Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 15 : Badai Di Karang Langit

 
Eps 15 : Badai Di Karang Langit


MALAM baru saja turun. Bentangan angkasa perlahan tampak mulai terang karena bulan bulat penuh samar-samar mulai menunjukkan diri. Julangan batu karang di tengah Laut Utara yang berdiri angker diselimuti kabut putih perlahan pula mulai tampak sosoknya.

Batu karang menjulang di tengah laut yang dikelilingi oleh beberapa batu karang itu tampak tetap tegar meski hempasan gelombang abadi menerpanya. Batu karang yang dalam rimba persilatan dikenal dengan nama Karang Langit itu terlihat semakin angker saat sang rembulan memancarkan cahayanya, karena warnanya seakan berubah menjadi merah darah!

Ketika sang rembulan makin tinggi, samarsamar terlihat sesosok tubuh duduk bersila di tengah pelataran batu karang yang menjulang. Kedua tangannya saling bertindih di depan dada. Sosok ini tak bergeming sedikitpun meski hembusan angin begitu kencang serta hawa dingin menusuk tulang. Bibirnya komat-kamit tak hentihentinya memperdengarkan sesuatu yang tak jelas, karena sangat pelan sekali.

Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Rambut dan jenggotnya panjang dan telah berwarna putih. Pakaian yang dikenakannya adalah sebuah jubah warna putih dan anehnya, meski angin kencang berhembus, baik rambut, jenggot serta jubah sosok ini tak berkibar, seolah tiada angin yang menerpanya!

Kedua mata laki-laki ini tak tampak, karena mata itu ditutup oleh sepotong kulit yang diikatkan ke belakang kepalanya.

Melihat sikapnya, mudah diduga jika lakilaki ini sedang memusatkan akal batinnya. Karena hingga berselang lama, dia tetap bersikap seperti semula. Malah dari mulutnya yang tak henti bergerak-gerak itu mulai agak terdengar suara. Dia sepertinya sedang membaca manteramantera.

Namun, kekhusukan laki-laki ini agaknya tak bisa terus berlangsung, karena tiba-tiba saja laki-laki ini menghentikan gerak bibirnya. Telinganya tampak sedikit bergerak ke atas. Dan bersamaan dengan itu kepalanya perlahan pula bergerak sedikit tengadah.

"Lamat-lamat, aku dengar suara kelebat seseorang sedang menuju kemari. Bukan, bukan seorang. Tapi dua orang. Hmm.... Siapa mereka? Bertahun-tahun diam di Karang Langit, baru kali ini aku merasa gelisah. Pertanda apa ini? Apa yang sedang menuju kemari adalah Aji...?" membatin laki-laki yang sedang duduk bersila ini tanpa gerakkan kepalanya. Kepala itu tetap tengadah dengan dahi mengernyit.

Dari dugaan laki-laki ini makin nyata, karena dari arah pesisir memang tampak dua sosok bayangan sedang meluncur dengan derasnya membelah ganasnya gemuruh ombak.

Dua sosok bayangan ini juga tampaknya bukan orang sembarangan. Karena, keduanya meluncur membelah gempuran ombak hanya dengan menggunakan kayu bulat pipih sebesar rangkulan tangan.

Dua orang ini tampak saling rentangkan tangan kiri kanannya. Salah satu tangan masingmasing orang saling berpegangan. Hebatnya, mesti tubuh keduanya diterpa ombak, pakaian serta tubuh keduanya tidak basah! Bahkan gempuran ombak seakan-akan menyibak begitu keduanya menerabas!

Orang di sebelah kanan adalah seorang laki-laki yang berusia lanjut. Rambut, jenggot dan kumisnya panjang serta putih dan tampak awutawutan tak terawat, hingga seolah menyembunyikan paras wajahnya. Dia bertelanjang dada, sementara pakaian bawahnya hanya berupa celana pendek.

Di samping kiri laki-laki bertelanjang dada, adalah seorang perempuan. Parasnya cantik, berusia kira-kira dua puluh lima tahun. Mengenakan pakaian warna gelap. Rambutnya panjang bergerai dan berombak. Sepasang matanya bundar serta tajam. Hidungnya mancung ditingkah bibir yang membentuk bagus. Dadanya kencang membusung, sementara pinggulnya besar menggetarkan. Kulitnya putih, sedang bola matanya berwarna agak kebiruan.

Sejenak, sepasang mata laki-laki bertelanjang dada melirik pada sang perempuan di sampingnya. Dia tampak menghela napas dalamdalam. Helaan nafasnya jelas bukan karena melihat kecantikan sang gadis. Karena paras wajahnya menunjukkan kekecewaan. Bahkan tak jarang laki-laki ini gelengkan kepalanya perlahan setelah melirik.

"Kinanti, Kau tahu, aku sebenarnya lebih suka melihat wajah aslimu.... Bukan wajah palsu seperti ini! Dan seandainya bukan kau yang mengajak, aku lebih senang menyendiri di Lembah Rawa Buntek. Namun tak dapat ku ingkari, sejak bertemu denganmu lagi, aku merasa ingin hidup seribu tahun lagi...! Kalau saja kau...," laki-laki bertelanjang dada tak melanjutkan ucapan kata hatinya, karena saat itu perempuan di sampingnya palingkan wajah dan berkata.

"Dadung Rantak. Sejak tadi kudengar kau menghela napas. Adakah sesuatu yang mengganjal di hatimu...? Katakanlah. Apa kau keberatan kuminta pertolongan?!"

"Hmm.... Dia tetap perasa seperti dahulu. Tapi aku tak akan mengatakan apa yang sebenarnya mengganjal di hatiku. Dia keras kepala. Jika tersinggung, bukan tak mungkin segala kebahagiaan yang baru saja ku rasakan ini akan lenyap lagi...," membatin sang laki-laki yang dipanggil Dadung Rantak.

Dadung Rantak dalam kancah sejarah rimba persilatan adalah tokoh yang sudah tidak asing lagi. Dia dikenal sebagai salah seorang dari sekian banyak tokoh jajaran atas golongan hitam. Dan karena ketinggian ilmunya, tak heran jika laki-laki yang tak pernah mengenakan pakaian bagian atas ini sangat ditakuti oleh sesama tokoh golongan sesat, dan sangat diperhitungkan oleh tokoh-tokoh golongan putih. Tapi kebesaran dan keangkeran nama Dadung Rantak tiba-tiba lenyap begitu saja, karena laki-laki ini tidak pernah lagi muncul malah tersiar kabar jika Dadung Rantak telah tewas.

Namun yang sebenarnya terjadi adalah melesetnya dugaan sebagian orang, karena Dadung Rantak tidaklah tewas. Dia memang sengaja mengasingkan diri di sebuah lembah yang dikenal dengan nama Lembah Rawa Buntek.

Bahkan tanpa ada seorang pun yang tahu, Dadung Rantak telah mengangkat seorang lakilaki dan seorang perempuan untuk dijadikan murid. Mereka adalah Jogaskara dan Sarpakenaka yang kini mulai menggegerkan rimba persilatan dengan bergelar Dayang Naga Puspa. (Tentang Jogaskara dan Sarpakenaka atau Dayang Naga Puspa, baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: "Dayang Naga Puspa").

Tidak munculnya Dadung Rantak ke arena rimba persilatan dalam beberapa puluh tahun silam, nyatanya hanya karena laki-laki ini hatinya sedang dilanda duka nestapa. Kekasihnya, yang bernama Kinanti yang dalam rimba persilatan dikenal dengan gelar Ratu Pulau Merah, tanpa sebab dan tanpa pesan telah meninggalkannya.

"Dadung Rantak! Kau dengar apa yang kukatakan. Jawablah!" kata Kinanti atau Ratu Pulau Merah menyentak lamunan Dadung Rantak. Seraya masih meluncur di atas gulungan amukan ombak, Dadung Rantak batuk-batuk sebentar lalu angkat bicara. "Kinanti.... Kau seperti orang yang baru saja mengenalku. Apakah selama kita berhubungan, aku pernah tak menyambuti apa yang kau minta...? Demi kau, apa pun akan kulakukan. Walau harus menyabung nyawa sekalipun!"

Ratu Pulau Merah palingkan wajah. Sepasang matanya yang berwarna kebiruan menatap tajam pada laki-laki bertelanjang dada di sampingnya. Dan sebagai rasa terima kasihnya, perempuan cantik ini melepaskan pegangan tangannya lalu tangan kirinya itu dilingkarkan pada pinggang Dadung Rantak. Sementara tangan kanannya tetap merentang seakan menjadi sayap luncuran tubuhnya.

Melihat tingkah Ratu Pulau Merah, Dadung Rantak sunggingkan senyum. Tangan kanannya yang tadi saling berpegangan dengan tangan kiri Ratu Pulau Merah serta-merta dilingkarkan di pinggang sang perempuan.

Kini, di atas laut tampak dua orang sedang berangkulan menembus ganasnya ombak. Hebatnya, begitu kedua orang ini saling melingkarkan tangan di pinggang lainnya, luncuran tubuh keduanya semakin deras!

"Dadung Rantak! Kuharap kau mau memaafkan sikapku dulu!" berkata Ratu Pulau Merah dengan tengadahkan sedikit kepalanya. Hingga wajahnya menerpa helaian jenggot dan rambut Dadung Rantak yang awut-awutan. Herannya, perempuan cantik ini tidak merasa risih, malah seraya mendesah pelan, wajahnya disapu-sapukan pada helaian rambut Dadung Rantak. Dadung Rantak terlihat berubah paras. Tubuhnya sedikit bergetar, nafasnya lebih kencang dan tak teratur. Sepasang matanya yang kelabu sedikit berubah merah. Entah mengerti maksud Ratu Pulau Merah atau hanya karena tujuan lain, Dadung Rantak gerakkan tangan kirinya perlahan dan merapikan jenggot serta rambutnya.

"Dadung Rantak. Kau maukan...?!" kata Ratu Pulau Merah mengulangi ucapannya, karena Dadung Rantak belum jawab pertanyaannya.

"Kinanti! Kalau aku tak memaafkanmu, perlu apa aku menuruti permintaanmu? Apalagi permintaanmu bukanlah permintaan yang sepele. Ini menyangkut nyawa. Karena orang yang akan kita hadapi adalah seorang tokoh yang ilmunya tak bisa kita perhitungkan, apalagi dia sudah undur diri dari kancah persilatan, yang berarti banyak punya waktu untuk memperdalam ilmu!"

"Tapi kau tak takut menghadapinyakan...?!" Dadung Rantak mengeluarkan tawa mengekeh panjang. Karena kekehan tawanya bukan sembarang kekehan, maka sejenak itu gemuruh gelombang laut seakan tertindih lenyap suara tawa kekehannya.

"Kinanti. Dalam hidupku, hanya satu yang ku takutkan!"

Mengira bahwa yang ditakutkan Dadung Rantak adalah orang yang akan dihadapinya, buru-buru Kinanti berucap.

"Dadung Rantak. Kita sekarang belum tahu ketinggian orang yang akan kita hadapi. Untuk apa kita harus merasa takut...? Lagi pula kita berdua!"

Mendengar ucapan Kinanti, Dadung Rantak kembali tertawa. Kepalanya sedikit berpaling, hingga janggutnya menyentuh dahi Ratu Pulau Merah.

"Kinanti. Aku belum selesai dengan katakataku. Dengar! Yang paling ku takutkan adalah jika kau meninggalkan ku lagi!"

Ratu Pulau Merah buka mulutnya. Sepasang matanya membeliak. Dan serta-merta tangan kirinya yang melingkar di pinggang Dadung Rantak dipererat. Lalu kepalanya disandarkan di dada Dadung Rantak yang telanjang.

"Percayalah. Aku tak akan meninggalkanmu lagi! Kita akan terus berdua! Sampai menutup mata "

"Astaga!" tiba-tiba Dadung Rantak berseru, membuat Ratu Pulau Merah tarik kepalanya dan ikut-ikutan memandang ke depan, seperti yang dilakukan Dadung Rantak.

Ternyata, luncuran tubuh mereka telah hampir mencapai batu karang di tengah laut. Dan tak heran jika Dadung Rantak sedikit terkejut, karena batu karang itu sudah demikian dekatnya, sementara tubuh mereka terus meluncur dengan deras!

"Loncat!" teriak Dadung Rantak memberi aba-aba pada Ratu Pulau Merah. Belum usai suara Dadung Rantak, kedua orang ini telah lesatkan tubuh masing-masing. Dan tahu-tahu tubuh keduanya telah berdiri kokoh di atas batu karang seraya tetap berangkulan!

Kayu bulat pipih yang mereka jadikan sebagai alat untuk meluncur menembus gempuran ombak tampak terus meluncur deras dan menghantam lamping batu karang. Bagian batu karang yang terkena luncuran kayu langsung hancur berkeping-keping. Malah batu karang itu sempat bergetar! Dari sini jelas bisa dilihat bagaimana ketinggian ilmu kedua orang ini.

Masih tetap berangkulan, kedua mata masing-masing orang ini lantas menyapu berkeliling. Dan berakhir pada batu karang yang berada di tengah dan tampak menjulang tinggi serta dibungkus kabut putih.

"Kinanti! Apa kau yakin bahwa kedua benda yang kau inginkan itu benar-benar ada di tangan Wong Agung?!" berkata Dadung Rantak setelah agak lama di antara keduanya saling diam dengan mata masing-masing tak berkedip mengawasi julangan batu karang.

"Dalam hidup, aku tak mau bertindak sebelum aku yakin benar bahwa apa yang akan kulakukan tidak sia-sia!"

Sejenak Ratu Pulau Merah menghentikan ucapannya, lalu tak lama kemudian melanjutkan. "Apakah kau meragukan keyakinanku...?!"

Dadung Rantak menggeleng perlahan. "Meragukan tidak. Namun menurut yang kuketahui, kipas hitam ciptaan Empu Jaladara telah jatuh ke tangan manusia yang bergelar Malaikat Berdarah Biru. Sementara bumbung bambu berisi jurus pamungkasnya ada di tangan seorang yang hingga saat ini tidak dikenal namanya! Jadi aku tak habis pikir jika kau katakan bahwa kedua benda tersebut ada di tangan Wong Agung...!"

"Kau tak usah berpikir habis-habisan. Dan keteranganmu memang benar jika kipas hitam telah jatuh pada Malaikat Berdarah Biru, sementara bumbung bambu berada di tangan orang yang tak dikenal namanya. Namun apakah kau telah dengar pula tentang seorang pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108?"

"Apa hubungannya dengan pemuda itu?!" kata Dadung Rantak sedikit terkejut, karena baru kali ini mendengar nama itu. Dan dalam hati diam-diam laki-laki bertelanjang dada ini berkata.

"Pendekar Mata Keranjang 108.... Hmm....

Apakah pemuda ini ada hubungannya dengan. ,"

kata hati Dadung Rantak terputus, karena Ratu Pulau Merah telah berkata.

"Dadung Rantak. Aku tak heran jika kau tak mengetahui pemuda itu, karena kau telah berpuluh-puluh tahun tak muncul dari pengasinganmu. Hanya yang perlu kau ketahui, pemuda itu kini telah membuat geger rimba persilatan!"

"Membuat geger...?!" ulang Dadung Rantak dengan paras terkejut. Lantas Dadung Rantak melanjutkan kata hatinya. "Apakah pemuda itu telah mendapatkannya...? Jahanam. Jika benar, berarti aku terlambat bertindak. Bagaimana dengan Sarpakenaka dan Jogaskara. ?"

"Betul!" kata Ratu Pulau Merah. "Pendekar Mata Keranjang 108 telah berhasil membuat Malaikat Berdarah Biru bertekuk lutut, bahkan merampas kipas hitam dari tangannya. Kalau sampai pemuda itu dapat menaklukkan seorang pemegang kipas hitam, apa tidak berarti bahwa pemuda itu telah mendapatkan jurus pemusnahnya...?!"

Dadung Rantak manggut-manggut. Sejurus, Ratu Pulau Merah menatap bola matanya, lalu berkata. "Kenapa aku yakin kedua benda itu di tangan Wong Agung, karena manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 adalah murid tunggalnya! Sementara menurut beberapa orang yang kusuruh untuk menyelidiki Pendekar Mata Keranjang 108, mereka mengatakan bila pemuda itu tak pernah menggunakan kipas berwarna hitam. Yang selalu di tangannya adalah kipas berwarna ungu yang tertera angka 108 Jadi ke mana lagi kipas dan bumbung itu kalau tidak disimpan gurunya?"

Kembali Dadung Rantak anggukanggukkan kepalanya. Mulutnya lalu membuka hendak berkata. Namun sebelum ucapannya terdengar, Ratu Pulau Merah kembali berucap.

"Dan yang lebih dari itu semua, Wong Agung harus membayar darah atas kematian guruku!" saat berkata, paras Ratu Pulau Merah tampak merah padam. Pelipisnya bergerak-gerak, sementara dagunya membatu. Wajahnya jelas mengisyaratkan amarah yang meluap.

"Kinanti! Darah yang tertumpah memang harus dibayar. Namun kau harus dapat meredam amarah. Marah hanya akan menjadi bumerang! Apalagi jika yang akan kita hadapi adalah orang yang berpengalaman bertahun-tahun malang melintang dalam rimba persilatan...!"

Mungkin menyadari kebenaran ucapan Dadung Rantak, Ratu Pulau Merah tindih hawa amarah di dadanya, bibirnya lantas tersenyum. Tubuhnya lantas bergerak memutar hendak menghadap Dadung Rantak. Namun tangan kiri Dadung Rantak cepat bergerak menahan bahunya dan berkata.

"Aku bukan tak mau. Nafsuku pun sejak tadi sebenarnya sudah menggebu-gebu. Namun yang akan kita hadapi untuk kali ini tampaknya lebih penting. Jadi jangan membuang-buang waktu percuma! Untuk berbasah-basah dalam nikmat masih banyak waktu. Ayo.... Kita segera menemuinya!"

Rona raut muka Ratu Pulau Merah terlihat merah padam. Dadanya yang membusung naik turun menindih gejolak nafsu yang mulai menguasai dirinya. Dan selagi perempuan cantik ini sedang mencoba menguasai dirinya, Dadung Rantak lepaskan lingkaran tangannya pada pinggang sang perempuan. Lalu melangkah pelan ke arah batu karang yang menjulang. Hebatnya meski tampak berjalan pelan, namun tahu-tahu tubuhnya telah berdiri di samping batu karang tinggi menjulang!

Ratu Pulau Merah seraya menggerendeng panjang pendek segera menyusul. Dan baru saja dia sampai di samping batu karang tinggi, dia terkejut. Ternyata Dadung Rantak telah lenyap.

Seakan tahu ke mana arah perginya Dadung Rantak, Ratu Pulau Merah segera donggakkan kepala. Sekilas dia masih melihat kelebat bayangan Dadung Rantak di puncak batu karang, lalu lenyap!

"Ilmunya benar-benar luar biasa! Bersamanya, aku yakin Wong Agung akan takluk! Hmm.... Sementara dia bertempur dengan Wong Agung, aku harus menyelinap dan mencari benda itu!"

Berpikir begitu, Ratu Pulau Merah lantas berkelebat menyusuri batu karang dan sampai sebelah barat batu karang tinggi, dia hentikan langkah. Kepalanya tengadah melihat puncak batu karang.

"Dadung Rantak muncul dari arah timur. Aku akan menyelinap dari arah barat...." Perempuan cantik itu lantas takupkan kedua tangannya di depan dada. Dan bagai terdorong hembusan angin, tubuhnya serta-merta melesat ke atas lalu lenyap di puncak batu karang yang tinggi menjulang!

DUA

Di pelataran batu karang tinggi menjulang, Wong Agung semakin kernyitkan kening. Telinganya makin tegak, dan perlahan pula kepalanya digerakkan ke samping kanan, di mana saat itu baru saja Dadung Rantak mendarat.

"Gerakannya tidak menimbulkan suara sama sekali. Hmm.... Ternyata bukan Aji. Tampaknya tamu tak diundang! Siapa dia...?" membatin Wong Agung dengan kepala menghadap pada Dadung Rantak.

"Dia sendirian! Apa dugaanku meleset...? Atau dia memang bisa menyaru keadaan hingga kepekaanku terpengaruh? Melihat gerakannya dia bukan orang sembarangan! Lebih baik tidak kutegur dahulu, bahkan kalau perlu aku akan purapura tidak mengetahui kedatangannya!"

Selesai membatin begitu, Wong Agung lantas palingkan lagi kepalanya seperti semula. Mulutnya komat-kamit.

Di sebelah timur sisi batu karang, Dadung Rantak membeliakkan sepasang matanya. Berkat terpaan cahaya rembulan, Dadung Rantak dapat segera bisa mengenali siapa adanya orang yang duduk bersila meski dahinya sedikit mengkerut serta hati bertanya-tanya.

"Potongan tubuhnya tidak berubah meski aku sudah berpuluh-puluh tahun tak lagi pernah jumpa. Tapi, kenapa kedua matanya ditutup dengan sepotong kulit...? Ciderakah...? Atau memang sedang semadi dengan menggunakan penutup mata...? Hmm.... Wong Agung! Puluhan tahun silam, aku pernah kau pecundangi, bahkan adikku tewas di tanganmu! Kau tahu...? Peristiwa itu kusimpan sendiri tanpa ada orang lain yang tahu! Saat itu adalah saat pembayaran darah!" Dadung Rantak maju dua langkah. Sepasang matanya tak berkedip memandangi.

"Jangan dikira aku tak tahu tingkahmu yang berpura-pura! Aku yakin, kau tahu kedatanganku!"

"Wong Agung!" teriak Dadung Rantak. "Kau tak pantas berpura-pura begitu rupa!"

Meski Wong Agung tak palingkan kembali wajahnya, namun dalam hati diam-diam dia mengagumi kejelian orang yang datang. Tapi Wong Agung tetap menyembunyikan rasa tahunya atas kedatangan orang dengan palingkan wajah pada arah orang yang berteriak seraya berkata.

"Sahabat! Aku memang tidak tahu ada orang datang ke tempatku. Karena kedua mataku tak bisa lagi melihat, kuharap kau sudi mengatakan siapa kau adanya...! Tapi terlebih dahulu kuucapkan selamat datang di Karang Langit "

Dadung Rantak tersenyum sinis. Kakinya kembali melangkah maju dua tindak. Sepasang matanya menatap tajam ke arah kedua mata Wong Agung yang tertutup potongan kulit.

"Hmm.... Rupanya dia memang tak bisa lagi dapat melihat. Namun demikian, bagi orang seperti dia, tanpa melihat pun pasti tahu akan kedatanganku, hanya mungkin tidak bisa memastikan siapa diriku!" membatin Dadung Rantak, lantas donggakkan kepala seraya berkata.

