Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 20 : Takhta Setan

 
Eps 20 : Takhta Setan


PANAS menyengat menjilati hamparan lembah berbatu di sebelah selatan bukit Watu Wangkit. Angin bukit berhembus sangat kencang, seakan hendak memporak-porandakan gundukan-gundukan batu yang banyak bertebaran di sekitar lembah. Tiadanya semak belukar serta tumbuhnya jajaran pohon, membuat hamparan lembah itu berubah laksana bara tungku.

Seorang pemuda berparas tampan, bertubuh tinggi tegap dengan sepasang mata tajam dan mengenakan pakaian warna biru tua terlihat melangkah menuruni bukit. Pakaiannya telah basah kuyup oleh keringat yang membasahi hampir sekujur tubuhnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dan telah tampak kusut masai. Jelas bahwa si pemuda telah melakukan perjalanan agak jauh. Waktu berjalan menuruni bukit pun sang pemuda tampak sesekali menghentikan langkah lalu berteduh di bawah sebuah pohon.

"Bodohnya aku.... Kenapa kudaku tadi tidak kubawa serta naik ke bukit! Ah, sudah kepalang basah!" rutuk si pemuda memaki diri sendiri. Sejenak dia menadangkan tangan kanannya di depan kening menangkis sengatan sinar matahari yang membuat pandangannya agak silau. Sambil bersandar pada batang pohon sepasang matanya memandang ke bawah, ke hamparan lembah berbatu. Tiba-tiba sepasang matanya sedikit membelalak. Dia pun menarik tubuhnya dari batang pohon.

"Hmm... Lembah berbatu tidak ditumbuhi semak belukar dan pepohonan. Tempat itu Ya,

sama seperti yang kulihat dalam mimpiku! Dan sesuai dengan apa yang dikatakan bayangan samar-samar dalam mimpiku itu!" gumam sang pemuda. Dia lalu kernyitkan dahi seakan mengingat sesuatu. "Bayangan itu mengatakan 'Lembah Batu Selatan Bukit' "

Seakan mendapat kekuatan baru, sang pemuda lantas berlari menuruni bukit. Kepenatan dan rasa putus asa yang tampak dari raut wajahnya tiba-tiba lenyap berubah menjadi harapan besar. Malah mungkin karena begitu semangatnya, tatkala tubuhnya jatuh terjerembab karena kakinya mengantuk akar-akar pohon, sang pemuda segera bergerak bangkit dan meneruskan larinya.

Ketika telah berada di kaki bukit, dia hentikan larinya. Disekanya dahi dan lehernya yang basah. Sepasang matanya lantas memandang ke hamparan lembah berbatu di hadapannya.

"Heran. Aku sendiri tak tahu apa yang akan kudapatkan di lembah berbatu ini. Tapi langkahku sepertinya tak bisa kucegah untuk mendatanginya! Dan bayangan samar dalam mimpiku itu hanya bunga tidur? Tapi melihat tempatnya sama seperti yang kulihat dalam mimpi, aku yakin mimpiku itu bukan hanya bunga tidur.... Sebaiknya aku menyelidiki ke sana!" sang pemuda lalu bergerak melangkah menuju hamparan lembah yang berbatu-batu itu.

"Sialan! Batu-batu padas ini panasnya bukan main!" gumam sang pemuda seraya cepat langkahkan kakinya menghindari pijakan kakinya pada hamparan lembah yang terdiri dari batubatu padas coklat. Namun betapa terkejutnya sang pemuda ini. Ketika melangkah lagi, batu padas yang diinjaknya semakin panas, dan semakin ke tengah semakin tambah panas!

"Keparat! Semakin ke tengah hamparan lembah ini terasa semakin panas! Aneh. Bagaimana aku bisa leluasa mengitari tempat ini jika keadaannya demikian?!" pikir sang pemuda lantas mulai melompat-lompat agar langkahnya bisa jauh dan kakinya tidak terlalu lama merasakan panas. Seraya melompat-lompat sepasang matanya tidak berkesiap memandang berkeliling. Dan tak jarang pula kepalanya melongok ke balik gundukan batu.

Namun setelah sekian lama mencari-cari dan tak menemukan apa-apa, sang pemuda tampak menarik napas panjang. Namun seakan belum yakin, sebentar kemudian dia telah tampak berlari dan melompat-lompat kembali mengitari hamparan lembah. Tapi dia masih tak menemukan apa-apa! Seraya melompat ke balik gundukan batu dari mulutnya terdengar gumaman tak jelas. Namun jelas jika wajahnya menunjukkan rasa kecewa. Dan dia terlihat menggeram tatkala melirik ke bawah mendapatkan sepasang telapak kakinya telah melepuh dan menggembung merah pada jari-jari kakinya!

"Ternyata mimpiku hanya impian konyol! Bodohnya aku.... Melakukan perjalanan panjang menuruti mimpi! Petunjuk gila yang belum bisa dipastikan benar tidaknya!" sang pemuda sapukan pandangannya kembali. Lalu sedikit mendongak seraya tadangkan tangannya. 

"Sebelum kakiku hancur, lebih baik aku meninggalkan tempat celaka ini!" dia lantas balikan tubuh hendak berlari menuju arah kaki bukit. Saat itulah sepasang matanya menumbuk pada sebuah lingkaran hitam pada apitan dua gundukan batu. Dia sejenak tampak bimbang.

"Ah, tak ada apa-apanya. Mungkin hanya lingkaran berwarna hitam batu padas!" ujarnya lantas hendak berlari ke arah kaki bukit. Namun baru dua langkah, dia berhenti. Rasa panas di kakinya sejurus ditahannya kuat-kuat. Lalu berpaling kembali pada lingkaran hitam. Setelah berpikir sejenak dia pun meloncat ke arah dua gundukan batu yang di bagian tengahnya tampak lingkaran berwarna hitam.

Sambil membuka mata lebar-lebar dia melangkah berjingkat ke arah lingkaran hitam. Setelah benar-benar dekat, dia tampak menghela napas dalam-dalam. Seperti dugaannya, ternyata lingkaran hitam itu cuma batu padas berwarna hitam dan tak ada apa-apa di situ.

Mendapat mata sang pemuda mendelik. Keningnya mengernyit, karena begitu kedua kakinya menginjak lingkaran hitam, kakinya tidak merasakan panas! Malah perlahan-lahan telapak kakinya mengempos dan hawa dingin menjalari sekujur tubuhnya. Anehnya, begitu hawa dingin yang merambat dari sepasang kakinya menjalar, tubuhnya tidak merasakan sengatan panasnya terik matahari!

"Heran. Lingkaran apa ini?" gumamnya seraya tundukkan kepala dan memperhatikan lingkaran hitam di bawahnya. Belum lama memperhatikan, tiba-tiba dia merasakan lingkaran itu bergerak-gerak. Tubuhnya pun ikut bergetar. Perasaan heran perlahan berubah menjadi perasaan tegang dan takut, karena makin lama gerakangerakan lingkaran hitam batu padas itu makin keras, hingga tubuhnya oleng dan hendak jatuh. Sambil menahan rasa tegang, dia hendak melompat. Namun gerakannya tertahan karena tiba-tiba saja gerakan-gerakan itu berhenti.

Belum sempat dia mencari tahu apa yang menyebabkan lingkaran hitam itu bergerak-gerak, sang pemuda dikejutkan dengan suara tawa mengekeh panjang.

Si pemuda terlihat tercekat tegang, bukan hanya karena tawa itu tiba-tiba menyeruak, namun juga karena suara tawa itu seakan menggema dalam suatu ruangan dan tidak di hamparan lembah itu!

Seraya menahan rasa heran dan takut, sang pemuda coba membelalakkan sepasang matanya mencari-cari sumber suara. Namun dia tak menemukan seorang pun! Malah dia tak dapat menentukan dari mana suara tawa itu.

"Jelas sekali bahwa suara tawa tadi seakan menggema dalam ruangan. Namun di mana? Tempat ini hanya hamparan lembah berbatu. Jangankan sebuah ruangan, batu yang membentuk sebuah gua pun tak ada!" kuduknya mulai merinding. Saat itulah suara tawa kembali terdengar. Sang pemuda putar kepalanya memandang keliling. Tapi suara itu memang tidak di hamparan lembah! Namun jelas terdengar.

Mendapati hal demikian, begitu suara tawa terdengar berangsur pelan, dia beranikan diri untuk buka mulut. Suaranya terdengar bergetar malah seakan tersendat di tenggorokan.

"Sia.... siapakah.... Kau? Dan.... Kau di mana...?!"

Suara tawa lenyap. Lalu terdengar dengusan berat, tak lama kemudian terdengar suara. Sama seperti suara tawa, suara ini juga seakan terdengar dalam sebuah ruangan.

"Anak muda! Pertanyaanmu bukan saat ini untuk kujawab. Sekarang aku tanya, siapa namamu? Dan mana tanah kelahiranmu?"

Sejenak sang pemuda tampak bingung dan ragu-ragu. Dan seolah masih tidak percaya, dia sapukan sepasang matanya memandang setiap sudut gundukan batu-batu di hamparan lembah.

"Anak muda! Dengar. Jangan sampai aku mengulangi pertanyaanku kedua kali jika kau tak ingin jadi mayat di lembah ini!" terdengar suara ancaman, membuat sang pemuda bergetar takut. "Aku.... aku Prabangkara.... Dari sebuah

desa di dekat Singasari...," kata sang pemuda sebutkan nama dan tempat kelahirannya.

Lama sang pemuda yang bernama Prabangkara ini menunggu, namun tak terdengar lagi suara. Namun karena takut dan masih tertekan rasa tak percaya, Prabangkara juga tak angkat bicara, hingga untuk beberapa lama suasana di hamparan lembah itu sunyi mencekam.

"Anak muda!" akhirnya terdengar lagi suara. "Apa hubunganmu dengan Pangeran Sela Pemanahan dan Pangeran Sindu Kalasan?!"

Prabangkara terhenyak tegang. Dalam hati dia berkata.

"Siapa sebenarnya manusia yang tidak tampak ini? Dia mengetahui nama ayahanda dan kakekku!"

Prabangkara menarik napas panjang. Dengan suara masih bergetar dia menjawab. "Mereka adalah ayah dan kakekku!"

Terdengar suara tawa perlahan, disusul kemudian dengan suara batuk-batuk beberapa kali.

"Bagus! Sekarang jawab pertanyaanku kedua. Siapa yang menyuruhmu datang ke lembah berbatu ini?!"

"Aku tak mengenali orangnya, karena dia muncul dalam mimpiku dan wajahnya samasamar. Dia juga tak menyebutkan namanya!"

Bersamaan dengan   selesainya   jawaban Prabangkara, terdengarlah suara tawa panjang. "Cucuku.... Bertahun-tahun aku menung-

gu kedatanganmu. Masuklah! Jejaklah tiga kali batu padas di mana kau saat ini berada!"

"Cucu? Dia memanggilku cucu. Siapa dia sebenarnya?!" batin Prabangkara seraya perhatikan lingkaran batu padas hitam di mana ia berada.

"Cucuku! Aku tidak mau memerintah untuk kedua kalinya!"

"Heran. Aku tak mengerti dengan semua ini. Dia seakan tahu apa yang kuperbuat Ah,

sebaiknya kuturuti perintahnya!" Prabangkara lalu jejakkan kakinya tiga kali berturut-turut.

Batu padas yang membentuk lingkaran itu mendadak bergerak-gerak. Lantas terdengar suara gesekan seperti bersentuhannya dua buah batu. Dan perlahan-lahan batu padas hitam itu bergerak turun.

"Celaka! Aku bisa tertimbun di dalam. ,"

desis Prabangkara begitu mengetahui tubuhnya bergerak turun. Dia angkat kakinya berusaha melompat. Namun dia tercekat sendiri. Kedua kakinya tak bisa diangkat. Pijaknya pada batu padas yang bergerak turun itu laksana diberi perekat. Hingga dengan menahan rasa cemas bercampur takut dia tegak diam seraya membeliakkan sepasang matanya.

"Begitu kepalanya masuk ke dalam lingkaran yang kini membentuk sebuah lobang, tibatiba gerakan turun batu padas itu meluncur dengan derasnya. Prabangkara pejamkan matanya. Degupan jantungnya tambah keras. Dan keringat dingin makin membasahi sekujur tubuhnya.

Brakkk!

Mendadak terdengar suara berderak. Pijakan kaki Prabangkara ikut oleng dan tak lama kemudian tubuhnya jatuh tersungkur! Mungkin merasa ada bahaya, Prabangkara segera buka kelopak matanya dan bergerak bangkit. Ketika dia memandang berkeliling, dia tersentak. Ternyata dia berada pada sebuah ruangan berbentuk bundar. Pada salah satu sisinya tampak sebuah bangunan batu berbentuk pintu gerbang. Di atas pintu gerbang ini tertera sebuah tulisan 'Gerbang Setan'.

Membaca tulisan pada atas pintu gerbang, tengkuk Prabangkara makin merinding. Bulubulu tangannya berdiri. Dan belum sampai dia berpikir tentang sesuatu, terdengar suara berderak. Menoleh, Prabangkara terperanjat. Ternyata batu padas yang tadi membawanya turun telah menutup kembali!

"Celaka! Aku benar-benar tertimbun di sini...," desisnya seraya menyapukan pandangannya berkeliling. Tak ada lagi pintu selain pintu Gerbang Setan. Dan belum sempat pemuda ini berpikir lebih jauh, dari arah pintu gerbang mengepul asap putih tebal. Dan bersamaan dengan itu terdengar suara tawa mengekeh panjang. Prabangkara mendelik dengan tubuh bergetar.

Begitu suara   tawa   sirap,   samar-samar muncul sesosok bayangan manusia dari balik kepulan asap putih. Prabangkara makin membelalakkan matanya, memperhatikan sosok yang makin lama makin jelas setelah asap putih lenyap, kini tampaklah sosok itu.

Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Mengenakan pakaian seperti pakaian seorang Pangeran. Kumis dan jenggotnya panjang serta putih. Sepasang matanya kelabu namun tajam. Rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai rapi ke belakang.

"Prabangkara. Mendekatlah kemari!" tibatiba sosok orang tua yang kini berdiri tegak di ambang pintu Gerbang Setan keluarkan suara. Sepasang matanya yang kelabu mengawasi Prabangkara dari kaki hingga rambut, membuat sang pemuda semakin bergetar.

Untuk sesaat lamanya Prabangkara tegak termangu tanpa berani balas memandang. Dan perlahan-lahan pula dia melangkah mendekat. Sepuluh langkah di hadapan Gerbang Setan, Prabangkara hentikan langkah. Dengan dada berdebar, ia beranikan diri angkat kepalanya memandang sosok yang berdiri tegak di ambang pintu Gerbang Setan. Mulutnya lantas membuka hendak mengucapkan sesuatu, namun suaranya tercekat di tenggorokan, hingga yang terdengar hanyalah gumaman tak jelas. Prabangkara menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri. Lalu mulutnya bergerak-gerak kembali hendak berkata, namun sebelum suaranya terdengar, orang tua di hadapannya telah berkata.

"Cucuku, Prabangkara! Hari ini tugasku akan selesai, dan tugas selanjutnya kaulah yang harus melaksanakannya!"

Prabangkara terkejut mendengar ucapan orang tua di hadapannya. Hingga tanpa sadar dari mulutnya keluar ucapan.

"Tugas? Orang tua! Aku tak mengerti dengan semua ini!"

Orang tua itu keluarkan tawa panjang. "Dengar, Prabangkara! Beratus-ratus tahun

aku mengemban tugas menunggu untuk menyampaikan sesuatu padamu! Dan dengan kedatanganmu maka selesai sudah tugasku!"

Habis berkata begitu, orang tua itu angkat tangan kanannya ke atas kepala. Tiba-tiba entah dari mana datangnya, begitu tangan itu diluruhkan terlihatlah sebuah benda berwarna putih kusam di tangannya.

Prabangkara belalakkan sepasang matanya memandangi benda putih kusam di tangan orang tua.

"Seperti sebuah kitab...," kata Prabangkara dalam hati.

"Betul. Ini memang sebuah kitab!" kata orang tua seakan tahu apa yang terpikir sang pemuda. "Kitab inilah yang harus kusampaikan padamu!"

Habis berkata, orang tua itu ulurkan tangannya ke depan.

"Ambillah!" Prabangkara ternganga. Dia seakan masih belum percaya apa yang ada di hadapannya. Hingga untuk beberapa lama ia memandang berganti-ganti pada orang tua di hadapannya lalu pada kitab yang kini dijulurkan padanya. Namun setelah dilihatnya orang tua itu melotot, dan melangkah ke depan. Tangan kanan kirinya dijulurkan untuk mengambil kitab dari tangan orang tua. Begitu kedua tangannya menyentuh kitab, ada hawa aneh yang merasuki tubuhnya.

"Heran. Pandangan mataku lebih tajam. Degupan jantungku pun reda seketika. Tubuhku tidak lagi bergetar.... Tapi jangan-jangan aku mimpi...," batin Prabangkara. Lalu dia menggigit bibir bawahnya.

"Masih terasa sakit! Berarti aku tidak mim-

pi "

Setelah kitab berada di tangannya, Pra-

bangkara surutkan langkah dua tindak ke belakang. Untuk beberapa saat lamanya sepasang matanya memperhatikan kitab di tangannya. Mungkin karena sudah kuno, sampul kitab yang terbuat dari kulit domba itu berwarna putih kusam. Pada sampul itu tertera lukisan sebuah pintu gerbang.

Prabangkara angkat kepalanya, memandang pintu gerbang di mana orang tua itu berdiri. Lalu beralih pada sampul kitab. Dia tampak terperanjat.

"Lukisan ini sama dengan pintu gerbang itu!" gumamnya. Lalu pandangi sekali lukisan pada sampul kitab itu. Saat itulah orang tua di hadapannya berucap.

"Prabangkara. Seperti kataku tadi, dengan kedatanganmu dan beradanya kitab di tanganmu, maka selesai sudah tugasku. Tugas selanjutnya kau yang akan mengembannya!"

Prabangkara angkat kembali kepalanya.

Lalu berkata.

"Orang tua. Terus terang, aku belum mengerti dengan maksud kata-katamu. Harap kau sudi menerangkan. Juga kalau boleh tahu sebenarnya?!"

Yang ditanya keluarkan batuk beberapa

kali.

"Dengar baik-baik Prabangkara. Pada ratu-

san tahun yang lalu, seorang Empu yang bernama Jaladara berhasil menciptakan dua kitab dan dua kipas. Karena dia adalah Empu keturunan Empu Candring, maka tidak mustahil jika benda ciptaannya merupakan sebuah benda yang mempunyai kesaktian luar biasa...," sejenak orang tua itu hentikan keterangannya. Setelah menarik napas dalam-dalam dia melanjutkan.

"Bersamaan waktunya dengan itu, hidup pula seorang Pangeran yang karena lahir dari istri selir Baginda yang merintah waktu itu, maka Pangeran tersebut tidak bisa naik takhta. Padahal putra mahkota yang lahir dari permaisuri Baginda, sangat bodoh dan tak disukai rakyat. Karena merasa terpanggil untuk menyelamatkan kerajaan dari tangan orang bodoh, maka Pangeran dari istri selir tadi mencoba mengadakan pendekatan. Namun putra mahkota tidak bisa diajak kompromi. Dan sekali lagi untuk menyelamatkan kepandaian kerajaan, juga demi rakyat banyak, sang Pangeran dengan jalan kekerasan. Sebenarnya waktu itu hampir saja takhta bisa jatuh ke tangan sang Pangeran jika saja Empu Jaladara tidak ikut campur. Dengan ikut campurnya Empu Jaladara yang memihak pada putra mahkota, akhirnya takhta yang hampir tergenggam lolos dari tangan sang Pangeran. Bahkan bukan hanya sampai di situ, dengan hasutan Empu Jaladara, sang Pangeran diusir dari kalangan kerajaan. Keluarga sang Pangeran ini lantas hidup di sebuah desa di dekat Singasari "

Prabangkara mendengarkan keterangan orang tua itu dengan seksama. Dan ketika orang tua itu menghentikan ceritanya, dia angkat bicara.

"Orang tua. Lantas apa hubungannya ceritamu dengan tugasmu yang juga katamu harus kuemban?!"

Orang tua itu kembali menarik napas panjang, lalu berkata.

"Mungkin merasa terhina dengan pengusiran yang dijatuhkan atas keluarga sang Pangeran, salah seorang anaknya pergi mengembara, dan hidup bertapa seraya memperdalam ilmu silat. Beberapa puluh tahun kemudian, dia kembali ke Singasari dengan maksud membuat perhitungan dengan Empu Jaladara yang telah menghasut putra mahkota hingga menjatuhkan pengusiran terhadap keluarganya. Ternyata setelah terjadi pertarungan panjang dan melelahkan, anak sang Pangeran tersebut belum bisa mengatasi Empu Jaladara, malah dia akhirnya tewas. Tapi sebelum menghembuskan napas terakhir, dia sempat menitipkan sebuah kitab dengan pesan kelak di kemudian hari kitab tersebut harus diserahkan pada salah seorang keturunannya yang ke tujuh. Aku, Panjer Wengi adalah keturunan kedua. Sementara Sindu Kalasan yang kau katakan sebagai kakekmu dan Sela Pemanahan yang kau sebutkan sebagai ayahmu adalah keturunan ke lima dan ke enam!"

Prabangkara ternganga lebar, malah kedua kakinya sampai tersurut satu langkah. Sepasang matanya tak berkesip memandang orang tua menyebut dirinya Panjer Wengi dan mengaku sebagai keturunan kedua.

"Aneh. Jangankan kakekku, ayahku pun telah meninggal, kenapa dia yang mengaku sebagai keturunan kedua masih hidup...?" batin Prabangkara. Lalu dia mengutarakan apa yang ada di hatinya.

"Orang tua. Kalau kakekku dan ayahku yang kau sebut sebagai keturunan kelima dan keenam telah meninggal, bagaimana mungkin kau yang mengaku sebagai keturunan kedua...," Prabangkara tidak melanjutkan ucapannya, karena orang tua yang menyebut dirinya Panjer Wengi mengangkat tangannya memberi isyarat agar Prabangkara tak melanjutkan bicara.

"Prabangkara. Seperti halnya kakek dan ayahmu. Aku juga sebenarnya telah meninggal pada ratusan tahun yang lalu "

Prabangkara terkesiap. Sepasang matanya makin dibeliakkan.

"Bagaimana mungkin, orang yang telah meninggal bisa menampakkan diri?" kata Prabangkara dalam hati.

Seakan tahu apa yang membersit dalam hati Prabangkara, Panjer Wengi keluarkan tawa pelan.

"Prabangkara. Yang kau lihat sekarang ini adalah wujud roh Panjer Wengi. Dan mungkin telah ditakdirkan, rohku belum bisa tenang bersemayam sebelum aku menyelesaikan tugasku menyampaikan kitab itu padamu!"

"Jadi...?!" Prabangkara tidak meneruskan ucapannya. Sepasang matanya memperhatikan sosok Panjer Wengi dari atas hingga bawah. Dan pemuda ini jadi terkesiap. Ternyata, meski tampak berdiri tegak di ambang pintu gerbang, namun sepasang kaki Panjer Wengi mengambang di udara!

DUA

PANJER Wengi keluarkan tawa panjang. Kedua tangannya bergerak sedekap sejajar dada. Lalu dia berkata. "Prabangkara. Kau tidak usah memikirkan bagaimana ini semua bisa terjadi! Karena kau tidak akan sampai bisa ke sana. Yang harus kau pikirkan sekarang adalah bagaimana kau bisa menyelesaikan tugas yang kini ada dipundakmu!"

