Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 23 : Tumpahan Darah Di Supit Urang

 
Eps 23 : Tumpahan Darah Di Supit Urang


SANG mentari telah sejak tadi menampakkan diri di angkasa. Dan sekarang bola raksasa itu telah hampir mencapai titik tengahnya. Di bawah sinar sang Mentari yang garangnya bagai hendak melelehkan bumi, seorang wanita mengenakan pakaian ketat berwarna gelap berlari terhuyung-huyung memasuki sebuah hutan kecil.

Dia adalah seorang perempuan berparas cantik, berusia kurang lebih dua puluh lima tahun. Rambutnya panjang tergerai dan berombak. Sepasang matanya bulat besar dan berwarna kebiruan. Hidungnya mancung. Bibirnya bagus. Dadanya kencang membusung dengan pinggul besar.

Perempuan berpakaian gelap ini hentikan larinya ketika telah memasuki hutan kecil itu! Pantatnya dihempaskan ke tanah, sedangkan punggungnya disandarkan pada batang pohon yang cukup besar.

Perempuan bermata kebiruan ini menyeringai. Dengan hati-hati tangan kirinya diangkat. Tapi, seringai kesakitan semakin menghiasi wajahnya.

"Bangsat...! Terkutuk...! Dewi Kayangan keparat...! Kau telah membuatku cacat! Aku tak akan mati meram jika belum bisa membalaskan sakit hati ini!"

Perempuan berpakaian gelap ini kelihatan sangat geram. Rahangnya menggembung besar. Tangannya mengepal kencang. Sepasang matanya memancarkan kebencian besar!

"Gongging Baladewa! Kau pun tak akan kubiarkan hidup tenang! Tunggu saja pembalasanku! Asal kalian tahu saja, Ratu Pulau Merah tak bisa dihina begitu saja!"

Perempuan bermata kebiruan yang ternyata adalah Ratu Pulau Merah ini, wajahnya terlihat mengelam didera dendam!

Namun, mendadak Ratu Pulau Merah arahkan sepasang matanya ke sekeliling.

"Aku merasa diawasi seseorang! Sialan betul! Padahal, aku telah memilih tempat yang sunyi. Bahkan jalan-jalan yang kupilih pun yang jarang dilalui orang pula! Apa boleh buat, aku harus mencari tempat yang lebih aman. Keadaanku tengah tak memungkinkan untuk bertarung."

Ratu Pulau Merah bergerak untuk bangkit dan tinggalkan tempat itu. Tapi, baru saja tubuhnya tegak, sekonyong-konyong semak belukar yang berjarak lima tombak di sebelah kanannya, menguak! Sesosok bayangan berkelebat seraya memperdengarkan dengusan keras! 

Sepasang mata Ratu Pulau Merah membeliak. Untuk beberapa jurus lamanya, perempuan ini memperhatikan sang Pendatang. Dahinya mengernyit seakan mengingat-ingat sesuatu. Dalam hati dia berucap.

"Hm.... Jika tak salah manusia ini adalah orang yang tergeletak sewaktu aku hendak merebut Arca Dewi Bumi dari tangan Pendekar Mata Keranjang.... Bahkan, kalau aku tak salah dengar, dia memanggil guru pada Kakang Dadung Rantak. Mungkin dia murid tua bangka itu."

Si pendatang yang menjadi pusat perhatian Ratu Pulau Merah adalah seorang perempuan yang tidak muda lagi. Ini terlihat dari kerutan yang menghiasi kulit wajahnya. Dia mengenakan pakaian panjang berwarna hitam yang dilapis dengan jubah besar berwarna putih. Rambutnya yang panjang dibiarkan bergerai hingga menutupi sebagian punggung dan wajahnya. Sepasang matanya bulat besar dan tajam. Hidungnya mancung! Pada lubang hidung di sebelah hidungnya, melingkar sebuah anting-anting berwarna kuning! "Masih ingat padaku?!" tanya perempuan

berjubah putih, setengah mengejek.

"Tentu! Tentu aku masih ingat...!" jawab Ratu Pulau Merah, seraya tetap memandang tak berkesip. "Kau yang memanggil guru pada Dadung Rantak bukan?!"

"Hm.... Bagus kau masih ingat! Aku memang murid tua bangka itu. Aku, Dayang Naga Puspa!" tandas perempuan berjubah putih seraya angkat kepalanya.

"Kalau begitu kau terhitung muridku juga karena Dadung Rantak adalah kekasihku."

Diam-diam di dalam hatinya, Ratu Pulau Merah berkata.

"Kalau aku tak sedang terluka sudah kukirim kau ke neraka! Pula, siapa kesudian mempunyai kekasih tua bangka itu?!"

"Bagiku itu   bukan   masalah!"   tandas Dayang Naga Puspa keras. "Kau telah melakukan satu kesalahan padaku! Kesalahan yang amat besar! Dan, aku tak bisa membiarkannya!"

"Keparat...! Kalau aku tak tengah begini, kurobek-robek mulutmu dan kucincang tubuhmu!" maki-maki Ratu Pulau Merah dalam hati.

Perempuan berpakaian gelap ini menundukkan kepala untuk menyembunyikan kemarahan yang membayang di wajah. Ketika kepalanya diangkat kembali, wajah itu telah berubah kembali seperti semula, bahkan terhias senyum.

"Seingatku..., kita hanya bertemu sekali, Dayang Naga Puspa."

"Betul!"

"Kalau begitu, kapan aku membuat kesalahan terhadapmu?!"

"Saat itu juga, Ratu Keparat!" dengus Dayang Naga Puspa dengan mata membeliak karena marah besar. "Kau telah membawa kabur senjataku. Tombak Naga Puspa dan Keris Papak Geni! Sayang, saat itu aku tengah tak berdaya karena totokan Dewi Kayangan sialan itu! Kalau tidak, saat itu juga kau telah kukirim ke lubang kubur! Ratu keparat! Kau tahu, begitu berhasil bebas dari totokan, aku mencari-carimu! Tapi, baru kali ini usahaku membuahkan hasil! Hm....

Kau telah membuatku susah besar! Untuk kesalahan itu nyawamu pun belum cukup untuk penebusnya!"

"Meskipun aku... mempunyai hubungan dekat dengan gurumu?!" pancing Ratu Pulau Merah. "Jangankan hanya kekasih guruku, sekalipun tua bangka itu sendiri yang mengambilnya, akan kucopot nyawanya! Sekarang, cepat serahkan kembali milikku itu! Bila itu kau lakukan, dengan mengingat adanya kemungkinan kau tak tahu kalau senjata itu milikku, dan mengingat hubunganmu dengan Eyang Dadung Rantak, kau boleh tinggalkan tempat ini!"

Di mulut Dayang Naga Puspa berkata seperti itu, tapi hatinya berbicara pula, menyambung ucapannya.

"Kau boleh tinggalkan tempat ini tapi setelah terlebih dulu melepas nyawa!"

Ratu Pulau Merah menampakkan paras penuh penyesalan.

"Sayang sekali, Dayang Naga Puspa. Senjata-senjata itu telah tidak ada padaku lagi dirampas orang! Kau lihat keadaan diriku?! Ini terjadi karena mencoba mempertahankan senjata itu. Kalau saja tak dirampas orang, dengan senang hati akan kuberikan padamu."

"Benar akan kuberikan padamu, tapi setelah kau jadi mayat di tanganku, Perempuan Sundal!" sambung perempuan berpakaian gelap ini dalam batin.

"Ratu Keparat!" bentak Dayang Naga Puspa dengan rahang menggembung karena marah besar mendengar jawaban yang didapatnya. "Aku tak punya banyak waktu untuk main-main. Cepat serahkan senjata-senjataku! Atau..., kau ingin nyawamu kucopot?!"

"Bangsat! Budak perempuan ini benarbenar keterlaluan! Aku tak rela mati bila belum membalas hinaan ini!" rutuk Ratu Pulau Merah dalam hati, tapi segera berkata.

"Aku tidak main-main, Dayang Naga Puspa! Senjata-senjata itu memang tak ada padaku lagi! Telah dirampas oleh Gongging Baladewa dan Dewi Kayangan. Bahkan kipas hitamku pun telah dirampasnya! Kalau kau tidak percaya, silakan geledah!"

Dayang Naga Puspa mendengus. Sepasang matanya masih membeliak besar.

"Gongging Baladewa dan Dewi Kayangan. Bagaimana mungkin aku dapat merampasnya kembali?! Baru Gongging Baladewa seorang saja, tak mampu kutanggulangi," kata Dayang Naga Puspa dalam hati. "Semua ini akibat ulah si ratu keparat ini!"

"Kalau begitu, kau harus menggantinya dengan nyawamu, Ratu Keparat!" bentak Dayang Naga Puspa seraya sentakkan tangan kirinya!

Wuttt!

Serangkum angin dahsyat menggebrak keluar dari tangan kiri Dayang Naga Puspa.

Ratu Pulau Merah terkejut. Dia segera rebahkan tubuh sejajar tanah seraya bergulingan. Hingga serangan Dayang Naga Puspa menerabas di atas tubuhnya.

Dayang Naga Puspa tak sia-siakan kesempatan. Sepasang kakinya segera saja disapukan menyusur sejengkal di atas tanah! Sementara kedua tangannya berkelebat menunggu di atas!

Ratu Pulau Merah tahu dirinya terkurung dari bawah dan atas, cepat menambah tenaga, sehingga gulingan tubuhnya semakin cepat. Wajah perempuan berpakaian gelap ini menyeringai karena tangan kirinya yang sakit beberapa kali terhimpit tubuhnya. Tapi, demi menyelamatkan selembar nyawa, hal itu tak dipedulikannya.

Rupanya nasib kurang bagus berpihak pada Ratu Pulau Merah, karena saat itu gulingan tubuhnya mendekati sebatang pohon. Di lain pihak, Dayang Naga Puspa yang tak mau kehilangan buruan, terus melayang mengikuti gulingan tubuh Ratu Pulau Merah.

"Sial!" batin Ratu Pulau Merah, mengetahui adanya hambatan itu. "Kalau tidak bertindak cepat, nyawaku bisa melayang."

Perempuan bermata kebiruan ini semakin mempercepat gulingannya, dan begitu tubuhnya mentok pada batang pohon, serta merta dia jejakkan kakinya di tanah.

Desss!

Terdengar suara tertahan dari mulut Ratu Pulau Merah tatkala tangan kiri Dayang Naga Puspa menghantam dada kanannya! Seketika tubuh perempuan ini melayang dan terbanting keras di tanah! Gerakan Ratu Pulau Merah untuk selamatkan diri sedikit terlambat. Dan sekarang tubuh perempuan berpakaian gelap ini rebah di tanah.

"Alam kubur telah menunggumu, Ratu Keparat!"

Berbareng lenyap seruannya, Dayang Naga Puspa lepas tawa berderai seraya dongakkan kepala. Dan ketika kepala itu dikembalikan ke tempat semula, tangan kanannya dijulurkan ke arah Ratu Pulau Merah. Perempuan bermata kebiruan ini sadar akan adanya ancaman maut, berusaha kerahkan tenaga dalam untuk bangkit. Namun, yang dapat dilakukannya hanya mengangkat tubuh bagian atasnya, dan hanya sebentar. Hingga tanpa ampun lagi tubuhnya terkapar di atas tanah.

"Pergilah ke neraka, Ratu Keparat!" maki Dayang Naga Puspa. Dia serta-merta sentakkan kedua tangannya.

Serangkum angin deras menggebrak ke arah Ratu Pulau Merah. Paras wajah Ratu Pulau Merah pias. Dia membatin.

"Celaka...! Rupanya nyawaku harus lepas di tangan budak perempuan sundal itu! Sial betul...! Padahal, aku masih belum puas menikmati hidup!"

Bersamaan dengan melesatnya serangan jarak jauh Dayang Naga Puspa, serangkum angin dahsyat yang tak keluarkan suara menyambar, memapaki dari arah yang berlawanan.

Blaaarrr...!

Terdengar suara ledakan dahsyat ketika dua pukulan jarak jauh itu bertemu. Tanah di bawah tempat bertemunya dua pukulan dahsyat itu terbongkar. Bongkahannya berpentalan ke sana kemari. Tubuh Dayang Naga Puspa terseret sampai beberapa langkah ke belakang. Tapi, perempuan ini cepat kerahkan tenaga untuk mematahkan daya luncuran itu, hingga tidak terjengkang dan terbanting di atas tanah.

Dayang Naga Puspa terperangah kaget ketika kedua kakinya telah menjejak tanah. Diamdiam perempuan berjubah putih ini segera maklum jika orang yang menghalangi tindakannya adalah orang yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Belum hilang rasa kaget Dayang Naga Puspa, dari sebelah depannya melesat dua sosok bayangan hitam dan putih. Si bayangan hitam berkelebat terus melewati tubuh Ratu Pulau Merah dan menjejakkan kaki berjarak dua tombak dari Dayang Naga Puspa. Sedangkan bayangan putih berdiri di belakang Ratu Pulau Merah.

Sepasang mata Dayang Naga Puspa membeliak mengawasi dua orang pendatang baru. Dahinya berkerut seakan-akan mengingat. Namun, dia tak bisa mengenali dua sosok bayangan itu.

Si bayangan hitam, yang berdiri di depan Dayang Naga Puspa, memunggungi Ratu Pulau Merah adalah seorang pemuda bertubuh tinggi tegap. Sepasang matanya menyorot tajam. Rahangnya kokoh. Rambutnya panjang dan lebat. Mengenakan jubah hitam besar yang dilapis dengan baju putih yang pada bagian dadanya tampak sebuah lukisan pintu gerbang.

Sementara si bayangan putih yang berdiri di dekat Ratu Pulau Merah adalah seorang gadis muda berparas jelita. Rambutnya panjang dan dibiarkan jatuh bergerai di punggungnya. Sepasang matanya bulat serta tajam. Mengenakan pakaian warna putih tipis dan ketat, hingga dadanya yang membusung kencang tampak menonjol, apalagi karena pakaiannya dibuat agak rendah di bagian dada hingga buah dadanya yang putih kencang itu tersembul sebagian.

"Siapa kedua orang itu? Apa hubungannya dengan Ratu Pulau Merah? Tapi, siapa pun adanya, dia telah mencampuri urusanku! Aku harus usir dia! Kalau perlu kubunuh!" batin Dayang Naga Puspa seraya memperhatikan si pemuda dan si gadis.

DUA

HE...! Siapa kau?! Dan apa hubunganmu dengan wanita sundal itu?!" bentak Dayang Naga Puspa, keras. Dibentak demikian, sang pemuda tengadahkan kepala, lalu berkata tak kalah keras. "Pasang telingamu  baik-baik! Aku adalah

Dewa Maut! Dan aku tak mempunyai hubungan dengan wanita itu. Aku akan pergi dari sini apabila kau dapat menunjukkan padaku di mana adanya orang yang kucari!"

Entah karena merasa gentar menyadari orang di hadapannya berilmu tinggi mengingat dalam benturan tadi dibuat terpental atau karena ingin si pemuda segera pergi, agar dia dapat membunuh Ratu Pulau Merah, Dayang Naga Puspa segera angkat bicara.

"Siapa yang kau cari, Dewa Maut?!"

Si pemuda yang bukan lain dari Dewa Maut, keluarkan tawa panjang. Tapi, secara mendadak tawanya putus seperti direnggut setan. Kepalanya didongakkan.

"Katakan padaku, di mana dapat kutemukan Pendekar Mata Keranjang dan Malaikat Berdarah Biru!"

Paras wajah Dayang Naga Puspa berubah. Dia memandang tajam ke arah Dewa Maut dengan dahi mengernyit dalam. Hati perempuan ini berucap.

"Hm.... Jadi pemuda ini yang baru muncul dan menurut berita yang tersiar memiliki kepandaian tinggi.... Mengapa dia mencari Pendekar Mata Keranjang. Apakah ada silang sengketa antara mereka?!"

"Dewa Maut! Aku memang pernah dengar bahkan pernah beberapa kali bertemu dengan Pendekar Mata Keranjang. Katakan, mengapa kau mencarinya?!" tanya Dayang Naga Puspa seraya menyambung pernyataan itu dalam hatinya. "Malah aku telah beberapa kali bertempur dengan pemuda tolol itu. Pendekar Mata Keranjang adalah musuh besarku! Tapi, ini tak mungkin kukatakan padamu, Dewa Goblok! Karena aku belum tahu di pihak mana kau berdiri. Barangkali saja kau merupakan sahabat Pendekar Mata Keranjang!"

"Itu urusanku! Dan, kau tak perlu tahu!" tandas Dewa Maut, tak senang.

"Kalau begitu aku pun tak bisa memberitahukan jawabannya," Dayang Naga Puspa ikut berkeras.

Paras wajah Dewa Maut mengelam. Rahangnya menggembung besar. Dia marah mendengar tanggapan yang tak diharapkannya itu.

"Bangsat! Kalau tak mengingat keterangannya kuperlukan, kuhancurkan mulut wanita sundal ini...!" maki Dewa Maut dalam hati.

"Aku ingin mengambil nyawanya!" tandas Dewa Maut sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Kalau begitu kita segolongan. Aku pun mempunyai silang sengketa dengan pemuda itu. Dan karena mempunyai musuh yang sama, bagaimana kalau kita bergabung, agar lebih besar kemungkinannya untuk bisa melenyapkan Pendekar Mata Keranjang?!" lanjut Dayang Naga Puspa, mengajukan diri.

"Dewa Maut tak perlu bantuan! Dewa Maut sanggup mengirim siapa pun ke akhirat tanpa campur tangan orang lain! Sekarang, katakan di mana adanya Pendekar Mata Keranjang?!"

"Dan Malaikat Berdarah Biru?!" Dayang Naga Puspa menyambung seraya mengingatkan.

Dewa Maut anggukkan kepalanya.

"Itu lebih baik lagi kalau kau mengetahuinya juga! Tapi ingat, jika kau tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, saat ini adalah terakhir kalinya kau melihat matahari!"

Dayang Naga Puspa kertakkan gigi. Dia marah besar. Perempuan berjubah ini tak kuasa sabar lagi. Sikap Dewa Maut yang terus-menerus menekannya tanpa memandang sebelah mata sama sekali, membuat kemarahannya tak bisa dibendung. "Kaulah yang akan pergi ke neraka, Dewa Maut!. Dayang Naga Puspa bukan orang yang mudah kau hina!"

Dewa Maut berkacak pinggang seraya dongakkan kepala memperdengarkan tawa berderai. Di lain pihak, Dayang Naga Puspa kontan komatkamit. Sepasang matanya terpejam. Dan dengan didahului bentakan keras, perempuan berjubah putih ini melesat ke arah Dewa Maut. Tapi, beberapa langkah lagi tiba di sasaran, dia berbelok, kemudian berputar-putar mengelilingi Dewa Maut yang tetap tak bergeming!

Tubuh Dayang Naga Puspa lenyap terganti dengan bayang-bayang yang berputaran cepat. Sejurus kemudian, angin kencang bergemuruh, mengurung tubuh Dewa Maut. Malah, perlahanlahan tubuh pemuda itu terangkat naik!

Mendadak, seberkas sinar hitam menyambar ke arah dada Dewa Maut! Saat itu baru Dewa Maut sentakkan tangan kanannya.

Bummm!

Dayang Naga Puspa terpekik. Tubuhnya melayang ke udara. Setelah bersalto beberapa kali di udara, akhirnya perempuan ini berhasil menjejak tanah dengan kedua kakinya. Sementara, Dewa Maut tetap diam di tempatnya, seakan tak terpengaruh sama sekali!

Dayang Naga Puspa maklum jika dirinya belum mampu untuk menandingi lawan. Hingga saat itu juga dia memutuskan untuk menyudahi pertarungan.

"Tahan...!" teriak Dayang Naga Puspa ketika melihat Dewa Maut hendak bergerak melancarkan serangan.

Dewa Maut hentikan gerakan. Dia dongakkan kepala sambil tertawa. Nadanya jelas meremehkan.

"Kalau kau masih tak mau jawab tanyaku, akan kukirim kau ke lubang kubur sebelum Pendekar Mata Keranjang dan Malaikat Berdarah Biru!"

"Dewa Maut keparat! Kali ini kau boleh tertawa. Tapi, kelak kau akan menangis di bawah kakiku!" maki Dayang Naga Puspa dalam hati, penuh rasa dendam.

"Dewa Maut! Aku akan jawab tanyamu. Tapi, aku ingin tahu mengapa kau mencari Malaikat Berdarah Biru?"

"Kurasa tak ada salahnya wanita sundal ini tahu. Barangkali saja, itu akan membuat usahaku lebih mudah." batin Dewa Maut. Setelah berpikir sejenak dia buka mulut.

"Sebenarnya aku tak punya silang sengketa dengannya! Kenal pun tidak! Dia menjadi buruanku karena di tangannyalah kipas hitam buatan Empu Jaladara!"

Dayang Naga Puspa dan Ratu Pulau Merah terperangah. Kedua perempuan itu sama-sama terkejut. Malah gadis berpakaian hitam ketat, ikut-ikutan terkejut.

"Rasa-rasanya aku pernah melihat kipas hitam yang dimaksud Dewa Maut keparat ini! Hm... benar! Bukankah sewaktu perebutan Arca Dewi Bumi?! Aku ingat sekarang. Kipas hitam itu ada di tangan Ratu Pulau Merah! Tapi, kalau kuberitahukan, dan Dewa Maut mendapatkannya, bukankah aku rugi sendiri?! Eh..., bukankah kipas itu katanya telah dirampas oleh Gongging Baladewa?! Ini merupakan jalan yang baik bagiku untuk dapat merampas kembali senjata-senjata milikku. Dengan bantuan Dewa Maut, kemungkinan merampasnya senjata-senjata itu jauh lebih besar! Setelah itu, tinggal pikirkan jalan untuk singkirkan Dewa Maut!" batin Dayang Naga Puspa berbicara.

"Melihat sikap dan perubahan wajahnya, aku yakin wanita sundal ini mengetahui sesuatu. Kalau, jawabannya tak memuaskan hatiku, akan kubunuh dia!" kata hati Dewa Maut. Lalu dia membentak.

"Mengapa malah tercenung?! Atau..., kau tak ingin jawab tanyaku?!"

"Aku bukannya tercenung, Dewa Maut, tapi aku kaget mendengar alasanmu mencari Malaikat Berdarah Biru!" jawab Dayang Naga Puspa. "Kau tahu, kipas hitam itu telah dirampas lagi dari tangan Malaikat Berdarah Biru oleh Pendekar Mata Keranjang. Pendekar Mata Keranjang memberikannya lagi pada gurunya, Wong Agung dari Karang Langit."

"Jadi..., kipas dan bumbung itu berada di Karang Langit?!" geram Dewa Maut.

Pertanyaan Dewa Maut membuat Ratu Pulau Merah tegang. Dia berharap Dayang Naga Puspa anggukkan kepala. Tapi, harapannya kandas, ketika dilihatnya Dayang Naga Puspa mengerling ke arahnya seraya sunggingkan senyum mengejek. Kemudian, perempuan berjubah putih ini angkat bicara.

"Semula memang demikian, Dewa Maut. Tapi, seseorang telah mencurinya dari Karang Langit."

"Keparat! Katakan siapa pencuri keparat itu! Dia akan berhadapan dengan Dewa Maut!" desak pemuda berjubah hitam, tak sabaran. Rahangnya sampai menggembung besar.

"Ratu keparat itulah yang mencurinya!" jawab Dayang Naga Puspa dengan suara lebih dikeraskan seraya menuding Ratu Pulau Merah. "Kipas dan bumbung yang kau cari ada di tangannya!"

Dewa Maut arahkan pandangan pada Ratu Pulau Merah. Kemudian, alihkan lagi pada gadis berpakaian hitam.

"Dewiku.... Minta kipas dan bumbung itu. Kalau tidak diberikan, siksa dia!" Dewa Maut berkata pada si gadis yang bukan lain dari Anting Wulan alias Dewi Tengkorak Hitam.

Dewi Tengkorak Hitam memandang Ratu Pulau Merah yang juga menatapnya. Setelah tersenyum sinis, gadis cantik ini buka mulutnya.

"Kau telah dengar apa yang dikatakan oleh kekasihku, bukan?! Cepat serahkan kipas hitam dan bumbung sebelum kau lebih menderita lagi karenanya."

"Bangsat terkutuk! Dayang Naga Puspa keparat! Kau akan kubuat menyesal hidup ke dunia!" maki Ratu Pulau Merah dalam hati seraya arahkan sepasang matanya pada Dayang Naga Puspa. Si perempuan berjubah malah tersenyum mengejek. Ratu Pulau Merah semakin geram. Dia alihkan pandangannya pada Dewa Maut dan Dewi Tengkorak Hitam.

