Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 19 : Misteri Hutan Larangan

 
Eps 19 : Misteri Hutan Larangan


MALAM telah menapak jauh. Dan karena cahaya sang rembulan serta kerlipan berjuta bintang tak mampu menembus arak-arakan awan hitam yang tampak menggantung menutupi hampir seluruh permukaan langit, membuat bentangan angkasa terlihat hitam legam. Bumi pun menjadi gelap gulita.

Kegelapan itu terlihat makin pekat di hutan belantara sepi di sebelah timur bukit Larangan. Karena selain dirambahi rangasan semak belukar tinggi-tinggi, hutan belantara itu ditumbuhi jajaran pohon besar berusia ratusan tahun yang berdaun rindang. Mungkin karena tiadanya angin yang berhembus, membuat selain digenggam gelap pekat, hutan belantara itu menjadi sunyi mencekam!

Tiba-tiba dua sosok bayangan hitam berkelebat memasuki kawasan hutan belantara. Entah karena cepatnya kelebatan bayangan ini atau karena kerapatan semak belukar dan pekatnya suasana, sosok bayangan tadi tiba-tiba lenyap laksana ditelan bumi begitu masuk kawasan hutan.

Sosok keduanya baru terlihat kembali tatkala keduanya menghentikan lari masingmasing di tengah-tengah hutan yang rangasan semak belukarnya berbentuk aneh. Betapa tidak, rangasan semak belukar di mana dua sosok ini berhenti tampak akar-akarnya mengambang di atas tanah! Hingga akar-akar itu seperti ular-ular kecil yang menggerombol! Keanehan bukan hanya sampai di situ saja. Ternyata akar-akar yang seperti ular-ular kecil itu berwarna merah berkilau!

Untuk beberapa saat lamanya dua sosok ini tegak tak bergerak. Mulut keduanya terkancing rapat. Hanya sepasang mata masing-masing tak berkesip memandang ke depan, ke arah semak belukar aneh yang ternyata membentuk sebuah lingkaran agak besar.

Mendadak sosok sebelah kanan membuat gerakan. Kepalanya dipalingkan ke arah sosok di sebelahnya. Mulutnya bergerak membuka. Namun tiada kata yang terdengar. Dia tampak bimbang. Sosok ini lantas putar kembali kepalanya dan memandang kembali ke arah semak belukar aneh di hadapannya. Namun sosok sebelah kanan ini terlihat tak bisa menahan kesabaran. Hingga sesaat kemudian, kepalanya kembali berpaling pada sosok di sebelahnya. Mulutnya bergerak membuka. Dan terdengarlah ucapannya. Lirih hampir berbisik.

"Percuma kita tegak dengan perasaan tegang di sini! Bagaimanapun juga kita harus segera menghadap dan berterus terang dengan kegagalan tugas kita! Siapa tahu nyawa kita masih diampuni, walau itu kecil kemungkinannya!"

Yang diajak bicara tak menyahut. Sepasang matanya tetap lurus memandang ke depan, membuat sosok yang tadi bicara menghela napas dalam-dalam dan alihkan pandangannya kembali ke depan.

Sosok sebelah kanan ini adalah seorang laki-laki setengah baya. Rambutnya panjang. Di kepalanya tampak melingkar ikat kepala berwarna merah. Kumisnya lebat demikian pula jambang dan jenggotnya. Sepasang matanya tajam dengan alis tebal hitam. Dia mengenakan jubah besar warna hitam.

Sementara sosok di samping kiri adalah juga seorang laki-laki setengah baya. Di kepalanya juga tampak ikat kepala berwarna merah. Rambutnya panjang demikian pula jenggotnya. Hanya laki-laki ini tak berkumis dan tak bercambang. Dia mengenakan jubah besar berwarna kuning.

Ada suatu keganjilan pada dua laki-laki setengah baya ini. Yakni kedua jari kelingking masing-masing tidak ada! Yang tampak hanyalah sembulan kecil yang tidak rata, jelas menandakan jika jari kelingking itu sengaja dipotong!

Beberapa saat berlalu, laki-laki sebelah kanan kembali palingkan wajah pada laki-laki di sampingnya.

"Kita hanyalah orang-orang utusan. Hidup mati kita tidak berhak kita miliki lagi. Jadi sia-sia jika masih memikirkan keselamatan. Lebih balk kita segera menghadap dan menerima apa yang akan terjadi!"

Kali ini laki-laki sebelah kiri palingkan wajah. Setelah menarik napas panjang dan dalam, dia membuka mulut.

"Aku tidak memusingkan keselamatan, karena aku tahu apa yang akan kita terima dengan gagalnya tugas yang kita jalankan. Tapi Tidak

ada salahnya jika kita mencoba. Meski akhirnya kematian juga yang kita alami, namun tidak tertutup kemungkinan kita bisa selamat!"

Laki-laki berjubah hitam yang tegak di sebelah kanan tertawa perlahan. Kepalanya menggeleng. "Hal itu pernah dilakukan oleh utusan yang gagal, namun kau tahu sendiri apa akibatnya. Tewas perlahan-lahan! Apakah kita menginginkan merasakan sakit berlama-lama sebelum tewas?"

"Utusan itu tolol! Seharusnya dia segera bunuh diri saat tahu jika dirinya gagal dengan usahanya menyelamatkan diri. Aku punya cara untuk...," laki-laki berjubah kuning ini tak meneruskan ucapannya.

Parasnya tiba-tiba berubah. Tubuhnya bergetar, sepasang matanya tak berkedip memandang ke depan. Hal sama juga terlihat pada lakilaki berjubah hitam.

Ternyata semak belukar di hadapan mereka bergerak menguak. Lalu tampaklah sebuah jalan setapak. Karena akar-akar semak belukar itu berwarna merah, maka jalan setapak itu meski samar-samar namun jelas terlihat.

Bersamaan dengan menguaknya semak belukar aneh itu, terdengar suara.

"Sang penguasa telah menunggu. Segera masuk!"

Kedua laki-laki itu saling berpandangan sejenak. Paras wajah keduanya terlihat pucat pasi. Laki-laki berjubah hitam memberi isyarat dengan anggukkan kepala. Lalu melangkah ke arah jalan setapak. Laki-laki berjubah kuning sebenarnya ingin berkata, namun karena laki-laki berjubah hitam telah melangkah, niatnya diurungkan. Dengan tubuh gemetar dan wajah keringatan, dia pun melangkah mengikuti laki-laki berjubah hitam.

Begitu kedua laki-laki ini menginjakkan kaki masing-masing pada jalan setapak, kuakan semak belukar kembali menutup!

Ternyata jalan setapak itu hanya sepanjang lima tombak. Pada ujung jalan tampak sebuah tangga menurun dari semak belukar. Anehnya, meski merupakan semak belukar, ketika kedua laki-laki ini menginjak, semak belukar itu tidak bergoyang!

Anak tangga itu berujung pada sebuah ruangan besar. Pada sisi dinding sebelah kanan, terlihat tujuh undakan dari batu yang menghubungkan dengan sebuah pintu besar yang tampak tertutup.

Baik langit-langit, dinding maupun lantai ruangan besar itu berwarna merah. Bukan merah karena warna cat melainkan darah! Hingga selain menyeramkan ruangan itu berbau amis menjijikkan!

Baru saja kedua laki-laki menginjak kaki masing-masing pada lantai ruangan merah, pintu besar yang dihubungkan dengan undakan batu berderit membuka. Seberkas sinar putih menebar dari balik pintu.

Paras kedua laki-laki ini makin pias. Lututnya terlihat goyah. Namun keduanya menguatkan diri hingga tubuhnya tetap tegak meski terlihat gemetar. Dua laki-laki ini tidak menunggu lama. Mendadak terdengar suara tawa mengekeh panjang. Tahu-tahu di ambang pintu telah tampak sebuah kursi besar berwarna merah. Di atasnya duduk berjongkok sesosok tubuh besar. Paras wajah dan seluruh tubuhnya hampir tak bisa dikenali, karena paras wajahnya ditutup dengan sebuah karung terbuat dari goni. Hanya pada bagian mata terlihat berlubang. Sementara sekujur tubuhnya ditutup dengan sebuah jubah besar berwarna merah. Begitu besarnya jubah, hingga sebagian tampak berserakan ke bawah.

Untuk beberapa saat sepasang mata yang hanya tampak dari lubang karung memandang liar ke arah dua laki-laki di bawahnya. Tangannya yang tertutup jubah diangkat setinggi kepala. Tiba-tiba di sampingnya muncul sesosok tubuh. Seperti halnya sosok yang di atas kursi. Sosok yang baru muncul ini juga dibalut dengan jubah besar berwarna merah. Hanya sosok ini mengenakan caping lebar.

Sosok yang berdiri di samping kursi sejenak pandangi dua laki-laki di bawah dari lubang pada kedua matanya. Tiba-tiba terdengar dengusan keras dari hidungnya. Suaranya pun lantas terdengar. Berat dan bergetar. "Kalian tampaknya gagal membawa Dewi Bayang-Bayang untuk disatukan dengan saudaranya Dewi Kayangan ke sini...!"

Kedua laki-laki berjubah hitam dan kuning serta-merta jatuhkan diri masing-masing ke lantai ruangan. Keduanya menjura dalam-dalam.

"Maafkan kami...," jawab laki-laki berjubah hitam tanpa mengangkat kepala.

Sosok berjubah merah bercaping keluarkan tawa panjang. Tiba-tiba tawanya diputus. Lalu terdengar kembali ucapannya.

"Kalian telah lama menjadi anak buah Penguasa Hutan Larangan. Kalian pasti tahu apa yang akan kalian terima karena gagal menjalankan tugas!"

"Maafkan kami.... Sebenarnya kami hampir saja bisa menyeret Dewi Bayang-Bayang, tapi "

"Bagi Penguasa Hutan Larangan, tidak ada kata tapi!" sahut sosok berjubah merah bercaping memotong ucapan laki-laki berjubah hitam yang masih bersujud. Kepalanya lalu dipalingkan pada sosok besar di atas kursi. Yang ada di atas kursi tampak anggukkan kepala.

Bersamaan dengan anggukan kepala sosok di atas kursi, kedua tangan sosok berjubah merah bercaping bergerak diangkat ke atas.

Di bawah sana, dua laki-laki berjubah hitam dan kuning tubuhnya terangkat. Merasakan hal demikian kedua laki-laki ini angkat kepala masing-masing. Paras keduanya telah tampak putih, napasnya seakan tersedak. Kedua tangan masing-masing bergerak menggapai-gapai seakan ingin membebaskan diri dari cengkeraman tangan yang tidak kelihatan mata.

Laki-laki berjubah kuning kerahkan tenaga dalam, rupanya dalam keadaan takut dan mengetahui apa yang bakal dialami, laki-laki ini menjadi nekat. Walau hanya bisa menggapai, namun karena tenaga dalamnya telah dikerahkan, hingga bersamaan dengan gapaian tangannya menyambar dua gelombang angin dahsyat ke arah sosok berjubah merah bercaping.

Namun serangan nekat laki-laki berjubah kuning hanya sampai setengah jalan, karena saat itu juga membersit sinar merah dan melabrak buyar dua gelombang angin serangannya.

Di seberang, sosok di atas kursi turunkan tangan kanannya yang baru saja didorong pelan ke depan dan membersitkan sinar merah yang membuyarkan serangan laki-laki berjubah kuning.

Mendapati hal demikian, laki-laki berjubah kuning tercekat. Dan sebelum hilang rasa tercekatnya, dia merasakan tubuhnya membubung deras ke atas. Lalu tiba-tiba membalik dan menukik ke bawah. Terdengar suara bergedebukan. Disusul dengan jeritan tinggi. Lalu sepi. Dan tubuh laki-laki berjubah kuning telah terkapar di atas lantai ruangan dengan wajah hancur!

Sosok berjubah merah bercaping kibaskan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih tetap di atas. Perlahan-lahan tangan kanannya diturunkan dan bersamaan dengan itu, tubuh laki-laki berjubah hitam di bawahannya ikut turun ke lantai ruangan.

"Hmmm.... Rupanya Wakil Penguasa masih memberi kesempatan hidup padaku!" batin lakilaki berjubah hitam dengan melirik ke atas. Namun dia belum berani membuka mulut. Memandang pun masih dengan kepala menunduk.

"Utusan Hitam!" terdengar suara dari sosok berjubah merah bercaping.

"Hari ini Penguasa Hutan Larangan masih mengampuni nyawamu. Namun tidak untuk yang kedua kalinya. Kau mengerti?"

Entah karena senang nyawanya masih selamat atau karena terkejut, laki-laki berjubah hitam yang dipanggil dengan Utusan Hitam sertamerta dongakkan kepala dan bangkit. Lalu melangkah dua tindak ke depan. Seraya membungkuk dalam-dalam dia berkata.

"Terima kasih.... Aku minta kesempatan sekali lagi untuk melaksanakan tugas! Jika gagal, aku rela menerima hukuman!"

Sosok berjubah merah bercaping yang ternyata Wakil Penguasa Hutan Larangan tertawa bergelak.

"Setiap kesalahan pasti mendapat hukuman! Termasuk kesalahanmu yang gagal menyeret Dewi Bayang-Bayang!"

Utusan Hitam merasa jantungnya kembali berdebar kencang. Tengkuknya menjadi dingin. Darahnya laksana sirap. Kelegaan yang sejenak dirasakan mendadak lenyap kembali.

"Wakil Penguasa! Aku tahu jika aku telah melakukan kesalahan. Harap tunda dulu hukuman. Beri kesempatan padaku sekali lagi...!"

"Hm.... Nyawamu memang ditunda. Tapi tidak untuk hukumanmu!" habis berkata begitu, Wakil Penguasa angkat tangan kanannya. Dan serta-merta didorong ke depan.

Utusan Hitam terperangah. Namun belum sempat memikir apa yang hendak dilakukannya, tubuhnya terasa dihantam gelombang besar. Hingga tubuhnya mencelat ke belakang dan membentur sisi tembok dinding ruangan. Karena mencelatnya dalam posisi miring, tangan kirinya terlebih dahulu menghantam sisi dinding ruangan, namun hal itu menyelamatkan wajahnya dari benturan dengan tembok. Hingga tatkala tubuhnya terkapar di lantai, tangan kirinya tampak hancur, sementara mukanya hanya sedikit bengkak.

"Utusan Hitam! Itu hanya sebagai peringatan. Sekali lagi gagal, lebih-lebih punya niat untuk melawan, kau akan mengalami nasib seperti Utusan Kuning. Kau dengar?!"

Walau merasakan sakit di tangan, Utusan Hitam anggukkan kepala. Lantas menjura dalamdalam.

Wakil Penguasa keluarkan tawa panjang. Kepalanya bergerak tengadah. Dari mulutnya terdengar seruan keras.

"Utusan Hijau, Utusan Putih, Utusan Biru!" Belum lenyap suara gaung seruan Wakil Penguasa, melesat tiga sosok bayangan dari arah tangga semak belukar. Dan tahu-tahu telah tegak berjajar dengan sikap hormat.

Sejenak dari lubang karung goni sepasang mata Wakil Penguasa memperhatikan satu persatu pada tiga sosok yang kini tegak berjajar di bawahnya. Mereka adalah laki-laki setengah baya. Ketiganya mengenakan jubah besar. Paling kanan berjubah warna hijau. Di tengah mengenakan jubah warna putih, sementara yang paling kiri mengenakan jubah warna biru. Masing-masing kepala tampak terikat sehelai kain berwarna seperti jubah yang dikenakan masing-masing orang. "Dengar! Hari ini kalian mendapat kehormatan dari Sang Penguasa Hutan Larangan untuk melakukan tugas. Utusan Hijau! Kau bertugas menyeret hidup atau mati tokoh golongan hitam bergelar Bawuk Raga Ginting. Utusan Putih! Kau diberi tugas untuk membawa tokoh golongan putih bergelar Manik Angkeran. Utusan Biru! Kau memperoleh tugas untuk membawa gadis bernama Roro Ajeng! Dan Utusan Hitam! Kau diberi kesempatan sekali lagi untuk menyeret Dewi Bayang-Bayang! Laksanakan se-karang juga!" ka-

ta Wakil Penguasa dengan kepala tengadah. "Kami siap laksanakan perintah Penguasa

Hutan Larangan!" keempat laki-laki ini berseru serentak.

"Bagus! Tapi kalian harus ingat apa yang semestinya kalian lakukan jika keadaan tidak memungkinkan. Kalian masih ingat?!"

"Kami harus menghilangkan jejak dengan bunuh diri!" kembali keempatnya berseru serentak.

Wakil Penguasa berpaling pada sosok di atas kursi yang ternyata adalah Sang Penguasa Hutan Larangan. Sang Penguasa anggukkan kepala. Bersamaan dengan itu tangan kanannya mengebut ke bawah. Kursi yang diduduki bergerak dan tiba-tiba lenyap! Begitu juga sosok Wakil Penguasa. Lalu terdengar pintu berdebam menutup.

Keempat laki-laki sejenak saling berpandangan. Mereka tidak ada yang buka suara. Sesaat kemudian, Utusan Hijau balikkan tubuh dan berkelebat, disusul dengan Utusan Putih, lalu Utusan Biru. Terakhir Utusan Hitam melesat meski dengan memegangi tangan kirinya yang masih meneteskan darah.

DUA

MALAM telah hampir berujung. Hamparan bumi masih diliputi kegelapan. Sesosok bayangan terlihat berkelebat cepat menuju arah sebuah lembah. Sampai pusat lembah, bayangan ini hentikan larinya.

Dia adalah seorang laki-laki yang usianya tidak bisa ditebak, karena wajahnya ditutup dengan sepotong kulit tipis. Rambutnya panjang sebahu. Pada kepalanya terikat sebuah kain berwarna hijau. Laki-laki ini mengenakan sebuah jubah besar juga berwarna hijau.

Sejenak sepasang mata laki-laki berjubah hijau yang bukan lain adalah Utusan Hijau menyapu ke sekeliling lembah. Namun cuma sejenak. Tak lama kemudian dia berkelebat dan tahutahu telah tegak di ujung lembah di mana terlihat sebuah mulut gua.

Untuk beberapa lama sepasang mata Utusan Hijau memandang tak kesiap ke depan. Bukan ke arah mulut gua. Namun ke arah sebuah sosok yang ada di atas mulut gua.

"Hmmm.... Manusia hebat...!" gumam Utusan Hijau seraya memperhatikan lebih seksama.

Di atas gua, memang tampak sesosok tubuh. Dia adalah seorang perempuan berdandan aneh. Wajahnya dipupuri dengan bedak putih tebal. Bibirnya yang tebal sebelah atas terlihat merah dipoles. Rambutnya panjang sebahu. Namun rambut bagian atasnya dibuat pendek dan jabrik. Sementara bagian sampingnya dibiarkan panjang. Kedua matanya besar dengan hidung mancung tapi bengkok. Namun bukan sosok perempuan ini yang membuat Utusan Hijau memandang tak kesiap. Justru karena sosok perempuan berdandan aneh itu tidak lebih seperti seorang anak kecil. Karena tinggi tubuhnya hanya setengah tombak! Hebatnya, sosok perempuan pendek itu tidak jatuh, meski ujung tombak yang didudukinya hanya menancap sedikit ke dalam batu bagian atas gua. Melihat hal ini jelas bahwa perempuan pendek itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna.

Utusan Hijau melangkah dua tindak ke depan. Mulutnya bergerak membuka. Tak lama kemudian terdengar dia berucap.

"Kunyil! Aku tak akan banyak bicara. Kalau kau ingin selamat, ikut aku!"

Meski tampak terkejut mendengar namanya dipanggil, namun perempuan pendek yang berdandan aneh itu masih belum keluarkan suara. Namun dalam hati perempuan pendek ini diam-diam berucap.

"Jahanam busuk! Siapa manusia tak kuundang ini? Dia mengetahui namaku, padahal selama ini hanya beberapa orang saja yang mengetahui!"

Mendapati ucapannya tak mendapat sahutan, Utusan Hijau keluarkan dengusan keras. Dia kembali melangkah dua tindak ke depan. Tangan kanannya bergerak merapikan ikat kepalanya. Namun tatkala ditarik kembali, dia sedikit menyentakkan tangannya. Bersamaan dengan itu serangkum angin dahsyat menyambar keluar. Namun hal ini bukanlah sebuah serangan.

"Kunyil! Kau dengar ucapanku, apakah kau masih juga tak mau buka suara...?!"

Utusan Hijau menunggu sesaat. Dan ketika merasa yakin bahwa orang yang dipanggil Kunyil tidak akan buka mulut untuk menyahut, dia angkat kedua tangannya. Tapi sebelum tangan itu kirimkan serangan, perempuan pendek yang bukan lain adalah Kunyil yang dalam rimba persilatan lebih dikenai dengan Bawuk Raga Ginting keluarkan tawa mengekeh panjang. Namun mendadak saja dia putuskan suara tawanya. Tubuhnya bergerak, dan lenyap dari pandangan. Sesaat kemudian terdengar suara cleeep!.

Utusan Hijau tersurut satu langkah ke belakang. Dia segera berpaling. Bawuk Raga Ginting telah berdiri tegak di sampingnya dengan kaki kiri menyilang di atas kaki kanan. Tangan kanannya mencengkeram tombak yang ternyata pangkalnya mengembang dan membentuk sekuntum bunga.

"Bagus! Memang tidak ada gunanya kau melakukan pembangkangan!" kata Utusan Hijau dengan senyum seringai.

Tiba-tiba Bawuk Raga Ginting gerakkan kaki kirinya yang menyilang di atas kaki kanan dan dibantingkan ke atas tanah. Di depannya, Utusan Hijau sedikit terkejut. Dia maklum manusia pendek di hadapannya tidak bisa dipandang remeh, karena bersamaan dengan bantingan kaki, tanah pijakannya terasa bergetar. Namun Utusan Hijau tak hendak menunjukkan wajah terkejut apalagi takut mendapati pamer tenaga dalam Bawuk Raga Ginting. Malah dengan keluarkan tawa pendek bernada mengejek, dia berkata.

"Kunyil! Ilmumu memang tinggi, namun kedatanganku bukan untuk melihat mainan akrobatmu!"

Mendengar kata-kata Utusan Hijau, kali ini balik Bawuk Raga Ginting yang keluarkan tawa pendek. Bibirnya yang merah dipoles bergetar.

"Orang tak dikenal! Siapa kau...?! Dan ke mana kau akan mengajakku?!"

"Aku Utusan Hijau. Salah seorang utusan dari Penguasa Hutan Larangan. Aku mendapat kehormatan untuk menjemput dan membawamu menghadap Sang Penguasa Hutan Larangan!"

"Kalau aku tidak bersedia?!" tanya Bawuk Raga Ginting dengan dongakkan kepala. Meski bibirnya menyungging senyum namun sepasang matanya terlihat membeliak. Pelipis kiri kanannya bergerak-gerak pertanda dia sedang menahan gejolak amarah.

"Nasibmu akan celaka! Karena tubuhmu yang tidak bernyawa lagi akan kuseret sampai Hutan Larangan!"

"Jahanam!" maki Bawuk Raga Ginting. "Utusan Hijau! Apakah kau sadar, sedang berhadapan dengan siapa kau saat ini?!"

Utusan Hijau ikut-ikutan tengadahkan ke-

pala.

"Aku tahu siapa kau! Manusia cebol terla-

hir dengan nama Kunyil. Setelah besar dan berilmu mengubah nama menjadi Bawuk Raga Ginting. Betul?!"

"Ah...!" Bawuk Raga Ginting keluarkan seruan seperti terkejut. "Pengetahuanmu ternyata cukup luas. Namun kau salah besar jika ingin mengajakku ke hadapan junjunganmu. Justru aku akan mengajakmu melihat-lihat pemandangan alam kubur! Hik.... Hik.... Hik...! Sungguh malang nasibmu...!" Bawuk Raga Ginting mengumbar tawa cekikikan panjang. Tapi tiba-tiba tawanya laksana direnggut hantu gen-tayangan. Bersamaan dengan itu tangan kirinya berkelebat

Utusan Hijau merasakan tubuhnya tersambar hempasan angin dahsyat. Hingga tubuhnya bergetar. Namun laki-laki berjubah hijau besar ini segera kerahkan tenaga dalam. Dan didahului bentakan dahsyat, dia melompat ke depan. Tangan kiri kanan bergerak memukul. Sinar redup dan panas melesat mendahului hantaman tangan.

Praaakk! Praaakk!

Bawuk Raga Ginting berseru tertahan. Manusia pendek ini segera melompat mundur tiga langkah. Sepasang matanya yang besar liar memandang ke arah Utusan Hijau, lalu beralih pada kedua tangannya yang baru saja bentrok dengan kedua tangan Utusan Hijau. Kedua tangannya ternyata telah berubah warna menjadi hijau! Dan terasa panas bukan alang kepalang.

Bawuk Raga Ginting sadar bahwa lawan yang dihadapi kali ini bukan orang yang bisa dipandang sebelah mata. Memaklumi hal ini, manusia pendek ini kerahkan segenap tenaga dalamnya. Mulutnya komat-kamit. Dan tanpa keluarkan bentakan terlebih dahulu, dia putar tubuhnya. Tubuhnya tiba-tiba lenyap dari pandangan. Namun sesaat kemudian muncul satu langkah di hadapan Utusan Hijau dengan tangan kanan kiri menghantam. Sebenarnya hantaman kedua tangan Bawuk Raga Ginting ini hanyalah tipuan belaka, karena bersamaan dengan itu secara cepat kedua tangannya ditarik pulang kembali, dan kini sepasang kakinya yang justru menghantam. Ada serangkum angin dahsyat yang menderu mendahului. Pertanda hantaman itu telah dialiri tenaga dalam kuat.

Namun betapa terlengaknya Bawuk Raga Ginting. Karena gerak tipunya diketahui lawan. Padahal setiap orang yang baru pertama kali bentrok dengannya pasti terkecoh dengan gerak tipunya. Namun karena kakinya telah telanjur melejang kirimkan hantaman, maka Bawuk Raga Ginting tak hendak menariknya kembali. Apalagi dia telah lancarkan terjangan maut yang diandalkan, yakni hantaman 'Sapu Bumi'.

