-->

Seruling Haus Darah Jilid 03

 
Jilid 03

HI LAY, HI BENG Soe Niang dan Tang Siu Cauw jadi bersorak gembira. Mereka tak menduga bahwa Han Han ternyata mempunyai kepandaian silat yang tinggi dan luar biasa. Kalau dilihat cara si bocah yang dapat

menghindarkan serangan si gemuk dengan mudah, kepandaian si bocah lebih tinggi dari mereka.

Kedua bocah yang bermuka hitam dan putih, Hek-jie dan Pek-jie, memandang marah pada Han Han, mereka cepat-cepat membantu si gemuk untuk bangun berdiri.

"Aku tak percaya setan cebol ini bisa mempunyai kepandaian yang begitu tinggi!" teriak si gemuk penasaran dan memandang Han Han dengan mata mendelik. Sedangkan Han Han hanya berdiri sambil melongo menatap si gemuk dengan perasaan kasihan.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang sabar di sebelah timur, semua orang menoleh ke arah itu dan ......

"Soe-hoe ..... " seru Tang Siu Cauw dan ketiga saudara seperguruannya sambil cepat-cepat menghampiri guru mereka itu.

Han Han sendiri ketika melihat kedatangan ayahnya, dia beriari-lari menghampiri,

"Thia ..... orang itu jahat sekali !" katanya mengadu pada Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim,

Si gemuk ketika melihat kedatangan Han Swie Lim jadi ketawa masam mengejek.

"Hu ! Loo-hu memang sudah menduga sebelumnya, semua ini tentu pemainanmu !" kata si gemuk dengan suara yang sember, menyatakan kemurkaan hatinya.

Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim tertawa sabar, dia mengelus-elus janggutnya. "Loo-hu heran ..... sangat heran sekali !" katanya sabar. "Kau tokh sudah besar dan tua bangka, eh, eh, masakan mau mainkan dan menghina anak kecil

.....?!"

Si gemuk mendengus.

"Tadi juga sebetulnya Loo-hu sudah tak percaya bocah tolol itu dapat menghindarkan seranganku beruntun beberapa kali, tapi sekarang Loo-hu baru ingat, semua ini tentu perbuatanmu si Han tua yang telah mengirimkan tenaga dalam yang tak tampak !"

Pat-kwa Hiat-kui ketawa sambil mengangguk.

"Ya ..... apakah Loo-hu tega melihatkan begitu saja anakku dihancur remukkan olehmu !" katanya sabar. Tadi juga waktu tubuhnya melayang, Loo hu yang telah mennnggapinya dengan tenaga yang tak tampak !!" dan setelah berkata begitu, pancaran matanya tiba-tiba berobah jadi bengis. "Mau apa kau datang mengacau di rumah Loo-hu ?!" bentaknya.

Si gemuk tertawa tawar.

"Loo-hu diperintahkan oleh Kauw-coe untuk meminta kotak pusaka darimu

!!" katanya kemudian.

''Siapa namamu ?" bentak Pat-kwa Hiat-kui sambil mengerutkan alisnya.

Laki-laki asing yang gemuk itu tertawa sampai tubuhnya yang gemuk tromok itu tergoncang.

"Masa kau sudah lupa? Kita tokh pernah bertemu di Kang-lam beberapa tahun yang lalu ?" katanya mengejek.

Pat-kwa Hiat-kui seperti mengingat-ingat, tapi dia tetap tak dapat mengingatnya siapa orang yang ada di hadapannya ini.

"Nih kau lihat !!" kata si-gemuk yang menunjuk keningnya, di mana terdapat bekas bacokan. "Ini hadiah darimu dulu waktu di Kang Lam !!"

Tiba-tiba Pat-kwa Hiat-kui seperti teringat sesuatu, wajahnya jadi berobah. "Oh kau Toat Beng Hoei Yan Gin Kwan Bing Ya, yang dulu berkomplot

dengan pemerintah Boan ?!" bentak Pat-kwa Hiat-kui.

"Oho ..... sedikitpun tak salah !" sahut si gemuk sambil menyengir mengejek. "Dan kebetulan Loo-hu menerima perintah dari Kauw-coe untuk minta kotak pusaka itu dari kau, maka aku memang mau membalas hadiah yang pernah kau berikan ini !! Budi dibalas, sakit hati dibayar ..... dan si gemuk tertawa agak keras, wajahnya bengis.

"Kau dari perkumpulan mana ?" bentak Pat-kwa Hiat-kui. Si-gemuk mengambil golok yang berada di tangan si bocah muka hitam, Hek-jie, dia menempelkan golok itu di dadanya, sedangkan tangan kirinya mengeluarkan sekuntum bunga Bwee yang terbuat dari sutera, disilangkan di antara goloknya.

"Ini dia    !" teriaknya nyaring. "Kukira kau tentu sudah mengetahui dengan

melihat golok dan bunga Bwee ini, bukan ?" dan dia lalu ketawa nyaring sekali.

Wajah Pat-kwa Hiat-kui jadi salin rupa. "Kau dari Pek Bwee Kauw ?" tegurnya.

"Nah ..... tak salah !" dan si-gemuk memberikan kembali golok bergagang emas berukiran kepala Naga itu pada bocah bermuka Hitam yang ada di sisinya. "Kukira kau telah memahami apa maksud kedatanganku ini, bukan?!"

Pat-kwa Hiat-kui tertawa sinis, dia menggeleng gelengkan kepalanya perlahan sekali, sikapnya sangat sabar.

"Dulu telah kuampuni jiwamu, tapi sekarang, e, eh, kau mencari penyakit lagi!" kata Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim. "Apa kau sudah bosan hidup ?"

Si-gemuk mendengus mengejek.

"Hu ! Aku malah ingin mengirim kau ke neraka, Han tua !!" bentak si- gemuk yang tiba-tiba bergerak cepat dan gesit sekali, tubuhnya mencelat tinggi, tangannya terpentang seakan hendak mencengkeram kepala Han Swie Lim. Kalau serangan Kwan Bing Ya, si gemuk, mengenai sasarannya, maka kepala Han Swie Lim akan remuk. Yang melihat ini jadi menguatirkan keselamatan Pat-kwa Hiat- kui yang sudah tua, lebih-lebih Soe Niang, dia jadi mengeluarkan seruan tertahan.

Tapi Han Swie Lim tenang sekali, dia tetap berdiri tegak di tempatnya, memandang datangnya serangan Kwan Bing Ya, si gemuk. Ketika tangan Kwan Bing Ya hampir mengenai kepalanya, dia tetap tak bergerak, hanya tangannya berkelebat ke arah dada orang she Kwan itu. Cepat dan bertenaga, karena jurus itu 'Bu Khek Lian Kang Kun' adalah jurus yang mematikan.

Kwan Bing Ya terkesiap, dia kaget luar biasa melihat serangan, Pat-kwa Hiat-kui itu. Kalau dia meneruskan serangannya itu, Pat-kwa Hiat kui memang akan terluka dan kepalanya akan hancur remuk, tapi dadanya sendiri juga akan pecah berantakan, alias mati ditangan Pat-kwa Hiat-kui.

Cepat-cepat orang she Kwan itu menarik tangannya dan memberatkan tubuh seribu kati, sehingga anjlok turun berpoksay ke bumi kembali, sehingga serangan Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim jadi lolos. Mereka berdiri saling berhadapan, sedangkan Han Swie Lim masih berdiri di tempatnya dengan sikap yang tenang sekali.

"Loo-hu kira kalau hanya seorang diri, maka jangan harap bisa memperoleh kotak pusaka itu !" kata Han Swie Lim tenang. "Pergi kau laporkan pada Kauw- coemu agar dia mengirim orang-orangnya yang lain !"

Muka Kwan Bing Ya berobah hebat.

"Kau jangan terlalu terkebur. Han tua!" bentaknya. "Nih kau jaga seranganku !!" dan benar-benar orang she Kwan itu menyerang lagi dengan kedua tangannya yang sekaligus menyerang dua bagian, dada dan perut Han Swie Lim, ketika dekat sampai pada sasarannya, kedua tangannya itu dipentang menyerupai sayap, menyapu keras sekali, sehingga menimbulkan angin yang keras dan tajam sekali. Dia menggunakan jurus 'Lan Lu Bak Kun' atau 'Keledai malas mengglindingkan diri' dan jurus 'Sam-cie Liok Tong' atau 'Tiga jari enam Lobang '. Hebat memang serangan itu, karena siapa yang terkena serangan tersebut, pasti akan melayang jiwanya menghadap Giam-lo Ong.

Melihat ketelengasan serangan orang, Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim tersenyum, dia mengulurkan tangannya kemuka sambil berseru : "Enyahlah kau !!"

Dan     Hebat kesudahannya !!

Tubuh Kwan Bing Ya yang gemuk besar dan tromok itu seperti juga bola yang terlempar, sehingga melambung tinggi sekali, terpental keras dan jatuh ambruk di bumi, dengan suara gedebukan yang berisik disertai oleh jeritannya.

Ternyata tadi Pat-kwa Hiat-kui ketika melihat kekejaman orang she Kwan yang menyerang dengan telengas, telah mengeluarkan sedikit kepandaiannya untuk memukul orang she Kwan itu dengan tenaga yang tak tampak, sehingga tubuh Kwan Bing Ya yang tinggi besar dan gemuk itu terbang disebabkan oleh pukulan tenaga Lwee-kang Pat-kwa Hiat-kui yang telah sempurna. Masih untung Kwan Bing Ya hanya menyerang Han Swie Lim dengan menggunakan tujuh bagian tenaganya, sehingga jiwanya masih tertolong, hanya terluka di dalam. Coba. kalau tadi dia mengerahkan seluruh tenaganya, mungkin tulang-tulang di bagian tubuhnya telah hancur dan dia mati di tangan Pat-kwa Hiat-kui, karena tenaga yang tak terlihat dari Han Swie Lim yang disertai oleh Lwee-kang yang sempurna, merupakan tenaga yang hebat sekali, semakin keras orang memukul, tenaga mental-baliknya semakin keras juga.

Kedua bocah kembar, si-hitam dan si-putih, berlari kearah si gemuk, membantu Kwan Bing Ya bangun berdiri, sedangkan si putih, Pek-jie, telah menyusut mulut orang she Kwan yang dipenuhi oleh darah merah yang segar. Mata Kwan Bing Ya mendelik kearah Pat-kwa Hiat-kui, walaupun keadaannya agak payah.

"Kau ..... kau tunggu pembalasanku nanti !" ancamnya dengan mata berkilat dendam.

Pat kwa Hiat-kui hanya tersenyum sabar.

"Rawatlah lukamu itu baik-baik, karena kalau sekarang kau mau mengumbar kemurkaanmu, maka jiwamu bisa dijemput oleh setan-setan neraka !!" kata Han Swie Lim sabar.

Kwan Bing Ya tak menyahuti, dia hanya menjejakkan kakinya ke tanah, tubuhnya melesat melewati tembok rumah Han Swie Lim, lalu menghilang diikuti oleh kedua bocah kembar pengawal orang she Kwan itu.

Pat-kwa Hiat-kui menarik napas ketika melihat kepergian orang she Kwan itu, wajahnya muram sekali. Walaupun perkelahian tadi berlangsung sangat cepat, namun akan membawa akibat yang luar biasa sekali. Setidak-tidaknya sekarang jago-jago silat di kalangan sungai telaga, Kang-ouw, telah mengetahui tempat tinggalnya dan tak lama lagi tentu akan datang berduyun-duyun ketempatnya itu, sama seperti pada dua puluh lima tahun yang lalu. Hal itulah yang menjengkelkan hati Pat-kwa Hiat-kui, karena badai dan topan akan segera terjadi, bergolak dengan hebatnya.

Pada saat, itu Tang Siu Cauw, Soe Niang, Hi Lay, Hi Seng beserta Han Han telah menghampiri Han Swie Lim.

"Thia ..... kau tak apa-apa, bukan ?" tanya Han Han pada ayahnya, dia memandang dengan penuh kekuatiran. "Hu, siluman itu benar-benar jahat !!"

Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tawar, sedangkan wajahnya tetap muram.

"Aku tak apa-apa Han-jie ! " katanya sabar. "Nah Han-jie ! Kalau tadi tak secara kebetulan aku berada disini, jiwamu tentu telah melayang kesorga kau

pasti binasa di tangan orang she Kwan itu ?! Untung saja tadi waktu orang she Kwan itu menyerang dan tubuhmu terhajar melayang oleh tenaga serangannya itu, aku telah melihatnya, sehingga aku bisa memunahi tenaga serangan orang she Kwan itu dan kau jatuh ke tanah dengan baik, tanpa menderita luka !kawan"

Tang Siu Cauw dan kawan-kawannya baru mengerti, mengapa tadi Han Han seperti juga seorang jago silat yang kosen, yang selalu dapat menghindarkan serangan Kwan Bing Ya. Rupanya Pat-kwa Hiat-kui ini telah membantu puteranya secara diam-diam.

"Maka dari itu kau harus rajin-rajin belajar silat, Han-jie!" kata Pat-kwa Hiat kui Han Swie Lim lagi.

Han Han tak menyahuti, dia hanya menunduk.

"Mulai besok kau harus berlatih bersama keempat Soe-heng dan Soe-ciemu itu!" kata ayahnya lagi, sabar suaranya.

Han Han mengangkat kepalanya, menatap ayahnya, lalu menatap Tang Siu Cauw, Hi Beng, Hi Lay dan Soe Niang bergantian. Tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya.

"Tap Thia, aku tak menyukai pelajaran silat !" katanya kemudian.

"Apa ?!" wajah Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim jadi berobah melihat kebandelan puteranya.

Walaupun melihat ayahnya murka disebabkan kebandelannya, tapi Han Han tetap menggeleng.

"Biar bagaimana aku tidak mau belajar ilmu silat, Thia !" katanya pasti. "Aku tak mau jadi jagoan  !"

