Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 21 : Prahara Dendam Leluhur

 
Eps 21 : Prahara Dendam Leluhur


Di dalam sebuah gubuk tanpa dinding dan berlantai tanah terlihat dua orang sedang duduk dengan selonjorkan kaki-kaki masing-masing. Keduanya sama sandarkan punggung masingmasing pada tiang gubuk. Yang berada di sebelah kanan, seraya duduk ia gerakan tangannya pulang balik di depan dagu berkipas-kipas. Pandangannya jauh ke depan, di mana tampak ujung jalan setapak yang kemudian membelok dan hilang di antara kerapatan pohon. Mulutnya terkancing rapat. Malah sesekali napasnya berhembus panjang-panjang, jelas jika ia sedang memikirkan sesuatu.

Sementara yang berada di sebelah kiri seraya bersandar ia tersenyum-senyum. Tangan kirinya memegang sebuah batu putih mengkilat yang seringkali didekatkan pada wajahnya. Lalu menggerak-gerakkan kepalanya dan menyibakkan anak rambut pada tongkatnya. Gerakannya lemah gemulai persis gerakan seorang perempuan, meski ia adalah seorang laki-laki.

"Kau rupanya masih tenggelam memikirkan gadis itu. Apa kau benar-benar jatuh cinta padanya?!" Orang yang di sebelah kiri berkata sambil dekatkan batu putih ke wajahnya. Sejenak ia memperhatikan parasnya dari pantulan batu putih. Lalu ekor matanya melirik ke kanan.

Yang dilirik tetap berkipas-kipas dan tak segera menyahuti ucapan orang. Malah ia putar tubuhnya hingga memunggungi orang yang baru saja berkata.

"Ah, cinta kadang-kadang bisa membuat orang menjadi tolol!" ujar orang yang di sebelah kiri, lalu ikut putar tubuhnya setengah lingkaran, hingga kedua orang ini saling memunggungi.

Mendengar ucapan orang, orang yang di sebelah kanan menyeringai. Mulutnya komatkamit menggumam sesuatu yang tak jelas. Lalu mulut itu membuka seakan hendak mengucapkan sesuatu, namun sebelum ucapannya terdengar, orang di sebelah kiri telah berkata kembali.

"Pendekar Mata Keranjang.... Jika kau masih disibukkan dengan masalah kepergian gadis itu, adanya aku mungkin menambah keruwetan pikiranmu. Aku akan meneruskan langkah. Mudah-mudahan kita nanti bisa bertemu lagi "

Habis berkata begitu, orang ini segera bangkit. Merapikan rambutnya sebentar, lalu hendak melangkah meninggalkan gubuk itu. Namun langkahnya tertahan ketika orang di sebelah kanan yang ternyata adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 putar tubuhnya sambil berkata.

"Setan Pesolek! Boleh aku tahu sesuatu darimu?!"

Orang yang hendak melangkah pergi dan ternyata adalah Setan Pesolek urungkan niat, lalu tanpa balikkan tubuh menghadap Aji, dia berkata. "Hmm. Apa yang perlu kau ketahui?!"

Aji bangkit. Lalu melangkah mendekat. "Aku tidak memikirkan ke mana perginya Dewi Tengkorak Hitam. Itu adalah urusannya. Yang jadi tanya bagiku, siapa sabenarnya dia?!"

Setan Pesolek tertawa pelan. Lalu balikkan tubuh. Masih dengan senyum-senyum, dia bertanya.

"Kalian akhir-akhir ini ke mana-mana selalu berdua. Apakah kau tak sempat menanyakan sendiri padanya?!"

"Hal itu pernah kulakukan. Namun jawaban yang kuperoleh rasanya belum memuaskan. Aku tahu, dia masih menyembunyikan sesuatu padaku. Bisa kau menerangkan siapa dia adanya?!"

Setan Pesolek gelengkan kepala pelan.

"Tak enak rasanya membicarakan orang. Biarlah suatu saat kau yang akan tahu sendiri! Hanya kalau boleh aku berkata, berhati-hatilah! Pasang telinga kiri kanan baik-baik. Dan jangan lupa mawas diri. Karena jika tidak, maka akan buta mata batinmu!"

Aji usap-usap ujung hidungnya. Lalu berkata dengan suara pelan.

"Tentang manusia yang bergelar Dewa Maut, apakah sebelum ini kau pernah bertemu, atau kau setidak-tidaknya mendengar namanya?!" "Untuk pertama kali ini aku mendengar

dan melihat orangnya. Namun harus diakui jika dia adalah seorang pemuda yang berilmu tinggi...," ujar Setan Pesolek. Ekor matanya mengerling pada Aji, lalu tersenyum-senyum.

"Aku tak mengerti, kenapa dia mendadak muncul dan mencariku? Padahal, jangankan membuat masalah, bertemu pun masih baru pertama kali Heran!"

"Pendekar 108! Kau tak usah heran. Keheranan hanya akan membuatmu tenggelam dalam ketidak-pastian. Yang harus kau lakukan adalah melihat lalu berpikir! Di sanalah nantinya kau akan mengerti!"

"Sialan!" maki Aji dalam hati. "Siapa sebenarnya manusia ini? Aku baru saja mengenalnya. Aku tahu, dia mengetahui banyak tentang hal yang kuhadapi. Namun dia enggan mengatakannya padaku "

Selagi Aji tercenung, tiba-tiba Setan Pesolek gerakan tangannya seakan melambai. Bersamaan dengan itu, tubuhnya berkelebat dan sekejap kemudian lenyap di balik kerapatan pohon.

"Luar biasa.... Gerakannya hampir tak dapat kuikuti!" gumam Aji sambil geleng-geleng kepala. Lalu putar tubuh. Sejenak dia menghela napas dalam-dalam.

"Apa maksud ucapan Setan Pesolek agar aku harus berhati-hati pada Dewi Tengkorak Hitam? Selama bersama-sama dengan gadis itu, dia sepertinya tidak menunjukkan perilaku yang mencurigakan.... Tapi, kenapa dia mendadak pergi begitu saja tanpa memberitahu? Dan.... Dia seperti tak senang pada Setan Pesolek. Ada apa di antara kedua orang ini? Mereka berdua tampaknya juga sudah saling kenal...," kata Aji dalam hati, lalu teringat pada perjalanan mereka yang menghindar dari kejaran Dewa Maut.

Saat itu Dewi Tengkorak Hitam berlari di sebelah depan. Sementara Setan Pesolek dan Aji berada di belakang. Tiba-tiba saja Dewi Tengkorak Hitam hentikan larinya. Begitu Setan Pesolek dan Aji ikut berhenti di sebelahnya, gadis itu langsung memandang tajam pada Setan Pesolek. Dadanya yang membusung terlihat turun naik, lalu dia berkata.

"Aku tak akan melupakan pertolonganmu. Namun kuharap kau tak lagi mengikuti Iangkah kami berdua. Kami berdua masih punya urusan yang harus diselesaikan. Bukankah begitu Aji...?!" Aji tak segera menjawab. Dia tampak bin-

gung. Sejenak memperhatikan Setan Pesolek lalu beralih pada Dewi Tengkorak Hitam.

"Hmm.... Begitu?" gumam Setan Pesolek sambil gerakan tangannya. "Orang lagi tertusuk cinta memang selalu tak ingin ditemani orang lain. Hik.... Hik.... Hik...!" sambil terus tertawa cekikikan Setan Pesolek balikan tubuh dan meninggalkan Dewi Tengkorak Hitam serta Pendekar Mata Keranjang.

Sesaat setelah Setan Pesolek berkelebat, Aji teringat sesuatu.

"Kipasku.... Kipasku masih dibawanya!" Aji lantas berpaling pada Dewi Tengkorak Hitam dan berkata.

"Anting Wulan. Kau tunggu sebentar di si-

ni "

Tanpa mempedulikan Anting Wulan alias

Dewi Tengkorak Hitam yang termangu-mangu tak mengerti, Aji berkelebat ke arah mana Setan Pesolek berlari.

"Jahanam! Setan Pesolek. Kau kali ini menjegal langkahku. Hm.... Kau telah membuat urusan dengan Dewi Tengkorak Hitam. Hari-harimu selanjutnya tidak akan lapang!" teriak Dewi Tengkorak Hitam sambil kepalkan tangan. Dia sejenak menunggu, namun setelah agak lama yang ditunggu tak muncul, gadis berparas cantik ini bantingkan kakinya.

"Dia mungkin telah termakan setan banci itu...!" gumamnya, lalu termenung dengan sepasang mata memandang ke arah berkelebatnya Aji. Dia tampak ragu-ragu. Akan menyusul atau meneruskan langkah sendiri. Setelah agak lama akhirnya ia balikan tubuh dan berkelebat ke arah berlawanan dengan yang diambil Aji.

Tak lama setelah Dewi Tengkorak Hitam berlalu, Aji kembali, namun dia sudah tak menemukan Dewi Tengkorak Hitam. Selagi dia kebingungan, tiba-tiba Setan Pesolek muncul lagi.

"Pendekar Mata Keranjang. Tak ada gunanya dicari. Dia telah jauh berlari...," kata Setan Pesolek sambil berkaca pada cermin batu putihnya dan bersandar pada batang pohon.

Aji keluarkan dengusan. Sebenarnya dia ingin marah. Namun mengingat Setan Pesolek telah menolongnya, maka amarah itu ditahannya. Malah tatkala Setan Pesolek berkelebat, Aji ikutikutan berkelebat dan mengikuti ke mana Setan Pesolek berlari. Ternyata Setan Pesolek menuju sebuah gubuk tak berdinding di kaki sebuah bukit.

"Hmm.... Butuh waktu untuk mengetahui apa sebenarnya yang ada di balik ucapan Setan Pesolek...," pikir Aji. Lalu setelah menarik napas dalam-dalam ia melangkah meninggalkan gubuk.

Baru saja kakinya bergerak dua tindak, tiba-tiba terdengar suara deru angin disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan. Pendekar Mata Keranjang 108 hentikan Iangkah dan cepat berpaling.

Paras murid Wong Agung seketika berubah. Sepasang matanya mendelik memperhatikan pada orang yang kini berdiri tegak sepuluh Iangkah di hadapannya.

Dia adalah seorang perempuan berusia lanjut. Sepasang matanya cekung, rambutnya putih panjang, mengenakan pakaian panjang berwarna hitam yang pada dadanya terlihat sekuntum bunga.

"Dewi Bunga Iblis!" seru Aji begitu mengenali siapa adanya nenek di hadapannya.

Sang nenek yang bukan lain memang Dewi Bunga Iblis dongakkan kepalanya. Dari mulutnya keluar suara tawa mengekeh panjang. Tiba-tiba suaranya terputus laksana direnggut setan. Kepalanya bergerak lurus menghadap ke depan.

"Anak jahanam!" teriak si nenek dengan angkat tangannya dan jari telunjuknya lurus menunjuk ke arah Pendekar 108.

"Ke liang semut pun jangan harap bisa lolos dari mataku! Kau telah digurat untuk tewas di tanganku!"

Alis mata murid Wong Agung naik ke atas. Sepasang matanya menyipit lalu membesar. Sejenak ia memperhatikan sang nenek lebih seksama. "Nyatanya dia masih hidup. Tentu ada

orang yang telah menolongnya!" kata Aji dalam hati.

Di hadapannya diam-diam sang nenek juga membatin.

"Kali ini tak akan kubiarkan lagi dia meloloskan diri. Hanya dia satu-satunya harapan untuk memperpanjang hidupku! Bekerjanya racun si jahanam Gembong Raja Muda tinggal satu setengah purnama lagi! Jika aku tidak berhasil membawa kepalanya, maka hidupku tinggal empat puluh lima hari! Sialan betul!"

Seperti diketahui, Dewi Bunga Iblis akhirakhir ini memang selalu pasang telinga baik-baik. Mengendus berita ke sana kemari mencari jejak beradanya Pendekar 108. Hal ini karena dalam tubuh si nenek telah bersarang butiran beracun Gembong Raja Muda, tokoh muda musuh Pendekar 108 yang terpaksa ditelan sang nenek sebagai syarat pembebasan dirinya dari belitan selendang merah Dewi Kayangan. Dan sebagai imbalannya, kelak dia harus dapat membawa kepala Pendekar

108 ke hadapan Gembong Raja Muda. Jika dia gagal, maka obat penawar racun itu tidak akan diberikan (Tentang pertemuan Dewi Bunga Iblis dengan Gembong Raja Muda silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode : "Manusia Titisan Dewa").

"Dewi!" seru Aji setelah agak lama terdiam. "Kematian adalah bukan hal yang ku ta-

kutkan. Karena semua pasti akan mengalaminya! Namun suatu hal yang pasti setiap kematian ada sebabnya. Harap kau suka mengatakan padaku, kenapa sejak semula kau menginginkan kematianku? Padahal di antara kita tak ada masalah atau kalaupun ada, itu hanya masalah sepele dan tentunya kau dapat memakluminya!"

Dewi Bunga Iblis keluarkan dengusan keras. Lalu tertawa mengekeh.

"Anak muda! Kau tak pantas mengajukan tanya padaku! Hadapilah kematianmu!"

Habis berkata begitu, kedua tangan Dewi Bunga Iblis terangkat ke atas. Dan didahului bentakan nyaring, kedua tangannya segera disentakkan ke depan.

Wuuusss! Wuuusss!

Dua gelombang angin dahsyat menghentak laksana gelombang air laut. Hawa panas serentak menghampar. Gelombang angin ini melebar lalu menyergap ke arah Pendekar 108 dari sisi kanan kiri.

Aji sejenak terkesiap. Niatnya yang hendak menghindar dengan melompat ke samping dia urungkan. Secepat kilat tanganya ditarik dan secepat itu juga disentakkan ke samping kanan kiri.

Sinar biru membersit, lalu mengembang dan melabrak gelombang angin.

Bumm! Bummm!

Tempat itu bergetar hebat. Tiang gubuk patah lalu atapnya jatuh dan mental sebelum akhirnya berhamburan di udara. Pohon-pohon tak jauh dari tempat bentroknya pukulan berderak tumbang dengan kulit mengelupas dan hitam laksana dipanggang! Asap tebal pun menutupi pandangan.

Dewi Bunga Iblis terlihat jatuh berlutut. Tubuhnya berguncang keras. Sejenak nenek ini salurkan tenaga dalam pada dada dan tangannya yang berdenyut sakit dan gemetar. Wajahnya berubah sedikit pucat. Sesaat kemudian dia terhuyung-huyung bangkit.

Lima belas langkah di hadapan Dewi Bunga Iblis, Pendekar Mata Keranjang tampak duduk bersandar pada batangan pohon yang baru saja tumbang. Paras mukanya pias. Batangan pohon yang dibuatnya bersandar bergerak-gerak seiring gerakan tubuhnya yang bergetar keras.

"Hmm.... Anak keparat ini benar-benar tangguh! Dia tampaknya tak mengalami cidera yang berarti! Aku harus segera menyelesaikan urusan ini!" pikir Dewi Bunga iblis. Sejurus dia memperhatikan Aji. Lalu sepasang matanya memejam rapat. Mulutnya komat-kamit. Kedua tangannya perlahan diangkat dan disejajarkan dada. Mendapati hal demikian, murid Wong

Agung tak tinggal diam. Dengan masih menahan rasa sakit pada dada dan tangannya, dia bergerak bangkit. Tenaga dalamnya cepat disalurkan pada kedua telapak tangannya.

Saat itulah, di seberang sana terdengar Dewi Bunga Iblis membentak garang. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Lalu serta-merta disentakkan lurus ke depan.

Sebongkah awan hitam menggelembung melesat cepat ke arah Pendekar 108. Di tengah jalan, bongkahan awan hitam itu ambyar. Lalu bertebaran beberapa bunga hitam! Bunga-bunga hitam ini segera melesat dari segala jurusan. Setiap bunga meluncur dengan angin dahsyat mendahului!

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat tarik tangannya dan segera dihantamkan ke depan.

Wuuutt! Wuuuttt!

Dua larik sinar biru membersit, sekejap kemudian mengembang. Bersamaan dengan itu terdengar letupan beberapa kali. Setiap letupan memancarkan lidah api, lalu terlihat berhamburannya bunga-bunga hitam.

Ketika pukulan Mutiara Biru yang dilepas Aji menghantam satu persatu bunga hitam, Dewi Bunga Iblis selinapkan tangan kanannya ke balik pakaiannya, lalu tangan kanan itu disentakkan ke depan.

Tiga bunga hitam agak besar yang keluarkan suara mendengung keras meluncur deras. Begitu derasnya lesatan bunga hitam ini, hingga murid Wong Agung sempat tercekat, karena tahutahu tiga kuntum bunga tadi telah berada satu depa di hadapannya. Hal ini tidak memungkinkan baginya untuk melepaskan lagi pukulan Mutiara Biru. Hingga dengan berseru keras, dia melompat ke belakang, lalu kakinya menjejak tanah. Tubuhnya lantas melenting ke udara mengelak dari hujaman tiga bunga hitam.

Gerakan murid Wong Agung ini memang berhasil menyelamatkan tubuhnya dari hujaman dua bunga hitam yang jelas mengandung racun ganas itu. Namun satu kuntum lainnya sempat menyergap dan menyerempet lengan kanannya.

Brettt! Wuuusss!

Baju bagian lengan Aji langsung robek dan terbakar. Murid Wong Agung ini berteriak keras. Begitu mendarat dia segera memeriksa. Ternyata kulit di balik pakaiannya yang robek mengembung dan berwarna hitam!

"Untung kulitnya tidak tertembus, hingga racun bunga itu tidak masuk!" gumam Aji dengan mata berkilat-kilat. Dagunya mengembung dan terangkat.

"Keparat! Dia masih bisa menghindar dari bunga-bungaku. Kalau tidak kuselesaikan segera, bukan tak mungkin aku yang akan dapat celaka! Dan nyawaku makin di ujung tanduk!" Memikir sampai di situ, Dewi Bunga Iblis cepat selinapkan kembali tangan kanannya ke balik pakaiannya. "Dia akan menyerang lagi dengan bunga-

bunga keparat itu! Hmm.... Kali ini tak akan kubiarkan dia berlaku semena-mena!" bisik Aji. Lalu murid Wong Agung itu tarik tangan kirinya ke belakang. Sementara tangan kanannya menyelinap ke pinggang di mana tersimpan kipas ungunya.

Namun baru saja tangan Aji bergerak, Dewi Bunga Iblis telah melompat ke depan. Di atas udara, tubuhnya berputar, lalu lenyap dari pandangan.

Aji tak tinggal diam. Sambil melirik mencari tahu di mana beradanya lawan. Dia pun ikut melenting ke udara, membuat Dewi Bunga Iblis terperanjat karena tidak menduga, dan lebih tercekat lagi, karena begitu di udara kaki Aji cepat menerjang sementara tangan kanan kiri menyergap dari arah samping.

"Jahanam!" maki Dewi Bunga Iblis. Dalam keadaan demikian rupa, terlalu besar resiko bagi nenek ini jika menghindar, karena serangan itu datang dari arah depan dan samping. Maka satusatunya jalan adalah menyongsong serangan dengan sentakan tangan ke samping kiri dan kanan sementara kakinya melejang ke depan.

Prak! Prak! Prakkk!

Terjadilah bentrok dua pasang tangan dan kaki. Dewi Bunga Iblis berseru tertahan, tubuhnya terdorong ke belakang, namun nenek ini cepat kerahkan tenaga dalam, hingga tubuhnya kembali melesat ke depan. Di depan, Aji meringis, namun begitu mendapati lawan melesat lagi, kedua tangan dan kakinya segera dihentakkan memapak gerakan tangan dan kaki Dewi Bunga Iblis.

Lagi-lagi terjadi bentrok dua pasang tangan dan kaki. Suara beradunya makin keras, karena kedua orang ini sama-sama keluarkan segenap tenaga dalamnya. Dari mulut Dewi Bunga Iblis kembali terdengar suara seruan tertahan. Tubuhnya terlihat bergetar lalu melayang jatuh bergulingan di atas tanah. Si nenek yang bernafsu ingin membunuh Pendekar 108 segera bergerak bangkit meski dia tahu, bahwa dirinya telah terluka dalam, karena dari sudut bibir dan hidungnya telah mengeluarkan darah kehitaman. Namun baru saja setengah tegak, tubuhnya limbung dan akhirnya jatuh lagi terkapar di atas tanah.

Di seberang, murid Wong Agung jatuh terduduk. Untuk beberapa lama dia pejamkan sepasang matanya. Setelah peredaran darahnya dirasa normal lagi, dibuka matanya dan memandang ke depan. Dewi Bunga Iblis masih tampak terkapar, dan berusaha menggeliat bangkit. Namun begitu hendak duduk, tubuhnya oleng dan terkapar lagi. Hingga pada akhirnya nenek ini hanya bisa angkat tubuhnya dengan posisi miring sambil bersitekan pada pinggangnya. Sepasang matanya lurus memandang tajam ke arah Pendekar 108 yang telah berdiri.

"Bodohnya diriku! Kenapa aku melayaninya bertukar pukulan secara langsung. Tenaganya tentu lebih kuat dariku yang sudah renta ini! Sialan!" Dewi Bunga Iblis memaki dirinya sendiri. Namun diam-diam nenek ini salurkan sisa-sisa tenaganya begitu tampak Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah ke arahnya.

Tujuh langkah di depan si nenek, Aji hentikan langkah. Sejenak dia mengawasi keadaan orang tua yang tak mau bangkit itu.

"Tak pantas rasanya menghabisi orang tua yang sudah tak berdaya, meski dia menginginkan nyawaku!" ujar Aji dalam hati. Lalu tanpa berkata-kata lagi dia balikan tubuh dan hendak meninggalkan tempat itu.

'Setan alas! Apa dikira aku telah kalah?! He...?!" rutuk Dewi Bunga Iblis. Sekonyongkonyong, dengan menggulingkan tubuhnya, kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Gelombang angin dahsyat yang keluarkan suara menggemuruh melesat ke arah Pendekar 108 yang melangkah memunggungi.

Aji melengak tegang. Dia tak menyangka jika si nenek masih bisa lancarkan pukulan. Secepat kilat dia putar tubuhnya dan hantamkan kedua tangannya.

Namun sebelum kedua tangan murid Wong Agung ini menghantam, sesosok bayangan berkelebat. Bersamaan dengan itu, terdengar seruan.

"Nenek tak tahu malu! Dikasihani orang malah menyerang dari belakang!" Lalu terdengar deru angin, dan tiba-tiba angin pukulan Dewi Bunga Iblis terpencar sebelum sampai sasaran. "Jahanam tengkik! Siapa berani ikut urusanku!" teriak Dewi Bunga Iblis marah. Karena dia yakin seandainya pukulannya tak dipatahkan orang, bukan tidak mungkin pukulannya akan menghantam telak Pendekar Mata Keranjang.

Baik Pendekar 108 maupun Dewi Bunga Iblis segera berpaling ke samping. Di situ berdiri sesosok tubuh. Tangan kanannya yang baru saja mengibaskan jubah yang dikenakannya dan mampu mematahkan pukulan Dewi Bunga Iblis diturunkan. Sepasang matanya lantas memandang silih berganti pada Pendekar 108 dan Dewi Bunga Iblis.

DUA

DIA adalah seorang anak perempuan mungil berusia kira-kira sepuluh tahun. Mengenakan jubah panjang sebatas lutut berwarna putih. Rambutnya hitam lebat dan dikuncir banyak dengan diikat pita berwarna-warni. Wajahnya bulat dengan mata bundar. Alis kedua matanya tebal, bulu-bulu matanya lentik, sementara hidungnya mancung. Meski anak kecil, namun dengan mengenakan pakaian berupa jubah demikian, tampang anak perempuan ini tampak anggun berwibawa.

Sejurus Dewi Bunga Iblis memperhatikan si anak dengan tatapan heran bercampur kagum. Malah dia hampir tak mempercayai pandangan matanya ketika pukulannya begitu mudah dipatahkan oleh seorang anak kecil. Namun keheranannya berubah saat dia teringat bahwa dengan kemunculan anak ini, jiwa Pendekar Mata Keranjang 108 bisa selamat, dan itu membuat nyawanya makin terancam. Apalagi keadaannya sekarang tidak memungkinkan lagi baginya untuk meladeni Pendekar 108.

Seraya telentang, Dewi Bunga Iblis keluarkan hardikan keras.

"Anak kurang ajar! Siapa kau berani ikut campur urusan orang tua?!"

