Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 14 : Dayang Naga Puspa

 
Eps 14 : Dayang Naga Puspa


HARI itu cuaca cerah sekali. Langit begitu terang tanpa secuil pun awan mengambang, membuat sinar sang mentari leluasa menerabas sela-sela rimbunan pucuk dedaunan di bentangan bumi. Namun, begitu bola penerang Mayapada ini mulai bergeser dari titik tengahnya, mendadak awan hitam bergulunggulung berarak-arakan menghiasi angkasa langit yang datang dari segala penjuru. Bumi tiba-tiba disentak kegelapan. Angin berhembus kencang keluarkan suara mendesis-desis. Sesaat kemudian kilat menyambar disusul dengan menyalaknya guntur yang bersahutsahutan seakan hendak menelan lenyap segala makhluk di kolong langit. Bersamaan dengan menyambarnya kilat untuk kelima kalinya, hujan deras menghujam dengan deru yang memekakkan telinga.

Di suasana yang demikian menggidikkan itu, sesosok bayangan berkelebat cepat menuju sebuah dataran lembah berpasir yang membentuk sebuah lingkaran. Melihat kelebatan sosoknya yang laksana bersitan sinar, dapat ditebak jika bayangan ini memiliki ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi. Dan menilik sikapnya yang tak menghiraukan suasana, mudah diduga jika sosok bayangan ini mempunyai masalah yang sangat penting. Kilat menghampar. Sekilas lembah berpasir berubah terang. Tahu-tahu sosok bayangan tadi telah duduk ditengah-tengah lembah berpasir dengan kedua tangan disatukan sejajar dada.

Guntur menggelegar bersahutan. Hujan mencurah makin deras. Bersamaan dengan menyalaknya guntur, kembali bentangan bumi digenggam kegelapan.

Ketika cahaya kilat kembali menyambar, tampak agak jelas adanya sosok yang duduk di tengah lembah berpasir. Dia adalah seorang perempuan yang tidak muda lagi. Ini jelas terlihat dari kerutan yang menghiasi kulit wajahnya. Perempuan ini mengenakan pakaian panjang berwarna hitam. Anehnya meski dia seorang perempuan, pakaian panjangnya itu dilapis dengan jubah besar berwarna putih. Rambutnya yang panjang dibiarkan bergerai hingga menutupi sebagian punggung dan wajahnya, membuat paras perempuan ini terlihat samar-samar. Sepasang matanya bulat besar dan tajam. Di lubang hidungnya yang mancung sebelah kiri terlihat melingkar sebuah anting-anting kuning.

Melihat sikapnya yang menakupkan kedua tangan sejajar dada, sepasang mata terpejam rapat serta mulut berkemik-kemik menggumam, perempuan ini sedang memusatkan perhatian. Dan melihat ketabahan serta ketegarannya melawan gejolak alam yang tidak sedang bersahabat, masalah yang dihadapi perempuan ini sungguh amat penting.

Untuk beberapa lama, perempuan ini tetap dalam posisi semula. Bahkan, ketika untuk kesekian kalinya guntur menggelegar dan menggetarkan lembah berpasir serta menumbangkan beberapa pohon besar di sekitarnya, perempuan ini tak bergeming. Jubah serta seluruh badannya yang basah kuyup tak juga membuatnya menggigil atau meninggalkan lembah berpasir.

Selagi perempuan berjubah ini pusatkan perhatian batinnya, entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebongkah awan putih berarak pelan menyusur lembah berpasir dan berhenti lima belas langkah di hadapan perempuan berjubah.

Bersamaan dengan beraraknya awan putih, lembah berpasir perlahan-lahan diselimuti kehangatan, meski hujan dan angin tetap mencurah dan menghembus.

Merasakan perubahan suasana, perempuan berjubah putih besar buka kedua kelopak matanya. Lalu perlahan sekali dia membuat gerakan mengangkat kepalanya. Sementara kedua tangannya tetap menakup sejajar dada.

Di hadapan sang perempuan, bongkahan awan putih samar-samar membumbung menerabas kegelapan. Begitu awan putih sirna, sama-samar terlihat sesosok tubuh duduk bersila. Anehnya, meski hujan tetap mencurah, sosok yang baru datang ini baik rambut dan pakaian yang dikenakannya tak terlihat basah!

"Guru...!" keluar seruan perlahan dari mulut perempuan berjubah begitu mengenali siapa adanya sosok di hadapannya yang baru saja muncul. Sepasang mata perempuan berjubah ini memandang lurus ke depan tak berkesiap. Lalu dengan tubuh agak kaku seakan dipaksakan, perempuan berjubah ini menjura hormat.

Orang yang baru muncul dan dipanggil guru oleh perempuan berjubah sejenak mendehem dan memandang dengan senyum rawan. Kepalanya mengangguk sebentar tanpa sepatah kata pun terdengar keluar dari mulutnya.

Orang yang baru muncul ternyata adalah seorang laki-laki berusia amat lanjut. Seluruh kulit wajahnya telah berkerut. Sepasang matanya sipit dengan rambut putih dan tampak dibiarkan awut-awutan sehingga di beberapa bagian tampak mengempal dan kaku. Kumis, jambang serta jenggotnya juga berwarna putih dan dibiarkan panjang tanpa terawat hingga merangas hampir menutupi wajahnya.

Hebatnya, meski tampak duduk bersila dengan enaknya, ternyata tubuh orang tua ini ada sejengkal di atas lembah berpasir!

Setelah saling tak ada yang buka mulut, perempuan berjubah putih angkat kembali kepalanya. Sepasang matanya kembali memandang pada orang tua di hadapannya. Mulutnya membuka seakan hendak angkat bicara. Namun mulut perempuan ini kembali mengatup sebelum keluarkan ucapan. Tampaknya perempuan ini dilanda kebimbangan.

"Percuma melakukan perjalanan jauh dan melawan suasana jelek jika setelah sampai hanya diam membisu! Apa pun yang nanti terjadi, itu urusan belakang. Yang penting, aku harus menyampaikan keinginanku...!" membatin perempuan berjubah putih. Lalu buka mulutnya kembali hendak berkata.

Namun sebelum terdengar ucapan dari mulut perempuan berjubah putih, orang tua di hadapannya, yang ternyata bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek gombrang warna gelap, mendahului buka suara.

"Sarpakenaka! Menurut apa yang pernah kuucapkan padamu serta kakak seperguruanmu Jogaskara, pada beberapa puluh tahun silam sebelum kalian berdua meninggalkan Lembah Rawa Buntek ini, bahwa kalian berdua hanya kuberi kesempatan satu kali lagi bertemu denganku. Kau masih ingat katakataku itu?!"

"Tentu! Aku tentu masih ingat...!" jawab perempuan berjubah putih yang dipanggil Sarpakenaka. Seraya menjawab, sepasang mata Sarpakenaka tetap memandang tak kesiap.

"Hmmm.... Bagus. Berarti kau telah mengerti, bahwa setelah pertemuan ini kau tak akan dapat menemuiku lagi!"

Diam-diam dalam hati Sarpakenaka berkata. "Kalau tak ada urusan sangat penting, aku pun sebenarnya tak ingin melihat tampangmu lagi!" Lalu Sarpakenaka anggukkan kepala menyambuti ucapan gurunya.

Setelah mendehem beberapa kali, orang tua di hadapan Sarpakenaka tengadahkan kepala. Curahan air hujan menerpa wajahnya, namun air hujan itu seakan menerabas masuk ke kulit paras wajahnya tanpa meninggalkan bekas. Hingga meski wajahnya tercurah air, namun tetap tak basah.

"Sarpakenaka, tentunya kau punya masalah penting hingga kau gunakan kesempatan yang hanya kuberikan sekali ini. Katakanlah!"

Untuk beberapa saat lamanya Sarpakenaka terdiam. Wajahnya jelas masih digelayuti perasaan ragu-ragu. Hingga meski perempuan ini telah buka mulut, namun belum terdengar suaranya.

"Sarpakenaka!" kata orang tua bertelanjang dada masih dengan kepala menengadah. "Kau tampaknya bimbang. Apa kau juga tak ingat kata-kataku dulu, bahwa karena kesempatan itu hanya sekali, maka segala permintaanmu dan juga saudara seperguruanmu tidak akan kutolak. Dan juga segala tanyamu pasti kujawab! Nah, sekarang apa kau masih raguragu...?!"

"Hmm    Mudah-mudahan ucapannya itu tidak

hanya di mulut!" kata Sarpakenaka dalam hati. Tapi seketika itu paras wajah Sarpakenaka berubah. Malah tubuhnya sempat bergetar. "Jogaskara! Apa dia telah mendahuluiku menemui Guru dan telah meminta apa yang akan kuminta? Celaka jika hal itu terjadi!"

Sarpakenaka memperhatikan gurunya, lalu berkata.

"Eyang guru Dadung Rantak.... Apakah sebelum ini Kakang Jogaskara telah menggunakan kesempatannya ?" Yang ditanya tertawa pendek.

"Apakah itu penting bagimu?" kata orang tua yang dipanggil Dadung Rantak di sela tawanya. Lalu dia menyambung. "Namun karena aku telah berjanji akan menjawab segala tanyamu, maka meski itu urusan tak berarti, akan kujawab juga!"

Sejenak Dadung Rantak hentikan ucapannya, lalu berkata lagi seraya gelengkan kepalanya perlahan.

"Jogaskara belum menemuiku!"

Paras Sarpakenaka berbinar. Bibirnya mengulas sebuah senyum.

"Hmmm    Syukur jika begitu. Berarti apa yang

kuharapkan akan terkabul! Dan kau Jogaskara, akan gigit jari. He he he...!" kata Sarpakenaka dalam hati. Lantas berkata.

"Eyang guru. Aku datang hanya dengan satu permintaan dan tiga pertanyaanku. Kuharap Guru tak menolak, seperti yang pernah Guru janjikan!"

"Sarpakenaka. Meski aku dikenal sebagai seorang yang berhaluan hitam, dan tak segan-segan membunuh siapa saja yang merintangi keinginanku, namun pantang bagiku menarik ludah di tanah!" meski nada suara Dadung Rantak perlahan, namun mau tak mau membuat Sarpakenaka merah padam, karena kecurigaannya mudah ditangkap oleh Dadung Rantak.

"Katakan apa permintaanmu dan tiga pertanyaanmu!"

Sarpakenaka menghela napas dalam seakan menegarkan hati. Setelah dapat menekan perasaan, dia berkata.

"Aku minta agar kau mewariskan Tombak Naga Puspa padaku!"

Seolah tersentak saking kagetnya, kepala Dadung Rantak bergerak cepat lurus ke depan, sepasang matanya yang sipit dilebarkan, sementara mulutnya komat-kamit, membuat kumis dan jenggotnya bergerak-gerak.

"Tak kuduga itu permintaannya. Dari mana dia tahu, bahwa aku menyimpan senjata mustika itu?"

Dadung Rantak tercenung. Parasnya berubah sulit diartikan. Sebentar-sebentar kepalanya tampak menggeleng perlahan. Sementara Sarpakenaka hanya mengawasi dengan pandangan tak kesiap. Dia juga dilanda kecemasan, apalagi tatkala dilihatnya sang guru geleng-gelengkan kepala.

"Apa berita yang kudengar, bahwa dia menyimpan Tombak Naga Puspa hanya omong kosong belaka? Atau dia memang menyimpan dan enggan memenuhi permintaanku...? Tapi menurut kabar yang kusirap selama bertahun-tahun merambah rimba persilatan, meski dia adalah termasuk jajaran atas golongan hitam dari zamannya, namun dia adalah seorang yang tidak pernah berkata bohong. Hmm.... Semoga dia memang menyimpan tombak itu!" membatin Sarpakenaka tanpa alihkan pandangannya.

Karena ditunggu agak lama Dadung Rantak masih tampak merenung dan tak menunjukkan tandatanda hendak angkat bicara, Sarpakenaka yang tampaknya sudah hilang kesabaran ingin mengetahui buka mulut.

"Eyang guru. Bagaimana pendapatmu tentang permintaanku?"

Seakan tak mendengar ucapan muridnya, Dadung Rantak masih saja bersikap seperti semula. Merenung seraya gelengkan kepala. Namun, tiba-tiba saja Dadung Rantak memandang lekat-lekat pada Sarpakenaka.

"Apa boleh buat! Janji memang harus ditepati meski sebenarnya berat sekali! Lagi pula benda itu sudah tak ada gunanya lagi di tanganku. Aku sudah sangat tua dan tak layak lagi berkeliaran di belantara persilatan.... Hanya aku khawatir.... Tapi itu urusanmu!" Lalu Dadung Rantak berkata.

"Muridku. Janji memang harus dijunjung tinggi. Ludah tak harus dijilat lagi. Permintaanmu kukabulkan!"

Laksana disambar petir, Sarpakenaka menjerit tertahan. Sepasang matanya membeliak besar, tubuhnya bergetar. Kedua tangannya ditakupkan pada wajahnya. Lalu dengan tangan dan kaki gemetaran, Sarpakenaka membungkuk dalam-dalam beberapa kali. Kalau kali pertama bertemu dengan gurunya juraan hormat terasa kaku dipaksakan, kini bungkukan tubuhnya tampak tulus, membuat orang tua di hadapannya sedikit terharu meski dalam hati masih berkata.

"Aku tahu, hal ini kau lakukan karena permintaanmu kupenuhi. Aku tahu bagaimana sifatmu sebenarnya! Tapi, tak apalah.... Toh ini adalah pertemuan terakhirmu denganku! Setelah ini aku tak ada hubungan apa-apa lagi denganmu! Kau adalah kau, dan aku adalah Dadung Rantak.... Hmmm...," Dadung Rantak lantas menggerakkan tangan kanannya ke belakang menelikung pinggangnya. Begitu tangan itu kembali ke depan, di genggamannya terlihat sebuah kotak pipih terbuat dari kayu tipis yang dilapis kulit ular berwarna kuning, putih dan hitam.

Sepasang mata Sarpakenaka yang memandang ke depan, terbelalak lebar. Tubuhnya tampak kembali bergetar sementara kedua tangannya gemetar laksana orang menggigil. Meski saat itu tubuhnya basah kuyup, namun keringat mulai membasahi leher dan keningnya.

Selagi murid Dadung Rantak ini terhanyut antara haru dan gembira, Dadung Rantak lemparkan kotak pipih di tangan kanannya. Kotak itu melayang dan jatuh tepat di hadapan Sarpakenaka.

"Ambillah apa yang kau inginkan! Tombak Naga Puspa sekarang telah menjadi milikmu!" kata Dadung Rantak pula. Sepasang mata orang tua bertelanjang dada ini masih tetap memandangi muridnya.

"Tentunya kau masih dengar berita tentang benda mustika itu. Sekarang kau bisa melihatnya. Bukalah!" lanjut Dadung Rantak seraya usap-usap wajahnya.

Dengan mata semakin membelalak dan tangan makin gemetar Sarpakenaka gerakkan kedua tangannya hendak mengambil kotak berlapis kulit ular di hadapannya. Namun dia tiba-tiba hentikan gerakan tangannya tanpa menariknya kembali ke belakang. Kepalanya sedikit mendongak pandangi gurunya. Wajahnya mengisyaratkan keragu-raguan.

Namun ketika melihat yang dipandangi sunggingkan senyum meski tak dapat menyembunyikan keterpaksaan, Sarpakenaka teruskan gerakan kedua tangannya.

Begitu kedua tangan perempuan berjubah putih ini menyentuh kotak, kedua tangan itu semakin gemetar. Dadanya terlihat bergetar, hingga karena kerasnya getaran itu, jubah yang dikenakannya bergerak-gerak turun naik.

Setelah kotak berada di tangan dan ditarik mendekat tubuhnya, sepasang mata Sarpakenaka mengamati dengan seksama. Lalu perlahan pula tangan kanannya membuka.

Seberkas sinar hitam berkilat-kilat tiba-tiba menebar begitu kotak terbuka. Meski suasana saat itu telah gelap karena awan hitam serta hujan deras namun kilatan-kilatan yang dipancarkan benda dalam kotak itu jelas-jelas terlihat.

Sepasang mata Sarpakenaka melotot lebarlebar. Mulutnya ternganga dan jantungnya makin berdegup kencang.

"Hmmm.... Naga Puspa! Naga Puspa benarbenar jadi milikku! Aku akan jadi orang yang punya nama besar! Orang-orang yang selama ini menjadi perintang ku dan orang-orang yang berhasil mengalahkan aku, akan kubuat bertekuk lutut! Aku akan jadi orang yang paling ditakuti! Rimba kancah persilatan akan kubuat geger! Apalagi jika aku berhasil mendapatkan Arca Dewi Bumi yang kini mulai ramai diperbincangkan orang. Hmm...! Aku akan menobatkan diri jadi raja di atas raja dalam kancah persilatan. Sekarang saatnya aku tanya pada orang tua itu tentang petunjuk beradanya Arca Dewi Bumi!" membatin Sarpakenaka seraya terus memperhatikan benda di dalam kotak.

Benda yang pancarkan kilatan-kilatan sinar hitam itu ternyata adalah sebuah tombak berwarna hitam logam. Panjangnya tidak lebih dari dua kali rentangan telapak tangan. Ujung tombak itu bercabang tiga. Kedua sisi cabang lebih panjang dari pada cabang yang di tengah. Cabang yang tengah agak pendek karena ternyata ujungnya menekuk membentuk kail. Batang tombak ini hanya sebesar ibu jari tangan, yang agak aneh, ternyata batang tombak ini tidak lurus melainkan berkelok-kelok agak panjang dan bersisik-sisik laksana tubuh seekor ular. Pangkalnya sangat kecil dan membentuk lancip seperti ekor ular.

Sarpakenaka gerakkan tangan kanan hendak mengambil Tombak Naga Puspa. Dia sedikit terkejut. Ada hawa aneh yang menyambar begitu tangannya menyentuh badan tombak. Dan perempuan berjubah putih ini tercengang tatkala tangan kanannya tak berhasil mengangkat tombak.

"Sarpakenaka! Itu adalah benda mustika. Tidak sembarang orang bisa memegangnya. Kerahkan tenaga dalam!" berkata Dadung Rantak begitu melihat keterkejutan muridnya.

Tanpa memandang lagi pada gurunya, Sarpakenaka kerahkan tenaga dalam pada tangan kanan. Lalu perlahan tangan kanannya bergerak mengambil tombak.

Benar saja, tombak itu kini bisa terangkat. Beberapa saat lamanya Sarpakenaka memperhatikan bentuk tombak dengan seksama. Dalam hati dia berkata.

"Tanpa kucoba di sini pun aku percaya jika tombak ini menyimpan kedahsyatan tiada tara. Hawa di sekitar tombak ini begitu aneh dan kilatankilatannya mampu menembus kepekatan cuaca. "

Setelah puas memperhatikan, Sarpakenaka meletakkan kembali Tombak Naga Puspa dan menutupkan kembali kotak kayu yang berlapis kulit ular. Lalu dimasukkan ke balik jubah putihnya.

"Eyang guru. Muridmu mengucapkan terima kasih atas kebajikanmu yang rela memberikan permintaan yang kuajukan...!" habis berkata, sepasang mata murid Dadung Rantak ini kembali memandang ke depan. Lalu menyambung kata-katanya. "Sekarang Eyang guru kuharap bisa menjawab pertanyaanku !"

Dadung Rantak donggakkan kepala. Setelah mendehem dia berkata. "Katakan!"

"Sebagai salah seorang tokoh yang pernah malang melintang dalam belantara persilatan, sudah barang tentu Eyang guru pernah dengar tentang Arca Dewi Bumi ,"

Sarpakenaka sejenak hentikan ucapannya. Dia seakan ingin melihat reaksi gurunya setelah mendengar ucapannya.

Di seberang, begitu mendengar keterangan Sarpakenaka, untuk kedua kali Dadung Rantak dibuat terperangah. Malah mungkin karena terlalu terkejut, dia mengulang kata-kata terakhir Sarpakenaka dengan setengah berteriak.

"Arca Dewi Bumi...!" seraya berkata, paras wajah Dadung Rantak berubah. Keningnya mengernyit dengan mata dipejamkan.

"Hmm.... Berpuluh-puluh tahun tak berhubungan dengan dunia luar ternyata telah banyak perubahan terjadi. Kalau Sarpakenaka telah mengetahui bahwa aku penyimpan Tombak Naga Puspa, lebih-lebih dia menyebut tentang Arca Dewi Bumi, maka berarti dunia persilatan telah geger seperti pada puluhan tepatnya sembilan puluh delapan tahun silam! Tentunya saat ini telah banyak pula tokoh-tokoh baru yang muncul. Melihat keadaan begini, ingin rasanya aku kumpulkumpul lagi dengan teman-teman lama. Ah, tapi itu tak mungkin kulakukan sebelum muridku yang satunya menggunakan kesempatan untuk menemuiku "

Selagi Dadung Rantak berkata-kata sendiri dalam hati, Sarpakenaka yang sekilas menangkap keterkejutan gurunya berkata pula dalam hati.

"Dia terkejut dan bahkan mengulang nama Arca Dewi Bumi. Berarti dia tahu tentang arca itu! Hmm Aku sungguh beruntung!"

"Eyang guru...!" berkata Sarpakenaka membuyarkan angan-angan Dadung Rantak. "Harap Eyang jawab. Kepada siapa aku harus minta petunjuk tentang beradanya Arca Dewi Bumi. Di mana adanya orang yang bisa memberi petunjuk itu. Dan yang terakhir, adakah persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin mendapatkan arca itu?!" Dadung Rantak yang masih sedikit terkejut, luruskan matanya menatap tajam pada Sarpakenaka.

"Hmm.... Aku telah menduga pertanyaan yang bakal diajukan itu! Sebenarnya ini hal yang sangat rahasia sekali. Dan aku pun sebetulnya masih menginginkan arca itu. Tapi.... Sekali lagi aku terbentur dengan janji. Maka, apa hendak dikata. Pertanyaannya harus kujawab...!" berpikir begitu, kepala Dadung Rantak lantas mendongak. Lalu dari mulutnya terdengar ucapan.

"Muridku Sarpakenaka. Kalau masalah itu yang kau tanyakan, dengar baik-baik! Orang yang dapat memberi petunjuk tentang beradanya arca itu hanya satu di kolong langit ini. Dia seorang perempuan bernama Kali Nyamat yang dalam rimba persilatan lebih dikenal dengan gelar Dewi Kayangan. Dia bertempat tinggal di sebuah dusun kecil di bawah kaki bukit. Dusun itu bernama dusun Kepatihan...!" Dadung Rantak hentikan keterangannya. Namun kepalanya tetap mendongak ke atas.

Di seberang, mendengar keterangan gurunya, Sarpakenaka terkejut.

"Dewi Kayangan.... Aku memang pernah mendengar nama itu. Dan kabarnya dia adalah juga seorang tokoh perempuan yang ilmunya sulit dijajaki. Hmm.... Tapi siapa pun dia adanya, aku harus menemukan dan mendapatkan yang kuinginkan. Kalau dia menolak, Tombak Naga Puspa telah ada di tanganku....

Lagi pula...," Sarpakenaka tak lanjutkan kata hatinya, karena saat itu Dadung Rantak telah melanjutkan keterangan atas pertanyaannya.

"Soal pertanyaanmu yang terakhir, aku sendiri sebetulnya masih sangat meragukan. Namun ada baiknya kau dengar. Memang, untuk mengambil Arca Dewi Bumi diperlukan syarat lagi " "Apa syarat itu Eyang...?!" sergah Sarpakenaka seakan tak sabar melihat sikap gurunya yang menghentikan sejenak keterangannya.

"Muridku! Apa pun yang terjadi, kenyataan harus kita terima dengan hati tegar!"

"Maksud Eyang guru...?"

"Menurut apa yang kuketahui, kelak hanya seorang yang dapat mengambil Arca Dewi Bumi. Tapi kau jangan tergoyah dengan hal itu, ini jika kau memang benar menginginkan arca itu! Tapi sekali lagi kenyataan akhir harus kita terima...!"

"Katakan. Siapa orang itu!"

"Aku sendiri tak tahu namanya. Hanya orang itu mempunyai tanda guratan angka 108 dalam tubuhnya yang dibawa sejak lahir! Itulah yang kuketahui...!"

Beberapa saat Sarpakenaka terdiam. Keningnya berkerut seakan-akan mengingat sesuatu. "Apa mungkin ada hubungannya dengan seorang pemuda yang kesohor dengan gelar Pendekar Mata Keranjang 108? Ah, tak mungkin. Meski aku belum pernah bertemu dengan pemuda itu, namun berita yang sampai padaku mengatakan dia bergelar begitu karena dia bersenjata sebuah kipas yang tertera angka 108. Padahal yang dikatakan guru adalah bahwa guratan angka 108 ada pada tubuhnya! Hmm.... Mungkin ini hanya kebetulan angkanya sama!" membatin Sarpakenaka.

"Nah, Sarpakenaka, kurasa keterangan yang kuberikan sudah cukup!" kata Dadung Rantak menyentak kediaman.

"Tapi Eyang "

"Sarpakenaka. Ludah tidak harus dijilat lagi! Kau telah ajukan tiga pertanyaan, dan aku telah menjawabnya. Kesempatanmu telah habis, dan kau tahu apa yang selanjutnya harus kau lakukan!"

Sarpakenaka mendengus perlahan. Dia telah paham apa yang dimaksud dengan Eyang gurunya. Dia harus angkat kaki dari tempat itu.

"Jahanam! Jika tidak mengingat kau telah memberikan apa yang kuminta, mulutmu akan kuhajar habis! Peduli kau guruku!" membatin Sarpakenaka seraya pandangi gurunya.

Dengan suara agak bergetar dan parau, Sarpakenaka angkat bicara.

"Baiklah, Eyang  guru. Aku mohon  diri  seka-

rang!"

Habis berkata begitu Sarpakenaka bangkit lalu

dengan gerakan kaku dia menjura hormat seraya bungkukkan sedikit tubuhnya. Setelah itu bersamaan dengan menyalaknya gelegar guntur, perempuan berjubah putih besar ini berkelebat menerjang kepekatan cuaca dan derasnya hujan.

Ketika kilat untuk yang kesekian kalinya menyambar, dan sekilas lembah berpasir terang benderang, sosok Sarpakenaka telah lenyap dari pedataran pasir.

***

DUA

SESAAT setelah kepergian Sarpakenaka, Dadung Rantak yang pada zamannya adalah seorang tokoh berilmu tinggi yang dalam rimba persilatan lebih dikenal dengan gelar Iblis Penyapu Jagad gerakkan kepalanya ke samping kanan dan kiri. Telinganya terlihat bergerak-gerak perlahan, sementara sepasang matanya memejam.

"Hmm.... Ada orang berkelebat mendatangi tempat ini. Siapa dia? Bertahun-tahun tinggal di sini tak ada seorang tamu pun yang datang berkunjung....

Lagi pula hanya dua muridku yang tahu di mana aku berada. Apa benar dia ?"

Seraya membatin, sepasang mata orang tua ini membuka dan memandang lurus ke depan. Sementara hujan masih tetap mendera, kilat menyambar serta guntur menyalak bersahutan.

