Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 13 : Mendung Di Langit Kepatihan

 
Eps 13 : Mendung Di Langit Kepatihan


SENJA masih baru saja menapak turun. Kepekatan malam belum dapat menguasai lingkaran bumi, karena cahaya kuning sang mentari masih membias dari bentangan kaki langit sebelah barat.

Samar-samar di keremangan suasana itu, sesosok bayangan berkelebat cepat melintasi hutan kecil sepi yang memisahkan dusun Kepatihan. Begitu cepatnya kelebat bayangan tadi, hingga kejap itu juga sosoknya lenyap dari pandangan, dan tahu-tahu muncul saat hutan telah terlewati.

Sejenak bayangan ini hentikan larinya. Dia angkat tangan kirinya lantas mengusap keringat yang membasahi kening dan lehernya. Sepasang mata bayangan ini memandang berkeliling tanpa menggerakkan kepala. Ternyata dia adalah seorang perempuan yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, karena selain seluruh wajahnya telah dihiasi dengan keriputan, tubuhnya pun telah sedikit bungkuk. Sepasang matanya sayu kelabu meski tampak besar dan menjorok ke cekungan yang amat dalam. Bibirnya tampak merah dipoles, sementara rambutnya yang panjang dan berwarna putih disanggul ke atas. Namun yang membuat orang selalu akan memperhatikan, ternyata tubuh perempuan ini sangat subur. Hingga saat melangkah, seluruh daging tubuhnya seakan bergerakgerak semua. Ditingkahi dengan suara gemerincing kecil yang ternyata keluar dari telinganya yang mengenakan anting-anting hanya sebelah dan terdiri dari sebuah anting besar yang dimuati beberapa antinganting kecil.

Setelah memandang berkeliling dan tak menemukan sesuatu, perempuan bertubuh besar ini melangkah ke samping kanan. Dari sini dia tiba-tiba membuat gerakan salto dua kali, lain tubuhnya lenyap. Tak lama kemudian semak belukar pinggir hutan itu menguak.

Perempuan bertubuh besar keluar dari semak belukar dengan tangan kanan kiri memegang kelinci. Lalu dengan tersenyum lebar, dia melangkah ke bawah sebuah pohon. Dikumpulkannya beberapa ranting kering. Lantas dari balik bajunya dia keluarkan dua buah batu. Keduanya digosokkan satu sama lain. Tak berselang lama kemudian, perempuan ini telah duduk menggelosoh dengan menyantap daging kelinci bakar.

Namun mendadak saja perempuan bertubuh besar ini hentikan kunyahannya. Sepasang matanya menyapu berkeliling. Meski saat itu malam telah menjelang, namun karena ranting yang terbakar masih menyala, membuat suasana di sekitar tempat itu masih jelas terlihat.

"Hmm.... Aku dengar suara langkah-langkah orang! Sialan benar. Siapa malam-malam begini kesasar ke tempat ini? Jangan-jangan dia. Bukankah

hanya dia yang tahu, bahwa jika malam ini adalah malam terakhir ku menyembunyikan diri di Kepatihan. Dia terlalu jauh mencampuri urusanku! Tapi jika bukan dia? Hm Sebaiknya aku menghindar dahulu!"

Berpikir begitu, perempuan bertubuh tambun besar ini sekali lagi menebar pandangan. Lalu dia balikkan tubuh masih dengan tetap menggelosoh. Dan dengan mengambil daging kelinci di atas ranting yang masih membara, perempuan ini berkelebat. Sosoknya tiba-tiba lenyap laksana ditelan kepekatan malam.

Begitu sosok perempuan itu lenyap, beberapa saat kemudian muncul sesosok manusia di tempat tak jauh dari tempat di mana perempuan bertubuh besar tadi berada. Seraya membetulkan letak sanggulnya, sepasang mata orang yang baru datang ini memandang ke sekitar. Kepalanya pun ikut bergerak ke kanan dan ke kiri. Karena agak lama dia tak menemukan sesuatu, orang ini lantas melangkah mendekati bara ranting di bawah pohon.

Ternyata orang ini adalah juga seorang perempuan. Usianya pun juga sudah lanjut. Tubuhnya kurus kering. Rambutnya yang sudah putih dan jarang disanggul di atas kepala, karena begitu jarangnya hingga sanggulan itu hanya menyerupai sebuah tusuk konde. Anehnya rambut itu memang kaku! Mengenakan pakaian agak gombrong, hingga saat tertiup angin, pakaian yang dikenakan berkibar-kibar seakan hendak menerbangkan tubuhnya yang kurus kering. Kedua kakinya yang mengeriput mengenakan sepasang terompah besar dari kayu berwarna hitam. Begitu besarnya terompah, hingga saat melangkah, tubuh orang ini terseok-seok, bagai keberatan terompah. Padahal sebenarnya memang tubuhnya telah begitu tua. Anehnya, meski sendiri dan tak ada yang perlu disenyumi, perempuan ini selalu menyunggingkan senyum!

"Sial! Aku percaya. Dia masih baru saja di sini! Angin kelebatan tubuhnya masih ku rasakan!" berkata perempuan kurus kering berterompah kayu besar dalam hati seraya sekali lagi menajamkan pandangannya. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.

"Sial! Minggat ke mana perempuan gembrot itu? Jangan-jangan dia telah memulai perjalanan gilanya. Bagaimanapun juga, sebagai saudara aku harus menyadarkannya. Itu pun kalau perempuan gembung itu mau. Jika tidak, peduli apa aku. Makan pun masingmasing cari dan bersuap sendiri...," sambung perempuan berterompah besar ini dalam hati sambil terus tersenyum. Selagi perempuan ini berkata-kata sendiri dalam hati, tiba-tiba kegelapan malam itu dibuncah oleh seberkas cahaya yang melesat cepat. Menghantam lurus ke arah perempuan berterompah besar ini!

Meski sedikit terperangah kaget, namun perempuan ini tak juga pupus senyumnya. Malah senyumnya semakin lebar, dan serta-merta dengan gerakan agak kaku tegang, orang ini angkat kaki kanannya.

Wuuusss!

Serangkum angin dahsyat menghentak menyilang dari bawah ke atas, membuat lesatan berkas cahaya yang menghantam ke arah perempuan berterompah besar melenceng ke samping kiri. Menerabas semak belukar dan menghajar sebuah pohon besar.

Semak belukar itu rata habis, sementara di kejap lain terdengar gemeretak, lalu terdengar berdebamnya pohon yang tumbang!

Karena sewaktu angkat kaki kanannya sepasang mata perempuan berterompah besar ini melirik, maka dia tahu, dari mana datangnya serangan. Maka begitu dapat mematahkan serangan dari kegelapan, orang ini lantas miringkan tubuh. Kedua tangannya yang kurus kering dia pukulkan ke depan.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Gelombang angin dahsyat yang tak bersuara sama sekali menghempas lurus ke depan! Di kejap itu juga, tanah yang dilewati gelombang angin itu langsung terbongkar dan membumbung ke angkasa. Semak belukar tercerabut dan berhamburan!

Tak berselang lama kemudian, dari dalam kepekatan malam terdengar suara orang mendengus keras seraya menyumpah serapah panjang pendek. Dan sesaat kemudian, perempuan berterompah besar melihat semak belukar sepuluh tombak di depannya bergerak menguak. Dan sesosok bayangan besar berkelebat keluar sebelum gelombang angin menghajar!

Dengan tersenyum lebar, sepasang mata perempuan berterompah besar ini mengikuti kelebat bayangan besar. Namun perempuan ini serta-merta menggerutu seraya palingkan kepalanya ke kanan dan kiri, sementara telinganya dia tajamkan, karena ternyata sepasang matanya tak dapat mengikuti kecepatan gerak sosok bayangan besar. Bayangan besar ini seakan lenyap kembali. Namun mendadak saja perempuan berterompah besar merasakan tubuhnya tersambar angin kencang, dan sebelum dia mengetahui apa yang terjadi, dua buah benda hitam yang keluarkan suara menggidikkan berkelebat ke arahnya.

"Sial!" rutuk perempuan berterompah besar seraya surutkan kaki satu tindak ke belakang. Namun baru saja kakinya bergerak, dua buah benda tersebut, yang ternyata sepasang tangan besar kembali menghantam. Kali ini yang di arah adalah kepala dan dada!

Wuuuttt! Wuuuttt!

Seraya melotot dan bibir tersenyum, perempuan berterompah besar angkat tangan kanannya sedangkan tangan kiri dikibaskan menyamping.

Bukkk! Bukkk!

Dua pasang tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi beradu. Pemilik sepasang tangan besar yang bukan lain adalah perempuan bertubuh gemuk memekik kesakitan. Seraya geser kedua kakinya ke belakang, dia angkat kaki kirinya dan dihantamkan lurus ke depan.

Di seberang, perempuan kurus kering berterompah besar segera putar tubuhnya. Tubuhnya membumbung, dan sekonyong-konyong kaki kanannya disapukan.

Desss! Prakkk! Kali ini terdengar dua pekikan tertahan ketika dua kaki saling bentrok di udara. Tubuh perempuan berterompah besar mental balik dan terjengkang di atas tanah. Sementara tubuh perempuan besar berputar kencang, terhuyung-huyung sebentar, lantas jatuh menggelosoh dengan lutut tertekuk!

Perempuan berterompah besar buka mulutnya lebar-lebar, namun tak terdengar suara tawa, malah yang terlihat adalah senyumnya yang tersungging. Lalu terdengar dia berkata.

"Kali Nyamat! Hentikan serangan! Aku Rayi Se-

roja!"