Si anak mainkan beberapa kuncir rambutnya. Wajahnya tidak menampakkan perubahan meski baru saja dibentak orang. Malah dengan bibir sunggingkan senyum dia berkata ramah.

"Nek! Harap kau tak marah. Bukan maksudku ikut campur urusan orang-orang besar. Namun....," si anak tak teruskan ucapannya, karena saat itu juga Dewi Bunga Iblis telah menyahut kembali dengan suara tinggi.

"Sudah! Jangan banyak bicara. Sebutkan siapa namamu! Lalu lekas tinggalkan tempat ini!"

Si anak berjubah putih berpaling pada Pendekar 108 seakan minta pertimbangan. Namun Aji tak memberikan sambutan. Malah dia dongakan kepala.

"Siapa anak ini? Melihat gerakannya juga kedatangannya yang begitu tiba-tiba dan tak dapat kusiasati sebelumnya, bukan tak mungkin anak ini mempunyai ilmu tinggi...," kata Aji dalam hati. Lalu luruskan kembali kepalanya memandang ke arah si anak.

Saat itu si anak memandang lekat-lekat pada Dewi Bunga Iblis, lalu berkata. Suaranya tetap rendah dan ramah.

"Nek.... Namaku Putri Kipas. Kau sendiri siapa. Nek?!" si anak yang mengaku bernama Putri Kipas balik ajukan tanya.

Dewi Bunga Iblis mendengus keras. Sepasang matanya tetap tak kesiap memandang ke arah Putri Kipas.

"Putri Kipas.... Hmm.... Kalau benar-benar bernama itu, mana kipasnya? Atau dia hanya mengada-ada?!" batin si nenek seraya sapukan pandangannya pada sekujur tubuh Putri Kipas. Mencari-cari sesuatu.

Seakan tahu apa yang ada dalam benak Dewi Bunga Iblis, Putri Kipas selinapkan kedua tangannya ke balik jubah putihnya. Begitu ditarik keluar kembali, terlihat di tangan kanan kiri terlihat memegang masing-masing tiga buah kipas berwarna-warni. Dengan gerak cepat, kedua tangannya lalu menyentak. Tiba-tiba enam kipas lipat berwarna-warni di tangannya mengembang. Kipas itu tersusun rapi dengan dua jari masingmasing mengepit satu ujung pangkal kipas. Lalu dengan enaknya tangan kiri kanannya bergerak pulang balik ke samping, membuat gerakan seperti orang berkipas-kipas.

"Hebat! Aku belum tentu mampu berbuat sepertinya!" kata Aji dalam hati seraya terus memperhatikan si anak.

Sementara itu, melihat Putri Kipas seakan bisa membaca jalan pikirannya, diam-diam Dewi Bunga Iblis terkesiap. Sepasang matanya makin membeliak. Dan wajahnya berubah saat Putri Kipas sambil tersenyum dan tetap berkipas-kipas melangkah ke arahnya.

"Apa yang hendak dilakukannya padaku? Kalau dia berbuat macam-macam...," Dewi Bunga Iblis tak meneruskan kata hatinya, karena tibatiba saja Putri Kipas telah berdiri tegak di sebelahnya, dan berkata pelan.

"Nek.... Kau tampaknya terluka. Hmm....

Boleh aku memijitnya?!"

Dewi Bunga Iblis menatap tajam. Mulutnya tidak keluarkan ucapan menolak atau menerima. Kepalanya pun tak memberi isyarat dengan menggeleng atau mengangguk. Bahkan ketika Putri Kipas sentakan tangan kanan kirinya untuk melipat kipasnya, dan lantas jongkok di sebelahnya, nenek ini tetap diam.

Setelah menyimpan beberapa kipasnya ke balik jubah putihnya, tanpa melihat pada perubahan wajah Dewi Bunga Iblis yang serentak berubah tatkala tangan Putri Kipas mulai bergerak memijit kakinya, anak perempuan ini terus memijit kaki si nenek.

Tiba-tiba Dewi Bunga Iblis tercekat hampir tak percaya. Kakinya yang tadi seolah tak bisa digerakkan akibat bentrok dengan kaki Pendekar 108 kini perlahan-lahan bisa digerakkan. Malah rasa sakit dan nyeri di kakinya lenyap!

"Nek.... Tanganmu!" kata Putri Kipas dengan ulurkan tangannya memberi isyarat agar Dewi Bunga Iblis julurkan kedua tangannya ke depan. Dengan mata tetap tak kesiap memandang, Dewi Bunga Iblis ulurkan kedua tangannya ke depan.

Putri Kipas mengusap-usap sebentar, lalu memijit. Dewi Bunga Iblis merasakan darahnya berjalan normal kembali, dan tangannya tidak terasa ngilu lagi.

"Sekarang cobalah gerakan kedua kaki dan tanganmu!" ujar Putri Kipas seraya bergerak bangkit

Tanpa banyak bicara lagi, Dewi Bunga Iblis gerakan kaki dan tangannya. Merasa tak lagi sakit, nenek ini coba bergerak bangkit. Mula-mula perlahan-lahan, takut jika akan roboh lagi. Dan begitu telah berdiri tegak dan tubuhnya tidak lagi limbung, Dewi Bunga iblis segera berpaling pada Putri Kipas.

"Putri Kipas.... Terima kasih atas pertolonganmu! Kalau boleh tahu, siapakah kau sebenarnya? Kau pasti murid seorang tokoh rimba persilatan Betul?" katanya seraya ekor matanya me-

lirik Pendekar 108 yang sedari tadi tetap tegak diam sambil melihat ke arah Putri Kipas.

Ditanya demikian, Putri Kipas tidak segera menjawab. Malah dia serentak tertawa lebar. Lalu mempermainkan pita-pita di rambutnya. "Nek.... Kau tadi belum jawab pertanyaanku!" Putri Kipas menggumam seolah mengingatkan.

Sekejap paras wajah Dewi Bunga Iblis berubah. Namun sesaat kemudian ia tersenyum, meski tampak sekali jika senyumnya dipaksakan.

"Putri Kipas.... Namaku, ah! Orang-orang memanggilku Dewi Bunga Iblis!"

Putri Kipas keluarkan seruan kecil seakan terkejut mendengar si nenek sebutkan dirinya.

"Nama bagus, tapi menakutkan!" ujarnya sambil turunkan tangan dari mulutnya yang tadi dibuat membekap agar seruannya tidak terdengar.

Dewi Bunga Iblis tengadahkan kepalanya.

Dalam hati, nenek ini diam-diam membatin.

"Aku tahu, sikapnya itu hanya pura-pura. Tak mungkin dia gentar hanya karena mendengar nama! Hmm.... Sekarang bagaimana? Apa akan kulanjutkan urusanku dengan pemuda itu? Atau untuk sementara kutunda dahulu? Meski hal itu akan mendekatkan diriku pada kematian?"

Dewi Bunga Iblis tampak bimbang. Antara melanjutkan urusannya dengan Pendekar 108 atau menunda urusan. Nenek ini ragu-ragu, karena meski tubuhnya telah bisa tegak kembali dan kedua tangan dan kakinya tidak terasa sakit, namun tenaga dalamnya belum bisa sepenuhnya pulih. Jika dia melanjutkan urusan, bukan tak mungkin dia akan celaka sendiri, namun jika dia menunda urusan, berarti hari kematiannya akan lebih dekat lagi. Dan jika sampai menunda urusan lalu mencari jejak Pendekar 108 dan tak bisa menemukannya, maka racun yang bersarang di tubuhnya akan perlahan-lahan membawanya ke liang kematian.

"Nek...!" tiba-tiba Putri Kipas berseru membuyarkan kata hati Dewi Bunga Iblis. "Kau memikirkan sesuatu? Atau...?!" Putri Kipas tak meneruskan ucapannya karena Dewi Bunga Iblis telah luruskan kembali kepalanya dan memandang lekat-lekat ke arahnya. 

"Kalau urusan ini kuteruskan, anak ini pasti akan membantu pemuda itu! Aku curiga, mungkin antara keduanya sudah saling kenal! Hanya mereka berpura-pura saling tak kenal di hadapanku. Kalau tak saling kenal, tak mungkin anak ini tadi mematahkan pukulanku! Hmm....

Terpaksa kali ini aku..." Dewi Bunga Iblis gelengkan kepalanya. Lalu tanpa berkata lagi, dia berkelebat meninggalkan tempat itu.

Putri Kipas sejenak memandang ke arah berkelebatnya Dewi Bunga Iblis, dan begitu sosok sang nenek tak terlihat lagi, anak ini berpaling pada Pendekar Mata Keranjang yang juga sedang memandang ke arah berkelebatnya Dewi Bunga Iblis. Putri Kipas melangkah mendekat, lalu berkata.

"Kalau tak keberatan, sudikah memberitahu siapa kau adanya? Kulihat kau mempunyai ilmu tinggi, dan mungkin kau adalah salah satu tokoh dunia persilatan. Aku gembira sekali dapat bertemu dengan tokoh berilmu tinggi yang tidak mau bertindak semena-mena pada orang!"

"Hmm.... Kenapa kau berkata begitu?" Putri Kipas tersenyum lebar. Lalu melangkah lebih mendekat.

"Kalau kau mau, tak sulit membuat nenek tadi roboh untuk selamanya. Namun hal itu tak kau lakukan, meski sebelumnya nenek tadi begitu ingin membunuhmu! Boleh tahu siapa kau?!" kembali Putri Kipas ajukan tanya.

Pendekar 108 usap-usap ujung hidungnya. Sepasang matanya melirik sejenak pada Putri Kipas.

"Jadi anak ini sudah sejak tadi berada di sini! Aku makin yakin anak ini bukan sembarangan. Pijatannya mampu membuat Dewi Bunga Iblis bisa tegak kembali, dan kehadirannya di sini tak dapat kuketahui...," batin Aji. Lalu berkata.

"Dugaanmu keliru. Aku bukan tokoh rimba persilatan. Namaku Aji. Seorang pengelana jalanan yang melangkah menurutkan ke mana kaki mengayun!"

Putri Kipas besarkan bola matanya. Memandang pada Aji dari bawah hingga atas. Lalu melangkah mengitari Aji sambil manggutmanggut.

"Boleh tahu, kenapa nenek tadi ingin sekali mencederaimu?!"

"Masalah sepele...," jawab Aji seenaknya. "Dia hanya ingin mengajakku ke tempatnya, karena kakiku berat melangkah mengikutinya, terpaksa aku menolak ajakannya!"

"Boleh tahu, kenapa nenek itu ingin sekali mengajakmu ke tempatnya?!"

"Sialan! Ini anak ingin tahu apa menyelidik?!" pikir Aji seraya putar tubuhnya, karena Putri Kipas berada di belakangnya.

"Eh, kenapa kau ingin sekali tahu masalahku dengan nenek itu?!" Aji balik ajukan tanya.

Putri Kipas mainkan pita pada kuncir rambutnya. Lalu kepalanya bergerak menggeleng.

"Tidak apa-apa. Hanya aku heran. Apakah mungkin hanya karena ditolak ajakannya lalu dia hendak berbuat jahat padamu?"

Pendekar Mata Keranjang 108 menarik napas dalam-dalam. Pandangan matanya beralih ke tempat lain.

"Itulah manusia. Selalu ingin memaksakan kehendak meski dia tahu bahwa segalanya terbatas! Selalu ingin minta lebih dari apa yang telah diperoleh!"

"Ah, kau menyindirku! Baiklah. Aku tak akan memaksamu menjawab pertanyaanku...," ujar Putri Kipas seakan mengerti ucapan Aji. Lalu dia tengadahkan kepalanya memandang langit.

"Astaga!" kata Putri Kipas seakan terkejut. "Ternyata sudah hampir tengah hari. Aku harus segera pergi "

Habis berkata begitu, Putri Kipas anggukan kepalanya. Lalu putar tubuhnya dan hendak melangkah pergi. Namun langkahnya tertahan tatkala didengarnya Aji menahan. jajari. "Tunggu!" seru Aji seraya melangkah men-

Putri Kipas palingkan wajahnya.

"Kau ingin mengatakan sesuatu?!" ujarnya ketika ditunggu agak lama Aji tidak buka mulut. "Kau hendak ke mana?!" tanya Pendekar

108. Meski sebenarnya bukan pertanyaan itu yang akan ditanyakan.

"Sepertimu. Aku juga adalah pengelana. Tidak punya tempat tinggal. Dan melangkah ke mana kaki bergerak! kenapa?!"

"Hmm.... Kau ini siapa sebenarnya?!" tanya Aji pada akhirnya, mengutarakan apa yang masih mengganjal di benaknya.

Putri Kipas tertawa. Kepalanya digerakkan menggeleng.

"Jangankan kau. Aku sendiri tak tahu siapa diriku! Aku sendiri heran. Tapi itulah kenyataannya!"

Jawaban Putri Kipas membuat murid Wong Agung tertegun. Sambil garuk-garuk tengkuknya dia bergumam.

"Ternyata bukan hanya orang-orang tua yang bisa berbuat aneh-aneh. Anak kecil pun dapat melakukannya "

Pendekar Mata Keranjang 108 lantas anggukan kepala, seakan memberi isyarat agar Putri Kipas melanjutkan langkahnya. Namun baru saja kepalanya bergerak, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara menggemuruh dahsyat. Sesaat kemudian melesat cepat gelombang angin ke arah mereka berdua.

Berpaling, murid Wong Agung ini tercekat. Sambil memaki habis-habisan tangan kanannya bergerak menggamit lengan Putri Kipas yang hanya tegak melongo. Lalu kakinya menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke udara sambil menggamit tubuh Putri Kipas. Begitu gelombang angin lewat di bawah kakinya, Aji segera mendarat. Setelah lepaskan gamitannya pada lengan Putri Kipas, sepasang matanya segera menyapu berkeliling.

Saat itulah, dari balik sebuah pohon muncul sesosok tubuh. Paras wajah Pendekar 108 serentak berubah saat mengetahui siapa adanya orang yang muncul.

"He.... Kau tampaknya takut. Kau kenal orang itu? Siapa dia?!" Putri Kipas menjajari dan berbisik.

Pendekar Mata Keranjang tak menyahuti ucapan Putri Kipas. Sepasang matanya nanar memandang ke depan. Mulutnya komat-kamit seakan hendak mengucapkan sesuatu, namun yang terdengar adalah gumaman tak jelas.

Sosok yang baru muncul melangkah. Lalu berhenti delapan langkah di depan Aji. Sepasang matanya menyengat tajam memperhatikan Aji, lalu ke samping ke arah Putri Kipas. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar bentakan keras.

"Mana dia?!"

"Dia siapa?!" Aji balik bertanya.

Orang di hadapan Aji keluarkan tawa mengekeh panjang. Puas tertawa dia kembali menghardik.

"Kau jangan pura-pura! Mana manusia banci yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 itu?!"

TIGA

WAH, celaka! Bagaimana sekarang? Apa mungkin dia tahu bahwa waktu itu Setan Pesolek pergi bersamaku? Dia pasti minta pertanggung jawabanku! Untungnya dia masih menganggap orang yang bergelar Pendekar Mata Keranjang

108   adalah   Setan   Pesolek.   Hmm.      Sedapat

mungkin aku harus bisa menyembunyikan kipas ini. Karena dia hanya mengetahui bahwa orang yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 adalah orang yang memegang kipas ungu bergurat angka 108!" kata Aji dalam hati seraya meraba pinggangnya di mana tersimpan kipas miliknya.

"Sekali lagi kau tak jawab pertanyaanku, kurobek mulutmu!" orang di hadapan Pendekar Mata Keranjang kembali membentak lantang.

Dia adalah seorang pemuda berwajah tampan. Mengenakan jubah besar berwarna hitam yang melapis baju warna putih. Pada dada baju putihnya terlihat sebuah lukisan berbentuk pintu gerbang. Sepasang matanya tajam. Dagunya kokoh. Rambutnya panjang dan dibiarkan bergerai.

"Sobatku Dewa Maut! Sewaktu terjadi perkelahian itu, aku buru-buru menghindar. Jadi aku tak tahu lagi ke mana perginya Pendekar Mata keranjang 108! Malah karena begitu terburuburu, gadis yang kau berikan padaku sebagai imbalan itu juga tak sempat kubawa serta! Aku menyesal. Tak jadi menikmati hangat tubuhnya!" jelas Aji dengan wajah sedikit murung. Namun ekor matanya melirik pada Putri Kipas. Dia tahu, tak pantas mengucapkan hal demikian di muka gadis cilik itu, namun karena ingin menyembunyikan siapa dirinya, lebih-lebih ingin mengetahui apa sebabnya orang yang bergelar Dewa Maut ini tibatiba mencarinya dan hendak membunuhnya, maka terpaksa Aji mengucapkan hal yang kurang layak didengar anak sekecil Putri Kipas.

Putri Kipas sendiri sempat terkejut mendengar ucapan Aji. Namun tatkala dia melihat Aji melirik padanya begitu selesai bicara, anak ini seakan mengerti.

Mendengar keterangan Aji, pemuda berjubah hitam dan bukan lain memang Dewa Maut, keluarkan dengusan keras. Parasnya berubah mengeras. Matanya membeliak berkilat.

"Waktu itu kau muncul bersama dengannya. Bukan tak mungkin kau adalah temannya! Sekarang tuhjukkan padaku, di mana adanya Pendekar Mata Keranjang 108 itu!"

Seperti dituturkan pada episode : "Takha Setan", karena ingin menyelamatkan Dewi Tengkorak Hitam yang akan dibawa Dewa Maut, Aji yang saat itu bersembunyi bersama Setan Pesolek keluar dari tempat persembunyiannya. Namun sebelum dia sengaja menjatuhkan kipas ungunya dengan harapan Setan Pesolek mengambilnya. Dan perkiraan Aji tidak meleset. Setan Pesolek akhirnya menemukan kipas Aji. Saat itulah Aji menunjukkan di mana beradanya Setan Pesolek dengan menyebutnya sebagai Pendekar Mata Keranjang 108. Karena Dewa Maut hanya mengetahui bahwa yang dicarinya adalah orang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 dengan senjata kipas ungu bergurat angka 108, maka begitu Setan Pesolek keluar dari persembunyiannya dan berkipas-kipas dengan kipas ungu milik Aji, Dewa Maut tanpa pikir panjang menduga bahwa Setan Pesolek adalah Pendekar Mata Keranjang 108. Orang yang dicari dan sekaligus harus dibunuhnya!

Aji dongakan kepala. Lalu dari mulutnya terdengar suara tawa mengekeh panjang.

"Dewa Maut! Sebenarnya saat itu aku hanya mengira-gira saja. Karena kulihat orang itu berkipas-kipas dengan kipas ungu berangka 108. Yang kubutuhkan saat itu sebenarnya adalah gadis yang hendak kau bawa itu! Bukan karena apa, aku adalah seorang pemuda jalanan yang tak tentu juntrungan. Melihat gadis bertubuh bahenol di pundakmu, aku tertarik. Lalu aku coba mengirangira orang yang kau cari adalah orang itu. Tak tahunya perkiraanku tidak salah. Jadi aku bukan temannya Pendekar Mata Keranjang 108! Dan tentu tidak tahu ke mana dia pergi...." Aji menjelaskan seraya tetap mendongak, namun sesekali ekor matanya melirik pada Putri Kipas.

"Seandainya aku tahu ke mana perginya orang itu, tentu akan kukatakan padamu!" sambung Aji dengan luruskan kepalanya. Sejenak dia menarik napas dalam-dalam. Dan saat dilihatnya Dewa Maut masih tak menyambuti ucapannya, Aji kembali meneruskan bicaranya.

"Hmm.... Sebenarnya apa ada silang sengketa antara kau dengan Pendekar Mata Keranjang 108 itu? Atau barangkali dendam?!"

Dewa Maut menyeringai dengan mata memandang menyelidik.

"Kau banyak omong dan pandai bicara.

Siapa kau sebenarnya?!" Aji tertawa.

"Orang yang sedang diamuk hawa amarah biasanya memang jadi pelupa. Sebenarnya aku sudah pernah mengatakannya padamu saat itu. Tapi tak apalah jika kau lupa. Namaku Aji. Seorang pengelana jalanan!"

"Hm.... Aku curiga pada pemuda ini. Dia mengaku seorang pengelana jalanan. Namun melihat gerakannya saat menghindari pukulanku tadi, manusia ini berilmu. Tapi Ah, dia tak meng-

gunakan senjata seperti orang yang kucari!" kata Dewa Maut dalam hati. Lalu pandangannya beralih pada Putri Kipas.

"Siapa pula anak ini? Sewaktu ditarik melayang, oleh pemuda itu dia tak menunjukkan rasa takut atau keluarkan jeritan. Jika anak biasa, mungkin sudah pucat pasi bahkan bisa terkencing-kencing "

Tiba-tiba sepasang mata Dewa Maut mendelik besar. Memandang lekat-lekat pada lengan Aji yang pakaiannya robek dan kulitnya mengembung hitam.

Seakan tahu apa yang dipikirkan Dewa Maut, sebelum Dewa Maut buka mulut, Aji telah mendahului bicara.

"Aku baru saja bergumul dengan seorang nenek gila yang hendak membawa anak ini! Nenek itu menusukkan senjatanya pada lenganku. Untung waktu itu aku sempat menggigit tangannya, hingga senjatanya hanya menyerempet!"

"Benar! Dia memang baru saja bergulinggulingan dengan nenek gila itu!" Putri Kipas menyahut ucapan Aji.

Dewa Maut tidak menyahuti ucapan kedua. orang di hadapannya, membuat Aji dan Putri Kipas saling pandang satu sama lain. Namun Aji cepat kerdipkan sebelah matanya begitu terlihat Putri Kipas hendak buka mulut. Hingga gadis cilik ini urungkan niat untuk bicara.

"Dengar!" tiba-tiba Dewa Maut angkat bicara. Kepalanya berpaling memandang jurusan lain. "Hari ini nasib baik masih berpihak pada-

mu. Tapi sekali lagi kau bertemu denganku dan tak dapat menunjukkan di mana beradanya Pendekar Mata Keranjang 108, kau tahu apa yang akan menimpamu!"

Habis berkata begitu, Dewa Maut putar tubuhnya dan melesat meninggalkan tempat itu. Begitu Dewa Maut berkelebat dan tak terlihat lagi, Putri Kipas melangkah ke depan. Lalu putar tubuhnya dan kini menghadap lurus ke arah Aji.

"Kau tampaknya ketakutan sekali terhadap pemuda itu. Siapa dia sebenarnya? Dan aku tahu, ucapanmu tadi dusta. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan terhadapnya?!"

"Hmm. Anak ini pandai menduga. Namun

untuk urusan ini tidak mungkin kuceritakan terus terang padanya!" Lantas sambil tertawa pelan, Aji berkata.

"Dia mengaku bernama Dewa Maut. Siapa sebenarnya dia aku tak tahu. Aku hanya sempat bertemu sekali. Hanya saja dia sedang mencari seorang pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108. Mana aku tahu pemuda yang dicarinya? Dari pada ngurusi orang, kupikir lebih baik ngurusi diri sendiri. Bukankah begitu?"

Meski dengan kening mengernyit, akhirnya Putri Kipas anggukan kepala.

"Putri Kipas. Dewa Maut tampaknya orang yang pemarah dan mungkin saja pendiriannya cepat berubah. Bisa saja mendadak dia muncul lagi di sini, dan mengubah apa yang tadi dikatakannya. Sebelum hal itu terjadi, sebaiknya aku harus lekas tinggalkan tempat ini!"

"Hmm.... Jika itu pendapatmu, aku pun akan segera tingalkan tempat ini pula!"

Sejurus Aji memandangi anak perempuan berjubah putih itu. Lalu setelah tersenyum dan kerdipkan sebelah matanya, murid Wong Agung ini berkelebat meninggalkan tempat itu.

Putri Kipas sejenak memandangi kepergian Aji. Setelah celingak-cellnguk sebentar, anak ini pun akhirnya menghambur ke arah mana Aji berkelebat.

EMPAT

MURID Wong Agung terus berlari menuruni kaki bukit. Namun baru saja kakinya menginjak hamparan tanah terbuka yang hanya ditumbuhi pohon-pohon pinus tiba-tiba terdengar suara tawa tergelak-gelak, membuat Aji serentak hentikan larinya. Dan tanpa pikir panjang lagi segera berkelebat menyelinap ke balik salah satu batang pohon pinus.

Murid Wong Agung tidak menunggu lama. Bersamaan dengan terlindungnya tubuh ke balik batang pohon, suara tawa berhenti. Lalu disusul dengan terdengarnya suara. Nadanya tinggi dan bergetar.

