Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 24 : Bukit Siluman

 
Eps 24 : Bukit Siluman


BULAN seperempat bergerak pelan keluar dari lintasan awan lalu menapak langit, membuat hamparan bumi yang sedari tadi digenggam kegelapan pelan-pelan mulai agak terang, meski hanya samar-samar.

Di sebuah ruangan yang hanya diterangi nyala sebuah obor kecil terlihat dua orang sedang duduk berdampingan di atas sebuah dipan kayu besar beralas jemari tebal. Mulut kedua orang ini sama-sama terkancing, tak ada yang buka suara. Keduanya hanya saling pandang satu sama lain.

Tiba-tiba orang di sebelah kanan melakukan gerakan dengan palingkan wajahnya sedikit ke samping. Pandangannya berpindah ke arah sebuah jendela kayu. Dia lantas bangkit dan melangkah perlahan menuju jendela. Sepasang tangannya yang kokoh bergerak. Di kejap lain, jendela itu terpentang. Sepasang mata orang ini untuk beberapa lama memandangi bulan seperempat yang naik ke bentangan langit. Dia menghela napas dalam. Lalu menutup kembali jendela dan putar tubuhnya. Sepasang matanya yang tajam kembali memandang ke arah orang yang masih duduk di atas dipan kayu.

Yang memiliki mata tajam dan tangan kokoh ini adalah seorang laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun. Paras wajahnya tampan namun keras. Dagunya kokoh dengan kumis lebat. Rambutnya panjang yang dibiarkan tergerai lepas menutupi tengkuk dan sebagian bahunya. Dia mengenakan pakaian hitam-hitam.

Sedangkan orang yang duduk di atas dipan adalah seorang perempuan muda berwajah cantik jelita. Dia mengenakan pakaian tipis ketat warna putih. Rambutnya panjang dan diikat ke belakang. Sepasang matanya tajam dan berbinar. Dadanya kencang menantang, pinggulnya besar menggairahkan.

"Hm.... Melihat bentuk bulan, kira-kira masih sembilan hari lagi malam pertemuan itu akan berlangsung. Jahanam betul! Rasanya aku sudah tak sabar!" Tiba-tiba si pemuda memaki sendiri dalam hati. Dagunya sedikit terangkat dengan mulut terkancing, pertanda menahan rasa marah.

Pada saat bersamaan, si gadis palingkan wajah. Melihat perubahan pada air muka si pemuda, gadis berwajah cantik ini sunggingkan senyum. Lalu melangkah ke arah si pemuda dengan dada di busungkan.

"Saat pertemuan itu sudah dekat. Bersabarlah sedikit!" kata si gadis seraya pentangkan kedua tangannya lalu ditakupkan di tengkuk si pemuda. Perlahan-lahan si gadis menarik kedua tangannya hingga kepala si pemuda tertarik ke depan, mendekati wajahnya yang sepasang matanya telah dipejamkan dengan bibir setengah membuka.

Mula-mula si pemuda diam saja, namun sejengkal lagi wajahnya bertemu dengan wajah cantik di hadapannya, si pemuda tahan gerakan kepalanya. Sepasang matanya memandang tajam tanpa keluarkan sepatah kata, membuat si gadis buka matanya. Dia tertegun sejenak. Belum sampai mulutnya terbuka mengucapkan sesuatu, si pemuda telah angkat kedua tangannya, mencekal bahu gadis di hadapannya dan berkata datar.

"Nilam Sari.... Pikiranku sedang kacaubalau. Tahan dulu gejolakmu!"

Ucapan si pemuda sesaat membuat rona wajah si gadis merah padam. Namun sesaat kemudian bibirnya sunggingkan senyum. Seolah tak menghiraukan ucapan si pemuda, dia angkat tumitnya lalu wajahnya disorongkan ke depan, bibirnya segera melumat bibir si pemuda. Si pemuda diam saja, namun ketika si gadis yang dipanggil Nilam Sari lepaskan kedua tangannya dan menelusup ke balik pakaiannya, si pemuda dadanya bergetar, perlahan-lahan pula bibirnya membalas lumatan. Kedua tangannya bergerak turun ke pinggul si gadis.

Merasa mendapat balasan, Nilam Sari mulai membuka kancing pakaian si pemuda dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membuka satu persatu kancing pakaiannya sendiri. Si pemuda darahnya menggelegak tatkala dadanya merasakan dua payudara besar dan hangat menempel ke dadanya.

Nilam Sari angkat kedua tangannya ke bahu, lalu sekali sentak pakaian yang dikenakannya jatuh, membuat dirinya kini polos. Namun sebelum pakaian itu jatuh, si pemuda telah pula angkat kedua tangannya, pakaian si gadis ditangkapnya lalu dikenakan kembali. Bersamaan dengan itu, kepalanya ditarik ke belakang, membuat Nilam Sari bukan hanya terperangah tapi juga memberengut dengan dada turun naik. Sepasang mata gadis itu memandang tajam, namun dia buru-buru mengalihkan pandangannya tatkala dilihatnya sang pemuda juga memandang ke arahnya dengan tatapan aneh.

"Nilam Sari.... Untuk sementara urusan senang-senang kita tunda dahulu. Masalah pertemuan ini benar-benar penting. Sekali pertemuan ini gagal, gagal pula cita-citaku!"

"Kau nampaknya masih khawatir dengan rencana yang telah kita buat...," kata Nilam Sari sambil menggenggam tangan si pemuda. Gadis ini tak berusaha mengancingkan kembali pakaiannya, hingga dadanya yang kencang masih terpentang. Namun entah karena terpancing dengan masalah yang akan dihadapi, dada putih kencang itu kali ini tak membuat si pemuda tertarik.

"Kegagalan adalah hal yang paling kutakutkan! Dan aku tak mau hal itu terjadi!"

"Rencana telah kita atur, malah kita telah atur rencana susulan jika rencana pertama gagal. Apalagi yang perlu dikhawatirkan?" Nilam Sari coba menenangkan si pemuda.

"Aku tahu. Namun aku baru benar-benar tenteram jika rencana ini berjalan baik dan berhasil!"

"Keyakinan adalah modal utama. Kalau kau masih gelisah sebelum semuanya berlangsung, berarti kau mundur sebelum perang! Citacitamu hanya akan jadi impian!"

"Cita-citaku! Bukan, Nilam Sari. Ini citacita kita bertiga!"

Nilam Sari tersenyum. Genggaman tangannya makin dipererat. Kepalanya menggeleng perlahan. "Tidak. Sejak malam ini aku tak ingin lagi lembaran kulit itu! Aku hanya akan membantumu mendapatkannya. Dan aku senang jika kau berhasil!"

Si pemuda tersentak. "Kau tak menginginkan lembaran kulit itu?!"

Nilam Sari gelengkan kepalanya. "Dulu ya. Tapi sekarang tidak! Yang kuinginkan sekarang adalah dirimu berada di sampingku selamanya, karena...,"

Nilam Sari tak meneruskan ucapannya karena bersamaan dengan itu si pemuda lepaskan tangannya dari genggaman Nilam Sari, lalu merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

"Sungguh aku bahagia sekali mendengarnya, Nilam Sari.... Kau tak perlu cemas. Hanya kaulah kelak yang patut mendampingiku...." Habis berkata begitu, si pemuda melumat bibir Nilam Sari.

Nilam Sari menggeliat seraya mendesah panjang tatkala kedua tangan si pemuda mulai masuk ke balik pakaiannya.

"Apakah aku harus mengatakannya sekarang jika aku...," Nilam Sari tak meneruskan kata hatinya, sebab kedua tangan si pemuda telah tarik lepas pakaiannya dan dirinya diangkat serta dibawa ke atas dipan Gadis berparas cantik itu duduk bersila di mulut gua yang nyaris tak kelihatan karena tertutup kerapatan semak belukar di sekitarnya. Kedua tangannya dirangkapkan di depan dada sementara kedua matanya terpejam rapat. Rambutnya yang panjang tergerai dibiarkan menutupi sebagian wajahnya. Melihat sikapnya, gadis berpakaian ungu ini sedang memusatkan mata hatinya. Namun agaknya gadis ini tak berhasil. Karena sesaat kemudian helaan napasnya berhembus panjang dengan kepala digoyang-goyang. Pada saat bersamaan matanya membuka, mulutnya perdengarkan gumaman tak jelas.

"Menurut perjanjian, seharusnya tadi malam dia sudah datang. Apa yang membuatnya tak menepati janji? Belum berhasil bertemu dengan Nilam Sari...? Atau...." Si gadis menarik nafas dalam. "Kenapa aku berpikir sejauh itu...? Tapi seandainya dia macam-macam, tak kubiarkan dia hidup! Segala milikku telah kuserahkan padanya. Lebih dari itu, kini aku telah...," bisikan hati si gadis terputus tatkala telinganya menangkap suara semak belukar diterabas.

Si gadis tidak menunggu lama. Karena sesaat kemudian, semak belukar di sekitar mulut gua di mana dia berada menguak, lalu muncullah seseorang!

Dia adalah seorang lelaki bertubuh tegap. Mengenakan pakaian hitam-hitam. Parasnya tampan tapi keras. Kumisnya lebat dengan dagu kukuh. Rambutnya panjang dengan sepasang mata tajam. "Braja Musti...," gumam si gadis dengan memandang tak berkedip pada pemuda yang kini tegak memandangnya. Kegelisahan mendadak lenyap dari sikapnya meski wajahnya masih menyimpan gurat kecewa.

"Sekar Arum.... Harap kau maafkan keterlambatanku. Nilam Sari "

"Kenapa dengan dia?!" si gadis yang dipanggil Sekar Arum cepat menukas sebelum si pemuda meneruskan ucapannya. Wajahnya tampak tegang.

"Baru tadi malam aku bertemu dengannya "

Sekar Arum menghela napas panjang. Si pemuda bernama Braja Musti itu melangkah mendekat. Sepasang matanya memandang tajam pada Sekar Arum dari atas hingga bawah.

"Apa rencana itu tetap?!" Sekar Arum ajukan tanya begitu Braja Musti berhenti dua langkah di depannya.

Braja Musti mengangguk. "Kau siap bukan?!" Sekar Arum tersenyum. "Demi kau, apa pun akan kulakukan! Walau nyawaku sebagai taruhan!" Ucapan Sekar Arum menyentuh hati Braja Musti, hingga pemuda ini bungkukkan tubuh. Kedua tangannya meraih bahu sang gadis lalu menariknya ke atas hingga Sekar Arum bergerak bangkit.

Sejenak kedua orang ini saling berpandangan. Lalu Braja Musti menarik tubuh sang gadis dalam pelukannya. Untuk beberapa lamanya keduanya tenggelam dalam peluk cium. "Sampai kapan hubungan kita ini berjalan begini?!" Sekar Arum berkata seraya rebahkan kepalanya di dada Braja Musti.

"Bersabarlah. Jika rencana kita berjalan tanpa halangan dan lembaran kulit itu telah menjadi milik kita, hubungan kita tak perlu lagi sembunyi-sembunyi!"

Sekar Arum menarik napas dalam-dalam. "Sebenarnya kita tak perlu menyembunyikan masalah hubungan kita. Paling tidak di hadapan Nilam Sari "

Braja Musti berdebar. Pandangannya menatap jauh.

"Kau salah, Sekar Arum. Justru kita harus menyembunyikan hubungan kita di hadapannya. Kita menjaga agar tak ada keretakan di antara kita bertiga, setidak-tidaknya sebelum pertemuan itu berlangsung."

Sekar Arum tarik kepalanya dari dada Braja Musti. Sepasang matanya menatap lekat-lekat wajah pemuda di depannya. "Nada bicaramu mengisyaratkan kau menyimpan sesuatu. Ada apa antara kau dan Nilam Sari?!"

Braja Musti menggeleng. "Kau jangan menduga yang tidak-tidak. Aku bilang kita hanya menjaga agar tak terjadi keretakan. Purnama depan, kita bertiga akan menghadap guru. Jika di antara kita terjadi keretakan, dan guru menciumnya, gagallah rencana kita! Aku tak mau gagal! Kau dengar itu?" Sekar Arum tak menyahut. "Aku khawatir Nilam Sari tak senang dengan hubungan kita ini. Namun jika lembaran kulit itu telah berhasil kita raih, kita tak perlu lagi menghiraukan perasaannya. Dengar, Sekar Arum. Kita masih butuh tenaga Nilam Sari!" ujar Braja Musti melanjutkan kata-katanya. "Paling tidak sebelum lembaran kulit itu berhasil kita rebut! Bersabarlah. Purnama tidak lama lagi "

"Apakah Nilam Sari tak berubah pendi-

rian?!"

"Hingga tadi malam, rencana tak ada peru-

bahan. Maka dari itu, kita harus menjaga perasaannya. Percayalah! Hanya kau satu-satunya yang kelak mendampingiku...!"

Mendengar ucapan Braja Musti, Sekar Arum rebahkan kepalanya kembali ke dada bidang si pemuda. Perasaan cemburu yang menggelayut di dadanya lenyap.

"Aku gembira. Dan kau tentu akan lebih senang Jika mendengar sesuatu dariku "

Kening Braja Musti mengernyit. Dengan memandang ke arah semak belukar lebat di sekitar mulut gua, pemuda ini bergumam.

"Tak ada kegembiraan selain berdekatan denganmu dan memperoleh lembaran kulit itu!"

Sekar Arum menggoyang-goyangkan kepalanya membuat Braja Musti sedikit terkejut. "Sekarang, ada sesuatu yang melebihi dari itu, Braja Musti!"

"Katakanlah, apa sesuatu itu?!"

"Tunggulah hingga pertemuan itu usai ,"

jawab Sekar Arum dengan makin rapatkan tubuhnya, membuat tubuh Braja Musti dialiri hawa panas dan dada berdebar. "Heran. Apa gerangan yang disembunyikannya? Apakah dia mencium hubunganku dengan Nilam Sari? Lalu akan membuka setelah pertemuan malam purnama depan? Ah, tak mungkin. Seorang perempuan tak mungkin bisa memendam bara begitu lama. Lantas apa?!"

Selagi Braja Musti menduga-duga sendiri dalam hati, Sekar Arum mendesah panjang. "Kau terdiam. Pasti kau mencari jawaban. Bersabarlah! Kelak jawaban itu akan kau peroleh. Yang pasti sesuatu itu akan menambah erat hubungan kita "

Braja Musti menghela napas lega. Kalau sesuatu itu mempererat hubungan, berarti tak ada sangkut pautnya dengan Nilam Sari. Namun kelegaan si pemuda hanya sesaat.

"Aku sudah lama menjalin hubungan. Sesuatu yang mempererat hubungan. Sesuatu

yang mempererat hubungan adalah.... Hah? Apakah dia...." Tubuh Braja Musti bergetar. Ditariknya bahu Sekar Arum menjauh dari dadanya.

"Sekar Arum. Katakan apakah kau ?!"

Sekar Arum tersenyum. Kepalanya menggeleng pelan. "Saatnya akan tiba untuk mengatakan semua itu. Kekasih.... Sudah semalaman aku menunggumu. Aku merindukan dirimu. Bawalah aku terbang seperti malam-malam yang lalu "

Habis berkata begitu, Sekar Arum pejamkan sepasang matanya. Kedua tangannya bergerak menarik kepala si pemuda mendekat wajahnya. Bibir mereka bertemu. Sekar Arum lalu mengambil kedua tangan Braja Musti dan ditaruh di dadanya. DUA MESKI saat itu malam telah jauh merangkak namun Sungai Siluman tampak berkilat-kilat. Riak air memancarkan sinar putih berkilau terkena cahaya sang rembulan purnama yang bergerak leluasa tanpa terhalang awan. Dalam keadaan seperti itu sebuah sampan kecil terlihat meluncur deras membelah permukaan air.

Di bagian depan sampan, tegak seorang pemuda bertubuh tegap mengenakan pakaian hitam-hitam. Rambutnya panjang berkibar-kibar ditiup angin sungai. Kedua tangan pemuda ini memegang dua batang bambu yang terus menerus ditusukkan ke dalam air sungai. Sementara di sebelah kanan dan kiri sampan duduk dua orang gadis.

Sebelah kanan adalah gadis berwajah cantik mengenakan pakaian warna putih tipis ketat. Dadanya kencang dengan mata tajam berbinar, rambutnya yang panjang diikat ke belakang. Tangan kanannya memegang batang bambu yang sekali-kali dihujamkan ke dalam air sungai di bawahnya. Sedangkan yang di sebelah kiri adalah gadis berparas cantik mengenakan pakaian warna ungu. Rambutnya yang panjang dibiarkan bergerai hingga melambai-lambai ditiup angin sungai. Tangan kirinya juga memegang sebatang bambu yang ditusuk-tusukkan ke dalam air  sungai di sampingnya.

Meski batang-batang bambu yang digunakan sebagai dayung oleh ketiga orang ini hanya sebesar dua kali ibu jari, namun karena gerakan mereka dengan kerahkan tenaga dalam, maka tak heran jika begitu ketiganya sama-sama menghujamkan batang bambu di tangan masing-masing ke dalam air sungai, sampan itu meluncur dengan derasnya!

"Kita sudah dekat...!" Tiba-tiba sang pemuda keluarkan suara memecah suara gelombang air tanpa berpaling ke arah dua gadis cantik di samping kiri dan kanan sampan. Sepasang mata pemuda ini memperhatikan permukaan air sungai. Air tak lagi berwarna jernih, melainkan merah seperti darah! Anehnya, bersamaan dengan bergantinya warna air, berhembus bau harum.

Dua gadis tak ada yang menyahut. Sebaliknya kedua gadis ini ikut-ikutan arahkan pandangan masing-masing ke arah air sungai. Sejenak kemudian kedua gadis ini sama-sama palingkan wajah ke kanan kiri, hingga keduanya saling berpandangan. Keduanya lantas sama-sama sunggingkan senyum meski ketegangan tak bisa lenyap dari wajah kedua gadis ini.

"Nilam Sari, Sekar Arum.... Kalian siap...?!" si pemuda kembali membuka suara masih tanpa palingkan wajahnya ke belakang.

Kembali tak ada sahutan dari pertanyaan si pemuda, membuat pemuda ini putar tubuhnya lalu memandang ke samping kanan kiri.

"Pertanyaanmu tidak perlu dijawab, Braja Musti. Perjalanan ini cukup menjelaskan semuanya! Bukankah begitu, Sekar Arum?!" kata gadis berpakaian putih yang bukan lain adalah Nilam Sari adanya seraya berpaling pada gadis di sebelah kirinya yang tidak lain adalah Sekar Arum.

Sekar Arum menjawab dengan anggukan kepala. "Semua rencana tetap, Braja Musti "

Sang pemuda yang adalah Braja Musti adanya tersenyum menutupi kegelisahan serta ketegangan. Lalu tanpa berkata lagi, dia balikkan tubuh dan hujamkan kembali bambu di kedua tangannya. Nilam Sari dan Sekar Arum tak tinggal diam. Keduanya pun segera pula menusukkan batang bambu di tangan masing-masing ke dalam air sungai, hingga sampan itu kembali meluncur, tidak lagi ke depan, melainkan ke sebelah kanan. Sampan itu bergerak menepi.

Braja Musti segera berkelebat, disusul kemudian oleh Nilam Sari dan Sekar Arum sebelum sampan itu merapat ke pinggir sungai. "Hem....

Sepuluh tahun kutinggalkan, tempat ini hampir tak mengalami perubahan. Akankah pertemuan ini benar-benar akan membuahkan hasil?! Semoga Nilam Sari dan Sekar Arum menjalankan tugasnya dengan baik. Jika aku berhasil, hem....

Aku akan jadi raja diraja rimba persilatan!" Braja Musti membatin. Lalu berpaling ke belakang dan memberi isyarat pada Nilam Sari serta Sekar Arum untuk mengikutinya.

Ketiga orang ini terus berkelebat. Medan yang mereka tempuh menanjak, karena tempat di mana sampan itu mendarat, berupa bukit, tinggi di bagian tengah. Sekitar sepuluh tombak, ketiganya berhenti. Mata masing-masing orang memandang berkeliling. Yang tampak hanyalah gundukan-gundukan tanah dan pohon-pohon gundul di sana-sini. Pohon-pohon yang tak mempunyai daun sehelai pun! Tak tampak adanya tandatanda kehidupan sama sekali!

"Braja Musti. Apalagi yang kita tunggu?!" Nilam Sari berbisik mengejutkan si pemuda, membuat wajahnya makin tegang. Pemuda ini lantas melangkah ke sebelah kanan, diikuti oleh dua gadis di belakangnya. Sampai pada sebuah gundukan agak besar, ketiganya hentikan langkah. Di situ tampak sebuah lobang menganga menyerupai mulut gua.

Braja Musti memandang pada Nilam Sari dan Sekar Arum. Kedua gadis ini mengangguk. Belum sampai keduanya benar-benar mengangguk, Braja Musti telah melangkah memasuki lobang yang kemudian diikuti oleh Nilam Sari dan Sekar Arum.

Lobang itu ternyata sebuah terowongan panjang. Namun ketiga orang ini melangkah dengan tenang meski wajah mereka tetap tegang. Langkah-langkah mereka menunjukkan bahwa tempat ini sudah tak asing lagi bagi ketiganya.

Sampai ujung terowongan, mereka sejenak hentikan langkah. Di hadapan mereka kini tampak hamparan tanah membentuk lingkaran sebesar dua puluh tombak berkeliling. Di sebelah depan sana, terlihat beberapa lobang terowongan. Ada keanehan di hamparan tanah gersang yang menghubungkan antara terowongan pertama dengan beberapa terowongan di depan sana. Di hamparan tanah itu pada beberapa tempat tampak beberapa batu bertulisan angka satu sampai dua puluh delapan.

Kalau dilihat sepintas, tak ada yang aneh pada hamparan tanah gersang yang ditonjoli batu-batu bertulisan angka itu. Namun sebenarnya, hamparan tanah itu adalah lumpur hidup yang tertutup lapisan tanah tipis! Hal itu terbukti ketika Braja Musti mengambil sebuah kerikil dan dilemparkan, hamparan tanah bergoyang. Kerikil itu pun tenggelam!

Namun melihat hal ini, ketiga orang yang ada di mulut terowongan pertama tak menampakkan rasa terkejut. Sebaliknya Braja Musti segera melangkah ke hamparan tanah dengan menjejak pada tonjolan batu berangka tiga. Dari tempatnya berdiri, Braja Musti lantas bergerak melompat ke tonjolan batu berangka enam. Dia lantas putar tubuhnya menghadap pada Nilam Sari dan Sekar Arum yang masih tegak di mulut terowongan.

"Kalian masih ingat bukan mana yang harus dibuat batu loncatan?!" serunya dengan suara sedikit ditahan. Namun gema suaranya bergaung keras! Memantul ke setiap lobang terowongan yang ada di situ.

Dua gadis yang diteriaki tidak ada yang menyahut. Malah Nilam Sari cepat melompat ke arah tonjolan batu berangka tiga. Lalu berkelebat dan tahu-tahu telah tegak di atas tonjolan batu berangka sembilan. Begitu Nilam Sari berkelebat, Sekar Arum melompat ke tonjolan batu berangka tiga.

Melihat hal ini, Braja Musti segera putar kembali tubuhnya. Nilam Sari ternyata telah berpindah lagi. Kini gadis berpakaian putih tipis ini telah tegak di atas tonjolan batu berangka lima belas. Sementara Sekar Arum telah berada di tonjolan batu angka dua belas.

Ketiga orang ini tampak berkelebat dari tonjolan batu ke tonjolan batu lainnya. Dan sekejap kemudian, ketiganya telah berada di depan beberapa terowongan.

Braja Musti melangkah maju tiga tindak ke depan terowongan paling tengah. Dia berpaling sejenak pada dua gadis di belakangnya. Lalu mengangguk dan berkelebat. Bukan masuk ke dalam terowongan, melainkan berkelebat ke atas! Di mana terdapat lamping batu lurus ke atas yang tingginya kira-kira sepuluh tombak yang menghubungkan bagian atas terowongan-terowongan dengan langit-langit tempat itu.

Begitu di atas udara, tangan kanannya bergerak mendorong batu. Begitu tangannya ditarik kembali, batu yang terdorong tangan membuka! Dari dalam batu yang membuka membersit seberkas cahaya kuning kemerahan.

Pada saat batu membuka, Braja Musti cepat berkelebat masuk lalu lenyap dari pandangan. Nilam Sari jejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke udara lalu masuk ke batu yang membuka. Bersamaan masuknya Nilam Sari, Sekar Arum segera menyusul berkelebat lalu lenyap masuk ke batu yang membuka. Begitu ketiganya masuk, batu yang tadi membuka itu menutup kembali tanpa keluarkan suara!

Ternyata di balik batu itu terdapat tangga menurun dari batu-batu kerikil. Tangga menurun itu menghubungkan dengan sebuah terowongan agak besar yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah cermin besar yang diikat dan digantungkan di bawah sebuah lobang. Dari lobang di atas cermin membersit cahaya kuning kemerahan. Namun memancarkan sinar panas. Cahaya dari lobang itu lantas dipantulkan cermin ke sekitar tempat itu, hingga terowongan agak besar itu sedikit terang.