"Kau benar-benar bandel!" bentak Pat-kwa Hiat-kui sengit. "Apakah kau ingin menjadi anak yang Put-hauw dan Put-gie?! " Dan tangannya telah melayang menampar pipi Han Han.

"Plaaakkk!" terdengar nyaring sekali.

Han Han kaget ditampar oleh ayahnya, seumur hidupnya belum pernah ayahnya itu memukul atau menamparnya. Baru kali ini ia ditampar oleh Pat-kwa Hiat-kui, sehingga kesakitan dia juga kaget. Air matanya hampir saja mengucur turun menitik ke pipinya, tapi dia berusaha menahannya, si bocah hanya menggigit bibirnya.

"Thia ..... " hanya perkataan itu saja yang meluncur dari bibirnya yang gemetar.

Pat-kwa Hiat-kui membalikkan tubuhnya dengan menahan perasaan sedih dan golakan hatinya, orang tua itu berusaha membendung air matanya juga yang hampir mengucur keluar ketika melihat keadaan puteranya. Biar bagaimana ia menyesal telah memukul anaknya itu, puteranya yang begitu disayangi dan dimanjakannya.

"Pergi kau masuk ke dalam !!" bentaknya dengan suara agak parau. "Thia ..... " suara Han Han tersendat di antara isak tangisnya yang ditahannya.

Pat-kwa Hiat-kui tak menoleh dia hanya berdiam diri saja.

Soe Niang menghampiri dan menarik tangan Han Han. Dibujuknya bocah itu supaya masuk ke dalam. Sedangkan Hi Lay, Hi Beng dan Tang Siu Cauw hanya menundukkan kepala mereka saja. Akhirnya Han Han mau diajak ke dalam oleh Soe Niang. Dia tetap tak menangis, hanya air matanya tampak mengembang di pelupuk matanya, menandakan kekerasan hatinya.

Ketika Soe Niang berkata : "Maka dari itu, Han Han harus mendengar kata orang tua ..... semua ini untuk kepentingannya Han-jie juga, bukan?!" Han Han hanya menggelengkan kepalanya dengan muka cemberut dan menyusut air matanya.

Sedangkan Pat-kwa Hiat-kui ketika melihat Hari Han, puteranya yang tunggal, yang hanya satu-satunya itu telah masuk ke dalam, dia menarik napas jengkel. Murid-muridnya tak berani bertanya ini atau itu, mereka hanya berdiam diri sambil menundukkan kepalanya ......

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

PAT-KWA HIAT-KUI Han Swie Lim menarik napas sambil menjatuhkan dirinya di kursi. Wajahnya murung sekali. Entah sudah berapa kali Pat-kwa Hiat- kui Hari Swie Lim menarik napas. Sedangkan ke empat muridaya, Hi Beng, Hi Lay, Tang Siu Cauw dan Soe Niang duduk bersimpuh di anyaman tikar yang ada di muka kursi Pat-kwa Hiat-kui. Semoanya berwajah muram dan menundukkan kepalanya,

"Nah Siu Cauw ..... " panggil Pat-kwa Hiat-kui ini pada murid kepalanya, suaranya terdengar di antara keheningan di ruangan tersebut perlahan sekali.

"Ya Soe-hoe    ?"

"Kita harus cepat-cepat mengungsi sebelum orang-orang itu datang kemari:" kata Han Swie Lim lagi dan dia menarik napas dalam-dalam. "Akh, kitab pusaka itu, selalu akan membawa malapetaka ...... Akan banyak korban yang jatuh !"

"Ya, Soe-hoe     "

Pat-kwa Hiat-kui menarik napas lagi.

"Hanya yang menjengkelkan sekali, sekarang Loo-hu telah tua dan gangguan semacam ini timbul kembali ..... Kita harus cepat-cepat mengungsi menyembunyikan diri .....! Akh, kitab pusaka itu betul-betul selalu memakan korban dan tak membawa ketenangan ! "

Ke empat muridnya berdiam diri dengan kepala tertunduk.

"Sebetulnya ..... " kata Pat-kwa Hiat-kui lagi. "Pendirian Han-jie, anak Han, memang ada benarnya juga kita memang tak perlu belajar ilmu silat. Buktinya?

Sekarang kita selalu di keja-kejar terus menerus oleh jago-jago kosen yang ingin memiliki buku silat itu!!" dan Pat-kwa Hiat-kui menarik napas lagi.

Mereka jadi terdiam sesaat lamanya, tenggelam dalam kejengkelan yang melanda hati mereka. Keadaan di luar sangat sepi sekali, tak terdengar suara apapun, hanya suara daun-daun pohon yang berkeresek berisik karena tertiup oleh angin yang santer sekali. Udara juga mendung, rupanya akan turun hujan besar.

Pada saat itu Pat-kwa Hiat-kui telah bangun berdiri, kedua tangannya ditompangkan ke belakang badannya dan jalan mundar-mandir di ruang itu dengan hati yang jengkel sekali. Lama keheningan mencekam seisi ruang tersebut, sampai akhirnya terdengar butir air hujan mulai turun menimpa genting rumah, gemuruh sekali, karena disertai oleh guruh dan guntur yang menggelegar memekakkan anak telinga.

Tiba-tiba Pat-kwa Hiat-kui membalikkan tubuhnya memandang ke empat muridnya, mukanya angker sekali, menunjukkan kesungguhan yang sangat.

"Siu Cauw !" panggilnya berwibawa. "Ya Soe-hoe ?!"

"Besok menjelang fajar kau harus membawa Soe-bomu dan Han-jie mengungsi dari tempat ini ..... biar aku yang akan menghadapi orang-orang yang akan datang ke mari, kalian berempat lindungi Soe-bomu dan Han-jie ke tempat yang lebih aman dan sejauh mungkin dari daerah ini ..... Kalau memang Thian masih melindungi, kita dapat bertemu lagi "

"Tapi Soe hoe     " Suara Siu Cauw tergetar.

"Apa lagi ?" tanya Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim dengan mata berkilat. "Biarlah Tee-coe berempat menemani Soe-hoe menghadapi orang-orang

yang akan datang itu    !" kata Tang Siu Cauw sambil menunduk sedih.

Pat-kwa Hiat-kui tiba-tiba memukul meja.

"Kalian mau mampus ?" bentaknya marah. "Kau kira kepandaianmu bisa menandingi orang-orang yang akan mengunjungi rumah kita ini, heh ?!"

Ke empat muridnya menunduk sedih, mereka tak menyahuti. Melihat keadaan ke empat muridnya itu, Pat-kwa Hiat-kui jadi menyesal telah membentak-bentak begitu macam pada murid-muridnya. Dia menarik napas, karena dia tahu, maksud Tang Siu Cauw berempat sebetulnya baik sekali, menunjukkan kesetiaaanya sebagai seorang murid terhadap guru.

"Siu Cauw     " panggilnya kemudian dengan suara yaug lembut.

"Ya, Soe-hoe ?"

"Kau harus mendengar kata-kataku ..... kalian harus memikirkan nasib Soe- bomu dan Han-jie, keturunanku, darah-dagingku satu-satunya ..... " kata Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim lagi.

Tang Siu Cauw dan ketiga murid Han Swie Lim yang lainnya tak menyahuti. Mereka memang tak ingin berpisah dengan guru mereka dalam keadaan yang begitu gawat. Mereka bermaksud untuk menemani garu mereka itu menghadapi orang-orang yang akan datang memperebutkan kitab pusaka yang dimiliki oleh guru mereka itu.

Pat-kwa Hiat-kui menarik napas lagi.

"Besok begitu menjelang fajar, kalian harus sudah berangkat, ambil jalan jurusan timur ! Kalian dengar tidak ! " kata Han Swie Lim lagi.

"Dengar Soe-hoe .....!" sahut Tang Siu Cauw. Tapi dia tetap duduk di situ, begitu juga Hi Lay, Hi Beng dan Soe Niang, mereka tak menggeser dari tempat duduk mereka.

"Nah ..... sekarang pergilah kalian mengemasi barang-barang yang akan dibawa " kata Han Swie Lim lagi.

"Ya, Soe-hoe ..... " sahut Tang Siu Cauw berempat, tapi mereka tetap tak bergerak, masih duduk di tempatnya semula.

Melihat kelakuan murid-muridnya, Pat-kwa Hiat kui menarik napas. Hatinya terharu. Biar bagaimana dia memang memaklumi kesetiaan keempat muridnya itu. Berulang kali ia menarik napas, lalu jalan mundar-mandir di ruang tersebut. Hatinya dipenuhi oleh perasaan yang jengkel dan bingung,

Hujan masih turun terus menyiram bumi, malah lebih deras lagi, disertai oleh petir dan guntur yang menggelegar nyaring memekakkan pendengaran. Tapi, di antara derasnya hujan di luar dan ributnya suara angin serta guntur, tiba-tiba menembus ke dalam pendengaran dari orang-orang yang berada di dalam ruang itu satu siulan'yang panjang sekali. Siulan itu begitu tajam, menindih suara lainnya. Siulan tersebut panjang sekali, terus masih terdengar, seperti juga tak akan terputus. Semakin lama suara siulan yang nyaring itu semakin keras, menyatakan orang bersiul itu telah mendatangi semakin dekat.

Mendengar suara siulan itu, wajah Pat-kwie Hiat-kui jadi berubah.

"Heh ..... apakah Jie Su-ok dari Siam-say juga datang ke daerah ini buat merebut kitab pusaka itu juga ?!" gumam Pat-kwa Hiat-kui perlahan, suaranya agak tergetar.

Suara siulan itu masih terdengar terus, menyakitkan dan menindih suara- suara lainnya. Semakin lama semakin terdengar nyata dan mendekat.

Dan, di antara suara siulan yang panjang itu, terdengar suara ketawa yang nyaring. Beriringan dengan suara siulan itu.

Mendengar suara ketawa yang mendirikan bulu tengkuk itu, kembali muka.

Pat-kwa Hiat-kui oerobah.

"Akh ..... apakah dia juga datang ?!" gumamnya dengan paras muka menunjukkan kckuatiran yang sangat.

Tang Siu Cauw, Hi Beng, Hi Lay dan Soe Niang jadi saling pandang dengan perasaan bimbang melihat kelakuan giiru mereka. Biar bagaimanapun mereka heran mendengar siulan dan suara ketawa-tawa yang mendirikan bulu tengkuk itu, tapi mereka tak berani menanyakan pada guru mereka.

Suara siulan dan suara ketawa yang menyeramkan itu semakin mendekat, sebentar lenyap, lalu terdengar lagi, lenyap lagi, lalu terdengar pula, seperti juga dipermainkan oleh gelombang hujan dan angin.

Pat-kwa Hiat-kui duduk di kursinya lagi dia memerintahkan ke empat muridnya duduk menepi. Matanya dipentang lebar-lebar dan memandang tajam sekali ke arah pintu. Di ruang tersebut jadi hening, yang terdengar hanyalah desah napas mereka yang diliputi ketegangan.

Di antara keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara yang mengguntur :

"Han Loo-Kui ..... mengapa kau selalu menyembunyiican muka saja seperti anak gadis pingitan!! Nih ada tamu ..... apa begini cara menyambut tamu ?" suara itu menggema lama sekali, menyatakan tingginya Lwee-kang, tenaga dalamnya orang yang berteriak itu.

Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim menarik napas dalam-dalam, lalu mencurahkan Lwee-kangnya dan berkata sabar : "Loo-hu memang sedang menantikan Liat-wie di sini .....!" Teriaknya menindihi berisiknya suara di luar. "Kalau memang Liat-wie mau mampir di gubuk Loo-hu, silaukan masuk saja !" Terdengar suara ketawa yang menyeramkan dibarengi dengan suara siulan yang panjang, kemudian ..... Brakkk ! Pintu ruangan tengah, terbuka secara paksa, seperti dipukul oleh sesuatu, lalu menjeblak terbuka. Sedangkan palang pintunya yang cukup tebal kuat, telah patah tiga,

Di ambang pintu berdiri ngejegleg dua orang yang berwajah luar biasa sekali, rambut mereka yang basah kuyup oleh air hujan menutupi sebagian wajah mereka, sehingga tampaknya menyeramkan. Mereka berdua memakai baju panjang yang kebesaran, dengan tambalan di sana sini. Tubuh kedua orang itu kurus sekali, sehingga tampaknya seperti tulang dibungkus kulit. Yang seorang, yang agak pendekan, yang wajahnya bengis sekali, menyoren pedang bergagang Giok kumala.

"Hihihihi ..... sebetulnya Jie Su-ok tak biasanya mendobrak pintu untuk bertamu !" kata yang membawa pedang itu.

Jie Su-ok artinya sijahat nomor dua.

Pat-kwa Hiat kui berdiri, dia menjura kearah kedua tamunya itu.

"Silahkan Jie-wie Sie-cu masuk .....!" katanya sabar sambil tersenyum. "Karena tak mengetahui kedatangan Jie-wie Sie-cu, maka Loo-hu tak menyambutnya dari jauh!"

Jie-wie Sie-cu adalah tuan berdua, sedangkan Loo-hu, aku si orang tua.

Kedua orang itu masuk dengan langkah yang ugal-ugalan, sikapnya angkuh sekali.

"Tak ada jamannya nih untuk menyambut tetamu !" tegur yang menyoren pedang bergagang batu giok sambil ketawa mengejek,

"Maafkan saja ..... karena Loo-hoe tak menduga bahwa Jie-wie Sie-cu akan berkunjung ke gubuk Loo-hoe, maka aku si orang tua tak bersiap-siap sebelumnya!" sahut Pat-kwa Hiat-kui sabar, walaupun sikap kedua orang itu menjemukan. "Kalau memang Loo hoe mengetahui bahwa kalian akan datang ke gubuk Loo-hoe ini, aku si orang tua pasti akan bersiap-siap menyediakan jamuan untuk Jie-wie .....! Juga aku tak menduga sebelumnya bahwa Jie-Su ok Ang Bian dan Giok Hok-sia Cioe Ie sudi meringankan kakinya berkunjung kegubuk Loo-hoe

..... "

Jie Su-ok Ang Bian artinya Ang Biaa si-jahat nomor dua, sedangkan Giok Hok-sia Cioe Ie ialah Cioe Ie si kumala tersesat.

