Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 25 : Bidadari Penyebar Cinta

 
Eps 25 : Bidadari Penyebar Cinta


ANGIN kencang berhembus naik ke kawasan sebuah perbukitan, nun jauh di atas sana awan hitam menggelantung membuat suasana menjadi gelap. Sesaat kemudian hujan deras mendera disertai menyambarnya kilat dan disusul terdengarnya salakan guntur.

Dari arah barat lereng salah satu bukit, menyeruak di antara curah hujan dan salakan petir sesosok bayangan berkelebat menuruni lereng di mana terdapat sebuah air terjun. Tak berselang lama, bayangan ini telah tegak pada sebuah batu tak jauh dari air terjun. Ada keanehan pada sosok orang ini. Meski curahan hujan dan imbasan air terjun menerpa tubuhnya, namun pakaian hitamhitam serta kulit tubuhnya seakan memiliki daya sedot luar biasa, hingga tubuh dan pakaian orang ini tidak basah! Malah samar-samar dari tubuhnya keluar asap tipis!

Kilat menghampar. Sejenak kawasan perbukitan itu terang benderang. Penerangan yang hanya sebentar itu sudah cukup menjelaskan siapa adanya sosok yang tegak di atas batu. Dia adalah seorang kakek dengan tubuh sedikit bungkuk. Sepasang matanya besar melotot. Hidung besar dengan mulut lebar. Kumis, jenggot, dan jambangnya panjang awut-awutan. Rambutnya yang putih dan panjang hanya tumbuh di separo kepalanya bagian samping kanan. Samping sebelah kiri kelimis tak ditumbuhi rambut Beberapa lama sepasang mata orang tua ini mendelik memperhatikan ke arah hujaman air terjun yang keluarkan suara bergemuruh. Kedua tangannya diangkat lalu dirangkapkan sejajar dada. Kepalanya bergerak tengadah, sesaat kemudian dari mulutnya yang lebar terdengar ucapan.

"Raksa Pati.... Waktumu sudah berakhir.

Keluarlah!"

Meski suara itu pelan, namun mampu menepis gemuruh air terjun dan salakan guntur. Belum lenyap gema suara si kakek, hujaman air terjun menyibak. Lalu 'wuttt'. Dari bagian bawah air terjun melesat ke atas sesosok tubuh. Di kejap lain sosok ini telah tegak di depan si kakek. Air mengucur deras dari rambut, pakaian, dan tubuhnya. Sosok yang baru muncul kelihatan jelas tatkala suasana benderang karena sambaran kilat. Dia adalah seorang pemuda bertubuh tinggi tegap. Mengenakan jubah warna merah besar dan panjang hingga lutut, melapis pakaian dalam yang juga berwarna merah. Rambutnya panjang lebat. Sepasang matanya tajam dengan dagu kokoh.

"Guru!" kata si pemuda dengan mata menatap tajam dan tetap berdiri.

SI kakek berpakaian hitam-hitam luruskan kepalanya. Mengawasi sejenak pada si pemuda. Bibirnya menyeringai.

"Raksa Pati! Hari ini genap dua puluh empat tahun kau menimba ilmu. Saat menimba telah usai. Tiba sekarang saatnya untuk mengucurkan!"

"Maksud, Guru...?!"

"Segala ilmuku telah kuturunkan padamu. Kini kau adalah seorang pemuda berilmu tinggi. Tapi itu semua tidaklah cukup tanpa pengakuan kalangan rimba persilatan. Waktu telah tiba untuk menunjukkan pada dunia persilatan bahwa kau adalah manusia tanpa tanding yang berhak menyandang gelar Sang Penguasa Tunggal rimba persilatan!"

Pemuda yang dipanggil Raksa Pati diam tak mengeluarkan sepatah kata. Namun bayangan air mukanya jelas menunjukkan rasa gembira.

"Ada beberapa hal yang perlu kau ketahui sebelum kakimu menginjak arena rimba persilatan," lanjut si kakek. "Pertama. Rimba persilatan bukan saja menjadi ajang bergelimangnya tokohtokoh berilmu tinggi. Namun juga arena pembalasan dendam, tumpahnya fitnah, dan segala macam kebusukan! Di sini kau harus dapat pergunakan kelicikan. Jika tidak, cita-citamu sebagai Penguasa Tunggal hanyalah setetes embun! Kedua. Rimba persilatan adalah tempat persekutuan dari beberapa golongan yang masing-masing punya tujuan. Di sini kau harus tidak percaya pada salah satu golongan! Anggap semua golongan adalah musuh! Jika tidak, kau hanya akan menjadi kacung dan tak berguna! Ketiga. Ini yang harus kau camkan baik-baik. Saat ini rimba persilatan dibuat geger dengan munculnya kembali berita tentang Lembaran Kulit Naga Pertala. "

"Guru!" potong Raksa Pati. "Kau telah tiga kali menyebut-nyebut lembaran kulit itu. Apakah demikian hebatnya lembaran kulit itu?!"

"Tidak hanya hebat. Tapi juga salah satu syarat untuk layak tidaknya seseorang menyatakan diri sebagai Penguasa Tunggal. Dapat memiliki lembaran kulit itu berarti rimba persilatan di genggaman tangan!"

"Guru! Katakan di mana lembaran kulit itu dan apa yang harus kulakukan!" sahut Raksa Pati dengan suara agak keras seolah tidak berhadapan dengan gurunya.

Entah sudah tahu sifat muridnya, sang guru sendiri tidak menegur malah sepertinya bangga dan diam-diam dalam hati berkata. "Kecongkakan dan cara melihat orang dengan sebelah mata yang membuat aku tertarik pada anak ini!" Lalu kakek ini mendongak.

"Raksa! Menurut petunjuk yang kupercaya, lembaran kulit itu tersimpan di sebuah bukit yang dikenal orang dengan nama Bukit Siluman."

"Apakah lembaran kulit itu berada di tangan seseorang?!"

"Itulah yang sampai saat ini menjadi tekateki besar! Apalagi ketika bukit itu mendadak lenyap seperti ditelan bum!. Hanya akhir-akhir ini, bukit itu timbul kembali, sehingga membuat keadaan dunia persilatan kacau."

Raksa Pati sedikit terkejut. Namun sesaat kemudian senyum sinis menyungging di bibirnya.

"Mungkin mereka itu orang-orang yang miskin ilmu dan berotak kerbau. Hingga tak sanggup mengambil lembaran kulit itu! Aku akan segera ke sana!"

"Itu memang yang kuharap darimu, Muridku! Tapi kuingatkan. Kau jangan ceroboh. Kau menghadapi urusan besar. Belum sampai kakimu menginjak kawasan Sungai Siluman, mungkin banyak masalah yang akan menghadangmu!"

Raksa Pati keluarkan suara tawa pendek. Sambil mengusap dadanya ia berkata. "Orang yang kutemui berarti telah mencium bau lubang kubur. Tegak menghadang di depanku berarti memanggil ajal! "

"Bagus! Hanya aku titip jika sewaktu-waktu kau bertemu dengan manusia bergelar Mata Malaikat, kau tak usah tanya. Cabut nyawanya untukku!"

"Hem.... Kau punya silang sengketa dengannya?!"

"Itu bukan urusanmu! Ini perintah! Kau dengar?!"

Meski parasnya berubah merah padam, namun akhirnya Raksa Pati anggukkan kepalanya. Sang guru tertawa mengekeh lalu berujar.

"Begitu kakimu menginjak rimba persilatan, kau harus mengubur dalam-dalam siapa dirimu sebenarnya juga namamu. Karena kau menjadi utusanku maka kau pantas menyandang gelar Utusan Iblis! Mengerti?!"

"Aku mengerti. Guru. "

Sang guru tertawa mengekeh. "Utusan Iblis! Berangkatlah! Alirkan darah siapa saja yang menghadangmu! Lalu dapatkan Lembaran Kulit Naga Pertala! Aku, gurumu Titisan Iblis biar bangga dan tak sia-sia mendidikmu bertahun-tahun!"

"Aku tak akan mengecewakanmu, Guru! Aku pergi sekarang ," Utusan Iblis alias Raksa Pati bungkukkan sedikit tubuhnya lalu sekali berkelebat sosoknya telah melesat dan lenyap ditelan kerapatan pohon perbukitan itu.

DUA

SAAT itu menjelang tengah hari. Langit di atas tampak cerah tanpa tertutup gumpalan awan. Angin semilir berhembus pelan seakan mengimbangi hujaman terik sinar matahari.

Pada sebuah pohon tidak begitu besar, terlihat sehelai daun pisang berukuran sejengkal kali dua jengkal, diikatkan menggelantung pada satu dahan, membentuk ayunan. Di atasnya, duduk seorang kakek berambut putih panjang. Mata kirinya sipit, tapi mata kanannya menonjol ke luar. Seraya berayun-ayun, sesekali kakek ini berpaling ke samping kanan dan kiri. Daun pisang itu tidak robek, dan tali penggantung di sisi-sisi daun itu pun tidak putus. Padahal, tali itu adalah akar gantung pohon beringin!

Tiba-tiba kakek berpakaian dari kulit ular yang bukan lain adalah Mata Malaikat, katupkan kelopak matanya. Lalu terdengar gumamannya.

"Telah jauh kaki melangkah. Telah lama waktu berjalan. Tapi harapan hanya tinggal anganangan. Khayalan hanya mimpi indah tak berwujud. Malang benar nasib tua bangka ini. Akankah tubuh peot ini berkalang tanah tanpa ada kesempatan untuk bertemu lagi?!"

Wajah si kakek tampak berubah murung. Meski mulutnya membuka tapi napasnya tersengal, pertanda dadanya disesaki perasaan gundah gulana.

"Ke mana lagi aku harus mencari? Gunung telah kudaki, lautan telah kuseberangi. Namun jangankan orangnya, namanya pun tak pernah lagi diketahui orang! Oh.... Sungguh malang. Rupanya takdir telah menentukan bahwa tua bangka ini harus mati tanpa tahu sanak saudara.... Tapi, jika itu memang takdirku kenapa aku harus bersedih?" Tiba-tiba Mata Malaikat dongakkan kepalanya, di lain kejap terdengarlah suara tawanya mengekeh panjang!

Namun mendadak Mata Malaikat putuskan tawanya, lalu 'Beeettt!' Tubuhnya berkelebat dan lenyap. Pada saat bersamaan, sesosok bayangan hijau berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di bawah pohon di mana tadi Mata Malaikat berayunayun.

"Heran. Suara gumaman dan tawanya masih jelas di telinga. Namun mana batang hidungnya?!" batin orang yang baru datang seraya sapukan pandangannya berkeliling. Sepasang mata orang ini sedikit mendelik tatkala mendapati ayunan yang masih bergoyang-goyang. Orang ini maklum jika orang yang baru saja tertawa bukanlah orang sembarangan. Tidak ambrolnya daun pisang, tidak putusnya akar beringin, serta tertinggalnya suara tawa, menunjukkan semua itu.

"Menilik gumamannya, jelas jika orang tadi sedang mencari seseorang.... Hem.... Sudah dua orang yang diketahui merana mencari seseorang," gumamnya lalu perlahan-lahan orang ini angkat tangannya dan usap-usap hidungnya.

"Gadis bernama Seruni juga mencari seseorang. Hem.... Gadis cantik berbekal tugas berat...," orang itu terus berkata sendiri. Dia adalah seorang pemuda mengenakan pakaian hijau yang melapisi baju warna kuning lengan panjang. Rambutnya panjang dikuncir ekor kuda dan bukan lain adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang!

Seperti dituturkan dalam episode sebelumnya murid Wong Agung ini sempat memergoki Seruni murid Raksasa Bermuka Hijau berkeluhkesah mengungkapkan perasaan hatinya (Baca serial Pendekar Mata Keranjang dalam episode : "Bukit Siluman").

Aji edarkan pandangannya sekali lagi. Menarik napas sejenak, lalu dengan masih usap-usap hidungnya, dia melangkah teruskan perjalanan. Namun baru empat langkah, dia berhenti. Tanpa memutar tubuh dia berkata.

"Orang di balik pohon! Mengapa hanya mengintip?! Apakah wajahku begitu memalukan untuk dipandang? Atau malah sebaliknya kau yang akan mendapat malu bila dipandang?!"

Terdengar gumaman tak jelas, lalu sesosok tubuh melesat keluar dari balik pohon. Murid Wong Agung cepat putar tubuh. Sepasang matanya membelalak besar tak berkesip memperhatikan orang yang kini tegak di hadapannya.

"Kau...," kata Aji begitu   melihat siapa adanya orang. Dia adalah seorang gadis muda berparas jelita mengenakan pakaian warna kuning. Rambutnya panjang dikuncir dan diikat dengan sebuah ikat kepala yang juga berwarna kuning. Matanya bulat dengan hidung mancung.

Si gadis tersenyum. Matanya balik menatap pada Aji. Lalu buka mulut. "Apakah aku memuakkan di hadapanmu?!"

"Mendengar nada bicaranya, aku bisa memastikan bukan gadis ini yang tadi keluarkan tawa. Atau jangan-jangan dia bisa merubah suara...," bisik Aji dalam hati lalu memperhatikan lebih seksama pada sang gadis.

"Hai! Kenapa diam? Kau dengar ucapanku bukan?!" si gadis kembali angkat bicara setelah agak lama Pendekar Mata Keranjang hanya memandanginya tanpa berkata.

Aji jerengkan sepasang matanya. Lalu usapusap hidungnya. Seraya melangkah mendekat dia berujar.

"Orang bodoh jika muak memandang paras cantik sepertimu. Kalau boleh tahu, hendak ke mana kau?!"

Paras gadis di hadapan Aji berseru merah mendengarkan pujian. Gadis cantik yang bukan lain adalah Drupadi merasakan dadanya sesak dan berdebar. Perempuan mana yang tidak merasa bangga dan gembira dipuji? Apalagi oleh seorang pemuda berparas tampan seperti Aji. Perlahanlahan dia tundukkan kepala.

"Hai! Kenapa diam? Kau dengar ucapanku bukan?!" Aji ajukan tanya seperti ucapan yang dikatakan Drupadi, membuat gadis ini tersentak dari lamunannya.

"Aku tak bisa mengatakannya...," desah Drupadi dalam hati.

Si gadis angkat kepalanya lalu berkata. "Aku tak bisa mengatakan padamu ke mana aku sedang menuju. Kau sendiri?!" si gadis balik ajukan tanya.

"Aku?!" kata Pendekar Mata Keranjang sambil gelengkan kepala. "Aku tak punya arah tujuan. Ke mana kakiku melangkah itulah tujuanku!"

Drupadi kernyitkan dahi. "Aku tak percaya jika dia tak punya arah tujuan...." Setelah berpikir sejenak gadis itu memandang lekat-lekat pada Aji dan berujar.

"Dunia persilatan saat ini sedang ribut dengan kabar tentang sebuah lembaran kulit. Apakah kau tidak tertarik?"

Air muka murid Wong Agung sedikit berubah. "Hem.... Berat dugaan, gadis ini sedang menyelidik lembaran kulit itu...," Aji kembali gelengkan kepalanya.

"Aku bukannya tidak tertarik, tapi melihat jalinan ceritanya aku hampir yakin jika berita tentang lembaran kulit itu hanya isapan jempol belaka! Apakah kau tertarik dan sedang menyelidiki lembaran itu?!"

Drupadi tidak menjawab, membuat dugaan Pendekar Mata Keranjang makin kuat.

"Meski kau tidak menjawab, aku tahu. Kau sedang melakukan penyelidikan." "Jangan mudah menduga...." Aji menghela napas lega. Diam-diam sejak tadi sebisanya murid Wong Agung ini merasa waswas jika Drupadi punya niat untuk merebut kipasnya seperti halnya tokoh persilatan lainnya.

"Kurasa kau perlu segera meneruskan perjalanan. Kudoakan semoga urusanmu berhasil. Silakan...," kata Aji sambil menyisi seakan memberi jalan. Tangan kanannya dilambaikan.

Drupadi tak bergerak dari tempatnya. Sebaliknya sepasang matanya memandang tajam pada Aji. Gadis ini seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu. Tapi, ucapan itu urung dikatakannya. Malah Drupadi berkelebat meninggalkan tempat itu tanpa ajukan kata.

"Hem.... Sebaiknya aku segera ke Bukit Siluman. Urusan akan jadi panjang jika orang lain mendahului...." Berpikir begitu, murid Wong Agung ini cepat balikkan tubuh lalu berkelebat.

Namun langkahnya tertahan tatkala bersamaan dengan itu terdengar suara orang.

"Gunung telah kudaki, lautan telah kuseberangi. Beruntung orang-orang yang berjalan dengan tujuan pasti. Bukannya seperti tua bangka ini. Melangkah tanpa tahu di mana yang dicari."

Murid Wong Agung balikkan tubuh. Kepalanya mendongak. Untuk beberapa lama dia memandang tak berkedip pada ayunan yang menggantung. Ayunan itu terayun-ayun. Di atasnya duduk menjuntai seorang kakek berpakaian kulit ular dengan mata terpejam!

"Luar biasa.... Kedatangannya tak bisa kusiasati. Siapa orang tua ini? Nyanyiannya menggambarkan kegundahan hati...," batin Pendekar 108, lalu melangkah mendekat.

"Pendekar Mata Keranjang. Seandainya aku jadi kamu, tak akan kubiarkan gadis cantik tadi pergi begitu saja. Sayang, aku sudah tua peot! Hingga jangankan gadis cantik, nenek-nenek pun tak sudi mengajakku bincang-bincang "

Murid Wong Agung melengak mendapati orang tahu siapa dirinya. Sebenarnya kedua orang ini pernah bertemu, namun karena saat itu Aji dalam keadaan terluka membuat pandangannya tak jelas. Hingga dia tak bisa mengenali siapa adanya si kakek.

"Kek.... Siapa kau? Mendengar katakatamu, sepertinya kau mencari seseorang. Betul?!"

"Kalau kau dapat menebak ucapanku, kenapa kau tanya siapa diriku? Sebenarnya kau juga dapat menerka siapa diriku!" kata si kakek yang bukan lain adalah Mata Malaikat seraya tatap Aji lekat-lekat. Dengan dahi berkerut, murid Wong Agung memperhatikan.

"Orang tua berpakaian kulit ular, rambut panjang. Sepasang matanya saling bertolak belakang," Aji berpikir. Namun sejenak kemudian dia gelengkan kepala.

"Siapa dia? Kurasa baru kali ini aku berjumpa...," Aji lalu mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.

"Kek. Rasanya kita baru jumpa kali ini. Aku tak bisa menerka siapa dirimu!" "Jika begitu, biarlah siapa diriku tersimpan dulu. Sekarang kutanya padamu. Di mana Setan Pesolek?!"

Ucapan Mata Malaikat membuat Aji terkejut. Hingga untuk beberapa lama dia terdiam.

"Anak muda! Kau tak usah mungkir. Bukankah kau diselamatkan Setan Pesolek saat terjadi bentrok dengan Hantu Berjubah?"

"Hem.... Jadi dia tahu itu. Lalu apa tujuannya mencarinya?!" batin Aji lalu berkata. "Kek....

Kau telah tahu, kenapa sekarang tanya padaku?" "Kalau aku tak kehilangan jejak kalian, tak

mungkin aku tanya padamu!"

"Kek   Kenapa kau mencarinya?!"

"Aku butuh beberapa penjelasan darinya!" "Penjelasan? Jangan-jangan menyangkut

lembaran kulit itu. ," bisik Aji dalam hati.

"Pendekar 108! Urusan lembaran kulit yang saat ini geger diperbincangkan kalangan rimba persilatan bukan hal menarik bagiku! Aku butuh penjelasan lain!"

Murid Wong Agung terperangah ketika mengetahui si kakek dapat meraba apa yang ada dalam benaknya.

"Kek. Apa kau membutuhkan penjelasan tentang orang yang kau cari?!"

"Itu bukan urusanmu. Jawab saja pertanyaanku!"

"Kek.... Aku tak tahu ke mana perginya Setan Pesolek, karena dia tak pernah mengatakannya padaku!"

"Begitu? Jadi percuma aku menunggumu di sini. Aku harus "

Aji berpaling ketika Mata Malaikat tak meneruskan ucapannya. Belum sampai Aji berkata, Mata Malaikat telah bergumam.

"Ada orang menuju kemari!"

Belum lenyap suara gumaman, dan belum sampai Aji berpaling ke arah mata si kakek memandang, sesosok bayangan telah berkelebat dan sesaat kemudian tegak di hadapan Aji!

TIGA

SEPASANG mata tajam liar memperhatikan Aji dari bawah sampai atas. Lalu mata itu melirik ke atas di mana Mata Malaikat berada. Membelalak sejenak lalu kembali memandang ke arah Aji.

Murid Wong Agung ini melihat seorang pemuda berparas garang mengenakan jubah merah panjang sebatas lutut melapis baju dalam yang berwarna merah. Rambutnya panjang tebal dengan dagu kokoh.

"Kau bisa buka mulut hanya jika kutanya!" tiba-tiba si pemuda berjubah merah keluarkan bentakan ketika dilihatnya Pendekar Mata Keranjang hendak bicara, membuat murid Wong Agung ini katupkan kembali mulutnya, lalu balas menatap dengan hati menduga-duga campur geram.

"Setan alas! Siapa manusia ini? Lagaknya sombong betul!" Di atas ayunan daun pisang, Mata Malaikat melirik sebentar, lalu katupkan sepasang matanya dan kembali main ayunan. "Aku Utusan Iblis! Kau siapa dan juga katakan siapa adanya temanmu itu!"

"Melihat gerakannya, manusia sombong ini berbekal ilmu tinggi. Utusan Iblis.... Baru pertama kali ini aku mendengar gelar itu. Mungkin dia salah seorang yang baru keluar dari sarang "

"Jangan bertindak bodoh tidak menjawab pertanyaanku! Atau kau ingin kukubur!" Utusan Iblis kembali perdengarkan bentakan.

"Tugas di depanku masih menghadang. Kalau urusan ini tidak kunjung diselesaikan, akan jadi panjang bertele-tele ," kata Aji dalam hati, la-

lu dengan arahkan pandangannya ke jurusan lain dia berkata. "Namaku Aji "

Utusan Iblis mendengus. "Hem     Kakek

peot temanmu itu?" katanya seraya arahkan telunjuk jari tangan kirinya ke arah di mana Mata Malaikat berayun-ayun sementara wajahnya tetap lurus memandang ke arah Aji.

Pendekar Mata Keranjang mengikuti telunjuk tangan kiri Utusan Iblis. Mendadak sepasang mata murid Wong Agung ini terbeliak besar.

"Keparat! Lekas jawab!" hardik Utusan Iblis. "Tenang, Sobat!"

"Jahanam! Siapa kau panggil sobat? Hah?!

Aku bukan sobatmu. Aku Utusan Iblis!"

"Hem.... Baik. Baik..., sekarang aku tanya, siapa yang kau maksud dengan temanku kakek peot itu?!" "Jahanam! Siapa lagi kalau bukan...," Utusan Iblis tak teruskan ucapannya, karena saat dia berpaling ke atas, pemuda ini tidak lagi melihat si kakek! Hanya tinggal ayunan daun pisang yang tetap bergoyang-goyang.

Utusan Iblis arahkan pandangannya berkeliling dengan mata berkilat-kilat. Dagunya mengembung dengan pelipis bergerak-gerak. Di hadapannya, Aji ikut-ikutan mencari dengan hati berkata. "Gerakannya luar biasa. Sedekat ini aku tak bisa mengetahui ke mana lenyapnya.... Siapa sebenarnya kakek itu?!"

Selagi kedua pemuda ini mencari-cari, keduanya dikejutkan dengan suara tawa panjang. Keduanya sama-sama mendongak. Dari atas sebuah pohon melayang sesosok tubuh. Lalu 'Pluukk'!. Tubuh itu enak saja hinggap dengan kaki menjuntai di atas ayunan. Lalu tanpa menghiraukan pandangan kedua orang di bawahnya, kakek ini kembali berayun-ayun dengan mata terpejam.

"Setan! Kau ingin unjuk kebolehan di muka Utusan Iblis. Aku ingin tahu, sampai di mana kehebatanmu!" sambil berkata Utusan Iblis sentakkan kakinya ke atas tanah. Di lain kejap tubuhnya telah melesat ke atas. Kedua tangannya bergerak.