Prabangkara diam beberapa saat. Lalu perlahan dia melangkah maju dua tindak. Tiba-tiba dia jatuhkan diri berlutut seraya berkata.

"Eyang Panjer Wengi.... Harap kau katakan tugas apa yang harus kulaksanakan!"

"Seperti keterangan tadi, Empu Jaladara telah memusnahkan harapan kita bersama, bahkan telah menewaskan pembuat kitab yang kini ada di tanganmu! Prabangkara. Roh-roh nenek moyangmu tidak akan tenang sebelum si pembuat malapetaka itu dibuat hancur lebur! Empu Jaladara dan anak cucunya harus dimusnahkan dari muka bumi, juga barang-barang ciptaannya! Karena saat ini yang paling dikenal orang adalah barang ciptaan Empu itu, maka tugas utamamu adalah merampas dan memusnahkan barang ciptaan Empu Jaladara dari orang yang memegangnya! Karena dengan demikian nama Empu Jaladara tidak akan dikenal lagi! Bahkan demi nama besar keluarga, kau harus dapat menggenggam pucuk pimpinan rimba persilatan!"

"Eyang Panjer Wengi. Bagaimana mungkin aku dapat melaksanakan tugas itu? Sedangkan aku sendiri hanya menguasai sedikit ilmu silat!"

Panjer Wengi kembali keluarkan tawa pan-

jang. "Cucuku.... Tugas ini tidak begitu saja dilimpahkan padamu tanpa perhitungan. Kitab yang ada di tanganmu adalah sebuah kitab yang berisi ilmu kesaktian tiada tanding! Begitu hebatnya kitab itu hingga selain keturunan ke tujuh, tidak ada orang yang bisa membukanya! Aku sebagai pengemban tugas untuk menyampaikannya saja tidak kuasa untuk membukanya!"

Prabangkara terdiam sesaat. Diperhatikannya kitab bersampul kulit yang ada di tangannya. Perlahan-lahan tangan kanannya bergerak hendak mencoba membuka. Namun sebelum kitab itu terbuka, Panjer Wengi telah angkat bicara kembali.

"Prabangkara. Waktumu masih banyak.

Bukan sekarang saatnya membuka kitab itu!" Prabangkara luruhkan tangannya kembali.

Pandangan matanya kembali lurus ke arah Panjer Wengi.

"Eyang Panjer Wengi. Tugasku adalah merampas dan memunahkan barang ciptaan Empu Jaladara. Katakan, barang apa saja itu dan siapa orang yang kini memegangnya!"

"Barang itu berupa dua kipas. Satu berwarna ungu dan satunya lagi berwarna hitam. Yang berwarna ungu bergambar lukisan ombak dan berangka 108! Sedangkan satunya lagi, hitam legam tanpa lukisan. Hanya saja pada ujung kipas terlihat sebuah pangkasan, seolah kipas itu belum sempurna pembuatannya. Lalu sebuah bumbung bambu berwarna kuning yang isinya adalah lembaran daun lontar. Daun lontar itu berisi jurus sebagai pendalaman dari dua kipas tadi!"

"Lantas siapakah orang yang kini memegangnya?!"

"Kipas ungu sekarang dimiliki oleh seorang anak manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Kau harus dapat merampas sekaligus memunahkan kipas itu! Sedangkan kipas berwarna hitam, dipegang oleh manusia bergelar Malaikat Berdarah Biru. Tapi pada akhirnya kipas itu jatuh ke tangan Wong Agung dari Karang Langit, yang juga adalah guru dari Pendekar Mata Keranjang

108. Namun akhir-akhir ini kipas itu dicuri oleh seseorang beserta bumbung bambunya dari Wong Agung. Siapa pencuri itu, belum dapat diketahui secara jelas! Tugasmulah untuk menyelidiki siapa pencuri kipas dan bumbung bambu itu!"

"Prabangkara. Tugas terakhirmu adalah merajai rimba persilatan! Karena hanya dengan jalan itulah nama keluarga kita terangkat kembali! Dan nama Empu Jaladara bisa tenggelam!"

"Segala keterangan dan perintahmu akan kulaksanakan!"

"Bagus! Sebagai orang yang dipersiapkan mengemban tugas, tentu tidak terlalu lama bagimu untuk mempelajari isi kitab yang ada di tanganmu. Dan ingat! Kau harus mempelajari kitab itu di sini! Karena di sinilah nenek moyangmu dikebumikan! Kelak, jika kau telah selesai, kau cukup menekan batu hitam yang ada di sisi pintu gerbang ini. Lobang di atasmu akan membuka sendiri!"

Prabangkara anggukan kepalanya perla-

han.

"Prabangkara. Kurasa semuanya telah ku-

jelaskan padamu. Kalau tidak ada yang kau tanyakan, aku akan pergi sekarang!"

"Eyang   Tunggu!" seru Prabangkara.

"Kau hendak mengutarakan sesuatu? Katakan!"

"Setelah aku selesai mempelajari kitab ini dan terjun dalam rimba persilatan, apakah aku akan tetap memakai nama Prabangkara?"

"Sesuai dengan pesan, kau harus menyimpan nama kecilmu! Tentang siapa nama yang harus kau sandang, semuanya ada di dalam kitab itu! Hanya kelak jika kau telah berhasil menguasai rimba persilatan, kau boleh katakan siapa dirimu sebenarnya!"

Habis berkata begitu, Panjer Wengi angkat tangan kanannya. Tiba-tiba asap putih muncul dan langsung membungkus sosoknya. Ketika sosoknya samar-samar akan lenyap, terdengar suara.

"Prabangkara.... Ingat! Rimba persilatan harus kau genggam! Lenyapkan semua orang yang menghalangi langkahmu!"

"Semua kudengar dan kulaksanakan, Eyang...," kata Prabangkara, lalu menjura dalamdalam. Ketika kepalanya diangkat kembali, sosok Panjer Wengi telah lenyap! Untuk beberapa saat lamanya, Prabangkara duduk diam sambil memikirkan apa yang baru saja dialaminya.

"Rimba persilatan harus bisa kugenggam....

Semua orang yang merintangi harus kumusnahkan!" gumamnya, lalu kitab di tangannya diperhatikan baik-baik.

"Selain keturunan ketujuh tidak ada orang yang bisa membukanya. Hm.... Semoga ucapan itu benar adanya...," batin Prabangkara. Lantas dengan tangan sedikit gemetar, sampul kitab itu dibukanya.

"Hmm.... Tidak ada kesulitan...," ujar Prabangkara dalam hati ketika sampul kitab terbuka. Pada halaman pertama ini terdapat tulisan.

"Keturunan ketujuh adalah satu-satunya keturunan yang berhak atas kitab ini. Kelak dia berhak menyandang gelar Dewa Maut!"

"Hmm.... Jadi nama itu yang kelak kusandang setelah mempelajari kitab ini!" gumam Prabangkara. Lantas dia membalik halaman berikutnya. Di situ hanya terdapat tulisan pintu gerbang yang di atasnya tertulis Gerbang Setan. Di bawahnya tertera tulisan besar berbunyi. "Takhta Setan".

"Takhta Setan. Hm.... Ini pasti nama kitab ini. Kitab yang digunakan untuk memasuki pintu gerbang bertulisan Gerbang Neraka itu!"

Prabangkara sejenak memandang lurus ke depan, ke arah pintu gerbang di mana tadi Panjer Wengi berdiri. Lalu sesaat kemudian hendak membuka halaman berikutnya. Namun dia heran. Halaman ketiga ini tidak kuasa dibukanya!

"Bagaimana ini? Apakah aku memang tak kuasa membukanya?" bisiknya, lalu mencoba sekali lagi membuka. Dan memang benar. Dia tak bisa membuka halaman ketiga itu.

Selagi Prabangkara dilanda kebingungan, tiba-tiba terdengar suara.

"Prabangkara. Bangkitlah! Duduk di ambang pintu Gerbang Setan!"

Prabangkara terkejut. Dia tahu pasti, itu bukan suara Panjer Wengi. Sepasang matanya liar menyapu berkeliling, namun tak terlihat seorangpun! Dia sejenak terpaku, namun akhirnya dia bangkit dan melangkah perlahan menuju bangunan batu yang membentuk pintu. Di situ, dia lantas duduk. Dia diam sesaat menunggu, berharap terdengar lagi suara. Namun setelah ditunggu agak lama tidak ada suara yang terdengar, dia kembali memperhatikan kitab yang masih terbuka dua halaman. Perlahan-lahan pula tangan kanannya coba membuka halaman ketiga. Tiba-tiba dia tercengang. Dengan mudahnya halaman ketiga bisa dibuka!

"Hmm.... Aku tahu sekarang. Aku harus mempelajari kitab ini di pintu ini!" kata hati Prabangkara dengan wajah cerah. TIGA

SEORANG pemuda berparas tampan mengenakan pakaian warna hijau dengan rambut dikuncir ekor kuda terlihat melangkah pelan menyusuri padang ilalang hijau yang melambailambai ditiup angin. Matahari yang hampir saja tenggelam dan memancarkan cahaya kekuningan menambah indahnya pemandangan di hamparan padang ilalang itu. Apalagi nun jauh di sebelah baratnya tampak julangan gunung Arguna yang berubah warna menjadi keperakan tertimpa cahaya senja matahari.

Seraya melangkah, sang pemuda tak hentihentinya mengumbar tawa dan senyum. Bahkan sesekali wajahnya berpaling ke belakang, lalu bersuit nyaring dan menyelinap masuk ke balik hamparan ilalang, namun tak lama kemudian muncul kembali sambil tersenyum-senyum.

"Aji.... Tunggu. Di mana kau? Kau jangan terus-terusan menggodaku!" tiba-tiba terdengar teriakan.

"Aku di sini!" jawab sang pemuda yang buka lain memang Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 sambil hentikan langkah dan berpaling ke belakang.

"Aji.... Sudah! Jangan kau menggodaku lagi!" kembali terdengar teriakan dan sesosok bayangan berkelebat lalu berdiri tegak di samping Aji dengan wajah memberengut. Namun tampak sekali jika semua itu hanya sifat manjanya saja. Terbukti tatkala Aji melangkah mendekat dan memegang tangannya, sosok di sampingnya telah tersenyum dan seketika memeluk Aji.

"Anting Wulan.... Hari sudah hampir gelap. Sebaiknya kita cepat meneruskan perjalanan. Apakah masih jauh tempatmu dari sini?" kata Aji sambil mencoba meluruhkan rangkulan orang yang dipanggil Anting Wulan.

Anting Wulan angkat kepalanya. Ternyata dia adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita. Rambutnya panjang dan dibiarkan jatuh bergerai di punggungnya. Sepasang matanya bulat serta tajam. Mengenakan pakaian warna putih tipis, dan ketat, hingga dadanya yang membusung kencang menantang tampak menonjol jelas, belum lagi pakaiannya dibuat agak rendah di bagian dada hingga buah dadanya yang putih kencang itu tersembul sebagian.

"Kau lihat gunung itu. Di kaki gunung itulah tempatku!"

Aji palingkan wajahnya memandang gu-

nung.

"Hm. Kurasa masih agak jauh. Kalau kita

tak segera meneruskan perjalanan, jangan-jangan kita nanti tersesat karena cuaca gelap!"

"Kau tak perlu takut. Aku sudah faham daerah ini! Lagi pula kenapa takut tersesat? Pemandangan di sini sangat indah jika malam hari, apalagi jika bulan sedang purnama. Apakah kau tidak ingin menikmati indahnya tempat ini?!" sambil berkata, sang gadis mempererat pelukannya. Malah tanpa malu-malu lagi wajahnya segera didekatkan pada wajah Aji. Bibirnya sedikit dibuka dengan mengeluarkan desahan pelan manja. Sepasang matanya yang bulat sedikit dipejamkan, membuat Aji menarik napas dalam-dalam.

"Gila! Kalau terus-terusan berada di samping gadis ini, bukan tak mungkin aku lambat laun akan tergoda melakukan hal yang tidak-tidak. Ah, secepat mungkin aku harus menghindarinya "

"Kau melamun. Kau memikirkan seseorang?" tiba-tiba Anting Wulan menegur dan pandangi wajah Aji dengan tatapan menyelidik.

Aji menggeleng pelan. Sepasang matanya balas menatap gadis di hadapannya. Sejenak dua orang ini saling berpandangan. Aji lantas sunggingkan senyum dan berkata.

"Anting Wulan. Sudah beberapa hari ini tubuhku tak tersentuh air. Apakah di daerah ini ada pancuran air? Aku ingin membasahi tubuh, sekalian ingin membasahi tenggorokan "

Anting Wulan alias Dewi Tengkorak Hitam menghela napas panjang seakan ingin menekan gejolak yang mulai mendera dadanya. Kepalanya lantas berpaling ke arah barat.

"Di sebelah itu ada pancuran. Seperti halnya dirimu, sebenarnya aku pun sudah gerah dan ingin mandi. Bagaimana kalau kita mandi bersama?"

"Edan! Gadis ini benar-benar nekat!" pikir Aji. Lalu berkata sambil memandang tempat yang ditunjuk Anting Wulan.

"Tak pantas rasanya jika kita harus mandi bersama. Anting Wulan. Kalau kau ingin mandi, pergilah kau duluan. Aku akan menunggumu di sini!"

Anting Wulan keluarkan tawa pelan. Namun jelas sekali jika wajahnya menunjukkan rasa kecewa atas penolakan Aji.

"Jika begitu, baiklah. Aku akan mandi duluan. Tapi kau jangan terlalu jauh...," seraya berkata begitu, Anting Wulan melepaskan rangkulannya lalu menyeret tangan Aji. Meski agak berat, murid Wong Awung ini akhirnya menuruti seretan tangan sang gadis dan melangkah ke arah pancuran air.

"Tunggulah di sini!" gumam Anting Wulan begitu sampai pada sebuah dangau yang di kelilingi batu-batu dan di sebelah sudutnya tampak pancuran air. Gadis ini lantas melangkah turun mendekati pancuran. Sejenak dia memandang ke atas, ke tempat Aji berdiri menunggu. Dan seakan disengaja, gadis ini segera melepas pakaian atasnya.

"Busyet! Aku tak tahan jika menyaksikan dia...," Aji alihkan pandangan lalu perlahan-lahan dia melangkah menjauhi tempat itu.

Saat itulah tiba-tiba sesosok bayangan tampak berkelebat, lalu menyelinap ke balik hamparan ilalang.

Aji menunggu sesaat. Tak ada tanda-tanda akan munculnya seseorang, Aji melangkah sambil menajamkan sepasang matanya. Tiba-tiba lima tombak di depannya sesosok bayangan terlihat kembali berkelebat. Namun karena begitu cepatnya gerakan sang bayangan, hingga Aji tak dapat memastikan laki atau perempuan adanya si bayangan.

"Edan! Gerakannya sungguh luar biasa. Siapa dia? Apakah orang yang mengikuti perjalananku selama ini? Memang, aku tak dapat ditipu. Selama perjalananku dengan Anting Wulan, aku merasa diikuti seseorang.... Hm.... aku jadi penasaran. Kenapa dia terus mengikuti perjalananku? Aku harus dapat menangkapnya dan mengorek apa maksudnya!" Berpikir begitu, murid Wong Agung ini segera berkelebat ke arah lenyapnya sang bayangan. Namun di tempat itu dia tak menemukan seseorang. Sambil merunduk dan menyibakkan padang ilalang, sepasang matanya lantas mencari-cari dari sela-sela padang ilalang. Namun sejauh ini dia tak menemukan apa-apa.

Saat itulah, terasa deru angin bersiur di belakangnya. Aji segera berpaling ke belakang. Namun lagi-lagi dia tak menemukan seseorang. Hanya ilalang di belakangnya terlihat bergoyanggoyang, jelas jika baru saja ada yang menerabasnya.

"Gila! Aku dapat memastikan jika baru saja ada orang berkelebat di sini. Angin siurnya belum hilang. Tapi mana manusianya? Jangan-jangan bukan manusia...," pikir Aji. Karena cuaca sudah mulai temaram, terpaksa murid Wong Agung ini putar pandangannya dengan sepasang mata dibeliakkan besar-besar.

Tiba-tiba lima belas langkah di depannya terlihat sesuatu membubung ke angkasa. Ketika diperhatikan betul-betul, sesuatu itu ternyata sebuah bungkusan kain. Anehnya, begitu membubung dan Aji bergerak ke tempat dari mana bungkusan itu mencuat, bungkusan itu tiba-tiba menukik kembali dengan derasnya dan saat Aji sampai di tempat itu, bungkusan tadi lenyap!

"Sialan! Siapa sebenarnya manusia ini? Gerakannya sungguh luar biasa cepatnya! Dan kenapa dia seolah mempermainkan diriku?! Kurang ajar betul!" ujar Aji seraya terus memperhatikan tempat di sekelilingnya. Dan Aji terperangah sendiri, karena tidak terasa dia telah jauh dari tempat di mana Anting Wulan mandi.

"Ah, tak ada gunanya menuruti orang main-main. Lebih baik aku kembali ke pancuran...," meski dia berkata begitu dalam hati, namun dia tak juga melangkah ke arah pancuran air. Malah sepasang matanya memandang jauh ke depan. Jelas jika dia masih merasa penasaran dengan orang yang mempermainkannya.

Wuuutt!

Serangkum angin deras tiba-tiba menyambar dari samping Aji.

"Keparat!" seru Aji mulai agak geram mendapati orang telah mulai menyerangnya. Sambil geser bahunya ke samping menghindari sambaran angin, Aji dorong tangan kanannya ke arah datangnya sambaran angin.

Praaasss!

Padang ilalang sepuluh langkah di samping Aji terpapas rata! Namun tak juga terlihat batang hidungnya seorang manusia! Membuat murid Wong Agung ini makin geram. Dan mungkin saking geramnya, dia segera berteriak.

"Siapa pun adanya kau, jangan main-main seperti anak kecil! Tunjukkan siapa dirimu, dan katakan apa maksudmu dengan permainan ini!"

Aji menunggu sesaat. Namun tak ada suara jawaban atau munculnya seseorang. Melihat hal demikian, kembali Aji keluarkan teriakan.

"Jangan bertingkah pengecut! Tampakan wujudmu!"

Lagi-lagi tak ada tanda-tanda munculnya seseorang, membuat murid Wong Agung ini makin penasaran dan makin geram. Dengan pelipis bergerak-gerak dan dagu sedikit mengembung, kembali Aji berteriak, kali ini sambil angkat tangannya seakan memberi isyarat bahwa dia akan melakukan serangan.

"Siapa pun kau, jika tak segera menunjukkan diri, maka jangan menyesal jika tubuhmu ikut merasakan pukulanku!" gertaknya.

Entah karena takut pada gertakan Aji, atau karena memang ingin menunjukkan diri, tiba-tiba saja terdengar seseorang menjawab.

"Tahan dulu seranganmu. Aku ada di sebelahmu!"

Aji melengak kaget. Bukan hanya karena jawaban orang yang mengatakan dirinya ada di sebelahnya dan dia tak mengetahui, melainkan juga karena suara orang itu! Suara itu jelas suara orang laki-laki yang disarukan seperti suara orang perempuan.

Aji segera palingkan wajahnya ke samping. Sepuluh langkah di hadapannya kini tampak seseorang berdiri tegak sambil memandang ke arahnya dengan senyum-senyum. Dia adalah seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan, bahkan karena tampannya, hampir-hampir dia berparas jelita! Sepasang bola matanya bundar dan sayu. Rambutnya panjang dan dikepang dua. Tubuhnya semampai. Anehnya meski jelas dia seorang lakilaki, namun bibirnya yang membentuk bagus itu diberi pemerah menyolok. Kedua tangannya pun terlihat bergerak-gerak halus laksana gerakan seorang perempuan. Dan lebih dari itu semua, pakaian yang dikenakannya adalah pakaian seorang perempuan!

"Sialan! Ternyata seorang laki-laki setengah perempuan!" rutuk Aji dalam hati seraya luruhkan tangannya dan memperhatikan orang di hadapannya. Kemarahan yang sejak tadi ditahannya mendadak hilang begitu melihat siapa adanya orang itu. Malah dia tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan di hadapannya. Karena sesekali orang itu meliuk-liukkan bahu serta pinggulnya. Bahkan sebelah matanya terlihat mengerdip nakal. "Siapa kau? Dan kenapa mempermainkan orang?!" tanya Aji, sepasang matanya terus memperhatikan orang di hadapannya. Ternyata, selain tangannya lembut dan putih mulus, pada kuku jari-jarinya dicat merah.

Mendengar pertanyaan Aji, laki-laki berpakaian dan berwajah seperti orang perempuan itu tersenyum, pinggul dan bahunya digoyang sebentar, sementara kedua tangannya digerakkan meliuk ke depan. Mulutnya membuka dan terdengarlah suaranya yang mirip suara seorang perempuan.

"Manusia tampan. Sebenarnya aku malu mengatakan siapa diriku. Karena namaku jelek "

"Jelek atau bagus kau harus sebutkan, karena kau telah berani permainkan orang!"

"Kalau aku tidak sebutkan?!" katanya seraya mengerling, lalu melangkah mendekat. "Aku akan memaksamu!" Tiba-tiba laki-laki berwajah cantik jelita itu keluarkan suara tawa manja. "Idiiihhh.... Aku jadi takut. Jangan-jangan kau laki-laki yang suka memaksa-maksa "

"Sudah jangan banyak mulut. Katakan saja siapa namamu! Aku tak punya waktu banyak!"

"Hik.... Hik.... Hik...! Tentunya kau ingin segera melihat gadismu yang sedang mandi, bukan? Apa sedapnya melihat nenek-nenek sedang mandi?"

"Sialan! Siapa sebenarnya manusia ini. Ucapannya seperti ucapan Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang yang mengatakan Anting Wulan sebagai nenek-nenek.'" batin Aji teringat pada ucapan Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang beberapa waktu yang lalu, yang memang menyebut Anting Wulan sebagai Tua Bangka. Kalau pada Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang, Aji tak berani berkata apa-apa meski keduanya mengatakan Anting Wulan sebagai Tua Bangka, tidak demikian halnya pada orang ini.

"Manusia laki-laki perempuan! Selain tukang mempermainkan orang ternyata mulutmu juga usil. Dengar! Sedap tidak sedap itu bukan urusanmu! Dan kalau kau tak lekas sebutkan siapa dirimu, jangan menyesal jika bibirmu yang merah itu kubuat makin merah!"

"Ah...," orang di hadapan Aji keluarkan seruan seakan terkejut. Namun tak lama kemudian bibirnya yang merah diusap-usapnya lalu berkata.

"Sungguh jelek nasib orang sepertiku. Diancam, dituduh, dan dibentak-bentak! Tidak seperti nenek-nenek itu. Dipeluk, dicium bahkan mandi pun diantar!"

"Keparat! Kau membuatku hilang kesaba-

ran!"

"Hilang kesabaran ingin melihat  gadismu

itu, bukan?" kata laki-laki berpakaian perempuan tanpa mempedulikan Aji yang telah banyak dilanda amarah.

Aji pelototkan sepasang matanya. Dadanya bergetar, dagunya mengembung menahan marah. Namun diam-diam dalam hatinya dia berucap. "Aku harus berhati-hati dengan manusia

satu ini. Meski sikapnya genit, aku yakin di balik kegenitannya itu dia menyembunyikan sesuatu! Terbukti dia tadi mampu bergerak cepat!"

"Manusia laki-laki perempuan! Aku tak akan mengulangi pertanyaanku. Aku tidak mainmain dengan kata-kataku!" kata Aji lalu angkat tangannya, membuat gerakan seperti orang hendak menyerang.

