Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 18 : Tembang Maut Alam Kematian

 
Eps 18 : Tembang Maut Alam Kematian


HARI itu cuaca cerah sekali. Sang mentari menunjukkan diri tanpa diiringi sebongkah awan pun. Angin berhembus semilir, sementara marga satwa mengalunkan kidungnya masing-masing.

Dalam cuaca yang demikian, seorang anak laki-laki berusia muda belia terlihat melangkah melintasi sebuah hutan yang sunyi. Dia mengenakan pakaian yang sudah dekil dan robek di sana-sini. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dan tampak tidak dirawat, hingga rambut itu kaku dan kempal. Namun demikian wajah anak ini masih menampakkan ketampanan. Hidungnya mancung dengan sepasang mata tajam. Alis matanya tebal dan hitam. Dagunya kokoh meski sosoknya tidak begitu besar.

Melihat sikapnya yang beberapa kali menghela napas dalam-dalam serta mengedarkan pandangannya ke tempat-tempat yang dilewati, berat dugaan jika anak ini mencari sesuatu dan tak dapat menemukan yang dicari. Hingga meski dari mulutnya tak terdengar suara keluhan, namun wajahnya jelas tak dapat menyembunyikan perasaan kecewa. Dan melihat pakaiannya yang telah basah oleh keringat serta langkahnya yang tertatih-tatih, dapat diduga jika dia telah melakukan perjalanan panjang. Namun demikian, anak yang kira-kira masih berusia dua belas tahun ini termasuk anak yang tabah dan tegar. Karena meski tubuhnya telah tampak letih bahkan kakinya mengembung dan di sana-sini terlihat barutan merah akibat goresan ranting dan sdtnak belukar yang terinjak, dia tetap melangkah. Dia baru hentikan langkahnya tatkala hutan sunyi itu telah terlewati dan kini di hadapannya tampak sebuah bukit yang terjal dan berbatu-batu.

Untuk beberapa lama si anak ini memperhatikan bukit di hadapannya. Tangan kanannya diangkat dan ditudungkan di kening untuk menangkis silaunya matahari. Setelah agak lama memperhatikan, kepalanya lantas bergerak berpaling ke samping kanan kiri. Sepasang matanya menyapu berkeliling.

"Ini mungkin tempat yang dinamakan Bukit Tumpang Gede. Hmm.... Benar apa kata orang, Bukit Tumpang Gede adalah sebuah bukit yang hanya merupakan batu-batuan tanpa ada semak belukar serta pohon. Mungkinkah daerah seperti ini dihuni seseorang...?" si anak tercenung seraya berpikir. Tiba-tiba parasnya berubah merah padam. Dagunya yang kokoh mengembang dengan mata sedikit membeliak. Tangan kirinya mengepal dengan geraham saling beradu, pertanda dia menahan gejolak amarah di dadanya. Entah karena kesal atau sebagai pelampiasan rasa marah, kedua kakinya lantas dibanting-banting di atas tanah.

"Bagaimanapun juga, aku harus dapat menemukan orang yang bernama Iblis Gelang Kematian! Seorang tokoh sakti yang kata mendiang Paman berdiam di bukit ini! Aku harus menemuinya dan berguru padanya! Aku tak bisa hidup terus-terusan dalam caci-maki dan hinaan orang! Aku tak boleh pasrah terus-menerus tidur dengan atap langit dan selimut dingin! Semua ini menyakitkan! Aku harus dapat merubah semua ini. Dan jalan satu-satunya, aku harus berilmu tinggi!"

Mungkin karena pegal berpikir sambil berdiri di bawah terik matahari, maka tak lama kemudian, dia tampak melangkah mendekati sebuah batu agak besar lalu duduk bersandar seraya terus mengawasi ke arah bukit.

"Ayahanda-Ibunda, saudara-saudaraku telah mati terbunuh. Demikian juga Paman. Kini aku hidup sebatangkara. Hmm.... Tanpa bekal ilmu tinggi, aku akan diremehkan orang, bahkan dengan semena-mena akan dibantai orang, seperti apa yang dialami keluargaku. Tidak! Aku harus jadi seorang berilmu tinggi! Selain bisa hidup enak, juga dapat membalas atas orang-orang yang membantai keluargaku!"

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba dia bangkit. Rasa letih serta perih di kakinya seakan lenyap tak terasa, tertindih semangat yang berkobar.

"Aku harus segera bertemu dengan Iblis Gelang Kematian! Aku ingin menjadi orang berilmu tinggi! Aku ingin membalas atas kematian sanak-saudaraku!"

Tanpa mempedulikan sengatan terik matahari, anak laki-laki ini mulai melangkah menaiki bukit yang memang tak ditumbuhi semak belukar atau rindang jajaran pohon. Yang terlihat hanyalah terjalan batu-batu yang tak teratur serta menanjak membentuk sebuah bukit.

Namun begitu anak ini mulai menapak terjalan batu-batu, tiba-tiba awan hitam berarakarakan menutupi angkasa. Angin berhembus kencang. Dan tak lama kemudian gelegar guntur terdengar bersahutan. Kilat menyambar tiada putusnya. Bumi mendadak gelap gulita. Dan ketika kilat menyambar untuk kesekian kalinya yang kemudian disusul dengan gelegar guntur, hujan deras menghujam bumi!

"Sialan! Kenapa mendadak saja cuaca berubah? Adakah ini kenyataan dari apa yang dikatakan orang, juga mendiang Paman, bahwa Bukit Tumpang Gede mempunyai keanehan-keanehan yang menyeramkan?" sepasang mata pemuda belia ini liar menyapu ke sekeliling. Tubuhnya telah terlihat mulai menggigil kedinginan. Namun dia tetap melangkah menapaki terjalan batu-batu. Dan mungkin karena matanya tak dapat lagi menyiasati keadaan di depannya, dia melangkah seraya merambat perlahan-lahan dari terjalan batu ke terjalan batu lainnya. Hal ini dia lakukan karena selain cuaca gelap, ternyata ter-jalan-terjalan batu itu sangat licin akibat percikan-percikan tanah yang muncrat terkena hujan.

Tiba-tiba si anak hentikan langkahnya. Seraya kedua tangan memegangi terjalan batu dan kaki kiri bersitekan pada lamping batu agak besar agar supaya dapat menopang tubuh, sepasang matanya yang tajam memandang lurus ke depan dengan tak berkesiap. Samar-samar dari puncak bukit ia menangkap sebuah cahaya yang bergerak-gerak. Cahaya itu kadang-kadang tampak jelas dan sesekali lenyap.

Si anak tidak meneruskan langkah. Dia seakan menunggu cahaya itu, karena cahaya itu bergerak ke arahnya. Namun mendadak saja anak itu terperangah kaget. Bahkan jika saja pegangan kedua tangannya tidak kukuh, niscaya ia akan terpeleset jatuh.

Cahaya yang tadi bergerak-gerak ternyata telah ada lima langkah di depannya! Dan cahaya itu adalah sebuah nyala obor. Namun bukan nyala obor itu saja yang membuat si anak terperangah kaget. Ternyata obor itu dibawa oleh seorang perempuan tua renta.

Ada keanehan yang membuat si anak segera membeliakkan sepasang matanya. Meski saat itu hujan turun dengan derasnya, namun sekujur tubuh si nenek tidak basah! Dan ternyata obor itu tidak digenggam tangannya, melainkan ditancapkan masuk ke bahu sebelah kanannya, hingga pakaiannya terlihat berlobang.

Nenek ini mengenakan pakaian mewah. Pakaian atasnya merupakan sebuah baju panjang berwarna hitam terbuat dari sutera. Pakaian bawahnya berwarna hitam kembang-kembang putih juga dari bahan sutera. Rambutnya telah memutih seluruhnya dan panjang hingga hampir betis. Raut wajahnya sedikit lonjong dengan sepasang mata besar dan tajam berkilat. Hidungnya mancung dengan bibir merah tanpa polesan. Pada kedua tangannya terlihat melingkar beberapa gelang yang berwarna kuning keemasan.

Meski si anak terperangah kaget, namun ia segera buka mulut berteriak. Pertanda bahwa ia adalah seorang anak pemberani, karena siapa pun juga akan merasa kecut jika melihat tampang angker si nenek.

"Nenek tua! Siapa kau...? Jangan menghalangi langkahku jika tak ingin kulempar dengan batu-batu bukit ini!"

Perempuan tua itu keluarkan dengusan dan menyeringai buruk. Sepasang matanya liar memperhatikan ke arah si anak. Dalam hati, diam-diam dia berucap.

"Menurut isyarat yang kuperoleh, rupanya anak ini yang bakal meneruskan langkahku! Hmmm.... Aku gembira sekali. Dia ternyata anak pemberani dan melihat paras wajahnya, dia juga seorang anak cerdik. Pandangan matanya tajam dan dingin, pertanda menyembunyikan kekejaman serta kelicikan! Memang, anak demikianlah yang kuharapkan!" si nenek segera dongakkan kepala menatap curahan air hujan yang sejengkal menyibak di atas kepalanya.

"Orang tua! Lekas minggirlah! Aku mau lewat!" teriak si anak seraya mengencangkan pegangannya pada terjalan batu dan hendak merambat ke atas. Meski tampang si nenek berubah tatkala diusir, namun bibirnya yang merah terlihat sedikit sunggingkan senyum. Dia lalu berucap.

"Bocah kecil! Cuaca begini gelap dan menakutkan, ke mana kau hendak pergi...?!"

Si anak urungkan niat merambat. Dengan mata memandang tajam, ia berkata. "Aku tak mau mengatakan pada orang yang belum kukenai! Katakan dahulu siapa kau adanya!"

Perempuan tua tertawa pendek. Pandangan matanya beralih pada anak laki-laki di depannya.

"Anak kecil kurang ajar! Kau tak berhak menanyaiku! Justru akulah yang akan tanya padamu. Jika kau tak menjawab, kau akan ku tendang biar tubuhmu jatuh ke bawah sana! Kau dengar?!"

Walau sedikit keder mendengar ancaman orang, karena sadar jika sampai jatuh ke bawah bukan hanya tubuhnya saja yang mengalami luka, namun lebih dari itu segala rencananya ingin menuntut ilmu akan hilang. Tapi anak ini rupanya pandai menyembunyikan perasaan. Dengan tanpa alihkan pandangan bahkan tersenyum sinis, dia berkata.

"Orang tua! Aku tak mau diancam. Kalau kau memang ingin menendangku, lakukanlah! Tapi jangan menyesal jika kau akan benjol-benjol kulempar dengan batu-batu ini!"

"Begitu?" si nenek tertawa panjang hingga obor di bahunya berguncang-guncang mengikuti gerakan bahunya. "Kita buktikan siapa nanti yang benjolbenjol. Sekarang katakan siapa namamu dan kau dari mana hendak ke mana?"

Si anak wajahnya sedikit merah mengelam.

Dengan setengah berteriak dia berkata.

"Sudah kukatakan, aku tak mengatakannya pada orang yang belum kukenai! Apa kau tidak dengar?!"

Perempuan tua gelengkan kepala perlahan.

Tiba-tiba tangan kirinya bergerak pelan.

Wuttt!

Serangkum angin deras menghantam ke depan. Si anak merasakan tubuhnya bergetar, dan tak lama kemudian pegangan tangannya pada terjalan batu goyah, demikian juga tekanan kakinya. Kejap kemudian pegangannya lepas dan tubuhnya perlahan melorot ke bawah. Karena terjalan batu-batu itu sangat licin hingga tanpa ampun lagi tubuhnya melorot dengan deras, bahkan terlihat berguling-guling menghantam terjalan batu-batu bukit. Ketika gulingan tubuhnya terhenti karena tertahan terjalan batu besar, dia merasakan perih di hampir sekujur tubuhnya. Dan ketika dia bergerak bangkit dan melirik, dia terperanjat. Tangan dan kakinya tampak lecet-lecet. Bahkan ketika tangannya meraba keningnya, terasa tiga benjolan ada di situ!

"Keparat!" maki si anak seraya tertatihtatih bangkit. Kedua tangannya langsung meraup batu batu kecil yang berserakan. Dan serta-merta tubuhnya diputar, kedua tangannya mengayun melemparkan batu-batu di tangannya.

Namun si anak terkejut. Nyala obor ternyata telah tiada. Namun dia tetap saja lemparkan batu-batu di tangannya. Dia lantas menunggu. Dia berharap ada suara seruan tertahan pertanda salah satu lemparan batunya mengenai sasaran.

Tapi harapan si anak tidak terwujud, malah kejap itu juga terdengar desingan dari kegelapan. Dia membeliakkan sepasang matanya ingin tahu apa yang mendesing dan menuju ke arahnya. Betapa terlengaknya dia, karena suara desingan itu ternyata lesatan batu-batu yang tadi dilemparkannya. Namun kesadarannya terlambat. Sebelum dia sempat menghindar, batu-batu itu telah menghujam tubuhnya. Anehnya, tak satu pun batu yang meleset dari menghajar tubuhnya!

Si anak keluarkan jeritan tertahan. Karena meski batu-batu itu tidak begitu besar, namun begitu menghujam, rasanya seakan batu besar! Hingga tak lama kemudian, tubuhnya limbung dan jatuh bersandar pada batu besar. Kepalanya serta bibirnya terlihat mengeluarkan darah. Untung batu yang menghajar wajahnya tidak begitu besar, jika tidak, bukan mustahil wajahnya akan hancur!

Selagi si anak terhenyak dalam kesakitan, terdengar suara tawa mengekeh di sampingnya. Berpaling, dia terkesiap. Si nenek telah berdiri empat langkah di sampingnya dengan kacak pinggang. Obor di bahunya terlihat bergoyanggoyang. "Bagaimana? Apakah benjolan itu minta ditambah?" berkata si nenek tanpa memandang.

Si anak geser tubuhnya menjauh. Tubuhnya terlihat menggigil, selain karena kehujanan, juga karena hatinya sedikit takut. Dia sadar, ucapan orang tua di sampingnya tidak main-main.

"Nenek berhati kejam! Ancamannya tidak main-main. Terpaksa aku harus menjawab pertanyaannya, agar aku segera sampai tujuan!" membatin si anak.

"He! Kalau kau tetap membisu tak mau jawab pertanyaan orang, tubuhmu akan kuseret ke atas dan kugelindingkan dari sana!" bentak si nenek.

Meski dalam hati memaki-maki, akhirnya si anak buka mulut.

"Aku adalah Manding Jayalodra! Anak bungsu dari Panglima Perang Kerajaan Dhaha!"

Perempuan tua itu sedikit terkejut mendengar ucapan si anak.

"Anak seusia dia tidak mungkin bicara mengada-ada. Dan ini cocok dengan isyarat yang kuperoleh, bahwa manusia yang kelak bakal meneruskan cita-citaku adalah seorang anak pembesar kerajaan!" Namun demikian, si nenek tak begitu saja percaya. Dia lantas menanyakan siapa ayah serta ibu juga saudara-saudaranya. Ketika anak yang menyebutkan namanya Manding Jayalodra mengatakan siapa nama ayah, ibu serta saudara-saudaranya, si nenek manggut-manggut seraya tersenyum. "Lantas kau hendak ke mana? Sebagai anak seorang panglima tidak mungkin kau keluyuran sendirian! Apalagi jarak antara Dhaha dan Bukit Tumpang Gede tidak dekat!"

Manding Jayalodra luruskan pandangan.

Wajahnya tampak mengeras.

"Orang tua! Apa kau tak tahu? Panglima Perang Kerajaan Dhaha telah tewas terbunuh. Bahkan juga kerabat-kerabatnya!"

"Kau sendiri...?" si nenek ajukan pertanyaan.

Sejenak Manding Jayalodra terdiam dengan kepala mendongak, hingga wajahnya tercurahi air hujan. Setelah napasnya sesak menahan cucuran air hujan dia kembali luruskan kepalanya memandang si nenek yang tegak menunggu jawaban.

"Waktu terjadi pembantaian atas keluargaku, aku berhasil diselamatkan oleh salah seorang pamanku. Lantas aku hidup bersama Paman. Namun karena aku masih menjadi orang buruan, Paman menyuruhku untuk hidup dengan menyamar. Sejak saat itulah, aku hidup sebagai orang biasa. Dan hidupku makin sengsara ketika Paman akhirnya juga tewas. Aku lantas hidup luntang-lantung, seperti seorang pengemis! Hidup dengan tidur beralaskan tanah dan berselimut angin!"

"Hmm.... Mengenaskan. Lalu ke mana kau hendak pergi?!"

"Mendiang Paman pernah mengatakan padaku, bahwa di Bukit Tumpang Gede, berdiam seorang sakti. Aku ingin menemuinya sekaligus berguru padanya! Setelah aku menjadi orang berilmu tinggi dan sakti, akan kuhancurkan orangorang yang membantai keluargaku! Mereka tak akan kusisakan satu pun!" tangan Manding Jayalodra mengepal. Wajahnya merah padam. Dagunya yang kokoh membatu.

"Kau juga seorang pendendam! Bagus, segala sifat itu yang kubutuhkan! Meski semua orang tahu, Panglima Perang Kerajaan Dhaha dibantai karena telah menyusun kekuatan hendak berbuat makar pada kerajaan!" si nenek membatin.

Untuk beberapa saat lamanya, kedua orang ini saling diam. Namun tak lama kemudian Manding Jayalodra berkata.

"Aku telah mengatakan siapa diriku. Sekarang jangan halangi lagi perjalananku! Aku harus segera bertemu dengan orang sakti itu!"

Si nenek angguk-anggukkan kepala. Melihat hal ini, Manding Jayalodra hendak mulai melangkah naik kembali. Namun gerakannya tertahan tatkala didengarnya si nenek berkata.

"Tunggu! Sebelum kau meneruskan mendaki, katakan padaku, siapa nama pamanmu itu!" Meski dengan paras jengkel, namun Mand-

ing Jayalodra buka suara. "Candrik Raturandang!"

Si nenek anggukkan kepala. "Hmm. Can-

drik Raturandang. Tokoh silat golongan hitam yang pernah merajalela yang bergelar 'Si Penyebar Maut'. Aku tidak heran jika anak ini pemberani dan pendendam, ini buah didikan pamannya! Dengan demikian, aku hanya tinggal memupuknya...," lalu dia berpaling pada Manding Jayalodra dan berkata.

"Kalau mau kunasihati, urungkan niatmu ke puncak bukit untuk menemui orang yang kau sebut sakti itu! Keadaan terlalu gelap dan jalanan licin! Belum lagi sambaran kilat dan gelegar guntur yang siap menggemuruh. Lebih baik kau kembali dan terimalah apa adanya hidup!"

Secepat kilat Manding Jayalodra palingkan wajahnya pada si nenek.

"Orang tua! Jangankan hanya petir dan guntur serta jalan licin, lautan api pun akan kuarungi! Aku tak mau hidup sebagai pengemis! Dihina serta dicaci maki! Lebih dari itu, aku ingin membalas atas kematian saudara kerabatku!"

Si nenek tertawa panjang.

"Kalau itu kehendakmu, silakan teruskan! Aku hanya mengingatkan!" habis berkata begitu dia melirik pada Manding Jayalodra yang tak perdengarkan ucapannya dan mulai melangkah mendaki dengan tertatih-tatih.

"Semangatnya besar dan tak kenal menyerah! Hmm. Anak yang kuinginkan!"

"Perempuan tua bangka cerewet! Banyak omong tak karuan! Tanya segala macam! Jika tidak berjumpa dengannya mungkin aku telah sampai puncak bukit! Tapi.... Dari mana dia? Apakah dia juga baru saja menemui orang sakti yang di katakan Paman itu? Tololnya aku, kenapa aku tidak tanya?" Manding Jayalodra menoleh ke belakang.

Manding Jayalodra tersirap darahnya seketika. Perempuan tua pembawa obor tak ada di tempatnya semula, padahal dia baru melangkah dua tindak! Seakan tak percaya, Manding Jayalodra menyapukan pandangan berkeliling dengan menunggu kilatan petir. Dan saat kilat menyambar, dia baru yakin jika perempuan itu tidak ada di tempat itu!

"Sialan! Ke mana minggatnya orang tua itu? Jangan-jangan dia hantu penunggu bukit ini!" tengkuknya merinding. Namun dia segera balikkan tubuh dan meneruskan langkah meski tak jarang sepasang matanya melirik ke samping kanan dan kiri.

"Keparat! Kalau saja tidak demi untuk membalas dendam, aku ingin rasanya turun kembali!" omel Manding Jayalodra seraya terus melangkah dengan merambat pelan-pelan.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup berat, bahkan tak jarang harus berputar untuk menghindari lereng yang tinggi, Manding Jayalodra akhirnya tiba juga di puncak bukit.

Begitu tubuhnya mencapai puncak bukit yang ternyata merupakan daratan berbatu, Manding Jayalodra segera hempaskan tubuhnya. Melepaskan kepenatan dan keperihan di sekujur tubuhnya. Namun ada keanehan terjadi saat bersamaan sampainya Manding Jayalodra tiba di puncak bukit. Hujan tiba-tiba hentikan curahannya, guntur tidak lagi terdengar menggelegar. Kilat tak menyambarkan sinarnya dan arak-arakan awan hitam bergerak memudar hingga tak lama kemudian cuaca berubah terang.

"Edan! Cuaca membaik lagi begitu perjalanan telah sampai!" rutuk Manding Jayalodra seraya arahkan pandangan ke sebelah barat. Ternyata matahari telah hampir tenggelam, namun pancaran sinar merahnya masih mampu menerangi ke angkasa.

Manding Jayalodra lalu arahkan pandangannya mengelilingi puncak bukit. Dia terkejut. Di situ hanya tampak batu-batu tanpa sebuah bangunan pun!

"Apa mendiang Paman tidak berkata dusta? Di sini tak kulihat tempat yang pantas dihuni oleh manusia!"

Selagi Manding Jayalodra merenung, tibatiba terdengar suara tawa mengekeh panjang. Melirik ke samping, dari mana suara tawa bersumber, dia terlengak. Bahkan tubuhnya yang masih menggelosoh digeser ke belakang dengan mata mendelik lebar.

"Dia...!" seru Manding Jayalodra begitu mengenali siapa adanya orang yang mengeluarkan tawa dan kini berdiri di atas sebuah batu agak besar tanpa memandang ke arahnya.

"Gila! Bagaimana dia tahu-tahu telah sampai di sini? Jangan-jangan dia memang hantu bukit yang sengaja menggodaku!" kembali tengkuk Manding Jayalodra dingin.

Selagi Manding Jayalodra bengong tak tahu apa yang harus diperbuat atau diucapkan, sosok yang mengeluarkan tawa yang ternyata perempuan tua yang ditemui saat mendaki bukit buka suara.

"Manding Jayalodra! Semangatmu besar!

Aku suka itu!"

Manding Jayalodra bergerak bangkit meski tubuhnya masih dirasa seakan remuk. Sepasang matanya memandang lekat-lekat ke arah orang tua.

"Nenek tak dikenal! Siapa sebenarnya, dan apa maksudmu mengikuti perjalananku?"

Yang ditegur kembali keluarkan tawa pan-

jang.

"Siapa bilang aku mengikuti perjalanan-

mu? Pasang telingamu baik-baik! Ini adalah tempat tinggalku!"

Manding Jayalodra surutkan langkah dua tindak. Sepasang matanya makin melotot besar. Tiba-tiba dia melangkah maju.

"Jadi, apakah kau yang bergelar Iblis Gelang Kematian? Penghuni Bukit Tumpang Gede ini?!"

"Aku telah sebutkan bahwa ini adalah tempat tinggalku. Jadi tidak usah kukatakan siapa diriku!"

Manding Jayalodra tercenung sejenak. Dalam hati diam-diam dia berucap.

"Hmm.... Jadi dialah manusia yang bergelar Iblis Gelang Kematian. Orang yang kucari!' dia lantas melangkah mendekat. Sejenak ditatapnya orang tua di hadapannya yang ternyata bukan lain adalah Iblis Gelang Kematian penghuni Bukit Tumpang Gede. Seorang tokoh sakti yang namanya tak asing lagi bagi rimba persilatan. Karena semasa malang melintangnya di arena rimba persilatan banyak tokoh-tokoh sakti berilmu tinggi baik dari golongan hitam maupun putih yang berhasil dibuatnya tewas!

"Jika begitu, aku tengah berhadapan dengan tokoh sakti bergelar Iblis Gelang Kematian?" kata Manding Jayalodra dengan hanya sedikit anggukan kepalanya.

Melihat sikap Manding Jayalodra yang hanya menganggukkan sedikit kepalanya meski terhadap orang yang hendak diharapkan menjadi gurunya, Iblis Gelang Kematian sedikit geram dan jengkel. Namun hal itu menambah kesukaan tokoh tua ini pada Manding Jayalodra.

"Hmm.... Sikapnya yang terlalu memandang sebelah mata pada orang, menambah keyakinanku bahwa memang anak inilah yang diisyaratkan itu!"

"Guru Iblis Gelang Kematian! Kuharap kau sudi menerimaku sebagai murid!" Manding Jayalodra berkata dengan memanggil Guru, membuat Iblis Gelang Kematian tertawa mengekeh.

"Anak lancang! Siapa yang telah mengangkatmu sebagai murid hingga kau berani memanggilku Guru?"

Manding Jayalodra terdiam. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia berkata.

"Kau memang belum menerimaku sebagai murid. Namun aku telah mengangkatmu sebagai guru!"

