Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 26 : Lembaran Kulit Naga Pertala

 
Eps 26 : Lembaran Kulit Naga Pertala


UTUSAN Iblis dan Kamaratih tampak terkejut. Sepasang mata mereka mendelik besar tahu siapa adanya orang yang tiba-tiba menyeruak, dan kini tegak memandang tak berkedip pada kakek berpakaian perempuan dan berambut dikepang dua yang bukan lain adalah Mata Malaikat.

Seperti telah dituturkan, secara tak sengaja Mata Malaikat menemukan pakaian perempuan dan rambut hitam dikepang dua di suatu tempat, yang baru saja digunakan Dewi Penyebar Cinta untuk menyamar sebagai Setan Pesolek dan berhasil mengelabui Pendekar 108 dengan membawa lari kipas ungu 108 serta mendapat petunjuk tentang Lembaran Kulit Naga Pertala.

Melihat pakaian perempuan yang dikenakan Mata Malaikat serta melihat rambutnya yang dikepang dua, Pendekar 108 segera menduga jika orang yang menyamar bukan lain adalah Mata Malaikat.

"Mendengar keterangan guru, jelas jika kakek ini yang bergelar Mata Malaikat. Hm     Tak

kusangka sebelumnya jika dia yang menyamar....

Kurang ajar betul. Dia telah dua kali membuatku celaka! Tapi soal penyamarannya jauh lebih menyakitkan hatiku!" gumam Aji dalam hati. Dada murid Wong Agung ini makin bergetar keras. Wajahnya merah padam dengan dagu mengembang. Tanpa pedulikan lagi pada pandangan Utusan Iblis dan Kamaratih, Aji maju selangkah. Sepasang matanya menusuk tajam ke arah Mata Malaikat yang memandang Aji dengan sedikit acuh. Dia maklum dengan sikap yang ditunjukkan Aji. Dia mengira Aji telah tahu bahwa dialah yang mengatakan pada Utusan Iblis jika orang yang bergelar Mata Malaikat adalah Aji (Untuk jelasnya, silakan baca episode: "Bidadari Penyebar Cinta").

"Orang tua! Lekas kembalikan kipasku!" teriak Aji menahan amarahnya.

Mata Malaikat sedikit kerutkan dahi. Lalu sepasang matanya dipentangkan dengan tubuh sedikit dicondongkan ke depan, seolah ingin lebih jelas mendengar ucapan orang. Sepasang matanya jadi terlihat semakin mengerikan, karena yang sebelah kanan seperti hendak melompat keluar. Sementara yang kiri, tetap tak berubah, berupa garis memanjang!

"Sialan betul! Telingaku yang kurang benar atau bocah ini yang salah buka mulut?" desis Mata Malaikat dalam hati setelah tadi menyimak ucapan Aji. Untuk beberapa saat orang tua ini terdiam dengan mata terpentang.

Di samping mereka berdua, Utusan iblis dan Kamaratih tampak hanya diam memperhatikan. Namun diam-diam Utusan Iblis berkata dalam hati. "Hm.... Sandiwara apa lagi yang dimainkan kedua keparat ini? Untuk menolong perempuan sundal itu mampus di tanganku? Rupanya mereka berdua selalu mengikuti ke mana aku pergi. Kali ini keduanya tak akan kubiarkan lolos! Perempuan sundal itu pun harus mampus! Bagaimanapun juga, ketiga orang ini bisa menjadi batu penghalang "

Kalau Utusan Iblis membatin demikian, tidak begitu yang ada di benak Kamaratih. Perempuan setengah baya berambut kepang ini menangkap ada yang tidak beres di antara Mata Malaikat dan Aji. Hal itu dia tangkap dari perubahan pada wajah Mata Malaikat yang telah dikenalnya. Justru dia menduga jika Ratu Hitam-lah yang membawa lari kipasnya Aji. Namun dia juga tak berani memastikan Mata Malaikat tidak membawa lari kipas itu. Dia sadar, siapa pun orang rimba persilatan pasti menginginkan kipas pusaka itu meski hanya tersimpan dalam hati. Memikir sampai di situ dia menunggu apa yang akan terjadi antara Mata Malaikat dan Aji walau dia tetap waspada pada Utusan Iblis.

Melihat teriakannya hanya disambut dengan pentangan mata, murid Wong Agung jadi naik pitam.

"Tua bangka! Rupanya kau memaksaku untuk mengambil kipas itu dari tubuhmu yang sudah jadi bangkai busuk!"

Meski perubahan makin tampak di wajah Mata Malaikat namun orang tua ini masih coba tak perdengarkan suara. Membuat Aji tak dapat membendung lagi marahnya.

"Setan!" dengus Pendekar 108, geram. "Bersiaplah untuk menerima kematianmu, Orang Tua!" "Tunggu!" tahan Mata Malaikat. "Anak mu-

da! Terus terang, aku tak mengerti dengan maksud kata-katamu! Coba Jelaskan!"

'Kau masih juga berpura-pura!" Mata Malaikat pejamkan matanya, lalu dibuka kembali. Sekejap kemudian yang terdengar adalah suara tawanya mengekeh panjang, hingga kepala dan badannya ikut berguncang-guncang.

"Anak muda, pantang bagiku bersikap purapura! Jika kau masih menganggapku sebagai sahabat, jelaskan persoalan! Jangan menabur garam di air laut!"

Pendekar 108 menyeringai dingin. "Semuanya sudah jelas. Apalagi yang akan kujelaskan! Serahkan kipas itu atau "

"Anak muda!" potong Mata Malaikat. "Dengar baik-baik! Kau tak mau jelaskan tuduhanmu! Mungkin saja mengada-ada. Atau, hem.... Kau ingin aku segera tinggalkan tempat ini karena kau tertarik dengan temanku yang cantik itu?!" kata Mata Malaikat seraya arahkan kepalanya ke arah Kamaratih.

Kamaratih sunggingkan senyum. "Tua bangka jelek! Diajak sungguh-sungguh malah bercanda. Heran. Beberapa saat lalu dia mengatakan padaku hendak mencari anaknya. Saat itu wajahnya tampak murung. Tapi kali ini dia seperti tidak menanggung beban apa-apa! Jangan-jangan ucapannya yang lalu itu hanya bualan untuk alihkan perhatian setelah dia membawa lari kipas milik pemuda itu...," kata Kamaratih dalam hati mulai menaruh curiga.

Di lain pihak, mendengar kata Mata Malaikat, Pendekar Mata Keranjang serentak tarik kedua tangannya yang telah dikembangkan. Sertamerta kedua tangannya dihantamkan ke arah Mata Malaikat.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Diawali bunyi gemuruh laksana gelombang mengamuk, dua rangkum angin keras menggebrak keluar dari telapak tangan Aji dan meluncur ke arah Mata Malaikat.

"Hai! Kau tampaknya tidak main-main!" seru Mata Malaikat sambil cepat membuat gerakan jongkok di tempat.

"Aku memang tidak main-main!" teriak Aji seraya kerahkan kembali tenaga dalamnya untuk menyusuli pukulan pertamanya. Murid Wong Agung ini sadar, jika orang tua di hadapannya bukan orang sembarangan.

Dia telah menyaksikan itu waktu terjadi pertemuan dengan Utusan iblis beberapa waktu lalu. Hingga dia tak berani bertindak setengahsetengah.

Di seberang, begitu pukulan Aji setengah tombak lagi menghajar, Mata Malaikat tekankan kedua bahunya ke bawah.

Wuuut!

Tubuh Mata Malaikat melenting ke atas. Membuat gerakan berputar-putar di udara dengan kaki ditekuk di depan dada. Hebatnya, tubuh melingkar Mata Malaikat terus berputar-putar di udara meski pukulan sakti yang dilepas Aji telah menghajar kerimbunan semak dan membuat tumbuhan itu porak-poranda serta hangus!

Murid Wong Agung nyalang memandang ke arah sosok Mata Malaikat di udara. Dia memang sengaja menunggu. Raut wajahnya sudah merah mengelam. Rahangnya menggegat rapat dengan gigi keluarkan suara gemeletak. Sosoknya pun terlihat berguncang. Menahan marah dan tenaga dalam yang dikerahkan.

Tiba-tiba Mata Malaikat gerakkan kedua tangannya. Kejap lain putaran tubuhnya terhenti, dan kini melayang turun. Dan begitu mendarat, sepasang matanya terarah pada Kamaratih tanpa keluarkan sepatah kata.

Kamaratih tahu apa arti pandangan Mata Malaikat meski si kakek tak keluarkan ucapan. Perempuan setengah baya ini lantas buka mulut. Namun sebelum ucapannya terdengar, Aji telah meradang.

"Bibi! Jangan campur urusan ini!" Kamaratih katupkan kembali mulutnya. La-

lu berpaling pada Mata Malaikat. Belum sampai kepala Kamaratih sepenuhnya menghadap Mata Malaikat, kakek ini telah gerakkan tubuhnya menggelundung, lalu berhenti dengan bersandar pada sebatang pohon yang lolos dari hajaran pukulan Aji.

"Sialan! Aku benar-benar tua bangka sial! Dituduh yang bukan-bukan dan teman pun tak sudi menolong! Padahal aku tak mimpi buruk "

Mata Malaikat berkata sendiri.

"Orang tua sepertimu tak pantas mendapat mimpi, meski hanya mimpi buruk isyarat kematianmu!" teriak Aji. Lalu kembali dorong tangannya ke depan. Untuk ke dua kalinya angin keras menggebrak, dengan disertai bunyi gemuruh seperti gelombang mengamuk! "Anak muda! Seandainya urusanku telah selesai, mungkin aku pasrah dengan mati di tanganmu. Namun karena urusanku belum tuntas, maka aku belum mau mati dulu!" ujar Mata Malaikat. Lalu melenting ke atas setinggi satu tombak. Tiba-tiba tangannya disentakkan ke depan.

Beeettt! Beeettt!

Sesaat asap tipis keluar dari kibasan tangan itu, namun sesaat kemudian asap itu mengembang besar dan kejap lain bergerak cepat naik turun.

Blaaammm!

Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Utusan Iblis serta Kamaratih cepat kerahkan tenaga dalam masing-masing untuk mengatasi sapuan angin deras yang ternyata menggebrak di belakang asap putih!

Kalau Utusan Iblis dan Kamaratih dapat mengatasi tubuh masing-masing, tidak demikian halnya dengan Aji. Karena sewaktu terjadi bentrok pukulan tubuhnya terhuyung-huyung, maka saat sapuan angin menggebrak ia tak kuasa lagi menahan huyungan tubuhnya.

Hingga sosoknya terseret sampai beberapa tombak sebelum akhirnya jatuh berlutut dengan tubuh gemetar!

"Hem.... Nampaknya mereka tidak bersandiwara!" desis Utusan Iblis sambil menyeringai dan melirik ke belakang, ke arah Aji yang mulai merambat bangkit dengan mulut meringis dan menggumam tak jelas.

Sebenarnya sedari tadi Utusan Iblis masih menduga jika antara Pendekar Mata Keranjang dan Mata Malaikat bermain sandiwara seperti yang dilakukan keduanya saat pertama kali bertemu. Namun setelah melihat apa yang terjadi, pemuda ini berkesimpulan lain. Malah kesimpulannya ini membuatnya penasaran. 

"Mereka berdua dari tadi memperbincangkan soal kipas. Kipas apa...? Hai.... Kalau antar teman sampai saling bunuh untuk memperebutkan kipas, berarti kipas itu sangat berharga dan bukan mustahil kipas pusaka...." Tiba-tiba dahi Utusan Iblis mengernyit. Lalu memandang pada Aji sepintas, kemudian alihkan pandangan pada Mata Malaikat. Dia memperhatikan si kakek berlama-lama. "Sialan! Mengapa aku lupa. Janganjangan yang diperebutkan bangsat-bangsat ini kipas yang kata guru menjadi barang rebutan Ah,

pasti kipas itu.... Hem.... Kebetulan sekali. Sekali berlayar, dua tiga pulau terlewati. Ha ha ha !"

Di sebelah samping, melihat Aji jatuh berlutut, Kamaratih mulai geram pada Mata Malaikat. Kecurigaannya makin kuat. Namun perempuan ini tidak mau bertindak gegabah. Sebagai orang yang lama berkecimpung dalam rimba persilatan, dia tahu bahwa tingkat kepandaiannya masih berada di bawah Mata Malaikat. Tokoh rimba persilatan yang bisa dikatakan sejajar dengan Mata Malaikat hanya beberapa orang saja. Di antara mereka adalah tokoh golongan hitam bergelar Titisan Iblis, guru Utusan Iblis. Lalu Peri Kupu-kupu, dan seorang lagi adalah Raksasa Bermuka Hijau. Hingga begitu Mata Malaikat melayang turun kembali dan duduk menyembunyikan kedua kaki dan tangannya, Kamaratih cepat berpaling dan coba menegur. "Kau telah tua. Apakah kau masih ingin

malang melintang di usiamu yang bau tanah itu?!" "Sobatku cantik! Apa maksud ucapanmu?!"

tanya Mata Malaikat seraya pejamkan mata sebentar.

"Berikan kembali kipas itu pada pemiliknya. Marilah kita yang tua-tua ini tahu diri dan memberi kesempatan pada yang muda untuk mengganti!"

Mata Malaikat dongakkan kepala. Lalu terdengar tawanya mengekeh panjang.

"Tampaknya kau juga menuduhku. Ah, betul-betul sial nasibku! Padahal, sejak lahir aku telah memberikan jalan terpentang pada siapa saja yang hendak malang mujur di rimba persilatan. Aku tak punya niat untuk mengangkangi dunia gila ini! Telah cukup diri tua bangka ini merana di dalamnya!"

"Orang lebih percaya pada tindakan daripada ucapan, Sobatku!" kata Kamaratih masih coba memperhalus nada suaranya.

"Hem   Maksudmu?!"

"Kau boleh saja bicara begitu, namun jika kau membawa lari kipas itu untuk apa jika tidak untuk mengarungi rimba persilatan?!"

Sepasang mata Mata Malaikat mendelik. "Kamaratih! Dengar baik-baik! Aku tak membawa lari kipas! Dan seperti katamu, tindakan lebih dipercaya daripada ucapan! Sekarang buktikan ucapan tuduhanmu!"

Kamaratih sesaat terdiam. Dia terlihat raguragu. Malah dia sempat melirik ke arah Aji yang kini tegak memandang berkilat-kilat pada Mata Malaikat.

"Sebenarnya aku tidak menuduhmu...," ucap Kamaratih pada akhirnya. "Tapi kalau si pemilik telah mengatakan bahwa kau adalah orangnya, apakah perlu lagi sebuah bukti?"

"Hem   Begitu? Apakah kau telah tahu jika

si pemilik telah membuktikan sendiri atas kebenaran tuduhannya?!" tanya Mata Malaikat membuat Kamaratih tergagu.

"Aku akan buktikan!" Mendadak Aji menyela dengan suara keras. Lalu, melangkah ke depan. Meski langkahnya tegap, namun dia tak dapat menyembunyikan kepucatan wajahnya. Dan sepintas pandang orang telah dapat menduga jika pemuda ini telah terluka bagian dalam.

Mata Malaikat berpaling pada Pendekar Mata Keranjang. Meski kakek ini merasa tak pernah melakukan yang dituduhkan orang, namun mendengar ucapan Aji, mau tak mau membuat orang tua ini sedikit berdebar.

Enam langkah di depan Mata Malaikat yang masih duduk, Aji hentikan langkah. Matanya mendelik besar, bibirnya bergetar sebelum akhirnya dia berkata.

"Orang tua! Penampilanmu sekarang berubah, lain dengan beberapa waktu lalu saat kita jumpa!" Sejenak Aji hentikan ucapannya. Sementara Mata Malaikat diam-diam memperhatikan dirinya. Belum sampai berpikir jauh, Aji telah melanjutkan ucapannya. "Dengar! Kipasku dibawa lari oleh seseorang. Dan aku tahu persis, orang itu mengenakan pakaian perempuan yang bermodel dan berwarna seperti yang kau kenakan. Rambutnya panjang, dikepang dua! Soal suara mudah bagi orang sepertimu untuk merubah! Jelas?" 

Mata Malaikat kembali memperhatikan pakaian yang dikenakannya. Lalu meraba rambut berkepang dua yang bertengger sampai ke belakang tubuhnya. Dalam hati orang tua ini memaki habis-habisan.

"Setan! Gara-gara pakaian dan rambut ini aku jadi bulan-bulanan tuduhan orang! Kukira akan menambah penampilanku ternyata malah membuatku terperosok!"

"Anak muda! Orang yang mengenakan pakaian seperti ini bukan aku saja. Juga rambut kepang ini. Bahkan kawanku yang cantik itu pun berambut kepang dua," kilah Mata Malaikat seraya menunjuk Kamaratih. "Jadi bukti tuduhanmu kukira. "

"Orang tua! Justru itulah yang menguatkan tuduhan! Karena orang yang mengenakan pakaian seperti itu sekaligus rambut demikian dalam rimba persilatan hanyalah Setan Pesolek! Dan orang seperti Setan Pesolek tak mungkin berbuat licik! Kau telah menyamar seperti Setan Pesolek hingga aku percaya saja saat kau pinta kipasku!"

"Anak muda! Pakaian ini "

Lagi-lagi Pendekar 108 telah memotong ucapan Mata Malaikat sebelum ucapannya selesai. "Kau tak bisa menipuku, Orang Tua! Kau masih mengenakan pakaian dan rambut itu. Atau kau mungkin kesenangan hingga lupa menanggalkannya. Orang berbuat salah memang akan tetap terlihat!"

Mata Malaikat pejamkan mata sebentar dan pentangkan lagi. "Anak muda! Pakaian dan rambut ini kutemukan di suatu tempat "

Pendekar Mata Keranjang tertawa perlahan penuh ejekan. "Alasan murahan begitu orang gila pun akan tertawa mendengarnya!"

Mata Malaikat benar-benar terpojok. Bersilat lidah pun tak mungkin bisa diterima. Berpikir sampai ke sana, kakek ini lantas bergerak bangkit. Sementara Aji siap lepaskan pukulan.

"Anak muda! Jika begini akhirnya, berarti aku ketambahan tugas lagi! Mencari siapa pemilik pakaian dan rambut ini untuk membuktikan bahwa ucapanku benar! Soal hilangnya kipasmu, aku tak mau tahu. Aku hanya akan menyerahkan padamu pemilik pakaian dan rambut ini. Urusan dia atau bukan yang membawa lari kipasmu itu, sekali lagi bukan urusanku!"

Habis berkata begitu, Mata Malaikat melangkah perlahan meninggalkan tempat itu.

"Orang tua! Kau kira bisa tinggalkan tempat ini begitu saja?!" bentak Pendekar Mata Keranjang lalu hantamkan kedua tangannya, lepaskan pukulan jarak jauh.

Melihat Aji telah lepaskan pukulan, Utusan Iblis yang sedari tadi secara diam-diam juga telah kerahkan tenaga dalam segera angkat kedua tangannya. "Dengan mampusnya setan peot itu, tentunya akan lebih mudah merampas kipas itu!" desisnya lalu serta-merta dorong kedua tangannya ke arah Mata Malaikat.

Di samping, demi mendengar keterangan Aji, dugaan Kamaratih semakin kuat. Dan saat melihat Mata Malaikat hendak berlalu tanpa terlebih dulu menyerahkan kipas itu, dada perempuan setengah baya ini bergetar marah. Kedua tangannya ditarik ke belakang dan sekonyong-konyong dipukulkan ke arah Mata Malaikat.

Hingga saat itu juga, tempat itu laksana disapu gelombang amat dahsyat yang seluruhnya menuju Mata Malaikat. Hawa panas menebar laksana memanggang apa saja di sekitarnya. Suasana berubah redup mengandung hawa kematian!

***

DUA

MAKLUM hawa kematian menuju ke arahnya, Mata Malaikat gerakkan bahunya setengah lingkaran. Sepasang mata orang tua ini langsung terpentang lebar! Namun demikian, meski hanya sekilas pandang, kakek ini telah tahu jika pukulan yang kini mengarah padanya itu dilancarkan oleh tiga orang sekaligus!

"Edan! Bagaimana bisa jadi begini?! Padahal kedatanganku tadi dengan maksud baik!" gumam si kakek. Sebenarnya dia masih ingin mengutarakan sesuatu. Namun sebelum ucapannya keluar, serangan ketiga orang telah datang menggebrak!

Dengan menggerendeng panjang pendek, Mata Malaikat putar melompat ke depan seakan hendak melarikan diri, membuat Pendekar Mata Keranjang, Utusan Iblis dan Kamaratih lipat gandakan tenaga dalam masing-masing dan siap lepaskan pukulan susulan. Tapi sebelum ketiga orang ini sempat kirimkan pukulan susulan, di depan sana, Mata Malaikat balikkan tubuh, dan kebutkan bagian jubahnya, lalu di kejap lain kedua tangannya disentakkan!

Betttt! Wuttt!

Yang melesat pertama kali adalah gelombang angin dahsyat yang keluarkan suara menggidikkan, di kejap lain disusul asap putih yang langsung melesat turun naik, di belakangnya masih menderu angin deras!

Gelombang angin yang datang pertama langsung menyambut pukulan yang dilepas murid Wong Agung. Terdengar bunyi gemuruh ketika bentrok. Di saat lain asap putih segera memapak pukulan Utusan Iblis, lalu angin yang menderu bentrok dengan pukulan Kamaratih!

Bummm! Bummm! Bummm!

Tempat itu laksana diguncang gempa dahsyat. Tanah langsung berhamburan dan meninggalkan lobang menganga Lebar. Kerimbunan semak-semak tercerabut dan bermentalan sebelum akhirnya hancur berkeping di udara!

Karena Pendekar 108, Utusan Iblis, dan Kamaratih sedang siapkan pukulan, mereka lengah dengan tak kerahkan tenaga untuk membendung arus balik bentroknya pukulan, hingga saat terjadi bentrok pukulan, sosok ketiga orang ini mencelat mental ke belakang. Karena Aji sebelumnya telah terluka, dia tidak dapat segera menguasai tubuh, hingga dia jatuh terkapar. Sepuluh langkah di sampingnya, Utusan Iblis tampak terduduk dengan muka pucat dan tangan gemetar. Di sebelah Utusan Iblis, tampak Kamaratih jatuh dengan tubuh bersitekan pada pinggang kanannya!

Agak jauh di depan, Mata Malaikat tampak terhuyung-huyung dengan tubuh bagian atasnya hampir menyusup pasir. Namun sebelum kepalanya tersuruk, orang tua ini cepat gerakkan kedua tangannya ke depan. Pasir tampak berhamburan dan membentuk lobang. Serta-merta dengan gerakan aneh, kakek ini masukkan kepalanya ke arah lobang di depannya. Begitu kepalanya masuk lobang, huyungan tubuhnya terhenti. Karena kepalanya masuk lobang, posisi kakek menungging ke arah tiga orang jauh di belakangnya! Dari sini bisa terlihat, meski Utusan Iblis adalah murid Titisan Iblis, namun ketinggian ilmunya masih berada di bawah Mata Malaikat.

"Setan tua keparat!' desis Utusan Iblis dengan mata tak berkedip memperhatikan Mata Malaikat yang masih tetap menungging. Pemuda ini melirik sinis pada Kamaratih. Kamaratih sendiri saat itu sedang memandang pada Aji. Wajah perempuan ini jelas membayangkan kekhawatiran pada keadaan murid Wong Agung. Namun berpikir bahwa merebut kipas untuk dikembalikan pada pemiliknya lebih penting, Kamaratih segera arahkan kembali pandangannya pada Mata Malaikat. Meski sepasang mata perempuan ini lurus memandang ke depan, namun diam-diam dalam hatinya dia berkata.

"Aku belum bisa menebak, kenapa pemuda sombong ini ikut-ikutan. Jangan-jangan dia menginginkan kipas itu! Hem    Urusan ini makin ber-

tele-tele    " Dia melirik pada Utusan Iblis. "Ah, itu

urusan nanti. Kalau dia memang menginginkan kipas itu apa boleh buat. Aku akan mempertahankan mati-matian!"

Karena ditunggu agak lama, Mata Malaikat tidak juga bergerak bangkit, Utusan Iblis merasa dihina dengan sikap si kakek itu. Tanpa berkata lagi, pemuda ini langsung berkelebat. Kamaratih tak tinggal diam. Dia pun ikut berkelebat.

Empat tombak dari Mata Malaikat, tiba-tiba Utusan Iblis dan Kamaratih hantamkan tangan masing-masing ke arah Mata Malaikat dari udara!

Wuttt! Wuttt! Wuuuttt! Wuuuttt!

Dua gulungan awan hitam pekat segera melesat keluar dari kedua tangan Utusan Iblis. Bersamaan dengan itu terdengar laksana petir menyambar bersahut-sahutan dan keluarkan kilatankilatan! Inilah pukulan sakti milik Titisan Iblis yang telah diwariskan pada Utusan Iblis, yakni 'Gemuruh Badai'

Pada saat bersamaan dari arah samping melesat gelombang angin yang bersiut-siut tajam dari tangan Kamaratih. Siutan itu begitu kerasnya hingga menyerupai babatan kipas yang hendak menghajar!

Blaaarrr! Blaaarrr!

Terdengar dua kali gelegar keras. Untuk kedua kalinya tempat itu bergetar dengan keadaan hitam pekat.

Utusan Iblis dan Kamaratih sama-sama melayang turun dengan mata sama-sama dipentangkan ke depan. Mereka ingin lihat apa yang terjadi, karena Mata Malaikat tidak membuat gerakan untuk balas menyerang atau menangkis pukulan yang datang.

