Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 16 : Arca Dewi Bumi

 
Eps 16 : Arca Dewi Bumi


MALAM merambat makin jauh. Angkasa terlihat gelap tak ditaburi satu bintang pun. Arakarakan awan hitam yang mendadak bergulung menambah hamparan bumi makin digenggam kebutaan.

Gunung Kembar, dua buah gunung yang berdiri kokoh saling berhadapan di daerah Bokor terlihat hitam kelam laksana dua tangan raksasa. Puncak keduanya tak terlihat menyemburkan asap seperti biasanya. Malah perlahan-lahan arakan awan hitam menutupi puncak gunung.

Di hutan kecil lereng Gunung Kembar, sesosok tubuh samar-samar tampak berkelebat cepat. Namun tak jarang sosok ini mendadak menghentikan kelebatan tubuhnya. Kepalanya menengadah, sepasang matanya berputar liar, ia sepertinya mencari sesuatu. Dan ketika matanya tak menemukan yang dicari, sosok ini berkelebat kembali ke arah Gunung Kembar.

Saat hutan telah terlewati dan gugusan dua gunung di depan matanya, sosok ini yang ternyata adalah seorang pemuda mengenakan pakaian hijau yang dilapis dengan baju dalam warna kuning lengan panjang kembali hentikan larinya. Kedua matanya yang menyorot tajam, liar menebar menembus kegelapan. Kepalanya bergerak ke sana kemari mengikuti arah pandangan matanya.

"Sialan benar! Aku tak bisa menyelidik jika keadaannya gelap begini!" rutuk sang pemuda seraya usap dahi dan lehernya yang telah dibasahi keringat.

"Apakah aku harus menanti hingga keadaan terang...?" batin sang pemuda seraya tarik kuncir rambutnya. Ia tampak bimbang, hingga untuk beberapa saat lamanya ia hanya tegak berdiri sambil sesekali menghela napas panjang.

"Semoga yang dikatakan Dewi Kayangan benar adanya, hingga perjalanan ini tidak siasia...," gumam sang pemuda yang bukan lain adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108.

"Arca Dewi Bumi.... Hmm.... Aku sebenarnya masih meragukan tentang adanya arca itu, meski Eyang Selaksa dan Eyang Wong Agung pernah mengatakan bahwa mendiang Guru mereka, Panembahan Gede Laksana pernah membicarakannya. Apalagi aku harus menemukan orang yang bernama Sahyang Resi Gopala, yang  katanya pemegang petunjuk tentang arca itu. Jika benar, bisa dihitung, berapa usia Sahyang Resi Gopala. Apakah itu mungkin?" pikir Pendekar 108 menghubung-hubungkan kete-rangan yang pernah didengarnya baik dari Eyang Selaksa  maupun Dewi Kayangan.

Untuk beberapa lama murid Wong  Agung ini berdiam diri. Lalu menghela napas panjang.

"Aku telah melakukan perjalanan cukup jauh. Terlalu bodoh jika harus diombangambingkan perasaan tanpa membuktikan sendiri! Dan...," Aji tak meneruskan gumamannya karena sepasang matanya melihat lengkungan tipis menyeruak di antara arak-arakan awan hitam yang mengambang di angkasa.

Sepasang mata Aji makin membeliak tatkala bersamaan dengan menyeruaknya lengkungan tipis berwarna kemerahan itu, arak-arakan awan hitam bergerak menyusur angkasa dan perlahan pula menghilang. Dan bersamaan dengan bergeraknya arakan awan hitam, lengkungan tipis berwarna kemerahan semakin membesar, dan akhirnya membentuk sebuah bulatan.

"Hmm.... Malam ini sebetulnya memang malam purnama! Tapi...!" Pendekar 108 membesarkan sepasang matanya, memandang tak berkedip ke arah bulatan bulan yang baru saja muncul dari balik arakan awan hitam.

"Heran. Apa mataku yang tidak normal...? Atau...?" Aji angkat kedua tangannya dan digosok-gosokkan pada kedua matanya. Lalu mata itu kembali memandang ke arah sang rembulan.

"Aneh. Pertanda apa ini...?" gumam Aji bertanya pada diri sendiri. Sepasang matanya tetap memandang tak kesiap pada rembulan yang kini telah membentuk bulat penuh. Namun bukan bulatan bulan ini yang membuat murid Wong Agung ini merasa heran dan aneh. Ternyata sang rembulan itu berwarna tidak seperti biasanya, melainkan berwarna merah darah! Dan juga terlihat sebuah lingkaran agak besar yang mengelilingi sang rembulan!

"Mudah-mudahan ini bukan pertanda buruk...," gumam Pendekar 108 seraya luruskan pandangannya, karena bersamaan munculnya sang rembulan, ke mana saja pandangannya dilayangkan akan nampak jelas. Hanya saja segala yang tampak oleh pandangan mata berubah warna menjadi kemerah-merahan!

"Menurut Dewi Kayangan, Sahyang Resi Gopala berada pada sebuah kuil kecil di sela dua gunung ini. Hmm.... Sebaiknya aku mencarinya sekarang...!"

Murid Wong Agung ini lantas putar pandangannya sebentar. Lalu bergerak hendak melangkah ke arah sela gunung yang tampak ditumbuhi semak belukar merangas tinggi-tinggi dan berwarna kemerahan tertimpa cahaya rembulan. Namun, gerakan kaki Pendekar 108 tertahan. Karena saat itu juga dua bayangan terlihat berkelebat dan berdiri kokoh dengan mata masingmasing memandang ke arah gunung.

"Siapa mereka...?!" kata Pendekar Mata Keranjang dalam hati seraya menindih rasa terkejut. Sepasang matanya tak berkedip memandangi dua sosok yang berdiri tak jauh darinya.

"Rupanya kita tak sendirian!" bisik  sosok yang sebelah kanan seraya lirikkan matanya pada Pendekar 108. Sosok yang di  sebelah  kiri  menghela napas. Tanpa melirik ia berkata.

"Aku sudah tahu! Tujuannya pun tentu sama dengan kita. Kita selesaikan dia sebelum kita meneruskan penyelidikan!"

Habis berkata demikian, sosok yang sebelah kiri ini gerakan tubuhnya ke samping, menghadap Pendekar Mata Keranjang.

Sebenarnya Aji hendak berkelebat menyelinap begitu dua bayangan tadi datang, namun karena kedatangan dua sosok ini begitu cepat dan mendadak, membuat murid Wong Agung urungkan niatnya. Ia berpikir, tak ada gunanya menyembunyikan diri, karena bagaimana pun juga perburuan Arca Dewi Bumi ini membutuhkan keberanian menghadapi siapa dan apa pun!

"Siapa kau...?.'" bentak sosok yang di sebelah kiri. Dia adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita. Mengenakan pakaian atas warna hijau tipis yang di bagian dadanya dibuat agak rendah, hingga sembulan dadanya yang tampak membusung menantang terlihat agak jelas. Pakaian bawahnya berwarna kembang-kembang yang di bagian tengahnya dibuat membelah, hingga tatkala angin malam menerpa, sepasang pahanya yang berkulit putih tampak jelas. Sepasang matanya bulat dan  tajam.  Rambutnya  panjang dan dikepang dua.

Mungkin karena masih terkesima dengan pemandangan di hadapannya, murid Wong Agung tak segera menjawab pertanyaan sang gadis berbaju hijau.

"Sebenarnya kita tak usah tahu siapa adanya orang kalau hanya ingin membunuh!" sambung sosok yang di sebelah kanan ketika mengetahui Pendekar Mata Keranjang tidak segera menjawab.

Seperti halnya sosok yang di sebelah kiri, ternyata sosok yang di sebelah kanan adalah juga seorang gadis muda. Parasnya juga cantik jelita. Mengenakan pakaian atas warna putih tipis dipadu dengan pakaian bawah kembang-kembang yang di bagian tengahnya juga dibuat membelah. Sepasang matanya juga bulat tajam. Hanya rambut gadis ini tampak dipotong pendek.

"Hmm.... Baru kali ini aku bertemu dengan gadis-gadis berparas cantik, bertubuh bagus dan tentunya berilmu tinggi. Siapa mereka? Ah, ternyata tempat ini telah pula diendus banyak orang! Sialan benar!" kata Pendekar 108 dalam hati sambil terus memperhatikan dua gadis cantik di hadapannya.

Dua gadis yang bukan lain adalah Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur sejenak saling berpandangan (Mengenai dua gadis ini baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode : "Badai di Karang Langit").

"Singa Betina! Kita tak usah banyak cincong dan pertimbangan! Lekas kita selesaikan pemuda itu!" berkata gadis berbaju putih saat dilihatnya Singa Betina Dari Timur tampak raguragu.

"Benar ucapanmu! Tapi tak ada salahnya kita mengetahui siapa adanya pemuda itu! Kita baru saja menginjakkan kaki di tanah Jawa, kita belum tahu seluk beluk daerah ini, lebih-lebih kita belum tahu tokoh-tokoh di tanah  Jawa  ini! Siapa tahu dia bisa memberi sedikit keterangan!"

"Hmm.... Berarti mereka orang-orang yang baru muncul! Dan mendengar percakapannya, mereka datang dari luar tanah Jawa! Siapa pun mereka, aku harus berhati-hati! Apalagi tujuan kedatangan mereka tak lain untuk mencari arca itu!" Pendekar 108 membatin, lalu alihkan pandangannya ke jurusan lain, seakan-akan tak mengacuhkan dua gadis di hadapannya.

"Pemuda ini wajahnya tampan, tubuhnya tegap, sorot matanya tajam. Hm. Apakah dia ju-

ga menginginkan arca itu...?" diam-diam  gadis yang berbaju hijau yang bukan lain adalah Singa Betina Dari Timur berkata dalam hati. Sepasang matanya terus memperhatikan Pendekar 108 dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Selagi Pendekar 108 arahkan pandangan pada jurusan lain, dan Singa Betina Dari Timur membatin, gadis berbaju putih yang bukan lain Bidadari Bertangan Iblis maju satu tindak seraya membentak lantang.

"He! Katakan cepat, siapa kau! Dan apa kerjamu malam-malam di sini?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 palingkan wajahnya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. Seraya usap-usap hidung dan sepasang mata memandang ke arah paha keduanya yang sedikit terbuka, ia berkata.

"Gadis cantik! Sebetulnya aku tak suka menyebutkan namaku, namun karena yang mengajukan pertanyaan adalah gadis-gadis cantik, atau terpaksa menghilangkan rasa tak sukaku!"

"He! Kau tak usah berpanjang lebar! Jawab saja pertanyaanku!" bentak si baju putih Bidadari Bertangan Iblis menyela kata-kata Aji.

"Wah, sebenarnya aku juga tak senang dibentak-bentak, namun karena yang membentak adalah gadis cantik, aku terpaksa harus menghilangkan rasa tak senangku...," kembali Aji hentikan ucapannya. Namun ketika dilihatnya Bidadari Bertangan Iblis membuka mulut hendak keluarkan suara, Aji buru-buru melanjutkan ucapannya.

"Namaku.... Zubaidah binti Mahmud! Seorang pengelana malam yang selalu menginginkan hadirnya sang rembulan! Kalau tak keberatan, harap kalian sudi mengatakan siapa kalian sebenarnya...!"

Mendengar kata-kata Pendekar 108, Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur saling berpadangan satu sama lain. Dahi kedua gadis ini tampak mengernyit.

"Aneh. Apakah aku tak salah dengar dengan apa yang disebutkan pemuda itu? Zubaidah binti Mahmud.... Hmm...," batin si  baju hijau  Singa Betina Dari Timur seraya tercenung.

Kalau Singa Betina Dari Timur tercenung, tidak demikian halnya dengan Bidadari Bertangan Iblis. Gadis ini langsung alihkan pandangannya pada Pendekar 108. Sepasang matanya menyengat tajam. Ia merasa perkataan pemuda di hadapannya adalah bohong. Dengan melotot ia membentak garang.

"He! Waktu kami sangat terbatas! Sebelum habis kesabaran kami, jawab dengan sungguhsungguh pertanyaan kami!"

Pendekar Mata Keranjang 108 usap ujung hidungnya. Sepasang matanya balas menatap pada Bidadari Bertangan Iblis.

"Gadis cantik!  Ketahuilah,  nama  itu  pemberian kedua orangtuaku! Aku tak berani merubahnya meski sebagian orang memang agak heran! Malah sebagian ada yang usul agar diganti Zubaidah binti Zubaini! Walau nama itu agak bagus namun aku tak ada niatan untuk merubahnya! Kau sendiri siapa?!"

Bidadari Bertangan Iblis mendengus keras, sementara Singa Betina Dari Timur diam-diam tertawa dalam hati.

Entah untuk menggertak atau memperkenalkan nama besarnya, dengan raut muka menahan marah dan berpaling ke jurusan lain si baju putih Bidadari Bertangan Iblis berkata.

"Dengar baik-baik! Aku adalah Bidadari Bertangan Iblis, sedang saudara  seperguruanku ini bergelar Singa Betina Dari Timur! Kami adalah orang-orang dari Pulau Bima!"

Meski sebenarnya Pendekar Mata Keranjang 108 belum pernah mendengar  nama-nama itu, namun ia pura-pura terperanjat dan berkata sambil bungkukkan sedikit bahunya.

"Ah, kiranya inikah tokoh-tokoh dari tanah seberang yang namanya begitu kesohor hingga tanah Jawa. Aku sangat gembira dapat berjumpa dengan orang-orang hebat seperti kalian! Tapi apa gerangan yang membuat tokoh-tokoh hebat macam kalian jauh-jauh datang ke  tanah  Jawa  dan ke tempat yang tak berpenghuni ini...? Apakah kalian tak salah alamat? Atau memang kalian pengelana malam sepertiku ?"

Bidadari Bertangan Iblis tertawa panjang. Sedangkan Singa Betina Dari Timur diam. Hanya sepasang matanya terus tak beranjak memperhatikan Pendekar 108.

Namun tiba-tiba si baju putih Bidadari Bertangan Iblis hentikan tawanya. Tanpa memandang lagi pada Pendekar Mata Keranjang, ia berkata.

"Siapa pun kau, tak berhak bertanya tentang kedatangan kami!"

"Dan cepat tinggalkan tempat ini!" sambung si baju hijau Singa Betina Dari Timur.

Mendengar sambungan kata-kata Singa Betina Dari Timur, Bidadari Bertangan Iblis berpaling. Dahinya berkerut. Ia merasa heran saudara seperguruannya menyuruh sang pemuda segera pergi, padahal pada awalnya ia yang mengatakan ingin lekas menyelesaikan sang pemuda. Namun perasaan heran Bidadari Bertangan Iblis tidak berlangsung lama, karena saat itu juga Pendekar 108 angkat bicara.

"Bidadari Bertangan Iblis, Singa Betina Dari Timur! Kalau aku tak diberi hak untuk bertanya, itu tak apa! Tapi Permintaan kalian agar

aku tinggalkan tempat ini, rasa-rasanya tak mungkin kulakukan!"

Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur kembali saling berpandangan. Dan sebelum salah satu di antaranya ada yang buka mulut, Pendekar Mata Keranjang 108 telah melanjutkan ucapannya.

"Seperti kataku tadi, aku adalah pengelana malam. Dan kalian tentu tahu, sebagai sang pengelana malam sungguh disayangkan jika begitu saja melewatkan malam yang sangat aneh ini! Lihatlah di sela gunung itu!"

Meski dengan perasaan masing-masing, Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur sama-sama arahkan pandangannya pada tempat yang dikatakan Aji.

Kedua gadis dari daratan Bima ini samasama melengak kaget. Mata keduanya membeliak besar. Entah kapan berpindahnya, mendadak saja sang rembulan yang berwarna  merah  darah dan memancarkan cahaya kemerah-merahan itu kini muncul di sela dua Gunung Kembar

Dengan masih diselimuti beberapa tanda tanya, Singa Betina Dari Timur menoleh pada Bidadari Bertangan Iblis. Sesaat dipandanginya gadis muda berpakaian putih tipis itu. Mulutnya bergerak membuka seakan hendak mengucapkan sesuatu. Namun ia urungkan tatkala dilihatnya saudara seperguruannya itu sedang menekuri sang rembulan. Sejenak Singa Betina Dari Timur tampak dilanda kebimbangan. Namun akhirnya ia palingkan kembali wajahnya lurus ke depan dan kembali memandang sang rembulan. Tapi hanya sesaat. Tak berselang lama,  gadis  berbaju  hijau ini palingkan kembali pada saudara seperguruannya. Setelah menghela napas, dia berbisik perlahan.

"Bidadari! Kita tak boleh terbawa perasaan! Kita lanjutkan perjalanan! Dan suruh pemuda itu meninggalkan tempat ini! Apa pun alasannya!"

Bidadari Bertangan Iblis anggukan kepalanya. Lalu berpaling pada Pendekar Mata Keranjang dan berkata.

"Pengelana malam! Seperti kataku tadi, waktu kami pun terbatas! Apa  pun  alasanmu, kami tak mau tahu. Yang pasti, kau harus cepat tinggalkan tempat ini! Kau bisa menikmati bulan itu jauh dari sini!"

Pendekar Mata Keranjang 108 tersenyum, kepalanya bergerak menggeleng.

"Ah, sayang sekali. Permintaanmu tak bisa kulakukan! Bulan itu hanya akan tampak mempesona jika dipandang dari sini!"

"Hmm.... Begitu? Berarti kau menyianyiakan kesempatan yang kami berikan!"

"Maksudmu...?" tanya Pendekar 108. Bidadari Bertangan Iblis tertawa sinis. "Pada mulanya kami ingin membunuhmu!

Namun melihat kau hanyalah seorang pengelana malam, keinginan itu kami urungkan. Dengan syarat kau  harus tinggalkan tempat ini. Jika kau tak meninggalkan tempat ini, kematianlah yang menantimu!"

Pendekar 108 menghela napas panjang. Tangan kanannya bergerak menarik-narik kuncir rambutnya.

"Ah, betapa malang nasib sang pengelana malam. Ingin melihat indahnya sang  rembulan saja tebusannya harus mati! Apakah tidak ada tebusan yang lebih ringan?"

"Kau rupanya membuat kesabaranku hilang! Terimalah nasib malangmu!" habis berkata begitu si baju putih Bidadari Bertangan Iblis tarik kedua tangannya sedikit ke belakang, dan sertamerta di dorong ke arah Pendekar Mata Keranjang.

DUA

ANGIN menggemuruh dahsyat dan menyambar cepat. Pendekar 108 segera melompat ke arah samping, dan dari tempatnya kini, murid Wong Agung segera pula dorong kedua tangannya. Hal ini sengaja ia lakukan untuk menjajaki tenaga dalam lawan.

Plarrr!

Letupan keras terdengar memuncah kesunyian lereng Gunung Kembar tatkala dua  pukulan bertenaga dalam itu  bentrok di  udara. Tanah di tempat itu terasa bergetar dan semak belukar terpapas ujungnya hingga rata!

Bidadari Bertangan Iblis surutkan langkah satu tindak. Dahinya mengkerut, sementara sepasang matanya yang bulat makin membesar. Dia merasa pemuda di hadapannya bukanlah orang yang bisa dianggap enteng. Karena begitu bentrok pukulan terjadi, ia merasakan kedua tangannya gemetar dan kesemutan!

Di seberang, Pendekar Mata Keranjang sendiri sadar jika Bidadari Bertangan Iblis tak bisa dihitung remeh. Dengan bentrok pukulan tadi, murid Wong Agung ini bisa mengukur bila tenaga dalam sang gadis berbaju putih ini sangat kuat.

"Setan alas! Tampaknya pemuda ini bukan orang sembarangan! Keyakinanku bahwa namanya bukan nama sebenarnya makin terbukti! Dia hanya berpura-pura mengaku sebagai pengelana malam! Hmm....  Siapa  pun  dia,  yang  pasti dia sedang dalam perjalanan untuk mencari arca itu! Dia harus segera disingkirkan!" batin Bidadari Bertangan Iblis. Lalu gadis ini meloncat ke arah Singa Betina Dari Timur dan berbisik.

"Singa Betina! Pengakuan pemuda ini tak bisa dipercaya! Aku yakin pemuda ini tujuannya sama dengan kita! Dia harus cepat kita sudahi!"

Sejenak Singa Betina Dari Timur masih termangu memandangi Pendekar 108. Dalam hati gadis ini pun sebenarnya punya dugaan seperti saudara seperguruannya. Namun gadis berbaju hijau ini punya perasaan lain yang ia sendiri tak bisa menguraikannya, apalagi jika pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Pendekar 108.

"Singa Betina! Bagaimana pendapatmu?!" tanya Bidadari Bertangan Iblis tatkala ditunggu agak lama, Singa Betina Dari Timur belum juga menyahut.

"Bidadari! Aku pun punya dugaan sepertimu! Tapi, kalau keadaan  tidak  terpaksa,  lebih baik kita usir saja dia dari sini! Terlalu banyak resiko jika kita langsung turun tangan untuk membunuhnya!"

Meski dalam hati dilanda berbagai pertanyaan atas kata-kata saudara seperguruannya, namun Bidadari Bertangan Iblis tak  menunjukkan perasaan itu. Seraya maju setindak, ia berkata lantang. "He! Hari ini kami masih punya sedikit perasaan! Kuperingatkan dirimu sekali lagi. Lekas tinggalkan tempat ini!"

Pendekar Mata Keranjang 108 gelengkan kepalanya perlahan.

"Bidadari! Singa Betina! Dengarlah sekali lagi. Aku tak akan menyia-nyiakan pemandangan bagus ini! Karena setelah berkelana berpuluhpuluh tahun menjelajahi malam, baru kali ini aku mendapatkan pemandangan sebagus ini! Jadi bagaimanapun juga aku tak aman meninggalkan tempat ini! Kalau kalian merasa terganggu, kalian boleh pergi!"

"Keparat!" rutuk Bidadari Bertangan Iblis. Kemarahan dalam diri sang gadis tampaknya sudah tidak bisa dibendung lagi. Apalagi ketika Aji secara halus mengusir mereka dari tempat itu. Maka dengan didahului bentakan keras Bidadari Bertangan Iblis, kembali lancarkan serangan! Kali ini dengan berkelebat ke samping, dan sebelum kedua kakinya menginjak tanah, kedua  tangannya sudah menyentak ke arah Pendekar 108!

Pendekar 108 yang sedari tadi telah waspada, lesatkan tubuhnya ke atas menghindari serangan Bidadari Bertangan Iblis. Namun murid Wong Agung ini terperanjat, karena begitu tubuhnya berada di udara, dari sisi samping tiba-tiba bersiur angin dahsyat.

Wuuuttt!

Tanpa berpaling ke sisi, Aji segera sentakkan tangan kanannya.

Wuuuttt! Angin kencang melesat memapak sambaran angin dari arah sisi. Hebatnya, sentakan tangan kanan Aji tak mampu membuat sambaran angin yang melesat ke arahnya terpapasi! Sambaran angin yang melesat ke arahnya laksana punya mata dan dapat dikendalikan. Karena begitu tangan Aji menyentak, sambaran angin itu membelok dan kini menyambar dari arah atas!

"Sialan!" maki Pendekar 108 seraya sentakkan kembali tangan kanannya ke atas!

Wuuuttt! Plaaarrr!

Kali ini bentrok pukulan tak bisa dihindarkan lagi, karena Aji memang sengaja menunggu hingga sambaran angin yang ke arahnya begitu dekat.

Tapi, lagi-lagi murid Wong Agung ini dibuat terkejut, karena begitu terjadi bentrok pukulan, dan tubuhnya baru saja mendarat, Bidadari Bertangan Iblis telah merangsek dari udara dengan kaki menyilang, sementara kedua tangannya mengarah pada kepala dan dada!

"Aku tak bisa tinggal diam! Urusan ini harus segera kuselesaikan! Waktu akan habis jika berlama-lama!" pikir Aji. Kedua tangannya lalu diangkat ke atas kepala, sementara kaki kanannya diangkat sejajar dada.

Brak! Desss!

Bidadari Bertangan Iblis terdengar keluarkan seruan tertahan, tubuhnya  melenting  balik ke atas. Untung gadis ini segera membuat gerakan jungkir balik di udara, jika tidak niscaya tubuhnya akan jatuh terkapar.

Pendekar Mata Keranjang sendiri sempat terseret tiga langkah ke belakang, namun ia segera dapat menguasai tubuhnya.

Melihat saudara seperguruannya dapat dibuat mental ke udara, Singa Betina Dari Timur yang sedari tadi hanya melihat cepat melompat. Dan ketika Pendekar 108 baru dapat menguasai tubuhnya, gadis berbaju hijau ini segera merangsek maju sambil hantamkan kedua tangannya!

Wuuuttt!

Sambaran angin kencang melesat mendahului hantaman tangan, hal ini menunjukkan bahwa hantaman tangan itu bukan main-main. Sadar akan hal itu, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat pula kelebatkan kedua tangannya dari arah samping kanan dan kiri.

Prak! Prakkk!

Bentrok tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tak bisa dielakkan lagi.

Singa Betina Dari Timur terlihat mundur sampai empat langkah ke belakang.  Wajahnya yang cantik nampak meringis menahan sakit pada kedua tangannya. Sedangkan Pendekar Mata Keranjang geser tubuhnya satu tindak ke arah samping.

"Sudahlah! Tak ada gunanya hal ini diteruskan! Kalian bisa kemari lagi besok malam! Malam ini biarlah keindahan sang rembulan jadi milikku!" kata Pendekar 108 seraya usap-usap lengannya yang baru saja bentrok dengan tangan Singa Betina Dari Timur.  "Jangan   harap   kau   bisa   melewati   malam ini dengan selamat!" bentak Bidadari Bertangan Iblis, lalu tubuhnya berkelebat dan lenyap di udara!

Melihat hal ini,  Singa  Betina  Dari  Timur tak tinggal diam, meski dalam hati masih digelayuti perasaan yang tak bisa diartikan, namun gadis ini tak mau rencananya porak  poranda. Maka ia pun segera melesat ke udara.

Dari atas udara, tiba-tiba Bidadari Bertangan Iblis telah bersatu dengan Singa Betina Dari Timur, dan serta-merta kedua gadis dari daratan Bima ini lancarkan serangan!

Bidadari Bertangan Iblis kerahkan segenap tenaganya pada kedua tangannya, dan dihantamkan ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang. Sebelum kedua tangan datang menghantam, terlihat larikan-larikan sinar putih lebih dulu menggebrak. Singa Betina Dari Timur yang tampaknya tak mengharapkan kematian, hantamkan kedua tangannya, tapi diarahkan pada kaki Pendekar Mata Keranjang!

Melihat serangan bahaya dan datang dari arah dua jurusan, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat buat gerakan jumpalitan. Kedua kakinya melejang ke atas memapak kedua tangan Bidadari Bertangan Iblis sementara kedua tangannya mendorong ke depan memapak serangan Singa Betina Dari Timur.

Des! Desss!

Terdengar dua kali seruan tertahan saat kedua kaki dan tangan Pendekar 108 bertemu dengan kedua tangan Bidadari  Bertangan  Iblis dan Singa Betina Dari Timur.

Baik tubuh Bidadari Bertangan Iblis maupun Singa Betina Dari Timur tampak mental  balik. Namun yang dialami Bidadari Bertangan Iblis agak parah, karena saat lancarkan serangan, ia kerahkan segenap tenaga dalamnya. Hingga tatkala tubuhnya mental balik, gadis ini tak dapat lagi menguasai tubuh, dan tak ampun lagi tubuhnya terkapar di atas tanah! Sementara Singa Betina Dari Timur meski sempat mental ke belakang, namun bisa segera diatasi keadaan, hingga gadis berbaju hijau ini masih bisa mendarat dengan tegak walau sebelumnya terlihat terhuyunghuyung.

Hebatnya, meski Bidadari Bertangan Iblis terkapar, namun gadis ini segera bergerak bangkit. Dan didahului bentakan melengking, Bidadari Bertangan Iblis telah melesat kembali. Kedua tangannya dibuka dan dihantamkan bertubi-tubi! Hingga kejap itu juga larikan-larikan sinar putih menebar hawa panas menghampar di tempat itu.

"Gila! Dia tampaknya tahan pukulan juga!

Aku harus berhati-hati!"

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat bangkit dan serta-merta kibaskan tangan kanannya yang ternyata telah memegang kipas ungunya.

"Aku terpaksa menggunakan kipas agar urusan ini cepat selesai!" kata Aji dalam hati.