Tawa Iblis Gelang Kematian semakin keras dan panjang.

"Kalau aku tak menginginkanmu menjadi murid...?!" Iblis Gelang Kematian ajukan pertanyaan di sela suara tawanya.

"Kau harus mau! Jika tidak, aku akan mencari guru yang lebih sakti daripadamu. Dan kau termasuk deretan nama yang kelak akan kubasmi!"

"Hi... hi... hi...! Ternyata kau juga pandai mengancam! Terus terang segala sikapmu itu kusuka. Dan aku memang membutuhkan seorang murid! Namun bukan berarti tanpa syarat jika kau ingin menjadi muridku!"

Mungkin karena gembira mendengar ucapan Iblis Gelang Kematian, serta-merta Manding Jayalodra jatuhkan diri dan berkata.

"Katakan segala syaratmu! Semua akan kujalani!"

Iblis Gelang Kematian gerakkan kepalanya menggeleng perlahan.

"Aku akan mengatakan syarat itu jika kau telah mempelajari segala ilmu yang akan kuberikan padamu! Jika nantinya kau menolak syaratku, kau akan kubunuh dengan tanganku sendiri! Kau mengerti...?!"

Meski dalam hati masih penuh dengan rasa heran atas ucapan Iblis Gelang Kematian, akhirnya Manding Jayalodra anggukkan kepala.

"Bagus! Sekarang ikuti aku!" Iblis Gelang Kematian tekankan kaki kirinya pada batu di bawahnya. Terdengar suara berderit bergeseknya dua batu.

Manding Jayalodra melangkah mendekat. Ternyata di samping batu tempat Iblis Gelang Kematian berdiri tampak sebuah lobang menganga.

Tanpa berpaling lagi, Iblis Gelang Kematian melesat masuk. Manding Jayalodra sejenak mengawasi lobang. Karena cuaca sudah mulai gelap, maka matanya hanya menangkap lobang yang hitam pekat. Sejurus anak laki-laki ini terlihat bimbang. Namun mengingat kata-kata perintah Iblis Gelang Kematian yang menyuruhnya ikut, akhirnya dia terjunkan diri ke dalam lobang meski dengan tubuh gemetar dan kuduk merinding serta kedua mata dipejamkan rapat-rapat!

DUA

SANG mentari telah jauh menggelincir dari titik tengahnya, dan kini tengah siap hendak masuk ke tempat peraduannya. Cahayanya yang panas menyengat telah berubah ditindih dingin udara senja yang merambat datang. Dan bersamaan dengan tenggelamnya sang penerang bumi, di ufuk timur terlihat sang rembulan keluar dari lintasan awan putih. Hingga meski malam telah menjelang, namun dataran bumi tampak terang, apalagi saat ini bulan menginjak hari kelima belas.

Di arah selatan, diterangi cahaya rembulan purnama, Bukit Tumpang Gede tampak menjulang. Terjalan-terjalan batu-batunya terlihat berwarna kuning kemerahan. Di puncak bukit inilah pada sembilan tahun yang silam Manding Jayalodra, seorang anak Panglima Perang Kerajaan Dhaha melakukan perjalanan dan akhirnya bertemu dengan Iblis Gelang Kematian yang kemudian diangkatnya menjadi guru.

Di tengah dataran puncak bukit, tampak sebuah batu besar yang di sebelahnya terdapat lobang menganga. Jika dilihat sepintas, orang tidak akan menduga jika di dalam lobang itu terdapat penghuninya, karena selain lobang itu hanya sebesar tubuh manusia biasa, lobang itu juga terlihat gelap.

Lain apa yang terlihat dari atas, lain pula apa yang ada di dalam. Ternyata lobang itu menghubungkan dengan sebuah ruangan besar yang dinding serta langit-langitnya terbuat dari batu-batu bukit berwarna putih. Di pojok ruangan tampak sebuah nyala obor yang ditancapkan begitu saja pada dinding batu, hingga ruangan itu terang-benderang. Di tengah ruangan, dua orang terlihat duduk saling berhadapan. Yang satu adalah seorang perempuan yang usianya telah lanjut. Rambutnya putih dan panjang hingga tatkala dia duduk, rambut itu bergeraian di lantai ruangan. Sepasang matanya besar dengan bibir merah. Pada kedua tangannya melingkar beberapa gelang berwarna kuning keemasan. Sedangkan satunya lagi adalah seorang pemuda berusia kira-kira dua puluh satu tahun. Parasnya tampan dengan dada bidang menandakan jika tubuhnya tegap. Sepasang matanya tajam bersinar, dagu kencang kokoh, serta rambut panjang sebahu dengan otototot tangan tampak bertonjolan.

Meski duduk berhadap-hadapan, namun dari keduanya tak terdengar salah seorang di antaranya membuka suara. Bahkan sepasang mata perempuan tua di hadapan sang pemuda terpejam setengah membuka. Sementara si pemuda tak kesiap memandangi orang tua di hadapannya. "Sialan! Sampai kapan aku harus menung-

gu dia terjaga?" sang pemuda membatin seraya lepaskan napasnya panjang-panjang seakan melampiaskan rasa kecewa. Namun demikian, ia tak hendak beranjak dari hadapan si orang tua.

Namun setelah ditunggu agak lama, si orang tua tetap pada sikapnya semula, sang pemuda tak dapat menahan sabar. Dagunya mulai tampak terangkat dengan mata makin berkilat mendelik.

"Keparat! Dia menyuruhku ke sini. Setelah sampai, matanya terpejam dan mulutnya mengatup. Apa maksudnya? Jika saja tidak memandangnya sebagai guru sudah tentu akan kurobek mulutnya!" membatin sang pemuda dengan paras merah padam.

Sesaat kemudian si pemuda yang bukan lain adalah Manding Jayalodra buka sedikit mulutnya hendak mengucapkan sesuatu. Namun tak ada suara yang terdengar dari mulutnya hendak mengucapkan sesuatu. Namun tak ada suara yang terdengar dari mulutnya. Dia tampak bimbang. Akhirnya dia gerakkan kepala memandang ke samping. Dahinya mengernyit seakan sedang memikirkan sesuatu. Lantas tak berselang lama, dia kembali pandangi orang tua di hadapannya yang bukan lain adalah Iblis Gelang Kematian. Mulutnya kembali bergerak membuka. Namun lagi-lagi suara tak terdengar. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia membatin.

"Peduli setan! Aku harus bertanya, apa maksudnya dia memanggilku!" Manding Jayalodra ambil keputusan. Lalu dia buka mulutnya berkata.

"Guru! Tentunya ada sesuatu yang sangat penting hingga kau memanggilku dari tempat latihan. Harap kau segera mengatakan kepentinganmu!"

Manding Jayalodra menunggu. Namun orang yang ditegur tetap diam seperti semula. Bahkan membuka matanya untuk memandang pun tidak, membuat Manding Jayalodra parasnya makin mengeras, dan matanya makin melotot angker.

"Guru! Kurasa kau dengar ucapanku. Harap kau suka menjawab! Atau kalau memang tak ada perlu, aku akan meneruskan latihan!" kembali Manding Jayalodra berkata, malah kali ini suaranya sedikit dikeraskan.

Iblis Gelang Kematian perlahan-lahan buka kelopak matanya. Bibirnya bergerak komat-kamit. Sejenak ditatapnya Manding Jayalodra, setelah menarik napas dalam-dalam dia berkata.

"Manding Jayalodra! Malam ini adalah bertepatan dengan seratus delapan purnama kau berada di puncak Bukit Tumpang Gede. Seratus delapan purnama kau telah belajar ilmu padaku. Dan rasa-rasanya, seluruh ilmuku telah kuturunkan padamu! Dan dirimu kini bukan lagi Manding Jayalodra pada sembilan tahun silam. Kau telah menjadi seorang pemuda dengan ilmu tinggi! Tapi ingat, kau harus jalankan apa yang kita ikrarkan bersama! Kau harus musnahkan manusia-manusia yang tidak sealiran dengan kita! Tidak peduli dari golongan mana manusia itu adanya! Kau ingat itu?!"

Manding Jayalodra anggukkan kepala. "Aku ingat, Guru! Dan segala petunjukmu

akan kulakukan!"

Iblis Gelang Kematian tersenyum puas. Kepalanya manggut-manggut. Namun sesaat kemudian kepalanya bergerak ke atas. Dari mulutnya terdengar ucapan. "Manding! Aku memang ada perlu menyuruhmu datang...," sejenak Iblis Gelang Kematian hentikan ucapannya, sementara Manding Jayalodra diam menunggu dengan mata tak kesiap.

"Malam ini, adalah terakhir kau berada di sini. Bekalmu untuk malang melintang di rimba persilatan kuyakin telah lebih dari cukup! Namun demikian, setelah turun dari Bukit Tumpang Gede ini kau harus berhati-hati pada beberapa orang yang kemungkinan besar akan menjadi penghalang besar bagi rentangan sayapmu. Kau harus waspada jika bertemu dengan mereka!"

"Guru! Sebutkan siapa saja mereka itu!" sahut Manding Jayalodra seakan tak sabar, membuat Iblis Gelang Kematian tersenyum.

"Dengar baik-baik! Orang pertama yang harus kau waspadai dan kalau perlu segera kau musnahkan adalah seorang pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108. Dialah pemuda yang saat ini menjadi momok bagi orang golongan hitam. Dia adalah murid tunggal seorang sakti dari Karang Langit yang berjuluk Wong Agung. Selain berkepandaian tinggi, Pendekar Mata Keranjang mempunyai senjata mustika ciptaan Empu Jaladara yaitu sebuah kipas berwarna ungu. Lain daripada itu, kabarnya dia telah pula berhasil mendapatkan sebuah arca yang beratus tahun menjadi incaran tokoh-tokoh rimba persilatan. Jadi dapat kau bayangkan bagaimana hebatnya pemuda itu! Tapi kau tak usah berkecil hati, kuyakin kau mampu menghadapinya. Hanya saja dibutuhkan beberapa muslihat untuk menundukkan orang seperti dia! Hal itu kurasa kau bisa mengaturnya sendiri!"

"Bagaimana aku dapat menemukan manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 itu?" Manding Jayalodra ajukan pertanyaan. Wajahnya tampak makin merah padam, apalagi tatkala didengarnya bahwa si pemuda berilmu tinggi dan memiliki senjata mustika.

"Hmm.... Orang seperti dia gampanggampang susah menemukannya. Hanya satu hal yang harus kau lakukan jika kau ingin segera bertemu dengannya!"

"Katakan apa yang harus kulakukan!" ujar Manding Jayalodra.

Sejenak Iblis Gelang Kematian menghela napas dalam-dalam. Perasaan lega menyelimuti perasaannya. Dia diam-diam bersyukur memilih orang yang tepat.

"Hmm.... Anak ini sepertinya tak sabar. Sifatnya yang tidak ingin diungguli tampak jelas...," lalu dia berkata.

"Muridku! Kalau kau bisa membuat kegegeran, apalagi berhasil membunuh tokoh atas, baik golongan hitam lebih-lebih golongan putih, maka tanpa kau cari, Pendekar 108 akan gentayangan mencarimu!"

Manding Jayalodra anggukkan kepala, lalu berkata kembali.

"Selain Pendekar Mata Keranjang siapa lagi orang yang menurut Guru akan menjadi penghalang ku?"

"Kedua guru Pendekar 108. Mereka adalah Wong Agung dari Karang Langit serta kakak seperguruannya Selaksa. Namun berat dugaan kedua orang ini telah tidak mau melibatkan diri dalam rimba persilatan. Mereka telah memikulkan tugas pada muridnya Pendekar 108. Namun demikian kau masih harus waspada. Tidak mustahil orang seperti mereka mendadak muncul!" Iblis Gelang Kematian hentikan keterangannya sejenak. Setelah mendehem beberapa kali dia melanjutkan.

"Orang yang harus kau waspadai selanjutnya adalah seorang pemuda bergelar Malaikat Berdarah Biru. Kabarnya pemuda ini dahulu pernah mendapatkan kipas hitam pasangan kipas milik Pendekar Mata Keranjang. Namun kabar selanjutnya, pemuda ini berhasil dikalahkan Pendekar 108 dan kipasnya dirampas! Pemuda itu hingga sekarang tak jelas lagi kabar beritanya. Entah masih hidup atau sudah tewas. Namun jika kenyataannya nanti dia masih hidup, dekati pemuda itu! Orang yang harus kau waspadai selanjutnya adalah seorang pemuda seusiamu. Dia bergelar Gembong Raja Muda. Seorang bekas murid Ageng Panangkaran, seorang tokoh golongan putih yang pernah masyhur pada zamannya. Namun sekarang ini kudengar Gembong Raja Muda berguru pada orang kerdil bernama Bawuk Raga Ginting. Seperti halnya Malaikat Berdarah Biru, pemuda ini kabarnya juga pernah dibuat babak belur oleh Pendekar 108. Kalau bisa orang-orang seperti ini harus segera kau rangkul. Orang yang pernah sakit hati seperti mereka mudah untuk diperalat. Nah, kau harus dapat gunakan kelemahannya!"

Untuk kesekian kalinya kepala Manding Jayalodra bergerak mengangguk.

"Muridku!" kata Iblis Gelang Kematian melanjutkan keterangannya.

"Selain tokoh yang kusebutkan di atas tentunya masih banyak tokoh lain yang perlu kau waspadai. Di antaranya adalah Putri Tunjung Kuning. Ratu Pulau Merah, Dayang Naga Puspa juga tokoh-tokoh tua yang kabarnya kini muncul kembali dan terlalu banyak jika disebut satu persatu. Hanya saja, jika kau melakukan semua petunjuk yang kuberikan selama ini, kurasa kau tak akan kesulitan menghadapi mereka! Perlu kuingatkan sekali lagi, ilmu tinggi tidak ada gunanya tanpa disertai kecerdikan yang dibaur dengan kelicikan! Kau mengerti?"

Manding Jayalodra anggukkan kepalanya. "Bagus! Malam ini tiba saatnya bagimu

menghirup udara luar bukit! Pergilah dan lakukan apa yang telah kukatakan!

Habis berkata begitu, Iblis Gelang Kematian melepas beberapa gelang di tangannya dan diberikan pada Manding Jayalodra. Tangannya kemudian menelikung ke belakang. Dan ketika ditarik kembali, di genggamannya terlihat buntalan besar. "Di luar nanti, kenakan apa yang ada di dalam buntalan ini. Dan sejak malam ini namamu harus diganti dengan 'Penyair Berdarah'! Ini sesuai dengan tembang-tembang yang kuajarkan padamu!"

"Nama bagus!" sahut Manding Jayalodra seraya busungkan dada dan tersenyum lebar.

"Nama itu memang layak kau sandang. Karena suara tembang-tembang akan selalu kau ucapkan begitu bertemu lawan dan lancarkan serangan! Nah, waktumu untuk menghirup udara luar telah tiba!"

Manding Jayalodra yang kini telah digelari gurunya dengan Penyair Berdarah anggukkan kepala, lalu tanpa tunggu lebih lama lagi dia bergerak bangkit dan melangkah ke arah pojok ruangan di mana terdapat lobang yang menghubungkan dengan dunia luar. Sejenak dia tengadah memperhatikan lobang di atasnya. Lalu berpaling ke samping. Murid Iblis Gelang Kematian ini terperangah dengan mata liar berkeliling.

"Ke mana dia...?!" gumam Penyair Berdarah seraya gerakkan kepala berputar. Ternyata Iblis Gelang Kematian sudah tidak ada di tempatnya semula, malah meski dia telah menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, sang guru tidak terlihat batang hidungnya!

"Ah, kenapa aku pusing memikirkan dia? Bukankah malam ini adalah saat-saat yang kunantikan selama sembilan tahun? Bisa menghirup udara luar serta melihat pemandangan lain!" kata Penyair Berdarah seraya jejakkan sepasang kakinya. Tubuhnya melesat melewati lobang dan mendarat di dataran batu puncak Bukit Tumpang Gede.

Sejenak Penyair Berdarah lepaskan pandangannya berkeliling. Napasnya terlihat berhembus panjang-panjang seakan ingin menikmati udara luar yang baru saja dirasakan.

Setelah agak puas menghirup udara luar, Penyair Berdarah buka buntalan di tangannya. Ternyata buntalan itu berisi tiga pakaian, terdiri atas satu baju berwarna merah dan celana berwarna kuning, serta sebuah jubah panjang berwarna hitam bergaris-garis putih.

Tanpa pikir panjang lagi, Penyair Berdarah mengenakan pakaian itu.

"Hmm.... Pakaian ini tampaknya terbuat dari bahan bagus. Dari mana Guru mendapatkannya? Pakaiannya yang dikenakan Guru pun terlihat mewah. Siapa dia sebenarnya? Sembilan tahun hidup bersama, dia selalu mungkir jika ditanya soal asal-usulnya. Tak jadi apa, yang penting aku telah mendapatkan ilmu darinya! Dan aku akan jadi manusia yang ditakuti!" gumamnya seraya memandang ke bawah. Lantas tengadah ke atas dan berteriak.

"Wahai para penghuni bumi, sambutlah kedatangan Penyair Berdarah! Seorang manusia baru yang akan mengalirkan darah orang-orang yang tidak sejalan! Seorang manusia yang akan mengalirkan darah dengan tembang-tembang maut!"

Habis berteriak, Penyair Berdarah jejakkan

kakinya. Tubuhnya melesat dan lenyap dari puncak Bukit Tumpang Gede.

Pada sebuah batu, tiba-tiba muncul sesosok tubuh. Dia adalah seorang perempuan tua dan bukan lain adalah Iblis Gelang Kematian.

"Hmm.... Pilihanku ternyata tidak meleset!" gumam Iblis Gelang Kematian seraya mengawasi kelebatan muridnya, meski hanya samar-samar karena cepatnya lesatan Penyair Berdarah.

TIGA

PEMUDA berparas tampan berpakaian warna hijau itu hentikan larinya di bibir jurang di ujung lembah. Sepasang matanya yang tajam menyapu ke bawah. Yang terlihat hanyalah rindang dedaunan pohon-pohon benalu serta gelap pekat curamnya jurang. Kepalanya lantas bergerak ke kanan kiri. Tak lama kemudian dia menarik napas panjang dan dalam-dalam seakan melepas rasa gundah dan kecewa yang melanda dadanya. Setelah mengusap keringat yang membasahi dahi dan lehernya, dia balikkan tubuh dan melangkah gontai ke tengah lembah. Pada sebuah batu agak besar dia hempaskan pantatnya lalu duduk bersandar dengan mata memandang lurus ke depan. Tatapannya terlihat kosong.

"Heran. Ke mana perginya dia? Padahal aku meninggalkannya tidak lama. Aku yakin pasti ada orang yang menculiknya. Tak mungkin dia melarikan diri. Tubuhnya masih dalam keadaan terluka dalam. Apakah telah diambil oleh gurunya...?" sang pemuda membatin. Kembali dia menarik napas dalam-dalam.

"Kalau memang diambil kembali oleh gurunya, sungguh kasihan dia. Pasti dia akan menerima hukuman berat! Karena telah menolong menyelamatkan jiwaku. Tapi... benarkah dia menolongku? Atau semua itu dia lakukan karena tidak rela jika aku tewas di tangan orang lain meski orang itu adalah gurunya? Ah, Sakawuni Ke-

napa semua ini harus terjadi? Kenapa kau termakan oleh fitnah? Hmm.... Begitu cepatnya semua berubah!" sang pemuda meneruskan kata hatinya. Sebentar kemudian dia tampak mengambil sesuatu dari balik pakaiannya. Ternyata yang diambil adalah sebuah kipas lipat. Dengan sekali sentak kipas di tangannya mengembang dan langsung digerakkan pulang balik di depan dagunya.

Setelah berkipas-kipas beberapa lama, pemuda ini yang bukan lain adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 akhirnya bangkit.

"Untuk sementara aku harus menemui Dewi Kayangan. Masalah Sakawuni bisa dicari sambil jalan...," putus Aji seraya melangkah hendak meninggalkan lembah. Namun baru saja melangkah tiga tindak, mendadak terdengar suara deruan angin menyambar dari tiga jurusan. Bersamaan dengan itu berkelebat tiga sosok bayangan dan langsung berdiri berjajar dengan jarak lima tombak antara satu sama lain.

Pendekar 108 serentak hentikan langkah dan cepat berpaling. Sepasang matanya lantas mengedar memandangi satu persatu tiga sosok yang kini ada di hadapannya.

Orang yang berada paling kanan adalah seorang laki-laki setengah baya. Mengenakan pakaian mewah warna putih bersih berenda-renda kuning dari benang emas. Di dadanya terlihat kepingan-kepingan logam emas yang ditata rapi berjejer ke bawah. Rambutnya panjang dan kelimis. Kumis dan jenggotnya terawat rapi. Namun demikian, wajahnya tampak tak mengguratkan keramahan. Sepasang matanya menyengat tajam. Bibirnya tak mengulas senyum bahkan terlihat saling menggegat.

Pendekar 108 sejenak memperhatikan lakilaki setengah baya ini dan berkata dalam hati. "Hm.... Aku rasa-rasanya tidak mengenal laki-laki ini! Tapi melihat tampang serta pakaian yang dikenakan, mungkin dia dari golongan bangsawan. Siapa dia...?" sepasang matanya lantas beralih pada orang yang di tengah. Dia adalah seorang perempuan tua. Tubuhnya telah bungkuk. Mengenakan pakaian warna gelap berupa baju panjang dan celana komprang. Paras wajahnya telah mengeriput. Sepasang matanya besar dan melotot seakan-akan hendak meloncat keluar. Bibirnya amat tipis hingga seperti hanya sebuah sayatan daging. Rambutnya keriting dan di-sanggul ke atas dan telah berwarna putih. Nenek ini agak aneh, karena meski tiada angin kencang yang berhembus, tubuhnya selalu bergerak-gerak doyong ke samping kanan dan kiri seakan terkena hempasan angin dahsyat.

Sementara orang di sebelah kiri adalah seorang kakek bertubuh kurus kering. Sepasang matanya sayu merah dan masuk ke dalam rongga yang amat cekung. Pakaian yang dikenakannya telah robek di sana-sini. Namun ada sedikit keanehan pada kakek ini, hingga siapa pun yang bertemu pasti akan membelalakkan mata. Pada pundak kakek ini tampak menyelempang ikat pinggang besar yang memutar hingga punggung. Dan pada ikat pinggang terdapat beberapa tali yang mengikat beberapa bumbung bambu agak besar. Dari bumbung bambu itu menebar bau arak menyengat. Kepala kakek ini terus tengadah seraya tak henti-hentinya menenggak bumbung bambu yang berisi arak. Begitu arak pada satu bumbung habis dia hanya geser ikat pinggangnya ke belakang. Lalu ambil bumbung lagi dan ditenggaknya. Namun demikian, kakek ini tidak terlihat goyah karena mabuk arak, hanya sepasang matanya yang makin merah sayu.

"Kakek ini benar-benar gila! Dia tampak tak goyah meski terus-terusan menenggak arak. Siapa pula dia...? Dan apa perlu mereka datang ramai-ramai seakan menghadang jalanku?" Aji terus menduga-duga seraya tak melepaskan pandangannya pada ketiga orang di hadapannya.

Selagi Aji menduga-duga, sang nenek angkat tangan kirinya dan berkata.

"Pemuda tampan! Kau tak usah terkejut. Meski kami datang bersama-sama, namun kami punya tujuan lain. Untuk singkatnya, baiklah kukatakan dulu siapa diriku dan apa tujuanku. Dengar dan pasang telingamu baik-baik!" sang nenek sejenak hentikan ucapannya, kepalanya berpaling sebentar ke kanan dan ke kiri.

Namun sebelum nenek ini lanjutkan ucapannya, Pendekar 108 telah angkat bicara.

"Nenek tua! Aku tak punya waktu banyak. Cepat katakan apa tujuanmu dan dua temanmu itu!"

Si nenek tertawa panjang. Tubuhnya makin doyong ke kanan dan kiri. Setelah puas tertawa dia tengadahkan kepala dan berkata.

"Tentang namaku biarlah kusimpan sendiri. Untukmu akan kuberitahu julukanku saja. Sekali lagi harap pasang telinga baik-baik. Orang rimba persilatan menjulukiku Ratu Alam Bumi!"

Pendekar Mata Keranjang terkejut mendengar si nenek sebutkan gelarnya. Dalam rimba persilatan, manusia yang bergelar Ratu Alam Bumi memang sudah tidak asing lagi. Sesuai dengan gelaran yang disandang, orang ini memang tidak segan-segan jatuhkan tangan untuk mengirimkan orang ke alam baka! Biarpun hanya kecil kesalahan yang diperbuat. Hingga selain dikenal berilmu tinggi, nenek ini juga dikenal sangat kejam beringas!

Meski sedikit terkejut, namun murid Wong Agung tak hendak menunjukkan paras takut. Sebaliknya dia lantas tersenyum dan berkata.

"Hari ini sungguh suatu hari yang berarti. Aku dapat berjumpa dengan tokoh persilatan yang kesohor namanya! Tapi ada tujuan apa hingga Ratu Alam Bumi datang menghadang orang gelandangan sepertiku?!"

"Masalah tujuanku, itu kita bicarakan nanti! Sekarang mungkin dia akan memperkenalkan diri.'" kata Ratu Alam Bumi seraya arahkan pandangannya pada laki-laki setengah baya yang berpakaian mewah yang berada di sebelah kirinya.