Begitu Braja Musti, Nilam Sari, serta Sekar Arum sampai pada terowongan agak besar yang diterangi pantulan cahaya dari cermin, ketiganya berhenti.

Ketegangan terlihat pada wajah ketiganya. Hingga dahi dan leher mereka tampak basah oleh keringat dingin. Namun mungkin karena malam ini adalah malam yang dijanjikan untuk pertemuan, meski dengan tegang akhirnya ketiga orang ini melangkah menelusuri terowongan. Anehnya, kali ini Braja Musti melangkah dengan menghitung setiap langkahan kakinya. Sementara dua gadis di belakangnya hanya mengikuti.

Sampai pada hitungan langkah ke dua puluh satu, Braja Musti hentikan langkah. Lalu putar tubuh setengah lingkaran menghadap batu bagian samping terowongan. Setelah menarik napas panjang dan dalam, dia melangkah maju lima tindak. Kedua tangannya bergerak mendorong batu samping terowongan. Seolah sulit dipercaya, batu bagian samping terowongan itu bergerak membuka! Sebesar pintu rumah biasa.

Tanpa menunggu lama lagi, Nilam Sari dan Sekar Arum cepat mengikuti Braja Musti yang telah masuk. Begitu mereka masuk, batu yang membentuk pintu itu menutup kembali dengan keluarkan suara berdebam dahsyat! Tempat di mana ketiga orang itu kini berada bergetar keras. Malah ketiganya hampir saja terjerembab jika tidak segera kerahkan tenaga dalam masingmasing untuk mengatasi huyungan tubuhnya.

Mereka bertiga kini berada pada sebuah ruangan besar yang di pojoknya terlihat nyala sebuah obor yang ditancapkan begitu saja pada dinding yang terbuat dari batu. Hingga ruangan besar itu tampak terang. Pada bagian depan ruangan yang menghadap ke pintu batu, hampir bersebelahan dengan dinding, tampak sebuah tonjolan batu rata sebesar dua tombak berkeliling.

Ketiga orang ini melangkah pelan-pelan ke arah tonjolan batu rata. Sepuluh langkah lagi sampai, ketiganya berhenti lalu masing-masing orang ini lorotkan tubuhnya dan duduk bersila. Braja Musti berada paling kanan, Nilam Sari berada di tengah, sedangkan Sekar Arum berada paling kiri.

Untuk beberapa lama ketiga orang ini diam tak bergerak dan tak ada yang buka suara. Mata mereka masing-masing terpentang lebar tak berkedip memandang ke tonjolan batu rata di hadapannya. Keringat telah membasahi sekujur tubuh mereka dari kepala hingga kaki. Padahal ruangan itu sangat lembab, pertanda jika mereka dilanda rasa tegang yang amat sangat.

Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba Braja Musti lirikkan matanya ke samping. Mulutnya yang telah membuka hendak mengucapkan sesuatu terkancing lagi ketika lirikan matanya menangkap Nilam Sari diam tak bergerak dengan mata nyalang tak berkedip memandang ke arah tonjolan batu rata.

"Jahanam! Akankah pertemuan ini tak membawa hasil? Atau barangkali aku salah menghitung hari?! Tidak. Aku masih ingat pesan Guru. Pertemuan akan berlangsung sepuluh tahun kemudian pada purnama bulan terakhir. Tapi kenapa dia tak muncul?! Lupakah dia dengan ucapannya? Atau...." Braja Musti tidak meneruskan membatin, karena bersamaan dengan itu terdengar suara berderit yang memekakkan telinga.

Kepala mereka segera berpaling ke arah datangnya suara berderit. Mereka melihat salah satu dinding ruangan itu menguak lubang sebesar pintu. Dari dalamnya mengepul asap putih, lalu melesat sebuah bayangan. Demikian cepatnya daya lesat bayangan itu, hingga mereka tak dapat memastikan apa yang baru saja melesat keluar.

Selagi ketiga orang ini terpaku, telinga mereka mendengar suara batuk-batuk kecil beberapa kali. Serentak ketiganya berpaling kembali. Masing-masing orang terperangah dengan mulut terbuka tatkala mereka melihat seseorang telah duduk bersila di atas tonjolan batu rata di hadapan mereka!

"Eyang Pandanaran!"

Setelah dapat mengatasi rasa terkejut, masing-masing orang serentak keluarkan suara hampir bersamaan. Lalu ketiganya membungkuk dalam-dalam.

Orang yang duduk di atas tonjolan batu rata dan dipanggil dengan Eyang Pandanaran adalah seorang laki-laki berusia sangat lanjut. Mengenakan jubah warna putih. Rambutnya sedikit dan berwarna putih. Kumis dan jenggotnya yang juga putih, panjang menjulai ke bawah. Sebagian besar wajahnya yang terlihat, hampir-hampir tak berdaging!

TIGA

BRAJA Musti, Nilam Sari, Sekar Arum. Rentang waktu sepuluh tahun bukanlah masa yang pendek. Murid-muridku, apakah kalian baik-baik saja selama sepuluh tahun hidup di tengah keramaian?!" Eyang Pandanaran buka keheningan yang melingkupi ruangan itu.

Ketiga orang di hadapan Eyang Pandanaran sama-sama angkat kepala. Memandang lekatlekat pada orang tua yang duduk bersila di hadapannya. Ketegangan tak dapat disembunyikan dari wajah mereka walaupun Eyang Pandanaran terlihat tersenyum meski samar-samar.

"Guru...," akhirnya Braja Musti buka mulut. "Keadaan kami bertiga baik-baik saja...," suara Braja Musti terdengar serak parau dan sedikit bergetar, membuat Eyang Pandanaran kernyitkan dahi.

"Hem.... Bagus. Itulah yang memang selalu kuharapkan. Seperti ucapanku pada sepuluh tahun lalu, malam ini adalah malam kalian mengetahui apakah ada di antara kalian yang digurat untuk memiliki apa yang selama ini dipercayakan padaku untuk menjaga dan merawatnya! Namun sekali lagi kalian harus ingat, apa pun yang akan kalian dengar terimalah sebagai kenyataan!"

"Guru.... Apakah ucapanmu melambangkan di antara kami tidak ada yang ditakdirkan memiliki lembaran kulit itu?!" kembali Braja Musti yang keluarkan suara.

Eyang Pandanaran sipitkan sepasang matanya. Orang tua ini sedikit terkejut mendengar pertanyaan murid laki-lakinya itu.

"Hem.... Ternyata kau telah tahu apa yang selama ini dipercayakan padaku untuk menyimpan, menjaga sekaligus merawatnya. Braja Musti, dari mana kau tahu bahwa yang kusimpan selama ini adalah sebuah lembaran kulit?!"

"Terbukti kebenaran berita yang tersebar di rimba persilatan. Lembaran kulit hebat bernama Lembaran Kulit Naga Pertala itu ada di tangannya! Hem.... Tinggal selangkah lagi. Kini giliran Nilam Sari dan Sekar Arum yang harus bertindak! Mudah-mudahan berjalan sesuai rencana...." Diam-diam Braja Musti membatin. Lalu memandang pada gurunya dan berkata.

"Guru.... Kalangan rimba persilatan akhirakhir ini diguncang dengan berita tentang Lembaran Kulit Naga Pertala. Dan menurut kabar yang berhasil kusirap dari orang yang terpercaya, lembaran kulit itu disimpan seseorang yang bermukim di Bukit Siluman! Sebenarnya aku belum percaya dengan kabar berita itu. Aku tadi berkata seraya menduga-duga. Ternyata menuruti katakatamu, sedikit banyak aku mulai percaya kabar itu "

Eyang Pandanaran mengangguk-angguk. Diam-diam pula dalam hati orang tua ini berkata. "Meski kalangan rimba persilatan telah tahu, namun bukan hal mudah untuk mendapatkannya. Untuk mencapai tempat ini diperlukan tenaga dan pikiran jeli. Jika tidak, nyawa mereka akan melayang! Tempat ini telah kupersiapkan bertahun-tahun demi menjaga agar lembaran kulit ini tak jatuh ke tangan orang yang tidak diharapkan! Aku percaya, murid-muridku tidak akan membuka rahasia jalan ke ruangan ini!"

"Braja Musti, Nilam Sari dan kau Sekar Arum. Kurasa kalian telah mendapat kabar yang benar. Terus terang saja, apa yang selama ini kusimpan memang adalah sebuah lembaran kulit bernama Lembaran Kulit Naga Pertala...," kata Eyang Pandanaran sambil memandang satu persatu pada muridnya.

Ketegangan terlihat lebih terbayang di wajah ketiga murid Eyang Pandanaran daripada perasaan terkejut mendengar kata-kata gurunya itu. "Tapi seperti kataku tadi, apa yang akan kalian dengar terimalah sebagai kenyataan!" sambung sang guru. "Murid-muridku. Sebagai guru, aku sebenarnya menghendaki salah satu di antara kalian ada yang mewarisi lembaran kulit itu. Tapi kehendak manusia ada di bawah kehendak sang Pencipta. Lebih dari itu, takdir ketetapan sang Pencipta tidak bisa dirubah dengan apa pun juga! Meresapi kenyataan itu, kuharap kalian berlapang dada jika di antara kalian memang tidak ada yang ditetapkan untuk mewarisi lembaran

kulit itu!"

Mendengar keterangan Eyang Pandanaran, ketegangan makin menyelimuti murid-muridnya. Hingga untuk beberapa lama, tak ada satu pun yang bicara.

"Murid-muridku. Aku tahu, kalian kecewa karena sepuluh tahun menanti dan tak mendapatkan apa-apa dari masa penantian itu. Tapi aku akan menyesal dan kecewa berlebih-lebih jika harus memaksakan diri untuk menyerahkan sesuatu bukan pada orangnya! Harap kalian mengerti "

"Jika demikian halnya, kami akan menerima dengan hati lapang, Guru...!" ucap Braja Musti seraya bungkukkan tubuh menjura dalam. Namun diam-diam sambil menjura, pemuda ini lirikkan matanya ke arah Nilam Sari.

"Benar, Guru. Kalau lembaran kulit itu tidak ditetapkan untuk kita, kami akan menerimanya sebagai kenyataan...," Nilam Sari menyambung ucapan Braja Musti sambil ikut-ikutan bungkukkan tubuh yang kemudian juga diikuti oleh Sekar Arum.

Eyang Pandanaran menghela napas lega sambil tersenyum melihat para muridnya dapat menerima kenyataan yang didengarnya. Namun senyum orang tua ini terputus seketika. Sepasang matanya membeliak besar, dadanya bergetar keras. Betapa tidak? Begitu Nilam Sari dan Sekar Arum angkat kembali kepalanya dan luruskan tubuh, pakaian bagian atas kedua gadis ini telah terbuka! Hingga dua pasang payudara kencang membusung dan putih terpentang tanpa penutup lagi!

"Nilam Sari, Sekar Arum! Jangan berbuat macam-macam. Tutup kembali auratmu itu!" bentak Eyang Pandanaran seraya alihkan pandangannya pada jurusan lain. Sementara Braja Musti seolah-olah masygul dengan tindakan kedua gadis di sampingnya, namun dia tak keluarkan sepatah kata. Bahkan menoleh pun tidak.

Mendengar bentakan gurunya, bukannya membuat Nilam Sari dan Sekar Arum menutup dadanya, malah dengan tersenyum kedua gadis ini selonjorkan kaki masing-masing ke depan. Kedua tangannya lalu melepas kancing-kancing bagian bawah. Lalu perlahan-lahan kedua gadis ini bergerak bangkit dengan pakaian bagian depan terbuka!

"Guru...," kata Nilam Sari seraya melangkah mendekat. "Bertahun-tahun hidup menyendiri apakah tidak merindukan kenikmatan? Sebagai imbalan atas ilmu yang kau berikan pada kami, malam ini kami ingin guru menikmati apa yang ada pada kami "

"Berhenti!" Eyang Pandanaran kembali membentak. "Tak pantas ucapan dan perbuatan itu kalian perlihatkan di hadapan guru kalian! Sekali lagi tutup kembali tubuh kalian berdua atau "

Eyang Pandanaran tak meneruskan ucapannya karena bersamaan dengan itu Nilam Sari dan Sekar Arum telah meloncat ke samping kiri kanan gurunya. Dan tanpa malu-malu lagi kedua gadis ini segera menciumi gurunya dengan tangan menekan pada tangan gurunya.

"Kurang ajar! Kalian telah gila!" teriak Eyang Pandanaran dengan suara bergetar parau. Orang tua ini tampaknya mulai merasakan hawa hangat merasuki sekujur tubuhnya. Pelan-pelan pula dia mulai menikmati ciuman-ciuman yang dilakukan oleh Nilam Sari dan Sekar Arum. Bahkan kedua tangannya yang tadi hendak digerakkan untuk menepis tubuh gadis di hadapannya seolah lumpuh tak bisa digerakkan.

"Hem.... Aroma perangsang yang dipakai oleh Nilam Sari dan Sekar Arum tampaknya telah bekerja dengan baik. Orang tua itu mulai terangsang. Aku harus menepi dan tinggal tunggu saat yang tepat!" Braja Musti mendesis dalam hati seraya melirik ke depan. Bibir pemuda ini mengulas senyum seringai tatkala melihat sebagian tubuh kedua gadis itu hampir terbuka seluruhnya. "Keparat! Seandainya tidak demi lembaran kulit itu, tak akan kubiarkan tubuh bagus itu merengek-rengek di depan mataku!" maki Braja Musti lalu bangkit dan melangkah ke samping.

Meski sadar jika gelora nafsu telah merasuki jiwanya namun Eyang Pandanaran masih mencoba menekannya dengan pejamkan sepasang matanya.

Namun tindakannya ini justru menambah dirinya makin terangsang, hingga tatkala tangan Nilam Sari dan Sekar Arum melepas jubahnya, orang tua ini diam saja. Hal ini membuat kedua gadis itu makin berani. Dan dengan keluarkan desahan-desahan panjang kedua gadis ini mulai membuka pakaian dalam yang melapis jubah putih gurunya.

Saat jubah putih besar itu jatuh tercampak, ekor mata Braja Musti yang sejak tadi terus memperhatikan membeliak besar. Karena dicampakkan dengan kasar, jubah itu menyingkap. Pada bagian punggung jubah putih itu tampak sebuah lipatan berbentuk segi empat yang dilapis kain hingga benda itu tak tampak. Lipatan yang tipis. Andaikata Braja Musti tak terlalu memperhatikan, tak akan mungkin dapat melihatnya.

"Hem.... Pasti itu lembaran kulit yang kucari!" desis Braja Musti seraya tak berkedip memperhatikan. Merasa yakin, pemuda ini lalu alihkan pandangannya ke atas tonjolan batu rata. Nilam Sari dan Sekar Arum tampak duduk di pangkuan kiri kanan Eyang Pandanaran dengan pakaian tersingkap sebatas perut. Eyang Pandanaran sendiri tampak terengah-engah. Pakaian yang dikenakannya pun sudah terbuka. Tinggal pakaian bagian bawah.

Nilam Sari dan Sekar Arum perlahan-lahan merebahkan tubuh gurunya dengan terus menciumi bagian tubuh orang tua itu. Saat tubuh Eyang Pandanaran bergerak hendak telentang, Braja Musti berkelebat menyambar jubah putih yang tercampak. Dan tanpa berpaling lagi, pemuda ini putar tubuhnya lalu berkelebat menuju pintu batu yang tertutup.

Saat itulah Eyang Pandanaran menangkap kelebatan tubuh Braja Musti. Orang tua ini tibatiba tersadar. Kedua tangannya cepat ditepiskan ke samping kanan kiri hingga tubuh Nilam Sari dan Sekar Arum terjengkang. Dia cepat bergerak duduk, dan melihat Braja Musti telah berada di belakang pintu yang masih tertutup dengan membawa jubahnya, orang tua ini tersentak. Dia baru benar-benar sadar apa yang ada di balik perbuatan murid-muridnya.

"Laknat! Ternyata mulut kalian yang mau menerima, tapi hati kalian tidak! Kalian menginginkan lembaran kulit itu!" teriak Eyang Pandanaran. Karena lembaran kulit itu berada di jubahnya, mau tak mau orang tua ini harus segera merebutnya dari tangan Braja Musti. Takut Braja Musti segera kabur, orang tua ini angkat kedua tangannya lalu dihantamkan ke depan.

Wuuttt! Wuttt!

Gelombang angin dahsyat segera keluar menyambar ke arah Braja Musti. Braja Musti berpaling lalu hantamkan kedua tangannya.

Ruangan itu segera berguncang keras ketika dua pukulan itu bentrok. Braja Musti terpental ke belakang. Karena di belakangnya adalah dinding batu, maka tak ampun lagi tubuh Braja Musti mental menghantam dinding batu itu. Lalu bergedebukan jatuh ke bawah. Paras pemuda ini berubah pucat pasi. Darah tampak mengalir dari sudut bibirnya. Namun pemuda ini tak menghiraukan. Dia cepat bangkit lalu mengenakan jubah putih milik gurunya.

Di seberang, Eyang Pandanaran terdorong, namun orang tua ini segera dapat kuasai tubuh. Begitu melihat Braja Musti bangkit dan telah mengenakan jubahnya, marah orang tua ini tidak bisa ditahan lagi.

"Murid murtad! Mampus adalah bagian yang layak untukmu!" serunya sambil kembali lepaskan pukulan.

Sebenarnya Braja Musti tak berniat meladeni gurunya. Dia sadar, ilmunya masih jauh di bawah gurunya itu. Dia telah siap menghantam dinding untuk segera meloloskan diri, namun sebelum tangannya sempat menghantam, serangan gurunya telah datang, hingga mau tak mau kedua tangannya dihantamkan untuk menangkis.

Blaarrr!

Untuk kedua kalinya ruangan itu bergetar keras. Obor yang tertancap di dinding bergoyanggoyang sebelum akhirnya jatuh dan padam, membuat ruangan itu gelap.

Braja Musti merasakan tubuhnya terhantam gelombang angin dahsyat hingga untuk kali kedua tubuhnya mental. Begitu derasnya gelombang, hingga dinding batu di belakangnya yang terkena pentalan tubuhnya berderak ambrol dan tubuhnya telentang di luar ruangan!

Eyang Pandanaran sendiri terseret dan tersandar di dinding. Orang tua ini segera meneliti, merasa tak mengalami cedera yang parah, dia cepat bangkit hendak mengejar. Namun langkahnya tertahan tatkala menyadari tubuhnya hanya mengenakan pakaian bawah saja.

Dengan mengumpat panjang pendek, orang tua ini segera meraba-raba mencari pakaiannya. Saat itulah dari arah samping kanan kiri berdesir angin keras.

"Laknat! Kalian berdua juga harus mampus!" teriak Eyang Pandanaran tahu siapa gerangan yang lepaskan pukulan dari arah sampingnya.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Kedua tangan Eyang Pandanaran berkelebat menghantam ke arah samping kiri kanan memapak pukulan yang datang yang ternyata dilepaskan oleh Nilam Sari dan Sekar Arum.

Terdengar letupan dua kali berturut-turut. Disusul dengan seruan tertahan lalu terdengar benturan di dinding sebelah kanan dan kiri.

Nilam Sari dan Sekar Arum yang tubuhnya baru saja menghantam dinding ruangan pelototkan mata masing-masing untuk mengetahui keadaan tubuhnya, namun karena keadaan gelap, keduanya tak dapat mengetahuinya. Mereka hanya merasakan tubuhnya seakan remuk. Dada mereka bergetar keras dan sakit. Cairan hangat terasa meleleh dari mulutnya!

Kedua gadis ini cepat kerahkan tenaga dalam masing-masing. Lalu sepasang mata mereka memandang ke depan. Mata mereka pelan-pelan mulai terbiasa dengan gelap, dan samar-samar mereka dapat menangkap sosok Eyang Pandanaran yang sedang bergerak-gerak mengenakan pakaiannya. Kesempatan ini tak disia-siakan. Nilam Sari yang berada di sebelah kiri cepat bangkit lalu melompat satu tombak ke depan. Bersamaan dengan itu kedua tangannya lepaskan pukulan.

Eyang Pandanaran merasakan gelombang angin dahsyat menghantam dirinya. Sebelum gelombang angin itu menyapu tubuhnya, orang tua ini segera melompat ke samping dengan kedua tangan dihantamkan.

Pada saat Eyang Pandanaran hantamkan kedua tangannya ke sebelah kiri, Sekar Arum yang berada di sebelah kanan lepaskan pukulan.

Ruangan itu kembali laksana dilanda gempa ketika pukulan yang dilepas Nilam Sari bertemu dengan pukulan Eyang Pandanaran. Nilam Sari mental menghantam dinding sebelum akhirnya jatuh telengkup di lantai ruangan. Eyang Pandanaran hanya terjajar dua langkah ke belakang. Namun baru saja terjajar, pukulan Sekar Arum datang menggebrak!

Orang tua itu tersedak. Dia buru-buru bergerak menghindar, namun pukulan Sekar Arum lebih cepat datangnya, hingga tanpa ampun lagi orang tua ini keluarkan pekikan tinggi sebelum akhirnya mencelat menghantam dinding di belakangnya.

"Nilam! Lari!" teriak Sekar Arum seraya berkelebat ke dinding yang telah ambrol.

Mendengar teriakan saudara seperguruannya, Nilam Sari bangun. Meski masih merasakan sakit bukan alang kepalang, gadis ini cepat kerahkan sisa-sisa tenaga dalamnya. Lalu dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuh dia berkelebat menyusul Sekar Arum yang telah menerobos keluar.

Braja Musti sendiri, ketika mengetahui Nilam Sari dan Sekar Arum lancarkan serangan pada Eyang Pandanaran tak sia-siakan kesempatan. Ia sadar dirinya telah terluka cukup parah. Dia harus selamatkan diri lebih-lebih selamatkan lembaran kulit yang telah berada di tangannya. Berpikir sampai di situ, pemuda ini tertatih-tatih bangkit lalu melangkah keluar terowongan.

Eyang Pandanaran memaki sendiri dalam hati. Penyesalan dan kecewa atas tindakan murid-muridnya terbayang jelas dari wajahnya yang pucat pasi seakan tak berdarah itu. Darah telah mengalir dari mulutnya. Namun mengingat jubah berisi lembaran kulit telah lepas dari tangannya, orang tua ini tidak menghiraukan cedera tubuh dalamnya. Dia segera bangkit lalu berkelebat mengejar murid-muridnya.

Namun sampai di tengah-tengah ruangan, kelebatannya tertahan. Dia merasakan hawa aneh mendorong tubuhnya hingga meski dia kerahkan tenaga dalam untuk melawan, tubuhnya tak bisa bergerak!

Orang tua ini kerutkan dahi dengan hati menggerendeng marah. Saat itulah entah dari mana datangnya, dia mendengar suara desiran angin aneh menyerupai gemeretak ranting-ranting yang berjatuhan. Belum sempat mengetahui apa yang terjadi, sepuluh langkah di hadapannya asap putih mengepul dengan keluarkan cahaya berkilau hingga ruangan yang tadinya gelap samar-samar berubah agak terang.

Eyang Pandanaran tercekat dengan sepasang mata membeliak besar. Memandang tak berkesiap ke arah asap putih di hadapannya. Tibatiba orang tua ini surutkan langkah dua tindak dengan mulut menganga tatkala dari asap putih itu sepasang matanya samar-samar menangkap munculnya sesosok tubuh!

EMPAT

MESKI hanya samar-samar terbalut asap putih namun Eyang Pandanaran dapat dengan jelas melihat sosok yang ada di balik asap putih itu. Dia adalah seorang laki-laki berusia amat tua. Ini jelas tergambar dari rambutnya yang panjang dan digelung ke atas telah berwarna putih. Demikian juga alis mata, kumis serta jenggotnya. Tapi wajah orang tua ini tak terlihat, karena memancarkan sinar yang menyilaukan mata, seakan-akan dilapisi kabut. Dia mengenakan pakaian warna putih-putih.

Eyang Pandanaran menahan napas untuk beberapa lama. Mulutnya bergerak membuka hendak keluarkan suara. Tapi ternyata suaranya terputus di tenggorokan.

"Raden Inu Kertapati...," orang tua di balik asap putih perdengarkan suara. Eyang Pandanaran terlonjak kaget. Sepasang matanya makin membesar, dahinya makin dipenuhi kerutan. Berpuluh-puluh tahun dia merahasiakan siapa dirinya, bahkan nama pemberian kedua orangtuanya pun dikubur dalam-dalam.