Namun Aji jadi salah tingkah sendiri dan makin geram, karena orang di hadapannya tidak menunjukkan rasa takut. Malah sambil kerdipkan sebelah matanya dan tersenyum genit, dia berkata.

"Anak manusia bernama Aji Saputra. Percuma kau angkat tanganmu kalau hatimu berkata jangan! Hik.... Hik.... Hik...!"

"Jahanam! Dia seakan tahu apa yang ada di benakku. Dia juga tahu namaku! Siapa manusia genit ini sebenarnya?" batin Aji dengan gelengkan sedikit kepalanya. Murid Wong Agung ini sebenarnya memang tak bermaksud lancarkan pukulan. Dia angkat tangannya dengan tujuan agar orang di hadapannya merasa takut dan menyebutkan siapa dirinya. Namun begitu laki-laki berpakaian perempuan seakan tahu apa yang ada dalam hatinya, mungkin untuk menunjukkan bahwa dugaan orang itu salah, ia dorong tangannya perlahan ke depan.

Wuuuttt! Serangkum angin deras melesat dan menggebrak ke arah laki-laki berpakaian perempuan.

"Itulah petunjuk bahwa ucapanmu salah, Manusia.'" kata Aji sambil memperhatikan.

Di depan, mendapat serangan begitu lakilaki berdandan perempuan ini tidak bergerak dari tempatnya. Malah bibirnya keluarkan desahan genit. Dan begitu setengah depa lagi serangan Aji menghajar tubuhnya, dia gerakan tangan kanannya pulang balik dengan gemulainya. Hebatnya bersamaan dengan itu sambaran angin serangan Aji bergerak membalik! Malah kini melesat lebih cepat!

Karena Aji tidak menyangka, maka hampir saja tubuhnya terhantam pukulannya sendiri jika dia tidak segera membuat gerakan merunduk sambil melompat ke samping.

"Edan! Bagaimana mungkin gerakan tangannya yang begitu pelan dapat membalikkan pukulanku? Hmm.... Dugaanku tidak meleset. Dia menyembunyikan kepandaian tinggi di balik kegenitannya "

Selagi Aji tercenung, laki-laki berdandan perempuan itu keluarkan tawa panjang.

"Seribu kali berpikir kau tak akan menemukan jawabannya, Pemuda Tampan. Lebih baik kau pikirkan dirimu! Dirimu sedang diincar orang. Dan tantangan di depan makin berat, karena kau akan menemui gunung besar yang siap meletus!"

Habis berkata begitu, laki-laki berdandan perempuan itu balikan tubuh dan hendak pergi dari hadapan Aji.

"Ramalan kentut! Akan pergi ke mana kau? Jangan mimpi bisa pergi begitu saja sebelum jawab pertanyaanku!" teriak Aji sambil angkat tangannya kembali.

"Aku tidak meramal, tapi kesempatan untuk berdua-duaan lagi dengan gadis tadi lenyap sudah!" kata lelaki berdandan perempuan, lalu tanpa menghiraukan ancaman orang, dia enak saja berkelebat.

Mendapati ancamannya tidak dihiraukan, Aji serta-merta hantamkan kedua tangannya.

Wuuutt! Wuuutt!

Dua gelombang angin menghamparkan hawa panas melesat membuntuti sosok laki-laki berdandan perempuan.

Namun Aji dibuat hampir tak percaya dengan pandangan matanya, karena begitu sedepa lagi pukulannya menghantam sasaran, laki-laki berdandan perempuan laksana ditelan bumi. Sosoknya tiba-tiba lenyap! Dan serangan Aji menghajar padang ilalang hingga padang ilalang itu langsung terabas rata dan hangus!

"Setan alas! Ke mana lenyapnya manusia itu?!" ujar Aji lantas memutar kepalanya dengan mata mendelik mencari-cari. Namun hingga matanya lelah melotot, orang yang dicarinya tak dapat ditemukan. Sambil menyumpah habishabisan, Aji balikkan tubuh dan segera berkelebat ke arah pancuran. Namun murid Wong Agung ini sedikit terkejut begitu sampai, karena Anting Wulan tidak ada di tempat.

"Ah, dia mungkin ganti pakaian hendak menggodaku! Biar aku berdiri saja di sini. Bila capek sembunyi, dia tentu akan keluar sendiri!" batin Aji sambil senyum-senyum.

Tapi begitu ditunggu hingga kakinya terasa pegal dan Anting Wulan tak juga ada tanda-tanda muncul, murid Wong Agung ini mulai menangkap ada yang tidak beres. Sepasang matanya lantas menyapu berkeliling hingga sudut-sudut sekitar pancuran. Dan ketika dia belum juga menemukan orang yang dicari, dia berteriak lantang. "Anting Wulan.... Di mana kau?" Tak ada jawaban. Untuk kedua kalinya Aji berteriak. Dan begitu masih juga tak ada jawaban, dia makin yakin telah terjadi sesuatu pada Anting Wulan. Dia segera berkelebat mengelilingi tempat itu. Namun lagi-lagi dia tak menemukan gadis berparas cantik.

"Ke mana dia? Jangan-jangan ini perbuatan manusia banci. Keparat! Akan kuhajar betulan dia kalau sampai berbuat yang tidak-tidak! Apa maunya dia sebenarnya...?"

Selagi Aji menduga-duga, tiba-tiba terdengar siutan beberapa kali. Lalu disusul dengan berdesirnya angin dari empat jurusan. Dan belum sempat Aji melihat apa yang terjadi, berkelebat empat sosok bayangan dan langsung tegak mengurungnya! EMPAT

SERENTAK sepasang mata murid Wong Agung ini membeliak, dan tanpa sadar kedua kakinya tersurut hingga tiga tindak ke belakang. Tengkuknya merinding begitu dia dapat mengenali tampang masing-masing orang.

Orang sebelah kanan adalah seorang lakilaki berusia amat lanjut. Mengenakan jubah besar dan warna biru gelap. Sosoknya tinggi kurus. Sepasang matanya besar dan masuk dalam cekungan rongga yang menjorok dalam. Bibirnya sangat tebal. Kulit wajahnya sangat tipis hampir tak kelihatan. Dia mengenakan sebuah caping lebar dari kulit berwarna hitam yang bagian atasnya dibuat terbuka hingga rambutnya yang jarang dan jabrik mencuat ke atas. Ada keanehan pada kakek ini, meski dia terlihat tegak berdiri, namun sepasang kakinya mengambang di udara. Jelas menandakan jika manusia ini mempunyai tingkat peringan tubuh yang benar-benar sempurna.

Dengan menindih rasa terkejut untuk beberapa jurus lamanya, Aji memperhatikan kakek ini dengan seksama mulai dari atas hingga bawah. Dahinya mengernyit seakan mengingat sesuatu. Kepalanya lantas mendongak sedikit. Dalam hati dia berucap.

"Hmm    Jika tak salah manusia ini adalah

orang yang bergelar Manusia Titisan Dewa. Tokoh rimba persilatan yang sekarang menjadi guru Sakawuni. Aku harus berhati-hati, pada waktu bertemu dulu, jika tak diselamatkan Setan Arak, mungkin aku sudah jadi mayat di tangannya "

Di sebelah kanan kakek bercaping kulit hitam yang bukan lain memang Manusia Titisan Dewa seorang tokoh jajaran atas golongan hitam yang kini menjadi guru Sakawuni, dan di sebelahnya adalah seorang perempuan berparas cantik berusia kira-kira dua puluh lima tahun. Mengenakan pakaian ketat warna gelap. Rambutnya panjang bergerak dan berombak. Hidungnya mancung ditingkah bibir yang bagus. Sepasang matanya bulat dan berwarna kebiruan. Dadanya kencang membusung dengan pinggul besar. Pada pinggangnya yang ramping sebelah kanan terlihat sebuah kipas lipat berwarna hitam legam. Sementara pada pinggang sebelah kiri menyelip dua senjata berupa tombak dan keris. Keduanya juga berwarna hitam. Namun ada seberkas cahaya berkilat-kilat pada dua senjata tersebut.

Untuk beberapa saat lamanya murid Wong Agung pandangi perempuan cantik bermata biru ini seakan ingin menikmati kecantikan parasnya. Tiba-tiba dua bola mata Aji melotot besar. Rahangnya mengatup rapat. Bukan karena terkesima oleh kecantikan perempuan bermata biru, namun karena pandangannya menumbuk pada tiga buah senjata yang menyelip di pinggang sang perempuan.

"Ratu Pulau Merah!" gumam Aji seraya memperhatikan tiga benda yang menyelip di pinggang sang perempuan. "Hm.... Kipas itu adalah kipas yang berhasil dicurinya dari Karang Langit. Dan keris serta tombak itu adalah senjata milik Dayang Naga Puspa dan Jogaskara. Hmm....

Tampaknya sebelum meninggalkan lereng Gunung Kembar beberapa waktu yang lalu dia sempat menggondol senjata itu.

Hmm.... Kebetulan sekali. Kali ini aku harus dapat merampas kembali kipas hitam itu! Ratu Pulau Merah.... Mungkin dia mengira Arca Dewi Bumi masih berada di tanganku, hingga ia tak lelah-lelahnya mencariku.... Sayang, sebenarnya dia adalah seorang perempuan yang menarik, jika saja. ," Aji tak meneruskan kata hatinya. Dia lan-

tas memandang ke sebelah kanan lagi. Kali ini paras wajah murid Wong Agung terkejut bercampur geram.

Di situ, tegak seorang pemuda. Namun sebenarnya dia lebih pantas disebut perempuan. Karena selain mengenakan pakaian milik perempuan, wajahnya juga elok. Kedua tangannya tampak lemah gemulai, serta kuku jari-jarinya dicat merah. Bibirnya yang bagus pun terlihat dipoles merah menyala. Rambutnya yang panjang dikepang dua. Satu-satunya petunjuk jika dia seorang laki-laki adalah jakun di lehernya.

"Hmm    Manusia genit itu!" seru Aji dalam

hati. Sepasang matanya tiba-tiba membeliak merah. Dagunya terangkat.

"Aku tahu sekarang. Laki-laki temantemannya ini membawa pergi dan menyembunyikannya! Keparat! Akan kuhajar dia sampai jadi laki-laki sungguhan!"

Pendekar Mata Keranjang lantas berpaling pada orang terakhir. Dia adalah seorang laki-laki berusia setengah baya. Tubuhnya tegap dengan rambut panjang sebahu. Jambang dan jenggotnya lebat, demikian pula kumisnya. Wajahnya tak memperlihatkan keramahan sama sekali. Malah sambil berkacak pinggang dia tak memandang pada Aji. Pandangannya pada jurusan lain dengan bibir mengulas seringai buruk. Ada sedikit keanehan yang membuat laki-laki ini makin terlihat angker, yakni pada sekujur tubuhnya tampak jarum-jarum hitam yang ditusukkan pada kulit tubuhnya!

"Gila! Baru pertama kali ini aku melihat orang yang menghiasi tubuhnya dengan tusukan jarum-jarum hitam. Mungkin jarum-jarum hitam itu menjadi senjata andalannya!" duga murid Wong Agung ini seraya mengawasi dengan dada berdebar keras. Malah tubuhnya sedikit terguncang saat dia sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan orang-orang yang kepandaiannya tidak disangsikan lagi.

Seraya menindih berbagai perasaan, Aji arahkan pandangannya pada laki-laki berbadan perempuan, karena murid Wong Agung menduga jika orang ini yang menyebabkan lenyapnya Anting Wulan, dia segera berkata dengan suara setengah berteriak.

"Manusia genit! Ternyata kau membawa teman. Tapi jangan kira aku takut! Lekas katakan di mana gadis itu kau simpan! Kalau kau tak mampu cari seorang gadis, aku bisa mencarikan untukmu berapa kau perlukan!"

Yang ditegur keluarkan tawa panjang. Tangan kanannya bergerak pulang balik dengan gemulai. Setelah meliukkan bahu dan pinggulnya serta mengerling mata kirinya, dia berkata. Suaranya mirip suara seorang perempuan.

"Kau salah ucap, Pendekar 108! Aku berkeliaran di sini tanpa sanak saudara tanpa teman. Tuduhanmu itu juga salah alamat. Aku tak tahu menahu tentang gadismu itu! Kau tahu, dibanding gadismu itu, aku lebih tertarik padamu....

Hik.... Hik.... Hik ! Bagaimana? Apa kau juga ter-

tarik padaku?!"

"Busyet! Menghadapi orang kelainan begini repot!" pikir Aji dalam hati. Namun dia masih belum percaya dengan ucapan orang berdandan perempuan ini.

"Kalau mereka bukan temanmu, kenapa kalian bisa datang bersama-sama. ? Dan kau tadi

sengaja mempermainkan aku, agar orang lain dapat membawa gadis itu. Betul bukan?!"

Laki-laki genit itu kembali keluarkan tawa cekikikan. Sambil terus menggerak-gerakkan tangannya dia berucap.

"Pendekar Mata Keranjang! Kau tampaknya melupakan sesuatu. Di dunia ini ada waktu kebetulan! Nah, kebetulan itulah yang saat ini ada di depanmu!" sejenak dia menghentikan ucapannya, lalu berpaling pada tiga orang di samping kanan kirinya. Lantas melanjutkan.

"Aku juga tak berniat mempermainkanmu. Aku bermain-main sendirian! Salahmu sendiri kau tertarik dengan mainanku hingga melupakan tugas menjaga gadismu! Salah-salah sendiri, kenapa menuduh orang lain?"

Murid Wong Agung ini kertakan rahang. Dia sebenarnya sudah gatal untuk segera menghajar laki-laki genit itu. Karena dia masih menduga jika laki-laki genit itu sengaja memancingnya untuk menjauh dari tempat di mana Anting Wulan mandi. Namun karena masih ada orang lain di situ yang dia juga menduga bahwa kedatangannya bukan tanpa maksud, maka untuk sementara waktu Aji menunda keinginannya.

"Pendekar Mata Keranjang! Biar masalah ini segera selesai, dengar kataku baik-baik! Semua yang ada di depanmu memang datang sendiri-sendiri! Dan semua punya tujuan sama. Melepas selembar nyawamu!" kali ini yang keluarkan ucapan adalah perempuan berparas cantik dan bermata biru dan bukan lain memang Ratu Pulau Merah.

"Bukan! Bukan itu!" tiba-tiba laki-laki muda genit itu menyela. "Aku hanya ingin melihat tampangnya! Dan apa yang dikatakan orang benar adanya. Ia adalah seorang pemuda tampan, bertubuh tegap dan...," dia tak meneruskan ucapannya karena Manusia Titisan Dewa telah angkat bicara. "Setan Pesolek! Kau tidak beruntung hari ini. Karena untuk terakhir kalinya kau melihat tampang pemuda pujaanmu itu! Dan kalau kau memang tidak setujuan, sebelum kupuntir lepas kepalamu, lekas tinggalkan tempat ini!"

Laki-laki muda genit yang dipanggil dengan Setan Pesolek memberengut. Dengan nada pasrah akhirnya ia berucap.

"Ah, jika demikian, betul ucapanmu. Hari ini aku belum beruntung. Daripada putus kepala dan tak bisa melihat pemuda tampan lagi, lebih baik aku pergi "

Habis berkata begitu, dia balikan tubuh. Dari balik pakaiannya ia mengeluarkan sebuah batu berwarna putih mengkilat. Batu itu didekatkan ke wajahnya. Sejenak ia pandangi wajahnya dari pantulan batu. Tangan kanannya bergerak menyibak rambut di tengkuknya sambil menarik sedikit kepalanya ke belakang. Lalu tanpa berpaling lagi dia melangkah meninggalkan tempat itu dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kanan dan kiri. Tangannya pun bergerakgerak seakan melambai-lambai.

Sepuluh tombak dari tempatnya semula, Setan Pesolek hentikan langkah. Lalu terdengar dia bergumam sendiri.

"Orang berwajah tampan sekalipun sudah tewas tentu masih juga tampan! Aku masih belum puas memandangi tampangnya. Biarlah kutunggu di sini saja. Biar nanti sudah tewas tak apa, daripada memandang lainnya, sudah buruk rupa masih garang dan beringas!" dia lantas balikkan tubuh dan duduk di atas sebuah batu sambil sesekali berkaca pada batu putihnya.

"Jahanam sialan! Dia menyindirku!" desis Manusia Titisan Dewa. "Tunggulah! Akan kubikin bungkam mulut busukmu!"

Bola mata Manusia Titisan Dewa liar nyalang, wajahnya yang hanya tampak tulang-tulang itu bergerak-gerak. Tiba-tiba dia berpaling pada Pendekar Mata keranjang. Tangannya mengepal dan diluruskan tepat ke arah murid Wong Agung.

"Beberapa waktu yang lalu kau lolos dari tangan mautku karena ditolong si keparat manusia arak itu. Sekarang nyawamu tidak akan tertolong lagi!"

Pendekar 108 yang diam-diam juga merasa khawatir dengan keselamatannya tengkuknya merinding. Sewaktu bertemu beberapa waktu yang lalu, dia memang diselamatkan oleh Setan Arak dari tangan maut manusia bergelar Manusia Titisan Dewa. Kalau memang sekarang berhadapan sendiri dengan Manusia Titisan Dewa yang masih dibantu dengan teman-temannya, bagaimana mungkin hatinya tidak berdebar. Namun ketika menyadari jika tugas seorang pendekar adalah membasmi keangkaramurkaan meski nyawa sebagai taruhannya, maka perasaan kecut di hatinya menjadi lenyap. Sebaliknya semangat dan keberaniannya berkobar. Dengan balas memandang pada Manusia Titisan Dewa, Aji berkata lantang. "Tertolong atau tidak, bukan urusanmu!

Katakan apa maksudmu sebenarnya!"

Manusia Titisan Dewa tertawa bergelakgelak. Hingga sosoknya turun naik. Menjejak tanah dan mengambang.

"Seperti yang diucapkan Ratu Pulau Merah, aku juga menginginkan satu-satunya nyawamu! Kau boleh melarikan muridku, dan nyawamulah yang harus jadi imbalannya!"

"Hmm.... Begitu? Tunggulah sebentar, biar aku tanya dulu pada teman satu ini!" kata Aji acuh tak acuh lalu menghadap pada laki-laki yang sekujur tubuhnya dihiasi dengan tusukantusukan jarum hitam.

"Hai.... Apa kau juga menginginkan satusatunya nyawaku?" tanya Aji dengan usap-usap hidungnya. Wajahnya tidak menunjukkan air muka takut. Malah dia tersenyam-senyum.

Laki-laki yang tubuhnya ditancapi jarumjarum hitam itu keluarkan dengusan keras. Bibirnya memperlihatkan seringai buruk. Masih dengan kacak pinggang dan tanpa memandang dia berkata.

"Karena pekerjaanmu seorang tokoh rimba persilatan bergelar Gentapati tubuhnya terkoyakkoyak tewas. Dengar! Gentapati adalah kakak kandungku! Aku, Jarum Neraka menuntut satusatunya nyawamu!"

Di seberang sana, Setan Pesolek tiba-tiba tertawa melengking.

"Kalian semua menginginkan satu-satunya nyawanya! Bagaimana kalau aku menginginkan satu-satunya benda yang menggandul-gandul miliknya? Kalian setuju? Hik.... Hik.... Hik...! Kalian semua orang-orang bodoh. Ada saja benda yang lebih mendatangkan nikmat, kenapa kalian pilih nyawa...?! Jika kalian masih hendak memaksanya masuk kubur, tolong benda pesananku jangan diusik-usik! Lumayan buat mainan.... Hik....

Hik.... Hik !"

"Orang edan!" maki Aji dalam hati. "Tapi dia sepertinya tidak berniat buruk padaku. Dan...

Kata-katanya tadi jadi kenyataan. Ada orang mengincar diriku! Hmm.... Setan Pesolek. Siapa dia sebenarnya? Dia seakan tahu apa yang akan terjadi "

Sementara itu, mendengar kata-kata Setan Pesolek baik Manusia Titisan Dewa, Ratu Pulau Merah serta si Jarum Neraka beliakan mata masing-masing. Malah paras Ratu Pulau Merah terlihat bersemu merah.

Tiba-tiba Manusia Titisan Dewa berpaling pada si Jarum Neraka.

"Jarum Neraka! Biar suasana tenang, kuharap kau suka sedikit berolahraga untuk membungkam mulut manusia banci itu! Dia biar aku yang mengurusnya!" sambil berkata, Manusia Titisan Dewa angkat bahunya menunjuk pada Pendekar 108.

Si Jarum Neraka keluarkan tawa pelan, nadanya jelas meremehkan. Sesaat kemudian dia berpaling pada Manusia Titisan Dewa. Parasnya sedikit merah dengan pandangan tak senang, mendengar dirinya diperintah orang.

Mungkin menyadari atau mungkin tak mau membuat masalah dahulu sebelum keinginannya mencabut nyawa Pendekar 108 terlaksana, Manusia Titisan Dewa segera menyusuli ucapannya.

"Sobatku Jarum Neraka.... Ucapanku tadi hanya sebuah usul. Jika kau merasa keberatan, usulku bisa ditarik kembali. Namun apakah kau tidak merasa terhina dikatakan orang bodoh? Apalagi ucapan itu keluar dari mulut pemuda yang masih bau kencur!"

Rupanya si Jarum Neraka termakan ucapan Manusia Titisan Dewa. Meski wajahnya masih menunjukkan rasa tak senang, namun akhirnya dia berkata.

"Hm.... Baiklah. Aku akan menggerakkan otot-ototku sebentar. Tapi ingat! Sisaku sedikit nyawanya untukku!" seraya berkata matanya melirik pada Pendekar 108.

"Jangan kuatir. Saat dia meregang nyawa, itulah bagianmu!"

Si Jarum Neraka memandang liar sejenak ke arah dada Ratu Pulau Merah. Bibirnya sunggingkan senyum. Lalu balikan tubuh dan melangkah ke arah Setan Pesolek yang tampak berkaca pada batu putihnya dan sebentar-sebentar merapikan rambut di tengkuknya sambil menarik kepalanya sedikit ke belakang.

Begitu si Jarum Neraka telah mulai melangkah, Manusia Titisan Dewa menatap garang pada Pendekar Mata Keranjang. Dan tanpa berkata lagi sepasang kakinya menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke depan sambil kirimkan pukulan!

LIMA

KE mana dan apa sebenarnya yang telah terjadi atas Anting Wulan, hingga ketika Pendekar Mata Keranjang kembali ke tempatnya mandi dia tak ada? Tidak lama setelah Aji melangkah menjauh karena Anting Wulan sengaja melepas bajunya, tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan dan langsung mengendap-endap di balik batu sepuluh langkah di samping pancuran.

Sebenarnya Anting Wulan alias Dewi Tengkorak Hitam tahu jika ada orang di tempat tak jauh darinya. Namun karena menduga orang itu adalah Pendekar 108, dia malah bersenandung kecil sambil perlahan-lahan melepas pakaiannya. Dia berharap, Aji akan tergoda dan segera menyusulnya untuk mandi bersama. Begitu kancingkancing pakaiannya telah terbuka dan punggungnya mulai tak tertutup lagi, seakan tak disengaja dia miringkan tubuhnya. Buah dadanya yang kencang membusung terpentang tidak tertutup. Seraya merunduk mengayuhkan tangan pada air pancuran, sepasang matanya melirik ke atas. Sejenak dia menunggu. Dan ketika ditunggu agak lama, Aji tak juga menampakkan diri, dia tampak kehilangan kesabaran. Tanpa berusaha menutup buah dadanya dia berkata pelan.

"Aji.... Aku tahu kau ada di situ! Keluarlah. Bukankah tadi telah kutawarkan untuk mandi bersama? Kenapa kau malu-malu? Di sini tak ada orang lain selain kita berdua. Cepat keluarlah...," kata-kata terakhirnya dibuat seakan memohon.