Yang dipandang sejenak membalas pandangan Ratu Alam Bumi. Tampaknya ia tak senang dengan sikap Ratu Alam Bumi yang menunjuknya dengan pandangan mata. Namun entah karena keperluan dengan Pendekar MataKeranjang dianggap lebih penting, maka sebentar kemudian, laki-laki berpakaian mewah ini luruskan pandangannya ke arah Pendekar 108 dan berkata.

"Hari sudah siang. Aku tak perlu bicara panjang lebar seperti nenek peot ini! Aku adalah Begal Tanah Hitam! Kepala rampok yang bermarkas di Lembah Hitam!"

"Hmm.... Jadi ini manusianya kepala rampok yang paling ditakuti! Logam-logam kepingan emas yang berjajar di dadanya tentu didapat dari merampok!" batin Aji sambil memperhatikan Begal Tanah Hitam lebih seksama. Sebentar kemudian pandangannya beralih pada kakek yang tak henti-hentinya menenggak arak, karena tinggal dia yang belum memperkenalkan diri.

"Setan Arak! Waktu kita cuma sedikit, lekas bicara!" bentak Ratu Alam Bumi ketika ditunggu agak lama laki-laki tua di sebelah kirinya tak segera buka mulut untuk bicara. Malah mulutnya dibuat mengembung dan mengempis mempermainkan arak di dalamnya.

Setelah menenggak arak di mulutnya, lakilaki kurus ini segera palingkan wajah pada Ratu Alam Bumi. Tertawa mengekeh pendek lalu berkata.

"Kau telah sebutkan siapa aku. Untuk apa lagi memperkenalkan diri? Buang-buang waktu saja! Lebih baik aku meneruskan minum arak!" tangan kanannya menggeser ikat pinggangnya, hingga bumbung yang telah habis bergeser ke belakang melewati pundaknya. Di hadapannya kini telah terpegang bumbung bambu yang masih penuh arak. Tanpa acuhkan pandangan orangorang di sekitarnya, dia segera asyik dengan bumbung araknya.

"Setan Arak.... Hm.... Aku memang pernah mendengar gelar itu. Kabarnya ia adalah seorang yang berkepandaian tinggi. Dan menurut kabar yang selama ini tersiar, orang ini tingkah lakunya sukar ditebak. Kadang-kadang condong pada orang-orang golongan hitam dan tak jarang pula berteman dengan orang-orang golongan putih. Hm.... Menghadapi orang demikian diperlukan siasat tersendiri! Tapi Ratu Alam Bumi tadi mengatakan mereka punya tujuan sendiri-sendiri, berarti mereka tidak bersekongkol. Apa tujuan mereka sebenarnya...?" membatin Pendekar 108 Lalu arahkan pandangannya pada Ratu Alam Bumi dan berkata.

"Ratu Alam Bumi! Seperti katamu, waktu kita cuma sedikit. Lekas katakan apa tujuanmu menghalang-halangi langkahku!"

Ratu Alam Bumi tertawa pendek. Dengan tengadahkan kepala dia berkata.

"Pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Waktu kita memang sedikit. Dan agar cepat selesai, aku hanya berharap kau memberikan Arca Dewi Bumi padaku!"

Mendengar ucapan Ratu Alam Bumi, Begal Tanah Hitam terlihat kerutkan dahi. Kepalanya bergerak pelan berpaling pada Ratu Alam Bumi. Diam-diam dia berkata dalam hati.

"Jahanam! Ternyata dia mempunyai tujuan sama denganku. Sebelum terlambat aku juga harus mengatakan tujuanku!" Begal Tanah Hitam lantas luruskan tubuh menghadap Ratu Alam Bumi dan berkata.

"Ratu Alam Bumi! Ternyata tujuan kita tidak beda! Seperti dirimu, aku pun menginginkan Arca Dewi Bumi dari tangannya! Jadi jangan coba-coba mendahuluiku jika kau ingin selamat keluar dari lembah ini!" Ratu Alam Bumi bukannya terkejut mendengar ucapan Begal Tanah Hitam. Malah tanpa memandang ke arah Begal Tanah Hitam, dia berkata.

"Begal Tanah Hitam! Aku sejak semula memang telah menduga apa tujuanmu sebenarnya! Sekarang katakan apa maumu! Kau berhadapan denganku dahulu atau kita rampas arca itu lalu kita tentukan siapa di antara kita yang berhak memilikinya!"

Begal Tanah Hitam sejenak terdiam. Namun tak lama kemudian tawanya terdengar bergerai-gerai. "Ratu Alam Bumi! Aku hanya mengenalmu dari nama gelarmu yang begitu kesohor. Tapi aku belum pernah tahu bagaimana kenyataannya. Kuberi kesempatan padamu untuk menjajal pemuda itu. Aku khawatir kau hanya bernama besar namun ompong isinya! Sia-sia tanganku jika harus bergerak melawan manusia tidak berisi! Ha ha ha...! Lawanlah dulu pemuda itu, setelah itu bisa kuputuskan apakah kau pantas menghadapiku!"

Sebenarnya Begal Tanah Hitam mengatakan hal demikian karena diam-diam dia merasa keder menghadapi Ratu Alam Bumi. Dia sengaja menggertak dengan ejekan agar Ratu Alam Bumi segera bertarung dengan Pendekar 108. Dan jika itu terjadi, maka dia akan mencari kesempatan baik untuk melancarkan serangan.

Di samping, paras Ratu Alam Bumi terlihat berubah. Pelipisnya bergerak-gerak dengan mulut komat-kamit. Sepasang matanya tambah mendelik.

"Begal Jahanam! Aku tahu, kau takut menghadapiku! Tapi tak apalah. Tunggulah hingga aku menyelesaikan pemuda ini! Setelah itu baru giliranmu kukirim ke alam baka!"

"Hmm... bagaimana ini bisa terjadi? Antara teman sendiri saling adu mulut malah berencana hendak saling bunuh. Heran Tadinya kalian bi-

lang padaku hendak mengajak bersenang-senang minum arak tiga hari tiga malam. Mendadak berubah jalan hendak merebut arca butut! Waduh, ternyata kalian manusia-manusia yang tidak bisa dipegang mulutnya! Lebih baik aku pergi, aku tak senang bertemu dengan orang yang menclamencle! Gluk... gluk... gluk...!" mendadak Setan Arak menyela pembicaraan. Setelah menenggak arak dari bumbung bambu dia balikkan tubuh hendak meninggalkan tempat itu.

Namun baru saja hendak melangkah, Ratu Alam Bumi membentak garang.

"Setan Arak! Maju selangkah lagi kuhancurkan batok kepalamu! Tunggu di situ hingga urusanku selesai!"

Mendengar bentakan, Setan Arak hentikan langkah. Tiba-tiba suara tawanya meledak tinggi bergerai. Dan 'blukkk!' Setan Arak hempaskan tubuh kurusnya ke atas tanah dan duduk menggelosoh. Tangan kanannya menarik bumbung bambu lalu menenggak isinya.

"Baiklah kalau itu maumu! Aku akan tetap di sini melihat urusanmu! Asal kau tidak mencegahku untuk menenggak minuman kesayanganku ini!" habis berkata begitu, Setan Arak telah tenggelam dalam keasyikannya tersendiri.

"Hmm.... Berarti manusia arak ini tidak punya tujuan tertentu!" bisik Pendekar 108 dalam hati seraya gelengkan kepala melihat sikap Setan Arak.

"Pendekar 108! Kau telah dengar katakataku, lekas serahkan arca itu padaku!" tiba-tiba Ratu Alam Bumi keluarkan bentakan setelah ditunggu agak lama Pendekar 108 hanya memandang Setan Arak dengan senyum-senyum.

Pendekar 108 usap-usap hidungnya. Kepalanya digelengkan ke kanan kiri, mengikuti doyongan tubuh Ratu Alam Bumi, membuat perempuan tua ini membelalakkan matanya. Mulutnya yang sangat tipis bergerak membuka. Namun sebelum suaranya terdengar, Pendekar 108 telah angkat bicara.

"Ratu Alam Bumi! Dan juga kau, Begal Tanah Hitam! Dengar baik-baik. Aku tidak tahumenahu soal arca! Jadi kalian salah besar jika meminta benda itu padaku! Yang kalian dengar selama ini hanyalah berita. Kenyataannya aku tidak tahu apalagi menyimpan arca itu!"

"Jangan coba-coba menipuku! Cepat serahkan arca itu! Jika tidak, kau akan segera kukirim ke alam baka!" sentak Ratu Alam Bumi dengan gerakkan tangan kanan kiri sedikit ditarik ke belakang. Sementara kedua kakinya sedikit dipentangkan.

Pendekar 108 masih tampak senyumsenyum. Malah tangan kanannya tarik-tarik kuncir rambutnya.

"Ah, kebetulan sekali. Memang telah lama aku ingin melihat alam baka. Kalau kau berkenan, sungguh senang sekali, apalagi jika kau yang mengantar. Apakah kita akan berangkat sekarang...?"

"Ha... ha... ha...! Jangan kira kau saja yang ingin melihat pemandangan alam baka. Aku pun ingin melihatnya. Bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama? Tapi... kita belum tahu jalannya. Jangan-jangan kita nanti kesasar. Hm... sebentar...," yang berkata kali ini adalah Setan Arak. Dia lalu tercenung seakan memikirkan sesuatu. Tiba-tiba dia tertawa panjang dan telunjuk jarinya diluruskan pada Ratu Alam Bumi.

"Bukankah kau ratu di sana? Hmm.   Jika

begitu kau bisa sebagai penunjuk jalan. Sebagai penunjuk jalan tentunya kau harus berjalan paling depan. Baiklah, kita berangkat sekarang. Dia sebagai penunjuk jalan, dan harus duluan!"

"Betul! Kau harus terlebih dahulu jalan!' sahut Pendekar Mata Keranjang menimpali ucapan Setan Arak.

"Keparat! Kaulah yang harus duluan. Dan akan kutunjukkan jalannya tanpa harus ada aku!"

"Mana bisa begitu. Menurut aturan biasa, penunjuk jalan harus lebih dahulu. Bukankah begitu?" kata Setan Arak sambil palingkan wajah pada Pendekar 108.

"Benar! Harus jalan dahulu!" ulang Pendekar 108 seraya angguk-anggukkan kepala.

"Jahanam!" maki Ratu Alam Bumi dengan suara tinggi. Serta-merta kedua tangannya dihantamkan ke samping, ke arah Setan Arak yang duduk menggelosoh.

Serangan angin dahsyat menggebrak ke samping, dan bersamaan dengan itu larikan beberapa sinar hitam menyusul dari belakang! Melihat hal ini jelas sekali bahwa Ratu Alam Bumi tak main-main dengan ucapannya yang ingin mengirim ke alam baka.

Mendapat serangan ganas yang mematikan itu, Setan Arak tetap tenang-tenang saja, membuat Pendekar 108 belalakkan sepasang matanya. Pendekar 108 menduga jika Setan Arak tak bisa selamatkan dirinya dari hantaman pukulan Ratu Alam Bumi, karena jaraknya sudah demikian dekat.

"Setan Arak! Awas serangan!" teriak Aji begitu hantaman Ratu Alam Bumi telah setengah depa lagi menghajar tubuhnya dan dia tetap tak membuat gerakan.

"Mampus kau!" desis Ratu Alam Bumi dengan bibir senyum. Namun senyum nenek ini mendadak terpenggal. Sepasang matanya mendelik hampir tak percaya. Sementara Pendekar 108 gelengkan kepala sambil usap dadanya. Di sebelah samping, Begal Tanah Hitam melotot tak berkesip.

Apa yang terjadi di depan mereka sungguh

luar biasa. Begitu hantaman Ratu Alam Bumi sejengkal lagi menghajar tubuh Setan Arak, laki-laki tua kurus ini keluarkan lengkingan tinggi. Tibatiba tubuhnya lenyap. Hingga serangan Ratu Alam Bumi hanya menerabas udara kosong! Dan terus menghajar sebuah batu besar. Batu itu langsung hancur berkeping-keping dan sebagian jadi abu!

"Setan alas! Siapa sebenarnya laki-laki tua ini? Aku hanya mengenalnya beberapa hari yang lalu. Ternyata dia berilmu tidak cetek. Dia berhasil menghindar dari seranganku, padahal jaraknya sudah demikian dekat! Keparat! Janganjangan aku salah memilih teman!" bisik Ratu Alam Bumi sambil menebar pandangan mencari Setan Arak yang masih tidak tampak batang hidungnya.

"Ke mana lenyapnya manusia arak itu?" gumam Pendekar 103 dengan kepala berpaling ke kanan kiri. Sementara Begal Tanah Hitam surutkan langkah satu tindak dan diam-diam berkata dalam hati.

"Tak kuduga jika manusia itu berkepandaian tinggi. Jika demikian halnya aku harus pandai-pandai atur siasat dan cari kesempatan yang baik. Bila tidak...," Begal Tanah Hitam hentikan kata hatinya karena saat itu terdengar suara orang mengumbar tawa. Tiga kepala langsung berpaling ke arah sumber suara tawa. EMPAT

DI bawah sebuah pohon besar, Setan Arak terlihat tidur-tiduran dengan posisi miring. Salah satu bumbung araknya dibuat bantalan kepala, sementara tangan kanannya bergerak pulang balik ke mulutnya untuk mengisikan arak! Hebatnya, arak yang ada di bumbung bambu dan kini tampak bergeletakan di atas tanah itu tidak tumpah! Padahal bumbung bambu itu tidak tertutup! Dan sebagian tampak tergeletak dengan posisi miring!

"Luar biasa! Dia mampu menahan aliran araknya hingga tidak tumpah! Lagi pula gerakannya demikian cepat! Aku hampir tak percaya jika dia bisa menghindar!" batin Pendekar 108 seraya geleng-geleng kepala.

"Keparat! Dia rupanya sengaja mempermainkan aku. Tunggulah!" kata Ratu Alam Bumi dalam hati. Lalu berpaling pada Pendekar 108. Dan serta-merta kedua tangannya dihantamkan!

Wuttt!

Angin dahsyat yang mengeluarkan suara menggemuruh melesat keluar dari kedua tangan Ratu Alam Bumi. Sekejap kemudian dari kedua tangannya juga melesat beberapa larikan sinar yang menyusul! Bukan hanya sampai di situ, begitu kedua tangannya bergerak menghantam, tubuhnya pun melesat ke arah samping dan dari sini, nenek ini pun kembali hantamkan kedua tangannya! Hingga saat itu juga Pendekar 108 laksana dihujani serangan dari dua penjuru!

Pendekar 108 cepat berpaling. Dan melihat ganasnya serangan murid Wong Agung ini segera berteriak nyaring. Tubuhnya mendadak melesat setengah tombak ke udara. Dan bersamaan dengan itu, kedua tangannya menghantam ke depan lalu ditarik dan dihantamkan kembali ke arah samping.

Bumm! Bummm!

Terdengar dua kali ledakan keras ketika dua serangan bentrok di udara. Tempat itu sejenak laksana ditimpa gempa dahsyat hingga tanahnya bergetar! Bukan hanya itu saja, asap hitam terlihat membumbung begitu serangan bertemu!

Ratu Alam Bumi tampak terhuyunghuyung ke belakang. Karena tubuh nenek ini selalu goyang ke samping kanan dan kiri, maka tatkala tubuhnya terhuyung-huyung, gerakan tubuhnya tampak lucu! Hal ini rupanya tak lepas dari pandangan Setan Arak. Hingga saat itu juga meledaklah tawanya.

"Asyik juga melihat akrobat sambil tiduran dan minum arak! Hanya sayang, pemain akrobatnya sudah nenek-nenek! Seandainya seorang gadis cantik dan mengenakan pakaian tipis serta minim, mungkin akan tambah asyik!" kata Setan Arak seraya gelak-gelak.

Sementara itu di depan, Pendekar 108 terlihat terseret hingga lima tombak ke belakang. Hal ini terjadi karena saat menangkis serangan, murid Wong Agung ini berada di atas udara, hingga tubuhnya sejenak tampak melayang ke belakang, namun dia segera bisa kuasai diri. Namun demikian, tak urung parasnya tampak berubah meringis menahan rasa sakit pada pangkal tangannya serta dadanya.

Di lain pihak, Ratu Alam Bumi pun tampak mengusap-usap dadanya. Pertanda dia juga merasakan sakit pada bagian dada. Namun setelah nenek ini salurkan tenaga dalam, dia tampak segar kembali. Sepasang matanya lantas memandang tajam ke arah Pendekar 108. Mulutnya yang tipis bergerak komat-kamit. Sepasang matanya lalu memejam, kedua tangannya disatukan dan disejajarkan dada. Sang nenek tampaknya sedang kerahkan tenaga dalam untuk lancarkan serangan andalan.

Mendapati hal ini, Pendekar 108 tak tinggal diam. Kipas ungunya segera dicabut dari balik pakaiannya. Dan merasa lawan tidak bisa dianggap remeh serta benar-benar menginginkan nyawanya, maka Pendekar 108 pun siapkan pukulan 'Mutiara Biru'!

Selagi kedua orang ini sedang bersiap-siap, tiba-tiba terdengar alunan syair.

Siapa yang yakin pada kekuatan, maka ia akan dikalahkan!

Siapa yang percaya pada kelicikan, dialah yang akan keluar menang! Darah adalah lambang kebebasan yang akan mengantar ke alam baka!

Karena alunan syair itu bukan alunan biasa, melainkan telah dialiri dengan tenaga dalam kuat, maka konsentrasi Ratu Alam Bumi tampak buyar. Hingga dengan paras berubah dia segera membuka kelopak matanya. Kepalanya cepat menoleh ke arah sumber alunan suara syair. Demikian pula Pendekar Mata Keranjang 108. Sementara Begal Tanah Hitam tersurut selangkah sambil luruskan tubuh ke arah datangnya suara alunan syair. Hanya Setan Arak yang terlihat tenangtenang saja. Bahkan berpaling pun tidak! Malah sambil acung-acungkan bumbung araknya dia ikut-ikutan bersyair.

Kekuatan adalah pangkal malapetaka. Kelicikan adalah awal bencana.

Jika keduanya bersatu, kegegeran akan menjadi buahnya.

Hanya manusia yang bertangan bersih yang dapat mengubur impian orang berilmu tapi licik!

Di tempat itu tahu-tahu telah berdiri seorang pemuda seraya kacak pinggang. Pemuda inilah yang tadi mengalunkan suara syair. Dia berparas tampan. Namun tampak beringas. Rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai. Sepasang matanya tajam menyengat. Dia mengenakan baju warna merah sedangkan celananya berwarna kuning. Pakaian itu masih dilapis dengan jubah besar warna hitam bergaris-garis putih yang kancing-kancingnya dibiarkan membuka.

"Bangsat rendah! Siapa kau...?!" bentak Begal Tanah Hitam dengan suara keras. Laki-laki setengah baya ini jelas marah besar, karena dengan datangnya pemuda bersyair ini, pertarungan antara Ratu Alam Bumi dan Pendekar 108 terhenti. Padahal dia berharap pertarungan itu segera berlangsung kembali, bahkan berharap agar keduanya tewas, setidak-tidaknya dia bisa menyarangkan pukulan pada saat yang tepat pada Ratu Alam Bumi.

Dibentak demikian rupa, pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih yang bukan lain adalah Penyair Berdarah bantingkan kakinya ke tanah. Dagunya terangkat dengan pelipis kanan kiri bergerak-gerak pertanda amarah telah menguasai dadanya. Seraya busungkan dada dan menunjukkan seringai ganas, dia berkata.

"Anjing kurap! Buka lebar-lebar telingamu.

Aku adalah Penyair Berdarah!"

Begal Tanah Hitam keluarkan tawa mengekeh begitu mendengar pemuda menyebutkan gelarnya.

"Penyair Berdarah?" ulang Begal Tanah Hitam dengan senyum penuh ejekan. "Gelarmu cukup bagus. Tapi bukan untuk kalangan orangorang sepertiku! Kuingatkan padamu, lekas tinggalkan tempat ini jika kau masih ingin bersyair!" Penyair Berdarah kembungkan mulut, lalu meludah ke tanah. Kepalanya lalu bergerak mendongak ke atas. Masih tetap dengan kacak pinggang, dia berucap.

"Manusia anjing! Akan kutunjukkan padamu bahwa syairku mampu membawamu tinggalkan tempat ini. Sekaligus nyawamu!"

"Hmm.   Urusan ini nyatanya jadi panjang.

Satu belum selesai datang lagi satunya. Tapi yang ini tampaknya orang baru, karena baik gelar maupun orangnya aku masih mendengar dan melihat pertama kali ini! Siapa dia sebenarnya. ?

Dan apa juga punya tujuan sama dengan Ratu Alam Bumi? Mendengar nada syairnya yang mampu membuyarkan konsentrasi Ratu Alam Bumi, orang ini tidak bisa dipandang remeh! Hm... lebih baik kulihat dahulu bagaimana sepak terjangnya menghadapi kepala rampok Begal Tanah Hitam...," batin Pendekar 108 seraya memperhatikan lebih seksama pada Penyair Berdarah. Seperti halnya Pendekar 108, Ratu  Alam

Bumi pun diam-diam berkata dalam hati.

"Siapa pun adanya manusia ini, yang pasti dia berkepandaian tinggi. Suaranya mampu membuyarkan pusat perhatianku. Penyair Berdarah.... Hm... baru kali ini aku mendengar nama itu! Tapi aku harus berhati-hati, karena belum bisa diduga apa tujuan sebenarnya dia ikut campur masalah ini! Dan lebih baik kubiarkan saja Begal Tanah Hitam menghadapinya. Dengan begitu sedikit banyak aku bisa mengukur ilmunya...," seraya membatin begitu, Ratu Alam Bumi geser langkahnya agak ke belakang. Sepasang matanya kini dipusatkan pada Begal Tanah Hitam yang tampak mulai melangkah maju.

Di tempat paling belakang, Setan Arak tak keluarkan suara. Bahkan suara gelegukan araknya pun tidak terdengar. Mendapati hal ini Pendekar 108 segera berpaling ke belakang. Murid Wong Agung ini jadi terhenyak melihat Setan Arak. Kepalanya menggeleng dengan mulut memaki panjang pendek. Ternyata Setan Arak tertidur! Kedua matanya terpejam rapat, sementara tangannya terkulai di atas tanah sambil memegangi bumbung arak. Dan tak lama kemudian terdengar dengkuran dari tenggorokannya!

"Gila! Bagaimana menghadapi suasana demikian dia bisa enak-enakan tidur? Hm... sebenarnya ini kesempatan baik untuk mendekatinya. Aku menduga dia tak berhasrat dengan segala macam arca! Manusia begini ini lebih sayang arak daripada benda-benda mustika!" berpikir sampai di situ, Pendekar 108 lantas melirik pada Ratu Alam Bumi. Dan ketika dilihatnya nenek ini tidak memperhatikannya, dia balikkan tubuh hendak berkelebat ke arah Setan Arak.

Namun baru saja tubuhnya hendak bergerak, Ratu Alam Bumi telah keluarkan bentakan.

"Pendekar Mata Keranjang! Jangan mimpi untuk bisa lolos dari pengawasanku! Tetap di tempatmu hingga pertunjukan selesai!"

Mendengar si nenek menyebut julukan Pendekar Mata Keranjang 108, secepat kilat Penyair Berdarah palingkan wajah dan memandang lekat-lekat pada Aji. Dahinya mengernyit. Pandangannya lalu beralih pada tangan kanan Pendekar 108 yang memegang kipas ungunya.

"Hm... hari baik bagiku. Begitu turun bukit aku telah menemukan orang yang kucari! Pendekar Mata Keranjang.... Sebelum menjadi penghalang langkahku selanjutnya, sebaiknya kuhabisi dia sekarang!" batin Penyair Berdarah seraya kerahkan tenaga dalamnya pada kedua telapak tangan. Namun sebelum dia bergerak menghantam, Begal Tanah Hitam telah meloncat dan tegak sepuluh langkah di hadapannya.

Mendapati niatnya terhalangi, Penyair Berdarah naik pitam. Tanpa bicara lagi kedua tangannya yang tadi disiapkan untuk menghantam Pendekar 108 serta-merta dihantamkan ke arah Begal Tanah Hitam!

Wuttt! Wuttt!

Dua bongkahan angin dahsyat melesat menyusur tanah. Hebatnya, tanah itu seakan pecah menjadi dua!

Di depan sana, Begal Tanah Hitam merasakan tubuhnya terguncang dan oleng ke samping kanan dan kiri, mengikuti lesatan angin yang keluar dari tangan Penyair Berdarah. Mendapati hal yang tidak diduga, Begal Tanah Hitam cepat kerahkan tenaga dalam untuk menghindar dari bongkahan angin yang semakin dekat ke arahnya. Namun baru saja dia kerahkan tenaga dalam, Penyair Berdarah telah hantamkan kembali kedua tangannya! Kali ini disertai dengan bentakan garang dan lompatan satu tombak ke depan.

Paras Begal Tanah Hitam terlihat pias. Namun sebagai kepala rampok yang paling ditakuti, pantang baginya menyerah begitu saja. Dengan membentak nyaring kedua kakinya disentakkan ke atas tanah. Olengan tubuhnya mendadak terhenti. Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat ke udara. Hingga serangan pembuka Penyair Berdarah hanya menghajar tempat kosong. Namun betapa terkejutnya kepala rampok ini, begitu tubuhnya melesat, dadanya serasa dihantam angin dahsyat. Tubuhnya berputar lalu mencelat ke belakang dan terhempas di atas tanah.