"Sapu Bumi'! He.... He.... He.... Apa hebatnya!" ejek Utusan Hijau seraya angkat tangannya, kepalanya bergerak merunduk. Tapi tangannya tidak menghantam atau menangkis terjangan kaki lawan. Melainkan bergerak cepat ke samping kanan dan kiri. Lalu seeettt!

Bawuk Raga Ginting tercekat. Dia hampir tak dapat percaya pada apa yang dialami. Karena kejap itu juga kedua kakinya telah masuk ke jepitan tangan Utusan Hijau!

Selagi terlengak begitu rupa dan belum sempat membuat gerakan untuk membebaskan diri, Utusan Hijau gerakkan kedua tangannya ke samping. Buuukkk!

Bawuk Raga Ginting terbanting ke atas tanah. Dia katupkan rapat-rapat bibirnya agar suara seruannya tidak terdengar, namun karena rasa sakit terlalu menguasai dirinya, maka seruan itu akhirnya terdengar juga. Kini bukan hanya tangannya yang berubah jadi hijau. Tapi juga kedua kakinya!

Sambil menyumpah panjang pendek Bawuk Raga Ginting bergerak bangkit. Tapi belum sampai tubuhnya tegak berdiri, Utusan Hijau kibaskan jubahnya.

Bawuk Raga Ginting terperangah kaget. Namun sudah terlambat untuk membuat gerakan menghindar. Hingga kibasan jubah Utusan Hijau yang keluarkan sambaran angin dahsyat itu telak menghajar bahunya!

Untuk kali kedua Bawuk Raga Ginting terbanting ke tanah. Sejenak kepalanya terlihat bergerak-gerak. Namun sesaat kemudian lunglai di atas tanah. Dia pingsan.

Utusan Hijau memperhatikan sosok Bawuk Raga Ginting, lalu kibas-kibaskan jubahnya. Dengan senyum seringai dia melangkah mendekat. Tangan kanannya segera menyambar tubuh mungil Bawuk Raga Ginting, meletakkannya di atas bahu lantas berkelebat meninggalkan lembah.

* * * Sesosok bayangan putih tampak berkelebat menyusuri ilalang tinggi di sebelah barat hutan pinus. Saat itu matahari baru saja unjuk diri, hingga hamparan ilalang itu tampak berkilat-kilat dan melambai-lambai disentuh hembusan angin pagi.

Tiba-tiba sosok bayangan putih hentikan larinya. Tangannya bergerak mengusap keringat yang membasahi lehernya. Dia adalah seorang laki-laki. Karena paras wajahnya tertutup sepotong kulit tipis, maka laki-laki ini tidak mudah ditebak berapa usianya. Dia mengenakan ikat kepala warna putih, sama dengan jubah besar yang dikenakannya. Rambutnya panjang dengan sepasang mata tajam. Ketika tangannya bergerak, terlihat jari kelingkingnya tidak ada.

"Hmmm.... Pasti di gubuk itu dia berada!" gumam laki-laki berjubah putih yang bukan lain adalah Utusan Putih seraya arahkan pandangannya agak jauh ke depan. Di sana memang tampak sebuah gubuk kecil.

Setelah mengawasi sejenak, Utusan Putih kembali berkelebat. Dan tahu-tahu telah berdiri tegak di depan gubuk. Sepasang matanya liar memandang sekeliling. Setelah menarik napas panjang dia buka mulut.

"Manik Angkeran! Cepat keluarlah! Aku, Utusan Putih datang untuk menjemputmu sekaligus membawamu!"

Tak ada sahutan dari dalam gubuk. Sekali lagi Utusan Putih sapukan pandangannya. Dia tak menemukan tanda-tanda akan adanya orang yang muncul. Sepasang matanya berubah merah, dagunya mengembung dengan kedua tangan mengepal, jelas menandakan jika dia telah dirasuki hawa kemarahan.

"Manik Angkeran! Kuperingatkan sekali lagi. Keluarlah dan ikut aku!" Utusan Putih kembali berteriak. Karena kali ini dengan keluarkan tenaga dalam, maka suaranya membahana dan menerabas hingga hutan pinus.

Di atas sebuah pohon tak jauh dari gubuk, terlindung oleh rimbun dedaunan, seorang lakilaki agak tua mengenakan pakaian hijau-hijau tampak duduk di atas sebuah dahan pohon. Tangan kanannya bergerak-gerak memainkan sebuah untaian kalung dari manik-manik berwarna hijau. Meski sepasang matanya tampak terpejam rapat seolah sedang pusatkan mata batinnya dengan mulut komat-kamit namun apa yang ada tak jauh di bawahnya tak luput dari pandangannya.

"Utusan Putih...? Hmmm.... Baru kali ini aku mendengar nama itu. Siapa dia sebenarnya? Dia berkata menjemput dan sekaligus membawaku.... Hm.. Berarti dia tak dusta dengan ucapannya, karena dia benar-benar seorang suruhan! Tapi disuruh siapa...?" batin orang yang di atas pohon.

Tiba-tiba kening laki-laki berusia agak lanjut ini mengernyit. Sepasang matanya bergerak membuka.

"Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh menyelimuti rimba persilatan. Para tokoh baik dari jalur hitam atau dari jalur putih banyak yang tiba-tiba lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Beberapa orang telah coba menyelidiki ke mana gerangan lenyapnya para tokoh-tokoh itu. Namun, sejauh ini mereka menemui jalan buntu. Malah tak jarang mereka sendiri ikut lenyap.... Hmmm.... Apakah kedatangan tamu ini ada kaitannya dengan kejadian-kejadian itu? Ah, sebenarnya aku sudah tak ingin ikut campur dengan masalah rimba persilatan. Namun tak ada salahnya jika aku menemuinya. Siapa tahu dia membawa kabar tentang kejadian-kejadian itu...," berpikir sampai di situ, kakek berbaju hijau ini segera hendak melayang turun, namun niatnya dia urungkan tatkala didengarnya suara berderak keras.

Memandang ke arah sumber suara, terkejutlah si kakek. Gubuk di bawah sana telah hancur. Ketika sang kakek memandang agak ke samping, terlihat laki-laki yang menyebutkan namanya Utusan Putih turunkan kedua tangannya. Dari sini si kakek sudah dapat menduga siapa gerangan orang yang telah menghancurkan gubuk.

"Hmmm.... Orang ini tampaknya bukan orang baik-baik! Apakah aku harus menemuinya...?" si kakek di atas pohon menghela napas panjang.

Namun belum sampai satu helaan napas, terdengar seruan lantang.

"Manik Angkeran! Jangan bersikap pengecut. Turunlah dari atas pohon!"

Kakek berbaju hijau-hijau sedikit terkejut. Kepalanya mendongak. Dan menggeleng perlahan. "Hmmm.... Dia telah mengetahui aku berada di sini. Terpaksa aku harus turun menemui dan menanyakan apa maksud sebenarnya! Rimba persilatan nyatanya memang tak pernah sepi dari gelombang masalah "

Si kakek hentakkan bahunya. Tubuhnya melayang turun dan menjejak tanah sepuluh langkah di depan Utusan Putih. Sepasang matanya segera memperhatikan laki-laki setengah baya di hadapannya. Sementara tangan kanannya memutar untaian manik-manik berwarna hijau.

"Bagus! Sekarang ikut aku!" kata Utusan Putih begitu dapat mengenali siapa adanya orang tua di hadapannya.

Sang kakek yang bukan lain memang Manik Angkeran sunggingkan senyum.

"Sobat. Kau jangan terburu-buru. Sebutkan dulu siapa kau sebenarnya...! Juga hendak ke mana aku akan kau bawa!" suara Manik Angkeran terdengar tenang.

Utusan Putih melirik tajam. Dari hidungnya terdengar dengusan. Dengan kacak pinggang dia berkata.

"Manik Angkeran. Aku adalah Utusan Putih. Salah seorang utusan Penguasa Hutan Larangan. Aku datang untuk menjemput dan membawamu menghadap Penguasa Hutan Larangan! Jelas?!" Manik Angkeran anggukkan kepala. "Dia sengaja menyembunyikan wajah di balik sepotong kulit tipis. Berarti dia mempunyai maksud tidak baik. Penguasa Hutan Larangan.... Hmmm. Aku

memang mendengar selentingan tentang itu. Namun kenapa dia mengajakku ke sana?" batin Manik Angkeran, lalu berkata.

"Utusan Putih. Aku hanyalah manusia hina papa. Tempat tinggalku gubuk reot, dan kini telah kau hancurkan pula. Kalau tiba-tiba hari ini orang yang kau sebut sebagai Penguasa Hutan Larangan memanggilku tentunya sebuah kehormatan tersendiri bagiku. Kalau boleh tahu, ada apakah sebenarnya di sana?"

"Itu bisa kau lihat sendiri jika kau telah sampai!" jawab Utusan Putih dengan suara agak tinggi. Dia tampak tak sabar.

Manik Angkeran kembali anggukkan kepala. Pandangannya lantas mengarah pada jurusan lain.

"Utusan Putih. Sebenarnya aku ingin sekali menyambuti maksudmu. Namun karena aku masih ada urusan, bagaimana kalau...," Manik Angkeran tidak melanjutkan ucapannya karena Utusan Putih telah menyahut.

"Manik Angkeran! Kau harus ikut sekarang juga! Jika kau membangkang, jangan menyesal jika kau ikut aku dengan tubuh tanpa nyawa!"

Mendengar ucapan Utusan Putih, yakinlah Manik Angkeran jika laki-laki di hadapannya bermaksud tidak baik. Utusan Putih melangkah maju. Bibirnya ulaskan senyum seringai. Dengan mata melotot angker, dia membentak keras.

"Kau kuberi pilihan, Manik Angkeran! Ikut dengan baik-baik, atau ikut dengan tubuh tanpa nyawa!"

Yang dibentak masih tampak tenangtenang. Malah bibirnya tak putus-putusnya sunggingkan senyum membuat Utusan Putih makin geram. Namun laki-laki utusan Penguasa Hutan Larangan ini masih menunggu, karena dilihatnya Manik Angkeran tercenung seakan mempertimbangkan kata-katanya.

"Hmm.... Kalau boleh memilih...," kata Manik Angkeran dengan putuskan dulu ucapannya. Sesaat kemudian melanjutkan. "Aku memilih tidak ikut secara baik, apalagi ikut dengan tanpa nyawa "

Utusan Putih menggereng keras. Dan tanpa bicara lagi, kedua tangannya bergerak kirimkan serangan jarak jauh dengan tangan kosong. Saat itu juga, dua gelombang angin dahsyat laksana gempuran ombak menyambar ke arah Manik Angkeran.

Meski telah waspada, namun tak urung Manik Angkeran dibuat terkejut. Tubuhnya seakan diterkam gelombang besar. Kalau saja dia tak segera melompat menghindar, bukan tidak mungkin dalam satu gebrakan saja tubuhnya akan bergelimpangan di atas tanah. Sadar akan ketinggian ilmu lawan, Manik Angkeran tak mau bertindak gegabah. Namun laki-laki ini masih tak hendak membalas serangan orang. Dia terlihat tetap berdiri tegak dengan putar-putar untaian kalungnya. Namun putaran itu kini keluarkan suara menderu-deru pertanda bahwa dia telah kerahkan tenaga dalam.

Di depan, melihat serangan pembukanya begitu mudah dielakkan lawan, mata Utusan Putih membeliak merah. Diam-diam dia juga maklum jika orang yang dihadapinya bukanlah orang sembarangan.

Didahului bentakan garang, Utusan Putih jejakkan kakinya. Tubuhnya melesat ke depan. Kedua tangannya pulang balik merentang dan menutup. Hebatnya bersamaan gerakan merentang dan menutup itu angin dahsyat yang menghamparkan hawa panas semburat ke sanakemari!

Mendapati serangan demikian, Manik Angkeran sedikit terkesiap. Kakek yang pada mulanya hanya ingin menghindar ini mau tak mau harus ambil kuda-kuda menangkis sekaligus menyerang, karena ke mana pun dia hendak menghindar semburatan serangan Utusan Putih datang menyongsong.

"Hmm.... Serangannya tampak membabi buta, namun membuat tak ada tempat kosong untuk menghindar. Apa boleh buat...!" batin Manik Angkeran. Kedua tangannya segera diangkat. Tangan kiri segera mendorong sementara tangan kanan putar-putar untaian manik-maniknya. Gelombang angin melesat keluar dari tangan kiri Manik Angkeran, lalu disusul dengan menderunya putaran-putaran angin yang seakan membungkus tubuhnya.

Blaaarrr!

Terdengar dentuman dahsyat ketika dua pukulan itu bentrok di udara. Hebatnya, tubuh Utusan Putih seakan tak terbias oleh bentroknya pukulan, padahal tanah di tempat itu sejenak bergetar. Sebaliknya tubuh Utusan Putih terus melesat malah kini dengan memperdengarkan suara tawa mengekeh. Manik Angkeran terkejut, lalu melompat mundur. Dia sama sekali tidak menduga jika lawan begitu tangguh, padahal dia sempat terseret dua langkah ke belakang begitu terjadi bentrok pukulan.

Selagi Manik Angkeran digenggam perasaan terkejut, dua tangan Utusan Putih telah melesat ke arah kepalanya. Manik Angkeran cepat hantamkan manik-maniknya.

Sreeettt! Sreeettt!

Utusan Putih melengak kaget. Dia membentak beberapa kali dengan kerahkan segala kemampuannya untuk melepaskan kedua tangannya yang ternyata masuk dalam untaian manik-manik hijau milik Manik Angkeran.

Manik Angkeran tersenyum. Mungkin karena tak mau mencederai lawan dia hanya sentakkan untaian manik-maniknya dengan pelan.

Bukkk!

Namun apa yang terjadi membuat Utusan Putih terhenyak. Karena meski sentakan itu terlihat pelan, selain tak perdengarkan suara erangan, laki-laki berjubah putih ini langsung bergerak bangkit! Dan serta-merta melompat ke arah Manik Angkeran.

Sambil menindih rasa terkesimanya, Manik Angkeran kembali putar-putar untaian kalung manik-maniknya. Namun kali ini Utusan Putih sudah dapat membaca gerakan lawan. Dia tidak lagi hantamkan kedua tangan sekaligus. Melainkan silih berganti dan begitu menghantam segera ditarik pulang. Hal ini membuat Manik Angkeran terdesak. Kakek ini terus menangkis dengan putar kalung untaian manik-maniknya seraya mundur. Saat itulah Utusan Putih membentak garang. Tubuhnya berputar lalu berkelebat.

Manik Angkeran berseru kaget ketika dia mendapati lehernya telah terjepit kedua kaki Utusan Putih. Dia segera hantamkan tangan kirinya sementara tangan kanannya berusaha menjerat kaki di atasnya. Namun gerakannya kalah cepat. Utusan Putih telah putar tubuhnya hingga mau tak mau tubuh Manik Angkeran ikut terputar dan terhempas di atas tanah! Untaian kalung manikmaniknya terlepas dan jatuh lima langkah di sampingnya.

Utusan Putih keluarkan tawa mengekeh. "Aku tahu, kau tidak sepenuh hati melawanku. Namun itu menjadi bumerang celaka bagimu!" kata Utusan Putih seraya melangkah mendekat.

Manik Angkeran yang tampaknya memang tidak sepenuh hati dalam melakukan perlawanan bergerak bangkit. Kakek ini dalam rimba persilatan memang dikenai sebagai tokoh yang paling tidak suka dengan kekerasan. Bahkan terhadap orang yang menginginkan nyawanya. Dan ini pun tampak di kala menghadapi Utusan Putih. Namun sifatnya itu kali ini menjadi senjata makan tuan. Karena begitu Manik Angkeran setengah tegak hendak berdiri, Utusan Putih lancarkan pukulan jarak jauh tangan kosong.

Desss!

Manik Angkeran keluarkan seruan keras. Meski dia berusaha menghindar namun sudah sangat terlambat. Hingga tanpa ampun lagi serangan Utusan Putih menghajar perutnya. Manik Angkeran terjungkal. Kakek ini merasakan pandangannya berkunang-kunang lalu gelap sama sekali.

Utusan Putih cepat berkelebat. Setelah yakin bahwa Manik Angkeran pingsan, laki-laki utusan Penguasa Hutan Larangan ini gerakkan tangan kanannya menotok di tiga tempat. Dengan gerak cepat pula diangkatnya tubuh Manik Angkeran lantas berkelebat meninggalkan tempat itu.

TIGA

SIANG itu panas bukan alang kepalang. Di sebuah dataran berpasir yang membentang luas di sebelah barat dusun Kepatihan terlihat seorang perempuan berjalan tertatih-tatih. Paras wajahnya telah dipenuhi dengan keriputan, namun karena kulit wajahnya amat tipis, keriputan itu tidak begitu terlihat. Justru yang tampak adalah tonjolan tulang-tulang wajahnya. Dia mengenakan pakaian gombrong warna putih kusam. Rambutnya telah putih dan amat jarang. Karena rambut itu disanggul ke atas dan terlihat kaku, maka rambut itu mirip sebuah tusuk konde. Sepasang matanya sipit namun tajam. Kedua kakinya mengenakan sepasang terompah besar dari kayu berwarna hitam legam. Anehnya, meski nenek itu berjalan sendirian dan tak ada yang pantas untuk membuat orang tersenyum, sang nenek selalu sunggingkan bibir untuk tersenyum! Hebatnya, setiap langkahan kakinya terdengar suara berdebam-debam yang memekakkan telinga.

Tiba-tiba si nenek hentikan langkah. Sepasang matanya yang sipit sedikit membelalak. Telinganya bergerak-gerak. Lalu dengan cepat tubuhnya berputar membalik. Setelah tersenyumsenyum dia berkelebat ke arah dia datang. Tubuhnya melesat lenyap. Yang terlihat hanyalah bayang-bayang sosoknya di atas dataran pasir!

Sementara itu, di perbatasan dusun Kepatihan dua sosok bayangan tampak tegak berdiri dengan sepasang mata masing-masing memandang tak berkesip ke arah dataran pasir.

Dua sosok ini adalah dua orang laki-laki. Sebelah kanan mengenakan jubah besar warna biru. Sementara di sampingnya mengenakan jubah besar warna hitam. Ada kesamaan pada dua laki-laki ini. Mereka sama-sama menutup wajah masing-masing dengan sepotong kulit tipis, sehingga paras keduanya tidak bisa dikenali. Juga jari jemari masing-masing orang hanya empat. Jari kelingking mereka tampak tidak ada! Hanya tangan kiri laki-laki berjubah hitam tampak ditopang dengan kain yang dilingkarkan pada lehernya.

"Kau yakin ini tempat tinggal orang yang kita cari?" laki-laki berjubah biru buka suara setelah agak lama keduanya tak ada yang angkat bicara.

"Yakin ini tempat tidaknya, tidak. Namun satu hal yang pasti, aku bersama Utusan Kuning menemukan dia di sini!" laki-laki berjubah hitam menyahut.

"Aneh. Bagaimana mungkin seorang manusia tinggal di tempat seperti ini? Pedataran pasir tanpa sebatang pohon pun!" gumam laki-laki berjubah biru yang bukan lain adalah Utusan Biru seraya gelengkan kepala.

"Bagaimana? Apa kita akan teruskan pencarian ini dengan melintas pedataran pasir itu?" tanya laki-laki berjubah hitam yang bukan lain adalah Utusan Hitam.

Mendengar nada tanya Utusan Hitam, Utusan Biru keluarkan tawa pendek.

"Pertanyaanmu menunjukkan kau raguragu. Apakah kau takut? Seandainya tidak memandangmu sebagai sahabat, aku tak mau kau ajak! Karena urusanku sendiri untuk membawa gadis bernama Ajeng Roro belum kulaksanakan."

"Utusan Biru! Dalam hidup, tidak pernah terbersit rasa takut di dadaku! Dan seandainya tangan kiriku tidak cidera, aku pun tak akan minta bantuanmu! Kalau kau merasa keberatan, lekas tinggalkan tempat ini!" kata Utusan Hitam dengan suara agak meradang.

Utusan Biru kembali keluarkan tawa. Malah kali ini mengekeh panjang. Namun tiba-tiba saja dia putuskan kekehan tawanya karena di tempat itu mendadak terdengar suara tawa bergelak-gelak dan menindih lenyap suara tawanya.

Utusan Biru membeliakkan sepasang matanya dengan kepala bergerak memutar. Sementara Utusan Hitam tetap memandang ke arah depan dengan wajah tegang. Dalam hati masingmasing orang diam-diam maklum jika orang yang keluarkan gelak tawa adalah orang yang memiliki kepandaian tinggi dan tenaga dalam hebat. Karena masing-masing orang ini dapat merasakan getaran pada tanah pijakannya.

Setelah mengedarkan pandangan ke seluruh sudut dataran dan agak lama menunggu tak juga menemukan adanya orang, padahal suara tawanya tetap terdengar malah makin keras, Utusan Biru palingkan wajah ke arah Utusan Hitam. Mulutnya membuka hendak ajukan pertanyaan. Namun mulut itu mengatup kembali ketika tibatiba saja suara gelak tawa tadi lenyap dan berganti dengan suara debaman yang sangat memekakkan telinga serta terdengar dekat sekali.

Secepat kilat Utusan Biru dan Utusan Hitam palingkan wajah masing-masing. Utusan Hitam terlihat surutkan langkah dua tindak ke belakang. Sedangkan Utusan Biru mendelik tak berkesip.

Lima belas tombak di hadapan mereka, tampak seorang tua berjalan terbungkukbungkuk ke arah mereka. Kedua kakinya mengenakan terompah besar berwarna hitam. Ternyata dari langkahan kaki si perempuan mengeluarkan suara berdebam-debam! Hingga kedua laki-laki ini harus mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis suara yang seakan me-nusuk kendang telinganya!

Seraya menahan amarah, Utusan Biru berpaling pada Utusan Hitam.

"Utusan Hitam! Siapa jahanam tua ini?!" "Dialah Dewi Bayang-Bayang. Manusia ke-

parat yang kita cari!"

Utusan Biru yang sejenak dibakar hawa amarah sesaat jadi terkesiap. Ia kembali palingkan wajah dan memperhatikan lebih seksama pada perempuan tua yang bukan lain memang Dewi Bayang-Bayang.

"Hmmm.... Tak heran jika Utusan Hitam dan Utusan Kuning tak bisa menyeret perempuan tua ini menghadap Penguasa Hutan Larangan. Dia memiliki tenaga dalam luar biasa. Langkahan kakinya tampak biasa, namun suara yang ditimbulkan mampu menusuk kendang telinga!" Mungkin karena tegang, kedua orang ini tak ada yang buka mulut untuk bicara. Bahkan meski Dewi Bayang-Bayang telah ada tiga langkah di hadapan mereka!

Sementara Dewi Bayang-Bayang sendiri seakan acuh saja dengan adanya dua orang lakilaki yang kini ada di dekatnya. Malah sambil senyum-senyum dia meneruskan langkah dan melewati keduanya tanpa memandang!

"Keparat! Kenapa kita dibuat tercenung dengan ulah tua bangka itu?!" ujar Utusan Biru begitu Dewi Bayang-Bayang telah melewatinya. Dagu laki-laki itu kontan mengembung. Sepasang matanya merah berkilat. Urat lehernya menyembul, pertanda dia diamuk amarah.

"Utusan Biru! Jangan bertindak gegabah. Kegagalanku bersama Utusan Kuning untuk menyeret perempuan tua itu karena bertindak sembrono!" ucap Utusan Hitam memperingatkan.

Di depan mereka, Dewi Bayang-Bayang tiba-tiba hentikan langkah. Lalu duduk menggelosoh. Terompah kanannya diambil dan digerakgerakkan pulang balik di bawah dagunya seolaholah sedang berkipas. Anehnya, bersamaan dengan itu berdesir angin kencang ke kanan dan kiri! Sesaat kemudian Dewi Bayang-Bayang berucap.

Sungguh malang nasib orang, lepas dari mulut macan masuk mulut buaya.

Sungguh sial takdir orang, menggali lubang untuk jasad sendiri. Malang, malang benar orang yang tidak mengerti peringatan.

Tapi apa hendak dikata, orang-orang dungu memang selalu salah hitung!

Utusan Biru kembali berpaling pada Utusan Hitam begitu Dewi Bayang-Bayang hentikan ucapannya. Sesaat kedua orang ini saling pandang. Utusan Biru memberi isyarat dengan menunjuk ke kanan dan kiri. Utusan Hitam anggukkan kepala. Serentak kedua orang ini bergerak. Utusan Biru berkelebat ke arah kanan, sedang Utusan Hitam ke arah kiri. Tahu-tahu kedua orang ini telah berada tiga langkah di samping kanan-kiri Dewi Bayang-Bayang yang masih duduk dengan berkipas-kipas terompah.

"Dewi Bayang-Bayang! Saatmu telah tiba untuk menghadap Penguasa Hutan Larangan! Segeralah bangkit. Dan ikut kami!" Utusan Biru keluarkan bentakan.

Dewi Bayang-Bayang hentikan kipasan terompahnya. Namun sepasang matanya tidak memandang pada orang yang membentak. Justru sepasang mata itu bergerak mengatup. Lalu mulutnya menganga lebar-lebar. Seakan bicara pada dirinya sendiri, dia bergumam.

"Saat panas begini kenapa aku ngantuk? Sialan benar! Tapi kalau tidak dituruti aku bisa celaka...," habis bergumam begitu, enak saja dia merebahkan diri dengan terlebih dahulu meletakkan terompahnya untuk bantalan kepala. Merasa tidak disambuti orang, Utusan Biru bantingkan kaki. Rahangnya mengembung dengan tangan mengepal. Sementara Utusan Hitam hanya diam memandang. Sejak awal, laki-laki berjubah hitam ini memang telah tunjukkan wajah kecut. Ini bisa dimengerti karena sebelum ini dia memang telah bertemu dengan Dewi BayangBayang, dan gagal untuk membawa nenek itu. Malah karena kegagalannya itulah dia mendapatkan hukuman dengan hancurnya tangan kirinya. Itu masih untung dibanding dengan Utusan Kuning yang harus menemui ajal.