"Sebenarnya tak ada gunanya kau mengetahui siapa aku! Namun karena saat ini adalah saat-saat terakhir kehidupanmu, maka akan ku turuti permintaanmu!" sejenak Dadung Rantak hentikan ucapannya, sementara Wong Agung sunggingkan senyum.

"Wong Agung. Tentunya kau masih ingat dengan Ragil Sedura! Aku adalah kakaknya, datang menuntut darah atas tewasnya adikku!" lanjut Dadung Rantak.

Kepala Wong Agung bergerak lurus menghadap Dadung Rantak. Dahinya mengernyit seakan mengingat sesuatu. Kepalanya lantas mengangguk perlahan.

"Ragil Sedura tokoh sesat yang bergelar Iblis Dari Selatan. Hm.... Berarti orang ini adalah Dadung Rantak!" Wong Agung membatin. Pada orang di hadapannya Wong Agung lantas berucap. "Dadung Rantak! Sebaiknya hal ini kita bi-

carakan baik-baik saja "

Dadung Rantak keluarkan tawa panjang hingga rambut dan jenggot serta kumisnya ikut berkibar-kibar. Padahal sejak tadi rambut, jenggot serta kumisnya tidak bergerak-gerak meski di pelataran Karang Langit berhembus angin kencang.

"Bicara hanya akan memperpanjang waktu.

Bersiaplah!"

Habis berkata begitu, Dadung Rantak terlihat undurkan kakinya satu tindak ke belakang. Kedua tangannya disatukan dan ditakupkan sejajar dada. Bersamaan dengan gerakan tangannya, hembusan angin yang menghampar di pelataran Karang Langit terhenti seketika.

Situasi yang demikian tampaknya telah cukup membuat Wong Agung maklum jika Dadung Rantak telah siap untuk menyerang. Diamdiam dia pun segera kerahkan tenaga dalam. Dia sadar, Dadung Rantak bukanlah orang sembarangan.

Selagi kedua orang ini sedang mengerahkan tenaga masing-masing, tanpa mereka sadari sejak tadi sesosok bayangan terlihat mengendapendap di belakang bangunan batu yang ada di puncak batu karang. Sepasang mata sosok ini, yang bukan lain adalah Kinanti atau Ratu Pulau Merah tak kesiap memandang jauh ke depan.

"Hmm.... Dadung Rantak rupanya juga mempunyai masalah sendiri dengan Wong Agung. Ini kesempatan baik. Begitu mereka mulai bertarung, aku akan menyelinap masuk bangunan batu ini!"

Sementara itu, dalam hati Dadung Rantak sebenarnya dibuat cemas dengan tidak munculnya Ratu Pulau Merah.

"Ke mana gerangan Kinanti...? Seharusnya dia sudah sampai di sini. Mustahil dia tak dapat melewati sisi batu karang, meski untuk melewatinya dibutuhkan sedikit tenaga!"

Lain yang ada di benak Dadung Rantak, lain pula yang ada di hati Wong Agung. Guru Pendekar Mata Keranjang ini sebenarnya telah mengendus adanya orang ketiga di tempat itu.

"Aku tak bisa ditipu. Ada orang lain di tempat ini. Pertolongan hembusan angin menunjukkan orang ini adalah seorang perempuan. Siapa dia? Teman Dadung Rantak...? Atau mereka datang sendiri-sendiri? Dugaanku ternyata tak meleset. Jika saja "

Wong Agung tidak meneruskan kata hatinya, karena saat itu juga dari mulut Dadung Rantak terdengar bentakan nyaring. Dan bersamaan dengan itu, kedua tangannya mendorong ke depan.

Wuuuttt!

Tak ada sambaran angin yang keluar, juga tak ada suara yang terdengar. Namun hebatnya, saat itu juga batu karang bergetar! Dan hawa dingin yang menyelimuti tempat itu berubah menjadi hamparan hawa panas menyengat! Hingga gundukan beberapa batu karang di pelataran Karang Langit tampak rengkah dan tak lama kemudian berderak hancur dan hangus!

Bersamaan dengan mendorongnya kedua tangan Dadung Rantak, di seberang, Wong Agung tampak komat-kamit sebentar, kedua tangannya yang sedari tadi sedekap disatukan dan diangkat lurus dada. Dan tanpa didahului bentakan, tubuhnya tiba-tiba melesat dan lenyap dari pandangan!

Saat getaran yang menghentak Karang Langit telah lenyap, entah dari mana datangnya, tiba-tiba sosok Wong Agung melayang dari udara dan mendarat dengan tetap bersila di atas sebuah gundukan batu karang!

Namun penghuni Karang Langit ini terkesiap sejenak, karena batu karang yang didudukinya tiba-tiba rengkah dan hancur. Tapi sebelum batu karang tadi hancur dan menghempaskan tubuhnya, Wong Agung kibaskan lengan jubahnya. Tubuhnya melesat dan tahu-tahu telah duduk kembali di atas gundukan batu karang lainnya. Akan tetapi, lagi-lagi batu karang yang baru saja didudukinya rengkah terus hancur, membuat Wong Agung harus kebutkan kembali jubah putihnya.

Seakan tahu akan apa yang terjadi, untuk kali ini Wong Agung tidak ingin mendarat di atas gundukan batu karang yang memang banyak di pelataran Karang Langit itu. Tubuhnya tahu-tahu telah mendarat dengan tetap duduk bersila di atas pelataran batu karang yang datar.

Namun kembali Wong Agung dibuat sedikit terkesiap. Batu karang pelataran Karang Langit yang didudukinya terasa bergerak-gerak, padahal batu karang di sekitarnya tidak bergeming!

"Luar biasa! Tenaga dalam orang ini benarbenar tinggi sekali! Gundukan batu-batu karang telah hancur bagian dalamnya tanpa kelihatan di luarnya! Dan tanpa mengeluarkan suara!" puji Wong Agung dalam hati seraya kerahkan tenaga dalam untuk menahan gerakan-gerakan batu karang yang didudukinya.

Gerakan batu karang di bawah Wong Agung kontan berhenti. Wong Agung palingkan wajahnya pada Dadung Rantak yang enak-enakan mengawasi tingkahnya. Mulutnya membuka hendak berkata. Namun sebelum kata-katanya terdengar, Dadung Rantak mendahului angkat bicara.

"Wong Agung! Kau sudah tua. Aku tak perlu mengingatkan lagi. Aku telah bertekad melelehkan darahmu. Kau melawan atau tidak itu urusanmu!"

Wong Agung tersenyum, lalu kepalanya menggeleng perlahan.

"Dadung Rantak! Kalau aku sudah tua, tentunya tak jauh beda denganmu. Hanya ku ingatkan, masih pantaskah orang-orang tua seperti kita melakukan hal-hal yang hanya layak diperbuat oleh anak-anak muda yang penuh gejolak...?"

"Bangsat rendah! Kau menyamakan aku dengan anak-anak! Kuhancurkan mulutmu!"

Bersamaan dengan berakhirnya ucapannya, Dadung Rantak sedekapkan tangan. Mulutnya memperdengarkan sesuatu yang tak jelas. Sepasang matanya setengah memejam.

Mendadak tubuh Dadung Rantak bergerakgerak, seperti orang kedinginan. Dan perlahan pula dari sekujur tubuhnya mengepul asap putih. Semakin lama gerakan-gerakan tubuh Dadung Rantak semakin keras, asap putih pun semakin banyak dan kini telah menelan lenyap tubuh Dadung Rantak.

Begitu tubuh Dadung Rantak lenyap dibungkus asap putih, tiba-tiba pelataran Karang Langit bergetar. Angin kencang berhembus dengan hawa panas luar biasa. Bukan hanya itu, dari tubuh Dadung Rantak yang dibungkus asap menyambar kilatan-kilatan putih laksana pijar kilat geledek. Dan bersamaan dengan melesatnya kilatan-kilatan terdengar suara letupan dahsyat!

Plarrr! Plarrr! Plarrr!

Mengetahui suasana berbahaya, Wong Agung cepat takupkan kedua tangannya. Kedua bahunya terlihat disentakkan ke bawah. Tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara.

Dari atas udara, kedua tangan Wong Agung digerakkan menyentak ke bawah. Terdengar suara angin menderu pelan. Namun bersamaan dengan keluarnya deruan angin, getaran pelataran Karang Langit berhenti seketika! Dan saat Wong Agung angkat kedua tangannya dan diputar-putar di depan dada, hamparan hawa panas perlahanlahan berubah kembali menjadi dingin seperti semula, malah kini hamparan hawa sangat dingin mulai menebar! Dan bukan hanya sampai di situ saja, masih dengan duduk mengapung di atas kepala. Di kejap itu juga kabut tipis berarak ke arahnya. Membungkus tubuhnya lalu menelan lenyap. Yang tampak hanyalah samar-samar gerakan kedua tangannya yang diangkat ke samping kanan dan kiri. Hebatnya begitu tangannya diangkat ke kanan dan kiri, letupan keras yang ditimbulkan kilatan-kilatan asap putih Dadung Rantak laksana dibungkam tidak bisa meletup lagi!

Di seberang, asap putih yang membungkus Dadung Rantak bergerak-gerak lebih keras, pertanda Dadung Rantak lipat gandakan kekuatan tenaga dalamnya.

Pelataran Karang Langit kembali bergetar, malah kini makin keras laksana diguncang gempa dahsyat! Gundukan batu-batu karang yang tadinya memang telah pecah bagian dalam meletup hancur dan hancurannya mengangkasa. Pelataran Karang Langit pun mulai rengkah di sanasini, malah sebagian ada yang langsung terbongkar dan membentuk kubangan sedalam setengah tombak! Hawa dingin pun merambat lenyap berganti hawa panas! Dan letupan-letupan dahsyat makin bersahut-sahutan!

Dalam suasana demikian, tiba-tiba Dadung Rantak keluarkan suara bentakan dari balik bungkusan asap putih.

Seberkas cahaya hitam membersit keluar dari bungkusan asap putih. Meski hanya berkas sinar, namun suara yang menyertainya begitu menggemuruh dahsyat, bahkan hampir menindih lenyap suara letupan kilatan-kilatan!

Wong Agung tampaknya tidak terkejut dengan serangan itu, terbukti begitu getaran dan letupan terjadi serta seberkas sinar melesat ke arahnya, ia pun segera melayang turun. Kini dia mendarat dengan kedua kaki terpentang. Anehnya, meski pelataran Karang Langit masih berguncang, pijakan kedua kakinya tak tampak bergetar!

Bersamaan dengan mendaratnya kaki, Wong Agung cepat pula dorong kedua tangannya ke depan, karena saat itu seberkas sinar hitam menggebrak ke arahnya.

Blaaammm!

Ledakan yang benar-benar dahsyat terdengar ketika dua pukulan yang dialiri tenaga dalam tinggi itu bertemu di udara.

Batu karang di bawah tempat bertemunya dua pukulan kontan hancur dan hancurannya bertebaran meninggalkan lobang menganga sedalam satu tombak! Batu karang di bawah Karang Langit pun tak luput dari getaran, malah lamping batu-batu karang tampak berguguran ke dalam laut!

Begitu gema ledakan sirna, baik tubuh Da-

dung Rantak yang masih dibungkus asap putih maupun tubuh Wong Agung yang samar-samar dilapis kabut tipis, tak kelihatan di tempatnya masing-masing.

Dari tempatnya bersembunyi, Ratu Pulau Merah berulang kali gelengkan kepala seraya kerahkan tenaga dalam. Karena jika tidak, dia pun akan tersungkur akibat bias pukulan tenaga dalam kedua orang yang sedang bertempur. Karena baik Dadung Rantak maupun Wong Agung memang bertempur dengan adu tenaga dalam tingkat tinggi.

"Gila! Baru kali ini aku melihat pertempuran begitu hebat! Mereka tampaknya tidak banyak membuat gerakan, tapi akibat yang ditimbulkannya sungguh luar biasa! Hmm. Kalau

aku datang sendirian, aku tidak akan mampu mengalahkan Wong Agung keparat itu!" membatin Ratu Pulau Merah dengan sepasang mata masih tak kesiap memandang ke depan, karena saat itu ternyata baik tubuh Dadung Rantak maupun Wong Agung sama-sama melayang ke belakang akibat pukulan masing-masing bertemu.

Memang, begitu Wong Agung lancarkan pukulan untuk menangkis serangan Dadung Rantak dan terjadi ledakan dahsyat, tubuhnya melayang hingga beberapa tombak ke belakang. Sesaat penghuni Karang Langit ini tampak bisa mendarat dengan kedua kaki di atas batu karang, namun getaran batu karang tampaknya masih berguncang, hingga tak lama kemudian, kaki Wong Agung terlihat bergetar sebelum akhirnya meliuk dan menekuk membuat tubuhnya melorot dan jatuh bersimpuh.

Apa yang dialami Dadung Rantak pun tak jauh berbeda. Saat ledakan dahsyat membuncah, tubuhnya yang masih dibungkus asap putih melenting lurus ke belakang. Untung laki-laki penghuni Lembah Rawa Buntek ini cepat kerahkan tenaga dalamnya, jika tidak, bukan tak mungkin tubuhnya akan melayang jatuh dari pelataran Karang Langit! Karena saat dia berhasil menghentikan laju tubuhnya, kaki kanannya telah menjuntai di bibir pelataran, hingga mau tak mau membuat laki-laki bertelanjang dada ini harus sentakkan tubuhnya ke bawah dengan tangan cepat meraih gundukan batu karang di dekatnya. Karena jika tidak tubuhnya akan terus melaju ke bawah!

"Hm.... Bangsat ini rupanya tepat seperti yang kuduga. Meski telah undur diri dari rimba persilatan, bukan berarti harus berhenti menambah ilmu! Tapi, ke mana gerangan Kinanti...? Kembali ke Lembah Rawa Buntek? Atau sengaja menunggu di bawah? Atau diam-diam naik ke atas dan...," belum habis Dadung Rantak menduga-duga, Wong Agung yang ini sudah bangkit angkat bicara.

"Dadung Rantak! Kukira tak ada gunanya semua ini diteruskan! Hanya kesia-siaan yang akan kita peroleh. Marilah kita bicara baik-baik dengan mengesampingkan prasangka buruk!"

Sambil bangkit, Dadung Rantak keluarkan dengusan keras. Bibirnya sunggingkan senyum seringai. Lantas seraya dongakkan kepala dan keluarkan tawa pendek, dia berkata.

"Wong Agung! Darah tidak cukup hanya ditebus dengan kata-kata! Bersiaplah menghadapi kematianmu!"

Mendengar ucapan Dadung Rantak, Wong Agung kembali geleng-gelengkan kepala. Dari hidungnya tampak berhembus napas dalam dan panjang.

"Dadung Rantak! Aku "

"Dengar Wong Agung! Kata-katamu tak akan dapat membayar darah adikku!" tukas Dadung Rantak. Lalu laki-laki bertelanjang dada ini cepat jejakkan kedua kakinya. Tubuhnya melesat lenyap! Dan batu karang yang diinjaknya tampak berderak hancur!

"Apa hendak dikata. Aku harus mempertahankan diri...," gumam Wong Agung seraya kelebatkan tubuhnya. Tubuhnya pun tiba-tiba sirna dari pandangan.

Tiba-tiba terdengar suara benturan keras di udara. Lalu terlihat dua bayangan saling mental balik. Mungkin karena kerasnya benturan, dua bayangan tersebut yang bukan lain Dadung Rantak dan Wong Agung sama-sama menukik dengan derasnya. Meski keduanya saling kerahkan tenaga dalam untuk coba menghindari terjerembabnya tubuh masing-masing di atas batu karang, namun keduanya sama-sama gagal. Hingga secara bersamaan keduanya pun jatuh menyongsong batu karang! Dadung Rantak terdengar keluarkan seruan perlahan. Tangan kanannya segera bergerak memegangi dadanya yang terasa nyeri dan bagai dihimpit batangan benda berat hingga sulit untuk menarik napas. Dari dadanya yang terbuka tampak warna kebiruan di ulu hati. Sementara kedua tangannya berubah kemerahan! Namun laki-laki bertelanjang dada ini segera bangkit lalu duduk bersila dengan mulut komat-kamit. Jelas Dadung Rantak coba kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi nyeri di dada dan tangannya, sekaligus untuk pulihkan tenaga.

Sepuluh tombak di hadapan Dadung Rantak, Wong Agung tampak tekankan kedua tangannya ke atas batu karang untuk menopang tubuhnya yang bangkit. Wajahnya meringis menahan sakit yang mendera dada dan juga tangannya. Bahkan jubah bagian dadanya tampak robek memperlihatkan kulit di baliknya. Sementara kedua tangannya tampak agak menghitam! Seperti halnya Dadung Rantak, Wong Agung pun melakukan apa yang seperti dilakukan Dadung Rantak.

Melihat kesempatan ini, Ratu Pulau Merah tak sia-siakan begitu saja. Seraya tetap kerahkan tenaga dalam takut jika sewaktu-waktu terjadi dua tenaga dalam antara Dadung Rantak dan Wong Agung yang bisa mengakibatkan pengintaiannya diketahui dengan terjerembabnya tubuhnya, perempuan berwajah cantik ini melangkah perlahan-lahan mendekati bangunan batu ke arah depan. Sepasang matanya tak berkedip memandangi Dadung Rantak dan Wong Agung. Dan begitu dirasa suasana memungkinkan, Ratu Pulau Merah cepat berkelebat dan masuk ke bangunan batu yang terasa bagian depannya telah porak poranda dan salah satu penyangganya tumbang.

"Hmm.... Bila aku berhasil mendapatkan kipas hitam serta bumbung bambu, untuk sementara aku harus cepat tinggalkan tempat ini. Perhitungan dengan Wong Agung akan kulakukan setelah aku berhasil mempelajari isi bumbung bambu, dengan demikian, ilmuku akan bertambah. Untung kalau Wong Agung bisa tewas di tangan Dadung Rantak...," membatin Ratu Pulau Merah seraya meneliti keadaan bagian dalam bangunan batu.

"Di sini tak ada apa-apa. Bahkan satu perabot pun! Di sana ada lobang pintu. Akan kuselidiki...." Perempuan ini lantas berkelebat ke arah lobang yang memang mirip pintu di bagian belakang.

Dan tanpa pikir panjang Ratu Pulau Merah pun segera masuk ke lobang pintu yang ternyata di baliknya ada sebuah tangga menurun dari batu-batu karang.

TIGA

SEBENARNYA Wong Agung samar-samar dapat menangkap seseorang berkelebat ke arah bangunan tempat tinggalnya. Namun karena saat ini dia sedang menghadapi orang yang tak bisa dianggap remeh, maka dengan terpaksa penghuni Karang Langit ini tak mau bertindak ayal.

Hanya dalam hati, penghuni Karang Langit ini dilanda perasaan cemas.

"Siapa dia? Apa maksudnya secara sembunyi-sembunyi masuk tempat tinggalku? Apakah ini akal licik Dadung Rantak...? Apa yang mereka maksud dengan semua ini?" tiba-tiba paras muka Wong Agung berubah seakan menampakkan rasa terkejut dan cemas.

"Celaka! Jangan-jangan dia menemukan...," Wong Agung tak bisa meneruskan kata hatinya. Karena saat itu juga Dadung Rantak telah putar tubuhnya. Pada putaran ketiga, mendadak tubuhnya melesat lurus ke arah Wong Agung dengan sepasang kaki ditekuk, sementara kedua tangan tetap menakup di depan dada. Hebatnya, bersamaan dengan melesatnya tubuh laki-laki bertelanjang dada ini, entah dari mana asalnya, kabut hitam berarak dan menggelayut di atas Karang Langit. Hingga cahaya pijar sang rembulan tak bisa lagi menembus ke Karang Langit, membuat batu karang tinggi menjulang itu digenggam kegelapan.

Merasakan adanya perubahan suasana dan kelebatnya tubuh, Wong Agung segera lipat gandakan tenaga dalamnya. Tangan kanannya menyentak ke bawah. Tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara. Saat itulah, dari kegelapan berkelebat sosok Dadung Rantak.

Wong Agung angkat tangannya dengan geser sedikit pundaknya. Sementara kaki kanannya bergerak menyapu dari bawah!

Prakkk! Prakkk! Desss! Deesss!

Terjadi dua benturan keras, dan terdengarnya suara pukulan telak menghantam sasaran.

Untuk kesekian kalinya tubuh kedua orang ini sama-sama mental ke belakang. Dari mulut masing-masing terdengar seruan tertahan. Bahkan karena kerasnya serangan masing-masing, baik dada Dadung Rantak maupun dada Wong Agung yang jubahnya makin menganga, tampak kehitaman! Sedang tangan Wong Agung tampak bergetar hebat dan kebiruan. Demikian juga kaki Dadung Rantak.

Sebelum kedua orang ini sama-sama berkaparan di atas batu karang, tampak kedua orang ini sama-sama kerahkan tenaga dalamnya untuk menahan agar tubuhnya tak jatuh terkapar, namun mungkin karena begitu tingginya tenaga yang mereka kerahkan saat melakukan serangan dan tangkisan, maka usaha masing-masing orang ini tak membawa hasil.

Begitu keduanya sama-sama terkapar, suasana kembali terang benderang, karena arakan kabut hitam sirna.

Dadung Rantak tampak batuk-batuk beberapa kali, lalu meludah di atas batu karang. Ludah itu berwarna kehitaman. Jelas bahwa lakilaki dari Lembah Rawa Buntek ini terluka dalam. Dia tampaknya menyadari hal itu, maka dengan menyeringai dan melirik ke arah Wong Agung, dia urut-urut dadanya seraya salurkan tenaga dalam ke arah dadanya.

Di seberang, Wong Agung pun tampak geleng-gelengkan kepala untuk menghilangkan rasa nyeri di kepalanya. Tangan kirinya tampak bersitekan pada batu karang, sementara tangan kanannya mengusap-usap dadanya. Sebagaimana Dadung Rantak, penghuni Karang Langit ini pun tampak mengeluarkan ludah berwarna kehitaman.

* * *

Sementara Wong Agung dan Dadung Rantak masih sama-sama mengatasi diri masingmasing, di dalam bangunan batu Ratu Pulau Merah tak henti-hentinya melangkah mondarmandir ke sana kemari mengelilingi ruangan. Namun paras wajah perempuan cantik ini tampak dibungkus rasa kecewa. Hal ini jelas terlihat dari mulutnya yang tak henti-hentinya keluarkan makian panjang pendek, malah tak jarang dia kepalkan tangannya dan menghantam tembok ruangan yang terbuat dari batu karang itu.