"Kipas dan bumbung itu memang ada padaku. Tapi, telah dirampas oleh Gongging Baladewa dan Dewi Kayangan. Malah, aku dilukainya. Kalau masih ada padaku, dengan senang hati akan kuserahkan!" beritahu Ratu Pulau Merah sejujurnya, kendati hatinya ingin memberikan jawaban berbeda. Tapi, perempuan bermata kebiruan ini khawatir berbohong terhadap Dewa Maut yang pemarah.

"Keparat!" Dewa Maut membanting kaki kanannya hingga amblas ke dalam tanah sampai mata kaki. Rahangnya menggembung besar. Pemuda ini marah bukan main, mengetahui urusan demikian berbelit-belit. "Katakan di mana adanya Gongging Baladewa! Kalau tidak, kalian berdua akan mati tak meram!"

"Kukira tak ada gunanya mencari Gongging Baladewa, Dewa Maut," kali ini Dewi Tengkorak Hitam yang bicara. "Tokoh itu tak mempunyai tempat tinggal tetap. Senantiasa berkelana."

"Dewiku..., jadi kau ingin aku hentikan pencarian terhadap kipas hitam dan bumbung itu?!"

"Tidak, Dewa Maut," Dewi Tengkorak Hitam gelengkan kepalanya. "Kalau ada cara yang mudah mengapa mencari cara yang sukar?!"

"Dewiku, jangan berteka-teki lagi. Katakan saja terus terang," Dewa Maut mulai tak sabar.

Dewi Tengkorak Hitam melangkah maju kemudian lingkarkan tangannya pada pinggang Dewa Maut, dan rapatkan dadanya pada punggung si pemuda.

"Beberapa hari lagi pertemuan di Lembah Supit Urang tiba. Aku yakin, orang-orang yang kau cari, Gongging Baladewa dan Pendekar Mata Keranjang, serta Dewi Kayangan, akan hadir di sana. Nah! Bukankah itu lebih mudah daripada mencari-cari ke sana kemari tanpa tujuan?!"

Dewa Maut dongakkan kepala seraya perdengarkan tawa berderai.

"Dewiku.... Saranmu itu tepat sekali! Seperti yang kukatakan pada Manusia Titisan Dewa dan Iblis Gelang Kematian, aku akan hadir di sana. Aku akan menjadi raja di raja rimba persilatan. Mereka semua akan menjadi laskarku! Dan, orang-orang golongan putih, terutama Pendekar Mata Keranjang, Wong Agung, Dewi Kayangan, dan Gongging Baladewa akan kulenyapkan! Darah mereka akan tertumpah di Supit Urang! Tumpahan darah mereka membasahi Lembah Supit Urang! Ha ha ha...! Dewiku. Mari kita per-

gi!"

Tanpa mempedulikan Dayang Naga Puspa dan Ratu Pulau Merah lagi, Dewa Maut menyambar tangan Dewi Tengkorak Hitam dan membawanya melesat meninggalkan tempat itu. Di lain kejap, yang tinggal hanya Dayang Naga Puspa dan Ratu Pulau Merah. Kedua perempuan ini samasama tercenung. Dalam hati, masing-masing berkata.

"Pertemuan di Lembah Supit Urang? Ki-

ranya berita itu bukan hanya kabar burung belaka."

"Ada baiknya aku pergi ke sana juga, melihat lihat apa yang terjadi pada pertemuan itu. Toh, dari sini ke tempat itu tidak terlalu jauh lagi. Tapi, terlebih dulu, ratu keparat ini akan kubereskan!" Dayang Naga Puspa membatin. Lalu, perempuan berjubah ini ayunkan kakinya mendekati tempat Ratu Pulau Merah tergolek.

"Pertemuan di   Lembah   Supit   Urang....

Hm.... Kalau saja bisa selamat dari tangan wanita sundal ini, aku akan pergi ke sana," kata wanita berpakaian gelap ini dalam hati.

Tapi, Ratu Pulau Merah sadar, kecil kemungkinannya untuk selamat. Dia lihat paras wajah dan sinar mata Dayang Naga Puspa yang tertuju padanya penuh dengan hawa maut.

Selagi Ratu Pulau Merah tengah menunggu takdirnya, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan. Begitu cepatnya kelebat sosok ini, hingga tahutahu telah berdiri di sebelah Ratu Pulau Merah.

"Kakang...!" seru Ratu Pulau Merah begitu berpaling dan mengenali siapa adanya orang yang baru datang.

Sementara Dayang Naga Puspa luruskan kepala dan kerutkan dahi. Sepasang matanya menyipit.

"Eyang Guru Dadung Rantak! Bangsat! Mengapa tua bangka bau tanah ini bisa berada di sini?! Celaka! Kalau ratu keparat itu bisa mempengaruhinya, keadaanku bisa runyam!" rutuk perempuan berjubah putih ini seraya mundur selangkah karena kaget.

Di hadapan Dayang Naga Puspa, di samping Ratu Pulau Merah berdiri seorang laki-laki berusia amat lanjut. Rambutnya awut-awutan serta berwarna putih. Demikian pula jenggotnya. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek agak gombrang dan terlihat kumal. Sepasang mata serta wajahnya tidak begitu jelas terlihat karena tertutup oleh rambut dan jenggotnya.

Laki-laki bertelanjang dada yang bukan lain dari Dadung Rantak, palingkan wajahnya pada Ratu Pulau Merah. Kemudian angkat bicara.

"Kinanti "

"Kang...," ujar Ratu Pulau Merah agak dilirihkan suaranya, mengunjukkan seakan-akan keadaannya parah sekali. Diam-diam di dalam hatinya, wanita bermata kebiruan ini merutuk. "Sekaranglah saatnya membalas sakit hati terhadap Dayang Naga Puspa, dengan mengandalkan rasa cinta tua bangka bau tanah ini terhadapku! Rasakan pembalasanku, Wanita Sundal!"

Dadung Rantak menyipitkan sepasang matanya untuk memperhatikan lebih jelas keadaan Ratu Pulau Merah. Rebahnya tubuh wanita berpakaian gelap itu, dan lirihnya suara yang dikeluarkan membuatnya merasa heran.

"Apa yang terjadi terhadap dirimu, Kinanti?" Dadung Rantak ajukan tanya.

"Wanita itu, Kang! Wanita sundal itulah yang membuatku seperti ini! Malah dia ingin membunuhku! Padahal, sudah kukatakan kalau diriku adalah kekasihmu. Dia marah ketika kukatakan, bahwa aku akan tinggal di Rawa Buntek bersama dirimu," beri tahu Ratu Pulau Merah, berdusta.

Dayang Naga Puspa terperangah. Perempuan berjubah ini melangkah mundur satu tindak.

"Sialan betul! Kalau tua bangka itu terpengaruh ucapan ratu keparat itu, aku bisa celaka!" batin Dayang Naga Puspa, cemas.

Dadung Rantak menatap Ratu Pulau Merah tajam-tajam. Lalu, berpaling pada Dayang Naga Puspa. Tanpa sadar Dayang Naga Puspa mundur lagi selangkah. Sempat dilihatnya Ratu Pulau Merah tersenyum mengejek. Perempuan berjubah ini geram bukan kepalang. Dia ingin buka mulut. Tapi, ditahannya lagi ketika dilihatnya Dadung Rantak, alihkan pandangan pada Ratu Pulau Merah.

"Kau tidak berdusta lagi, Kinanti?"

"Tidak, Kang. Aku ingin tinggal bersamamu di Rawa Buntek. Tapi, kau harus balaskan sakit hatiku dulu pada wanita sundal itu...!" tuding Ratu Pulau Merah dengan tangan yang dibuatnya gemetar.

"Asal kau mau tinggal bersamaku di Rawa Buntek, jangankan hanya satu wanita sundal ini. Sekalipun ada seribu pun, semuanya akan kubunuh! Tapi, jika berdusta, kau tahu apa akibatnya?! Ingat, Kinanti. Ini adalah kesempatan terakhir yang kuberikan padamu. Tak ada lagi syarat atau alasan lainnya!" tandas Dadung Rantak, tegas.

Ratu Pulau Merah tersenyum dan mengangguk, tapi batinnya memaki.

"Tua bangka keparat! Siapa yang kesudian tinggal denganmu di tempat yang buruk itu?! Kaulah yang akan mampus di tanganku, Tua Bangka tak tahu diri!"

TIGA

DAYANG Naga Puspa melangkah mundurmundur ketika Dadung Rantak menatapnya lekat-lekat.

"Kekhawatiranku beralasan. Tua bangka yang dimabuk cinta ini kena dirayu oleh si ratu keparat! Celaka! Sialan betul!" rutuk perempuan berjubah putih ini, dalam hati. Lalu, dia berkata.

"Eyang Guru.... Kau kena ditipu oleh ratu keparat itu! Dia akan meninggalkanmu lagi seperti sebelumnya," Dayang Naga Puspa mencoba mengingatkan.

"Sarpakenaka. Tutup mulutmu...! Antara kau dan aku tak ada hubungan apa-apa lagi. Ingat ucapanku?! Urusanmu urusanmu, urusanku urusanku!" sergah Dadung Rantak seraya ayunkan kakinya mendekati Dayang Naga Puspa.

"Gila! Jahanam!" maki Dayang Naga Puspa dalam kecemasan hati yang mendera.

"Terimalah kematianmu, Sarpakenaka...!" Dayang Naga Puspa tak bisa lagi meneruskan kata hatinya, karena saat itu juga Dadung Rantak dorongkan kedua tangannya ke depan.

Wuttt!

Tak ada sambaran angin yang keluar, ataupun suara yang terdengar. Tapi, sekitar tempat itu bergetar hebat. Pohon-pohon berguncang, menggugurkan daunnya. Sejurus kemudian, hawa panas menyengat melingkupi tempat itu. Hingga daun-daun berguguran ke tanah dalam keadaan hangus.

Bersamaan dengan mendorongnya kedua tangan Dadung Rantak, Dayang Naga Puspa membentak nyaring. Perempuan berjubah putih ini melempar tubuhnya ke samping kiri dan bergulingan menjauh.

Ternyata Dadung Rantak benar-benar berkeinginan membunuh muridnya. Dia melesat mengejar seraya hantamkan tangannya ke arah kepala.

Dayang Naga Puspa cepat rundukkan kepalanya. Kaki kanannya diangkat dan dihantamkan ke arah lambung Dadung Rantak.

Bukkk!

Kaki perempuan berjubah ini mental balik ketika mengenai sasaran. Seakan-akan yang dihantamnya adalah segundukan karet keras dan kenyal. Dayang Naga Puspa terhuyung-huyung terbawa ayunan kakinya.

Dadung Rantak tak memberi kesempatan. Bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Dayang Naga Puspa, laki-laki ini ulurkan tangan.

Tappp! Dayang Naga Puspa terpekik ketika pergelangan kakinya tercekal. Perempuan berjubah putih ini sadar akan bahaya yang tengah mengancamnya. Maka, buru-buru hentakkan tangan kirinya.

Wuttt!

Serangkum angin dahsyat menggebrak keluar dan meluncur cepat ke arah Dadung Rantak! Karena tak ada kesempatan lagi untuk menghindari serangan Dayang Naga Puspa, Dadung Rantak mundur setindak seraya lepaskan cekalannya. Kemudian tangan kanannya dido-

rongkan!

Bummm!

Dua pukulan yang sama-sama bertenaga dalam kuat bentrok di udara. Tubuh Dayang Naga Puspa terhuyung-huyung. Namun, setelah kerahkan tenaga dalam untuk menahan huyungan tubuhnya, perempuan berjubah putih itu segera tegak kembali dengan kokohnya.

Dadung Rantak sendiri tersurut satu tindak ke belakang. Dan, laki-laki tua ini punya kesempatan untuk melancarkan desakan saat Dayang Naga Puspa terhuyung. Tapi, itu tak dipergunakannya. Dadung Rantak sengaja memberi Dayang Naga Puspa kelonggaran.

"Aku ingin tahu sampai di mana kemajuan dicapai Dayang Naga Puspa," Dadung Rantak membatin.

Sementara Dayang Naga Puspa langsung menerjang setelah berhasil menguasai diri! Pertarungan kembali berlangsung! Dayang Naga Puspa kerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Perempuan ini tahu kalau pertarungan kali ini adalah pertarungan antara hidup dan mati. Tapi, setelah belasan jurus berlangsung, Dayang Naga Puspa mulai terdesak. Dan, hanya bisa bertarung sambil mundur-mundur!

Bukkk!

Terdengar seruan tertahan dari mulut Dayang Naga Puspa ketika gedoran tangan kanan Dadung Rantak menghantam dadanya secara telak. Tubuh perempuan yang berusia tidak muda lagi ini terjengkang dan jatuh terduduk di atas tanah di dekat Ratu Pulau Merah.

Kesempatan ini memang yang ditunggutunggu Ratu Pulau Merah! Perempuan berpakaian gelap ini hantamkan pukulan dengan posisi jari dalam jurus ‘Macan Tutul'. Ratu Pulau Merah tahu tenaganya telah berkurang jauh, maka yang diserang adalah bagian yang mematikan! Ubunubun!

Tukkk!

Dayang Naga Puspa memekik ngeri ketika ubun-ubunnya pecah berantakan. Cairan merah bercampur putih kental pun muncrat-muncrat. Tubuh perempuan berjubah putih ini mengejang. Di lain kejap, terkulai lemas, tak bergerak-gerak lagi. Sepasang matanya membeliak besar, penuh perasaan penasaran!

Dadung Rantak agak terkejut melihat tindakan Ratu Pulau Merah. Tapi, dia tak bicara apa-apa. Paras wajah laki-laki bertelanjang dada ini tak unjukkan guratan perasaan apa pun, meski di hatinya ada rasa menyesal, mengapa Dayang Naga Puspa harus mati akibat tangannya. "Persetan! Kalau punya kesempatan dan kemampuan pun, wanita sundal itu akan membunuhku! Jadi, ada baiknya dia mati!" cetus Dadung Rantak dalam hati, setengah menghibur diri. Kemudian, setelah berpikir sebentar, dia buka

mulut.

"Bagaimana, Kinanti?!" Dadung Rantak ajukan tanya, setengah menekan.

Ratu Pulau Merah ukir seulas senyum manis. Senyum penuh rasa puas!

"Kau telah penuhi janjimu, Kang. Maka, aku pun akan penuhi janjiku," jawab Ratu Pulau Merah meski dalam hatinya berkata. "Terpaksa aku mengikuti kehendakmu, Tua Bangka. Keadaan tak memungkinkan bagiku untuk mengambil pilihan lainnya! Tapi, kelak kau pun akan kubuat mengalami nasib serupa dengan bekas muridmu!"

"Kalau begitu, mari kita pergi, Kinanti," ajak Dadung Rantak, tak sabar. Dia melesat ke arah Ratu Pulau Merah dan bersiap membawanya kabur!

"Tapi, Kang.... Aku tak mampu berdiri.

Apalagi untuk berlari."

Dadung Rantak menghela napas berat, kecewa. Dengan agak segan diperiksanya keadaan Ratu Pulau Merah.

"Gila! Luka-lukanya parah juga. Sebelah tangannya tak bisa dipergunakan lagi. Aliran tenaganya pun tak beraturan. Kacau. Bagaimana ini bisa terjadi. Mungkinkah oleh Dayang Naga Puspa?! Tapi.... Rasa-rasanya kepandaian Ratu Pulau Merah masih di atas Dayang Naga Puspa. Aneh! Jadi, jelas, Ratu Pulau Merah menipuku! Tapi..., biarlah! Yang penting dia mau tinggal bersamaku di Rawa Buntek!'' Dadung Rantak membatin, setelah memeriksa keadaan Ratu Pulau Merah sejurus lamanya.

"Apa yang terjadi, Kinanti? Apakah ini semua karena Dayang Naga Puspa?!" tanya Dadung Rantak seraya arahkan pandangannya pada sepasang mata Ratu Pulau Merah.

Ratu Pulau Merah bukan orang bodoh. Dia tahu kalau Dadung Rantak mulai curiga terhadapnya. Di hatinya, perempuan bermata kebiruan ini berkata.

"Tua bangka ini rupanya telah bisa mengira-ngira kejanggalan ceritaku. Apa boleh buat, terpaksa kuberitahukan hal yang agaksebenarnya "

"Aku terluka oleh Gongging Baladewa dan Dewi Kayangan, Kang. Tapi, aku berhasil selamat hingga tiba di tempat ini. Sialnya aku bertemu muridmu itu! Dan, dia hendak membunuhku! Entah karena apa! Kalau kau datang terlambat, mungkin tak akan bisa bertemu denganku lagi "

Dadung Rantak tak memberikan sambutan. Tapi, laki-laki ini berbicara dalam hati.

"Ada kejanggalan dalam ceritanya. Mustahil tanpa alasan Dayang Naga Puspa hendak membunuhnya! Tapi, masa bodoh. Itu bukan urusanku! Yang penting, dia mau ikut tinggal bersamaku di Rawa Buntek."

Melihat Dadung Rantak diam, Ratu Pulau Merah ceritakan secara singkat tapi jelas kejadian yang membuatnya terluka.

"Aku tak bisa hidup tenang sebelum bisa membalaskan sakit hatiku pada Gongging Baladewa dan Dewi Kayangan, Kang," Ratu Pulau Merah mengakhiri ceritanya sambil kertakkan gigi, memperlihatkan rasa dendamnya.

Dadung Rantak dongakkan kepalanya. Kemudian berdehem beberapa kali untuk menenangkan hati.

"Dewi Kayangan dan Gongging Baladewa?! Tokoh-tokoh itu memiliki kepandaian luar biasa! Rasanya sulit bagiku untuk mengalahkan seorang saja di antara mereka.... Kinanti Orang-orang

yang kau sebutkan itu berkepandaian tinggi "

"Jadi.... Kakang gentar terhadap mereka?! Sama sekali tak kusangka!" selak Ratu Pulau Merah setengah tak percaya.

Dadung Rantak dongakkan kepalanya. Matanya berkilat-kilat karena merasa tersinggung mendengar ucapan perempuan berpakaian gelap itu.

"Kinanti.... Aku tak gentar pada Dewi Kayangan, Gongging Baladewa, atau siapa pun! Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya!" tandas Dadung Rantak dengan suara agak dikeraskan. "Bukankah mereka berkepandaian tinggi?! Gongging Baladewa terkenal sebagai tokoh tua yang luar biasa sakti. Sedangkan Dewi Kayangan sendiri telah kurasakan kelihaiannya!" "Hm.... Jadi kau tak ingin membalaskan

sakit hatiku pada mereka, Kang?! Kau ingin aku hidup di Rawa Buntek dengan memendam sakit hati terhadap mereka?!" Ratu Pulau Merah ajukan desakan, meminta penegasan. Sikap penasarannya terlihat jelas.

Paras wajah Dadung Rantak seketika berubah. Dia batuk-batuk kecil untuk menyembunyikan rasa kecewa, tak suka, dan tersinggungnya. Laki-laki bertelanjang dada ini merasa ditekan. Dadung Rantak memaki-maki, tapi hanya di dalam hati. "Keparat! Urusan keparat ini akan membuat kepulangan ke Rawa Buntek terhambat. Sialan betul!"

"Kinanti.... Bukannya aku takut atau tak ingin membalaskan sakit hatimu. Tapi, aku tak ingin gegabah! Untuk apa tergesa-gesa mencari dan berusaha membalas dendam kalau hanya berakhir dengan kegagalan?! Bukan hanya kekuatan saja yang merupakan hal penting. Ada yang lebih penting lagi, Kinanti. Bahkan paling penting!" beri tahu Dadung Rantak, panjang lebar bernada menggurui.

"Apa itu, Kang?!" tanya Ratu Pulau Merah, ingin tahu. Di dalam hatinya dia bertanya. "Baru pertama kali kudengar, tua bangka ini memperhitungkan kekuatan lawan. Biasanya dia langsung melabrak. Dan, aku yakin, tokoh semacam Dewi Kayangan akan dapat dikalahkannya. Apa yang membuatnya memperhitungkan tindakannya itu?! Jahanam! Jangan-jangan, ini hanya merupakan siasatnya. Barangkali dia sudah tak sabar ingin mengajakku ke tempat tinggalnya yang busuk itu! Hm. Aku harus berkeras!"

"Otak!"

"Otak, Kang?!" Ratu Pulau Merah meminta kepastian.

"Benar, Kinanti. Otak yang terpenting!" tandas Dadung Rantak dengan nada suara lebih meninggi.

"Untuk menghadapi orang semacam Dewi Kayangan mempergunakan otak pula?! Labrak saja! Apa yang perlu ditakuti?!"

Dadung Rantak menatap Ratu Pulau Merah lekat-lekat. Seringai buruk menghiasi wajahnya. Seringai yang mengisyaratkan orang yang lebih mengetahui suatu persoalan daripada lawan bicaranya. Kemudian, mulutnya membuka.

"Kinanti.... Melabrak Dewi Kayangan memang tak memerlukan otak! Tinggal gebrak saja! Aku yakin akan mampu mengalahkannya! Tapi, kau harus tahu, Kinanti.... Tempat di mana wanita itu tinggal, tidak hanya didiami olehnya sendiri. Ada saudara-saudaranya. Dewi Bayang-bayang dan Dewi Bunga Iblis! Bahkan mungkin Gongging Baladewa! Karena menurut berita yang kusirap, Dewi Bayang-bayang telah akur kembali dengan Gongging Baladewa!"

Ratu Pulau Merah terdiam mendengar perkataan Dadung Rantak. Dia memandang laki-laki di hadapannya lekat-lekat. Akal sehatnya dapat merasakan kebenaran ucapan pemilik Rawa Buntek itu. "Lalu… apa yang akan kau lakukan, Kang?!"

Dadung Rantak menarik napas lega mengetahui alasan yang diberikannya diterima Ratu Pulau Merah.

"Kinanti! Beberapa hari lagi, tepat pada malam purnama di Lembah Supit Urang akan ada pertemuan untuk menentukan siapa yang patut menjadi raja di raja rimba persilatan, sekaligus menyusun kekuatan untuk melenyapkan Pendekar 108 dan tokoh-tokoh golongan putih. Jadi, aku akan terjun untuk merebut kedudukan jago nomor satu, agar dapat membalaskan sakit hatimu! Dengan tokoh-tokoh jajaran atas dunia hitam lainnya yang membantu, kurasa tak sulit untuk menggulung Gongging Baladewa, Dewi Kayangan, dan Dewi Bayang-bayang, kalau perlu Dewi Bunga Iblis!"

"Pertemuan di Lembah Supit Urang, Kang?!" tanya Ratu Pulau Merah, ingin tahu karena dalam beda waktu sekejap telah dua kali mendengar orang meributkan tentang itu. "Aku pun mendengar kabar angin mengenai pertemuan itu. Tapi, aku masih belum jelas. Tampaknya kau tahu persis, Kang. Ceritakanlah padaku...! Dan, siapa-siapa sajakah yang akan ke sana?!"

Dadung Rantak kernyitkan dahi seperti tengah berpikir. Kemudian, buka mulutnya.

"Menurut pendapatku akan banyak tokoh yang hadir, baik dari golongan hitam maupun putih karena berita itu disebarluaskan. Tapi, kalau yang kutahu, tokoh-tokoh yang pasti datang adalah Iblis Gelang Kematian dan Dewa Maut! Karena, kudengar sendiri dari mulut mereka mengenai kesediaan untuk menghadiri pertemuan itu."

"Dewa Maut...! Tokoh yang tadi mencaricari Malaikat Berdarah Biru dan Pendekar Mata Keranjang! Kepandaiannya tinggi sekali! Mampukah Kakang Dadung Rantak merebut kedudukan jago nomor satu?!" Ratu Pulau Merah membatin.

"Kurasa perbincangan kita sudah cukup panjang, Kinanti. Nanti bisa kita lanjutkan dalam perjalanan menuju ke Lembah Supit Urang. Yang paling penting sekarang adalah mengobati luka dalammu. Sayang, untuk sementara tangan kirimu tak bisa kau gunakan," ujar Dadung Rantak bernada keluh.

"Dewi Kayangan keparat! Kau akan mendapat ganjaran atas perbuatanmu ini!" maki Ratu Pulau Merah, geram.

Dadung Rantak tak berikan sambutan. Dia duduk bersila di dekat perempuan bermata kebiruan itu, bersiap untuk mengobati luka dalam Ratu Pulau Merah dengan pengerahan hawa murni. Kedua tangannya dijulurkan, tapi terhenti di tengah jalan, dan berkata.

"Sebenarnya..., sewaktu bertemu denganmu, keinginan yang menggebu-gebu untuk mendatangi Lembah Supit Urang itu telah pupus, Kinanti. Aku ingin hidup tenang bersamamu di Rawa Buntek. Sayang, kau tak bisa melupakan sakit hatimu. Tak ada jalan lain kecuali menghadiri pertemuan itu agar kau bisa tenang tinggal bersamaku." "Tua bangka tak tahu diri! Sekalipun dendamku telah terbalaskan aku tak akan sudi untuk tinggal di tempat busuk itu! Apalagi bersama dengan tua bangka seperti kau!" batin Ratu Pulau Merah mengutuk, tapi mulutnya yang berbentuk indah membuka dan keluarkan kata.