"Tua Bangka! Kau akan menyesal karena memandang remeh kami!" kata Utusan Biru. Lalu memberi isyarat dengan anggukan kepala pada Utusan Hitam.

Dua orang ini serentak melompat ke arah Dewi Bayang-Bayang. Tangan masing-masing bergerak menghantam. Dari derasnya angin yang melesat mendahului tangan, jelas sekali bahwa keduanya telah aliri tangan masing-masing dengan tenaga dalam. Dan tampaknya mereka ingin segera menyelesaikan masalah. Karena arah hantaman mereka pada titik yang mematikan. Yakni kepala dan dada!

Namun sejauh ini Dewi Bayang-Bayang masih belum membuat gerakan. Nenek ini sepertinya tak merasa jika jiwanya sedang diincar ajal. Baru begitu sekejap lagi hantaman tangan menghajar tubuhnya, dia menggeliat, tangan kanan kiri bergerak ke atas seolah hendak membetulkan letak terompahnya. Namun sebelum tangannya menyentuh kepala, secepat kilat tangan itu membalik. Saat mana hantaman tangan Utusan Biru dan Utusan Hitam datang menghajar.

Praaakkk! Praaakkk!

Utusan Biru dan Utusan Hitam berseru tegang. Keduanya merasa lengannya seakan menghantam benda keras. Tubuh keduanya terhuyung-huyung. Dan sebelum keduanya bisa kuasai diri, Dewi Bayang-Bayang menggeliat bangkit. Kedua tangannya menjulur dan mencekal leher jubah masing-masing orang. Sambil tersenyum, kedua tangannya menyentak ke bawah.

Bukkk! Bukkk!

Utusan Biru dan Utusan Hitam jatuh telungkup. Sadar akan bahaya, kedua orang ini segera bergerak bangkit. Namun kedua orang ini terperangah kaget. Karena begitu keduanya hendak bangkit, tengkuk masing-masing terasa dihantam palu. Dan sebelum dapat mengetahui apa yang menghantam tengkuknya, masing-masing orang ini telah jatuh telungkup kembali.

Dewi Bayang-Bayang tersenyum-senyum. Lalu rebahkan punggungnya kembali sementara kedua betisnya uncang-uncang di atas tengkuk Utusan Biru dan Utusan Hitam!

"Ehh. Kalian tadi kudengar cerita tentang

Penguasa Hutan Larangan. Coba ulangi lagi cerita kalian itu. Aku akan mendengarkan sambil tiduran! Hik.... Hik.... Hik !"

"Keparat! Angkat kakimu dahulu!" teriak Utusan Biru sambil menggerakkan tangannya. Namun ketika dirasa tindihan kaki Dewi BayangBayang makin menekan ketika dia menggerakkan tangannya, Utusan Biru hentikan gerakannya. Sedangkan Utusan Hitam tak berani berkutik sama sekali.

Setelah ditunggu agak lama tidak ada yang buka mulut, Dewi Bayang-Bayang angkat tubuhnya. Kedua laki-laki itu berseru serentak. Karena bersamaan dengan terangkatnya tubuh Dewi Bayang-Bayang tekanan kakinya makin memberat.

"Baiklah. Kalian tidak ada yang mau cerita. Mungkin kalian memilih mengantarku saja ke tempat juragan kalian itu! Baik. Baik.... Kita berangkat sekarang!"

Habis berkata begitu, Dewi Bayang-Bayang angkat kedua kakinya dari tengkuk masingmasing orang. Tubuhnya digeser sedikit. Tiba-tiba kakinya bergerak kembali dengan cepat. Dan....

Takkk! Taaakkk! Takkk! Takkk!

Utusan Biru dan Utusan Hitam kembali berseru tertahan. Mereka tercekat. Karena leher dan bahu masing-masing kaku tak bisa digerakkan. Ternyata dengan ibu jari kakinya Dewi Bayang-Bayang telah lakukan totokan pada leher dan kedua bahu masing-masing orang.

Dengan senyum-senyum Dewi BayangBayang tertatih-tatih bangkit. Tangan kiri kanan menjulur ke bawah. Dijambaknya rambut masing-masing orang, lantas ditariknya ke atas. Mau tak mau meski dengan menyumpah habishabisan dalam hati, kedua orang ini bergerak bangkit.

"Bagus! Saat bagi kalian menjadi penunjuk jalan untuk menuju tempat juragan kalian! Hik....

Hik.... Hik !"

Sejenak Utusan Biru dan Utusan Hitam saling pandang satu sama lain. Namun karena mereka tidak bisa keluarkan suara, mereka hanya saling pandang seakan sama-sama minta pertimbangan.

Selagi kedua orang ini menimbangnimbang, Dewi Bayang-Bayang ambil kedua terompahnya. Tangan kiri kanan yang telah memegang terompah besar cepat bergerak memukul punggung masing-masing orang. Karena pukulan itu bukan pukulan biasa, maka begitu terpukul, kedua orang ini sama-sama terhuyung-huyung ke depan.

"Ayo jalan!" seru Dewi Bayang-Bayang sambil acung-acungkan terompahnya. Mungkin karena takut mendapat pukulan terompah, kedua orang ini lantas melangkah perlahan-lahan. Di belakangnya Dewi Bayang-Bayang mengikuti sambil tersenyum-senyum!

EMPAT

SESOSOK bayangan tampak berkelebat melintasi Bukit Larangan, lalu terus berlari menuju arah timur di mana terlihat hutan belantara sepi yang dikenai orang dengan nama Hutan Larangan. Mungkin karena rapatnya pohon yang tumbuh serta merangasnya semak belukar, hingga meski saat itu matahari baru saja menggelincir dari titik tengahnya, namun Hutan Larangan tampak redup. Malah ketika memasuki tengah hutan, suasana agak gelap!

Bayangan tadi tiba-tiba hentikan larinya. Sepasang matanya yang tajam memandang berkeliling mengikuti putaran kepalanya.

"Hmm.... Tak salah jika orang menamakan tempat ini Hutan Larangan...," bisik sang bayangan yang ternyata adalah seorang pemuda berparas tampan. Dia mengenakan baju warna hijau dilapisi dengan baju lengan panjang warna kuning. Rambutnya panjang dan dikuncir ekor kuda.

"Tempat ini sangat sepi. Tak kudengar kicauan burung, apalagi binatang hutan. Aneh, mungkinkah hutan angker begini dihuni manusia? Binatang saja takut, hanya manusia punya nyali besar yang berani hidup di sini...," gumam sang pemuda yang bukan lain adalah Aji Alias Pendekar Mata Keranjang 108 seraya memperhatikan tempat di sekelilingnya.

"Hanya pohon-pohon dan semak belukar....

Di mana aku dapat menemukan sarang manusia yang akhir-akhir ini santar dibicarakan orang? Penguasa Hutan Larangan.... Hmm.... Adakah itu hanya kabar burung saja? Tapi.... Dengan lenyapnya beberapa tokoh rimba persilatan, mungkinkah masih bisa dikatakan kabar burung?" Murid Wong Agung ini sejenak tercenung.

Kepalanya tengadah memandangi rimbunan daun-daun di atasnya. "Dengan lenyapnya beberapa tokoh rimba persilatan, Penguasa Hutan Larangan yang dikabarkan biang keladi penculikan tokoh-tokoh itu aku yakin bukan cerita karangan. Tapi di mana aku dapat menemukannya? Hmm....

Aku akan menyelidik sebelah sana!" Aji lantas berkelebat ke arah barat. Namun pencariannya tiada hasil.

"Sialan! Ke mana lagi harus menyelidik? Tempat ini rasanya sudah kuaduk-aduk! Namun nyatanya tak kutemukan sebuah tempat tinggal, apalagi sosok manusia yang disebut-sebut orang sebagai Penguasa Hutan Larangan! Ternyata kabar yang tersebar selama ini hanya mengada-ada. Betul ada orang yang menculik tokoh-tokoh rimba persilatan, tapi bukan di sini sarangnya Kepa-

rat! Aku sudah termakan cerita bohong!" gumam Aji sambil memaki panjang-pendek.

"Aku harus meninggalkan tempat ini, mumpung cuaca belum benar-benar gelap ,"

Pendekar Mata Keranjang lantas balikkan tubuh hendak meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya tertahan tatkala sepasang matanya membentur pada semak belukar yang aneh.

Mungkin karena tak percaya pada penglihatan matanya, Pendekar Mata Keranjang kucekkucek matanya. Lalu kembali memandang. Matanya menyipit dan membeliak. "Aneh. Semak belukar akar-akarnya mengambang di atas tanah. Dan warnanya kemerahmerahan! Jangan-jangan...," tengkuk murid Wong Agung ini jadi dingin.

"Ah, persetan dengan hantu hutan! Aku akan mendekat!" gumam Pendekar 108 lantas melangkah ke arah semak belukar aneh yang tak jauh dari hadapannya. Seeettt!

Tiba-tiba segerombol semak belukar di hadapannya bergerak cepat melayang ke arahnya. Pendekar 108 berseru tegang. Bukan hanya karena terperangah kaget. Namun oleh kecepatan lesatan semak belukar itu yang mampu menerabas bahu kirinya meski dia telah bergerak menghindar.

Anehnya, begitu berhasil menerabas bahu kiri Aji, segerombol semak belukar itu kembali melayang ke tempatnya semula!

"Tak bisa kupercaya!" gumam Aji seraya siapkan pukulan. Namun betapa terkejutnya murid Wong Agung ini. Bahu kirinya terasa hangat. Melirik, dia membelalak. Baju kirinya ternyata telah bersimbah darah!

"Jahanam!" maki Pendekar 108 seraya alirkan tenaga dalam ke bahu kirinya yang mulai terasa panas. Paras wajahnya merah padam.

"Tak mungkin semak belukar itu bergerak sendiri. Pasti ada orang yang menggerakkan!" berpikir sampai di situ, Aji putar sepasang matanya. Namun sampai matanya merah mencari, dia tak menemukan seorang pun! "Siapa pun kau adanya, jangan sembunyi! Tunjukkan dirimu!" teriak Pendekar Mata Keranjang sambil kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Pendekar 108 menunggu sebentar. Tak ada jawaban. Malah dua gerombol semak belukar bergerak dan melesat ke arahnya.

Pendekar 108 melompat mundur, dan serta-merta kedua tangannya didorong ke depan. Semak belukar itu hancur berantakan di tengah jalan. Anehnya, begitu semak belukar hancur berantakan, tiga gerombol semak belukar kembali melesat menyusul. Seraya menindih rasa geram, kembali murid Wong Agung ini sentakkan kedua tangannya. Tiga gerombol semak belukar semburat dan hangus! Tapi belum sirap semburatan semak belukar, kembali empat gerombol semak belukar melesat cepat ke arahnya!

"Gila! Aku tak bisa begini terus-terusan. Tenagaku akan hilang percuma! Orang ini sengaja menguras tenagaku!" pikir Pendekar Mata Keranjang 108, lalu hantamkan kembali kedua tangannya karena empat gerombol semak belukar itu telah satu depa di hadapannya. Begitu empat gerombol semak itu berantakan, Aji cepat melompat ke samping.

"Edan! Bagaimana mungkin...?!" seru Pendekar 108 seraya melotot besar. Ternyata gerumbulan semak belukar aneh itu sepertinya tidak ada yang semburat hancur! Gerumbulan semak belukar itu tetap seperti semula, rapat tidak ada yang terkuak! Padahal Pendekar 108 telah berhasil membuat hancur berantakan beberapa gerombol!

"Gendeng! Benar-benar gendeng! Tempat apa sebenarnya ini?!" ujar Pendekar 108 dengan katupkan rahang rapat-rapat. Pelipisnya bergerak-gerak. Merasa dipermainkan orang, kemarahan murid Wong Agung ini tak dapat dibendung lagi. Kedua tangannya yang telah teraliri tenaga dalam segera dihantamkan ke arah semak belukar aneh yang akar-akarnya mengambang.

Wuuuttt!

Serangkum angin dahsyat mengeluarkan suara bergemuruh menyambar ke depan. Namun untuk kesekian kalinya, murid Wong Agung ini harus melotot.

Semak belukar itu bukannya terabas rata seperti dugaannya. Melainkan hanya bergoyanggoyang sebentar, lalu diam!

"Setan jahanam!" kemarahan Pendekar 108 benar-benar memuncak. Sambil memandang liar ke depan dia berteriak.

"Kalau kau tak mau keluar, jangan menyesal jika kau rasakan pukulanku!"

Pendekar Mata Keranjang 108 menunggu sebentar. Dia berharap dengan gertakannya, orang yang diduga telah mempermainkannya akan keluar. Namun apa yang diharap tidak menjadi kenyataan. Hal ini membuat murid Wong Agung ini naik pitam. Dengan membentak garang, kedua tangannya ditarik ke belakang, lalu didorong ke depan. Angin menggemuruh melesat disertai sinar putih berkilau. Hawa panas pun menebar melingkupi tempat itu.

Taaassss!

Angin pukulan Pendekar 108 seperti menggebrak sesuatu namun hanya keluarkan suara perlahan. Aji terhenyak sendiri menyaksikan hal itu. Dia tak habis pikir. Bagaimana semak belukar itu hanya bergoyang-goyang, padahal dia baru saja lepaskan pukulan sakti 'Bayu Cakra Buana'.

Selagi Pendekar 108 terhenyak dalam ketidakmengertian, tiba-tiba saja dari arah semak belukar melesat angin dahsyat yang juga mengeluarkan suara menggemuruh juga bersinar putih berkilau!

"Bayu Cakra Buana'!" seru Pendekar 108 mengetahui pukulan yang kini melesat cepat ke arahnya. Seraya menindih rasa terkejut, murid Wong Agung ini jejakkan kedua kakinya. Tubuhnya melesat ke samping menghindar. Namun tak urung sambaran pukulan itu menyerempet pinggangnya. Hingga tak ampun lagi tubuhnya melayang berputar, lalu menghempas dan bergulingan di atas tanah. Untuk beberapa lama dia diam tak bergerak-gerak karena merasakan sakit pada pinggangnya. Setelah alirkan hawa murni, dia bergerak bangkit. Pada pinggang bajunya tampak robek menganga. Kulit di baliknya membiru!

"Gila! Ini baru gila! Bagaimana tidak. Pukulanku membalik! Dan semak jahanam itu hanya goyang-goyang!" rutuk Pendekar Mata Keranjang seraya usap-usap pinggangnya.

"Hmm.... Mungkin tempat ini sarang manusia yang disebut-sebut orang sebagai Penguasa Hutan Larangan. Tapi tak kulihat sebuah tempat tinggal. Hanya semak belukar aneh.... Apa pun adanya semak itu, aku jadi penasaran! Akan kuhantam dengan pukulan 'Mutiara Biru'. Masa' kan tidak mempan...!" bisik Aji. Lalu melangkah mundur dua langkah. Tangan kiri ditarik ke belakang, sementara tangan kanan di depan dada. Seketika itu juga tangan kirinya berubah menjadi biru berkilat-kilat, pertanda murid Wong Agung ini telah kerahkan pukulan 'Mutiara Biru'.

Namun sesaat lagi tangan kirinya hendak kirimkan pukulan, terdengar suara bentakanbentakan dahsyat dari arah belakang. Pendekar 108 urungkan niat untuk lancarkan pukulan. Kepalanya segera berpaling. Telinganya dipasang baik-baik.

"Hmm. Seperti suara orang sedang berke-

lahi.... Mendengar bentakan-bentakannya sampai terdengar di sini, bukan mustahil jika orang yang sedang berkelahi ini orang yang berilmu tidak sembarangan. Sebaiknya aku ke sana dahulu, siapa tahu aku mendapatkan sesuatu yang bertalian dengan semak belukar keparat itu. Lebihlebih tentang Penguasa Hutan Larangan...," berpikir begitu, Pendekar Mata Keranjang segera berkelebat ke arah suara bentakan-bentakan.

Begitu dekat dengan suara bentakanbentakan, Pendekar 108 segera menyelinap ke balik semak belukar. Sepasang matanya lalu memandang ke depan.

Mula-mula yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan yang berkelebat tak karuan, namun jelas bahwa bayangan itu saling lancarkan pukulan, karena saat itu juga tempat di mana Pendekar Mata Keranjang mendekam terasa bergetar!

Saat bentakan terhenti dan terdengar suara seruan dua kali berturut-turut, baru Pendekar 108 dapat dengan jelas melihat siapa adanya sang bayangan.

Di sebelah kanan, terkapar seorang lakilaki yang wajahnya tidak bisa dikenali karena ditutup dengan sepotong kulit tipis. Dia mengenakan jubah besar warna coklat. Ikat kepalanya juga berwarna coklat. Dari sudut bibirnya telah terlihat mengalir darah hitam, menunjukkan jika laki-laki itu telah terluka dalam cukup parah.

Kepala Pendekar Mata Keranjang 108 lantas berpaling ke arah kiri, mendadak sepasang matanya mendelik besar. Dadanya berdegup kencang. Tenggorokannya bergerak turun naik.

"Benar-benar aduhai...," bisik murid Wong Agung seraya tak berkesip memandang ke jurusan kiri. Di situ terlihat telentang seorang perempuan muda. Parasnya cantik jelita. Mengenakan pakaian tipis warna merah berbunga-bunga hitam. Pakaiannya itu dibuat agak rendah di bagian dada, hingga meski cuaca agak redup, dari tempatnya mendekam Pendekar 108 masih dapat melihat agak jelas sembulan buah dadanya yang tampak putih mulus! Bukan hanya itu saja. Pakaian gadis muda ini bagian bawah ternyata dibuat membelah di tengah. Hingga saat telentang begitu rupa, Aji dapat melihat sepasang pahanya yang berkulit putih, bahkan hampir pangkal pahanya!

Tiba-tiba gadis muda berparas cantik ini menggeliat hendak bangkit. Namun karena pukulan baru saja bersarang di tubuhnya, dia belum bisa kuasai diri, hingga geliatannya hanya mengubah posisinya dari telentang menjadi miring. Justru posisi ini membuat sepasang mata Pendekar 108 makin membesar. Karena tubuh gadis itu persis menghadap ke arah Pendekar 108 mendekam.

"Busyet! Dada itu begitu menggairahkan, Besar dan putih. Hmm...!" desis Pendekar Mata Keranjang dengan usap-usap dagunya. Dadanya berdegup tambah keras. Sementara tenggorokannya turun naik tak beraturan. Napasnya terhembus panjang-panjang.

Selagi Pendekar 108 terkesima, laki-laki berjubah coklat bergerak bangkit. Dan tanpa membentak, kedua tangannya bergerak menghantam ke arah sang gadis.

Wuuuttt!

Gelombang angin dahsyat yang membungkus kilatan-kilatan sinar coklat menghampar ke arah gadis yang masih di atas tanah.

Seakan sadar bahwa maut mengancam dirinya, si gadis bergerak bangkit. Mungkin karena masih merasakan sakit pada tubuhnya, hingga gerakannya lamban. Hal ini membuat si gadis terlengak, karena belum sempat dia membuat gerakan selanjutnya, serangan yang dilancarkan lakilaki berjubah coklat telah berada di hadapannya. Dari mulutnya terdengar pekikan kaget bercampur takut. Wajahnya berubah pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat. Dia merasa ajal akan segera merenggut jiwanya!

Di sebelah kanan, melihat si gadis tak berdaya, laki-laki berjubah coklat tertawa perlahan penuh ejekan. Matanya yang merah memejam dan membuka.

"Itulah ganjaran bagi manusia yang membangkang dan menipu!" kata sang laki-laki seraya usap darah yang meleleh dari sudut mulutnya.

Pada saat yang menegangkan itu, mendadak dari balik semak belukar di samping sang gadis menyambar dua rangkum angin dahsyat. Satu rangkum menyerempet tubuh si gadis hingga terpelanting dan jatuh bergulingan. Sementara satu rangkum lainnya memapak gelombang angin yang membungkus kilatan warna coklat yang tadi hendak menghajar tubuh si gadis!

Blaaarrr!

Terdengar letupan keras. Di sebelah kanan, laki-laki berjubah coklat berseru keras. Karena tak menyangka maka dia tak punya kesempatan untuk kerahkan tenaga dalam saat terjadinya letupan, hingga saat itu juga tubuhnya mencelat sampai beberapa tombak ke belakang. Tubuhnya membentur pada batang pohon lalu terkapar di atas tanah!

Di sebelah kiri, merasa dirinya diselamatkan orang, dan melihat laki-laki berjubah coklat terkapar, sang gadis seakan mendapat kekuatan baru. Dengan membentak garang, gadis cantik itu berkelebat. Tahu-tahu tubuhnya telah dua langkah di hadapan laki-laki berjubah coklat yang menggapai-gapai hendak bangkit. Kaki kanannya lantas bergerak menyapu ke arah bahu sang lakilaki.

Desss!

Laki-laki berjubah coklat berseru tertahan. Tubuhnya bergulingan. Darah hitam makin banyak mengalir dari bibirnya. Si gadis melangkah mendekat. Saat itulah tiba-tiba laki-laki berjubah coklat mengambil sesuatu dari kantong jubahnya. Serta-merta tangannya mendekat pada mulutnya yang telah membuka.

"Jangan mimpi bisa mati sebelum memberi keterangan padaku!" kata sang gadis. Kembali kaki kanannya bergerak. Tangan laki-laki berjubah coklat mental dan tercampaklah apa yang semula hendak ditelannya.

Si gadis tertawa pendek, tubuhnya sedikit merendah, lalu kedua tangannya bergerak menotok bagian tertentu tubuh laki-laki berjubah coklat. Sesaat sang gadis memperhatikan laki-laki berjubah coklat yang kini diam tak bergerak karena tertotok. Lantas dengan tersenyum, dia balikkan tubuh memandang ke arah semak belukar dari mana tadi menyambar dua rangkum angin yang selain menyelamatkan dirinya juga membuat laki-laki berjubah coklat mencelat.

LIMA

SIAPA pun adanya kau, harap sudi menampakkan diri! Aku ingin mengucapkan terima kasih!" si gadis berucap seraya terus pandangi ke arah semak belukar.

Di balik semak belukar, Pendekar Mata Keranjang tergagu sejenak. Setelah rapikan pakaiannya seraya mendendangkan nyanyian tak jelas dia menyibakkan semak belukar dan melangkah keluar.

Si gadis kernyitkan kening, sepasang matanya yang bulat membesar dan menyipit. "Tak disangka. Ternyata seorang pemuda tampan, bertubuh tegap...." Untuk beberapa saat lamanya sang gadis tampak terkesima. Namun ketika Aji balik memandang ke arahnya, si gadis seakan baru sadar. Dia buru-buru tersenyum lalu menjura hormat.

"Terima kasih atas pertolonganmu. Aku berhutang budi juga nyawa. Kalau tidak dapat pertolonganmu, aku tak tahu apa yang akan kualami!"

Si gadis angkat kepalanya, memperhatikan pada pemuda di hadapannya. "Kalau boleh tahu, siapakah kau sebenarnya...?!"

Pendekar Mata Keranjang melirik, bukan pada wajah gadis di hadapannya melainkan pada dadanya yang tampak menyembul putih mulus serta kencang menantang. Anehnya, yang dipandangi bukannya segera palingkan tubuh. Sebaliknya dia ambil napas dalam-dalam serta panjang hingga buah dadanya terlihat bergerak-gerak, membuat Pendekar 108 membeliak dengan degup jantung makin keras.

"Harap kau sudi menjawab pertanyaanku...," si gadis berkata seakan menyadarkan Pendekar 108.

"Ah...!" Aji keluarkan seruan seolah terperanjat. Sepasang matanya beralih memandang wajah gadis di hadapannya.

"Hmmm.... Benar-benar cantik! Mata bulat, bibir bagus, hidung mancung lebih-lebih dadanya.,.." Pendekar 108 tersenyum, lalu berkata.

"Namaku Aji. Aji Saputra! Kau sendiri sia-

pa...?"

"Aji.... Hmm.... Baru kali ini aku menden-

gar nama itu. Namun melihat pukulannya tadi, pemuda ini bukan orang sembarangan. Mungkin itu nama aslinya yang tak banyak diketahui orang. Sedang nama gelarnya mungkin banyak yang mengetahuinya. Siapa gelar pemuda ini...? Seandainya dia membawa senjata, mungkin dengan mudah aku dapat menebaknya. Karena gelar seseorang biasanya tak jauh dari senjata yang dibawanya!" si gadis membatin, lalu melangkah lebih dekat. Begitu dekat, kembali diperhatikannya sang pemuda. Namun dia gelengkan kepalanya perlahan. Sebenarnya waktu mendekat, si gadis ingin melihat barangkali si pemuda menyelipkan senjata di pinggang. Namun setelah diteliti dia tak menemukan senjata, dia tak berhasil mengetahui siapa adanya si pemuda.

Karena ditunggu agak lama si gadis tak juga keluarkan suara untuk menjawab, Pendekar Mata Keranjang angkat bicara kembali.

"Kalau kau keberatan sebutkan nama, tak apa. Hanya kalau boleh aku tanya...," Aji tak meneruskan ucapannya, karena saat itu sang gadis telah menyahut.

"Namaku Anting Wulan   Tapi orang-orang

lebih mengenalku dengan Dewi Tengkorak Hitam. "

Mendengar ucapan si gadis, Pendekar Mata Keranjang sedikit terkejut. Dalam kancah rimba persilatan nama Dewi Tengkorak Hitam memang telah banyak dikenal. Bukan hanya karena ketinggian ilmunya, namun juga karena dia terkenal tokoh yang ugal-ugalan. Dia tantang siapa saja tokoh yang bernama besar. Baik itu dari jajaran atas golongan putih atau golongan hitam. Hingga karena sifatnya itulah Dewi Tengkorak Hitam banyak punya musuh. Baik itu dari orang-orang jalur putih atau jalur hitam.