Giok Hok-sia Cioe Ie, lelaki aneh yang membawa golok dengan gagangnya terbuat dari batu kumala itu, tertawa. Hambar sekali ketawanya itu, tak enak didengar dan menyakitkan pendengaran, sangat sumbang sekali, seperti juga ringkikan kuda.

"Kalau aku si sesat tak mempunyai keperluan denganmu, buat apa dari jauh- jauh aku datang kemari?" katanya mengejek.

"Ya ..... pendirianku juga sama dengan si-kumala tersesat itu !" kata Jie Su-

ok.

Pat-kwa Hiat-kui hanya tersenyum pahit, sedangkan kedua orang itu sudah

menjatuhkan diri rnareka masing-masing duduk di kursi yang ada di ruang tersebut.

Pat-kwa Hiat-kui menoleh kapada Soe Niang, mengisyaratkan agar Soe Niang menyediakan jamuan untuk kedua tamunya yang tak diundang itu. Soe Niang cepat-cepat menuju ke belakang rumah, sedangkan Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim telah duduk di hadapan tamu-tamunya itu.

"Rupanya Jie-wie Sie coe membawa kabar penting kepada Loo-hoe karena dalam hujan lebat begini, Jie-wie telah datang ke rumah Loo-hoe ..... ?" tanya Han Swie Lim dengan suara yang sabar.

Jie Su-ok dan Giok Hok-sia Cioe Ie ketawa ha-ha hi-hi, matanya jeialatan memandangi Pat-kwa Hiat-kui.

"Aku biasanya memang tak pernah main petak, aku lebih senang kalau berterus terang ..... " kata si kumala tersesat Cioe Ie. "Nah, Han Loo-kui aku

mau tanya pada kau, apakah kau benar-benar menyimpan kotak pusaka yang berisikan kitab pelajaran silat yang luar biasa itu ?!"

Wajah Pat-kwa Hiat-kui jadi berobah tapi dia berusaha tersenyum untuk menutupi perobahan wajahnya itu.

"Siapa yang mengatakan bahwa Loo-hoe memiliki kitab pusaka itu pada Jie- wie ?" tanyanya tenang.

"Aku sudah mengatakan aku paling tak senang main petak !" kata Giok Hoksia Cioe Ie sambil ketawa ha-ha he-he lagi. "Aku tanya sekali lagi, apakah kau menyimpan kitab itu ?! Kalau ya bilang ya, kalau tidak bilang tidak !!"

Jie Su-ok Ang Bian juga ketawa ngikik,

"Benar, benar Han Loo-kui ..... !" dia ikut nimbrung. "Kalau kau memang memiliki kitab pusaka itu, kaukatakan saja ya "

"Kalau memang Loo-hoe ternyata tak menyimpannya ? " tanya Pat-kwa Hiat-kui tenang.

Mata si kumala tersesat jelalatan. "Kau si Han Loo-kui tak mendustaiku nih !!" tanyanya dengan suara yang tak percaya. "Aku sih mau percaya saja setiap perkataanmu, karena kau sekarang Ho-han Boe-lim, tak mungkin akan memutar balikkan lidah mendustai kami karena disebabkan ketakutan !" dan dia ketawa ha-ha hi-hi lagi.

"Ya, benar juga    !" Jie Su-ok Ang Bian nimbrung lagi.

Pat-kwa Hiat-kui menarik napas, wajahnya berobah merah padam dan hatinya diliputi oleh perasaan bimbang.

"Ayo ..... ! Bagaimana Han Loo kui ?!" tanya si kumala tersesat lagi, "Kau yang menyimpan buku itu atau bukan ?!"

Han Loo-kui ialah setan tua si Han.

Pat-kwa Hiat-kui masih diliputi keraguan, tapi akhirnya dia mengangguk. "Ya ..... kitab itu memang di tangan Loo-hoe ! " katanya mendongkol. "Jadi

Ji-wie mau apa ? " Dia mendongkol karena orang terlalu mendesak dengan cara yang keterlaluan sekali.

Si kumala tersesat Cioe Ie dan si jahat nomor dua Ang Bian ketawa keras, mereka saling pandang, lalu ketawa lagi, Malah lebih keras.

"Bagus ! Bagus!" kata si kumala tersesat Cioe Ie "Kau memang seorang Ho- han, Han Loo-kui ! Biar usiamu sudah hampir babis dan masuk ke liang kubur, namun kau ternyata laki-laki sejati."

. "Ya     kau baru seorang jagoan, Han Loo kui ! " Jie Su-ok nimbrung lagi,

Tiba-tiba     tiba-tiba sekali, Han Swie Lim menggebrak meja,

"Jadi kedatangan Liat-wie kemari msu apa ? " bentaknya dengan suara nyaring.

Si kumala tersesat dan si jahat nomor dua Ang Bian dibentak cara begitu oleh Pat-kwa Hiat-kui jadi kesima sesaat, tapi kemudian mereka ketawa ha-ha hi-hi lagi sambil saling pandang.

"Hebat ! Hebat !" gumam si kumala tersesat sambil tetap tertawa ha-ha he- he. "Galak! Galak!" gumam si jahat nomor dua Ang Bian,

Han Swi Lim menggebrak meja lagi sambil berdiri, kumis dan janggutnya yang indah berubah putih itu bergerak-gerak menahan kemarahan hatinya. Dia sangat murka melihat kelakuan kedua orang tamunya yang tak diundang ini.

"Jadi mau apa Jie-wie datang kemari?" bentak Pat-kwa Hiat-kui dengan suara angker. "Oho ..... tenang, tenang, tenang Han Loo-kui, sabar, sabar .....!" kata si kumala tersesat Cioe Ie sambil ketawa ha-ha hi-hi terus, "Kalau memang kau cepat marah dan mengumbar kemurkaanmu begitu macam, kujamin tak sampai lima hari lagi kau bakal mati penasaran !!"

Wajah Pat-kwa Hiat-kui kian merah padam, sedangkan Tang Siu Cauw, Hi Lay, Hi Beng dan Soe Niang telah berdiri di sisi guru mereka dengan tangan siap mencabut senjata mereka.

"Begini saja Han Loo-kui .....!" kata si kumala tersesat lagi. "Sekarang kami akan bicara terus-terang, kedatanganku kemari ingin meminjam buku pusaka itu selama dua bulan ! Nah Han Loo-kui apakah kau mengijinkan atau tidak ?!"

"Bangsat !" bentak Pat-kwa Hiat-kui sengit "Apa kitab pusaka itu kalian anggap nenek moyangmu yang punya dan mau minjam-minjam segala ?!"

""Nah! Nah!" si kumala tersesat masih tertawa ha-ha hi-hi. "Aku juga tadi telah mengatakan kami hanya ingin meminjam saja kitab pusaka itu, kukira kau tak akan berlaku sekikir itu Han Loo-kui !"

Pat-kwa Hiat-kui menatap si kumala tersesat Cioe Ie dan si jahat nomor dua Ang Bian dengan tatapan mata yang tajam luar biasa, matanya berkilat menyatakan bahwa orang tua she Han itu sedang murka.

"Han Loo-kui !" kata si kumala tersesat lagi sambil tertawa ha-ha hi-hi dan matanya jilalatan licik. "Kau tak akan rugi meminjamkan kitab pusaka itu pada kami !"

"Kalau Loo-hoe tak mau meminjamkan kitab pusaka itu, apa yang akan dilakukan oleh kalian ?" tanya Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim lebih mendongkol, dia mendelu melihat lagak orang yang selalu ketawa ha-ha-hihi.

"Huh ..... sampai begitu kikirnya !" kata si-jahat nomor dua Ang Bian. "Kukira kau tak ada ruginya meminjami buku itu padaku ..... sebulan atau dua bulan lagi, aku akan mengantarkannya kembali padamu!"

"Tidak !!" kata Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim keras.

"Apanya yang tidak ?" tanya si jahat nomor dua Ang Bian sambil tetap tertawa ha-ha hi-hi tak hentinya.

"Aku tak akan meminjamkan kitab pusaka itu pada siapapun juga !" kata Pat-kwa Hiat-kui dengan suara mengguntur.

Si kumala tersesat ketawa lagi, tubuhnya tergoncang. "Setiap kali aku si kumala tersesat ingin meminjam sesuatu barang, pasti selalu berhasil, tak pernah tak memperolehnya !" katanya dingin. "Jadi kalau kau tak mau meminjaminya, terpaksa aku akan mengambil jalan kekerasan !"

"Terserah pada kalian !" kata Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim lebih mendongkol lagi.

"Akh, rupanya kau Han Loo-kui lebih senang kalau kami mengambil jalan kekerasan ya ?!" kata si jahat nomor dua Ang Bian dengan mata jelalatan galak, muka kedua orang itu jadi berobah bengis, walaupun masih tertawa ha-ha hi-hi.

"Cepat kalian enyah dari ruang ini sebelum kulempar-lemparkan kalian keluar !" kata Pat-kwa Hiat-kui sengit.

Si jahat nomor dua Ang Bian jadi lebih jahat dan si kumala sesat semakin tersesat waktu mendengar perkataan Pat-kwa Hiat-kui, mereka jadi tertawa lebih geli, tanpa memperdulikan kemarahan Han Swie Lim, seperti orang sinting. Tiba- tiba dengan tak terduga, di saat dia berdiri, tubuhnya mencelat gesit luar biasa sekali kesisi Pat-kwa Hiat-kui, dia mengulurkan tangannya yang menyerupai cakar itu menyerang iga Han Swie Lim. Si kumala tersesat menyerang dengan menggunakan jurus 'Kiong Cian Jong Kui' atau 'Busur terbentur kepalan', yang diarah adalah Khie-ie-hiat-nya Pat-kwa Hiat-kui di bagian iga.

Melihat si kumala tersesat sudah membuka serangan, Pat-kwa Hiat-kui melompat tiga tombak untuk menghindarkan serangan si sesat Cioe Ie itu sambil mengebaskan lengan bajunya menyapu tangan Cioe Ie. Tapi, si kumala tersesat telah menarik pulang tangannya lagi, rupanya tadi hanya merupakan serangan pancingan belaka, tangannya meluncur kekiri dan dengan tak terduga dia mencengkeram tengkuk Hi Lay.

Murid Pat-kwa Hiat-kui jadi terkesiap, karena tahu-tahu tangan si kumala tersesat telah berada dekat tengkuknya, dia bermaksud mengelakkan serangan orang, tapi gerakan dan tangan si kumala tersesat cepat sekali, sehingga tahu-tahu dia sudah kena dicekuk oleh si sesat menjadi tawanan Cioe le.

"Ha-ha-ha-ha ..... nah. Han Loo-kui, sekarang kau mau meminjami kitab itu padaku tidak ?", tanya si kumala tersesat sambil tertawa ha-ha hi-hi lagi, sedangkan Hi Lay yang kena cengkeram Hui-hi-hiat-nya, tenaganya juga seperti lenyap, terkulai lemas, sehingga dia tak berdaya terjatuh di tangan Cioe Ie. Hanya mataaya mendelik menatap benci pada si kumala tersesat.

Pat-kwa Hiat-kui menatap murka melibat kelicikan si-kumala tersesat, tubuhnya sampai menggigil menahan kemurkaan hatinya. "Kau seorang Ho-han atau bukan dengan berbuat curang begitu?" bentaknya.

"Dalam waktu ini tak ada yang dikatakan bermain curang !" kata si jahat nomor dua ikut nimbrung. "Entah kejahatan apa yang belum pernah kulakukan

....." yang penting, sekarang kau tetap berkeras tak mau menyerahkau kitab itu atau ingin melihat bocah ini mampus?!" Dingin suara Ang Bian.

Wajah Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim jadi salin merah padam. "Lepaskan muridku itu!" bentaknya.

"Lepaskan?" tanya si kumala tersesat sambil tetap tertawa, sikapnya tenang sekali. "Melepaskan muridmu ini memang mudah Han Loo-kui!! Tapi cepat

keluarkan kitab pusaka itu    !!"

Pat-kwa Hiat-kui jadi berdiri ragu di tempatnya. Dia memandang bergantian pada orang-orang yang berada di dalam ruang tersebut. Achirnya dia menarik napas sambil menepuk tepian meja, sehingga ujung meja itu hancur somplak terpukul oleh tangannya.

"Habis! Habislah semuanya!" keluhnya seperti menyesali dirinya.

"Soe-hoe ..... jangan kau berikan kitab itu pada orang ini      biarlah Tee-coe

mati di tangannya, lebih baik Tee-coe binasa di tangannya ..... jangan diberikan kitab itu, Soe-hoe!!" kata Hi Lay dengan suara yang susah, karena dia seperti tercekik oleh leher bajunya sendiri.

"Kau lepaskan muridku itu, nanti kuberikan kitab pusaka itu pada kalian!!" kata Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim dengan wajah yang muram.

Si kumala tersesat ketawa.

"Heh ..... sudah kukatakan, melepaskan muridmu ini memang mudah, sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan saja, tapi ..... kau keluarkan dulu kitab pusaka itu! Aku menginginkan tukar menukar, ini adil dan tak merugikan satu dengan yang lainnya !" kata si kumala tersesat licik.

"Aku tak akan mendustaimu!" kata Pat-kwa Hiat-kui mendongkol melihat si kumala tersesat tak mempercayai perkataannya.

"Aku tahu, kau memang tak perlu mendustaiku, tapi dalam soal dagang, kita harus menggunakan cara dagang juga !" sahut si kumala tersesat sambil ketawa.

Tapi tiba-tiba ketawanya itu lenyap, mukanya jadi bengis. "Cepat keluarkan kitab itu!" bentaknya keras.