Wuutt! Wuuuttt! Pyarrr!

Brakkk.

Lembaran daun pisang yang dibuat ayunan Mata Malaikat hancur berkeping. Bersamaan dengan itu pohon di mana daun itu berayun-ayun berderak lalu tumbang dan mencelat sampai beberapa tombak! Begitu sampai di tanah, batang pohon itu hancur terbelah dengan daun kering berhamburan!

Baik Aji maupun Utusan Iblis segera mencari. Namun keduanya tidak menemukan sosok Mata Malaikat.

"Bangsat! Ke mana dia? Apa tubuhnya ikut hancur lebur? Tapi serpihan tubuhnya tidak kutemukan!" batin Utusan Iblis dengan dada berdebar keras. Tak jauh di hadapannya, murid Wong Agung jerengkan sepasang matanya sambil usapusap hidungnya. Lalu bergumam lirih.

"Hampir tak dapat kupercaya Jika pukulan itu masih dapat dielakkan. Tapi kalau kena, setidak-tidaknya masih ada potongan tubuhnya meski hanya secuil.... Hem Pemuda ini benar-benar gi-

la. Tangan maut diturunkan karena perkara sepele. Aku harus hati-hati!"

Utusan Iblis keluarkan suara gemeletak dari mulut. Kedua tangannya dikepalkan memperdengarkan suara bergemeretakkan. Matanya berkilatkilat. Pandangannya lalu terhenti pada sosok Pendekar Mata Keranjang yang ada di hadapannya.

"Kau belum jawab tanyaku!" bentaknya. "Katakan siapa dia!"

"Yang kau maksud orang tua itu?!" "Jahanam tolol! Siapa lagi kalau bukan

dia?!"

"Dengar! Aku tak tahu siapa dia!" Utusan Iblis menyeringai buruk.

"Kau berani berdusta! Berarti kau telah menggali liang kubur! Aku tak punya waktu banyak. Jawab atau masuk kubur!"

"Sebenarnya apa maumu? Apakah ada ruginya bagimu tidak mengetahui siapa dia adanya?!"

"Untung rugi bukan urusanmu! Tapi tak akan kubiarkan seseorang lolos dari tanganku sebelum menyebut siapa dirinya! Kau paham?!"

"Jadi selama ini kau selalu menanyai siapa saja yang kau temui?!"

"Bukan hanya menanya, tapi mengirimnya ke akhirat jika tak mau menjawab!"

"Hem   Aku tahu. Berarti kau sedang men-

cari seseorang yang namanya kau ketahui tapi wajahnya tak mau kenal. Begitu bukan?!"

"Ternyata kau bukan berotak kerbau. Cepat jawab tanyaku!"

"Sobat. Seperti kataku tadi. Aku tak tahu siapa dia adanya! Baru kali ini aku jumpa dengannya!"

Hatinya panas karena pukulannya begitu mudah dielakkan si kakek, ditambah merasa Aji berkata dusta, kemarahan Utusan Iblis tak dapat ditahan lagi. Seraya mendengus keras, pemuda murid Titisan Iblis ini melesat ke depan. Tangan kanannya segera bergerak menghantam ke arah kepala Aji. Di kejap lain kaki kirinya membuat gerakan menendang! Dua angin keras melesat mendahului sebelum tangan dan kaki itu menghajar sasaran.

Pendekar Mata Keranjang tak tinggal diam. Tangan kiri diangkat sementara tangan kanan dihantamkan ke bawah memapak tendangan.

Prakkk! Prakkk!

Terdengar dua kali benturan keras. Utusan Iblis terkejut besar dan buru-buru surutkan langkah seraya mendengus keras. Sepasang matanya memandang tak berkedip. Dadanya sesak dilanda hawa marah. Di seberang, murid Wong Agung kibas-kibaskan kedua tangannya seraya meringis.

"Sobat! Kenapa kau menghantamku?!" tanyanya sambil arahkan pandangan pada jurusan lain.

Utusan Iblis tegak tak menjawab. Tiba-tiba dia melesat lagi ke depan. Belum sampai Aji bergerak, dua tangan telah menyambar sekaligus. Murid Wong Agung rundukkan kepala, tangan kiri kanan segera menyusup ke bawah kedua tangan Utusan Iblis.

Bukk! Bukkk!

Pendekar Mata Keranjang berseru keras. Tubuhnya mencelat ke belakang sampai lima langkah. Bahunya terasa jebol dan bergetar terhajar tangan kiri lawan. Di lain pihak Utusan Iblis tegang dengan muka sedikit pucat. Pemuda ini segera mengusap pinggangnya yang terkena hantaman tangan Aji, membuatnya tersurut empat langkah.

Dari dua jurus pemuda tadi, cukup membuat Utusan iblis sadar jika lawan memiliki tenaga dalam yang tidak boleh diremehkan. Memikir sampai di situ, pemuda ini segera kerahkan tenaga dalam pada kedua tangan. Bersamaan dengan itu tubuhnya sedikit berguncang. Pemuda ini lalu tekuk kaki kanannya, kaki kiri digeser ke belakang. Sekonyong-konyong kedua tangannya ditarik ke belakang dihantamkan ke arah Aji!

Wuuttt! Wuuuttt!

Belum sepenuhnya tangan menghantam, Utusan Iblis telah tarik kembali kedua tangannya ke belakang. Seeett! Seeettt!

Di seberang, Pendekar Mata Keranjang urungkan lepaskan pukulan, karena menduga lawan tarik pukulannya. Namun dugaan Aji meleset. Karena kejap itu juga tubuhnya laksana disedot kekuatan luar biasa. Tubuhnya perlahan bergerak ke depan dengan langkah terhuyung-huyung.

"Pukulan Angin Lesus!" terdengar suara menyeruak.

Utusan Iblis lipat gandakan tenaga dalamnya. Tubuh Pendekar 108 makin kencang tersedot. Pendekar murid Wong Agung tersirap mendapati serangan yang begitu ganas. Dia tak bertindak ayal, karena maklum kalau Utusan Iblis telah keluarkan ilmu andalannya.

Aji segera mencabut kipas yang terselip di pinggang, lalu memutar-mutarnya. Serta-merta kilauan sinar putih bertebaran disertai menderunya suara angin! Di saat bersamaan, Utusan iblis sentakkan kembali kedua tangannya ke depan. Di kejap lain tubuhnya melesat ke samping menghindar! Namun tak urung kakinya masih tersambar hingga tubuhnya terputar sebelum akhirnya terbanting duduk!

Pemuda ini merasakan kakinya laksana dipanggang. Melirik ke bawah, dia terbeliak. Pakaian bagian bawah hangus dan kakinya melepuh merah! Hawa panas itu cepat menjalar ke seluruh tubuh. Pemuda ini cepat kerahkan tenaga dalam untuk menolak hawa panas. Dua puluh langkah di hadapannya, sosok Aji telentang dengan mulut keluarkan darah. Namun dia segera bangkit duduk meski dengan wajah pias serta persendiannya laksana tanggal. Diam-diam pemuda murid Wong Agung ini merutuki dirinya sendiri yang kurang waspada pada pukulan lawan.

"Busyet betul! Pukulannya tak terduga!" gumamnya lalu kerutkan dahi. "Benar. Aku tadi mendengar orang berseru menyebut pukulan pemuda itu!" Aji lalu memandang tajam ke depan. Utusan iblis telah bangkit. Kepalanya berputar kian kemari dengan sepasang mata berkilat merah. Lalu kepala itu terhenti dengan mulut menyeringai. Aji arahkan pandangan pada arah yang kini dipandang Utusan Iblis. Murid Wong Agung ini mendelik. Pada sebuah tanah agak tinggi, bersandar punggung si kakek dengan sepasang mata terpejam. Utusan Iblis cepat putar tubuhnya menghadap Mata Malaikat. "Dia menyebut pukulanku dengan benar. Berarti dia tahu banyak. Setidaktidaknya menyangkut guruku. Pasti dia tahu siapa orang yang kucari!" Utusan Iblis melangkah perlahan ke arah Mata Malaikat.

"Orang tua!" katanya dengan nada agak rendah. Pemuda ini rupanya maklum jika orang tua itu bukan orang sembarangan. Karena hanya manusia berilmu tinggi yang sanggup menghindar dari pukulannya dengan jarak yang begitu dekat tanpa menderita cedera sama sekali. "Aku mencari seseorang!"

Mata Malaikat buka kelopak matanya. Namun pandangannya tidak tertuju pada pemuda berjubah merah yang kini tegak enam langkah di hadapannya. Mulutnya mengatup. Sejenak kemudian terdengar dia berucap.

"Itu urusanmu! Aku pun sedang mencari seseorang!"

Paras wajah Utusan Iblis merah mengelam. Rahangnya mengembung. Namun kali ini si pemuda menahan amarahnya.

"Kau mengenali pukulanku. Berarti kau mengenali guruku! Dan pasti kau juga mengenali orang yang kini kucari!"

"Mana bisa begitu? Mengenal belum pasti mengetahui! Sebaliknya mengetahui belum menjamin pasti mengenali! Kau mengerti, Anak Muda?!"

Utusan Iblis menyeringai. "Aku Utusan iblis.

Kau siapa?!"

Mata Malaikat tertawa bergelak hingga mulutnya terkempot-kempot. Masih dengan tanpa memandang dia berkata.

"Terus terang, aku risih mengatakan siapa diriku. Jadi biarlah untuk kali ini kau mengetahui tanpa mengenalku!"

"Baik! Aku tanya sekali lagi. Apakah kau mengenal manusia bergelar Mata Malaikat?!"

Mata Malaikat cepat arahkan pandangannya pada Utusan Iblis. Dada orang tua ini sedikit bergetar. Mulutnya mengatup dan komat-kamit untuk beberapa lama. Di seberang sana, Aji kernyitkan dahi. Kepalanya mendongak. "Mata Malaikat...," gumamnya mengulangi ucapan Utusan Iblis. Tiba-tiba murid Wong Agung ini tepuk jidatnya sendiri. "Aih. Kenapa aku jadi ikut-ikutan memikirkan hal itu? Lebih baik aku cepat menyingkir. Urusan di depan lebih penting daripada berdebat dengan orang-orang tak tentu juntrungannya "

"Hem.... Kau berubah. Berarti kau tahu orang yang kusebutkan tadi!" kata Utusan Iblis.

Mata Malaikat terdiam. "Titisan Iblis    Pasti

ini ulahnya! Tapi apa betul pemuda ini muridnya? Melihat pukulan yang dilepas, aku hampir bisa memastikan. Tapi akan kutanya dulu. Siapa tahu ada orang lain yang memiliki pukulan sama. ,"

berpikir begitu, Mata Malaikat luruskan tubuh, lalu bertanya....

"Anak muda! Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Titisan Iblis?"

"Kau tidak tuli, Orang Tua! Aku Utusan Iblis! Titisan Iblis adalah guruku!"

"Hem...." Mata Malaikat menggumam. "Hanya hubungan guru? Tidak ada hubungan apaapa lagi?!"

"Apa maksudmu?!"

"Apakah tidak ada hubungan keluarga?!" Utusan Iblis tidak menjawab. Hanya sepa-

sang matanya yang memandang tak berkedip. "Anak muda! Jika kau menjawab beberapa

pertanyaanku, aku akan memberitahukan orang yang kau cari! Bagaimana?!"

"Baik...," kata Utusan Iblis setelah berpikir. "Namun jika kata-katamu dusta, aku tak segan merobek mulutmu!"

Mata Malaikat tertawa mengekeh mendengar ancaman orang itu. "Sekarang jawab tanyaku tadi!"

"Aku tak tahu apakah ada hubungan keluarga antara aku dan guruku!"

"Aneh! Apakah kau tak pernah tanya? Setidak-tidaknya apakah kedua orangtuamu tak pernah memberitahu?!"

"Aku tak tahu siapa orangtuaku! Yang kutahu, sejak kecil aku sudah diasuh guruku!"

"Gurumu tak pernah cerita siapa orangtua-

mu?!"

"Aku tak pernah tanya dan dia tak pernah

cerita!"

Mata Malaikat mengangguk-angguk.

"Anak muda! Kau mencari Mata Malaikat.

Apa ada pesan dari gurumu?!" "Betul!"

Mata Malaikat memandang sekali lagi lekatlekat pada Utusan Iblis. "Boleh aku tahu pesannya...?"

"Pesan kematian!"

Mata Malaikat sentakkan kepalanya ke samping kanan menyembunyikan perubahan wajahnya.

"Aneh.... Setahuku, antara aku dan Titisan Iblis tak ada masalah! Kini tiba-tiba dia menginginkan kematianku. Herannya dia tak langsung turun tangan sendiri. Hem.... Ada sesuatu di balik semua ini! Aku harus mengetahuinya. "

"Pertanyaanku terakhir. Apa gurumu mengatakan masalahnya hingga menginginkan nyawa Mata Malaikat?"

Utusan Iblis keluarkan dengusan dahulu sebelum akhirnya menjawab. "Aku tak pernah mau tahu urusannya. Yang kutahu itu adalah sebuah perintah! Jelas?!"

Mata Malaikat manggut-manggut. Diamdiam dalam hati kakek ini membatin. "Semakin nyata bahwa di balik semua ini Titisan Iblis menyembunyikan sesuatu. Hem.... Pemuda ini turun ke rimba persilatan dengan berbekal ilmu lumayan tinggi. Hanya masih miskin pengalaman. Tapi sikapnya sangat membahayakan...." Mata Malaikat arahkan pandangannya berkeliling. Ketika matanya tak lagi menangkap sosoknya Aji, dia tersenyum-senyum sendiri.

"Orang tua. Sekarang giliranmu mengatakan orang yang kucari!"

Tiba-tiba Mata Malaikat membuat mimik seperti orang terkejut. Lalu keluarkan gumaman tak jelas. "Terlambat, Anak Muda!"

Utusan Iblis membelalak angker. "Apanya yang terlambat?!"

"Sebenarnya orang yang kau cari sudah kau temukan. Tapi sekarang dia sudah kabur lagi!"

"Orang tua! Kau jangan main-main. Siapa orangnya?!"

"Pemuda yang baru saja bentrok denganmu!

Dialah manusia yang bergelar Mata Malaikat!" "Orang tua...!"

"Anak muda! Aku tahu. Kau baru saja terjun ke dunia persilatan. Belum tahu siapa satu persatu tokoh rimba persilatan. Aku telah lama malang melintang. Dan aku tahu siapa-siapa tokoh dunia persilatan! Silakan percaya apa tidak. Yang pasti pemuda itulah yang bergelar Mata Malaikat!"

Cepat, Utusan Iblis putar diri. Matanya nyalang menyapu sekeliling. Dia bantingkan sepasang kakinya hingga melesak berlubang tatkala dia tak mendapatkan orang yang dicari.

"Tentu masih belum jauh...," ujar Utusan Iblis lalu berkelebat hendak menyusul. Namun langkahnya terhenti tatkala dari arah belakang terdengar suara si kakek.

"Anak muda! Tak usah buru-buru mengejar. Kau sekarang sudah mengetahui siapa orang yang kau cari. Lebih baik kita ngobrol dulu. "

"Hem.... Ucapannya benar juga. Sebagai orang pengalaman tentunya dia banyak mengetahui urusan dunia persilatan. Siapa tahu dia juga mengetahui tentang hal yang menyangkut Lembaran Kulit Naga Pertala...," berpikir sampai di situ, Utusan Iblis balikkan tubuh lalu melangkah ke arah Mata Malaikat.

Mata Malaikat sunggingkan senyum.

"Anak muda.... Aku telah lama mengenal gurumu. Kalau sekarang mengutusmu terjun ke kancah persilatan, selain perintah membunuh Mata Malaikat tentunya dia punya maksud lain "

Utusan Iblis tak segera membuka mulut. "Orang tua ini sepertinya mengenal betul guruku. Jadi tak bohong jika dia mengatakan kenal Guru. Ada baiknya aku mengatakan apa tujuanku ," lalu pemuda ini dongakkan kepala dan berkata. "Aku yakin kau tahu yang membuat dunia

persilatan akhir-akhir ini guncang. Bisa memberi penjelasan padaku?!"

Mata Malaikat terkekeh. "Anak muda! Yang namanya dunia persilatan tak pernah sepi dari kejutan-kejutan. Satu belum usai, lainnya sudah muncul. Urusan satu belum selesai, urusan makin besar sudah menghadang. Entah sampai kapan urusan-urusan begini akan berakhir "

"Yang kumaksud kabar tentang adanya sebuah lembaran kitab !"

Ucapan Utusan Iblis makin membuat Mata Malaikat keraskan kekehan tawanya. "Anak muda! Seperti kubilang tadi, sebenarnya aku malang melintang dengan tujuan mencari seseorang. Namun hingga tubuhku peot begini, usahaku sia-sia. Mungkin karena aku terlalu mementingkan pencarianku, membuat perihal lembaran kulit yang sekarang jadi buah bibir tidak begitu berharga bagiku!"

"Tapi setidak-tidaknya kau mengetahui meski cuma sedikit!"

Mata Malaikat diam untuk beberapa lama.

Lalu mengangguk.

"Menurut kabar, lembaran kulit itu tersimpan pada sebuah bukit "

"Aku sudah tahu itu!" tukas Utusan Iblis. "Yang ingin kutahu, apakah lembaran kulit itu dipegang seseorang?!"

"Tidak bisa dipastikan. Menurut cerita yang pernah kudengar, orang terakhir yang memegang lembaran kulit itu adalah seorang dedengkot rimba persilatan dikenal dengan nama Eyang Pandanaran. Itu terjadi pada ratusan tahun yang silam. Entah orang itu masih hidup atau sudah mati, tidak diketahui. Lembaran kulit itu masih di tangannya atau sudah berpindah tangan juga sulit diselidiki..."

"Berarti pengetahuanmu tentang lembaran kulit itu tak lebih dari padaku! Percuma aku lamalama di sini!" dengus Utusan Iblis lalu balikkan tubuh dan berkelebat tinggalkan tempat itu.

Mata Malaikat hanya memandangi kepergian Utusan Iblis. Begitu sosok Utusan Iblis lenyap, kakek ini angkat bahunya. Tubuhnya berputar, kedua tangannya disentakkan perlahan ke atas tanah. Tubuhnya membubung setinggi setengah tombak. Dan sekali goyang tubuhnya melesat lalu lenyap di balik kerapatan pohon.

Pada suatu tempat, tiba-tiba Utusan Iblis hentikan larinya. Keningnya mengernyit. "Janganjangan orang tua itu sengaja mengajakku bicara untuk memberi kesempatan pada pemuda tadi agar bisa berlari jauh. Sialan! Orang tua itu harus menerima ganjaran yang setimpal akibat perbuatannya...!"

Utusan Iblis cepat putar tubuhnya dan berkelebat ke arah mana dia datang dengan kerahkan segenap ilmu peringan tubuhnya. Sebentar saja dia sudah sampai di tanah agak tinggi di mana tadi si kakek duduk bersandar. Karena dia datang dari arah belakang, sebelum sampai dia telah berseru. "Orang tua! Kau harus...," namun Utusan Iblis tak teruskan ucapannya ketika dia sampai di depan tanah agak tinggi dan matanya tak melihat lagi batang hidung si kakek.

"Bedebah keparat! Jangan-jangan orang tua tadi menipuku! Mungkin dua orang tadi saling kenal, lalu...." Utusan Iblis kertakkan rahang. Sepasang matanya berkilat angker.

"Jahanam! Mereka menipuku!" teriaknya sambil hantamkan tangan kanannya ke arah tanah agak tinggi yang tadi disandari Mata Malaikat. Tanah itu langsung berhamburan ke udara dan meninggalkan lubang menganga!

EMPAT

ENTAH karena tidak mau berurusan dengan tanpa adanya ujung pangkal jelas, lagi pula urusan Lembaran Kulit Naga Pertala dipikir lebih penting dan bisa mendatangkan mala petaka jika sampai kedahuluan orang, murid Wong Agung kali ini berlari sekuat yang dia bisa.

"Hem.... Di sini banyak pohon besar dan semak belukar. Lebih baik aku istirahat dengan berlindung...," pikir Aji. Lalu hentikan larinya dan melangkah ke arah sebuah pohon besar yang kanan kirinya ditumbuhi semak belukar lebat tinggi. Sampai di bawah pohon, sepasang matanya memandang berkeliling. Lalu menarik napas dalam sambil mengusap keringat di wajah dan lehernya. Sejenak kemudian dia duduk dengan selonjorkan kaki, punggungnya bergerak ke belakang hendak menyandar pada batang pohon.

Belum sampai punggungnya menyentuh batangan pohon, terdengar suara tawa mengekeh panjang. Pendekar 108 cepat bangkit dan putar tubuh setengah lingkaran menghadap ke arah datangnya suara tawa. Suara tawa mendadak terputus. Sambil menahan rasa tercekat, murid Wong Agung memandang lurus ke depan. Matanya tak menangkap siapa-siapa.

Belum lenyap rasa gelisah Aji, dari atas kembali terdengar suara tawa. Pendekar 108 cepat mendongak. Dari pohon di mana dia berada tampak melayang turun sesosok tubuh dengan perdengarkan suara tawa mengekeh.

Aji urungkan niat untuk lepaskan pukulan begitu melihat siapa adanya sosok yang melayang. Matanya terus mengikuti sosok itu hingga sosok itu mendarat empat langkah di hadapannya.

"Setan tua ini mengikutiku. Tadi dia bilang menungguku. Hem.... Maunya apa dia sebenarnya?!" pikir Pendekar Mata Keranjang dengan memperhatikan lekat-lekat pada kakek yang kini tegak di hadapannya.

"Kek! Katakan terus terang apa maksudmu sebenarnya!"

"Kalau tak mau urusan panjang, jangan bicara keras-keras! Bahaya itu masih di sekitar sini!" "Kek. Kau ini bicara apa?!" meski tak men-

gerti maksud si kakek namun Aji rendahkan juga suaranya.

"Orang yang menginginkan nyawamu tak jauh dari sini. Kalau dia sampai mendengar suaramu, bukan hanya kau tapi aku juga ikut celaka!" Pendekar Mata Keranjang kerutkan dahi.

"Kek. Maksudmu pemuda yang menyebut dirinya Utusan Iblis? Aku tak punya masalah dengan pemuda gila itu!"

"Kau salah. Ternyata orang yang dicari adalah kau!"

Aji tertawa. "Kek. Mungkin kau dengar sendiri. Dia mencari orang yang bergelar Mata Malaikat. Bukan aku!"

"Ah, tak tahulah! Pokoknya yang dicari adalah kau! Aku sempat bicara dengannya setelah kepergianmu!"

"Hem   Apa yang dibicarakannya?!"

"Seperti orang-orang lainnya yang saat ini sedang tergila-gila dengan sebuah lembaran kulit. Apakah kau juga akan ikut main gila-gilaan mengejar lembaran kulit itu?"

"Kek. Lembaran kulit itu adalah sebuah lembaran kulit yang amat berbahaya jika sampai jatuh ke tangan orang-orang sesat. Untuk menyelamatkannya apakah salah jika aku ikut tergilagila memburunya?!"

Mata Malaikat mengekeh dengan menutup mulutnya agar suaranya tak terdengar. "Tidak ada orang yang menyalahkan jika kau ikut tergila-gila. Namun kau harus tetap sadar dalam ketergilagilaanmu! Sekali kau lengah, kau akan tewas dalam kegilaan. Eh.... Apakah kau mendapat petunjuk dari Setan Pesolek atau barangkali dari nenek yang bersamanya?!"

"Aku tak bisa mengatakannya apa-apa padamu, Kek! Lagi pula aku masih belum tahu siapa dirimu!"

"Hem.... Begitu? Lalu apakah kau benarbenar hendak menyelidiki kitab itu?!"

"Kek. Meski aku tergila-gila, belum tentu aku melanjutkan perburuan! Semuanya nanti tergantung keadaan!" kata Pendekar Mata Keranjang sengaja mengaburkan segala ucapannya.

"Anak ini plin-plan. Tadi begitu bersemangat, akhirnya tergantung keadaan. Tapi aku yakin, dia akan tetap memburu lembaran kulit itu!" sejenak Mata Malaikat berpikir. "Hem.... Tak ada salahnya jika aku memberikan. Mungkin suatu saat diperlukan...," Mata Malaikat selinapkan tangan kanannya ke balik pakaiannya. Ketika ditarik keluar, tampaklah sebuah kantong kecil berwarna putih. Kantong itu segera diulurkan pada Aji.