Raden Inu Kertapati yang sebenarnya merupakan nama pemberian orangtuanya yang menjadi adipati di Kadipaten Langkat. Beranjak besar Raden Inu Kertapati menjalin hubungan dengan gadis berparas cantik. Namun si gadis akhirnya tergoda dengan pemuda lain yang selain berparas tampan juga memiliki ilmu tinggi. Raden Inu Kertapati kecewa. Diam-diam dia meninggalkan Kadipaten Langkat dengan membawa luka hati. Dia lantas berkelana sebelum akhirnya menemukan seorang sakti yang mengambilnya sebagai murid.

Setelah bertahun-tahun belajar, Inu Kertapati keluar lagi. Tapi kini dia telah berubah. Tubuhnya tegap dengan ilmu tinggi. Meski telah lama berselang, namun luka hatinya masih membekas dan luka hati itu dilampiaskannya dengan mengumbar nafsu pada perempuan-perempuan cantik yang dijumpainya. Bahkan dia tak segansegan merebut si perempuan dari tangan orang lain dengan cara kekerasan bahkan membunuh. Lingkungan lambat laun menyeret Inu Kertapati menjadi orang yang kejam dan rimba persilatan pun mulai mengenalnya.

Hanya beberapa tahun kemudian, Inu Kertapati telah dikenal kalangan persilatan sebagai tokoh yang ditakuti, dan menggelarinya Iblis Pemetik Bunga. Beberapa tahun lamanya Inu Kertapati malang melintang dalam kancah persilatan sebelum akhirnya dia dapat dikalahkan oleh seorang sakti.

Inu Kertapati akhirnya menemui gurunya kembali. Sang guru bersedia memenuhi permintaan muridnya itu, asal si murid mau merubah sikap. Berkat bimbingan dari gurunya, akhirnya Inu Kertapati berubah. Malah ketika muncul kembali, dia dikenal sebagai tokoh yang ditakuti golongan hitam dan disegani golongan putih. Inu Kertapati memperkenalkan diri dengan nama Pandanaran.

Setelah malang melintang dan merasa usianya beranjak tua, dia mengundurkan diri dari kancah persilatan lalu mengasingkan diri. Tapi pada suatu hari, gurunya datang dan menyerahkan sebuah benda yang bukan saja harus disimpan dan dirawat namun juga harus dijaga laksana menjaga nyawa sendiri. Menuruti pesan mendiang gurunya, Pandanaran akhirnya mencari tempat yang selain rahasia juga sulit ditempuh.

Beberapa tahun hidup menyendiri Eyang Pandanaran akhirnya dihantui perasaan takut akan benda yang dititipkan gurunya. Sang guru berpesan bahwa kelak akan datang orang yang ditetapkan menjadi pemilik benda yang ternyata berupa sebuah lembaran kulit itu. Karena ditunggu hingga bertahun-tahun orang yang ditetapkan belum juga ada tanda-tandanya, akhirnya Eyang Pandanaran mengambil keputusan untuk mengangkat murid dengan harapan muridnya kelak dapat meneruskan pesan mendiang gurunya.

Dia akhirnya mengambil Braja Musti, Nilam Sari, dan Sekar Arum sebagai murid. Setelah beberapa tahun dibimbing dan ajari ilmu silat, untuk mencoba murid-muridnya, Eyang Pandanaran memberi kesempatan murid-muridnya untuk melanglang buana di rimba persilatan dan dipesan untuk kembali lagi setelah masa sepuluh tahun. Selama masa itu pula Eyang Pandanaran kebingungan tentang lembaran kulit yang berada di tangannya. Hingga pada suatu malam dia bermimpi bertemu dengan mendiang gurunya yang mengatakan bahwa di antara murid-muridnya tidak ada yang ditetapkan untuk memiliki atau menyimpan lembaran kulit itu.

Kekhawatiran Eyang Pandanaran makin besar tatkala beberapa orang rimba persilatan telah mencium keberadaan Lembaran Kulit Naga Pertala itu, dan mulai mencarinya. Namun, beberapa orang yang datang secara bergelombang itu tak pernah menemukan tempat tinggal Eyang Pandanaran. Malah, sebagian besar tak pernah muncul lagi di rimba persilatan. Hingga sejak saat itu bukit tempat Eyang Pandanaran tinggal dikenal orang dengan sebutan Bukit Siluman, karena mengandung misteri! Malah, kabarnya, bukit itu pernah lenyap dari permukaan bumi! Begitu pula dengan sungainya! Oleh karena itu bukit dan sungai itu mendapatkan nama Bukit dan Sungai Siluman!

"Orang... tua. Siapa kau...?!" Eyang Pandanaran alias Raden Inu Kertapati ajukan tanya dengan suara gemetar.

Orang tua samar-samar di balik asap putih sunggingkan senyum dingin.

"Inu Kertapati. Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang pasti aku adalah salah seorang yang mempunyai tugas untuk menjaga lembaran kulit yang dititipkan mendiang gurumu. Kau telah bertindak menyalahi pesan gurumu! Kau telah termakan nafsu!"

Tubuh Eyang Pandanaran bergetar hebat hingga tak lama kemudian tubuhnya melorot jatuh. Seraya menjura dalam-dalam, Eyang Pandanaran berkata gagap.

"Aku mohon maaf. Gadis-gadis laknat itu telah memberiku aroma perangsang hingga aku tak sadar. Tapi lembaran kulit itu selamat. Lembaran itu kusimpan di tempat yang aman. Muridmuridku hanya mendapat Lembaran Kulit Naga Pertala yang palsu "

"Aku tahu!" tukas orang tua di balik asap putih dengan mata menyengat. "Tapi jika saja imanmu kukuh, apa pun yang diperbuat orang, kau tak akan goyah. Permintaan maaf tidak menyelesaikan masalah, Inu. Kali ini tak ada maaf lagi. Pula, bukankah kau sendiri yang menentukannya?! Ingat?! Kau yang bersumpah!" Eyang Pandanaran tercenung sebentar untuk mengingat-ingat. Sesaat kemudian, kepalanya dianggukkan.

"Bagus kalau kau ingat, Inu! Tapi, untuk jelasnya biarlah kuuraikan. Dulu, begitu mendapatkan ilmu yang tinggi dari gurumu, kau lupa diri. Kau sebar angkara murka di mana-mana. Tak terhitung wanita yang menjadi korban kebuasan nafsu birahimu!"

Orang tua di balik asap putih hentikan ucapannya. Ditatapnya Eyang Pandanaran. Yang ditatap malah tundukkan kepala, seperti orang yang pasrah, menerima akibat perbuatannya.

"Kenikmatan dunia membuatmu lupa diri. Dan, kau baru sadar dan kembali kepada gurumu ketika seorang tokoh sakti hampir merenggut nyawamu. Untung gurumu cukup bijaksana untuk menerimamu kembali. Bahkan tanpa menghukummu! Saat itu, kau ucapkan sumpahmu. Bisa kau ulangi sumpah yang kau sampaikan pada gurumu?!"

Lagi-lagi Eyang Pandanaran anggukkan kepala, kemudian mulutnya bergerak membuka. Suaranya terdengar gemetar.

"Guru! Aku berjanji, mulai saat ini akan senantiasa berbuat kebajikan. Seluruh anggota tubuhku tak akan menyengsarakan apalagi sampai melenyapkan nyawa orang yang tak berdosa. Bahkan mulai detik ini, aku akan menjauhi wanita! Tak akan kubiarkan nafsu birahi merasuki benakku lagi. Dan, bila itu terjadi biarlah aku hilang dari permukaan bumi! Ini sumpahku. Guru!" "Dan bagaimana kenyataannya sekarang, Inu?!" Eyang Pandanaran hanya bisa berdesis lirih. "Aku siap menerima hukuman "

"Tidak ada yang menghukummu, Inu. Sumpahmulah yang menyebabkanmu terhukum. Sumpahmu telah kau langgar. Kesalahan serupa kembali kau buat.... Kau akan termakan oleh sumpahmu sendiri "

Baru saja, ucapan orang tua di balik asap putih, tuntas, asap putih tampak mengurung tubuh Eyang Pandanaran sampai setengah tombak berkeliling dan tingginya mencapai dua tombak. Bersamaan dengan itu, Eyang Pandanaran merasakan tubuhnya dialiri hawa dingin. Orang tua ini kerahkan tenaga dalam untuk melawan, namun dia tersentak tatkala menyadari tenaga dalamnya tak bisa dialirkan! Hingga pada akhirnya dia diam saja sambil pejamkan sepasang matanya hingga asap yang mengurung dirinya lenyap!

"Inu Kertapati.... Kau harus rela menerima ini. Ketahuilah.... Meski dirimu ada, namun pandangan mata biasa tak dapat menangkap wujudnya. Ini sesuai dengan sumpahmu. Bukankah kau mengatakan kalau melanggar sumpahmu, kau akan hilang dari permukaan bumi? Nah, sekarang kau telah masuk dalam lingkaran tak berwujud yang melindungi dirimu dari pandangan mata biasa. Kau akan tampak jika lingkaran tak berwujud itu pecah. Aku tak tahu sampai kapan kau di dalam lingkaran tak berwujud itu. Hanya saja akan datang seseorang yang memecahkan lingkaran itu. Dialah orang yang ditetapkan untuk mewarisi Lembaran Kulit Naga Pertala. Kau harus mengatakan padanya!"

Eyang Pandanaran membuka mulut untuk berkata. Namun tiada suara yang terdengar di ruangan itu. Bahkan yang tampak di ruangan itu sekarang adalah asap putih yang membungkus orang tua berpakaian putih-putih yang samarsamar menggoyangkan kepalanya. Bersamaan dengan itu asap bergerak meliuk-liuk sebelum akhirnya lenyap meninggalkan ruangan yang diam kosong tanpa seorang pun!

LIMA

BRAJA Musti merasakan sekujur tubuhnya luluh lantak. Namun sadar harus mempertahankan lembaran kulit sakti yang telah berada di tangan, dengan menahan rasa sakit pemuda itu terus melangkah menelusuri terowongan sebelum pada akhirnya sampai di luar.

Dia menarik napas sejenak lalu berpaling ke belakang. Meski belum tampak seseorang namun nalurinya mengatakan jika tak lama lagi orang itu akan muncul untuk merebut lembaran kulit yang berada di jubah putih yang kini dikenakannya. Berpikir sampai di situ, Braja Musti tak menghiraukan keadaan dirinya yang terluka cukup parah. Darah tak henti-hentinya mengalir dari mulut dan lobang hidungnya. Malah sesekali dia harus memuntahkan gumpalan darah hitam dari mulutnya! Pemuda ini meneruskan langkah menuju sampan di pinggir sungai. Namun karena banyaknya darah yang keluar, begitu sampan terlihat tubuhnya terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh berlutut di pinggir sungai.

Sambil mengerang pendek, Braja Musti seret tubuhnya mendekat sebuah gundukan agak besar yang dapat melindungi tubuhnya dari pandangan orang di atasnya. Dia sandarkan punggung pada lamping gundukan besar itu seraya mengatur napas dan jalan darahnya. Namun usaha pemuda ini tak membawa hasil. Malah darah hitam makin tersedot ke atas dan menggumpal di mulutnya, hingga mau tak mau dia harus memuntahkannya.

"Keparat! Setan tua itu telah membuatku cedera parah...!" makinya seraya mengurut dada dan mengusap darah yang mengalir dari mulut dan hidungnya.

"Aku harus cepat meninggalkan tempat ini!" desisnya lalu bangkit. Tapi belum sampai tubuhnya tegak, kakinya telah goyah membuat tubuhnya oleng sebelum akhirnya jatuh kembali.

Braja Musti kembali memaki panjang pendek. Raut wajahnya jelas membayangkan takut dan gelisah. Sambil bersandar kembali pemuda ini berpikir.

"Hem.... Untuk mempertahankan lembaran kulit itu, aku harus menyembunyikannya! Dalam keadaan begini, terlalu berani jika membawanya   " Pemuda ini lantas memandang berkelil-

ing. Sejenak kemudian dia tanggalkan jubah putih milik Eyang Pandanaran yang dikenakannya. Dengan tangan gemetar dan mata membe-

liak, pemuda ini memperhatikan bagian punggung jubah yang menyembul di balik kain lapisan membentuk empat persegi. Dengan sedikit kerahkan tenaga luar, kain pelapis di punggung jubah itu dirobeknya. Begitu robekan menyingkap, tampaklah lembaran-lembaran kulit binatang. Dengan dada berdebar, Braja Musti mengambil lembaran kulit itu lalu diperiksanya lekat-lekat.

Dengan tangan masih gemetar dan dada berdebar, Braja Musti balikkan tubuh. Lembaran kulit diletakkan di sampingnya, lalu kedua tangannya mulai bergerak membuat lobang di tanah samping tubuhnya. Tak selang lama, tanah di sampingnya telah berlobang sedalam dua jengkal dengan lebar dua jengkal. Setelah menarik napas dalam dan memandang berkeliling, dia angkat lembaran kulit lalu dimasukkannya ke dalam lobang yang baru saja digali.

Tiba-tiba dia bimbang. Lembaran kulit berwarna coklat itu kembali diangkat dari dalam lobang. Diperhatikannya berlama-lama.

"Hem.... Tak ada salahnya aku melihat isinya barang sejenak...," batin Braja Musti. Tangan kirinya menopang lembaran kulit sementara tangannya mulai membuka sampul.

Lembaran pertama terbuka. Braja Musti kerutkan kening. Pada halaman itu tak ada tulisan. Kosong! Braja Musti teruskan membuka lembaran kedua. Kerutan di keningnya makin melipat. Karena lembaran kedua juga tanpa tulisan! Pemuda ini mulai gelisah dan geram. Namun dia teruskan membuka lembaran ketiga lembaran terakhir. Kemarahannya kini tak dapat dibendung lagi hingga saat itu juga dari mulutnya terdengar makian tak karuan, karena ternyata lembaran ketiga juga kosong!

"Bangsat! Aku tertipu! Lembaran kulit ini palsu!" teriak Braja Musti seraya campakkan lembaran kulit itu ke tanah. Tangan kiri kanannya segera dipukulkan ke tanah hingga tanah itu terbongkar dan membentuk lobang. Dia lupa bahwa keadaan dirinya terluka parah. Hingga begitu tangannya ditarik dari tanah, tubuhnya limbung lalu jatuh terkapar dengan megap-megap!

Pada saat bersamaan, Nilam Sari dan Sekar Arum muncul dari terowongan dan menjejakkan kaki masing-masing di luar. Mungkin merasa Eyang Pandanaran akan segera mengejar, dua gadis ini segera pula berkelebat ke arah gundukan batu yang agak besar. Lalu mendekam dengan mata masing-masing mengarah pada lobang terowongan dari mana mereka tadi muncul.

Beberapa saat berlalu. Kedua gadis ini tak juga melihat munculnya sang guru, membuat mereka berdua bernapas agak lega.

"Mungkin dia mengira tak ada gunanya mengejar. Atau mungkin juga dia cedera!" Nilam Sari keluarkan dugaannya seraya merapikan pakaiannya. Sekar Arum tak menyahut.

"Kita harus segera mencari Braja Musti. Pasti dia menunggu di sampan!" Nilam Sari kembali keluarkan suara, lalu tanpa menunggu sahutan Sekar Arum, gadis berpakaian putih itu berkelebat ke arah mana sampan ditaruh. Sekar Arum segera menyusul.

Begitu sampai jalan menurun menuju arah sampan, kedua gadis ini hentikan langkah dengan kening sama-sama mengernyit dan mata nyalang.

"Sampan masih ada. Berarti Braja Musti masih berada di sekitar sini!" gumam Sekar Arum seraya layangkan pandangannya berkeliling. Nilam Sari anggukkan kepala lalu putar kepala dengan mata jelalatan kian kemari. Namun keduanya tak menemukan Braja Musti.

"Jangan-jangan dia menipu kita!" desis Sekar Arum mulai mencium gelagat tidak balk.

"Mana mungkin. Setinggi apa pun ilmu orang, dia tak akan ambil resiko berenang mengarungi permukaan air berwarna merah itu. Apalagi dia cedera! Pasti dia masih di sekitar tempat ini. Kita berpencar. Beri tanda jika menemukannya!" ujar Nilam Sari lalu berkelebat menyusur pinggiran sungai ke arah utara.

Meski masih digelayuti berbagai macam pertanyaan dan dugaan, akhirnya Sekar Arum melangkah juga menyusuri pinggiran sungai ke arah selatan.

Baru saja gadis cantik berpakaian warna ungu ini melangkah sepuluh tindak, di balik sebuah gundukan batu agak besar sepasang matanya melihat sesosok tubuh terkapar. Sekilas memandang, dia telah tahu siapa adanya sosok itu. Rasa terkejut dan khawatir akan keselamatan Braja Musti membuat Sekar Arum melupakan ucapan Nilam Sari agar memberi tanda jika menemukan Braja Musti.

Sekar Arum cepat berkelebat. Dia tercekat mendapati Braja Musti terpejam dengan napas satu dua. Dengan memanggil-manggil nama Braja Musti, Sekar Arum mengguncang-guncang tubuh pemuda itu.

Guncangan itu membuat Braja Musti buka kelopak matanya. Mengerjap sejenak lalu memandang ke tubuh yang berlutut di sampingnya. Mulutnya bergerak membuka, tapi suaranya tidak terdengar. Si gadis coba membantu dengan salurkan tenaga dalam melalui dadanya. Namun siasia. Bahkan sebentar kemudian Braja Musti menggeliat dengan perdengarkan erangan panjang. Tapi erangan itu terputus laksana direnggut hantu bersamaan dengan putusnya nyawa!

Sekar Arum keluarkan jeritan tinggi. Tubuh Braja Musti yang sudah tidak bernyawa lagi diguncang-guncang dengan keras. Lalu kepalanya direbahkan di dada mayat si pemuda.

"Braja.... Tahu jika begini akhirnya, aku tak akan lakukan rencana itu! Braja.    Tahukah

kau bahwa saat ini aku mengandung benihmu! Mengandung anakmu, anak kita! Oh     Betapa

malang nasibku...," Sekar Arum berkata seraya menciumi mayat Braja Musti. Air matanya tumpah membasahi muka dan dada pemuda yang telah jadi mayat itu.

"Braja.... Aku bersumpah akan membalas orang yang melakukan ini! Orang yang telah memisahkan kita dan anak kita yang ada dalam kandunganku! Braja! Percayalah.... Tanpa kau anak dalam kandunganku ini akan kurawat dan kubesarkan. Akan kutunjukkan padanya siapa yang memisahkannya dengan ayahnya!"

Tanpa disadari oleh Sekar Arum, sepuluh langkah di belakangnya sesosok tubuh terlihat terguncang lalu menekap mulutnya agar suara pekikannya tidak terdengar. Namun karena kerasnya guncangan tubuh, sejenak kemudian sosok yang bukan lain adalah Nilam Sari jatuh berlutut di atas tanah!

Sewaktu Nilam Sari menyusur pinggiran sungai, tiba-tiba dia mendengar jeritan. Tanpa pikir panjang Lagi gadis ini segera berkelebat ke arah suara jeritan. Dia telah menduga siapa adanya orang yang menjerit. Sampai pada sumber jeritan dia melihat Sekar Arum menelungkup di atas tubuh Braja Musti. Melihat sikap saudara seperguruannya itu, Nilam Sari dapat menebak apa yang telah terjadi. Dia segera melangkah mendekat, namun langkahnya tertahan tatkala telinganya mendengar ratapan Sekar Arum. Gadis ini laksana disambar petir di siang bolong! Seakan tak percaya, gadis ini tetap diam. Dia berharap ucapan yang dikeluarkan Sekar Arum hanyalah tipuan telinganya saja. Namun ketika Sekar Arum kembali meratap bahkan mengucapkan sumpah di samping mayat Braja Musti, Nilam Sari tak dapat menahan gelegak hatinya. Tubuhnya berguncang keras sebelum akhirnya jatuh berlutut. Setelah agak sadar, Nilam Sari menggoyang-goyangkan kepalanya. Hatinya yang tadi trenyuh melihat Braja Musti mati kini berubah menyala-nyala. Dadanya berdebar keras dilanda marah dan cemburu. Lebih dari itu darahnya menggelegak mendapati bahwa Sekar Arum telah mengandung dari benih Braja Musti. Dia merasa ditipu oleh Braja Musti yang ternyata secara diam-diam juga menjalin hubungan dengan Sekar Arum. Padahal diam-diam Nilam Sari pun telah mengandung benih akibat hubungannya dengan Braja Musti!

"Keparat jahanam! Ternyata dia menipuku! Oh.... Apa yang harus kulakukan sekarang? Padahal aku juga mengandung benih darinya! Aku tak dapat menyalahkan Sekar Arum. Mungkin dia juga tak menduga jika Braja Musti menjalin hubungan denganku.... Keparat! Braja Musti-lah yang seharusnya dihukum! Dan kematian adalah hukuman setimpal. Tapi.... Bagaimana dengan kandunganku?"

Nilam Sari bangkit. Lalu balikkan tubuh hendak tinggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba dia teringat akan lembaran kulit yang dilarikan Braja Musti. Secepat kilat dia putar tubuhnya kembali lalu menghambur ke arah Braja Musti.

Sepasang matanya sejenak mengawasi Sekar Arum yang masih tenggelam dalam kesedihan. Gadis itu tak memperhatikan Nilam Sari yang kini ada di dekatnya. Nilam Sari coba menindih bara dalam hatinya lalu mengedarkan pandangan. Matanya tiba-tiba membeliak besar tatkala menumbuk pada sebuah lembaran kulit berwarna coklat yang tergeletak tak jauh dari Braja Musti.

"Lembaran Kulit Naga Pertala!" gumam Nilam Sari dalam hati. Lalu dengan gerakan kilat tangannya menyambar lembaran kulit. Dimasukkannya ke balik pakaiannya lalu berkelebat meninggalkan tempat itu.

Setelah lama Nilam Sari pergi, Sekar Arum baru tersadar. Perlahan-lahan dia angkat mukanya dari dada Braja Musti. Mukanya sembab, air matanya tampak masih mengalir. Gadis ini lantas memperhatikan sekujur tubuh si pemuda. Tiba-tiba matanya melihat jubah putih yang tercampak. Ingatannya pada Lembaran Kulit Naga Pertala timbul. Dengan sesenggukkan, tangannya mencari-cari. Ketika mendapati punggung jubah robek dia berkesimpulan jika lembaran kulit itu telah dikeluarkan dari tempatnya.

Sekar Arum lantas melebarkan pandangan mencari-cari. Namun dia tidak lagi menemukan lembaran kulit itu.

"Ke mana lembaran kulit itu? Apa mungkin disimpan?!" Gadis ini bangkit, melangkah mengitari gundukan. Namun dia tak menemukan barang yang dicari. Ketika matanya melihat lobang sedalam dan selebar dua jengkal dia kernyitkan dahi.

"Hem.... Ini pasti galian Braja Musti. Untuk apa?! Ah, pasti untuk menyembunyikan lembaran kulit itu! Berarti lembaran kulit itu masih di sini. Tapi di mana?!" Sekar Arum tercenung. "Ah, bukankah tadi aku menangkap kehadiran seseorang di dekat sini?! Tidak lain pasti Nilam Sari. Jangan-jangan dia melarikan lembaran kulit itu!" desis Sekar Arum lalu mengedarkan pandangan ke hamparan tempat itu. Ketika matanya tak melihat Nilam Sari dugaan gadis ini bertambah kuat.

"Jahanam! Pasti dia yang melarikan lembaran kulit itu! Keparat! Dia menggunting dalam lipatan! Mencari kesempatan saat orang lengah. Tak kusangka jika dia tega berbuat seperti itu!"

Sekar Arum bantingkan kakinya. "Tentu dia belum jauh...." Gadis ini lalu berkelebat ke arah pinggiran sungai di mana sampan berada.

Keyakinan Sekar Arum makin kuat tatkala sampan itu tidak ada lagi. Dia lalu arahkan pandangannya jauh ke depan. Tiba-tiba dari mulut gadis ini keluar umpatan panjang pendek tatkala samar-samar sepasang matanya menangkap sebuah sampan yang meluncur deras di tengah sungai.

"Nilam Sari! Hari ini kau boleh bersenangsenang memiliki lembaran kulit itu! Tapi aku tak akan tinggal diam! Nilam Sari. Tunggulah!" teriak Sekar Arum dengan keras. Namun suaranya seakan lenyap ditelan suara riak air. Gadis ini balikkan tubuh. Saat itulah baru dirasakan betapa letih tubuh dan pikirannya. Dia lantas tekap wajahnya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya pun perlahan-lahan melorot jatuh di atas tanah. Tak jelas apa yang ada di benak gadis berpakaian ungu ini. Mungkin sakit hati melihat saudara seperguruannya berbuat pengecut, mungkin juga menyesali nasib karena kekasihnya harus tewas, mungkin juga merenungi apa yang akan diperbuat dengan benih yang kini ada dalam kandungannya!