"Benar .....! Benar !" si jahat nomor dua ikut nimbrung sambil ketawa ha-ha he-he lagi. Pat-kwa Hiat-kui menarik napas lagi menoleh pada Hi Beng yang sedang menatap ke arah Hi Lay dengan pancaran penuh kekuatiran.

"Ambilkan kitab pusaka itu di lemari bawah ..... ! " perintahnya kemudian dengan suara perlahan sekali.

"Tapi Sos-hoe     Hi Beng ragu.

"Cepat ambilkan kitab itu dan bawa kemari!"' kata Pat-kwa Hiat-kui dengan muka yang muram,

Hi Beng tak berani membantah lagi, dia ngeloyor pergi. Selama kepergian murid Pat kwa Hiat-kui itu, ruang tersebut jadi sunyi, semua berdiam diri. Hanya sekali-sekali terdengar suara ketawa ha-ha-he-he dari si kumala tersesat Cioe Ie dan si jahat nomor dua Ang Bian. Tak lama kemudian Hi Beng telah masuk ke ruang itu lagi, di tangannya membawa kotak kayu cendana.

Melihat kotak yang dibawa oleh murid Pat kwa Hiat-kui itu, mata si kumala tersesat dan si jahat nomor dua jadi jelalatan tak keruan. Mata mereka bercahaya garang pada kotak pusaka yang dibawa oleh Hi Beng.

Sedangkan murid Pat-kwa Hiat-kui membawa kotak kayu cendana itu kepada gurunya dan menyerahkan pada Han Swie Lim dengan penuh penghormatan dan kepala tertunduk sedih. Tanpa dapat dicegah lagi, menitik butir- butir air mata yang hangat yang menetes ke pipinya. Memang, di antara keempat murid Pat-kwa Hiat kui, Hi Lay, Hi Beng, Tang Siu Cauw dan Soe Niang, maka Hi Beng yang paling lemah dan perasa hatinya. Dia paling mudah bersedih dan menitikkan air mata.

Sekarang, di kala melihat gurunya berada di dalam desakan dan gencetan kedua orang penjahat yang menginginkan kitab pusaka itu, dan disebabkan keselamatan Hi Lay sebagai tebusannya, maka benda pusaka milik gurunya yang begitu disayangi melebihi jiwanya sendiri akan diserahkan pada kedua iblis itu hanya untuk menolong jiwa Hi Lay, maka Hi Beng tak dapat menahan menitiknya butir air mata yang menggelinangi pipinya ..... tubuh anak muda ini menggigil, tangannya yang mengangsurkan peti pusaka itu kepada gurunya juga tergetar .....

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 7 PAT-KWA HIAT-KUI menerima kotak itu dari tangan Hi Beng dengan wajah yang muram sekali. Diawasinya sesaat lamanya dengan perasaan yang sedih.

"Ayo, Han Loo-kui ! Apa lagi yang kau pikirkan !?" tegur si kumala tersesat sambil tetap ketawa ha-ha hi-hi. "Ayo lemparkan kotak itu padaku !!"

Pat-kwa Hiat-kui melirik, lalu menarik napas.

"Baik ..... ! Akan kuserahkan kitab pusaka ini pada kalian ..... tapi kau bebaskan dulu muridku itu !" katanya kemudian.

"Lemparkan dulu kotak itu !" bantah si kumala tersesat Cioe Ie. "Bebaskan muridku dulu !"

Giok Hok-sia Cioe Ie ketawa ha-ha-he-he lagi.

"Terus terang saja Han Loo-kui, aku tak percaya padamu !" kata si kumala tersesat. "Tuh ..... kau berikan saja pada Loo-jie nanti kubebaskan muridmu ini

!!"

Pat-kwa Hiat-kui menarik napas lagi, sedangkan Jie Su-ok telah menghampiri sambil ketawa ha-ha-he-he, tubuhnya yang kurus seperti tulang dibungkus kulit tergoncang seperti kulit sebatang papan.

"Kau sudah dengar Han Loo-kui .....?" kata Jie Su-ok Ang Bian tetap ketawa. Diulurkan tangannya dengan mata jelalatan. "Cepat kau berikan kotak pusaka itu padaku !"

Pat-kwa Hiat-kui mengangsurkan kotak kayu cendana itu dengan hati yang berat dan si jahat nomor dua menerimanya dengan cepat.

Si kumala tersesat ketawa lagi, lalu melepaskan cekalannya pada Hu-hi- hiatnya Hi Lay.

"Beres !" katanya puas.

Begitu terbebaskan dari cengkeraman orang, Hi Lay membalikkan tubuhnya sambil mencabut pedangnya. Dia membabat secara tiba-tiba dengan pedangnya, karena dia telah nekad dan tak mamikirkan keselamatannya, sebab gurunya telah membelanya dengan menukarkan kitab pusaka kesayangan Pat-kwa Hiat-kui itu.

"Eh, eh, kau cari mampus kunyuk !" kata si-kumala tersesat sambil ketawa dan mengelakkan serangan Hi Lay. Diulurkan tangannya dan menjepit mata pedang Hi Lay dengan kedua jari tangannya, sekali putar saja, pedang itu patah dua. Lalu dengan menggunakan lengan kirinya, dia mengibaskan lengan jubahnya yang agak kebesaran itu, sehingga murid Pat kwa Hiat kui terjungkal ngusruk. "Aku masih mau memberi ampun pada jiwa monyetmu, kunyuk !" kata si kumala tersesat sambil ketawa ha-ha-hi-hi dan menghampiri Jie Su-ok. "Karena garumu, telah berbuat baik hati meminjamkan kitab pusaka itu pada kami !!"

Hi Lay cepat-cepat merayap bangun dengan muka berdarah, karena giginya rontok dua, dia mau menyerang lagi, sebab anak muda ini telah nekad.

"Akan kuadu jiwaku !" teriaknya kalap dan menyerudukkan kepalanya kepada si kumala tersesat.

"Hi Lay ..... kemari kau !" panggil Pat kwa Hiat-kui waktu melihat kenekadan muridnya itu.

Hi Lay jadi tak meneruskan kekalapannya itu, dengan mata masih berapi-api dia memandang si kumala tersesat, lalu menghampiri gurunya,

Pat-kwa Hiat-kui menarik napas sedih.

"Nah ..... sekarang kalian sudah memperoleh kitab pusaka itu !" katanya dengan suara yang keras. "Apa lagi yang kalian tunggu ..... cepat pergi dari rumahku ini !!"

Si kumala tersesat mau menyahuti untuk mengejek Pat-kwa Hiat-kui, tapi tiba-tiba berkelebat seulas cahaya yang menyilaukan ke arah Jie Su-ok, sehingga mengejutkan sekali. Benda itu datangnya terlampau cepat, sehingga Jie Su-ok hanya berdiri kesima. Tangannya yang sedang memegangi kotak kayu cendana di mana di dalamnya terdapat kitab pusaka tak dapat dipakai untuk menangkis, sebab kalau dia menangkis, benda pusaka tersebut akan hancur.

Untuk beberapa saat ia jadi ragu-ragu. Sedangkan kalau si jahat nomor dua tak menangkis dan mempertahankan kotak pusaka itu, mungkin dia akan binasa. Dalam waktu yang sekejap itu, Jie Su-ok Ang Bian harus sudah mengambil keputusan. Dia melepaskan kotak itu dan melejit ke samping serta menangkis dengan kecepatan yang luar biasa, sehingga terdengar benturan yang keras sekali. Lalu Jie Su-ok mengulurkan tangannya ingin menyanggahi kotak kayu cendana yang sedang meluncur hampir mengenai lantai, namun kejadian yang luar biasa telah terjadi lagi, benda itu seperti terbang lenyap dari tangan Jie Su-ok mengenai tempat kosong.

Dengan murka, Jie Su-ok mengawasi sekelilingnya. Semuanya berlangsung begitu cepat, tapi dalam waktu yang sangat singkat itu, di dalam ruang tersebut telah tambah satu orang lagi. Seorang laki-laki berpakaian aneh sekali, bajunya terdiri dari bermacam-macam warna dan rambutnya dikonde rapih sekali, walaupun sudah tua usianya. Ketika melihat orang aneh itu, wajah Jie Su-ok jadi berobah pucat "Kim-see Hui Hong ?!!" serunya tertahan dalam kekagetannya itu.

Orang yang baru datang di ruang tersebut, yang dipanggil sebagai Kim-see Hui Hong, si-badai pasir emas, bertubuh kurus kering seperti Jie Su-ok dan Giok Hok-sia, tapi mukanya luar biasa sekali, pecat-pecot di sana-sini, sehingga tampaknya menyeramkan sekali. Rambutnya terkonde rapih. Sedangkan di tangannya tampak menggenggam kotak kayu cendana yang tadi dipegang oleh Jie Su-ok, dan tangan kirinya tergenggam sebatang bambu pendek.

Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut berseru kaget atas kehadiran laki-laki menyeramkan itu di dalam ruang tersebut. Begitu juga Pat-kwa Hiat-kui, dia malah mundur selangkah ke belakang, karena dia mengenali Kim-see Hui Hong, si badai pasir emas.

"He-he-he-he .....! Kim-see Hui Hong Cio Put Ting ketawa menyeramkan. "Tadi kau memimjam kitab pusaka ini dari Han Loo-kui dan sekarang aku mau meminjamnya darimu selama setengah bulan ..... setelah menjelang setengah bulan, kitab pusaka ini akan kukembalikan dan nanti setelah kau mempelajari selama satu bulan baru kau kembalikan pada si Han Loo-kui ! Bagaimana .....

boleh tidak ?"

"Tapi Loo-cianpwee     " Jie Su-ok dan Giok-Hok-sia jadi kesima.

"Tak boleh .....?" bentak Kim see Hui-Hong keras sekaii, menggoncangkan ruangan tersebut.

"Eh boleh ..... boleh Loo cianpwee!" sahut Jie Su-ok ketakutan, tampaknya dia jeri sekali pada orang itu, Giok Hok-sia juga tak berani ketawa ha-ha he-he lagi.

Kim-see Hui Hong ketawa melihatt ketakutan kedua iblis itu, dia manggut- manggut sambil menyelipkan bambu kecilnya di pinggang. Lalu dia melangkah menuju ke pintu.

"Setengah bulan yang akan datang aku akan mencari kalian untuk mengembalikan kitab pusaka ini!" katanya menjanjikan.

"Ya, Loo-cianpwee ..... Ya cianpwe!" sahut Jie Su-ok dan Giok Hok-sia patuh sekali, mereka tak banyak mulut ini dan itu, tak banyak rewel.

Namun baru saja Kim-see Hui Hong akan keluar dari pintu, tiba-tiba terdengar suara yang mengguntur: " Tahan ..... kau jangan keluar dulu setan petot, tetap berdiri di tempatmu !"

Kim-see Hui Hong melompat ke belakang lagi, matanya jelalatan. "Siapa itu diluar?" tegurnya mendongkol, karena tadi di saat dia akan keluar dari pintu ruangan tersebut, tiba-tiba dia merasakan serangkum tenaga serangan yang mendorongnya kuat sekali. Itulah sebabnya mengapa dia mencelat melompat mundur ke dalam lagi.

Terdengar suara ketawa di luar ruangan tersebut, seperti suara meringkiknya

kuda.

"Aku adalah aku!" Suara itu menyeramkan sebali. "Aku tak pernah

mengganti nama menyembunyikan muka ..... kalau memang kalian ingin tahu, aku she Bo bernama Tho!"

Mendengar nama itu, Kim-see Hui Hong mengeluarkan seruan tertahan.

"Oh ..... kau Bo Tho?!" serunya. "Mengapa kau berbuat seperti maling kecil yang menyerang orang dengan cara sembunyi-sembunyi?"

Terdengar ketawa orang di luar itu, lalu tampak memasuki ruangan tersebut seorang wanita yang gemuk tromok. Memang pantas dia bernama Bo Tho, sebab muka dan pipinya boto sekali, malah kelewat boto!!

"Benar-benar mengherankan sekali, kau masih mau ikut-ikutan mencampuri urusan anak-anak kecil ! kata Bo Tho. "Sudahlah ..... sekarang kau ikut aku dan serahkan kotak itu pada yang punya, si Han Loo-kui."

"Eheh, mana bisa begitu?" kata Kim-see Hui Hong sambil memandang nyureng menyipitkan matanya pada Bo Tho. "Kotak, ini dapat kupinjam dari kedua bocah sinting itu, mana boleh jadi aku malah mengembalikannya pada si Han Loo- kui ?"

Si Bo Tho ketawa keras, suaranya parau seperti suara laki-laki, tak ada nada- nada ke wanitaannya.

"Ya, ya, ya, kalau begitu kau harus mengembalikan pada kedua bocah sinting itu!" kata Bo Tho sambil tetap ketawa.

"Tak bisa ..... -!" bantah Kim-see Hui Hong.

"Cio Put Ting !!" bentak Bo Tho keras dan wajahnya berobah. "Apanya yang tak bisa ?!"

"Kukatakan tak bisa tetap tak bisa!" bantah Kim-see Hui Hong Cio Put Ting, "Jadi kau tak bisa mengembalikan kotak itu pada kedua bocah sinting itu ?"

tanya Bo Tho dengan kilatan mata yang tajam.

Kim-see Cio Pat Ting menganggguk. "Ya tak bisa !" sahutnya. "Kalau memang kau tak bisa mengembalikannya, biarlah aku yang mengembalikannya !!" kata Bo Tho lagi.

. "Oohhh ..... enak di pihakmu dan tak enak dipihakku !" kata Kim-see Hui Hong Cio Put Ting sambil memegangi kotak kayu cendana ita erat-erat.

Bo Tho ketawa lagi, dia menyapu orang-orang yang ada di ruangan tersebut dengan tatapan mata yang tajam sekali. Dilihatnya oran-orang yang ada di ruang tersebut sedang memandang dirinya dengan tatapan heran bercampur takut.

Bo Tho jadi ketawa lagi.