Saat suasana reda, kedua orang ini makin mendelik, karena sosok Mata Malaikat tak tampak lagi! Sementara di depan sana banyak lobanglobang menganga akibat pukulan Utusan Iblis dan Kamaratih.

"Aku yakin, setan itu tak melarikan diri! Tapi ke mana lenyapnya? Keparat betul!" gumam Utusan Iblis dengan mata tetap nyalang. Di sampingnya Kamaratih tampak putar kepalanya dengan mata kian kemari. Namun, perempuan ini akhirnya hanya gelengkan kepalanya saat sepasang matanya memang tak berhasil menemukan sosok Mata Malaikat.

"Benar-benar luar biasa setan bermata mengerikan itu! Rasanya aku hampir tak percaya jika masih mampu lolos!" desis Kamaratih.

Tanpa diketahui oleh Utusan Iblis dan Kamaratih dari salah satu lobang yang menganga, tubuh Mata Malaikat tampak bergerak-gerak mengibaskan hamburan pasir yang menimpa tubuhnya. Sebenarnya, saat kepala Mata Malaikat masuk ke dalam lobang dengan pantat menungging, orang tua ini secara diam-diam kerahkan tenaga dalam, hingga pasir di bawah tubuhnya telah berlobang besar. Hingga waktu pukulan Utusan Iblis dan Kamaratih datang menggebrak, si kakek cepat turunkan tubuhnya ke lobang di bawahnya, hingga pukulan kedua orang itu hanya menghajar dataran pasir di kanan kiri lobang di mana Mata Malaikat berada.

"Sial betul aku ini! Urusan sendiri belum selesai, sekarang ditambah dengan urusan orang! Dan urusan ini bukan main-main, karena nanti pasti akan melibatkan beberapa tokoh. Apalagi dia menyebut-nyebut Setan Pesolek. Ah.... Nasi sudah telanjur tertelan. Bagaimanapun rasanya, aku harus menerima!" pikir Mata Malaikat. Orang tua ini lalu mendongak seraya dekatkan telinga kanannya ke arah lamping lobang.

"Mereka mendekat...," gumamnya. "Apa hendak dikata. Terpaksa kulakukan karena jika tidak, nyawaku sendiri yang akan melayang "

Dugaan Mata Malaikat memang tidak meleset. Karena di sebelah atas, Utusan Iblis dan Kamaratih mulai melangkah ke arah beberapa lobang. Tapi, meski kedua orang ini sama-sama melangkah, tak sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya. Malah keduanya saling lirik dengan pandangan sinis. Namun mereka berdua sepertinya sudah sepakat untuk melupakan urusan mereka dan mendahulukan urusan dengan Mata Malaikat meski kesepakatan itu tanpa ucapan. Dan setelah mereka tidak menemukan sosok Mata Malaikat, keduanya pun seperti punya dugaan sama yaitu Mata Malaikat berada pada salah satu lobang. Lalu mereka pun melangkah ke arah beberapa lobang.

Lima langkah lagi keduanya sampai di lobang di mana Mata Malaikat berada, tiba-tiba dari salah satu lobang melesat sebuah jubah pakaian perempuan.

Tanpa pikir panjang lagi, Utusan iblis dan Kamaratih sentakkan tangan masing-masing kirimkan pukulan. Karena lesatan pakaian itu ke arah samping, kedua orang ini arahkan pukulannya ke arah mana pakaian melesat.

Namun baru saja kedua orang ini lepaskan pukulan, dari lobang di mana pakaian tadi melesat, muncul sosok tubuh Mata Malaikat! Utusan Iblis dan Kamaratih terlengak. Mereka berdua segera hendak kirimkan pukulan, namun keduanya terlambat, karena bersamaan dengan itu, Mata Malaikat sentakkan tangan ke depan dan ke samping.

Utusan Iblis dan Kamaratih merasakan tubuh masing-masing laksana dihempas badai dahsyat. Kedua orang ini sama-sama keluarkan seruan tertahan. Sesaat kemudian sosok keduanya tersapu ke belakang dan jatuh terkapar di tanah. Pada saat bersamaan, dari arah samping terdengar ledakan keras tatkala pukulan yang dilancarkan Utusan Iblis dan Kamaratih ke arah pakaian merah yang mereka sangka sosok Mata Malaikat bentrok dengan pukulan Mata Malaikat.

Belum lenyap suara ledakan, dengan meninggalkan suara tawa panjang, Mata Malaikat melesat meninggalkan tempat itu.

Pendekar Mata Keranjang yang keadaannya sudah agak baik, cepat berkelebat mengejar. Melihat hal itu, Utusan Iblis segera hendak hantamkan kedua tangannya, namun yang hendak dihantam sudah lenyap.

"Setan jahanam!" umpat Utusan Iblis sambil bangkit dan mengurut dadanya yang berdenyut nyeri. Tiba-tiba dia teringat pada Kamaratih yang saat itu sedang bergerak bangkit. Utusan Iblis melirik. Kemarahannya pada Mata Malaikat yang masih menggelora kini ditumpahkan pada perempuan setengah baya itu.

Tanpa berkata lagi, dia cepat bangkit. Kedua tangannya diangkat lantas dihantamkan ke arah Kamaratih yang belum bangkit sepenuhnya. Meski pukulan itu tidak dengan sepenuh tenaga, namun karena dialiri tenaga dalam tinggi, pukulan itu mampu membuat tubuh orang tercabik-cabik.

Di sebelah samping, mendengar deru dahsyat mengarah padanya, Kamaratih berpaling. Perempuan ini serentak membelalak dengan bibir mengatup rapat. Dia tak punya kesempatan lagi untuk membuat gerakan menghindar apalagi menangkis serangan. Hingga perempuan ini hanya bengong pasrah, karena pukulan lawan sudah setengah tombak di depan hidungnya!

Sejengkal lagi tubuh Kamaratih terhajar pukulan Utusan Iblis dan saat perempuan ini pasrah menerima kematian, mendadak dari arah samping menderu gelombang hitam membuat suasana selain pekat juga panas.

Pukulan Utusan Iblis tersapu gelombang hitam hingga melenceng ke samping. Di kejap lain sebuah bayangan berkelebat dan dengan gerak cepat menyambar sosok Kamaratih.

Utusan Iblis menggereng marah. Dan ketika samar-samar dia menangkap berkelebatnya bayangan, pemuda ini segera hantamkan kembali kedua tangannya seraya membentak keras.

Byuuurrr!

Tanah di mana tadi Kamaratih berada muncrat ke udara terkena hantaman Utusan Iblis. Namun, begitu pasir luruh, Utusan Iblis tidak melihat seorang pun!

"Jahanam! Keparat! Setan alas!" Utusan Iblis berteriak memaki-maki. Saking geramnya, pemuda ini hantamkan kedua tangannya ke arah pasir sebelum sosoknya berkelebat meninggalkan tempat itu.

Begitu Utusan Iblis pergi, dari kerimbunan semak-semak berkelebat sesosok bayangan lalu tegak di tempat mana Kamaratih berada. Sejenak sosok ini arahkan pandangannya ke sebelah timur, arah yang diambil oleh sosok yang menyambar tubuh Kamaratih.

"Bangsat jadah! Aku terlambat!" maki si sosok seraya saling pukulkan kepalan tangannya. "Aku yang menangkis pukulannya, tapi orang lain yang membawanya lari! Setan alas! Siapa bayangan tadi? Gerakannya begitu cepat hingga tak dapat kupastikan laki perempuannya!"

Sosok ini menghela napas panjang. "Kamaratih.... Kau muncul juga di sini. Adakah kemunculanmu karena lembaran kulit itu? Atau ada sebab lain yang ada hubungannya dengan masa silam kita? Ah, persetan dengan semua itu! Hem... Siapa pula pemuda berjubah merah tadi? Tokohtokoh telah banyak bermunculan, kalau aku tak segera bertindak, orang lain akan mendapatkan lembaran kulit itu. Hem "

Sosok ini kembali putar kepalanya berkeliling. Ternyata dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Paras wajahnya merah membara. Rambutnya awut-awutan. Tubuhnya yang kekar terbungkus oleh pakaian yang compang-camping serta hangus seperti baru saja terbakar. Asap tipis mengepul dari sekujur tubuhnya,

Orang tua ini bukan lain adalah Manusia Neraka!

Untuk beberapa saat Manusia Neraka tegak diam dengan dahi berkerut. Dia sepertinya sedang berpikir. Sesaat kemudian dia putar tubuh lalu berkelebat meninggalkan tempat itu.

***

TIGA

PENDEKAR Mata Keranjang harus kerahkan segenap ilmu peringan tubuhnya untuk mengejar Mata Malaikat. Mula-mula dia masih dapat menangkap kelebatan orang tua itu. Namun pada satu tempat, dia kehilangan jejak.

"Tua bangka setan! Kau bisa lolos hari ini. Tapi, nyawamu di ujung tanduk tanganku!" gumam Aji sendirian. Rahangnya makin menggembung dan sepasang matanya laksana bara.

"Hem.... Aku harus cepat menuju Bukit Siluman. Bukan mustahil setan tua itu sedang ke sana juga. Bukankah dia telah mendapatkan kipas dan petunjuk?" Berpikir sampai di situ, murid Wong Agung ini segera putar diri, lalu berkelebat menuju arah sungai.

"Anak muda! Kebimbangan akan membawamu makin jauh terperosok! Cepat ambil keputusan jika kau tak ingin orang lain mendahului!"

Tiba-tiba terdengar suara orang.

Kedua kaki Pendekar Mata Keranjang laksana dipantek. Gerakannya tertahan seketika. Tubuhnya cepat diputar setengah lingkaran ke arah datangnya suara. Sepasang matanya mendelik besar. Dari suara orang, murid Wong Agung sudah dapat menebak siapa adanya orang yang bersuara. Mata murid Wong Agung tak berkedip menghujam lurus ke depan. Lima langkah di hadapannya kini, tampak Mata Malaikat tegak den-

gan kepala tengadah.

"Setan!" bentak Aji lalu cepat kerahkan tenaga dalam. Tubuhnya mulai berguncang dan keringat membasahi wajah dan lehernya, pertanda dia kerahkan segenap tenaga yang dimiliki.

"Tahan, Anak Muda!" kata Mata Malaikat masih tanpa memandang. "Tak ada gunanya hal kecil begini dibuat besar! Tantangan di hadapanmu masih lebih besar dan lebih penting!"

"Mata Malaikat!" teriak Aji. "Kau tak perlu beri nasihat! Serahkan kipas itu atau serahkan nyawamu!"

Mata Malaikat tertawa pelan. "Syukur kau telah mengenalku....." kata Mata Malaikat lalu alihkan pandangannya ke arah Aji setelah luruskan kepalanya. "Sudah kubilang. Seandainya urusanku telah usai dan tak ketambahan urusan gilamu, aku sebenarnya memilih mati daripada harus hidup dalam dunia edan begini!"

"Aku tak tanya urusanmu!" sahut Aji ga-

rang.

"Betul! Tapi kau harus mengerti. Karena

keinginanmu yang menggebu untuk membunuhku harus tertunda karena urusanku itu belum usai. Dan tampaknya keinginanmu masih terulur lagi karena ketambahan urusanmu denganku! Sungguh aku menyesal, Anak Muda. "

"Kata penyesalan telah terlambat, Orang Tua! Dan kau harus menerima nasib buruk! Mati sebelum urusanmu usai!"

"Setiap penyesalan pasti terlambat datangnya! Namun tak ada kata terlambat bagi orang yang berpikir jernih dan memperbaiki diri. Dan kalau buruk-burukan nasib, sebenarnya kau lebih buruk dariku!"

Murid Wong Agung menyeringai. Sementara Mata Malaikat kembali dongakkan kepala sambil lanjutkan ucapannya.

"Kalau aku mau, kau sudah tak berdiri tegak di situ!"

Aji terdiam mendengar lanjutan kata-kata Mata Malaikat. Dan dia tampaknya sadar jika ucapan Mata Malaikat benar. Karena seandainya Mata Malaikat mau tak sulit bagi orang tua itu untuk membuat dirinya roboh sebab dia tak tahu kehadiran si kakek di belakangnya.

"Anak muda!" Mata Malaikat terus berkata. "Aku tak mau melakukan itu karena aku masih ingin buktikan bahwa ucapanku benar dan tuduhanmu salah alamat!"

"Ucapan orang tua ini ada benarnya. Tapi apakah alasannya bisa diterima?" batin Aji.

"Anak muda! Aku tak hendak ikut-ikutan menuduh orang sepertimu. Namun berat dugaan, orang yang menyamar sebagai Setan Pesolek adalah seorang perempuan!"

"Kau tahu dari mana? Jangan kau menebar fitnah dan mengkambinghitamkan orang lain!"

Mata Malaikat kembali perdengarkan suara tawa pelan. "Anak muda! Kambing itu putih dan mungkin cantik! Aku dapat membaui dari harum tubuhnya yang tertinggal pada pakaian itu sewaktu kutemukan. Kurasa sampai sekarang bau itu belum hilang "

"Sebagai penipu, bisa saja orang menggunakan bau harum agar orang salah tebak!" ujar Aji sengit. Namun nadanya sudah agak menurun.

"Betul! Betul katamu! Namun harum khas dan asli seorang perempuan tak bisa disarukan dengan aroma bau-bauan palsu! Apalagi tua bangka sepertiku ini tak dapat dibohongi, karena bertahun-tahun aku lari dari pelukan satu perempuan ke perempuan lain. Aku hafal luar kepala tentang bau seorang perempuan dan bau buatan. Lebih-lebih bau seorang pemilik burung sepertimu!"

Murid Wong Agung mau tak mau menggerendeng habis-habisan dalam hati. Namun sedikit demi sedikit Aji mulai mempercayai kata-kata orang tua di hadapannya itu.

"Nah! Anak muda! Kurasa tugas di hadapanmu lebih penting daripada ke sana kemari mencari orang yang belum diketahui. Bukankah kau tak ingin didahului orang lain?! Apalagi kau telah mendapatkan petunjuk! Tunggu apa lagi...?!"

"Tapi...?!" Aji tak meneruskan ucapannya.

Dia tampak ragu-ragu.

"Tapi apa, Anak Muda?"

"Apa akan kukatakan padanya terus terang? Apakah ini bukan umpan untuk mengorek keteranganku menyangkut petunjuk itu?" Aji berpikir sejenak. Namun akhirnya dia memutuskan untuk mengatakannya pada Mata Malaikat. Tapi sebelum dia berkata, si kakek telah berujar.

"Kalau kau keberatan meneruskan ucapanmu, tak apa. Namun jangan lupa. Gonggongan anjing kerempeng pun terkadang menyelamatkan nyawa kita!"

Habis berkata begitu, Mata Malaikat balikkan tubuh. Namun sebelum berputar, Aji telah berkata.

"Mata Malaikat. Kipas yang hilang itu adalah salah satu syarat untuk mendapatkan lembaran kulit!"

"Jika begitu kenapa kau tidak segera ke sa-

na?!"

"Aneh! Bukankah sia-sia tanpa persyaratan

cukup?!"

Mata Malaikat kali ini perdengarkan suara tawa bergelak-gelak, membuat murid Wong Agung kerutkan dahi.

"Ah, ternyata gonggongan anjing kerempeng pun ada manfaatnya "

"Apa maksudmu, Orang Tua?"

"Dengar, Anak Muda! Kalau benar keteranganmu bahwa orang yang menyamar itu telah membawa kipas serta kau mengatakan petunjuk padanya, apakah dia akan membuang kesempatan yang sudah di tangan? Aku tanya padamu. Jika kailmu telah menggaet ikan besar, apakah kau akan membuangnya kembali ke air?!"

"Aku benar-benar tak mengerti ucapanmu!" "Dengar baik-baik! Siapa pun orangnya

yang menyamar, pasti sekarang sudah melakukan perjalanan menuju ke Bukit Siluman. Petunjuk sudah di tangannya, syarat sudah digenggamannya. Apalagi yang perlu dia tunggu?"

Tanpa sadar murid Wong Agung tepuk jidatnya. "Bodoh. Kenapa aku tak berpikir ke arah sana?"

Pendekar Mata Keranjang menatap lekatlekat ke arah Mata Malaikat.

"Orang tua, meski kau masih dalam daftar hitamku, namun atas keteranganmu aku harus memberi hormat padamu sebelum pergi...." Habis berkata demikian, murid Wong Agung menjura dalam-dalam dengan bungkukkan tubuh dan tundukkan kepalanya.

Terdengar Mata Malaikat tertawa bergelakgelak, membuat Aji tekapkan kedua tangannya ke telinga. Saat Aji mengangkat kepalanya, murid Wong Agung jadi mendelik. Mata Malaikat tak lagi di hadapannya! Namun suara tawanya masih saja bergelak-gelak di seantero tempat Itu.

***

EMPAT

SAAT itu sang Surya sudah menggelincir dari titik pusatnya. Cahaya panasnya leluasa menghujam ke permukaan bumi karena awan putih hanya tampak di sebelah timur. Di Sungai Siluman pun, permukaan air tampak berkilat-kilat seraya menebarkan uap. Permukaan air tampak tak tenang. Arus demikian deras. Uap yang mengepul di permukaan, membuat pemandangan terhalang.

Di pinggir Sungai Siluman, sesosok tubuh keluar dari dalam lobang. Sosok ini kemudian melangkah mendekati sungai. Ternyata dia adalah seorang pemuda berpakaian hijau ketat dan berambut dikuncir ekor kuda. Dia bukan lain dari Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108.

Aji kembang-kempiskan hidung ketika mencium bau harum menusuk hidung. Pemuda berpakaian hijau ini edarkan pandangan ke sana kemari karena mengira adanya kelompok perempuan cantik di sekitar tempat itu.

Tapi, Pendekar 108 tak melihat adanya seorang pun wanita! Ketika pemandangannya menghujam permukaan air, sepasang mata pemuda ini membeliak lebar. Mulutnya menganga seperti orang yang tak percaya akan apa yang dilihatnya.

"Apakah aku tak tengah bermimpi?!" gumam Aji lirih. "Benarkah air berwarna merah?! Sungguhkah yang kulihat?! Kalau benar, air atau darah?!"

Saat itu, permukaan air tampak berwarna merah darah. Aji menatap tanpa berkedip. Di lain kejap, Aji baru tahu kalau bau harum itu berasal dari sungai!

"Tak berlebihan kalau sungai dan bukitnya dinamakan Sungai dan Bukit Siluman...." Pendekar 108 membatin seraya dongakkan kepala. "Dan bukit itu pasti berada di seberang sungai tepat di depanku. Karena sekarang aku telah bertemu dengan air yang berwarna merah seperti darah dan berbau harum! Hanya sayangnya aku tak tahu berapa lebar sungai ini. Karena Peri Kupu-kupu tak pernah memberitahukannya. Peri Kupu-kupu..., kau berjasa besar dalam hal ini. Kalau kau tak memberiku jalan rahasia menuju ke tempat ini. Pasti akan membutuhkan waktu lama bagiku untuk menemukan Bukit Siluman. Aku harus berperahu dari hulu sungai ke hilir, sampai menemukannya. Padahal, menurut berita yang kudapatkan panjang Sungai Siluman ini entah berapa ratus ribu tombak! Buat orang yang tak mendapat petunjuk sepertiku, akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.... Jalan rahasia yang aneh....

Mencari sebuah pohon beringin tua dan besar, lalu menarik salah satu cabangnya, hingga muncul lobang ke dalam tanah. Menempuhnya, dan muncul di pinggir sungai ini. Sebuah jalan rahasia yang luar biasa. !"

Usai membatin, Aji melemparkan batang kayu besar. Tak lama kemudian di antara derasnya arus sungai dan tiupan angin kencang batangan kayu itu meluncur membelah arus yang deras! Terlihat tertatih-tatih.

"Semoga dugaan Mata Malaikat benar adanya. Orang yang menyamar sebagai Setan Pesolek itu telah berada di Bukit Siluman ," gumam

Pendekar Mata Keranjang. Sambil menggumam kedua tangannya bergerak mengayun ke dalam air sungai di sisi kanan kirinya. Bersamaan dengan itu, batangan kayu yang dibuatnya sebagai perahu meluncur deras ke depan, membelah derasnya arus.

"Kalaupun dia tidak ada di sana, aku akan menunggu. Dengan petunjuk dan kipas itu, sudah pasti dia akan ke sana! Hem Petunjuk belum bi-

sa kumengerti, sialnya petunjuk itu telah diketahui orang. Lebih-lebih kipas itu telah beralih tangan "

Aji terus meluncur dengan dada dipenuhi beberapa pikiran. "Mata Malaikat menduga si penyamar adalah seorang perempuan. Busyet. Lagilagi perempuan! Siapa lagi yang ini...?!" Aji coba mengingat beberapa orang perempuan yang selama ini dikenalnya. Namun tak satu pun yang menguatkan dugaan pada salah satunya, membuat pikiran murid Wong Agung makin dibuncah berbagai hal.

Tiba-tiba Pendekar Mata Keranjang hentikan buncahan pikiran yang melanda dadanya. Batangan kayu yang didudukinya dirasakan bergerak oleng ke samping kiri padahal angin berhembus dari kiri!

"Aneh. Angin dari kiri, tapi kenapa batang kayu ini oleng ke samping kiri, tidak ke kanan?!"

Merasa ada kejanggalan, murid Wong Agung segera putar kepalanya ke kanan. Tapi baru saja kepalanya berputar, tiba-tiba sebuah gelombang angin dahsyat melesat menggebrak ke arah murid Wong Agung.

Brakkkk!

Batangan kayu yang dibuat peluncur patah seketika. Untung murid Wong Agung telah waspada. Sebelum batangan kayu patah jadi dua, dia telah melesat ke udara membuat gerakan berputar dan melayang turun lalu berdiri tegak di salah satu patahan batangan kayu. Patahan satunya lagi telah lenyap.

Dengan mata berkilat menahan marah, Aji arahkan pandangannya ke sebelah kanan. Sesaat kemudian, dia melihat meluncurnya sebuah rakit. Tegak di atasnya seorang pemuda mengenakan jubah besar panjang sebatas lutut berwarna merah. Rambutnya yang panjang dibiarkan bergerai ditiup angin. Tangan kanannya memegang sebuah batangan kayu kecil yang sesekali ditusukkan ke dalam air sungai hingga rakit itu meluncur deras ke depan.

"Utusan Iblis!" seru Pendekar Mata Keranjang begitu matanya mengenali siapa adanya pemuda di atas rakit.

Murid Wong Agung arahkan pandangannya ke depan. "Celaka! Pinggir Bukit Siluman masih jauh. Sedangkan patahan kayu ini tak mungkin bisa membawaku ke sana. Terlalu pendek! Belum lagi jika pemuda gila itu menyerangku dan menghancurkan kayu ini "

"Ha ha ha....!" Tiba-tiba di tengah suara deru gelombang air terdengar suara tawa dari pemuda di atas rakit yang bukan lain memang Utusan Iblis yang terus meluncur ke arah Aji cepat bukan main. Karena di samping pengerahan tenaga Utusan Iblis, masih ditambah lagi dengan tenaga luncuran arus sungai yang deras

"Akhirnya kau mampus tanpa kubur di tengah sungai!" Meski saat itu suara Utusan Iblis dapat ditangkap oleh pendengaran Aji. Dan belum lenyap suara Utusan Iblis, tiba-tiba melesat gulungan awan hitam disertai kilatan-kilatan dan suara petir bersahutan. Ternyata Utusan Iblis telah lepaskan pukulan Gemuruh Badai.

Karena tak mungkin lepaskan pukulan sambil berdiri di atas patahan kayu yang terombang-ambing, akhirnya Aji bergerak duduk dengan kaki kiri kanan menjepit. Tenaga dalam segera dikerahkan dan dengan didahului bentakan keras, ia hentakkan sepasang tangannya. Blaaarrr!

Air sungai membubung sampai beberapa tombak ke udara saat dua pukulan itu bentrok. Sosok Aji terpental ke belakang. Namun murid Wong Agung ini mempererat jepitan kakinya pada patahan kayu, karena dia sadar, jika patahan kayu itu terlepas, maka tak ampun lagi tubuhnya akan tenggelam.

Di seberang, rakit yang ditumpangi Utusan Iblis tampak melesat ke udara. Utusan Iblis lesatkan dirinya lebih tinggi lagi lalu melayang turun begitu rakit telah berada kembali di atas air sungai.

Paras wajah kedua pemuda ini tampak sama-sama pucat pasi. Dada masing-masing tampak bergetar keras. Namun karena tempat pijakan Utusan Iblis lebih leluasa, pemuda ini cepat dapat menguasai keadaan tubuhnya. Sebaliknya murid Wong Agung harus bersusah payah karena harus mengatasi olengan tubuh yang terombang-ambing mengikuti olengan patahan kayu yang kini didudukinya.

Melihat lawan mengalami kesulitan, Utusan Iblis tak buang kesempatan. Sekali tusukkan kayu di tangan kanannya, rakit itu meluncur deras ke depan. Bersamaan dengan itu kedua tangannya bergerak kirimkan pukulan 'Gemuruh Badai'!

Untuk kedua kalinya gulungan awan hitam yang disertai kilatan dan sambaran petir menggebrak ke arah murid Wong Agung.

Karena tak ada ruang untuk menghindar, mau tak mau akhirnya Aji harus menghadang serangan. Pemuda berpakaian hijau ketat ini pun segera dorongkan sepasang tangannya ke depan.