* * *

Nampaknya prasangka buruk Sekar Arum pada Nilam Sari yang diduga membawa lari Lembaran Kulit Naga Pertala harus tertanam di lubuk hatinya. Dan tekadnya untuk merebut kembali lembaran kulit itu terus menggelora. Hingga setelah kejadian di Bukit Siluman, Sekar Arum terus malang melintang untuk mencari Nilam Sari sambil mengasuh anak dari benih Braja Musti yang akhirnya digelari Raksasa Bermuka Hijau.

Namun hingga umurnya menginjak tua, Sekar Arum gagal menemukan Nilam Sari, meski dari kabar yang berhasil disirap, dia tahu jika Nilam Sari telah punya anak yang kemudian oleh kalangan rimba persilatan dikenal dengan Peri Kupu-kupu.

Mungkin sadar umurnya tak memungkinkan lagi untuk meneruskan niat, akhirnya Sekar Arum memberi tugas pada anaknya si Raksasa Bermuka Hijau untuk mencari Nilam Sari, setidak-tidaknya dapat membunuh anaknya. Namun seperti yang dialami Sekar Arum, Raksasa Bermuka Hijau gagal menemukan Nilam Sari, bahkan dia juga tak mampu membunuh Peri Kupukupu meski hal itu sudah dilakukannya beberapa kali.

Mengingat membunuh Peri Kupu-kupu

adalah tugas yang harus diselesaikan, akhirnya selain terus berupaya melakukan sendiri, Raksasa Bermuka Hijau juga menugaskan cucu sekaligus muridnya bernama Seruni untuk mencari dan membunuh Peri Kupu-kupu.

Di pihak lain. Peri Kupu-kupu memperoleh keterangan persoalan yang sebenarnya dari Nilam Sari, ibunya. Nilam Sari memberitahukan pada Peri Kupu-kupu kalau persoalan itu hanya salah paham belaka. Sekar Arum, dan keturunannya mengira Nilam Sari mendapatkan Lembaran Kulit Naga Pertala. Oleh karena itu, Sekar Arum berusaha keras untuk merebutnya.

Menjelang akhir hayatnya, Nilam Sari memberitahukan pada Peri Kupu-kupu, bahwa antara keturunan Nilam Sari dan keturunan Sekar Arum ada pertalian darah. Mereka berasal dari seorang lelaki. Seorang kakek yang sama yaitu Braja Musti!

Setelah mengetahui persoalannya yang sebenarnya, Peri Kupu-kupu mengadakan penyelidikan dan melakukan perjalanan untuk kembali mempersatukan darah yang terputus. Hanya Peri Kupu-kupu belum tahu siapa anak daripada Sekar Arum. Karena pada beberapa kali pertemuan dan bentrok dengan Raksasa Bermuka Hijau, lelaki berbadan bongsor itu tak mau menjelaskan persoalannya. ENAM

MATAHARI sudah jauh condong ke sebelah barat ketika sebuah bayangan berkelebat keluar dari kerapatan hutan kecil. Sejenak dia hentikan larinya, lalu berpaling ke belakang ke arah hutan yang baru saja dilewati. "Untung belum gelap. Sedikit terlambat, bisa-bisa aku tersesat di dalam hutan!"

Setelah menarik napas lega, orang ini lantas berlari kembali. Baru kira-kira dua puluh tombak orang ini hentikan larinya. Sepasang matanya yang tajam memperhatikan lurus ke depan. Dari tempatnya berdiri dia melihat seorang nenek duduk mencangkung di atas sebatang kayu bulat besar yang melintang menghalangi jalan.

Nenek ini mengenakan jubah besar berkembang-kembang. Rambutnya putih hanya sebatas tengkuk. Pada bagian atasnya dibelah tengah dan agak bergelombang membentuk sayap. Kulitnya telah keriput, tapi masih membiaskan sisa-sisa kecantikan di masa mudanya. 

Orang di hadapan si nenek geleng-geleng kepala lalu tersenyum sendiri. Orang ini lantas gerakkan tangan usap-usap hidungnya.

Sampai di depan batangan kayu yang melintang di mana si nenek duduk mencangkung, orang ini lirikkan sepasang matanya. Si nenek tak gerakkan tubuh, matanya pun belum dia buka.

"Hem.... Tak baik mengganggu keasyikan orang...," gumamnya seraya angkat kaki kanannya hendak melewati batangan kayu. Namun kaki orang ini tertahan di udara tatkala bersamaan dengan itu terdengar bentakan keras dari mulut si nenek.

"Kurang ajar! Beraninya kau hendak memasuki daerahku tanpa izin. Cepat katakan siapa dirimu!"

Orang itu tarik pulang kaki kanannya lalu berpaling. Dia mengernyit. Batinnya lalu memperhatikan sekali lagi. "Daerahnya?! Apakah berarti dia pemilik tanah ini?!" Orang ini lalu membuka mulut.

"Nek   Apakah tanah ini milikmu?!"

Sepasang mata nenek yang sedari tadi terpejam kontan membuka. Ternyata mata itu sipit. Untuk beberapa saat sepasang mata sipit sang nenek memperhatikan orang di sampingnya. Bibirnya mengulas senyum namun senyum itu diputus seketika lalu terdengar lagi bentakannya.

"Aku tidak bicara soal tanah. Aku tanya siapa kau!"

"Sialan. Kalau tidak kuturuti maunya urusan sepele ini akan jadi panjang. " Orang ini lan-

tas jerengkan sepasang matanya lalu usap-usap hidungnya sambil menjawab. "Namaku Aji Saputra "

"Hem.... Nama bagus tapi tampangmu tidak!" gumam si nenek lalu berpaling seraya melanjutkan. "Hari ini tak seorang pun boleh melewati kawasanku. Cepat putar dan tinggalkan tempat ini!"

Orang berpakaian hijau yang dilapis dengan baju lengan panjang kuning, rambut panjang dan dikucir ekor kuda, bertubuh tegap dan berwajah tampan bukan lain adalah Pendekar Mata Keranjang 108. Cengar-cengir sambil usap-usap hidungnya.

"Peringatan telah dikeluarkan. Atau kau ingin jadi mayat?!" hardik si nenek tanpa berpaling lagi.

Aji sedikit tersentak, bukan hanya karena hardikan si nenek yang bikin gendang telinga laksana ditusuk namun juga mampu membuat isi dadanya tergetar. Hanya orang bertenaga dalam tinggi yang bisa melakukan hal seperti itu.

"Bagaimana ini? Padahal aku harus melewati jalan ini!" batin Aji lalu berkata pada si nenek. "Nek.... Kalau ini kawasanmu, tolonglah. Biarkan aku lewat. Aku punya urusan yang harus segera diselesaikan!"

"Setan! Apa kau tuli, hah?!"

"Edan! Daripada cari urusan...," gumam Pendekar Mata Keranjang lalu edarkan pandangannya. Senyumnya tersungging dengan kepala manggut-manggut. Tanpa bicara lagi murid Wong Agung ini putar tubuh lalu melangkah ke arah mana dia datang.

"Hem.... Lewat sebelahnya juga bisa...," kata Aji dalam hati lalu menoleh ke belakang. Si nenek terlihat masih berpaling tidak memperhatikan dirinya. Secepat kilat murid Wong Agung ini berkelebat ke arah utara, lalu berbelok dan berkelebat lurus ke depan, arah mana sejajar dengan tempat si nenek. Merasa tak ada halangan lagi, Pendekar 108 memperlambat larinya lalu melangkah pelanpelan seraya bersiul-siul, mendendangkan lagu yang tak ketahuan artinya.

"Nenek aneh. Dikira jalan ini cuma satu. He... he... he...! Siapa dia sebenarnya? Makin banyak saja orang-orang aneh yang kutemui. Apakah dia salah satu dari orang-orang yang menjejaki lembaran kulit itu seperti halnya diriku?! Ah, persetan. Mungkin saja...," murid Wong Agung tak meneruskan kata hatinya. Malah langkahnya tiba-tiba terhenti dengan mulut terkancing. Sepasang matanya membeliak hampir tak percaya.

Sepuluh langkah di hadapannya terlihat seseorang duduk dengan lutut ditekuk sejajar dada. Kedua tangannya melingkar di depan kaki. Sementara mulutnya bergerak-gerak.

"Sialan! Nenek itu!" maki Aji seraya memandang tak berkedip.

"Kau tak mengindahkan peringatan orang. Tampaknya kau memang mau mati muda!" habis berkata begitu, orang yang duduk dan bukan lain adalah si nenek berjubah kembang-kembang lepaskan lingkaran tangannya pada kaki lalu tangan kanannya mengibas ke depan.

Wuuttt!

Gelombang angin menderu dahsyat mengarah pada murid Wong Agung. "Nek! Kita bicara baik-baik. Aku...," ucapan Pendekar Mata Keranjang 108 terputus karena sapuan gelombang angin telah datang. Pendekar dari Karang Langit ini cepat bergerak ke samping menghindar. Namun bersamaan dengan itu gelombang angin susulan telah menggebrak. Aji coba berkelit namun terlambat. Hingga tubuhnya berputar lalu terbanting ke tanah! Pada saat bersamaan terdengar suara tawa mengekeh panjang lalu Aji merasakan desiran angin. Berpaling, si nenek telah tegak di sampingnya dengan kacak pinggang!

Seraya meringis kesakitan, Pendekar 108 bergerak bangkit. Sebenarnya dada pemuda ini telah dilanda rasa geram namun ditahannya ketika sadar jika yang dihadapi adalah seorang nenek tua yang mungkin saja pemilik kawasan itu.

"Sebaiknya aku mencari jalan lain saja daripada mencari penyakit. Orang macam begini akan semakin menjadi-jadi bila diladeni...," Pendekar 108 lalu putar tubuh dan melangkah balik dengan hati memaki tak habis-habisnya. Namun baru saja lima langkah, terdengar teriakan keras.

"Hukumanmu belum selesai. Ke mana kau akan pergi?!"

"Tua bangka sialan ini benar-benar bikin urusan!" Murid Wong Agung berpaling ke belakang. "Nek. Apa maumu sebenarnya?! Aku sudah menerima kau buat jatuh. Sekarang kau bilang hukuman belum selesai!"

"Kau berani menipuku dengan menelikung jalan hendak masuk kawasanku. Hukuman bagimu adalah mati!" ujar si nenek membuat Pendekar Mata Keranjang terperangah bercampur geram.

"Edan!" umpat Aji.

"Betul. Edan! Kalau tidak berlaku edan kau tidak akan kebagian!" timpal si nenek lalu buka mulutnya lebar-lebar. Bersamaan dengan itu gumpalan cairan menjijikkan melesat keluar dari mulutnya.

Aji terbelalak. Baru sekali ini dia lihat orang mampu membuang ludah dengan membuka mulut lebar-lebar! Dan liur itu bukan saja melesat laksana anak panah namun juga keluarkan suara mendesing disertai sambaran angin keras!

Murid Wong Agung cepat angkat tangan kanannya lalu dihantamkan ke bawah arah mana gumpalan ludah melesat. Tapi yang dipukulnya hanyalah udara kosong! Pada saat bersamaan terdengar suara 'breett'. Pendekar 108 melirik. Pakaian bagian pinggangnya robek dan mengepulkan asap!

Selagi Pendekar Mata Keranjang terhenyak menyaksikan, si nenek tiba-tiba goyanggoyangkan kepalanya. Tubuhnya berputar satu kali. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan tahutahu dua tangan telah menghantam ke arah kepala Aji.

Wuuttt! Wuuttt!

Dua pasang tangan belum sampai menghantam sasaran angin deras telah mendahului menderu.

"Gila! Omongan tua bangka ini tidak mainmain. Dia ingin aku mati!" duga Pendekar 108. Pemuda ini segera rundukkan sedikit kepalanya lalu kedua tangannya dihantamkan ke atas.

Bukkk! Bukkk!

Dua pasang tangan beradu di udara. Pendekar 108 berseru tertahan. Tubuhnya terdorong sampai lima langkah. Kedua tangannya laksana dipanggang api dengan dada berdenyut sedikit. Ketika matanya meneliti, tampak kedua tangan itu berwarna merah dan bergetar!

Di hadapannya, si nenek kibas-kibaskan kedua tangannya. Meski tidak mengeluarkan seruan, namun dari paras wajahnya jelas jika orang tua ini merasakan sakit.

"Anak sialan! Kau membuat tanganku kesemutan. Kau harus mati dua kali!" hardik si nenek lalu angkat kedua tangannya sejajar dada.

"Tahan!" seru Aji tatkala mengetahui si nenek hendak lepaskan pukulan tangan kosong jarak jauh. Tapi seruan Aji tak mendapat tanggapan. Malah si nenek keluarkan tawa berderai sambil hantamkan kedua tangannya.

Wuuttt! Wuuuttt!

Pendekar Mata Keranjang tak mendengar suara deruan. Namun bersamaan dengan itu tubuhnya seperti disapu gelombang angin dahsyat yang berputar-putar aneh, hingga tubuhnya berputar-putar. Sebelum putaran angin itu menghempaskan tubuhnya, murid Wong Agung ini kerahkan tenaga dalam. Kedua tangannya memancarkan sinar kebiruan, lalu didorongkannya ke depan.

Wuttt! Wuttt!

Dua larik sinar biru membersit, sekejap kemudian mengembang.

"Mutiara Biru.... Hik... hik... hik.... Apa hebatnya?!" Pendekar 108 jadi terhenyak mendengar si nenek mengenali pukulan yang dilepaskannya. Sementara itu di hadapannya si nenek kebutkan kedua tangannya ke bawah. Lalu telapak tangannya dikembangkan dan didorong pelan-pelan ke depan. Pendekar Mata Keranjang hampir tak mempercayai penglihatannya. Pukulan 'Mutiara Biru' yang dilepaskannya serta-merta berbalik melesat ke arahnya! Hingga saat itu juga dua sinar biru pukulannya sendiri menderu ke arahnya! Tak ada jalan lain bagi Pendekar 108 kecuali menghantam serangannya sendiri. Maka dengan membentak keras kedua tangannya didorong kembali. Kali ini dengan kerahkan setengah dari tenaga dalamnya.

Blaaarrr!

Kawasan luar hutan itu laksana dilanda gempa. Hawa panas menghampar, suasana berubah menjadi semburat warna biru. Tanah berhamburan ke udara dan semak belukar tak jauh dari terjadinya bentrok pukulan sakti itu terbabat rata dan hangus.

Karena pukulannya yang membalik telah disertai dengan pukulan si nenek, maka tenaga di dalamnya lebih kuat dari pukulan yang dilepas Aji untuk menangkis, hal ini membuat tubuh murid Wong Agung ini mencelat ke belakang dan jatuh terbanting di atas tanah! Pemuda ini merasakan napasnya tersumbat dan aliran darahnya mampet. Namun sadar jika sewaktu-waktu orang tua ini bisa mencelakai dirinya, Aji cepat kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi aliran darah dari dadanya.

Di seberang sana, meski hanya mendorong pukulan Pendekar 108, namun tak membuat si nenek selamat dari bias bentroknya pukulan. Sehingga ketika ledakan terdengar, sosok si nenek melenting laksana kapas ke belakang. Namun sebelum tubuhnya menyuruk tanah, orang tua ini kebutkan kedua tangannya ke bawah. Hingga tubuhnya yang hampir menghajar tanah itu membumbung kembali ke udara. Di udara si nenek membuat gerakan laksana orang menari dengan kepala digoyang-goyang. Anehnya bersamaan dengan itu, tubuhnya melayang turun perlahanlahan sebelum akhirnya menjejak tanah dengan duduk, kedua kaki merangkap di depan dada dan kedua tangan dilingkarkan!

Pendekar Mata Keranjang gertakkan rahang. Kemarahan yang ditahan serta ancaman orang membuat darah mudanya tak bisa dibendung lagi. Seraya gulingkan tubuh kedua tangannya disentakkan dengan telapak mengembang.

Hawa panas menghampar, semburat warna kebiruan serta dua sinar biru mencorong melesat cepat dengan membawa gelombang angin dahsyat ke arah nenek. Murid Wong Agung ini telah lepaskan pukulan 'Mutiara Biru' dengan tenaga dalam penuh.

Di seberang sana, si nenek keluarkan seruan tegang. Kepalanya digoyang-goyang. Lalu tubuhnya berputar dan berkelebat lenyap dari pandangan. Pukulan sakti yang dilepas Pendekar 108 terus melesat lalu menghantam apa saja yang ada di belakang si nenek tadi berada.

Dua batang pohon besar langsung berderak tumbang, sementara semak belukar tercabut sampai akar-akarnya dan terhumbalang ke udara. Belum sirap suara derak tumbangnya pohon, terdengar suara tawa panjang mengekeh. Pendekar Mata Keranjang terlonjak hingga bangkit berdiri lalu berpaling. Si nenek berjubah kembangkembang kecak pinggang, tegak empat langkah di samping Pendekar 108! Dan belum sempat Pendekar Mata Keranjang melakukan gerakan, si nenek telah melompat dengan tangan kanan di atas kepala siap lakukan pukulan.

Murid Wong Agung tak mau bertindak ayal. Kedua tangannya cepat diangkat untuk menangkis. Namun Aji tertipu, karena bersamaan dengan terangkatnya tangan Pendekar Mata Keranjang, si nenek tarik pulang tangannya. Tubuhnya bergeser ke samping lalu tangan kirinya bergerak menelikung.

Pendekar 108 merasakan tubuhnya terangkat. Dia cepat menghantam ke tangan kiri si nenek yang ternyata telah menelikung pinggangnya. Namun hantaman Pendekar 108 terlambat. Sebelum tangan itu menghantam, si nenek telah sentakkan tangan kirinya yang menelikung pinggang Pendekar Mata Keranjang, hingga kejap itu juga tubuh murid Wong Agung ini terbanting deras ke atas tanah!

Si nenek melangkah mendekat dengan mengumbar tawa. Sadar akan keadaan dirinya dan tak ada jalan lain untuk mempertahankan nyawa, Pendekar Mata Keranjang 108 meraba pinggangnya di mana tersimpan kipasnya. Tangan kanannya lalu menyelinap. Sebelum kipas keluar, si nenek tengadahkan kepala seraya berteriak.

"Orang di balik pohon. Lekas keluar!"

Pendekar 108 meringis sambil kerutkan dahi. Kipas yang sudah ada digenggaman urung dikeluarkan. Namun tangan itu tetap menyelinap di balik pakaian.

Belum lenyap suara si nenek, dari balik pohon berkelebat sesosok bayangan lalu tegak lima langkah di belakang si nenek.

Pendekar Mata Keranjang sipitkan mata memperhatikan orang yang baru datang. Dia adalah seorang gadis muda berparas cantik. Mengenakan pakaian warna biru ketat dengan rambut panjang tergerai. Sepasang matanya bulat dengan bibir merah. Dadanya terlihat kencang sementara pinggulnya mencuat bagus.

Untuk beberapa saat gadis berpakaian biru ini memperhatikan Aji dengan mata tak berkedip. Lalu melihat punggung si nenek dengan mata berkilat-kilat. Si nenek putar tubuhnya. Tiba-tiba nenek berjubah kembang-kembang ini kernyitkan kening. Lalu dari mulutnya terdengar gumaman tak menentu. Namun jelas jika nenek ini merasa terkejut!

"Aneh.... Dia yang memanggil tapi dia terkejut...," gumam Pendekar 108 lalu perlahanlahan bangkit. TUJUH

KALAU si nenek tampak terkejut dengan kedatangan si gadis berpakaian biru, tidak demikian halnya dengan si gadis. Sepasang mata gadis ini memandang tajam pada si nenek, memperhatikan dari ujung rambut sampai kaki.

"Rambut putih dikepang dua berbentuk sayap, jubah kembang-kembang. Hem. Tua

bangka inilah orangnya...," batin si gadis. "Tapi untuk meyakinkan, akan kutanya dulu!"

Gadis berbaju biru ini lantas tengadahkan kepala. Dari mulutnya terdengar dia berucap.

"Kau manusia yang bergelar Peri Kupukupu?! Benar?!"

Si nenek berjubah kembang-kembang goyang-goyangkan kepalanya beberapa kali. Tibatiba dia perdengarkan tawa mengekeh.

"Lain yang dipanggil lain yang datang! Tak apalah...," gumam si nenek lalu sapukan pandangannya berkeliling. Matanya mencari-cari.

"Orang tua! Lekas jawab. Jangan sampai aku salah turunkan tangan!" si gadis membentak tatkala si nenek tak jawab pertanyaannya.

"Lain yang dicari lain yang didapat. Hem...

anak gadis. Nasibmu baik. Kau memang sedang berhadapan dengan orang yang kau sebut!" Habis berkata demikian si nenek kembali sapukan pandangannya sambil bergumam. "Ke mana tua bangka sialan itu. !?"

"Hem.... Jadi bukan gadis ini sebenarnya yang tadi dipanggil. Lalu siapa? Berarti masih ada orang lagi di sekitar sini!" pikir Pendekar 108 begitu mendengar gumaman si nenek yang membenarkan dirinya bergelar Peri Kupu-kupu.

"Peri Kupu-kupu...? Hem.... Tua bangka peot begini bergelar Peri...?!" Aji jadi tertawa sendiri dalam hati. Lalu pandangannya mengarah pada gadis berbaju biru. "Dia tampaknya menahan marah. Siapa dia? Hem.... Wajahnya cantik, tubuhnya bagus "

Di hadapan Peri Kupu-kupu, si gadis luruskan kepalanya. Matanya berkilat-kilat menyengat pada Peri Kupu-kupu. Kejap lain dia keluarkan dengusan keras lalu berkata.

"Dengar! Aku Seruni, cucu sekaligus murid Raksasa Bermuka Hijau! Kau adalah salah seorang yang harus kulenyapkan dari lindungan langit! Itu tujuanku dan itu nasib buruk yang harus kau terima!"

Habis berkata begitu, si gadis yang menyebut dirinya Seruni mundur dua langkah. Kedua tangannya dipalangkan di depan dada siap lepaskan pukulan.

Peri Kupu-kupu goyang-goyangkan kepalanya tanpa membuat gerakan tangan. Mulutnya komat-kamit sebentar, lalu berujar.

"Anak gadis. Sebaiknya kita bicara dulu. Jangan sampai urusan orang-orang tua menurun pada cucu!"

"Itu urusanmu! Urusanku membunuhmu!" "Baiklah. Sebelum aku mati di tanganmu,

mau kau jawab pertanyaanku?!" Sepasang mata Seruni sejenak menatap ke arah mata sipit Peri Kupu-kupu.

"Katakan!"

"Kau bilang aku adalah salah seorang yang harus kau bunuh. Siapa lagi lainnya?!"

Seruni tertawa pendek. "Itu urusanku. Kau nanti dapat tanya pada teman-temanmu di alam kubur!"

Peri Kupu-kupu tak marah mendengar hardikan Seruni. Sebaliknya dia tersenyumsenyum. "Selain membunuh, kau juga punya tujuan lain?!" Peri Kupu-kupu ajukan pertanyaan.

"Persetan dengan segala tanyamu! Terimalah nasib burukmu!" sergah Seruni lalu tarik tangannya dari dada terus ke belakang. Lalu mendorongnya ke depan.

"Tahan! Jika aku mati, apakah kau tak menyesal?!"

"Jahanam! Apa maksudmu?!"

Peri Kupu-kupu tertawa mengekeh. Puas tertawa nenek ini palingkan wajahnya ke samping. Pendekar 108 terlihat berdiri menyandar di batang pohon seraya memperhatikan ke arahnya, membuat si nenek kernyitkan dahi sambil berkata dalam hati. "Sialan. Dikiranya apa aku ini?" Sementara itu Seruni diam-diam juga lirikkan matanya pada Aji.

"Hem. Siapa pemuda ini? Kenapa bentrok

dengan Peri Kupu-kupu? Apakah ia juga mempunyai tugas seperti...," Seruni putuskan kata hatinya, karena saat itu Peri Kupu-kupu telah berkata. "Anak gadis. Aku tahu. Membunuhku adalah urutan kedua. Yang pertama sebenarnya adalah mengorek keterangan dariku. Betul bukan?!"

"Keterangan apa yang bisa diperoleh dari Tua bangka sepertimu? Hah...? Bagiku kematianmu adalah yang pertama dan terakhir!"

Ucapan Seruni sedikit merubah paras wajah Peri Kupu-kupu. Dalam hati nenek ini berkata. "Apakah Raksasa Bermuka Hijau melupakan urusan itu? Jika tidak, kenapa masih menugaskan gadis ini untuk mencabut nyawaku? Apakah dia tak ingin mengorek keterangan mengenai Lembaran Kulit Naga Pertala yang disangkanya ada padaku?! Ataukah dia telah yakin kalau lembaran kulit itu masih berada di Bukit Siluman?! Kalau tidak, mana mungkin dia menginginkan kematianku sebelum didapatkannya lembaran itu?!"

Selagi Peri Kupu-kupu menduga-duga, Seruni berkata.

"Kau siap menuju kematian?! Atau mau bicara dulu?!"

"Anak gadis. Bicara adalah jalan terbaik, karena kematian tidak menyelesaikan urusan. Tapi karena ini urusanku dengan Raksasa Bermuka Hijau kakekmu, lebih baik aku menemuinya "

"Aku adalah cucunya! Katakan saja padaku! Aku utusannya!"