"Sudahlah     ayo cepat kau ikut aku !" kata Bo Tho kemudian.

" Aku sih mau saja ikut padamu, Bo Tho!" kata Kim-see Hui Hong Cio Put Ting. "Tapi asalkan kotak pusaka ini tak dikembalikan !"

"Eh-eh, kau bandel amat sih, setan tua?!" bentak Bo Tho yang mulai hilang kesabarannya.

"Aku tak bandel terhadapmu Bo Tho !" sahut Kim-see Hui Hong Cio Put Ting cepat. "Tapi aku tak mau mengembalikan kotak ini !"

Bo Tho ketawa,

"Kalau kau yang tak mau menyerahkannya, nanti aku yang tolong mengembalikannya !" kata Bo Tho. Dan berbareng dengan habisnya ucapannya

itu, dia menjejakkan kakinya, tubuhnya yang gemuk tromok itu melambung tinggi ke atas. Dia mengulurkan tangannya akan menjambret kotak pusaka itu dari tangan Kim-sse Hui Hong ketika tubuhnya sedang meluncur turun, tapi Kim-see Hui Hong Cio PutTing me celat menjauhi dia, sehingga Bo Tho menubruk tempat kosong.

Menggunakan kesempatan itu. Keem-see Hui Hong Cio Put Ting telah mangenjot tubuhnya lagi melayang ke luar. Namun, disaat tubuhnya masih berada di udara, dia merasakan tengkuknya ada yang cengkeram lalu dirasakan tubuhnya melayang masuk lagi, ambruk membentur tiang ruangan tersebut. Dia menjerit kesakitan dan memaki-maki Bo Tho dengan kata-kata yang kotor, karena dia kalap sekali.

Ternyata ketika Cio Pat Ting sedang melompat akan keluar. Bo Tho telah membarengi menggenjot tubuhnya juga, menjambret tengkuknya Kim-see Hui Hong, lalu melemparkan laki-laki tua itu ke dalam lagi. Memang kalau dibandingkan, ilmu entengi tubuhnya Bo Tho lebih tinggi dari Kim-see Hui Hong Cio Put Ting  !! Pat-kwa Hiat kui, Giok Hok-sia, Jie Su-ok dan yang lain-lainnya jadi melongo melihat kehebatan kedua jago luar biasa itu. Mereka hanya menyaksikan dengan kesima.

Pada saat itu Bo Tho telah menghampiri Cio Pat Ting.

"Ayo ..... kau mau menyerahkan dan mengembalikan kotak itu pada yang punya atau tidak ?!" tanya Bo Tho sambil tertawa sabar.

"Tak mau!!" sahut Kim-see Hui Hong Cio Pat Ting penasaran. "Tak mau ?"

"Ya ..... aku tak mau mengembalikan sekarang, karena aku memang diijinkan untuk meminjam setengah bulan!!" sahut Cio Put Ting.

Bo Tho ketawa keras, sehingga tubuhnya yang gemuk tromok itu tergoncang.

"Kau diijinkan meminjam barang itu setengah bulan?' tanyanya sambil tetap ketawa, "Tapi kukira ijin yang kau peroleh itu didapatkannya dengan jalan kekerasan. Ya tidak ?"

"Tidak    ! Mereka rela menyerahkannya !'' bantah Cio Put Ting.

Tiba-tiba muka Bo Tho jadi berobah bengis.

"Cio Put Ting! Kau dengarlah !" bentaknya nyaring sekali. "Aku tak mau mempunyai seorang suami yang jahat .....!! Biar kau suamiku, tapi kalau kau jahat kau pasti akan kubunuh !! Kau dengar tidak, setan tua?!"

Cio Put Ting jadi menundukkan kepalanya waktu mendengar perkataan Bo Tho. "Kau dengar tidak perkataan tadi, setan tua ?i" bentak Bo Tho lagi.

Cio Put Ting si badai pasir emas mengangkat kepalanya menatap Bo Tho. "Tapi Bo Tho " katanya ragu.

"Tak pakai tetapi-tetapian lagi ..... kalau memang kau masih mencintaiku, cepat kau kembalikan barang itu pada yang punya!!" kata Bo Tho memotorg perkataan Cio Put Ting.

'"Aku meminjamnya dari si Jie Su-ok !!" kata Kim-see Hui Hong Cio Put

Ting, dia menoleh pada Jie Su-ok Ang Bian yang kala itu sedang memandang mereka dengan tatapan kesima. "Eh bocah jahat kau rela atau tidak meminjami

barang ini kepadaku?" tanyanya dengan suara berteriak. "Rela Loo-cianpwee "sahut Jie Su-ok cepat.

"Tuh ..... " Kim-see Hui Hong Cio Put Ting menoleh pada Bo Tho, yang ternyata adalah isterinya. "Apanya yang tuh?" tanya Bo Tho mendongkol.

"Ya ..... kau tokh mendengar sendiri bocah jahat itu rela meminjami barang ini padaku !" kata Cio Put Ting.

"Nanti si bocah jahat itu akan kubikin lebih sinting lagi ..... aku akan membuatnya seperti layangan singit !" kata Bo Tho mendongkol dan sengit. Matanya mendelik melotot menatap Jie Su-ok, sehingga Jie Su-ok jadi ketakutan.

"Tapi Bo Tho ..... aku hanya ingin meminjamnya setengah bulan saja    kau

juga boleh mempelajari ilmu silat yang ada di dalam kitab ini nanti bersamaku !" kata Cio Put Ting dengan suara yang meratap.

" Cisss najis ! " kata Bo Tho sambil membuang ludah. "Sudah kukatakan kau jangan suka mengiler melihat barang orang, tapi hari ini, eheh kau mau usil

lagi terhadap milik orang lain ! Apa kau sudah tak mencintaiku dan ingin kita bercerai saja ?"

Mendengar perkataan Bo Tho yang terakhir itu, Cio Put Ting, si badai pasir emas jadi ketakutan, lebih-lebih ketika dilihatnya Bo Tho menangis dan tubuh wanita itu yang gemuk tromok tergetar disebabkan isak tangisnya, Cio Put Ting jadi lebih gugup lagi. Dia melemparkan kotak pusaka itu kearah Jie Su-ok.

"Nih bocah jahat ..... kau ambil lagi saja !" teriaknya. "Aku tak mau dah

.....!" dan dia menghampiri isterinya, Bo Tho.

Yang repot adalah Jie Su-ok. Tenaga lemparan Cio Put Ting Kim-see Hui Hong walaupun sangat perlahan, tapi hebat sekali bagi Jie Su-ok. Ketika kotak itu meluncur dengan kecepatan yang tak terkira, Jie Su-ok yang tak menduga bahwa Cio Put Ting akan berbuat begitu, cepat-cepat mundur kebelakang untuk menghindarkan diri dari terjangan kotak itu, tapi tak urung bibirnya keserempet juga, sehingga dia mengeluarkan jerit kesakitan. Kotak pusaka itu meluncur terus kearah Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim, yang lalu menyanggahnya. Sedangkan Jie Su-ok sudah jontor bibirnya, itupun untung baginya, karena giginya tak ada yang rontok !

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

SEBETULNYA Pat-kwa Hiat-kui memang sering mendengar nama Kim-see Hui Hong Cio Put Ting. Kepandaian si badai pasir emas memang sangat tinggi dan sukar diukur, dia merupakan salah seorang tokoh jago silat yang kosen dan termasuk terkemuka di antara ketujuh tokoh yang menjagoi seluruh daratan Tionggoan. Enam jago lainnya ialah Su Tie Kong yang bergelar It-kiam Chit-tong, atau satu pedang tujuh lobang, Kepandaian pendekar tersebut luar biasa dan sifatnya juga aneh sekali, lagaknya selalu uring-uringan, tak perduli sedang gembira atau sedang bersedih, kalau memang It-kiam Chit-tong Su Tie Kong mau membunuh, maka dia pasti membunuh tanpa sebab. Dia menjagoi wilayah Selatan dan tak pernah menemui tandingan, karena dia kosen luar biasa. Sedangkan tokoh yang lainnya ialah Gin Tiok Su-seng atau pelajar bersuling perak. Nama sebenarnya ialah Gauw Lap, seorang yang ugal ugalan juga, selalu, membunuh kalau ada seorang yang tak disukainya. Dia juga tak dapat dibendung kejahatan atau ketelengasannya itu, karena sangat kosen. Malah yang lebih luar biasa lagi, selain telengas, Gin Tiok Su-seng juga merupakan seorang yang senang paras cantik, dia sering menganggu anak-isteri orang, memperkosa secara paksa. Tokoh lainnya ialah

Maaf halaman 45,46 hilang.

gugup dan ketakutan pada istrinya yang gemuk tromok itu.

Tapi walaupun melihat hal yang lucu itu, orang-orang dalam ruangan tersebut tak ada yang tertawa keadaan jadi sunyi, yarg terdengar hanyalah isak tangisnya Bo Tho.

"Aku tak mau mempunyai suami seorang penjahat!" sesambat Bo Tho dalam isak tangisnya.

"Ya, Bo Tho ..... Ya, Bo Tho ..... Aku sudah mengembalikan kotak pusaka itu pada si bocah jahat ..... Aku tokh tak jahat ..... aku memang bukan seorang penjahat!!" Kim-see Hui Hong Cio Put Ting repot membujuki istrinya.

Tapi Bo Tho masih terus menangis.

Di luar, hujan masih terus juga turun dengan derasnya. Di antara gemerciknya suara air hujan itu, diselingi oleh bunyi guntur yang memekakkan anak telinga. Keadaan di dalam ruangan tersebut jadi semakin hening. Tiba-tiba

..... di antara rincikan air hujan dan bunyi guntur yang gemuruh itu, menyelip sebuah alunan suara seruling yang lembut sekali, namun semakin lama menyakitkan pendengaran. Suara seruling itu semakin lama semakin mendekat dan tak lama kemudian tampak seorang laki-laki berwajah angker, berpakaian rapih seperti orang Sioe-chay, pelajar, dengan kopiah baru, bertindak melangkah memasuki ruangan tersebut sambil meniup serulingnya. Lagaknya, seorang Sioe- chay. Dia masih terus meniup seruling itu ketika dia duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan tersebut, sedangkan yang lainnya hanya berdiam diri memandang hern pada laki-laki pelajar itu.

Bo Tho masih menangis, dia malah lebih terisak.

"Aduh ..... telingaku jadi sakit mendengar lagu rombeng rongsokan itu ! " katanya di antara sendat tangisnya.

"Kenapa kau Bo Tho ! " tanya Kim-see Hui Hong Cio Put Ting ketolol- tololan.

"Aku tak mau mendengar suara seruling itu ..... !" kata Bo Tho masih tetap menangis.

"Jadi diberhentikan saja ?" tanya Kim-see Hui Hong Cio Put Ting lagi. "Oho !!"

Tiba-tiba ..... dengan suatu gerakan yang cepat luar biasa sekali, tubuh Kim- see Hui Hong Cio Put Ting melambung tinggi, ketika tubuhnya melewati sisi kursi yang diduduki laki-laki pelajar yang sedang meniup serulingnya, maka Kim-see Hui Hong mengulurkan tangannya menjambret seruling yang masih ditiup oleh laki-laki pelajar itu.

Tapi kali ini Kim-see Hui Hong jadi kecele, karena pelajar itu tetap tenang duduk dikursinya sambil meniup sulingnya terus, tapi di saat tangan Kim-see Hui Hong hampir mengenai sulingnya, dia hanya mendongakkan kepalanya sambil terus meniup serulingnya, sehingga tangan Cio Put Ting menjambret tempat kosong.

Pelajar itu masih terus meniup sulingnya, sedangkan Kim-see Hui Hong telah membalikkan tubuhnya, menggunakan kakinya dengan kecepatan luar biasa mencuat ke atas mengancam lambung laki-laki berpakaian pelajar itu dan tangannya terulur akan menjambret seruling pelajar itu. Cio Put Ting menggunakan jurus "Lan Jiok Wie" atau "Burung gereja pentang sayap".

Kalau pelajar itu mempertahankan serulingnya, maka lambungnya pasti akan jadi tatakan kaki Kim-see Hui Hong dan akan terserang remuk, sedikitnya iga laki- laki berpakaian pelajar itu akan patah empat. Dan juga, kalau si pelajar mau menyelamatkan lambungnya, dia harus melepaskan serulingnya dijambret oleh Cio Put Ting.

Namun, laki-laki pelajar itu masih duduk tenang. Dia masih meniup serulingnya. Tapi di saat kaki Kim-see Hui Hong hampir mengenai lambungnya, dia berhenti meniup serulingnya dan menurunkan ujung serulingnya itu sambil menundukkan kepalanya, sehingga kalau Kim-see Hui Hong meneruskan tendangannya itu, maka kakinya pasti akan patah terbentur oleh ujung suling yang disertai oleh tenaga Lwee-kang yang kuat sekali. Sedangkan tangan Kim-see Hui Hong kembali menjambret tempat kosong.

Cio Put Ting jadi terkesiap, untuk melindungi dan menghindarkan kakinya dari benturan seruling itu, Kim-see Hui Hong menarik pulang tendangannya.

Pada saat itu laki-laki berpakaian seperti pelajar tersebut telah bangun berdiri sambil menggoyang-goyangkan serulingnya memandang tenang pada Kim- see Hui Hong.

"Cio Put Ting .....!" seru laki-laki pelajar itu. "Apakah kau tak mengenali aku si-orang tua  ?"

Kim-see Hui Hong Cio Put Ting jadi mengawasi nyureng pada laki-laki berpakaian pelajar itu.

"Siapa kau?!" tegurnya. "Aku memang tak pernah berkenalan dengan orang semacara kau !!"

"Masakan Cio-heng lupa kepada Siauw-tee dan tak mengenali lagi ?!" tegur pelajar itu sambil ketawa. "Coba kau pikirkan baik-baik, mungkin nanti kau akan mengingatnya kembali !"

