Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 17 : Manusia Titisan Dewa

 
Eps 17 : Manusia Titisan Dewa


Senja baru saja turun. Bentangan langit sebelah barat telah berubah warna menjadi merah kekuningan. Bias panasnya sang mentari pelanpelan berganti udara dingin malam. Dan tak lama kemudian, lengkung tipis sang rembulan tampak menghias di tengah taburan gumintang yang menghampar di angkasa.

Di depan sebuah gua batu seorang gadis muda tampak duduk tercenung di atas sebuah gundukan batu padas. Paras gadis ini cantik jelita, sepasang matanya bulat dan tajam. Rambutnya panjang sebahu, hidungnya mancung ditingkah bibir yang membentuk bagus dan merah tanpa polesan. Dia mengenakan pakaian warna coklat bergaris-garis.

Meski malam telah menjelang, sang gadis tampaknya enggan meninggalkan tempat di mana dia berada. Malah berulang kali kedua tangannya bergerak mengusap wajahnya, lalu kedua tangannya ditopangkan pada dagu dengan siku bersitekan pada kedua pahanya. Sepasang matanya yang bulat tajam memandang lurus ke depan menembus suasana yang mulai gelap pekat. Napasnya berhembus dalam dan panjang-panjang. Semua gerak-gerik gadis ini memberi isyarat bahwa saat ini dia sedang dilanda satu kegelisahan, atau paling tidak ada sesuatu yang membuat hatinya kecewa.

Mungkin karena pegal dan kesemutan, akhirnya gadis muda itu campakkan kedua tangannya, lalu berdiri dan melangkah mondar-mandir di depan gua. Sepasang matanya menekuri batubatuan padas di bawahnya yang telah tampak berwarna kehitaman.

Bosan dengan apa yang dilakukannya, seraya bantingkan kedua kakinya, gadis ini lantas melesat masuk ke dalam gua.

Pada sebuah batu agak besar, sang gadis duduk seraya sandarkan punggungnya. Kedua tangannya sedekap sejajar dada, sepasang matanya memejam rapat. Dia mulai pusatkan mata batinnya. Namun agaknya mata batinnya tak bisa terpusat, karena sesaat kemudian sepasang matanya terbuka kembali, dan napasnya berhembus panjang hingga bahunya berguncang.

"Sialan benar!" maki sang gadis dalam hati seraya luruskan pandangannya pada mulut gua. "Sekian lama berdiam diri di tempat ini tak sekalipun aku bisa melupakannya! Mungkinkah ini syarat bahwa aku benar-benar menyintainya? Waktu aku berhasil bertemu dengannya terakhir kali, dia tampaknya acuh tak acuh. Adakah aku bertepuk sebelah tangan?" kedua tangan sang gadis kembali bergerak mengusap wajahnya, lalu rapikan rambutnya yang menghalangi pandangan matanya. Kepalanya menggeleng perlahan, sementara napasnya berhembus panjang-panjang.

"Hmm.... Penyelidikan tentang siapa pembunuh Guru belum dapat kutuntaskan, kini aku dilanda gelisahan tentang pemuda itu. Apakah benar yang dikatakan Kakang Pandu bahwa pemuda itulah yang membunuh mendiang Guru? Jelek betul nasibku. Aku tak dapat melupakan pemuda yang diduga Kakang Pandu sebagai pembunuh Guru itu!" sang gadis terus berkata sendiri dalam hati. Wajahnya semakin menunjukkan kegelisahan dan kebimbangan.

"Kakang Pandu.... Aku heran sekaligus menyesal melihat perubahan pada dirimu! Adakah perubahan itu karena kau telah memiliki ilmu tinggi atau hanya karena pelampiasan rasa cemburumu? Seandainya kau bukan kakak seperguruanku, mungkin aku masih bisa mempertimbangkan pernyataan cintamu. Dan...," sertamerta gadis ini hentikan kata hatinya. Sepasang matanya membeliak besar dan memandang lurus ke mulut gua, karena saat itu terdengar siuran angin dan sesosok bayangan tampak berkelebat menuju mulut gua.

Sang gadis cepat berdiri, sesaat rasa tegang tampak menyelimuti dirinya. "Siapa dia...? Sekian lama berada di sini baru kali ini aku kedatangan orang...," gumamnya sambil tak berkesiap.

Weeerrr!

Angin deras berdesir, dan bersamaan dengan itu tahu-tahu sesosok bayangan telah berdiri di hadapan sang gadis.

Si gadis cepat geser bahunya menghindari sambaran angin kedatangan orang. Dan darahnya tersirap saat matanya memperhatikan orang di hadapannya. Namun dia tak memperlihatkan rasa takut, meski orang di hadapannya memiliki tampang angker dan menakutkan. Malah dengan mata tak berkedip dia menegur.

"Orang tak dikenal! Sebutkan siapa kau adanya! Dan jangan berani berniat jahat jika masih sayang nyawa!"

Yang ditegur tak segera menjawab, malah sepasang matanya balas menatap dan memperhatikan sang gadis. Orang ini adalah seorang lakilaki bertubuh kurus tinggi. Kalau saja tidak berusia lanjut yang membuat tubuhnya bungkuk, mungkin kepalanya akan menyentuh langit-langit gua. Sepasang matanya besar dan masuk dalam rongga yang amat cekung. Paras wajahnya hampir tak bisa dikenali karena kulit wajahnya amat tipis, hingga yang terlihat hanyalah tonjolan-tonjolan tulang wajah. Bibirnya amat tebal, sementara alis kedua matanya tampak kaku dan lurus ke depan serta panjang. Rambutnya amat jarang serta menjulai ke atas dan kaku. Laki-laki ini mengenakan jubah besar dan panjang berwarna biru gelap. Pada kepalanya tampak caping lebar dari kulit berwarna hitam yang bagian atasnya dibuat terbuka hingga rambutnya yang kaku bagai ijuk dan amat jarang itu terlihat jelas.

Selain tampangnya seram ada keanehan pada laki-laki berjubah biru ini yang membuat si gadis tersurut hingga dua tindak ke belakang dengan mata melotot. Ternyata meski berdiri agak terbungkuk, sepasang kaki laki-laki ini tidak terpancak di atas lantai gua! Sepasang kakinya berada sejengkal di atas lantai gua!

"Siapa laki-laki tua ini? Aku belum pernah mendengar ciri-ciri orang seperti dia dalam rimba persilatan. Tapi siapa pun dia, yang pasti dia berilmu sangat tinggi. Dia mampu menahan tubuhnya di atas udara tanpa kerahkan tenaga dalam! Hmmm.... Aku harus tahu apa tujuannya ke sini! Meski siapa pun juga boleh mendiami gua ini!"

Namun si gadis tak segera bertanya, dia seakan menunggu jawaban. Tapi setelah ditunggu lama laki-laki di hadapannya tidak juga berkata, dia kembali buka mulut.

"Orang tua! Harap kau sudi mengatakan siapa kau adanya! Dan apa tujuanmu ke sini!" nada ucapan si gadis agak lunak, karena dia sadar jika laki-laki di hadapannya bukanlah orang sembarangan, lagi pula dia tak menginginkan terjadinya masalah. Malah setelah berkata dia anggukkan sedikit kepalanya.

Untuk beberapa saat lamanya laki-laki di hadapan sang gadis masih belum buka suara. Baru setelah si gadis hendak menegur kembali, lakilaki berjubah biru buka mulut dan berkata.

"Anak gadis! Soal siapa diriku agaknya tidak terlalu penting, dan mengapa aku ke sini itu juga bukan masalah," si laki-laki sejenak hentikan ucapannya. Sepasang matanya menatap gadis di hadapannya seakan ingin melihat sikap sang gadis mendengar jawabannya. Dan tatkala dilihatnya si gadis kernyitkan dahi, dia lanjutkan ucapannya.

"Anak gadis! Aku maklum jika kau tidak kenal padaku. Namun aku tahu siapa kau adanya! Bukankah kau gadis yang bernama Sakawuni? Salah seorang murid tokoh rimba persilatan Ageng Panangkaran? Kau sedang dilanda kecewa dan gelisah, kau memikirkan seseorang?!"

Berubahlah paras wajah si gadis, hatinya berdebar-debar mendengar kata-kata laki-laki tua di hadapannya.

"Heran. Dia mengetahui diriku dan gelisahan hatiku! Siapa dia sebenarnya...?"

Mungkin karena tak mau apa yang sedang melanda hatinya diketahui orang lain, si gadis yang bukan lain memang Sakawuni, salah seorang murid Ageng Panangkaran sunggingkan senyum dan berkata.

"Perihal kecewa dan gelisah tidaklah patut ditanyakan, lagi pula itu adalah bukan urusanmu! Kalau tidak ada hal lain sebaiknya kau tinggalkan aku sendirian!"

Laki-laki berjubah biru keluarkan tawa pe-

lan.

"Kau pandai menyembunyikan sesuatu

meski sebenarnya batinmu sedang diamuk kecewa berat pada seorang manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 serta kebimbangan masalah kematian gurumu," laki-laki berjubah biru sejenak hentikan ucapannya, lalu alihkan pandangannya pada mulut gua.

"Ah, betul juga katamu tadi, ini bukan urusanku, dan memang sebaiknya aku menuruti kata-katamu untuk meninggalkan tempat ini...," habis berkata begitu, laki-laki berjubah biru balikkan tubuh hendak pergi, namun gerakannya tertahan tatkala Sakawuni berseru.

"Orang tua, tunggu!"

"Ada yang hendak kau utarakan?!" kata laki-laki berjubah biru tatkala ditunggu beberapa saat tidak ada suara terdengar dari mulut Sakawuni.

"Orang ini tahu banyak tentang aku dan masalah yang kuhadapi, tentunya dia tahu juga tentang mendiang Guru Tak ada salahnya aku menanyakan tentang kematian Guru "

"Hatimu lebih banyak bicara daripada mulutmu. Itu pertanda kau menyimpan beban berat! Hmm.... Kalau tidak ada yang ingin kau ucapkan, aku akan pergi!"

"Orang tua!" kata Sakawuni seraya melangkah maju dua tindak. "Ucap mu benar, aku memang sedang bimbang memikirkan kematian guruku Ageng Panangkaran. Kalau kau mengenalnya, adakah kau tahu tentang siapa pembunuhnya?"

Laki-laki berjubah biru balikkan tubuhnya menghadap Sakawuni. Sepasang matanya menyapu liar ke ruangan gua, dan ketika matanya menatap Sakawuni laki-laki ini anggukkan kepalanya.

"Aku memang kenal dengan tokoh rimba persilatan yang sekaligus gurumu itu! Dan aku pun tahu siapa pembunuhnya! Malah aku tahu banyak tentang orang yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 dari mulai kecil hingga kini!"

Sakawuni terkejut besar mendengar perkataan orang tua di hadapannya. Apalagi tatkala orang tua itu mengatakan tahu tentang Pendekar 108, orang yang tidak bisa dihilangkan dari hatinya.

"Orang tua! Harap kau sudi mengatakan siapa yang membunuh Guru!"

Laki-laki berjubah biru dongakkan kepalanya, dari mulutnya terdengar tawanya. Puas dengan tawanya, dia lalu berkata.

"Sakawuni! Sebelum aku mengatakan siapa pembunuh gurumu, aku ingin tanya dulu. Apakah kau benar-benar ingin membunuh orang yang membunuh gurumu?"

Mendengar pertanyaan itu, sepasang mata Sakawuni membeliak besar. Dagunya sedikit mengembung, pelipis kiri kanannya bergerak-gerak tanda hatinya diamuk gejolak amarah.

Melihat perubahan pada paras gadis di hadapannya, laki-laki berjubah biru tertawa lebar. "Perubahan wajahmu memberi isyarat bahwa kau memang ingin membalas pada orang yang membunuh gurumu. Bagus! Sekarang aku ingin tahu, adakah kau masih menaruh harapan bahwa manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang akan membalas perasaan hatimu?"

Paras Sakawuni berubah lagi. Kini merah mengelam dan cepat berpaling pada jurusan lain.

"Ke mana arah pembicaraan orang tua ini? Aku belum mengerti apa yang dimaksud dengan mempertanyakan tentang Pendekar 108 segala....

Bagaimana aku harus mengatakannya? Apakah perasaanku harus ku utarakan juga?"

"Sakawuni, kau dengar pertanyaanku ?!"

tegur laki-laki berjubah biru saat yang ditanya tidak segera menjawab, bahkan palingkan wajah.

Sakawuni menghela napas dalam-dalam. "Orang tua! Apakah pertanyaanmu itu juga ada kaitannya dengan kematian Ageng Panangkaran?!" "Kau belum jawab pertanyaanku!" ujar laki-

laki berjubah biru.

"Sialan betul! Sebenarnya tabu mengatakan perasaan hati pada orang yang baru dikenal, tapi apa hendak dikata. Aku punya dugaan bahwa Pendekar Mata Keranjang ada kaitannya dengan kematian guru jika orang tua ini menanyakannya...," Sakawuni lantas berkata.

"Orang tua! Mengungkap perasaan hati pada orang lain apalagi pada orang yang belum diketahui siapa namanya sebenarnya sangat tidak bijaksana. Namun jika hal itu ada hubungannya dengan kematian guru, aku terpaksa harus mengatakannya!"

"Bagus! Berarti kau tidak mementingkan diri sendiri, dan keinginanmu untuk mencari siapa pembunuh gurumu memang sungguh-sungguh! Sekarang katakan apa yang ada di benakmu tentang Pendekar 108!"

Sejenak Sakawuni terdiam. Meski baru saja mengatakan hendak mengutarakan perasaan hatinya, namun gadis ini masih terlihat bimbang dan berat. Hal ini tampaknya bisa dibaca oleh laki-laki tua di hadapannya.

"Sakawuni! Waktuku tidak banyak. Kalau kau masih menimbang-nimbang aku tak bisa lagi menunggu! Dan itu berarti kau harus bisa menyingkap sendiri siapa pembunuh gurumu! Suatu pekerjaan yang memerlukan perjalanan panjang dan menguras tenaga!"

Sakawuni hadapkan wajahnya pada orang tua di hadapannya, setelah menarik napas panjang dia berkata.

"Orang tua! Aku memang menaruh hati pada pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang

108. Tapi hanya sebatas itu, soal nanti kesampaian apa tidak aku tak pernah memikirkan hingga sampai sejauh itu, karena semua itu ada yang telah mengaturnya!"

Orang tua di hadapan Sakawuni anggukkan kepalanya. Sepasang matanya memandang lekatlekat pada gadis di hadapannya.

"Orang tua! Aku telah jawab pertanyaanmu, sekarang kau harus mengatakan siapa pembunuh Ki Ageng Panangkaran!"

Laki-laki berjubah biru tertawa pendek. Kepalanya menggeleng perlahan, membuat Sakawuni kernyitkan dahi dan melotot. Dia menduga orang tua di hadapannya telah menipunya. Dalam hati diam-diam dia berkata.

"Kalau dia menipuku dengan tak mau mengatakan siapa pembunuh Ki Ageng Panangkaran aku tak akan tinggal diam, meski aku tahu dia adalah seorang berkepandaian sangat tinggi...!"

"Sakawuni!" kata orang tua berjubah biru. "Pertanyaan yang harus kau jawab tinggal satu lagi. Dan kau jangan terbawa perasaan. Aku akan mengatakan siapa pembunuh Ageng Panangkaran!"

"Orang tua!" kata Sakawuni dengan suara setengah berteriak. "Kau mengulur-ulur waktu, apa kau sengaja mempermainkan diriku? Jangan berharap bisa pergi dari sini sebelum kau menjawab pertanyaanku!"

"Hmm.... Anak ini tegar dan tak pandang bulu! Aku menyukai sifatnya.... Anak demikian inilah yang kucari untuk melaksanakan segala rencanaku!" diam-diam laki-laki berjubah biru berkata sendiri dalam hati. Lalu berkata.

"Sakawuni! Tadi sudah kukatakan, kau jangan menuruti perasaan. Siapa pembunuh gurumu pasti kukatakan padamu! Tapi jawab sekali lagi pertanyaan terakhir ku!"

"Lekas katakan!" sahut Sakawuni seakan tak sabar, meski dalam hati memaki habis-habisan merasa dirinya diperas oleh pertanyaan yang sebenarnya tidak boleh diketahui orang lain.

"Apakah kau tetap akan melaksanakan pembalasan atas kematian gurumu walau nantinya hal itu bertentangan dengan hati nuranimu?!" berkata laki-laki berjubah biru seraya tengadahkan kepala.

Sakawuni beringsut mundur mendengar pertanyaan orang tua. Hatinya berdegup kencang. Dugaan bahwa Pendekar 108 ada kaitannya dengan kematian gurunya semakin besar. Namun hal itu segera dibuangnya jauh-jauh. Dia berkesimpulan tak mungkin Pendekar 108 membunuh gurunya, selain dia telah mengenal gurunya, dia juga tahu bahwa gurunya adalah sahabat Eyang Selaksa dan Eyang Wong Agung, dan lebih-lebih tak ada untungnya jika Pendekar 108 melakukan perbuatan keji itu!

Untuk mencari kejelasan tentang arah ucapan laki-laki di hadapannya, Sakawuni ajukan pertanyaan.

"Orang tua! Aku belum mengerti apa maksud ucapanmu!"

Laki-laki berjubah biru tertawa hingga tubuhnya naik turun mengikuti guncangan bahunya.

"Sakawuni! Perasaan cinta kadang-kadang membutakan mata dan hati, bahkan bisa mengubah 'ya' menjadi 'tidak' dan sebaliknya! Perasaan cinta tak jarang bisa menembus dinding setebal apa pun, tapi tak jarang pula tidak bisa menangkap apa yang ada di depan matanya!" sejenak lakilaki itu hentikan kata-katanya, lalu menyambung. "Apakah kau mampu melakukan sesuatu yang penghadangnya adalah perasaan cinta itu?!"

"Orang tua! Kau tak usah berpanjang lebar!

Katakan saja apa maksudmu sebenarnya!"

"Baik! Apakah kau akan tetap melakukan pembalasan kematian gurumu jika nantinya si pembunuh adalah orang yang kau cintai, setidaktidaknya kau mengharapkan dirinya?!"

Meski Sakawuni telah dapat menduga arah pembicaraan orang, namun dahinya berkerut juga saat mendengar perkataan orang di hadapannya. Dan apa yang akan dikatakan laki-laki itu selanjutnya, Sakawuni telah dapat menebak. Namun ia tak mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya. Dia pura-pura tidak tahu siapa orang yang hendak dikatakan laki-laki berjubah biru. Dia luruskan pandangan matanya dan berkata.

"Orang tua! Soal kematian Guru adalah satu masalah, sedangkan perasaan mengharapkan seseorang adalah masalah lain. Meski aku belum matang dalam hidup dan menjalani kehidupan, namun aku bisa membedakan antara satu masalah dengan masalah lainnya! Aku bisa memilah mana kepentingan utama dan mana kepentingan nomor dua! Kau mengerti maksudku bukan?" Sakawuni balik bertanya.

"Begitu? Baik! Kuharap kau tidak hanya bersilat lidah dan menepati apa yang kau ucapkan!"

"Lekas katakan siapa pembunuh guruku!" ujar Sakawuni makin tak sabar.

Laki-laki berjubah biru anggukkan kepalanya, lalu berkata.

"Kau tak usah terkejut, orang yang melepas nyawa gurumu adalah manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!"

Untuk kesekian kalinya, meski telah dapat menduga siapa yang bakal dikatakan orang tua di hadapannya, namun tak urung juga Sakawuni membeliakkan sepasang matanya. Dadanya berdebar kencang. Dengan suara agak tinggi, dia berucap.

"Orang tua! Kau jangan menebar fitnah! Mana mungkin orang yang gigih menegakkan kebenaran seperti dia melakukan perbuatan terkutuk membunuh orang yang telah dikenalnya, bahkan sahabat gurunya? Kau jangan mengada-ada dengan menebar fitnah keji! "

Laki-laki berjubah biru tertawa bergelak-

gelak.

"Sakawuni! Kata-kataku tadi menjadi kenyataan bukan? Perasaan cinta kadang-kadang membutakan mata dan hati! Bahkan tak bisa menangkap sesuatu meski di depan matanya! Dan itu berarti kau belum bisa menghitung mana yang utama dan mana yang nomor dua!"

Di depan, Sakawuni terlihat buang muka, dari hidungnya keluar dengusan keras. "Apakah mungkin Pendekar 108 melakukan hal itu? Hm....

Orang ini belum kukenal bahkan namanya pun belum kuketahui, apa aku bisa percaya pada orang begitu? Tapi dia mengetahui banyak tentang diriku. Meski aku belum percaya, mungkin orang ini punya alasan tertentu dengan apa yang baru dikatakannya."

"Orang tua! Kau belum menyebutkan siapa dirimu, lantas apa seseorang bisa percaya begitu saja pada omongan orang yang belum dikenal dan diketahui namanya? Dan tentunya kau punya bukti jika berani berkata Pendekar Mata Keranjang 108 adalah pembunuh Ki Ageng Panangkaran!"

"Kau cerdik juga!" puji laki-laki berjubah biru. "Kalau kau ingin tahu siapa diriku, dengar baik-baik! Orang-orang rimba persilatan memang jarang yang kenal diriku! Namun sebaliknya aku hampir mengenal siapa-siapa tokoh rimba persilatan mulai Selaksa, Wong Agung, malah guru keduanya, juga Dewi Kayangan, Dewi BayangBayang, Gongging Baladewa, Restu Canggir Rumekso, Bawuk Raga Ginting, Dayang Naga Puspa, Dadung Rantak, Ratu Pulau Merah sampai saudara seperguruanmu Pandu yang kini bergelar Gembong Raja Muda, dan juga Pendekar Mata Keranjang 108!" laki-laki berjubah biru hentikan keterangannya sejenak, setelah menarik napas dia melanjutkan.

"Orang rimba persilatan jarang yang mengenal diriku, karena aku memang berusaha tak memperkenalkan diri dan jarang keluar. Namun hal itu kulakukan bukan karena aku takut menghadapi orang. Justru aku memilih saat yang tepat untuk muncul sekaligus membuat kegegeran! Hanya kalau kau murid Ageng Panangkaran, mungkin kau pernah dengar darinya tentang orang yang bergelar Manusia Titisan Dewa! Hmm Itu-

lah aku!"

Sakawuni serta-merta surutkan langkah seraya ternganga. Dia memang pernah mendengar nama itu dari mendiang gurunya Ageng Panangkaran. Menurut yang didengar, orang yang bergelar Manusia Titisan Dewa adalah seorang tokoh silat berkepandaian sangat tinggi. Hanya beberapa orang saja yang sanggup menyamai ketinggian ilmunya. Dia memang jarang muncul ke arena rimba persilatan dan jalan pikirannya pun sulit untuk ditebak, karena kadang-kadang berpihak pada orang-orang golongan putih namun tak jarang pula berdiri di belakang orang-orang golongan hitam! Bukan hanya jalan pikirannya yang sulit ditebak, sifatnya pun sulit dimengerti, karena kadangkadang dia ringan tangan untuk membunuh meski pada orang yang tidak membuat kesalahan, namun sering juga membiarkan kepergian seseorang, padahal orang tersebut nyata-nyata menginginkan nyawanya! "Manusia Titisan Dewa! Aku memang pernah mendengar tentang dirimu dari mendiang guru. Aku gembira sekali dapat bersua dengan tokoh hebat sepertimu! Terimalah hormatku!" kata Sakawuni seraya tersenyum dan anggukkan kepala.

Manusia Titisan Dewa tertawa melihat sikap Sakawuni.

"Bagus! Jadi aku tak perlu lagi menerangkan panjang lebar siapa diriku, cukup apa yang kau dengar dari gurumu!"

Sakawuni gelengkan kepala perlahan. "Manusia Titisan Dewa! Apa yang kudengar dari mendiang guru tak ada hubungannya dengan tuduhanmu terhadap Pendekar 108! Jadi bagaimanapun juga kau harus memberikan alasan atau bukti hingga kau berani mengatakan bahwa pemuda itulah yang membunuh Guru!"

Manusia Titisan Dewa tersenyum agak sinis. Setelah keluarkan tawa pendek dia berkata.

"Menuduh tanpa alasan kuat bagiku lebih kejam dari membunuh!"

"Hmm.... Jika demikian harap kau sudi mengemukakan alasanmu!"

"Mendiang gurumu adalah seorang tokoh rimba persilatan yang namanya sangat disegani. Selain itu, mendiang gurumu adalah tokoh yang banyak menyimpan rahasia! Kau tahu, karena lembaran kulit dari gurumulah hingga kipas dan kitab kedua ciptaan Empu Jaladara dapat ditemukan. Dan masih banyak lagi rahasia yang disimpannya yang dia tulis dalam sebuah buku." "Lantas apa hubungannya dengan tuduhanmu?!" ujar Sakawuni sepertinya ingin langsung pada masalah.

"Karena gurumu banyak menyimpan rahasia, maka tak sedikit orang yang coba mencuri bahkan membunuhnya demi bukunya itu. Dan di antara orang-orang yang menginginkan adalah Selaksa dan Wong Agung! Mungkin karena dianggap sebagai sahabat, gurumu memberikan lembaran kulit itu, tapi bukunya tidak. Hal ini nampaknya membuat mereka tidak puas. Entah mereka lantas berniat melenyapkan Ageng Panangkaran, dan mungkin karena sebagai sahabat, Selaksa dan Wong Agung tidak berani melakukan sendiri. Mereka lalu memerintah muridnya si Pendekar 108 untuk melaksanakan niatan mereka!" Manusia Titisan Dewa batuk-batuk, lalu melanjutkan keterangannya.