Dugaan Dadung Rantak ternyata tidak meleset. Begitu kilat menyambar dan suasana sejenak terang benderang, samar-samar sesosok bayangan terlihat berkelebat menuju arah lembah berpasir.

Saat sampai tengah lembah, bayangan itu hentikan langkah. Dan sosok itu serta-merta surutkan langkah sampai tiga tindak ke belakang begitu samarsamar terlihat olehnya sesosok tubuh sedang duduk bersila.

Untuk beberapa saat lamanya sosok yang baru datang besarkan sepasang matanya menatap tak berkedip ke depan. Saat kilat kembali menyambar dan agak jelas siapa adanya sosok yang duduk, sosok yang baru datang sekonyong-konyong menjura hormat seraya berseru tertahan.

"Eyang guru...!"

Dadung Rantak yang tampaknya sudah dapat menduga siapa adanya orang yang baru datang anggukkan kepala seraya memandang lurus ke depan.

"Jogaskara.... Hmm    Ini kesengajaan atau ha-

nya sebuah kebetulan? Murid-muridku yang pergi beberapa puluh tahun silam datang pada hari yang sama hanya berbeda waktu...," membatin Dadung Rantak. Lalu setelah mendehem beberapa kali dia berkata.

"Jogaskara. Pasti ada hal yang sangat penting hingga kau pergunakan kesempatan yang kuberikan hanya sekali padamu! Hmm Sekarang bicaralah apa

kepentinganmu!" Orang yang dipanggil Jogaskara perlahan duduk. Kepalanya bergerak menengadah, sepasang matanya menatap lekat-lekat. Ternyata dia adalah seorang laki-laki yang tidak muda lagi. Ini bisa dilihat dari rambut panjangnya yang telah berwarna dua, sebagian hitam dan sebagian putih. Paras wajahnya masih meninggalkan sisa-sisa ketampanan. Namun pada wajah itu terdapat codet bekas luka yang memanjang dari pelipis kiri hingga pipi. Laki-laki ini mengenakan pakaian jubah panjang hingga sebatas lutut berwarna biru muda. bicara. Setelah terdiam agak lama, Jogaskara angkat

"Eyang guru...! Memang ada hal penting yang membuatku datang menemuimu. Aku hanya ada satu permintaan serta dua pertanyaan!"

"Hmm   Katakan!"

Jogaskara tidak segera angkat bicara lagi. Dia sepertinya ragu-ragu. Namun pada akhirnya, setelah dapat menguasai keraguan hati dia berkata.

"Eyang guru...! Aku hanya minta kau sudi mewariskan Tombak Naga Puspa padaku !"

Dadung Rantak melengak kaget. Kepalanya bergerak mendongak. Diam-diam dalam hati dia berkata.

"Astaga! Tampaknya berita tentang Tombak Naga Puspa yang ada padaku telah bocor dan merebak di rimba persilatan. Hmm.... Siapa gerangan yang membocorkan masalah ini? Ternyata pelataran rimba persilatan tak pernah berubah sejak dahulu kala. Selalu dan selalu mengejar benda! Tapi    Nasibmu tidak baik

Jogaskara. Adik seperguruanmu telah mendahului....

Apa hendak dikata, segalanya telah terjadi ," memba-

tin Dadung Rantak lalu berkata seraya tetap menengadah.

"Jogaskara. Kalau bisa aku  tahu, dari mana kau tahu bahwa aku menyimpan benda itu...?" Mendengar pertanyaan gurunya, Jogaskara ti-

dak segera menjawab. Dalam hati dia berkata. "Hmm.... Berarti benar dia menyimpan tombak

itu. Ah, sungguh beruntungnya aku. Benda yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang rimba persilatan, dan diburu banyak orang, akan jatuh ke tanganku "

"Eyang guru...!" kata Jogaskara pada akhirnya. "Siapa pun orang yang telah menamakan dirinya sebagai salah seorang pesilat, saat ini pasti tahu jika tombak itu ada padamu! Saat sekarang, rimba persilatan telah diguncang oleh Tombak Naga Puspa dan kabar tentang sebuah arca!"

"Astaga! Pasti Arca Dewi Bumi!" membatin Dadung Rantak.

"Jogaskara! Tombak Naga Puspa memang berada di tanganku...." Dadung Rantak tak meneruskan ucapannya, karena saat itu juga, entah karena girang, atau terkejut, Jogaskara menyela.

"Aku sudah menduga hal itu, Eyang !"

"Hanya saja kau datang terlambat!" sambung Dadung Rantak dengan suara agak dikeraskan, karena saat itu guntur sedang menggelegar.

Jogaskara kerutkan kening. Perasaan terkejut tak dapat dia sembunyikan dari raut wajahnya. Seolah ingin mendapat penjelasan, Jogaskara cepat menyambuti ucapan gurunya.

"Maksud Eyang ?!"

"Sarpakenaka, adik seperguruanmu telah datang dan meminta barang yang kau inginkan! Karena aku telah ikrarkan janji sewaktu kau dan adikmu hendak keluar dari Lembah Rawa Buntek beberapa puluh tahun silam bahwa aku tidak akan menolak segala permintaan dan pertanyaan kalian berdua, maka aku harus tepati janji itu! Tombak Naga Puspa telah kuberikan pada adikmu!"

Jogaskara beliakkan sepasang matanya. Dagunya terangkat dengan pelipis bergerak-gerak. Dan seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengar, dia geleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Eyang! Eyang tidak sedang bergurau, bukan...?"

Dadung Rantak keluarkan tawa berderai-derai hingga bahunya yang terbuka tampak berguncangguncang turun naik.

"Dalam masalah penting seperti ini, tak layak bergurau, Jogaskara! Jadi, kau harus dapat menerima kenyataan ini!"

"Jahanam! Kenapa aku masih kurang percaya saat pertama kali kudengar bahwa Tombak Naga Puspa ada di tangan Guru? Jika saat itu aku cepat datang menemui Guru, tak mungkin hal ini terjadi! Sarpakenaka.... Aku akan mencari sekaligus merebut tombak itu dari tanganmu! Saudara seperguruan tinggal saudara. Aku yang lebih tua, seharusnya lebih berhak atas tombak itu!"

"Jogaskara. Aku tahu kau kecewa. Tapi sekali lagi kau harus dapat menerima kenyataan ini, karena aku pun tak bisa mengingkari apa yang pernah kuucapkan! Jadi, dalam hal ini kau tak bisa menyalahkan adikmu atau aku!" kata Dadung Rantak demi melihat perubahan pada wajah muridnya.

Jogaskara tak menyahuti ucapan gurunya. Dia seakan masih tenggelam dalam kegeraman dan kekecewaan. Beberapa kali terlihat Jogaskara mengusap leher dan keningnya karena keringat dingin yang telah bercampur dengan air hujan berlelehan semakin deras. "Jogaskara!" berkata Dadung Rantak menying-

kap keterdiaman yang berlangsung agak lama.

"Kau tak usah terlalu kecewa. Aku masih menyimpan satu lagi benda yang kehebatannya tak kalah dengan Tombak Naga Puspa. Jika kau menginginkan aku akan berikan padamu, sebagai ganti dari Tombak Naga Puspa!"

"Sialan! Mana ada orang percaya jika ada benda yang kehebatannya menyamai Tombak Naga Puspa? Tapi.... Dari pada pulang dengan berhampa tangan, ada baiknya juga benda itu kuterima. Toh, setelah ini aku akan merampas Tombak Naga Puspa dari tangan Sarpakenaka !"

Berpikir begitu, dengan raut wajah dibuat seolah-olah masih kecewa, Jogaskara anggukkan kepala seraya berkata.

"Bila itu kehendak Eyang guru, aku turut saja!" Dadung Rantak manggut. Tangan kirinya lan-

tas bergerak menelikung ke belakang. Dan begitu ditarik ke depan kembali, di tangannya terlihat sebuah kotak pipih terbuat dari kayu yang dilapis dengan kulit kambing berwarna hitam.

Dan tanpa berkata-kata lagi, Dadung Rantak melemparkan kotak di tangan kirinya ke depan, dan jatuh tepat di hadapan Jogaskara.

"Ambillah!"

Dengan berat, perlahan-lahan Jogaskara mengambil kotak pipih di hadapannya. Lalu dengan perlahan pula dibukanya kotak itu.

Begitu kotak terbuka, Jogaskara terperangah kaget. Bahkan hampir saja kotak di tangannya terjatuh jika dia tak segera mengatasi rasa kagetnya. Karena begitu kotak terbuka, seberkas cahaya hitam menebar seakan menindih lenyap kepekatan suasana saat itu! Bukan hanya itu saja, bersamaan dengan menebarnya cahaya hitam, suasana disentak oleh hawa panas yang menyambar keluar dari benda di dalam kotak.

Setelah dapat menguasai diri dan matanya terbiasa oleh kepekatan cahaya yang ditimbulkan benda dari dalam kotak, Jogaskara baru dapat melihat benda yang ada di dalam kotak.

Ternyata benda itu adalah sebuah keris. Warnanya hitam legam. Panjangnya kira-kira dua rentangan telapak tangan. Keris itu berkelok empat. Anehnya, batangan keris itu membentuk bulatan kecil-kecil yang saling tindih seperti sisik-sisik ular! Sementara besar batangan keris mulai pangkal hingga ujung sama besarnya! Gagang keris terbuat dari semacam kaca tembus pandang berwarna merah yang pangkalnya berbentuk kepala seekor ular dengan lidah terjulur keluar!

Setelah meneliti beberapa lama, baru Jogaskara mengerti, jika cahaya hitam yang menebar, keluar dari batangan keris, sementara hawa panas keluar dari gagang keris yang ternyata juga merah membara!

"Hmm.... Meski dilihat dari pancaran sinar hitam dan merah yang dikeluarkan benda ini menunjukkan bahwa benda ini mempunyai kehebatan, namun apa dapat dibuktikan jika benda ini tak kalah hebatnya dengan Tombak Naga Puspa? Aku masih ragu dengan keterangan Guru!" membatin Jogaskara, lalu alihkan pandangan matanya pada Dadung Rantak. Dia hendak mengutarakan apa yang ada dalam hatinya. Namun baru saja mulutnya membuka hendak bicara, Dadung Rantak telah mendahului angkat bicara.

"Muridku. Rimba persilatan atau apalagi kau, tentunya belum pernah mendengar dan melihat benda itu. Keris itu bernama Papak Geni. Dan bila kau ingin membuktikan kehebatannya, ambil keris itu dan acungkan ke atas, lalu lemparkan!"

Mendapati kata-kata gurunya yang seolah mengerti jalan pikirannya, Jogaskara sedikit terkejut. Namun perasaan itu segera dienyahkan. Tangan kanannya segera mengambil keris. Ada hawa aneh yang menelusup masuk ke tubuhnya ketika tangan kanannya memegang gagang keris. Dan Jogaskara tersentak kaget saat tangannya tak dapat mengangkat keris.

Otak cerdik Jogaskara segera mengerti. Dan sekejap itu juga Jogaskara alirkan tenaga dalam pada tangan kanannya. Serta-merta keris itu bisa diangkat.

Dadung Rantak anggukkan kepala melihat muridnya dapat memaklumi keadaan. Sepasang matanya terus mengawasi gerak-gerik muridnya.

Di seberang, setelah keris berhasil diangkat dari kotak, Jogaskara melakukan apa yang dikatakan gurunya. Keris diacungkan ke atas dan serta-merta dilemparkan.

Keris berwarna hitam itu melesat ke udara. Kira-kira satu setengah tombak, keris itu membalik dan kini melayang ke bawah. Hebatnya, begitu keris itu menukik, serangkum angin deras menghampar! Dan sebelum keris itu menerabas tanah becek, tanah di bawah keris terbongkar hingga muncrat sampai setinggi satu tombak! Bukan hanya sampai di situ, ketika kilat menyambar dan menerangi sekitar tempat itu, jelas terlihat jika tanah yang muncrat itu berubah menjadi merah membara!

Keris terus menerabas ke bawah, namun sebelum amblas ke dalam tanah becek yang telah terbongkar, mendadak keris itu terhenti dan mengapung di udara!

Di seberang, Dadung Rantak mendehem beberapa kali, lalu sentakkan tangan kanannya menyamping dengan perlahan. Bersamaan dengan bergeraknya tangan kanan Dadung Rantak, keris itu bergerak kembali dan jatuh di hadapan Jogaskara.

Jogaskara yang tampaknya masih terkesima dengan apa yang terjadi di hadapannya terdiam dengan mulut menganga seolah tak tahu apa yang harus diperbuat.

"Jogaskara! Kuharap kau tak kecewa sekarang. Itu baru sebagian dari kehebatan yang tersimpan dalam Keris Papak Geni. Selebihnya kau dapat buktikan sendiri nantinya! Ambil dan simpan kembali keris itu!"

Dengan masih dibungkus rasa kagum, Jogaskara mengambil keris yang tergeletak di hadapannya dan dimasukkan kembali dalam kotak, lalu disimpannya ke balik jubahnya.

"Terima kasih, Eyang...," kata Jogaskara seraya menjura hormat.

Dadung Rantak anggukkan kepala, lalu berka-

ta.

"Nah, sekarang katakan apa yang hendak ingin

kau tanyakan!"

Sejurus Jogaskara memandang wajah gurunya.

Dengan suara perlahan, dia berkata.

"Eyang guru   Rimba persilatan saat ini dibuat

geger dengan munculnya berita tentang Arca Dewi Bumi...," Jogaskara hentikan sebentar kata-katanya. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia menyambung.

"Apakah benar berita tentang adanya Arca Dewi Bumi itu? Dan siapa orang yang memegangnya saat ini...?!"

Dadung Rantak yang sejak semula telah mengetahui apa yang hendak diajukan muridnya segera donggakkan kepala.

"Muridku. Dengar baik-baik! Arca Dewi Bumi memang ada, dan bukan cerita yang dibuat-buat. Sedangkan orang yang memegang saat ini adalah seorang Resi yang berusia amat lanjut. Dia bernama Sahyang Resi Gopala. Seakan sudah disuratkan, meski Sahyang Resi Gopala sudah berusia amat lanjut, namun dia belum juga meninggal dunia sebelum berhasil mewariskan arca itu pada seseorang!"

Jogaskara angguk-anggukan kepala. Dalam hati dia berkata.

"Hmm.... Dengan kehebatan Keris Papak Geni aku yakin bisa mendapatkan arca itu! Apalagi jika aku berhasil merampas Tombak Naga Puspa dari tangan Sarpakenaka! Peduli dengan orang yang bernama Sahyang Resi Gopala. Kalau dia tak mau memberikan arca itu, maka aku pun tak segan-segan membabatnya! Sebaiknya kutanyakan di mana orang bernama Sahyang Resi Gopala itu berada!" Lalu Jogaskara luruskan matanya dengan membuka mulut.

"Eyang guru.... Di manakah orang yang...," belum tuntas Jogaskara ucapkan kata-kata, Dadung Rantak telah menyahut.

"Jogaskara! Siapa pun kita adanya, dan golongan apa pun kita berada, janji harus dijunjung tinggitinggi!"

Seakan tak mengerti maksud ucapan gurunya, Jogaskara segera ajukan pertanyaan.

"Yang Eyang guru maksud..,?"

"Kau tadi telah mengatakan hendak ajukan dua pertanyaan. Dan itu telah kau tanyakan dan aku pun telah menjawab. Jadi kau sudah tak bisa ajukan pertanyaan lagi!"

Jogaskara pelototkan sepasang matanya. Wajahnya tak diselimuti rasa kecewa, justru isyarat geram dan marah jelas tampak pada raut wajahnya.

"Bangsat! Bila tak mengingat jasa baikmu yang telah menurunkan ilmu padaku, akan kucabut anggota tubuhmu hingga kau menjawab segala pertanyaanku!"

Meski sekilas melihat, Dadung Rantak tampaknya telah dapat membaca apa yang terpikir dalam benak muridnya. Tanpa memandang lagi pada sang murid, Dadung Rantak berkata.

"Jogaskara! Aku tahu, kau kecewa dengan kata-kataku. Namun kau harus dapat menelaah siapa yang salah dalam hal ini. Aku tak mau mengatakannya, karena kau mungkin sudah tahu! Hanya kunasihatkan padamu, segala hal yang pernah terjadi jadikanlah sebagai tonggak agar kesalahan tidak terulang untuk yang kedua kalinya! Nah, waktuku sudah habis. Aku harus meninggalkanmu!"

Habis berkata begitu, orang tua bertelanjang dada ini takupkan kedua tangannya di atas kepala. Sepasang matanya saling mengatup, sementara mulutnya komat-kamit.

Mendadak dari tanah becek di bawah tubuh Dadung Rantak mengepul sebongkah awan putih, membungkus sekujur tubuh Dadung Rantak, lalu perlahan sekali bongkahan awan putih itu membumbung ke udara.

Bersamaan dengan membumbungnya awan putih, sosok Dadung Rantak lenyap!

"Terlambat! Jahanam betul!" kata Jogaskara setengah berteriak.

Sebenarnya Jogaskara ingin menahan kepergian gurunya. Bahkan diam-diam Jogaskara telah salurkan tenaga dalam pada kedua tangannya dan siap dipukulkan ke arah sang guru. Namun entah karena terkesima atau mencari saat yang tepat, Jogaskara terlambat untuk bertindak. Hingga saat kedua tangannya siap menyentak, Dadung Rantak telah lenyap dari hadapannya.

Namun Jogaskara tidak begitu saja menyerah, begitu awan putih yang membungkus tubuh Dadung Rantak membumbung, kedua tangannya disentakkan!

Tapi Jogaskara terlengak, karena angin deras yang menyambar keluar dari kedua tangannya mental balik sebelum menghantam sasaran! Bahkan mentalan serangan itu menggebrak ke arahnya! Membuat salah seorang murid Dadung Rantak ini harus cepat lesatkan dirinya ke samping seraya bergulingan untuk menghindari pukulannya sendiri.

Setelah dapat menghindari pukulannya sendiri, laki-laki ini segera bangkit. Jubah birunya semakin kotor karena bercampur tanah bongkaran!

Sesaat sepasang mata Jogaskara menyapu berkeliling. Lalu dengan menggerendeng panjang pendek tubuhnya berkelebat meninggalkan Lembah Rawa Buntek yang masih dibungkus kepekatan.

***

TIGA

SEORANG pemuda berparas tampan, mengenakan pakaian hijau yang dilapis dengan pakaian dalam warna kuning lengan panjang, rambut panjang dan dikuncir ekor kuda tampak melangkah perlahan. Melihat wajah serta lehernya yang basah oleh keringat, demikian pula pakaian yang dikenakannya, jelas sekali bahwa pemuda ini sedang melakukan perjalanan jauh. Dan melihat sikapnya, yang berjalan pelan serta menggerak-gerakkan tangan kanannya pulang balik di depan dada, mengibas-ngibaskan kipas ungu di tangan, nampaknya pemuda ini tengah menghilangkan rasa lelah dan panas.

Seraya berkipas-kipas, dari mulut pemuda ini terdengar dendangan nyanyian yang tak bisa ditangkap artinya karena sesekali terdengar menggumam dan tak jarang diseling dengan suara tawa. Sepasang matanya yang tajam menebar memperhatikan keadaan serta suasana tempat yang dilalui.

"Arca Dewi Bumi.... Hmm.... Menurut Dewi Kayangan, hanya orang bertanda gurat 108 dalam tubuhnya yang bakal bisa mengambil dan mewarisinya, apa hal itu dapat dipercaya kebenarannya? Ah, aku belum bisa memastikan sebelum membuktikannya sendiri! Daerah Bajul Mati dan Sahyang Resi Gopala Itu

satu-satunya petunjuk Dewi Kayangan. Aku harus segera menemukan daerah itu!" sang pemuda yang bukan lain adalah Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 berkata sendiri seraya terus melangkah perlahan sambil berkipas.

"Aku sebenarnya tidak begitu berminat dengan segala macam benda seperti itu, namun menuruti kata-kata Eyang Selaksa serta gegernya dunia persilatan saat ini dengan kabar tentang Arca Dewi Bumi membuatku harus bertindak agar arca itu tidak jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Hmm....

Apa sih keistimewaan arca itu hingga Eyang Selaksa begitu khawatir jika jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab? Dan semua orang bagai disentak dengan munculnya berita tentang arca itu...? Aku jadi penasaran... Apa "

Tiba-tiba langkah Pendekar 108 tertahan, gumaman dari mulutnya terpenggal dan tangan kanannya yang pulang balik berkipas berhenti bergerak.

"Aku mendengar suara orang mengerang lirih laksana orang sekarat "

Sepasang mata Pendekar 108 menyapu berkeliling, telinganya dia tajamkan. "Di sebelah depan sana !"

Pendekar 108 berkelebat ke arah sumber suara. Di bawah sebuah pohon yang tidak begitu besar tampak sesosok tubuh sedang terkapar dengan mulut mengerang. Sosok ini tampaknya sedang bergulat dengan kematian.

Dengan cepat Pendekar 108 mendekati sosok yang terkapar. Dia adalah seorang laki-laki. Baik usia maupun raut wajahnya tak bisa dikenali. Karena wajah serta anggota tubuh dan pakaian orang itu hitam legam! Namun tak ada darah yang terlihat berceceran baik di tubuh atau di sekitar tempat itu.

Dengan sedikit kerutkan dahi, Pendekar 108 memeriksa laki itu.

"Tampaknya masih baru saja terjadi. Dia masih hidup, namun mungkin tak akan bertahan lama...," pikir Aji seraya letakkan kedua tangan salurkan tenaga dalam pada dada laki-laki yang sedang bertarung dengan ajal itu.

"Sobat. Katakan apa yang baru saja menimpa-

mu!"

Mulut laki-laki di hadapan Aji bergerak mem-

buka sedikit. Namun bukannya suara yang terdengar, melainkan mengalirnya darah hitam dari sudut-sudut bibirnya. Pendekar 108 bisa segera menebak, jika anggota tubuh laki-laki ini berubah hitam karena terkena pukulan atau senjata yang sangat hebat.

Pendekar 108 lipat gandakan tenaga dalamnya. Mulut laki-laki itu semakin lebar membuka, dan darah hitam semakin banyak keluar. Namun bersamaan itu kelopak mata laki-laki ini bergerak membuka. Mata itu telah redup dan sepertinya tak bisa dibuka lebar-lebar. "Sobat! Katakan apa yang telah terjadi!" Pende-

kar 108 ulangi pertanyaannya. Suaranya agak dikeraskan, khawatir jika laki-laki itu tidak mendengar.

Sepasang mata laki-laki itu memandang lurus ke atas. Lalu perlahan sekali bola matanya bergerak ke samping, di mana Pendekar 108 sedang jongkok.

Laki-laki ini tampak terkejut. Namun anggota tubuhnya tak bisa mengisyaratkan keterkejutannya, hanya sepasang matanya tampak sedikit membesar dengan tangan bergerak-gerak pelan, namun sesaat kemudian lunglai kembali.

"Sobat. Aku akan berusaha menolongmu. Katakan apa yang sedang kau alami!" kata Pendekar 108 begitu menangkap rasa terkejut pada laki-laki di sampingnya.

Untuk beberapa saat lamanya laki-laki ini tak terdengarkan suara untuk menjawab meski mulutnya tampak bergerak-gerak.

Mendapati hal ini, Pendekar 108 segera alihkan tangan kanannya ke leher sementara tangan kiri tetap di atas dada sang laki-laki.

"Seseorang.... Yang..., yang menamakan diri... Dayang... Naga... Puspa. Dia... memaksaku " Sejenak

laki-laki ini hentikan ucapannya. Dadanya bergerak perlahan turun naik tak teratur. Pendekar Mata Keranjang 108 menunggu dengan sesekali memperhatikan anggota tubuh sang laki-laki.

Setelah dapat mengatasi sendatan napasnya, laki-laki ini meneruskan kata-katanya. Pelan sekali, hingga Pendekar 108 harus dekatkan telinganya ke mulut sang laki-laki.

"Dia memaksaku untuk... mengatakan di mana letaknya dusun Kepatihan, lalu..., bertanya panjang...

lebar tentang Dewi Kayangan. Meski aku... telah mengatakan namun..., dia menyerangku. Dia berilmu sangat tinggi, aku tak sanggup "

"Dapat kau sebutkan ciri-cirinya ?"

Kembali laki-laki ini atur napasnya sebelum akhirnya berkata kembali.

"Seorang perempuan..., memakai jubah putih besar. Dia baru.., saja menuju arah sana...," seraya berkata, laki-laki ini arahkan pandangannya ke sebelah barat, arah yang hendak diambil Pendekar 108. "Aku harus menyusulnya meski aku tahu, jalan

yang diambil orang yang bernama Dayang Naga Puspa adalah salah jika memang ingin ke dusun Kepatihan!" lalu Aji lipat gandakan tenaga dalamnya pada sang laki-laki agar dia dapat bertahan agak lama.

"Sobat. Kau tunggulah di sini. Aku akan menyusul orang yang kau sebutkan tadi! Dia mungkin membawa obat penawar racun yang telah disarangkan padamu!"

Habis berkata, Pendekar 108 segera bangkit dan bergerak berkelebat ke arah yang ditunjuk sang laki-laki.

"Anak Muda.... Jangan kau..., buat urusan dengan orang itu! Dia...," laki-laki ini tak meneruskan ucapannya karena dilihatnya pemuda berjubah hijau itu telah lenyap.

Sesaat setelah kepergian Pendekar Mata Keranjang 108, sesosok bayangan tampak berkelebat. Dan tahu-tahu telah berdiri dengan kacak pinggang di samping sang laki-laki yang terkapar. Sepasang mata sosok yang baru datang mengawasi sang laki-laki dengan pandangan sinis. Lalu dengan membentak garang, orang yang baru datang bertanya.

"He...! Mana dia...?!"

Laki-laki yang terkapar terkejut besar. Sepasang matanya yang redup sejenak memperhatikan orang yang membentak. Ternyata dia adalah seorang perempuan setengah baya. Wajahnya tak bisa dikenali karena mengenakan penutup kulit tipis yang berwarna putih. Pakaian yang dikenakannya pun agak gombrong, seolah ingin menyembunyikan bentuk anggota tubuhnya. Satu-satunya tanda yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang perempuan adalah lehernya yang tak menampakkan jakun. "He...! Kalau kau tak segera jawab, nyawamu akan kuputus sekarang!" bentak perempuan berjubah putih ketika ditunggu-tunggu sang laki-laki tidak segera menjawab pertanyaannya.

Mendapat ancaman, sang laki-laki bukannya segera menjawab. Dia tampak sunggingkan senyum sinis meski dilakukan dengan susah payah.

"Siapa kau...? Dan siapa.... Yang kau maksud..., dengan dia?!"

"Jahanam! Sudah akan masuk tanah masih bertanya-tanya! Kau tak berhak tahu siapa aku! Jawab. Mana pemuda berbaju hijau tadi!"