"Keparat!" seru Begal Tanah Hitam seraya bergerak bangkit. Bibirnya telah terlihat mengeluarkan darah. Sementara Penyair Berdarah tampak tersenyum tatkala hantaman keduanya tak dapat ditangkis oleh lawan. Kepalanya lantas tengadah, dan terdengarlah alunan syair dari mulutnya. baru. Darah telah mengalir.

Alam baka akan segera mendapat penghuni

Tangan Penyair  Berdarah akan menghantarkan sang penghuni baru!

Selagi Penyair Berdarah melantunkan syair, kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Begal Tanah Hitam. Kedua tangannya diangkat ke atas kepala lalu secepat kilat diturunkan kembali dan dihantamkan ke arah Penyair Berdarah dengan telapak terbuka.

Angin dahsyat yang mengeluarkan suara mengerikan menyambar cepat ke arah Penyair Berdarah. Pemuda murid Iblis Gelang Kematian ini terlihat bergetar, padahal sambaran angin Begal Tanah Hitam belum sampai menghajar tubuhnya! Namun Penyair Berdarah tidak tampak terkejut. Dia tetap tengadah seakan menunggu tubuhnya dihajar. Baru saat pukulan itu setengah depa lagi mengenai sasaran, dia tarik kedua tangannya sejajar dada dan dihantamkan kuatkuat, dari mulutnya terdengar bentakan keras.

Apa yang terjadi selanjutnya sungguh luar biasa. Sambaran angin pukulan Begal Tanah Hitam ambyar lenyap! Yang terlihat kini adalah larikan sinar putih hitam melabrak ke arah Begal Tanah Hitam! Bersamaan dengan itu hawa panas menghampar!

Begal Tanah Hitam tersirap darahnya. Dia terkejut bukan alang kepalang. Keadaan seperti ini tampaknya membuat kepala rampok ini lengah, hingga dia tak berusaha membuat gerakan untuk menghindar atau menangkis. Dia baru sadar tatkala pukulan lawan telak di depannya dan tak ada kesempatan lagi baginya untuk bergerak. Hingga tanpa ampun lagi tubuh kepala rampok ini terjengkang sampai lima tombak ke belakang dan terkapar di atas tanah! Darah kembali mengalir dari mulut bahkan hidungnya. Namun demikian, dengan mengerang merasakan nyeri pada dadanya, laki-laki berpakaian mewah ini bergerak bangkit. Dan begitu tubuhnya dapat berdiri, secepat kilat dia berkelebat. Bukan untuk menyergap dan lakukan serangan, namun justru melarikan diri!

Namun sungguh tak disangka oleh Begal Tanah Hitam. Karena begitu tubuhnya hendak berkelebat, kedua kakinya goyah, tangannya gemetar, sementara dadanya sukar dibuat bernapas. Dengan sudut matanya dia melirik pada tangan dan kedua kakinya. Tiba-tiba dia terhenyak. Ternyata kedua kaki dan tangannya telah menjadi kebiru-biruan pertanda jalan darahnya tersumbat! Menyadari dalam keadaan bahaya, dia segera alirkan tenaga dalam. Namun belum sampai tenaga dalamnya mengalir, tubuhnya telah oleng dan jatuh kembali ke atas tanah!

Penyair Berdarah melangkah mendekat, membuat Begal Tanah Hitam pucat pasi dan gemetaran. Laki-laki setengah baya ini sejenak berpaling pada Ratu Alam Bumi. Meski dari mulutnya tidak memperdengarkan suara, namun jelas sekali dari wajahnya bahwa dia minta bantuan.

Tapi Ratu Alam Bumi seakan acuh saja. Malah ketika Penyair Berdarah mulai melangkah mendekat ke arahnya, si nenek sunggingkan senyum! Dan dalam hati diam-diam sadar jika Penyair Berdarah tidak bisa dianggap ringan.

"Dugaanku benar, pemuda itu tidak bisa dipandang sebelah mata meski ia baru saja muncul di arena rimba persilatan.... Kuharap semoga dia ada di jalur orang-orang golongan putih, meski melihat tampangnya dia tampak manusia yang berhati kejam!" batin Pendekar 108 seraya memperhatikan langkah-langkah Penyair Berdarah yang makin dekat dengan Begal Tanah Hitam. Namun tiba-tiba Penyair Berdarah henti-

kan langkahnya lima langkah dari depan Begal Tanah Hitam. Tubuhnya diputar dan kini menghadap lurus pada Pendekar 108. Sepasang matanya menyengat tajam, mulutnya sunggingkan senyum seringai ganas.

Pendekar Mata Keranjang terlihat terkejut. Karena saat itu murid Wong Agung sedang kerahkan tenaga dalam ke tangannya. Hal ini dia lakukan untuk menangkis pukulan Penyair Berdarah, karena dia menduga jika Penyair Berdarah sudah pasti akan menurunkan tangan kematian pada Begal Tanah Hitam. Perbuatan menghabisi lawan yang sudah tidak berdaya meski itu adalah musuh besar, bagi murid Wong Agung ini adalah merupakan perbuatan tidak ksatria. Maka dari itu, untuk menjaga kemungkinan, diam-diam Pendekar 108 kerahkan tenaga dalam untuk menyelamatkan Begal Tanah Hitam.

"Hm.... Kalau tidak salah, benarkah aku kini sedang berhadapan dengan manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!" Penyair Berdarah ajukan tanya.

Pendekar 108 balas tatapan Penyair Berdarah. Bibirnya lantas tersenyum. Sambil gosokgosok tangannya dengan ujung kipas yang telah dilipat dia menjawab.

"Sahabatku bergelar Penyair Berdarah. Itu hanyalah gelar yang diberikan oleh orang-orang. Aku sebenarnya adalah Aji Saputra! Seorang pengelana jalanan yang tak punya tujuan. Harap kau terima perkenalanku!"

Penyair Berdarah sejenak terdiam dengan sepasang mata mengawasi Pendekar 108 dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kepalanya lalu mendongak. Kejap kemudian terdengarlah suara tawanya, membuat Aji kerutkan dahi, lalu gelengkan kepala.

Mendadak Penyair Berdarah hentikan tawanya. Lalu berucap.

"Pendekar Mata Keranjang! Sungguh malang nasibmu, karena perkenalan ini hanya sekejap dan kita tak mungkin dapat bertemu lagi!"

"Sobat! Apa maksudmu...?" tanya Pendekar

108 belum dapat menebak arah bicara Penyair Berdarah.

"Orang tolol! Kita tak dapat berjumpa lagi karena kau akan segera pula menyusul orang ini!" habis berkata begitu, tanpa diduga sama sekali kedua tangan Penyair Berdarah menghantam ke samping, ke arah Begal Tanah Hitam yang masih tampak kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi peredaran jalan darahnya yang seakan tersumbat akibat pukulan Penyair Berdarah.

Begal Tanah Hitam melengak kaget. Namun sudah sangat terlambat untuk membuat gerakan menghindar apalagi menangkis. Hingga tanpa ampun lagi tubuhnya mencelat jauh dan berkaparan di atas tanah. Sebentar tubuh kepala rampok itu bergerak-gerak dengan keluarkan erangan menyayat. Namun sekejap kemudian erangannya terputus bersamaan dengan melayangnya nyawa dari tubuhnya!

Penyair Berdarah tersenyum puas. Sementara Pendekar 108 terlihat kertakkan rahang. Kemarahan terlihat di wajahnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Penyair Berdarah akan melakukan hal seperti itu.

"Hm.... Melihat gelagatnya, rupanya dia bukan orang baik-baik! Apa tujuan sebenarnya manusia ini...?!" Pendekar 108 menduga-duga sendiri dalam hati.

Sementara itu, melihat Begal Tanah Hitam telah tewas, Ratu Alam Bumi menarik napas lega. Karena saingannya untuk mendapatkan arca dari tangan Pendekar 108 telah tiada. Namun demikian, dia belum berani bertindak. Dia tampak menunggu dan ingin mengetahui apa maksud sebenarnya Penyair Berdarah.

"Aku lebih baik menunggu untuk mengetahui apa maksud tujuan sebenarnya dari manusia sombong ini! Kalaupun dia menginginkan juga benda itu, aku tak akan mundur meski aku tahu dia berkepandaian sangat tinggi!"

Ratu Alam Bumi lantas palingkan wajah menghadap jurusan lain, namun sepasang matanya sebenarnya melirik ke arah Pendekar 108, sementara telinganya ditajamkan untuk menjaga jika diserang dari belakang.

"Pendekar 108! Kau telah tahu apa yang hendak kau alami, kuberi kesempatan padamu untuk berdoa!' tiba-tiba Penyair Berdarah keluarkan suara.

"Penyair Berdarah. Rasa-rasanya antara kita baru kali pertama berjumpa. Jadi tidak ada silang sengketa di antara kita. Lantas apa salahku hingga kau seolah menginginkan aku jadi penghuni alam baka?"

Penyair Berdarah kembali perdengarkan tawa panjang.

"Rimba persilatan adalah arena pembuktian siapa orang yang paling unggul. Pembuktian tak terwujud tanpa sebuah pertarungan hidup mati. Penyair Berdarah ingin buktikan bahwa tak ada orang lain di atasnya!"

"Sialan! Ditanya baik-baik dijawab dengan syair-syair butut!" Pendekar 108 memaki dalam hati. "Penyair Berdarah! Katakan terus terang apa maumu! Aku tak ada waktu untuk bersyair-syair!" Penyair Berdarah keluarkan dengusan ke-

ras. Kepalanya diluruskan dengan mata merah liar menatap Pendekar108.

"Pendekar 108! Kau telah melakukan kesalahan besar. Dan hukumannya adalah mati! Kau dengar itu?!"

Pendekar 108 kernyitkan kening. Kepalanya bergerak menggeleng perlahan. "Katakan apa dosaku! Kau jangan sembrono!"

"Pendekar 108! Kesalahanmu adalah karena kau mempunyai ilmu!"

Aji tertawa panjang hingga matanya terpejam dan terbuka. Sementara di belakangnya dengkuran Setan Arak makin keras. Ratu Alam Bumi segera palingkan wajah. Sepasang mata nenek ini jadi membeliak melihat tingkah Setan Arak. Hatinya dongkol bukan main. Namun dia tak hendak beranjak dari tempatnya.

"Aneh...," kata Pendekar 108 seraya manggut-manggut "Mempunyai ilmu merupakan kesalahan. Hm.... Siapa yang punya peraturan demikian...?!"

"Mata Keranjang! Camkan di dadamu! Di hadapan Penyair Berdarah, setiap orang yang mempunyai ilmu adalah manusia berdosa dan layak dihukum mati!"

Mendengar ucapan Penyair Berdarah, Pendekar 108 berpaling pada Ratu Alam Bumi, lalu menoleh pada Setan Arak dan berkata.

"Jadi di sini bukan aku saja yang melakukan dosa besar. Tapi juga dia dan dia! Betul...?!" sambil berkata Pendekar 108 angkat jari telunjuknya dan ditunjukkan pada Ratu Alam Bumi lalu pada Setan Arak.

Penyair Berdarah tersenyum sinis. Setelah meludah dia berkata.

"Ucapmu tak salah. Setelah kau, giliran nenek busuk itu. Lalu manusia yang sedang molor itu!" Tampang Ratu Alam Bumi langsung berubah dikatakan nenek busuk. Tapi lagi-lagi dia masih menahan amarahnya. Dia menyadari jika Penyair Berdarah mempunyai ilmu tinggi, dan dia berharap agar Penyair Berdarah berhadapan dahulu dengan Pendekar 108. Dengan demikian bagaimanapun juga tenaganya nanti pasti telah berkurang. Karena dia juga yakin Pendekar 108 tidak akan tinggal diam. Berpikir sampai di situ, nenek ini hanya diam saja meski hatinya diamuk hawa amarah.

"Manusia gila! Peraturannya pun pasti gila. Orang berilmu dianggapnya dosa besar...," Pendekar 108 angguk-anggukkan kepala dengan bibir tersenyum. Lalu berkata tanpa memandang pada Penyair Berdarah.

"Kalau setiap orang berilmu kau anggap berdosa besar, bahkan harus menerima hukuman mati, tentunya kau pun berdosa besar dan layak dihukum mati! Bukankah kau juga seorang berilmu? Bahkan telah melakukan pembunuhan secara licik! Menewaskan lawan yang telah tidak berdaya!"

"Ha ha ha...! Peraturan itu aku yang membuat. Jadi aku yang menentukan!' kata Penyair Berdarah seraya usap-usap dadanya. Rambutnya yang terlihat bergerai ke depan disibakkannya.

"Hm.   Begitu? Dengar baik-baik! Sekarang

pun aku membuat peraturan. Barang siapa membuat peraturan tanpa seizinku, maka dia telah berbuat dosa amat besar. Dan hukumannya adalah pancung kepala!" sejenak Pendekar 108 hentikan ucapannya, lalu seraya usap hidungnya dia melanjutkan.

"Kau telah dengar peraturanku. Tanpa kujelaskan kau tentunya telah mengerti. Apa kau telah pula siap menerima hukuman pancung? Karena kau membuat peraturan tanpa seizinku?!"

"Bangsat anjing!" bentak Penyair Berdarah marah besar. "Kita buktikan siapa di antara kita yang pantas untuk membuat peraturan!" sambil berkata dia melompat dan tahu-tahu tubuhnya telah tiga langkah di hadapan Pendekar 108. Sepertinya tidak ingin memberi kesempatan pada lawan, kedua tangannya langsung berkelebat kirimkan hantaman pada kepala lawan!

Pendekar 108 yang telah waspada cepat angkat kedua tangannya menyongsong kelebatan tangan lawan.

Prakkk! Bukkk! Bukkk!

Pendekar 108 langsung terputar dan jatuh terduduk. Melirik, dia terkejut. Kedua lengannya telah berubah membiru. Dadanya berdenyut nyeri, sedangkan telinganya berdengung panas!

Di depan, sepuluh langkah dari tempat Pendekar 108, Penyair Berdarah terlihat terkapar. Namun pemuda berjubah hitam bergaris-garis putih ini segera bergerak bangkit. Parasnya berubah mengelam. Sejenak dia merapatkan kedua tangannya kerahkan tenaga dalam untuk mengatur jalan darahnya yang seperti terhenti! "Hm... benar apa yang dikatakan Guru. Pendekar ini memang harus segera disingkirkan. Ilmunya tinggi, tenaga dalamnya kuat!" batin Penyair Berdarah seraya bangkit berdiri dan memandang liar pada Pendekar108.

Sepuluh langkah di hadapannya, Pendekar 108 telah pula berdiri dan balas menatap. Untuk beberapa saat lamanya kedua pemuda ini saling bentrok pandangan.

"Hmm.   Tak bisa dipungkiri, manusia satu

ini cukup hebat. Sayang, kehebatannya digunakan pada jalan yang keliru! Orang seperti ini harus mendapat pengajaran!" bisik Pendekar 108

dalam hati.

Selagi kedua pemuda ini saling diam dengan pikiran masing-masing, Ratu Alam Bumi melirik ke arah Setan Arak.

"Ini kesempatan baik. Manusia arak itu terlalu bahaya jika dibiarkan hidup. Bukan mustahil dia nanti malah menjadi penghalang rencanaku! Sebelum terlambat, lebih baik kusingkirkan dahulu!" Ratu Alam Bumi segera berkelebat. Tahutahu sosoknya telah berdiri di depan Setan Arak.

Anehnya, begitu sosok Ratu Alam Bumi telah berdiri dengan mata berkilat-kilat, Setan Arak makin keras dengkurnya! Malah sesaat kemudian tubuhnya bergerak membalik dan memunggungi Ratu Alam Bumi! Bukan hanya sampai di situ, bersamaan dengan membaliknya tubuh, terdengar suara mendesis dari pantatnya!

Duuusss! Bau tak sedap segera menghampar keluar dan melingkupi sekitarnya.

"Jahanam!" maki Ratu Alam Bumi sambil angkat tangannya dan ditakupkan menutupi hidung. Bersamaan dengan itu dia meloncat setengah tombak dan serta-merta kaki kanannya disapukan pada tubuh Setan Arak!

Melihat hal ini, Pendekar 108 yang sedari tadi melirik tingkah Ratu Alam Bumi sempat tercengang. Namun dia tak berani berbuat banyak. Dia khawatir, jika ia lengah sedikit bukan tak mungkin akan digunakan kesempatan oleh Penyair Berdarah. Menyadari hal ini, murid Wong Agung hanya bisa memandang dengan batin memaki tiada habis-habisnya.

Di lain pihak, Penyair Berdarah tampak tersenyum sinis. Namun diam-diam dia merasa lega. Karena dengan tewasnya Setan Arak, maka lawannya akan jadi berkurang. Meski dia sendiri yakin bisa mengalahkan Setan Arak.

"Hancur tubuhmu!" teriak Ratu Alam Bumi. Namun apa yang kemudian terjadi sungguh di luar dugaan. Karena begitu sejengkal lagi kaki Ratu Alam Bumi akan menghajar sosok Setan Arak mendadak laki-laki berselendang bumbung arak ini hentikan dengkurnya. Tangan kirinya seakan tanpa sengaja melejang dan menyodok bumbung arak yang dibuat bantalan kepalanya. Bumbung arak itu mencelat, namun bersamaan dengan itu kepalanya bergerak menggelinding ke bawah demikian pula tubuhnya! Hingga sapuan kaki Ratu Alam Bumi lewat sejengkal di belakangnya! Bahkan kalau saja si nenek tidak cepat tarik pulang kakinya, niscaya kakinya akan menghajar pohon!

Begitu lolos dari sapuan kaki, tubuh Setan Arak terus bolak-balik menggelinding. Saat terhenti, posisinya tetap seperti semula. Berbantal salah satu bumbung araknya dan memunggungi! Dengkurnya pun kembali terdengar!

Pendekar 108 menarik napas lega. Malah kepalanya menggeleng dengan bibir tersenyum. Namun tidak demikian halnya dengan Penyair Berdarah. Pemuda ini terlihat katupkan rahangnya rapat-rapat. Matanya membelalak dengan dahi mengernyit. Dia mulai sadar, jika Setan Arak bukanlah orang sembarangan. Dalam keadaan tidur masih dapat menghindari serangan Ratu Alam Bumi!

Yang paling marah adalah Ratu Alam Bumi. Parasnya merah membara dengan tubuh gemetar. Dadanya bergemuruh hingga pakaiannya laksana ditiup angin. Nenek ini segera takupkan kedua tangan di atas kepala. Perlahan-lahan lalu diturunkan dengan dibuka. Mulutnya komatkamit mengucapkan gumaman tak jelas. Tiba-tiba dia membentak keras dengan meloncat ke depan. Bersamaan dengan itu kedua tangannya dihantamkan ke arah Setan Arak!

Werrr! Werrr!

Dua gelombang angin yang mengeluarkan suara menggemuruh melesat. Di belakangnya menyusul beberapa bersitan sinar redup. Tampaknya Ratu Alam Bumi telah kerahkan pukulan andalannya yakni ‘Topan Sinar Membelah’!

"Belah tubuh keringmu!" seru Ratu Alam Bumi dengan senyum seringai.

Lima tombak di depannya, Setan Arak tibatiba bangkit dengan masih duduk memunggungi. Anehnya, meski kini telah duduk, tubuhnya goyang-goyang seperti goyangan tubuh Ratu Alam Bumi yang memang tak bisa terhenti. Dan dari mulutnya masih terdengar suara dengkuran! Lalu kedua tangannya direntangkan seperti orang menggeliat dari tidur. Namun tiba-tiba rentangan kedua tangan itu mengibas ke belakang!

Wesss! Wesss!

Dua bongkahan asap tiba-tiba mengepul dan membentuk bumbung bambu agak besar. Ratu Alam Bumi tercengang dan keluarkan seruan kaget. Dua gelombang angin pukulannya melesat masuk dalam asap yang membentuk bumbung, demikian juga bersitan sinar redup yang menyusuli! Dan nenek ini makin terlengak tatkala melihat dua asap bumbung itu kini melesat lurus ke arahnya!

Sebagai orang yang telah pengalaman malang melintang dalam rimba persilatan, meski dalam keadaan terlengak begitu, Ratu Alam Bumi masih bisa berpikir cepat. Kedua kakinya dibantingkan. Tubuhnya melesat ke udara. Kedua tangannya segera dihantamkan ke bawah!

Namun nenek ini kembali dibuat terperangah. Asap bumbung yang dihindarinya tiba-tiba membumbung mengikuti lesatan tubuhnya! Hingga tiada jalan lain bagi si nenek kecuali arahkan hantaman tangannya pada asap bumbung.

Bummm! Bummm!

Terdengar dentuman dahsyat dua kali ketika hantaman Ratu Alam Bumi menggebrak asap bumbung. Namun karena hantaman itu dilancarkan di udara serta jaraknya telah begitu dekat, mika bias dentuman itu membalik dan menghantam tubuhnya!

Begitu suara gema dentuman lenyap dan asap telah sirap, tubuh Ratu Alam Bumi telah terlihat terkapar di atas tanah dan tak mampu bangkit! Kedua tangannya tampak membiru dan menggelembung. Rambutnya yang keriting dan disanggul ke atas terpapas hingga hampir gundul! Perlahan nenek ini bergerak miring. Dia terpekik, bersamaan dengan miringnya tubuh, dari sudut bibirnya mengalir darah segar!

"Bangsat!" maki Ratu Alam Bumi seraya hendak bangkit dengan tekankan kedua tangannya. Namun lagi-lagi nenek ini terpekik. Kedua tangannya terasa hendak penggal saat digerakkan. Hingga dia urungkan niat untuk bangkit. Sebaliknya dia segera tarik tangannya perlahanlahan ke arah dada lalu kerahkan sisa-sisa tenaga dalamnya untuk mengatasi rasa sakit yang kini bukan hanya terasa di kedua tangannya namun juga dadanya!

Di seberang, Pendekar 108 tarik kedua tangannya kembali lalu putar tubuhnya. Kini duduk menghadap Ratu Alam Bumi dengan kedua tangan memegang bumbung bambu arak dan dengan mata terbuka terpejam ditenggaknya arak itu silih berganti!

Murid Wong Agung kembali hanya bisa geleng-geleng kepala. Saat itulah tiba-tiba Penyair Berdarah hantamkan kedua tangannya!

LIMA

SINAR redup yang mengeluarkan suara aneh seperti suara rebab menyebar laksana kilat ke arah Pendekar 108! Inilah pukulan sakti 'Suara Kematian' yang didapatnya dari gurunya Iblis Gelang Kematian. Hebatnya, bersamaan dengan mengalunnya suara rebab cuaca berubah panas menyengat namun keadaan redup hampir gelap!

"Pembokong licik!" seru Pendekar 108 cepat miringkan tubuh menghadap Penyair Berdarah. Namun betapa terkejutnya murid Wong Agung ini. Pukulan lawan ternyata telah berada setengah depa di depan hidungnya! Sekalipun saat itu Pendekar 108 berusaha untuk menyelamatkan diri dengan bergerak menghindar, tapi keadaannya sudah terlambat. Hingga meski masih sempat mengelak, namun serangan itu akan tetap telak menghajar tubuhnya!

"Celaka tiga belas!" gumam Pendekar Mata Keranjang dengan paras membeku. Karena sudah tidak bisa lagi menghindar apalagi lancarkan serangan untuk menangkis, jalan satu-satunya yang diambil murid Wong Agung ini hanyalah kerahkan tenaga dalamnya agar tubuhnya kuat menghadang serangan lawan.

Di saat yang mengerikan itu, mendadak melesat dua benda bundar agak panjang. Satu menghantam tubuh Pendekar 108 dan satunya menangkis serangan Penyair Berdarah.

Benda yang ternyata adalah bumbung bambu itu kontan hancur berkeping-keping, lalu ambyar menjadi lembut dan lenyap dihembus angin! Tanah tempat Pendekar 108 berdiri terlihat terbongkar besar dan tanahnya membumbung ke udara membuat suasana makin redup. Ketika tanah telah sirap kembali dan sinar redup lenyap, Pendekar 108 terlihat terkapar di atas tanah lima belas langkah di samping tempat terbongkarnya tanah. Namun keadaannya tidak cidera sedikit pun! Hal ini terjadi karena sewaktu sejengkal lagi pukulan Penyair Berdarah menghajar tubuhnya, bumbung bambu terlebih dahulu menghantam tubuhnya, hingga tubuhnya mencelat. Ini menyelamatkannya dari pukulan maut Penyair Berdarah.

Melihat ada orang menyelamatkan Pendekar 108, Penyair Berdarah bantingkan kaki ke tanah. Tanah itu langsung terbongkar. Matanya mendelik angker. Kepalanya cepat berpaling pada Setan Arak. Melihat benda apa yang berhasil menangkis serangannya dan sekaligus menyelamatkan jiwa Pendekar 108, Penyair Berdarah ini segera bisa menduga siapa gerangan orang yang melakukannya.