Dua orang di balik batu sejenak saling berpandangan. Namun jelas sekali jika dada keduanya bergetar. Sementara bibirnya sama-sama sunggingkan senyum. Orang sebelah kanan memberi isyarat dengan anggukan kepala. Namun yang satunya menggeleng pelan sambil telunjuknya diarahkan ke atas. Seolah mengerti isyarat temannya, orang yang tadi mengangguk manggutmanggut. Kedua orang ini lantas diam seolah menunggu.

Di bawahnya, Dewi Tengkorak Hitam luruskan tubuhnya. Kini tubuhnya dihadapkan ke arah batu, di mana dia menduga Aji berada di situ. Dengan bibir menyungging senyum dia kembali berkata,

"Aji.... Kalau kau tidak mau keluar dari tempat persembunyianmu, aku akan naik ke situ!" lalu terdengar suara tawanya.

Orang di balik batu anggukan kepala. Yang satunya kali ini membalas dengan anggukan kepala pula. Keduanya serentak memandang ke atas. Dan merasa keadaan aman, kedua orang ini langsung berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri dua langkah di balik batu. Namun begitu tahu bahwa yang berkelebat dua bayangan, gadis ini segera menangkap gelagat tidak enak. Dia cepat takupkan kembali pakaiannya dan menutup buah dadanya yang terpentang. Dan firasatnya tidak meleset begitu dia berpaling dan mendapatkan orang yang muncul bukanlah orang yang diharapkan.

"Jahanam! Siapa kalian!" teriak Dewi Tengkorak Hitam sambil mengancingkan pakaiannya.

Dua orang yang ditegur tidak menjawab. Malah keduanya segera gerakan tangan masingmasing menotok tubuh Dewi Tengkorak Hitam. Lalu sama-sama tersenyum.

Di lain pihak, Dewi Tengkorak Hitam terperangah kaget. Tubuhnya mendadak tegang kaku tak bisa digerakkan. Gadis ini tak kehabisan akal. Dia buka mulutnya seolah hendak berteriak. Namun kembali dia dibuat terkejut, meski mulutnya terbuka lebar-lebar, namun tiada suara yang terdengar! Dewi Tengkorak Hitam sadar jika dirinya telah tertotok. Bukan saja pada tubuhnya tapi juga pada urat lehernya, hingga suaranya tersumbat.

Untuk beberapa saat lamanya Dewi Tengkorak Hitam hanya bisa pandangi dua orang di sampingnya dengan pandangan marah. Orang di sebelah kanannya adalah seorang laki-laki bertubuh besar tegap, mengenakan jubah besar tanpa lengan warna hitam. Kepalanya gundul plontos. Sepasang matanya sipit dengan kumis lebat. Kedua telinganya mengenakan anting-anting berwarna hitam. Sementara orang di sebelah kiri adalah juga seorang laki-laki bertubuh besar dan tegap. Kepalanya juga plontos. Yang membedakan di antara kedua laki-laki ini adalah warna jubah yang dikenakan. Orang kedua ini mengenakan jubah besar tanpa lengan berwarna merah. Antinganting yang di telinganya juga berwarna merah.

"Bagaimana sekarang? Apa kita selesaikan juga si laki-lakinya?!" kata orang yang berjubah hitam. Meski berkata, namun sepasang matanya yang sipit tidak tertuju pada orang yang diajak bicara, melainkan pada buah dada Dewi Tengkorak Hitam yang sebagian menyembul dan terlihat turun naik menuruti gerakan dadanya yang gemetar kencang karena marah.

"Tak ada gunanya kita buang-buang waktu dan tenaga untuk membereskan dia. Kau lihat tadi, beberapa orang berkelebat ke arah sini. Kuduga mereka juga bertujuan menghabisi pemuda itu. Jadi biarlah mereka saja yang melakukannya! Lebih baik kita senang-senang sambil menikmati indahnya bulan purnama!" orang yang berjubah merah menjawab. Tangannya bergerak mencolek dagu Dewi Tengkorak Hitam, lalu turun ke dadanya.

Dewi Tengkorak Hitam hanya bisa pelototkan sepasang matanya dan menyumpah habishabisan dalam hati.

"Kenapa kau yakin orang-orang yang menuju ke arah sini bakal mampu mengatasi pemuda itu? Jangan-jangan sebaliknya! Jika itu terjadi, rencana kita berarti tertunda!" orang berjubah hitam kembali keluarkan suara.

Yang berjubah merah tertawa pendek. Lalu gelengkan kepalanya.

"Kau tak usah cemas. Aku dapat mengenali dua orang di antara mereka. Jika kau berani memastikan demikian, karena dua orang yang kukenal itu bukanlah orang sembarangan!"

"Siapa mereka?!"

"Seorang tokoh rimba persilatan bergelar Manusia Titisan Dewa. Sedang satunya lagi seorang perempuan muda berparas cantik bertubuh sintal bergetar Ratu Pulau Merah. Orang ketiga memang tidak kukenal, namun melihat gerakannya dia juga seorang berilmu tinggi!"

Orang yang berjubah hitam manggutmanggut Lalu berkata.

"Jika demikian adanya, seperti katamu, sebaiknya kita bersenang-senang menikmati indahnya tubuh di bawah siraman cahaya purnama. Ha.... Ha.... Ha...!"

Tiba-tiba dia hentikan tawanya. Keningnya mengernyit seolah mengingat sesuatu.

"Bagaimana dengan pemuda banci itu?" dia keluarkan suara lagi.

"Untuk apa kita urus pemuda banci ini? Kau tertarik padanya?!" orang berjubah merah balik bertanya. Namun jelas jika nada suaranya mengejek.

Yang diejek tidak tampak marah. Malah tertawa perlahan dan berkata. "Kalau ada gadis mulus dan bertubuh denok-denok begini, tiga puluh orang banci pun akan tidak tertarik!"

Sesaat orang yang berjubah merah tengadahkan kepala dan kepalanya berputar. Telinganya terlihat bergerak-gerak, pertanda dia kerahkan tenaga dalam pada telinganya untuk mengetahui suara yang jauh.

"Hmm.... Pemuda itu sedang perang mulut dengan si Banci. Kita segera tinggalkan tempat ini! Ketiga orang itu juga tampaknya sudah dekat!"

Habis berkata begitu, orang berjubah merah ini bergerak cepat. Tahu-tahu tubuh bagian atas Dewi Tengkorak Hitam telah ada di pundaknya. Seakan tahu apa yang harus dilakukan, tanpa bicara lagi orang berjubah hitam segera pula bergerak cepat. Dan tahu-tahu tubuh bagian bawah Dewi Tengkorak Hitam telah berada pula di pundaknya.

"Jahanam! Siapa sebenarnya manusiamanusia berkepala botak ini? Dan apa maksud mereka sebenarnya? Hmm.... Pendekar Mata Keranjang pasti akan menghadapi kesulitan. Sayang, aku dalam keadaan tidak berdaya...," batin Dewi Tengkorak Hitam. Mula-mula dia merasakan tubuhnya bergerak pelan, namun sekejap kemudian dia laksana terbang! ENAM

SEPERTI diketahui, sebenarnya Manusia Titisan Dewa sudah berpuluh tahun tidak lagi pernah berkecimpung dalam kancah belantara rimba persilatan. Hingga namanya yang dulu pernah membuat orang kecut sedikit demi sedikit mulai dilupakan orang. Bahkan sebagian orang telah menduga jika tokoh dari jajaran atas golongan sesat tersebut sudah meninggal.

Namun apa yang diduga orang selama ini tentang Manusia Titisan Dewa jauh meleset. Ketidakmunculannya selama ini ternyata telah digunakan tokoh ini untuk memperdalam ilmu, dan ketika dirasa saatnya tiba, dia pun unjuk diri kembali. Sejak muda, tokoh ini sebenarnya telah punya cita-cita untuk merajai kancah rimba persilatan. Dan demi untuk mewujudkan cita-citanya itu, tak tanggung-tanggung dia turunkan maut kepada siapa saja. Baik pada orang-orang golongan hitam maupun pada orang golongan putih. Hingga saat itu dirinya menjadi momok dari dua golongan. Namun perbuatannya itu mendadak dia hentikan. Ini terjadi karena sewaktu gurunya hendak meninggal, sang guru mengatakan bahwa kalau dia benar-benar ingin merajai rimba persilatan dan diakui sebagai orang unggul tanpa tanding, maka tunggulah saat munculnya senjata ciptaan Empu Jaladara berupa kipas. Karena jika hal itu telah muncul, itulah pertanda awal akan tampilnya tokoh-tokoh rimba persilatan yang benar-benar memiliki kesaktian. Dan sejak mendengar ucapan gurunya itulah Manusia Titisan Dewa tidak lagi muncul di arena persilatan.

Ketika telah didengarnya muncul seorang pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 yang bersenjatakan kipas, maka dia pikir sudah saatnya dia harus keluar dari persembunyiannya. Mungkin merasa butuh bantuan tangan orang lain dalam menggapai cita-citanya, maka dia pun mengangkat Sakawuni sebagai murid, ini pun setelah menyelidik dan mendapat kabar jika gadis itu punya masalah dengan pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang, dan setelah Sakawuni berani angkat sumpah darah jika dia akan membunuh Pendekar Mata Keranjang serta akan melakukan segala perintahnya.

Namun akhir-akhir ini dia merasa cemas, karena Sakawuni yang diperintah untuk membunuh Pendekar Mata Keranjang tidak ada kabar beritanya. Bahkan kabar yang sampai padanya, sang murid dibawa seseorang. Menduga bahwa Pendekar Mata Keranjanglah yang membawa muridnya, ditambah dengan memang telah lama ingin membunuh Pendekar Mata Keranjang sekaligus merampas senjatanya, maka ketika dia dapat menemukan murid Wong Agung ini, Manusia Titisan Dewa segera lancarkan serangan. Tak tanggung-tanggung, serangan pembukanya langsung diarahkan pada titik kematian. Yakni kepala dan ulu hati! Jelas jika Manusia Titisan Dewa ingin segera menyelesaikan persoalan.

Sementara itu mendapat serangan pembuka yang begitu ganas, Pendekar Mata Keranjang tidak mau bertindak ayal, apalagi dia menyadari jika lawan yang dihadapi kali ini adalah tokoh yang berilmu sangat tinggi. Hingga tatkala kedua tangan Manusia Titisan Dewa berkelebat menyambar ke arah kepala dan ulu hatinya, murid Wong Agung ini cepat angkat kedua tangannya.

Prakkk!

Kedua tangan Manusia Titisan Dewa beradu dengan kedua tangan Pendekar 108. Terdengar suara benturan keras. Manusia Titisan Dewa keluarkan dengusan keras sambil melempar mundur. Sepasang matanya makin membeliak angker. Mulutnya komat-kamit menggumam tak jelas. Meski bentrokan tadi tidak mengakibatkan cidera, namun dia makin yakin jika pemuda di hadapannya tidak bisa disepelekan.

Di seberang, begitu terjadi bentrok pukulan, Pendekar Mata Keranjang tersentak kaget, dan terjajar sampai tiga langkah ke belakang. Sepasang matanya segera meneliti. Dia makin tersentak, karena kedua tangannya tampak merah dan panas!

Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba Manusia Titisan Dewa telah membentak garang. Kedua tangannya ditarik sedikit ke belakang dan serta-merta dihantamkan sekaligus ke depan.

Wuuut! Wuuutt!

Tiada suara yang terdengar, juga tidak ada sambaran angin. Namun kejap itu juga udara berubah panas menyengat, lalu dingin mencekam. Tiba-tiba selarik sinar pelangi melesat cepat. Inilah pukulan sakti 'Menggiring Pelangi Menebar Hawa', pukulan andalan Manusia Titisan Dewa.

Pendekar 103 cepat melompat mundur. Tenaga dalamnya segera dialirkan pada kedua telapak tangannya. Telapak tangannya sesaat kemudian berubah menjadi biru berkilau. Dan sambil melompat setengah tombak ke udara, kedua tangannya dihantamkan.

Weeett! Weeettt!

Sinar biru melesat menyongsong datangnya sinar pelangi. Kedua sinar itu bentrok, namun tidak timbul suara. Justru kedua sinar tersebut melambung tinggi ke udara. Namun hanya sesaat, sekejap kemudian terdengar ledakan keras. Padang ilalang itu bergetar hebat. Malah sebagian terlihat laksana hangus terbakar! Karena begitu terdengar ledakan, bunga-bunga api bermuncratan kian kemari. Asap hitam pun mengepul menutupi pemandangan.

Saat asap hitam sirap, Manusia Titisan Dewa tampak jatuh terduduk. Tubuhnya bergetar dengan kepala menggeleng-geleng. Caping di kepalanya mencelat entah ke mana. Merasa tidak terluka dalam, orang tua ini segera bergerak bangkit.

Lima belas langkah di seberang, Pendekar Mata Keranjang 108 tampak jatuh berlutut. Tubuhnya pun bergetar keras. Malah ketika murid Wong Agung ini angkat kepalanya, darah segar meleleh dari sudut bibirnya. Wajahnya pucat pasi. Dan mungkin sadar jika lawannya hendak lancarkan serangan lagi, dia segera bangkit. Dugaannya tidak salah. Belum lagi tubuhnya tegak berdiri, sinar pelangi telah menggebrak ke arahnya lagi!

Pendekar 108 katupkan rahang. Gebrakan sinar pelangi yang dipancarkan Manusia Titisan Dewa yang berdaya lesat luar biasa itu tidak mungkin bisa disongsong dengan pukulan sakti 'Mutiara Biru'nya, apalagi jaraknya juga dekat. Hingga satu-satunya jalan yang bisa dilakukan adalah menghindar dengan berkelebat ke samping. Namun tak urung lesatan sinar pelangi itu menyerempet pinggangnya!

Breeettt!

Pendekar 108 berseru tertahan. Tubuhnya laksana dihantam ombak. Sosoknya mencelat berputar lalu bergedebukan di atas tanah. Aji segera memeriksa. Ternyata baju bagian pinggangnya telah robek besar. Daging di balik robekan terlihat mengembung dan berwarna biru!

Melihat Pendekar 108 telah roboh untuk kedua kalinya, dan tampak meringis menahan rasa sakit, Ratu Pulau Merah yang tadi menyingkir agak jauh segera melompat. Namun baru saja dia akan lancarkan pukulan, Manusia Titisan Dewa menegur.

"Tahan pukulanmu! Aku belum selesai dengan pekerjaanku!" Ratu Pulau Merah urungkan niat, tanpa berpaling lagi dia mundur. Wajahnya yang cantik nampak merah padam dan bibirnya sunggingkan senyum seringai.

"Hmm.... Dia pasti akan lancarkan serangan lagi.... Sialan betul! Pinggangku panas bukan main. Darahku seakan tersumbat dan dadaku berdenyut nyeri. Celaka kalau dia kirimkan serangan lagi...," perlahan-lahan murid Wong Agung ini sambar kipas ungunya dari balik pakaian. Lalu sisa tenaga dalamnya dikerahkan. Namun baru saja dia kerahkan tenaga dalam, Manusia Titisan Dewa telah hantamkan kembali kedua tangannya.

Wuuutt! Wuuuttt!

Murid Wong Agung ini terpekik keras. Tubuhnya terasa dilanda hempasan gelombang dahsyat.

Bersamaan dengan itu sosoknya terpelanting hingga beberapa tombak ke belakang dan jatuh terkapar di atas tanah. Begitu derasnya hujaman tubuhnya ke tanah, hingga tanah di mana dia terkapar terlihat terbongkar! Darah hitam mengucur dari mulut juga hidungnya. Tangan keduanya bergetar keras, hingga tak lama kemudian kipas ungu di tangan kanannya jatuh terlepas. Sesaat Aji tampak hendak bergerak bangkit, namun setengah jalan tubuhnya terkapar kembali.

Di depan, Manusia Titisan Dewa keluarkan tawa mengekeh panjang. Lantas dengan mengambang di udara dia melangkah mendekati Pendekar 108. Melihat hal ini, Ratu Pulau Merah segera mendahului. Namun gerakannya tertahan tatkala dari arah belakangnya terdengar deruan angin dahsyat. Dia buru-buru melompat dan segera berpaling.

Di sampingnya, Manusia Titisan Dewa memandangnya dengan tatapan garang, lalu kepalanya tengadah memandangi bulan sambil berkata lantang.

"Sudah kukatakan, biar kuselesaikan pekerjaanku dahulu!"

Seraya menahan rasa marah, Ratu Pulau Merah balas membentak.

"Kau serakah! Dia sudah hampir menemui ajal. Beri kesempatan padaku untuk merasakannya!"

"Jangan khawatir! Kau pasti masih kebagian. Aku cuma perlu sesuatu darinya. Setelah itu terserah kau, silakan mau kau jadikan apa dia!"

Habis berkata begitu, Manusia Titisan Dewa teruskan langkah.

Dua langkah di depan Pendekar Mata Keranjang, Manusia Titisan Dewa hentikan langkah. Sesaat dia pandangi tubuh Aji yang sudah tampak tak berdaya. Tawanya kembali terdengar. Dan tanpa hentikan tawa, dia membungkuk dengan tangan menjulur ke arah kipas yang tergeletak.

Pendekar 108 yang masih dapat melihat gerakan Manusia Titisan Dewa berusaha hendak sapukan kakinya, menahan gerak lawan yang hendak mengambil kipasnya. Sementara Ratu Pulau Merah jadi tersentak kaget melihat Manusia Titisan Dewa hendak mengambil kipas ungu yang tergeletak. Dia pun segera berkelebat, dan kirimkan satu pukulan ke arah tangan Manusia Titisan Dewa.

Selagi kaki Pendekar 108 baru bergerak dan sambaran angin keluar dari kedua tangan Ratu Pulau Merah, tiba-tiba terdengar siuran angin kencang, lalu terlihat benda merah panjang meliuk. Dengan gerakan aneh, mendadak ujung benda merah yang ternyata sehelai benang menggulung kipas yang tergeletak. Dan seperti disentak orang, ujung selendang yang telah menggulung kipas milik Pendekar 108 tertarik ke belakang, lalu lenyap!

Pendekar Mata Keranjang 108 segera tarik pulang kakinya, sementara Manusia Titisan Dewa terperangah. Saat itulah pukulan Ratu Pulau Merah datang.

"Betina jahanam!" maki Manusia Titisan Dewa seraya tarik tangannya dan serta-merta dihantamkan pada Ratu Pulau Merah.

Plarrr!

Terdengar letupan keras. Ratu Pulau Merah tersentak kaget dan tersurut dua langkah ke belakang.

Sementara Manusia Titisan Desa hanya terguncang. Namun sial bagi murid Wong Agung. Karena terjadinya bentrok pukulan ada di dekatnya sedang dia sudah tidak berdaya, maka tanpa ampun lagi tubuhnya yang tak berdaya itu mencelat mental ke belakang!

Anehnya, walau tubuhnya terlihat deras menghujam tanah, tak terdengar suara gedebukan.

Menyadari jika ada orang ikut campur, malah telah berhasil menggondol kipas yang tadi tergeletak dan mungkin juga telah menyelamatkan tubuh Pendekar 108 dari menghujam tanah, sesaat Manusia Titisan Dewa lupakan tingkah Ratu Pulau Merah yang hendak menyerangnya. Dia putar pandangannya dan berteriak lantang.

"Budak keparat! Perlihatkan dirimu! Kau berani ikut campur masalah ini berarti berani cari mati!"

Manusia Titisan Dewa tidak menunggu lama. Sesaat kemudian, dari padang ilalang terdengar suara tawa cekikikan. Lalu muncullah sesosok tubuh gemuk besar.

TUJUH

DIA adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Pada kedua ketiaknya terlihat dua bambu kecil yang dibuat menopang tubuhnya karena ternyata kedua kakinya buntung.

"Nah, apa kubilang. Jangan turut campur urusan orang. Kalau sudah begini bagaimana?!" katanya seolah menegur seseorang. Pandangan kakek berkaki buntung ini tidak pada Manusia Titisan Dewa melainkan ke jurusan lain. "Hik.... Hik.... Hik...!" Lalu terdengar suara tawa seorang perempuan menyahuti ucapan si kakek. "Aku mengaku salah! Biar urusannya tidak jadi panjang lebar, kau saja yang minta maaf pada Manusia Titisan Dewa. Aku menunggu saja di sini! Hik.,.. Hik.... Hik...!"

"Bagaimana bisa begitu? Kau yang berbuat kenapa aku yang harus minta maaf? Kau saja yang keluar dan minta maaf. Aku yang menunggu di sini!" terdengar si kakek gemuk berkata kembali. Pandangannya tetap ke jurusan lain.

"Hik.... Hik.... Hik...! Sudah kubilang, kau saja yang minta maaf. Aku sungkan, apalagi ada perempuan cantiknya! Jangan-jangan dia nanti marah, karena kalah cantik denganku! Hik....

Hik.... Hik !"

Bersamaan dengan terdengarnya suara tawa cekikikan, menderu angin kencang ke arah bambu penopang tubuh si kakek, hingga mau tak mau sang kakek terdorong ke depan.

"Sialan!" maki sang kakek, lalu teruskan melangkah ke depan, ke arah Manusia Titisan Dewa dan Ratu Pulau Merah. Ketukan bambunya terdengar berdebam.

Baik Manusia Titisan Dewa maupun Ratu Pulau Merah sama-sama terkesiap. Malah serentak Ratu Pulau Merah surutkan langkah dua tindak, sementara sepasang matanya yang biru memperhatikan sang kakek dengan dahi mengernyit.

"Siapa orang tua ini? Tubuhnya demikian besar, namun bambu penopang tubuhnya yang kecil tidak patah, malah menimbulkan suara yang memekakkan telinga! Hmm.... Siapa pun dia yang pasti dia bukan orang sembarangan! Dan melihat senjata berupa selendang merah serta suara tawa cekikikannya, orang yang masih sembunyi dapat dipastikan siapa orangnya!"

Kalau Ratu Pulau Merah masih mendugaduga siapa adanya si kakek, tidak demikian halnya dengan Manusia Titisan Dewa.

"Hmm.   Ternyata Gongging Baladewa. Apa

urusannya manusia ini dengan pemuda itu? Yang masih sembunyi aku belum bisa menduga siapa adanya. Namun mendengar dia mengenaliku, bukan mustahil aku juga mengenalnya, setidaktidaknya pernah bertemu "

"Sobatku Manusia Titisan Dewa!" berkata kakek buntung yang bukan lain memang Gongging Baladewa. "Maaf atas kelancangan temanku yang ikut campur urusanmu. Dan kuharap masalahnya dicukupkan sampai di sini saja!"

"Gongging Baladewa. Di antara kita tak ada silang masalah. Namun rupanya temanmu membuat persoalan. Kalau dia tak ingin buat persoalan lebih panjang, suruh temanmu itu keluar dan minta maaf padaku, lalu tinggalkan pemuda itu!"

Mendengar Manusia Titisan Dewa menyebut nama sang kakek, Ratu Pulau Merah terkejut. Dia memperhatikan lebih seksama lagi.

"Gongging Baladewa.... Hm.... Nama itu memang tak asing lagi dalam rimba persilatan. Tapi apa hubungannya tokoh ini dengan Pendekar 108? Aku yakin, semua perkataannya dengan orang yang bersembunyi itu hanyalah sandiwara. Sialan betul pemuda itu! Apa yang membuatnya banyak tokoh selalu melindungi nyawanya?!"

Sementara itu, mendengar ucapan Manusia Titisan Dewa, dari balik ilalang terdengar suara cekikikan. Lalu terdengar suara.