"Rupanya perempuan ini punya niat tidak baik. Lain dengan pemuda tadi! Akan kukerjai dia!" membatin sang laki-laki. Setelah mengatur napas, dia berkata.

"Kalau kau..., tak sebutkan nama, aku..., tidak akan mengatakan kemana perginya..., pemuda tadi!"

"Bangsat! Kau memang sudah bosan hidup!"

Habis berkata begitu, tanpa diduga sama sekali oleh sang laki-laki, perempuan ini kebutkan pakaian gombrongnya.

Wuttt!

Serangkum angin deras menggebrak dengan keluarkan suara menggemuruh.

Laki-laki yang terkapar coba membuka matanya lebar-lebar. Tenggorokannya bagai disekat. Namun laki-laki ini tak bisa berbuat banyak, karena anggota tubuhnya tak bisa digerakkan. Hingga tanpa ampun lagi serangan dari perempuan itu tak bisa dielakkannya.

Desss!

Terdengar seruan pelan dari mulut sang laki-laki. Dan bersamaan dengan itu, tubuh sang laki-laki terguncang sebentar lalu diam tak bergerak. Hebatnya, meski serangan sang perempuan ini berupa angin deras, namun sambaran itu tak membuat tubuh orang yang terkena sasaran melayang atau bergulingan! Ini jelas menunjukkan jika sang perempuan adalah seorang berilmu tinggi, karena bisa meredam pukulannya dari jarak jauh!

Perempuan berwajah putih tersenyum sinis. Lalu balikkan tubuh. Sejenak sepasang matanya menebar berkeliling di tempat itu.

"Brengsek! Apa aku akan kehilangan dia lagi? Kulihat tadi dia berkelebat, namun begitu cepatnya hingga aku tak dapat menentukan arah yang diambilnya...! Jahanam betul!"

Perempuan berwajah putih ini lalu bungkukkan sedikit tubuhnya. Hidungnya kembang kempis mengendus-endus.

"Hmmm.... Berarti dia masih belum jauh dari sini. Bau tubuhnya masih dapat kuendus. Dia berada di arah sana!" gumam perempuan berwajah hitam seraya luruskan tubuhnya. Lalu setelah memandang berkeliling sekali lagi, perempuan ini berkelebat ke arah berkelebatnya Pendekar Mata Keranjang 108.

***

EMPAT

PENDEKAR 108 memacu larinya dengan cepat. Seraya berlari tak henti-hentinya dia bertanya-tanya dan menduga. "Dayang Naga Puspa... siapa dia sebenarnya? Melihat keadaan laki-laki tadi, pastilah orang ini berilmu sangat tinggi. Tanpa meninggalkan bekas pukulan sama sekali, dia bisa membuat orang hitam legam laksana orang dijerang dalam tungku. Selain berilmu tinggi, dia adalah orang kejam. Hmm.... Dia menuju dusun Kepatihan, dan bertanya tentang Dewi Kayangan. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Arca Dewi Bumi...? Jika benar, kebocoran tentang rahasia arca itu telah merebak ke mana-mana!"

Mendadak Pendekar 108 hentikan larinya. Samar-samar sepasang matanya menangkap sesosok bayangan melangkah perlahan jauh di depannya.

"Mengenakan jubah putih besar.   Dan melihat

rambutnya yang panjang bergerai dia adalah seorang perempuan. Seperti ciri-ciri yang dikatakan laki-laki tadi. Akan kulihat dahulu sepak terjangnya dari jauh "

Berpikir begitu, Pendekar 108 segera berkelebat ke depan dengan jalan mengendap-endap. Sepasang matanya terus mengawasi jauh ke depan, pada sosok berjubah putih yang tiba-tiba saja hentikan langkahnya.

"Sialan! Apa dia mengetahui jika sedang kuikuti...? Dia tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Aku harus menghindar dahulu...." Aji segera rundukkan kepala dan duduk mendekam di balik semak belukar. Namun sepasang matanya serta telinganya dipasang baik-baik.

Tak jauh di depan, orang yang diikuti Pendekar Mata Keranjang dongakkan kepala. Sepasang matanya yang bulat besar berputar liar di kelopaknya. Tangan kanan orang ini bergerak ke atas, mengusap hidungnya yang ternyata mengenakan sebuah anting-anting berwarna kuning di sebelah kiri.

"Hmm     Aku merasa diikuti orang. Dia mende-

kam tak jauh dari sini !" Lalu hidung orang ini berge-

rak-gerak seiring tarikan napasnya. "Hm.... Bau tubuhnya tak harum, berarti dia seorang laki-laki! Siapa laki-laki bangsat ini? Akan kubuat babak belur sebelum kubunuh!"

Orang ini dengan gerakan luar biasa cepat segera balikkan tubuh. Sepasang matanya yang bulat besar menyapu berkeliling. Dagunya sedikit terangkat dengan gigi saling menggigit.

Dari tempatnya mendekam, Pendekar 108 sedikit terkejut ketika matanya telah dapat melihat orang yang diikutinya. Ternyata dia adalah seorang perempuan yang usianya tidak muda lagi. Namun demikian sisa kecantikannya masih tampak terlihat. Sepasang matanya bulat dan tajam. Rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai, hingga menutupi sebagian wajahnya. Pada hidungnya yang mancung sebelah kiri nampak melingkar sebuah anting-anting berwarna kuning. Mengenakan pakaian hitam panjang yang dirangkap dengan jubah putih besar.

"Hmm.... Memang ini orang yang dikatakan laki-laki tadi! Dayang Naga Puspa. Julukan bagus! Melihat raut mukanya, pastilah dia seorang gadis cantik waktu mudanya. Sayang, dada dan pinggulnya tak jelas tampak. Tapi aku percaya, dia masih merawat tubuhnya dengan baik. Bibirnya masih menggunakan polesan pemerah. Hmm "

Namun murid Wong Agung ini sekonyongkonyong melengak dengan membesarkan sepasang matanya. Dadanya berdegup agak keras. Sementara keningnya mengernyit. Perempuan yang diikutinya dan bukan lain memang Dayang Naga Puspa melangkah pelan ke arah di mana Pendekar Mata Keranjang 108 mendekam.

"Busyet! Nampaknya dia tahu aku di sini! Bagaimana ini? Sebaiknya aku segera keluar...!" membatin Aji seraya bangkit dari tengah semak belukar.

Tapi gerakan Pendekar 108 tertahan, demikian juga gerak langkah Sarpakenaka alias Dayang Naga Puspa. Dari balik sebuah pohon yang tidak jauh dari tempat Dayang Naga Puspa, berkelebat sesosok bayangan dengan keluarkan seruan. "Mana dia...?!"

Meski terkejut sedikit, namun Dayang Naga Puspa cepat menyembunyikannya dengan tersenyum lebar. Lalu dengan sepasang mata menyengat tajam, memperhatikan sosok yang kini tegak di hadapannya, dia berkata.

"Tak ada badai, tak ada gempa, tak ada setan gundul, kau tiba-tiba berteriak! Siapa yang kau cari? Dan siapa kau yang berlaku pengecut menyembunyikan tampang di balik kulit penutup?!"

Orang yang baru datang mendengus keras. Lalu balas memandang dengan tatapan yang tak kalah galaknya. Dia adalah seorang perempuan mengenakan pakaian agak gombrang dan menutupi wajahnya dengan kulit berwarna putih. Dari tempat persembunyiannya, Pendekar 108 melengak kaget.

"Mekar Sari! Ah, tampaknya dia mengikutiku setelah kejadian di Kepatihan! Ah.... Nampaknya keadaan akan runyam, apalagi jika Dayang Naga Puspa memang mengetahui aku di sini!" batin Pendekar 108, seraya memandang ke arah orang berwajah putih yang bukan lain memang Mekar Sari atau Dewi Bunga Iblis, Adik bungsu Dewi Kayangan.

"Hmm.... Memakai pakaian dalam warna hitam yang dilapis dengan jubah putih besar. Hidung kirinya dihiasi anting-anting kuning. Meski aku belum pernah bertemu sebelumnya, namun ciri-ciri itu dalam rimba persilatan hanya dimiliki oleh tokoh sesat yang bernama Sarpakenaka. Hmm     Menurut kabar yang kuden-

gar, dia mempunyai ilmu tinggi. Aku harus bertindak hati-hati! Tapi ke mana perginya pemuda berbaju hijau itu? Aku yakin dia ke arah sini! Apa disembunyikan oleh dia...?!" batin orang yang berwajah putih ini. Lalu dengan tersenyum sinis pula dia angkat bicara. "Sarpakenaka! Kau tak usah berpura-pura. Apa

kau masih suka menyimpan pemuda-pemuda? Jika betul, aku bisa carikan untukmu berapa yang kau inginkan. Asal pemuda tadi kau serahkan padaku!"

Dayang Naga Puspa atau Sarpakenaka dongakkan kepala. Dari mulutnya terdengar suara tawa berderai-derai.

"Bagus! Kau telah tahu siapa diriku. Jadi aku tak usah repot-repot menerangkan. Hanya yang perlu kau ketahui, ternyata kau adalah perempuan tolol! Dungu! Dan tak tahu malu! Kau tadi menuduhku menyimpan seorang pemuda, kau lihat! Aku memang mempunyai kantong besar-besar, tapi anak kecil pun tahu, jika kantong jubahku ini tak cukup untuk menyembunyikan seorang pemuda!" kata Dayang Naga Puspa di sela-sela tawanya. Lantas dia menyambung.

"Apakah kata-katamu tadi tidak salah? Bukankah kau yang saat ini sedang mengejar-ngejar seorang pemuda? Ah, kukira pemuda tadi ngeri melihat tampangmu yang begitu cantik! Sungguh kasihan kau! Tentunya kau sudah bersusah payah merayunya, bahkan mungkin sampai berguling-gulingan di atas tanah! Bagaimana kalau kucarikan saja seseorang untuk pengganti? Kalau pilihanku, kau tak usah khawatir! Dia pasti sip...!"

Orang yang memang Mekar Sari atau Dewi Bunga Iblis parasnya berubah hitam mengelam. Sepasang matanya membeliak besar-besar seakan meloncat dari rongganya. Dagunya membatu dengan pelipis bergerak-gerak keras.

Di tempat mendekamnya, kembali Pendekar Mata Keranjang dibuat terkejut. Diam-diam dia berkata. "Yang dimaksud Dayang Naga Puspa tentunya adalah aku! Lebih baik kulihat dahulu perkembangannya!"

"Sarpakenaka! Perempuan tua bermulut jorok!

Kuberi kesempatan kau sekali lagi untuk menjawab pertanyaanku sebelum kesabaranku habis!" bentak Dewi Bunga Iblis dengan kedua tangan telah dialiri tenaga dalam dan siap untuk dipukulkan.

Dayang Naga Puspa bukannya segera menyambuti kata-kata Dewi Bunga Iblis dengan menjawab pertanyaannya, malah dia semakin keraskan tawanya. Namun mendadak tawanya dia putus. Kepalanya dia luruskan ke depan, sepasang matanya melotot.

"Orang bertampang jelek! Aku sebenarnya tak suka diancam orang. Namun kali ini biarlah. Dengar! Aku akan memberitahukan di mana pemuda yang kau kejar-kejar, dengan syarat kau harus membuka penutupmu! Aku khawatir kau adalah seorang laki-laki yang menyaru dan menyukai sesama laki-laki. Kalau kau memang betul seorang perempuan, apa boleh buat, tentunya kau sedang jatuh cinta pada pemuda itu! Aku tak akan menghalangi orang yang sedang kasmaran!"

Mendengar kata-kata Dayang Naga Puspa, Pendekar 108 terperanjat. Keringat dingin mulai keluar membasahi tubuhnya.

"Sialan! Kalau Dewi Bunga Iblis benar-benar membuka penutup wajahnya, dan Dayang Naga Puspa memberitahukan di mana aku berada, masalah akan benar-benar bertambah panjang Sialnya diriku!"

Jika Pendekar 108 merinding kuduknya serta keluar keringat dingin dan membatin demikian rupa, lain halnya dengan Dewi Bunga Iblis. Begitu mendengar kata-kata Dayang Naga Puspa, perempuan berwajah putih ini menyeringai. Giginya saling beradu keluarkan suara gemeratak. Dalam hati dia berkata.

"Hm.... Aku bukannya takut menghadapi setan ini, namun karena pemuda itu lebih penting bagiku, lebih baik aku turuti saja permintaannya.... Toh dia pasti tak tahu kegunaan pemuda itu!"

Berpikir begitu, Dewi Bunga Iblis lantas angkat tangan kanannya seraya berkata.

"Sarpakenaka! Kalau itu pemintaanmu, baiklah! Tapi jika kau menipuku, jangan mimpi kau akan meninggalkan tempat ini dengan nyawa masih utuh!"

Sarpakenaka hanya tersenyum sinis tanpa menyahuti ancaman Dewi Bunga Iblis. Bahkan dengan tersenyum pula dia melihat gerakan tangan kanan Dewi Bunga Iblis yang membuka penutup kulit putih di wajahnya.

Begitu penutup wajah Dewi Bunga Iblis terbuka, sepasang mata Sarpakenaka membeliak besar. Keningnya berkerut, sementara mulutnya komat-kamit.

"Dewi Bunga Iblis!" seru Sarpakenaka atau Dayang Naga Puspa begitu mengenali wajah di balik penutup yang telah dibuka. "Hmm.... Ternyata dia tidak tewas seperti berita yang selama ini beredar. Siapa pemuda yang dikejarnya? Kekasihnya...? Aku tahu, pemuda itu masih ada di sekitar sini! Kalau...," Dayang Naga Puspa tidak meneruskan kata hatinya, karena saat itu Dewi Bunga Iblis telah keluarkan bentakan.

"Sarpakenaka! Lekas katakan di mana pemuda

itu!"

Yang dibentak sunggingkan senyum mengejek.

Dan tanpa memandang dia berkata.

"Bunga Iblis! Kau tampaknya benar-benar perempuan tolol! Apa kau telah menuruti segala permintaanku?"

"Jahanam! Kau jangan banyak mulut. Lihat! Aku telah membuka penutup wajahku!" bentak Dewi Bunga Iblis dengan mata berkilat-kilat.

Lagi-lagi bentakan Dewi Bunga Iblis hanya dibalas dengan sunggingan senyum oleh Dayang Naga Puspa. Bahkan sesaat kemudian tawanya meledak, membuat Dewi Bunga Iblis semakin geram.

"Bunga Iblis! Aku tidak memancing kemarahanmu. Hanya saja kau memang belum sepenuhnya menuruti segala syarat yang kuajukan! Kau saat ini masih membuka wajahmu! Padahal aku mengajukan syarat kau harus membuka penutupmu! Jadi kau harus buka seluruh penutupmu! Baik wajah atau anggota tubuh lainnya! Hik... hik... hik...!"

Dari tempat mendekamnya, mau tak mau Pendekar Mata Keranjang 108 sunggingkan senyum mendengar kata-kata Dayang Naga Puspa. Dia merasa sedikit lega, karena dia berpikir tak mungkin Dewi Bunga Iblis untuk menuruti persyaratan Dayang Naga Puspa.

Di lain pihak, begitu mendengar ucapan Dayang Naga Puspa, serta-merta Dewi Bunga Iblis campakkan kulit putih di tangannya yang tadi dipakai untuk menutupi wajahnya. Dan kejap itu juga kedua tangannya disentakkan ke depan.

Dua larik sinar hitam menyambar cepat keluar dari kedua tangan Dewi Bunga Iblis. Bersamaan dengan melesatnya sinar hitam, suara bergemuruh menyentak tempat itu!

Di seberang, Dayang Naga Puspa tak bergeming dari tempatnya. Malah dia tersenyum sinis seperti menunggu. Dan begitu sedepa lagi larikan sinar hitam menghantam tubuhnya, perempuan berjubah putih ini segera melompat ke samping kanan. Serangan Dewi Bunga Iblis menerobos angin dan menghantam tempat kosong.

Sementara itu, dari tempatnya yang baru, Dayang Naga Puspa segera tengadahkan kepala. Dari mulutnya terdengar suara  tawa panjang tergelak-gelak. Kedua tangannya bergerak menyibak bagian depan jubah putihnya. Seberkas sinar hitam berkilat-kilat tampak keluar dari pinggang kirinya.

Dewi Bunga Iblis gertakkan rahang melihat serangan pembukanya begitu mudah dielakkan lawan. Dia segera hendak kirimkan kembali serangan, namun gerakannya tertahan ketika sepasang matanya menangkap bersitan sinar hitam berkilat memancar keluar dari pinggang kiri Dayang Naga Puspa.

Bukan hanya Dewi Bunga Iblis yang terkejut, dari tempat persembunyiannya Pendekar 108 pun membelalakkan sepasang matanya.

"Tombak aneh! Bukan hanya bentuknya, namun juga kilatannya! Hmm Pasti senjata yang mem-

punyai kekuatan luar biasa! Ah, laki-laki tadi pastilah terkena racun tombak itu! Bagaimana nasibnya sekarang? Tak mungkin lagi bagiku untuk menolong. Keadaan tidak memungkinkan !"

"Baru kali ini aku melihat tombak yang bentuknya begitu rupa! Aku harus hati-hati, kalau keadaan tak menguntungkan, aku akan cepat meloloskan diri...!" batin Dewi Bunga Iblis. Tampaknya diam-diam dia ciut juga nyalinya, namun sebagai tokoh yang pengalaman bertahun-tahun dalam rimba persilatan, dia tak hendak menunjukkan sikap takut, malah dengan suara lantang dia berkata mengejek.

"Tombak butut! Apa yang ditakutkan!"

Habis berkata, seakan tak mau didahului, Dewi Bunga Iblis kembali kirimkan serangan. Kali ini tubuhnya dia putar, mendadak saja tubuhnya lenyap dari pandangan. Dan tahu-tahu tubuh Dewi Bunga Iblis telah menukik deras dengan sepasang kaki mengarah pada kepala Dayang Naga Puspa, sementara kedua tangannya mengepal dan mengayun dari bawah!

Sepertinya sudah dapat menduga gerakan lawan, Dayang Naga Puspa segera angkat tubuhnya setinggi setengah tombak memapak tubuh Dewi Bunga Iblis! Kedua tangannya dipalangkan di depan kepala, sementara kedua kakinya disapukan dari bawah ke atas, menyongsong kedua tangan lawan.

"Prakk! Prakkk! Prakk! Prakkk!"

Terdengar empat kali benturan berturut-turut. Lalu disusul terdengarnya dua seruan tertahan. Tubuh Dewi Bunga Iblis mental ke atas lebih tinggi, namun perempuan berpakaian agak gombrang ini segera buat gerakan berputar dua kali di udara, hingga tubuhnya selamat dari terjerembab di tanah. Sementara itu, tubuh Dayang Naga Puspa melayang ke belakang. Namun perempuan berjubah putih ini segera pula jungkir balik dan mendarat di atas tanah dengan kedua kaki terpentang kokoh!

"Hmm.... Apa yang dikatakan laki-laki itu ternyata benar. Dayang Naga Puspa berilmu tinggi! Namun nampaknya kedua orang ini seimbang...," pikir Aji seraya tenis mengawasi kedua orang yang kini sedang saling bentrok pandang!

"Sarpakenaka.... Hm.... Kabar tentang dia rupanya benar juga, dia berilmu tak cetek. Tangan dan kakiku serasa terpenggal. Dadaku berdenyut sedikit sakit...," batin Dewi Bunga Iblis seraya tak kesiapkan sepasang matanya.

Sedangkan Dayang Naga Puspa, diam-diam juga berkata dalam hati.

"Nama Dewi Bunga Iblis nyatanya tidak omong kosong! Selama bertahun-tahun tak menampakkan diri hingga tersiar kabar bahwa dia telah tewas mungkin digunakan perempuan ini untuk memperdalam ilmu. Tenaga dalamnya begitu kuat. Namun aku tak takut, Tombak Naga Puspa ada di tanganku! Dia boleh bernama besar dan ditakuti banyak tokoh, namun di hadapan Tombak Naga Puspa semuanya akan lain!" "Perempuan pemakan pemuda! Sudah siapkah

kau menghadapi kematian?!" kata Dayang Naga Puspa seraya melangkah maju. Kedua tangannya disatukan lantas disejajarkan dengan dada. Mulutnya berkemik, namun sepasang matanya tak berkedip menyengat ke arah Dewi Bunga Iblis.

Dewi Bunga Iblis tertawa pendek penuh ejekan. Kedua tangannya pun menakup dan disejajarkan dada. Matanya sedikit memejam.

"Kau tak usah banyak mulut! Dari tadi aku sudah menunggu! ujar Dewi Bunga Iblis.

Begitu kata-kata Dewi Bunga Iblis usai, Dayang Naga Puspa sentakkan kedua tangannya.

Sebongkah awan hitam menyambar cepat ke arah Dewi Bunga Iblis. Hebatnya, sebelum bongkahan awan itu melesat, serangkum angin dahsyat yang menggemuruh mendahului!

Di seberang, Dewi Bunga Iblis segera jejak tanah. Tubuhnya melesat ke depan seakan menyongsong pukulan Dayang Naga Puspa.

Setengah depa lagi angin dahsyat yang mendahului serangan Dayang Naga Puspa menggebrak, kedua tangan Dewi Bunga Iblis bergerak mendorong!

Blammm! Blammm!

Terdengar dua kali ledakan keras. Tanah di tempat itu laksana diguncang gempa. Tanahnya bergetar dan terbongkar, sementara semak belukar di tempat bertemunya kedua pukulan terbabat habis!

Pendekar Mata Keranjang 108 yang ada di sekitar tempat itu terkejut besar. Dia buru-buru sejajarkan tubuhnya dengan tanah.

"Busyet! Terlambat sedikit, masalah akan terulur panjang! Aku harus cepat mencari tempat yang terlindung agak jauh dari sini! Mumpung mereka sedang tak memperhatikan keadaan...!" Murid Wong Agung ini lantas dongakkan kepalanya dengan mata berputar liar mencari-cari tempat.

"Hm   Pohon besar itu tampaknya cocok untuk

menyaksikan pertandingan! Daunnya rimbun dan agak jauh, namun leluasa melihat ke tempat pertandingan!"

Mata Pendekar 108 lantas mengarah pada dua orang yang kini sedang bertarung. Lalu dengan gerakan cepat, kedua tangan dan kakinya disentakkan ke atas tanah. Tubuhnya melesat cepat dan masuk ke rimbunan pohon besar.

"He... he... he.... Dari sini baru asyik ! Dan jika

salah satu telah roboh, aku harus cepat tinggalkan tempat ini!" membatin Aji seraya tersenyum-senyum. Sementara sepasang matanya tetap tak beranjak dari dua orang di bawahnya.

Di bawah, tubuh Dewi Bunga Iblis tampak melayang balik dengan derasnya, meski perempuan ini terlihat mencoba kerahkan tenaga dalam untuk menghentikan gerakan tubuhnya, namun nampaknya tak berhasil, karena ternyata tubuhnya tetap melayang ke belakang. Lalu sesaat kemudian terdengar seruan tertahan tatkala tubuh Dewi Bunga Iblis terkapar di atas tanah! Dari sudut bibirnya tampak meleleh darah segar, sementara sepasang matanya memejam rapat dengan dada bergetar hebat. Namun, perempuan ini segera bangkit dengan tangan bersedekap!

Di lain pihak, Dayang Naga Puspa tak jauh lebih baik. Karena dorongan kedua tangan Dewi Bunga Iblis dilakukan dengan jarak agak dekat, membuat daya sentaknya lebih deras. Hingga begitu ledakan terjadi, tubuh perempuan berjubah putih ini melayang berputar dan jatuh terbanting dengan derasnya!

Untuk sesaat lamanya Dayang Naga Puspa diam tak bergerak-gerak di atas tanah. Darah juga terlihat meleleh dari bibirnya. Malah dari mulutnya terdengar pula erangan panjang.

Dewi Bunga Iblis yang mengetahui lawan masih tak bergerak di atas tanah sementara dirinya sudah bangkit, segera saja tak menyia-nyiakan kesempatan.

Tanpa memperdengarkan suara bentakan, tubuhnya segera berkelebat. Dan tahu-tahu tubuhnya telah satu depa di atas tubuh Dayang Naga Puspa dengan sepasang kaki siap menyapu ke arah kepala!

Saat itulah, tanpa diduga sama sekali oleh Dewi Bunga Iblis, sekonyong-konyong Dayang Naga Puspa jejakkan tumitnya ke tanah. Tubuhnya bergeser ke atas. Lalu dengan gerakan yang sulit ditangkap mata biasa, tangannya berkelebat ke atas menyongsong tubuh Dewi Bunga Iblis.

Bersamaan dengan berkelebatnya tangan Dayang Naga Puspa, seberkas sinar hitam membersit.

Dewi Bunga Iblis terperangah hingga keluar jeritan dari mulutnya. Namun tak ada lagi kesempatan untuk menghindar. Hingga dengan menindih berbagai perasaan, Dewi Bunga Iblis meneruskan terjangan kedua kakinya ke arah tubuh Dayang Naga Puspa! Malah untuk menambah serangan kedua tangannya pun ikut disentakkan!

Prakkk! Brettt!

Terdengar benturan keras, lalu disusul dengan terdengarnya pakaian robek. Karena begitu cepatnya benturan itu terjadi, hingga apa yang terjadi saat itu tak dapat disiasati dengan mata. Yang kemudian terlihat adalah melayangnya tubuh Dewi Bunga Iblis dan raungan keras dari mulutnya. Lalu terdengar suara gedebukan terbantingnya tubuh Dewi Bunga Iblis!

Sementara Dayang Naga Puspa tubuhnya tampak terguling-guling di atas tanah, dan baru terhenti tatkala tubuhnya membentur sebuah pohon! Namun perempuan ini cepat jejakkan kakinya ke batang pohon. Tubuhnya melesat ke atas dan setelah membuat gerakan berputar dua kali, dia mendarat di atas tanah dengan senyum tersungging meski wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa kesakitan yang amat sangat. Di tangan kanannya tampak tombak hitam tergenggam.

Sementara itu, begitu tubuhnya terbanting, Dewi Bunga Iblis segera pula berusaha bangkit, kedua kakinya tampak goyah. Dan sesaat kemudian tubuhnya kembali terjatuh. Dengan paras agak pucat, sepasang matanya melirik ke paha kirinya yang terasa laksana dibakar.

Sepasang mata Dewi Bunga Iblis mendadak membeliak besar. Ternyata pakaian bagian paha itu telah robek besar. Namun bukan itu yang membuat sepasang mata orang ini membelalak. Ternyata kulit di balik robekan pakaian yang gombrong itu terkelupas dan sedikit berlobang, dan berwarna hitam legam!

"Racun Ular Naga!" seru Dewi Bunga Iblis dengan wajah tercekat. Kedua tangannya segera bergerak menotok jalan darah pahanya.

"Tombak itu ternyata mengandung Racun Ular Naga! Hm Sementara aku harus menyembuhkan du-

lu paha ini dari racun jahat itu. Aku harus, meninggalkan tempat ini!"