"Keparat! Di mana bangsat itu menyimpannya? Mustahil benda itu dibawanya!" gerendeng Ratu Pulau Merah seraya usap-usap tembok ruangan. Dia khawatir jika tembok ruangan itu menyimpan rahasia ruangan lagi. Tapi hingga tangannya ngilu dan kesemutan mengusap-usap tembok ruangan, dia tak mendapatkan apa-apa dan tak ada tempat yang pantas dicurigai. "Jahanam! Berarti dia membawanya! Hmm.... Jika demikian, aku harus ikut bertarung!" gumam Ratu Pulau Merah seraya sekali lagi menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Tapi tampaknya dia tak menemukan apa yang dicari.

"Anjing sialan!" maki Ratu Pulau Merah seraya banting-bantingkan kaki dan melangkah ke arah tangga. Sepasang matanya membeliak besar, sementara dadanya yang membusung tampak turun naik menahan gejolak amarah. Ketika langkahnya sampai tengah ruangan, dia berhenti. Di situ memang terdapat batu besar. Melihat cekungan pada atas batu, jelas menunjukkan bahwa batu itu sering digunakan untuk duduk.

Sejenak sepasang mata Ratu Pulau Merah memperhatikan batu. Namun entah karena amarah yang sudah tidak bisa ditahan lagi, kaki kanannya serta-merta disapukan pada batu itu.

Prakkk!

Ratu Pulau Merah terperangah kaget. Batu besar itu tidak bergeming sama sekali, apalagi hancur! Penasaran, kembali perempuan ini sapukan kaki kanannya. Kali ini dengan kerahkan tenaga dalam.

Prakkk!

Ratu Pulau Merah terpekik kesakitan. Bahkan kakinya mental balik hingga ke belakang. Sementara batu besar itu hanya bergerak sebentar, lantas diam.

Dahi Ratu Pulau Merah mengernyit. Sepasang matanya mendelik. "Sialan! Baru kali ini aku menemui batu seperti ini. Padahal aku tadi telah kerahkan hampir separo dari tenaga dalamku!"

Mungkin karena dirasuki rasa penasaran dan marah, Ratu Pulau Merah undurkan kakinya satu tindak ke belakang. Mulutnya komat-kamit sebentar, sementara matanya memejam. Dan serta-merta dia maju satu langkah. Kedua kakinya dijejakkan ke bawah. Tubuhnya terangkat. Lantas seraya membentak pelan, kedua kakinya dihantamkan pada batu.

Prakkk!

Untuk kedua kalinya terdengar pekik kesakitan dari mulut perempuan ini, malah tubuhnya mental balik dan punggungnya menghajar tembok ruangan. Namun, sepasang mata Ratu Pulau Merah membelalak seketika, dan tak berkedip hingga beberapa lama.

Batu besar yang dihajar sepasang kaki Ratu Pulau Merah tak mental, hanya bergerak terguling. Namun bukan tergulingnya batu ini yang membuat sepasang mata Ratu Pulau Merah membeliak tak berkesiap. Ternyata di bagian bawah batu tampak lobang yang memancarkan sinar kehitaman!

Dengan dahi mengernyit, Ratu Pulau Merah cepat bangkit dan melangkah ke arah batu yang telah terguling.

"Kalau batu ini batu biasa, tak mungkin tak hancur kena tendangan tadi! Hmm.   Batu ini

menyimpan sesuatu. Dari pancaran sinar hitam yang keluar dari lobang bagian bawah, aku yakin ada apa-apa di dalamnya!" duga perempuan ini seraya jongkok dan mengawasi lobang pada batu. Namun hingga lama mengawasi, matanya tak menemukan sesuatu dari dalam lobang batu.

Mungkin merasa belum yakin dengan penglihatannya, tangan kanan Ratu Pulau Merah bergerak masuk ke lobang batu.

Ratu Pulau Merah tercekat, dan buru-buru tarik tangannya yang mulai masuk lobang batu. Karena begitu tangannya mulai masuk, hawa panas menyengat menghantam tangannya!

"Mungkin benda itu disimpan di sini! Hmm.... Mudah-mudahan dugaanku tidak meleset...!" berpikir begitu, Ratu Pulau Merah segera kerahkan tenaga dalam. Dan perlahan-lahan pula tangan kanannya dimasukkan kembali pada lobang batu.

Hawa panas menyengat memang menerpa tangannya, namun karena perempuan ini telah kerahkan tenaga dalam, maka sengatan panas itu tak begitu terasa.

Untuk beberapa lama tangan Ratu Pulau Merah meraba-raba di dalam lobang dan dia terperanjat saat tangannya menyentak sesuatu. Dengan hati berdegup kencang, sesuatu itu diambilnya. Dan perempuan ini terpekik saat merasakan apa yang ada dalam genggamannya.

"Aku berhasil mendapatkan kipas itu! Aku berhasil mendapatkannya!" katanya berulangulang seraya tarik tangannya dari dalam batu.

Memang, ketika tangan kanan itu keluar dari batu, tampaklah di genggaman perempuan ini sebuah kipas lipat berwarna hitam yang ujung sebelahnya terpangkas sedikit.

Dengan tangan dan tubuh bergetar, Ratu Pulau Merah pandangi kipas lipat hitam di tangannya. Lalu dengan perlahan pula dikembangkan.

"Ya, memang ini benda yang kucari! Aku berhasil!" seru Ratu Pulau Merah dengan senyum lebar. Untuk beberapa lama, sepasang matanya tak berkesiap memandangi kipas yang telah terpentang.

Setelah puas memandangi, kipas hitam itu kembali dilipat. Lalu disimpannya di balik pakaiannya. Sepasang matanya kembali mengawasi ke dalam lobang batu.

"Kalau kipas ini disimpan di sini, berarti bumbung bambu itu pun ada di sini!" Perempuan ini lantas gerakkan tangannya kembali memasuki lobang, dan untuk beberapa lama tangannya mencari-cari di dalam batu.

Dan untuk kedua kalinya Ratu Pulau Merah menjerit. Wajahnya tampak berseri-seri. Malah tak lama kemudian tawanya terdengar keluar dari mulutnya.

"Aku juga berhasil mendapatkan bumbung bambu itu!" seru Ratu Pulau Merah seraya tarik tangannya dari dalam batu. Di tangannya memang tampak sebuah bumbung dari bambu kecil. Warnanya kuning kehitaman. Kedua ujungnya tampak ditutup dengan kayu gabus.

"Hmm.... Perjalananku ternyata tidak siasia! Aku harus cepat tinggalkan tempat ini! Biar mereka berdua meneruskan pertarungan! Kalau bisa biar mereka berdua sama-sama mampus! Dadung Rantak! Kau manusia bodoh! Mampuslah kau dalam kebodohanmu! Siapa sudi berhangathangat dengan orang tua dekil sepertimu! Aku masih bisa cari pemuda yang bisa membuatku berbasah-basah! Hik... hik... hik...!"

Setelah menyimpan bumbung bambu di balik pakaiannya, Ratu Pulau Merah cepat berkelebat ke ruangan atas. Lalu dengan mengendapendap, serta sepasang mata mengarah ke tempat pelataran di mana Dadung Rantak dan Wong Agung bertarung, perempuan ini melangkah perlahan ke arah pintu.

Untuk beberapa saat lamanya, Ratu Pulau Merah memandang ke arah Wong Agung dan Dadung Rantak. Dan begitu dirasa keadaan aman, perempuan ini pejamkan sepasang matanya. Kedua tangannya ditakupkan sejajar dada. Mulutnya berkemik-kemik. Dan serta-merta sepasang matanya dibuka, kakinya menjejak lantai ruangan.

Mendadak tubuh perempuan ini melesat dan lenyap dari pandangan. Hanya suara deru kelebatnya yang terdengar. Dan tahu-tahu sosok Ratu Pulau Merah telah berada di sisi pelataran Karang Langit.

Di bawah cahaya rembulan, tampak bibir Ratu Pulau Merah tersenyum. Lalu masih dengan senyum menyungging, kepalanya berpaling pada Dadung Rantak dan Wong Agung yang ternyata sedang sama-sama duduk bersila berhadaphadapan.

"Mampuslah kalian berdua! Dadung Rantak selamat tinggal!"gumam Ratu Pulau Merah pelan. Lalu tubuhnya berkelebat melayang turun dari pelataran Karang Langit.

EMPAT

KETIKA Ratu Pulau Merah berkelebat turun, Wong Agung tampak palingkan wajah ke arahnya. Namun belum sampai penghuni Karang Langit ini dapat mengetahui siapa adanya orang, itu, Dadung Rantak telah tarik kedua tangannya ke belakang. Lalu sekonyong-konyong seraya lesatkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya dihantamkan ke arah Wong Agung.

Wuuuttt!

Tak ada suara yang terdengar. Hanya sekilas tampak memancar sinar hitam melesat dari kedua telapak tangan Dadung Rantak. Namun begitu menyambar, sinar hitam tersebut hilang lenyap! Dan bersamaan lenyapnya sinar hitam, suasana berubah dingin menusuk! Angin menghampar sangat kencang dan kabut menutupi tempat itu.

Di seberang, Wong Agung tampak tengadahkan kepala. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat. Dan saat itu juga tubuhnya lantas melesat ke depan. Bersamaan itu, kedua tangannya pun menghentak!

Wuuuttt! Dua larik sinar putih samar terlihat keluar dari kedua tangan penghuni Karang Langit ini. Bersamaan dengan melariknya sinar putih, pelataran Karang Langit bergetar hebat! Dan....

Blaarrr!

Dentuman dahsyat terdengar mengguncang pelataran Karang Langit. Gundukangundukan batu karang yang banyak di tempat itu rengkah lalu hancur berkeping-keping. Hebatnya begitu terdengar dentuman, baik sosok Dadung Rantak maupun sosok Wong Agung terus meluncur ke depan! Mereka berdua seakan tak terpengaruh dengan dentuman akibat pukulan kasatmata Dadung Rantak bentrok dengan pukulan yang dilancarkan Wong Agung.

Begitu keduanya hampir bertemu di udara, kedua orang ini tampak saling angkat masingmasing tangannya dan dibuka. Karena cepatnya luncuran sosok keduanya, hingga tak bisa dilihat dengan mata biasa. Yang terlihat kemudian adalah saling menempelnya telapak tangan keduanya di udara! Sementara tubuh masing-masing tampak lurus datar dan mengapung di udara!

Dadung Rantak tampak membeliakkan matanya. Keringat mulai membasahi wajah dan tubuhnya. Tubuhnya pun mulai bergetar dan telapak tangannya yang masih menempel dengan telapak tangan Wong Agung tampak mengepul dan berubah jadi agak kemerahan.

Tak jauh beda dengan Dadung Rantak, Wong Agung pun tampak tubuhnya bergetar. Jubah putihnya berkibar-kibar keluarkan suara menderu-deru. Sementara telapak tangannya yang menempel pada telapak tangan Dadung Rantak juga nampak mengepulkan asap.

Untuk sesaat lamanya kedua orang ini saling adu tenaga dalam lewat tangannya. Namun tiba-tiba saja Dadung Rantak keluarkan bentakan keras. Tenaga dalamnya dilipatgandakan.

Mendadak tubuh Wong Agung nampak terangkat. Tubuhnya makin bergetar.

Merasakan hal ini, Wong Agung pun lantas tambah tenaga dalamnya, hingga sesaat kemudian tubuhnya kembali turun dan kini kembali sejajar dengan tubuh Dadung Rantak.

Beberapa saat berlalu. Kedua orang yang namanya pernah menggegerkan dunia persilatan pada beberapa puluh tahun yang silam ini kelihatannya sama-sama sanggup bertahan dari gempuran tenaga dalam lawan masing-masing. Tapi sesaat kemudian terjadilah sesuatu. Tubuh Dadung Rantak makin keras bergetar, keningnya makin mengeriput, sementara dari lobang hidung dan sudut bibirnya samar-samar terlihat darah kehitaman mulai meleleh! Bahkan tatkala Wong Agung genjot lagi tenaga dalamnya, dari lobang kecil-kecil di sekujur tubuh Dadung Rantak mulai keluarkan keringat bercampur darah! Demikian pula dari sudut mata dan lobang telinganya.

Tampaknya Dadung Rantak sadar jika dirinya dalam keadaan bahaya. Maka sebelum hal yang tidak ia inginkan terjadi, laki-laki bertelanjang dada ini cepat pejamkan sepasang matanya. Dari mulutnya terdengar suara bentakan keras. Bersamaan bentakan Dadung Rantak, kedua tangannya berubah warna menjadi hitam. Anehnya, warna hitam itu merambat dengan cepat. Dan ini menjalar pula pada kedua tangan Wong Agung yang masih menempel dengan tangannya.

Wong Agung tampak meringis tatkala tangannya mulai dirambati warna hitam. Bahkan tak lama kemudian tubuhnya makin keras bergetar. Dan dari sekujur tubuhnya keluar asap hitam!

Wong Agung keluarkan seruan pelan tertahan. Karena dari mulut serta hidung dan juga telinganya, terlihat pula darah mulai mengalir! Malah tak lama kemudian, jubah putihnya telah berubah warna menjadi merah muda tanda seluruh pori-pori tubuhnya telah mengeluarkan darah pula!

Tampaknya kedua orang ini pantang menyerah begitu saja, walau telah jelas bahwa keduanya telah sama-sama terluka bagian dalam. Ini terlihat ketika Dadung Rantak lipat gandakan tenaga dalamnya, dan tampaknya ini adalah kekuatan terakhirnya.

Melihat hal ini, Wong Agung pun tak tinggal diam. Ia kerahkan pula sisa tenaga dalamnya.

Ketika kedua orang ini sama-sama keluarkan tenaga dalam terakhirnya, tiba-tiba tubuh keduanya makin membumbung ke udara, namun tangan keduanya tetap saling menempel dan mendorong!

Saat itulah, entah naluri mereka yang mengatakan atau suatu kebetulan, kedua kaki masing-masing menghantam ke depan!

Bresss! Breesss!

Terdengar benturan keras tatkala kedua kaki masing-masing menghantam lawan. Bersamaan dengan terjadinya benturan, kedua tangan mereka yang saling menempel terpisah! Dan tubuh keduanya saling bermentalan ke belakang!

Wong Agung memperdengarkan keluhan keras tatkala tubuhnya harus terjerembab di atas batu karang setelah terlebih dahulu menghantam tembok bagian depan bangunan batu tempat tinggalnya. Sedangkan Dadung Rantak terdengar keluarkan pekikan keras tatkala punggungnya harus menghajar batu karang terlebih dahulu sebelum tubuhnya terkapar dan bergulingan.

Beberapa saat kedua orang berilmu tinggi ini sama-sama diam tak bergerak di tempat mereka roboh.

"Tampaknya aku harus memperdalam ilmu lagi untuk dapat menaklukkannya. Apa boleh buat. Aku telah kerahkan segala tenaga dalam dan ilmuku, namun tampaknya belum mampu. Aku harus pergi dari sini! Kalau ada umur panjang tentu aku masih bisa membuat perhitungan lagi!" membatin Dadung Rantak seraya perlahan bangkit.

Di bawah cahaya sang rembulan, jelas sekali terlihat bahwa sekujur tubuh Dadung Rantak telah mandi darah. Malah untuk mengangkat tubuhnya agar bisa bangkit, ia menekankan kedua tangannya ke atas batu karang.

"Hmm.... Ilmunya demikian maju pesat. Aku tak menduganya. Rupanya ia telah mempersiapkan diri jauh sebelumnya...," Wong Agung berkata dalam hati seraya cari pegangan untuk bangkit. Pakaian yang dikenakan penghuni Karang Langit ini pun tampak robek di sana-sini.

"Heran    Ke mana perginya Kinanti? Kalau

saja ia berada di sini, kukira masalah ini akan selesai, karena saat ini Wong Agung telah tak berdaya! Apakah dia keder lalu pulang...? Tapi samar-samar tadi kulihat ada bayangan berkelebat di dekat bangunan batu itu. Apa Kinanti...? Atau murid Wong Agung yang menyembunyikan diri ?

Ah, lebih baik aku meninggalkan tempat ini. Setelah kesehatanku pulih, aku akan cari Kinanti   "

lalu Dadung Rantak luruskan pandangannya pada Wong Agung yang kini telah duduk bersila di depan bangunan batu.

"Wong Agung! Semuanya belum berakhir! Suatu hari nanti aku akan tetap menagih darah Ragil Sedura!" desis Dadung Rantak dengan suara pelan. Namun suara itu cukup jelas didengar telinga Wong Agung.

Sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya, Wong Agung luruskan kepalanya menghadap Dadung Rantak. Setelah mendehem beberapa kali, ia buka suara.

"Dadung Rantak! Semua itu kuserahkan padamu. Yang kuharap, kau mempertimbangkan kembali segala sesuatunya. Dan satu hal lagi, semoga niatmu itu tak dipergunakan orang lain untuk mengambil keuntungan tanpa kau sadari!"

Meski Dadung Rantak masih merasakan sakit di seluruh tubuhnya, dan ingin cepat meninggalkan Karang Langit, namun mendengar ucapan Wong Agung ia kernyitkan dahi. Niatnya untuk cepat meninggalkan Karang Langit dia urungkan, lalu dengan menahan dadanya ia berkata.

"Wong Agung! Jaga mulutmu! Jangan kau berani menuduh tanpa bukti!"

Walau terasa sakit untuk digunakan tertawa, mendengar kata-kata Dadung Rantak, Wong Agung keluarkan tawa pelan.

"Dadung Rantak! Kukira kedatanganmu ke Karang Langit tidak sendirian! Aku tidak menuduh. Namun, melihat keadaannya, orang yang bersamamu telah mengambil keuntungan dari masalah kita! Aku belum tahu persis apa keuntungannya. Tapi hal itu dapat ku rasakan!"

Dadung Rantak terlihat terhenyak mendengar keterangan Wong Agung. Diam-diam dalam hati ia berkata.

"Hmm.... Rupanya dia telah mengetahui adanya Kinanti. Tapi, apa untungnya Kinanti dengan kejadian ini...? Tapi, kenapa ia tak muncul di sini...? Apakah...?" laki-laki bertelanjang dada ini tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu Wong Agung telah lanjutkan ucapannya.

"Dadung Rantak! Siapa pun adanya temanmu, yang pasti ia telah meninggalkan tempat ini!"

Dadung Rantak tak sepatah kata pun keluarkan suara. Hanya sepasang matanya tak berkedip pandangi Wong Agung. "Ah, aku masih belum bisa menduga apa tujuan Kinanti sebenarnya. Lebih baik aku tinggalkan tempat ini, dan setelah itu menyelidiki Kinanti. Aku merasa ada sesuatu yang tak beres!"

Berpikir begitu, tanpa berkata-kata lagi Dadung Rantak lantas bangkit lalu balikkan tubuh dan melangkah perlahan ke arah sisi samping Karang Langit. Dan tanpa berpaling lagi, ia berkelebat turun dari Karang Langit.

"Hmm.... Daya tarik seorang perempuan nyatanya bisa mengalahkan segalanya. Hanya manusia yang mau belajar dari kehidupan yang bisa menyadarinya," gumam Wong Agung setelah kepergian Dadung Rantak. Penghuni Karang Langit ini lantas bangkit dan dengan perlahan melangkah memasuki bangunan batu tempat tinggalnya.

LIMA

KETIKA memasuki ruangan bawah tempat tinggalnya, Wong Agung tiba-tiba hentikan langkahnya. Kepalanya berputar seakan melihat sekeliling.

"Heran. Hatiku makin gelisah. Pertanda apa ini...? Aku hampir yakin, teman Dadung Rantak telah memasuki tempat ini. Apa yang ia cari...? Apakah ia...," penghuni Karang Langit ini tak meneruskan gumamannya. Ia cepat berkelebat.

Wong Agung terlihat melengak kaget tatkala mengetahui batu besar yang biasanya ia gunakan untuk duduk telah terguling. Dan semakin tercekat tatkala tangannya yang dimasukkan ke lobang di bagian bawah batu yang terguling tak menemukan apa-apa.

"Ah, firasatku tak salah. Ternyata teman Dadung Rantak telah berhasil mengambil kipas hitam serta bumbung bambu!" gumam Wong Agung dengan tubuh agak lemas. Tubuhnya bergetar, lalu perlahan-lahan penghuni Karang Langit ini duduk bersandar di tembok ruangan dengan kepala beberapa kali bergerak menggeleng.

"Maha Besar Tuhan. Kipas hitam dan bumbung bambu berisi jurus pamungkas telah dapat dicuri orang. Rimba persilatan akan terguncang lagi. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan semua ini...? Semua ini adalah kesalahanku...! Aku harus "

Mendadak Wong Agung hentikan gumamannya. Kepalanya digerakkan tengadah.

"Ada orang mendekati tempat ini! Siapa lagi dia...? Dadung Rantak ? Atau temannya?"

Selagi Wong Agung menduga-duga, sesosok bayangan tampak berkelebat memasuki ruangan di mana ia berada.

Sosok ini ternyata adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Paras wajahnya tak jelas, karena kepalanya mengenakan sebuah caping lebar hingga menutup sebagian wajahnya. Tapi melihat tingkahnya, sosok yang baru datang ini telah mengenal betul Karang Langit. Karena ia begitu saja memasuki ruangan di mana Wong Agung berada. "Jayeng Parama! Apa yang telah terjadi...?" kata sosok bercaping begitu melihat keadaan Wong Agung yang pakaiannya masih bersimbah darah dan tergulingnya batu besar yang biasanya dibuat duduk.

Mendengar suara orang. tampaknya Wong Agung telah dapat menduga siapa adanya orang yang kini melangkah ke arahnya. Apalagi orang yang baru datang memanggilnya dengan sebutkan nama aslinya.

"Paman Selaksa.... Suatu keberuntungan kau datang. Duduklah Paman...." kata Wong Agung seraya membetulkan ikatan kulit pada bagian belakang kepalanya

Sosok bercaping, yang bukan lain memang Eyang Selaksa, penghuni Kampung Blumbang yang juga adalah paman Wong Agung sejenak mengawasi keadaan Wong Agung lalu duduk di depan Wong Agung dan berkata.

"Jayeng Parama! Apa yang telah terjadi...?" tanya Eyang Selaksa mengulangi pertanyaannya.

Untuk beberapa saat lamanya Wong Agung tak segera memberi jawaban. Ia hanya menghela napas dalam-dalam seraya mengusap-usap dadanya. Namun tampaknya Eyang Selaksa memaklumi keadaan Wong Agung. Ia pun tak lagi ulangi pertanyaannya. Ia diam menunggu seraya memperhatikan.

"Paman...," kata Wong Agung setelah agak lama diam. "Sebenarnya aku sudah tak ingin berurusan dengan dunia persilatan. Namun kali ini keadaan rupanya memaksa...!" Eyang Selaksa angguk-anggukkan kepala. Tapi ia tak keluarkan suara. Tapi setelah agak lama ditunggu Wong Agung juga tetap diam, Eyang Selaksa akhirnya berkata.