"Di dalamnya delapan butir tahi kambing.

Simpanlah!"

"Kek. Kalau cuma tahi kambing, aku bisa mencarinya! Simpan kembali tahi kambingmu itu. Aku tak butuh!"

"Anak muda! Tahi kambing ini kuperoleh dari dasar laut. Sekali kau telan satu, kau akan bertahan dalam air setengah hari!"

Murid Wong Agung angkat bahunya. "Mana mungkin ada kambing di dasar laut? Janganjangan orang tua ini bercanda. Ah, tapi aku tak memerlukannya. Setengah hari berendam di dalam air juga tak ada gunanya!" batin Pendekar 108, lalu berkata. "Kek. Aku tak berurusan dengan air. Lebih baik kau berikan saja pada nelayan yang tiap hari berada di air!"

"Anak muda! Manusia belum pasti takdirnya. Siapa tahu kau kelak akan jadi seorang nelayan? Bukankah tahi kambing ini lantas berguna bagimu?! Tapi kalau kau menolak, aku pun tak apa!"

Mata Malaikat segera masukkan kembali kantong putih ke balik pakaiannya, namun tibatiba Aji berseru.

"Kek. Ucapanmu ada juga benarnya. Berikan tahi kambing itu padaku!"

Mata Malaikat tertawa mengekeh. Lalu tarik kembali kantong putih dari balik pakaiannya, lalu diulurkan pada Aji. Aji menyambuti kantong itu. Baru saja kantong berpindah tangan, Mata Malaikat palingkan wajahnya ke belakang. "Celaka! Kita harus segera berpisah dulu!"

"Kek. Apanya yang celaka? Kau tampak berubah. Apakah "

"Sudah! Jangan banyak mulut! Kau ke arah selatan aku ke arah utara!" habis berkata begitu, Mata Malaikat berkelebat lenyap ke arah yang disebut. Sejenak Pendekar Mata Keranjang masih tercenung tak mengerti. Namun ketika matanya melihat semak belukar jauh di hadapannya bergoyanggoyang, tanpa menunggu lebih lama lagi, murid Wong Agung ini berkelebat ke arah selatan.

Baru saja Pendekar 108 lenyap dari tempat itu, menyeruak sesosok tubuh tegap mengenakan jubah merah dan bukan lain adalah Utusan Iblis. Sepasang matanya merah laksana dipanggang, rahangnya mengembung dengan pelipis kiri kanan bergerak-gerak.

"Jahanam! Baru saja kudengar suara mereka! Jelas jika kedua bangsat itu bersekongkol!" Utusan Iblis arahkan pandangannya berkeliling dengan mata masih melotot angker. "Hei...! Kalian berdua! Kalian telah berani main-main dengan Utusan Iblis. Nyawa kalian tidak jauh dari tangan dan kakiku!"

Belum lenyap gema suara teriakannya, Utusan Iblis telah melesat ke arah selatan!

Pada suatu tempat, tiba-tiba Utusan Iblis hentikan larinya. Matanya memandang jauh ke depan tak berkedip. "Ada orang menuju kemari...," gumamnya seraya usap wajahnya dan menghela napas panjang.

Utusan Iblis tak menunggu lama. Sesaat kemudian sesosok tubuh telah berhenti dua belas langkah di hadapannya dengan wajah sedikit terkejut. Sebaliknya Utusan Iblis tampak sunggingkan senyum aneh. Sepasang matanya makin tak berkedip memperhatikan orang yang kini ada di hadapannya. "Lama nian tubuh ini tak merasakan bagaimana nikmatnya tubuh seorang gadis. Hem.... Hari ini nasibku baik. Mengejar bangsat. yang datang seorang bidadari "

Orang yang tegak di hadapan Utusan Iblis adalah seorang gadis berparas cantik jelita mengenakan pakaian warna biru. Rambutnya yang panjang dikuncir agak tinggi. Sepasang matanya bulat dengan bibir merah dan dada kencang.

Untuk beberapa lama si gadis berbaju biru dan bukan lain adalah Seruni, balas menatap pandangan Utusan Iblis. Meski cuma memandang sekilas, namun gadis ini telah dapat menduga arti tatapan pemuda di hadapannya.

"Laki-laki.... Hem...," desis Seruni seraya alihkan pandangan. "Dari cara dan gerak-geriknya, tampaknya dia sengaja menghadang," gadis itu lalu berucap dengan ketus.

"Siapa kau?! Harap jangan menghadang jalanku!"

Utusan Iblis tersenyum. Melangkah dua tindak dan berkata.

"Aku tidak menghadang, justru kau yang datang! Boleh tahu siapa kau?"

Seruni palingkan kembali wajahnya memandang si pemuda. Namun mulutnya terkancing dan sesaat kemudian tersungging senyum sinis di bibirnya.

"Waktuku tidak banyak. Harap beri jalan!" ujar Seruni dingin.

Sepasang alis mata Utusan Iblis sesaat naik ke atas. Matanya membesar lalu menyipit.

"Aku Utusan Iblis. Sekali lagi kutanya, kau siapa?!"

"Aku tak tanya siapa kau! Jangan cari uru-

san!"

Utusan Iblis tengadahkan kepala. Lalu ter-

dengar suara tawanya bergelak-gelak. Tiba-tiba tawanya terputus laksana dicabik. Kepala menyentak lurus ke arah Seruni dengan air mata berubah garang.

"Bicaramu sombong, Gadis Liar! Aku ingin tahu apakah kau punya bekal hingga mulutmu berani bicara tinggi di hadapanku!"

Paras wajah Seruni berubah merah padam. Matanya membelalak dengan tatapan gemetar menahan amarah.

"Urusan di depan masih banyak dan belum terselesaikan. Sekarang muncul lagi penghalang jalanan. Hem.... Kalau tak segera dibereskan, urusan tak akan segera tuntas, malah akan jadi tak karuan!" pikir Seruni. Setelah kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya, gadis ini membentak.

"Kau minggir atau mampus!"

"Aku akan minggir setelah merasakan tubuhmu!" sahut Utusan Iblis dengan senyum sinis.

"Mulut busuk!" maki Seruni keras. Bersamaan dengan itu dari kedua tangannya menyambar dua rangkum angin dahsyat keluarkan suara laksana gelombang.

Utusan Iblis menyeringai lalu perdengarkan suara tawa mengekeh panjang meski pakaian dan rambutnya mulai berkibar-kibar karena sapuan angin pukulan Seruni telah satu tombak di hadapannya.

Lima jengkal lagi pukulan Seruni menggebrak tubuhnya, Utusan Iblis keluarkan bentakan nyaring. Tubuhnya melesat ke udara. Di kejap lain kedua tangannya mendorong ke arah Seruni.

Seruni sendiri yang seolah masih tak percaya karena lawan bisa mengelak jadi terlengak. Dengan sigap gadis ini cepat menggeser tubuhnya ke arah samping kanan. Di udara, Utusan iblis gerakkan kedua tangannya. Hantaman angin deras yang melesat ke arah Seruni bergerak ke samping mengikuti gerakan Seruni, membuat gadis ini berseru lalu hantamkan kedua tangannya.

Wuuuttt! Wuuuttt! Bummm!

Terdengar ledakan keras ketika dua pukulan itu bertemu. Seruni terseret sampai dua tombak ke belakang. Paras jelitanya berubah pias. Beberapa lama tubuhnya tampak berguncang.

Di udara, Utusan Iblis terpental. Namun pemuda ini segera membuat gerakan jungkir balik beberapa kali. Kejap kemudian, sosoknya tampak melayang turun dan mendarat kembali dengan kaki kokoh terkembang. Seulas senyum tersungging di bibirnya.

"Kalau bicaramu tidak sombong, aku tak akan menjatuhkan tangan kasar padamu! Tapi kini semuanya terlambat!"

Habis berkata begitu, Utusan Iblis melesat ke depan. Kedua tangannya bergerak cepat membuat gerakan di udara laksana orang menotok. Di kejap itu juga Seruni yang setengah tombak di hadapannya menjerit keras. Sosoknya bergetar. Dan sebelum gadis ini membuat gerakan tubuhnya limbung. Kaki kiri kanannya menekuk dan sesaat kemudian tubuhnya melorot jatuh!

Seruni tercekat bukan main. Dia coba kerahkan tenaga dalam, namun seluruh persendian tubuhnya seolah lumpuh.

"Jahanam! Ilmu apa yang dimiliki keparat ini?!" piker Seruni. Kuduknya merinding dengan keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. "Celaka! Tubuhku lemas, mataku berkunangkunang...," Seruni masih coba bertahan agar tidak sampai pingsan. Malah dengan sekuat tenaga dia berteriak lantang.

"Pengecut! Jika memang jantan, kenapa kau lakukan ini, hah?!"

Utusan Iblis tertawa panjang lalu melangkah perlahan mendekat dengan bibir menyeringai dan mata berkilat-kilat merah.

"Pengecut jahanam! Kau mau apa?!" teriak Seruni tatkala dilihatnya Utusan Iblis melangkah terus. Paras wajah gadis ini makin pucat pasi. Ketakutan membayang jelas, malah sesaat kemudian matanya berkaca-kaca. Gadis ini membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Sedangkan dirinya tak bisa membuat perlawanan. Namun mengingat akan tugas di pundaknya, tiba-tiba semangat gadis ini muncul kembali.

"Pemuda edan! Kalau ingin menghadapiku, mari kita bertarung secara jantan!"

Utusan Iblis terus melangkah tanpa pedulikan caci-maki orang. Namun demikian, wajahnya tampak semakin keras dan garang, membuat si gadis geser tubuhnya menjauh.

Namun baru saja Seruni membuat gerakan, satu telapak kaki telah menahan tubuhnya hingga gadis ini tak bisa bergerak lebih jauh lagi.

"Bangsat licik! Apa maumu?!"

Utusan Iblis makin keraskan tekanan telapak kakinya pada paha kanan Seruni membuat gadis ini mengaduh. Seruni coba angkat tangannya lalu dipukulkan pada kaki Utusan Iblis. Tapi pukulan itu seolah tidak punya kekuatan sama sekali, membuat yang dipukul keluarkan tawa bergelak-gelak.

"Gadis liar! Katakan siapa dirimu!"

Seruni angkat tubuh bagian atasnya dengan bertumpu pada kedua siku tangannya. Sepasang matanya menyengat tajam perhatikan sang pemuda. Tiba-tiba gadis ini meludah ke samping, lalu berkata lantang.

"Kau tak perlu tahu siapa aku! Kalau mau bunuh, lekas lakukan!"

Utusan Iblis menyeringai beringas. "Mulamula aku tidak menginginkan kematianmu. Tapi mulutmu terlalu sombong, hingga niatku berubah!"

"Tapi caramu pengecut!"

Utusan Iblis condongkan tubuhnya ke depan. Tangan kanannya bergerak.

Plakkk!

Satu tamparan mendarat di pipi kanan Seruni hingga kepalanya tersentak dan tumpuan kedua sikunya terkulai, hingga tubuh bagian atas itu terbanting ke tanah.

Seruni melengak kaget dan keluarkan seruan tertahan.

"Sekali lagi keluarkan suara memaki, kurobek mulutmu!" ancam Utusan Iblis.

Entah karena sakit hati atau sudah pasrah, ancaman Si pemuda bukannya membuat si gadis takut, malah dengan mata beringas marah ia berseru.

"Jahanam edan! Kau hanya berani pada

orang tak berdaya! Pengecut!" Plak! Plakkk!

Kemarahan Utusan Iblis sudah tak dapat ditahan lagi, hingga untuk kedua kalinya tangannya bergerak pulang balik menampar pipi kanan kiri Seruni sampai mulut gadis ini mengeluarkan darah.

Seruni gigit bibirnya rapat-rapat agar erangannya tak keluar. Bersamaan dengan itu kembali sepasang matanya nampak berkaca-kaca.

Utusan Iblis tengadahkan kepala. "Kuperingatkan sekali lagi. Jawab tanyaku atau kulumat tubuhmu!"

Keadaan yang terjepit membuat Seruni bulat tekadnya. Hingga dengan menahan sakit dia berkata keras.

"Jangan mimpi aku akan jawab tanyamu, Pengecut Licik!"

Pelipis Utusan Iblis bergerak-gerak. Rahangnya mengeras dan terangkat membengkak, pertanda amarahnya sudah sampai ambang batas. Pemuda ini lantas angkat tangan kanannya.

Seruni menyeringai. Gadis ini tampaknya sudah tak peduli lagi dengan kemarahan orang, malah dengan memandang tajam dia kembali buka mulut.

"Aku ingin tahu, apakah kau benar-benar mampu membunuhku, Pengecut!"

Niat semula Utusan Iblis musnah sudah oleh hawa kemarahan yang melanda dadanya. Pemuda ini kerahkan tenaga dalam pada tangan kanannya, lalu dengan seringai ganas tangannya bergerak memukul ke arah Seruni. Kejap itu juga gelombang angin dahsyat melesat menghantam ke arah kepala si gadis.

Seruni yang sudah pasrah menghadapi kematian tak membuat gerakan sama sekali, bahkan sepasang matanya yang bulat tajam terpentang lebar menatap tak berkedip!

Sesaat lagi pukulan yang dilepaskan Utusan Iblis menghancurkan kepala Seruni, tiba-tiba tanpa terdengar adanya deruan serangkum angin dahsyat menghampar berputar-putar, lalu menggulung pukulan Utusan Iblis. Di lain kejap pukulan angin melesat dengan membawa pukulan yang dilepas si pemuda. Tak lama kemudian terdengar dentuman keras!

Pada saat putaran angin datang, Utusan Iblis rasakan tubuhnya laksana disapu gelombang dahsyat. Meski dia telah coba bertahan, namun sapuan itu begitu dahsyatnya, hingga sebelum tubuhnya terpental, Utusan Iblis telah meloncat ke belakang dengan keluarkan dengusan keras.

"Bangsat rendah! Siapa berani ikut campur urusan Utusan Iblis, hah?!" teriaknya dengan mata liar ke sana kemari. Baru saja suara teriakannya lenyap, terdengar suara orang tertawa. Utusan Iblis cepat berpaling ke samping kanan dari arah mana suara tawa terdengar. Pada saat bersamaan, tiba-tiba dari arah samping kiri angin dahsyat menghampar tanpa keluarkan suara. Namun pukulan ini sepertinya disengaja tidak diarahkan pada si pemuda. Tapi pada tanah di sebelahnya. Hingga saat itu juga terdengar suara seperti air muncrat. Di kejap lain pemandangan menjadi pekat karena hamburan tanah yang muncrat ke udara.

Utusan Iblis memaki habis-habisan sambil melompat mundur dan cepat balikkan tubuh. Ketika itulah di balik kepekatan tanah yang menutupi pemandangan, samar-samar Utusan Iblis menangkap sesosok bayangan berkelebat laksana setan gentayangan. Sebelum Utusan Iblis menyiasati siapa adanya si bayangan, bayangan itu telah kembali berkelebat lalu lenyap. Sosok Seruni yang tadi tergeletak tak berdaya juga tak tampak lagi!

Dapat menebak apa yang dilakukan si bayangan, Utusan Iblis cepat melesat ke depan menerobos kepekatan tanah, kedua tangannya langsung dihantamkan ke arah berkelebatnya si bayangan, namun pukulannya kalah cepat dengan gerakan si bayangan, hingga pukulan itu hanya menghajar angin.

Ketika suasana sirap, Utusan Iblis masih coba arahkan pandangan ke sana kemari. Namun dia tak menemukan siapa-siapa, membuat pemuda ini keluarkan makian tak karuan dan bantingan sepasang kakinya.

"Keparat siapa yang menolongnya?!" desis si pemuda dengan dada berdebar keras menahan marah. "Gerakannya begitu cepat. Pukulannya tidak terdengar sama sekali.... Keparat betul! Hem    Aku akan terus ke selatan, selain mengejar

pemuda bergelar Mata Malaikat kurasa ini juga jalan menuju kawasan Sungai Siluman. Lembaran Kulit Naga Pertala.... Aku harus dapat memilikinya. Karena tanpa kuduga, banyak orang berkepandaian tinggi malang melintang. Kalau lembaran kulit itu tak dapat kumiliki, akan sia-sia hidupku. Aku tak mau jadi kacung rimba persilatan. Aku ingin menjadi Penguasa Tunggal! Ya, orang tanpa tanding. Ha.... Ha.... Ha...!" sambil terus tertawa Utusan Iblis putar tubuhnya lalu berkelebat terus ke arah selatan.

LIMA

BAYANGAN kembang-kembang itu berkelebat cepat laksana bersitan sinar. Di pundak kirinya tampak sesosok tubuh yang diam tak bergerak-gerak. Pada suatu tempat yang banyak ditumbuhi semak-semak tak jauh dari kawasan pinggir Sungai Siluman si bayangan kembang-kembang memperlambat larinya. Pada saat bersamaan, sosok di pundak si bayangan kembang-kembang membuat gerakan dengan membuka kelopak matanya yang sedari tadi terpejam rapat. Ternyata dia adalah Seruni.

Karena kepala Seruni ada di bagian punggung orang yang memanggulnya, gadis ini tak bisa melihat siapa adanya orang yang telah menolong dan melarikannya. Gadis ini sekali lagi memperhatikan. Ternyata orang yang menolongnya adalah seorang yang mengenakan jubah berwarna kembang-kembang. Mata Seruni menelusur ke atas. Kini tampaklah bagian kepala orang yang berjubah kembang-kembang itu. Ternyata orang itu hanya memiliki rambut putih sebatas tengkuk.

Sejenak kedua alis mata Seruni terangkat dan keningnya berkerut. Ada rasa keragu-raguan di benaknya. Tiba-tiba gadis ini kerahkan tenaga dalamnya. Dia menarik napas lega, karena tangannya telah putih seperti semula walau mulutnya masih terasa perih akibat tamparan yang dilakukan Utusan Iblis.

"Jangan-jangan memang dia...," batin Seruni, lalu buka mulut dan terdengarlah suaranya.

"Aku sudah tak apa-apa. Harap kau suka turunkan tubuhku!"

Mendengar suara orang, orang berjubah kembang-kembang menggumam tak jelas namun tak menuruti permintaan orang yang di pundaknya. Mungkin merasa orang tidak mendengar suaranya, Seruni kembali buka mulut dengan suara agak dikeraskan.

Orang berjubah kembang-kembang hentikan langkahnya. Perlahan-lahan dia angkat tubuh di pundaknya lalu ditegakkan di hadapannya.

Sejenak sepasang mata Seruni menyipit lalu membeliak besar. Mulutnya yang semula hendak mengucapkan sesuatu tiba-tiba mengatup rapat. Dadanya tampak bergerak turun naik dengan kerasnya.

Orang di hadapan Seruni sunggingkan senyum. Ternyata dia adalah seorang nenek. Mengenakan jubah besar warna kembang-kembang. Rambutnya putih hanya sebatas tengkuk yang pada bagian atasnya berombak mirip sayap yang terentang. Sepasang kelopak matanya besar namun matanya sipit. Paras wajahnya masih membiaskan kecantikan sewaktu muda. Nenek itu bukan lain adalah dedengkot rimba persilatan bergelar Peri Kupu-kupu.

"Kau...!" desis Seruni sambil alihkan pandangan ke jurusan lain. Lalu tengadahkan kepala dan lanjutkan ucapannya. "Jangan berharap aku merubah niatku hanya karena kau telah menolongku!"

Peri Kupu-kupu tertawa pelan sambil pandangi wajah gadis cantik di hadapannya. "Anak ini pendiriannya teguh. Sayang..., belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk...," batin Peri Kupu-kupu lalu berkata pelan.

"Seruni.... Pertolonganku bukan untuk merubah niatmu. Hal itu semata kulakukan hanya untuk menyelamatkanmu! Pantang bagiku melihat perbuatan semena-mena di depan mataku. Apalagi kau adalah manusia jenisku!"

Seperti diketahui, Seruni yang mengaku sebagai cucu sekaligus murid dari tokoh bergelar Raksasa Bermuka Hijau turun ke rimba persilatan dengan membekal tugas dari gurunya untuk membunuh beberapa orang dan di antaranya adalah Peri Kupu-kupu. Selain itu juga untuk menyelidik sekaligus memburu Lembaran Kulit Naga Pertala. Pada pertemuan pertama kalinya dengan Peri Kupu-kupu, Seruni gagal melaksanakan tugasnya (Baca serial Pendekar Mata Keranjang dalam episode: "Bukit Siluman").

Mendengar ucapan Peri Kupu-kupu, Seruni menyahut.

"Bagus jika begitu ucapanmu! Berarti otakmu masih dapat membedakan urusan!"

"Seruni...," kata Peri Kupu-kupu sambil tertawa. "Pengalaman hidup telah membuat seseorang berubah. Dan kehidupan memang aneh. Kadang-kadang hari ini menjadi lawan namun lusa berubah jadi kawan. Begitu juga sebaliknya. Hari ini mengalami duka nelangsa tapi lusa berganti roda bahagia. Tapi jalan menuju perubahan memang sulit. Diperlukan pengorbanan besar. Malah kadangkala harus berani korban perasaan dan harga diri!"

"Orang tua! Berkatalah sepuasmu. Namun jangan mimpi bisa merubah niatku untuk membunuhmu! Pengorbanan apa pun yang kau lakukan, tak akan membuat aku jadi kawanmu! Kau telah kutulis di hatiku sebagai orang yang harus kumusnahkan dari bumi ini!"

Sekali lagi Peri Kupu-kupu keluarkan tawa perlahan, lalu berujar.

"Anak gadis. Jangan kau sebut-sebut lagi tindakanku tadi untuk merubah niatmu! Aku hanya mengatakan hukum alam yang berlaku. Aku tahu, kau sebenarnya adalah gadis baik. Hanya untuk sementara ini kau masih dikepung oleh keadaan yang membuat pandanganmu kabur. Aku percaya, kelak kau akan menemukan jati dirimu bila kekaburan itu sirna " Sejenak Seruni seperti tercekat mendengar ucapan Peri Kupu-kupu. Namun sesaat kemudian lenyap berganti dengan kemarahan yang selama ini ditahan.

"Orang tua! Kau tahu apa tentang aku?! Buang jauh-jauh ramalanmu itu! Bersiaplah menghadapi kematianmu!"

"Karena kematian tak bisa ditentukan kapan datangnya, sejak dulu kala aku telah siap menghadapi kematian, Seruni. Namun sebelum aku mati, apakah kau tidak mengharapkan sesuatu dariku?!"

Seruni terdiam. Dalam hati gadis ini membatin. "Bagaimana ini? Apakah aku harus mengajukan tanya padanya seperti yang diperintah Eyang Guru? Dia telah mengatakannya sendiri, kenapa tidak?!"

Jika Seruni membatin demikian, tidak demikian halnya dengan apa yang ada dalam benak Peri Kupu-kupu. "Entah kenapa, meski nada suaranya memerahkan telinga, namun aku suka anak ini. Seandainya Raksasa Bermuka Hijau mau mengatakan siapa sebenarnya dirinya dan apa tujuannya hingga menginginkan nyawaku, mungkin urusan ini tak sampai melibatkan gadis ini. Akankah salah paham ini terus berlangsung? Sayang, aku hanya mendengar alasan Raksasa Bermuka Hijau dari orang lain. Kalau saja aku mendengar sendiri dari mulutnya, aku mungkin sedikit banyak bisa mendapat titik terang. Apakah aku harus   menemuinya?   Oh       Tuhan.   Panjangkan

umurku. Berilah kesempatan padaku untuk menjernihkan urusan yang belum tentu ini...," Peri Kupu-kupu mendadak katupkan kelopak matanya. Ketika mata itu membuka dan mengerjap, mata itu telah berkaca-kaca.

Seruni tertegun. Ada perasaan aneh menyeruak di dada gadis ini. Hingga ucapan yang hendak dikeluarkan seakan tercekat di tenggorokannya. Malah tanpa sadar dia berkata lain dari apa yang semula hendak dikatakan.

"Nek   Apa sesungguhnya yang terjadi den-

gan dirimu?!"