"Nama Dewi Tengkorak Hitam telah lama kudengar. Namun benar-benar tak kusangka jika sosok orangnya masih begini muda. Cantik dan bentuk tubuhnya begitu mendebarkan. Mu-

lanya aku menebak, Dewi Tengkorak Hitam itu mukanya seperti tengkorak dan hitam...," Pendekar 108 seraya tersenyum. Lalu melangkah satu tindak ke depan dan berkata.

"Hari ini sungguh merupakan hari baik buatku. Tanpa diduga aku dapat bertemu dengan tokoh rimba persilatan yang bernama besar. Terimalah hormatku Dewi Tengkorak Hitam..,. Maaf kalau aku tadi tak bersikap hormat padamu. Karena aku memang belum. "

"Kau terlalu memuji. Dadaku bisa pecah jika terlalu disanjung. Kau sendiri siapa sebenarnya? Yang kumaksud gelarmu?" Anting Wulan alias Dewi Tengkorak Hitam menyela ucapan Aji dan balik bertanya.

Sesaat Pendekar Mata Keranjang terdiam. Dia terlihat bimbang. Namun sesaat kemudian dia berkata sambil tarik kuncir rambutnya.

"Aku tak bergelar. Karena tak pantas rasanya seorang pengelana jalanan sepertiku ini memakai gelar. Sebut saja seperti yang kukatakan tadi. Aji "

"Aku tahu, kau berdusta. Tapi tak apalah...," kata Dewi Tengkorak Hitam sambil menarik napas panjang. Di hadapannya Pendekar 108 tampak terkejut, namun segera saja dia tersenyum, lalu berkata kembali.

"Dewi Tengkorak Hitam. "

Si gadis memandang tajam pada Pendekar 108 lalu berkata.

"Panggil Anting Wulan saja "

"Hmmm... Anting Wulan. Kalau boleh tanya, siapakah laki-laki berjubah coklat itu? Dan kenapa kalian terlibat perkelahian?"

"Karena kau telah menolongku, aku berterus terang saja. Soal siapa laki-laki itu, aku belum menanyakan padanya. Tapi satu hal yang pasti dia adalah salah seorang utusan Penguasa Hutan Larangan yang hendak membawaku menghadap orang yang menyuruhnya!"

Pendekar Mata Keranjang terkejut. "Dari mana kau tahu bahwa dia adalah utusan Penguasa Hutan Larangan?"

Dewi Tengkorak Hitam dongakkan sedikit kepalanya. Hingga lehernya yang jenjang terlihat jelas. Buah dadanya pun semakin membusung kencang. Gadis muda ini tampaknya sengaja membuat degup dada Pendekar 108 berdetak lebih kencang. Karena bersamaan dengan bergerak tengadah, sepasang matanya dipejamkan setengah membuka. Lantas kedua kakinya sedikit dipentangkan, hingga kedua pahanya terlihat jelas.

"Busyet! Siapa pun akan terguncang jika melihat gadis ini...," batin Pendekar 108 sambil melirik ke arah paha Dewi Tengkorak Hitam

"Beberapa waktu lalu...," Dewi Tengkorak Hitam akhirnya berkata. "Aku telah menyirap kabar jika banyak tokoh-tokoh bernama besar tibatiba hilang lenyap tiada berita. Lalu muncul berita bahwa hilangnya tokoh-tokoh itu didalangi oleh manusia yang menyebut dirinya Penguasa Hutan Larangan. Semenjak saat itu aku melakukan perjalanan menyelidik. Terus terang, aku ingin menantang orang yang menyebut dirinya Penguasa Hutan Larangan itu!" Dewi Tengkorak Hitam sejenak hentikan keterangannya. Lalu melanjutkan.

"Tiba-tiba dalam perjalananku, menghadang seorang laki-laki berjubah coklat yang menyebut dirinya Utusan Coklat. Dia mengatakan sebagai utusan Penguasa Hutan Larangan, dan memang sengaja mencariku untuk dihadapkan pada Penguasa Hutan LaranganKarena aku sedang menyelidik, aku waktu itu pura-pura menurut saja. Aku hanya ingin tahu di mana letaknya Hutan Larangan. Setelah aku yakin bahwa tempat ini adalah Hutan Larangan, aku membelot dan mencari gara-gara. Namun dugaanku meleset, Utusan Coklat tidak mudah untuk ditaklukkan. Hingga seandainya tidak ada kau, pasti aku sudah diseretnya menghadap Penguasa Hutan Larangan. Dan aku tak dapat membayangkan apa yang akan menimpaku "

Dewi Tengkorak Hitam hentikan ucapannya. Lalu luruskan pandangannya menatap pada Pendekar Mata Keranjang.

"Kau sendiri hendak ke mana? Dan kenapa berada di sini?" tanyanya kemudian.

"Hmm.... Berarti kabar tentang Penguasa Hutan Larangan yang akhir-akhir ini menyentak dunia persilatan bukan kabar bohong. Dan aku tidak salah alamat datang ke tempat ini!" Aji membatin. Lalu berkata.

"Terus terang, dengan hilangnya beberapa tokoh rimba persilatan akhir-akhir ini, aku ingin tahu. Apakah benar adanya semua berita itu! Lalu aku coba jalan-jalan hingga sampai sini!"

Kening Dewi Tengkorak Hitam mengernyit. "Hanya sekadar  jalan-jalan? Hmm. Tak

mungkin. Kalau dia berani sendirian yang kuduga menyelidik, dia bukanlah pemuda yang boleh dipandang sebelah mata. Siapa dia sebenarnya ?"

"Aji.... Katakan terus terang. Apakah kau bermaksud menyingkap siapa adanya Penguasa Hutan Larangan sekaligus menyelamatkan para tokoh-tokoh itu?"

Sejenak Pendekar 108 terdiam. Sambil meringis dia usap-usap ujung hidungnya.

"Bagaimana ini...?" Pendekar 108 berkata sendiri dalam hati. "Apakah aku harus berterus terang padanya? Dia sudah mengatakan ingin menyelidik dan menantang Penguasa Hutan Larangan. Meski tujuannya lain denganku tapi orang yang dituju sama. Hmm. Memang sebaik-

nya aku terus terang saja. Mendapat teman cantik sungguh sayang jika dibiarkan berlalu...." lalu Pendekar Mata Keranjang anggukkan kepala pertanda membenarkan pertanyaan Dewi Tengkorak Hitam.

"Hmmm.... Jadi tidak meleset dugaanku. Dia adalah pemuda berilmu tinggi. Mustahil jika tidak berilmu tinggi berani hendak menyelamatkan tokoh-tokoh yang akhir-akhir ini kabarnya diculik oleh Penguasa Hutan Larangan. Sayang dia tidak berterus terang tentang siapa dia sebenarnya "

"Aji. Rasa-rasanya orang yang kita cari adalah sama meski tujuan kita berbeda. Kau tak keberatan bukan jika kita jalan bersama-sama?"

Pendekar Mata Keranjang 108 angkat bahunya sambil tersenyum.

"Bersama-sama tokoh rimba persilatan yang berwajah cantik tentunya suatu kenangan tersendiri bagiku. Dan rasa-rasanya tak pantas jika aku menolaknya "

Paras muka Dewi Tengkorak Hitam berubah bersemu merah. Tubuh gadis muda ini terguncang sesaat mendengar pujian Pendekar 108.

"Pemuda ini pandai bicara memuji. Hmm....

Seandainya tidak sedang dalam menghadapi masalah "

"Anting Wulan.... Sebaiknya kita segera bergerak sekarang, mumpung hari belum gelap benar. Dan laki-laki itu tentunya bisa untuk petunjuk jalan!" kata Pendekar 108 membuyarkan lamunan Dewi Tengkorak Hitam.

Sambil palingkan wajah yang makin bersemu merah, Dewi Tengkorak Hitam anggukkan kepala. Lalu melangkah mendekati laki-laki berjubah coklat.

Laki-laki berjubah coklat yang bukan lain adalah Utusan Coklat lirikkan sepasang matanya. Mulutnya membuka bergerak-gerak. Namun tiada sepatah kata pun yang terdengar, karena Dewi Tengkorak Hitam telah menotok lehernya.

Dewi Tengkorak Hitam tersenyum dingin. Tangan kanannya bergerak menjambak rambut Utusan Coklat lalu ditariknya ke atas. Sambil menyumpah-nyumpah dalam hati, Utusan Coklat bergerak berdiri mengikuti tarikan Dewi Tengkorak Hitam.

"Kau harus tunjukkan di mana tempat Penguasa Hutan Larangan!" bentak Dewi Tengkorak Hitam sambil menyeret Utusan Coklat. Karena yang tidak tertotok hanya kaki kanannya, maka Utusan Coklat terpincang-pincang seraya menyeret kaki kirinya mengikuti langkah Dewi Tengkorak Hitam.

Begitu sampai di hadapan Aji, Dewi Tengkorak Hitam segera membebaskan totokan pada leher Utusan Coklat. Seketika Utusan Coklat berteriak keras.

"Demi setan. Bunuh saja aku! Bunuh! Lakukan cepat!"

Pendekar Mata Keranjang kernyitkan dahi. Dia tak tahu apa yang membuat Utusan Coklat berteriak begitu rupa, namun dia maklum jika laki-laki itu dalam keadaan takut luar biasa. Pendekar Mata Keranjang segera tarik bahu Dewi Tengkorak Hitam dan berbisik.

"Laki-laki itu ketakutan. Mungkin karena takut mendapat hukuman dari atasannya. Kita tak boleh bertindak kasar padanya jika ingin agar dia mau menunjukkan tempat Penguasa Hutan Larangan!" Dewi Tengkorak Hitam anggukkan kepala.

Lalu berpaling pada Utusan Coklat dan berkata. "Dengar! Kalau kau mau menunjukkan di

mana Penguasa Hutan Larangan, kami akan ampuni nyawamu! Kau akan kami bebaskan!"

"Kalian boleh membunuhku! Aku tak akan tunjukkan tempat itu!" teriak Utusan Coklat, membuat Dewi Tengkorak Hitam berpaling pada Pendekar 108 seolah hendak minta pertimbangan. Pendekar 108 sendiri usap-usap hidungnya seraya berpikir. Saat itulah mendadak Utusan Coklat lejangkan kaki kanannya yang tidak tertotok ke arah Dewi Tengkorak Hitam.

"Awas serangan!" teriak Aji memperingatkan.

"Jahanam!" maki Dewi Tengkorak Hitam marah seraya geser tubuhnya ke samping. Lejangan kaki Utusan Coklat menghajar angin sejengkal di depan dada Dewi Tengkorak Hitam. Saat itulah Dewi Tengkorak Hitam hantamkan kedua tangannya ke arah dada Utusan Coklat.

Desss!

Utusan Coklat meraung keras, tubuhnya mencelat hingga beberapa tombak lalu tergulingguling di atas tanah.

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat berkelebat. Sesaat dia menunggu. Namun melihat Utusan Coklat tidak bergerak-gerak lagi, murid Wong Agung segera membalik tubuh Utusan Coklat yang telungkup. Pendekar Mata Keranjang menghela napas panjang. Ternyata dada Utusan Coklat telah ambrol! Di depan sana, Dewi Tengkorak Hitam memandang dengan tatapan dingin.

"Hilang sudah kesempatan...," gumam Pendekar 108 lalu melangkah ke arah Dewi Tengkorak Hitam.

"Anting Wulan. Kita harus cepat tinggalkan tempat ini!" kata Pendekar 108 sambil melangkah terus.

"Ke mana...?!" tanya Dewi Tengkorak Hitam dengan kernyitkan kening.

"Aku tadi menemukan tempat aneh. Aku curiga dan penasaran dengan tempat itu!"

"Tempat aneh...?" ulang Dewi Tengkorak Hitam. Sepasang matanya yang bulat memperhatikan pemuda di hadapannya. "Hmm. Jangan-

jangan dia mengajakku...." Bibir Dewi Tengkorak Hitam tersenyum. Dadanya yang membusung bergerak turun naik.

"Apakah tempat itu ada mata airnya?" tanya Dewi Tengkorak Hitam sambil melangkah menjajari Pendekar Mata Keranjang. Gadis ini sengaja merapatkan tubuhnya ke bahu Aji. Bahkan ketika Aji diam saja, gadis ini menggeser tubuhnya hingga buah dadanya sebelah kanan menekan punggung Pendekar 108.

Sejenak murid Wong Agung ini menahan napas. Perlahan-lahan tubuhnya berubah panas. Namun teringat akan nasib para tokoh yang lenyap, gejolak yang mulai merambat di tubuhnya segera ditahannya. Seraya menahan napas, dia berpaling pada Dewi Tengkorak Hitam dan berkata.

"Anting Wulan. Kita tak punya waktu ba-

nyak. Kita harus segera sampai di tempat yang kusebutkan tadi. Aku tak dapat menerangkan tempat itu. Nanti saja kau lihat sendiri "

Dewi Tengkorak Hitam terlihat menarik napas panjang-panjang. Dadanya tampak makin turun naik pertanda dia menindih gelegak nafsu yang mulai menguasai dirinya.

Setelah diam sejenak, Aji anggukkan kepala memberi isyarat agar Dewi Tengkorak Hitam mengikuti langkahnya. Dengan wajah merah gadis muda cantik itu angkat bahunya lalu melangkah mengikuti pemuda di depannya yang mulai melangkah ke arah tengah hutan. 

ENAM

GELAP pekat telah mengepung tatkala Pendekar Mata Keranjang dan Dewi Tengkorak Hitam sampai di tempat semak belukar aneh yang akar-akarnya mengambang di atas tanah dan berwarna merah!

"Inilah tempat yang kusebutkan aneh itu!" kata Pendekar 108 menerangkan.

Entah karena terkesima dengan semak belukar di hadapannya atau karena kecewa karena yang dituju Aji bukan tempat yang seperti harapannya, Dewi Tengkorak Hitam terlihat diam saja tak menyahut. Hanya sepasang matanya memandang lurus ke depan.

Pendekar 108 kerlingkan matanya. Sepasang mata itu mendadak membesar. Bukan karena melihat wajah gadis di sampingnya yang masih tertegun, melainkan karena saat itu Dewi Tengkorak Hitam tubuhnya dibasahi keringat, maka pakaiannya yang tipis membalut ketat tubuhnya, hingga tubuhnya jelas membentuk! Sepasang buah dadanya yang menyembul sebagian, jelas memperlihatkan bentuknya yang kencang menantang.

Tiba-tiba Dewi Tengkorak Hitam berpaling, membuat Pendekar 108 salah tingkah. Namun murid Wong Agung ini segera tersenyum sambil usap-usap ujung dagunya.

"Semak belukar itu memang aneh. Lantas apa maksudmu membawaku ke sini?"

"Semak belukar itu bukan hanya aneh. Tapi juga mengandung kekuatan luar biasa. Aku curiga jangan-jangan di balik semak belukar itu sarang manusia yang kita cari!" Lalu Pendekar Mata Keranjang alihkan pandangannya ke depan. Dalam hati dia berucap sendiri. "Hmm. Seandainya

laki-laki tadi tidak kedahuluan tewas, mungkin dia bisa memberi keterangan. Tapi segalanya sudah berlalu "

Dewi Tengkorak Hitam sipitkan sepasang matanya. Kepalanya lantas berputar dan kembali memandangi semak belukar yang tak jauh di hadapannya.

"Aku belum yakin jika tidak membuktikannya sendiri!" katanya.

Tangan kanannya bergerak ke balik pakaiannya. Ketika ditarik keluar lagi tampak dua butiran sebesar buah duku berwarna hitam. Pendekar 108 sejenak memperhatikan. Tiba-tiba sepasang matanya mendelik. Betapa tidak. Butiran sebesar buah duku di tangan Dewi Tengkorak Hitam itu ternyata berbentuk tengkorak kepala manusia!

"Hmm.... Pasti ini yang membuatnya digelari Dewi Tengkorak Hitam. "

Sesaat Dewi Tengkorak Hitam menimangnimang dua butiran hitam yang membentuk tengkorak kepala manusia itu, lalu tangannya diangkat didekatkan ke mulutnya. Mulutnya yang membentuk bagus terlihat bergerak meniup. Terjadilah hal yang luar biasa. Dua butiran di tangannya menggelembung dan sekejap kemudian telah berubah benar-benar menjadi tengkorak kepala manusia serta tertata saling tindih!

Tanpa mempedulikan keheranan Pendekar 108, Dewi Tengkorak Hitam ambil salah satu tengkorak hitam. Kini tangan kanan kirinya memegang tengkorak hitam. Sepasang matanya lantas memejam sejenak. Tiba-tiba kedua tangannya bergerak melemparkan dua tengkorak itu ke depan, ke arah semak belukar aneh.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Kedua tengkorak hitam itu melesat deras ke depan. Hebatnya bersamaan dengan itu dua gelombang angin dahsyat terlebih dahulu menyambar! Jelas jika selain dapat menggunakan tengkorak sebagai senjata hebat, gadis ini juga mampu mengalirkan tenaga dalam dan melepaskannya bersamaan tengkorak!

"Luar biasa...," gumam Aji sambil gelengkan kepala.

Namun sesaat kemudian, Pendekar Mata Keranjang dan Dewi Tengkorak Hitam sama-sama membelalakkan sepasang mata masing-masing. Malah Dewi Tengkorak Hitam terlihat bantingkan kedua kakinya. Dari hidungnya terdengar dengusan keras. Dia tak menyangka sama sekali jika pukulan yang baru saja dilepaskannya hanya menerabas semak belukar dan membuat gerumbulan semak itu bergoyang-goyang! Padahal pukulan yang baru dilepaskan adalah pukulan sakti ‘Tengkorak Mendera Bumi’!

Sementara Pendekar 108 sendiri bertambah penasaran. Diam-diam dia kerahkan tenaga dalam siapkan pukulan sakti 'Mutiara Biru'.

Pada saat itulah, tiba-tiba semak belukar aneh itu bergoyang-goyang lagi. Dan belum sempat Pendekar 108 atau Dewi Tengkorak Hitam mengetahui apa yang terjadi, gerumbulan semak belukar itu bergerak menguak. Dan melesatlah dua benda hitam disertai dua gelombang angin dahsyat!

"Dua tengkorak itu!" seru Aji sambil tarik tangan Dewi Tengkorak Hitam. Keduanya lantas bergulingan di atas tanah untuk menghindari dua buah benda hitam yang ternyata adalah dua tengkorak milik Dewi Tengkorak Hitam!

Weeerrr! Weeerrr!

Dua tengkorak hitam melesat di atas tubuh Pendekar 108 dan Dewi Tengkorak Hitam. Lalu terus menerabas ke belakang. Sesaat kemudian terdengar dua letusan keras. Lalu disusul dengan berderaknya pohon yang hendak tumbang. Melirik, Pendekar 108 terkesiap. Dua pohon besar di belakangnya tumbang dengan daun berhamburan dan berubah menjadi hitam!

Begitu terdengar tumbangnya pohon, Dewi Tengkorak Hitam angkat kepalanya hendak bergerak bangkit. Namun betapa terkejutnya gadis ini, karena bersamaan dengan itu dua gelombang angin dahsyat datang menyambar!

Melihat hal itu Pendekar 108 bergerak cepat. Tangannya menjulur dan ditariknya kuatkuat tangan gadis di sampingnya itu. Gelombang angin lewat sejengkal di samping tubuh Dewi Tengkorak Hitam. Namun mungkin karena kuatnya tarikan tenaga Aji yang ingin menyelamatkan Dewi Tengkorak Hitam, membuat tubuh gadis itu melambung hingga setinggi setengah tombak di udara. Pendekar Mata Keranjang terkesiap, karena Dewi Tengkorak Hitam terlihat tak bisa dikuasai diri.

"Celaka! Tarikanku terlalu keras...!"" bisik Pendekar 108 lalu cepat dia gulingkan tubuhnya mengikuti arah tubuh Dewi Tengkorak Hitam.

Sedang Dewi Tengkorak Hitam sendiri parasnya pucat pasi. Dan sesaat lagi tubuhnya jatuh telungkup di atas tanah, gadis ini pejamkan sepasang matanya.

Bukkk!

Dewi Tengkorak Hitam jatuh telungkup. Namun gadis ini merasa heran. Karena tubuhnya tidak terasa berbenturan dengan tanah. Dia merasakan gerakan-gerakan pelan di bawahnya. Dengan menindih rasa heran perlahan-lahan dibukanya kelopak matanya. Pertama-tama yang terlihat adalah batuan hitam di bawahnya. Lalu ketika matanya turun lagi ke bawah, gadis ini terhenyak. Pendekar 108 tampak terengah-engah menahan napas di bawah tubuhnya! Buah dadanya yang kencang menantang tepat di atas hidung murid Wong Agung ini.

Mungkin tak bisa bernapas, Aji segera geser-geser kepalanya yang tertindih buah dada. Dia memang segera bisa sedikit bernapas, namun hal ini membuat kancing pakaian Dewi Tengkorak Hitam terlepas dan tersingkaplah baju bagian atasnya, hingga tanpa penutup lagi buah dada kencang milik Dewi Tengkorak Hitam menempel ketat di wajahnya!

Di lain pihak, geseran-geseran kepala Pendekar Mata Keranjang tampaknya membuat Dewi Tengkorak Hitam menggelinjang. Gadis cantik ini keluarkan suara mendesah pelan, dan perlahanlahan pula tubuhnya digeser ke bawah. Begitu wajahnya ada di atas wajah Aji, sepasang matanya dipejamkan sedikit, bibirnya dibuka, dan kedua tangannya mencekal kedua bahu Pendekar 108.

'"Jangkrik! Dia sepertinya menunggu, apa-

kah aku...,"' Pendekar 108 tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu juga wajah Dewi Tengkorak Hitam telah bergerak ke bawah dan dengan dada berdegup keras bibirnya memagut bibir Pendekar 108.

Darah Pendekar Mata Keranjang 108 kontan bergolak. Bersamaan dengan pagutan bibir Dewi Tengkorak Hitam, kedua tangan murid Wong Agung bergerak merangkul tubuh gadis yang kini telungkup di atasnya.

Beberapa saat berlalu, tiba-tiba terdengar suara gelegukan beberapa kali seperti suara orang sedang minum. Disusul kemudian dengan suara tawa mengekeh panjang.

Baik Pendekar Mata Keranjang maupun Dewi Tengkorak Hitam sama-sama tercekat. Kedua orang ini segera lepaskan bibir masingmasing. Dan dengan dada masih bergerak turun naik serta terbuka, Dewi Tengkorak Hitam melompat ke samping. Sedangkan Aji bergulingan dua kali lalu bangkit dengan sepasang mata memandang ke arah sumber tawa yang sesekali diselingi dengan gelegukan.

Di bawah cahaya sinar rembulan yang ternyata telah merambat dan menerobos melalui pohon-pohon yang tumbang, delapan tombak di depan Pendekar 108 terlihat sesosok manusia duduk menggelosoh. Pakaiannya compang-camping. Rambutnya tipis. Mukanya keriput dengan sepasang mata sayu merah. Pada bahu manusia itu tampak menyelempeng sebuah ikat pinggang besar yang diganduli beberapa bumbung bambu. Bau arak yang keras menyengat keluar dari bumbung bambu itu. Seraya duduk menggelosoh, kedua tangannya yang juga memegang bumbung bambu didekatkan silih berganti ke mulutnya.

"Setan Arak!" seru Pendekar 108 begitu mengenali siapa adanya orang.

Mendengar Pendekar 108 menyebut nama orang, Dewi Tengkorak Hitam kernyitkan dahi. Bibirnya menyungging senyum seringai. Kepalanya lantas sedikit tengadah.

"Hmm.... Aku telah dengar nama tokoh pantat arak ini. Sungguh kebetulan sekali hari ini aku bisa bertemu. Aku telah lama mencaricarinya untuk ku tantang!"

Setelah mengancingkan bagian dadanya yang terbuka, Dewi Tengkorak Hitam melangkah ke arah orang yang duduk menggelosoh sambil menenggak minuman dan bukan lain memang Setan Arak.

Apabila nafsu singgah di hati....

Bola mata sesat buta pandangan Memandang tahi laksana roti Memandang roti bagaikan tahi

Begitu panas dan demamnya nafsu....

Telinga jadi tuli, mata jadi buta Mulut jadi bisu dan lidah kelu Tiada guna bicara nasihat Karena daging terasa tahi lalat...

Tiba-tiba Setan Arak keluarkan suara seperti orang senandungkan syair. Dewi Tengkorak Hitam hentikan langkahnya mendengar lantunan senandung Setan Arak. Dia merasa lantunan syair itu menyindir dirinya.

"Jahanam! Apakah dia tahu siapa aku sebenarnya?"

Wajah cantik Dewi Tengkorak Hitam makin merah padam. Pelipis kiri kanannya bergerakgerak. Dagunya sedikit terangkat. Tangan kanannya bergerak menyelinap masuk ke balik pakaiannya. Ketika ditarik kembali satu butir tengkorak kecil berwarna hitam telah ada di tangannya. Mulutnya lantas meniup. Namun gerakan gadis itu tertahan tatkala lengannya dicekal orang. Berpaling, Pendekar 108 tegak di sampingnya dan langsung berkata.

"Anting Wulan. Jangan bertindak gegabah. Dia bukan orang jahat. Aku mengenalnya! Dia adalah Setan Arak...!"

"Aku tahu. Justru aku selama ini juga mencarinya...!" jawab Dewi Tengkorak Hitam tanpa memandang lagi. Tapi tangannya yang hendak ditiup diurungkan.

"Apakah antara kau dan dia ada silang sengketa...?"

Dewi Tengkorak Hitam gelengkan kepalanya. "Aku memang tidak punya masalah dengan dia, namun aku akan mencoba menjajaki ilmunya!"