"Hm.... Sejak pertama kali dapat menahan se-

ranganku, aku telah dapat menduga. Ternyata memang dia...!" kata perempuan bertubuh besar yang dipanggil Kali Nyamat begitu dia mengenali suara orang di seberang.

"Tapi akan kuberi dia pelajaran, agar tidak berlarut-larut kesukaannya mencampuri urusan orang...," gumam Kali Nyamat.

Perempuan bertubuh besar ini lantas bangkit. Dan seolah tidak mendengar perkataan orang, dia lantas takupkan kedua tangannya di atas kepala.

"Sial! Apa dia sekarang sudah tuli?" gumam orang perempuan berterompah besar yang tadi menyebut dirinya Rayi Seroja seraya memandangi tingkah Kali Nyamat. Dia membelalakkan sepasang matanya, keningnya mengkerut. Dari paras wajahnya bisa diduga jika perempuan ini dilanda perasaan khawatir. Sementara itu, Kali Nyamat saling gosok-gosokkan kedua tangannya satu sama lain. Asap hitam telah nampak mengepul.

Tahu bahaya, Rayi Seroja kembali angkat bicara. Kali ini suaranya agak dikeraskan.

"Biyung Gembung! Hentikan. Kalau kau masih menganggap aku adikmu! Rayi Seroja...!"

Namun belum usai kata-kata Rayi Seroja, Kali Nyamat yang juga dipanggil Biyung Gembung luruhkan kedua tangannya, dan serta-merta dihantamkan ke arah Rayi Seroja.

"Sial! Celaka sekali. Dia benar-benar telah tuli. Atau apakah dia memang hendak mengantarku ke surga...?"

Seraya bergumam dan tersenyum-senyum, Rayi Seroja segera jatuhkan dirinya bergulungan di atas tanah begitu kilatan merah membersit menyambar keluar dari kedua tangan Kali Nyamat.

Meski Rayi Seroja telah robohkan diri sebelum kilatan itu menghantam, namun bias yang dimuntahkan kilatan itu sungguh hampir tak dapat dipercaya, karena saat itu juga pakaian yang dikenakan Rayi Seroja riap-riapan laksana dihembus angin dahsyat. Tubuhnya yang bergulungan di atas tanah bergerak makin cepat!

Rayi Seroja coba hentikan gerakan tubuhnya, namun tiada guna. Tubuhnya terus bergelundungan.

"Sial! Ilmunya benar-benar maju pesat gembung ini!" gerutu Rayi Seroja. Dia lantas hantamkan tumit kedua kakinya di atas tanah. Gulungan tubuhnya seketika terhenti, dan tubuhnya mengangkasa.

Saat itulah, di bawah sana terdengar beberapa kali suara gemeretak, lalu disusul dengan tumbangnya beberapa pohon. Ternyata kilatan yang berhasil dihindari Rayi Seroja tadi menghajar beberapa pohon.

Di atas udara, Rayi Seroja lirikkan ekor matanya, namun sebelum orang ini berbuat sesuatu, serangkum angin dahsyat membumbung berpusaran ke arahnya!

"Pusaran Sukma!" seru Rayi Seroja. Dia segera sentakkan kedua tangannya ke bawah. Secepat dia sentakkan kedua tangannya, secepat itu pula tubuhnya berkelebat menyingkir. Dia yang tadi menyebut nama pukulan yang dilancarkan Kali Nyamat tahu benar kehebatan pukulan 'Pusaran Sukma'.

Plaaarrr!

Malam yang baru saja menjelang itu dibuncah oleh ledakan dahsyat ketika dua pukulan itu bentrok di udara. Tubuh Rayi Seroja terbanting, meski sebelumnya telah menyingkir jauh-jauh. Di pihak lain Kali Nyamat sendiri terhuyung-huyung. Lantas kaki kirinya tampak goyah dan sesaat kemudian seraya melenguh perlahan terdengar suara 'brekkk'. Tubuh besar Kali Nyamat jatuh terduduk.

"Edan! Tikus ini masih hebat juga!" puji Kali Nyamat sambil bangkit. Gemerincing kecil antingantingnya saling bersahutan.

"Tikus kecil! Lekas tinggalkan tempat ini! Aku muak lihat tampangmu!"

Rayi Seroja tertatih-tatih bangkit. Lantas dengan terseok-seok dia melangkah mendekati Kali Nyamat. Suara terompahnya berdebam-debam memekakkan telinga.

"Biyung Gembung!" kata Rayi Seroja dengan bibir tersenyum, sementara tangan kanannya memegangi pahanya yang terasa ngilu bukan main terantuk tanah. "Beberapa tahun tak jumpa. Saat jumpa kau sepertinya hendak membunuhku. Apa perasaan kangen telah lenyap di hatimu...?!"

Sejenak sepasang mata Kali Nyamat mengawasi Rayi Seroja dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung rambutnya yang mencuat ke atas. Tiba-tiba dari mulutnya meledak suara tawanya. Namun hanya sebentar, karena sejenak kemudian tawanya mendadak dia penggal. Lalu dia berkata dengan alihkan pandangan. "Tikus kecil! Hanya manusia tolol yang tidak mempunyai perasaan kangen pada saudara. Namun perasaan itu hilang begitu saja jika aku tahu apa maksud kedatanganmu sebenarnya!"

"Sial! Tampaknya dia telah mengetahui maksud kedatanganku. Apa yang harus kulakukan sekarang...? Pulang dengan tanpa mengatakan sesuatu terlebih dahulu...?" membatin Rayi Seroja. Lalu buka mulut hendak berkata. Namun sebelum ucapan keluar dari mulutnya, Kali Nyamat telah mendahului berkata.

"Kau ingin mencegah kepergianku malam ini.

Betul?!"

Rayi Seroja urungkan niat untuk berkata. Meski dalam hati dia menggerendeng panjang pendek, namun bibirnya sunggingkan senyum.

"Dari paras jelek wajahmu, tanpa kau jawab, aku sudah tahu apa yang mengendap di benakmu!"

"Kali Nyamat! Kalau perjalanan gilamu ini hendak kau laksanakan, apakah kau sudah perhitungkan apa yang kelak terjadi?!"

Kali Nyamat kembali keluarkan tawa bergelak-

gelak.

"Aku memang ingin buat kegegeran! Dan kau

tahu, kegegeran apa di rimba persilatan ini yang melebihi gonjang-ganjingnya bumi selain terbunuhnya beberapa tokoh yang di masa lalu menjadi tokoh besar!"

"Betul ucap mu. Namun kau harus ingat. Persoalan yang kau kemukakan untuk menghabisi tokohtokoh itu hanya akan membuatmu dilecehkan orang! Kau hanya sakit hati karena persoalan cinta di masa muda. Itu kan masalahnya?! Lagi pula kau tak layak menurunkan tangan pada beberapa orang hanya karena orang tersebut teman daripada orang yang menyakitimu. Pikir masak-masak!"

Mendengar ucapan Rayi Seroja, Kali Nyamat tambah keras gelak tawanya.

"Tikus kecil. Sejak kapan kau berani menggurui ku, he...? Dilecehkan atau tidak, apa urusanmu? Lekas minggat dari hadapanku!"

"Sial! Apa kau kira aku senang melihat gentong tubuhmu?" berkata Rayi Seroja. Lalu balikkan tubuh dan terseok-seok melangkah meninggalkan tempat itu. Kira-kira lima belas langkah kakinya, perempuan berterompah besar ini balikkan tubuh. Dilihatnya Kali Nyamat masih tegak berdiri. Seraya tersenyum, Rayi Seroja berkata.

"Sebelum pagi menjelang, masih banyak waktu untuk berpikir. Pertimbangkan baik-baik rencanamu. Jika terjadi apa-apa, meski aku adikmu, aku tak akan sudi menolongmu! Selamat malam...!"

"Kau tak perlu banyak mulut! Aku tak perlu bantuanmu kalau hanya membunuh urusannya!" teriak Kali Nyamat. Dia sengaja berteriak, karena dilihatnya sosok Rayi Seroja telah lenyap. Hanya debam terompahnya yang terdengar bertalu-talu di kejauhan.

"Hm.... Menunggu pagi rasanya terlalu lama, lebih baik aku berangkat sekarang saja. "

Berpikir begitu, perempuan bertubuh besar ini lantas melangkah perlahan mengambil jurusan berlawanan dengan jurusan yang diambil Rayi Seroja. Meski langkahnya amat pelan, namun sekejap kemudian sosoknya yang besar tidak lagi kelihatan, yang terdengar hanyalah bunyi gemerincing anting-antingnya yang seakan bersahutan memecah kesunyian malam.

*** DUA

SEORANG perempuan bertubuh subur tampak melangkah perlahan. Begitu besarnya tubuh perempuan ini, hingga saat bergerak melangkah seluruh daging yang tampak menggelembung di sekujur tubuhnya seakan-akan ikut bergerak. Hebatnya, meski nampak melangkah pelan, namun sekejap saja sosoknya telah melesat laksana anak panah dan sulit diikuti pandangan mata biasa.

Seraya melangkah, sepasang mata perempuan besar ini yang bukan lain adalah Kali Nyamat mengedari jalan-jalan yang dilewati dengan pandangan sedikit heran.

"Banyak sekali perubahan. Untung aku masih dapat sedikit mengenali jalan-jalan ini. Jika tidak, bukan tak mungkin aku akan tersesat. Ternyata dua puluh delapan tahun saja sudah cukup untuk membuat orang lupa...,"

Kali Nyamat berucap sendiri dalam hati seraya tetap mengedarkan pandangan.

Tiba-tiba perempuan bertubuh subur ini hentikan langkahnya tatkala sepasang matanya menangkap sesuatu di kejauhan.

