai maksud begitu, apakah Han-jie juga akan menerangkannya ? Kita boleh meminta Han-jie mengangkat sumpah yang berat untuk hal itu!"

"Bagus!" seru Sian Lie Lie. "Aku setuju dengan pendapatmu, Hwee-shio gundul! Dan, bagaimana yang lainnya?" mata Sian-Lie Lie menyapu orang-orang yang ada di situ.

Jago-jago yang lainnya terdiam sesaat, tapi tak lama kemudian, setelah ragu sesaat Heng Ciauw Liong berteriak menyetujui usul Khu Sin Hoo, begitu juga yang lain, mereka sudah menyatakan akur.

"Dan, sekarang mari kita mulai mengadakan pertandingan untuk mengetahui siapa dianiara kita yang paling kosen?" kata Sian Lie Lie kemudian. "Orang yang • terpilih sebagai jago nomor satu diantara kita. maka dia memperoleh kesempatan yang pertama untuk mendidik bocah she Han itu!"

"Tapi Kim-see Hui Hong belum datang    !" kata Heng Ciauw Liong ragu.

"Biarlah ! Mungkin dia sudah mampus!" kata Sian Lie Lie aseran. "Hayo. !

Siapa yang mau melawanku terlebih dahulu?"

Semua mata menatap nenek yang garang itu, mereka juga mengetahui bahwa mulai detik inilah mereka harus mengerahkan seluruh kepandaian yang dimilikinya, agar dapat menduduki kursi jago nomor wahid di antara mereka. ! Heng Ciauw Liong yang melihat lagak si-nenek, jadi mendengus dingin, dia melompat ke depan Sian Lie Lie.

"Aku yang akan menghadapimu !" katanya dengan suara yang keras. "Kau.....?" tegur Sian Lie Lie dengan suara yang tawar. "Apa kau yakin

dapat mengalahkan diriku ?! Baik !! Majulah !" dan setelah berkata begitu, Sian Lie Lie bersiap-siap, dia mundur dua langkah ke belakang dengan tangan kiri melintang di depan dadanya, sedangkan tangan kanannya yang memegang tongkatnya itu dilonjorkan ke-muka.

"Tunggu dulu !!" seruh Khu Sin Hoo dengan suara yang keras. "Aku ingin bicara dulu !"

Sian Lie Lie menoleh kepada Hwee-shio ini.

"Apa yang ingin kau bicarakan ?" tegurnya tak senang.

"Bertanding secara ini sangat kacau dan tak teratur !" kata Khu Sin Hoo. "Begini saja.....kita boleh bertanding satu lawan satu, siapa yang kalah, masih mempunyai kesempatan untuk bertanding lagi nantinya dengan pemenang terakhir

! Bagaimaaa ?! Kalian tentu menyetujuinya bukan?"

"Hmm ..... jadi nanti pemenang terakhir harus melawan orang yang pernah dikalahkan pada pertama kalinya ?" kata Sian Lie Lie dingin.

"Jelas ! Sudah seharusnya begitu !" menyahuti Khu Sin Hoo. "Kita harus memberikan kesempatan lagi pada orang itu !"

"Baik ! Baik ! Begitupun boleh !" menyahuti Sian Lie Lie dan dia menoleh kepada Heng Ciauw Liong.

"Majulah !" bentaknya dengan suara yang nyaring. "Nasibmu memang baik, kalau kali ini kau kalah, kau masih mempunyai kesempatan satu kali lagi nantinya untuk melawan pemenang terakhir!"

"Hmm ..... belum tentu kau dapat menjatuhkan diriku !" kata Heng Ciauw Liong mendongkol, dia mendengus juga, tahu-tahu orang she Heng ini menjejakkan kakinya tubuhnya mencelat dengan cepat, sambil kedua tangannya terulurkan kemuka.

"Jaga    !" serunya.

Melihat orang menyerang dengan menggunakan kedua tangannya itu, Sian Lie Lie ketawa dingin, dia menggeser kedudukan kakinya ke arah belakang, di saat kedua tangan Heng Cauw Liong lewat dekat mukanya tiga dim, dia mengangkat tongkatnya, dan "breeetttt !" dia menyerang dengan disertai oleh tenaga dalam yang kuat sekali. Heng Ciauw Liong sedang melambung, tubuhnya terapung di udara, dia sedang menyerang Sian Lie Lie dengan menggunakan kedua tangannya, sehingga kedudukannya jadi sulit untuk mengelakkan serangan si-nenek bongkok itu. Tapi sebagai orang yang kosen dan mempunyai kepandaian silat sangat tinggi, maka dia tak menjadi gugup, malah dengan tak terduga, tahu-tahu tangan kirinya telah merobah arah, dia mengulurkan tangan kirinya itu untuk mencengkeram tongkat si- nenek, sedangkan tangan kanannya masih terus menyerang ke arah batok kepala si- nenek.