Kembali terdengar gelegar dahsyat! Karena waktu lepaskan pukulan harus dengan pertahankan kedua kakinya yang menjepit patahan kayu, membuat pukulan Aji tidak sempurna. Hingga tatkala terjadi bentrok pukulan, sosok Aji terlihat melenting ke udara. Melihat hal ini, Utusan Iblis yang saat itu juga membuat gerakan berputar di udara lepaskan pukulan sekali lagi.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Aji berseru keras. Dia cepat sentakkan kedua bahunya hingga tubuhnya makin melenting ke udara. Namun tak urung kedua kakinya tersambar pukulan Utusan Iblis. Pendekar 108 merasakan laksana disengat api. Kedua kakinya bergetar keras. Meski Aji coba bertahan, namun sia-sia, hingga akhirnya dia tak kuasa lagi menahan jepitan patahan kayu di kakinya. Sambil berputar, kakinya melepas patahan kayu. Ternyata patahan kayu itu telah hancur berkeping sebelum terburai di atas air sungai!

Untuk beberapa saat tubuh Pendekar Mata Keranjang masih tampak berputar-putar di udara di atas air sungai. Namun meski bagaimanapun tingginya ilmu seseorang, tak mungkin terusmenerus membuat gerakan berputar-putar di udara. Demikian pula yang dialami murid Wong Agung. Lama-lama gerakan berputarnya makin lemah sebelum akhirnya meluncur deras ke bawah dan....

Byuuurr! Sosok Pendekar Mata Keranjang amblas masuk ke dalam air sungai. Sejenak sosoknya tampak timbul tenggelam diterjang arus air. Namun sesaat kemudian tubuhnya tak tampak lagi!

Di atas rakit, Utusan Iblis usap-usap dadanya, lalu memperhatikan ke permukaan air sungai. Saat sepasang matanya tak lagi menangkap sosoknya Aji, pemuda ini mendongak lalu perdengarkan tawa bergelak!

Di dalam air, murid Wong Agung merasakan dadanya seperti pecah karena menahan napas terus-menerus agar tak kemasukan air. Namun pada akhirnya pertahanannya pun bobol. Pelanpelan air mulai masuk ke rongga mulut melalui hidung dan mulutnya.

"Celaka! Apakah akhirnya aku harus mati di sungai? Ah..." Murid Wong Agung tak bisa berpikir terlalu panjang, karena kepalanya mulai pening dan air mulai leluasa masuk ke mulutnya.

"Sialan! Ini gara-gara aku menuruti ucapan Mata Malaikat yang menyuruhku cepat-cepat menuju Bukit Siluman. Padahal " Pendekar 108 tak

lanjutkan kata hatinya. Ingat Mata Malaikat tibatiba Aji teringat akan kantong putih yang diberikan orang tua itu beberapa waktu lalu.

"Tak ada salahnya aku mencobanya.   Sia-

pa tahu...." Tangan Aji cepat menyelinap ke balik pakaiannya. Dia sedikit lega saat tangannya dapat merasakan kantong itu masih ada di balik pakaiannya. Dengan gerakan yang mulai lamban, dia buka kantong putih pemberian Mata Malaikat. Tanpa melihat isinya dia mengambil sebuah. Ternyata seperti yang dikatakan Mata Malaikat benda di dalam kantong itu mirip tahi kambing. Yakni butiran kecil namun agak keras. Tanpa melihat warna butiran di tangannya, murid Wong Agung segera memasukkannya ke mulut, lalu menelannya. Kantong putih kembali disimpan ke balik pakaiannya.

Begitu butiran kecil itu masuk, Aji merasakan perutnya laksana diaduk-aduk dan panas bukan main.

"Celaka! Jangan-jangan ini racun. Bangsat betul! Kenapa aku begitu saja menelannya?!" gumam Aji dalam hati seraya berusaha muntahkan kembali butiran itu, namun terlambat karena telah masuk ke dalam lambung. Dan sekarang bukan hanya lambungnya yang terasa diaduk-aduk, kepalanya pun mendadak pening, sepasang matanya berkunang-kunang lalu merasakan semuanya gelap!

Tapi tiba-tiba Aji merasa lambungnya normal kembali dan peningnya lenyap. Dia coba membuka matanya. Pendekar Mata Keranjang jadi terlonjak sendiri di dalam air. Seakan tak percaya, dia pentangkan kedua matanya. Dan keanehan itu memang benar-benar terjadi. Meski berada di dalam air, sepasang matanya kini jelas dapat memandang! Malah secara aneh pula kekuatan tubuhnya pulih, dan dadanya tidak sesak!

"Ucapan orang tua itu benar! Ah, selama ini aku salah sangka padanya! Aku berhutang nyawa padanya!"

Aji kembali meraba kantong yang ada di balik pakaiannya untuk meyakinkan jika kantong itu masih ada. Dia menarik napas lega.

Setelah menarik napas panjang dia mendongak ke atas. Karena pandangannya jelas, kini Aji dapat melihat apa yang ada di atasnya. Saat sepasang matanya dapat melihat luncuran rakit tak jauh di depannya! Rakit yang ditumpangi oleh Utusan Iblis. Rupanya murid Titisan Iblis itu tak lagi mengikuti arus sungai. Dia meluncurkan rakitnya membelah arus sungai! Mengikuti arah yang tadi diambil Aji! Aji cepat menggenjot tubuhnya meluncur ke depan!

Sementara itu di atas rakit yang terus meluncur membelah derasnya arus! Utusan Iblis tak henti-hentinya dirasuki perasaaan heran. Sepasang matanya tak henti-hentinya nyalang kian kemari ke permukaan air sungai.

"Bangsat itu sudah tewas apa bagaimana? Kalau menemui ajal tentu sekarang tubuhnya sudah mengapung! Kalau tak mampus? Apa mungkin dia mampu berendam di dalam air sungai begitu lama? Bangsat! Kenapa aku memikirkannya?!"

Selagi Utusan Iblis menduga-duga, tiba-tiba dia merasakan getaran aneh di sebelah kanan rakitnya. Sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi serta bertahun-tahun digembleng di bawah air terjun, pemuda ini dapat membedakan gerakan akibat air sungai dan bukan.

"Setan alas! Aku tak percaya jika dia masih hidup!" ujar Utusan Iblis seraya melangkah ke samping kanan. Matanya tak berkedip menembusi ke dalam air sungai di sebelah sisi kanan rakitnya. Selagi dia termangu, dari sebelah kiri rakit terlihat gerakan. Cepat Utusan Iblis melompat, lalu tusukkan kayu di tangan kirinya ke dalam air sungai.

Byuuurrr!

Air sungai di sisi kiri rakit muncrat. Namun Utusan Iblis tak melihat siapa-siapa.

"Jahanam! Jangan-jangan aku dipermainkan perasaanku saja! Atau " Ucapan Utusan Iblis

terputus. Dia memandang ke depan, ke arah gerakan air sungai yang menghadang arah gelombang. Belum dapat memastikan apa yang membuat gerakan, tiba-tiba air sungai di depan rakitnya muncrat ke udara. Di lain kejap sesosok tubuh menyeruak dari dalam air lalu melesat ke atas air laut setengah tombak sebelum akhirnya mendarat di bagian depan rakit.

Air tampak mengucur deras dari rambut, tubuh serta pakaiannya yang basah kuyup dari sosok di sebelah depan rakit.

Entah karena masih tak percaya dengan pandangan matanya, untuk beberapa saat Utusan Iblis hanya memandang dengan mulut terkancing rapat. Sebaliknya sosok di hadapan Utusan Iblis yang bukan lain adalah Aji memandang dengan mata merah berkilat dan dagu mengembang.

Begitu sadar siapa yang di hadapannya, Utusan Iblis campakkan kayu di tangan kirinya. Dan tanpa terlebih dahulu buka suara, pemuda ini meloncat ke depan. Kedua tangannya segera bergerak menghantam ke arah kepala Aji.

Tindakan yang dilakukan Utusan Iblis, membuat rakitnya terbawa arus sungai! Tapi hal itu tak dipedulikannya. Yang ada di benaknya sekarang adalah membunuh Pendekar Mata Keranjang!

Pendekar Mata Keranjang tak tinggal diam. Kedua tangannya segera pula diangkat lalu disentak ke samping di atas kepalanya.

Bukkk! Bukkk!

Terdengar benturan keras dua kali. Rakit yang menjadi pijakan kedua orang ini sebentar tampak tenggelam hingga kedua pemuda ini hanya terlihat sampai sebatas dada masing-masing.

Murid Wong Agung dan Utusan Iblis tampak sama-sama meringis menahan sakit pada kedua tangan masing-masing. Namun hal itu hanya sekejap. Sesaat kemudian Utusan Iblis telah angkat kaki kanannya sementara tangan kirinya bergerak menghantam.

Pendekar Mata Keranjang cepat lorotkan tubuhnya hingga sejajar rakit. Kaki kirinya melesat menghantam kaki kiri Utusan Iblis yang dibuat untuk tumpuan tubuhnya.

Bukkk!

Utusan Iblis terjajar tiga langkah ke belakang. Sementara Aji cepat bergerak bangkit.

"Bangsat!" maki Utusan Iblis. Tenaga dalamnya segera disalurkan pada kedua tangannya. Lalu serta merta kedua tangannya menghantam lepaskan pukulan 'Gemuruh Badai'.

Rakit tampak berguncang keras dan timbul tenggelam ke dalam air. Murid Wong Agung segera pula hantamkan kedua tangannya papaki serangan Utusan Iblis! Blammm! Byurrr! Prakkk!

Ledakan segera terdengar, kejap kemudian air sungai berhamburan dan permukaan air menyibak! Bersamaan itu dua sosok tubuh mental dari dalam sungai ke udara disusul kemudian dengan mencelatnya rakit yang ternyata telah pecah jadi dua!

Tiga tombak di atas permukaan air sungai, sosok Pendekar Mata Keranjang dan Utusan Iblis kembali menukik ke bawah dan langsung amblas masuk ke dalam air sungai.

Setelah dapat menguasai tubuh, di dalam air sepasang mata murid Wong Agung cepat memandang berkeliling. Saat matanya dapat menangkap kelebatan tubuh Utusan Iblis, dia cepat mengejar.

Utusan Iblis sendiri tampaknya tak mengalami kesulitan di dalam air, karena dia sudah terbiasa berhari-hari berada di bawah air terjun. Hingga tatkala merasa ada gerakan dalam air dari arah belakangnya, pemuda ini cepat berbalik dan sekonyong-konyong lepaskan pukulan!

Bettt! Bettt!

Seketika tampaklah alur panjang yang bergerak cepat menyibak air sungai ke arah Pendekar Mata Keranjang yang ada di hadapannya!

Meski tampak terkejut karena tak menduga, murid Wong Agung segera dorong kedua tangannya.

Alur panjang pun seketika melesat ke depan. Lalu terdengar ledakan, disusul dengan membuncahnya air sungai sampai beberapa tombak ke atas!

Sosok Utusan Iblis tampak jungkir balik di dalam air kemudian terseret jauh ke belakang. Pemuda ini merasakan dadanya hendak pecah. Matanya kabur dan mulutnya megap-megap. Sebelum air lebih banyak masuk ke dalam mulutnya, dia kerahkan tenaga untuk melesat ke permukaan air sungai. Begitu menyembul, tampak jelas perubahan pada raut mukanya. Bahkan dari mulutnya mengalir darah kehitaman!

"Keparat! Untuk sementara aku harus menghindar! Tak kusangka jika jahanam itu punya ilmu selam luar biasa!" gumam Utusan Iblis sambil nyalangkan sepasang matanya mencari pecahan rakitnya. Namun hingga agak lama matanya tak dapat menemukan barang yang dicari.

Di belakangnya, murid Wong Agung yang sosoknya baru saja mental di dalam air cepat kerahkan tenaga dalam. Lalu melesat ke atas. Meski wajahnya tampak berubah pucat pasi, namun dia tak mengalami cedera dalam. Hingga begitu matanya dapat menangkap sembulan kepala Utusan iblis, Pendekar 108 segera meluncur ke depan.

Mendengar kecipak di belakang, Utusan Iblis sudah dapat menduga. Tanpa berpaling lagi, pemuda ini cepat menyelam! Aji yang kedua tangannya telah siap kirimkan pukulan ditarik kembali. Lalu teruskan luncuran tubuhnya.

Pendekar Mata Keranjang layangkan pandangannya ke seluruh permukaan air sungai, namun sampai matanya lelah memandang, sosok Utusan Iblis laksana ditelan air sungai! Malah hingga lama Aji menunggu, yang ditunggu tak juga kelihatan batang hidungnya!

"Ke mana dia?! Apa punya ilmu berendam dalam air?!" tanya Aji sambil sesekali putar pandangannya berkeliling. Dan ketika Utusan Iblis tak juga muncul, akhirnya Aji memutuskan untuk meneruskan perjalanan.

"Hem.... Aku harus menemukan kembali rakit itu. Tak mungkin aku berenang sampai ke Bukit Siluman.... " Berpikir begitu, Pendekar Mata Keranjang kembali layangkan pandangannya ke seluruh permukaan air sungai. Saat itulah tibatiba matanya menangkap pecahan rakit yang terseret arus!

Murid Wong Agung tanpa pikir panjang lagi segera berenang menuju arah pecahan rakit.

Begitu dekat, pecahan rakit segera disambar dan sekali melesat tubuhnya telah berada di atas pecahan rakit. Dengan duduk di sebelah sisi, tangan kanannya bergerak mengayun ke dalam air! Bersamaan dengan itu, pecahan rakit bergerak melawan arus. Pemuda ini berusaha kembali ke tempat di mana permukaan air berwarna merah! Karena saat ini, permukaan air tempatnya mempunyai warna seperti warna air sungai umumnya. Dan, memang bagian Sungai Siluman yang airnya berwarna merah hanya sepanjang satu tombak!

*** LIMA

KITA tinggalkan dulu Pendekar Mata Keranjang yang melaju ke arah Bukit Siluman. Kita kembali dulu ke pinggir Sungai Siluman. Seperti dituturkan sebelumnya, waktu Utusan Iblis lancarkan pukulan pada Kamaratih tiba-tiba seseorang yang ternyata adalah Manusia Neraka dapat menghalau pukulan yang siap merenggut nyawa Kamaratih. Namun di kejap lain sebelum Manusia Neraka berkelebat, sebuah bayangan lain mendadak telah berkelebat dan tahu-tahu Kamaratih telah tidak ada lagi di tempat itu.

Kamaratih sendiri yang waktu itu telah pasrah menghadapi kematian tiba-tiba merasa tersapu oleh sambaran angin halus. Lalu sepasang tangan memegang pinggangnya dan dengan gerak cepat tahu-tahu tubuhnya telah berada di bahu seseorang yang kini membawanya berkelebat.

Pada satu tempat, si bayangan yang membawa lari Kamaratih hentikan larinya. Kepala orang ini sejenak berputar dengan mata nyalang kian ke mari. Kedua tangannya bergerak ke atas bahu. Lalu menurunkan tubuh Kamaratih dan diletakkan di atas pasir.

Kamaratih buka kelopak matanya. Wajah perempuan setengah baya ini serentak berubah. Sepasang matanya membesar memperhatikan orang yang tegak empat langkah di hadapannya tanpa berkedip. Tiba-tiba dari mulutnya keluar seruan tertahan. "Putri Hitam...!" Orang di hadapan Kamaratih sunggingkan senyum. Tapi meski orang ini tersenyum, tidak menambah keramahan wajahnya. Karena ternyata wajah orang ini ditutup dengan bedak hitam yang memantulkan cahaya berkilat. Pakaiannya yang gombrong besar menyembunyikan seluruh anggota tubuhnya hingga sulit ditebak orang ini laki-laki atau perempuan. Lebih-lebih di lehernya melingkar sehelai kain batik seakan menyembunyikan ciri orang itu laki atau perempuan. Rambutnya ikal merah dan dikuncir sampai sepuluh buah yang tiap kunciran itu diberi hiasan pita dari kain batik. "Terima kasih.... Kau telah menolongku!"

kata Kamaratih setelah dapat menguasai rasa kejutnya.

Orang di hadapan Kamaratih dan bukan lain memang orang yang memperkenalkan diri dengan Putri Hitam kembali sunggingkan senyum.

"Kau tak perlu berterima kasih. Sudah sepatutnya di antara sesama saling tolong. Apalagi kita sudah kenal dan kuanggap kau adalah seorang sahabat "

Mendengar ucapan Putri Hitam, keberangan Kamaratih pada orang ini mulai sirna. Perempuan setengah baya ini lalu bergerak bangkit. Setelah menarik napas panjang dia bertanya.

"Kalau tak keberatan, boleh aku tahu siapa kau sebenarnya? Dengan penyamaranmu, pasti kau punya maksud tertentu. Boleh aku tahu? Siapa tahu aku dapat membalas budimu dengan memberi sedikit pertolongan?!"

Putri Hitam gelengkan kepalanya. "Terima kasih. Untuk saat ini aku masih tak mau membuat repot orang lain...." Putri Hitam batuk-batuk sebentar. Lalu melanjutkan ucapannya. "Siapa diriku sebenarnya, bukanlah hal penting bagi orang lain. Dan seperti dugaanmu, aku memang mempunyai maksud tertentu "

"Boleh aku tahu?!" tanya Kamaratih.

Putri Hitam untuk kedua kalinya gelengkan kepala.

"Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengatakan pada siapa pun juga. Hem....

Hanya kalau suka, kau kuharap jawab beberapa tanyaku "

"Katakan!" sahut Kamaratih.

"Apa betul kakek berpakaian perempuan, berambut kepang dua yang memiliki mata cacat tadi adalah tokoh dunia persilatan bergelar Mata Malaikat?!"

Sejurus Kamaratih menatap paras wajah Putri Hitam. Dia menduga-duga. "Suaranya disarukan, wajahnya disembunyikan. Tapi mendengar pertanyaannya kemungkinan besar dia adalah seorang perempuan "

"Putri Hitam.... Kau menanyakan kakek itu. Jangan-jangan kau tertarik padanya. Berarti kau ini adalah seorang perempuan sepertiku, benar?!"

Putri Hitam tertawa panjang. "Orang bertanya tentang seorang laki-laki tidak bisa dipastikan bahwa orang itu adalah perempuan. Demikian juga sebaliknya. Harap kau suka jawab tanyaku, Sobat!"

"Kakek itu memang Mata Malaikat," jawab Kamaratih.

"Putri Hitam manggut-manggut. "Apakah yang kau katakan padanya benar?!"

Ucapan Putri Hitam membuat Kamaratih terkejut. "Ucapan yang mana?!"

"Kau mengatakan pernah jumpa anaknya saat dia bersama Bidadari Penyebar Cinta."

"Hem... Berarti orang ini telah mencuri dengar pembicaraanku dengan Mata Malaikat...," batin Kamaratih. Perempuan ini lalu mengangguk.

"Terima kasih atas keteranganmu. Aku harus pergi sekarang...," kata Putri Hitam lalu balikkan tubuh.

"Tunggu! Ada hubungan apa sebenarnya antara kau dengan Mata Malaikat?"

Putri Hitam menahan langkahnya yang hendak meninggalkan tempat itu. Dia berpaling pada Kamaratih.

"Aku harus buktikan dulu keteranganmu! Jaga dirimu baik-baik karena seseorang tampaknya terus membuntuti langkahmu!" Habis berkata begitu Putri Hitam berkelebat pergi.

"Ada orang yang selalu membuntuti langkahku? Siapa? Pemuda bermulut besar itu? Atau...?" Kamaratih memandang berkeliling. "Ah, persetan!" perempuan ini lantas bergegas meninggalkan tempat itu.

* * *

"Jika ucapan perempuan itu benar, berarti aku telah mendapat titik terang. Bidadari Penyebar Cinta.... Beberapa hari berselang aku melihat dia di sekitar tempat ini. Hem.... Pasti dia hendak menuju bukit yang dikabarkan menyimpan Lembaran Kulit Naga Pertala itu. Aku harus menyusul ke sana. Bukan tak mungkin Mata Malaikat pun telah menuju ke sana juga...." Putri Hitam yang saat itu tegak di bawah sebatang pohon sepelukan orang dewasa di pinggir sungai berkata sendiri seraya arahkan pandangannya jauh ke tengah sungai.

Bisa dimaklumi jika Putri Hitam mengatakan telah mendapatkan titik terang, karena dia sebenarnya adalah Istri Sungging Lanang, anak lakilaki Mata Malaikat. Bersama Sungging Lanang, Putri Hitam mendapatkan seorang anak perempuan. Namun karena saat itu Sungging Lanang terpedaya dengan perempuan lain, kedua orang ini akhirnya berpisah begitu saja. Anak perempuannya oleh Putri Hitam lantas diberikan pada kakeknya, yakni Raksasa Bermuka Hijau. Dia sendiri akhirnya mengembara untuk melupakan luka hatinya. Dalam pengembaraannya dia berjumpa dengan seorang tokoh sakti di Lembah Sumber Manjing.

Meski telah mencoba melupakan kisah lama namun naluri sebagai seorang ibu yang pernah melahirkan seorang anak tak bisa dikekang. Kerinduan pada anaknya tak bisa ditahan lagi. Hingga setelah sekian tahun berada di Lembah Sumber Manjing dia akhirnya minta pada gurunya untuk menemui anaknya.

Namun Putri Hitam jadi terkejut saat dia mendapatkan ayahnya, Raksasa Bermuka Hijau yang memelihara anaknya tidak ada lagi di tempatnya dulu. Dia telah coba mencari namun belum berhasil, hingga akhirnya dia mendengar tentang gegernya dunia persilatan dengan Lembaran Kulit Naga Pertala.

Tentang Lembaran Kulit Naga Pertala, Putri Hitam pernah dengar dari ayahnya, Raksasa Bermuka Hijau. Karena menduga Raksasa Bermuka Hijau atau anaknya juga sedang ikut memburu Lembaran Kulit Naga Pertala, akhirnya dia memutuskan untuk menyelidik ke Bukit Siluman. Tempat yang menurut banyak kalangan diduga menyimpan lembaran kulit itu.

"Tapi bagaimana aku bisa pergi ke Bukit Siluman...?! Tak mungkin aku harus berenang ke sana? Aku masih belum tahu di mana letaknya tempat itu, kecuali berita yang menyatakan berada di seberang sungai ini. Mempergunakan rakit kurang nyaman. Hhh....! Salahku juga, mengapa tak sejak semula membawa perahu. Sekarang aku jadi repot sendiri. Mau tak mau aku harus membuatnya. Membuat sebuah perahu yang cukup besar dan kuat "

Putri Hitam mengarahkan pandangan ke sekitarnya. Memperhatikan pohon demi pohon yang berada di situ. Sepasang matanya berbinar ketika melihat apa yang dicarinya. Sebatang pohon yang membutuhkan sepuluh pasang tangan orang dewasa untuk melingkari batangnya! Pohon yang cocok untuk membuat perahu!

Dengan agak tergesa-gesa, Putri Hitam menghampiri pohon itu. Ketika telah berjarak beberapa langkah, tangan kanannya diangkat, lalu dihentakkan!

Angin keras menderu. Di lain kejap terdengar bunyi berderak keras ketika pohon besar itu tumbang memperdengarkan gemuruh yang riuh rendah. Debu pun mengepul. Namun, begitu kepulan debu itu surut, Putri Hitam melesat mendekati pohon itu.

"Untung aku tahu bagaimana membuat sebuah perahu," pikir perempuan berwajah hitam itu. Di lain kejap, dia mulai dilanda kesibukan, membuat sebuah perahu.

Berkat tenaga dalamnya yang tinggi, Putri Hitam tak mengalami kesulitan untuk membersihkan pohon itu dari ranting-ranting dan daundaun. Bahkan memotong batangnya! Hanya dalam waktu sebentar, di depan Putri Hitam telah terpampang gelondongan kayu sepanjang hampir satu setengah tombak.

Dalam pengerahan tenaga dalamnya yang tinggi, Putri Hitam mampu membuat tangannya lebih tajam dari pedang pusaka. Gelondongan kayu itu dilobangi untuk membuat geladaknya. Putri Hitam harus bekerja keras untuk itu.

Tak lama kemudian, sebuah perahu sederhana tapi terlihat keras dan kokoh telah tercipta. Tak lupa Putri Hitam membuat dayungnya. Meski wajahnya memperlihatkan kelelahan, tapi tampak adanya sinar kepuasan pada sorot mata Putri Hitam.

"Tak sia-sia juga jerih-payahku. Dengan perahu ini aku akan tiba di Bukit Siluman...," kata perempuan berwajah hitam ini dalam hati. ENAM

Angin Sungai Siluman bertiup kencang. Arus air pun luar biasa laju. Tapi, perahu Putri Hitam berjalan terseok-seok, karena bergerak melawan angin dan arus sungai! Apalagi, perempuan ini tak terlalu tergesa-gesa, sehingga hanya mengerahkan sebagian kecil tenaganya. Putri Hitam duduk dengan mata beredar ke depan. Tapi, sejauh ini yang tampak hanya air!

"Mudah-mudahan dugaanku benar jika Bidadari Penyebar Cinta menuju ke bukit itu. Keterangan dari perempuan itu sangat kuperlukan. Setidaknya dia mengetahui di mana Sungging Lanang berada. Kesadaranku memang terlambat datangnya. Namun aku tak dapat melupakan "

Tiba-tiba Putri Hitam bergerak bangkit lalu berdiri tegak dengan mata memandang ke kanan kiri perahu. Mulutnya komat-kamit perdengarkan gumaman.