"Kalau kau berniat turun lagi ke rimba persilatan, berarti memang ada sesuatu yang luar biasa telah terjadi. Kau sudi menceritakan...?"

Wong Agung anggukkan kepalanya. Lalu ia menceritakan apa yang baru saja terjadi.

"Itulah. Paman. Karena aku yang bertanggung jawab atas kedua benda tersebut, maka aku harus dapat mengambil kembali kipas hitam serta bumbung bambu itu. Jika tidak, dapat kita bayangkan apa yang akan menimpa dunia persilatan. Apalagi kita tahu, Dadung Rantak adalah salah seorang dari tokoh hitam, jadi temannya yang telah berhasil mencuri benda itu adalah orang dari golongan sesat pula!"

Eyang Selaksa manggut-manggut.

"Jayeng Parama. Niatmu untuk turun kembali ke rimba persilatan dan merampas kembali kipas hitam serta bumbung bambu memang baik. Tapi apa tidak lebih baik jika hal ini kau serahkan saja pada Aji? Ini bukan berarti kita lepas tangan, lari dari tanggung jawab. Ini semata-mata untuk menempa kematangan anak itu!"

"Tidak, Paman. Aku tak mau mengalihkan tanggung jawab. Lagi pula sulit rasanya mencari di mana beradanya anak itu!"

Eyang Selaksa sunggingkan senyum. Kepalanya menggeleng perlahan.

"Jayeng Parama. Sekali lagi kukatakan, semua ini bukan berarti pelimpahan tanggung jawab. Namun justru untuk mematangkan anak itu agar ia lebih tahu tentang hidup dan perjuangan. Suatu saat kita pasti meninggalkan anak itu, kalau tidak mulai sekarang kita tempa, aku khawatir anak itu akan kurang matang begitu kita telah tiada. Dan soal di mana beradanya anak itu, itu bisa kita cari. Karena ancar-ancarnya aku telah tahu!"

Sejenak Wong Agung terdiam. Ia seakan merenungkan ucapan Pamannya. Setelah agak lama baru ia berkata.

"Jika itu memang yang terbaik, aku menurut saja. Tapi kita harus segera menemukan anak itu. Di mana kira-kira ia berada...?"

"Jayeng Parama. Kau tentunya telah dengar tentang hebohnya rimba persilatan saat ini "

"Yang Paman maksud heboh tentang Arca Dewi Bumi?" sela Wong Agung.

"Benar. Aji memang telah kusuruh membujuk Dewi Kayangan agar mau menunjukkan di mana beradanya Arca Dewi Bumi!"

"Hmm.... Jika demikian, kita harus segera menyusulnya. Agar ia tahu apa yang telah terjadi di Karang Langit...," putus Wong Agung pada akhirnya.

"Lebih cepat bertemu dengan anak itu, tentunya lebih baik. Namun kau perlu pengobatan dahulu. Ayo, kubantu...!" kata Eyang Selaksa lalu menggeser duduknya lebih dekat pada Wong Agung.

Bersamaan dengan menggesernya Eyang Selaksa, Wong Agung balikkan tubuh membelakangi Eyang Selaksa. Lalu kedua tangannya ditakupkan sejajar dada. Mulutnya berkemik-kemik.

Eyang Selaksa pun segera buka telapak tangannya dan ditempelkan pada punggung Wong Agung.

Begitu hawa murni yang dikerahkan Wong Agung dan Eyang Selaksa mulai merambat masuk tubuh Wong Agung, penghuni Karang Langit ini perlahan-lahan merasa hawa sejuk mulai mengikis hawa panas yang sedari tadi mengoyak bagian dalam tubuhnya. Dan perlahan-lahan pula kedua tangan Wong Agung berubah warna seperti sediakala.

"Cukup, Paman...," kata Wong Agung seraya luruhkan kembali kedua tangannya.

Eyang Selaksa tarik pulang kedua tangannya. Lalu menghela napas dalam-dalam seraya mengusap keringat yang meleleh dari kening dan lehernya.

"Apa tidak istirahat dulu...?" kata Eyang Selaksa seraya geser kembali duduknya.

Wong Agung balikkan tubuh. Kepalanya menggeleng.

"Masalah ini tidak bisa kita tunda-tunda lagi, Paman. Dan aku pun merasa sudah cukup sehat!"

"Jika demikian, kita berangkat sekarang...," ujar Eyang Selaksa seraya bangkit berdiri. Demikian pula Wong Agung. Kedua orang seperguruan ini lalu melangkah keluar ruangan.

Begitu keduanya telah berada di pelataran Karang Langit, ujung laut sebelah timur tampak telah berwarna kemerahan pertanda sang surya tak lama lagi akan muncul.

ENAM

SEORANG pemuda berparas tampan, mengenakan pakaian hijau yang dilapis dengan baju dalam warna kuning lengan panjang, rambut panjang dikuncir ekor kuda, di siang yang dibungkus dengan sengatan terik sang mentari terlihat mondar-mandir di kaki bukit sebelah barat Gunung Arjuna.

Mungkin karena panasnya udara, pemuda ini seraya mondar-mandir tampak menggerakkan tangannya yang memegang kipas ungu pulang balik di bawah dagunya. Tangan kirinya pun tak jarang terlihat mengusap-usap ujung hidungnya juga sesekali menarik-narik kuncir rambutnya yang berkibar-kibar diterpa angin gunung. Dari mulutnya terdengar nyanyian yang tak bisa ditangkap maknanya.

"Heran, hampir tiga hari tiga malam ku aduk-aduk tempat di sekitar sini, namun tak juga kutemukan orang yang kucari! Apakah aku salah alamat...? Atau kabar tentang Arca Dewi Bumi itu hanya bohong belaka? Tapi, kenapa Dewi Kayangan mengisyaratkan adanya arca itu? Malah ia yang memberi petunjuk...," gumam sang pemuda dengan paras kecewa.

Pemuda yang bukan lain adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 lalu melangkah ke arah sebuah pohon besar. Disandarkannya tubuhnya seraya berkipas-kipas. Sepasang matanya tak henti-hentinya menebar berkeliling di sekitar tempat itu.

"Namun kalau melihat banyaknya tokoh yang tiba-tiba muncul dan kebanyakan dari mereka adalah bukan tokoh sembarangan, kabar tentang arca itu nampaknya bukan hanya kabar kosong. Aku tak habis pikir, bagaimana bentuk area dan apa keistimewaannya sehingga rimba persilatan begitu guncang dengan berita tentang arca itu? Ah, hal itu tak perlu terlalu kupikirkan. Yang penting aku bisa bertemu dahulu dengan orang yang bernama Sahyang Resi Gopala Tapi

di mana dia ?"

Entah karena jengkel tak bisa menemukan orang yang dicari atau karena lelah, Pendekar 108 lantas menggelosokan tubuhnya dengan punggung bersandar pada batang pohon. Tangannya tetap bergerak pulang baik berkipas-kipas, namun sepasang matanya tampak mulai menyipit. Sementara dendang nyanyian tak lagi terdengar dari mulutnya. Malah mulut itu berulang kali menguap.

Selagi murid Wong Agung ini didera kantuk, tiba-tiba tiga bayangan terlihat berkelebat cepat dan tahu-tahu telah berada di sekitar Pendekar 108 dengan posisi berpencar mengurung.

Yang berada di tengah dan tepat di hadapan Aji adalah seorang perempuan bertubuh gemuk besar. Sepasang matanya besar melotot dan masuk dalam cekungan rongga yang sangat dalam. Bibirnya merah dipoles. Rambutnya putih dan disanggul ke atas. Telinganya mengenakan anting-anting hanya sebelah. Namun, antinganting itu begitu besar dan dimuati beberapa anting-anting kecil.

Sementara di sebelah kanan Aji adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Mengenakan jubah putih yang bercak-bercak merah bekas darah yang telah mengering. Sepasang matanya ditutup dengan sepotong kain yang diikatkan ke belakang kepala. Rambut dan jenggotnya panjang serba putih. Beberapa kali laki-laki ini nampak mengelus dadanya.

Sedangkan di sebelah kiri Aji adalah juga seorang laki-laki yang usianya juga sudah lanjut. Mengenakan pakaian putih panjang dan di kepalanya tampak sebuah caping lebar yang menutupi hampir sebagian wajahnya. Rambut dan jenggotnya juga telah putih dan panjang.

Merasa ada beberapa orang yang mengepung, tanpa melihat terlebih dahulu siapa adanya orang itu, Aji kibaskan kipas ungunya seraya lesatkan diri di atas pohon.

Wuuttt!

Serangkum angin keras deras putih berkilau yang membentuk sebuah kipas menebar lengkung dari kiri ke kanan.

Ketiga orang yang mengurung saling pandang sejenak. Lalu hanya dengan miringkan masing-masing bahunya, ketiga orang ini bisa menghindari sambaran angin yang melesat dari kipas Pendekar 108.

"Anak geblek! Turun! Hik... hik... hik...!" tiba-tiba orang yang di sebelah tengah keluarkan suara menegur seraya tertawa cekikikan. Lalu perempuan ini bantingkan sepasang kakinya dua kali ke atas tanah.

Blekkk! Blekkk!

Hebatnya, meski bantingan kakinya hanya perlahan, namun suara yang ditimbulkannya demikian dahsyat. Dan kejap itu juga batangan pohon di mana Pendekar 108 berada bergoyanggoyang. Anehnya, meski batangan pohon itu bergoyang-goyang, tak satu pun daunnya yang gugur!

Dari sini jelas terlihat betapa tingginya ilmu orang itu. Karena meski mampu menggoyangkan batang pohon, namun dia juga mampu meredam jatuhnya daun!

Begitu batangan pohon bergoyang, Pendekar Mata Keranjang cepat buka sepasang matanya. Dan murid Wong Agung ini seketika beliakkan sepasang matanya demi mengetahui siapa adanya orang yang menegur serta dua orang di sampingnya.

Dengan masih membelalak seakan tak percaya dengan penglihatannya, buru-buru Aji melayang turun. Dan ketika ia yakin, serta-merta Aji menjura hormat pada orang di sebelah kanannya lalu beralih ke tengah dan berakhir pada laki-laki yang mengenakan caping lebar.

"Eyang Wong Agung, Dewi Kayangan, Eyang Selaksa. Maaf atas tindakanku tadi yang tidak terlebih dahulu melihat...," kata Aji seraya angkat kepalanya dan palingkan wajahnya pada orang di sebelah kanannya yang memang bukan lain adalah Wong Agung.

Pendekar dari Karang Langit ini untuk beberapa saat memandang tak kesiap. Dahinya mengernyit melihat gurunya terus usap-usap dada.

"Sesuatu tampaknya telah terjadi atas Eyang Wong Agung...," membatin Pendekar 108. Lalu ia buka mulut hendak bertanya. Namun sebelum suaranya keluar, perempuan bertubuh gemuk besar dan mengenakan anting-anting sebelah yang bukan lain memang Dewi Kayangan telah terlebih dahulu bicara.

"Aku bangga melihatmu menuruti segala petunjukku. Apa kau telah menemukan orang yang kau cari...? Hik... hik... hik...!"

Pendekar Mata Keranjang 108 urungkan niat untuk bertanya tentang Wong Agung, ia palingkan wajah menghadapi Dewi Kayangan. Setelah menatapi perempuan ini berlama-lama, Pendekar 108 buka mulut seraya gelengkan kepala.

"Dewi. Aku sudah tiga hari tiga malam kepanasan kedinginan di sini. Semua tempat di sekitar sini telah ku aduk-aduk sampai ludes! Tapi batang hidung apalagi kepalanya orang yang kau sebutkan tak kutemukan! Apa dia pindah alamat...?"

Dewi Kayangan keraskan cekikikannya, sementara baik Wong Agung maupun Eyang Selaksa tampak gelengkan kepalanya masingmasing.

"Pindah alamat tidak. Hanya saat itu mungkin kau salah dengar atau aku yang salah ucap! Hik... hik... hik...!"

"Maksud Dewi...?"

"Aku dulu bilang apa...?" Dewi Kayangan balik bertanya.

Meski agak mangkel dengan tingkah Dewi Kayangan, namun murid Wong Agung ini menjawab juga.

"Dewi menyuruhku pergi ke arah utara. Mencari daerah bernama Bajul Mati serta seorang petapa bernama Sahyang Resi Gopala...!"

Dewi Kayangan makin deras cekikikannya demi mendengar keterangan Aji, membuat Pendekar 108 ini makin tak mengerti. Setelah puas dengan cekikikannya, perempuan berantinganting sebelah ini berkata.

"Kalau begitu benar...!"

"Apanya yang benar? Setiap orang yang kutanyai, mengatakan bahwa kaki bukit ini adalah daerah Bajul Mati. Namun kenyataannya, orang yang bernama Sahyang Resi Gopala tak juga ada bayang-bayangnya!" seru Aji dengan lipat kipasnya dan disimpan ke balik pakaiannya. Namun sambil menyimpan kipas ungunya matanya tak berkedip memandangi Dewi Kayangan.

Dewi Kayangan angguk-anggukkan kepala hingga terdengar gemerincing anting-antingnya.

"Aku belum selesai dengan ucapanku. Yang kumaksud dengan benar adalah benar, jika waktu itu kau salah dengar dengan ucapanku!" Pendekar 108 kernyitkan dahi. Telinganya ia tarik-tarik hingga melebar. Ia seakan tak percaya dengan ucapan Dewi Kayangan.

"Dewi! Rasa-rasanya telingaku masih normal. Aku tak mungkin salah dengar!" Dewi Kayangan kembali tertawa cekikikan. "Ucapmu benar. Telingamu memang masih sehat. Namun kau salah dengar karena waktu itu aku memang salah ucap! Hingga meski kau telah aduk-aduk tempat ini, kau tak menemukan orang yang kau cari! Hik... hik... hik...!"

"Sialan! Ternyata dia telah mengucapkan tempat yang salah! Bagaimana ini bisa terjadi? Apa ia main-main...?" kata Pendekar 108 dalam hati seraya membesarkan sepasang matanya, karena merasa dipermainkan Dewi Kayangan.

Melihat hal ini Eyang Selaksa keluarkan batuk-batuk beberapa kali, lalu angkat bicara.

"Aji. Kau tak bisa menyalahkan Dewi Kayangan karena salah ucapnya!"

"Tapi, Eyang " '

"Aji. Sebelum mencarimu, aku dan gurumu Jayeng Parama telah menemui Dewi Kayangan terlebih dahulu. Ia menceritakan segalanya. Sampai pada masalah salah ucap itu!"

"Jadi salah ucapnya itu memang disenga-

ja...?"

Eyang Selaksa anggukkan kepalanya se-

raya berkata.

"Namun semua itu ada maksudnya! Kau jangan terburu menduga yang tidak-tidak!"

"Maksudnya...?" tanya Pendekar Mata Keranjang seolah tak sabar melihat Eyang Selaksa tidak segera melanjutkan ucapannya.

"Kau tahu, masalah Arca Dewi Bumi adalah persoalan yang amat rahasia. Tak seorang pun boleh mengetahui di mana berada arca serta orang yang memegangnya. Karena saat itu Dewi Kayangan masih khawatir Dewi Bunga Iblis masih berada di situ dan mencuri dengar pembicaraan kalian, maka Dewi Kayangan sengaja mengucapkan petunjuk yang salah!"

Mendengar keterangan Eyang Selaksa, Aji tampak menarik napas dalam-dalam. Meski dalam hati masih jengkel, namun akhirnya ia bisa memaklumi.

"Eyang Selaksa. Tampaknya ada sesuatu yang sangat penting hingga Eyang bersama Eyang Wong Agung serta Dewi Kayangan mencariku...," berkata Pendekar 108 setelah di antara mereka tidak ada yang mulai lagi buka pembicaraan.

Eyang Selaksa sejenak alihkan pandangannya pada Dewi Kayangan, lalu pada Wong Agung. Wong Agung terlihat batuk sebentar, lalu berkata.

"Paman. Sebaiknya Paman saja yang menerangkan "

"Aji, memang ada hal penting yang harus kau ketahui selain apa yang nanti hendak dikatakan Dewi Kayangan...," sejenak Eyang Selaksa hentikan kata-katanya. Lalu melanjutkan.

"Perlu kau ketahui, bahwa kipas hitam serta bumbung bambu yang disimpan gurumu telah lenyap dicuri orang!" Aji terhenyak mendengar keterangan Eyang Selaksa hingga sepasang matanya mendelik besar. Dadanya terlihat bergetar, sementara mulutnya menganga.

"Siapa yang mencurinya, Eyang...?"

"Kalau aku atau Jayeng Parama tahu, tak usah jauh-jauh mencarimu!"

"Jadi Eyang menugaskan aku untuk mencari sang pencuri itu?"

Eyang Selaksa dan Wong Agung yang nama aslinya Jayeng Parama anggukkan kepala masing-masing.

Pendekar 108 tampak usap-usap hidungnya. Dalam hati dia berkata.

"Tugas satu belum selesai, datang lagi tugas baru. Hmm.... Tapi apa boleh buat. Ini tugas dari guruku. Bagaimanapun juga aku harus menjalankannya...," lalu Aji berkata.

"Baiklah, Eyang. Perintahmu akan kujalankan! Tapi dapatkan Eyang memberi sedikit petunjuk agar aku tak buta sama sekali tentang sang pencuri itu?"

Eyang Selaksa palingkan wajahnya pada Wong Agung. Seakan tahu bahwa dirinya dipandang, Wong Agung lantas mengangguk dan berkata.

"Aku memang tak tahu siapa adanya pencuri itu. Namun satu hal yang pasti, ia adalah seorang perempuan. Dan untuk lebih jelasnya, kau harus menyelidiki seorang bernama Dadung Rantak. Karena perempuan itu datang bersama Dadung Rantak " "Dadung Rantak...?" ulang Pendekar Mata Keranjang 108 seraya tengadahkan kepala dengan kening mengkerut. Ia seakan-akan coba mengingat-ingat nama yang baru saja disebutkan Wong Agung.

"Benar. Dadung Rantak adalah seorang tokoh tua dari golongan hitam. Ia adalah seorang berilmu tinggi. Sebenarnya ia telah berpuluhpuluh tahun tak muncul lagi ke rimba persilatan. Ketidak munculannya mungkin karena ia sedang memperdalam ilmu. Ia tinggal di sebuah lembah bernama Lembah Rawa Buntek. Kabar yang pernah kudengar, ia pun telah mengangkat dua orang sebagai muridnya. Hanya itu yang kuketahui tentang Dadung Rantak "

Pendekar 108 terlihat angguk-anggukkan kepala meski dalam hati ia diselimuti berbagai perasaan. Eyang Selaksa rupanya menyadari akan apa yang ada di benak Pendekar 108 ini. Sambil melangkah mendekati Aji laki-laki penghuni Kampung Blumbang ini berkata perlahan.

"Aji. Tugasmu memang berat, karena harus mencari orang yang belum diketahui nama serta tempat tinggalnya. Namun kau harus sadar. Ini semua demi ketenteraman dan kedamaian rimba persilatan. Kau bisa bayangkan apa yang terjadi nanti seandainya senjata berbahaya itu disalahgunakan!"

Kembali Pendekar 108 anggukkan kepa-

lanya.

"Baiklah, Eyang. Aku siap mengemban tu-

gas itu!" "Bagus. Hanya pesanku, kau harus lebih berhati-hati dan waspada. Dadung Rantak adalah tokoh tua yang ketinggian ilmunya tidak bisa disangsikan lagi. Aku yang baru saja menghadapinya harus bersusah payah untuk dapat menggagalkan niatnya!" kali ini yang berkata adalah Wong Agung. Sambil berkata, penghuni Karang Langit ini tetap usap-usap dadanya. Wajahnya pun terlihat masih pucat.

"Aji...!" berkata Eyang Selaksa, setelah agak lama di antara mereka tidak ada yang buka suara. "Dewi Kayangan mungkin akan mengatakan sesuatu padamu!" sambil berkata, Eyang Selaksa palingkan wajahnya pada Dewi Kayangan, lalu memberi isyarat dengan anggukkan kepalanya.

Dewi Kayangan bukannya langsung angkat bicara. Perempuan bertubuh gemuk besar ini cekikikan terlebih dahulu, hingga gemerincing anting-antingnya seakan bersahut-sahutan dengan suara cekikikannya. Mendadak Dewi Kayangan hentikan cekikikannya, lalu berkata.

"108, menyusuli mulutku yang salah ucap dahulu, sekarang dengar baik-baik! Pergilah kau ke arah selatan. Di daerah Bokor, kau akan menemukan dua buah gunung yang berdiri berdampingan. Orang-orang menyebutnya Gunung Kembar. Di antara dua gunung tersebut ada sebuah hutan kecil. Di sana kau akan menemukan sebuah kuil tua. Di sanalah Sahyang Resi Gopala berada!"

Sejurus Pendekar Mata Keranjang 108 memandangi Dewi Kayangan dengan tak berkedip. Lalu seraya rapikan rambutnya ia berkata. "Dewi. Harap dewi suka mengulanginya.

Aku khawatir salah dengar seperti dahulu!"

Kali ini perempuan yang suka cekikikan ini tak lagi keluarkan tawa cekikikannya. Malah sepasang matanya yang besar membeliak. Sementara kakinya ia bantingkan ke tanah. Namun sesaat kemudian ia turuti juga permintaan Pendekar 108.

"Dewi yakin jika kali ini tak salah ucap lagi...?" kata Aji dengan arahkan pandangannya pada Eyang Selaksa yang tampak tersenyum.

Yang ditanya bukannya menjawab. Namun tertawa cekikikan dengan kerasnya, hingga Pendekar 108 harus keluarkan tenaga dalam ke gendang telinganya.

"Kalau kali ini aku salah ucap, berarti kau yang benar-benar salah dengar'!"

Pendekar Mata Keranjang sunggingkan senyum seraya berkata.

"Mudah-mudahan, Dewi tidak salah ucap dan aku tidak salah dengar!"

"Nah, kurasa kau telah tahu untuk apa kami mencarimu. Sekarang aku, Dewi Kayangan serta gurumu harus meninggalkan tempat ini. Bukankah begitu?" sambil berkata Eyang Selaksa arahkan pandangannya pada Dewi Kayangan dan Eyang Wong Agung.

Dewi Kayangan keluarkan tawa cekikikan sambil anggukkan kepala, sementara Wong Agung tersenyum seraya mengangguk.

Ketiga orang ini lantas balikkan tubuh masing-masing hendak pergi. Namun Pendekar Mata Keranjang cepat meloncat ke arah Eyang Selaksa.

"Eyang. Apakah antara Eyang dan Dewi Kayangan telah berbaik-baikan? Kulihat paras Dewi Kayangan lebih cerah dan tak hentihentinya tertawa."

