Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 22 : Laskar Dewa

 
Eps 22 : Laskar Dewa


MALAM baru saja turun. Di sebuah hamparan tanah terbuka yang ditumbuhi jajaran pohonpohon pinus terlihat sesosok tubuh duduk bersandar pada sebuah pohon. Kedua lengannya dirangkapkan sejajar dada. Sepasang matanya terpejam rapat dengan mulut bergerak komat-kamit tiada henti. Sekujur tubuh sosok ini tam-pak basah kuyup oleh keringat dari kaki hingga rambut.

Orang ini ternyata adalah seorang laki-laki berusia amat lanjut. Rambut dan kumisnya yang panjang telah berwarna putih dan awut-awutan tak terawat. Sosoknya kurus kering hingga tulangtulang pada dada dan lambungnya yang tidak tertutup sebuah baju terlihat menonjol dengan jelas.

Melihat sikapnya, berat dugaan jika kakek ini sedang memusatkan mata batinnya seraya kerahkan tenaga dalam, karena meski dia diam tak bergerak namun keringat terus mengalir dari sekujur tubuhnya! Malah tak jarang dadanya terlihat bergetar keras dan sesekali tubuhnya berguncang!

Beberapa saat lamanya, tiba-tiba sepasang mata si kakek membuat gerakan membuka. Napasnya yang tadi berhembus teratur berhenti. Bersamaan dengan itu kepalanya perlahan berpaling ke samping. Bola matanya ikut berputar liar memandang kian kemari menembusi kegelapan malam. Mulutnya menggumam sesuatu yang tak jelas.

Sesaat kemudian, kepalanya kembali lurus ke depan.

"Seseorang melangkah menuju tempat ini!" dalam hati si kakek berucap. Lalu pejamkan sepasang matanya kembali. Napasnya pun kembali berhembus teratur seperti semula.

Apa yang di batin si kakek tidak meleset. Dari kegelapan bayang-bayang pohon pinus muncul sesosok tubuh dan melangkah ke arahnya.

Mungkin tidak menduga, lima langkah di samping si kakek, orang yang baru muncul serentak hentikan langkah. Malah kakinya tersurut kembali satu tindak ke belakang. Dahinya mengernyit dengan sepasang mata memperhatikan lekat-lekat.

Dia adalah seorang perempuan tua. Pakaian atas berupa baju panjang dari sutera berwarna hitam. Bawahannya berwarna hitam kembangkembang putih. Sepasang matanya besar, hidungnya mancung serta bibir merah tanpa polesan. Pada kedua tangannya tampak melingkar beberapa gelang berwarna kuning. Rambutnya putih dan panjang sampai betis.

"Bertelanjang dada, rambut awut-awutan, celana kolor warna kusam. Hmm...." Sepasang bola mata si nenek berputar. Kepalanya bergerak berpaling ke kanan kiri. Lalu kembali lurus memperhatikan orang yang duduk bersandar.

"Tokoh rimba persilatan yang telah lama tak unjuk diri. Dadung Rantak! Kukira manusia ini telah berkalang tanah. Hmm.... Sedang apa dia di sini?! Bersemadi? Atau menunggu seseorang?!"

Si nenek memperhatikan sekeliling sekali lagi, lalu melangkah mendekat. Baru satu tindak, orang tua yang duduk bersandar dan bukan lain adalah Dadung Rantak buka kelopak matanya, memandang tajam pada orang yang mendekatinya. Kedua alis matanya naik sesaat, mulutnya berkemik.

"Walau telah lama tak jumpa, namun aku masih mengenalinya! Perempuan yang sejak dulu ingin merajai rimba belantara persilatan. Hmm....

Iblis Gelang Kematian! Apakah mimpi besarnya itu masih bercokol di benaknya?! "

Perempuan tua berambut panjang dan mengenakan beberapa gelang yang tidak lain memang Iblis Gelang Kematian, seorang tokoh rimba persilatan dari jajaran atas golongan hitam yang juga adalah guru si Manding Jayalodra alias Penyair Berdarah, hentikan langkah dua tindak di depan Dadung Rantak.

Sesaat kedua orang ini saling pandang dengan mulut masing-masing terkancing rapat. Sejenak rasa tegang menguasai diri masing-masing orang. Namun tak lama kemudian Iblis Gelang Kematian buka mulut memecah keheningan.

"Rentang waktu telah membuat panca indera berkurang ketajamannya. Apakah benar saat ini aku berhadapan dengan sobat sealiran Dadung Rantak?!"

"Apa yang kau lihat benar adanya, Iblis Gelang Kematian!" jawab Dadung Rantak masih dengan mata tak berkedip memperhatikan. Tanpa menggerakkan kedua tangannya yang merangkap di depan dada, kakek itu bergerak bangkit. Lalu menyambung ucapannya.

"Berpuluh tahun kita tak bertemu. Kau baik-baik saja?! "

Iblis Gelang Kematian arahkan pandangannya pada jurusan lain. Dengan tertawa pelan dia berkata.

"Seperti kenyataannya, aku tak kurang suatu apa!" Sejenak nenek ini hentikan ucapannya, lantas melanjutkan. "Berpuluh-puluh tahun tak ada kabar beritanya. Tiba-tiba muncul dan duduk merenung sendiri. Apa gerangan yang mengusikmu sampai kau unjuk diri lagi? Dan sedang apa kau di sini?!"

Dadung Rantak tidak segera menjawab. Dia lepaskan rangkapan kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya yang keringatan dengan tapak tangan. Sepasang matanya mengerjap, lalu buka suara.

"Keadaan kadang-kadang membuat manusia harus merubah jalan pikiran. Situasi seringkali mengharuskan manusia berbuat sesuatu! Itulah yang kualami sekarang! "

Iblis Gelang Kematian menoleh dengan dahi mengkerut.

"Apakah ucapanmu mengisyaratkan jika kau tidak segolongan dengan aku lagi?! "

Dadung Rantak tengadahkan kepalanya. Dari mulutnya terdengar suara tawa mengekeh panjang, membuat perutnya yang terbuka bergerak-gerak ke atas.

"Terserah bagaimana kau menangkap ucapanku. Yang jelas, bagi orang seusiaku golongan tidak penting lagi! Yang paling utama adalah tujuan dan langkah untuk mencapai tujuan itu!"

"Hmm.... Begitu? Boleh aku tahu apa tujuanmu sebenarnya?!"

Dadung Rantak terdiam. Diam-diam dalam hati kakek ini membatin.

"Perempuan ini dari dahulu tidak berubah. Selalu ingin tahu persoalan orang lain. Tapi Tak

ada salahnya aku berterus terang padanya. Karena tujuanku mungkin masih membutuhkan bantuan orang lain seperti dia"

Berpikir begitu, Dadung Rantak lantas be-

rucap.

"Tak usah kukatakan panjang lebar ten-

tunya kau telah mendengar jika adikku dahulu tewas di tangan Wong Agung dari Karang Langit. Lalu kau pasti telah tahu pula tentang heboh Arca Dewi Bumi...! "

Iblis Gelang Kematian anggukkan kepalanya beberapa kali, lalu berkata.

"Apa yang kudengar darimu saat ini memang telah kuketahui. Harap kau suka melanjutkan ucapanmu!"

"Sebenarnya aku telah memutuskan untuk tidak terjun lagi dalam kancah persilatan. Namun hatiku tidak bisa tenteram. Arwah adikku rasanya terus membayangi. Dia seakan menuntut padaku agar aku tak tinggal diam dengan kematiannya. Lagi pula aku malu dengan pandangan orang, dikira mereka, aku tak ambil peduli dengan kematian adikku! Di pihak lain, kabar tentang kesaktian Arca Dewi Bumi membuatku penasaran " "Hmm.... Jadi itukah yang membuatmu terusik hingga muncul lagi?! Apakah kau telah melakukan sesuatu selama ini?!" Iblis Gelang Kematian ajukan tanya.

Dadung Rantak menghela napas dalamdalam. "Aku telah datangi tempat Wong Agung di Karang Langit. Tapi manusia keparat itu ternyata masih cukup tangguh untuk ditaklukkan! "

"Kau dikalahkannya?!" sahut Iblis Gelang Kematian dengan mimik terkejut. Karena dia tahu, bagaimana ketinggian ilmu Dadung Rantak yang sedari dulu membuatnya ditakuti kawan maupun lawan.

Mendengar pertanyaan blis Gelang Kematian, Dadung Rantak mendongak memandang langit yang banyak ditaburi bintang. Mulutnya perdengarkan suara tawa perlahan.

"Dalam hidup, aku punya prinsip. Tak akan pernah merasa kalah! Pada saat terjadi bentrok di Karang Langit, aku tidak kalah! Hanya karena sesuatu hal maka pertarungan itu terpaksa kutunda!" (Tentang pertarungan antara Dadung Rantak dengan Wong Agung di Karang Langit silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: 'Badai di Karang Langit").

Sejurus Dadung Rantak hentikan keterangannya, lalu meneruskan.

"Tentang Arca Dewi Bumi, ini yang membuatku kecewa besar."

"Karena kau tak berhasil mendapatkannya.

Begitu?!"

Dadung Rantak menyeringai. Lalu gelengkan kepalanya.

"Aku terlambat datang! Seandainya aku tidak terlambat, mungkin saja pusaka arca itu bisa jatuh ke tanganku!"

"Apakah benar berita yang kudengar arca itu berhasil dibawa kabur oleh pemuda murid Wong Agung yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108?!"

"Berita itu benar adanya!" timpal Dadung Rantak cepat. Parasnya mendadak berubah. Rahangnya mengembung besar, sementara dadanya bergetar keras.

"Air mukamu berubah. Apakah kau juga sempat bentrok dengan murid Wong Agung itu?!"

Dadung Rantak tidak segera menjawab. Dia terlihat masih menguasai hawa kemarahan yang melanda hatinya. Setelah dapat menguasai diri, dia angkat bicara. Suaranya keras meledak-ledak.

"Tak perlu kujelaskan padamu. Yang pasti guru dan muridnya sekarang jadi musuh besarku!" Iblis Gelang Kematian sunggingkan senyum dingin. Dalam hati nenek berpakaian mewah ini berkata. "Manusia yang sedang dilanda dendam begini mudah untuk dikendalikan! Aku harus dapat pergunakan kesempatan ini! Ini akan memuluskan jalanku untuk merajai rimba persilatan yang telah lama kuidam-idamkan! Tapi aku harus berhati-hati dengan manusia ini. Dia orang peka

dan tak mudah untuk diatur!"

Berpikir sampai di situ, nenek ini lantas berkata.

"Sobatku Dadung Rantak! Selain kabar tadi, aku juga dengar jika pemuda murid Wong Agung itu kini selalu dibayang-bayangi oleh beberapa tokoh tua seperti Dewi Bayang-Bayang, Dewi Kayangan, Gongging Baladewa, dan yang pasti gurunya sendiri "

"Bukan hanya itu saja!" ujar Dadung Rantak menyahut. "Namun akhir-akhir ini pemuda itu juga sering muncul bersama tokoh aneh bergelar Setan Arak dan manusia banci bergelar Setan Pesolek!"

"Hmm.... Jika itu betul, maka akan bertambah sulit untuk memukul pemuda itu. Karena Setan Arak dan Setan Pesolek bukanlah orang sembarangan! Apakah kau telah punya suatu rencana?!"

"Rencana? Rencana apa maksudmu?!" tanya Dadung Rantak ingin menyelidik.

Iblis Gelang Kematian kembali sunggingkan senyum. Dia melangkah mondar-mandir. Seraya usap wajahnya dia berkata pelan.

"Kau telah menganggap murid dan gurunya sebagai musuh besar. Tentunya kau ingin nyawa kedua orang itu! Padahal pemuda itu kini secara tak langsung dibantu oleh manusia-manusia yang belum jelas apa tujuannya namun berilmu amat tinggi. Apakah kau telah punya suatu gagasan untuk melenyapkan pemuda itu?!"

"Untuk membunuh seseorang, bagiku tak perlu rencana atau gagasan! Lagi pula apa yang perlu ditakutkan?! Aku punya tangan dan kekuatan untuk melawan mereka!"

Mendengar ucapan Dadung Rantak, Iblis Gelang Kematian tertawa mengekeh, membuat si kakek kernyitkan kening, namun kening itu tak membentuk kerutan, karena kulit wajah si kakek demikian tipis. Yang tampak adalah gerakan tulang keningnya yang terangkat sedikit ke atas. Dari mulutnya lantas terdengar teguran.

"Apa yang membuatmu tertawa, Iblis Gelang Kematian?! "

"Kata-katamu!" tukas si nenek masih dengan tertawa.

"Kuakui, kau punya tangan dan kekuatan. Namun kau rupanya melupakan sesuatu. Dalam kancah rimba persilatan, kalau ingin menjadi manusia yang tidak tertandingi, atau ingin membalas dendam, tidak cukup hanya dengan mengandalkan tangan dan kekuatan! Otak, sekali lagi otak harus digunakan! Tanpa otak tangan dan kekuatan hanya akan menjadi bumerang!"

Dadung Rantak terdiam mendengar perkataan Iblis Gelang Kematian. Dia memandang perempuan tua di hadapannya lekat-lekat. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan si nenek, kakek bertelanjang dada ini ajukan pertanyaan.

"Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan?!" Iblis Gelang Kematian menarik napas pan-

jang lega. Karena jebakan yang akan dilakukannya hampir mengena sasaran.

"Sobatku Dadung Rantak! Pemuda itu kini telah dikelilingi oleh beberapa orang berkepandaian tinggi yang kebanyakan dari golongan orangorang putih. Kita dari golongan hitam kenapa tidak bersatu saja lalu secara bersama-sama melawannya?! Kita punya banyak teman yang ilmunya juga tinggi. Jika kita bergabung, selain beban kita jadi ringan, tujuan kita akan segera tercapai!"

Dadung Rantak angguk-anggukkan kepalanya. Namun dalam hati kakek ini berkata lain. "Aku tahu kau mengajak bergabung karena kau takut menghadapi orang-orang itu! Kau akan mengambil keuntungan tanpa keluarkan banyak tenaga. Hmm.... Jangan mimpi kau akan menyiasati diriku! Tapi aku akan berpura-pura mau, hal ini akan mempermudah bagiku menjajaki keberadaan musuhku!" kakek ini lantas berkata.

"Sobatku. Jika itu jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah, kuharap kau segera melakukan sesuatu!"

Iblis Gelang Kematian berpikiran sejenak. Setelah anggukkan kepala beberapa kali dia berucap.

"Dua puluh hari di muka, kita bertemu di Lembah Supit Urang! Aku akan menghubungi beberapa teman segolongan!"

'Aku akan datang pada saat yang ditentukan!" sahut Dadung Rantak. Kakek ini lantas arahkan pandangannya jauh ke depan. Mulutnya hendak mengucapkan sesuatu, namun dia urungkan.

Iblis Gelang Kematian yang sekilas dapat membaca hal itu segera mendehem beberapa kali, membuat Dadung Rantak palingkan wajah. Sebelum kakek ini bicara. Iblis Gelang Kematian telah mendahului.

"Agaknya masih ada yang ingin kau utarakan. Katakan saja!"

"Akhir-akhir ini aku mendengar munculnya seorang pemuda berkepandaian tinggi bergelar Dewa Maut! Apa kau tahu, dia berada di pihak mana?!"

'Aku telah dengar tentang pemuda itu. Namun aku belum dapat memastikan di mana dia berpihak. Perjalananku kali ini sebenarnya selain mencari muridku, juga untuk menyelidik tentang pemuda itu!"

Dadung Rantak sedikit terkejut mendengar ucapan Iblis Gelang Kematian.

"Hmm.... Jadi kau telah punya seorang murid. Kalau boleh tahu siapa nama muridmu itu?!"

"Sebenarnya aku tidak lagi menginginkan seorang murid. Namun karena usiaku telah merangkak tua, dan aku masih membutuhkan tenaga, terpaksa untuk melanjutkan cita-citaku, aku mengangkat seorang murid. Dia bergelar Penyair Berdarah!"

"Hmm.... Nama bagus!" puji Dadung Ran-

tak.

"Kau juga bukankah dulu punya dua orang

murid?!"

Dadung Rantak mengangguk.

"Keduanya telah kulepas. Dan di antara aku dengan mereka sudah tidak ada hubungan guru dan murid! Malah yang laki-laki telah tewas waktu kejadian di lereng Gunung Kembar! Sekarang tinggal yang perempuan. Dia sekarang bergelar Dayang Naga Puspa."

"Ingat perempuan. Aku jadi ingat perempuan cantik bermata biru bergelar Ratu Pulau Merah. Bukankah dia dulu sering bersamamu?!"

Serentak Dadung Rantak sentakkan kepalanya menoleh pada Iblis Gelang Kematian. Rahangnya menggegat keluarkan suara gemeretak. Jari-jari tangannya bergerak mengembang hingga memperdengarkan suara berkeretakan. Mulutnya komat-kamit namun tak mengeluarkan suara.

Mengetahui orang sedang diamuk amarah, Iblis Gelang Kematian terdiam. Malah sepasang matanya beralih pada jurusan lain. Dia menunggu orang bicara. Namun hingga agak lama, Dadung Rantak tidak keluarkan sepatah kata pun!

"Hmm... Rupanya telah terjadi sesuatu antara manusia ini dengan perempuan cantik itu. Mungkin perempuan itu mengkhianatinya, atau...." Iblis Gelang Kematian tidak melanjutkan kata hatinya, karena bersamaan dengan itu Dadung Rantak telah keluarkan ucapan.

"Apa tidak ada hal lain yang masih ingin kau utarakan?! "

Iblis Gelang Kematian menggumam tak jelas. Seraya melangkah satu tindak ke depan dia berujar.

"Untuk sekarang mungkin cukup. Kalau ada hal lain bisa kita bicarakan nanti di Lembah Supit Urang. Sekarang aku harus pergi "

Dadung Rantak tidak menyambuti ucapan Iblis Gelang Kematian. Dia putar tubuhnya, lalu tanpa pedulikan tatapan si nenek, Dadung Rantak duduk bersandar lagi pada batang pohon pinus. Kedua tangannya bergerak merangkap dan disejajarkan dada. Sepasang matanya pun perlahanlahan terpejam rapat. Mulutnya berkemik-kemik.

"Setan Alas! Kalau saja tidak memandangmu sebagai teman satu golongan, kupuntir tanggal kepalamu!" maki Iblis Gelang Kematian dalam hati. Lalu tanpa berpaling lagi, nenek berambut panjang ini berkelebat tinggalkan tempat itu.

Baru saja Iblis Gelang Kematian pergi, sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri di depan Dadung Rantak dengan sepasang mata memperhatikan tak berkedip!

DUA

UNTUK beberapa saat lamanya orang yang baru muncul mengawasi Dadung Rantak dari rambut sampai kaki. "Lagaknya seperti seorang pengemis. Namun melihat sikapnya yang tidak kedinginan meski tak mengenakan baju, tentunya dia seorang yang memiliki ilmu! Hmm Dan rasa-

rasanya aku pernah bentrok dengan lelaki tua itu! Tapi sudahlah, dia bukan orang yang kucari!" bisik hatinya. Orang ini lantas memandang berkeliling. Lalu berujung lagi pada sosok sang kakek. Mulutnya bergerak membuka hendak mengucapkan sesuatu, namun sesaat kemudian mulutnya terkatup kembali. Tanpa berpaling lagi, orang ini lantas melangkah hendak tinggalkan tempat itu.

Namun langkah orang ini tertahan ketika didengarnya Dadung Rantak keluarkan batukbatuk tiga kali. Orang yang berdiri serentak palingkan wajahnya. Bersamaan dengan itu Dadung Rantak buka kelopak matanya.

Sekejap sepasang mata Dadung Rantak membesar dan menyipit. Kira-kira delapan langkah dari tempatnya duduk bersandar, si kakek melihat seorang berdiri tegak memandang ke arahnya.

Dia adalah seorang pemuda bertubuh tinggi tegap. Sepasang matanya menyorot tajam. Rahangnya kokoh, rambutnya panjang dan lebat. Mengenakan jubah hitam besar yang dilapis dengan baju putih yang pada bagian dadanya tampak sebuah lukisan pintu gerbang.

"Hmm.... Aku pernah berselisih dengannya. Ketika itu aku sedang terluka dalam dan pemuda ini datang. Lalu bertempur beberapa jurus dengannya. Sebaliknya aku bertanya untuk meyakinkan!" kata hati Dadung Rantak.

"Orang muda! Siapa kau? Apakah kau mencari seseorang?!"

Orang yang ditanya tidak segera memberi jawaban. Hanya sepasang matanya yang terus memandang tak berkedip.

Dadung Rantak tengadahkan kepalanya. Matanya menatap tajam pertanda tak senang dengan sikap orang yang tidak menjawab pertanyaannya.

"Kalau kau tak mau jawab pertanyaanku, cepat menyingkir dari hadapanku!" Dadung Rantak keluarkan bentakan.

Mendengar bentakan orang, si pemuda bukannya takut lalu menuruti kata-kata orang untuk menyingkir. Sebaliknya pemuda ini mendongak sambil tertawa pelan. Nadanya jelas meremehkan!

"Orang tua! Sepertinya aku pernah melihatmu. Dengar baik-baik! Aku adalah Dewa Maut! Kau sendiri siapa?!"

Air muka Dadung Rantak seketika berubah. Namun hal itu segera disembunyikannya dengan keluarkan batuk-batuk kecil. Dalam hati kakek ini berucap.

"Hmm.... Dugaanku tidak meleset. Dia memang pernah hampir membunuhku!" (Baca Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: "Prahara Dendam Leluhur").

"Aku telah sebutkan siapa diriku. Harap kau segera pula jawab tanyaku!' sang pemuda yang bukan lain memang Dewa Maut adanya balik keluarkan bentakan. Dewa Maut telah ingat kalau lelaki tua ini sudah mati sewaktu bertempur dengannya. Tapi mengapa sekarang masih berkeliaran? Pemuda itu memang tidak tahu kalau Dadung Rantak pura-pura mati kala itu.

Dadung Rantak luruskan kepalanya. Sepasang matanya memandang tajam dengan tersenyum dingin,

"Aku Dadung Rantak!" serunya dengan setengah berteriak. Setelah diam sejurus dia kembali melanjutkan ucapannya.

"Kau rupanya buru-buru. Apa kau mencari seseorang?!"

Dewa Maut lirikkan matanya. Bahunya diangkat sedikit. "Tahu apa manusia tua ini tentang orang yang kucari?! Tapi tak ada jeleknya aku mengatakan padanya. Dengan tersebarnya berita ini, mungkin saja orang yang kucari penasaran, dan balik mencariku!"

"Aku memang sedang mencari seseorang!" ujar Dewa Maut sambil alihkan pandangannya ke jurusan lain.

"Hmm   Siapa yang kau cari?!"

"Wong Agung!" jawab Dewa Maut tandas. Dadung Rantak sedikit tercengang menden-

gar jawaban pemuda di hadapannya. Namun sekejap kemudian ketercengangannya berubah menjadi rasa geli. Hingga tak lama kemudian dari mulutnya terdengar suara tawanya mengekeh panjang.

"Orang tua! Kau berani menertawakanku. Katakan apa yang membuatmu tertawa ngakak. Hah ?!"

Dewa Maut cepat keluarkan bentakan keras. Paras wajahnya berubah merah padam. Rahangnya terangkat. Menindih rasa geram mendapati ucapannya ditertawakan orang.

"Orang muda! Kau ini aneh. Wong Agung sudah sejak beberapa puluh tahun tak pernah lagi ikut campur dunia persilatan. Melihat perubahan pada wajahmu, aku dapat menduga kau punya masalah dengannya. Tapi mana mungkin? Wong Agung sudah tidak pernah lagi meninggalkan tempatnya! Kau jangan bercanda!"