Berpikir begitu, Dewi Bunga Iblis segera takupkan kedua tangannya. Secepat kilat Dewi Bunga Iblis segera sentakkan kedua tangannya ke arah Dayang Naga Puspa yang tampak memperhatikan lawan dengan senyum sinis. Dia tampaknya menduga jika lawan tidak akan berdaya lagi, karena Tombak Naga Puspa telah berhasil menembus pahanya.

Begitu kedua tangan Dewi Bunga Iblis menyentak, terlihat beberapa benda hitam menebar dan berpelesatan ke arah Dayang Naga Puspa dari segala jurusan!

Dayang Naga Puspa terperangah kaget melihat lawan masih bisa kirimkan serangan. Maka dengan menindih rasa geram dan hampir tak percaya, Dayang Naga Puspa segera berkelebat berputar dengan tangan dan kaki bersiutan menghentak!

Beberapa benda hitam yang ternyata adalah beberapa bunga berwarna hitam legam bermentalan dan berhamburan jatuh di atas tanah. Namun karena banyaknya, meski kedua tangan dan kaki Dayang Naga Puspa bergerak tiada henti-hentinya, dua buah bunga masih sempat menerabas tubuhnya!

Dayang Naga Puspa melengak kaget, karena meski hanya sekuntum bunga ternyata mampu menembus jubah putihnya, bahkan tembus hingga kulit di baliknya!

"Setan alas! Bunga-bunga jahanam!" teriak Dayang Naga Puspa begitu mendarat kembali di atas tanah seraya pandangi pundak dan pinggangnya yang terterabas bunga hitam. Ternyata bunga itu menancap dan kulit di sekitarnya telah berubah kebiruan!

Serta-merta Dayang Naga Puspa campakkan bunga-bunga itu dari pundak dan pinggangnya. Wajahnya meringis menahan panas dan perih. Namun semua itu tak dihiraukannya. Sepasang matanya memandang ke tempat Dewi Bunga Iblis berada.

Namun sepasang mata Dayang Naga Puspa membeliak, lalu berputar liar berkeliling. Kedua kakinya dibantingkan ke atas tanah.

"Jahanam bedebah! Dia melarikan diri!" kata Dayang Naga Puspa setengah berteriak tatkala matanya tak lagi menemukan sosok Dewi Bunga Iblis.

Dengan wajah masih menahan sakit dan geram, Dayang Naga Puspa segera simpan kembali tombaknya ke balik jubah putihnya. Lalu tangan kanannya bergerak mengurut-urut kulit di sekitar pundak dan pinggangnya yang tertancap bunga-bunga hitam oleh Dewi Bunga Iblis.

Sesaat kemudian, wajahnya bergerak mendekat ke pundak. Mulutnya menghisap kulit yang tadi tertancap bunga. Begitu mulutnya ditarik dan memuntahkan sesuatu di mulutnya, tampak darah hitam muncrat!

Dayang Naga Puspa melakukan hal itu berulang-ulang. Dan begitu muntahan di mulutnya tidak lagi berwarna hitam, Dayang Naga Puspa hentikan perbuatannya.

"Hmm... kau tak akan bertahan lama dari racun tombakku! Hidupmu bisa dihitung dengan jari!" gumam Dayang Naga Puspa. Orang ini lantas melangkah hendak meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba saja Dayang Naga Puspa urungkan niat. Bahkan kini sepasang matanya berputar liar seakan-akan mencari sesuatu.

"Sial! Mungkin dia teringat akan aku! Kenapa aku terkesima dan tak segera tinggalkan tempat ini begitu Dewi Bunga Iblis berkelebat pergi? Tololnya aku...!" membatin Pendekar 108 dari atas pohon tempatnya bersembunyi.

"Hm   Baunya masih di sekitar sini! Berarti dia

masih berada di sini! Siapa dia? Akan kupaksa untuk keluar dari persembunyiannya! Kalau Dewi Bunga Iblis sampai mengejar-ngejar orang ini, berarti orang ini sangat berarti! Siapa tahu orang ini dapat menunjukkan di mana beradanya Dewi Kayangan !"

Berpikir begitu, Dayang Naga Puspa lantas berteriak lantang.

"Orang yang bersembunyi! Aku tahu kau masih di sini! Lekas keluarlah!" Dayang Naga Puspa menunggu sejenak. Dan tatkala tidak ada tanda-tanda orang keluar dari persembunyiannya, kembali Dayang Naga Puspa berteriak.

"Kuberi kesempatan sekali lagi. Cepat keluar dari persembunyianmu!"

Di atas pohon, Pendekar 108 tampak bimbang. Mungkin karena ragu-ragu seperti hendak turun atau tetap bersembunyi, tangan kanannya tak sadar menyentuh ranting kering.

"Sial!" rutuk Pendekar 108 dalam hati seraya memandang ke arah Dayang Naga Puspa.

Pendekar 108 menarik napas lega, karena Dayang Naga Puspa sepertinya tak curiga dengan jatuhnya ranting. Perempuan berjubah putih ini malah melangkah hendak meninggalkan tempat itu.

"Hmm... selamatlah aku! Memang untuk saat ini tak ada gunanya meladeni orang seperti dia. Mencari di mana beradanya Sahyang Resi Gopala jauh lebih penting! Lagipula...," Aji tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu juga dari arah bawah menderu angin deras. Bahkan bersamaan dengan itu terdengar suara gemeretak.

Pohon di mana Aji bersembunyi sekonyongkonyong bergerak oleng, dan tak lama kemudian tumbang!

***

LIMA

SEBELUM pohon itu tumbang, Pendekar 108 yang tahu situasi segera berkelebat dan mendarat agak jauh. Lalu tanpa mempedulikan apa-apa lagi, murid Wong Agung ini berkelebat meninggalkan tempat itu.

Namun gerakannya tertahan. Karena bersamaan dengan akan berkelebat, sesosok bayangan telah berdiri menghadang tepat lima langkah di hadapan Pendekar 108. Meski Aji telah dapat menduga siapa adanya sosok yang kini ada di hadapannya, namun tak urung juga dia terkejut. Karena gerakan berkelebat yang ingin dilakukan tadi telah secepatnya diusahakan, namun orang yang menghadang ternyata lebih cepat!

"Pengecut busuk! Akan lari ke mana kau?!" seru sang penghadang yang ternyata adalah Dayang Naga Puspa seraya memandang tak berkedip dengan tatapan menyelidik.

"Sialan betul! terpaksa perjalanan ini harus tertunda!" membatin Pendekar 108. Untuk beberapa saat dia tak tahu harus berbuat apa. Hingga sambil usapusap ujung hidung dengan punggung telapak tangan, murid Wong Agung ini hanya senyum-senyum seraya balas pandangan Dayang Naga Puspa, membuat perempuan berjubah putih ini kernyitkan kening.

"Hm.... Siapa gerangan pemuda ini? Parasnya memang tampan, hingga mungkin Dewi Bunga Iblis tergila-gila. Tapi sikapnya seperti orang tolol! Namun begitu, dia tampaknya menyimpan sesuatu di balik sikap tololnya! Dia sepertinya tak menunjukkan rasa takut sama sekali, meski aku tahu dia tadi melihat pertarunganku dengan Dewi Bunga Iblis!" ujar Dayang Naga Puspa dalam hati. Lalu dia bertanya. "Siapa kau...?!"

Sejurus Pendekar 108 masih memandangi wajah Dayang Naga Puspa, membuat orang yang dipandangi merah padam seraya alihkan pandangan pada jurusan lain. Pendekar Mata Keranjang 108 sunggingkan senyum melihat sikap Dayang Naga Puspa, lalu dengan tetap tak mengalihkan pandangan dia menjawab.

"Namaku Aji. Aji Saputra, Dayang! Seorang pengelana jalanan yang tak tentu juntrungan! Harap Dayang suka memberi jalan padaku! Aku akan menurutkan langkah kakiku entah hendak ke mana!"

Dayang Naga Puspa luruskan pandangan matanya kembali pada Pendekar 108. Dahinya semakin berkerut.

"Hmm.... Dia telah tahu nama gelarku! Berarti dia salah seorang dari orang persilatan!"

"Apa hubunganmu dengan Dewi Bunga Iblis?!" tanya Dayang Naga Puspa dengan suara agak dikeraskan.

"Aku tak ada hubungan apa-apa. Hanya dia memang selama ini selalu mengejar-ngejar diriku, karena dia mengharapkan cinta dariku! Aneh ya...? Orang yang tak punya juntrungan, dikejar-kejar malah diharapkan cintanya!" berkata Pendekar 108 seraya tersenyum-senyum. Dia sengaja berkata begitu agar urusannya segera selesai. Namun dugaan Pendekar 108 ternyata meleset, karena Dayang Naga Puspa segera ajukan tanya kembali.

"Kalau dia mengharapkan cinta darimu, berarti kau memang pernah memberi harapan padanya! Dan itu menandakan kalian berdua telah saling mengenal agak lama. Dan berarti kau telah tahu pula Dewi Kayangan, karena dia adalah kakak kandung dari Dewi Bunga Iblis! Sekarang katakan, di mana aku dapat menemui kakak kandung Dewi Bunga Iblis itu!"

Pendekar 108 terkejut. Dia tak menduga jika kata-katanya tadi membuatnya dalam posisi sulit.

Di balik semua itu, sebenarnya Dayang Naga Puspa pun telah tahu di mana Dewi Kayangan bertempat tinggal. Dia sengaja menanyakan hal itu pada Pendekar 108 sekadar hanya ingin mengetahui lebih jauh tentang Pendekar 108.

"Dayang Naga Puspa! Aku baru saja mengenal Dewi Bunga Iblis. Jadi dia belum pernah menceritakan tentang orang yang bernama Dewi Kayangan. Bahkan aku pun baru mendengar kali ini!"

"Hm..., begitu? Tampaknya kau berani berkata bohong padaku! Kuingatkan sekali ini! Katakan di mana aku bisa menemui Dewi Kayangan!"

Pendekar Mata Keranjang tarik-tarik kuncir rambutnya. Meski mendapat ancaman, namun sikapnya tak menampakkan rasa takut sama sekali. Malah seraya tarik-tarik kuncir rambutnya, Aji berkata.

"Dayang! Tadi sudah kukatakan, Dewi Bunga Iblis tak pernah menceritakan tentang Dewi Kemenyan...!"

"Dewi Kayangan!" bentak Dayang Naga Puspa membetulkan kata-kata Pendekar Mata Keranjang 108. "Ah, Dewi apa pun, pokoknya dia tak pernah

cerita tentang dewi-dewi! Ia memang pernah cerita, tapi tentang dewa-dewa!"

"Bangsat ini anak! Diancam orang masih bisabisanya bercanda! Aku tahu dia menyimpan sesuatu, bahkan tentang Dewi Kayangan! Aku penasaran siapa dia sebenarnya! Kalau dia tak menampakkan rasa takut diancam, berarti dia mempunyai sesuatu yang disimpan!" membatin Dayang Naga Puspa. Lalu dengan masih mengawasi Pendekar 108 dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia berkata.

"Anak tolol! Kau telah kuberi kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya, namun kau masih tetap berani berkata bohong. Kau layak menerima hukuman dariku!"

"Ah, nasibku jelek betul! Sudah mengatakan sejujurnya, masih juga menerima hukuman! Betul-betul nasib jelek! Seumur-umur, tak pernah hal ini kuimpikan, apalagi jadi kenyataan!"

"Nasibmu memang jelek, Anak Tolol! Bahkan lebih jelek lagi, karena kau akan menemui ajal di tengah kejelekan nasibmu!"

Habis berkata begitu, Dayang Naga Puspa sibakkan jubah putihnya. Seberkas sinar hitam berkilatkilat membersit. Dan bersamaan tersingkapnya jubah putih, serangan angin deras menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

"Dayang! Sungguh tega kau menjatuhkan hukuman pada orang yang bernasib jelek!" seraya berkata, Pendekar 108 segera miringkan tubuh. Serangan Dayang Naga Puspa yang sepertinya tak disengaja itu menerabas sejengkal di samping tubuh Aji.

"Dugaanku sepertinya tidak meleset! Dia menyimpan sesuatu di balik sikapnya! Aku makin penasaran!" kata Dayang Naga Puspa dalam hati begitu mengetahui dengan mudahnya Pendekar 108 mengelakkan diri dari serangannya.

"Uh, untung sewaktu kecil aku sering main kuda-kudaan, jika tidak bahuku mungkin sudah copot. Dayang! hentikan hukuman! Aku akan pergi saja dari hadapanmu, dan berjanji akan mencarimu begitu kuperoleh keterangan tentang Dewi yang kau katakan!"

"Anak tolol banyak mulut! Aku tak perlu lagi keterangan! Yang kuperlukan sekarang adalah siapa kau sebenarnya!"

"Tapi bukankah itu sudah kukatakan juga padamu? Apa perlu kuulangi lagi? Aku bernama "

"Tutup mulutmu!" sergah Dayang Naga Puspa dengan suara tinggi. Kemarahan tampaknya sudah tak dapat dibendung oleh perempuan ini. Dengan suara masih tinggi, dia menyambung.

"Anak tolol! Kalau kau masih ingin hidup, katakan siapa kau sebenarnya! Siapa gelarmu, siapa nama gurumu, siapa nama kedua orangtuamu, dari mana kau berasal, dan hendak ke mana sekarang!"

Pendekar 108 geleng-geleng kepala.

"Wah, urusan benar-benar jadi panjang lebar dan bulat! Lebih baik tak kuladeni dia! Pertanyaannya tak mungkin kujawab. Dia tampaknya bukan orang baik-baik!"

Berpikir begitu, Pendekar Mata Keranjang lantas berkelebat menuju arah dari mana dia datang. Dia sengaja membalik, dengan tujuan begitu bisa lolos dari kejaran Dayang Naga Puspa dia akan kembali lagi lewat jalan berputar. Karena itulah jalan yang harus dilewatinya jika ingin menuju ke Bajul Mati di mana Sahyang Resi Gopala berada.

***

ENAM

PENDEKAR Mata Keranjang 108 terus memacu larinya dengan cepat. Bahkan dia kerahkan ilmu meringankan tubuh hampir seluruhnya. Tubuh dan pakaian hijaunya telah basah kuyup oleh keringat. Namun sepertinya Pendekar 108 tak hendak menghentikan larinya. 

Baru setelah dirasa Dayang Naga Puspa tak mengejar, pendekar murid dari Karang langit ini hentikan larinya. Namun sebelum itu sepasang matanya menebar berkeliling dengan kepala pulang balik dipalingkan ke belakang.

"Hm.... Tampaknya Dayang Naga Puspa tak mengejarku lagi! Aku bisa santai sekarang...," gumam Pendekar 108 seraya melangkah berputar hendak menuju arah asal.

Mungkin karena panas dari tubuh dan sinar mata hari yang menerpanya, Pendekar Mata Keranjang keluarkan kipas ungu dari balik pakaiannya. Lalu seraya berkipas-kipas ia melangkah. Dari mulutnya mulai terdengar alunan nyanyian yang tak bisa dimengerti. 

"Aku harus tetap waspada. Bukan tak mungkin Dayang Naga Puspa atau Dewi Bunga Iblis tahu-tahu berada di sekitar sini!" kata Aji dalam hati seraya terus melangkah sambil berkipas-kipas.

"Arca Dewi Bumi.... Hmm.... Rupanya sekarang telah banyak diketahui orang. Dan ini akan menyeret munculnya tokoh-tokoh kelas tinggi! Aku harus segera bertemu dengan orang yang bernama Sahyang Resi Gopala sebelum ada orang lain yang mendahului! Melihat tokoh-tokoh yang mulai muncul dan memburu arca itu, aku hampir yakin jika arca itu benar-benar hebat!" membatin Pendekar 108.

Namun mendadak Aji hentikan langkahnya. Matanya berputar liar mengedari tempat di sekelilingnya. Kedua telinganya dipertajam.

"Aku merasa diawasi seseorang.... Apakah Dayang Naga Puspa? Atau Dewi Bunga Iblis? Sialan betul! Padahal aku telah memilih jalan berputar!"

Murid Wong Agung ini segera berkelebat. Namun sebelum dia sempat bergerak, sekonyongkonyong semak belukar sepuluh langkah di sampingnya menguak! Sesosok tubuh muncul dengan memperdengarkan suara tawa berderai panjang. Lalu terdengar seruan.

"Anak tolol! Jangan bermimpi kau dapat lolos dari tanganku, sebelum kau menjawab segala pertanyaanku!"

"Dayang Naga Puspa!" seru Pendekar Mata Keranjang 108 dengan paras terkejut. Gerakan tangan kanannya yang berkipas-kipas serta-merta terhenti. Malah kakinya undur dua tindak ke belakang.

"Apa boleh dikata. Kalau harus beradu jurus dahulu sebelum meneruskan perjalanan!" kata Pendekar 108 dalam hati dengan sepasang mata tak berkedip mengawasi Dayang Naga Puspa yang kini tampak melangkah mendekat ke arahnya.

Tiba-tiba Dayang Naga Puspa hentikan langkah. Sepasang matanya membelalak besar. Bukan memandang ke arah Pendekar 108, melainkan ke tangan kanan Pendekar 108 yang memegang kipas ungu.

"Kipas ungu berangka 108! Astaga! Jadi dia manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Hmm.... Kalau Dewi Bunga Iblis mengejar dia, berarti ada apa-apa di balik semua ini! Dan keterangan anak ini tentang cinta-cintaannya dengan Dewi Bunga Iblis adalah bohong! Apakah manusia ini dalam tubuhnya juga ada guratan angka 108? Hmm.... Itu perlu diselidiki! Kalau memang benar, aku telah menemukan syarat untuk memperoleh Arca Dewi Bumi. Tinggal mencari Dewi Kayangan! Dan itu soal mudah, karena aku telah tahu di mana beradanya orang itu!" membatin Dayang Naga Puspa seraya terus memperhatikan kipas ungu di tangan Pendekar Mata Keranjang.

Di lain pihak, Pendekar Mata Keranjang 108 kerutkan dahi melihat sikap Dayang Naga Puspa yang tak memperhatikan dirinya, malah sebaliknya mengawasi kipas di tangan kanannya.

"Hmm.... Rupanya dia tertarik dengan kipasku! Apa dia berkeinginan juga untuk memiliki? Aku akan pertaruhkan nyawa jika dia menginginkan kipas ini!"

"Anak tolol! Menyerahlah padaku dan ikut denganku!" bentak Dayang Naga Puspa.

"Dayang Naga Puspa! Dengar baik-baik! Aku sedang dalam perjalanan jauh. Kalau kau masih saja menghalangi perjalananku, aku tak bisa lagi hanya diam!"

Dayang Naga Puspa tengadahkan kepala. Dari mulutnya terdengar tawa pendek. "Bagus! Ternyata kau tak hanya bisa bercanda! Namun juga bisa mengancam! Dengar baik-baik! Kuburlah dahulu keinginanmu! Sekali ini kau harus ikut denganku!"

Pendekar 108 ganti keluarkan tawa. Lalu tanpa lagi memandang pada Dayang Naga Puspa, dia angkat bicara.

"Sekali ini juga, tanamlah dalam-dalam harapanmu untuk mengajakku! Lain kali, setelah aku menyelesaikan perjalanan ini, aku akan turuti permintaanmu! Bahkan sampai menemanimu tidur!"

"Bangsat!" maki Dayang Naga Puspa. Dia sertamerta sentakkan kedua tangannya.

Serangan angin deras menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Mendapati serangan, kali ini Pendekar 108 tak mau lagi hanya menghindar. Dia segera pula angkat kedua tangannya dan didorong ke depan.

Blarrr!

Terdengar suara ledakan dahsyat begitu kedua pukulan yang sama-sama dialiri tenaga dalam itu bertemu. Tanah di bawah bertemunya dua pukulan terbongkar dengan membumbungkan bongkarannya. Tubuh Dayang Naga Puspa nampak terseret sampai beberapa langkah ke belakang. Untung perempuan ini cepat kerahkan tenaga untuk menahan goyahan tubuhnya. Jika tidak, niscaya tubuhnya akan terjengkang dan terkapar di atas tanah!

Sementara Pendekar 108 sendiri juga terseret ke belakang, namun dia cepat melompat ke samping dan berdiri kokoh dengan kaki sedikit terpentang! "Anak ini tak bisa dianggap sebelah mata. Tenaga dalamnya sangat kuat! Padahal aku yakin, dia belum sepenuhnya keluarkan tenaga!" membatin Dayang Naga Puspa. Lalu dengan didahului bentakan nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan. Tangannya menyibakkan jubah putihnya. Dan serta-merta tangan kanannya menyambar tombak hitam di pinggang kirinya. Dan disentakkan ke arah Pendekar 108!

Wuuttt!

Seberkas sinar hitam berkelebat cepat bersamaan dengan melesatnya tombak. Namun sebelum berkas sinar hitam berkelebat, serangkum angin deras melesat mendahului!

Pendekar Mata Keranjang 108 yang tahu keadaan bahaya segera saja melompat ke samping. Tangan kanannya yang memegang kipas segera dikibaskan memapak hantaman tombak!

Prreekk!

Terdengar benturan keras tatkala kedua sisisisi tombak Dayang Naga Puspa menerpa kipas ungu Pendekar 108! Hebatnya, meski hanya senjata yang bertemu, namun tubuh kedua orang ini sama-sama mental ke belakang! Bahkan wajah kedua orang ini sama-sama saling meringis menahan rasa nyeri dan panas di dada masing-masing!

"Hmm.... Meski aku menggunakan tombak, namun aku harus bisa menjaga agar tombak ini tak mengenai tubuhnya, karena pemuda ini masih ingin kuselidiki!" membatin Dayang Naga Puspa seraya melesat kembali ke depan. Tombaknya diputar-putar, sementara tangan kirinya siap kirimkan pukulan.

Sinar hitam berkilat-kilat segera saja menebar di tempat itu bersamaan dengan berputarnya tombak di tangan Dayang Naga Puspa.

Aji tak tinggal diam. Begitu tombak berputarputar, Pendekar 108 pun segera putar-putar kipas ungunya. Serta-merta kilauan sinar putih bertebaran disertai menderunya suara angin!

Dayang Naga Puspa sedikit terkejut, namun dia segera menambah tenaga pada putaran tombaknya.

Blaammm! Blaammm!

Beberapa kali letupan terdengar begitu sinarsinar hitam bentrok dengan kilauan sinar putih! Tubuh Dayang Naga Puspa yang melesat tiba-tiba berhenti di udara laksana ditahan! Sedang tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 bergetar hebat dan terseret ke belakang! Saat itulah Dayang Naga Puspa cepat sentakkan tangan kirinya.

Wuuttt!

Serangkum angin dahsyat menggebrak keluar dari tangan Dayang Naga Puspa.

Pendekar 108 yang sedang menahan tubuhnya agar tak terseret makin ke belakang sedikit terkejut. Dia segera rebahkan tubuh sejajar tanah seraya bergulingan. Hingga serangan tangan kiri Dayang Naga Puspa menerabas di atas tubuhnya. Namun elakan Pendekar 108 membuat putaran kipasnya terhenti, hingga tubuh Dayang Naga Puspa yang tadi tertahan kini meluncur lagi ke depan!

Dayang Naga Puspa tak sia-siakan kesempatan. Begitu tubuhnya bisa lagi melesat, sepasang kakinya segera saja menyapu menyusur sejengkal di atas tanah! Sementara kedua tangannya berkelebat menunggu di atas!

Begitu Pendekar 108 mendapati dirinya terkurung dari bawah dan atas, cepat menambah tekanan tenaga dalamnya, hingga gulingan tubuhnya semakin cepat!

Namun tampaknya Dayang Naga Puspa tak mau kehilangan buruan. Dia pun segera menggenjot tubuhnya. Hingga tubuhnya melayang mengikuti gulingan tubuh Pendekar Mata Keranjang!

Nasib tak baik rupanya menimpa pendekar murid Wong Agung ini, karena saat itu gulingan tubuhnya hampir mendekati sebatang pohon besar.

"Sial! Terpaksa aku harus adu badan!" membatin Pendekar 108 saat mengetahui tak jauh dari tempatnya berdiri kokoh sebatang pohon. Ia segera percepat gulingan tubuhnya, dan begitu tubuhnya mentok pada batang pohon, serta-merta dia jejakkan kakinya di atas tanah!

Namun gerakannya sedikit terlambat, karena saat itu juga terjangan kaki Dayang Naga Puspa menggebrak! Untung saja murid Wong Agung ini urungkan niat untuk lesatkan tubuhnya ke atas! Jika tidak, niscaya tubuhnya akan terhajar kedua kaki Dayang Naga Puspa.

Saat mengetahui sepasang kaki lawan terus menerabas, Pendekar 108 himpitkan tubuhnya rapatrapat ke atas tanah. Terjangan sepasang kaki Dayang Naga Puspa menderu sejengkal di atas tubuhnya.

Braakkk!

Terdengar suara patahnya pohon di belakang Pendekar 108. Pohon besar itu lantas tumbang dengan suara bergemuruh dahsyat.

Pendekar 108 segera bangkit. Namun dia terperangah kaget, karena ternyata tubuh Dayang Naga Puspa yang tadi kakinya menghantam pohon mental balik. Lalu diputar dan disapukan, saat mana Pendekar 108 bangkit.

Deesss!

Terdengar suara tertahan dari mulut Pendekar Mata Keranjang 108 tatkala kaki kiri Dayang Naga Puspa menghantam bahu kanannya! Bersamaan dengan itu tubuh Pendekar 108 kembali rebah di atas tanah!

"Disuruh ikut secara baik-baik saja malah cari

babak belur!"

Dayang Naga Puspa putar kembali tubuhnya. Lalu sekonyong-konyong kakinya menyapu ke arah tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih rebah di dekat tumbangan pohon.

Deesss!

Kembali terdengar suara tertahan dari mulut Pendekar Mata Keranjang. Tubuhnya melayang ringan bagai kapas ke udara. Meski pendekar murid dari Karang Langit ini berusaha kerahkan tenaga dalam untuk menghentikan layangan tubuhnya, namun nyatanya tak ada guna. Hingga tanpa ampun lagi tubuhnya menukik terkapar di atas tanah!

Dayang Naga Puspa yang tampaknya segera ingin memeriksa, segera saja menyusul berkelebat. Namun bersamaan dengan berkelebatnya tubuh Dayang Naga Puspa, satu bayangan terlihat berkelebat memapak kelebatan Dayang Naga Puspa.

Bersamaan dengan berkelebatnya bayangan yang memapak tubuh Dayang Naga Puspa, serangkum angin dahsyat yang tak keluarkan suara menyambar seakan menahan gerakan Dayang Naga Puspa!

Dayang Naga Puspa terperangah kaget, karena saat itu juga tubuhnya melenceng. Sambil jungkir balik menahan kelebat tubuhnya yang meluncur melenceng, keluar teriakan marah dari mulutnya. Namun diam-diam perempuan berjubah putih ini segera maklum jika orang yang tampaknya berusaha menghalangi adalah orang yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Karena sambaran anginnya saja telah mampu membuat kelebatan dirinya melenceng!