Pendekar Mata Keranjang geleng-geleng kepala. "Aneh sifat gadis ini. Selalu ingin menantang setiap orang...," tiba-tiba Aji seperti terkejut. Kepalanya tengadah seakan memikirkan sesuatu. "Heran, bagaimana gadis ini telah kenal tokohtokoh tua. Padahal usianya masih begini muda? Jangan-jangan.... Ah, kenapa aku berpikir jelek padanya. Yang penting kali ini aku harus mencegah terjadinya bentrok antara keduanya. Masalah di depan kurasa lebih penting!" berpikir sampai di situ, Pendekar 108 lantas berkata.

"Anting Wulan. Untuk sementara ini kuharap kau menunda niatmu. Bagaimanapun juga saat ini aku memerlukan bantuannya! Kau tak keberatan bukan?!"

Meski dengan berat dan wajah kecewa, akhirnya Dewi Tengkorak Hitam anggukkan kepalanya. Dalam hati diam-diam gadis cantik ini berucap.

"Kalau bukan dia yang mencegah, kesempatan ini tak mungkin kusia-siakan "

Pendekar 108 lantas melangkah ke arah Setan Arak. Setelah dekat dan menjura hormat murid Wong Agung langsung bicara.

"Setan Arak. Kebetulan sekali kau muncul di sini. Aku sekarang memang sedang memerlukan bantuan!"

Seakan tidak melihat adanya orang dan juga tidak mendengar pembicaraan orang, Setan Arak terus tenggelam dalam keasyikan araknya. Bahkan melirik pun tidak!

Meski dalam hatinya merutuk panjang pendek melihat tingkah laki-laki tua itu, namun karena sadar kalau manusia arak itu sering bersikap aneh maka pada akhirnya murid Wong Agung hanya bisa usap-usap hidungnya seraya menunggu.

Namun karena ditunggu agak lama dan Setan Arak tetap seperti semula malah kini rebahan dengan bergumam yang tak bisa dimengerti, Pendekar 108 beranikan diri berkata kembali.

"Setan Arak! Aku tahu, kau mendengar ucapanku. Harap kau sudi menyahut. Aku perlu bantuanmu!"

"Puaaah! Kau menyela kesenangan orang saja. Apakah cumbuan-cumbuan perlu minta bantuan segala? Memangnya kau kehabisan tenaga? Mana mungkin orang renta sepertiku bisa membantu masalah yang begitu-begitu?"

Kembali Pendekar 108 merutuk dalam hati. Namun wajahnya kali ini berubah merah padam. Sementara Dewi Tengkorak Hitam bantingkan kakinya mendengar ucapan Setan Arak. "Keparat! Mulutnya terlalu usil dengan perbuatan orang! Aku sudah gatal untuk menantangnya!"

"Kek!" kata Pendekar Mata Keranjang setelah agak lama terdiam. "Lupakan dulu masalah cumbu-cumbuan. Aku benar-benar ingin bantuanmu!"

Tiba-tiba Setan Arak keluarkan tawa panjang dan keras, hingga Aji tutup kedua telinganya. Setelah puas tertawa, dia berpaling pada Pendekar 108 dan berkata.

"Anak sedeng! Kau minta bantuan bukan soal cumbu-cumbuan, lantas bantuan apa yang kau minta? He...?!"

"Kek! Tentunya kau telah dengar tentang lenyapnya beberapa tokoh rimba persilatan pada akhir-akhir ini. Dan tentunya kau telah pula mendengar bahwa diduga biang lenyapnya tokohtokoh tersebut adalah manusia yang menyebut dirinya Penguasa Hutan Larangan. Aku memang belum. "

"Kau terlalu banyak omong! Bicara langsung saja apa kesulitanmu!" sela Setan Arak. Lalu dia dekatkan bumbung bambu di tangan kanannya dan menenggak isinya.

"Semak belukar itu adalah sarang manusia yang bergelar Penguasa Hutan Larangan!" kata Pendekar 108 seenaknya. Sebenarnya ia memang belum tahu pasti apakah benar gerumbulan semak belukar itu tempat Penguasa Hutan Larangan, namun karena agak jengkel, Pendekar Mata Keranjang bicara seenaknya, mengatakan semak belukar aneh itu tempat Penguasa Hutan Larangan.

"Puaaahhh! Ternyata nafsu juga membuat otak orang jadi keruh! Kau tadi bilang hendak minta bantuan, sekarang bicara soal Penguasa Hutan Larangan. Otakmu benar-benar minta dicuci!"

Walau bertambah jengkel dengan ucapan Setan Arak, namun Aji harus menahannya, karena dia pikir kali ini dia betul-betul mengharapkan bantuan orang tua di hadapannya itu.

"Kek! Terus terang saja aku tak dapat membuka tempat Penguasa Hutan Larangan itu. Aku minta agar kau membantuku membukanya!"

"Dasar anak tolol! Kau bisanya cuma buka baju orang!"

Pendekar Mata Keranjang tersenyumsenyum mendengar ucapan Setan Arak. Sementara Dewi Tengkorak Hitam makin geram, namun gadis ini tak hendak bergerak dari tempatnya karena saat itu Setan Arak dilihatnya menggeliat bangkit. Dan tanpa menghiraukan pada Aji dia melangkah ke arah semak belukar aneh.

Pendekar Mata Keranjang 108 sejenak memperhatikan. Lalu sambil tersenyum-senyum dia melangkah mengikuti di belakangnya. Ketika Setan Arak menghentikan langkah tak jauh dari tempat Dewi Tengkorak Hitam, Pendekar 108 memberi isyarat agar Dewi Tengkorak Hitam tak angkat bicara dengan gelengkan kepala dan melintangkan jari telunjuknya di depan mulut. Murid Wong Agung ini khawatir akan terjadi sesuatu jika Dewi Tengkorak Hitam ikut-ikutan bicara. Dan jika itu terjadi, bukan mustahil jika Setan Arak akan mengurungkan niatnya.

Di depan, sejenak Setan Arak memandang liar pada semak belukar berakar merah di hadapannya. Lalu pandangannya beralih pada Dewi Tengkorak Hitam. Dewi Tengkorak Hitam pasang tampang angker dengan mata mendelik.

Tiba-tiba Setan Arak lambaikan tangan kirinya ke belakang memberi isyarat pada aji agar mendekat. Murid Wong Agung ini menarik napas lega. Karena baru saja dadanya bergetar saat melihat Setan Arak dan Dewi Tengkorak Hitam saling bentrok pandangan.

Setelah Pendekar 108 dekat, Setan Arak sorongkan kepalanya dan berbisik.

"Ternyata kau pintar juga memilih perempuan. Tahu demikian, aku memasang syarat!"

"Kau tertarik padanya? Ah, jika saja kau berada lebih dekat lagi, kau pasti bisa melihat buah dadanya yang kencang menantang, pahanya yang putih mulus...," jawab Pendekar 108 dengan suara pelan. Lalu tersenyum dan berbisik kembali.

"Kalau kau memang tertarik, aku bisa mengatakannya. Siapa tahu dia juga tertarik padamu. Tubuhnya hangat, Kek! Bau badannya harum. "

Setan Arak menyeringai. Mulutnya komatkamit. Sepasang matanya melirik pada Dewi Tengkorak Hitam.

"Anak kurang ajar, dengar! Gadismu itu memang berparas cantik, bertubuh aduhai. Harum tubuhnya mampu membuat dadaku kembang kempis. Tapi maaf saja, jelek-jelek begini aku tak mau bercumbu-cumbu dengan gadis bekas orang! Lagi pula kau akan menyesal jika kau tahu siapa...," Setan Arak tak meneruskan ucapannya, karena saat itu juga Dewi Tengkorak Hitam terlihat bantingkan kakinya dan melotot ke arah Aji dan Setan Arak.

"Lihat, gadismu marah-marah. Lekas kau ke sana!" bisik Setan Arak lalu melangkah setelah menenggak arak dari bumbung bambu di tangan kirinya.

"Kek!" seru Pendekar 108 seraya melompat menjajari. "Kau belum selesai dengan keteranganmu!"

"Puaaahhh! Urus dulu gadismu itu! Suatu saat nanti kau akan tahu sendiri!" kata Setan Arak seraya kibaskan tangan Pendekar 108 yang memegang lengannya.

Dengan muka ditekuk Pendekar Mata Keranjang balikkan tubuh dan melangkah ke arah Dewi Tengkorak Hitam yang masih mendelik angker. Begitu murid Wong Agung dekat, gadis cantik itu segera ajukan pertanyaan.

"Apa yang dikatakan tua bangka itu pada-

mu?"

"Nggg.... Dia mengatakan kau cantik. Dan

rasa-rasanya dia tertarik padamu!"

Tiba-tiba Dewi Tengkorak Hitam tertawa bergerai-gerai mendengar jawaban Pendekar 108. "Di mana enaknya bermesra-mesra dengan manusia yang lebih suka mencium bibir bumbung daripada.... Bibir.... Hik... hik... hik.... Lebih senang mulusnya bumbung arak daripada mulusnya....!" Dewi Tengkorak Hitam putus ucapannya dan kembali tertawa. Setelah puas tertawa, kembali Dewi Tengkorak Hitam berkata.

"Lagi pula bercumbu dengan tua bangka seperti dia bikin pusing kepala. Karena aku belum panas dia sudah.... Hik... hik... hik...!"

Pendekar Mata Keranjang geleng-geleng kepala. Dan sesaat kemudian dia ikut-ikutan keluarkan tawa.

Saat itulah tiba-tiba terdengar gedebakgedebuk berulang kali. Lalu disusul dengan suara orang seperti sedang menghalau. Pendekar Mata Keranjang dan Dewi Tengkorak Hitam hentikan tawanya. Lalu berpaling ke arah sumber suara. Di depan sana, Setan Arak angkat kedua tangannya, lalu menenggak bumbung arak silih berganti dari kedua tangannya. Terdengar gelegukan beberapa kali. Lalu terdengar tawanya meledak keras.

TUJUH

PENDEKAR Mata Keranjang dan Dewi Tengkorak Hitam tidak menunggu lama. Dari kegelapan di balik pohon muncul dua sosok lakilaki dengan langkah terhuyung-huyung. Keduanya sama-sama buka mulutnya lebar-lebar, namun tak terdengar suara. Kedua laki-laki ini mengenakan jubah besar warna biru dan hitam. Ikat kepalanya berwarna seperti jubah masingmasing. Hanya tangan kiri laki-laki berjubah hitam tampak dibalut dan ditopang  dengan kain yang dikalungkan ke lehernya, pertanda bahwa tangan kirinya cidera. Paras kedua laki-laki ini tidak bisa dikenali karena keduanya menutup wajah masing-masing dengan sepotong kulit tipis. Ada kesamaan pada kedua laki-laki ini, yakni jari kelingking masing-masing orang terpotong!

Pendekar 108 kernyitkan kening. Sepasang matanya memperhatikan kedua laki-laki.

"Hmm.... Ciri-cirinya sama dengan laki-laki yang tewas di tangan Dewi Tengkorak Hitam. Hanya warna jubah dan ikat kepalanya yang berbeda. Kuat dugaan kedua laki-laki ini adalah juga utusan Penguasa Hutan Larangan. Tapi kenapa mereka bisa demikian...? Mereka tampaknya tertotok. Hmm.... Pasti yang melakukan totokan itu adalah orang yang ada di belakangnya. Siapa dia...? Apakah juga seorang gadis cantik dan bertubuh..." Aji tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu sepasang matanya menangkap munculnya sesosok tubuh dari balik kegelapan.

Yang muncul ternyata seorang perempuan tua renta. Tubuhnya telah bungkuk. Rambutnya tipis dan kaku serta disanggul ke atas. Dia mengenakan pakaian gombrong warna putih kusam. Sepasang matanya sipit, namun tajam.

Sambil melangkah terseok-seok, sang nenek ini mengacung-acungkan dua terompah besar berwarna hitam legam di tangan kirinya, seolah sedang menghalau. Anehnya, meski sendirian dan seperti orang sedang menghalau, mulutnya tidak memperdengarkan suara, melainkan tersenyum! ""Dewi Bayang-Bayang!" seru Pendekar 108 begitu dapat mengenali siapa adanya sang nenek. Di samping Aji, Dewi Tengkorak Hitam tampak terkejut, malah surutkan langkah dua tindak ke samping. Sepasang matanya memperhatikan tingkah si nenek yang bukan lain memang Dewi Bayang-Bayang.

Mendengar namanya dipanggil orang, Dewi Bayang-Bayang hentikan langkah. Kepalanya berpaling, sepasang matanya membesar sedikit. Memperhatikan pada Pendekar Mata Keranjang lalu beralih pada Dewi Tengkorak Hitam. Namun cuma sesaat. Dia lantas luruskan kepalanya kembali dan memandang ke arah dua laki-laki yang bukan lain adalah Utusan Biru dan Utusan Hitam yang telah hentikan langkah masingmasing tak jauh dari tempat Setan Arak.

Melihat Utusan Biru dan Utusan Hitam telah hentikan langkah, Dewi Bayang-Bayang turunkan kedua tangannya lalu mengenakan terompah yang tadi diacung-acungkan.

"Dewi Bayang-Bayang!" kembali Pendekar 108 berseru. Lalu mendekat ke arahnya. Namun sebelum Pendekar 108 buka suara lagi, Dewi Bayang-Bayang telah berkata.

"Sedang apa kau malam-malam begini kelayapan di tempat ini? He...?!"

"Ini lagi. Manusia tua yang sukar dimengerti...," kata murid Wong Agung dalam hati. Lalu berkata.

"Aku sedang menyelidik tempat Penguasa Hutan Larangan.... Karena aku duga memang dialah yang ada di belakang lenyapnya beberapa tokoh rimba persilatan akhir-akhir ini!"

"Hmmm.... Begitu? Lantas kenapa kau bisa berdua-dua dengan tua bangka itu? Apakah dia telah kau jadikan kekasih barumu?!" seraya berkata sepasang mata Dewi Bayang-Bayang melirik pada Dewi Tengkorak Hitam.

"Tua bangka...? Sialan! Apakah Dewi Bayang-Bayang sudah lamur? Gadis muda dan cantik begitu dibilang tua bangka.... Aneh!" kata Aji dalam hati. Dahinya mengkerut. "Setan Arak mengatakan bahwa aku akan menyesal jika tahu siapa dia sebenarnya, sementara Dewi BayangBayang mengatakan dia tua bangka. Hm Apa

arti semua itu? Ah, kenapa aku pusing-pusing memikirkan ucapan orang-orang aneh "

Agak jauh di hadapan mereka, Dewi Tengkorak Hitam terlihat terus memperhatikan Dewi Bayang-Bayang. "Hmm.... Siapa pemuda itu sebenarnya? Dia kenal beberapa tokoh rimba persilatan yang terkenal berkepandaian tinggi. Apakah dia tokoh muda yang akhir-akhir ini namanya banyak dibicarakan orang dengan gelar Pendekar Mata Keranjang 108? Hmm.... Dewi BayangBayang. Sebenarnya aku sudah lama juga mencari nenek tua itu! Sayang.... Saat bertemu keadaannya tidak menguntungkan. Jika saja pemuda itu tidak kenal padanya, sudah ku tantang nenek itu saat ini juga!" batin Dewi Tengkorak Hitam sambil buang muka dan memandang jurusan lain.

"He! Apa kau telah bisu dan tuli? Ditanya

orang diam saja?!" tiba-tiba Dewi Bayang-Bayang membentak. Namun bibirnya menyunggingkan senyum.

"Dewi...," kata Pendekar 108 seraya lebih mendekat. "Siapa yang kau maksud dengan tua bangka?"

"Dasar anak bodoh! Siapa lagi kalau bukan manusia berdada montok berpaha mulus yang tadi berhaha... hihi... bersamamu itu?!"

Mau tak mau Pendekar Mata Keranjang garuk-garuk kepala mendengar ucapan Dewi Bayang-Bayang. Setelah memikir sejenak, dia lantas berkata.

"Dewi. Aku secara tak sengaja bertemu dengannya di sini! Seperti aku, ternyata dia juga sedang mencari Penguasa Hutan Larangan! Dia adalah Dewi Tengkorak Hitam. "

"Aku tak tanya namanya!" sahut Dewi Bayang-Bayang. Lalu pandangannya beralih pada Setan Arak yang masih terlihat asyik dengan minumannya.

"Dedemit arak itu. Apakah kau yang membawa-bawa dia kemari?"

Pendekar Mata Keranjang gelengkan kepala. "Aku ke sini sendiri! Dia juga datang sendiri!"

Di depan sana, Setan Arak tenggak bumbung araknya. Lalu tertawa bergelak. Anehnya arak yang masih di mulutnya tidak sepercik pun yang muncrat! Lalu dia berkata. Buah kelapa berwarna dua, satu hijau, coklat satunya.

Berjumpa telah berdua. Bercumbu dengan dua bangka mana nikmatnya?

Orang gila mana yang tidak sialan.

Lontong ketupat dikira tahi hewan. Bersama bulan aku berjalan

Tiada sahabat tiada kawan!

"Ha.... Ha.... Ha.... Syukur telah ada yang memberi keterangan, jadi aku tak repot-repot menerangkan!"

"Luar biasa...," desis Pendekar 108. "Dia dapat menangkap pembicaraan orang, padahal aku berkata amat pelan. Jaraknya pun jauh...," Aji membatin. Namun tak urung wajahnya merah padam juga mendengar ucapan Setan Arak. Dia menduga yang disindir dengan tua bangka bukan lain adalah Dewi Tengkorak Hitam, yang memang tengah bercumbu dengannya saat ditemukan Setan Arak.

Dewi Bayang-Bayang tersenyum-senyum.

Lalu berpaling pada Pendekar 108 dan berkata. "He! Kenapa kau enak-enakan mematung?

Pergi sana! Dua laki-laki itu mungkin bisa menunjukkan tempat orang yang kau cari!"

Sambil cengar-cengir, Pendekar 108 ngeloyor dari hadapan Dewi Bayang-Bayang mendekat ke arah Dewi Tengkorak Hitam. Lalu memberi isyarat pada gadis itu untuk mengikutinya. Namun si gadis tak beranjak dari tempatnya, hingga pada akhirnya Aji melangkah sendirian ke arah Utusan Biru dan Utusan Hitam yang tegak dengan sinar mata ketakutan luar biasa.

"Dengar! " kata Pendekar 108 pada kedua laki-laki di sampingnya. "Aku tahu, kalian adalah utusan Penguasa Hutan Larangan. Kalau kalian masih ingin hidup, tunjukkan pada kami tempat orang yang mengutus kalian!"

Utusan Biru dan Utusan Hitam saling pandang satu sama lain. Mulut mereka membuka seakan hendak mengatakan sesuatu. Namun tiada ucapan yang terdengar. Melihat hal ini murid Wong Agung lantas gerakkan tangan kanannya membebaskan totokan pada leher masing-masing orang.

"Nah, bicaralah!" kata Pendekar Mata Keranjang

Untuk beberapa saat kedua orang laki-laki ini masih tak ada yang buka mulut. Keduanya tampak bimbang. Namun tatkala terdengar suara berdebam-debam yang mendekat ke arah mereka, salah satu dari keduanya terlihat anggukan kepala memberi isyarat. Tanpa menoleh kedua orang ini tampaknya sudah tahu siapa adanya yang keluarkan suara berdebam-debam. Begitu suara berdebam-debam yang ternyata keluar dari terompah Dewi Bayang-Bayang terhenti, Utusan Biru luruskan kepalanya ke depan, memandang gerumbulan semak yang akarnya mengambang dan berwarna merah. Lalu berteriak. "Utusan Biru dan Utusan Hitam datang!

Pintu harap dibuka!"

Keduanya menunggu. Pendekar 108 melirik pada Dewi Bayang-Bayang yang kini telah berada di sampingnya. Lalu beralih pada Dewi Tengkorak Hitam yang masih tegak mematung di tempatnya semula. Melirik ke kiri, murid Wong Agung ini geleng-geleng kepala. Karena Setan Arak terlihat tidur pulas!

"Sialan! Kalau hanya ingin tidur, kenapa harus jauh-jauh ke sini!" maki Pendekar 108 dalam hati, lalu pandangannya kembali ke depan.

"Utusan Biru dan Utusan Hitam datang! Harap buka pintu!" kembali Utusan Biru berteriak.

Mendadak terdengar suara tawa mengekeh panjang. Hebatnya, bersamaan dengan itu tempat itu bergetar. Ketika suara tawa lenyap, terdengar suara orang berucap.

"Utusan Bilu, Utusan Hitam. Kalian benalbenal utusan baik. Diutus mengambil kecoa kecilkecil yang kalian bawa empat gajah besal-besal! Kalian layak dibeli ganjalan.... Ha.... Ha.... Ha...! Pendekal Mata Kelanjang 108! Setan Alak! Dewi Bayang-Bayang dan Dewi Tengkolak Hitam! Selamat datang di kawasan hutan lalangan...! Penguasa Hutan Lalangan memang menghalap kehadilan kalian, lebih-lebih Pendekal Mata Kelanjang 108! Ha.... Ha.... Ha...!"

Pendekar Mata Keranjang terkejut. Kepalanya sedikit tengadah memikir. Dahinya mengernyit. "Siapa dia? Rasa-rasanya aku pernah bertemu atau membuat urusan dengan orang yang nada bicaranya cedal! Hmm.... Tapi siapa pun dia adanya, yang pasti dia berilmu tinggi!""

Kalau Pendekar 108 terkejut, demikian pula Dewi Tengkorak Hitam. Namun keterkejutan gadis ini bukan karena suara yang baru saja didengarnya. Melainkan karena orang menyebut Pendekar Mata Keranjang 108!

"'Hmm.... Ternyata dugaanku tidak meleset! Pemuda itu adalah pemuda yang akhir-akhir ini menggegerkan rimba persilatan Pendekar Mata Keranjang 108!"

Pendekar Mata Keranjang berpaling pada Dewi Bayang-Bayang. Nenek ini terlihat tenangtenang saja, senyumnya pun terus menyungging. Melirik lagi ke kiri, Setan Arak masih tampak tidur pulas! Pendekar dari Karang Langit ini geser tubuhnya mendekati Dewi Bayang-Bayang.

"Dewi. Kau kira-kira dapat mengenali siapa adanya orang yang baru saja bicara?"

Dewi Bayang-Bayang gelengkan kepalanya perlahan.

"Selama bertahun-tahun hidup, baru kali ini aku menemui orang cedal berilmu tinggi! Kita tunggu saja siapa dia sebenarnya! Namun mendengar nada bicaranya, dia telah mengenalmu dengan baik. Berarti dia sudah pernah bertemu denganmu! Coba kau ingat-ingat!"

Kembali Pendekar 108 mendongak. Namun setelah agak lama dia berpaling kembali pada Dewi Bayang-Bayang dengan menggeleng.

"Aku gagal mengingatnya! Mungkin Setan Arak mengenalinya ""

"Percuma kau bertanya padanya! Dia lebih ingat jenis arak daripada mengingat suara-suara orang!"

"Atau mungkin Dewi Tengkorak Hitam dapat mengenalinya!"

Dewi Bayang-Bayang keluarkan tawa perlahan. "Apalagi tua bangka itu! Kalau kau tanya tentang suara-suara mendesah merayu, dia lebih paham! Hik.... Hik.... Hik !"

Saat itulah tiba-tiba terdengar kembali suara tawa panjang. Namun mendadak suara tawa itu diputus. Yang terdengar kini suara orang berucap.

""Utusan Bilu, Utusan Hitam! Atas kelja kalian, kalian dikasih imbalan!" Bersamaan dengan sirapnya suara cedal, dari semak belukar menderu angin dahsyat mengeluarkan suara menggemuruh laksana gelombang.

Pendekar 108 cepat tarik tangan Dewi Bayang-Bayang. Kedua orang ini langsung rebahkan masing-masing tubuhnya sejajar tanah. Di belakang, Dewi Tengkorak Hitam keluarkan makian panjang pendek, lalu melompat ke samping untuk menghindar. Di sebelah kiri, karena tidur pulas maka tak ampun lagi tubuh Setan Arak mencelat hingga beberapa tombak ke belakang. Anehnya, manusia arak ini bukannya jatuh menghempas tanah, justru melayang turun dengan perlahan dan begitu di atas tanah langsung meneruskan tidurnya!

Yang paling naas adalah Utusan Biru dan Utusan Hitam. Karena tubuhnya sebagian masih tertotok maka keduanya tak bisa membuat gerakan untuk menghindar, hingga dengan telak tubuh keduanya terhajar gelombang angin. Kedua laki-laki ini terhempas ke belakang dan berkaparan di atas tanah! Sejenak tubuh keduanya terlihat melejang-lejang, tapi kejap kemudian diam tak bergerak! Tewas dengan tubuh hangus hitam!

Belum lenyap rasa keterkejutan semua orang, terdengar kembali suara orang cedal.

"Pendekal Mata Kelanjang! Dan kalian semua, kalian telah melihat bagaimana Utusan Bilu dan Utusan Hitam menemui ajal. Kalian akan mengalami hal yang lebih dali itu! Ha.... Ha....

Ha...! Silakan masuk calon-calon penghuni abadi Hutan Lalangan !"'

Pendekar Mata Keranjang segera bangkit. Wajahnya merah membara. Dengan kepalkan kedua tangan dia berteriak lantang.

"Jahanam kecil! Siapa pun kau adanya, tunjukkan dirimu!"'

Tak ada sahutan. Yang terdengar hanyalah gema suara tawa, membuat Pendekar Mata Keranjang naik pitam. Dengan kerahkan tenaga dalam, kembali dia berteriak.

"Keparat kecil! Kalau bukan bangsa pengecut, kenapa kau tidak segera unjukkan diri?!"

Gema suara tawa sirna. Kini terdengar suara cedal.

"Pendekal Mata Kelanjang! Aku telah mempersilakan kau masuk.. Kenapa kau hanya teliakteliak? Apa kau takut...?!"

"Benar. Benar. Kenapa hanya berteriakteriak?" kali ini yang menyahut adalah Setan Arak.

"Sialan!"" maki Aji. Lalu kerahkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba tangan kirinya berubah menjadi biru mencorong. Serta-merta kedua tangannya dihantamkan ke arah semak belukar.