"Kalau kau tega membiarkanku tersiksa diamuk dendam dan sakit hati, tak apa, Kang," Ratu Pulau Merah merajuk, jengkel karena telah memiringkan tubuh, Dadung Rantak tak juga menempelkan tangan untuk menyembuhkan luka dalamnya, tapi malah bicara. "Tapi, mungkin perlu kuingatkan sedikit, Kang. Kau sendiri telah tahu bagaimana tidak enaknya mendendam sakit hati. Bukankah kau pun sampai bercapai lelah mendatangi Wong Agung di Karang Langit untuk membalaskan sakit hati karena adik kandungmu tewas di tangannya?!"

Dadung Rantak terdiam. Mulutnya terkatup. Tanpa bicara apa pun ditempelkan kedua tangannya yang terbuka ke punggung Ratu Pulau Merah.

EMPAT

SEORANG pemuda berwajah tampan berpakaian hijau yang dilapis dengan pakaian dalam berwarna kuning lengan panjang, tampak melangkah perlahan. Dia berambut panjang dan dikuncir ekor kuda. Wajah serta lehernya dibasahi peluh. Pakaiannya pun demikian. Ini menjadi pertanda kalau pemuda ini telah melakukan perjalanan jauh. Sambil berjalan pelan, si pemuda menggerak-gerakkan kipas lipat berwarna ungu yang berada di tangan, pulang balik di depan wajahnya.

"Lembah Supit Urang. Hm.    Apa pun yang

terjadi aku harus sampai di tempat itu. Tapi, aku yakin akan bisa berada di sana sebelum bulan purnama. Hhh ! Apa pun yang terjadi, aku harus

berada di tempat Itu, agar tahu rencana yang akan mereka lakukan!" si pemuda membatin.

Saat itu, terasa deru angin berkesiur di belakangnya. Pemuda berpakaian hijau ini segera berpaling ke belakang seraya membalikkan tubuh. Dan, sekitar lima langkah di hadapannya tampak seorang pemuda berdiri tegak memandang ke arahnya sambil tersenyum. Wajahnya sangat tampan, malah lebih mendekati jelita. Sorot sepasang matanya yang bentuknya bundar itu, sayu. Rambutnya panjang dan dikepang dua. Bibirnya yang berbentuk bagus itu diberi pemerah yang menyolok. Tubuhnya semampai dan terbungkus oleh pakaian seorang perempuan!

"Setan Pesolek...!" gumam pemuda berpakaian hijau tanpa bisa menyembunyikan kegembiraan dalam suara dan sikapnya.

Yang ditegur, dan bukan lain dari Setan Pesolek, tertawa pelan. Kemudian sibakkan rambutnya di tengkuk dengan menarik sedikit kepalanya ke belakang.

"Aku tahu kau gembira bertemu denganku, Pendekar 108," kata Setan Pesolek seraya keluarkan tawa panjang. Tangan kanannya bergerak pulang balik dengan gemulai. Setelah meliukkan bahu dan pinggulnya serta mengedipkan mata kirinya, dia berkata. Suaranya mirip seorang perempuan. Tapi, menilik keberadaan jakun di lehernya, orang ini adalah laki-laki.

Pemuda berpakaian hijau yang memang bukan lain dari Aji alias Pendekar Mata Keranjang, usap-usap hidungnya seraya sunggingkan senyum di bibir.

"Manusia satu ini sepertinya selalu tahu saja urusan orang. Dia mampu menebak perasaanku. Malah, dulu beberapa kali ucapannya tak meleset. Tapi, aku ingin tahu sampai di mana manusia banci ini tahu urusanku!" kata hati Aji, lalu setelah berpikir sejenak, dia ajukan tanya.

"Tentu saja aku gembira, Setan Pesolek. Siapa orangnya yang tidak gembira bertemu dengan sahabat lama?!"

Setan Pesolek kembali keluarkan tawa cekikikan. Seraya terus menggerak-gerakkan tangannya secara lemah gemulai, dia berucap.

"Pendekar Mata Keranjang! Mungkin apa yang kau katakan itu benar. Tapi, aku lebih condong menduga kalau kegembiraanmu bertemu denganku, bukan hanya karena itu."

"Benar dugaanku, manusia banci ini seperti bisa membaca isi hati orang. Tapi, aku masih belum yakin kalau dia belum memberikan jawaban yang tepat!" batin Pendekar 108 belum puas. Setan Pesolek sendiri, seperti tak mempedulikan perasaan Aji. Dia keluarkan batu cerminnya dan berkaca sambil rapikan rambut dan polesan merah di bibirnya. Tapi, saat Aji buka mulut, dan belum sempat keluarkan suara, Setan Pesolek telah lebih dulu berkata.

"Kau gembira bertemu denganku karena memang kau tengah mencari kawan-kawan sehaluan guna menghadapi tokoh-tokoh dari haluan lain."

Aji terperangah mendengar jawaban yang tepat itu. Di dalam hatinya dia berkata.

"Manusia satu ini benar-benar mengejutkan! Dia tahu apa yang hendak kulakukan!"

"Sebenarnya tak baik mengatakan apa yang belum terjadi," Setan Pesolek lanjutkan ucapannya. "Tapi, kuusulkan lebih baik kau urungkan niatmu untuk mencegah terjadinya pertemuan di Lembah Supit Urang."

Pendekar Mata Keranjang undur selangkah karena kaget. Air mukanya berubah hebat.

"Si banci ini memang bukan manusia! Dia mampu menebak dengan tepat tindakan yang akan kulakukan! Apakah dia mampu meramal?!" kata hati pemuda berpakaian hijau ini. Beberapa jurus Aji terdiam. Baru setelah dapat menguasai perasaan, dan berpikir sebentar, pemuda ini angkat bicara.

"Aku tak tahu bagaimana kau bisa menebak dengan demikian tepat tindakan yang akan kulakukan, Setan Pesolek. Tapi, aku tak bisa menerima usulmu. Apa pun yang terjadi terhadap diriku aku tetap akan ke sana! Dan, perlu kau ketahui, aku telah memperhitungkannya cukup masak. Oleh karena itu, dengan sisa waktu yang masih kumiliki, kuputuskan untuk mencari kawankawan sehaluan untuk membantuku mencegah terjadinya pertemuan itu!" tandas Pendekar 108 berapi-api, penuh semangat.

Setan Pesolek tertawa pelan seraya angguk-anggukkan kepala seperti memaklumi jawaban yang diberikan Aji.

"Tapi, waktu telah demikian mendesak. Beberapa hari lagi pertemuan di Supit Urang itu akan berlangsung. Kalau kau tetap teruskan tekad untuk mencari kawan-kawan sehaluan, kau akan terlambat untuk mengikuti pertemuan itu!"

"Kalau memang demikian halnya, apa boleh buat?! Tapi, aku akan tetap pergi ke sana! Apa pun yang akan terjadi! Dan perlu kau ingat, Setan Pesolek! Meski kau telah beberapa kali membuat jasa padaku, tidak berarti bahwa aku akan menuruti saranmu. Bahkan, kalau kau bersikeras untuk menahan, aku tak segan-segan untuk melabrakmu!"

"Pendekar Mata Keranjang!" kata Setan Pesolek dengan suara agak dikeraskan. "Kau juga perlu tahu, aku tak pernah mengingat-ingat akan jasaku terhadapmu. Pula, aku tak mengharapkan imbalan apa-apa darimu! Hanya kusarankan, sebelum bertindak itu lebih dulu berpikir! Sebagai tambahan, perlu kuberitahukan karena kau telah salah menafsirkan ucapanku! Pendekar Mata Keranjang! Dengar baik-baik, aku tak mencegah atau menghalangimu ke Lembah Supit Urang!"

Aji kernyitkan dahi. Bingung. "Apa maksudmu sebenarnya, Setan Pesolek?!" Pemuda berpakaian hijau itu ajukan tanya setelah memikirkan ucapan si banci, tapi tetap tak paham. "Kau katakan aku salah menafsirkan ucapanmu?!"

Setan Pesolek anggukkan kepala. Lalu, sambil gerak-gerakkan tangan secara lemahgemulai, dia buka mulut.

"Pendekar Mata Keranjang. Kau boleh ingat-ingat ucapanku. Adakah yang berisi larangan bagimu untuk pergi ke sana?! Tidak bukan?! Aku hanya katakan, agar kau hentikan usahamu untuk mencegah terjadinya pertemuan itu! Bukan melarangmu pergi ke sana! Tapi, melarangmu mencegah pertemuan itu! Dengar baik-baik, Pendekar Mata Keranjang. Tidak semua urusan dapat diselesaikan dengan kekuatan! Terkadang, otak mampu membereskannya dengan hasil yang jauh lebih baik!"

Pendekar 108 terdiam. Tapi, di dalam hatinya dia berkata.

"Sialan betul! Manusia banci ini benar. Aku yang salah mengartikan ucapannya. Tapi Ba-

gaimana aku bisa menghadiri pertemuan itu?! Bukankah sebagian besar di antara mereka telah mengenaliku?!"

"Pendekar Mata Keranjang. Perlu kuberitahukan padamu, aku tak bisa hadir di pertemuan itu. Aku mempunyai urusan lain yang lebih penting. Jadi, aku tak bisa menemanimu ke sana. Aku tak bisa menyumbangkan tenaga. Tapi, aku bisa menyumbangkan pikiran." Laki-laki banci ini kemudian ayunkan kaki beberapa tindak, dekati Pendekar 108. Si pemuda telah bisa menduga kalau Setan Pesolek hendak beritahukan sesuatu. Tapi, sifat konyol Aji timbul. Begitu Setan Pesolek maju, dia malah mundur.

"Pendekar Mata Keranjang! Bukan saatnya sekarang untuk bercanda. Setiap kesempatan yang ada harus dimanfaatkan. Bukan tak mungkin di lain kejap akan muncul gangguan yang membuat kita tak bisa bicara panjang lebar!" sentak Setan Pesolek, dengan nada suara lebih keras daripada sebelumnya.

Aji hentikan langkah. Senyum tersungging di bibirnya. Hidungnya pun diusap-usap. Agak puas hatinya setelah dapat mempermainkan Setan Pesolek meski hanya sebentar. Tapi, di lain kejap laki-laki banci itu telah berada di dekatnya dan dengan bisik-bisik beritahukan rencananya.

Air muka Aji berubah. Berseri-seri. "Mengapa aku tidak berpikir seperti itu?!

Bukankah aku pernah mencobanya?!" batin pemuda berpakaian hijau ini. Tapi, yang keluar dari mulutnya perkataan lainnya.

"Kalau hanya sumbangan pikiran seperti ini, aku pun merencanakannya. Bahkan aku telah pernah mempraktekkannya. Malah beberapa kali!"

Setan Pesolek tertawa cekikikan. Kemudian seraya gerak-gerakkan tangannya secara lemahgemulai, dia keluarkan suara.

"Kau memang telah mencobanya beberapa kali. Tapi, untuk pertemuan ini, kau tak terpikir untuk menggunakannya. Yahhh...! Sudahlah, selamat tinggal, Pendekar Mata Keranjang!"

Habis berkata begitu, laki-laki banci ini rapikan rambutnya. Lalu, dia ayunkan langkah meninggalkan tempat itu. Aji pandangi kepergiannya sambil membatin.

"Banci! Kendati wujudmu aneh, kau mempunyai keistimewaan luar biasa! Kau seperti tahu semua urusan orang! Bahkan, apa yang bergolak di batin!"

Setelah Setan Pesolek tak terlihat lagi, Pendekar 108 pun melesat meninggalkan tempat itu.

LIMA

DUA ekor kuda berlari congklang melalui hamparan tanah berdebu yang luas membentang. Demikian luasnya, sehingga sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan tanah coklat kemerahan.

Penunggang kuda di sebelah kanan adalah seorang gadis cantik berambut panjang berkulit putih. Sepasang matanya bulat dan tajam. Pakaian yang dikenakannya berwarna kuning dan ketat, sehingga dadanya yang kencang membusung tampak jelas.

Sedangkan penunggang kuda satunya lagi adalah seorang laki-laki bertubuh tegap dan besar. Rambutnya kaku dan panjang tergerai. Sepasang matanya tajam. Sesekali bibirnya sunggingkan seringai buruk. Dan, kendati parasnya kelihatan angker, tampak jelas kalau laki-laki ini berusia sangat muda! Masih anak-anak!

Kedua penunggang kuda ini terlihat tak tergesa-gesa. Malah seperti ada yang mereka cari atau tunggu. Beberapa kali si gadis mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan sinar mata penuh harap. Tapi, sorot matanya berbalur kekecewaan ketika hanya menjumpai hamparan tanah luas membentang. Dalam batinnya, gadis ini berkata.

"Sialan betul! Sejak tadi tak kutemukan satu orang pun! Hm.... Benar-benar sial! Padahal, aku ingin tanyakan kebenaran tentang pertemuan tokoh-tokoh persilatan di Lembah Supit Urang. Aku yakin, orang yang kucari akan berada di sana! Tapi, tentu saja jika dia masih hidup!"

"Kau kelihatan resah sekali. Ada apa?!" Si anak laki-laki, ajukan tanya.

Gadis berpakaian kuning palingkan wajah ke arah anak laki-laki, dan menatapnya lekatlekat beberapa jurus. Kemudian, dia tarik napas dalam-dalam lalu berkata.

"Aku tengah mencari-cari, barangkali dapat bertemu paling tidak seorang tokoh persilatan di sini. Aku ingin tanyakan mengenai pertemuan di Lembah Supit Urang!"

"Jadi.... Kau berniat pergi ke sana dan menunda pencarian terhadap Malaikat Berdarah Biru?!" Si anak laki-laki ajukan tanya dengan nada suara tak sembunyikan rasa kecewa dan tak sukanya.

Gadis berpakaian kuning tarik napas dalam-dalam, lalu sunggingkan senyum manis. Lalu, dengan suara lembut dan hati-hati dia buka mulut.

"Abilowo.... Aku tak pernah menunda pencarian terhadap ayahmu, si Malaikat Berdarah Biru itu. Malah, tujuanku mencari kebenaran mengenai pertemuan di Lembah Supit Urang adalah dalam usaha untuk menemukannya."

"Bagaimana bisa begitu?!" Abilowo mendesak tanpa menyembunyikan rasa penasaran hatinya.

"Abilowo.... Jika pertemuan di Lembah Supit Urang bukan kabar burung, Malaikat Berdarah Biru pasti akan datang ke tempat itu. Ayahmu itu sangat berhasrat sekali untuk menjadi raja di raja rimba persilatan! Dan, pertemuan di Supit Urang dapat digunakannya untuk menggapai tujuan itu. Jadi..., sekarang kau bisa mengerti mengapa aku hendak mencari tahu mengenai benar tidaknya pertemuan itu!"

Abilowo anggukkan kepala seraya buka mulut.

"Sekarang aku mengerti. Setidak-tidaknya dengan cara seperti itu kita mempunyai tujuan pencarian. Tidak seperti sekarang, mencari secara ngawur."

"Syukur kalau kau mengerti," timpal si gadis yang bukan lain dari Putri Tunjung Kuning, ibu dari Abilowo, seraya menarik napas lega. Dia sunggingkan seulas senyum manis untuk putranya.

Abilowo tak memberikan sambutan sama sekali. Malah, anak laki-laki ini alihkan pandangannya ke depan seraya mempermainkan rambutnya! Tanpa bicara apa pun, Putri Tunjung Kuning arahkan pandangan ke sana.

"Ada orang di depan!" anak laki-laki itu angkat bicara.

"Aku tak melihat apa pun di depan. Mungkinkah Abilowo salah lihat?! Tapi, bukan tak mungkin pula dia benar. Kepandaiannya memang tinggi. Malah jauh di atasku!" Putri Tunjung Kuning membatin. Setelah berpikir sebentar, dia alihkan pandangan pada Abilowo.

"Apakah kau tak salah lihat, Abilowo?!" Putri Tunjung Kuning meminta kepastian.

"Aku tidak akan pernah salah lihat!" tandas Abilowo setengah merutuk. Nada suaranya jauh lebih keras daripada sebelumnya, menunjukkan rasa tak sukanya dengan ucapan ibunya.

"Watak kurang baik anak ini masih belum hilang! Aku harus sabar menghadapinya. Toh, memang sejak lahir hingga umurnya beberapa puluh hari, aku tak pernah dapat kesempatan untuk mengurusnya. Tapi, memang ada untungnya juga. Bukankah, tua bangka itu katakan Abilowo tak akan jadi sakti bila tersentuh tangan orang lain? Tak terkecuali ibunya," kata hati Putri Tunjung Kuning (Untuk jelasnya mengenai Abilowo dan pengalamannya serta tua bangka yang dimaksud Putri Tunjung Kuning, silakan baca episode : "Titisan Darah Terkutuk" dan "Misteri Hutan Larangan").

"Kalau begitu, kita harus segera susul dia. Aku yakin orang itu tahu mengenai pertemuan di Supit Urang," Putri Tunjung Kuning angkat bicara seraya tarik tali kekang kudanya.

Abilowo menyeringai, lalu ikut melakukan hal yang sama. Di kejap lain, binatang-binatang tunggangan itu pun melesat menimbulkan bunyi gemuruh dan meninggalkan kepulan debu tebal di belakangnya.

Tak lama kemudian, Putri Tunjung Kuning dapat membuktikan kebenaran ucapan Abilowo. Di kejauhan, dilihatnya tiga ekor kuda tengah berpacu cepat ke arah yang sama dengannya.

Putri Tunjung Kuning dan Abilowo semakin perkeras usaha mereka untuk memacu tunggangannya secepat mungkin. Tali kekang mereka keprakkan. Tak ketinggalan, pecut pun mereka hantamkan pada bagian belakang tubuh tunggangan mereka agar binatang itu berlari lebih cepat lagi.

Sekitar beberapa tombak lagi menyusul, tiga penunggang kuda mengetahui kedatangan Putri Tunjung Kuning dan Abilowo. Laju tunggangan mereka perlambat seraya tolehkan kepala ke belakang!

Saat itu, mereka melihat dua ekor kuda coklat bercak-bercak putih dipacu cepat ke arah mereka. Di kejap lain, binatang-binatang itu telah melampaui mereka, dan dihentikan secara mendadak tepat di depan mereka!

Seketika kepulan debu pun menghambur ke arah tiga orang itu! Mereka pun kelabakan menggerakkan tangan untuk menutup wajah dari sergapan debu. "Setan Belang! Siapa berani main gila terhadap Lelawa Ijo?!" bentak penunggang kuda terdepan, keras penuh kemarahan.

Dia adalah seorang lelaki setengah baya berpakaian serba hitam. Tubuhnya kekar dan berotot. Raut wajahnya hanya terlihat sebagian karena tertutup oleh kumis, jenggot, dan cambang bauk lebat yang tidak terurus! Lelaki ini menunggang kuda yang terlihat paling besar dan perkasa daripada dua ekor kuda yang ditunggangi oleh orang-orang di kanan kirinya.

Laki-laki bercambang bauk yang menyebutkan dirinya Lelawa Ijo gerak-gerakkan tangan kirinya. Angin keras menggebrak. Sejurus kemudian, debu-debu yang menghalangi pandangan pun terusir pergi

Lelawa Ijo dan dua orang bertampang garang di kanan kirinya, terperangah ketika melihat orang-orang yang berani bertindak demikian kurang ajar! Tapi, pandang mata mereka segera tertuju pada Putri Tunjung Kuning! Abilowo hanya dilihat sekelebatan saja. Dan, pandang mata tiga orang itu terhadap ibunya Abilowo liar, penuh nafsu berahi!

Tiga pasang mata memandang tak berkedip, lalu geleng-geleng kepala dengan mulut berdecak-decak. Sikap mereka seperti sekawanan harimau lapar melihat seekor kambing gemuk. Putri Tunjung Kuning merasa muak melihatnya, karena mengingatkannya akan nasib yang diterimanya dari Malaikat Berdarah Biru.

"Binatang-binatang semacam inilah yang membuat wanita menjadi barang permainan. Kalau saja tak ingat akan keperluanku, sudah kukorek keluar mata mereka!" batin gadis berpakaian kuning geram.

"Duhai, Sang Bidadari. Seandainya dari semula kutahu, yang melakukan tindakan ini adalah kau, tak akan kekeluarkan kata-kata seperti itu. Kalau boleh kutahu, apa maksud sang Bidadari bercapai lelah turun dari kahyangan dan menghadang perjalananku bersama anak-anak buahku?!" seperti seorang penyair, Lelawa Ijo mengatur kata-katanya sementara dua rekannya hanya tersenyum-senyum memuakkan.

Putri Tunjung Kuning semakin muak dan sebal melihat tingkah mereka. Diam-diam di dalam hatinya dia berkata.

"Sekarang kalian boleh tersenyum-senyum dan bergembira. Tapi, sebentar lagi kalian akan meratap-ratap di bawah kakiku!"

"Kau memang memiliki kecerdasan yang mengagumkan, Lelawa Ijo," ujar gadis berpakaian kuning itu berusaha sedapat mungkin melembutkan ucapannya. "Kau mampu mengetahui kalau aku sengaja menghadangmu. Dan itu, karena adanya satu keperluan."

"Begitukah, Bidadariku?!" sambut Lelawa Ijo seraya lemparkan senyum yang diyakininya merupakan senyumnya yang paling manis. "Katakan apakah keperluanmu itu?! Membunuh orang?! Jangan khawatir, aku Lelawa Ijo akan memenggal kepalanya! Siapa yang tak kenal dengan Lelawa Ijo, gembong penjahat yang merajai hutan-hutan yang ada di Jawa Barat?!"

Meski di lubuk hatinya melecehkan, Putri Tunjung Kuning ukir senyum yang menawan. Sedangkan di sebelahnya, Abilowo bersikap tak peduli. Dia sibuk mainkan rambutnya. Anak lelaki ini mempunyai watak aneh. Dia tak akan turun tangan, bila belum diperintahkan oleh ibunya.

"Aku pun pernah dengar. Namamu menggetarkan rimba persilatan. Tapi, sepengetahuanku, tempatmu cukup jauh dari sini. Atau..., jangan-jangan kau adalah orang yang memalsu sebagai Lelawa Ijo yang amat terkenal itu?!" Putri Tunjung Kuning ajukan pancingan.

Paras wajah Lelawa Ijo mengelam. Tapi, hanya sebentar, lalu kembali cerah. Malah, dia umbar tawa terkekeh.

"Bidadariku.... Kalau saja ucapan itu keluar bukan dari mulutmu yang berbentuk bagus itu, saat ini juga pemiliknya telah menjadi bangkai! Merupakan pantangan besar bagi Lelawa Ijo untuk dicurigai. Tapi, Kau merupakan kekecualian. Bahkan, kau pun akan mendapatkan jawaban bagi keherananmu itu," Lelawa Ijo terdiam sebentar seperti tengah berpikir, sebelum buka mulutnya kembali untuk bicara. "Memang tempat tinggalku jauh dari sini. Tapi, perlu kau ketahui itu memang kusengaja. Aku tengah dalam perjalanan untuk menjadi raja di raja rimba persilatan. Oleh karena itu aku melakukan perjalanan ke Lembah Supit Urang untuk mengikuti pertemuan tokoh-tokoh persilatan."

"Ahhh...!" Putri Tunjung Kuning pura-pura terkejut. "Jadi..., berita tentang pertemuan di Lembah Supit Urang itu bukan hanya isapan jempol belaka?!"

"Tentu saja bukan!" tandas Lelawa Ijo, mantap. "Kalau tidak, untuk apa aku bercapai lelah meninggalkan tempat kediamanku yang nyaman?"

"Begitukah?!" Putri Tunjung Kuning sunggingkan senyum sinis. Parasnya pun berubah bengis. "Sayangnya, perjalananmu sia-sia, Binatang! Kau akan terkapar tanpa makam di tempat ini!"

Perubahan sikap gadis berpakaian kuning itu membuat Lelawa Ijo terkejut. Dialihkan pandangannya pada dua anak buahnya. Mereka pun angkat bahu dengan sorot mata bingung.

"Bidadariku.... Apa maksud ucapanmu?! Aku masih belum mengerti! Atau.... kau tengah mengajakku bercanda sebelum bercumbu?!" Lelawa Ijo ajukan pertanyaan untuk mendapatkan kepastian.

"Binatang bermulut kotor!" hardik Putri Tunjung Kuning, bengis. "Orang sepertimu, dan juga gerombolanmu memang harus dilenyapkan dari muka bumi! Kalau tidak, hanya akan menimbulkan borok-borok di dunia ini!"