"Ada yang tak beres dengan perahu ini. Mungkinkah gerakan ikan ?" pikir Putri Hitam la-

lu putar tubuhnya, namun gerakannya tertahan tatkala sepasang matanya menangkap riak di sebelah kanan perahu. Belum sempat menduga, sepasang tangan tiba-tiba muncul dari dalam air dan berpegangan pada samping kanan perahu. Di saat lain air berkecipak muncrat ke udara. Lalu sesosok tubuh melesat dan tahu-tahu tegak di tengah lantai perahu dengan tubuh sedikit dibungkukkan pada Putri Hitam seraya berkata. "Harap maafkan kelancanganku! Boleh aku ikut menumpang?"

Putri Hitam tak segera menjawab pertanyaan orang. Dia memandangi orang yang baru muncul dari dalam, mulai dari rambut hingga kakinya yang basah kuyup. Dada Putri Hitam berdegup kencang, sementara matanya sedikit mendelik. Kalau saja wajahnya tidak ditutup dengan bedak hitam, orang yang baru muncul pasti dapat menangkap perubahan wajahnya.

"Bagaimana dia bisa menyelam sampai sejauh ini? Ah, itu tak penting. Hem... Apakah aku harus berterus terang padanya saat ini? Dari percakapannya dengan Kamaratih, aku tahu dia juga sedang mencari Sungging Lanang...." Putri Hitam berkata sendiri dalam hati setelah dapat menguasai keterkejutannya dan bisa mengenali siapa adanya orang yang baru muncul.

"Kalau Kau merasa keberatan, aku akan turun kembali...," ujar orang yang baru datang seraya pejamkan mata kemudian pentangkannya kembali!

"Orang tua. Silakan kau menumpang di perahu ini. Sebenarnya kau hendak ke mana?" tanya Putri Hitam menahan gerak orang yang hendak melangkah kembali ke arah samping perahu.

Orang yang seluruh tubuh dan pakaiannya basah kuyup yang ternyata adalah seorang Kakek mengenakan pakaian dari kulit ular dengan rambut putih panjang dan bermata cacat dan tidak lain adalah Mata Malaikat palingkan wajah ke arah Putri Hitam sambil sunggingkan senyum. "Aku ikut ke mana perahu ini berlayar saja!" kata Mata Malaikat setelah agak lama terdiam. "Hendak menuju mana perahu ini?!"

"Aku menuju Bukit Siluman...," jawab Putri Hitam sambil putar tubuhnya setengah lingkaran.

Mata Malaikat manggut-manggut. Namun sepasang matanya melirik tajam pada Putri Hitam seolah menyelidik. "Orang ini sengaja menyembunyikan dirinya. Mungkin dia sedang memburu lembaran kulit itu," duga Mata Malaikat

"Hem   Aku tahu. Sebenarnya orang tua ini

juga bertujuan ke bukit itu. Apakah dia menyangka Sungging Lanang akan muncul di sana? Atau mungkin dia punya niat lain? Memburu lembaran kulit itu barangkali?" batin Putri Hitam. Lalu berujar dengan mata memandang jauh ke sebelah barat.

"Orang tua. Boleh tahu siapa kau?!" Mata Malaikat perdengarkan suara tawa sebelum akhirnya menjawab.

"Entah bagaimana mulanya, orang-orang memanggil tua bangka ini dengan Mata Malaikat. Padahal jelas-jelas kalau aku ini keturunan manusia! Bukan sebangsa malaikat "

"Apa betul kau masih keturunan manusia?!" "Kau lihat sendiri wujudku. Mana ada bang-

sa malaikat sepertiku ini? Juga mana ada malaikat mempunyai mata cacat? He he he !"

"Kalau kau benar-benar turunan manusia tentunya kau punya kerabat. Setidak-tidaknya punya istri dan anak. Apakah kau punya?!" tanya Putri Hitam masih dengan memandang jauh. "Ah...." Mata Malaikat keluarkan keluhan. Wajah kakek ini mendadak berubah agak murung. "Aku memang punya istri dan anak "

Putri Hitam palingkan wajahnya menghadap Mata Malaikat.

"Apa mereka masih ada?!"

Mata Malaikat menatap tajam pada Putri Hitam. "Kau ini sebenarnya siapa? Dandananmu bagus. Aku senang melihatnya. "

Meski ucapan Mata Malaikat nadanya tak enak, namun Putri Hitam tak menunjukkan wajah marah. Sebaliknya bibirnya yang hitam sunggingkan senyum.

"Mungkin karena wajahku hitam, orang memanggilku Putri Hitam "

"Ah, kalau kau seorang putri, berarti kau seorang perempuan!"

"Nama tidak bisa dibuat jaminan jenis seseorang. Seperti juga sebutan malaikat tidak dapat dijadikan alasan bahwa dia bangsa malaikat!"

"Wah, kau pandai juga beralasan Apakah

kau juga punya suami, atau istri? Atau barangkali punya anak?"

"Suami atau istri aku tak punya! Tapi anak aku punya!"

"Aneh. Tak punya suami atau istri tapi punya anak. Nongolnya bagaimana?"

Putri Hitam tertawa perlahan. "Kau bilang punya anak. Tentu kau tahu bagaimana nongolnya!"

Mata Malaikat garuk-garuk kepala dengan mata dipentang lebar-lebar. "Maksudmu kau pernah bersuami atau beristri. Tapi, setelah nongolnya anak kalian bubaran. Begitu bukan?"

"Kau pandai juga menebak.... Eh, tadi kau mengatakan anak. Laki-laki apa perempuan? Apakah sekarang masih ada? Siapa namanya?!"

"Wah. Pertanyaanmu banyak sekali. Tapi, karena kau telah memberi tumpangan padaku, aku akan menjawab tanyamu. Siapa tahu kau bisa menolongku!"

"Menolong? Menolong apa, Orang Tua?" tanya Putri Hitam seakan terkejut.

"Seperti kataku tadi. Aku memang punya seorang anak laki-laki. Namun sayang, hingga tua bau tanah begini aku tak dapat melihat anakku!" Kembali air muka Mata Malaikat berubah agak murung. Sementara dada Putri Hitam semakin berdebar-debar.

"Apa dia hilang?!" tanya Putri Hitam. Suaranya berubah agak parau dan bergetar meski orang masih tak dapat menentukan jenis suara laki-laki atau perempuan.

"Tepatnya diculik seseorang.... Waktu itu anakku masih berusia enam bulan. Dia bernama Sungging Lanang "

Putri Hitam palingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan perubahan. Dadanya bergetar keras. Mulutnya komat-kamit.

"Jadi benar jika Sungging Lanang adalah anaknya.... Oh. Apakah aku harus berkata terus terang padanya? Atau ?"

Putri Hitam tak meneruskan kata hatinya karena pada saat itu kembali Mata Malaikat telah lanjutkan ucapannya.

"Bertahun-tahun aku mencarinya. Namun pencarianku tak membawa hasil. Hanya aku pernah dengar kabar anakku telah menikah dengan seseorang dan telah punya seorang anak. Tapi itulah. Kabar hanya kabar. Dan aku tak berhasil menemukannya."

"Kau bilang anak itu diculik waktu kecil. Bagaimana kau bisa memastikan bahwa yang sudah beristri dan punya anak itu adalah anakmu?!"

"Orang yang mengabariku mengatakan ciriciri yang dimiliki anakku. Ciri yang tak bisa dihapus oleh apa pun! Anakku punya tahi lalat hijau di lehernya. "

Tanpa diketahui oleh Mata Malaikat, Putri Hitam tampak menggigit bibirnya dengan mata terpejam. Dan matanya tampak berkaca-kaca tatkala Mata Malaikat terdengar melanjutkan ucapannya dengan suara agak pelan.

"Kalau aku boleh minta pada Tuhan. Aku hanya minta dipertemukan dengan anakku. Lebihlebih dengan cucuku sebelum aku berkalang tanah "

Untuk beberapa saat lamanya dua orang ini sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Tapi karena saat itu Putri Hitam tegak membelakangi, Mata Malaikat tak tahu jika Putri Hitam telah berlinang air mata.

"Seandainya dia tahu...," desis Putri Hitam. Tapi desisannya tak berlanjut karena pada saat bersamaan terdengar suara.

"Berhenti!" Putri Hitam dan Mata Malaikat sama-sama palingkan wajah ke arah datangnya suara. Dari belakang, tampak sebuah perahu melaju ke arah mereka. Kedua orang ini melihat seorang kakek bertubuh bungkuk. Matanya besar melotot. Hidungnya besar dan mulut lebar. Kumis, jambang, dan jenggotnya panjang awut-awutan dan berkibar-kibar diterpa angin. Rambutnya yang putih dan panjang hanya tumbuh di separo kepalanya bagian samping kanan. Sedang bagian samping kiri tampak kelimis tak ditumbuhi rambut!

Kakek ini berdiri di atas perahu dengan hanya menggoyang-goyangkan bahunya. Namun demikian, bersamaan dengan gerakan bahunya, perahu yang dinaiki melaju di atas permukaan air sungai dengan deras. Tak lama lagi pun perahu Putri Hitam akan tersusul!

Mata Malaikat kerutkan dahi sambil mendongak. Putri Hitam memperhatikan dengan coba menduga-duga siapa adanya si kakek bungkuk. Namun karena tak dapat mengenali siapa adanya orang di atas perahu yang kini makin mendekat, Putri Hitam berkata pada Mata Malaikat.

"Kek   Kau mengenal orang itu?!" Mata Ma-

laikat berpaling pada Putri Hitam. "Kalau mataku tak menipu, kakek itu adalah tokoh persilatan yang bergelar Titisan Iblis!"

Putri Hitam tampak terkejut. "Aku pernah mendengar gelar orang itu Kabarnya dia seorang

berilmu tinggi dan sangat berbahaya. "

"Tak salah!" sahut Mata Malaikat. "Malah aku heran padanya. Sejak dulu kala dia selalu menginginkan selembar nyawaku. Padahal rasanya aku tak pernah bersalah ucap dan bertangan kasar padanya!"

"Jadi kau punya silang sengketa dengan-

nya?!"

"Dari pihakku tidak. Karena semua orang

kuanggap sahabat!"

Mata Malaikat lalu palingkan wajahnya ke arah kakek bungkuk yang berada di atas perahu di sampingnya yang bukan lain memang dedengkot dunia persilatan sekaligus guru Utusan Iblis yakni Titisan Iblis.

"Sobatku, Titisan Iblis!" seru Mata Malaikat di antara kecipak air dan suara angin. "Senang bertemu kau lagi. Berlayar sendirian, hendak ke manakah gerangan?!"

Titisan Iblis hentikan gerakan bahunya hingga perahu yang dinaikinya, berkurang jauh lajunya!

Ucapan Mata Malaikat disambut dengusan keras oleh Titisan Iblis. Matanya yang besar membelalak memperhatikan pada Mata Malaikat lalu beralih pada Putri Hitam. Saat pandangannya tertuju pada Putri Hitam, dengusan Titisan Iblis berubah menjadi tawa pelan bernada mengejek.

"Kau tampaknya kehabisan akal dan tak laku lagi, Bandot Tua! Hingga orang yang tak jelas bentuk dan jenisnya kau gaet juga! Ha ha ha...! Mau ceritakan padaku bagaimana rasanya orang tak berbentuk dan tak berjenis?!"

Mendengar ucapan Titisan Iblis, Putri Hitam tampak komat-kamitkan mulut. Wajahnya mengeras dengan mata mendelik. Sementara Mata Malaikat tengadah dengan mata terpejam.

"Sudah tua tapi mulutmu tambah busuk. Sekali lagi kau berkata kotor aku tak segan membuat perahumu hancur!" teriak Putri Hitam marah. "Tenang, Putri...," bisik Mata Malaikat. "Jangan masukkan ke hati ucapannya. Dia sudah

biasa berkata seperti itu!"

"Tapi ucapannya keterlaluan! Mulut seperti itu sesekali patut dihajar!"

Di seberang, Titisan Iblis tertawa bergelakgelak. Namun cuma sekejap. Di lain saat matanya melotot ke arah Putri Hitam.

"Kau tampaknya punya nyali. Tidak seperti beberapa gendak bandot tua itu yang dulu-dulu! Hem.... Mungkin itu sebabnya bandot tua itu menggaetmu meski tak jelas jenis dan bentukmu!"

Kemarahan Putri Hitam tampaknya sudah tak dapat diatasi. Orang ini segera melangkah ke tengah perahu. Tiba-tiba perahu yang dinaiki berguncang-guncang.

Sebagai orang yang memiliki naluri tajam, Mata Malaikat telah tahu jika guncangan itu akibat Putri Hitam telah kerahkan tenaga dalamnya.

"Putri Hitam. Tunda dulu kemarahanmu. Titisan Iblis bukan orang sembarangan. Lebih dari itu, air baginya sama dengan daratan! Dan perlu kau ketahui. Semua ucapannya tentang diriku benar adanya! Sejak muda dulu, aku memang selalu berganti-ganti perempuan. Jadi harap kau mengerti "

"Aku tak mau tahu semua itu! Dan jangan kira aku takut pada setan tua itu hanya karena ucapanmu!" desis Putri Hitam, namun dia masih belum memulai membuat gerakan untuk kirimkan pukulan.

"Bandot tua!" seru Titisan iblis. "Akhirnya kau harus mampus di samping gendakmu yang aneh. Sungguh suatu akhir yang memilukan!"

Sebelum Putri Hitam berkata, Mata Malaikat telah mendahului.

"Sobat. Aku harus mampus itu sudah pasti. Namun sejak dulu kau tak mau pernah mengatakan mengapa kau selalu memburu nyawaku. Sekarang apakah kau masih enggan mengatakannya?!"

"Jawaban akan kau peroleh begitu nyawamu melayang! Bersiaplah, Bandot!"

Tanpa disangka-sangka habis berkata begitu, Titisan Iblis telah mendahului menggebrak dengan kirimkan pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi.

Wuuuttt! Wuuuttt!

***

TUJUH

DUA gulungan awan hitam melesat dengan keluarkan suara laksana guntur yang bersahutsahutan, di lain kejap tampak cahaya berkilatkilat. Inilah pukulan sakti milik Titisan Iblis yang juga telah diwariskan pada muridnya si Utusan Iblis, yakni pukulan 'Gemuruh Badai'.

Melihat Titisan Iblis telah menggebrak lepaskan pukulan, Putri Hitam makin berang. Begitu pukulan Titisan Iblis bergerak melesat, Putri Hitam cepat angkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas kepalanya. Lalu disentakkan ke bawah.

Beeettt! Beeettt!

Dua gulungan awan hitam pukulan Titisan Iblis mendadak tertahan lantas melesat amblas ke dalam sungai! Namun permukaan air sungai tak sepercik pun muncrat!

Kalau gulungan awan hitam dapat tertahan bahkan langsung amblas, tidak demikian halnya dengan cahaya kilat. Cahaya kilat itu terus melesat!

Putri Hitam tampak terkejut, namun sebelum orang ini bergerak, Mata Malaikat dorongkan kedua tangannya!

Seeettt! Settt!

Asap putih tipis tampak bergerak naik turun keluar dari dorongan kedua tangan Mata Malaikat. Lalu menyergap ke arah cahaya berkilat. Cahaya langsung redup. Namun bersamaan dengan itu terdengar ledakan dahsyat. Permukaan air membumbung. Perahu yang ditumpangi Mata Malaikat terhempas sampai sepuluh tombak ke samping. Namun baik Titisan Iblis maupun Putri Hitam tampak tetap tegak meski raut keduanya tampak berubah dan tubuhnya bergetar keras.

Di seberang sana, perahu yang dinaiki Titisan Iblis terlihat jungkir balik di atas permukaan air. Tapi begitu terhenti, Titisan Iblis masih tampak berdiri tegak di lantai perahu! Malah baik tubuh maupun pakaiannya tidak basah!

Titisan Iblis sejenak perhatikan dirinya. Lalu alihkan pandangannya pada Mata Malaikat yang masih tegak membelakangi. Titisan Iblis mendengus keras lalu serta-merta gerakkan bahunya. Perahu yang dinaiki bergerak melaju ke arah samping. Membelah arus sungai!

Kira-kira lima tombak di samping perahu Putri Hitam, kembali Titisan Iblis angkat kedua tangannya sejajar dada lalu ditarik ke belakang.

Perahu Putri Hitam tampak terseret mendekat. Namun ketika Mata Malaikat dorong kedua tangannya ke depan, perahu itu kembali menjauh. Titisan Iblis lipat gandakan tenaga dalamnya. Perlahan-lahan perahu Putri Hitam kembali bergerak mendekat. Malah kali ini melaju dengan kencang. Tapi lagi-lagi perahu itu menjauh begitu Mata Malaikat dorongkan kedua tangannya ke depan. Untuk beberapa saat lamanya terjadi saling tarik dengan kerahkan tenaga dalam. Namun pada satu kesempatan, Titisan Iblis yang tampak tak sabar segera hantamkan kedua tangannya. Lepaskan pukulan 'Gemuruh Badai'.

Putri Hitam yang sedari tadi telah siap tak menunggu lama. Pada saat itu juga dia hantamkan pula kedua tangannya.

Kali ini terdengar dentuman keras. Air sungai muncrat setinggi empat tombak ke udara. Sosok Titisan Iblis tampak mencelat dari perahu lalu melayang ke bawah sebelum akhirnya masuk ke dalam air. Perahunya tampak pecah berantakan lalu hanyut dibawa arus sungai yang deras!

Di lain pihak, Putri Hitam hampir saja mental. Untung Mata Malaikat cepat menahan tubuh Putri Hitam dengan tempelkan kedua tangannya ke punggung orang berwajah hitam itu. Hingga tubuh Putri Hitam hanya berguncang-guncang. Perahunya pun tampak pecah di bagian depan.

"Putri Hitam.... Kita harus cepat sampai di bukit itu. Menghadapi tua bangka itu sangat berbahaya jika di atas air!" kata Mata Malaikat lalu turunkan tangannya dari punggung Putri Hitam. Tanpa menunggu jawaban, Mata Malaikat mengambil dayung! Dengan putar perahu, meletakkan bagian yang pecah di belakang, Mata Malaikat pun mulai mendayung. Sekali dia tancapkan dayung ke dalam air, perahu pecah itu melesat cepat ke depan.

* * *

Jauh di belakang, di dalam sungai, tampak Titisan Iblis mengerjap lalu usap dadanya. Tak berapa lama kemudian tubuhnya melesat laksana ikan. Anehnya, kakek ini sepertinya punya daya sedot luar biasa. Meski di dalam air tapi tubuh dan pakaian yang dikenakan tampak kering! Malah sesekali dia tampak seperti sedang melangkah di atas daratan!

"Jahanam! Siapa gendak bandot tua itu?" Dari bentrok pukulan dengan Putri Hitam, nampaknya diam-diam Titisan Iblis maklum jika Putri Hitam tidak bisa dipandang sebelah mata. Malah dia segera bisa mengira-ngira jika tingkat kepandaian Putri Hitam sudah hampir sejajar dengan Mata Malaikat. "Hem Melihat arahnya dapat ku-

pastikan mereka sedang menuju Bukit Siluman. Apakah Utusan Iblis sudah berada di sana? Anak itu rupanya tak berhasil membuat tewas bandot tua itu, ataukah dia belum sempat bertemu?" Titisan Iblis terus mereka-reka seraya terus melesat di dalam air.

***

DELAPAN

KITA kembali pada Pendekar Mata Keranjang yang terus melaju dengan menggunakan pecahan rakit ke arah Bukit Siluman. Saat itulah, Pendekar Mata Keranjang melihat adanya gundukan tanah yang menjulang ke atas, di sebelah depan!

"Tak salah lagi...," kata Aji dalam hati. "Itulah Bukit Siluman!"

Pendekar Mata Keranjang ini pun mengarahkan pecahan rakitnya ke gundukan tanah itu. Dan, begitu dua tombak lagi pecahan rakit merapat ke pinggir, murid Wong Agung telah berkelebat. Setelah sepasang kakinya menjejak tanah, sejenak sepasang matanya yang tajam memperhatikan berkeliling.

"Hem.... Rupanya sudah ada orang yang mendahului ke tempat ini. Apakah dia orang yang menyamar sebagai Setan Pesolek itu?" gumam Aji begitu matanya melihat sebuah sampan terselip di sela tumbuhan pinggir sungai. Dia lalu layangkan pandangannya sekali lagi. Tapi, dia tak lagi melihat sebuah sampan atau perahu lainnya. Pemuda ini lantas arahkan pandangannya ke sungai. Saat itulah matanya samar-samar menangkap sebuah perahu melaju berlawanan dengan arus sungai.

"Rupanya ada orang menuju kemari. Aku harus bertindak cepat!" Aji lantas putar tubuh dan berkelebat. Medan yang ditempuhnya menanjak. Baru beberapa tombak, murid Wong Agung ini terkesima dengan pemandangan tempat itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Yang tampak hanya gundukan-gundukan tanah dan pohon-pohon gundul di sana-sini. Pohon-pohon yang tak berdaun sama sekali!

Beberapa saat kemudian, murid Wong Agung tersadar dari kesimanya. Sepasang telinganya ditajamkan. Matanya jelalatan kian kemari.

"Tak ada tanda-tanda adanya orang    Lalu

di mana lembaran kulit itu berada. ? Di sini hanya

batu-batu dan tanah...." Aji menghela napas panjang. Lalu melangkah ke arah tonjolan batu agak besar. Tiba-tiba sepasang matanya mendelik besar. Di situ dia menemukan sebuah lobang.

"Terowongan...," desis Aji seraya terus memperhatikan ke dalam. Setelah agak lama terdiam, dia mulai melangkah memasuki terowongan. "Aneh. Di sini terasa hangat...," gumam Aji dengan terus melangkah. Sesekali dia berpaling ke belakang. Lalu meraba-raba samping terowongan karena keadaan di dalam mulai agak gelap.

Ketika langkahnya sampai di ujung terowongan, murid Wong Agung berhenti. Di hadapannya kini tampak hamparan tanah membentuk lingkaran sebesar dua puluh tombak berkeliling. Di sebelah depan sana, terlihat beberapa lobang terowongan. Ada keanehan di hamparan tanah gersang yang menghubungkan antara terowongan pertama dengan beberapa terowongan di depan sana. Pada hamparan tanah itu tampak tonjolantonjolan batu yang bertuliskan angka-angka dari satu sampai dua puluh delapan.

Melihat angka-angka yang tertera di beberapa tonjolan batu, Aji terkesiap. Dia teringat akan petunjuk yang diberikan Peri Kupu-kupu. Tanpa sadar ia menggumamkan petunjuk itu. "Tiga tambahkan tiga dan seterusnya...." Dia tercenung beberapa lama. "Bagaimana maksudnya ini? Apakah aku harus mulai dari angka tiga? Lalu tambahkan tiga, berarti enam. Lalu ditambah tiga, berarti sembilan. Hem.... Jika begitu, angka-angka selain pertambahan tiga adalah angka jebakan....," simpul Aji pada akhirnya. Lalu memandang ke arah hamparan tanah di hadapannya. Kemudian murid Wong Agung lantas mengambil kerikil sebesar kepalan di dekat terowongan. Kerikil itu dilemparkan ke gundukan batu yang bernomor genap.

Busss!

Begitu kerikil mendarat di gundukan batu bernomor empat, kerikil itu seperti menimpa landasan yang lunak. Gundukan batu itu bergoyang. Sekejap kemudian, sedikit demi sedikit kerikil itu terbenam. Sesaat kemudian, lenyap. Sedangkan gundukan batu itu tenang kembali laksana tak pernah terjadi apa-apa!

Aji terkesiap dengan mata membelalak dan mulut menganga.

"Mengerikan.... Kalau saja aku tak mendapatkan petunjuk itu bukan mustahil tubuhku akan tercabik dan amblas masuk.... Hem Apa-

kah orang yang menyamar dan telah mengetahui petunjuk itu berhasil melewati hambatan ini?" Aji sapukan pandangannya berkeliling. Tapi dia tak menemukan siapa-siapa.

"Ah, persetan dengan orang itu!" Akhirnya Aji tak mempedulikan lagi dengan orang yang selama ini masih menjadi teka-teki baginya. Dia lalu perlahan-lahan melangkah ke arah hamparan tanah gersang.

Pendekar 108 menarik napas dalam-dalam. "Mudah-mudahan aku tak salah menjabarkan petunjuk itu. Aku hanya menginjak angka kelipatan dari tiga. ," kata Aji ke dalam hati. Lalu sekali ber-

kelebat tubuhnya melesat dan tegak di tonjolan batu berangka tiga. Dada murid Wong Agung tampak berdebar keras begitu kakinya menginjak batu berangka tiga. Dia memejamkan mata seraya menunggu sambil ancang-ancang melakukan lompatan mundur kembali. Tapi setelah agak lama berdiri dan batu yang diinjak tidak amblas masuk, Aji bernapas lega. Dia buka kelopak matanya. Kini pandangannya tertuju ke arah tonjolan batu berangka enam.

"Jika aku selamat pada batu berangka enam, berarti petunjuk itu telah dapat kujabarkan dengan benar " Aji lantas meloncat ke arah tonjo-

lan batu berangka enam. Seperti tadi kali ini Aji tegak menunggu agak lama di tonjolan batu berangka enam seraya ancang-ancang melompat mundur. Namun begitu batu berangka enam tak bergeming, murid Wong Agung tampak tengadahkan kepala sambil menarik napas lega.

"Aku berhasil....," serunya dalam hati. Tanpa pikir panjang lagi Aji segera meloncat kembali. Kini menuju tonjolan batu berangka sembilan. Namun setengah jalan, tiba-tiba dari arah depan terdengar suara deru dahsyat. Di lain kejap serangkum gelombang angin deras menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang!