"Jahanam! Siapa bercanda!" gertak Dewa Maut, membuat Dadung Rantak katupkan mulutnya rapat-rapat. Dipandanginya pemuda di hadapannya lekat-lekat, seakan ingin meyakinkan ucapan orang. "Kalau kau tidak bercanda, katakan apa silang sengketa antara kau dengan Wong Agung!"

"Itu urusanku! Dan kau tak layak untuk menanyakannya!" tukas Dewa Maut dengan senyum mengejek.

"Hmm.... Begitu? Apakah kau sudah paham, siapa adanya orang yang kau cari itu?!" tanya Dadung Rantak dengan tawa perlahan, seakan ingin balik mengejek orang.

"Bagiku tak penting siapa adanya orang itu!

Yang pasti aku menginginkan jiwanya!"

"Hmm. Selain dia, adakah orang lain yang

kau cari?!"

"Orang tua!" ujar Dewa Maut tanpa memandang. "Sepertinya kau hendak menyelidik. Siapa kau sebenarnya?!"

Dadung Rantak tertawa pendek. Lalu gerakkan kepalanya menggeleng pelan ke kanan kiri. "Seperti kukatakan tadi. Aku adalah Da-

dung Rantak! Tua bangka yang sudah bau tanah. Aku tidak menyelidik. Tak ada untungnya bagiku menyelidik urusan orang! Hanya...," Dadung Rantak tak meneruskan kata-katanya.

"Hanya apa?!" tanya Dewa Maut cepat. "Kusarankan padamu, untuk mengurung-

kan niat! Kau masih muda, masih banyak yang bisa kau perbuat selain mencari penyakit dengan Wong Agung!"

Tubuh Dewa Maut terlihat terguncang. Kedua tangannya mengepal hingga otot-otot tangannya tampak menggurat jelas.

"Keparat! Dia rupanya belum tahu siapa diriku!" maki Dewa Maut dalam hati. Lalu dia buka mulutnya. Suaranya terdengar bergetar, pertanda geram.

"Korban telah kutetapkan! Siapa pun tak akan dapat menghalangi langkahku! Atau kau menyangsikan diriku?!"

Habis berkata begitu, Dewa Maut angkat kedua tangannya dan dihantamkan ke arah sebuah pohon pinus besar yang berjarak dua puluh langkah dari tempatnya berdiri.

Wuuttt! Wuutttt!

Asap merah yang disusul dengan menderunya angin berputar-putar aneh melesat ke depan. Bersamaan dengan itu udara berubah panas menyengat laksana dipanggang!

Sekejap kemudian, batang pohon pinus di depan sana terdengar bergemeretakan. Di lain kejap, batang pohon itu telah membumbung ke udara dan berputar-putar. Ketika kedua tangan Dewa Maut disentakkan ke bawah, batang pohon pinus menukik dan telah menjadi patah-patahan kecil! Serta hangus menghitam!

Meski diam-diam Dadung Rantak mengagumi pukulan sang pemuda, namun kakek ini tak mau mengatakan atau menunjukkan wajah keheranan. Malah dia tertawa pelan. Lalu bergerak bangkit dan berkata.

"Dengar Anak muda! Yang baru saja kau pukul adalah sebuah pohon. Bukan "

"Mataku juga tidak buta! Namun Wong Agung akan kubuat seperti itu!" tukas Dewa Maut sebelum Dadung Rantak menyelesaikan ucapannya.

"Angan-angan seringkali di atas kenyataan,

Anak muda!" gumam Dadung Rantak tanpa berpaling.

"Eh, mendengar ucapanmu rupanya kau kenal betul dengan Wong Agung!" ujar Dewa Maut dengan sedikit merendahkan suaranya.

"Hmm.... Nyata sekali jika manusia sombong ini masih belum mengenal satu persatu tokoh rimba persilatan! Tapi bekal yang dibawanya cukup tinggi!"

"Makanya aku sarankan padamu untuk mengurungkan niat, karena aku telah tahu siapa adanya Wong Agung!"

"Apa hubunganmu dengan Wong Agung?!" tiba-tiba suara Dewa Maut mengeras lagi.

"Apa hubunganku dengan Wong Agung, itu bukan urusanmu!"

"Keparat! Jangan-jangan kau sahabatnya!

Betul?!"

Dadung Rantak tertawa mengekeh hingga bahunya berguncang keras. Namun suara tawanya tiba-tiba diputus. Sepasang matanya liar memandang tajam pada Dewa Maut. Jari telunjuknya bergerak lurus ke arah wajah pemuda itu.

"Sekali lagi kau keluarkan makian, kupecahkan mulutmu!"

Mendengar ancaman orang, Dewa Maut bukannya tersurut mundur, sebaliknya pemuda ini ganti tertawa ngakak. Dengan kacak pinggang pemuda pengemban tugas dendam leluhurnya ini berkata. "Dewa Maut tak suka diancam orang. Tunjukkan padaku bagaimana caranya memecahkan mulut Dewa Maut! Atau kau yang ingin mati dua kali!"

"Menuruti ucapanmu, sebenarnya aku tak keberatan. Tapi masih ada urusan lebih penting daripada sekadar main-main memecahkan mulutmu. Tapi kalau kau ingin membuktikan pecahnya mulut, atau sekalian putusnya nyawa, kutunggu kedatanganmu di Lembah Supit Urang dua puluh hari dari saat ini!"

Habis berkata begitu, Dadung Rantak tertawa perlahan. Lalu berkelebat meninggalkan tempat itu.

Dewa Maut kertakkan rahang. Namun pemuda ini tak berbuat sesuatu untuk mencegah kepergian si kakek.

"Sengaja kubiarkan dahulu tua bangka itu minggat. Aku menangkap sesuatu di balik undangan nya itu...!" Lalu tak peduli si kakek telah pergi jauh pemuda itu berteriak lantang.

"Dewa Maut bukan manusia penakut! Bukan kau yang menunggu di sana. Tapi aku akan datang mendahuluimu!"

Bersamaan dengan lenyapnya gema suara teriakannya, Dewa Maut tak tampak lagi di tempat itu! TIGA

ORANG tua bermata putih dan sangat sipit itu mendongak ke langit. Saat itu hari memasuki tanggal lima belas, hingga meski malam telah larut, namun cuaca sangat terang karena sang rembulan bulat penuh tidak sedikit pun disemaraki bongkahan awan. Angin berhembus semilir membuat rambut orang tua yang panjang dan telah memutih itu melambai-lambai.

Sejenak kedua tangan si orang tua bergerak mengusap wajahnya yang keriput dimakan usia. Setelah menarik napas dalam dan tersenyum dingin, orang tua ini luruskan kepalanya. Yang terlihat oleh si kakek ini hanyalah pucuk dedaunan yang berubah warna karena tertimpa cahaya sang rembulan, karena saat itu si kakek memang berada pada sebuah puncak bukit.

"Hmm.... Ini adalah purnama yang kelima belas. Waktu terakhir bagi pemuda itu menyelesaikan batu ujian. Kalau dia bertahan, nasibnya memang baik. Jika tidak, dia akan mampus!" Si orang tua bergumam sendiri. Kedua tangannya membetulkan jubahnya yang besar dan telah lusuh. Dia lalu melangkah pulang balik di puncak bukit yang sepi itu. Kepalanya lalu tengadah memandang rembulan, lalu lurus kembali. Semua gerak-gerik kakek ini mengisyaratkan bahwa dirinya saat itu sedang berada dalam keadaan gelisah. Setidak-tidaknya ada yang membuatnya tidak sabar menunggu sesuatu. Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba untuk yang kesekian kalinya si orang tua memandang tajam ke arah sang rembulan. Kali ini sambil tersenyum. Diluruskannya tubuhnya yang agak bungkuk. Setelah menarik napas panjang dia melangkah ke samping kanan dua tindak. Lalu putar tubuhnya setengah lingkaran dan laksana kilat, tubuhnya berkelebat menuruni bukit.

Pada lamping bukit yang terhampar sebuah tanah lapang tanpa ditumbuhi pohon si kakek hentikan larinya. Sepasang matanya yang sipit dan berwarna putih memandang tak berkedip pada sebuah lobang besar yang ada di tengah-tengah tanah lapang.

Lobang itu lebarnya dua kali panjang tombak dan berbentuk segi empat. Anehnya meski lobang itu berada di tanah, namun dari dalamnya mencorong warna merah dan membiaskan hawa panas!

Setelah mengusap kening dan lehernya yang keringatan, si orang tua melangkah pelan mendekati lobang yang mencorong merah. Begitu berada di samping bibir lobang, sepasang matanya dibuka lebar-lebar.

Ternyata di dalam lobang itu terdapat tumpukan batang-batang kayu yang telah berubah jadi bara! Malah sesekali seberkas api tampak mencuat ke atas karena terhembus angin.

Si orang tua untuk beberapa jurus memperhatikan. Tiba-tiba kedua tangannya bergerak menyentak ke bawah, lalu diangkat pelan-pelan. Terjadilah sesuatu yang luar biasa. Tumpukan batangan kayu dl dalam lobang mencelat berhamburan ke udara, lalu berserakan di atas lobang dengan keadaan padam!

Ketika tumpukan bara kayu di dalam lobang tidak ada lagi, tampak melingkar sesosok tubuh yang hanya mengenakan sebuah celana kolor yang sudah hangus dan robek di sana-sini.

Di bawah cahaya sinar rembulan, sosok tubuh yang melingkar itu terlihat diam tak bergerak. Bahunya tidak menampakkan adanya guncangan yang menandakan napasnya masih berhembus. Kulit sekujur tubuhnya pun tampak berubah menghitam dan di beberapa bagian terlihat mengembung dan di bagian lainnya mengelupas!

"Malaikat Berdarah Biru! Kau masih mendengar kata-kataku?!" si orang tua berseru keras. Tak ada jawaban dari sosok tubuh di bawahnya yang dipanggil Anak Agung. Sosok itu pun tak terlihat membuat gerakan.

Si orang tua bergerak jongkok di bibir lobang. Sepasang matanya dipentangkan lebarlebar. Untuk kesekian lama dia memperhatikan sambil menunggu. Tapi karena sekian lama tak juga ada tanda-tanda jika sosok di dalam lobang hendak bergerak apalagi keluarkan suara untuk menjawab pertanyaan orang, si orang tua menghela napas panjang.

"Hm.... Apa dia sudah tewas?!" gumamnya seraya gerakkan kepala tengadah. "Ujian ini memang berat. Namun jika berhasil, maka dia kelak akan menjadi manusia tanpa tanding di jagat ini! Segala pukulan tak akan mampu menembus tubuhnya! Tapi jika dia gagal dalam ujian ini, dia akan tewas!"

Setelah menarik napas dalam-dalam, tanpa palingkan lagi wajahnya pada sosok di dalam lobang, si orang tua kembali berteriak lantang.

"Malaikat Berdarah Biru! Kalau kau masih bernyawa, cepat bangkit!"

Lagi-lagi si orang tua tak mendapat jawaban, membuat kepalanya berpaling ke bawah memperhatikan sekali lagi. Kepalanya lantas menggeleng perlahan.

"Nampaknya kau gagal, Bocah! Berarti nasibmu belum baik. Dan kau harus terkubur di situ!"

Si orang tua lantas bergerak bangkit. Kaki kanannya lalu menjejak tanah bibir lobang. Tanah itu langsung longsor berjatuhan di bawah, menimbun sosok di dalamnya. Si orang tua terus jejakkan kakinya ke tanah di sekitar lobang, hingga lambat laun sosok di dalam lobang tertimbun hampir tak kelihatan lagi.

Tiba-tiba si orang tua hentikan kakinya yang menjejak. Sepasang matanya yang sipit memandang tajam ke dalam lobang. Kedua alis matanya yang putih dan sangat tipis naik sesaat. Mulutnya bergerak komat-kamit.

Pada saat tanah telah menutup hampir sekujur tubuh sosok di dalam lubang, si orang tua melihat adanya gerakan. Lalu perlahan-lahan sebuah tangan tampak menyeruak dari timbunan tanah. Kemudian disusul dengan tangan satunya lagi. Dan perlahan-lahan pula dari timbunan tanah itu muncul kepala dengan rambut panjang dan kempal serta jarang. Kulit wajahnya telah berwarna kecoklatan.

"Astaga! Ternyata dia berhasil melampui ujian ini!" gumam si orang tua dengan bibir mengulas senyum. Tubuhnya sedikit berguncang, sementara sepasang matanya tak berkedip.

"Ahhh..,." Tiba-tiba sosok yang kini telah menampakkan kepala dan dadanya itu keluarkan suara erangan. Kepalanya lantas bergerak tengadah. Sepasang matanya yang masih terpejam bergerak-gerak hendak membuka, namun belum sampai mata itu membuka, dari mulutnya yang gosong keluar lagi erangan kesakitan. Bersamaan dengan itu, kepalanya lunglai dan tubuhnya hendak luruh lagi.

Namun sebelum tubuh itu terbujur di atas tanah di dalam lobang, si orang tua telah bantingkan kedua kakinya ke atas tanah. Tempat itu tibatiba berguncang keras. Dan bersamaan dengan itu sosok yang di dalam lobang mencelat ke atas!

Si orang tua mengikuti gerakan sosok yang melayang, lalu dia berkelebat. Dan 'huuup', sosok yang menukik itu telah berada di pondongan si orang tua.

Tanpa meneliti lagi, si orang tua berkelebat menaiki puncak bukit dengan tawa mengekeh terdengar dari mulutnya.

Sampai di puncak bukit, si orang tua meletakkan sosok yang dipondongnya di tanah. Sesaat dia memandangi, lalu bergerak bangkit dan berkelebat ke balik sebuah pohon besar yang di belakangnya tampak gundukan batu. Tak lama kemudian dia telah keluar lagi dengan tangan kanan memegang sebuah kendi dari tanah.

Si orang tua melangkah dan berdiri tegak di samping sosok yang membujur tak bergerak. Kepala si orang tua lalu tengadah pandangi bulan. Mulutnya komat-kamit perdengarkan suara yang tak jelas. Tubuhnya tiba-tiba bergetar, mula-mula pelan, namun makin lama makin keras. Bersamaan dengan itu seraya terhuyung, dia melangkah ke samping dua tindak. Kendi di tangan kanannya dimiringkan tepat di atas kepala sosok di bawahnya.

Dari mulut kendi mengucur cairan berwarna merah. Membasahi kepala sosok yang terbujur. Lalu si orang tua melangkah sambil mengucurkan cairan merah ke seluruh tubuh sosok di bawahnya hingga cairan itu tak tersisa lagi.

Si orang tua lalu meletakkan kendi di samping kepala sosok yang terbujur. Dia lantas duduk bersila. Sepasang matanya perlahan memejam. Kedua tangannya lalu disatukan di depan dada. Dari mulutnya terdengar ucapan-ucapan yang tidak bisa dimengerti.

Terjadilah suatu hal yang hampir tak bisa dipercaya. Sekujur kulit sosok yang terbujur tibatiba menggelembung, dan perlahan-lahan merekat lalu gelembungan itu pecah. Dan perlahan-lahan pula pecahan kulit itu terus merambat ke sekujur tubuh.

Beberapa saat berlalu. Ketika si orang tua membuka kembali sepasang matanya terlihat kulit kecoklatan yang tadi membungkus sekujur tubuh di hadapannya telah mengelupas! Dan berserakan di sekitar tubuh yang terbujur. Pada sekujur tubuh sosok itu kini terlihat kulit yang berwarna kuning kemerahan!

Si orang tua lepaskan kedua tangannya yang menakup, lalu ditempelkan pada dada sosok yang terbujur. Si orang tua tak menunggu lama. Sesaat kemudian dada sosok itu bergerak-gerak lalu dari hidungnya berhembus napas. Dan bersamaan dengan itu dari mulutnya terdengar gumaman. Si orang tua yang ternyata salurkan tenaga dalamnya itu lipat gandakan tenaga dalamnya.

Perlahan-lahan sosok itu buka kelopak matanya, memandang lurus ke atas. Lalu bola matanya berputar ke samping. Sejenak bola mata itu memandang lekat-lekat pada si orang tua. Tibatiba dari mulutnya terdengar seruan pelan.

"Guru!"

Si orang tua anggukkan kepalanya, lalu tangannya ditarik dari dada sosok terbujur di hadapannya.

"Bangkitlah!" seru si orang tua dengan bibir tersenyum puas.

Perlahan-lahan sosok yang terbujur yang kini kulitnya telah pulih seperti sediakala bergerak bangkit dan duduk. Ternyata dia adalah pemuda berparas tampan. Sepasang matanya tajam berkilat. Dagunya kokoh dengan perawakan tegap. Pada telinga kiri tampak sebuah anting-anting tembaga. Rambutnya yang tadi jarang dan tipis, sekarang sudah tumbuh kembali. Ini semua berkat cairan merah yang diguyurkan si kakek.

Sejenak si pemuda memandang tajam pada kulit berserakan di kanan kirinya, lalu meneliti sekujur tubuhnya. Kepalanya lalu lurus memandang si orang tua. Mulutnya hendak berkata, namun si orang tua telah mendahului.

"Malaikat Berdarah Biru! Itu adalah kulit luar mu yang tadi terpanggang selama kau menjalani ujian!"

Masih diliputi rasa keheranan, pemuda yang dipanggil Anak Agung ajukan tanya. "Bagaimana ini bisa terjadi?!"

Si orang tua keluarkan tawa mengekeh pan-

jang.

"Darah ular cobra yang telah diawetkan

berpuluh-puluh tahun. Itulah yang bisa membuat kulitmu mengelupas dan berganti dengan kulit baru. Selain itu, kini tubuhmu akan kebal terhadap segala jenis racun! "

"Terima kasih, Guru!" ujar Malaikat Berdarah Biru dengan hanya sedikit anggukkan kepalanya. Itu pun dia lakukan dengan perasaan berat. Karena sebenarnya dia tak suka melakukan hal itu meski terhadap orang tua yang dipanggilnya Guru. "Hmm.... Sifat angkuh anak ini memang te-

lah mendarah daging! Tapi apa hendak dikata. Semuanya seakan sudah diatur, dan aku mendapatkan pemuda yang demikian. Tapi aku bangga, dia berhasil mengatasi ujian itu," kata hati si orang tua, lalu buka mulut.

"Malaikat Berdarah Biru! Seperti yang pernah kukatakan padamu dahulu, kalau kau telah berhasil melewati ujian ini, maka kau akan berubah menjadi manusia yang tahan terhadap segala jenis pukulan! Ditambah kau sekarang akan kebal terhadap segala jenis racun. Dan secara otomatis, pukulanmu yang telah kau pelajari dari gurugurumu terdahulu akan berlipat ganda kekuatannya!"

Dengan senyum lebar dan busungkan dada, Anak Agung berkata.

"Jadi aku sekarang telah mendapatkan semua itu?!"

Si orang tua anggukkan kepalanya. "Kau adalah manusia ketiga yang berhasil menjalani ujian berat itu! "

Dahi Malaikat Berdarah Biru langsung berkerut mendengar keterangan si orang tua. Dengan hati gusar, dia ajukan tanya.

"Kalau aku adalah orang ketiga, berarti ada dua orang lagi. Siapakah mereka?!"

"Pertama adalah orang yang mencipta ilmu itu. Orang kedua adalah mendiang guruku sendiri!" jawab si orang tua.

Malaikat Berdarah Biru menghela napas lega. Sebenarnya pemuda ini merasa khawatir jika ada orang lain yang menguasai ilmu itu. Namun setelah mendapat keterangan demikian, yang berarti kedua orang tersebut telah tiada, dia merasa senang. Karena hanya dia sendirilah kini yang menguasai ilmu itu.

"Malaikat Berdarah Biru!" kata si orang tua setelah agak lama di antara keduanya tidak ada yang keluarkan suara. "Enam belas bulan kau berada di sini. Dan lima belas bulan lamanya kau habiskan di dalam lobang ujian itu. Sekarang apa yang kau inginkan telah tercapai. Dan mungkin dalam benakmu ingin segera meninggalkan tempat ini!"

"Keparat! Sudah tahu kenapa masih diucapkan lagi?!" maki Anak Agung dalam hati. Dia segera menatap tajam orang tua di hadapannya dan berujar.

"Kalau memang sudah tidak ada lagi yang harus kulakukan, aku memang ingin segera meninggalkan tempat ini. Seperti yang pernah kuceritakan padamu dahulu, aku punya urusan yang tidak akan bisa membuat batinku tenang sebelum urusan itu selesai!"

"Maksudmu urusan dengan Pendekar Mata Keranjang 108?!"

Air muka Malaikat Berdarah Biru kontan berubah tatkala mendengar si orang tua menyebut Pendekar 108. Rahangnya yang kokoh terangkat dengan pelipis kanan kiri bergerak-gerak.

Meski mulutnya tidak keluarkan suara untuk menjawab, mendapati perubahan wajah muridnya, si orang tua itu maklum. Seraya tertawa mengekeh si orang tua menyambung ucapannya.

"Sakit hati memang harus dibalas! Kapan kau akan meninggalkan tempat ini?!"

Malaikat Berdarah Biru tidak segera menjawab. Dia masih meredakan gejolak amarah yang membakar dadanya. Setelah dadanya mereda, dia angkat bicara.

"Kalau guru memperbolehkan dan memang sudah tidak ada yang harus kulakukan di sini, aku akan berangkat sekarang juga!"

Si orang tua angguk-anggukkan kepala. Tangannya bergerak mengusap-usap kumisnya yang telah memutih.

"Memang, sudah tidak ada lagi yang perlu kau lakukan. Hanya kalau kau benar-benar ingin segera berangkat, aku tak akan mencegahmu...," sejenak si orang tua hentikan ucapannya. Setelah menarik napas dalam-dalam dia melanjutkan.

"Ada beberapa hal yang harus kau ketahui sebelum kau berangkat "

"Hmm... Hal apakah itu, Guru?!" sahut Malaikat Berdarah Biru dengan kening mengernyit.

"Turut apa yang kudengar, kali ini rimba persilatan telah diramaikan dengan munculnya tokoh-tokoh tua yang ilmunya tak disangsikan lagi. Juga telah muncul beberapa pemuda yang ilmunya juga tak bisa dibilang sembarangan. Kalau hal itu memang benar, aku punya permintaan padamu!"

"Katakan saja. Guru!"

"Carilah seorang laki-laki tua bergelar Setan Arak! Cabut nyawanya untukku!" suara si orang tua mendadak berubah parau dan bergetar, membuat Malaikat Berdarah Biru terkejut. Namun murid ini menyadari jika gurunya sedang marah. Hingga dia hanya diam tak menyahut ucapan gurunya meski dalam hati dia ingin mengatakan sesuatu.

"Yang kedua, kau harus dapat membunuh orang yang bergelar Dewi Bunga Iblis!" "Guru!" kata Malaikat Berdarah Biru. "Bisa kau katakan ada silang sengketa apakah antara kau dengan kedua orang yang kau sebut tadi?!"

Si orang tua tertawa pendek. Bibirnya tersenyum kecut. Senyum pertanda kegeraman dan kepedihan hati.

"Seperti halnya dirimu yang sakit hati dihinakan dan dikalahkan pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 itu, aku pun pernah dihinakan oleh kedua orang tadi! Dan sakit hati ini tak akan pupus sebelum keduanya mati di tanganku atau setidak-tidaknya di tangan muridku!"

"Hm.... Jika demikian, aku berjanji akan membawa kedua kepala orang itu ke hadapanmu sebagai balas budimu padaku!"

Si orang tua tertawa mengekeh panjang hingga bahunya berguncang dan air matanya keluar.

"Ternyata aku memilih orang yang tidak salah! Kedatanganmu dengan penggalan kepala kedua orang itu kutunggu!"