Peri Kupu-kupu gelengkan kepalanya. "Urusan kecil di tangan orang tua akan berubah besar jika jatuh ke tangan anak muda! Aku akan bicara sendiri dengan kakekmu!"

"Baik. Akan kuantar kau menemuinya. Tapi hanya penggalan kepalamu!" hardik Seruni dengan suara tinggi. Gadis ini lalu berkelebat ke depan. Tangan kiri kanannya disentakkan ke arah Peri Kupu-kupu.

Murid Wong Agung yang berada tak jauh dari situ buru-buru menghindar dengan melompat ke belakang lalu seenaknya saja duduk menggelosoh. Dari tempatnya kini dia memandang lekat-lekat pada Peri Kupu-kupu sambil usap-usap hidungnya.

"Hem.... Mendengar nada bicaranya, nenek ini orang baik-baik. Dan kalau mau sebenarnya mudah saja dia membunuhku saat aku roboh. Tapi dia tidak melakukannya. Malah memanggil seseorang tapi yang muncul lain. Hem. Nenek

ini mempunyai maksud tertentu "

Di depan sana, begitu Seruni sentakkan kedua tangannya, dua rangkum angin keluarkan suara laksana badai melesat cepat ke arah Peri Kupu-kupu.

Peri Kupu-kupu goyang-goyangkan kepala. Tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara. Tangan kiri kanannya mengebut ke bawah.

Wuuutt! Wuuttt!

Tiada suara deruan yang terdengar, namun di bawah sana serangan Seruni bukan hanya melenceng tersapu tapi juga ambyar dengan keluarkan letupan. Sosok Seruni terlihat tersurut mundur hingga lima langkah, membuat gadis berparas cantik ini katupkan mulut rapat-rapat dengan dagu mengembang. Sepasang matanya mengikuti gerakan Peri Kupu-kupu yang perlahan-lahan melayang turun seperti seekor kupukupu yang hendak hinggap di bunga.

Begitu setengah tombak lagi si nenek menjejak tanah, Seruni keluarkan bentakan keras sambil kirimkan serangan. Tubuhnya berputar dua kali, pada putaran ketiga kedua tangannya menghantam.

Suasana mendadak redup pekat, hawa dingin menusuk menyungkup tempat itu. Angin menderu-deru laksana gemuruh gelombang. Dikejap lain terdengar suara seperti air laut muncrat. Bersamaan dengan itu suasana tambah pekat, karena tanah yang terkena pukulan Seruni terbongkar lalu membumbung ke udara.

Seruni menunggu dengan tangan siap kembali kirimkan pukulan karena dia tak mendengar suara seruan atau erangan dari orang yang diserang. Namun hingga suasana sirap, gadis ini tetap tak mendengar suara erangan malah lebih-lebih yang membuatnya membelalak, si nenek tak tampak batang hidungnya!

"Jahanam! Kalau mampus mana bangkai keparatnya kalau hidup mana sosok bangsatnya?!"

Seruni besarkan sepasang matanya mencari ke sana kemari. Sementara Pendekar Mata Keranjang memandang Seruni dengan senyum ditahan, membuat gadis itu curiga lalu membentak.

"He! Maha Tua bangka itu?!"

Pendekar 108 layangkan pandangannya lurus pada si gadis, namun sebenarnya matanya memandang pada sosok yang berada tepat di belakang si gadis.

Mendapati orang tidak menjawab pertanyaannya bahkan memandangnya dengan aneh, Seruni jadi naik pitam.

"He! Lekas jawab atau kau ingin mati sekalian?!" "Aku di sini, Anak gadis "

Seruni tersentak hingga meloncat ke depan, karena suara itu demikian dekat dengan telinganya. Dia lalu memutar diri dan tampaklah Peri Kupu-kupu tegak di mana tadi dia berada! Hal ini membuat Seruni terguncang dengan muka merah mengelam. Gadis ini maklum jika saja Peri Kupu-kupu punya niat mencelakai dirinya, tidak sulit hal itu dilakukan karena saat itu Peri Kupukupu tepat berada di belakangnya sementara dirinya tak tahu.

Peri Kupu-kupu merapikan rambutnya yang cuma sebatas tengkuk. Lalu melangkah perlahan ke arah Seruni.

Entah merasa jera atau geram, Seruni melompat mundur seraya kirimkan pukulan. Dikejap lain tubuhnya berputar lalu berkelebat tinggalkan tempat itu.

Peri Kupu-kupu menggeser langkah satu tindak ke samping. Pukulan Seruni yang tampaknya dilakukan tanpa tenaga dalam kuat itu menderu ke sampingnya.

"Tunggu!" seru Peri Kupu-kupu menahan kelebatan Seruni, namun gadis itu telah lenyap. Nenek ini lantas berpaling ke arah Pendekar 108. Dari mulutnya terdengar gumaman tak jelas tatkala matanya tak lagi melihat pemuda itu.

Peri Kupu-kupu usap keringat di leher dan wajahnya. Lalu mendongak dan berkata. "Banci! Kenapa kau diam saja di situ?!"

Si nenek tak menunggu lama. Saat itu juga dari balik sebuah pohon besar berkelebat sesosok bayangan, dan tahu-tahu di depan Peri Kupukupu berdiri seorang lelaki berwajah amat tampan, malah lebih mendekati jelita. Sepasang matanya berbentuk bundar. Rambutnya panjang dan dikepang dua. Bibirnya berbentuk bagus, dan diberi pemerah menyala. Tubuhnya yang semampai dibungkus pakaian perempuan.

Orang yang baru datang, keluarkan tawa panjang. Tangan kanannya bergerak pulang balik dengan gemulai. Setelah mengerdipkan mata kirinya, dia berkata. Suaranya mirip seorang perempuan.

"Peri Kupu-kupu. Manusia punya kehendak namun yang di atas menentukan. Aku tahu, kau tadi berkehendak memanggilku, tapi yang muncul gadis itu."

"Setan Pesolek! Tak usah banyak bicara!" rungut Peri Kupu-kupu kesal. "Jangan menambah-nambah urusanku lagi!"

"Manusia hidup tak lepas dari urusan, Peri Kupu-kupu. Itulah hidup. Tapi tiada urusan yang tak dapat diselesaikan."

"Sekarang bagaimana?!"

"Kita cari tempat yang tenang untuk bicara."

Laki-laki berpakaian perempuan yang ter-

nyata berjuluk Setan Pesolek lalu memberi isyarat pada Peri Kupu-kupu. Kejap lain dia melesat di antara kerapatan rimbun pohon meninggalkan tempat itu, disusul kemudian oleh si nenek berjubah kembang-kembang.

DELAPAN

SERUNI yang mengaku cucu dan murid Raksasa Bermuka Hijau terus berlari laksana dikejar setan. Segenap kemampuannya dikerahkan. Karena saat itu malam telah turun, membuat sosoknya menjadi samar-samar hitam yang berkelok-kelok di antara kerapatan pohon. Dia berlari kencang bukan khawatir dikejar oleh Perl Kupukupu, karena dia sudah sempat berpaling ke belakang dan dengan sekilas pandang gadis ini telah tahu jika si nenek tak mengejarnya. Sebaliknya dia berkelebat cepat karena hatinya gundah dan kecewa tak dapat melaksanakan niatnya untuk membunuh Peri Kupu-kupu. Yang lebih lagi, seandainya Peri Kupu-kupu mau, nyawanya mungkin sudah melayang!

Pada suatu tempat bertanah rata dan di sana-sini banyak batu-batu besar, Seruni hentikan larinya. Setelah mengusap keringat di wajahnya dia melangkah perlahan ke arah sebuah batu besar lalu duduk dengan sandarkan punggung. Kedua kakinya diselonjorkan ke depan.

Gadis berwajah cantik ini tengadahkan kepala. Langit tampak cerah tak berawan. Bintang gumintang bertaburan dan bulan mulai merambat pelan menambah keindahan cakrawala. Tapi semua itu tak membuat Seruni terhibur. Wajahnya pucat dan murung. Lalu dari mulutnya terdengar dia berucap lirih.

"Eyang Guru.... Maafkan aku. Aku belum berhasil melaksanakan tugas yang kau amanatkan padaku. Tapi percayalah, aku tak akan kembali dengan tangan hampa. Bagaimanapun caranya, aku akan membawa kepala tua bangka itu ke hadapanmu, peduli setan dia memberikan keterangan atau tidak!"

Sejenak Seruni terdiam. Kepalanya masih tengadah. Kini sepasang matanya memperhatikan sang rembulan. Kalau sebentar tadi air mukanya membayangkan kekecewaan dan geram, kini berubah menjadi gelisah dan bimbang.

"Membuat mampus salah seorang dari beberapa orang yang harus kulenyapkan begini sulitnya. Apakah aku mampu untuk menghadapi lainnya? Ah.... Belum lagi mencari pemuda yang katanya berhasil memiliki kipas ungu 108 yang kini digelari orang Pendekar Mata Keranjang 108. Akankah aku dapat menyelesaikan tugas ini atau gagal dan bahkan harus tewas? Ah, seandainya aku tahu di mana ibuku berada mungkin dia dapat membantuku. Ibu.... Di mana kau berada? Masih hidupkah kau...?" Tanpa disadari oleh Seruni air matanya sudah berlinang membasahi wajah dan sebagian pakaiannya.

"Eyang selalu mengatakan bahwa ibuku telah meninggal tapi dia mungkir jika kutanya di mana kuburnya. Firasatku mengatakan ibu lupa jika pernah melahirkan seorang anak? Ah, betapa banyak masalah yang kuhadapi "

Tiba-tiba Seruni sentakkan kepalanya ke sebelah kanan, matanya berkilat-kilat memandang ke arah sebuah batu besar. Kedua tangannya diangkat mengusap sebagian air matanya. Mendadak dia bangkit lalu berteriak garang.

"Siapa pun adanya kau, cepat unjukkan di-

ri!"

Tak ada suara menyahut atau munculnya

seseorang. Namun Seruni masih menunggu. Beberapa saat berlalu masih tak ada gerakan tak ada jawaban, Seruni tarik tangan kanannya ke belakang.

"Bagus! Rupanya kau ingin kekerasan!" Seruni mendengus keras. Tangan kanannya segera dihantamkan ke arah batu besar. Dia sengaja menghantam bagian atas batu, hingga kejap kemudian bagian atas batu besar itu pecah berkeping dan berhamburan ke udara.

Namun sejauh itu belum tampak adanya gerakan dari balik batu, membuat si gadis marah. Kini kedua tangannya ditarik dan dihantamkan langsung ke arah batu itu. Sebelum kedua tangan menghantam, dari balik batu berkelebat sesosok bayangan, seraya berseru.

"Tahan pukulan!"

Seruni urungkan niat. Kini sepasang matanya mendelik memperhatikan seorang pemuda berpakaian hijau dilapis pakaian tangan panjang kuning, tegak berdiri di hadapannya dengan senyum-senyum.

"Kau!" gumam Seruni parau begitu mengenali siapa adanya pemuda.

"Kau sengaja mengikutiku dan mencuri dengar! Kau mungkin teman tua bangka itu. Kau harus mati!" ujar Seruni sambil tarik kedua tangannya lagi siap lepaskan pukulan.

"Tunggu!" tahan si pemuda yang bukan lain adalah Pendekar Mata Keranjang 108 sambil memandang lekat-lekat pada Seruni.

Sewaktu Seruni bentrok dengan Peri Kupukupu dan tak dapat melaksanakan niatnya, gadis ini berkelebat pergi setelah kirimkan satu pukulan. Pada saat bersamaan Aji pun diam-diam berkelebat pergi. Karena arah yang dituju sama dengan Seruni, Pendekar Mata Keranjang mengikutinya dari belakang. Sebenarnya dia tidak berniat mengikuti ke mana Seruni pergi. Namun setelah sampai pada suatu tempat rata yang jarang ditumbuhi pohon, Pendekar 108 jadi kebingungan sendiri. Jika dia terus berlari bukan tak mungkin Seruni akan mengetahuinya. Pendekar 108 tak mau bikin persoalan. Dia telah menduga jika nantinya Seruni pasti akan menuduh yang bukanbukan jika dia ketahuan. Memikir sampai di situ, begitu Seruni duduk bersandar pada sebuah batu besar, Pendekar 108 ini diam-diam juga menyelinap dan mendekam di balik sebuah batu di sebelah kanan Seruni sambil mencari kesempatan untuk berkelebat. Namun niatan Aji tertahan tatkala telinganya menangkap ucapan Seruni. Dan akhirnya dia mengambil keputusan untuk tetap di balik batu begitu mendengar dirinya juga disebutsebut oleh Seruni. Meski saat itu Seruni tak menyebut namanya, namun pemuda yang telah memiliki kipas ungu 108 tidak lain adalah dirinya!

"Maaf. Aku bukan mengikuti atau mencuri dengar ucapanmu. Kita hanya searah dalam perjalanan. Aku "

"Dusta!" potong Seruni. "Apa yang kau kerjakan di balik batu itu. Hah ?!"

Pendekar Mata Keranjang cengar-cengir sambil usap-usap hidungnya. "Seperti halnya kau, aku juga capek. Lalu duduk di balik batu. "

"Hem.... Begitu. Jelaskan siapa dirimu. Siapa gelarmu dan apa hubunganmu dengan tua bangka berjubah kembang-kembang tadi!"

Aji senyum-senyum sejenak lalu menjawab. "Aku Aji Saputra... Seorang pengelana jalanan yang melangkah menurutkan ke mana kaki mengayun. Si nenek itu pun baru kali ini kutemui!"

Si gadis memandang Pendekar Mata Keranjang dari atas hingga bawah. "Aji.... Tapi kalau tua bangka Peri Kupu-kupu bikin masalah dengan dia, pastilah dia salah seorang dari kaum persilatan. Hem.... Apa dia tadi mendengar ucapanku? Ah, peduli setan!" Seruni arahkan pandangannya pada jurusan lain. Lalu berujar.

"Malam ini aku masih berbaik hati. Cepat tinggalkan tempat ini!"

Murid Wong Agung tak menghiraukan ucapan orang. Malah dia melangkah satu tindak ke depan.

"Seruni. Apa yang kau ketahui tentang nenek bergelar Peri Kupu-kupu itu?!"

Seruni menggeleng pelan. "Di sini bukan tempatnya untuk bertanya! Kataku cepat tinggalkan tempat ini. Pikiranku bisa berubah dalam sesaat!"

"Jika itu maumu, baiklah. Tapi kusarankan padamu untuk berpikir jernih. Meski aku belum tahu siapa adanya Peri Kupu-kupu, namun dia tampaknya orang baik-baik. Jangan menuruti perasaan dan ucapan orang! Gunakan akal pikiran dan hati bersih "

"Jahanam! Kau tahu apa tentang tua bangka itu, hah?! "

"Aku buta tentang dia. Tapi melihat sikapnya dia orang baik. Kau sadar itu?!"

Seruni tersenyum sinis. "Kau lupa. Sikap seseorang justru tameng kepalsuan untuk menutupi sifat sebenarnya!"

"Hem.... Jadi Peri Kupu-kupu itu orang ja-

hat?"

"Tidak hanya jahat tapi juga licik dan pen-

gecut! Orang macam dia pantas dilenyapkan!" "Apa yang diperbuatnya terhadapmu?!" "Kau bertanya apa menyelidik, hah?!"

"Aku hanya ingin tahu. Karena tanpa ujung pangkal dia tiba-tiba menyerangku. Siapa tahu ucapanmu benar, dia menyembunyikan sifat sebenarnya. Takkan kubiarkan dia hidup jika dia benar-benar orang jahat!" "Kau jangan ikut campur urusan ini. Selembar nyawanya milikku!" sahut Seruni seraya arahkan kembali pandangannya pada Aji.

"Mana bisa begitu? Dia telah membuat urusan denganku! Tapi, hem.... Bagaimana kalau kita bersama-sama membagi nyawanya? Atau setidak-tidaknya aku membantumu melenyapkannya juga orang-orang lainnya? Bukankah selain nenek itu kau masih punya urusan lagi?!"

"Berarti dia mendengar ucapanku tadi...," batin Seruni lalu tertawa pendek bernada sinis. "Aku punya tangan untuk membunuhnya! Aku tak butuh bantuan!"

"Sialan. Sombong betul gadis ini! Tapi aku akan memancingnya untuk mengatakan apa hubungannya dengan diriku...," Aji berkata dalam hati.

"Seruni. Rimba persilatan kata orang tuatua penuh dengan kelicikan, kekejian, dendam kesumat, hasutan serta fitnah. Lebih dari itu berkubang beberapa orang aneh berilmu tinggi "

Seruni kepalkan kedua tangannya dan diacungkan ke atas. "Rimba persilatan boleh memendam seribu kelicikan, seribu kekejian dan dendam kesumat. Silakan beratus-ratus orang berilmu tinggi berenang di dalamnya! Aku telah siap menghadang dan menghadapinya! Jangan kira aku jadi surut karena ucapanmu!"

"Semangatmu menyala-nyala, ilmumu tinggi. Tapi jangan lupa, otak serta kecerdikan juga diperlukan. Jika tidak, kau akan meninggalkan bumi sebelum kau bertemu dengan orang yang selama ini kau rindukan!"

Seruni tak sadar tersurut sampai dua langkah ke belakang mendengar ucapan terakhir Pendekar Mata Keranjang. Parasnya berubah murung dengan bibir saling menggait. Perlahanlahan pula matanya tampak digenangi air.

Melihat keadaan Seruni, diam-diam Aji merasa bersalah. Murid Wong Agung ini lalu melangkah mendekat.

"Maaf kalau ucapanku menyinggung. Sebenarnya aku hanya ingin mengingatkan bahwa ada sesuatu hal yang lebih penting dalam hidupmu selain amanat yang sekarang kau emban. Menurutku "

Pendekar 108 tak lanjutkan ucapannya karena saat itu Seruni memandang ke arahnya dengan pandangan nyalang.

"Jangan lanjutkan kata-katamu! Dan angkat kaki dari sini!"

"Seruni "

"Pergi kataku! Pergi!" teriak Seruni dengan air mata tumpah.

Entah Aji mengira teriakan si gadis hanya karena terbawa perasaan yang sejenak kemudian pasti akan reda, Pendekar Mata Keranjang tetap tegak di situ.

"Jahanam!" maki Seruni seraya angkat kedua tangannya. Suara gelombang angin dahsyat menyapu ke arah Pendekar 108. Tersentak kaget, Pendekar Mata Keranjang cepat-cepat berkelebat meninggalkan tempat itu. Di depan sana tanah kontan muncrat ke udara menghalangi pemandangan terkena pukulan Seruni.

Begitu tanah surut, Seruni tampak duduk bersandar di lamping batu dengan tangan mendekap wajah. Bahunya berguncang-guncang. Entah apa yang ada di benak gadis ini, yang pasti di lain saat terdengar suara sesenggukannya!

SEMBILAN

PENDEKAR 108 menggeliat ketika hawa hangat menyentuh sekujur tubuhnya. Perlahan dia membuka kelopak matanya. Mata itu segera mengatup kembali ketika silau oleh cahaya matahari pagi yang menerobos lewat daun-daun pepohonan di mana dia berada.

Tapi, secepat sepasang mata itu mengatup, secepat itu pula, Aji membukanya. Karena sesaat sebelum sepasang matanya dikatupkan karena merasa silau, dia sempat melihat adanya dua sosok berdiri di hadapannya.

Mereka ternyata adalah seorang lelaki dan perempuan yang telah berusia lanjut. Yang di sebelah kanan adalah seorang kakek bertubuh gemuk besar. Pada kedua ketiaknya terlihat dua bambu kecil sebagai penopang tubuh, karena kedua kakinya buntung. Dua bambu itu demikian kecilnya, dan tubuh si kakek demikian besarnya. Tapi, bambu itu tidak melengkung apalagi patah!

Di sebelah si kakek adalah seorang perempuan tua yang juga bertubuh gemuk besar mengenakan pakaian merah. Rambutnya yang putih disanggul di atas. Bibirnya dipoles merah menyala. Nenek ini mengenakan anting-anting besar yang dimuati beberapa anting-anting kecil.

"Gongging Baladewa.... Dewi Kayangan...," seru Aji setengah kaget, karena tak menyangka akan bertemu dengan dua tokoh tua yang sakti itu.

"Hik hik hik...!" perempuan gemuk itu tertawa mengikik. Kemudian, setelah merasa puas menebar kegembiraan, dia berkata.

"Kau benar-benar pemalas, Anak Kurang Ajar! Hanya bicaramu saja yang besar, mengatakan hendak pergi ke Bukit Siluman. Tapi, nyatanya malah pergi ke Pulau Kapuk! Enak-enakan tidur di sini! "

"Dewi... Siapa yang pemalas, dan enakenakan tidur?!" bantah Aji seraya usap-usap hidung dan cengar-cengir.

"Tentu saja kau, Anak Kurang Ajar!" sentak Dewi Kayangan. "Mana mungkin aku?! Bukankah kau yang tengah bermalas-malasan. Bahkan malah tidur?! Bukankah sewaktu di Dusun Kepatihan, setelah sembuh dari luka dalam akibat bertarung dengan Dewa Maut, kau katakan ingin pergi ke Bukit Siluman! Buktinya?!"

Pendekar 108 garuk-garuk kepalanya seraya bangkit.

"Kata-katamu perlu kubetulkan, Dewi," sahut Pendekar Mata Keranjang. "Bukan aku yang ingin pergi ke Bukit Siluman. Bagaimana mungkin aku ingin pergi ke tempat yang namanya baru kudengar?! Apalagi di mana adanya tempat itu pun aku belum tahu?!"

"Hik hik hik...!" Dewi Kayangan tertawa mengikik. "Kau dengar ucapan anak ini, Gongging?! Meski kurang ajar dan tak bisa diam melihat dahi licin, dia memiliki otak yang lumayan. Ingatannya cukup kuat."

"Seberapa kuat ingatannya, Dewi?" Gongging Baladewa ikut buka suara. "Mampukah mengangkat tubuhku?!"

Pendekar Mata Keranjang tak kuasa untuk menahan senyum lebar yang menghias bibirnya.

"Hik hik hik...! Rupanya kau sudah mendapatkan kemajuan, Gongging. Kau sudah mempunyai selera untuk bergurau. Sayang, leluconmu norak! Kau masih kurang tahu kapan dan di mana harus bersikap seperti itu!" cela Dewi Kayangan.

Gongging Baladewa hanya mendengus. Aji tertawa pelan. Sedangkan Dewi Kayangan, cekikikan.

"Anak Kurang Ajar!" Dewi Kayangan putuskan tawanya. "Kau tahu mengapa kau harus ke Bukit Siluman?!"

Aji angkat kedua bahunya. Lalu kepalanya digelengkan.

"Dewi.... Mengapa mesti bertanya lagi?! Bukankah kau pun mendengar ketika Setan Pesolek menyuruhku pergi ke tempat itu?! Dia tak menjelaskan apa pun!"

"Hik hik hik...! Inilah orang yang tak menggunakan apa yang dimilikinya?! Punya mulut, tak dipergunakan untuk bertanya! Mengapa tidak kau tanyakan orang yang tak ketahuan jenisnya itu?!" "Dewi.... Kurasa tak ada gunanya berteka-

teki lagi," Pendekar Mata Keranjang menukas. "Kalau kau memang tahu, beritahukanlah padaku. Kalau kau tak tahu, lebih baik kuteruskan tidurku yang tertunda. Pergi ke Bukit Siluman pun tak ada artinya, bila aku tak tahu tujuannya!"

"Hik hik hik...! Sejak berpisah dari kekasihmu itu kau mudah sekali marah, Anak kurang ajar! Tapi, baiklah. Dengarkan baik-baik, karena aku tak akan mengulangi keteranganku lagi. Aku hanya katakan sekali! Tidak ada pengulangan lagi, kecuali kalau memang sekali saja tak cukup! Hik hik hik...!"

Perempuan tua bertubuh besar itu putuskan tawanya sebelum tuntas. Gongging Baladewa geleng-geleng kepala, bingung.

"Anak bodoh! Waktu itu, si Pesolek memang tak mengatakan mengapa kau harus pergi ke Bukit Siluman. Karena, dia sendiri belum tahu jelas. Si banci itu hanya tahu, ada sesuatu yang sangat berharga di sana. Tapi, setelah kau pergi, dia berhasil mengetahuinya!"

"Syukurlah...," desah Pendekar 108, seraya usap-usap hidungnya. "Dengan begitu, aku tak seperti keledai bodoh, mencari-cari sebuah tempat, tanpa tahu apa yang kucari!"

"Jangan potong ucapanku! Kalau aku lupa akan apa yang ingin kuutarakan, kau yang akan rugi!" sentak Dewi Kayangan, ditutup cekikikannya. "Dengar, manusia banci itu telah pergi menyusulmu untuk memberitahukannya. Khawatir, dia tak bertemu denganmu, aku dan Gongging ikut pergi untuk mencarimu. Susah-payah kami mencari, eh kau malah enak-enakan bermalasmalasan."