"Keparat! Perempuan sundal! Rupanya kau lebih suka diperlakukan kasar, heh?!" Lelawa Ijo tak kalah keras berteriak. Amarahnya bangkit dan tak terkendali, melihat sikap dan ucapan Putri Tunjung Kuning tetap kasar. "Semula, aku akan menggaulimu dengan baik-baik! Tapi sekarang, kau akan kuperkosa sampai mati! Dengar! Sampai mati!"

Sekujur tubuh Putri Tunjung Kuning menggigil keras. Tapi, bukan karena takut, melainkan marah besar. Ancaman Lelawa Ijo mengingatkannya akan perlakuan yang diterimanya dari Malaikat Berdarah Biru.

"Binatang bermulut kotor! Ambrol dadamu...!" teriak Putri Tunjung Kuning seraya melompat ke depan dan hantamkan kedua tangannya. Saat itu juga berlarik-larik sinar kuning melesat ke arah Lelawa Ijo.

Lelawa Ijo segera sadar kalau gadis berpakaian kuning itu bukan orang sembarangan. Dia pun lompat dari punggung kudanya pula, dan pukulkan kedua tangan untuk memapak serangan. Laki-laki bercambang lebat ini tak segansegan lagi kerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Bummm!

Ledakan dahsyat membahana ketika dua pukulan jarak jauh itu bertemu di udara. Tempat itu berguncang. Debu mengepul tinggi ke udara. Dua anak buah Lelawa Ijo yang berada di tempat itu terjengkang dan terguling seraya keluarkan keluhan tertahan.

Putri Tunjung Kuning dan Lelawa Ijo terjengkang ke belakang. Gadis berpakaian kuning itu salurkan hawa murni ke dada untuk mengurangi rasa nyeri yang mendera. Di lain pihak, Lelawa Ijo hanya merasakan nyeri pada kedua tangannya.

Putri Tunjung Kuning  sadar kalau nama besar Lelawa Ijo bukan hanya berita burung. Laki-laki berpakaian hitam itu benar-benar tangguh. Gadis ini segera takupkan kedua tangan sejajar dada, seraya memejamkan mata. Putri Tunjung Kuning hendak mengirimkan serangan andalan.

Tapi, sebelum gadis berpakaian kuning ini melancarkan serangan, Abilowo telah lompat ke depan dan langsung kirimkan pukulan bertubitubi ke arah dada dan leher Lelawa Ijo! Angin keras telah menggebrak mendahului sebelum serangan itu sendiri tiba di sasaran.

"Gila! Serangan anak yang masih netek pada ibunya ini kiranya jauh lebih dahsyat!" Lelawa Ijo membatin dengan sepasang mata membeliak besar karena keterkejutan yang melanda.

Plakkk!

Dua tinju beradu keras di udara ketika Lelawa Ijo pukulkan kedua tangan untuk menangkis. Lelaki bercambang bauk lebat ini terhuyunghuyung ke belakang seraya kernyitkan dahi. Seringai kesakitan menghias wajahnya, ketika merasakan ngilu dan nyeri mendera kedua tangannya yang baru saja berbenturan. Di lain pihak, Abilowo sama sekali tak bergeming.

"Setan belang! Ini anak manusia atau anak jin?! Tenaga dalamnya sangat kuat. Pula, dia sepertinya tak merasa sakit akibat benturan itu. Padahal, tanganku ngilu dan nyeri-nyeri. Malah, dadaku pun terasa sesak! Gila! Bagaimana mungkin, anak kecil mampu mempunyai tenaga dalam demikian kuat?!" kata hati Lelawa Ijo, seraya cabut golok yang terselip di pinggang kanannya. Sebatang golok yang mempunyai gagang berbentuk kelelawar hijau. Dan, karena goloknya itulah pemiliknya memperkenalkan diri dengan nama Lelawa Ijo!

Lelawa Ijo bolang-balingkan goloknya di depan dada. Gerakannya cepat bukan main, sehingga bentuk senjatanya lenyap. Yang terlihat hanya kelebatan sinar yang menyilaukan mata dalam bentuk tak jelas. Lalu, dengan diawali teriakan menggeledek, lelaki bercambang bauk lebat ini menerjang maju.

Sing, sing, sing...!

Bunyi yang menyakitkan telinga dan membuat giris hati mengiringi meluncurnya golok yang kelihatan tajam mengkilap itu ke arah Abilowo. Tapi, anak lelaki itu sama sekali tak bergeming dari tempatnya. Bahkan mengerjapkan mata pun tidak!

"Mampuslah kau, Anak Setan!" Lelawa Ijo membatin penuh rasa gembira di dalam hatinya. Sudah terbayang di benaknya kalau Abilowo akan menggelepar di tanah dengan darah berhamburan keluar.

Cras, cras, crasss!

Bertubi-tubi golok berhulu kelelawar hijau itu menghantam sekujur tubuh Abilowo. Tapi, si bocah tak bergeming sedikit pun. Lelawa Ijo dan bahkan rekan-rekannya hampir tak percaya akan apa yang mereka saksikan. Abilowo sama sekali tak terluka. Tak ada kulit yang terobek, atau darah yang mengalir.

"Iblisss...!" desis Lelawa Ijo seraya mundurmundur tanpa mampu menyembunyikan keterkejutannya. Sepasang matanya yang membeliak besar memperlihatkan ketidakpercayaan akan apa yang disaksikannya.

Di depan Lelawa Ijo, Abilowo komat-kamit. Kedua tangannya dikepalkan, lalu dihentakkan seraya memutar tubuh.

Wuttt! Wuttt!

Lelawa Ijo menjerit keras, kaget campur ngeri karena dari dorongan tangan Abilowo menyembur gelombang dahsyat berhawa panas menyengat! Lelaki ini berusaha sedapat mungkin untuk mengelak. Tapi, terlambat. Pukulan jarak jauh putra tidak sah Malaikat Berdarah Biru itu telah lebih dulu menghantamnya. Di kejap lain tubuh Lelawa Ijo terjengkang jauh ke belakang. Dari mulut, hidung, dan telinganya mengucur darah segar. Lelaki ini tewas seketika itu juga dengan kulit tubuh hangus!

Dua orang anak buah Lelawa Ijo terkejut ketika melihat kejadian yang menimpa pemimpin mereka. Seperti telah disepakati sebelumnya, keduanya membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu.

Tapi, baru beberapa tindak, sesosok bayangan kuning berkelebat mendahului. Ayunan kaki dua orang bertampang sangar ini pun terhenti. Paras mereka pucat, bagaikan tak berdarah, ketika melihat keberadaan Putri Tunjung Kuning yang menghadang.

"Sudah kukatakan tadi..., orang semacam kalian tak pantas dibiarkan berlama-lama hidup di dunia," dengus gadis berpakaian kuning itu. Lalu, melesat ke arah anak buah Lelawa Ijo.

Dua lelaki bertampang seram ini tak mau menyerahkan nyawa begitu saja. Golok yang terselip di pinggang, segera dicabut. Tapi, sebelum sempat digunakan, Putri Tunjung Kuning telah lebih dulu menyarangkan serangan. Kaki gadis berpakaian kuning ini menendang leher keduanya. Masing-masing sekali, namun telah cukup untuk mengirim nyawa mereka ke akhirat saat itu juga.

Putri Tunjung Kuning tersenyum penuh rasa puas. Kemudian pandangannya dialihkan pada Abilowo.

"Abilowo.... Aku yakin pencarian kita tak akan sia-sia lagi. Malaikat Berdarah Biru akan kita temukan di Lembah Supit Urang. Mari kita bergegas, biar tak ketinggalan...!" Putri Tunjung Kuning berkata sambil melompat ke arah punggung kudanya.

Tanpa banyak cakap, Abilowo mengikuti tindakannya. Beberapa jurus kemudian, ibu dan anak ini telah memacu kudanya meninggalkan tempat itu. Arah yang mereka tuju sudah jelas, Lembah Supit Urang!

ENAM

ALAM telah larut. Sinar sang Dewi Malam yang lemah hanya mampu membuat keadaan di persada remang-remang. Dalam suasana seperti itu, sesosok bayangan berkelebat. Gerakannya cepat bukan main, sehingga yang terlihat hanya sekilas bayangan dalam bentuk yang tak Jelas. Kecepatannya tak mengendur kendati melalui kerimbunan semak-semak dan pepohonan yang lebat.

Ketika berada di hamparan tanah luas yang ditumbuhi rumput-rumput setinggi mata kaki, si bayangan terlihat cukup jelas. Ternyata dia adalah seorang pemuda bertubuh tegap. Sinar matanya tajam. Rambutnya panjang sebahu dan dibiarkan menjuntai. Wajahnya tampan. Mengenakan pakaian warna putih. Di pakaian bagian dada tampak sekuntum bunga berwarna hitam.

Si pemuda mengarahkan pandangan ke depan. Tapi, yang terlihat hanya kegelapan. Hitam pekat.

"Bandar Lor masih cukup jauh. Hm.   Ra-

sanya aku sudah tak sabar lagi untuk segera sampai dan memberitahukan semuanya pada guru. Aku yakin, dengan adanya guru, kekuatan akan jadi lebih besar. Mudah-mudahan saja beliau ada karena banyak lawan tangguh yang harus kuhadapi. Terutama sekali Malaikat Berdarah Biru. Bangsat itu memiliki kepandaian luar biasa!" pemuda berpakaian putih membatin seraya mengusap peluh yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. Kemudian, dia melesat kembali.

Pemuda berpakaian putih berlari tanpa henti. Kelihatan tergesa-gesa sekali. Tak diperhatikannya malam yang menginjak dini hari. Bias kemerahan pun mulai muncul di ufuk timur. Suasana mulai terang. Seraya mengayunkan kaki, hatinya berkata.

"Mudah-mudahan saja guru tidak pergi ke mana-mana. Kalau tidak sia-sia saja usahaku. Susah-payah dan capai lelah kutempuh untuk menuju ke Bandar Lor, untuk memberitahukan masalah penting ini."

Selagi pemuda berpakaian putih itu berlari, tiba-tiba telinganya mendengar bunyi berderak. Dialihkan pandangannya ke asal suara. Dan hatinya tercekat ketika melihat sebatang pohon besar yang berada di sebelah kirinya tumbang ke arahnya.

"Keparat! Rupanya ada manusia usilan yang sudah tak sabar ingin menemui malaikat maut?!" dengus si pemuda di dalam hatinya, seraya hentakkan tangan kanannya. Di kejap lain, segundukan angin keras menggebrak.

Blarrr!

Batang pohon yang besarnya sekitar dua pelukan orang dewasa itu hancur berantakan ketika terhantam pukulan jarak jauh pemuda berpakaian putih. Serpihannya berpentalan ke sana kemari, tak tentu arah.

Sesosok bayangan berkelebat tanpa mempedulikan debu-debu hancuran pohon yang masih menutupi pandangan. Pemuda berpakaian putih tak berani ambil risiko. Dia hentakkan kedua tangannya menyambuti.

Wusss!

Serangkum angin keras menggebrak! Sosok yang belum terlihat jelas oleh si pemuda sentakkan tangan, memapak!

Blarrr!

Terdengar ledakan dahsyat ketika dua pukulan bertenaga dalam tinggi itu berbenturan di tengah jalan. Sekitar tempat itu bergetar. Bahkan tanah terbongkar dan membubung ke udara menambah pekatnya pemandangan.

Tubuh si pemuda terjengkang ke belakang dengan tangan terasa ngilu dan dada sesak. Sang penyerangnya pun terhuyung-huyung ke belakang.

"Gila! Siapa gerangan bangsat usilan ini?! Tenaga dalamnya kuat sekali!" maki pemuda berpakaian putih dalam hati, seraya patahkan daya yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung. Dia segera mengatur napas untuk berjaga-jaga terhadap serangan susulan lawannya yang misterius.

Meski debu-debu tanah dan kotoran serpihan pepohonan masih menghalangi pandangan si pemuda, tapi bisa dilihatnya kalau sang penyerang itu menggerak-gerakkan kedua tangannya. Pemuda berpakaian putih kertakkan gigi. Bersiap siaga.

Tapi, kewaspadaannya terlalu berlebihan. Si penyerang itu ternyata bukan melancarkan serangan, melainkan mengusir debu yang menghalangi pandangan. Di kejap lain, kedua belah pihak telah dapat melihat satu sama lainnya.

"Guru...!" seru pemuda berpakaian putih, kaget bercampur gembira.

Sosok yang dipanggil guru ternyata adalah seorang perempuan yang tingginya tak lebih dari setengah tombak. Kulit wajahnya tak jelas warnanya karena tertutup oleh bedak putih tebal. Bibirnya tebal sebelah atas dan berwarna merah menyala. Rambutnya panjang mencapai punggung, namun bagian samping dan atas dipotong begitu pendek.

"Pandu.... Hendak ke mana kau?" Perempuan bertubuh pendek ajukan tanya.

"Tua bangka dungu! Seharusnya kau sudah bisa menduga ke mana tujuanku. Bukankah tempat ini telah dekat dengan Bandar Lor?!" Si pemuda yang ternyata adalah Pandu alias Gembong Raja Muda membatin. Lalu, dia buka mulut. "Tentu saja hendak ke Bandar Lor, Guru.

Aku mempunyai berita yang amat penting!"

Si perempuan bertubuh pendek yang bukan lain dari Bawuk Raga Ginting, keluarkan tawa mengekeh panjang.

"Berita penting yang bagaimana, Pandu?!

Menyenangkan atau menyedihkan?!"

"Tentu saja menyenangkan. Guru!" tandas Gembong Raja Muda, yakin.

"Apakah tentang Pendekar Mata Keranjang?! Kau telah berhasil membunuhnya?!"

Wajah si pemuda langsung berubah merah padam. Rahangnya menggembung, dan pelipisnya bergerak-gerak. Dia tatap gurunya sejenak sebelum gelengkan kepala.

"Bukan, Guru. Aku belum berhasil membunuh pemuda keparat itu! Tapi, aku yakin kali ini akan berhasil! Gurunya pun akan kuhabisi pula!"

Bawuk Raga Ginting tertawa bergelak hing-

ga bedak tebal di wajahnya rontok. Dalam hati dia berkata.

"Keinginan anak ini untuk membunuh Pendekar Mata Keranjang ternyata tak kunjung pudar."

"Aku senang mendengar tekadmu, Pandu. Tapi, mengapa kau yakin kalau kali ini usahamu untuk membunuh Pendekar Mata Keranjang akan berhasil!?" perempuan pendek itu ajukan tanya.

"Tua bangka tak tahu diri! Kalau saja kau tak menyelak ceritaku, kau tak perlu bercapai lelah untuk bertanya, karena saat ini mungkin kau telah mengerti!" rutuk Gembong Raja Muda dalam hati. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata.

"Itu ada hubungannya dengan berita penting yang ingin kusampaikan padamu, Guru. Kau tahu, di Lembah Supit Urang, pada malam bulan purnama nanti akan ada pertemuan tokoh-tokoh hitam untuk menyusun kekuatan guna menghancurkan Pendekar 108 dan tokoh-tokoh putih lainnya. Di tempat itu pula akan ditentukan siapa yang akan menjadi raja di raja rimba persilatan!"

"Benarkah apa yang dikatakan bocah ini? Kalau benar, pertemuan ini benar-benar tak boleh kulewatkan. Apabila berhasil menjadi raja di raja rimba persilatan, akan lebih mudah bagiku untuk membalas sakit hati. Hm.... Aku yakin kedatangan bocah ini kemari untuk membuat kedudukannya lebih kuat. Dia pasti membutuhkan bantuanku!" pikir Bawuk Raga Ginting, lalu angkat bicara.

"Kau yakin berita itu bukan hanya sekadar kabar burung belaka?! Apakah kau tahu siapa yang menjadi penggerak pertemuan itu?!"

"Iblis Gelang Kematian, Guru!"

"Iblis Gelang Kematian?!" ulang Bawuk Raga Ginting seraya kernyitkan dahi. Di dalam hatinya dia berpikir. "Kalau tua bangka itu yang mencetuskan pertemuan ini, berarti bukan hal yang remeh lagi. Tapi, aku yakin dia mempunyai maksud lainnya? Bukan tak mungkin dia akan mengambil kedudukan tertinggi dengan cara yang licik!"

"Benar, Guru. Dan, seorang tokoh yang berjuluk Malaikat Berdarah Biru, telah menyanggupi untuk datang di pertemuan itu. Dia memiliki kepandaian tinggi. Guru. Malah, aku yakin lebih tinggi daripadaku. Kalau Iblis Gelang Kematian tak segera muncul, mungkin aku celaka." Kemudian secara singkat tapi jelas, Gembong Raja Muda menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Bawuk Raga Ginting sendiri mendengarkannya secara sambil lalu, seperti orang yang kurang tertarik. Padahal, dia menyimak dengan penuh minat, dan membatin di dalam hati.

"Kalau benar apa yang dikatakan Pandu, berarti Malaikat Berdarah Biru merupakan lawan yang luar biasa berat. Benarkah dia tak bisa dilukai?!"

"Lalu..., apa maksud kedatanganmu menemuiku?!" Bawuk Raga Ginting berpura-pura tak mengerti. Hal ini membuat Gembong Raja Muda merasa geram.

"Bangsat tua! Aku tahu kau berpura-pura! Kalau saja tak benar-benar membutuhkan bantuan, kau sudah kutinggal pergi! Tapi, apa boleh buat!" Setelah berpikir demikian, dengan suara agak dikeraskan, Gembong Raja Muda berikan penjelasan.

"Aku menemuimu untuk mengajakmu pergi ke sana, Guru. Dengan berdua, kedudukan kita akan menjadi lebih kuat, dan bukan tak mungkin gelar raja di raja rimba persilatan akan dapat kita genggam!"

Bawuk Raga Ginting tertawa bergelak. Mulutnya membuka lebar, sehingga lagi-lagi bedak tebal yang menghias wajahnya rontok. Tapi, perempuan pendek ini tak mempedulikannya. Gembong Raja Muda sendiri, setelah melihat gurunya tertawa, ikut tertawa. Tapi tawanya langsung putus seperti direnggut hantu, ketika sang Guru hentikan tawa secara tiba-tiba, dan menatapnya dengan sorot penuh teguran.

Selebar wajah si pemuda mengelam karena rasa tak senang yang mendera. Dia mengutuk si perempuan pendek itu dalam hati.

"Tua bangka keparat! Kau yang lebih dulu tertawa. Tapi, begitu kudukung tawamu kau malah tutup mulutmu! Kelak, akan kututup mulutmu selamanya!"

"Cita-citamu memang bagus. Keinginanmu tak berlebihan. Tapi, kau harus ingat, Pandu. Yang mempunyai keinginan untuk menjadi raja di raja rimba persilatan bukan hanya kau! Semua tokoh persilatan pun memimpikannya. Dan mereka, pasti akan mempergunakan segala macam cara untuk bisa menggenggam dunia persilatan. Jadi, bukan hanya kekuatan saja yang penting. Tapi, juga otak. Itu yang harus kau ingat, Pandu!" beri tahu Bawuk Raga Ginting panjang lebar.

"Aku sudah memperhitungkan hal itu. Guru! Dan, aku yakin akan bisa menjadi raja di raja rimba persilatan dalam pertemuan di Lembah Supit Urang!" tandas Gembong Raja Muda, yakin. Padahal di dalam hatinya, pemuda ini tercekat. "Tua bangka cerewet! Kau pikir aku anak kecil yang tak mengerti apa-apa?! Tapi, sarannya itu memang masuk akal. Aku harus lebih hati-hati."

"Kalau begitu, tunggu apa lagi, Pandu?! Mari kita ke Supit Urang, dan menetapkan diri menjadi raja di raja rimba persilatan!" kata Bawuk Raga Ginting seraya melesat mendahului diikuti oleh Gembong Raja Muda di belakangnya.

TUJUH

SANG mentari baru saja kembali ke peraduannya. Bias sinarnya yang berwarna kemerahan masih tampak menerangi langit bagian barat. Tapi, secara perlahan-lahan bias-bias itu meredup dan lenyap sama sekali. Kini gelap telah membungkus bumi. Namun, tak lama kemudian, sang Dewi Malam muncul di angkasa. Bentuknya bulat sempurna! Bulan purnama! Kemunculan sang Dewi Malam ini membuat keadaan di persada agak remang-remang.

Saat suasana demikian, tampak berkelebatan beberapa sosok dari berbagai arah menuju ke satu tempat. Sebagian besar sosok itu melesat berbarengan. Berdua. Tapi, ada juga yang berkelebat sendirian.

Sementara itu di tanah lapang luas yang terhampar di Lembah Supit Urang, berdiri dua sosok. Padahal, biasanya tempat yang kering dan gersang itu sepi seakan-akan mati! Hampir tak pernah ada orang yang singgah ke situ.

"Guru! Mereka telah berdatangan...! Apakah kau yakin semua rencana berjalan seperti yang kita harapkan?!" tanya salah satu dari dua sosok hampir berbisik, nadanya khawatir.

Dia adalah seorang berwajah tampan, berdagu kokoh, dan bermata tajam, serta bertubuh tinggi tegap. Rambutnya lebat dan panjang sebahu. Terlihat gagah. Dan, kegagahannya semakin menonjol karena dia mengenakan jubah besar berwarna hitam bergaris-garis putih.

"Manding! Kau tak usah cemas! Tenanglah! Jangan sampai mereka curiga! Aku yakin rencana ini akan berjalan lancar. Dan, kau akan menjadi raja di raja rimba persilatan! Sekarang, jangan banyak ribut. Tutup saja mulutmu!" sahut sosok yang dipanggil guru, bernada yakin.

Sosok itu adalah seorang nenek berambut putih panjang hingga ke betis. Dia mengenakan pakaian atas berupa baju panjang dari sutera berwarna hitam. Bawahannya hitam berkembangkembang putih. Sepasang matanya besar. Hidungnya mancung. Bibirnya merah tanpa polesan. Pada kedua tangannya melingkar beberapa gelang berwarna kuning.

Pemuda berjubah hitam bergaris putih yang dipanggil Manding, bernama lengkap Manding Jayalodra alias Penyair Berdarah ini terdiam. Tapi, dia sempatkan diri untuk mengerling ke arah sang Guru yang berdiri di sebelahnya. Yang dikerling, dan bukan lain adalah Iblis Gelang Kematian, tetap arahkan pandangan ke depan. Nenek ini tak tahu kalau Penyair Berdarah memakimaki di dalam hatinya.

"Setan alas! Tua bangka sialan! Kelak, bila cita-citaku kesampaian, dan kau masih berani bicara seperti itu, kurobek mulutmu!"

Tapi, pemuda ini terpaksa arahkan tatapan ke depan yang merupakan jalan satu-satunya yang paling mudah untuk menuju Lembah Supit Urang. Dilihatnya beberapa titik hitam di kejauhan. Dan, di kejap lain, Penyair Berdarah telah dapat melihat secara jelas orangnya.

"Dewa Maut...!" sebut Penyair Berdarah dalam hati ketika mengenali salah seorang di antaranya.

"Tapi, siapa perempuan cantik yang bersamanya itu?!"

"Dewa Maut dan Dewi Tengkorak Hitam...!" Iblis Gelang Kematian membatin. Memang berbeda dengan Manding Jayalodra, nenek ini telah pernah berjumpa dengan Dewi Tengkorak Hitam. Sejurus kemudian, Dewa Maut dan Dewi Tengkorak Hitam telah berjarak beberapa tombak dari Iblis Gelang Kematian dan Penyair Berdarah yang berdiri bersebelahan. Dewa Maut sendiri, menghentikan ayunan kakinya ketika telah berjarak beberapa langkah dari Penyair Berdarah dan Iblis Gelang Kematian. Dewi Tengkorak Hitam ikut-ikutan hentikan lari.

"Selamat datang, Dewa Maut, Dewi Tengkorak Hitam," sambut Iblis Gelang Kematian dengan sunggingkan senyum seraya menatap pendatangpendatang baru itu bergantian sebelum akhirnya dihentikan pada Dewa Maut. "Dewa Maut! Ternyata kau benar-benar bukan seorang pengecut!"

Dewa Maut menyeringai. Tatapannya ditujukan pada Iblis Gelang Kematian. Tak sedikit pun dia menoleh pada Penyair Berdarah. Kemudian sambil berkacak pinggang, dia berkata.

"Iblis Gelang Kematian! Dewa Maut bukan seorang pengecut! Malah, Dewa Maut yang akan menjadi raja di raja rimba persilatan! Kau dan semua tokoh-tokoh persilatan lainnya akan menjadi laskarku! Ha ha ha...!"

"Kau mimpi, Dewa Maut!" Penyair Berdarah yang menyambuti ucapan Dewa Maut. Pemuda ini memang sudah merasa geram bukan main ketika Dewa Maut tak mempedulikannya.