Kilauan cahaya putih tampak menebar membentuk kipas begitu Pendekar Mata Keranjang kibaskan tangan kanannya. Wuuuttt! Weeesss!

Bidadari Bertangan Iblis berseru keras. Bukan saja karena terkejut melihat serangannya tertahan, namun juga karena menahan sakit oleh hamparan hawa panas yang keluar dari tangannya sendiri dan juga dari kipas Pendekar Mata Keranjang! Tubuh gadis ini tampak terapung di udara. Anehnya meski tak ada hasil, malah tatkala Aji lipat gandakan tenaga dalamnya, tubuh Bidadari Bertangan Iblis terdorong ke belakang! Dan saat Aji tarik pulang kipasnya lalu disentakkan kembali, Bidadari Bertangan Iblis terpekik, tubuhnya makin melenting lebih jauh ke belakang sebelum akhirnya melayang turun dan terkapar di atas tanah!

"Jahanam  laknat!  Kau  telah  cederai  saudaraku! Terimalah kematianmu!" teriak Singa Betina Dari Timur. Rasa tidak ingin membunuh lelaki ini mendadak hilang lenyap kala mengetahui Bidadari Bertangan Iblis terkapar di tanah dengan darah meleleh dari sudut bibirnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis ini segera tarik kedua tangannya ke belakang lalu diputar sebentar, dan tiba-tiba tubuhnya melesat ke arah Pendekar Mata Keranjang seraya hantamkan kedua tangannya ke arah kepala. Bersamaan dengan hantaman tangannya, sinar hitam menyambar deras keluarkan suara menggemuruh!

Pendekar 108 tak mau ambil resiko. Meski ia tahu bahwa tenaga dalam lawan masih bisa dijajari, namun karena ia ingin cepat selesaikan urusan, maka kembali murid Wong Agung ini kibaskan kipasnya seraya rundukkan kepala. Tangan kirinya dibuka dan didorong pelan.

Plarrr!

Terdengar letupan tatkala sinar hitam dari telapak tangan Singa Betina Dari Timur menghantam serangan yang keluar dari telapak tangan Pendekar Mata Keranjang! Namun gadis ini tampaknya tak kenal takut, meski kedua tangannya telah terasa ngilu dan sakit laksana ditusuktusuk, tapi ia meneruskan lesatan tubuhnya. Malah kedua kakinya kini ia kem-bangkan dan dihantamkan dari arah samping kiri kanan Pendekar Mata Keranjang!

"Sialan! Seandainya cuaca terang, tentu aku mendapat pemandangan lebih indah lagi!" gumam Pendekar 108 saat matanya menangkap kembangan kedua kaki Singa Betina Dari Timur. Karena bersamaan dengan terkembangnya kaki, pakaian bawah gadis ini yang dibuat membelah tengah tampak menyibak dan memperlihatkan kedua paha yang ada di baliknya!

Namun murid Wong Agung ini tak bisa berlama-lama menikmati paha di balik pakaian bawah Singa Betina Dari Timur, karena saat itu juga hantaman kaki telah melabraknya dari samping kanan dan kiri.

Pendekar 108 cepat undurkan langkah satu tindak, tiba-tiba tubuhnya di robohkan ke belakang dengan pantat terlebih dahulu. Dan sertamerta kedua kakinya diangkat menyilang ke kanan dan kiri!

Prak! Prakkk! Singa Betina Dari Timur terdengar memekik. Tubuhnya terbanting ke tanah dengan punggung terlebih dahulu, sementara Pendekar Mata Keranjang 108 tarik pulang kedua kakinya seraya meringis. Dan ketika murid Wong Agung ini melirik pada kedua kakinya, ia sedikit terkejut. Kedua kakinya telah berwarna kebiru-biruan akibat bentrok dengan kedua kaki Singa Betina Dari Timur.

Sadar bahwa pemuda di hadapannya lebih tinggi ilmunya, Singa Betina Dari Timur palingkan wajahnya pada Bidadari Bertangan Iblis yang kini tampak telah berdiri. Ia seakan minta pertimbangan.

Di belakang, Bidadari Bertangan Iblis sendiri tampak ragu-ragu antara meneruskan pertarungan yang ia percaya tak dapat ia menangkan, atau meninggalkan tempat itu yang berarti tujuannya akan tak sampai.

Selagi kedua gadis ini terbawa perasaan masing-masing, Pendekar Mata Keranjang 108 bangkit dan seraya mengusap-usap mulutnya ia berkata.

"Bidadari Bertangan Iblis, Singa Betina Dari Timur! Aku sarankan pada kalian agar segera tinggalkan tempat ini! Aku tahu, kalian datang jauh-jauh dengan tujuan memburu Arca Dewi Bumi. Benar...? Tapi  ketahuilah oleh kalian, benda itu kini banyak dibicarakan dan diperebutkan tokoh-tokoh baik dari golongan hitam maupun golongan putih! Aku tahu, ilmu kalian tidak cetek, namun menurutku, untuk menghadapi tokohtokoh yang sedang memburu arca itu kalian akan tergilas! Sungguh amat disayangkan jika gadisgadis cantik seperti kalian harus dihantam badai di tanah Jawa ini!"

Habis berkata, Pendekar Mata Keranjang 108 balikkan tubuh dengan kepala tengadah memandangi sang rembulan yang kini telah bergeser dan berada di atas puncak Gunung Kembar.

Untuk beberapa saat lamanya, baik Bidadari Bertangan Iblis maupun Singa Betina Dari Timur terdiam. Namun sesaat kemudian Singa Betina Dari Timur bangkit dan segera melangkah ke arah Bidadari Bertangan Iblis.

"Bagaimana Bidadari...?!" tanya Singa Betina Dari Timur begitu dekat.

Bidadari Bertangan Iblis tak segera menjawab. Pandangan matanya diarahkan pada Pendekar Mata Keranjang, lalu beralih pada rembulan yang memancarkan warna merah. Setelah menarik napas panjang, ia berkata.

"Kita telah melakukan perjalanan cukup jauh, apakah kita akan balik begitu saja karena gertak sambal pemuda itu? Tidak! Kita teruskan perjalanan memburu arca itu! Karena menurut keterangan pemuda itu, berarti arca itu betulbetul ada!"

Singa Betina Dari Timur tatapi wajah saudara seperguruannya. Dahinya mengernyit. Namun ia tak keluarkan suara.

"Kau takut...? Atau kau tertarik dengan pemuda itu...?!" kata Bidadari Bertangan Iblis tanpa alihkan pandangannya.

Paras wajah Singa Betina Dari Timur kontan berubah saat mendengar kata-kata saudara seperguruannya. Meski dalam hati ia tak menyangkal, namun ia merasa tak pantas mengatakan hal itu pada saudara seperguruannya dalam situasi yang demikian ini. Maka untuk menutupi perasaannya, gadis berbaju hijau ini berkata.

"Bidadari! Kita dalam perjalanan memburu benda mustika, tidak layak kiranya kita membicarakan soal tertarik atau tidak pada seorang pemuda!"

Bidadari Bertangan Iblis palingkan wajahnya pada Singa Betina Dari Timur. Sejurus dipandanginya saudara seperguruannya itu seakan ingin meyakinkan apa yang baru saja diucapkan.

"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Singa Betina Dari Timur merasa tak enak.

Bidadari Bertangan Iblis tersenyum.

"Bila begitu kau setuju dengan rencanaku tadi! Meneruskan perjalanan ini dan membunuh pemuda itu!"

Mungkin karena tak mau terjadi silang pendapat, atau mungkin untuk menutupi perasaannya dan tak mau menyakiti hati saudara seperguruannya, dengan berat hati  Singa  Betina Dari Timur anggukan kepala.

Meski dalam hati masih ada ganjalan, melihat anggukan kepala Singa Betina Dari Timur, Bidadari Bertangan Iblis alihkan pandangannya pada Pendekar 108 yang kini masih tegak membelakangi mereka, lalu berkata.

"Kita hadapi bersama-sama!"

Habis berkata  begitu,  Bidadari  Bertangan Iblis takupkan kedua tangannya sejajar dada, matanya dipejamkan, sedangkan mulutnya berkemik-kemik. Melihat hal itu, Singa Betina Dari Timur tak tinggal diam. Dia segera pula melakukan seperti yang diperbuat Bidadari Bertangan Iblis.

Di depan, merasa dua gadis di belakangnya tak lagi keluarkan percakapan dan merasa katakatanya dituruti agar keduanya segera meninggalkan tempat itu, Pendekar Mata Keranjang membatin.

"Hmm.... Mereka tampaknya menuruti kata-kataku. Itu memang lebih baik! Terlalu sayang jika gadis-gadis cantik seperti mereka harus mati muda. Ah.... Kenapa aku harus terlalu pikirkan hidup mereka...?"

Aji lantas luruskan pandangannya ke sela Gunung Kembar yang tampak kemerahan dan banyak ditumbuhi semak belukar tinggi merangas serta pohon-pohon berdaun lebat.

"Berita tentang arca ini nyatanya telah menyebar hingga luar tanah Jawa.... Hmm. Aku

harus segera mendapatkannya! Bukan tidak mustahil tempat beradanya arca itu pun telah diketahui banyak orang!"

Berpikir begitu, murid Wong Agung ini lantas melangkah dan hendak berkelebat. Namun baru saja kakinya bergerak, terdengar suara tawa mengekeh panjang.

Secepat kilat Pendekar Mata Keranjang palingkan wajahnya ke arah sumber tawa. Demikian juga Bidadari Bertangan Iblis dan Singa  Betina Dari Timur. Malah dua gadis ini berpaling sambil undurkan kaki masing-masing satu tindak, karena suara tawa mengekeh panjang itu mengandung tenaga dalam tinggi, bukan saja mampu membuat konsentrasi kedua gadis ini buyar, namun juga mampu membuat tanah di tempat itu bergetar!

TIGA

PENDEKAR 108 tersentak kaget. Demikian juga Bidadari Bertangan Iblis serta Singa Betina Dari Timur. Karena begitu kepala masing-masing bergerak berpaling, tak seorang pun terlihat!

Pendekar Mata Keranjang lantas alihkan pandangannya pada Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur meski dia percaya bahwa kekehan tawa tadi bukan keluar dari dua gadis cantik ini.

Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur pun lantas alihkan pandangan masing-masing pada Aji begitu mata mereka tak menemukan siapa-siapa. Sejenak mata dua gadis ini beradu dengan mata Pendekar Mata Keranjang 108.

Sepasang mata Bidadari Bertangan Iblis terlihat membesar dan berkilat-kilat. Wajahnya jelas masih menyembunyikan perasaan dendam. Namun tak demikian halnya dengan Singa Betina Dari Timur. Ser pasang mata gadis berbaju hijau ini tampak bulat tanpa kilatan-kilatan rasa benci. Malah paras mukanya tampak berubah merah dan buru-buru mengalihkan pandangan pada jurusan lain, meski tubuhnya tetap lurus menghadap Aji.

Hal ini tampaknya tak lepas dari pandangan murid Wong Agung. Diam-diam  dalam  hati dia berkata.

"Hmm.... Bidadari Bertangan Iblis tampaknya masih menaruh benci padaku! Sedangkan Singa Betina Dari Timur rupanya sebaliknya! Seandainya aku tidak sedang dalam mengemban tugas, ingin rasanya aku mengenal mereka lebih jauh "

Selagi ketiga orang ini sedang dilanda perasaan masing-masing, terdengar kembali suara tawa mengekeh panjang. Dan sebelum ketiga orang ini gerakan masing-masing kepala ke arah sumber suara tawa, sesosok bayangan telah berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri di samping Pendekar 108.

Sepasang matanya membeliak besar pandangi Pendekar 108, lantas beralih pada Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur.

Pendekar 108 berkerut dahi, sepasang matanya memperhatikan sosok yang kini tak jauh di sampingnya. Sementara Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur terlihat surutkan langkah masing-masing satu tindak seraya mengawasi tak berkedip.

Sosok yang baru datang ternyata adalah seorang manusia yang sulit dikenali laki perempuannya. Melihat bentuk tubuhnya dia bisa disebut laki-laki. Namun jika melihat paras wajahnya yang memakai bedak putih tebal serta bibir merah menyala dipoles, dia adalah seorang perempuan. Rambut sosok ini panjang sebahu, namun bagian atasnya dipotong pendek hingga menjadi jabrik. Bibirnya yang dipoles merah itu tampak tebal sebelah atas. Hidungnya besar dan bengkok. Tapi yang membuat sosok ini seram, tangan kanannya menggenggam sebuah tombak yang ujungnya bercabang tiga berwarna kuning dan sisi-sisinya lebih besar dari tengahnya. Pangkalnya agak menggelembung dan membentuk sekuntum bunga! Dan sosok ini tingginya tak lebih dari ukuran pinggang orang biasa!

"Bawuk Raga Ginting!" seru Pendekar Mata Keranjang begitu dapat mengenali sosok cebol di sampingnya. "Sialan! Dari mana dia tahu tempat ini? Apakah dia datang sendirian atau bersama muridnya...?" batin Aji seraya tebarkan pandangan berkeliling.

"Siapa kau?!" bentak Bidadari Bertangan Iblis dengan mata tetap tak beranjak memperhatikan sosok cebol di sampingnya. Meski ia tahu bahwa sosok cebol di sampingnya adalah orang berilmu tinggi, karena suara tawanya saja mampu membuat tanah bergetar, namun gadis berbaju putih tipis ini tak menunjukkan rasa takut sama sekali. Bahkan seraya membentak, bibirnya tersenyum sinis

Manusia cebol berbedak tebal dan berbibir merah polesan yang bukan lain memang Bawuk Raga Ginting guru dari Pandu atau manusia yang berjuluk Gembong Raja Muda, tertawa mengekeh (Tentang Bawuk Raga Ginting dan Gembong Raja Muda baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode : "Gembong Raja Muda").

Namun mendadak saja Bawuk Raga Ginting hentikan tawanya. Sepasang matanya menyengat tajam pandangi silih berganti pada Bidadari Bertangan Iblis serta Singa Betina Dari Timur.

"Gadis-gadis jelek! Kalian tak pantas tanya padaku! Aku yang punya hak ajukan pertanyaan pada kalian! Siapa kalian?! Dan apa tujuan kalian malam-malam begini keluyuran ke tempat ini?!"

"Singa Betina! Banci cebol ini lagaknya sombong betul! Dia belum tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini!" berkata dara baju putih Bidadari Bertangan Iblis seraya palingkan wajah dan tertawa sinis.

"Manusia tak normal biasanya memang berlagak. Apa dikira wajahnya lebih cantik dari monyet dibedaki...?!" sambung Singa Betina Dari Timur sambil palingkan muka dan meludah ke tanah.

Dalam menghadapi Bawuk Raga Ginting, sifat asli kedua gadis ini yang begitu meremehkan orang dan sombong terlihat jelas.

Mendengar ucapan kedua gadis di sampingnya, Bawuk Raga Ginting bukannya marah. Sebaliknya Penghuni Bandar Lor ini malah tertawa perlahan, namun makin lama makin panjang dan makin keras. Bersamaan dengan meledaknya tawa Bawuk Raga Ginting, tiba-tiba tanah di tempat itu bergetar, angin berhembus kencang hingga membuat pakaian bagian bawah Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur terlihat berkibar-kibar menampakkan paha masingmasing yang mulus.

Melihat hal ini, baik Bidadari Bertangan Iblis maupun Singa Betina Dari Timur segera kerahkan tenaga dalam masing-masing pada kedua kaki dan telinga. Demikian pula Pendekar Mata Keranjang.

"Gawat! Masalah ini akan jadi berkepanjangan. Bagaimana sekarang? Meneruskan perjalanan kurasa tak mungkin, selain tempatnya sudah dekat juga terlalu beresiko! Tetap di sini berarti harus berhadapan dengan Bidadari Bertangan Iblis, Singa Betina Dari Timur serta Bawuk Raga Ginting...! Daripada meneruskan mencari Sahyang Resi Gopala dengan dibayang-bayangi perasaan tak tenang, lebih baik kuselesaikan dulu mereka!" putus Pendekar 108. Namun, murid Wong Agung ini masih tak ucapkan sepatah kata pun. Ia hanya diam seraya mengawasi  tiga orang di sekelilingnya yang kini tengah saling keluarkan tenaga dalam masing-masing.

Singa Betina Dari Timur berpaling pada saudara seperguruannya, lalu berkata.

"Bidadari! Percuma kita main-main begini. Malam sudah merangkak makin jauh sedangkan waktu kita terbatas, sebaiknya kita lunasi si  Cebol ini!"

"Cebol! Apakah kau sudah tahu, sedang berhadapan dengan siapa kali ini?  Dan  apakah kau telah berpamitan pada anak cucumu di hutan sebelah itu?!" yang berkata kali ini adalah Bidadari Bertangan Iblis.

Bawuk Raga Ginting hentikan tawanya. Wajahnya berubah merah padam dan matanya melotot angker. Pelipisnya bergerak-gerak membuat bedak tebal di wajahnya merekat, sementara tangan kanannya yang memegang tombak bergerak meremas hingga saat itu juga terdengar suara gemeretak.

"Kunyuk kecil biadab! Aku tak usah tahu siapa kalian kalau hanya untuk membunuh!" teriak Bawuk Raga Ginting. Ia lalu angkat tombaknya dan diputar pulang balik ke kiri dan ke  kanan. Kejap itu juga terdengar  suara  menderuderu laksana kobaran api tersapu hamparan angin kencang. Dan bersamaan itu pula hawa panas menyesaki tempat itu!

"Gadis-gadis sembrono! Mereka tak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Tapi aku tak akan bertindak dahulu!" batin Pendekar Mata Keranjang 108. Dia amat menyayangkan tindakan Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur yang menganggap remeh Bawuk Raga Ginting.

Di seberang, melihat apa yang dilakukan Bawuk Raga Ginting, Bidadari Bertangan Iblis menyeringai lalu berkata pada Singa Betina Dari Timur.

"Monyet berbedak ini tampaknya ingin unjuk kebolehan akrobat di hadapan kita! Apa dikira kita akan tertawa oleh banyolannya?"

"Betul!  Dikira   kita   penonton   yang   tak punya bekal!" timpal Singa Betina Dari Timur sambil tertawa pendek.

Bawuk Raga Ginting tiba-tiba percepat putaran tombaknya. Dan tubuhnya lantas melenting ke udara. Di atas udara ia putar tubuhnya beberapa kali, namun mendadak dengan gerak yang sukar diikuti mata, tubuhnya menukik deras ke arah Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur!

Kedua gadis ini yang tidak menduga sama sekali tampak terkejut. Buru-buru keduanya hantamkan masing-masing tangannya ke atas!

Wuuuttt! Wuuuttt!

Namun betapa terkejutnya kedua gadis dari daratan Bima ini. Karena serangan keduanya hanya menghantam udara! Sosok Bawuk Raga Ginting yang tadi terlihat menukik ke arah mereka laksana lenyap di telan bumi.

Selagi kedua gadis ini tenggelam dalam keterkejutan, dari arah samping terdengar angin menderu dahsyat. Kedua gadis ini segera berpaling ke samping. Angin menggemuruh yang mengeluarkan hawa panas menyambar ke arah keduanya! Namun kedua gadis ini tetap tak menemukan sosok Bawuk Raga Ginting!

"Hati-hati! Kita harus berpencar!" bisik Bidadari Bertangan Iblis seraya melompat ke samping untuk menghindari sambaran angin.

"Ya. Kita harus berpencar untuk memecah perhatiannya!" timpal Singa Betina Dari Timur seraya melompat pula ke samping berlawanan.

Namun baru saja kedua gadis ini jejakkan kaki masing-masing di atas tanah, terdengar suara tawa panjang Bawuk Raga Ginting.

Kedua gadis cantik ini makin heran dan terkejut, karena suara tawa itu datang dari atas! Dan belum lenyap rasa heran keduanya, tiba-tiba sosok Bawuk Raga Ginting telah menukik ke arah Bidadari Bertangan Iblis dengan kedua kaki melejang-lejang. Hebatnya, meski kedua kaki Bawuk Raga Ginting tampak mungil, namun sambaran angin yang keluar bersamaan dengan lejangan kakinya sungguh sulit dipercaya. Karena sambaran angin itu mampu menghamburkan tanah di bawahnya!

Melihat hal ini, Bidadari Bertangan Iblis cepat angkat kedua tangannya lalu dihantamkan ke arah Bawuk Raga Ginting.

Suara tawa Bawuk Raga Ginting tiba-tiba lenyap! Tubuhnya pun mendadak lenyap, dan serangan Bidadari Bertangan Iblis untuk kedua kali menghajar udara kosong! Saat itulah tiba-tiba si baju putih Bidadari Bertangan Iblis terdengar berseru tertahan. Bukan hanya karena terkejut namun juga karena Bawuk Raga Ginting telah satu langkah di belakangnya dan kaki kanannya menerjang deras ke arah punggungnya!

Desss!

Karena Bidadari Bertangan Iblis tak menyangka, maka gadis baju putih ini tak bisa lagi mengelak dari terjangan kaki Bawuk Raga Ginting. Hingga saat itu juga tubuhnya terdorong ke depan. Di saat demikian itulah, Bawuk Raga Ginting lantas dorong kedua tangannya. Wuuttt!

Angin deras menggebrak. Bidadari Bertangan Iblis yang sedang terdorong tak bisa menghindar, hingga tubuhnya terhantam telak  pukulan jarak jauh Bawuk Raga Ginting.

Gadis berbaju putih ini menjerit tinggi. Tubuhnya makin deras terdorong ke depan sebelum akhirnya terjerembab mencium tanah!

Melihat saudara seperguruannya roboh, Singa Betina Dari Timur yang dari tadi tampak terkesima, tersadar dari rasa terkesimanya. Ia segera meloncat ke arah Bawuk Raga Ginting. Dan tanpa bicara lagi, kedua tangannya langsung dihantamkan ke arah kepala. Sinar hitam berlesatan terlebih dahulu sebelum kedua tangan itu sendiri menghajar sasaran!

Bawuk Raga Ginting sunggingkan senyum sinis. Tombak di  tangan  kanannya  ditancapkan ke atas tanah. Kedua tangannya lalu bergerak lurus bersamaan dengan rundukkan kepalanya menghindari hantaman serangan lawan. Dan begitu serangan lawan lewat satu jengkal di atas kepalanya, kedua tangannya cepat melesat.

Singa Betina Dari Timur tampak terkejut, karena pinggangnya terasa dapat dipegang oleh tangan Bawuk Raga Ginting. Gadis ini segera gerakan kedua kakinya hendak menerjang, namun gerakannya tertahan, karena saat itu juga Bawuk Raga Ginting telah sapukan kakinya ke arah kaki Singa Betina Dari Timur.

Prakkk!

Tubuh Singa  Betina  Dari  Timur  tampak oleng ke samping, dan saat itulah tangan Bawuk Raga Ginting mencengkeram pinggang gadis itu dan serta-merta dibantingkan ke samping!

Buk!

Karena bantingan itu bersamaan dengan olengnya tubuh, membuat tubuh Singa  Betina Dari Timur menghantam tanah dengan deras. Darah telah tampak meleleh dari sudut bibir gadis berbaju hijau ini. Kakinya pun terasa hendak penggal dan panas membara!

Bawuk Raga Ginting tertawa mengekeh. Lalu melangkah mendekati Singa Betina Dari Timur. Namun baru saja dua tindak, Aji segera berkelebat dan menghadang.

Bawuk Raga Ginting hentikan langkah. Sepasang matanya sejenak mengawasi Pendekar Mata Keranjang. Dahinya mengernyit. Kepalanya lalu mendongak. Dari mulutnya terdengar suara tawa. Namun tawa itu hanya pendek. Seraya tetap mendongak, ia berkata.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kau tentunya masih ingat kata-kata terakhirku dahulu. Malam ini perhitungan kita akan tuntas! Kau sudah siap?!"

Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur saling pandang begitu Bawuk Raga Ginting sebutkan gelar Aji. Aji sendiri tampak sunggingkan senyum dan berkata.

"Bawuk Raga Ginting! Perhitungan di antara kita bagiku telah kuanggap selesai! Dan kalau kau tak ingin mengalami nasib yang lebih parah daripada waktu yang silam, lekas tinggalkan tempat ini!"

Bawuk Raga Ginting tertawa ngakak mendengar ucapan Pendekar 108, membuat bedak di wajahnya tampak rekat dan jatuh berguguran. Kepalanya lantas bergerak dan lurus memandangi Pendekar 108.

"Pendekar 108! Dengar baik-baik! Perhitungan di antara kita tak akan selesai  sebelum satu di antara kita pergi ke akhirat! Dan malam ini akan kita tentukan siapa di antara kita yang pergi terlebih dahulu!"

Habis berkata begitu, Bawuk Raga Ginting tampak tengadahkan kepala kembali. "Kau sudah siap...?!"

Begitu ucapannya selesai, Bawuk Raga Ginting jejakkan sepasang kakinya ke atas tanah. Tubuhnya yang mungil melesat ke  udara.  Dari atas udara Penghuni Lembah Bandar Lor ini langsung kirimkan serangan! Tangan kirinya dibuka, dan didorong kearah Aji. Sementara tangan kanannya yang menggenggam tombak memutarmutar suara yang menggemuruh, sementara dari arah samping terdengar suara menderu-deru yang mengeluarkan hawa panas keluar dari putaran tombak. Melihat hal ini jelas bahwa Bawuk Raga Ginting ingin segera menyudahi Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar 108 untuk sesaat masih tegak sambil memperhatikan, lalu tubuhnya ia  putar satu kali, dan serta-merta tangan kanannya yang telah menggenggam kipas ia sabetkan melengkung ke depan, sementara tangan kirinya didorong.

Sinar lengkung  membentuk  kipas,  segera

melesat, sementara dari tangan kirinya menyambar sinar putih berkilauan yang disertai suara ledakan gelombang ombak! Kejap itu juga  tempat itu berubah menjadi terang benderang bersemu merah!

Blaaammm!

Tanah di tempat itu kontan bergetar dan terbongkar! Semak belukar serta pohon yang tak jauh dari situ berderak dan akhirnya tumbang! Hebatnya, sosok Bawuk Raga Ginting sepertinya tak tergoyahkan. Memang, untuk sesaat sosoknya tampak tertahan di udara, namun begitu ledakan terdengar, sosoknya kembali melesat dan kini menukik deras ke arah Pendekar 108 dengan sepasang kaki lurus sementara tombaknya mengayun dari bawah ke atas!

Pendekar 108 yang terjajar dua langkah ke belakang cepat angkat tangan kirinya dan disilangkan di depan kepala, sementara tangan kanannya kembali menebarkan kipas.

Werrr!

Sosok Bawuk Raga Ginting yang sedang menukik tiba-tiba tertahan. Namun manusia cebol ini segera lipat gandakan tenaga  dalamnya, dan kejap itu juga  tombaknya  dihujamkan  ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

Wuuuttt!

Kalau sosok Bawuk Raga Ginting tertahan, tidak demikian halnya dengan tombaknya. Tombak itu terus melesat meski Aji telah kembali kibaskan kipasnya.

"Gila!" maki Pendekar Mata Keranjang seraya melompat ke samping. Namun gerakannya tertahan karena saat itu juga sosok Bawuk Raga Ginting telah berhasil menerobos dan kini kakinya mengarah pada arah gerakan tubuh Pendekar 108.

Pendekar 108 terjajar hingga satu tombak ke belakang begitu terjangan Bawuk Raga Ginting beradu dengan tangan kirinya. Tapi tampaknya Bawuk Raga Ginting tak mau lagi memberi kesempatan. Begitu sosok Aji terjajar, Bawuk Raga Ginting lipatkan tenaga dalamnya dan sekonyongkonyong menerjang kembali! Hebatnya, sambil melesat menerjang, tangan kirinya menyambar tombak yang tak mengena sasaran dan kini tertancap di atas tanah.

Pendekar 108 cepat melompat mundur untuk menghindar, namun naas, karena di belakangnya menghadang pohon besar. Satu-satunya jalan untuk selamatkan diri tiada lain harus menghindar ke samping kanan atau kiri.

Dan baru saja Pendekar Mata Keranjang memutuskan untuk menghindar ke samping kanan, tiba-tiba tombak Bawuk Raga Ginting telah melesat ke arah kanan! Kini tanpa bisa dihindari lagi Pendekar Mata Keranjang harus menghindar ke samping kiri. Rupanya hal itu telah diperhitungkan oleh Bawuk Raga Ginting karena begitu tubuh Aji bergerak ke arah kiri, Bawuk Raga Ginting menggebrak ke kiri!