"Hendak lari ke mana kau, Anak Jahanam?!" Pendekar 108 beliakan sepasang matanya dan disapukan berkeliling. Paras wajahnya berubah seketika. Tengkuknya merinding, karena setelah sekian lama mencari, matanya tak menemukan siapa-siapa.

"Celaka! Rupanya dia tak pergi seperti yang kuduga sebelumnya! Bagaimana kalau dia mengetahui bahwa selama ini aku berdusta padanya? Dan mengetahui bahwa orang yang dicarinya adalah aku...?!"

Murid Wong Agung yang diam-diam menduga bahwa orang yang baru saja keluarkan tawa dan perdengarkan suara adalah Dewa Maut, segera salurkan tenaga dalam pada kedua tangannya lalu menunggu dengan tangan siap dipukulkan.

"Tak ada jalan lain. Dia terang-terangan ingin membunuhku, aku tak akan tinggal diam! Meski sebenarnya aku masih ingin tahu, apa sebabnya dia menginginkan selembar nyawaku...! Padahal, rasa-rasanya aku belum...," Aji tidak meneruskan kata-katanya, karena saat itu dari balik pohon pinus sepuluh langkah di sampingnya muncul sesosok tubuh.

Pendekar 108 menarik napas lega, meski sepasang matanya mendelik besar. Ternyata yang muncul dari balik pohon bukannya Dewa Maut.

Untuk beberapa saat Pendekar 108 memperhatikan sosok yang baru muncul. Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Tubuhnya kurus. Rambut dan jenggotnya telah putih serta panjang. Dia bertelanjang dada, hingga tulang-tulang pada dada serta lambungnya tampak jelas. Pakaian bawahnya hanya merupakan sebuah celana kolor warna putih kusam. Meski telah tampak tua renta, namun sepasang matanya terlihat tajam dan langkahnya tegap.

"Dadung Rantak!" gumam Pendekar 108 begitu mengenali siapa adanya kakek yang baru muncul dan kini melangkah ke arahnya.

Orang tua yang baru muncul bukan lain memang Dadung Rantak, seorang tokoh rimba persilatan yang seperti dituturkan dalam episode : "Dayang Naga Puspa") unjuk diri kembali setelah sekian puluh tahun tiada kabar berita. Kemunculannya kembali selain ingin membalas kematian adiknya yang tewas di tangan Wong Agung juga untuk memburu Arca Dewi Bumi. Sekaligus mencari Ratu Pulau Merah, bekas kekasihnya di masa muda yang telah mengkhianati dari menipu dirinya.

Merasa orang telah mengetahui di mana dia berada, murid Wong Agung segera keluar dari tempat persembunyiannya.

Dadung Rantak tengadahkan kepala. Dari mulutnya keluar tawa mengekeh.

"Mata Keranjang! Membunuhmu bukan pekerjaan sulit. Namun kau masih kuberi kesempatan hidup jika kau serahkan arca itu padaku! Jika tidak, kau akan terlebih dahulu kukirim ke neraka, lalu menyusul gurumu!"

"Hmm.... Ternyata selama ini telah ada silang sengketa antara Eyang Wong Agung dengan orang tua ini!" pikir Pendekar 108 dalam hati. Lalu dia berujar.

"Orang tua! Kau terlambat meminta barang itu! Orang yang berhak telah memintanya kembali!"

Dadung Rantak gerakan kepalanya lurus ke depan. Sepasang matanya menyengat tajam memandang, ke arah Aji. Bibirnya sunggingkan senyum seringai.

"Oh, begitu?! Agaknya kau lebih sayang barang itu daripada nyawamu.... Berarti murid dan guru memang telah ditakdirkan untuk mati di tanganku! Ha... Ha.... Ha...!"

Sambil terus tertawa mengekeh, Dadung Rantak ulurkan tangan kanannya membuat gerakan seperti orang meminta. Tiba-tiba suara tawanya diputus.

"Aku tidak akan bicara lagi!" katanya seraya anggukan kepala dan dekatkan tangan kanannya yang meminta pada Aji.

"Orang tua! Aku telah mengatakan sesungguhnya. Terserah kau mau percaya apa tidak!" kata Pendekar 108 seraya surutkan langkah satu tindak ke belakang.

Dadung Rantak tarik pulang tangan kanannya. Tangan itu lantas bergerak mengusapusap wajahnya yang telah mengeriput.

"Kau telah kuberi kesempatan. Namun rupanya kau lebih suka berkalang tanah! Itu maumu. Jangan menyesal!"

Habis berkata begitu, Dadung Rantak sentakan tangan kanannya ke bawah. Tubuhnya berputar cepat. Lalu lenyap dari hadapan Pendekar Mata Keranjang 108.

Belum sempat Pendekar 108 mengetahui di mana beradanya Dadung Rantak. Tiba-tiba dari arah samping kanan menyambar gelombang angin dahsyat mendahului dua tangan yang bergerak menghantam ke arah kepala.

Murid Wong Agung cepat rundukan kepalanya. Kaki kanannya diangkat dan dilejangkan ke arah lambung lawan yang muncul tiba-tiba dari arah kanannya. Namun hantaman kaki Pendekar 108 meleset, karena dengan gerakan gesit, Dadung Rantak tarik pulang kedua tangannya dan serta-merta dihantamkan ke bawah, memapak terjangan kaki Aji.

Buk!

Kaki Pendekar Mata Keranjang 108 mental balik ke bawah dan menghujam tanah dengan derasnya. Tanah yang terhantam kaki Pendekar 108 langsung terbongkar. Sementara tubuh Pendekar 108 terhuyung ke depan.

Dadung Rantak tak memberi kesempatan. Bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Pendekar 108, orang tua ini membuat gerakan berputar. Begitu mendarat, kaki kirinya diangkat sementara kaki kanannya dibuat tumpuan tubuhnya. Serta-merta dia berputar setengah lingkaran, lalu kaki kirinya menghantam.

Desss!

Dari mulut murid Wong Agung terdengar suara tertahan. Bersamaan dengan itu sosoknya mencelat sampai dua tombak ke belakang. Kedua tangannya memegangi bahunya yang kena hantaman kaki. Selagi dia berusaha menguasai diri agar tidak jatuh terjengkang, di depan sana Dadung Rantak telah lepaskan pukulan dengan hantamkan kedua tangannya sekaligus! Pendekar 108 mendengar suara deru menggemuruh. Namun seketika itu tubuhnya laksana dihantam gelombang dahsyat. Sadar akan bahaya dan sebelum tubuhnya terseret dan dibuat mental oleh kekuatan yang tidak tampak, murid Wong Agung ini cepat melompat mundur. Kedua tangannya segera ditarik ke belakang, dan serta-merta dihantamkan ke depan.

Sinar biru terlihat melesat keluar dari kedua telapak tangan Pendekar Mata Keranjang 108, lalu mengembang dan merangsek lurus ke arah Dadung Rantak.

Di seberang sana, Dadung Rantak terkesiap. Dia cepat lipat gandakan tenaga dalamnya lalu kedua tangannya mendorong.

Tiba-tiba sinar biru yang mengembang tertahan. Pendekar 108 tidak tinggal diam. Kedua tangannya kembali dipukulkan ke depan. Dadung Rantak juga tak mau memberi kesempatan. Bersamaan dengan melesatnya sinar biru yang lalu mengembang dan kini mendorong sinar biru yang tertahan di udara, Dadung Rantak kembali dorong kedua tangannya.

Maka sekejap kemudian terjadilah adu tenaga dalam di udara. Lalu disusul dengan terdengarnya ledakan keras beberapa kali ketika bentrok tenaga dalam itu terjadi. Dan ledakan itu baru sirap tatkala terlihat tubuh Dadung Rantak dan sosok Pendekar Mata Keranjang sama-sama terhuyung ke belakang lalu terseret sebelum akhirnya sama-sama jatuh terkapar di atas tanah! Kedua orang ini dari bibir masing-masing tampak mengeluarkan darah. Tubuh masingmasing bergetar keras, sementara dadanya berdenyut nyeri. Dadung Rantak terlihat bergerak hendak bangkit. Namun sesaat kemudian jatuh berlutut dengan memegangi dadanya. Di seberang, murid Wong Agung terdengar mengerang, namun tak berusaha merambat bangkit. Dia tetap diam terkapar. Tapi diam-diam dia kerahkan tenaga dalam. Setelah tubuhnya agak normal, dia menggeliat, lalu bergerak duduk.

Saat itulah, tiba-tiba Dadung Rantak tekan siku dan lututnya ke atas tanah. Mendadak tubuhnya terangkat setengah tombak ke udara, lalu melayang turun lagi. Begitu mengantuk tanah, tubuhnya mental lagi laksana baling-baling lalu berputar dan lenyap. Bersamaan dengan itu mendadak udara berubah panas menyengat. Angin berhenti berhembus.

"Dia pasti kerahkan pukulan andalannya!" pikir Aji. Lalu secepat kilat dia meraba pinggangnya di mana tersimpan kipas ungunya. Namun belum sempat Aji keluarkan kipasnya, Dadung Rantak telah datang menggebrak.

"Selagi nyawa di kandung badan kau tak mau serahkan benda itu. Tapi tak jadi soal. mungkin kau menginginkan aku mengambilnya saat nyawamu sudah melayang!" teriak Dadung Rantak. Kedua tangannya menyentak ke depan. Saat itu, kakek ini telah lima langkah di hadapan Pendekar 108. Hawa panas lenyap, angin laksana topan melesat dari kedua tangan Dadung Rantak.

Pendekar 108 tersentak kaget. Karena jaraknya sudah demikian dekat, maka tiada jalan lain baginya kecuali menangkis serangan lawan. Namun murid Wong Agung ini tercekat sendiri, karena ternyata kedua tangannya masih sulit untuk digerakkan dengan cepat, hingga baru saja kedua tangannya ditarik ke belakang dan belum sampai dihantamkan, serangan Dadung Rantak telah setengah depa di depan hidungnya!

Meski Pendekar Mata Keranjang 108 mampu menangkis dengan lepaskan pukulan 'Mutiara Biru', namun karena jaraknya demikian dekat, maka bias yang diakibatkan bentrok pukulan akan lebih membahayakan, belum lagi beradunya tenaga dalam yang pasti menguras tenaganya. Jika keduanya terjadi, maka bukan tak mungkin tubuhnya akan mental dan patah-patah! Hal demikian dalam keadaan terjepit begitu masih terlintas di benak murid Wong Agung ini. Hingga dia urungkan niat untuk lepaskan pukulan sakti Mutiara Biru. Sebaliknya dia bergerak hendak balikkan tubuh dan melesat, meski dia sadar, pukulan lawan tentu masih akan menyambarnya. Namun tidak akan setelak jika dia menangkis.

Tapi sebelum dia bergerak balikan tubuh dan melesat menghindar, tiba-tiba dua buah benda hitam dan putih menderu dari arah samping memapasi serangan Dadung Rantak.

Byarrr! Byarrr! Dua benda hitam putih hancur berantakan. Namun dalam waktu sekejap itu membuat murid Wong Agung bisa balikan tubuh dan melesat dengan selamat, walau karena terburu-buru dia melesat ke samping kanan di mana terdapat batang pohon pinus. Hingga tanpa ampun lagi tubuhnya menghantam batang pohon dan bergulingan di atas tanah.

"Bangsat! Ada orang selamatkan jiwanya!" gumam Dadung Rantak. Lalu jerengkan sepasang matanya. Saat itulah terdengar tawa bergelakgelak. Dadung Rantak palingkan wajah ke arah sumber suara tawa. Mata orang tua ini mendelik besar. Lalu kedua tangannya diusap-usap pada matanya seolah tak mempercayai pandangannya.

Di sebelah samping, Pendekar 108 segera bangkit dan palingkan pula kepalanya mencari tahu siapa adanya orang yang memapasi serangan Dadung Rantak. Seperti halnya Dadung Rantak, murid Wong Agung ini pun membelalak. Keningnya mengkerut dengan mulut komat-kamit.

LIMA

Di atas sebuah dahan pohon pinus, tampak duduk sambil uncang-uncang kaki dan berkipas-kipas seorang anak perempuan kecil. Dia mengenakan jubah putih. Rambutnya dihiasi beberapa pita berwarna-warni.

"Hampir tak dapat kupercaya jika anak sekecil dia mampu mematahkan seranganku. Jangan-jangan bukan dia, tapi ada orang lain Tapi,

jelas sekali benda tadi melesat dari arah situ!" batin Dadung Rantak. Lalu orang tua ini sapukan pandangannya ke sekeliling, khawatir ada orang lain. Namun dia tak menemukan orang itu.

"Dia lagi!" seru Aji begitu mengenali siapa adanya anak perempuan di atas dahan. "Hmm....

Tampaknya dia mengikuti perjalananku! Atau memang tujuanku dengannya searah? Ah, tapi yang jelas dia telah menyelamatkan untuk kedua kalinya! Aku berhutang padanya. "

"Hei! Tikus kecil! Kalau kau tak cepat turun dan sebutkan siapa dirimu tubuhmu akan kubuat hancur berantakan!" teriak Dadung Rantak seraya angkat tangan kanannya, membuat gerakan seakan hendak lepaskan pukulan.

Namun anak perempuan berjubah putih yang bukan lain adalah Putri Kipas bukannya takut mendengar ancaman orang. Malah sambil mempermainkan kipasnya, dia memandang sejenak ke arah Dadung Rantak, lalu tersenyum lebar dan dengan tangan kirinya dia melambai.

"Dia berpaling padaku. Berarti anak itu tidak tuli dan mendengar ucapanku! Dia rupanya sengaja hendak mempermainkan aku! Kurang ajar!" rutuk Dadung Rantak. Lalu tanpa berkata lagi, tangan kanannya dipukulkan ke atas.

Wuuttt!

"Celaka! Anak itu pasti akan jatuh dan babak belur, malah kemungkinan bisa tewas!" pikir Aji, lalu gerakan tangannya hendak memapasi pukulan Dadung Rantak.

Namun belum sampai murid Wong Agung ini lepaskan pukulan, Putri Kipas berseru nyaring. Pantatnya disentakkan pada dahan yang didudukinya. Tubuhnya terangkat lalu melayang dengan jungkir dua kali sebelum akhirnya mendarat dengan berkipas-kipas!

Bersamaan dengan mendaratnya Putri Kipas, pohon di mana Putri Kipas tadi duduk bergetar keras, sesaat kemudian berderak lalu tumbang dengan dahan-dahan hancur berantakan.

Melihat si anak berhasil selamatkan diri, malah sengaja memanasi dengan tanpa memandang ke arahnya, Dadung Rantak hilang kesabaran. Dia segera meloncat ke depan. Namun loncatannya tertahan, karena bersamaan dengan itu murid Wong Agung yang menangkap apa yang hendak dilakukan Dadung Rantak cepat meloncat menghadang.

"Jahanam!" rutuk Dadung Rantak. Dia berpaling pada Aji. Kemarahannya pada Putri Kipas dilampiaskan pada orang yang kini di hadapannya. Kedua tangannya diangkat lalu dipukulkan ke depan.

Aji yang telah waspada segera pula tarik kedua tangannya dan dihantamkan ke depan.

Bummm!

Terdengar ledakan dahsyat. Tempat itu laksana dilanda gempa hebat. Sosok Dadung Rantak dan Pendekar 108 sama-sama terseret ke belakang, lalu berkaparan di atas tanah. Sementara Putri Kipas yang berada tak jauh dari situ terdengar keluarkan seruan nyaring. Tubuhnya tersapu deras ke belakang. Anak ini coba menahan gerak laju tubuhnya dengan mengibaskan kipas di tangan kanannya, namun tampak gagal, hingga tubuhnya tetap meluncur. Padahal di belakang sana menunggu jajaran batang pohon pinus!

Dadung Rantak cepat buka kelopak matanya. Lalu berpaling ke belakang. Bibirnya sunggingkan senyum seringai tatkala mendapati anak perempuan kecil itu melayang deras dan lurus mengarah pada sebuah pohon.

"Mampus kau anak kurang ajar!" gumam Dadung Rantak dalam hati. Namun senyumnya tiba-tiba pupus. Sejengkal lagi tubuh Putri Kipas menghantam batang pohon, sebuah benda kuning membersit dan mengantuk tubuhnya, hingga tubuh itu bergerak menyamping, menghindar batang pohon. Bersamaan dengan itu, sesosok bayangan berkelebat menyambar tubuh anak perempuan berpita!

Seraya menahan dadanya yang berdenyut tak karuan, Dadung Rantak bergerak bangkit. Terhuyung-huyung dia memandang berkeliling. Darahnya laksana sirap. Tubuhnya tiba-tiba tegak mematung. Sosok Aji yang tadi sama-sama terseret tak kelihatan lagi. Bayangan serta anak kecil berjubah putih dan berpita juga tak ada di tempat itu!

"Jahanam laknat! Siapa bangsatnya yang membawa kabur manusia keparat itu?!" desis Dadung Rantak seraya gegatkan rahangnya hingga keluarkan suara gemeretak. Kedua tangannya mengepal dan bergetar keras hingga bahunya yang telanjang bergerak-gerak. Saat itulah ekor matanya menangkap gerakan satu bayangan di balik sebuah batang pohon.

Menduga bahwa bayangan di balik itu yang membawa kabur dan menyelamatkan Aji serta Putri. Kipas, tanpa pikir panjang lagi Dadung Rantak segera hantamkan kedua tangannya.

Wuuutt! Wuuuttt!

Tak terdengar suara menderunya angin. Namun mendadak saja batang pohon di mana Dadung Rantak menangkap adanya bayangan berderak dan langsung tumbang.

Dadung Rantak menunggu sejenak, berharap bayangan itu akan keluarkan seruan setidaktidaknya melesat keluar. Namun harapan Dadung Rantak tak jadi kenyataan, malah meski sepasang matanya juga ikut-ikutan menyapu berkeliling, bayangan itu tak ditemukannya.

"Keparat busuk! Siapa pun adanya kau, tunjukkan dirimu!" teriak Dadung Rantak marah. Dadanya yang telanjang terlihat bergerak cepat turun naik. Sepasang matanya merah menyala berkilat-kilat.

Saat itulah dia mendengar langkahlangkah kaki dari arah belakangnya. Terkejut dan tegang, Dadung Rantak segera putar tubuhnya. Di hadapannya tegak seorang pemuda mengenakan jubah hitam yang dilapis dengan pakaian warna putih. Karena tiga kancing jubahnya bagian atas tidak dikancingkan, maka dengan jelas Dadung Rantak dapat melihat sebuah lukisan berbentuk pintu gerbang pada baju putih sang pemuda.

Karena menduga orang inilah yang telah ikut campur urusannya, serentak Dadung Rantak keluarkan bentakan keras.

"Kalau tak ingin kupecahkan kepalamu, serahkan dua manusia itu!"

Yang dibentak keluarkan tawa bergelakgelak. Dengan mengalihkan pandangan pada jurusan lain, dia balas membentak.

"Manusia gila! Tak ada hujan tak ada angin bicara seenak perut. Buka matamu lebar-lebar! Aku datang sendirian tanpa dua manusia!"

Sejurus Dadung Rantak perhatikan pemuda di hadapannya. Lalu keluarkan dengusan keras dari hidung dan mulutnya. Dadanya bergolak mendengar dirinya disebut manusia gila. Mulutnya komat-kamit menggumam tak jelas. Tiba-tiba saja kakinya dibanting. Tanah di bawahnya langsung melesak dalam!

Sang pemuda yang ingin mengetahui cepat palingkan wajah. Saat itulah Dadung Rantak melompat, kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi dan dihantamkan ke arah kepala si pemuda.

Mendapat serangan mendadak, sang pemuda tak menunjukkan rasa terkejut. Malah seraya tersenyum dingin dia rentangkan tangannya lalu diangkat.

Prak! Prakkk!

Dadung Rantak berseru tegang. Kedua tangannya yang baru saja bentrok dengan tangan si pemuda terasa hendak penggal. Dia cepat meloncat mundur seraya meringis. Sementara sang pemuda tetap tegak di tempatnya dengan mata menyorot tajam dan senyum seringai.

"Siapa bangsat ini? Baru kali ini aku bertemu dengan pemuda yang tenaga dalamnya demikian tinggi selain pendekar murid Wong Agung keparat itu! Jangan-jangan dia teman atau saudara seperguruannya.... Tapi secepat apa pun gerakannya, mustahil dia bisa sembunyikan dua manusia tadi lantas balik ke sini. Lagi pula kawasan ini terbuka, kalau disembunyikan di sekitar sini pasti aku dapat menemukannya...." Berpikir sampai di situ, Dadung Rantak lantas berkata.

"Anak muda! Waktuku cuma sedikit. Lekas katakan siapa dirimu!"

Sang pemuda dongakan kepala memandang langit. Dari mulutnya tidak keluar sepatah kata pun, membuat Dadung Rantak geram dan katupkan rahang rapat-rapat. Orang tua ini lantas buka mulut hendak membentak lagi. Namun belum sampai terdengar suaranya, sang pemuda telah berpaling dan berkata.

"Orang tua! Kau tak pantas mengetahui namaku! Yang layak kau ketahui hanyalah gelarku! Namun setelah kau mengetahui gelarku, kau harus dapat tunjukkan di mana beradanya orang yang kucari!"

Meski hatinya dongkol mendengar ucapan sang pemuda, namun akhirnya Dadung Rantak berucap.

"Begitu?! Cepat katakan apa gelarmu dan siapa orang yang kau cari!"

Sang pemuda terdiam sejenak. Lalu buka mulut.

"Aku bergelar Dewa Maut! Orang yang kucari adalah pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!"

Sepasang mata Dadung Rantak membeliak angker. Kedua alis matanya naik ke atas. Sesaat dipandangi sang pemuda yang bukan lain memang Dewa Maut. Tiba-tiba dia tertawa mengekeh panjang. Belum sampai suara tawa Dadung Rantak lenyap, Dewa Maut telah menyambung ucapannya.

"Sekarang katakan di mana aku dapat menemukan orang yang kusebutbtadi! Ingat. Pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!"

Mendengar ucapan Dewa Maut, Dadung Rantak bukannya menjawab, sebaliknya makin tertawa bergerai-gerai.

"Anak muda! Permainan konyol apa yang kau peragakan di hadapanku? Bukankah kau baru saja menyelamatkannya?!" ujar Dadung Rantak sengaja memancing.

Kali ini Dewa Maut yang membelalak. Sepasang matanya menyorot penuh selidik.

"Orang tua! Seperti katamu. Waktuku juga tak banyak. Kau jangan bersilat lidah. Aku tak menyelamatkan siapa-siapa! Justru aku mencarinya untuk mengantar tubuhnya menuju alam lain!"

Dadung Rantak anggukan kepalanya. Mulutnya bergerak komat-kamit seakan hendak mengucapkan sesuatu. Menyangka jika orang tua di hadapannya mengetahui orang yang dicari, Dewa Maut diam menunggu.

"Anak muda! Melihat paras wajahmu, tampaknya kau tidak main-main. Boleh aku tahu, kenapa kau menginginkan nyawa orang itu?!" ujar Dadung Rantak seraya usap-usap jenggotnya.

Dewa Maut mendengus. Dalam hati pemuda ini memaki habis-habisan karena dugaannya meleset. Setelah diam agak lama, akhirnya Dewa Maut menjawab.

"Kenapa kuinginkan nyawa pemuda tersebut, bukan urusanmu! Jawab saja tanyaku!"

"Hm.... Kau tak memberitahu urusanmu tak jadi apa! Tapi satu hal yang harus kau ketahui bukan hanya kau saja yang menginginkan nyawa pemuda itu!"

"Maksudmu?!" kejar Dewa Maut.

"Aku, Dadung Rantak juga menginginkan nyawanya! Bahkan sampai gurunya!"

"Hmm.... Apakah orang ini hanya ingin nyawanya tanpa membutuhkan senjatanya? Atau menginginkan kedua-duanya? Meski belum bisa kuketahui tujuannya, namun manusia ini harus segera disingkirkan. Jika tidak, bukan tak mungkin dia mendapatkan pemuda itu terlebih dahulu...!"

Berpikir begitu, Dewa Maut lantas berujar. "Orang tua! Kau tadi mengatakan aku me-

nyelamatkan dua orang. Siapa mereka?!"