"Sekarang apakah aku bisa pergi, Guru?!"

Si orang tua terdiam sejenak. Dia sepertinya sedang memikir. Lalu berkata.

"Sebenarnya hal ini tak akan ku utarakan padamu. Namun untuk jaga-jaga tak ada salahnya juga kau ketahui!"

Malaikat Berdarah Biru kembali kernyitkan dahi. Dia tak ucapkan sepatah kata pun! Dia diam menunggu.

"Ketahuilah! Kau memang telah menjadi orang hebat. Tak akan mempan senjata dan pukulan. Tak akan mempan segala jenis racun. Tapi segala sesuatu harus kita sadari pasti punya kelemahan!"

"Maksudmu?!" tukas Malaikat Berdarah Biru cepat dengan dada bergetar.

"Kau hanya dapat dikalahkan dan dilukai oleh seseorang yang lahir dari darahmu sendiri! Dan hal itu akan terjadi saat bulan purnama!"

Malaikat Berdarah Biru tersentak. Namun cuma sesaat. Sekejap kemudian dia telah tersenyum. "Hmm Jika hanya itu pantangannya, aku

bisa menghindari! Lagi pula aku belum punya anak ," batinnya.

"Maka dari itu, Muridku. Kusarankan padamu agar kau bertindak hati-hati pada seorang perempuan. Karena itu akan menjadi petaka bagi dia kelak kemudian hari! Dan yang juga harus kau ingat, kalau kau tidak dapat menghindari dari hal yang pertama dan terpaksa punya seorang anak, jangan sampai kau bertarung dengannya saat bulan purnama! Karena saat itulah ajalmu akan dating!"

"Segala petunjukmu akan kuingat!"

"Bagus! Sekarang kau bisa tinggalkan tempat ini! "

Namun Malaikat Berdarah Biru tidak segera bangkit. Dia masih duduk bersila, membuat si orang tua melanjutkan ucapannya dengan nada bertanya.

"Ada sesuatu yang masih ingin kau tanyakan?! "

"Guru! Kau telah memberikan segala yang terbaik padaku. Rasanya kurang enak jika kau masih tetap menyembunyikan siapa dirimu padaku! Harap kau suka katakan siapa nama atau gelarmu! Lagi pula sewaktu-waktu kedua musuhmu itu bertanya, aku bisa menjawab! "

Si orang tua hanya menjawab dengan kekehan tawanya. Setelah puas tertawa, dia keluarkan sesuatu dari balik Jubahnya. Ternyata sesuatu itu adalah sebuah cincin berwarna hitam berbentuk kepala burung.

"Tunjukkan benda itu pada kedua orang itu. Atau kepada siapa saja yang pernah malang melintang dalam rimba persilatan pada masa lalu. Di sanalah kau akan mengetahui siapa diriku sebenarnya!" kata si orang tua seraya mengulurkan cincin itu pada Malaikat Berdarah Biru.

Pemuda itu segera menyambuti, lalu cincin itu dikenakannya.

"Kau ambillah pakaianmu di balik pohon itu!" perintah si orang tua.

Malaikat Berdarah Biru bergerak bangkit, lalu melangkah ke balik pohon. Ketika dia keluar lagi, dia terkejut. Si orang tua sudah tak ada lagi di tempatnya semula.

Sepasang mata Malaikat Berdarah Biru menyapu berkeliling. Namun orang yang dicarinya tak ditemukan. Dia lalu berteriak memanggil dengan sebutan guru beberapa kali. Namun hanya hembusan angin yang menjawabnya.

"Keparat! Ke mana orang tua ini perginya? Ah, persetan! Yang penting aku telah mendapatkan sesuatu yang kuinginkan!" gumamnya dalam hati. Malaikat Berdarah Biru lantas merapikan pakaiannya. Ternyata yang dikenakan adalah sebuah jubah toga berwarna merah darah. Inilah pakaian yang menunjukkan bahwa pemakainya adalah pemuda yang dulu pernah menggegerkan dunia persilatan bernama asli Anak Agung yang pernah berguru pada seorang nenek sesat Bidadari Telapak Setan. Lalu pernah juga diambil murid oleh Bayangan Iblis. Pemuda yang dulu pernah menggenggam senjata kipas pusaka hitam ciptaan Empu Jaladara!

Seperti dituturkan dalam episode: "Geger Para iblis", Pendekar 108 berhasil membuat Malaikat Berdarah Biru cidera dalam, namun pemuda itu masih sempat meloloskan diri, karena Pendekar 108 terpaku melihat Putri Tunjung Kuning yang semula dikira sudah tewas ternyata masih hidup, hingga kelengahan itu dipergunakan untuk meloloskan diri oleh Malaikat Berdarah Biru.

Di tengah perjalanan, mungkin karena lukanya cukup parah, Malaikat Berdarah Biru jatuh terduduk di atas tanah. Pemuda ini tampaknya amat khawatir jika Pendekar 108 mengejar, hingga meski masih merasakan sakit yang amat sangat, dia segera bergerak bangkit. Namun belum sampai tubuhnya benar-benar tegak, sosoknya telah jatuh lagi. Pemuda ini tak putus asa. Dia coba kerahkan tenaga dalam, namun karena tubuh bagian dalamnya telah terluka, pemuda ini gagal mengerahkan tenaga dalam.

Dalam keadaan bingung, takut dan putus asa, mendadak muncul seorang kakek bermata putih. Entah karena terkejut mengira yang muncul adalah Pendekar 108, atau karena lukanya terlalu parah, belum sempat sang kakek berkata, Malaikat Berdarah Biru telah roboh pingsan.

Sang kakek akhirnya membawa Malaikat Berdarah Biru ke tempat tinggalnya. Begitu Malaikat Berdarah Biru sembuh, pemuda ini meminta agar sang kakek bersedia mengangkatnya sebagai murid. Rupanya keinginan Malaikat Berdarah Biru terkabul, karena sang kakek tak keberatan mengangkatnya sebagai murid.

Sejak saat itulah Malaikat Berdarah Biru menghilang. Mungkin karena tak satu pun yang mengetahui ke mana lenyapnya pemuda ini, apalagi setelah dikalahkan oleh Pendekar 108, maka sebagian orang rimba persilatan menduga jika Malaikat Berdarah Biru telah tewas!

EMPAT

SIANG itu panasnya bukan alang kepalang. Arak-arakan awan tak secuil pun yang menutupi langit, hingga sang mentari begitu leluasanya memancarkan sinarnya yang menyengat.

Pada suatu tempat di ujung hutan kecil berbatasan dengan sebuah desa tampak seseorang melangkah terseok-seok. Malah sesekali tubuhnya doyong ke depan akan jatuh terjerembab, namun begitu tubuhnya hampir saja menyuruk tanah, orang ini cepat tarik tubuhnya kembali. Dia adalah seorang perempuan mengenakan pakaian gombrong besar dan panjang menjuntai tanah, hingga kedua tangan dan kaki perempuan ini tak terlihat. Wajahnya dibedaki pupur tebal. Sementara bibirnya dipoles merah dan belepotan sampai hidung. Kedua alis mata serta kelopak matanya diberi pewarna hitam. Rambutnya dikuncir ke atas dibagi dua, kanan dan kiri.

Seraya melangkah terseok-seok dari mulutnya terdengar suara nyanyian yang tak bisa dimengerti. Dan sesekali nyanyiannya diseling dengan siulan dan tepuk tangan.

Mungkin karena panas, tiba-tiba tangan si perempuan bergerak menyelinap ke balik pakaiannya. Sejenak kepalanya bergerak berputar ke sana kemari. Sepasang matanya menyapu berkeliling. Lalu dengan senandung kecil tangan kanannya ditarik dari batik pakaiannya. Di tangannya kini terlihat sebuah kipas lipat. Setelah melirik kian kemari, dia pentangkan kipasnya, lalu seraya bersandar pada sebuah batu dia mulai gerakkan tangannya pulang balik di depan wajah berkipaskipas. Sepasang matanya terpejam membuka seolah menikmati semilirnya angin yang keluar dari gerakan kipasnya.

"Sungguh malang nasib orang sepertiku   "

Tiba-tiba dari mulut si perempuan terdengar ucapan. "Panas-panas begini harus tertatih-tatih sendiri, tanpa teman tanpa kawan. Tujuan pun hanya menuruti ke mana kaki ingin mengajak. Apakah nasib seperti ini masih akan kualami selamanya? Hik... hik... hik    Tapi, siapa tahu nanti ada orang

yang mengajakku. Aku mau ikut saja asal tidak dijadikan sebagai.... Huk... huk... huk...!" Tiba-tiba si perempuan ini takupkan tangan kirinya ke wajah. Bahunya berguncang-guncang seakan hendak mengatasi tangisnya. "Huk... huk... huk.... ini semua gara-gara manusia yang namanya laki-laki! Seenaknya begitu saja meninggalkan perempuan jika sudah merasakan apa yang diinginkan! Sekarang harus ke mana aku mencarinya? Dan kalau tidak ketemu, siapa kelak yang akan bertanggung jawab atas perbuatannya? Huk... huk... huk...! Kalau sampai ketemu, dan dia tak mau bertanggung jawab, akan kulumat polos tubuhnya! Dia telah memberiku malu besar. Busyet! Aku sampai salah omong! Hik... hik... hukkk...!"

Tiba-tiba si perempuan ini putuskan tangisnya. Tangannya yang menutupi wajah diluruhkan. Sejenak sepasang matanya melirik kian kemari. Dan secepat kilat tangan kanannya yang memegang kipas diselinapkan kembali ke balik pakaiannya. Lalu kedua tangannya menutupi wajahnya. Dan tak lama kemudian terdengar lagi suara serta sesenggukkannya.

Bersamaan dengan itu, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri sepuluh langkah di hadapan si perempuan.

Sepasang matanya segera memperhatikan dengan tatapan liar dari ujung rambut sampai ujung pakaian si perempuan yang berserakan di atas tanah. Dahinya mengernyit, sementara rahangnya yang kokoh terangkat sedikit.

Sementara itu, si perempuan berpakaian gombrong segera keluarkan seruan terkejut. Sepasang matanya mengerjap. Wajah si perempuan tiba-tiba berubah. Sepasang matanya dibeliakkan besar-besar. Mulutnya komat-kamit menggumam tak jelas. Dan perlahan-lahan pula dia bangkit. Kakinya serentak mundur ke belakang. Namun mungkin dia lupa kalau di belakangnya ada batu, hingga tubuhnya melabrak batu itu. Sejenak tubuhnya limbung ke samping. Namun sebentar kemudian bergerak kembali ke atas.

Tiba-tiba tangan si perempuan sebelah kanan bergerak mengangkat dan menunjuk pada orang di hadapannya.

"Kau! Laki-laki seperti kau yang membuat orang menderita begini rupa! Laki-laki seperti kau yang menebar kesengsaraan di mana-mana! Lakilaki memang sudah selayaknya dimusnahkan dari muka bumi agar tidak membuat malapetaka! Tidak menebar bibit yang tidak berguna! Huk... huk... huk...! Laki-laki seperti kau harus "

"Jahanam! Diam!" teriak orang yang di hadapan si perempuan dengan rahang mengembung besar dan mata merah. Dia adalah seorang pemuda berparas tampan namun keras. Rambutnya panjang lebat dan dibiarkan bergerak di bahunya. Sepasang matanya tajam berkilat. Rahangnya kokoh membatu. Sementara perawakannya tinggi tegap dengan jubah toga warna merah menyala! Di telinga kirinya tampak anting-anting dari tambang.

Namun seperti tak mengindahkan bentakan orang yang sedang marah, si perempuan terus berkata-kata.

"Laki-laki! Marah-marah hanya untuk menutupi perbuatannya. Hik... hik... hik    Kelicikan

apa lagi yang hendak kau perlihatkan? Tapi   se-

mua ini juga kesalahan si perempuan. Kenapa masih percaya pada mulut laki-laki! Hik... hik... hik !

Kau...," si perempuan tidak melanjutkan katakatanya karena bersamaan dengan itu terdengar kembali bentakan disertai ancaman dari pemuda berjubah toga merah yang bukan lain adalah Malaikat Berdarah Biru.

"Kalau kau tak bisa diam, kupatahpatahkan tubuhmu!"

Mungkin merasa takut akan ancaman orang, si perempuan terdiam. Namun, sesaat kemudian dari mulutnya terdengar gumaman tak jelas. Sedangkan sepasang mata si perempuan memperhatikan pemuda di hadapannya lekat-lekat tanpa berkedip! Dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Tiba-tiba si perempuan tunjukkan lagi jari telunjuknya pada sang pemuda. "Kau!" katanya dengan suara keserak-serakan. "Pasti sedang dalam perjalanan mencari sesorang!"

"Perempuan edan!" hardik Malaikat Berdarah Biru dengan mata melotot angker. "Tahu apa kau tentang orang. He ?!"

Si perempuan tengadahkan kepalanya sedikit. Kedua tangan dirangkapkan sejajar dada. Sesaat kemudian dari mulutnya terdengar suara tawa mengekeh panjang. Lantas dia berkata.

'Kau! Berjalan dengan membawa dendam dan sakit hati! Mencari seseorang yang tak dapat ditentukan tempatnya, karena dia tak punya tempat tinggal. Hik... hik... hik...!"

Malaikat Berdarah Biru tersentak dan surutkan langkah satu tindak ke belakang. Sepasang matanya makin melotot mengawasi. Diam-diam dalam hati ia berbisik. "Siapa perempuan edan itu? Dan seakan tahu apa yang tengah kujalankan! Hmm.... Mungkin hanya omong kosongnya yang secara kebetulan sama dengan tujuanku!"

"Perempuan edan!" Malaikat Berdarah Biru kembali keluarkan hardikan keras. "Siapa kau sebenarnya?!"

Si perempuan yang dibentak tidak menjawab. Dia terus tertawa cekikikan yang sesekali diseling dengan sesenggukan.

"Kau! Menginginkan benda milikmu yang hilang kembali lagi! Menginginkan namamu berkumandang lagi! Hik... hik... hik...!"

Malaikat Berdarah Biru kernyitkan dahi. Sekali lagi diperhatikannya sosok perempuan yang tegak di hadapannya.

"Siapa perempuan ini sebenarnya? Dia juga tahu apa yang ada diotakku! Keparat! Aku harus mengetahui siapa dirinya!"

"Hai perempuan edan! Kalau kau tak mau sebutkan siapa dirimu, ancamanku masih berlaku! Akan kupatah-patahkan tubuhmu! Cepat katakan!" kertak Malaikat Berdarah Biru seraya maju dua langkah.

"Kau tanya namaku? Hik... hik... hik...! Apa kau tertarik dengan diriku? Tapi.... Ah, aku tak mau dengan dirimu! Kau suka mempermainkan perempuan dan suka. " "Bangsat sialan!" maki Malaikat Berdarah Biru tak bisa lagi menguasai amarahnya. "Kau ternyata lebih suka kupatah-patahkan tubuhmu daripada mengatakan siapa dirimu!"

Habis berteriak demikian, Malaikat Berdarah Biru melompat ke depan. Tangan kanannya bergerak melesat ke arah kepala si perempuan.

Bettt!

Si perempuan berteriak keras. Bersamaan dengan itu kepalanya disentakkan ke samping. Tubuhnya yang bungkuk ikut doyong ke samping hampir jatuh terjerembab. Namun dengan sentakan kembali kepalanya, tubuhnya lurus ke depan kembali.

"Kau! Laki-laki ternyata tidak hanya suka mempermainkan perempuan, tapi juga bersikap kasar pada perempuan. Siapa kau sebenarnya?!"

Malaikat Berdarah Biru tidak segera menjawab. Tampaknya pemuda ini masih tertegun bercampur curiga dan geram. Dia sama sekali tidak menduga jika kelebatan tangannya bisa dengan mudah dielakkan si perempuan, meski gerakan si perempuan terlihat tak disengaja karena merasa takut. Namun sebagai orang yang pernah malang melintang dan sempat menggegerkan rimba persilatan, Malaikat Berdarah Biru sadar jika perempuan di hadapannya menyimpan sesuatu, setidaktidaknya mempunyai sedikit ilmu.

"Kau tidak mau sebutkan siapa namamu, mungkin kau laki-laki yang mempunyai niat jelek! Kuingatkan padamu. Kalau kau punya niatan jelek, pulanglah ke rumahmu! Karena niat jelek kadang-kadang berakhir jelek pula!"

"Hmm   Perempuan ini sudah terlewat pin-

tar menggurui orang! Aku ingin tahu sampai di mana kehebatannya!"

"Perempuan edan! Dengar. Aku tidak akan mengulangi lagi ucapanku. Kalau kau tak mau sebutkan siapa dirimu, aku tidak main-main lagi! Kau dengar?!"

"Kalau itu maumu. Baiklah! Aku akan katakan siapa namaku, namun dengan syarat!" ujar si perempuan dengan melangkah ke samping.

"Jahanam! Mau beritahu nama saja dengan syarat. Kau kira sedang berhadapan dengan siapa saat ini? Hah ? Lekas katakan!"

Si perempuan tertawa mengekeh. Namun sesekali sepasang mata liar memperhatikan segala gerak-gerik pemuda di hadapannya. Setelah puas mengekeh, tanpa menghadap, dia berkata.

"Aku akan sebutkan namaku, tapi setelah itu kau juga harus sebutkan siapa dirimu! Bagaimana setuju?!"

Malaikat Berdarah Biru tidak menjawab juga tidak anggukkan kepala. Hanya sepasang matanya tak berkedip menatap tajam. Sementara tangan kiri kanannya mengepal.

"Hmm.... Orang-orang tua berkata. Diam berarti setuju! Menuruti kata-kata orang-orang tua, aku menganggapmu menyetujui tawaranku. Sekarang akan kukatakan siapa diriku! Hik...

hik... hik ! Namaku Nyi Mentul!"

"Siapa? Ulangi lagi!" seru Malaikat Berdarah Biru dengan tertawa pendek. Ketegangan di wajahnya sejenak mengendur demi mendengar si perempuan sebutkan siapa namanya.

"Kau tuli apa pura-pura tak dengar? Namaku Nyi Mentul! Kau siapa?!" Si perempuan yang menyebut namanya Nyi Mentul balik bertanya.

Malaikat Berdarah Biru tertawa terbahakbahak hingga bahunya berguncang-guncang.

"Dengar Mentul-Mentul!" ujar Malaikat Berdarah Biru di sela tawanya.

"Hai! Namaku Nyi Mentul. Bukan MentulMentul!" sahut Nyi Mentul membetulkan ucapan Malaikat Berdarah Biru.

"Dengar, Nyi Mentul! Dan buka matamu lebar-lebar. Kau saat ini sedang berhadapan dengan Malaikat Berdarah Biru!" kata si pemuda dengan busungkan dadanya.

Nyi Mentul surutkan langkah satu tindak ke belakang.

"Tak salah...!" gumamnya dengan mata membeliak besar.

"Hai! Apa yang tak salah?!" teriak Malaikat Berdarah Biru dengan dahi mengernyit.

Nyi Mentul gelengkan kepalanya. Dalam hati perempuan ini memaki dirinya sendiri. "Busyet. Hampir saja aku keceplosan omong! Aku harus hati-hati, pendengarannya amat tajam!"

"Hmm.... Perempuan ini lagaknya mencurigakan. Jangan-jangan dia hanya mempermainkan aku! Tapi.... Apa perlunya melayani perempuan edan begini? Tapi ucapan-ucapannya tadi seakanakan dia telah mengetahui siapa diriku! Lebihlebih telah tahu apa yang hendak kulakukan! Hmm.... Aku penasaran. Akan kupaksa dia untuk mengatakan siapa sesungguhnya dirinya! Aku mulai yakin bahwa dia menyembunyikan sesuatu!"

Berpikir begitu, Malaikat Berdarah Biru lantas maju dua langkah, lalu keluarkan bentakan garang.

"Kau menutupi wajah dengan bedak tebal. Jangan-jangan aku mengenalmu. Coba kau bersihkan mukamu!"

"Ah.... Bagaimana ini? Jangan-jangan dia memang masih mengenaliku? Atau aku harus segera menyingkir saja daripada...," Nyi Mentul membatin. Dia undurkan kaki dua tindak. Matanya melirik jelalatan memandang ke samping kanan dan kiri.

"Hmm.... Melihat tingkahmu, aku curiga kau mempermainkan diriku! Kalau tidak kenapa matamu jelalatan? He...?!"

Nyi Mentul tidak menyahut. Malah dia berpaling ke samping kanan dan kiri, lalu tengadah dengan mulut bergerak-gerak.

"Kau betul-betul membuatku habis kesabaran. Kau akan menerima imbalannya!" hardik Malaikat Berdarah Biru. Kedua tangannya disentakkan ke depan.

Wuuuttt!

Serangkum angin kencang melesat cepat ke arah Nyi Mentul.

Di depan sana, Nyi Mentul berteriak tegang. Dia segera putar tubuhnya lalu hendak menyingkir dengan melompat. Namun rangkuman angin yang datang lebih cepat. Hingga meski tubuhnya tidak terhajar telak pukulan Malaikat Berdarah Biru namun tubuh bagian bawahnya tersambar, membuat Nyi Mentul terhuyung-huyung lalu roboh bergedebukan di atas tanah! Anehnya, dari mulutnya tidak terdengar suara erang kesakitan. Sebaliknya yang terdengar adalah suara tawa cekikikannya.

"Kau! Kenapa tega-teganya hendak membunuhku?! Apa salahku?!"

"Heran. Kalau dia tak punya ilmu, tentu sudah mengaduh-aduh kesakitan! Hmm...," Malaikat Berdarah Biru membatin. Lalu mengangguk beberapa kali. Tiba-tiba saja kedua tangannya dihantamkan sekali lagi ke arah Nyi Mentul. Kali ini Malaikat Berdarah Biru tambah tenaga dalamnya, hingga saat itu juga selain gelombang dahsyat melesat keluar dari tangannya, udara di tempat itu juga makin panas menyengat!

Melihat serangan, Nyi Mentul berseru tertahan. Sosoknya yang masih duduk di atas tanah mengkerut dengan kedua tangan menutup wajah. Namun begitu setengah depa lagi hantaman tangan kosong mengandung tenaga dalam Malaikat Berdarah Biru melabrak tubuhnya, dia berteriak nyaring. Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat dan menyusup menyusur tanah!

Hantaman Malaikat Berdarah Biru terus melesat dan membentur batu yang tadi dibuat bersandar Nyi Mentul. Batu itu langsung pecah berantakan dan pecahannya berhamburan ke udara menjadi kerikil kecil-kecil!

"Jangkrik! Dia benar-benar hendak mencelakaiku! Aku harus segera menyingkir dahulu!" gumam Nyi Mentul. Dia segera bangkit. Namun sebelum tubuhnya benar-benar berdiri tegak, Malaikat Berdarah Biru telah berkelebat dan tahutahu telah berada dua langkah di depannya.

"Mau lari ke mana kau, he...?! Dengar Nyi Mentul! Buruan Malaikat Berdarah Biru tidak akan pernah lolos! Ha ha ha...!"

Sambil tertawa, kedua tangannya bergerak menyergap dari samping kanan kiri kepala Nyi Mentul.

Sebagai seorang pemuda yang pernah menyentak rimba persilatan, Malaikat Berdarah Biru berlaku cerdik. Dia sengaja hantamkan tangan kiri kanan sekaligus dari dua arah wajah Nyi Mentul. Dengan demikian kalau Nyi Mentul tak bisa menangkis, tentu bedak tebal di wajahnya akan berguguran. Dengan demikian setidak-tidaknya Malaikat Berdarah Biru bisa mengenali Nyi Mentul.

Karena mungkin tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar, maka satu-satunya jalan bagi Nyi Mentul untuk selamatkan wajahnya adalah dengan menangkis menggunakan kedua tangannya.