Eyang Selaksa urungkan niat untuk pergi. Ia berpaling sebentar. Bibirnya sunggingkan senyum. Ia lantas berkata, namun wajahnya berpaling pada Dewi Kayangan.

"Kali Nyamat!" panggil Eyang Selaksa menyebut nama asli Dewi Kayangan.

"Anak ini menanyakan tentang kita! Harap kau saja yang memberi jawabannya!"

Kali Nyamat atau Dewi Kayangan berpaling. Sepasang matanya tampak mendelik besar.

"Anak geblek! Untuk apa kau tahu masalah orang tua, he...?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 moncongkan mulutnya, tangan kanannya mengusap-usap ujung hidungnya.

"Untuk sekadar tahu kan tidak apa-apa, Dewi. Karena jika sudah jelas, rencanaku ku urungkan!"

"Rencana? Kau punya rencana apa, he...?" tanya Dewi Kayangan seraya balikkan tubuh kembali menghadap Aji.

Sejenak Pendekar 108 tertawa perlahan, lalu berkata.

"Aku punya banyak kenalan gadis-gadis cantik. Kalau memang di antara Dewi dan Eyang Selaksa tidak ada hubungan lagi, aku berniat memperkenalkan beberapa orang pada Eyang Selaksa, barangkali salah satu di antaranya ada yang berkenan di hati Eyang. "

"Kurang ajar! Jadi kau hendak menjodohkan Tua bau tanah itu dengan gadis-gadis cantik kenalanmu? Bagus! Dengar Anak kurang ajar! Meski begini-begini, aku masih bisa cari pemuda tampan dan gagah! Kau ingin bukti...?!" seraya berkata sepasang mata Dewi Kayangan makin membeliak. Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 menahan tawanya. Dan baik Eyang Selaksa maupun Wong Agung tampak tersenyum-senyum. "Maaf, Dewi. Makanya aku ingin tahu hubungan Dewi dengan Eyang Selaksa agar nantinya tak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Namun melihat sikap Dewi, tanpa dijawab pun aku sudah tahu!"

"Tahu apa ?!"

"Bahwa antara Eyang Selaksa dan Dewi te-

lah...,"

Aji tidak meneruskan ucapannya, karena

saat itu Dewi Kayangan telah banting-bantingkan kaki menghentak tanah seraya menggerendeng panjang pendek.

"Kau memang seharusnya diberi pelajaran!" habis berkata, Dewi Kayangan maju dua langkah. Namun sebelum melangkah lagi dan gerakkan kedua tangannya, Eyang Selaksa mendekati dan berkata.

"Kali Nyamat. Kalau sejak tadi kau menjawab ya, mungkin kau tak usah menampakkan rasa cemburumu begitu rupa "

"Sialan! Siapa cemburu padamu! Aku hanya tak suka ia memperkenalkan kenalan gadisnya padamu! Tak ada cemburu! Sekali lagi tak ada cemburu!"

"Betul. Tak ada cemburu, tapi kau takut aku tertarik salah satu teman Aji. Benarkan ?"

"Edan! Siapa takut kau tertarik pada seorang gadis?!" kini sepasang mata Dewi Kayangan melotot pada Eyang Selaksana.

"Ah, sudahlah. Waktu kita tak banyak. Kita harus cepat tinggalkan tempat ini !" kali ini yang

angkat bicara adalah Wong Agung.

Seraya mengomel tak karuan, Dewi Kayangan balikkan tubuh. Tapi ekor matanya sempat melirik pada Eyang Selaksa yang tampak tersenyum-senyum, bahkan kerdipkan sebelah matanya pada Pendekar 108, yang dibalas dengan tawa tertahan oleh Aji.

"Aji. Selamat tinggal...," ujar Wong Agung seraya berkelebat meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian, Dewi Kayangan dan Eyang Selaksa tampak saling pandang. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi kedua orang ini pun berkelebat menyusul Wong Agung. Namun bersamaan dengan berkelebatnya Dewi Kayangan terdengar suara tawa cekikikannya yang bersahutan dengan gemerincing anting-antingnya.

Begitu ketiga orang telah berkelebat, Pendekar Mata Keranjang 108 tertawa terbahakbahak.

"Cemburu tidak, tapi takut kehilangan ya, Ha-ha... ha...!" TUJUH SETENGAH purnama berlalu     Pendekar

Mata Keranjang 108 terlihat melangkah perlahan memasuki sebuah perkampungan yang padat penduduk. Selain padat penduduk hingga jalanjalan tampak ramai, perkampungan ini tampaknya dihuni beberapa orang kaya, karena sepanjang jalan tampak berdiri rumah-rumah megah dengan pekarangan luas.

"Hmm.... Rasanya perutku sudah minta diisi. Sambil istirahat, memang sebaiknya aku mengisi perut. Lagi pula, menurut orang yang tadi sempat kutanya, daerah Bokor terletak di sebelah timur daerah ini, dan sudah tidak jauh     Mudah-

mudahan ucapan Dewi Kayangan tak salah lagi....

Dan aku dapat segera menemukan orang yang bernama Sahyang Resi Gopala...," Aji membatin seraya terus melangkah. Sepasang matanya terus menebar mengawasi tempat-tempat yang dilaluinya.

Ketika matanya melihat sebuah kedai, Pendekar 108 hentikan langkahnya. Ia tampak bimbang. Namun sesaat kemudian ia sudah mendendangkan nyanyian seraya melangkah ke arah kedai yang hari ini rupanya ramai pengunjung.

Dengan hanya sekilas menebar pandangannya, Aji tahu mana tempat duduk yang kosong. Ia dengan pandangan acuh lantas melangkah ke bangku yang kosong dan kebetulan ada di bagian samping, hingga bisa melihat ke halaman kedai.

Seorang pelayan mendekat. Setelah Pendekar 108 mengatakan pesanannya, sang pelayan lantas ke belakang. Dan tak berapa lama kemudian telah kembali dengan membawa pesanan Aji. Mungkin karena lapar, begitu makanan terhidang, Murid dari Karang Langit ini pun sege-

ra melahapnya.

Selagi Pendekar 108 tengah menyantap makanan, tiba-tiba terdengar derap ladam kakikaki kuda menghentak. Lalu terdengar suara ringkik kuda bersahut-sahutan bersamaan dengan lenyapnya derap langkah. Debu nampak mengepul dan sebagian masuk ke dalam kedai, karena kuda-kuda itu sengaja dihentikan dengan tiba-tiba di halaman depan kedai.

Meski Pendekar Mata Keranjang sempat keluarkan gerendengan panjang pendek, karena harus menepiskan kepulan debu, namun ia teruskan makannya. Bahkan ketika tiga orang bertampang angker memasuki kedai, murid Wong Agung ini seakan-akan tak terpengaruh, padahal beberapa pengunjung kedai tampak cepat-cepat selesaikan makannya, malah sebagian tak meneruskan makannya.

Tiga orang yang baru saja injakkan kaki masing-masing ke dalam kedai sejenak saling pandang satu sama lain. Lalu ketiganya menyapukan pandangannya pada para pengunjung.

Tak satu pun dari pengunjung yang masih selesaikan makannya berani angkat kepala untuk membalas pandangan tiga orang ini. Malah beberapa orang tampak tubuhnya bergetar.

Melihat tingkah para pengunjung kedai, tiga orang ini lantas keluarkan tawa bergelak-gelak. Ketiga orang ini adalah semuanya laki-laki.

Yang tengah laki-laki berusia setengah baya. Mengenakan pakaian hitam-hitam. Tubuhnya besar dengan perut buncit. Parasnya bulat. Rambutnya panjang, kumisnya lebat hingga menutupi mulutnya. Tapi yang membuat laki-laki ini tampak angker, mata sebelah kanan tampak menonjol ke depan seolah hendak meloncat keluar. Sedangkan mata sebelah kiri masuk terlalu dalam pada cekungannya.

Sementara orang yang di sebelah kanan laki-laki bertubuh besar berperut buncit ini adalah laki-laki yang usianya juga setengah baya. Tubuhnya kecil kurus. Rambutnya panjang dan jarang, demikian pula kumisnya. Ia mengenakan pakaian warna merah menyala agak gombrong. Sepasang matanya amat sipit sedangkan hidungnya besar. Yang membuat laki-laki ini seram, pada wajahnya tampak codet menyilang panjang dari kening samping kiri hingga dagu sebelah kanan.

Sedangkan laki-laki paling kiri, usianya juga setengah baya. Mengenakan pakaian warna kuning dengan ikat kepala juga berwarna kuning. Tubuhnya gemuk agak pendek. Kepalanya gundul. Laki-laki ini terlihat angker, karena pada seluruh wajahnya yang bulat lebar itu terdapat tato. "Pelayan! Cepat sediakan makan untuk kita!" tiba-tiba laki-laki bertubuh besar berperut buncit yang mengenakan pakaian hitam-hitam keluarkan bentakan.

Beberapa orang pelayan yang sedari tadi hanya berdiri tanpa berani memandang buruburu melangkah ke belakang. Sementara ketiga orang laki-laki ini langsung henyakkan pantat masing-masing pada bangku yang kini banyak yang kosong.

Tak berapa lama tiga orang pelayan terlihat melangkah dengan tubuh bergetar ke arah meja tiga laki-laki berwajah angker ini.

Selesai menghidangkan makanan dan minuman, tiga pelayan segera melangkah kembali ke belakang tanpa berani lagi berpaling.

Seraya tertawa tergelak-gelak, ketiga lakilaki ini langsung menyantap makanan di atas meja.

"Kita tak perlu tergesa-gesa. Waktu kita masih panjang. Lagi pula apa enaknya melakukan perjalanan tanpa terlebih dahulu mengasah pedang? Kulihat di sini banyak perempuan cantik yang menjanjikan kehangatan! Apakah kau akan sia-siakan kesempatan ini...?!"

"Tapi...," sahut yang berpakaian kuning. Namun sebelum ia melanjutkan ucapannya, lakilaki yang berpakaian hitam telah menyela.

"Tak ada tapi. Perjalanan ini akulah yang memimpin. Kalian berdua menurut saja! Apa kalian memang sudah bosan dengan tubuh molek perempuan, he...?" "Ah, hanya orang bodoh yang bosan dengan kemolekan tubuh perempuan! Kalau Kakang masih ingin, tentunya aku pun masih menggebu...!" berkata yang berpakaian merah seraya tertawa. Ketiga orang laki-laki ini pun lantas kembali tergelak-gelak.

"Hentikan tawa kalian! Lihat!" mendadak laki-laki yang mengenakan pakaian hitam-hitam membentak dan mengarahkan pandangan matanya pada pintu masuk kedai.

Laki-laki berpakaian merah dan kuning cepat palingkan wajah masing-masing ke arah pandangan mata laki-laki yang berpakaian hitamhitam.

Seorang perempuan berparas cantik tampak melangkah masuk kedai. Ia mengenakan pakaian tipis warna biru gelap. Usianya kira-kira masih dua puluh lima tahun. Rambutnya bergerai panjang dan berombak. Hidungnya mancung dihias bibir yang membentuk bagus. Sedangkan sepasang matanya tampak bulat tajam serta berwarna kebiruan. Dadanya membusung kencang, sementara pinggulnya tampak mencuat besar.

Sejenak perempuan ini layangkan sepasang matanya yang berbola kebiruan ke seluruh ruangan. Untuk beberapa saat matanya terhenti pada sosok pemuda duduk sendirian di meja samping yang tak acuh dengan keadaan. Malah pemuda ini terdengar mendendangkan nyanyian sambil melahap makanan.

Lalu perempuan cantik ini alihkan pandangannya pada tiga laki-laki yang memandanginya seakan hendak menelan habis. Pada tiga laki-laki ini sang perempuan hanya memandang sekilas, lalu melangkah perlahan pada bangku yang kini tampak kosong semua.

Sang perempuan tampaknya memilih bangku kosong yang lurus dengan bangku sang pemuda yang bukan lain adalah Aji.

Begitu sang perempuan duduk, laki-laki berpakaian hitam berkata.

"Dengar! Untuk yang ini kalian tak kuizinkan mencicipi! Ia khusus untukku!" habis berkata, laki-laki berpakaian hitam ini melangkah ke arah meja sang perempuan, sementara bibirnya yang tertutup kumis lebat terlihat tersenyum lebar.

Pendekar Mata Keranjang 108 yang sedari tadi acuh dengan keadaan di situ, angkat kepalanya demi mendengar kata-kata laki-laki berpakaian hitam. Dan begitu melihat sang perempuan yang memang lurus dengannya, murid Wong Agung ini tampak sunggingkan senyum. Sepasang matanya yang tajam memandangi sang perempuan dari rambut hingga kaki.

"Gila! Perempuan ini benar-benar mempesona! Pakaiannya yang amat ketat dan tipis sepertinya sengaja dibuat untuk menambah daya tariknya! Dada serta pinggulnya begitu serasi. Hmm...," namun pandangan Aji segera beralih pada laki-laki berpakaian hitam yang kini telah berdiri di samping sang perempuan. Sang perempuan tampaknya acuh didekati begitu, malah bibirnya terlihat sunggingkan senyum. "Manis! Kuharap kau tak keberatan bila ku temani makan!" berkata laki-laki berpakaian hitam dan langsung duduk di hadapan sang perempuan.

Sang perempuan hanya sunggingkan senyum tanpa memandang, namun diam-diam tanpa diketahui sang laki-laki, ia gerakkan tangan kanannya di bawah meja.

Kejap itu juga bangku yang diduduki lakilaki berpakaian hitam berderak dan hancur berkeping-keping. Namun dugaan sang perempuan ternyata meleset. Karena bersamaan dengan hancurnya bangku, tubuh laki-laki berpakaian hitam bukannya ikut terhumbalang jatuh. Tubuh besar itu tetap tak bergeming! Dari sini bisa dilihat jika baik sang perempuan maupun laki-laki berpakaian hitam bukanlah orang yang bisa dianggap remeh. Sang perempuan, meski hanya menggerakkan tangannya begitu amat pelan, namun mampu membuat bangku hancur berkepingkeping. Sementara sang laki-laki berpakaian hitam, dapat menahan tubuhnya meski hancurnya bangku itu secara tiba-tiba.

Melihat dugaannya meleset, sang perempuan bukannya menunjukkan rasa kejut, sebaliknya bibir perempuan ini makin lebar tersenyum. Dan bersamaan itu tangannya yang di bawah meja kembali bergerak pelan.

Saat itu juga serangkum angin deras menggebrak di bawah meja dan menyapu ke arah kedua kaki laki-laki berpakaian hitam yang pantatnya masih tampak mengapung di udara. "Ha... ha... ha.... Rupanya kau ingin mengajak main-main di sini sebelum main-main di atas ranjang jerami. Baiklah!" bersamaan dengan selesainya ucapannya, laki-laki berpakaian hitam ini sentakkan tangan kanannya ke bawah.

Wuuttt!

Tiba-tiba tubuhnya yang besar melesat ke udara. Dengan gerakan lincah, laki-laki ini membuat gerakan berputar satu kali di udara. Namun tubuhnya mendadak melesat lurus ke arah sang perempuan dengan tangan kiri menggapai.

Pendekar Mata Keranjang yang mengetahui hal ini segera angkat tangannya dan hendak didorong ke depan untuk menghalangi gerak tubuh laki-laki berpakaian hitam agar tidak menggapaikan tangan kirinya yang tampak mengarah pada dada sang perempuan.

Namun gerakan tangan pendekar murid Wong Agung ini diurungkan, karena sang perempuan cantik tampak tarik tubuhnya ke belakang dan serta merta disorongkan kembali ke depan. Hebatnya, meski hanya gerakkan tubuhnya ke depan, namun gapaian dan gerak laju tubuh sang laki-laki kontan tertahan! Malah kalau laki-laki ini tidak segera tambah tenaga dalamnya dan melesat ke udara, niscaya tubuhnya akan jatuh terjengkang!

"Jahanam...! Siapa kau...?!" laki-laki berpakaian hitam berteriak begitu telah mendarat kembali. Sepasang matanya tampak berkilat.

Yang ditanya hanya tersenyum. Malah sepasang matanya memandang pada Pendekar 108 berlama-lama. Yang dipandang sunggingkan senyum dan kerdipkan mata kirinya. Namun demikian diam-diam dalam hati Aji berkata.

"Perempuan cantik ini tak bisa dianggap sebelah mata. Tenaga dalamnya tampak cukup tinggi. Siapa dia...? Rupanya makin banyak saja tokoh-tokoh rimba persilatan yang tak kukenal telah muncul. Apakah ia juga memburu Arca Dewi Bumi, seperti tokoh-tokoh lainnya...? Atau...," Pendekar 108 tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu juga terdengar lagi bentakan dari laki-laki berpakaian hitam-hitam.

"Aku hanya mengulangi sekali. Siapa kau...?!"

Lagi-lagi yang dibentak hanya sunggingkan senyum. Mulutnya memang tampak membuka seakan hendak berkata, namun ditunggu agak lama perempuan ini tak juga keluarkan katakata.

"Rupanya kau tak bisa diajak berhalushalus!" kata laki-laki berpakaian hitam seraya maju selangkah. Kedua tangannya ditarik ke belakang. Namun sebelum laki-laki ini sempat kirimkan serangan, laki-laki berpakaian merah dan kuning bangkit dari duduknya. Salah satu di antaranya melangkah dan berkata.

"Kakang. Kalau soal yang begini, Kakang tak usah turun tangan sendiri! Serahkan padaku dan Datuk Kumbang. Kakang nanti tinggal terima masaknya! Bukankah begitu, Datuk Kumbang...?" kata laki-laki yang ternyata berpakaian merah seraya palingkan wajah pada laki-laki berpakaian kuning yang dipanggilnya dengan Datuk Kumbang.

Datuk Kumbang tersenyum menyeringai. Sepasang matanya memandang silih berganti pada dada dan pinggul sang perempuan, lalu berkata.

"Benar! Kakang Pragolo tak usah repotrepot! Perempuan ini serahkan saja padaku dan Suro Dadak! Kakang tinggal siap-siap saja untuk menikmatinya!"

Mendengar perkataan dua laki-laki ini, laki-laki berpakaian hitam yang dipanggil dengan Pragolo tertawa ngakak, sementara laki-laki berpakaian merah yang dipanggil Suro Dadak tampak melangkah maju.

Sementara itu baik para pelayan maupun pemilik kedai tampak sudah sama berlarian keluar begitu merasa akan timbul keributan. Sedangkan Pendekar 108 terlihat meneruskan makannya meski sepasang matanya tak henti melirik pada sang perempuan.

"Sial benar! Selera makanku tiba-tiba ikut lenyap!" gumam Pendekar Mata Keranjang seraya usap-usap hidungnya. Pandangannya diarahkan ke luar halaman kedai.

"Baiklah jika itu kehendak kalian berdua. Tapi ingat, aku tak mau dia cedera, apalagi sampai kulitnya lecet-lecet. Nanti akan mengurangi kenikmatan. Kalian dengar...?" kata Pragolo sambil melangkah ke arah meja dan duduk ongkangongkang, tawanya terus terdengar dari mulutnya.

"Kau tak usah khawatir, Kakang! Kulitnya kujamin tetap mulus!" kata si kecil kurus berbaju merah Suro Dadak sambil terus maju.

"Bahkan kujamin kami tak akan menyentuhnya! Asal Kakang berlaku seperti biasanya!" kali ini yang bicara adalah si pendek gundul berpakaian kuning yakni Datuk Kumbang.

Pragolo hentikan tawanya. Dipandanginya satu persatu Suro Dadak dan Datuk Kumbang.

"Rupanya kalian juga berminat. Baiklah! Aku akan berlaku seperti biasanya. Aku yang mendahului, lantas Suro Dadak dan terakhir kau, Datuk Kumbang! Melihat gesitnya dia, tampaknya kita masih kekurangan tenaga untuk menggilirnya! Bagaimana kalau pemuda itu kita ajak sekalian...?"

Suro Dadak dan Datuk Kumbang palingkan wajahnya masing-masing pada Aji. Mendadak Datuk Kumbang tertawa tergerai-gerai.

"Kakang! Jika laki-laki masih ingusan seperti dia kita ajak serta dalam pesta nikmat ini, aku khawatir dia akan terkapar terlebih dahulu sebelum sampai tujuan! Ha... ha... ha...!"

"Benar, Kakang. Malah akan terkencingkencing dahulu! Sebaiknya kita tak usah tambah tenaga kalau hanya dengan satu perempuan. Aku rasa, aku masih sanggup biar semalam suntuk! Ha... ha... ha...!" berkata si kecil kurus Suro Dadak seraya alihkan kembali pandangannya pada sang perempuan.

Di seberang, Pendekar Mata Keranjang 108 terlihat membelalakkan sepasang matanya mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari Datuk Kumbang dan Suro Dadak. Namun ia tak hendak menyahuti. Ia memang ingin melihat bagaimana sepak terjang tiga laki-laki ini. Maka meski dengan memaki dalam hati, Aji pun alihkan pandangannya, dan seolah acuh dengan apa yang hendak diperbuat oleh Pragolo, Datuk Kumbang, serta Suro Dadak.

Sang perempuan sendiri hanya tersenyumsenyum mendengar ucapan tiga laki-laki ini. Tak segurat pun tanda ketakutan di wajahnya.

Suro Dadak dan Datuk Kumbang saling berpandangan sebentar. Lantas kedua-duanya sama-sama melangkah mendekat. Tiba-tiba saja si kecil kurus Suro Dadak kelebatkan tangannya, demikian juga si pendek gundul Datuk Kumbang.

Wuttt! Wuuttt!

Dua tangan tampak berkelebat cepat. Dan jelas yang dituju adalah bagian dada serta punggung sang perempuan!

Yang diserang hanya gerakkan tubuh ke samping. Tangan Suro Dadak dan Datuk Kumbang menerobos angin sejengkal di samping tubuh sang perempuan. Bukan hanya sampai di situ, begitu gerakkan tubuhnya perempuan ini cepat pula angkat kakinya ke atas dan disapukan ke depan menyamping!

Deesss! Deesss!

Terdengar seruan tertahan dari mulut Suro Dadak dan Datuk Kumbang begitu kaki sang perempuan menghantam paha masing-masing orang ini.

Dua laki-laki ini terlihat kerahkan tenaga dalamnya untuk menghentikan laju tubuh masing-masing yang menyuruk lurus. Namun tampaknya sapuan kaki sang perempuan demikian derasnya, hingga keduanya tak sanggup lagi menahan laju tubuh masing-masing. Maka kejap itu juga kedua orang ini langsung terjerembab di atas lantai kedai setelah terlebih dahulu menghantam meja.

Baik Pendekar 108 maupun Pragolo tampak sedikit terkejut melihat hal ini. Meski sapuan kaki perempuan itu tampak tanpa tenaga, namun kenyataannya mampu membuat Suro Dadak dan Datuk Kumbang terjerembab!