"Hmm.... Padang rumput berwarna merah. Berarti aku hampir sampai tujuan. Semoga tua bangka itu masih hidup!" berkata Kali Nyamat seraya dongakkan kepala. Dahinya mengernyit, sementara matanya menyipit. Tampaknya dia silau oleh cahaya sinar matahari yang menerpa melewati sela-sela batang pohon di sekitarnya. Kali Nyamat angkat telapak tangan kirinya, diletakkan di depan dahi. Dengan begini, sesuatu yang dilihat akan nampak lebih jelas.

"Gubuk reot itu. Tak ada perubahan di sini...!" gumam Kali Nyamat. Lalu melangkah ke arah padang rumput berwarna merah yang pada sudutnya tampak sebuah gubuk dan tembok persegi empat yang tingginya sampai dua tombak.

Seakan telah mengenali daerah ini, Kali Nyamat segera berkelebat melewati padang rumput berwarna merah tanpa sedikit pun menyentuh. Dan sesaat kemudian, sosoknya telah berdiri tegak di depan gubuk.

Sebentar, sepasang mata Kali Nyamat beredar tajam mengelilingi kanan-kiri gubuk. Dia tak menemukan siapa pun. Untuk meyakinkan, sekali lagi dia menebarkan pandangan matanya, malah kali ini kepalanya bergerak berputar. Dan kala dia memang tak menemukan siapa-siapa, mulutnya membuka hendak berteriak. Namun sebelum suara terdengar dari mulutnya, seseorang telah menegur.

"Orang tua! Kau mencari seseorang...?"

Dengan takupkan kembali mulutnya, Kali Nyamat berpaling ke samping kiri. Sepasang matanya menatap tajam ke depan. Di hadapannya kini berdiri seorang gadis berparas cantik dengan sepasang mata bulat.

"Siapa gadis ini...? Penghuni baru tempat ini? Hm.... Tampaknya orang ini tak berilmu cetek. Kedatangannya tak bisa kuduga sebelumnya. Tapi peduli apa. Aku tak ada perlu dengan dia!" membatin Kali Nyamat. Lalu masih dengan memandang tajam, dia berkata, "Anak gadis. Betul ucap mu. Aku mencari seseorang! Dia bernama Selaksa! Hik.... Hik.... Hik....

Kau tahu ?"

Seraya surutkan langkah dua tindak ke belakang, terkejut dengan paras muka perempuan di hadapannya dan juga merasa adanya nada tak enak pada suara orang, sang gadis alihkan pandangan.

Dalam hati gadis ini yang bukan lain adalah Ajeng Roro, murid Eyang Selaksa berkata, "Siapa orang ini...? Eyang Selaksa sepertinya tak pernah menceritakan tentang ciri-ciri orang seperti ini. Siapa pun dia adanya, yang pasti manusia ini berkepandaian tinggi. Dengan tubuh yang begini besar, dia bisa berkelebat yang tak bisa diikuti pandangan mata. "

"He...! Ditanya orang malah melamun. Kau tahu di mana Selaksa?!" kata Kali Nyamat mengulangi pertanyaan.

"Bagaimana ini? Menilik dari suaranya, orang ini berniat tidak baik pada Eyang. Aku tidak mungkin membohonginya, karena Eyang pasti dengar semua ini. Waktu ku tinggalkan tadi, Eyang sedang bersemadi. Ada apa sebenarnya antara orang ini dan Eyang ?"

kembali Ajeng Roro membatin. Hingga untuk beberapa saat lamanya dia tak juga menjawab pertanyaan Kali Nyamat.

"Eee, Bocah Edan! Kudengar kau tadi menegurku, sekarang seperti orang gagu tak bisa bicara. Apa kau mendadak bisu lihat tampang cantik ku ini. Hik.... Hik.... Hik...! Kalau kau tidak mau jawab, biarlah kucari sendiri...!" lalu, seraya tertawa terkekehkekeh, Kali Nyamat melangkah ke arah gubuk.

"Nek...! Tunggu!" seru Ajeng Roro. Kali Nyamat hentikan langkah, namun tanpa palingkan wajah pada Ajeng Roro yang berada di belakangnya.

"Orang yang kau cari tidak ada di sini!" teriak Ajeng Roro seraya arahkan pandangan pada pintu gubuk.

Kali ini Kali Nyamat palingkan wajah. Sepasang matanya menyorot tajam menusuk dua bola mata gadis di hadapannya.

"Kau bisa berucap sesukamu. Namun penciumanku tidak bisa dibohongi. Orang yang kucari ada di sekitar sini. Hik.... Hik.... Hik...!" Paras muka Ajeng Roro berubah. Dia tercekat mendengar kata-kata perempuan di depannya. Dan tanpa menghiraukan perubahan paras Ajeng Roro, Kali Nyamat meneruskan langkah.

Ajeng Roro buka mulut kembali hendak berteriak. Namun belum sampai suaranya keluar, bahunya terasa ditepuk orang. Dan belum sempat dia palingkan wajah mencari tahu siapa adanya orang, terdengar suara dari belakangnya.

"Roro. Kau menyingkirlah jauh-jauh. Dan jangan coba ikut campur masalah ini. Ini urusan orang tua...!"

Tanpa berpaling, tampaknya gadis cantik ini sudah dapat mengenali siapa adanya orang di belakangnya. Maka dengan raut muka sedikit heran, Ajeng Roro berkata, sementara sepasang matanya terus mengawasi langkah Kali Nyamat.

"Eyang.... Siapa gerangan perempuan gendut itu? Aku menangkap niat tidak baik pada wajahnya. Ada apa sebenarnya?!"

Yang diajak bicara tidak segera menyahut, membuat gadis ini balikkan tubuh dan memandang lurus pada orang di hadapannya. Di hadapan gadis ini kini berdiri seorang kakek mengenakan caping lebar, hingga para wajahnya hanya terlihat sebagian.

Begitu Ajeng Roro balikkan tubuh, sang kakek yang bukan lain adalah Eyang Selaksa tersenyum. Namun terasa sekali senyum itu dipaksakan. Setelah batuk-batuk perlahan, Eyang Selaksa berkata, "Dia bernama Kali Nyamat. Namun dalam rimba persilatan dia terkenal dengan gelar Dewi Kayangan. Dia punya adik seorang perempuan bernama Rayi Seroja, yang dalam kancah persilatan lebih dikenal dengan gelar Dewi Bayang-Bayang."

Ajeng Roro membelalakkan sepasang matanya. Dia memang pernah mendengar nama itu, namun tidak sedikit pun terlintas jika orangnya demikian.

"Mereka berdua adalah tokoh-tokoh berilmu tinggi pada zamannya. Hanya segelintir orang yang dapat menyamai keduanya. Tapi karena sifat kedua orang itu aneh, maka tak jarang jika sebagian orang menganggapnya sebagai manusia-manusia sinting!" sejenak Eyang Selaksa menghentikan keterangannya.

"Lantas ada masalah apa dengan Eyang...?" bertanya Ajeng Roro seraya terus mengawasi gerakgerik Kali Nyamat alias Dewi Kayangan yang kini telah memasuki gubuk.

Eyang Selaksa batuk-batuk kecil. Pandangannya beralih jauh. Paras mukanya mendadak berubah. Lalu dengan suara perlahan dia berkata.

"Kami dahulu adalah sepasang kekasih...," kembali Eyang Selaksa hentikan ucapannya. Sementara Ajeng Roro semakin membeliakkan sepasang matanya. Malah dia segera takupkan telapak tangannya menahan agar suara jeritannya tidak terdengar.

"Namun karena waktu itu aku mendapat tugas dari mendiang Guru, Panembahan Gede Laksana, aku terpaksa harus meninggalkannya. Sayangnya, tugas yang ku emban tak dapat segera kuselesaikan hingga bertahun-tahun. Hal ini tampaknya tak bisa diterima oleh Kali Nyamat. Dia menuduhku yang bukan-bukan. Bahkan karena sakit hati merasa kukhianati, beberapa kali dia mencoba membunuhku! Dia tak merasa bahwa sampai saat ini pun aku masih mengharapkannya! Dan "

Eyang Selaksa tidak melanjutkan ucapannya, karena dari arah samping terasa ada angin deras menyambar.

Seraya memberi ingat pada muridnya, Eyang Selaksa palingkan wajah. Kedua tangannya didorong menyamping.

Bummm!

Terdengar letupan keras tatkala angin yang melesat keluar dari kedua tangan Eyang Selaksa memapasi serangan angin yang datang dari arah samping. Sementara itu, Ajeng Roro yang tahu adanya bahaya segera melesat ke samping, dari sini dia tarik sedikit kedua tangannya ke belakang, lalu serta-merta hendak dihantamkan pada orang yang membokong, namun gadis ini segera urungkan niat begitu mengetahui siapa adanya orang yang baru saja lancarkan serangan.

Di lain pihak. Eyang Selaksa cepat palingkan tubuh dan wajah. Di hadapannya kini berdiri tegak sesosok perempuan bertubuh subur dengan sepasang mata berkilat tajam. Namun sebentar kemudian, dari mulut perempuan ini keluar suara tawa me-ngekeh ditingkahi suara gemerincing. Karena suara tawa itu bukan tawa biasa, melainkan telah dialiri tenaga dalam, maka tak heran jika kejap itu juga Ajeng Roro segera surutkan langkah ke belakang, sementara Eyang Selaksa gelengkan kepala seraya balas menatap.

"Tampaknya doaku dikabulkan Tuhan. Kau masih hidup. Memang hanya aku yang ditakdirkan mencabut nyawamu! Hik.... Hik.... Hik...!"