Tanpa melihat lagi siapa adanya yang menghalangi, kedua tangan Dayang Naga Puspa segera  disentakkan ke arah sosok yang kini ada di hadapannya. Namun Dayang Naga Puspa melengak kaget. Bersamaan dengan menyentaknya kedua tangannya, sosok di hadapannya tiba-tiba lenyap bagai ditelan bumi! Hingga sentakan kedua tangannya hanya meng-

hantam angin.

Belum hilang rasa kejut Dayang Naga Puspa, dari arah belakangnya terdengar debum-debum beberapa kali seperti mendekati ke arahnya.

Dayang Naga Puspa dengan menindih rasa kejut yang amat sangat segera palingkan wajahnya ke belakang. Kedua tangannya siap kembali kirimkan pukulan.

Namun Dayang Naga Puspa segera urungkan niat untuk kirimkan pukulan, malah sepasang matanya membeliak mengawasi orang yang kini melangkah ke arahnya. Dahinya berkerut seakan-akan mengingat. Namun tampaknya dia tak bisa mengenali siapa adanya orang yang melangkah ke arahnya.

Ternyata orang yang sedang melangkah ke arah Dayang Naga Puspa adalah seorang laki-laki bertubuh gemuk besar. Dia melangkah tidak menggunakan kaki, karena laki-laki ini ternyata tak punya sepasang kaki. Dia melangkah menggunakan dua bambu kecil yang dikepitkan di kedua ketiaknya. Hebatnya meski hanya bambu kecil, namun mampu menopang tubuhnya yang begitu besar. Bahkan suara ketukan bambu mampu membuat telinga berdengung sakit!

***

TUJUH

SIAPA laki-laki gajah ini? Dan apa hubungannya dengan pemuda itu? Tapi siapa pun dia adanya, dia telah mencampuri urusanku! Aku harus enyahkan dia, kalau perlu kubunuh jika dia tak mau enyah!" membatin Dayang Naga Puspa seraya memperhatikan laki-laki bertubuh besar yang melangkah menggunakan bambu kecil sebagai penyangga tubuhnya.

"Gongging Baladewa!" seru Pendekar Mata Keranjang 108 begitu bangkit dan mengetahui siapa adanya orang yang melangkah dengan ketukanketukan bambu kecil di ketiaknya yang keluarkan suara berdebum-debum.

Sejenak baik Dayang Naga Puspa maupun Pendekar 108 kerahkan tenaga dalamnya pada gendang telinga masing-masing yang terasa seakan-akan ditusuk-tusuk!

"He...! Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan pemuda tolol itu hingga kau turut campur urusan ini?!" bentak Dayang Naga Puspa.

Laki-laki bersangga bambu yang bukan lain memang Gongging Baladewa adanya tengadahkan kepala. Langkahnya dia hentikan. Lalu dari mulutnya terdengar suara tawa gelak-gelak.

"Harap maafkan aku jika aku turut campur urusanmu! Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku mencari tukang rumput kuda-kudaku. Dia seperti katamu, memang agak tolol bahkan sedikit agak gini!" kata Gongging Baladewa seraya hadapkan wajahnya pada Dayang Naga Puspa dan meletakkan jari tangannya miring di kening.

Dayang Naga Puspa kerutkan dahi. Dia berpaling memandang Pendekar 108 yang kini tampak duduk seraya komat-kamitkan mulut. Tangan kanannya tarik-tarik kuncir rambutnya, sementara wajahnya meringis seakan merasa sakit dengan tarikan pada rambutnya. Namun demikian dia tak hendak hentikan tarikan-tarikan tangannya.

Lalu Dayang Naga Puspa alihkan pandangan pada Gongging Baladewa.

"Hm.... Begitu masalahmu. Lantas kenapa kau ikut campur urusanku?! Dan siapa kau...?!"

Gongging Baladewa kembali keluarkan tawa.

Tapi kali ini pendek dan agak pelan. Lalu berkata. "Sarpakenaka! Pertanyaanmu banyak sekali.

Tapi baiklah, akan kujawab!"

Sejenak Gongging Baladewa hentikan katakatanya. Dia batuk-batuk beberapa kali. Sementara itu, Dayang Naga Puspa tampak menyembunyikan rasa kejutnya demi mendapati laki-laki gemuk besar di hadapannya tahu siapa nama aslinya.

"Aku hanyalah seorang kampung biasa. Orang kampung biasa menyebutku Gondal-Gandul! Dan aku dengan berat hati sengaja mencampuri urusanmu, karena orang yang kucari itu adalah orang yang tadi kau sebut dengan pemuda tolol itu! Dia orangnya!" Gongging Baladewa tudingkan jari tangannya lurus-lurus ke arah Aji yang tampak masih bersikap seperti semula. Malah kini murid Wong Agung ini terlihat sesenggukan tanpa keluarkan air mata!

"Hm.... Aku tak percaya dengan ucapan lakilaki gajah ini! Mustahil kalau dia orang kampung biasa. Gerak kelebatnya telah mampu membuatku melenceng, lebih-lebih dia berhasil menghindari seranganku dengan gerak yang begitu cepat. Dan ketukanketukan tongkat bambunya bukanlah ketukan tongkat bambu biasa! Apalagi pemuda itu, dia semakin seperti orang gila! Sandiwara apa yang diperagakan oleh dua orang ini? Jika mereka bisa bersandiwara, kenapa aku tidak...?"

"Gondal-Gandul!" kata Dayang Naga Puspa dengan dingin seraya mendongak. Mendengar Gongging Baladewa disebut GondalGandul oleh Dayang Naga Puspa, Aji takupkan kedua telapak tangannya ke mulut, menahan tawa. Sementara Gongging Baladewa mendelik pada Pendekar 108.

"Kalau anak tolol itu memang benar-benar tukang mencari rumput kuda-kudamu, sungguh sayang sekali. Kau tahu, dia tadi berusaha memaksakan kehendak nafsunya padaku! Jadi, sebagai ganjarannya, untuk sementara ini dia harus ikut denganku! Seperti kau, aku pun mempunyai beberapa ekor kuda. Dia harus ikut denganku dan mencarikan rumput kudakudaku selama satu purnama. Itu sebagai imbalan perbuatannya! Setelah itu kau bisa menjemputnya!"

Pendekar 108 sepertinya termakan oleh katakata Dayang Naga Puspa. Hingga dia cepat menyahut.

"Gondal-Gandul! Harap jangan percaya dengan omongan perempuan ini!"

Dayang Naga Puspa tertawa gelak-gelak mendengar ucapan Aji. Dia merasa lega bahwa Aji termakan oleh kata-katanya.

Gongging Baladewa membeliakkan sepasang matanya. Mulutnya bergumam tak jelas. Setelah batuk-batuk beberapa kali, akhirnya dia berkata.

"Sarpakenaka! Seperti kataku tadi, dia memang orang agak sinting. Jadi harap maafkan tingkahnya yang telah berani meraba-raba tubuhmu...! Tapi...," Gongging Baladewa tak meneruskan kata-katanya, karena saat itu Dayang Naga Puspa menyela dengan suara membentak garang.

"Gondal-Gandul! Bicara yang benar! Siapa bilang diraba-raba?!"

Gongging Baladewa tertawa terbahak-bahak. Pendekar 108 yang mula-mula berusaha mena-

han tawa, kali ini tampaknya tak bisa, hingga saat itu juga tawanya juga meledak membuat Dayang Naga Puspa merah kelam wajahnya. Perempuan berjubah putih ini sampai keluarkan dengusan beberapa kali.

Setelah puas dengan tawanya, Gongging Baladewa meneruskan kata-katanya yang tadi terpenggal.

"Aneh, kau tadi bilang jika anak tolol itu hendak memaksakan kehendak nafsunya. Apa hal-hal seperti itu bisa dilakukan tanpa dengan main rabaraba...? Atau memang ada cara lain yang belum kuketahui?"

"Laki-laki bermulut kotor! Tampaknya kalian berdua adalah orang-orang yang sama sintingnya! Biar kalian berdua sama-sama kukirim ke neraka dalam kesintingan kalian!" berkata Dayang Naga Puspa. Dia sepertinya tak bisa lagi menahan kesabaran mendengar kata-kata Gongging Baladewa. Dia merasa bahwa di antara dua orang laki-laki itu ada persekongkolan. Maka sehabis berkata, Dayang Naga Puspa segera melesat ke depan. Jubah putihnya diibakkan, hingga saat itu juga sinar hitam mengkilat dari tombaknya membersit keluar. Kedua tangannya segera didorong ke arah Gongging Baladewa yang masih berdiri sambil teruskan tawanya.

Serangkum angin menggemuruh menyambar disertai sinar hitam melesat cepat ke arah Gongging Baladewa.

Tiba-tiba suara tawa Gongging Baladewa hilang lenyap. Lalu secara aneh laki-laki tanpa kaki ini tekankan sedikit ketiaknya pada dua bambu penyangga tubuhnya, dan serta-merta tubuhnya diayun ke depan pulang balik dua kali.

Wuut! Wuuutt! Plaarrrr!

Pukulan Dayang Naga Puspa beradu dengan angin deras yang melesat dari ayunan tubuh Gongging Baladewa. Dayang Naga Puspa pun tersentak kaget, tubuhnya laksana dihantam gelombang dahsyat hingga tersurut sampai empat tombak ke belakang. Paras wajahnya berubah seketika, sementara sepasang matanya membelalak hampir tak percaya. Meski tidak beradu anggota tubuh secara langsung, namun dari bentrokan pukulan jarak jauh tadi Dayang Naga Puspa memaklumi jika lawan adalah orang yang benar-benar berilmu tinggi. Ayunan tubuhnya saja telah mampu membuatnya terseret sampai empat tombak ke belakang, serta dadanya berdenyut sakit!

Namun perempuan berjubah putih ini tak mau begitu larut dalam ketidak percayaan. Seraya sibakkan jubah putihnya dan meraih tombak hitam di pinggang kirinya, dia melompat keatas. Di atas udara, tubuhnya diputar. Mendadak tubuhnya lenyap dari pandangan. Sekejap kemudian, tubuhnya muncul dan melesat ke arah Gongging Baladewa dengan tombak mengarah pada kepala, sementara kakinya ditekuk sebatas lutut!

"Tombak Naga Puspa!" seru Gongging Baladewa tanpa menunjukkan rasa terkejut Sepasang bambu penyangganya dihentakkan di atas tanah. Tubuhnya melesat ke udara. Namun Dayang Naga Puspa tampaknya kerahkan seluruh tenaga dalamnya, hingga gerakan tubuhnya begitu amat cepat. Hingga walau Gongging Baladewa melesat ke udara menghindar, tak urung pakaian bagian bawahnya yang menutup potongan sepasang kakinya tersambar tombak hitam!

Breettt!

Pakaian bawah Gongging Baladewa langsung terbakar! Namun laki-laki ini tetap tak menunjukkan rasa terperangah. Malah begitu tombak lawan berhasil menyambar pakaian bawahnya, laki-laki ini menarik kedua bambunya ke belakang lalu diputar ke depan dengan cepatnya.

Takk! Taakkk! Dayang Naga Puspa memekik. Tangan kanannya yang memegang Tombak Naga Puspa bergetar hebat tatkala bambu sebelah kanan Gongging Baladewa menghantam tepat pergelangan tangannya. Dan belum hilang suara pekikannya, bambu kiri laki-laki gemuk besar ini menyambar pinggangnya!

Dayang Naga Puspa merasa seolah pinggangnya dihantam batangan pohon besar, hingga tubuhnya tersuruk ke depan. Sejenak perempuan ini mencoba kerahkan tenaga luar dalam untuk menahan agar tubuhnya tidak terjerembab dan pegangan pada tombaknya tidak terlepas. Namun dengan gerakan aneh, Gongging Baladewa mendarat dan serta-merta menusukkan ujung bambu pada pantat Dayang Naga Puspa yang sedang menahan tubuhnya! Hingga membuat perempuan ini menjerit lagi dan tubuhnya semakin deras terseok ke depan, sebelum akhirnya menyungsup dengan wajah mencium tanah! Tombak di tangannya pun terlepas dan menggeletak di atas tanah!

Gongging Baladewa kibas-kibaskan pakaiannya yang terbakar dengan ujung bambunya. Sekilas dia tampak sedikit terkejut, karena bara yang ditimbulkan tombak lawan begitu cepatnya menjalar. Kalau saja laki-laki ini tidak segera kibaskan bambunya, bukan tak mungkin anggota rahasianya akan terlihat jelas!

"Walah! Untung tidak sampai ke atas sedikit, kalau saja terlambat bergerak sedikit, anak tolol itu pasti akan menertawakanku!" gumam Gongging Baladewa seraya balikkan tubuh dan pandang Dayang Naga Puspa yang geser tubuhnya di atas tanah dan mengambil kembali tombak hitamnya.

"Gongging! Coba angkat saja sedikit pakaian bawahmu itu. Perempuan itu pasti tidak akan menyerangmu, malah dia akan melotot dan langsung tinggalkan tempat ini!" seru Pendekar Mata Keranjang 108 sambil terpingkal-pingkal.

"Anak kurang ajar! beraninya suruh orang tua tunjukkan senjata! Awas kau!" ujar Gongging Baladewa dengan pelototkan sepasang matanya. Namun, sebentar kemudian dari mulutnya terdengar ledakan tawanya.

Di seberang, mendengar Pendekar 108 menyebut laki-laki yang tadi mengaku Gondal-Gandul dengan Gongging, paras muka Dayang Naga Puspa kontan berubah. Perempuan ini, yang kini telah berdiri seraya pandangi Gongging Baladewa dan mengusap-usap pantatnya yang seolah ditusuk besi panas kernyitkan dahi.

"Gongging...? Di dunia persilatan hanya satu orang yang bernama Gongging. Apakah dia Gongging Baladewa? Seorang tokoh persilatan yang namanya pernah menyentak rimba persilatan pada beberapa puluh tahun yang lalu? Peduli setan, dia Gondal-Gandul atau Gongging Baladewa!"

Dayang Naga Puspa lantas komat-kamit, sepasang matanya terpejam. Lantas, didahului suara bentakan dahsyat, perempuan ini melesat ke depan. Namun begitu satu tombak lagi di depan Gongging Baladewa, tubuhnya berbelok ke samping. Dan serta-merta tubuhnya berputar-putar mengitari Gongging Baladewa yang tampak masih berdiri dengan kepala mendongak.

Angin kencang menggemuruh tampak mengurung Gongging Baladewa. Bahkan, karena dahsyatnya angin, perlahan-lahan tubuh Gongging Baladewa terangkat ke atas! Sementara tubuh Dayang Naga Puspa seakan lenyap berganti dengan bayang-bayang yang berputar begitu cepat hingga sulit ditentukan yang mana sosok aslinya!

Tiba-tiba seberkas sinar hitam menyambar ke arah perut Gongging Baladewa yang tubuhnya mengudara akibat putaran angin.

Wuuttt!

Gongging Baladewa sentakkan bambu kecil di tangan kanannya.

Weesss! Praakkk! Taasss! Traakkk!

Terdengar benturan keras tatkala sisi tombak Dayang Naga Puspa beradu dengan bambu kecil penyangga tubuh Gongging Baladewa.

Dayang Naga Puspa terpekik. Tangannya bergetar hebat dan serasa hendak terpenggal. Sementara tubuhnya mental ke udara. Setelah membuat gerakan jumpalitan dua kali, akhirnya tubuh perempuan ini mendarat di atas tanah. Namun, perempuan berjubah putih ini tercekat. Karena kedua kakinya tiba-tiba goyah, dan tak lama kemudian tubuhnya jatuh terduduk bersamaan dengan meliuknya kaki! Paras Dayang Naga Puspa tampak pucat pasi. Dia lantas memandang pada kakinya. Parasnya makin pias. Ternyata pada pergelangan kaki tampak larikan berwarna kebiruan seperti larikan bekas pukulan rotan!

"Jahanam! Aku tadi sepertinya tidak merasa jika bambu butut itu mengenai pergelangan kakiku! Hmm Kurasa untuk kali ini aku harus hentikan per-

tarungan ini. Waktu untuk membalas masih panjang! Aku harus mencari Dewi Kayangan...!" membatin Dayang Naga Puspa. Perempuan ini tampaknya maklum jika belum mampu untuk menandingi lawan. Hingga saat itu juga dia bangkit dan hendak berkelebat meninggalkan tempat itu.

Namun gerakan Dayang Naga Puspa tertahan. Karena saat itu terdengar suara berdebum-debum dengan selisih waktu agak panjang.

Mengira yang keluarkan suara debuman adalah Gongging Baladewa, Dayang Naga Puspa cepat palingkan wajah. Namun Gongging Baladewa terlihat diam berdiri dengan menggunakan bambu di sebelah kiri. Karena ternyata bambu penyangga tubuhnya sebelah kanan tampak patah dan kini tinggal setengah! Ini akibat benturan keras dengan sisi tombak Dayang Naga Puspa.

Selagi Dayang Naga Puspa mencari-cari, dari semak belukar menerabas sesosok tubuh melangkah dengan terseok-seok. Anehnya, meski di sebelah semak belukar itu terdapat jalan setapak, namun sosok ini seakan tidak tahu. Dia melangkah melewati semak belukar! Dan bersamaan dengan langkahnya yang terseok-seok terdengar debuman dahsyat!

Pendekar Mata Keranjang 108 yang juga ikut mencari-cari, terperanjat dengan sepasang mata membesar tak kesiap mengawasi pada sosok yang melangkah menerabas semak belukar. Lalu dari mulutnya terdengar seruan.

"Dewi Bayang-Bayang!"

Mendengar seruan, Gongging Baladewa yang sedari tadi juga menebak-nebak palingkan wajah. Mulutnya menggumam sesuatu yang tak jelas. Kali ini Gongging Baladewa rupanya tak dapat sembunyikan perubahan pada wajahnya.

Sosok tubuh yang melangkah terseok-seok hentikan langkah. Tubuhnya yang agak bungkuk diluruskan. Ternyata dia adalah seorang perempuan yang usianya agak lanjut. Rambutnya tipis putih dan kaku, serta disanggul ke atas. Karena tipis dan kakunya rambut, saat disanggul ke atas menyerupai tusuk konde. Mengenakan pakaian agak gombrang yang menutup sekujur tubuhnya. Perempuan ini mengenakan terompah besar berwarna hitam. Mungkin karena besarnya terompah, hingga saat melangkah dia terseokseok seperti keberatan.

Kalau ada sumur di kubur, Aku akan ke sana sendiri. Ternyata umurku terulur, Hingga bisa bertemu lagi.

"Gonggong! Eeh, Gongging! Apa kabarmu...?! Lama kita tak jumpa, tampaknya kau masih suka bermain-main dengan perempuan!" berkata sosok perempuan yang baru datang dan bukan lain memang Dewi Bayang-Bayang.

Seraya berkata, bibir Dewi Bayang-Bayang terlihat mengumbar senyum. Padahal saat itu tak ada sesuatu yang lucu. Dan sambil menunggu sambutan Gongging Baladewa, sepasang mata Dewi BayangBayang yang sipit ini memandang satu persatu pada Pendekar Mata Keranjang 108 lalu beralih pada Dayang Naga Puspa.

Pendekar 108 anggukkan kepala saat Dewi Bayang-Bayang melihat ke arahnya, lalu bibirnya tersenyum, membuat Dewi Bayang-Bayang semakin lebarkan mulut untuk tersenyum.

"Arena rimba persilatan memang tak akan tergelak-gelak jika tak ada orang-orang seperti ini! Tapi aku melihat perubahan pada paras muka GondalGandul saat melihat Dewi Bayang-Bayang. Ada apa...?" membatin Pendekar 108.

Sementara itu, melihat siapa adanya orang yang datang, Dayang Naga Puspa kernyitkan kening.

"Astaga! Bukankah perempuan ini manusia pengumbar senyum yang bergelar Dewi Bayang-Bayang? Kakak dari Dewi Bunga Iblis...? Dan adik kandung dari Dewi Kayangan...? Orang yang kucari...?!" kata Dayang Naga Puspa dalam hati. Lalu dia meneruskan kata hatinya.

"Aku akan bertahan sebentar di sini! Melihat perkembangan. Kalau nantinya keadaan tidak memungkinkan, aku akan pergi! Siapa tahu Dewi BayangBayang punya urusan dengan Gongging Baladewa? Itu kesempatan bagiku! Tadi kulihat Gongging Baladewa berubah paras saat melihat kedatangan perempuan aneh ini!"

Sedangkan Gongging Baladewa yang mendengar sapaan dari Dewi Bayang-Bayang tidak segera menyahuti. Dalam hati, sebenarnya Gongging Baladewa berkata.

"Rayi Seroja! Kau dari dulu tampaknya tak menunjukkan perubahan berarti. Tapi semoga saja kau bisa melupakan sesuatu yang pernah terjadi antara kita pada beberapa puluh tahun yang lalu! Aku sudah ingin berbaik-baik denganmu lagi! Apalagi aku sudah tua. Aku membutuhkan seorang pendamping Aku

membutuhkan "

Gongging Baladewa putuskan kata hatinya, karena saat itu Dewi Bayang-Bayang memperdengarkan suara.

"Kau, anak kurang ajar! Kenapa pula ada di sini?! Apa kau ikut-ikutan temanmu itu mempermainkan perempuan? Atau kalian berdua sedang memperebutkannya...?!" sambil berkata dan tersenyum, pandangan mata Dewi Bayang-Bayang menatap tajam Pendekar 108 lalu pada Gongging Baladewa.

Pendekar 108 tarik-tarik kuncir rambutnya. Dia tak bisa segera menjawab pertanyaan Dewi BayangBayang.

"Bagaimana aku harus menjawab...? Aku akan mendekat. Akan kubisiki saja. Tampaknya di antara Dewi dan Gondal-Gandul ada masalah!" lalu pendekar murid Wong Agung ini bangkit dan melangkah ke arah Dewi Bayang-Bayang. Namun baru tiga langkahan kaki, Dewi Bayang-Bayang telah berkata lagi.

"Aku tak suruh kau mendekat! Aku tanya pada-

mu...!"

"Rayi Seroja!" berkata Gongging Baladewa de-

ngan menyebut nama asli Dewi Bayang-Bayang. "Kau jangan terlalu berburuk sangka. Aku kebetulan lewat dan melihat anak kurang ajar itu sedang dihajar perempuan itu! Aku hendak menolongnya!"

Tanpa berpaling pada Gongging Baladewa, Dewi Bayang-Bayang berkata.

"Aku tak tanya padamu! Aku tanya pada dia!" "Walah, ternyata benar. Antara kedua orang ini

tampaknya ada masalah!" Pendekar 108 usap-usap hidungnya. Sepasang matanya memandang silih berganti pada Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa.

"Dewi! Betul apa yang dikatakan GondalGandul itu!"

Dewi Bayang-Bayang kernyitkan kening mendengar ucapan Pendekar Mata Keranjang 108. Merasa ada yang salah pada ucapannya, Pendekar Mata Keranjang buru-buru menyambung.

"Maksudku Gongging Baladewa...!" seraya berkata, Pendekar 108 coba menahan tawanya. Sementara itu Gongging Baladewa membesarkan sepasang matanya.

"Anak edan! Tak tahu orang tua sedang dirundung bingung! Tapi itu juga salahku sendiri. Kenapa aku tadi seenaknya saja menyebutkan nama GondalGandul!" Laki-laki tak berkaki ini lantas tertawa, membuat Aji ikut-ikutan keluarkan suara tawanya yang sejak tadi ditahan-tahan.

"Orang-orang sinting! Apa yang kalian tertawakan?!" bentak Dewi Bayang-Bayang. Anehnya, meski nada suaranya membentak, namun bibirnya tersenyum!

Pendekar 108 segera hentikan tawanya begitu mendengar bentakan Dewi Bayang-Bayang. Namun tak demikian halnya dengan Gongging Baladewa. Dia semakin keraskan tawanya, membuat Dewi BayangBayang geram.

"Tunggulah, Gondal-Gandul! Aku akan menanyai perempuan itu dulu!"

Mendengar Dewi Bayang-Bayang ikut-ikutan menyebut Gongging Baladewa dengan Gondal-Gandul, Gongging Baladewa tambah keras tawanya, sementara Pendekar Mata Keranjang kembali keluarkan tawa.

"Sial! Kenapa aku ikut-ikutan...?" membatin Dewi Bayang-Bayang seraya tersenyum-senyum. Lalu alihkan pandangannya pada Dayang Naga Puspa.

"Apa benar yang diucapkan dua laki-laki sinting

itu?!"

Meski sejak tadi menahan rasa geram mende-

ngar kata-kata Dewi Bayang-Bayang, namun Dayang Naga Puspa menjawab juga pertanyaan Dewi BayangBayang.

"Orang yang kuhormati dan kupanggil dengan Dewi Bayang-Bayang, ucapan kedua laki-laki itu mengada-ada! Yang terjadi sebenarnya adalah, GondalGandul itu mencoba memperkosaku! Lalu datang pemuda kurang ajar itu. Kukira dia hendak menolongku, nyatanya dia malah memegangi kedua kakiku agar Gondal-Gandul dapat melaksanakan kehendak bejatnya!"

"Dewi Bayang-Bayang! Jangan percaya ucapannya! Itu fitnah!" teriak Pendekar 108 seraya melangkah maju mendekat.

"Sekali lagi melangkah, kubuat putus kakimu! Tetap di tempatmu!" bentak Dewi Bayang-Bayang. Sepasang matanya yang sipit dipelototkan pada Pendekar

108 dan Gongging Baladewa, dan sepasang mata itu semakin membelalak tatkala mendapati pakaian bagian bawah Gongging Baladewa nampak robek dan hangus. Namun sesaat kemudian Dewi Bayang-Bayang alihkan kembali pandangannya pada Dayang Naga Puspa. Dan sambil tersenyum dia berkata.

"Aku sudah tua. Mataku telah rabun. Telingaku hampir tuli. Terima kasih kau bisa mengenaliku. Tapi maaf, bagiku mungkin sulit mengenali siapa dirimu. Kalau boleh tahu, siapakah kau...?"

Sejenak Dayang Naga Puspa menghela napas dalam-dalam. Sedangkan Pendekar Mata Keranjang 108 dan Gongging Baladewa saling berpandangan satu sama lain.

"Orang-orang memanggilku dengan sebutan Dayang Naga Puspa!" jawab Dayang Naga Puspa seraya mengawasi terompah hitam Dewi Bayang-Bayang.

"Hmm.... Gelar bagus! Dengar, Dayang Naga Puspa, serahkan kedua laki-laki itu padaku. Biar aku yang jatuhkan hukuman pada mereka. Sekarang kau bisa tinggalkan tempat ini!"

Dayang Naga Puspa sepertinya tak puas dengan ucapan Dewi Bayang-Bayang, dia masih meragukan kata-kata perempuan berterompah besar ini.

"Dewi Bayang-Bayang! Karena aku yang mengalami, maka sudah sepantasnya jika aku yang menjatuhkan hukuman pada mereka. Namun demi menghormati nama besarmu, aku harap kamu memberi keleluasaan padaku untuk membawa pemuda kurang ajar itu! Biarlah untuk dia aku yang menjatuhkan hukuman! Untuk satunya terserah kau!"