"Hmm.... Rupanya memang ada orang lain yang menyelamatkan dua manusia tadi. Aku tak boleh mengatakan terus terang siapa adanya dua manusia tadi. Sebab tidak tertutup kemungkinan pemuda ini akan menemukannya. Itu berarti akan menghalangi langkahku untuk mendapatkan benda yang kuinginkan! Kalau perlu manusia sombong ini harus dikirim sekalian ke akhirat!" batin Dadung Rantak. Setelah berpikir sejenak, dia berucap.

"Mereka adalah dua orang laki-laki musuh besarku. Mereka sebenarnya sudah hampir tewas seandainya tidak ada orang yang berkelebat menolongnya! Aku curiga padamu, jangan-jangan kau yang menolong keduanya, karena begitu mereka lenyap, kau tiba-tiba muncul. Sekarang berterus teranglah. Di mana kau sembunyikan musuhku itu!"

"Bangsat sialan! Mulutmu sengaja minta dirobek!" rutuk Dewa Maut.

"Bukan mulutku. Tapi mulutmu yang harus dipecahkan karena telah berani bicara sandiwara di hadapanku!"

"Tua bangka keparat! Kita buktikan mulut siapa yang akan berantakan!" teriak Dewa Maut. Habis berteriak begitu, dia menyergap ke depan. Tangan kanannya diangkat ke atas kepala, sementara tangan kirinya cepat mendorong ke depan. Dari tangan kiri ini mencuat asap merah. Bersamaan dengan itu udara di tempat itu berubah menjadi panas menyengat laksana dijerang.

Dadung Rantak tampak tersirap kaget. Meski dia masih terlihat tersenyum mengejek, namun dia tak mau ambil resiko. Dia cepat pula melompat ke samping. Tangan kanannya ikut bergerak melepaskan pukulan. Namun bersamaan dengan itu, tangan kanan Dewa Maut telah susuli pukulan pertamanya. Hingga meski Dadung Rantak berhasil memapak serangan pertama lawan, namun serangan keduanya melabrak tak bisa ditangkis.

Dadung Rantak untuk sesaat terlengak menyaksikan hal itu. Dia tak menduga sama sekali jika serangan kedua lawan begitu cepat, malah lebih ganas, karena bersamaan dengan itu, serangkum angin dahsyat terlebih dahulu melesat sebelum asap merah menggebrak. Namun Dadung Rantak tak mau begitu saja membiarkan tubuhnya terhajar serangan lawan. Tangan kirinya segera diangkat dan serta-merta dipukulkan.

Blarrr!

Bentrok pukulan yang sama-sama teraliri tenaga dalam tak dapat dihindarkan lagi. Karena terjadinya bentrok lebih dekat dari tempat Dadung Rantak apalagi tenaga dalam orang tua ini telah terkuras sebelumnya sewaktu melayani Pendekar Mata Keranjang, maka saat ledakan terdengar, sosok Dadung Rantak langsung mencelat mental ke belakang. Lalu telentang di atas tanah dengan sudut bibir mengucurkan darah kehitaman.

Di seberang sana, Dewa Maut terhuyunghuyung lalu jatuh terduduk. Pemuda ini segera memeriksa, dan merasa dirinya tak mengalami cidera, dia segera bergerak bangkit. Lantas melangkah pelan ke arah Dadung Rantak.

Paras muka Dadung Rantak langsung berubah pucat pasi. Dia menyumpah habis-habisan dalam hati. Karena akibat bentrok dengan Pendekar Mata Keranjang tenaganya tak lagi sempurna. Namun dia berusaha bangkit meski dengan tubuh bergetar dan dada berdebar sakit.

"Tua bangka! Jawab. Kau bisa tunjukkan orang yang kucari apa tidak?!" ujar Dewa Maut.

Meski hatinya kecut namun orang tua ini segera menyembunyikannya dengan tertawa pelan. Setelah mengusap wajah dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya, dia berucap.

"Manusia bodoh! Dunia ini luas. Mana bisa orang kau suruh menunjukkan pada segelintir manusia yang kau cari?!"

Dikatakan manusia bodoh demikian rupa, Dewa Maut bukannya marah. Sebaliknya dia mendongak ke langit lalu tertawa. Namun tawanya mendadak diputus laksana terenggut. Kepalanya bergerak lurus. Dari mulutnya terdengar suara bergetar dan keras. "Dengar, Tua Bangka Jahanam! Aku tak peduli dunia luas atau sempil. Kau tak bisa memenuhi permintaanku, itu berarti nasib jelek buatmu!"

Meski diam-diam tengkuknya jadi dingin, namun Dadung Rantak tetap sunggingkan senyum. Sebenarnya diam-diam pula kakek ini sedang kerahkan segenap tenaga dalamnya, karena dia merasa yakin bahwa ucapan pemuda di hadapannya tidak sekadar main-main. Setelah terdiam sesaat, orang tua ini alihkan pandangannya pada jurusan lain dan berucap datar.

"Kau rupanya berteman dengan malaikat hingga tahu nasib manusia! Apakah kau juga sudah tahu jika nasibmu berada di tanganku?!"

Untuk kesekian kalinya Dewa Maut keluarkan tawa panjang dan keras.

"Tua bangka tolol! Dengar! Aku adalah Dewa Maut. Manusia yang akan menebar hawa maut pada siapa saja yang tak bisa memberi apa yang kupinta! Kau ingin bukti?!'

Tanpa menunggu jawaban dari Dadung Rantak, Dewa Maut angkat kedua tangannya lalu dipukulkan.

Gelombang asap merah yang menebar hawa panas menyungkup di tempat itu. Suara menggemuruh laksana air bah menggebrak ke arah Dadung Rantak.

Dadung Rantak meski nampak tercekat tegang namun segera sentakan kedua tangannya, membuat suasana di tempat itu makin panas menyengat. Dan bersamaan dengan itu terdengar dentuman menggelegar! Saat asap merah dihajar pukulan Dadung Rantak yang tak kelihatan bentuknya.

Kedua orang ini sama-sama keluarkan pekik kesakitan. Tubuh Dewa Maut terdorong deras ke belakang. Namun pemuda ini cepat membuat gerakan jungkir balik, hingga meski sempat jatuh berlutut, namun tubuhnya selamat dari menghempas menghajar tanah.

Di lain pihak, karena tenaga dalamnya sudah pas-pasan, Dadung Rantak tak bisa menguasai gerak tubuhnya, hingga dia terjungkal dengan kepala lebih dahulu! Orang tua ini sesaat mengerang, sepasang matanya redup menyipit. Dan erangannya segera dia hentikan sementara matanya dia pejamkan tatkala samar-samar dilihatnya Dewa Maut telah melangkah ke arahnya.

Tiga langkah di depan Dadung Rantak yang diam tak bergerak, Dewa Maut hentikan langkahnya. Sejurus lamanya dia memperhatikan sosok Dadung Rantak. Dan mengira orang tua itu telah menemui ajal, dengan senyum seringai dan kebutkan jubahnya, dia putar tubuh dan tinggalkan tempat itu.

Begitu sang pemuda pergi, Dadung Rantak gerakan tangannya dan ditempelkan pada dadanya untuk mengatasi debarannya yang nyeri. Namun karena dia terlalu bernafsu untuk mengatasi cidera bagian dalam tubuhnya yang membutuhkan pengerahan tenaga dalam, sementara tenaga dalamnya telah terkuras, maka orang itu sesat terlihat megap-megap, lalu tangannya lunglai dan sejenak kemudian dia terkulai pingsan.

ENAM

PENDEKAR Mata Keranjang mula-mula tidak mengetahui siapa adanya orang yang memanggul dan kini berkelebat membawa lari dirinya. Yang dia ingat dan ketahui adalah dia sedang menghadapi Dadung Rantak. Dan sewaktu tubuhnya terseret ke belakang hendak terjengkang menghajar tanah, tiba-tiba satu tangan menahan gerak tubuhnya, bukan hanya selamatkan dirinya dari terhempas di tanah, namun juga secara bergerak cepat mengangkat tubuhnya dan melemparkannya ke atas. Lalu tahu-tahu dia merasa sudah ada di pundak orang, serta sudah berkelebat.

Setelah memikir sejenak, Aji buka kelopak matanya. Yang mula-mula terlihat adalah punggung orang yang membawanya lari. Ternyata pakaian yang dikenakan orang itu telah robek di sana-sini. Lalu pandangannya tertumbuk pada sosok tubuh yang juga menggelentung seperti dirinya di pundak kiri orang.

Pendekar 108 memperhatikan dengan seksama. Dia tak bisa melihat paras wajah orang yang di sebelahnya, namun dapat melihat bagian kepala orang itu. Ternyata kepala itu dihiasi beberapa pita berwarna-warni yang digunakan untuk menguncir rambutnya.

"Putri Kipas...!" gumam Pendekar 108 begitu dapat mengenali orang. Dia menarik napas lega. "Hmm.... Untung anak ini juga selamat. Aku telah mengkhawatirkan dirinya "

Mendadak murid Wong Agung ini membaui sesuatu lain. Keras menyengat hidung. Melirik ke bawah, ke arah datangnya bau, Aji terperanjat.

"Astaga! Ternyata dia!" bisik Pendekar 108 dalam hati.

Di bawah tubuhnya, tepatnya di bagian pinggang orang yang membawa tubuh Aji terlihat melingkar sebuah ikat pinggang besar yang diganduli beberapa bumbung bambu. Dari bumbung bambu itu keluar menyengat bau arak!

Pendekar Mata Keranjang lantas berpaling lagi pada Putri Kipas. Mungkin ingin mengetahui keadaan si anak. Tangan kirinya bergerak menyentuh pundak Putri Kipas. Untuk beberapa saat yang disentuh tetap diam tak bergerak. Namun ketika tangan Pendekar 108 hendak menyentuh kembali, kepala Putri Kipas bergerak pelan berpaling ke arah Pendekar 108. Bibir anak ini lalu tersenyum dan meletakkan telunjuk jarinya melintang di tengah mulutnya memberi isyarat agar Pendekar 108 tak mengucapkan sesuatu.

"Sialan! Rupanya dia keenakan digendong! Tapi aku heran. Dia sepertinya tak merasakan bau sengatan arak ini. Padahal aku sudah mual mau muntah! Jangan-jangan dia murid Setan Arak...," pikir Pendekar 108. Lalu ikut-ikutan melintangkan jari telunjuknya di tengah mulut. Kedua orang ini lantas sama memejamkan mata masing-masing.

"Hm.... Biarlah aku istirahat dulu di sini! Rasanya enak juga digendong! Daripada...," Pendekar 108 tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu tiba-tiba saja orang yang membawanya lari dan bukan lain memang Setan Arak gerakan pundak kanan kirinya. Lalu melesat mendahului ke depan, begitu dua sosok di atas pundaknya terangkat ke atas.

Baik Pendekar 108 maupun Putri Kipas sama-sama terkejut. Serentak dua orang ini buka mata masing-masing. Keduanya lantas mengeluarkan seruan tatkala mengetahui tubuh mereka menukik telungkup ke bawah.

Kedua orang ini sama-sama membuat gerakan untuk menyelamatkan diri masing-masing. Namun terlambat. Sebelum keduanya mampu bergerak, tubuh mereka telah terjerembab di atas tanah!

"Puaahhh! Anak-anak kurang ajar! Orang tua maunya dibuat mainan!" tiba-tiba terdengar teriakan di seberang.

Pendekar Mata Keranjang 108 dan Putri Kipas bergerak bangkit sambil pegangi dada masing-masing. Keduanya saling lirik sejurus, lalu balikan tubuh masing-masing menghadap orang yang baru saja keluarkan teriakan. Sepuluh langkah di hadapan mereka, Setan Arak terlihat duduk menggelosoh sambil menenggak araknya silih berganti dari bumbung di tangan kanan kirinya. Ikat pinggang besar yang tadi melingkar di pinggangnya telah berpindah. Kini tampak menyelempang melingkar melalui pundaknya.

Pendekar 108 dan Putri Kipas saling berpandangan kembali. Putri Kipas angukkan kepala. Keduanya lantas melangkah mendekat ke arah Setan Arak.

"Hmm.... Anak ini tampaknya memang sudah mengenal Setan Arak..." batin Pendekar 108 seraya terus melangkah. "Gerak-geriknya menunjukkan hal itu!"

Tiga langkah di hadapan Setan Arak, kedua orang ini berhenti. Tiba-tiba Putri Kipas jatuhkan diri dan menjura dalam-dalam seraya berkata.

"Eyang "

"Eyang apa?!" sentak Setan Arak tanpa memandang.

"Maafkan aku. Aku bukannya mau "

"Kau ingin ikut-ikutan temanmu itu berkeliaran tak karuan, hah?!" kembali Setan Arak menyentak sebelum Putri Kipas selesaikan ucapannya.

Putri Kipas gelengkan kepalanya. Sejenak dia memandang Setan Arak. Setelah menarik napas panjang, dia berujar.

"Aku hanya kebetulan bertemu dengannya sewaktu jalan-jalan di kaki bukit itu. Lalu aku mengikutinya, tapi dia tidak tahu kalau kuikuti. Waktu "

"Sudah. Sudah, jangan banyak omong!" sahut Setan Arak. Lalu menenggak araknya kembali, hingga matanya terpejam-pejam kemerahan.

"Betul ucapannya.. Aku memang tak sengaja bertemu dengannya di kaki bukit. Jadi aku tak mengajaknya berkeliaran...," yang buka suara adalah Pendekar 108 seraya membungkuk hormat.

"Puaahhh! Kalian orang sama-sama pintar bicara! Kalian sekongkol!'

"Kek! Kami tidak sekongkol. Memang itulah yang terjadi!" sahut Pendekar 108.

Setan Arak jauhkan tangannya yang memegang bumbung arak dari mulutnya, sejurus sepasang matanya yang kemerahan menatap Pendekar 108.

"Kau masih pandai omong. Apa kalian kira aku tak tahu. Kalian saling memberi isyarat untuk tidak keluarkan suara sewaktu aku terseokseok memanggul kalian. Apa namanya itu?! Jawab!"

Pendekar Mata Keranjang dan Putri Kipas saling berpandangan. Namun keduanya tidak ada yang keluarkan suara untuk menjawab.

"Kau juga mengapa mau mencelakakan orang, he...?!" kembali Setan Arak ajukan tanya pada Pendekar 108.

"Mencelakakan orang?" gumam Pendekar

108. Paras wajahnya berubah. Untuk beberapa lama murid Wong Agung ini pandangi Setan Arak dengan tatapan tak mengerti.

"Kek! Rasanya aku tak melakukan perbuatan itu!"

Setan Arak tertawa bergelak-gelak, hingga bumbung arak yang bergelantungan di ikat pinggangnya bergerak-gerak turun naik.

"Kau mengaku bernama Aji. Tapi tak menerangkan sebagai Pendekar Mata Keranjang. Justru orang lain yang kau katakan sebagai Pendekar Mata Keranjang! Apakah itu tak mencelakakan orang lain? He...?! Apa jawabmu?!"

"Hmm.... Yang dimaksud pasti Setan Pesolek. Berarti dia sudah tahu semua ini!" Pendekar 108 membatin. Setelah berpikir sejenak, dia bertanya. lek?" "Kek. Apakah yang dimaksud Setan Peso-

"Kau tak usah bertanya. Aku ingin dengar jawabmu!" Setan Arak menghardik. Namun nadanya pelan dan tanpa memandang, membuat murid Wong Agung ini jerengkan sepasang matanya seraya menggeleng.

"Kek! Sebenarnya bukan maksudku mencelakakan Setan Pesolek. Karena Setan Pesolek sendiri sudah tahu hal ini. Lagi pula dengan tanpa mengaku sebagai Pendekar Mata Keranjang 108, aku bisa mengorek apa sebabnya orang yang bergelar Dewa Maut itu tiba-tiba mencariku dan menginginkan nyawaku!"

"Memalukan!" tiba-tiba Setan Arak menyahut.

"Apanya yang memalukan, Kek?!" "Perbuatanmu itu! Itu adalah perlakuan

seorang pengecut! Tak mau tunjukkan dadanya sendiri! Tapi mendorong wajah orang lain!"

"Tapi, Kek..."

Setan Arak tertawa bergelak-gelak.

"Aku tahu. Kau takut padanya. Bukankah begitu?! Padahal apakah kau sadar, dengan perbuatanmu itu persoalan tidak akan cepat selesai. Belum lagi adanya korban-korban yang harus jatuh!"

Pendekar Mata Keranjang usap wajahnya dengan telapak tangannya.

"Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan, Kek?!"

"Aku tak bisa memberi pendapat padamu. Lagi pula otakmu tidak akan jalan bila terusterusan dituntun! Pecahkan sendiri urusanmu. Yang penting jangan sampai berbuat pengecut yang akhirnya membawa celaka orang lain lebihlebih menyeret jatuhnya beberapa orang yang tak tahu-menahu urusanmu!"

Habis berkata begitu, Setan Arak melambaikan tangannya pada Putri Kipas. Si anak sejurus memandang ke arah Aji. Lalu melangkah perlahan ke arah Setan Arak.

"Ayo. Kita pulang!" seru Setan Arak seraya bangkit begitu Putri Kipas telah berada di depannya. Lagi-lagi Putri Kipas memandang pada Pendekar 108. Wajahnya jelas menunjukkan rasa berat. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa, apalagi ketika diliriknya Setan Arak berpaling padanya dengan mata sedikit mendelik.

"Kek, tunggu!" mendadak Pendekar 108 berseru menahan ketika Setan Arak dan Putri Kipas mulai melangkah meninggalkan tempat itu.

Setan Arak berhenti. Tanpa berpaling lagi, dia berkata.

"Ada apa?!"

"Sebagai tokoh yang telah lama malang melintang dalam rimba persilatan apakah kau tahu tentang manusia yang bergelar Dewa Maut, atau setidak-tidaknya pernah dengar berita tentangnya?!"

Sebagai jawaban, Setan Arak tertawa bergerai-gerai. Lalu ulurkan tangannya menyambar tubuh Putri Kipas. Sosok Putri Kipas melayang ke udara, lalu 'plekk'. Tahu-tahu tubuh Putri Kipas telah duduk bertengger di tengkuknya dengan kedua kaki menjulai di depan dada.

"Kau telah digelari orang sebagai seorang pendekar. Kalau di benakmu masih dirambahi rasa takut pada orang yang jelas-jelas hendak menebar maut, atau kau tak bisa menyelidiki urusan ini dengan otak sendiri, kusarankan padamu lebih baik kau kembali ke Karang Langit. Lalu balik lagi dengan mengenakan kebaya. Bibir dipoles merah, muka dibedaki dan berganti nama menjadi Siti Suminten bahenol binti Ponirah! Ha....

Ha.... Ha !"

Habis berkata. seraya terus tertawa bergelak, Setan Arak melangkah meninggalkan tempat itu. Di atas tengkuknya Putri Kipas ikut-ikutan tertawa seraya melambaikan tangan.

"Sialan!" maki Pendekar Mata Keranjang sambil bantingkan kaki, lalu melesat ke arah timur, jurusan mana tadi dia datang.

TUJUH

HARI ini desa Gondang Legi lain dari biasanya. Karena di alun-alun yang tak jauh dari pasar Gondang Legi akan diadakan sebuah pertunjukan Gandeng Ujung. Sebuah permainan yang mengandalkan kekuatan luar dan dalam. Karena di situ akan berlaga dua orang yang nantinya akan saling pukul berganti dengan menggunakan sebuah cemeti. Pertunjukan ini memang selalu diadakan setiap tahun sekali untuk menandai dibukanya penggilingan tebu yang memang menjadi penghasilan pokok penduduk Gondang Legi. Maka sejak pagi hari penduduk Gondang Legi telah berdatangan, malah mereka yang tinggal jauh dari desa ikut datang berbondongbondong. Ketika penduduk sudah berkumpul, tak lama kemudian pertunjukan itu pun dimulai. Dua orang terlihat maju ke tengah lingkaran. Soraksorai serta teriakan-teriakan mulai ramai bersahut-sahutan.

"Sialan! Permainan orang-orang gembel!" gumam seorang pemuda seraya melangkah menjauhi hiruk-pikuknya orang-orang. Dia adalah pemuda berwajah tampan. Berdagu kokoh dan bermata tajam. Tubuhnya tinggi tegap. Rambutnya lebat dan panjang sebahu. Dan pemuda ini terlihat lebih gagah karena dia mengenakan jubah besar berwarna hitam bergaris-garis putih.

Bersamaan dengan itu, dari arah kerumunan orang banyak juga menyeruak keluar seorang pemuda. Sosoknya tegap. Mengenakan jubah warna hitam yang melapis baju warna putih.

Kedua pemuda ini secara kebetulan menuju arah yang sama, yakni jurusan selatan. Pemuda yang mengenakan jubah hitam bergaris-garis putih ada di depan sementara yang mengenakan jubah hitam dan melapis baju warna putih ada di belakangnya.

Mungkin merasa diikuti orang, pemuda yang di depan palingkan wajahnya ke belakang. Cuma sesaat, lalu meneruskan langkah. Namun dahi pemuda ini serentak mengernyit.

"Rasanya aku baru kali ini bertemu dengannya. Tapi kenapa dia sepertinya mengikutiku? Atau ini hanya kebetulan menuju arah yang sama? Keparat! Kenapa aku memikirkan orang? Berani macam-macam kucincang tubuhnya!" batin pemuda di sebelah depan. Lalu melangkah lebih cepat.

Pemuda yang di belakang ikut mempercepat langkahnya. Namun pandangannya tak mengarah ke depan, melainkan pada jurusan lain. Namun jelas sepasang matanya sesekali memperhatikan pemuda di depannya.

"Hm.... Melihat langkah dan pakaian yang dikenakannya, pasti dia seorang dari kaum persilatan. Aku akan tanya padanya. Siapa tahu dia mengetahui orang yang kucari!" pikir pemuda yang di belakang. Lalu dia mempercepat lagi langkahnya.

Mengetahui orang di belakang mendekat, pemuda di sebelah depan mendadak hentikan langkah. Tanpa balikan tubuh, malah dengan kacak pinggang dia menegur. Suaranya lantang dan bergetar.

"Sebutkan siapa kau! Dan kenapa mengikuti langkahku!"

Melihat sikap orang di depannya, pemuda di belakang katupkan rahangnya rapat-rapat, hingga keluarkan suara gemeretak. Sepasang matanya menusuk tajam, memperhatikan pemuda di depannya dari atas hingga bawah.

Dia tidak segera menjawab pertanyaan pemuda di depannya yang membelakangi dengan kacak pinggang. Bahkan sesaat kemudian pemuda ini keluarkan tawa pendek penuh ejekan.

"Baik. Kau tidak mau sebutkan siapa dirimu. Itu tidak ada ruginya bagiku! Tapi dengar. Jangan berani beranjak melangkah dari tempatmu untuk mengikutiku, atau kepalamu akan putus dari lehermu!"

Habis berkata begitu, pemuda di sebelah depan teruskan langkah. Pemuda di sebelah belakang keluarkan dengusan keras. Matanya berubah merah, sementara dadanya bergetar keras. Dagunya terangkat, pertanda jika dia menahan hawa amarah. Dan tanpa mempedulikan ancaman orang, dia melangkah mengikuti.

Merasa ancamannya diacuhkan, pemuda di sebelah depan kembali hentikan Iangkah. Dan secepat kilat dia putar tubuhnya membalik. Pemuda di sebelah belakang ikut hentikan langkah.

Untuk sesaat lamanya pemuda yang mengenakan jubah hitam bergaris-garis putih yang tadi ada di sebelah depan memandang tajam penuh selidik. Mendadak pelipis pemuda ini bergerak-gerak. Mulutnya bergetar. Karena pemuda yang dipandanginya dongakan kepala tidak memandang ke arahnya!

"Setan alas! Siapa gerangan manusia ini? Nyalinya besar juga. Dia pasti mempunyai sesuatu yang diandalkan hingga tak takut ancaman orang! Hm.... Kalau dia mau dijadikan sahabat, tentu akan banyak membantu mewujudkan citacitaku. Menyingkirkan Pendekar Mata Keranjang dan sekaligus menggenggam dunia persilatan!" batin pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih. Lalu dia mendehem beberapa kali dengan harapan pemuda di hadapannya memandang ke arahnya. Namun apa yang menjadi harapannya tidak terjadi. Karena pemuda di hadapannya tetap mendongak.

Meski agak jengkel, namun akhirnya pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih keluarkan suara. Kali ini nadanya agak rendah, meski masih terdengar bergetar.

"Sahabat! Kau mengikuti langkahku. Tentunya kau mempunyai maksud. Harap kau sudi jelaskan apa tujuanmu!"