Praakkk!

Terdengar benturan keras tatkala dua pasang tangan bentrok di udara. Malaikat Berdarah Biru cepat melompat mundur dengan wajah berubah. Matanya berkilat. Memandang tajam ke arah Nyi Mentul yang meringis kesakitan seraya kibaskibaskan kedua tangannya.

"Hmm.... Dugaanku tidak meleset, perempuan ini benar-benar berilmu. Tapi Tampaknya dia bukan...," Malaikat Berdarah Biru gelengkan kepalanya.

Mungkin merasa dipandangi orang, Nyi Mentul segera berpaling sedikit dengan dada berdebar keras, khawatir jika sang pemuda mengenalinya namun ketika matanya melirik, dan melihat Malaikat Berdarah Biru gelengkan kepala, Nyi Mentul menarik napas lega.

"Hmm.... Nyatanya kita belum pernah kenal sebelumnya bukan?! Bagaimana sekarang?! Ah, melihat pandangan matamu jangan-jangan kau tertarik padaku. Tapi.... Sayang, aku sudah kapok berhubungan dengan laki-laki. Aku muak melihat laki-laki! Daripada aku nanti muntah melihat tampang laki-laki, lebih baik aku pergi saja, mencari manusia laki-laki yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya padaku! Hik... huk... huk...! Aneh ya, mau muntah lihat laki-laki tapi aku harus pergi mencari laki-laki! Dunia.... Oh, dunia....

Hik... hik... hik !"

"Hmm.... Dari bentrok tadi, aku makin yakin jika manusia ini menyembunyikan sesuatu! Suaranya seperti disarukan. Lalu meski tangannya tak kelihatan namun aku merasakan jika tangannya amat keras. Aku nyata-nyata dibuat mainan oleh manusia ini! Akan kutelanjangi dia! Aku menduga jika dia bukan seorang perempuan!" Setelah berkata begitu dalam hati, Malaikat Berdarah Biru cepat melompat menghadang di depan Nyi Mentul yang sudah mulai beranjak hendak meninggalkan tempat itu.

"Sudah kukatakan aku muak melihat tampang laki-laki! Cari saja perempuan lain!" seru Nyi Mentul begitu mengetahui Malaikat Berdarah Biru menghadang di depannya.

"Perempuan jelek! Siapa tertarik denganmu.

Aku hanya ingin menelanjangimu! Ha ha ha...!" Mendengar ucapan Malaikat Berdarah Biru,

kedua kaki Nyi Mentul tersurut dua langkah karena kaget. Air mukanya berubah seketika. Sepasang matanya membeliak dengan mulut kemakkemik.

"Gawat! Kalau dia mengetahuinya.   Tapi

kalau terpaksa apa mau dikata...," bisik Nyi Mentul dalam hati. Lalu dia menyembunyikan rasa terkejutnya dengan tertawa mengekeh.

"Kau tak tertarik dengan diriku, tapi ingin melihat tubuhku dengan cara menelanjangiku. Hik... hik... hik...! Apa itu namanya? Dasar lakilaki! Mirip kucing. Ikan asin busuk pun disantapnya juga! Kalau kau benar-benar ingin melihat mulusnya tubuhku, aku tak keberatan "

Habis berkata begitu, Nyi Mentul balikkan tubuh. Kedua tangannya ditarik ke belakang hendak menyingkap pakaian gombrongannya yang menjulai ke tanah. Namun sepasang mata Nyi Mentul yang kini membelakangi Malaikat Berdarah Biru jelalatan kian kemari dan siap hendak bergerak berkelebat pergi.

Sementara itu di belakang Nyi Mentul, Malaikat Berdarah Biru tegak menunggu dengan mata sedikit menyipit. Malah begitu kedua tangan Nyi Mentul mulai perlahan-lahan bergerak menyingkap pakaian gombrangnya, pemuda ini palingkan wajah.

Nyi Mentul menarik napas panjang dan da-

lam-dalam. Kedua tangannya mulai menyingkap pakaiannya, namun secara diam-diam dia kerahkan ilmu peringan tubuhnya dan siap hendak berkelebat.

Namun sebelum Nyi Mentul berkelebat, dan saat Malaikat Berdarah Biru palingkan wajah, terdengar suara orang tertawa bergelak-gelak.

Nyi Mentul urungkan niat untuk berkelebat dan kedua tangannya ditarik lagi ke depan, lalu berpaling ke arah datangnya suara tawa. Di belakangnya, Malaikat Berdarah Biru cepat pula menoleh dengan keluarkan dengusan keras.

LIMA

NYI Mentul langsung undurkan kaki ke belakang. Sepasang matanya membelalak, lalu menyipit. Namun sesaat kemudian, entah untuk menutupi rasa kagetnya perempuan berpakaian gombrong ini palingkan wajah memandang jurusan lain sambil tertawa panjang.

Di depannya, Malaikat Berdarah Biru tampak tenang-tenang saja. Memandang tajam pada orang yang keluarkan tawa dengan seringai. Lalu palingkan muka dan meludah ke tanah!

Orang yang tadi keluarkan tawa dan kini tampak telah berdiri sepuluh langkah ke samping kanan Nyi Mentul mendongak ke langit. Lalu dari mulutnya kembali terdengar gelakan tawanya. "Aneh. Masih ada saja laki-laki muda yang memaksa orang perempuan gila untuk buka-buka baju! Ha ha ha...!" ujar orang yang baru datang diselingi gelak tawanya.

Malaikat Berdarah Biru pelototkan sepasang matanya. Dadanya bergetar. Rahangnya terangkat.

"Keparat busuk! Siapa kau?! Dan apa hubunganmu dengan perempuan itu?!" Malaikat Berdarah Biru keluarkan bentakan keras.

"Betul! Apa hubunganmu denganku?!" Nyi Mentul ikut-ikutan tanya, membuat Malaikat Berdarah Biru berpaling padanya sambil pelototkan mata. Namun mungkin saja karena dia tersinggung dengan ucapan orang yang baru datang, dia tidak begitu menghiraukan ucapan Nyi Mentul. Sebaliknya dia menoleh lagi ke arah orang yang baru datang dengan rahang menggegat rapat hingga mengeluarkan suara gemeretakan.

Orang yang ditanya tidak segera buka mulut untuk menjawab. Dia tetap mendongak memandang langit meski saat itu sinar matahari bersinar sangat terik. Dia adalah seorang pemuda berbadan tinggi tegap. Rambutnya panjang dengan pandangan tajam. Dagunya kokoh dengan dada bidang. Mengenakan jubah besar berwarna hitam belang merah.

"Ah, kau rada-rada tuli ya? Ditanya orang tidak segera kasih jawaban. Apa kau tidak tahu, siapa adanya pemuda yang menanyaimu, he...?!" Nyi Mentul kembali berujar.

Mungkin merasa dapat sanjungan, Malaikat Berdarah Biru busungkan dada dengan tertawa pendek bernada mengejek.

"Peduli setan siapa dia! Yang kutahu dia adalah laki-laki yang suka melihat tubuh perempuan tak waras seperti kau!" Pemuda berjubah hitam merah berkata sambil melirik pada Malaikat Berdarah Biru.

"Betul! Betul katamu! Memang dia laki-laki begitu!" timpal Nyi Mentul lalu tertawa mengekeh. Sepasang matanya terpejam-pejam. Namun tak henti-hentinya melirik satu persatu pada pemuda di samping dan di hadapannya.

"Jahanam! Perempuan sundal, diam kau!" bentak Malaikat Berdarah Biru membuat Nyi Mentul putuskan tawanya dan tergagu sejenak.

"Ah, nasibku benar-benar malang. Di sini dibentak di sana dikatakan perempuan tak waras! Daripada hati ini tambah sakit, lebih baik "

"Jangan kau berani bergerak dari tempatmu!" hardik Malaikat Berdarah Biru ketika mengetahui Nyi Mentul hendak meninggalkan tempat itu.

Nyi Mentul urungkan niat untuk beranjak. Tangan kanannya mengusap-usap pipinya lalu geleng-geleng kepala.

"Kau tak segera jawab tanyaku, berarti kau cari urusan! Dan itu berarti maut bagimu!" kata Malaikat Berdarah Biru dengan kacak pinggang dan senyum seringai buas.

"Aduh biyung.... Masalah sepele begini saja mengapa sampai bilang maut-maut segala? Apakah kau teman si maut itu?!" Nyi Mentul menyahut.

"Mentul! Sekali lagi kau keluarkan ucapan,

kupecahkan batok kepalamu!" Malaikat Berdarah Biru menghardik tanpa memandang.

"Mentul! Apanya yang mentul-mentul? Ha... ha... ha...!" Pemuda berjubah hitam berbelang merah menimpali seraya bergelak. "Apa kau rasanya memang mentul-mentul?"

"Hai! Kau menghina aku ya? Aku tahu. Kau menghina perempuan karena hatimu pernah disakiti seorang perempuan! Betulkah? Kau mungkin pernah mencintai seorang gadis namun cintamu ditolak mentah-mentah. Hik... hik... hik...! Kasihan.... Apa hatimu masih pedih?!" tanya Nyi Mentul seraya palingkan wajah.

Paras muka si pemuda berjubah hitam berbelang merah langsung berubah. Malah karena kagetnya, dia surutkan langkah satu tindak ke belakang. Sepasang matanya mendelik memperhatikan Nyi Mentul.

"Sialan! Siapa perempuan sinting ini? Dia seakan tahu apa yang pernah kualami! Dan, hmm.... Pemuda ini melihat ciri-cirinya seperti....

Tapi, bukankah dia telah dikabarkan tewas di tangan pendekar keparat itu?!" Si pemuda berjubah hitam merah membatin.

"Hik... hik... hik...! Tampangmu berubah dan kau terlihat tercenung bodoh. Berarti ucapanku benar adanya! Betulkah? Betulkah?!" seru Nyi Mentul seraya melirik tajam.

"Perempuan sinting! Siapa kau sebenarnya?!" si pemuda membentak dengan suara keras. Melihat perubahan pada wajah sang pemuda, diam-diam Malaikat Berdarah Biru membatin. "Hmm.... Rupanya apa yang dikatakan si Mentul benar adanya! Heran. Siapa sebenarnya perempuan ini. Dia seakan tahu semua urusan orang!"

Sementara itu mendapat bentakan keras dari si pemuda serta melihat perubahan dan keterkejutannya, Nyi Mentul terdiam sejenak seakan berpikir keras.

"Hmm    Memang dia! Aku harus lebih hati-

hati lagi. Sekarang banyak orang-orang muncul lagi! Urusan akan bertambah panjang, satu belum selesai, dua sudah muncul lagi! Hmm    aku harus

mengadu keduanya, lalu...," Nyi Mentul mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata.

"Hai! Kau telah sebut beberapa kali namaku. Kenapa masih bertanya lagi?!"

"Kau jangan coba-coba mengalihkan urusan! Lekas jawab tanyaku!" Kali ini yang keluarkan bentakan adalah Malaikat Berdarah Biru.

Mungkin berpikir agar urusan dengan Malaikat Berdarah Biru cepat selesai, lalu mengorek perempuan yang bernama Nyi Mentul, si pemuda berjubah hitam merah menjawab.

"Aku Gembong Raja Muda! Kau sendiri sia-

pa?!"

Mungkin karena selama ini tidak lagi turun

ke arena rimba persilatan membuat Malaikat Berdarah Biru tak tahu siapa adanya manusia yang bergelar Gembong Raja Muda, hingga tatkala si pemuda menyebut siapa dirinya, Malaikat Berdarah Biru tak menunjukkan paras terperanjat. Sebaliknya dia tersenyum dingin bahkan tidak memandang!

Di pihak lain, Nyi Mentul terlihat anggukkan kepalanya perlahan. Lalu keluarkan batukbatuk kecil beberapa kali.

Karena ditunggu agak lama Malaikat Berdarah Biru belum juga balik mengatakan siapa dirinya, Gembong Raja Muda, tokoh muda bekas murid Ageng Panangkaran yang lantas berguru pada Bawuk Raga Ginting dan mempunyai dendam kesumat dengan Pendekar Mata Keranjang 108 karena gadis yang dicintainya menyukai Pendekar murid Wong Agung, membentak lantang. (Tentang Gembong Raja Muda, silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: "Gembong Raja Muda').

"Kalau kau tak mau sebutkan siapa dirimu tak apa-apa! Tapi cepat kau tinggalkan tempat ini!" Kedua tangan Malaikat Berdarah Biru tiba-

tiba mengembang keluarkan suara gemeretakan. Sepasang matanya merah berkilat-kilat. Rahangnya mengembung besar, pertanda hawa kemarahan telah menguasai dirinya.

"Gembong! Dengarkan baik-baik. Kau saat ini sedang berhadapan dengan Malaikat Berdarah Biru!" kata Malaikat Berdarah Biru dengan suara setengah berteriak.

Gembong Raja Muda sejenak coba menguasai keterkejutannya. Dia menahan gerak kakinya yang hendak tersurut ke belakang. Namun demikian dadanya tidak dapat menahan debarannya yang keras hingga saat itu juga tubuhnya sedikit terguncang. Dia seakan hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Hmm.... Jadi kabar tentang kematiannya selama ini hanya bohong belaka. Nyatanya manusianya masih hidup! Aku akan waspada, menurut apa yang pernah kudengar, manusia ini kejam dan licik serta berilmu tinggi!" Gembong Raja Muda berkata dalam hati. Lalu sambil mendengus keras dia berkata.

"Aku gembira dapat bertemu dengan tokoh muda yang bernama besar! Dan sungguh tak disangka, ternyata manusianya masih hidup!"

Malaikat Berdarah Biru tertawa terbahakbahak mendengar ucapan Gembong Raja Muda. Seraya usap-usap dadanya dia berujar datar.

"Malaikat Berdarah Biru tak akan ditakdirkan tewas sebelum menguasai rimba persilatan! Malaikat Berdarah Biru tak akan berkalang tanah sebelum segala cita-citanya terlaksana! Kau dengar?!"

"Sombong benar manusia ini! Aku hanya dengar tentang kehebatan ilmunya dari mulut orang. Aku ingin tahu, sampai di mana kebenaran ucapan orang-orang itu!"

Gembong Raja Muda ikut-ikutan usap-usap dadanya. Mulutnya membuka hendak berkata, namun sebelum suaranya terdengar, Nyi Mentul telah menyela.

"Hai! Kau bilang punya cita-cita. Boleh aku tahu apa cita-citamu?!"

Entah karena ingin menunjukkan pada orang, atau karena termakan kata-kata Nyi Mentul, Malaikat Berdarah Biru langsung menjawab. "Malaikat Berdarah Biru akan menjadi raja

di raja dunia persilatan. Akan menumbangkan siapa saja yang menghalangi langkahnya! "

"Kau!" ujar Nyi Mentul dengan hadapkan wajahnya pada Gembong Raja Muda. "Apakah juga punya cita-cita demikian?! Ingin menjadi raja rimba persilatan seperti dia?!" Nyai Mentul arahkan wajahnya pada Malaikat Berdarah Biru.

"Lidah tidak bertulang. Siapa saja bisa ngomong ingin menguasai rimba persilatan. Namun kalau hanya omong tanpa tunjukkan ilmunya, mana orang bisa percaya?!"

"Betul! Mana orang percaya kalau hanya di mulut saja. Jangan-jangan besar di mulut tapi kecil di bawah perut! Astaga. Aku jadi salah ucap! Yang kumaksud "

Nyi Mentul yang memanas-manasi Malaikat Berdarah Biru tak selesaikan ucapannya karena saat itu juga Malaikat Berdarah Biru telah menyela dengan hardikan keras.

"Akan kutunjukkan padamu bagaimana Malaikat Berdarah Biru kelak akan menumbangkan orang yang menghadang langkahnya!"

Belum selesai dengan ucapannya, tangan Malaikat Berdarah Biru telah bergerak menghantam ke arah Gembong Raja Muda lepaskan pukulan tangan kosong jarak jauh bertenaga dalam.

Wuuttt!

Serangkum angin dahsyat menggebrak dengan keluarkan suara menggemuruh laksana gelombang prahara. Di depan sana, Gembong Raja Muda tampak tenang. Pemuda ini telah dengar tentang Malaikat Berdarah Biru, hingga dia tak berani gegabah. Maka begitu melihat Malaikat Berdarah Biru telah lepaskan pukulan, pemuda ini segera kerahkan tenaga dalam, lalu kedua tangannya disentakkan ke depan.

Wuuttt!

Gelombang angin bak hempasan ombak melesat keluar dari tangan Gembong Raja Muda.

Blaaarrr!

Terdengar dentuman keras ketika dua pukulan yang telah sama-sama dialiri tenaga dalam itu bertemu di udara. Tempat itu bergetar laksana dilanda gempa.

Tubuh Malaikat Berdarah Biru terlihat surut satu langkah ke belakang. Wajahnya sedikit berubah dengan rahang makin mengembung. Pemuda bekas murid Bidadari Telapak Setan dan Bayangan Iblis ini maklum jika pemuda bergelar Gembong Raja Muda tidak bisa dianggap enteng, karena bersamaan dengan bentroknya pukulan, tangannya terasa kesemutan, dadanya sedikit sesak dan bergetar. Di lain pihak, Gembong Raja Muda mundur sampai dua langkah. Paras mukanya pucat. Sepasang matanya membeliak. Pemuda ini mulai yakin jika kabar yang didengarnya selama ini benar adanya, jika Malaikat Berdarah Biru adalah manusia berkepandaian tinggi. Karena ketika terjadi bentrok tenaga dalam melalui pukulan tangan kosong tadi, kedua tangannya kontan terasa ngilu bukan main. Aliran darahnya terasa seakan terhenti.

Sementara itu, begitu melihat kedua pemuda sudah saling keluarkan pukulan masingmasing, Nyi Mentul menyingkir agak jauh seraya berteriak seakan ngeri.

"Hmm.... Jahanam ini rupanya punya bekal juga! Ini saatnya bagiku mencoba ilmu yang baru saja kuperoleh!" gumam Malaikat Berdarah Biru dengan perlihatkan seringai garang, lalu berkata dengan pandangannya ke arah jurusan lain.

"Gembong Raja Muda! Kau menggelari diri dengan sebutan Gembong. Tentunya kau seorang pentolan! Coba tunjukkan padaku kehebatan yang kau miliki! Aku curiga jangan-jangan kau hanya gembongnya kecoa-kecoa tak berguna!"

"Aku setuju! Aku juga khawatir. Siapa tahu namanya itu hanya mengada-ada! Memakai nama seseorang yang memang pernah kesohor!" Nyi Mentul ikut-ikutan angkat bicara, membuat dada Gembong Raja Muda panas terbakar.

Didahului bentakan keras kontan saja Gembong Raja Muda sentakkan kedua tangannya. Kali ini dengan pengerahan tenaga hampir seluruhnya. Hingga kejap itu juga dari kedua tangannya menyambar keluar gelombang angin dahsyat keluarkan suara yang memekakkan gendang telinga!

"Makan pukulanku ini!" teriak Gembong Raja Muda begitu mengetahui pukulannya menyambar dan Malaikat Berdarah Biru tidak membuat gerakan untuk menangkis atau menghindar.

Di sebelah samping, Nyi Mentul tampak membeliakkan sepasang matanya begitu mendapati Malaikat Berdarah Biru diam tak bergerak, padahal pukulan lawan telah menyergapnya!

"Gila! Apa dia memang ingin putus nyawanya?!" gumamnya seraya memperhatikan dengan dahi berkerut dan tarik-tarik kedua kuncir rambutnya.

Tiba-tiba Gembong Raja Muda keluarkan tawa panjang dan Nyi Mentul keluarkan seruan nyaring tatkala Malaikat Berdarah Biru benarbenar tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan juga tidak membuat gerakan untuk menangkis! Hingga tanpa ampun lagi pukulan bertenaga dalam tinggi yang dilepas Gembong Raja Muda menghajar tubuhnya dengan telak!

Terdengar seruan pelan dari mulut Malaikat Berdarah Biru tatkala pukulan itu menghajarnya. Tubuhnya mencelat mental hingga beberapa tombak ke belakang, lalu menghempas jatuh di atas tanah!

Gembong Raja Muda makin keras tertawa, sementara Nyi Mentul hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir.

Selagi kedua orang ini dilanda perasaan masing-masing, di seberang sana tiba-tiba tubuh Malaikat Berdarah Biru bergerak-gerak. Untuk sejurus pemuda ini meneliti tubuhnya. Merasa tidak ada yang cidera, bibirnya sunggingkan senyum. "Hmm.... Aku benar-benar kebal pukulan!" bisiknya pelan. Lalu dengan tengadahkan kepala dia bergerak bangkit! Membuat Gembong Raja Muda dan Nyi Mentul sama beliakkan mata masingmasing. Malah seolah tak percaya dengan penglihatan matanya, Gembong Raja Muda usap-usap matanya. Sementara Nyi Mentul keluarkan gumaman yang tak jelas, namun paras mukanya jelas tak bisa sembunyikan rasa kagetnya!

"Edan! Benar-benar edan! Bagaimana mungkin mendapat pukulan yang pasti bertenaga dalam kuat begitu masih bisa bangkit dan tidak cidera sama sekali? Ini harus segera dicari penyebabnya. Jika terlambat, rimba persilatan akan guncang lagi! Belum lagi dengan munculnya manusia gila yang menyebut dirinya Dewa Maut! Hm.... Rimba persilatan benar-benar diambang bencana malapetaka...." Diam-diam Nyi Mentul berkata sendiri sambil terus mengawasi Malaikat Berdarah Biru yang kini telah tegak berdiri kacak pinggang tanpa memandang Gembong Raja Muda.

Di seberang, Gembong Raja Muda meski diam-diam keringat dingin mulai membasahi leher dan tengkuknya, namun dia tidak begitu saja mundur.

"Dia tak mempan dengan pukulanku, apakah dia akan sanggup menahan jurus 'Sapu Bumi'?!" batin Gembong Raja Muda lalu kerahkan tenaga dalam pada kedua kakinya hendak lancarkan jurus 'Sapu Bumi' yang berhasil dipelajarinya dari Bawuk Raga Ginting.

"Gembong! Ternyata kau cuma gembongnya tikus! Tak pantas kau menggunakan nama Gembong Raja Muda kalau hanya jadi gembongnya tikus! Ha...ha... ha...!"

Tiba-tiba Malaikat Berdarah Biru hentikan tawanya. Kepalanya lurus dengan sepasang mata menyengat tajam ke arah Gembong Raja Muda. Bibirnya sunggingkan senyum sinis. Lalu meludah ke tanah. Bersamaan dengan itu kedua tangannya bergerak mendorong ke depan.

Wuuuttt!

Sinar hitam melesat dengan keluarkan suara gemuruh keras. Suasana mendadak pekat dan panas dan tampak beberapa kilatan-kilatan menakutkan!

"'Bayu Sukma'!" seru Nyi Mentul mengenali pukulan yang dilepaskan Malaikat Berdarah Biru. Namun sekejap kemudian, perempuan berdandan menor ini takupkan tangannya pada mulutnya. Dia lalu memaki sendiri.

"Sialan! Kenapa aku bisa keceplosan omong. Kalau dia mendengar maka akan celaka aku! Hm.... Sebaiknya aku...," Nyi Mentul tidak meneruskan makiannya. Dia memandang berkeliling seakan menembusi kepekatan yang diakibatkan pukulan Malaikat Berdarah Biru.

Mendapati serangan ganas, Gembong Raja Muda sempat terkesiap. Namun pemuda ini segera bertindak cepat. Sebelum sinar hitam dan kilatankilatan itu menghajar tubuhnya, dia berseru keras. Lalu dengan kerahkan seluruh tenaga dalamnya kedua tangannya dihantamkan ke depan. Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat ke samping untuk menghindar.