"Setan satu itu benar-benar tidak bisa dipandang sepele! Lemparan bumbung bambu araknya saja bisa menggagalkan pukulan 'Suara Kematian'. Hm.... Orang macam begitu harus dilawan dengan kelicikan! Tapi.... Aku harus selesaikan pendekar keparat itu dulu!" Penyair Berdarah palingkan kembali wajahnya pada Pendekar

108 yang telah bangkit dan terlihat memandang ke arah Setan Arak yang ternyata masih asyik dengan gelegukan araknya. Dia seakan tidak merasa telah menyelamatkan jiwa seseorang!

"Setan Arak!" teriak Aji seraya melambaikan tangan. "Terima kasih atas bantuanmu!" Yang diteriaki jangankan memandang, melirik pun tidak!

Pendekar 108 lantas cepat buka kipas ungunya, tangan kirinya ditarik ke belakang. Tibatiba tangan kirinya berubah menjadi biru bercahaya. Tampaknya murid Wong Agung telah kerahkan pukulan Mutiara Biru. Dia merasa geram pada Penyair Berdarah yang bersikap licik. Juga karena Penyair Berdarah ingin mencelakai dirinya.

Saat itulah Penyair Berdarah tengadahkan kepala. Dari mulutnya terdengar suara lantunan syair.

Alam baka telah membuka pintunya lebarlebar bagi penghuni baru.

Darah akan segera mengalir. Penyair Berdarah akan melangkah mengantar. Jurus Alam Kematian!

Bersamaan dengan itu, kedua tangan Penyair Berdarah berubah merah menyala. Inilah jurus andalan yang berhasil dipelajarinya dari Iblis Gelang Kematian di puncak Bukit Tumpang Gede. Kedua tangan yang telah berubah warna itu langsung diangkat sejajar dagu. Tempat itu sertamerta berubah merah kekuningan. Dan didahului bentakan dahsyat, Penyair Berdarah dorongkan tangannya!

Bongkahan laksana bola api besar melesat cepat ke arah Pendekar 108. Di depan, Pendekar 108 pun segera sentakkan kedua tangannya. Sinar biru segera pula menyongsong disertai sinar putih yang menebar membentuk kipas.

Gelegar dahsyat segera menggemuruh. Lidah-lidah api tampak semburat ke segala jurusan. Asap tebal menutupi tempat itu.

Di balik asap tebal, Aji yang terlihat hampir terjerembab jatuh merasakan lengannya dibetot orang, hingga tubuhnya selamat dari menghempas tanah.

Namun murid Wong Agung ini masih waspada, hingga meski merasa telah diselamatkan orang, dia cepat berpaling dan siap dengan tangan menghantam. Namun begitu tahu siapa adanya orang yang membetot tangannya, dia menurut saja tangannya digeret menjauh.

"He! Ikuti aku! Tapi ingat, jangan membantah dulu!" kata sang pembetot yang ternyata adalah Setan Arak. Lalu berkelebat meninggalkan tempat itu.

Meski masih diliputi tanda tanya besar, Pendekar Mata Keranjang 108 mengikuti kelebatan Setan Arak.

Sementara itu, begitu gelegar menghentak tubuh Penyair Berdarah tampak mencelat ke belakang. Tubuhnya tak dapat dikuasai lagi hingga saat itu juga menghujam tanah! Namun pemuda ini segera kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi rasa sakit di dada dan kedua tangannya. Lalu perlahan-lahan bergerak bangkit duduk. Sepasang matanya dikatupkan, kedua tangannya disatukan dengan mulut bergerak-gerak. Meski dengan sisa tenaganya tampaknya pemuda ini masih menyiapkan pukulan kembali.

Saat itulah tiba-tiba Penyair Berdarah merasakan siuran angin dari arah belakang. Khawatir kalau itu serangan lawan, dia segera balikkan tubuh memutar dan siap lancarkan pukulan. Namun tangannya segera diluruhkan kembali tatkala samar-samar dia dapat menangkap sosok yang dikenalnya di balik hamparan asap.

"Manding! Tak ada gunanya kau siapkan pukulan! Lawanmu telah pergi!" berkata sosok yang kini ada di hadapan Penyair Berdarah dan tadi memanggilnya dengan nama aslinya.

Dia adalah seorang perempuan tua renta. Rambutnya panjang hingga betis. Mengenakan baju panjang berwarna hitam dengan pakaian bawah kembang-kembang putih. Pada tangannya tampak melingkar beberapa gelang berwarna kuning.

"Guru! Kenapa kau mencegahku untuk lakukan serangan? Padahal orang itu adalah orang yang kau kira dapat menghalangi langkahku selanjutnya!"

Perempuan tua renta yang bukan lain adalah Iblis Gelang Kematian, guru Penyair Berdarah tengadahkan kepala seakan menatapi asap yang masih melingkupi tempat itu.

"Manding! Seperti yang kukatakan, lawanmu telah meninggalkan tempat ini!"

Seakan ingin membuktikan kata-kata gurunya, Penyair Berdarah segera putar kembali tubuhnya. Matanya memandang tajam ke depan. Dan begitu asap telah lenyap, Penyair Berdarah memang tidak lagi melihat sosok Pendekar Mata Keranjang. Kepalanya lantas berpaling ke samping. Di juga terkejut, di tempatnya tadi berada, Setan Arak pun tak terlihat. Yang tampak adalah tubuh Begal Tanah Hitam yang telah tewas dan kini berubah hitam! Ini karena terkena bias bentroknya pukulan. Sementara agak jauh, samarsamar terlihat Ratu Alam Baka merangkak hendak meninggalkan tempat itu.

Karena marah melihat lawannya telah pergi, kemarahannya kini ditumpahkan pada Ratu Alam Baka yang sedang merangkak hendak menjauhi tempat itu. Dan tanpa bicara lagi, kedua tangannya yang tadi disiapkan menyerang Pendekar 108 dihantamkan ke arah Ratu Alam Baka.

Karena dalam keadaan terluka, maka daya pendengaran Ratu Alam Baka telah jauh berkurang, hingga dia baru sadar jika diserang tatkala pukullah itu telah sedepa di sampingnya. Nenek ini jadi terperangah, dan sudah terlambat baginya untuk selamatkan diri. Hingga saat itu juga pukulan Penyair Berdarah menghajar telak tubuh Ratu Alam Baka.

Jeritan tinggi seakan merobek langit keluar dari mulut Ratu Alam Baka. Bersamaan itu tubuhnya mencelat dan menghujam tanah dengan nyawa melayang!

Sesaat suasana mengandung kematian menyentak tempat itu. Penyair Berdarah bergerak bangkit. Sejenak diusap-usapnya dadanya yang berdenyut sakit. Dan tak lama kemudian dia meludah. Ludah itu telah berwarna hitam menandakan bahwa pemuda itu terluka dalam.

"Hm.... Pukulanmu hampir sempurna. Hanya kau harus rajin berlatih!" puji Iblis Gelang Kematian seraya melangkah mendekat.

"Guru!" kata Penyair Berdarah tanpa berpaling pada Iblis Gelang Kematian. "Siapa sebenarnya manusia bergelar Setan Arak itu?!"

Iblis Gelang Kematian sedikit terkejut mendengar pertanyaan muridnya. Seakan masih tak percaya, dia ajukan pertanyaan balik.

"Kau menyebut Setan Arak...?!" "Tua bangka tuli!" kata Penyair Berdarah memaki dalam hati. Lalu masih tanpa berpaling pada gurunya dia berkata.

"Benar! Siapa sebenarnya manusia itu?

Dan ada di golongan mana?!"

Sejenak Iblis Gelang Kematian terdiam. Tangannya bergerak-gerak hingga terdengar suara dentingan gelang-gelangnya yang saling bersentuhan.

"Manding!" kata Iblis Gelang Kematian setelah diam beberapa lama. "Setan Arak adalah salah seorang tokoh tua yang ilmunya sulit untuk dijajari siapa saja. Sifatnya aneh, serta sulit ditebak. Hingga tak bisa ditentukan di mana dia sebenarnya bergolong. Kadang-kadang kumpul dengan orang-orang golongan hitam, namun tak jarang pula membantu orang-orang golongan putih. Hanya saja aku cenderung memasukkannya pada orang-orang golongan putih. Karena dia sering memihak orang-orang golongan putih meski tak bermusuhan dengan orang golongan hitam. Hmm. Apakah kau bertemu dengan dia?!"

"Bukan hanya bertemu, tapi dialah keparatnya yang telah menyelamatkan Pendekar Mata Keranjang 108! Aku bersumpah, sekali lagi bertemu tak akan kuampuni nyawanya!" kata Penyair Berdarah dengan suara tinggi.

"Hmm. Tujuanmu bagus. Namun kau ha-

rus tetap berhati-hati menghadapinya! Kelicikan mutlak diperlukan dalam menghadapi orang seperti dia! Kau mengerti?" Penyair Berdarah tidak menyahut. Kepalanya pun tidak bergerak menggeleng atau mengangguk sebagai isyarat atas kata-kata gurunya. Namun Iblis Gelang Kematian tampaknya tidak merasa dongkol dengan sikap muridnya itu. Sembilan tahun hidup bersama telah membuatnya tahu bagaimana sikap dan sifat muridnya.

"Manding.... Di sini sudah tidak ada apaapa lagi. Kau terluka dalam. Sebaiknya kita mencari tempat istirahat sambil mengobati lukamu!"

Habis berkata begitu, Iblis Gelang Kematian melangkah meninggalkan tempat itu. Penyair Berdarah sebenarnya masih ingin mengejar Pendekar Mata Keranjang, namun setelah dipikirpikir, dia menyadari bahwa ucapan gurunya ada benarnya bahwa dia terluka. Karena saat itu kembali dadanya berdenyut sakit dan tubuhnya gemetar. Maka dengan menindih rasa sakit dan marah dia pun melangkah menyusul gurunya.

ENAM

SETAN Arak menghentikan larinya ketika tiba pada suatu tempat yang sepi dekat sebuah pancuran air yang dikelilingi pohon-pohon besar. Begitu Aji sampai, murid Wong Agung ini langsung ajukan pertanyaan.

"Kenapa kau mengajakku melarikan diri? Padahal orang macam dia perlu sekali mendapat hajaran! Dan terlalu bahaya jika dibiarkan hidup!"

Setan Arak tidak segera menjawab. Justru

tarik ikat pinggang yang digelantungi beberapa bumbung bambu berisi arak, lalu tangan kanannya menyambar salah satu bumbung bambu dan menenggak dengan lahap isinya. Setelah puas dan matanya sayu merah, dia buka mulut.

"Orang macam dia memang tidak layak diberi pijakan tanah untuk hidup. Namun bukan saat ini waktunya untuk memberi pelajaran. Suatu saat nanti kau pasti akan dipertemukan lagi!"

Pendekar Mata Keranjang 108 tertawa pendek seakan mengecilkan arti kata-kata Setan Arak.

"Setan Arak! Apakah menghajar orang perlu menanti waktu? Kalau sekarang bisa kenapa harus ditunda-tunda lagi? Bukankah itu malah memberi kesempatan...?!"

Setan Arak goyang-goyangkan kepalanya.

Dia kini balik tertawa.

"Kau tak tahu. Sebentar setelah kepergian kita, telah datang di tempat itu seorang lagi. Entah siapa dia aku tak bisa menentukan. Yang jelas pendatang itu berilmu sangat tinggi. Bukannya aku takut menghadapi orang, namun karena yang akan menghadapi urusan selanjutnya adalah kau, maka akan terlalu bodoh jika membiarkan kau mati sia-sia terlebih dahulu!"

"Jadi kau kira aku akan bisa dibuat tewas oleh pendatang itu?!" tanya Pendekar 108 sedikit geram. "Kau jangan meradang. Dan bukannya aku mengatakan kau akan kalah menghadapi pendatang itu. Namun dugaanku bisa menghitung jika kau belum mampu untuk mengalahkannya! Kau jangan terlalu sombong dengan apa yang kau miliki sekarang! Ingat. Di atas langit masih ada langit!"

Pendekar 108 terdiam mendengar ucapan Setan Arak. Untuk beberapa saat dia tercenung seolah mencerna ucapan itu. Kepalanya lantas manggut-manggut.

"Hmm.... Lantas apa maumu mengajakku ke sini?"

Setan Arak menenggak araknya kembali.

Lalu berkata.

"Ilmumu cukup tinggi. Namun gerakan menghindarmu kulihat masih kurang. Kau harus tahu, mempunyai pukulan hebat tanpa diimbangi dengan ilmu menghindar, akan sama halnya berbaju tanpa celana!"

Sepasang bola mata Aji membesar. "Kulihat gerakan menghindar orang ini memang aneh dan hampir tak dapat dipercaya, namun nyatanya bisa menyelamatkan. Hmm.... Apakah ucapannya tadi pertanda dia akan mengajarkan padaku ilmu menghindar...?" batin Aji.

"He! Kenapa kau memandangku begitu rupa?!" seru Setan Arak.

"Setan Arak!" kata Pendekar Mata Keranjang sambil menjura. "Kuharap kau mau mengajarkan padaku ilmu yang kau terangkan tadi!" Setan Arak mendehem beberapa kali. Dalam hati diam-diam dia berkata.

"Sebenarnya aku sudah tidak ingin mengajarkan apa pun pada orang lain. Namun melihat banyak berkeliarannya orang-orang sesat, tak ada salahnya jika aku mengajari anak ini. Kalau dia telah diangkat murid oleh Wong Agung, tidak mungkin dia menggunakan ilmunya di jalan salah!" setelah memikir, akhirnya ia berkata.

"Baiklah. Akan kuajarkan sedikit ilmu padamu! Ikuti aku!" selesai berkata, Setan Arak berkelebat ke arah timur di mana terdapat sebuah dataran agak luas yang di sana-sini tampak beberapa gundukan batu-batu padas.

Pendekar 108 segera menjura dan balikkan tubuh mengikuti arah kelebatan Setan Arak.

***

Di dalam sebuah gua batu, Iblis Gelang Kematian terlihat duduk bersila dengan mata memandang lurus ke arah mulut gua. Di depannya Penyair Berdarah terlihat tidur telentang dengan sepasang mata mengatup rapat. Namun tak lama kemudian pemuda ini bergerak bangkit dan duduk menghadap Iblis Gelang Kematian.

"Bagaimana sekarang...?" Iblis Gelang Kematian buka suara.

"Terasa lebih baik...!" jawab Penyair Berdarah dengan melirik kedua tangannya yang telah pulih kembali. Dadanya pun tak lagi berdenyut sakit.

"Manding! Kau sekarang telah tahu sendiri

bagaimana ganasnya rimba persilatan. Ini belum sampai kau bertemu dengan tokoh-tokoh tua lainnya. Maka dari itu, kau harus ingat katakataku tempo hari!"

Manding Jayalodra alias Penyair Berdarah anggukkan kepalanya. Kali ini agaknya pemuda ini tak menampakkan rasa sombongnya.

"Dan juga perlu kau ingat, sehebathebatnya seseorang, pasti dia mempunyai kelemahan! Di sinilah kau dituntut untuk dapat mengetahui kelemahannya! Jika hal itu telah kau dapat, sehebat apa pun dia, tak ada artinya di hadapanmu!"

"Kalau boleh tahu, di manakah kelemahan seseorang itu sebenarnya?"

Iblis Gelang Kematian tertawa mengekeh. "Kelemahan seseorang itu bermacam-macam. Namun satu hal yang pasti, seseorang pasti akan goyah jika dihadapkan pada perempuan. Nah, senjata inilah yang kini harus kau miliki! Tapi bukan sembarang perempuan. Perempuan senjata ini harus mempunyai beberapa syarat!"

"Katakan, apa syarat-syarat itu. Guru!" "Pertama. Dia harus berilmu tinggi. Kedua

harus berwajah cantik bahkan kalau perlu mempunyai sifat penggoda. Ketiga dia harus tergantung padamu! Dan yang terakhir, dia mempunyai dendam pada lawanmu. Atau setidak-tidaknya mempunyai masalah dengan lawanmu!" Penyair Berdarah kembali anggukanggukkan kepala. Mulutnya lantas membuka hendak bicara. Namun sebelum ucapannya terdengar, Iblis Gelang Kematian telah bicara kembali.

"Manding. Akhir-akhir ini kudengar kabar bahwa ada seorang gadis berilmu tinggi dan berwajah cantik bernama Sakawuni mempunyai masalah dengan Pendekar 108. Setelah kuselidiki, ternyata gadis itu adalah bekas anak murid Ageng Panangkaran. Seorang tokoh yang tewas entah oleh siapa. Dan ternyata, gadis itu menuduh Pendekar 108-lah yang membunuh bekas gurunya! Nah, ini kesempatan baik bagimu. Kalau kau berhasil membujuk gadis itu, Pendekar 108 akan mudah kau atasi. Demikian juga tokoh-tokoh lainnya!"

Sepasang mata Penyair Berdarah berbinar

besar.

"Aku akan segera mencari gadis itu!" seru

Penyair Berdarah.

"Itu lebih baik. Tapi ingat, dia harus tergantung dulu padamu! Setidak-tidaknya kau harus menanam budi padanya terlebih dahulu. Setelah itu barulah kau jalankan muslihatmu!"

"Segala ucapmu akan kuingat. Guru!" "Hmm.... Sekarang aku harus pergi...,' ha-

bis berkata begitu, Iblis Gelang Kematian bangkit dan tanpa memandang lagi pada Penyair Berdarah dia berkelebat meninggalkan gua.

"Hmm.... Aku harus secepatnya menemukan gadis itu!" seru Penyair Berdarah seraya bangkit dan melangkah keluar gua.

TUJUH

SEORANG laki-laki berusia amat lanjut bertubuh kurus tinggi serta berparas angker terlihat mondar-mandir di dekat perapian. Kakek ini mengenakan jubah besar warna biru gelap. Di atas kepalanya tampak sebuah caping lebar dari bahan kulit berwarna hitam yang di bagian atasnya dibuat terbuka seakan sengaja ingin menunjukkan rambutnya yang tumbuh amat jarang dan kaku seperti ijuk. Sepasang matanya amat besar sementara bibirnya tebal. Kulit wajahnya demikian tipis hingga seperti tak berkulit. Selain tampak angker, ada keanehan pada kakek ini yang membuatnya makin menakutkan sekaligus mengagumkan. Ternyata, meskipun terlihat melangkah mondar-mandir, sepasang kaki kakek ini berada sejengkal di atas tanah! Dari sini jelas bisa dipastikan jika laki-laki tua ini bukan orang sembarangan!

Entah karena kesal mondar-mandir, kakek ini lantas hentikan langkahnya, tangan kanannya bergerak mengusap wajahnya yang berkulit tipis. Lalu merapikan jubahnya yang menyibak dihembus angin malam. Kepalanya lantas tengadah memandangi langit yang tampak menghitam. Namun tampaknya dia tak bisa pusatkan perhatian, karena sejenak kemudian kepalanya kembali lurus ke depan. Dan yang tampak kini adalah bergeraknya kedua bahunya menghembuskan napas dalam-dalam. Melihat gerak-geriknya, berat dugaan jika kakek ini sedang dilanda masalah yang belum bisa diatasinya. Dan melihat pancaran matanya yang kini tampak berkilat-kilat, bisa ditebak jika dia tengah marah dan kecewa.

Tiba-tiba kakek ini balikkan tubuhnya. Dalam pantulan sinar yang memancar dari perapian, tampak jelas kilatan matanya. Sepasang matanya yang besar kini lurus ke depan tak kesiap. Tubuhnya sedikit bergetar. Mulutnya komat-kamit menggumam tak jelas. Untuk beberapa lama matanya tetap memandang lurus ke depan, bukan menatap pada perapian atau menembusi kegelapan malam. Melainkan pada sesosok tubuh yang menggelantung dekat perapian. Sosok yang menggelantung kedua tangan dan kakinya terikat. Kedua tangannya menyatu diikat dan ditarik dengan seutas tali yang diikatkan pada sebuah batang pohon.

Sosok yang menggelantung adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita. Rambutnya panjang dengan hidung mancung dan bibir membentuk bagus. Dadanya membusung menantang sementara pinggulnya mencuat menggemaskan. Dara ini menggunakan pakaian coklat bergarisgaris.

Mungkin karena merasa dipandangi atau mungkin juga karena kesemutan, kedua kelopak mata si gadis yang sedari tadi terpejam tampak bergerak-gerak membuka. Untuk sesaat mata bulat si gadis memandang sayu ke arah perapian. Mata itu lantas menyipit dan tiba-tiba membelalak besar. Dia tampak terkejut. Lalu kepalanya menunduk memandangi dirinya. Dia terlihat makin terperangah ketika mendapati dirinya dalam keadaan tergantung.

Kepala si gadis lalu tampak digoyang ke kanan kiri. Tangannya pun digerak-gerakkan seakan ingin melepaskan diri. Namun ketika mendapati ikatan tangannya begitu kuat, gadis ini menghela napas panjang. Kepalanya tengadah kembali seakan mengingat-ingat.

"Apa yang terjadi dengan diriku...? Dan siapa yang melakukan ini...?" si gadis mulai berkata dalam hati.

"Hmm.... Bukankah saat itu aku sedang terluka karena hajaran Guru...? Dan rasarasanya saat itu aku ditolong oleh Pendekar Mata Keranjang si keparat itu! Apa dia yang melakukan ini...?"

Kembali si gadis menarik napas dalamdalam. Namun dia sedikit terkejut.

"Aneh. Dadaku sudah tidak lagi terasa sakit. Demikian juga sekujur tubuhku. Padahal saat itu aku sampai pingsan karena sakit. Hmm. Ka-

lau pendekar keparat itu yang melakukan ini, pasti dia masih ada di sekitar sini!"

Tanpa memandang ke kanan kiri lagi, gadis ini buka mulut hendak berteriak. Namun sebelum teriakannya keluar, terdengar batuk-batuk beberapa kali hingga si gadis cepat takupkan kembali mulutnya dan urungkan niat untuk berteriak. Sepasang matanya cepat melirik ke arah datangnya suara batuk-batuk.

Sepasang mata si gadis mendadak membeliak besar. Bibirnya bergetar.

"Guru...!" seru si gadis tatkala dapat mengenali siapa adanya orang yang keluarkan batuk.

Laki-laki berjubah biru bercaping hitam yang dipanggil guru oleh si gadis tidak menyahut. Malah sepasang matanya yang besar makin berkilat menatap tajam. Melihat hal ini tampaknya si gadis sadar jika laki-laki tua itu sedang dilanda marah besar. Maka setelah menarik napas panjang untuk menguasai getaran dadanya si gadis berkata.

"Guru.... Maafkan jika tempo hari aku melakukan kesalahan. Aku bersedia kau hukum!"

Orang yang dipanggil guru tetap diam, membuat si gadis salah tingkah dan tampak ketakutan. Dan tubuh si gadis sedikit bergetar tatkala melihat orang tua itu melangkah mendekat ke arahnya.

"Guru...," ucap si gadis dengan nada seakan tercekat ditenggorokan. "Maafkan muridmu. Semua itu kulakukan karena aku ingin manusia jahanam itu "

Plakkk!

Tangan kanan orang tua itu berkelebat dan menampar pipi si gadis hingga dia menghentikan ucapannya. Bibirnya terlihat mengeluarkan darah dan pecah-pecah. Si gadis lalu mengatupkan bibirnya rapat-rapat untuk menekan suara erangan dan aliran darah. Kepalanya lantas menunduk tak berani memandang pada orang tua di hadapannya

Si orang tua hembuskan napas panjang seakan melepas rasa kecewa. Lalu terdengar dia mendengus dan berkata.

"Aku benar-benar menyesal, Sakawuni! Sekian lama kudidik, ternyata yang kudapatkan darimu hanyalah kekecewaan. Pikiran dan ucapanmu berubah! Dan yang lebih menyakitkan lagi, kau telah menyelamatkan manusia bangsat itu dari tanganku!" sejenak si orang tua hentikan ucapannya. Dadanya terlihat bergetar. Setelah hembuskan napas, kembali dia melanjutkan.

"Sakawuni! Tentunya kau masih ingat sumpah yang kau ucapkan. Kau sudah siap menerima akibat karena melanggar sumpahmu?!"

Si gadis yang ternyata adalah Sakawuni, bekas murid Ageng Panangkaran yang kemudian diangkat murid oleh tokoh sakti bergelar Manusia Titisan Dewa, gegatkan rapat-rapat bibirnya. Dia tahu apa yang akan dialaminya karena melanggar sumpah yang pernah diucapkan sebelum diangkat murid oleh Manusia Titisan Dewa. Seperti diceritakan dalam episode "Manusia Titisan Dewa", Sakawuni harus melakukan sumpah darah sebelum diangkat murid oleh Manusia Titisan Dewa. Dan dalam sumpah itu, diikrarkan jika Sakawuni menolak segala perintah gurunya, maka dia harus rela mati di tangan gurunya sendiri. Padahal, setelah Sakawuni dididik sang guru, meski secara tak langsung telah memerintahkan Sakawuni untuk menghabisi Pendekar 108. Namun apa yang terjadi selanjutnya sungguh membuat sang guru marah besar. Karena saat itu sang guru telah kirimkan serangan maut pada Pendekar 108 sedangkan saat itu sang pendekar sudah dalam keadaan tak bisa mengelak. Justru pada saat itulah Sakawuni datang dan menyelamatkan sang pendekar.

"Guru...," kata Sakawuni dengan suara perlahan dan kepala menunduk. "Aku ingat akan sumpahku. Dan aku pun siap menerima hukuman. Namun sebelum semua itu terjadi, perlu kau ketahui bahwa tindakanku menyelamatkan Pendekar Mata Keranjang semata-mata hanya karena aku ingin manusia jahanam itu tewas dengan tanganku sendiri!"