Sian Lie Lie mendengus dan matanya mencilak, dia tak mau membiarkan tongkatnya kena dicengkeram oleh Heng Ciauw Liong, karena kalau tongkatnya itu sampai kena dicengkeram oleh orang she Heng itu, maka tongkatnya akan kena dirampas oleh Ciauw Liong. Dengan suatu kecepatan yang luar biasa sekali, si- nenek bongkok merobah kedudukannya, dia lalu menyerang ke arah lain lagi dengan tongkatnya itu, malah dia menggunakan jurus 'Yan Ceng Si Pat Koen', atau 'Yang Ceng bergelimpangan delapan belas kali', tongkatnya itu berputar dan menghajar kuat sekali kearah dada Heng Ciauw Liong.

"Ihhhh!" seru Heng Ciauw Liong sambil turun kctanah dan memendekkan tubuhnya, agak membungkuk kedepan sehingga tongkat si-nenek jadi melesat lewat di atas kepalanya.

Orang she Heng tersebut juga tak tinggal diam, dia bukaa hanya merandek saja, melainkan kedua tangannya telah dikasih kerja, dia akan mencengkeram bahu nenek bongkok itu, dengan berbuat begitu dia yakin, Sian Lie Lie pasti akan melompat mundur ke belakang.

Dan, dugaan Heng Ciauw Liong memang tepat, dengan mengeluarkan seruan, Sian Lie Lie melompat menghindarkan serangan Heng Ciauw Liong. Dia juga tak mau bahunya sampai kena diserang.

Heng Ciauw Liong jadi dapat bernapas lega, matanya mencilak menatap si- nenek.

"Bagaimana betina bongkok?" tegurnya dengan suara yang tawar. "Apakah sekarang baru kau mengetahui bahwa aku orang she Heng tak dapat di pandang ringan ?"

"Hmmm.....apakah kepandaian yang tadi kau perlihatkan itu dapat disejajarkan dan berendeng dengan kepandaianku ? Kalau memang tadi aku tak berlaku sungkan dan mengasihanimu, mungkin kepalamu akan pecah oleh tongkatku ini.  !! "Betina bongkok !!" Heng Ciauw Liong berjingkrak dengan gusar, "Jadi kau masih tetap tak mau mengakui bahwa kepandaianku ini seimbang dengan kepandaianmu?

"Ya !" menyahuti Sian Lie Lie tegas. "Kau memang tak ada harganya untuk bertanding denganku ! Terimalah ini !" dan Sian Lie Lie telah menggerakkan tongkatnya uutuk meuyerang kepala Heng Ciauw Liong lagi, Heng Ciauw Liong juga murka, dengan berani dia menggerakkan tangannya memapak serangan orang. Tapi dia bukan menangkis tongkat orang. Melainkau mengulurkan tangannya akan menotok jalan darah Cie-tiong-hoat nya Sian Lie Lie yang berada di pergelangan tangan.

Sian Lie Lie mempunyai mata yang jeli, dia dapat melihat orang ingin menyelomoti dirinya dengau gerakan itu, maka itu, dengan mengeluarkan seruan, dia merobah kembali kemplangan tongkatnya, disusul kemudian dengan dua jurus serangan yang mematikan, yaitu 'Lian Thay Pay Hoed' atau 'Diatas teratai menghormati sang budha' dan disusul dengan 'Hong Kie In Yong' atau 'Angin bergerak, mega melayang-layang', dan tongkat nenek Sian ini berputar dengan cepat, merupakan kitiran, sehingga walaupun kosen, tokh Heng Ciauw Liong tak mungkin mengulurkan tangannya untuk menyerang sebab tongkat si-nenek melindungi tubuhnya rapat sekali.

Heng Ciauw Liong melompat mundur, dia ketawa dingin. "Betina bau !" tegurnya, "kau curang sekali !"

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

( Bersambung )