Wuuuttt!

Seberkas sinar biru melesat. Di depan, semak belukar aneh itu keluarkan suara 'crasss' berulang kali. Dan sekejap kemudian terlihat gerumbulan semak belukar itu terabas rata. Anehnya, yang mampu terabas hanya ujung atasnya saja, sedangkan akar-akarnya yang menggantung seakan tak terusik!

Karena terabas, ujung semak belukar itu berhamburan. Namun semua orang jadi melengak. Saat ujung-ujung semak belukar itu berhamburan ke udara entah dari mana datangnya, tiba-tiba gelombang angin dahsyat berputar-putar lalu menghembuskan ujung-ujung semak belukar itu. Kini ujung-ujung semak belukar itu bagaikan pisau kecil-kecil menghampar deras ke arah Aji dan Dewi Bayang-Bayang!

Dewi Bayang-Bayang tersenyum. Mendadak nenek ini membuat gerakan salto dan ketika kakinya melejang, kedua terompahnya disentakkan.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Dua terompah besar sang nenek mencelat

deras ke depan. Bagaikan baling-baling, kedua terompah itu berputar-putar dan melabrak habis ujung-ujung semak belukar! Namun tiba-tiba saja serangkum angin menyambar ke arah terompah yang masing mengapung di udara.

Pendekar 108 membeliakkan sepasang matanya. Sementara Dewi Bayang-Bayang komatkamit. Betapa tidak, terompah hitam itu kini melesat ke arahnya dan ke arah Dewi BayangBayang!

"Celaka! Dewi... Awas!" teriak Pendekar 108 ketika diliriknya Dewi Bayang-Bayang tegak mematung dengan mulut komat-kamit.

"Husss! Jangan berteriak-teriak melulu! Selamatkan dirimu!" kata Dewi Bayang-Bayang sambil membuat gerakan aneh. Kaki kiri kanannya dilejang-lejangkan seperti orang sedang menari. Sedangkan tangan kiri kanan meliuk-liuk ke bawah ke atas. Tiba-tiba tubuhnya membal ke atas, lalu membuat gerakan jungkir balik di udara. Pada jumpalitan ketiga, tahu-tahu tubuhnya tegak di atas udara dan sudah berada di belakang terompah! Bukan hanya sampai di situ, tubuhnya lantas melesat dengan posisi tetap tegak memburu terompahnya! Dalam satu kejapan kaki kanannya telah mengenakan terompah di atas udara!

Sementara terompah satunya terus menerabas ke arah Pendekar 108. "Sialan! Kalau kuhantam, terompah ini pasti hancur! Dan Dewi Bayang-Bayang pasti marah-marah! Terpaksa aku harus menghindar!"

Berpikir sampai di situ, Pendekar 108 lantas jejakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya melesat cepat ke samping ke arah Dewi Tengkorak Hitam yang terlihat was-was.

Weeerrr!

Terompah hitam gagal menghajar tubuh Pendekar Mata Keranjang. Namun kini melesat terus ke belakang, mengarah pada Setan Arak yang masih tidur-tiduran dan silih berganti sorongkan tangannya yang memegang bumbung arak ke mulutnya.

Braaakkk!

"Sialan! Kau pecahkan bumbung arakku!" teriak Setan Arak. Sepasang matanya mengerjapngerjap.

Lalu tangan kanannya mengambil bumbung araknya yang telah pecah berantakan. Sisasisa arak pada bumbung bambu yang pecah dijilatinya.

"Dasar manusia arak! Setetes pun tak rela jika araknya tumpah!" gumam Aji seraya gelenggeleng kepala. Lalu melirik pada Dewi Tengkorak Hitam. Yang dilirik balas melirik sambil busungkan dada.

Di sebelah depan, begitu mendarat ke tanah Dewi Bayang-Bayang langsung memaki panjang pendek. "Kau juga sialan! Alas kakiku kau pecahkan jadi dua!" lalu melangkah tertatih-tatih ke arah Setan Arak. Diambilnya terompah hitam miliknya yang sudah pecah jadi dua karena menghantam bumbung Setan Arak.

"Bumbungku pecah berantakan. Alas kaki bututmu pecah jadi dua. Ini gara-gara manusia kecil tak tahu adat itu! Anak kecil kurang ajar itu harus diberi tahu adat istiadat!"

"Betul! Adat istiadat!" kata Dewi BayangBayang ikut-ikutan.

Kedua orang ini lantas dorong tangan masing-masing ke arah semak belukar yang tinggal akar-akarnya.

Wuuuttt! Wuuuttt!

DELAPAN

DUA gelombang angin melesat dari tangan kanan Setan Arak dan tangan kiri Dewi BayangBayang. Cuaca yang remang-remang mendadak berubah menjadi terang benderang. Tiada suara gemuruh yang terdengar. Namun apa yang terjadi kemudian sungguh luar biasa.

Semak belukar aneh di depan sana laksana terdorong kekuatan dahsyat dan perlahan-lahan bergerak ke belakang. Dan ketika Setan Arak untuk kedua kalinya dorong tangan kanannya, semak belukar itu mencelat deras ke belakang!

Bersamaan dengan mencelatnya gerumbulan semak belukar, tampaklah jalan setapak sepanjang lima tombak.

Pendekar Mata Keranjang segera menggaet tangan Dewi Tengkorak Hitam, lalu berkelebat. Meski tampak enggan, namun karena tangannya telah tergaet, mau tak mau gadis cantik ini ikut berkelebat.

Sejenak Pendekar 108 hentikan tubuhnya di depan jalan setapak. Sepasang matanya memperhatikan. Lalu berpaling pada Dewi Tengkorak Hitam.

"Kurasa inilah jalan menuju tempat Penguasa Hutan Larangan! Ayo kita jalan duluan. Yang tua-tua biar belakangan!"

Dewi Tengkorak Hitam tetap diam tak menyahut, membuat Pendekar 108 kernyitkan dahi. "Anting Wulan! Tunggu apa lagi?"

Dewi Tengkorak Hitam masih diam. Hanya sepasang matanya yang bulat memandang tajam ke arah Pendekar 108. Aji jadi salah tingkah dipandang begitu rupa.

"Anting Wulan...," Pendekar Mata Keranjang 108 tak meneruskan ucapannya, karena Dewi Tengkorak Hitam telah buka mulut dan berucap.

"Kau penipu! Kenapa tidak kau jelaskan dari tadi jika kau adalah manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108?"

"Ah, soal itu. Sudah kukatakan, aku tidak bergelar. Hanya orang-orang yang menjulukiku demikian. Tapi sudahlah. Itu bisa kita bicarakan nanti. Ayo!" Pendekar 108 tarik tangan Dewi Tengkorak Hitam. Gadis ini masih sempat memberengut. Namun akhirnya menurut juga.

Perlahan-lahan keduanya melangkah di jalanan setapak. Pada ujung jalan di mana terlihat sebuah lubang, Pendekar 108 yang berada di depan hentikan langkah. Kepalanya bergerak melongok. Yang terlihat hanyalah cahaya kemerahan dan bau anyir darah!

"Apa yang kau lihat?!"" tanya Dewi Tengkorak Hitam ketika melihat paras wajah Pendekar Mata Keranjang berubah tegang sambil nyengir.

"Warna merah dan bau anyir darah!" jawab murid Wong Agung ini sambil layangkan pandangannya jauh ke belakang. Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang terlihat berjalan pelan ke arah jalanan setapak.

"Anting Wulan. Mereka rupanya telah mengenalmu. Apakah kau pernah bertemu dengan mereka?"

Dewi Tengkorak Hitam terdiam sesaat. Dalam hati gadis ini membatin.

"Hmm.... Dia rupanya ingin mengetahui siapa diriku dengan memancing bicara. Aku tak boleh mengatakannya terus terang!""

"Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang selama ini baru kudengar namanya saja. Bertemu orangnya baru di tempat ini! Kalau mereka telah mengenalku, aku tak tahu. Kenapa hal itu kau tanyakan?" Dewi Tengkorak Hitam balik bertanya. Pendekar Mata Keranjang gerakkan kepalanya menggeleng.

"Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu saja. "

"Hmm.... Aku tahu, dia menyembunyikan sesuatu. Apa Setan Arak dan Dewi BayangBayang telah mengatakan siapa diriku sebenarnya waktu dia bercakap-cakap tadi...? Tapi     Me-

lihat sikapnya yang tak berubah padaku, rasanya kedua tua bangka itu tidak mengatakannya.   Ah,

kenapa aku mengkhawatirkan hal itu? Apakah aku benar-benar tertarik pada pemuda ini?" Dewi Tengkorak Hitam berkata sendiri dalam hati.

Kalau Dewi Tengkorak Hitam dibuncah dengan kekhawatiran, Pendekar 108 sendiri dilanda kegelisahan.

"Heran. Gadis ini usianya kira-kira masih sejajar denganku. Tapi banyak tokoh-tokoh tua telah mengenalnya. Apa memang karena ketinggian ilmunya atau karena. "

"He.... Kau ke sini mau menyelidik apa hendak melamun?!" suara Dewi Tengkorak Hitam memutuskan kata hati Aji.

Sambil usap-usap hidungnya Pendekar 108 segera palingkan wajahnya kembali pada lubang di depannya.

Weeesss!

Mendadak gelombang angin dahsyat melesat dari dalam lubang disertai asap putih. Bersamaan dengan itu tempat di mana Pendekar 108 dan Dewi Tengkorak Hitam berada bergetar hebat. Pendekar Mata Keranjang yang sadar akan bahaya yang sedang mengancam keselamatan dirinya juga Dewi Tengkorak Hitam segera siapkan pukulan sakti 'Mutiara Biru'. Tanpa berpaling pada gadis di sampingnya dia berbisik.

"Anting Wulan. Kau jangan jauh-jauh dari-

ku!"

Dewi Tengkorak Hitam mengangguk perla-

han, lalu geser tubuhnya lebih merapat pada Pendekar Mata Keranjang.

Saat itulah mendadak gelombang angin dan asap itu membalik. Baik Dewi Tengkorak Hitam atau Pendekar 108 terkesiap. Meski Aji hendak berusaha lepaskan pukulan, namun keadaannya sudah terlambat. Hingga sebelum kedua tangannya bergerak, gelombang angin dan asap putih telah menghantam keduanya!

Baik Pendekar 108 maupun Dewi Tengkorak Hitam merasakan tubuh masing-masing menerabas semak belukar lebat. Dalam keadaan seperti itu, Pendekar 108 masih dapat melihat jika semak belukar itu membentuk anak tangga menurun. Dan ketika hitungan murid Wong Agung ini sampai dua puluh tiga tubuhnya terasa terhempas di atas lantai ruangan. Lalu disusul dengan suara gedebukan terhempasnya tubuh Dewi Tengkorak Hitam di sampingnya.

Untuk beberapa saat lamanya kedua orang ini diam tak bergerak. Pendekar 108 merasakan sekujur tubuhnya bagaikan remuk. Dan ketika tangannya meraba dahi, terasa dua benjolan di situ.

"Sialan!" maki Aji, lalu membuka kelopak matanya dan melirik pada Dewi Tengkorak Hitam yang juga sedang bergerak menggeliat.

Ketika mereka telah dapat menguasai diri masing-masing dan memandang berkeliling, mereka berdua sama-sama tersentak kaget. Ternyata mereka berdua berada pada sebuah ruangan agak besar berwarna merah. Namun yang membuat mereka membelalak dan tekap hidung masingmasing, ternyata warna merah yang ada pada seluruh dinding, langit-langit serta lantai adalah darah yang telah mengering!

"Tempat celaka apa pula ini?"" kata Pendekar 108 sambil merambat bangkit. Tangan kanannya lalu diulurkan pada Dewi Tengkorak Hitam untuk menolongnya berdiri.

Baru saja Dewi Tengkorak Hitam berdiri, tiba-tiba terdengar suara tawa mengekeh panjang dan bertalu-talu. Arahnya datang dari pintu besar yang ada pada salah satu sisi dinding.

""Pendekar Mata Keranjang 108! Akhirnya kau harus mati juga di tanganku! Ha.... Ha....

Ha ! Tapi aku ingin melihat kalian mati bersama-

sama dengan tokoh-tokoh yang kini ada dalam kekuasaanku! Ha.... Ha.... Ha !"'

"Hmm. Suara orang ini lain dengan suara

yang tadi. Sialan! Siapa manusia di balik semua ini?"

"Suara itu sepertinya telah kenal betul denganmu. Apa kau tak bisa mengira-ngira siapa adanya si empunya suara?! Dia menginginkan kematianmu, berarti kau pernah punya masalah dengannya, setidak-tidaknya kau pernah bertemu dengannya!" kata Dewi Tengkorak Hitam seraya usap-usap lengannya yang masih terasa nyeri akibat terhempas dari lubang tadi.

"Aku memang telah mencoba mendugaduga siapa adanya orang ini, namun sejauh ini belum berhasil! Namun yang pasti, di balik semua ini ada dua orang!"

Tiba-tiba Pendekar Mata Keranjang teringat pada Dewi Bayang-Bayang dan Setan Arak.

"Bagaimana dengan Dewi Bayang-Bayang dan Setan Arak? Apa mereka juga akan menyusul ke sini?!"

Selagi Aji memikir begitu, tiba-tiba terdengar kembali suara tawa mengekeh panjang. Begitu suara tawa lenyap, terdengar orang berucap.

""Pendekal Mata Kelanjang! Kau tak usah gelisah, kedua temanmu itu pasti akan sampai juga ke sini. Dan kalian akan mati belsamasama!"

Begitu habis suara orang cedal, mendadak terdengar suara gemerisik. Pendekar 108 dan Dewi Tengkorak Hitam sama-sama mendongak ke samping. Semak belukar yang membentuk anak tangga sebelah belakang tampak bergoyanggoyang. Dan sekejap kemudian menyeruak dua sosok bayangan.

Bayangan yang pertama yang ternyata tubuh Setan Arak terlihat menukik deras lalu berputar-putar jungkir balik sebelum akhirnya 'bukkk' terhempas dengan telentang di lantai ruangan. Dan sebelum orang tua ini sempat bergerak bangkit, terlihat bayangan yang kedua yang ternyata tubuh Dewi Bayang-Bayang yang muncul dengan menukik dan langsung terjerembab telungkup. Bukan di atas lantai ruangan, melainkan di atas tubuh Setan Arak!

"Keparat! Kau berani raba-raba tubuhku!" teriak Dewi Bayang-Bayang seraya mendelik. Namun dia tak segera bangkit dari atas tubuh Setan Arak. Malah sepasang kakinya diuncanguncangkan ke atas dengan bibir tersenyumsenyum!"

""Nenek sialan! Apa kau kira tubuhmu masih pantas untuk diraba-raba? Tubuh tinggal rongsokan tulang di mana letak nikmatnya?!"" sentak Setan Arak balik memaki. Namun tak juga geliatkan tubuhnya agar Dewi Bayang-Bayang terguling dari atas tubuhnya. Sebaliknya kedua tangannya bergerak menakup ke atas punggung Dewi Bayang-Bayang! Hingga saat itu juga kedua orang ini saling bergumul di atas lantai ruangan.

Sesaat kemudian terdengar kembali Dewi Bayang-Bayang berteriak memaki.

"Laki-laki brengsek! Kau mencium bibirku!" sambil memaki tangan kanannya diangkat ke atas hendak menampar Setan Arak.

Di bawahnya, Setan Arak mendengus. Namun tak lama kemudian tertawa mengekeh. Tangan kirinya ikut-ikutan diangkat ke atas dan mencekal bahu Dewi Bayang-Bayang, hingga tamparan tangan sang nenek tertahan. "Dasar perempuan! Sengaja minta cium saja marah-marah dahulu!"

"Jahanam! Kupecahkan mulutmu!" kini tangan sang nenek sebelah kiri yang terangkat. Paras Setan Arak meringis dengan mulut menganga, karena sewaktu akan menahan gerakan tangan kiri si nenek, ternyata tangannya terjepit di antara tubuhnya dan tubuh Dewi BayangBayang. Namun kakek ini tak kehilangan akal. Kepalanya digerakkan ke atas seakan hendak mencium si nenek. Dewi Bayang-Bayang memaki lagi panjang pendek. Dan mungkin takut jika Setan Arak benar-benar hendak menciumnya, dia gulingkan tubuhnya ke samping. Saat itulah Setan Arak geser tubuhnya ke atas, hingga ketika tangan kiri Dewi Bayang-Bayang benar-benar menampar, yang terhajar adalah pantat sang kakek!

"Astaga! Untung tidak ke tengah sedikit! Dasar perempuan, mau menghajar saja pilih barang antik!" ujar Setan Arak seraya bangkit lalu tertawa ngakak!

Dewi Bayang-Bayang menyumpah habishabisan. Lalu bergerak bangkit dan merapikan pakaiannya. Bibirnya terlihat tersenyum!

"Dasar orang gila! Nyawa sudah di ujung tanduk masih juga bertawa ria!" maki Dewi Tengkorak Hitam seraya memberengut.

"Itulah nikmatnya orang-orang aneh. Tak peduli keadaan dan situasi! Malah kalau bisa ingin bersenda gurau saat meregang nyawa!" sahut Pendekar 108 sambil senyum-senyum.

"He...! Apa yang lucu?! Apa kau kira ini dagelan, heh...?!" tiba-tiba Dewi Bayang-Bayang membentak.

Pendekar Mata Keranjang tarik-tarik kuncir rambutnya. Sejenak dia melirik pada Setan Arak. Kakek ini ternyata telah tenggelam kembali dengan bumbung araknya.

"Repot menghadapi orang-orang aneh. Dia berbuat lucu tapi tak boleh orang tertawa!" Pendekar 108 lantas melangkah ke arah Dewi Bayang-Bayang. Dia hendak mengatakan sesuatu agar si nenek tidak marah. Namun baru tiga langkahan kaki, Setan Arak telah keluarkan ucapan.

"Anak muda! Jangan heran. Itulah tandatandanya seorang nenek sedang kasmaran! Melucu dianggap mendagel, mendagel dianggapnya melucu! Ha.... Ha.... Ha...!"

"Dasar laki-laki gila! Apa dikira ucapannya itu lucu hingga tertawa begitu rupa, heh...?! Hik.... Hik.... Hik...!" Dewi Bayang-Bayang ikutikutan tertawa cekikikan. Mungkin karena saking kerasnya, tanpa disadari dari bagian belakang tubuhnya terdengar suara mendesis panjang.

Pendekar 108 yang berada tak jauh dari Dewi Bayang-Bayang segera takupkan tangannya pada hidung, karena bersamaan dengan terdengarnya suara mendesis, menghampar bau busuk menyengat! Dan serta-merta dia segera melompat ke samping, ke dekat Setan Arak. "He.... Ada apa?!" seru Setan Arak melihat perubahan pada Aji.

"Dia...," Pendekar 108 tak meneruskan ucapannya, karena keburu bahunya terguncangguncang menahan tawa.

"Dia.... Dia kenapa?!" kejar Setan Arak sambil melangkah mendekat.

"Dia kentut...," jawab Pendekar 108 lalu turunkan tangan dari hidung untuk mendekap mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar. Di sampingnya Setan Arak telah tertawa ngakak.

Dewi Bayang-Bayang bantingkan sepasang kakinya. Dari mulutnya terdengar makian panjang pendek. Namun sesaat kemudian dia ikutikutan tertawa.

"Orang-orang edan!" gumam Dewi Tengkorak Hitam melihat tingkah ketiga orang di hadapannya.

Selagi tawa riuh rendah melingkupi ruangan itu, tiba-tiba pintu yang ada pada salah satu sisi dinding terbuka. Seberkas sinar putih membersir keluar.

Ketiga orang sama-sama putus tawa masing-masing. Mata mereka memandang tajam ke arah pintu.

SEMBILAN

MENDADAK terdengar suara tawa keras membahana. Ruangan di mana mereka berada terasa bergetar hebat. Tatkala gelegar suara sirap, tahu-tahu di ambang pintu terlihat sebuah kursi besar berwarna merah. Di atasnya duduk sesosok tubuh besar yang wajahnya ditutup dengan karung goni dan hanya menyisakan pada bagian mata. Pakaian bawahannya berupa jubah besar berwarna merah. Di sampingnya berdiri sesosok tubuh yang wajahnya juga ditutup dengan karung goni. Dia juga mengenakan jubah warna merah. Di atas kepalanya tampak sebuah caping lebar.

Dewi Tengkorak Hitam terlihat terkesiap dan surutkan langkah mundur. Sementara Pendekar Mata Keranjang membeliakkan sepasang matanya seakan ingin mengenali siapa adanya dua sosok yang berada di ambang pintu. Hanya Dewi Bayang-Bayang dan Setan Arak yang terlihat tenang-tenang saja. Malah Setan Arak tampak mendongak lalu dekatkan bumbung bambu araknya. Sebentar kemudian dia tenggelam dalam gelegukan araknya. Sementara Dewi Bayang-Bayang tersenyum-senyum sambil elus-elus rambutnya yang tipis dan kaku!

"Hmm.... Pasti ini manusia yang menamakan dirinya Penguasa Hutan Larangan. Dugaanku tidak meleset. Mereka ada dua orang! Siapa jahanam itu?" kata Pendekar 108 dalam hati.

"Manusia pengecut! Buka topeng kalian! Tunjukkan siapa sebenarnya kalian!" teriak Dewi Tengkorak Hitam.

Sosok berjubah merah bercaping tertawa mengekeh. Sejenak dia berpaling pada sosok yang di atas kursi. Lalu luruskan kepalanya kembali dan memandang satu persatu pada keempat orang yang ada di ruangan.

"Anting Wulan! Kau tak usah meradang. Saat kau dan teman-temanmu itu meregang nyawa, kau akan tahu siapa kami! Kami ingin kalian mati dalam penasaran! Ha.... ha.... ha...!" Anting Wulan sejenak terkesiap. Diam-diam membatin.

"Hm.... Dia mengetahui namaku. Siapa bangsat ini sebenarnya?!" sambil membatin sepasang mata Anting Wulan memandang tak berkesip ke depan.

Pendekar 108 mendekat ke arah Setan Arak, lalu berbisik.

"Kek! Apa kau tak bisa mengenali siapa kira-kira mereka itu...?!"

"Puaaahhh! Apa untungnya mengenali tikus dalam karung! Tapi kalau boleh menebak, tampang-tampang mereka pasti lebih jelek dari tampangku. Karena di hadapanku saja susahsusahnya mereka mencari karung untuk bersembunyi! Gluk.... Gluk.... Gluk...!"

Mendapati jawaban Setan Arak, Pendekar 108 mau tak mau tersenyum. Namun karena penasaran, dia lantas mendekat pada Dewi BayangBayang.

"Dewi.... Menurutmu siapa sebenarnya mereka?!"

"Anak bodoh! Kenapa kau repot-repot menduga? Apa kau tak tahu, manusia yang akan bersatu dengan tanah biasanya berlagak aneh-aneh!" "Itulah.... Jadi seorang pendekar memang banyak aral lintangnya!" yang keluarkan suara kali ini Setan Arak. "Di mana-mana punya musuh! Bahkan sampai tikus dalam karung goni pun memusuhi! Ha... Ha... Ha...!"

"Nah, kau dengal ucapan tua bangka itu? Pendekal itu banyak musuhnya! Hingga bayi-bayi yang belum benal ucapannya pun menginginkan nyawanya!" sahut Dewi Bayang-Bayang dengan suara dicedalkan.

Pendekar Mata Keranjang hanya bisa usapusap hidungnya. Lalu melirik pada Dewi Tengkorak Hitam. Dan sebelum dia melangkah mendekat, dari pintu terdengar ucapan.

"Kalian bicaralah sepuas-puasnya. Karena saat ini adalah terakhir kalian bisa buka mulut!"

Di belakang, Setan Arak terdengar gelegukan beberapa kali, lalu tertawa mengekeh dan berkata.

"Rayi Seroja!" katanya memanggil nama asli Dewi Bayang-Bayang. "Nasib kita nyatanya sungguh tidak baik. Malam ini ternyata menjadi malam terakhir. Bagaimana kalau malam terakhir ini kita isi dengan berjoget ria sambil mabuk? Untuk malam terakhir dalam hidupmu, kau tak keberatan bukan jika merasakan arakku?" Tangan kanannya lalu menyorongkan bumbung bambu pada si nenek.

Dewi Bayang-Bayang keluarkan lengkingan tinggi, lalu tertawa cekikikan. Disambutnya bumbung bambu dari tangan Setan Arak. Dan perlahan-lahan pula diteguknya arak yang ada dalam bumbung bambu. Setelah itu sambil bergumam tak karuan, kedua orang ini menggerak-gerakkan kaki dan tangannya seakan gerakan orang sedang menari-nari. Hebatnya, bersamaan dengan gerakan tangan dan kaki kedua orang ini, ruangan itu bergetar! Jelas menandakan jika gerakan tangan serta kaki kedua orang ini bukan gerakan biasa!

Pendekar 108 hanya bisa geleng-geleng kepala, sementara Dewi Tengkorak Hitam memaki panjang pendek dalam hati:

Tiba-tiba sosok berjubah merah di atas kursi angkat tangan kanannya. Dari arah belakangnya mendadak muncul dua orang laki-laki. Mereka mengenakan jubah besar warna putih dan hijau. Di kepalanya terlihat ikat kepala berwarna sama dengan jubah yang dikenakannya. Wajah keduanya ditutup dengan sepotong kulit tipis, hingga paras mukanya tak bisa dikenali.

Sosok besar di atas kursi anggukkan kepala. Bersamaan dengan itu, dua laki-laki berjubah putih dan hijau yang bukan lain adalah Utusan Putih dan Utusan Hijau melesat ke bawah. Mereka sebenarnya hendak melesat ke arah Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang, namun saat itu juga Pendekar Mata Keranjang dan Dewi Tengkorak Hitam berkelebat menyongsong. Hingga Utusan Putih dan Utusan Hijau hentikan lesatan tubuh masing-masing dan kini berhadapan dengan Aji dan Dewi Tengkorak Hitam.