Pemuda berjubah hitam luruskan kepalanya menghadap ke depan. Sejurus kedua pemuda ini saling adu pandang. Mata masingmasing saling menusuk. Pemuda berjubah hitam yang tadi ada di sebelah belakang ini tersenyum dingin, lalu angkat bicara.

"Aku tak akan melangkah tanpa tujuan! Tak akan berjalan tanpa hitungan! Aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku mengikutimu karena ingin tanya padamu!"

Pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih kerutkan dahi. Memperhatikan lebih seksama lagi pada pemuda di hadapannya. Lalu berucap.

"Sayang sekali jika itu tujuanmu. Karena aku tak akan jawab pertanyaan orang yang belum kuketahui siapa nama atau gelarnya!"

"Hmm.... Begitu?!" sahut pemuda berjubah hitam sambil tertawa.

"Kalau itu maumu, aku tak keberatan memberitahu padamu!" sambungnya. Lalu dengan busungkan dada dia menyambung lagi ucapannya. "Aku Dewa Maut!"

Pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih menyeringai. Lalu dongakan kepala. Dari mulutnya terdengar suara seperti orang sedang bersyair.

"Aku seorang musafir! Melangkah tegak mencari takdir.

Pijakanku berwarna merah. Jejakku berwarna merah.

Hembusan napasku bersaput merah. Merah darah!"

"Hmm.... Rupanya kau seorang penyair!" desis Dewa Maut tanpa memandang.

"Tak salah! Akulah si Penyair Berdarah!" tandas pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih, yang tak lain memang Penyair Berdarah. Pemuda berilmu tinggi murid Iblis Gelang Kematian (Tentang Penyair Berdarah serta Iblis Gelang Kematian baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode : "Tembang Maut Alam Kematian").

Untuk beberapa lama kedua orang ini sama-sama diam tak ada yang keluarkan suara. Dalam hati masing-masing sama-sama menduga siapa sebenarnya orang di hadapannya. Namun tampaknya keduanya sama-sama tak mendapatkan jawaban. Dan entah karena masih ada yang harus ditanyakan, akhirnya Dewa Maut buka mulut.

"Aku telah sebutkan siapa diriku. Harap kau sekarang jawab pertanyaanku!"

"Penyair Berdarah tak suka ditekan. Kau jangan yakin aku akan jawab pertanyaanmu. Katakan apa yang hendak kau tanyakan!"

"Kau bisa katakan, di mana aku dapat menemukan pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Pemuda yang selama ini malang melintang dengan menggenggam sebuah kipas ungu bergurat angka 108!"

Penyair Berdarah palingkan wajah sembunyikan rasa terkejutnya. Lalu ketika berpaling lagi, dia tunjukkan senyum lebar namun dingin.

"Kau punya urusan apa dengan pemuda

itu?!"

"Urusannya tak perlu kau ketahui. Yang

pasti aku menginginkan selembar nyawanya!" Penyair Berdarah kembali tersenyum sem-

bunyikan perubahan wajahnya. Namun diamdiam pemuda ini merasa lega. Karena dengan bertambahnya orang yang hendak membunuh Pendekar Mata Keranjang, maka tujuannya untuk menggapai jadi raja rimba persilatan akan lebih mudah lagi.

"Apa hanya itu tujuanmu?!" tanya Penyair Berdarah.

"Kau bertanya atau menyelidik?!"

Penyair Berdarah sunggingkan senyum.

Kali ini senyumnya polos.

"Terserah kau mau katakan apa. Aku hanya ingin tahu. Siapa tahu aku dapat membantu. Meski hanya sekadar keterangan!"

Sejenak Dewa Maut terdiam. Dalam hati pemuda ini berkata,

"Hm.... Tak ada salahnya aku mengatakan padanya. Siapa tahu memang dia bisa memberi keterangan yang kuperlukan. Itu akan mempermudah perjalananku. Rupanya dia pengetahuannya banyak. Lain dengan aku, yang masih buta dengan lingkungan rimba persilatan. Namun sebentar lagi, aku tidak akan buta lagi! Malah dunia persilatan akan kugenggam!"

"Selain pemuda yang kusebut tadi, aku juga memerlukan keterangan tentang pemuda yang bergelar Malaikat Berdarah Biru!"

Untuk kesekian kalinya Penyair Berdarah terperanjat.

"Apa sebenarnya tujuan manusia ini? Jangan-jangan...," Penyair Berdarah gelengkan kepala. Lalu kembali ajukan tanya.

"Lantas siapa lagi?!"

"Jangan mengira aku manusia bodoh yang bisa kau korek mulutnya! Pertanyaanmu sudah terlalu banyak. Sekarang saatnya bagimu memberi keterangan!" sergah Dewa Maut dengan menyeringai.

"Melihat orang yang dicari, pasti manusia ini telah mempersiapkan bekal! Tapi tampaknya dia masih polos. Hmm Manusia seperti ini yang

kucari! Mempunyai kemampuan, berani, berwatak sombong namun tak punya kelicikan!" batin Penyair Berdarah. Lalu tersenyum lebar dan berkata.

"Sobatku, Dewa Maut. Masalah di mana kau dapat menemukan orang yang kau cari, siapa pun yang kau tanya pasti akan jawab tidak tahu! Karena orang yang kau cari adalah orang-orang persilatan yang tak dapat ditentukan di mana tempatnya! Kalau tidak dicari kadang-kadang bertemu, tapi kalau dicari malah sampai modar pun tak berjumpa! Namun, ada cara bagaimana kau dapat menemukan orang-orang itu! Malah mereka yang nanti akan mencarimu!"

"Hmm.... Coba katakan bagaimana caranya!"

"Sebarkan maut di mana-mana! Jangan pandang bulu. Baik golongan hitam atau golongan putih. Baik perempuan atau laki-laki! Bahkan kalau kau berhasil membunuh orang-orang terdekatnya, tak lama kau akan menemukan orang yang kau cari!"

"Kau terlalu berbelit-belit! Aku jadi tak mengerti!"

"Bunuh guru atau kekasih orang yang kau cari!" tandas Penyair Berdarah.

Dewa Maut gelengkan kepala.

"Itu akan lebih sulit bagiku. Aku belum tahu siapa dan di mana gurunya!"

Penyair Berdarah tertawa bergelak. "Hmm. Pasti manusia ini baru muncul ke

rimba persilatan. Sampai tempat dan nama guru Pendekar Mata Keranjang yang sudah banyak dikenal orang ia tak tahu "

"Kau tak usah khawatir. Aku tahu siapa dan di mana guru Pendekar Mata Keranjang 108!"

"Katakan!" sahut Dewa Maut cepat.

"Dia bernama Wong Agung. Bertempat di sebuah karang di tengah Laut Utara yang dikenal orang dengan nama Karang Langit!"

"Wong Agung.... Hmm.   Apa dia juga banci

seperti muridnya?!" gumam Dewa Maut sambil manggut-manggut.

"Apa kau bilang?! Coba ulangi lagi agak keras!" tiba-tiba Penyair Berdarah berseru demi mendengar gumaman Dewa Maut.

Dewa Maut memandang Penyair Berdarah dengan tatapan heran. Tapi akhirnya dia mengulangi kata-katanya. Tiba-tiba Penyair Berdarah tertawa terbahak-bahak hingga keluar air matanya.

"Hai! Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu?!" hardik Dewa Maut.

"Banci? Ha.... Ha.... Ha...! Siapa yang kau maksud banci. He...?!" tanya Penyair Berdarah.

"Bukankah pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 itu adalah pemuda yang potongan dan gayanya mirip seorang perempuan? Kalau tidak banci apa namanya?"

Penyair Berdarah makin bergelak.

"Siapa yang mengatakan padamu jika pemuda itu adalah seorang banci?"

"Aku pernah bertemu dengannya. Sayang, waktu itu dia lolos! Tapi tidak akan lolos jika bertemu untuk kedua kalinya!"

Penyair Berdarah pandangi tampang Dewa Maut untuk beberapa saat lamanya, lalu tertawa lagi. Setelah puas tertawa, dia arahkan pandangannya pada jurusan lain. Seraya tersenyum mengejek dia berucap.

"Kau salah besar, Sobat! Pendekar Mata Keranjang 108 adalah manusia laki-laki tulen. Potongan dan gayanya juga laki-laki! Dan seperti katamu, dia menggenggam sebuah kipas berwarna ungu bergurat angka 108!"

"Kau tak usah menggurui aku. Pemuda yang kusebut tadi juga menggenggam sebuah kipas ungu bergurat angka 108! Kau jangan bicara mengada-ada. Jangan-jangan keteranganmu tadi dusta!"

"Keparat! Apa untungnya mendustaimu?!" dengus Penyair Berdarah dengan pandangan nanar. Namun diam-diam dalam hatinya dia bertanya-tanya.

"Pemuda banci menggenggam kipas ungu bergurat angka 108. Siapa lagi ini? Baru kali ini aku mendengarnya. Tapi kata-katanya tidak mungkin berdusta! Jahanam! Aku jadi ikutikutan bingung!"

Di lain pihak, Dewa Maut pun membatin. "Aku yakin, pemuda banci yang kutemui beberapa waktu yang lalu itu adalah Pendekar Mata Keranjang 108. Tapi kenapa dia mengatakan Pendekar Mata Keranjang 108 adalah laki-laki tulen? Setan alas! Jangan-jangan dia mengelabuiku!"

Habis membatin begitu, Dewa Maut melangkah satu tindak ke depan. Wajahnya berubah merah padam. Seraya menyeringai dia membentak garang.

"Aku curiga. Keteranganmu pasti bohong! Dan kau akan menerima nasib buruk karena berani berkata bohong pada Dewa Maut!"

Habis berkata, Dewa Maut angkat kedua tangannya siap lancarkan pukulan. "Kau jangan bodoh! Seperti halnya kau, sebenarnya antara aku dengan Mata Keranjang ada silang sengketa yang tak akan pernah selesai sebelum salah satu dari kami ada yang terkapar tewas! Sebagai musuh, tentunya aku tahu siapa dia!"

"Eh, jangan-jangan kau berkata begitu karena takut padaku!"

Penyair Berdarah tertawa panjang.

"Aku tak pernah gentar menghadapi siapa saja! Aku punya kekuatan dan aku sanggup menghadapimu! Tapi tidakkah kau akan menyesal tewas terlebih dahulu sebelum tujuanmu tercapai? Atau memang itu yang kau inginkan?!"

"Setan!" rutuk Dewa Maut, lalu bantingkan kakinya. Tanah di bawahnya kontan terbongkar. Penyair Berdarah terkesiap sejenak, karena dia merasa tanah pijakannya ikut bergetar. Diamdiam dia maklum, jika pemuda di hadapannya bukan pemuda yang bisa dianggap sebelah mata.

"Sobat!" kata Penyair Berdarah pada akhirnya. "Kita sekarang sedang dalam perjalanan mencari orang yang sama. Kau punya urusan, aku pun demikian. Kalau ingin unjuk kebolehan, kutunggu kau di lereng bukit Umbul Rejo. Satu purnama mendatang! Baik urusanmu dengan orang yang kau cari selesai atau belum! Kalau tak datang, sebenarnya kaulah laki-laki banci itu!"

"Jahanam terkutuk! Kenapa tidak kita selesaikan sekarang saja?!" "Menuruti katamu, sebenarnya aku juga ingin menghadapimu sekarang. Namun aku masih punya urusan lebih penting. Ingat! Satu purnama di depan!"

Habis berkata begitu, Penyair Berdarah balikan tubuh, berkelebat meninggalkan tempat itu.

Saat bersamaan, sebenarnya Dewa Maut hendak lepaskan pukulannya, namun dia urungkan. "Hmm.... Masih ada waktu untuk menghabisinya. Urusan mencari pendekar itu kiranya lebih penting, dan aku ingin buktikan kebenaran katakatanya!"

Dewa Maut mendongak pandangi langit. Lalu hendak melangkah meninggalkan tempat itu, namun langkahnya tertahan ketika telinganya menangkap suara langkah-langkah berderapnya kuda yang menuju ke arahnya.

Baru saja pemuda ini palingkan wajah, dari arah samping muncul dua orang penunggang kuda dan langsung hentikan kuda masing-masing lima langkah di depannya.

DELAPAN

PENUNGGANG kuda sebelah kanan adalah seorang gadis muda berwajah cantik jelita Berkulit putih, berambut panjang. Bermata bulat dan tajam. Mengenakan pakaian ketat berwarna kuning, hingga dadanya yang kencang membusung terlihat membentuk bagus. Sementara penunggang di sebelah kiri adalah seorang laki-laki. Tubuhnya tegap besar. Rambutnya kaku dan panjang menjulai. Sepasang matanya menyengat tajam. Sesekali bibirnya sunggingkan senyum seringai. Meski paras wajahnya kelihatan angker dan tubuhnya tegap besar, namun jelas sekali jika laki-laki ini masih berusia sangat muda.

Untuk beberapa saat lamanya kedua penunggang kuda ini pandangi Dewa Maut dengan pandangan menyelidik.

Mungkin karena yang memandang ke arahnya adalah seorang gadis muda dan berparas cantik, kali ini Dewa Maut tak mengalihkan pandangannya. Dia balas memandang, malah dengan bibir sunggingkan senyum aneh.

Tiba-tiba si gadis palingkan wajah ke arah anak laki-laki di sampingnya. Lalu memberi isyarat untuk meneruskan perjalanan. Namun si anak laki-laki sepertinya tak menghiraukan isyarat orang. Dia tetap diam dengan sepasang mata menghujam tajam pada pemuda di hadapannya.

"Bukan dia!" mendadak si gadis keluarkan suara seakan menegur. Lalu tarik tali kekang kudanya.

Kepalanya kembali berpaling dan mengangguk pada si anak laki-laki.

Si anak laki-laki menyeringai lalu ikut tarik tali kekang kudanya. Namun belum sampai kedua penunggang ini menghela kuda masing-masing, Dewa Maut membuat gerakan jumpalitan sekali dan kini tegak dengan kacak pinggang seakan menghadang.

"Jangan berani bergerak dari tempat kalian jika tak ingin kepala kalian penggal!" Dewa Maut keluarkan bentakan.

Sang gadis dan si anak laki-laki urungkan niat masing-masing. Keduanya serentak memandang pada Dewa Maut. Si gadis perlihatkan senyum sinis, sementara si anak laki-iaki menyeringai, seakan menunjukkan barisan giginya yang besar-besar.

"Orang tak dikenal! Jangan hadang perjalanan kami! Atau tubuhmu akan tercabik-cabik ladam kuda!" si gadis balas membentak.

Dewa Maut keluarkan tawa mengekeh panjang. Puas mengumbar tawa, pemuda ini usapusap dadanya. Lalu berujar dingin.

"Silakan teruskan perjalanan, tapi jawab dulu tanyaku!"

Si anak laki-iaki angkat tangannya hendak lepaskan pukulan, namun si gadis cepat berpaling dan memberi isyarat agar si anak tidak meneruskan niatnya.

"Kau tak berhak bertanya pada kami. Siapa kau?!" si gadis ajukan tanya.

"Kau bertanya, aku akan jawab. Dengar!

Aku adalah Dewa Maut! Kalian siapa?!"

"Kami bukan siapa-siapa! Dan harap jangan halangi jalan kami. Kami ada urusan yang harus diselesaikan!" jawab si gadis.

"Kalian keberatan sebutkan diri tak apaapa! Tapi jawab satu pertanyaanku! Setelah itu kalian silakan teruskan perjalanan!"

Si gadis tak menyahut. Dia hanya memperhatikan pada pemuda di hadapannya lebih seksama. Sementara si anak laki-laki tak berkesip memandang dengan tatapan marah.

Merasa orang menunggu pertanyaannya, maka Dewa Maut segera menyambung ucapannya. "Katakan padaku, pemuda tersohor bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 seorang laki-laki tulen apa seorang banci!"

Mendengar ucapan Dewa Maut wajah si gadis terlihat berubah. Dia segera berpaling ke arah anak laki-laki dengan dahi berkerut. Diamdiam dia menekan rasa terkejutnya. Dalam hati dia berkata.

"Siapa sebenarnya pemuda ini? Kenapa menanyakan hal itu?! Melihat gerak-geriknya dia pemuda berilmu. Menilik tampangnya dia seorang yang beringas dan kejam. Tapi pertanyaannya itu yang membuatku heran     Ah, Pendekar Mata Ke-

ranjang.... Di mana dia saat ini? Sebenarnya....

Ah, aku tak pantas mengatakan hal itu     Aku

sudah...," si gadis tak meneruskan kata hatinya. Dia terlihat menarik napas dalam-dalam.

"Aku melihat perubahan wajahmu. Aku yakin kau mengenalnya. Harap kau jawab pertanyaanku!" Dewa Maut berkata, lalu melangkah dua tindak ke depan.

"Hmm.... Aku harus mengetahui dahulu apa tujuannya manusia ini! Aku khawatir dia mempunyai niat tidak baik!" setelah membatin begitu si gadis berkata.

"Apa hubunganmu dengan Pendekar Mata Keranjang?!"

"Itu bukan jawaban!" sergah Dewa Maut. "Aku ingin jawaban bukan pertanyaan!"

"Hmm.... Rupanya dia memang punya niat jelek!" lalu si gadis anggukan kepala dan berkata.

"Aku memang tak pernah bertemu dengan pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang. Namun apa yang pernah kudengar dari orang-orang yang pernah bertemu dengannya, pemuda itu adalah seorang pemuda banci!"

"Begitu?!" gumam Dewa Maut seraya angukkan kepalanya. Setelah memandang sejenak, dia berujar datar. "Silakan teruskan perjalanan!"

Sesaat si gadis termangu. Namun tak lama kemudian berpaling pada anak laki-laki di sampingnya dan memberi isyarat dengan angukkan kepala. Tanpa berkata-kata lagi, kedua penunggang ini hela kuda masing-masing meninggalkan tempat itu.

"Penyair Berdarah jahanam! Kau telah berkata dusta padaku! Kau akan tahu akibatnya!" ujar Dewa Maut sambil palingkan wajah mengikuti arah kepergian dua penunggang kuda.

"Aku menangkap perubahan pada air muka gadis itu. Hm.... Apakah dia...." Dewa Maut tak meneruskan membatin. Dia cepat berkelebat meninggalkan tempat itu.

* * * Kedua penunggang kuda terus memacu kuda tunggangannya dengan cepat. Pada suatu tempat yang sepi, mendadak si gadis menarik tali kekang kudanya hingga ladam kaki kudanya menggeruk tanah dan membentuk empat garis berlobang. Tanah berdebu mengepul dan membumbung ke udara.

Melihat si gadis hentikan kuda tunggangannya, si anak laki-laki ikut hentikan kudanya. Kembali debu mengudara dan menutupi pemandangan sejenak.

Begitu debu sirap, si gadis turun dari punggung kuda. Lalu memberi isyarat pada anak laki-laki untuk mengikutinya. Dengan sekali loncat, si anak laki-laki telah berada di belakangnya dan mengikuti langkahnya yang berjalan ke arah sebuah pohon besar berdaun rindang.

"Kita istirahat dahulu. Begitu matahari menggelincir dan tidak begitu panas, kita teruskan perjalanan," kata si gadis lalu duduk bersandar pada batang pohon. Anak laki-laki itu tak mengeluarkan suara. Dia hanya anggukan kepala lalu ikut duduk tak jauh dari si gadis.

Untuk beberapa saat lamanya, si gadis memandangi wajah si anak laki-laki. Dia terlihat menarik napas dalam-dalam. Lalu alihkan pandangannya ke jurusan lain.

"Betapa malang nasibmu. Harus lahir ke dunia tanpa seorang ayah.... Dan lebih nista lagi, penanam benihmu adalah seorang durjana. Manusia sesat dari kaum persilatan yang di sanasini cuma bikin keonaran. Tapi, bagaimanapun juga aku harus mengatakannya padamu. Kau telah besar. Kau sendiri nantinya yang mengambil jalan. Hm...,"

Si gadis lantas berpaling lagi pada anak laki-laki yang masih duduk dengan sesekali mempermainkan julaian rambutnya. Setelah menarik napas panjang mengatasi segala perasaan yang menghimpit dadanya, dia buka mulut.

"Abilowo.... Sudah saatnya aku mengatakan padamu tentang hal yang selama ini sering kau tanyakan "

Si anak laki-laki yang dipanggil Abilowo berpaling. Dia hanya tersenyum tanpa mengeluarkan kata-kata.

"Ayahmu sebenarnya adalah...," sejenak si gadis berbaju kuning ini hentikan ucapannya, setelah menarik napas dalam-dalam dia menyambung. Suaranya berubah bergetar.

"Seorang laki-laki bernama Malaikat Berdarah Biru! Namun jangan kau tanyakan di mana dia berada. Aku telah lama menyelidik, namun hingga saat ini aku tak berhasil mengetahuinya "

"Tapi dia masih hidup, bukan?!" untuk pertama kalinya Abilowo buka suara.

Si gadis gelengkan kepalanya perlahan. "Aku belum dapat memastikan. Hanya ka-

bar yang terakhir sampai padaku, dia berhasil meloloskan diri saat terjadi pertempuran dengan Pendekar Mata Keranjang. Sejak saat itu pula dia tidak ada kabar beritanya "

"Malaikat Beldalah Bilu.... Hmm.   Kalau

tidak salah, menulut apa yang pelnah kudengal daii Lestu Canggil Lumekso, Malaikat Beldalah Bilu adalah seolang tokoh limba pelsilatan belilmu tinggi. Dia mempunyai sebuah senjata pusaka belupa sebuah kipas hitam. Apa betul?!"

"Apa yang kau dengar itu betul. Tapi kau jangan salah tangkap. Meski dia berilmu tinggi, dia seperti halnya bekas gurumu yang telah tewas itu, adalah manusia yang salah mengambil jalan!" "Maksudnya...?!" tanya Abilowo tak men-

gerti.

"Dia berpihak pada orang-orang golongan

sesat! Bahkan dia adalah salah satu dari pimpinannya sebelum dapat ditumpas oleh Pendekar Mata Keranjang!"

"Abilowo! Tugasmu sekarang adalah mencari sekaligus membunuhnya! Karena dia telah mengabaikanmu. Dia manusia tidak bertanggung jawab yang tega menelantarkan kau dan aku! Kau dengar?!"

"Aku dengal. Dan akan kulakukan apa yang kau pelintahkan!" ujar Abilowo tandas.

"Bagus! Tapi, kau harus tetap berhati-hati menghadapinya. Karena selain dikenal sebagai seorang berilmu tinggi, dia juga adalah seorang licik!"

Abilowo anggukan kepala. Si gadis berbaju kuning ketat yang bukan lain adalah Putri Tunjung Kuning, ibu kandung Abilowo akibat hubungan paksa yang dilakukan Malaikat Berdarah Biru menghela napas panjang merasa lega karena telah mengutarakan hal yang selama ini dipendam dan ditutupnya rapat-rapat (Mengenai terjadinya hubungan antara Putri Tunjung Kuning dengan Malaikat Berdarah Biru, silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episede : "Pewaris Pusaka Hitam").

Putri Tunjung Kuning tengadahkan kepala, lalu bergerak bangkit.

"Kita lanjutkan saja perjalanan ini. Kita tak usah menunggu tergelincirnya matahari!" katanya. Lalu melangkah menuju ke arah kuda tunggangannya.

"Tunggu!" tiba-tiba Abilowo berseru.

"Ada yang masih ingin kau tanyakan?!" tanya Putri Tunjung Kuning seraya berpaling. Abilowo anggukan kepala.

"Hmm. Mumpung masih di sini, lekas ka-

takan!"

"Saat bertemu dengan laki-laki tadi, kenapa kau sebutkan bahwa Pendekar Mata Keranjang adalah seorang banci? Apa betul dia seorang banci?!"

Putri Tunjung Kuning tertawa perlahan. "Sebenarnya hal itu tak usah kau tanyakan

padaku. Kaupun pernah bertemu dengannya. Menurutmu apakah dia laki-laki...," Putri Tunjung Kuning putuskan ucapannya, ekor matanya melirik tajam ke samping kanan. Tiba-tiba dia putar tubuhnya setengah lingkaran. Matanya menyapu berkeliling, lalu terpaku pada sebuah batu besar. Lalu dia berteriak lantang.

"Orang di balik batu! Lekas unjukkan dirimu!" kan. Tak ada suara jawaban, tak terlihat gera"Bagus! Rupanya kau ingin cari mampus!" Putri Tunjung Kuning Menggeram.  Lalu angkat

kedua tangannya dan serta-merta dihantamkan pada batu besar itu.