"Manusia Titisan Dewa. Pemuda ini milik siapa saja. Kau jangan terlalu mengangkangi milik orang banyak! Siapa saja yang mau bisa saja membawanya pergi! Kalau boleh tahu, kenapa kau bernafsu sekali dengan pemuda memuakkan ini?!"

Manusia Titisan Dewa melenguh. Rahangnya bergerak terangkat. Kedua tangannya bergemeretakan mengepal. Dia tetap mendongak dan tak mengeluarkan suara jawaban atas pertanyaan orang di balik ilalang.

"Hik.... Hik.... Hik...! Kau tak mau jawab pertanyaan orang. Ini membuatku curiga. Kau adalah seorang laki-laki, dan pemuda ini juga laki-laki. Jangan-jangan kau termasuk jenis manusia laki-laki yang menyukai...," suara itu terhenti, karena bersamaan dengan itu Manusia Titisan Dewa telah melompat dan pukulkan kedua tangannya ke arah sumber suara.

Wuuutt!

Padang ilalang hingga delapan tombak terpapas rata dan berhamburan ke udara. Manusia Titisan Dewa menunggu sebentar dan dia yakin tak berapa lama lagi akan terdengar suara orang terpekik lalu keluar dari balik ilalang. Namun harapannya tak terjadi. Tidak ada suara orang yang terpekik, juga tak ada sosok yang muncul! Justru sesaat kemudian yang terdengar adalah suara tawa cekikikan!

"Jahanam! Kalau orang ini tak mempunyai gerakan yang luar biasa, tidak mungkin dia bisa selamat dari pukulanku tadi! Budak keparat! Siapa dia sebenarnya bangsat ini?" batin Manusia Titisan Dewa lalu berpaling ke arah sumber suara tawa. Namun baru saja tangannya hendak bergerak menghantam, suara tawa cekikikan itu lenyap dan berpindah. Kembali Manusia Titisan Dewa berpaling. Bersamaan dengan bergeraknya kepala Manusia Titisan Dewa, suara tawa cekikikan lenyap dan berpindah tempat lagi.

"Haram jadah! Kenapa aku tolol! Orang ini ada di satu tempat. Hanya ia bisa memindahkan suara. Hmm.... Sialan!" maki Manusia Titisan Dewa dalam hati, lalu berpaling pada Gongging Baladewa yang tetap tegak di tempatnya semula dengan memandang ke langit.

"Gongging Baladewa! Aku tak punya waktu banyak hanya untuk main-main! Lekas panggil temanmu itu. Jika tidak "

"Baiklah...," sahut Gongging Baladewa. Lalu kepalanya menoleh ke kanan. Manusia Titisan Dewa dan Ratu Pulau Merah ikut-ikutan menoleh ke arah kanan. Mereka berdua menduga orang yang masih sembunyi akan muncul dari arah itu. Namun kedua orang ini kecewa, karena tidak ada seorang pun yang muncul. Gongging Baladewa lalu berpaling ke arah kiri. Dan mungkin masih menduga jika orang yang sembunyi akan muncul dari arah mana kepala Gongging Baladewa mengarah, kedua orang ini ikut-ikutan berpaling ke arah kiri. Namun lagi-lagi keduanya tidak menemukan kemunculan seseorang. Hal ini bukan saja membuat Manusia Titisan Dewa geram namun juga hilang kesabaran. Hingga saat itu juga dia keluarkan bentakan garang.

"Jika kau ikut-ikutan mempermainkan aku, jangan menyesal jika kedua tanganmu kuputuskan sekalian!"

"Heran. Siapa mempermainkanmu. Aku gerakan kepalaku karena otot-otot kepalaku terasa kaku. Kenapa kau mengikuti? Ha.... Ha.... Ha...!"

"Diam! Tutup mulutmu!" bentak Manusia Titisan Dewa. Namun yang dibentak bukannya diam, melainkan keraskan tawanya.

Manusia Titisan Dewa habis kesabarannya. Diam-diam dia kerahkan tenaga dan kedua tangannya bergerak hendak dipukulkan pada Gongging Baladewa yang berada di tangannya. Karena saat itu Gongging Baladewa berada membelakangi, maka kakek ini tak tahu apa yang hendak diperbuat Manusia Titisan Dewa.

Dari balik ilalang satu sosok gemuk besar yang sejak tadi mendekam seraya mengurut-urut dada seseorang pemuda diam-diam merasa khawatir. "Keparat! Manusia curang. Dia hendak memukul orang dari belakang!" Lalu sosok gemuk besar ini bergerak bangkit dan memandang tajam dengan mata disipitkan ke arah Manusia Titisan Dewa. Lalu meledak suara tawa cekikikannya.

Baik Manusia Titisan Dewa maupun Ratu Pulau Merah cepat berpaling.

Sesosok perempuan bertubuh gemuk besar mengenakan pakaian warna merah terlihat melangkah ke arah Ratu Pulau Merah. Rambutnya yang putih disanggul ke atas, sementara bibirnya dipoles warna merah mencolok. Mengenakan anting-anting sebelah. Anting-anting itu besar dan dimuati beberapa anting-anting kecil. Anehnya, meski dia tertawa cekikikan dan anting-anting itu saling beradu sama lain, tak terdengar suara berdenting!

"Manusia jahanam ini! Dugaanku tidak meleset!" kata hati Ratu Pulau Merah begitu mengetahui siapa adanya perempuan yang kini melangkah ke arahnya.

"Hm.... Benar apa kata mendiang guru....

Munculnya senjata ciptaan Empu Jaladara adalah awal dari akan tampilnya beberapa tokoh sakti. Siapa pun adanya perempuan ini, yang pasti dia berilmu tinggi! Anehnya juga, dia mengetahui aku, tapi aku rasa-rasanya tak pernah bertemu dengannya!"

Beberapa saat lamanya Manusia Titisan Dewa memperhatikan. Setelah agak dekat dia buka mulut hendak membentak, namun sebelum suaranya terdengar, Ratu Pulau Merah telah mendahului berkata.

"Kau!" desis Ratu Pulau Merah sambil luruskan telunjuk ke arah muka perempuan gemuk. "Beberapa waktu yang lalu kau berani campur urusanku. Kali ini lagi-lagi kau turut campur. Apa kau kira aku tak bisa membunuhmu, meski kau bernama besar, Dewi Kayangan?!"

Perempuan bertubuh gemuk besar dan bukan lain memang Dewi Kayangan sejenak menatap wajah cantik Ratu Pulau Merah. Mulutnya komat-kamit seakan hendak berkata. Namun tak lama kemudian yang terdengar adalah suara cekikikannya.

Di lain pihak, begitu Ratu Pulau Merah sebutkan nama perempuan gemuk, Manusia Titisan Dewa terperangah kaget.

"Keparat! Kukira manusia bergelar Dewi Kayangan itu orangnya cantik bertubuh sintal, tak tahunya seperti kerbau bunting!" batinnya lalu menahan senyum sendiri. Tapi tiba-tiba wajahnya berubah. Dia teringat perempuan ini yang baru saja mempermainkannya. Dengan menyeringai dan mata berkilat merah, dia melangkah mendekati Dewi Kayangan.

Mendadak Ratu Pulau Merah berpaling dan berkata.

"Manusia Titisan Dewa! Biar perempuan bunting ini kuurus! Kau selidiki di mana pemuda keparat tadi disembunyikan.'"

Manusia Titisan Dewa kertakan rahang mendengar ucapan Ratu Pulau Merah, namun setelah sejenak berpikir dia memutuskan menuruti kata-kata Ratu Pulau Merah.

"Sebenarnya aku masih ingin memberi hajaran pada kerbau bunting itu, namun sebaiknya aku mengetahui dulu di mana pemuda keparat itu disembunyikan. Setelah kipasnya dapat kurampas dan nyawanya kulepas, baru kerbau bunting itu akan kuhajar!" Manusia Titisan Dewa balikan tubuh dan melangkah hendak mencari di mana Pendekar Mata Keranjang berada.

Dewi Kayangan terlihat berubah wajahnya demi melihat Manusia Titisan Dewa melangkah mencari-cari. Dia sejurus menatap pada Gongging Baladewa seakan hendak mengutarakan sesuatu. Namun dia urungkan ketika melihat Gongging Baladewa ikut-ikutan melangkah. Dan kecemasan makin terlihat pada paras Dewi Kayangan saat mengetahui Gongging Baladewa bukannya melangkah ke tempat beradanya Pendekar Mata Keranjang 108, melainkan ke arah sebuah batu dan duduk bersandar di sana.

"Sialan! Apa tua bangka itu tak khawatir dengan keadaan pemuda itu?!" batin Dewi Kayangan. Namun dia tak bisa berpikir lebih jauh karena Ratu Pulau Merah telah keluarkan bentakan.

"Dewi jahanam! Sekali ini jangan mimpi kau campur tangan urusanku, apa lagi membawa pemuda itu! Sebaliknya hari ini adalah hari terakhirmu!"

Dewi Kayangan tengadahkan kepalanya. Suara tawa cekikikannya terdengar. Malah kali ini ditingkahi suara gemerincing anting-antingnya. "Ratu.... Kau bicara hari terakhir, jangan-

jangan itu pertanda buruk bagimu!"

"Kita lihat. Buruk bagiku atau buruk buatmu!" sergah Ratu Pulau Merah. Tangan kirinya segera menyambar tombak hitam di pinggangnya, sementara tangan kanan mencabut kipas hitam di pinggang kanannya. Tombak hitam itu memancarkan kilatan-kilatan aneh, sedang begitu kipas terkembang, terdengar deru angin menyambar.

"Senjata curian, apa hebatnya?!" ejek Dewi Kayangan sambil melepas selendang merah yang melilit pinggangnya.

"Hebatnya bisa memutus kepalamu!" ujar Ratu Pulau Merah seraya meloncat. Tombak di tangan kirinya diputar-putar, sementara kipas di tangan kanannya dikebutkan.

Kejap itu juga tampak kilatan-kilatan berputar-putar cepat, ditingkahi dengan menghamparnya sinar hitam yang mengembang membentuk sebuah kipas dan mengeluarkan suara menggemuruh dahsyat!

Dewi Kayangan terkesiap sejenak, tapi sesaat kemudian terdengar derai tawa cekikikannya. Tiba-tiba tangannya bergerak.

Wuuutt!

Selendang merah berkelebat angker. Meliuk-liuk dengan keluarkan suara mendesis-desis.

Plasss!

Sinar hitam yang membentuk kipas sertamerta ambyar sebelum menghantam sasaran. Ratu Pulau Merah tersirap. Namun dia teruskan lompatannya dan kini tombaknya menyambar deras ke arah kepala Dewi Kayangan.

Dewi Kayangan rebahkan dirinya ke belakang hingga punggungnya sejajar dengan tanah. Tangan kanannya yang memegang selendang segera ditarik mengedut ke belakang.

Tombak hitam di tangan Ratu Pulau Merah lewat sejengkal di atas kepala Dewi Kayangan. Namun saat itu juga Ratu Pulau Merah sapukan kakinya ke tubuh Dewi Kayangan yang telentang di atas tanah!

Deesss!

Sosok gemuk Dewi Kayangan mencelat mental ke atas sampai tiga tombak. Namun hal ini membuat gerakan tangannya yang memegang selendang ikut tertarik, dan kini meliuk deras ke arah Ratu Pulau Merah yang baru saja menjejak tanah.

Melihat bahaya mengancam, Ratu Pulau Merah cepat balikkan tubuh dan angkat tangannya. Kipas hitam segera dikebutkan untuk memapak selendang merah. Namun perempuan cantik ini tertipu. Bersamaan dengan kebutan kipasnya, selendang merah meliuk ke bawah!

Ratu Pulau Merah tersentak kaget. Namun dia tidak hilang akal, tangan kirinya yang masih memegang tombak disabetkan ke bawah. Namun gerakan tombaknya kalah cepat dengan liukan selendang. Hingga tanpa ampun lagi ujung selendang itu menghantam kakinya, dan menggelung erat.

Dewi Kayangan miringkan tubuh dan mengedut selendangnya.

Seettt!

Ratu Pulau Merah terpekik, tubuhnya terhuyung-huyung hendak jatuh. Perempuan bermata biru ini cepat kerahkan tenaga menahan tubuh yang kakinya sudah terjerat. Lalu kedua tangannya segera diayunkan ke bawah.

Wuuutt! Weeerrr!

Kipas hitam serta tombak hitam berkelebat angker ke bawah, hendak merobek selendang merah. Namun saat itu juga Dewi Kayangan angkat tangannya dan tarik selendang merahnya.

Wuuuttt!

Tubuh Ratu Pulau Merah membubung tinggi ke udara. Dan belum sempat ia melakukan gerakan untuk menahan tubuhnya, selendang merah kembali melesat ke udara. Ratu Pulau Merah hanya melihat kelebatan warna merah serta suara mendesis. Dan tahu-tahu tubuhnya tegang, dadanya sakit untuk bernapas. Melirik, dia terlengak. Ternyata selendang merah Dewi Kayangan telah menggelung tubuhnya!

Di bawah, Dewi Kayangan tertawa cekikikan. Lalu secara tiba-tiba cekikikannya lenyap. Tangan kanannya bergerak menarik sambil memutar. Gerakannya ini membuat tubuh Ratu Pulau Merah berputar kencang dan menukik deras ke bawah. Belum sampai tubuhnya menghajar tanah, tiba-tiba Dewi Kayangan luruskan tangannya. Selendang merah di tangannya mendadak kaku laksana potongan bambu. Tubuh Ratu Pulau Merah tertahan sebentar di udara. Hal ini tampaknya tak disia-siakannya. Kedua tangan yang masih memegang senjata segera dikebutkan. Namun baru saja tangannya bergerak, Dewi Kayangan lemparkan genggaman selendangnya.

Wuuutt!

Tubuh Ratu Pulau Merah yang masih tergelung selendang kembali meluncur. Karena waktu melepaskan selendang Dewi Kayangan pusatkan tenaga dalam pada tangannya, maka luncuran tubuh Ratu Pulau Merah begitu derasnya, dan mengarah ke tempat Gongging Baladewa yang duduk bersandar pada batu!

"Sialan! Seandainya aku masih muda, tak ku sia-siakan kiriman antik ini. Namun sayang, aku sudah tak bergairah dengan barang-barang begini!" sambil berkata, Gongging Baladewa rebahkan tubuhnya ke samping hingga sejajar tangan. Hingga tanpa ampun lagi tubuh Ratu Pulau Merah menghantam deras batu yang dibuat sandarannya!

Brakkk!

Batu yang tadi dibuat sandaran Gongging Baladewa hancur berantakan. Ratu Pulau Merah katupkan rahang rapat-rapat agar suara erangan sakitnya tidak terdengar. Tapi tak urung keluar juga erangan dari mulutnya. Malah dari sudut bibirnya tampak mengalir darah!

Ratu Pulau Merah keluarkan dengusan marah. Dadanya sedikit bisa bernapas karena gelungan selendang merah telah lepas. Sepasang matanya yang biru berkilat-kilat memandang ke langit, lalu beralih pada selendang merah yang menghampar tak jauh darinya.

"Selendang keparat!" makinya, lalu merambat sambil ulurkan tangan hendak mengambil selendang. Namun betapa terkejutnya perempuan cantik ini. Begitu ujung selendang telah tergenggam dia tak bisa menarik. Dia berpaling, ternyata tubuh besar Gongging Baladewa telentang menindih selendang!

Dengan geram, Ratu Pulau Merah kerahkan tenaga dalam. Lalu sambil membentak garang dia tarik kembali ujung selendang. Dia lagilagi terkejut. Bukan karena berat, namun karena demikian ringannya!

Wuuutt!

Selendang merah itu bergerak. Karena tubuh Gongging Baladewa berada di atasnya, maka tak ampun lagi tubuh gemuknya ikut tertarik. Karena tarikan tadi dengan mengerahkan tenaga dalam, maka tak pelak lagi tubuh Gongging Baladewa tertarik demikian derasnya, ke arah Ratu Pulau Merah!

Ratu Pulau Merah memekik kaget. Namun sudah terlambat untuk membuat gerakan menghindar. Hingga tanpa ampun lagi tubuh besar Gongging Baladewa menghantam tubuhnya! Bresss!

Kedua orang ini sama-sama bergulingan di atas tanah. Tombak Ratu Pulau Merah mental dan jatuh menancap di atas tanah!

Ratu Pulau Merah buka kelopak matanya. Lalu kakinya hendak diangkat untuk menopang tubuhnya yang berusaha bangkit. Tapi dia tercekat. Kakinya seakan tertindih benda berat. Dia segera gerakan kepala melihat apa yang menyebabkan kakinya sukar untuk digerakkan. Lagilagi dia tercekat. Kepalanya sulit untuk digerakkan ke atas karena bahu kanannya tak bisa digerakkan. Menoleh, dia tersentak. Sepotong bambu kecil terlihat berada di atas tangannya dan melintang sampai kakinya. Namun bukan bambu kecil itu yang membuat perempuan bermata biru ini tersentak, melainkan karena di tengah-tengah bambu itu tampak kepala. Kepala Gongging Baladewa yang menindih tengah-tengah bambu hingga dia tak bisa menggerakkan kaki dan tangan kanannya.

Sambil menahan dadanya yang nyeri akibat tubrukan dengan tubuh Gongging Baladewa serta menghantam batu, Ratu Pulau Merah kerahkan sisa tenaga dalamnya, lalu tangan kirinya bergerak hendak menghantam kepala Gongging Baladewa.

"Pecah kepalamu!" desis Ratu Pulau Merah sambil ayunkan tangan kirinya.

Sejengkal lagi tangan kiri Ratu Pulau Merah menghajar kepala Gongging Baladewa, seberkas kelebatan merah meliuk dan tahu-tahu menjerat tangan Ratu Pulau Merah. Kelebatan merah yang ternyata selendang itu serentak seakan ditarik ke belakang, hingga tangan kiri Ratu Pulau Merah mental. Namun tarikan selendang itu terus menarik.

Krakkk!

Terdengar suara berderak. Ratu Pulau Merah terpekik. Bersamaan dengan itu tarikan selendang pada tangan kirinya lepas. Tangan itu luruh lunglai. Urat-urat pada bahunya putus! Hingga meski tangan itu tak penggal namun tak bisa digerakkan lagi!

Mendengar pekikan, Gongging Baladewa mengerjap. Tangan kanan kirinya lalu menyelinap ke belakang. Lalu dengan gerakan yang sulit diikuti mata biasa bisa melenting ke udara. Dan ketika menjejak kembali, tubuhnya telah ditopang kedua bambu kecil di ketiaknya. Di tangan kanan tampak menggenggam kipas hitam, sementara tangan kiri menggenggam keris hitam, dua senjata yang tadi menyelip di pinggang Ratu Pulau Merah!

Sepuluh langkah di sampingnya Dewi Kayangan tertawa cekikikan sambil menggulung selendang. Di pinggangnya tampak tombak hitam!

Ratu Pulau Merah kerahkan tenaga agar tidak pingsan. Lalu perlahan-lahan pula ia bergerak bangkit. Sepasang matanya yang biru memandang tajam pada Dewi Kayangan dan Gongging Baladewa. Lalu tanpa berkata-kata lagi dia melangkah terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, Manusia Titisan Dewa yang masih mencari-cari di mana beradanya Pendekar Mata Keranjang tampak memaki panjang pendek, karena dia tak dapat menemukan pemuda yang dicarinya.

"Budak jahanam! Di mana kerbau bunting itu menyimpannya?!" serapahnya sambil menyibak ilalang. Tiba-tiba sepasang matanya membeliak besar. Dua langkah di depannya tampak melingkar sesosok tubuh berpakaian hijau.

Mulut Manusia Titisan Dewa komat-kamit. Di seberang, Dewi Kayangan dan Gonggong Baladewa saling pandang satu sama lain.

"Lalukan sesuatu!" bisik Dewi Kayangan dengan wajah cemas. Sepasang matanya memperhatikan Manusia Titisan Dewa yang ternyata telah menemukan sosok Pendekar 108.

Gongging Baladewa tak bergerak juga tak menyahut, membuat Dewi Kayangan berpaling padanya dengan agak jengkel, lalu berkata.

"Apa kau tega melihat anak kurang ajar itu putus kepalanya?!"

Gongging Baladewa tetap tak bergeming. Malah berpaling pun tidak. Membuat Dewi Kayangan tambah geram.

"Dasar tua edan!" maki Dewi Kayangan, lantas gerakan tangannya hendak kirimkan pukulan untuk mencegah perbuatan Manusia Titisan Dewa. Namun baru saja dia tarik tangannya ke belakang dan hendak dihantamkan, tangan kanan Gongging Baladewa bergerak pegang pundaknya.

"Tua bangka! Kau mencegahku biar manusia itu leluasa turunkan tangan pada pemuda itu, he...?! Kurang ajar! Ternyata kau "

"Sabar, Dewi! Lihat apa yang terjadi!" kata Gongging Baladewa dengan mata memandang lurus ke arah di mana Manusia Titisan Dewa berada.

Dengan memaki panjang pendek, Dewi Kayangan palingkan kepala ke jurusan mana Gongging Baladewa memandang. Dewi Kayangan melengak kaget. Sepasang matanya membeliak menyipit.

Di seberang sana tampak Manusia Titisan Dewa memandang liar pada sosok Pendekar 108. Lalu dengan tawa mengekeh panjang kedua tangannya bergerak hendak kirimkan pukulan.

Ketika tangan itu setengah jalan, tiba-tiba sebuah benda hitam panjang dan besar mencuat dari balik ilalang dan menghambur ke arah Manusia Titisan Dewa!

Manusia Titisan Dewa berteriak marah. Pukulannya diurungkan, dan serta-merta kedua tangannya dirangkapkan untuk menangkap benda yang meluncur ke arahnya.

Tap!

Manusia Titisan Dewa terhuyung sejenak begitu kedua tangannya dapat menyambut benda hitam panjang yang meluncur ke arahnya. Sepasang matanya lantas meneliti. Tiba-tiba sepasang matanya mendelik angker. Tubuhnya bergetar keras menahan marah. Sekonyong-konyong benda hitam panjang yang ternyata adalah sosok si Jarum Neraka yang telah jadi mayat itu dicampakkan ke tanah.

Kepalanya lantas berputar. Dia sudah tahu siapa gerangan orang yang sengaja mencegah serangannya dengan melemparkan sosok mayat si Jarum Neraka. Namun demikian, diam-diam dia hampir tak percaya.

"Tak kusangka jika si Jarum Neraka bisa dibuat mampus oleh manusia banci itu! Hmm....

Setan Pesolek. Siapa sebenarnya manusia ini? Aku baru saja mengenalnya. Tapi aku sungguh tak menduga jika dia berilmu tinggi. Rupanya dia sengaja menyembunyikan ilmu di balik sifat kebanciannya! Apa yang pernah dikatakan guru benar-benar terjadi.... Banyak tokoh yang tampil !"

batin Manusia Titisan Dewa. Lalu sambil menahan gejolak amarah, dia berteriak.

"Manusia banci! Jangan tambah kebancianmu dengan tak berani unjukan diri!"

Tak ada suara jawaban.

Sementara itu, di bawahnya Pendekar 108 tersentak kaget dari pingsannya begitu sebuah benda yang bukan lain sosok mayat si Jarum Neraka yang dicampakkan Manusia Titisan Dewa menimpa tubuhnya. Dia sejenak berpaling pada mayat si Jarum Neraka. Mulutnya menganga lebar, dan lebih melongo lagi tatkala sepasang matanya menangkap siapa adanya orang yang kini berdiri dua langkah di depannya. Dia tak tahu, apa yang sedang dilakukan Manusia Titisan Dewa berdiri di sebelahnya dengan mata nyalang berputar. Dan mungkin menduga jika Manusia Titisan Dewa sedang mencari sesuatu lalu setelah itu akan membunuhnya, Pendekar Mata Keranjang

108 segera luruskan kedua kakinya, lalu sertamerta kakinya diangkat dan digaetkan pada kaki Manusia Titisan Dewa.