Tanpa keluarkan kata-kata lagi, Utusan Hijau segera meloncat ke arah Pendekar Mata Keranjang dan serta-merta kedua tangannya dihantamkan ke arah kepala!

Wuuuttt!

Luar biasa. Tangan belum sampai menghajar sasaran serangkum angin dahsyat telah melesat mendahului. Tahu hal demikian, murid Wong Agung ini maklum jika laki-laki di hadapannya tidak bisa dianggap sepele. Pendekar 108 segera rundukkan sedikit kepalanya dan ditarik ke belakang. Kedua tangannya diangkat dan dihantamkan ke samping memapak pukulan lawan.

Prakkk! Prakkk!

Utusan Hijau berseru tegang. Kedua tangannya terasa hendak penggal. Dia segera melompat mundur. Kedua kakinya terlihat bergetar. Jelas bahwa dia sedang menahan sakit pada kedua tangannya yang baru saja bentrok dengan tangan Pendekar 108. Tiba-tiba laki-laki berjubah hijau ini takupkan kedua tangannya sejajar dada. Mulutnya komat-kamit.

Pendekar Mata Keranjang 108 sadar jika lawan akan lakukan serangan dengan jurus andalan. Diam-diam dia pun kerahkan tenaga dalam dan disalurkan pada kedua tangannya.

Didahului bentakan garang, Utusan Hijau serta-merta hantamkan kedua tangannya.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Terdengar suara menggemuruh dahsyat disertai menyambarnya gelombang angin, lalu larikan-larikan sinar hijau menyusuli di belakangnya.

Pendekar Mata Keranjang terkesiap seje-

nak. Namun sesaat kemudian tangan kirinya ditarik ke belakang perlahan-lahan, sementara tangan kanan sejajar dada. Terjadilah hal yang mengagumkan!

Sambaran gelombang angin serta larikanlarikan sinar hijau tiba-tiba seakan tertahan hingga bergerak lambat! Anehnya gelombang serta larikan hijau itu bergerak ke arah telapak tangan kiri Pendekar 108!

Di depan, Utusan Hijau tampak melengak kaget. Dan sebelum lenyap rasa kagetnya, tubuhnya tiba-tiba bergetar, dan perlahan-lahan bergerak ke depan. Bagaimanapun dia kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi tubuhnya yang ternyata tersedot telapak tangan kiri Aji namun sia-sia. Hingga tanpa ampun lagi tubuhnya terus bergerak ke depan.

Utusan Hijau keluarkan bentakan keras. Dalam keadaan bahaya demikian ia tampaknya bergerak tanpa perhitungan. Sambil terus coba menahan tubuhnya dia julurkan tangan kiri kanan untuk menangkap kepala Pendekar 108. Namun murid Wong Agung ini telah waspada. Sebelum kepalanya dapat ditangkap, tangan kanannya dipukulkan ke depan. Sementara tubuhnya diputar setengah lingkaran dengan kaki kanan menyapu deras.

Bukkk!

Utusan Hijau keluarkan pekikan tinggi. Tubuhnya berputar dan kepalanya deras menghantam lantai ruangan. Namun pekikannya terputus tiba-tiba bersamaan ajal menjemput nyawanya!

Pendekar 108 usap keringat yang membasahi dahinya. Lalu menarik napas dalam-dalam. Murid Wong Agung memang baru saja lancarkan jurus 'Bayu Kencana'. Ilmu penyedot kekuatan lawan yang didapatnya dari tokoh perempuan tua yang tak mau sebutkan nama. (Tentang jurus sakti 'Bayu Kencana' silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: 'Geger Para Iblis').

Pendekar Mata Keranjang lalu berpaling ke samping. Di situ terlihat Dewi Tengkorak Hitam sedang angkat tangannya yang telah memegang butiran kecil tengkorak hitam. Mulutnya lalu meniup. Tengkorak kecil di tangannya mendadak menggelembung dan sekejap kemudian telah berubah menjadi tengkorak hitam sebesar kepala manusia.

Di depannya, Utusan Putih yang telah keluarkan darah dari mulut dan hidungnya tampak tegang. Dia melirik pada sosok yang ada di atas kursi. Namun yang dilirik seolah tak mengerti membuat nyali laki-laki berjubah putih ini makin lumer, apalagi melihat Utusan Hijau telah menemui ajal.

Dalam keadaan begitu, Dewi Tengkorak Hitam serta-merta lemparkan tengkorak yang ada di tangan kanannya. Tengkorak hitam itu melesat cepat dengan keluarkan suara deruan keras. Serangkum angin pun melesat mendahului tengkorak!

Utusan Putih laksana sirap darahnya. Laki-laki ini segera angkat kedua tangannya, namun karena nyalinya telah hilang, gerakannya menjadi lamban, sehingga sebelum kedua tangannya sempat menghantam, angin deras datang mendahului lesatan tengkorak menghajar kaki kirinya.

Desss!

Utusan Putih meraung keras. Tubuhnya terhuyung-huyung. Saat itulah tengkorak hitam menghantam dadanya! Laki-laki ini langsung terjungkal dan terkapar di lantai ruangan. Jubah di bagian dada terlihat menganga lebar dan tengkorak hitam menancap di dadanya! Laki-laki ini menggapai-gapai sebentar, lalu diam dengan nyawa melayang!

"Eh.... Ternyata bukan hanya kita saja yang akan menghadapi Malaikat Maut. Dua teman kita rupanya telah mendahului. Sayang....

Mereka tidak ikut menikmati arakku dahulu!" kata Setan Arak sambil terus bergoyang-goyang ke kiri kanan.

"Kasihan.... Mereka tewas dalam ketegangan. Hik.... Hik.... Hik...!" sahut Dewi BayangBayang dengan celingukan melihat pada tubuh Utusan Hijau dan Utusan Putih.

Sosok berjubah merah bercaping di sebelah kursi keluarkan gerengan keras. Sepasang matanya dari lubang karung goni terlihat mendelik besar, memandang liar ke arah Pendekar Mata Keranjang dari Dewi Tengkorak Hitam.

"Kek!" tiba-tiba sosok di atas kursi berkata. "'Apa waktu meleka telah habis?"

Sosok bercaping lebar yang dipanggil kakek hanya anggukkan kepala tanpa memandang pada yang bertanya.

""Manusia pengecut! Turunlah. Aku Dewi Tengkorak Hitam menantang kalian! Jangan tanggung-tanggung. Majulah sekalian berdua!"" teriak Dewi Tengkorak Hitam seraya melompat ke hadapan sosok yang duduk di atas kursi.

Sosok berjubah merah bercaping keluarkan tawa mengekeh. Tangan kanannya menepuk baju orang yang di atas kursi. Tiba-tiba sosok yang di atas kursi angkat kedua tangannya dan didorong pelan saja ke depan.

Weeesss! Weeesss!

Dua gelombang angin dahsyat laksana gempuran ombak menghampar ke arah Dewi Tengkorak Hitam bersamaan dengan itu ruangan bergetar hebat!

Dewi Tengkorak Hitam yang tidak menduga sama sekali berseru lengking. Ia cepat membuat gerakan menghindar dengan jatuhkan diri bergulingan di atas lantai.

Bummm! Bummm!

Dua gelombang itu menghajar lantai hingga langsung terbongkar di dua tempat! Meski Dewi Tengkorak Hitam sempat menghindar dengan bergulingan namun tak urung tubuhnya masih tersambar, hingga saat itu juga tubuhnya mencelat ke belakang sampai beberapa tombak.

Dengan menindih rasa tak percaya, Dewi Tengkorak Hitam segera bangkit. Namun gadis ini hentikan sejenak gerakannya, karena dadanya terasa nyeri serta kakinya terasa panas. Ketika melirik, dia terkejut. Kakinya ternyata telah berubah kebiruan! Dan dadanya sukar untuk dibuat bernapas! Setelah menyalurkan tenaga dalam pada dada dan kakinya, gadis ini cepat melompat mundur. Tangan kanannya menyelinap masuk ke balik pakaiannya dan ketika keluar lagi, di tangannya telah tergenggam dua butiran tengkorak kecil berwarna hitam.

Tanpa banyak bicara lagi, kedua tengkorak hitam segera ditiupnya. Sesaat kemudian, di tangannya telah tampak dua tengkorak sebesar kepala manusia.

Weeesss! Weeesss!

Dewi Tengkorak Hitam lemparkan dua tengkorak hitam di tangannya. Angin dahsyat melesat mendahului tengkorak.

Di depan sana, sosok berjubah merah yang duduk di atas kursi tertawa pelan bernada mengejek. Tiba-tiba tawanya diputus. Kedua tangannya bergerak mendorong. Kali ini dengan sentakan keras.

Beeesss!

Pyaaar! Pyaaarrr!

Sambaran angin yang mendahului tengkorak ambyar sebelum menemui sasaran, lalu dua tengkorak hitam pecah berantakan. Di bawah, Dewi Tengkorak Hitam terlihat terguncang. Matanya mendelik besar. Bukan hanya karena melihat serangannya begitu mudah dihancurkan lawan, melainkan karena sambaran angin yang keluar dari sentakan tangan sosok di atas kursi yang baru saja menghancurkan serangannya kini melesat lurus ke arahnya!

"Celaka!" gumam Aji. Meski dia coba hendak lancarkan pukulan tangkisan, tapi sudah sangat terlambat, karena sambaran angin itu sudah setengah depa di depan Dewi Tengkorak Hitam! Kalau dia paksakan lancarkan pukulan tangkisan maka apa yang akan menimpa Dewi Tengkorak Hitam akan lebih parah lagi, karena bukan mustahil jika pantulan dua serangan akan menghajar tubuh Dewi Tengkorak Hitam. Memikir sampai di situ, yang dapat dilakukan Aji hanyalah berseru. "Jatuhkan diri!"

Seolah baru sadar, Dewi Tengkorak Hitam segera rebahkan dirinya ke belakang. Sambaran angin lewat sejengkal di atas tubuhnya. Namun belum sampai menarik napas lega, tiba-tiba sambaran angin itu berhenti di udara, dan kini menyambar membalik!

Dewi Tengkorak Hitam berseru tertahan. Tubuhnya tertahan dan mencelat ke depan, lalu membentur dinding ruangan sebelum akhirnya bergulingan di atas lantai ruangan. Dinding ruangan itu terlihat rengkah!

Dewi Tengkorak Hitam mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya dengan katupkan bibir kuat-kuat. Tapi tak urung juga suara erangan menyayat terdengar dari mulutnya. Malah bersamaan dengan itu dari sudut bibirnya meleleh darah berwarna hitam! Pakaian putihnya berubah kecoklatan dan tampak koyak di sana-sini.

Sambil tertawa perlahan, sosok di atas kursi menarik tangannya turun ke bawah. Sosok yang berdiri menepuk-nepuk bahunya beberapa kali seraya bergumam tak jelas.

"Anting Wulan!" seru Pendekar 108 lalu melompat. Anting Wulan alias Dewi Tengkorak Hitam buka kelopak matanya. Kepalanya menggeleng pelan.

"Aji    Aku tak apa-apa! Kau harus berhati-

hati menghadapi mereka! Baru kali ini aku menemukan manusia berilmu demikian tinggi!" habis berkata begitu Dewi Tengkorak Hitam bergerak bangkit. Sejenak tegak namun sesaat kemudian kakinya goyah. Untung Pendekar 108 segera menyambuti tubuhnya yang hendak jatuh kembali.

Dengan melangkah perlahan, digandengnya lengan Dewi Tengkorak Hitam dan diajaknya agak menjauh ke belakang. Dengan bersandar pada dinding ruangan, Dewi Tengkorak Hitam lantas duduk bersila.

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat balikkan tubuh. Melirik sebentar pada Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang. Kedua orang ini tetap bergerak bergoyang-goyang seakan tak menghiraukan apa yang terjadi.

Meski dalam hati memaki panjang pendek namun murid Wong Agung tak berani mengusik. Dia tahu betul, meski seperti tak menghiraukan, sebenarnya kedua orang ini tahu apa yang terjadi. "Orang-orang aneh...," bisik Aji lalu me-

lompat ke depan.

Dua sosok di ambang pintu serentak keluarkan tawa keras.

"Bagus! Kini giliranmu!" berkata sosok yang bercaping. Lalu tepuk pundak sosok yang di atas kursi.

Tahu akan apa yang terjadi, sebelum sosok yang di atas kursi angkat tangannya, Pendekar 108 telah hantamkan kedua tangannya.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Gelombang angin disertai hamparan hawa panas melesat ke arah sosok yang ada di atas kursi.

Yang diserang tidak membuat gerakan. Malah memperdengarkan suara tawa! Sesaat lagi gelombang angin berhawa panas menghajar tubuhnya, sosok di atas kursi angkat tangan kanannya lalu mengibas ke depan.

Wuuuttt!

Terdengar suara 'pesss' lalu gelombang angin berhawa panas itu membalik dan kini melesat ke arah Pendekar Mata Keranjang!

"Gila! Dengan mudahnya dia membalik pukulanku!" bisik Aji lalu cepat jatuhkan diri sejajar lantai menghindari pukulannya sendiri yang mental. Begitu dapat menghindar, Pendekar 108 cepat pula bangkit. Dia rupanya telah dapat menduga jika pukulannya yang lolos akan membalik kembali.

Dugaan murid Wong Agung tidak meleset. Gelombang angin berhawa panas yang baru saja dihindarinya kini menyambar dari arah belakang!

Pendekar Mata Keranjang 108 tak mau ambil resiko, kedua tangannya segera dihantamkan lagi. Bukan ke arah gelombang angin yang kini mengarah padanya dari belakang, melainkan pada sosok yang di atas kursi! Hal ini dia lakukan karena dia tahu, bahwa sosok yang di atas kursilah yang mengendalikan angin pukulan itu. Jika pengendalinya dapat dilumpuhkan maka dengan sendirinya pukulannya akan lumpuh juga.

Namun dugaan Pendekar 108 meleset. Begitu dia lepaskan pukulan, sosok yang di atas kursi hanya diam. Justru orang yang bercaping kali ini yang hantamkan kedua tangannya!

Bummm!

Terdengar gelegar hebat ketika pukulan Pendekar Mata Keranjang bentrok dengan pukulan sosok bercaping. Tubuh Aji terhuyunghuyung. Saat itulah gelombang angin yang membalik tadi menghajar dari belakang!

Deeesss!

Pendekar 108 keluarkan seruan keras. Tubuhnya terjungkal ke depan dan mencium lantai ruangan. Darah segar tampak mengucur dari mulut dan hidungnya yang mengantuk lantai ruangan.

"Sialan! Kenapa aku sampai lupa bahwa

masih ada orang di sampingnya!" Pendekar 108 memaki dirinya sendiri. Lalu bergerak hendak bangkit. Namun sebelum benar-benar bangkit, sosok di atas kursi dan sosok di sampingnya serentak tangan masing-masing dan serentak pula dihantamkan ke arah Pendekar Mata Keranjang.

Wuuusss! Wuuusss!

"Celaka! Satu saja pukulannya sudah demikian hebat, bagaimana kalau dua?" batin Aji dengan wajah tegang dan kuduk merinding. Namun dia tak larut dalam ketegangan. Seraya kerahkan tenaga dalam, dia cepat rebahkan diri kembali ke atas lantai ruangan lalu bergulingan dua kali. Pada gulingan ketiga, telapak tangan kirinya yang telah berubah menjadi biru segera dihantamkan ke depan. Sementara tangan kanannya yang ternyata telah memegang kipas segera pula dikibaskan melengkung.

Wuuuttt! Weeesss!

Seberkas sinar biru serta putih melengkung membentuk kipas segera melesat ke depan.

Bummm!

Ledakan dahsyat segera menggema di ruangan itu. Pendekar 108 berseru tegang. Tubuhnya mencelat ke belakang sampai lima tombak jauhnya dan terkapar di atas lantai. Darah hitam meleleh dari sudut bibirnya, jelas bahwa murid Wong Agung ini terluka dalam. 

Di atas kursi, sosoknya tampak bergetar hebat, lalu terjengkang bersamaan dengan hancurnya kursi. Namun sosok besar ini segera bangkit dan melesat turun. Belum sampai menginjak lantai, kedua tangannya bergerak menghantam pada Pendekar 108 yang masih terkapar!

Melihat hal ini Dewi Tengkorak Hitam keluarkan jeritan, sementara Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang hentikan gerakan-gerakannya.

Paras wajah Pendekar Mata Keranjang terlihat putih memucat. Tubuhnya gemetar. Dia terlihat mau menggerakkan kedua tangannya, namun tiba-tiba wajahnya meringis pertanda kedua tangannya sakit jika digerakkan, hingga dia urungkan menggerakkan tangan. Mungkin karena merasa tak bisa lagi menangkis serangan, akhirnya dia hanya bergulingan untuk menghindar. Namun sosok yang tadi di atas kursi tak memberi kesempatan. Dia kembali disusuli hantamannya, hingga tak ada kesempatan lagi bagi Aji untuk menghindar!

Saat yang mendebarkan itulah, tiba-tiba melesat dua buah benda bundar agak panjang. Satu menghantam tubuh Pendekar 108 satunya lagi memapak serangan yang mengarah pada murid Wong Agung!

Bukkk! Pyaaarrr!

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 mencelat, namun hal itu menyelamatkan dia dari serangan. Disusul kemudian dengan pecahnya benda yang ternyata adalah bumbung bambu, karena bentrok dengan serangan yang dilancarkan sosok yang tadi di atas kursi.

Sosok besar berjubah merah yang kini telah tegak di lantai ruangan keluarkan gerengan keras melihat ada yang menyelamatkan Pendekar 108.

Dan melihat benda apa yang baru saja hancur dan menyelamatkan Pendekar 108, sosok ini segera tahu siapa adanya orang yang berbuat. Dengan mata berkilat merah, sosok besar ini balikkan tubuh.

SEPULUH

SEPASANG mata sosok besar berjubah merah berputar liar memandang tajam ke tempat di mana Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang tadi berada. Sosok ini serta-merta keluarkan gerengan keras. Tubuhnya bergetar pertanda dadanya telah diamuk amarah yang meluap. Karena ternyata baik Setan Arak maupun Dewi Bayang-Bayang tidak ada di tempatnya tadi! Yang terlihat hanyalah Dewi Tengkorak Hitam yang masih duduk bersila seraya pulihkan tenaganya.

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara tawa dan suara cekikikan, namun sosok berjubah merah ini tampaknya tak bisa menentukan di mana sumber suara tawa dan cekikikan itu, karena meski dia telah putar kepalanya, dia masih belum bisa menemukan di mana orang yang keluarkan tawa dan cekikikan! "Bangsat!" maki sosok berjubah merah lalu bantingkan sepasang kakinya. Ruangan besar itu kembali bergetar. Saat itulah suara tawa dan cekikikan meledak makin keras. Dan dari dalam lubang lantai yang terbongkar muncul dua kepala. Kepala Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang!

Melihat kepala orang yang dicari muncul dari dalam lubang, serta-merta sosok berjubah merah meloncat lalu sapukan kaki kanannya.

Wuuuttt!

Suara tawa Setan Arak dan cekikikan Dewi Bayang-Bayang serentak sirap laksana direnggut setan. Dua kepala yang muncul lenyap kembali.

Sosok berjubah merah kembali keluarkan gerengan keras melihat sapuan kakinya hanya menghantam angin. Dia segera menatap tajam ke arah lubang bongkaran di mana kepala Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang tadi muncul. Lalu tanpa pikir panjang lagi, sosok besar ini segera hantamkan kedua tangannya ke arah bongkaran lubang.

Bummm!

Lantai yang telah terbongkar itu berhamburan. Dan begitu suara ledakan lenyap, sosok berjubah merah melangkah perlahan mendekati lantai yang kini makin menganga besar dan dalam.

Baru saja sosok berjubah merah ini melongok ke bawah, terdengar suara tawa panjang mengekeh yang diseling dengan suara tawa cekikikan. Bukan dari dalam lubang melainkan dari belakang sosok berjubah merah! Dia cepat berbalik.

Merasa dipermainkan orang, kemarahan sosok berjubah merah makin meluap. Sepasang matanya liar menatap pada Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang yang kini ada di hadapannya. Anehnya, ditatap angker begitu rupa dua orang ini seakan tidak menghiraukan. Mereka tertawa dan tersenyum tanpa memandang ke arah sosok berjubah merah.

Di ambang pintu, sosok berjubah merah dan bercaping gelengkan kepalanya perlahan.

"Hm.... Jika dia terpancing amarah, maka sulit baginya melumpuhkan kedua tua bangka itu! Dan bukan mustahil malah dirinya yang akan celaka! Aku harus segera memberitahu!" gumam sosok bercaping, lalu melayang turun.

"Menghadapi tua bangka itu, jangan dengan marah! Seranganmu akan mudah dielakkan mereka!" bisik sosok bercaping begitu dekat dengan sosok berjubah merah besar.

Habis berbisik, sosok yang bercaping melangkah ke arah Pendekar 108 yang kini telah duduk bersandar dan pejamkan sepasang matanya. Sekonyong-konyong, tanpa menunggu lagi sosok ini hantamkan kedua tangannya.

Wuuuttt! Wuuuttt!

"Eeeh.... Tikus karung beraninya sama manusia yang tak berdaya!" teriak Dewi BayangBayang, lalu kebutkan pakaian gombrongnya.

Weeerrr! Pukulan yang dilepaskan sosok bercaping ambyar berantakan sebelum mencapai sasaran!

"Keparat!" bentak sosok bercaping. Lalu balikkan tubuh dan serta-merta meloncat ke arah Dewi Bayang-Bayang, kedua tangannya bergerak menghantam kepala si nenek.

Si nenek tersenyum. Kedua tangannya diangkat melindungi kepalanya, sementara kaki kanannya melejang deras ke depan.

Prakkk!

Terdengar benturan keras tatkala dua pasang tangan bertemu. Sosok bercaping keluarkan seruan tertahan. Lalu melompat mundur. Saat itulah kaki kanan Dewi Bayang-Bayang menghajar.

Sosok bercaping terhuyung-huyung sesaat sambil memegangi dadanya, lalu roboh berlutut di atas lantai ruangan. Sosok ini keluarkan dengusan keras. Sepasang matanya lantas memejam sesaat. Tiba-tiba tubuhnya bergerak ke depan hingga capingnya menyentuh lantai. Sekonyongkonyong tubuh sosok bercaping ini berputar cepat lalu hilang dari pandangan mata.

Dewi Bayang-Bayang dongakkan kepala. Mulutnya komat-kamit. Sepasang matanya yang sipit liar mencari-cari. Saat itulah di depan kepalanya mendadak saja berdesir angin kencang. Dan belum sempat nenek ini melihat apa yang terjadi, tahu-tahu sepasang tangan sosok bercaping telah melabrak bahu kanan kirinya.

Desss! Desss! Dewi Bayang-Bayang mental sampai beberapa tombak dan jatuh bergulingan. Anehnya, tak terdengar suara erangan dari mulut nenek ini, justru yang tampak adalah senyumnya yang menyungging!

"Setan alas!" maki sosok bercaping begitu mengetahui pukulannya hanya mampu membuat tubuh Dewi Bayang-Bayang terguling sambil tersenyum. Sadar jika lawan tangguh, sosok ini seakan tak mau memberikan kesempatan pada Dewi Bayang-Bayang, karena begitu terlihat si nenek hendak bergerak bangkit, dia telah menerjang! Kedua tangannya pun bergerak kirimkan pukulan!

Setan Arak yang masih berdiri berhadapan dengan sosok besar terkesiap. Dewi Tengkorak Hitam melotot besar, sementara Pendekar Mata Keranjang yang telah buka kelopak matanya buka mulut lebar-lebar seakan hendak berteriak memperingatkan. Namun suaranya tak terdengar.

Tapi semua mata yang melihat serentak jadi melotot dengan napas menghela panjang. Betapa tidak, sebelum gelombang angin dahsyat serta terjangan kaki menghajar tubuh Dewi BayangBayang, nenek ini tekankan kedua siku dan lututnya pada lantai. Tubuhnya lantas melenting ke udara. Di udara nenek ini membuat gerakan jumpalitan beberapa kali, hingga pukulan dan terjangan sosok bercaping menggebrak tempat kosong dan terus menerabas menghajar dinding ruangan. Dinding ruangan itu ambrol dan langsung berlubang besar!

Begitu serangan lewat, Dewi BayangBayang cepat mendarat. Namun cuma sesaat, karena dia hanya menjejakkan sepasang kakinya. Hingga tubuhnya kembali melenting ke atas. Di udara si nenek membuat gerakan aneh. Sepasang kakinya digerak-gerakkan seperti orang menari, melejang ke samping kanan dan kiri.

Di depannya, sosok bercaping tenangtenang saja seolah menunggu dengan keluarkan tawa mengekeh. Tiba-tiba suara tawanya terputus dengan mata membelalak ketika mengetahui tubuh Dewi Bayang-Bayang serta-merta melesat cepat ke arahnya. Sepasang kakinya merentang, namun begitu dekat tiba-tiba kaki itu bergerak menutup dan menjepit kepala sosok bercaping!

Seeettt! Bukkk!

Dewi Bayang-Bayang putar tubuhnya ke samping, hingga saat itu juga tubuh sosok bercaping terbanting deras menghantam lantai ruangan! Dewi Bayang-Bayang tersenyum sejenak, lalu balikkan tubuh dan sebelum melangkah menjauh, kaki kanannya melejang ke belakang menghajar kepala sosok bercaping yang ada di belakangnya!

Desss!

Sosok bercaping meraung keras. Caping di atas kepalanya mencelat, sementara karung goni yang menutup wajahnya robek besar. Tubuhnya berguling-guling. Sejenak sosok ini bergerakgerak seakan hendak bangkit, namun tak lama kemudian diam tak bergerak!

Sesaat Pendekar 108 menatap lekat-lekat wajah yang kini telah terbuka penutupnya.