"Dewi.... Aku tak bermalas-malasan "

"Sudah! Sudah...! Tak ada gunanya berdebat lagi!" Dewi Kayangan memutuskan. "Sekarang, kau dengar baik-baik. Tujuanmu ke Bukit Siluman adalah untuk mengambil lembaran kulit "

"Lembaran kulit?!" potong Aji, cepat. "Untuk apa segala macam lembaran kulit bagiku?! Jangankan hanya lembaran, sekalipun tumpukan aku tak akan tertarik!"

"Aku tak peduli apakah kau tertarik atau tidak!" Dewi Kayangan berkeras. "Yang jelas lembaran kulit yang kau remehkan itu akan segera membuat geger dunia persilatan. Lembaran itu akan menjadi rebutan, dan membuat pertumpahan darah. Itu menurut si manusia banci!"

"Apakah orang-orang persilatan telah demikian dungunya, sehingga mau memperebutkan segala macam kulit?! Apalagi hanya selembar!" gerutu Pendekar 108.

"Lembaran itu bukan benda sembarangan. Menurut si banci kawanmu itu, lembaran yang bernama Lembaran Kulit Naga Pertala itu berisikan ilmu silat tinggi!"

"Begitukah?!" sahut Pendekar 108, bernada acuh. "Sayang, aku tak tertarik "

"Anak Monyet! Aku tak peduli apakah kau tertarik atau tidak. Yang penting, kau harus mendapatkan Lembaran Kulit Naga Pertala, agar tak terjatuh ke tangan orang-orang golongan hitam!" tukas Dewi Kayangan dengan suara lebih dikeraskan.

"Apa yang dikatakan Dewi Kayangan memang tak salah. Kau harus mendapatkan Lembaran Kulit Naga Pertala itu. Dan "

Gongging Baladewa terpaksa putuskan ucapannya, karena Dewi Kayangan memotong ucapannya dengan suara keras.

"Tak perlu berpanjang lebar lagi, Gongging! Ataukah kau ingin ikut bermalas-malasan, tidur di tempat ini seperti anak kurang ajar itu?!"

Tanpa menunggu tanggapan Gongging Baladewa, Dewi Kayangan melesat meninggalkan tempat itu. Si kakek bertubuh besar, hanya bisa mengangkat bahu, kemudian melesat mengikuti. Tinggal Aji sendirian di tempat itu. Pemuda berpakaian hijau itu tercenung, seperti tengah memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian mulutnya bergerak membuka.

"Bukit Siluman.... Lembaran Kulit Naga Pertala...." Sambil menggumamkan kata-kata itu, Pendekar 108 ayunkan langkah dan tebarkan pandangan ke sekeliling.

Baru dapat lima tombak tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dan tegak tiga tombak di hadapan Pendekar 108. Murid Wong Agung hentikan langkah. Dengan mata mengerjap dia perhatikan orang di hadapannya.

Dia adalah seorang laki-laki dengan tampang seperti anak kecil berusia sepuluh tahun, berkepala botak dan berwajah kelimis. Tidak ada kumis, jenggot mau pun cambang. Mengenakan celana pendek putih tanpa baju.

Sejenak Aji kernyitkan dahi. "Rasanya aku belum pernah jumpa dengan manusia ini. Mengapa, sikapnya seakan-akan mempunyai silang sengketa dengannya?!"

"Aku Mahaesa Bayangan!" Tiba-tiba orang di depan Aji keluarkan bentakan. "Serahkan kipas milikmu padaku!"

Mendapat bentakan, Aji mulai geram. "Menyingkirlah dari hadapanku!" Aji bales membentak.

Mahaesa Bayangan ulurkan tangan membuat gerakan meminta. "Aku akan menyingkir, tapi serahkan dulu kipas itu!"

"Kau bisa minta pada malaikat maut!" "Keparat!" maki Mahaesa Bayangan seraya

menghambur ke depan. Kedua tangannya berkelebat menghantam ke arah kepala dan perut. Pendekar 108 tak tinggal diam. Dia mundur satu langkah. Tangan kiri menghantam ke bawah, tangan kanan diangkat ke atas.

Bukkk! Bukkk!

Benturan tak terhindar lagi. Mahaesa Bayangan terhuyung ke belakang namun cepat dia bantingkan kaki. Tubuhnya melenting setengah tombak. Dari atas udara kedua tangannya kirimkan pukulan jarak jauh bertenaga dalam kuat.

Wuuut! Wuuuttt!

Angin menderu kencang menghampar ke arah murid Wong Agung. "Manusia geblek! Kau hanya cari mati saja!" seru Pendekar Mata Keranjang lalu hantamkan kedua tangannya. Dua berkas sinar biru melesat cepat lalu mengembang.

Blammm!

Mahaesa Bayangan menjerit keras. Sosoknya mental jauh ke belakang lalu terkapar di atas tanah. Mulutnya mengucurkan darah segar. Lakilaki ini memaki tak karuan lalu tertatih-tatih bangkit. Baru saja tubuhnya tegak, tiba-tiba dari arah samping kiri terdengar suara deru dahsyat. Di lain saat gelombang angin menggebrak. Mahaesa Bayangan berteriak tegang. Dia tak sempat berpaling untuk mengetahui siapa yang kirimkan serangan karena saat itu juga tubuhnya tersapu lalu melayang. Entah untuk mencoba menahan gerak tubuhnya, Mahaesa Bayangan kerahkan sisa-sisa tenaganya. Dia lalu membuat gerakan berputar di udara. Namun sapuan itu begitu dahsyat hingga baru saja tubuhnya berputar, sosoknya telah menghantam sebatang pohon. Sesaat kemudian dia jatuh ke tanah dengan nyawa putus!

Meski berdiri agak jauh, namun Pendekar Mata Keranjang 108 masih merasakan matanya perih dan hempasan kuat laksana air bah yang mendorong. Dengan menahan rasa terkejut murid Wong Agung ini berpaling ke kiri. Sepasang matanya mendelik tak berkedip. Bersandar pada sebatang pohon sepuluh tombak dari tempatnya berdiri Pendekar Mata Keranjang melihat seorang laki-laki mengenakan jubah hitam ketat menatap sangar ke arahnya. Sosok orang ini tinggi kurus. Rambutnya disanggul ke atas. Parasnya lonjong dan berwarna pucat. Sepasang matanya kecil dan berwarna merah. Kedua alis matanya tebal dan bertautan. Yang membuat orang ini makin angker, adanya sepasang taring yang menyembul dari sudut-sudut mulutnya.

"Busyet! Ini hantu apa manusia?" gumam Aji lalu alihkan pandangannya pada Mahaesa Bayangan. Aji jadi bergidik. Selain hangus hitam, ternyata kulit tubuhnya mengelupas!

Belum sampai Pendekar 108 berpaling lagi pada orang yang baru datang, terdengar bentakan keras agak sengau.

"Aku mewakili sang mayat. Serahkan padaku kipas itu!"

Menoleh, Pendekar 108 melihat orang berjubah hitam telah melangkah ke arahnya lalu berhenti dua tombak di hadapannya dengan sepasang mata mengawasi tajam.

"Orang tak dikenal. Siapa kau?!" Aji menegur. Namun diam-diam mengawasi orang di hadapannya dengan lekat-lekat. Matanya disipitkan lalu dibuka lebar-lebar dengan dahi berkerut. "Mengapa kau menginginkan kipas milikku?"

Sebaliknya orang berjubah hitam berkata sendiri dalam hati. "Menyirap dari manusia yang telah jadi mayat tadi, aku yakin memang pemuda ini orangnya. Hem.... Rezekiku besar. Jika kipas ungu 108 itu teraih, tinggal memburu Lembaran Kulit Naga Pertala. Rimba persilatan akan ada di genggaman!" Orang ini lantas berpaling ke samping dan berkata.

"Dengar Anak Muda! Orang di hadapanmu adalah Hantu Berjubah! Aku tak akan bicara berulangkali! Atau kau ingin jadi mayat tak berkulit!" Hantu Berjubah menghardik sambil hantamkan kedua tangannya.

Wuttt! Wuttt!

Sinar hitam muncrat keluar dari tangan Hantu Berjubah. Bersamaan dengan itu hitam pekat segera menyungkup.

Tanpa bicara lagi murid Wong Agung ini angkat kedua tangannya, kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Seketika menjadi biru berkilau. Serta merta didorongkan ke depan.

Wuuttt! Wuuuttt!

Dua larik sinar biru melesat cepat ke arah Hantu Berjubah. Kejap lain di tempat itu berbaur warna biru dan hitam. Kejap kemudian terdengar gelegar dahsyat memecah ketika pukulan Mutiara Biru bentrok dengan pukulan sakti 'Asap Kematian' yang dilepaskan Hantu Berjubah.

Bunga api tampak berpijar di udara lalu padam terkena hamburan tanah yang mengudara. Hantu Berjubah tampak terhuyung-huyung namun segera dapat kuasai diri. Tubuhnya bergetar keras, wajahnya hitam kemerahan.

Lima belas langkah di hadapan Hantu Berjubah, Pendekar Mata Keranjang berlutut dengan mulut megap-megap dan dada turun naik dengan keras. Mukanya pucat dan tangan gemetaran.

Mengetahui tak mengalami cedera parah, setelah kerahkan tenaga dalam Hantu Berjubah segera bangkit. Di seberang, melihat Hantu Berjubah telah bangkit, Pendekar 108 segera pula berdiri.

Mata Hantu Berjubah mendelik angker. Dengusan hidungnya terdengar keras. Diam-diam dia berkata dalam hati. Kalau tak segera kubikin mampus, anak ini berbahaya! Bisa jadi duri di kemudian hari!" Berpikir demikian, Hantu Berjubah segera kerahkan tenaga dalamnya dan sekonyong-konyong dia lepaskan pukulan dengan lutut sedikit ditekuk.

Karena kali ini dengan kerahkan segenap tenaga dalamnya, bukan hanya sinar hitam saja yang melesat keluar, namun bersamaan dengan itu gelombang angin deras menggebrak dengan keluarkan suara luar biasa dahsyat. Di kejap lain, pemandangan jadi gelap gulita! 

Daya lesat sinar hitam yang begitu cepat dan mendadak tidak memungkinkan bagi Pendekar 108 untuk segera lepaskan pukulan 'Mutiara Biru', membuatnya terpaksa melompat mundur sambil menghantam.

Pukulan sakti yang dilepas Pendekar 108 masih menyelamatkan dirinya dari hantaman telak pukulan Hantu Berjubah, namun karena jaraknya begitu dekat, membuat sosok murid Wong Agung ini merasakan sekujur tubuhnya laksana dipanggang ketika terjadi bentrok pukulan. Dan di lain kejap tubuhnya telah mencelat dan membentur pohon hingga pohon itu berderak tumbang. Tubuhnya lalu jatuh terkulai di samping pohon yang tumbang dengan darah mengucur dari mulut dan hidungnya!

Hantu Berjubah tertawa mengekeh. Lalu berkelebat dan tahu-tahu telah tegak di samping Pendekar 108 dengan tangan menjulur dan tubuh membungkuk.

Pendekar 108 bertahan agar tidak pingsan. Dan perlahan-lahan tangan kanannya menyelinap di balik pakaiannya di mana tersimpan kipasnya. Dia berusaha mencabut kipas itu. Namun wajah murid Wong Agung ini jadi pias tatkala tenaganya tak mampu untuk mencabut kipas dari pinggangnya.

"Celaka jika kipas ini sampai jatuh ke tangannya!" desisnya seraya geser tubuhnya ke atas.

Hantu Berjubah menyeringai dan teruskan juluran tangannya yang mengarah pada pinggang Pendekar 108. Sejengkal Lagi tangan Hantu Berjubah sampai ke pinggang Pendekar 108 mendadak dua larik sinar kuning menggebrak ke arahnya, membuat laki-laki berjubah hitam ini menghambur ke samping sambil keluarkan makian panjang pendek. Di kejap lain terdengar suara 'brakkk'. Pohon yang tinggal separo karena tumbang terkena hempasan tubuh Pendekar 108 terhampar berhamburan terkena pukulan yang lolos menghajar Hantu Berjubah. Pendekar Mata Keranjang sendiri meski selamat namun tubuhnya tersapu dan kembali mencelat sebelum akhirnya jatuh terkapar dengan mulut dan hidung makin banyak keluarkan darah.

"Setan alas! Siapa bangsatnya yang cari mati ini, hah?!" teriak Hantu Berjubah seraya sentakkan kepalanya ke samping arah mana pukulan tadi datang.

Merasa jiwanya masih selamat, Pendekar Mata Keranjang 108 segera buka sepasang matanya. Sekujur tubuhnya terasa ngilu bukan main. Dia coba kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi, namun tidak banyak menolong. Hingga akhirnya dia hanya dapat miringkan tubuh dengan mata memandang ke depan. Karena agak jauh dan matanya masih sedikit kabur murid Wong Agung ini tidak bisa mengenali siapa adanya orang yang menahan gerak tangan Hantu Berjubah yang hendak mengambil kipas dari pinggangnya. Dia hanya bisa menangkap tiga sosok tubuh yang tegak agak jauh dari tempatnya Hantu Berjubah.

Di depan sana, sentakan kepala Hantu Berjubah tertahan sebelum setengah jalan. Di situ sepasang matanya melihat seorang laki-laki mengenakan rompi berwarna hitam. Rambutnya panjang dan digelung ke atas. Tubuhnya kecil kurus dengan tangan kanan memegang bambu kuning sebesar ibu jari tangan yang panjangnya tiga jengkal. Ujung bambu itu ditempelkan ke mulutnya seperti hendak meniup seruling. Setiap dia monyongkan bibir terdengar suara merdu seperti suling ditiup! Padahal ujung bambu itu tidak berlubang!

Hantu Berjubah menyeringai, lalu gerakkan kepalanya lagi sedikit ke kiri. Di situ tegak seorang laki-laki berusia tujuh puluh tahunan. Rambutnya telah putih dan panjang. Raut wajahnya bengis. Tubuhnya yang tinggi kekar terlapis oleh pakaian terbuat dari kulit ular.

Hantu Berjubah tersenyum sinis dan dingin, lalu gerakkan Lagi kepalanya. Di situ dia melihat seseorang yang sudah sangat dikenalnya. Seorang perempuan berumur tiga puluh lima tahunan berwajah jelita mengenakan pakaian warna putih tipis yang di bagian dadanya dibuat rendah menampakkan sembulan buah dadanya.

"Hem.... Perempuan sundal ini berhasil menggaet Dewa Setan dan Mata Malaikat Kepa-

rat betul! Gara-gara dia urusan jadi berantakan!" Hantu Berjubah sengatkan sepasang matanya pada wanita berpakaian putih tipis. Lalu menghardik garang.

"Bidadari Penyebar Cinta! Aku masih memandangmu sebagai sahabat, lekas enyah dari sini!"

Bidadari Penyebar Cinta tertawa panjang hingga dadanya turun naik.

"Hantu Berjubah! Peduli setan kau memandangku sebagai apa! Yang pasti begitu kau keluar dari sarangmu akulah yang berhak atas putus tidaknya nyawamu!"

Sementara Hantu Berjubah dan Bidadari Penyebar Cinta perang mulut, dua orang di samping Bidadari Penyebar Cinta seolah acuh saja. Laki-laki setengah baya berompi hitam yang memegang bambu kuning arahkan pandangannya ke jurusan lain dengan ujung bambu tetap berada dicelah-celah bibirnya. Suara merdu seperti seruling ditiup itu makin lama makin keras. Laki-laki ini dalam rimba persilatan dikenal dengan gelaran Dewa Setan. Sedangkan laki-laki tua berpakaian dari kulit ular dalam kancah persilatan digelari dengan Mata Malaikat.

Hantu Berjubah arahkan pandangannya pada Dewa Setan dan Mata Malaikat. "Dewa Setan, Mata Malaikat! Apa kalian juga ingin mati bersama perempuan sundal ini?! Hah...?!"

Dewa Setan tidak berpaling, demikian pula Mata Malaikat. Hanya sesaat kemudian mulut Mata Malaikat bergerak menutup lalu membuka dan terdengarlah ucapannya. "Mati bersama perempuan cantik lebih enak daripada berkalang tanah sendirian, Hantu Berjubah!" Habis berkata begitu, mulut Mata Malaikat terus membuka tak menutup lagi.

"Jika itu mau kalian akan kuturuti! Bersenang-senanglah di akhirat sana dengan perempuan sundal ini!"

Mendengar dirinya disebut perempuan sundal, Bidadari Penyebar Cinta jadi naik pitam. Sekali sentakkan kedua tangannya dua sinar berwarna kuning terang melesat. Di lain kejap sinar itu mengembang lalu menyergap ke arah Hantu Berjubah. Perempuan ini telah lepaskan pukulan sakti 'Sinar Mentari'.

Mendengar deru angin dari sampingnya, tanpa menoleh lagi Mata Malaikat dan Dewa Setan telah tahu jika Bidadari Penyebar Cinta telah memulai serangan. Mendadak Dewa Setan angkat tangan tinggi-tinggi. Bambu kuning pendek di tangannya disentakkan. Tarrr! Tarrr!

Bukan hanya suaranya yang menusuk gendang telinga, namun pada saat bersamaan gesekan bambu dengan udara memuntahkan percikan api yang kemudian melesat ke arah Hantu Berjubah.

Mata Malaikat tak tinggal diam. Begitu bambu kuning disentakkan, dia memutar diri membelakangi. Tiba-tiba kedua tangannya dihantamkan ke belakang. Meski hantaman itu pelan, tapi bersamaan dengan itu terdengar suara laksana ombak lalu tampak asap putih bergerak cepat. Asap itu bergerak turun naik makin lama makin besar.

Mendapati tiga serangan sekaligus membuat Hantu Berjubah tercekat. Dia sama sekali tak menduga jika tiga orang itu akan kirimkan serangan secara bersamaan. Belum sempat dia berpikir hendak menangkis yang mana, sinar kuning telah melabrak! Membuatnya harus cepat menghindar untuk memapak bambu yang datang menyusul. Laki-laki berpakaian hitam ketat ini cepat berkelebat ke samping sambil kibaskan tangan kanannya. Sinar kuning pukulan Bidadari Penyebar Cinta melenceng dan terus menerabas.

Hantu Berjubah teruskan kelebatannya lalu tangan kirinya menyambut bambu sementara tangan kanannya menyentak menghantam asap putih yang kini setengah tombak di hadapannya.

Plaaarrr! Blaaammm!

Bambu kuning pendek milik Dewa Setan mental balik. Laki-laki ini berseru tertahan ketika merasakan tangannya seperti lumpuh dan tubuhnya terdorong mental ke belakang. Dia masih dapat menguasai tubuh agar tak jatuh, namun di saat terjadi ledakan dahsyat ketika pukulan Hantu Berjubah bentrok dengan pukulan Mata Malaikat membuat dirinya terhuyung kembali dan akhirnya jatuh berlutut dengan tangan ngilu dan hampir saja bambunya jatuh. Sedangkan Mata Malaikat terdorong ke depan. Tapi orang ini segera julurkan kedua tangannya hingga kejap kemudian dia bisa berdiri tegak, tak bergeming sedikit pun!

Di seberang, Hantu Berjubah berteriak keras. Meski tangan kirinya tidak mengalami cedera, namun benturan dengan bambu kuning membuat tangannya seakan hendak putus. Aliran darah di tangannya mampet. Lalu tampak jubahnya robek memanjang di bagian tangan kiri. Kalau dia dapat mengimbangi bambu kuning, tidak demikian halnya ketika pukulannya bentrok dengan pukulan Mata Malaikat. Begitu ledakan terdengar, tubuhnya langsung terseret naik turun mengikuti sapuan angin yang menyertai asap putri yang telah ambyar. Meski Hantu Berjubah kerahkan tenaga dalam, dia tak bisa mengatasi sapuan angin naik turun itu hingga kejap kemudian tubuhnya terjerembab dengan napas ter-engah-engah. Darah tampak keluar dari sudut bibirnya.

Pendekar Mata Keranjang sendiri yang tadi berada agak jauh di belakang Hantu Berjubah sempat tercekat ketika mendapati sinar kuning yang berhasil dihindari Hantu Berjubah melenceng dan lurus melabrak ke arahnya! Murid Wong Agung ini coba menghindar dengan bergulingan ke tanah. Namun belum sempat tubuhnya bergerak, sinar itu telah menghajar.

Pada saat genting itulah, Pendekar 108 merasakan tubuhnya terangkat. Entah menduga itu akibat pukulan yang menghajarnya dia segera pejamkan sepasang matanya. Dia lalu merasakan tubuhnya melayang turun. Pendekar 108 makin rapatkan matanya. Dia seakan sudah pasrah untuk jatuh menghantam tanah karena tenaganya sudah terkuras juga karena mengalami cedera.

Namun murid Wong Agung ini jadi terperangah ketika mendapati tubuhnya bagian bawah didorong pelan dari bawah lalu tubuhnya melesat ke depan. Begitu hampir menyuruk tanah lagi, dorongan itu menyentak lagi, membuat tubuhnya melesat lagi ke depan. Begitu terus menerus hingga pada suatu saat dorongan itu tak lagi dirasakan. Pendekar Mata Keranjang cepat membuka sepasang matanya. Pada saat bersamaan tubuhnya telah bergulingan di atas tanah!

Ketika suasana sirap, Hantu Berjubah terkejut. Dia tidak melihat sosok Pendekar Mata Keranjang! Dia edarkan pandangannya. Tiga orang di depan sana sudah bangkit berdiri.

Hantu Berjubah menarik napas. Dadanya laksana ditusuk ribuan jarum. Dia maklum, terlalu berbahaya dalam keadaan cedera seperti ini menghadapi tiga lawan. Untuk mengimbangi Dewa Setan dan Bidadari Penyebar Cinta mungkin dia masih sanggup menandingi. Namun dia merasa sedikit jera menghadapi Mata Malaikat. Dia memang tidak begitu mengenal laki-laki berpakaian kulit ular itu, namun dari gerakan aneh serta pukulannya, Hantu Berjubah sadar jika Mata Malaikat memiliki ilmu lebih tinggi dari temantemannya. Dia tahu, waktu lepaskan pukulan, Mata Malaikat belum kerahkan seluruh tenaga dalamnya namun itu telah membuatnya kalang kabut. Menyadari semua itu diam-diam Hantu Berjubah jelalatan kian kemari.

"Bidadari Penyebar Cinta jahanam! Urusan belum selesai. Saatnya akan tiba!"

Bidadari Penyebar Cinta tertawa panjang. "Hantu Berjubah! Sudah kukatakan putus tidaknya nyawamu adalah hakku! Jangan mimpi bisa lari dari tanganku!" Habis berkata begitu kedua tangannya dihantamkan ke arah Hantu Berjubah. Namun laki-laki berjubah hitam ini telah berkelebat lebih dahulu meninggalkan tempat itu. Pukulan Bidadari Penyebar Cinta menghantam tanah. Tanah itu langsung terbongkar dan berhamburan ke udara.

"Setan alas! Kenapa kalian diam saja?!" tegur Bidadari Penyebar Cinta pada Dewa Setan dan Mata Malaikat. Dewa Setan berpaling dan hanya tersenyum. Sementara Mata Malaikat berkata.

"Sasaran sudah lenyap, perlu apa buangbuang tenaga?!"

Ucapan Mata Malaikat seakan menyadarkan Bidadari Penyebar Cinta. Dia segera memandang berkeliling. Rahangnya seketika bergemeletakan dan tubuhnya bergetar.

"Jahanam! Anak itu ke mana larinya? Hem.... Dia sudah cedera, pasti belum jauh. Kita kejar!" kata Bidadari Penyebar Cinta seraya memberi isyarat untuk segera tinggalkan tempat itu. Dewa Setan bergerak hendak berkelebat menurut kehendak Bidadari Penyebar Cinta, tapi tidak demikian halnya dengan Mata Malaikat. Kakek ini malah duduk!

"Mata Malaikat! Apa kau hanya akan duduk di situ?!" bentak Bidadari Penyebar Cinta geram.

Mulut Mata Malaikat membuka. Lalu terdengar dia berucap.