Terdengar gelegar dahsyat. Tempat itu bergetar keras. Tanah tersibak, dan sebagian berhamburan ke udara menambah pekatnya pemandangan.

Tubuh Gembong Raja Muda yang meski telah menghindar dengan segera meloncat ke samping tak luput dari sambaran pukulan Malaikat Berdarah Biru. Hingga meski tidak terhajar telak, namun tubuhnya melayang mental dan jatuh bergedebukan di atas tanah dengan mulut keluarkan darah segar!

Di lain pihak, Malaikat Berdarah Biru tak bergeming dari tempatnya semula! Pemuda ini hanya sempat goyah sebentar, namun segera dapat menguasai diri lagi.

Begitu udara terang kembali dan tanah telah sirap luruh, sepasang mata Malaikat Berdarah Biru segera menyorot tajam dengan dada bergetar keras. Bukan karena mendapati Gembong Raja Muda masih bisa bangkit meski dengan tertatihtatih. Namun karena dia mendengar seruan Nyi Mentul yang menyebut pukulan yang dilepaskannya!

"Jahanam! Perempuan itu benar-benar telah menipuku! Karena hanya dua orang yang mengetahui pukulanku! Guruku dan Pendekar Mata Keranjang! Jangan-jangan perempuan itu adalah "

Malaikat Berdarah Biru berkelebat ke arah mana tadi Nyi Mentul berada, namun pemuda ini segera saling pukulkan kedua tangannya yang sudah mengepal tatkala dia tak menemukan lagi Nyi Mentul meski sepasang matanya telah menyapu ke berbagai sudut di tempat itu!

"Keparat!" umpat Malaikat Berdarah Biru seraya bantingkan kakinya. Tanah di bawahnya langsung terbongkar dan bergetar keras. Kini perhatiannya tertumpah pada Gembong Raja Muda yang telah bangkit berdiri sambil usap-usap darah yang keluar dari mulutnya.

"Gembong Jahanam! Kalau tidak muncul kau, tentu aku sudah bisa menelanjangi dan membuka kedok perempuan sinting tadi!"

Gembong Raja Muda hanya memandang tanpa ucapkan sepatah kata pun. Pemuda ini masih alirkan hawa murni ke dada dan sebagian tubuhnya yang peredaran darahnya terasa panas dan laksana tersumbat.

"Gembong Keparat! Karena kau telah buat kesalahan, maka tiada imbalan yang kupinta selain selembar nyawamu!"

Selesai berkata, Malaikat Berdarah Biru meludah ke tanah. Lalu kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi hendak lepaskan pukulan.

"Tunggu!" tiba-tiba terdengar seruan mena-

han.

Baik Gembong Raja Muda yang telah me-

rinding maupun Malaikat Berdarah Biru yang segera ingin melepaskan pukulan segera palingkan wajah masing-masing ke samping kanan dan kiri. ENAM

KEDUA pemuda ini sama-sama melihat seorang perempuan tua berambut panjang hingga betis dan sudah memutih. Pakaian yang dikenakannya berupa baju panjang dari sutera berwarna hitam. Pada kedua tangannya tampak melingkar beberapa gelang berwarna kuning.

Untuk beberapa saat lamanya Gembong Raja Muda dan Malaikat Berdarah Biru sama menduga-duga dalam hati siapa adanya nenek ini. Namun kedua pemuda ini gagal untuk mengenalinya. Hingga tak lama kemudian Malaikat Berdarah Biru keluarkan teguran dengan suara keras.

"Siapa kau? Jangan coba-coba menghalangi tindakanku! Atau tubuhmu akan kuhancurkan sekalian!"

Nenek yang dibentak keluarkan tawa mengekeh hingga bahunya berguncang keras mengakibatkan gelang-gelang di tangannya bergerak-gerak beradu sama lain keluarkan suara gemerincing. Setelah tawanya berhenti, si nenek berpaling pada satu persatu pemuda di sampingnya. Kepalanya lantas berhenti lurus menatap Malaikat Berdarah Biru.

"Anak muda! Soal siapa diriku nanti pasti akan kuberitahukan padamu! Yang kuharap sekarang kau dan pemuda itu harus sudahi urusan sampai di sini saja!"

Malaikat Berdarah Biru keluarkan dengusan keras. Sepasang matanya balas memandang ke arah si nenek dengan tatapan menyelidik. "Setan Alas! Kau akan ikut campur urusan-

ku! Katakan, apa sangkut pautmu dengannya! Muridmu? Atau kau adalah perempuan simpanannya? Hah...?!"

Si nenek bukannya marah mendengar ucapan Malaikat Berdarah Biru, sebaliknya dia kembali keluarkan tawa panjang. Di lain pihak, Gembong Raja Muda terlihat marah besar. Mulutnya terkancing rapat dengan dada bergetar keras. Pelipisnya bergerak-gerak dengan kedua tangan mengepal. Namun pemuda ini belum buka mulut. Dia menunggu karena saat itu juga si nenek terdengar angkat bicara lagi.

"Anak muda! Aku tak ada sangkut-paut apa-apa dengan pemuda itu!"

"Hmm.... Begitu? Jika demikian, lekas angkat kaki dari sini!" sergah Malaikat Berdarah Biru.

Si nenek gelengkan kepalanya perlahan. Si nenek yang bukan lain adalah Iblis Gelang Kematian sebenarnya sudah agak lama di sekitar tempat itu. Dia sengaja mendekam bersembunyi seraya mencuri dengar perdebatan antara Malaikat Berdarah Biru, Gembong Raja Muda, serta Nyi Mentul. Dia pun sebenarnya amat terkejut tatkala keluar dari persembunyiannya tidak lagi melihat orang yang namanya Nyi Mentul. Namun karena menganggap dua pemuda di hadapannya kini lebih penting, maka kepergian Nyi Mentul tidak lagi menjadi perhatiannya lagi.

"Anak muda! Tanpa kau suruh aku pun nanti akan pergi! Namun satu hal yang harus kalian ketahui, jika kalian teruskan urusan ini maka bukan hanya kecewa yang akan kalian alami, namun rencana kalian masing-masing juga akan mengalami kegagalan!"

"Keparat! Tahu apa kau tentang rencanaku? He...?!" hardik Malaikat Berdarah Biru meski dalam hati bertanya-tanya dari mana si nenek tahu tentang apa yang direncanakannya.

Untuk kesekian kalinya Iblis Gelang Kematian hanya tertawa meski didengarnya ucapan Malaikat Berdarah Biru tidak enak di telinga.

"Hmm.... Dua pemuda ini kalau dilihat dari ucapan-ucapannya sama-sama berwatak sombong. Namun melihat pukulan yang telah dilancarkan, mereka punya ilmu tidak sembarangan....

Aku akan menggiring mereka untuk bertemu di Lembah Supit Urang!"

Memikir sampai di situ, Iblis Gelang Kematian lantas berujar datar.

"Malaikat Berdarah Biru dan kau Gembong Raja Muda. Dengar baik-baik! Menjadi raja rimba persilatan adalah dambaan semua orang yang merasa dirinya punya ilmu. Tapi untuk menuju ke sana, tidak cukup jika hanya berbekal ilmu!"

Baik Malaikat Berdarah Biru dan Gembong Raja Muda sama terkesiap mendapati si nenek tahu nama masing-masing. Dahi masing-masing pemuda ini sama mengernyit, membuat Iblis Gelang Kematian tunjukkan senyum seolah berada di atas angin.

"Orang tua! Kau tak usah memberi nasihat! Dan katakan siapa kau sebenarnya!" ujar Malaikat Berdarah Biru dengan memperhatikan si nenek dari ujung rambut sampai kaki.

"Aku tak memberi nasihat! Aku hanya memberi tahu. Karena langkah-langkah kalian nanti banyak yang akan menghadangnya! Belum lagi jika kalian punya dendam pada seseorang yang harus kalian tuntaskan. Apalagi jika dendam itu pada orang yang berada di haluan lain!"

Mungkin merasa ucapan si nenek ada sangkut-pautnya dengan yang akan mereka hadapi, kedua orang ini tak menyambuti kata-kata Iblis Gelang Kematian. Mereka seolah memberi kesempatan pada si nenek untuk meneruskan ucapannya. Si nenek pun tampaknya menangkap hal itu. Hingga tak lama kemudian si nenek lanjutkan ucapannya.

"Sebelum kuteruskan kata-kataku, boleh aku tahu. apakah di antara kalian ada yang mengemban tugas balas dendam pada seseorang?!"

"Itu bukan urusanmu!" sahut Malaikat Berdarah Biru.

"Benar! Itu bukan urusanku. Tapi sebagai orang satu golongan, tak ada ruginya kalian memberitahu. Siapa tahu aku bisa membantu. Setidaktidaknya memberitahu di mana orang itu berada!"

"Orang tua! Aku memang punya dendam pada seseorang. Tapi tak usah kamu ketahui siapa orangnya! Untuk membunuhnya aku tak perlu bantuan orang lain! Katakan saja apa maksudmu sebenarnya! Aku tak punya banyak waktu!" Yang keluarkan kata-kata adalah Gembong Raja Muda.

"Hmm.... Bagus! Untuk kau, Malaikat Berdarah Biru tak usah memberitahu, semua orang sudah mengerti jika kau punya urusan besar dengan pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!"

Malaikat Berdarah Biru sunggingkan senyum dingin.

"Perlu kukatakan pada kalian. Pada malam purnama depan, tepatnya hari keempat belas, delapan belas hari di muka akan ada pertemuan antara tokoh-tokoh sealiran kita di Lembah Supit Urang. Kalau di antara kalian ada yang sempat kuharap kalian mau datang ke sana!"

"Untuk merajai rimba persilatan, aku tak butuh segala macam pertemuan! Pertemuan hanya menunjukkan bahwa orang itu takut melangkah sendiri!" kata Malaikat Berdarah Biru dengan alihkan pandangannya pada jurusan lain.

"Kau salah. Pertemuan itu untuk menyusun siasat bagaimana menaklukkan orang-orang golongan putih terutama Pendekar 108 yang kini di kelilingi beberapa tokoh aneh yang ilmunya tak diragukan lagi!"

Malaikat Berdarah Biru dan Gembong Raja Muda sama-sama terkejut mendengar keterangan Iblis Gelang Kematian. Dan sebelum rasa kejut masing-masing orang ini lenyap, si nenek telah lanjutkan keterangannya.

"Aku tahu. Kalian mempunyai ilmu tinggi. Namun dengan munculnya beberapa tokoh yang secara tak langsung membantu Pendekar 108, kurasa terlalu berat menghadapi mereka dengan mengandalkan tangan sendiri! Dan menyebut diri raja rimba persilatan hanya omong kosong belaka jika tidak lebih dahulu menyingkirkan Pendekar 108 dan para pembantunya!"

Malaikat Berdarah Biru dan Gembong Raja Muda sama terdiam. Mereka sama larut dalam perasaan masing-masing.

"Nah, itulah yang perlu kusampaikan pada kalian. Dan harap kalian sudahi urusan ini! Kalian bisa teruskan nanti di Lembah Supit Urang. Di mata beberapa tokoh nanti, kalian bisa tunjukkan siapa di antara kalian yang lebih jago!"

Habis berkata demikian, iblis Gelang Kematian putar tubuhnya hendak tinggalkan tempat itu. Namun langkahnya tertahan ketika Malaikat Berdarah Biru keluarkan seruan keras.

"Tunggu! Sebutkan dulu siapa kau!"

Iblis Gelang Kematian tertawa pelan. Tanpa balikkan tubuhnya lagi dia berkata.

"Orang-orang memanggilku Iblis Gelang Kematian!" sejenak dia putuskan ucapannya. Sesaat kemudian menyambung.

"Masih ada yang ingin kalian tanyakan?!" Malaikat Berdarah Biru dan Gembong Raja

Muda tak ada yang buka mulut.

"Baik. Aku masih harus menghubungi teman yang lain. Sampai bertemu lagi di Lembah Supit Urang!" selesai berkata, Iblis Gelang Kematian berkelebat tinggalkan tempat itu.

Saat mendengar si nenek sebutkan siapa dirinya, Gembong Raja Muda terlihat surutkan langkah ke belakang dengan mata makin membeliak tanda terkejut. Dia memang telah pernah dengar tentang tokoh itu. Sementara Malaikat Berdarah Biru mungkin karena belum pernah mendengar, hanya tenang-tenang saja meski dia yakin bahwa si nenek adalah seorang tokoh, karena banyak mengetahui seluk-beluk rimba persilatan.

"Hmm.... Undangan ini rasanya pantas dihadiri. Di sana akan kutunjukkan siapa Malaikat Berdarah Biru! Dengan demikian, tokoh-tokoh golongan hitam akan berada di bawah kekuasaanku! Dan itu akan memperlicin jalanku menggenggam rimba persilatan."

Kalau Malaikat Berdarah Biru membatin demikian, lain halnya apa yang ada di benak Gembong Raja Muda.

"Sebenarnya aku tak tertarik dengan undangan ini. Tapi tak ada ruginya datang ke sana. Selain tahu tentang keberadaan Pendekar 108, aku juga bisa mengerti siapa sebenarnya lawan dan mana yang kawan."

"Gembong!" tiba-tiba Malaikat Berdarah Biru berkata. "Sebenarnya aku ingin menyelesaikan kau saat ini juga, namun melihat robohnya tubuhmu di hadapan beberapa orang mungkin lebih enak dipandang! Kalau kau laki-laki tulen kutunggu kau di Lembah Supit Urang!"

Tanpa menunggu jawaban Gembong Raja Muda, Malaikat Berdarah Biru segera berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Jahanam! Kita buktikan nanti siapa yang akan roboh di sana!" teriak Gembong Raja Muda lantang karena Malaikat Berdarah Biru sudah tinggalkan tempat itu, lalu pukulkan kedua tangannya ke tanah. Tanah itu langsung muncrat laksana air dan berhamburan ke udara!

TUJUH

DARI lobang galian tanah sedalam satu tombak, Nyi Mentul mengkerut dengan melingkarkan tubuhnya. Tanah di bibir lobang berhamburan jatuh menguruk tubuhnya bersamaan dengan terdengarnya benturan dan bergetarnya tempat di mana dia berada.

Sebenarnya, ketika terjadi pertarungan antara Malaikat Berdarah Biru dan Gembong Raja Muda, saat mana Malaikat Berdarah Biru lepaskan pukulan sakti 'Bayu Sukma' dan suasana pekat, Nyi Mentul segera berkelebat. Mungkin takut kepergiannya segera diketahui, maka tatkala sepasang matanya melihat sebuah lobang tak jauh dari tempat itu, dia tanpa pikir panjang segera melesat dan masuk ke dalam lobang.

Ketika Malaikat Berdarah Biru berkelebat pergi meninggalkan tempat itu, ucapannya sempat membuat marah Gembong Raja Muda, hingga bersamaan dengan itu Gembong Raja Muda hantamkan kedua tangannya ke tanah, hingga tanah di sekitar tempat itu bergetar keras, membuat tanah di bibir lobang tempat Nyi Mentul luruh ke bawah dan menguruk tubuhnya.

Begitu luruhan tanah dari bibir lobang terhenti, sambil menggumam tak jelas, Nyi Mentul bergerak-gerak menyeruak dari urukan tanah. Setelah kepalanya nongol, dia menarik napas dalamdalam. Kepalanya yang mengenakan dua kuncir di atas disentakkan ke samping kanan kiri mengibaskan tanah yang meraupi kepalanya.

Untuk beberapa saat lamanya Nyi Mentul diam tak bergerak. Sepasang telinganya ditajamkan. Sementara kepalanya tengadah ke atas, sepasang matanya jelalatan kian kemari memperhatikan keadaan di atas lobang.

"Hmm.... Mereka hendak mengadakan sebuah pertemuan di Lembah Supit Urang. Gila! Ini pasti pertemuan besar jika yang mengundang adalah Iblis Gelang Kematian! Rimba persilatan benarbenar di ambang pintu yang membahayakan...," Nyi Mentul membatin dalam hati. Dia tak segera keluar dari dalam lobang. Dia tampaknya masih takut jika Gembong Raja Muda masih berada di tempat itu, hingga untuk beberapa saat lamanya dia hanya duduk dengan kepala nongol sementara tubuhnya teruruk tanah.

Setelah agak lama dan merasa tak ada lagi orang di tempat itu, Nyi Mentul bergerak bangkit. Dadanya masih berdebar, khawatir kalau masih ada orang.

Perlahan-lahan kepalanya nongol dari dalam lobang.

"Hmm.... Rupanya manusia-manusia itu telah pergi...," bisiknya dengan senyum mengembang. Namun baru saja lehernya terjulur dari dalam, terdengar suara tawa mengekeh panjang bersahut-sahutan!

Laksana disambar petir di siang belong, Nyi Mentul segera tarik kembali kepalanya ke bawah. Paras mukanya berubah pucat pasi. Dadanya berdetak makin keras.

"Busyet! Ternyata perkiraanku keliru. Mereka rupanya telah menyiasati diriku. Pura-pura pergi padahal masih nongol di situ! Jelas sekali suara tawa tadi terdengar juga suara tawa perempuan. Ini pasti Iblis Gelang Kematian. Bagaimana sekarang? Celaka. Celaka betul!"

Nyi Mentul lantas meraba ke balik pakaiannya. "Hmm.... Apa hendak dikata. Kalau memang mereka marah aku akan memberi alasan. Dan kalau mereka hendak mengorek, terpaksa aku akan melawannya. Sialan!"

Berpikir sampai di situ, perlahan-lahan pula Nyi Mentul bergerak lagi ke atas. Tubuhnya terlihat bergemetaran. Sementara suara tawa masih bersahut-sahutan di tempat itu, membuat Nyi Mentul semakin yakin jika mereka menertawainya dan mungkin akan segera menghantamnya. Diamdiam, sambil bangkit dari dalam lobang, Nyi Mentul kerahkan tenaga dalam.

Ketika kepalanya menyeruak keluar, kepala itu disertai dua tangan yang melindungi seolah takut dihantam, membuat suara tawa semakin bergerai-gerai. Namun Nyi Mentul menarik napas lega tatkala dia tidak merasakan angin yang menyambar menyerang ke arahnya. Tapi hal itu belum membuat Nyi Mentul lepas dari rasa khawatir. Hingga meski lehernya telah berada di atas lobang, dia tetap melindungi kepalanya dari hantaman dengan kedua tangannya. Mungkin merasa orang tidak akan menghantam, maka untuk menghindari segala kemungkinan, Nyi Mentul segera lesatkan tubuhnya ke atas. Dan dengan terhuyung-huyung seolah hendak jatuh terjerembab akhirnya dia mendarat. Perempuan berdandan menor ini tidak segera berpaling ke arah datangnya suara tawa. Sebaliknya dia duduk mengelosoh dengan kedua tangan di atas kepala seolah seperti orang minta dikasihani. Namun demikian, diam-diam perempuan ini siap siaga dengan segala kemungkinan yang akan menimpa dirinya.

Tiba-tiba suara tawa panjang bersahutsahutan terhenti. Dada Nyi Mentul makin berdebar. Dia merasa akan segera mendapat bentakan dan hardikan, malah tidak mustahil sebuah pukulan!

Namun apa yang diduga Nyi Mentul tidak jadi kenyataan. Suasana di tempat itu sunyi sepi. Namun cuma sesaat. Saat berikutnya terdengar lagi suara tawa bergelak-gelak.

Mungkin merasa tak sabar, Nyi Mentul segera berpaling ke arah datangnya suara. Sejenak sepasang mata Nyi Mentul membelalak. Darahnya seakan tersirap. Mulutnya komat-kamit. Dan tak lama kemudian dari mulutnya terdengar makian panjang pendek tak habis-habisnya, meski wajahnya seketika berubah cerah.

"Sialan! Ternyata mereka!"

Lima belas langkah ke samping Nyi Mentul, tampak tertawa terbahak-bahak tiga orang. Sebelah kanan adalah seorang kakek dengan selempang ikat pinggang besar yang diganduli beberapa bumbung bambu. Di sebelahnya tegak seorang gadis muda berparas cantik mengenakan pakaian putih ketat, membayangkan lekukan tubuhnya yang membentuk bagus. Di lehernya melingkar untaian kalung dari bunga-bunga hitam. Sementara di depan kedua orang ini tampak seorang anak perempuan yang berdiri seraya berkipas-kipas. Rambutnya dikuncir beberapa buah dan diberi pita berwarna-warni. Mereka ini bukan lain adalah Setan Arak, Ratu Sekar Langit dan Putri Kipas. 

"Mereka rupanya sengaja mengerjaiku. Awas, akan ganti kukerjai mereka!" gumam Nyi Mentul, lalu Nyi Mentul bangkit berdiri sambil menghardik dengan ucapan keras.

"Siapa kalian?! Kenapa tertawa-tawa? Apa yang lucu. Hah...?!"

Ketiga orang yang dibentak bukannya segera menjawab dengan kata-kata. Melainkan ketiganya sama-sama keluarkan tawa, membuat Nyi Mentul kembali keluarkan teguran keras.

"Kalau kalian tak segera jawab, jangan menyesal jika kalian kumasukkan ke lobang itu! Mengerti?!"

"Sandiwara bagus! Dari mana kau belajar" Setan Arak ajukan tanya.

"Sandiwara?! Orang tua. Kau jangan mainmain. Aku tanya siapa kalian. Jangan alihkan pembicaraan! Cepat jawab!" Nyi Mentul kembali menghardik. Sepasang matanya melotot besar, memperhatikan ketiga orang di hadapannya.

Putri Kipas palingkan wajahnya pada Ratu Sekar Langit. Seakan mengerti apa yang ada di benak si anak perempuan, Ratu Sekar Langit gelengkan kepalanya perlahan. Sementara Setan Arak agak sipitkan matanya. Lalu menenggak bumbung bambu berisi arak yang ada di tangan kiri kanannya.

Karena masih tak ada yang menjawab, akhirnya Nyi Mentul maju selangkah. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi.

"Kalian telah menertawaiku. Berarti kalian menghinaku! Terimalah ini!"

Wuuutttt!

Nyi Mentul sentakkan kedua tangannya sekaligus ke depan. Namun tampaknya sengaja dibuat agak ke atas, hingga meski kejap itu juga menyambar dua rangkum angin dahsyat yang keluarkan suara menggemuruh keras, namun sambarannya tidak sampai membuat ketiga orang menangkis. Namun hal ini telah menunjukkan bahwa orang ini mempunyai ilmu yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Kalian telah lihat! Kalau kalian masih bungkam, aku tak segan-segan mengarahkannya pada tubuh kalian masing-masing!" ancam Nyi Mentul.

Di seberang, ketiga orang ini saling pan-

dang.

"Rupanya memang bukan dia!" gumam Ratu

Sekar Langit dengan wajah minta pertimbangan pada Setan Arak.

Setan Arak anggukkan kepalanya. Mulutnya yang mengembung terisi arak bergerak-gerak lalu mengempis. "Memang bukan dia! Ayo kita pergi saja!" kata Setan Arak. Lalu menggaet tangan Putri Kipas dan diajaknya meninggalkan tempat itu.

Di seberang, Nyi Mentul tiba-tiba perdengarkan suara tawa mengekeh panjang. "Jangan berharap bisa tinggalkan tempat ini sebelum memberitahu siapa adanya kalian, dan sebelum kalian satu persatu menerima hukuman karena telah menghinaku!"

Ketiga orang ini urungkan niat masingmasing.

"Lebih baik segera kita katakan apa yang dimintanya. Daripada mencari urusan dengan orang seperti dia!" usul Ratu Sekar Langit. Putri Kipas anggukkan kepalanya. Sementara Setan Arak hanya mendehem.

"Maafkan kami. Kami kira kau adalah sahabat kami. Ternyata dugaan kami keliru...," Ratu Sekar Langit membuka pembicaraan.