Dua larik sinar kuning melesat. Byarrr!

Batu besar yang terkena hantaman tangan Putri Tunjung Kuning hancur berkeping-keping dan langsung bertaburan ke udara.

Bersamaan dengan melesatnya sinar kuning dan sejengkal lagi pukulannya itu menghajar batu, sesosok bayangan berkelebat dari balik batu, dan tahu-tahu telah tegak berdiri di hadapan Putri Tunjung Kuning.

Putri Tunjung Kuning tersirap dan tersurut dua langkah ke belakang, sementara Abilowo cepat melompat dan menghadang sosok di hadapan Putri Tunjung Kuning.

SEMBILAN

ABILOWO angkat kedua tangannya tinggitinggi. Siap hendak lepaskan pukulan. Melihat hal ini Putri Tunjung Kuning segera melangkah menjajari dan memberi isyarat agar Abilowo tidak melakukan serangan.

Abilowo perdengarkan dengusan tanda tak senang. Namun akhirnya dia turunkan kedua tangannya.

"Kenapa kau mengikuti kami?!" bentak Putri Tunjung Kuning.

Orang yang dibentak, yang ternyata adalah laki-laki muda mengenakan jubah hitam yang melapis baju warna putih bergambar pintu gerbang yang bukan lain adalah Dewa Maut tidak segera memberikan jawaban. Hanya sepasang matanya yang tajam menatap satu persatu pada Putri Tunjung Kuning dan Abilowo. Diam-diam dalam hati pemuda ini bertanya-tanya siapa sebenarnya dua orang di hadapannya ini. Sewaktu bertemu tadi, dia dapat menangkap perubahan pada Putri Tunjung Kuning saat dia menyebut nama Pendekar Mata Keranjang 108. Merasa si gadis menyembunyikan sesuatu, diam-diam dia mengikuti perjalanan Putri Tunjung Kuning dan Abilowo. Namun sayang, dia hanya lamat-lamat mendengar percakapan dua orang ini. Namun demikian dia masih dapat menangkap ucapan Putri Tunjung Kuning yang menyebut nama Malaikat Berdarah Biru. Dan ketika Putri Tunjung Kuning menjawab pertanyaan Abilowo, mungkin karena ingin mendengar lebih jelas, dia membuat gerakan. Namun berakibat fatal. Selain gagal mendengarkan ucapan terakhir Putri Tunjung Kuning, dia pun kepergok dan terpaksa menghambur keluar begitu batu tempatnya bersembunyi dihantam hancur oleh Putri Tunjung Kuning.

"Kalau kau tak menjawab, jelas kau ingin membuat masalah dengan kami! Dan niatmu pasti jahat, karena sengaja mencuri dengar pembicaraan orang!" ujar Putri Tunjung Kuning masih dengan suara keras.

Dewa Maut tertawa pendek. Dengan suara yang juga keras dia berucap.

"Silakan kau duga niatku! Terserah kau katakan ingin membuat masalah atau tidak. Yang jelas kau telah menyebut nama Malaikat Berdarah Biru. Kau berarti mengenalnya. Dan kau harus beri keterangan padaku tentang orang itu!"

"Hmm.... Apa sebenarnya tujuan manusia ini? Tadi menanyakan Pendekar Mata Keranjang, sekarang bertanya tentang manusia keparat itu! Hmm...," Putri Tunjung Kuning bergumam.

"Apa maksudmu sebenarnya menanyakan tentang orang itu, he?!"

"Itu bukan urusanmu! Katakan saja di mana dia berada!"

"Bial kupecahkan mulutnya agal tak seenaknya bicala!" kali ini Abilowo ikut angkat bicara.

"Kau tak mau katakan apa maksudmu. Jangan harap kau akan mendengar keterangan yang kau pinta! Lekas tinggalkan tempat ini!"

"Akan kuturuti permintaanmu, setelah kau beri keterangan!" sahut Dewa Maut seraya menatap pada Abilowo.

"Kalau aku tak memberi keterangan?!" tanya Putri Tunjung Kuning seakan menantang.

Dewa Maut tengadahkan kepala, lalu memperdengarkan tawa mengekeh panjang.

"Akan kukorek mulutmu dengan paksa!

Bahkan kedua mulutmu sekaligus!"

Mendengar ucapan Dewa Maut, berubahlah paras wajah Putri Tunjung Kuning. Sepasang matanya membeliak besar sementara tubuhnya terguncang menahan amarah. Serta-merta kedua tangannya diangkat. Namun sebelum kedua tangannya melepaskan pukulan, Abilowo telah melompat ke depan dan langsung kirimkan jotosan ke arah kepala dan perut Dewa Maut.

Dua rangkum angin keras telah menggebrak mendahului sebelum kedua tangan itu menggebuk sasaran.

Dewa Maut sunggingkan senyum mengejek. Dia tak bergerak dari tempatnya.

Prakkk!

Dua pasang tangan beradu keras di udara tatkala Dewa Maut angkat tangannya menangkis serangan lawan. Pemuda ini kontan tersurut dua langkah ke belakang dengan dahi mengkerut. Air mukanya berubah dengan sedikit meringis menahan sakit dan kelu pada kedua tangannya yang baru saja beradu. Sementara Abilowo hanya bergeser satu langkah ke samping sambil menyeringai ganas.

"Setan alas! Siapa anak itu? Tenaga dalamnya sangat kuat. Dan dia sepertinya tak merasakan sakit, padahal tanganku terasa kebas!" batin Dewa Maut lalu lipat gandakan tenaga dalamnya dan siap lancarkan pukulan.

Di seberang, Putri Tunjung Kuning segera melangkah menjauh begitu Abilowo melakukan serangan. Dari tempatnya berdiri sekarang, Putri Tunjung Kuning memperhatikan Abilowo dengan pandangan bangga.

"Anak hebat. Hanya sayang bernasib tidak baik! Hmm.... Seandainya dia bukan anak...," Putri Tunjung Kuning tak mampu teruskan kata hatinya. Yang dilakukan selanjutnya adalah menarik napas dalam-dalam seraya gelengkan kepalanya.

Di depan, melihat lawannya mempunyai tenaga dalam kuat, Dewa Mau tak mau lagi kedahuluan diserang. Sebelum lawan lakukan serangan, dia telah menarik kedua tangannya dan langsung dihantamkan ke depan.

Wuuutt! Wuuuttt!

Dua asap merah menyambar cepat dengan hamparkan hawa panas menyengat.

"Ambrol dadamu!" desis Dewa Maut begitu mengetahui lawan tidak membuat gerakan menghindar.

Di depan, Abilowo sunggingkan senyum penuh ejekan. Sejengkal lagi serangan lawan menghantam, dia sentakkan kedua tangannya.

Bummm!

Ledakan dahsyat segera terdengar menghentak di tempat itu. Tanah berhamburan ke udara. Karena Abilowo bergerak menyentak setelah serangan lawan dekat, maka tak ampun lagi tubuhnya yang besar tegap mencelat ke belakang sampai dua tombak dan berkaparan di atas tanah. Sementara Dewa Maut hanya terhuyunghuyung sebentar lalu segera dapat kuasai diri.

Begitu hamburan tanah sirap, Dewa Maut segera melangkah dua tindak ke depan. Bibirnya tersenyum melihat sosok lawannya terkapar di tanah. Dia menduga jika lawan sudah tidak akan bisa bangkit lagi.

Namun dugaan Dewa Maut meleset. Baru saja senyumnya tersungging, Abilowo bergerak bangkit, membuat matanya mendelik besar. Bukan hanya merasa heran karena tubuh lawannya tidak cidera, tapi juga merasa aneh jika pukulannya yang mampu membuat batu besar hancur lebur tidak dapat mengoyak barang selembar dari pakaian lawannya! Diam-diam Dewa Maut terguncang juga. Dia segera siapkan pukulan sakti 'Dewa Membakar Bumi'.

Di depan, begitu bangkit sepasang mata Abilowo yang telah berubah merah berkilat-kilat menyengat nanar ke arah Dewa Maut. Mulutnya komat-kamit. Kedua tangannya dikepalkan dan disentakkan satu sama lain. Bersamaan dengan itu dari mulutnya terdengar bentakan keras. Tubuhnya lalu berputar dan serta-merta kedua tangannya dihantamkan.

Wuuutt! Wuuuttt!

Dewa Maut berteriak keras. Bukan hanya karena terdorong keras ke belakang namun juga karena terkejut ketika dari telapak tangan lawan menyembur gelombang dahsyat yang mengeluarkan hawa sangat panas!

Seraya menahan rasa tercengang, Dewa Maut cepat silangkan kedua tangan sejajar dada dan dengan cepat pula didorong ke depan.

Mendadak asap merah melingkupi tempat itu, udara bertambah panas. Bersamaan dengan itu asap merah laksana bara api menyambar.

Daarrr!

Dua pukulan bentrok di udara keluarkan suara meledak keras. Tubuh Dewa Maut mencelat dan jatuh berlutut. Parasnya berubah pucat pasi, sementara tubuhnya bergetar keras. Dari sudut bibirnya keluarkan darah. Dia cepat salurkan tenaga dalamnya pada dadanya yang berdenyut tak karuan dan nyeri.

Setelah dapat mengatur jalan napasnya, Dewa Maut cepat bangkit dan memandang ke depan.

"Gila! Hampir tak dapat dipercaya!" seru Dewa Maut dengan mata dipentangkan, karena ternyata lawan telah pula berdiri tanpa cidera sedikit pun! Malah kini telah melangkah maju dengan senyum dingin dan seringaian ganas.

"Setan! Agaknya dia tak mempan pukulan. Tapi pasti punya kelemahan. Hmm. Mung-

kin...," Dewa Maut kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Lalu menyongsong Abilowo dan kedua tangannya dihantamkan ke arah kepala. Abilowo merunduk. Kedua tangannya diangkat untuk melindungi kepalanya. Namun Dewa Maut yang telah memperhitungkan serangannya segera tarik kedua tangannya, tangan kanan diayun ke bawah menelusup ke arah lambung. Sementara tangan kiri dipalangkan ke depan untuk menangkis kedua tangan Abilowo yang cepat dihantamkan ke bawah begitu mengetahui lawan menarik kedua tangannya.

Prakkk! Bukkk!

Terdengar bentroknya tangan. Lalu disusul dengan terdengarnya suara terhantamnya benda. Abilowo terbanting ke tanah terkena hajaran tangan kanan Dewa Maut yang menelusup ke lambungnya.

Mengetahui lawan roboh terbanting, Dewa Maut tak memberi kesempatan, dia cepat membungkuk dan hantamkan kedua tangannya sekaligus!

Abilowo menggeliat, lalu gerakan tubuhnya bergulingan, hingga serangan Dewa Maut hanya menghajar tanah. Tanah itu kontan bergetar dan berlobang dalam!

Dewa Maut gertakan rahang. Melihat lawan masih bisa menghindar dia cepat memburu. Kaki kanannya langsung ditendangkan ke arah kepala.

Bukkk!

Kepala Abilowo terdongak keras terkena sapuan kaki Dewa Maut. Bersamaan dengan itu tubuhnya mencelat sampai dua tombak. Meski Putri Tunjung Kuning tahu jika Abilowo tak akan cidera namun melihat apa yang terjadi mau tak mau dari mulutnya terdengar jeritan.

"Hmm.... Kenapa tidak gadis itu saja kujadikan sandera? Dia pasti tidak akan berkutik!" pikir Dewa Maut. Ekor matanya lalu melirik pada Putri Tunjung Kuning. Dan begitu dilihatnya Abilowo masih belum bangkit, dia cepat melompat ke arah Putri Tunjung Kuning.

Putri Tunjung Kuning terkejut. Dan sertamerta kedua tangannya bergerak untuk menangkis sergapan tangan Dewa Maut. Namun gerakannya kalah cepat dengan gerakan Dewa Maut. Hingga sebelum dia sempat bergerak, tangan Dewa Maut telah menelikung dan mencekal pinggangnya. Tanpa menunggu lagi tangan Dewa Maut segera bergerak berputar Putri Tunjung Kuning keluarkan seruan tertahan. Tubuhnya terbanting di atas tanah.

Ketika Putri Tunjung Kuning hendak bergerak bangkit, Dewa Mau segera angkat kaki kanannya dan ditekankan pada perut Putri Tunjung Kuning, hingga gadis ini menjerit kesakitan tanpa bisa bergerak lagi.

"Jahanam! Kuputuskan kakimu!" teriak Putri Tunjung Kuning marah. Tangan kanan kirinya segera bergerak menghantam. Namun bersamaan dengan itu kaki kanan Dewa Maut cepat bergerak lagi. Hingga kedua tangan Putri Tunjung Kuning mental lagi ke belakang dan menghantam tanah. Untuk kedua kalinya dari mulut gadis ini keluar seruan keras.

Dewa Maut yang segera menekan perutnya tertawa bergelak.

"Bangsat! Apa yang hendak kau lakukan?!" teriak Abilowo begitu bangkit dan mengetahui apa yang terjadi.

Dewa Maut berpaling. Bibirnya yang mengeluarkan darah diusap-usap dengan punggung tangannya. Lalu tersenyum dingin.

"Berani bergerak dari tempatmu, nyawa manusia ini kubuat lenyap!" gertak Dewa Maut sambil tekan kakinya lebih ke bawah di perut Putri Tunjung Kuning. Putri Tunjung Kuning mengerang kesakitan.

Abilowo memandang tajam. Namun tak berani bergerak dari tempatnya, membuat Dewa Maut perdengarkan tawa mengekeh panjang. Lalu tanpa pedulikan tatapan mata Abilowo, Dewa Maut memandang ke bawah.

"Kau punya dua pilihan! Memberi keterangan tentang Malaikat Berdarah Biru atau perutmu akan jebol!" teriaknya sambil menekan lagi perut Putri Tunjung Kuning dengan kakinya.

"Pengecut licik! Jangan mimpi kau akan mendengarnya!" seru Putri Tunjung Kuning dengan suara tersengal.

"Baik. Rupanya kau ingin merasakan bagaimana rasanya perut jebol!" gumam Dewa Maut lalu tekan lebih keras lagi kakinya. Putri Tunjung Kuning meraung terputus-putus. Abilowo gegatkan rahangnya. Mulutnya berkemik, tubuhnya berguncang menahan marah. Dia perlahan melangkah. Namun baru saja hendak bergerak, Dewa Maut tekan lagi kakinya dan berteriak lantang. "Maju selangkah lagi, putus nyawanya!" se-

raya berteriak tangan Dewa Maut diangkat dan siap dihantamkan pada kepala Putri Tunjung Kuning. Membuat Abilowo urungkan melangkah. Anak ini lalu bantingkan kakinya melampiaskan amarah. Tanah itu langsung bergetar keras.

"Setan alas! Dia tak mempan pukulan. Tenaganya begitu kuat. Padahal wajahnya masih menampakkan kekanak-kanakan. Bagaimana bisa terjadi?" bisik Dewa Maut saat merasakan kakinya ikut bergetar.

"Aku harus cepat mengetahui apa kelemahannya, jika tidak nantinya pasti akan menjadi batu penghalang! Sekarang aku harus segera selesaikan urusan ini!"

Dewa Maut lantas membungkuk, dengan suara keras dia berteriak.

"Waktumu cuma sedikit. Jelaskan padaku siapa manusia bergelar Malaikat Berdarah Biru itu! Dan di mana aku dapat menemukannya!"

Sepasang mata Putri Tunjung Kuning berkilat-kilat marah, dadanya bergerak turun naik, membuat mata Dewa Maut bergerak membeliak. Rupanya gelegak darah muda pemuda ini perlahan mulai merasuki dadanya, hingga tangannya bergerak dan....

Bret! Breeettt! Pakaian yang dikenakan Putri Tunjung Kuning robek di bagian dadanya. Buah dada yang kencang membusung dan putih terpentang. Dewa Maut makin mengekeh dengan sepasang mata mendelik. Sementara Abilowo menggeram dan hantamkan kedua tangannya satu sama lain.

"Kau tak mau buka suara tak jadi apa. Aku akan buka pakaianmu. Ingin lihat bagaimana mulusnya tubuhmu! Ha.... Ha.... Ha...!'

Tanpa lepaskan injakan kakinya pada perut Putri Tunjung Kuning, tangan kirinya bergerak ke belakang hendak menyingkap pakaian bagian bawah gadis ini.

Abilowo habis kesabarannya. Dia kerahkan tenaga dalam. Sementara tangan Dewa Maut telah mulai menyingkap pakaian bawah Putri Tunjung Kuning. Gadis ini memaki habis-habisan. Namun Dewa Maut tak peduli.

Paha Putri Tunjung Kuning telah terlihat. Dewa Maut makin bergelak, sementara Abilowo siap lepaskan pukulan.

Saat itulah tiba-tiba ada seseorang berseru. Lalu menderu angin dahsyat dengan keluarkan suara menggemuruh. Dewa Maut berteriak tegang. Gerakan tangannya yang hendak menyingkap pakaian Putri Tunjung Kuning terpaksa diurungkan karena sapuan angin dahsyat itu menyambar ke arahnya dan serta mendorong tubuhnya hingga mental sampai beberapa langkah. Di seberang sana, Abilowo urungkan pukulannya. Sambil kertakan rahang, Dewa Maut segera berpaling ke arah sumber datangnya sambaran angin yang mampu membuat tubuhnya terpental bahkan hampir saja terjungkal jika dia tidak cepat membuat gerakan sentakan kedua tangannya hingga keseimbangannya terkendali.

Di lain pihak, merasa kaki orang telah tidak lagi di atas perutnya, Putri Tunjung Kuning yang juga merasakan sambaran angin dahsyat hingga tubuhnya sedikit terseret ke atas segera bangkit, lalu mundur tiga langkah dengan wajah berpaling pada asal sambaran angin yang telah membuat mentalnya tubuh Dewa Maut.

Baik Dewa Maut maupun Putri Tunjung Kuning serta Abilowo melihat seorang pemuda mengenakan pakaian hijau yang melapis baju warna kuning lengan panjang. Rambutnya panjang dan dikuncir ekor kuda, memandang tak berkesip ke arah jurusan lain!

SEPULUH

PENDEKAR Mata Keranjang!" seru Putri Tunjung Kuning dalam hati. Dia tidak berani mengucapkan di mulut. Karena dia khawatir Dewa Maut akan mendengarnya. Dia merasa jiwa Dewa Maut masih menganggap bahwa pemuda yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 adalah seorang pemuda banci seperti apa yang dikatakannya.

Dan pura-pura tak mengenal, Putri Tunjung Kuning segera maju dua tindak ke depan. Seraya membungkukkan sedikit tubuhnya dan menutupi dadanya yang terbuka, dia berseru.

"Tuan penolong. Terima kasih, aku berhutang jasa padamu!"

Pemuda berpakaian hijau dan memang Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 berpaling, tersenyum sekilas lalu memandang tajam pada Dewa Maut yang juga sedang memandangnya. Lalu berujar.

"Aku tidak merasa menolongmu! Kau salah alamat mengatakan terima kasih padaku!"

Baik Putri Tunjung Kuning, Dewa Maut, serta Abilowo terkejut mendengar ucapan Pendekar 108. Dan sebelum keheranan ketiga orang ini lenyap, Pendekar 108 berpaling lagi ke samping. Lalu berseru,

"Orang di balik pohon! Keluarlah! Kenapa kau malu-malu memperlihatkan diri?!"

Ketiga orang di situ menindih rasa heran masing-masing dan diam menunggu dengan mata masing-masing mengarah pada sebuah pohon.

Sebenarnya Aji sendiri tak tahu siapa adanya orang di balik pohon, hanya saja sewaktu dia hendak lepaskan pukulan untuk mencegah gerakan tangan Dewa Maut yang hendak menyingkap pakaian Putri Tunjung Kuning tiba-tiba dari balik pohon menyambar angin dahsyat, hingga dia urungkan niat.

Karena belum juga ada gerakan dari balik pohon, Pendekar 108 kembali ulangi teriakannya. Mendadak terdengar suara cekikikan. Bersamaan dengan itu dari balik pohon muncul seseorang.

Dia adalah seorang pemuda. Wajahnya elok. Memakai bedak dan bibirnya dipoles merah. Rambutnya yang panjang dikepang dua. Dia melangkah keluar dari balik pohon. Langkahnya lemah gemulai, tangannya bergerak seakan melambai. Sementara pinggulnya digoyang-goyangkan dan kepalanya disentak-sentakkan ke depan.

"Setan Pesolek!" gumam Pendekar 108 dengan mata terbeliak. Mendadak dada murid Wong Agung ini berdebar tak karuan. Keningnya mengernyit dengan mata melirik pada Dewa Maut.

"Sialan! Tak kusangka dia yang muncul! Bagaimana ini? Apakah Dewa Maut telah mengetahui sandiwara yang kulakukan bersama Setan Pesolek? Apakah dia sudah tahu, bahwa orang yang dicarinya selama ini adalah aku? Seandainya bukan Setan Pesolek yang muncul, mungkin aku masih bisa mungkir.... Ah, apa harus dikata. Memang sudah saatnya manusia itu kuhadapi!" pikir Pendekar 108 lalu berpaling lagi pada Setan Pesolek.

"Siapa orang ini? Hmm.... Baru kali ini aku bertemu dengannya. Kemunculannya bersamaan dengan Pendekar Mata Keranjang. Bukan tak mungkin dia adalah sahabatnya. Hmm.... Aku tahu sekarang, kenapa manusia jahanam itu menanyakan laki-laki atau banci tentang Pendekar Mata Keranjang. Pasti kedua orang ini telah mempermainkan Dewa Maut! Dan melihat pukulannya, aku yakin meski tampak seperti perempuan, dia memiliki kepandaian tinggi...," batin Putri Tunjung Kuning, lalu angkat bicara.

"Kalau kau yang telah menolongku, terimalah ucapan terima kasihku!"

Pemuda yang baru muncul dan memang Setan Pesolek memandang sejenak. Lalu tertawa cekikikan dan menyibakkan rambut pada tengkuknya dengan menyentakkan sedikit kepalanya.

Sementara itu, melihat siapa yang muncul dan baru saja membuat tubuhnya mental, tubuh Dewa Maut yang telah menahan marah terguncang keras. Tanpa banyak bicara lagi, pemuda ini segera berkelebat dan tahu-tahu telah tegak enam langkah di hadapan Setan Pesolek.

"Hmm.... Berarti pemuda berbaju hijau ini berdusta padaku. Dia mengatakan tak kenal dengan pemuda banci ini. Tapi mustahil jika muncul secara bersamaan tapi tak kenal. Beberapa waktu silam mereka juga muncul bersamaan. Hm....

Jangan-jangan dua manusia ini mempermainkan aku! Jahanam!" rutuk Dewa Maut dalam hati. Kepalanya lantas lurus menghadap Setan Pesolek. Tangannya bergerak dengan jari telunjuk mengarah tepat pada wajah Setan Pesolek.

"Hari ini nyawamu tidak akan lari lagi dari tanganku!"

Habis berkata begitu, kepalanya berpaling pada Pendekar Mata Keranjang. Dia keluarkan suara membentak garang.

"Urusan kita belum tuntas! Jangan cobacoba bergerak dari tempatmu!"

Pendekar 108 jerengkan sepasang matanya. Lalu usap-usap hidungnya. Lalu seenaknya saja duduk menggelosoh tanpa memandang pada Dewa Maut.

"Hmm.... Sebenarnya aku ingin menghajar pemuda ini. Juga ingin aku mengobrol banyak dengan Pemuda Mata Keranjang. Hmm. Pemuda

itu tak berubah. Tetap acuh tak acuh meski nyawanya diancam orang.... Ah, seandainya aku dipertemukan dalam suasana yang tidak demikian. Aneh, kenapa aku tetap merindukannya meski aku sadar tak mungkin harapanku tercapai?" Putri Tunjung Kuning berkata dalam hati. Lalu menoleh pada Abilowo. "Sebaiknya aku meneruskan perjalanan. Suatu saat nanti aku pasti akan bertemu lagi. Urusan Abilowo kurasa lebih penting untuk saat ini "

Memikir demikian, Putri Tunjung Kuning lantas melangkah perlahan ke arah Abilowo.

"Aku makin yakin. Abilowo pastilah anak Putri Tunjung Kuning. Tapi siapa bapaknya?! Ah...," Aji garuk-garuk tengkuknya. Pandangannya lantas beralih pada Dewa Maut karena saat itu terdengar pemuda berjubah hitam itu membentak pada Setan Pesolek.