"Restu Canggir Rumekso!" seru Pendekar 108 begitu mengenali siapa adanya orang. Kepalanya lantas sedikit tengadah mengingat-ingat. Tiba-tiba kepalanya lurus kembali dan memandang tajam ke arah sosok besar yang kini ada di hadapan Restu Canggir Rumekso.

"Berarti dia adalah muridnya! Hmm.    Tak

kusangka. Belum lama berselang anak itu masih belum sebesar itu. Heran. Bagaimana perkembangannya bisa secepat itu. Juga ilmunya maju demikian pesat! Meski besar, namun dia masih anak-anak. Terbukti bicaranya masih cedal    Ta-

pi anak ini berbahaya. Seingatku ia tahan pukulan! Mudah-mudahan Setan Arak bisa mengatasinya. Kasihan.... Anak itu pasti mendapat didikan tidak benar dari gurunya! Bagaimanapun juga anak itu harus diselamatkan! Mungkin pikiran sesatnya masih bisa dirubah!" batin Aji seraya terus memperhatikan sosok besar di hadapan Setan Arak. (Tentang Restu Canggir Rumekso dan muridnya, silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: Titisan Darah Terkutuk'). Sementara itu, melihat sosok bercaping terkapar diam, sosok besar di hadapan Setan Arak keluarkan lenguhan panjang. Kemarahannya memuncak, dan karena yang ada di hadapannya Setan Arak, maka luapan kemarahannya ditumpahkan pada kakek berselempang bumbung arak ini.

Sosok besar di hadapan Setan Arak angkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu ditarik ke belakang dan serta-merta dihantamkan ke arah Setan Arak.

Wuuttt! Wuuuttt!

Sinar menyala merah melesat dengan disertai suara deru dahsyat.

Setan Arak tercenung sesaat. Dia seakan tahu jika serangan lawannya kali ini tak boleh dianggap main-main. Karena jika seseorang mampu mengeluarkan dua pukulan sekaligus dalam satu hantaman, jelas jika orang tersebut memiliki tenaga dalam luar biasa. Menyadari hal itu, kakek peminum ini segera melompat mundur, bumbung arak di tangan kanan kirinya segera dilemparkan ke depan. Lalu kedua tangannya segera pula mendorong mengirimkan serangan susulan.

Pyaaarrr! Pyaaarrr!

Dua bumbung bambu langsung pecah berantakan terabas sinar menyala merah. Hebatnya sinar menyala merah yang disertai gelombang angin itu terus menerabas ke arah Setan Arak.

Bummm!

Terdengar ledakan dahsyat tatkala sinar menyala merah dan gelombang angin bentrok dengan pukulan yang dilancarkan Setan Arak. Sinar merah menyala ambyar dan menimbulkan percikan lidah api ke mana-mana!

Sosok besar berjubah merah angkat kembali tangannya. Tiba-tiba percikan lidah api seakan terhembus angin dan kembali menyatu lalu melesat cepat ke arah Setan Arak kembali!

"Panas lawannya panas!" seru Setan Arak. Tangan kiri kanan segera mencabut bumbung arak yang bergelantungan di ikat pinggangnya. Serta-merta isinya ditenggak, lalu sambil melompat ke udara, mulutnya menyembur keluarkan arak di mulutnya.

"Puaaah! Puaaahhh!"

Dari mulut Setan Arak bermuncratan air bening. Namun di tengah udara air bening arak tersebut berubah menjadi merah!

Tasss! Taasss!

Untuk kali kedua sinar merah menyala ambyar terkena serbuan air merah Setan Arak, malah sebagian kini melesat ke arah sosok besar di depan!

Sosok besar berjubah merah tak membuat gerakan ketika semburan arak itu bermuncratan ke arahnya. Malah dia tertawa sambil kacak pinggang! Hingga tanpa ampun lagi tubuhnya terkena semburan arak.

Namun semua jadi melengak hampir tak percaya. Semburan arak yang mampu membuat lantai ruangan berlubang-lubang itu hanya mampu membuat jubah merah si sosok besar berlubang-lubang. Sementara sosoknya tidak cidera sama sekali!

"Edan! Ternyata dugaanku tidak meleset! Dia kebal!" desis Pendekar Mata Keranjang 108 lalu bangkit dan melangkah ke arah Dewi Bayang-Bayang yang saat itu tampak duduk menggelosoh tanpa melihat apa yang baru saja terjadi.

"Dewi   Orang itu kebal pukulan!" bisik Aji

seraya jongkok di samping Dewi Bayang-Bayang. Dewi Bayang-Bayang tersenyum. Tanpa berpaling dia berkata.

"Dari mana kau tahu?"

"Aku pernah menghadapi orang itu! Dia adalah murid Canggir Rumekso yang tadi kau buat tewas...," jawab Pendekar 108 seraya melirik ke arah tubuh Restu Canggir Rumekso.

"Lalu menurutmu bagaimana cara yang baik menghadapinya?!" tanya Dewi BayangBayang tetap tanpa berpaling.

"Dirobohkan dulu lalu diikat!"

"Hmm.... Begitu?" gumam Dewi BayangBayang lalu berpaling ke samping melihat pada tubuh Utusan Putih dan Utusan Hijau yang telah jadi mayat.

"Tanggalkan jubah kedua orang itu! Lalu sobek-sobek jadikan tali!" kata Dewi BayangBayang seraya menunjuk pada mayat Utusan Putih dan Utusan Hijau.

Tanpa berkata lagi, Pendekar Mata Keranjang bangkit dan mendekati tubuh Utusan Putih dan Utusan Hijau. Dengan gerak cepat jubah kedua orang ini segera ditanggalkan. Lalu kipas ungunya dikeluarkan. Dengan ujung kipas kedua jubah itu disobek-sobek menjadi beberapa serpihan. Dan dengan cepat pula disambungnya serpihan-serpihan jubah itu hingga menjadi tali panjang.

"Berikan pada tua bangka itu!" seru Dewi Bayang-Bayang.

Pendekar 108 cepat gulung serpihan jubah yang kini telah menjadi tali. Dan sambil memegangi tali itu dilemparkan pada Setan Arak.

Setan Arak sejenak menimang-nimang gulungan tali dari serpihan jubah itu. Wajahnya terlihat masih tak mengerti dengan maksud Aji memberikan tali itu padanya. Namun setelah murid Wong Agung memberi isyarat dengan putarputar tangannya pada tubuh, Setan Arak manggut-manggut.

Mungkin mengetahui lawan tahu kelemahannya, sosok berjubah merah kepalkan kedua tangannya. Lalu tangannya diangkat ke atas. Dari mulutnya terdengar suara mendengus keras. Namun belum sampai sosok ini hantamkan kedua tangannya Setan Arak telah kebutkan tali di tangannya.

Wuuuttt! Seeettt! Seeettt!

Tali serpihan jubah itu meliuk deras dan menjerat kedua tangan sosok besar. Sosok ini menggeram marah, karena gerakan tangannya tertahan. Dia cepat kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya agar tangannya terlepas. Namun Setan Arak segera kebut-kebutkan talinya, hingga sosok berjubah merah terhuyung maju mundur.

"Kepalat!" maki sosok berjubah merah dengan suara cedal.

Kedua tangannya yang masih terjerat tali diluruskan ke depan, dan serta-merta kakinya dibantingkan ke lantai. Hebatnya, saat itu juga kedua telapak tangannya tampak berubah putih, bertanda sosok ini salurkan tenaga dalam sepenuhnya pada kedua tangannya. Sadar jika sosok ini hendak menghantam dengan kedua tangannya meski masih terjerat, Setan Arak kendorkan tali di tangannya. Dan ketika benar-benar sosok berjubah merah hantamkan kedua tangannya, Setan Arak cepat tarik tali kuat-kuat. Hingga hantaman tangan sosok berjubah merah melenceng ke atas mengikuti gerakan tangannya yang tertarik ke atas.

Baakkk! Brrruuulll!

Gelombang sinar putih yang melesat dari telapak tangan sosok berjubah merah menyambar ke atas menghantam langit-langit ruangan. Langit-langit itu langsung jebol dan berlubang besar!

Begitu hamburan langit-langit sirap, tampaklah sinar kuning cahaya rembulan menerobos melalui lubang langit-langit ruangan.

Setan Arak tak menunggu lama, begitu kedua tangan sosok berjubah merah menghajar langit-langit, tubuhnya berkelebat lenyap.

Sosok berjubah merah tercekat tegang tatkala merasakan desiran angin berputar-putar mengitari tubuhnya. Dan sebelum dia sempat berbuat sesuatu tubuhnya telah terikat tali serpihan jubah!

"Jahanam! Kepalat! Lepaskan aku!" teriak sosok berjubah merah sambil meronta-ronta dan angkat tubuhnya loncat-loncat. Terdengar debaman berulang kali begitu kaki sosok berjubah merah menjejak di lantai.

"Ah, tarianmu jelek! Mari kuajarkan tarian yang bagus!" berkata Setan Arak yang ternyata kini berada di belakang sosok berjubah merah. Habis berkata begitu, Setan Arak tenggak araknya, lalu menari-nari. Tangan kiri kanan melejang ke atas ke bawah, sementara kakinya merentang menutup. Tiba-tiba tangannya bergerak cepat dan menyahut karung goni penutup wajah sosok berjubah merah!

Kini tampaklah wajah sosok berjubah merah itu. Ternyata paras wajahnya masih kekanakkanakan. Hanya wajah itu menggembung besar. Sepasang matanya besar. Hidungnya besar dan pesek. Bibirnya tebal, sedang rambutnya tebal dan kaku menjuntai.

"Hmm.... Wajahnya hampir tak berubah. Hanya tubuhnya yang membengkak besar!" bisik Pendekar 108 dalam hati begitu melihat wajah sosok berjubah merah.

Dewi Tengkorak Hitam yang ada di belakang orang berjubah merah segera bangkit. Lalu berkelebat dan kini berdiri di hadapan orang berjubah merah seraya memperhatikan dengan seksama. "Meski tubuhnya seperti gajah, namun wajahnya terlihat masih seperti anak-anak! Mendengar suaranya yang masih cedal, juga wajahnya, manusia ini usianya mungkin masih sepuluh tahunan! Siapa dia sebenarnya...? Murid si keparat Restu Canggir Rumekso...?! Bisa jadi begitu. Namun ilmunya masih setingkat di atas keparat itu!" batin Dewi Tengkorak Hitam.

"Enaknya diapakan gajah bunting ini?" ujar Setan Arak lalu melangkah ke arah Dewi BayangBayang yang masih duduk menggelosoh.

"Kita penggal kedua tangannya saja biar kelak kemudian tak berlagak!" sahut Dewi Tengkorak Hitam seraya melangkah mendekat.

Pendekar Mata Keranjang buka mulut hendak berteriak mencegah, namun belum sampai suaranya terdengar sesosok bayangan melesat turun dari lubang langit-langit. Lalu terdengar suara orang menegur.

"Berani sentuh anak itu putus nyawamu!" Semua mata memandang tajam ke depan,

sedangkan Dewi Tengkorak Hitam hentikan langkahnya.

"Kau...!" seru Pendekar 108 begitu mengenali siapa adanya si bayangan yang kini telah tegak di samping sosok berjubah merah dan memandang satu persatu pada semua orang yang ada di ruangan besar itu. SEBELAS

DIA adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita. Mengenakan pakaian warna kuning ketat, hingga dadanya yang besar terlihat membusung menantang. Sepasang matanya jernih bulat dan tajam. Rambutnya panjang dan dibiarkan jatuh ke punggung.

"Siapa kau?!" bentak Dewi Tengkorak Hitam seraya memperhatikan gadis baju kuning yang tegak di samping anak berjubah merah.

Yang ditanya tersenyum sinis. Malah pandangan matanya tak mengarah pada orang yang menegur, justru menatap lekat-lekat pada Pendekar Mata Keranjang yang terlihat melangkah ke arahnya.

"Kau jangan jual lagak di sini!" teriak Dewi Tengkorak Hitam sambil angkat kedua tangannya dan siap lancarkan pukulan. Namun gerakannya tertahan tatkala lengannya terasa dipegang orang. Berpaling, terlihat Pendekar 108 telah be-

rada di sampingnya sambil memandang gadis baju kuning.

"Tunggu, Anting Wulan. Dia adalah sahabatku!" kata Pendekar 108 lalu lepaskan cekalan tangannya pada lengan Dewi Tengkorak Hitam.

Dewi Tengkorak Hitam menarik napas dalam-dalam. Wajahnya berpaling cepat pada jurusan lain. Diam-diam gadis ini cemburu melihat gadis berbaju kuning saling berpandangan dengan Pendekar Mata Keranjang 108.

"Putri Tunjung Kuning. Lama kita tak jumpa. Kau baik-baik saja?" kata Aji berbasa-basi begitu dekat dengan gadis berbaju kuning yang bukan lain adalah Putri Tunjung Kuning.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Lupakan dulu berbasa-basi. Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, lekas katakan! Aku tak punya waktu banyak!"

Sejenak Pendekar Mata Keranjang merasa terkejut mendengar nada ketus Putri Tunjung Kuning. Namun dia hanya bisa usap-usap hidungnya. Lalu berkata.

"Putri Tunjung Kuning! Kau tahu, kami semua baru saja menyabung nyawa menghadapi manusia yang menamakan dirinya Penguasa Hutan Larangan. Manusia yang akhir-akhir ini menjadi biang lenyapnya beberapa tokoh rimba persilatan. Manusia itu ternyata adalah Restu Canggir Rumekso dan orang yang ada di sampingmu...," sejenak Pendekar 108 hentikan ucapannya.

"Harap kau teruskan kata-katamu!" Putri Tunjung Kuning menyahut.

"Melihat sikapmu, rasa-rasanya kau telah mengenal orang di sampingmu!"

"Aku mengenalnya lebih dari Restu Canggir Rumekso keparat itu!" kembali Putri Tunjung Kuning menyahut dengan cepat.

"Hmm.... Begitu? Lalu siapa dia sebenarnya?!" tanya Pendekar 108 pura-pura tak tahu.

Putri Tunjung Kuning tertawa pelan. Namun napasnya terlihat berhembus panjangpanjang seakan melepaskan beban yang ada di dadanya.

"Untuk sementara ini harap jangan memaksaku untuk mengatakan siapa dia sebenarnya! Namun yang pasti aku akan membawanya, dan jangan coba-coba menghalangi niatku!"

"Putri Tunjung Kuning! Dia sangat berba-

haya!"

"Pendekar Mata Keranjang! Aku tahu ten-

tang anak ini seratus kali lipat darimu! Kau tak usah memberitahu!" ujar Putri Tunjung Kuning, lalu berpaling pada jurusan lain dan melanjutkan ucapannya.

"Ada lagi yang hendak kau utarakan?!"

Meski sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin ditanyakan, namun karena hal itu ada sangkut paut pribadi Putri Tunjung Kuning dan di situ ada Dewi Tengkorak Hitam, maka dia berpikir tak pantas kiranya membicarakan hal pribadi di hadapan orang. Berpikir demikian, akhirnya Pendekar 108 gelengkan kepalanya.

"Baik. Aku harus pergi dari sini. Anak ini kubawa serta!" Putri Tunjung Kuning lalu menggaet tubuh anak berjubah merah. Dan ditariknya hendak meninggalkan tempat itu.

"Tunggu!" teriak Dewi Tengkorak Hitam sambil memandang tajam pada Putri Tunjung Kuning.

"Rupanya gadismu tak berkenan...," bisik Putri Tunjung Kuning, lalu balas menatap pandangan Dewi Tengkorak Hitam dan berkata. "Apa maumu?!"

"Kami bersusah payah bahkan hampir terpuruk tewas di sini gara-gara menangkap manusia keparat itu! Sekarang enaknya saja kau hendak membawanya! Mana bisa begitu?!"

"Lantas maumu apa?!" kembalikan Putri Tunjung Kuning ajukan tanya.

"Tinggalkan anak jahanam itu!"

Mendengar Dewi Tengkorak Hitam menyebut anak jahanam, wajah Putri Tunjung Kuning kontan berubah merah padam. Sepasang matanya membeliak merah. Pelipisnya bergerakgerak. Kedua tangannya bergerak.

"Tahan!" seru Aji seraya menengahi dan angkat tangan kirinya menahan gerakan tangan Dewi Tengkorak Hitam yang saat itu juga sedang bergerak. Sementara tangan kanannya menahan tangan Putri Tunjung Kuning yang juga sudah siap hendak memukul.

"Anting Wulan! Nanti saja kuceritakan masalah ini!" lalu kepalanya berpaling pada Putri Tunjung Kuning. "Lekas tinggalkan tempat ini!"

Meski dengan tubuh terguncang menahan marah, akhirnya Putri Tunjung Kuning luruhkan tangannya lalu menggaet kembali anak berjubah merah dan melangkah ke arah tengah-tengah ruangan yang langit-langitnya jebol.

"Abilowo!" panggil Putri Tunjung Kuning pada sosok berjubah merah di sampingnya. "Kali ini kau jangan berbuat yang tidak-tidak seperti dulu! Jika kau masih melarikan diri seperti dulu lagi, aku tak segan-segan memutus kedua kakimu! Kau mengerti?!"

Anak berjubah merah tak menyahut, hanya kepalanya bergerak mengangguk. Dengan gerakan cepat Putri Tunjung kuning bebaskan ikatan di tubuh Abilowo.

"Bagus! Ayo kita keluar dari tempat celaka ini!" kata Putri Tunjung Kuning lalu jejakkan kakinya ke lantai ruangan. Sosok yang dipanggil Abilowo ikut-ikutan menjejak lantai ruangan. Sekejap kemudian tubuh keduanya melesat ke atas melalui lubang langit-langit lalu lenyap dari pandangan.

"Kenapa mereka kau biarkan pergi begitu saja?! Usaha kita sia-sia jika akhirnya hanya begini!" kata Dewi Tengkorak Hitam begitu Putri Tunjung Kuning dan Abilowo telah pergi.

"Usaha kita tidak sia-sia, Anting Wulan. Aku tahu siapa Putri Tunjung Kuning. Dan aku yakin, dia mampu merubah Abilowo menjadi orang baik-baik! Abilowo masih anak-anak. Butuh perhatian! Dan kurasa anak itu akan mendapatkan perhatian di tangan Putri Tunjung Kuning...," sejenak Pendekar 108 hentikan ucapannya. Dia tercenung, lalu memandang berkeliling.

"Astaga! Ke mana perginya Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang?!" kata Aji sambil angkat tumitnya melongok pada lantai ruangan yang menganga dalam, takut jika kedua orang yang dicari sembunyi di situ. Mendengar ucapan Pendekar Mata Keranjang, Dewi Tengkorak Hitam ikut-ikutan sapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan nyatanya Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang memang sudah tidak ada.

"Dasar orang-orang sulit dimengerti...," gumam Pendekar 108 sambil gelengkan kepala. Saat itulah tiba-tiba dari arah belakang tangan Dewi Tengkorak Hitam melingkar di pinggangnya.

"Aji...," bisik Dewi Tengkorak Hitam seraya tekankan buah dadanya rapat-rapat ke punggung Pendekar 108.

Sejurus murid Wong Agung ini terkesiap, namun tatkala Dewi Tengkorak Hitam mencium tengkuknya, darah Pendekar 108 laksana dibakar. Tubuhnya sedikit bergetar, dadanya berdegup makin kencang. Dan perlahan-lahan pula kedua tangannya meremas dan mengelus-elus kedua tangan yang melingkar di pinggangnya.

Merasa sang pemuda mulai panas, perlahan-lahan pula Dewi Tengkorak Hitam gerakkan tangannya yang melingkar di pinggang Aji, tubuhnya direnggangkan. Kedua tangannya lantas memutar tubuh Pendekar Mata Keranjang. Murid Wong Agung menurut saja. Dan sesaat kemudian, kedua orang ini telah saling berhadapan.

"Aji...," kembali Dewi Tengkorak Hitam dekatkan kepalanya. Mulutnya setengah dibuka, sepasang matanya dipejamkan.

"Busyet! Gadis ini benar-benar merontokkan jantung.... Tapi terlalu sayang jika kesempatan ini dilewatkan begitu saja...," Pendekar 108 kembangkan kedua tangannya lalu melingkar pada punggung Dewi Tengkorak Hitam dan menarik tubuhnya ke depan. Kepalanya bergerak pelan mendekat. Bibir gadis di hadapannya segera dipagut. Dewi Tengkorak Hitam mendesah perlahan lalu menyambut pagutan bibir Pendekar 108.

Beberapa saat berlalu, tiba-tiba terdengar suara tawa riuh rendah serta tepuk sorak ramai di ruangan besar itu.

"Sialan! Ganggu orang saja!" kata Aji dalam hati sambil melepaskan pagutan dan pelukannya pada Dewi Tengkorak Hitam. Cepat pula ia balikkan tubuh. Saat itu juga sepasang mata murid Wong Agung ini membeliak besar, lalu menyipit. Dan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia kucek-kucek matanya lalu memandang lagi ke arah depan.

Di depan sana, terlihat beberapa orang. Di antaranya Setan Arak, Dewi Bayang-Bayang, Dewi Kayangan, Manik Angkeran, Bawuk Raga Ginting, serta banyak lagi yang Pendekar 108 tidak mengenalinya.

"Busyet! Kenapa aku bisa sampai lupa tentang ke mana kepergian Setan Arak serta Dewi Bayang-Bayang tadi...," batin Pendekar 108 lalu melangkah dengan wajah merah padam.

"Nah, Teman-teman. Inilah salah satu orang yang berjasa menyelamatkan kalian semua dari tangan Penguasa Hutan Larangan...," berkata Setan Arak seraya angkat bumbungnya lalu menenggak isinya.

"Ah, aku hanya andil sedikit. Yang bekerja keras sebenarnya Dewi Bayang-Bayang dan Setan Arak...," kata Pendekar Mata Keranjang sambil menjura hormat dan memandang satu persatu pada beberapa orang di hadapannya.

Salah seorang di antaranya, seorang lakilaki berusia agak lanjut berpakaian hijau-hijau yang bukan lain adalah Manik Angkeran maju selangkah. Setelah bungkukkan tubuh dia berkata.

"Pendekar Mata Keranjang. Aku sebagai wakil dari teman-teman mengucapkan terima kasih atas segala jerih payahmu hingga kami semua bisa bebas dari kekuasaan Penguasa Hutan Larangan. Budi jasamu akan dikenang dalam rimba persilatan "

Beberapa saat berlalu. Di antara mereka tidak ada yang buka suara kembali. Karena beberapa orang itu mengarahkan pandangan mereka pada beberapa sosok tubuh yang menggeletak di lantai ruangan.

Tiba-tiba terdengar suara orang nyeletuk. "Heh.... Kita tunggu apa lagi? Kita harus cepat tinggalkan tempat ini. Lihat, pendekar kita tampaknya sudah tak sabar lagi melanjutkan adegan mautnya. Hik.... Hik.... Hik !"

Yang keluarkan suara ternyata Dewi Kayangan. Habis berkata perempuan bertubuh gemuk besar ini lalu melangkah ke arah tengahtengah ruangan yang langit-langitnya jebol besar.

"Selamat bersenang-senang,   Pendekar.... Hik.... Hik.... Hik...!" ucap Dewi Kayangan, lalu melirik pada Dewi Tengkorak Hitam yang parasnya berubah merah padam. Sesaat kemudian tubuh besar Dewi Kayangan melesat keluar melalui lubang di langit-langit ruangan itu.

"Ya. Sudah waktunya kita harus pergi...," kata Manik Angkeran. Lalu melangkah ke arah di mana Dewi Kayangan tadi lenyap. Beberapa orang segera menyusul. Satu persatu orang tersebut lalu melesat keluar. Yang paling belakang adalah Setan Arak dan Dewi Bayang-Bayang.

"He.... Sini!" panggil Setan Arak pada Aji. Setelah dekat, Setan Arak sorongkan wajahnya dan berbisik.

"Kau boleh lanjutkan urusanmu dengan tua bangka mu yang cantik jelita itu! Tapi ingat. Harus tahu aturan dan adat! Jika sampai kudengar tua bangka itu hamil, akan kupencet kelerengmu! Kau dengar?!"

Meski dalam hati memaki panjang pendek mendengar Dewi Tengkorak Hitam dikatakan tua bangka, namun akhirnya murid Wong Agung ini hanya bisa anggukkan kepala.

"Betul!" Dewi Bayang-Bayang menyahut sambil melangkah tertatih-tatih mendekat. Lalu dia ikut-ikutan berbisik.

"Bukan hanya perlu digencet, tapi harus dipotong malunya jika benar-benar menghamili tua bangka itu! Eh    Astaga! Aku salah ucap. Ha-

rus dipotong kema.... Hik.... Hik.... Hik...!" Dewi Bayang-Bayang tidak lanjutkan ucapannya. Tangan kanannya lalu menjawil pundak Setan Arak. Kedua orang ini lantas sama-sama anggukkan kepala. Dan sekejap kemudian tubuhnya telah lenyap dari hadapan Pendekar Mata Keranjang 108. "Aku masih belum mengerti kenapa mereka mengatakan Dewi Tengkorak Hitam tua bangka. Padahal orangnya cantik, bertubuh montok, dan...," Pendekar Mata Keranjang tak teruskan kata hatinya, karena saat itu lengannya telah di-

pegang oleh Dewi Tengkorak Hitam.

"Anting Wulan.... Kita harus lekas tinggalkan tempat ini "

Anting Wulan alias Dewi Tengkorak Hitam tersenyum. Ia menggeser tubuhnya merapat pada Pendekar Mata Keranjang. Kedua tangannya bergerak melingkar pada tubuh Pendekar 108. Lalu kepalanya mengangguk pelan.

"Ah, persetan dengan omongan mereka. Yang pasti di hadapanku perempuan ini adalah seorang gadis cantik, bertubuh aduhai Dan

hangat...," batin Aji. Tangannya pun segera melingkar pada pinggang Dewi Tengkorak Hitam.

Sesaat kemudian, keduanya melesat ke atas dengan berpelukan....

SELESAI