Settt! Bukkk!

Manusia Titisan Dewa jatuh terjengkang. "Budak keparat! Hancur batok jidatmu!" te-

riak Manusia Titisan Dewa sambil hantamkan kedua tangannya sekaligus pada kepala Pendekar 108.

Karena Pendekar 108 masih terluka, apalagi jaraknya yang begitu dekat hingga tak ada kesempatan lagi baginya untuk menghindar dari hantaman kedua tangan Manusia Titisan Dewa.

"Celaka! Amblas kepalaku...!" keluh Aji sambil pegangi kepalanya.

Sejengkal lagi kedua tangan Manusia Titisan Dewa memecah batok kepala Pendekar 108, tiba-tiba dari balik ilalang menderu angin kencang dan menghantam tubuh Pendekar Mata Keranjang.

Desss...!

Sosok tubuh Pendekar 108 mencelat menerabas ilalang dan jatuh bergedebukan delapan tombak ke samping. Namun hal ini menyelamatkan kepalanya dari hantaman tangan Manusia Titisan Dewa. Tangan itu terus menerabas dan menghajar tanah. Tanah itu langsung terbongkar dan berhamburan ke udara!

"Jahanam! Bangsat!" maki Manusia Titisan Dewa serentak bangkit.

Saat itulah, lima tombak di hadapannya padang ilalang bergerak menguak, lalu muncul seseorang dengan menggerak-gerakkan tangannya. Bahu dan pinggulnya pun digerak-gerakkan. Sementara sebelah matanya mengerling.

"Banci keparat!" hardik Manusia Titisan Dewa lalu berkelebat.

DELAPAN

KITA kembali sejenak ke belakang. Mengetahui bagaimana tiba-tiba saja si Jarum Neraka bisa meluncur ke arah Manusia Titisan Dewa dalam keadaan tewas. Seperti dituturkan, karena Setan Pesolek tak setuju dengan apa yang akan dilakukan Manusia Titisan Dewa, Ratu Pulau Merah serta si Jarum Neraka yang hendak membunuh Pendekar Mata Keranjang, maka Setan Pesolek menyingkir agak jauh. Namun karena dia masih ikut-ikutan ngomong, Manusia Titisan Dewa akhirnya menyuruh si Jarum Neraka untuk membungkamnya.

Sebenarnya si Jarum Neraka tak senang, namun karena juga merasa geram dengan Setan Pesolek, maka dia pun balikan tubuh dan melangkah ke arah Setan Pesolek.

Sepuluh langkah di hadapan Setan Pesolek, si Jarum Neraka hentikan langkah. Sepasang matanya lurus menatap tajam. Sementara yang dipandangi acuh tak acuh. Malah sunggingkan senyum sambil berkaca pada cermin batu putihnya.

Melihat sikap Setan Pesolek yang seakan meremehkan, si Jarum Neraka tampak sangat geram. Kedua tangannya dikembangkan hingga mengeluarkan suara gemeretak. Otot-otot tangannya menyembul hingga jarum-jarum hitam yang banyak menancap di kulitnya bergerakgerak seakan hendak keluar. Tiba-tiba dia keluarkan bentakan keras.

"Manusia banci! Kau terlalu memandang remeh orang. Kau tahu, sedang berhadapan dengan siapa kali ini?!"

Seakan tidak mendengar bentakan orang, Setan Pesolek tetap bertingkah seperti semula. Malah kini sambil berkaca, dia dendangkan lagu.

"Manusia banci! Kau dengar ucapan orang. Kalau kau tetap bertingkah seperti monyet buduk, jangan menyesal jika tanganku akan merubah bentuk wajahmu!"

"Walah, wajah sudah bagus begini mau dirubah bagaimana lagi?! Eh.... Apa katamu tadi?!" Sejenak Setan Pesolek turunkan batu cermin putihnya. Lalu kepalanya mendongak ke atas, seolah mengingat-ingat.

"Kalau tak salah kau tadi mengatakan, apakah aku tahu sedang berhadapan dengan siapa kali ini! Benar...?"

Yang ditanya tidak buka mulut. Hanya sepasang matanya memandang liar.

"Kau tak mau jawab tak apa-apa. Tapi aku akan menjawab pertanyaanmu.... Kalau tak salah aku sedang berhadapan-hadapan dengan tokoh rimba persilatan bergelar Jarum Neraka! Benar?!" kembali Setan Pesolek ajukan pertanyaan. Namun lagi-lagi si Jarum Neraka tak buka suara.

Setan Pesolek angkat cermin batunya kembali. Sepasang matanya lantas menatap tajam ke arah batu putih di tangannya. Dari mulutnya keluar suara setengah bergumam, namun masih jelas di telinga si Jarum Neraka.

"Rejeki, jodoh dan mati ada di tangan Yang Maha di Atas. Tapi semua itu diawali dengan tanda-tanda. Hmm.... Aku mencium bau tidak sedap di sini. Bau bangkai manusia! Dan aku merasa tanah ini bergetar, takdir buruk akan terjadi "

"Ramalan gila! Siapa percaya pada orang kelainan sepertimu!" desis si Jarum Neraka.

"Hush! Siapa meramal. Aku bicara, tidak meramal!" sahut Setan Pesolek lalu luruhkan tangannya kembali.

"Setan Pesolek!" bentak si Jarum Neraka. "Kau boleh pergi dari sini dengan wajah tak berubah. Tapi kau harus katakan dahulu, kenapa kau tak setuju dengan tewasnya pemuda itu?! Apa hubunganmu dengannya?!"

Setan Pesolek lambaikan tangan kanannya, mulutnya moncong ke depan.

"Hmm.... Kau sendiri kenapa ingin membunuh pemuda tampan itu?! Apa hubunganmu dengannya?!" Setan Pesolek balik bertanya.

"Tikus banci! Ditanya orang balik bertanya! Wajahmu memang minta dirubah! Rasakan!" hardik si Jarum Neraka sambil angkat tangannya.

"Tunggu...!" seru Setan Pesolek dengan sedikit liukan tubuhnya. Tangannya bergerak pulang balik melambai.

Si Jarum Neraka urungkan niatnya. Sepasang matanya menyengat tajam. Dia tegak menunggu dengan tangan tetap di atas, siap lakukan pukulan.

"Turunkan dulu tanganmu. Aku ngeri...," kata Setan Pesolek dengan wajah ketakutan.

Meski geram, akhirnya si Jarum Neraka turunkan juga tangannya.

"Lekas jawab pertanyaanku?" bentak seraya busungkan dada.

"Pemuda itu berwajah tampan, masih muda lagi. Kasihan jika orang seperti dia harus buru-buru masuk tanah. Kau kan tahu, aku lebih memilih pemuda itu daripada temanmu yang bermata biru dan bertubuh montok itu! Hik....

Hik.... Hik...! Kau sendiri kenapa bernafsu sekali untuk membunuhnya?" kembali Setan Pesolek ajukan pertanyaan.

"Dialah yang menyebabkan kakakku tewas dengan tubuh terkoyak-koyak!" jawab si Jarum Neraka singkat.

"Hiii... Terkoyak-koyak?" ulang Setan Pesolek dengan gerakan tubuhnya seakan ngeri. "Siapa kakakmu itu?"

"Ah, kau terlalu banyak tanya! Lagi pula apa perlunya kau tanya soal itu?!"

"Ya, apa perlunya aku tanya soal itu?!" ulang Setan Pesolek sambil tengadahkan kepala. Tiba-tiba dia luruskan kepalanya memandang sejenak pada si Jarum Neraka. Lalu mendongak lagi dan berkata.

"Aku ingat! Bukankah kakakmu itu sudah tewas? Sedangkan aku sekarang mencium bau bangkai manusia. Jangan-jangan ini takdir buruk "

"Takdir buruk bagaimana maksudmu?!" "Orang tolol! Ucapan begitu saja masih tak

dapat menangkap artinya!" gumam Setan Pesolek dengan tersenyum.

"Hei.... Apa kau bilang? Ulangi lagi ucapanmu!" perintah si Jarum Neraka demi mendengar gumaman Setan Pesolek.

Setan Pesolek sedikit terkejut. Karena dia menyangka si Jarum Neraka tidak mendengar gumamannya. Sebab gumaman itu dikeluarkan sangat pelan.

"Kubilang ulangi lagi ucapanmu!" hardik si Jarum Neraka dengan suara keras.

"Orang tolol! Ucapan begitu...," Setan Pesolek tak meneruskan ucapannya karena saat itu juga si Jarum Neraka telah angkat tangannya. "Banci jahanam! Berani kau memakiku

orang tolol! Kuhancurkan mulutmu!" Wuuutt!

Serangkum angin dahsyat menderu keras ke arah Setan Pesolek.

"Haiii...! Kenapa kau menyerangku? Bukankah aku menuruti perintahmu untuk mengulangi ucapanku?" kata Setan Pesolek dengan wajah ketakutan. Namun anehnya dia tak bergerak menyingkir.

"Pecah mulutmu!" desis si Jarum Neraka dari seberang begitu melihat Setan Pesolek tak berusaha menghindar. Bibirnya tersenyum dengan kepala manggut-manggut.

Namun senyuman si Jarum Neraka tibatiba terpenggal. Dia membeliakkan sepasang matanya. Karena begitu sejengkal lagi pukulan jarak jauhnya menghajar tubuh Setan Pesolek, pemuda berparas cantik ini goyangkan tubuhnya. Tibatiba tubuhnya lenyap dari pandangan! Hingga serangan si Jarum Neraka hanya menghantam angin.

"Setan buduk! Siapa sebenarnya manusia satu ini?" batin si Jarum Neraka seraya putar pandangannya mencari tahu di mana beradanya Setan Pesolek.

Selagi si Jarum Neraka mencari-cari, di belakangnya terdengar suara tawa cekikikan. Dia cepat putar tubuhnya. Lima langkah di hadapannya tegak Setan Pesolek dengan rapikan rambutnya.

"Rupanya kau punya ilmu juga, Setan Ban-

ci!" ujar si Jarum Neraka dan kembali hantamkan kedua tangannya. Kali ini dengan tenaga dalam kuat.

Wuuut! Wuuuttt!

Dua gelombang angin keluarkan suara menggemuruh laksana ombak melesat cepat ke arah Setan Pesolek.

Setan Pesolek kembali goyang-goyangkan tubuhnya seakan ketakutan dan ngeri. Namun tinggal sedepa lagi serangan itu menghajar tubuhnya, dia angkat kedua tangannya dan digerakkan lemah gemulai ke depan.

Dua gelombang angin yang menyongsong ke arah Setan Pesolek tiba-tiba terhenti di udara. Dan ketika tangan Setan Pesolek melambai kembali, dua gelombang itu bergerak membalik ke arah si Jarum Neraka!

"Kurang ajar!" maki si Jarum Neraka sambil melompat mundur dan miringkan tubuhnya mengelak dari pukulannya sendiri yang membalik. Tangan kanannya lalu menyelinap ke balik pakaiannya. Lalu....

Wuuuttt!

Beberapa puluh jarum hitam bertebaran keluarkan suara mendengung.

Kali ini Setan Pesolek tak menunggu. Begitu pukulan jarum hitam yang tentunya mengandung racun itu bertebaran ke arahnya, dia putar tubuhnya dengan cepat. Terdengar suara angin menderu-deru. Tiba-tiba sosoknya lenyap. Dan dikejap lain terdengar suara 'taass' berpuluhpuluh kali.

Di seberang, si Jarum Neraka tersirap darahnya. Senjata rahasia berupa jarum hitam miliknya bermentalan dan hancur patah-patah! Begitu tebaran patahan jarum hitam sirap, tampak Setan Pesolek tadangkan kedua tangannya di atas kepala seperti orang ketakutan hendak dipukul.

"Jahanam betul! Ternyata dugaanku meleset jauh. Dia bukan orang sembarangan...," bisik si Jarum Neraka dalam hati. Pelan-pelan dia merasa kecut. Namun dia tak menunjukkan rasa cemasnya. Malah untuk menutupi rasa kecutnya ia sunggingkan senyum lebar, dan berkata.

"Setan banci! Dari tadi kau hanya menghindar seperti monyet. Tunjukkan kehebatanmu!" "Jangan salah tangkap, Jarum Neraka.

Orang tampak takut kadang-kadang berani. Orang tersenyum lebar sering kali hatinya cemas!" "Setan alas! Dia rupanya mengetahui jalan pikiranku! Apa hendak dikata, dia harus kuhabisi

sekarang juga! Daripada membuat malu!"

Berpikir begitu, kedua tangannya dikatupkan sejajar dada. Mulutnya komat-kamit. Serentak, kedua tangannya dibuka dan dihantam kuat-kuat ke arah Setan Pesolek yang terlihat masih jongkok dengan menadangkan tangan di atas kepala.

Gelombang angin yang dimuati beberapa puluh jarum hitam melesat ke depan. Setan Pesolek cepat bangkit. Kedua kakinya menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke depan dengan kedua tangan disentakkan.

Wuuutt! Wuuutt!

Dari telapak tangan Setan Pesolek keluar asap putih bergulung-gulung. Si Jarum Neraka melengak kaget tatkala melihat gulungan asap putih itu membuat putaran aneh dan membungkus gelombang angin serta puluhan jarum hitamnya. Lalu gulungan asap putih yang membungkus puluhan jarum itu melesat terus ke arahnya!

Sambil berseru tegang, Jarum Neraka melompat ke samping mengelak dari hajaran pukulannya sendiri yang telah terbungkus asap putih. Namun betapa terkejutnya manusia berhias jarum ini, karena satu depa lagi serangan itu menghantam, tiba-tiba bungkusan asap putih pecah! Dan jarum hitam itu bertebaran!

Tak ada kesempatan lagi bagi si Jarum Neraka untuk mengelak. Hingga tanpa ampun lagi beberapa jarum hitam beracun itu menembus tubuhnya.

Untuk beberapa saat si Jarum Neraka tampak tegang berdiri dengan mata melotot memandang ke arah Setan Pesolek yang goyanggoyangkan pinggulnya. Namun tak lama kemudian, tubuhnya roboh bergedebukan ke atas tanah.

"Kasihan... Senjata makan tuan...," desis Setan Pesolek. Lalu melangkah ke arah tubuh si Jarum Neraka. Dia tersentak sendiri. Tubuh si Jarum Neraka ternyata kaku dan hangus seperti orang terbakar!

"Racun ganas...," gumam Setan Pesolek. Lalu jongkok. Sepasang matanya lantas memandang jauh ke tempat Manusia Titisan Dewa dan Ratu Pulau Merah. Tiba-tiba kepalanya berputar cepat ke arah samping. Matanya menyipit menembus kegelapan malam.

"Hmm. Ada orang berkelebat ke arah sini!

Untuk sementara aku harus sembunyi...," katanya, lalu menyeret tubuh si Jarum Neraka dan mendekam tidak jauh dari tempat Manusia Titisan Dewa dan Pendekar 108 yang telah mulai saling menyerang.

Tatkala melihat Pendekar Mata Keranjang 108 roboh untuk pertama kalinya, sebenarnya Setan Pesolek hendak berkelebat keluar, namun gerakannya tertahan karena ada selendang merah yang ternyata selendang Dewi Kayangan terlebih dahulu menyelamatkan murid Wong Agung.

Baru tatkala untuk kedua kalinya Manusia Titisan Dewa hendak menghajar Pendekar 108

yang sudah pingsan, Setan Pesolek lemparkan mayat si Jarum Neraka ke arah Manusia Titisan Dewa, hingga Manusia Titisan Dewa urungkan niat.

SEMBILAN

KETIKA Setan Pesolek muncul dari balik ilalang setelah menyelamatkan Pendekar Mata Keranjang, Manusia Titisan Dewa yang sudah digelayuti hawa amarah langsung berkelebat dan pukulkan dua tangannya ke arah kepala Setan Pesolek.

Setan Pesolek berseru ketakutan, namun tak bergerak dari tempatnya. Lalu masih dengan wajah menunjukkan rasa ngeri, kedua tangannya diangkat.

Prakkk!

Terjadi bentrok dua pasang tangan. Manusia Titisan Dewa tersentak tegang dan tersurut dua langkah. Untung dia cepat kerahkan tenaga untuk mengatasi huyungan tubuhnya, jika tidak bukan tak mungkin dia akan jatuh terduduk. Sepasang matanya serentak liar menyengat. Tulangtulang wajahnya bergerak-gerak. Dia segera memperhatikan tangannya. Dia menarik napas lega, karena tangannya tidak cidera meski berubah agak merah. Walau demikian, dia sudah maklum jika lawan yang dihadapi kali ini memiliki tenaga dalam luar biasa. Di depannya Setan Pesolek kibas-kibaskan kedua tangannya dengan wajah meringis.

"Setan Pesolek! Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau berbuat keji membunuh teman satu golongan?"

Setan Pesolek tersenyum. Rambut di tengkuknya disibak ke belakang dengan menarik sedikit kepalanya.

"Teman satu golongan?!" ulang Setan Pesolek tanpa memandang.

"Aku tak pernah punya teman, dan juga tak pernah bergolong-golongan!"

"Hmm.... Begitu? Lantas apa hubunganmu dengan pemuda itu?"

"Hubunganku dengan pemuda itu?!" kembali Setan Pesolek mengulang kata-kata Manusia Titisan Dewa.

"Aku tak punya sanak, tak punya saudara. Teman pun tak punya! Jadi kau bisa jawab sendiri pertanyaanmu!"

"Hmm.... Lalu maksudmu menyelamatkan-

nya?!"

"Maksudku menyelamatkannya?!" sejenak

Setan Pesolek memandang ke arah Dewi BayangBayang dan Gongging Baladewa yang masih tegak memperhatikan. Lalu menyambung ucapannya.

"Seperti kukatakan tadi, aku hanya ingin melihat tampangnya. Namun kalian tampaknya hendak membunuhnya. Kalau dia sampai mati, kau yang senang, aku yang merana, karena tak bisa lagi melihat tampangnya!"

"Dasar manusia banci!" rutuk Manusia Titisan Dewa dalam hati.

"Setan Pesolek!" kata Manusia Titisan Dewa sedikit rendahkan nada suaranya. "Kalau kau memang hanya ingin melihat tampangnya, begini saja. Untuk sementara biar pemuda itu kubawa dahulu. Tiga hari di muka kau bisa menjemputnya di tempatku! Kau boleh memandanginya sepuas hatimu, bahkan kau boleh membawanya!" Setan Pesolek keluarkan tawa cekikikan. Batu cerminnya dikeluarkan lalu tanpa mempedulikan orang, dia senyum-senyum sendiri seraya pandangi wajahnya di batu cermin.

"Manusia Titisan Dewa. Siapa pun adanya kau, Manusia Titisan Setan, Manusia Titisan Iblis, Manusia Titisan Tikus, Manusia Titisan Bayi, jangan harap bisa mengaturku!"

"Kalau kau tak mau kuatur lekas angkat kaki dari hadapanku!" bentak Manusia Titisan Dewa.

"Aku pun tak senang diperintah!" kata Setan Pesolek dengan suara pelan.

"Berarti kau ingin mampus!" seraya berkata, tangan kanannya dihantamkan ke depan.

Hawa panas dan dingin berganti-ganti menghampar. Sekejap kemudian melarik seberkas sinar pelangi. Tak ada suara yang terdengar, tak ada deru angin. Namun bersamaan dengan itu, tanah pijakan Setan Pesolek bergetar!

"Menggiring Pelangi Menebar Hawa!" seru Setan Pesolek mengenali pukulan yang dilancarkan Manusia Titisan Dewa. Dia cepat simpan cermin batunya, lalu berputar. Mendadak sosoknya lenyap laksana ditelan bumi!

Sinar pelangi serangan Manusia Titisan Dewa menghajar padang ilalang di depannya. Padang ilalang itu kontan berhamburan dan lembut! "Haram jadah! Ke mana lenyapnya manu-

sia banci itu? Heran, dari mana ia mengenali pukulanku?" batin Manusia Titisan Dewa sambil sapukan pandangannya berkeliling.

Tak ada siapa-siapa lagi di tempat ini. Sosok Dewi Kayangan serta Gongging Baladewa pun tak terlihat. Setelah menunggu agak lama, tak juga ada orang yang muncul, Manusia Titisan Dewa melangkah ke arah jatuhnya Pendekar 108. Ia menarik napas panjang dengan bibir tersenyum, karena Pendekar 108 terlihat masih melingkar di atas tanah.

Tanpa berpaling lagi, Manusia Titisan Dewa turunkan bahunya, tangannya menjulur. Ketika tangan itu bergerak naik lagi, tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 melayang dan jatuh di pundaknya.

"Untuk sementara akan kusimpan dulu. Aku akan mencari Sakawuni, biar dia nanti yang membereskannya!" batinnya, lalu berkelebat. Namun langkahnya tertahan tatkala terdengar seruan tak jauh dari tempatnya.

"Kau bisa pergi. Tapi tanpa pemuda itu!" Bersamaan dengan terdengarnya seruan, Manusia Titisan Dewa merasakan desiran angin di belakangnya. Lalu terasa ada kekuatan tak terlihat yang membetot tubuh pemuda yang ada di pundaknya.

Sesaat Manusia Titisan Dewa tengadah sambil kerahkan tenaga dalam. Tiba-tiba sambil berseru keras, tubuhnya membalik dengan kaki kiri menyapu!

Wuuutt!

Namun Manusia Titisan Dewa melengak sendiri. Tendangan kakinya hanya menghajar angin!

Pendekar Mata Keranjang yang ada di pundak Manusia Titisan Dewa tersadar. Dia sejenak melihat memandang ke bawah. Yang terlihat pertama kali adalah sepasang kaki yang tidak menginjak tanah.

Dia bisa menduga bahwa itu adalah kaki Manusia Titisan Dewa. Lalu melirik ke kanan, terlihat Setan Pesolek duduk berjongkok di balik padang ilalang. Aji belum dapat menduga apa yang sedang dilakukan Setan Pesolek. Tiba-tiba tubuhnya berputar mengikuti putaran tubuh Manusia Titisan Dewa.

"Hm.... Berarti manusia ini mencari Setan Pesolek!" duga Aji.

"Setan banci! Keluarlah!" bentak Manusia Titisan Dewa. Karena tak ada gerakan juga tak ada suara yang menyahut, Manusia Titisan Dewa angukan kepala. Matanya melirik ke samping. Mendadak tangan kirinya bergerak memukul.

Wuuutt!

Setan Pesolek berseru kaget. Tubuhnya melenting ke udara. Membuat gerakan berputar beberapa kali lalu menukik tepat ke arah kepala Manusia Titisan Dewa.

Manusia Titisan Dewa yang baru saja mendongak hendak menjajaki di mana lawan berada tercekat sendiri, karena saat itu juga Setan Pesolek telah duduk di atas tengkuknya dengan kaki kiri menelingkung tangan kiri Manusia Titisan Dewa ke belakang.

Manusia Titisan Dewa berseru keras. Namun karena tangan kirinya tak bisa digerakkan sementara tangan kanan memegangi tubuh Aji, maka dia hanya bisa memaki sambil bantingkan kaki.

"Banci bangsat!" teriak Manusia Titisan Dewa. Serta-merta tubuh Pendekar Mata keranjang 108 dicampakkan ke bawah. Lalu tangan kanannya memukul ke atas.

Prak!

Manusia Titisan Dewa berseru tegang. Tangan kanannya mental lagi ke bawah karena beradu dengan tangan Setan Pesolek. Namun bersamaan dengan itu tubuh Setan Pesolek juga mental dan jatuh terduduk lima langkah di samping Manusia Titisan Dewa.