"Menurut perjanjian, hanya sampai hari ini kita bersama-sama. Sekarang kita jalan sendirisendiri! Kalian mengikuti ke mana kaki kalian melangkah, aku menuruti langkah ke mana kaki mengajak "

"Keparat!" maki Bidadari Penyebar Cinta tambah geram. Tangan kanannya berkelebat menghantam ke arah kepala Mata Malaikat di samping bawahnya. Namun tangan kanan sang Ratu hanya menghajar tempat kosong. Berpaling, perempuan berparas cantik ini kertakkan rahang, dilihatnya Mata Malaikat telah membuat gerakan meloncat-loncat masih dalam posisi duduk. Bidadari Penyebar Cinta angkat kedua tangannya hendak lepaskan pukulan namun terlambat karena di lain kejap sosok Mata Malaikat telah lenyap laksana ditelan bumi! SEPULUH

PENDEKAR Mata Keranjang angkat kepalanya yang berdenyut pusing. Seraya membuka kelopak matanya dia berpaling ke kanan. Tak ada siapa-siapa. Lalu sambil mengusap-usap dadanya dia palingkan kepala ke kiri. Aji jadi terhenyak. Delapan langkah di samping kirinya tegak seorang perempuan tua berambut putih setengkuk mengenakan jubah kembang-kembang dengan mulut bergerak-gerak. Dia berkacak pinggang dengan matanya yang sipit memandang ke arah Pendekar 108 tak berkedip. Di samping si nenek berdiri seorang lelaki berwajah amat tampan, bahkan mendekati cantik, mengenakan pakaian seorang perempuan.

"Peri Kupu-kupu.... Setan Pesolek...," desis Pendekar 108 mengenali siapa adanya dua orang itu. Hanya sampai di situ pernyataan yang keluar dari mulutnya. Tapi, di hati pemuda ini serentetan perkataan meluncur. Pernyataan bernada bingung. "Bagaimana Setan Pesolek bisa muncul bersama nenek-nenek ini. Malah, kelihatannya mereka berdua seperti dua orang sahabat baik."

Dengan benak yang masih dipenuhi rasa bingung, Pendekar 108 berusaha untuk bangkit. Namun, dia terhuyung dan kembali terkapar. Kikih tawa perempuan keluar dari mulut Setan Pesolek, mengiringi ambruknya tubuh Pendekar 108.

"Bagaimana sekarang?" tiba-tiba si nenek yang bukan lain Peri Kupu-kupu adanya buka mulut sambil berpaling pada lelaki banci di sebelahnya. Si banci yang bukan lain dari Setan Pesolek adanya menghentikan tawanya. Dirapikan dulu rambutnya seraya menarik kepalanya ke belakang. Gerak-geriknya memang mirip perempuan!

"Tenang, Peri...," Setan Pesolek menyahut seraya gerak-gerakkan kedua tangannya. "Pulihkan dulu keadaannya. Dia terluka. "

Peri Kupu-kupu menyeringai lalu melangkah ke arah Aji.

"Nenek.... Terima kasih. Kau telah menolongku."

Peri Kupu-kupu tak menyambuti ucapan Aji. Malah dia selinapkan tangan kanannya ke saku jubah kembang-kembangnya. Ketika tangan itu ditarik tampak segumpal benda lunak berwarna hitam di tangannya.

Tangan Peri Kupu-kupu yang memegang gumpalan benda lunak menjulur ke depan. "Isap di mulutmu!"

Mungkin merasa jijik, Aji tak sadar malah katupkan mulutnya rapat-rapat. Lalu memandang Peri Kupu-kupu dengan pandangan tak percaya. Peri Kupu-kupu condongkan tubuhnya ke depan. Tiba-tiba tangan kirinya menyambut dagu Aji lalu ditarik sedikit ke bawah, hingga mulut Aji terbuka. Aji bertahan dengan coba katupkan kembali mulutnya. Namun gumpalan benda hitam itu telah lebih dahulu masuk.

"Lakukan apa yang kukatakan! Isap di mulutmu!" bentak Peri Kupu-kupu lalu kacak pinggang. Di lain saat tiba-tiba suara tawanya meledak.

Pendekar 108 merasa tenggorokannya laksana dimasuki api. Dia tersedak dan hendak memuntahkan gumpalan benda itu. Namun diurungkan ketika Peri Kupu-kupu tampak berpaling dan memandangnya dengan mata berkilatkilat. Perlahan-lahan dengan napas ditahantahan murid Wong Agung ini melakukan seperti apa yang diperintahkan Peri Kupu-kupu. Begitu dapat tiga isapan, Pendekar 108 merasakan tubuhnya hangat. Perlahan-lahan pula rasa ngilu di sekujur tubuhnya lenyap. Pandangan matanya makin tajam. Mendapati hal demikian, Pendekar

108 terus mengisap gumpalan benda di dalam mulutnya. Dalam sekejap tubuhnya terasa ringan. Darahnya normal. Dia segera bangkit lalu membungkuk dalam-dalam. Dia mau mengucapkan terima ka-sih. Namun tersengal karena mulutnya masih ter-sumpal gumpalan benda lunak kehitaman.

"Simpan obat itu!" kata Peri Kupu-kupu lalu melangkah kembali ke arah Setan Pesolek. Murid Wong Agung keluarkan gumpalan benda lunak yang tak diketahui namanya, dari mulutnya lalu disimpan di balik pakaiannya. Murid Wong Agung lalu menjura dalam sambil berkata. "Terima kasih atas pertolongan kalian berdua "

"Nanti saja berbasa-basi, Bocah! Sekarang ada sesuatu yang harus kau dengar dan perhatikan!" Peri Kupu-kupu berkata separo menghardik. Sementara Setan Pesolek malah keluarkan cermin batunya. Cermin itu didekatkan ke wajahnya. Manusia banci ini pandangi wajahnya dari pantulan batu itu.

"Pendekar Mata Keranjang!" Kali ini yang bicara adalah Setan Pesolek. Manusia banci ini bicara sambil menggerak-gerakkan tangan pulang balik ke depan wajahnya. "Saat ini dunia persilatan tengah geger. Hampir semua tokoh, baik golongan hitam maupun putih menujukan perhatian pada Bukit Siluman. Karena di tempat itulah tersimpan lembaran kulit yang bernama Lembaran Kulit Naga Pertala, yang di dalamnya berisikan ilmu-ilmu dahsyat! Dunia persilatan akan tertimpa malapetaka besar apabila lembaran kulit itu sampai jatuh ke tangan orang jahat." Pendekar

108 geleng-gelengkan kepalanya. "Setan Pesolek! Begitu cepatnya cerita menyebar di dunia persilatan! Baru beberapa hari yang lalu kau menyuruhku pergi ke Bukit Siluman, dan saat itu pun kau belum tahu, mengapa tempat itu demikian penting. Tapi, sekarang, hampir semua tokoh persilatan telah mengetahui apa yang terdapat di Bukit Siluman...," kata pemuda berpakaian hijau ini seraya usap-usap hidungnya.

"Sebenarnya geger Lembaran Kulit Naga Pertala sudah berlangsung berpuluh tahun lamanya. Namun kegegeran yang dulu-dulu segera padam begitu mengetahui Bukit Siluman yang diduga kuat menyimpan lembaran kulit lenyap tanpa bekas seperti ditelan bumi. Sebelumnya, tempat itu penuh terselubung misteri. Banyak tokoh yang menyelidik bukit itu tak pernah kembali bahkan mayatnya pun tak ditemukan. Setelah bukit itu lenyap, perburuan terhadap Lembaran Kulit Naga Pertala pun usai. Tapi, kali ini Bukit Siluman itu tampak kembali. Dan itu terjadi hanya berselisih waktu sedikit dengan kedatanganmu. Tapi, itu bukan berarti usahamu akan berjalan mulus, karena saat ini banyak tokoh persilatan yang telah mendengar kabar kemunculan Bukit Siluman berdatangan, aku khawatir salah seorang dari mereka mengetahui rahasia tempat itu. Maka untuk menjaga segala kemungkinan kita harus bertindak cepat!"

"Setan Pesolek! Kau punya kesaktian untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Setidaknya kau bisa membuka rahasia bukit itu!"

Setan Pesolek menggeleng. "Kemampuan manusia terbatas, Anak muda! Dan aku terbentur keterbatasan itu tatkala berhadapan dengan misteri Bukit Siluman itu. Seperti yang kukatakan tempo hari. Aku gagal menembus kabut misteri lembaran kulit itu!"

Murid Wong Agung menghela napas panjang. Dia maklum jika tokoh seperti Setan Pesolek saja tak dapat menembus misteri rahasia Bukit Siluman akan lebih sulit baginya menguak tabir itu.

"Tapi Tuhan Maha Adil, Anak muda...." Tiba-tiba Setan Pesolek melanjutkan ucapannya. "Dalam keadaan gelap begini ada seseorang yang sedikit banyak bisa memberi jalan penerang meski hanya samar-samar."

"Siapa orangnya, Setan Pesolek?!" tanya Aji seakan mendapat semangat baru.

Setan Pesolek berpaling pada Peri Kupukupu yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. "Peri Kupu-kupu. Sekarang giliranmu bicara!"

Peri Kupu-kupu komat-kamitkan mulut. Lalu memandang pada Aji, goyang-goyangkan kepalanya sebentar lalu berkata.

"Mengenai rahasia bukit itu aku hanya punya petunjuk, tiga tambahkan tiga dan seterusnya. Tiga langkah paling tengah, naik buka pintu lalu turun dan melangkah dua puluh satu "

"Aneh. Petunjuk apa itu?!" desis Aji dalam hati sambil usap-usap hidungnya. Lalu mengutarakan apa yang ada dalam benaknya. "Peri. Aku tak mengerti petunjuk itu. Kau bisa menjelaskan?!"

Yang ditanya gelengkan kepalanya. "Saat seperti sekarang ini, sebuah petunjuk lebih mahal dari seratus nyawa! Kau telah mendapatkan setengah kenyataan, selebihnya putar otakmu sendiri!"

Murid Wong Agung tengadahkan kepala seolah menguraikan petunjuk yang dikatakan Peri Kupu-kupu, namun dia tak menemukan arti dari petunjuk itu. Akhirnya dia mengalihkan pandangannya pada Setan Pesolek. Namun sebelum dia buka mulut untuk bertanya, Setan Pesolek telah gelengkan kepala sambil berkata.

"Aku tak bisa membantu! Segalanya gelap.... Ada tabir penutup yang tidak dapat ditembus mata " Peri Kupu-kupu melirik pada Setan Pesolek. "Tugas kita selesai. Kita harus segera pergi!" Lalu pada murid Wong Agung nenek ini berujar.

"Firasatku mengatakan ada orang lain yang juga telah mendapatkan petunjuk seperti itu. Maka cepatlah berangkat. Sayang bila orang itu sempat mendahului. Bukan saja dunia persilatan akan guncang tapi akan menjadikanmu seorang pengecut besar!"

"Nek...." Hanya itu yang keluar dari mulut Aji karena saat itu Peri Kupu-kupu telah menyambung ucapannya. "Apa namanya kalau bukan pengecut besar jika harus mengambil milik orang lain?!"

"Nek, kira-kira siapa orang itu?!"

Peri Kupu-kupu angkat bahunya. "Jika aku tahu, aku tak mungkin malang melintang. Karena justru orang itulah yang selama ini kucari!"

"Jadi dia memiliki petunjuk yang sama?!" "Meski tidak sama, tapi pada akhirnya me-

nuju satu titik temu!"

"Apakah kau akan memecahkan rahasia itu bersamanya. Begitu?!"

"Urusan Lembaran Kulit Naga Pertala bukanlah hal menarik bagiku. Ada yang lebih besar dari itu!" Habis berkata demikian. Peri Kupukupu memberi isyarat anggukan kepala pada Setan Pesolek yang duduk di sampingnya. Lalu balikkan tubuh dan berkelebat tinggalkan tempat itu.

Murid Wong Agung segera menghambur ke arah Setan Pesolek yang masih berada di situ. "Setan Pesolek. Aku benar-benar tak mengerti dengan petunjuk yang diberikan Peri Kupukupu...," kata Pendekar 108 sambil duduk di sampingnya.

Lelaki banci itu tersenyum. "Batu sekeras dan setebal apa pun akan pecah jika terus dihantam. Kau telah memiliki senjata penghantam. Tinggal mengukur semangat dan otakmu "

Aji menarik napas dalam-dalam. Murid Wong Agung ini akhirnya memutuskan akan memecahkan petunjuk itu sendirian.

"Pendekar Mata Keranjang! Sebelum aku pergi ada baiknya kau perhatikan baik-baik ucapanku...," sejenak Setan Pesolek putuskan katakatanya, membuat Aji berpaling. "Aku melihat tabir penutup yang tak dapat ditembus pandangan mata!"

"Hem.... Berulangkali dia mengatakan hal itu...," batin Aji.

"Kipas ungu 108 mungkin dapat membuka tabir penutup itu!"

Pendekar 108 terperanjat. Buru-buru dia meraba pinggangnya. Sekonyong-konyong murid Wong Agung ini terhenyak tatkala tangannya tak merasakan senjata di pinggangnya.

"Aku harus pergi ke sana. Kipas itu pasti terjatuh waktu nenek Peri Kupu-kupu menolongku. Celaka jika sampai kipas itu "

"Ada apa, Pendekar 108?!"

"Kipas itu. Pasti terjatuh di tempat perkelahian. Aku harus pergi sekarang."

Setan Pesolek selinapkan tangan kanannya ke balik jubah kuningnya.

"Kipas itu kusimpan. Terimalah kembali!" katanya seraya mengulurkan tangan kanannya yang kini memegang kipas lipat berwarna ungu yang tergurat angka 108 pada tubuhnya.

Pendekar Mata Keranjang menghela lega. Lalu menyambuti kipas itu dari tangan Setan Pesolek.

"Pendekar Mata Keranjang! Sudah saatnya aku pergi "

"Kek. Tunggu!" tahan Pendekar 108 karena masih ingin menanyakan sesuatu. Tapi terlambat. Karena Setan Pesolek telah melesat. Di lain kejap, dia telah lenyap!

Pendekar Mata Keranjang duduk tercenung. "Petunjuk ini makin kabur. Angka-angka yang tak ku mengerti lalu tabir yang tak dapat ditembus...," Aji arahkan pandangannya jauh ke depan. Ingatannya kembali pada Peri Kupu-kupu. "Nenek aneh.... Kenapa dia mencari orang yangpunya petunjuk sama dengan petunjuk miliknya? Malah dia mengatakan urusan itu lebih menarik daripada masalah Lembaran Kulit Naga Pertala. Heran "

Murid Wong Agung perlahan-lahan bangkit berdiri. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba dia teringat akan gadis cantik berpakaian biru bernama Seruni murid Raksaka Bermuka Hijau. "Gadis   cantik   bertubuh   mempesona,   hem....

Sayang belum bernasib baik. Tugas berat telah ditaruh di pundaknya. Tapi kenapa dia juga mencariku? Ah.... Mudah-mudahan dia dapat menemukan ibunya yang selama ini dirindukan sebelum melaksanakan tugas-tugasnya. Siapa tahu pikirannya akan berubah berkat nasihat ibunya....

Ah, kenapa aku harus memikirkan hal itu. ?!" Aji

memandang berkeliling. Dengan benak disarati beberapa hal dia tinggalkan tempat itu.

SEBELAS

BIDADARI Penyebar Cinta dan Dewa Setan terus berkelebat dengan mata masing-masing liar mencari ke sana kemari. Namun hingga keduanya lelah dan merasakan mata perih karena terusterusan nyalang keduanya tak menemukan Pendekar Mata Keranjang 108.

"Jahanam! Ke mana perginya anak itu?!" gumam Bidadari Penyebar Cinta sambil hentikan larinya. Napasnya terengah-engah. "Tak mungkin dia dapat berlari jauh karena dia telah cedera. Hem. Pasti ada yang menolongnya!"

"Tapi siapa?!" Dewa Setan yang telah tegak di samping Bidadari Penyebar Cinta menyahut. Dia lalu melirik. Sepasang mata laki-laki setengah baya ini sejenak membeliak melihat sembulan buah dada perempuan di sampingnya yang bergerak turun naik.

"Keparat betul! Mengapa urusan jadi berantakan begini rupa?! Mata Malaikat juga ikutikutan menambah masalah!" batin Bidadari Penyebar Cinta lalu berpaling pada Dewa Setan.

"Kau tahu kenapa Mata Malaikat tak mau melanjutkan perjalanan lagi bersama-sama kita...?"

"Orang itu sulit diterka. Tapi dia adalah seorang yang teguh memegang kata-kata. Menurut yang dikatakannya tempo hari, memang hari ini saat terakhir dia mau bergabung dengan kita "

"Aku belum begitu kenal dengannya. Siapa dia sebenarnya?!"

"Orang tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Yang diketahui kalangan rimba persilatan adalah dia seorang yang aneh tapi memiliki ilmu yang sulit diukur. Kalau bisa kita jangan buat urusan dengan dia! Selain dapat menghadang rencana, sekaligus dapat memporak-porandakan!" "Hem...," Bidadari Penyebar Cinta bergu-

mam panjang. "Aku menyirap kabar Bukit Siluman menyimpan misteri. Apa yang kau ketahui tentang bukit itu?!"

"Aku pun tak tahu banyak. Hanya menurut kabar, bukit itu dikurung oleh jebakan-jebakan yang setiap saat mengancam nyawa. Ini terbukti dengan tidak kembalinya beberapa tokoh yang coba-coba menyelidik ke sana."

"Begitu? Apakah kau takut dengan semua

itu?"

Dewa Setan tidak segera menjawab. Malah

melirik ke arah buah dada Bidadari Penyebar Cinta. "Setiap ketakutan ada sebabnya. Perasaan berani ada alasannya!"

"Apa maksudmu?!" tanya Bidadari Penyebar Cinta tanpa berpaling seakan  memberi kesempatan pada Dewa Setan untuk memandang buah dadanya sepuas-puasnya.

Dewa Setan menyeringai aneh. Lalu berkata dengan suara agak gemetar.

"Aku tak takut asal kau berada di sampingku, dan...," dia menggantung ucapannya, membuat Bidadari Penyebar Cinta menoleh. Sekilas perempuan ini telah tahu apa yang dimaksud laki-laki setengah baya itu.

"Kau menginginkannya...?!" tanya sang ratu dengan busungkan dada dan senyum menggoda. Perempuan ini perlahan-lahan pejamkan sepasang matanya lalu keluarkan desahan panjang, membuat Dewa Setan makin berdebar dan mata membesar.

"Kau tunggu apalagi?" desahan sang ratu membuat Dewa Setan makin membelalak. Dan melihat tantangan si perempuan berwajah cantik, Dewa Setan segera melangkah. Seakan tak sabar, tubuh perempuan itu diraupnya lalu bibirnya dipagut. Bidadari Penyebar Cinta keluarkan desahan dan tubuhnya menggeliat ketika dirasakan tangan-tangan Dewa Setan mulai menelusup ke balik pakaiannya. Untuk beberapa lama kedua orang ini tenggelam dalam kemesraan sebelum tiba-tiba Bidadari Penyebar Cinta menarik wajahnya dari wajah Dewa Setan sambil berbisik serak.

"Aku menangkap seseorang di sekitar si-

ni "

Dewa Setan menggerendeng panjang pen-

dek dalam hati. Sebelum dia berbuat sesuatu, Bidadari Penyebar Cinta telah menepis kedua tangannya yang masuk di balik pakaian lalu perempuan ini meloncat membelakangi dan berteriak lantang.

"Pengintip jahanam! Keluarlah atau kau ingin mampus!" sambil berteriak perempuan ini merapikan pakaiannya yang sebagian telah terbuka. Dadanya masih tampak naik turun menahan gejolak yang tertunda.

"Baik! Kau tak mau keluar, berarti kau ingin mampus!" kembali Bidadari Penyebar Cinta berseru tatkala tidak ada orang yang menampakkan diri. Kedua tangannya diangkat dan diarahkan pada semak belukar di dekat tanah rata yang di sana-sini banyak batu-batu.

Belum sampai tangan bergerak, dari balik sebuah batu besar muncul seseorang. Bidadari Penyebar Cinta memperhatikan dengan mata menyelidik.

"Anak ingusan tukang intip!"

"Jangan salah duga. Aku tidak mengintip...," kata orang yang baru keluar dari balik batu. Dia ternyata seorang gadis berwajah cantik mengenakan pakaian warna biru dan bukan lain adalah Seruni.

"Hem.... Kalau tidak mengintip, apa kerjamu di situ, hah?!"

"Aku telah berada di sini sebelum kalian ada di situ!"

"Beraninya kau berkata bohong! Kau perlu diberi pelajaran!" sambil berkata tangan kanan Bidadari Penyebar Cinta bergerak menyentak.

"Orang tak dikenal! Jaga mulutmu. Kaulah yang salah. Bermain cinta di sembarang tempat!" sahut Seruni sambil melompat ke samping, hingga pukulan yang dilancarkan Bidadari Penyebar Cinta melabrak batu di belakangnya. Batu itu kontan berantakan.

Berubahlah paras Bidadari Penyebar Cinta. Bukan hanya karena pukulannya dapat dihindari tapi juga oleh kata-kata yang diucapkan Seruni.

"Keparat jadah! Siapa kau, hah?!" Bidadari Penyebar Cinta membentak.

"Tak layak kau tahu siapa aku!" Seruni balik membentak, membuat kemarahan Bidadari Penyebar Cinta tak dapat ditahan lagi.

"Bagus! Berarti kau ingin mampus tanpa dikenal!"

Habis berkata begitu, Bidadari Penyebar Cinta berkelebat, di kejap lain tubuhnya telah dua langkah di hadapan Seruni dan saat itu juga tangan kiri kanannya bergerak menghantam kepala Seruni.

Meski sedikit terkejut, Seruni cepat rundukkan kepala sambil angkat kedua tangannya.

Bukkk! Bukkk!

Bidadari Penyebar Cinta terlengak dan buru-buru mundur dua langkah. Kedua tangannya yang baru saja bentrok dengan lawan terasa kesemutan dan ngilu. Dari sini Bidadari Penyebar Cinta sadar jika si gadis memiliki kepandaian dan tenaga dalam. Sebaliknya, Seruni tampak terhuyung sampai lima langkah namun segera kuasai diri.

Entah karena ingin meneruskan permainannya yang terganggu atau apa, Bidadari Penyebar Cinta melangkah maju satu tindak. Tanpa mengarahkan pandangan matanya pada Seruni dia berkata.

"Hari ini kau bernasib baik. Lekas tinggalkan tempat ini!"

Seruni menyeringai sambil tertawa pendek. "Aku lebih dulu datang di sini. Kaulah yang

harus tinggalkan tempat ini!"

"Setan alas!" kemarahan Bidadari Penyebar Cinta muntah lagi. Kalau tadi hanya ingin memberi pelajaran, kini membunuh pun dia tega. Karena sekarang maklum jika si gadis memiliki ilmu maka dia tak segan-segan langsung lepaskan pukulan 'Sinar Mentari', hingga saat itu juga dari kedua tangannya melarik dua sinar kuning yang membawa suara menggeledek dan gelombang angin.

Mendapati nyawanya terancam, Seruni tak tinggal diam. Dia segera pula kerahkan tenaga dalam lalu menyentakkan kedua tangannya lepaskan pukulan. Bersamaan dengan itu hawa dingin menusuk menghampar. Suasana berubah agak redup, lalu terdengar suara laksana gemuruh ombak.

Blammm!

Tempat itu berguncang hingga membuat sosok Seruni terseret sampai sembilan langkah ke belakang. Wajah gadis ini berubah pias dengan tangan gemetar. Perlahan-lahan kakinya ditekuk lalu jatuh terduduk. Di seberang sana Bidadari Penyebar Cinta terhuyung-huyung sambil dekap dadanya yang berdenyut sakit. Perempuan bertubuh bahenol ini segera meneliti, tahu tak mengalami cedera cukup berarti, dia segera berkelebat sambil kirimkan serangan!

Wuuttt! Wuuttt!

Kembali sinar kuning melesat. Seruni tercekat. Dia cepat alihkan tenaga dalamnya pada kedua tangannya, karena saat itu dia sedang kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi tubuhnya. Tapi belum sempat kedua tangannya melepaskan pukulan, serangan lawan telah menggebrak.

Seruni keluarkan seruan tertahan. Sekujur tubuhnya seperti kejang, pandangan matanya panas. Saat lain tubuhnya mencelat mental ke belakang. Karena di belakangnya banyak batu-batu, maka tak ampun Lagi tubuhnya menghantam salah satu batu hingga berderak pecah lalu sosoknya lunglai dan jatuh tersandar. Dari mulutnya mengucur darah segar. Karena matanya masih pedih, Seruni mengatupkan kelopak matanya rapat-rapat sambil coba kerahkan tenaga dalamnya.

Bidadari Penyebar Cinta tertawa panjang lalu melangkah ke arah Seruni.

"Seandainya mulutmu tak berkata sombong, kau tak akan mengalami mati muda! Tapi ini sudah nasibmu!" Bidadari Penyebar Cinta melompat, kaki kanannya kirimkan tendangan ke arah kepala Seruni yang matanya masih terpejam. Sejengkal lagi kepala Seruni terhajar tendangan, tiba-tiba terdengar deruan angin, di lain kejap tubuh Bidadari Penyebar Cinta seolah terdorong kekuatan dahsyat hingga perempuan ini berseru. Namun dia teruskan tendangan. Karena tubuhnya telah terdorong membuat tendangannya melenceng dan menghantam batu di samping Seruni. Sesaat kemudian deruan itu melesat dan mengarah pada Bidadari Penyebar Cinta. Perempuan ini kembali berteriak lalu melompat mundur.