Dewa Maut dongakkan kepala seraya lepas tawa berderai, tanpa menoleh sedikit pun pada Penyair Berdarah!

"Dewa Maut tak mau bicara dengan seorang pengecut!" "Setan!" maki Penyair Berdarah seraya ayunkan kaki dua tindak. Pemuda ini kelihatan marah besar. Rahangnya menggembung, dan dia tatap Dewa Maut dengan mata membeliak besar. Dan nada suaranya penuh ancaman ketika berbicara dengan suara yang lebih keras. "Siapa yang kau katakan pengecut itu?!"

"Siapa lagi kalau bukan kau?!" tandas Dewa Maut, tak kalah keras bicara, tanpa merasa takut sedikit pun. "Beberapa waktu lalu sewaktu kuajukan tantangan, kau janjikan pertemuan hari ini di sini! Tapi, apa yang kutemui?! Kau ditemani oleh tua bangka ini! Rupanya kau takut bertarung menghadapiku sendirian! Kau ingin mengeroyokku?!"

"Jahanam!" Suara Penyair Berdarah semakin keras. Rahangnya pun menggembung semakin besar. Tampak kalau Pemuda berjubah hitam bergaris putih ini hampir tak kuasa menahan amarahnya. "Di sini memang aku berdua. Tapi, tengok dirimu! Kau pun tak datang sendirian! Aku curiga, jangan-jangan kau yang mempunyai niat untuk mengeroyokku!"

"Tutup mulutmu! Dewa Maut bukan pengecut! Orang yang bersamaku ini adalah kekasihku! Dan, dia tak akan ikut campur urusan kita!"

"Begitu pula aku!" Penyair Berdarah tak mau kalah. "Orang yang berada di sebelahku ini adalah guruku! Dan, beliau tak akan mau tahu urusanku denganmu! Jadi, aku bukan pengecut seperti dugaanmu!"

"Setan! Kalau begitu, kita selesaikan urusan ini sekarang!" Dewa Maut ajukan tantangan. "Baik!" sambut Penyair Berdarah tak mau

kalah. "Kita selesaikan saat ini juga!"

"Dewiku.... Cepat menjauh dari sini...!" beri tahu Dewa Maut, pada Dewi Tengkorak Hitam. Yang diperintahkan, buru-buru menghindar. Tapi, baru beberapa langkah terdengar bentakan keras.

"Tahan!"

Dewa Maut dan Penyair Berdarah arahkan pandangan pada si pemilik bentakan. Orang itu adalah Iblis Gelang Kematian.

"Dewa Maut! Sekarang bukan saatnya untuk bertarung. Aku tahu, kau hendak mengunjukkan kesaktianmu! Tapi, apa artinya bila dilakukan sekarang?! Menang atau kalah pun tak ada yang menyaksikan! Kalau kau mau lebih bersabar sebentar, pertarungan ini akan disaksikan oleh banyak mata! Bagaimana?!"

Dewa Maut tatap Iblis Gelang Kematian lekat-lekat seraya kernyitkan dahi. Pemuda ini berpikir.

"Apa yang dikatakan tua bangka bau tanah ini memang tak keliru! Tak ada salahnya kalau aku menunggu sebentar lagi. Akan lebih nikmat rasanya kemenangan yang kugapai, bila banyak mata yang menyaksikan! Tapi, tantangan telah kuajukan. Dan, Penyair Berdarah keparat itu telah menerima. Kalau sekarang kubatalkan, pemuda itu akan mengira aku takut padanya! Ini akan membuatnya besar kepala!"

"Iblis Gelang Kematian! Tantangan telah kuajukan! Dan muridmu telah menerima, bila aku mundur, sama artinya dengan mengaku takut!" Dewa Maut keluarkan ganjalan hatinya.

Penyair Berdarah buka mulut. Tapi, sebelum ucapan keluar dari mulutnya, Iblis Gelang Kematian telah lebih dulu membentaknya.

"Manding! Hentikan kekonyolanmu! Atau..., kau ingin kulempar dari sini?!"

Penyair Berdarah katupkan mulutnya kembali. Paras wajahnya mengelam, memperlihatkan kemarahan. Tapi, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, kendati di dalam hati pemuda itu telah bertumpuk makian yang menuntut dikeluarkan.

Di lain pihak, Iblis Gelang Kematian bagai tak tahu pergolakan yang ada di batin Manding Jayalodra. Perempuan tua ini menatap muridnya tajam-tajam, kemudian berdesis menyeramkan.

"Berikan jawaban yang benar terhadap tantangan Dewa Maut, Manding!"

Penyair Berdarah mendengus untuk sekadar melampiaskan gejolak amarah yang mendera. Kemudian, dengan suara dan sikap kaku, Pemuda berjubah hitam bergaris putih ini angkat bicara.

"Sebenarnya aku ingin menghadapimu sekarang, Dewa Maut. Tapi sayang, aku lebih suka bertarung dengan disaksikan banyak orang. Tantanganmu kuterima, tapi bila tokoh-tokoh persilatan lainnya telah hadir pula."

Iblis Gelang Kematian sunggingkan senyum. Dewa Maut dongakkan kepala dan keluarkan tawa bergelak. Sementara Penyair Berdarah hanya dapat memaki-maki di dalam hati. Mengutuki Dewa Maut dan juga Iblis Gelang Kematian!

* * *

Gelak tawa Dewa Maut terhenti, ketika terdengar dengusan keras. Dengusan yang menurut patutnya tak tercipta oleh seorang manusia! Tapi, hebatnya gelak tawa Dewa Maut tertindih. Rasa kaget yang mendera, membuat Dewa Maut menghentikan tawanya.

Pada saat yang bersamaan dengan lenyapnya tawa Dewa Maut, Dewi Tengkorak Hitam, Penyair Berdarah, dan Iblis Gelang Kematian arahkan sepasang mata ke arah asal dengusan. Dewa Maut merupakan orang terakhir yang bertindak demikian.

Dari sebelah kanan Iblis Gelang Kematian melesat sesosok bayangan biru. Sejurus kemudian, setelah berjarak tujuh tindak di sebelah kanan Iblis Gelang Kematian dan sebelah kiri Dewa Maut, sosok itu hentikan lesatannya.

Dia adalah seorang kakek bertubuh tinggi kurus mengenakan jubah besar warna biru gelap. Sepasang matanya besar dan masuk ke dalam cekungan rongga yang menjorok dalam. Bibirnya sangat tebal. Sebaliknya, kulit wajahnya amat tipis hampir tak kelihatan. Di atas kepalanya bertengger sebuah caping lebar dari kulit berwarna hitam yang bagian atasnya dibuat terbuka, sehingga rambutnya yang jarang dan jabrik mencuat ke atas. Anehnya, meski terlihat berdiri tegak, namun telapak kakinya tak menjejak tanah!

"Manusia Titisan Dewa.... Kukira kau tak datang," ejek Iblis Gelang Kematian.

"Iblis Gelang Kematian! Urusan di antara kita belum selesai, bagaimana mungkin kubiarkan kau hidup tenang?!" sergah kakek berpakaian biru yang bukan lain dari Manusia Titisan Dewa. Kemudian palingkan wajahnya pada Dewa Maut. "Kau juga telah datang, Anak Muda?! Rupanya kau sudah tak sabar lagi untuk mati muda!"

"Tutup mulutmu, Tua Bangka!" Dewa Maut memaki. "Aku Dewa Maut! Kau dengar?! Panggil aku Dewa Maut!"

Paras Manusia Titisan Dewa mengelam mendengar bentakan itu. Dia merasa tersinggung. Dan perasaan itu langsung dilontarkan lewat mulutnya.

"Anak Muda! Kau tak usah mengajariku cara menyapa seseorang!"

"Keparat!" Dewa Maut kertakkan gigi. "Sebentar lagi, mau tak mau kau akan menerima pengajaranku, Tua Bangka!"

Manusia Titisan Dewa buka mulut untuk memberikan sambutan. Tapi, dibatalkannya karena mendengar suara tawa keras menggelegar. Beberapa jurus kemudian, melesat sesosok bayangan merah. Hampir tanpa ada perbedaan waktu, melesat beberapa sosok bayangan lainnya. Hanya dalam sekejapan, setelah kedatangan Manusia Titisan Dewa, enam sosok telah berada di tempat itu! Iblis Gelang Kematian, Penyair Berdarah, Dewa Maut, Dewi Tengkorak Hitam, dan Manusia Titisan Dewa arahkan tatapan pada para pendatang baru.

Sosok pertama adalah seorang pemuda berwajah tampan namun keras karena rahangnya yang kokoh membatu. Rambutnya panjang lebat dan dibiarkan tergerai di bahunya. Di telinga kirinya tampak anting-anting dari tembaga. Sedangkan tubuhnya yang tinggi tegap dibungkus oleh jubah toga warna merah menyala!

Sosok kedua adalah seorang pemuda yang juga berwajah tampan. Tubuhnya pun tinggi tegap. Pandangannya tajam. Dagunya kokoh. Dia mengenakan pakaian putih dengan bunga hitam di dada. Pemuda ini saling tatap penuh sorot mata permusuhan dengan pemuda bertoga warna merah.

"Malaikat Berdarah Biru...!" Pemuda berpakaian putih membatin. "Tak lama lagi akan kubalaskan kekalahanku tempo hari. Kau akan kukirim ke neraka! Kalau tidak, aku tak akan puas!" Sebaliknya pemuda bertoga merah yang memang Malaikat Berdarah Biru adanya, berkata

pula di dalam hatinya.

"Gembong Raja Muda. Tempo hari kau berhasil lolos dari tangan mautku! Tapi, jangan harap kali ini keberuntunganmu akan terulang!"

Kedua pemuda ini hanya saling kerling sebentar. Kemudian, edarkan tatapan untuk perhatikan tokoh-tokoh yang berada di sekitar mereka. Sedangkan Iblis Gelang Kematian dan yang lainlainnya, masih memperhatikan para pendatang baru.

Orang ketiga adalah seorang perempuan bertubuh pendek, tak lebih dari setengah tombak. Kaki dan tangannya mungil. Rambutnya panjang sepunggung, namun bagian samping dan atas dipotong pendek. Wajahnya sukar dikenali karena tertutup oleh bedak putih yang tebal. Perempuan ini berdiri di sebelah kanan Gembong Raja Muda, karena dia adalah guru pemuda berpakaian putih itu. Bawuk Raga Ginting!

Orang keempat adalah seorang kakek bertubuh kurus kering. Itu terlihat jelas karena dia tak mengenakan baju. Rambut dan kumisnya yang panjang serta awut-awutan, berwarna putih! Di sebelah kakek   bertelanjang   dada ini, berdiri seorang perempuan cantik berpakaian gelap. Dia mengenakan pakaian yang pada bagian dadanya dibuat rendah, sehingga bukit-bukit

payudaranya terlihat jelas.

Sedangkan orang keenam adalah seorang kakek berkepala botak bertubuh bongkok. Demikian bongkoknya hingga wajahnya tak terlihat. Yang dapat terlihat langsung oleh orang adalah bagian atas kepalanya. Gundul! Dia mengenakan pakaian kumal dan penuh tambalan.

DELAPAN

KURASA sekarang saatnya untuk mulai menentukan siapa yang berhak untuk menyandang gelar sebagai raja di raja rimba persilatan!" Yang memecahkan keheningan itu adalah Iblis Gelang Kematian, karena memang perempuan tua ini yang mempunyai usul. Iblis Gelang Kematian pula yang sibuk mengundang tokoh-tokoh persilatan agar datang ke Lembah Supit Urang.

"Iblis Gelang Kematian! Bagaimana caranya menentukan siapa yang berhak menjadi raja di raja rimba persilatan, dengan sekian banyaknya kita?!" Kakek bertelanjang dada ajukan tanya seraya kernyitkan dahi.

"Benar, Iblis Gelang Kematian!" Manusia Titisan Dewa Ikut-ikutan buka suara. "Apakah setiap orang yang berada di sini, harus bertarung menghadapi semuanya?!"

Iblis Gelang Kematian arahkan pandangan pada kakek bertelanjang dada dan Manusia Titisan Dewa sebentar. Kemudian, alihkan pandangannya pada setiap orang yang berada di situ. Dengan tertawa pelan dia berkata.

"Dadung Rantak! Manusia Titisan Dewa! Kurasa tidak perlu setiap orang menghadapi semua orang yang berada di sini! Cara itu terlalu bodoh, karena akan memakan waktu yang lama! Mungkin tak perlu kuberitahukan panjang lebar pun, kalian semua telah mengerti! Kalau setiap orang harus bertarung dengan semua orang yang berada di sini, berarti setiap orang akan bertarung puluhan kali! Kapan akan berakhir?!"

Kakek bertelanjang dada yang ternyata adalah Dadung Rantak, dan Manusia Titisan Dewa keluarkan dengus tak senang mendengar uraian Iblis Gelang Kematian yang membodohbodohkan mereka. Tapi, kedua kakek ini tak buka suara. Mereka bisa menyadari kebenaran ucapan Iblis Gelang Kematian.

"Aku punya cara yang kuyakini tepat," Iblis Gelang Kematian lanjutkan ucapan. "Tapi, aku memberikan kesempatan pada kalian semua untuk mengajukan usul. Barangkali saja ada saran yang lebih tepat, sekalipun kuyakini tak akan ada yang lebih tepat daripada cara yang akan kuterapkan!"

"Aku punya usul bagus!" seru Malaikat Berdarah Biru lantang seraya busungkan dada.

Berpasang-pasang mata tertuju pada pemuda bertoga merah. Mereka ingin tahu, usul Malaikat Berdarah Biru.

"Itukah orang yang kau puji-puji itu?!" tanya Bawuk Raga Ginting dengan suara berbisik seraya arahkan tatapan pada Gembong Raja Muda. Yang ditanya anggukkan kepala dengan rahang menggembung dan tangan mengepal.

"Malaikat Berdarah Biru! Silakan utarakan usulmu!" Iblis Gelang Kematian berikan kesempatan.

Sebagian tokoh-tokoh persilatan yang belum mengenal siapa adanya pemuda bertoga merah itu, terperanjat ketika mendengar sapaan Iblis Gelang Kematian. Terutama sekali Dewa-Maut.

"Malaikat Berdarah Biru! Hm.... Jadi, ini orangnya yang semula memegang kipas hitam. Sungguh kebetulan sekali, hingga aku bisa mengetahui sampai di mana tingkat kepandaiannya!" Dewa Maut membatin dengan pandangan tertuju pada Malaikat Berdarah Biru.

"Sebelum kukatakan usulku yang amat bagus dan tepat ini, lebih dulu kuajukan tanya," ujar Malaikat Berdarah Biru seraya dongakkan kepala. "Dan, pertanyaanku ini harus terjawab."

"Tergantung pada siapa kau bertanya!" timpal Gembong Raja Muda, cepat dan keras. "Bila kau tujukan padaku, yang akan kau terima adalah tinjuku!"

Malaikat Berdarah Biru tertawa terbahakbahak mendengar ucapan Gembong Raja Muda. Dia usap-usap dadanya sambil berkata. Nada dan sikapnya pongah.

"Rupanya kau masih belum kapok, Gembong! Ingat baik-baik! Kalau saja tidak muncul Iblis Gelang Kematian, nyawamu telah kukirim ke akhirat! Tapi, tak mengapa. Toh, sebentar lagi kau akan tewas di tanganku!"

"Binatang! Kau yang akan menggeletak tanpa nyawa di tanganku, Malaikat Berdarah Biru!" sambut Gembong Raja Muda tak mau kalah. "Pendekar Mata Keranjang memang terlalu bodoh, sehingga tak mampu mengirimmu ke lubang kubur. Tapi, aku tak sebodoh Pendekar Mata Keranjang!"

"Kau memang tak sebodoh Pendekar Mata Keranjang! Tapi, kerbau yang paling goblok masih lebih cerdik dari padamu!" sentak Malaikat Berdarah Biru.

"Keparat!" "Cukup!" Iblis Gelang Kematian buru-buru menengahi keadaan yang mulai memanas itu. "Kapan penentuan raja di raja rimba persilatan akan dilaksanakan kalau kalian ribut-ribut melulu! Malaikat Berdarah Biru cepat katakan apa yang ingin kau tanyakan!"

"Tua bangka keparat! Kau akan mendapat ganjaran yang setimpal karena berani mencegah Malaikat Berdarah Biru! Kau akan kubuat bernasib seperti Gembong Raja Muda!" ancam Malaikat Berdarah Biru dalam hati sambil menatap perempuan tua itu tajam-tajam, sebelum akhirnya buka mulut.

"Aku hanya ingin tahu, apakah setiap orang yang berada di sini ikut bertarung?!"

Iblis Gelang Kematian ikut edarkan pandangan berkeliling ketika melihat Malaikat Berdarah Biru tatap satu persatu tokoh-tokoh yang berada di situ. Tapi, tak ada seorang pun yang memberikan jawaban.

"Keparat! Binatang-binatang sombong ini akan menerima akibat tingkah mereka yang berani meremehkan Malaikat Berdarah Biru!" Pemuda bertoga merah itu membatin dengan rahang menggembung. Kemudian, dengan suara bergetar karena dorongan amarah, dia keluarkan seruan menggelegar.

"Kalian semua boleh diam! Hanya saja, kalau tak ingin kuanggap pengecut, yang ingin ikut memperebutkan gelar raja di raja rimba persilatan, buka suara! Atau, aku yang akan mengangkat diriku sendiri sebagai raja di raja rimba persilatan, karena kalian semua adalah pengecutpengecut yang hanya besar mulut tapi kecil hati!"

"Tutup mulutmu, Malaikat Berdarah Biru!" Dewa Maut yang lebih dulu memberikan sambutan dengan sepasang tangan terkacak di pinggang. "Dewa Maut bukan seorang pengecut! Dan, akan kau saksikan sendiri nanti kalau Dewa Maut-lah yang akan menjadi raja di raja rimba persilatan!"

"Omong kosong!" Gembong Raja Muda tak mau kalah. "Akulah yang akan menjadi pemimpin kalian semua! Dengar baik-baik! Gembong Raja Muda-lah yang akan menjadi raja di raja rimba persilatan!" tulang bicara memang mudah karena lidah tak ber-

tapi membuktikan ucapan itu yang sukar karena untuk menggapainya butuh keringat dan darah

Penyair Berdarah yang tak mau kalah gertak segera lantunkan tembang seraya dongakkan kepala dan busungkan dada. Dan, setelah usai menembang, dia pentang bacot.

"Kalian semua keliru! Aku, Penyair Berdarah, yang akan menjadi raja di raja rimba persilatan!"

"Orang-orang muda!" Manusia Titisan Dewa ikut keluarkan ucapan. "Kalian semua adalah pengkhayal-pengkhayal yang luar biasa! Masih bau susu kalian sudah bercita-cita seperti itu! Akulah yang akan menjadi raja di raja rimba persilatan! Aku! Manusia Titisan Dewa!"

Berturut-turut, malah hampir berebut, masing-masing tokoh menyombongkan diri. Malaikat Berdarah Biru menghitung jumlah mereka. Delapan, karena Dewi Tengkorak Hitam, kakek bongkok, dan perempuan berpakaian gelap di sebelah Dadung Rantak yang bukan lain dari Ratu Pulau Merah, tak ajukan diri.

"Aku telah terlalu tua untuk menjadi pemimpin. Bagiku, siapa pun yang akan menjadi orang nomor satu aku tak peduli. Aku hanya akan turun tangan apabila kalian berniat untuk menyerang Setan Arak. Si peminum arak itu telah membunuh muridku. Dan, aku tak akan bisa meram bila belum dapat membalaskan kematiannya," Kakek bongkok ajukan alasan.

"Kebetulan sekali!" Malaikat Berdarah Biru lontarkan seruan gembira. "Jumlah kita tepat. Empat tokoh tua dan empat tokoh muda. Jadi, dalam waktu bersamaan, dapat dilangsungkan semua pertarungan. Pemenang dari masingmasing pertarungan akan berlaga. Sedangkan yang kalah tak mempunyai kesempatan untuk bertarung kembali!"

"Malaikat Berdarah Biru! Itu caraku! Kau mencurinya!" seru Iblis Gelang Kematian, keras.

"Iblis Gelang Kematian! Kau memang licik! Kau tak keluarkan usul, tapi begitu kulontarkan usul yang bagus, kau akui sebagai usulmu! Bagaimana, caraku bagus dan tepat bukan?!"

Tak ada seorang pun yang anggukkan kepala. Tapi, di batin masing-masing menyeruak perkataan.

"Malaikat Berdarah Biru sungguh cerdik! Usul yang diajukannya benar-benar tepat. Dengan mempertarungkan tokoh-tokoh yang menang, di akhir pertarungan, hanya akan ada satu orang pemenang. Dan, dia yang akan bergelar sebagai raja di raja rimba persilatan!"

"Tunggu sebentar...!" seru Manusia Titisan Dewa, buru-buru karena khawatir pertarungan lebih dulu berlangsung. Dia arahkan tatapannya pada Iblis Gelang Kematian. "Bagaimana menentukan tokoh-tokoh yang harus bertarung?! Maksudku..., siapa yang akan menentukannya?!"

"Mengapa mesti repot-repot?!" tukas Malaikat Berdarah Biru dengan sunggingan senyum mengejek menghias bibir. "Serang saja siapa yang kau inginkan!"

"Tentu saja, Bocah! Dan kupilih Iblis Gelang Kematian!" tandas Manusia Titisan Dewa dengan tulang wajah bergerak-gerak karena rasukan hawa kemarahan yang melanda. Sepasang matanya pun membeliak besar. "Iblis Gelang Kematian! Sekali lagi katakan di mana adanya Sakawuni, muridku!" (Untuk jelasnya mengenai nasib Sakawuni dan keributan antara Manusia Titisan Dewa dan Iblis Gelang Kematian silakan baca episode : "Tembang Maut Alam Kematian" dan "Laskar Dewa").

Iblis Gelang Kematian keluarkan tawa terkekeh. Dan, dengan tawa yang belum putus, nenek ini keluarkan ucapan. "Manusia Titisan Dewa. Kau tak usah khawatir. Bukankah sudah kukatakan kalau urusan muridmu akan kita bicarakan setelah pertemuan di Supit Urang?! Nah, dengar baik-baik! Sakawuni memang ada padaku. Tapi, kau tak perlu khawatir, setelah urusan ini selesai dan aku menjadi raja di raja rimba persilatan, muridmu akan kuserahkan!"

"Iblis Gelang Kematian! Jika itu yang kau inginkan, kuterima!" hardik Manusia Titisan Dewa. Bersamaan dengan itu, sepasang tangannya direntangkan, lalu dihentakkan ke depan.

Wuuuttt!

Tak ada suara yang terdengar atau pun sambaran angin yang terlihat. Tapi, mendadak udara panas menyengat, dan Iblis Gelang Kematian terasa terdorong ke belakang.

Iblis Gelang Kematian tak membiarkan tubuhnya terseret lebih jauh. Buru-buru kemudian dihantamkan kedua tangannya ke arah Manusia Titisan Dewa.

Wusss!

Angin dahsyat meluruk dari kedua tangan Iblis Gelang Kematian.

Blaaarrr!

Pertemuan dua pukulan jarak jauh itu membuat sekitar tempat itu bergetar keras bak diguncang gempa. Tubuh Iblis Gelang Kematian dan Manusia Titisan Dewa sama-sama terhuyung-huyung ke belakang. Hanya saja Iblis Gelang Kematian terhuyung dua langkah lebih jauh. Dadanya pun dirasakan sesak. Iblis Gelang Kematian menyadari akan keunggulan lawannya. Maka, begitu berhasil menguasai diri, dikibaskan kedua tangannya. Seketika itu pula, dua buah gelang di tangannya meluncur ke arah Manusia Titisan Dewa.

Manusia Titisan Dewa tak mau kalah gertak. Begitu melihat meluncurnya dua cahaya kekuningan ke arahnya, dia segera tahu kalau Iblis Gelang Kematian telah menggunakan senjata andalan. Oleh karena itu, kakek ini hentakkan kedua tangannya untuk memukul jatuh gelanggelang lawannya. Seketika itu pula, seberkas sinar pelangi menggebrak ke depan.

Tapi, Manusia Titisan Dewa kecelik. Gelang-gelang itu bagaikan makhluk hidup. Sebelum tersambar angin pukulannya, benda-benda melingkar berwarna kekuningan itu meliuk. Di lain kejap kembali meluncur ke arah Manusia Titisan Dewa, seraya perdengarkan bunyi menggidikkan!