"Kau tentunya telah mendengar tentang tersentaknya rimba persilatan dengan Arca Dewi Bumi, benar?"

"Aku memang dengar tentang itu! Hmm....

Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Adakah kau juga telah dengar, bahwa arca itu telah jatuh ke tangan si Pendekar Mata Keranjang?"

Sakawuni terkejut. Ingatannya melayang pada pertemuan terakhirnya dengan Pendekar 108.

"Hmm.... Saat itu dia mengatakan sedang melaksanakan tugas berat. Bahkan saat ku ajukan usul agar aku dijadikan teman dia menolak. Apakah saat itu dia sedang memburu arca itu...?" "Sakawuni! Kau tahu, rahasia tentang Arca

Dewi Bumi hanya diketahui oleh segelintir orang. Kalau Pendekar Mata Keranjang 108 dapat mengetahui di mana beradanya serta berhasil mendapatkan arca itu, kalau tidak dari buku tulisan gurumu dari mana lagi?"

Sakawuni sejenak terdiam dengan pikiran menduga-duga.

"Hmmm   Apakah perubahan sikapnya ser-

ta penolakannya tatkala kuajak bersama-sama karena takut aku mengetahui perbuatannya...?" Jika ku hubung-hubungkan, apa yang dikatakan Manusia Titisan Dewa ada juga benarnya. "

"Sakawuni!" kata Manusia Titisan Dewa menyentak lamunan Sakawuni. "Alasan itu lebih kuat lagi setelah kudengar Pendekar 108 kini bersekongkol dengan Dewi Kayangan dan Dewi Bayang-Bayang!"

"Hmm. Waktu terakhir bertemu, Pendekar

108 memang ditolong oleh Dewi BayangBayang...," kata Sakawuni dalam hati. Lalu berkata.

"Siapakah sebenarnya Dewi Kayangan dan Dewi Bayang-Bayang itu?!"

"Mereka adalah tokoh-tokoh berilmu tinggi dari golongan orang sesat! Dan waktu muda dulu, mereka adalah musuh besar mendiang gurumu yang ada di jalur golongan putih!"

Sakawuni manggut-manggut. Namun paras wajahnya jelas berubah. Air mukanya tampak merah mengelam, sementara dagunya terangkat dengan pelipis bergerak-gerak mengisyaratkan kemarahan yang sedang melanda dadanya.

"Pendekar Mata Keranjang! Tak kusangka jika kau manusia kejam durjana! Pertolonganmu padaku mungkin hanya usahamu untuk menutupi perbuatan kejimu! Jahanam keparat! Aku tak akan tinggal diam, meski aku tahu kau adalah manusia berilmu tinggi! Tunggulah!" hati Sakawuni telah dibakar rasa marah dan kecewa.

Di hadapannya, melihat perubahan pada diri Sakawuni, Manusia Titisan Dewa tampak tersenyum.

"Hmm.... Seorang perempuan jika telah disakiti akan berubah menjadi singa lapar! Dan otak warasnya tak mungkin bekerja dengan baik. Inilah saatnya aku mulai melangkah !"

DUA

Manusia Titisan Dewa tengadahkan kepala, sepasang matanya yang besar melirik pada Sakawuni yang masih tampak tercenung dengan pikirannya sendiri. Dengan suara perlahan dia lantas berkata.

"Sakawuni! Dari sepak-terjang Pendekar 108, apa masih terlintas keraguan di hatimu tentang keterlibatan pemuda itu dalam kematian Ageng Panangkaran?"

Sakawuni menarik napas dalam-dalam. Dia ikut-ikutan tengadahkan kepala menatap langitlangit gua, lalu dari mulutnya terdengar suara. "Hal itu masih memerlukan penyelidikan lebih jauh, namun satu hal yang pasti, aku telah memperoleh sebuah titik terang! Dan siapa pun adanya orang yang membunuh guru, aku akan membuat perhitungan dengannya!"

Manusia Titisan Dewa tertawa panjang, hingga rambutnya yang kaku sesekali menyentuh langit-langit gua. Hebatnya, begitu tersentuh rambut laki-laki ini, langit-langit gua yang terdiri dari batu padas hitam itu sebagian rontok berguguran!

"Sakawuni! Sebagai sahabat dari mendiang gurumu, aku sangat gembira sekali mendengar ucapanmu namun juga merasa risau!"

Sakawuni kernyitkan kening. Kepalanya bergerak lurus memandang lekat-lekat pada Manusia Titisan Dewa.

"Boleh aku tahu apa yang membuatmu risau,..?" Sakawuni ajukan pertanyaan.

"Kau mengatakan akan membuat perhitungan dengan orang yang membunuh gurumu, lalu apakah kau juga telah memperhitungkan kekuatan orang yang hendak kau hadapi? Ingat! Di belakang orang yang membunuh gurumu, berdiri beberapa orang yang ilmunya tak bisa diperhitungkan!"

Sakawuni tertawa perlahan. Pandangannya beralih pada mulut gua dan menerobos kepekatan malam di luarnya. Kedua tangannya terlihat mengepal sementara kedua matanya tajam berkilatkilat.

"Manusia Titisan Dewa! Perjuangan memerlukan pengorbanan! Dan aku siap untuk berkorban!"

Tawa Manusia Titisan Dewa serta-merta

meledak begitu mendengar ucapan Sakawuni, membuat gadis berparas cantik ini palingkan wajahnya dan berkata.

"Adakah yang lucu hingga kau tertawa begitu rupa?!"

"Sakawuni! Ternyata kau masih terpengaruh dengan kata-kata usang itu! Jika kau masih berpendapat begitu, kau tak lebih hanya boneka hidup yang memang pantas dijadikan tumbal tanpa berarti apa-apa! Sungguh malang nasib sahabatku Ageng Panangkaran. Mempunyai murid yang hanya bisa dan pantas dijadikan tumbal! Tanpa bisa berbuat sesuatu yang berarti bagi mendiang gurunya!"

Paras wajah Sakawuni merah kelam, sepasang matanya melotot besar menatap Manusia Titisan Dewa. Kedua telinganya laksana dibakar mendengar kata-kata laki-laki tua di hadapannya.

"Manusia Titisan Dewa! Aku banyak ucap terima kasih atas segala keterangan yang telah kau berikan, namun jangan sampai hal itu lenyap begitu saja karena sinisnya kata-katamu!"

Manusia Titisan Dewa sunggingkan senyum sinis. Tanpa lagi memandang pada Sakawuni dia berkata.

"Aku tak butuh ucapan terima kasih. Itu semua kulakukan karena memandang mendiang gurumu adalah sahabatku! Dan jika kau menilai kata-kataku sinis, itu terserah padamu! Hanya satu hal yang perlu kau ketahui, semangat saja tidak cukup untuk sebuah perjuangan! Apalagi perjuangan pembalasan!"

Sakawuni terdiam. Ia coba mencerna katakata yang baru saja diucapkan Manusia Titisan Dewa. Dan diam-diam dalam hati dia membenarkan ucapan Manusia Titisan Dewa.

"Lantas apa yang harus kulakukan...?" tanya Sakawuni pada akhirnya.

"Karena yang akan kau hadapi bukanlah tokoh-tokoh sembarangan, maka jalan satusatunya adalah menambah ilmu! Aku tahu, kau adalah gadis yang berilmu tidak cetek, namun menghadapi tantangan di depanmu, kurasa ilmumu masih tidak berarti apa-apa!"

Sakawuni gelengkan kepalanya, lalu berkata dengan suara parau.

"Manusia Titisan Dewa! Dalam situasi di mana rimba persilatan digemparkan dengan bermacam-macam hal yang membuat semua tokoh ingin muncul, kurasa terlalu sulit untuk mencari seorang guru. Atau.... Bagaimana kalau kau saja yang kuangkat sebagai guruku?" kata Sakawuni memberanikan diri.

Manusia Titisan Dewa yang dipandangi Sakawuni. Saat itulah tiba-tiba Sakawuni maju dua tindak dan serta-merta berlutut di hadapan Manusia Titisan Dewa. Dari mulutnya terdengar suaranya yang mengharap.

"Demi sahabatmu Ageng Panangkaran, kuharap kau sudi mengangkat ku sebagai murid!"

Manusia Titisan Dewa terdiam hingga beberapa lama. Sepasang matanya mengawasi tubuh Sakawuni yang kini berlutut dengan kepala tertunduk. Bibirnya sunggingkan senyum.

"Sakawuni. Soal mengangkatmu sebagai murid demi sahabat serta gurumu, itu soal gampang. Yang sulit adalah apakah kau mampu menjadi muridku!"

"Yang kau maksud...?" tanya Sakawuni masih dengan wajah tertunduk.

"Aku tak mau kejadian yang menimpa muridku dahulu akan menimpamu pula! Ketahuilah, aku dahulu pernah mempunyai seorang murid. Namun pada akhirnya dia harus tewas di tanganku sendiri, karena dia menolak perintahku! Apakah kelak kau mampu menjalankan perintahku meski perintah itu bertolak belakang dengan keinginanmu? Karena aku tak mau mempunyai murid yang menolak perintah gurunya!"

Mungkin karena merasa kecewa dan sakit hati tentang Pendekar 108 maka tanpa pikir panjang lagi Sakawuni langsung berkata.

"Hal yang menimpa muridmu, tak akan terulang lagi padaku! Aku siap menjalankan segala perintahmu! Dan siap pula mati jika menolak perintahmu!"

Manusia Titisan Dewa tertawa pelan mendengar ucapan Sakawuni.

"Mengucapkan memang lebih mudah daripada melakukan, dan aku telah membuktikan hal itu! Maka aku tidak akan lagi percaya pada ucapan! Kecuali disertai sumpah yang mengikat!"

Sakawuni kernyitkan keningnya. Diamdiam dalam hati gadis cantik ini menggerutu panjang pendek. Namun dia tak berani mengeluarkannya.

"Baru Kali ini aku menemukan seorang yang menyuruh angkat sumpah sebelum mengangkat seorang murid! Hmm.... Tapi apa hendak dikata. Demi ketenangan Guru di alam baka segalanya akan kulakukan...!" Sakawuni angkat kepalanya, lalu berkata.

"Manusia Titisan Dewa! Demi guruku Ageng Panangkaran. Segala kemauanmu akan kuturuti! Sekarang sumpah apa yang harus kulakukan, katakan!"

Manusia Titisan Dewa tersenyum, lalu ber-

kata.

"Angkat kedua tanganmu dan buka meng-

hadap ke depan!"

Meski masih dilanda tanda tanya, Sakawuni mengikuti apa yang dikatakan Manusia Titisan Dewa. Begitu tangannya telah diangkat, Manusia Titisan Dewa ulurkan tangan kanannya. Tiba-tiba tangan itu bergerak dan terdengar 'crasss' dua kali berturut-turut.

Sakawuni gigit bibirnya, karena telapak tangannya terasa panas dan sepasang matanya membeliak tatkala sesaat kemudian darah segar terlihat menetes dari kedua telapak tangannya.

Begitu darah telah menetes, Manusia Titisan Dewa gerakkan jari telunjuknya di telapak tangannya sendiri. Tahu-tahu telapak tangannya telah pula mengeluarkan darah. Dan tiba-tiba tangannya yang mengeluarkan darah ditakupkan pada kedua tangan Sakawuni. "Sakawuni! Mulai malam ini kau telah kuangkat sebagai muridku! Kalau kau menolak segala perintahku, darahmu akan ku alirkan dengan tanganku sendiri!"

"Baik! Aku pun berjanji, jika aku menolak perintahmu, aku rela mati di tanganmu!"

Untuk sekian lama kedua orang ini masih saling takupkan tangan masing-masing, dan begitu darah agak menyurut, Manusia Titisan Dewa tarik tangannya dan berkata.

"Sakawuni! Tempat ini kurasa kurang aman untuk mempelajari ilmu! Sekarang ikut aku!" habis berkata begitu, Manusia Titisan Dewa balikkan tubuh dan berkelebat ke mulut gua.

Sakawuni buru-buru bangkit lalu menyusul Manusia Titisan Dewa yang telah diangkatnya menjadi guru.

"Ayo!" kata Manusia Titisan Dewa begitu Sakawuni telah ada di belakangnya. Manusia Titisan Dewa lantas berkelebat menembus kegelapan malam yang kemudian disusul oleh Sakawuni di belakangnya

TIGA

Sesosok bayangan terlihat berkelebat cepat menuju sebuah bukit kecil yang sepi dan tampak tak pernah dirambah manusia. Hal itu terlihat dari merangasnya ilalang serta berserakannya rantingranting pohon yang telah membusuk dan bersatu dengan tanah bebukitan. Sampai pada sebuah gua yang lobangnya hampir tak terlihat, karena tertutup ilalang tinggitinggi, bayangan tadi hentikan larinya. Sepasang matanya menebar berkeliling, kepalanya bergerak ke sana kemari mengitari tempat itu. Merasa tidak ada orang lain selain dirinya, sosok ini gerakkan tangannya mengusap keringat yang meleleh di kening dan lehernya. Napasnya berhembus panjang serta dalam-dalam.

"Hmm.... Inilah tempat yang ditunjuk Dewi Kayangan. Dan kurasa memang tepat untuk mempelajari sekaligus mendalami apa yang ada di Arca Dewi Bumi...," gumam sosok ini. Dia adalah seorang pemuda berparas tampan, mengenakan pakaian warna hijau yang dilapis dengan pakaian dalam warna kuning lengan panjang. Rambutnya panjang dan dikuncir ekor kuda.

Pemuda berjubah hijau yang bukan lain Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 sejenak terlihat mondar-mandir di mulut gua. Seraya melangkah sepasang matanya tak henti-hentinya memandang liar ke setiap sudut di tempat itu. Murid Wong Agung ini rupanya sangat hati-hati sekali, bahkan untuk beberapa saat dia jongkok sambil memperhatikan sela-sela ilalang di sekitarnya. Hal ini bisa dimaklumi, karena setelah mendapatkan Arca Dewi Bumi bagaimanapun juga jiwanya diincar oleh siapa pun juga yang menginginkan arca itu. Apalagi waktu mendapatkan arca itu para tokoh-tokoh golongan hitam mengetahuinya. Sadar akan hal itu, waktu menuju tempat di mana dia sekarang berada, murid Wong Agung ini sengaja mengambil jalan berputar dan menghindari keramaian.

Setelah dirasa aman, Aji bangkit dan melangkah ke arah gua. Disibakkannya ilalang yang menutupi mulut gua. Bias sang mentari menerobos ilalang dan menerangi bagian dalam gua. Setelah dapat menyiasati keadaan di dalam, Aji segera melangkah masuk.

Ruang bagian dalam gua itu tidak begitu besar, di sana-sini tampak sarang laba-laba yang hampir menutupi langit-langit serta sudut gua. Pada dinding sebelah dalam yang menghadap ke mulut gua tampak sebuah batu. Aji melangkah mendekati batu, karena di situ ada cahaya mentari yang menerobos masuk dari lobang di atasnya.

"Dengan penerangan ini aku bisa membaca dengan jelas."

Aji lalu duduk bersila di atas batu dengan punggung bersandar pada dinding gua. Sejenak sepasang matanya memandang lurus ke mulut gua, lalu kepalanya tengadah memandang pada lobang yang memberi penerangan. Lalu pelanpelan dengan tangan agak gemetar dan jantung berdegup kencang dikeluarkannya sebuah bungkusan putih dari balik pakaiannya. Sesaat bungkusan putih itu dipandanginya, lalu pelan-pelan pula dibukanya bungkusan itu.

Sebuah arca berbentuk seorang perempuan kini terpampang di hadapannya. Arca itu berwarna ungu kekuningan. Tangan kanannya tampak sedikit terangkat dan menggenggam sebuah tongkat. Sementara tangan kirinya sedekap sejajar dada. Pada kepala arca tampak sebuah mahkota bersusun tiga yang ditengahnya terdapat sebuah lobang dan tampak menyembul sebuah gulungan kain berwarna putih. Sedang pada dahinya tampak tiga butir mutiara berwarna biru. Tinggi arca itu tak lebih dari satu setengah jengkal telapak tangan.

Perlahan-lahan diangkatnya arca itu lalu diusapnya beberapa kali. Sepasang matanya dilebarkan. Dan dengan penerangan dari lobang di atasnya Pendekar 108 segera memperhatikan Arca Dewi Bumi. Perlahan-lahan diambilnya gulungan kain yang ada di lobang di tengah-tengah mahkota. Lalu dibentangkan.

Dengan tangan masih gemetar dan dada berdegup keras, bibir Aji mulai berkemik membaca tulisan pada bentangan kain.

Dunia dan isinya adalah sebuah malapetaka Dunia dan isinya adalah sebuah kedamaian Manusia adalah sang pengatur arah

Hanya manusia yang ditetesi embun Tuhan, Dapat arahkan dunia pada kedamaian.

Untuk beberapa saat lamanya Pendekar 108 terdiam seraya dalam hati mengulang-ulang kalimat itu. Kemudian matanya dilebarkan lagi membaca kalimat-kalimat di bawahnya yang agak kecilkecil.

"Hmm.... Ini petunjuk tentang jurus. Tangan kiri sejajar dada, jari tengah dan telunjuk lurus ke atas, sedang jari lainnya menekuk. Tenaga dalam dipusatkan pada tengah telapak tangan dan didorong.... Sebuah jurus yang sederhana. Anehnya, di sini tak ada petunjuk tentang gerakan pada telapak tangan kanan.... Bagaimana ini? Juga gerakan pada tangan kiri terlihat begitu sederhana sekali. Apa dan di mana keistimewaannya...?"

Untuk sesaat lamanya murid Wong Agung ini dibuncah oleh perasaan heran dan coba mencari-cari apa keistimewaan gerakan tadi. Bahkan tangan kirinya pun tampak bergerak dan memperagakan seperti apa yang tertulis. Tenaga dalamnya dikerahkan pada tengah telapak tangan, lalu didorong perlahan.

"Hmm.... Hanya serangan biasa.... Tak kulihat ada hebatnya...," gumam Aji dalam hati seraya mengulangi gerakannya, namun hasilnya seperti semula. Hanya sambaran angin yang tampak melesat tanpa ada kehebatan lain.

"Akan kulihat di belakangnya...," kata Aji, lalu balikkan lembaran kain di tangannya. Di bagian belakang lembaran kain terdapat beberapa gambar. Sejenak Pendekar 108 memperhatikan dengan seksama gambar-gambar itu.

"Aneh. Di sini terlihat pancaran sinar pada telapak tangan kiri, sementara pada tangan kanan Astaga! Memegang sebuah kipas!"

'"Aku hampir paham...," kata Aji dalam hati sambil meletakkan lembaran kain di pangkuannya dan mengeluarkan kipas miliknya dari balik pakaiannya. Tangan kirinya lalu digerakkan dengan jari tengah dan telunjuk ke atas, sementara tangan kanannya menebarkan kipas.

Weeerrr! Serangkum angin dahsyat menyambar keluar. "Heran. Tidak juga ada istimewanya. Dan pancaran sinar juga tak terlihat dari telapak tangan kiri meski aku telah kerahkan tenaga dalam...,"

Murid Wong Agung menghela napas dalamdalam. Parasnya menunjukkan rasa kecewa. Namun dia tak begitu saja menyerah. Di ulanginya gerakan-gerakan menurut apa yang tertera dalam gambar. Namun hasilnya tak juga ada kemajuan.

Saat itulah tiba-tiba penerangan dari lobang di atasnya meredup, seakan ada sesuatu yang menghalangi. Aji cepat dongakkan kepalanya. Dia menarik napas lega, karena yang menghalangi hanyalah awan putih tipis yang masuk melalui lobang. Namun murid Wong Agung segera kernyitkan kening.

"Tak mungkin ada asap tipis yang begitu saja masuk.... Pasti ada...," Aji cepat sambar arca di pangkuannya dan dimasukkan ke balik pakaiannya. Sepasang matanya tak berkedip memandang ke arah lobang di atasnya. Dan murid dari Karang Langit ini semakin tak enak tatkala asap itu terus menerobos masuk tiada hentinya. Anehnya, begitu masuk ke dalam gua, asap itu bergerak merayapi langit-langit gua dan membentuk uluran panjang.

"Hmm.... Pasti ada orang yang menggerakkannya! Kurang ajar! Bagaimana bisa tahu jika aku di sini? Mengikuti perjalananku...? Tidak mungkin! Aku telah mengambil jalan berputar bahkan aku sering melakukan perjalanan malam hari! Siapa dia...? Atau mungkin Dewi Kayangan...? Hanya dia satu-satunya orang yang tahu ke mana aku pergi dan ke mana tujuanku "

Selagi murid Wong Agung ini mendugaduga, tiba-tiba uluran panjang asap putih bergerak menggulung dan menggumpal jadi satu. Aji membelalakkan sepasang matanya. Dan matanya makin melotot besar tatkala samar-samar terlihat sesosok bayangan muncul dari gumpalan asap putih.

Mulut Pendekar 108 yang sedari tadi telah membuka hendak keluarkan teguran karena disangkanya yang akan muncul dari kepulan asap putih adalah Dewi Kayangan serta-merta mengatup. Karena yang muncul dari asap putih adalah seorang laki-laki berusia amat lanjut. Pakaiannya compang-camping bahkan di sana-sini telah tampak warna kehijau-hijauan seperti rambahan rumput. Rambutnya hampir tak ada. Paras wajahnya serta tubuhnya hanya di-bungkus kulit tipis.

"Sahyang Resi Gopala...," gumam Aji begitu mengenali siapa adanya sosok laki-laki tua yang keluar dari gumpalan asap putih. Serta-merta murid dari Karang Langit ini bergerak turun dari atas batu dan duduk seraya menjura beberapa kali.

Sosok laki-laki tua yang bukan lain memang Sahyang Resi Gopala membuka kelopak matanya yang sedari tadi terpejam. Bibirnya bergerak membuka.

"Aji Saputra. Kau adalah manusia yang telah ditentukan untuk mendapatkan apa yang ada pada Arca Dewi Bumi. Ketahuilah segala gerakangerakan yang ada pada lukisan kain itu tidak ada hebatnya jika kau belum terisi oleh tiga mutiara biru yang ada pada dahi arca. Keluarkan arca itu dan letakkan di hadapanmu! Lakukan gerakan pada lukisan kain dan kerahkan jurus ‘Pamungkas Bayu Kencana’."

Dengan tangan masih gemetar dan jantung berdegup makin keras, Aji menuruti perintah Sahyang Resi Gopala. Arca diletakkan di hadapannya, lalu tangan kirinya diangkat sejajar dada dengan jari tengah dan telunjuk diluruskan ke atas, jari-jari lainnya ditekuk. Lalu Aji kerahkan tenaga dalam pada telapak tangan kirinya dan lakukan jurus 'Pamungkas Bayu Kencana' dengan menarik perlahan tangan kirinya.

Arca di hadapan Aji tampak bergoyanggoyang dan bersamaan itu satu persatu mutiara yang ada pada dahi arca melesat dan masuk ke telapak tangan kiri Aji.

Pendekar Mata Keranjang merasa tangannya dihantam batu besar, aliran darahnya seakan tersumbat dan hawa sangat dingin merayapi sekujur tubuhnya. Pemandangannya berubah menjadi biru dan sangat dingin! Dadanya berdetak kencang, dan tubuhnya bergetar hebat!

Namun hal itu cuma sesaat. Begitu mutiara telah masuk semua, keadaan Pendekar 108 normal kembali. Malah pandangannya makin terang dan tubuhnya ringan. Belum sempat Pendekar 108 memikirkan apa yang telah dialami, Sahyang Resi Gopala telah berkata kembali.

"Aji. Dalam dirimu telah tertanam tiga mutiara biru. Itu adalah pangkal kekuatan dari jurus yang ada pada lukisan kain. Jurus itu bernama 'Mutiara Biru'. Kau telah tahu bagaimana memperagakannya. Ingat! Karena jurus 'Mutiara Biru' adalah sebuah pukulan yang maha hebat, maka jangan sekali-kali kau gunakan jika tidak dalam keadaan terdesak! Dan juga perlu kau camkan baik-baik. Jika kau salah gunakan apa yang telah kau dapat, maka Mutiara Biru akan menghantam tubuhmu sendiri!"

"Segala petunjuk Eyang Resi akan kuingat!" gumam Aji perlahan.

"Karena isi Arca Dewi Bumi telah masuk ke dalam dirimu, maka arca itu telah tidak ada apaapanya lagi. Biarlah arca itu kusimpan kembali." Habis berkata, Sahyang Resi Gopala gerakkan telunjuknya. Arca di hadapan Aji melesat ke arah Sahyang Resi Gopala. 

"Saatnya bagiku untuk pergi "

Pendekar Mata Keranjang 108 sebenarnya hendak mengucapkan sesuatu, namun belum sampai kata-katanya keluar, sosok Sahyang Resi Gopala telah lenyap dari hadapannya dan asap putih tipis bergerak mengulur panjang ke arah mulut gua sebelum akhirnya lenyap.