"Kali Nyamat...," desis Eyang Selaksa. Hatinya berdebar keras.

"Tutup mulutmu, Tua Bangka. Kau telah kuharamkan untuk sebut namaku. Sebut nama yang lain saja! Hik.... Hik.... Hik...!"

Eyang Selaksa tersenyum. Lalu berkata perlahan, "Kali Nyamat. Kuucapkan selamat datang di tempatku ini. Lama kita tak jumpa, bagaimana kabarmu?"

Kali Nyamat menyambuti kata-kata Eyang Selaksa dengan senyum seringai. Tapi sejenak kemudian bibirnya telah mengumbar kekehan tawa. "Tua bangka bau tanah! Kau tak usah berbasabasi. Tentunya kau masih ingat kata-kata terakhir ku dahulu. Hari ini aku datang untuk membuktikannya! Bersiaplah menyongsong saat kematian! Hik.... Hik....

Hik !"

Habis berkata begitu, Kali Nyamat angkat tangan kanannya di atas kepala, sementara tangan kirinya didorong dengan telapak terbuka.

Wuuuttt!

Selarik kilatan merah yang membawa hawa panas dan suara menggelegak segera menyambar ke arah Eyang Selaksa.

"Kali Nyamat. Tunggu! Tahan seranganmu!" tahan Eyang Selaksa seraya melompat ke samping kanan menghindarkan diri dari serangan Kali Nyamat.

***

TIGA

KALI Nyamat keluarkan kekehan tawa hingga daging di sekujur tubuhnya bergerak-gerak. "Jangan banyak mulut, Tua Bangka. Alasan apa pun yang hendak kau utarakan, aku tak akan menerimanya! Dosamu sudah sedalam laut setinggi awang-awang. Hik....

Hik.... Hik !"

Eyang Selaksa mendesah perlahan seraya menarik napas dalam-dalam. Tengkuknya merinding. Dia telah paham sifat Kali Nyamat atau Dewi Kayangan. Perempuan ini keras kepala dan tak mau menerima saran.

"Kali Nyamat. Kalau kau memang merasa puas dengan matinya diriku, aku hari ini juga akan menyerahkan diri. Namun jika niatmu masih ditunggangi orang lain, sampai kapan pun aku akan bertahan!" Dewi Kayangan mendengus keras. Dagunya se-

dikit terangkat dengan pelipis bergerak-gerak pertanda menindih hawa amarah.

"Selaksa. Bertahun-tahun aku mengasingkan diri. Itu karena aku ingin melupakan kisah lama. Tapi semakin ku coba melupakan, ingatan itu semakin deras menggoda. Maka satu-satunya jalan untuk menghilangkan hal itu adalah membuat mati orang yang membuat masalah ini. Dan itu kau adanya! Kau sudah siap? Atau kau ada pesan terakhir? Hik.... Hik....

Hik !" dalam. Kembali Eyang Selaksa menghela napas dalam-

"Jika begitu keadaannya, baiklah. Aku pasrahkan diriku padamu! Dan memang ada pesan sebelum aku mati di tanganmu...," berkata Eyang Selaksa seraya pandangi Kali Nyamat dengan tatapan sayu.

"Lekas katakan!" bentak Kali Nyamat sambil cekikikan.

"Tentunya kau masih ingat dengan kematian adikmu yang paling bungsu."

"Mekar Sari yang bergelar Dewi Bunga Iblis...," gumam Kali Nyamat seakan berkata pada diri sendiri. "Aku tak akan lupa dengan dia. Dan aku akan mengejar siapa pembunuhnya!"

Eyang Selaksa tersenyum dan gelengkan kepa-

la.

"Bagus jika kau masih ingat. Tapi apakah kau

tahu siapa pembunuh adikmu itu...?!"

"Selaksa!" bentak Kali Nyamat dengan suara menggelegar. "Jangan bermimpi aku akan mengurungkan niat membunuhmu hanya karena kau akan mengatakan siapa pembunuh adikku! Hik.... Hik.... Hik...! Aku akan mencari tahu sendiri!" "Kau salah besar jika berperasaan begitu. Seperti permintaanmu tadi, sebelum mati aku hanya berpesan, percuma kau mencari tahu siapa pembunuh adikmu. Karena hal itu hanya akan mendatangkan masalah besar bagimu!"

"Setan Alas!" teriak Kali Nyamat lengking. "Ramalan apa lagi yang kau ucapkan, Tua Bangka?! Siapa percaya mulut busukmu!"

Eyang Selaksa tertawa pendek, lalu berkata, "Aku bukan peramal. Namun satu hal perlu kau ingat. Adikmu sebenarnya tak meninggal seperti yang kau duga. Jadi jangan menebar maut karena dugaan yang salah! Nah, sekarang aku siap menghadapi kematian!"

Paras muka Kali Nyamat berubah seketika. Dahinya mengernyit dengan kaki tersurut dua langkah ke belakang. Sementara itu, agak jauh dari tempat kedua orang ini, Ajeng Roro mendengarkan dan melihat dengan perasaan khawatir.

"Jahanam!" rutuk Kali Nyamat dalam hati. "Apa benar segala ucapan manusia busuk ini tentang Mekar Sari? Kalau dia memang belum mati, lantas ke mana selama ini? Bedebah! Teka-teki apa pula ini...?"

"Selaksa! Jangan kau menebar fitnah saat menghadapi kematian!" berkata Kali Nyamat dengan majukan kembali kakinya.

Di seberang, Eyang Selaksa tersenyum seraya geleng-gelengkan kepalanya.

"Mana aku pernah menebar fitnah berkata bohong...?"

"Tua bangka jahanam! Apa kau lupa mengatakan tentang tugas yang kau emban dari gurumu, padahal mana buktinya, he...?" kata Kali Nyamat masih dengan nada tinggi.

Sekali ini Eyang Selaksa tertawa terbahak-

bahak. "Kali Nyamat. Saat itu kau salah paham.

Aku "

Belum sampai Eyang Selaksa selesaikan katakatanya, Kali Nyamat telah menyahut, "Kau jangan menutupi kebohonganmu di samping muridmu. Akui saja!" seraya berkata, Kali Nyamat mengarahkan pandangan matanya pada Ajeng Roro.

"Aku pantang mengakui segala hal yang tak pernah kulakukan! Nah, Kali Nyamat, bukankah kau tadi hendak turunkan tangan untuk membunuhku? Lakukanlah!"

Kali Nyamat tampak bimbang. Dia memandangi Eyang Selaksa dengan pandangan yang sukar diartikan.

"Kau ragu-ragu. Apa hendak ada yang akan kau kemukakan...?!" berkata Eyang Selaksa tatkala menangkap isyarat kebimbangan di wajah perempuan bertubuh gendut ini.

Kali Nyamat keluarkan gumaman yang tak dapat dimengerti. Setelah agak lama lantas berkata, "Selaksa! Sebelum kau kukirim ke alam lain, dan jika kata-katamu bisa dipegang, katakan padaku, di mana sekarang beradanya Mekar Sari!"

Eyang Selaksa dongakkan kepala memandang langit. Dari mulutnya terdengar suara tawa panjang. Tatkala tawanya berhenti, dia berkata.

"Itu urusanmu! Orang yang akan mati tak layak memberitahu!"

Paras wajah Kali Nyamat merah mengelam.

Namun sesaat kemudian terdengar cekikikannya.

"Jika begitu, baiklah! Aku urungkan niat untuk membunuhmu, namun aku akan mencabuti satu persatu anggota tubuhmu sampai kau mengaku di mana beradanya Mekar Sari!"

"Ha... ha... ha.... Jangankan kau cabuti satu persatu anggota tubuhku. Mesti kau cabuti juga satu persatu rambut di seluruh tubuhku, aku tak akan memberitahukan padamu, karena itu adalah urusanmu!"

"Hm.... begitu? Akan kita lihat nanti, apakah ucapanmu benar! Hik.... Hik.... Hik...!"

Habis berkata begitu, Kali Nyamat takupkan kedua tangannya sejajar perut. Didahului bentakan nyaring, tubuhnya tiba-tiba berkelebat lenyap. Dan, tiba-tiba saja sosoknya telah menukik deras ke arah Eyang Selaksa dengan kedua kaki menekuk sebatas lutut! Sementara kedua tangannya bersiuran merentang pulang balik!

Meski tadi telah berkata menyerahkan diri, namun tampaknya Eyang Selaksa tidak mau mati konyol. Begitu sosok besar Kali Nyamat lenyap, kakek bercaping lebar ini angkat kedua tangannya di atas kepala. Sementara tubuhnya dia geser ke samping kanan seraya tunggingkan pantat agar kepalanya dapat sedikit merunduk.

Ketika satu depa lagi tubuhnya memapasi tubuh Eyang Selaksa, Kali Nyamat buka sepasang kakinya dan digerakkan pulang balik ke depan dan ke belakang, sementara tangannya bergerak menyilang.

Plaaasss!

Terdengar suara benda tersambar. Caping lebar di atas kepala Eyang Selaksa amblas mental dan hancur berkeping-keping terkena sambaran tangan kanan Kali Nyamat! Sementara terjangan sepasang kaki Kali Nyamat menghajar angin sejengkal di samping pinggang Eyang Selaksa.

Saat itulah Eyang Selaksa tebaskan kedua tangannya ke bawah, memburu sepasang kaki Kali Nyamat yang luput menghajar sasaran. Namun Eyang Selaksa jadi melengak kaget, karena kejap itu juga dengan gerakan cepat menakjubkan, Kali Nyamat putar tubuhnya. Sepasang kakinya menyapu dengan tubuh membalik!

Prakkk!