Manusia Titisan Dewa perdengarkan keluhan kaget, kemudian lempar tubuh ke samping untuk menghindar. Tapi, gelang-gelang yang tak ubahnya makhluk hidup itu terus memburunya. Malah, jumlahnya semakin bertambah ketika Iblis Gelang Kematian, kembali kibaskan sepasang tangannya, melontarkan gelang-gelang lain di pergelangan tangannya,

Sementara itu, pada saat yang bersamaan dengan serangan perdana Manusia Titisan Dewa, tokoh-tokoh yang berkeinginan untuk menjadi raja di raja rimba persilatan, telah saling gebrak. Gembong Raja Muda segera menerjang Malaikat Berdarah Biru. Dewa Maut tak punya pilihan lain kecuali bertarung dengan Penyair Berdarah. Begitu pula dengan Dadung Rantak. Kakek bertelanjang dada ini mau tak mau harus berhadapan dengan Bawuk Raga Ginting.

SEMBILAN

PERGILAH menghadap malaikat maut, Malaikat Berdarah Biru!" teriak Gembong Raja Muda seraya kirimkan jotosan dengan kedua tangannya. Angin dahsyat yang memekakkan telinga keluar dari kedua tangannya dan meluruk ke arah Malaikat Berdarah Biru.

Tapi Malaikat Berdarah Biru yang telah mengetahui kalau dirinya kebal pukulan, tak membuat gerakan menangkis atau menghindar. Gembong Raja Muda tak merasa heran melihat tingkah lawannya. Pemuda berpakaian putih ini telah tahu kalau Malaikat Berdarah Biru kebal pukulan. Namun, rasa penasaran yang mendera membuatnya berkeinginan untuk memastikannya sekali lagi.

Desss!

Tak terdengar jeritan kesakitan dari mulut Malaikat Berdarah Biru ketika pukulan itu menghajarnya. Bahkan keluhan pun, tidak! Hanya saja, tubuhnya terpental beberapa tombak ke belakang. Tapi, pemuda bertoga merah itu mampu menjejak tanah dengan kedua kaki! Malaikat Berdarah Biru tatap lawannya dengan kepala didongakkan!

"Setan alas! Pemuda ini ternyata benarbenar kebal pukulan! Tak ada jalan lain, aku harus gunakan jurus Sapu Bumi. Apakah dia akan sanggup menahannya pula?!" Gembong Raja Muda membatin, setelah yakin kalau Malaikat Berdarah Biru benar-benar kebal pukulan.

"Gembong! Aku sengaja memberikan kau kesempatan untuk menyerang, agar nanti kau tak mati penasaran! Setidak-tidaknya, rohmu akan tenteram karena telah berhasil menyarangkan serangan, dan membuatku terlempar! Ha ha ha...!"

Mendadak Malaikat Berdarah Biru hentikan tawanya. Begitu tiba-tiba bagaikan direnggut hantu. Kemudian dia tatap Gembong Raja Muda tajam-tajam. Bibirnya sunggingkan senyum penuh ejekan. Kemudian, dia melesat menerjang Gembong Raja Muda. Pemuda berpakaian putih itu menyambutinya. Pertarungan pun berlangsung. Tak kalah seru dengan pertarungan antara Iblis Gelang Kematian menghadapi Manusia Titisan Dewa.

Tak jauh dari tempat itu, Dewa Maut dan Penyair Berdarah telah saling labrak pula. Begitupun Dadung Rantak dan Bawuk Raga Ginting. Tempat yang semula sunyi senyap jadi riuh rendah! Kakek bongkok, Dewi Tengkorak Hitam, dan Ratu Pulau Merah menyingkir lebih jauh agar lolos dari serangan nyasar! Pandangan tiga orang ini beralih dari satu pertarungan ke pertarungan lain.

"Gembong! Bersiaplah untuk menghadap malaikat maut!" seru Malaikat Berdarah Biru, ketika pertarungan telah berlangsung belasan jurus. Pemuda bertoga merah dorongkan kedua tangannya ke depan, lancarkan serangan dengan jurus 'Bayu Sukma'!

Wuttt!

Sinar hitam melesat dengan keluarkan bunyi gaduh. Keadaan di sekitar tempat itu mendadak pekat dan berhawa panas menyengat. Beberapa kilatan menakutkan, tampak!

Gembong Raja Muda menyadari akan adanya bahaya maut. Sejurus sebelum sinar hitam dan kilatan-kilatan itu bersarang di tubuhnya, disentakkan kedua tangannya, memapak. Di saat yang sama, pemuda berpakaian putih ini melompat ke samping untuk menghindar!

Di kejap lain terdengar bunyi keras menggelegar! Sekitar tempat itu berguncang keras. Tanah terbongkar dan berhamburan sehingga menambah pekatnya pemandangan. Pada saat yang bersamaan, tubuh Gembong Raja Muda melayang dan terbanting keras di tanah. Sedangkan, Malaikat Berdarah Biru hanya bergoyang-goyang tubuhnya, tapi kakinya tak tergeser sama sekali!

Malaikat Berdarah Biru perdengarkan tawa bergelak bernada kemenangan. Dadanya dibusungkan ketika kakinya diayunkan menghampiri Gembong Raja Muda. Di lain pihak, Gembong Raja Muda bergegas bangkit sambil usap darah yang keluar dari mulutnya.

"Gembong! Saat untuk menemui malaikat maut telah tiba! Bersiaplah!" seru Malaikat Berdarah Biru di sela-sela tawa bergelaknya. Pemuda bertoga merah ini angkat tangan kanannya untuk lancarkan serangan. Malaikat Berdarah Biru sengaja melakukannya lambat-lambat untuk menyiksa perasaan Gembong Raja Muda.

Paras wajah Gembong Raja Muda pucat pasi. Bulu tengkuknya berdiri. Dia tahu kalau, saat-saat akhir bagi hidupnya akan segera tiba. Kendati demikian, pemuda ini masih alirkan hawa murni ke seluruh tubuhnya yang terasa panas. Jantung Gembong Raja Muda berdetak jauh lebih cepat dari pada sebelumnya, karena perasaan tegang menyadari usahanya mengusir pengaruh akibat serangan Malaikat Berdarah Biru, tak akan tuntas karena serangan Malaikat Berdarah Biru pasti akan lebih dulu menerpanya!

Di saat tangan Malaikat Berdarah Biru telah terangkat tinggi-tinggi, Gembong Raja Muda buka mulut.

"Malaikat Berdarah Biru! Tahan serangan!" seru Gembong Raja Muda, tanpa malu-malu lagi, karena masih ingin hidup.

Malaikat Berdarah Biru menatap Gembong Raja Muda dengan sorot mata dingin. Tangan kanannya tetap terangkat tinggi-tinggi. Bahaya maut masih mengancam pemuda berpakaian putih itu.

"Malaikat Berdarah Biru!" Gembong Raja Muda lanjutkan ucapannya. "Hanya para pengecut hina saja yang mau melukai, apalagi membunuh lawan yang tak berdaya! Dan, aku yakin kau bukan terhitung pengecut! Tapi, kalau kau memang tergolong pengecut, silakan lukai atau bunuh aku!"

Air muka Malaikat Berdarah Biru mengelam. Sorot pembunuhan kembali terpancar pada sepasang matanya. Rahangnya pun menggembung keras. Kedua tangannya yang terangkat bergetar keras. Ucapan Gembong Raja Muda yang bernada penekanan membuatnya marah besar. Tapi, diusahakannya untuk menanggulangi rasukan amarah itu. Kemudian Malaikat Berdarah Biru berpikir, mencari kata-kata yang tepat untuk memancing amarah Gembong Raja Muda, agar dia mempunyai alasan untuk membunuhnya!

"Gembong! Kau memang licik! Kau gunakan kata-kata itu untuk menyelamatkan diri!" teriak pemuda bertoga merah dengan suara bergetar karena menahan kemarahan. "Tapi, setelah kupikir-pikir, orang seperti kau tak ada harganya! Membunuh manusia sepertimu hanya akan membuang-buang tenagaku saja! Pula, orang sepertimu mampu berbuat apa terhadapku! Jangankan hanya seorang, sekalipun ada seratus pun, tak ada artinya! Gembong! Lebih baik kau ganti julukanmu! Tak pantas kau pergunakan julukan Gembong Raja Muda, seharusnya Gembong Kantong Nasi! Menyingkirlah, Gembong Kantong Nasi! Ha ha ha...!"

Wajah Gembong Raja Muda membesi. Dia marah besar karena hinaan Malaikat Berdarah Biru yang telah melampaui batas. Tapi, dia sadar tak akan mampu berbuat apa pun terhadap pemuda bertoga merah yang memiliki kepandaian mukjizat itu. Maka, setelah melempar tatapan yang sarat dengan kebencian, dia balikkan tubuh dan menyingkir dari tempat itu. Tawa bergelak Malaikat Berdarah Biru mengiringi ayunan langkah Gembong Raja Muda.

SEPULUH

HIH!" Seruan keras itu keluar dari mulut Manusia Titisan Dewa. Kakek ini sejak puluhan jurus yang lalu, memang telah dibuat kelabakan oleh serangan-serangan gelang yang tak ubahnya makhluk hidup itu. Dan sekarang, dia berdiri tegak dengan kedua tangan menakup di depan dada!

Hampir berbareng dengan seruan kerasnya, Manusia Titisan Dewa julurkan kedua tangan ke depan. Iblis Gelang Kematian beliakkan sepasang matanya, kaget karena gelang-gelang yang semula meluncur dari segenap arah menuju berbagai bagian tubuh Manusia Titisan Dewa kini berbelok. Semuanya menuju ke arah tangan si kakek!

Belum sempat keterkejutan Iblis Gelang Kematian sirna, Manusia Titisan Dewa telah kibaskan tangan. Di lain kejap, benda-benda kuning itu meluncur ke arah Iblis Gelang Kematian! Hampir tanpa selisih waktu, Manusia Titisan Dewa melompat menerjang lawannya. Hal ini membuat Iblis Gelang Kematian terperanjat. Dia tahu akan berbahayanya serangan beruntun ini. Maka, Iblis Gelang Kematian berusaha sedapat mungkin untuk mengelakkan serangan beruntun itu. Tapi, nenek ini kalah cepat. Serangan gelanggelang memang berhasil dielakkannya. Tapi, gedoran Manusia Titisan Dewa tetap mendarat di dada kirinya!

Desss!

Tubuh Iblis Gelang Kematian terpental dan jatuh terguling-guling! Cairan merah kental mengalir dari sudut mulut perempuan tua itu. Dia terluka dalam!

Belum sempat Iblis Gelang Kematian berdiri tegak, Manusia Titisan Dewa berkelebat dan berhenti beberapa kaki di depannya.

"Iblis Gelang Kematian! Kuberi kau kesempatan sekali lagi! Bila kau tak memanfaatkannya, aku tak segan-segan untuk mengambil nyawamu!" dengus Manusia Titisan Dewa, penuh ancaman.

"Manusia Titisan Dewa keparat! Tak lama lagi kau akan tahu siapa yang menjadi pihak yang menekan!" batin Iblis Gelang Kematian. Lalu, dia terkekeh pelan. "Manusia Titisan Dewa! Kali ini kau menang. Tapi, itu tak berarti kalau kau bisa menekanku!"

"Jangan kau tunggu kesabaranku habis!

Katakan di mana adanya Sakawuni!"

Iblis Gelang Kematian benar-benar berhati tabah. Meski Manusia Titisan Dewa telah marah besar, dan tak main-main dengan ancamannya, dia tetap mampu bersikap tenang. Malah, perempuan tua ini masih sempat edarkan pandangan memperhatikan jalannya pertarungan antara Penyair Berdarah dan Dewa Maut. Lalu, dia berkata. "Sebelum pertarungan dimulai sudah kukatakan, jika urusan di Supit Urang ini selesai,

muridmu akan kuserahkan. Bukankah begitu?!" "Tidak salah!" tandas Manusia Titisan De-

wa. "Nah! Kalau begitu mengapa kau sekarang memaksaku menyerahkannya?! Urusan di Supit Urang belum selesai. Pertarungan masih berlangsung! Bagaimana mungkin muridmu bisa kuserahkan?!" tangkis Iblis Gelang Kematian, penuh nada menang.

Manusia Titisan Dewa terperangah. Diam. Tak bicara sepatah kata pun kendati di batinnya, menyeruak kata-kata.

"Iblis Gelang Kematian! Manusia licik! Kau telah berhasil menipuku! Kau membuatku tak bisa memaksamu! Tapi, tak apa! Tak lama lagi pun, urusan di Supit Urang ini akan beres!"

Seperti mendukung kata hati Manusia Titisan Dewa, terdengar pekik kesakitan, disusul dengan terjengkangnya tubuh Penyair Berdarah. Tapi, pemuda berjubah hitam garis-garis putih ini mampu berdiri, kendati agak terbungkuk. Dari sudut-sudut mulutnya, mengalir darah segar.

Dewa Maut tak menyia-nyiakan kesempatan itu, sambil berseru keras pemuda ini segera lompat memburu, siap jatuhkan serangan mematikan.

"Dewa Maut! Tahan! Muridku sudah ka-

lah...! Kau tak lebih dari seorang pengecut besar, jika lanjutkan seranganmu!" Iblis Gelang Kematian yang mengkhawatirkan keselamatan Penyair Berdarah, berteriak lantang.

Seruan Iblis Gelang Kematian berhasil menyelamatkan nyawa Penyair Berdarah yang telah kritis. Dewa Maut yang paling pantang dianggap pengecut, lentingkan tubuh ke belakang, berjumpalitan beberapa kali di udara sebelum akhirnya jejakkan kaki secara mantap, lalu berseru lantang dengan sorot mata menghunjam Iblis Gelang Kematian.

"Dewa Maut bukan seorang pengecut! Kalau memang muridmu mengaku kalah, akan kuampuni nyawanya! Toh, kepandaiannya tak mengecewakan untuk menjadi anak buahku!"

Penyair Berdarah kertakkan gigi. Sepasang matanya membeliak besar penuh kemarahan dan ditujukan pada Dewa Maut. Pemuda berjubah hitam garis-garis putih yang memiliki watak sombong dan tinggi hati ini tak bisa menerima kenyataan kalau dirinya dikalahkan oleh Dewa Maut! Mulutnya sudah membuka siap lontarkan katakata tantangan. Tapi, maksud itu diurungkannya. Penyair Berdarah katupkan kembali mulutnya tanpa keluarkan suara.

"Kau boleh senang-senang, Dewa Maut. Tapi, sebentar lagi kau akan tahu siapa yang menjadi pemimpin dan siapa yang menjadi anak buah!" kata hati Penyair Berdarah. Lalu, pemuda berjubah hitam garis-garis putih ini ayunkan kaki tinggalkan kancah pertarungan.

Baru saja Penyair Berdarah meninggalkan kancah pertarungan, terdengar teriakan kesakitan. Hampir tanpa selang waktu, Bawuk Raga Ginting terjengkang dan terguling-guling di tanah ketika telapak tangan Dadung Rantak menghajar dada kirinya secara telak!

Perempuan bertubuh pendek ini masih bersikeras bangkit. Tapi, ternyata tak mampu. Tubuhnya rebah kembali ke tanah, seraya semburkan darah.

Dadung Rantak tahu kalau Bawuk Raga Ginting tak akan sanggup melanjutkan pertarungan. Oleh karena itu, dia berdiam diri menunggu. Tapi, itu tak bisa lama dilakukannya. Malaikat Berdarah Biru telah lebih dulu menerjangnya! Di lain kejap, kedua tokoh ini terlibat dalam pertarungan sengit!

Bukan hanya Dadung Rantak yang terlibat pertarungan. Manusia Titisan Dewa pun demikian. Kakek ini diserang oleh Dewa Maut! Pertarungan sengit pun berlangsung! Bunyi gaduh menyemaraki jalannya pertarungan!

Tapi, hukum alam rupanya berlaku pada tokoh-tokoh yang bertarung itu. Rupanya sudah menjadi suratan kalau tokoh-tokoh tua harus tersingkir, terganti dengan tokoh-tokoh muda. Karena, baik Dadung Rantak maupun Manusia Titisan Dewa, terdesak oleh lawannya. Kendati demikian, tokoh-tokoh muda itu tetap mengalami kesulitan untuk merobohkan lawannya! Puluhan jurus berlalu. Dan, napas Dadung Rantak maupun Manusia Titisan Dewa telah menderu-deru karena pengerahan tenaga yang terlalu dipaksakan. Padahal, usia tua menjadi kendala. Otot-otot anggota-anggota tubuh lainnya tak seperkasa orang-orang yang mereka hadapi. Mendekati jurus ke seratus, hampir berbarengan, Dadung Rantak dan Manusia Titisan Dewa terjengkang ke belakang seraya semburkan darah segar dari mulutnya.

Setelah melayang-layang sejauh beberapa tombak, tubuh kedua tokoh itu terbanting keras di tanah. Kekerasan hati membuat mereka memaksakan diri untuk bangkit, tapi kemampuan mereka telah tak mendukung lagi. Baik Manusia Titisan Dewa maupun Dadung Rantak rebah kembali ke tanah. Malah keadaan Dadung Rantak lebih parah lagi. Kakek ini menggelepar-gelepar seperti binatang disembelih, kemudian diam tak bergerak untuk selamanya.

Hampir semua tokoh yang berada di situ terkejut melihat kematian Dadung Rantak! Hanya Ratu Pulau Merah, seorang yang meski kaget tapi bercampur gembira.

"Syukurlah tua bangka itu tewas! Dengan demikian aku terbebas dari ajakannya!" kata hati perempuan berpakaian gelap itu.

Lima pasang mata tokoh yang telah tersingkir dari kemungkinan untuk terpilih sebagai raja diraja rimba persilatan, tertuju pada dua sosok di kancah pertarungan. Malaikat Berdarah Biru dan Dewa Maut! Malaikat Berdarah Biru dan Dewa Maut tidak langsung saling gebrak. Kedua belah pihak saling tatap seperti hendak mengukur kekuatan lawan lewat sorot mata. Baik Malaikat Berdarah Biru maupun Dewa Maut hunjamkan tatapan seraya dongakkan dagu, mengunjukkan kesombongan dan kepercayaan diri yang kuat akan kemampuannya.

"Mampukah aku mengalahkan Malaikat Berdarah Biru?! Dia mempunyai ilmu mukjizat yang membuatnya tak bisa dibunuh atau dilukai! Tadi pun, beberapa kali kulihat dia terhantam serangan lawannya, tapi semua itu tak berpengaruh sama sekali," batin Dewa Maut.

Bukan hanya Dewa Maut saja yang merasa ragu dapat mengalahkan Malaikat Berdarah Biru. Malah, sebagian besar tokoh yang tersingkir dari arena pertarungan, menjagoi Malaikat Berdarah Biru. Mereka yakin pemuda bertoga merah itu akan keluar sebagai pemenang.

"Dewa Maut! Kau hanya akan melelahkan diri sendiri jika bertarung melawanku! Kurasa kau telah lihat sendiri kalau aku tak bisa dibunuh atau pun dilukai! Jadi, bagaimana mungkin kau akan bisa mengalahkanku? Lebih baik kau menyerah!"

"Malaikat Berdarah Biru! Dewa Maut tak suka berdebat! Tapi, akan kau buktikan sendiri kalau Dewa Maut-lah yang akan menjadi raja diraja rimba persilatan!" teriak Dewa Maut. Di lain kejap, dia menerjang ke depan dengan bacokan sisi tangan ke arah leher! Malaikat Berdarah Biru mendengus. Diangkat tangan kiri untuk mementahkan serangan Dewa Maut. Pada saat yang sama dikirimkannya jotosan tangan kanan ke arah dada.

Dukkk! Plakkk!

Dua benturan keras terdengar ketika Dewa Maut memapak serangan Malaikat Berdarah Biru dengan jari-jari tangan terkepal. Bentrok dua tinju itu hanya berselisih waktu sedikit saja dengan benturan yang terjadi akibat tangkisan Malaikat Berdarah Biru pada serangan Dewa Maut! Tubuh Dewa Maut dan Malaikat Berdarah Biru samasama terhuyung ke belakang. Seringai kesakitan menghias wajah masing-masing, karena rasa nyeri pada anggota tubuh yang berbenturan.

Tapi, dua tokoh ini, tak pedulikan rasa nyeri yang melanda. Malah, baik Malaikat Berdarah Biru mau pun Dewa Maut seperti saling berlomba untuk melancarkan serangan. Sekejap kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertarungan yang sengit!

Hanya dalam waktu sebentar, pertarungan telah berlangsung belasan jurus. Dan, selama itu jalannya pertarungan tetap berimbang. Belum terlihat adanya tanda-tanda pihak yang akan keluar sebagai pemenang, karena kelincahan dan kekuatan tenaga dalam mereka berimbang!

"Dewa Maut memang luar biasa! Kabar yang tersiar mengenai kesaktiannya tak berlebihan. Kalau tak mengandalkan kekebalanku, bukan tak mungkin bisa roboh di tangannya. Pula, kurasa sudah cukup menjajagi kepandaiannya. Dia harus merasakan kehebatan ilmu yang kumiliki! Kendati demikian, aku harus mempergunakan pada waktu yang tepat, sehingga tak bercapai lelah lagi untuk merobohkan Dewa Maut!" kata hati Malaikat Berdarah Biru, bersiasat.

Beberapa jurus kembali berlalu, tapi pemuda bertoga merah masih belum mempergunakan kemampuannya yang menakjubkan. Tindakan Malaikat Berdarah Biru ini membuat Dewa Maut heran.

"Mengapa Malaikat Berdarah Biru belum mempergunakan ilmunya yang mukjizat?! Aku harus hati-hati. Jangan-jangan dia tengah merencanakan sebuah siasat! Ataukah ada sesuatu tak terduga yang membuatnya mengalami kesulitan untuk melakukannya. Tapi, meskipun demikian, aku harus hati-hati," Dewa Maut membatin, tanpa mengendurkan serangannya. Bahkan, tekanan-tekanan yang dilancarkan terhadap lawannya semakin menjadi-jadi.

"Uh...!"

Malaikat Berdarah Biru mengeluh tertahan ketika sapuan kaki kanan Dewa Maut menghantam betisnya. Keras, hingga pemuda bertoga merah ini terpelanting. Melihat kesempatan baik ini, Dewa Maut tak menyia-nyiakannya. Dilihatnya sendiri, Malaikat Berdarah Biru menyeringai kesakitan ketika kakinya terkena serangannya.

"Tepat dugaanku! Ada sesuatu yang membuat pemuda ini tak bisa menggunakan ilmunya yang hebat itu! Aku harus cekatan agar tak membuang waktu lebih lama lagi untuk merobohkannya!" Dewa Maut membatin dalam hati. Lalu, tanpa berpikir lebih lama lagi, dia melesat menerjang Malaikat Berdarah Biru.

Wuttt!

Deru angin yang luar biasa keras mengiringi sampokan tangan Dewa Maut ke arah kepala Malaikat Berdarah Biru. Serangan maut! Karena, jangankan kepala manusia, batu karang yang paling keras pun akan pecah berantakan bila terkena hantaman tangan bertenaga dalam luar biasa kuat itu! Dan Dewa Maut yakin, serangannya ini akan berhasil mendarat di sasaran. Dilihatnya sendiri, saat itu Malaikat Berdarah Biru berada dalam kedudukan yang tak menguntungkan!

Beberapa jari sebelum telapak tangan Dewa Maut menghantam pelipis, Malaikat Berdarah Biru melayangkan tendangan ke arah perut. Dewa Maut terperangah. Dia tak menyangka kalau dalam keadaan seperti itu, pemuda bertoga merah mampu melancarkan serangan.

"Setan! Jangan-jangan semua ini sudah direncanakan oleh pemuda ini!" rutuk Dewa Maut, dalam hati. Kalau saja masih mempunyai kesempatan, Dewa Maut lebih suka membatalkan serangannya dan menghindari serangan. Jika, saat ini serangannya diurungkan pun percuma, karena serangan Malaikat Berdarah Biru tak akan mungkin bisa dielakkannya. Dewa Maut tak punya pilihan lagi kecuali menantikan hasil masing-masing serangan!

Plakkk! Bukkk!

Hampir berbareng tangan Dewa Maut dan kaki Malaikat Berdarah Biru bersarang pada sasaran yang dituju. Di kejap lain, tubuh masingmasing pihak terlontar. Namun, berkat kelihaian kedua tokoh sakti itu, mereka mampu menjejak tanah dengan kedua kaki.

Dewa Maut berusaha menegakkan tubuh. Tapi, tak mampu. Dia memang mampu berdiri, tapi dengan tubuh membungkuk. Perutnya terasa mual bukan main. Isi perutnya bagaikan diadukaduk. Dengan punggung tangan, diusapnya darah yang mengalir dari sela-sela bibirnya. Dewa Maut telah terluka dalam.

Di seberang sana, Malaikat Berdarah Biru berdiri tegak. Kepalanya didongakkan. Kedua tangannya terkacak di pinggang. Sorot sepasang matanya menghunjam pada Dewa Maut. Mulutnya menyunggingkan senyum kemenangan sekaligus seringai ejekan! Serangan Dewa Maut tak berpengaruh sedikit pun padanya, kendati telak menghantam!