EMPAT

Satu purnama terlewati.... Seorang laki-laki berusia lanjut tampak berdiri di depan sebuah batu karang besar yang membentuk sebuah bangunan di tepi pesisir. Dia mengenakan jubah biru gelap yang amat besar. Pada kepalanya tampak caping lebar berwarna hitam dari kulit yang atasnya terbuka, hingga rambutnya yang jarang dan amat kaku tampak jelas. Paras laki-laki ini tidak begitu jelas karena kulit wajahnya sangat tipis, hingga hanya menampakkan tonjolan-tonjolan tulang wajah. Sepasang matanya besar dan masuk ke dalam rongga yang amat cekung. Sepasang alis matanya tampak kaku dan menghadap ke depan, sementara bibirnya tebal.

Sepasang mata laki-laki ini yang bukan lain adalah Manusia Titisan Dewa terlihat memandang tak kesiap ke arah lautan bebas di hadapannya. Sesaat kemudian, dia tampak melangkah terbungkuk-bungkuk ke arah hamparan batu karang yang rata. Anehnya, meski tampak melangkah terbungkuk-bungkuk, sepasang kaki laki-laki ini tidak menyentuh batu karang! Sepasang kakinya berada satu jengkal di atas batu karang di bawahnya!

Begitu sampai pada hamparan batu karang yang rata, Manusia Titisan Dewa hentikan langkah. Sepasang matanya yang besar kembali liar memandang lautan lepas. Saat itu sang mentari telah hampir tenggelam di laut sebelah barat.

"Hmm.... Telah satu purnama Sakawuni menjalankan perintahku untuk memperdalam ilmu. Saatnya akan segera tiba dan rimba persilatan akan geger. Sakawuni akan muncul sebagai tokoh muda yang tak tertandingi    Dan rencanaku akan

berjalan dengan lancar. Satu persatu tokoh golongan putih akan kuambil dan kukumpulkan di sini! Mereka akan kujadikan bangkai tanpa kubur! Tokoh golongan hitam pun akan kulenyapkan satu persatu. Rimba persilatan akan gempar! Aku ingin menciptakan kecemasan dan kegelisahan sepanjang masa pada setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang-orang persilatan. Ha ha ha...!"

Dari mulut Manusia Titisan Dewa meledak suara tawa panjang berderai-derai hingga tubuhnya yang telah bungkuk makin melengkung. Hebatnya, bersamaan dengan ledakan suara tawanya, batu karang di sekitar tempat itu bergerakgerak dan bergetar, pertanda bahwa suara tawa Manusia Titisan Dewa bukanlah tawa biasa, melainkan telah dialiri tenaga dalam tinggi!

Tiba-tiba Manusia Titisan Dewa hentikan tawanya. Wajahnya diputar setengah lingkaran menghadap ke samping kanan. Bibirnya yang tebal tampak sunggingkan senyum.

"Dia sudah datang...," gumam Manusia Titisan Dewa tatkala sepasang matanya menangkap kelebat sesosok bayangan yang menuju arahnya.

Baru saja selesai gumaman Manusia Titisan Dewa, sesosok bayangan tampak telah berdiri di hadapannya dan menjura hormat seraya berkata.

"Guru! Aku telah menjalankan apa yang kau perintahkan!"

Manusia Titisan Dewa tertawa perlahan. Kepalanya manggut-manggut. "Bagus! Dengan modal kepandaianmu, memang tak sulit mempelajari apa yang kuperintahkan. Dan berarti ilmumu sekarang telah bertambah! Dan aku yakin, hanya beberapa orang yang dapat menandingi mu!"

"Terima kasih, Guru...!" sahut sosok di hadapan Manusia Titisan Dewa. Dia adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita dan bukan lain adalah Sakawuni, bekas murid Ageng Panangkaran yang kini telah diangkat murid oleh Manusia Titisan Dewa.

"Sakawuni! Bekalmu untuk menghadapi tantangan kurasa telah cukup. Sekarang katakan padaku, apa rencanamu!"

Sakawuni angkat kepalanya. Dipandanginya lekat-lekat laki-laki tua di hadapannya.

"Guru. Kalau boleh memilih, aku ingin terlebih dahulu membalas sekaligus menuntut darah atas kematian mendiang Ageng Panangkaran!"

Manusia Titisan Dewa anggukkan kepalanya. Sepasang matanya beralih pada jurusan lain. Dia untuk beberapa lama tidak memberi tanggapan atas ucapan muridnya. Karena sebenarnya dalam hati, laki-laki ini sedang berkata.

"Bagus! Itu memang yang kuharapkan. Dengan tersingkirnya Pendekar Mata Keranjang 108, Selaksa serta Wong Agung, maka langkah selanjutnya akan lebih mudah.... Dan aku pun akan segera bergerak menjemput satu persatu tokoh golongan hitam untuk ku tanam di batu karang ini! Hmm "

Melihat gurunya tidak memberi tanggapan atas rencananya, Sakawuni buru-buru hendak menyusuli kata-katanya. Namun sebelum ucapannya keluar, Manusia Titisan Dewa telah berkata.

"Sakawuni. Sebenarnya aku punya rencana lain. Namun demi untuk menghormati mendiang gurumu Ageng Panangkaran yang juga adalah sahabatku, maka untuk sementara rencanaku kuundurkan dahulu "

"Terima kasih, Guru. Begitu urusan selesai, aku akan segera kembali dan siap dengan segala rencanamu!"

Manusia Titisan Dewa menarik napas dalam-dalam. Kepalanya mendongak melihat langit yang samar-samar telah direngkuh oleh gelapnya malam. Dari mulutnya lantas terdengar suaranya bertanya.

"Kau tentunya telah tahu siapa yang harus kau temui sekaligus kau tuntut darahnya, bukan ?"

Sakawuni anggukkan kepalanya. Dan tibatiba parasnya berubah. Sepasang matanya membesar. Dagunya sedikit mengembang, sementara pelipis kanan kirinya bergerak-gerak mengisyaratkan kemarahan yang memuncak di hatinya.

"Karena orang pertama yang bertanggung jawab atas kematian Guru adalah Pendekar Mata Keranjang, maka dialah orang yang bakal pertama kali menemui ajal di tanganku! Setelah itu kedua gurunya! Juga orang-orang yang bersekongkol dengannya!"

Manusia Titisan Dewa tertawa dalam hati.

Lalu dia melangkah mendekat dan berkata. "Sakawuni. Yang kau katakan betul! Aku

hanya bisa menanti kabar darimu dan kuharap kau kembali dengan kabar gembira. Hanya satu pesanku. Kau harus berhati-hati menghadapi mereka! Mereka adalah manusia-manusia kotor yang menyelinap dalam golongan putih. Mereka adalah kumpulan orang-orang licik! Maka dari itu, kau pun harus menggunakan segala cara untuk dapat menaklukkan mereka! Ingat! Meski kau berilmu tinggi tanpa kelicikan maka akan sia-sialah ketinggian ilmu itu! Kau dengar dan me-ngerti...?!"

Sakawuni anggukkan kepala.

"Segala petunjukmu akan kulaksanakan!

Muridmu mohon diri sekarang "

Manusia Titisan Dewa anggukkan kepala. Namun buru-buru laki-laki ini ulurkan tangan kanannya pegang pundak muridnya dan berkata.

"Apakah kau telah mencoba hasil dari yang telah kau pelajari selama ini?"

Sakawuni urungkan niatnya yang hendak berkelebat. Tubuhnya di hadapkan kembali pada Manusia Titisan Dewa.

"Sudah! Dan aku hampir tak percaya dengan penglihatanku sendiri! Terima kasih sekali lagi. Kau telah mewariskan ilmumu padaku!"

Manusia Titisan Dewa menyeringai. Lalu tertawa lebar.

"Sakawuni. Itu hanya sebagian. Setelah kau selesai dengan urusan darah Ageng Panangkaran, kau akan kuberi lagi ilmu yang lain.... Aku ingin menjadikan mu bukan saja sebagai tokoh berilmu tinggi yang disegani, tapi juga ku ingin menjadikan mu manusia yang tiada tanding!"

"Ah !" Sakawuni keluarkan seruan seakan-

akan terkejut meski bibirnya tampak sunggingkan senyum. Dan kembali gadis cantik ini menjura dan mengucapkan terima kasih.

"Hmm.... Sekarang berangkatlah!" Mendengar ucapan gurunya, Sakawuni bukannya segera berangkat. Dia tampak terdiam untuk beberapa lama, membuat Manusia Titisan Dewa kernyitkan dahi dan berkata.

"Ada sesuatu yang hendak kau utarakan?" Sakawuni luruskan kepala dan memandang, lekatlekat pada gurunya. Namun dari mulutnya tidak terdengar sepatah kata pun. Gadis ini terlihat bimbang.

Mulut Manusia Titisan Dewa komat-kamit. Sambil arahkan pandangannya pada laut lepas yang kini telah berwarna biru kehitaman, dia berkata.

"Sakawuni. Kau adalah muridku, bahkan telah kuanggap sebagai anakku.... Sakitmu adalah juga sakitku! Bahagia mu juga adalah bahagia ku! Bebanmu adalah beban ku juga. Apakah dengan hal itu kau masih menyembunyikan sesuatu padaku?"

Diam-diam trenyuh juga hati gadis ini mendengar kata Manusia Titisan Dewa. Hingga tanpa sadar sudut-sudut matanya telah merebak air bening. Setelah dapat menguasai diri, Sakawuni berkata. Nada suaranya terdengar serak dan bergetar. "Guru Selama ini memang hatiku dilanda

resah gelisah...," sejenak Sakawuni hentikan ucapannya. Napasnya berhembus panjang-panjang. Dia seakan ingin melepaskan rasa beban yang menghimpit dadanya.

Manusia Titisan Dewa menunggu dengan kening berkerut. Dan tatkala Sakawuni belum juga lanjutkan ucapannya, dia berkata. "Sakawuni, kuharap kau lanjutkan ucapanmu "

"Guru...," kata Sakawuni setelah agak lama terdiam. "Setelah kudengar dari keteranganmu bahwa manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 telah berhasil mendapatkan Arca Dewi Bumi, terus terang aku gelisah. Menurut kabar yang selama ini tersiar, arca itu berisi jurus-jurus hebat. Apa hal itu benar adanya. ?"

Manusia Titisan Dewa sunggingkan senyum seringai. Sepasang matanya melebar. Dari mulutnya terdengar suara tawa pendek bernada mengejek.

"Muridku! Berita masih belum bisa ditentukan benar tidaknya! Demikian juga tentang Arca Dewi Bumi. Orang-orang rimba persilatan memang gencar membicarakannya. Bahkan kabarnya telah banyak jatuh korban demi memperebutkan benda usang itu. Meski arca itu telah jatuh ke tangan Pendekar 108, namun sekali lagi kau harus ingat. Hal-hal mengenai arca itu masih berita. Dan biasanya, berita lebih besar dari kenyataannya!" Manusia Titisan Dewa hentikan keterangannya. Setelah memandangi paras muridnya, dia melanjutkan.

"Kau tak usah khawatir! Ilmu yang telah kuturunkan padamu adalah sebuah kenyataan. Sedang hal mengenai arca itu masih berita! Dan kalau pun nyata aku masih yakin kau dapat menebus tetesan darah Ageng Panangkaran pada pemuda itu! Atau kau masih menyangsikan ilmu yang kuturunkan padamu...?" Sakawuni segera gelengkan kepalanya. "Tidak, Guru! Dan maafkan atas segala rasa kegelisahanku selama ini! Aku mohon diri sekarang...," habis berkata begitu, Sakawuni bungkukkan tubuh lalu berbalik dan berkelebat meninggalkan gurunya yang terus mengawasi kelebatan muridnya dengan bibir tersungging senyum.

"Hmm.... Saatnya juga aku bergerak...," gumam Manusia Titisan Dewa begitu sosok Sakawuni lenyap ditelan kepekatan malam. Lalu ia sapukan pandangannya sebentar pada bangunan batu karang tempat tinggalnya. Sesaat kemudian sosoknya telah lenyap!

LIMA

Sesosok bayangan tampak berkelebat cepat menyusur celah-celah rimbunan semak belukar serta deretan pohon-pohon besar. Begitu cepatnya lesatan sosok ini hingga yang tampak hanyalah suara desiran angin lalunya serta bergoyangnya semak belukar yang terabas oleh sosoknya. Dan melihat gerak-geriknya, selain berkepandaian tinggi, sosok ini juga mempunyai keperluan yang sangat penting, karena sengaja mengambil jalan pintas dengan menerabas semak-belukar.

Namun mendadak saja sosok ini hentikan larinya. Sepasang matanya menyapu liar berkeliling. Kepalanya lantas berpaling pada kepala yang terkulai lemas di dadanya sebelah kiri.

"Hmm.... Dia pingsan...," gumamnya seraya menarik jubahnya yang tertarik ke atas. Sejurus dipandanginya kepala yang terkulai di dadanya. Di pundaknya memang terlihat sesosok tubuh yang kepalanya terkulai lemas. Demikian pula tubuhnya. Sosok yang terkulai itu tak jelas paras wajahnya. Yang jelas hanya rambutnya yang jambrik dan dipotong pendek, sementara bagian sampingnya panjang. Pakaian yang dikenakannya pun tampak robek menganga di sana-sini.

Sementara sosok yang memanggul adalah seorang pemuda bertubuh tegap. Wajahnya tampan dengan sepasang mata tajam. Rambutnya panjang dan dibiarkan berkibar-kibar ditiup angin. Hidungnya agak mancung. Meski berparas tampan. Air muka pemuda ini tak menggambarkan rasa ramah sekali. Senyum seringai seringkali menghias bibirnya.

Dia mengenakan jubah besar berwarna belang merah dan hitam.

"Aku mendengar suara orang terisak...," gumam sang pemuda. Dia tegak termenung seraya memastikan sumber suara isakan yang didengarnya.

"Aneh, di tempat sesepi ini siapa gerangan yang terisak seperti orang ditinggal mampus? Atau hantu laknat yang sengaja mengganggu orang lewat...?" sang pemuda terdiam seraya meyakinkan. Suara isakan itu makin lama makin keras bahkan sesekali diseling dengan gumaman yang tak jelas. Sang pemuda kernyitkan kening, lalu melangkah perlahan ke arah sumber isakan tangis.

Sesaat kemudian, dari balik jajaran pohonpohon besar, sang pemuda melihat sebuah gundukan tanah yang masih tampak merah pertanda baru saja digali. Sepasang mata sang pemuda tibatiba membeliak liar dan memandang tak kesiap. Bukan pada gundukan tanah merah, melainkan pada sosok seorang perempuan yang duduk bersimpuh di samping tanah gundukan. Sosok ini berambut panjang dan dikepang dua. Mengenakan pakaian warna hijau tipis. Mungkin karena baru saja menggali atau karena guncangan jiwanya, sekujur sosok perempuan ini berkeringat, hingga pakaiannya yang tipis tampak melekat memperlihatkan bentuk tubuhnya yang bagus.

"Hmm    Bentuk tubuh bagian belakangnya

demikian bagus dan menggemaskan. Parasnya tentu tak mengecewakan. Siapa yang baru saja dimakamkan? Kekasihnya.... Atau kerabatnya? Sialan! Kenapa aku memikirkan hal itu...? Bukankah yang lebih penting adalah perempuan itu ?

Tapi.... Benarkah dia benar-benar manusia? Jahanam! Kenapa aku terpengaruh dengan segala macam tahayul tentang hantu !"

Merasa yakin bahwa di samping makam adalah seorang anak manusia, sang pemuda melangkah ke samping kiri melewati beberapa pohon. Dari tempat barunya kembali sepasang mata sang pemuda memperhatikan ke arah perempuan yang bersimpuh di samping makam dengan tetap terisak. Kedua tangan sang perempuan tampak ditakupkan pada wajahnya. Begitu kedua tangannya diturunkan, baru agak jelas paras sang perempuan. "Dugaanku tidak meleset. Dia berparas cantik.... Dan masih muda! Dadanya kencang menantang.... Hmm " Sang pemuda memperhatikan se-

raya membatin. Kepalanya lalu berpaling pada sosok yang ada di pundaknya.

"Sialan! Jika saja tidak memandangnya sebagai orang yang telah menurunkan ilmu padaku, niscaya akan kubiarkan dia jadi bangkai dengan tubuh terlilit rotan.... Tapi untuk urusan perempuan, terpaksa dia akan kuturunkan dahulu, apalagi telah lama aku tak merasakan nikmatnya tubuh perempuan...," perlahan-lahan lalu diturunkannya sosok yang sejak tadi ada di pundaknya.

"Tunggulah.... Aku akan bersenang-senang dahulu...," gumam sang pemuda pada sosok yang kini tampak lemas di atas tanah dalam keadaan pingsan.

Tak jauh dari tempatnya, isakan tangis sang gadis terus terdengar malah semakin keras. Bahunya terlihat berguncang demikian juga dadanya. Sang pemuda yang kini telah berdiri kembali dan memandangi, terlihat sunggingkan senyum aneh. Namun pemuda ini belum juga beranjak untuk melangkah mendekati. Dia terlihat ragu-ragu antara langsung mendatangi atau menunggu sampai si gadis reda tangisnya. Dan ketika ditunggu hingga kakinya pegal sang gadis belum juga reda tangisnya, maka dia memutuskan untuk melangkah mendatangi.

Beberapa tombak di belakang sang gadis, sang pemuda hentikan langkahnya. Sebenarnya si pemuda telah melangkah dengan agak keraskan pijakan kakinya, memberi isyarat pada si gadis akan kedatangannya. Namun karena sedang kalut atau berbaur dengan suara isak tangisnya, maka si gadis tak mendengarkan langkah-langkah orang mendatangi.

Melihat hal ini, sang pemuda batuk-batuk kecil beberapa kali. Namun kepalanya sengaja di hadapkan pada jurusan lain.

Bersamaan dengan terdengarnya suara batuk-batuk, isak tangis sang gadis sekonyongkonyong sirap. Dan secepat sirapan suara isakannya, secepat itu juga kepalanya berpaling.

Si gadis terlihat terkejut, namun wajahnya tak menunjukkan rasa takut. Sepasang matanya yang bulat dan sembab air mata membesar mengawasi sang pemuda yang tegak dengan pandangan menyelidik. Dari mulutnya terdengar suaranya menegur.

"Siapa kau...?!" Meski nadanya menegur, tapi jelas sekali bahwa suaranya parau dan sedikit bergetar.

Sang pemuda palingkan wajahnya. Sejenak matanya liar memperhatikan wajah gadis di hadapannya. Bibirnya sunggingkan senyum. Namun dia tak segera menjawab pertanyaan, membuat si gadis kernyitkan dahi dan mengulangi pertanyaan. "Gadis cantik! Makam siapa itu? Kerabat

atau kekasih...?" si pemuda ajukan pertanyaan.

Sang gadis berbaju hijau tipis terdiam sejenak. Sepasang matanya diseka dengan punggung tapak tangan. Mata itu lalu memperhatikan si pemuda dari atas hingga bawah. "Makam siapa pun apa pedulimu? Kau belum katakan siapa dirimu!"

Sang pemuda tertawa mendengar nada keras si gadis. Dia melangkah lebih dekat, membuat si gadis bangkit dan melangkah dua tindak ke belakang.

"Gadis cantik! Kau tak usah takut begitu rupa padaku! Aku hanyalah seorang yang sedang lewat. Kebetulan aku mendengar suara isak tangismu. Kau sendiri siapa...?!"

"Siapa diriku, kau tak usah tahu, karena kau sendiri enggan sebutkan siapa dirimu! Kuharap kau lekas tinggalkan tempat ini!"

"Apa kalau aku sebutkan siapa diriku berarti aku boleh di sini...?" kata si pemuda dengan mata tak kesiap memandang ke arah dada gadis di hadapannya yang terlihat membusung dan membentuk bagus karena pakaian yang dikenakannya basah dan melekat pada tubuhnya.

"Kau terlalu banyak bicara! Tinggalkan saja aku sendirian!" sahut gadis agak jengkel dan juga jengah melihat dirinya dipandangi dengan tatapan penuh arti.

"Baiklah, akan kusebutkan siapa diriku...," si pemuda hentikan ucapannya sejenak. Lalu melanjutkan. "Soal nama asli ku, tak enak rasanya kuberitahukan. Karena aku telah menguburnya dalam-dalam! Biar kuberi tahu saja gelar yang kusandang. Orang-orang rimba persilatan menjulukiku Gembong Raja Muda!"

Dugaan sang pemuda yang menyangka gadis di hadapannya akan terkejut setelah dia sebutkan gelarnya ternyata meleset. Karena gadis itu tak menunjukkan rasa terkejut sama sekali, malah tertawa pendek dan berkata.

"Gelar bagus! Kau tentunya keturunan 'raja' atau mungkin juga putra mahkota. Namun siapa pun dirimu, saat ini aku ingin sendirian. Jadi kuharap kau tinggalkan tempat ini!"

"Begitu...? Itu tidak adil. Aku telah sebutkan siapa diriku. Aku tidak akan tinggalkan tempat ini sebelum kau sebutkan siapa dirimu!"

Dalam hati si gadis memaki habis-habisan. Wajahnya telah berubah agak mengelam menahan marah dan geram. Namun entah karena tidak ingin diganggu dan tak ingin membuat masalah, sang gadis lantas tersenyum dan berkata.

"Baik kalau itu kehendakmu! Dengar baikbaik. Aku sebenarnya sungkan sebutkan siapa diriku. Jadi akan kukatakan siapa julukanku. Aku adalah Singa Betina Dari Timur!"

Sang pemuda yang bukan lain memang Gembong Raja Muda atau yang bernama asli Pandu bekas anak murid Ageng Panangkaran yang sekarang telah diangkat murid oleh Bawuk Raga Ginting, tersenyum lebar. Namun sesaat kemudian senyumnya berubah sinis. Dia memang baru kali ini mendengar nama Singa Betina Dari Timur. Hingga sifatnya yang selalu meremehkan orang nampak jelas, bahkan tak lama kemudian terdengar suara tawanya yang jelas-jelas bernada mengejek.

Setelah puas dengan tawa, Gembong Raja Muda palingkan wajah ke arah lain seraya berucap.

"Singa Betina Dari Timur. Hmm Julukan

yang sesuai dengan orangnya. Tentunya kau juga seperti singa lapar jika diajak bersenang-senang. Bagaimana kalau aku ingin melihat dan merasakan geliatan sang singa...?"

Paras wajah si gadis yang bukan lain adalah Singa Betina Dari Timur salah seorang dari dua gadis yang berasal dari pulau Bima merah padam. Gerahamnya saling beradu keluarkan suara gemeletak. Sementara sepasang matanya melotot angker. Namun sejauh ini dia masih mencoba menindih rasa marahnya. Tanpa memandang lagi, dia berkata.

"Kesabaranku ada batasnya! Turuti ucapanku, lekas tinggalkan tempat ini!"

"Hmm.... Kau menolak ajakan ku?" kata Gembong Raja Muda sambil gelengkan kepala. "Sungguh sayang sekali. Atau kau hanya purapura.... Karena kita masih baru kenal? Jika demikian, bagaimana kalau kita ngobrol dahulu...?" seraya berkata Gembong Raja Muda ajukan lagi kakinya.

Singa Betina Dari Timur semakin membeliak, dan kedua kakinya tersurut dua tindak ke belakang. Kesabaran yang sedari tadi ditindihnya serta-merta meledak.

"Kau tampaknya pemuda kurang waras! Dan harus diajari cara sopan-santun!" Tiba-tiba Singa Betina Dari Timur melompat ke depan dan dengan gerak yang hampir tak dapat ditangkap mata tangan kanannya berkelebat kirimkan pukulan ke arah kepala Gembong Raja Muda.

Yang diserang tersenyum aneh. Dia tidak mencoba untuk bergerak menghindar. Baru tatkala tangan si gadis sejengkal lagi menghajar kepala, Gembong Raja Muda tarik sedikit kepalanya, sementara tangan kanannya diangkat.

Wuuttt! Taakkk!

Singa Betina Dari Timur terkejut besar. Kelebatan tangannya yang dipastikan tak akan lolos menghajar kepala pemuda di hadapannya ternyata menghajar tempat kosong sejengkal di depan kepala si pemuda. Malah ketika pukulannya meleset dan si pemuda angkat tangannya disentakkan pada tangan si gadis, gadis itu tubuhnya terputar dan terhuyung-huyung hendak jatuh karena begitu kerasnya hantaman tangannya. Namun belum sampai bisa mengimbangi diri, tahu-tahu tubuhnya terhenti mendadak bahkan kedua tangannya dan tubuhnya bagaikan dibelit sesuatu.

Singa Betina Dari Timur tundukkan wajah melihat apa yang terasa membelit pinggangnya hingga dirinya terhindar dari jatuh ke atas tanah. Begitu melihat bahwa yang membelit adalah dua tangan kekar dan berotot, serta-merta gadis ini berseru dan sekonyong-konyong tanpa lagi melihat siapa adanya si empunya tangan, dia segera hantamkan kedua sikunya ke belakang.

Beettt! Beettt!

Untuk kali kedua Singa Betina Dari Timur terperangah. Sodokan kedua sikunya yang diduganya tak akan meleset, ternyata menghantam angin. Namun dengan gerakan sikunya, belitan tangan di tubuhnya lepas.

"Tubuhmu hangat.... Hmm.... Juga...," belum selesai ucapan si pemuda, Singa Betina Dari Timur telah balikkan tubuh dan serta-merta menerjang ke arah Gembong Raja Muda. Kali ini terjangannya disertai dengan tenaga dalam. Karena si gadis sadar, bahwa pemuda di hadapannya mempunyai ilmu tinggi.

Bersamaan terjangan kaki Singa Betina Dari Timur, terdengar deru angin menyambar serta melesat mendahului kaki yang bergerak menerjang!