"Siapa kau sebenarnya ?" tanya Kim see Hui Hong Cio Put Ting tak mau capai-capai berpikir.

"Terka saja sendiri !" sahut pelajar itu sambil tetap ketawa.

"Aku tak tahu .....!" kata Kim-see Hui Hong mendongkol. "Aku mana bisa menebak namamu ? Kenal juga tidak "

Pelajar itu ketawa lagi sambil tetap menggoyangkan serulingnya. Sikapnya tenang sekali. Ruangan tersebut jadi sunyi sekali, sedangkan Bo Tho telah berhenti menangis dan memandang kesima pada pemuda peiajar itu.

"Ayo . ..... kau bisa atau tidak menerka siapa diriku ?" desak pelajar itu sambil ketawa lagi

"Aku tak tahu .....!" dan Kim-sec Hui Hong sudah memutar tubuhnya untuk menghampiri Bo Tho.

"Tunggu dulu Cio-heng .....!" panggil pelajar itu. "Nih ..... nih kau lihat, apa yang kupegang ?!" tanya pelajar itu sambil menggoyang-goyangkan serulingnya.

Muka Kim-see Hui Hong jadi berobah marah.

"Hee ..... apa kau sudah gila ?!" bentaknya mendongkol. "Apa kau kira aku tak tahu itu suling butut ?!" Pelajar itu ketawa, sikapnya tetap tenang dan sabar.

"Nah kalau begitu Cio-heng ternyata pintar juga !" kata pelajar itu. "Kau

tahu, kalau serulingku ini mengenai lawanku, maka orang itu akan mampus !!"

"Mampus ?" tanya Kim-see Hui Hong terkejut.

Laki-laki pelajar itu mengangguk pasti. "Heh !" sahutnya.

Muka Kim-see Hui Hong jadi berobah hebat.

"Apa apakah kau si Gauw Lap?!" tanyanya ragu.

"Nah ..... nah, itu kau mulai pintar, Cie-heng!" kata laki-laki pelajar itu memuji, setengah mengejek. "Sedikitpun tak salah, Siauw-tee memang Gin Tiok Su-seng!"

"Akh tak mungkin terjadi !" seru Kim-see Hui Hong sambil mendecih. "Usia si Gauw Lap lebih tua dariku!"

"Memanguya usia siauw-tee sudah berapa, Cio heng?" tanya laki-laki pelajar itu, yang mengaku sebagai Gin Tiok Su-seng, si pelajar berseruling perak.

"Berapa?" tanya Cio Put Ting. "Cio-heng yang menerkanya!" "Mana kutahu?"

Pelajar itu, yang mengaku sebagai Gin-Tiok Su-seng, jadi tersenyum.

"Usia Siauw-tee telah seratus tigabelas tahun     !" katanya kemudian sambil

tersenyum. Perlahan sekali suaranya, tapi tegas.

"Hahh ?!" semua orang berseru, bahna kagetnya mendengar keterangan Gauw Lap, si-pelajar berseruling perak, mereka seperti tak mau mempercayai perkataan pelajar itu, yang diduganya sedang berguyon mempermainkan Kim-see Hui Hong.

Gin Tiok Su-seng Gauw Lap sudah ketawa lagi waktu melihat semua orang memandang padanya dengan tatapan mata tak mempercayainya.

"Coba Cio-heng lihat ..... Siauw-tee hebat tidak?" tanyanya lagi. "Biarpun usia Siauw-tee telah tua, tapi muka Siauw tee masih muda kelihatannya .....! Aha, Siauw-tee memang awet muda !!"

"Mengapa bisa begitu ?" tanya Kim-see Hui Hong ketolol-tololan.

. "Kenapa bisa begitu ?" Gin Tiok Su-seng mengulangi pertanyaan Kim-see Hui Hong. "Aha, yang sudah pasti Siauw-tee memiliki obat untuk awet muda !"

Mendengar itu, semua orang kembali kaget, tapi yang benar-benar mengejutkan ialah bahwa pelajar yang kalau dilihat dari wajahnya mungkin baru berusia diantara empatpuluh tahun itu ternyata Gin Tiok Su-seng Gauw Lap, salah seorang diantara ke tujuh jago luar biasa yang merajai di-kalangan Kang-ouw, sungai telaga.

"Habis kau mau apa datang kemari ?" tanya Kim-see Hui Hong setelah dapat menguasai getaran hatinya, dia mengawasi Gin Tiok Su-seng yang masih tenang- menggoyang-goyangkan serulingnya.

"Cio-heng menanyakan Siauw-tee mau apa datang kemari ?" Gauw Lap balik bertanya. "Hu, hu, kita pernah bertemu dua kali di Thian-san, rupanya Cio- heng masih belum mengenal jiwa Siauw-tee. Jauh-jauh Siauw-tee datang kemari, kalau memang Siauw-tee tak ada urusan lainnya, ya, sudah pasti untuk mengurusi kitab pusaka itu!!" dan Gin Tiok Su-seng menunjuk pada kotak kayu cendana yang masih dipegang erat-erat oleh Pat-kwa Hiat-kui.

"Hah ?! Kau mau merebut kitab pusaka itu juga ?!" tegur Cio Put Ting dengan hati yang jelus, karena dia tahu, kalau Gin Tiok Su-seng bisa mempelajari ilmu silat yang terdapat di dalam kitab pusaka, maka si peiajar berseruling perak itu tentu bertambah kosen lagi. Sedangkan dulu waktu diadakan pertemuan di Thian-san, di antara mereka ketujuh pendekar luar biasa, belum ada seorangpun yang terkalahkan, kepandaian mereka masing-masing berimbang, karena mereka masing-masing mernpunyai ilmu simpanan dan keanehan yang berlainan satu dengan yang lainnya.

Pada saat itu Gin Tiok Su-seng telah mengangguk sambil ketawa tawar.

"Ya .....!" sahutnya. Dengan memberanikan diri Siauw-tee ingin meminjam kitab pusaka itu dari Liat-wie !" Liat-wie artinyi saudara-saudara sekalian.

"Tak bisa!! Itu tak boleh terjadi !!" tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dari dalam rumah sebelum Kim-see Hui Hong menyahuti perkataan Gin Tiok Su- seng. "Kitab pusaka itu milik Thia-thia-ku !!" Thia-thia, artinya ayah.

Waktu semua orang menoleh, tampak Han Han, putera Pat-kwa Hiat-kui keluar sambil bertolak pinggang, sedangkan matanya mendelik pada Gin Tiok Su- seng.

Ketika mendengar suara Han Han tadi, mata Gin Tiok Su-seng mencilak ganas, namun setelah melihat orang yang bicara itu adalah seorang bocah cilik yang baru berusia sepuluh tahun, dia tersenyum, walaupun seulas senyuman bengis

..... mengandung hawa pembunuhan. Perlahan-lahan dihampirinya Han Han.

Pat-kwa Hiat-kui Han Swie Lim dan ke empat murid-muridnya jadi gugup tak keruan. Mereka cepat-cepat menghampiri Han Han untuk melindungi si bocah dari tangan ganas Gin Tiok Su-seng. Tapi Gin Tiok Su-seng Gauw Lap telah mengibaskan serulingnya ke arah mereka, sehingga Tang Siu Cauw dan ketiga Soe-teenya seperti terdorong ke belakang, mereka terhuyung. Pat-kwa Hiat-kui sendiri terhuyung beberapa langkah kebelakang, karena tenaga Lwee-kang Gin Tiok Su-seng Gauw Lap ternyata luar biasa sekali. Sedangkan Gauw Lap si-pelajar berseruling perak melangkah perlahan-lahan dengan muka yang bengis menghampiri Han Han yang kala itu masih berdiri dengan bertolak pinggang dan mata mendelik pada si pelajar berseruling perak .....

Di hati Gin Tiok Su-seng telah terkandung suatu maksud jelek yang akan membikin Han Han jadi manusia tidak, jadi setan juga tidak ! Tegasnya, hidup tidak, matipun tidak ! Suatu niat yang jahat sekali.

Tapi Han Han sendiri yang baru muncul dari dalam sebab mendengar suara ribut-ribut di ruangan tengah, tak mengetahui bahaya maut yang sedang mengancam diri dan jiwanya dia juga tak. tahu siapa Gin Tiok Su-seng itu, juga

bocah ini tak mengetahui ketelengasan tangan si pelajar berseruling perak. Dia masih mendelik pada Gauw Lap, wajahnya tak mengunjukkan sedikitpun perasaan takut .....

Pat-kwa Hiat-kui yang melihat jiwa putera tunggalnya terancam bahaya maut, dia mengeluarkan seruan yang panjang, dengan kalap, dia melompat lagi akan menghadang didepan si pelajar berseruling perak, sedangkan Tang Siu Cauw dan lainnya juga sudah menjerit akan menerjang lagi ..... keadaan genting sekali

..... .

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

Bab 8

GIN TIOK SU-SENG menghampiri Han Han lebih dekat, lalu dengan mendengus dan wajah yang bengis, dia mengangkat tangannya akan menempeleng kepala si-bocah. Kalau saja tangannya itu sampai mengenai tepat kepala Han Han, maka kepala si bocah akan remuk pecah berantakan, jiwa si bocah juga akan melayang menghadap Giam-lo-ong.

Han Han yang melihat muka Gin Tiok Su-seng menyeramkan dan bengis sekali, dia jadi agak keder juga. Tapi dasar si bocah berjiwa besar dan tak mengenal arti apa yang disebut takut itu, maka Han Han malah tetap bertolak pinggang.

"Hei siluman ..... untuk apa kau menakut-nakutiku ?!" bentaknya nyaring. "Lihatlah  mukamu semakin jelek saja !"

Darah Gin Tiok Su-seng jadi meluap, tangannya yang meluncur itu jadi turun semakir cepat dan disertai oleh empat bagian dari Lwee-kangnya. Tapi, di kala tangannya itu hampir mengenai batok kepala si bocah, tiba-tiba Gin Tiok Su- seng dapat melihat wajah Han Han dan dia jadi merandek, karena dengan tiba-tiba saja dia teringat pada seseorang, hati si pelajar berseruling perak itu jadi tergoncang hebat. Untuk menarik pulang tangannya itu, sudah tak keburu lagi, maka dia memiringkan sedikit tangannya membuang kesamping. Biarpun begitu, biar jiwa si bocah terlolos dari kematian, namun pundaknya terhajar dan tulang lengan si bocah jadi terkilir.

Han Han menjerit kesakitan teraduh-aduh waktu tulang tangannya terlepas, sedangkan Gin Tiok Su-seng telah berdiri kesima sambil mengawasi si bocah.

"Kau ..... kau ..... siluman jahat ! Siluman bau !" teriak Han Han kesakitan. "Akan kupatahkan juga tanganmu !" dan baru saja Han Han mau menyerang, tiba- tiba si bocah merasakan kesakitan yang hebat pada tulang pundaknya, akhirnya dengan mengeluarkan suara keluhan, akhirnya Han Han roboh pingsan.

Gin Tiok Su-seng masih berdiri kesima menatap si bocah dan ketika Pat-kwa Hiat kui Han Swie Lim yang telah tiba di situ menyerangnya dengan kalap, si pelajar seruling perak itu menangkisaya sambil lalu. Tangan mereka membentur keras sekali di udara, dan tubuh Han Swie Lim terhuyung lima langkah ke belakang sambil mengeluh, karena dirasakan tangannya nyeri bukan main. Sedangkan tubuh Gin Tiok Su-seng sendiri tergetar, walaupun tak sampai terhuyung, dia terkejut juga, sampai mengeluarkan seruan "Ihhh" yang tertahan. Dia jadi tersadar dari kesimanya.

Sedangkan Tang Siu Cauw dan Hi Beng telah mengangkat Han Han yang dibawanya ke samping, Hi Tay dan Soe Niang telah mengurung Gin Tiok Su-seng, mata mereka merah, karena mereka telah mengambil keputusan untuk mengadu jiwa dengan orang-orang yang datang kerumah Pat-kwa Hiat-kui ini, mereka bermaksud untuk membela guru mereka mati-matian.

Han Swie Lim ketika dapat berdiri tegap lagi, cepat-cepat dan mengatur jalan pernapasannya. Setelah tenaganya pulih kembali, dengan mata mendelik dia mengawasi Gin Tiok Su-seng, yang kala itu juga sedang menatap Pat-kwa Hiat-kui dengan tatapan mata yang luar biasa sekali.

"Siapa bocah itu?" tanya si pelajar bersuling perak Gauw Lap dengan suara yang luar biasa, agak tergetar. "Siapa dia?"

Pat-kwa Hiat-kui yang baru saja mengalami kekagetan yang luar biasa, masih tak dapat lantas menyahuti. Dia juga tadi melihat Gin Tok Su-seng telah memberi jalan hidup pada puteranya itu, karena serangannya tak diteruskan ke kepala si bocah, hanya menyerempet perlahan pada pundak Han Han, coba kalau tidak, jiwa bocah itu tentu telah bertamasya di sorga !"

Keadaan di ruangan tersebut jadi hening semua mata memandang pada Gin Tiok Su-seng dan Pat-kwa Hiat-kui.

"Siapa bocah itu?" Gin Tiok Su-seng mengulangi pertanyaannya lagi waktu melihat Han Swie Lim berdiam diri saja dengan wajah yang merah padam. "Anak siapa dia ?!"

Setelah menarik napas, Pat-kwa Hiat-kui baru dapat menenangkan goncangan hatinya!

"Dia putera Loo-hu!" sahutnya kemudian dengan suara tak lancar. "Mengapa terhadap seorang bocah Loo-heng telah turunkan tangan begitu kejam ?!"

Gin Tiok Su-seng mendengus sambil tertawa tawar. Tapi dia juga tak dapat menyembunyikan goncangan hatinya. Rupanya di dirinya telah terjadi suatu pertentangan antara keangkeran namanya yang terkenal sebagai seorang jago yang kalau turun tangan lawannya harus mati.