Paras muka Dewa Maut pias melihat kekhawatirannya terbukti. Dia sadar tak akan mungkin menang menghadapi Malaikat Berdarah Biru. Pemuda ini hanya bisa menyumpah-nyumpah di dalam hati.

"Keparat! Mengapa aku demikian bodoh! Keparat licik itu pasti telah merencanakannya! Dia berhasil mengecohku! Mengapa aku bisa ditipu?! Bodoh! Aku kena dipancing!"

Malaikat Berdarah Biru ayunkan kaki menghampiri Dewa Maut. Pelan-pelan. Tidak tergesa-gesa, mengunjukkan orang yang telah yakin akan kemenangannya! Setiap langkah pemuda bertoga merah ini membuat detakan jantung Dewa Maut bertambah cepat.

SEBELAS

Di saat kritis bagi keselamatan Dewa Maut, berkelebat sesosok bayangan putih. Di kejap lain, Dewi Tengkorak Hitam telah berdiri tegak, membelakangi Dewa Maut.

"Malaikat Berdarah Biru! Dewa Maut telah kalah! Kaulah yang berhak menjadi raja di raja rimba persilatan!" teriak Dewi Tengkorak Hitam ketika Malaikat Berdarah Biru telah bersiap untuk menjatuhkan pukulan mautnya!

Terdengar bunyi gemeretak dari belakang Dewi Tengkorak Hitam. Bunyi itu berasal dari Dewa Maut. Dewa Maut tak sudi mengaku kalah. Pemuda berjubah hitam ini mempunyai harga diri tinggi. Dia lebih suka mati daripada mengaku kalah! Mulutnya telah membuka, siap lontarkan tantangan terhadap Malaikat Berdarah Biru. Padahal, Dewa Maut sudah tak berdaya! Tapi, Dewi Tengkorak Hitam, telah lebih dulu mendekatinya dan berbisik.

"Dewa Maut.... Waktu masih panjang. Saat ini mungkin maksudmu untuk menjadi raja di raja rimba persilatan tak kesampaian. Tapi, itu bukan berarti tak mungkin. Tak mengapa saat ini kau kalah, kelak kau bisa menebusnya setelah menemukan kelemahan ilmu iblisnya!"

Rahang Dewa Maut menggembung besar. Pelipisnya bergerak-gerak. Dia murka bukan main melihat sikap dan mendengar ucapan Dewi Tengkorak Hitam. Dia tak suka dinasihati. Makimakian telah siap terlontar dari mulutnya. Tapi, ketika kata-kata itu telah berada di ujung lidah, siap untuk dilontarkan, akal sehat Dewa Maut bekerja.

"Apa yang dikatakan Dewi Tengkorak Hitam memang masuk akal. Kalau saat ini aku berkeras untuk bertarung. Sudah pasti aku akan tewas di tangan si keparat Malaikat Berdarah Biru ini! Jika itu terjadi, dendam leluhurku tak akan tuntas! Biarlah kali ini aku mengalah!"

Dewa Maut memang mengalah. Tapi, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dengan wajah mengelam, dia mundur dari kancah pertarungan, diikuti oleh Dewi Tengkorak Hitam!

Malaikat Berdarah Biru edarkan pandangan ke sekitarnya, menatap satu persatu wajahwajah tokoh persilatan yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertarungan. Kemudian, kepalanya didongakkan seraya perdengarkan tawa berderai dengan kedua tangan terkacak di pinggang.

"Ha ha ha...! Sekarang, akulah raja di raja rimba persilatan! Aku pemimpin kalian! Dan, kalian tak akan kubuat kecewa! Di bawah pimpinanku, akan kita hancurkan tokoh-tokoh golongan putih! Terutama sekali Pendekar Mata Keranjang! Ha ha ha...!"

Malaikat Berdarah Biru tertawa keras. Tapi, secara mendadak tawanya terhenti seperti direnggut setan. Lalu dengan kedua tangan masih terkacak di pinggang, diedarkan pandangannya.

"Kalian semua! Dengarkan baik-baik ucapanku ini! Beberapa hari lagi, setelah keadaan kalian semua pulih seperti sedia kala, aku akan mulai membagi-bagi perintah. Kalian semua akan mendapat tugas dariku untuk menemukan orangorang yang kucari."

Malaikat Berdarah Biru hentikan ucapannya sejenak untuk melihat tanggapan tokohtokoh tingkat atas golongan hitam yang sekarang mau tidak mau telah menjadi anak buahnya. Tapi, sebagian besar dari mereka bersikap dingin. Hanya Iblis Gelang Kematian dan Penyair Berdarah yang kelihatan bersikap tenang. Meskipun begitu, Malaikat Berdarah Biru tak peduli. Baginya tak masalah, mereka senang atau tidak! Yang penting mereka melaksanakan perintahnya!

"Orang-orang yang kucari itu adalah Setan Arak, Dewi Bunga Iblis, dan Pendekar Mata Keranjang. Ketiga orang itu telah kutetapkan untuk menjadi calon korbanku! Sayang, aku belum dapat mengetahui di mana adanya mereka!"

Iblis Gelang Kematian kernyitkan dahi. Heran. Diam-diam di dalam hatinya, nenek ini berkata.

"Sepengetahuanku, Malaikat Berdarah Biru hanya mempunyai urusan dengan Pendekar Mata Keranjang. Karena Pendekar Mata Keranjanglah yang hampir menamatkan riwayatnya! Entah, apa silang sengketa pemuda ini dengan Setan Arak dan Dewi Bunga Iblis!"

Iblis Gelang Kematian bahkan juga semua tokoh di situ tak akan pernah tahu. Karena memang Malaikat Berdarah Biru tak mempunyai silang sengketa dengan Dewi Bunga Iblis serta Setan Arak. Orang yang menjadi guru pemuda bertoga merah itu yang mempunyai silang sengketa dengan Dewi Bunga Iblis serta Setan Arak (Untuk jelasnya, silakan baca episode : "Laskar Dewa").

"Malaikat Berdarah Biru!" Penyair Berdarah buka suara. Lantang.

Seketika, semua pasang mata terutama sekali milik Malaikat Berdarah Biru, tertuju pada Penyair Berdarah. Mereka semua merasakan adanya nada penentangan dalam ucapan pemuda berjubah hitam garis-garis putih itu. Dan, hal ini menimbulkan keheranan.

"Apa yang ingin dilakukan Penyair Berdarah?! Apakah dia sudah bosan hidup?! Sikap dan tindakannya akan memancing kemarahan Malaikat Berdarah Biru, dan berakibat nyawanya bisa lepas dari badan!" pikir semua tokoh, agak bingung.

Penyair Berdarah tak gugup kendati menjadi pusat perhatian. Dia tahu, orang yang berada di situ hendak mendengar kelanjutan ucapannya yang terputus di tengah jalan. Tapi, Penyair Berdarah malah berpura-pura tak tahu kalau ucapan lanjutannya tengah ditunggu-tunggu! Dia bersikap tak peduli. Malah arahkan perhatian pada gurunya!

Tapi kali ini Iblis Gelang Kematian tak bicara ataupun menghardiknya. Nenek ini malah senyum-senyum dan bersikap tak peduli, mengunjukkan sikap yang menyerahkan seluruh keputusan pada Penyair Berdarah.

Malaikat Berdarah Biru yang sudah merasa tersinggung dengan sikap yang ditunjukkan Penyair Berdarah, semakin meluap amarahnya melihat tingkah Penyair Berdarah. Dengan kedua tangan terkepal kencang, dan sepasang mata seperti menyinarkan api, dia berteriak. Suaranya keras menggelegar. Malah, sekitar tempat itu tergetar hebat seperti dilanda gempa.

"Penyair Berdarah! Kalau kau masih membisu, akan kubuat kau bisu selama-lamanya!" geram Malaikat Berdarah Biru.

Penyair Berdarah tertawa bergelak. Ancaman Malaikat Berdarah Biru yang terlihat bukan main-main itu ternyata tak membuatnya gentar! Bahkan, dengan berani pemuda berjubah hitam garis-garis putih ini menentang pandang mata Malaikat Berdarah Biru, seraya keluarkan ucapan keras dan lantang yang disertai dengan senyum sinis yang menghias mulutnya.

"Malaikat Berdarah Biru! Kau tak usah banyak lagak! Keberhasilanmu keluar sebagai pemenang tunggal dalam pertemuan ini hanya secara kebetulan saja! Nasib baik! Tapi, perlu kau ketahui. Itu tak berarti kau menjadi raja di raja rimba persilatan! Apalagi berani memerintahku untuk mencari orang yang kau inginkan! Kau mimpi terlalu jauh!"

"Keparat! Setan!   Penyair Berdarah!   Jelaskan maksud ucapanmu, atau kujadikan kau mayat tak berkubur!" Malaikat Berdarah Biru benar-benar hampir tak kuasa menahan kemarahannya lagi. Pelipisnya bergerak-gerak keras. Rahangnya menggembung karena amarah yang mendera. Dan, pemuda bertoga merah ini telah bertekad di hatinya.

"Apabila si keparat Penyair Berdarah masih mengajak berteka-teki lagi, akan kukirim nyawanya ke neraka!"

Penyair Berdarah tahu kalau Malaikat Berdarah Biru telah marah besar. Tapi, dia tetap tak peduli. Senyum sinis masih tersungging di bibirnya. Tapi, senyum itu langsung lenyap ketika terdengar teguran dari sebelahnya.

"Manding! Kau benar-benar bodoh! Tak tahu kapan tetap main, dan kapan harus berhenti! Cepat katakan yang ingin kau utarakan!" Iblis Gelang Kematian yang seperti mengetahui tekad Malaikat Berdarah Biru, membentak muridnya. Yang dibentak tampakkan paras tak senang. Bahkan memaki-maki, tapi hanya di dalam hati.

"Tua bangka sialan! Kesalahanmu telah bertumpuk-tumpuk! Kau perlakukan aku seperti sampah! Nyawa tuamu tak cukup untuk menutupi semua kesalahanmu terhadapku! Kau layak mati berkali-kali di tanganku!"

Dengan batin yang melontarkan sumpah serapah, mulut Manding Jayalondra keluarkan ucapan. Nadanya kaku, penuh rasa tak senang, dan menunjukkan keterpaksaan.

"Malaikat Berdarah Biru! Kau tak usah banyak tingkah! Karena nyawamu ada di tanganku! Bahkan bukan hanya kau! Tapi juga semua orang yang berada di sini!"

Iblis Gelang Kematian tertawa terkekehkekeh, ketika muridnya selesai berbicara dengan penuh tekanan untuk menguatkan maksud ucapannya. Dengan mulut sunggingkan seringai kemenangan, nenek ini angkat bicara.

"Manding! Calon-calon pengikut kita rupanya masih belum paham. Utarakan yang lebih jelas!"

Memang, semua tokoh persilatan yang ada di situ, tak menampakkan tanggapan yang diharapkan Iblis Gelang Kematian dan muridnya. Semula murid dan guru ini menyangka akan melihat keterkejutan dan kepanikan membayang di wajah tokoh-tokoh itu. Tapi, harapannya kandas. Wajah-wajah mereka tak beriak sama sekali! Tetap kaku! Malaikat Berdarah Biru sendiri, malah keluarkan tawa bergelak bernada mengejek. Pemuda bertoga merah yang sebelumnya telah marah besar, malah merasa geli mendengar ucapan Penyair Berdarah. Seakan-akan seorang dewasa yang mendapat ancaman dari anak kecil!

"Rupanya kau telah menjadi gila karena keinginan yang gagal, Penyair Berdarah!" dengus Malaikat Berdarah Biru di tengah-tengah gelak tawanya.

"Tutup mulutmu, Malaikat Berdarah Biru! Sekarang kau boleh menganggapku gila. Tapi, setelah kau dengar ucapanku, ingin kutahu apakah kau masih beranggapan demikian?!" "Bicaralah, Penyair Berdarah! Kau akan kuberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengeluarkan semua ganjalan di hatimu. Ini kulakukan karena kasihan padamu. Aku tahu, kau sangat menggilai kedudukan raja di raja rimba persilatan. Sayang, kemampuan yang kau miliki hanya sebatas mata kaki! Bicaralah! Mudahmudahan kau menjadi terhibur karenanya!"

Meski merasa tersinggung bukan main, tapi perasaan gembira yang melanda, membayangkan keterkejutan yang akan dialami oleh Malaikat Berdarah Biru, membuat Penyair Berdarah tetap mampu tersenyum. Senyum mengejek bernada kemenangan.

"Malaikat Berdarah Biru! Dan juga semua orang yang berada di sini! Dengar baik-baik! Kalian semua telah terkena racun yang amat ganas! Racun yang mematikan dan berdaya kerja cepat! Hanya dalam waktu tiga hari, bila tak mendapatkan pemunahnya, kalian semua akan mati!"

Suasana di tempat itu langsung hening ketika Penyair Berdarah menyelesaikan ucapannya. Andaikata, ada daun yang jatuh pun pasti akan terdengar, saking sunyinya suasana. Penyair Berdarah dan Iblis Gelang Kematian edarkan pandangan untuk meneliti wajah-wajah di sekitarnya. Mereka gembira ketika melihat keterkejutan yang membayang di sana. Pada masing-masing batin mereka bergayut pernyataan yang tak terlontarkan.

"Benarkah ucapan Penyair Berdarah?! Rasanya memang masuk akal, karena sejak tadi guru dan murid ini bersikap tenang, menunjukkan orang yang mempunyai andalan. Ataukah..., ini hanya gertakan belaka?!"

Malaikat Berdarah Biru-lah yang merupakan orang pertama yang memecahkan keheningan yang mencekik leher. Pemuda bertoga merah ini mendengus keras seraya perdengarkan tawa mengejek.

"Penyair Berdarah! Kau keliru besar bila mengira bisa menipuku dengan gertakan kosong itu! Malaikat Berdarah Biru tak bisa ditipu atau digertak! Kau dengar?! Sekarang, bersiaplah untuk menerima kematian, Penyair Berdarah! Kau telah terlalu banyak membuatku jengkel, dan aku tak akan puas sebelum berhasil mengirimmu ke akhirat!"

Malaikat Berdarah Biru langsung bersiap untuk membuktikan ucapannya. Tapi, terpaksa diurungkan ketika mendengar ucapan Penyair Berdarah yang bernada mengejek dan merendahkan.

"Rupanya kau takut mendengar ucapanku selanjutnya, Malaikat Berdarah Biru! Maka, kau buru-buru menyerangku, agar aku tak sempat bicara lagi!"

"Penyair Berdarah! Malaikat Berdarah Biru tak pernah takut pada siapa pun! Apalagi pada orang sepertimu! Bicaralah sampai kau merasa puas! Karena setelah itu kau tak akan pernah bisa bicara lagi untuk selama-lamanya!"

"Dengar baik-baik! Tadi, sewaktu terlibat pertarungan, aku dan guruku telah sebarkan serbuk yang amat beracun, tapi tidak berbau atau berwarna. Kalian semua telah menghirup serbuk itu tanpa kalian sadari! Perlu kalian ketahui, terutama sekali kau, Malaikat Berdarah Biru, racun yang terkandung dalam serbuk itu berbeda dengan racun lainnya, dan tak akan bisa dilenyapkan dengan penawar racun biasa."

Malaikat Berdarah Biru mendengus. Geram. Diam-diam di dalam hatinya, pemuda bertoga merah ini berkata. Perkataan yang sama terkandung dalam hati semua tokoh yang berada di situ.

"Benarkah apa yang dikatakan oleh Penyair Berdarah?!"

"Kalau kalian tak percaya," kali ini Iblis Gelang Kematian yang bicara. "Kalian bisa tunggu sebentar lagi. Aku yakin, racun itu akan menunjukkan akibatnya. Tanda-tanda pertama adalah rasa gatal yang amat sangat, mendera. Munculnya tanda-tanda ini tidak sama, tergantung kekuatan tenaga dalam orang yang keracunan itu! Semakin kuat tenaga dalamnya, semakin lambat timbulnya gatal itu."

Iblis Gelang Kematian hentikan penjelasannya sebentar. Kemudian edarkan pandangan berkeliling, untuk melihat tanggapan orang-orang yang diajaknya bicara. Tapi, tak satu pun yang buka mulut. Pandang mata mereka semua seperti tertuju pada mulut Iblis Gelang Kematian. Menunggu mulut itu membuka dan keluarkan ucapan.

"Rasa gatal itu tak tertahankan! Dan, terus-menerus terasa. Rasa itu bahkan mampu membuat seorang tokoh sakti seperti kehilangan kesaktiannya. Yang menjadi keinginan adalah agar gatal itu lenyap. Lewat satu hari, nyawa akan melayang!"

Seperti mendukung ucapan Iblis Gelang Kematian, terdengar keluhan tertahan. Seketika, semua pasang mata tertuju ke arah asal suara. Tampak Gembong Raja Muda meringis-ringis, kemudian menggeliat.

"Pandu! Hentikan kekonyolanmu sebelum kesabaranku hilang!" bentak Bawuk Raga Ginting, keras. Perempuan pendek ini memang tengah tak senang hati karena kegagalannya menjadi raja di raja rimba persilatan. Maka, tingkah muridnya membuatnya marah.

Tapi, yang diancam seperti tidak mendengar, dan tetap saja meneruskan tingkahnya. Meringis dan menggeliat. Malah, di kejap lain, bertambah dengan menggaruk. Mula-mula hanya tangan kiri yang digaruk. Sesaat kemudian, tangan yang digaruk ikut-ikutan menggaruk tangan kanan. Selanjutnya, kedua tangan itu menggaruk hampir sekujur tubuh.

Penyair Berdarah keluarkan tawa bergelak. Kemudian sambil dongakkan kepala dia berseru lantang.

"Baru satu orang yang membuktikan kebenaran ucapanku. Tak lama lagi akan bertambah banyak, sampai akhirnya kalian semua kegatalan! Ha ha ha...!"

Bawuk Raga Ginting kertakkan gigi. Geram. Di dalam hatinya, dia membatin.

"Apa yang kukhawatirkan ternyata tidak keliru. Iblis Gelang Kematian merencanakan sesuatu. Sama sekali tak kusangka kalau rencananya benar-benar menakjubkan! Kalau misalkan terpaksa, apa boleh buat?! Demi menyelamatkan nyawa, tak ada ruginya kalau aku menakluk."

Sementara itu keadaan Gembong Raja Muda semakin mengenaskan. Garukan yang dilakukannya semakin menggila. Tubuhnya sampai menggelepar ke sana kemari seperti binatang disembelih. Garukan jari-jari tangannya telah membuat kulitnya mengelupas. Darah pun mulai mengalir.

Semua tokoh persilatan yang berada di situ terperangah. Bulu kuduk mereka merinding. Hati masing-masing tokoh berseru galau.

"Kalau hal itu berlangsung terus, bukan hanya kulit Gembong Raja Muda saja yang terkupas, dagingnya pun akan habis! Benar-benar racun yang amat ganas!"

Di antara semua yang menyaksikan kejadian itu, hanya Bawuk Raga Ginting yang di samping merasa kaget dan ngeri juga disergap rasa khawatir. Dia tak ingin murid yang dididiknya susah-payah itu menemui ajal secara mengerikan. Pandangannya segera dialihkan pada Iblis Gelang Kematian.

"Iblis Gelang Kematian! Hentikan kekejaman itu! Aku bersedia menjadi anak buahmu! Tapi, sembuhkan dulu muridku...!" teriak perempuan bertubuh pendek ini, keras. Iblis Gelang Kematian keluarkan kekeh tertahan, sebelum akhirnya berkata.

"Obat penawar racun itu akan kuberikan belakangan apabila kau dan muridmu telah membuktikan janji. Tapi, karena kau telah memutuskan demikian, kau dan muridmu kuberikan obat untuk menyembuhkan rasa gatal itu!"

Di akhir ucapannya itu, Iblis Gelang Kematian lemparkan dua buah kendi sebesar ibu jari kaki. Dengan sigap Bawuk Raga Ginting menangkapnya.

"Habiskan isinya...!" seru Iblis Gelang Kematian, singkat.

Tanpa banyak pikir lagi, Bawuk Raga Ginting segera menghampiri Gembong Raja Muda yang masih menggelepar-gelepar. Kemudian, dijulurkan jari-jari tangannya mengirimkan totokan ke tubuh pemuda berpakaian putih itu. Di kejap lain, tubuh Gembong Raja Muda terkulai lemas, sehingga leluasa Bawuk Raga Ginting menuangkan isi kendi itu ke dalam mulutnya.

Selagi Bawuk Raga Ginting meminumkan isi kendi, Iblis Gelang Kematian perhatikan sekilas, kemudian kembali berkata dengan nada penuh kemenangan.

"Sebelum rasa gatal itu muncul, pada tubuh kalian, tepatnya pada pergelangan tangan akan muncul bercak merah sebesar ibu jari!" DUA BELAS

MALAIKAT Berdarah Biru termasuk salah satu dari sekian banyaknya tokoh-tokoh persilatan yang memperhatikan lengannya. Pemuda bertoga merah mendengar seruan-seruan keterkejutan dari mulut-mulut tokoh persilatan yang ada di situ. Seruan keterkejutan yang bercampur dengan kengerian, ketika melihat tanda yang dimaksud Iblis Gelang Kematian!

Tapi, Malaikat Berdarah Biru tak melihat tanda apa pun di lengannya. Jangankan bercak sebesar ibu jari, sebesar kutu pun tak terlihat! Semula dia merasa heran, dan menyangka Iblis Gelang Kematian dan Penyair Berdarah hanya menggertak belaka. Tapi, dia teringat akan ucapan gurunya.

"Apa yang dikatakan tua bangka itu ternyata tak salah! Aku tak hanya kebal pukulan, tapi juga racun!" kata Penyair Berdarah dalam hati.

Kenyataan ini membuat Malaikat Berdarah Biru sangat gembira. Didongakkan kepala dan dikacakkan kedua tangannya di pinggang, seraya lontarkan ucapan keras bernada sombong!

"Iblis Gelang Kematian! Penyair Berdarah! Kalian dengar baik-baik! Segala macam racun tak ada artinya bagiku! Aku tak bisa mati! Justru kalianlah yang akan mati karena berani berbuat licik padaku!" Malaikat Berdarah Biru menghentikan ucapannya berbarengan dengan terjangan ke arah Penyair Berdarah! Pemuda bertoga merah ini langsung kirimkan serangan maut! Penyair Berdarah yang melihat kejadian tak disangka-sangka itu, terperanjat. Tapi, dia masih sempat untuk melempar tubuh ke belakang, dan bergulingan menjauh.

Di lain pihak, Malaikat Berdarah Biru benar-benar telah bertekad untuk membinasakan Penyair Berdarah. Dia melesat memburu, siap untuk kirimkan serangan maut! Melihat hal ini wajah Penyair Berdarah berubah pias. Lesatan Malaikat Berdarah Biru terlalu cepat, dan kecil kemungkinannya untuk dapat lolos!

Iblis Gelang Kematian sendiri, saking kagetnya melesat untuk menyelamatkan nyawa muridnya. Tapi, saat tubuh Iblis Gelang Kematian tengah melayang, sesosok bayangan telah lebih dulu melesat memapaki serangan Malaikat Berdarah Biru!

Blarrr...!

Diawali benturan keras yang membuat sekitar tempat itu bergetar, tubuh Malaikat Berdarah Biru dan sang penyelamat Penyair Berdarah sama-sama terjengkang ke belakang. Namun, keduanya mampu mematahkan daya luncuran dan menjejak tanah secara mantap!

Seketika berpasang-pasang mata tertuju pada sang Pendatang Baru ini. Dia adalah seorang lelaki bertubuh tegap besar, dan berambut panjang tergerai. Meski demikian, terlihat kalau lelaki ini masih berusia sangat muda!

Dari sekian banyaknya yang menatap, hanya dua pasang mata yang menyiratkan keterkejutan, mata Dewa Maut dan mata kakek bongkok!

"Kiranya si anak ajaib itu! Hm.   Pertarun-

gan yang seru akan tercipta. Entah bagaimana akhirnya, karena kedua belah pihak sama-sama kebal pukulan," Dewa Maut membatin, dengan pandangan mata hampir tak berkedip. Kekalahan yang diderita dari Malaikat Berdarah Biru yang tak pernah disangka-sangkanya, membuat Dewa Maut terpukul dan kehilangan kegarangannya. Dia masih sangat terpukul!

"Abilowo...! Mengapa bocah ini bisa berada di sini?! Berarti, Putri Tunjung Kuning pun ada di sekitar sini," kakek bongkok yang berada tak jauh dari Dewa Maut, berkata pula dalam hati seraya edarkan pandangan berkeliling. Tapi, tak terlihat seorang pun di tempat itu. Maka, perhatiannya diarahkan kembali pada Malaikat Berdarah Biru yang telah berhadapan dengan Abilowo.