Terjangan kaki  Bawuk  Raga  Ginting  yang terkenal dengan jurus ‘Sapu Bumi’ memang berhasil dihindarkan dengan melesat satu tombak ke atas. Terjangan kaki itu menghantam pohon hingga berderak tumbang, namun tangan kanan Bawuk Raga Ginting yang tiba-tiba melesat mengikuti lesatan tubuhnya tak lagi bisa dielakkan.

Desss!

Tubuh Pendekar 108 melayang ke belakang begitu tangan kanan Bawuk Raga Ginting menghajar perutnya. Baju di bagian  perut  itu  robek dan ia sendiri terkapar di atas tanah dengan perut terasa ingin muntah

Melihat hal ini Singa Betina Dari  Timur yang telah bangkit segera melompat ke dekat Bidadari Bertangan Iblis.

"Bidadari! Apa yang harus kita perbuat sekarang?"

Bidadari Bertangan Iblis tak segera buka suara. Sepasang matanya masih mengawasi ke arah Bawuk Raga Ginting dan Pendekar Mata Keranjang 108 silih berganti. Lalu tak lama kemudian berpaling pada Singa Betina Dari Timur dan berkata.

"Lebih baik kita tunggu saja selesainya pertarungan ini! Dan siapa pun pemenangnya, kita hadapi bersama-sama!"

"Tapi...," Singa Betina Dari Timur tak meneruskan ucapannya, karena belum selesai dia bicara, Bidadari Bertangan Iblis telah menyahut.

"Singa Betina! Lupakan dahulu  tentang jasa pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 itu! Tantangan yang akan kita hadapi tampaknya demikian besar. Tapi kita tak boleh mundur! Bagaimana pendapatmu?!" Bidadari Bertangan Iblis balik ajukan pertanyaan.

Meski dalam hati masih tak menyetujui jalan pikiran saudara  seperguruannya, Singa Betina Dari Timur anggukan kepala dan berkata.

"Bidadari! Kita memang tak boleh mundur walau apa pun yang terjadi! Arca itu harus  bisa kita rebut!"

Bidadari Bertangan Iblis tersenyum. Dipandangnya lekat-lekat wajah saudara seperguruannya. Namun mendadak wajah Bidadari Bertangan Iblis berubah.

"Adakah sesuatu yang mengganjal di hatimu?" tanya Singa Betina Dari Timur begitu mendapati perubahan pada wajah Bidadari Bertangan Iblis.

Bidadari Bertangan Iblis menghela napas panjang. Pandangannya kini mengarah pada sang rembulan.

"Singa Betina! Seumur hidupku, baru  kali ini aku melihat bulan berwarna merah darah. Apakah pertarungan di tempat ini awal dari tanda banjirnya darah seperti diisyaratkan oleh merahnya bulan itu...?"

Singa Betina Dari Timur ikut-ikutan memandang ke arah sang rembulan.

"Isyarat kadang-kadang memang jadi kenyataan. Namun apakah kita harus mundur hanya sebab sebuah isyarat yang belum tentu jadi kenyataan?"

Bidadari Bertangan Iblis kembali menghela napas panjang. Mulutnya kembali membuka hendak berkata, namun ia urungkan tatkala dari arah depan terdengar Bawuk Raga Ginting angkat bicara.

"Pendekar 108! Sungguh malang nasibmu karena harus mati muda! Tentunya kau belum merasakan nikmatnya sorga dunia! Tapi percayalah Di alam barumu nanti kau akan merasakan

hal itu! Hik.... Hik.... Hik  !"

Pendekar Mata Keranjang 108 yang kini telah bangkit melangkah satu tindak ke depan. Sepasang matanya menyengat tajam memperhatikan Bawuk Raga Ginting, lalu berkata.

"Kunyil!" Aji memanggil Bawuk Raga Ginting dengan nama aslinya. "Urusan nasib dan mati adalah urusan yang di atas sana!"

Bawuk Raga Ginting tertawa panjang hingga bahunya tampak berguncang.

"Begitu...? Akan kubuktikan bahwa kematianmu adalah urusanku! Dan nasibmu ada di tanganku!"

Habis berkata begitu, Bawuk Raga Ginting putar tubuhnya dengan cepat. Tiba-tiba sosoknya lenyap dari pandangan. Namun sesaat kemudian Penghuni Lembah Bandar Lor ini telah berada lima langkah di hadapan Pendekar Mata Keranjang dengan kedua tangan bersilangan di depan dada. Tombaknya tetap berputar di tangan kanannya yang menyilang dan tetap keluarkan deruan bertalu-talu.

Pendekar 108 yang telah waspada segera undurkan langkah satu tindak. Kipas ungunya telah ia pindahkan ke tangan kiri, sementara  tangan kanannya membuka dan ditarik sedikit ke belakang sejajar dada. Tampaknya murid Wong Agung telah siap dengan jurus 'Bayu Kencana'!

Namun baru saja kedua orang ini hendak sama-sama lancarkan jurus masing-masing, terdengar suara tawa mengekeh.

Baik Pendekar 108 maupun Bawuk Raga Ginting urungkan niat masing-masing, karena suara tawa itu begitu membahana. Bahkan mesti kedua orang ini telah menahan dengan keluarkan tenaga dalam, namun suara tawa itu seakan tak bisa dibendung. Terus membahana dan menyakitkan gendang telinga!

Pendekar 108 dan Bawuk Raga Ginting lipatkan tenaga dalamnya masing-masing, namun kedua orang ini terkejut bukan alang kepalang. Karena tenaga dalam mereka tak mampu membendung suara tawa, hingga kedua orang ini sama-sama gerakan tangan masing-masing untuk menutup telinganya.

Kalau Pendekar 108 dan Bawuk Raga Ginting sampai menutupi kedua telinga masingmasing, yang dialami  Bidadari  Bertangan  Iblis dan Singa Betina Dari Timur lebih parah lagi. Kedua gadis ini telah mencoba menahan suara tawa dengan kerahkan tenaga dalam, namun usahanya sia-sia. Dan tatkala kedua gadis ini takupkan tangan masing-masing pada telinganya, keduanya terkejut. Tangan masing-masing terasa hangat dan basah. Dan ketika mereka menarik tangannya, mereka sama-sama keluarkan pekikan tertahan. Ternyata kedua tangan mereka telah basah oleh darah! Darah yang keluar dari telinga masing-masing karena tertekan tenaga dalam suara tawa yang tak mampu mereka tangkis! Bukan hanya sampai di situ, ketika suara tawa itu terus membahana, kedua gadis ini tampak  oleng  dan tak lama kemudian jatuh berguling-guling di atas tanah seraya memekik kesakitan!

Namun suara tawa membahana itu tibatiba lenyap, suasana hening mencekam tempat itu. Pendekar 108 dan Bawuk Raga Ginting tebarkan pandangan masing-masing. Saat itulah mendadak terdengar suara orang bersyair.

EMPAT

MALAM merangkak larut pada genggaman bulan merah.

Malam ini rembulan merah mengambang di lingkaran angkasa.

Segalanya merah, merah laksana darah!

Di mana manusia akan mendapatkan setitik penerang warna putih?

Malam menyusur meninggalkan bentangan warna merah.

Ah, betapa mahalnya harga sebuah penerang putih.

Hanya manusia berhati putih yang akan mendapatkannya!

"Siapa gerangan  yang  mengucapkan  syair itu? Tenaga dalamnya demikian hebat! Adakah orang  ini  juga  menginginkan  arca  itu...?  Hmm....

Dia sepertinya tahu akan isyarat yang diberikan oleh sang rembulan. Adakah isyarat itu akan jadi kenyataan...? Darah       Apakah memang akan ter-

jadi pertumpahan darah besar di tempat ini?" Aji membatin seraya tebarkan kembali pandangan matanya. Namun hingga matanya lelah menebar, ia tidak menemukan seorang pun!

Apa yang ada di benak Aji tak jauh beda dengan apa yang ada di hati Bawuk Raga Ginting. "Siapa pun adanya orang yang keluarkan

tawa dan nyanyikan syair, yang pasti dia manusia berilmu sangat tinggi! Kalau dia ikut-ikutan memburu arca itu, masalah akan makin panjang! Hm..., bulan merah, apakah itu isyarat akan terjadinya pertumpahan darah malam ini? Peduli dengan semua itu! Siapapun dia  dan  apa  pun yang bakal terjadi, tekadku telah bulat! Aku  harus pulang dengan membawa Arca Dewi Bumi!"

Sementara itu, Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur yang telah bangkit dan kini duduk bersila berdampingan tampak saling pandang. Wajah kedua gadis ini masih  tampak pucat pasi. Baju atas keduanya tampak bercak-bercak darah, demikian juga tangan dan bagian samping lehernya.

"Hm.... Benar juga apa yang dikatakan pemuda itu. Para pemburu Arca Dewi Bumi ternyata orang-orang yang kepandaiannya sukar untuk dijajaki. Tapi apakah aku harus kembali..? Bagaimana dengan Bidadari Bertangan Iblis...? Apakah dia masih tetap pada pendiriannya...?" Singa Betina Dari Timur menimbang-nimbang dalam hati, lalu berkata pada Bidadari Bertangan Iblis.

"Bidadari! Kurasa keadaan tidak menguntungkan jika kita teruskan perburuan ini. Bukannya aku takut, namun kita sekarang harus menghitung untung ruginya!"

Bidadari Bertangan  Iblis  tersenyum  sinis.

Tanpa berpaling ia berkata.

"Singa Betina! Kaki telah telanjur melangkah, dan barang buruan telah dekat, apakah kita akan melangkah mundur lagi? Kalau kau ingin balik, pergilah! Aku masih ingin membuktikan jika aku tak bisa digilas begitu saja di tanah Jawa! Meski aku tahu taruhan dari semua itu adalah nyawa!"

Mendengar ucapan Bidadari Bertangan Iblis, Singa Betina Dari Timur gelengkan kepalanya. Ia sebenarnya ingin menuruti kata-kata Aji untuk segera meninggalkan tempat itu. Namun benaknya tak menginginkan saudara seperguruannya berjuang sendirian, hingga meski dengan  berat hati dia tetap di situ.

"Bidadari! Kau keras kepala. Tapi tak mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini! Meski aku sebenarnya berat dengan keputusanmu!" Singa Betina Dari Timur berkata sendiri dalam hati. Pandangannya kini mengarah pada Pendekar 108. Ia sejenak tak kesiap pandangi pemuda murid Wong Agung ini.

"Tak dapat kudustai diriku sendiri, sebenarnya ada perasaan aneh di hatiku saat pertama bertemu dengan dia. Aji, hmm.... Apa dia suka mempermainkan perempuan hingga digelari demikian...? Tapi tampaknya dia pemuda baik hati. Dia masih mau menolongku meski aku tadi telah berniat membunuhnya! Ah, seandainya...," Singa Betina Dari Timur tak meneruskan kata hatinya, karena dilihatnya Bawuk Raga Ginting telah melangkah maju, dan membentak garang.

"Siapapun kau, kalau bukan bangsa pengecut, tunjukkan dirimu!"

Hening sejenak. Sepasang mata Bawuk Raga Ginting liar menyapu keliling tempat itu. Namun lagi-lagi matanya tak menemukan manusia baru di tempat itu, dan bahkan suara tegurannya tak ada yang menyahut.

Bawuk Raga Ginting keluarkan dengusan keras. Kepalanya bergerak ke samping kanan dan kiri. Dan tatkala matanya tak juga menemukan orang yang dicari, dengan kerahkan tenaga dalamnya ia dongakan kepala dan berkata lantang.

"Pengecut bersembunyi! Keluarlah! Hadapilah Bawuk Raga Ginting!"

Karena suara itu telah dialiri tenaga dalam, maka suara itu bergaung keras hingga memantul ke lereng gunung.

Bawuk Raga Ginting sesaat menunggu, namun tak ada juga sosok yang muncul.

"Keparat! Jahanam busuk! Pengecut edan!" maki Bawuk Raga Ginting. Mendadak sepasang kakinya ia bantingkan ke atas tanah. Tubuhnya melesat ke udara. Satu tombak di udara, tiba-tiba tubuhnya melesat ke arah Pendekar 108 dengan tombak dibolang-balingkan! Dari mulutnya terdengar geraman keras. Tampaknya segala kesalahan hatinya kini ditumpahkan  pada  Pendekar 108.

"Saatnya aku bertindak!" gumam Pendekar

108.

Tangan kirinya  yang  memegang  kipas  ia

hentakkan menyamping, sementara tangan kanannya yang membuka ia tarik perlahan ke belakang.

Terjadi suatu hal yang luar biasa. Bersamaan dengan melesatnya sinar putih membentuk kipas, tubuh Bawuk Raga Ginting tertahan di udara! Bawuk Raga Ginting buka telapak tangan kirinya dan lepaskan pukulan jarak jauh dari udara, namun manusia cebol ini terperangah kaget. Sambaran angin dahsyat yang melesat keluar dari telapak tangannya bergerak perlahan dan perlahan-lahan pula menyatu dan menuju satu arah, yakni telapak tangan kanan Pendekar 108! Bukan hanya sampai di situ, begitu rangkuman angin itu dekat telapak tangan, rangkuman angin tersebut tersedot dan masuk ke telapak tangan! Dan bersamaan itu pula tubuh Bawuk Raga Ginting bergerak perlahan ke arah Pendekar Mata Keranjang. Anehnya, meski Bawuk Raga Ginting kerahkan tenaga dalam untuk menggebrak dengan ayunkan tombaknya, namun gerakannya seperti tertahan. Hingga tubuhnya meluncur tanpa bergerak! Inilah kehebatan jurus pamungkas 'Bayu Kencana' yang berhasil dipelajari Aji dari bumbung bambu pemberian perempuan tak bernama (Mengenai jurus ‘Bayu Kencana’ baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode : "Persekutuan Para Iblis").

Keringat telah membasahi sekujur tubuh Bawuk Raga Ginting. Bedak tebal di  wajahnya serta polesan merah bibirnya telah lenyap terhapus lelehan keringatnya. Wajahnya tak bisa lagi menyembunyikan rasa takut, bahkan ketika untuk kesekian kalinya tak berhasil mengendalikan luncuran tubuhnya, dari mulutnya terdengar umpatan tak karuan. Dan ketika tubuhnya telah satu tombak di hadapan Aji, manusia cebol ini pejamkan sepasang matanya. Bibirnya yang tebal sebelah atas dan kiri berwarna kebiruan tampak saling menggegat.

Begitu tubuh Bawuk Raga Ginting telah satu tombak di hadapan Pendekar Mata Keranjang, murid Wong Agung ini segera angkat kakinya, tangan kanannya ditarik deras ke belakang.

Bukkk! Deeesss!

Bawuk Raga Ginting memekik tinggi. Tubuhnya mencelat kembali ke belakang sebelum akhirnya terkapar di atas tanah! Dari mulutnya menyembur darah segar. Namun manusia  cebol ini seperti tak mengenal rasa sakit. Dengan menahan perut dan pinggangnya, ia merambat bangkit lalu duduk dengan mata mencari-cari tombaknya.

Pendekar Mata Keranjang 108 berpaling pada Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur. Sesaat dipandanginya dua gadis cantik ini. Dan ketika pandangannya bertemu dengan mata Singa Betina Dari Timur, gadis berbaju hijau ini cepat alihkan pandangan. Wajahnya bersemu merah.

Sebenarnya Aji tahu bahwa Singa Betina Dari Timur menyimpan sesuatu padanya. Namun karena keadaannya tidak memungkinkan, Aji terpaksa menepiskan dahulu perasaannya dan berkata.

"Bidadari Bertangan Iblis, Singa Betina Dari Timur! Sebaiknya kalian turuti saranku tadi! Bukannya berarti aku menganggap kalian tak mampu, namun terlalu besar akibat yang akan kalian alami jika kalian bersikeras!"

Singa Betina Dari Timur hanya diam. Namun sesekali matanya melirik. Sebaliknya Bidadari Bertangan Iblis langsung keluarkan dengusan begitu mendengar kata-kata Pendekar 108. Gadis ini balas menatap dan berkata.

"Menuruti katamu, nasib dan mati adalah ditentukan yang di atas sana! Kami tak akan meninggalkan tempat ini sebelum tujuan kami berhasil! Kau jangan coba-coba menggertak hanya karena kau dapat merobohkan manusia cebol itu!"

Aji gelengkan kepalanya. Bibirnya tersenyum. Sambil usap-usap hidung yang gatal ia berkata lagi.

"Kuhargai ketegaran jiwamu! Tapi apakah kau telah memperhitungkan untung ruginya?!"

Bidadari Bertangan Iblis tertawa perlahan.

Nada tawanya jelas mengisyaratkan ejekan. "Rupanya  kau  hanya  pandai  omong  tapi otak bodoh! Apakah kau tak tahu, jika selalu memperhitungkan untung rugi maka hidup akan dicekam kebuntuan! Dan akhirnya mati dalam kesia-siaan!"

Pendekar 108 menghela napas panjang. "Ucapanmu benar! Tapi hidup tanpa perhi-

tungan akan membawa manusia mati sia-sia! Kau tahu itu...?!"

Bidadari Bertangan Iblis sejenak terdiam. Namun tak lama kemudian mulutnya membuka hendak berkata, tapi sebelum terdengar suaranya, dari arah belakang terdengar angin menderu dahsyat.

Dan baru saja Pendekar Mata  Keranjang 108 berpaling, di hadapannya telah berdiri sesosok tubuh. Dia adalah seorang perempuan. Usianya tidak bisa ditentukan karena raut wajahnya ditutup sepotong kulit tipis berwarna putih. Pakaiannya agak gombrong. Di dadanya sebelah kiri terlihat sekuntum bunga berwarna hitam.

Pendekar 108 surutkan langkah satu tindak. Dahinya mengernyit dengan mata memperhatikan. Sementara Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur sama-sama membeliakkan mata masing-masing. Sedang di seberang Bawuk Raga Ginting tampak sunggingkan senyum. Batuk-batuk beberapa kali dan berkata.

"Ah, sobatku Dewi Bunga Iblis     Lama kita

tak jumpa. Kau baik-baik saja?" sambil berkata Bawuk Raga Ginting melangkah mendekat. LIMA

MANUSIA berpakaian agak gombrong dan wajahnya ditutupi kulit berwarna putih yang bukan lain memang Dewi Bunga Iblis palingkan wajah pada Bawuk Raga Ginting. Tiba-tiba Dewi Bunga Iblis melangkah dua tindak menyongsong langkah Bawuk Raga Ginting dan berteriak lantang.

"Bergerak melangkah lagi, kuremukkan batok kepalamu! Diam di tempatmu! Dan jangan coba-coba mencampuri urusanku dengan anak keparat ini!"

Bawuk Raga Ginting hentikan langkahnya. Dia untuk beberapa saat lamanya tegak dengan sepasang mata tak berkedip memandangi Dewi Bunga Iblis. Meski dalam hati memaki panjang pendek namun manusia cebol ini tampaknya punya perhitungan sendiri hingga ia turutkan dan biarkan saja dirinya diancam.

"Perempuan sundal ini rupanya punya masalah dengan Pendekar Mata Keranjang 108! Meski aku tahu dia juga sedang memburu Arca Dewi Bumi namun lebih baik aku menunggu. Kalau dia berhasil membuat roboh pemuda itu, akulah lawannya! Untuk sementara aku berpurapura menuruti kata-katanya!" kata Bawuk Raga Ginting dalam hati, lalu dia berkata.

"Sobatku Dewi Bunga Iblis! Sebagai sahabat lama, aku akan menuruti kata-katamu. Silakan selesaikan urusanmu dengan pemuda jahanam itu!"

Dewi Bunga Iblis keluarkan tawa perlahan, namun jelas suara tawanya penuh nada ejekan. Kepalanya lantas berpaling pada Pendekar Mata Keranjang.

"Bagaimana dia bisa tahu tempat ini...? Apakah tempat beradanya Sahyang Resi Gopala telah diketahui banyak orang...? Melihat tempat beradanya rahasia keberadaan Sahyang Resi Gopala pemegang Arca Dewi Bumi telah bocor dan diketahui banyak orang! Hmm.... Jika demikian, pertarungan besar rupanya tak akan terelakkan lagi...," Pendekar 108 berkata dalam hati sambil kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Murid Wong Agung sadar, jika bahaya yang akan dihadapi tidaklah kecil, maka dia tak berani bertindak ceroboh apalagi lengah.

Di sebelah belakang, Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur tampak tak ada yang buka suara. Keduanya terdiam dengan mata masing-masing terus memperhatikan ke depan. Namun diam-diam dalam hati masing-masing gadis ini mulai timbul kesadaran bahwa apa yang dikatakan Aji benar adanya.

"Jahanam  kecil!"  tiba-tiba  Dewi  Bunga  Iblis berkata setengah berteriak.

"Malam ini nyawamu tak akan lolos lagi dari tanganku!"

Pendekar Mata Keranjang 108 tersenyum mendengar ucapan Dewi Bunga Iblis.

"Hmm.... Aku tahu, itu hanya gertak sambal. Bagaimanapun juga dia masih membutuhkan diriku jika dia menginginkan arca itu! Jadi tak mungkin dia langsung membunuhku! Ha.... Ha....

Ha.... Kau salah Dewi...," batin Aji seraya tertawa sendiri dalam hati.

Dan apa yang ada di batin  Pendekar  108 tak meleset. Karena segera diam-diam pula Dewi Bunga Iblis berkata dalam hati.

"Tak kusangka jika di tempat ini telah banyak manusia. Ini akan mempersulit keadaan. Apalagi aku harus menangkap pemuda ini tanpa cedera. Bagaimanapun juga masih sangat kuperlukan, karena hanya dialah  satu-satunya  manusia yang dapat mengambil arca itu!"

Namun Dewi Bunga Iblis tak mau menunjukkan apa yang dalam hatinya. Justru yang ia tampakkan adalah sikap garang dan sepertinya tidak butuh dengan Pendekar 108. Malah dengan lantang pula ia lantas berkata.

"Jahanam  kecil!  Kuberi  kesempatan  padamu untuk berdoa agar jalanmu jadi lapang!"

Lagi-lagi Pendekar Mata Keranjang hanya menjawab ucapan Dewi Bunga Iblis dengan sunggingkan senyum. Tapi sifat usil murid Wong Agung ini tampaknya tak bisa hilang, karena setelah agak lama ditunggu Dewi Bunga Iblis hanya diam seraya memperhatikan, dia berkata.

"Dewi Bunga Iblis! Sebenarnya aku tak mengharapkan di antara kita terjadi silang sengketa. Hanya saja kau harus mengerti,  tak mungkin bagiku menerima cintamu yang kau katakan suci murni sebening embun pagi itu! Kalau kau tidak keberatan, aku bisa mencarikan pengganti...," Pendekar 108 tak meneruskan ucapannya, karena sekejap itu juga Dewi Bunga Iblis tampak bantingkan kakinya dan melotot.

"Jahanam! Kau bicara apa...?!"

Pendekar Mata Keranjang undurkan langkah satu tindak sepertinya terkejut. Lalu dengan tanpa memandang dia berkata.

"Dewi Bunga Iblis! Kau tak usah malu segala masalah kita didengar orang lain. Dan percayalah, meski aku menolak cintamu, namun kau tetap kuanggap sebagai teman baikku!"

Mendengar keterangan Pendekar 108, dari tempatnya berdiri Bawuk Raga Ginting keluarkan tawa panjang lalu berkata.

"Nasib jelek seperti itu nyatanya tidak hanya menimpa diriku sendiri! Sakit memang jika cinta sebening embun pagi ditolak mentahmentah Apalagi sampai didengar orang banyak.

Hik.... Hik.... Hik  !"

Dewi Bunga Iblis matanya melotot angker, lalu berpaling pada Bawuk Raga Ginting.

"Manusia cebol jelek! Jaga mulutmu! Setelah urusanku selesai, kau akan merasakan bagaimana nikmatnya meregang nyawa! Dengar itu!" Habis berkata begitu, Dewi Bunga  Iblis  palingkan lagi wajahnya pada Pendekar Mata Keranjang 108. Dengan suara tinggi menahan marah ia

berkata.

"Mulutmu yang kotor perlu juga dirobek sebelum nyawamu melayang!" begitu katakatanya selesai, Dewi Bunga Iblis tampak putar tubuhnya. Tiba-tiba tubuhnya lenyap, dan tahutahu telah berada dua langkah di samping Pendekar 108 dan serta-merta pula telah hantamkan tangan kanannya ke arah lambung murid Wong Agung!

Pendekar 108 yang telah waspada gerakan kaki kanannya ke belakang satu tindak. Hantaman tangan Dewi Bunga Iblis menghajar tempat kosong sejengkal di depan  lambung  Pendekar 108, saat itulah Pendekar 108 gerakan kaki kanannya melejang ke depan. Tapi Dewi Bunga Iblis rupanya telah tahu hal itu. Bersamaan dengan melejangnya kaki Aji, ia angkat kaki kanannya ke atas.

Prakkk!

Terdengar benturan keras ketika kedua kaki saling beradu. Pendekar 108 tampak meringis dengan tubuh terhuyung ke belakang, sementara Dewi Bunga Iblis keluarkan seruan tertahan. Tubuhnya terseret ke samping sampai beberapa langkah. Begitu kakinya terhenti, tiba-tiba Dewi Bunga Iblis sabetkan tangan kanannya.

Wuuuttt!

Tiga kuntum bunga berwarna hitam melesat cepat ke arah Pendekar 108. Hebatnya, meski hanya kuntuman bunga, namun lesatannya menimbulkan desingan keras disertai menyambarnya angin kencang.

Pendekar 108 putar tubuhnya setengah lingkaran, kaki kanannya ditarik sedikit ke belakang. Tangan kanannya yang memegang kipas serta-merta dikebutkan menyilang.

Bret! Bret! Breeettt! Tiga kuntum bunga hancur lebur tersambar sinar putih yang keluar dari kipas Aji. Namun Aji terperangah kaget, karena begitu tangan kanannya mengebut, Dewi Bunga Iblis telah melesat seraya mendorongkan kedua tangannya, sementara kakinya ditekuk sebatas lutut.

Sambil menggerendeng panjang pendek, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat tarik kaki kirinya ke belakang disejajarkan dengan kaki kanannya, tubuhnya kini sejajar lurus dengan  tanah.

Pukulan tangan Dewi Bunga Iblis lewat di atas tubuhnya. Namun kini kedua kaki perempuan ini menerjang ke arah kepala dan pinggang Aji yang masih dalam posisi sejajar tanah.

Pendekar Mata Keranjang gulingkan tubuhnya. Terjangan Dewi Bunga Iblis menghajar tanah hingga terbongkar dan membentuk kubangan sedalam setengah tombak. Tapi  perempuan ini tak mau memberi kesempatan. Begitu terjangan kakinya tak mengena sasaran, dia cepat pula lesatkan tubuhnya setengah tombak ke udara, lalu menerjang kembali! Kedua tangannya pun kirimkan pukulan!

Aji tak mau ambil resiko. Begitu Dewi Bunga Iblis menerjang kembali, murid Wong Agung ini dorong kedua tangannya, sementara kakinya mencuat ke atas

Blaammm!

Ledakan segera terdengar membuncah tempat itu. Karena Dewi Bunga Iblis tak mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, sementara Pendekar Mata Keranjang sebaliknya, maka tak ampun lagi tubuh Dewi Bunga Iblis mencelat ke belakang. Sedangkan Pendekar 108 terus bergulingan.

Pada satu tempat yang dirasa  agak  jauh dari Dewi Bunga Iblis, Pendekar 108 hentikan gulingan tubuhnya, dan dengan gerak cepat ia segera bangkit.

Di seberang, Dewi Bunga Iblis terlihat baru saja mendarat dengan tubuh terhuyung-huyung.

"Keparat! Kalau begini terus-terusan, aku bisa roboh di tangan anak ingusan ini! Peduli setan dengan syarat hanya pemuda itu yang kelak bisa mengambil arca itu! Aku tak mau dibuat malu di hadapan orang banyak!" batin Dewi Bunga Iblis. Dia telah memutuskan untuk membunuh Pendekar Mata Keranjang 108, dan melupakan niatnya untuk hanya menangkap.