Gembong Raja Muda geser bahunya ke samping. Tangan kanannya diangkat lalu dihantamkan ke depan.

Dess! Deesss!

Singa Betina Dari Timur berseru tertahan tatkala kakinya terhantam tangan Gembong Raja Muda. Seraya melompat mundur kedua tangannya dihantamkan!

Wuutt! Wuuuttt!

Dua rangkum angin dahsyat yang berhawa panas melesat cepat ke arah Gembong Raja Muda.

Di depan, Gembong Raja Muda tarik kedua tangannya sedikit ke belakang, dan ketika serangan satu depa di depannya, kedua tangannya didorong.

Plarrr!

Letupan keras membuncah tempat itu tatkala dua serangan bentrok di udara, tanahnya bergetar dan sebagian terbongkar, lalu membumbung ke angkasa menutupi tempat itu. Selagi bongkaran tanah yang membumbung belum surut, Gembong Raja Muda jejakkan sepasang kakinya. Tak ada suara yang terdengar. Namun tahu-tahu tubuhnya telah melesat lenyap dan mendadak muncul satu langkah di samping Singa Betina Dari Timur yang masih terhuyung-huyung ke belakang!

Singa Betina Dari Timur tersirap darahnya. Tanpa pedulikan tubuhnya lagi, kaki kanannya diangkat dan dihantamkan ke samping.

Gembong Raja Muda rundukkan kepala, dan begitu kaki melesat di atas kepalanya, kaki kanannya bergerak menyapu pada kaki kanan Singa Betina Dari Timur yang dibuat tumpuan tubuhnya.

Desss!

Singa Betina Dari Timur terpekik, tubuhnya oleng ke samping. Namun sebelum tubuh itu terhempas ke atas tanah, Gembong Raja Muda melesat dan dengan gerak cepat tangan kirinya mengayun dari bawah sementara tangan kanannya mengayun dari atas.

Sett! Settt!

Begitu cepatnya gerakan Gembong Raja Muda, hingga tahu-tahu yang terlihat adalah robohnya tubuh Singa Betina Dari Timur pada rengkuhan tangan kirinya sementara tangan kanannya menotok jalan darah si gadis yang ada direngkuhannya!

"Jahanam busuk! Lepaskan diriku!"

Ternyata totokan Gembong Raja Muda hanya membuat tubuh si gadis tegang kaku tak bisa digerakkan, namun mulutnya masih bisa digerakkan.

"Singa Betina! Aku tahu, kau hanya berpura-pura saja! Sementara hatimu berbungabunga.... Ha ha ha...!" Gembong Raja Muda takupkan tangannya dan serta-merta tubuh Singa Betina Dari Timur direngkuhnya lalu ditariknya mendekat ke wajahnya.

Sebelum wajah Singa Betina Dari Timur dapat dicium, tiba-tiba gadis ini buka mulutnya.

Pyyuuhhh!

Sebercak ludah melesat dan membasahi wajah Gembong Raja Muda. Pemuda ini serta-merta hentikan tarikan tangannya yang merengkuh tubuh si gadis. Wajahnya merah padam. Pelipis kiri kanan bergerak-gerak, sementara sepasang matanya menatap jalang.

"Keparat! Kau memang pantas diajari bagaimana bersikap yang baik!" kata Gembong Raja Muda. Tangan kanannya diangkat dan serta-merta dilayangkan pada pipi Singa Betina Dari Timur.

Plakkk!

Singa Betina Dari Timur menjerit lengking. Bibirnya pecah dan keluarkan darah. Tidak hanya sampai di situ, begitu tangan kanannya melayang menampar, tangan kirinya yang masih merengkuh tubuh si gadis diluruhkannya! Karena Singa Betina Dari Timur tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, maka tak ayal lagi tubuhnya terhempas jatuh ke atas tanah!

"Jahanam licik! Kau akan menyesal! Dan jangan mimpi kau bisa jamah tubuhku!" maki Singa Betina Dari Timur sambil meludah di tanah. Ludahnya berwarna merah bercampur darah.

Gembong Raja Muda tertawa panjang. Namun cuma sesaat. Tak lama kemudian tawanya lenyap. Sepasang matanya kembali memandangi tubuh Singa Betina Dari Timur. Bibirnya sunggingkan senyum sinis. Tubuhnya lantas membungkuk dengan tangan diangkat ke atas.

Mengira bahwa akan mendapat tamparan lagi Singa Betina Dari Timur pejamkan sepasang matanya. Bibirnya saling menggigit. Namun gadis ini terlengak. Karena bukan tamparan yang dirasakan, melainkan usapan pada lehernya!

Singa Betina Dari Timur buka kelopak matanya. Mulutnya membuka hendak keluarkan makian, namun gadis ini terkejut. Meski mulutnya telah membuka namun tiada sepatah kata pun yang terdengar dari mulutnya! Ternyata usapan tangan Gembong Raja Muda adalah totokan untuk menghentikan jalan suara!

"Memakilah sepuas hatimu, gadis cantik! Ha ha ha...!" Gembong Raja Muda teruskan bungkukan tubuhnya, kedua tangannya bergerak merengkuh tubuh Singa Betina Dari Timur yang sudah tegang tak bisa bergerak dan tak bisa bicara.

"Kita cari tempat yang enak, karena mungkin ini adalah pengalaman pertama bagimu...! Kasihan kau jika pengalaman pertama kau rasakan di tempat yang jelek begini. Apalagi dekat kuburan...! Ha ha ha...!" Gembong Raja Muda tarik tangannya lalu tubuh Singa Betina Dari Timur diletakkan di pundak kiri, lalu melangkah ke tempat di mana tadi meletakkan tubuh orang yang dipanggul.

ENAM

Siapa gerangan orang pertama yang dipanggul Gembong Raja Muda dan untuk sementara diletakkan di atas tanah begitu melihat Singa Betina Dari Timur menangis di sisi makam? Orang itu tidak lain adalah Guru dari Gembong Raja Muda yang bukan lain adalah Bawuk Raga Ginting. Seperti dituturkan dalam episode "Arca Dewi Bumi", Bawuk Raga Ginting melakukan perjalanan memburu Arca Dewi Bumi. Namun dalam perjalanan dia bertemu dengan Pendekar 108 juga Dewi Kayangan. Dalam sebuah pertarungan sengit, akhirnya Bawuk Raga Ginting dapat dilumpuhkan Pendekar 108. Bahkan setelah itu dililit rotan oleh Dewi Kayangan, hingga dalam keadaan luka tubuhnya masih dililit tak bisa digerakkan.

Di lain pihak, Gembong Raja Muda yang juga sedang melakukan perjalanan memburu Arca Dewi Bumi sampai pula di lereng Gunung Kembar. Namun yang dijumpai di sana adalah beberapa orang yang dalam keadaan terluka. Mereka adalah Dewi Bunga Iblis yang selain terluka juga masih terlilit selendang merah dan tersandar di batang potion. Lalu tampak juga seorang laki-laki yang telah tewas yang bukan lain adalah Jogaskara. Dan di sana juga Gembong Raja Muda mendapati gurunya Bawuk Raga Ginting telah terlalu dan terlilit rotan.

"Sialan! Apa yang telah terjadi...?" seru

Gembong Raja Muda seraya melangkah mendekati Bawuk Raga Ginting.

Bawuk Raga Ginting yang saat itu tengah pasrah putus asa, karena tidak bisa membebaskan diri dari lilitan rotan di tubuhnya membuka kelopak matanya begitu mendengar seruan dan langkah-langkah yang mendekati ke arahnya.

Sepasang mata Bawuk Raga Ginting sertamerta membesar dan harapannya kembali merasuki dadanya tatkala dapat mengenali siapa adanya orang yang melangkah.

"Pandu! Cepat singkirkan rotan keparat ini!" kata Bawuk Raga Ginting dengan suara parau serak.

Sejenak Gembong Raja Muda tegak memperhatikan. Dalam hati sebenarnya dia berkata seraya melecehkan.

"Kalau saja tidak mengingat jasamu, akan kubiarkan tubuhmu tewas dengan terbelit rotan "

"Pandu! Kau dengar ucapanku bukan...? Kenapa masih enak-enakan berdiri? Cepat bebaskan aku!" kembali Bawuk Raga Ginting berseru.

Dengan agak berat, Pandu alias Gembong Raja Muda melangkah lebih dekat lalu jongkok dan hendak melepaskan rotan yang membelit tubuh gurunya. Namun, betapa terkejutnya pemuda ini. Belitan rotan pada tubuh gurunya tidak mudah dilukar begitu saja. Bahkan meski Pandu telah kerahkan tenaga dalamnya.

"Keparat! Ini bukan belitan biasa. Pastilah

yang melakukan ini adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Hmm.... Siapa dia? Pendekar 108? Atau orang lain...?" lalu Pandu utarakan apa yang ada di hatinya pada gurunya.

"Itu bisa kita bicarakan nanti!" jawab Bawuk Raga Ginting ketika mendengar pertanyaan Pandu. "Sekarang bebaskan dulu!"

Meski dalam hati memaki panjang pendek, Pandu laksanakan juga perintah gurunya. Namun lagi-lagi dia belum bisa melukar lilitan rotan itu.

"Ambil tombak itu! Dan gunakan untuk memutus," kata Bawuk Raga Ginting seraya arahkan pandangannya pada tombaknya yang tergeletak.

Dengan keluarkan dengusan pertanda tidak senang dengan perintah gurunya Pandu bangkit lalu melangkah ke arah tergeletaknya tombak. Dipungutnya tombak itu dan kembali mendekati gurunya.

"Tua sialan! Sekali lagi kau keluarkan katakata meradang, kutampar mulutmu!" gumam Pandu dengan mata memandang pada jurusan lain.

Setelah dekat, Pandu kerahkan tenaga dalam lalu....

Tasss! Taasss! Tasss!

Rotan yang melilit tubuh Bawuk Raga Ginting rantas sebelum akhirnya putus. Bawuk Raga Ginting oleng sebentar lalu jatuh miring di atas tanah.

"Muridku!" berkata Bawuk Raga Ginting dengan suara perlahan. Mungkin dia merasa ada perubahan pada Pandu hingga suaranya kini perlahan bahkan seakan meratap. "Bantu aku salurkan hawa murni "

Melihat dan mendengar nada ratapan Bawuk Raga Ginting, Pandu akhirnya kerahkan tenaga hawa murninya, lalu kedua telapak tangannya ditempelkan pada dada Bawuk Raga Ginting.

Beberapa saat berlalu, Bawuk Raga Ginting terlihat gerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya. Pandu tarik pulang tangannya. Dan perlahanlahan pula Bawuk Raga Ginting bergerak duduk. Kedua pundaknya digerak-gerakkan, kepalanya dipalingkan ke kanan dan kiri.

Merasa tubuhnya sudah agak baik. Bawuk Raga Ginting bergerak bangkit. Sesaat memang bisa tegak berdiri, namun sesaat kemudian kedua kakinya tampak meliuk. Bawuk Raga Ginting coba atasi dengan kerahkan tenaga dalam, namun gagal, hingga tanpa ampun lagi tubuhnya jatuh terduduk.

"Bangsat! Ini gara-gara pukulan pendekar keparat itu!" maki Bawuk Raga Ginting seraya takupkan kedua tangannya mengatasi getaran dadanya yang berdenyut nyeri.

Selagi Bawuk Raga Ginting mengatasi dirinya, Dewi Bunga Iblis yang ada tak jauh dari sampingnya dan tubuhnya terbelit selendang merah buka mulut.

"Pemuda! Kuharap kau mau menolongku juga dari belitan selendang keparat ini!"

Pandu yang sedari tadi sudah tahu namun tak ambil peduli segera palingkan wajahnya. Tapi dia hanya memandang dengan bibir tersenyum sinis dan sepertinya enggan meladeni ucapan Dewi Bunga Iblis, membuat perempuan ini memaki dalam hati. Namun karena mengharapkan pertolongan, makiannya tak diucapkan, justru yang ditunjukkan adalah wajah murung dan putus asa.

"Pemuda! Sekali lagi kuharap kau sudi membebaskan diriku!" suara Dewi Bunga iblis seperti tercekat di tenggorokan.

Lagi-lagi Pandu hanya memandang dengan senyum sinis. Namun pada akhirnya Pandu buka mulut, tapi pandangannya ke arah lain. "Siapa kau...?"

"Setan alas! Dimintai pertolongan saja masih tanya-tanya! Awas kau!" kata Dewi Bunga Iblis dalam hati.

"Aku disebut orang Dewi Bunga Iblis!"

Meski dalam hati diam-diam terperangah kaget mendengar sang perempuan sebutkan dirinya, namun Pandu tak memperlihatkan wajah terkejut. Malah bibirnya tersenyum lebar dan keluarkan tawa perlahan.

"Heran. Tentunya kau manusia yang mengaku-aku sebagai Dewi Bunga Iblis. Karena menurut yang kudengar manusia berjuluk Dewa Bunga Iblis adalah tokoh yang kepandaiannya sulit dijajaki. Tapi bagaimana tokoh yang begitu tinggi ilmunya tidak bisa melepaskan diri dari belitan selendang butut?"

Kembali Dewi Bunga Iblis memaki dalam hati. Lalu berkata. "Dengar pemuda! Belitan yang di tubuhku serta yang baru saja terlepas dari tubuh gurumu, bukan sembarangan belitan. Ini dilakukan oleh Dewi Kayangan! Tanpa pertolongan orang lain yang bertenaga dalam tinggi, mustahil seseorang dapat terbebas!"

Pandu kembali terkejut mendengar penuturan Dewi Bunga Iblis, dahinya berkerut.

"Dewi Kayangan...? Kabarnya tokoh itu adalah orang yang tidak ada tanding. Hmm..,. Kalau manusia itu telah pula ikut-ikutan dalam masalah perebutan Arca Dewi Bumi, arca itu nyata-nyata luar biasa kesaktiannya!"

"He. Lekas ambil tombak itu dan bebaskan aku!" teriak Dewi Bunga Iblis saat dilihatnya Pandu masih tak beranjak dari tempatnya.

"Perempuan konyol! Kau tak berhak memerintah aku! Kau sekarang sedang dalam keadaan di ujung tanduk. Kalaupun aku pergi dari sini maka jiwamu tinggal menunggu malaikat pencabut nyawa!"

Dewi Bunga Iblis terdiam.

"Hmm.... Sialan betul! Apa hendak dikata, kalau dia atau Bawuk Raga Ginting tak mau menolongku...," Dewi Bunga Iblis tak meneruskan kata hatinya karena saat itu dilihatnya Pandu melangkah mendekati.

"Dengar! Aku mau menolongmu dengan syarat!" kata Pandu seraya memperhatikan Dewi Bunga Iblis.

Dewi Bunga Iblis mengernyit. Dalam hati dia menyumpah habis-habisan. Namun karena mengharapkan pertolongan, akhirnya dia berkata. "Katakan syaratmu!"

Gembong Raja Muda atau Pandu tidak segera menjawab. Sebaliknya dia ajukan pertanyaan. "Mengapa kau menerima syarat ku?!"

Dewi Bunga Iblis sepertinya tak dapat lagi menahan rasa jengkelnya. Dengan mata membeliak angker dia menjawab.

"Anak muda! Kulihat kedua matamu tidak buta. Juga tadi telah kukatakan bahwa tanpa pertolongan orang lain yang punya tenaga dalam tinggi belitan ini tak bisa lepas. Apa hal itu belum cukup untuk sebuah alasan mengapa aku menerima syaratmu?!"

Mendengar ucapan Dewi Bunga Iblis, Pandu bukannya menjadi marah, malah dia terlihat tertawa.

"Hmm.... Kalau begitu nyawamu tergantung padaku. Benar...?!"

"Banyak mulut! Kalau kau tak mau menolong, lekas pergi dari sini!" kejengkelan Dewi Bunga Iblis habis sudah. Seraya berkata begitu pandangannya dialihkan pada jurusan lain.

Pandu tanpa berpaling lagi segera balikkan tubuh hendak melangkah ke arah Bawuk Raga Ginting, namun langkahnya tertahan tatkala terdengar seruan Dewi Bunga Iblis.

"Anak muda! Tunggu!"

"Ada yang ingin kau katakan...?" kata Pandu tanpa balikkan tubuh.

"Ucapanmu benar. Nyawaku tergantung padamu! Sekarang katakanlah apa syarat yang kau minta!"

"Kau benar-benar perempuan sialan. Mengaku saja masih menimbang-nimbang segala macam!" desis Pandu seraya balikkan tubuh menghadap Dewi Bunga Iblis.

"Dengar baik-baik!" kata Pandu dengan senyum sinis. "Sebagai tokoh kau pasti telah tahu manusia keparat bergelar Pendekar Mata Keranjang 108. Kalau nyawamu ingin selamat, kau harus dapat membawa kepala manusia keparat itu padaku! Kau kuberi waktu sepuluh purnama mulai sekarang. Jika kau berhasil kau bisa menemuiku di Lembah Bandar Lor! Bagaimana...?!"

Dewi Bunga Iblis tampak terkejut. Dia tak menyangka akan syarat yang diajukan Pandu. Namun karena ingin terbebas dia sengaja menyembunyikan rasa kejutnya meski dalam hati dia berkata.

"Setan alas betul anak ini! Akan kuterima syarat yang dia ajukan. Tapi setelah aku terbebas, jangan mimpi kau bisa memeras ku begitu rupa! Aku memang akan memenggal kepala Pendekar 108, namun bukan karena perintahmu. Aku punya masalah sendiri. Lebih dari itu aku menginginkan arca yang sekarang ada di tangannya...," batin Dewi Bunga iblis, lalu berkata.

"Anak muda! Kalau hanya itu syaratnya, satu purnama saja telah cukup. Dan aku akan membawa kepala Pendekar 108 ke tempat yang kau tentukan!"

"Baik. Aku memberimu waktu sampai sepuluh purnama, kalau kau bisa satu purnama itu lebih baik...," habis berkata Pandu balikkan tubuh dan melangkah ke arah Bawuk Raga Ginting yang masih tampak duduk sambil pejamkan sepasang matanya salurkan tenaga dalam. Diambilnya tombak yang tergeletak di sampingnya, lalu balik lagi ke arah Dewi Bunga Iblis. Dewi Bunga Iblis terlihat tersenyum.

Namun senyum Dewi Bunga Iblis tiba-tiba berubah menjadi senyum kecut. Dahinya berkerut, sementara sepasang matanya tak kesiap memandangi Pandu yang bukannya cepat membebaskan dirinya, melainkan hentikan langkah dan menarik gagang tombak yang tampak menggelembung. Begitu gagang tombak tertarik, tampak lobang di pangkal gelembungnya. Dari lobang itu Pandu tampak mengeluarkan tiga butiran kecil berwarna hitam.

"Racun...," desis Dewi Bunga Iblis dengan wajah pias. "Gila! Apa yang hendak dilakukan bangsat ini padaku! Meracuni ku...? Keparat!"

Setelah memasang kembali gagang tombak, Pandu arahkan pandangannya pada Dewi Bunga Iblis yang tampak semakin pucat pasi. Pandu tertawa penuh ejekan.

"Dewi Bunga Iblis. Aku tidak percaya begitu saja pada mulut orang!"

"Apa maksudmu...?"

"Kau telah menerima syarat ku. Tapi itu di mulutmu. Dalam hati siapa tahu ini hanya muslihatmu saja agar kuselamatkan. Nah, ini adalah racun ganas. Racun ini akan bekerja setelah sepuluh purnama. Jika dalam waktu itu kau tidak menemuiku, maka kau tahu sendiri akibatnya!" "Bangsat licik! Kau benar-benar meme-

rasku!" seru Dewi Bunga Iblis dengan sepasang mata terbeliak.

Pandu tengadahkan kepala. Tawanya terdengar panjang dan bernada mengejek.

"Terserah apa katamu. Memilih mati terbelit selendang atau menerima syarat yang ku ajukan!"

Mulut Dewi Bunga Iblis komat-kamit. Terdengar gumamannya yang tak jelas ditangkap telinga. Setelah agak lama dia berkata.

"Baiklah! Syaratmu kuterima!"

"Bagus!" kata Pandu dengan tersenyum. Dia lalu mendekat ke arah Dewi Bunga Iblis. "Buka mulutmu!" serunya. Seraya menimang-nimang butiran hitam di telapak tangan kanannya.

Dengan paras merah mengelam dan mata mendelik, Dewi Bunga Iblis buka mulutnya. Sertamerta bersamaan dengan itu Pandu gerakkan tangan kanannya. Tiga butiran hitam itu langsung melesat dan masuk ke mulut Dewi Bunga Iblis.

Dewi Bunga Iblis diam-diam kerahkan tenaga dalamnya, hingga butiran hitam tadi tersangkut dilehernya. Namun Pandu ternyata lebih cerdik. Begitu butiran masuk, dia segera melangkah lebih dekat. Dan tanpa diduga sama sekali oleh Dewi Bunga Iblis, tangan kanan Pandu bergerak memukul tengkuk perempuan ini.

Heeekkk!

Dewi Bunga Iblis keluarkan suara laksana orang tercekik. Bersamaan dengan itu butiran yang tersangkut di lehernya menerabas masuk ke perutnya!

"Jangan mimpi kesiangan jika kau akan menipuku!" kata Pandu seraya tertawa mengekeh. Dia lalu melangkah ke balik pohon, lalu kerahkan tenaga dalam dan serta-merta tombak di tangannya diayunkan pada selendang yang membelitkan tubuh Dewi Bunga Iblis pada batang pohon.

Begitu selendang itu robek terbelah, tubuh Dewi Bunga Iblis jatuh bergulingan. Begitu gulingannya terhenti, Dewi Bunga Iblis tampak terlentang seraya berulang kali menarik napas panjangpanjang berusaha menghirup udara segar dan melepas rasa sesak yang hampir dua puluh sembilan hari menghimpit dadanya.

"Sekarang kau bebas! Tapi dalam jangka waktu yang ku tentukan kau tidak datang ke tempatku, tubuhmu akan hancur satu persatu! Kau dengar?!"

Dewi Bunga Iblis tidak menyahut. Hanya bahunya yang tampak turun naik menghirup dan menghembuskan udara. Sepasang matanya lantas berpaling pada Pandu, namun dia masih belum juga keluarkan suara. Sesaat kemudian, dia bangkit dan duduk dengan kedua tangan saling menakup, kerahkan tenaga dalam untuk memulihkan tubuhnya. Setelah dirasa tubuhnya agak normal, Dewi Bunga Iblis bergerak berdiri.

"Kenapa kau menginginkan kepala manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108? Kau menginginkan arca itu...?!" Dewi Bunga Iblis ajukan pertanyaan.

Mendengar kata-kata Dewi Bunga Iblis, paras wajah Pandu berubah sesaat. Dia tak menyangka sama sekali jika Arca Dewi Bumi telah jatuh ke tangan Pendekar108.

"Anjing buduk! Jadi keparat itu telah berhasil mendapatkan arca itu!" maki Pandu dalam hati. Kepalanya lantas berpaling menatap Dewi Bunga Iblis.

"Dewi Bunga Iblis! Persyaratan mu bertambah satu lagi!"

"Apa maksudmu...?! Jangan kau main-main dengan ingkar janji!" seru Dewi Bunga Iblis.

"Dewi Bunga iblis! Ingat. Nyawamu ada di tanganku. Kau tak usah banyak mulut. Aku yang kuasa atas dirimu!. Pasang telingamu baik-baik. Selain kepala manusia keparat itu, kau juga harus merampas arca itu dan menyerahkan padaku! Kau dengar?!"

"Bedebah! Edan! Kau licik!" teriak Dewi Bunga Iblis dengan mata mendelik.

Pandu tertawa bergelak. Lalu tanpa pedulikan lagi dia balikkan tubuh dan melangkah ke arah Bawuk Raga Ginting yang tampak telah membuka kelopak matanya.

Di belakangnya, seraya mengomel tak karuan Dewi Bunga Iblis segera pula balikkan tubuh dan tinggalkan tempat itu.

"Pandu! Kau benar-benar cerdik!" puji Bawuk Raga Ginting. Manusia bertubuh cebol ini lantas bergerak hendak berdiri, namun lagi-lagi sepasang kakinya oleng, dan tubuhnya hendak terjatuh kembali. Namun sebelum tubuhnya jatuh Pandu telah melompat dan tanpa banyak bicara lagi menangkap tubuh gurunya itu dan dipanggulnya di atas pundak.

"Kau terluka parah. Kau harus istirahat dahulu!" kata Pandu seraya melangkah meninggalkan tempat itu. Dan apa yang dikatakan Pandu benar adanya. Baru saja tiga langkahan kaki, Bawuk Raga Ginting donggakkan kepalanya yang ada di dada Pandu. Dari mulutnya muncrat darah kehitam-hitaman, pertanda dia terluka dalam yang cukup parah.

"Kita harus cepat sampai ke Bandar Lor!" kata Pandu, lalu berkelebat.

***

Sementara itu, jauh sebelum kedatangan Pandu ke lereng Gunung Kembar, Singa Betina Dari Timur telah meninggalkan lereng gunung itu dengan membopong tubuh saudara seperguruannya, Bidadari Bertangan Iblis yang telah tewas terkena hujaman keris hitam Jogaskara. (Mengenai kematian Bidadari Bertangan Iblis silakan baca serial Pendekar Mata keranjang 108 dalam episode "Arca Dewi Bumi").