"Hmm.... Dia tampaknya tertarik sekali dengan anak geblek itu! Apa dia tahu tentang rahasia Arca Dewi Bumi? Berarti kata-kata perempuan ini tak bisa dipercaya. Ada apa-apa di balik dia menginginkan anak geblek itu!" membatin Dewi Bayang-Bayang. Lalu berkata pada Dayang Naga Puspa.

"Wah, permintaanmu rasanya berat untuk kuterima. Kau mungkin tahu, aku adalah perempuan yang tak punya suami. Dan tak usah kukatakan, bagaimana tak enaknya malam-malam sepi sendiri hanya berteman bintang bertabur di langit. Kalau dia menginginkan dirimu, apa dia juga tak tertarik padaku...?!" seraya berkata Dewi Bayang-Bayang merapikan sanggulan rambutnya. Malah pinggulnya diliukkan ke kanan dan ke kiri, lalu mengusap-usap wajahnya.

"Brengsek! Perempuan sundal tak tahu malu!" maki Dayang Naga Puspa dalam hati. Lalu dia meneruskan.

"Menurut kabar yang kudengar, Dewi BayangBayang adalah tokoh yang ilmunya sukar untuk diukur. Hmm... apa boleh buat. Keinginanku harus tertunda! Tapi ada baiknya aku minta yang seperti gajah itu!" lalu Dayang Naga Puspa berkata.

"Jika itu maumu, apa hendak dikata. Hasrat kalau terlalu lama dipendam memang bikin pusing kepala. Lantas bagaimana kalau yang Gondal-Gandul saja?"

Dewi Bayang-Bayang luruskan tubuh. Bibirnya tersenyum.

"Wah, itu juga sepertinya tak bisa kupenuhi. Kau mungkin tahu, pada malam hari aku tidur di sembarang tempat. Dan tak usah kuceritakan bagaimana gelisahnya tidur hanya berselimut awan di langit. Dia bertubuh gemuk besar, kukira dia bisa untuk menahan dinginnya angin malam, hingga tidurku bisa ngorok...! Jadi, aku tak bisa penuhi permintaanmu!"

"Anjing keparat! Kalau saja tak ada laki-laki itu, dan aku tak sedang terluka, aku akan mengadu jiwa denganmu!" kembali Dayang Naga Puspa memaki dalam hati.

Sementara itu, mendengar tawar-menawar antara Dewi Bayang-Bayang, dan Dayang Naga Puspa, baik Pendekar 108 atau Gongging Baladewa tekapkan telapak tangan masing-masing ke mulut, menahan agar suara tawanya tidak terdengar keluar.

Mendadak Dewi Bayang-Bayang dongakkan kepala memandang langit.

"Astaga! Rupanya sebentar lagi hari akan malam. Nah, Dayang Naga Puspa. Kuharap kau suka meninggalkan tempat ini. Hari akan gelap. Itu adalah saat-saat yang paling kunantikan. Atau kau suka melihat aku beraksi...?!"

"Perempuan sundal! Perempuan jorok! Perempuan gila nafsu!" maki Dayang Naga Puspa dalam hati. Mungkin karena merasa tak sanggup mengha-

dapi Dewi Bayang-Bayang apalagi jika nanti dibantu Gongging Baladewa, akhirnya Dayang Naga Puspa memutuskan meninggalkan tempat itu.

"Dewi Bayang-Bayang! Hari ini kau beruntung mendapatkan kedua laki-laki itu. Namun ingat! Persoalan ini tak hanya sampai di sini. Bahkan suatu hari kelak, kau juga harus mendapatkan hukuman, karena berani turut campur urusanku!" Habis berkata begitu, Dayang Naga Puspa balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat itu.

Dewi Bayang-Bayang pandangi kepergian Dayang Naga Puspa. Lalu berteriak agak keras.

"Kepastian kata-katamu kutunggu! Dan kalau bisa bawakan sekalian beberapa pemuda untuk selimut malam! Hik... hik... hik...!"

Begitu sosok Dayang Naga Puspa lenyap, masih sambil tertawa Dewi Bayang-Bayang arahkan pandangannya pada Gongging Baladewa.

***

DELAPAN

MENDADAK tawa Dewi Bayang-Bayang lenyap. Sepasang matanya membeliak tak kesiap. Pelipisnya bergerak-gerak, sementara dagunya sedikit terangkat. Namun kemudian wajahnya telah berubah kembali dengan senyum tersungging. Mulutnya membuka dan memperdengarkan suara.

"Gongging! Bertahun aku mengharapkan bertemu denganmu. Namun baru hari ini harapanku terpenuhi. Kau tentunya tahu apa yang hendak kuminta darimu! Dan kau juga tentunya sudah siap!"

Ada keanehan waktu Dewi Bayang-Bayang berkata, yakni walau suaranya terdengar garang, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum.

Mendengar ucapan Dewi Bayang-Bayang, Gongging Baladewa yang sedari tadi tampaknya menghindari tatapan Dewi Bayang-Bayang, menghela napas dalam-dalam. Untuk beberapa saat lamanya laki-laki tak berkaki ini terdiam. Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 tarik-tarik kuncir rambutnya seraya berkata dalam hati.

"Dugaanku tidak meleset. Di antara dua orang ini ada masalah! Wah, dalam hal ini aku tak bisa berbuat banyak! Keduanya adalah orang-orang yang sudah kuanggap sebagai guruku. Lagi pula aku belum tahu masalahnya "

"Bagaimana, Gongging? kau sudah siap ?!" ka-

ta Dewi Bayang-Bayang setelah ditunggu agak lama Gongging Baladewa tetap diam tak keluarkan sepatah kata pun. Hanya helaan napasnya yang terdengar beberapa kali seakan menyatakan rasa tidak mengerti dan menyesal. Tapi pada akhirnya Gongging Baladewa berkata.

"Rayi Seroja! Ternyata apa yang kuharapkan selama ini tak akan jadi kenyataan. Kau tahu, selama ini aku pun mengharapkan bertemu denganmu! Lebih dari itu, aku punya keinginan untuk berbaik-baikan denganmu lagi!"

Rayi Seroja atau Dewi Bayang-Bayang tertawa mengekeh.

"Gongging! Kuburlah keinginanmu itu bersama terkuburnya tubuhmu!"

Gongging Baladewa kembali tampak menghela napas dalam-dalam. Kepalanya menggeleng perlahan. Dalam hati dia berkata.

"Rayi Seroja! Ah, nyatanya kau tak berubah. Hatimu tetap setangguh karang. Sifatmu tetap segarang singa! Kau tetap menduga wanita yang bersamaku itu adalah kekasihku. Dan kau tak mungkin lagi bisa dijelaskan! Kalau kau memang ingin membalas sakit hatimu, aku pun rela...," lalu Gongging Baladewa melanjutkan. "Rayi Seroja. Baiklah, kalau kau ingin menguburku, aku pun tak akan melakukan perlawanan. Itu sebagai tebusan atas dosa-dosaku padamu!"

Dewi Bayang-Bayang tersenyum lebar. "Gongging! Ternyata kau telah berubah jadi la-

ki-laki pengecut! Sungguh memalukan!"

Gongging Baladewa hanya bisa menghela napas panjang. Dengan melirik dia berkata.

"Rayi, aku tidak berubah! Hal ini semata-mata karena aku menuruti permintaanmu! Meski yang sebenarnya terjadi adalah kau salah paham! Perempuan yang bersamaku itu adalah adik seperguruanku!"

Dewi Bayang-Bayang tertawa mengekeh. "Apakah kata-katamu hanya untuk menutupi kelakuan busukmu di hadapan anak tolol itu? Dengan adik seperguruan bisa berlaku sedemikian mesra?" seraya berkata, Dewi Bayang-Bayang arahkan pandangannya pada Pendekar Mata Keranjang, lalu sepasang matanya yang sipit berputar memperhatikan sekeliling.

Gongging Baladewa gelengkan kepalanya per-

lahan.

"Rayi Seroja, kau keliru! Aku sedang mengobati

luka di tubuhnya ketika itu. Dan aku tidak berbuat apa pun terhadapnya. Hanya kau salah paham dalam melihat kejadian itu!"

Senyum Dewi Bayang-Bayang terulas. Namun senyum sinis.

"Dasar pengecut! Kau masih saja mengulangi kata-kata tak sedap itu! Kau dengar! Apa pun alasan yang kau kemukakan, itu tak akan merubah maksudku untuk menguburmu!"

"Gawat! Masalah mereka tampaknya begitu dalam, hingga sampai menjurus ke soal kuburmengubur...?!" membatin Aji dengan masih tak berani membuka suara.

"Rayi Seroja! Tadi sudah kukatakan, kalau kau ingin menguburku silakan. Namun ada satu hal yang ingin kutanyakan "

"Kuberi kesempatan kau untuk bertanya!" sahut Dewi Bayang-Bayang.

"Apa dengan kematianku kau mendapatkan kepuasan?!"

Sejenak Dewi Bayang-Bayang terdiam. Sepasang matanya menyengat tajam memandangi Gongging Baladewa yang saat itu tidak melihat padanya.

"Kau dengar kata-kataku, Rayi Seroja! Jawablah! Kalau ya, lakukanlah kehendakmu. Jika tidak, untuk apa dendam itu terus kau simpan? Padahal aku telah mengaku bersalah padamu, dan ini hanyalah salah paham!"

"Gongging Baladewa!" kata Dewi Bayang-Bayang setelah terdiam agak lama. "Dalam hidupku, semenjak kisah beberapa puluh tahun itu terjadi, hanya ada dua tujuan! Pertama, menegakkan kebenaran dalam rimba persilatan. Ini untuk menebus kesalahanku pada waktu lalu yang berkomplot dengan orang-orang sesat! Kedua, mengubur jasadmu dengan tanganku sendiri! Karena kau telah menyalahgunakan kepercayaan dan cinta suciku!"

Mendengar penuturan Dewi Bayang-Bayang, Pendekar 108 tercengang. Segala teka-teki yang melanda hatinya jelas sudah. Dalam hati dia berkata. "Masalah cinta!? Cinta ternyata mampu membuat orang untuk berbuat apa saja, termasuk mengubur kekasihnya! Benar-benar gila itu namanya cinta...!"

"Rayi Seroja! Aku sangat gembira sekali mendengar ucapanmu. Namun itu bukan jawaban dari pertanyaanku tadi...! Apa kau merasa akan mendapat kepuasan dengan kematianku?!" ulang Gongging Baladewa.

Dewi Bayang-Bayang menyeringai. Lalu tertawa mengekeh.

"Hanya orang bodoh yang tak merasa puas dengan tercapainya apa yang dikehendaki!"

"Hm... begitu? Baiklah. Hanya kuingatkan padamu. Seseorang baru akan terasa begitu sangat berarti jika orang itu telah tiada! Semoga aku bukanlah orang yang begitu berarti bagimu baik selama ini maupun setelah tiada! Lakukanlah!"

Dewi Bayang-Bayang sejenak seperti terhenyak dengan kata-kata Gongging Baladewa. Hingga untuk beberapa saat perempuan berterompah besar ini hanya memandangi Gongging Baladewa. Dia tampak dibungkus kebimbangan.

"Dewi!" Aji memberanikan diri angkat bicara setelah agak lama di antara Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa saling diam.

"Maafkan jika aku ikut bicara. Semua ini semata-mata demi kebaikan "

Sejurus Pendekar 108 menghentikan ucapannya. Dia ingin melihat sambutan Dewi Bayang-Bayang yang sedang diamuk amarah. Begitu dilihatnya Dewi Bayang-Bayang diam tak menyambuti, Pendekar 108 lanjutkan ucapannya.

"Apa yang dikatakan Gongging Baladewa benar. Untuk apa dendam terus-terusan disimpan. Toh, dia telah mengaku salah!"

Sepasang mata Dewi Bayang-Bayang memandang lurus-lurus pada Pendekar Mata keranjang.

"Anak ingusan! Kau membela dia?!" bentak Dewi Bayang-Bayang dengan bibir tersenyum sinis.

"Maaf, Dewi. Aku tidak membela siapa-siapa. Soal pengalaman asam garam dunia mungkin kau lebih matang, namun aku yakin tak ada persoalan yang tak bisa diselesaikan dengan jalan baik-baik. Dan aku percaya. Semua orang rimba persilatan akan merasa kehilangan jika Gongging benar-benar mati di tanganmu. Lebih-lebih kau tentunya!"

"Kurang ajar! Kau mengguruiku?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 tak segera menjawab. Dipandanginya Dewi Bayang-Bayang dengan pandangan tak mengerti. Saat itulah tiba-tiba Gongging menyela.

"Rayi Seroja. Ucapan anak ingusan itu betul! Tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Dan yang harus kau ketahui, sampai sekarang pun aku masih mencintaimu!" Paras Dewi Bayang-Bayang seketika berubah. Keningnya mengernyit. Sikapnya seperti orang salah tingkah.

"Dia mengatakan masih mencintaiku...? Apa ini bukan akal bulusnya saja untuk menghindari kematiannya di tanganku...?"

"Nah, Dewi. Gongging Baladewa telah mengatakan masih mencintaimu. Apa kau tega menurunkan tangan maut pada orang yang mencintaimu? Dan melihat perubahan padamu, maaf, kau pun tampaknya masih menyayanginya! Tunggu apa lagi?"

"Anak ini benar-benar kurang ajar! Tapi katakatanya ada benarnya juga...," membatin Dewi Bayang-Bayang dengan rona merah semakin meraupi parasnya. Sementara Gongging Baladewa tampak mulai bisa tersenyum. Malah kerdipkan sebelah matanya pada Pendekar Mata Keranjang 108. Yang dikerdipi balas mengerdip sambil menahan tawa, malah memberi isyarat agar Gongging Baladewa mendekati Dewi Bayang-Bayang.

Meski dengan perasaan yang masih dilanda kebimbangan, Gongging Baladewa akhirnya melangkah mendekati Dewi Bayang-Bayang. Yang didekati hanya lirikkan sepasang matanya tanpa berusaha untuk menghindar atau keluarkan ucapan yang mencegah, membuat Gongging Baladewa meneruskan langkah.

"Rayi Seroja," panggil Gongging begitu agak dekat. "Percayalah. Perempuan yang bersamaku dulu adalah adik seperguruanku! Dan kuharap kau mau memaafkan sikapku yang membuatmu jadi salah paham, sekarang, untukmu kuserahkan segalanya...," seraya berkata, Gongging Baladewa tundukkan kepalanya seperti orang memberi hormat.

Dewi Bayang-Bayang laksana dicekat tenggorokannya, hingga untuk beberapa lama dia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Setelah memejamkan sepasang matanya yang ternyata tampak berkaca-kaca, akhirnya dia berkata-kata.

"Gongging    Aku pun minta maaf atas sikapku

yang selama ini seperti anak-anak!"

Mendengar ucapan kedua orang ini, mau tak mau Pendekar 108 tak dapat lagi menahan gelak tawanya.

"Kata orang-orang tua benar adanya, bahwa badai pasti berlalu! Dan, masih ada gerobak sapi terakhir!" katanya di sela tawa.

Gongging dan Dewi Bayang-Bayang sama-sama palingkan wajah ke arah Pendekar Mata Keranjang

108. Paras kedua orang ini sama-sama merah saga. Malah Dewi Bayang-Bayang tampak komat-kamitkan mulut seakan hendak mengucapkan sesuatu. Namun hingga lama tak ada terdengar suara dari mulutnya. Sedangkan Gongging hanya mendelik dengan bibir senyum-senyum.

"Rayi Seroja! Sebenarnya kau hendak ke mana?" tanya Gongging setelah ketiganya tidak ada yang buka suara.

"Anak kurang ajar ini. Setelah kepergiannya, aku merasa tidak enak. Lalu aku mengejarnya. Ternyata dugaanku tidak meleset! Dan kau sendiri...?"

"Aku kebetulan lewat, dan kulihat anak ingusan ini sedang main guling-gulingan dengan Sarpakenaka. Lagi pula aku sebenarnya memang mencari anak ini, karena kabar tentang Arca Dewi Bumi rupanya telah menggegerkan rimba persilatan. Aku berharap dia yang bisa menyelamatkan arca itu!"

Dewi Bayang-Bayang angguk-anggukkan kepala. Bibirnya kini terus mengumbar senyum, entah karena senang dapat jumpa lagi dengan Gongging Baladewa atau memang itu sifat kebiasaannya. "Anak kurang ajar! Kau telah dengar kata-kata orang. Berarti kau harus mengerti, bahwa orang-orang menaruh harapan besar agar kaulah satu-satunya manusia yang dapat menyelamatkan arca itu! Jangan kau kecewakan harapan orang banyak!"

"Aku mengerti, Dewi, Gongging! Dan aku tak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan padaku!"

"Bagus! Aku gembira kau sadar akan hal itu!" ujar Gongging Baladewa. Lalu kepala ditengadahkannya. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu, namun diurungkan. Sementara itu, Dewi Bayang-Bayang pun dongakkan kepalanya. Seperti Gongging, perempuan berterompah besar ini pun seperti hendak ucapkan sesuatu, namun diurungkan juga.

Melihat sikap kedua orang ini, Pendekar 108 kernyitkan kening. Seolah ingin melihat apa yang ada di atas dan membuat kedua orang di hadapannya urungkan niat untuk ucapkan kata-kata, Pendekar 108 pun tengadahkan kepala.

Saat itu rembang petang memang telah turun melingkupi pelataran bumi. Pancaran sinar mentari telah terkikis oleh gelapnya malam yang menjelang.

"Astaga! Rupanya malam telah menjelang. Hm.... Aku mengerti sekarang. Mereka sebenarnya hendak menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan, namun tampaknya mereka tak sampai hati...! Mungkin mereka masih menganggapku berjasa menengahi masalah mereka. Padahal.... He... he... he...!"

Pendekar Mata Keranjang 108 lantas arahkan pandangannya pada Gongging dan Dewi BayangBayang.

"Gongging, Dewi! Aku akan melanjutkan perjalananku sekarang...!"

Masih sambil tengadah Gongging Baladewa berkata.

"Ah, nyatanya kau pintar. Sebelum diusir telah berpamitan...!"

"Betul! Sebelum mendapat malu memang sebaiknya segera tinggalkan tempat ini...!" sambung Dewi Bayang-Bayang dengan bibir tetap tersenyum.

"Sialan! Mereka tampaknya mengerjai diriku!

Hm...," kata Aji dalam hati. Lalu berkata.

"Sebelum aku pergi menunaikan tugas, ada satu permintaanku. Kuharap kalian tak menolak!"

Gongging Baladewa dan Dewi Bayang-Bayang sama-sama luruskan kepalanya. Kedua orang ini saling berpandangan. Mungkin entah karena ingin segera agar Pendekar 108 meninggalkan tempat itu, Dewi Bayang-Bayang memberi isyarat dengan anggukan kepalanya pada Gongging Baladewa.

"Kau benar-benar anak kurang ajar! Lekas katakan apa permintaanmu!" bentak Gongging Baladewa. Meski membentak, namun bibirnya sedikit mengulas senyum.

Pendekar 108 tampak menahan tawa. Lalu ber-

kata.

"Untuk menentramkan hatiku. Aku ingin meli-

hat kepergian kalian berdua dengan mata dan kepalaku. Ini untuk menyaksikan bahwa di antara kalian berdua memang tak ada masalah lagi..."

"Kurang ajar!" maki Dewi Bayang-Bayang dengan rona memerah. Sementara Gongging Baladewa pun tak ketinggalan memaki. "Kau benar-benar anak geblek!"

"Kalau kalian tak mau memenuhi permintaanku, aku pun tak akan tinggalkan tempat ini!" kata Pendekar 108 masih dengan coba menahan tawanya. Sebenarnya Pendekar 108 hanya ingin bercanda dengan ucapannya itu, karena kalau pun permintaannya tak dipenuhi dia akan segera tinggalkan tempat itu.

Sejurus kembali Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa saling pandang.

"Dia sedikit banyak telah berjasa pada kita. Apa salahnya kali ini kita turuti permintaannya? Lagi pula aku sudah kangen jalan-jalan denganmu! Ayo...!" bisik Gongging Baladewa.

Dewi Bayang-Bayang sejenak masih pandangi laki-laki gemuk kekasihnya itu, lalu beralih pada Pendekar Mata Keranjang yang mengawasinya dengan menahan tawa.

"Anak edan! Awas kau. Suatu saat kau pasti kukerjai lebih dari ini...!" ujar Dewi Bayang-Bayang perlahan tanpa bisa didengar Pendekar 108. Lalu dengan senyum menyungging tubuhnya berbalik dan melangkah menjajari Gongging yang ternyata telah mendahului.

Begitu dilihatnya Dewi Bayang-Bayang ada menjajari langkahnya, Gongging ulurkan tangan hendak menggandeng tangan Dewi Bayang-Bayang. Namun Dewi Bayang-Bayang segera tepiskan tangan Gongging Baladewa.

"Kau jangan berbuat yang tidak-tidak di sini!

Anak kurang ajar itu masih mengawasi kita...!"

"Ha... ha... ha   Dasar perempuan. Di hadapan

orang malu, tak ada orang mau!"

Habis berkata begitu, dengan gerakan cepat tangan Gongging Baladewa menyambar tangan kanan Dewi Bayang-Bayang. Sebentar Dewi Bayang-Bayang nampak berontak, namun tak lama kemudian diam dalam pegangan tangan Gongging Baladewa.

"Cinta.... Oh, cinta.... Segalanya memang jadi indah bila dilandanya. Tak peduli siapa dan di mana orang itu...!" gumam Pendekar Mata keranjang 108

dengan tertawa tergelak-gelak melihat tingkah Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa.

Namun tiba-tiba saja pendekar murid Wong Agung ini terperangah. Sosok Gongging Baladewa dan Dewi Bayang-Bayang lenyap dari pandangannya. Yang terdengar kini hanyalah debuman bersahut-sahutan yang makin lama menjauh sebelum akhirnya lenyap dari pendengaran.

***

SEMBILAN

SANG Surya baru saja merambat dari titik tidurnya. Titik-titik embun perlahan menguap lalu sirna tak berbekas. Nun jauh di sebelah utara, tepatnya di kaki Gunung Arjuna, seorang pemuda berbaju hijau yang bukan lain Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 tampak berdiri seraya pandangi julangan gunung yang masih diselimuti awan kelabu.

Sejak berpisah dengan Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa beberapa hari lalu, Pendekar

108 memang meneruskan perjalanan untuk mencari daerah Bajul Mati. Dan menurut beberapa orang yang ditanyai, Pendekar 108 mendapat penjelasan bahwa daerah itu ada di sebelah barat Gunung Arjuna.

Merasa begitu pentingnya perjalanan ini, Pendekar Mata Keranjang sengaja menuju Gunung Arjuna dengan jalan berputar. Hingga seandainya ditempuh dengan jalan tanpa berputar hanya memakan waktu dua hari dua malam, kali ini Aji baru sampai kaki gunung setelah melakukan perjalanan tiga hari tiga malam.

Namun kenyataanya, meski Pendekar 108 telah menempuh perjalanan yang berputar-putar, dia masih merasa diikuti seseorang. Yang membuat murid Wong Agung ini tampak kesal dan geram, setiap kali dia melakukan penjebakan untuk memergoki sekaligus mengetahui siapa adanya orang yang mengikuti perjalanannya, orang yang akan dijebak seolah tahu dan begitu saja menghilang laksana masuk ke dasar bumi.

"Sialan betul! Siapa sebenarnya orang yang selalu mengikutiku ini...? Dia memiliki ilmu tinggi. Gerakannya selalu lebih cepat dari gerakanku yang mencoba menjebaknya! Terpaksa aku harus menunda dulu perjalananku sampai dapat kupastikan siapa adanya orang ini!" membatin murid Wong Agung ini seraya pandangi Gunung Arjuna yang perlahan-lahan menampakkan diri seiring lenyapnya kabut yang membungkus. Meski sepasang mata Pendekar 108 memandangi puncak gunung, namun telinganya dipasang baik-baik. Malah tak jarang ekor matanya menerabas tempat di sekitarnya.

Pendekar 108 menduga bahwa yang mengikutinya saat itu adalah Dayang Naga Puspa atau Dewi Bayang-Bayang bersama Gongging Baladewa. Dugaan itu muncul karena Dayang Naga Puspa jelas-jelas ingin mengetahui siapa sebenarnya Pendekar Mata Keranjang 108. Sementara dugaan pada Dewi BayangBayang dan Gongging Baladewa mungkin kedua orang ini masih mengkhawatirkan ada halangan yang bakal ditemui murid Wong Agung dalam perjalanannya.

"Edan betul orang ini!" maki Pendekar 108 setelah sekian lama ditunggu tak juga ada tanda-tanda orang yang mengikutinya unjuk diri.

"Bagaimana aku harus menjebaknya...?" gumam Aji seraya kernyitkan dahi mencari jalan untuk menjebak orang yang selalu mengikuti perjalanannya.

Selagi murid Wong Agung ini putar otak, mendadak dari arah belakang terdengar suara tawa nyaring. Sigap, murid Wong Agung ini segera alirkan tenaga dalamnya pada kedua tangan, dan serta-merta balikkan tubuh dengan tangan siap kirimkan pukulan. Aji merasa perjalanannya kali ini amat rahasia, hingga tak seorang pun boleh mengetahuinya.

Namun begitu berbalik, Pendekar Mata Keranjang 108 terperangah kaget, tak seorang pun terlihat.

Bahkan daun dan semak belukar pun tidak ada yang bergerak akibat baru saja diinjak orang!

"Sialan! Dia tampaknya sengaja mempermainkan diriku!"

Selagi Pendekar 108 terbengong, kembali terdengar tawa nyaring dari arah belakangnya. Kembali murid Wong Agung balikkan tubuh. Namun lagi-lagi matanya tak menemukan seseorang!

Karena merasa jengkel dipermainkan, Pendekar 108 tengadahkan kepala dan berkata lantang.

"Siapa pun adanya kau, kalau tak mau disebut seorang pengecut, tunjukkan dirimu!"

Bersamaan dengan lenyapnya suara Pendekar 108, sesosok bayangan terlihat melayang turun dari sebuah pohon tak jauh dari tempat Pendekar 108 berdiri.

"Kau...!" seru Pendekar Mata Keranjang setelah sosok itu berdiri tepat lima langkah di hadapannya. Bulu kuduk Pendekar dari Karang Langit ini sertamerta berdiri. Malah di kejap itu juga kakinya tersurut dua langkah ke belakang.

"Anak keparat! Ke mana langkahmu pergi, jangan harap bisa lolos dari pengawasanku!" bentak sosok di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108 dengan sepasang mata tak berkedip.

"Dayang Naga Puspa! Apa maumu sebenarnya...?!"

Sosok di hadapan Pendekar 108 yang bukan lain memang Dayang Naga Puspa adanya, keluarkan tawa mengekeh panjang.

"Aku hanya ingin mengetahui siapa kau sebenarnya!"

"Itu sudah kukatakan padamu!"