Perempuan berwajah putih ini lantas maju satu langkah. Kedua tangannya menyatu dan disejajarkan dada. Sepasang matanya memejam rapat. Mulutnya mengucapkan sesuatu.

Melihat hal ini, Aji tak tinggal diam. Tangan kanannya ditarik ke belakang menyilang, sementara tangan kirinya membuka dan siap lancarkan pukulan.

Tiba-tiba Dewi Bunga Iblis keluarkan bentakan lengking. Tubuhnya berkelebat. Kedua tangannya yang telah dialiri tenaga dalam penuh segera disentakkan ke arah Pendekar Mata Keranjang!

Weerrr! Serangkum angin dahsyat serta larikanlarikan berwarna hitam menebarkan hawa panas menggebrak laksana gelombang.

Pendekar 108 sesaat terdiam. Kedua matanya ia pejamkan, lalu didahului bentakan garang, tubuhnya melesat menyongsong. Tangan kanannya disentakkan sementara tangan kirinya mendorong kuat-kuat.

Blaaammm!

Tubuh dua orang ini sama-sama mental ke belakang. Meski keduanya tampak coba menahan tubuh masing-masing namun gagal. Hingga keduanya saling jatuh berkaparan di atas tanah! Namun Dewi Bunga Iblis tampaknya tak menyianyiakan kesempatan. Begitu tubuhnya terkapar, tangan kanannya segera menyentak.

Wuuuttt!

Dua kuntum bunga hitam melesat. Pendekar 108 yang baru saja terkapar, terkesiap darahnya. Tangan kirinya segera menghantam. Satu bunga bisa dilabrak dan hancur. Namun sekuntum lainnya lolos dan menerabas pundak kanannya.

Craaasss!

Pundak Aji langsung keluarkan darah kehitaman. Bajunya di bagian pundak robek menganga. Sementara bunga hitam itu menancap!

Dengan meringis menahan panas dan nyeri di pundak, Pendekar 108 segera menotok jalan darah di sekitar pundaknya. Tapi baru saja murid Wong Agung ini menotok jalan darahnya, Dewi Bunga Iblis telah bangkit dan sekonyong-konyong berkelebat ke arah Aji.

Pendekar 108 segera menggeser tubuhnya menghindar. Lalu dengan jejakkan kakinya dia melesat ke udara, membuat gerakan jungkir balik beberapa kali menghindar dari serangan Dewi Bunga Iblis yang meluncur deras seakan tiada habis-habisnya. Karena saat itu seraya melesat, Dewi Bunga Iblis sentak-sentakan kedua tangannya tanpa henti.

Ketika tubuh Dewi Bunga Iblis hampir mendekati tubuh Pendekar Mata Keranjang 108, tiba-tiba perempuan ini keluarkan bentakan. Kedua tangannya dihantamkan sekaligus!

Mendapati hal ini, Pendekar Mata Keranjang cepat putar-putar kipasnya, karena dia keluarkan seluruh tenaga dalamnya, maka putaran kipasnya mengeluarkan asap putih yang melindungi dirinya serta mengeluarkan hamparan angin dahsyat yang siap untuk menggebrak.

Bummm!

Dua tenaga dalam bertemu di udara. Tubuh Dewi Bunga Iblis langsung terputar dan menukik. Di lain pihak, Pendekar 108 terdengar keluarkan pekikan. Karena pundaknya yang terluka terasa semakin membara. Tubuhnya pun mencelat dan terbanting di atas tanah.

Dewi Bunga Iblis yang tampaknya lebih kenyang pengalaman segera bangkit lalu meloncat menerobos kepulan asap yang saat itu masih melingkupi tempat itu. Dari balik kepulan asap putih, perempuan ini dapat melihat gerakan Pendekar 108 yang baru saja bangkit dan tertatih-tatih seraya memegangi pundaknya.

"Modar kau sekarang!" bentak Dewi Bunga Iblis sambil hantamkan kedua tangannya kirimkan pukulan jarak jauh yang telah dialiri tenaga dalam kuat.

Pendekar 108 melengak. Dia cepat rebahkan kembali tubuhnya ke atas tanah, namun karena pundaknya terluka, gerakannya sedikit lamban, hingga meski dapat menghindar namun pinggangnya tersambar juga.

Deesss!

Pendekar 108 terpekik. Tubuhnya terputar di atas tanah. Pakaian sebelah pinggang langsung hangus!

Dewi Bunga Iblis mendarat dengan terhuyung-huyung. Setelah dapat menguasai diri, perempuan ini memperhatikan Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih terkapar di atas tanah dengan mengerang perlahan sambil memegangi pundak dan pinggangnya. Kipas ungunya tampak tergeletak di sampingnya.

"Hmm.... Untung aku masih bisa memperhitungkan. Jika tidak tentunya dia sudah putus nyawanya!" batin Dewi Bunga Iblis sambil mengusap-usap dadanya.

Di sebelah belakang, begitu melihat Pendekar 108 terkapar, Bawuk Raga Ginting terlihat berubah parasnya. Diam-diam dia menjadi kecut. Apalagi tatkala teringat akan ancaman Dewi Bunga Iblis. Maka untuk menjaga kemungkinan, secara diam-diam pula manusia cebol ini kerahkan segenap tenaga dalamnya. Tapi dia masih belum berani bertindak, karena saat itu Dewi Bunga Iblis tampak melangkah perlahan ke arah Pendekar Mata Keranjang.

Di sebelah samping, Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur tampak terhenyak. Nyali kedua gadis ini benar-benar telah habis melihat beberapa kejadian di hadapan mereka. Namun mereka sepertinya masih enggan meninggalkan tempat itu. Apalagi Singa Betina Dari Timur. Begitu melihat Aji terkapar, dari mulutnya terdengar jeritan kecil. Paras wajahnya tak bisa menyembunyikan perasaan khawatir.

"Seandainya aku mampu, tak akan kubiarkan perempuan itu menjamahnya! Oh, apakah perempuan bergelar Dewi Bunga Iblis itu akan membunuhnya...? Jika benar, aku tak akan tinggal diam meski aku harus berkorban! Bukankah dia juga telah menyelamatkan nyawaku...?" batin Singa Betina Dari Timur seraya hela napas panjang. Lalu kerahkan tenaga dalamnya dan hendak bangkit!

"Singa Betina! Apa yang hendak kau lakukan? Kau jangan bertindak ceroboh!" tegur Bidadari Bertangan Iblis seraya melirik.

"Aku tak akan biarkan perempuan itu membunuhnya! Dia tadi telah menyelamatkan diriku dari manusia cebol itu! Aku sekarang harus membalas budinya!"

Bidadari Bertangan Iblis keluarkan seringai. Sambil arahkan pandangannya pada Dewi Bunga Iblis ia berkata.

"Kau jangan bodoh! Apakah kau tadi tidak melihat? Perempuan itu melancarkan serangan dengan memilih bagian yang tidak mematikan! Berarti dia tidak mengharapkan kematian pemuda itu! Apalagi kau dengar sendiri, bahwa perempuan bergelar Dewi Bunga Iblis itu mencintainya! Apa mungkin dia membunuh orang yang dicintainya...?"

"Cinta kadang-kadang membuat orang bertindak gelap mata, dan tak jarang membuat orang harus rela berkorban! Jadi tak mustahil jika perempuan itu akan bertindak gelap mata membunuh pemuda itu karena ditolak cintanya!"

"Dan kau akan rela berkorban karena jatuh hati pada pemuda itu,..?" Bidadari Bertangan Iblis cepat menyela, membuat Singa Betina Dari Timur parasnya berubah mengelam. Namun gadis ini cepat menyembunyikan perasaannya dengan tersenyum dan berkata.

"Kau jangan salah tafsir. Semua itu kulakukan karena dia tadi telah menyelamatkan jiwaku! Apakah tindakanku salah...?" Singa Betina Dari Timur bertanya namun seraya terdengar sedikit bergetar.

Bidadari Bertangan Iblis palingkan wajahnya. Dipandanginya paras saudara seperguruannya seakan ingin meyakinkan kata-katanya. Bibirnya lalu tersenyum. Kepalanya bergerak menggeleng perlahan.

"Aku tak bisa mengatakan tindakanmu salah. Tapi setidaknya kau berpikir, bahwa perjalanan kita tidak hanya sampai di sini!  Yang  akan kita hadapi tentunya masih membutuhkan pengorbanan lebih besar!"

Singa Betina Dari Timur terdiam sejenak. Sepasang matanya tetap tak kesiap memandangi gerak langkah Dewi Bunga Iblis yang terus mendekati Aji. Dalam hati diam-diam gadis ini berkata sendiri.

"Apa pun alasannya, aku akan tetap menolongnya jika Dewi Bunga Iblis bertindak hendak membunuhnya!"

Lain yang ada dalam hati Singa Betina Dari Timur, lain pula yang dirasakan Bidadari Bertangan Iblis. Diam-diam dia juga berkata.

"Aku tak habis pikir. Kenapa sifat Singa Betina Dari Timur tiba-tiba berubah begitu? Biasanya dia tak ambil peduli dengan tindakan orang! Sekarang...? Dia malah mau berkorban demi pemuda yang baru saja dikenalnya! Aneh....

Apakah ini kelakuan orang yang sedang jatuh hati ?"

Selagi kedua gadis ini tenggelam dalam kata hatinya masing-masing, dan Dewi Bunga Iblis terus melangkah makin dekat, tiba-tiba sayupsayup terdengar suara orang tertawa cekikikan yang bersahut-sahutan dengan suara gemerincing. Dewi Bunga Iblis hentikan langkahnya. Kepalanya tengadah seakan memandangi bulan yang kini tepat berada di atasnya dan makin berwarna merah. Dahinya mengernyit, telinganya bergerakgerak seakan menajamkan pendengaran.

Bawuk Raga Ginting pun beliakkan sepasang matanya dan diarahkan pada satu jurusan. Mata itu jelalatan liar. Sementara dahinya mengkerut, napasnya memburu agak kencang.

Di tempat agak belakang, Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur penggal kata hatinya masing-masing. Sejurus keduanya saling berpaling dan berpandangan. Lalu serentak mengalihkan pandangan masing-masing pada jurusan yang kini juga dipandangi Bawuk Raga Ginting. Kedua mata gadis ini membesar dengan hati dibungkus tanda tanya.

Suasana mendadak sunyi senyap. Masingmasing orang menunggu dengan tegang. Dan ketegangan itu semakin menjadi-jadi tatkala tibatiba, suara cekikikan yang ditingkahi suara gemerincing itu lenyap!

Pendekar Mata Keranjang yang dapat menduga siapa adanya orang yang cekikikan, menghela napas panjang. Sepasang matanya pun memandang tajam pada satu jurusan, jurusan mata yang saat itu juga sedang dipelototi oleh Bawuk Raga Ginting dan Bidadari Bertangan Iblis serta Singa Betina Dari Timur. Hanya Dewi Bunga Iblis yang tetap tengadah memandang bulan.

Tak heran jika tiga pasang mata itu memandang pada satu jurusan, karena suara cekikikan tadi dapat dipastikan dari arah itu.

Selagi suasana dicengkeram ketegangan begitu rupa, tiba-tiba sesosok bayangan melayang turun dari sebuah pohon. Begitu menjejak tanah, sepasang mata sosok ini menebar berkeliling pandangi satu persatu orang. Lalu berkata dengan sesekali diselingi suara tawa cekikikan.

"Malam   purnama    yang    aneh.    Seaneh orang-orangnya! Menyesal aku kesasar ke tempat ini! Kukira ada sesuatu yang pantas untuk ditertawakan, ehh.... Tak tahunya yang kutemukan adalah orang-orang yang tak mau tertawa cekikak-cekikik.... Hik.... Hik....  Hik...!"  sejenak  sosok itu hentikan kata-katanya, namun tak lama kemudian telah menyambung. Kepalanya kini mendongak.

"Bulan berwarna merah darah! Adakah itu yang membuat orang-orang ini tak mau cekikikan bersama-sama? Aneh.... Ya, aneh.,.. Hik.... Hik....

Hik !"

Sekonyong-konyong Bawuk Raga Ginting cepat palingkan wajahnya, demikian pula Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur serta Pendekar 108. Hanya Dewi Bunga Iblis yang tampak masih tengadah. Namun tubuhnya terlihat sedikit bergetar. Dan pelan-pelan tangannya mengepal.

ENAM

BAWUK Raga Ginting tampak tercekat, sementara Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur kelihatan tercenung heran, memandang tak berkedip pada sosok yang ada di hadapan mereka. Hanya Pendekar Mata Keranjang 108 yang tak memperlihatkan rasa terkejut.

Di hadapan mereka tampak seorang perempuan gemuk besar. Usianya telah lanjut, tubuhnya sedikit bungkuk. Rambutnya panjang dan putih disanggul ke atas. Sepasang matanya sayu kelabu, namun besar dan menjorok ke dalam cekungan yang dalam. Bibirnya merah polesan. Dia hanya mengenakan anting-anting sebelah, tapi anting-anting itu agak besar dan dimuati beberapa anting-anting kecil. Pada pinggangnya yang bengkak besar tampak melilit selendang berwarna merah.

"Dewi Kayangan.... Kau muncul juga di sini!" gumam Pendekar 108 mengenali siapa adanya perempuan bertubuh besar dan mengenakan anting-anting sebelah yang barusan datang.

Bidadari Bertangan Iblis dekatkan kepalanya pada Singa Betina Dari Timur dan berbisik.

"Selain banyak yang berilmu tinggi, nyatanya tokoh-tokoh di tanah Jawa juga anehaneh Bagaimana menurutmu?"

"Meski aneh, tapi tidak bisa dipandang remeh. Hmm. Betul juga!" jawab Singa Betina Da-

ri Timur seraya terus memperhatikan pada perempuan gemuk besar yang bukan lain memang Dewi Kayangan.

"Bagaimana perempuan sebesar itu bisa tiba-tiba berada di sini, padahal suara cekikikannya tadi berada di sana...?" kembali Bidadari Bertangan Iblis berbisik seraya gelengkan kepalanya.

"Aku sendiri heran. Dia mampu bergerak secepat itu!"

Selagi dua gadis ini berbisik-bisik, Bawuk Raga Ginting tampak tersenyum lalu berkata.

"Sungguh tak dinyana, di malam yang aneh ini aku dapat bersua kembali dengan tokoh hebat bergelar Dewi Kayangan. Bagaimana keadaanmu...?"

Dewi Kayangan cekikikan panjang, kepalanya lantas bergerak lurus dan berpaling pada Bawuk Raga Ginting. Sejenak sepasang mata Dewi Kayangan mendelik memperhatikan. Serta merta perempuan bertubuh gemuk ini hentikan cekikikannya. Tangan kirinya bergerak menunjuk pada Bawuk Raga Ginting.

"Manusia pendek yang tak  bisa  ditebak usia dan laki perempuannya, bukankah kau yang bernama Bawuk Raga Ginting?" ujar Dewi Kayangan. Lalu meneruskan. "Untuk apa kau ikut bertegang-tegang di sini? Apakah kau juga kesasar seperti aku...?"

Paras muka Bawuk Raga Ginting merah mengelam. Pelipisnya bergerak-gerak dengan dagu sedikit terangkat. Walau jelas dia sangat marah dengan ucapan Dewi Kayangan, namun karena tahu siapa adanya Dewi Kayangan, maka dia menindih amarahnya. Dan buru-buru sunggingkan senyum seraya berkata.

"Ucapmu benar. Aku tersasar! Bagaimana kalau kita meneruskan perjalanan bersamasama...?" meski bicara demikian, sebenarnya dalam hati Bawuk Raga Ginting berkata.

"Dia sangat berbahaya jika sampai turut campur masalah ini! Ketinggian ilmunya masih sulit untuk dijajari siapa pun saat ini! Aku harus bisa membujuknya agar dia meninggalkan tempat ini. Lalu aku akan kembali ke sini "

Dewi Kayangan  gelengkan  kepala  sambil cekikikan kembali.

"Sungguh sayang sekali kau hidup selalu kesasar! Kudoakan semoga kau tidak mati dalam keadaan kesasar! Dan maaf, ajakanmu tak bisa kulayani, aku takut jadi orang kesasar! Hik....

Hik.... Hik  !"

Bawuk Raga Ginting laksana disengat mendengar ucapan Dewi Kayangan. Sementara Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur tampak menahan tawa sedangkan Pendekar 108 geleng-gelengkan kepala.

Habis berkata begitu, tanpa mempedulikan Bawuk Raga Ginting yang marah, Dewi Kayangan palingkan wajahnya dan pandangi Dewi Bunga Iblis yang juga adalah adiknya sendiri. Tangannya kembali bergerak menunjuk dan berkata.

"Ini, satu lagi orang yang kesasar! Dasar anak salah asuhan, sudah diberitahu masih juga kesasar!" Dewi Kayangan cekikikan sebentar, lalu meneruskan.

"Anak kesasar! Kalau kau tidak ingin terus kesasar lekas pergi dari sini! Ini tempatnya orangorang kesasar! Pergi cepat!"

Dewi Bunga Iblis luruskan kepalanya, namun matanya tak memandang pada Dewi Kayangan.

"Kali Nyamat!" panggil Dewi Bunga Iblis menyebut nama asli kakaknya. "Tutup mulut busukmu! Kau tak berhak memerintah aku! Di tempat ini tak berlaku saudara. Kau tetap  kau,  dan aku adalah aku!"

Dewi Kayangan  memperkeras  tawa  cekikikannya, hingga kepalanya manggut-manggut, membuat gemerincing anting-antingnya kembali terdengar.

"Mekar Sari!" Dewi Kayangan ikut-ikutan menyebut nama asli Dewi Bunga Iblis. "Rupanya kau telah kesasar terlalu dalam hingga tak dapat diselamatkan. Kalau memang demikian pendirianmu, aku sebagai kakakmu hanya memohon semoga kau dilapangkan jalan!"

Habis berkata begitu, lagi-lagi tanpa mempedulikan Dewi Bunga Iblis, ia melangkah terbungkuk-bungkuk ke arah Aji. Kesempatan ini tampaknya digunakan oleh Dewi Bunga Iblis. Tanpa keluarkan suara perempuan berwajah putih ini segera hantamkan tangan  kanannya  ke arah Dewi Kayangan.

Yang diserang sejenak hentikan langkahnya. Kepalanya berpaling sebentar. Lalu sepertinya tidak sedang diserang, Dewi Kayangan teruskan langkahnya. Namun begitu pukulan jarak jauh Dewi Bunga Iblis yang telah dialiri tenaga dalam penuh itu hampir melabrak tubuhnya, Dewi Kayangan perdengarkan suara cekikikan lengking. Dan tiba-tiba sosoknya berputar lalu lenyap! Hingga serangan Dewi Bunga Iblis hanya menghajar udara kosong.

Selagi semua orang mencari-cari, tiba-tiba Dewi Kayangan telah berdiri dengan cekikikan di samping Pendekar Mata Keranjang. Tangan kirinya tampak mengelus-elus sanggulan rambutnya. Namun mendadak tangan kanannya bergerak mengibas ke samping, arah di mana Dewi Bunga Iblis berada.

Wuuusss!

Serangkum angin yang tak keluarkan  suara melesat cepat. Hebatnya  bersamaan  dengan itu, suasana di tempat itu berubah panas!

Dewi Bunga Iblis cepat meloncat ke samping untuk menghindar. Rangkuman angin terus menerabas sebelum akhirnya menghajar sebuah pohon. Pohon itu kontan berderak dan tumbang.

"Dewi...," kata Aji seraya menjura hormat begitu Dewi Kayangan memandang ke arahnya.

Sejurus Dewi Kayangan pandangi murid Wong Agung ini dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu pandangannya beralih pada Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur. Tiba-tiba Dewi Kayangan cekikikan lagi.

"Anak monyet! Aku heran. Meski kau anak monyet, tapi setiap kutemui selalu saja ada gadisgadisnya! Yang berbaju coklat kemarin dulu mana...?"

Pendekar Mata Keranjang 108 gelengkan kepalanya. Tangan kanannya tetap mendekap pundak serta tangan kiri menekap pinggangnya. Seraya meringis menahan sakit dan panas, Aji berkata.

"Dewi. Kuharap kau sudi...," Pendekar 108 tak meneruskan ucapannya karena dilihatnya Dewi Kayangan tampak melotot.

"Dasar anak mata perempuan! Bukankah kau telah diberi bekal oleh Tua Bangka Tak Berkaki...?"

"Tua  Bangga  Tak  Berkaki....  Hmm.     Yang dimaksud tentu Gongging Baladewa!" pikir Pendekar 108. Tiba-tiba Aji tepuk jidatnya, dan sertamerta merogoh ke balik pakaiannya. Tak lama kemudian tangannya ditarik kembali dan didekatkan ke mulutnya. Dari tangan Pendekar Mata Keranjang tampak dua butiran kecil berwarna putih melesat masuk ke mulutnya.

"Kenapa aku bisa lupa begini rupa? Bukankah jauh-jauh hari Gongging Baladewa dan Dewi Bayang-Bayang telah membekaliku dengan obat penawar racun.... Sialan benar!" rutuk Aji dalam hati seraya cengengesan, karena begitu butiran putih itu masuk, perlahan-lahan pula tubuhnya berubah normal kembali.

"He...! Mana dia...? Ditanya orang malah ketawa-ketawa!" bentak Dewi Kayangan.

"Dia...? Yang kau maksud dia siapa?" Aji balik bertanya.

"Gadis yang dulu bersamamu!"

"Ooohh...," Pendekar 108 melongo. "Dia telah pergi "

"Hmm.... Begitu? Yang itu siapa...?!" tanya Dewi Kayangan seraya arahkan pandangannya pada Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur.

"Cerewet benar! Kenapa soal itu ditanyakan...," batin Pendekar  108  dongkol.  Namun  ia tak berani mengucapkannya. Yang keluar justru senyum di bibirnya.

"Mereka adalah gadis-gadis dari tanah seberang. Yang berbaju putih bernama Yuli Anastasia Raka Rumpun Seruni. Yang berbaju hijau bernama Siti Ngatimah Robiul Watu Geger.  "

Mendengar kata-kata Aji, Bidadari Bertangan Iblis tampak memberengut tak senang, sebaliknya Singa Betina Dari Timur tampak palingkan wajahnya dengan menahan tawa. Dewi Kayangan tampak kerutkan dahi. Wajahnya lantas berpaling pada Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur.

"Hmm!... Gadis-gadis berparas ayu. Sayang,  namanya  terlalu  kampungan      Bagai-

mana kalau kuganti dengan...." Sejenak Dewi Kayangan berpikir, lalu melanjutkan. "Yanto dan satunya    Ngatimun....    Bagus    bukan...?    Hik....

Hik.... Hik  !"

Bidadari Bertangan Iblis keluarkan dengusan perlahan. Wajahnya tampak mengelam. Kedua tangannya tampak mengepal menahan marah. Sementara Singa Betina Dari Timur semakin terguncang-guncang bahunya menahan tawa.

"Setan alas! Tampaknya dua orang itu sama-sama sintingnya!" gumam Bidadari Bertangan Iblis dengan mata mendelik pada Pendekar Mata Keranjang 108. Pendekar Mata Keranjang sendiri terpingkal-pingkal seraya menahan pinggangnya.

"Kalian orang-orang sinting yang tak pantas lagi diberi hak hidup!" tiba-tiba Dewi Bunga Iblis membentak.

"Betul! Bahkan hak mati pun sebenarnya terlalu baik!" Yang menyahut adalah Bawuk Raga Ginting. Habis berkata begitu, Bawuk Raga Ginting melompat mendekati Dewi Bunga Iblis dan berbisik. "Kau hadapi yang gemuk itu, aku akan melunasi yang Mata Keranjang!"

Dewi Bunga Iblis melirik. Dalam hati sebenarnya ia tak senang dengan usul Bawuk Raga Ginting. Namun setelah ditimbang-timbang akhirnya ia berkata.

"Baik! Tapi ingat. Aku tak menginginkan pemuda itu tewas! Cukup kau ciderai saja! Kalau kau berbuat di luar itu, nyawamu akan kucabut sekalian! Kau mengerti...?!"

"Sombong benar kunyuk ini! Awas kau...!" ancam Bawuk Raga Ginting dalam hati. Namun tiba-tiba dahi Bawuk Raga Ginting mengernyit. "Hmm.... Apa yang mendasari hingga dia mencegahku untuk membunuh pemuda itu? Apakah benar yang dikatakan pemuda itu bahwa dia mencintainya...? Ataukah ada tujuan lain...? Aku jadi penasaran...," batin Bawuk Raga Ginting. Meski hatinya panas dengan ucapan Dewi Bunga Iblis, namun memperhitungkan bahwa dirinya tak mungkin menghadapi Dewi Kayangan, akhirnya perempuan pendek ini pun anggukan kepalanya.

Bersamaan dengan anggukan kepala Bawuk Raga Ginting, Dewi Bunga Iblis segera melompat ke arah Dewi Kayangan.

"Kali Nyamat! Malam ini kita tentukan siapa yang paling berhak untuk hidup lebih panjang!"

Dewi Kayangan menghela napas panjang. Sepasang matanya mengawasi lekat-lekat adik kandungnya. Namun tiba-tiba cekikikannya keluar lagi. "Mekar Sari! Sebelum segalanya terjadi, kuberitahukan padamu. Dengarkan baik-baik! Arca Dewi Bumi hanya dapat diambil dan diwarisi oleh satu orang! Dan kau tahu siapa adanya orang itu! Jadi jangan kau terlalu ambisi!  Terimalah  apa yang ada! Kembalilah ke jalan terang "

Dewi Bunga Iblis mendengus keras. Sementara Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur saling pandang satu sama lain.

"Ternyata dugaan kita jauh melesat. Tokohtokoh di sini telah mengetahui rahasia arca itu lebih daripada yang kita ketahui. Tak kusangka. ,"

kata Bidadari Bertangan Iblis.

Singa Betina Dari Timur anggukan kepalanya, lalu berbisik.

"Bagaimana tindakan kita sekarang  ?"

"Kita tunggu. Mungkin saja kata-kata perempuan gemuk itu hanyalah  guyonan  belaka. Kau lihat, sedari tadi omongannya tidak pernah sungguh-sungguh!"

Sementara itu di dalam hati Bawuk Raga Ginting timbul berbagai dugaan begitu mendengar ucapan Dewi Kayangan.

"Hanya seorang...? Dewi Bunga Iblis katanya tahu siapa orang itu.... Hmm. Apakah

pemuda ini...? Bukankah Dewi Bunga Iblis mencegahku untuk membunuh pemuda itu...? Benar kemungkinan begitu "

Selagi orang-orang dilanda pikiran masingmasing, Dewi Bunga Iblis tiba-tiba jejakkan kakinya ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar bentakan keras. Tubuhnya terlihat melenting  ke udara. Dari atas udara kedua tangannya disatukan dan dihantamkan sekaligus ke arah Dewi Kayangan.

Weerrr!

Hamparan angin deras serta gelombang asap hitam segera mengepung tempat itu.

Dewi Kayangan terlihat mengerjapngerjapkan sepasang matanya yang besar. Tubuhnya tiba-tiba doyong ke samping kanan seakan hendak jatuh terjerembab. Namun sejengkal lagi tubuh gemuk itu menghantam tanah, kaki kanannya menekan sementara tangan kanannya juga menyentak ke atas tanah.  Terjadilah hal yang luar biasa.

Tubuh besar Dewi Kayangan tiba-tiba mencelat ringan ke udara menerobos hamparan asap hitam. Dan sesaat kemudian di udara terdengar bentakan-bentakan tinggi dari mulut Dewi Bunga Iblis, yang diseling cekikikan Dewi Kayangan.

Tatkala semua orang mendongak, samarsamar terlihat Dewi Kayangan putar-putar selendang merahnya yang ternyata telah melilit sekujur tubuh Dewi Bunga Iblis. Dan terlihat pula bagaimana Dewi Bunga Iblis meronta-ronta seraya kerahkan tenaga dalam untuk melepaskan diri, namun rupanya tak berhasil. Malah semakin keras rontaan Dewi Bunga Iblis, lilitan selendang merah Dewi Kayangan semakin ketat membelit.

Seakan ingin mempertontonkan pada orang di bawahnya, Dewi Kayangan tiba-tiba lejangkan sepasang kakinya hingga pakaian yang dikenakannya berkelebat. Anehnya, begitu pakaian Dewi Kayangan menggelepar, asap hitam yang menutupi tempat itu lenyap sirna! Hingga kini jelas terlihat apa yang terjadi di udara.