Peri Kupu-kupu gelengkan kepalanya perlahan. Namun guliran bening air matanya sudah jatuh membasahi pipinya yang keriput.

Tak dapat menahan perasaan, Seruni melangkah mendekat. Namun belum sampai gadis ini bicara. Peri Kupu-kupu telah mendahului.

"Seruni.... Kau mau mengatakan padaku kenapa kakekmu menginginkan nyawaku?!"

Untuk sesaat Seruni tak menjawab. Dia pandangi lekat-lekat wajah nenek di hadapannya. Setelah agak lama, baru dia berkata.

"Menurut Kakek...," Seruni ragu-ragu melanjutkan.

"Katakanlah, Seruni. Bagaimana menurut kakekmu "

"Mungkin kaulah yang saat ini menyimpan lembaran kulit yang diburu kalangan tokoh-tokoh rimba persilatan!"

Peri Kupu-kupu surutkan langkah satu tindak karena terkejut. Dadanya tambah bergetar keras. Mulutnya terkancing rapat. "Kalau bukan cucunya, mungkin aku masih ragu-ragu. Jadi... Ah. Berarti memang dia orang yang selama ini kucari.... Karena hanya dari keturunannya yang tahu seluk-beluk lembaran kulit itu. "

Setelah dapat menguasai rasa terkejutnya. Peri Kupu-kupu goyang-goyangkan kepalanya, lalu berkata.

"Seruni. Apakah kau masih menginginkan nyawaku?"

"Sebenarnya.... Ah, serahkan saja lembaran kulit itu padaku. Dan anggap tidak ada lagi masalah di antara kita. "

"Seruni. Dengarlah baik-baik. Kakekmu salah paham. Apa yang dikatakan kakekmu tidak ada padaku !"

Wajah Seruni kembali berubah mendengar ucapan Peri Kupu-kupu. Pandangannya dingin menusuk ke bola mata sipit nenek di hadapannya.

"Eyang Guru tidak pernah berkata dusta.

Atau "

Belum selesai Seruni dengan ucapannya, Peri Kupu-kupu telah memotong.

"Kakekmu memang tidak berkata dusta.

Namun dia salah paham!"

"Salah paham bagaimana maksudmu?!" suara Seruni mulai agak keras.

"Aku tak bisa menceritakan di sini. Aku perlu bertemu dengan Eyang Gurumu itu biar urusan jadi terang!"

"Kau makin berbelit-belit!" hardik Seruni, lalu menyambung. "Pesan Eyang Guru, jika lembaran kulit tak di tanganku, maka sebagai gantinya adalah kepalamu! Kau tinggal pilih!"

"Kalau orang lain yang mengucapkan katakata itu, sudah kupecahkan mulutnya. Sayang yang keluarkan kata-kata adalah kau!" ujar Peri Kupu-kupu sedikit agak keras. Hati perempuan tua ini nampaknya juga mulai geram mendengar kata-kata Seruni.

Seruni tersenyum dingin. "Apa bedanya aku dengan orang lain? Hah?! Kau bukan sanak kerabatku. Aku pun tak punya tali darah denganmu!"'

"Seandainya kau tahu, mungkin kau tak akan berkata begitu, Seruni. Kau tak tahu! Di antara kita sebenarnya masih ada pertalian darah!"

"Kau jangan mengada-ada, Tua Bangka! Alasanmu tidak masuk akal!" seru Seruni meski dadanya tiba-tiba merasa sesak. Berbagai perasaan kembali melanda hatinya.

"Sekarang kau boleh mengatakan sesukamu. Karena masalahnya memang belum jelas benar. Namun aku yakin, jika Eyang Gurumu mengatakan begitu, berarti di antara kita masih ada pertalian darah! Kelak semuanya akan jelas!"

Sejurus Seruni terdiam.

"Boleh aku tahu, siapa orangtuamu?!" tanya Peri Kupu-kupu.

Ucapan Peri Kupu-kupu membuat Seruni terkejut bukan main. Parasnya berubah seketika. Kepalanya perlahan-lahan bergerak tengadah. Sebenarnya gadis ini menahan agar air matanya tidak jatuh. Namun rupanya perasaan galau begitu kuat menekan perasaannya. Hingga tak lama kemudian bahunya berguncang lalu dia sesenggukan, membuat Peri Kupu-kupu terperangah kaget. "Heran. Kenapa dengan gadis ini? Tersing-

gung dengan ucapanku? Tapi rasa-rasanya aku tidak mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan. Aku hanya bertanya tentang kedua orangtuanya.... Hem...," Peri Kupu-kupu diam untuk beberapa lama seolah menunggu si gadis menguasai diri.

Tiba-tiba Seruni sentakkan kepalanya menghadap Peri Kupu-kupu. Sepasang matanya yang sembab oleh air mata memandang tajam lurus ke wajah si nenek.

"Kalau kau benar-benar masih ada pertalian darah, berarti kau tahu siapa orangtuaku! Katakan padaku. Siapa mereka!"

Untuk kedua kalinya Peri Kupu-kupu terlengak oleh ucapan Seruni. Hingga untuk beberapa lama nenek ini terdiam gagu. Setelah beberapa saat baru Peri Kupu-kupu buka mulut.

"Seruni. Seperti kukatakan tadi, semuanya belum jelas benar. Kau tahu, selama ini sebenarnya aku tengah mencari ikatan darah yang tak terputus ini! Sekaligus untuk meluruskan kesalahpahaman. Jadi kalau aku belum bisa menjawab tanyamu bukan berarti aku mengada-ada dengan keteranganku!"

Seruni tidak menyambuti ucapan Peri Kupu-kupu, membuat nenek ini makin tak enak perasaannya.

"Seruni. Apakah kau benar-benar menginginkan kitab itu?!" tanya Peri Kupu-kupu mengalihkan pembicaraan untuk mengatasi kekakuan suasana.

Seruni tak buka mulut. Malah mengangguk atau menggeleng pun tidak. Membuat Peri Kupukupu jadi salah tingkah tak tahu harus berbuat apa, hingga akhirnya nenek ini berujar.

"Baiklah. Untuk sementara ini kita berpisah dulu. Namun perlu kau ingat baik-baik. Lembaran Kulit Naga Pertala yang asli tidak ada padaku. Kalau kau ingin menyelidik, harap kau tunggu sampai aku menemuimu lagi. Daerah ini adalah kawasan pinggir Sungai Siluman yang menuju Bukit Siluman. Sementara ini kau jangan jauh-jauh dari kawasan ini! Aku pergi sekarang "

Habis berkata. Peri Kupu-kupu berkelebat meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya tertahan tatkala didengarnya Seruni berseru.

"Tunggu!"

Peri Kupu-kupu urungkan niat. Tanpa berpaling pada Seruni dia berkata.

"Katakan kalau masih ada yang ingin kau utarakan!"

"Aku tak mengerti dengan semua ini. Ka-

lau "

"Seruni!" potong Peri Kupu-kupu. "Urusan

ini tidak akan bisa dimengerti tanpa hadirnya beberapa orang. Kalau kau ingin mengerti tunggulah seperti yang kukatakan tadi! Ingat! Jangan terburu-buru menuju Bukit Siluman sebelum bertemu denganku!"

Sebenarnya Seruni masih ingin bertanya banyak, namun ketika gadis ini balikkan tubuh. Peri Kupu-kupu ternyata sudah tidak ada di tempat itu lagi!

"Kenapa urusan jadi tak karuan begini? Mungkinkah ucapan orang tua itu benar? Ah, urusan mencari kedua orangtuaku belum kulakukan kini telah timbul masalah yang tak kumengerti...," Seruni menghela napas panjang. "Peri Kupu-kupu bilang lembaran kulit yang aslinya tidak ada padanya. Berarti yang ada padanya lembaran kulit palsu? Atau.... Ah, sebaiknya aku memang menunggu. Tapi aku akan menuju ke Bukit Siluman jika dia terlambat. Aku masih meragukan keterangannya! Siapa tahu dia mempunyai maksud lain di balik semua ini!"

Habis berkata begitu, Seruni arahkan pandangannya ke selatan. Dari sela-sela kerimbunan semak, dia dapat menangkap bunyi gemuruh seperti air terjun di telinganya yang asalnya dari Sungai Siluman. Padahal, permukaan airnya tenang saja!

ENAM

MATAHARI telah jatuh ke pangkuan kaki langit di ujung barat. Pada saat bersamaan, sang rembulan mulai bergerak naik menggantikannya, hingga walau malam telah menjelang, suasana masih sedikit terang.

Dalam keadaan begitu, kawasan Sungai Siluman nampak indah. Air sungai terlihat berkilatkilat tertimpa cahaya rembulan. Pohon-pohon besar kecil yang banyak tumbuh di pinggir sungai berubah menjadi kebiruan terkena pantulan warna air sungai.

Pendekar 108 sampai di kawasan Sungai Siluman setelah malam turun. Sewaktu berlari murid Wong Agung ini sengaja menempuh jalan berputar. Selain untuk menghilangkan jejak juga ingin melihat-lihat pemandangan indah kawasan yang dilaluinya. Hingga dia sampai di pinggir sungai ketika malam telah menjelang.

Sejenak Aji layangkan pandangannya kian kemari. Saat itu dia berada dua puluh tombak dari tepi sungai, di mana banyak tumbuhan kecil di sekitarnya.

"Hem.... Terpaksa aku harus menunggu sampai pagi. Untuk menuju bukit itu tentu membutuhkan perahu...," Aji luruskan pandangannya ke tengah sungai. Yang tampak hanyalah permukaan air.

"Menentukan mana Bukit Siluman pun amat sulit jika malam hari. Hem.... Aku terpaksa harus menunggu sampai pagi. Tapi itu lebih baik. Aku bisa menyiasati keadaan terlebih dahulu. Bukan tak mungkin telah banyak orang di sekitar kawasan ini " murid Wong Agung lalu melangkah

ke arah samping kanan lalu lurus hendak menuju pinggir sungai. Namun gerakan kakinya tertahan sewaktu tiba-tiba dari arah samping kiri terdengar suara tawa mengikik pelan.

Cepat Pendekar Mata Keranjang berpaling dengan mata dipentangkan lebar-lebar. Dari tempatnya berada, Pendekar 108 samar-samar melihat sesosok tubuh berdiri lima belas langkah darinya. Aji doyongkan tubuhnya ke depan lalu matanya dibuka semakin lebar memperhatikan orang itu.

"Hem.... Setan Pesolek...," gumam Aji begitu matanya dapat mengenali siapa adanya orang itu.

Tanpa pikir panjang lagi, murid Wong Agung ini bergegas mendekati. Tapi tinggal berjarak satu tombak sosok yang dikenal Aji, Setan Pesolek keluarkan suara, seraya gerakkan tangan pulang balik.

"Kau benar-benar menginginkan lembaran kulit itu Pendekar 108?!"

Murid Wong Agung palingkan wajah dengan dahi mengernyit. "Aneh. Suaranya seperti ditahan.... Apakah telingaku yang...," Aji tak dapat meneruskan kata hatinya karena pada saat bersamaan Setan Pesolek telah kembali mengulangi pertanyaannya.

"Karena tugas ini amat penting demi menyelamatkan dunia persilatan dari tangan orang-orang tidak bertanggung jawab, meski petunjuk yang dikatakan Peri Kupu-kupu masih belum bisa kupahami, aku akan tetap melangkah terus!"

Setan Pesolek gerak-gerakkan pinggang dan pinggulnya. Mata kirinya dikerdipkan. Di lain kejap dia kembali buka suara.

"Pendekar 108! Kau masih ingat petunjuk

itu?!"

"Tentu! Tiga tambahkan tiga dan seterus-

nya. Tiga langkah paling tengah. Naik, buka pintu lalu turun dan melangkah dua puluh satu." Setan Pesolek dengarkan kata-kata Aji dengan seksama.

"Bagus! Lembaran kulit itu memang harus diselamatkan agar rimba persilatan dapat tenang damai...," kata Setan Pesolek lalu tengadahkan kepalanya.

"Setan Pesolek   Sebenarnya selain aku be-

lum bisa memecahkan petunjuk itu, aku juga belum bisa memahami arti ucapanmu tempo hari. Kalau saja kau telah mengetahuinya. "

"Ucapanku yang mana. ?!"

"Kau bilang, melihat tabir penutup yang tak bisa ditembus dengan pandangan mata biasa. Dan kau bilang, mungkin kipasku bisa membukanya."

Setan Pesolek rapikan rambut dan wajah dengan jari-jari tangannya.

"Aku memperoleh firasat memang demikian. Dan sejauh ini aku belum bisa menafsirkan tabir apa itu. Kipas di tanganmu mungkin saja bisa membukanya. Tapi...," Setan Pesolek putuskan ucapannya.

"Tapi apa ?" sahut Aji.

"Coba kulihat kipasmu!"

Murid Wong Agung ambil kipas ungu 108 dari balik pakaiannya lalu diulurkan pada Setan Pesolek. Setan Pesolek ulurkan sebelah tangannya menyambuti kipas yang diulurkan Aji.

Sejurus kipas berwarna ungu itu ditimangtimang. Sepasang mata Setan Pesolek memperhatikan bentuk kipas bergurat angka 108 itu untuk beberapa lama. Lalu kepalanya menganggukangguk. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara 'Taarr-taarr-taarrr'! Beberapa kali.

Setan Pesolek cepat selipkan kipas ungu 108 ke balik jubahnya, lalu berkata.

"Nampaknya daerah sekitar sini tidak aman! Cepat menyingkir!" kata Setan Pesolek sambil dorong tubuh Aji hingga terjengkang. Lalu berkelebat tinggalkan tempat itu.

Murid Wong Agung buru-buru bangkit lalu berkelebat hendak menyusul Setan Pesolek. Namun pada saat bersamaan serangkum angin dahsyat menderu ganas menghantam ke arahnya, membuat Pendekar Mata Keranjang mencelat mental.

"Setan alas!" maki Aji sambil bangkit. Belum sampai tubuhnya tegak, sesosok tubuh berkelebat. Lalu terdengar suara 'Taaarrr! Taaarrr'!

Aji melihat kelebatan tali kuning yang memancarkan bunga api mengarah pada batok kepalanya. Murid Wong Agung ini cepat rundukkan kepala lalu membentak dan lepaskan pukulan 'Mutiara Biru'.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Sinar biru membersit dan mengembang menyebarkan hawa panas luar biasa. Karena geram, Aji lepaskan pukulan dengan kerahkan tenaga penuh.

Tali kuning yang ternyata sebuah bambu kuning langsung mental balik. Sosok orang yang menyabetkan bambu ikut terdorong ke belakang lalu jatuh terjengkang dengan keluarkan makian tak karuan. Orang ini merasakan tangannya bergetar keras, malah kalau tidak segera kerahkan tenaga dalam, mungkin bambu kuning di tangan kanannya akan jatuh! Orang ini cepat bangkit. Lalu usap-usap dadanya yang berdenyut nyeri.

Pendekar Mata Keranjang segera melesat ke depan. Lalu tegak dengan dagu membesi lima langkah di hadapan orang yang baru saja menyerangnya. Pemuda ini melihat seorang laki-laki setengah baya mengenakan rompi warna hitam. Tubuhnya kecil kurus. Rambutnya digelung ke atas. Paras wajahnya tirus mirip muka tikus. Di tangan kanannya tergenggam sebatang bambu kuning sepanjang tiga jengkal.

TUJUH

LAKI-LAKI setengah baya bersenjatakan bambu kuning dan bukan lain adalah Dewa Setan adanya memandang Aji dengan seringai ganas. Melihat senjata di tangan orang, Aji teringat pada kipasnya yang dibawa Setan Pesolek. Mendadak ada perasaan tak enak dalam hatinya. Namun segera dikubur dalam-dalam mengingat telah tahu siapa Setan Pesolek adanya. Tidak mungkin orang seperti Setan Pesolek menipu dan melarikan kipasnya. Berpikir sampai di situ, hati murid Wong Agung kembali tenang.

"Siapa kau? Dan kenapa tiba-tiba menyerangku?!" bentak Aji memecah kebisuan sambil memperhatikan orang dengan seksama. Aji merasa belum pernah bertemu dengan orang di hadapannya. Sebaliknya Dewa Setan telah tahu siapa Aji. Hal ini terjadi sewaktu Aji terlibat bentrok dengan Hantu Berjubah. Karena saat itu Aji terluka, dia tidak tahu jika tiga orang yang datang menghadang Hantu Berjubah salah satunya adalah Dewa Setan. Dewa Setan tengadahkan kepala. Bambu kuning di tangannya ditempelkan ke mulutnya mengeluarkan bunyi merdu seperti suling ditiup beberapa kali keras menusuk gendang telinga.

"Pendekar 108! Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang pasti aku datang untuk menjemput nyawamu!"

Aji tertawa panjang. "Kau sudah pasti datang ke orang yang salah! Jangan-jangan kedatanganmu hanya untuk mengantar nyawa!"

Dewa Setan ikut-ikutan keluarkan tawa. "Aku tidak pernah salah apalagi gagal mencabut nyawa orang yang kuinginkan!"

"Tapi tidak untuk kali ini! Sekarang justru kau datang pada orang yang akan membetot selembar nyawamu!"

Dewa Setan makin keraskan tawanya mendengar kata-kata Aji. Tiba-tiba suara tawanya diputus. Matanya membeliak besar.

"Tanganku akan bicara jika aku tak salah pilih orang untuk mampus!"

"Matamu saja salah pilih orang, apalagi tanganmu! Ha.... Ha.... Ha. Jangan-jangan bicaramu

sebagai isyarat bahwa kau tak lama lagi menutup mata!"

"Setan alas! Kukuliti kulit kepalamu!" Taaarrr! Taaarrr!

Tangan kanan Dewa Setan berkelebat. Bambu kuning itu keluarkan suara mendesing dan memperlihatkan lidah api tatkala melesat ke arah Aji. Sementara tangan kirinya langsung bergerak mendorong, hingga saat itu juga angin deras menggebrak.

Murid Wong Agung mundur dua langkah. Kedua tangannya diangkat ke atas. Lalu dikembangkan dan didorong dengan kerahkan tenaga penuh.

Untuk kedua kalinya dari kedua telapak tangan Aji melesat sinar biru disertai hawa panas menggebrak.

Terdengar letupan keras. Namun karena sudah waspada, sebelum letupan terjadi Dewa Setan melesat ke udara. Dan masih merasakan tangannya bergerak ketika bambunya mental. Tapi dia cepat kerahkan kembali tenaga dalamnya dari atas bambu kembali disabetkan ke bawah.

Breeettt! Wuuuttt!

Begitu cepatnya lesatan bambu kuning, meski Pendekar Mata Keranjang telah bergerak cepat dengan gulingkan tubuh di tanah, namun tak urung juga ujung bambu membabat bahu kanannya. Tapi Aji tak peduli. Dia teruskan gulingan tubuhnya. Pada gulingan ketiga dia berbalik dan hantamkan tangannya.

Sinar biru membersit dengan membawa hawa panas. Dewa Setan yang melayang turun keluarkan suara tegang. Dia sentakkan tubuhnya untuk membuat gerakan berputar di udara. Namun tubuh bagian bawahnya masih tersambar pukulan 'Mutiara Biru' yang dilepas Pendekar Mata Keranjang, hingga tubuhnya terbanting di udara lalu melayang lurus ke bawah dengan derasnya. Murid Wong Agung tak mau buang kesempatan. Sebelum sosok Dewa Setan menyentuh tanah, Aji melesat ke depan. Tangan kirinya bergerak menghantam ke arah tangan Dewa Setan yang memegang bambu.

Bukkk!

Kembali terdengar seruan keras dari mulut Dewa Setan. Tangan kanannya mental ke belakang dan bergetar keras. Di kejap lain bambu kuning itu mencelat lalu jatuh di sebelah sebatang pohon sepelukan orang dewasa. Selagi tubuh lawan terhuyung-huyung Aji lepaskan lagi tinju kanannya ke arah dada lalu disusul dengan tangan kiri ke arah perut.

Bukkk! Bukkk!

Tubuh Dewa Setan terlipat ke depan. Saat itulah kaki kiri Pendekar Mata Keranjang melesat. Kepala Dewa Setan tersentak ke kanan, kejap kemudian tubuhnya terbanting dengan derasnya di atas tanah! Sosok Dewa Setan sejenak bergetar keras, namun tak lama kemudian diam kaku!

Pendekar 108 menarik napas berulangkali. Lalu berpaling pada bahunya. Sejurus sepasang matanya mendelik. Pakaian di bagian bahu robek dan kulit di baliknya mengelupas. Aji cepat hentikan aliran darah di sekitar lukanya. Lalu salurkan hawa murni untuk menangkal racun dari bambu yang sempat menggores bahunya.

Saat itulah mendadak terdengar suara keras menegur.

"Jahanam Mata Malaikat! Kau kira bisa lolos dari mataku, hah?!"

"Mata Malaikat?! Siapa yang dipanggil Mata Malaikat?!" batin Aji seraya cepat menoleh ke arah datangnya suara.

Dari sela pohon, sesosok tubuh berkelebat. Di lain saat sosok tersebut telah tegak delapan langkah di hadapan Aji. Menahan kejut, kedua mata Pendekar Mata Keranjang mendelik perhatikan orang di hadapannya.

"Edan! Bagaimana mungkin dia bisa memanggilku Mata Malaikat?! Atau mata orang ini sudah lamur?!" Aji sunggingkan senyum sambil usap-usap hidungnya lalu berkata.

"Utusan Iblis! Siapa yang kau maksud dengan Mata Malaikat?"

Orang di hadapan Aji yang bukan lain ternyata Utusan Iblis keluarkan dengusan keras dan seringai garang.

"Kau jangan banyak mulut! Terimalah kematianmu sekarang juga, Mata Malaikat!"

"Gila! Jangan-jangan ini perbuatan orang tua itu! Pantas dia mengatakan pemuda ini sebenarnya mencariku! Benar-benar edan! Orang tua itu mencelakakanku! Bagaimana sekarang?!" kata murid Wong Agung dalam hati sambil cengarcengir. Namun sebenarnya hatinya geram pada orang tua yang sempat ditemuinya beberapa waktu berselang. "Dengar, Utusan Iblis! Aku bukan " "Teruslah bicara. Tapi jangan harap aku percaya!" tukas Utusan Iblis. Pemuda ini arahkan pandangannya pada sosok Dewa Setan sejenak lalu tersenyum dingin.

"Baik. Sekarang aku tanya padamu. Siapa yang memberitahukan padamu jika aku Mata Malaikat?!"

Utusan Iblis tertawa bergerai. "Manusia macam kau memang suka sandiwara! Tapi jangan khawatir, di alam kubur nanti kau masih bisa sandiwara!"

"Hem   Kau tak jawab tanyaku. Berarti kau

yang main sandiwara di hadapanku. Teruskan! Aku ingin lihat bagaimana kelanjutan sandiwaramu! Jika bagus, aku bisa membawamu ke pentas! Siapa tahu kau bibit yang terpendam!"

"Keparat! Setan busuk!" bentak Utusan iblis marah. "Ah, matamu kurang melotot. Seharusnya tanganmu mengepal dan diacungkan-acungkan. Lalu buat kepalamu berpaling sambil senyumsenyum! Itu baru bagus. Ingat waktu senyum kau bayangkan sedang melihat seorang nenek berdandan menor sedang telanjang bulat. Yakin, senyummu pasti mempesona!"

"Bangsat! Kuhancurkan mulutmu!" sentak Utusan Iblis dengan mata mendelik besar sementara dagunya mengembang, kedua tangannya dikembangkan.

"Bagus! Mimikmu sudah pas. Tinggal pengaturan nada suara! Sebaiknya suaramu dibuat setengah laki-laki separo perempuan!"

Utusan Iblis sudah tak dapat menahan marah. Kedua tangannya segera disentakkan ke depan.

"Hai.... Ini masih sandiwara kan?!" seru Aji sambil bergerak ke samping menghindari sambaran angin yang menyambar dari telapak tangan Utusan Iblis.

Utusan Iblis tak menyahut. Malah sambil melesat ke depan, kedua tangannya bergerak menghantam.

Belum sempat Pendekar Mata Keranjang membuat gerakan, kelebatan tangan telah sejengkal di depan hidungnya, membuat mau tak mau murid Wong Agung ini angkat kedua tangannya.