"Bangsat! Kupatahkan kakimu!" teriak si kecil kurus Suro Dadak sambil bangkit. Sepasang matanya berubah merah dan membesar. Pelipisnya bergerak-gerak membuat codetnya seakan hendak membuka kembali. Datuk Kumbang pun ikut-ikutan marah. Sambil bangkit dari mulutnya terdengar umpatan tak karuan. Tampaknya rencana mereka yang akan tidak melecetkan kulit sang perempuan terlupa seketika.

Kedua laki-laki ini serentak lesatkan tubuh masing-masing, namun baru saja mereka mendarat, sang perempuan telah melesat dan sertamerta kakinya kembali menggebrak ke arah dada Suro Dadak dan Datuk Kumbang!

Wuuttt! Wuutttt!

Demikian cepatnya gerakan sang perempuan, hingga baik Suro Dadak maupun Datuk Kumbang walau sempat menghindar namun gerakannya kalah cepat. Hingga.... Desss! Dessss!

Suro Dadak dan Datuk Kumbang memekik tinggi. Tubuh keduanya melayang jauh menghantam meja dan bangku hingga patah dan hancur. Tubuh keduanya baru terhenti ketika punggung masing-masing orang ini menghantam sisi samping bangunan kedai yang terbuat dari batu bata. Batu bata itu tampak rengkah!

"Jahanam busuk! Kubunuh kau, Perempuan Liar!" bentak si pendek gundul Datuk Kumbang seraya meludah dan bangkit. Ludah yang muncrat tampak berwarna kehitaman, menandakan bahwa Datuk Kumbang telah terluka dalam. Tak jauh beda dengan Datuk Kumbang, demikian pula yang dialami Suro Dadak. Malah laki-laki ini tampaknya lebih parah, karena seraya bangkit tangan kanannya mendekap dada dan berulang kali mengurutnya. Dan tak lama kemudian meludah. Ludahnya pun berwarna kehitaman, bahkan tampak mengental!

Perempuan berparas cantik dongakkan kepalanya menatap langit-langit kedai. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar suara tawa panjang. Lalu tanpa peduli pada Suro Dadak dan Datuk Kumbang, perempuan ini balikkan tubuh dan melangkah keluar kedai.

"Jangan harap bisa lari sebelum ku adukaduk tubuhmu!" teriak Datuk Kumbang seraya melesat keluar yang kemudian disusul oleh Suro Dadak.

Sampai halaman kedai, Datuk Kumbang serta Suro Dadak langsung kirimkan serangan dengan sentakkan tangan masing-masing. Kedua orang ini tampaknya tak lagi menganggap enteng sang perempuan. Karena serangannya kini dialiri dengan tenaga dalam penuh, hingga saat itu juga empat gelombang angin kencang melesat dari belakang sang perempuan!

Sang perempuan hentikan langkahnya. Tanpa berpaling ke belakang, ia jejakkan kakinya di atas tanah. Tubuhnya mengangkasa, hingga serangan Suro Dadak dan Datuk Kumbang menghajar tempat kosong.

Hebatnya, begitu di atas udara, perempuan ini langsung putar tubuhnya dan dengan sekali membentak, tubuhnya melesat cepat ke arah Suro Dadak dan Datuk Kumbang!

Suro Dadak dan Datuk Kumbang terkejut besar. Keduanya segera melompat ke samping. Namun bersamaan dengan itu, tangan kiri kanan sang perempuan mendorong.

Wuuttt! Wuutttt!

Dua larik sinar hitam menyambar keluar dengan disertai suara menggemuruh.

Suro Dadak dan Datuk Kumbang tercekat. Paras wajah kedua orang ini berubah seketika. Dan mungkin karena terperangah, keduanya tak lagi berbuat sesuatu, hingga tak ampun lagi sinar hitam itu menghantam dada masing-masing lakilaki ini!

Desss! Deesssss!

Tak ada suara terdengar dari mulut Suro Dadak dan Datuk Kumbang. Yang kemudian terlihat adalah mencelatnya tubuh kedua laki-laki ini sampai kira-kira sepuluh tombak ke belakang. Begitu bergelimpangan di atas tanah, tu-

buh Suro Dadak dan Datuk Kumbang terlihat bergerak-gerak sebentar, namun tak lama kemudian diam kaku dengan darah hitam meleleh dari mulut, hidung, dan telinganya!

Ketika sang perempuan mengirimkan serangan tadi, sebenarnya Pragolo telah tahu bahaya, dan buru-buru sentakkan kedua tangannya untuk menangkis. Namun pukulan sang perempuan tampaknya lebih cepat, hingga tangkisan yang dilancarkan Pragolo hanya menerabas tempat kosong.

Melihat dua temannya roboh bersimbah darah, Pragolo kertakkan rahang. Mata sebelah kanannya makin menonjol ke luar, sementara gerahamnya keluarkan suara bergemeretak.

Namun diam-diam Pragolo tak urung merasa terguncang juga dan sadar jika dugaannya pada perempuan ini jauh meleset. Tapi sebagai orang yang telah lama terjun dalam rimba persilatan, ia tak mau menunjukkan rasa gentarnya. Malah seolah acuh dengan kedua temannya, lakilaki berpakaian hitam-hitam ini melangkah mendekati sang perempuan.

Di lain pihak, Pendekar Mata Keranjang

108 yang melihat kejadian itu dari dalam kedai, tampak sedikit terkejut. Meski ia telah menduga bahwa sang perempuan mempunyai ilmu, namun ia tak menyangka jika perempuan ini demikian cepat bertindak bahkan menewaskan Suro Dadak dan Datuk Kumbang. "Siapa perempuan ini? Tak dapat dipungkiri, ilmunya sangat tinggi! Belum sampai aku bertindak untuk mencegah, ia telah berhasil menewaskan dua laki-laki itu! Memang sudah layak laki-laki itu diberi pelajaran, tapi tewas adalah hukuman terlalu berat! Apakah aku harus turun tangan untuk mencegahnya...?" membatin Pendekar Mata Keranjang tatkala dilihatnya Pragolo telah melangkah dan telah ancang-ancang hendak kirimkan serangan.

"Kalau aku ikut campur. apakah tidak mendatangkan persoalan baru? Hm.   Kulihat sa-

ja perkembangannya. !" lanjut Pendekar Mata Ke-

ranjang 108 dalam hati sambil geleng-gelangkan kepala dan mata mengarah pada sang perempuan dan Pragolo yang kini telah saling berhadapan.

"Keparat busuk! Sebelum mampus, katakan dahulu siapa kau!" bentak Pragolo dengan sepasang mata menyengat menusuk pada bola mata kebiruan sang perempuan.

Sang perempuan alihkan pandangan pada jurusan lain, lalu ke arah kedai di mana Pendekar Mata Keranjang berada dan sedang memandang ke arahnya.

"Laki-laki binatang! Dengar baik-baik. Agar arwahmu tak penasaran, untukmu akan kusebutkan yang kau minta. Melihat tingkahmu, aku yakin kau adalah seorang pesilat. Dan jika kau bukan pesilat kelas teri tentunya kau pernah dengar orang yang bergelar Ratu Pulau Merah! Nah, kau sekarang sedang berhadapan dengannya!" Pragolo buka sedikit mulutnya karena terkejut. Malah tanpa diketahui sang perempuan, yang berjuluk Ratu Pulau Merah, Pragolo undurkan langkahnya dua tindak ke belakang.

Memang siapa saja yang berkecimpung dalam rimba persilatan pasti pernah mendengar nama itu. Ia adalah seorang tokoh dari jajaran atas golongan hitam yang telah lama tak muncul. Sesuai dengan gelar yang disandang, perempuan ini memang berguru pada tokoh yang bermukim di Pulau Merah. Selain dikenal sebagai tokoh sesat, Ratu Pulau Merah juga dikenal manusia berilmu tinggi yang sangat kejam. Perkara membunuh bagi Ratu Pulau Merah bukan lagi masalah besar. Anehnya, meski ia tokoh yang bisa dibilang tua, namun parasnya tetap muda dan cantik!

Sambil undur diri ke belakang, Pragolo kerutkan dahi, sepasang matanya makin membesar. "Aku pernah dengar gelar Ratu Pulau Me-

rah, tapi itu kudengar sudah beberapa puluh tahun silam. Kalau ia memang Ratu Pulau Merah, kenapa wajahnya tetap muda...? Apakah ia tak mengada-ada sebagai Ratu Pulau Merah? Tapi, melihat hanya dalam beberapa gebrakan telah berhasil menewaskan Suro Dadak dan Datuk Kumbang, siapa pun ia adanya, aku harus berhati-hati!"

Sama dengan Pragolo, demi mendengar sang perempuan sebutkan nama, Pendekar Mata Keranjang juga terperangah kaget. Sepasang matanya makin tak kesiap mengawasi Ratu Pulau Merah. "Hmm.... Ratu Pulau Merah. Aku pernah mendengar nama tokoh itu. Tapi kalau begini orangnya, aku tak menduga sama sekali! Aku harus berhati-hati, kudengar Ratu Pulau Merah adalah tokoh golongan hitam! Ia berada di sini, apakah ia tengah memburu Arca Dewi Bumi juga...? Aku harus mengawasinya!"

Meski Pragolo dihantui rasa kaget, namun ia tak mau menunjukkan rasa terkejutnya. Malah sambil menyeringai, ia berkata.

"Hari ini aku sangat beruntung sekali dapat berjumpa dengan sahabat satu golongan, tapi karena kau telah bertindak ceroboh pada kedua temanku, maka mau tak mau kau harus menggantinya!"

Ratu Pulau Merah mendengus keras.

"Kau akan dapat ganti jika telah menyusul dua temanmu!"

Habis berkata begitu, Ratu Pulau Merah kelebatkan tubuhnya. Sosoknya mendadak lenyap dari halaman kedai. Namun sesaat kemudian muncul lagi dari atas udara dengan kedua telapak tangan Ratu Pulau Merah terarah menuju kepala Pragolo.

Tahu keadaan berbahaya dan tak mau mati konyol, Pragolo segera hantamkan pula kedua tangannya.

Plaarrr!

Dua buah pukulan bertenaga dalam bentrok di udara mengeluarkan suara letupan keras. Sebentar kemudian terdengar seruan tertahan dari mulut Pragolo. Tubuhnya terseret ke belakang sampai dua tombak! Ia memang berhasil menahan tubuhnya hingga tak jatuh terkapar, namun sesaat kemudian, paras laki-laki ini pucat pasi. Karena secara tidak terduga, Ratu Pulau Merah telah melesat ke arahnya. Padahal ia belum siap untuk menangkis apalagi melancarkan serangan!

"Celaka! Tamat riwayatku!" gumam Pragolo. Dan belum selesai ia berkata, dua larik sinar hitam telah menghantam dadanya.

Deesss!

Jeritan melengking tinggi keluar dari mulut Pragolo bersamaan dengan melayangnya tubuhnya. Anehnya, untuk beberapa saat tubuh besar Pragolo mengapung diam di udara, lalu tak lama kemudian jatuh terkapar di atas tanah dengan baju bagian dada robek besar dan hangus!

Pragolo terlihat diam, namun tak lama kemudian ia bergerak-gerak akan bangkit. Dari sini bisa dilihat, jika Pragolo adalah laki-laki yang tahan pukul, jika tidak tentu nasibnya akan sama dengan Suro Dadak dan Datuk Kumbang.

Melihat lawan masih bisa bergerak, bahkan hendak bangkit, Ratu Pulau Merah melangkah mendekat. Kedua tangannya ditarik sedikit ke belakang, lalu dengan gerakan cepat kedua tangannya didorong ke depan.

DELAPAN

DUA larik sinar hitam menggebrak ke arah Pragolo. Pragolo palingkan wajah. Ia terlihat membuka mulutnya. Wajahnya telah pias seperti orang kehabisan darah. Ia tampak kerahkan sisasisa tenaganya untuk bergerak menghindar. Namun karena tubuhnya telah terluka dalam, maka gerakannya tak mampu melebihi kecepatan pukulan Ratu Pulau Merah. Hingga laki-laki ini tampak pasrah. Sepasang matanya ia pejamkan dan menanti maut menjemput!

Namun sebelum pukulan Ratu Pulau Merah mengantar Pragolo ke liang kubur, sesosok bayangan berkelebat. Dan bersamaan dengan itu, serangkum angin kencang menggemuruh memapasi pukulan Ratu Pulau Merah.

Plaarrr!

Terdengar letupan. Ratu Pulau Merah tersurut dua langkah ke belakang. Sepasang matanya tampak membeliak besar. Bibirnya saling menggegat pertanda marah.

"Bangsat rendah! Siapa berani campuri urusan orang?!" bentak Ratu Pulau Merah seraya menebar pandangan. Karena bayangan yang tadi menghadang serangannya tiba-tiba lenyap bagai ditelan bumi.

Selagi Ratu Pulau Merah mencari-cari, terdengar orang mendendangkan nyanyian. Sambil memaki, Ratu Pulau Merah palingkan wajah ke arah sumber nyanyian.

Perempuan berparas cantik ini melotot dengan dahi mengkerut. Kedua tangannya yang hendak melepaskan pukulan serta-merta ia luruhkan. Matanya tak berkedip memandang ke atas atap kedai. Di atap kedai yang terbuat dari ijuk tampak seorang berpakaian hijau sedang tiduran dengan berkipas-kipas, dari mulutnya terdengar nyanyian yang tak bisa ditangkap maknanya.

"Hmm.... Pemuda itu...! Siapa dia? Parasnya tampan dan tampaknya seperti pemuda suka perempuan! Di dalam kedai tadi, ia sempat kerdipkan sebelah matanya padaku...! Dan siapa pun ia adanya, yang pasti ia memiliki ilmu yang tidak rendah. Gerakannya begitu cepat dan mampu menangkis seranganku!" Ratu Pulau Merah membatin. Lalu tanpa mengacuhkan lagi pada Pragolo ia melangkah ke arah sang pemuda yang bukan lain adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108.

Sementara itu tatkala terdengar letupan, Pragolo tampak mengejang, namun ia buru-buru membuka kelopak matanya ketika dirasa ada angin menderu kencang dan tubuhnya tidak kena hantam.

Sejenak sepasang mata Pragolo mengawasi Ratu Pulau Merah, lalu beralih ke atap kedai saat dilihatnya Ratu Pulau Merah menengadah seraya melangkah ke arah kedai.

"Edan! Apakah pemuda itu yang menyelamatkan jiwaku? Siapa dia...? Dan tingkahnya seperti anak-anak sedang main-main. Apa dia tak merasa, sedang berhadapan dengan siapa kali ini...?"

Hampir sampai kedai, Ratu Pulau Merah menghentikan langkahnya.

"He...! Siapa kau...? Dan apa hubunganmu dengan laki-laki binatang itu...?!" Ratu Pulau Merah membentak.

Aji sepertinya tak mendengar bentakan orang. Malah nyanyiannya semakin ia keraskan.

Ratu Pulau Merah makin kernyitkan kening. Dari mulutnya terdengar gumam tak jelas. Namun mendadak ia berteriak lagi.

"He...! Kalau kau tak mau jawab, jangan menyesal jika tubuhmu terjerembab!"

Tiba-tiba Pendekar Mata Keranjang 108 hentikan nyanyiannya. Perlahan kepalanya digerakkan berpaling ke bawah. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum.

"Ratu.... Aku tak ada hubungan apa-apa dengan laki-laki itu. Kenal pun tidak!" kata Pendekar 108 setelah berlama-lama memandang Ratu Pulau Merah.

"Hmm.... Begitu? Lantas apa maksudmu mencampuri urusanku? Dan sebutkan siapa kau dan apa gelarmu!"

Pendekar 108 lipat kipas ungunya, dimasukkan ke balik pakaiannya jalu dengan gerakan ringan, ia melayang turun.

Sejenak, kembali Aji pandangi Ratu Pulau Merah, lalu berkata.

"Nama memang aku punya, tapi untuk gelar, bagaimana kalau Ratu saja yang mencarikan untukku? Tapi.... Ah, itu tak pantas. Aku yang hanya seorang pengelana jalanan tak enak rasanya membawa-bawa gelar! Kata orang-orang 'gelar' itu berat untuk dibawa. Apa betul...?"

Mendengar ucapan Pendekar Mata Keranjang 108, Ratu Pulau Merah tertawa pendek. Sementara Pragolo geser tubuhnya pelan-pelan ke sebuah pagar yang tampaknya tidak terpakai.

Namun mendadak Ratu Pulau Merah hentakkan tangannya ke bawah. Kepalanya ia dongakkan ke atas, hingga tampak jelas lehernya yang putih dan jenjang, membuat murid Wong Agung tak kesiapkan matanya.

Bersamaan dengan menyentaknya tangan Ratu Pulau Merah, tanah di sekitar situ bergetar. Ratu Pulau Merah lantas membentak garang.

"He...! Kau tak usah banyak omong. Jawab saja pertanyaanku!"

Pendekar 108 anggukkan kepalanya perlahan. "Namaku Aji. Orang menggelariku Aji Saputra. Seorang pengelana jalanan yang tak punya arah tujuan. Dan kalau boleh, aku tak segansegan ikut dengan Ratu Pulau Merah! Aku tidak akan "

"Cukup!" bentak Ratu Pulau Merah menyela ucapan Pendekar 108. Namun Pendekar dari Karang Langit ini tampaknya tak mengindahkan bentakan perempuan di hadapannya. Ia terus melanjutkan ucapannya.

"Aku tidak akan meminta seperti tiga lakilaki tadi jika Ratu memang bersedia mengajakku.... Aku "

"Diam!" lagi-lagi Ratu Pulau Merah membentak. Sepasang matanya melotot besar memperhatikan Aji dari kaki hingga rambut.

"Ada yang tak beres dengan diriku ?"

tanya Pendekar 108 seraya memandangi tubuhnya sendiri seperti apa yang dilakukan Ratu Pulau Merah.

"Hmm.... Siapa sebenarnya pemuda ini...? Tingkahnya seperti orang tidak waras. Tapi tampangnya menarik.... Seandainya aku tak harus mempelajari isi bumbung bambu, pemuda ini layak kujadikan selimut malamku. Hmm. Sung-

guh sayang sekali "

Ratu Pulau Merah gerakkan tangannya meraba pinggangnya. Ia tampak menarik napas lega. Ternyata tangannya masih merasakan adanya kipas lipat dan bumbung bambu di balik pakaiannya.

"He...! Dengar baik-baik. Kalau kau memang tak kenal dengan laki-laki binatang itu, nyawamu kuampuni! Tapi cepat tinggalkan tempat ini!" sambil berkata, tangan kanan Ratu Pulau Merah menunjuk Pragolo yang tampak kerahkan tenaga dalam untuk memulihkan dirinya.

Pendekar Mata Keranjang 108 usap-usap hidungnya dengan punggung tangan.

"Ratu. Terima kasih kau masih berbaik hati mengampuniku. Tapi jika aku tak meninggalkan tempat ini, apa kau akan menarik ampunan mu...?"

"Waktuku tak banyak. Kau tak perlu banyak omong. Lekas tinggalkan tempat ini!"

"Ah!" Aji keluarkan seruan seperti orang terkejut. Kepalanya menggeleng pulang balik.

"Ratu! Menyesal sekali. Aku sepertinya tak bisa meninggalkan tempat ini. Aku adalah pengelana yang menurutkan ke mana kaki melangkah. Kali ini rupanya kakiku tak mau melangkah, jadi terpaksa aku pun tak bisa meninggalkan tempat ini! Entah kalau Ratu yang mengajak "

"Hmm.... Ternyata kau memang komplotan laki-laki binatang itu! Dan kau harus pula menerima hajaran!"

Habis berkata begitu, Ratu Pulau Merah dorong tangannya ke depan.

Wuuuttt!

Serangkum angin menderu kencang ke arah Pendekar 108. Meski Ratu Pulau Merah tampak marah, namun melihat serangan yang dikirimkan, ia rupanya tidak bersungguh-sungguh.

Pendekar Mata Keranjang yang tampak tersenyum-senyum cepat melompat ke samping kanan. Pukulan Ratu Pulau Merah menyambar satu depa di samping Pendekar Mata Keranjang 108.

Begitu dapat menghindar dari serangan Ratu Pulau Merah, Pendekar 108 cepat tundukkan kepala seperti orang memberi hormat. Lalu seraya melirik , ia berkata.

"Ratu. Kuharap Ratu Pulau Merah tak salah paham. Aku bukan komplotan dia! Hanya kurang layak jika kesalahan yang begitu saja harus ditebus dengan nyawa! Hajaran yang kini telah diterima, kurasa itu lebih dari cukup!"

Ratu Pulau Merah tampak mulai jengkel. Sambil melompat dan kirimkan serangan, perempuan ini berteriak lantang.

"Siapa percaya mulutmu! Kau tampaknya pandai omong! Mulutmu pantas mendapat tamparan!" Dua tangan Ratu Pulau Merah berkelebat cepat mengarah pada kepala dan dada Pendekar Mata Keranjang 108! Sebelum tangan itu berkelebat menghantam sasaran, dua larik angin menderu.

Begitu cepatnya gerakan Ratu Pulau Merah, hingga sebelum Aji sempat untuk menghindar, kedua tangan Ratu Pulau Merah telah di depan matanya!

"Gila! Gerakannya sangat cepat!" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 sambil angkat satu tangannya di atas kepala dan satunya disilangkan di depan dada.

Desss! Deessss!

Terdengar dua kali benturan. Ratu Pulau Merah terlihat membelalakkan sepasang matanya karena terkejut. Tubuhnya mental balik. Tangannya terasa seakan menghantam benda keras.

"Hmm.... Semuda ini tenaga dalamnya begitu hebat! Siapa dia sebenarnya? Daripada di kemudian hari menjadi penghalang, mumpung masih baru mekar lebih baik ditebas dahulu!" Ratu Pulau Merah membatin. Niatnya yang semula tidak ingin berlama-lama di situ berganti dengan ingin melenyapkan Pendekar 108! Namun begitu pandangan matanya bentrok lagi dengan pandangan Pendekar 108, hati perempuan ini dilanda kebimbangan.

"Tapi, kalau ia memang berilmu tinggi, apakah tidak sebaiknya jika dia kujadikan teman...? Bukankah setelah mempelajari isi bumbung bambu aku masih punya rencana memburu Arca Dewi Bumi yang kini menggegerkan rimba persilatan...? Memburu arca itu kurasa pekerjaan berat, dan aku butuh teman! Kalau dia tidak mau...?"

Selagi Ratu Pulau Merah dirundung kebimbangan, Pendekar Mata Keranjang cepat balikkan tubuh hendak pergi. Ia berbuat begitu karena dilihatnya Pragolo secara diam-diam ternyata telah meninggalkan tempat itu sewaktu Ratu Pulau Merah menyerang Pendekar 108.