"Mata Keranjang! Terimalah kematianmu!" Tangan Dewa Maut telah diangkat, siap ki-

rimkan pukulan.

Di depannya, Setan Pesolek mengkerut seakan merasa ngeri. Namun paras wajahnya tak sedikit pun menunjukkan rasa takut! Tangan kanannya dilambaikan sambil berseru nyaring.

"Tunggu...!"

Dewa Maut urungkan niat untuk kirimkan serangan, namun tangannya tetap siap siaga.

"Aku tak akan melawan. Karena seseorang telah mengatakan padaku, jika kematianku memang ada di tanganmu. Namun sebelum aku tewas, bolehkah aku tahu kenapa kau menginginkan nyawaku?!" tanya Setan Pesolek. Lalu selinapkan tangan kanannya ke balik pakaiannya.

"Hmm.... Berarti manusia itu masih menganggap Setan Pesolek sebagai Pendekar Mata Keranjang.... Ha.... Ha.... Ha.... Dasar manusia bodoh!" kata Pendekar 108 dalam hati seraya terus memperhatikan. Diam-diam dia juga kerahkan tenaga dalamnya khawatir sewaktu-waktu Dewa Maut tiba-tiba menghantamnya.

Di seberang sana, mendengar ucapan Setan Pesolek, Dewa Maut keluarkan tawa ngakak.

"Kau bertanya kenapa aku menginginkan nyawamu? Sayang, ini bukan saat dan tempatnya untuk bicara soal itu. Nanti saja kau tanyakan pada teman-teman barumu di kubur!"

"Ah, sungguh malang nasibku. Sampai ingin tahu kenapa aku harus mati saja tak dikasih tahu.'" Setan Pesolek mengeluh dengan wajah memberengut. Tangan kanannya yang tadi menyelinap lalu ditarik keluar.

Dewa Maut menduga Setan Pesolek hendak mengeluarkan kipas ungunya. Ternyata yang tampak di tangan kanan Setan Pesolek adalah sebuah batu putih berkilat. Sebuah batu putih yang bulat digunakan untuk bercermin.

"Keparat! Mana kipas miliknya itu? Jangan-jangan disimpan di satu tempat. Ah, tak mungkin. Kipas itu adalah sebuah senjata. Ke mana-mana pasti akan dibawa!" pikir Dewa Maut lalu memperhatikan Setan Pesolek dengan pandangan sinis, karena saat itu Setan Pesolek angkat cermin batunya dan didekatkan pada wajahnya.

"Sebelum mati, boleh aku bercermin dahulu?!" tanya Setan Pesolek seraya mengerling pada Dewa Maut lalu beralih pada Pendekar Mata Keranjang.

Dewa Maut menjawab dengan dengusan. Sementara Aji balas mengerling dan menahan tawa. Murid Wong Agung ini lantas mendehem beberapa kali. Dewa Maut menoleh.

"Sobatku Dewa Maut!" kata Pendekar 108 ketika dilihatnya Dewa Maut menoleh padanya. "Aku tak mengerti. Kenapa kau katakan urusan kita belum tuntas. Urusan apa sebenarnya?!"

"Tutup dulu mulutmu, Bangsat! Nanti setelah temanmu ini tewas, kau akan mendapat giliran!"

"Jadi, aku juga akan menyusul mati?!" "Kalau kau terus bicara, kubuat kau mati

terlebih dahulu!" hardik Dewa Maut. Pendekar 108 cepat tekap mulutnya dengan menggunakan telapak tangan. "Sial! Jadi aku di sini menunggu kematian...," kata Pendekar 108 dengan suara sengau, karena mulutnya tertutup telapak tangannya.

Dewa Maut katupkan rahangnya. Tangannya sebenarnya sudah gatal hendak menggebuk Pendekar 108, namun karena urusan dengan Setan Pesolek yang dikira Pendekar Mata Keranjang jauh Iebih penting, karena dengan tewasnya Pendekar Mata Keranjang maka salah satu tugasnya membalaskan dendam leluhurnya telah dilakukan, maka untuk sementara kegeraman pada Aji ditahannya.

"Mata Keranjang! Kau bisa teruskan berdandan di akhirat nanti!" bentak Dewa Maut ketika dilihatnya Setan Pesolek terus gerak-gerakan wajahnya dan usap-usap bibirnya, hingga mulutnya belepotan merah, membuat Pendekar 108 terpingkal-pingkal.

"Orang mau mati, tingkahnya memang aneh-aneh...," ujar Pendekar 108 lalu tekap mulutnya kembali karena Dewa Maut melirik padanya dengan tubuh makin terguncang.

Setan Pesolek seakan tidak mendengar bentakan orang. Dia terus memandangi wajahnya dibatu cerminnya sambil tersenyum-senyum sendiri, namun sesekali ekor matanya melirik pada Pendekar 108.

Mendapati hal demikian, Dewa Maut habis kesabarannya. Tanpa keluarkan ucapan lagi, kedua tangannya yang sedari tadi telah siap kirimkan pukulan cepat dihantamkan ke arah Setan Pesolek.

Wuuutt! Wuuuttt!

Asap merah membara melesat keluar dari kedua tangan Dewa Maut. Asap ini bergerak cepat menyusur tanah.

Udara mendadak berubah panas menyengat. Tanah yang terlewati asap merah nampak terbelah serta berhamburan. Dewa Maut telah lancarkan jurus 'Dewa Membakar Bumi'.

Di depan sana, Setan Pesolek berseru seakan terkejut. Tangan kiri kanan segera desentakkan ke depan, hingga tubuhnya terdorong lima langkah ke belakang. Kedua tangannya lantas ditarik ke belakang, lalu seakan melambai, kedua tangannya didorong ke depan.

Dua gulung asap putih membentuk lingkaran aneh menderu kencang ke depan, memapak asap merah.

Tak ada suara yang terdengar ketika dua pukulan sakti itu bentrok. Hanya bersamaan dengan itu, tempat itu bergetar keras, tanah berhamburan ke udara. Asap putih bercampur merah melambung ke udara dan akhirnya lenyap. Namun di seberang kanan kiri, tubuh Dewa Maut dan sosok Setan Pesolek tampak sama-sama terhuyung-huyung. Kedua kaki Dewa Maut terlihat goyah dan bergetar hebat, sesaat kemudian pemuda ini jatuh terduduk dengan paras berubah pucat pasi dan tangan gemetaran serta menjadi merah melepuh. Di lain pihak, Setan Pesolek jatuh berlutut. Dari mulutnya terdengar erangan pelan. Pemuda berdandan mirip perempuan ini merasakan dadanya seakan hendak ambrol. Tubuhnya bergetar keras

Dewa Maut kumpulkan kembali tenaganya. Kedua matanya dipejamkan rapat-rapat. Mulutnya bergerak kemak-kemik. Sesaat kemudian, dengan masih tetap duduk dia keluarkan bentakan keras. Kedua tangannya didorong dengan telapak terkembang.

Gelombang angin menggebrak deras ke depan. Melingkar-lingkar membentuk pusaran. Lalu menukik deras ke bawah.

Setan Pesolek keluarkan jeritan tinggi. Tubuhnya berputar kencang mengikuti pusaran angin yang membungkus tubuhnya. Kedua tangannya tampak bergerak-gerak menghantam, namun pusaran angin itu tak dapat ditembusnya! Malah begitu kedua tangannya bergerak, putaran angin semakin kencang.

Merasa di atas angin, Dewa Maut keluarkan kekehan panjang. Lalu dia lipat gandakan tenaga dalamnya. Hingga putaran tubuh Setan Pesolek makin kencang dan karena derasnya, sosoknya seakan lenyap! Yang terlihat hanyalah putaran angin yang kencang dan menderu-deru.

Beberapa saat berlalu, Aji yang melihat hal demikian sangat khawatir. Dia beberapa kali beliakan matanya, mencari-cari sosok Setan Pesolek yang dibungkus angin pusaran.

Mungkin merasa lawan sudah tak berdaya terbungkus serangannya, Dewa maut sentakan kedua tangannya. Putaran angin yang membungkus tubuh Setan Pesolek melesat cepat ke depan dan menghajar sebuah pohon. Pohon itu langsung tumbang.

Dewa Maut bangkit berdiri, sepasang matanya mencari-cari sosok Setan Pesolek di selasela batang pohon yang tumbang. Pendekar 108 pun membeliakkan sepasang matanya, ikut mencari-cari.

Namun kedua orang ini tidak menemukan sosok Setan Pesolek.

"Kurang ajar! Kalau dia sudah mampus kenapa tak terdengar erangannya? Kalau hancur kenapa tak kutemukan serpihan tubuhnya?!" sungut Dewa Maut seraya melangkah ke arah tumbangnya pohon.

"Jahanam! Jelas sekali jika tadi tubuhnya tak berdaya dalam bungkusan pukulanku. Tapi ke mana bangsatnya?!"

"Heran. Apa tubuhnya hancur jadi abu, hingga potongan tubuhnya tak kelihatan. Atau...?!" Pendekar 108 gelengkan kepala. Namun hatinya masih khawatir, karena Setan Pesolek memang tak kelihatan batang hidungnya.

Yakin kalau lawan tidak ada, Dewa Maut kertakan rahang. Kepalanya mendongak. Dari mulutnya menyembur suara keras.

"Kalau kau masih hidup, tunjukan dirimu!

Jangan bersifat seperti pengecut!"

Tak ada sahutan, juga tak ada tanda-tanda akan munculnya Setan Pesolek. Dada Dewa Maut bergetar keras, kedua tangannya mengembang keluarkan suara gemeretakan. Marah di dadanya sudah tak dapat dibendung lagi. Dia berpaling ke tempat di mana tadi Putri Tunjung Kuning dan Abilowo berada. Namun kedua orang itu sudah tidak tampak lagi di tempatnya. Kini kepalanya berpaling pada orang yang masih ada di tempat itu. Dia melangkah mendekat.

"Hei! Kau yang harus menjadi ganti temanmu itu!"

Pendekar 108 surutkan langkah satu tindak ke belakang. Dia keluarkan keluhan seakan terkejut dan takut. Dengan wajah ditekuk, dia berujar.

"Sobatku Dewa Maut! Harap kau tak sangkut pautkan diriku dengan kejadian ini, Aku tak tahu apa-apa!"

"Kau banyak omong! Aku yakin kau adalah temannya! Terimalah kematianmu!" sentak Dewa Maut, lalu pukulkan kedua tangannya ke arah kepala Pendekar 108.

Pendekar 108 berseru keras, Seolah takut dia angkat tangannya untuk melindungi kepalanya. Namun ketika kedua tangan Dewa Maut sejengkal lagi menghajar sasaran, Pendekar 108 luruskan kedua tangannya.

Buk! Buk!

Bentrok dua tangan terjadi. Dewa Maut melengak kaget dan langsung surut satu langkah ke belakang. Tangannya yang baru saja bentrok terasa panas. Aliran darahnya seakan tersumbat. Sepasang matanya mendelik besar menatap pada Aji yang saat itu kibas-kibaskan kedua tangannya dengan meringis.

"Setan alas! Pemuda ini pandai berpurapura! Bentrokan tadi menunjukkan bahwa dia mempunyai ilmu! Aku tertipu!" rutuk Dewa Maut. Kemarahannya semakin menjadi-jadi.

"Siapa kau sebenarnya, Bangsat?!" bentaknya seraya mendelik angker.

"Ah, kau! Sudah beberapa kali kukatakan masih saja bertanya!" jawab Pendekar 108 seenaknya.

"Hmm.... Rupanya kau memang tak mau dikasih hati. Sebenarnya aku tadi mempunyai rencana bagus untukmu, tapi terpaksa kubatalkan!"

"Wah, jika begitu nasibku memang tidak baik!" timpal Pendekar 108 masih dengan acuh tak acuh.

"Betul! Dan kau akan membuktikannya!" hardik Dewa Maut. Kedua tangannya segera dipukulkan ke depan. Lepaskan pukulan sakti 'Dewa Membakar Bumi'.

Asap merah membara segera saja menggebrak deras ke arah Aji. Belum lagi asap itu menghajar sasaran, Dewa Maut telah dorong kedua tangannya kembali dengan telapak tangan terkembang. Kejap itu juga angin dahsyat yang membentuk lingkaran aneh berputar-putar lalu menukik ke arah Aji.

Pendekar murid Wong Agung ini tersirap mendapati serangan yang begitu ganas. Dia tak mau bertindak ayal, karena maklum jika Dewa Maut telah lancarkan pukulan andalannya. Sambil surutkan langkah satu tindak, dia kerahkan tenaga dalamnya pada kedua tangannya. Kedua tangannya seketika berubah menjadi biru berkilau. Dan serta-merta didorong pelan saja ke depan.

Wuuttt! Wuuuttt!

Dua berkas sinar biru melesat cepat lalu mengembang dan langsung melabrak lenyap asap merah. Namun pusaran angin tetap tak bisa terkikis. Pusaran yang melingkar-lingkar aneh itu terus menukik. Sebelum pusaran angin itu membungkus tubuh Pendekar 108, murid Wong Agung ini masih sempat hantamkan kedua tangannya hingga bersamaan dengan terbungkusnya tubuhnya, dua berkas sinar biru melesat ke arah Dewa Maut.

Di depan sana, Dewa Maut keluarkan seruan tegang. Karena dia masih kerahkan tenaga dalam untuk memutar kedua tangannya agar pusaran angin lebih kencang, hingga meski dia masih sempat menghindar dengan jatuhkan diri senjajar tanah, namun tak urung juga bahunya tersambar kembangan sinar biru. Sosoknya terguling ke tanah dengan jubah bagian bahunya langsung terbakar.

Di lain pihak, begitu sosok Dewa Maut terguling, pusaran yang membungkus Pendekar 108 terhenti. Namun tubuh Pendekar 108 tampak masih berputar. Murid Wong Agung ini merasakan kepalanya berjungkir balik. Pandangannya berkunang-kunang dan sesaat kemudian dia terhuyung-huyung lalu roboh bergedebukan ke atas tanah!

Seraya memegangi bahunya yang masih terasa panas dan nyeri, Dewa Maut bergerak bangkit. Lalu melangkah ke arah Pendekar 108. Sepasang matanya meneliti sejenak.

"Hmm.... Tubuhnya tak terbakar. Apakah dia kebal terhadap api? Padahal segala sesuatu yang berhasil terbungkus pukulanku pasti akan terbakar dan hangus! Heran. Apakah dia membawa senjata yang mungkin bisa mencegah dirinya dari sengatan api?!" pikir Dewa Maut. "Aku akan memeriksanya!"

Memang, pukulan sakti 'Dewa Membakar Bumi' yang baru saja dilancarkan Dewa Maut selain mampu membuat orang terbungkus dan tergulung di dalamnya juga orang akan keluar dengan tubuh hangus!

Dewa Maut lantas melangkah maju mendekati tubuh Aji yang masih tergeletak di tanah. Dengan menyeringai tangan kanannya bergerak.

Bret! Brettt!

Pakaian bagian atas murid Wong Agung robek besar di dua tempat.

"Gila! Dadanya juga tak cidera sama sekali!" rutuk Dewa Maut hampir tidak percaya dengan pandangan matanya. Mungkin penasaran, dia kembali hendak merobek pakaian Pendekar 108. Namun baru saja tangannya hendak bergerak, terdengar orang berseru,

"Memalukan! Nyatanya bukan hanya perempuan saja yang suka menelanjangi laki-laki. Tapi laki-laki juga ada yang suka menelanjangi laki-laki! Jangan-jangan kau laki-laki yang menyukai sejenis! Kasihan.... Di mana nikmatnya? Hik,... Hik.... Hik...!"

Tersentak kaget, Dewa Maut segera berpaling. Sepasang matanya kontan membesar, memandang tak berkesip.

"Aneh. Jelas sekali sewaktu aku berpaling bicaranya belum selesai. Namun kenapa mulutnya tidak bergerak? Hmm. Jangan-jangan orang

lain yang buka suara tadi! Tapi suara tadi jelas suara perempuan. Ini juga seorang perempuan!" Dewa Maut membatin dengan mata terus memperhatikan ke depan, pada sesosok tubuh yang memandang tajam ke arahnya dengan mata nanar.

SEBELAS

DIA adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita. Mengenakan pakaian warna putih ketat membuat bayang lekukan tubuhnya mencuat jelas. Rambutnya panjang bergerai, kedua alis matanya hitam dan tebal dengan bulu mata lentik. Sepasang matanya bulat berbinar, ditingkah bibir yang membentuk bagus. Pada lehernya melingkar untaian kalung dari bunga-bunga berwarna hitam. Di atas telinga kirinya juga tampak menyelinap sekuntum bunga berwarna hitam. Gadis cantik ini bukan lain adalah Ratu Sekar Langit. Seperti dituturkan dalam episode: "Gembong Raja Muda", Ratu Sekar Langit saat itu ditawan oleh Bawuk Raga Ginting, guru Gembong Raja Muda. Pendekar Mata Keranjang sebenarnya sudah berencana hendak membebaskan Ratu Sekar Langit, namun karena ada masalah lagi terpaksa rencananya dia tangguhkan. Tapi sebenarnya Ratu Sekar Langit sendiri waktu itu sudah tidak di tangan Bawuk Raga Ginting, karena seseorang telah membebaskannya.

Dewa Maut bergerak bangkit dan melangkah hendak mendekat dengan bibir sunggingkan senyum. Namun baru satu Iangkah, si gadis buka mulut keluarkan bentakan nyaring. "Tetap di tempatmu!"

"Hmm.... Jelas suaranya berbeda dengan suara yang tadi kudengar! Jadi memang ada orang lain di tempat ini!" kata Dewa Maut dalam hati. Sepasang matanya melirik menyapu sekeliling. Tapi matanya tak menangkap siapa-siapa. Pemuda ini lantas mendongakkan kepala dengan dahi mengernyit

"Keparat! Pasti manusia banci itu!" pikirnya, lalu luruskan kepalanya, dan diputar dengan mata membeliak.

"Hmm.... Dia mencari orang itu. Aku pun dapat merasakan kehadirannya tapi tak dapat menentukan di mana beradanya! Tapi mendengar suaranya tadi, jelas jika dia adalah seorang perempuan!" diam-diam Ratu Sekar Langit juga berucap dalam hati. "Siapa pemuda ini? Hm Tak

perlu kuketahui siapa dia adanya. Yang penting aku harus menyelamatkan Pendekar Mata Keranjang. Pemuda ini rupanya berniat tidak baik!"

Sejenak Ratu Sekar Langit memperhatikan tubuh Pendekar 108. Dia terlihat menarik napas dalam-dalam. Dia lantas bergerak untuk mendekati. Tapi langkahnya tertahan saat didengarnya sebuah bentakan keras.

"Jangan berani beranjak dari tempatmu!" Yang keluarkan bentakan adalah Dewa

Maut. Pemuda ini lantas maju selangkah. Matanya menatapi tubuh gadis di hadapannya dari kaki hingga rambut. Mulutnya bergerak komatkamit. Bibirnya sunggingkan senyum aneh.

"Siapa kau?!" si gadis menegur dengan wajah sedikit berubah merah menyadari dirinya ditatap demikian rupa.

Dewa Maut perdengarkan tawa pendek. Seraya kacak pinggang dan busungkan dada dia menjawab.

"Aku Dewa Maut! Kau siapa?!" Dewa Maut balik ajukan tanya.

Ratu Sekar Langit sejenak terdiam. Keningnya berkerut.

"Baru sekali ini aku mendengar namanya. Namun kalau dia dapat membuat roboh Pendekar Mata Keranjang, sudah pasti jika dia berilmu tinggi!" pikirnya.

"Kau dengar pertanyaan orang. Kenapa tidak segera jawab?!" hardik Dewa Maut. Seraya menghardik sepasang matanya tak henti-hentinya melirik berputar. Dia masih menduga jika Setan Pesolek yang diduga sebagai Pendekar Mata Keranjang 108 masih berada di sekitar tempat itu.

"Manusia banci itu nyatanya mampu lolos dari pukulanku! Aku harus segera mendapatkannya! Persetan dengan gadis cantik ini! Urusan dengan Pendekar Mata Keranjang 108 lebih penting!"

Berpikir begitu dan setelah ditunggu tak juga ada jawaban dari si gadis, Dewa Maut kembali keluarkan bentakan.

"Kau mungkin gadis tuli. Tapi kau masih bernasib baik karena hari ini aku tak bernafsu. Lekas tinggalkan tempat ini!"

Tiba-tiba terdengar orang tertawa cekikikan. Lalu disusul dengan suara.

"Dasar manusia aneh. Sama gadis cantik tidak bernafsu, tapi sama laki-laki tertarik. Manusia apa namanya?!"

"Jahanam! Hai, Banci Pengecut! Tunjukkan dirimu!"teriak Dewa Maut lalu kerahkan tenaga dalam siapkan pukulan 'Dewa Membakar Bumi'. Matanya liar memandang berkeliling. Dia sudah siap-siap, begitu orang muncul akan segera dihantamnya. Namun orang yang tadi keluarkan suara tidak menampakkan wujudnya, membuat Dewa Maut makin geram. Dan melihat si gadis tak juga beranjak dari tempatnya, kegeramannya dilampiaskan pada gadis ini.

"Baik. Kau telah kuberi kesempatan namun kau ingin membuktikan ucapan orang bahwa aku manusia yang suka sama laki-laki. Akan kutunjukkan padamu jika aku juga suka pada tubuh seorang gadis!"

Habis berkata begitu, Dewa Maut berkelebat. Tahu-tahu sosoknya telah satu langkah di samping Ratu Sekar Langit dan serta-merta tangannya diulurkan hendak menyentuh dada si gadis.

Si gadis tersentak, dia cepat surutkan langkah ke belakang. Tangannya bergerak mengibas ke bawah.

Wuuut!

Dewa Maut terdorong ke belakang. Hal ini telah menyadarkan pemuda ini jika si gadis mempunyai ilmu.

"Ha.... Ha.... Ha...! Rupanya kau juga punya simpanan ilmu. Aku ingin lihat sampai di mana kehebatanmu!"

Ratu Sekar Langit katupkan bibirnya rapat-rapat Kedua tangannya dipukulkan ke depan.

Wuuuttt!

Angin laksana gelombang menderu dahsyat. Namun setengah jalan gelombang angin ini tertahan dan sesaat kemudian ambyar ke sana kemari, membuat si gadis terkesiap dan kembali hantamkan tangannya.

Namun baru saja gelombang angin itu menyambar, dari arah depan menggebrak asap merah yang menghamparkan hawa panas.

Asap merah ini bukan hanya mampu membuat buyar pukulan si gadis namun juga membuat si gadis terseret sampai dua tombak ke belakang. Beberapa saat Ratu Sekar Langit masih mampu menahan tubuhnya, tapi sekejap kemudian dia roboh terduduk! Sepasang matanya merah berair, sementara dari bibirnya keluar erangan tertahan.

Di depan sana, Dewa Maut turunkan kedua tangannya. Sambil tertawa mengekeh dia berkelebat. Dan tahu-tahu telah berdiri tegak di samping Ratu Sekar Langit.

Si gadis nampak tercekat dengan paras berubah. Belum sempat dia bergerak bangkit, Dewa Maut telah gerakan kedua tangannya.

Namun gerakan tangan Dewa Maut tertahan, karena bersamaan dengan itu, dari arah samping menderu angin dahsyat. Seraya geser tubuhnya ke samping kiri menghindari sambaran angin, Dewa Maut segera berpaling. Rahangnya kontan mengembung besar.

Di samping kiri, Aji terlihat turunkan tangannya yang baru saja menahan gerakan tangan Dewa Maut. Sebenarnya murid Wong Agung ini tidak tahu siapa adanya gadis berbaju putih di hadapan Dewa Maut. Sewaktu Dewa Maut menahan serangan gadis berbaju putih, hawa panas yang menghambur membuat Aji kepanasan dan menggeliat. Mungkin merasa dirinya dalam keadaan bahaya, murid Wong Agung ini segera bangkit. Dan begitu melihat Dewa Maut gerakan tangannya, dia segera kirimkan pukulan.

Ratu Sekar Langit tak menyia-nyiakan kesempatan. Bersamaan dengan lewatnya sambaran angin, dia cepat bangkit lalu berpaling ke samping kiri.