Prakkk! Bukkk!

Dua pasang tangan beradu keras. Namun pada saat bersamaan Utusan Iblis kirimkan tendangan tak terduga. Hingga tubuh Aji terpental lalu terhuyung-huyung sambil memegangi lambungnya.

"Hai.... Dalam sandiwara tidak ada yang sungguhan begini! Atau kau "

Belum sempat Pendekar 108 teruskan ucapannya, Utusan Iblis telah keluarkan bentakan keras. Lalu kedua tangannya menghantam ke depan, kali ini lepaskan pukulan jarak jauh tangan kosong yang telah dialirkan tenaga dalam.

Melihat pukulan lawan, secepat kilat murid Wong Agung hantamkan kedua tangannya. Sesaat kemudian terdengar ledakan. Namun saat itu Aji merasakan tubuhnya laksana tersedot tenaga kuat ke depan. Hingga huyungan tubuhnya bukan ke belakang, melainkan ke depan! Baru saja Aji hendak hantamkan pukulan 'Mutiara Biru', tiba-tiba pinggangnya terasa ditelikung tangan. Pendekar Mata Keranjang urungkan niat lepaskan pukulan dan segera pukulkan kedua tangannya ke arah tangan yang menelikung pinggangnya. Tapi baru setengah jalan, tangan yang menelikung telah bergerak. Tubuh Aji terangkat lalu berputar dan di lain saat telah deras menukik ke bawah lalu terbanting dengan punggung terlebih dahulu!

Bukkk!

Aji mengeluh tinggi. Namun segera bangkit. Namun gerakan tubuhnya tertahan tatkala tibatiba sebuah kaki terbungkus jubah merah sampai lutut ditekankan ke dadanya, membuat murid Wong Agung rebah kembali dengan dada sesak dan mulut megap-megap

Suara tawa keras segera terdengar, membuat dada Aji makin sesak, karena kaki di dadanya makin keras menekan dan berguncang-guncang mengikuti nada suara tawa.

"Keparat! Turunkan kakimu!" teriak Pendekar Mata Keranjang sambil hantamkan tangan kanan kiri ke arah kaki yang menginjak dadanya.

Suara tawa terputus. "Kau teruskan gerakan tanganmu, dadamu jebol!" ancam Utusan Iblis seraya tekankan kakinya lebih keras, membuat Aji urungkan niat dan makin megap-megap sukar bernapas. Tak hanya sampai di situ. Begitu tangan Aji tak jadi memukul, Utusan Iblis cepat angkat kaki satunya lalu ditekankan pada tangan Aji. Hingga selain megap-megap, Pendekar 108 tak bisa menggerakkan tubuh bagian samping.

Utusan Iblis pandangi Aji dengan tersenyum mengejek. Lalu berkata, "Mata Malaikat! Nyawamu tinggal beberapa saat lagi. Jawab tanyaku. Apakah ini kawasan Sungai Siluman yang menuju Bukit Siluman?!"

"Jahanam! Turunkan kakimu dulu. Aku tak bisa bernapas!" teriak Aji dengan suara parau tersendat.

Utusan Iblis kurangi tekanan kakinya pada dada Aji, namun kaki itu tetap di atas dadanya. "Sekarang jawab tanyaku!"

"Kau tadi tanya apa?!"

"Setan keparat! Kau tidak tuli! Jawab atau kujebol dadamu!" hardik Utusan Iblis mulai marah lagi.

"Sebelum kujawab, dengar dulu. Aku bukan Mata Malaikat! Kau telah ditipu orang!"

"Jangan banyak bacot! Jawab yang kutanya!"

Pendekar Mata Keranjang menghela napas dalam sebelum akhirnya berkata. "Menurut orangorang, ini memang kawasan Sungai Siluman. Soal Bukit Siluman aku tak tahu!"

"Hem.... Begitu? Jawaban tepat meski aku tahu kau berdusta! Mata Malaikat! Bersiaplah untuk mampus!" habis berkata begitu, Utusan Iblis angkat kedua tangannya.

"Tahan! Jika kau salah turunkan tangan, jangan menyesal jika rohku akan gentayangan mencarimu sekaligus membalas atas tindakanmu!" cegah Aji dengan tubuh bergetar dan suara sember.

Utusan Iblis tertawa mengekeh. "Aku Utu-

san Iblis. Tak ada bangsa roh atau manusia yang sanggup menghadangku! Kau dengar itu?!"

"Tapi kau akan menyesal karena orang yang kau bunuh bukan orang yang kau cari! Bagiku, mati tidak apa. Tapi bagimu, orang yang berkepandaian tinggi apakah tidak malu jika sampai salah bunuh. Jika Mata Malaikat tahu semua ini, ditaruh di mana mukamu?!"

Utusan Iblis terdiam. Kedua tangannya perlahan-lahan diturunkan. Melihat hal ini Aji lanjutkan ucapannya. Namun sebelum kata-katanya terdengar, Utusan Iblis telah mendahului.

"Hem   Berarti kau kenal dengan Mata Ma-

laikat!"

Aji meringis tak tahu harus menjawab bagaimana. Utusan Iblis tekankan kakinya lebih keras. Mungkin karena tak tahan merasa sesak, akhirnya Aji berkata sekenanya. Karena saat itu yang terlintas adalah wajah Peri Kupu-kupu, maka dia berujar.

"Sebenarnya. "

"Sebenarnya apa?!"

"Aku memang mengenalnya. "

Utusan Iblis menyeringai, lalu membentak. "Katakan bagaimana orangnya!"

"Dia adalah seorang nenek berjubah kembang-kembang. Rambutnya ditata mirip sayap yang tengah terkembang!"

Utusan Iblis tengadahkan kepala. Lalu memandang Aji dan berkata. "Keteranganmu mungkin benar...," Aji menarik napas lega dan tersenyum, namun senyumnya pupus seketika saat didengarnya Utusan Iblis teruskan ucapannya. "Namun karena kau telah berani berkata dusta beberapa waktu lalu, maka kau tetap harus mampus! Lagi pula siapa tahu kau memang Mata Malaikat yang mengalihkan nama pada orang lain! Biar kelak tak ada rasa kecewa, kau juga harus mendahului mampus!"

"Tunggu!" seru Pendekar 108. Namun Utusan Iblis tak lagi menghiraukan seruan Aji. Kedua tangannya diangkat dan serta-merta dihantamkan ke arah Aji.

Karena tak bisa lagi mengelak, akhirnya Pendekar Mata Keranjang hanya pejamkan sepasang matanya menunggu maut menjemput nyawanya.

Sejengkal lagi hantaman kedua tangan Utusan Iblis yang telah dialiri tenaga dalam itu meremukkan kepala Aji, tiba-tiba terdengar seru dahsyat. Di lain kejap tubuh Utusan Iblis laksana disapu gelombang hingga terhuyung dan terjengkang duduk.

Rahang Utusan Iblis langsung menggembung besar, matanya merah laksana dikobari api. Kedua tangannya cepat dipukulkan ke arah mana deruan dan sapuan angin datang.

Wuuuttt! Wuuuttt! Praaasss!

Semak-semak lebat yang banyak berada di sekitar tempat itu langsung rata laksana dipangkas pisau tajam. Serpihannya langsung berhamburan ke udara berubah lembut lalu terbang dibawa angin malam.

Namun ditunggu hingga beberapa saat tidak muncul juga seseorang, membuat Utusan Iblis marah lalu berteriak.

"Jahanam siapa pun adanya, keluarlah!

Aku Utusan Iblis!"

Tak ada sahutan. Namun sesaat kemudian rimbunan tumbuhan lima belas kaki di samping Utusan Iblis bergoyang-goyang dengan keras. Utusan Iblis cepat putar tubuh setengah lingkaran lalu kedua tangannya untuk kedua kalinya menghantam.

Wuuuttt! Praaasss!

Rimbunan semak-semak terabas rata sampai pangkalnya. Namun kembali Utusan Iblis dibuat marah. Dari bekas tumbuhan itu dia tak melihat siapa-siapa!

Mungkin penasaran, Utusan Iblis segera melesat ke arah kerimbunan semak. Dari situ tibatiba dia samar-samar menangkap suara tawa perlahan yang seperti datang dari tempat agak jauh. Sejenak Utusan Iblis terpaku mendengarkan. Setelah dapat menyiasati arah datangnya suara, tanpa pikir panjang lagi dia berkelebat sambil berteriak.

"Kau berani mempermainkan Utusan Iblis.

Kau cari mampus!"

Pada saat Utusan Iblis berkelebat mengejar orang, Aji segera bangkit. Baru saja tegak terdengar suara pelan menegur.

"Aji! Mengapa masih bengong mirip orang bodoh. Ikuti aku!"

"Eyang...," gumam Pendekar Mata Keranjang mengenali panggilan dan suara gurunya. Dia segera berpaling. Dia hanya sekilas menatap berkelebatnya sesosok bayangan. Yakin bahwa itu Eyang Gurunya si Wong Agung, Aji cepat putar tubuh lalu berkelebat ke arah mana sang bayangan berkelebat.

* * *

Kita tinggalkan dulu Utusan Iblis yang berkelebat mengejar orang yang diduga telah mempermainkannya, juga berkelebatnya Aji menyusul bayangan yang diduga Eyang Gurunya. Kita kembali pada Setan Pesolek yang berkelebat sambil membawa kipas ungu 108 milik Aji karena tibatiba terdengar suara bergeletarnya bambu kuning.

Pada suatu tempat yang agak jauh dari tempat pertemuannya dengan Aji, Setan Pesolek hentikan larinya. Sejenak kepalanya berputar ke sana kemari. Sepasang matanya yang bulat tajam liar memperhatikan tempat di sekitarnya. Seraya menarik napas panjang dia mengusap keringat yang membasahi lehernya. Sesungging senyum menyeruak di bibirnya. Laki-laki ini lantas bergumam sendiri.

"Seharusnya pemuda tadi langsung kuhantam dadanya biar segera mampus. Tapi... Ah, itu akan membuatnya curiga dan tak menghiraukan Dewa Setan. Dan bukan tak mungkin akan mengejarku. Kurasa Dewa Setan akan berhasil membuatnya ke akhirat. Kalaupun tak berhasil, kipas ini telah jatuh ke tanganku. Lebih dari itu aku akan segera mendapatkan Lembaran Kulit Naga Pertala. Petunjuk itu telah kuperoleh meski belum bisa kujabarkan.... Hem.... Sebentar lagi kitab itu di tanganku. Hik.... Hik,... Hik...! Rimba persilatan akan geger! Dan aku akan jadi tokoh tanpa tanding. Hik.... Hik.... Hik...!"

Perlahan-lahan laki-laki ini angkat kedua tangannya ke atas. Dari batas keningnya tangannya disentakkan.

Seettt! Seettt!

Terdengar seperti suara robek. Tangan si lelaki terus bergerak ke belakang. Sampai tengkuk kembali tangan itu menyentak. 'Seeettt'!

Di tangan si kakek tampak rambut tergerai. Dia lalu menggoyang kepalanya. Kejap lain terlepas rambut hitam berkepang dua. Rambut itu panjang dan hitam! Si Laki-laki campakkan rambut di tangannya, lalu tangan itu kembali diangkat ke atas. Dari bawah janggut tangan itu menyentak perlahan. Lantas bergerak ke atas membuka kulit tipis yang menutup wajahnya.

Ketika kulit penutup itu terbuka, jelaslah wajah di balik kulit yang baru saja terbuka. Ternyata dia adalah seorang perempuan berparas cantik. Bibirnya merah dengan bulu mata lentik dan mata bulat tajam.

Perempuan ini kemudian tanggalkan pakaian! Di baliknya tampaklah pakaian warna putih tipis dan ketat membungkus tubuh sintal yang bagian dadanya sedikit dibuat rendah menampakkan sebagian sembulan buah dadanya yang kencang.

Sejenak perempuan berbaju putih goyanggoyangkan kepalanya.

"Hem.... Sebentar lagi pagi akan datang. Aku akan cari tempat untuk istirahat sambil memikirkan petunjuk itu...," gumamnya seraya tersenyum. Tangannya bergerak meraba ke arah pinggang. Saat tangannya bisa merasakan sembulan kipas, dia menarik napas dalam. Perempuan berparas cantik dan bukan lain adalah Bidadari Penyebar Cinta ini putar kepalanya sekali lagi, lalu berkelebat tinggalkan tempat itu dengan bibir tersenyum.

DELAPAN

SESAAT setelah Bidadari Penyebar Cinta berkelebat lenyap sesosok bayangan muncul di tempat itu. Sepasang mata sosok ini menyapu berkeliling. Kepalanya bergerak berpaling ke samping kanan dan kiri.

"Hem.... Aku masih membaui harumnya tubuh seorang perempuan.... Pasti orangnya cantik. He.... He.... He...!" gumamnya lalu buka mulut lebar-lebar. "Seandainya aku masih muda, pasti dia kukejar. Sayang.... Tubuhku sudah tak kuat lagi untuk urusan-urusan demikian, padahal sebenarnya hatiku masih ingin.... Ah, mungkin masaku sudah memasuki zaman semangat kuat tenaga kurang "

Orang ini lantas sentakkan kepalanya ke arah bawah. Tubuhnya dibungkukkan lalu tangannya terulur mengambil rambut berkepang dua yang tergolek di bawahnya.

Rambut itu didekatkan ke hidungnya dengan sepasang matanya dibeliakkan. "Rambut palsu.... Tapi baunya harum. Aneh. Dunia makin lama makin dipenuhi hal aneh-aneh. Sudah punya rambut masih juga menggunakan rambut palsu. Jangan-jangan itunya orang nanti juga dipalsu! Edan! Bagaimana rasanya kalau lagi ketemu yang palsu begitu? Ngeri...," orang itu terus bergumam sambil tertawa sendirian, tanpa melepas rambut berkepang dua itu. Pandangannya ditujukan lagi ke tanah.

"Hem.... Pakaian bagus! Harum lagi...! Pemiliknya sudah pasti perempuan yang amat cantik. Sayang, aku tak melihatnya. Apalagi mendapatkannya. Tapi..., mendapatkan pakaiannya pun cukup baik. Toh, bau harum tubuhnya masih tertinggal.... Peduli amat dengan anggapan orang terhadapku nanti. Biar mereka kebingungan melihat seorang kakek mengenakan pakaian perempuan...," orang itu ternyata adalah seorang kakek berpakaian kulit ular dan bukan lain adalah Mata Malaikat segera mengenakan pakaian perempuan itu. Malah rambut hitam panjang dan berkepang dua itu pun dikenakannya pula.

"He.... He.... He...! Tampangku mungkin sedikit keren. Bau tubuhku pun harum. Siapa tahu berbekal temuan ada nenek-nenek atau gadis cantik yang tiba-tiba tertarik padaku..."

Tiba-tiba Mata Malaikat tengadahkan kepalanya. Matanya memandang ke arah sebelah timur. Nun jauh di atas langit sana cahaya kemerahan telah tampak, berarti pagi akan segera tiba. Namun mesti pandangan si kakek ke arah pemandangan indah di bentangan langit sebelah timur tapi sebenarnya bukan itu yang membuatnya tertegun untuk beberapa saat. Tapi telinganya yang sayup-sayup mendengar suara nyanyian yang sebenarnya membuat kakek ini terkesima.

"Pagi-pagi begini sudah ada orang bersenandung. Hem.... Senandung kasmaran lagi. Dan dapat kupastikan itu suara seorang perempuan! Jangan-jangan Peri Sungai Siluman.... Hai....

Mungkin peri itu sedang mandi. Ah, aku akan ke sana. Siapa tahu aku bisa mencuri pakaiannya, lalu...," Mata Malaikat buka mulutnya makin lebar lalu berkelebat ke arah datangnya suara senandung.

"Sial!" umpat Mata Malaikat dalam hati begitu mendekam di balik rimbunan semak-semak dan dari sini ternyata dia melihat seorang gadis berparas cantik mengenakan pakaian warna kuning muda sedang duduk bersandar pada sebatang pohon agak besar sambil bersenandung.

"Kukira sedang mandi...," Mata Malaikat terus mengomel sambil matanya tak berkedip memperhatikan ke arah si gadis.

"Biar aku laki-laki dan sudah kakek-kakek, namun aku bisa menyelami perasaan anak itu. Sepertinya dia sedang jatuh cinta.   Orang lagi ke-

tiban cinta memang tingkah lakunya jadi berubah. Dia lebih senang berteman dengan sungai, angin, tumbuhan daripada berteman dengan orang selain kekasihnya. Gilanya lagi dia lebih percaya pada angin, burung-burung dan ikan sebagai tempat curahan hati! Edan Cinta memang edan! Astaga.

Kenapa aku sampai ikut memikir ke sana. Lebih baik aku mencari pemuda itu. Kasihan kalau dia sampai ketemu dengan pemuda bergelar Utusan Iblis itu. Aku akan mengatakan yang sesungguhnya, bahwa aku bersalah telah mengatakan bahwa Mata Malaikat adalah dirinya. Aku akan minta maaf dan "

Bisikan hati Mata Malaikat terputus tatkala dari arah belakangnya berdesir angin. Mata Malaikat telah dapat menduga bahwa ada orang di belakangnya. Namun dia tak segera berbalik. Karena matanya yang memandang lurus ke depan sudah tidak melihat sosok si gadis, kakek ini dapat menebak siapa adanya orang di belakangnya.

"Anak gadis! Mau menyanyi lagi?!" Tak terdengar sahutan. Mata Malaikat lalu berkata lagi.

"Nyanyianmu bagus! Boleh tahu, siapa orang yang beruntung mendapat cintamu?!"

Lagi-lagi tak ada sahutan, membuat Mata Malaikat balikkan tubuh. Sepasang mata kakek ini membelalak. Mulutnya makin menganga. Enam langkah di hadapan si kakek tegak seorang perempuan setengah baya. Mukanya mengenakan bedak putih agak tebal. Bibirnya merah mencorong. Rambutnya dikepang dua. Perempuan ini mengenakan pakaian warna hijau.

"Kakek kurang ajar! Rupanya kerjamu tukang intip, ya! Jangan-jangan kau orangnya yang suka ngintip orang mandi! Sepasang matamu pantas dibuang agar tak bisa melihat!"

"Celaka! Aku betul-betul ketiban sial hari ini! Sudah tidak melihat bidadari mandi malah mendapat tuduhan tak karuan...," gumam Mata Malaikat. Sesaat kemudian kakek ini perdengarkan suara tawa ngakak, membuat perempuan setengah baya itu kernyitkan dahi.

"Orang sinting! Siapa kau?!" bentak si perempuan berambut kepang dan bukan lain adalah Kamaratih. Seorang tokoh rimba persilatan yang telah lama menghilang dan kini muncul kembali mencari Manusia Neraka, guru Drupadi.

Mata Malaikat perlahan-lahan bangkit. Merapikan pakaian temuannya lalu berkata.

"Orang cantik! Tua bangka sinting sepertiku ini tak layak sebutkan nama di hadapanmu. Kau boleh memanggilku apa saja! Don Yuan boleh, Mata Bongsang boleh. Asal tidak yang bermakna burung-burung Kau mengerti maksudku bukan?"

Kamaratih pasang tampang geram meski dalam hatinya geli. Dia sekali lagi memperhatikan. Keningnya tiba-tiba berkerut, membuat bedak putihnya merekat. "Rambut putih, mata aneh. Dalam rimba persilatan hanya satu orang yang mempunyai ciri-ciri demikian " 

"Orang tua! Bukankah saat ini aku sedang berhadapan dengan dedengkot rimba persilatan bergelar Mata Malaikat?!"

Mata Malaikat doyongkan tubuhnya sedikit ke depan dengan sepasang mata dipejamkan. Lalu berkata sambil tarik pulang kembali tubuhnya.

"Dan bukankah gadis cantik di hadapanku ini adalah seorang tokoh dunia persilatan bernama Kamaratih?!"

Disebut gadis cantik, Kamaratih senyumsenyum. Sementara Mata Malaikat tak lagi keluarkan suara

"Sobatku, Mata Malaikat!" kata Kamaratih setelah agak lama keduanya tak ada yang buka suara. "Kulihat hari ini kau lain dari dulu-dulu. Gerangan apa yang membuatmu berubah. Janganjangan kau terpikat pada seorang nenek!"

Mata Malaikat perhatikan dirinya. "Hem....

Mungkin gara-gara pakaian ini yang dikatakannya aku jadi berubah! Setan betul!" maki Mata Malaikat dalam hati lalu tertawa bergelak.

"Kamaratih. Sebenarnya maksud hati memeluk gunung tapi apalah daya tanganku cuma segini!" ujar Mata Malaikat sambil ulurkan tangannya ke depan. "Lagi pula pada tua bangka bau tanah begini siapa yang mau? Jangankan neneknenek, kambing pun terbirit-birit kudekati! Padahal peliharaanku manggung pun sudah tak mampu "

Paras wajah Kamaratih jadi agak merah mendengar ucapan Mata Malaikat. Dalam hati perempuan setengah baya ini berkata. "Sudah tua bicaranya masih seperti masih muda dulu. Dasar laki-laki!"

"Eh.... Kau sendiri kulihat makin mencorong saja. Jangan-jangan justru kau yang lagi tersandung cinta. Siapa pemuda yang mampir di hatimu?!"

"Kau jangan menghina!" ujar Kamaratih meski hatinya senang dipuji oleh Mata Malaikat. "Ah. Kau jangan salah paham. Aku berkata

apa adanya. Kau kulihat makin cantik, makin bahenol. Pokoknya bertambah segalanya! Dugaanku pasti tak meleset. Kau lagi kasmaran bukan?!"

"Kali ini dugaanmu keliru, Mata Malaikat! Justru aku sedang mencari orang yang mengkhianati cintaku!"

"Untuk diajak berdamai?!"

Kamaratih tertawa perlahan. "Untuk dikirim ke akhirat!"

"Astaga! Mengapa urusan cinta bisa membawa-bawa akhirat? Walah, cinta ternyata kejam juga, ya!"

"Tergantung orang yang menjalaninya. Kadang-kadang cinta bisa membuat orang merasakan sejuta bahagia sejuta pesona. Namun tak jarang cinta juga membuat orang mengalami sejuta nestapa sejuta derita! Konyolnya, aku mengalami yang kedua!"

"Hem.... Kau bilang mencari orang yang mengkhianati cintamu. Mengapa ke sini? Apakah orang itu tinggal di sekitar sini?!"

"Dia tidak tinggal di kawasan ini. Namun aku yakin, dia pasti akan datang ke sini! Aku akan menunggu sampai dia datang!"

Mata Malaikat palingkan wajahnya ke jurusan lain. "Hem... Berarti akan makin banyak orang di sekitar kawasan ini.... Pasti ini ada hubungannya dengan pemburuan lembaran kulit itu!" katanya dalam hati. Lalu dia berkata.

"Kamaratih. Apa yang menyebabkan kau yakin orang itu akan datang ke tempat ini?!" Kamaratih tengadahkan kepala lalu kelua-

rkan deheman panjang, membuat Mata Malaikat berpaling dan memperhatikannya.

"Sobatku, Mata Malaikat! Aku tahu, pertanyaanmu hanya pura-pura saja. Tapi pertanyaanmu akan kujawab. Dia adalah seorang tokoh dari rimba persilatan. Saat ini dunia persilatan sedang ribut masalah Lembaran Kulit Naga Pertala yang diduga orang masih tersimpan di Bukit Siluman. Siapa saja pasti saat ini menginginkan lembaran kulit itu. Dan satu-satunya jalan menuju Bukit Siluman adalah kawasan ini. Jelas?!"

Mata Malaikat sentak-sentakkan kepalanya ke bawah, pertanda dia mengerti akan ucapan Kamaratih. Kamaratih turunkan wajahnya lalu menyambung kata-katanya.

"Kau sendiri di sini kenapa? Menginginkan juga lembaran kulit itu?!"

Mata Malaikat buka suara.

"Urusan tetek bengek soal lembaran kulit, bagi tua bangka sepertiku ini bukanlah suatu yang berharga. "

"Begitu? Lalu apa kerjamu di sini? Mengintip orang?! Sobat, kalau hanya ingin melihat tubuh, bagaimana kalau kutunjukkan diriku saja? Dengan syarat, kau hanya boleh melihat tanpa boleh memegang! Mau...?!" kata Kamaratih sambil sunggingkan senyum dan geliatkan tubuhnya.