Eyang Selaksa menjerit tertahan. Bahunya terasa ambrol terhantam kaki kiri Kali Nyamat. Tubuhnya mental berputar dan terhuyung-huyung ke belakang. Kakek ini mencoba menahan gerak tubuhnya agar tidak roboh, namun nyatanya putaran itu begitu keras, hingga lutut kakek ini tampak goyah. Pada akhirnya dengan dipegangi bahu kirinya, Eyang Selaksa jatuh terduduk!

Di lain pihak, Kali Nyamat segera melayang turun dan menjejak tanah dengan tawa cekikikan. Agak jauh, Ajeng Roro mengawasi dengan bibir saling mengatup.

"Selaksa! Berdoalah sebelum ajal merenggut nyawamu!" berkata Kali Nyamat. Dari balik pakaiannya yang ternyata rangkap dua, perempuan bertubuh subur ini keluarkan sebuah selendang panjang berwarna merah.

"Kali Nyamat! Kau tak usah banyak ucap. Namun perlu kau camkan, mati hidup seseorang tidak ditentukan oleh manusia!" kata Eyang Selaksa seraya merambat bangkit.

"Hik.... Hik.... Hik.... Seseorang memang baru akan mengingat Tuhan di kala hidupnya telah berada di ujung tanduk. Tapi kita buktikan dahulu, apakah tanganku memang tidak sanggup merenggutkan satu persatu anggota tubuhmu dan mengantarmu ke liang lahat!"

Habis berkata begitu Kali Nyamat kebutkan selendang merahnya. Serangkum angin deras berkelebat angker dan mendahului meluruk ke arah Eyang Selaksa. Eyang Selaksa dorong kedua tangannya ke depan. Sementara kedua kakinya diangkat sejengkal di atas tanah!

Plaaarrr!

Terdengar letupan keras saat angin yang keluar dari kedua tangan Eyang Selaksa melabrak deru angin yang mendahului kelebatnya selendang. Hebatnya, gerakan selendang itu seakan tertahan oleh hamparan angin yang ternyata menderu tak henti-henti dari telapak tangan Eyang Selaksa.

"Edan!" sungut Kali Nyamat sambil menarik selendang merahnya. Tubuhnya dia tarik ke belakang. Selendang merah itu kini tiba-tiba menjadi keras serta menghampar lurus! Dan tetap mengapung di atas udara!

Seraya membentak garang, mendadak Kali Nyamat berkelebat. Dan tahu-tahu tubuhnya telah melangkah cepat di atas selendang! Hebatnya, dimuati tubuh sebesar itu, selendang merah itu tak meliuk!

Seraya melengak kagum, Eyang Selaksa tambah tenaga dalamnya, hingga saat itu juga dari kedua telapak tangannya gelombang angin deras menyambar tak henti-hentinya.

Kali Nyamat membeliakkan sepasang matanya. Sanggulan rambutnya terlepas dan rambutnya berkibar-kibar, demikian juga pakaiannya. Sejenak tubuh perempuan ini tampak oleng di atas selendang. Namun sebelum tubuhnya jatuh terjerembab dari atas selendang, Kali Nyamat bergerak cepat gulingkan tubuhnya! Kini   tubuh besar perempuan ini bergerak menggelundung di atas selendang dan menerabas deru

angin serangan Eyang Selaksa!

Begitu hampir sampai ujung selendang, tibatiba keluar seruan keras dari mulut Kali Nyamat. Tubuhnya terhenti mendadak, dan serta-merta kaki kanannya bergerak melejang ke dada Eyang Selaksa!

Kakek ini segera turunkan tangannya dan disilangkan di depan dada untuk menangkis!

Namun kakek ini tertipu, karena begitu sejengkal lagi kaki kanan Kali Nyamat menghantam tangan, perempuan besar ini tarik kaki kanannya. Tubuhnya berputar dan kini dari arah depan dengan duduk kedua kaki Kali Nyamat menghentak dari arah kanan dan kiri mengarah pada kepala Eyang Selaksa!

Merasa tertipu, kakek ini cepat pula angkat kembali kedua tangannya untuk melindungi kepalanya. Saat itulah dengan membentak kedua tangan Kali Nyamat bergerak menggedor dada Eyang Selaksa yang lowong!

Desss!

Eyang Selaksa terpekik kesakitan. Tubuhnya melayang jauh ke belakang! Namun bersamaan dengan masuknya serangan Kali Nyamat, Eyang Selaksa masih sempat hentakkan kedua tangannya pada dua kaki Kali Nyamat. Hingga bersamaan dengan melayangnya tubuh Eyang Selaksa, tubuh besar Kali Nyamat terjerembab ke atas tanah dengan pantat terlebih dahulu!

Bummm!

Perempuan bertubuh besar ini menggerutu habis-habisan. Tanah tempat dirinya jatuh terjerembab bergetar hebat. Hebatnya, seakan tak merasakan sakit, Kali Nyamat segera bangkit dan mengebutkan selendang merahnya. Selendang itu meliuk ke atas dan sekejap kemudian ujungnya telah tertangkap oleh tangan Kali Nyamat.

Di seberang, Eyang Selaksa terbatuk-batuk dan meludah ke tanah. Darah berwarna kehitaman nampak keluar pertanda dia telah terluka cukup dalam.

Sejenak Kali Nyamat pandangi kekasih di masa mudanya itu dengan pandangan aneh. Kebimbangan kembali menyeruak di wajah perempuan gembrot ini. Namun tatkala teringat pada tingkah Eyang Selaksa yang telah menyakitinya, matanya berkilat-kilat merah. "Edan! Kenapa aku selalu tak tega jika keadaannya sudah begini? Apakah aku masih mencintainya...? Benar-benar edan! Kalau dia mau kasih tahu di mana beradanya Mekar Sari, mungkin aku masih memperpanjang usianya. Bila tidak, apa boleh buat! Dia harus mampus, meski sebenarnya aku berat...," membatin Kali Nyamat. Lalu perempuan ini melangkah mendekati Eyang Selaksa yang kini telah berdiri seraya

batuk-batuk memegangi dadanya.

"Bila perempuan gembrot ini terus hendak memaksakan niat untuk membunuh Eyang, aku tak akan tinggal diam, meski apa yang dikatakan Eyang belum tentu benar adanya!" berkata Ajeng Roro dalam hati sambil terus memperhatikan. Tangan gadis ini diamdiam telah dialiri tenaga dalam untuk berjaga-jaga.

"Selaksa!" kata Kali Nyamat begitu hampir dekat. "Sekali lagi kuperingatkan. Katakan di mana beradanya Mekar Sari. Dan sebagai imbalannya, hari ini usiamu ku perpanjang!"

Eyang Selaksa luruskan tubuh. Sepasang matanya menatap tajam. Namun sesaat kemudian yang terdengar adalah suara tawanya yang tersendatsendat.

Di lain pihak, seraya tetap menunggu jawaban, Kali Nyamat pun keluarkan tawa cekikikan, membuat Ajeng Roro geleng-geleng kepala seraya menggumam.

"Heran. Baik yang akan menurunkan tangan kematian atau yang hendak menghadapi kematian sama-sama sintingnya. Mereka sepertinya anak-anak yang main-main "

Karena ditunggu hingga lama Eyang Selaksa hanya tertawa-tawa, Kali Nyamat habis kesabaran. "Tampaknya kau pilih mati daripada buka suara! Hik.... Hik.... Hik...!"

Eyang Selaksa hentikan tawanya. Kepalanya tengadah ke atas memandang langit.

"Sebenarnya tidak juga, Kali Nyamat. Aku hanya ingin mengukur rasa cintamu padaku! Apakah masih menggelora seperti diriku!"

Mendengar perkataan Eyang Selaksa, Kali Nyamat memperkeras cekikikannya. Namun tiba-tiba perempuan ini hentikan cekikikannya. Setelah meludah tiga kali ke tanah, dia berkata dalam hati, "Tua edan tak tahu diri. Saat menghadapi kematianmu masih sempat bicara cinta segala macam!" lalu Kali Nyamat berkata dengan suara tinggi.

"Puiiih. Cinta. Apa kau kira dengan katakatamu itu aku jatuh kasihan padamu. Hik.... Hik....

Hik ! Kau salah alamat Selaksa!"

Habis berkata begitu, Kali Nyamat kebutkan kembali selendang merahnya.

Terdengar suara angker berkelebatnya selendang yang diiringi menebarnya hawa panas!

Eyang Selaksa yang telah terluka dalam tercekat. Dia sama sekali tak menduga jika kekasih di masa mudanya itu benar-benar hendak menurunkan tangan kematian padanya.

Seraya menindih rasa tak percaya, Eyang Selaksa jatuhkan diri di atas tanah, menghindari sabetan selendang merah yang telah diketahui kehebatannya. Namun tampaknya Kali Nyamat tak memberi peluang pada Eyang Selaksa. Karena begitu selendangnya menghajar tempat kosong, Kali Nyamat kembali kebutkan selendang ke arah mana Eyang Selaksa bergerak menghindari

Karena saat itu Eyang Selaksa telah terluka, membuat gerakannya tidak lagi gesit, hingga pada suatu kesempatan, selendang merah Kali Nyamat berhasil melibat kaki Eyang Selaksa dan serta-merta disentakkan dengan keras.

Tubuh Eyang Selaksa terbanting ke atas tanah dan kini bergulingan ke arah Kali Nyamat. Sementara Kali Nyamat dengan tertawa cekikikan menarik selendangnya dan berkelebat berputar mengitari tubuh Eyang Selaksa.

Eyang Selaksa terpekik beberapa kali, malah pada pekikan yang terakhir, tidak lagi terdengar suara, hanya korokan laksana orang sekarat.