"Ratu Sekar Langit!" seru Pendekar 108 begitu mengetahui siapa adanya gadis berbaju putih. Sejenak Pendekar 108 memandang dengan dahi berkerut. "Hm.... Ratu Sekar Langit Bu-

kankah waktu itu dia masih ditawan Bawuk Raga Ginting?! Ah, mungkin ada seseorang yang menyelamatkannya.... Atau.... Lebih baik nanti kutanyakan!" Pendekar 108 lantas sunggingkan senyum. Ratu Sekar Langit membalas dengan senyum pula. Untuk beberapa saat kedua orang ini saling berpandangan. Kedua orang yang telah lama tidak berjumpa ini seolah melepas kerinduan dengan tatapan mata masing-masing.

Ratu Sekar Langit dadanya berdebar. Mulutnya bergerak membuka seakan hendak mengucapkan sesuatu. Namun suaranya tak terdengar.

Murid Wong Agung melangkah hendak mendekat. Namun Dewa Maut cepat berkelebat dan langsung menghadang.

"Manusia banci itu masih berada di sekitar tempat ini. Pemuda ini pasti temannya. Hmm....

Aku akan melumpuhkannya untuk memaksa dirinya keluar!" kata Dewa Maut dalam hati. Tanpa berpikir, Dewa Maut langsung kirimkan serangan pada Aji.

Pendekar 108 tak tinggal diam. Meski tubuhnya masih terasa sakit karena terbanting roboh oleh pukulan Dewa Maut, dia segera pula tarik kedua tangannya dan dihantamkan ke depan.

Bummm!

Ledakan dahsyat segera mengguncang tempat itu ketika pukulan sakti 'Mutiara Biru' yang dilepaskan Pendekar 108 bentrok dengan pukulan 'Dewa Membakar Bumi' yang dilepas Dewa Maut.

Dewa Maut terlihat terpental sampai satu tombak ke belakang, sosoknya berguncang keras. Pemuda ini tampak coba menahan huyungan tubuhnya, namun kakinya goyah. Hingga tak lama kemudian tubuhnya terjengkang menghempas tanah.

Di seberang, murid Wong Agung mencelat dan langsung terkapar. Dari mulutnya terdengar erangan tertahan.

Ratu Sekar Langit yang waktu terjadi bentrok pukulan menyingkir agak jauh segera berkelebat. Kedua tangannya segera diulurkan untuk menolong Pendekar 108 bergerak bangkit.

Tapi baru saja tangannya bergerak, dari arah depan asap merah yang kemudian disusul dengan menderunya angin berputar-putar aneh menyambar deras!

Ternyata Dewa Maut yang tadi terjengkang roboh segera gulingkan tubuh dan lepaskan pukulan saat dilihatnya Ratu Sekar Langit hendak menolong Aji.

Ratu Sekar Langit menjerit lengking. Tubuhnya terjungkal menumbuk tubuh Pendekar

108. Saat itulah lingkaran angin yang berputarputar aneh datang. Membungkus keduanya lalu berputar-putar seiring gerakan tangan Dewa Maut.

Beberapa saat berlalu, masih tetap menggeletak sejajar tanah dan menggerak-gerakkan tangannya, tiba-tiba Dewa Maut keluarkan bentakan keras. Kedua tangannya diangkat tinggitinggi lalu disentakkan ke bawah.

Di depan sana, putaran angin yang membungkus tubuh Pendekar 108 dan Ratu Sekar Langit ikut berputar dan membubung ke udara, lalu menukik deras ke bawah!

Sebelum tubuh Pendekar 108 dan Ratu Sekar Langit terjerembab deras menghujam tanah, sesosok bayangan berkelebat. Bersamaan dengan itu asap putih bergulung-gulung melesat memapak tubuh Pendekar 108 dan Ratu Sekar Langit. Kalau tadi tubuh kedua orang ini bergerak deras ke bawah, kini tubuh keduanya bergerak perlahan-lahan dan akhirnya tergolek telentang di atas tanah.

Melihat apa yang terjadi, Dewa maut cepat bergerak bangkit. Sepasang matanya liar mencari. Namun dia tak menemukan siapa-siapa.

"Haram jadah! Aku jelas melihat kelebatan tubuhnya! Dan pasti dia yang telah menolong keduanya! Jahanam betul! Gerakannya begitu cepat. Ke mana larinya bangsat itu?!" geram Dewa Maut seraya angkat kedua tangannya siap lepaskan pukulan.

Selagi Dewa Maut mencari-cari, terdengar suara tawa cekikikan dari arah belakang. Pemuda ini cepat putar tubuhnya.

DUA BELAS

Di hadapannya tampak seorang laki-laki berusia lanjut. Mengenakan pakaian compangcamping. Sosoknya kurus, sepasang matanya besar dan merah. Pada tubuhnya menyelempang sebuah ikat pinggang besar yang diganduli beberapa bumbung bambu. Tangan kanan kiri juga menggenggam bambu yang sesekali didekatkan silih berganti ke mulutnya. Di atas tengkuknya tampak duduk seorang anak perempuan yang rambutnya dikuncir dengan pita berwarna-warni. Seraya duduk dengan uncang-uncang kaki, si anak menggerakkan tangan kanan kirinya berkipas-kipas.

"Hmm.... Anak itu! Lalu siapa orang tua ini? Gurunya? Apa mungkin anak perempuan ini yang tadi keluarkan suara?!" batin Dewa Maut. Sepasang matanya memperhatikan sejenak, lalu mulutnya membuka perdengarkan teguran. "Siapa kau?!"

Orang tua berselempang ikat pinggang besar yang diganduli bumbung bambu yang bukan lain adalah Setan Arak keluarkan tawa mengekeh. Lalu dekatkan bumbung bambu yang ada di tangan kanannya. Terdengar gelegukan beberapa kali.

"Kau siapa?!" Setan Arak balik bertanya, membuat Dewa Maut kernyitkan dahi. Namun diam-diam pemuda ini segera maklum jika orang tua di hadapannya tak bisa dipandang sebelah mata. Suaranya mampu membuat telinga berdengung!

"Orang tua! Kusarankan padamu untuk cepat tinggalkan tempat ini!"

Setan Arak tengadahkan kepalanya. Memandang dengan mata terpejam-pejam pada anak perempuan di atasnya yang bukan lain adalah Putri Kipas. Yang dipandangi tersenyum-senyum seraya terus berkipas-kipas.

"Ah, rupanya kau menyukai tempat ini. Padahal orang menyuruh kita pergi. Bagaimana cucuku? Apa pendapatmu tentang semua ini?!"

Putri Kipas gelengkan kepalanya. Setan Arak ikut gelengkan kepala. Lalu berkata.

"Anak muda! Kau lihat sendiri. Cucuku gelengkan kepalanya. Berarti aku dengan berat hati harus di sini. Sampai cucuku mengajakku pergi!"

"Hmm.... Begitu? Berarti kau tak turut saranku. Itu berarti nasib buruk bagimu juga cucumu!"

"Nasib buruk? Apa maksudmu, Anak Mu-

da?!" Dewa Maut dongakkan kepala. Seakan ingin unjuk kebolehan, dia perdengarkan suara tawa mengekeh panjang. Karena suara tawanya telah dialiri tenaga dalam, maka suara tawanya bergemuruh keras!

Tiba-tiba Setan Arak ikut-ikutan mendongak. Dari mulutnya terdengar suara tawa bergelak-gelak. Hingga kejap itu juga di tempat itu terdengar suara tawa bersahut-sahutan. Keras dan menggemuruh! Anehnya, Putri Kipas yang berada di atas Setan Arak seakan tak berpengaruh. Dia tetap tersenyum-senyum seraya berkipas-kipas.

Di seberang sana, begitu terdengar suara tawa bersahut-sahutan, Pendekar 108 dan Ratu Sekar Langit buka kelopak mata masing-masing. Pendekar 108 cepat kerahkan tenaga dalamnya untuk mengatasi suara tawa yang seakan hendak membuat telinganya tuli. Dia serentak bergerak bangkit. Lalu meneliti pakaian yang dikenakan hangus, sekujur tubuhnya terasa ngilu, namun dia merasa lega karena tidak ada yang cidera. Dia kemudian berpaling pada Ratu Sekar Langit. Pendekar 108 membelalak. Pakaian yang dikenakannya telah berubah kecoklatan seperti hangus. Sekujur kulit tubuhnya juga berubah agak kecoklatan. Dari mulutnya terdengar erangan perlahan.

Murid Wong Agung cepat menghambur. Dengan perlahan-lahan ditolongnya gadis cantik ini untuk bangkit duduk.

"Ratu Sekar Langit...," panggil Aji dengan perasaan khawatir. Sepasang matanya memandang lekat-lekat pada paras wajah gadis di hadapannya.

Ratu Sekar Langit tersenyum. Mungkin merasa senang, murid Wong Agung segera merengkuh tubuh Ratu Sekar Langit dan dipeluknya erat-erat. Meski masih merasa sakit pada sekujur tubuhnya, namun dipeluk orang yang selama ini dirindukan, Ratu Sekar Langit segera pula takupkan tangannya memeluk tubuh Pendekar 108. Kedua orang ini sejenak tenggelam dalam perasaan masing-masing sambil saling berpelukan.

Tiba-tiba terdengar bentakan dari arah depan. Seakan tersentak sadar, keduanya saling lepas pelukan masing-masing, lalu sama-sama berpaling ke depan.

'Setan Arak!' seru Aji mengenali orang tua di hadapan Dewa Maut.

Saat itu baik Dewa Maut dan Setan Arak telah hentikan tawa masing-masing. Lalu terdengar Dewa Maut keluarkan bentakan keras.

"Kau sengaja unjuk kebolehan. Baik, perlihatkan kehebatanmu!"

Habis berkata begitu, Dewa Maut berkelebat, kedua tangannya bergerak menghantam ke arah kepala Setan Arak.

Wuuuttt!

Angin deras melesat mendahului sebelum tangan itu sendiri menghajar sasaran.

Setan Arak mundur ke belakang. Dalam keadaan seperti itu, orang tua ini berpikir cepat. Dia mungkin saja dengan mudah dapat menyelamatkan diri dari hantaman Dewa Maut, tapi anak yang ada di atasnya? Dia juga harus diselamatkan dari hantaman lawan. Memikir sampai di situ, seraya mundur ke belakang Setan Arak rundukan kepalanya lalu disentakkan keras ke atas.

Wuuuttt!

Tubuh Putri Kipas melambung tinggi ke udara. Bersamaan dengan itu hantaman tangan Dewa Maut menggebrak!

Setan Arak membuat gerakan aneh. Tangan kiri kanannya yang masih memegang bumbung arak direntangkan. Kedua kakinya berjingkrak. Tiba-tiba tubuhnya terhuyung-huyung seakan hendak roboh. Anehnya, gerakannya ini mampu membuat hantaman tangan Dewa Maut lewat sejengkal di atas kepalanya! Begitu serangan lewat, Setan Arak lemparkan bumbung bambunya ke arah Putri Kipas yang telah menukik ke bawah.

Seakan sudah tahu apa yang harus dilakukan, begitu bumbung bambu melayang, Putri Kipas membuat gerakan jungkir balik satu kali. Tahu-tahu kedua kakinya telah berada di atas bumbung bambu dan kini melayang turun perlahan-lahan!

"Luar biasa!" gumam Pendekar 108 dengan mata tak berkesip, murid Wong Agung ini lambaikan tangannya pada Putri Kipas begitu gadis cantik cilik ini mendarat.

Putri Kipas memandang sejenak pada Setan Arak. Lalu membungkuk mengambil bumbung bambu yang ternyata masih terisi arak, dan berlari ke arah Pendekar 108.

Begitu Putri Kipas sampai di hadapannya, Pendekar 108 segera berkata.

"Tempo hari kau bisa mengobati seseorang. Kuharap kau sekarang mau mengobati temanku ini!"

Ratu Sekar Langit tertegun mendengar ucapan Pendekar 108. Dia seakan masih tak percaya dengan pendengarannya. Sementara Putri Kipas memandang pada Pendekar 108, lalu beralih pada Ratu Sekar Langit. Pendekar 108 anggukan kepala sambil tersenyum.

Putri Kipas mendekat. Tanpa mempedulikan pandangan mata Ratu Sekar Langit yang keheranan, anak perempuan ini segera meneliti bagian tubuh Ratu Sekar Langit yang berwarna agak kecoklatan.

Putri Kipas lalu mendekat pada Aji. Wajahnya didekatkan pada telinga murid Wong Agung ini, membisikkan sesuatu.

"Mana mungkin?!" tiba-tiba Pendekar 108 berseru seakan terkejut. Namun Putri Kipas hanya anggukan kepala sambil angkat bahunya, membuat Pendekar 108 geleng-geleng kepala.

"Apa yang dikatakannya?!" Ratu Sekar Langit bertanya sambil memandang silih berganti pada Pendekar 108 dan Putri Kipas.

"Kau harus meminum arak yang ada di bumbung bambu itu!" ujar Pendekar 108 pelan.

Ratu Sekar Langit beliakan sepasang matanya. Dipandanginya Putri Kipas dari bawah hingga atas.

"Kau tak usah meragukannya. Aku melihatnya sendiri bagaimana dia menyembuhkan seseorang. Lagi pula orang tua yang bersamanya adalah orang tua yang sudah kukenal!" kata Pendekar 108 menghilangkan keraguan di hati Ratu Sekar Langit.

"Tapi "

"Ratu Sekar Langit.... Kau terluka. Sebaiknya kau coba dulu...," saran Aji lalu ulurkan tangan untuk meminta bumbung bambu dari Putri Kipas. Putri Kipas berikan salah satu bumbung bambu yang masih berisi arak.

Aji mendekatkan bumbung arak pada Ratu Sekar Langit. Gadis ini mengkerut. Mulutnya dikatupkan rapat-rapat, sementara wajahnya dipalingkan.

"Ratu Sekar Langit.... Waktu kita tak banyak. Bukan tak mungkin manusia itu akan lakukan serangan lagi!" seraya berkata, Pendekar 108 sodorkan bumbung bambu pada Ratu Sekar Langit. Dengan tangan sedikit gemetar, Ratu Sekar Langit menerima bumbung bambu. Lalu memandang lekat-lekat pada Pendekar 108. Murid Wong Agung tersenyum sambil anggukan kepala.

Dengan tangan masih gemetar, Ratu Sekar Langit perlahan-lahan dekatkan bumbung bambu pada mulutnya. Namun mulutnya tak membuka. Malah sepasang matanya memejam rapat.

"Hmm. Seandainya bukan dia, aku sudah tak sabaran...!" gerutu Pendekar Mata Keranjang

108 dalam hati. Lalu gerakan tangannya memegang tangan Ratu Sekar Langit dan mendorongnya pelan ke mulut gadis cantik yang tampak bergetar itu.

Perlahan-lahan Ratu Sekar Langit membuka mulutnya. Pendekar 108 segera mendorongnya kembali lebih cepat. Bumbung bambu telah menempel di mulut Ratu Sekar Langit. Dan perlahan-lahan pula arak dalam bumbung mengalir masuk ke mulutnya.

Mula-mula Ratu Sekar Langit merasakan aliran panas pada lidahnya. Dia menyentakkan kepalanya hendak memuntahkan arak yang telah ada dalam mulutnya, namun Aji cepat mencegah dengan menahan kepala Ratu Sekar Langit. Hingga mau tak mau dengan meringis, gadis cantik ini memasukkan arak ke rongga kerongkongannya.

Tiba-tiba Ratu Sekar Langit keluarkan seruan tertahan, hingga dia seakan tercekik. Namun cuma sesaat. Begitu arak sudah benar-benar masuk, perlahan-lahan rasa hangat menjalari sekujur tubuhnya. Dan tubuhnya yang tadi terasa ngilu bukan main perlahan-lahan hilang.

Merasa ada perubahan pada tubuhnya, Ratu Sekar Langit tak segan-segan lagi meneguk arak yang masih tersisa dalam bumbung. Begitu arak dalam bumbung habis tak tersisa, mendadak terjadi hal yang luar biasa. Kulit Ratu Sekar Langit yang tadinya berwarna kecoklatan, perlahan-lahan berubah kembali seperti semula! Untuk beberapa saat lamanya, baik Ratu Sekar Langit maupun Pendekar 108 tertegun. Namun buru-buru Ratu Sekar Langit sadar. Dia segera bangkit dan membungkuk pada Putri Kipas seraya berkata.

"Terima kasih.... Budi baikmu akan kukenang selamanya "

Putri Kipas gelengkan kepalanya. Dari mulutnya tak terdengar sepatah kata pun. Hanya bibirnya sunggingkan senyum.

Tiba-tiba Pendekar 108 teringat sesuatu. Keningnya mengernyit sambil meneliti kulit tubuhnya.

"Heran. Kenapa kulitku tidak berubah saat terkena pukulan angin keparat itu?!" Pendekar 108 mencari-cari apa sebabnya. Namun tak berhasil mendapat jawaban.

Sebenarnya apa yang dialami murid Wong Agung ini ada hubungannya dengan Arca Dewi Bumi. Sewaktu tiga mutiara biru yang ada di kening area itu masuk dalam telapak tangan Aji, secara aneh tubuh Aji akan kebal terhadap semua jenis racun. Hingga tatkala angin aneh yang berputar-putar pukulan sakti Dewa Maut yang mengandung racun yang masuk melalui sedotan napasnya, maka tubuh dan kulit Aji tak akan berubah.

"Siapa namamu?!" tiba-tiba Ratu Sekar Langit ajukan pertanyaan pada Putri Kipas.

"Putri Kipas!" jawab anak perempuan cilik itu seraya balas menatap pada Ratu Sekar Langit. Saat itulah dari arah depan terdengar bentakan-bentakan keras. Pendekar Mata Keranjang, Ratu Sekar Langit, serta Putri Kipas segera arahkan mata masing-masing ke depan.

Di depan sana, terlihat Dewa Maut banting-bantingkan kedua kakinya ke atas tanah. Tubuhnya telentang, sementara kedua tangannya terpentang. Kedua tangannya tak bisa digerakkan karena di atasnya Setan Arak juga tampak telentang, sementara kedua kakinya terpentang dan menekan tangan kiri kanan Dewa Maut. Sementara tangan kiri kanannya silih berganti menenggak arak yang ada di genggaman tangannya!

"Tua bangsat! Kuremukan tubuhmu! Aku bersumpah!" bentak Dewa Maut seraya terus banting-bantingkan kakinya agar tubuhnya bisa terbebas. Namun hingga tanah di bawahnya terbongkar dan tanahnya berhamburan ke udara, Dewa Maut tak bisa membebaskan dirinya! Bahkan bentakan-bentakan secara tiba-tiba terhenti seakan terenggut setan. Dan tak lama kemudian berganti menjadi seruan tertahan.

Ternyata, begitu Dewa Maut keluarkan bentakan-bentakan, Setan Arak gerakan kaki kirinya dan dihantamkan ke arah mulut pemuda ini. Hingga sang pengemban tugas dendam leluhur ini berseru tertahan. Darah muncrat dari mulut dan hidungnya.

Saat itulah, tiba-tiba sesosok bayangan hitam berkelebat. Bersamaan itu gelombang angin dahsyat yang disertai bongkahan bara api membersit cepat ke arah Setan Arak.

"Setan Arak! Awas serangan!" teriak Pendekar 108 keras.

Setan Arak membesarkan sepasang matanya. Pantatnya cepat disentakkan ke atas tanah. Tubuhnya melenting ke udara, membuat gerakan jungkir balik lalu mendarat dengan jongkok. Kedua tangannya bergerak mendekatkan bumbung bambu ke mulut. Terdengar suara gelegukan beberapa kali. Lalu dengan tertawa gelakgelak, orang tua ini duduk menggelosoh!

Bongkahan bara api terus melesat dan lewat sejengkal di atas tubuh Dewa Maut, terus menerus lalu meledak ketika menghajar sebuah batang pohon. Pohon itu langsung tumbang dengan akar tercerabut!

Dewa Maut cepat bangkit. Dan merasa ada orang yang menolong, dia berpaling. Sejenak pemuda ini terkejut. Sepuluh tombak di depan sana dia melihat seorang pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih.

"Penyair Berdarah!" seru Pendekar 108 mengetahui siapa adanya pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih.

"Hmm.... Dia! Manusia yang bergelar Penyair Berdarah!" kata Dewa Maut dalam hati seraya menatap tajam. Dia tak anggukan kepala atau keluarkan kata terima kasih. Sebaliknya pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih yang bukan lain memang Penyair Berdarah sunggingkan senyum dingin. Dalam hati diam-diam pemuda murid Iblis Gelang Kematian ini berucap. "Monyet sombong! Seandainya aku tak

mengharapkan sesuatu darimu, masa bodoh kau tadi tewas di tangan manusia arak itu!" Pandangannya lalu beralih pada Pendekar Mata Keranjang.

"Hmm.... Sayang, dia bersama manusia arak itu lagi. Jika tidak, sudah ingin aku melumpuhkannya! Gadis yang bersamanya, cantik dan bertubuh bagus. Siapa dia? Lalu anak kecil itu? Hmm.... Untuk sementara aku tak akan ikut campur urusan ini. Saatnya kelak aku pasti dapat membungkamnya!" Penyair Berdarah diam tak bergerak dari tempatnya.

Sementara itu, Dewa Maut segera palingkan wajahnya pada Setan Arak. Pemuda ini diamdiam merasa gentar juga setelah mengetahui jika Setan Arak masih sulit ditaklukannya. Bahkan jika tak ditolong Penyair Berdarah mungkin dia masih belum bisa membebaskan diri dari hantaman kaki orang tua itu. Memikir sampai di situ, pemuda ini lantas lirikkan sepasang matanya pada Pendekar Mata Keranjang 108.

Tiba-tiba Dewa Maut putar tubuhnya setengah lingkaran, dan sekonyong-konyong kedua tangannya dihantamkan dengan telapak terkembang.

"Pendekar Mata Keranjang! Awas!" seru Ratu Sekar Langit.

Asap merah serta angin membentuk lingkaran yang menebarkan hawa panas melesat ke arah Pendekar 108, Ratu Sekar Langit serta Putri Kipas.

"Ratu. Selamatkan dirimu!" teriak Pendekar

108. Lalu dia berkelebat sambil menyambar tubuh Putri Kipas. Sementara Ratu Sekar Langit segera pula membentak dan ikut berkelebat selamatkan diri.

Di depan sana, beberapa batang pohon tampak tergulung putaran angin, lalu membubung ke udara sebelum akhirnya melayang deras dengan hancur berantakan terkena pukulan sakti 'Dewa Membakar Bumi' yang dilancarkan Dewa Maut.

Mendadak sepasang mata Dewa Maut membeliak besar, dadanya bergetar keras. Bukan karena melihat pukulannya lolos menghajar sasaran, namun karena seruan Ratu Sekar Langit yang memanggil Aji dengan Pendekar Mata Keranjang sewaktu serangannya dilepaskan.

"Jahanam! Jadi...," Dewa Maut tak teruskan gumamannya. Dia cepat berpaling. Mendadak sepasang matanya semakin mendelik angker, karena sosok Pendekar 108 tak lagi ditemukannya di tempat itu. Demikian juga Ratu Sekar Langit serta Setan Arak dan Putri Kipas. Yang masih terlihat di tempatnya adalah Penyair Berdarah, yang memandang ke arahnya dengan senyum penuh ejekan.

Dewa Maut balas memandang pada Penyair Berdarah. Mulutnya komat-kamit hendak mengucapkan sesuatu. Namun sebelum ucapannya terdengar, Penyair Berdarah telah angkat bicara. Nadanya seperti orang melantun syair.

Darah tak akan mengalir.

Balas dendam hanya sebuah mimpi.

Jika langkah tak dihitung, jika otak tak di-

putar!

"Dewa Maut! Kusarankan padamu, segala

angan-anganmu hanya akan menjadi kenyataan mimpi buruk jika kau tak pandai memperhitungkan langkah!"

Habis berkata begitu, Penyair Berdarah balikan tubuh. Sebelum dia berkelebat pergi dia masih sempat menyambung ucapannya.

"Jangan lupa, satu purnama di depan kutunggu kau di tempat yang sudah kita janjikan!" Lalu dia berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Jahanam! Aku tak butuh nasihatmu!" teriak Dewa Maut. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi. Namun Penyair Berdarah telah lenyap. Sebagai pelampiasan marahnya, kedua tangannya segera dihantamkan ke tanah.

Bummm!

Tanah itu langsung terbongkar dan berhamburan ke udara menutupi pemandangan. Ketika tanah itu sirap, Dewa Maut sudah tak nampak di tempat itu!

SELESAI