"Anak tolol! Dengar baik-baik! Aku ingin tahu apakah di tubuhmu ada sesuatu yang kuinginkan!" kata Dayang Naga Puspa masih dengan tak alihkan pandangan matanya.

"Jangkrik! Rupanya dia telah tahu banyak tentang rahasia Arca Dewi Bumi. Aku harus hati-hati!" membatin Pendekar 108. "Aku harus dapat mempermainkan dia. Lalu pergi jauh-jauh. Terlalu banyak resiko meladeni orang seperti dia. Tapi kalau keadaan tidak memungkinkan, apa boleh buat. Mengadu jiwa pun jadilah...!" Lalu murid Wong Agung ini berkata seraya senyum-senyum.

"Dayang Naga Puspa! Meski aku anak tolol, namun aku dapat menebak arah bicaramu. Sesuatu yang kau inginkan di tubuhku sudah pasti kupunya. Namun sayang sekali, sesuatu itu tidak boleh kau ambil! Kalau cuma pegang-pegang saja silakan Tapi dengan

syarat, jangan diremas apalagi dipencet-pencet!"

Ucapan Pendekar 108 membuat perempuan di hadapannya yang masih berwajah cantik ini merah mengelam parasnya. Sepasang matanya semakin membelalak. Mulutnya komat-kamit memperdengarkan suara yang tak jelas. Namun dapat ditebak jika perempuan ini sedang marah besar.

"Mulutmu ternyata sama saja dengan laki-laki lainnya! Jorok dan memandang rendah perempuan! Cepat mendekat dan jangan coba-coba bergerak selama aku mencari sesuatu itu!"

"Dayang Naga Puspa! Kau terlalu berpura-pura rupanya. Kau telah tahu letaknya barang yang kau cari. Kau tak usah mencari-cari lagi! Dan, seharusnyalah kau yang mendekat ke arahku! Bukankah kau yang menginginkan barang itu...?!"

"Setan alas! Tampaknya kau sengaja mengalihkan pembicaraan dan mempermainkan aku! Terimalah ganjarannya!" teriak Dayang Naga Puspa. Tangannya serta-merta didorong ke depan!

Pendekar Mata Keranjang 108 yang walau sengaja mempermainkan Dayang Naga Puspa tapi kewaspadaannya tak mengendor, segera melompat ke samping. Dari arah samping kedua tangannya pun cepat menyentak memapak serangan lawan.

Deeesss!

Dua pukulan yang sama-sama dialiri tenaga dalam bentrok di udara. Tubuh Dayang Naga Puspa tampak sedikit terhuyung-huyung. Tapi setelah perempuan ini kerahkan tenaga dalam untuk menahan huyungan tubuhnya, dia segera tegak kembali dengan kokohnya. Pendekar 108 sendiri tampak tersurut satu langkah ke belakang.

Dalam menghadapi Pendekar Mata Keranjang 108, Dayang Naga Puspa tampaknya tak berani keluarkan segenap tenaga dalamnya. Hal ini bisa dimaklumi karena perempuan ini masih penasaran ingin menyelidiki apakah Aji benar-benar orang yang di tubuhnya terdapat guratan angka 108 sebagai salah satu syarat orang yang kelak akan dapat mengambil Arca Dewi Bumi. Dan hal ini diam-diam disadari murid Wong Agung, hingga dia merasa sedikit lega meski sikap waspada tak hendak dikesampingkan.

"Jahanam! Aku serba salah dalam menghadapi anak ini! Kalau aku berlaku keras, dan ternyata dia memang orangnya, maka segala impianku mendapatkan arca itu hanyalah angan-angan kosong! Jika tidak berlaku keras, anak ini rupanya membandel!" membatin Dayang Naga Puspa seraya gelengkan kepalanya perlahan.

"Dia mungkin tak akan bersungguh-sungguh dalam menghadapiku. Karena dia khawatir aku cedera! Ini kesempatan yang harus dapat kupergunakan!" membatin Pendekar Mata Keranjang setelah sekilas melihat serangan Dayang Naga Puspa.

"Dayang Naga Puspa!" kata Pendekar Mata Keranjang pada akhirnya setelah dilihatnya Dayang Naga Puspa diam tak melakukan apa-apa. "Tampaknya kau hanya bergurau, sementara aku ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Selamat tinggal!" Pendekar 108 lantas balikkan tubuh hendak berkelebat. Namun gerakannya tertahan, karena tahu-tahu Dayang Naga Puspa telah ada di sampingnya dan pukulkan tangan kanannya pada kepala Pendekar 108.

Wuuttt!

Karena tak ada kesempatan lagi bagi Pendekar 108 untuk menghindari pukulan tangan Dayang Naga Puspa, Pendekar Mata Keranjang 108 segera angkat tangan kirinya sementara tangan kanannya siap kirimkan pukulan susulan.

Bukkk!

Tubuh Pendekar 108 tiba-tiba laksana dihantam batangan pohon besar. Ternyata murid Wong Agung ini salah perhitungan. Karena bersamaan dengan kirimkan pukulan tangan kanan, kaki kanan Dayang Naga Puspa juga bergerak menghantam. Hingga tanpa bisa dielakkan lagi tubuh Pendekar 108 lantas meliuk dan jatuh di atas tanah!

Namun sebelum tubuh Pendekar 108 benar-benar jatuh, murid Wong Agung ini masih sempat kirimkan serangan dengan sentakkan tangan kanannya.

Dayang Naga Puspa yang tidak menduga, sedikit terkejut. Namun kesadarannya terlambat. Hingga sebelum dia bergerak untuk menghindar, pukulan jarak jauh Pendekar Mata Keranjang 108 telah menghantam pundaknya!

Desss!

Terdengar seruan tertahan dari mulut Dayang Naga Puspa. Tubuhnya terjengkang dan jatuh terduduk juga di atas tanah!

"Jahanam rendah! Rupanya kau tak bisa diajak baik-baik!" teriak Dayang Naga Puspa seraya bangkit. Keinginannya semula yang tidak akan mencederai Pendekar 108 terlepas dan tertindih amarah yang meluap. Hingga yang terpikir sekarang adalah mengadu jiwa dan membunuh Pendekar 108!

Dayang Naga Puspa segera sibakkan jubah putihnya, tangan kanannya meraih Tombak Naga Puspa sementara tangan kirinya terbuka di depan dada,

Mengetahui lawan tidak main-main lagi, Pendekar Mata Keranjang 108 pun tidak mau ambil resiko. Tangan kanannya segera pula mengambil kipas ungu di balik baju hijaunya, sementara tangan kiri siap kirimkan pukulan sakti ‘Bayu Cakra Buana’

Didahului bentakan nyaring tinggi, Dayang Naga Puspa kelebatkan tubuhnya. Bersitan sinar hitam berpencaran ke sana kemari bersamaan dengan bergeraknya tangan kanan Dayang Naga Puspa, sementara dari tangan kirinya menyambar serangan angin dahsyat yang keluarkan suara menggemuruh!

Tahu jika serangan itu tak boleh hanya dihindari, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat pula menyongsong dengan kelebatkan tubuh. Kipas di tangan kanan dikibaskan dari arah kiri ke kanan, sementara tangan kiri menghantam!

Bummmm!

Gerak kelebat kedua orang ini sama-sama tertahan di udara. Sekejap kemudian terdengar ledakan dahsyat saat terjadi pertemuan serangan keduanya.

Tubuh Dayang Naga Puspa mental balik ke belakang, dari mulutnya terdengar seruan tertahan. Setelah membuat gerakan salto dua kali di udara, perempuan ini dapat mendarat di atas tanah. Namun karena kakinya masih terluka akibat pukulan bambu Gongging Baladewa, hingga saat kakinya mendarat, kakinya terlihat goyah. Dan saat itu juga tubuhnya melorot jatuh terduduk!

Pendekar Mata Keranjang sendiri tubuhnya melayang sampai dua tombak ke belakang. Namun murid Wong Agung ini segera bisa kuasai keadaan, hingga dengan kaki terpentang tubuhnya mendarat!

"Anjing kurap! Kubunuh kau!" teriak Dayang Naga Puspa seraya bangkit. Kemarahan tidak dapat disembunyikan lagi dari sikap dan ucapannya. Hal ini tak lepas dari penglihatan Pendekar Mata Keranjang 108, hingga dia tampak lebih waspada dan hati-hati. Dalam hatinya dia berucap.

"Dia marah besar, ini kesempatan. Karena serangannya tidak akan lagi terarah...! Dan...," Pendekar 108 tak meneruskan ucapan hatinya, karena saat itu juga tiba-tiba bersitan sinar hitam telah menggebrak dari atas kepalanya, seakan hendak membelah tubuhnya dari kepala hingga perut!

Pendekar Mata Keranjang 108 membentak. Kipas ungunya diangkat sementara tangan kirinya diayun dari bawah.

Kilauan sinar keputihan yang menebar membentuk sebuah kipas menyambar ke atas.

Braakkk! Blaamm!

Terdengar benturan dua benda, disusul kemudian dengan terdengarnya ledakan menggelegar. Dayang Naga Puspa merasa tangan kanannya seakan lunglai tak bertenaga. Sementara tangan kirinya bergetar hebat dan seolah penggal! Untuk kesekian kalinya dari mulut perempuan ini terdengar pekik tertahan bersamaan dengan membumbungnya tubuh ke udara. Mungkin karena kerahkan segenap tenaga dalamnya saat melancarkan serangan tadi, hingga saat tubuhnya kembali menukik dia tak bisa lagi menahan. Tak ampun lagi tubuhnya terjerembab mencium tanah! Darah segar tampak meleleh dari sudut bibirnya, wajahnya berubah pucat, sementara dari mulutnya tak hentihentinya terdengar makian panjang pendek!

Murid Wong Agung pun terdengar keluarkan seruan tertahan. Bersamaan dengan bertemunya kipas di tangan kanannya dengan tombak milik Dayang Naga Puspa, Pendekar Mata Keranjang merasa sekujur tubuhnya seakan dipanggang bara! Dan ketika terjadi ledakan saat tangan kirinya memapak serangan tangan kiri Dayang Naga Puspa, tubuh Pendekar 108 tampak terpelanting ke belakang. Tubuhnya baru terhenti saat kakinya menyambar sebuah batang pohon. Batang pohon yang tak begitu besar itu berderak roboh, namun hal ini membuat tubuh murid Wong Agung ini terbanting dengan derasnya! Bahkan kepalanya terlebih dahulu menghantam tanah!

Seraya merambat bangkit, Pendekar Mata Keranjang 108 tampak pegangi dadanya yang berdenyut sakit. Tangan kanannya terasa panas seolah dibakar!

Sambil mengusap-usap darah yang meleleh dari sudut bibirnya dengan lengannya, Dayang Naga Puspa takupkan kedua tangannya di depan dada, tombaknya dikepit di antara takupan tangannya, sepasang matanya memejam rapat, sedangkan mulutnya berkemik.

Tampaknya Dayang Naga Puspa siapkan pukulan mematikan yang menjadi andalannya. Mendapati hal ini, Pendekar 108 tak mau bertindak ayal. Dia pun pindahkan kipas ke tangan kiri, sementara tangan kanan dibuka di depan dada. Rupanya pendekar murid Wong Agung sedang siapkan pukulan sakti 'Bayu Kencana' yang didapatnya dari perempuan aneh tak bernama. (Tentang pukulan Bayu Kencana dan perempuan aneh tak bernama, baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: "Persekutuan Para Iblis").

Namun sebelum kedua orang ini saling menyerang, terdengar seruan bersamaan berkelebatnya sesosok bayangan.

"Tahan serangan!"

***

SEPULUH

KARENA seruan sosok yang baru datang bukan sembarang seruan, membuat konsentrasi Dayang Naga Puspa maupun Pendekar Mata Keranjang 108 buyar.

Dengan wajah merah padam dan mulut terkancing rapat saling menggegat, Dayang Naga Puspa buka kelopak matanya. Demikian pula Pendekar 108. Sepasang mata kedua orang yang hendak saling menyerang ini bentrok sejenak. Lalu bersamaan mata keduanya memandang ke samping, di mana tampak seseorang telah berdiri dengan memandang silih berganti pada Dayang Naga Puspa dan Pendekar 108.

Sepasang mata Dayang Naga Puspa sekilas makin membesar, lalu menyipit, dari mulutnya mendadak terdengar seruan.

"Kakang Jogaskara!"

Orang yang dipanggil Jogaskara sejenak masih tak menyahuti sapaan Dayang Naga Puspa. Sepasang matanya memperhatikan dengan seksama. Setelah agak lama bibir orang ini sunggingkan senyum. Lalu berkata.

"Sarpakenaka "

Dayang Naga Puspa melangkah mendekat. Yang didekati hanya memandang seraya tersenyum. Dalam hati, laki-laki yang mengenakan pakaian jubah panjang sebatas lutut berwarna biru muda ini berucap.

"Hmm   Saatnya bagiku merebut Tombak Naga

Puspa dari tanganmu! Peduli kau adalah adik seperguruanku !"

"Kakang, sudah lama aku mencarimu. Kau baik-baik saja...?!" kata Dayang Naga Puspa seraya simpan tombak hitamnya karena sejak tadi Jogaskara selalu memperhatikan tombak itu.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja! Hmm.... Siapa pemuda itu...? Dan ada masalah apa di antara kalian...? Kulihat kau tadi hendak lancarkan serangan berbahaya!"

Dayang Naga Puspa arahkan pandangannya pada Pendekar 108 yang saat itu sedang memandang tak berkedip pada Dayang Naga Puspa dan Jogaskara. "Hmm Siapa laki-laki ini? Tampaknya mereka begitu

akrab. Kekasihnya? Atau saudara...? Sialan benar! Pasti laki-laki yang dipanggil Jogaskara ini akan membantu Dayang Naga Puspa!"

"Kakang Jogaskara.... Hmm.... Kebetulan kita dipertemukan di sini. Aku akan bicara terus terang siapa adanya pemuda itu, meski aku sendiri belum yakin benar. Dengan begitu, dia pasti akan membantuku. Namun setelah nanti Arca Dewi Bumi benar-benar di depan mata, akan kuhabisi dia! Tak pandang dia adalah kakak seperguruanku. Itu kalau dia juga menginginkan Arca Dewi Bumi!" diam-diam Dayang Naga Puspa berkata dalam hati saat arahkan pandangannya pada Pendekar Mata Keranjang. Lalu dengan suara lirih, dia berucap.

"Kakang! Tentunya kau sudah dengar tentang Arca Dewi Bumi yang saat ini sedang menggegerkan rimba persilatan. Tapi apakah Kakang juga tahu tentang syarat untuk mendapatkannya...?"

"Meski aku telah tahu siapa pemegang arca itu sekarang, namun aku memang belum tahu kalau ada persyaratan lain untuk mendapatkan arca itu. Hmm....

Ini sebuah kesempatan aku mengetahuinya lebih lanjut. Dan sebaiknya aku memang tak menunjukkan pengetahuanku tentang arca itu. Sarpakenaka tampaknya tahu banyak tentang rahasia arca itu! Dari nada bicaranya aku bisa menduga! Sementara ini aku harus menyimpan rasa keinginanku pada arca itu, sampai saatnya datang!" membatin Jogaskara lalu berkata.

"Sarpakenaka! Aku tidak begitu tertarik dengan segala macam arca. Apalagi yang belum tentu ada tidaknya. Jadi, aku pun tak tahu segala macam syarat untuk mendapatkan arca!"

"Tapi, Kakang. Apakah Kakang mau memban-

tuku?"

"Sebagai kakak seperguruan, kepala pun akan

kurelakan untuk membantu!"

Dayang Naga Puspa tersenyum. Namun dalam hati sebenarnya dia masih meragukan ucapan kakak seperguruannya.

"Aku belum percaya ucapannya. Mustahil jika orang rimba persilatan tak menginginkan arca itu! Tapi itu urusan nanti, yang penting dia mau membantuku menangkap anak tengik itu!" batin Dayang Naga Puspa Jika Dayang Naga Puspa meragukan kakak seperguruannya, lain halnya dengan kata hati Jogaskara. "Dia tampaknya begitu menggebu, tak mustahil jika segala sepak terjangnya sekarang ini pasti ada hubungannya dengan arca itu. Dengan membantunya, aku berarti mendapat pengetahuan tentang rahasia arca itu!"

"Kakang! Menurut yang kuketahui, orang yang kelak dapat mengambil Arca Dewi Bumi adalah seseorang yang di anggota tubuhnya terdapat guratan 108! Dan orang yang tubuhnya terdapat angka 108 adalah pemuda itu!" ujar Dayang Naga Puspa dengan arahkan pandangannya pada Pendekar Mata Keranjang 108 yang tetap mengawasi dengan sikap waspada.

Meski terkejut, namun Jogaskara cepat menyembunyikan rasa terkejutnya dengan tersenyum lebar, hingga codet bekas luka di pipi kirinya seakan hendak membuka kembali.

"Sarpakenaka! Apa kau tidak salah dengar dengan apa yang baru kau katakan? Dan kau yakin dengan berita itu?!" Jogaskara berkata demikian untuk memancing dari mana berita itu didapat Sarpakenaka.

"Kakang. Eyang guru Dadung Rantak apakah pernah berkata dusta?" Dayang Naga Puspa balik bertanya.

"Jadi kau dengar hal itu dari Eyang guru...?!"

Dayang Naga Puspa mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. Sementara Jogaskara menarik napas lega. Lalu manggut-manggut.

"Lalu bantuan apa yang kau minta dariku...?!" "Kakang. Pemuda itu adalah manusia yang ber-

gelar Pendekar Mata Keranjang 108! Dia berilmu tidak cetek. Sekarang bantulah aku menangkapnya! Kalau bisa tanpa mencederainya, karena dia kubutuhkan!"

"Hanya itu...?!"

"Untuk saat sekarang hanya itu. Namun setelah ini tentunya aku masih butuh juga bantuanmu. Kau masih bersedia membantuku untuk selanjutnya, bukan?"

Jogaskara keluarkan suara tawa perlahan. "Sarpakenaka. Demi adik seperguruan, sampai

kapan pun sekiranya aku bisa, aku akan membantumu!"

"Terima kasih, Kakang "

Kedua orang seperguruan ini lantas sama-sama memandang pada Pendekar Mata Keranjang 108.

"Hmm.... Dugaanku tidak meleset. Dia pasti akan membantu perempuan itu! Apa boleh buat. Akan kuhadapi mereka berdua!"

Dayang Naga Puspa melirik pada Jogaskara. Dua orang saudara seperguruan murid Dadung Rantak dari Lembah Rawa Buntek ini saling memberi isyarat dengan anggukan kepala masing-masing. Dan di saat itu juga keduanya segera melompat ke depan dengan dorong kedua tangan masing-masing.

Empat bongkahan sinar hitam menyambar cepat ke arah Pendekar 108. Dua dari arah bawah dan dua dari atas!

Meski sedikit terkejut dengan paduan serangan lawan, namun murid Wong Agung ini tak mau larut. Tangan kirinya yang kini memegang kipas disabetkan menyilang, sementara tangan kanannya kirimkan pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Dayang Naga Puspa dan Jogaskara saling lirik. Dan seakan tahu apa yang harus mereka lakukan, kedua orang ini lantas kerahkan tenaga dalam susulan seraya melangkah maju. Namun kedua orang ini semakin melengak, karena meski keduanya telah lipat gandakan tenaga dalam, kilauan sinar putih seakan tidak bisa ditembus, malah bongkahan sinar hitam perlahan bergerak membalik tertindih gerak kilauan sinar putih. Dayang Naga Puspa dan Jogaskara kembali lipat gandakan tenaga dalam. Namun tampaknya masih tak bisa menerobos, malah ketika Pendekar 108 membuat gerakan jungkir balik dan sentakkan kipas serta tangan kanannya, terdengar dua pekik tertahan, lalu disusul dengan terjengkangnya tubuh Dayang Naga Puspa dan Jogaskara di atas tanah!

Dayang Naga Puspa dan Jogaskara cepat bangkit. Tak sadar, kedua orang ini sama-sama sibakkan jubah masing-masing. Dan secara bersamaan pula tangan kanan masing-masing menyahut senjata yang ada di balik jubah.

Baik Dayang Naga Puspa maupun Jogaskara saling pandang dan membeliakkan mata masingmasing. Namun pandangan mata masing-masing orang ini terpaku pada senjata di tangan kanan orang lainnya.

"Aku tadi belum jelas benar lihat bentuk tombak itu! Hm.... Benar-benar aneh dan tentunya hebat! Saatnya akan tiba untuk merebutnya!" membatin Jogaskara seraya terus pandangi tombak di tangan Dayang Naga Puspa yang keluarkan bersitan hitam berkilat-kilat.

"Baru kali ini aku melihat keris yang bentuknya demikian rupa! Dari mana dia dapat? Dari Eyang guru...? Hmm    Tentunya senjata yang sakti. Setelah Ar-

ca Dewi Bumi berhasil kudapatkan, tak sulit merebut keris itu dari tangannya.   Dengan demikian, aku akan

semakin ditakuti siapa pun!" diam-diam Dayang Naga Puspa pun berkata dalam hati, dan pandangannya tak berkedip menatapi keris bersisik berwarna hitam di tangan kanan Jogaskara.

Namun kedua orang ini tak bisa berlama-lama saling diam dan saling pandangi senjata, karena saat itu juga dari arah depan menggebrak kilauan sinar putih menebar membentuk kipas sementara kilauan lainnya menggebrak dengan keluarkan suara menggemuruh!

Ternyata Pendekar Mata Keranjang 108 telah lancarkan serangan susulan, hal ini dilakukan agar kedua lawan tak ada kesempatan lagi untuk padukan serangan, apalagi dilihatnya kedua orang lawan telah keluarkan senjata masing-masing.

Jogaskara undurkan langkah tindak ke belakang, lalu serta-merta tangan kirinya menyentak, bersamaan dengan menyentaknya tangan, Jogaskara kelebatkan tubuh!

Sementara Dayang Naga Puspa geser tubuhnya ke samping. Dan dari arah samping tangan kirinya pun menghantam ke depan, memapak serangan Pendekar 108! Dan sehabis kirimkan serangan, tubuhnya pun berputar dan lenyap dari pandangan!

Blaarrr! Blaarrrr!

Bumi laksana diguncang gempa dahsyat tatkala tiga pukulan bertemu! Tanah tampak bergetar dan terbongkar, sementara semak belukar tercabut dari akarnya dan mengangkasa.

Tubuh Pendekar 108 tampak terseret ke belakang. Dan sebelum murid Wong Agung ini dapat menguasai diri, tiba-tiba dari arah samping menderu angin kencang lalu disusul dengan berkelebatnya seberkas sinar hitam dan merah!

Pendekar 108 merasakan udara di sekitarnya mendadak panas membara. Lalu bersitan sinar hitam dan merah datang mengarah pada pundaknya.

Wuuttt!

Pendekar 108 terkejut, bukan hanya karena serangan mendadak itu, namun juga oleh hawa panas yang menebar dari tangan Jogaskara yang memegang Keris Papak Geni! Untung Pendekar dari Karang Langit cepat miringkan pundaknya, hingga keris Jogaskara hanya mampu menyerempet pakaiannya. Tapi tak urung Pendekar 108 terbelalak. Pakaian yang terserempet keris Jogaskara tampak robek dan hangus, dan panasnya tetap membara di pundaknya!

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 terkesima dengan apa yang baru saja dialami, mendadak dari samping kiri berkelebat sinar hitam berkilat.

Wuutttt!

Untuk kedua kalinya Pendekar Mata Keranjang masih dapat menghindari serangan mendadak itu yang ternyata dilancarkan Dayang Naga Puspa. Namun, tak urung juga senjata tombak Dayang Naga Puspa sempat menerabas pahanya sebelah kanan!

Seraya menahan huyungan tubuhnya yang baru saja menghindar dari serangan, Aji melirik pahanya yang terasa laksana dipanggang api!

Murid Wong Agung tercekat. Bukan hanya karena melihat darah yang mulai meleleh dari pahanya, namun karena kulit di pahanya perlahan-lahan mulai berubah menghitam!

"Busyet! Racun jahat!" gumam Aji seraya melompat mundur menghindari serangan susulan.

Jogaskara yang mendarat terlebih dahulu melangkah maju hendak mendekat ke arah Pendekar 108. Namun langkahnya tertahan ketika dari arah samping Dayang Naga Puspa menjajarinya dan berkata.

"Kakang, dia telah terluka! Kita harus hentikan serangan. Aku yakin, tanpa obat pemunah dariku, dia tak akan tahan sampai tengah hari!"

"Lantas apa yang kita lakukan sekarang...?!" "Kita tangkap dahulu dan kita sekap! Setelah

tiba waktunya, kita gunakan!"

Habis berkata, Dayang Naga Puspa mendahului Jogaskara melangkah mendekati Pendekar Mata Keranjang 108.

Sedangkan Pendekar 108 sendiri parasnya tampak memucat, tubuhnya sedikit bergetar. Kedua kakinya lantas goyah dan tak lama kemudian, tubuhnya pun jatuh di atas tanah!

Begitu tubuhnya jatuh, murid Wong Agung ini merasa matanya berkunang-kunang, tubuhnya panas. Meski dia telah berusaha kerahkan tenaga dalam, namun tampaknya tak ada hasil. Tubuhnya sulit untuk digerakkan dan lebih dari itu, sekujur tubuhnya seakan dipanggang di atas api!

"Celaka! Apa yang harus kulakukan?" gumam Aji seraya pandangi Dayang Naga Puspa yang samarsamar tampak melangkah ke arahnya.

Saat itulah, mendadak sebuah bayangan berkelebat seakan menghadang gerak langkah Dayang Naga Puspa. Bersamaan dengan berkelebatnya bayangan ini, serangkum angin deras menghantam pada Dayang Naga Puspa.

Dayang Naga Puspa dan Jogaskara kaget. Dayang Naga Puspa yang dekat dengan serangan segera melompat ke samping seraya mengumpat.

***

SEBELAS

BANGSAT! Siapa berani ikut campur urusan orang?!" bentak suatu suara yang sangat mengejutkan. "Tak pantas menjatuhkan tangan pada orang

yang sudah tak berdaya!" sahut sosok yang baru saja berkelebat seraya menghadang gerak langkah Dayang Naga Puspa. Ternyata dia adalah seorang gadis muda berparas cantik jelita. Mengenakan pakaian warna coklat bergaris-garis. Rambutnya panjang sebahu dengan sepasang mata bulat berbinar.

Untuk beberapa saat lamanya baik Dayang Naga Puspa maupun Jogaskara mengawasi gadis yang baru datang dengan tatapan menyelidik. Sementara Pendekar 108 yang masih kebingungan untuk mencari jalan keluar saat Dayang Naga Puspa hendak melangkah ke arahnya, sejenak mengernyitkan kening. Sepasang matanya membesar lalu menyipit.

"Sakawuni!" seru Pendekar 108 perlahan begitu mengenali siapa adanya gadis yang telah berhasil menahan gerak Dayang Naga Puspa.