Mata Malaikat menjadi tergagu diam. "Setan betul! Dia benar-benar meledekku! Apa dikira peliharaanku benar-benar tak mampu manggung, hah?!" lalu kakek ini berkata.

"Kamaratih. Kau jangan menggoda tua bangka ini. Aku tak tahu dadamu bagus menggoda, pinggulmu besar mempesona. Tapi aku ragu "

"Ragu apa?!" tanya Kamaratih sambil terus menggoda dengan goyang-goyangkan pinggulnya.

"Aku takut punyamu palsu!"

Ucapan Mata Malaikat kontan membuat Kamaratih hentikan gerakan tubuhnya. Wajahnya jadi merah dan matanya mendelik.

"Kurang ajar! Meski aku sudah setengah baya, dan saat ini banyak orang memalsukan tubuhnya, aku tak akan ikut-ikutan perbuatan gila itu. Seluruh milikku masih asli!"

"Mana aku percaya sebelum "

"Sudah! Omonganmu makin ngelantur tak karuan!" putus Kamaratih, membuat Mata Malaikat tertawa bergelak-gelak. "Eh.... Kau belum jawab tanyaku. Kenapa kau berkeliaran di kawasan ini?!" tanya Kamaratih selanjutnya.

"Apa aku akan bicara soal ini padanya? Hem.... Tak apalah. Siapa tahu dia bisa memberi cahaya setitik ," pikir Mata Malaikat.

"Kamaratih. Sebenarnya aku sampai ke sini hanya terseret arus. Tujuanku sebetulnya adalah seperti kau. Mencari seseorang. Tapi kau lebih mujur. Karena telah tahu orangnya dan yakin akan datang ke sini. Sedangkan aku tidak demikian!"

"Maksudmu?!"

"Aku mencari orang yang wajahnya mungkin saat ini tak bisa kukenali lagi. Lebih dari itu tak bisa kupastikan apa dia akan datang ke sini atau tidak."

"Siapa namanya...?!"

Mata Malaikat terdiam sejenak seolah berpikir. Tak lama kemudian dia menjawab. "Saat lahir ke dunia dia bernama Panjalu. Entah jika sekarang sudah berganti. Bertahun sudah aku mencarinya. Namun karena wajahnya sudah tak kukenali lagi, aku jadi kerepotan!"

Kamaratih manggut-manggut. Perempuan berambut kepang ini kerutkan kening seolah ikut berpikir.

"Mata Malaikat! Kalau kau sampai bertahun-tahun mencarinya, tentu orang itu sangat berharga bagimu!"

"Lebih dari intan berlian. Karena dia adalah anakku!"

"Heran. Sebagai bapak, mengapa bisa tak mengenali anaknya?"

Mata Malaikat kembali tengadahkan kepala. Wajahnya nampak berubah agak murung. Setelah agak lama terdiam akhirnya dia berkata juga.

"Kau tak perlu heran. Sebab anak itu diculik orang semenjak berusia enam bulan! Yang patut diherankan, kenapa orang menculik anakku. Padahal aku merasa tak punya musuh! Semua orang rimba persilatan kuanggap sahabatku!"

Kamaratih ikut-ikutan tengadahkan kepala. Wajahnya pun tampak berubah seolah larut dalam derita yang dialami Mata Malaikat.

"Sobatku, Mata Malaikat. Meski kau tak mengenali anakmu, namun setidak-tidaknya kau bisa mengenali dari ciri-cirinya yang tidak mungkin dihilangkan. Apakah dia punya ciri-ciri tertentu?!"

Mata Malaikat manggut-manggut. "Memang. Meski aku tak mengenali wajahnya, aku masih yakin bisa menemukannya. Karena dia memang punya ciri tertentu yang tak bisa dihapus...," sejenak Mata Malaikat hentikan keterangannya, lalu melanjutkan. "Dia mempunyai tahi lalat hijau sebesar uang logam di lehernya!"

Tiba-tiba Kamaratih keluarkan seruan tertahan, membuat Mata Malaikat berpaling. Sejurus kakek ini menangkap perubahan pada wajah perempuan di hadapannya. Dengan dahi berdebar, dia berujar.

"Kamaratih. Wajahmu berubah. Ada apa?!" Kamaratih tidak segera menyambuti perta-

nyaan Mata Malaikat. Sebaliknya sepasang matanya memandang ke wajah si kakek seperti orang yang baru mengenal, membuat yang dipandang jadi salah tingkah.

Karena ditunggu agak lama Kamaratih tak juga buka mulut, akhirnya Mata Malaikat kembali ajukan pertanyaan. Seakan baru tersadar, Kamaratih kerjapkan sepasang matanya lalu berkata.

"Mata Malaikat. Aku rasa-rasanya pernah bertemu orang yang ciri-cirinya seperti kau sebut!"

Saking kaget bercampur gembira, sertamerta Mata Malaikat melompat ke depan. Kedua tangannya cepat memegang pundak Kamaratih, diguncang-guncang sambil berkata.

"Di mana? Kapan? Katakan!" Kamaratih gelengkan kepalanya, membuat Mata Malaikat nyengir dan perlahan-lahan tangannya turun. Bukan langsung ke bawah melainkan ke dada Kamaratih, membuat perempuan ini makin keras geleng-gelengkan kepalanya. Mata Malaikat jadi heran dan kernyitkan dahi. Dalam hati kakek ini membatin.

"Perempuan aneh. Ditanya menggeleng, tak ditanya makin menggeleng!"

"Mata Malaikat! Kau ini mau tanya apa mau meraba-raba!" tiba-tiba Kamaratih menegur karena dibiarkan makin lama tangan Mata Malaikat makin tak mau meninggalkan dada perempuan di hadapannya itu.

"Astaga!" keluh Mata Malaikat sambil sentakkan tangannya dari dada si perempuan lalu dikibas-kibaskan. Entah karena terbawa perasaan, tanpa sengaja kedua tangan kakek ini memegang dada Kamaratih hingga perempuan ini gelenggelengkan kepalanya.

"Jadi gelengan kepalanya tadi bukan karena tak tahu, tapi karena tak mau! Ha.... Ha.... Ha...! Dasar tangan tak punya mata!"

"Kamaratih. Maaf. Bukan kusengaja. Tapi dasar tangan tak bermata! Sekarang katakanlah, di mana dan kapan kau bertemu orang itu?!"

Kamaratih menguasai diri karena dadanya terasa berdebar-debar akibat pegangan kedua tangan Mata Malaikat yang tak disengaja tadi. Setelah agak lama baru dia berkata.

"Kapan dan di mana aku lupa. Yang pasti aku sempat beberapa kali bertemu dengannya. Dia bersama seorang perempuan cantik. Dalam rimba persilatan perempuan itu bergelar Bidadari Penyebar Cinta!"

Mata Malaikat terlonjak saking kagetnya, Dia buru-buru melangkah maju mendekati Kamaratih, namun kedua tangannya ditarik ke belakang, membuat Kamaratih tersenyum.

"Kau tidak bercanda, Kamaratih?!"

"Aku tahu mana urusan penting dan urusan canda!"

Mata Malaikat tepuk jidatnya. "Bodoh! Bodoh! Dasar otak butek!" makinya berulangkali.

"Hai! Ada apa dengan kau?!" seru Kamara-

tih.

"Aku harus pergi sekarang! Terima kasih

atas keteranganmu! Lain kali kita jumpa lagi dan omong-omong panjang lebar. Tapi sebelum aku pergi, ada sesuatu yang harus kau ketahui!" ujar Mata Malaikat dengan wajah sungguh-sungguh, membuat Kamaratih cepat bertanya.

"Tentang apa?!"

"Aku tadi berdusta padamu! Sebenarnya peliharaanku masih sanggup manggung! Kau boleh buktikan nanti setelah urusanku beres!"

Kamaratih mendelik dengan wajah merah. Kedua tangannya segera dipukulkan ke depan. Tapi yang dipukul telah berkelebat terlebih dahulu dengan meninggalkan tawa bergelak.

"Dasar tua bangka edan!" maki Kamaratih. "Lagi pula siapa percaya peliharaan kakek-kakek sepertimu masih bisa manggung?!"

Sejenak Kamaratih memandang ke arah berkelebatnya Mata Malaikat, setelah menarik napas dalam, dia pun berkelebat meninggalkan tempat itu.

SEMBILAN

KITA kembali pada Pendekar Mata Keranjang yang berkelebat menyusul gurunya, Wong Agung.

Pada suatu tempat agak jauh dari kawasan Sungai Siluman, orang yang berkelebat dahulu yang ternyata adalah seorang kakek berambut dan berjenggot putih panjang, mengenakan jubah putih, sepasang mata ditutup oleh sepotong kulit yang dilekatkan ke belakang kepalanya dan memang Wong Agung adanya hentikan larinya. Lalu putar tubuh dan duduk di tanah. Sepasang matanya memandang tajam ke depan, di mana tampak muridnya Aji berlari mendatangi lalu duduk lima langkah di hadapannya setelah terlebih dahulu menjura hormat.

"Eyang.... Dari mana kau tahu kalau aku berada di sini?!" tanya Aji, mengutarakan keheranannya.

"Hanya dugaan saja, Aji," jawab Wong Agung. "Dari selentingan berita, kudengar berita mengenal Bukit Siluman dan geger Lembaran Kulit Naga Pertala. Aku yakin, kau akan terlibat di dalamnya. Kau tahu, Bukit Siluman adalah tempat yang berbahaya. Oleh karena itu, aku buru-buru menyusulmu untuk memperingatkan agar kau lebih berhati-hati. Untung di tengah jalan aku bertemu dengan Gongging Baladewa dan Dewi Kayangan. Mereka memberitahukan di mana adanya kau...!"

Aji manggut-manggut dengan mulut cengar-

cengir.

"Siapa pemuda berjubah merah tadi?!" tiba-

tiba Wong Agung ajukan tanya setelah memandangi muridnya hingga beberapa lama.

"Dia bergelar Utusan Iblis!"

"Apa hubungannya dengan Mata Malaikat?!" kembali Wong Agung ajukan pertanyaan.

Aji sesaat terdiam. "Berarti dia telah agak lama di sekitar tempat perkelahian itu, karena dia tahu urusan Mata Malaikat," batin Aji menduga. Sebenarnya Wong Agung belum begitu lama berada di sekitar tempat Aji dari Utusan Iblis bentrok. Dia hanya sempat mendengar bagian terakhir percakapan Utusan Iblis yang menyebut-nyebut Mata Malaikat, lalu dia keburu mempermainkan Utusan Iblis untuk mengalihkan perhatiannya yang saat itu hendak turunkan tangan maut pada muridnya. "Eyang...," kata Aji pula. "Utusan Iblis men-

cari Mata Malaikat. Sialnya aku diduga adalah orang yang bergelar Mata Malaikat. Aku sendiri heran, siapa yang mengatakan hal itu!"

"Rimba persilatan dari dulu tidak berubah! Penuh dengan kelicikan serta saling lempar sembunyi tangan...," ujar Wong Agung seolah berkata pada dirinya sendiri. "Hem.... Kulihat di kawasan ini telah banyak orang berkeliaran. Kau harus waspada dan cepat bertindak, Aji!"

Pendekar Mata Keranjang manggutmanggut, meski hatinya saat itu mulai dirasuki perasaan khawatir tentang kipasnya yang dibawa Setan Pesolek. Pemuda ini hendak mengutarakan perasaannya pada sang guru, namun sebelum dia sempat berkata, si Wong Agung telah buka mulut lagi.

"Selama perjalananmu ini, apakah kau memperoleh sesuatu yang menyangkut lembaran kulit itu?"

"Benar, Eyang! Aku sempat bertemu dengan Setan Pesolek dan seorang nenek bergelar Peri Kupu-kupu. Mereka berdua memberikan petunjuk padaku. Hanya saja aku belum bisa mengartikan petunjuk itu!" Aji lalu mengatakan petunjuk yang dikatakan Setan Pesolek dan Peri Kupu-kupu.

"Dasar orang-orang aneh! Memberi petunjuk pun aneh-aneh...," gerutu Wong Agung setelah mendengar petunjuk yang dikatakan muridnya. "Aku juga tak bisa memecahkan petunjuk itu....

Tapi petunjuk itu kuyakin pasti benar jika yang mengatakannya adalah Setan Pesolek dan Peri Kupu-kupu! Aku tahu siapa adanya Peri Kupukupu!"

"Tapi, Eyang "

"Apa?!"

Aji sejenak bimbang, namun ketika dilihatnya Wong Agung memandangnya lekat-lekat, akhirnya Aji menceritakan pertemuannya dengan Setan Pesolek hingga Setan Pesolek pergi dengan membawa kipasnya.

"Celaka!" tiba-tiba Wong Agung mengeluh. "Ada yang tidak beres dalam hal ini!"

Ucapan Wong Agung membuat Aji terkejut besar. Dadanya berdebar keras. Malah keringat dingin mulai mengalir membasahi tubuhnya.

"Kau yakin betul orang itu adalah Setan Pesolek?!" tanya Wong Agung. Kali ini suaranya keras menusuk, membuat debaran dada Aji makin keras.

"Melihat ciri-cirinya aku yakin dia Setan Pesolek, Eyang!"

"Lalu apa yang dikatakannya padamu saat itu?!" tanya Wong Agung pula. Suaranya makin keras dan parau.

"Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya aku disuruh mengulangi petunjuk yang beberapa waktu sebelumnya dikatakan padaku!"

"Jelas sudah!" sahut Wong Agung seolah mengeluh.

"Apanya yang jelas, Eyang?!"

"Aji! Jelas jika kau dikibuli orang! Kau kecolongan dua hal besar, Aji! Kipas ungu 108 dan petunjuk itu!"

Telinga Aji laksana disambar petir di siang hari. Tubuhnya menggigil dengan mulut terkancing rapat. Sementara Wong Agung sendiri gelenggeleng kepala dengan mulut bergumam tak jelas, lalu berulangkali tampak menghela napas panjang dan dalam.

Untuk beberapa lama kedua orang murid dan guru ini sama-sama diam dengan dada dibuncah perasaan masing-masing.

"Hem.... Aku ingat sekarang," ucap Pendekar 108 dalam hati. "Saat itu keparat yang berkedok Setan Pesolek suaranya agak ditahan. Dan mendorongku sampai jatuh terjengkang. Dan dia pun berdiri di tempat yang remang-remang! Jahanam betul! Siapa bangsat berkedok Setan Pesolek itu?! Jelek benar nasibku. Lembaran kulit belum

bisa kudapatkan, senjataku telah dibawa orang. Lebih dari itu petunjuk lembaran kulit itu juga telah diketahui orang.... Apa yang harus kulakukan sekarang?!"

"Aji! Semuanya telah terjadi. Penyesalan setinggi langit tak ada gunanya dan tak menyelesaikan urusan! Satu-satunya jalan, kau harus segera menyelidik bukit itu, sekaligus pasang telinga mencari tahu siapa adanya orang yang mengelabuimu! Tugasmu memang makin berat. Tapi itu harus kau jalani! Jadikanlah kejadian ini sebagai peringatan bagi langkahmu selanjutnya! Aku harus meninggalkanmu. Waspadalah! Kulihat banyak orang berkeliaran di kawasan ini. Tujuan mereka pasti kau sudah tahu!"

"Eyang.... Bisa kau katakan ciri-ciri yang bergelar Mata Malaikat itu?!" ujar Aji begitu melihat gurunya bangkit dan hendak meninggalkan tempat itu.

"Manusia yang bergelar Mata Malaikat itu mempunyai kelainan pada matanya. Dua-duanya cacat, tapi cacat yang berbeda oleh karena itu, dia lebih sering memejamkan matanya."

Habis berkata begitu, Wong Agung berkelebat tinggalkan tempat itu.

"Sialan betul! Jadi orang tua itu yang bergelar Mata Malaikat! Bukan tak mungkin jika dia yang mengatakan pada Utusan Iblis jika aku adalah Mata Malaikat! Orang tua kurang ajar! Tak berani tunjukkan diri malah mengumpankan orang lain! Walah, nasibku benar-benar lagi tidak mujur...," gumam Pendekar 108 sendirian seraya bangkit lalu melangkah perlahan meninggalkan tempat itu. Namun gerakan kakinya tertahan tatkala tiba-tiba terdengar siulan lirih dari arah belakang.

Pendekar 108 putar diri. Mendadak mulutnya menguncup ke depan, lalu terdengar siulan panjang, sementara sepasang matanya terpentang lebar-lebar memandang ke depan.

SEPULUH

SEORANG di hadapan Pendekar 108 perdengarkan suara tawa merdu. Sebelah matanya dikedipkan, lalu kedua tangannya diangkat merapikan rambutnya. Bibirnya yang merah mencorong tersenyum. Dengan sedikit goyangkan pinggulnya dia melangkah mendekat ke arah Aji.

"Sayang. Siapa namamu?!" tanyanya sambil memperhatikan Aji dari kaki hingga rambut.

Murid Wong Agung jerengkan sepasang matanya sambil usap-usap hidungnya dan tersenyum. Namun sesaat kemudian senyumnya pupus, membuat orang di hadapan Aji yang ternyata adalah perempuan setengah baya berambut kepang dan bukan lain adalah Kamaratih hentikan langkah dengan kening berkerut.

"Pemuda tampan! Kau ini aneh. Sekilas tadi kau cengar-cengir, namun tiba-tiba kau pasang tampang seperti orang mau buang air. Ada apa?! Apakah paras cantikku ini yang membuatmu berubah?!"

Aji tidak menyahuti ucapan Kamaratih. Tampaknya kejadian yang baru saja menimpa dirinya hingga menyebabkan senjata dan petunjuk berharga diambil dan diketahui orang membuat murid Wong Agung ini menjadi hati-hati dan bertindak waspada.

"Kau tak mau jawab tanyaku tak apa. Hanya sayang jika perjumpaan indah ini berakhir tanpa kenangan! Hik.... Hik.... Hik...!"

"Maukah kau menerangkan siapa dirimu?!" tanya Pendekar Mata Keranjang pada akhirnya.

Kamaratih kembali kerdipkan sebelah matanya. "Pada anak tampan seperti kau, akan kuturuti segala maumu! Semua permintaanmu! Kau mau minta apa? Katakanlah dan tunjuk yang mana!" kata Kamaratih sambil geliatkan tubuhnya membuat murid Wong Agung ini dadanya berdebar dan jakun turun naik.

"Aku mau tahu siapa dirimu!" ujar Aji. "Hanya itu? Tidak ada yang lain-lain? Atau

kau malu-malu menunjuk?!"

"Urusan tunjuk-tunjukan kita bicarakan nanti setelah kau menerangkan siapa dirimu. Aku khawatir, jangan-jangan kau bangsa hantu yang berkeliaran di pagi hari "

"Hik.... Hik.... Hik...! Jadi kau menduga aku begitu? Dugaanmu itu pulakah yang membuatmu mendadak bertampang norak?! Sebelum aku menerangkan siapa diriku, apakah kau ingin memastikan bahwa aku bukan hantu?!" habis berkata begitu, kedua tangan Kamaratih terangkat ke dada, dan serta-merta tangan itu membuka kancingkancing baju hijaunya. Di lain kejap murid Wong Agung mendelik silau melihat dua buah payudara besar putih kencang di depan hidungnya.

Kamaratih cekikikan, lalu teruskan tangannya membuka kancing-kancing bajunya.

"Edan! Bagaimana mungkin orang berusia sekian dadanya masih begitu bagus?" batin Aji dalam hati. Dan begitu melihat Kamaratih terus membuka kancing-kancing bajunya, Pendekar 108 segera berujar.

"Cukup! Cukup.... Aku percaya. Harap tutup kembali buah-buahan itu!"

"Tak menyesal tidak melihat semuanya?

Atau barangkali kau masih malu-malu?"

Pendekar 108 geleng-gelengkan kepalanya meski dadanya bergetar makin keras dan aliran darahnya menggelegak. "Sekarang harap kau suka terangkan siapa dirimu "

Kamaratih tertawa cekikikan dahulu sebelum menjawab.

"Orang-orang  memanggilku Kamaratih....

Sekarang giliranmu untuk sebutkan diri!" "Tapi tutup dulu buah-buahan putih itu. Kalau hantu sungai ada yang bermata bongsang, bisa celaka!" kata Aji sambil naikkan kedua alis matanya.

"Kau benar-benar tak berhasrat menyentuhnya barang sekejap?"

"Hasrat memang ada. Tapi itulah. Aku takut penyakitku kambuh!"

"Hik... Hik.... Hik...! Jadi kau penyakitan. Mungkin kau sembarang pilih orang Kasihan!

Boleh aku lihat bagaimana kalau sedang penyakitan ?"

"Bukan itu maksudku! Aku selalu terkencing-kencing dulu jika menyentuh "

Tawa Kamaratih makin keras mendengar ucapan Aji. "Kau masih berdusta padaku!"

"Berdusta?!" ulang Aji agak heran. Sebaliknya Kamaratih terus cekikikan sebelum akhirnya berkata. "Sebelum menyentuh pun kulihat celanamu sudah basah kunyup.... Hik.... Hik.... Hik !"

Tanpa sadar, murid Wong Agung ini raba celananya. "Gila! Apa mata nenek menor ini sudah kabur? Celanaku masih kering. Dan kurasa belum setetes pun kencingku keluar "

"Tak usah cemas, Anak Muda! Celanamu tidak basah. Aku hanya ingin lihat apakah kau punya senjata andalan! Aku tadi khawatir, kau menolak tawaranku karena kau tak punya senjata andalan. Sekarang aku percaya. Kau masih punya itu.... Hik.... Hik.... Hik !" 

"Edan! Aku kena kibulnya...," rutuk Aji akhirnya ikut tertawa. "Hem.... Sekarang giliranmu, Anak Muda!" "Giliran apa?!"

"Sebutkan diri, lalu katakan apa perlumu di sini juga jelaskan kau ke sini sama siapa!"

"Aduh. Pertanyaanmu banyak sekali. Padahal kau tadi cuma sebutkan siapa dirimu tak menyebutkan perlunya di sini, juga tak menjelaskan sama siapa ke sini...," kata Pendekar Mata Keranjang sambil usap-usap hidungnya.

"Aku akan terangkan nanti...," sahut Kama-

ratih.

"Hem.... Namaku Aji. Di sini aku tak punya

perlu apa-apa. Datang ke sini tiada teman tiada siapa!"

"Hem.... Kali ini baru benar-benar kau berdusta! Jangan kira aku tak tahu, Aji! Bukankah kedatanganmu ke sini perlu ikut berpacu merebut lembaran kulit itu? Benar bukan?!"

Karena Aji tak menjawab, akhirnya Kamaratih melanjutkan ucapannya. "Kawasan ini sekarang tidak lagi sepi, Aji! Memang, jika dipandang sepintas tampaknya sunyi tak ada orang. Namun di balik itu, banyak mata mengintip. Tubuh mendekam dan dada berdebar-debar!"

"Hem.... Rupanya nenek menor ini telah tahu semuanya. Tapi aku tetap harus berhati-hati!"

"Bibik Cantik...!" kata Aji seraya senyumsenyum. "Tujuan utamaku ke sini sebenarnya bukan untuk urusan lembaran kulit itu. Tapi untuk mencari seseorang bergelar Mata Malaikat "

"Hai...!" seru Kamaratih kesenangan mendengar dirinya dipanggil Aji dengan sebutan Bibik Cantik. "Kau bilang mencari kakek itu. Ada apa gerangan?"

"Orang tua kurang ajar itu telah mencelakakanku! Akan kucabuti seluruh bulu-bulu rambutnya jika sampai ketemu!"

"Seluruhnya?"

"Ya! Seluruhnya! Tanpa ada yang terkecua-

li!!"

"Hik.... Hik.... Hik....! Kau betul-betul anak

bodoh! Mau-maunya mencabuti bulu-bulu kakekkakek! Tapi ditawari yang bagus-bagus menolak! Aku jadi curiga padamu!"

"Curiga apa?!"

"Jangan-jangan kau laki-laki yang tertarik pada kakek-kakek! Hik.... Hik.... Hik...! Tapi kuingatkan kepadamu. Jangan kau keburu menduga yang tidak-tidak pada orang tua itu!"