Menduga hal itu salah satu jebakan, murid Wong Agung cepat melompat mundur dan menjejak pada batu berangka enam kembali. Saat kakinya menginjak batu itulah rangkuman angin melabrak! Tak ada jalan lain bagi Aji selain berkelit menangkis untuk menyelamatkan diri.

Dengan kembangkan kedua tangannya dan mendorong ke depan, Aji melesat mundur dan menjejak pada tonjolan batu berangka tiga.

Wuuuttt! Wuuuttt! Blaaarrr!

Tempat itu bergetar. Anehnya hamparan tanah gersang itu tak beriak atau bergelombang. Malah ledakan itu tak menimbulkan gema! Suara ledakan akibat bentroknya gebrakan angin dengan pukulan yang dilancarkan Aji hanya terdengar sekejap. Kejap kemudian lenyap laksana direnggut setan!

Namun itu semua lepas dari penglihatan

Aji, karena murid Wong Agung mulai curiga bahwa sambaran angin yang menggebrak ke arahnya bukanlah sebuah jebakan tapi sebuah serangan yang dilancarkan seseorang.

Dugaan Aji tak meleset. Karena kejap kemudian terdengar suara tawa mengekeh panjang! Dan seperti suara ledakan tadi, suara tawa itu tidak bergema meski nyata benar jika tawa itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam!

"Suara tawa seorang perempuan!" bisik Aji seraya arahkan pandangannya ke depan, dari mana suara tawa bersumber.

"Siapa pun kau adanya, tunjukkan diri!" teriak Aji.

Teriakan Aji disambut dengan suara tawa panjang. Lalu terdengar orang berkata.

"Kalau kau ingin tahu, kenapa masih tegak di situ? Kemarilah, Anak Muda!"

Kembali Aji layangkan pandangannya berkeliling. Namun dia belum bisa menentukan di mana orang yang bersuara berada.

"Jika aku menuruti ucapannya, bukan tak mungkin dia akan menyerangku saat aku melewati tonjolan batu-batu itu! Dan sekali salah injak, habislah riwayatku...." Berpikir sampai di situ untuk beberapa lama murid Wong Agung belum beranjak dari tempatnya.

"Kau takut, Anak Muda?!"

Meski hatinya masih digelayuti perasaan khawatir, Aji dengan tertawa pelan berujar. "Menghadapi orang licik dan pengecut sepertimu, apa yang ditakutkan?!"

Tak ada sahutan dari seberang, namun sebentar kemudian terdengar suara kembali. "Kalau begitu kenapa masih diam di situ? Tak tahukah kau jika aku menunggumu?!"

Mengingat masih ada beberapa orang yang sedang menuju tempat ini yang menginginkan Lembaran Kulit Naga Pertala, akhirnya Pendekar

108 mengambil keputusan untuk teruskan langkah. Apalagi Aji mulai yakin jika orang yang perdengarkan suara adalah orang yang berhasil menyamar sebagai Setan Pesolek dan membawa lari kipas ungu 108.

Setelah berpaling ke belakang, murid Wong Agung mulai lagi arahkan pandangannya pada batu berangka enam. Seraya siapkan pukulan, pemuda ini melompat dan kini tegak di batu berangka enam. Dari arah depan tak ada serangan atau terdengar suara.

Aji tak buang waktu, dia lantas melesat kembali. Hanya sejenak menjejak di batu berangka sembilan lalu melesat ke arah batu berangka dua belas. Sejauh ini masih juga tak ada serangan, tapi Pendekar Mata Keranjang tetap waspada. Setelah melirik ke depan, murid Wong Agung kembali meloncat. Yang dituju adalah batu berangka lima belas. Namun baru saja bergerak, dari arah depan terdengar suara menggemuruh dahsyat! Sesaat kemudian sebuah gelombang angin datang menyambar!

Aji teruskan loncatannya sambil hantamkan kedua tangannya.

Bunyi gaduh terdengar ketika angin keras menggebrak dari telapak tangan Aji! Kejap kemudian terdengar letupan keras. Aji merasa disapu gelombang angin deras hingga tubuhnya tampak berguncang. Karena tak ada tempat untuk menggeser tubuh, akhirnya murid Wong Agung melompat mundur kembali. Saat itulah dari arah depan mendadak melesat dua sinar kuning yang di lain kejap tiba-tiba mengembang lalu menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang dari segala jurusan dengan keluarkan suara bergemuruh dan menebarkan hawa panas!

"Sialan! Batu-batu ini terlalu kecil untuk bergerak leluasa!" keluh Aji lalu melompat mundur kembali sambil lepaskan pukulan untuk menangkis.

Blaaarrr!

Untuk ke sekian kalinya tempat itu diguncang suara ledakan dahsyat. Dari arah depan terdengar seruan tertahan. Sementara murid Wong Agung tampak pucat pasi. Sesaat kemudian sosoknya mental ke belakang. Untung dia masih sigap, hingga meski mencelat namun pijakannya tepat pada tonjolan batu berangka tiga. Untuk beberapa saat Aji mengusap dadanya yang terasa nyeri dan sesak. Saat itulah dari salah satu terowongan di sebelah depan berkelebat sesosok tubuh. Belum sampai menjejak, sosok tersebut telah lepaskan pukulan!

Wuuuttt! Wuuuttt!

Aji terkejut. Buru-buru dia hantamkan kedua tangannya. Namun sebelum tangannya menghantam, pukulan lawan telah mendahului menyergap!

Aji merasakan dadanya terhantam benda berat. Sosoknya mencelat mental ke belakang. Karena di belakangnya menghadang lamping batu itu. Begitu kerasnya hingga sebagian lamping batu itu berguguran.

Sesaat kemudian tubuh Aji terkulai bersandar pada lamping batu. Darah tampak mengucur dari mulut dan hidungnya.

Terdengar suara tawa mengekeh panjang. Lalu sosok di seberang berkelebat meloncat di antara beberapa tonjolan batu di hamparan tanah gersang. Kejap kemudian sosok tersebut telah tegak di hadapan Aji dengan kacak pinggang.

"Sayang, waktumu tidak tepat, Anak Muda. Sebenarnya aku ingin mengajakmu bersenangsenang terlebih dahulu sebelum kau meninggalkan dunia ini! Hik... hik... hik...!"

Dengan wajah berubah Aji tengadahkan kepala. Sepasang matanya membelalak dan dagunya langsung menggembung. Dadanya yang nyeri bergetar keras. Mulutnya bergerak-gerak namun tidak ada suara yang terdengar. Sementara orang di hadapan Aji kembali perdengarkan suara tawa.

Ternyata orang itu adalah seorang perempuan berparas cantik mengenakan pakaian putih tipis dan ketat yang di bagian dadanya dibuat rendah hingga sembulan buah dadanya yang kencang menantang tampak jelas. Kulitnya putih dengan rambut panjang tergerai. Sepasang matanya bulat tajam.

"Aku menyesal sekali, Anak Muda. Karena

pertemuan ini adalah pertemuan kita yang terakhir...," ujar si perempuan cantik berpakaian putih yang tidak lain adalah Bidadari Penyebar Cinta.

Seperti telah dituturkan dalam episode : "Bidadari Penyebar Cinta", dengan menyamar sebagai Setan Pesolek akhirnya Bidadari Penyebar Cinta berhasil mengelabui Aji dan membawa lari kipas ungu 108 serta memperoleh petunjuk. Namun perempuan cantik ini hanya bisa menjabarkan petunjuk yang diperolehnya sebagian saja. Hingga langkahnya tertahan di seberang hamparan tanah gersang. Dan semula Bidadari Penyebar Cinta telah memperkirakan Aji pasti akan datang ke tempat itu. Pada awalnya Bidadari Penyebar Cinta punya gagasan untuk membiarkan Aji menyelinap dengan harapan Pendekar Mata Keranjang telah dapat menjabarkan petunjuk yang belum bisa dipecahkannya. Namun pikirannya berubah ketika disadari masih banyak orang yang pasti akan menuju Bukit Siluman. Akhirnya dia mengambili keputusan untuk membunuh siapa saja yang memasuki terowongan itu. Dengan terbunuhnya beberapa orang yang coba-coba melewati hamparan tanah gersang, pada akhirnya dia akan leluasa bergerak tanpa dihantui ketakutan datangnya orang.

"Pendekar Mata Keranjang! Kau sudah siap?!" kata Bidadari Penyebar Cinta sambil meraba pinggangnya.

Murid Wong Agung tak menyahut. Hanya sepasang matanya tak berkedip menatap tajam. "Kau tak usah cemas. Aku tak akan mem-

bunuhmu dengan tanganku. Tanganku hanya sebagai perantara. Tapi yang mengantar nyawamu adalah barangmu sendiri. Senjata makan tuan, Pendekar Mata Keranjang!"

Habis berkata begitu, tangan kanan Bidadari Penyebar Cinta menyelinap ke balik pakaiannya. Lalu....

Wuuuttt!!

Secercah sinar ungu menebar. Aji terkesiap dengan mata mendelik memandang ke arah tangan Bidadari Penyebar Cinta yang kini menggenggam sebuah kipas lipat ungu berguratkan angka 108.

"Perempuan busuk! Jadi kau yang "

"Terlambat, Pendekar Mata Keranjang!" potong Bidadari Penyebar Cinta. Lalu tanpa berkata lagi tangan yang menggenggam kipas mengayun ke arah kepala murid Wong Agung!

Tak ada lagi kesempatan bagi Pendekar Mata Keranjang untuk mengelak. Karena di belakangnya menghadang lamping batu, sementara bergerak ke samping kanan atau kiri tak ada gunanya.

Sinar ungu yang disertai deru dahsyat terus melesat membabat ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang yang tak berkutik dari kipas di tangan Bidadari Penyebar Cinta.

Pada saat sangat genting itulah mendadak dari arah lobang terowongan berkelebat dua sosok bayangan. Pada saat bersamaan, menyambar angin deras lalu salah satu bayangan menyambar sosok murid Wong Agung.

Meski tubuhnya laksana dilanda gelombang dan terhuyung-huyung, sambil berseru keras Bidadari Penyebar Cinta teruskan babatan kipasnya. Namun sambaran angin yang datang rupanya lebih dahsyat, hingga setengah jalan tangan Bidadari Penyebar Cinta mental ke belakang. Di saat yang sama sebuah tangan berkelebat. Untuk kedua kalinya Bidadari Penyebar Cinta berseru keras. Tangannya bergetar dan kejap kemudian kipas di tangan kanannya terlepas!

Bidadari Penyebar Cinta bantingkan sepasang kakinya. Dia tak pedulikan siapa adanya orang yang menolong Pendekar Mata Keranjang. Yang diingat perempuan cantik ini pertama kali adalah menyelamatkan kipas ungu 108. Maka begitu dapat menguasai tubuh, dia cepat berpaling ke samping, di mana kipas ungu tergeletak. Secepat kilat Bidadari Penyebar Cinta sorongkan tubuhnya ke samping. Tangan kanannya menjulur hendak mengambil kipas itu.

Namun sebuah kain gombrong bergerak mendahului dan menutup kipas itu dari penglihatan Bidadari Penyebar Cinta. Tanpa melihat siapa pemilik kain gombrong, Bidadari Penyebar Cinta hantamkan tangan kanannya yang tadi hendak mengambil kipas ke arah kain gombrong, sementara tangan kirinya bergerak pula menyentak.

Wuuuttt!

Bidadari Penyebar Cinta keluarkan gemeletak dari mulutnya, karena bukan saja tangannya hanya menghantam tempat kosong, namun bersamaan dengan lenyapnya kain gombrong, kipas ungu 108 lenyap pula dari tempat itu!

Serentak Bidadari Penyebar Cinta bangkit tegak dengan mata nyalang dan rahang menggembung. Dari tempatnya sejarak lima tombak di sebelah kanan dia melihat seorang berwajah hitam yang rambutnya dikuncir sampai sepuluh buah. Di sebelahnya tegak seorang kakek bermata aneh. Sebelah kanan menonjol keluar, senantiasa membelalak. Sedangkan mata kirinya hampir berupa sebuah garis! Kakek ini mengenakan pakaian dari kulit ular. Sementara, di bawah kedua orang ini duduk bertumpu pada kedua sikunya Pendekar Mata Keranjang dengan mata memandang ke arahnya!

***

SEMBILAN

SETAN! Tua bangka ini sungguh sukar diterka jalan pikirannya. Dahulu minta bergabung, tapi kini muncul ikut campur urusanku. Kalau setan ini tidak segera digebuk tewas, bisa-bisa dia menggagalkan urusanku! Hem.... Manusia hitam ini siapa? Gerakannya sangat cepat. Dia juga harus tewas!"

"Mata Malaikat dan kau!" sentak Bidadari Penyebar Cinta sambil arahkan telunjuknya ke arah Putri Hitam. Suara perempuan berwajah cantik ini terdengar bergetar. "Kalian telah salah langkah ikut campur urusanku. Kalian tahu akibatnya?!"

Mata Malaikat berpaling pada Putri Hitam yang saat itu tengah condongkan tubuh ke arah Aji hendak memberikan pertolongan.

"Putri...," ujar Mata Malaikat. "Kau dengar ucapan orang. Kau sajalah yang menjawab! Kau tahu bukan? Aku paling tak bisa menghadapi perempuan apalagi berwajah cantik dan bertubuh sintal!"

Putri Hitam tegakkan kembali tubuhnya. Berpaling sejenak ke arah Mata Malaikat sebelum akhirnya beralih pada Putri Hitam. Diam-diam Putri Hitam dilanda kebimbangan. Apakah dia akan bertanya terus terang pada Bidadari Penyebar Cinta tentang keberadaan Sungging Lanang yang menurut Kamaratih beberapa kali terlihat bersama Bidadari Penyebar Cinta. Padahal dia juga tahu sebenarnya Mata Malaikat mempunyai tujuan yang sama dengan dirinya. Entah karena dilanda kebimbangan hingga akhirnya dia tak keluarkan sepatah kata pun. Hanya pandangan matanya terus memperhatikan pada Bidadari Penyebar Cinta dengan mata tak berkedip.

"Ah...," keluh Mata Malaikat. "Nyatanya kau juga sepertiku jika menghadapi perempuan cantik. Jangan-jangan kau ini laki-laki!" bisiknya lalu tertawa mengekeh, membuat Bidadari Penyebar Cinta makin geram.

Sementara Aji yang masih setengah duduk dengan bertumpu pada kedua sikunya perlahanlahan selinapkan tangan kanannya ke balik pakaiannya. Lalu mengeluarkan gumpalan benda lunak berwarna gelap yang diberikan Peri Kupukupu beberapa waktu lalu. Tanpa pikir panjang gumpalan benda itu dimasukkan ke dalam mulutnya. Lalu pelan-pelan dihisapnya. Tak berselang lama, ngilu di sekujur tubuhnya lenyap dan peredaran darahnya normal kembali. Begitu dirasakannya pulih, Aji bergerak bangkit. Lalu hadapkan tubuh pada Mata Malaikat dan Putri Hitam seraya menjura dan berkata.

"Budi jasa kalian tak akan kulupakan!

Maafkan atas salah sangkaku "

"Lupakan semua itu. Kau sekarang telah tahu siapa orangnya bukan?!" Yang keluarkan suara adalah Mata Malaikat. "Nah, kami berdua tak bisa menghadapi orang cantik macam dia. Kau yang masih muda mungkin dapat membantu. Silakan kau saja sekarang yang bicara dengannya! Yang tua-tua ini biar jadi pendengar saja. Tapi kalau ada rejeki jangan lupa. Bukankah begitu, Pu-

tri?!" sambil berkata Mata Malaikat arahkan pandangannya pada Putri Hitam.

Putri Hitam tidak menyambuti ucapan Mata Malaikat. Dia tetap memandang pada Bidadari Penyebar Cinta. Sebaliknya demi mendengar Mata Malaikat memanggil Putri pada Putri Hitam, Bidadari Penyebar Cinta sunggingkan senyum seringai dan perdengarkan tawa pelan.

"Putri... Hik.... Hik.... Hik   Orang tak tentu

bentuknya begitu bergelar Putri. Putri setengah gila? Atau Putri tak punya bentuk?!" "Jaga mulutmu, Perempuan Penipu!" bentak Aji. Bidadari Penyebar Cinta kembali menyeringai.

"Hem.... Kau tak terima rupanya, Anak Muda! Apa hubunganmu dengan Putri ini? Mungkin simpananmu?! Kasihan.... Wajah tampan tapi punya kelainan. Hik.... Hik.... Hik...!"

Aji katupkan rahangnya rapat-rapat. Dia melangkah maju dengan tangan siap lepaskan pukulan, namun gerakannya ditahan oleh suara Putri Hitam.

"Tahan dulu, Pendekar Mata Keranjang! Kami punya kepentingan dengan dia. Lebih baik kau teruskan tujuan. Biar kami yang menghadangnya di sini!" Setelah berkata begitu Putri Hitam bungkukkan tubuh. Dari bawah pakaiannya yang gombrong dia keluarkan kipas ungu 108. Lalu diberikan pada Aji. Aji cepat menyambuti. Namun wajah Aji masih tampak ragu-ragu. "Pergilah!" kata Putri Hitam lagi. Aji sekali lagi membungkuk lalu berkelebat dan sejenak kemudian dia telah melompat-lompat di antara batu tonjolan berangka di hamparan tanah gersang.

"Jahanam! Kau cari mati!" bentak Bidadari Penyebar Cinta lalu angkat kedua tangannya.

"Sabar, Bidadari Penyebar Cinta! Kipas itu miliknya. Siapa pun tak berhak merampas milik orang lain! Kalau kau ingin memburu lembaran kulit itu silakan. Tak ada yang melarang asal dengan jalan baik-baik!" tahan Putri Hitam tanpa membuat gerakan sama sekali.

"Setan alas! Siapa kau sebenarnya?!"

"Kau boleh memanggilku apa saja, silakan menduga siapa saja. Yang pasti aku punya kepentingan denganmu!"

"Aku tak pernah berhubungan dengan orang macam kau! Jangan berani cari alasan!"

"Kita memang tak pernah berhubungan. Tapi paling tidak kau pernah berhubungan erat dengan orang yang pernah dekat denganku!"

"Ooo.... Jadi kau memendam cemburu padaku? Hik... hik... hik... Kau jangan menyalahkan orang yang dekat denganmu lari ke pelukanku. Kau harus sadar bagaimana bentuk wajahmu!"

Sementara mendengar percakapan antara Putri Hitam dan Bidadari Penyebar Cinta diamdiam Mata Malaikat merasa dadanya bergetar. Namun dia masih belum bisa menduga tujuan Putri Hitam, meski samar-samar dia menangkap ada persamaan tujuan antara dirinya dengan Putri Hitam.

"Bidadari Penyebar Cinta!" kata Putri Hitam. "Dalam hal ini aku tak menyalahkan siapa-siapa! Aku hanya ingin tanya padamu!"

"Tentang orang itu? Hik hik hik...! Silakan tanya. Tapi jangan kecewa jika mendapat jawaban yang tak memuaskan. Maklum, terlalu banyak laki-laki yang dekat denganku, hingga aku tak sempat menghitung dan menghafal namanya...." Bidadari Penyebar Cinta sengaja meladeni ucapan Putri Hitam dengan harapan Pendekar Mata Keranjang mampu memecahkan petunjuk itu, lalu begitu Lembaran Kulit Naga Pertala ditemukan, maka akan lebih enak baginya untuk merebut.

Untuk beberapa saat Putri Hitam terdiam. Ada keraguan membayang di wajahnya. Malah sesekali dia melirik pada Mata Malaikat yang tegak diam sambil memejamkan matanya.

"Kenapa diam? Malu...?! Seharusnya kau memang harus malu. Kalau kau termasuk jenis perempuan, mengapa harus mengejar laki-laki? Bukankah masih banyak laki-laki lain? Di sampingmu juga ada laki-laki!" ujar Bidadari Penyebar Cinta dengan senyum mengejek. Lalu begitu dilihatnya Putri Hitam tak menyahut, perempuan cantik ini lanjutkan ucapannya.

"Kalau kau jenis laki-laki, kau laki-laki yang suka jenis laki-laki jika mencemburui diriku. Hik hik hik...! Apakah laki-laki di sampingmu kurang memuaskan...?! Kulihat dia gagah, soal mata tak jadi masalah bukan?!"

Ucapan Bidadari Penyebar Cinta mulai membuat Putri Hitam berubah. Matanya sedikit mendelik. Sebaliknya Mata Malaikat perdengarkan suara tawa bergelak hingga kepalanya manggutmanggut dan perutnya berguncang.

"Boleh saja kau meremehkan diriku. Itu dapat kupahami karena kau belum tahu bagaimana gayaku! Jika kau tahu.... Ciiiuuu.... Apa pun akan kau pertaruhkan untukku! Ha ha ha...!" ujar Mata Malaikat dengan pentangkan sepasang matanya dan memandangi dada Bidadari Penyebar Cinta, membuat perempuan ini jengah dan berpaling sambil mendengus.

"Bidadari Penyebar Cinta! Di mana beradanya Sungging Lanang?!" akhirnya Putri Hitam ajukan tanya meski dia dapat menduga jika Mata Malaikat akan terkejut.

Dugaan Putri Hitam tidak meleset. Mendengar pertanyaan Putri Hitam kontan Mata Malaikat terperanjat. Untuk beberapa lama matanya menatap dengan tak berkedip.

"Aneh. Siapa sebenarnya orang ini? Mengapa mencari anakku? Apa hubungannya? Ini sebuah kebetulan atau disengaja?!" Beberapa pertanyaan segera berkecamuk di dada Mata Malaikat.

Mungkin tak sabar dan ingin segera mengetahui apa hubungannya dengan Sungging Lanang yang adalah anaknya, Mata Malaikat mendekat pada Putri Hitam. Begitu dekat kakek ini langsung berbisik.

"Putri.... Jawab segera tanyaku. Apa hubunganmu dengan Sungging Lanang? Mengapa kau mencarinya?!"

"Pertanyaanmu terlalu banyak. Aku tak bisa menjelaskan di sini! Nanti kau akan tahu sendiri!" kata Putri Hitam dengan suara bergetar.

"Aneh. Apakah dia bertanya karena tadi mendengar ceritaku? Tapi kenapa bertanya pada Bidadari Penyebar Cinta seolah-olah dia tahu jika beberapa waktu lalu Sungging Lanang bersama perempuan ini? Hem... ada sesuatu di balik semua ini. Kulihat Putri Hitam tampak berubah tatkala mengucapkan nama anakku.... Ah, teka-teki apa ini?!" kata Mata Malaikat dalam hati.

Sementara itu Bidadari Penyebar Cinta tampak kerutkan dahi melihat sikap Mata Malaikat. Namun dia tak dapat menduga apa yang membuat kakek itu bersikap demikian. "Bidadari Penyebar Cinta! Kau dengar ucapan orang. Kenapa tidak jawab?!"

Mendengar teguran, Bidadari Penyebar Cinta menyeringai. Lalu tertawa mengejek sebelum akhirnya berkata.

"Sebelum kujawab pertanyaanmu, jawab tanyaku dulu. Apa hubunganmu dengan kekasihku itu?!" Bidadari Penyebar Cinta sengaja menyebut Sungging Lanang dengan kekasih untuk mengetahui sikap Putri Hitam.

Putri Hitam sunggingkan senyum meski dalam hati terasa panas.

"Aku tak ada hubungan apa-apa dengan kekasihmu itu. Justru aku mencarinya untuk dilenyapkan dari muka bumi ini! Dia telah membunuh adikku!"

Mata Malaikat terlonjak kaget. Tapi sebelum dia berbisik pada Putri Hitam, Bidadari Penyebar Cinta telah berujar.

"Hem.... Begitu urusannya? Kasihan kekasihku satu itu. Dia cemburu padaku karena aku menggaet seorang pemuda. Dia lalu mengatakan hendak pergi ke tempat seseorang yang bergelar Raksasa Bermuka Hijau. Entah benar apa tidak, aku tak mengurusinya lagi "

"Raksasa Bermuka Hijau...," ulang Putri Hitam lirih. Dia tampak menarik napas panjang. Di sebelahnya Mata Malaikat makin tak mengerti. "Apa pula hubungannya dengan Raksasa Bermuka Hijau? Bukankah Raksasa Bermuka Hijau adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai dedengkot orang-orang golongan hitam? Apakah dia telah menjadi murid Raksasa Bermuka Hijau...? Ah, makin banyak saja yang harus kuketahui "

"Kau telah dengar jawabku. Mengapa masih di situ?!" tegur Bidadari Penyebar Cinta.

"Jawabanmu tidak mengharuskan aku pergi dari sini, Bidadari Penyebar Cinta!"

"Maksudmu?!"

"Aku akan pergi dari sini, begitu juga kau setelah kedatangan orang yang kutunggu!" Putri Hitam berkata demikian untuk mencegah Bidadari Penyebar Cinta, karena sebenarnya dia sendiri tak tahu, apakah orang yang dimaksud akan datang ke tempat itu atau tidak.

"Keparat!" sentak Bidadari Penyebar Cinta. Serta-merta perempuan cantik bertubuh sintal ini kerahkan tenaga dalamnya lalu sentakkan kedua tangannya ke arah Putri Hitam. Karena tahu bahwa lawan yang dihadapi bukan orang sembarangan, maka begitu lakukan serangan, dia langsung lepaskan pukulan 'Hamparan Langit'.

Wuttt! Wuuuttt!

Dua sinar kuning melesat keluar dari kedua tangan Bidadari Penyebar Cinta dengan keluarkan suara bergemuruh.