Singa Betina Dari Timur terus melangkah tak tentu arah tujuan. Seraya melangkah dia tak henti-hentinya terisak menyesali tewasnya Bidadari Bertangan Iblis. Bahkan tak jarang dia hentikan langkahnya, lalu meletakkan tubuh saudara seperguruannya di tanah, lalu diguncangguncangnya bahu saudara seperguruannya itu sambil panggil-panggil namanya. Namun karena telah tewas, yang diguncang hanya diam. Setelah lima hari melakukan perjalanan tak tentu arah, pada sebuah tempat yang sepi, Singa Betina Dari Timur menemukan sebuah gubuk.

Di gubuk itulah berhari-hari Singa Betina Dari Timur menekuri nasibnya serta Bidadari Bertangan Iblis. Dia sengaja tak segera menguburkan jasad saudara seperguruannya, karena dia seakan masih tak percaya dengan kematian Bidadari Bertangan Iblis. Bahkan tiap kali dia panggil-panggil nama Bidadari Bertangan Iblis malah tak jarang kerahkan tenaga dalamnya untuk mencoba membangunkan.

Sementara tubuh Bidadari Bertangan Iblis terlihat masih utuh dan tidak berbau, ini karena Singa Betina Dari Timur terus menerus masukkan hawa murni ke dalam tubuh Bidadari Bertangan Iblis. Namun menginjak hari ke dua puluh delapan, tubuh Bidadari Bertangan Iblis mulai menebarkan bau tak sedap meski Singa Betina Dari Timur telah masukkan hawa murni. Bahkan sedikit demi sedikit, tubuh Bidadari Bertangan Iblis tampak berubah menghitam.

Sadar bahwa Bidadari Bertangan Iblis tak bisa didiamkan, maka pada hari ke tiga puluh, Singa Betina Dari Timur menguburkan jenazah saudara seperguruannya itu. Namun baru saja tubuh Bidadari Bertangan Iblis disemayamkan, muncullah Pandu alias Gembong Raja Muda. TUJUH

Bersabar sedikit, Gadis Cantik! Sebentar lagi kau akan merasakan nikmatnya malam pertama. Dan tentu kau akan keterusan lalu minta lagi!" kata Gembong Raja Muda seraya melangkah pelan dan tertawa bergelak-gelak. Tangan kanannya bergerak mengusap punggung Singa Betina Dari Timur yang ada di pundaknya, hingga tubuhnya sedikit tertekan dan membuat buah dadanya menempel ketat pada dada Gembong Raja Muda.

Sementara Singa Betina Dari Timur hanya bisa memaki habis-habisan dalam hati. Bahkan mungkin karena kesalnya, sepasang matanya terlihat merebak merah dan berkaca-kaca.

"Bidadari Bertangan Iblis! Daripada harus mengalami nasib seperti ini, lebih baik aku menyusulmu...," bisik Singa Betina Dari Timur dalam hati seraya pejamkan lagi sepasang matanya, karena tangan Gembong Raja Muda telah merambah ke arah pinggulnya.

Namun gerak langkah kaki Gembong Raja Muda tertahan, karena mendadak saja terdengar suara tawa terkekeh panjang melingkupi tempat itu, Gembong Raja Muda hentikan langkah. Tangannya yang mulai merambat ke pinggul Singa Betina Dari Timur dia turunkan. Parasnya terlihat sedikit tegang, sedangkan kedua matanya liar menyapu ke kanan kiri, sementara telinganya dia tajamkan baik-baik. Dia merasa bahwa suara tawa itu bukan suara tawa biasa, karena kedua kakinya yang menginjak tanah terasa bergetar hebat, mengisyaratkan siapa pun orang yang mengeluarkan tawa, bisa dipastikan bukan orang sembarangan dan memiliki tenaga dalam yang sempurna.

Menangkap gelagat tidak baik, Gembong Raja Muda segera kerahkan tenaga dalam dan bergerak menyelinap ke balik sebuah pohon. Dari sini sepasang matanya menebar berkeliling. Kedua tangannya telah disiapkan untuk kirimkan serangan. Namun murid Bawuk Raga Ginting ini jadi tergagu sendiri, karena sepasang matanya tak menemukan sosok manusia! Dan tak ada tandatanda akan munculnya seseorang!

"Heran. Aku jelas-jelas mendengar suara tawa. Dan pasti orangnya tidak jauh dari tempat ini karena suaranya begitu keras! Tapi Mataku

tak dapat menemukan batang hidungnya, telingaku tak dapat menentukan di mana beradanya! Keparat jahanam! Siapa dia...?!" maki Gembong Raja Muda dalam hati. Sepasang matanya lalu memandang pada tubuh Singa Betina Dari Timur yang digeletakkan di samping kakinya. Lalu sekali lagi menebar berkeliling. Dan begitu matanya tak lagi menemukan orang, dia diam sesaat menunggu. Dan setelah ditunggu agak lama tak juga ada tanda-tanda munculnya seseorang, Gembong Raja Muda memutuskan untuk membopong Singa Betina Dari Timur kembali.

"Mungkin hanya telingaku yang terpengaruh oleh suara tawaku sendiri!" Gembong Raja Muda menentramkan hatinya. Lalu membungkuk hendak meraih Singa Betina Dari Timur. Saat itulah kembali terdengar suara tawa mengekeh panjang. Kemudian terdengar Suara.

"Pengalaman pertama memang sulit dilupakan. Tapi apa enaknya jika dilakukan dengan paksa...? Malah-malah hanya basah kuyup dan ngosngosan..."

Mendengar suara itu, Singa Betina Dari Timur berubah parasnya menjadi merah padam. Namun dia merasa sedikit lega, karena keinginan Gembong Raja Muda setidaknya bisa tertunda, walau hatinya masih sangat cemas.

Kalau Singa Betina Dari Timur sedikit lega, tidak demikian halnya dengan Gembong Raja Muda. Begitu terdengar suara yang melecehkan, sepasang kakinya dibantingkan ke atas tanah. Tanah itu terbongkar dan meninggalkan kubangan membentuk telapak kaki sedalam mata kaki. Dengan busungkan dada dan mata nyalang, Gembong Raja Muda membentak.

"Anjing keparat! Kenapa hanya berani berkoar tapi takut unjukkan diri? Keluarlah dari persembunyianmu!"

Suara tawa kembali terdengar membahana. Namun tiba-tiba lenyap. Yang terdengar kemudian adalah suara bernada teguran.

"Pandu! Kau sepertinya tak ada puaspuasnya soal perempuan. Apakah rasanya memang enak?!"

Mendengar orang sebutkan namanya, diamdiam sirap juga darah Pandu. Keningnya berkernyit.

"Sialan! Dia mengenaliku, berarti aku tahu siapa dia! Setidak-tidaknya aku pernah berjumpa dengannya. Hmmm.... Siapa dia?" Pandu terdiam untuk beberapa lama seraya menduga-duga dan menunggu kemunculan orang. Namun setelah agak lama tak juga ada orang menunjukkan diri, kembali Pandu berteriak.

"Kau telah mengenaliku, kenapa masih berlaku pengecut tak menampakkan tampangmu?!"

"Apakah kau tidak akan merasa malu bertemu muka denganku lagi dalam masalah yang sama...? Soal perempuan! Ha... ha... ha...!"

Kemarahan Pandu tak dapat dipertahankan lagi. Dengan sekali kelebat tubuhnya telah keluar dari balik pohon. Sejenak sepasang matanya menyapu ke sekitar tempat itu. Tiba-tiba kedua tangannya disentakkan ke samping kanan.

Wuuttt!

Gelombang angin deras menyambar keluar dart tapak tangannya. Semak belukar, ranting serta daun-daun pohon di samping kanannya tahutahu telah bertebaran dan sekejap kemudian berubah menjadi serpihan kecil-kecil yang langsung lenyap tertiup angin!

Bersamaan dengan lenyapnya serpihan, di belakang Pandu tiba-tiba terdengar orang tertawa. Secepat kilat Pandu balikkan tubuh dan siapkan serangan.

Namun begitu tahu siapa adanya orang di belakangnya, Pandu urungkan niat, malah bibirnya sunggingkan senyum lebar. Meski dalam hati dia sempat terperangah

Di hadapannya kini tegak seorang pemuda berwajah tampan. Mengenakan pakaian hijau dengan rambut panjang dikucir ekor kuda. Sepertinya acuh saja pemuda ini tak memandang pada Pandu, malah tersenyum-senyum dengan pandangan ke jurusan lain sambil berkipas-kipas.

"Nasibku mujur sekali. Dicari-cari ke seluruh pelosok tahu-tahu bertemu di sini. Perhitungan waktu silam belum selesai!" paras Pandu mendadak berubah. Dagunya mengembang dengan geraham gemeletak saling beradu.

"Pendekar Mata Keranjang jahanam! Sekarang tiba waktunya penentuan di antara kita yang berhak penghuni kubur terlebih dahulu!"

Pemuda berbaju hijau yang bukan lain memang Pendekar Mata Keranjang 108 palingkan wajah. Bibirnya masih tetap sunggingkan senyum. Sementara tangan kanannya pulang balik di depan dada berkipas-kipas. Dari mulutnya tidak terdengar sahutan suara. Hanya sepasang matanya kini memperhatikan Pandu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tiba-tiba dari mulutnya mengumbar suara tawa keras membahana.

"Pandu! Tidak pantas rasanya kita yang masih muda-muda ini harus membicarakan kuburkubur! Terus terang aku ngeri mendengarnya. Bagaimana kalau penentuan itu kita tunda saja? Kecuali kalau kau memang sudah bosan dengan kenikmatan hidup! Apakah kau sudah bosan...?!"

Pandu tengadahkan kepala. Dari mulutnya terdengar tawa menggembor keras.

"Aku tahu, kau takut padaku! Hmm....

Baiklah kalau itu maumu! Namun kau harus cepat tinggalkan tempat ini! Juga tinggalkan arca yang ada padamu!"

"Hmm.... Begitu? Dengar, Pandu! Kau terlambat. Benda itu telah kuberikan pada seorang gadis cantik! Kau tahu, sebagai orang muda, kita tentu punya selera sama!"

"Hmm,... Jika begitu yang bisa meninggalkan tempat ini hanya nyawamu!" seru Pandu seraya tarik ke belakang kaki kanannya sementara tangan kiri kanan dikembangkan siap lancarkan pukulan.

"Mana bisa begitu...? Aku justru harus meninggalkan tempat ini dengan membawa gadis berbaju hijau itu! Aku pun tertarik padanya!" kata Aji masih dengan senyum-senyum.

Sementara itu di balik pohon, mendengar percakapan orang, tengkuk Singa Betina Dari Timur makin merinding. Keringat dingin makin membasahi sekujur tubuhnya. "Malang benar nasibku. Lepas dari mulut singa, masuk ke mulut harimau! Bidadari Bertangan Iblis.... Jika demikian nasibku, aku memilih menyusulmu...," kembali dari sudut mata gadis cantik ini merebak air bening.

Di seberang, mendengar kata-kata Pendekar Mata Keranjang, Pandu alias Gembong Raja Muda pelototkan sepasang matanya. Dia tampaknya masih belum memulai serangan. Karena diam-diam dalam hati pemuda ini timbul juga rasa jerih.

"Dia telah berhasil mendapatkan arca. Arca yang dikabarkan mempunyai isi jurus-jurus hebat. Hmm Menurut perhitungan, telah satu purnama arca itu ada di tangannya. Berarti dia telah berhasil mempelajari isinya Sialan! Tapi semua ini be-

lum terbukti. Apa yang perlu ditakutkan ?"

"Kau tampaknya memikirkan sesuatu. Adakah kau menimbang-nimbang tawaranku ? Kura-

sa itu memang lebih baik! Setelah aku, kau bisa memakai gadis itu! Sepuasmu!" berkata Aji setelah dilihatnya Pandu terdiam hingga beberapa lama.

"Keparat! Kau boleh ambil gadis itu! Tapi tinggalkan arca itu!"

Pendekar 108 kembali keluarkan tawa panjang, malah sambil kerjap-kerjapkan matanya.

"Tawaranku tidak begitu! Aku meninggalkan tempat ini dengan membawa gadis itu dan tanpa syarat apa pun!"

Gembong Raja Muda angkat kepalanya. "Meski kau sekarang bernama besar, jangan mimpi kau bisa mengatur ku! Lekas serahkan arca itu padaku! Atau kau akan mampus tanpa merasakan gadis itu!"

Pendekar 108 gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak bisa. Tidak bisa.... Aku memang tak bermimpi bisa mengatur mu. Tapi kau harus turuti tawaranku! Kau tahu kata harus, bukan ?!"

"Kau benar-benar minta tewas!" hardik Gembong Raja Muda. Kedua tangannya dihantamkan ke arah Pendekar 108. Bersamaan dengan itu gelombang angin dahsyat yang menghamparkan hawa panas serta suara menggemuruh melesat. Hebatnya, larikan-larikan bersitan sinar hitam melesat mendahului gelombang angin. Di depan, Pendekar Mata Keranjang 108 masih tampak tegak seakan terkesima, membuat Gembong Raja Muda tersenyum dan berteriak. "Mampus kau!"

Namun begitu setengah depa lagi pukulan Gembong Raja Muda menghajar tubuh Pendekar 108, tiba-tiba dengan gerakan cepat murid Wong Agung angkat kaki kanannya. Lalu dengan mengandalkan kaki kiri sebagai tumpuan tubuh, dia memutar tubuhnya dan tangan kanannya menebar kipas.

Werrrr!

Sinar putih berkilau membentuk lingkaran kipas menebar dengan keluarkan suara laksana gelombang ombak.

Di seberang, senyum Gembong Raja Muda lenyap seketika. Karena baik bersitan sinar hitam serta gelombang angin yang keluar dari kedua tangannya tertahan di udara, malah ketika Pendekar 108 mendorong tangan kirinya, bersitan sinar hitam serta gelombang angin mental balik dan kini menyambar ke arahnya!

Dengan menindih rasa terkejut, Gembong Raja Muda cepat jejakkan sepasang kakinya ke tanah. Tubuhnya melenting ke udara. Namun betapa terkejutnya murid Bawuk Raga Ginting ini. Karena ternyata Pendekar 108 telah tebarkan kipasnya kembali! Hingga dari bawah dan atas tampak gelombang angin menyambar ke arahnya!

"Jahanam bangsat!" maki Gembong Raja Muda dari atas udara. Untungnya dalam keadaan yang demikian, dia masih sempat putar otak untuk menghindar. Maka dengan kerahkan tenaga dalamnya, dia sentakkan bahunya ke belakang hingga tubuhnya tertarik deras ke belakang. Dan tanpa membuang waktu lagi, dia segera hantamkan kembali kedua tangannya.

Blarrr!

Terdengar ledakan dahsyat tatkala dua pukulan bertemu di udara. Pendekar 108 tampak tersurut dua tindak, sementara Gembong Raja Muda terus melesat ke belakang. Dan begitu di belakangnya tampak sebatang pohon, kedua kakinya disentakkan ke belakang!

Braakkk!

Pohon besar itu berderak dan tumbang. Namun bersamaan dengan itu tubuh Gembong Raja Muda membal balik dan meleset ke depan dengan cepat!

"Edan! Ternyata ilmunya telah bertambah dengan pesat!" gumam Pendekar 108 seraya tengadah mencari sosok Gembong Raja Muda, karena begitu cepatnya lesatan Gembong Raja Muda hingga sosoknya seakan lenyap!

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 tengadah mencari, tiba-tiba Gembong Raja Muda telah menerjang ke arahnya. Kedua kakinya melejang sementara kedua tangannya siap menghantam ke arah kepala dari atas!

Karena demikian dekatnya sosok Gembong Raja Muda, hingga terlalu beresiko jika membuat gerakan menghindar. Berpikir sampai di situ, Pendekar 108 takupkan kipasnya. Kakinya dibantingkan ke atas tanah. Dan saat tubuhnya membumbung satu tombak di atas udara, kedua tangannya dihantamkan ke depan memapak hantaman kedua tangan lawan!

Terdengar benturan keras ketika dua pasang tangan beradu di udara. Tangan Pendekar 108 maupun tangan Gembong Raja Muda terlihat sama-sama mental ke belakang. Namun kejap itu juga Gembong Raja Muda kerahkan tenaga dalam lalu hantamkan kembali kedua tangannya. Melihat hal itu murid Wong Agung tak tinggal diam. Tenaga dalamnya dikerahkan pada kedua tangannya lalu dihantamkan pula ke depan! Hal demikian terjadi berulang-ulang di udara! Hingga saat itu berulang-ulang terdengar suara benturan. Dan baru terhenti tatkala terdengar suara pekikan lengking dari mulut Gembong Raja Muda bersamaan dengan terpentalnya tubuhnya ke belakang lalu jatuh terkapar di atas tanah!

Di depan, bersamaan dengan terpentalnya tubuh Gembong Raja Muda, Pendekar 108 terlihat tubuhnya terputar lalu menukik dengan deras ke bawah. Untung murid Wong Agung ini masih sempat membuat gerakan jumpalitan, hingga meski terjatuh namun dengan posisi kaki kanan tertekuk sebatas lutut, sementara kaki kiri lurus sejajar tanah.

Sejenak Pendekar Mata Keranjang 108 geleng-gelengkan kepalanya. Lalu tangan kanannya kembali berkipas-kipas, dari mulutnya terdengar ucapan.

"Pandu! Semasa pikiranku masih jernih, lekas tinggalkan tempat ini! Juga gadis itu! Kau boleh pergi hanya berbekal tubuh gurumu!" Gembong Raja Muda keluarkan seringai bu-

ruk. Dari hidungnya terdengar suara dengusan keras. Sambil menahan sakit pada kedua tangannya yang tampak merah kehitaman, dia sengatkan sepasang matanya pada Aji.

"Bangsat keparat! Kau tak bisa begitu saja memerintahku. Aku belum kalah!" habis berkata begitu, Gembong Raja Muda tekankan kedua sikunya ke atas tanah. Tubuhnya yang tergeletak mendadak sontak membumbung ke udara! Dan tahu-tahu Pendekar 108 merasakan desiran angin di atas kepalanya. Bersamaan dengan itu sepasang kaki telah menerjang deras dengan keluarkan deru dahsyat.

"Sapu Bumi!" seru Pendekar Mata Keranjang mengenali pukulan kaki Gembong Raja Muda. Seraya berseru, murid Wong Agung cepat tarik tubuhnya ke belakang hingga tubuhnya sejajar tanah. Dan secepat itu pula kedua kakinya diangkat dan dihantamkan ke atas. 

Prakkk! Praakkkk!

Gembong Raja Muda melengak kaget. Terjangan kedua kakinya yang memang memainkan jurus 'Sapu Bumi' dapat dipatahkan Pendekar

108. Bahkan tubuhnya mencelat kembali ke belakang dan terhempas di atas tanah!

"Keparat! Dari mana dia mengenali pukulanku? Dan dia juga mainkan jurus 'Sapu Bumi'...," gumam Gembong Raja Muda seraya usap dadanya yang terasa bergetar dan melirik pada kedua kakinya yang tampak menggembung merah! Di seberang, Pendekar 108 terlihat meringis. Kedua kakinya terasa berdenyut sakit dan tampak membiru. Memang, Aji baru saja memapak serangan Gembong Raja Muda dengan jurus ‘Sapu Bumi’ yang berhasil dipelajarinya dari Gongging Baladewa, yang sebenarnya adalah guru Bawuk Raga Ginting.

Setelah kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi rasa sakit pada kaki dan tangannya, Aji maju dua tindak dan berkata.

"Pandu! Batas kesabaranku telah tipis! Waktumu tinggal sedikit lagi. Kalau kau tidak tinggalkan tempat ini, jangan menyesal jika kau akan tewas bersama gurumu!" gertak Pendekar 108 sambil simpan kipasnya.

Gembong Raja Muda yang diam-diam juga merasa kecut segera bangkit terhuyung-huyung. Namun dia tak segera melangkah pergi, malah sepasang matanya memandang tajam pada Pendekar 108.

"Tunggu apa lagi?" kata Aji dengan tersenyum, meski senyum itu sedikit dipaksakan karena merasakan sakit pada kedua kakinya.

Gembong Raja Muda melengos dengan mata berkilat. Lalu melangkah ke arah Bawuk Raga Ginting yang digeletakkan di semak belukar.

Bersamaan dengan melangkahnya Gembong Raja Muda, Pendekar 108 berkelebat ke balik pohon di mana Singa Betina Dari Timur berada.

Begitu Singa Betina Dari Timur tahu siapa adanya orang yang muncul, dadanya berdegup kencang. Bibirnya mengatup rapat-rapat. Sepasang matanya memperhatikan dengan pandangan aneh.

"Dia.... Apakah.... Apakah dia juga akan berbuat seperti Gembong Raja Muda...? Mendengar percakapannya tadi.... Ah, tak kusangka. Ka-

lau dia memang hendak berniat tidak baik, aku..,," gadis ini tidak teruskan kata hatinya karena Pendekar Mata Keranjang 108 telah berdiri di sampingnya seraya tersenyum.

"Singa Betina Dari Timur.... Kau tak usah takut! Aku akan membebaskan mu!"

Singa Betina Dari Timur tampak sipitkan sepasang matanya. Meski wajahnya tampak agak cerah, namun kebimbangan belum lenyap juga dari parasnya. Malah ketika Aji bergerak jongkok dan ulurkan tangannya untuk membebaskan totokannya, gadis ini pejamkan sepasang matanya. Dan dalam hati berkata.

"Kalau kau berbuat yang tidak-tidak, aku lebih baik mati!"

Singa Betina Dari Timur merasa jari-jari tangan menekan bagian-bagian tubuhnya, dan begitu gerakan jari-jari terhenti, tubuhnya bisa digerakkan.

Begitu tubuhnya bisa digerakkan, gadis ini cepat bangkit dan dengan paras merah dadu dia berkata.

"Terima kasih, Pendekar "

"Simpan dulu ucapanmu itu. Kita harus cepat tinggalkan tempat ini!" kata Pendekar 108 seraya berkelebat dari balik pohon. Singa Betina Dari Timur segera menyusul. Namun baru saja injakkan kaki masingmasing tak jauh dari makam, sesosok bayangan berkelebat, dan berdiri di hadapan Pendekar 108.

DELAPAN

Pendekar Mata Keranjang 108 kerutkan dahi. Sepasang matanya mengawasi sosok di hadapannya. Dia adalah seorang gadis muda berparas cantik. Mengenakan pakaian warna coklat bergaris-garis. Sepasang matanya bundar tajam. Rambutnya panjang sebahu. Bentuk tubuhnya bagus dengan dada membusung dan pinggul besar.

Tiba-tiba mulut murid Wong Agung ini membuka keluarkan seruan begitu dapat mengenali siapa adanya gadis di hadapannya.

"Sakawuni!" seraya berseru Aji melangkah mendekati. Namun baru saja satu tindak, gadis di hadapannya yang bukan lain memang Sakawuni dongakkan kepala sambil membentak garang.

"Tetap di tempatmu, Pendekar! Dan jangan bergerak tanpa perintahku!"

"Sakawuni! Kau tidak sedang bergurau, bukan...?!" kata Pendekar 108 seakan masih tak percaya dengan sikap Sakawuni. Malah mungkin dikira bergurau, Aji teruskan langkah seraya tersenyum-senyum.

Sakawuni gerakkan kepalanya lurus ke depan. Sepasang matanya melotot tajam. "Sekali lagi maju selangkah, putus nyawamu!" hardik Sakawuni dengan tarik kedua tangannya ke belakang seakan hendak lancarkan serangan.

Meski masih dengan pandangan tak percaya, Pendekar 108 hentikan langkah. Sepasang matanya melebar dan menyipit memperhatikan Sakawuni.

"Aneh. Kenapa sikapnya mendadak berubah...?" Aji membatin seraya gelengkan kepala.

Tanpa mempedulikan keheranan Pendekar 108, Sakawuni palingkan wajah menghadap Singa Betina Dari Timur yang berdiri tak jauh darinya.

"Gadis muda! Siapa kau...?!" tegur Sakawuni dengan suara keras. Sepasang matanya mengawasi Singa Betina Dari Timur dari bawah sampai atas.

Yang dipandangi sejenak tampak bingung. Matanya silih berganti memandang ke arah Pendekar 108 lalu pada Sakawuni.

"He...! Kau punya mulut, kenapa tidak segera jawab pertanyaan orang?!" Sakawuni kembali membentak tatkala Singa Betina Dari Timur tidak segera menjawab.

Karena dibentak, Singa Betina Dari Timur balas menatap. Dua pasang mata bentrok. Namun sesaat kemudian, Singa Betina Dari Timur alihkan pandangannya seraya berkata. Nadanya pun tinggi dan agak bergetar karena menahan jengkel.

"Siapa diriku tak usah kau ketahui! Kau sendiri siapa...?!"

Sakawuni ikut-ikutan alihkan pandangannya pada jurusan lain. Mulutnya keluarkan tawa perlahan bernada mengejek.

"Telingamu tadi sudah dengar orang memanggil. Apa perlu ku ulangi...? Atau telingamu memang tuli?!"

Paras wajah Singa Betina Dari Timur berubah merah padam. Wajahnya kembali berpaling dan matanya memandang Sakawuni. Mulutnya membuka hendak berkata, namun sebelum ucapannya terdengar, Sakawuni telah berkata.

"Apa hubunganmu dengan manusia keparat itu?!" telunjuk Sakawuni lurus-lurus memandang Pendekar Mata Keranjang, membuat Aji usap-usap hidungnya seraya membatin.