Kalau saat mulai berkata tadi suaranya pelan dan kepala menunduk, kini gadis itu angkat kepalanya. Parasnya membesi dengan muka merah padam. Sepasang matanya merah dengan dagu terangkat.

"Sekarang kalau Guru masih menyalahkan tindakanku, aku rela mati di tanganmu. Lakukanlah!" suaranya makin tinggi, bahkan sepasang matanya balas menatap pandangan si orang tua yang bukan lain adalah Manusia Titisan Dewa.

Mendengar kata-kata Sakawuni, Manusia Titisan Dewa tercenung. Sebenarnya dalam hati orang tua ini telah berkeputusan untuk tidak menjatuhkan hukuman pada Sakawuni. Karena dia berpikir bahwa Sakawuni masih bisa digunakan untuk membantu rencananya yang ingin mengacaukan rimba persilatan dengan jalan membunuh beberapa tokoh persilatan. Kalaupun dia menggantung Sakawuni, ini semata-mata untuk menggertak gadis itu bahwa kata-katanya tidaklah hanya omong kosong belaka.

Sementara itu melihat sang guru masih terdiam, Sakawuni kembali angkat bicara. "Guru! Kuharap kau cepat lakukan apa yang kau inginkan! Aku telah siap!"

Manusia Titisan Dewa melangkah satu tindak mendekat. Sakawuni pejamkan sepasang matanya karena menduga jika sang guru benarbenar akan melaksanakan niatnya. Tiba-tiba tangan kanan Manusia Titisan Dewa bergerak.

Settt! Bukkk!

Sakawuni merasakan angin bersiur dahsyat. Dia makin rapatkan matanya. Namun gadis ini terlengak, karena dia tak merasakan tangan Manusia Titisan Dewa menghajar tubuhnya. Justru yang dirasakan adalah tukikan tubuhnya ke bawah dan beradunya pantatnya dengan tanah.

Merasa dirinya terduduk di atas tanah, Sakawuni segera buka kelopak matanya. "Apakah dia membatalkan hukuman...? Atau ingin menghukumku dengan tanpa digantung...?" batin Sakawuni seraya tengadahkan kepala memandangi gurunya.

"Sakawuni! Kali ini hukuman itu kutunda. Namun ingat, sekali lagi kau buat kesalahan, tiada lagi penundaan hukuman! Kau dengar?!"

Sakawuni membesarkan matanya. Dia menarik napas lega. Setelah membuka ikatan pada kaki dan tangannya, dia menjura hormat dan berkata.

"Terima kasih. Guru! Segala ucapmu kudengar dan kuperhatikan!"

"Bagus! Sekarang aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus kukerjakan!" kata Manusia Titisan Dewa seraya balikkan tubuh hendak meninggalkan tempat itu. Namun geraknya tertahan tatkala Sakawuni berseru.

"Guru. Tunggu!"

"Ada yang hendak kau utarakan...?!" Manusia Titisan Dewa berkata tanpa balikkan tubuh.

Sakawuni melangkah menjajari. Setelah dekat dia langsung berkata.

"Guru! Kalau boleh kutahu, bagaimana aku bisa berada di sini bersamamu? Bukankah saat itu kau telah pergi dari tempat pertempuran...?!"

Manusia Titisan Dewa tersenyum. "Memang. Saat setelah kau roboh aku meninggalkan tempat pertarungan. Namun sebenarnya aku tak pergi ke mana-mana! Aku menyelinap dan ingin tahu apa yang akan diperbuat Pendekar 108 terhadapmu! Ternyata dia membawamu ke sebuah lembah. Dan...," Manusia Titisan Dewa tidak melanjutkan keterangannya. Malah kedua telapak tangannya mengepal.

"Harap kau teruskan keteranganmu, Guru!"

"Sungguh keterlaluan!'' kata Manusia Titisan Dewa sambil gelengkan kepala. "Pendekar keparat itu ternyata hendak melampiaskan nafsu bejatnya padamu! Untung aku segera bertindak menyelamatkanmu, jika tidak aku tidak bisa katakan apa yang akan menimpamu!"

"Jahanam busuk! Pendekar cabul!" teriak Sakawuni dengan berapi-api seraya kepalkan tinjunya. "Akan kukuliti tubuhnya! Akan kucincang dagingnya!"

Manusia Titisan Dewa tersenyum dan menarik napas panjang.

"Sakawuni. Kau telah tahu siapa sebenarnya Pendekar Mata Keranjang. Namun demikian, kau harus tetap waspada dan berhati-hati! Setiap orang yang gagal melaksanakan nafsunya, setiap saat orang itu pasti mencari jalan untuk dapat berhasil, walau dengan jalan apa pun! Ada lagi yang hendak kau tanyakan...?" Manusia Titisan Dewa pada akhirnya balik bertanya.

Yang ditanya tak menjawab. Dia sepertinya masih mencoba menindih gemuruh amarah di dadanya. Melihat hal ini Manusia Titisan Dewa tersenyum, lalu tanpa berkata lagi dia berkelebat meninggalkan Sakawuni.

"Guru...!" teriak Sakawuni. Namun Manusia Titisan Dewa telah lenyap ditelan kegelapan malam.

"Hmm.... Pendekar 108! Tak ada hukuman yang pantas kau alami selain hukuman mati! Dosamu sudah setinggi gunung sedalam laut! Sungguh tak kusangka jika kau sekejam itu! Tunggulah!" gumam Sakawuni sambil melangkah mendekati perapian. Namun baru saja hendak jongkok tiba-tiba terdengar suitan dua kali berturutturut. Sesaat kemudian dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu dua sosok manusia telah berdiri sepuluh langkah di samping kanan kiri Sakawuni.

DELAPAN

SECEPAT kilat Sakawuni bangkit dan balikkan tubuh. Sepasang matanya memandang tajam satu persatu pada dua orang yang kini ada di samping kanan kirinya.

Di samping kanan adalah seorang laki-laki setengah baya. Mengenakan pakaian jubah kuning terbuat dari kulit harimau. Pakaian dalamnya berupa baju warna putih dengan celana juga warna putih. Paras wajahnya masih terlihat tampan dengan kumis tipis dan rambut tertata rapi. Pada kepalanya terikat kain warna kuning sementara di jari-jarinya terlihat beberapa cincin emas.

Sedang orang di sebelah kiri adalah juga seorang laki-laki yang usianya tak jauh beda dengan orang yang di sebelah kanan. Dia mengenakan jubah warna putih dengan pakaian dalam warna hitam. Seperti halnya orang di sebelah kanan, orang ini pun mengenakan beberapa cincin di jari-jarinya. Wajahnya pun tampak masih tampan. Hanya kumisnya lebat dengan berewok yang terawat rapi.

"Hmm... melihat sikap dan pakaiannya, mereka tampaknya orang-orang kaya. Siapa mereka dan mengapa malam-malam begini berada di tempat sepi begini? Tapi meski orang kaya, mereka sepertinya bukan orang baik-baik! Pandangan mata mereka menjijikkan!" batin Sakawuni dengan alihkan pandangan dan buka suara.

"Siapa kalian?! Jangan coba-coba berniat buruk jika masih sayang nyawa!"

Mendengar teguran kedua laki-laki setengah baya ini bukannya segera jawab, sebaliknya sepasang mata keduanya makin liar memandangi tubuh Sakawuni. Apalagi saat itu Sakawuni berdiri membelakangi perapian, hingga cahaya perapian itu menampakkan lekukan tubuhnya.

Melihat sikap kedua laki-laki ini, Sakawuni geram. Namun untuk sementara ditahannya rasa geram itu. Dia kembali menegur dengan suara agak keras.

"Kurasa kalian tidak tuli dan gagu. Kenapa tidak jawab pertanyaan orang? Atau kalian memang minta digampar dulu baru bisa bunyi?!"

Tiba-tiba laki-laki yang di sebelah kanan keluarkan suara tawa mengekeh panjang yang kemudian disusul oleh laki-laki di sebelah kiri. Setelah puas tertawa, laki-laki sebelah kanan angkat tangannya seakan memberi isyarat pada temannya jika dia akan bicara. Setelah laki-laki di sebelah kiri mengangguk, orang di sebelah kanan buka mulut.

"Gadis cantik! Ucapanmu benar. Kami berdua memang tidak tuli juga tidak gagu. Dan pertanyaanmu akan kujawab. Aku adalah Ganda Wulung. Sedang temanku itu Reksi Gumarang. Harap kau tak salah duga. Kami tidak berniat buruk. Justru kami berdua punya niat baik padamu! Bukankah begitu, Reksi?" seraya berkata laki-laki yang menyebutkan namanya Ganda Wulung ini anggukkan kepala ke arah Reksi Gumarang.

Reksi Gumarang langsung menyahut. "Benar. Kami berniat mengajakmu bersenangsenang. Apakah itu bukan berarti niat baik...? Ha... ha... ha...!"

"Hmm.... Begitu? Katakan, bersenangsenang apa yang kau maksud!" kata Sakawuni meski hatinya dongkol dan tahu ke mana arah pembicaraan orang.

Ganda Wulung dan Reksi Gumarang kembali perdengarkan tawa mendengar ucapan Sakawuni. Reksi Gumarang usap-usap dagunya, sementara Ganda Wulung elus-elus kumisnya sambil mengangguk-angguk.

"Gadis cantik...," kali ini yang bicara Reksi Gumarang. Suaranya terdengar agak serak parau. "Soal bersenang-senang macam apa yang akan kau nikmati tak usah diceritakan panjang lebar di sini. Daripada untuk bercerita, lebih baik kita gunakan saja untuk segera memulai acara bersenang-senang itu. Percayalah. Kau pasti akan menyukainya!" habis berkata begitu, Reksi Gumarang melangkah mendekat. Melihat hal ini Ganda Wulung pun tak tinggal diam. Laki-laki berjubah kulit harimau ini ikut-ikutan melangkah mendekat.

"Manusia-manusia anjing! Tentunya kalian berwatak seperti anjing. Akan kubersihkan otak kalian agar seperti watak manusia!" desis Sakawuni tanpa bergerak dari tempatnya.

Mungkin karena tak sabar atau menganggap remeh orang, tiba-tiba Reksi Gumarang melompat ke depan. Tangan kanannya bergerak hendak merengkuh tubuh gadis di depannya. Tapi laki-laki ini terperanjat. Tangannya hanya merengkuh angin. Bukan hanya sampai di situ, tubuhnya tiba-tiba terdorong ke belakang. Dan sebelum laki-laki ini mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya, sebuah tendangan keras menghajar bahunya. Laki-laki ini terputar dan jatuh terbanting di atas tanah! Bahkan kalau saja laki-laki ini tidak segera menarik tubuhnya, niscaya kepalanya akan menyusup ke perapian!

Mendapati apa yang terjadi pada Reksi Gumarang, Ganda Wulung hentikan langkah. Dahinya mengernyit dengan mata sedikit membeliak. Sementara Reksi Gumarang segera bangkit. Namun laki-laki ini bukannya marah mendapati dirinya terjengkang roboh. Justru seraya bangkit laki-laki ini tertawa tergelak-gelak.

"Ganda Wulung! Rupanya malam ini kita akan menyantap makanan yang geliatannya menakjubkan! Makanan yang demikian inilah yang paling kusuka. Selain bisa menghangatkan suasana juga menggairahkan nafsu! Ha... ha... ha...!"

Tiba-tiba Reksi Gumarang berkelebat. Tangannya kembali hendak merengkuh. Gerakan tangannya kini lebih cepat. Namun lagi-lagi Reksi Gumarang terlengak. Tangannya hanya merengkuh angin! Tapi kali ini dia waspada. Ketika terdengar berdesirnya suara angin, dia cepat merunduk. Dan tangan kirinya diangkat ke atas.

Bukkk!

Reksi Gumarang berseru tertahan. Tangan kirinya mental balik dengan tubuh terdorong ke belakang. Dan ketika dia melirik, dia membelalak hampir tak percaya. Tangannya menggembung dan berwarna merah!

"Keparat!" seru Reksi Gumarang dengan mata memandang tajam pada Sakawuni yang masih tampak berdiri sambil tersenyum sinis. Paras wajah laki-laki ini berubah merah padam. Namun demikian, diam-diam dalam hatinya maklum jika gadis muda di hadapannya tidaklah seperti apa yang semula diduganya. Sementara itu Ganda Wulung memperhatikan dengan lebih seksama.

"Siapa gadis ini sebenarnya? Dia tidak bisa dianggap remeh!"

"Siapa kau sebenarnya...?!" tiba-tiba Reksi Gumarang membentak.

Yang dibentak bukannya segera menjawab. Melainkan tertawa berderai-derai hingga dadanya yang membusung terlihat naik turun.

Namun gerakan naik turun dada Sakawuni tidak membuat Reksi Gumarang terpesona seperti semula. Sepasang matanya memang membelalak besar, namun bukan karena melihat dada Sakawuni, melainkan karena marah! Rencananya semula yang ingin mengajak Sakawuni bersenangsenang seakan hilang lenyap, berganti ingin menundukkan Sakawuni.

"Laki-laki busuk!" teriak Sakawuni setelah agak lama tertawa. "Apakah kau selalu menanyakan siapa mangsamu jika ingin bersenangsenang?!"

Karena yang ditanya tidak ada yang membuka mulut untuk menjawab, akhirnya Sakawuni melanjutkan ucapannya.

"Kalau kalian tak mau jawab tak apa. Tapi perlu kalian ketahui jika kalian memang selalu ingin tahu mangsamu, aku tak keberatan memberitahu! Dengar baik-baik. Aku adalah Pemangsa Malam! Pencari nyawa laki-laki yang suka keluyuran malam-malam! Hik... hik... hik...!"

"Bedebah setan siapa namamu! Kau akan kubawa bersenang-senang setelah tubuhmu jadi mayat!" kata Reksi Gumarang setengah berteriak. Sementara Ganda Wulung terlihat diam saja, namun diam-diam laki-laki ini kerahkan tenaga dalam. Dan diam-diam pula kedua tangannya ditarik ke belakang siap lancarkan pukulan.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar orang melantunkan tembang syair.

Malam merangkak makin jauh.

Sang pemangsa malam telah kepakkan sayap untuk menembusi kegelapan watak manusia.

Sungguh jelek nasib manusia malam.

Harus kembali pulang dengan nyawa menggantung di awang-awang!

Ketiga orang serentak palingkan wajah masing-masing ke arah datangnya suara tembang syair. Di belakang pohon, terlindung oleh kegelapan malam yang tidak terbias pancaran cahaya perapian terlihat sesosok tubuh berdiri tegak dengan kepala tengadah. Hanya jubah besarnya yang berwarna hitam bergaris-garis putih tampak berkibar-kibar diterpa angin malam.

"Penyair geblek! Hanya kuingatkan sekali padamu. Lekas tinggalkan tempat ini!" teriak Reksi Gumarang sambil alihkan kembali pandangannya pada Sakawuni. Sementara Ganda Wulung tampak menyipitkan sepasang matanya. Karena dia berada lebih dekat dengan sosok yang mengalunkan tembang syair, dia lebih jelas bisa melihat paras wajah orang di belakang pohon.

"Hmm.... Aku samar-samar sepertinya pernah bertemu dengan orang ini..." batin Ganda Wulung. Matanya sekali lagi ditajamkan. "Heran. Aku merasa yakin pernah mengenali wajahnya. Tapi aku lupa di mana Ah,

mungkin hanya persamaan wajah...," kata Ganda Wulung pada akhirnya menenteramkan diri tatkala dia gagal mengingat-ingat.

"Siapa lagi manusia pendatang ini? Kalau menilik nada suaranya, jelas jika sang penyair ini mempunyai ilmu. Juga melihat kedatangannya yang tanpa bisa kusiasati, mengisyaratkan bahwa dia tidak bisa dipandang remeh! Hm Perjalanan

belum dimulai sudah ada penghalang...," Sakawuni membatin seraya melirik pada Ganda Wulung.

"Laki-laki ini tampak sedikit berubah. Sepertinya dia mengenali orang yang baru datang. Adakah mereka ini satu komplotan...? Peduli setan! Siapa pun mereka adanya, akan kubikin mampus jika bertindak kurang ajar!"

Selagi ketiga orang ini tidak ada yang buka suara, sosok di belakang pohon kembali memperdengarkan alunan tembang syair.

Malam makin gelap pekat.

Darah telah menggelegak ingin segera tumpah membasahi bumi.

Penyair Berdarah inginkan darah manusiamanusia serakah.

Reksi Gumarang, Ganda Wulung! Malam kalian telah berakhir!

Reksi Gumarang dan Ganda Wulung tersedak leher masing-masing. Darah kedua orang ini laksana sirap seketika. Reksi Gumarang alihkan pandangannya lagi ke arah belakang pohon dengan kaki tersurut dua langkah. Sedangkan Ganda Wulung ternganga sambil geser kakinya ke samping, seakan ingin memperhatikan lebih jelas wajah orang. Tidak seperti Reksi Gumarang yang meski terkejut tidak menampakkan paras takut, sebaliknya Ganda Wulung jelas menunjukkan raut ketakutan. Sementara Sakawuni sepertinya acuh dengan rasa terkejut dua orang di sampingnya. Dia berpikir tak ada untungnya dengan mengetahui perasaan orang. Meski dia dapat menduga bahwa ada ganjalan antara dua orang di sampingnya dengan sang pendatang.

Selagi Reksi Gumarang dan Ganda Wulung dilanda rasa terkejut, sosok di belakang pohon luruskan kepalanya, merapikan jubahnya lalu melangkah keluar dari balik bayangan pohon.

Dia adalah seorang pemuda bertubuh tegap. Rambutnya panjang dibiarkan tergerai. Sepasang matanya tajam dengan dagu kokoh. Dekat perapian sang pemuda yang bukan lain adalah Manding Jayalodra alias Penyair Berdarah hentikan langkah. Sepasang matanya menatap satu persatu pada Reksi Gumarang serta Ganda Wulung. Matanya berkilat merah. Pelipisnya bergerak-gerak. Jelas bahwa dia sedang marah.

Jika Ganda Wulung masih sedikit banyak bisa mengenali sang pemuda meski tak tahu siapa, tidak demikian halnya dengan Reksi Gumarang. Hingga begitu Penyair Berdarah hentikan langkah, dia segera membentak.

"Penyair edan! Siapa kau...?! Dan dari mana kau tahu siapa adanya kami?!"

Penyair Berdarah memandang pada jurusan lain. Tawanya tiba-tiba meledak. Dan bersamaan dengan itu, ketiga orang di hadapan Penyair Berdarah surutkan langkah masing-masing ke belakang. Bukan hanya karena terkejut mendengar ledakan tawa orang yang membuat telinga berdengung sakit, melainkan juga karena tanah pijakan mereka bergetar. Hingga kalau masingmasing orang tidak segera kerahkan tenaga dalam, bukan tak mungkin akan goyah dan jatuh terduduk! Dari sini ketiga orang jadi maklum, bahwa mereka sedang berhadapan dengan orang berilmu tinggi.

"Reksi Gumarang, Ganda Wulung! Buka mata kalian lebar-lebar! Kalau aku dapat mengenali siapa kalian, orang tolol jika kalian tak mengenalku!" kata Penyair Berdarah begitu suara tawanya terhenti.

Untuk beberapa saat baik Reksi Gumarang maupun Ganda Wulung memperhatikan sekali lagi pada pemuda di hadapan mereka. Namun keduanya tampak tidak bisa mengingat apalagi mengenali si pemuda,

"Kau tak usah berteka-teki! Katakan siapa kau adanya!" sahut Reksi Gumarang dengan suara tinggi. Rasa marah laki-laki ini makin bertumpuk. "Baiklah kalau itu maumu." akhirnya Penyair Berdarah berkata. "Untuk menyegarkan otak kalian yang buntu akan kusebutkan sebuah nama. Kau ingat dengan seorang bernama Candrik Raturandang?!"

Serentak Reksi Gumarang dan Ganda Wulung tercengang. Kedua orang ini memang mengenal siapa adanya orang yang baru disebut namanya oleh sang pemuda. Candrik Raturandang adalah adik kandung mendiang Panglima Perang Kerajaan Dhaha yang tewas digantung karena hendak mengadakan makar terhadap kerajaan. Sedangkan Candrik Raturandang akhirnya juga dihukum gantung karena kedapatan menyembunyikan anak bungsu sang panglima.

"Candrik Raturandang.... Hmm..., berarti pemuda ini adalah anak bungsu sang panglima! Manding Jayalodra...,"" gumam Reksi Gumarang sambil busungkan dada. Lalu berkata.

"Ganda Wulung. Rezeki kita besar sekali malam ini! Selain dapat menikmati santapan gadis cantik, masih ditambah hadiah kepingan emas dari Sri Baginda. Pemuda inilah yang selama ini dicari-cari kerajaan!"

Ganda Wulung yang telah juga dapat menebak siapa adanya pemuda tertawa pendek. "Kalau kita bisa menyeret pamannya, apa susahnya menyeret keponakannya...?!"

"Manusia-manusia keparat! Jangan bermulut besar! Darah kalian akan kutumpahkan malam ini sebagai imbalan atas kelakuan kalian pada pamanku!" Penyair Berdarah membentak dengan kacak pinggang. Mulutnya mengembung lalu memuntahkan ludah ke tanah.

Melihat suasana tegang, Sakawuni perlahan-la-an melangkah mundur. Dan begitu Sakawuni berada agak jauh, tiba-tiba Penyair Berdarah melompat ke depan. Reksi Gumarang hanya melihat kelebatan serta berdesirnya angin. Tahutahu sepasang tangan Penyair Berdarah telah bergerak menghantam dan kini berada satu jengkal di sebelah kanan kiri kepalanya.

Dengan menahan rasa sakit serta sadar bahaya maut mengancam dirinya, Reksi Gumarang cepat angkat tangannya.

Prakkk! Prakkk!

Dua pasang tangan beradu keluarkan suara keras. Reksi Gumarang terpekik. Sambil menghindar dengan melompat mundur, laki-laki ini hantamkan kaki kanannya. Penyair Berdarah sibakkan jubahnya. Kepalanya bergerak merunduk. Terjangan kaki lewat sejengkal di atas kepalanya. Saat itulah Penyair Berdarah sapukan kakinya menyusur tanah menghajar betis Reksi Gumarang yang digunakan sebagai tumpuan tubuhnya. Kaki kiri Reksi Gumarang mencelat dan ini mengakibatkan tubuhnya terbanting deras dengan posisi miring.

Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Penyair Berdarah. Kaki kirinya segera diangkat dan disapukan pada kepala Reksi Gumarang. Namun bersamaan dengan itu Ganda Wulung berteriak dan berkelebat.

Penyair Berdarah urungkan niat menghantam kepala Reksi Gumarang namun kakinya tetap diterjangkan dengan sedikit diangkat lebih tinggi hingga lewat di atas kepala Reksi Gumarang. Lalu tubuhnya diputar dan kakinya diteruskan ke depan.

Bukkk! Bukkk!

Karena tak menyangka Penyair Berdarah akan membuat gerakan demikian, Ganda Wulung yang menyongsong dengan tangan di atas kepala tampak terkejut. Tangannya segera dihantamkan ke bawah. Namun yang dihantamnya hanyalah udara kosong, karena ternyata lawan telah tarik pulang kakinya sebatas lutut. Dan begitu tangannya lolos menghajar sasaran, lawan telah melejangkan kembali kakinya. Ganda Wulung berseru tertahan. Tubuhnya mencelat ke belakang dan jatuh bergedebukan ke atas tanah.

Pada saat Penyair Berdarah melejangkan kaki kirinya menyongsong Ganda Wulung, Reksi Gumarang melirik. Kesempatan ini tak disiasiakan laki-laki berjubah putih ini. Kakinya cepat bergerak menghajar kaki kanan Penyair Berdarah. Karena pusat bobot tubuhnya terhajar, membuat tubuh Penyair Berdarah langsung terbanting!

Melihat hal ini Reksi Gumarang langsung bangkit. Namun baru saja hendak tegak, Penyair Berdarah hantamkan kedua tangannya.

Angin dahsyat mengeluarkan suara seperti bunyi-bunyian rebab melesat cepat ke arah Reksi Gumarang. Suasana berubah redup meski di situ ada cahaya perapian, dan hawa panas menghampar! Penyair Berdarah telah lancarkan pukulan sakti 'Suara Kematian'!

Di depannya, Reksi Gumarang terkesima. Namun sudah sangat terlambat untuk menghindar. Hingga tanpa bisa dielakkan lagi, pukulan Penyair Berdarah telah menghajar tubuhnya. Sosok laki-laki berjubah putih ini yang ternyata adalah pengawal mendiang Panglima Perang Kerajaan Dhaha mencelat hingga beberapa tombak ke belakang dan terhempas dengan kepala terlebih dahulu. Sejenak tubuhnya terlihat menggelepar, lalu sesaat kemudian diam kaku dengan pakaian hangus dan tubuh berubah menjadi hitam legam!

Mendapati hal yang menimpa Reksi Gumarang, Ganda Wulung yang sejak semula telah jerih makin kecut. Seraya merayap bangkit laki-laki ini melirik kanan kiri. Dan tanpa pikir panjang lagi dia berkelebat meloloskan diri. Namun bersamaan dengan itu, tiba-tiba suasana di tempat itu berubah sangat dingin, lalu berubah lagi panas menyengat. Hal ini membuat tengkuk Ganda Wulung merinding, namun karena dia telah mengambil keputusan melarikan diri, ia teruskan saja berkelebat.