"Kau yang mulai, jangan kau menyesal!" gumam Putri Hitam sambil angkat kedua tangannya dan serta-merta disentakkan ke bawah.

Beeettt! Beeettt!

Sinar kuning tertahan sebentar di udara. Lalu bersamaan dengan menyentaknya tangan Putri Hitam ke bawah, sinar kuning itu pun melesat ke bawah dan langsung amblas masuk ke hamparan tanah berbatu di tempat itu! Tak terdengar suara ledakan, juga tak ada batu atau tanah yang berhamburan! Sebaliknya sosok Bidadari Penyebar Cinta tampak terhuyung ke belakang lalu tegak bersandar pada lamping batu di samping terowongan dengan wajah pucat pasi dan tubuh berguncang!

"Manusia setan! Putus nyawamu!" teriak Bidadari Penyebar Cinta seraya menjejak pada lamping di belakangnya. Tubuhnya melesat ke arah Putri Hitam dengan dua tangan langsung menghantam ke arah kepala.

Bukkk! Bukkk!

Terdengar benturan keras tatkala Putri Hitam angkat tangannya dan disilangkan di atas kepalanya untuk menangkis. Di lain saat tiba-tiba kain gombrong bagian bawah Putri Hitam menggelepar, lalu sebuah kaki melesat ke depan ke arah Bidadari Penyebar Cinta yang tampak terhuyung.

Bukkk!

Bidadari Penyebar Cinta berseru keras. Sosoknya terseret deras ke belakang lalu menghantam lamping batu di samping terowongan. Perlahan-lahan tubuhnya terkulai bersandar dengan mulut keluarkan darah!

"Bidadari Penyebar Cinta! Aku memberimu kesempatan untuk meninggalkan tempat ini! Tapi kalau kau memaksa, silakan!" ujar Putri Hitam.

Bidadari Penyebar Cinta menghela napas lega. Meski kemarahan masih melintas di wajahnya.

"Setan alas tak kusangka jika manusia hitam ini begitu tangguh! Terpaksa untuk sementara ini aku harus menghindar. Tapi aku tak akan menyerah! Perjalananku telah jauh dan tujuan hampir saja tergenggam di tangan. Hanya karena garagara kedua bangsat ini segalanya berantakan....

Hem.... Akan kutunggu mereka di luar!" Berpikir begitu, perlahan-lahan Bidadari Penyebar Cinta bangkit, tanpa berpaling lagi pada Putri Hitam atau Mata Malaikat, Bidadari Penyebar Cinta melangkah ke arah terowongan. Setelah meludah ke tanah, dia berkelebat dan lenyap masuk ke terowongan.

Sepasang mata Putri Hitam sejenak mengawasi ke arah terowongan, begitu yakin sosok Bidadari Penyebar Cinta tak ada, dia berpaling pada Mata Malaikat. Mata Malaikat pun menatap pada Putri Hitam.

"Putri Hitam.... Sekarang jelaskan padaku. Apa hubunganmu dengan Sungging Lanang dan apa betul adikmu dibunuh?!"

Tiba-tiba Putri Hitam duduk berlutut di Hadapan Mata Malaikat. Kepalanya menunduk dan tak lama kemudian bahunya tampak berguncang, membuat Mata Malaikat merasa heran.

"Ada apa sebenarnya? Jangan kau membuatku makin tak mengerti!" ujar Mata Malaikat dan ikut-ikutan duduk berlutut.

"Maafkan aku, Orang Tua!" kata Putri Hitam seraya angkat kepalanya. Sepasang matanya berkaca-kaca. Dia tampak berusaha hendak bicara, namun suaranya tak terdengar.

"Putri Hitam.... Kau tahu. Jika kau menangis, aku akan ikut-ikutan menangis! Jadi jangan membuatku malu. Terangkan padaku apa sebenarnya yang terjadi!"

Putri Hitam memandang Mata Malaikat berlama-lama. Lalu menunduk seraya berkata pelan.

"Orang tua.... Sebenarnya. "

"Sebenarnya apa?!" sahut Mata Malaikat tak sabar begitu Putri Hitam tak meneruskan ucapannya.

"Sebenarnya aku adalah istri Sungging Lanang "

Mata Malaikat sampai terlonjak bangkit saking kagetnya. Sepasang matanya membelalak besar memandangi Putri Hitam dari rambut sampai pakaiannya bagian bawah yang berserakan di lantai batu.

Setelah dapat menguasai keterkejutannya, perlahan-lahan Mata Malaikat duduk kembali di hadapan Putri Hitam.

"Kau tidak main-main, bukan?!"

Putri Hitam gelengkan kepalanya. Isaknya mulai terdengar. Dan orang ini tak dapat lagi membendung tangisnya begitu kedua tangan Mata Malaikat menjulur dan membelai rambutnya.

"Ah, tak kusangka.... Rupanya permohonanku akhirnya dikabulkan Tuhan. Anakku....

Maafkan si tua ini yang sampai tak mengetahui menantunya." Suara Mata Malaikat terdengar serak parau. Sementara Putri Hitam makin tersedu.

"Seharusnya aku yang minta maaf padamu.

Tak berterus terang padamu sejak semula. "

"Ah, sudahlah. Yang penting sekarang sudah jelas duduk masalahnya. Yang kuminta sekarang kau menceritakan semuanya.... Terus terang, aku buta tentang anakku. Karena seperti yang kuceritakan padamu, dia diculik orang sewaktu masih kecil "

Setelah dapat mengatasi guncangan dadanya, akhirnya Putri Hitam mulai berkisah.

"Aku dan anakmu bertemu saat usiaku menginjak delapan belas tahun. Kami dipertemukan selain karena sama-sama jatuh cinta juga karena persamaan nasib. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah tak punya ayah lagi. Dia tak pernah menceritakan tentang dirimu, dia bilang diasuh oleh seseorang yang pada akhirnya kuketahui bahwa orang itu adalah seorang tokoh dunia persilatan bergelar Titisan Iblis."

"Jadi ?"

"Ya, orang yang kita temui di perahu itu. Kalau benar dia orang yang bergelar Titisan Iblis, maka dialah orangnya!" sahut Putri Hitam lalu meneruskan keterangannya.

"Selama lima tahun hidup sebagai suamiistri kami dikarunia seorang anak perempuan. Namun sebenarnya sebelum kelahiran anak kami antara kami telah terjadi perselisihan. Dan puncaknya terjadi saat anak kami lahir. Tanpa tinggalkan pesan, dia pergi begitu saja. Anak kami akhirnya diasuh oleh kakeknya. Aku sendiri kemudian pergi mengembara untuk menghilangkan kekecewaan hati. Namun setelah beberapa tahun aku kembali, anakku dan kakeknya tak kutemui lagi. Aku telah berusaha mencarinya, tapi hingga saat ini tak berhasil. Akhir-akhir ini aku mendengar lagi tentang ribut-ribut rimba persilatan tentang Lembaran Kulit Naga Pertala. Berharap bertemu dengan Sungging Lanang, aku coba-coba menyusur. Aku ingin jumpa Sungging Lanang dengan maksud siapa tahu dia mengetahui di mana anaknya. Waktu di pinggir Sungai Siluman, aku sempat menangkap percakapanmu dengan Kamaratih. Berbekal keterangan itu akhirnya aku pergi kesini, karena beberapa hari sebelumnya kulihat Bidadari Penyebar Cinta sedang melakukan tawarmenawar dengan seorang nelayan. Aku bisa menebak ke mana Bidadari Penyebar Cinta hendak menuju. Tapi sama sekali tak menyangka jika Bidadari Penyebar Cinta telah berhasil mengelabui Pendekar Mata Keranjang dengan menyamar sebagai Setan Pesolek."

"Siapa nama ayahmu?!" tanya Mata Malaikat. "Raksasa Bermuka Hijau "

Mata Malaikat terlengak kaget. "Hem Jika benar keterangan Bidadari Penyebar Cinta, berarti Sungging Lanang saat ini juga sedang mencari anaknya!"

"Kukira juga begitu "

Sejenak Putri Hitam terdiam. Wajahnya tampak makin murung. Setelah menarik napas dalam dia berkata. "Dia kuberi nama Seruni "

Untuk kedua kalinya Mata Malaikat terlonjak namun kali ini sambil mengeluh. "Inilah akibat mata yang melihat tapi buta!"

"Bagaimana bisa begitu?!" tanya Putri Hi-

tam. "Aku pernah bertemu cucuku itu!"

Kali ini ganti Putri Hitam yang terkejut. "Di mana? Kapan?" tanya Putri Hitam seraya mencekal kaki Mata Malaikat

"Belum berselang lama. Dan tampaknya dia juga hendak menuju kemari!"

"Ah! Mudah-mudahan dugaanmu benar "

"Kau sendiri siapa namamu sebenarnya? Kali ini tak keberatan bukan mengatakan pada kakek anakmu ini?"

Putri Hitam mulai dapat tersenyum. "Akan kuberitahukan padamu, asal jangan kau suruh aku untuk melepas penyamaranku ini, setidaknya sampai aku jumpa dengan anakku "

"Baiklah. Tapi aku dapat menduga sebenarnya kau adalah perempuan cantik. Anaknya cantik, tentu ibunya juga begitu "

"Ah, kau jangan menggoda. Kalau kenyataannya lain, nanti kau kecewa."

"Sejak hari ini, rasanya kecewa tak akan pernah lagi ada di hatiku. Bahkan mati pun aku akan tersenyum! Eh, ayo katakan dulu namamu!"

"Namaku sebenarnya Dayang Arung "

"Hem   Nama bagus. Aku makin yakin, kau

pasti perempuan cantik!"

"Tapi tak bahagia!" sahut Putri Hitam alias Dayang Arung. "Karena suamiku masih tergoda dengan perempuan lain!"

"Jadi perpisahan kalian karena adanya perempuan lain?!"

"Begitulah. Dan kudengar, dari perempuan itu Sungging Lanang juga punya seorang anak!" "Walah, kenapa bisa jadi begini? Alamat tak karu-karuan. Dasar anak geblek. Sudah punya istri cantik matanya masih juga menyambar perempuan lain!"

"Sudahlah. Itu mungkin sudah jadi suratan! Aku rela menjalaninya. Yang kuinginkan sekarang adalah bertemu dengan anakku dan hidup bersamanya!"

"Hai...!" Tiba-tiba dari arah seberang terdengar seruan.

Putri Hitam dan Mata Malaikat serentak palingkan wajah ke seberang. Dari tempatnya mereka melihat Pendekar Mata Keranjang melambai.

"Eh, kenapa dari tadi anak itu masih nongkrong di situ?!" gumam Mata Malaikat seraya bangkit.

"Mungkin dia perlu pertolongan! Kau coba ke sana. Aku akan di sini. Bukankah sebentar lagi kita akan kedatangan tamu?!"

"Tapi kau tak akan meninggalkan tua bangka mertuamu ini bukan?!"

"Asal kau tak menggandeng perempuan la-

gi!"

Mata Malaikat mendekat pada Putri Hitam,

membelai kunciran rambutnya.

"Pada tua bangka yang sudah dekat dengan tanah begini, perempuan mana yang mau? Lagi pula apa kata cucuku nanti? Aku tak mau dibilang kakek mata keranjang. Tapi kalau kau yang mencarikan dan memilihkan untukku, he he he Aku

mau-mau saja. "

Habis berkata begitu, Mata Malaikat melangkah mendekat hamparan tanah gersang.

"Kek! Injak batu berangka tiga, enam, sembilan, dua belas, lima belas, delapan belas lalu tambahkan tiga seterusnya! Awas jangan salah injak!" teriak Aji dari seberang.

Mata Malaikat manggut-manggut, dia berpaling ke arah Putri Hitam yang masih tegak di situ. "Kau setuju jika aku menolong anak itu mendapatkan lembaran kulit gila itu?!"

"Kalau anak itu telah mendapatkan petunjuk dari Setan Pesolek, maka sudah dapat dipastikan dialah yang berhak mewarisi Lembaran Kulit Naga Pertala itu. Setan Pesolek tak mungkin memilih orang yang salah!" sambut Putri Hitam. Putri Hitam lantas melangkah ke mulut terowongan dan duduk di sebelah kanan lobang terowongan.

Mata Malaikat kembali arahkan pandangannya pada hamparan tanah gersang. Dan sekali berkelebat sosoknya telah tegak di atas tonjolan batu berangka lima belas. Dan sekali berkelebat lagi, tubuhnya telah berada di samping Pendekar Mata Keranjang!

"Aku mendapat kesulitan, Kek...," kata Aji. "Kesulitan macam apa?!"

"Aku tak dapat memecahkan petunjuk itu! Yang pertama sudah benar, namun untuk yang selanjutnya, aku belum mengerti. Aku jadi bimbang. Jangan-jangan lembaran kulit itu tidak ditentukan untukku!"

"Putus asa sebelum mencoba adalah sebuah ketololan besar, Anak Muda!"

"Aku sudah mencobanya. Lihat! Tanganku sampai lecet. Tapi pintu itu tak kutemukan!" "Pintu?!" ulang Mata Malaikat.

"Ya, petunjuk itu mengatakan ada pintu yang harus dibuka." Lalu Aji mengatakan petunjuk yang pernah diberikan Peri Kupu-kupu dan Setan Pesolek. Mata Malaikat berulangkali menggumamkan petunjuk itu. Kepalanya tengadah dengan mata dibeliakkan lebar-lebar.

"Hem.... Kalau disebutkan paling tengah, berarti pada hitungan yang ganjil!" desis Mata Malaikat. Tiba-tiba dia mengedarkan pandangannya pada beberapa lobang terowongan di depannya.

"Anak muda! Coba kau hitung, berapa lobang terowongan itu!"

"Sembilan!" Kata Aji setelah menghitung banyaknya lobang terowongan.

"Hem.... Mudah-mudahan benar dugaan otak tua bangka ini." lalu berpaling pada Aji. "Coba Kau sekarang pilih yang tengah, lalu melangkah tiga tindak. Setelah itu turuti petunjuk selanjutnya." Aji menuruti perkataan Mata Malaikat. Pe-

muda ini memilih lobang terowongan paling tengah lalu melangkah tiga tindak, setelah itu dia melesat ke atas. Tangan kanannya dipukulkan ke lamping batu rata di atas terowongan.

Bukkk!

Tangan Aji mental balik. Bersamaan itu tubuhnya mencelat dan melayang deras ke bawah. Aji meringis kesakitan dengan memegangi tangannya.

"Kau lihat sendiri bukan?"

"Mungkin tenagamu kurang terpusat! Coba hantam sekali lagi dengan tenaga penuh!"

Aji kerahkan seluruh tenaga dalamnya pada tangan kanan. Lalu melangkah lagi tiga tindak pada terowongan paling tengah. Setelah tubuhnya melesat ke atas, tangan kanannya dihantamkan pada lamping batu.

Bukkk!

Untuk kedua kalinya tangan kanan murid Wong Agung mental dan tubuhnya terputar lalu jatuh dengan punggung terlebih dahulu.

"Kek...," ujar Aji. "Aku tak mampu menjebol dinding batu itu. Mungkin ini syarat kalau lembaran kulit bukan ditentukan untukku. Mungkin juga petunjuk itu yang salah!"

"Semuanya tidak ada yang salah. Kulihat memang ada kekuatan yang membendung. Hem....

Api jangan dilawan dengan api!" "Apa maksudmu, Kek ?!"

"Kau coba tanpa pengerahan tenaga dalam!" Murid Wong Agung tertawa. "Kau ini aneh.

Dengan tenaga dalam saja tak bisa dibuka, apa mungkin bisa terbuka tanpa tenaga?!"

"Anak muda. Api harus dilawan dengan air!

Kau paham ucapanku?!"

Meski masih tak dapat menerima ucapan Mata Malaikat, Aji segera bangkit. Setelah ambil posisi dia melesat kembali ke atas. Tangan kanannya perlahan didorongkan ke dinding batu.

Tiba-tiba terdengar suara gesekan dan perlahan-lahan dinding batu itu membuka sebesar daun pintu!

Aji membelalak hampir tak percaya, sementara Mata Malaikat pejamkan mata kemudian pentangkannya lebar-lebar.

"Kek.... Ucapanmu benar!" seru Aji begitu melayang turun. Mata Malaikat tak menyahut. Dia hanya pandangi dinding yang terbuka di atas sana.

"Hey! Kau tunggu apa lagi?!" tegur Mata Malaikat karena dilihatnya Aji tetap berdiri di situ. Seolah baru tersadar, Aji buru-buru mengangguk lalu melesat kembali ke atas. Sebentar kemudian tubuhnya lenyap masuk ke dalam pintu di dinding.

Begitu Aji tak kelihatan lagi, Mata Malaikat gerakkan kakinya. Tubuhnya melenting ke atas lalu kejap kemudian masuk menyusul Aji. Bersamaan dengan masuknya tubuh Mata Malaikat, pintu di dinding menutup tanpa keluarkan suara! Di balik dinding, kedua orang ini menemukan tangga menurun dari batu. Perlahan-lahan keduanya menuruni anak tangga. Anak tangga ini menghubungkan dengan sebuah terowongan agak besar yang di tengahnya tampak sebuah cermin besar yang diikat dan digantungkan di bawah sebuah lobang.

Sampai anak tangga paling bawah, Aji hentikan langkah. Berpaling sejenak pada Mata Malaikat di belakangnya.

"Mudah-mudahan orang tua ini menolong dengan tujuan baik!" batin Aji dalam hati. Selintas hatinya dihantui rasa takut jika Mata Malaikat juga menginginkan lembaran kulit itu.

"Hey! Kenapa kau memandangku demikian rupa? Ada yang salah denganku? Atau...? Ah, mungkin kau curiga padaku!" ujar Mata Malaikat lalu mendongak dan buka mulutnya.

"Sialan! Dia merasa jika kucurigai!" maki Aji dalam hati. Lalu berkata pada Mata Malaikat. "Kek. Lembaran kulit itu adalah benda yang katanya bertahun-tahun jadi rebutan para tokoh rimba persilatan. Sampai saat ini tidak ada yang tahu siapa kelak yang akan mewarisinya! Mungkin aku, tapi bisa jadi juga kau!"

Mata Malaikat tertawa mengekeh. "Aku tak menyalahkan kau jika mencurigai diriku. Tapi dengar baik-baik, Anak Muda. Aku telah mendapatkan barang yang lebih berharga dari pada benda yang kau buru! Hem.... Kalau kau tak berkenan, aku akan kembali ke bawah..."

Mata Malaikat balikkan tubuh lalu melangkah kembali menaiki anak tangga dengan tawa tetap mengekeh.

"Kek! Tunggu! Aku tak keberatan, justru aku mungkin mengharap pertolonganmu!"

"Dasar anak sableng! Minta ditemani kalau minta pertolongan!" gerutu Mata Malaikat lalu balikkan tubuh kembali dan turun ke arah Aji.

"Petunjuk itu tinggal satu, Kek   Tapi kura-

sa tak memerlukan pemecahan!" "Lalu kenapa masih diam?!"

Sambil memaki dalam hati, Pendekar Mata Keranjang memandang berkeliling. Ketika matanya melihat dinding batu ada yang ambrol di sebelah samping kanan, Aji merasa khawatir, lalu mengutarakan kecemasannya pada Mata Malaikat. lui " "Jangan-jangan ada orang yang mendahu-

"Dalam situasi seperti sekarang ini, hal sepele mendatangkan kekhawatiran. Tapi jika kau terpancing hal-hal semacam itu, kau tak akan segera sampai tujuan dan mendapat jawaban pasti!"

"Tapi, Kek. Lihat!" kata Aji sambil arahkan telunjuknya ke arah dinding yang ambrol dan berlobang. "Ini pasti akibat hantaman tangan bertenaga dalam tinggi!"

"Tapi itu belum jadi jawaban pasti bukan?! Teruskan langkah seperti yang ada pada petunjuk!"

Aji kembali arahkan pandangannya ke depan. Suasana di sekitar tempat itu agak terang karena adanya cahaya rembulan yang dipantulkan oleh cermin besar yang ada di tengah-tengah terowongan.

"Melangkah dua puluh satu...," gumam Aji mengulangi petunjuk. Lalu dengan dada mulai berdebar, murid Wong Agung ini melangkah ke depan. Begitu hitungan langkahnya mencapai dua puluh satu, dia berhenti. Sementara Mata Malaikat tetap tegak di tangga batu. 

Murid Wong Agung putar tubuhnya setengah lingkaran, lalu tangannya mendorong dinding batu. Dengan pengalaman yang telah dialami, kali ini Aji mendorong juga tanpa kerahkan tenaga dalam. Dan begitu tangannya mendorong, dinding itu kembali keluarkan suara gesekan, lalu perlahanlahan dinding itu membuka membentuk sebuah lobang pintu! Tanpa pikir panjang lagi, Aji melangkah masuk.

Melihat hal itu, Mata Malaikat tampak manggut-manggut. Lalu melangkah ke arah mana Aji masuk. Melihat lobang masih terbuka, kakek ini segera juga menyusul Aji.

Blammm!

Baru saja tubuh Mata Malaikat masuk, dinding yang membuka menutup kembali dengan keluarkan suara berdebam keras, membuat Aji dan Mata Malaikat sama berpaling.

"Hem.... Tempat ini berbeda dengan di bawah tadi. Di sana tadi seperti ada kekuatan yang dapat meredam suara!" kata Aji dalam hati, lalu sapukan pandangannya ke tempat itu. Kedua orang itu kini berada di sebuah ruangan agak besar. Ruangan itu kosong, hanya ada sebuah batu datar di sebelah dinding yang menghadap ke lobang pintu di mana tadi Aji dan Mata Malaikat masuk. Anehnya meski tak ada penerangan, ruangan itu tampak agak terang. Hingga Pendekar 108 dengan jelas dapat melihat ke seluruh ruangan. 

"Hanya dinding dan lantai. Di mana lembaran kulit itu berada?!" gumam Aji.

"Tak ada gunanya bicara, Anak Muda! Gerakkan kaki dan menyelidiki! Petunjuk itu sudah tak ada lagi bukan?!"

"Betul! Petunjuk itu hanya sampai di sini!" "Berarti apa yang kau cari pasti berada di

sini! Lakukan sesuatu!"

Aji mulai melangkah mengitari ruangan berdinding batu itu. Sementara Mata Malaikat duduk menggelosoh di lantai ruangan dengan kaki diselonjorkan, dan mata mulai dipejamkan.

Untuk beberapa saat lamanya Aji mengitari ruangan dengan mata nyalang kian kemari. Malah pada putaran yang ketiga, tangan kanan murid Wong Agung ini mulai mendorong-dorong dinding ruangan. Namun, hingga tangannya ngilu tak seinci pun ada dinding ruangan yang terbuka. Dia lantas melangkah ke arah batu datar. Tapi, dia tak menemukan apa-apa!

Dengan wajah kecewa, Aji melangkah ke arah Mata Malaikat.

"Kek.... Dugaanku tepat. Seseorang telah mendahului kita!"

Mata Malaikat tak menyahut, membuat Aji berpaling. Murid Wong Agung ini memaki panjang pendek dalam hati. Ternyata Mata Malaikat tertidur.

Merasa kesal, Aji lalu guncang tubuh Mata Malaikat.

"Kek! Kita tinggalkan tempat ini!"

Kelopak mata si Mata Malaikat membuka lalu mengerjap beberapa kali.

"Kau telah menemukan lembaran kulit itu?!" nya!" "Seseorang telah mendahului menemukan-

"Eh, bagaimana kau bisa berkata begitu?!" "Sudah lima kali  kukelilingi ruangan ini. Lembaran kulit itu tak ada! Pasti ada orang yang mendahului, lalu keluar dengan cara menjebol dinding yang ambrol itu! Kita tinggalkan saja tempat ini!" Mata Malaikat menghela napas panjang. "Kau telah memeriksa batu datar itu?!"

Aji anggukkan kepala. Namun tampak dipaksakan.

"Hem.... Hanya ada satu jalan. Coba kau bongkar batu datar itu. Siapa tahu "

Aji bergegas melangkah dengan wajah agak cerah. Lalu berhenti di samping batu datar. Sejenak matanya meneliti. Yakin tak ada celah, akhirnya Pendekar Mata Keranjang angkat kedua tangannya dan serta-merta dihantamkan ke arah batu datar.

Brakkk!

Batu datar langsung pecah berantakan dan pecahannya berhamburan. Belum surut pecahan batu, Aji cepat menyeruak dengan mata memandang ke batu yang kini porak-poranda. Tapi wajahnya kembali tampak kecewa tatkala dia tak menemukan apa-apa di balik pecahan batu datar itu. Sementara melihat perubahan pada wajah Aji, Mata Malaikat telah dapat menebak.

"Tak ada harapan lagi!" sungut Aji lalu bergerak melangkah ke arah Mata Malaikat. Kali ini murid Wong Agung melangkah melewati bagian tengah ruangan.

Mungkin karena kesal, langkahnya tampak terburu-buru dengan mulut menggumam tak jelas.

Bukkk!

Tiba-tiba tubuh Aji mental dan jatuh terjengkang! Murid Wong Agung mendelik besar, sementara Mata Malaikat beliakkan mata lebarlebar! SEPULUH

MELIHAT apa yang terjadi, seraya menahan rasa heran, Mata Malaikat cepat melangkah ke arah Pendekar Mata Keranjang yang terduduk di lantai ruangan. Kakek ini tanpa disadari juga melangkah melewati tengah ruangan.

Bukkk!

Mata Malaikat beliakkan matanya lebarlebar. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang lalu roboh terduduk!