"Hem.... Kau membelanya? Bibik Cantik!

Kini aku yang khawatir padamu?" "Khawatir apa?!"

"Jangan-jangan kau yang mendahuluiku mencabuti bulu-bulunya! Ha.... Ha.... Ha...! Atau barangkali kau kekasihnya?!"

"Ah   Kau tak tahu, Anak Muda! Jelek-jelek

begini, aku punya simpanan beberapa pemuda yang siap pakai! Kalau suka kau pun bisa menjadi simpananku! Kau mau..,?!"

"Tawaranmu banyak sekali, Bibik Cantik! Tapi sayang, aku belum berselera. Kapan-kapan kalau seleraku timbul, aku akan mencarimu. Sekarang aku harus pergi "

"Tunggu! Kau betul-betul hendak mencari orang tua itu?!" tanya Kamaratih menahan kepergian Aji. Murid Wong Agung anggukkan kepalanya. "Ingat, Anak Muda! Aku tahu siapa Mata

Malaikat. Dia orang baik!"

"Itu karena kau tak pernah dikerjainya! Sedang aku? Merasakan sendiri akibat ulahnya! Malah nyawaku hampir kabur karenanya!"

Kamaratih dongakkan kepala sambil perdengarkan suara tawa pelan.

"Anak muda! Jangan kau lihat seseorang dari tindakannya, tapi lihat apa yang ada di balik tindakannya itu! Terkadang, kelihatan tindakannya jelek bahkan merugikan kita. Tapi di balik semua itu sebenarnya ada hal baik yang tersembunyi! Sebaliknya, tampaknya dia berbuat baik, namun di balik itu ada niat jahat yang ditutupi!"

"Tapi aku tak melihat adanya kebaikan di balik tindakan setan tua itu!"

"Untuk membuktikannya memang diperlukan waktu, Anak Muda!"

"Bibik Cantik sendiri perlu apa di sini?!" Pendekar Mata Keranjang alihkan pembicaraan.

"Menunggu seseorang!" "Kakek-kakek, ya?"

"Betul!" jawab Kamaratih singkat, membuat Aji senyum-senyum.

"Bibik Cantik! Kau tadi bilang punya simpanan beberapa pemuda. Tentunya kakek ini sangat istimewa hingga kau sampai menunggunya!"

"Sangat istimewa dan bersejarah!"

"Wah, pasti permainannya hebat sampai berkesan begitu mendalam di hatimu!" "Memang dia tiada duanya di dunia ini! Tapi sayang...," Kamaratih tak lanjutkan ucapannya, membuat Aji cepat menyahut.

"Sayang apanya?!"

"Pertemuan kali ini adalah yang terakhir! Karena tanganku sendiri yang akan menguburnya!"

"Ah.... Kenapa ekornya jadi jelek begitu, Bibik Cantik?!"

"Aku tak mau tahu! Mungkin itu sudah takdirnya!"

"Boleh kutahu, siapa orang yang kau tunggu itu?!"

Kamaratih memandang Pendekar Mata Keranjang lekat-lekat seraya sunggingkan senyum lalu gelengkan kepala. "Itu urusanku, Anak Muda! Kalau kau ingin tahu, lainnya saja. Misalnya urusan senang-senang denganku "

"Edan! Itu lagi, itu lagi!" gumam Aji dalam hati. Lalu pemuda ini berkata. "Bibik Cantik! Urusan senang-senang kita bicarakan kapan-kapan. Bukankah kau tadi bilang di kawasan ini banyak mata mengintip, banyak tubuh mendekam. Kalau kita sampai diintip mereka, bisa berantakan semuanya! Kalau ada waktu baik, tempat baik, kita bicarakan lagi "

"Hem   Rupanya kau tak tahu, Anak Muda!

Sebenarnya sudah sejak tadi kita diintip orang! Kau ingin tahu?!"

Belum sampai Aji memberi tanggapan ucapan Kamaratih, perempuan berambut kepang ini telah gerakkan tangan kanannya mendorong ke arah samping. Saat itu juga terdengar deruan dahsyat, di kejap lain gelombang angin deras melesat menerabas kerimbunan semak.

Bersamaan dengan menerabasnya pukulan ke arah tanaman, terdengar seruan tertahan. Lalu murid Wong Agung melihat sesosok tubuh melesat ke udara. Setelah membuat gerakan jumpalitan tiga kali, sosok itu mendarat delapan langkah di hadapan Aji dan Kamaratih.

Untuk beberapa lama sepasang mata Aji memperhatikan. Tiba-tiba mulutnya membuka.

"Kau...!" ujarnya begitu dapat mengenali siapa adanya orang.

SEBELAS

DI hadapan Aji dan Kamaratih, saat itu tegak seorang gadis muda mengenakan pakaian warna kuning. Paras wajahnya cantik, sepasang matanya bulat dan berhidung mancung. Rambutnya panjang dikuncir dengan menggunakan ikat kepala yang juga berwarna kuning.

Gadis cantik bukan lain adalah Drupadi sejenak memandang silih berganti pada Aji dan Kamaratih. Pandangan matanya tampak aneh, malah ketika pandangannya tepat pada Kamaratih gadis ini sedikit membelalak dan tatapannya seolah menyelidik.

Kamaratih sendiri tampak terkejut melihat Aji sudah mengenali siapa adanya si gadis, Perempuan setengah baya ini tak menghiraukan pandangan Drupadi, dia malah berpaling pada Aji dan berkata sambil tersenyum.

"Anak muda. Tampaknya kau sudah mengenalnya. "

"Kami pernah berjumpa!" Yang menyahut adalah Drupadi. Gadis ini lantas alihkan pandangannya pada Aji. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling bentrok pandang.

"Pendekar 108.... Dia akhirnya datang juga ke kawasan ini. Apakah dia sengaja menyusulku atau ada keperluan lain...? Tapi kenapa bersamasama dengan Kamaratih? Apakah mereka.... Ah !"

perasaan gadis ini disarati dengan berbagai dugaan dan pertanyaan.

Kalau Drupadi membatin demikian, diamdiam dalam hati Aji pun berkata. "Kulihat perubahan pada gadis ini. Apakah sudah sejak tadi dia mencuri dengar percakapanku dengan nenek menor ini?"

Kamaratih berpaling pada Drupadi. Lalu bertanya.

"Drupadi! Apakah bangsat itu sudah kelihatan batang hidungnya?"

Drupadi tidak segera buka mulut untuk menjawab, meski tahu siapa yang dimaksud bangsat oleh Kamaratih. Seperti dituturkan dalam episode sebelumnya (Baca serial Pendekar Mata Keranjang dalam episode : "Bukit Siluman"), dalam pertemuan dengan Kamaratih, nenek berambut kepang ini mengatakan mencari gurunya Drupadi, yakni Manusia Neraka.

Melihat orang yang ditanya tidak menjawab, Kamaratih tampak sedikit melebarkan sepasang matanya. Dia buka mulut kembali hendak mengajukan tanya tapi Drupadi telah mendahului sambil gelengkan kepala.

"Bibik.... Aku belum melihatnya. "

Kamaratih tertawa bergelak mendengar Drupadi ikut-ikutan memanggil Bibik seperti yang diucapkan Aji.

"Gara-gara si tampan ini kau ikut-ikutan memanggilku Bibik.... Tapi tak apa, aku suka panggilan itu...," ujar Kamaratih dengan melirik pada Aji.

Yang dilirik senyum-senyum sambil usapusap hidungnya, membuat Drupadi memberengut. Dada gadis ini sedikit panas melihat dua orang di hadapannya saling senyum serta saling lirik. Bayangan kecemburuan jelas tampak di wajahnya. Hingga sesaat kemudian gadis ini alihkan pandangannya pada jurusan lain.

"Hai   Kau bilang telah pernah jumpa. Tapi

kau tak bertegur sapa. Ada apa di antara kalian sebenarnya?" tegur Kamaratih setelah mengetahui sikap Drupadi.

"Benar, Bibik. Kami memang pernah jumpa. Dan di antara kami tidak ada apa-apa!" yang menjawab kali ini adalah Pendekar Mata Keranjang seraya memandang pada Drupadi.

Tiba-tiba Kamaratih perdengarkan suara tawa cekikikan, membuat Drupadi dan Aji samasama berpaling. "Anak muda!" kata Kamaratih pada Aji. "Aku tahu. Mungkin Drupadi cemburu padaku! Hik.... Hik.... Hik...! Hatinya panas karena kita berada berdua-duaan. Ayo! Sekarang katakan padanya, bahwa kita hanya omong-omong. Tak lebih dari itu!"

Aji jadi tergagu diam mendengar ucapan Kamaratih, sementara wajah Drupadi tampak berubah merah mengelam. Mulut gadis itu mengeluarkan gumaman tak jelas.

"Hei! Disuruh bicara kenapa diam? Ah, sebelum dia datang, bicaramu banyak sekali, tapi setelah dia di hadapanmu kau seperti orang tak bisa bicara! Kau malu, ya?! Apakah aku yang harus bicara padanya?"

"Edan! Nenek menor ini benar-benar mengerjai ku! Awas kau!" ancam Aji dalam hati. Dan sebelum dia sempat bicara, Kamaratih telah mendahului.

"Drupadi.... Hilangkan prasangka buruk di hati. Meski kami berdua bersepi-sepi. Namun kami tak melakukan hal tak terpuji. Kalau kau masih cemburu di hati. Kau akan merugi sendiri "

Mendengar nada bicara Kamaratih, murid Wong Agung geleng-geleng kepala, sedangkan Drupadi makin merah. Namun diam-diam gadis ini merasa lega.

"Bibik.... Kau jangan terus menggodaku !"

kata Drupadi pada akhirnya. Wajahnya kembali cerah, meski kini tak berani memandang langsung pada Pendekar Mata Keranjang.

Kamaratih tersenyum genit. Lalu melangkah mendekati Drupadi. Setelah dekat dia berbisik. "Drupadi.... Aku telah mengalami pahit ge-

tirnya cinta. Aku tanya padamu. Apakah kau telah betul-betul menyelidik siapa sebenarnya pemuda itu?! Kau jangan salah pilih, Drupadi. Agar kau tak menyesal kelak kemudian hari!"

Meski perasaannya tak enak, akhirnya Drupadi menjawab juga.

"Bibik.... Kalau dia sudah disebut orang sebagai seorang pendekar, apakah masih perlu diragukan?!"

Kamaratih mengernyitkan dahi. Lalu condongkan mukanya pada Drupadi dan berbisik lagi. "Pendekar? Pendekar siapa dia?!"

"Apa dia tadi tak mengatakan padamu?!" Drupadi balik bertanya.

"Mana ada seorang pendekar yang mau mengaku-aku! Katakan padaku, pendekar siapa kekasihmu itu?!"

Drupadi tersipu-sipu mendengar ucapan perempuan setengah baya itu. Setelah dapat menguasai gejolak hatinya dia berkata.

"Dialah yang digelari rimba persilatan dengan Pendekar Mata Keranjang!"

Saking kagetnya, Kamaratih berseru tertahan. Lalu tiba-tiba saja ia melangkah lagi ke arah Aji. Kira-kira lima langkah dari hadapan Pendekar 108 perempuan ini bungkukkan sedikit tubuhnya membuat gerakan seperti orang menjura hormat sambil berkata.

"Tak disangka jika kau adalah seorang pendekar bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 yang dibicarakan kalangan rimba persilatan. Aku gembira sekali dapat jumpa dengan  kau, Pendekar

108. Terimalah hormatku dan maafkan segala ucapanku yang mungkin tadi ada yang tidak berkenan di hati."

Aji jadi serba salah. Setelah menghela napas panjang akhirnya murid Wong Agung ini ikut bungkukkan tubuh dan berujar.

"Sebenarnya aku hanyalah, orang biasa. Hanya orang-orang yang menyebutku demikian. Padahal, ilmuku masih sedangkal mata kaki! Lagi pula aku sekarang tak pantas digelari Pendekar 108!"

Kamaratih terkejut mendengar kata terakhir Aji, demikian juga Drupadi. Apalagi tatkala dilihatnya wajah Aji berubah membayangkan kecewa dan beban berat.

"Pendekar 108! Seorang pendekar biasanya memang selalu merendah...," ucap Kamaratih dengan memandang tajam pada Aji.

"Ucapanmu benar, Bibik Cantik. Tapi seperti kataku tadi, sekarang aku tak pantas digelari Pendekar 108!"

"Mengapa bisa begitu?" tanya Drupadi ikut bicara. "Kipas ungu 108 telah lepas dari tangan ku!' Aji memutuskan berterus-terang pada kedua orang di hadapannya karena dia yakin dua orang itu orang baik-baik. Juga berharap siapa tahu di antara keduanya nanti bisa membantu, setidaktidaknya memberitahu siapa adanya orang yang telah berhasil membawa lari kipasnya.

Baik Kamaratih maupun Drupadi melengak kaget.

"Kau tidak sedang bercanda bukan, Anak

Muda?!" tanya Kamaratih seolah masih belum percaya dengan keterangan Aji. Malah Drupadi segera menimpali. "Kau jangan membuat kami deg-degan dengan keteranganmu!"

Aji gelengkan kepalanya. "Aku bersungguhsungguh!"

Kamaratih dan Drupadi sama-sama menarik napas panjang.

"Apakah kau mencurigai Mata Malaikat hingga kau tadi mengatakan sedang mencarinya?" tanya Kamaratih setelah diam agak lama.

"Urusan dengan Mata Malaikat perihal lain.... Namun tak tertutup kemungkinan orang yang menyamar sebagai Setan Pesolek dan membawa lari kipas itu adalah dia!"

"Hem.... Kau harus berhati-hati dalam menyelidik urusan pelik ini, Anak Muda. Kuasai tindakan! Jangan sampai salah turunkan tangan. Sebab siapa pun orangnya yang membawa kipas itu, saat ini pasti mencari kambing hitam! Malah tidak mustahil jika dia akan melempar fitnah pada orang lain, hingga timbul kesimpangsiuran. Jika itu terjadi, urusan ini akan makin sulit dijejaki! Lebih dari itu kau akan menemui jalan buntu!"

"Itulah yang saat ini membelit pikiranku, Bibik...," ujar Aji dengan suara pelan.

"Sayang, saat ini aku sendiri sedang terbelenggu dengan urusan yang belum selesai. Seandainya...," Kamaratih tak melanjutkan ucapannya. Sebaliknya perempuan setengah baya ini angkat tangan kanannya, membuat Drupadi dan Aji memperhatikan dengan kening sama-sama mengernyit.

"Kawasan ini akan tambah semarak   Seo-

rang pendatang muncul lagi. Lihat ke sebelah timur!" desis Kamaratih.

Serentak murid Wong Agung dan Drupadi arahkan pandangan mata masing-masing ke arah timur. Dari tempat mereka, mata mereka menangkap sesosok bayangan berlari cepat menuju ke arah mereka.

Pendekar Mata Keranjang dan Drupadi sejenak saling pandang.

"Kita belum tahu siapa dia. Namun sedikit banyak kita tahu apa tujuannya orang itu ke tempat lain. Apa tidak sebaiknya untuk sementara kita menghindar? Biar urusan tidak bertambah panjang dan makin ruwet!" usul Aji seraya memandang pada Kamaratih. 

Kamaratih turunkan tangan kanannya lalu menggeleng perlahan.

"Dia datang dengan terang-terangan. Itu menunjukkan bahwa dia orang yang tidak punya musuh. Dan belum tentu punya kepentingan yang ada sangkut pautnya dengan perebutan lembaran kulit itu. Mungkin saja dia mencari seseorang yang diduga kuat berada di kawasan ini. Karena tanpa disadari siapa pun, kawasan ini sekarang sudah menjadi tempat berkumpulnya para dedengkot rimba persilatan "

"Pendapatmu ada benarnya. Tapi kalau dia orang baru, berarti tak ada hubungannya dengan orang yang membawa lari kipasku, karena aku yakin pencuri busuk itu masih berkeliaran di kawasan ini. Aku tak mau membuat urusan tambahan, aku akan pergi sekarang!" kata Aji lalu putar tubuh hendak meninggalkan tempat itu. Namun baru saja melangkah, terdengar suara orang menegur.

"Kita belum saling kenal dan berbicara, mengapa buru-buru hendak pergi?!"

Berpaling, Aji jadi melengak. Di tempat itu kini telah tegak seseorang.

"Busyet! Larinya luar biasa. Baru saja aku melihat dia masih berkelebat jauh di sana. Sekarang tahu-tahu sudah nongkrong di sini!"

DUA BELAS

KARENA saat itu Aji tegak membelakangi, maka murid Wong Agung ini hanya terkejut karena kedatangannya yang tak terduga dan begitu cepat. Namun tidak demikian halnya dengan Kamaratih dan Drupadi yang langsung berhadapan dengan orang yang baru datang. Kedua orang ini serentak mengeluarkan seruan tertahan, membuat Aji balikkan tubuh dan memandang pada orang yang baru datang. Sejenak sepasang matanya melebar, mulutnya komat-kamit.

"Busyet! Ini orang tidak waras atau edan?

Atau setengah tak waras setengah gila?!"

Lima langkah di hadapan ketiga orang itu, tegak acuh tak acuh seorang yang tidak bisa dikenali laki-perempuannya. Mengenakan pakaian gombrong besar menutup seluruh anggota tubuhnya sampai kaki. Di lehernya melilit sebuah selendang batik hingga leher itu tak kelihatan. Wajahnya dipoles hitam legam entah dari bedak apa. Yang pasti paras wajahnya jadi hitam berkilat-kilat dan tak bisa dikenali. Matanya tajam, rambutnya diberi pewarna merah. Rambut itu dikuncir sampai sepuluh buah. Tiap kunciran dihiasi dengan sobekan kain batik yang diikatkan di bagian mata.

Melihat keadaan orang ini, Kamaratih yang semula menduga orang itu orang baik-baik sedikit banyak jadi ragu-ragu. Hingga setelah rasa terkejut dan gelinya hilang, dia segera keluarkan teguran. jawab. "Orang asing! Siapa kau?"

Belum sampai orang berwajah hitam men-

Drupadi telah menyambung teguran Kamaratih. "Katakan pula kepentinganmu di kawasan ini!"

"Jelaskan juga kau ini bangsa laki-laki apa perempuan. Kalau perempuan umurmu berapa, cantik apa jelek. Jika perlu terangkan berapa ukuran dada dan pinggangmu!" Aji menyahut. Membuat Drupadi berpaling dan merengut, matanya sedikit mendelik. Sementara Kamaratih kelihatan tersenyum.

Orang berwajah hitam gerakkan kepalanya ke arah Pendekar 108. Bibirnya yang hitam bergerak sunggingkan seulas senyum. Tiba-tiba orang ini perdengarkan suara tawa mengekeh panjang. Lalu berkata.

"Aku suka berjumpa dengan orang-orang yang banyak bicara banyak tanya. Tapi sayang, aku tak suka dengan nada tanya yang banyak mengandung kecurigaan! Kalau pertama jumpa didahului kecurigaan, mana mungkin akan terjalin sebuah persahabatan?!"

Pendekar Mata Keranjang mengernyit, demikian juga Kamaratih dan Drupadi.

"Ucapanmu tadi masih kusangsikan. Namun sekarang jelas. Jadi orang ini bukan saja menyembunyikan wajah dan jenisnya, suaranya pun sengaja disarukan! Hem.... Jelas ada maksud tertentu dari semua tindakannya ini...," duga Aji dalam hati.

Mendengar suara orang ini, Kamaratih makin curiga. Dengan suara agak keras perempuan setengah baya ini kembali keluarkan teguran.

"Orang asing! Kita belum kenal dan bukan sahabat! Kami tak punya waktu banyak. Jawab saja pertanyaan kami!"

Kembali orang berwajah hitam tengadahkan kepala lalu keluarkan suara pelan.

"Tak apa jika kau tak menganggapku sebagai sahabat. Namun bagiku, semua makhluk adalah sahabat. Bukankah hakikat menjalani hidup adalah bersahabat dan saling tolong sesama?!" suara orang ini masih disarukan antara suara lakilaki dan perempuan.

"Betul!" sahut Aji. "Tapi dengan tindakanmu yang menyembunyikan wajah dan menyarukan suara membuat orang enggan bersahabat, malah akan lari terkencing-kencing! Lebih dari itu akan jatuh rasa curiga padamu!"

"Anak muda! Orang arif bijaksana tidak akan memandang seseorang dari lagak dan penampilan. Lebih-lebih tidak akan menjatuhkan prasangka buruk sebelum jelas-jelas terlihat!"

Aji jadi terdiam dan angkat bahu dengan berpaling pada Kamaratih. Kamaratih sendiri tampaknya sudah tak sabaran.

"Orang asing! Jangan bicara panjang lebar! Lekas sebutkan dirimu atau lekas angkat kaki dari sini!"

"Kalau jawaban dari pertanyaan kalian tadi akan menjadi jembatan persahabatan, baiklah. Akan kujawab semua pertanyaan kalian...," Kata orang berwajah hitam. Dia menarik napas sejenak lalu melanjutkan.

"Aku Putri "

Sebelum orang berwajah hitam meneruskan kata-katanya, tiba-tiba Kamaratih tertawa bergelak.

"Hem.... Jadi kau seorang putri! Hik....

Hik.... Hik...! Teruskan bicara, Putri "

Orang berwajah hitam tidak tersinggung atau marah mendengar ucapan, Kamaratih yang jelas mengejek, sebaliknya orang ini malah tersenyum lantas buka suara lagi.

"Aku Putri Hitam. Kepentinganku mencari sesuatu yang terpendam." Orang berwajah hitam yang sebutkan diri sebagai Putri Hitam lalu arahkan pandangannya pada Pendekar Mata Keranjang.

"Untuk pertanyaanmu, Anak Muda. Kali ini

aku belum dapat memberi jawaban pasti. Karena cantik atau jelek adalah sesuatu yang tak bisa diukur. Tergantung dari sudut mana orang memandang! Aku pun belum sempat mengukur berapa besar dada dan pinggangku! Jelas?!"

"Belum!" sela Aji. "Kau belum mengatakan dari jenis laki atau perempuan!"

Putri Hitam tertawa pelan. "Dengar, Anak Muda! Jenis seseorang dapat merubah suasana. Urusan maha penting seorang laki-laki terkadang menjadi kabur jika sudah berhadapan dengan gadis muda cantik nan jelita. Begitu juga sebaliknya. Dengan tidak mempermasalahkan jenis, kukira persahabatan akan lebih tulus. Bukankah begitu?!"

"Walah, jadi sulit berhadapan dengan orang macam begini...," gumam Pendekar Mata Keranjang sambil jerengkan sepasang matanya. "Terserah padamu sajalah kalau begitu!"

"Kau bilang mencari sesuatu yang terpendam. Apa itu?!" Kamaratih keluarkan suara kembali.

"Aku telah menerangkan siapa diriku. Sebelum kujawab pertanyaanmu, tak enak rasanya jika aku tak tahu siapa kalian adanya! Bukankah persahabatan pasti diawali dengan saling kenal diri?!"

Kamaratih tampak paling tidak sabar menghadapi Putri Hitam. Sementara Drupadi hanya diam namun tak henti-hentinya sepasang matanya memandang lekat-lekat. Seakan berusaha menembus polesan hitam dan pakaian gombrong orang ini untuk dapat mengenali siapa adanya orang di balik itu semua. Sedangkan Aji tampak acuh tak acuh, tapi segala ucapan orang diperhatikannya baik-baik.

"Aku Kamaratih!" akhirnya Kamaratih yang menjawab. Lalu berpaling pada Drupadi. "Dia Drupadi," terakhir Kamaratih arahkan kepalanya pada murid Wong Agung. "Dia pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!"

"Ah, hari ini rupanya aku berkesempatan jumpa dengan orang-orang berilmu tinggi dalam rimba persilatan. Juga dengan seorang pendekar yang namanya mulai harum di telinga orang. Terimalah hormatku...," Putri Hitam gerakkan tubuhnya sedikit membungkuk.

Kamaratih tidak menyambuti, dia hanya mengangguk demikian juga dengan Drupadi. Hanya Aji yang tampak membungkuk, malah dia sambil takupkan kedua tangan dan lututnya sedikit ditekuk. Lalu berujar.