"Siapa nama bocah itu ?" tanya si seruling perak itu lagi.

"Dia ..... Loo-hu memberikan nama tunggal padanya yaitu Han, Han-jie!!" sahut Pat-kwa Hiat-kui tak lancar.

"Hmmm ..... kau she Han, tentunya dia jadi bernama Han Han, bukan ?" tanya si seruling perak itu lagi.

"Ya    !"

Kembali si-seruling perak itu tertawa tawar.

"Sebetulnya bocah itu harus mati, tapi karena wajahnya mirip dengan seseorang, maka biarlah kali ini aku mengecualikan memberikan dia hidup !!"

kata Gauw Lap lagi. Lalu, wajahnya jadi bengis, matanya berkilat tajam.

"Mana kotak pusaka itu?!" bentaknya kemudian dengan suara yang dingin. "Berada di tangan Loo-hu !!" sahut Pat-kwa Hiat-kui mendongkol. "Kukira kitab pusaka itu tak berarti banyak pada Loo-heng yang telah mempunyai kepunsuan luar biasa itu !!"

Kepunsuan berarti kepandaian, dalam ilmu silat. Gin Tiok Su-seng mendengus, lalu tertawa tawar.

"Ya ..... tapi aku ingin meminjam kitab pusaka itu untuk beberapa saat lamanya !!" katanya kemudian.

Wajah Pat-kwa Hiat-kui jadi berobah dia tersenyum pahit.

"Soal kitab mudah diselesaikan!" katanya perlahan. "Loo-hu juga rela memberikan pada Loo-heng, tapi bagaimana dengan yang lainnya, seandainya Kim-see Hui Hong, apakah dia juga mengijinkan kitab pusaka itu dipinjam oleh Loo-heng?!" Sengaja Pat-kwa Hiat-kui berkata begitu, karena dia mengingini agar Kim-see Hui Hong dan Gin Tok Su-seng saling bertempur untuk memperebutkan kitab itu, nanti di saat mereka dalam keadaan lemah kehabisan tenaga, barulah dia akan turun tangan merampas kitab pusaka itu kembali.

Mendengar pertanyaan Pat-kwa Hiat-kui jadi mendengus lagi.

"Kukira mereka tak mengingini kitab itu ..... dan kuharap Han Sie-cu menyerahkannya padaku!!" katanya dingin. Dia lantas mengulurkan tangannya.

"Tahan    !" tiba-tiba terdengar bentakan yang menggelegar.

Semua orang menoleh kepada orang yang membentak itu, begitu juga Gin Tiok Su seng. Ternyata orang itu Kim-see Hui Hong adanya. Dia menghampiri kearah Gin Tiok Su-seng. "Tak mudah kau meminjam kitab itu, karena aku telah meminjamnya terlebih dahulu dari si-bocah jahat!" dan Kim-see Hui Hong Cio Put Ting menunjuk pada Jie Su-ok, si-jahat nomor dua Ang Bian.

Wajah Gin Tiok Su-seng jadi berobah dia tersenyum ewa. "Jadi apa maksud Cio-heng ?" tegurnya tak senang.

"Aku yang harus meminjamnya lebih dahulu selama setengah bulan, nanti baru kau yang meminjamnya lagi!!" kata Kim-see Hui Hong sambil menghampiri lebih dekat.

Kembali Gin Tiok Su-seng tertawa mengejek.

"Kalau aku memaksa ingin meminjamnya lebih dulu, apa yang akan dilakukan oleh Cio-heng ?" tanyanya sambil memandang enteng pada orang she

Cio itu.

Wajah Cio Put Ting jadi salin rupa. "Akan kumampusi kau!!" kata Kim-see-Hui Hong dingin. "Sebelum kau dapat mengalahkanku, maka jangan harap kau dapat meayentuh kitab pusaka itu.

Gin Tiok Su-seng tertawa nyaring sekali, tubuhnya sampai tergoncang. "Hebat ! Hebat !!" serunya keras.

"Apanya yang hebat ?!" tanya Kim-see Hui Hong ketolol-tololan. "Kau yang hebat, seperti macan ompong!" sahut Gin Tiok Su-seng.

"Heh .....?!" Kim-see Hui Hong heran mendengar perkataan orang. "Aku seperti macan ompong ?"

Kembali Gin Tiok Su-seng-tertawa ketika melihat ketololan si badai pasir

emas.

"Ya ..... kau seperti macan ompong yang ingin menakuti naga !!" sahutnya.

"Jangan-jangan nanti kumismu yang akan diberindili oleh naga itu!!"

Tiba-tiba Kim-see Hui Hong seperti baru tersadar apa maksud perkataan Gin Tiok Su-seng Gauw Lap.

"Kurang ajar kau ..... Jadi kau memandangku begitu ?!" tegurnya kurang senang.

"Ya, ya, kalau Cio-heng juga ingin memiliki kitab pusaka itu, maka nyatalah sekarang bahwa kepandaian yang dimiliki oleh Cio-heng yang sekarang ini tak ada artinya, sebab Cio-heng masih mau mempelajari ilmu silat yang tertera di dalam kitab pusaka tersebut  !" kata Gauw Lap.

"Kurang ajar ! Apa kau kira kepandaianmu lebih tinggi dari kepandaiaku?!" bentak Kim-see Hui Hong tambah mendongkol.

"Siauw-tee mana berani mengatakan begitu    ?" sahut Gin Tiok Su-seng te-

Maaf, halaman 63 dan 64 hilang

Cio-heng sangat bebal dan tak ada kemajuan selama ini !" Wajah Kim-see Hui Hong jadi berobah merah padam.

"Pelajar bau kau!!" bentaknya uring-uringan. "Kau jadi masih meremehkan Loo-hu ?"

"Ya, ya, ya ..... Cio-heng memang tak mempnnyai kepandaian yang boleh diandalkan !!" kata Gin Tiok Su-seng dingin. "Jurus yang tadi dikeluarkan oleh Cio-heng hanyalah tipu silat untuk anak-anak ..... mungkin kalau Cio-heng menggunakan untuk menyerang orang-orang dari kalangan Kang-ouw, jiwa Cio- heng sulit untuk dilindungi ..... Siauw-tee sih ingin menasehati saja pada Cio-heng

..... kalau memang     "

Tapi, belum lagi Gin Tiok Su-seng selesai berkata, Kim-see Hui Hong telah mencelat keatas lagi sambil berseru murka. Memang dia tak tahan mendengar ejekan si-pelajar berseruling perak itu, maka kali ini, di kala dia mau menyerang, dia menyerang menggunakan jurus yang telengas sekali, yaitu tipu 'Yu Gong Tam Jiauw' atau 'Melayang di udara sambil mengulur cakar'. Hebat serangan itu, karena jari-jari tangan Kim-see Hui Hong telah berobah keras, seperti capit besi. Apa lagi sekarang dia menyerang sambil mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya, maka kalau sampai terserang, jiwa Gin Tiok Su-seng akan melayang menghadap si-raja akherat !

Tapi Gin Tiok Su-seng sangat kosen, dia merupakan salah seorang di antara ketujuh jago yang luar biasa di daratan Tiong-goan ini, maka begitu melihat lawannya menyerang dengan jurus yang telengas sekali, dia mengeluarkan siualan yang panjang, di saat tubuh Kim-see Hui Hong sedang meluncur turun, maka dia memapak dengan kedua tangannya. Keempat tangan kedua orang itu jadi terbentur keras menimbulkan suara yang nyaring sekali.

Hebat kesudahannya !

Sambil mengeluarkan seruan tertahan, tubuh Kim-see Hui Hong terpukul mental dan melayang lagi, setelah berpoksay, barulah dia dapat berdiri di lantai lagi. Sedangkan Gin Tiok Su-seng juga mengeluarkan seruan kaget, karena tubuhnya tergetar, terhuyung beberapa langkah kebelakang, achiniya setelah dia mengerahkan seribu kati untuk memberatkan badan, barulah dia dapat berdiri tegak. Akibat benturan dari tangan kedua oiang itu, yang tergempur hebat adalah Kim-see Hui Hong, karena tubuhnya tadi sedang melayang dan waktu terjadi benturan tangan mereka, dia tak mempanyai tempat berpijak. Tapi dasarnya memang dia kosen, maka dengan meminjam tenaga benturan itu, Kim-see Hui Hong masih dapat berpoksay, sehingga dia dapat jatuh dengan kaki lebih dahulu di lantai, dan dia terhindar dari jatuh ambruk disebabkan benturan tenaga dalam mereka. Biarpun begitu, muka Kim-see Hui Hong. jadi berobah agak pucat juga.

"Hebat    !'' keluhnya, diseka keringatnya di kening-.

Pada saat itu Gin Tiok Su-seng telah tertawa tawar, dia membulang- balingkan serulingnya.

"Bagaimana Cio-heng ..... apakah kau masih mau menguji kepandaian Siauw-tee ?!" tegurnya. "Hebat! Kau hebat!" kata Kim-see Hui Hong dingin. "Tapi kau jangan bergirang dulu, karena belum tentu kau akan memperoleh kemenangan dariku. Mari, mari, mari kita mencoba dua ratus jurus lagi, agar terlihat siapa yang lebih unggul di antara kita !!"

Mendengar perkataan Kim-see Hui Hong itu, Gin Tiok Su-seng Gauw Lap ketawa.

"Sabar Cio-heng ..... kalau memang kau mau bertempur dengan cara yang hebat, bukankah kita dari tujuh jago luar biasa telah mengadakan perjanjian, bahwa setiap lima tahun sekali di malaman Cap go di bulan sepuluh akan mengadakan pertemuan untuk mengukur kepandaian kita masing-masing .....? Nah, di sana saja kita nanti boleh sepuas-puasnya mengerahkan kepandaian kita. Sedang sekarang Siauw-tee masih mempunyai urusan lainnya, sehingga tak dapat menemani Cio- heng .....!" dan setelah berkata, begitu, Gin Tiok Su-seng menoleh pada Pat-kwa Hiat-kui dengan tatapan mata yang bengis. "Cepat kau serahkan kotak pusaka itu padaku!" bentaknya.

"Tahan      !" kembali Kim-see Hui Hong menghalangi. Dia sudah mencolot

dan menghadang di hadapan Pat-kwa Hiat-kui. "Aku tetap tak mengijinkan kau mengambil kitab pusaka itu  !"

Wajah Gin Tiok Su-seng jadi berubah merah padam, dia agak mendelu melihat lagak orang yang ketolol-tololan. Tapi berhubung orang sangat kosen, tak berada di sebelah bawahnya, maka mau juga dia berlaku sabar.

"Cio-heng ..... bukanlah nanti pada malaman Cap-go di bulan sepuluh kita akan mengadakan pertemuan. Hari yang kita janjikan jatuh pada tahun ini juga, karena kita telah berpisah selama lima tahun .....!" kata Gin Tiok Su-seng sabar. "Nanti di sana kita boleh menumplek seluruh kepandaian kita agar terlihat siapa yang terlebih unggul di antara kita!!"

"Tidak! Nanti adalah urusan nanti, tapi sekarang aku tetap tak mengijinkan kau membawa kitab pusaka itu." sahut Kim-see Hui Hong tegas. "Karena kalau kitab pusaka itu jatuh ke dalam tanganmu, maka bisa repot ..... kepandaianmu bisa bertambah dan aku bisa ceiaka !"

Gin Tiok Su-seng tertawa ewa.

"Mengapa Cio-heng seperti anak kecil saja ?" tegurnya tak senang. "Walaupun aku membawa kitab pusaka itu, belum tentu aku mempelajarinya !

Hu, kalau begitu sekarang aku baru tahu, ternyata Cio-heng jeri menghadapi pertemuan kita yang akan jatuh pada tahun ini juga !" Wajah Kim-see Hui Hong berobah hebat, dia mendongkol mendengar perkataan orang yang selalu mengejeknya,

"Siapa yang jeri padamu ?" bentaknya keras.

Gin Tiok Su-seng tertawa, dia tak menyahuti, matanya berkilat tajam.

Melihat orang tak menyahuti perkataannya, Kim-see Hui Hong jadi tambah mendongkol.

"Apa yang kau tertawakan ?" bentaknya keras.

"Hmmm ..... kalau aku mau tertawa siapa yang akan melarangnya ?" Gin Tiok Su-seng malah balik bertanya.

"Aku ! Aku yang akan melarang !" sahut Kim-see Hui Hong.

"Cio-heng hendak melarangku tertawa?!" tanya Gin Tiok Su-seng sambil tertawa lagi. "Hu, hu, boleh dicoba saja !"

Kim-see Hui Hong mendelik menatap Gin Tiok Su-seng.

"Kau benar-benar pelajar busuk, pelajar bau !" katanya sengit. "Kalau kau memang berani, mari kita bertempur seribu jurus untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita Y!" Cio Put Ting berkata begitu, karena ia kewalahan tak bisa menang perang mulut, hanya membikin hatioya ber tambah panas dan darahnya jadi meluap.

Gin Tiok Su-seng masih tetap bersikap sabar, karena dia tak mau terlibat oleh orang she Cio ini. Dia mau melakukan pekerjaannya secepat mungkin. Yang diincer adalah kitab pusaka yang berada di tangan Pat-kwa Hiat-kui, maka kalau sampai dilayani Cio Pat Ting lebih dulu dia pasti akan membuang waktu tak sedikit, karena kepandaian orang she Cio itu tak berada di sebelah bawahnya.

"Cio-heng ..... !" panggilnya sabar. "Kuminta kau mau mengerti. Kalau memang sudah tiba waktunya, tanpa kau memaksa juga, aku malah yang akan menyerangmu!!"