Saat itulah Ganda Wulung merasakan punggungnya terhantam benda keras. Tubuhnya langsung terjungkal menggebrak tanah! Sebentar terdengar erangan dari mulutnya, namun erangan itu tiba-tiba terputus bersamaan dengan melayangnya nyawa!

SEMBILAN

SAKAWUNI turunkan kedua tangannya. Tebaran hawa sangat dingin lalu panas serta angin dahsyat yang tidak mengeluarkan suara yang melesat dari kedua tangan Sakawuni inilah yang memutuskan nyawa Ganda Wulung. Sakawuni ternyata telah lancarkan pukulan sakti 'Menggiring Sinar Menebar Hawa'.

Sakawuni menunggu sebentar. Setelah yakin Ganda Wulung tewas, dia putar tubuh dan meninggalkan tempat itu. Bibirnya tampak tersenyum sinis.

"Tunggu!"

Mendadak satu seruan agak keras terdengar di belakangnya. Sakawuni segera berpaling. Penyair Berdarah tampak telah berdiri dan memandang ke arahnya dengan pandangan sulit diartikan.

"Hm.... Apa dia juga punya maksud sama seperti dua laki-laki tadi?" batin Sakawuni lalu bertanya.

"Ada apa...?!"

"Kalau tak keberatan, boleh aku tahu siapa kau sebenarnya?!'

"Hm.... Dua laki-laki tadi mengatakan bahwa dia adalah buron kerajaan! Ah, itu bukan urusanku. Yang penting dia tak membuat masalah denganku! Dan mendengar nada bicaranya dia sepertinya tak punya niatan buruk! Wajahnya juga tampan...," Sakawuni sejenak merasa terkesima. Dadanya bergetar, apalagi tatkala bola matanya bertemu dengan mata pemuda di hadapannya. Namun sesaat kemudian kepalanya menggeleng perlahan.

"Hm.... Gadis ini berparas cantik. Bentuk tubuhnya siapa pun akan tergoda jika memandangnya. Ilmunya juga tak bisa dianggap remeh. Gadis macam inilah yang dimaksud oleh Guru....

Aku harus dapat membujuknya "

"Gadis cantik! Kau tak usah berprasangka buruk padaku. Aku bukannya macam dua lakilaki jahanam itu!'

Sakawuni anggukkan kepalanya. Meski dia sebenarnya ingin segera meninggalkan tempat itu, namun ada rasa aneh yang membuatnya mengurungkan niat. Malah dia balik bertanya.

"Kau mengenali dua laki-laki jahanam itu.

Siapa mereka? Dan kau sendiri siapa?"

"Hmm.... Apakah aku harus berterus terang? Ah, tidak. Masa laluku harus kukubur dalam-dalam. Aku sekarang adalah Penyair Berdarah. Manusia yang akan menguasai jagat persilatan!" lalu Penyair Berdarah berkata.

"Mereka berdua adalah para pemberontak Kerajaan Dhaha. Mereka adalah manusiamanusia yang ikut serta menyeret salah seorang pamanku ke tiang gantungan. Mereka menebar fitnah hingga pamanku harus tewas di tiang gantungan. Mereka pantas menemui aja!!" saat berkata, paras wajah Penyair Berdarah tampak berubah merah padam. Setelah diam beberapa saat dia melanjutkan.

"Aku sendiri tak tahu apa nama yang diberikan orangtuaku. Karena ketika umurku tiga tahun, kedua orangtuaku telah meninggal. Hanya karena aku senang dengan tembang-tembang syair, orang-orang memanggilku dengan Penyair Berdarah! Aku sendiri heran, kenapa orang-orang memanggilku demikian. Padahal aku paling benci dengan darah!"

Sakawuni mendengarkan penuturan Penyair Berdarah dengan seksama. Bahkan tak jarang sepasang matanya mencuri pandang.

"Perjalanan hidup yang memilukan...," desis Sakawuni.

"Aku telah mengatakan siapa aku sebenarnya. Apakah kau masih keberatan mengatakan siapa adanya dirimu?!" tiba-tiba Penyair Berdarah ajukan pertanyaan.

Sakawuni tampak terkejut. Namun gadis ini segera bisa kuasai diri dengan sedikit tersenyum.

"Meski ceritanya mungkin benar, tapi dia masih menyembunyikan sesuatu. Dia tak menyebutkan nama.... Untuk sementara aku pun harus tidak berterus terang padanya!" pikir Sakawuni.

"Penyair Berdarah. Seperti halnya dirimu, aku pun demikian!" Penyair Berdarah kernyitkan kening. Sepasang matanya sedikit membesar. Bukan memandang pada wajah Sakawuni, melainkan ke arah dada dan pinggulnya! Tapi begitu Sakawuni melirik, Penyair Berdarah cepat alihkan pandangannya dan berkata.

"Sama dengan diriku? Apa maksudmu...?!" "Kedua orangtuaku meninggal saat aku

masih bayi. Konon, karena mereka belum memberi nama, sampai besar pun aku tidak mempunyai nama! Apalagi gelar! Tapi aku tak kecewa dengan hal itu!"

"Tapi kau tadi kudengar menyebutkan gelar!" sahut Penyair Berdarah.

Sakawuni tertawa perlahan, memperlihatkan giginya yang putih rata serta bercahaya. Seraya alihkan pandangan pada jurusan lain dia berucap.

"Aku hanya asal omong saja! Karena mereka berniat buruk padaku!'"

Penyair Berdarah memandang lekat-lekat. Bibirnya ikut menyungging senyum. "Kalau kau tak mau sebutkan nama atau gelar, tak apa-apa. Namun kalau kau tidak keberatan bagaimana kalau kau kuberi gelar Bidadari Malam? Gelar itu layak kau sandang, karena parasmu cantik seperti bidadari. Dan tak merasa takut meski sendirian di tengah malam. "

Mendengar ucapan Penyair Berdarah, Sakawuni tertawa panjang. Namun diam-diam dia merasa senang. Hingga dia tak menolak dengan isyarat gelengan kepala atau berkata terus terang. Dada gadis ini makin dibuncah oleh perasaan yang sulit diartikan.

Hal demikian tampaknya tak luput dari pandangan cerdik otak Penyair Berdarah. Dalam hati dia berkata. "Hm.... Di mana-mana perempuan pasti akan lupa hatinya jika dipuji. Aku harus bisa membuatnya melayang-layang dengan pujian, lalu jatuh dalam rengkuhanku!" Dia lalu buka mulut hendak bicara. Namun diurungkan ketika Sakawuni telah kembali berucap.

"Sebenarnya aku tak suka dengan gelar, namun jika kau memberiku, aku tak menolak!" habis berkata dia tengadah. Matanya menembusi kegelapan malam. Tiba-tiba dia berseru seakan baru sadar.

"Ah, malam sudah hampir pagi. Tak terasa sudah lama kita bicara. Aku harus segera pergi!"

Penyair Berdarah terkejut. Namun segera disembunyikan di balik senyumnya. "Bidadari Malam Tampaknya kau tergesa-gesa. Apakah kau punya masalah...? Sebagai sahabat, jika kau mau memberitahu, mungkin aku bisa membantu. Setidak-tidaknya bisa menjadi teman seperjalanan "

"Terima kasih atas perhatianmu. Aku memang punya urusan. Tapi urusan itu bisa kuselesaikan sendiri!"

Penyair Berdarah tunjukkan wajah murung. Napasnya berhembus panjang membuat Sakawuni hampir urungkan niat untuk pergi. Namun begitu teringat pada Pendekar Mata Keranjang, dia kuatkan hati untuk segera pergi. Tapi entah karena tidak mau membuat Penyair Berdarah tersinggung dengan penolakannya, dia berkata.

"Maaf. Bukannya aku menolak budi baikmu untuk membantuku. Namun karena urusanku begitu penting dan aku rasa bisa menyelesaikannya sendiri maka untuk kali ini aku belum membutuhkan bantuan orang lain!"

"Urusan apa sebenarnya?!" tanya Penyair Berdarah.

"Urusan ini pun tak bisa kukatakan padamu! Hmm.... Kau sendiri hendak ke mana?" Sakawuni balik ajukan tanya dengan maksud mengalihkan pembicaraan.

"Aku sebenarnya dalam perjalanan mencari seseorang. Dia seorang pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!"

Terkejutlah Sakawuni mendengar ucapan Penyair Berdarah. Langkahnya tersurut satu tindak ke belakang. Dipandanginya pemuda di hadapannya dengan seksama seakan baru bertemu.

"Pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108?!" desis Sakawuni menegaskan ucapan Penyair Berdarah dengan tak sadar.

"Betul! Pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Kau kenal dengannya!?" ujar Penyair Berdarah dengan kening berkerut. Melihat tingkah Sakawuni, dia menjadi curiga. Namun dalam hati dia telah berkeputusan jika Sakawuni mengatakan sebagai sahabat Pendekar 108, dia akan mengatakan sesuatu yang baik tentang pendekar itu. Jika sebaliknya, maka kesempatan itu tak akan disia-siakan.

"Kau berubah. Kau kenal dengan pemuda itu?! ulang Penyair Berdarah tatkala ditunggu agak lama Sakawuni tidak juga menyahut ucapannya.

"Ada urusan apa antara pemuda ini dengan pendekar keparat itu? Atau dia teman pendekar jahanam itu...? Hmm.... Aku harus segera mencari manusia keparat cabul itu!" putus Sakawuni. Kepalanya lalu menggeleng dan berkata.

"Aku memang pernah mendengar nama pemuda yang kau sebut. Namun aku belum pernah bertemu apalagi mengenalnya! Kalau boleh tahu, ada urusan apa kau dengan pemuda itu? Teman atau...," Sakawuni tidak melanjutkan ucapannya karena saat itu Penyair Berdarah telah memperdengarkan suara tawa.

"Bidadari Malam. Dia bukan teman dan bukan apa-apaku. Urusanku dengannya pun tidak baik diketahui orang lain. Hanya saja aku akan mencarinya sampai ketemu!"

"Hmm.... Begitu? Kau punya urusan, aku pun demikian. Moga-moga kita nanti bisa jumpa lagi dengan tanpa ada urusan dengan orang lain. Aku harus pergi sekarang!" habis berkata begitu, Sakawuni putar tubuh dan meninggalkan Penyair Berdarah.

"Hmm.... Aku curiga pada gadis itu. Aku rasa dia mengenal Pendekar 108. Akan kuikuti ke mana dia pergi. Dan aku ingin tahu apa urusan yang dihadapinya! Aku telah menemukan orang yang kukira dapat melicinkan jalanku. Ini tak boleh kusia-siakan begitu saja...," berpikir sampai di situ, Penyair Berdarah segera pula berkelebat menembus kepekatan malam menyusul arah kelebatan Sakawuni.

Di depan, pada suatu tempat Sakawuni hentikan larinya. Sejenak kepalanya berputar, matanya liar menyapu berkeliling. Kepalanya lantas tengadah.

"Penyair Berdarah. Siapa pun dia yang pasti dia berilmu tinggi. Dan menilik nada suaranya, dia memang bukan teman Pendekar 108. Malah kulihat dia menyimpan marah pada pemuda itu. Hm.... Urusan apa sebenarnya? Ah, kenapa aku memikirkan hal itu? Urusanku adalah urusanku. Masalah dia biarlah diurus sendiri! Yang penting, pendekar jahanam itu harus tewas di tanganku!" sejenak gadis ini bimbang, kepalanya lurus dan berputar. Matanya menebar. Namun sesaat kemudian dia berkelebat lagi.

Di bawah pohon besar, Penyair Berdarah bangkit. Setelah mengedarkan pandangan dia pun berkelebat ke arah yang diambil Sakawuni. SEPULUH

SEBUAH bayangan berkelebat menembus kerapatan semak belukar dan jajaran pohonpohon besar. Meski malam menambah kepekatan suasana, namun bayangan ini tampaknya enak saja berkelebat. Bahkan tak lama kemudian bayangannya lenyap laksana ditelan bumi. Dan tahu-tahu muncul di bawah pohon yang tidak begitu besar dengan punggung bersandar. Kepalanya ditengadahkan, tangan kanannya lalu bergerak mengusap keringat yang membasahi dahinya. Sepasang matanya lalu memandang berkeliling. Sosok ini ternyata seorang pemuda berparas tampan. Tubuhnya tegap mengenakan pakaian warna hijau yang dilapis dengan baju kuning lengan panjang. Rambutnya panjang dan dikuncir ekor kuda.

"Sialan! Ke mana perginya manusia aneh itu? Hm.... Manusia macam dia bukan saja modelnya yang mengherankan serta menggelikan. Namun sifatnya juga membingungkan!" sang pemuda berpikir.

"Beberapa waktu silam dia tiba-tiba mengajarkan ilmu padaku. Lalu tiba-tiba saja pergi tanpa omong-omong lagi. Apa aku melakukan suatu kesalahan? Wah, bisa pusing sendiri memikirkan hal-hal mengenai orang aneh itu!"

Tiba-tiba mata sang pemuda yang bukan lain adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 sedikit membelalak memandangi ke jurusan agak jauh. Tangannya ditepukkan pada keningnya.

"Ada asap di sebelah sana. Kata orang tua, ada asap pasti ada api! Menurutku, ada api pasti ada orang yang membakar! Hm.... Mungkin manusia arak yang membuat api itu. Mungkin dia kedinginan dan berapi-api sambil menenggak araknya! Aku akan ke sana!"

Pendekar 108 segera berkelebat menuju arah terlihatnya asap. Di bawah pohon besar, murid Wong Agung ini menemukan perapian yang masih menyala. Namun dia tampak kecewa, karena orang yang diduganya tidak ada di tempat itu. Tapi karena udara dingin, dia melangkah mendekati perapian.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Sepasang matanya melihat sesuatu menggeletak sepuluh tombak di sebelah kanan perapian.

"Apakah Setan Arak...? Tapi kenapa tidur melingkar seperti cacing tanah? Manusia itu memang amburadul!" bisik Aji seraya melangkah mendekat.

"Bukan. Bukan Setan Arak. Tapi orang lain. Darah terlihat menggenang. Tubuhnya hangus. Dia telah mati..." desis Pendekar 108 begitu sampai di hadapan sesuatu yang menggeletak.

"Darahnya belum membeku. Dan perapian belum padam. Berarti hal ini baru saja terjadi. Hmm.... Siapa yang melakukan hal ini...?!' sepasang mata Pendekar 108 lantas menebar berkeliling. Dan matanya kembali melotot tatkala menangkap sosok tubuh yang juga menggeletak di balik bayangan batang pohon. Sekali melompat dia telah berada di hadapan sosok yang ternyata juga sudah tewas.

"Yang ini tidak mengeluarkan darah. Tapi punggungnya jebol! Hm.... Siapa pun yang melakukan pasti bukan orang sembarangan...," gumam Pendekar 108 sambil kembali mengedarkan pandangan. Dia khawatir masih ada lagi mayat, atau orang yang melakukan pembunuhan. Namun hingga sepasang matanya lelah mencari dia tidak menemukan orang lagi.

"Hm.... Apa pun urusan orang-orang ini aku tak peduli. Aku akan menyelidiki siapa pelakunya. Jangan-jangan dia akan melakukan pembunuhan-pembunuhan. Ini akan mengacaukan suasana!" dia kembali melangkah mendekati perapian. Matanya jelalatan seakan-akan mencari sesuatu.

"Aku tak berhasil menemukan tanda-tanda yang menjurus pada sang pelaku. Tapi yang pasti dia belum jauh dari sini. Aku akan coba menyusul!" Namun sesaat dia tampak bimbang tentang arah mana yang harus diambil. Setelah memikirkan sejenak, dia memutuskan mengambil arah utara. Dan tanpa disadarinya ternyata arah itu adalah arah ke mana Sakawuni dan Penyair Berdarah berkelebat.

*** Kali ini Pendekar Mata Keranjang 108 berlari dengan kerahkan segenap tenaga dalamnya. Hingga tak lama kemudian terlihat sekujur tubuhnya telah basah oleh keringat meski saat itu dingin malam menghampar!

Pada suatu tempat, tiba-tiba murid Wong Agung menangkap kelebatan bayangan. Merasa bahwa itu adalah orang yang hendak diselidiki, dia tambah tenaga dalamnya. Hingga sosoknya seakan lenyap. Dibantu oleh suasana gelap serta kerapatan semak belukar, gerakan Pendekar 108 tampak lebih leluasa.

Ketika dia benar-benar telah dapat menangkap sosok bayangan yang ada tak jauh di depannya, Pendekar Mata Keranjang makin mempercepat larinya.

"Aku harus tahu siapa adanya orang. Berarti aku harus mendahuluinya. Setidak-tidaknya dapat menjajari...," bisiknya seraya putar tubuh setengah lingkaran dan berkelebat lewat jalan memutar. Dia berpikir, dengan jalan berputar, dia dapat mendahului orang di depannya dan dapat terlebih dahulu mengetahui siapa adanya orang yang dikuntit.

Setelah agak jauh dan merasa telah berada di depan orang yang dikuntit Aji memotong jalan. Dan dugaan murid dari Karang Langit ini pun tidak meleset. Karena sesaat kemudian dia telah berada di depan orang yang diikuti. Namun betapa terkejutnya murid Wong Agung ini. Matanya sekali lagi dipertajam. Keningnya mengernyit. "Malam memang sangat gelap. Namun mataku tidak bisa ditipu. Orang yang kuikuti tadi dapat kupastikan seorang laki-laki. Tapi yang berkelebat kali ini pasti orang perempuan. Belum lagi harum tubuhnya dapat kurasakan. Yang tadi baunya sengak!"

Seraya membatin Pendekar 108 terus mengikuti bayangan di depannya. "Hmm.    Menilik

bau harum tubuhnya, setengah yakin jika perempuan   itu   berparas   cantik....   Tapi      Jangan-

jangan dia seorang kuntilanak. Tadi kulihat lakilaki sekarang perempuan. Bukankah hantu kuntilanak bisa merubah-rubah wujud?" kuduk Pendekar Mata Keranjang jadi dingin.

"Sebaiknya kubuktikan dulu bahwa memang ada dua orang yang sedang berlari. Satu laki-laki dan satu perempuan!" pikir Aji sambil berpaling ke belakang. Dan ketika samar-samar matanya dapat menangkap kelebatan sebuah bayangan di belakangnya, Pendekar 108 jadi lega.

"Berarti dia bukan kuntilanak. Dan aku curiga jangan-jangan laki-laki itulah yang melakukan pembunuhan. Sekarang sedang mengejar perempuan yang lolos melarikan diri. Hmm. La-

ki-laki macam begitu harus diberi pelajaran. Tapi aku harus tahu dulu masalahnya...," Pendekar 108 terus berkelebat sambil membatin.

Sementara itu di depan, sosok yang berkelebat dan bukan lain adalah Sakawuni diam-diam juga membatin.

"Sialan! Aku sudah berusaha mengerahkan segenap tenaga dalam. Namun aku tak bisa meloloskan diri dari kuntitan orang! Sialan benar! Apa maunya dia mengikuti perjalananku? Dapat kupastikan orang dibelakangku adalah Penyair Berdarah! Jika saja urusanku bukan dengan Pendekar Mata Keranjang, aku tak akan sembunyisembunyi begitu rupa. Hm.... Penyair Berdarah. Wajahnya memang tampan.... Tapi kalau dibandingkan dengan Pendekar Mata Keranjang 108....

Sialan! Kenapa aku membanding-bandingkan dengan pendekar keparat itu? Aku harus mencegah dia mengikuti langkahku, meski aku tahu dia berniat menolongku. Aku ingin urusan dengan Pendekar Mata Keranjang kuselesaikan sendiri!"

Kalau Sakawuni membatin demikian, sosok di belakang Pendekar 108 dan bukan lain adalah Penyair Berdarah juga berkata sendiri dalam hati. "Keparat! Siapa bayangan di depan itu?

Aku tak dapat ditipu, dia tadi ada di belakangku. Melihat gerakannya yang begitu cepat, bukan mustahil jika dia orang berkepandaian tinggi....

Hmm.... Aku harus dapat mengetahuinya apa yang menjadi tujuannya hingga ikut-ikutan membuntuti!" setelah membatin seperti itu, Penyair Berdarah lipat gandakan tenaga dalamnya hingga kelebatannya bertambah kencang. Tiba-tiba pada sebuah tempat yang di kanan kirinya agak jarang semak belukar, Sakawuni hentikan larinya.

Di belakangnya, Pendekar 108 terkejut. Untung dia segera bisa kuasai diri, jika tidak bukan tak mungkin Sakawuni akan memergokinya, karena begitu berhenti, gadis ini secepat kilat balikkan tubuh dan menebarkan pandangan.

"Busyet! Untung aku segera menyelinap, jika tidak...," Pendekar Mata Keranjang tak teruskan ucapannya. Dia sejajarkan tubuh dengan tanah. Karena tak jauh dari tempatnya, semak belukar terlihat bergoyang-goyang.

"Hmm.... Aku makin curiga jika laki-laki di belakang itu ada urusan. Buktinya dia juga tak menampakkan diri...!" gumam Pendekar 108 seraya pandangi tempat yang semak belukarnya bergoyang-goyang. Namun ketika dia tak menemukan seseorang di situ, matanya diarahkan ke tempat di mana sang perempuan berhenti.

Karena tempatnya dengan tempat Sakawuni tak begitu jauh, lagi pula cahaya keputihan telah tampak di ujung langit sebelah timur, maka dari tempatnya mendekam Pendekar 108 bisa jelas melihat ke arah sang perempuan.

"Sakawuni!" seru Pendekar 108 dalam hati begitu dapat mengenali siapa adanya si perempuan. Seakan masih tak percaya, sepasang matanya dipelototkan besar.

"Benar. Dia Sakawuni. Apa yang dikerjakannya malam-malam begini? Dan siapa orang yang mengejarnya? Aku akan menunggu "

Sementara itu, di balik semak belukar Penyair Berdarah yang ikut-ikutan mendekam tebarkan pandangannya.

"Setan alas! Ke mana perginya bayangan itu? Tapi aku yakin dia masih ada di sekitar sini! Jika saja gadis itu tidak berhenti, mungkin aku telah dapat menangkapnya!"

Selagi Pendekar 108 dan Penyair Berdarah berkata sendiri-sendiri dalam hati, Sakawuni tebarkan pandangan. Dan ketika pandangan matanya tak berhasil menemukan orang, dia berteriak.

"Aku tahu kau berada di sekitar sini! Keluarlah. Dan katakan apa maksudmu sebenarnya!"

Baik Pendekar 108 maupun Penyair Berdarah sama-sama membatin. "Dia telah mengetahui jika diikuti!" Namun di antara kedua pemuda ini tidak ada yang bergerak dari tempatnya mendekam.

Karena tak ada orang yang keluar menunjukkan diri, Sakawuni mengulangi teriakannya. Namun lagi-lagi tak ada sahutan apalagi sosok yang tampakkan diri. Hal ini membuat Sakawuni naik pitam. Dengan suara meradang gadis ini berseru.

"Keluarlah! Jangan bersifat pengecut! Mengikuti orang dengan diam-diam!" kepalanya berputar dengan mata sedikit dibesarkan.

Tiba-tiba terdengar orang mendehem. Sakawuni palingkan wajah. Dia telah menduga jika orang yang keluarkan deheman adalah Penyair Berdarah. Bersamaan lenyapnya suara deheman sesosok bayangan berkelebat dan berdiri tegak sepuluh langkah di hadapan Sakawuni.

Mungkin karena terkesima  dengan orang yang baru muncul, Sakawuni untuk beberapa saat terdiam. Begitu sadar, kakinya tersurut dua langkah ke belakang. Matanya mendelik memandangi pemuda berbaju hijau di hadapannya. Gadis ini tampak terguncang.

"Kau!" seru Sakawuni begitu dapat menguasai diri. Parasnya berubah merah padam. "Manusia keparat cabul!" teriak Sakawuni seakan ingin terbang menerkam murid Wong Agung ini.

Di tempat mendekamnya, Penyair Berdarah terperangah demi melihat siapa adanya orang yang kini ada di hadapan Sakawuni.

"Pendekar Mata Keranjang 108!" serunya dalam hati dengan kepalkan tinjunya. "Sekarang kau tak akan bisa melarikan diri!" namun dia tak hendak keluar dari persembunyiannya. Otaknya yang cerdik memikir. "Kulihat gadis itu mengenalnya. Dan tiba-tiba marah. Hmm. Apa urusan

dengan pemuda ini yang disembunyikannya padaku...? Bila benar, sungguh ini sebuah kebetulan!" Penyair Berdarah sunggingkan senyum sambil manggut-manggut.

"Pendekar keji dan cabul!" seru Sakawuni dengan mata berkilat-kilat. "Terimalah kematianmu saat ini! Dunia persilatan akan tercoreng jika manusia sepertimu dibiarkan hidup!"

"Sakawuni!" kata Aji dengan suara pelan. Matanya memandang gadis di depannya dengan tatapan kosong. "Aku heran dengan sikapmu. Belum lama kau menuduhku sebagai pembunuh keji. Sekarang sudah bertambah lagi dengan cabul. Apa maksudmu sebenarnya?!"