"Ah, apa karena ada gadis ini hingga sikapnya berubah...? Sialan betul! Sebelum perkaranya berlarut panjang, aku harus menjelaskan siapa adanya Singa Betina Dari Timur...," Aji angkat tangan kanannya memberi isyarat pada Singa Betina Dari Timur agar tidak berkata. Namun baru saja murid Wong Agung ini hendak bicara, Sakawuni telah mendahului berkata tanpa menoleh.

"Pendekar Mata Keranjang! Kau jangan ikut campur! Tunggu, aku nanti juga akan bicara denganmu!"

"Walah, kenapa bisa jadi begini...?" gumam Aji sambil tarik kuncir rambutnya dan gelenggeleng kepala.

Sementara itu di seberang agak jauh, Gembong Raja Muda yang sedang melangkah ke arah Bawuk Raga Ginting hentikan langkahnya begitu mendengar Pendekar 108 menyebut nama Sakawuni. Dan secepat kilat pemuda ini balikkan tubuh. Sepasang matanya memandang tak berkedip ke arah Sakawuni. "Sakawuni...? Hmm.... Telah lama kita tak jumpa. Nyatanya kau makin menarik!" Niatnya untuk segera pergi dengan membawa serta gurunya dia urungkan. Dia tegak menunggu seraya terus memperhatikan. Dan ketika terjadi percakapan antara Sakawuni, Pendekar Mata Keranjang 108, dan Singa Betina Dari Timur, bibirnya sunggingkan senyum.

"Hmm.... Sakawuni tampaknya berubah. Dan nada-nadanya telah terjadi masalah antara dia dengan pendekar keparat itu! Aku akan menunggu...," Gembong Raja Muda lantas tegak diam seraya memandang ke arah Sakawuni.

"He...! Apa hubunganmu dengan keparat itu?!" Sakawuni ulangi pertanyaannya pada Singa Betina Dari Timur.

"Soal hubunganku, juga tak berhak kau ketahui! Lagi pula apa pedulimu ingin tahu urusan orang?!" jawab Singa Betina Dari Timur dengan suara lantang.

Sakawuni angkat kepalanya mendongak, lalu tertawa panjang.

"Silat lidahmu boleh juga. Kau tunggulah di situ! Aku akan bicara dengan temanmu itu! Kalau kau nanti nyata-nyata bersekongkol, jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dengan masih membawa nyawa!" Sakawuni lantas berpaling pada Pendekar 108.

"Hmm.... Manusia ini benar-benar gila! Ke mana-mana selalu bersama gadis cantik! Apa dia juga kekasihnya? Mungkin gadis itu yang membuat sikapnya berubah saat bertemu denganku terakhir kali dulu. Ah, kenapa aku pikirkan hal itu? Bukankah aku mencarinya untuk urusan darah Pendekar Ageng Panangkaran?" Sakawuni beliakkan sepasang matanya lalu berkata.

"Pendekar Mata Keranjang! Telah cukup bicara dustamu selama ini. Aku menyesal mengapa begitu percaya dengan segala bualanmu! Kau nyatanya tak lebih dari orang hina yang berkedok sok suci!"

Pendekar 108 jadi terkesiap mendengar ucapan Sakawuni yang belum dimengerti maksudnya.

"Sakawuni! Kau bicara apa...?"

Sakawuni tertawa panjang, hingga dada dan bahunya terlihat berguncang-guncang.

"Kau tak usah menutup-nutupi perbuatanmu, Pendekar! Atau kau merasa malu perbuatanmu diketahui gadismu itu?!"

Pendekar 108 yang masih belum tahu arah pembicaraan Sakawuni gelengkan kepalanya perlahan. Sementara Singa Betina Dari Timur merah dadu parasnya mendengar dirinya disebut sebagai gadis Pendekar 108.

"Sakawuni.... Kau tidak...," Pendekar Mata Keranjang 108 tidak meneruskan ucapannya, karena saat itu juga Sakawuni telah menyahut dengan suara lantang.

"Jangan menyela! Aku belum selesai bicara!" tubuhnya sedikit berguncang serta matanya mendelik pertanda amarahnya telah meluap.

"Pendekar Mata Keranjang! Sebagai laki-laki kuharap kau mengakui perbuatanmu! Dan siap pula menerima ganjarannya!"

Pendekar 108 yang bingung dengan segala ucapan Sakawuni tampak sedikit jengkel. Dengan suara keras akhirnya dia berkata.

"Sakawuni! Dari tadi kudengar kau bicara tak karuan. Katakan terus terang apa masalahnya!"

"Laki-laki bodoh!" ujar Sakawuni. "Kalau kau masih tak juga mengerti, pasang telingamu baik-baik! Bukankah kau yang membunuh Ageng Panangkaran?!"

Pendekar murid Wong Agung ini terperangah kaget. Kedua kakinya sampai tersurut dua langkah ke belakang. Dahinya mengernyit sementara sepasang matanya mengerjap-ngerjap seakan tak percaya

"Sakawuni! Meski aku laki-laki bodoh, namun pantang bagiku melakukan hal sekeji itu. Apa lagi Ageng Panangkaran adalah sahabat dari Eyang guruku! Kau jangan memperturutkan ucapan orang!"

Sakawuni keluarkan dengusan. Senyumnya tersungging sinis. Seraya pancangkan kedua tangan di pinggang, dia berkata tanpa memandang.

"Dulu kau masih berkata begitu padaku dan aku bisa percaya. Namun untuk sekarang, Jangan harap aku mempercayai kata-katamu! Dan perlu kau ketahui. Setelah kau mampus, kedua gurumu pun akan menyusul!"

"Sialan benar! Siapa gerangan bangsatnya yang telah meniupkan hal tak benar ini? Kalau tidak segera dicegah, hal ini akan berlarut-larut.... Apakah Pandu yang mengatakan hal ini...?" Pendekar 108 lantas palingkan wajahnya pada Pandu yang masih terlihat tegak diam seraya memandang dan mendengarkan percakapan.

"Sakawuni, apa bangsat itu yang merecoki jalan pikiranmu hingga kau berkata demikian...?" kata Pendekar 108 sambil arahkan telunjuknya pada Pandu.

Sakawuni tertawa mengejek. Masih tanpa memandang dia menjawab.

"Kalau hanya omongannya dia, belum tentu aku percaya! Sekarang tak usah banyak mulut. Akui saja perbuatanmu! Dan bersiaplah menerima tebusan tetes darah Ageng Panangkaran!"

"Hmm.... Pasti ada orang lain yang mempengaruhinya...," Aji membatin lalu berkata. "Sakawuni, marilah kita bicara baik-baik. Biar masalahnya jelas dan tak ada silang sengketa di antara kita!"

"Aku sudah bosan dengar omongan mu! Orang culas sepertimu pasti pandai bersilat lidah untuk menutupi kesalahan! Sekarang jawab saja ya atau tidak! Tapi ingat! Hal itu tidak bisa mengubah keputusanku!"

Sebenarnya dalam hati gadis ini masih ingin bicara baik-baik dahulu, namun begitu bertemu dan dilihatnya Pendekar 108 bersama seorang gadis, maka rencananya semula terlupakan. Malah yang berkecamuk dalam dadanya adalah rasa cemburu. Karena dalam dasar hati gadis yang sekarang telah diangkat murid oleh Manusia Titisan Dewa ini sebenarnya masih menyukai Pendekar 108.

"Sakawuni! Kau jangan termakan fitnah!" "Kau memang terlalu banyak bacot!" seru

Sakawuni. Habis berkata begitu dia keluarkan bentakan keras lalu berkelebat ke arah Pendekar 108.

Wuuttt! Wuuttt!

Sakawuni hantamkan kedua tangannya yang dikembangkan. Saat itu juga dari telapak tangan kanannya melesat selarik sinar hitam dengan menebar hawa panas, sedang dari telapak tangan kirinya melarik sinar putih yang menebarkan hawa sangat dingin. Inilah ilmu yang berhasil dipelajarinya dari Manusia Titisan Dewa yang dinamakan jurus 'Menggiring Sinar Menebar Hawa'.

Melihat Sakawuni langsung keluarkan jurus andalan, jelas sekali bahwa gadis ini ingin segera menyelesaikan masalah.

Di depan, Pendekar 108 tampak sedikit terkejut. Dia tak menduga jika Sakawuni telah maju begitu pesat. Namun murid Wong Agung ini tidak mau bertindak ayal. Meski dia tidak tahu kehebatan jurus yang sedang dilancarkan Sakawuni, namun melihat menggebunya serangan serta hawa yang ditebarkan, dia sadar jika jurus serangan itu berhawa maut!

Dengan menahan rasa terkejut, Pendekar 108 segera melompat ke samping. Sinar hitam dan putih lolos menerabas tempat kosong, namun tebaran hawa yang ditebarkan Sakawuni sempat menyambar pakaian bagian bawahnya. Dan betapa terperangahnya murid dari Karang Langit ini, karena begitu melirik terlihat pakaian bagian bawahnya telah hangus! Dan robek besar!

Hebatnya melihat serangannya tidak menghajar sasaran, Sakawuni langsung menyergap ke depan dengan meloncat. Kedua tangannya kembali dihantamkan. Kembali sinar hitam dan putih melarik, sementara panas dan dingin menebar!

Karena jaraknya begitu dekat, maka tak ada lagi tempat untuk menghindar bagi Pendekar 108. Hingga satu-satunya jalan adalah memapak serangan. Sadar akan hal ini murid dari Karang Langit ini segera putar tubuhnya dan ketika membalik kembali tangan kanannya menebarkan kipas ungunya! Sementara tangan kirinya mendorong pelan ke depan.

Sinar putih berkilau menebar membentuk kipas segera melesat ke depan, sedangkan dari tangan kirinya menyambar angin kencang yang keluarkan suara menggemuruh dahsyat!

Namun betapa terkejutnya Pendekar dari Karang Langit ini karena semula menduga serangan Sakawuni akan tertahan di udara. Dugaannya ternyata meleset. Larikan sinar hitam dan putih terus menerobos tebaran sinar yang membentuk kipas dan kini telah setengah depa di hadapannya.

"Sialan! Siapa gerangan yang telah menurunkan ilmu keparat ini pada Sakawuni?" Aji membatin seraya cepat rebahkan tubuhnya ke belakang hingga sejajar tanah. Kedua tangannya lantas didorong kuat-kuat ke atas!

Blarrr!

Terdengar letupan dahsyat begitu hantaman kedua tangan Pendekar 108 yang keluarkan angin deras melesat melabrak serangan Sakawuni. Namun murid Wong Agung ini tubuhnya segera bergulingan seraya dari mulutnya terdengar seruan pelan.

Begitu gulingan tubuhnya terhenti, Pendekar 108 segera melirik kedua tangannya yang terasa nyeri. Ternyata kedua tangannya telah merah kebiruan dan gemetaran. Dia cepat kerahkan tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit. Sementara Sakawuni cepat melompat mundur sambil membuat gerakan berjumpalitan dan akhirnya mendarat di atas tanah dengan kaki terpentang. Namun raut wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa sakit. Dan kala matanya memperhatikan, gadis ini juga terkejut. Kedua tangannya telah berubah menjadi keputihan! Dan terasa panas!

Melihat kejadian ini, Gembong Raja Muda yang sedari tadi memperhatikan diam-diam berkata dalam hati.

"Hmm.... Sakawuni tampaknya telah berubah pikiran. Siapa gerangan yang membuatnya begitu! Dan astaga! Ilmunya demikian cepat bertambah.... Hm Ini saatnya aku ikut serta!" habis

berpikir begitu, dia segera berkelebat. Namun gerakannya tertahan karena tiba-tiba saja Singa Betina Dari Timur telah menghadangnya.

"Laki-laki busuk! Kau harus mampus di tanganku!" seraya berseru kedua tangannya bergerak mendorong ke depan.

Serangkum angin dahsyat melesat. Di hadapannya Gembong Raja Muda hanya memandang seraya tersenyum sinis. Nyali pemuda ini telah kembali berkobar, apalagi setelah dilihatnya Sakawuni berubah pikiran dan ilmunya bertambah pesat. Dia berpikir, Pendekar Mata Keranjang 108 akan dapat ditaklukkan jika bersatu dengan Sakawuni.

Sejengkal lagi pukulan Singa Betina Dari Timur menghajar tubuhnya, dia meloncat ke samping, lalu kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Maka terjadilah pertempuran saling adu pukulan jarak jauh di tempat itu. Beberapa kali terdengar suara letupan-letupan keras menggema dan tak jarang pula diseling dengan suara seruanseruan tertahan. Karena Gembong Raja Muda telah terluka waktu bentrok dengan Pendekar 108, maka pukulannya tidak sehebat sebelum cidera, hingga Singa Betina Dari Timur dapat melayani serangannya.

Di seberang, Sakawuni terlihat takupkan kedua tangannya, sepasang matanya terpejam sesaat, mulutnya bergerak komat-kamit.

"Sakawuni! Hentikan semua ini! Akan kujelaskan padamu...!" seru Aji begitu melihat sikap Sakawuni.

Sakawuni buka kelopak matanya. Bibirnya sunggingkan senyum ejekan. Lalu berkata.

"Aku tak butuh penjelasan! Yang kubutuhkan sekarang adalah kepalamu! Dan aku tak akan pergi dari tempat itu dengan berhampa tangan!"

Aji gelengkan kepalanya perlahan. "Hmm....

ilmunya tidak bisa diremehkan, kalau aku terus hanya menangkis, tak mustahil aku akan konyol sendiri. Namun jika aku melawan Bagaimana

kalau dia cidera? Sialan! Lebih baik tak kulayani. Suatu saat pasti akan bertemu lagi, dan siapa tahu pikirannya berubah lagi.... Tapi Singa Betina Dari Timur...? Aku akan menyelinap dan balik lagi ke sini...," berpikir begitu murid Wong Agung ini segera balikkan tubuh dan siap meninggalkan tempat itu.

"Pengecut! Kau hendak lari ke mana? Dan apa kau kira bisa pergi begitu saja?!" sergah Sakawuni dengan mata melotot.

Tanpa balikkan tubuhnya kembali, Aji men-

jawab.

"Aku punya urusan penting yang harus ku-

selesaikan!"

"Boleh! Tapi tinggalkan dulu kepalamu!" bentak Sakawuni. Selesai berkata Sakawuni segera menyergap seraya lancarkan serangan. Tangan kanannya melesat ke arah pelipis kanan Pendekar 108.

"Sialan! Dia benar-benar hendak memenggal kepalaku!" membatin Aji begitu angin dahsyat berdesir di sebelah kepalanya. Tanpa berpaling lagi Pendekar Mata Keranjang 108 segera jejakkan sepasang kakinya. Tubuhnya melesat ke depan, hingga hantaman tangan Sakawuni mengenai tempat kosong.

Melihat serangannya lolos, Sakawuni berteriak nyaring. Tangannya cepat ditarik pulang dan serta-merta dihantamkan ke depan sekaligus dengan pengerahan tenaga dalam penuh! Wuttt! Wuutttt!

Hawa sangat panas dan dingin menebar, sementara larikan-larikan sinar hitam dan putih melesat menyusul kelebatan tubuh Pendekar 108!

Sadar dalam bahaya, Pendekar 108 segera me-lompat ke depan untuk menghindar sekaligus mencari posisi. Lalu tubuhnya segera membalik dengan tangan kiri mendorong ke depan, tangan kanan menebarkan kipas.

Mendadak dari telapak tangan Pendekar 108 melesat seberkas cahaya biru tanpa keluarkan suara. Hebatnya, larikan-larikan sinar hitam dan putih yang mengarah pada Pendekar 108 diterabasnya dan ambyar seketika! Tanpa ada suara bentrok pukulan yang terdengar. Dan bukan hanya sampai di situ, begitu dapat membuyarkan larikan sinar hitam dan putih, sinar kemilau biru terus melabrak dan kini melesat ke arah Sakawuni!

Pendekar Mata Keranjang 108 menjadi tercekat sendiri. Dia memang telah kerahkan jurus 'Mutiara Biru'. Namun dia tak menduga sama sekali jika kehebatannya begitu dahsyat! Untuk menyelamatkan Sakawuni jelas tak mungkin karena saat itu sinar kemilau biru telah satu depa di depan Sakawuni.

Di depan sana, melihat pukulan ‘Menggiring Sinar Menebar Hawa’ yang dilancarkan dapat dibuat ambyar oleh sinar kemilau biru, Sakawuni melengak terkesima. Dan gadis ini terguncang dengan paras pucat pasi saat sinar biru itu melesat ke arahnya. Sekalipun dia berusaha untuk menghindar, namun tampaknya akan sia-sia karena serangan itu telah setengah depa lagi di hadapannya. Hingga mungkin karena merasa tak bisa selamat, gadis ini pejamkan mata seakan pasrahkan diri menghadapi ajal.

"Sialan! Bagaimana ini...? Tak kusangka sama sekali. Padahal aku hanya mengerahkan seperempat tenaga dalam...," gumam Pendekar 108 seraya melompat ke depan dengan berteriak lantang.

"Sakawuni! Cepat selamatkan dirimu!" Yang diteriaki tak bergeming.

Pada saat yang demikian itulah tiba-tiba terdengar suara cekikikan ditingkahi suara gemerincing anting-anting.

Namun mendadak saja suara cekikikan lenyap begitu juga suara gemerincing anting-anting. Dan bersamaan dengan itu sesosok bayangan berkelebat.

Sakawuni yang telah pasrah merasakan tubuhnya melayang lalu menukik turun dan bergulingan di atas tanah. Sementara tubuh Pendekar

108 yang berusaha menyelamatkan dengan melompat, tubuhnya mental balik ke belakang dan jatuh terduduk!

SEMBILAN

Sinar kemilau biru melesat terus dan menghantam sebuah batang pohon. Pohon itu langsung tumbang dengan akar tercerabut! Tanah di sekitar pohon itu terbongkar dan langsung membentuk sebuah lobang sedalam setengah tombak!

Begitu derakan tumbangnya pohon lenyap, terdengar suara orang tertawa cekikikan. Sakawuni segera bangkit dan berpaling. Sepasang matanya mendelik memperhatikan, dahinya berkerut. Tak jauh di sampingnya berdiri seorang perempuan tua bertubuh gemuk besar. Rambutnya yang telah memutih disanggul ke atas. Pada salah satu telinganya terlihat sebuah anting-anting besar

yang dimuati beberapa anting-anting kecil.

"Dewi Kayangan!" seru Aji. Dia memang telah dapat menduga siapa adanya orang yang menyelamatkan Sakawuni dari hantaman jurus 'Mutiara Biru'-nya.

Di tempat lain, terlihat Gembong Raja Muda terbungkuk-bungkuk bangkit dari tanah dengan paras meringis dan mengusap-usap dadanya, sementara sepuluh langkah di depannya, Singa Betina Dari Timur tampak terkapar, lalu segera bangkit dan mendelik memandang Gembong Raja Muda. Kedua tangannya lantas ditarik ke belakang hendak kirimkan serangan. Namun sebelum kedua tangannya menghantam, Pendekar 108 segera berkelebat dan berteriak.

"Tahan serangan!"

Pendekar 108 tahu-tahu telah berdiri di tengah-tengah antara Singa Betina Dari Timur dan Gembong Raja Muda. Sejenak dia memandang Singa Betina Dari Timur. Lalu berpaling pada Gembong Raja Muda. "Pandu! Cepat tinggalkan tempat ini!"

Pandu mendengus pelan, sepasang matanya berkilat menyengat pada Aji. Sebenarnya pemuda ini masih enggan untuk meninggalkan tempat itu. Namun begitu mendengar Pendekar 108 menyebut nama Dewi Kayangan, hatinya keder. Kalau Dewi Bunga Iblis dan gurunya bisa dibuat bertekuk lutut, dapat diduga bagaimana ketinggian ilmunya. Berpikir sampai di situ pemuda ini lantas balikkan tubuh dan melangkah ke arah tergeletaknya tubuh gurunya Bawuk Raga Ginting.

Setelah tubuh gurunya dipanggul, dia berpaling pada Pendekar 108 dan berkata.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Saatnya nanti akan tiba untuk bertemu lagi!" habis berkata begitu, dia berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Kenapa bangsat itu kau biarkan pergi begitu saja?!" ujar Singa Betina Dari Timur seraya memandang pada Pendekar 108.

Pendekar 108 tersenyum. Melangkah mendekat dan berkata.

"Dia masih muda, dan masalahnya hanya salah paham dan cemburu. Aku berharap suatu saat kelak dia bisa mengerti!"

"Tapi terlalu enak jika manusia seperti dia masih diberi hidup!" sahut Singa Betina Dari Timur dengan alihkan pandangannya karena saat itu Pendekar 108 balas menatapnya.

"Ah, sudahlah. Sekarang kau hendak ke mana?"

Singa Betina Dari Timur tidak segera men-

jawab. Wajahnya mendadak berubah keruh. Malah sepasang matanya terlihat berkaca-kaca. Namun pada akhirnya dia menjawab.

"Aku akan kembali ke Bima. Sekali lagi kuucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Ng.... Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya gadis cantik itu?"

Pendekar Mata Keranjang sedikit terkejut mendengar pertanyaan Singa Betina Dari Timur. Sejurus ditatapnya mata gadis di hadapannya. Sambil tersenyum dia menjawab.

"Dia temanku. Kami memang telah lama tidak jumpa. Hanya saja aku jadi heran, dia sekarang sifatnya tiba-tiba berubah. Bahkan yang seakan tidak kupercaya, dia menuduhku bahwa akulah yang melakukan pembunuhan terhadap gurunya.... Pasti ada orang ketiga yang membakarnya!"

Selagi kedua orang ini tengah bercakapcakap, di sebelah terdengar Sakawuni berkata dengan suara lantang.

"Siapa kau...?!" sambil menegur, sepasang matanya tak kesiap pandangi perempuan gemuk beranting-anting satu di hadapannya yang bukan lain adalah Dewi Kayangan.

Dewi Kayangan tertawa cekikikan. Sepasang matanya yang besar melirik pada Sakawuni, lalu berkata.

"Soal siapa aku, biarlah untuk sementara kujadikan barang simpanan buatmu. Suatu saat nanti, kau akan kuberitahu.... Hik... hik... hik....

Yang perlu kuberitahukan sekarang adalah ," Dewi Kayangan hentikan ucapannya, wajahnya berpaling pada Pendekar 108 yang berbincang dengan Singa Betina Dari Timur. Lalu melanjutkan ucapannya.

"Berhati-hatilah bergaul dengan orang! Salah bergaul, kau akan tergelincir! Jika itu terjadi, hidupmu akan celaka! Sekian saja. Aku harus pergi!"

Habis berkata begitu, Dewi Kayangan balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Tunggu! Aku ingin bicara!" yang berseru adalah Pendekar 108 seraya berkelebat. Namun Dewi Kayangan telah lenyap. Hanya suara cekikikan serta gemerincingnya anting-anting yang tertinggal.

Sakawuni yang sejenak seperti terkesima dengan ucapan Dewi Kayangan segera palingkan wajah, tubuh gadis ini sedikit berguncang, matanya berkilat-kilat. Hatinya makin panas tatkala tadi melihat Pendekar Mata Keranjang 108 berbincang demon Singa Betina Dari Timur. Namun sebelum gadis itu buka mulut, Pendekar 108 telah mendahului bicara

"Sakawuni! Marilah kita bicara baik-baik! Aku percaya, ini semua bukanlah kehendakmu sendiri. Kau telah dihasut orang!"

"Pendekar Mata Keranjang! Jaga bicaramu. Jangan kau menutup-nutupi perbuatanmu dengan mengkambinghitamkan orang!"

Pendekar 108 tertawa perlahan. Hidungnya diusap-usap berulang kali. Masih dengan tertawa dia berkata.

"Aku tidak membawa-bawa kambing orang. Namun aku dapat merasakan. Kau jauh berubah. Kau bukan lagi Sakawuni yang dahulu. Sakawuni yang lembut namun tegar dan tegas! Kau sekarang pemberang dan tak mau dengar kata orang!"

"Jahanam! Ini semua karena kau telah mendustai ku! Seandainya saja waktu itu aku percaya pada Kakang Pandu, tak mungkin masalah ini berlarut-larut hingga sekarang!"

Habis berkata, Sakawuni palingkan wajah ke tempat di mana tadi Pandu berada. Namun gadis ini menjadi terkejut tatkala dilihatnya Pandu telah tidak ada lagi di tempatnya. Sebenarnya Sakawuni tadi ingin berbicara dengan Pandu, namun karena keburu dadanya diamuk marah dan cemburu pada Pendekar 108, maka Pandu begitu saja dilupakan. Dia baru teringat lagi tatkala menyebutkan namanya.

"Hmm.... Dia telah pergi   Tapi tak apa. Ke-

lak kalau umur panjang pasti akan bertemu lagi "

Kalau Sakawuni terkejut dengan perginya Pandu. Pendekar 108 pun tampak terkejut. Sepasang matanya segera menyapu berkeliling di tempat itu.

"Ah, Singa Betina Dari Timur nampaknya telah pergi tanpa sepengetahuanku    Gadis cantik

yang malang.... Semoga kau selamat hingga tempatmu...," Pendekar 108 membatin dengan paras sedikit kecewa. Lalu melirik pada Sakawuni yang masih tampak tercenung karena kepergian Pandu alias Gembong Raja Muda yang sebenarnya adalah kakak seperguruannya.