Sepasang mata Aji dan Mata Malaikat memandang terperangah ke arah tengah ruangan, lalu saling pandang satu sama lain.

"Heran. Tak terlihat apa-apa. Tapi, rasanya aku menghantam beton! Ada yang tak beres!" gumam Mata Malaikat lalu bangkit.

"Tak mungkin   Tapi Mata Malaikat menga-

lami hal yang sama!" desis Aji lalu bangkit.

Serentak kedua orang ini melangkah ke tengah ruangan di mana mereka tadi laksana menghantam beton hingga tubuhnya terpental. Seolah dikomando masing-masing tangan segera menjulur ke udara, meraba-raba. Namun kedua orang ini jadi terkesiap. Tangan mereka tak merasakan apa-apa! Hanya udara hampa yang tertangkap tangan mereka.

"Apa sebenarnya semua ini?!" bisik Aji mendekat ke arah Mata Malaikat.

Si kakek gelengkan kepala...

"Mungkin kita dipermainkan orang...," ujar Aji. Entah karena kesal ia tanpa sadar memukulkan tangannya ke depan, ke arah tempat kosong di mana tadi tubuhnya mental.

Bukkk!

Aji berseru tertahan. Tangannya membalik dan tubuhnya terhuyung! Sepasang mata murid Wong Agung makin membelalak. Dahinya mengernyit. Sementara Mata Malaikat mundur dua langkah. Matanya dipejamkan dengan mulut komatkamit.

Namun tak lama kemudian, orang tua ini buka matanya dengan kepala menggeleng. "Ada kekuatan penghalang yang tak dapat ditembus...," gumam Mata Malaikat.

Ucapan Mata Malaikat membuat Aji terlonjak. "Hai.... Aku ingat sekarang. Kata-katamu persis dengan ucapan Setan Pesolek!"

"Apa yang dia ucapkan?!"

"Dia melihat tabir yang tak dapat ditembus dengan mata biasa!"

"Hem.... Begitu? Apakah dia tak mengatakan sesuatu yang dapat membukanya? Setidaknya petunjuk tentang itu?!"

Aji tak segera menjawab. Dia meraba pinggangnya di mana tersimpan kipas ungu 108. Kipas itu dikeluarkan dari balik pakaiannya. Ada semburat warna ungu terpancar begitu kipas keluar dari balik pakaian Aji.

"Setan Pesolek bilang, mungkin kipas ini bisa membuka tabir itu!"

"Petunjuk itu makin menjelaskan bahwa kaulah sebenarnya yang ditentukan mewarisi kitab itu, Pendekar Mata Keranjang! Bersiaplah!" Pendekar Mata Keranjang melangkah men-

dekat. Kipas ungu 108 diangkat tinggi. Tangan murid Wong Agung terlihat bergetar, dan peluh membasahi tubuhnya. Sejenak dia memandang pada Mata Malaikat. Wajahnya tampak ragu-ragu.

Entah karena hatinya bimbang atau kurang yakin, hingga saat kipas bergerak mengayun, Aji hanya kerahkan sedikit tenaga.

Bukkk!

Tangan Aji terpental dan bergetar hingga kipas di tangannya jatuh. Tubuhnya pun sempoyongan.

"Aku melihat kebimbangan di wajahmu. Apa yang kau pikirkan, Anak Muda? Ingat. Buanglah perasaan ragu-ragu. Waktu kita tidak banyak! Lebih dari itu lembaran itu harus segera diselamatkan! Aku hampir yakin, lembaran kulit itu berada di sini!"

Murid Wong Agung pungut kipasnya. Lalu melangkah kembali ke depan. Tenaga dalamnya dikerahkan penuh. Hingga tangan dan kipasnya makin keluarkan cahaya berkilauan.

Beeettt!

Sinar keputihan membentuk lengkungan, membersit dengan keluarkan suara bergemuruh dahsyat.

Buuummm!

Ledakan dahsyat mengguncang ruangan itu. Tak ada pecahan yang terlihat dari tempat terdengarnya ledakan. Sebaliknya bersamaan dengan terdengarnya ledakan, asap tipis mengepul dari tengah ruangan di mana tadi kipas Aji melabrak.

Aji buka matanya lebar-lebar dengan tengkuk mulai merinding. Sementara Mata Malaikat pentangkan matanya dengan mulut menganga.

Saat perlahan-lahan asap putih lenyap, di hadapan kedua orang ini kini tampaklah seorang kakek mengenakan pakaian yang bagian atasnya terbuka sedikit awut-awutan. Rambutnya panjang putih menutupi sebagian punggung dan wajahnya. Kumis, jenggot, dan jambangnya juga panjang hingga membuat wajah kakek ini terlihat samarsamar. Sepasang matanya sayu dan menjorok masuk ke dalam cekungan yang sangat dalam.

Wajah kakek ini tampak seperti orang dilanda beban berat.

"Akhirnya hari penantianku berakhir juga...," gumam si kakek. "Aku mengucapkan terima kasih pada kalian "

"Orang tua! Siapakah kau?!" tanya Aji tanpa pedulikan ucapan terima kasih kakek berpakaian putih itu.

Si kakek angkat kepalanya lalu memandang silih berganti pada murid Wong Agung dan Mata Malaikat. Setelah mengangguk sebentar, dia duduk bersila lalu berucap.

"Sekali lagi kuucapkan terima kasih   Aku

adalah Eyang Pandanaran."

Demi mendengar orang sebutkan diri, mendadak Mata Malaikat menjura hormat lalu duduk. Aji jadi bingung. Buru-buru dia mengikuti sikap Mata Malaikat lalu duduk di sampingnya.

"Kalian siapa?" Eyang Pandanaran balik bertanya. "Aku Mata Malaikat, sedangkan anak muda ini bernama Aji. Dalam rimba persilatan dia bergelar Pendekar Mata Keranjang. Tak kusangka jika hari ini aku dapat jumpa dengan seorang tokoh yang namanya sudah kukenal sejak aku masih kecil "

"Simpan dulu semua itu, sobatku Mata Malaikat. Pertolongan yang kalian berikan padaku, lebih dari segalanya. Lebih dari itu dengan munculnya kalian maka tugas berat yang ku emban selama ini akan selesai."

"Tugas berat? Tugas apa?!" tanya Mata Ma-

laikat.

"Ketahuilah. Entah sudah berapa tahun aku

berada dalam kungkungan gaib. Aku tak tahu. Namun satu hal yang pasti, seseorang yang dapat membuka tabir penutup tak tembus pandangan mata yang menutup diriku, dialah yang ditentukan untuk mewarisi Lembaran Kulit Naga Pertala yang selama ini kusimpan, kurawat, dan kujaga."

Aji dan Mata Malaikat terkejut lalu saling pandang. Dada Aji berdebar keras tapi dia belum keluarkan suara.

"Anak muda.... Aku tahu, kipasmulah yang berhasil membuka tabir itu. Dengan demikian, kaulah manusia yang ditentukan untuk mewarisi lembaran kulit itu. Aku tak tahu apa isi lembaran kulit itu, karena selama ini aku hanya mendapat tugas untuk menyimpan, merawat, serta menjaga dan menyerahkan pada orang yang ditentukan. Hanya harapanku, kau harus segera mempelajarinya lalu mengamalkan isinya. Tugasmu selanjutnya lebih berat, karena kau harus mengikis semua jenis kejahatan yang seiring waktu pasti akan terus muncul tak habis-habisnya. Ingat, Anak Muda. Sekali kau bertindak ceroboh dengan lembaran kulit itu, bencana besar akan menimpa dirimu. Hal ini sudah kau lihat sendiri pada diriku! Aku harus terkurung di ruangan ini selama puluhan tahun! Kau mengerti, Pendekar Mata Keranjang?!"

"Mengerti, Eyang "

Eyang Pandanaran batuk-batuk beberapa kali. Kepalanya lantas berpaling ke sebelah kanan menghadap dinding. Tiba-tiba dia mengangkat kedua tangannya. Perlahan saja kedua tangannya didorong ke depan.

Seeettt! Seeettt!

Dari telapak tangan Eyang Pandanaran membersit cahaya putih lurus menghantam dinding. Dinding di sebelah kanan keluarkan suara gemeretak. Di lain kejap dinding itu pecah berantakan. Lalu tampaklah sebuah lubang tidak begitu besar.

"Lembaran kulit itu berada di sana, Anak Muda! Ambillah...." Eyang Pandanaran berkata sambil mengangguk dan tersenyum.

Pendekar Mata Keranjang bukannya segera bergerak bangkit. Malah dia tampak ragu-ragu dan memandang silih berganti pada Eyang Pandanaran lalu pada Mata Malaikat. Murid Wong Agung ini seakan masih tak percaya dengan apa yang baru didengar.

"Anak muda! Kau sudah dengar perintah. Apa kau menginginkan aku yang akan mengambilnya?!" Mata Malaikat bergumam pelan lalu pentangkan sepasang matanya.

Mendengar teguran Mata Malaikat, Aji cepat bangkit lalu melangkah ke arah dinding yang kini berlobang. Begitu dekat, sepasang matanya terpentang besar. Dari tempatnya berdiri, murid Wong Agung ini melihat sebuah lembaran berwarna coklat kusam. Lembaran kulit itu diletakkan tegak pada sebuah batu bening mengkilap.

Saat berhadapan benar-benar dengan lembaran kulit yang dicari, tubuh murid Wong Agung malah terlihat bergetar dan kedua tangannya gemetar hingga untuk berapa lama dia hanya tegak diam, membuat Mata Malaikat bergumam tak jelas sebelum akhirnya berkata. 

"Anak muda! Waktu kita terbatas!" Bersamaan dengan terdengarnya ucapan Mata Malaikat, kedua tangan Pendekar Mata Keranjang terulur dengan gemetar. Ada hawa dingin menusuk yang menjalari sekujur tubuhnya begitu jari-jari tangannya menyentuh lembaran kulit itu.

"Pendekar Mata Keranjang!" kata Eyang Pandanaran. "Tugasku telah selesai. Kini tugas itu ada di pundakmu. Dirimu kini menjadi tumpuan untuk menyelamatkan dunia persilatan dan membuat kedamaian umat manusia. Kau harus berhati-hati. Mempertahankan lebih berat bebannya dari pada memburu! Kau akan berhadapan dengan banyak tokoh persilatan sakti yang berniat merampas Lembaran Kulit Naga Pertala itu. Sayang, aku tak bisa membantumu. Tapi, aku masih punya kesempatan untuk menyumbangkan sedikit tenaga. "

Baru saja selesai berbicara, Eyang Panda-

naran telah berada di belakang Aji. Padahal, semula kakek ini berada di depan Pendekar Mata Keranjang. Pendekar 108 dan bahkan Mata Malaikat tak melihat Eyang Pandanaran bergerak. Kakek berpakaian putih ini seperti menghilang saja!

Tanpa meminta persetujuan Aji, Eyang Pandanaran tempelkan kedua tangannya di punggung si pemuda. Di lain kejap, Aji merasakan aliran hawa hangat mengalir dari telapak tangan yang menempel. Aliran hawa itu berkumpul di pusar, dan berputaran.

Tak lama Eyang Pandanaran mengalirkan tenaga dalam pada Aji. Di lain kejap, sepasang tangannya telah dilepaskan dari punggung Pendekar 108. Kemudian kakek itu berpaling pada Mata Malaikat tanpa pedulikan ucapan terima kasih Aji.

"Sobatku, Mata Malaikat. Sebenarnya aku masih ingin bicara banyak denganmu, tapi karena masih ada hal yang harus kukerjakan, aku akan pergi terlebih dulu. Harapanku, pertemuan ini semoga bukan pertemuan yang terakhir bagi kita."

"Hendak ke manakah kau?" tanya Mata Ma-

laikat.

"Aku telah membuat kesalahan besar. Pada

usiaku yang renta ini aku ingin menebusnya dengan mendekat pada Tuhan. Kuucapkan selamat jalan pada kalian "

Habis berkata begitu, Eyang Pandanaran bangkit. Lalu melangkah ke arah lobang di mana lembaran kulit tadi berada. Dia meneliti sebentar, lalu melangkah ke arah samping.

Tangan kirinya mengetuk-ngetuk dinding ruangan tiga kali. Tiba-tiba di dinding ruangan itu tampak seberkas cahaya. Ternyata dinding itu telah terbuka dan cahaya membersit dari dalamnya. Tanpa berpaling lagi, Eyang Pandanaran masuk. Pada saat bersamaan cahaya lenyap dan sosok Eyang Pandanaran juga tak tampak lagi!

Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang tak berkedip memperhatikan, sementara Mata Malaikat makin pentangkan sepasang matanya.

"Anak muda. Kau sangat beruntung!" ujar Mata Malaikat Pada Pendekar 108. "Eyang Pandanaran telah berkenan menambah tenaga dalammu. Aku yakin, tenaga dalammu jauh bertambah kuat. Mungkin tambahan tenaga dalam darinya tak kalah dengan bila kau berlatih semadi dan pernapasan bertahun-tahun!"

Aji hanya cengar-cengir seraya usap-usap ujung hidungnya. Tapi, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya di lubuk hatinya dia merasa gembira, karena telah merasakan sendiri pengaruhnya. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan, dan langkahnya jauh lebih mantap. Tak adanya jawaban dari Pendekar Mata Keranjang membuat suasana menjadi hening.

"Sudah waktunya kita tinggalkan tempat ini!" gumam Mata Malaikat setelah agak lama sama-sama terdiam.

Mata Malaikat bangkit, lalu melangkah ke arah dari mana tadi masuk. Aji segera masukkan Lembaran Kulit Naga Pertala ke balik pakaiannya lalu bangkit menyusul Mata Malaikat.

***

SEBELAS

KITA kembali pada Utusan Iblis. Seperti dituturkan, pemuda ini mendadak lenyap begitu saja di Sungai Siluman tatkala terjadi bentrok dengan Pendekar Mata Keranjang. Sebenarnya pemuda ini tak menduga jika murid Wong Agung mampu berlama-lama di dalam air hingga saat terjadi adu pukulan, dan merasa dirinya cedera dalam, dia berusaha menghindar. Dengan mengerahkan segenap sisa tenaganya serta kerahkan ilmu yang didapat dari Titisan Iblis yang menggemblengnya di bawah air terjun, dia menyelam dan menjauhi Pendekar Mata Keranjang.

Setelah agak lama dan merasa jauh dari jangkauan Aji, murid Titisan Iblis ini menyembul ke permukaan air! Samar-samar matanya menangkap sosok Pendekar Mata Keranjang di kejauhan.

"Keparat! Dia telah mencapai tempat itu. Hem.... Masih ada kesempatan untuk membalas...," gumamnya. Pada saat bersamaan sayupsayup telinganya mendengar suara ledakan dari arah depan! Sayang, dia tak bisa melihat apa sebenarnya yang terjadi, karena terhalang oleh uap yang keluar dari permukaan sungai!

"Aku harus cepat sampai di Bukit Siluman. Tentu di depan sana ada bangsat-bangsat yang juga sedang menuju ke bukit!" Berpikir begitu, Utusan iblis menyelam kembali lalu berenang ke arah bukit.

Utusan Iblis tak mau ambil resiko sebab dia sadar bahwa dirinya telah terluka dalam. Meski cederanya tak terlalu parah, namun dia telah memperhitungkan jika di Bukit Siluman nanti pasti akan terjadi bentrok.

Utusan Iblis memang seorang perenang yang luar biasa. Kendati demikian, cedera yang diderita, menghambat maksudnya. Untung, angin dan derasnya arus sungai membantunya. Tambahan lagi, pemuda itu cukup cerdik. Dia berenang menyerong ke kanan, tapi dengan mengikuti arus sungai! Sehingga tak terlalu memakan banyak tenaga.

Beberapa saat kemudian, samar-samar beberapa tombak di depannya terlihat sebuah dataran. Beberapa tombak di depannya itu, lebar Sungai Siluman menyempit! Sekali lihat saja, Utusan Iblis dapat menduga kalau dataran itu adalah Bukit Siluman. Bukit yang berada di atas sungai. Bukit yang tidak terlalu besar. Malah terhitung kecil.

Melihat hal ini, semangat Utusan Iblis bertambah. Kecepatan luncurannya pun bertambah, hingga setelah agak lama, barulah Utusan Iblis mencapai pinggir sungai. Dia sengaja merapat di bagian pinggiran yang terlindung oleh gundukangundukan batu. Karena sebelum merapat dia sudah melihat beberapa perahu di bagian pinggiran lainnya. "Rupanya banyak keparat-keparat yang sudah sampai di sini...." Utusan Iblis menyelinap di balik gundukan batu. Lalu duduk bersila dengan mata terpejam. Tak lama berselang dia buka kelopak mata. Dengan mengusap wajah dan leher lalu ia bangkit. Kepalanya berputar dengan mata nyalang memperhatikan keadaan sekeliling. Kejap kemudian dia berkelebat.

Pada suatu tempat Utusan Iblis berhenti. Matanya melihat sebuah sampan terapung-apung. Di sebelahnya tampak pecahan rakit, lalu agak ke timur sedikit terlihat sebuah perahu yang bagian depannya telah pecah berantakan.

Sepasang mata Utusan Iblis melebar sejenak tatkala dia melihat sebuah sampan seseorang di atas perahu yang bagian depannya pecah.

"Hem.... Perahu-perahu ini harus kuhancurkan! Dengan begitu tak seorang pun akan bisa kembali!" Berpikir begitu, Utusan Iblis kerahkan tenaga di dalamnya. Kedua tangannya diangkat dan dihantamkan ke dua arah. Tangan kanan diarahkan pada perahu yang bagian depannya pecah, tangan kiri menghajar pecahan rakit dan sampan.

Wuuutt! Wuuutt! Brakkk! Brakkk! Brakkk!

Terdengar tiga kali suara berderak. Di lain kejap tampak berpencaran kepingan-kepingan kayu di udara dan melayangnya sesosok tubuh. Kepingan kayu dan sosok tubuh tersebut lalu melayang turun, belum sampai amblas masuk ke dalam air dan lenyap! Utusan Iblis menyeringai lalu usap-usap dadanya. Memandang sejenak ke arah permukaan lalu balikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Namun langkahnya tertahan saat telinganya yang tajam mendengar suara kecipak di pinggiran sungai. Tanpa pikir panjang dia balikkan tubuh dengan kedua tangan menghantam ke arah suara kecipak air.

Wuttt! Wuttt!

"Astaga! Anak gila. Raksa Pati! Kau hendak membunuhku, hah?!" Mendadak terdengar suara orang menegur. Lalu sesosok tubuh melesat dari dalam air dan tahu-tahu telah tegak lima langkah di samping Utusan Iblis.

Mendengar orang memanggil nama aslinya, Utusan Iblis tersentak kaget. Begitu tahu siapa adanya orang yang kini tegak di sampingnya buruburu Utusan Iblis mengernyit, lalu berseru.

"Guru...!"

"Hampir saja kau membunuhku!" sergah orang yang baru datang yang ternyata adalah seorang kakek yang meski baru saja melesat dari dalam air, namun pakaian dan tubuhnya tidak basah! Si kakek tidak lain adalah guru Utusan Iblis yakni Titisan Iblis!

"Mengapa kau luntang-lantung di sini? Apa kerjamu telah selesai?!" Tiba-tiba Titisan Iblis kembali keluarkan teguran.

Utusan Iblis hanya bungkukkan sedikit tubuhnya.

"Guru! Pekerjaan baru saja kumulai, karena aku baru saja sampai!" Titisan Iblis perhatikan muridnya. "Pakaian dan tubuhmu basah. Bodohnya kau!"

"Ini gara-gara pemuda jahanam itu!" "Hem.... Kau menyebut seorang pemuda.

Siapa?! Kau juga belum berhasil dengan tugasmu melenyapkan Mata Malaikat. Kenapa bisa terjadi?!" "Aku belum jelas benar siapa sebenarnya pemuda itu. Tapi, seseorang mengatakan padaku dialah sebenarnya manusia bergelar Mata Malai-

kat!"

Titisan Iblis tertawa mengekeh. "Kau masih juga dapat dikelabui orang, Muridku. Tapi ini juga kesalahanku! Aku tak mengatakan padamu ciriciri manusia keparat bergelar Mata Malaikat itu. Namun hal yang pasti, pemuda itu bukanlah Mata Malaikat!"

"Aku pun pada akhirnya menduga demikian, Guru! Namun kali ini siapa pun yang ada di bukit ini tak akan bisa pulang dengan selamat! Mereka semua akan kuhancurkan!"

"Bagus! Hari ini kita akan berpesta, Muridku. Karena Mata Malaikat pun telah berada di tempat ini!" Titisan iblis memandang sejenak ke sekeliling. "Kita menyelidik tempat ini! Tapi, kau harus tetap waspada. Tempat tersimpannya benda pusaka biasanya penuh dengan halangan mematikan!"

Utusan Iblis tak menyahut. Malah dia alihkan pandangannya pada jurusan lain. Titisan Iblis segera berkelebat meninggalkan tempat itu, yang kemudian disusul oleh Utusan Iblis.

Setelah puluhan tombak, menempuh medan yang menanjak, kedua orang ini hentikan larinya. Titisan Iblis angkat tangannya. Telinganya menajam. Sementara sepasang matanya melirik ke jurusan depan, ke arah tonjolan batu besar.

"Kau dengar itu?" bisik Titisan Iblis.

"Suara perempuan menyumpah dan memaki!" sahut Utusan Iblis. Belum selesai dia berucap, Titisan Iblis telah berkelebat ke arah terdengarnya suara. Utusan Iblis mengikuti.

Dengan mengendap dari balik batu, kedua orang ini melihat seorang perempuan berwajah cantik berpakaian putih tipis sedang duduk bersandar dengan mulut tak henti-hentinya keluarkan gumam makian.

"Guru! Kau mengenalinya?!' seru Utusan Iblis terdengar parau, karena matanya melihat sembulan dada si perempuan yang bagian dadanya agak rendah.

"Aku heran. Perempuan itu tampak tidak mengalami perubahan meski tahun terus bertambah, Muridku. Perempuan itulah yang digelari orang dengan sebutan Bidadari Penyebar Cinta!"

Utusan Iblis perhatikan sekali lagi. "Cantik dan bertubuh bagus..., " gumamnya, membuat Titisan Iblis tersenyum.

"Ucapanmu benar. Cantik dan bertubuh bagus, tepatnya sintal! Tapi kau harus tidak mempercayainya! Sebaliknya kau harus dapat mempergunakannya! Ia punya modal luar dan dalam. Kau paham maksudku?!"

Utusan Iblis kali ini anggukkan kepalanya meski matanya tak beranjak dari menjilati tubuh si perempuan yang bukan lain memang Bidadari Penyebar Cinta.

Seperti diketahui, setelah terjadi bentrok dengan Putri Hitam alias Dayang Arung dan Mata Malaikat, Bidadari Penyebar Cinta yang merasa tak dapat mengatasi segera keluar dari terowongan. Namun perempuan ini tidak segera kembali. Dia berniat mencegat Putri Hitam, Mata Malaikat, dan Pendekar Mata Keranjang. Meski sadar dirinya tak bisa mengalahkan, namun karena dorongan untuk memiliki kipas 108 yang sempat digenggam serta mewarisi Lembaran Kulit Naga Pertala membuat semangatnya berkobar. Dia bertekad merebut walau apa pun yang akan terjadi. Dia lalu keluar dan duduk bersandar di balik batu. Dia sengaja memilih tonjolan batu yang menghadap ke lobang masuk terowongan, hingga dia dapat mengawasi orang yang keluar masuk terowongan tanpa dirinya terlihat.

Mungkin karena tak sabar, Utusan Iblis segera berkelebat dari balik batu di mana Bidadari Penyebar Cinta berada.

Bidadari Penyebar Cinta segera hentikan gumam makiannya lalu cepat bangkit dengan mata memandang tajam ke depan. Tapi begitu melihat seorang pemuda bertubuh kekar dengan paras keras mengenakan jubah panjang sebatas lutut, perempuan ini merubah sikap. Bibirnya tersenyum dan lidahnya dikeluarkan membasahi bibirnya yang merah. Diam-diam dalam hati perempuan ini berkata.

"Kedatangannya tak bisa kuketahui. Sikapnya menandakan dia punya ilmu tinggi. Hem....

Aku harus dapat merangkulnya.... Siapa kau?!" suara teguran Bidadari Penyebar Cinta terdengar garang, meski setelah itu dia kembali tersenyum dan mata mengerling nakal.

"Bidadari Penyebar Cinta! Kau bertanya, aku akan jawab!" Utusan Iblis berucap dengan tersenyum, membuat Bidadari Penyebar Cinta terkejut mengetahui si pemuda tahu siapa dirinya. "Aku Utusan Iblis!"

Bidadari Penyebar Cinta tengadahkan sedikit kepalanya, memperlihatkan lehernya yang jenjang putih. "Rasanya baru kali ini aku mendengar gelar pemuda ini! Mungkin dia baru turun dalam dunia persilatan. Itu lebih memudahkan untuk menggaetnya meski belum kuketahui jelas ketinggian ilmunya!"

"Boleh tahu, kenapa berada di sini?!" Utusan Iblis ajukan pertanyaan.

"Tak perlu dikatakan tentunya kau telah tahu jawabnya!"

Meski sedikit dongkol mendengar ucapan Bidadari Penyebar Cinta, namun Utusan Iblis tersenyum.

"Makianmu menunjukkan kau baru saja bentrok dengan seseorang "

Entah karena tak mau mengakui kekalahannya, Bidadari Penyebar Cinta tertawa perlahan. "Kita bertemu di sini. Kau lihat aku bentrok dengan seseorang?!"