Ajeng Roro yang melihat kejadian itu segera angkat kedua tangannya dan hendak dihantamkan pada Kali Nyamat.

Namun Ajeng Roro segera urungkan niat tatkala dari arah samping mendadak berkelebat bayangan hijau dan bersamaan dengan itu menderu angin dahsyat menghantam pada pergelangan tangan Kali Nyamat!

"Edan! Siapa campuri urusan orang?!" teriak Kali Nyamat seraya palingkan wajah. Tangannya yang memegang selendang dan kini sedang menarik tubuh Eyang Selaksa bergetar hebat. Meski perempuan bertubuh gembrot ini sudah coba kerahkan tenaga untuk bertahan, namun hantaman angin itu seakan tak bisa dibendung, hingga dengan berteriak marah, perempuan itu lepaskan tarikannya pada tubuh Eyang Selaksa!

Tubuh Eyang Selaksa bergulingan deras di atas tanah dan baru terhenti saat Ajeng Roro melompat menahan. Dengan perlahan-lahan disandarkannya tubuh eyangnya itu di batang pohon.

"Eyang.... Aku akan membantu dengan salurkan tenaga dalam ke tubuhmu!" kata Ajeng Roro seraya jongkok dan siap tempelkan telapak tangannya pada dada kakek gurunya itu.

Namun Eyang Selaksa menggeleng perlahan dan berkata, "Tak usah Roro. Aku tak apa-apa. Segalanya akan normal kembali.... Hm.... Siapa gerangan orang yang menyelamatkan aku tadi...?"

Baru saja Eyang Selaksa berkata begitu, terdengar suara lantang Kali Nyamat, membuat dua orang guru dan murid ini sama-sama palingkan wajah ke arah beradanya Kali Nyamat.

"Siapa kau kecoa kecil?!" bentak Kali Nyamat dengan wajah merah padam. Sepasang matanya membeliak seolah hendak meloncat keluar. Dagunya terangkat dengan pelipis bergerak-gerak. Namun mulutnya keluarkan tawa cekikikan, membuat tubuhnya bergerak-gerak. Lalu terdengar suara gemerincingnya anting-anting.

"Heran. Sewaktu bertempur dengan Eyang, tak kudengar suara gemerincingnya anting-anting...," gumam Ajeng Roro seraya memperhatikan daun telinga Kali Nyamat.

"Itulah, Roro. Dia memang tokoh yang ilmunya sukar diukur. Dalam gerakan bertempur pun dia masih dapat meredam suara gemerincingnya antinganting yang dipakainya. Kau tahu, kenapa sewaktu bertempur denganku, Kali Nyamat meredam suara gemerincing anting-antingnya?"

Ajeng Roro gelengkan kepala tanpa menoleh. Pandangannya masih lurus ke depan, mencoba mengenali sosok yang kini berhadapan dengan Kali Nyamat, karena sosok itu membelakangi dirinya.

"Karena anting-anting yang dikenakan Kali Nyamat adalah anting-anting pemberianku dahulu...!"

"Eyang.... Bukankah orang itu...," Ajeng Roro tak meneruskan ucapannya. Dia seakan belum yakin benar dengan pandangan matanya. Eyang Selaksa tersenyum, namun dia segera meringis, karena tatkala dibuat tersenyum dadanya terasa sakit. Setelah menyalurkan tenaga dalam, kakek ini kembali tersenyum dan berkata.

"Betul! Orang itu adalah Aji...," kata Eyang Selaksa seraya memperhatikan ke depan.

Mendengar ucapan Eyang Selaksa, Ajeng Roro tanpa sadar melompat girang. Namun gadis ini segera sadar dan cepat tekap mulutnya yang hendak berteriak. Paras mukanya bersemu merah dan tak berani berpaling ke arah eyangnya.

Di seberang, sosok berbaju hijau yang telah menyelamatkan Eyang Selaksa tersenyum-senyum dibentak demikian rupa oleh Kali Nyamat. Malah, dengan tawa tertahan, sosok hijau ini memandangi perempuan bertubuh besar di hadapannya, membuat orang yang dipandangi semakin membeliakkan sepasang matanya.

"Edan! Siapa ini orang? Tenaga dalamnya begitu luar biasa!" membatin Kali Nyamat seraya melotot memperhatikan orang di hadapannya. Lalu dengan suara galak, dia kembali berkata, "Kau pilih mati atau buka suara! Hik.... Hik.... Hik...!"

Orang berbaju hijau di hadapan Kali Nyamat sejenak masih tersenyum-senyum. Orang ini yang ternyata adalah seorang pemuda tampan dan bukan lain adalah Aji Saputra Alias Pendekar Mata Keranjang 108 malah palingkan wajah. Menatap pada Eyang Selaksa dan membungkuk sebentar. Lalu alihkan pandangan pada Ajeng Roro dengan kerdipkan sebelah matanya.

Eyang Selaksa mengangguk perlahan, sementara Ajeng Roro balas menatap dengan semburat bersemu merah. Apalagi tatkala didengarnya Eyang Selaksa batuk-batuk kecil dan mendehem.

Di lain pihak, merasa tidak digubris, Kali Nyamat naik pitam. Seraya cekikikan Kali Nyamat kebutkan selendang merahnya perlahan ke arah tubuhnya. Serta-merta selendang merah itu melilit pinggang Kali Nyamat. Dan begitu selendang melilit, Kali Nyamat segera berkelebat. Sosoknya yang begitu besar lenyap dari pandangan, membuat Pendekar 108 terperangah kaget dan tak menduga.

"Gila! Bagaimana orang segede itu bisa bergerak secepat ini? Atau mataku yang sudah tidak dapat melihat dengan sempurna?" membatin murid Wong Agung ini seraya kucek-kucek sepasang matanya dengan punggung tangan kanan.

Selagi Pendekar 108 dibuat tak percaya dengan penglihatan matanya, terdengar suara cekikikan yang diseling dengan suara gemerincing. Dan belum sempat Pendekar 108 melihat apa yang terjadi, dari atas kepalanya menderu angin dahsyat.

"Aji! Awas serangan!" teriak Ajeng Roro seraya gigit bibir.

Seraya menekan rasa terkejut, Pendekar Mata Keranjang cepat tengadahkan kepala. Lalu dengan geser kaki kanannya kedua tangannya diangkat ke atas kepala.

Praaak!

Terdengar benturan keras. Tubuh Aji Saputra terseret hingga satu tombak ke samping. Untung dia segera membuat gerakan jungkir balik dua kali. Jika tidak, niscaya tubuhnya akan jatuh terjengkang. Di lain pihak, Kali Nyamat yang ternyata baru saja sapukan kaki kanannya memburu ke arah Pendekar 108.

"Gila! Tanganku terasa hendak terpenggal. Siapa sebenarnya perempuan ini? Eyang Selaksa tidak "

Murid Wong Agung ini tak bisa melanjutkan kata hatinya, karena saat itu juga sosok besar Kali Nyamat telah menerjang ke arahnya dengan kedua kaki dan tangan bergerak bersiutan yang sukar ditangkap pandangan mata.

Mendapati serangan demikian, Pendekar 108 tak mau bertindak gegabah. Dia sadar, orang yang dihadapi kali ini adalah seorang berkepandaian tinggi. Maka seraya angkat kedua tangannya di atas kepala, Aji putar tubuhnya dengan cepat.

Kali Nyamat tertawa cekikikan. Tiba-tiba dia tukikkan tubuhnya tanpa melakukan serangan. Malah dengan tetap tertawa-tawa dia berdiri tegak di hadapan Aji yang masih memutar tubuhnya.

Pendekar Mata Keranjang 108 merasa heran, karena sekian lama memutar tubuh, dia tak merasakan adanya serangan, bahkan menderanya angin pun tidak. Dengan rasa heran melanda pikiran, murid Wong Agung ini hentikan putaran tubuhnya. Namun pada saat itulah dua buah benda besar berkelebat menghantam ke arah muka Pendekar 108.

Pendekar 108 terkejut bukan alang kepalang. Serentak Pendekar 108 dorongkan kedua tangannya. Namun gerakannya terlambat. Karena baru saja kedua tangannya bergerak, dua tangan telah berkelebat menyambar!

Paaasss!

Rambut panjang Pendekar Mata Keranjang 108 yang dikuncir ekor kuda tersambar bagian samping. Hingga ikatan rambut itu terlepas. Untung murid Wong Agung ini cepat rundukkan kepalanya. Hingga meski rambutnya sedikit terabas, namun kepalanya tetap terhindar dari hantaman telak.

Namun Pendekar 108 tidak begitu saja bisa enak-enakan. Karena begitu mendapati serangan yang dilancarkan hanya bisa memangkas sedikit rambut lawan, Kali Nyamat keluarkan dengusan keras. Dan bersamaan dengan itu dia dorong kedua tangannya, kirimkan serangan jarak jauh! Karena setelah berhasil menghindar, Pendekar 108 cepat meloncat ke belakang.

Wuuusss!

Angin dahsyat laksana gelombang dan keluarkan suara menggemuruh menyambar ke arah Pendekar 108.

Pendekar 108 kepalkan kedua tangan, lalu dipukulkan ke depan. Murid Wong Agung ini ternyata telah kirimkan pukulan 'Segara Geni'. Hingga saat itu juga dari kedua tangannya yang seketika dibuka melesat gelombang angin yang membawa hawa panas dan suara menggeledak.

Plaaarrr!

Terdengar letupan hebat ketika dua serangan bertenaga dalam itu bertemu di udara. Bersamaan dengan terdengarnya letupan, tubuh Pendekar 108 terhuyung-huyung ke belakang. Di pihak lain, tubuh Kali Nyamat hanya tersurut dua langkah ke belakang dan tetap dalam posisi tegak kokoh.