"Gadis ini masih dibakar marah dan mungkin juga bercampur cemburu.... Dalam keadaan begini orang pasti sulit untuk diajak bicara baikbaik. Untuk sementara, lebih baik aku menghindar "

Berpikir begitu, murid Wong Agung ini langsung berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Keparat! Mau lari ke mana kau...?!" bentak Sakawuni tatkala melihat kelebatan Pendekar 108. Dia segera pula berkelebat menyusul. Namun bekas murid Ageng Panangkaran ini segera keluarkan makian panjang pendek tatkala buruannya tak dapat ditemukan.

"Kali ini dia bisa lolos. Tapi tidak untuk kedua kalinya!" gumam Sakawuni seraya rapikan rambut dan usap keringat di dahi dan lehernya.

"Siapa perempuan tua bertubuh gemuk yang telah menyelamatkanku dari pukulan pemuda keparat itu? Hmm... pemuda itu mengenalnya. Tapi kenapa dia menolongku...? Ucapannya seakan menyindirku. Apa dia kenal dengan Manusia Titisan Dewa? Pendekar Mata Keranjang 108....

Sebenarnya...," Sakawuni tak meneruskan kata hatinya. Sepasang matanya memandang kosong ke depan. Lalu kepalanya terlihat menggeleng perlahan.

"Tidak! Dia adalah pembunuh Ageng Panangkaran. Dan gadis tadi pastilah kekasihnya! Hm....Mungkin karena itu dia lancarkan pukulan mematikan padaku! Tapi, seandainya dia mau, mungkin aku dapat dikalahkannya. Aku sadar, ilmuku ternyata belum mampu untuk mengalahkannya.... Dan apakah aku benar-benar ingin membunuhnya...?"

Sakawuni diombang-ambingkan oleh beberapa perasaan. Mungkin karena tak dapat menguasai diri, gadis ini lantas melangkah ke sebuah pohon besar. Dengan perasaan lusuh dia duduk di bawah pohon. Wajahnya segera ditekapkan pada kedua pahanya. Tak terlihat apa yang dikerjakan gadis cantik ini. Yang jelas sebentar terdengar gumamannya lalu terhenti, namun saat itu juga bahunya tampak sedikit berguncang-guncang.

SEPULUH

Pendekar 108 terus berlari seraya sesekali berpaling ke belakang. Saat dirasa Sakawuni tidak mengejar lagi, pada satu tempat yang sepi dia hentikan larinya. Sejenak dia memandang se-keliling lalu melangkah ke arah gundukan batu padas di bawah sebuah pohon yang rindang.

"Sakawuni.... Sungguh tak kuduga pada akhirnya di antara kita terjadi salah paham...," gumam Aji sambil hempaskan tubuhnya pada gundukan batu padas. Tangan kanannya bergerak mengusap keringat yang membasahi wajahnya.

"Pada pertemuan terakhir kali beberapa waktu yang lalu, kau masih tampak lembut. Tapi sekarang...? Kau begitu pemarah dan ucapanmu kasar. Aku merasa ini bukan sifat aslimu. Ada orang yang membuatmu jadi berubah! Melihat sikapnya saat bertemu dengan Pandu, aku menduga bukanlah Pandu yang menyebabkan dia berubah. Lalu siapa...? Aku juga heran. Ilmunya maju demikian pesat. Adakah dia telah menemukan seorang guru? Apakah gurunya itu yang kemudian merubah sifatnya...? Hmm Masalah yang membutuh-

kan waktu untuk menyelidikinya...," murid Wong Agung ini lantas usap-usap hidungnya. Karena udara sangat panas, sebentar kemudian dia telah bersandar pada batang pohon sambil berkipaskipas.

"Sakawuni.... Sebenarnya aku suka padamu. Dan melihat sorot kedua matamu, aku yakin kau mempunyai perasaan yang sama. Ah, apakah kemarahannya padaku karena cemburu melihat aku bersama Singa Betina Dari Timur...? Mungkin saja begitu. Sayang dia keburu marah sebelum jelas siapa adanya Singa Betina Dari Timur...," Pendekar 108 lantas teringat pada Singa Betina Dari Timur.

"Gadis cantik bernasib tidak baik. Dia tampaknya masih terguncang jiwanya karena tewasnya saudara seperguruannya. Hmm... apakah dia benar-benar kembali ke Bima? Sayang, pertemuan itu hanya sebentar. Sebenarnya aku ingin mengetahui lebih banyak tentang dia. "

Murid Wong Agung ini terlihat meraba tangannya yang masih tampak memerah karena bentrok dengan Sakawuni. Lalu memeriksa kakinya yang juga terasa masih kesemutan.

"Untung saat itu muncul Dewi Kayangan. Jika tidak, aku tak dapat membayangkan apa yang akan menimpa Sakawuni. Tak kukira jika pukulan 'Mutiara Biru' demikian dahsyatnya. Benar kata Sahyang Resi Gopala. Aku tidak boleh menggunakannya kecuali saat-saat terdesak.... Dewi Kayangan. Dia seperti hantu saja, begitu muncul, begitu saja pergi. Tapi aku harus menemuinya. Mengatakan apa yang telah ku alami, karena bagaimanapun juga dia telah menolongku mendapatkan Arca Dewi Bumi. Tapi ke mana aku mencarinya...? Hm.... Aku akan menyusulnya ke Dusun Kepatihan "

Pendekar 108 lantas bangkit. Sejenak merapikan pakaiannya lalu melangkah hendak melanjutkan perjalanan menuju Dusun Kepatihan, tempat tinggal Dewi Kayangan. Namun baru saja melangkah, sayup-sayup terdengar suara orang tertawa mengekeh. Mendengar suara tawanya, Pendekar Mata Keranjang bisa memastikan jika orang itu berada jauh dari tempatnya meski arah tujuannya melewati tempat itu.

Pendekar 108 tak ambil peduli. Dia meneruskan langkah dan hendak berkelebat, namun betapa terkejutnya murid Wong Agung ini. Suara tawa yang tadi sayup-sayup terdengar jauh, kini seakan ada di depan telinganya! Dengan menindih rasa heran, dia cepat palingkan wajahnya. Sepasang mata Aji kontan mendelik besar. Dahinya berkerut malah tanpa sadar kakinya tersurut dua tindak ke samping.

Di hadapannya tahu-tahu telah berdiri seorang laki-laki amat tua. Tubuhnya kurus tinggi, dan telah bungkuk. Sepasang matanya amat besar dan masuk ke dalam rongga mata yang amat cekung. Bibirnya tebal dengan alis mata kaku ke depan. Laki-laki tua ini mengenakan jubah besar berwarna biru gelap. Di kepalanya tampak sebuah caping besar berwarna hitam terbuat dari kulit. Bagian atas capingnya dibuat terbuka hingga menampakkan rambutnya yang jarang dan tegak kaku. Namun bukan keangkeran wajah yang membuat Aji terperanjat. Ternyata meski berdiri terbungkuk-bungkuk, laki-laki ini sepasang kakinya tidak menginjak tanah!

"Menurut cerita orang-orang tua, ciri hantu adalah sepasang kakinya tidak menginjak tanah. Apakah yang di hadapanku ini hantu...? Tapi mana ada hantu kelayapan siang-siang begini? Hmm.... Ini manusia betulan! Siapa dia...? Tak bisa disangkal, orang tua ini mempunyai ilmu sangat tinggi. Suara tawanya tadi dapat kupastikan orangnya masih jauh. Namun tahu-tahu sudah berada di sini. Dan dia dapat terus di atas udara tanpa pengerahan tenaga dalam!" Pendekar 108 membatin sambil menduga-duga dan sepasang matanya tak kesiap memperhatikan orang tua di hadapannya.

Setelah lama memperhatikan dan orang tua di hadapannya tidak juga keluarkan suara, malah memandang ke jurusan lain, Pendekar Mata Keranjang 108 beranikan diri angkat bicara.

"Orang tua. Kalau boleh tahu, adakah kau

mencari seseorang ?"

Yang ditanya masih terdiam. Bahkan sepasang matanya kini mengedari tempat itu seakan mencari sesuatu. Pendekar 108 yang berada tak jauh darinya malah tidak dipedulikan. Dia seakan tak mendengar pertanyaan orang.

"Mungkin pendengarannya agak berkurang...," gumam Aji. Lalu ia mengulangi pertanyaan dengan suara agak dikeraskan. Namun setelah ditunggu sejenak, orang tua itu tidak juga buka mulut untuk menjawab. Hanya sepasang matanya kini melirik sebentar pada Pendekar 108, tapi lantas memandang liar ke jurusan lain.

Pendekar Mata Keranjang geleng-geleng kepala. Kipas miliknya dilipat lalu disimpan ke balik pakaiannya. Sejenak dia memandang pada Orang tua sambil tarik-tarik kuncir rambutnya.

"Mulutku bisa dower sendiri jika meladeni orang kurang pendengaran seperti ini. Lebih baik aku meneruskan perjalanan ke tempat Dewi Kayangan...." Pendekar 108 balikkan tubuh lalu berkelebat meninggalkan tempat itu. Namun gerakannya tertahan tatkala orang tua di belakangnya buka suara.

"Anak muda! Aku hendak ke Dusun Kepatihan. Adakah kau tahu, jalan mana yang harus kuambil?"

Mendengar pertanyaan orang tua, Pendekar

108 cepat kembali balikkan tubuhnya. Dahinya mengernyit. Sepasang matanya kembali mengawasi orang tua di hadapannya dengan dada penuh pertanyaan.

"Siapa orang tua ini sebenarnya? Kalau melihat sikapnya, pasti dia seorang tokoh silat. Dan yang dicari pastilah juga seorang tokoh. Padahal Dusun Kepatihan dihuni oleh Dewi Kayangan, seorang tokoh silat. Hmm.... Bukan mustahil Dewi Kayangan yang dicarinya. Aku terlebih dahulu harus mengetahui siapa dia adanya!" lalu Aji ajukan pertanyaan. "Kek! Siapa kau...?"

Seperti tidak mendengar pertanyaan orang, laki-laki tua ini alihkan pandangannya pada jurusan lain. Malah sambil tertawa perlahan. Membuat Pendekar 108 garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

"Dia benar-benar tuli atau pura-pura tidak mendengar? Kalau melihat ilmunya, mustahil dia tidak bisa mendengar pertanyaan orang. Kalau aku bicara terlalu keras, dan dia tidak tuli pasti dia akan marah besar. Hmm... menghadapi orang tua begini bikin sakit perut...," Aji sejenak terlihat merenung. Tiba-tiba bibirnya tersenyum. Dari mulutnya lantas terdengar dia berucap. Ucapannya sengaja dipelankan.

"Kau pastilah orang tua yang pendengarannya telah berkurang. Aku sebenarnya tahu mana arah Dusun Kepatihan. Tapi kau akan kutunjukkan jalan yang salah. Kepadamu akan kutunjukkan jalan menuju tempat gadis-gadis cantik yang bisa membawamu melayang-layang di angkasa....

Hm...," seraya berkata begitu Pendekar Mata Keranjang lirikkan matanya pada orang tua di hadapannya. Pendekar 108 tersenyum lebar ketika melihat orang tua di hadapannya alihkan pandangan ke arahnya dengan mata mendelik dan bibirnya yang tebal bergerak-gerak. Namun sebelum orang tua ini keluarkan suara, Pendekar 108 telah berkata. Kali ini suaranya agak dikeraskan.

"Orang tua.... Kalau kau memang ingin ke Dusun Kepatihan, ambillah jalan itu!" seraya berkata Pendekar 108 angkat tangannya dan menunjuk pada satu jurusan.

Sepasang mata orang tua itu bukannya mengikuti arah tangan Aji yang menunjuk. Namun sebaliknya memandang Aji dengan mata melotot seram. Paras wajahnya yang hanya dibungkus kulit tipis tampak berubah mengelam. Tulang pelipisnya bergerak-gerak pertanda dadanya telah dirasuki hawa amarah karena merasa akan ditipu orang. Karena ternyata memang dia tidak kurang pendengarannya, sebab begitu Aji berpaling setelah menunjuk, orang tua ini keluarkan suara bentakan garang.

"Kurang ajar! Kau berani hendak menjerumuskan aku ke tempat laki-laki iseng. Kalau kau tak ingin kutampar, sebutkan siapa dirimu yang berani hendak menipuku!"

Murid Wong Agung ini sesaat terkesima dengan ucapan orang tua di hadapannya. Namun sekejap kemudian bibirnya telah sunggingkan senyum dan berkata.

"Kek! Berarti kau tadi mendengar pertanyaanku.... Hanya kau pura-pura kurang pendengaran. Buktinya kau mendengar jika aku akan menunjukkan padamu jalan yang salah, padahal aku berkata sangat pelan sekali. Kenapa kau purapura tuli...?"

Meski sambil berkata dan bibir Pendekar 108 tampak tersenyum, namun diam-diam dalam hatinya berkata sendiri. "Hmm.... Siapa pun dia adanya, yang jelas dia berkepandaian sangat tinggi! Ucapanku tadi ku usahakan sangat pelan sekali. Namun, dia tetap mendengarnya. "

Orang tua di hadapan Pendekar 108 yang bukan lain sebenarnya adalah Manusia Titisan Dewa tengadahkan kepala. Dari mulutnya kembali terdengar ucapannya.

"Anak muda! Kau telah menipuku. Kalau kau tidak segera sebutkan siapa dirimu, maka jangan menyesal jika mulutmu mendapat tamparan!"

"Aduh. Kenapa kau sekarang berubah jadi pemarah...? Kek! Orang tua jangan lekas naik darah, bisa. "

"Jahanam! Sekali lagi kau berkata bukan menjawab pertanyaanku, mulutmu tidak hanya kutampar, tapi kuremukkan! Kau dengar?!" sahut Manusia Titisan Dewa sebelum Pendekar 108 meneruskan kata-katanya.

Pendekar 108 kucek-kucek mata kanannya.

Lalu berkata menjawab.

"Namaku Aji. Aji Saputra.... Kau sendiri siapa. ?!"

Manusia Titisan Dewa angguk-anggukkan kepalanya. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian dari mulutnya kembali terdengar bentakannya.

"Aku tak tanya namamu! Yang ku maksud gelarmu siapa?!"

"Waduh, bikin sakit perut betulan menghadapi orang tua macam ini! Aku tidak akan mengatakan siapa aku sebenarnya sebelum kuketahui siapa dia sebenarnya! Aku harus hati-hati, mungkin saja dia salah seorang yang memburu Arca Dewi Bumi...," lantas pada orang tua di hadapannya Aji berucap.

"Orang tua. Yang ku punya hanyalah sebuah nama. Soal gelar, aku tidak memiliki. Hanya yang bisa kau tahu, aku adalah seorang pengelana jalanan tidak punya arah tujuan. Diajak siapa pun mau, apa-lagi gadis cantik. He he he.... Apa kau juga demikian? Jika betul, sungguh senang sekali. Kita bisa jalan bersama sambil mencari gadis-gadis cantik Setuju?"

"Hm… Kau berani lagi menipu!" ujar Manusia Titisan Dewa dengan senyum seringai. "Mulutmu memang pantas ditampar!" selesai berkata begitu, Manusia Titisan Dewa angkat tangannya.

Pendekar 108 terkejut. Dan sebelum tangan orang tua di hadapannya bergerak, dia cepat tarik kepalanya ke belakang. Namun gerakan yang diduga Aji meleset. Manusia Titisan Dewa bukannya gerakkan tangannya yang telah diangkat. Dia ternyata gerakkan kaki kirinya yang ada sejengkal di atas tanah dan dilejangkan ke depan.

Weesss!

Serangkum angin dahsyat menderu. Bukan hanya itu saja, karena kaki orang ini melejang, jubah birunya ikut tersibak. Anehnya, sibakan jubahnya juga mengeluarkan sambaran angin dahsyat!

Pendekar 108 melengak. Cepat segera melompat mundur sambil geser tubuhnya ke samping. Sambaran angin yang keluar dari lejangan Manusia Titisan Dewa dapat dihindari, namun sambaran angin yang keluar dari sibakan jubahnya yang tidak diduga sama sekali oleh Pendekar Mata Keranjang, tak bisa lagi dielakkan! Dia langsung berkelit dengan lesatkan tubuhnya ke udara, namun sambaran jubah Manusia Titisan Dewa ternyata laksana baling-baling yang pulang balik ke atas ke bawah. Hingga saat tubuh Pendekar 108 melesat ke udara, mendadak seperti ada yang menghantamnya dari atas. Hingga saat itu juga tubuh Pendekar Mata Keranjang kembali menukik ke bawah!

Buukkkk!

Tubuh Pendekar 108 tersuruk di atas tanah dengan posisi terduduk. Selagi murid Wong Agung ini belum lenyap rasa terkejutnya, Manusia Titisan Dewa ayunkan tangannya yang sedari tadi terangkat.

Wuuttt!

Tak terdengar suara deruan angin, namun saat itu juga Aji merasakan seakan ada kekuatan dahsyat tak kelihatan menghantam bahu kanannya. Aji segera buka telapak tangan kirinya dan dihantamkan ke samping kanan. Tapi hantamannya hanya menghajar angin. Malah bahunya yang terhantam makin kencang berputar karena terdorong oleh gerakan tangan kirinya. Hingga saat itu juga mukanya menyusup tanah dengan mulut terantuk gundukan tanah keras!

Manusia Titisan Dewa dongakkan kepala. Terdengar suara tawanya mengekeh perlahan. "Kalau kau masih berani menipuku, mu-

lutmu akan kuhancurkan! Jawab siapa gelarmu?!" Dengan memaki panjang pendek dalam ha-

ti, Aji merambat bangkit. Diusapnya bibirnya yang telah berdarah karena terantuk tanah keras. Dia sadar bahwa orang tua dihadapannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun karena Aji ingin lekas menemui Dewi Kayangan dan tak ingin membuat masalah, maka tanpa memandang lagi, dia balikkan tubuh hendak pergi dari tempat itu.

Tapi belum sempat tubuhnya berkelebat, Manusia Titisan Dewa telah berteriak garang.

"Jangan kira bisa tinggalkan tempat ini sebelum jawab pertanyaanku!"

"Tua sialan!" maki Aji pelan. "Apa yang membuatmu begitu terangsang ingin tahu gelarku? Bukankah lebih baik melihat gadis-gadis cantik yang bisa merangsang mu...? Atau kau mungkin bisa terangsang jika orang sebutkan gelar? Hal aneh.... Hiii...!" lalu tanpa balikkan tubuh, Aji melangkah meninggalkan tempat itu.

Sejenak tak terdengar suara sahutan dari belakangnya. Tapi sesaat kemudian, Pendekar 108 merasakan tubuhnya terangkat ke udara! Murid Wong Agung ini cepat berpaling. Dia jadi terperangah kaget. Di belakangnya terlihat Manusia Titisan Dewa duduk bersila sejengkal di atas tanah. Kedua tangannya lurus ke depan dan membuka. Sementara kedua matanya terpejam setengah membuka. Ketika orang tua ini gerakkan tangannya ke atas ke bawah, tubuh Pendekar 108 yang berada lima belas langkah di depannya dan kini terapung di udara terlihat ikut bergerak naik turun!

Pendekar 108 merasa jengkel dipermainkan orang demikian rupa. Sambil menyumpah habishabisan dia kerahkan tenaga dalam untuk menurunkan tubuhnya. Perlahan-lahan tubuhnya pun bergerak turun. Namun saat itu Manusia Titisan Dewa segera tarik tangannya ke bawah dengan derasnya!

Wuttt!

Pendekar 108 terkejut bukan alang kepalang. Karena saat itu kerahkan tenaga untuk turunkan tubuhnya, ditambah dengan kekuatan tak terlihat yang mengikuti gerakan tangan Manusia Titisan Dewa, membuat tubuh Aji turun dengan derasnya. Tak ada kesempatan lagi bagi Pendekar 108 untuk kembali angkat tubuhnya, hingga tanpa bisa dihindarkan lagi tubuhnya melesat dan jatuh berkaparan di atas tanah!

"Gila!" umpat Aji seraya meringis dan segera bangkit. Dilihatnya orang tua itu telah sedekap dengan mata tetap terpejam setengah membuka. Tubuhnya masih ada sejengkal di atas tanah, dan jubahnya berkibar-kibar mengeluarkan suara menderu-deru tertiup angin.

"Orang tua ini tidak main-main dengan ucapannya. Dia seakan ingin membunuhku perlahan-lahan! Aku tak akan tinggal diam. Mungkin saja dia telah tahu siapa diriku, juga jalan menuju Dusun Kepatihan. Pertanyaannya tadi hanyalah pura-pura untuk memancing masalah!"

Berpikir sampai di situ, Pendekar 108 segera keluarkan seruan lantang.

"Orang tua! Kalau kau tak mau sebutkan siapa dirimu, tak apa! Namun apa maumu dengan semua ini?! Kita tak kenal dan tak punya silang sengketa. Apa kau hanya ingin unjuk kebolehan...?!"

Manusia Titisan Dewa tertawa bergelak. Kali ini suaranya keras meradang. Hingga Pendekar

108 dapat merasakan getaran pada pijakan kakinya!

"Tak kenal?" ulang Manusia Titisan Dewa. "Karena kau bodoh, maka tidak mengenalku. Sebaliknya aku mengenalmu dan tahu siapa kau sebenarnya! Bukankah kau manusianya yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108? Seorang manusia tengik yang telah membunuh sahabatku Ageng Panangkaran...?!"

Aji jadi tersedak mendengar ucapan orang tua di hadapannya. Untuk beberapa lama dia terdiam dengan kening berkerut.

"Edan! Jadi masalah fitnah ini telah menebar ke mana-mana. Hmm.... Siapa bangsatnya yang telah menebar berita celaka ini?"

"Kau memikir sesuatu?!" tegur Manusia Titisan Dewa dengan tersenyum sinis. "Kau tak usah berkelit, semua orang rimba persilatan telah tahu itu!"

"Orang tua!" teriak Aji dengan muka merah padam. Niatnya untuk meninggalkan tempat itu diurungkan. Dia memutuskan untuk mengorek siapa penebar berita itu dari mulut orang tua di hadapannya. "Kau telah mengetahui siapa aku sebenarnya, lalu kau pura-pura tanya untuk memancing masalah. Aku khawatir jangan-jangan ucapanmu tadi juga hanya pura-pura saja. Kau sebenarnya punya maksud tertentu. Betul...?!"

Manusia Titisan Dewa keluarkan dengusan keras. Bersamaan dengan itu serangkum angin melesat ke depan. Namun ini bukan merupakan serangan. Tapi hal ini telah menambah keyakinan Pendekar 108 bahwa manusia di hadapannya benar-benar punya ilmu sangat tinggi. Dengusan napasnya saja mampu menyambarkan serangkum angin.

"Pendekar Mata Keranjang! Sengaja aku pura-pura tanya, untuk menyelidik. Ternyata kau memang manusia yang suka menipu! Jadi sanggahan mu atas tuduhan membunuh Ageng Panangkaran pasti juga tipuan mulutmu belaka!"

"Orang tua! Hati-hati bicara. Jangan sampai anak muda berani karena kau ceroboh keluarkan kata-kata!"

"Kau memang pandai bicara! Dan mulutmu layak dihajar, bahkan kalau perlu kau harus tewas! Sebagai orang persilatan, aku malu melihat sikapmu!"

"Kau tak perlu malu, Orang, Tua. Karena semua itu masih berita! Justru seharusnya kau malu pada dirimu sendiri. Kau pura-pura tuli dan pura-pura tak tahu siapa aku. Dan hal itu kau buat untuk masalah! Kau ternyata mempunyai bakat untuk menjadi orang licik!"

Mendengar kata-kata Pendekar Mata Keranjang, Manusia Titisan Dewa naik pitam. Sepasang matanya membuka dan langsung berkilat-kilat merah. Tapi kali ini Aji tak mau didahului. Sebelum orang tua itu lancarkan serangan, Pendekar 108 telah melompat ke arah samping, lalu kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Sebenarnya murid Wong Agung ini tidak mau gegabah turun tangan untuk lakukan serangan. Namun melihat gelagat tidak baik pada ucapan orang, Pendekar 108 dapat menduga jika orang tua ini mempunyai niat jelek padanya.

Mendapat serangan, Manusia Titisan Dewa bukannya segera menangkis atau cepat menghindar. Dia terlihat mengumbar tawa panjang. Bahkan ketika rangkuman angin kiriman Pendekar 108 telah satu depa di hadapannya! Namun ketika serangan itu sejengkal lagi menghajar, Manusia Titisan Dewa takupkan kedua tangannya.

Settt!

Tiba-tiba tubuh Manusia Titisan Dewa berputar dan lenyap! Pukulan Pendekar 108 menghantam tempat kosong. Dan tahu-tahu tubuhnya telah berada di atas Pendekar Mata Keranjang!

Wess! Wess! Weesss! Weessss!

Manusia Titisan Dewa sapukan kedua kakinya, sedangkan kedua tangannya pegang tangan jubahnya dan disibakkan. Kejap itu juga terdengar deruan angin dahsyat empat kali berturut-turut. Dua terdengar dari kakinya, dua lagi karena kelebatan jubahnya.

Dalam situasi demikian akan membahayakan jika bertindak ayal. Apalagi membuat gerakan menghindar. Sadar akan hal itu, Pendekar Mata Keranjang 108 jejakkan kakinya hingga tubuhnya melesat ke udara. Di udara dia juga segera sapukan kakinya ke depan, tangannya bergerak mendorong.

Prakk! Praakkk!