"Darah di bawah bibirmu tak bisa membohongi penglihatanku!" ujar Utusan Iblis. Tanpa sadar, Bidadari Penyebar Cinta usapusap darah yang ternyata masih tersisa di bawah bibirnya. Wajahnya berubah merah padam.

"Kalau orang berilmu tinggi sepertimu sampai terluka, pasti lawanmu adalah seorang berilmu tinggi pula!"

"Seandainya dia sendirian, mungkin aku tak sampai terluka. Jahanam itu bertiga!"

"Hem   Begitu? Siapa mereka?!"

Bidadari Penyebar Cinta lalu menyebutkan satu persatu. Utusan Iblis menyeringai dengan dagu mengembang dan pelipis bergerak-gerak. "Jadi pemuda itu yang bergelar Pendekar Mata Keranjang. Dan setan tua yang selalu bersamanya adalah Mata Malaikat. Jahanam betul!"

"Kau berubah. Kau punya sengketa dengan mereka?!"

Utusan Iblis tak segera menjawab. Tapi diam-diam Bidadari Penyebar Cinta telah mengetahui apa di balik perubahan wajah si pemuda. Bibir perempuan ini kembali menyunggingkan senyum. Lalu berkata.

"Raut wajahmu telah menjawab pertanyaanku. Dan jika demikian berarti musuh kita adalah orang yang sama! Apakah tidak sebaiknya kita bersama-sama pula membuat mereka mampus?!"

"Itu urusan mudah. Masih ada urusan yang lebih berat. Dan itu tak membutuhkan seorang teman!" ucap Utusan Iblis sambil melirik ke arah belakang batu, di mana tadi Titisan Iblis berada. Namun si pemuda sudah tidak melihat sosok gurunya lagi.

"Ke mana dia. Apa dia sengaja memberiku kesempatan untuk bersenang-senang dengan perempuan ini?! Ah, itu bisa kulakukan nanti. Urusan besar masih menghadang, aku harus selesaikan dulu!" pikir Utusan Iblis.

Sementara itu mendengar ucapan Utusan Iblis, Bidadari Penyebar Cinta perdengarkan tawa renyah. "Aku tahu. Yang kau maksud tentu urusan lembaran kulit itu. Betul?! Dengar, Utusan Iblis. Sekarang lupakan urusan dengan lembaran kulit itu. Yang perlu kau pikirkan sekarang adalah menghadapi mereka!"

Utusan Iblis menyeringai. "Urusan dengan mereka bukan hal yang perlu dipikirkan! Aku sanggup melenyapkan mereka! Yang kupikirkan adalah hal lembaran kulit itu! Karena terus terang aku masih buta seluk-beluknya!"

"Kau tak usah pikirkan seluk-beluk lembaran kulit itu. Karena mereka kuyakin telah mendapatkannya! Tinggal sekarang bagaimana merebut dari tangan mereka!"

"Dari mana kau tahu itu semua?!" tanya Utusan Iblis. Saking kagetnya dia sampai melompat maju dan kini hanya sejarak tiga langkah dari Bidadari Penyebar Cinta.

"Tak usah kuterangkan. Kita tunggu saja di sini!" "Kenapa harus di sini?!"

Bidadari Penyebar Cinta arahkan telunjuknya pada sebuah lobang. "Lobang itu adalah satusatunya jalan keluar masuk ke tempat tersimpannya lembaran kulit itu. Dari tempat ini kita leluasa melihat orang yang keluar masuk. Sementara orang yang keluar masuk tak bisa melihat ke arah tempat ini."

"Tapi kita harus yakinkan dulu bahwa mereka benar-benar telah mendapatkan lembaran kulit itu!"

"Ketahuilah. Mereka telah mendapatkan petunjuk di mana lembaran kulit binatang itu, juga persyaratan yang diperlukan untuk memperolehnya. Apakah itu masih kurang meyakinkan jika mereka akhirnya berhasil mendapatkannya?!"

Utusan Iblis manggut-manggut. "Tapi kau juga harap mengerti. Dengan mampusnya mereka, lembaran kulit itu menjadi milikku!"

"Hem.... Boleh kau bicara begitu, tapi lihat saja nanti...," batin Bidadari Penyebar Cinta. Lalu tersenyum dan berujar. "Silakan kau ambil lembaran kulit itu. Bagiku sekarang, dengan terbalasnya sakit hatiku, itu sudah cukup!"

Utusan Iblis pandangi lekat-lekat wajah Bidadari Penyebar Cinta. Terbayang kebimbangan di wajah pemuda ini. Merasakan hal itu, Bidadari Penyebar Cinta melanjutkan ucapannya dengan sedikit busungkan dada. "Kau tak usah menaruh curiga padaku. Malah kalau tak keberatan, sejak sekarang kita akan selalu ke mana-mana bersama. Kau setuju?!"

Sepasang mata Utusan Iblis beralih pada dada sang bidadari. Melihat si pemuda mulai terangsang, Bidadari Penyebar Cinta tersenyum. Lalu kembali berujar. "Kau boleh menikmati apa saja dari tubuhku. Mau sekarang?!"

Tak sabar, begitu Bidadari Penyebar Cinta selesai bicara, Utusan Iblis telah mencekal bahu si perempuan. Bibirnya serentak menyergap bibir sang perempuan. Seraya mendesah, Bidadari Penyebar Cinta mulai membalas, hingga untuk beberapa lama kedua ini tenggelam dalam keasyikan.

Dari tempat tersembunyi, sepasang mata memperhatikan keasyikan dua orang itu dengan mulut komat-kamit menggumam.

"Dasar anak konyol! Ini bisa berbahaya jika dia tak hati-hati! Aku akan terus mengawasi meski aku jadi ikut-ikutan kepingin! Dasar...!" Orang ini yang bukan lain adalah Titisan Iblis lantas beringsut mundur pada sebuah lekukan batu hingga sosoknya tak terlihat, namun sepasang matanya yang besar melotot terus terpentang memperhatikan ke arah Utusan Iblis dan Bidadari Penyebar Cinta yang kini mulai rebahan.

"Konyol! Konyol betul!" gumam Titisan Iblis sambil pukulkan kepalan tangannya pada batu di samping tubuhnya. Dadanya tampak bergetar. Tapi dia tak hendak lepaskan pandangan matanya.

Tiba-tiba Bidadari Penyebar Cinta jauhkan wajahnya dari Utusan Iblis, kedua tangannya pun coba mengangkat tangan si pemuda dari balik pakaiannya meski tarikan tangannya perlahan hingga tangan si pemuda malah terus bergerak-gerak liar.

"Hai.... Kita hentikan dulu. Lihat ada seseorang...," bisik Bidadari Penyebar Cinta di antara suara napas Utusan Iblis yang memburu. Mungkin karena terlalu bernafsu, suara teguran Bidadari Penyebar Cinta tak terdengar oleh telinga Utusan Iblis. Pemuda itu terus menciumi tubuh si perempuan, membuat Bidadari Penyebar Cinta tersenyum.

"Tak sulit menaklukkanmu.... Silakan lembaran kulit itu jadi milikmu namun hanya sementara. Selanjutnya kau akan bertekuk lutut...," Bidadari Penyebar Cinta berkata dalam hati. Matanya terus memperhatikan pada sosok tubuh yang baru keluar dari lobang terowongan.

"Lihat! Mereka keluar!" bisik Bidadari Penyebar Cinta agak keras.

Utusan Iblis hentikan ciumannya. Lalu berpaling ke arah mana Bidadari Penyebar Cinta memandang. Dari atas tubuh sang Ratu, Utusan Iblis memang melihat sesosok tubuh keluar dan kini mondar-mandir di depan lobang terowongan.

Saat sosok itu menghadap ke tempat mereka berada, Utusan Iblis serentak bangkit. Sementara Bidadari Penyebar Cinta merapikan pakaiannya lalu ikut-ikutan bangkit dan tegak di samping si pemuda.

"Manusia setan itu mungkin sedang melihat keadaan...," desis Bidadari Penyebar Cinta. "Bagaimana kalau dia kita singkirkan dahulu?!"

"Aku menurut apa maumu saja!" seru Utusan Iblis.

Sementara dari balik tempatnya bersembunyi, Titisan iblis yang melihat sikap muridnya dan Bidadari Penyebar Cinta segera pula memandang ke arah mana kedua orang itu memandang. Kakek ini mendelik.

"Bangsat hitam setengah gila itu! Apa mereka segera akan keluar semua? Aku akan menunggu saja, kulihat perempuan cantik itu akan turun," gumamnya ketika melihat Bidadari Penyebar Cinta dan Utusan Iblis melangkah turun dari tempatnya, lalu sekejap kemudian tubuh mereka berkelebat.

Sosok yang baru keluar dan kini mondarmandir di sekitar mulut lobang terowongan hentikan langkah kakinya. "Ada seseorang...," gumamnya seraya berpaling ke arah samping. Baru saja kepalanya bergerak, dua bayangan telah menyeruak dan tahu-tahu telah tegak delapan langkah di hadapannya.

Sejurus sosok itu yang bukan lain adalah Dayang Arung alias Putri Hitam memandang pada dua orang di hadapannya. Bibirnya yang hitam sunggingkan senyum. Sebaliknya Bidadari Penyebar Cinta tampak memandang dengan mata laksana dikobari api, di sampingnya melihat dandanan orang, Utusan Iblis tertawa bergelak-gelak.

"Monyet hitam berhias inikah yang kau bilang tadi?!" ucap Utusan Iblis dengan palingkan wajahnya ke Bidadari Penyebar Cinta sementara telunjuk jari tangan kirinya lurus ke arah Putri Hitam.

"Jangan pandang remeh dia!" bisik Bidadari Penyebar Cinta tanpa berpaling, membuat Utusan Iblis makin keraskan suara tawanya. Sementara Putri Hitam hanya tersenyum.

Sebenarnya Putri Hitam tak berniat keluar dari terowongan. Tapi, ketika Mata Malaikat dan Pendekar Mata Keranjang belum juga muncul, akhirnya untuk menghilangkan rasa jenuh berdiam diri di dekat hamparan tanah gersang di dalam terowongan, juga karena tak sabar ingin segera bertemu dengan anaknya setelah mendengar keterangan Mata Malaikat, akhirnya Putri Hitam melangkah keluar dari terowongan.

***

DUA BELAS

AKU ingin buktikan kemampuan monyet hitam ini!" dengus Utusan Iblis. Tenaga dalamnya dikerahkan pada kedua tangannya. Lalu melompat ke depan. Kaki kanan diangkat tinggi menyambar dari arah samping kanan. Kejap lain kedua tangannya berkelebat menyusup. 

Wuttt! Wuttt! Wuttt!

Tiga pukulan langsung menggebrak. Sebelum pukulan sampai, angin deras menderu mendahului.

Putri Hitam membuat gerakan berputar di udara setengah tombak di atas tanah batu. Pakaian gombrongnya berkelebat menangkis deru angin yang mendahului serangan.

Seettt!

Kaki kanan Utusan Iblis tahu-tahu tertahan setengah jalan di udara. Ternyata kaki itu telah tertangkap tangan Putri Hitam. Kini tubuh Putri Hitam tegak dengan kepala di bawah dan kaki menjulang ke atas dengan tangan bertumpu pada kaki kanan Utusan Iblis. Hebatnya meski pakaian yang dikenakan gombrong dan posisi tubuhnya terbalik, pakaian itu sama sekali tidak menyingkap!

Utusan Iblis tarik pulang kedua tangannya sebelum tangan itu melesat penuh. Dengan gerak cepat kedua tangannya dihantamkan ke atas.

Tapi sebelum tangan itu menghajar lambung Putri Hitam, orang ini telah angkat kaki kanan Utusan Iblis, pada saat yang sama kakinya yang di atas melesat ke bawah.

Buuukkk!

Utusan Iblis berseru tertahan. Sosoknya terhuyung ke belakang dengan tangan memegangi jidatnya yang terkena tonjolan tumit Putri Hitam.

"Monyet bangsat!" teriak Utusan Iblis. Wajah pemuda ini telah merah mengelam. Kedua tangannya gemetar menahan marah. Di sampingnya Bidadari Penyebar Cinta memandang lalu berbisik. "Tahan emosimu. Hadapi dengan kepala

dingin!"

"Diam kau!" sentak si pemuda, membuat Bidadari Penyebar Cinta beringsut mundur dengan dada panas. Namun perempuan ini coba menahan perasaan, karena dia maklum tak mungkin menghadapi Putri Hitam sendirian.

Utusan Iblis angkat kedua tangannya tinggitinggi. Lalu dihantamkan, lepaskan pukulan sakti 'Gemuruh Badai'.

Wuuuttt! Wuuuuttt!

Terlihat gulungan awan hitam pekat. Lalu terdengar suara bergemuruh disertai kilatankilatan laksana sambaran petir.

Putri Hitam untuk kedua kalinya melesat ke udara. Setengah tombak di atas gulungan awan hitam kedua tangannya menyentak ke bawah.

Seettt! Settt!

Gulungan awan hitam laksana ditekan kekuatan dahsyat. Hingga kejap kemudian melesat ke bawah dan langsung amblas ke dalam tanah berbatu. Sementara sambaran kilat bertebaran ke mana-mana! Pada saat bersamaan terdengar beberapa kali letupan saat kilatan-kilatan itu menghantam batu yang banyak bertebaran di tempat itu.

Namun bersamaan dengan menyentaknya kedua tangan Putri Hitam ke bawah, seberkas sinar biru melesat cepat dari bawah. Mungkin karena tak menyangka, meski Putri Hitam sempat menghindar dengan membuat gerakan berputar menjauh, tapi tak urung bahunya tersambar sinar kuning yang ternyata dilepaskan oleh Bidadari Penyebar Cinta! Hingga terdengar seruan dari udara, lalu sosok Putri Hitam tampak melayang turun dengan berputar-putar. Sementara di bawah sana sosok Utusan Iblis terlihat terseret jauh ke belakang. Sesaat kemudian setelah terhuyung beberapa kali pemuda ini jatuh terduduk.

Melihat keadaan Putri Hitam, Bidadari Penyebar Cinta tak buang-buang kesempatan, dia segera melesat ke depan. Belum sampai Putri Hitam menginjak tanah berbatu, Bidadari Penyebar Cinta telah menerjang dengan kirimkan satu tendangan ke arah perut. Sementara tangan kirinya melesat mengarah pada kepala!

"Licik!" teriak Putri Hitam sambil tebaskan tangannya ke bawah.

Prakkk! Bukkk!

Tendangan kaki Bidadari Penyebar Cinta dapat ditahan dengan tangan, namun hantaman yang mengarah pada kepala tak dapat dihindari. Hingga saat itu juga tubuh Putri Hitam mencelat dengan kepala tersentak tengadah! Lalu terjajar di atas tanah dengan mulut pecah mengalirkan darah! Bidadari Penyebar Cinta sendiri terlihat mundur beberapa langkah dengan kaki terpincangpincang.

Saat itulah sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu telah tegak tujuh langkah di hadapan Putri Hitam dengan kacak pinggang dan tertawa bergelak.

"Titisan Iblis!" desis Bidadari Penyebar Cinta mengenali siapa adanya orang yang kini tegak di hadapan Putri Hitam yang masih bergerak bangkit. "Mengapa dia ikut-ikutan urusan ini?

Hem    Kedatangannya akan merusak rencanaku!"

batin Bidadari Penyebar Cinta seraya berpaling pada Utusan Iblis yang kini telah melangkah mendekat ke arahnya.

"Manusia tua ini harus disingkirkan juga! Jika tidak...," Bidadari Penyebar Cinta tidak lanjutkan bisikannya pada Utusan Iblis karena si pemuda telah angkat bahu seraya berujar.

"Kau tak usah khawatir dengannya. Dia gu-

ruku!"

Bidadari Penyebar Cinta jadi tergagu diam dengan wajah merah padam. Cepat-cepat dia palingkan wajah untuk menyembunyikan perubahan wajahnya. "Celaka! Alamat rencanaku harus tertunda. Jika guru dan murid ini maju bersamasama. Tapi... Ah, itu urusan nanti. Keduanya sama laki-laki. Kurasa aku bisa menaklukkan Keduanya. "

"Manusia jelek! Tidak mampus di sungai, akhirnya kau harus tewas di tempat tak bertuan!" Tiba-tiba terdengar Titisan Iblis membentak.

"Mati di mana pun bukan kau yang menentukan!" sahut Putri Hitam dengan suara keras pula.

Titisan Iblis tertawa. Kakek ini sekilas pandang telah tahu jika orang di hadapannya cedera. Dan kejelian Titisan Iblis memang benar, karena diam-diam Putri Hitam sebenarnya khawatir dengan keadaan dirinya, dan kegundahan makin nyata tatkala dia teringat akan Seruni. Dalam hati dia mengeluh.

"Akankah aku harus mati sebelum jumpa dengan anakku? Dan kenapa Mata Malaikat dan Pendekar Mata Keranjang tak segera muncul? Apakah mereka tak berhasil?!"

Selagi Putri Hitam tercenung dengan kegundahan hatinya, tiba-tiba Titisan Iblis kembali keluarkan bentakan garang.

"Manusia Hitam! Akan kuperlihatkan padamu jika akulah yang tentukan di mana kau harus mampus!"

Habis berkata begitu, Titisan Iblis hantamkan kedua tangannya. Lepaskan pukulan 'Gemuruh Badai'.

Entah karena masih geram atau sakit hati, Bidadari Penyebar Cinta tak tinggal diam. Begitu Titisan Iblis lepaskan pukulan, perempuan cantik ini pun ikut lepaskan pukulan. Sementara itu Utusan Iblis yang tegak di samping Bidadari Penyebar Cinta seakan tak mau ketinggalan. Saat itu juga dia kirimkan pukulan! Hingga tak ampun lagi, suasana di sekitar lobang terowongan berubah menjadi pekat dengan melesatnya beberapa gulungan awan hitam. Lalu disusul dengan menyambarnya sinar kuning. Pada saat yang sama terdengar gemuruh dahsyat.

Mendapat serangan ganas, mau tak mau membuat Putri Hitam tercekat. Kalaupun dia mampu menangkis namun pasti salah satu pukulan lawan akan tetap menghajarnya. Bulu kuduknya meremang. Tapi serangan telah datang dan itu tak bisa membuat Putri Hitam untuk berpikir lebih panjang lagi. Hingga akhirnya seraya pejamkan mata dia kerahkan segenap tenaga dalamnya. Kedua tangannya ditarik sedikit ke belakang, lalu didorong dengan tenaga penuh!

Bersamaan dengan mendorongnya kedua tangan Putri Hitam yang pasrah, tiba-tiba di antara kepekatan suasana tampak berkelebat dua bayangan yang langsung tegak tiga langkah di samping kanan kiri Putri Hitam. Seorang menghadap ke depan, sedangkan satunya lagi tampak menghadap ke belakang. Begitu tegak, kedua orang ini cepat sentakkan kedua tangan masingmasing. Yang satu langsung mendorong ke depan, satunya lagi mendorong tangannya ke belakang!

Di antara kepekatan serangan Titisan Iblis dan Utusan Iblis menyeruak angin keras yang keluarkan bunyi gemuruh, lalu dari arah samping tampak asap putih bergerak naik turun yang makin ke depan makin besar dengan keluarkan suara menggidikkan!

Bummm! Bummm! Bummm!

Terdengar tiga kali dentuman keras mengguncang tempat itu. Bukit yang terdiri dari hamparan tanah gersang itu bergetar hebat. Nyala bunga api tampak membubung ke angkasa. Batu dan tanah mencelat berhamburan. Batu besar di dekat lobang terowongan longsor dan langsung menutup lobang terowongan. Suara dentuman belum lenyap terdengar beberapa suara berseru tertahan dan dua kali jeritan.

Agak lama kemudian keadaan normal kembali. Di sebelah kiri tampak Putri Hitam duduk dengan tubuh berguncang keras hingga pakaian gombrongnya berkibar-kibar. Tiga langkah di sebelah kirinya Pendekar Mata Keranjang tegak dengan tubuh bergetar dan kedua tangan mendekap dadanya, di mana tersimpan Lembaran Kulit Naga Pertala. Meski baru saja terjadi bentrok pukulan. Anehnya, murid Wong Agung tak merasakan sakit. Malah, waktu lepaskan pukulan untuk menyelamatkan Putri Hitam tenaganya dirasa berlipat ganda.

"Hem.... Gerakan tubuhku ringan, tenaga bertambah...," batin Aji. "Apa yang dikatakan Mata Malaikat memang tak berlebihan. Tambahan tenaga dalam dari Eyang Pandanaran benar-benar luar biasa!" Aji membatin seraya melirik pada Mata Malaikat yang berdiri di sebelahnya! Jauh di seberang, terlihat Bidadari Penyebar Cinta terkapar dengan mulut keluarkan darah. Di samping kirinya, Utusan Iblis duduk bersimpuh dengan tubuh membungkuk hampir menyentuh lutut. Di sebelahnya Titisan Iblis duduk bersila dengan kedua tangan menakup di depan dada. Wajah orang tua ini pias dan sesekali terdengar batuk-batuk lalu meludah ke tanah. Matanya terpejam rapat. Mulutnya komat-kamit menggumam.

"Anakku! Kau baik-baik saja?!" Terdengar Mata Malaikat buka suara seraya menoleh ke arah Putri Hitam.

"Untung kalian cepat datang.... Aku tak apa-apa!" jawab Putri Hitam tanpa berpaling.

"Pendekar Mata Keranjang! Kau bagaimana?!" kembali Mata Malaikat bertanya.

Murid Wong Agung berpaling. Menggumam sebentar melihat sikap Mata Malaikat sebelum akhirnya angkat bicara.

"Aku sehat-sehat saja, Kek." Seraya berkata dia tetap dekap dadanya di mana tersimpan Lembaran Kulit Naga Pertala.

Ucapan Pendekar Mata Keranjang membuat Mata Malaikat keluarkan suara tawa bergelak. Suara tawa itu mula-mula pelan, namun makin lama makin keras. Dan tak lama kemudian semua orang di situ merasakan tanah di bawahnya bergetar! Bahkan kejap kemudian tanah berbatu di bawah dan di sekitar orang mulai rengkah! "Sialan! Apa yang dilakukan orang tua itu?!" gumam Aji seraya kerahkan tenaga dalam untuk menangkis suara tawa dan tubuhnya agar tidak masuk ke dalam tanah berbatu yang mulai berlobang.

Di seberang, baik Titisan Iblis, Bidadari Penyebar Cinta, dan Utusan Iblis mau tak mau harus kerahkan tenaga dalam masing-masing.

"Bandot Tua Jahanam!" Titisan Iblis keluarkan suara menggumam. Lalu berpaling pada Bidadari Penyebar Cinta dan Utusan Iblis. "Siapkan pukulan! Arahkan pada bandot tua itu!"

Namun sebelum dua orang itu lakukan ucapan Titisan Iblis, di seberang sana Mata Malaikat putuskan tawanya. Kedua tangannya yang dibuat tumpuan tubuhnya ditekankan ke bawah. Lalu 'Wuuttt!'. Tubuhnya membal ke atas. Kedua kakinya diluruskan sejajar pantat. Tiba-tiba kedua tangannya mengayun ke belakang.

Wusss! Wuuusss!

Rupanya pukulannya sengaja diarahkan ke tanah berbatu yang telah rengkah-rengkah. Hingga saat itu juga tanah berbatu itu muncrat ke udara menaburkan batu-batu kecil. Hebatnya taburan batu itu langsung melesat ke depan, ke arah Titisan Iblis, Bidadari Penyebar Cinta, dan Utusan Iblis!

Ketiga orang ini serentak bangkit. Lalu sama-sama hantamkan tangan masing-masing untuk menghalau tebaran batu.

Di seberang, habis lakukan pukulan, Mata Malaikat berkelebat turun di antara Pendekar Mata Keranjang dan Putri Hitam.

''Kita cari tempat yang leluasa. Dan kalian pilih lawan masing-masing! Tapi yang perempuan serahkan untukku!" bisik Mata Malaikat membuat Putri Hitam melengos.

"Aduh! Aku lupa bahwa dia menantuku...," gumam Mata Malaikat sambil berkelebat dan buka mulutnya lebar-lebar.

Pendekar Mata Keranjang dan Putri Hitam segera bangkit dan berkelebat menyusul Mata Malaikat yang telah berkelebat lebih dulu.

"Anakku!" ucap Mata Malaikat pada Putri Hitam saat orang ini telah berada di sampingnya. "Ucapanku tadi jangan masukkan ke dada. Aku hanya bergurau!"

"Sungguh-sungguh pun tak apa! Aku malah gembira punya mertua cantik dan muda! Bekas musuh lagi!"

"Eh, jadi kalian ini menantu dan mertua?!" kata Pendekar Mata Keranjang dengan menatap silih berganti pada Putri Hitam dan Mata Malaikat.

"Berkat pakaian dan rambut temuan, juga karena mengikuti langkahmu, akhirnya aku berjumpa dengan menantuku yang cantik ini!" sahut Mata Malaikat membuat Putri Hitam makin cemberut.

Putri Hitam tersenyum pahit, sementara Pendekar Mata Keranjang tertawa bergelak. Di sampingnya Mata Malaikat pejamkan mata!

Suara tawa Pendekar Mata Keranjang belum reda, tiga bayangan telah berkelebat dan langsung berdiri berjajar sepuluh langkah di hadapan mereka!

Pendekar Mata Keranjang putuskan ta-

wanya. Putri Hitam berpaling ke depan dengan mata memandang tajam. Sedangkan Mata Malaikat cepat pentangkan sepasang matanya!

SELESAI