Sekujur tubuh Dewi Bunga Iblis sudah tampak basah kuyup, malah kulit putih penutup wajahnya pun mengelupas dan jatuh. Namun Dewi Bunga Iblis tampaknya tak mau menyerah begitu saja. Sepasang matanya dia pejamkan, napasnya dia tahan hingga beberapa saat lamanya. Lalu dengan membentak garang, napasnya ia hembuskan keras-keras.

Bret! Brettt!

Selendang merah milik Dewi Kayangan yang melilit tubuh Dewi Bunga Iblis perlahanlahan robek. Suara cekikikan Dewi Kayangan tiba-tiba lenyap. Tubuhnya yang gemuk besar tibatiba membuat gerakan jumpalitan, dan tahu-tahu sosoknya telah menggelinding cepat di atas selendangnya. Semua orang di bawah, juga Dewi Bunga Iblis menduga jika Dewi Kayangan pasti akan langsung menghajar dengan hantamkan tangan atau kakinya ke arah Dewi Bunga Iblis. Namun dugaan itu meleset. Karena tiba-tiba saja Dewi Kayangan hentikan gelindingan tubuhnya. Kedua kakinya terlihat melejang ke atas, lalu serta-merta dihujamkan pada selendangnya. Dewi Kayangan tampak berdiri di atas selendang!

Bet! Bettt!

Anehnya, selendang itu tidak robek terkena hantaman kaki Dewi Kayangan. Malah kini mengeras dan melayang deras ke bawah dengan Dewi Kayangan terdengar cekikikan sambil berdiri dan bergoyang-goyang di atas selendang!

Di sebelah ujung, melihat tubuhnya menukik deras, Dewi Bunga Iblis sekali lagi mencoba kerahkan tenaga dalamnya, namun tak berhasil. Hingga tanpa ampun lagi tubuhnya menghujam deras di atas tanah.

Belum lagi Dewi Bunga Iblis merangkak bangkit, Dewi Kayangan telah melesat seraya cekikikan. Karena tubuh Dewi Bunga Iblis masih terlilit selendang, maka bersamaan dengan melesatnya tubuh Dewi Kayangan, tubuh Dewi Bunga Iblis pun ikut terseret.

"Kau memang harus dihukum biar tak kesasar lagi!" kata Dewi Kayangan seraya hentikan lesatannya di dekat sebatang pohon. Setelah melirik sebentar, tubuhnya kembali melesat. Lagi-lagi tubuh Dewi Bunga Iblis ikut tertarik.

Dengan gerakan yang sulit diikuti pandangan mata, Dewi Kayangan berputar mengelilingi batang pohon, dan tahu-tahu Dewi Bunga Iblis telah tersandar duduk di batang pohon dengan tubuh terlilit selendang yang dibebatkan pada batang pohon!

"Jahanam!      Lepaskan      diriku!      Kubunuh kau!" teriak Dewi Bunga Iblis. Namun ia  hanya bisa berteriak, karena tubuhnya tak bisa digerakkan lagi!

Dewi Kayangan pandangi sejenak adik kandungnya itu. Tangannya bergerak mengelus sanggul rambutnya, lalu berkata.

"Kau harus  saksikan  dengan  diam  bahwa segala perkataanku tadi benar! Arca itu hanya dapat diambil dan diwarisi oleh seorang! Buktikan!"

Di seberang, melihat hal yang menimpa Dewi Bunga Iblis, Bawuk Raga  Ginting  tampak ciut nyalinya. Namun karena dia telah berhadapan dengan Pendekar Mata Keranjang 108, maka perasaan kecut itu ia tepiskan.

Didahului bentakan garang, Bawuk Raga Ginting segera melesat ke udara. Satu tombak di udara, sosoknya tiba-tiba berputar dan dengan gerak cepat, tubuhnya melesat dengan kaki lurus ke arah Pendekar 108.

Aji jejakkan sepasang kakinya ke atas tanah. Tubuhnya melesat menyongsong tubuh Bawuk Raga Ginting.

Prakkk!

Terdengar benturan keras tatkala sepasang kaki bentrok di udara. Karena Bawuk Raga Ginting telah terluka, maka tenaga yang dikeluarkannya tidaklah sedemikian kuat, hingga begitu terjadi benturan, tubuhnya melesat deras ke belakang. Dan terkapar di atas tanah. Sementara Pendekar 108 juga mental, namun dia segera dapat menguasai tubuh, hingga dengan  membuat dua kali jungkir balik, dia dapat mendarat dengan kaki kokoh.

"Jahanam  kerdil!"  maki  Bawuk  Raga  Ginting seraya merangkak bangkit. Namun baru saja berdiri, Pendekar 108 telah menggebraknya dengan sapuan kaki kanan menyilang.

Sambil menindih rasa terkejut dan marah, Bawuk Raga Ginting cepat tarik tubuhnya sedikit ke belakang, hingga sapuan kaki kanan Aji lewat di depan dadanya. Namun tatkala Aji putar tubuhnya dan sapukan kembali kaki kanannya seraya ajukan tubuh ke depan, Bawuk Raga Ginting tak dapat lagi menghindar, hingga....

Desss!

Bawuk Raga Ginting melenguh keras. Sosoknya, mental ke samping dan bergulingan  di atas tanah.

Bawuk Raga Ginting tampaknya tak mau dipecundangi. Meski merasakan sekujur tubuhnya sakit, dia cepat bangun. Namun manusia cebol ini melengak kaget. Di belakangnya telah berdiri Dewi Kayangan sambil cekikikan. Sepasang mata Bawuk Raga Ginting melotot besar, tubuhnya bergetar, tangannya gemetar, bukan karena marah melihat Dewi Kayangan, namun justru karena sambil cekikikan Dewi Kayangan entah dari mana datangnya telah memegang rotan dan bergerak cepat dengan melilitkan rotan hutan itu pada tubuh Bawuk Raga Ginting yang baru saja bangkit.

"Keparat! Apa yang hendak kau lakukan?!" bentak Bawuk Raga Ginting seraya bergulingan dan me-ronta-ronta. Namun meski hanya seutas rotan, Bawuk Raga Ginting tak mampu untuk melepaskan diri. Bahkan meski Bawuk Raga Ginting telah kerahkan tenaga dalamnya! 

Sambil cekikikan Dewi Kayangan melangkah ke arah Bawuk Raga Ginting.

"Kau tadi  bilang  kesasar,  sekarang  akan kutunjukkan jalan yang benar agar kau tak kesasar lagi!" kata Dewi Kayangan sambil gerakan kaki kanannya menyapu tubuh Bawuk Raga Ginting.

Meski gerakan kaki Dewi Kayangan terlihat pelan, hebatnya saat itu juga Bawuk Raga Ginting memekik. Tubuhnya melayang dan bergelimpangan dekat dengan tempat Dewi Bunga Iblis!

Pendekar 108 usap-usap ujung hidungnya lalu melangkah ke arah Dewi Kayangan. Tapi  baru saja dua langkahkan kaki, terdengar  suara orang menegur disusul berkelebatnya dua sosok bayangan.

TUJUH

MALAM ini kita lanjutkan perhitungan yang tertunda!" bentak sosok di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108 sebelah kanan. Dia adalah seorang perempuan setengah baya. Meski demikian, paras wajahnya masih menampakkan kecantikan. Rambutnya panjang, sepasang matanya bulat tajam. Pada salah satu cuping hidungnya terlihat sebuah cincin berwarna kekuningan.

Sementara di sebelah perempuan ini tampak seorang laki-laki juga berusia setengah baya. Rambutnya panjang namun telah diwarnai putih. Sepasang matanya juga tajam.

"Dayang   Naga   Puspa!   Jogaskara!"   gumam Pendekar 108 begitu mengenali siapa adanya dua sosok di hadapannya. "Bagus! Ingatanmu masih encer. Berarti kau juga tak lupa akan masalah kita!" kata perempuan yang hidung sebelahnya terlingkari cincin, dan bukan lain memang Dayang Naga Puspa.

"Dan masalah itu harus tuntas malam ini juga!" sambung laki-laki di sebelah Dayang Naga Puspa yang tak lain memang Jogaskara adanya.

Dua orang ini adalah murid Dadung Rantak, seorang tokoh silat berilmu tinggi yang bermukim di Lembah Rawa Buntek (Tentang Dayang Naga Puspa dan Jogaskara silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode

:"Dayang Naga Puspa").

"Hmm.... Rahasia tentang Arca Dewi Bumi memang telah diketahui banyak orang. Aku harus bisa menyelamatkannya dari tangan orang-orang tak bertanggung jawab!" kata Pendekar 108 dalam hati seraya memperhatikan silih berganti pada Dayang Naga Puspa dan Jogaskara.

Sementara itu di sebelah belakang, melihat kedatangan Dayang Naga Puspa dan Jogaskara, Bidadari Bertangan Iblis tampak sedikit terkejut. Sebelum ia buka suara, Singa Betina Dari Timur telah berkata dahulu.

"Tampaknya kegegeran di tempat ini tak akan cepat selesai!"

"Benar! Tapi kita harus tetap menunggu. Karena selain bisa mendapatkan kejelasan tentang arca itu, siapa  tahu nasib baik  ada pada  kita. Kita harus pandai-pandai memanfaatkan situasi!" ujar Bidadari Bertangan Iblis dengan memperhatikan Dayang Naga Puspa serta Jogaskara. Singa Betina Dari Timur menghela napas panjang. Wajahnya jelas menampak kekecewaan. Dia berpaling pada Bidadari Bertangan Iblis. Mulutnya membuka hendak mengucapkan sesuatu, tapi sebelum ucapannya keluar, Bidadari Bertangan Iblis telah berkata.

"Aku tahu, sebenarnya kau tidak setuju dengan jalan pikiranku. Daripada hal itu menjadi beban buatmu, kalau kau ingin pulang dahulu, pergilah!"

Singa Betina dari Timur kembali hanya menarik napas panjang. Dalam benak gadis ini dibuncah perasaan bingung. Dia ingin meninggalkan tempat itu karena sadar jika tak mungkin mampu menghadapi orang-orang di tempat itu, namun di lain sisi dia mengkhawatirkan keselamatan Bidadari Bertangan Iblis, saudara seperguruannya. Juga, sebenarnya dia masih ingin mengenali Pendekar Mata Keranjang 108 lebih jauh, karena dia tak dapat mendustai dirinya sendiri, bahwa dia mulai menyukai pemuda itu.

Sedangkan Dewi Bunga Iblis tampak mendelik melihat kedatangan Dayang Naga Puspa dan Jogaskara.

"Betina keparat itu muncul juga! Hmm... Siapa laki-laki di sampingnya? Sepertinya aku baru pertama kali ini melihatnya! Seandainya aku bisa bergerak, akan kuhadapi betina jahanam itu!" batin Dewi Bunga iblis sambil melotot. Perempuan ini memang punya dendam pada Dayang Naga Puspa, karena dia pernah dipecundangi pada beberapa waktu yang lalu. Hanya Bawuk Raga Ginting yang tampaknya belum mengenal Dayang Naga Puspa, karena meski telah mengingat-ingat namun parasnya masih menunjukkan ketidaktahuan.

"Hmm.... Mungkin karena aku lama tak muncul ke rimba persilatan yang membuatku tak bisa mengenali siapa adanya dua orang ini! Tapi harapanku semoga mereka dari golonganku, hingga bisa kuajak kompromi dan melepaskan diriku dari rotan tua jahanam itu!" kata Bawuk Raga Ginting.

Selagi orang-orang di situ dibungkus dengan perasaan masing-masing, tiba-tiba Dewi Kayangan keluarkan tawa cekikikannya. Lalu berkata.

"Tampak-tampaknya malam ini banyak sekali orang kesasar.... Hik.... Hik.... Hik...! Apakah mereka sudah pada buta, padahal meski malam, sang rembulan tetap bersinar terang walau warnanya merah.... Hik.... Hik.... Hik...!"

Dayang Naga Puspa menoleh. Bibirnya sunggingkan senyum. Lalu mendekatkan kepalanya pada Jogaskara dan berbisik.

"Kakang! Malam ini kita beruntung sekali.

Sekali tepuk dua ikan besar tertangkap!" "Maksudmu...?" tanya Jogaskara tak men-

gerti arah pembicaraan adik seperguruannya. "Kau lihat perempuan gembrot itu. Dialah

Dewi Kayangan, orang yang tahu persis tentang rahasia Arca Dewi Bumi. Sementara pemuda itu adalah satu-satunya orang yang kelak dapat mengambil arca itu. Kalau kita dapat menaklukkan mereka berdua malam ini, Arca Dewi Bumi pasti jatuh ke tangan kita!"

Jogaskara manggut-manggut. Lalu alihkan pandangannya pada Dewi Kayangan. Dahinya sedikit mengernyit. Namun tiba-tiba saja sepasang matanya melotot besar, bibirnya sunggingkan senyum. Bukan karena melihat penampilan Dewi Kayangan, tapi justru karena melihat Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur.

"Hmm.... Gadis-gadis cantik dengan potongan tubuh menggemaskan. Sudah pasti mereka menjanjikan kehangatan tersendiri di atas tempat tidur. Mudah-mudahan masalah di tempat ini cepat selesai. Aku sudah tak sabar jika melihat potongan tubuh seperti mereka...," kata Jogaskara dalam hati tanpa kesiap memandang pada Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur. Yang dipandangi serta-merta buang muka masing-masing dan memandang jurusan lain. Hal ini membuat Jogaskara usap-usap  janggutnya  sambil manggut-manggut dengan pandangan penuh arti.

"Kakang! Kau hadapi pemuda itu! Aku yang akan menggulung perempuan gembrot itu! Ingat, kalau bisa jangan sampai tewas! Kita bikin seperti dua orang di batang pohon itu!" kata Dayang Naga Puspa seraya arahkan pandangannya  pada Dewi Bunga Iblis dan Bawuk Raga Ginting.

Ketika pandangan Dayang Naga Puspa bentrok dengan mata Dewi Bunga Iblis, Dewi Bunga Iblis tampak berpaling dan meludah ke tanah. Sementara Dayang Naga Puspa terlihat tersenyum sinis.

Mendengar  bisikan  Dayang  Naga  Puspa,

Jogaskara anggukan kepala. Dan bersamaan itu, Jogaskara segera meloncat ke arah Pendekar 108. Sementara Dayang Naga Puspa putar tubuhnya menghadap Dewi Kayangan.

"Bersiaplah kunyuk tengik!" bentak Jogaskara seraya angkat kedua tangannya dan langsung dihantamkan sekaligus pada Pendekar 108.

Wuuuttt!

Serangkum angin laksana gelombang prahara melesat cepat ke arah Pendekar 108. Bukan hanya membawa suara menggemuruh, namun juga menebarkan hawa panas menyengat!

Aji tarik tangannya ke belakang. Kedua tangannya ditarik sedikit ke belakang, dan sertamerta didorong ke depan.

Weerrr! Blaaammm!

Terdengar dentuman dahsyat tatkala gelombang angin yang keluar dari tangan Aji melabrak serangan Jogaskara. Meski serangan mereka bentrok di udara, namun karena serangan itu telah dialiri tenaga dalam tinggi, membuat masingmasing orang ini sama-sama mencelat ke belakang! Setelah sama-sama membuat gerakan salto dua kali, kedua orang ini mendarat dengan kaki kokoh.

Namun tampaknya Jogaskara ingin segera menyudahi pertarungan ini dengan cepat, karena begitu kakinya mendarat, dia segera menjejakkan kembali. Tubuhnya melesat cepat dan tahu-tahu sudah satu langkah di hadapan Pendekar 108.

Murid Wong Agung hanya melihat kelebatan warna hitam disertai suara menderu. Tahutahu kedua tangan Jogaskara telah berkelebat didepan kepalanya!

Weettt! Weeetttt!

Pendekar 108 angkat kedua tangannya dan dihantamkan menyilang di depan kepala dan dadanya.

Des! Desss!

Dua pasang tangan beradu di udara keluarkan suara keras. Jogaskara mengeluarkan  seruan tertahan sambil melompat mundur. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Aji. Murid Wong Agung ini segera melompat ke depan dan tangan kanannya diayunkan ke arah dada Jogaskara dari arah bawah.

Desss!

Jogaskara terhuyung-huyung ke belakang dengan menahan dadanya. Dan belum sempat dia kuasai diri, Aji telah terjangkan tumit ke dadanya!

Tubuh Jogaskara oleng sesaat lalu roboh di atas tanah! Untuk beberapa saat  lamanya  lakilaki ini diam tak bergerak-gerak. Dayang Naga Puspa yang siap akan menghadapi Dewi Kayangan urungkan niat. Dia berpaling pada Jogaskara. Wajahnya tampak cemas dengan keadaan kakak seperguruannya itu. Namun, begitu kakinya hendak melangkah mendekati, Jogaskara tiba-tiba melenting ke udara.

Di atas udara, Jogaskara putar tubuhnya, lalu menukik ke arah Pendekar 108. Di tangan kanannya tampak keris yang memancarkan cahaya hitam berkilat! Dan diputar-putar hingga kejap itu juga terlihat kilatan-kilatan warna hitam membersit ke sana kemari disertai suara mendesis-desis!

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat tarik kipas ungu dari balik pakaiannya, lalu melompat mundur tiga tindak. Murid Wong Agung sadar jika sampai salah membuat gerakan atau terlambat bergerak tak mustahil keris di tangan Jogaskara akan dapat menembus tubuhnya.

Sadar akan hal itu, Pendekar Mata Keranjang pun segera lesatkan diri ke udara. Di udara, kipasnya dia tebarkan menyamping sementara tangan kirinya dia hatamkan ke depan.

Sinar putih berkilau membentuk kipas segera menghampar disertai hawa panas serta angin dahsyat yang keluarkan suara menggemuruh. Hingga saat itu juga tempat itu menjadi terang benderang dan panas!

Melihat hal itu, Jogaskara segera lipat gandakan tenaga dalamnya, lalu membentak garang dan melesat menerobos kilauan cahaya putih! Tangan kanannya memutar keris sementara tangan kirinya mendorong!

Blarrr! Prakkk!

Yang terdengar selanjutnya adalah ledakan dahsyat yang disusul dengan suara beradunya dua senjata. Tempat itu bergetar hebat laksana dilanda gempa. Tanahnya berhamburan ke udara. Saat tanah yang menutup udara surut, terlihat Pendekar 108 jatuh terduduk di atas tanah, sementara Jogaskara terhuyung-huyung. Namun kaki kanannya tampak goyah dan tak lama kemudian dia pun jatuh bersimpuh!

Melihat hal ini Dewi Kayangan keluarkan tawa cekikikan, sementara Dayang Naga Puspa mendengus. Dewi Bunga Iblis melotot tak berkedip, sedangkan Bawuk Raga Ginting gelenggelengkan kepalanya.

Yang paling cemas melihat keadaan ini adalah Singa Betina Dari Timur. Meski tidak mengatakan, paras wajah gadis ini nampak cemas, malah tatkala Pendekar 108 jatuh, dari mulutnya terdengar jeritan kecil. Namun gadis ini cepat takupkan telapak tangannya tatkala Bidadari Bertangan Iblis berpaling dengan wajah memberengut, namun tak mengeluarkan katakata.

Di depan, begitu jatuh bersimpuh Jogaskara cepat bangkit. Meski lengannya terasa hendak terpenggal namun tak ia rasakan. Laki-laki ini segera pula berkelebat. Keris di tangannya kembali diputar. Karena kini dengan pengerahan tenaga dalam penuh, maka keris hitam itu seakan-akan lenyap! Yang terlihat kemudian adalah bersitanbersitan kilat hitam disertai suara mendesis-desis angker!

Pendekar 108 tak tinggal diam. Sambil kerahkan seluruh tenaga dalamnya, kipasnya ia kibaskan kembali sementara tangan kirinya menghantam!

Hebatnya, Jogaskara seakan tak terpengaruh dengan serangan yang dilancarkan Aji. Tubuhnya seakan dibungkus dengan kilatan hitam hingga dia bisa terus menerobos.

Murid Wong Agung terkejut bukan alang kepalang. Dan belum sempat untuk lancarkan serangan kembali, Jogaskara telah ada di hadapannya. Keris di tangan kanannya kembali menggebrak dari arah samping kiri, sementara tangan kiri menghantam dari samping kanan.

Dengan menekan rasa terkejut, Pendekar Mata Keranjang membuat gerakan miringkan tubuh ke samping kanan untuk menghindar dari sabetan keris. Tangan kanannya diangkat untuk menangkis hantaman tangan  Jogaskara.  Namun Aji tertipu. Begitu keris lolos menghajar sasaran, Jogaskara urungkan niat untuk hantamkan tangan kirinya. Yang dilakukan laki-laki itu justru angkat kaki kanannya dan dihujamkan lurus ke lambung Pendekar 108. Aji masih bisa mengelak dengan tarik lambungnya ke belakang, namun hal itu membuat anggota tubuh bagian atasnya maju ke depan.

Hal itu segera dimanfaatkan Jogaskara dengan sabetkan kembali kerisnya! Walau Aji masih bisa mengelak lagi, namun ujung keris yang berbentuk tumpul itu masih sempat menyabet lengan kanan Pendekar 108. Lengan kanan Pendekar Mata Keranjang serta-merta mengeluarkan darah hitam, dan asap hitam juga tampak mengepul. Paras murid Wong Agung kontan berubah pucat pasi. Wajahnya  meringis  menahan  sakit dan panas yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

Jogaskara dongakkan kepala lalu keluarkan tawa bergerai-gerai.

"Malam ini nyawamu tak akan bisa diselamatkan lagi, Anak Keparat!"

Pendekar 108 kertakkan rahang. Sepasang matanya berkilat-kilat pandangi Jogaskara. "Bagaimanapun juga aku harus bertahan! Arca itu tidak boleh jatuh ke tangan orang-orang sesat! Nyawa pun akan kupertahankan!" batin Aji, lalu alirkan tenaga dalamnya ke bagian lengan yang terluka. Namun murid Wong Agung ini terkejut, karena begitu melirik lengannya, kulitnya telah berwarna hitam dan menggelembung besar! Tubuhnya pun terasa semakin panas, hingga meski tidak membuat gerakan, bintik-bintik keringat meleleh dari sekujur tubuhnya.

Namun rupanya Pendekar 108 tidak lagi memikirkan keadaan tubuhnya, yang dia takutkan sekarang adalah jatuhnya Arca Dewi  Bumi ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Maka seraya menahan sakit dan panas di sekujur tubuhnya, murid Wong Agung ini segera melesat ke depan seraya lancarkan serangan!

Jogaskara masih tegak tertawa, namun tiba-tiba suara tawanya lenyap. Tubuhnya melenting ke udara. Dari udara tangan kirinya menghantam kirimkan serangan jarak jauh menangkis serangan Aji ternyata telah keluarkan jurus 'Bayu Cakra Buana'.

Tempat itu kembali laksana dilanda gempa. Hawa panas semakin menebar! Sementara kilatan-kilatan sinar hitam terus membersit ke sana kemari seakan tiada habis-habisnya.

"Jogaskara...!  Malam  ini  nyawamulah  yang tidak bisa diselamatkan!" teriak Aji, lalu putarputar kipasnya. Hingga saat itu juga tempat itu dibungkus asap putih! Saat itulah Pendekar 108 segera hantamkan tangan kirinya  beberapa  kali ke arah Jogaskara.

Karena tertutup asap putih, Jogaskara hanya mendengar menderunya angin kencang. Namun dia waspada. Segera dia membuat gerakan menghindar dengan jumpalitan di udara.

Aji lipat gandakan serangannya dengan hantamkan tangan kirinya. Sementara Jogaskara putar kembali kerisnya seraya sentakkan tangan kirinya.

Blammm!

Tubuh Jogaskara nampak melayang turun saat terjadi bentrok pukulan. Saat itulah Pendekar 108 melompat menerobos asap putih. Murid Wong Agung samar-samar dapat menangkap sosok Jogaskara yang terhuyung-huyung di balik asap putih. Dan kesempatan ini tak disia-siakan.

Sambil melompat Aji lipat kipas ungunya, tangan kanannya mengepal, sedang kaki kanannya lurus.

Melihat kelebatan lawan, Jogaskara nampak terpengaruh. Namun sebelum dia bisa membuat gerakan untuk menangkis, ujung kipas Pendekar Mata Keranjang 108 telah menghantam lambungnya. Bukan hanya sampai di situ, begitu Jogaskara meraung keras sambil memegangi lambungnya, kaki kanan Pendekar 108 menghajar bahunya!

Jogaskara kembali keluarkan pekikan lengking. Tubuhnya terputar dan terbanting keras ke atas tanah! Lambungnya tampak keluarkan darah. Demikian pula mulut  dan hidungnya. Keris hitam di tangan kanannya mencelat!

Namun bersamaan dengan robohnya Jogaskara, Aji merasa kedua kakinya bergetar hebat. Sekujur tubuhnya makin panas. Matanya berkunang-kunang. Dan tak lama kemudian, lutut murid Wong Agung ini pun terlihat menekuk, tubuhnya melorot lalu jatuh terduduk! 

Saat demikian, tiba-tiba Dayang Naga Puspa melirik, lalu berkelebat dan kirimkan sapuan kaki kiri ke arah Pendekar 108! Perempuan ini tampaknya sudah tak bisa menguasai kemarahan melihat saudara seperguruannya bisa dibuat roboh bersimbah darah. Hingga dia melupakan pesannya sendiri agar Jogaskara tak membunuh Pendekar Mata Keranjang.

DELAPAN

HIK.... Hik.... Hik...! Manusia kesasar ternyata bukan hanya mata dan hatinya yang tidak bisa melihat, tapi juga kakinya!" teriak Dewi Kayangan seraya cekikikan dan lejangkan kakinya ke depan, ke arah Dayang Naga Puspa yang sedang lakukan tendangan ke arah Pendekar Mata Keranjang. Meski hanya melejang, namun saat itu juga serangkum angin deras menghampar menyambar ke arah Dayang Naga Puspa.

Dayang Naga Puspa tak peduli, dia teruskan tendangan kakinya ke arah Pendekar 108 yang sedang jatuh terduduk. Namun  setengah depa lagi kaki Dayang Naga Puspa menghajar dada Aji, perempuan ini terlengak kaget. Kakinya terasa tertahan dan melenceng, hingga menghajar udara kosong di depan Pendekar 108.

"Bangsat tengik!" teriak Dayang Naga Puspa marah mengetahui tendangannya melenceng. Serta-merta perempuan ini melesat ke arah Dewi Kayangan. Sebenarnya dia tak hendak melumpuhkan Pendekar 108 yang telah merobohkan kakak seperguruannya. Namun karena dihadang oleh sambaran angin yang keluar dari lejangan kaki Dewi Kayangan, maka segala kemarahannya kini ditumpahkan pada Dewi Kayangan. Hingga saat sampai di hadapan Dewi Kayangan, Dayang Naga Puspa telah mulai serangan dengan hantamkan tangan kanannya ke arah kepala serta susupkan tangan kiri mengarah ke perut Dewi Kayangan.

Di hadapan Dayang Naga Puspa, Dewi Kayangan tampak ulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya melambai dari arah bawah. Sebenarnya Dewi Kayangan ingin mencekal tangan kanan dan kiri Dayang Naga Puspa yang lancarkan pukulan padanya. Namun nyatanya Dayang Naga Puspa tahu akan hal itu, hingga secepat kilat Dayang Naga Puspa tarik pulang kembali dua tangannya. Dan bersamaan dengan itu kaki kanannya bergerak menyusur tanah menghantam kaki Dewi Kayangan.

Blekkk!

Tubuh gemuk besar Dewi Kayangan ambruk ke atas tanah. Anehnya, begitu tubuhnya ambruk, bukan lenguhan yang terdengar dari mulutnya, melainkan suara cekikikannya!

Paras muka Dayang Naga Puspa merah mengelam merasa tendangannya tidak dirasakan oleh Dewi Kayangan. Diam-diam dia kerahkan tenaga dalamnya, lalu mendekat ke arah Dewi Kayangan yang masih belum bangun.

"Malam ini cekikikanmu akan lenyap selamanya! Kau bernasib sial hingga bertemu dengan Dayang Naga Puspa!"

Habis berkata begitu, Dayang Naga Puspa lentingkan tubuhnya setengah tombak. Disertai bentakan keras, kedua kakinya langsung menghantam bersamaan!

Des! Desss!