Namun belum sampai Aji melangkah, Ratu Pulau Merah telah berteriak. Teriakannya nampak bernada marah, apalagi tatkala dilihatnya Pragolo sudah pergi.

"Tunggu! Tidak semudah itu kau bisa meninggalkan tempat ini!"

Tanpa palingkan wajah Pendekar 108 ber-

kata.

"Ratu. Bukankah kau tadi menyuruhku

meninggalkan tempat ini...? Sekarang ketika kakiku mengajak pergi, kau balik mencegahku! Apa maksudmu sebenarnya...?!"

Ratu Pulau Merah keluarkan dengusan.

Matanya berkilat-kilat menindih hawa marah. "Karena kau, laki-laki binatang tadi ming-

gat tanpa sepengetahuanku! Maka sebagai gantinya, kau harus rela menyerahkan nyawamu!"

"Jadi aku harus menanggung hukuman laki-laki tadi...?"

"Kau jangan berpura-pura tolol! Hadapilah kematianmu!"

Habis berkata begitu, Ratu Pulau Merah cepat jejakkan sepasang kakinya ke atas tanah. Tubuhnya melesat lenyap! Sesaat kemudian sosoknya tiba-tiba telah satu langkah di belakang Pendekar 108. Dan serta-merta tangannya dihantamkan pada kepala dan punggung Aji.

Tanpa balikkan tubuh, Pendekar 108 cepat lorotkan tubuhnya hingga duduk menggelosoh di atas tanah. Hingga hantaman Ratu Pulau Merah hanya menghajar tempat kosong. Namun perempuan ini tak buang kesempatan, begitu dilihatnya Pendekar 108 duduk menggelosoh, sepasang kakinya ia majukan ke depan seraya membuat loncatan.

Wuuttt! Wuutttt!

Tampaknya Pendekar 108 telah dapat membaca apa yang hendak dilakukan oleh Ratu Pulau Merah, hingga sebelum dua kaki sempat menggebrak punggungnya, murid Wong Agung ini gelundungkan tubuhnya, namun bersamaan itu tangan kanannya bergerak menelikung ke belakang.

Wuuuttt!

Praakkk! Praaakkkk!

Ratu Pulau Merah keluarkan seruan tertahan tatkala kakinya terpapak tangan Pendekar Mata Keranjang. Ia segera mundur sampai lima langkah. Wajahnya meringis menahan sakit. Sementara Aji terus menggelundungkan tubuhnya agak menjauh. Setelah dirasa agak jauh, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat membuat gerakan menghentak. Tubuhnya melenting, lalu mendarat dengan kaki kokoh.

"Setan jahanam! Ternyata pemuda ini benar-benar berilmu tinggi! Hm.... Apakah dia bukan...," sepasang mata Ratu Pulau Merah memperhatikan Aji lebih seksama.

"Apakah dia bukan pemuda yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108...? Bukankah tadi dia berkipas-kipas...? Sial! Kenapa aku baru ingat sekarang? Hm.... Sebelum membalas pada gurunya, muridnya dahulu pun tak jadi apa!"

Kini keputusan hati Ratu Pulau Merah untuk membunuh Pendekar Mata Keranjang 108 pun jadi bulat. Apalagi setelah agak yakin jika pemuda berbaju hijau di hadapannya adalah murid tunggal Wong Agung, seorang yang pernah menewaskan gurunya pada beberapa puluh tahun silam.

Di seberang, begitu melihat Ratu Pulau Merah tercenung memandangi dirinya, Pendekar 108 berkata dalam hati.

"Pragolo telah berhasil melarikan diri. Sebaiknya aku pun cepat meninggalkan tempat ini. Aku harus segera sampai di Bokor. Lagi pula tampaknya cuaca sebentar lagi akan hujan "

Berpikir begitu, Pendekar 108 lantas jejakkan kakinya. Tubuhnya melenting lurus ke atas.

Ratu Pulau Merah sedikit terkejut melihat Pendekar 108 membuat gerakan. Ia menduga Aji akan melakukan serangan. Namun perhitungan Ratu Pulau Merah meleset. Karena begitu lurus di atas udara, Pendekar Mata Keranjang 108 segera balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat itu!

"Jahanam pengecut! Jangan mimpi bisa lolos dari tanganku!" teriak Ratu Pulau Merah seraya berkelebat menyusul.

SEMBILAN

KEPARAT! Ke mana lenyapnya manusia itu? Sesaat ia kulihat masih di sini!" maki Ratu Pulau Merah sambil menebarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat di mana dia berdiri. Tempat itu amat sepi dan di kanan kirinya hanya ada deretan pohon-pohon besar serta semak belukar. "Heran, gerakannya begitu cepat! Aku makin yakin jika manusia itu adalah pemuda yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108! Murid satu-satunya si jahanam Wong Agung....!" ia lantas tengadahkan kepalanya ke atas.

"Brengsek! Malam rupanya sebentar lagi akan datang dan hujan tampaknya mulai turun. Ini menambah kesulitan dalam mencarinya" Ratu Pulau Merah luruskan lagi kepalanya. Sepasang matanya yang berwarna kebiruan kembali menebar kian kemari. Tampaknya perempuan ini dilanda kebingungan antara meneruskan perjalanan menuju Pulau Merah tempat tinggalnya dan mempelajari isi dalam bumbung bambu yang berhasil dicurinya dari Karang Langit atau meneruskan mencari pemuda yang diyakini Pendekar 108.

Selagi dia mempertimbangkan langkah yang hendak diambil, tiba-tiba semak belukar sepuluh langkah di sebelah kanannya terlihat bergerak-gerak. Tanpa berpikir panjang lagi, Ratu Pulau Merah segera meloncat dengan kedua tangan siap kirimkan pukulan.

Namun Ratu Pulau Merah mengomel panjang pendek tatkala tak satu manusia pun yang ditemuinya di semak belukar itu. Mungkin karena jengkel, tangan kanannya yang telah dialiri tenaga dalam disentakkan ke arah semak belukar.

Breettt!

Serangkum angin keras menderu. Sekejap kemudian, semak belukar itu terbabat rata, malah sebagian ada yang terbongkar tanahnya!

Namun setelah melepaskan kejengkelannya, perempuan ini tercenung.

"Kurasa tidak ada angin, dan hujan pun baru rintik-rintik, kalau tidak ada yang menggerakkan tak mungkin semak tadi bergerak-gerak! Dan kalau binatang, tentunya telah ikut terbang ke atas bersama bongkaran semak belukar! Hm....

Yang menggerakkan pasti dia! Dan kalau ia telah lari lagi, mestinya masih belum jauh dari sini!" otak cerdik perempuan berparas cantik ini menduga-duga.

Tanpa berkata-kata lagi, ia pun lantas berkelebat ke jurusan lurus dengan semak belukar yang baru saja terbongkar.

Sementara itu, hampir memasuki daerah Bokor, Pendekar Mata Keranjang memperlambat larinya. Ia sebentar-sebentar palingkan wajahnya ke belakang.

"Untung aku tadi bergerak cepat, jika tidak Ratu Pulau Merah sudah pasti dapat menemukanku! Perempuan itu benar-benar gila. Ia tegateganya membunuh hanya karena masalah kecil! Hmm.... Aku juga heran, kalau ia memang Ratu Pulau Merah kenapa masih muda begitu? Padahal menurut yang pernah kudengar, tokoh yang bernama Ratu Pulau Merah adalah tokoh yang muncul pada beberapa puluh tahun yang lalu. Bagaimana ini bisa terjadi...? Apakah dia hanya mengaku-aku sebagai Ratu Pulau Merah...? Atau dia punya ilmu awet muda...? Aku masih belum bisa memastikannya. Hanya satu yang bisa kupastikan, dia adalah seorang perempuan berparas cantik! Dadanya menantang dan pinggulnya menggemaskan...," Pendekar 108 berkata dalam hati seraya senyum-senyum dan gelengkan kepalanya. Selagi murid Wong Agung   ini   senyumsenyum membayangkan Ratu Pulau Merah, tibatiba sesosok bayangan berkelebat seraya berseru

lantang.

"Bumi terlalu sempit untuk dapat membuatmu lolos dari tanganku, Bocah!"

Bersamaan dengan terdengarnya seruan, serangkum angin menderu dahsyat.

Pendekar 108 terkejut besar, namun ia tak hendak berlaku ceroboh karena dia telah dapat menduga siapa adanya orang yang keluarkan seruan. Maka sambil menindih rasa terkejut, ia cepat melompat ke depan. Namun gerakannya tertahan karena saat itu sosok yang keluarkan suara tiba-tiba telah menghadang di depannya, membuat pendekar murid Wong Agung ini segera belokkan tubuhnya ke samping. "Sialan betul! Kukira dia telah tak mengejarku lagi!" gumam Pendekar 108 seraya arahkan pandangan matanya ke depan, di mana seorang perempuan berwajah cantik yang bukan lain adalah Ratu Pulau Merah telah berdiri sambil tersenyum menyeringai.

"Ratu Pulau Merah. Aku mohon maaf padamu atas kelancanganku tadi ikut campur urusanmu. Tapi percayalah, aku tidak kenal apalagi berkomplot dengan laki-laki bernama Pragolo itu! Aku hanya merasa kasihan, dan memang tidak selayaknya hukuman mati dijatuhkan padanya! Seperti yang dialami kedua temannya!"

Ratu Pulau Merah mendengus keras. Sepasang matanya membeliak besar.

"Hm.... Begitu? Baik. Sekarang jawab pertanyaanku. Ingat, aku hanya sekali mengucapkannya...!" sejenak Ratu Pulau Merah hentikan ucapannya. Seraya alihkan pandangannya pada jurusan lain ia melanjutkan.

"Apakah benar kau manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 murid tunggal Wong Agung?!"

Aji kerutkan dahi mendengar pertanyaan Ratu Pulau Merah. Dalam hati ia berkata.

"Bagaimana ini? Apa aku harus terus terang? Hmm.... Tidak! Aku harus merahasiakan siapa diriku! Siapa tahu ia mengetahui rahasia tentang Arca Dewi Bumi. Itu akan menambah kesulitan...," berpikir begitu, murid Wong Agung ini lantas berkata.

"Ratu. Seperti kukatakan tadi, namaku adalah Aji. Dan aku tak punya gelar. Karena aku adalah seorang pengelana jalanan yang tak pantas menyandang gelar. Tentang orang bernama Wong Agung, aku memang pernah mendengar. Tapi aku bukan muridnya! Jelas...?"

Ratu Pulau Merah memandang tajam menusuk bola mata Pendekar 108. Ia tampak digelayuti rasa bimbang. Lalu tak lama kemudian, kepalanya mengangguk perlahan.

"Coba tunjukkan kipasmu padaku!"

Aji terkejut mendengar permintaan perempuan di hadapannya. Namun sejenak kemudian bibirnya telah menyunggingkan seulas senyum.

"Maaf, Ratu. Aku menemukan kipas di dalam kedai. Sudah usang dan berkarat. Tadi waktu berjalan kemari ku buang! Apa Ratu suka kipas...? Nanti akan kucarikan "

Ratu Pulau Merah tertawa pendek.

"Kau nyatanya tidak hanya pandai omong, tapi juga pandai berkata bohong. Kuberi kesempatan sekali lagi. Jawab dengan jujur pertanyaanku!"

"Ratu. Rasanya tidak ada gunanya berkata bohong padamu. Kau telah mendengar katakataku dengan jujur!"

Ratu Pulau Merah sunggingkan senyum gelak. Kesabarannya telah habis. Seraya melangkah satu tindak ke depan ia berkata.

"Nampaknya kau lebih suka dikasari daripada berkata jujur!"

Bersamaan dengan selesainya ucapannya, tubuhnya melesat ke depan. Kedua tangannya disentakkan ke arah kepala Pendekar 108.

Wuutttt!

Pendekar 108 tidak tinggal diam. Kedua tangannya pun diangkat ke atas kepala.

Desss! Deessss!

Kedua tangan Ratu Pulau Merah beradu dengan tangan Pendekar 108. Perempuan berparas cantik ini keluarkan seruan perlahan. Kakinya surut dua langkah. Sepasang matanya menyipit dan membesar. Ia memang sengaja mengadu tangannya lagi, untuk meyakinkan bahwa sang pemuda adalah seperti yang ia duga. Dan ia semakin yakin, karena meski kedua tangannya tidak cedera namun ia segera maklum jika sang pemuda memiliki tenaga dalam kuat. Sadar akan hal itu, Ratu Pulau Merah tak mau main-main lagi. Ketika untuk kesekian kalinya melancarkan serangan, ia kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Hingga saat itu juga gelombang angin dahsyat serta berlarik-larik sinar hitam mendera ke arah Pendekar 108!

Pendekar 108 menggumam tak karuan. Seraya membentak ia lesatkan dirinya ke udara. Dari atas udara kedua tangannya dihantamkan ke depan menangkis serangan Ratu Pulau Merah.

Plaarrrr!

Letupan keras segera membuncah tempat itu. Karena Ratu Pulau Merah telah kerahkan seluruh tenaga dalamnya, hingga meski terjadi bentrok pukulan, tubuhnya tak bergeming sama sekali.

Aji segera undurkan langkah. Tapi baru saja melangkah, Ratu Pulau Merah telah kembali menerjang dengan kedua kaki terpentang!

Pendekar Mata Keranjang 108 segera mengelak dengan melompat ke samping kanan, namun gerakannya tertahan karena kaki kiri Ratu Pulau Merah telah menghadang. Untuk menghindar, tak ada jalan lain bagi murid Wong Agung ini kecuali dengan tarik kembali tubuhnya ke samping kanan. Namun gerakannya kalah cepat dengan kaki kiri Ratu Pulau Merah yang tampaknya telah tahu ke mana arah tubuh Pendekar Mata Keranjang hendak bergerak.

Deessss!

Pendekar Mata Keranjang keluarkan seruan tertahan. Tubuhnya mencelat ke samping begitu kaki kiri Ratu Pulau Merah menghajar bahu kanannya. Dan pekikan dari mulut Aji terdengar saat tubuhnya menghantam pohon besar dan jatuh terduduk.

Ratu Pulau Merah tertawa panjang. Dengan sepasang mata tak kesiap, ia melangkah perlahan mendekat.

"Meski kau tak mau mengatakan siapa kau sebenarnya, aku yakin kaulah manusia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Nasibmu sungguh malang, Pendekar! Karena kau harus ikut menanggung dosa gurumu Wong Agung keparat itu, yang telah membunuh guruku!"

"Ratu. Rupanya kau belum bisa memisahmisahkan masalah. Urusanmu adalah dengan Wong Agung, bukan dengan aku! Terlalu bodoh jika kau menumpahkan dendammu padaku! Lagi pula, gurumu pastilah orang sesat jika sampai guruku bertindak padanya!"

Ratu Pulau Merah kembali keluarkan tawa panjang mendengar ucapan Pendekar 108. Namun tiba-tiba tawanya terhenti. Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu telah dua langkah di hadapan Aji dan serta-merta kedua tangannya menghantam ke arah kepala Pendekar108!

Meski terkejut, namun murid Wong Agung ini segera rundukkan kepalanya dan dihantamkan ke arah perut Ratu Pulau Merah.

Deesss!

Ratu Pulau Merah keluarkan keluhan pendek. Namun bersamaan itu, kedua tangannya menghentak ke bawah.

Pendekar Mata Keranjang 108 menyambuti pukulan itu dengan dorong tangannya. Hingga kejap itu juga terdengar kembali letupan keras. Namun belum lenyap suara letupan, Ratu Pulau Merah telah menerjang!

Pendekar 108 tampaknya tertipu, karena serangan yang dilancarkan Ratu Pulau Merah tadi hanya untuk mencari kesempatan ruang gerak Aji. Karena begitu Pendekar 108 kirimkan serangan tangkisan, ia segera menerjang! Aji mau tak mau jadi terkejut. Namun murid Wong Agung ini tak mau begitu saja menyerah. Begitu terjangan datang, ia cepat angkat tangannya dan dihantamkan menyamping. Namun lagi-lagi ia tertipu, karena Ratu Pulau Merah tarik pulang kakinya. Tubuhnya berputar dan serta-merta kakinya melayang ke arah kepala Pendekar 108. Pendekar 108 merinding tengkuknya. Karena ia sudah kirimkan serangan, ia tak bisa mengelak lagi. Meski tangan satunya sempat diangkat untuk menangkis, namun terjangan kaki Ratu Pulau Merah telah terlebih dahulu menerjang tengkuknya!.

Beekkkk!

Tubuh Pendekar 108 berputar kencang, lalu roboh di atas tanah!

"Hmm.... Dia tak main-main, dan memang ingin membunuhku! Meski dia tak menggunakan senjata, aku terpaksa menggunakan kipasku! Dia terlalu bahaya jika dilawan dengan tangan kosong!" kata Aji dalam hati seraya merayap bangkit. Sepasang matanya melirik ke arah Ratu Pulau Merah yang saat itu tampak memejamkan sepasang matanya.

Melihat sikapnya ternyata diam-diam Ratu Pulau Merah sedang kerahkan tenaga dalamnya, karena sesaat kemudian tangannya telah bergerak menghantam ke arah Pendekar 108, padahal saat itu Pendekar Mata Keranjang sedang tarik kipas ungu dari balik baju hijaunya.

"Celaka! Serangannya harus kuhindari dahulu!" gumam Pendekar 108 seraya cepat bangkit dan berkelebat, namun gerakan murid Wong Agung ini tertahan, karena dari arah samping menderu angin kencang. Lalu....

Plaarrrr!

Hamparan angin pukulan Ratu Pulau Merah terhadang dan ambyar di tengah jalan sebelum mengenai sasaran. Bahkan baik tubuh Aji maupun tubuh Ratu Pulau Merah tampak tersurut masing-masing tiga langkah.

"Bangsat! Siapa jahanam yang ikut-ikutan urusan orang?!" teriak Ratu Pulau Merah dan cepat palingkan wajah ke samping, demikian juga Pendekar 108.

SEPULUH

BERSAMAAN dengan berpalingnya Ratu Pulau Merah dan Pendekar 108, terdengar suara cekikikan tawa panjang bersahut-sahutan dengan suara gemerincing anting-anting.

Ratu Pulau Merah geser kakinya ke belakang karena terkejut. Sedangkan Pendekar 108 urungkan niat untuk keluarkan kipas ungunya demi mengetahui siapa adanya yang keluarkan cekikikan.

"Dewi Kayangan...," gumam Aji dengan pandangan tak berkedip. "Bagaimana dia tahutahu muncul di sini...? Mengikuti perjalananku? Atau...? Dan ke mana Eyang Selaksa...? Bukankah dia sewaktu di lereng Gunung Arjuna masih sama-sama Eyang Selaksa...?" Habis membatin begitu, murid Wong Agung ini melangkah hendak mendekat, karena saat itu orang yang keluarkan tawa cekikikan dan bukan lain adalah Dewi Kayangan tampak tengadah tak memandang Pendekar 108 dan Ratu Pulau Merah.

Namun belum sampai Pendekar Mata Keranjang bergerak, Dewi Kayangan telah angkat bicara.

"Anak monyet! Kenapa kau masih berku-

tat-kutat di daerah sini? Dengan gadis cantik lagi. Apa dia kekasihmu...?"

Ratu Pulau Merah kernyitkan dahi. Sepasang matanya membesar memperhatikan. "Perempuan bertubuh gemuk besar. Bibirnya merah menyala. Rambutnya disanggulkan ke atas, sementara telinganya hanya mengenakan antinganting sebelah. Hmm...," sejenak kepala Ratu Pulau Merah mendongak.

"Di rimba persilatan ini hanya seorang bergelar Dewi Kayangan yang mempunyai ciri-ciri demikian. Apa dia Dewi Kayangan...? Hmm. Apa

hubungannya dengan pemuda itu? Bukankah Dewi Kayangan telah lama tak muncul ke rimba persilatan? Urusan akan kacau jika dia ikutikutan. Kudengar Dewi Kayangan adalah seorang berilmu tinggi! Seandainya aku telah berhasil mempelajari isi bumbung bambu, aku tak akan berpikir dua kali untuk menghadapinya! Tapi aku tak akan diam begitu saja!" lalu perempuan berparas cantik ini luruskan kepalanya dan keluarkan bentakan galak.

"Tua bangka! Siapa kau...? Jangan berani berlaku lancang jika tak ingin babak belur!"

Dewi Kayangan cekikikan. Kali ini meski kepalanya ikut bergerak-gerak, namun gemerincing anting-antingnya tak lagi terdengar.

"Anak monyet!" kata Dewi Kayangan sambil arahkan pandangan matanya yang besar ke arah Pendekar108. "Kau dengar kekasihmu itu mengancamku...? Apa kau tak pernah cerita padanya tentang nenekmu yang cantik ini, he...? Hik... hik... hik...!"

Pendekar 108 usap-usap ujung hidungnya dengan punggung tangan kanan, kepalanya bergerak menggeleng.

"Dewi. Dia bukan...," Aji tak meneruskan ucapannya, karena saat itu pula Ratu Pulau Merah telah menyela dengan suara tinggi.

"Tua bangka! Jaga mulutmu! Siapa bilang pemuda tengik itu kekasihku?! Jangan banyak omong, lekas jawab tanyaku!"

"Ooo.... Jadi kalian bukan sepasang kekasih...? Tapi kenapa berada di tempat sepi berduaduaan...?!"

Wajah cantik Ratu Pulau Merah berubah merah mengelam. Namun perempuan ini belum berani bertindak, ia sadar perempuan tua bertubuh gemuk besar bukanlah orang yang bisa dianggap remeh. Dan untuk meyakinkan diri bahwa yang dihadapinya adalah orang yang bergelar Dewi Kayangan, ia berkata.

"Tua keparat! Kalau tak salah, bukankah kau manusia jelek berjuluk Dewi Kayangan?!"

Mendengar dirinya disebut manusia jelek, Dewi Kayangan memperkeras cekikikannya.

"Hik... hik... hik...! Ternyata kau manusia berotak bebal! Sudah tahu masih juga bertanyatanya!"

Paras Ratu Pulau Merah makin mengelam. Sepasang matanya berkilat-kilat dengan tangan mengepal, namun ia masih menahan amarahnya. Dan untuk menggertak Dewi Kayangan ia berkata.

"Bagus! Dewi Kayangan. Buka matamu lebar-lebar. Apa kau sudah tahu berhadapan dengan siapa saat ini?!"

Yang ditanya menyambuti kata-kata Ratu Pulau Merah dengan mendongak seraya tawa cekikikan malah cekikikannya dibuat tersendatsendat seperti orang tersedak.

"Kalau kau suruh menebak, baiklah. Kalau tak salah...," Dewi Kayangan hentikan ucapannya sebentar, lalu melanjutkan.