"Hm.... Begitu?! Teruskan ucapanmu!" Nyi Mentul menyahut agak ketus.

"Aku adalah Ratu Sekar Langit. Anak ini bernama Putri Kipas. Sedang kakek ini disebut orang Setan Arak "

"Hmm.... Nama-nama bagus!" puji Nyi Mentul tanpa tersenyum. Tiba-tiba Nyi Mentul sesenggukkan. Dan tak lama kemudian kedua tangannya telah bergerak menutupi wajahnya, membuat Ratu Sekar Langit kernyitkan dahi. Sebelum gadis muda berparas cantik ini buka suara untuk bertanya, Nyi Mentul telah berujar di sela suara sesunggukannya. "Malang    Malang benar nasibku. Tidak se-

perti kalian. Hidup rukun bahagia. Pasangannya serasi, punya anak mungil lagi.... Huk... huk...

huk.... Seandainya saja aku seperti kalian "

Sesaat Ratu Sekar Langit mendelik. Lalu tak lama kemudian bibirnya mengulas senyum, meski dalam hatinya memaki panjang pendek dikira mereka pasangan suami istri.

"Hai! Kau bicara apa?! Kau sendiri siapa?!" Ratu Sekar Langit menegur.

"Ah, kau. Cantik-cantik kurang pendengaran. Aku bilang, kalian pasangan serasi "

Ratu Sekar Langit meski tampak jengkel namun tersenyum, sementara Setan Arak seperti tak ambil peduli. Putri Kipas sesekali tersenyum seraya memandang silih berganti pada Ratu Sekar Langit dan Setan Arak.

"Kami bukan pasangan.... Tapi "

"Bohong! Kalau bukan pasangan kenapa bersama dia? Atau barangkali kau adalah kekasihnya? Huk... huk... huk !"

"Itu juga bukan!" sahut Ratu Sekar Langit datar. Gadis ini sejenak melirik pada Setan Arak. Yang dilirik sibuk dengan bumbung araknya.

"Kalau begitu kau belum punya kekasih! Aku punya teman, seorang pemuda gagah. Bagaimana kalau...," Nyi Mentul tidak lanjutkan ucapannya. Dia memikir sejenak.

"Puaaahhh! Rupanya kau juga pintar jadi mak comblang! Sayang.... Aku sudah tua. Jika tidak, mau aku pesan padamu. Ha ha ha...!" Setan Arak menimpali, lalu sesaat kemudian sudah tenggelam lagi dalam gelegukan araknya.

"Kau setuju tawaranku?!" Tiba-tiba Nyi Mentul ajukan pertanyaan.

Ratu Sekar Langit gelengkan kepalanya per-

lahan.

"Aku sudah punya pilihan!" jawabnya sing-

kat. Lalu menggaet Putri Kipas dan diajaknya hendak pergi.

"Siapa namanya?!" Nyi Mentul mengejar. "Kau terlalu banyak ingin tahu! Itu urusan-

ku!" sahut Ratu Sekar Langit seraya terus melangkah dengan menggandeng tangan Putri Kipas.

"Ah, sayang. Padahal yang kutawarkan padamu adalah seorang pemuda murid seorang tokoh terkenal dari daerah yang namanya mirip dengan nama terakhirmu!" ucap Nyi Mentul seolah menyesal.

Ratu Sekar Langit tiba-tiba hentikan langkahnya. Keningnya mengkerut.

"Namanya seperti nama terakhirku? Orang yang terkenal selama ini yang nama tempatnya mirip dengan nama terakhirku hanyalah Karang Langit. Tempat Wong Agung. Guru...," gadis ini tidak melanjutkan kata hatinya.

"Hai! Kau tercenung. Kau tertarik dengan tawaranku?!" Nyi Mentul segera ajukan tanya tatkala dilihatnya Ratu Sekar Langit terdiam.

Namun sesaat kemudian Ratu Sekar Langit telah melangkah kembali meski sebelumnya menatap tajam ke arah Nyi Mentul dengan tatapan sulit diartikan. Dada gadis ini tiba-tiba berdebar. Sementara Nyi Mentul tampak tersenyum-senyum dan usap-usap pipinya.

Empat langkahan kakinya, mendadak gadis ini gelisah. Dan dengan perasaan tak karuan, dia berpaling lagi ke belakang. Namun gadis cantik ini terkejut. Nyi Mentul sudah tidak ada di tempatnya semula! Sedangkan Setan Arak dan Putri Kipas terus melangkah ke depan.

Ratu Sekar Langit putar kepalanya dengan sepasang mata mencari-cari. Namun dia tak dapat menemukan sosok perempuan berdandan menor tadi.

"Sial! Kenapa tak kutanyakan dulu siapa nama perempuan tadi? Ah "

Selagi Ratu Sekar Langit mencari-cari terdengar suara orang tertawa. Secepat kilat Ratu Sekar Langit berpaling. Dari balik sebuah batang pohon, Nyi Mentul melangkah terseok-seok sambil tersenyum-senyum.

Sepasang mata Ratu Sekar Langit melotot besar. Dadanya bergetar keras. Bukan karena marah melihat kemunculan Nyi Mentul, namun karena melihat sebuah kipas berwarna ungu bergurat angkat 108 di tangan kanan Nyi Mentul dan dibuatnya berkipas-kipas. Sebuah kipas yang menunjukkan bahwa pemegangnya bukan lain adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108. Murid Wong Agung dari Karang Langit! DELAPAN

MULUT Ratu Sekar Langit tampak memperdengarkan gumaman tak jelas. Wajahnya berubah merah padam. Dalam hati gadis ini memaki tak habis-habisnya. Sebenarnya gadis ini tadi sudah curiga jika perempuan berdandan menor itu adalah Aji. Namun karena sikap yang ditunjukkan si perempuan lain, maka akhirnya dugaannya dia kesampingkan.

Nyi Mentul alias Pendekar Mata Keranjang terus melangkah mendekat. Sementara Ratu Sekar Langit tetap tegak diam seolah menunggu.

"Ratu...," panggil Aji setelah dekat begitu dilihatnya si gadis alihkan pandangannya pada jurusan lain dengan wajah memberengut.

"Kenapa kau mempermainkan aku?!" tegur Ratu Sekar Langit. Suraranya agak keras dan bernada ketus.

Aji tak segera menjawab. Diusap-usapnya hidungnya. Lalu mengelus-elus dua kuncir rambutnya.

"Wah, tampaknya dia marah...," bisiknya. Lalu murid Wong Agung ini melangkah ke depan, mendekati Ratu Sekar Langit.

"Ratu Sekar Langit.... Maafkan jika hal tadi membuatmu marah.... Aku hanya ingin menggoda kalian"

"Tapi godaanmu konyol! Tidak lucu!" sahut Ratu Sekar Langit cepat. Sebenarnya gadis ini merasa malu pada Aji, karena ketika Aji menyamar menjadi Nyi Mentul dan menggoda akan menjodohkan dirinya dengan pemuda murid dari Karang Langit yang tak lain adalah Aji, Ratu Sekar Langit tampak berubah parasnya. Hal ini telah menunjukkan bagaimana perasaannya pada Aji.

"Hai! Kenapa kau berbuat konyol begini? He...?!" Ratu Sekar Langit kembali menegur tatkala Aji hanya diam, malah seraya cengengesan mempermainkan rambut dan pakaiannya yang gombrong kedodoran.

"Ceritanya panjang. Nanti saja kuceritakan. Ayo kita segera menemui Setan Arak. Aku harus segera berbuat sesuatu!" kata Pendekar 108. Lalu tanpa menunggu persetujuan dari Ratu Sekar Langit, tangan gadis itu digaetnya dan digandeng menyusul Setan Arak dan Putri Kipas.

"Kek! Tunggu!" seru Aji. Seraya lambaikan tangan kanan sementara tangan satunya menggandeng tangan Ratu Sekar Langit. Meski hatinya masih jengkel, namun gadis ini tak menolak saat tangan Aji menggandeng tangannya

Setan Arak tak berpaling. Namun Putri Kipas segera menoleh. Dan begitu melihat Ratu Sekar Langit melangkah bergandengan dengan perempuan berdandan menor, Putri Kipas segera keluarkan tawa bergelak-gelak.

"Eyang.... Lihat. Kedua orang itu. Mereka sepertinya sahabat lama yang baru ketemu!"

"Ya, memang mereka sahabat lama. Jadi tak perlu heran!" jawab Setan Arak tanpa menoleh pada Putri Kipas.

"Jadi, perempuan tadi memang Pendekar Mata Keranjang 108?!"

"Apakah aku pernah berkata tak benar?!" Setan Arak balik bertanya pada Putri Kipas, membuat gadis kecil itu manggut-manggut.

Putri Kipas lantas memandang ke depan.

Tiba-tiba dia berseru.

"Eyang   Itu ada sebuah gubuk. Kita istira-

hat di sana sambil menunggu mereka! Rupanya mereka melangkah pelan-pelan dan terus bergandengan tangan."

"Sudahlah. Jangan banyak omong. Kalau kau ingin istirahat, ayo!" sahut Setan Arak. Lalu kedua orang ini melangkah menuju ke sebuah gubuk.

Tak lama kemudian Pendekar 108 dan Ratu Sekar Langit sampai pula di gubuk itu. Setan Arak sesaat memandang pada Ratu Sekar Langit, membuat gadis ini segera sembunyikan parasnya yang bersemu merah dengan berpaling pada Putri Kipas. Sementara Aji langsung duduk bersila di depan Setan Arak yang duduk berselonjor sambil tak henti-hentinya menenggak bumbung bambu berisi arak di tangan kiri kanannya.

"Kek...!" seru Aji. "Di mana letak Lembah Supit Urang itu?!"

Setan Arak jauhkan bumbung bambu dari mulutnya. Sepasang matanya menatap tajam pada Aji.

"Kenapa kau tanya tempat itu?!"

"Selama aku menyelidik beberapa hari ini, aku mendapat petunjuk bahwa di tempat itu akan diadakan pertemuan para tokoh golongan sesat!" jawab Aji lalu dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Malaikat Berdarah Biru juga dengan Gembong Raja Muda dan mengutarakan pula pembicaraan antara Malaikat Berdarah Biru, Gembong Raja Muda dengan Iblis Gelang Kematian.

Ratu Sekar Langit tercengang kaget mendengar keterangan Pendekar 108, sementara Setan Arak meski terkejut namun cuma sesaat. Sekejap kemudian kakek ini telah ajukan tanya pada Aji.

"Jika demikian adanya, apa yang ada di benakmu sekarang?!"

Murid Wong Agung tidak segera memberi jawaban. Dia tengadah sedikit seraya usap-usap ujung hidungnya.

"Kalau menurutmu, bagaimana Kek?!"

Mendengar pertanyaan balik, Setan Arak tertawa bergelak-gelak.

"Karena itu bukan urusanku, aku lebih suka minum arak daripada pergi jauh-jauh ke Lembah Supit Urang!"

"Sialan! Aku juga bodoh. Kenapa menanyakan hal itu?!" maki Aji dalam hati. Dia lalu diam tak memberi sambutan lagi atas kata-kata Setan Arak.

"Ng.... Bagaimana kalau kau menghubungi beberapa tokoh yang kau kenal baik dan nyatanyata berada di pihak kita?!" Ratu Sekar Langit memberi usul.

"Hmm.... Itu bisa saja. Namun mencari dan menemukan tokoh-tokoh itu layaknya mencari kutu di lapangan rambut! Belum tentu aku berhasil menemukan satu orang dalam jangka waktu tiga purnama! Mereka adalah orang-orang yang tak dapat ditentukan di mana tempatnya!" ujar Aji dengan garuk-garuk lengannya, membuat Ratu Sekar Langit ikut-ikutan merasa bingung.

"Hmm   Bagaimanapun juga aku harus se-

gera melakukan sesuatu! Mumpung waktunya masih agak jauh, untuk sementara aku akan coba menghubungi beberapa orang.... Kalau tidak berhasil, apa boleh buat. Aku tetap akan ke Lembah Supit Urang sendirian! Aku harus dapat mencegah persekongkolan bahaya ini!" tekad Aji dalam hati. Lalu setelah berpikir sejenak, dia berkata.

"Kek! Aku harus pergi sekarang!"

"Hmm.... Begitu? Bagus! Bertindaklah apa yang menurutmu baik. Aku tak bisa membantu apa-apa dalam urusan ini!"

"Aku ikut!" tiba-tiba Ratu Sekar Langit ber-

seru.

Sejenak Aji berpaling pada gadis cantik ini.

Untuk beberapa saat kedua orang ini saling pandang. Murid Wong Agung gelengkan kepalanya perlahan.

"Hmm.... Gadis ini sepertinya selalu mengkhawatirkan diriku. Sebenarnya aku senang bisa mengajaknya ikut serta. Namun perjalanan yang hendak kulakukan akan penuh dengan resiko. Ah "

"Ratu Sekar Langit.... Untuk sementara ini sebaiknya kau bersama Putri Kipas dan Setan Arak. Kelak jika urusan ini selesai, aku akan menyusulmu!" kata Aji dengan suara pelan seakan tercekat di tenggorokan.

"Kau menolak hanya karena kau memandangku sebagai perempuan. Begitu bukan?!" ujar Ratu Sekar Langit dengan muka memberengut.

Murid Wong Agung gerakkan kepalanya ke kanan kiri.

"Bukan. Bukan itu sebabnya!" "Lalu apa?!"

"Aku tak bisa mengatakannya, Ratu!" jawab Aji dengan suara serak.

"Ratu. Apa yang dikatakan Aji benar. Sebaiknya untuk sementara ini kau bersama kami dahulu. Itu kalau kau mau! Karena terus terang saja mungkin dia takut kau akan mengalami celaka. Masa' kau tak tahu bagaimana perasaannya padamu?! Dia itu sebenarnya...," Setan Arak tak meneruskan ucapannya, tapi mendekatkan bumbung arak ke mulutnya.

Mendengar kata-kata Setan Arak, Ratu Sekar Langit langsung merah mengelam. Dia melirik pada Pendekar 108. Aji hanya bisa usap-usap hidungnya dan melirik juga pada Ratu Sekar Langit.

"Hai! Katanya mau segera pergi sekarang. Kenapa masih lirak-lirik?!" Setan Arak tiba-tiba keluarkan kata-kata yang membuat Ratu Sekar Langit dan murid Wong Agung sama-sama blingsatan.

"Hmm.... Aku pergi sekarang, Kek! Ratu Sekar Langit.... Putri Kipas," kata Aji lalu bergerak bangkit.

Setan Arak hanya mengangguk. Sementara Ratu Sekar Langit memandang lekat-lekat, malah sepasang matanya terlihat mulai berkaca-kaca, membuat Aji makin trenyuh dan menghela napas dalam-dalam.

"Aji. Perlu kau camkan. Menjadi seorang pendekar dituntut berkorban. Korban raga dan perasaan!" kata Setan Arak saat mengetahui ada rasa bimbang di hati Pendekar 108.

Murid Wong Agung mengangguk. Setelah memandang sekali lagi pada Ratu Sekar Langit dan anggukkan kepala sambil tersenyum, Aji balikkan tubuh dan melangkah meninggalkan gubuk.

"Tunggu!" tiba-tiba Putri Kipas berseru menahan langkah Aji.

Pendekar 108 balikkan tubuh. Ternyata Putri Kipas telah berada di hadapannya.

"Apakah kau akan melangkah dengan masih seperti ini?!" Putri Kipas ajukan tanya, membuat Aji sejenak kernyitkan dahi tak mengerti.

"Apakah ada yang salah padaku?!"

Putri Kipas tidak menjawab. Perempuan kecil ini hanya tertawa sambil pegang pita-pita di rambutnya, lalu mengusap-usap bibirnya.

"Astaga!" Pendekar 108 tersadar kalau dirinya kali ini masih mengenakan kuncir dua di kepalanya, dan bibirnya masih merah karena dipoles, juga pakaiannya yang gombrong kedodoran. Secepat kilat murid Wong Agung ini tanggalkan pakaian gombrongnya. Lalu mukanya diseka dengan pakaian gombrong itu. Kedua kuncir rambutnya dilepas.

Sekejap kemudian, murid Wong Agung ini telah mengenakan pakaian di balik pakaian gombrong tadi. Yakni sebuah baju berwarna hijau dengan dilapis baju lengan panjang warna kuning. Rambutnya dikuncir ekor kuda.

"Bagaimana sekarang?!" ujar Aji seraya mengerling pada Ratu Sekar Langit yang terus memperhatikannya. Gadis muda ini tersenyum meski amat kecut. Sementara Putri Kipas acungkan jari jempolnya.

Aji mengulurkan tangan kanannya dan menggoyang-goyang kepala Putri Kipas. Lalu balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat itu.

SEMBILAN

CUACA saat itu amat dingin mencekam. Angin berhembus menusuk tulang. Di angkasa bulan tertutup arakan awan putih, hingga cahayanya tak mampu menembus untuk menerangi jagat raya.

Di atas puncak bukit yang hanya terdiri dari gundukan batu-batu padas seorang perempuan tua terlihat duduk bersila di depan perapian. Bias cahaya perapian meski terlihat samar-samar dapat menunjukkan jika perempuan tua itu mengenakan pakaian berwarna hitam dari bahan sutera. Pakaian bawahnya berwarna hitam kembangkembang putih. Rambutnya putih dan panjang, hingga tatkala si nenek ini duduk bersila demikian rupa, rambutnya berserakan di atas tanah. Pada kedua tangan si nenek melingkar gelang berwarna kuning. Dia bukan lain adalah Iblis Gelang Kematian yang dalam rimba persilatan namanya sudah tidak asing lagi.

Sejak tengah malam hingga hampir pagi ini, si nenek duduk bersila di depan perapian tanpa bergerak. Hanya sepasang matanya yang besar sesekali berputar liar ke sana kemari lalu menarik napas dalam-dalam.

"Hm... sebenarnya dia harus sudah datang malam ini! Apakah ada sesuatu hingga malam hampir pagi dia tak kunjung datang? Kalau dia tak datang, rencana ini akan...," si nenek tak lanjutkan kata hatinya. Kepalanya berputar. Tiba-tiba dia putar tubuhnya. Lalu sosoknya melesat dengan tangan kanan menyentak ke arah perapian. Nyala api seketika padam tanpa berpelantingannya kayukayu yang dibuat untuk perapian! Dan kejap itu juga puncak bukit berbatu diselimuti kegelapan!

Bersamaan dengan padamnya perapian, sesosok bayangan hitam berkelebat. Dan tahu-tahu telah tegak berdiri di samping perapian yang telah padam. "Hm Aku yakin dia baru saja di sini! Bi-

as hawa panas perapian masih terasa!" Bayangan hitam nyalangkan sepasang matanya berkeliling. Tiba-tiba dia berseru tatkala samar-samar diselimuti kegelapan, dia dapat menangkap sosok hitam berambut putih panjang duduk di atas gundukan batu padas.

"Guru!"

Iblis Gelang Kematian tersenyum tipis. Orang yang baru muncul melangkah mendekat. Lalu anggukkan sedikit kepalanya sebelum akhirnya duduk di hadapan Iblis Gelang Kematian. "Hampir saja kau terlambat! Sesaat lagi kau

tak datang, kau tak akan bisa menemuiku!" Iblis Gelang Kematian keluarkan suara.

Yang diajak bicara hanya diam saja. Hanya sepasang matanya yang tajam memandang lekatlekat pada wajah si nenek. Rahangnya yang kokoh tiba-tiba mengembung seakan marah mendengar ucapan si nenek. Sekejap kemudian mulutnya membuka dan berkata.

"Guru! Aku sudah datang! Harap kau suka mengatakan apa maksudmu memanggilku kemari!"

Iblis Gelang Kematian tak segera menjawab pertanyaan orang yang memanggilnya guru. Dia menarik napas panjang seolah melepas rasa kejengkelan karena lama menunggu. Namun tak lama kemudian dia berkata.

"Manding! Waktu kita tidak banyak. Aku akan bicara langsung ke persoalan saja. Menjelang purnama depan, seluruh tokoh golongan kita akan berkumpul di Lembah Supit Urang. Mereka akan bersatu untuk melawan sekaligus menghancurkan orang-orang putih yang selama ini tampaknya makin merajalela!"

"Tapi apa tidak sebaiknya kita lakukan dengan diam-diam?!' sahut orang yang tadi memanggil Iblis Gelang Kematian dengan sebutan guru. Dia ternyata adalah seorang pemuda berwajah tampan dan keras. Sepasang matanya tajam menyengat. Berdagu kokoh dengan rambut panjang. Mengenakan jubah besar berwarna hitam bergaris-garis putih. Dialah Mending Jayalodra yang lebih dikenal dengan gelar Penyair Berdarah, murid tunggal Iblis Gelang Kematian.

Mendengar ucapan muridnya, Iblis Gelang Kematian keluarkan tawa pendek. Lalu ajukan pertanyaan.

"Yang kau maksud dengan diam-diam itu bagaimana?!"

Sejenak Penyair Berdarah berpikir. Lalu berkata.

"Kita ambil satu persatu orang yang menyatakan dirinya dari golongan putih! "

Iblis Gelang Kematian kembali keluarkan tawa pendek mendengar ucapan muridnya.

"Itu akan memakan waktu panjang dan menguras banyak tenaga, muridku! Karena di satu pihak kita harus mencari orang-orang itu, di pihak lain kita masih harus berjuang untuk menaklukkannya!"

"Lantas kalau diadakan pertemuan di lembah Supit Urang apakah tidak usah mencari orang-orang golongan putih itu. Dan apakah juga kita tak perlu mengeluarkan tenaga untuk membungkamnya?! "

"Segala sesuatu butuh tenaga, Manding! Namun dengan pertemuan itu, tenaga kita tidak terlalu banyak keluar. Karena undangan ini tidak hanya untuk orang-orang golongan kita saja! Orang-orang golongan putih juga kita beri kabar. Dengan demikian, mereka akan datang juga ke sana!"

"Kalau mereka tidak menyambuti undangan itu?! " gelak. Iblis Gelang Kematian tertawa bergelak"Aku sudah berpuluh-puluh tahun malang melintang dalam persilatan. Orang-orang golongan putih tentu tidak akan tinggal diam jika mereka mendengar orang-orang golongan kita akan bersatu menyusun kekuatan! Bahkan tanpa diundang, jika mereka mendengar, dapat dipastikan mereka akan datang! "

"Dengan demikian, apakah dapat dipastikan jika orang yang selama ini kucari akan datang?!"

"Yang kau maksud Pendekar Mata Keran-

jang?!"

Penyair Berdarah mengangguk perlahan. "Pertemuan ini memang untuk memancing-

nya keluar. Dan kalau dia muncul, tentunya dia tak akan sendirian! Itulah yang diharapkan dari pertemuan itu! "

"Apakah semua tokoh golongan kita telah diberitahu?!" tanya Penyair berdarah.

"Sebagian sudah. Namun kabar berita ini akan disebar ke mana-mana. Jadi meski tanpa menemui satu persatu, mereka tentu akan hadir!"

Sesaat kemudian di antara kedua orang ini sama-sama diam. Tak berselang lama kemudian, Iblis Gelang Kematian goyang-goyangkan kepalanya. Lalu menatap tajam pada muridnya, membuat sang murid kernyitkan dahi. Sebelum si murid buka suara, sang guru telah berkata pelan.

"Manding. Lima hari sebelum purnama, yang berarti lima hari sebelum pertemuan itu berlangsung, kau harus siapkan diri baik-baik. Karena aku melihat beberapa tokoh muda yang ilmunya tak bisa diremehkan telah muncul lagi! Meski mereka berada di pihak kita, namun mereka juga bisa jadi penghalang di kelak kemudian hari. Maka dari itu kau harus berlatih lagi kalau kau tak ingin dikalahkan mereka pada suatu saat kelak!"