Karena hujaman kaki Dayang Naga Puspa telah teraliri tenaga dalam, maka tak ampun lagi tubuh Dewi Kayangan terlihat melenting jauh sebelum akhirnya ambruk kembali dan bergulingguling di atas tanah laksana besi bundar!

Namun semua mata yang memandang sejenak tersirap, karena begitu tubuhnya berhenti, Dewi Kayangan langsung bangkit duduk. Sepasang matanya yang besar, liar memandang berkeliling. Dan ketika matanya berujung pada Dayang Naga Puspa, cekikikannya kembali terdengar! Dayang Naga Puspa menggereng keras. Gerahamnya beradu keluarkan suara gemeletak. Pelipis kiri kanannya bergerak-gerak, dahinya mengkerut. Kemarahan perempuan itu tampaknya sudah setinggi gunung.

"Keparat sundal! Punya ilmu kebal apa dia? Pukulanku sepertinya tidak membawa pengaruh apa-apa! Hmm.... Seandainya aku tidak memerlukannya, sudah kutembus perutnya dengan tombakku!" batin Dayang Naga Puspa seraya meraba bagian pinggangnya di mana tombak miliknya tersimpan.

Dayang Naga Puspa lantas terlihat pejamkan sepasang matanya, mulutnya komat-kamit, tenaga dalamnya ia lipat gandakan. Dan selagi Dewi Kayangan masih tenggelam dengan cekikikannya, mendadak Dayang Naga Puspa berkelebat dan hantamkan kedua tangannya ke arah kepala Dewi Kayangan.

Bet! Bettt!

Sinar hitam melesat mendahului sebelum kedua tangan itu sendiri menghajar kepala Dewi Kayangan.

Suara cekikikan Dewi Kayangan lenyap seketika, dan bersamaan dengan itu dari mulutnya terdengar suara 'aduh', membuat semua mata orang di situ melebar ingin melihat apa yang terjadi.

Semua mata yang melihat makin membeliak besar, karena dugaan mereka bahwa kepala Dewi Kayangan akan dibuat pecah meleset sama sekali. Karena bersamaan dengan terdengarnya suara 'aduh' sosok gemuk Dewi  Kayangan rebah ke belakang hingga tubuhnya sejajar tanah, membuat hantaman kedua tangan Dayang Naga Puspa melabrak angin.

Saat itulah, dengan gerakan cepat luar biasa, Dewi Kayangan  angkat  kembali  tubuhnya dan serta-merta kedua tangannya menjulur mencekal pinggang Dayang Naga Puspa, sementara kakinya diluruskan dan disapukan pada kaki Dayang Naga Puspa.

Dayang Naga Puspa melengak kaget. Dia masih bisa menghindar dari sergapan tangan Dewi Kayangan dengan geser tubuhnya ke samping. Namun sapuan kaki Dewi Kayangan tak bisa lagi dielakkan. Hingga kejap itu juga tubuh doyong hendak roboh ke samping kanan. Saat itulah kedua tangan Dewi Kayangan menyergap pinggangnya, dan sekonyong-konyong tubuh Dayang Naga Puspa diangkatnya sedikit lalu dibanting ke atas tanah!

Brak!

Terdengar pekikan melengking keluar dari mulut Dayang Naga Puspa. Tanah di mana dia terbanting tampak melesak hingga setengah tombak! Bukan hanya sampai di situ, begitu Dayang Naga Puspa bangun, Dewi Kayangan cepat putar tubuhnya dan kaki kanannya melejang deras ke arah punggung Dayang Naga Puspa!

Bukkk!

Untuk kedua kali terdengar pekikan dari mulut Dayang Naga Puspa. Kali ini tubuhnya mencelat hingga beberapa tombak dan baru berhenti tatkala tubuhnya menghajar sebatang pohon sampai berderak tumbang!

Dewi Kayangan terbungkuk-bungkuk bangkit. Sejenak sepasang matanya mengawasi Dayang Naga Puspa. Lalu cekikikannya kembali meledak!

Dayang Naga Puspa segera bangun. Disekanya darah yang tampak meleleh dari bibirnya. Sepasang matanya lantas membelalak menyengat pada Dewi Kayangan. Tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke balik pakaiannya. Dan saat ditarik kembali, tampak benda hitam memancarkan kilatan-kilatan aneh.

Cekikikan Dewi Kayangan terhenti seketika. Dahi perempuan gemuk ini mengernyit. Sepasang matanya membesar dan menyipit.

"Tombak Naga Puspa! Ada  sangkut  paut apa kau dengan Tua Bangkotan Dadung Rantak...?!" kata Dewi Kayangan seraya kembali cekikikan.

"Bagus! Kau sudah tahu tombak di tanganku yang akan mengantarmu masuk liang kubur! Soal sangkut paut apa, tanyakan nanti pada teman-temanmu di alam kubur!" desis Dayang Naga Puspa seraya menyeringai ganas.

"Hmm.... Jika tombak itu  sampai kesasar di tanganmu, dan kau tidak gunakan semestinya, jangan menyesal jika kau sendiri yang akan jadi sasaran!"

"Banyak mulut! Kita saksikan, siapa yang pantas jadi sasaran!" bentak Dayang Naga Puspa marah. "Tentu saja kau! Karena kau orang kesasar! Hik.... Hik.... Hik...! Dan layak dijadikan sasaran!" Ucapan Dewi   kayangan   makin   membuat Dayang Naga Puspa naik pitam. Hatinya telah memutuskan untuk menghabisi Dewi Kayangan, dan mengenyahkan rencananya semula yang hanya mau membuat Dewi Kayangan bertekuk lu-

tut tanpa harus membunuh.

Dayang Naga Puspa lantas putar Tombak Naga Puspa di tangannya. Suara menderu berdesis-desis segera terdengar disertai melesatnya kilatan-kilatan mengerikan!

Tak jauh di hadapannya, Dewi Kayangan terlihat dongakkan kepalanya. Mulutnya berkemik-kemik. Sepasang tangannya disatukan. Dan perlahan-lahan dari tangannya keluar asap mengepul keputih-putihan. Dewi Kayangan tampaknya kerahkan jurus ‘Pusaran Sukma’!

Namun sebelum kedua orang ini lancarkan serangan, tiba-tiba terdengar orang mengalunkan nyanyian syair.

Bulan warna merah darah menggelayut di lingkar angkasa.

Wajah-wajah merah  beringas  menatap  cemas. hitam. Darah telah mengalir memerahi  bumi  nan Di manakah damai akan dicari...?

Saat napas manusia berhulu pada keserakahan.

Saat nurani  manusia  terpeleset  pada  kesombongan.

Saat tujuan manusia terpaku pada 'suatu benda'.

Dan saat tangan manusia menjawab dengan aliran darah.

Betapa sia-sianya hidup mereka!

Hanya manusia sadar diri dan tahu isyarat. Bakal menemukan artinya hidup!

Wahai manusia!  Segalanya  telah  ditentu-

kan.

Hanya manusia yang berhak akan  menda-

patkannya!

Untuk beberapa lama baik Dayang Naga Puspa maupun Dewi Kayangan terlihat terdiam. Demikian juga Dewi Bunga Iblis dan Bawuk Raga Ginting. Sementara Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur tercengang seakan mengartikan bait-bait syair yang baru didengarnya. Sedang Pendekar Mata Keranjang 108 dan Jogaskara yang kini tampak sama-sama duduk dengan paras memucat kernyitkan kening seraya hembuskan napas panjang-panjang.

Tempat itu  sejenak  dilanda  kesenyapan.

Tak ada satu pun yang keluarkan suara.

"Peduli setan dengan segala syair-syair butut itu! Yang kuinginkan sekarang adalah nyawanya!" gumam Dayang Naga Puspa. Lalu didahului dengan bentakan tinggi, tubuhnya melesat. Sosoknya lenyap, yang tampak sekarang adalah putaran-putaran tombaknya yang berkilat-kilat dan menggebrak dari segala jurusan. Dewi Kayangan bantingkan kedua kakinya ke atas tanah. Tubuhnya melambung ke udara. Meski perempuan gemuk ini tak takut, namun tampaknya dia sadar jika tombak di tangan lawan sangat berbahaya. Maka begitu  tubuhnya berada di atas, kedua tangannya segera disentakkan ke depan, saat mana Dayang Naga Puspa datang menyongsong!

Bettt!

Dayang Naga Puspa berseru tertahan. Untung ia masih bisa menghindar dengan genjot tubuhnya hingga serangan Dewi Kayangan hanya menyerempet pundaknya. Namun demikian, tak urung perempuan ini terbeliak. Karena pakaian bagian pundak langsung terbakar!

"Perempuan edan! Aku bersumpah, akan kukuliti sekujur tubuhmu!" teriak Dayang Naga Puspa. Dia lantas hantamkan tangan kirinya, yang kemudian disusul dengan lesatan tubuhnya seraya angkat tombaknya tinggi-tinggi ke atas!

Di depan, Dewi Kayangan yang baru saja mendarat, tampak takupkan kedua tangannya lalu dibuka dan didorong perlahan ke depan. Hebatnya, saat itu juga terdengar suara angin menderu berputar-putar laksana pusaran. Asap putih pun terlihat melingkupi tempat itu.

Dayang Naga Puspa tertahan,  dan  kalau saja dia tak cepat melompat mundur, niscaya tubuhnya akan masuk dalam pusaran! Namun perempuan ini telah bulat tekadnya. Hingga begitu mundur, tubuhnya ia gulingkan  ke  atas  tanah. Dan saat gulingannya mendekati pusaran angin yang dibuat Dewi Kayangan, tiba-tiba ia lepaskan tombaknya dengan kerahkan tenaga dalam penuh!

Tombak Naga Puspa menerobos angin pusaran. Dewi Kayangan hanya mendengar deru desingan tombak itu, karena pandangannya tertutup asap putih. Dan baru saja dia bergerak hendak menghindar, tombak Dayang Naga Puspa telah menyongsong di depannya!

Seraya membelalak, Dewi Kayangan membuat gerakan rebah untuk menghindar, kepalanya memang bisa diselamatkan dari hujaman tombak, namun pahanya sempat tergores!

Tombak hitam itu terus menerabas lewat di atas tubuh Dewi Kayangan, saat itulah Dayang Naga Puspa melejang. Tubuhnya melesat menyusul tombaknya. Dan sebelum tombak itu menghujam pohon, Dayang Naga Puspa telah menyambarnya!

"Apa kataku, malam ini kau akan menemui teman-temanmu di liang kubur! Hik.... Hik....

Hik...!" kata Dayang Naga Puspa seraya balikkan tubuh dan hendak kirimkan serangan lagi.  Namun Dayang Naga Puspa terkejut. Sepasang matanya tak menemukan sosok Dewi Kayangan!

"Keparat! Ke mana lenyapnya. ?!"

Selagi Dayang Naga Puspa termangumangu sambil menebar pandangan, tiba-tiba terdengar cekikikan dekat sekali di belakangnya!

Secepat kilat Dayang Naga Puspa hujamkan tombaknya ke belakang dengan balikkan tubuh. Wuuuttt! Beeettt!

Bersamaan bergeraknya tangan Dayang Naga Puspa yang menghujamkan tombak, tangan kiri Dewi Kayangan yang ternyata telah di belakangnya bergerak. Dan tahu-tahu tangan Dayang Naga Puspa telah dicekalnya!

Dayang Naga Puspa segera hujamkan tangan kirinya, namun bersamaan itu pula tangan kanan Dewi Kayangan mengibas keras menyamping.

Prakkk!

Tangan kiri Dayang Naga Puspa mental ke belakang, sementara tangan kanan Dewi Kayangan terus bergerak dan kini menghantam tangan kanan Dayang Naga Puspa yang telah berhasil dicekal.

Prekkk!

Dayang Naga Puspa menjerit tinggi. Bahunya seakan penggal terhantam tangan kanan Dewi Kayangan. Tangan kanannya bergetar hebat dan akhirnya tombak di genggamannya jatuh! Bersamaan dengan itu kaki Dewi Kayangan terangkat dan melejang deras ke arah dada Dayang Naga Puspa.

Kembali Dayang Naga Puspa menjerit. Karena tangan kanannya masih dicekal, tubuhnya yang kena tendang tetap tak bergeming di hadapan Dewi Kayangan. Malah kini tampak sedikit menyorong ke depan karena dadanya sedikit ditekuk.

Saat itulah  sambil  cekikikan  Dewi  Kayangan sapukan kakinya pada sepasang kaki Dayang Naga Puspa.

Brak! Blek!

Dayang Naga Puspa ambruk dengan derasnya ke atas tanah. Namun dengan sisa-sisa tenaganya, perempuan ini julurkan tangan hendak mengambil tombaknya. Tapi ia terkejut besar, karena ternyata tangan kanan dan  kirinya  tegang tak bisa digerakkan. Hanya kakinya yang masih bisa bergerak-gerak.

"Hik.... Hik.... Hik...! Kalau kau sudah belajar memainkan tombak dengan kaki, tentunya aku ingin belajar darimu! Hik.... Hik... Hik...!"

Dewi Kayangan lalu balikkan tubuh dan melangkah ke arah Pendekar 108.

Dayang Naga Puspa menyumpah-nyumpah tak karuan, karena ternyata Dewi Kayangan telah menotok kedua tangan dan tubuh sebelah atasnya. Hingga yang bisa digerakkan hanya sepasang kakinya!

SEMBILAN

SENJATA sialan! Pasti racun yang ditimbulkannya lebih dahsyat dari bunga hitam milik Dewi Bunga Iblis! Sialan benar! Di depan masih banyak urusan yang belum terselesaikan, sementara keadaanku sudah begini rupa!" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 seraya kerahkan tenaga dalam dan mengusap-usap lengannya yang masih menggelembung hitam akibat terkena keris hitam Jogaskara. Meski dia telah  menelan  obat anti racun yang dibekali Gongging Baladewa namun rasa panas akibat keris Jogaskara masih belum lenyap.

Selagi pendekar murid Wong Agung ini menggerendeng panjang pendek, tiba-tiba terdengar suara beeekkk! di belakangnya. Secepat kilat Aji menoleh. Dewi Kayangan terlihat duduk menggelosoh di belakangnya dengan buka mulutnya namun tak terdengar suara cekikikannya.

Dan tanpa mempedulikan pandangan Pendekar 108, Dewi Kayangan angkat sebelah kakinya. Kepalanya menyorong ke depan, lalu mulutnya tampak mencium paha kakinya. Begitu kepalanya ditarik, pipinya tampak mengembung. Dewi Kayangan lalu meludah. Tampak darah hitam muncrat dari mulutnya. Ini akibat tombak hitam Dayang Naga Puspa yang sempat menggores pahanya.

Dewi Kayangan melakukan hal itu berulang-ulang. Di hadapan Aji tampak membeliak sepasang matanya, dari mulutnya terdengar gumaman tak karuan. Bukan karena ngeri melihat darah yang dimuntahkan mulut Dewi Kayangan, tapi justru karena Dewi Kayangan seenaknya saja angkat sebelah kakinya, hingga pakaiannya tersingkap lebar!

"Gila! Apa dia sambil pamer...? Kalau yang melakukan adalah gadis cantik, hmm.     Tentunya

sebuah pemandangan yang amat indah dan tidak akan  kulewatkan  begitu  saja....  Sungguh  sayang sekali...," kata Pendekar Mata Keranjang  dalam hati seraya palingkan wajah dan menahan tawa, meski dengan itu lengannya makin terasa lebih nyeri!

Di seberang, melihat tingkah Dewi Kayangan, Bidadari Bertangan Iblis serta Singa Betina Dari Timur tampak saling  pandang  satu  sama lain.

"Perempuan edan tak tahu malu! Apa dia sengaja pamer tubuh...?!" kata Bidadari  Bertangan Iblis seraya meludah ke tanah.

"Mungkin dia tak sadar, atau sengaja melucu! Bukankah dia memang suka yang demikian...?" sahut Singa Betina Dari Timur sambil tertawa.

Tiba-tiba Dewi Kayangan hentikan gerakan kepalanya. Lalu berpaling pada Singa Betina Dari Timur dan Pendekar 108 yang sama-sama tertawa.

"Edan! Apa yang kalian tertawakan? Apa yang lucu?!" bentak Dewi Kayangan seraya melotot silih berganti pada Singa Betina Dari  Timur dan Pendekar 108.

Singa Betina Dari Timur serta-merta takupkan mulutnya dan tak berani berkata. Sementara Aji terguncang-guncang, namun tak segera menjawab, membuat Dewi Kayangan makin mendelik dan mengulangi pertanyaannya.

Pendekar Mata Keranjang akhirnya hentikan guncangan bahunya yang menahan  tawa, lalu berkata perlahan.

"Dewi. Maaf, kau terlalu tinggi mengangkat kakimu, hingga...," Pendekar 108 tak meneruskan ucapannya.

Dewi Kayangan yang seakan baru tersadar akan apa yang diperbuatnya, terdiam untuk beberapa lama, namun sesaat kemudian cekikikannya meledak!

Bidadari Bertangan Iblis menggerutu dan memaki-maki.

"Dia benar-benar sinting! Sudah begitu masih bisa-bisanya tertawa cekikikan!" sedangkan saudara seperguruannya kembali tertawa.

"Anak monyet! Sini kau!" tiba-tiba Dewi Kayangan membentak. Namun mulutnya masih tetap cekikikan.

Meski dalam hati masih menduga-duga dengan perintah Dewi Kayangan, namun Aji akhirnya menggeser tubuhnya mendekat pada Dewi Kayangan.

Begitu dekat, Dewi Kayangan langsung pegang tangan Pendekar 108 yang terluka, dan serta-merta tangan kanannya mengusap-usap  lengan Pendekar 108 yang menggelembung hitam.

Aji meringis kesakitan. Namun mungkin takut Dewi Kayangan marah, ia coba tak mengeluarkan keluhan, meski kata-kata keluhan itu sudah hendak keluar!

Sesaat kemudian, tiba-tiba Dewi Kayangan memencet gelembung di lengan Aji. Aji tak  bisa lagi menahan sakit, hingga dari mulutnya terdengar pekikan tinggi. Bersamaan  dengan  pekikan Aji, gelembung itu pecah dan memuncratkan darah hitam serta kental! Baju Aji tampak belangbelang hitam demikian pula sebagian wajahnya karena terkena percikan darah yang muncrat dari lengannya.

Begitu darah hitam itu muncrat, gelembung di lengan Pendekar 108 mengempes, namun tampak kulitnya robek agak besar dan masih melelehkan darah.

"Hadap sana! Kerahkan hawa murni!" perintah Dewi Kayangan. Tanpa bicara lagi, Pendekar Mata Keranjang segera balikkan tubuh memunggungi Dewi Kayangan dan segera pula kerahkan hawa murni. Dari belakang, Dewi Kayangan tempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar 108 merasa hawa dingin merasuki sekujur tubuhnya, dan perlahan-lahan pula menindih lenyap rasa panas yang mendera sebelumnya!

"Bagaimana sekarang...?" tanya Dewi Kayangan seraya bangkit.

"Lebih enak, Dewi    "

"Bagus! Kau tentunya telah dengar orang melantunkan syair tadi. Tujuanmu sudah dekat. Teruskan langkahmu!"

Dengan agak terkejut, Aji segera ambil kipas ungunya yang tergeletak tak jauh di sampingnya. Lalu bangkit dan menghadapkan tubuhnya pada Dewi Kayangan. Sesaat dipandanginya perempuan gemuk besar di hadapannya. Lalu pandangannya menebar pada beberapa orang yang masih di tempat itu.

"Bagaimana dengan mereka?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108.

Dewi Kayangan cekikikan sebentar, lalu berkata.

"Itu urusanku! Yang penting kau harus teruskan langkah. Keadaan sudah amat gawat, karena rahasia tentang Arca Dewi Bumi telah bocor ke mana-mana! Terlambat sedikit, bencana besar akan datang!"

"Bagaimana rahasia itu bisa bocor?"

"Aku sendiri kurang tahu pasti, tapi yang mungkin, tentu Mekar Sari yang menebarkan berita itu!"

"Mekar Sari? Dari mana dia tahu...?" "Itulah kesalahanku. Mekar Sari datang

padaku dan menanyakan tentang  rahasia itu. Tapi kedatangannya dengan rasa menyesal atas perbuatannya dahulu. Setelah kuberitahu bahwa hanya satu orang yang kelak  dapat  mengambil dan mewarisinya, dia sadar. Bahkan mengatakan tak ingin lagi memburu arca itu! Waktu itu dia sepertinya benar-benar bertobat hingga aku mengatakan apa adanya! Tapi apa yang terjadi selanjutnya sungguh mengejutkan, karena hampir semua orang rimba persilatan tahu! Melihat hal itu, aku tak enak dan segera ke sini!"

Pendekar 108 manggut-manggut. "Sekarang, lekas kau lanjutkan langkah-

mu! Aku akan tetap di sini!"

"Baiklah, Dewi...," kata Pendekar 108 lalu menjura hormat dan balikkan tubuh. Namun murid Wong Agung ini tak segera melangkah, malah balikkan tubuhnya kembali dan mendekat ke arah Dewi Kayangan, membuat perempuan gemuk besar ini kernyitkan dahi.

"Disuruh cepat malah berbalik. Apa kau takut...?" kata Dewi Kayangan seraya melotot besar.

Aji menggeleng perlahan, setelah dekat dia berbisik.

"Dewi. Aku hanya mau tanya   "

Pendekar Mata Keranjang diam dan tak segera lanjutkan ucapannya, membuat Dewi Kayangan makin mendelik.

"Tanya apa lagi? Dasar anak bodoh! Tak pinter-pinter, selalu tanya melulu! Cepat katakan!" ujar Dewi Kayangan.

"Hmm.... Bagaimana keadaan Eyang Selaksa...? Apa kalian tetap baik-baikan...? Atau...,"  Aji tak meneruskan ucapannya karena saat itu juga Dewi Kayangan hentakkan kakinya ke atas tanah. "Kau memang anak kurang ajar!" kata Dewi Kayangan setengah berteriak. Tangan kanannya telah diangkat hendak dipukulkan pada Pendekar

108. Namun sebelum tangan itu bergerak, Pendekar Mata Keranjang 108 telah balikkan tubuh dan melesat ke arah sela gunung.

"Ini saatnya...," tiba-tiba Bidadari Bertangan Iblis bergumam. Lalu melesat hendak menyusul Pendekar Mata Keranjang.

"Bidadari.... Tunggu!" tahan Singa Betina Dari Timur. Namun terlambat. Bidadari Bertangan Iblis telah melesat dan tak mendengarkan kata-kata saudara seperguruannya.

Mendengar teriakan,  Dewi  Kayangan  berpaling. Dan begitu melihat gelagat tidak baik dari gerakan Bidadari Bertangan Iblis, perempuan gemuk ini segera berkelebat. Sosoknya lenyap. Dan tahu-tahu terdengar jeritan tertahan.

Ketika semua mata berpaling, tampak Bidadari Bertangan Iblis terkapar di atas tanah, dan tak jauh di hadapannya Dewi Kayangan tampak duduk menggelosoh sambil cekikikan.

"Anak gadis nan cantik jelita berpakaian putih tipis berambut pendek potongan tubuh indah dan menggetarkan.... Hik.... Hik... Hik...!" berkata Dewi Kayangan tanpa ambil napas. "Kalau ikut-ikutan orang-orang kesasar ini, hidupmu akan terjerumus "

Bidadari Bertangan Iblis segera bangun. Parasnya merah padam dengan dagu mengembang. Sepasang matanya berkilat merah. Meski telah menyaksikan kehebatan Dewi Kayangan, namun gadis ini tampaknya pantang takut.

"Perempuan sinting! Kesasar atau tidak bukan urusanmu!" seraya berkata dia melesat menerjang ke arah Dewi Kayangan.

"Oh, begitu...? Jadi, kesasar itu urusan siapa ya...?" kata Dewi Kayangan seraya cekikikan. Dia seolah tak merasa hendak diserang.

Namun begitu terjangan kaki Bidadari Bertangan Iblis datang, Dewi Kayangan angkat kedua tangannya. Terjadilah hal yang menggelikan sekaligus menakjubkan. Karena tahu-tahu kedua kaki Bidadari Bertangan Iblis telah masuk dalam dekapan kedua tangan Dewi Kayangan.

Bidadari Bertangan  Iblis  kerahkan  tenaga dalam untuk melepaskan diri, namun gagal. Hingga tubuhnya kini lurus di antara udara dengan sepasang kaki terjepit kedua tangan Dewi Kayangan. Dan karena di atas udara,  maka  tak ayal lagi pakaiannya bagian bawah berkibarkibar!

"Uhh..., cantik-cantik tapi bau! Pasti kau sering kencing disembarang tempat ya.... Hik....

Hik.... Hik...! Sana, sana...!" sambil berkata dan cekikikan Dewi Kayangan dorong kedua tangannya.

Tubuh Bidadari Bertangan Iblis mencelat dan jatuh bergulingan di dekat Singa Betina Dari Timur.

"Bidadari...!" seru Singa Betina Dari Timur seraya mendekati saudara seperguruannya itu dan menolongnya bangkit.

"Bidadari.... Terlalu berat bagi kita untuk menghadapi perempuan itu "

Bidadari Bertangan Iblis melengos, namun tak membantah kata-kata Singa Betina Dari Timur. Kedua gadis ini lantas duduk  berdampingan. Tiba-tiba sepasang mata Bidadari Bertangan Iblis membelalak. Ditariknya bahu Singa Betina Dari Timur, lalu berbisik. "Singa Betina!  Kalaupun kita gagal mendapatkan Arca Dewi Bumi, kita tak usah kecewa!"

"Apa maksudmu?!"

"Kau tadi lihat sendiri bagaimana kehebatan tombak dan keris itu! Sekarang benda itu tergeletak dan orangnya tidak berdaya. Bagaimana kalau kita sambar saja benda itu dan kita bagi satu-satu?!"

Singa Betina Dari Timur menggeleng perla-

han.

"Aku sebenarnya  juga  mempunyai  perhi-

tungan seperti itu. Namun waktunya belum tepat. Kalau kita bergerak sekarang, perempuan gemuk itu pasti tidak akan tinggal diam! Padahal dia bukan lawan kita! Lebih baik kita menunggu saat yang tepat!"

Bidadari Bertangan Iblis mendengus, namun ia tak juga bergerak untuk menyambar keris dan tombak yang tergeletak. Diam-diam dia membenarkan ucapan Singa Betina Dari Timur.

Di depan, tiba-tiba Dewi Kayangan cekiki-

kan.

"Hik.... Hik...  Hik...!  Nasibku  tidak  baik.

Sudah tua masih juga harus menunggu orangorang kesasar...!"

Habis berkata begitu, Dewi Kayangan bangkit, lalu berkelebat dan tahu-tahu tubuhnya telah berada di atas dahan sebuah pohon. Sambil uncang-uncangkan sepasang kakinya dari mulutnya tak henti-hentinya keluar suara cekikikan.

SEPULUH

PENDEKAR Mata Keranjang 108 terus melangkah ke arah sela dua Gunung  Kembar.  Sela dua Gunung Kembar itu ternyata merupakan semak belukar tinggi-tinggi serta pohon-pohon besar. Begitu rimbunnya semak dan pohon, hingga tak tampak jalan setapak pun!

"Hmm.... Pasti tempat ini tidak pernah dirambah manusia. Semaknya begitu merangas," kata Aji dalam hati. "Dewi Kayangan bilang Sahyangan Resi Gopala, pembawa Arca Dewi Bumi ada di sebuah kuil tua...," Pendekar 108 menebarkan pandangannya berkeliling di tempat itu.

"Sial! Aku tak dapat menemukan kuil itu! Apalagi bulan berwarna merah, membuat pemandangan agak kabur. Tapi aku harus menemukan kuil itu. Tadi kudengar nyanyian syair,  berarti kuat dugaan yang melantunkan syair itu adalah Sahyang Resi Gopala...," Pendekar Mata  Keranjang lantas melangkah berputar dengan melewati semak-semak belukar. Sepasang matanya tak berkedip menebar, sedang kedua telinganya dipasang baik-baik. Namun hingga lelah berputar dan sampai kakinya perih tergores onak duri serta cabang-cabang pohon yang berjatuhan, murid Wong Agung ini tak menemukan yang dicari.

"Sialan benar! Di mana letak kuil itu...? Hmm.... Bagaimana kalau...," Aji lantas anggukan kepalanya. Sepasang matanya menebar sejenak. Lalu....

"Sahyang Resi Gopala.... Di mana kau berada ?" Pendekar 108 berteriak lantang.