Manusia Titisan Dewa cepat putar tubuhnya setengah lingkaran. Dan dengan tenaga dalam penuh kedua tangannya dihantamkan pada Setan Pesolek!

Sinar pelangi kembali melesat, kali ini didahului dengan sambaran angin dahsyat.

Setan Pesolek rangkapkan kedua telapak tangannya, lalu disentakkan ke depan.

Asap putih bergulung-gulung menyambar dari telapak tangan Setan Pesolek dan memapasi sinar pelangi.

Bummm!

Asap hitam tebal melingkupi tempat itu begitu ledakan akibat bertemunya dua pukulan terjadi. Manusia Titisan Dewa terdengar keluarkan seruan tertahan, tubuhnya terseret mundur sampai dua tombak. Beberapa saat tubuhnya tampak limbung, lalu jatuh terkapar di atas tanah!

Begitu asap hitam sirap, dan cahaya rembulan dapat kembali menerangi, Manusia Titisan Dewa tersentak. Sosok Setan Pesolek tak kelihatan, demikian juga Pendekar Mata Keranjang 108. "Setan Pesolek! Kau telah melakukan dosa

besar pada Manusia Titisan Dewa! Aku tidak akan mengampuni nyawamu!" ujar Manusia Titisan Dewa.

Lalu bergerak bangkit, dan melangkah meninggalkan tempat itu seraya mengurut-urut dadanya. Jelas jika orang ini terluka dalam akibat bentrok tenaga dalam lewat pukulan jarak jauh tadi.

SEPULUH

PENDEKAR Mata Keranjang 108 membuka kelopak matanya, karena dia merasa ada di pundak seseorang yang berlari kencang. Dia tak tahu, bagaimana dia bisa berada di pundak orang itu. Karena yang dia ingat adalah sewaktu terjadi ledakan, tubuhnya mencelat jauh. Merasa akan jatuh lagi menghempas tanah, dia pejamkan sepasang matanya. Tapi ketika tubuhnya tak menghempas tanah malah seperti terbang, murid Wong Agung ini segera buka kelopak matanya. Pendekar Mata Keranjang yang kepalanya ada di punggung orang yang melarikannya, sejenak memperhatikan

"Rambut panjang dikepang dua.... Hm....

Setan Pesolek!" pikir Pendekar 108 dalam hati. "Dugaanku salah. Ternyata dia tidak sejahat yang kuduga. Dan kata-katanya menjadi kenyataan. Dia mengatakan bahwa aku tidak akan menemukan Anting Wulan, juga aku sedang diincar orang.... Hmm.... Lalu tentang tantangan di depan. Dia mengatakan aku akan menghadapi gunung besar yang siap meletus.   Apa   artinya itu ?!"

Selagi Aji memikirkan ucapan Setan Pesolek, orang yang melarikan Aji dan bukan lain memang Setan Pesolek memperlambat larinya. Pada sebuah tempat sepi dan amat gelap di balik sebuah pohon besar, Setan Pesolek hentikan larinya lalu meletakkan tubuh Aji di atas tanah.

"Setan Pesolek! Aku berterima kasih padamu yang telah selamatkan jiwaku beberapa kali!"

Setan Pesolek seolah tak mendengar ucapan Pendekar 108. Malah dia keluarkan batu cerminnya dan berkaca sambil rapikan rambut dan polesan merah di bibirnya.

Pendekar 108 bangkit. Namun tubuhnya terhuyung-huyung dan jatuh terduduk.

"Sialan! Meski dadaku tidak nyeri tapi kakiku masih gemetar. ," bisik Pendekar 108 sambil

memandang pada Setan Pesolek.

"Hm.... Aku tadi selintas melihat Dewi Kayangan dan Gongging Baladewa.... Apa mereka juga sudah pergi? Hmm. Jika pada Dewi Kayan-

gan dan Gongging Baladewa mungkin aku tak segan-segan minta tolong untuk mengurut kakiku "

Tiba-tiba Setan Pesolek putar tubuhnya dan melangkah gemulai ke arah Aji. Sejenak sepasang matanya memandang sayu. Bibirnya lalu tersenyum. Dengan gerakan lembut, dia lantas jongkok di samping Aji. Dan tanpa berkata kedua tangannya bergerak mengurut kaki Aji.

"Setan Pesolek...," gumam Aji. Namun dia tak meneruskan ucapannya karena Setan Pesolek memberi isyarat agar Aji tak meneruskan ucapannya. Akhirnya Aji hanya diam, sambil sesekali gelengkan kepala dan meringis kesakitan.

Namun hanya sekejap, begitu Setan Pesolek angkat kedua tangannya, kakinya terasa enteng. Begitu Setan Pesolek bergerak bangkit. Aji ikut-ikutan bergerak. Aji tercengang. Kakinya tak lagi gemetar, malah tubuhnya terasa segar kembali!

"Sekali lagi kuucapkan terima kasih...," kata Pendekar Mata Keranjang seraya bungkukan sedikit tubuhnya.

Melihat sikap Pendekar 108, tawa Setan Pesolek meledak.

"Kau tak usah bersikap begitu. Meski kau masih menduga jelek padaku, tapi aku telah menganggapmu sebagai sahabat!"

"Maaf atas dugaanku selama ini...," sahut Aji dengan tersenyum, karena melihat tingkah pemuda di sampingnya yang tidak bisa berhenti bergerak. Kalau tidak menyibak rambut di tengkuk, ambil batu cerminnya dan berkaca, lalu mengelus kuku jari-jarinya yang bercat merah. Sikapnya persis dengan perempuan.

Tiba-tiba Aji teringat pada Anting Wulan. "Hmm.... Dia mengetahui jika aku tidak

akan menemukan Anting Wulan di tempatnya mandi. Mungkin dia tahu ke mana Anting Wulan pergi...," lalu murid Wong Agung ini buka mulut.

"Setan Pesolek. Kalau tak keberatan   Bisa

katakan padaku, ke mana sebenarnya gadis temanku itu?!"

Setan Pesolek berpaling. Senyumnya menyungging. Sebelah matanya mengerdip, membuat murid Wong Agung ini usap-usap hidungnya sambil alihkan pandangannya pada jurusan lain.

"Dia tak mengatakan padamu ke mana dia akan pergi?!" Setan Pesolek balik ajukan pertanyaan, membuat Aji gelengkan kepala, bukan sebagai jawaban atas pertanyaan orang, melainkan tak habis pikir dengan ucapan orang.

"Kalau dia mengatakan padaku, aku tak tanya padamu!" akhir Aji menjawab.

"Hmm.... Kau tidak dusta mengatakan gadis itu adalah temanmu?!"

Pendekar 103 gelengkan kepala dengan wajah sedikit muram.

"Aku tampak kecewa. Kau mencintai gadis itu?" tanya Setan Pesolek. "Aku tak bisa mengatakan cinta apa tidak. Yang pasti, aku harus menolong jika dia dalam keadaan bahaya. "

Setan Pesolek tertawa pelan. Kepalanya manggut-manggut.

"Setiap sebab akan menimbulkan akibat. Setiap sebab akan datang bersama tanda-tanda....

Kau mencemaskan gadis itu. Tanpa kau katakan, tanda-tanda itu telah berkata, bahwa sebenarnya kau...," Setan Pesolek tak meneruskan katakatanya, karena Aji telah menyahut.

"Menyintainya...! Begitu terusan ucapanmu?!" Aji berkata sambil tertawa. "Terserah kau mau bilang apa. Yang pasti, sekarang aku harus segera mencarinya!"

Aji melangkah maju satu tindak menjajari Setan Pesolek.

"Terima kasih atas kebaikanmu selama ini.

Aku harus pergi sekarang!"

Habis berkata begitu, Aji putar tubuhnya dan hendak melangkah pergi. Namun langkahnya tertahan tatkala terdengar suara Setan Pesolek.

"Pendekar 108! Kau harus hati-hati. Seringkali yang tampak di mata adalah yang palsu. Dan cinta adalah dinding tebal penutup mata.'"

"Apa maksud kata-katamu, Setan Pesolek?!" kata Aji tanpa balikkan tubuh.

Setan Pesolek tak segera menjawab. Setelah tertawa cekikikan, akhirnya dia berkata lagi.

"Tak baik mengatakan apa yang belum terjadi. Bisa kualat! Kelak kau akan tahu sendiri.... Dan juga harus kau ingat. Jangan sampai persoalan cinta membuat lengah hingga gunung besar itu meletus dan membuat malapetaka!"

"Setan Pesolek!" sahut Pendekar Mata Keranjang sambil balikkan tubuh. Namun dia tak teruskan ucapannya, karena terlihat Setan Pesolek dongakan kepala, lalu melihat pada cermin batunya. Sesaat terdiam, lalu memberi isyarat pada Aji untuk mengikutinya.

Meski masih bertanya-tanya dalam hati, Pendekar Mata Keranjang 108 akhirnya menuruti isyarat Setan Pesolek dan mengikutinya dari belakang.

"Sialan! Ke mana dia hendak pergi...?" batin Pendekar 108 seraya terus mengikuti berkelebatnya Setan Pesolek.

Pada suatu tempat, Setan Pesolek hentikan larinya dan mendekam di balik sebuah pohon. Pendekar Mata Keranjang yang baru saja datang dan masih berdiri segera ditarik tangannya agar ikut mendekam.

Untuk beberapa saat sepasang mata Setan Pesolek memandang tajam pada satu tempat. Pendekar 108 memperhatikan dengan seksama. Dan setelah agak lama tak juga ada kejadian apaapa, Pendekar 108 keluarkan suara teguran.

"Apa yang kau lakukan?"

Setan Pesolek tak menjawab. Berpaling pun tidak, membuat Aji agak jengkel dan bergerak bangkit. Namun belum sampai tubuhnya tegak, tangan Setan Pesolek telah menariknya, hingga Aji kembali terduduk.

"Sialan! Apa sebenarnya yang sedang kau intip?!"

"Jangan banyak mulut! Dengarkan saja!" kata Setan Pesolek dengan suara sedikit keras, membuat murid Wong Agung makin jengkel. Namun mungkin untuk membuktikan ucapan Setan Pesolek, akhirnya Pendekar 108 diam mendekam tanpa keluarkan suara lagi.

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang tertawa mengekeh panjang. Lalu disusul suara tawa lainnya.

Diam-diam Aji membatin. "Sialan betul! Dia seakan mengetahui apa yang akan terjadi...," Pendekar Mata Keranjang 108 lantas ikut-ikutan memandang ke arah mana pandangan mata Setan Pesolek mengarah.

Mula-mula Pendekar 108 hanya melihat bayangan sosok yang melangkah sambil tertawa. Lalu muncul lagi sosok di belakangnya. Kedua orang ini adalah dua orang laki-laki bertubuh tinggi tegap. Yang di depan mengenakan jubah besar tanpa lengan berwarna merah. Di telinganya terdapat anting-anting juga berwarna merah. Sementara yang di belakang juga laki-laki tegap. Memakai jubah tanpa lengan berwarna hitam. Telinganya juga mengenakan anting-anting warna hitam. Kedua orang ini kepalanya sama gundul. Begitu cahaya rembulan tak tertutup awan dan menerangi tempat di mana kedua sosok itu muncul, Pendekar 108 terkesiap. Sepasang matanya mendelik besar. Bukan pada dua sosok yang melangkah, melainkan pada sosok lain yang ada di pundak kedua orang ini!

SEBELAS

ANTING Wulan!" seru Aji dengan dada bergetar. Sepasang matanya berapi-api. Kedua tangannya serentak mengepal. Pelipisnya bergerak dengan jakun turun naik menahan gejolak amarah. Mungkin masih terkesima dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya, hingga untuk beberapa saat dia hanya diam terpaku. Namun setelah sadar, dia cepat bergerak bangkit. Namun sebelum tegak, Setan Pesolek telah menarik lengannya. Hingga tubuhnya kembali turun ke bawah,

"Apa maksudmu, Setan Pesolek? Dua bangsat itu jelas-jelas hendak berbuat tak senonoh dengan gadis itu!"

"Tahan suaramu!" kata Setan Pesolek dengan suara rendah.

"Aku harus keluar! Tak akan kubiarkan bangsat-bangsat itu berlaku seenaknya pada gadis itu!" kata Pendekar 108 lepaskan cekalan tangan Setan Pesolek. Namun Pendekar 108 terkejut, meski tangan itu tidak mencengkeram, dia tak bisa melepaskannya, membuat dia makin geram, tapi akhirnya dia diam.

"Sudah kubilang, tahan suaramu! Lihat mereka ada yang curiga!" kata Setan Pesolek tanpa alihkan pandangannya ke depan. Salah seorang di antara dua orang berkepala botak tampak putar kepalanya dengan mata menyelidik. Namun sebentar kemudian dia sudah tertawa kembali sambil memandangi perempuan di bawahnya.

"Apa kau kira aku juga akan tetap diam jika ada manusia berbuat tak senonoh di hadapanku? He.,.?!" Setan Pesolek menyambung ucapannya.

"Tapi kau tunggu apalagi? Apa masih menunggu hingga gadis itu ditelanjangi?" kata Aji masih dengan nada berang, melihat Setan Pesolek tak segera bergerak, padahal di depan sudah terlihat kedua orang yang ternyata berkepala botak telah menelentangkan gadis yang tadi dipanggulnya dan bukan lain memang Anting Wulan alias Dewi Tengkorak Hitam.

"Hati boleh panas, dada boleh bergolak, tapi mata jangan lengah!" berkata Setan Pesolek tanpa melepaskan pegangan tangannya pada lengan Aji.

"Apa maksudmu?"

"Lihat di samping pohon itu!" Setan Pesolek arahkan telunjuk jarinya pada sebuah pohon tak Jauh dari dua orang berkepala botak.

Mula-mula Pendekar 108 hanya melihat kegelapan, namun setelah matanya sedikit terbiasa dengan gelap, samar-samar pandangannya membentur pada sesosok tubuh yang berdiri tegak dengan kepala menghadap ke depan, ke arah dua orang botak yang masih tertawa bergeraigerai.

Tiba-tiba salah seorang di antara kedua orang botak itu, yakni yang mengenakan jubah besar warna hitam hentikan geraian tawanya. Tangannya bergerak menekan salah satu urat leher Dewi Tengkorak Hitam.

"Ha.... Ha.... Ha...! Apa enaknya bersenangsenang dengan orang bisu? Sedikit suara erangan akan menambah panasnya suasana. "

Ternyata orang berjubah hitam tadi membebaskan Dewi Tengkorak Hitam dari totokan di lehernya, hingga Dewi Tengkorak Hitam dapat bersuara. Dan tak lama kemudian terdengar suaranya.

"Jahanam! Berani kau berbuat yang bukan-bukan, dunia ini akan sempit buat kalian! Aku akan mengejar kalian dan menanggalkan kepala kalian satu persatu!"

Dua orang berkepala botak itu saling pandang satu sama lain. Lalu sesaat kemudian keduanya tertawa mengekeh.

"Boleh kau mengejar kami, tapi bukan kepala kami yang akan kau tanggalkan. Tapi sebaliknya, kami yang akan menanggalkan pakaianmu lagi! Seperti ini!" yang berkata kali ini adalah yang mengenakan jubah merah. Habis berkata tangan kanannya mengayun pelan ke bawah.

Bret! Brettt!

Pakaian bagian atas Dewi Tengkorak Hitam robek menganga, hingga buah dadanya yang putih membusung mencuat tanpa penutup lagi. Dewi Tengkorak Hitam memaki habis-habisan. Namun karena tubuhnya tak bisa digerakkan maka dia hanya memaki sambil mendelik! Dadanya makin tampak turun naik. Sebaliknya orang berjubah hitam dan merah yang tegak di sampingnya tertawa makin keras.

"Kau tak usah keluarkan suara banyakbanyak, Manis. Eranganmu nanti jadi berkurang.... Ha.... Ha.... Ha...! Kau tahu? Kami telah putar-putar cari tempat yang bagus. Tempat yang bisa dibuat senang-senang dengan disaksikan bulan purnama.... Ha.... Ha .... Ha...!" kata yang berjubah merah, lalu dengan napas memburu dia tanggalkan jubahnya.

Yang berjubah hitam tak tinggal diam. Dengan jakun turun naik, dia pun segera tanggalkan jubahnya.

"Aku lebih tua darimu! Aku yang menikmati dahulu!" berkata yang berjubah merah begitu melihat orang yang berjubah hitam ikut-ikutan tanggalkan jubahnya.

"Silakan kau nikmati duluan. Aku hanya ingin dia mengusap-usapku! Terlalu sayang jika tangannya hanya dibiarkan diam. Ha.... Ha....

Ha !"

Di balik pohon, dada Pendekar Mata Keranjang makin bergetar keras. Matanya merah berkilat-kilat. Dengan mendengus keras, tangannya menyentakkan tangan Setan Pesolek yang tetap mencekal lengannya. "Kalau kau tetap menghalangiku, jangan kecewa jika aku melupakan jasamu dan memutus lepas tanganmu!" kertak Pendekar 108 saking geramnya melihat Setan Pesolek tetap menghalangi dengan mencekal lengannya.

"Aku tak mengharap imbalan apa-apa darimu! Tapi sebelum melangkah lihat dulu keadaan!" berkata Setan Pesolek lalu lepaskan cekalannya pada lengan Pendekar 108.

Pendekar 108 tak pedulikan kata-kata Setan Pesolek. Begitu lengannya tak lagi dicekal, dia segera bangkit hendak berkelebat. Namun langkahnya terhenti tatkala matanya melihat kejadian aneh di depan.

Orang yang beranting-anting merah yang tadi mengenakan jubah merah yang telah siap hendak membungkuk dan menindih tubuh Dewi Tengkorak Hitam tiba-tiba terhuyung-huyung ke belakang, lalu jatuh terduduk, sementara yang beranting-anting hitam yang tadi mengenakan jubah hitam mencelat sampai satu tombak dan jatuh berlutut.

Selagi dua orang ini belum bergerak bangkit, satu bayangan hitam berkelebat dan tahutahu telah berdiri tegak dengan kacak pinggang lima langkah di sebelah Dewi Tengkorak Hitam.

Dua orang berkepala botak cepat bangkit dan berteriak berbarengan.

"Siapa kau?!" "

"Kalau tak ingin mati, lekas minggat dari hadapanku!" yang menyambung adalah yang tadi mengenakan jubah merah. Sepasang matanya menyengat tajam memperhatikan orang yang baru saja datang.

Dia adalah seorang pemuda berparas tampan. Rambutnya panjang bergerai. Tubuhnya tinggi tegap dengan sepasang mata tajam. Mengenakan jubah warna biru gelap, yang merangkapi baju putih tanpa belahan di depan. Karena jubahnya tidak dikancingkan, maka tampak dengan jelas jika baju putih dalamnya di bagian dada terpampang sebuah lukisan berbentuk pintu gerbang aneh.

Dibentak begitu, sang pemuda tengadahkan kepala, lalu berkata.

"Pasang telinga kalian baik-baik! Aku adalah Dewa Maut! Aku akan pergi dari sini apabila kalian dapat menunjukkan padaku setidaktidaknya memberi keterangan padaku tentang seseorang yang kucari! Tapi ingat! Jika kalian tak dapat memenuhi permintaanku, malam ini adalah saat ajal kalian!"

Entah karena merasa kecut karena menyadari orang di hadapannya berilmu tinggi sebab tanpa terdengar suara dan deru angin, tubuh mereka bisa dibuat mental. Atau karena ingin agar pemuda segera pergi dan mereka dapat meneruskan bersenang-senang, orang yang berantinganting merah yang tadi mengenakan jubah merah segera angkat bicara.

"Katakan siapa orang yang kau cari! Tapi ingat! Tidak semudah bicaramu jika kau ingin menentukan ajal kami! Sebaiknya kami yang akan tentukan ajalmu!"

Sang pemuda yang menyebut dirinya Dewa Maut keluarkan tawa panjang. Tiba-tiba tawanya diputus. Kepalanya diluruskan dan sepasang matanya memandang tajam pada kedua orang di hadapannya.

"Katakan padaku, di mana aku dapat menemukan orang yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Seorang pemuda yang memiliki sebuah kipas warna ungu dengan guratan angka 108!"

Karena Aji berada tak jauh, maka dengan jelas dia dapat mendengar ucapan Dewa Maut. Serentak paras wajahnya berubah. Dia memandang tajam ke arah Dewa Maut. Lalu tengadah dengan dahi mengernyit.

"Dewa Maut.... Hmm.... Aku baru kali ini mendengar namanya. Siapa dia sebenarnya? Kenapa mencariku...?!"

Tak beda dengan Aji, Dewi Tengkorak Hitam pun terkejut. Dadanya berdebar. "Dia mencari Aji, mendengar nada bicaranya, dia bermaksud tidak baik!" batinnya, lalu pejamkan mata.

Selagi Aji bertanya-tanya, dari arah depan terdengar seseorang buka suara. Ketika Aji luruskan lagi kepalanya, maka terlihat bahwa yang buka suara kali ini adalah orang botak yang mengenakan anting-anting hitam yang tadi mengenakan jubah hitam.

"Dewa Maut! Kami memang pernah dengar nama orang yang kau sebut. Tapi jangan harap kau mengetahui dari kami di mana orang itu berada! Kami bukan jongos yang mengurusi orang!"

Dewa Maut kembali keluarkan tawa panjang, lalu berkata tanpa lagi memandang pada kedua orang di hadapannya.

"Berarti kalian memilih tawaranku yang kedua!"

"Kami tak mengenalmu! Dan kau tak berhak memberi tawaran pada kami!" sambung orang botak yang beranting-anting merah.

"Peduli setan kalian mengenalku apa tidak. Yang jelas kalian tak dapat memberi keterangan yang kuminta. Itu nasib jelek bagi kalian!"

"Anjing kurap! Mulutmu terlalu sombong! Lekas menyingkir atau kepalamu akan kubuat berantakan! Kau tahu, siapa yang sedang di hadapanmu sekarang?!"

"Tak perlu kujawab pertanyaanmu! Aku butuh keteranganmu!"

Si botak beranting-anting merah memandang pada botak beranting-anting hitam. Dia lantas mengangguk seakan memberi isyarat. Lalu dia berkata.

"Pemuda sombong! Meski kau tak ingin tahu siapa kami, baiklah akan kuberitahu saja, mungkin bisa melapangkan jalanmu ke neraka!" sejenak dia putuskan ucapannya, mungkin menunggu sambutan dari pemuda di hadapannya, namun ketika ditunggu si pemuda tak juga memberi sambutan, malah memandang jurusan lain, si botak beranting-anting merah menyambung ucapannya.

"Buka matamu lebar-lebar, Anak Muda!

Kami adalah Iblis Kembar!"

"Peduli siapa kalian! Tak bisa memberi keterangan pada Dewa Maut berarti calon bangkai manusia!"

"Anjing buduk! Kepalamu memang minta dipecah!" teriak yang beranting-anting merah. Bersamaan dengan itu dia melompat. Yang beranting-anting hitam tak tinggal diam. Dia pun ikut meloncat ke depan. Dan secara bersamaan kedua orang ini hantamkan kedua tangan masing-masing. Empat rangkum angin dahsyat melesat mendahului sebelum dua pasang tangan datang menghajar sasaran.

Yang diserang tidak bergerak dari tempatnya. Malah sunggingkan senyum bernada mengejek.

Wuuut! Wuuuttt! Wuuut! Wuuuttt! Takk! Taakk!

Taakk! Taaakkk!