Setelah agak lama mengawasi, tampaknya baik Dayang Naga Puspa maupun Jogaskara tak bisa mengenali siapa adanya sang gadis. Namun demikian, Dayang Naga Puspa maklum jika gadis bermata bulat ini punya kepandaian tinggi. Itu bisa dilihat dari kelebatannya saat menahan langkahnya.

"Gadis lancang! Siapa kau?!" bentak Dayang Naga Puspa dengan sepasang mata berkilat merah. Sementara Jogaskara nampak memandangi seraya senyum-senyum aneh. Ternyata diam-diam Jogaskara menaruh nafsu pada gadis bermata bulat yang bukan lain memang Sakawuni adanya. Salah satu murid dari Ageng Panangkaran (Mengenai Sakawuni baca serial Pendekar Mata keranjang 108 dalam episode: "Malaikat Berdarah Biru").

Yang dibentak sepintas memandang pada Pendekar 108. Lalu beralih pada Dayang Naga Puspa dan Jogaskara. Namun dari mulut sang Gadis tak keluar suara jawaban, membuat Dayang Naga Puspa geram dan memaki-maki dalam hati, apalagi dilihat tatapan sang gadis pada Pendekar Mata Keranjang seperti pandangan orang yang lama terpisah mendadak bertemu! "Gadis liar! Apa hubunganmu dengan pemuda tolol itu?!" sambung Dayang Naga Puspa begitu pertanyaan pertamanya tak dijawab oleh sang Gadis.

Sesaat sang gadis murid Ageng Panangkaran ini masih diam. Namun begitu dilihatnya Dayang Naga Puspa hendak membentak lagi, Sakawuni angkat bicara.

"Siapa pun aku dan apa pun hubunganku dengan pemuda itu, tak layak kau ketahui. Yang layak kau dengar adalah 'Lekas tinggalkan tempat ini'!"

Dayang Naga Puspa dan Jogaskara serentak tertawa bergelak-gelak.

"Kakang, kau dengar apa yang dikatakan gadis bau kencur itu?! Dia mengusirku dari sini. Apa dikira ini tanah nenek moyangnya! Hik... hik... hik...!"

"Sarpakenaka!" sahut Jogaskara. "Bagaimana kalau kita turuti saja permintaan gadis ini. Tapi dia harus ikut denganku dahulu! Tak usah terlalu lama, satu malam saja cukuplah!"

"Laki-laki codet! Jaga mulutmu jika tidak ingin kurobek-robek!"

Dimaki demikian, Jogaskara bukannya marah, sebaliknya tawanya semakin keras. "Sarpakenaka. Kau dengar, dia mengancamku! Ha... ha... ha...!"

Namun mendadak saja Dayang Naga Puspa hentikan tawanya.

"Gadis liar! Kali ini aku masih berbaik hati mau mengampunimu dengan tidak menampar mulutmu yang telah berani mengusirku. Lekas menyingkirlah dari hadapanku!"

"Kalau aku berani mengusirmu, aku juga berani tak meninggalkan tempat ini! Kalian mau apa?!" tantang Sakawuni. Kedua tangannya terlihat perlahanlahan diangkat ke atas. Sementara ekor matanya sesekali melirik pada Pendekar Mata Keranjang. Yang dilirik bukannya senang. Dia malah terlihat cemas. Bahkan sepertinya ingin berteriak agar Sakawuni meninggalkan tempat itu. Karena Aji yakin, Sakawuni pasti tidak akan mampu menghadapi Dayang Naga Puspa apalagi kini ada Jogaskara.

"Sarpakenaka. Dia tak mau meninggalkan tempat ini, rupanya dia memang ingin merasakan yang semalam itu! Ha... ha... ha...!"

Dayang Naga Puspa tak menyambuti kata-kata kakak seperguruannya. Kemarahannya pada Sakawuni tampaknya sudah tak dapat dibendung lagi, hingga tanpa bicara apa-apa lagi perempuan ini melesat ke depan.

"Kau rupanya ingin cari mampus!" teriaknya seraya hantamkan tangan kanannya ke arah kepala Sakawuni.

Sakawuni yang tampaknya telah waspada cepat lesatkan diri ke samping. Begitu kakinya mendarat di atas tanah, kedua tangannya bergerak kirimkan pukulan jarak jauh. Namun malang bagi Sakawuni, sebelum tangannya benar-benar hantamkan pukulan, Jogaskara telah melesat dan tiba-tiba kakinya menyapu ke arah dada Sakawuni. Mau tak mau Sakawuni urungkan niat untuk menghantam. Tangannya ditarik sedikit ke belakang lalu dipalangkan di depan dada!

Namun lagi-lagi murid Ageng Panangkaran ini urungkan niat palangkan tangan, karena saat itu juga Jogaskara tarik pulang kakinya dan serta-merta pukulkan tangan kanannya pada kepala Sakawuni, sementara tangan kirinya menyusup ke bawah ketiak!

Seraya membentak marah. Sakawuni angkat tangan kanannya sementara tangan kirinya menyapu dari arah bawah!

Praakkk! Praakkk!

Terdengar dua kali benturan keras. Sakawuni keluarkan pekik kesakitan, tubuhnya tampak terhuyung mundur sampai beberapa langkah. Saat itulah mendadak dari arah belakang Dayang Naga Puspa berkelebat dan kirimkan serangan dengan kaki kanan ke arah punggung!

Deesss!

Untuk kedua kalinya Sakawuni terpekik. Tubuhnya kembali terhuyung ke depan. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Jogaskara yang saat itu masih berdiri di hadapannya. Laki-laki bercodet ini sertamerta kelebatkan kedua tangannya dari samping kanan ke kiri!

Sakawuni tampak terkejut besar. Namun gadis ini tak hendak diam begitu saja. Dengan kerahkan tenaga dalam penuh, tangan kanan kirinya diangkat memapaki kedua tangan Jogaskara. Sayang, gerakan Sakawuni sedikit terlambat. Hingga tanpa ampun lagi tangan kanan Jogaskara menerabas masuk ke bahunya! Sementara tangan kirinya mental balik karena berhasil ditangkis Sakawuni!

Tubuh Sakawuni berputar. Saat itulah Dayang Naga Puspa melompat dan sapukan kaki kirinya.

Deesss!

Jeritan lengking merobek langit keluar dari mulut Sakawuni. Tubuhnya terpelanting jauh dan terkapar di samping Pendekar 108.

"Sakawuni! Kau terlalu menganggap remeh mereka. Mereka adalah orang-orang sesat berilmu tinggi. Kau tak apa-apa...?!" tanya Pendekar 108 dengan suara tersendat dan parau.

Seraya mengeluh, Sakawuni gelengkan kepalanya perlahan. Namun sepasang matanya tak beranjak memandangi pemuda yang kini ada di sampingnya.

"Siapa mereka? Dan ada persoalan apa antara kau dan mereka...?!" tanya Sakawuni seraya pegangi dadanya yang berdenyut sakit. Pakaian bagian dada itu tampak robek akibat terjangan kaki Dayang Naga Puspa.

"Nanti saja kuceritakan. Sekarang lebih baik kau tinggalkan tempat ini. Selamatkan dirimu. Kau tahu, aku terluka. berarti sulit bagiku untuk menolongmu jika sampai terjadi apa-apa terhadap dirimu!"

Sejurus Sakawuni menatap bola mata pendekar murid Wong Agung ini.

"Ah, rupanya dia masih begitu memperhatikan diriku. Apakah dia juga tak pernah melupakanku, seperti aku yang tak pernah melupakannya...?" membatin Sakawuni. "Dia terluka. Hmm.... Tak mungkin aku tinggalkan dia sendirian di sini! Apalagi dia terluka. Mati pun akan kulakukan untuk menghalangi kedua orang itu jika mereka benar-benar ingin membunuh Pendekar 108!"

"Sakawuni. Kau dengar kata-kataku bukan...? Lekas tinggalkan tempat ini!" pinta Pendekar 108 saat dilihatnya Sakawuni tak juga mencoba meninggalkan tempat itu.

Sakawuni menggeleng perlahan.

"Aji.... Aku akan tinggalkan tempat ini jika bersamamu! Jika kau di sini, aku pun akan tetap di sini! Apa pun yang akan terjadi! Kau terluka. Aji! Aku akan melindungimu sampai titik darah penghabisan!"

Pendekar Mata Keranjang 108 laksana disekat tenggorokannya mendengar kata-kata Sakawuni.

"Ah, gadis ini benar-benar tabah dan tegar! Dia rela mengorbankan dirinya demi aku! Hmm Saka-

wuni "

Pendekar 108 memandang lekat-lekat pada Sakawuni. Saat itu pun Sakawuni sedang memandang ke arahnya. Dua orang yang sudah lama tidak jumpa ini seakan melepas kerinduan hati masing-masing lewat pandangan mata. Sebenarnya Pendekar 108 ingin sekali mendekat bahkan memberi kecupan di keningnya, namun hal itu tak mungkin dilakukan. Karena pada saat itu juga tiba-tiba Dayang Naga Puspa melangkah ke arah keduanya dan berkata.

"Anak-anak ingusan! Cukup waktunya bagi kalian untuk berbasa-basi. Sekarang bersiaplah kalian untuk menghuni alam baru! Terlebih-lebih kau, Perempuan liar! Kau harus menuju alam baru dahulu, lantas baru pemuda tolol ini menyusul!"

"Sarpakenaka!" berkata Jogaskara seraya menjajari langkah Dayang Naga Puspa. "Sebelum yang gadis menjadi penghuni alam yang baru, serahkan dahulu padaku! Sudah beberapa malam ini aku tidur berselimut dingin. Dia tampaknya cukup untuk menghangatkan dinginnya malam. Ha... ha... ha...!"

Walau Dayang Naga Puspa tampaknya tak suka dengan tingkah kakak seperguruannya, namun dia tak dapat mencegah. Apalagi dia masih mengharap bantuan dari kakak seperguruannya itu. Hingga tatkala Jogaskara melangkah mendahului mendekat ke arah Sakawuni, Dayang Naga Puspa hanya diam malah tersenyum sinis dengan alihkan pandangan.

"Manis! Kuharap kau suka dengan ajakanku. Dan kalau pun kau nantinya masih ingin, aku tak keberatan menambah dua malam lagi! Ha... ha... ha...!" seraya tertawa bergelak-gelak Jogaskara terus melangkah ke arah Sakawuni dan Pendekar Mata Keranjang.

Sakawuni merah mengelam wajahnya. Tanpa mempedulikan dadanya yang masih berdenyut sakit, gadis ini bangkit dengan sepasang mata menyengat tajam.

"Sakawuni! Kau harus berhati-hati!" Pendekar Mata Keranjang 108 mengingatkan gadis itu seraya kerahkan sisa tenaga dalamnya pada kedua tangannya dan siap dipukulkan jika Jogaskara tak mengurungkan niat.

Sepuluh langkah lagi Jogaskara sampai pada Sakawuni, dan baik Sakawuni maupun Pendekar 108 telah siapkan pukulan masing-masing, mendadak terdengar suara orang tertawa mengekeh panjang. Belum lenyap suara tawa, terdengar suara berdebum-debum bersahut-sahutan seakan membuncah keheningan dan ketegangan tempat itu. Di sela debuman-debuman terdengar orang bicara. Namun nada bicaranya seperti orang sedang menyanyi.

"Sedang apa, sedang apa, sedang apa sekarang.

Sekarang sedang apa, sedang apa sekarang...?"

Siapa pun yang mendengar, pasti dapat menebak jika yang sedang memperdengarkan adalah seorang perempuan. Namun begitu suara nyanyian ini habis tiba-tiba terdengar nyanyian lagi. Ini jelas suara seorang laki-laki.

"Sedang ngajak. Sedang ngajak sekarang. Sekarang ngajak apa, ngajak apa sekarang...?"

"Ngajak tidur, ngajak tidur, ngajak tidur sekarang. Sekarang tidur apa, tidur apa sekarang...?" kembali terdengar suara perempuan yang tadi.

"Tidur paksa, tidur paksa, tidur paksa sekarang. Sekarang paksa apa, paksa apa sekarang...?"

Nyanyian itu tak ada sahutan lagi. Namun yang terdengar kemudian adalah omelan sang perempuan.

"Dasar laki-laki! Maunya ngajak tidur melulu! Tak lihat-lihat dulu, apakah yang diajak tidur dalam keadaan sakit apa waras!"

Jogaskara hentikan langkahnya. Darahnya sirap oleh nyanyian yang tampaknya menyindir padanya. Dengan muka merah padam, ia cepat palingkan wajah ke arah sumber suara. Lain yang dialami Jogaskara, lain pula yang dirasakan Dayang Naga Puspa. Begitu terdengar suara debuman bersahut-sahutan, kontan saja tengkuknya merinding. Rupanya dia sudah dapat menebak siapa adanya dua orang yang tadi memperdengarkan nyanyian.

Dan sekarang, Pendekar 108 tampak menghela napas lega, sementara Sakawuni tampak terbengong, apalagi ketika diliriknya paras wajah Pendekar Mata Keranjang berubah, malah sedikit tersenyum.

Bersamaan dengan berpalingnya wajah Jogaskara, dari semak belukar tak jauh dari tempat itu muncul dua orang. Laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bertubuh gemuk besar, sementara yang perempuan kurus dengan pakaian agak gombrang.

Dan yang membuat Jogaskara melengak, ternyata debuman bersahut-sahutan tadi keluar dari ketukan-ketukan bambu kecil di ketiak laki-laki gemuk besar yang digunakan sebagai penyangga tubuhnya, karena laki-laki ini tak punya kaki! Sedangkan debuman yang lain keluar dari terompah besar berwarna hitam yang dikenakan oleh sang perempuan.

"Jahanam busuk! Siapa adanya dua makhluk jelek ini? Mereka tampaknya mengerti tujuanku pada gadis ini!"

Habis membatin begitu. Jogaskara dengan wajah masih merah padam segera menyongsong kedua orang yang kini tampak melangkah acuh dengan pandangan beberapa mata di situ!

"Tua bangka keparat! Siapa kalian sebenarnya...?!"

Yang dibentak bukannya hentikan langkah apalagi menjawab. Malah seraya terus melangkah ke arah Pendekar 108, kedua orang ini yang bukan lain adalah Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa saling pandang lalu sama-sama tertawa mengekeh. "Dewi, Gongging!" seru Aji perlahan.

Mendengar Pendekar Mata Keranjang berseru, Sakawuni bungkukkan tubuh hingga rambutnya menjulai ke wajah Pendekar 108 yang masih tampak duduk.

"Kau kenal mereka. Siapa mereka...?!"

"Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa. Sahabat juga teman...!" jawab Pendekar Mata Keranjang 108 seraya sibakkan rambut Sakawuni yang menutupi pandangannya. Namun sejenak kemudian, murid Wong Agung ini tampak mengendus-endus.

"Bau tubuhnya begitu harum...!"

"He.... Apa yang kau lakukan...?" seru Sakawuni dengan wajah heran.

Pendekar 108 tak menjawab. Malah hidungnya semakin dikembang-kempiskan, membuat Sakawuni jadi jengah, namun tak berusaha menjauh.

Sementara itu kemarahan Jogaskara telah di ambang batas begitu melihat dua orang yang ditanya tidak juga menjawab, malah tertawa-tawa.

"Kalian rupanya tua-tua keparat yang ingin cepat mampus!" teriak Jogaskara seraya hantamkan kedua tangannya kirimkan pukulan jarak jauh!

Tiba-tiba suara tawa lenyap. Jogaskara terperangah kaget dan heran. Karena serangannya menghajar angin! Sepasang mata laki-laki berjubah biru ini terbelalak besar-besar, karena ternyata sosok kedua orang yang diserang lenyap dari pandangannya!

"Anjing! Ke mana lenyapnya orang-orang tua keparat itu!" maki Jogaskara dalam hati. Diam-diam hatinya didera rasa kecut. Dia tampaknya sadar, kedua orang laki-laki dan perempuan tadi bukanlah orang sembarangan. Kalau tidak, mungkin kedua orang tadi sudah terhajar pukulannya, karena serangan itu dilakukan dari jarak dekat dan tenaga dalam hampir separo.

Selagi Jogaskara termangu mencari-cari, terdengar lagi suara tawa bersahut-sahutan panjang.

Berpaling ke samping, tampak Dewi BayangBayang dan Gongging Baladewa melangkah perlahanlahan, malah saling berpegangan tangan! Hebatnya, debuman tadi tidak lagi terdengar baik dari ketukan bambu penyangga tubuh sang laki-laki maupun terompah sang perempuan!

Merasa dipermainkan, Jogaskara makin naik pitam. Tanpa berkata-kata lagi tubuhnya melesat ke arah Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa. Hampir sampai, kedua kakinya dipentangkan dan dihantamkan ke arah kepala Dewi Bayang-Bayang dan kepala Gongging Baladewa. Bukan hanya sampai di situ, begitu kedua kakinya menghantam, kedua tangannya pun ikut menggebrak ke arah dada lawan dengan jalan diputar ke belakang dan disusupkan lewat bawah kakinya!

Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa hentikan langkah. Tangan mereka yang berpegangan mereka lepas. Dan dengan gerak aneh, Dewi BayangBayang tampak rundukkan kepalanya, tubuhnya digeser ke depan dengan kedua tangan lurus ke depan. Tahu-tahu kedua tangan Jogaskara yang hendak susupkan serangan dari bawah kakinya tercekal perempuan ini.

Jogaskara tersentak kaget, namun belum lenyap rasa kagetnya, Gongging Baladewa yang juga rundukkan kepala hindari terjangan kaki, angkat bahunya setinggi satu jengkal lalu disentakkan ke arah kaki Jogaskara!

Wuuuttt! Deesss! Dessss! Jogaskara terpekik tatkala kakinya terhantam bambu Gongging Baladewa. Tubuhnya mental. Saat itulah dengan tiba-tiba Dewi Bayang-Bayang sentakkan tangannya yang mencekal kedua tangan Jogaskara.

Wuuttt!

Jogaskara terkejut bukan alang kepalang. Namun dia tak bisa berbuat banyak. Hingga tanpa ampun lagi tubuhnya terbanting keras di atas tanah dengan wajah dan dada terlebih dahulu!

Melihat hal ini, Dayang Naga Puspa yang telah mengenal siapa Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa cepat berteriak memperingati.

"Kakang! Kita tinggalkan tempat ini!" Mendengar teriakan Dayang Naga Puspa, Jo-

gaskara yang nyalinya telah punah merambat bangkit dengan tak berani lagi memandang Dewi BayangBayang maupun Gongging Baladewa yang masih tegak seraya tertawa, sedangkan Dewi Bayang-Bayang tersenyum-senyum.

Namun baru saja Jogaskara bangkit, Gongging Baladewa gerakkan bambu di tangan kanannya, sementara Dewi Bayang-Bayang gerakkan kaki kirinya.

Meski Jogaskara telah berusaha mengelak, namun hentakan tangan Gongging Baladewa tampaknya lebih kuat, hingga saat itu juga tubuh Jogaskara tampak menyusur setengah depa di atas tanah dengan kaki melangkah cepat karena terdorong oleh tenaga dalam Gongging Baladewa.

Saat tubuh Jogaskara menyusur hendak terjerembab, kaki kiri Dewi Bayang-Bayang yang ternyata melepaskan terompahnya bergerak. Terompah hitam besar itu melesat cepat menghajar punggung Jogaskara!

Jogaskara kembali keluarkan pekik kesakitan. Tubuhnya makin cepat menyusur dan tak lama kemudian terjerembab mencium tanah!

Mendapati hal demikian, Dayang Naga Puspa cepat berkelebat dan dengan gerak cepat pula ditariknya tangan Jogaskara agar segera bangkit. Walau masih terasa sakit, Jogaskara menurut saja. Begitu tubuhnya telah bangkit, secepat kilat tangan Dayang Naga Puspa meraih tangan Jogaskara dan segera meninggalkan tempat itu.

"Ha... ha... ha.... Rupanya mereka ingin juga bergandeng-gandengan tangan seperti kita!" kata Gongging Baladewa tanpa memandangi kepergian Dayang Naga Puspa dan Jogaskara.

Dewi Bayang-Bayang palingkan wajah pada Pendekar Mata Keranjang 108. Lalu pada Sakawuni. Dahi perempuan ini berkerut.

"Dewi.... Untuk kesekian kalinya aku ucapkan terima kasih!" kata Aji seraya menjura hormat. Sementara Sakawuni anggukkan kepala seraya tersenyum, karena dilihatnya sedari tadi Dewi Bayang-Bayang memandang dengan bibir tersenyum!

"Rayi Seroja!" bisik Gongging Baladewa. "Tampaknya anak kurang ajar itu iri melihat kita. Lihat, dia telah menggandeng seorang gadis. Cantik lagi! Dari mana dia mendapatkannya...?!"

"Dasar laki-laki. Tua-tua masih usil tanyatanya!" bentak Dewi Bayang-Bayang dengan mata melotot, namun bibirnya tersenyum.

"Alah, apakah perasaan cemburu masih ada di hatimu?"

"Kau terlalu besar kepala jika dicemburui!" "Jadi, kau sudah tak menyimpan rasa cemburu

padaku? Astaga! Berarti kau sudah tidak...," Gongging Baladewa tidak meneruskan kata-katanya, karena Dewi Bayang-Bayang telah menyela dengan suara agak keras.

"Sudah! Jangan terus nyerocos soal yang bu-

kan-bukan. Cepat tolong anak kurang ajar itu! Dia tampaknya terluka...!"

Meski masih menggerendeng tak karuan, Gongging cepat berkelebat ke arah Pendekar 108. Sekali melihat, laki-laki ini ternyata sudah mengetahui di mana luka Aji.

"Gongging...! Aku...," belum selesai kata-kata Pendekar 108, Gongging Baladewa telah berkata.

"Simpan dulu basa-basi terima kasihmu! Rentangkan kakimu!" seraya berkata Gongging Baladewa memandang pada Sakawuni yang diam di sebelah Pendekar 108. Sakawuni mengangguk sambil tersenyum. Gongging Baladewa balas dengan senyum.

Begitu pendekar murid Wong Agung telah rentangkan kakinya ke depan, Gongging Baladewa ketukketukkan tongkat bambunya pada daerah sekitar luka Pendekar 108.

Pendekar Mata Keranjang 108 memekik kesakitan. Sementara Sakawuni pandangi dengan bibir saling menggigit.

Begitu selesai ketukan-ketukan bambu. Gongging Baladewa tekankan bambu pada kulit dekat luka Pendekar 108. Terjadi keanehan. Dari lobang luka Pendekar 108 muncrat darah berwarna kehitamhitaman.

"Rayi Seroja! Berikan obat itu!" kata Gongging Baladewa seraya ulurkan tangan pada Dewi BayangBayang yang ternyata telah dekat di situ.

Dari pakaian gombrangnya, Dewi Bayang-Bayang keluarkan kantong kecil berwarna merah. Lalu diangsurkan pada Gongging Baladewa.

Gongging Baladewa membuka kantong dan mengeluarkan dua butiran kecil berwarna putih. Diberikan pada Pendekar 108 dan disuruhnya telan.

Begitu butiran tertelan, rasa panas yang menyengat sekujur tubuh Aji perlahan-lahan sirna.

"Ini kau simpan untuk oleh-oleh!" kata Gongging Baladewa seraya memberikan kantong merah pada Pendekar Mata Keranjang.

"Terima kasih..., Gongging, Dewi...!"

"Gongging! Apa kau ingin ganti diusir anak kurang ajar ini? Lihat...! Kepalanya sudah tengadah berulang kali! Kita harus tahu diri! Penyakit asmara tampaknya saat ini sedang bermekaran di mana-mana!"

"Astaga! Kenapa aku tak sadar!" sahut Gongging Baladewa seraya tepuk jidatnya. "Bukankah orang yang sedang kasmaran hanya ingin berdua-dua tanpa ada orang lain seperti kita muda dulu?" sambung Gongging sambil arahkan pandangannya pada Dewi Bayang-Bayang.

"Bukan hanya ingin berdua-dua, tapi juga mencari tempat rimbun dan sepi-sepi..." sahut Dewi Bayang-Bayang seraya balikkan tubuh dan berkelebat. Gongging Baladewa tak tinggal diam, laki-laki bertubuh gemuk besar dan tak berkaki ini pun cepat berkelebat ke arah berkelebatnya Dewi Bayang-Bayang.

"Dewi.... Gongging...! Tunggu!" seru Pendekar 108 seraya bangkit. Namun kedua orang tadi telah lenyap. Hanya debuman bersahut-sahutan yang masih tertinggal.

Begitu Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa telah tiada, Pendekar Mata Keranjang 108 berpaling pada Sakawuni yang tampak merona merah mendengar kata-kata Dewi Bayang-Bayang dan Gongging Baladewa.

"Sakawuni.... Tak perlu kau ambil hati ucapan orang-orang tadi!"

Sakawuni tersenyum dan memandang Pendekar Mata Keranjang dengan tatapan aneh. Lalu gadis itu berkata.

"Sekarang kau hendak ke mana...?"

"Ah, bagaimana ini? Apakah aku harus berterus terang padanya? Tidak! Masalah yang sedang kutempuh adalah sangat rahasia sekali. Siapa pun tak boleh mengetahuinya sebelum aku berhasil!" Pendekar 108 tampak menarik napas dalam-dalam, lalu berkata. "Sakawuni! Untuk saat ini kuharap kau men-

gerti. Aku tak bisa mengatakan padamu ke mana aku hendak pergi!"

Sakawuni kerutkan dahi, lalu sibakkan anak rambut yang menghalangi pandangan matanya. Untuk beberapa saat gadis cantik ini diam seraya mendugaduga. "Apa dia hendak mencari arca yang saat ini sedang menggegerkan rimba persilatan itu...? Atau ada perlu lain? Ah, sialnya aku. Kalau kepergiannya saja dirahasiakan, tentunya dia juga tak membutuhkan teman! Hmm Lama aku menginginkan bertemu den-

gannya, setelah bertemu, ternyata dia sedang tak ingin ditemui!"

"Sakawuni! Sebenarnya aku kecewa dengan pertemuan ini. Karena aku harus segera pergi. Tapi percayalah, kau masih tetap kuingat! Dan akan selalu kuingat!"

Ucapan Pendekar 108 membuat gadis di hadapannya berubah paras. Sebenarnya gadis ini mengharapkan bisa menjadi teman perjalanan. Namun tampaknya Pendekar 108 sedang tak ingin ditemani. Hingga seraya mengangguk perlahan Sakawuni berkata.

"Baiklah. Jika itu yang harus kau lakukan. Pergilah "

Pendekar Mata Keranjang 108 pandangi gadis di hadapannya lekat-lekat. Mulutnya membuka hendak mengucapkan sesuatu. Namun tak sepatah kata pun terdengar. Apalagi tatkala guliran air bening mulai menetes dari sudut kedua mata Sakawuni.

Dengan masih diselimuti berbagai perasaan, Pendekar Mata Keranjang 108 balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat itu.

Sakawuni angkat kepalanya. Guliran air bening semakin banyak keluar. Dan dengan tekap wajahnya gadis ini pun meninggalkan tempat yang kini digenggam kesepian.

SELESAI