Penyair Berdarah menyeringai lebar. Wajahnya yang keras tampak membesi. "Guru! Apakah kau menduga aku dapat dengan mudah dikalahkan mereka?!"

Iblis Gelang Kematian mendongak memandangi langit yang masih tertutup awan. "Aku tidak mengatakan begitu. Namun setidak-tidaknya kau harus lebih waspada. Karena pemuda bergelar Malaikat Berdarah Biru juga Gembong Raja Muda telah muncul lagi!"

Sejenak Penyair Berdarah terkesiap mendengar ucapan gurunya. Sepasang matanya membeliak lebar.

"Guru. Bukankah manusia bergelar Malaikat Berdarah Biru kabarnya telah mampus di tangan Pendekar Mata Keranjang?! "

"Itulah. Kadang-kadang apa yang kita dengar lain dengan kenyataan! Aku pun semula menduga kabar tentang tewasnya pemuda itu benar. Namun setelah aku bertemu sendiri, aku katakan padamu, pemuda itu masih hidup!"

"Hm.... Hidup atau sudah tewas, tak ada pengaruhnya bagiku! Aku yakin bisa membuatnya roboh meski kabarnya dia memiliki ilmu tinggi! Bahkan aku pun tak akan mundur jika berhadapan pemuda yang baru saja muncul dan sekarang mulai dibicarakan orang!"

Iblis Gelang Kematian menggumam tak jelas. "Kau mengatakan pemuda yang baru muncul dan kini banyak dibicarakan orang. Apakah yang kau maksud pemuda bergelar Dewa Maut?!"

Penyair Berdarah tersenyum dingin dengan anggukkan kepala.

"Muridku. Ini sungguh suatu kesempatan baik bagimu. Jika pemuda-pemuda itu bisa berkumpul dan bersatu, maka tak akan kesulitan untuk membekuk Pendekar Mata Keranjang!"

"Aku tak akan pernah mau bersatu dengan mereka! Aku ingin menggenggam rimba persilatan dengan tanganku sendiri!" ujar Penyair Berdarah dengan nada berapi-api.

"Itu adalah akhir dari tujuan, muridku! Untuk menuju ke sana, kau harus terlebih dahulu merangkul mereka. Setelah lawan bisa dilumpuhkan, saatnya kau menendang mereka satu persatu! Kau harus pergunakan siasat! Tanpa siasat, tujuanmu akan sukar tercapai!" tutur Iblis Gelang Kematian.

"Kita lupakan dulu mereka. Kita kembali bicara soal pertemuan itu! Sekarang kau harus menebar berita tentang pertemuan menjelang purnama itu. Beritahukan kepada siapa saja! Dan lima hari menjelang pertemuan, kau kutunggu lagi di sini! Aku akan memberimu sesuatu yang kelak mungkin dapat berguna saat pertemuan itu berlangsung!" Penyair Berdarah sejenak memandang lekat pada Iblis Gelang Kematian.

"Aku akan jalankan ucapanmu! Sekarang aku pamit dulu!" Penyair Berdarah bergerak bangkit. Lalu membungkuk sedikit dan tampak kaku karena sebenarnya pemuda ini enggan berbuat basa-basi seperti itu meski pada orang yang dipanggilnya guru.

"Sebelum aku pergi, boleh aku tahu, apa yang hendak kau berikan padaku menjelang pertemuan itu?" tanya Penyair Berdarah dengan memperhatikan gurunya.

Sang guru keluarkan tawa perlahan. Setelah mendehem beberapa kali dia berkata datar.

"Hal itu tak dapat kukatakan sekarang! Namun yang pasti sesuatu itu sangat berguna bagimu!"

"Setan alas!" maki Penyair Berdarah dalam hati. Lalu putar tubuhnya membalik dan tinggalkan puncak bukit itu.

Iblis Gelang Kematian pandangi kepergian muridnya.

"Kalau kukatakan sekarang, kau pasti tak akan jalankan ucapanku! Hik... hik... hik...!" Puas tertawa, nenek ini gerakkan tubuhnya berputar. Lalu sosoknya melesat menuruni bukit mengambil arah berlawanan dengan yang diambil muridnya. SEPULUH

KEPALA berambut lebat itu agak lama masuk menyelam dalam air sendang berair jernih dan sejuk di tengah hutan kecil yang di sekitarnya banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang kerindangan daunnya mampu menahan sinar terik sang matahari. Tak lama kemudian kepala itu muncul lagi dari dalam air, dan mungkin terasa segar, sesaat kemudian kepala itu telah lenyap masuk lagi. Ketika muncul lagi dan bergoyanggoyang ke samping kiri kanan mengibaskan air yang membasahi rambutnya, tiba-tiba sepasang mata di kepala itu menangkap satu bayangan di balik pohon di sekitar sendang.

Orang yang mandi berendam dalam sendang ini segera sentakkan kedua tangannya berkecipak dalam air. Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat keluar dari dalam sendang, dan sertamerta seraya melayang ke tempat di mana dia meletakkan pakaiannya, kedua tangannya kembali menyentak ke arah dia menangkap adanya bayangan.

Serangkum angin dahsyat dengan suara bergemuruh menyambar dari tangan orang ini. Dan sekejap kemudian, ranggasan semak belukar yang berada di balik pohon di mana dia menangkap bayangan langsung terbongkar dengan akar tercerabut keluar dan langsung membumbung ke udara!

Dengan gerak cepat, orang ini segera mengenakan pakaiannya. Setelah berpakaian, tampaklah dengan jelas siapa adanya orang ini. Ternyata dia adalah seorang pemuda bertubuh tegap besar, berambut panjang, bermata tajam, mengenakan jubah besar berwarna hitam yang dilapis dengan baju putih yang di bagian dadanya terdapat gambar sebuah pintu gerbang.

Pemuda yang bukan lain adalah Dewa Maut ini segera berkelebat ke balik pohon yang semak belukarnya telah terambas rata. Dan tanpa banyak bicara lagi kedua tangannya kembali menghantam.

Wuttt!

Angin aneh membentuk lingkaran berputarputar segera melesat. Bersamaan dengan itu beberapa pohon di sekitar tempat itu tergulung dan tak lama kemudian membumbung ke udara terbongkar dari tempatnya! Ketika batangan itu melayang turun, telah berubah menjadi patahan kecil-kecil!

Ketika suasana sirap, sepasang mata Dewa Maut segera menyapu berkeliling. Namun meski keadaan di situ sudah rata karena pukulannya, namun pemuda ini tak menemukan seorang pun!

"Jahanam! Siapa pun kau, tunjukkan diri!" teriak Dewa Maut.

Pada saat itulah terdengar suara orang tertawa. Dewa Maut cepat berpaling. Pemuda ini melihat sesosok bayangan melayang turun dari sebuah pohon tak jauh dari sampingnya yang selamat dari hantaman tangannya.

Begitu sosok itu mendarat, Dewa Maut nyalangkan sepasang matanya tak berkedip ke depan. Di hadapannya kini tegak berdiri seorang perempuan muda mengenakan pakaian putih. Pakaian bagian dadanya dibuat demikian rendah hingga sebagian buah dadanya yang membusung kencang tampak menyembul. Pakaian bawahnya tampak membelah tengah, menampakkan kedua paha yang putih mulus! Parasnya cantik jelita. Sepasang matanya bundar dengan rambut panjang.

Untuk beberapa saat lamanya Dewa Maut hanya memandang seakan terpesona. Malah dadanya terlihat bergetar, sementara napasnya memburu tanda pemuda ini mulai dirasuki gejolak nafsu.

Sementara gadis muda yang dipandangi seakan acuh dengan pandangan si pemuda meski matanya melirik tajam dan bibirnya menyungging senyum.

"Hm... pemuda berparas keras dan tampan. Tubuhnya tegap dengan otot-otot menonjol. Seingatku pernah bertemu dengan pemuda ini. Apalagi melihat pukulan yang dilepaskannya tadi, dia pasti memiliki kepandaian tinggi...," bentak si gadis berbisik.

"Hai!" si gadis berteriak membuyarkan rasa pesona Dewa Maut. "Rasa-rasanya kita pernah bertemu. Kau pernah pula sebutkan gelarmu. Sayang, aku lupa. Kalau tak keberatan, bisa sebutkan gelarmu lagi?!"

Dewa Maut yang wajahnya telah berubah demi melihat siapa adanya orang, sunggingkan senyum. Lalu melangkah tiga tindak ke depan. Seraya usap-usap dadanya dia berkata. Suaranya pelan namun terdengar agak bergetar dan serak. "Seperti kata-katamu, memang benar kita pernah bertemu dan kau kabur waktu itu. Aku adalah Dewa Maut! Kau siapa?!" Dewa Maut balik ajukan tanya.

Sejenak si gadis surutkan langkah satu langkah ke belakang dengan dada berdebar kencang. Sepasang matanya yang bulat nanar memandang ke arah Dewa Maut.

"Hm.... Jadi manusia yang akhir-akhir ini menjadi pembicaraan orang sesungguhnya pernah kukenal. Ilmunya memang tinggi. Tapi... aku lebih tertarik dengan tubuhnya. Hm "

Si gadis tengadahkan sedikit kepalanya seolah ingin menampakkan kejenjangan lehernya. Bersamaan dengan itu dia menarik napas dalamdalam hingga dadanya bergerak-gerak. Dari mulutnya yang merah dan membentuk bagus terdengar dia berucap.

"Orang-orang memanggilku dengan sebutan Dewi Tengkorak Hitam "

"Dewi Tengkorak Hitam. Hm... julukan bagus. Sebagus orangnya!" gumam Dewa Maut memuji. Padahal dalam hati Dewa Maut sebenarnya tidak bisa menerima kalau orang yang berada di dekatnya, waktu itu minggat begitu saja. (Baca serial Pendekar Mata Keranjang dalam episode: "Tahta Setan"). Tapi entah mengapa melihat sembulan buah dada yang menantang milik Dewi Tengkorak Hitam, pikiran itu seketika hilang begitu saja. Mata Dewa Maut malah makin membelalak, dadanya makin berdebar keras, sementara jakunnya turun naik tak karuan. "Namamu sudah kudengar. Dan nyatanya apa yang kudengar tidak berbeda dengan kenyataan. Hanya aku salah duga!" ujar Dewi Tengkorak Hitam dengan rapikan rambutnya.

"Salah duga?!" ulang Dewa Maut dengan kening berkerut, tak mengerti arah ucapan Dewi Tengkorak Hitam.

Dewi Tengkorak Hitam anggukkan kepalanya perlahan. Seraya mengerling dia berkata.

"Aku menduga, orang yang bergelar Dewa Maut adalah seorang kakek berusia kira-kira lima puluh tahunan. Tak tahunya…" gadis cantik ini tak lanjutkan ucapannya, membuat Dewa Maut langsung menyahut.

"Tak tahunya apa...?!'

"Tak tahunya seorang berusia muda dan berwajah tampan yang pernah kukenal "

Hidung Dewa Maut kontan mengembang mendengar pujian Dewi Tengkorak Hitam. Pemuda ini batuk-batuk kecil lalu tertawa terbahak-bahak.

"Aku bukan hanya membuatmu salah duga, tapi lebih dari itu. Aku akan membuat semua orang tercengang tak percaya!"

"Maksudmu?!" tanya Dewi Tengkorak Hitam dengan dahi berkerut.

Dewa Maut seakan tidak mendengar pertanyaan Dewi Tengkorak Hitam. Dia teruskan tawanya. Setelah merasa puas tertawa dia berkata.

"Semua orang akan kubuat tak percaya jika manusia muda bergelar Dewa Maut akan merajai rimba persilatan! Ha... ha... ha. !"

"Manusia ini sombong. Apakah dia tak mengerti, untuk menggapai cita-cita itu harus berhadapan dahulu dengan beberapa tokoh yang namanya sudah tak asing lagi dalam percaturan rimba persilatan. Apakah dia merasa yakin dapat menghadapi mereka-mereka itu? Ah, itu urusannya. Yang kubutuhkan adalah dirinya! Hm... tubuhnya yang tegap tentu.... Ah...," Dewi Tengkorak Hitam mendesah panjang. Gadis ini lantas melangkah satu tindak ke depan.

"Melihat hantamanmu tadi, aku tak ragu lagi jika cita-citamu akan terlaksana! Dari mana kau peroleh ilmu yang demikian hebat itu?!" basa-basi Dewi Tengkorak Hitam ajukan tanya.

"Hal itu tak bisa kukatakan pada orang. Hanya saja dengan ilmu yang kumiliki selain ingin merajai rimba persilatan, aku juga punya tugas!"

"Tugas? Dari gurumu?! Tugas apa?!" "Mencari manusia bergelar Pendekar Mata

Keranjang 108 dan Malaikat Berdarah Biru! "

Air muka Dewi Tengkorak Hitam langsung berubah. Malah tak sadar kedua kakinya tersurut mundur satu langkah. Mulutnya membuka.

"Melihat perubahan wajahmu, aku percaya kau mengenal dua manusia tadi. Itulah manusia yang kucari dan sekaligus harus kumusnahkan dari muka bumi!" sambung Dewa Maut demi melihat perubahan wajah Dewi Tengkorak Hitam, membuat gadis ini makin terkesiap.

Setelah dapat mengatasi rasa kejutnya, Dewi Tengkorak Hitam ajukan tanya. "Boleh aku tahu, silang sengketa apa hingga kau ditugaskan untuk memusnahkan kedua orang itu?!" Dewa Maut tertawa pendek sambil gelengkan kepala.

"Itu juga tak bisa kukatakan padamu! Apakah kau memang mengenal mereka?! "

Dewi Tengkorak Hitam terdiam. Dia berpikir sejurus. Lalu berkata seraya gelengkan kepala.

"Aku hanya mengenal mereka lewat namanya saja. Sedangkan orang-orangnya aku belum pernah bertemu! Kau sendiri, apa telah menemukan mereka?!" seraya berkata begitu, Dewi Tengkorak Hitam alihkan pandangannya pada jurusan lain. Perempuan itu sesungguhnya tahu kalau Dewa Maut telah bertemu dengan Pendekar Mata Keranjang. Dan diam-diam dalam hatinya dia terus bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang telah terjadi hingga pemuda di hadapannya menginginkan nyawa Pendekar Mata Keranjang. Seorang pemuda yang telah dikenalnya dengan baik, malah secara diam-diam dia menyukai pemuda itu meski dia tak bisa menghilangkan kesukaannya pada para pemuda lain.

"Pendekar 108 telah dapat kutemukan. Namun Malaikat Berdarah Biru sampai saat ini belum kutemukan!"

"Kau telah temukan Pendekar 108 ketika keadaanku sedang tertotok bukan? Mengapa kau belum berhasil dengan tugasmu?!" tanya Dewi Tengkorak Hitam dengan palingkan wajah dan dada bergetar keras.

"Aku memang belum bisa selesaikan tugas itu. Ini karena ikut campurnya si keparat banci itu!" jawab Dewa Maut dengan rahang mengembung dan pelipis bergerak-gerak pertanda menindih amarah.

Dewi Tengkorak Hitam sendiri terlihat menarik napas lega. Namun dia juga menahan marah demi mendengar Dewa Maut menyebut orang banci.

"Hm... tentu yang dimaksud adalah si jahanam Setan Pesolek! Manusia keparat yang merusak rencanaku bersama Pendekar 108!" Gadis ini lantas berujar dengan suara setengah berteriak.

"Kau menyebut orang banci. Pasti yang kau maksud adalah Setan Pesolek. Benar?! "

"Aku tak tahu siapa dia adanya! Yang pasti dia tak akan kuampuni lagi jika bertemu denganku! "

"Keparat!" Tiba-tiba Dewi Tengkorak Hitam memaki, membuat Dewa Maut tersentak kaget, dan memandang Dewi Tengkorak Hitam penuh tanda tanya.

"Kau keluarkan makian, kau tampak berapi-api. Apa kau punya urusan dengan orang itu?! " "Setan Pesolek! Manusia itu memang tengah kucari-cari! Dan tak akan kubiarkan lolos jika ber-

temu!"

"Hm... begitu? Jika demikian, aku bersedia membantumu!" ucap Dewa Maut sambil melangkah mendekat. Dewi Tengkorak Hitam palingkan lagi wajahnya dan pura-pura tak mengetahui jika dirinya dipandangi dengan tatapan aneh oleh Dewa Maut.

"Terima kasih kau mau membantuku. Tapi kurasa aku bisa menyelesaikan sendiri manusia itu...," ujar Dewi Tengkorak Hitam sambil menghela napas dalam-dalam hingga buah dadanya makin terlihat membusung.

Dewa Maut hentikan langkah dua tindak di samping Dewi Tengkorak Hitam. Pemuda ini tampak ragu-ragu, membuat Dewi Tengkorak Hitam sunggingkan senyum tipis.

"Hm... dia tampaknya mulai tertarik padaku namun takut memulai.... Hik... hik... hik Dasar

laki-laki! Tapi... kesempatan ini tak akan kusiasiakan. Sudah beberapa lama aku tak merasakan hangatnya belaian kekar tangan seorang pemuda. Hm... aku akan memancingnya...," batin Dewi Tengkorak Hitam. Lalu menoleh pada Dewa Maut. Sejenak ditatapinya pemuda di hadapannya itu. Seraya tersenyum dia berbisik pelan.

"Sebenarnya aku tadi hendak membasuh tubuh di sendang itu. Tapi karena ada kau, terpaksa kubatalkan. Ng... bagaimana kalau aku akan membasuh tubuh sebentar? Kalau kau akan pergi, silakan saja. Tapi kalau masih ingin mengobrol lagi, tunggulah sampai aku selesai."

"Ah, aku memang masih ingin bersamamu. Akan kutunggu kau di sini!" kata Dewa Maut dengan suara bergetar parau, pertanda dirinya telah diamuk gejolak nafsu.

Dewi Tengkorak Hitam mengerling, lalu melangkah perlahan ke arah sendang. Jalannya sengaja dibuat-buat hingga pinggulnya yang besar tampak bergoyang menggiurkan.

Begitu sampai di sendang, Dewi Tengkorak Hitam berpaling ke belakang. Dilihatnya Dewa Maut tetap di tempatnya semula sambil terus memandang ke arahnya tak berkedip.

Dewi Tengkorak Hitam menghela napas dalam-dalam, lalu tersenyum tipis. Dan tanpa mempedulikan pandangan Dewa Maut, tangan kanan kirinya bergerak membuka kancing-kancing pakaiannya.

Di tempatnya berdiri, dada Dewa Maut makin berdebar keras. Napasnya memburu, dengan mata membelalak. Betapa tidak, di depan sana Dewi Tengkorak Hitam tanpa malu-malu lagi membuka satu demi satu pakaiannya. Dan begitu pakaian terakhirnya terbuka, gadis ini langsung berkelebat masuk ke dalam air sendang.

"Busyet! Dia seakan mengharapkan..., " gumam Dewa Maut, namun dia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dia hanya tetap memandangi bagian belakang tubuh Dewi Tengkorak Hitam yang muncul tenggelam di dalam sendang.

Tiba-tiba Dewi Tengkorak Hitam berpaling ke arah Dewa Maut. Sambil tersenyum gadis ini berteriak.

"Hai! Kau tak ingin mandi lagi?!"

"Tapi...," Dewa Maut tak meneruskan ucapannya.

"Apakah kau merasa malu mandi bersamaku?!" sahut Dewi Tengkorak Hitam dengan hadapkan tubuhnya pada Dewa Maut, seakan ingin memperlihatkan buah dadanya yang tak tertutup lagi dan tampak membusung bergerak-gerak.

Mungkin tak tahan lagi melihat pemandangan yang begitu membuat dadanya berdebar, pemuda ini langsung saja meloncat dan menceburkan dirinya ke dalam sendang.

Begitu tubuhnya muncul, tubuh Dewi Tengkorak Hitam telah berada di rengkuhannya. Sejenak dua orang ini saling pandang. Bibir Dewi Tengkorak Hitam sunggingkan seulas senyum. Namun senyum itu segera pupus karena bibir Dewa Maut telah menyergap dan memagutnya!

SEBELAS

PENUNGGANG kuda itu terus memacu kuda tunggangannya dengan cepat. Debu terlihat berhamburan ke udara menutupi pemandangan tatkala ladam kaki kuda itu menghentak di atas tanah. Sang penunggang tampaknya tidak ambil peduli, dia terus memacu kuda tunggangannya. Malah dia keluarkan makian panjang pendek karena dirasa kuda tunggangannya berlari amat lamban.

"Kuda jahanam! Apa kau tidak bisa berlari lebih kencang lagi?! Hiiya...!" Kedua tangan si penunggang dipukulkan pada leher kudanya. Kuda itu tersentak dan menghambur ke depan lebih cepat lagi.

Ketika di depannya tampak sebuah kedai yang ramai pengunjung, baru si penunggang kuda memperlambat lari kudanya. Tepat di halaman kedai, si penunggang hentikan kudanya. Sepasang mata si penunggang sejenak menyapu ke dalam kedai. Beberapa orang di dalam kedai yang sempat melihat ke arah si penunggang terlihat terkejut dan buru-buru alihkan pandangan. Karena dari tampang si penunggang ini rupanya mereka tahu bahwa si penunggang kuda bukanlah orang ramah. Selain matanya yang besar dan masuk dalam rongga yang amat cekung, si penunggang mempunyai bibir yang amat tebal. Sosoknya kurus tinggi. Usianya lanjut. Di atas kepalanya terlihat sebuah caping lebar berwarna hitam dari kulit. Potongan capingnya dibuat terbuka di bagian atas hingga rambutnya yang jarang serta jabrik terlihat. Mengenakan jubah besar berwarna biru gelap. Kulit wajahnya sangat tipis hingga yang tampak hanyalah tonjolan tulang-tulang wajahnya!

Entah karena tidak berselera makan, atau ingin segera sampai tujuannya, si penunggang palingkan wajah ke depan. Lalu tangan kanannya menepuk punggung kuda tunggangannya. Beberapa orang di dalam kedai tampak menarik napas lega dan mata mereka mengikuti berlalunya si penunggang. Tapi kali ini si penunggang tak lagi menghela kuda tunggangannya dengan cepat. Sebaliknya ia memperlambat langkah kudanya dengan kepala sesekali berpaling ke samping kanan dan kiri serta mata nyalang.

Begitu sampai jalanan yang sepi dan tak ada lagi rumah penduduk, si penunggang kembali hentakkan tangannya pada punggung kudanya hingga saat itu juga binatang itu meringkih keras dan mulai berlari kencang. Namun baru saja dua tombak, mendadak sebuah bayangan hitam melayang turun dari sebuah pohon dan langsung berdiri seakan menghadang. Si penunggang tarik hela kudanya. Binatang itu angkat kaki dan berhenti dengan ringkihan keras.

Sesaat si penunggang kuda lebarkan sepasang matanya memperhatikan pada sosok tubuh yang kini berdiri dua belas langkah di hadapannya. Tiba-tiba tulang-tulang wajah si penunggang bergerak-gerak. Mulutnya yang tebal bergerak komat-kamit. Kedua tangannya dikembangkan hingga keluarkan suara bergemeretakan. Jelas jika si penunggang telah dirasuki hawa kemarahan.

Sementara orang yang di hadapannya, yang ternyata seorang perempuan tua mengenakan baju panjang berwarna hitam dari sutera dengan kedua tangan dihiasi beberapa gelang berwarna kuning dan bukan lain adalah Iblis Gelang Kematian, tersenyum lebar.

"Manusia Titisan Dewa! Perubahan yang kau tampakkan menunjukkan jika kau tak lupa padaku!" ujar Iblis Gelang Kematian masih dengan senyum.