"Hmm ..... jadi sekarang kau takut bertempur denganku ?!" bentak Kim-see Hui Hong. "Bagus ! Aku akan mengumumkan di kalangan Boe-lim Kie-cu, bahwa Gin Tiok Su-seng jeri padaku, si badai pasir emas ! Ha, ha, ha. Aku tentu akan merupakan seorang jago tanpa tanding, di samping isteriku si Bo Tho, yang akan menemaniku malang-melintang tanpa lawan !" dan dia ketawa lagi, malah lebih keras. Tapi, mendadak, dia menjerit kesakitan sambil memegangi pahanya. Ternyata di kala dia tertawa begitu keras dengan sikap ketolol-tololan, Bo Tho telah menghampiri suaminya dan mencubit keras-keras paha Kim-see Hui Hong, sehingga orang she Cio itu jadi menjerit kesakitan. Tapi waktu dia menoleh dan melihat yang mencubit pahanya itu adalah isterinya, dia jadi cemberut.

"Mengapa kau mencubitku begitu sakit Bo Tho ?" bentaknya.

Bo Tho hanya mendelik dan Cio Put-Ting jadi jeri untuk mencari sengketa dengan istrinya. Dia memutar badannya lagi untuk menghadapi Gin Tiok Su-seng. Tapi, waktu dia membalikkan tubuhnya, dia jadi menjerit, seperti seorang yang kebakaran jenggot.

Tangan kedua jago yang kosen itu terbentur di udara dan menerbitkan suara yang keras sekali. Sesaat lamanya kedua tangan itu saling nempel satu dengan lamnya, tubuh mereka turun sedikit demi sedikit sedangkan yang menyaksikan pertempuran luar biasa itu jadi menahan napas dengan debaran hati yang keras.

Mata Kim-see Hui Hong mendelik menatap Gin Tiok Su-seng, rupanya ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya, kepalanya juga tampak mengeluarkan semacam uap tipis. Sedangkan si pelajar berseruling perak juga mengerutkan sepasang alisnya, lalu dengan tidak terduga, di saat tubuh mereka hanya tertinggal setengah tombak dari lantai, maka Gin Tiok Su-seng membentak keras, lalu setelah mengeluarkan seruan yang paujang, tubuh kedua jago kosen itu terpental, setelah berpoksay sekali, maka mereka jatuh ke lantai dalam keadaan yang luar biasa sekali, yaitu siap untuk menyerang lagi. Karena Kim-see Hui Hong turun menginjak lantai dengan gerakan 'Kim-she Tok-pit' atau 'ayam emas berdiri di kaki tunggal', di mana perlu, si badai pasir emas itu siap untuk menerjang lawannya lagi. Gin Tiok Su-seng sendiri terun dengan gerakan 'Sin Liong To Ka' atau 'Naga sakti mengibaskan sisik', maka di kala Kim-See Hui Hong sedang bersiap-siap akan menyerang padanya lagi, malah si pelajar berseruling perak itu telah mengeluarkan bentakan dan tubuhnya melambung lagi, menyerang dengan jari tangan terpentang, menyerupai cakar naga.

Melihat lawannya telah menyerang lebih dahulu, maka Kim-see Hui Hong memutar tubuhsya setengah lingkaran, lalu dengan mengeluarkan seruan yang panjang, dengan tangan terangkat seperempat lingkaran, dia menerjang memapak orang ! Inilah hebat tiada seorang jago yang kalau bertempur berani memapak serangan lawan. Tapi berbeda dengan Kim-see Hui Hong dan Gin Tiok Su seng karena mereka telah sempurna menguasai ilmu silatnya, maka mereka dapat berbuat sekehendak hatinya. Jurus-jurus itu dapat dirobah sekehendak hati mereka. Kalau jago silat lain mengelakkan, maka mereka memapak, kalau jago silat lain menangkis, maka mereka mengelakkan. Semua itu memang luar biasa sekali, karena dari itu, orang-orang yang menyaksikan pertempuran aneh itu jadi menahan napas mereka. Baru pertama kali ini mereka menyaksikan cara bertempur yang aneh.

Gin Tiok Su-seng tak meneruskan serangannya waktu melihat Kim-see Hui Hong menangkis serangannya itu, dia malah memutar tangannya tiga lingkaran, lalu mengulurkan sulingnya yang diangsurkan kearah tangan Kim-see Hui Hong.

Hebat ! Luar biasa sekali !

Kalau Kim-see Hui Hong menyerang terus maka tangannya akan menghajar ujung seruling perak itu, dan yang hebat ujung seruling itu mengincer jalan darah Ciok-ti-hiatnya , jalan darah kematian yang terletak di pergelangan tangannya.

Kim-see Hui Hong mendengus.

"Kau curang, pelajar bau !" teriaknya sengit, lalu membarengi dengan gerakan yang luar biasa, dia malah memajukan tangannya terus, tapi di saat pergelangan tangannya hampir terserang oleh ujung seruling si-pelajar berseruling perak itu, maka Kim-see Hui Hong memiringkan sedikit tangannya, dengan kedua jarinya, jari telunjuk dan tengah, dia menyentil, maka terdengar suara 'tringg' yang nyaring, seruling Gin Tiok Su-seng jadi terhajar miring, jatuh ketempat kosong.

"Bagus !" puji Gin Tiok Su-seng sambil melompat ke belakang. Mereka jadi berdiri berhadapan lagi. Mereka saling memandang dengan mata terpentang lebar.

"Cio-heng ..... apakah kau masih ingin meneruskan permainan kita ini ?" tegur Gin Tiok Su-seng sambil tersenyum tawar dan mengibaskan serulingnya.

Kim-see Hui Hong mendengus.

"Kau pelajar busuk !" makinya. "Mau apa kau selalu menggunakan tipu silat yang licik?!"

"Aha ..... rupanya Cio-heng salah mengerti !" kata Gin Tiok Su-seng cepat. "Tadi Siauw tee menggunakan jurus Hui Liong Pik-jie ..... mengapa Cio-heng malah mengatakan Siauw-tee berlaku curang?!"

Muka Kim-see Hui Hong jadi berobah.

"Hui Liong Pik-jie ?" tegurnya dengan suara agak tergetar, karena hatinya tergoncang.

"Ya, ya, ya .....!" sahut Gin Tiok Suseng berulang kali. "Siauw-tee memang menggunakan jurus itu apakah Cio-heng tak dapat mengenalinya ?"

Hati Kim-see Hui Hong jadi jelus, dia melirik pada isterinya yang kala itu sedang memandang mereka dengan mulut setengah terbuka. "Bo Tho ! Mengapa si pelajar busuk ini bisa memainkan jurus Hui Liong Pik-jie-mu ?"tegurnya keras.

Bo Tho tak menyahuti, dia hanya mendelik kepada suaminya.

"Hei ! Bo Tho !!" teriak Kim-see Hui Hong waktu melihat isterinya berdiam diri saja, hatinya semakin jelus, karena dalam pengetahuannya, Hui Liong Pik-jie adalah jurus kebanggaan Bo Tho. Mengapa Gin Tiok Su-seng malah bisa memainkannya dengan sempurna? Kim-see Hui Hong juga mengetahui sifat Gin Tiok Su-seng yang bangor, yang suka mengganggu anak-bini orang, apakah isterinya itu, Bo Tho, telah kena dipicuk oleh si pelajar, seruling perak tersebut ? Berpikir begitu, hatinya jadi jelus, dan dia jadi lebih cemburu waktu melihat isterinya berdiam diri saja seperti orang kesima.

Dengan sekali mengenjot tubuhnya, dia telah mencelat kearah isterinya dan memegang pundak Bo Tho yang digoyang-goyangkannya.

"Katakan Bo Tho ..... apakah .....apakah kau menurunkan ilmu pada dia .....

?!" desak Kim-see Hui Hong gugup, yang dimaksud dengan 'dia' ialah si pelajar seruling perak.

Bo Tho mendelik lebih besar, sehingga biji matanya seperti mau melompat keluar. Dia mendongkol karena suaminya sangat tolol dan polos sekali. Tadi walaupun jurus yang digunakan oleh Gin Tiok Su-seng hampir menyerupai jurus Hui Liong Pek jie, namun itu hanyalah sebuah jurus yang bernama 'Kui Liong Cap-se-hong'. BoTho juga mengetahui bahwa Gin Tiok Su-seng berkata begitu kepada sua ninya, hanyalah untuk mengacaukan pikiran suaminya. maka di saat Kim-see Hui Hong, suaminya itu menggoncang-goncangkan pundaknya, dia mengayun tangannya dengan mendongkol.

"Plaaakkk !!" pipi Kim-see Hui Hong telah digamparnya. "Kerbau dungu kau!!" bentaknya.

Ketika pipinya kena ditampar oleh istrinya, Kim-see Hui Hong jadi terkesiap, dia mengusap pipinya yang berobah merah.

"Kau ..... kau ....." katanya gugup hatinya bertambah jelus, karena menduga isterinya berpihak pada Gin Tiok Su-seng.

Bo Tho mendengus.

"Kau benar-benar seekor kerbau dungu ..... dia telah menipumu ! Yang digunakan tadi bukan Hui Liong Pek-jie, melainkan 'Kui Liong Cap-sie-hong' dari Siauw-lim-sie bodoh, cepat kau hajar dia!" katanya dingin. "Ha?!" Kim-see Hui Kong melengak, dia jadi kesima. Tapi, dengan tiba-tiba hatinya bergolak, darahnya meluap, karena si pelajar berseruling perak itu telah menipunya. Cepat-cepat dia memutar tubuhnya untuk menghadapi Gin Tiok Su seng lagi, tapi waktu dia memutar badannya, Gin Tiok Su seng sudah tak ada pada tempatnya. Matanya Kim-see Hui Hong menjalari ruangan itu, dilihatnya si pelajar berseruling perak itu sedang menyerang Pat-kwa Hiat-kui,

Ternyata tadi waktu Kim-see Hui Hong melompat pada istrinya dan mereka bertengkar, Gin Tiok Su-seng tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sekali menjejakkan kakinya tubuhnya telah mencelat kearah Pat-kwa Hiat-kui. Dia mengulurkan tangannya untuk mencekuk leher Han Swie Lim.

Tapi walaupun ilmu silatnya kalah jauh kalau dibandingkan dengan Gin Tiok Su-seng, Pat-kwa Hiat-kui tetap saja bukan seorang yang lemah. Waktu melihat dirinya diserang, dia tak menangkis, melainkan menjejakkan kakinya melompat mundur menjauhi si pelajar berseruling perak itu. Namun, tak diduga kepandaian si seruling perak itu lihai sekali, waktu melihat orang akan menjauhi diri, dia mengeluarkan seruan panjang, dengan menggunakan ujung kakinya, dia menotol lantai dan tubuhnya mencelat lagi mengejar Pat-kwa Hiat-kui.

Pada saat itu Han Swie Lim baru saja berdiri tegak, atau tiba-tiba dia melihat si seruling perak telah berada di hadapannya lagi sedang mengulurkan tangannya akan mencekuk jalan darah Jwan-ma-hiatnya, maka Pat-kwa Hiat-kui jadi mengeluh, dia

berusaha menjatuhkan dirinya untuk berguling-gulingan di lantai menjauhi si pelajar berseruling perak yang lihai luar biasa dan gesit sekali itu.

Gin Tiok Su-seng tertawa dingin, dia mencelat lagi, lalu, dengan mengeluarkan siulan yang panjang, jari telunjuknya telah menotok jalan darah Kwan-gwan-hiatnya Pat-kwa Hiat kui, sehingga seketika itu juga orang she Han tersebut merasakan tubuhnya seperti lumpuh, tenaganya lenyap. Dia jadi mengeluh, karena merasa tak ungkulan untuk menyingkir dari si-pelajar yang lihai itu.

Gin Tiok Su-seng mengulurkan tangan untuk mengangkat tubuh Han Swie Lim sambil berkata: "Mana kitab pusaka itu, heh ?" tegurnya dingin.

Dan di saat itulah Kim-see Hui Hong telah melihatnya dan-mengeluarkan Seruan akan menyerang si pelajar, Dia menjejakkan kakinya melesat kearah si pelajar itu. "Hai pelajar bau ..... pelajar busuk, jaga seranganku !" serunya nyaring, dia mendongkol, karena Gin Tiok Su-seng telah menipunya.

Tapi, baru saja tubuhnya meninggalkan lantai dan melambung di udara, Kim-see Hui Hong melihat tangan Gin Tiok Su-seng telah mencengkeram dada Pat-kwa Hiat-kui. Kim-see Hui Hong menjerit murka, karena menduga kitab pusaka itu pasti akan jatuh di tangan Gin Tiok Su-seng. Kalau sampai kitab pusaka itu terjatuh ditangannya si pelajar berseruling perak tersebut, maka sulit untuk merebutnya kembali. Sedangkan sekarang, tubuhnya masih terpisah dalam jarak beberapa tombak, si badai pasir emas jadi mengeluh.

Di ruangan tersebut jadi hening, semua orang berdebar menyaksikau itu, sedangkan tubuh Kim-see Hui Hong masih meluncur terus ke arah Gin Tiok Su- seng yang kala itu sedang merogoh jubahnya Pat-kwa Hiat-kui yang tak berdaya berada di tangan si pelajar berseruling perak itu Keadaan gawat sekali.

Dalam keadaan yang begitu, dalam keheningan, tiba-tiba terdengar seruan yang nyaring; "Tahan !" suara tersebut bening sekali.

Semua orang jadi menoleh kearah orang yang membentak, Kim-see Huy Hong juga telah menjejakkan kakinya menginjak lantai dan menoleh juga, begitu pun dengan Gin Tiok Su-seng, dia menoleh. Suara yang bening itu seperti mempunyai daya tarik yang luar biasa sekali.

Begitu menoleh dan melihat orang yang membentak, Gin Tiok Su-seng jadi mengeluarkan seruan kaget, hatinya tergoncang hebat dan dia sampai mencelat mundur dua langkah, melepaskan cekalannya pada Pat-kwa Hiat-kui, yang tubuh terguling di lantai,

"Kau ..... kau ..... ! " suaranya tergetar hebat dan wajah Gin Tiok Su-seng pucat sekali.

*Mukhdan*Dewi Kz*Budi S-Aditya

(Bersambung)