"Kunyuk Edan. Waktuku akan habis jika hanya main-main begini!" rutuk Kali Nyamat seraya lepas selendang merah dari pinggangnya.

"Aji. Hati-hati...!" seru Ajeng Roro begitu melihat Kali Nyamat melepas selendang merahnya.

Kali Nyamat palingkan wajah pada Ajeng Roro, lalu beralih pada Pendekar 108 yang kini telah keluarkan kipas ungunya dan dikipas-kipaskan di bawah dagu.

"Hik... Hik... Hik...! Tampaknya kalian sepasang kekasih. Betul?" berkata Kali Nyamat seraya gelenggelengkan kepala, membuat gemerincing antingantingnya berbunyi makin keras.

"Salah, betul!" jawab Pendekar Mata Keranjang 108 seraya kerlingkan mata pada Ajeng Roro. Yang dikerling mendelik dengan paras merah padam sulit diartikan. Sementara Eyang Selaksa kembali gelenggelengkan kepala.

"Siapa kau?! Dan apa kuasamu tanya-tanya masalah hubunganku?!" sambung Pendekar 108 seraya tetap berkipas-kipas.

Kali Nyamat memperkeras cekikikannya. Lalu berkata.

"Anak bodoh! Siapa tanya hubunganmu. Aku hanya menduga. Karena jika betul, aku gembira sekali. Berarti Tua Bangka itu tidak menjadikan gadis itu sebagai gundiknya. Hik.... Hik.... Hik...!"

"Tampaknya kau cemburu. Apa kau mencintai eyangku itu...?!" kata Pendekar 108 seraya lirikkan sepasang matanya.

Kali Nyamat serta-merta hentikan cekikikannya. Sepasang matanya menatap tajam tak kesiap. Namun ekor sebelah matanya melirik ke arah Eyang Selaksa yang tampak terkejut juga mendengar ucapan Aji.

"Ha.... Ha.... Ha...! Dari perubahan wajahmu, dugaanku tak meleset. Kau sebenarnya menyintai eyangku. Betul?" kini balik Pendekar 108 yang mengajukan pertanyaan.

"Haram jadah! Siapa sudi menyintai Tua Bangka bermulut pembual itu?" kata Kali Nyamat seraya memberengutkan wajah. Perempuan ini lantas meludah ke tanah dengan menampakkan rasa jijik.

Di seberang, Ajeng Roro menggerendeng panjang pendek, sementara Eyang Selaksa tertawa terpingkal-pingkal.

"Jahanam! Apa yang kau tertawakan?! Hik....

Hik.... Hik...!" bentak Kali Nyamat seraya luruskan pandangan pada Eyang Selaksa. Dan demi dilihatnya Eyang Selaksa terus tertawa, Kali Nyamat marah. Tanpa berkata-kata lagi perempuan bertubuh gembrot ini lepaskan selendang merahnya ke arah Eyang Selaksa.

Namun sebelum selendang itu berkelebat, Pendekar 108 segera melompat seraya kibaskan kipas ungunya.

Wuuuttt!

Kali Nyamat segera berpaling. Selendang merah dia tarik dan serta-merta dikebutkan ke arah Pendekar Mata Keranjang.

Selendang merah meliuk deras dengan keluarkan suara menggidikkan.

Pendekar Mata Keranjang 108 terperangah kaget, karena sambaran angin yang melesat lepas dari kipasnya seakan terabas dan hilang lenyap tertelan sambaran selendang! Malah liukan selendang itu kini menghampar ke arahnya!

Untuk kedua kalinya murid Wong Agung ini kibaskan kipasnya. Kali ini dengan pengerahan tenaga penuh, bahkan tangan kirinya pun ikut bergerak menghantam ke depan dengan telapak terbuka.

Liukan selendang merah tiba-tiba laksana tertahan oleh hamparan angin dahsyat, hingga gerakannya lamban bahkan mental balik!

Kali Nyamat melengak saking kagetnya. Baru pertama kali ini serangannya dapat ditahan dan mental balik menghantam ke arahnya sendiri. Dari mulutnya terdengar suara sumpah serapah. Namun semua itu hanya sesaat. Sebentar kemudian yang terdengar adalah suara cekikikannya serta gemerincing antinganting giwangnya yang bergerak seiring berkelebatnya Kali Nyamat ke arah samping. Dari samping, perempuan gembrot ini kebutkan kembali selendang merahnya.

Selendang merah meliuk ke depan. Namun kali ini tiba-tiba lurus dan menghampar di udara. Lalu dengan gerakan yang sulit ditangkap mata, kedua tangan Kali Nyamat mendorong ke depan. Sementara pegangan tangannya pada ujung selendang dia lepaskan!

Selendang merah bergerak lurus ke depan dengan cepat.

Di seberang, Pendekar Mata Keranjang 108 kembali dibuat terkagum-kagum dengan serangan lawan. Seraya melompat ke belakang, pendekar murid Wong Agung ini segera kebutkan kipasnya, sedang tangan kirinya menyentak ke depan.

Seberkas cahaya keputihan menebar keluar dari kipas dan tangan Pendekar Mata Keranjang 108.

Anehnya, gerak laju selendang merah tak terhalangi, malah menerabas cahayanya keputihan dan meluruk ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Aji kembali membuat gerakan melompat ke belakang untuk menghindar. Namun kali ini gerakannya kalah cepat dengan laju selendang. Untung dia masih sempat menggeser tubuh ke samping, hingga meski tubuhnya terbanting deras namun dada dan kepalanya selamat dari hantaman lurus selendang yang ternyata berubah keras laksana kayu pipih!

"Gila! Ini baru benar-benar gila!" rutuk Pendekar 108 seraya merambat bangkit. Sementara Ajeng Roro menyaksikan dengan rasa cemas dan khawatir. Bahkan tampaknya dia ingin juga segera melangkah maju. Namun langkahnya tertahan tatkala didengarnya Eyang Selaksa berkata.

"Roro. Kau tak usah terlalu cemas. Kali Nyamat tak akan menurunkan tangan untuk membunuh Aji. Percayalah! Dia hanya sakit hati padaku. Tidak pada Aji...!"

"Tapi, Eyang "

"Percayalah. Aku tahu siapa Kali Nyamat !" ka-

ta Eyang Selaksa meyakinkan Ajeng Roro. "Hik.... Hik.... Hik...! Nasibmu buruk sekali, Anak Monyet! Kau harus mampus sebelum sempat bersanding dengan gadis cantik itu!"

Pendekar 108 kertakkan rahang disebut Anak Monyet. Dia alirkan tenaga dalam siap lepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'. Namun baru saja hendak bergerak, Kali Nyamat telah berkelebat. Tangan kanannya menyahut ujung selendang, dan serta-merta dikebutkan!

Selendang merah kembali meliuk. Kini lemas meliuk-liuk dengan keluarkan suara berdesir. Begitu selendang bergerak meliuk, Kali Nyamat ikut berkelebat memutar.

Pendekar Mata Keranjang 108 memekik tertahan. Karena tubuhnya terasa tegang dan tak bisa digerakkan. Ternyata selendang merah telah melilit tubuhnya!

Pendekar 108 kerahkan tenaga untuk membebaskan diri dari lilitan selendang. Namun begitu dia kerahkan tenaga, lilitan itu dirasa semakin melilit. Dan sebelum murid Wong Agung ini mendapat jalan untuk melepaskan diri, Kali Nyamat tarik selendang merahnya.

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 berputar, dan begitu lilitan terlepas, tubuh Aji terbanting di atas tanah!

Kali Nyamat melangkah mendekat. Dan kali ini, tanpa berkata-kata lagi, kaki kanannya bergerak hendak menendang tubuh Aji yang masih terkapar di atas tanah!

Saat itulah, serangkum angin dahsyat menghampar ke arah murid Wong Agung seolah menghalangi tendangan yang hendak dikirimkan Kali Nyamat.

*** EMPAT

MESKI tampak terperangah kaget, namun perempuan bertubuh gembrot ini tak hendak urungkan niat. Dia teruskan tendangan. Dan begitu tendangan sejengkal lagi menghantam, kembali serangkum angin berdesir dahsyat. Tendangan kaki Kali Nyamat melenceng menghajar angin sejengkal di samping tubuh Pendekar 108.

Kali Nyamat menggeram marah. Seraya palingkan wajah, kedua tangannya bergerak. Tangan kanan kebutkan selendang, sementara tangan kiri memukul.

Bersamaan dengan kelebatnya selendang dan melesatnya angin yang keluarkan suara menggemuruh, sesosok tubuh melenting ke udara seraya berteriak.

"Gembung! Tak layak kau bertangan besi pada anak kecil. Apalagi dia sudah tak berdaya!"

"Kau...!" desis Kali Nyamat begitu tahu siapa adanya sosok yang berteriak dan baru saja selamatkan jiwa Pendekar Mata Keranjang dari tendangan kaki.

Di hadapan Kali Nyamat berdiri tegak sesosok tubuh kurus kering. Rambutnya yang sangat tipis dan tampak kaku disanggul lurus ke atas, hingga mirip sebuah tusuk konde. Sepasang kakinya yang kurus kecil mengenakan terompah sangat besar dari kayu berwarna hitam.

"Tikus kurus! Seharusnya sejak kecil dulu kau mesti kugencet. Aku sekarang menyesal! Menyesal mengapa tidak menggencetmu sejak dulu-dulu! Hik....

Hik.... Hik !"