Bentrok dua pasang kaki tak dapat dihindarkan lagi. Suaranya keras dan mengerikan, karena keduanya telah alirkan tenaga dalam masingmasing pada kaki. Namun akibat yang ditimbulkannya lebih mengerikan lagi. Karena begitu terjadi bentrok, tubuh Pendekar 108 terputar balik mengikuti mentalan kakinya. Lalu tubuhnya melayang dan jatuh terhempas di atas tanah! Suara gedebukan tubuhnya tak lama kemudian disusul dengan suara erangan dari mulutnya.

Lima tombak di hadapan Pendekar 108, Manusia Titisan Dewa terlihat terhuyung-huyung sebentar, namun begitu kakinya meliuk hendak jatuh, tiba-tiba orang tua ini tubuhnya terangkat satu jengkal di atas tanah, hingga meski tubuh orang ini pada akhirnya terkapar, tapi berada satu jengkal di atas tanah! Hingga selamatlah dia dari benturan dengan tubuh di bawahnya! Orang tua ini segera bergerak bangkit. Dengan kaki terpentang kokoh sejengkal di atas tanah, dia segera hantamkan kedua tangannya disertai bentakan melengking.

Wuttt! Wuutttt!

Tak terlihat sambaran angin atau gemuruh suara deruan. Namun saat itu juga cuaca mendadak berubah redup. Hawa dingin menghampar. Namun cuma sekejap. Sesaat kemudian cuaca terang-benderang, dan udara dingin berubah panas menyengat! Hal ini terjadi silih berganti. Hebatnya makin lama udara dingin makin mencekam, sementara udara panas makin menyengat. Bersamaan dengan itu, larikan-larikan sinar hitam dan putih serta kuning pelangi melesat ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Manusia Titisan Dewa tampaknya telah lancarkan jurus sakti 'Menggiring Pelangi Membalik Hawa' yang merupakan kesatuan dan pendalaman dari jurus 'Menggiring Sinar Menebar Hawa' yang diwariskan pada Sakawuni.

"Celaka!" gumam Aji melihat ganas dan hebatnya serangan yang dilancarkan orang tua di hadapannya. Tiba-tiba Pendekar 108 berkerut.

"Serangannya mirip dengan serangan Sakawuni! Apakah...?" Aji tak dapat meneruskan kata hatinya, karena saat itu tubuhnya telah berkeringat panas dingin, akibat tebaran hawa yang dilancarkan Manusia Titisan Dewa. Tubuhnya pun berguncang karena tanah pijakannya perlahanlahan juga bergetar! Dan lebih dari itu semua, sinar pelangi telah melabrak ke arahnya!

"Saat kugunakan pukulan 'Mutiara Biru'!" Pendekar 108 cabut kipas dari balik pa-

kaiannya, kaki kiri ditarik ke belakang. Tangan kanannya menebar kipas sementara tangan kiri didorong ke depan dengan tenaga dalam penuh! SEBELAS

Telapak tangan kiri Pendekar Mata Keranjang 108 berubah menjadi biru berkilau. Lalu seberkas sinar biru berkilau melesat ke depan memapak sinar pelangi. Tak terdengar adanya letupan keras saat sinar biru bertemu dengan sinar pelangi. Namun hebatnya, kejap itu juga cuaca berubah menjadi tak karuan. Tebaran panas dan dingin lenyap seketika! Keadaan menjadi temaram. Padahal matahari bersinar sangat terik! Bersamaan dengan itu, tempat itu bergetar hebat! Pohon-pohon berderak lalu tumbang. Semak belukar tercerabut dan menghambur ke udara! Tanah di sana-sini terbongkar keluarkan suara menggidikkan. Angin laksana badai menghempas.

Ketika semuanya sirap, tampak Pendekar

108 terkapar di atas tanah dengan tubuh basah kuyup. Pada sudut bibirnya meleleh cairan kehitaman pertanda dia terluka dalam. Kedua tangannya terlihat gemetar hebat, hingga kipas ungunya terlepas dan jatuh di samping tubuhnya. Namun murid Wong Agung ini tidak mau bertindak gegabah. Meski dengan menahan sakit dan nyeri pada dada serta kedua tangannya, dia merambat bangkit. Kipas yang tergeletak segera dipungutnya. Tangan kirinya bergerak mengusap dadanya salurkan tenaga dalam. Sepasang matanya memejam rapat dengan napas dihembuskan panjang dan dalam-dalam. Murid dari Karang Langit ini coba pulihkan kembali tenaganya. Sementara itu, di depannya terlihat Manusia Titisan Dewa juga melintang di atas tanah. Namun orang tua ini cepat bangkit duduk. Kedua tangannya pun terlihat bergetar. Demikian juga tubuhnya. Bibir orang tua ini terlihat menyeringai, lalu kepalanya bergerak ke samping dan meludah. Ternyata ludahnya telah berwarna kehitaman. Pertanda tubuh bagian dalamnya juga cidera. Dia segera pula usap-usap dadanya seraya salurkan tenaga dalam.

Ternyata, meski kedua orang ini hanya saling bentrok tenaga dalam lewat hantaman tangan masing-masing, namun karena tenaga dalam yang mereka keluarkan demikian kuat, hingga meski tubuh mereka tak bertemu, namun masing-masing orang mengalami luka dalam yang cukup parah!

Beberapa saat berlalu. Kedua orang ini terlihat sama-sama duduk seraya salurkan tenaga dalam masing-masing untuk mengatasi cidera pada dada masing-masing. Namun orang tua di hadapan Pendekar 108 terlihat segera bisa kuasai dirinya. Meski begitu diam-diam dalam hati Manusia Titisan Dewa berucap.

"Seumur-umur baru kali ini aku berhadapan dengan anak muda yang mampu menahan seranganku! Tapi kulihat dia terluka cukup parah. Ini kesempatan baik. Akan kuhantam dia sekali lagi dengan pukulan 'Menggiring Pelangi Membalik Hawa'!" Manusia Titisan Dewa lantas takupkan kedua tapak tangannya. Lalu dibuka perlahanlahan. Dan serta-merta dihantamkan ke arah Pendekar Mata Keranjang 108. Melihat orang tua kembali kirimkan serangan, Pendekar 108 tampak terkejut. Karena waktu itu dia masih kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi dadanya. Kalau dia menangkis serangan dan tubuhnya belum dapat dia kuasai, tak mustahil dirinya akan mengalami akibat yang sangat fatal. Kalau tidak menangkis, maka dirinya akan dengan telak menerima hajaran.

Karena bimbang dengan apa yang hendak dilakukannya, maka untuk beberapa saat murid Wong Agung ini tampak tercenung.

"Habis riwayatmu, Anak Manusia!" gumam Manusia Titisan Dewa dengan bibir sunggingkan seringai maut. Apalagi tatkala dilihatnya Pendekar Mata Keranjang tak membuat gerakan menangkis padahal meski serangannya tak terlihat namun sinar pelangi telah satu depa lagi di hadapannya!

Kalau Manusia Titisan Dewa sunggingkan senyum pertanda kepuasan, sebaliknya Pendekar Mata Keranjang 108 sunggingkan senyum kecut. Malah wajahnya tampak pucat pasi, tubuhnya gemetar. Dia tak menduga jika lesatan serangan lawan demikian cepat, hingga meski kini dia telah dapat kuasai tubuhnya, namun keadaannya sudah sangat terlambat untuk membuat gerakan menangkis atau menghindar!

"Celaka! Tuntas riwayat hidupku...," gumam Aji dengan paras pias.

Pada saat yang mengerikan itu, tiba-tiba melesat sesosok bayangan. Aji merasakan ada sambaran angin dahsyat menerpa tubuhnya dari arah samping yang membuat tubuhnya terpental dan bergulingan di atas tanah. Namun hal itu telah menyelamatkan tubuhnya dari hantaman serangan Manusia Titisan Dewa.

Serangan Manusia Titisan Dewa terus menerabas dan menghantam sebuah pohon. Pohon itu langsung tumbang dan hancur berkepingkeping. Tanah di sekitar pohon itu terbongkar besar dan tanahnya membumbung ke angkasa menutupi tempat itu. Hingga tempat itu sesaat menjadi gelap tertutup hamburan tanah.

Begitu hamburan tanah sirap, sepasang mata Manusia Titisan Dewa terlihat liar berkilatkilat. Pelipisnya bergerak-gerak dengan dagu terangkat. Tubuhnya terguncang menahan amarah yang melanda dadanya melihat ada orang ikut campur menyelamatkan jiwa Pendekar 108.

Dan ketika sepasang matanya menangkap sesosok manusia di samping Pendekar Mata Keranjang, dia segera membentak dengan suara lantang.

"Kau ikut masalah ini, berarti kau harus tebus dengan nyawamu!"

Sosok yang dibentak bukannya menjawab. Malah tertawa cekikikan dan bergerak putar-putar seakan sedang menari lalu tiba-tiba 'Bukkk' dia duduk menggelosoh di atas tanah!

Dia adalah seorang perempuan tua bertubuh gemuk besar. Rambutnya putih dan disanggul ke atas. Sepasang matanya besar dan sayu. Bibirnya dipoles dengan merah-merah. Dia mengenakan anting-anting sebelah sangat besar yang dimuati beberapa anting-anting kecil. Pendekar 108 segera bergerak bangkit, dan mulutnya ternganga melihat siapa adanya orang yang telah menyelamatkannya.

"Dewi Kayangan....," gumam Aji seraya usap-usap hidungnya dengan kepala menggeleng melihat tingkah perempuan gemuk besar yang bukan lain memang Dewi Kayangan.

Pendekar 108 segera melangkah mendekat. Namun belum sampai dia keluarkan kata-kata, Manusia Titisan Dewa telah kembali membentak.

"Kali Nyamat!" kata Manusia Titisan Dewa menyebut nama asli Dewi Kayangan. "Kau datang pada saat yang tepat. Dan terimalah ajalmu bersama-sama manusia pembunuh itu!"

Dewi Kayangan masih tidak menyahut. Malah kini berpaling pada Pendekar Mata Keranjang dan serta-merta tertawa cekikikan dengan keras!

"Kau dengar manusia yang bergelar Manusia Titisan Dewa telah menentukan ajal seseorang? Bukan seseorang, dua orang. Kau dan aku! Heran ya.... namanya saja masih manusia, tapi dapat menentukan ajal.... Kau sudah siap...?"

Ditanya demikian, Pendekar 108 segera menimpali.

"Dikatakan siap ya sudah, dikatakan belum ya belum "

"Wan, omongmu terlalu sukar dicerna. Coba terangkan lebih jelas bukankah di sini ada manusia yang bisa menentukan ajal? Kalau dia bisa mengerti omongan mu, siapa tahu dia memperpanjang umur kita. ? Untung buatmu, karena kau

masih bisa melihat gadis-gadis cantik. Hik... hik... hik...!"

"Aduh, aku tidak bisa lagi menjabarkan

omongan itu. Hanya saja yang namanya manusia pasti dapat mencerna kata-kataku. Kalau tidak bisa... ya mungkin saja orang tolol yang hampir mendekati ajal "

"Husss! Jangan keras-keras bicara soal ajal. Di sini ada orang yang bagian mengurusi! Bisabisa nyawamu dicabut!"

"Keparat! Akan kubuktikan bahwa kalian memang orang-orang yang pantas menemui ajal!" bentak Manusia Titisan Dewa seraya buka telapak tangannya dan siap lancarkan serangan.

Di depan Pendekar 108 jongkok dan memegang Dewi Kayangan lalu berbisik.

"Dewi. Siapakah orang tua angker itu?" "Dialah manusianya yang bergelar Manusia

Titisan Dewa!"

Pendekar Mata Keranjang terhenyak. Dia memang pernah mendengar tokoh silat bergelar Manusia Titisan Dewa. Menurut yang didengar, tokoh ini berilmu tinggi dan jarang muncul. Sikap dan jalan pikirannya sukar ditebak.

"Dewi. Apakah dia mempunyai seorang mu-

rid?"

Dewi Kayangan cekikikan, namun di sela-

sela cekikannya dia menjawab.

"Dulu kabarnya dia punya murid. Namun muridnya itu akhirnya dibunuh sendiri gara-gara menolak perintahnya. Kenapa kau menanyakan hal itu?"

Pendekar 108 sejenak terdiam. Lalu setelah berpikir dia berkata. "Aku melihat jurus yang diperagakan Sakawuni mirip dengan jurus orang tua itu!"

"Sakawuni...? Siapa Sakawuni? Laki apa perempuan...?!"

Pendekar 108 jadi geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Dewi Kayangan. Seraya nyengir dia berkata.

"Sakawuni adalah seorang gadis cantik yang kau tolong beberapa saat yang lalu dari seranganku! Kau ingat? Dia mengenakan baju coklat bergaris-garis, rambutnya segini...!" kata Pendekar 108 sambil gerakkan tangan kanannya diletakkan di punggung.

"Hmm...," Dewi Kayangan manggutmanggut hingga terdengar gemerincing antingantingnya. "Berat dugaan gadismu itu memang telah berguru pada tua bangka itu. Sekarang kau taruh di mana gadismu itu?"

Meski dalam hati menggerendeng habishabisan karena menyamakan Sakawuni dengan barang yang bisa ditaruh namun murid Wong Agung ini gelengkan juga kepalanya memberi isyarat bahwa dia tak tahu di mana Sakawuni.

Saat kedua orang ini sedang berbisik-bisik, tiba-tiba Manusia Titisan Dewa telah hantamkan kedua tangannya.

Seberkas sinar pelangi melesat ke arah Dewi Kayangan dan Pendekar 108 tanpa keluarkan suara. Namun karena dadanya bagian dalam telah cidera akibat bentrok pukulan dengan Pendekar 108, maka lesatan sinar pelangi itu telah tidak seganas tadi. Bahkan hamparan hawa panas dan dingin yang menyertai sinar itu tidak lagi begitu menyengat dan mencekam.

Dewi Kayangan segera tarik tangan Pendekar Mata Keranjang. Kedua orang ini saling bergulingan di atas tanah. Begitu gulingan Dewi Kayangan terhenti, perempuan ini cepat tekankan kedua sikunya ke atas tanah. Settt! Tubuhnya membumbung dan lenyap di udara. Sementara Pendekar

108 langsung bangkit dan memperhatikan. Sebenarnya dia ingin juga lancarkan serangan balasan, namun ketika Dewi Kayangan dilihatnya bergerak, dia urungkan niat. Dia merasa tidak layak untuk mengeroyok.

Di depan, tiba-tiba sosok Dewi Kayangan muncul dan tahu-tahu telah tegak dua langkah di samping Manusia Titisan Dewa. Kakek ini bukan main terkejutnya. Namun dia segera tersadar. Serta-merta kedua tangannya dihantamkan sekaligus ke samping.

Namun karena gerakannya telah lamban, maka sebelum kedua tangannya menghantam, Dewi Kayangan telah angkat kedua tangannya dan didorongkan ke samping ke arah Manusia Titisan Dewa yang sedang hendak lepaskan pukulan.

Desss!

Manusia Titisan Dewa terpekik. Sosoknya terpelanting sampai lima tombak ke samping dan jatuh bergelimpangan di atas tanah tak jauh dari tempat Pendekar 108 berdiri.

Terbungkuk-bungkuk Manusia Titisan Dewa bergerak bangkit. Ketika dia memeriksa bahunya yang terasa nyeri dan panas, sepasang matanya membelalak besar. Jubah birunya bagian bahu terlihat robek besar dan hangus! Bahkan kulit di bahunya terlihat berubah menjadi hitam legam!

"Jahanam keparat!" maki Manusia Titisan Dewa sambil pejamkan matanya kerahkan tenaga dalam untuk menahan rasa panas yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Kalau saja aku tidak dalam keadaan cidera, akan kubuat tanggal kepalanya! Hm Untuk

sementara masalah ini harus ku tunda. Terlalu bodoh jika aku melawan "

Di seberang, Dewi Kayangan keluarkan cekikikan panjang dan keras. Lalu tengadahkan kepala dan berucap.

"Manusia Titisan Dewa! Kalau kau masih berdiri saja, jangan menyesal jika aku mewakili malaikat pencabut nyawa untuk menanggalkan nyawamu! Meski sang malaikat tidak memerintahku! Hik... hik... hik !"

"Bangsat!" teriak Manusia Titisan Dewa dengan amarah yang meluap. Dia sebenarnya ingin mengadu jiwa. Namun karena sadar keadaannya terluka, maka tak mungkin dia melakukannya. Tapi kemarahannya tidak bisa ditahan lagi. Dan rasa marahnya ditumpahkan pada Pendekar 108 yang berdiri tak jauh darinya.

Tangan kanan kakek ini lantas digerakkan kirimkan serangan pada Pendekar Mata Keranjang.

Karena tidak menyangka, Aji terlihat terperangah kaget. Hingga dia diam saja seakan terkesima.

Pada saat itulah sebuah bayangan berkelebat. Bersamaan dengan itu terdengar deruan angin dahsyat. Pukulan jarak jauh Manusia Titisan Dewa terlabrak dan terdengarlah letupan dahsyat.

Pendekar 108 terpental dan jatuh terduduk. Sedang Manusia Titisan Dewa tersurut hingga tiga langkah ke belakang. Sepasang mata kakek ini menyengat tajam. Dia menduga bahwa Dewi Kayangan telah menyelamatkan Pendekar 108, namun dugaan orang tua ini meleset. 

Sama halnya dengan Manusia Titisan Dewa, Pendekar 108 pun menyangka bahwa Dewi Kayangan-lah yang menyelamatkannya. Namun murid Wong Agung jadi terbeliak tatkala mengetahui siapa adanya orang yang menangkis serangan Manusia Titisan Dewa.

Di seberang Dewi Kayangan makin keras dengan cekikikannya.

DUA BELAS

Di situ, tak jauh dari tempat Manusia Titisan Dewa tampak berdiri seorang gadis muda berparas cantik mengenakan pakaian warna coklat bergaris-garis.

"Sakawuni!" seru Pendekar Mata Keranjang 108 mengenali siapa adanya si gadis. Dahi murid Wong Agung ini mengernyit. Dalam hati diam-diam dia berucap. "Heran. Bukankah sesaat yang lalu dia menginginkan nyawaku? Namun kenapa tiba-tiba menyelamatkanku...? Atau hal ini dilakukan karena dia ingin membunuhku dengan tangannya sendiri...?"

Selagi Aji tercenung dengan menduga-duga, Manusia Titisan Dewa terlihat melotot angker begitu mengetahui siapa adanya si gadis. Dengan suara keras dia membentak.

"Sakawuni! Sadarkah kau dengan kelakuahmu? Atau kau telah melupakan sumpahmu?!"

Gadis muda berparas cantik yang memang bukan lain adalah Sakawuni tak segera menyahut ucapan Manusia Titisan Dewa yang bukan lain adalah gurunya sendiri. Dalam hati gadis ini digelayuti beberapa perasaan. Dia sendiri heran, kenapa hatinya masih juga tak tega melihat Pendekar 108 tewas.

"Keparat! Kenapa aku masih juga tak tega padanya?! Apakah karena aku masih mengharapkan dirinya?! Hmm.... Tidak! aku tak akan mengharap orang yang merenggut nyawa guruku! Tapi Kenapa dia masih menyangkal dengan per-

buatannya? Hm.., ini perlu waktu untuk menyelidikinya! Dan aku ingin dia roboh di tanganku sendiri jika perbuatannya terbukti!" setelah berpikir sejenak, dia berpaling pada gurunya. Lalu melangkah mendekat dan berkata.

"Guru! Aku sengaja memperpanjang umurnya, karena aku mengadu jiwa dengan. Dan aku ingin agar keparat itu tewas dengan tanganku sendiri!"

Mulut Manusia Titisan Dewa komat-kamit. Tubuhnya gemeletar menahan marah mendengar jawaban muridnya. Kepalanya berpaling pada jurusan lain.

"Murid Keparat! Seandainya tak diselamatkannya, pendekar itu pasti sudah tumbang! Hm.... Alasan yang diucapkannya mungkin mengada-ada! Namun yang sebenarnya dia masih mencintai pemuda itu! Jahanam!"

Berpikir sampai di situ, hawa amarah Manusia Titisan Dewa tak dapat dibendung lagi. Kepalanya bergerak kembali dan kini lurus menghadap Sakawuni.

"Murid Jahanam!" kata Manusia Titisan Dewa setengah berteriak. "Kau layak dapat hukuman atas ulahmu!"

Kaki Manusia Titisan Dewa tiba-tiba berkelebat menyambar.

Deesss!

Karena jaraknya dekat, hingga tak ada kesempatan bagi Sakawuni untuk bergerak menghindar dan menangkis terjangan kaki yang menghajar dadanya. Gadis ini terjengkang ke belakang sampai lima tombak dan jatuh bergelimpangan di atas tanah. Sesaat tubuhnya tampak bergerakgerak bahkan kepalanya terlihat terangkat lalu muntahkan darah kehitaman. Pertanda tubuh bagian dalamnya terluka parah.

"Sakawuni!" teriak Pendekar 108 sambil berkelebat mendatangi. Dipegangnya bahu gadis itu, lalu tubuhnya ditolong untuk bangkit. Namun mungkin karena terluka agak parah, sepasang mata gadis ini tampak meredup lalu memejam seraya keluarkan erangan tertahan. Tak lama kemudian kepalanya lunglai di pangkuan Pendekar 108. Gadis ini pingsan.

"Tua bangka jahanam!" teriak Aji lalu arahkan pandangannya pada Manusia Titisan Dewa. Namun murid Wong Agung ini terperangah. Manusia Titisan Dewa telah tidak ada lagi di tempatnya!

"Dewi! Ke mana larinya bangsat itu?" teriak Pendekar 108 pada Dewi Kayangan yang melangkah terbungkuk-bungkuk ke arahnya.

"Mana aku tahu! Lagi pula apa enaknya ngurusi ke mana perginya orang? Bukankah lebih baik menolong gadismu itu...? Bukankah dia yang kau ceritakan tadi. Hik... hik... hik...! Pucuk dicinta, ulam dibikin sate Enak memang!"

"Dewi. Jangan terus-terusan bercanda. Tolong aku menyelamatkan jiwa gadis ini!"

"Dasar anak geblek! Kalau ada susahnya teriak-teriak minta tolong, tapi kalau lagi mesramesraan menyinggung nama pun tidak! Hik...

hik... hik...! Jadi orang tua memang selalu bernasib jelek. Tidak seperti gadismu itu. Dia enakenakan diam, kamu yang pontang-panting seperti cacing kedinginan!"

Pendekar Mata Keranjang 108 menyumpah habis-habisan dalam hati demi mendengar katakata Dewi Kayangan. Dan dadanya makin jengkel tatkala dilihatnya Dewi Kayangan bukannya melangkah cepat, namun justru melenggak-lenggok laksana orang sedang menari. Malah seraya melenggak-lenggok dan mulutnya yang dipoles merah menyala tak putus-putusnya memperdengarkan suara tawa cekikikan!

Namun tiba-tiba saja suara cekikikannya lenyap. Aji yang telah alihkan pandangan pada Sakawuni segera angkat kepalanya. Dia terkejut, karena Dewi Kayangan tidak terlihat batang hidungnya.

"Sialan! Ke mana dia...?!"

Selagi Aji mencari-cari bahunya terasa ditepuk orang. Secepat kilat Aji menoleh. Hatinya lega, Dewi Kayangan ternyata telah ada di belakangnya.

"Masukkan ini ke mulutnya!" kata Dewi Kayangan seraya ulurkan tangannya memberikan dua butiran kecil berwarna merah. Tanpa pikir panjang lagi Pendekar 108 segera memungut dan memasukkannya pada mulut Sakawuni.

"Aji.... Setelah urusan gadis-gadis ini selesai, kau cepat temui aku! Dan satu hal lagi, bagaimana kalau gelarmu diganti saja! Gelar Pendekar Mata Keranjang 108 terlalu mendatangkan masalah bagimu! Hik... hik... hik...!"

"Gadis-gadis...?" gumam Pendekar 108 mengulangi ucapan Dewi Kayangan. "Dewi Di

sini hanya ada satu gadis. Dan apa maksudmu dengan mendatangkan banyak masalah...?!" kata Aji seraya palingkan wajahnya ke samping. Namun betapa terkejutnya murid Wong Agung ini, Dewi Kayangan ternyata telah tidak ada di sampingnya. Hanya sayup-sayup terdengar ucapannya di sela tawa cekikikan.

"Lihatlah jauh ke samping kiri… Hik... hik... hik!"

Pendekar 106 teruskan putaran kepalanya

menuruti ucapan Dewi Kayangan. Tiba-tiba Aji merasa terhenyak. Sepasang matanya menyipit dan membeliak.

Jauh di samping kiri Aji tegak berdiri seorang gadis cantik mengenakan pakaian warna hijau tipis. Sepasang mata gadis ini memandang lurus ke arah Aji yang sedang memangku kepala Sakawuni.

"Singa Betina Dari Timur...!" seru Pendekar

108 dengan suara tercekat di tenggorokan. "Dia nyatanya belum kembali ke Bima...," Pendekar 108 lalu lambaikan tangannya memberi isyarat agar si gadis mendekati

Namun yang dilambai segera balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat. Pendekar Mata Keranjang 108 menarik napas dalamdalam. Kepalanya menggeleng pelan.

"Gadis baik, bernasib belum baik "

Perlahan-lahan diangkatnya tubuh Sakawuni ke dalam rengkuhannya. Pendekar 108 lalu melangkah mencari tempat yang bisa digunakan untuk istirahat.

SELESAI