Namun teriakannya hanya di jawab oleh kesenyapan. Kembali Aji berteriak namun lagi-lagi kesunyian yang menjawab.

Kesal tak mendapat jawaban, Pendekar 108 tarik-tarik kuncir rambutnya. Sementara bulan di angkasa semakin merah hingga lingkaran bumi semakin terang berwarna kemerahan.

Saat itulah tiba-tiba sepasang mata Pendekar Mata Keranjang menangkap gerakan-gerakan pada semak-semak kira-kira sepuluh langkah di sampingnya.

"Mungkin ada sesuatu di balik semaksemak itu! Binatang...? Tak mungkin. Sejak  tadi aku tak menemukan satu binatang pun berkeliaran di sini...." Sambil menduga-duga, Aji melangkah mendekat. Dan ia sedikit terkejut tatkala setelah dekat gerakan-gerakan pada semak itu bukan lenyap, melainkan tambah keras malah sayup-sayup disertai menderunya suara angin.

Pendekar Mata Keranjang 108 membungkuk memperhatikan dengan seksama. Namun hingga matanya melebar dan menyipit yang tampak hanyalah semak belukar! Anehnya gerakangerakan pada semak yang ternyata dikarenakan deruan angin dari dalamnya terus berlangsung.

"Aneh! Dari mana datangnya angin ini? Sebelah sana tak tampak bergerak-gerak Aku

akan menyelidik!" Pendekar 108 makin mendekat. Dan betapa terkejutnya murid Wong Agung ini. Begitu tubuhnya tepat di depan semak yang bergerak-gerak, terasa ada angin dahsyat yang menyambar. Biarpun Aji telah kerahkan tenaga dalam untuk bertahan, namun gagal hingga saat itu juga tubuhnya terjengkang dan jatuh bergelimpangan menerabas semak belukar!

"Gila! Kelihatannya perlahan, tapi tenaga dalamku tak mampu untuk membendung! Aku harus lewat berputar...," batin Pendekar 108, lalu bangkit dan melangkah berputar ke arah semaksemak yang bergerak-gerak.

Di samping semak yang bergerak-gerak, Pendekar Mata Keranjang 108 hentikan langkah. Sepasang matanya lebih dipertajam. Dan sepasang mata Pendekar 108 membelalak besar tatkala samar-samar dapat menangkap gundukan benda hitam di balik semak belukar.

Dengan hati-hati, Aji melangkah mendekat. Semakin dekat gundukan benda hitam di balik semak belukar semakin agak jelas. Dan setelah benar-benar dekat Pendekar108 sorongkan tubuh ke depan. Namun yang terlihat hanyalah gundukan benda hitam samar-samar. Penasaran, Pendekar 108 gerakan kedua tangannya menyibak rimbunan semak belukar.

Murid dari Karang Langit ini tergagu sejenak tatkala kedua tangannya menyentuh benda keras di balik rimbunan semak.

"Hmm.... Seperti batu.... Apakah ini kuil itu...?" Pendekar Mata Keranjang membatin. Secepat kilat tangannya merambasi semak  belukar di sekitar tempat itu. Begitu semak agak jarang, Pendekar 108 membelalak sambil melongo.

Di hadapannya tampak sebuah batu yang membentuk mirip bangunan sebuah kuil. Tingginya tidak lebih dari satu tombak. Lebarnya pun demikian. Mungkin karena tidak terawat, maka di bagian atas dan sampingnya telah dirambahi lumut berwarna kecoklatan dan tebal, malah di sana-sini tampak tumbuh benalu, hingga jika tidak disibak, orang tidak akan tahu jika di balik semak belukar itu ada sebuah batu yang membentuk kuil.

Setelah puas mengawasi bagian atas dan samping, Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah ke bagian depan. Penasarannya semakin menjadi-jadi karena deruan angin itu terus tiada henti-hentinya.

Karena khawatir akan terjengkang lagi, Pendekar 108 sengaja berhenti di samping. Lalu kepalanya berpaling pada kuil bagian depan yang tampak membentuk mirip sebuah pintu.

Kedua kaki Aji tersurut satu tindak ke belakang. Sepasang matanya melotot besar. Dari tempatnya berdiri dengan penerangan cahaya sang rembulan, Pendekar 108 melihat sesosok tubuh renta duduk bersila di dalam kuil! Rambutnya amat jarang dan nyaris gundul. Pakaiannya telah compang-camping dan di sana-sini telah pula ditumbuhi lumut! Demikian pula anggota tubuhnya! Sepasang matanya memejam rapat. Paras mukanya amat keriput dan hampir tak ditumbuhi daging. Demikian pula anggota tubuh lainnya.

Untuk beberapa saat lamanya murid Wong Agung ini memandang tak berkedip.

"Mungkin inikah Sahyang Resi Gopala...," pikir Pendekar 108. Dan kini Aji dapat mengetahui apa yang menyebabkan semak belukar di bagian depan itu bergerak-gerak. Ternyata gerakan semak belukar itu dikarenakan hembusan napas sang orang tua!

"Luar biasa! Hembusan napasnya saja aku tak mampu untuk menahannya! Bagaimana aku harus mendekatinya...?" Pendekar 108 putar otak. Lalu perlahan mendekati dari arah samping.

Begitu dekat pendekar dari Karang Langit ini bergerak duduk, meski dari arah samping, namun angin dari hembusan napas  sang  orang tua masih terasa menyambar! Hingga Aji harus kerahkan tenaga dalamnya untuk menahan tubuhnya agar tidak terjengkang ke belakang.

Setelah menjura dengan bungkukkan tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 bukan mulutnya. "Eyang Resi "

Sang orang tua tak  bergeming.  Matanya pun tak bergerak untuk membuka.

Pendekar 108 memanggil. Namun sang orang tua tetap diam. Pendekar Mata Keranjang menghela napas dalam-dalam. Merasa mungkin suaranya tidak didengar Pendekar 108 kembali memanggil dengan agak sedikit keraskan suaranya. Namun sang orang tua masih tetap diam.

"Bagaimana ini...? Akan kucoba dengan menyentuhnya!" gumam Pendekar 108 seraya ulurkan tangan kanannya. Kaki orang tua itu disentuhnya sambil memanggil. Namun sang orang tua tetap seperti semula, bahkan Aji terkejut karena kaki orang tua itu sangat dingin!

"Apa dia telah meninggal  ? Kakinya begitu

dingin.... Tapi nafasnya masih berhembus,..." Aji kembali ulurkan tangannya dan kini diguncangkannya kaki orang tua itu dengan agak keras. Sambil mengguncang-guncang, dari mulutnya terdengar suara memanggil-manggil. Anehnya, meski Aji mengguncang, namun tubuh orang tua itu tak bergerak  bahkan  ketika Aji mengerahkan tenaga dalamnya dan mengguncangnya keras-keras tubuh orang tua itu tak bergeming!

"Gila! Bagaimana ini bisa terjadi...? Bagaimana untuk membangunkannya? Apa aku harus menunggu? Tapi sampai kapan...? Melihat keadaan tubuhnya dia telah bertahun-tahun tak pernah meninggalkan tempat ini! Kalau aku menunggu, kurasa terlalu resiko, karena bukan tak mungkin ada orang yang bisa menerobos Dewi Kayangan dan sampai ke tempat ini. Hmm. "

Selagi pendekar murid Wong Agung ini menimbang-nimbang dan mencari jalan keluar, tibatiba sepasang mata orang tua di sampingnya bergerak membuka, sejurus mata yang sudah tampak memutih kelabu itu mengerjap-ngerjap lalu agak melebar dan memandang lurus ke depan.

Aji hentikan kata-katanya dan memandangi tak berkedip seraya menunggu. Saat sepasang mata orang tua itu menebar dan memandang ke samping, di mana Aji berada, murid Wong Agung ini serta-merta menjura hormat dan berkata pelan.

"Eyang Resi    "

Untuk beberapa saat lamanya sepasang mata orang tua itu memandangi Pendekar 108 lalu mulutnya yang terkatup rapat tampak bergerak membuka, dan sesaat kemudian meluncur katakatanya. Suara perlahan sekali, namun cukup jelas di telinga Aji.  

jung. Malam  bertabur  sinar  merah  hampir  beru-

Ketentuan sudah pada waktunya.

Beban akan terlewati bersama bergantinya malam.

Namun beban  berat  akan  menghadang  di depan mi. Kalau sang pengemban tidak rendah hati. Petaka besar semakin meraupi dataran bu-

Sejenak  orang  tua  itu  hentikan  lantunan syairnya. Pendekar 108 tetap menunggu seraya memandangi dan coba mengartikan bait-bait yang baru saja dilantunkan.

Sang orang tua lantas buka kembali mulutnya.

"Wahai anak manusia! Isyarat malam telah menuntunku untuk mengetahui makna kedatanganmu. Memang, sudah berpuluh-puluh tahun aku menantikan malam ini, malam yang membebaskan diriku dari beban yang harus kuemban. Hanya pesan yang dapat kuberikan, pergunakan apa yang nanti kau peroleh untuk kedamaian manusia. Jika tidak, malapetaka besar akan menggilas umat manusia, dan itu tanggung jawabmu! Selamat tinggal "

Habis berkata begitu, sang orang tua pejamkan lagi kedua matanya, bibirnya pun mengatup rapat. Dan entah dari mana datangnya, tibatiba segumpal awan putih menyusur semak belukar dan bergerak cepat membungkus tubuh sang orang tua. Lalu perlahan-lahan pula asap itu membubung dan sirna. Anehnya, bersamaan dengan lenyapnya awan putih, sosok sang orang tua telah tidak ada lagi di tempatnya!

"Eyang Resi...," seru Pendekar Mata Keranjang 108. Namun tak ada lagi jawaban.

Sejenak Pendekar 108 menebarkan pandangannya. Namun sosok sang orang tua  memang tak lagi tampak.

"Terlambat.... Aku belum sempat menanyakan di mana beradanya Arca Dewi Bumi. Apa yang harus kuperbuat sekarang...?" gumam Aji penuh dengan kekecewaan. Disekanya keringat yang membasahi leher dan keningnya.

Saat itulah, sepasang matanya menangkap sebuah cahaya agak redup di belakang  tempat sang orang tua tadi duduk bersila. Dengan perasaan disesaki beberapa dugaan, Pendekar 108 mendekat seraya membesarkan sepasang matanya.

Pendekar 108 membungkuk, tangan kanannya dijulurkan untuk mengambil cahaya agak redup yang ternyata sebuah benda berwarna ungu. Begitu jari-jarinya dapat menyentuh benda itu, ada hawa aneh yang merasuki tubuhnya. Rasa sakit akibat keris Jogaskara yang masih sedikit terasa tiba-tiba lenyap!

"Hmm.... Melihat bentuknya, mungkin inilah Arca Dewi Bumi...," duga Pendekar 108  dalam hati sambil pererat pegangannya pada benda itu dan pelan-pelan ditariknya dari tempatnya, karena ternyata benda itu melekat pada batu!

Namun Pendekar Mata Keranjang terperangah kaget. Benda yang berbentuk arca tersebut sulit untuk ditarik! Aji kerahkan tenaga dalamnya, namun arca itu tetap tak bergeming dari tempatnya! Pendekar 108 lipat gandakan tenaga dalamnya, bahkan kini seluruh tenaga luar dalamnya dikerahkan. Keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya, tubuhnya pun tampak  bergetar dan tangannya gemetaran.

Kali ini usaha Pendekar Mata  Keranjang 108 tampaknya ada hasil, karena perlahan-lahan arca itu mulai bergerak-gerak. Tapi ada keanehan, bersamaan dengan bergeraknya arca, kuil kecil itu ikut bergetar bahkan di sana-sini tampak mulai rengkah-rengkah!

Pendekar Mata Keranjang terus kerahkan tenaga dalamnya, hingga setelah beberapa lama berusaha, akhirnya arca itu dapat lepas dari tempatnya. Namun bersamaan dengan terlepasnya arca, bangunan batu yang membentuk kuil itu bergetar hebat, rengkahannya semakin berderakderak dan pelan-pelan pula pecah!

Sadar akan hal itu, sebelum bangunan batu berbentuk kuil itu ambruk, Pendekar 108  cepat melompat mundur sambil mendekap arca. Bersamaan dengan melompatnya Pendekar 108, batu berbentuk kuil itu meletup keras lalu ambruk!

"Ini pasti Arca Dewi Bumi!" gumam Aji seraya angkat tangannya yang memegang arca dan matanya memperhatikan dengan seksama. Arca itu ternyata terbuat dari perungguberwarna ungu agak kekuning-kuningan. Bentuknya seorang perempuan berdiri dengan tangan kanan terangkat memegang sebuah tongkat. Tangan kirinya sedekap sejajar dada. Pada kepalanya tampak sebuah mahkota bersusun tiga. Pada dahinya terlihat tiap buah mutiara berwarna biru bercahaya. Ada satu keanehan pada arca itu yang membuat murid Wong Agung ini agak heran. Ternyata pada tengah-tengah mahkota terdapat sebuah lubang.

Dengan menahan rasa heran, dan tangan gemetar, Pendekar Mata Keranjang ulurkan tangan kanannya dan memasukkan jari-jarinya pada lubang. Murid Wong Agung sedikit tersirat tatkala jari-jari tangannya menyentuh sebuah gulungan lembut. Sambil menahan degup jantungnya yang berdetak makin keras, perlahan-lahan diambilnya gulungan lembut itu. Ternyata gulungan  lembut itu adalah sebuah gulungan kain berwarna putih.

Dengan membesarkan sepasang matanya, Pendekar 108 membuka gulungan kain. Kini di hadapannya terpentang lembaran kain yang tertera beberapa tulisan serta gambar-gambar orang sedang memperagakan jurus silat.

"Ini pasti jurus-jurus silat hebat..., Hmm....

Aku telah berhasil mendapatkan Arca Dewi Bumi. Aku harus cepat tinggalkan tempat ini. Aku khawatir dengan Dewi Kayangan. "

Berpikir begitu, Pendekar 108 lantas gulung kembali kain putih dan dimasukkan kembali ke lubang di tengah-tengah mahkota. Sejenak dia tebarkan pandangan berkeliling. Arca Dewi Bumi segera disimpannya ke balik pakaian hijaunya. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia balikkan tubuh dan berkelebat ke arah di mana Dewi Kayangan berada.

SEBELAS

BEGITU Pendekar Mata Keranjang 108 sampai di tempat Dewi Kayangan tadi berada, dia terkejut. Dewi Kayangan tak terlihat batang hidungnya. Yang terlihat hanya Dewi Bunga  Iblis dan Bawuk Raga Ginting yang masih tetap terikat pada sebuah batang pohon. Juga Dayang Naga Puspa dan Jogaskara yang kini tampak duduk berdampingan namun dengan tubuh seperti tak berdaya. Sementara agak jauh di seberang, Bidadari Bertangan Iblis dan Singa Betina Dari Timur tampak tetap duduk berdampingan.

"Mana dia...? Apa sudah pulang...?" tanya Pendekar 108 dalam hati seraya sapukan pandangannya berkeliling. Sebaliknya semua orang di situ sama memandangi Aji dengan tatapan penuh tanya, malah Dewi Bunga Iblis dan Bawuk Raga Ginting tampak hendak meronta untuk melepaskan diri, namun tetap tak berhasil.

Selagi Pendekar 108 mencari-cari, tiba-tiba Pendekar Mata Keranjang dikejutkan dengan suara cekikikan Dewi Kayangan. Pendekar 108 cepat berpaling. Murid Wong Agung ini sunggingkan senyum seraya usap-usap hidungnya dengan geleng-geleng kepala.

Di atas dahan sebuah pohon, Dewi Kayangan tampak tidur-tiduran dengan kaki kiri diangkat  sedikit sementara kaki kanannya disilangkan di atas kaki kiri. Kedua tangannya terayun-ayun ke bawah. Hebatnya, dahan itu tidak bergerakgerak apalagi patah!

"Dewi.... Aku...," Aji buru-buru hentikan ucapannya. Dia hampir saja mengatakan bahwa dirinya telah berhasil mendapatkan Arca Dewi Bumi, untung dia sadar dan segera hentikan ucapannya.

"Anak monyet! Jangan teriak-teriak seperti anak monyet tak punya induk! Lekas ke sini!" kata Dewi Kayangan tanpa palingkan wajahnya pada Aji.

Pendekar 108 segera melangkah ke arah pohon di mana Dewi Kayangan tiduran. Lalu melesat ke atas mendekati Dewi Kayangan, dan berbisik.

"Dewi. Aku telah mendapatkan arca itu. Kita segera tinggalkan tempat ini!"

"Apa...? Menginginkan dua gadis itu? Jangan macam-macam!" bentak Dewi Kayangan seraya melotot besar.

Pendekar 108 gelengkan kepalanya. Bibirnya nyengir sambil tangan tarik kuncir rambutnya. Dia lantas lebih mendekat dengan merambat sebuah dahan. Lalu kembali berbisik.

"Dewi. Aku...,"  Pendekar  Mata  Keranjang

108 tak meneruskan kata-katanya, karena Dewi Kayangan telah menyahut. "Kalau urusan soal gadis-gadis, aku tak mau kau jadikan sebagai comblang! Sana, bicara sama mereka sendiri!"

"Dewi!" kata Pendekar 108 agak keras. Lalu kembali suaranya dipelankan tatkala menyambung, "Aku telah mendapatkan arca itu!"

Sepasang mata besar Dewi Kayangan memandangi Aji seakan ingin meyakinkan. Tubuhnya lalu bangkit duduk. Dan memberi isyarat dengan gelengan kepala tatkala Pendekar 108 hendak menunjukkan arca yang ada di balik pakaiannya.

"Bagus! Sekarang kita cepat tinggalkan tempat itu!" kata Dewi Kayangan pula. "He! Kau menginginkan gadis itu...?" sambung Dewi Kayangan tatkala melihat Aji memandangi pada Singa Betina Dari Timur yang saat itu juga sedang arahkan pandangan pada Pendekar 108.

"Hik.... Hik.... Hik...! Anak sialan! Urusan gadis masalah belakangan. Kita harus cepat tinggalkan tempat ini. Ayo!" sambil berkata Dewi Kayangan melayang turun seraya tarik tangan Pendekar 108.

Meski dalam hati menggerendeng panjang pendek, namun Aji tak bisa lagi mengelak. Tubuhnya pun melayang turun. Sampai di bawah, Dewi Kayangan terus tarik tangan Pendekar 108 dan diseretnya untuk berkelebat.  Mau  tak  mau Aji mengikuti kelebatan tubuh Dewi Kayangan, namun sejenak sepasang matanya masihmemandang Singa Betina Dari Timur, bahkan sempat kerdipkan sebelah matanya, membuat Singa Betina Dari Timur parasnya berubah meski dalam hati berbunga-bunga.

Namun baru saja kedua orang ini berkelebat, dari arah depan mereka melihat sesosok bayangan menyongsong dan berteriak.

"Berhenti!" bersamaan dengan terdengarnya teriakan, serangkum angin melabrak.

Dewi Kayangan lepaskan tangan Pendekar 108, lalu kebutkan tangan kanannya ke depan. Rangkuman angin yang datang melabrak kontan ambyar! Bahkan sempat  menghamburkan  tanah di tempat itu, hingga pemandangan sejenak tertutup hamparan tanah.

Begitu tanah yang menghambur surut, di hadapan Aji telah berdiri seorang perempuan mengenakan pakaian warna gelap dan ketat. Parasnya cantik jelita meski umurnya kira-kira telah mencapai dua puluh lima tahunan. Rambutnya panjang dan berwarna agak kebiru-biruan. Pakaiannya yang ketat menampakkan dadanya yang tampak membusung menantang, sementara pinggulnya besar dan menggemaskan.

Sesaat Pendekar 108 terkesiap dengan sang perempuan. Sepasang matanya menjalari sekujur perempuan di hadapannya tak berkedip. Bibirnya sunggingkan senyum dengan kepala menggeleng-geleng perlahan.

"Ratu Pulau Merah...!" desis Pendekar Mata Keranjang 108 lirih begitu mengenali siapa adanya perempuan bermata kebiruan di hadapannya.

Perempuan bermata biru yang bukan lain memang Ratu Pulau Merah pandangi Dewi Kayangan dan Aji silih berganti.

"Bertubuh tambun besar, rambutnya putih dan disanggul ke atas. Hmm.... Dalam rimba persilatan hanya ada satu orang yang berciri demikian. Dewi Kayangan.... Mereka tampaknya berhasil melumpuhkan beberapa orang. Hmm. Me-

reka sepertinya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Apa mereka telah berhasil mendapatkan arca itu.... Mungkin saja...," duga Ratu Pulau Merah seraya memperhatikan lebih seksama pada Pendekar 108 dan Dewi Kayangan.

"Aku gembira bisa bertemu dengan kau!" ujar Ratu Pulau Merah seraya arahkan pandangannya pada Dewi Kayangan. "Bukankah kau yang berjuluk Dewi Kayangan ?!"

Dewi Kayangan alihkan pandangannya pada jurusan lain, lalu dari mulutnya terdengar suara cekikikannya.

"Syukur kau bukan orang yang kesasar hingga masih bisa mengenaliku! Namun maaf, jika aku mungkin terlalu sulit untuk mengenalimu! Kalau tak keberatan coba sebutkan siapa kau adanya! Hik.... Hik.... Hik !"

Paras muka Ratu Pulau Merah serentak berubah. Namun mulutnya membuka juga. "Orang-orang rimba persilatan menggelariku Ratu Pulau Merah! Jelas?!"

"Ratu Pulau Merah...? Hmm.... Gelar bagus!" puji Dewi Kayangan. Lalu menyambung. Tampaknya kau tergesa-gesa. Silakan teruskan perjalanan. Kami pun sedang tergesa-gesa.... Hik…. Hik.... Hik.... Bukankah begitu?" Dewi Kayangan berpaling pada Pendekar Mata Keranjang. Pendekar Mata Keranjang anggukan kepala seraya melirik pada Ratu Pulau Merah.

Mendengar ucapan Dewi Kayangan, Ratu Pulau Merah tersenyum sinis seraya menyeringai, lalu berkata.

"Kalian bisa meneruskan perjalanan, tapi serahkan padaku dulu arca yang ada pada kalian!"

Pendekar 108 tampak sedikit terkejut, namun buru-buru disembunyikan dengan tersenyum lebar dan berkata.

"Ratu Pulau Merah! Apakah kau sadar dengan kata yang barusan kau ucapkan? Kami tidak membawa arca! Kau salah alamat! Yang aku bawa cuma...," Aji tak meneruskan kata-katanya, namun terlihat menahan tawa.

"Betul! Kau kesasar jika tanyakan dan menduga kami membawa arca! Dia memang bawa, tapi arca  hidup!  Kau  mau...?  Jika  itu  yang kau minta, dia mungkin tak keberatan untuk memberikannya padamu! Hanya sayang, untuk saat ini mungkin belum bisa dilayani. Dia telah kupesan dahulu. Kalau kau memang  berkeinginan setelah aku, kau bisa memesannya! Hik....

Hik.... Hik  !"

Paras wajah Ratu Pulau Merah mengelam mendengar kata-kata Aji dan Dewi Kayangan. Namun perempuan berwajah cantik ini masih mencoba menahannya. Lalu berkata dengan tanpa memandang lagi "Kalian dengar! Malam telah hampir pagi, aku tak bisa berlama-lama. Kalian jangan cobacoba berkata dusta. Aku tahu, Arca  Dewi  Bumi ada di antara kalian! Lekas serahkan arca itu padaku kalau masih ingin hidup!"

Meski suara Ratu Pulau Merah terdengar keras, namun sedikit parau. Hal ini karena sebenarnya diam-diam Ratu Pulau Merah juga merasa gentar menghadapi Pendekar 108, apalagi kini bersama dengan Dewi Kayangan, tokoh rimba persilatan yang didengarnya berkepandaian tinggi.

"Ratu Pulau Merah! Dengar juga olehmu. Arca itu tak ada padaku! Dan jangan  memaksakan kehendak atas diri kami!" bentak Aji seraya hendak berkelebat pergi.

"Betul! Betul! Kalau kau tetap memaksakan kehendak, berarti kau membuat kebodohan besar! Dan itu menuntunmu ke tempat orang-orang yang...," Dewi Kayangan berpaling pada Pendekar 108.

"Kesasar!" kali ini yang menyahut adalah Pendekar 108 seraya tersenyum.

"Keparat jahanam!" maki Ratu Pulau Merah. Kemarahannya tak bisa ditahan lagi. Dia langsung maju ke depan. Dewi Kayangan segera bergerak hendak menyongsong, namun telah didahului terlebih dahulu oleh Aji.

"Bagus! Majulah kalian berdua sekalian!" teriak Ratu Pulau Merah seraya hantamkan  kedua tangannya kirimkan serangan jauh dengan tenaga dalam kuat. Wuuttt! Wuuuttt!

Angin dahsyat menebar hawa panas segera menghampar dan menyambar ke arah Pendekar Mata Keranjang.

Wuuttt! Wuuuuttt!

Sambil melompat ke udara setengah tombak, Pendekar 108 pun sentakkan kedua tangannya memapasi serangan Ratu Pulau Merah.

Bersamaan sentakan kedua tangan Aji, tempat itu berubah menjadi terang  benderang. Dan tak lama kemudian terdengarlah letupan keras tatkala serangan Ratu Pulau Merah bentrok dengan sentakan Pendekar Mata Keranjang 108.

Baik Pendekar 108 maupun Ratu Pulau Merah sama-sama terseret hingga beberapa langkah ke belakang.

"Saatnya akan mencoba kipas itu serta jurus 'Pamungkas Bayu Kencana'!" gumam Ratu Pulau Merah. Tangan kanan perempuan bermata biru ini lantas bergerak ke balik pakaiannya, dan tatkala ditarik kembali di tangannya telah terlihat sebuah kipas berwarna hitam!

Seperti diketahui, Ratu Pulau Merah telah berhasil mencuri kipas hitam ciptaan Empu Jaladara serta bumbung bambu berisi jurus 'Pamungkas Bayu Kencana' dari tempat kediaman Wong Agung di Karang Langit (Mengetahui pencuri itu silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode : "Badai Di Karang Langit").

Pendekar 108 belalakkan sepasang matanya, dahinya mengernyit demikian juga Dewi Kayangan.

"Kipas hitam! Berarti perempuan ini yang mencuri!   Jahanam!"  maki   Aji   dalam   hati   seraya perhatikan kipas hitam di tangan Ratu Pulau Merah.

"Hik.... Hik.... Hik...! Nyatanya kau  datang dan menghadap pada orang yang benar! Kali ini kau tidak termasuk orang yang kesasar!" berkata Dewi Kayangan seraya kerjap-kerjapkan sepasang matanya memperhatikan kipas hitam.

"Apa maksudmu?!" bentak Ratu Pulau Merah seraya mendelik sambil mulai gerakan tangan kanannya berkipas-kipas di depan dada.

"Kau harus serahkan kembali barang curian itu pada kami!" yang menjawab adalah Pendekar Mata keranjang 108.

Serta-merta Ratu Pulau Merah tertawa terbahak-bahak, hingga dadanya yang membusung kencang nampak terguncang turun naik. Namun hal itu kali ini tak membuat Pendekar 108 terkesima.

"Begitu...? Baik! Asal kalian serahkan nyawa kalian satu persatu!" kata Ratu Pulau Merah seraya sentakan kipas hitamnya.

Weerrr!

Serangkum angin dahsyat yang juga menebarkan hawa panas dan sinar hitam seraya melesat ke arah Aji.

Aji tak tinggal diam. Kipas ungunya segera dikeluarkan dan serta-merta dikipaskan menyilang ke depan.

Sinar berkilau  berwarna  keputihan  yang membentuk kipas serta mengeluarkan suara menggemuruh dahsyat segera keluar menebar memapak sinar hitam yang keluar dari kipas hitam.

Blarrr!

Dua serangan yang berasal dari dua kipas yang diciptakan oleh Empu Jaladara bentrok di udara. Ledakan dahsyat segera mengguncang tempat itu. Tanah tampak terbongkar hingga setengah tombak! Baik Pendekar 108 maupun Ratu Pulau Merah sama terjengkang dan sama-sama terkapar di atas tanah. Tangan masing-masing tampak berubah kemerahan, sementara paras wajah keduanya terlihat meringis menahan rasa sakit di dada masing-masing.