Deruan angin terus menggebrak lalu menghantam tanah agak tinggi di belakang Bidadari Penyebar Cinta.

Pyaaarrr!

Suasana seketika menjadi pekat karena tanah itu berhamburan ke udara menutupi pemandangan. Ketika tanah surut, Bidadari Penyebar Cinta tampak terbelalak lalu keluarkan sumpah serapah tak karuan. Sepasang kakinya pun segera dibantingkan hingga tanah itu bergetar.

"Ada orang ikut campur dan menolong gadis keparat itu!" desis Bidadari Penyebar Cinta ketika sepasang matanya tak lagi melihat Seruni. Dada perempuan ini menyala-nyala. Geram, kecewa dan penasaran. "Bangsat siapa yang menolongnya?!" Bidadari Penyebar Cinta arahkan pandangannya berkeliling sekali lagi. Namun dia tak menemukan siapa-siapa.

"Bidadari.... Sudahlah! Untuk apa dipikirkan?" tiba-tiba Dewa Setan yang sedari tadi hanya melihat keluarkan suara menenangkan lalu melangkah mendekat.

"Rupanya telah banyak tokoh yang berlaku pengecut tak mau menampakkan diri!" Bidadari Penyebar Cinta masih mengomel bahkan ketika kedua tangan Dewa Setan hendak merangkul ditepiskannya.

"Bidadari.... Urusan lebih besar masih menghadang. Jangan perkara sepele begini menambah beban "

Seolah tersadar akan ucapan Dewa Setan, Bidadari Penyebar Cinta tampak anggukkan kepala. "Kita tinggalkan tempat ini!" katanya lalu hendak berkelebat.

"Tapi "

"Kita cari tempat yang lebih enak. Jauh dari mata-mata usil yang mengintip " Habis berka-

ta, Bidadari Penyebar Cinta berkelebat disusul kemudian oleh Dewa Setan yang rupanya sudah tak sabar.

Seruni tidak dapat menerka siapa gerangan yang memanggul dan melarikannya. Yang samarsamar tertangkap matanya orang yang melarikannya berambut putih dan panjang.

"Siapa dia?! Gerakannya begini cepat, hem.... Jangan-jangan...." Mungkin khawatir gadis ini lantas buka suara pelan.

"Penolongku. Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku "

Orang yang memanggul dan melarikan Seruni hentikan larinya dan putar tubuhnya dengan sedikit menekuk lututnya. Tahu-tahu Seruni telah duduk tersandar pada sebuah lamping tanah agak tinggi.

"Kalau boleh tahu, siapa kau...?" Seruni buka mulutnya kembali seraya mengusap dadanya yang masih terasa nyeri. Orang yang kini membelakangi Seruni balikkan tubuh. Seruni tercekat sendiri. Memandang tak berkedip pada orang di hadapannya. Dia adalah seorang kakek berambut putih dan panjang tergerai hingga menutupi sebagian pakaiannya yang terbuat dari kulit ular. Sebelah matanya sipit, hampir terpejam, tapi satunya lagi, yang sebelah kanan menonjol keluar.

"Urusan apa yang membuatmu bentrok dengan perempuan cantik tadi, heh?" si kakek ajukan tanya. Dia bukan lain adalah Mata Malaikat.

Sejenak Seruni terdiam. Setelah memperhatikan lekat-lekat pada Mata Malaikat dia berkata.

"Sebenarnya urusannya sepele, Kek...." Lalu Seruni menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

Tiba-tiba Mata Malaikat keluarkan tawa terbahak-bahak. Wajahnya yang bengis tak terlihat menjadi lebih ramah, malah terlihat seakan menyeramkan. Seruni hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Dasar manusia nafsu. Bercinta pun salah tempat. Ha... ha... ha...!" Kakek ini lantas ajukan tanya lagi. "Kau sendiri siapa? Dan hendak ke mana?"

Seruni tampak bimbang untuk menjawab. Dalam hati gadis ini berkata sendiri. "Apakah aku akan mengatakan apa tujuan perjalananku? Tapi "

"He.... Kau tampak ragu-ragu mengatakannya. Hem.... Mungkin kau mengira aku bukan orang baik-baik. Itu memang benar! Tapi setidaktidaknya aku masih punya perasaan "

Ucapan Mata Malaikat membuat paras wajah Seruni merah padam. Buru-buru Seruni menyambuti ucapan Mata Malaikat.

"Kau jangan salah sangka, Kek. Justru karena kau mau menolongku berarti kau orang baik!"

"Ah, ucapanmu membuat aku gelisah. Kau belum jawab pertanyaanku!"

"Aku Seruni murid sekaligus cucu dari Raksasa Bermuka Hijau "

"Hem.... Beruntung kau punya kakek seorang tokoh besar. Aku kenal betul dengan kakekmu itu! Ilmumu pun tidak cetek! Ayah ibumu tentu sangat gembira punya anak gadis berkepandaian tinggi sepertimu "

Seruni bukannya senang mendapat pujian seperti itu, sebaliknya parasnya menjadi murung. Bayangan kecewa tampak jelas di air mukanya.

"Kau salah duga, Kek.... Justru sejak kecil aku tak mengenal siapa ayah ibuku. Ah, seandainya dia tahu...," diam-diam Seruni membatin sendiri dalam hati.

"Hai    Kau kembali murung. Ada apa? Apa

kata-kataku ada yang salah?"

Seruni menggeleng. Mata Malaikat perhatikan si gadis lekat-lekat, lalu buka mulut.

"Kau sepertinya menanggung sesuatu yang berat "

"Mula-mula tidak berat, Kek. Namun setelah kualami sendiri, beban itu bukan hanya berat tapi rasa-rasanya sulit kulaksanakan. Meski begitu aku akan berusaha!"

"Hem.... Kau tak keberatan mengatakan beban apa itu?!"

"Membunuh beberapa orang!"

Mata Malaikat bukannya terkejut mendengar jawaban Seruni. Malah kakek ini tertawa berderai-derai.

"Dunia persilatan memang dunianya orangorang gila. Hingga seorang manusia tega menyuruh seorang anak muda berbuat gila! Membunuh beberapa orang.... Hem... siapa saja calon mayatmayat itu?!"

Seruni terdiam. Dia berpikir kalau orang tua di hadapannya mengenai kakeknya sudah pasti dia mengenal pula beberapa orang yang harus dibunuhnya. Kalau salah seorang calon korban kebetulan sahabatnya, atau mungkin dia sendiri, bukan mustahil tugasnya akan berantakan bahkan bisa membuat dirinya celaka sebelum bertindak. Apalagi sekarang sedang dalam keadaan cedera. Memikir sampai di situ akhirnya Seruni berkeputusan untuk diam.

"Apakah yang memberi tugas itu gurumu?!" tanya Mata Malaikat.

Seruni anggukkan kepalanya pelan. Kali ini dia tak berani memandang ke arah Mata Malaikat.

"Anak cantik. Tugas seorang guru memang harus dilaksanakan. Tapi kau juga harus berpikir dua kali untuk melaksanakannya! Hanya kuperingatkan padamu carilah duduk urusan yang sebenarnya agar nantinya kau tak salah menurunkan hawa maut! Karena demi kepentingan pribadi kadang-kadang orang memilih yang baik untuk diri sendiri dan menumpahkan yang buruk untuk orang lain! Terjebak dalam lingkaran ini kau akan menyesal kelak kemudian hari!"

Habis berkata begitu, Mata Malaikat balikkan tubuh.

"Kek, tunggu! Kau hendak ke mana? Kau juga belum mengatakan siapa dirimu!"

Tanpa memutar dirinya, Mata Malaikat be-

rujar.

"Aku juga sedang mencari seseorang. Soal

diriku, kalau ada pertemuan lagi pasti kau akan mengetahuinya    Selamat tinggal!" Mata Malaikat

segera meninggalkan Seruni yang hanya diam mengawasi kepergiannya.

"Hem.... Ucapannya ada juga benarnya. Bodohnya diriku, kenapa aku tak menanyakan pada guru apa urusannya hingga dia memberiku tugas membunuh? Tapi aku yakin Eyang guru pasti ada di pihak yang benar...," Seruni tengadahkan kepala. Dia baru sadar jika saat itu senja telah turun dan sebentar lagi malam akan menjelang.

"Aku harus mencari tempat untuk istirahat...," Seruni lalu bergerak bangkit. Melangkah perlahan-lahan sambil mengusap wajahnya yang keringatan. DUA BELAS

HENTAKAN ladam kaki kuda terdengar memecah tidak putus-putusnya di dataran luas perbatasan menuju Hutan Demangan. Karena saat itu hari sudah senja dataran luas itu tampak semburat kemerah-merahan, namun tak menghalangi pandangan, hingga penunggang kuda itu tak banyak mengalami kesulitan tatkala lewat. Mungkin untuk mengejar waktu agar tak kemalaman saat memasuki hutan, sang penunggang terus menghentak tali kekang kuda tunggangannya walau saat itu sang binatang telah berlari cukup kencang.

Harapan si penunggang ternyata benar, tatkala dia keluar dari hutan, malam telah turun, namun dia menarik napas lega karena telah berada di luar hutan. Hingga meski malam telah jatuh kini dia menghela kudanya dengan perlahanlahan karena kawasan yang dilaluinya sekarang tidak lagi banyak pohon dan semak belukar malah nun jauh di depan sana telah tampak kelapkelip sinar lampu yang menunjukkan bahwa tak jauh lagi akan sampai pada sebuah desa.

Sang penunggang kuda adalah seorang gadis berwajah jelita mengenakan pakaian warna kuning. Rambutnya panjang dan dikucir dengan ikatan sebuah ikat kepala berwarna kuning pula. Hidungnya mancung dengan bulu mata lentik.

Tiba-tiba si gadis tarik hela kuda tunggangannya. Begitu sang binatang berhenti sepasang mata si gadis memandang kian kemari.

"Meski hari gelap, tapi aku merasakan ada orang mengawasiku. Hem...." Sesaat gadis ini bimbang, namun kejap kemudian dia sentakkan tali helanya hingga kuda itu kembali melangkah. Tapi baru kira-kira enam langkahan, dari arah belakang menderu gelombang angin deras. Menghantam ke arah si gadis yang tegak di atas kuda.

Meski sedikit terkejut mendapati serangan gelap, namun karena sebelumnya telah waspada karena merasa ada orang mengawasi, gadis ini secepat kilat melompat ke udara setelah kaki kirinya kirimkan tendangan pelan ke arah kuda tunggangannya, hingga meski kuda itu sempat terhantam gelombang angin namun tidak sampai telak. Kuda itu hanya melonjak dengan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi sebelum akhirnya melompat ke depan lalu menghambur lenyap dalam kegelapan.

Di udara si gadis cepat buat putaran lalu ketika mendarat tubuhnya telah menghadap ke arah datangnya serangan. Sejenak gadis ini nanarkan matanya mencari-cari dalam kegelapan. Tapi dia tak menemukan siapa-siapa!

"Bedebah! Keluarlah dari persembunyianmu!" teriak sang gadis.

Belum lenyap gema suara teriakan, dari kegelapan berkelebat sesosok tubuh. Di lain kejap tahu-tahu sosok tadi telah tegak dua langkah di samping si gadis.

Si gadis terkejut, dan cepat-cepat berpaling sambil kirimkan satu jotosan ke arah sosok di sampingnya. Tangannya baru setengah jalan, sebuah tangan telah terlebih dahulu menggebrak ke arah bahu si gadis, membuat gadis ini terhuyung dengan tubuh terputar.

Tanpa mempedulikan lagi siapa adanya orang yang menghantam, si gadis segera sentakkan kedua tangannya.

Wuuttt! Wuuuttt!

Dari telapak tangan si gadis melesat dua sinar warna-warni. Setengah jalan sinar itu muncrat lalu bermentalan beberapa bunga api menuju sosok di hadapannya.

Sosok di hadapan si gadis mundur satu langkah, lalu hantamkan kedua tangannya.

Wuuttt! Wuuuttt!

Si gadis serentak keluarkan seruan tertahan. Karena serangan lawan sama dengan pukulan yang dilancarkannya. Hingga kejap itu juga tempat itu dipenuhi bunga-bunga api yang membumbung di udara.

Sambil meloncat menghindar si gadis bergumam sendiri. "Celaka! Ternyata dia! Sial. Bagaimana aku harus menjawabnya?"

Bersamaan dengan meloncatnya si gadis terdengar beberapa letupan ketika bunga-bunga api itu saling bentrok di udara. Belum lenyap suara letupan, sosok yang baru datang telah kembali berkelebat dan tahu-tahu telah tegak kembali di samping si gadis. Kali ini sang gadis tidak lagi lakukan hantaman malah dengan suara serak dia cepat menjura. "Maafkan aku, Guru!"

"Anak geblek! Kau mau mabur, hahhh?!" Si gadis jatuhkan diri bersimpuh. Kepalanya tertunduk dengan mulut mengatup rapat.

"Ayo jawab!" sosok di hadapan si gadis kembali keluarkan bentakan. Ternyata dia adalah seorang laki-laki tua. Parasnya merah membara. Rambutnya awut-awutan. Tubuhnya yang kekar dibungkus pakaian compang-camping, dan sebagiannya hangus seperti bekas terbakar. Ada asap tipis mengepul dari sekujur tubuhnya. Orang yang mengerikan ini adalah tokoh hitam yang terkenal dan berjuluk Manusia Neraka!

"Maafkan muridmu, Guru. Aku terusik dengan keteranganmu tentang Lembaran Kulit Naga Pertala. Itulah yang membuatku berada di sini.... Kepergianku semata-mata ingin ikut menyelidiki Lembaran Kulit Naga Pertala!"

"Begitu? Tapi kenapa kau tak mengatakannya padaku?!"

Si gadis angkat kepalanya. Kali ini dia agak berani memandang wajah gurunya karena suara gurunya tidak lagi kasar membentak.

"Aku khawatir kau tak memberi izin padaku!" Manusia Neraka tertawa panjang. "Drupadi. Kalau kepergianmu dengan tujuan mencari lembaran kulit itu, tidak mungkin aku mencegahmu! Siapa tahu kau berhasil mendapatkannya...," kata Manusia Neraka dengan suara pelan. Nada kemarahan lenyap sama sekali, membuat Drupadi menarik napas lega.

"Guru.... Selama ini aku hanya mendengar lembaran kulit itu selintas saja dari keteranganmu. Bisakah kau menjelaskannya hal ikhwal lembaran kulit itu?!"

"Mengenai sejarah lembaran kulit itu banyak cerita yang berlainan. Hingga membuat sejarah yang sebenarnya menjadi kabur. Aku sendiri tak tahu mana yang benar dari semua cerita yang sampai padaku. Hanya dari beberapa cerita itu aku bisa menarik kesimpulan jika lembaran kulit itu memang benar-benar ada! Dan untuk menyelidik apalagi mendapatkannya dibutuhkan kecermatan dan waspada penuh!"

"Maksud Guru...?"

"Mendengar berita beberapa tokoh yang coba-coba masuk ke Bukit Siluman tidak ada yang kembali bahkan mayatnya pun tak ditemukan, berat dugaan bukit itu selain misterius juga mengancam jiwa siapa saja! Meski aku belum sampai ke sana, aku yakin di sana banyak terpasang jebakan-jebakan yang mematikan! Ini mungkin sengaja dirancang khusus agar orang tidak mudah memasukinya sekaligus mendapatkan lembaran kulit itu!"

"Apa di sana masih ada penghuninya?" "Itulah yang sampai sekarang tidak ada

yang tahu. Kalau melihat kegegeran lembaran kulit itu sudah berlangsung pada seratus lebih tahun yang lalu, hampir pasti tempat itu kini kosong. Di sinilah dibutuhkan kecermatan itu. Karena meski umpamanya kita berhasil melewati jebakan-jebakan itu, ke mana lagi kita harus bertanya tentang disimpannya lembaran kulit itu? Sebagai benda yang berisi kesaktian, tak mungkin ditempatkan pada sembarang tempat!"

Mendengar keterangan gurunya, Drupadi, si gadis terdiam. Dia berpikir sejenak lalu berkata.

"Apakah selama ini tidak ada orang yang tahu, siapa terakhir kali pemegang lembaran kulit itu?"

"Menurut kabar yang kupercaya, pemegang terakhir lembaran kulit itu adalah seorang tokoh bernama Eyang Pandanaran. Dia dikabarkan mempunyai tiga orang murid. Satu laki-laki dua perempuan. Anehnya, hingga kini tidak diketahui ke mana lenyapnya Eyang Pandanaran. Hingga membuat sejarah lembaran kulit itu makin diselimuti kabut "

"Tentang murid-muridnya ?"

"Itulah sekarang yang sedang kuselidiki! Karena hanya murid-muridnya itu satu-satunya petunjuk! Tapi di sini juga ada hambatan. Pertama, kejadian itu sudah berlangsung seratus tahun lebih yang silam. Kemungkinan masih hidupnya murid-murid itu kecil sekali. Kedua, kita sekarang mengalami kebutaan tentang siapasiapa saja orang yang dekat dengan mendiang murid-murid itu, atau kalau mereka punya akan cucu kita tak tahu siapa!"

"Hem.... Kalau begitu sulit rasanya membuka misteri bukit itu!"

"Sesulit apa pun celah pasti ada, Drupadi!" "Maksudmu, ada petunjuk lain?"

"Betul! Kau masih ingat ceritaku tentang seorang lelaki berdandan perempuan?!" "Setan Pesolek "

"Benar! Dia dikenal sebagai orang yang bisa mengetahui hal-hal yang gaib. Dialah sekarang yang kemungkinan bisa menjelaskan misteri lembaran kulit itu!"

"Tapi...," Drupadi tak melanjutkan ucapannya karena gurunya telah menyela.

"Aku memang tak mungkin bertanya padanya! Hanya kalau kau memang benar-benar ingin mendapatkan lembaran kulit itu, kau harus bertanya padanya sebelum berangkat."

"Mana mungkin dia mau memberitahu.

Guru?"

"Kau tak usah tanya langsung padanya. Kau tahu, menurut berita yang berhasil kusirap, munculnya kembali Bukit Siluman setelah hampir seratus tahun yang lalu lenyap, karena kedatangan seorang pemuda yang mewarisi kipas Empu Jaladara. Aku yakin ada hubungan antara si pemuda, kipas, dan Bukit Siluman. Menurut berita yang dapat kusirap Setan Pesolek bersahabat dengan pemuda yang telah mendapatkan kipas. Dari pemuda itulah kau dapat mengoreknya. Manusia Dewa pasti telah mengatakan semuanya pada pemuda itu!"

Drupadi terbelalak. "Aku ?"

Manusia Neraka tertawa mengekeh. "Itulah satu-satunya jalan yang harus kau lalui jika kau menginginkan lembaran kulit itu, Drupadi! Bagaimana caranya itu bisa kau atur sendiri! Sedangkan aku, akan menyelidik dengan caraku sendiri."

"Kalau aku tak berhasil...?" Manusia Neraka memandangi muridnya lekat-lekat. "Hem....

Kalau kau tak berhasil, sementara kau jangan menyelidiki di mana adanya Bukit Siluman dahulu, tapi beradalah dekat kawasan Pantai Pangandaran yang menuju Bukit Siluman! Ingat. Jangan pergi dahulu sebelum bertemu denganku!"

"Akan kuingat pesanmu, Guru!"

"Nah, aku pergi sekarang! Jangan lupa beradalah di kawasan Pantai Pangandaran. Baik berhasil atau tidak!" habis berkata begitu, Manusia Neraka berputar. Dan sekali kelebat dia pun lenyap dari pandangan Drupadi.

Begitu gurunya pergi, pelan-pelan Drupadi melangkah meninggalkan tempat itu.

Namun baru saja melangkah mendadak dari arah samping Drupadi merasakan desiran angin. Belum sempat berpaling, satu bayangan hitam tiba-tiba berkelebat. Dan tahu-tahu sesosok tubuh tegak di depan Drupadi membuat gadis murid Manusia Neraka ini tersurut tiga langkah!

Drupadi melihat seorang perempuan setengah baya mengenakan pakaian warna hijau. Mukanya memakai bedak putih agak tebal. Bibirnya merah menyala. Rambutnya dikepang dua.

Sebenarnya tanpa diketahui oleh Drupadi maupun Manusia Neraka diam-diam sejak tadi perempuan ini telah mendekam di satu tempat seraya mendengarkan percakapan antara murid dan gurunya itu. Mungkin karena dilamun oleh ucapan-ucapan Manusia Neraka hingga dia tak mendengar ucapan terakhir Manusia Neraka yang pamit pada muridnya. Dia baru mengetahui setelah beberapa saat Manusia Neraka pergi meninggalkan tempat itu. Dia segera saja berkelebat dan langsung tegak di hadapan Drupadi.

TIGA BELAS

SEPASANG mata perempuan di hadapan Drupadi membelalak besar di lain saat mulutnya terbuka dan terdengarlah bentakkannya. "Mana keparat tadi, hah?!" Mungkin karena masih terkejut dengan kedatangan orang, beberapa saat Drupadi terdiam. Hingga orang di hadapannya kembali keluarkan bentakan garang. "Apa mulutmu ingin kutampar agar buka suara?!"

"Orang tua tak dikenal! Siapa kau?!" Drupadi balik menegur, membuat perempuan setengah baya itu melotot angker dengan dagu mengembung.

"Keparat! Ditanya malah balik bertanya!

Jawab dulu tanyaku!"

Meski geram mendengar ucapan orang, namun akhirnya Drupadi berkata juga. "Kalau yang kau maksud guruku, dia telah pergi!"

"Pergi ke mana?!"

"Katakan dulu siapa kau!" ucap Drupadi dengan mata memperhatikan orang dari rambut hingga kaki.

"Dengar, Bocah! Aku Kamaratih. Bertahun lamanya aku mencari Hanggoro! Ke mana perginya dia, he?!"

"Hanggoro?!" Drupadi mengulangi ucapan perempuan yang menyebut dirinya Kamaratih.

"Hem.... Rupanya kau belum tahu siapa gurumu itu. Hanggoro adalah nama sebenarnya Manusia Neraka, gurumu itu!"

Drupadi bengong, namun sesaat kemudian kembali mengatup ketika Kamaratih kembali bertanya dengan suara masih tetap garang.

"Cepat katakan, ke mana perginya keparat

itu!"

"Aku tak tahu dia hendak ke mana.

Yang "

"Berani dusta, kurobek mulutmu! Teruskan!"

"Dia hendak menyelidik Lembaran Kulit Naga Pertala "

"Hem.... Urusan lama yang tidak ada juntrungannya. Urusan usang yang membuat malapetaka!"

"Orang tua. Kau ini sebenarnya siapa? Dan ada hubungan apa dengan guruku?"

Kamaratih memandang tajam pada Drupadi. Bayang kemarahan di wajahnya perlahan mulai mengendur. Diam-diam dalam hati perempuan berbibir merah menyala ini berkata. "Anak ini seperti aku waktu masih muda. Dari percakapannya tadi kudengar dia mempunyai semangat menggebu meski sadar jika apa yang akan diraihnya terlalu tinggi. Salah jika aku mengaitkan dirinya dengan perbuatan gurunya padaku. Kelakuan Hanggoro tak patut bila dia ikut merasakan akibatnya. Hem. "

"Namamu siapa?" Kamaratih mengajukan tanya dengan suara agak pelan.

"Kau bisa memanggilku Drupadi "

"Apa gurumu tak pernah cerita tentang

aku?!"

Drupadi coba mengingat-ingat, namun ak-

hirnya dia gelengkan kepalanya. "Rasa-rasanya tidak pernah menyebut-nyebut namamu     Sebe-

narnya kau ini siapa?"

Kamaratih sudah buka mulutnya hendak mengucapkan sesuatu namun tiba-tiba diurungkan. Malah dia putar diri lalu berujar.

"Kalau aku tak berhasil menemukan gurumu, kelak jika kau bertemu dengannya di Pantai Pangandaran, katakan padanya aku juga menunggu di sekitar kawasan itu!" Habis berkata begitu, Kamaratih hendak berkelebat, namun tubuhnya tertahan tatkala terdengar Drupadi menahan.

"Tunggu! Kau belum jawab pertanyaanku!" Kamaratih berpaling. Memandang lekat-lekat pada Drupadi. Kepalanya tampak menggeleng perlahan. "Untuk sementara biarlah kau mengenalku sebagai Kamaratih. Suatu ketika kau akan tahu.... Aku harus pergi sekarang "

Drupadi mengawasi kepergian Kamaratih dengan berbagai pertanyaan yang tak bisa dijawab.

"Makin jauh melangkah, makin banyak urusan yang tak ku mengerti...," gumam Drupadi lalu perlahan-lahan melangkah meninggalkan tempat itu dengan benak dibuncah berbagai hal yang belum bisa dipastikan.

SELESAI