Mendengar Pendekar 108 sebutkan nama si gadis, Penyair Berdarah makin membeliakkan matanya. Hatinya makin bersorak girang.

"Hmm.... Jadi gadis ini yang diceritakan Guru! Nasibku baik Sekali jalan dua tujuan ku-

temukan!"

"Kau memang pintar bicara. Sayang, kepintaranmu kau gunakan untuk menutupi perilaku bejatmu!" Sakawuni berkata dengan suara tinggi. Dadanya sudah terlihat bergerak turun naik menahan gejolak amarah. Sementara kedua tangannya perlahan diangkat siap lancarkan pukulan.

"Sakawuni! Aku bersedia kau hajar bahkan sampai mati jika aku memang berbuat seperti yang kau tuduhkan! Sekarang buktikan tuduhanmu itu!"

Sakawuni menyeringai. Hidungnya keluarkan dengusan keras.

"Bangsat pengecut! Apa kau juga masih mungkir atas perbuatanmu yang hendak melakukan perbuatan tidak senonoh padaku saat aku pingsan, he?!"

Pendekar 108 tersenyum dingin.

"Kau salah, Sakawuni. Justru saat itu aku berusaha menolongmu. Kau kutinggalkan sendirian di sebuah tempat. Aku mencari daun-daunan untuk mengobati cideramu. Tapi waktu aku kembali kau telah tiada. Aku memang salah meninggalkanmu sendirian dalam keadaan cidera. Namun aku tak menyangka jika hal itu akan terjadi "

Sakawuni terdiam. Pendekar 108 melang-

kah maju dua langkah lebih mendekat. Lalu ajukan pertanyaan.

"Aku yakin, kepergianmu pasti ada orang yang membawa. Karena dalam keadaan cidera begitu tak mungkin kau bisa pergi. Kalau boleh kutahu, siapa orang yang membawamu?!"

"Itu bukan urusanmu! Urusanmu sekarang mengakui perbuatanmu dan menerima kematian!" sahut Sakawuni garang.

Pendekar 108 gelengkan kepala. Bibirnya masih tetap tersenyum. "Sakawuni. Aku jadi curiga. Jangan-jangan orang yang membawamu itulah yang menebar fitnah ini. Atau bisa jadi ini semua hanyalah sandiwaramu belaka karena "

"Kau segera mampus. Jangan menuduh seenak mulutmu!" potong Sakawuni dengan suara lantang membahana. Kedua kakinya lantas dibantingkan hingga tanah di tempat itu sedikit bergetar.

"Aku tidak menuduh, hanya aku curiga!

Sakawuni, sadarlah! Kau telah diperalat orang!" "Banyak mulut!" hardik Sakawuni. Dan

bersamaan dengan itu kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Seberkas sinar melesat tanpa keluarkan suara. Bersamaan itu hawa panas menebar, lalu berganti dingin. Inilah pukulan sakti 'Menggiring Sinar Menebar Hawa'.

Pendekar 108 berseru keras. Dia sebenarnya masih tak menduga jika Sakawuni benarbenar ingin menghabisinya. Karena itu dia hanya mengelak dengan melompat mundur dan menjatuhkan diri sama rata dengan tanah. Namun, murid Wong Agung ini jadi terkejut bukan alangkepalang, karena meski sinar yang melesat itu lewat di atas tubuhnya tapi sambaran angin yang tak kelihatan terasa menghantam tubuhnya, hingga tubuhnya mental sampai beberapa tombak ke belakang.

Begitu bangkit, Pendekar 108 cepat meneliti tubuhnya. Ternyata tidak ada yang mengalami cidera, namun anehnya, dia merasakan dadanya berdenyut sakit dan aliran darahnya seperti kacau-balau. Melihat hal ini Pendekar Mata Keranjang segera sadar jika pukulan Sakawuni benarbenar hebat. Dia pun segera salurkan tenaga dalam ke arah dada dan jantung sebagai pusat peredaran darahnya.

Di depan, melihat serangannya hanya mampu membuat lawan tidak cidera, Sakawuni segera melompat dan sekali lagi hantamkan kedua tangannya. Karena kali ini dengan pengerahan tenaga dalam penuh, maka panas yang menebar makin menyengat, demikian pula hawa dingin yang menebar berganti semakin dingin. Sementara sinar yang melesat semakin cepat menyambar!

Setelah dapat tahu bagaimana pukulan Sakawuni, Pendekar 108 tidak mau bertindak ayal. Kipas miliknya segera dicabut dan serta-merta dikebutkan menyilang sementara tangan kirinya mendorong.

Sinar berkilau putih menebar ke depan membentuk kipas, sedangkan bersamaan itu serangkum angin menyambar dengan keluarkan suara menggemuruh.

Bummm!

Terjadi ledakan dahsyat ketika dua pukulan bentrok di udara. Tempat itu berguncang. Semak belukar tercerabut dari akarnya dan akarnya semburat.

Begitu terjadi ledakan, baik Sakawuni maupun Pendekar 108 sama-sama berseru tertahan. Pendekar 108 terseret hingga dua tombak ke belakang. Dia sejenak berusaha menahan tubuhnya, namun karena saat itu tanah bergetar, hingga tak ampun lagi kakinya goyah sebelum akhirnya dia jatuh terduduk! Di depannya, Sakawuni tampak mencelat, dan jatuh menerabas semak belukar. Seraya menyumpah habis-habisan, Sakawuni cepat kerahkan tenaga dalam. Lalu dengan tertatih-tatih dia sibakkan rimbun semak belukar keluar hendak menyerang kembali.

Namun Sakawuni terkejut. Dia tak lagi melihat Pendekar 108. Matanya yang merah segera liar menyapu. Saat itulah tiba-tiba ada sambaran angin di belakangnya. Tanpa menoleh lagi, Sakawuni hantamkan kedua tangannya sekaligus dengan putar tubuh.

Namun Sakawuni jadi terperangah sendiri. Kedua tangannya hanya menghantam angin. Karena di belakangnya tidak tampak orang. Selagi melengak begitu rupa terdengar suara tawa pendek.

Sakawuni cepat berpaling. Sepuluh langkah di sampingnya terlihat Pendekar 108 tersenyum. Hal ini membuat Sakawuni mau tak mau jadi terguncang. Karena dia barusan bisa memastikan jika Aji ada di belakangnya. Dan dia yakin pukulan tangannya pasti tidak akan meleset karena dihantamkan dengan sangat cepat. Kalau secepat itu Pendekar 108 bisa mengelak, maka sulit baginya untuk bisa mengatasi. Namun pikiran demikian segera lenyap begitu teringat perbuatan pemuda yang dulu sangat dikaguminya itu. Yang ada di kepalanya sekarang adalah bagaimana caranya bisa membunuh. Kemampuan yang ada dalam dirinya tidak diperhitungkan lagi.

Dan apa yang baru saja dilakukan oleh Pendekar 108 memang suatu gerakan yang amat menakjubkan. Dia memang baru saja ada di belakang Sakawuni. Dan kalau saja dia mau, mudah baginya untuk menghantam Sakawuni. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Dia hanya ingin agar Sakawuni sadar tanpa ada mengalami cidera. Dan saat Sakawuni hantamkan kedua tangannya dia bergerak menghindar dengan cepatnya. Pendekar 108 sendiri hampir tak percaya bisa mengelak secepat itu. Namun nyatanya Pendekar 108 berhasil menghindar. Inilah gerakan menghindar yang diajarkan Setan Arak pada murid Wong Agung pada beberapa waktu yang lalu. "Sakawuni! Tak ada gunanya kita teruskan urusan ini! Marilah kita bicara dengan kepala dingin!"

"Manusia cabul! Bicaralah sesukamu! Tapi jangan mimpi aku akan goyah!" seru Sakawuni sambil angkat kedua tangannya.

"Hmm.... Bagaimana ini? Kalau dia menyerang kembali dan aku menangkis, mungkin dia akan cidera. Kalau aku tidak menangkis, aku akan mati konyol dan tak dapat membuktikan jika tuduhannya tidak benar. Hmm. Sebaiknya

aku menghindar. Memang diperlukan waktu untuk mengubah pikirannya...," batin Pendekar 108 lalu balikkan tubuh hendak berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.

Namun baru saja Pendekar 108 hendak bergerak berkelebat dan Sakawuni baru saja akan hantamkan kedua tangannya, tiba-tiba terdengar orang melantunkan tembang syair.

Manusia cabul berlagak pendekar adalah noda hitam rimba persilatan.

Tiada hukuman yang layak dipikulkan padanya selain simbahan darahnya.

Penyair Berdarah datang sebagai hakim darah bagi manusia pembuat noda.

Baik Pendekar Mata Keranjang 108 maupun Sakawuni segera palingkan wajah masingmasing ke samping. Semak belukar di sebelah kanan tampak bergerak-gerak menyibak. Dan tak lama kemudian muncullah seorang pemuda berjubah hitam bergaris putih-putih.

"Penyair Berdarah!" Pendekar 108 dan Sakawuni berseru berbarengan.

"Hmm.... Jadi manusia ini yang mengikuti Sakawuni. Mereka rupanya sudah saling kenal "

"Pendekar Mata Keranjang 108! Beberapa waktu yang lalu kau masih bisa menyelamatkan nyawamu karena bantuan manusia arak keparat itu! Tapi kali ini kau tidak akan bisa lolos! Dosamu telah bertambah. Selain harus tewas kini tubuhmu juga layak dicincang!"

"Penyair Berdarah! Kita tidak ada silang sengketa. Harap kau tidak ikut-ikutan urusan ini!" hardik Pendekar 108 sedikit geram.

Penyair Berdarah dongakkan kepala. Dari mulutnya menyembur suara tawa panjang. Kedua tangannya diangkat kacak pinggang.

"Kau telah menodai rimba persilatan. Siapa pun orang yang melibatkan diri dalam kancah persilatan, dia punya hak untuk menghukummu!" "Ini masih fitnah! Kau jangan coba-coba

membakar suasana!"

"Fitnah?" ulang Penyair Berdarah dengan nada mengejek. Kepalanya kini diluruskan. "Apakah jika seorang gadis telah mengatakan apa yang dialaminya itu masih dikatakan fitnah? Ha...

ha... ha.... Kata-katamu konyol dan tak masuk akal! Ternyata kau manusia dungu. Atau kau pura-pura bodoh He?!"

Mendengar ucapan Penyair Berdarah, darah muda Pendekar 108 naik ke ubun-ubun. Namun murid Wong Agung ini masih menekannya. Dia berusaha tidak terpancing dengan ucapan Penyair Berdarah yang menurutnya mencari-cari masalah.

Sementara itu Sakawuni menarik napas panjang dan lega begitu mendapati kemunculan Penyair Berdarah. Dia merasa lega karena setidak-tidaknya Penyair Berdarah akan turun tangan membantunya jika keadaan terdesak. Pada mulanya, Sakawuni memang tidak mengharapkan munculnya orang ketiga, namun setelah menyadari bahwa dia tak mungkin dengan mudah menundukkan Pendekar 108 maka kemunculan orang ketiga kali ini tidak lagi membuatnya terusik. Bahkan dengan kemunculan Penyair Berdarah semangat Sakawuni makin membara. Hingga ketika kedua pemuda di hadapannya sama-sama terdiam, dia berkata.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kau tak usah berdalih lagi. Kalau kau takut malu tewas di tanganku, buanglah sifat pengecutmu! Kau kuberi kesempatan untuk bunuh diri!"

Mendengar kata-kata Sakawuni, Pendekar 108 tengadahkan kepala. Suara tawanya tiba-tiba meledak panjang.

"Kau rupanya telah ikut-ikutan jadi orang bodoh, Sakawuni! Bukankah bunuh diri itu bapaknya pengecut? Justru seharusnya kau sadar jika kau sekarang dibuat alat oleh seseorang yang ingin mengambil keuntungan!" "Keparat! Katakan siapa orangnya!" bentak Sakawuni sambil angkat kembali kedua tangannya. ,

"Ha... ha... ha...! Pertanyaan itu tak perlu dijawab, karena kau tentunya lebih tahu!"

"Bangsat! Kau tak dapat buktikan ucapanmu! Berarti kau mengada-ada!"

"Nah, itu berarti sama denganmu. Kau menuduhku, tapi tak dapat membuktikannya. Berarti kau juga mengada-ada dengan tuduhanmu itu!" "Jahanam!" teriak Sakawuni. Kedua tan-

gannya langsung dihantamkan.

Melihat hal itu Penyair Berdarah tak buang kesempatan. Kedua tangannya pun diangkat dan dihantamkan ke arah Pendekar 108.

Tempat itu seketika berubah panas menyengat. Cuaca yang semula agak terang karena sang mentari telah mulai merangkak naik berubah menjadi redup. Seberkas sinar tanpa suara melesat, kemudian disusul dengan bongkahan bola merah! Tampaknya Sakawuni telah kirimkan lagi pukulan 'Menggiring Sinar Menebar Hawa', sementara Penyair Berdarah lancarkan pukulan sakti 'Alam Kematian'! Dari sini jelas, jika kedua orang ini memang ingin segera membuat Pendekar Mata Keranjang 108 cepat mampus. Karena keduanya telah lancarkan pukulan andalan masing-masing.

Di depan, melihat ganasnya serangan, Pendekar 108 sempat terkesiap. Untung dia segera sadar jika bahaya maut mengincar dirinya. Sambil meloncat mundur segera tenaga dalamnya dipusatkan pada kedua tangannya. Tangan kirinya mendadak berubah menjadi biru berkilau. Murid Wong Agung telah siapkan jurus 'Mutiara Biru' yang berhasil didapatnya dari Arca Dewi Bumi. Dan didahului bentakan melengking tangan kanannya menghentakkan kipas, sementara tangan kirinya dibuka dengan jari tengah dan telunjuk tegak, jari lainnya menekuk. Lalu didorong kuat-kuat ke depan.

Apa yang terjadi kemudian sungguh sangat mengerikan. Bersamaan terdengarnya ledakan dahsyat akibat bertemunya tiga pukulan sakti, asap hitam menutupi tempat itu. Semak belukar terabas rata dan langsung hangus. Pohon-pohon berderak tumbang. Lalu disusul terdengarnya jeritan melengking dan dua seruan tertahan. Kemudian terdengar suara bergedebukan tiga kali berturut-turut. Setelah itu sunyi mencekam!

Beberapa saat berlalu. Dan begitu asap hitam surut, dan cuaca agak terang di sebelah kiri dekat batang pohon yang telah tumbang, terlihat Pendekar 108 terkapar. Baju hijaunya sebelah bawah terlihat terbakar. Sudut bibirnya meleleh darah berwarna hitam menunjukkan bahwa dia terluka dalam cukup parah. Sementara kedua tangannya terlihat membiru dan sedikit menggembung! Namun entah karena takut lawan akan segera menyerang lagi, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menggeliat bangkit. Tapi dia terkejut. Dadanya berdenyut sangat sakit. Demikian juga kedua tangannya laksana hendak penggal saat digerakkan. Hingga meski dengan perasaan waswas akhirnya Pendekar 108 merebahkan kembali tubuhnya dan mengerahkan tenaga dalam.

Lima belas tombak dari tempat Aji terkapar, terlihat Penyair Berdarah telungkup tak bergerak-gerak. Tapi sesaat kemudian tangannya menggapai-gapai, kepalanya terangkat. Namun kepala itu segera luruh kembali. Dengan mengerang kedua tangannya lalu bersitekan ke tanah, tubuhnya bergerak bangkit. Saat itulah terlihat tetesan darah hitam mengalir dari mulutnya!

Tak jauh dari Penyair Berdarah, Sakawuni tampak mengerang dengan tubuh melingkar memegangi perutnya. Mulutnya juga dibuncah dengan darah kehitaman. Gadis ini mencoba kerahkan tenaga dalam, namun rasa sakit tampaknya lebih menguasai dirinya, hingga pengerahan tenaganya tidak sempurna. Ini menyebabkan pandangannya berkunang-kunang lalu segalanya menjadi gelap, dan tak lama kemudian gadis ini terkulai pingsan!

Setelah merasa dapat kuasai diri, Pendekar 108 bangkit. Kipasnya yang ternyata terlepas dari tangannya segera dipungut. Lalu terbungkukbungkuk melangkah ke arah Penyair Berdarah.

Mengetahui hal ini, Penyair Berdarah pun segera bangkit. Meski kakinya tampak goyah namun dia kuatkan. Sepasang matanya lantas memandang tajam ke arah Pendekar 108 yang mendekatinya. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara tawa mengekeh. Sebuah bayangan berkelebat. Dan tahu-tahu telah berdiri di hadapan Pendekar 108. Pendekar 108 tersurut karena terkejut. Sepasang matanya sejenak mengawasi sosok yang kini di hadapannya.

Dia adalah seorang perempuan tua renta. Mengenakan baju hitam sutera. Pakaian bawahnya putih kembang-kembang. Rambutnya putih dan panjang sampai betis. Pada kedua tangannya terlihat melingkar beberapa gelang emas.

"Hmm.... Siapa dia?" batin Pendekar 108 seraya terus memperhatikan.

Yang dipandang terus mengumbar tawa mengekeh. Pendekar 108 membuka mulut hendak menegur, namun diurungkan ketika terdengar Penyair Berdarah berseru.

"Guru!"

"Hmm.... Jadi ini guru manusia penyair

itu "

Si nenek yang bukan lain memang guru

Penyair Berdarah yakni Iblis Gelang Kematian hentikan tawanya. Bola matanya liar berputar menyengat tajam ke arah Pendekar 108. Namun tak lama kemudian tawanya mengekeh kembali.

"Anak muda!" kata Iblis Gelang Kematian setelah tawanya berhenti.

"Sungguh sial nasibmu. Dari sini kau telah tercium bau mayat! Apakah kau telah tahu, apa isyarat itu?!"

Meski Pendekar 108 menjadi terkesiap mendengar ucapan si nenek, namun dia tak hendak menunjukkan sikap takut. Malah sambil tersenyum yang sebenarnya tak lebih karena merasakan sakit di dadanya, dia berkata.

"Nenek tua. Kuingatkan padamu, biasanya penciuman orang tua menyaru! Dia telah merasa mencium bau orang lain, padahal bau itu keluar dari dirinya sendiri. Aku khawatir hal itu terjadi pada dirimu! Coba kau endus sekali lagi!"

Iblis Gelang Kematian parasnya berubah. Matanya melotot angker. Sementara di hadapannya, Pendekar 108 bungkuk-bungkukkan tubuh dengan mengendus-endus. Lalu tiba-tiba kepalanya terangkat dan sambil tersenyum dia berkata seolah terperanjat.

"Astaga! Apakah penciumanku telah ikutikutan tersaru? Aku mencium bau pesing. Jangan-jangan kau ngompol! Atau...," Pendekar 108 tak meneruskan kata-katanya karena saat itu Iblis Gelang Kematian telah angkat tangannya dan langsung dipukulkan pada Pendekar 108.

Karena cepatnya gerakan si nenek, hingga tak ada jalan lain bagi Pendekar 108 kecuali mengangkat tangannya untuk menangkis.

Bukkk!

Bentroknya dua tangan yang telah samasama dialiri tenaga dalam membuat Pendekar 108 terpental sampai satu tombak. Ketika Pendekar 108 melirik, dia jadi tersirap. Tangannya yang tadi telah menggembung berubah merah biru. Dan gembungannya makin besar, namun kini ditambah dengan rasa panas! Hal ini telah menyadarkan Pendekar 108 jika nenek di hadapannya benar-benar berilmu tinggi. Sementara Iblis Gelang Kematian juga terkejut. Meski dia hanya tersurut satu langkah ke belakang namun dia maklum jika pemuda di hadapannya tidak bisa dianggap remeh.

"Hmm.... Ternyata kabar yang beredar selama ini benar adanya. Pemuda ini memiliki ilmu yang tidak sembarangan! Dia harus segera disingkirkan!" batin sang nenek. Diam-diam dia segera kerahkan tenaga dalam. Lalu serta-merta kedua tangannya dihantamkan ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

Sinar membentuk gelang-gelang melesat cepat tanpa keluarkan suara sama sekali.

Darah Pendekar Mata Keranjang laksana sirap. Dia tak menduga sama sekali jika gerakan nenek itu demikian cepatnya. Dia segera melompat mundur. Namun sinar gelang-gelang itu makin cepat. Mungkin karena sudah terluka dalam yang membuat gerakannya lamban, hingga ketika baru saja Pendekar 108 hendak mendorong kedua tangannya, sinar gelang-gelang telah ada di hadapannya!

"Tamat sudah!" bisik Pendekar 108 dengan paras pucat. Namun dia masih tetap meneruskan dorongan tangannya.

Saat itulah mendadak berkelebat sebuah bayangan. Bersamaan dengan itu serangkum angin dahsyat menggebrak memapak sinar gelanggelang. Terdengar ledakan membahana. Pendekar

108 terjengkang. Namun sebelum tubuhnya roboh, dua tangan terasa menyentuh tengkuk dan pantatnya. Lalu tubuhnya terasa melayang. Dan ketika tubuhnya setengah tombak di atas tanah, kembali tengkuk dan pantatnya dipegang tangan. Tangan itu lalu seperti melempar tubuhnya. Hingga tubuhnya kembali melayang jauh. Hal itu terjadi hingga beberapa kali. Dalam waktu sesaat, Pendekar 108 telah berada jauh dari tempatnya semula.

Dan ketika terakhir kali melayang, Pendekar 108 tetap enak-enakan. Dia merasa tangan itu akan terus mempermainkan tubuhnya. Namun kali ini dugaan murid dari Karang Langit ini meleset. Karena meski tubuhnya telah hampir menukik di atas tanah dia tak merasakan sentuhan tangan, Pendekar 108 sadar namun terlambat. Hingga tak ampun lagi tubuhnya jatuh bergulingan.

Dengan meringis kesakitan, Pendekar 108 bangkit. Sepasang matanya memandang lurus ke depan. Dia ingin tahu siapa adanya orang yang memainkan tubuhnya melayang-layang di udara yang juga berarti telah menyelamatkannya dari tangan maut Iblis Gelang Kematian. 

"Ah.... Dia!" seru Pendekar 108 tatkala mengenali orang yang duduk menggelosoh sepuluh langkah di hadapannya.

Dia adalah seorang laki-laki tua. Pakaiannya telah robek di sana-sini. Pada pundaknya menyelempang ikat pinggang besar yang diganduli beberapa bumbung bambu yang menebarkan bau arak. Sambil duduk menggelosoh, kedua tangan kakek ini silih berganti menenggakkan bumbung bambu berisi arak ke mulutnya.

"Setan Arak! Terima kasih. Kau telah menolongku!" teriak Pendekar 108 seraya tertatih bangkit dan melangkah ke arah kakek tua yang bukan lain memang Setan Arak.

"Simpan dulu basa-basi rombeng itu! Ayo kita cepat tinggalkan tempat ini!"

Pendekar Mata Keranjang 108 tampak bimbang. Kepalanya berpaling ke belakang.

"Sakawuni   Bagaimana nasibnya..?"

"He! Gadismu itu sudah ada yang mengurus! Saatnya kelak kau pasti akan bertemu lagi! Sekarang urus dirimu dulu! Kau terluka parah!" teriak Setan Arak, lalu tanpa mempedulikan perasaan Pendekar 108, dia berkelebat.

"Sialan!" maki Pendekar 108. Dia merenung sejenak.

"Hmm.... Moga-moga Penyair Berdarah tidak berbuat yang bukan-bukan pada Sakawuni! Jika dia nanti ternyata berbuat tidak senonoh, selembar nyawanya tidak akan kuampuni lagi!" gumam Pendekar 108 lalu berkelebat menyusul Setan Arak.

Di tempat lain, ketika Iblis Gelang Kematian berhasil bangkit matanya tidak lagi melihat batang hidung Pendekar Mata Keranjang 108.

"Keparat! Ada seseorang memapak seranganku dan menolong pemuda itu!" gumam Iblis Gelang Kematian seraya usap-usap dadanya yang terasa nyeri akibat bias bentrokan pukulannya dengan sambaran angin dahsyat dari bayangan yang menolong Pendekar 108.

"Hmm.... Siapa pun adanya bayangan penolong itu, yang pasti dia bukan orang sembarangan! Jika saja aku tidak mengkhawatirkan Manding dan gadis ini akan kukejar keparat itu!"

Setelah mengedarkan pandangan sekali lagi, nenek ini melangkah ke arah Penyair Berdarah yang terlihat terkapar kembali karena terkena sambaran bentroknya pukulan Iblis Gelang Kematian dengan bayangan yang menolong Pendekar Mata Keranjang 108.

"Hmm ... Dengan dua orang ini, rencanaku akan lebih mudah!" desis Iblis Gelang Kematian seraya memperhatikan Penyair Berdarah dan Sakawuni. Tangan kanannya lantas menjulur dengan sedikit rendahkan tubuh! Tahu-tahu tubuh Penyair Berdarah telah berada di pinggang kanannya, lalu melangkah mendekati tubuh Sakawuni. Tangan kirinya berkelebat dan sesaat kemudian tubuh Sakawuni telah berada di pinggang kirinya.

Sesaat nenek ini berdiri tegak. Kepalanya mendongak dan digerakkan menyibak rambut yang menghalangi pandangan matanya. Tiba-tiba sepasang kakinya menghentak, dan bersamaan dengan itu tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu. 

SELESAI