Ratu Pulau Merah segera bergerak bangkit. Demikian pula Pendekar Mata Keranjang. Tangan kanan Ratu Pulau Merah tampak masih bergetar, namun tidak demikian halnya dengan tangan Pendekar 108. Ini karena Pendekar 108 telah terbiasa menggunakan kipasnya, lain dengan Ratu Pulau Merah. Dia masih belum terbiasa menggunakan kipas, yang memang mengeluarkan kekuatan tersendiri. Hal itu rupanya disadari oleh Ratu Pulau Merah, hingga ia segera kerahkan sedikit tenaga dalamnya pada tangan kanannya.

Ratu Pulau Merah segera pejamkan sepasang matanya, mulutnya berkemik-kemik. Kipas hitamnya dipindahkan pada tangan kiri, sedang tangan kanannya dibuka dan ditarik sedikit ke belakang.

"Bayu Kencana!" gumam Aji perlahan melihat kuda-kuda yang dilakukan Ratu  Pulau  Merah. "Berarti dia telah mempelajari isi bumbung bambu itu! Aku harus hati-hati.... Aku tak boleh menyerangnya!"

Pendekar 108 lantas undurkan langkah dua tindak. Lalu mengambil sikap seperti yang dilakukan Ratu Pulau Merah.

Di sampingnya Dewi Kayangan hanya melihat sesekali tertawa cekikikan perlahan. Sementara tak jauh dari tempat itu, beberapa pasang mata terus mengawasi. Malah sepasang mata Dayang Naga Puspa dan Jogaskara membeliak besar tatkala dapat mengenali siapa adanya perempuan yang kini tengah bertarung dengan Pendekar Mata Keranjang 108.

"Ratu Pulau Merah...," desis Dayang Naga Puspa seraya arahkan pandangannya pada Jogaskara. Tubuh perempuan ini memang belum bisa digerakkan karena masih tertotok oleh Dewi Kayangan. Jogaskara hanya anggukan kepalanya. Sesaat kemudian, Ratu Pulau Merah  buka sepasang matanya. Namun dia tidak segera lancarkan serangan. Melihat hal itu Aji pun berbuat sama. Hanya memandang tanpa lancarkan seran-

gan.

"Hik.... Hik.... Hik...! Katamu tadi ingin minta arca, sekarang diam malah saling main mata! Aneh...," kata Dewi Kayangan seraya dongakan kepala.

"Hmm.... Aku tak boleh terpancing dengan kata-kata perempuan tambun ini! Dia berkata sengaja memancingkan agar lancarkan serangan dahulu! Hmm.... Dikira aku tak tahu.... Jika aku lancarkan serangan terlebih dahulu, maka aku akan  tersedot  dahulu....  Jahanam...!"  batin  Ratu Pulau Merah.

Selagi kedua orang ini sama-sama menunggu serangan lawan, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan. Begitu cepatnya  kelebat  sosok ini, hingga tahu-tahu telah berdiri tak jauh dari samping Ratu Pulau Merah.

"Kakang...," seru Ratu Pulau Merah begitu berpaling dan mengenali siapa adanya orang yang baru datang. Sementara Dewi Kayangan luruskan kepala dan kerutkan dahi, sepasang matanya menyipit. Di sampingnya, Pendekar Mata Keranjang 108 tampak terperanjat dan langsung besarkan sepasang matanya.

Di hadapannya, di samping Ratu Pulau Merah tampak berdiri seorang laki-laki. Usianya amat lanjut. Rambutnya awut-awutan serta berwarna putih. Demikian pula jenggotnya. Dia bertelanjang dada, sementara pakaian bawahnya berupa celana pendek agak gombrong dan tampak dekil. Sepasang mata serta wajahnya tidak begitu jelas, karena tertutup oleh rambut dan jenggotnya.

Laki-laki bertelanjang dada palingkan wajahnya pada Ratu Pulau Merah. Mulutnya bergerak membuka.

"Kinanti "

Ratu Pulau Merah yang bernama asli Kinanti segera melompat mendekat. Dan sertamerta dipeluknya laki-laki bertelanjang dada itu. "Kakang… Maafkan aku yang terlebih dahulu meninggalkanmu tanpa pamit. Aku...," Ratu Pulau Merah tak meneruskan kata-katanya karena laki-laki bertelanjang dada memberi isyarat agar Ratu Pulau Merah tak meneruskan ucapannya dengan gelengkan kepalanya. 

"Kinanti! Aku tahu, dan  aku sangat gembira bisa bertemu denganmu lagi!" kata laki-laki bertelanjang dada, lalu arahkan pandangannya pada Dewi Kayangan dan berujung pada Pendekar

108. Sepasang mata laki-laki ini melotot untuk beberapa saat memperhatikan kipas ungu berangka 108 di tangan Pendekar Mata Keranjang 108.

"Kinanti. Yang perempuan gemuk besar itu aku tahu. Sedang yang pemuda sepertinya aku baru kali ini melihatnya. Siapa dia? Dan apa masalahnya hingga kau bentrok dengan mereka...?!"

Ratu Pulau Merah sunggingkan senyum. Lalu berbisik dekat telinga laki-laki di sampingnya.

"Kakang. Pemuda itulah manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Murid tunggal Wong Agung yang pernah kuceritakan padamu. Mereka tampaknya telah berhasil mendapatkan Arca Dewi Bumi. Aku berusaha merebutnya! Kuharap kau sudi menolongku menyelesaikan keduanya. Setelah itu kita kembali bersamasama ke Lembah Bandar Lor. Kita hidup bersama-sama lagi..."

Laki-laki bertelanjang  dada  paling  wajah-

nya. "Kau tidak berdusta lagi...?"

"Kakang. Ketahuilah. Aku dahulu berdusta padamu karena aku harus memburu kipas hitam, bumbung bambu serta Arca Dewi Bumi. Kipas hitam dan bumbung bambu telah dapat kumiliki, sekarang tinggal arca itu. Jika arca itu dapat kumiliki, untuk apa aku harus berdusta lagi...?"

Laki-laki bertelanjang dada anggukan kepalanya. Meski tampak sekali anggukan itu terasa dipaksakan.

"Kau mau membantuku, Kakang...?" sambung Ratu Pulau Merah dengan menatap lekatlekat. "Kalau kau tak mau, harapan kita untuk hidup bersama-sama lagi di Lembah Bandar Lor hanya akan menjadi impian mu!"

"Hmm.... Baiklah! Tapi jika kau berdusta, kau tahu apa akibatnya!" desis laki-laki bertelanjang dada. Ratu Pulau Merah tersenyum dan mengangguk.

Di seberang agak jauh, Dayang Naga Puspa dan Jogaskara tampak terkejut saat melihat siapa adanya laki-laki bertelanjang dada di samping Ratu Pulau Merah.

"Eyang Guru Dadung Rantak...," seru Jogaskara perlahan.

"Sebuah keberuntungan bagi kita. Eyang Guru pasti akan menolong kita!" tegas Dayang Naga Puspa dengan sunggingkan senyum.

"Menurut keterangan Eyang Selaksa dan melihat ciri-ciri orangnya serta begitu akrabnya dengan Ratu Pulau Merah, berat dugaan laki-laki ini yang bernama Dadung Rantak...," Pendekar 108 membatin, lalu berpaling pada Dewi Kayangan dan berkata.

"Dewi. Apakah laki-laki ini yang pernah disebut-sebut Eyang Selaksa beberapa waktu yang lalu?"

Dewi Kayangan cekikikan terlebih dahulu, lalu berkata.

"Tak salah! Memang dia orangnya!"

Aji anggukan kepala. Lalu berpaling dan memandang pada Dadung Rantak. Mulutnya membuka hendak berkata, namun Dadung Rantak telah terlebih dahulu berkata.

"Aku tak akan berpanjang lebar bicara! Aku telah tahu siapa adanya kalian berdua. Kalau masih ingin keluar dari tempat ini dengan keadaan selamat cepat serahkan arca itu pada kami!" "Walah.... Lagi-lagi ada orang kesasar!

Aji.... Kita tinggalkan saja tempat ini! Janganjangan kita nanti ketularan! Hik.... Hik.... Hik...!" selesai ucapkan kata-kata, Dewi Kayangan miringkan tubuh dan sepertinya hendak siap meninggalkan tempat itu.

Namun baru saja tubuhnya bergerak, Dadung Rantak telah melompat dan serta-merta hantamkan tangan kanannya ke arah bahu Dewi Kayangan.

Dewi Kayangan hentikan cekikikannya. Tubuhnya ditarik sedikit ke belakang. Hingga hantaman tangan Dadung Rantak melabrak tempat kosong sejengkal di depan bahu Dewi Kayangan. Namun saat itu juga Dadung Rantak sapukan kaki kanannya. Wuuttt!

Begitu cepatnya sapuan kaki Dadung Rantak, hingga belum sempat Dewi Kayangan membuat gerakan menghindar, kaki Dadung Rantak telah datang.

Deess!

Tubuh gemuk Dewi Kayangan mencelat sampai tiga tombak ke belakang. Lalu terkapar di atas tanah. Namun begitu terkapar, tubuh gemuk Dewi Kayangan cepat menggeliat bangkit. Dari mulutnya terdengar kembali suara cekikikannya.

"Jahanam!"   maki   Dadung   Rantak   garang. Tubuhnya segera melesat ke depan kedua tangan segera bergerak menghantam, sementara kaki kiri kanan berputar-putar dan menerjang. Tiap gerakan kaki atau tangan menghamparkan sinar hitam berkilat. Belum sampai kaki dari tangan menghajar sasaran, sinar hitam telah melesat mendahului!

Di depan, Dewi Kayangan masih tampak enak-enakan seakan tidak pedulikan serangan, padahal serangan itu sudah dua depa di hadapannya. Namun tiba-tiba saja kedua tangan Dewi Kayangan membuka dan didorong kuat-kuat.

Weettt! Weeettt!

Gelombang asap tipis berwarna kemerahan melesat deras ke depan.

Plarrr! Plarrr! Plarrr! Plaaarrr!

Laksana gelombang yang menghantam lamping batu karang, asap tipis kemerahan melabrak habis empat sinar hitam yang datang, mengeluarkan suara letupan beberapa kali. Dadung Rantak tertahan di udara. Dan begitu melihat serangannya bisa  ditahan,  laki-laki ini hendak lancarkan serangannya kembali dari udara. Namun belum sempat tangannya bergerak, Dewi Kayangan telah hantamkan tangan kanannya. Dadung Rantak terkejut, karena saat itu juga tubuhnya laksana dihantam gelombang besar. Jika saja ia tak cepat melesat ke samping, tentu tubuhnya telah terhempas!

Mendarat di atas tanah, Dadung Rantak tampak mendengus keras. Dahinya mengernyit seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Karena baru kali ini dia mendapat tangkisan sekaligus serangan yang begitu hebat. Dengan mulut komat-kamit tiba-tiba dia membentak garang. Bersamaan itu tubuhnya melesat kembali ke depan.

Dewi Kayangan salah duga. Karena lesatan Dadung Rantak tidak langsung kirimkan  serangan dari arah depan. Melainkan melambung ke atas dan tiba-tiba menukik dari atas Dewi Kayangan.

Dewi Kayangan, yang baru saja mendongak hendak mengetahui di mana posisi lawan hanya melihat lesatan-lesatan sinar hitam di atas kepalanya. Dia segera melompat ke depan, tubuhnya dilengkungkan ke belakang sedikit, kedua tangannya dihantamkan ke atas.

Prak! Prakkk!

Dua pasang tangan beradu di udara. Dadung Rantak terdengar keluarkan seruan tertahan. Namun dengan cepat laki-laki ini membuat gerakan jungkir balik dan hantamkan kakinya ke arah punggung Dewi Kayangan.

Desss!

Dewi Kayangan melenguh keras. Tubuhnya terhuyung ke depan. Dan belum sempat menguasai diri, Dadung Rantak telah menerjang kembali.

Desss!

Tubuh Dewi Kayangan meliuk lalu roboh tersungkur di atas tanah!

Melihat hal ini, Pendekar Mata Keranjang melompat, namun gerakannya tertahan, karena saat itu juga Ratu Pulau Merah telah berkelebat menghadang.

"Giliranmu yang sekarang harus roboh!" seru Ratu Pulau Merah seraya melompat ke depan dan langsung hantamkan kipasnya, sementara tangan kirinya mendorong.

Pendekar 108 kibaskan kipas, tangan kirinya membuka dan ditarik ke belakang.

Terdengar letupan keras tatkala sambaran dari dua kipas itu bertemu. Namun serangan tangan kiri Ratu Pulau Merah yang mengeluarkan gelombang angin segera melesat dan masuk ke telapak tangan kiri Aji.

"Bayu Kencana!" seru Ratu Pulau Merah. Tubuh perempuan bermata biru ini perlahan ikut terseret ke depan bersamaan dengan masuknya serangannya pada telapak tangan Pendekar 108. Namun perempuan ini segera kerahkan tenaga dalamnya, tangan kirinya pun dibuka dan ditarik ke belakang.

Gerakan tubuh Ratu Pulau Merah terhenti. Dan yang terlihat kini adalah keduanya saling kerahkan tenaga dalam masing-masing sambil tarik tangan kirinya ke belakang. Keduanya tidak ada yang berani kibaskan kipas masing-masing, mereka sadar jika salah satu dari mereka lancarkan serangan, maka serangannya akan tersedot ke tangan lawan, dan tubuhnya akan terseret! Ini terjadi karena keduanya sama-sama mengerahkan jurus pamungkas 'Bayu Kencana'.

Beberapa saat berlalu. Keduanya saling tarik menarik. Pakaian keduanya telah basah kuyup. Bahkan tubuh keduanya terlihat mulai bergetar, maka masing-masing sama  terpejam. Dan tanah di tempat itu pun bergetar!

Namun mendadak Ratu Pulau Merah buka matanya. Mulutnya membentak. Serta-merta tubuhnya melesat ke depan. Karena melesat dengan tenaga dalam penuh ditambah dengan tarikan tangan kiri Pendekar Mata Keranjang 108, membuat lesatan tubuh Ratu Pulau Merah tak  dapat lagi dilihat dengan mata.

Yang terlihat selanjutnya adalah terkaparnya tubuh kedua orang ini di atas tanah. Namun ada sesuatu yang membuat Ratu  Pulau  Merah atau Pendekar 108 membelalakkan sepasang mata masing-masing.

Ratu Pulau Merah membelalak karena sabetan tangan kirinya yang sempat menyerempet pinggang Pendekar 108 membuat pakaian bagian pinggang robek dan memperhatikan sebuah benda berwarna ungu kekuningan yang ada di baliknya! Sementara belalakkan mata Pendekar 108 karena terkejut melihat arca di balik pinggangnya menyembul dan nampak jelas!

"Tentu itu arca yang kucari!" gumam Ratu Pulau Merah. "Dugaanku ternyata tidak meleset!" sekonyong-konyong perempuan bermata biru ini bangkit dan berkelebat ke arah Aji yang juga tampak bangkit.

"Sialan! Bisa gawat ini!" batin Pendekar Mata Keranjang. Namun baru saja dia  bangkit, Ratu Pulau Merah telah datang menerjang. Sementara tangan kirinya menjulur hendak menyambar arca di pinggang Pendekar 108.

Pendekar Mata Keranjang 108 jejakkan sepasang kakinya. Tubuhnya melenting ke udara. Tapi tanpa disangka-sangka, Ratu Pulau Merah kebutkan kipas hitamnya. Hingga saat itu juga serangkum sinar hitam menghantam dari bawah ke arah Aji.

Pendekar 108 terkejut. Dia cepat membuka gerakan berputar, namun tak urung sambaran sinar hitam itu menghantam pinggulnya.

Pendekar 108 terpekik, tubuhnya terputar dan melayang deras ke bawah. Hal ini tak disiasiakan Ratu Pulau Merah. Tubuhnya segera melesat menyongsong dengan tangan menyambar ke arah pinggang Pendekar Mata Keranjang.

Meski dalam keadaan melayang terkena serangan, namun Pendekar 108 masih sadar akan apa yang hendak diperbuat Ratu Pulau Merah. Maka dengan cepat tangan kanannya berkelebat hendak memapak tangan Ratu Pulau Merah. Namun karena tergesa-gesa tangannya menyambar arca di pinggangnya terlebih dahulu sebelum memapasi tangan Ratu pulau Merah.

Tangan Ratu Pulau Merah bisa dibuat mental balik, namun arca di pinggangnya mencelat dan melambung ke udara! Lalu melayang turun dan jatuh di tengah-tengah antar tempat Jogaskara dan Bidadari Bertangan Iblis berada.

Mendapati hal ini, Jogaskara yang telah terluka parah segera ambil keris di sampingnya, lalu seret tubuhnya mendekati arca yang tergeletak. Dan serta-merta diraupnya arca itu dengan menindihkan tubuhnya. Namun bersamaan dengan itu. Bidadari Bertangan Iblis melesat datang. Dan tanpa bicara lagi, kaki kanannya disapukan pada tubuh Jogaskara yang telungkup meraupi arca!

Desss!

Jogaskara mengaduh. Tubuhnya melengak terbalik. Namun laki-laki salah satu murid Dadung Rantak ini masih sempat kebutkan tangan kanannya, yang memegang keris.

Seettt!

Bidadari Bertangan Iblis yang tidak menduga terperangah. Namun sudah terlambat untuk bisa menghindar, hingga tanpa ampun lagi keris hitam Jogaskara menerabas dadanya!

Tak ada suara keluar dari mulut Bidadari Bertangan Iblis. Tubuhnya hanya tampak terhuyung-huyung sebentar, lalu roboh ke tanah. Sebentar tampak tubuh itu bergerak-gerak, namun sesaat kemudian diam kaku!

Tak jauh di hadapannya, Jogaskara tampak menggelepar-gelepar lalu terkulai dengan kepala menghantam tanah! Suara korok tenggorokannya kontan terputus bersama putusnya nyawa!

Melihat saudara seperguruannya roboh dengan keris menghujam dada, Singa Betina Dari Timur segera berkelebat dan serta-merta mengguncang tubuh Bidadari Bertangan Iblis yang ternyata sudah tewas!

"Bidadari! Bidadari!" seru Singa Betina Dari Timur berulang kali. Namun tak ada jawaban keluar dari mulut Bidadari Bertangan Iblis. Singa Betina Dari Timur segera merangkul tubuh saudara seperguruannya dengan sesenggukan. Dicampakannya keris hitam yang ada di dada Bidadari Bertangan Iblis. Mungkin karena terguncang dengan robohnya saudara seperguruannya, hingga niatannya semula yang ingin memiliki  keris atau tombak menjadi terlupakan.

Di lain tempat melihat apa yang terjadi, Dewi Bunga Iblis dan Bawuk Raga Ginting kerahkan tenaga dalam masing-masing untuk melepaskan diri. Namun usah keduanya sia-sia, membuat kedua orang ini memaki-maki tak  karuan, apa lagi kini arca yang mereka cari-cari ada di hadapannya! Tak jauh beda dengan Dayang Naga Puspa. Perempuan ini pun memaki-maki panjang pendek tanpa bisa melepaskan diri dari totokan Dewi Kayangan.

Sementara itu, melihat arca di pinggang Pendekar 108 mencelat, Ratu Pulau Merah cepat bangkit dan melesat. Tapi gerakannya tertahan, karena saat itu juga Pendekar 108 telah menerjang ke arahnya. Kipas ungunya ditebar menyilang sementara tangan kirinya didorong kuatkuat.

Ratu Pulau Merah yang tampaknya sudah terpancang dengan arca yang tergeletak tak bisa lagi pusatkan perhatian. Hingga saat serangan datang, perempuan ini terkejut. Namun gerakannya untuk menghindar telah terlambat. Hingga tanpa bisa dielakkan lagi sinar keputihan yang keluar dari kipas ungu Pendekar Mata Keranjang 108 tak bisa dihindarkan lagi.

Tubuh Ratu Pulau Merah mencelat sampai enam tombak ke belakang. Dan tubuhnya baru terhenti ketika menghajar sebuah pohon. Pohon itu berderak roboh bersamaan dengan terkaparnya tubuh Ratu Pulau Merah. Kipas hitam di tangan kanannya terjatuh dan tergeletak di sampingnya. Darah kehitaman terlihat meleleh dari sudut bibirnya, juga dari kedua lobang hidungnya! Jelas jika perempuan bermata biru ini telah terluka parah.

Melihat hal ini murid Wong Agung tak buang waktu lagi. Tubuhnya segera melesat ke arah tergeletaknya arca. Di pungutnya arca itu lalu disimpannya kembali ke balik pakaiannya. Kepalanya lalu berpaling ke arah Ratu Pulau Merah. Sepasang matanya sesaat memperhatikan kipas hitam yang tergeletak di samping perempuan cantik bermata biru ini. Dia tampak bimbang. Bergerak menyambar kipas hitam atau menunggu sejenak. Dia khawatir jika langsung menyambar, Ratu Pulau Merah akan menyergapnya dan tidak mustahil arca di tangannya akan kembali jatuh. Murid Wong Agung sadar, meski Ratu Pulau Merah telah terluka namun sebagai seorang yang telah berpengalaman malang melintang dalam rimba persilatan. Bukan tidak mungkin menggunakan kesempatan yang ada. Apalagi dirinya telah terluka, mata tak mustahil jika dia nekat meski harus berkorban nyawa.

Berpikir sampai di situ, akhirnya Pendekar 108 memutuskan untuk melihat situasi selanjutnya. Kepalanya lantas menoleh ke arah Singa Betina Dari Timur yang tampak meratapi kematian saudara seperguruannya. Seraya mengusap keringat di dahinya, dia melangkah mendekati.

Sementara itu, jauh di depan, pertarungan antara Dewi Kayangan dengan Dadung Rantak terus berlangsung. Namun tatkala mata Dadung Rantak menangkap robohnya Ratu Pulau Merah kekasihnya, perhatiannya terpecah.

Hal ini rupanya bisa ditangkap oleh Dewi Kayangan, hingga kesempatan ini pun tak dilewatkan oleh Dewi Kayangan.

Pada suatu serangan, Dewi Kayangan dapat menipu gerakan Dadung Rantak yang sudah terpecah perhatiannya. Saat itu Dewi Kayangan hantamkan kedua tangannya ke depan dari arah samping kanan dan kiri.

Dadung Rantak cepat angkat kedua tangannya dan hentakkan ke kanan kiri untuk menangkis. Namun tiba-tiba saja Dewi Kayangan hanya hantamkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya ditarik pulang lalu dihantamkan lurus ke depan saat mana tangan kiri Dadung Rantak telah menghentak ke samping.

Prakkk! Deesss!

Dadung Rantak terpekik tatkala tangan kanannya beradu dengan tangan kiri Dewi Kayangan. Namun suara pekikannya disusul dengan suara pekik keduanya karena wajahnya terhantam tangan kanan Dewi Kayangan!

Darah muncrat dari mulut dan hidung Dadung Rantak. Tubuhnya pun mencelat ke belakang lalu roboh bergulingan di atas tanah!

Dewi kayangan melesat menyusul, dan serta-merta kaki kanannya disapukan pada tubuh Dadung Rantak pelan. Hebatnya, saat itu juga tubuh Dadung Rantak melayang dan jatuh tak jauh dari tempat di mana Ratu Pulau Merah masih berusaha bangkit.

"Aji...!" teriak Dewi Kayangan seraya lambaikan tangannya.

Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih baru saja hendak buka mulut untuk bicara dengan Singa Betina Dari Timur terkejut. Dan begitu melihat lambaian tangan Dewi Kayangan, murid Wong Agung ini tampak kecewa. Namun demi selamatnya arca yang telah di tangan serta demi untuk tidak mengecewakan Dewi Kayangan meski sambil menggerendeng panjang pendek, Pendekar 108 berkelebat ke arah Dewi Kayangan.

"Perempuan urusan belakangan. Kita harus tinggalkan tempat ini!" kata Dewi Kayangan begitu Aji dekat. Perempuan gemuk ini lantas balikkan tubuh dan berkelebat  tinggalkan  tempat itu.

Pendekar Mata Keranjang 108 sejenak masih tegak berdiri, kepalanya lantas berpaling pada Singa Betina Dari Timur. Namun yang dipandangi masih tenggelam dalam isak tangis di atas tubuh saudara seperguruannya.

"Hmm.... Seandainya keadaan mengizinkan, ingin rasanya aku menolongnya! Tapi apa boleh buat. Arca ini harus diselamatkan pada tempat yang aman dahulu.... Singa Betina Se-

lamat tinggal, semoga kelak kita dapat dipertemukan lagi...," gumam Pendekar 108 seraya lambaikan tangan, meski dia tahu bahwa Singa Betina Dari Timur tidak sedang melihat ke arahnya. Lalu murid Wong Agung ini balikkan tubuh dan menyusul kelebatan Dewi Kayangan.

Melihat perginya Dewi Kayangan dan Pendekar Mata Keranjang 108, Ratu Pulau Merah segera bangkit hendak mengejar, namun baru saja bangkit, kaki kanannya goyah, dan jatuh terduduk.

"Keparat! Jahanam! Bangsat!" maki Ratu Pulau Merah seraya kerahkan tenaga dalamnya. Lalu perlahan-lahan bangkit melangkah perlahan dan disambarnya kipas hitam yang tergeletak seraya simpan kipasnya. Dia teruskan langkah, namun tiba-tiba dia hentikan langkahnya, sepasang matanya melirik pada  tombak  dan  keris yang tergeletak. Tanpa pikir panjang lagi dia menyambar tombak dan keris "Hm, senjata ini tentu kelak ada gunanya!" Lalu sepasang matanya sejenak liar mengawasi tubuh Dadung Rantak  yang tak jauh di sampingnya.

"Kau tak berhasil merobohkan Dewi Kayangan, berarti impian mu untuk hidup bersamaku kuburlah dalam-dalam, Tua Bangka!" gumam Ratu Pulau Merah, lalu berkelebat tinggalkan tempat itu.

Dadung Rantak tertatih-tatih bangun. Dan ketika sepasang matanya tidak lagi melihat Ratu Pulau Merah, dada laki-laki ini tampak bergetar. Sepasang matanya berkilat-kilat.

"Perempuan jahanam! Dia telah berkata bohong padaku! Hmm.... Saatnya akan tiba, tunggulah! Juga kau Dewi Kayangan dan Pendekar Mata Keranjang 108!" teriak Dadung Rantak, lalu tertatih-tatih melangkah tiga tindak.

"Eyang Guru...!" Tiba-tiba Dayang Naga Puspa memanggil.

"Sejak malam ini tak ada  hubungan  apaapa lagi antara kau dan aku! Urusanmu urusanmu, urusanku urusanku!" kata Dadung Rantak tanpa berpaling pada muridnya. Laki-laki bertelanjang dada Penghuni Lembah Bandar Lor ini berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Gila!  Jahanam!"  maki  Dayang  Naga  Puspa dengan lejang-lejangkan kakinya, karena memang hanya sepasang kakinya yang bisa digerakkan.

Sementara itu, begitu dapat menguasai dirinya, Singa Betina Dari Timur lantas angkat tubuh Bidadari Bertangan Iblis lalu dibawanya meninggalkan tempat itu. "He...! Kuharap kau mau melepaskan lilitan jahanam ini!" kata Dewi Bunga Iblis mengharap pertolongan Singa Betina Dari Timur yang membawa tubuh saudara seperguruannya dan melangkah tak jauh dari tempat Dewi Bunga Iblis

"Benar! Aku pun mohon padamu agar kau sudi melepaskan aku juga!" kali ini yang berkata Bawuk Raga Ginting.

Singa Betina Dari Timur palingkan wajah, namun gadis cantik ini segera luruskan kembali kepalanya dan meneruskan langkah.

"Jahanam!    Gadis    keparat!"    teriak    Dewi Bunga Iblis.

"Gadis liar! Awas. Suatu saat  kelak  kau akan dapat balasan ku!" seru Bawuk  Raga Ginting lalu memaki-maki tak karuan.

Singa Betina Dari Timur seakan tak menghiraukan ancaman dan makian, gadis berwajah cantik ini terus melangkah dengan membawa tubuh saudara seperguruannya. Sudut kedua matanya tak henti-henti meneteskan air mata. Sementara bahunya terlihat berguncang-guncang. Dan tatkala wajah gadis cantik dari daratan Bima ini tengadah, di sebelah timur lamat-lamat cahaya putih kekuningan sang mentari telah berarak menebar menerangi angkasa.

SELESAI