"Kalau tak salah kau adalah manusia bergelar Kontal-Kantil! Betul...? Hik... hik... hik...! Jawabanku pasti tak salah!"

Ratu Pulau Merah menggeram. Dadanya berdegup makin kencang.

"Manusia setan ini tak bisa diancam atau digertak. Hm.... Tak ada salahnya aku mencoba ilmunya. Hitung-hitung sebagai penjajakan...," membatin Ratu Pulau Merah. Lalu ia melangkah maju, mulutnya membuka hendak keluarkan kata-kata. Namun sebelum kata-katanya terdengar, Dewi Kayangan telah berucap.

"Kontal-Kantil! Meski wajahmu cantik, namun baumu tidak enak! Sebaiknya kau segera tinggalkan tempat ini, sebelum aku muntah mencium baumu! Hik... hik... hik...!"

Mendengar ucapan Dewi Kayangan, Pendekar 108 mau tak mau tertawa, sementara Ratu Pulau Merah mendengus keras. Kesabaran perempuan ini sudah tak dapat ditahan lagi. Maka begitu Dewi Kayangan selesai berkata, ia membentak garang, tubuhnya berkelebat. Dan tahutahu kakinya telah lurus mengarah pada kepala Dewi Kayangan.

Cekikikan Dewi Kayangan tiba-tiba lenyap. Kedua kakinya menekuk. Begitu terjangan kaki Ratu Pulau Merah lewat sejengkal di atas kepalanya, dia segera angkat tangannya.

Beekkk!

Angin deras laksana gelombang menyambut tubuh Ratu Pulau Merah yang ada di atasnya. Perempuan cantik ini terpekik kaget. Meski dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghindar, namun gerakan Dewi Kayangan lebih cepat. Hingga tak ampun lagi pantat Ratu Pulau Merah terhantam tangan Dewi Kayangan.

Tubuh Ratu Pulau Merah membumbung tinggi ke atas. Tapi tiba-tiba perempuan cantik ini keluarkan seruan. Tubuhnya mendadak lenyap. Dan tahu-tahu gelombang angin dahsyat menyambar deras ke arah Dewi Kayangan.

Dewi Kayangan keluarkan gerendengan panjang pendek. Kedua tangannya diangkat ke atas kepala lalu diputar-putar.

Terjadi hal yang hampir tak dapat dipercaya. Gelombang angin yang datang menyambar ke arah Dewi Kayangan tiba-tiba tertahan. Dan Dewi Kayangan luruhkan tangannya dan didorong, gelombang angin itu melesat balik ke udara! Dan hebatnya, lesatan balik gelombang angin ini lebih cepat daripada datangnya! Bersamaan dengan mentalnya kembali gelombang angin, tiba-tiba terdengar pekikan tertahan. Ternyata Ratu Pulau Merah yang baru saja lancarkan serangan dari udara tidak dapat menghindar dari mentalan serangannya sendiri, hingga kejap itu juga tubuhnya berputar dan menukik deras sebelum akhirnya jatuh terduduk!

Namun, perempuan cantik ini sepertinya tak merasakan sakit. Ia bergerak bangkit dengan cepat. Dan serta-merta kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Wuuttt!

Dewi Kayangan yang masih berdiri dengan celingukan putar tubuhnya. Hebatnya. saat itu juga entah dari mana datangnya, tiba-tiba asap putih menghampar. Lalu terdengar suara cekikikan sebentar kemudian lenyap.

Anehnya, bersamaan lenyapnya suara cekikikan, hamparan asap putih pun lenyap dan serangan yang dilancarkan Ratu Pulau Merah menghajar tempat kosong.

"Jahanam! Ke mana perempuan gendut itu?! Seandainya saja ... Ya, seandainya saja aku telah mempelajari bumbung bambu.... Akan kupergunakan kipas hitam ini!" kata Ratu Pulau Merah dalam hati dengan sepasang mata menebar mencari-cari, karena sosok Dewi Kayangan ternyata telah lenyap!

Pendekar 108 yang sedari tadi hanya diam memperhatikan juga ikut-ikutan melayangkan pandangannya mencari sosok Dewi Kayangan. Namun sampai agak lama, baik Ratu Pulau Merah maupun Pendekar 108 tak menemukan sosok Dewi Kayangan.

"Gila! Ke mana perginya...?" gumam Aji sambil tarik-tarik kuncir rambutnya.

"Keparat! Apa dia sudah mampus? Tapi jika benar mampus ke mana mayatnya?!" sekali lagi Ratu Pulau Merah tebarkan pandangannya berkeliling. Mendadak perempuan ini terperangah. Lima tombak di sampingnya terlihat pohon besar yang kulitnya telah mengelupas hangus dan daunnya berguguran berdiri kokoh.

"Gila! Bukankah pohon itu tadi telah tumbang? Kenapa sekarang berdiri lagi...?!"

Pendekar 108 ikut-ikutan melengak kaget dengan berdirinya pohon yang tadi telah tumbang akibat terkena terjangan Ratu Pulau Merah.

"Apa ada setan gundul yang main-main batang pohon...?"

Mungkin karena penasaran, Ratu Pulau Merah cepat melangkah ke arah pohon yang kulitnya telah mengelupas dan tiba-tiba berdiri itu. Namun seraya melangkah mendekati, perempuan ini siapkan pukulan.

Tiba-tiba dari balik pohon itu terdengar suara tawa cekikikan. Lalu sekonyong-konyong muncul kepala Dewi Kayangan dengan menggeleng pulang balik.

Pendekar 108 tak bisa lagi menahan ledakan tawanya. Sementara Ratu Pulau Merah cepat hantamkan kedua tangannya.

Namun bersamaan dengan menghantamnya tangan Ratu Pulau Merah, pohon itu bergerak roboh menyongsong pukulan Ratu Pulau Merah!

Braakkk!

Batang pohon mental dan hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba terdengar suara cekikikan. Ratu Pulau Merah cepat berpaling ke samping.

"Jahanam! Mampus kau kali ini!" secepat kilat Ratu Pulau Merah sentakkan kedua tangannya.

Seberkas sinar hitam berkilat dan membawa hawa panas segera menggebrak ke arah Dewi Kayangan yang saat itu berada enam langkah di sampingnya.

Dewi Kayangan bantingkan dua kakinya di atas tanah. Tubuhnya melenting ke udara. Dari atas udara tiba-tiba menghampar bayangan merah meliuk yang disertai dengan suara deruan.

Ratu Pulau Merah yang tidak menduga jika lawan bisa menghindari serangannya tampak terkejut. Dan makin kaget tatkala dari udara tampak meliuk bayangan berwarna merah.

Belum sempat Ratu Pulau Merah bergerak menghindar, liukan bayangan merah yang ternyata adalah sehelai selendang merah telah melilit tubuh dan tangannya. Meski perempuan ini kerahkan segenap tenaga dalamnya, namun lilitan itu tak bisa dilepaskannya. Bahkan tatkala dari atas udara Dewi Kayangan putar pergelangan tangan kanannya yang memegang ujung selendang, Ratu Pulau Merah terpekik kesakitan.

Dewi Kayangan seraya cekikikan lantas melayang turun dan bersamaan dengan itu tangannya diangkat lalu ditarik lagi ke bawah. Ratu Pulau Merah makin keras memekik, dan tiba-tiba tubuhnya terangkat ke atas.

Dewi Kayangan tarik sedikit ujung selendangnya pulang balik, membuat tubuh Ratu Pulau Merah terlihat maju mundur di udara.

"Anak monyet! Apa kau tak ingin main layang-layang...?" seraya berkata ujung selendang di tangan kanannya dilemparkan pada Aji. Dan belum sampai Pendekar 108 menangkap ujung selendang, di udara Ratu Pulau Merah menjerit lengking. Karena bersamaan dengan bergeraknya ujung selendang, tubuh Ratu Pulau Merah makin terlilit dan tertarik kencang.

"Hik... hik... hik...! Aneh. Baru kali ini ada layang-layang bisa keluarkan suara menjeritjerit...!"

Habis berkata begitu, Dewi Kayangan melesat menyambar kembali ujung selendangnya. Lalu tiba-tiba tubuhnya berputar. Kembali terdengar jeritan Ratu Pulau Merah. Tapi kali ini tubuhnya tampak menukik turun dengan derasnya. Dan setengah depa lagi tubuh Ratu Pulau Merah menghempas tanah, tangan Dewi Kayangan menyentak.

Weerrrr!

Lilitan selendang pada tubuh Ratu Pulau Merah terlepas, namun bersamaan dengan itu, tubuh Ratu Pulau Merah berputar dan jatuh bergulingan di atas tanah!

"Jahanam! Aku harus segera tinggalkan tempat ini. Aku harus cepat mempelajari isi dalam bumbung bambu. Rupanya banyak tokohtokoh yang telah lama menghilang muncul lagi. Hmm.... Ini mungkin ada kaitannya dengan geger Arca Dewi Bumi. Jika aku tidak segera mempelajari, bukan tak mungkin aku hanya sebagai anak bawang...," membatin Ratu Pulau Merah. Lalu dengan perlahan-lahan sambil melirik pada Dewi Kayangan, perempuan ini merambat bangkit.

"Dewi Kayangan, dan kau, anak monyet! Aku belum kalah, suatu hari nanti kita buktikan siapa yang berhak mampus terlebih dahulu! Ingat itu!"

Habis berkata begitu, Ratu Pulau Merah berkelebat meninggalkan tempat itu.

Pendekar Mata Keranjang 108 sebenarnya hendak bergerak mengejar, namun gerakannya tertahan tatkala Dewi Kayangan cekikikan seraya berkata.

"Apa kau tertarik padanya...?"

SEBELAS

PENDEKAR 108 hentikan langkah dan berpaling pada Dewi Kayangan. "Dewi, ini bukan soal tertarik atau tidak. Tapi orang macam dia perlu diberi peringatan keras. Dia mendendam pada Eyang Wong Agung, dan...," Aji tak meneruskan kata-katanya, karena Dewi Kayangan telah menyahut.

"Sudahlah! Suatu hari kelak, dia pasti akan memperoleh ganjarannya sendiri! Dan aku yakin, kau akan bertemu dengannya lagi!"

Pendekar Mata Keranjang 108 anggukkan kepala.

"Dewi. Beberapa hari yang lalu Eyang Selaksa bersamamu, apa dia telah balik ke Kampung Blumbang...?"

"Hikkk... hik... hik...! Kau rupanya suka usil dengan hubungan orang tua. Pulang atau tidak apa pedulimu? Dengar baik-baik, anak monyet! Kau sekarang tak usah berpikir macammacam! Tugasmu kali ini amat berat. Kau tahu, siapa perempuan yang baru saja minggat itu...?"

Pendekar 108 gelengkan kepala.

"Dia adalah seorang tokoh sesat seangkatan dengan gurumu Wong Agung. Kalau orang macam dia telah berkeliaran lagi, demikian juga munculnya Dadung Rantak, dan kudengar telah muncul pula Dayang Naga Puspa, Jogaskara, Bawuk Raga Ginting, Gembong Raja Muda, Restu Canggir Rumekso, Malaikat Berdarah Biru, Datuk Lembah Neraka, serta banyak lagi tokoh berilmu tinggi, maka rimba persilatan sudah pasti akan diguncang kegegeran. Dan munculnya tokohtokoh tersebut tentunya bukan tanpa sebab...!"

Pendekar Mata Keranjang 108 tersurut dua tindak mendengar keterangan Dewi Kayangan.

"Jadi.... Tokoh-tokoh tersebut telah berkeliaran lagi...?"

"Hmm… Begitulah. Tapi kemunculan mereka kali ini dengan jalan sembunyi-sembunyi. Dan satu hal yang tampak, di antara mereka tidak mau kedahuluan satu sama lain!" "Apakah tujuan mereka memburu Arca Dewi Bumi?" tanya Aji.

"Kalau melihat kemunculan mereka bersamaan dengan tersebarnya berita tentang arca itu, maka sudah barang tentu tujuan mereka adalah memburu arca itu. Namun bisa jadi di antara mereka ada yang muncul karena ingin balas dendam! Maka dari itu aku sengaja mengikuti perjalananmu. Tapi ingat, aku hanya bisa sampai di sini saja. Masih ada yang harus kuselesaikan! Lain kali kau harus lebih berhati-hati!"

Pendekar Mata Keranjang memandang lekat-lekat pada Dewi Kayangan.

"Hmm.... Dewi Kayangan, Dewi BayangBayang, Gongging Baladewa, mereka rupanya begitu memperhatikan diriku. Aku berhutang budi pada mereka...," kata Aji dalam hati. Lalu sambil menjura hormat, Pendekar 108 berkata.

"Dewi. Aku berterima kasih atas jerih payahmu selama ini "

Melihat sikap Pendekar Mata Keranjang, Dewi Kayangan keluarkan cekikikannya.

"Anak monyet bodoh! Kau tak perlu berterima kasih begitu rupa! Semua ini semata-mata demi ketenangan rimba persilatan, dan itu sudah menjadi tugas setiap manusia yang berjalan di jalur kebenaran! Nah, aku sudah capek omong melulu! Aku ingin tertawa!"

Habis berkata begitu, dari mulut Dewi Kayangan keluar suara cekikikan. Panjang dan bersahut-sahutan dengan gemerincing antingantingnya. Pendekar Mata Keranjang 108 hanya bisa geleng-gelengkan kepala seraya kerahkan tenaga dalamnya untuk menangkis suara cekikikan dan gemerincing anting-anting yang begitu menusuk telinga!

"Gila! Bicara masalah penting ujungujungnya hanya ingin cekikikan!" omel Pendekar Mata Keranjang dalam hati lantas bergerak jongkok dan memandangi Dewi Kayangan dengan tangan bertopang pada dagu.

Setelah puas dengan cekikikannya, tanpa berkata dan memandang, Dewi Kayangan balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Dewi. Tunggu...!" tahan Pendekar 108 dengan bangkit dan berkelebat menyusul. Namun sosok Dewi Kayangan telah lenyap. Yang ada hanyalah suara cekikikannya yang bersahutsahutan dengan gemerincing anting-antingnyayang makin lama makin menjauh sebelum akhirnya tak terdengar sama sekali.

Pendekar Mata Keranjang 108 usap wajahnya dengan telapak tangan. Lalu menghela napas panjang.

"Menurut keterangan Dewi Kayangan, rupanya rimba persilatan telah bagaikan api dalam sekam dan setiap saat bisa menyala dan membakar ke mana-mana! Hmm.... Aku harus segera menemukan Sahyang Resi Gopala!"

Berpikir demikian, Pendekar dari Karang Langit ini pun lantas berkelebat ke arah timur di mana telah tampak gugusan dua buah gunung yang berhadap-hadapan.

DUA BELAS

DUA penunggang kuda terlihat berpacu cepat melintasi malam yang sudah kian mengelam. Hawa dingin menusuk serta hembusan angin yang menebar kencang seakan tak dihiraukan oleh kedua penunggang ini. Mereka terus melarikan kuda tunggangannya masing-masing bahkan tak jarang tangan kanan sang penunggang menyentak punggung kuda tunggangannya agar dapat berlari lebih kencang.

Baru ketika memasuki kawasan hutan kecil di kaki dua buah gunung yang berhadaphadapan, dua penunggang kuda ini hentikan kuda masing-masing.

"Apakah benar dua gunung di hadapan kita itu yang disebut orang Gunung Kembar?!" berkata penunggang kuda di sebelah kiri. Dia adalah seorang gadis berparas jelita. Kulitnya putih mulus. Mengenakan pakaian warna putih tipis yang dibuat memanjang sampai paha. Sementara pakaian bawahnya berupa sarung gombrong kembang-kembang. Walau pakaian bawahnya ini gombrong, namun di bagian tengahnya dibuat membelah panjang. Hingga tatkala duduk di atas kuda, sepasang pahanya yang putih mulus terlihat jelas. Sepasang matanya bulat dan tajam. Bulu matanya panjang dan lentik. Meski rautnya jelita, namun gadis ini tampak garang. Bibirnya tak pernah menyunggingkan seulas senyum. Sementara sepasang matanya terus berputar liar. Rambutnya yang sengaja dipotong pendek menambah kegarangan tampangnya

Gadis jelita ini memang baru dua tahun muncul. Dia muncul dari kawasan timur, tepatnya dari Pulau Bima. Di kawasan timur, kemunculannya langsung menebar keguncangan. Banyak tokoh-tokoh berilmu tinggi di kawasan timur dibuatnya tewas. Beberapa tokoh yang coba-coba bersekutu dan hendak membuat perhitungan dengannya bukan saja tak berhasil, namun satu persatu di antara mereka raib begitu saja dan tahu-tahu telah tewas dengan keadaan mengenaskan!

Karena kecantikan dan kekejamannya itulah, orang-orang rimba persilatan di kawasan timur menggelari gadis ini Bidadari Bertangan Iblis. Sedang penunggang kuda di sebelah  kiri adalah juga seorang gadis muda, parasnya juga jelita. Mengenakan pakaian warna hijau muda yang di bagian dadanya dibuat agak rendah, hingga dadanya yang tampak membusung kencang terlihat sedikit menyembul. Rambutnya panjang dan dikepang dua. Seperti halnya Bidadari Bertangan Iblis, pakaian bawah gadis berbaju hijau ini pun dibuat membelah di bagian tengah,

hingga pahanya pun terlihat jelas.

Tak beda dengan Bidadari Bertangan Iblis, meski berwajah cantik jelita, namun kesan beringas tak bisa disembunyikan dari raut muka gadis berbaju hijau ini. Malah beberapa kali gadis ini tampak meludah ke tanah dengan kedua tangan berkacak di atas pinggang.

Konon, kemunculan gadis berbaju hijau ini memang bersamaan dengan munculnya Bidadari Bertangan Iblis. Dan kemunculannya pun langsung membawa kegegeran. Karena tak segansegan gadis ini mendatangi beberapa tokoh dan ditantangnya. Banyak tokoh silat baik dari golongan hitam apalagi dari golongan putih yang telah berhasil dikalahkan dan dibunuh.

Karena keganasan ini pulalah yang menyebabkan orang-orang di kawasan timur menggelari gadis berbaju hijau ini dengan julukan Singa Betina Dari Timur.

Menurut kabar yang tersebar, kedua gadis berparas cantik jelita ini memang masih saudara seperguruan.

Setelah menguasai rimba persilatan di daerah timur, tampaknya dua gadis ini ingin melebarkan langkahnya, apalagi ketika mereka berdua mendengar keterangan gurunya tentang rahasia Arca Dewi Bumi. Maka dengan berbekal ilmu tinggi, kedua gadis ini pun melakukan perjalanan ke tanah Jawa. Sampai akhirnya kedua gadis ini tiba di hutan kecil di kaki Gunung Kembar.

"Kau yakin jika gunung itu yang bernama Gunung Kembar?!" kembali gadis berbaju putih atau Bidadari Bertangan Iblis ajukan pertanyaan. Kali ini kepalanya ikut berpaling pada Singa Betina Dari Timur.

Sejenak si gadis berbaju hijau Singa Betina Dari Timur luruskan pandangannya memandang ke arah gunung. Lalu kepalanya menunduk sedikit dan tanpa menoleh ia berkata.

"Menurut yang kudengar, di tanah Jawa hanya ada satu daerah yang memiliki dua buah gunung yang saling berhadapan. Daerah itu adalah daerah Bokor. Dan gunung itu adalah Gunung Kembar!"

Bidadari Bertangan Iblis palingkan kembali wajahnya memandang ke arah Gunung Kembar.

"Kalau itu benar, berarti sebelum matahari terbit kita telah sampai di tempat tujuan. Bukankah yang kita tuju adalah daerah di sela dua gunung itu?!"

Singa Betina Dari Timur anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba wajahnya dirambahi kebimbangan.

"Apakah benar tentang adanya Arca Dewi Bumi itu? Kalau benar ada kenapa tokoh-tokoh di tanah Jawa tak ada yang mencoba memburunya? Kulihat di sini sepi-sepi saja. Bahkan nyamuk pun tak tampak berkeliaran...! Apakah cerita arca itu bohong belaka...?" Singa Betina Dari Timur ini mengatakan apa yang ada dalam benaknya pada Bidadari Bertangan Iblis. Kemudian ajukan pertanyaan. "Menurutmu bagaimana...?"

"Aku belum bisa menduga. Tapi kita tak perlu terpancing dengan semua itu. Mungkin saja tokoh-tokoh di tanah Jawa belum tahu rahasia tentang Arca Dewi Bumi. Dan jika itu benar, maka itu adalah sebuah keuntungan besar bagi kita!"

Singa Betina Dari Timur yang berbaju hijau anggukkan kepalanya. Namun kegundahan tampaknya belum bisa dihapus dari raut wajahnya.

"Kalau ternyata keterangan Guru tidak terbukti...?" tanya Singa Betina Dari Timur sambil mengusap lehernya yang dibasahi keringat.

"Guru bukan orang sembarangan. Kalau dia memberi petunjuk pada kita, apalagi perjalanannya saja sudah memerlukan bermingguminggu, kukira dia tak akan berdusta! Lagi pula apa untungnya jika dia berkata dusta pada kita...?"

"Yah, semuanya kita buktikan nanti!" tukas Singa Betina Dari Timur. la lalu tengadah ke langit. Mendadak gadis cantik ini terkejut. Saking terkejutnya dari mulutnya keluar jeritan perlahan.

Melihat tingkah saudara seperguruannya. Bidadari Bertangan Iblis ikut-ikutan tengadahkan kepala. Seperti halnya Singa Betina Dari Timur. gadis ini pun melengak kaget.

Di atas angkasa tampak rembulan bersinar terang. Padahal sesaat yang lalu angkasa tampak gelap gulita. Anehnya, sang bulan itu tidak berwarna putih kekuningan seperti biasanya, melainkan berwarna merah darah!

"Isyarat apa ini...?!" tanya Singa Betina Dari Timur seraya memandangi bulan tanpa berkedip.

Meski hatinya dihantui perasaan bercampur aduk, namun si baju putih Bidadari Bertangan Iblis tampaknya lebih tegar. Tanpa mengalihkan pandangan ke angkasa, ia berkata. "Kalau kita menurutkan perasaan dan isyarat macam-macam, kita tak akan sampai tujuan dengan mulus! Kita teruskan perjalanan! Kita jangan tersurut hanya karena rembulan berubah warna!"

Habis berkata, Bidadari Bertangan Iblis cepat sentakkan tali kekang kuda tunggangannya.

Singa Betina Dari Timur sejenak masih tetap mendongak.

"Isyarat kadang-kadang memang terbukti, namun kali ini aku tak percaya akan hal itu!"

Gadis cantik berbaju hijau ini pun lantas tarik tali kekang kuda tunggangannya dan menyusul saudara seperguruannya.

SELESAI