Terdengar empat kali berturut-turut benturan keras ketika dua pasang tangan menghajar telak bahu kanan kiri Dewa Maut. Yang kena hajar cuma bergoyang-goyang sebentar. Sebaliknya dua orang botak yang menyebut diri mereka Iblis Kembar mundur dua langkah dengan mata masing-masing membeliak. Sejenak keduanya diam tertegun. Lalu saling pandang satu sama lain. Dua orang ini diam-diam jadi terkesiap. Mereka sama-sama bertanya dalam hati siapa sebenarnya pemuda di hadapannya. Karena selama malang melintang dalam rimba persilatan baru kali ini dia menemukan orang yang tahan terhadap pukulannya. Padahal batu besar pun akan hancur terkena pukulan tadi. Apalagi dilakukan secara bersama-sama.

Selagi Iblis Kembar tercenung, Dewa Maut keluarkan tawa ngakak.

"Ilmu masih setinggi lutut, kekuatan masih sebatas mata kaki sudah berkoar setinggi langit! Dasar manusia dungu! Kalau masih sedangkal itu kenapa bermulut besar?!"

Habis berkata begitu, Dewa Maut jejakkan kedua kakinya ke tanah. Tubuhnya melesat dengan kaki terpentang.

Iblis Kembar cepat angkat tangan masingmasing dan dihantamkan ke bawah namun keduanya tertipu, karena sebelum kedua tangan masing-masing orang ini menghajar kaki, Dewa Maut telah terlebih dahulu tarik pulang kakinya, dan serta-merta kedua tangannya bergerak mengayun ke bawah. Ke arah tengkuk Iblis Kembar yang sama-sama agak menunduk mengikuti gerakan tangannya.

Deess! Deesss!

Iblis Kembar sama-sama terpekik. Tubuh keduanya terjungkal ke depan.

Dewa Maut tengadahkan kepala memandang rembulan, lalu tertawa mengekeh. Kedua tangannya diusap-usapkan satu sama lain.

Iblis Kembar sama-sama cepat bergerak bangkit. Dan tanpa mempedulikan tengkuk masing-masing yang terasa hendak penggal, kedua orang ini melesat ke udara. Kedua tangan masingmasing menghantam ke depan.

Wuuutt! Wuuuttt!

Empat gelombang angin yang keluarkan suara dahsyat menggebrak ke arah Dewa Maut.

Dewa Maut putuskan suara tawanya. Kedua kakinya menjejak tanah. Tubuhnya kembali melesat ke atas. Satu tombak di atas udara, kedua tangannya mendorong ke depan.

Wuuutt!

Gelombang bara api merah menyala melesat keluar dari telapak tangan Dewa Maut, seketika itu juga tempat itu laksana dipanggang. Ranting-ranting dan daun-daun keluarkan suara gemeretak laksana dibakar, lalu luruh dengan hangus!

Iblis Kembar sama-sama keluarkan teriakan tegang. Bukan hanya karena melihat pukulannya ambyar di tengah jalan terhantam bara api, namun juga karena tubuhnya terasa dipanggang! Inilah pukulan sakti yang berhasil dipelajari Dewa Maut dari Kitab Takhta Setan, yakni pukulan 'Dewa Membakar Bumi'.

Meski pukulannya sudah ambyar, namun Iblis Kembar tampaknya tidak begitu saja menyerah. Kedua tangannya kembali mereka hantamkan coba menghalau api yang kini melabrak ke arah mereka. Namun untuk kedua kali, serangan mereka ambyar, dan tanpa bisa dielakkan lagi, bara api itu kini menggebrak ke arah mereka tanpa penghalang!

Wuuus! Wuuusss!

Iblis Kembar keluarkan seruan keras. Tubuh keduanya mencelat mental ke belakang dengan pakaian terbakar, lalu jatuh berkaparan di atas tanah.

Sesaat kedua orang ini sama-sama gulingkan tubuhnya ke tanah untuk mematikan api di pakaiannya. Namun baru saja mereka bergulingan, dari arah depan menderu angin dahsyat. Kedua orang ini sama-sama tercekat. Namun sudah tak bisa lagi menghindar. Hingga tak ampun lagi tubuh keduanya mencelat dan bergedebukan di atas tanah.

Orang yang beranting-anting hitam sesaat tampak meraung keras dengan tangan menggapai-gapai. Namun raungannya tiba-tiba terputus laksana direnggut setan. Dan tangannya pun melemah sebelum akhirnya lunglai bersama tercabutnya nyawa!

Sebaliknya, orang yang beranting-anting merah masih tampak merambat bangkit. Namun belum setengah tegak tubuhnya telah roboh kembali. Sepasang matanya lantas melirik ke arah Dewa Maut yang tampak melangkah ke arahnya. Diam-diam orang ini kumpulkan sisa-sisa tenaganya. Lalu sambil bersitekan pada siku tangan kirinya, tangan kanannya mendorong ke arah Dewa Maut.

"Manusia keparat! Jangan mimpi bisa membuatku cidera dengan pukulan tahi ayammu!" bentak Dewa Maut marah mengetahui orang yang beranting-anting merah masih lancarkan serangan. Kedua tangannya kembali mendorong ke arah depan, sementara kakinya bergeser satu langkah ke samping menghindari serangan.

Serangan orang beranting-anting merah lewat sejengkal di sebelah pinggang Dewa Maut, namun dia sendiri tak dapat menghindari pukulan Dewa Maut, hingga untuk kesekian kalinya tubuhnya mental lalu terjerembab ke tanah tanpa bangun lagi!

Tubuhnya hangus laksana dipanggang! "Pemuda berhati keji berwatak  beringas!"

gumam Aji setelah mengetahui apa yang terjadi. Sejenak dia berpaling pada Setan Pesolek. Namun murid Wong Agung ini menyumpah sendiri habishabisan dalam hati, karena dilihatnya Setan Pesolek sedang bercermin pada batu putihnya sambil senyum-senyum!

"Dasar orang...," Aji tak meneruskan gumamannya karena dilihatnya Setan Pesolek sedang memandang ke arahnya.

"Dasar orang apa? Ayo teruskan ucapanmu! Mengapa diputus?!" tiba-tiba Setan Pesolek angkat bicara. Sepasang matanya mendelik.

"Dasar Pesolek...," kata Aji, meski sebenarnya bukan kata-kata itu yang ada dalam hatinya. Habis menjawab, Aji kembali alihkan pandangannya ke depan.

Saat itu terlihat Dewa Maut melangkah mendekati Dewi Tengkorak Hitam yang memandanginya dengan pandangan takut.

Satu langkah di samping Dewi Tengkorak Hitam, Dewa Maut hentikan langkah. Memandangi Dewi Tengkorak Hitam dengan tatapan tajam. Dewi Tengkorak Hitam menyumpah habishabisan, karena saat itu dadanya terbuka lebar, sementara dirinya tak bisa bergerak. Hingga dengan paras merah mengelam gadis cantik ini alihkan pandangannya pada jurusan lain.

Sejenak mata Dewa Maut tampak sedikit merah, dadanya berdebar, jakunnya bergerak naik turun. Napasnya berhembus panjangpanjang. Jelas jika pemuda ini menahan gejolak nafsunya. Namun dia lantas melangkah ke samping. Mengambil jubah merah yang tergeletak, dan dilempar begitu saja ke atas tubuh Dewi Tengkorak Hitam.

Meski jengkel dengan sikap Dewa Maut, namun Dewi Tengkorak Hitam masih berterima kasih karena dadanya bisa tertutup.

"Terima kasih. Kalau tak keberatan, harap kau suka membebaskan diriku dari totokan manusia-manusia jahanam itu!" kata Dewi Tengkorak Hitam sambil memandang ke arah Dewa Maut.

Dewa Maut seakan tak mendengar ucapan Dewi Tengkorak Hitam. Dia memandang ke atas. Dengan kacak pinggang dia berkata. "Aku dalam perjalanan mencari seseorang. Kalau kau bisa memberi keterangan di mana aku bisa menemukan seorang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 kau akan kubebaskan! Jika tidak dapat memberi keterangan, sungguh malang nasibmu. Karena kau akan menemui ajal dengan tubuh tegang! Ha.... Ha.... Ha...!"

"Dajal keji!" rutuk Dewi Tengkorak Hitam dalam hati.

"Hmm.... Sementara aku akan membohonginya, dengan begitu aku akan dibebaskan, setelah itu...," setelah berpikir sejenak, Dewi Tengkorak Hitam berkata.

"Aku tahu orang yang kau cari!"

Dewa Maut membelalak, lalu palingkan wajah dan melangkah mendekat. "Bagus! Katakan di mana!"

"Di suatu tempat jauh dari sini! Perjalanannya kira-kira memakan waktu dua hari dua malam!"

"Hmm.... Begitu? Baiklah! Kau harus tunjukkan padaku!" sambil berkata Dewi Maut bungkukkan tubuh dan hendak mengangkat tubuh Dewi Tengkorak Hitam.

"Tunggu!" seru Dewi Tengkorak Hitam. "Karena yang akan kita lewati jalanan ra-

mai tidak pantas jika kau memanggulku. Bebaskan dahulu totokan ini!"

Dewa Maut menyeringai, lalu tertawa pe-

lan.

"Jangan harap kau bisa menipuku! Sepuluh hari pun dan melewati jalan apa pun tak peduli!"

Habis berkata begitu, tanpa mempedulikan perubahan pada wajah Dewi Tengkorak Hitam, Dewa Maut angkat tubuh gadis ini dan meletakkan di atas pundaknya. Lalu hendak berkelebat meninggalkan tempat itu.

Namun belum sampai bergerak berkelebat, terdengar orang menegur. "Tunggu...!"

Dewa Maut urungkan niat. Lalu balikan tubuh.

DUA BELAS

Di hadapan Dewa Maut berdiri seorang pemuda mengenakan pakaian hijau. Untuk beberapa saat lamanya Dewa Maut memandangi orang di hadapannya. Dahinya mengernyit. Sebelum mulutnya membuka keluarkan suara, orang berbaju hijau yang bukan lain adalah Pendekar Mata Keranjang telah mendahului berkata.

"Kalau boleh tanya, apakah memang ingin menemukan pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108?"

Dahi Dewa Maut makin mengernyit. Dia memperhatikan pemuda di hadapannya dari atas hingga bawah.

"Hmm.... Dia mengetahui. Kalau tidak mendengarkan di sekitar tempat ini tidak mungkin dia mengetahuinya! Kehadirannya di sekitar tempat ini tak dapat diketahui. Tampaknya dia memiliki ilmu...," batin Dewa Maut. Lalu berkata.

"Ucapanmu benar! Aku memang ingin menemukannya. Kau dapat menunjukkan? Kalau dapat, kau akan dapat imbalan pantas dariku. Tapi jika tidak, kau dapat melihat-lihat dulu dua orang yang tergeletak itu! Nasibmu akan sama dengan mereka!"

Sejenak Pendekar 108 memandang silih berganti pada dua mayat yang tergeletak hangus. Lalu memandang pada Dewa Maut dan berkata.

"Imbalan apa yang akan kau berikan pada-

ku?!"

"Kau tak berhak tanya padaku! Katakan di

mana pemuda itu dapat kutemukan!"

"Bagaimana kalau gadis di pundakmu itu saja sebagai imbalannya?" tanya Pendekar 108 tanpa mempedulikan ucapan Dewa Maut.

"Kau tak usah melakukan perjalanan lagi, karena orang yang kau cari dekat sekitar sini!" sambung Aji tatkala Dewa Maut masih diam.

"Hmm... Kalau itu maumu, baiklah! Tapi ingat, sekali kau menipu Dewa Maut, kuhancurkan tubuhmu!"

Habis berkata, Dewa Maut turunkan tubuh Dewi Tengkorak Hitam.

Pendekar 108 melangkah mendekat. Namun baru satu langkah Dewa Maut telah membentak garang.

"Tetap di tempatmu! Jangan bergerak tanpa perintahku!" Dewi Tengkorak Hitam yang telah berada di atas tanah melirik. Wajahnya berubah begitu mengetahui siapa adanya orang yang bicara pada Dewa Maut. Mulutnya membuka hendak mengucapkan sesuatu, namun buru-buru sadar, dan takupkan kembali mulutnya. Hanya sepasang matanya kini memperhatikan Aji dengan dahi mengkerut.

"Katakan di mana pemuda itu! Dan kau boleh ambil gadis ini!" kata Dewa Maut sambil arahkan telunjuknya pada Dewi Tengkorak Hitam.

Pendekar 108 arahkan pandangannya pada tempat di mana Setan Pesolek berada. Lalu berkata.

"Kau dapat menemukannya di balik pohon itu!" Aji menunjuk pada pohon, di mana Setan Pesolek berada di baliknya.

Sejurus Dewa Maut memandang Aji dengan pandangan tak percaya. Hidungnya keluarkan dengusan keras. Lalu berkata.

"Kau jangan main-main dengan nyawamu!" Aji gelengkan kepala.

"Silakan buktikan sendiri!"

Sementara itu di balik pohon Setan Pesolek memaki habis-habisan. Namun dia tak juga beranjak dari tempatnya.

"Kurang ajar anak itu! Orang dibuat umpan seenak perutnya!" gumam Setan Pesolek lalu sibakan rambutnya dan menggerakkan tangannya pulang balik ke depan dengan gerakan lembut.

Saat itulah tiba-tiba sepasang matanya menumbuk pada sebuah benda. Dengan dahi berkerut, Setan Pesolek melangkah mendekat dan memungut benda itu.

"Sialan! Dia benar-benar hendak mengerjai diriku! Kipas ini pasti sengaja ditinggalkan!" gumamnya seraya mengawasi benda di tangannya yang ternyata adalah kipas lipat.

"Kau tetap di sini! Satu langkah bergerak, kepalamu hancur! Kau dengar?" bentak Dewa Maut. Lalu berkelebat ke arah pohon yang ditunjuk Aji.

Belum sampai berkelebat, dari balik pohon muncul sesosok pemuda berambut kepang dua dengan bibir mencorong besar. Bukan karena melihat gerakan orang yang baru muncul, namun pada tangan kanannya yang bergerak pulang balik di depan dagu berkipas-kipas.

Kalau Dewa Maut mendelik besar, Aji tampak menarik napas lega. Sebenarnya Aji sempat dibuat cemas. Dia khawatir Setan Pesolek tak melihat kipasnya atau melihat kipas itu lalu dipungutnya dan dibawanya pergi.

"He...! Ucapanku benar, bukan? Apakah gadis itu bisa kuambil sekarang?" kata Aji seraya melirik pada Dewi Tengkorak Hitam.

"Aku Dewa Maut! Dengar. Aku Dewa Maut! Sekali lagi kau panggil bukan namaku, kupatahkan lehermu! Dan jangan bergerak tanpa perintahku!" berkata Dewa Maut dengan mata tertuju pada pemuda yang berkipas-kipas. Lalu meloncat dan berdiri tegak menghadang pemuda yang berkipas-kipas yang bukan lain adalah Setan Pesolek.

"Hmm. Melihat lagak gayanya, tak pantas

dia disebut seorang pendekar. Tapi melihat kipasnya...." Untuk beberapa saat lamanya Dewa Maut memperhatikan kipas ungu di tangan kanan Setan Pesolek.

"Apa mungkin.... Jangan-jangan kipas itu palsu! Hmm.... Akan kujajaki ilmunya. Sebagai orang yang bergelar pendekar, tak mungkin berilmu cetek!" batin Dewa Maut. Lalu dia membentak.

"Siapa kau?!"

Setan Pesolek tak segera menjawab. Malah sepasang matanya memandangi Dewa Maut. Lalu tawa cekikikannya keluar.

"Dewa Maut.... Bukankah itu gelarmu?!" Setan Pesolek balik bertanya.

"Keparat! Kau tak layak menanyaiku! Jawab pertanyaanku! Siapa kau?!"

Setan Pesolek sibakan rambut di tengkuknya dengan menarik sedikit kepalanya ke belakang.

"Orang-orang memanggilku Pendekar Mata Keranjang 108! Kau siapa?!" kembali Setan Pesolek ajukan pertanyaan, membuat Dewa Maut keluarkan dengusan keras dan menyeringai.

Sementara Pendekar 108 menahan tawa, dan perlahan-lahan menggeser ke arah Dewi Tengkorak Hitam.

"Kau jangan mengaku-aku Pendekar Mata Keranjang 108!" bentak Dewa Maut lalu melangkah lagi satu tindak.

"Aku tak mengharap kau mempercayaiku. Bagiku tak ada untungnya kau percaya atau tidak! Harap jangan menghadang. Aku tak punya waktu banyak!"

"Hmm.... Jika kau memang Pendekar Mata Keranjang 108, dengar! Serahkan kipas serta nyawamu padaku!"

Seraya membentak, Dewa Maut julurkan tangan kanannya membuat gerakan seperti meminta. Lalu kepalanya mengangguk.

Setan Pesolek alihkan pandangannya. Lalu berkata dengan gerakan tangan kiri ke depan ke belakang seperti orang melambai.

"Tiada hujan tiada panas. Malam-malam begini kau menghadangku. Lalu meminta barangku, bahkan nyawaku. Jangan-jangan kau ini sebangsa orang-orang yang berkeliaran menjarah barang orang dengan paksa, alias perampok!"

Dewa Maut tertawa mengekeh.

"Kau mau bilang apa terserah! Yang pasti, aku Dewa Maut menginginkan kipas dan nyawamu!"

"Kau masih muda dan tampan. Sayang "

"Sayang apa. ?!"

"Masih serakah dengan barang dan nyawa orang lain!"

"Jahanam!" maki Dewa Maut, lalu tanpa pikir panjang lagi dia angkat kedua tangannya dan lepaskan pukulan sakti 'Dewa Membakar Bumi'. Seketika itu juga tempat itu panas menyengat laksana dipanggang. Dari telapak tangannya lalu melesat gelombang bara api merah menyala.

Setan Pesolek berteriak ngeri. Namun tangan kanan kirinya segera diangkat dan seraya melompat setengah tombak kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Asap putih bergulung-gulung melesat dari tangan kiri, sementara dari tangan kanan asap putih membentuk kipas menebar melengkung.

Asap putih menyongsong gelombang bara api lalu bergerak membubung ke atas. Tiba-tiba menukik deras ke bawah, dan....

Bummm!

Dentuman keras mengguncang.

Tanah di tempat itu terbongkar dan membentuk lobang menganga sedalam setengah tombak. Dewa Maut terhuyung sejenak lalu jatuh terduduk. Sementara Setan Pesolek terseret ke belakang. Lalu cepat tangannya menyambar batang pohon di sampingnya, hingga tubuhnya selamat dari jatuh terjengkang.

Dewa Maut angkat alis matanya. Lalu, memandang ke arah Setan Pesolek yang bersandar pada batang pohon, dan melihat lawan masih bertahan malah dia sendiri dibuat jatuh terduduk membuat dia merasa yakin jika yang dihadapinya adalah Pendekar Mata Keranjang 108. Sejenak dia memeriksa, dan begitu tak ada yang cidera, dia cepat bangkit. Lalu berkelebat ke arah Setan Pesolek dan lepaskan sekali lagi pukulan 'Dewa Membakar Bumi'.

Wuuutt! Wuuuttt!

Setan Pesolek tak tinggal diam. Kipas ungu milik Aji cepat disimpan di balik pakaiannya. Lalu angkat tangannya di atas kepala. Tubuhnya lantas diputar dengan cepat. Serta-merta kedua tangannya dikepakkan, lalu dihantamkan ke depan.

Wuuutt! Wuuuttt!

Gelombang asap putih bergulung-gulung melesat dan serta-merta menggulung bara api serangan lawan.

Setan Pesolek tambah tenaga dalamnya. Lalu dorong tangannya ke depan. Gulungan asap putih yang memuntal bara api serangan Dewa Maut kini bergerak ke arah Dewa Maut.

Dewa Maut berdiri tegak. Rahangnya mengatup rapat. Gerakan asap putih yang membungkus serangannya tidak mungkin lagi ditangkisnya, karena asap itu akan ambyar dan bara api serangannya sendiri akan mental balik ke arahnya.

Memikir sampai di situ, dengan gerakan luar biasa cepat sepasang kakinya menjejak tanah. Tubuhnya melesat tinggi ke udara. Namun bersamaan dengan itu asap putih yang membungkus bara api ambyar.

Bummm!

Dewa Maut terdengar keluarkan seruan tertahan. Tubuhnya makin membubung tinggi. Lalu menukik deras dan jatuh terjerembab pada tanah yang telah terbongkar hingga untuk beberapa saat lamanya tubuh Dewa Maut laksana lenyap.

Di balik asap putih yang masih melingkupi tempat itu, Setan Pesolek terlihat terhuyunghuyung melangkah mendekati Pendekar Mata Keranjang yang ternyata telah membebaskan Dewi Tengkorak Hitam

"Manusia sialan! Ayo panggul aku! Tinggalkan tempat celaka ini!" kata Setan Pesolek. Dan tanpa menunggu persetujuan Aji, dia langsung melompat dan menggelayut pada punggung Aji.

Dewi Tengkorak Hitam anggukan kepala. Lalu berkelebat mendahului. Sejenak Pendekar 108 masih mengawasi di mana Dewa Maut jatuh terjerembab.

"Manusia sialan! Dia sebenarnya urusanmu. Tapi karena kau masih cidera terpaksa untuk sementara ini aku mewakilimu. Tapi lain kali jangan harap aku akan bisa kau jadikan umpan lagi! Ayo jalan!"

Sambil cengar-cengir Pendekar Mata Keranjang balikan tubuh dan berkelebat dengan menggendong Setan Pesolek.

"Setan Pesolek!" kata Aji sambil terus berla-

ri.

"Aku rasa-rasanya tak pernah punya uru-

san dengan manusia bernama Dewa Maut. Aneh jika tiba-tiba dia mencariku dan hendak membunuhku!"

Sambil mengusap-usap   mulutnya   pada punggung Aji, karena ternyata dari mulutnya telah keluar darah hitam, Setan Pesolek berkata.

"Pendekar 108! Arena rimba persilatan bukan hanya merupakan ajang malang melintangnya tokoh golongan putih dan golongan hitam. Namun juga arena subur untuk menabur benih dendam, menebar fitnah. Benar kau tak pernah punya urusan dengan Dewa Maut, tapi benih dendam mungkin saja telah ditanam seseorang padanya. Hingga meski kau tak punya masalah dengannya, tapi dia telah menganggapmu musuh sekaligus menginginkan nyawamu! Itulah resiko menjadi seorang pendekar. Jika kau tak pandaipandai melangkah apalagi terjerat dengan kepalsuan yang tampak di mata, maka jangan mimpi kau dapat melaksanakan   tugasmu   dengan baik "

"Ah, ternyata kau pandai juga bicara.   Ta-

pi, benar juga ucapannya!" kata Pendekar 108 dalam hati. Lalu berkelebat lebih kencang lagi.

Jauh di belakangnya, begitu asap putih sirap, Dewa Maut terbungkuk-bungkuk bangkit. Sekali loncat tubuhnya telah keluar dari dalam bongkaran tanah. Sepasang matanya memandang berkeliling. Tiba-tiba wajahnya berubah. Mulutnya terkancing rapat. Rahangnya mengembung, dengan pelipis kanan kiri bergerak-gerak.

"Keparat! Hari ini nasibmu masih baik Pendekar Mata Keranjang 108! Tapi tidak untuk hari-hari selanjutnya! Dewa Maut akan membuat duniamu sempit! Dewa Maut punya kekuatan untuk menggenggam dunia persilatan!" teriak Dewa Maut marah sambil kepalkan kedua tangannya.

Sejenak dia masih memandang berkeliling. Setelah merasa benar-benar jika orang yang dicari tidak ada di sekitar tempat itu, dia pun berkelebat meninggalkan tempat itu.

SELESAI