Si penunggang kuda yang memang Manusia Titisan Dewa adanya tidak membuka mulut untuk menyambuti ucapan Iblis Gelang Kematian. Sebaliknya laki-laki berusia lanjut ini palingkan wajahnya ke jurusan lain dengan tulang rahang terangkat. Sesaat kemudian dari bibirnya yang tebal terdengar suara teguran keras.

"Iblis Gelang Kematian! Dicari ke manamana tak ketemu. Tak tahunya datang menghadang sendiri hendak serahkan nyawa! Bersiaplah, Nenek Bangka!"

Selesai berkata begitu, Manusia Titisan Dewa gerakkan tubuhnya. Sosoknya melesat setengah tombak ke udara, lalu mendarat dengan sepasang kaki sejengkal di atas tanah!

Meski paras Iblis Gelang Kematian tampak berubah mendengar ucapan Manusia Titisan Dewa, namun nenek ini segera sembunyikan perubahan wajahnya dengan keluarkan geraian tawa panjang.

"Tertawalah sepuasmu! Karena tawamu kali ini adalah kali terakhir kau bisa tertawa!" ujar Manusia Titisan Dewa seraya rangkapkan kedua tangannya di depan dada. Sepasang matanya tak berkedip memperhatikan Iblis Gelang Kematian.

"Aneh. Kita lama tak bertemu, dan rasarasanya di antara kita tak pernah ada sengketa. Kalau tiba-tiba saja kau muncul dan hendak mengakhiri tawaku itu adalah sebuah berita besar. Atau basa-basimu memang demikian?!"

"Tua Bangka! Kau Jangan berpura-pura! Aku mengadakan perjalanan ini memang sengaja mencarimu! "

"Aha.... Tentunya ada hal teramat penting sampai kau bersusah-susah mencariku!" sahut Iblis Gelang Kematian merasa agak lega.

"Mencari sekaligus menguburmu!" sentak Manusia Titisan Dewa dengan suara keras, membuat Iblis Gelang Kematian kembali tersentak kaget. Sepasang alis matanya terangkat dengan bola mata liar memperhatikan. Namun senyum nenek ini kembali menyungging kembali.

"Manusia Titisan Dewa. Kau jangan membuatku berdebar-debar dengan basa-basi gurauanmu. "

"Keparat!" maki Manusia Titisan Dewa. "Siapa bergurau?!"

"Hm... begitu?!" gumam Iblis Gelang Kematian masih dengan sikap tenang meski dalam hatinya bertanya-tanya. "Bisa kau katakan apa salahku padamu sampai kau bersusah payah mencariku sekaligus hendak menguburku?"

"Hm.... Kau manusia yang masih suka berpura-pura. Tapi kalau kau ingin kukatakan apa salahmu, baiklah. Bukankah kau yang membawa seorang gadis muda bernama Sakawuni?! "

Iblis Gelang Kematian surutkan langkah satu tindak. "Hm... nyatanya soal gadis cantik itu. Apa hubungannya dengan tua bangka ini?!" batin Iblis Gelang Kematian, lalu nenek ini mengutarakan apa yang ada di benaknya.

"Apa hubunganmu dengan gadis itu?!"

"Jadi benar jika nenek ini yang menyimpannya. Kurang ajar!" maki Manusia Titisan Dewa, lalu menjawab ucapan Iblis Gelang Kematian dengan bentakan garang. "Dia adalah muridku! Dan lekas serahkan dia padaku!"

"Ah...," Iblis Gelang Kematian keluarkan seruan seakan terkejut.

"Manusia Titisan Dewa. Dengar baik-baik. Aku memang pernah bertemu dengan gadis itu. Malah seperti katamu, aku membawanya ke tempatku karena gadis itu dalam keadaan terluka parah. Namun setelah sembuh dia pergi tanpa meninggalkan pesan!"

Manusia Titisan Dewa tertawa bergelak hingga tubuhnya berguncang dan sosoknya naik turun.

"Siapa percaya dengan mulutmu, Nenek tua! Lekas antar aku menemuinya! Atau kau akan kubuat terkubur di tempat ini!"

"Manusia Titisan Dewa. Aku memang bukan orang baik-baik. Tapi soal menyimpan seorang gadis apa untungnya bagiku?!"

"Itu bukan urusanku! Tapi siapa tahu kau menyukai sesama jenis?!"

"Jaga mulutmu, Manusia Titisan Dewa!" hardik iblis Gelang Kematian dengan suara meradang. Pelipis nenek ini bergerak-gerak, dadanya bergetar keras, geram mendengar ucapan Manusia Titisan Dewa.

Mendapati dirinya dihardik, Manusia Titisan Dewa angkat kedua tangannya. Namun sebelum tangan itu lepaskan pukulan, Iblis Gelang Kematian yang masih tampak tenang meski hatinya berdebar, berseru keras.

"Tunggu!"

Manusia Titisan Dewa turunkan kedua tangannya dengan senyum dingin.

"Mari kita bicara baik-baik. Aku khawatir hal ini kau dengar dari orang yang menginginkan gagalnya pertemuan itu!"

Manusia Titisan Dewa keluarkan tawa pendek penuh ejekan. Seraya rangkapkan kembali kedua tangannya di depan dada, kakek guru Sakawuni ini berkata.

"Kuberi kesempatan kau untuk bicara. Walau aku tahu, mungkin bicaramu hanya mencari dalih!"

Meski dalam hati memaki tak habishabisnya, namun si nenek segera melangkah ke depan dan buka mulut.

"Soal muridmu, kalau kau masih tak percaya dan tetap menuduhku, aku siap melayanimu! Tapi harap kau menunggu sampai setelah purnama depan! Silakan kau tentukan tempatnya di mana!"

"Aha.   Rupanya kau masih akan mengasah

ilmu dulu. Atau kau mau cari bantuan? Ha... ha...

ha...! Silakan. Silakan cari bantuan. Manusia Titisan Dewa tidak akan melangkah mundur!"

"Dengar, Manusia Titisan Dewa! Untuk menghadapimu aku sanggup dengan tanganku sendiri! Namun hal ini sengaja kutunda karena ada hal besar yang harus kuselesaikan daripada melayani tuduhan tak beralasan darimu! "

"Urusan besar?" ulang Manusia Titisan Dewa dengan tertawa. "Urusan apa?! Kau tak usah malu-malu mengatakan jika hanya ingin mencari bala bantuan. Tapi ingat. Jika muridku nantinya sampai mengalami cidera, kau dan para pembantumu akan mengalami kematian yang mengenaskan! "

"Bicaralah sesuka hatimu! Hanya saja kalau kau memang seorang tokoh yang tak mau disebut pengecut, datanglah pada menjelang purnama depan ke Lembah Supit Urang! " "Setan alas! Berani kau mengulangi ucapanmu yang menyebutku pengecut, nyawamu tak kutunda sampai setelah purnama!" bentak Manusia Titisan Dewa dengan mata menyengat angker.

Iblis Gelang Kematian menjawab ucapan Manusia Titisan Dewa dengan tertawa mengekeh panjang. Walau dalam hatinya menyumpah habishabisan. "Tua bangka jahanam. Kau sepertinya manusia yang tiada tanding. Aku ingin tahu sampai di mana kemajuan ilmumu!"

"Manusia Titisan Dewa! Bicaramu terlalu tinggi. Tapi itu semua tiada arti kalau kau menjelang purnama tidak berani datang ke lembah Supit Urang! Dengar! Sebelum urusan muridmu kita tuntaskan, kutunggu kedatanganmu di Lembah Supit Urang!"

"Kalau kau berani, kenapa harus menunggu di Lembah Supit Urang? Tentunya kau takut menghadapiku sendirian. Ha... ha... ha...!"

Batas kesabaran Iblis Gelang Kematian yang sejak tadi ditahan-tahan rupanya sudah tak bisa dibendung lagi.

"Tua keparat! Apa susahnya menghadapi-

mu!"

"Bagus! Jadi kau minta urusan itu disele-

saikan di sini! "

"Terserah kau! Minta sekarang kulayani, minta ditunda kutunggu!"

"Jika demikian, aku minta nyawamu sekarang!" hardik Manusia Titisan Dewa. Bersamaan dengan itu kedua tangannya dipentangkan, dan serta-merta dihantamkan ke depan. Wuttt!

Tiada deru angin yang terdengar, tiada sambaran angin yang terlihat! Namun bersamaan itu, udara mendadak panas menyengat, dan Iblis Gelang Kematian terasa terdorong ke belakang!

Sejurus Iblis Gelang Kematian terkesiap kaget. Sebelum tubuhnya terseret lebih jauh, nenek ini cepat berkelebat ke samping. Dari arah samping nenek ini sentakkan kedua tangannya ke arah Manusia Titisan Dewa.

Wesss!

Gelombang angin dahsyat laksana ombak segera melesat dari kedua tangan Iblis Gelang Kematian.

Manusia Titisan Dewa tak tinggal diam. Kedua tangannya kembali diangkat tinggi-tinggi, lalu dengan membentak garang kedua tangannya dihantamkan memapak serangan Iblis Gelang Kematian.

Udara bertambah panas, dan bersamaan dengan itu seberkas sinar pelangi menggebrak ke depan.

Blarrr!

Terdengar ledakan dahsyat, membuat tempat itu bergetar Keras. Tubuh Iblis Gelang Kematian terlihat tersurut sampai empat langkah dan terhuyung-huyung, namun nenek ini cepat bisa menguasai diri, dan sekonyong-konyong si nenek ini hantamkan kembali kedua tangannya.

Di seberang sana, Manusia Titisan Dewa tampak tubuhnya bergetar keras, dan sebelum tubuhnya oleng, Kakek ini cepat meloncat ke samping, dan begitu melihat lawan lepaskan pukulan lagi, dia pun segera hantamkan tangannya juga!

Wuttt!

Untuk kedua kalinya bentrok pukulan tak dapat dihindarkan lagi. Dan dikejap itu juga tubuh kedua orang ini sama-sama mental ke belakang. Iblis Gelang Kematian coba menahan tubuhnya dengan sentakan kedua tangannya ke bawah. Namun gerakannya terlambat, karena bersamaan dengan itu tubuhnya telah terhuyung dan jatuh dengan kaki tertekuk. Di pihak lain, Manusia Titisan Dewa terlihat jatuh terduduk!

"Jahanam! Rupanya ilmunya maju cukup pesat juga manusia ini!" batin Iblis Gelang Kematian, lalu si nenek salurkan tenaga dalam ke dada dan kedua tangannya yang terasa berdenyut nyeri dan kesemutan. Sesaat kemudian bergerak bangkit meski dengan meringis menahan sakit.

Kedua orang ini sejurus saling bentrok pandangan. Dan serentak kedua orang ini sama-sama gerakkan tangan masing-masing untuk lepaskan serangan. Namun sebelum keduanya sempat lepaskan pukulan, terdengar orang batuk-batuk. Lalu disusul dengan suara tawa pendek bernada mengejek.

Manusia Titisan Dewa dan Iblis Gelang Kematian urungkan niat masing-masing untuk lepaskan pukulan. Serentak keduanya berpaling ke samping. Kedua orang ini sama-sama pelototkan mata masing-masing. Dahi keduanya mengernyit. DUA BELAS

DARI arah samping kedua orang ini melihat dua orang melangkah ke arah mereka. Sebelah kanan adalah seorang pemuda berparas tampan dan keras. Mengenakan pakaian jubah warna hitam besar yang dilapis dengan baju putih. Karena kancing jubah bagian atas sengaja dibuka, maka baik Manusia Titisan Dewa maupun Iblis Gelang Kematian dapat melihat jelas gambar sebuah lukisan pintu gerbang di bagian dada baju putih si pemuda. Di samping si pemuda adalah seorang gadis muda berparas cantik Jelita. Mengenakan pakaian warna putih yang di bagian dada dibuat agak rendah, hingga sembulan buah dadanya terlihat dengan jelas. Sementara pakaian bawahnya dibuat membelah di tengah, seolah memperlihatkan sepasang kulit pahanya yang mulus. Sepasang mata si gadis bulat berbinar dengan rambut panjang.

"Siapa mereka? Kedatangannya tidak dapat kusiasati, hm... tentunya mereka mempunyai ilmu yang tidak bisa dianggap sepele...," membatin Manusia Titisan Dewa dengan memperhatikan lebih seksama.

"Hm... yang perempuan sepertinya pernah kukenal. Tapi... di mana? Si pemuda rasanya baru kali ini kujumpai...," Iblis Gelang Kematian berkata dalam hati dengan dahi terus berkerut.

Sepuluh langkah di samping Manusia Titisan Dewa dan Iblis Gelang Kematian si pemuda dan si gadis yang bukan lain adalah Dewa Maut dan Dewi Tengkorak Hitam hentikan langkah.

Kedua orang muda ini sejenak saling berpandangan. Dewa Maut lantas tersenyum tipis dan berpaling pada Manusia Titisan Dewa. Sebelum pemuda ini buka mulut ajukan tanya, Manusia Titisan Dewa telah keluarkan teguran keras.

"Siapa kalian?!"

Teguran Manusia Titisan Dewa hanya dijawab dengan seringai oleh Dewa Maut. Dan tanpa mengacuhkan Manusia Titisan Dewa yang tampak marah, Dewa Maut berpaling pada Iblis Gelang Kematian. Iblis Gelang Kematian tidak keluarkan suara, malah sebaliknya Nenek ini alihkan pandangan pada jurusan lain.

"Bila kalian tak mau mengatakan siapa adanya kalian juga apa tujuan kalian di sini, lekaslah angkat kaki sebelum kalian menyesal!"

Mendengar ucapan Manusia Titisan Dewa, Dewa Maut kembali berpaling ke arahnya. Sejurus dipandanginya kakek ini. Tiba-tiba Dewa Maut keluarkan tawa bergelak.

Mendapati hal demikian Manusia Titisan Dewa rupanya tak dapat menahan sabar, dia segera melangkah maju. Namun baru satu langkah, Dewa Maut telah keluarkan bentakan keras.

"Siapa kami, nanti kekasihku yang akan jelaskan! Tapi sekali lagi kau keluarkan ucapan mengancam, kau akan tewas sebelum mengetahui siapa kami. Kau dengar?!"

Habis berkata begitu, Dewa Maut palingkan wajah ke arah Dewi Tengkorak Hitam. Sementara Manusia Titisan Dewa terlihat makin geram, hingga tulang rahangnya saling mengatup rapat-rapat keluarkan suara gemeletak.

"Dewiku.... Katakan pada mereka siapa adanya kita! " Dewa Maut berkata pada Dewi Tengkorak Hitam.

Dewi Tengkorak Hitam maju selangkah. Memandang satu persatu pada Manusia Titisan Dewa dan Iblis Gelang Kematian. Setelah tersenyum sinis gadis cantik buka mulutnya.

"Pemuda di hadapan kalian saat ini adalah manusia yang bergelar Dewa Maut! Sedangkan aku. Dewi Tengkorak Hitam!"

Iblis Gelang Kematian langsung berubah parasnya. Dahinya mengkerut dengan mata menyipit memandang ke arah Dewa Maut.

"Hm... melihat gerak-geriknya pemuda itu memang membekal ilmu. Tapi bagaimana mungkin dia bisa jatuh ke pelukan perempuan itu? Dewi Tengkorak Hitam... namanya memang pernah kudengar. Kabarnya dia seorang perempuan yang selain mempunyai ilmu tinggi juga doyan pada pemuda-pemuda! Pemuda ini perlu didatangkan ke lembah Supit Urang "

Berpikir begitu, Iblis Gelang Kematian lalu maju selangkah seraya anggukkan kepala dengan bibir sunggingkan senyum.

"Gembira sekali hari ini aku bisa bertemu dengan orang muda yang namanya mulai dikenal orang-orang kalangan persilatan. Aku Iblis Gelang Kematian.... Terimalah perkenalanku "

Mendengar sedikit pujian, Dewa Maut busungkan dadanya. Lalu berpaling pada Iblis Gelang Kematian tanpa anggukkan kepala atau ucapkan kata-kata. Dia hanya memandang lalu tersenyum sinis, membuat Iblis Gelang Kematian memaki panjang pendek dalam hati seraya mulut komatkamit.

Mendadak Dewa Maut menoleh pada Manusia Titisan Dewa.

"Kau telah dengar siapa kami. Sekarang katakan siapa kau!"

Sosok manusia Manusia Titisan Dewa terlihat berguncang karena menahan geram. Sementara Dewi Tengkorak Hitam dan Dewa Maut diam menunggu. Setelah menarik napas dalam-dalam, Manusia Titisan Dewa mendongak.

"Pasang telinga kalian baik-baik. Aku digelari orang Manusia Titisan Dewa!"

Dewi Tengkorak Hitam ternganga, sedangkan Dewa Maut tetap tenang tak menunjukkan rasa terkejut sama sekali. Hal ini bisa dimaklumi, karena Dewi Tengkorak Hitam yang telah lama malang melintang dalam rimba persilatan telah pernah mendengar tentang tokoh ini. Sementara Dewa Maut yang baru saja menjejakkan kakinya ke arena rimba persilatan belum pernah mendengar siapa adanya tokoh yang kini ada di hadapannya itu.

"Sekarang katakan apa tujuan kalian berada di sini. Apa kalian ada hubungannya dengan tua bangka itu?!" sambung Manusia Titisan Dewa masih dengan mendongak.

Dewa Maut keluarkan tawa dahulu sebelum berkata.

"Kami tak ada sangkut-paut apa-apa dengan nenek itu! Kalau kau tanya tentang tujuanku, dengarkan baik-baik. Aku datang dengan tujuan ingin menjadi raja rimba persilatan! "

Serta-merta Manusia Titisan Dewa tertawa bergerai-gerai.

"Anak muda! Berapa umurmu sekarang?!" "Umur bukan ukuran seseorang menjadi ra-

ja di rimba persilatan!" sahut Dewa Maut dengan suara keras bergetar.

"Hm... begitu? Tekadmu tampaknya besar, Anak muda! Siapa gurumu?!"

"Itu juga bukan ukuran seseorang untuk menggenggam rimba persilatan! "

"Hm... Jika begitu kau memang pantas dikasih tahu aturan rimba persilatan!" hardik Manusia Titisan Dewa, kedua tangannya diangkat lalu ditarik sedikit ke belakang.

Tahu jika Manusia Titisan Dewa akan lepaskan pukulan, Dewa Maut berbisik pada Dewi Tengkorak Hitam.

"Dewi   Kau menyingkirlah! Tua bangka ini

rupanya ingin tahu siapa yang dihadapinya saat ini!"

Dewi Tengkorak Hitam surutkan langkah ke samping. Sementara Dewa Maut maju satu tindak. Dia tidak membuat gerakan, hanya sepasang matanya menyorot tajam pada Manusia Titisan Dewa. "Tunggu!" tiba-tiba Iblis Gelang Kematian

berseru.

Manusia Titisan Dewa berpaling dengan lirikkan matanya. Sementara Dewa Maut tak menoleh. "Kau mau bergabung dengannya?!" teriak Manusia Titisan Dewa.

Iblis Gelang Kematian menyeringai buruk. "Sebaiknya kita akhiri urusan sepele ini

sampai di sini saja! Karena ada hal yang lebih penting yang semestinya kita lakukan."

"Kita lakukan?!" ulang Manusia Titisan Dewa dengan sinis. "Kau bukan kelompokku! Aku adalah aku! Jangan kau berani menyebut kita!"

"Jahanam! Seandainya aku tidak punya rencana besar di lembah Supit Urang, sudah kusudahi hidupmu!" maki Iblis Gelang Kematian dalam hati. Nenek ini berpaling pada Dewa Maut, lalu berkata.

"Dewa Maut. Kau memang berhak bercitacita menjadi raja di raja rimba persilatan. Tapi untuk mencapainya tentu kau harus buktikan dulu bahwa sudah tidak ada orang lagi yang dapat mengalahkan dirimu!"

"Hal itu akan kubuktikan sekarang! Dan tua bangka itu yang akan kujadikan barang bukti pertama kali!" sahut Dewa Maut dengan arahkan telunjuk jarinya pada Manusia Titisan Dewa.

"Di sini, barang bukti sepuluh kali lipat tak akan ada artinya!"

"Apa maksudmu?!" tanya Dewa Maut masih tanpa berpaling.

"Kalau kau ingin membuktikan, datanglah pada menjelang purnama depan ke Lembah Supit Urang. Di sana nanti, kau bisa berhitung. Adakah kau pantas menyandang gelar raja di raja rimba persilatan atau tidak!"

Habis berkata demikian, Iblis Gelang Kematian melirik pada Manusia Titisan Dewa, lalu berkata.

"Manusia Titisan Dewa. Urusan kita, kita selesaikan di lembah Supit Urang! Ingat! Jika kalian tak datang, lebih baik kalian bunuh diri sekarang juga! Hik... hik... hik...!"

Iblis Gelang Kematian lantas balikkan tubuh, dan hendak pergi tinggalkan tempat itu. Namun sebelum dia sempat berkelebat, Manusia Titisan Dewa telah sentakkan kedua tangan ke arahnya.

Wuttt!

Hawa panas yang kemudian berganti dingin menghampar di tempat itu. Bersamaan dengan itu, seberkas sinar pelangi melesat cepat ke arah Iblis Gelang Kematian.

Mengetahui serangan berbahaya, Iblis Gelang Kematian segera balikkan tubuhnya dan lepaskan pukulan. Namun sebelum pukulannya sempat dilancarkan, Dewa Maut telah membentak garang. Bersamaan dengan itu kedua tangannya menghantam memapak pukulan yang mengarah pada Iblis Gelang Kematian.

Wesss!

Asap merah menyambar keluar dari kedua tangan Dewa Maut, disusul kemudian dengan menggebraknya angin yang berputar-putar aneh.

Manusia Titisan Dewa tampak terkesiap kaget ketika melihat sinar pelangi pukulan saktinya 'Menggiring Pelangi Menebar Hawa' masuk ke dalam angin yang berputar-putar aneh itu. Dan kakek ini makin tak percaya tatkala angin yang berputar-putar aneh itu kini melabrak ke arahnya!

Sambil berseru tegang, Manusia Titisan Dewa melompat ke udara. Lalu hantamkan kedua tangannya ke arah angin yang berputar-putar dan menggulung serangannya tadi.

Blarrr!

Ledakan keras segera terdengar. Tanah bermuncratan ke udara menutupi pemandangan. Sosok Manusia Titisan Dewa tampak membuat gerakan berjumpalitan beberapa kali di udara sebelum akhirnya mendarat sejengkal di atas tanah!

Ketika keadaan terang kembali, Manusia Titisan Dewa tampak keluarkan makian tak karuan, karena sosok Iblis Gelang Kematian telah lenyap dari tempat itu!

"Pengecut jahanam! Kutunggu kau di tempat yang kau sebutkan!" teriak Manusia Titisan Dewa. Lalu menatap pada Dewa Maut dan berkata. "Kau juga, jangan kira urusan kita ini sele-

sai! Kita buktikan nanti di lembah Supit Urang, siapa yang berhak menyandang gelar raja di raja rimba persilatan!"

Manusia Titisan Dewa lantas menggoyang tubuhnya lalu berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Kau biarkan tua-tua bangka itu pergi begitu saja?!" ujar Dewi Tengkorak Hitam seraya melingkarkan tangannya pada pinggang Dewa Maut dan merapatkan dadanya pada punggung si pemuda. Tangan Dewa Maut bergerak mengelus tangan Dewi Tengkorak Hitam.

"Sebenarnya aku ingin membunuh mereka. Tapi sengaja kuulur. Aku ingin manusia-manusia macam mereka menjadi kacung-kacung Dewa Maut. Ha... ha... ha...! Mereka akan kujadikan Laskar Dewa! Pembantu-pembantu setia Dewa Maut yang mengiringi ke mana tuannya melangkah! Ha... ha... ha...!"

SELESAI