"Ucapan di telinga terkadang lain dengan mata yang melihat. Aku belum apa-apa jika dibanding dengan dirimu, Putri "

"Orang bijak memang tak mau menunjukkan diri...," kata Putri Hitam, lalu berpaling pada Kamaratih. Belum sampai berkata, Kamaratih telah buka mulut. "Terangkan sesuatu yang terpendam itu!"

"Sobatku, Kamaratih. Urusan itu biarlah tersimpan di dada ini. Aku tak mau membuat orang lain ikut menyimpannya. Hanya kalau boleh tahu, apakah ini kawasan Sungai Siluman yang menuju arah Bukit Siluman?!"

Ucapan Putri Hitam membuat Aji dan Drupadi serta Kamaratih saling pandang.

"Apakah kau hendak ke sana?!" tanya Aji dengan memandang pada Putri Hitam.

"Orang tanya arah selatan, kadang sebenarnya dia hendak ke utara. Aku bertanya bukan berarti aku akan ke sana!" ujar Putri Hitam.

"Busyet! Orang begini ini yang tak bisa dikibuli! Malah orang akan jatuh terperosok jika tak hati-hati! Maunya apa sebenarnya orang ini?! Sesuatu yang terpendam, hem Jangan-jangan

maksudnya Lembaran Kulit Naga Pertala...," duga Pendekar 108. Lalu dia bertanya lagi.

"Kalau kau tak hendak ke sana, kenapa tanya arah Bukit Siluman?!"

"Pendekar 108. Ingin tahu adalah hal yang wajar, bukan?"

"Berlama-lama bicara dengan orang ini tak ada gunanya...," bisik Kamaratih. Lalu tanpa pikir panjang lagi dia berkata.

"Ini memang kawasan Sungai Siluman yang menuju arah Bukit Siluman! Kalau ingin ke sana, kau bisa membuat perahu. Atau tidak ada yang melarang jika kau memang berenang!"

"Ah, sobatku Kamaratih tampaknya sedang tidak bersahabat. Mungkin hatimu sedang kusut. Menunggu seseorang yang tak kunjung datang barangkali? Atau mungkin ada sesuatu berharga yang hilang?! Atau...," Putri Hitam tidak melanjutkan ucapannya. Dia malah tertawa perlahan lalu mendongak.

Kamaratih dan Pendekar 108 dadanya berdebar-debar. Sejenak dua orang ini berpaling dan saling pandang. Aji masih dapat menahan hatinya, dia berpikir Putri Hitam mungkin kebetulan bicara yang ada sangkut pautnya dengan masalah yang kini dihadapi Kamaratih atau dirinya sendiri. Namun tidak demikian halnya dengan Kamaratih. Mendengar orang bicara yang menyangkut perihal dirinya, perempuan setengah baya berambut kepang ini makin curiga, dan saat itu juga langsung membentak.

"Kau ini sebenarnya siapa. Dan tahu apa tentang diriku, hah?.'"

"Hai   Ada apa ini?!" ujar Putri Hitam terke-

jut. "Kau tiba-tiba membentakku. Lalu bertanya yang bukan-bukan. Apa ada yang salah ucapanku?!"

"Ucapanmu tidak ada yang salah! Semuanya betul! Namun ucapanmu telah menyinggung urusanku dan lebih-lebih urusan Pendekar 108! Kita sebelumnya tidak kenal, namun tiba-tiba kau tahu urusan kami. Jangan-jangan kaulah yang menyamar dan membawa lari kipas itu!" Kamaratih nyerocos dengan suara keras.

"Sobatku, Kamaratih. Jaga ucapan. Aku tidak tahu urusanmu juga urusan Pendekar 108, apalagi urusan kipas dan samar-menyamar!"

"Putri Hitam...," kata Aji agak pelan. "Kalau kau memang yang menyamar dan membawa lari kipasku, kuharap kau sekarang menyerahkannya padaku secara baik-baik!" "Pendekar 108! Kau juga ikut-ikutan menuduhku?!"

"Aku tidak menuduh. Tapi kipasku dibawa lari oleh seseorang yang menyamar. Kali ini kau datang dengan menyamar. Orang yang membawa lari kipasku bisa merubah suara. Kau juga demikian. Apakah tanda-tanda ini belum kuat sebagai petunjuk?!"

Putri Hitam tertawa pelan tapi panjang. "Pendekar 108. Sama belum tentu tak beda!

dan kukatakan sekali lagi, aku tak tahu-menahu urusan kalian!"

"Dusta!" teriak Kamaratih. "Kau menutupi wajahmu agar tak dikenali. Kalau orang baik-baik mengapa takut perlihatkan wajah?!"

"Tindakan orang berlainan, Kamaratih. Kalau urusanku bisa tercapai dengan jalan begini, kenapa orang lain mesti ribut?!" nada suara Putri Hitam mulai agak tinggi.

"Kalau kau betul-betul tidak dusta, harap kau mau digeledah! Kalau kau perempuan, silakan pilih di antara dua orang ini mana yang kau tunjuk untuk menggeledah! Kalau kau laki-laki pasti kau akan lebih senang! Nah, silakan pilih!" kata Aji sambil berpaling pada Drupadi dan Kamaratih.

"Berarti kau menginjak hakku!"

"Terserah apa namanya, yang pasti aku kehilangan kipas dan kau adalah orang yang pantas untuk dicurigai!"

"Aku tak mengambil kipasmu dan aku tak sudi diperlakukan seperti itu!"

"Berarti kau minta jalan kekerasan!" seru Kamaratih.

"Itu bukan pilihanku, karena kalian yang menentukan!" jawab Putri Hitam dengan suara tinggi.

"Keparat! Kau menantang rupanya! Baik, aku ingin tahu juga siapa adanya jahanam di balik penutup wajahmu itu!"

Habis berkata begitu, Kamaratih melompat. Dua langkah di hadapan Putri Hitam kedua tangannya segera diangkat hendak lepaskan pukulan. "Tahan!" seru Putri Hitam. Orang ini tidak membuat gerakan. Tetap tegak dengan meman-

dang tajam pada Kamaratih.

"Jalan ini tidak akan menyelesaikan urusan, Kamaratih. Malah akan membuat bibit permusuhan. Kalau "

"Diam! Kau yang menanam bibit itu! Sebelum tumbuh besar sebaiknya dipotes sejak sekarang!"

Wuuttt! Wuuttt!

Kedua tangan Kamaratih telah berkelebat kirimkan pukulan. Keduanya langsung mengarah ke batok kepala Putri Hitam. Pukulan baru setengah jalan, angin deras telah melesat mendahului, pertanda hantaman itu telah dialiri tenaga dalam tinggi.

Aji dan Drupadi sama-sama membeliak besar, malah tanpa sadar Aji memanggil nama Putri Hitam, karena mereka berdua melihat Putri Hitam tidak membuat gerakan apa-apa meski pukulan Kamaratih sejengkal lagi menghajar kepalanya.

Bukk! Bukkk! Dan tangan Kamaratih telak menghajar kepala Putri Hitam. Namun semua orang di situ jadi melengak. Bahkan Kamaratih berseru tertahan sambil surutkan langkah dua tindak. Betapa tidak? Kepala itu hanya menyentak sebentar ke kanan kiri. Lalu diam lagi. Sementara sosok Putri Hitam tidak bergeming sama sekali!

"Hampir tak kupercaya jika tak menyaksikan sendiri. Pukulan Kamaratih kuyakin bukan pukulan biasa. Namun kepala itu bagaikan bongkahan gunung batu! Siapa sebenarnya orang ini? Ucapannya begitu mendalam. Hem.... Apakah kata-katanya bisa dipercaya? Aku harus menyelidik...," Aji berkata sendiri dalam hati.

Di sebelah depan, melihat pukulannya hanya mampu membuat kepala orang tersentak sebentar, darah Kamaratih jadi mendidih. Cepat perempuan ini kerahkan tenaga dalamnya. Sesaat kemudian kedua tangannya diangkat lalu dihantamkan ke arah Putri Hitam.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Gemuruh laksana gelombang terdengar saat dari kedua tangan Kamaratih melesat asap putih tebal. Suasana pun berubah jadi dingin menusuk!

Putri Hitam pentangkan sepasang matanya. Tiba-tiba kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi di depan tubuhnya. Lalu serentak disentakkan!

Beeettt! Beeettt!

Tidak ada suara yang keras, juga tidak ada sambaran angin yang melesat keluar. Namun bersamaan dengan menyentaknya tangan, asap putih pukulan Kamaratih tertahan. Di lain kejap, Kamaratih tampak terhuyung-huyung lalu jatuh berlutut dengan tubuh bergetar!

Entah merasa Kamaratih telah dianggap sahabat baik, atau mungkin juga masih mencurigai bahwa yang melarikan kipasnya adalah Putri Hitam, Aji segera menghambur dan tahu-tahu berdiri tegak tiga langkah di hadapan Putri Hitam.

"Putri Hitam. Aku masih mau bicara baikbaik. Serahkan kipas itu atau biarkan kami menggeledahmu jika kau benar-benar tak mengambilnya!"

"Pendekar 108. Sudah kukatakan. Aku tak mengambil dan aku tak mau digeledah!"

"Berarti benar-benar kau suka jalan kekera-

san!"

"Itu bukan jalanku, tapi pilihanmu!" "Kurang ajar! Terimalah ganjaranmu!" Wuuttt! Wuuuttt!

Karena telah melihat bagaimana pukulan

Kamaratih dibuat lenyap sebelum menghajar sasaran, Pendekar Mata Keranjang tak mau main-main lagi. Sekali buka serangan murid Wong Agung ini telah kirimkan pukulan 'Mutiara Biru'.

Suasana di tempat ini kini berubah semburat warna biru, lalu cuaca menjadi panas menyengat, pada saat bersamaan dua sinar biru membersit dan mengembang melesat cepat ke arah Putri Hitam.

Putri Hitam kembali pentangkan sepasang matanya. Kedua tangannya tetap di bawah. Begitu sinar biru panas setengah tombak lagi menghajar tubuhnya, orang ini membuat gerakan seperti mengangkat. Sampai di depan dada kedua tangannya disentakkan ke atas.

Beeettt! Beeettt!

Sinar biru serentak terhenti. Kejap lain sinar pukulan itu melesat ke udara dengan cepatnya. Hingga hanya dalam beberapa saat sinar itu lenyap laksana ditelan langit! Pada saat bersamaan semburat sinar biru di tempat itu sirna memudar! Di belakang, tubuh Aji mental ke belakang lalu menghantam sosok Kamaratih yang hendak bergerak bangkit. Kedua orang ini terpuruk saling tindih, malah kedua wajah mereka bersentuhan!

Mungkin tak sadar dan untuk menyelamatkan diri agar tak jatuh terlalu keras, maka Aji segera saja memeluk tubuh Kamaratih, hingga saat bergulingan orang ini sama saling berpelukan. "Hai! Wajahmu jangan terus menekan. Bedakku bisa morat-marit. Pelukanmu juga lepaskan!" seru Kamaratih. Namun Aji seolah tak mendengar ucapan orang ini. Dia malah menem-

pelkan wajahnya dan pelukannya dipererat.

"Dasar konyol! Saat begini juga masih sempat bercanda!" teriak Kamaratih. Lalu berbisik pelan. "Kalau kau ingin, kenapa di depan orang, Anak Muda? Waktu sepi tadi kau menolak! Atau kau ingin kekasihmu itu makin cemburu"

Sadar ucapan orang ini, Aji cepat lepaskan pelukannya lalu menggeser tubuhnya dan bergerak bangkit. Demikian juga Kamaratih. Pertamatama yang terlihat oleh Pendekar Mata Keranjang adalah Drupadi yang kini tegak membelakangi. Namun dari arah samping masih terlihat bagaimana paras wajah gadis cantik ini. Merah padam dan memberengut! Namun Aji tak sempat memikirkan lebih lama lagi karena saat itu Kamaratih telah angkat bicara.

"Keparat itu telah lenyap!"

Pendekar 108 sapukan pandangannya berkeliling. Dan ucapan Kamaratih memang betul Putri Hitam tak ada lagi di tempat itu.

"Hem.... Kalaupun pergi, tentu belum jauh dari sini. Aku penasaran. Aku harus tahu siapa dia! Kalau dia tahu urusanku, sedikit banyak mungkin tahu di mana dan siapa sebenarnya yang membawa lari kipasku! Kalau tadi dia tak mau mengatakan, mungkin keburu sakit hati oleh katakataku dan ucapan nenek menor itu.... Aku akan menyusulnya!" berpikir begitu, tanpa bicara lagi murid Wong Agung segera berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Tunggu!" tahan Kamaratih. Namun Pendekar 108 telah lenyap di sela rimbunan semaksemak.

Mendengar suara Kamaratih, Drupadi berpaling. Pandangannya mengedar berkeliling. Saat matanya tak menemukan lagi sosok Aji, gadis ini alihkan pandangannya pada Kamaratih. Tatapan matanya tampak aneh. Lalu tanpa keluarkan sepatah kata, gadis baju kuning ini putar tubuh dan berkelebat pergi.

Kamaratih menghela napas panjang dan da-

lam.

"Aku tahu perasaannya. Cemburunya

mungkin makin besar padaku. Hem.... Aku akan menjelaskannya padanya. Lagi pula pada pemuda baik macam dia, mana mungkin aku berani main gila?"

Sejurus perempuan berambut kepang ini layangkan pandangannya jauh ke depan. "Siapa sebenarnya orang yang mengaku Putri Hitam itu? Baru kali ini aku jumpa dengan manusia berilmu tinggi begitu. Ah Lebih baik aku bersiap menanti

bangsat si Manusia Neraka! Melihat telah banyak orang yang datang ke sini, tak lama lagi pasti dia akan muncul!"

Perlahan-lahan Kamaratih tundukkan kepalanya. "Aneh. Meski aku jatuh terjengkang, namun aku tak merasakan sakit sama sekali. Jelas, jika orang itu tak mau mencederaiku. Ah Orang

aneh dan penuh misterius." Kamaratih rapikan rambutnya, lalu sekali berkelebat sosoknya lenyap dari tempat itu.

TIGA BELAS

KITA kembali pada Utusan Iblis yang tengah berkelebat mengejar orang yang diduganya mengirimkan pukulan hingga tubuhnya tersapu dan hampir saja roboh. Mungkin karena geram dan penasaran, pemuda ini sampai melupakan urusannya dengan Pendekar 108 dan meninggalkannya begitu saja. Namun setelah agak jauh berkelebat mencari dan tak menemukan orang yang menyerangnya secara gelap, pemuda ini sadar. "Bangsat! Jangan-jangan aku dikecoh

orang...." Cepat pemuda ini segera putar tubuh dan berkelebat kembali ke arah di mana tadi Pendekar 108 berada. Apa yang dikhawatirkan Utusan Iblis terbukti. Murid Wong Agung sudah tak ada lagi di tempatnya semula!

Seperti diketahui, begitu Utusan Iblis berkelebat, Wong Agung muncul di tempat itu dan memberi isyarat pada muridnya untuk mengikuti dirinya.

"Keparat busuk! Aku betul-betul dikelabui orang. Jahanam!" Utusan Iblis tak habis-habisnya memaki sambil bantingkan kaki. Rahangnya mengembang, matanya merah dan dadanya keras bergetar.

Seraya membawa geram dan marah yang berkobar, akhirnya pemuda ini terus berkelebat ke arah timur. Dan setelah jauh mencari dan tak menemukan siapa pun akhirnya pemuda ini duduk bersandar pada sebatang pohon yang agak terlindung dari pandangan.

Lama pemuda murid Titisan Iblis ini duduk bersandar sambil pikirannya mengembara ke mana-mana. Tiba-tiba dia tarik tubuhnya duduk tegak, sepasang matanya dibeliakkan memandang ke depan.

"Ada orang berlari ke arah timur. Tak dapat kupastikan laki perempuannya. Barangkali...," Utusan Iblis tak berpikir panjang. Dia segera bangkit lalu berkelebat mengejar bayangan yang baru saja tertangkap matanya. "Berhenti!" teriak Utusan Iblis begitu bayangan yang dikejar sudah tak jauh lagi dari dirinya.

Sosok yang dikejar tak pedulikan teriakan orang. Malah dia makin kencangkan larinya, membuat Utusan Iblis makin curiga dan kerahkan segenap ilmu peringan tubuhnya untuk mengejar.

Ketika sosok yang dikejar berada lima tombak di depannya, kembali Utusan Iblis keluarkan seruan keras.

"Berhenti atau tubuhmu kuhancurkan!" Mendengar ancaman orang, tiba-tiba sosok yang dikejar Utusan Iblis hentikan larinya. Sebelum sosok itu berbalik, terdengar dia perdengarkan suara tawa cekikikan panjang.

"Perempuan...," desis Utusan Iblis lalu berhenti sepuluh Langkah di belakang orang.

"Katakan perlumu mengejar dan menyuruhku berhenti!" tegur orang di depan lalu balikkan tubuh.

Untuk sesaat kedua alis mata Utusan iblis naik ke atas. Bibirnya hendak tersenyum, tapi tiba-tiba berubah jadi seringai dan kejap lain dia keluarkan dengusan.

Ternyata orang di hadapan Utusan Iblis adalah seorang perempuan setengah baya. Mukanya mengenakan bedak putih agak tebal, bibirnya merah menyala dengan rambut dikepang. Perempuan yang bukan lain adalah Kamaratih ini tersenyum lalu keluarkan tawa lagi.

"Perempuan sundal...," gumam Utusan Iblis. "Tak ada gunanya bicara dengan perempuan begini rupa. Lebih baik aku segera menuju bukit itu. Urusan dengan Mata Malaikat bisa diselesaikan kapan-kapan. Lagi pula kuyakin orang itu masih berkeliaran di sekitar kawasan ini...," berpikir begitu, Utusan Iblis balikkan tubuh tanpa berkata lagi. Lalu hendak berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Tunggu dulu, Anak Ganteng…," tahan Kamaratih membuat Utusan Iblis urungkan niat. Tanpa putar tubuhnya lagi si pemuda membentak. '"Ada apa?!"

"Aneh. Kau tadi kulihat bersemangat sekali mengejarku. Kini kau tampak bermuram durja. Apakah wajah atau tubuhku kurang menarik hatimu? Ah, mungkin kau belum melihatnya. Kalau sudah tahu, mungkin kau akan mengikuti ke maha aku pergi. Hik.... Hik.... Hik…! Kau ingin bukti...?!"

Masih tanpa balikkan tubuh, Utusan Iblis meludah ke tanah, lalu membentak.

"Jangan banyak mulut, Tua Bangka! Daripada melihat tubuh telanjangmu, lebih baik lihat kerbau bunting!"

Melihat sikap dan mendengar ucapan Utusan Iblis, Kamaratih menjadi geram. Namun perempuan ini kali ini masih coba menindihnya. Lalu dia berujar.

"Jangan komentar sebelum lihat bukti, Anak Ganteng "

"Perempuan sundal! Aku ada urusan. Perlihatkan saja tubuh telanjangmu pada kambingkambing di sana itu. Barangkali ada salah satu yang tertarik!"

Ejekan Utusan Iblis membuat Kamaratih tak dapat lagi menahan amarahnya, hingga saat itu juga dia kancingkan kembali bajunya yang tadi mulai dibuka. Dan kejap itu juga dia meloncat ke depan. Kedua tangannya dipukulkan ke arah punggung si pemuda.

Merasa ada gelagat tak enak, Utusan Iblis cepat putar tubuh. Sepasang matanya mendelik besar tatkala saat itu juga dua tangan telah berada di depan hidungnya.

"Perempuan jahanam! Kau belum tahu siapa yang sedang kau hadapi saat ini!" teriak Utusan Iblis lalu palangkan kedua tangannya ke depan.

Bukk! Bukkk!

Dua pasang tangan beradu keras. Kamaratih keluarkan seruan tertahan lalu cepat mundur dengan wajah berubah pucat. Kedua tangannya yang baru saja bentrok terasa panas dan bergetar. Dadanya pun sedikit sesak. Di hadapannya Utusan Iblis tampak menyeringai lalu meludah. Sepasang mata pemuda ini berubah jadi merah beringas. Pelipis kiri kanannya bergerak-gerak.

"Perempuan sundal!" seru Utusan Iblis. "Pasang telinga baik-baik. Yang tegak di hadapanmu saat ini adalah Utusan Iblis! Sebelum kucopot nyawamu, katakan siapa kau?!"

Kamaratih dongakkan kepala sambil perdengarkan suara tawa panjang.

"Kau telah berulang kali menyebutnya. Kenapa masih tanya?! Hik.... Hik.... Hik...! Aku tahu sekarang. Kau tadi mengejarku, kau kira aku orang yang kau cari, ya?"

Utusan Iblis kernyitkan dahi. "Hem   Sundal ini tampaknya tahu. Jangan-jangan dia yang mempermainkan dan mengecohku...," Kata si pemuda dalam hati. Dan diam-diam pun Kamaratih membatin.

"Pemuda ini tampaknya orang baru dalam dunia persilatan. Ilmunya tinggi. Namun dari tindakannya rupanya bukan orang baik-baik. Hem....

Meski aku bukan orang baik-baik, namun aku tak suka jika orang macam dia sampai berhasil mendapatkan lembaran kulit yang saat ini diperebutkan orang itu. Beradanya dia di kawasan ini pasti untuk urusan lembaran kulit itu. Aku harus mencegahnya, setidak-tidaknya mengulur waktunya, tapi bagaimana nanti dengan urusanku ?!"

Untuk beberapa lama kedua orang ini sama-sama diam. Dan tanpa disadari oleh mereka diam-diam dari sela kerimbunan semak-semak yang rapat, sepasang mata mengawasi mereka tak berkedip. Namun sesekali wajah orang yang mengawasi ini senyum-senyum sambil usap-usap hidungnya.

"Perempuan sundal!" teriak Utusan Iblis. "Kau tahu urusanku. Berarti kaulah orang yang mengecohku dan menyelamatkan pemuda konyol itu!"

Dituduh demikian, Kamaratih jadi naik pitam. "Bukan saja mulutmu yang busuk, ternyata hatimu juga kotor!"

"Orang salah kadang-kadang menutupi dengan tingkah dan mulut sok suci! Tapi aku takkan terkecoh! Terimalah kematianmu, Sundal Tua!" Utusan Iblis angkat kedua tangannya, sementara Kamaratih tak tinggal diam. Perempuan ini pun kerahkan tenaga dalamnya, lalu palangkan kedua tangannya di depan dada.

"Walah, urusan sepele berubah jadi berteletele.... Daripada lihat orang ugal-ugalan begini, lebih baik mengurus diriku dulu. Hem Mencari

lembaran kulit itu terlebih dahulu atau langsung menyelidik ke bukit? Tapi menurut Setan Pesolek, hanya kipas itu mungkin yang bisa membuka tabir. Berarti aku harus mendapatkan kipas itu dahulu.... Sialan betul! Langkahku jadi terhalang gara-gara si keparat orang yang menyamar dan membawa kipas itu!" gumam orang di sela kerapatan semak-semak yang bukan lain adalah Pendekar 108. Murid Wong Agung ini segera bergerak hendak bangkit meninggalkan tempat itu. Namun gerakannya tertahan tatkala dari arah depan, arah mana berada Utusan Iblis dan Kamaratih sedang sama-sama hendak kirimkan serangan, terdengar orang berseru.

"Tahan serangan!" Di lain kejap sesosok bayangan berkelebat dan tegak di tengah-tengah antara Utusan Iblis dan Kamaratih.

Dia adalah seorang kakek berambut putih panjang, bermata cacat. Tubuhnya terbungkus pakaian perempuan. Tapi, ketika dia bergerak terlihat pakaian dari kulit ular di baliknya.

Pendekar Mata Keranjang pentangkan sepasang matanya. Mulutnya komat-kamit.

"Mengenakan pakaian perempuan, rambutnya dikepang...," murid Wong Agung sekali lagi memperhatikan. Tiba-tiba sepasang matanya berubah merah berkilat-kilat, rahangnya mengembang, kedua telapak tangannya bergerak membuka keluarkan suara bergemeretakan. Dadanya bergetar keras.

Tanpa pedulikan lagi pada Utusan Iblis yang sebenarnya sedang mencari dirinya, murid Wong Agung ini langsung bangkit dan cepat berkelebat ke arah si kakek!

SELESAI