Kakek bongkok ini tak tahu kalau dugaannya tak keliru. Putri Tunjung Kuning memang berada di sekitar tempat itu. Di salah satu gua yang tersembunyi, yang dari luar hanya terlihat pekat dan kelam! Perasaan perempuan ini tak sanggup untuk bertemu dengan Malaikat Berdarah Biru. Apalagi mengungkapkan dirinya menjadi korban perkosaan kepada sekian banyak orang! Putri Tunjung Kuning mewakilkan Abilowo. Dia sendiri menyaksikannya dari kejauhan!

"Sialan betul!" kakek bongkok kembali melanjutkan kata hatinya. "Kedatangan Abilowo bisa merubah rencana. Aku tak mungkin bisa membiarkan bocah ini celaka. Hhh.... Keadaan jadi serba salah dan runyam!"

Sementara itu, Malaikat Berdarah Biru memperhatikan Abilowo lekat-lekat. Orang yang diperhatikan, ikut lakukan hal yang sama.

"Kau orang yang berjuluk Malaikat Berdarah Biru...?!" Abilowo ajukan tanya dengan nada penuh ancaman.

"Tak salah. Aku orang yang berjuluk Malaikat Berdarah Biru! Kau siapa, Bocah?!" Malaikat Berdarah Biru balik bertanya.

Abilowo mendengus keras.

"Kenalkah kau dengan perempuan yang bernama Putri Tunjung Kuning?" Abilowo malah balas bertanya, bukannya memberikan jawaban.

"Keparat! Anak sialan! Ditanya malah balas bertanya! Tapi, dari mana dia tahu tentang perempuan itu?!" Malaikat Berdarah Biru membatin. Kemudian setelah berpikir sejenak, kepalanya dianggukkan. "Apa hubunganmu dengannya?!"

"Namaku Abilowo. Aku adalah putra dari Putri Tunjung Kuning. Dan, ayahku yang ingin kubunuh, karena telah menyengsarakan ibuku itu, berjuluk Malaikat Berdarah Biru! Kaulah orangnya! Terimalah kematianmu, Malaikat Berdarah Biru!"

Abilowo menutup ucapannya dengan sebuah terjangan ke arah Malaikat Berdarah Biru yang tak pernah disangka-sangkanya itu, Malaikat Berdarah Biru terpaksa melesat menghindar. Pemuda bertoga merah ini tak menangkis serangan karena masih didera perasaan kaget. "Putraku...?! Mana mungkin?! Andaikata benar Putri Tunjung Kuning melahirkan anak karena perbuatanku pun, mana mungkin bisa sebesar ini?!" pikir Malaikat Berdarah Biru, bingung.

Kalau Malaikat Berdarah Biru merasa bingung, tak demikian halnya dengan kakek bongkok. Meski mulutnya tak keluarkan suara, tapi di dalam hatinya dia berkata.

"Sekarang masalahnya telah menjadi jelas. Abilowo benar anak dari Putri Tunjung Kuning. Tapi, sama sekali tak kusangka kalau ayahnya adalah Malaikat Berdarah Biru "

Kakek bongkok dan semua tokoh persilatan yang berada di situ, terutama sekali Dewa Maut, memperhatikan jalannya pertarungan dengan penuh minat. Pertarungan yang seru. Kedua belah pihak sama-sama memiliki kekuatan tenaga dalam, dan kelincahan setingkat. Jalannya pertarungan pun berimbang. Beberapa kali ketika terjadi benturan tangan atau kaki, Malaikat Berdarah Biru meringis karena merasakan nyeri dan sakit-sakit. Tapi, rasa kaget mendengar dirinya mempunyai keturunan, membuat Malaikat Berdarah Biru tak teringat akan hal aneh ini. Biasanya, jangankan hanya berbenturan, terkena pukulan yang mematikan pun, pemuda bertoga merah ini tak merasakan sakit.

"Gila! Bocah ini ternyata benar-benar luar biasa! Persetan! Anakku atau bukan, kalau akan menjadi penghalang di kemudian hari, lebih baik kusingkirkan!" kata hati Malaikat Berdarah Biru, seraya menunggu-nunggu kesempatan yang baik. Malaikat Berdarah Biru tak menunggu lama. Karena sekejap kemudian, Abilowo kirimkan jotosan ke arah dada kirinya. Pemuda bertoga merah ini sengaja bergerak lambat, membiarkan serangan itu mendekat. Ketika beberapa jari lagi menghantam sasaran, dia kirimkan tendangan ke arah perut Abilowo!

Desss! Desss!

Hampir berbarengan, serangan masingmasing pihak mengenai sasarannya. Baik Malaikat Berdarah Biru maupun Abilowo sama-sama terjengkang ke belakang. Tapi, dari mulut Malaikat Berdarah Biru keluar teriakan menyayat hati. Teriakan kesakitan. Bahkan dari mulutnya keluar darah segar!

Malaikat Berdarah Biru terbanting keras di tanah. Namun, pemuda bertoga merah ini berusaha bangkit, karena dilihatnya Abilowo telah berhasil menguasai diri dan siap untuk melancarkan serangan. Sepasang mata Malaikat Berdarah Biru membeliak besar penuh keterkejutan ketika melihat Abilowo terlihat tak terpengaruh akibat serangannya.

Semua tokoh persilatan yang menyaksikan terperangah, tak terkecuali kakek bongkok! Mereka sama sekali tak menyangka kalau Malaikat Berdarah Biru yang semula memiliki tubuh demikian kuat, dan tak bisa dilukai, kini sekarat!

Malaikat Berdarah Biru sendiri begitu berhasil tegak, teringat akan ucapan gurunya. Kata demi kata gurunya itu, terngiang kembali di telinganya. "Kau hanya dapat dikalahkan dan dilukai oleh seseorang yang lahir dari darahmu sendiri! Dan hal itu akan terjadi saat bulan purnama!"

Malaikat Berdarah Biru merasakan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Hatinya memekik penuh rasa putus asa.

"Abilowo adalah anakku. Dan, sekarang bulan purnama nampak di langit! Akankah ini berarti ajalku akan tiba?!"

Pemuda bertoga merah ini masih belum mampu berdiri tegak ketika Abilowo hentakkan kedua tangannya. Di kejap lain, bunyi bergemuruh terdengar, mengiringi menyerbunya angin keras ke arah Malaikat Berdarah Biru. Seketika itu pula paras pemuda bertoga merah pucat pasi. Dengan sisa-sisa kemampuan yang dimiliki, dia berusaha untuk mengelak. Pada saat bersamaan, berpasang-pasang mata memperhatikan kejadian ini dengan penuh minat. Memperhatikan saatsaat yang menentukan itu. Pada semua benak, bergayut sederetan kata-kata.

"Tewaskah Malaikat Berdarah Biru?!" Jawaban bagi pertanyaan itu tak membu-

tuhkan waktu lama. Sesaat kemudian, terdengar jeritan menyayat hati dari mulut Malaikat Berdarah Biru ketika pukulan jarak jauh Abilowo, melabraknya. Keadaan pemuda bertoga merah yang sudah payah, membuat gerakan menghindarnya terlalu lambat! Tubuh Malaikat Berdarah Biru pun melayang-layang jauh, terbanting keras di tanah!

Semua pasang mata tertuju pada Malaikat Berdarah Biru yang tergolek, melihat perkembangan. Tapi, tak terlihat adanya gerakan sedikit pun dari pemuda bertoga merah. Sedangkan Abilowo, begitu berhasil menyarangkan pukulan, segera melesat cepat meninggalkan tempat itu. Tak seorang pun tokoh persilatan yang menahan tindakannya. Mereka masih terpaku melihat Malaikat Berdarah Biru yang demikian menggiriskan hati, menemui ajalnya!

"Syukurlah Abilowo segera pergi. Kalau tidak, dan terjadi pertempuran dengan tokoh-tokoh yang ada di sini, aku bisa terlibat! Dan, itu berarti mereka akan segera tahu siapa adanya diriku, sebelum kutahu rencana mereka," kakek bongkok bergumam dalam hati.

Keadaan di sekitar tempat itu menjadi hening. Sepi. Semua pasang mata masih tertuju pada tubuh Malaikat Berdarah Biru. Iblis Gelang Kematlanlah yang menjadi orang pertama yang memecahkan keheningan itu.

"Rekan-rekan segolongan! Mungkin perlu kutegaskan sekali lagi. Tujuan utama berkumpul di tempat ini adalah agar kita dapat bergabung melenyapkan tokoh-tokoh golongan putih. Agar masa kejayaan golongan hitam kembali muncul."

"Kalau begitu..., mengapa kau mempergunakan kecurangan?! Kau racuni kami?!" sentak Dewa Maut, keras.

Semangatnya mulai agak timbul ketika melihat Malaikat Berdarah Biru telah tewas. Tapi, kesombongannya belum sepenuhnya pulih, mengingat adanya racun ganas yang bersemayam di dirinya.

Iblis Gelang Kematian terkekeh pelan sebelum keluarkan ucapan.

"Hanya sekadar berjaga-jaga. Kalian boleh percaya atau tidak, terserah. Yang jelas, aku bermaksud baik. Bahkan aku tak ingin memaksakan kehendak. Tidak seperti Malaikat Berdarah Biru tadi. Aku memberi kebebasan pada kalian untuk mengajukan saran, tentang tokoh golongan putih mana yang harus lebih dulu kita lenyapkan!"

Tak seorang pun keluarkan ucapan. Keadaan menjadi sunyi. Hal ini membuat Iblis Gelang Kematian kembali berbicara. Lantang.

"Perlu kalian ketahui, bila kalian setuju kita bersatu, saat ini juga kuberikan obat penghilang gatal itu. Kemudian, kita serbu tokoh-tokoh golongan putih!"

* * *

"Celaka...! Aku harus bergegas tinggalkan tempat ini! Harus kuberitahukan pada Dewi Kayangan kabar yang berbahaya ini!" kakek bongkok berkata dalam hati, setelah mendengar keputusan yang disetujui oleh tokoh-tokoh hitam itu.

Memang, karena kepandaian Iblis Gelang Kematian bersilat lidah, tokoh-tokoh golongan hitam itu setuju untuk bergabung. Manusia Titisan Dewa termasuk di antara yang setuju. Kakek ini, untuk sementara bersedia melupakan masalah Sakawuni! Saat, tokoh-tokoh hitam itu sibuk dengan urusan penyerbuan itu, dengan diam-diam si kakek bongkok meninggalkan tempat itu. Nasib baik berpihak padanya. Karena, tak seorang pun yang melihat kepergiannya. Di lain kejap, kakek ini menyelinap ke balik batu besar. Sebentar kemudian, ketika keluar lagi, si kakek telah berganti menjadi seorang pemuda berwajah tampan. Dia mengenakan pakaian hijau yang melapis baju kuning tangan panjang. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Sedangkan tangan kanannya menggenggam kipas ungu, dan dikipaskan pulang balik di depan wajahnya. Kakek bongkok itu ternyata adalah Pendekar Mata Keranjang 108, yang bernama asli Aji Saputra!

Aji segera perhatikan pergelangan tangannya sekali lagi. Tapi, tetap saja tak terlihat bercak merah seperti yang dimaksud oleh Iblis Gelang Kematian. Pemuda ini jadi bingung.

"Apakah aku tak terkena racun?! Tapi, mengapa?! Apakah Jangan-jangan mutiara biru

yang dulu kutelan yang membuatku bebas dari racun. Atau..., ah.... Mengapa harus pusingpusing kupikirkan hal aneh ini?! Lebih baik aku segera memberitahukan Dewi Kayangan. !"

Tanpa menunggu lebih lama, Pendekar Mata Keranjang melesat meninggalkan tempat itu. Pada saat yang bersamaan, di tempat yang ditinggalkan Aji, terjadi kegegeran, setelah mengetahui si kakek bongkok, tak berada di situ.

"Iblis Gelang Kematian! Sebenarnya     Sia-

pa kakek bongkok itu?!" Bawuk Raga Ginting ajukan tanya.

Iblis Gelang Kematian gelengkan kepala. "Aku tak tahu. Tadi pun, ingin kutanyakan,

karena aku tak merasa mengundangnya. Tapi, aku lupa, karena ribut mulut dengan Manusia Titisan Dewa," Jawab perempuan tua itu, bernada menyela.

"Jangan-jangan dia mata-mata golongan putih! Dan bukan tak mungkin Pendekar Mata Keranjang!" Penyair Berdarah ajukan dugaan.

"Pendekar Mata Keranjang?!" Dewa Maut yang menyambuti. "Mengapa aku lupa?! Benar! Kakek itu pasti Pendekar Mata Keranjang! Bukankah pendekar keparat itu berpakaian hijau? Tadi, ketika pakaian tambalannya tersibak, kulihat pakaian hijau yang berada di baliknya! Sayang, aku lupa kalau pemuda itu mengenakan pakaian hijau! Dan aku baru teringat ketika Penyair Berdarah ajukan dugaannya!"

"Kalau begitu, rencana harus kita rubah! Kalau tidak, kita akan menghadapi hambatan yang besar. Pemberitahuan Pendekar 108 akan membuat sasaran kita segera pergi atau malah mengumpulkan kekuatan!"

"Kurasa kita tak perlu khawatir!" sambut Iblis Gelang Kematian setelah tercenung sejenak. "Andaikata benar kakek itu Pendekar Mata Keranjang. Dan pendekar keparat itu memberitahukan rencana kita, tetap akan terlambat karena perbedaan waktu yang terlalu singkat. Kita akan lebih dulu datang sebelum keparat-keparat itu pergi atau mengumpulkan kekuatan!" "Kalau begitu, tunggu apa lagi?! Kita harus bertindak cepat!" Ratu Pulau Merah dan Dewa Maut, hampir berbareng berbicara!

Iblis Gelang Kematian anggukkan kepala seraya perdengarkan tawa terkekeh.

* * *

Sang Surya hampir saja mencapai titik tengahnya ketika beberapa bayangan berkelebatan cepat memasuki sebuah hutan kecil di Dusun Kepatihan. Suasana yang terang benderang, membuat sosok-sosok itu terlihat jelas. Ternyata mereka adalah Iblis Gelang Kematian dan rombongannya.

"Sebentar lagi rombonganku akan tiba di sasaran. Tua bangka-tua bangka pelindung Pendekar Mata Keranjang itu akan segera menghadap malaikat maut! Dan, setelah semua tokoh golongan putih lenyap, kacung-kacungku ini pun akan menyusul pula. Hi! hi hi...!" Iblis Gelang Kematian membatin, lalu keluarkan kata.

"Sebentar lagi kita akan tiba. Aku yakin, Pendekar Mata Keranjang pun baru tiba pula. Dan, mereka tak akan sempat berbuat apa pun. Dengan jumlah kita yang jauh lebih banyak, pihak lawan akan dapat kita gulung!"

"Dan.... Kipas, tombak, serta, kerisku pun akan kembali!" lanjut Ratu Pulau Merah, dalam hati.

"Bila itu terjadi, kipas dan bumbung bambu peninggalan Empu Jaladara akan dapat kumusnahkan!" Dewa Maut, menyambung ucapan Iblis Gelang Kematian, tapi tanpa suara, hanya dalam batinnya.

"Hik... hik... hik...! Tak kusangka istanaku akan didatangi oleh rombongan tikus busuk. Rupanya, binatang-binatang ini minta digebuk!"

Seruan bernada ejekan yang mengiringi tawa cekikikan, membuat rombongan Iblis Gelang Kematian terperanjat. Sebagian di antara mereka, telah mengetahui siapa pemilik suara itu.

"Kalau aku tak salah duga, Dewi Kayanganlah pemilik suara itu...," Ratu Pulau Merah angkat bicara.

"Bila benar demikian, perempuan jelek itu minta dikirim ke neraka sekarang!" geram Iblis Gelang Kematian. "Kita harus lebih bergegas. Aku tak sabar lagi untuk memuntir lehernya!"

"Hik... hik... hik...! Tak usah terburu-buru, Tikus Tua! Sebentar lagi pun maksud hatimu akan kesampaian...!"

Apa yang dikatakan pemilik suara tanpa wujud itu ternyata tak salah. Tak sampai sepuluh tombak, begitu keluar dari hutan kecil, di lapangan tanah yang luas membentang, sekitar sepuluh tombak di depan mereka, telah berdiri berjajar beberapa sosok. Menilik dari sikap rombongan itu, Iblis Gelang Kematian dan kelompoknya segera tahu kalau rombongan di depan sengaja menghadang. Dan, di antara rombongan penghadang itu tampak Pendekar 108!

"Gila! Sama sekali tak kusangka kalau semuanya jadi berantakan begini! Mungkinkah dalam waktu yang demikian singkat, Pendekar Mata Keranjang berhasil mengumpulkan begitu banyak orang untuk menghadang perjalanan kita?!" rutuk Iblis Gelang Kematian, kesal.

Iblis Gelang Kematian tak pernah tahu, kalau dugaannya itu keliru! Tepat seperti yang telah diperkirakannya, Pendekar Mata Keranjang baru saja tiba di tempat itu. Dan, ketika tiba pun, pemuda itu telah bertemu dengan sosok-sosok yang berdiri berjajar. 

Semula Pendekar 108 merasa heran ketika melihat sosok-sosok yang dijumpainya di tempat itu. Karena, diduganya, yang berada di tempat itu hanya Dewi Kayangan, dan Dewi Bayang-bayang. Keberadaan Gongging Baladewa masih merupakan teka-teki, meski sebelumnya pemuda ini telah mempunyai sedikit dugaan, karena telah melihat sendiri kalau Dewi Bayang-bayang dan Gongging Baladewa bersatu lagi (Untuk jelasnya silakan baca episode : "Dayang Naga Puspa").

Pendekar Mata Keranjang sempat kaget besar ketika melihat tak hanya Gongging Baladewa. Tapi juga Setan Arak, Ratu Sekar Langit, Putri Kipas, dan Setan Pesolek! Belakangan, pemuda ini baru tahu kalau mereka semua bisa berkumpul di situ berkat Setan Pesolek. Laki-laki banci itu dengan ilmu meramalnya, telah bisa mengetahui kalau hasil dari pertemuan di Supit Urang adalah penyerbuan ke tempat tinggal Dewi Kayangan.

Pertemuan dengan Ratu Sekar Langit kembali, dipergunakan Aji untuk menanyakan bagaimana kekasihnya bisa lolos dari tahanan Bawuk Raga Ginting. Dari mulut Ratu Sekar Langit, Pendekar Mata Keranjang tahu kalau sang Penyelamat itu adalah Setan Arak. Bahkan, gadis itu telah menjadi murid Setan Arak!

Sayang, kedatangan rombongan Iblis Gelang Kematian membuat Aji tak bisa berbincangbincang lebih lama lagi. Apalagi setelah rombongan penyerbu itu langsung menyerang. Pendekar

108 hampir tak percaya ketika melihat Dewi Tengkorak Hitam ikut-ikutan menyerbu. Sekarang, pemuda ini baru paham maksud peringatan Setan Pesolek dan Setan Arak.

Serbuan rombongan Iblis Gelang Kematian segera mendapatkan sambutan! Masing-masing pihak seperti telah tahu lawan masing-masing. Manusia Titisan Dewa menerjang Dewi Bayangbayang. Iblis Gelang Kematian menyerang Setan Pesolek. Sedangkan Dewi Kayangan diterjang oleh Bawuk Raga Ginting.

Pada saat yang bersamaan, Gongging Baladewa diserang berbareng oleh Penyair Berdarah dan Gembong Raja Muda. Ratu Sekar Langit berhadapan dengan Ratu Pulau Merah, Putri Kipas bertarung dengan Dewi Tengkorak Hitam. Sedangkan Pendekar Mata Keranjang sendiri diserbu oleh Dewa Maut. Hanya Setan Arak yang enakenakan menenggak araknya. Kakek ini tak kebagian lawan!

Pertarungan besar-besaran pun terjadi. Masing-masing tokoh yang bersenjata, segera menggunakannya. Yang tak bersenjata, seperti Dewa Maut, menyergap lawannya dengan tangan kosong. Pemuda pengemban tugas dendam dari leluhurnya itu langsung pukulkan kedua tangannya, lepaskan pukulan sakti 'Dewi Membakar Bumi'!

Asap merah membara keluar dari kedua tangan Dewa Maut, dan menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang.

Pendekar 108 tak berani bertindak mainmain. Dengan sebelah tangan tetap menggenggam kipas yang terlipat, dikerahkan tenaga dalamnya ke kedua tangan. Di kejap lain, warna kedua tangannya jadi biru berkilau. Secepat kilat Pendekar Mata Keranjang dorongkan ke depan. Pelan.

Wuttt! Wuttt!

Dua berkas sinar biru melesat cepat, lalu mengembang dan melabrak asap merah! Benturan dahsyat segera terjadi, dan tubuh kedua belah pihak sama-sama terjengkang ke belakang. Namun, keduanya segera bangkit kembali dan saling gebrak. Pertarungan pun berlangsung sengit.

Bukan hanya pertarungan Pendekar Mata Keranjang 108 dan Dewa Maut yang berlangsung sengit. Kancah lainnya pun demikian. Sebagian besar pertarungan berjalan seimbang. Tapi, hal itu hanya berlangsung belasan jurus. Lewat dua puluh jurus, rombongan Dewi Kayangan mulai dapat mendesak.

Ratu Pulau Merah dan Gembong Raja Muda yang pertama kali terpental dari kancah pertarungan! Tubuh kedua orang ini terpental dan terguling-guling. Namun, Ratu Pulau Merah dan Gembong Raja Muda ternyata keras hati. Begitu gulingan berakhir, keduanya berusaha untuk bangkit. Sayang, mereka tak mampu. Bahkan malah darah yang keluar dari mulut mereka!

Hanya berbeda waktu sebentar, berturutturut rombongan Iblis Gelang Kematian berpentalan dari kancah pertarungan. Memang, mereka tak mati, tapi tak mampu melanjutkan pertarungan kembali. Dan, yang tinggal hanya pertarungan antara Pendekar Mata Keranjang menghadapi Dewa Maut, dan antara Dewi Bayang-bayang melawan Manusia Titisan Dewa.

"Haaat...!" Dewa Maut membentak keras seraya melompat ke depan, kedua tangannya dihentakkan. Pendekar 108 tak mau kalah. Kipasnya dilipat dan diselipkan ke balik baju. Pemuda ini ikut lompat dan menyentakkan kedua tangannya. Pendekar Mata Keranjang nekat mengadu keras lawan keras.

Blarrr!

Benturan keras yang terdengar mengawali terpentalnya tubuh Dewa Maut dan Pendekar Mata Keranjang ke belakang. Melayang-layang sejauh beberapa tombak dan terbanting keras di tanah. Baik Dewa Maut maupun Pendekar 108 berkeras untuk bangkit. Akibatnya, dari mulut keduanya menggelogok darah segar. Mau tak mau, pemuda-pemuda sakti ini mengurungkan niatnya untuk bertarung kembali.

Pada saat yang bersamaan dengan keluarnya darah dari mulut Dewa Maut dan Pendekar Mata Keranjang, terdengar dua teriakan keras yang hampir berbarengan. Sesaat kemudian, Manusia Titisan Dewa dan Dewi Bayang-bayang sama-sama terhuyung ke belakang, dan jatuh terduduk. Tapi, Dewi Bayang-bayang mampu bangkit kendati dengan susah-payah. Sedangkan, Manusia Titisan Dewa malah menggelepar-gelepar, kemudian diam tak bergerak untuk selamanya.

Dengan penuh khawatir, Gongging Baladewa segera melesat ke arah Dewi Bayang-bayang. Sedangkan, Ratu Sekar Langit segera menghambur ke arah Aji. Kekhawatiran tergambar jelas di wajah yang jelita itu.

"Hi hi hi...! Tikus-tikus busuk! Sayang sekali istanaku tak sudi menerima kedatangan kalian. Mumpung masih ada kesempatan, cepat tinggalkan tempat ini! Atau kalian ingin kumasukkan ke dalam lubang kubur?! Hi hi hi...!" Dewi Kayangan buka mulut.

"Keparat! Sakit hati ini akan kubalas! Sekarang aku memang kalah. Tapi, lain kali..., akan tiba waktunya bagiku untuk mengecap kemenangan...!" kata hati masing-masing orang di rombongan Iblis Gelang Kematian.

Setelah melempar pandangan penuh dendam dan sakit hati, Iblis Gelang Kematian dan rombongannya dengan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu. Segunduk dendam berbaur di dalam hati. Tapi, mereka pun menyadari, membutuhkan waktu yang lama untuk membalaskannya. Karena, luka yang mereka derita terlalu parah. Akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Berbulan-bulan! Malah, mungkin bertahun-tahun.

SELESAI