Orang yang memakai terompah besar dan bukan lain adalah Rayi Seroja atau Dewi Bayang-Bayang yang juga adalah adik kandung Kali Nyamat tersenyum-senyum mendengar ucapan kakaknya.

"Tikus kurus!" kembali Kali Nyamat berkata. Nada suaranya tinggi, sementara sepasang matanya tak memandang ke arah Rayi Seroja. "Lekas minggat dari hadapanku mumpung otakku masih waras. Jika tidak, aku akan menutup mata walau sama saudara! Hik.... Hik.... Hik...!"

Mendengar ancaman, Rayi Seroja bukannya takut. Dia dongakkan kepalanya sembari tersenyum. Lalu dengan enaknya duduk menggelosor seraya pandangi Pendekar 108 lalu beralih pada Eyang Selaksa dan berujung pada Ajeng Roro. Lalu dengan sedikit bungkukkan tubuh dia berkata.

"Sobatku, Selaksa. Puluhan tahun kita tak jumpa. Bagaimana keadaanmu? Terimalah salam dan hormatku...!" setelah batuk-batuk beberapa kali dan tersenyum perempuan kurus kering ini alihkan pandangannya pada Pendekar Mata Keranjang dan berkata.

"Pemuda berparas tampan, hm.... Aku rasarasa belum pernah melihat dan mengenalmu, tapi melihat sorot matamu, aku rasa kau pemuda bermata keranjang. Meski aku benci itu, namun sambutlah perkenalanku...!"

Walau dalam hati menggerendeng panjang pendek tak karuan, namun mengingat jasa serta sebutan sobat pada Eyang Selaksa membuat murid Wong Agung itu membalas sapaan Rayi Seroja dengan juraan hormat.

Lantas perempuan bertubuh kurus kering ini berpaling pada Ajeng Roro. Setelah tersenyum dia berkata, "Anak gadis berwajah cantik. Tentunya kau murid sobatku Selaksa. Hmm..., sayang aku tak punya murid laki-laki. Jika punya, mungkin sobatku Selaksa tak keberatan bila kuakan berbesan " Perempuan ini lantas mengangguk yang dibalas pula anggukan kepala oleh Ajeng Roro meski dengan raut bersemu merah.

Melihat tingkah adiknya, Kali Nyamat keraskan cekikikannya. Lalu berkata, "Tikus tolol! Kuhitung hingga tujuh. Jika kau tak segera bangkit serta angkat kaki dari depan hidungku, jangan salahkan Emak mengandungmu bila kau harus tewas di tanganku! Hik.... Hik.... Hik...!"

Rayi Seroja palingkan wajah menghadap Kali Nyamat. Setelah sunggingkan senyum dia berkata dengan wajah merah padam.

"Sialan kau, Gembung! Beraninya kau memakiku serta Emak! Aku tak akan tinggalkan tempat ini. Lagi pula apa jabatanmu hingga berani mengusirku. Ini adalah tempat sobatku Selaksa. Dialah yang berhak menentukan siapa di antara kita yang harus angkat kaki!" 

"Jahanam! Kau memang tikus yang tak mau diuntung. Sekarang saudara tinggal saudara. Terimalah kematianmu!"

"Terserah kau bilang apa. Yang pasti, kau tetap saudaraku!" sahut Rayi Seroja dengan tidak memandang.

Di seberang, baik Pendekar 108 atau Ajeng Roro geleng-geleng kepala kebingungan. Sementara Eyang Selaksa yang tampaknya sudah tahu sifat kedua orang ini hanya senyum-senyum.

Kali Nyamat yang mendapat jawaban seenaknya dari adik kandungnya ini tampaknya tak dapat lagi menguasai kemarahan yang sedari tadi ditahantahan. Perempuan bertubuh gembrot ini segera angkat tangan kirinya. Sementara tangan kanannya kebutkan selendang!

Selendang merah berkelebat angker, sementara dari tangan kiri menyambar hamparan angin dahsyat berhawa panas!

Rayi Seroja masih tampak tenang-tenang saja. Baru tatkala selendang dan hamparan angin sedepa lagi menghajar tubuhnya, perempuan kurus kering ini melesat tinggi ke udara. Di atas udara tubuhnya berputar laksana baling-baling. Dan tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring. Lalu bersamaan dengan itu sosok Rayi Seroja lenyap dari pandangan.

Di kejap kemudian, terjadilah hal yang hampir tak dapat dipercaya. Sosok kurus Rayi Seroja tahutahu bergoyang-goyang di atas selendang Kali Nyamat yang bergerak meliuk-liuk mencari sasaran!

"Ehhh.... Ehhh.   Rasa-rasanya lebih enak ber-

goyang di sini daripada harus duduk menggelosoh di sana!" berkata Rayi Seroja seraya lejang-lejangkan kedua kakinya.

Karena lejangan kaki ini bukan lejangan biasa, maka bersamaan dengan melejang-lejangnya kaki yang berterompah besar itu menebar angin dahsyat yang mengarah pada Kali Nyamat dari berbagai jurusan!

"Tikus Edan!" gerutu Kali Nyamat seraya sentakkan selendangnya. Hebatnya, begitu Kali Nyamat sentakkan selendang, Rayi Seroja rebahkan diri di atas selendang dan mencoba mencekal kelebatan selendang. Namun gerakannya kalah cepat. Sebelum tangannya berhasil mencekal kedua samping selendang, selendang itu telah tertarik ke belakang!

Mendapati hal ini, Rayi Seroja kerahkan tenaga dalam. Dan kembali terjadi hal yang luar biasa. Sosok kurus Rayi Seroja yang dalam rimba persilatan lebih dikenal dengan Dewi Bayang-Bayang duduk dengan kaki mencangklong di atas udara! Bukan hanya sampai di situ, seraya duduk mengapung di atas udara, Dewi Bayang-Bayang ini tersenyum-senyum seraya kerdipkan sepasang matanya pada Pendekar Mata Keranjang 108!

Pendekar 108 balas dengan kerdipkan sebelah matanya, membuat Eyang Selaksa tertawa tertahan, sementara Ajeng Roro alihkan pandangan dengan paras memberengut.

"Perempuan tak tahu malu. Tua-tua masih juga suka main mata!" rutuk Ajeng Roro dengan bantingkan kaki.

Di seberang, melihat Rayi Seroja enak-enakan mengapung di udara, Kali Nyamat yang juga lebih dikenal dengan gelar Dewi Kayangan keluarkan cekikikan panjang. Lantas dengan pentangkan kedua kakinya, dia kebutkan kembali selendang merahnya.

Untuk kali ini tampaknya Dewi Bayang-Bayang tak ingin lagi melewatkan kesempatan. Begitu selendang berkelebat, tubuhnya melenting ke udara. Setelah membuat gerakan berputar beberapa kali, tiba-tiba tubuhnya melayang turun dengan deras.

Dewi Kayangan putar-putar selendang merahnya, hingga selendang itu berubah menjadi laksana hamparan kayu pipih namun sebentar kemudian berubah lagi, berubah laksana bayang-bayang ular yang mengurung dan menyabet ke sana kemari dengan keluarkan suara menderu-deru.

"Sial!" terdengar rutukan dari mulut Dewi Bayang-Bayang, karena ternyata perempuan kurus kering itu tak bisa menerabas kurungan selendang. Di lain pihak, Dewi Kayangan perkeras tawa cekikikannya, lantas dengan didahului bentakan nyaring tinggi, dia tarik sedikit selendangnya, sementara tangan kirinya menyentak dari bawah!

Dewi Bayang-Bayang keluarkan suara menjerit tertahan. Selendang merah tahu-tahu telah melilit tubuhnya. Dan bersamaan dengan menyambarnya angin dari tangan kiri Dewi Kayangan, tubuh Dewi BayangBayang melenting ke udara dengan tubuh masih terlilit selendang.

Dewi Kayangan lantas tarik pulang balik selendangnya beberapa kali. Di atas udara, kembali Dewi Bayang-Bayang keluarkan jeritan tertahan beberapa kali. Tubuhnya bergerak pulang balik di udara! Seiring pulang baliknya selendang Dewi Kayangan.

Dewi Bayang-Bayang pejamkan sepasang matanya, dia coba mengerahkan tenaga untuk lepaskan diri dari belitan selendang. Namun nyatanya belitan itu begitu kuat, hingga sampai pakaiannya basah kuyup oleh keringat, perempuan kurus kering ini tak dapat lepaskan diri.

"Sial! Benar-benar sial!" kembali terdengar rutukan dari mulut Dewi Bayang-Bayang yang tubuhnya masih berada di atas udara seraya terbelit. Di bawah, Dewi Kayangan terus mempermainkan selendangnya, malah sesekali diputar lalu ditarik pulang balik sedikitsedikit. Sembari mempermainkan selendang, dari mulutnya tak henti-henti keluar suara tawa cekikikan.

Namun mendadak saja suara tawa cekikikan Dewi Kayangan terhenti. Sepasang matanya mendelik. Dari arah depan, terlihat dua buah benda hitam menerabas ke arahnya.

Dua benda hitam yang ternyata adalah terompah besar milik Dewi Bayang-Bayang menderu. Hebatnya begitu satu tombak lagi menghantam, dua terompah itu berpencar. Satu menerbas ke arah kanan bagian tubuh Dewi Kayangan, sementara satunya lagi menerabas mengarah pada bagian kiri.

Seraya mundur dua langkah, Dewi Kayangan pukulkan tangan kirinya. Terompah yang mengarah ke samping kiri mencelat balik. Namun karena tangan sebelah kanan sedang memegangi selendang, maka terompah yang datang dari sebelah kanan ini tak bisa lagi dibendungnya, hingga saat itu juga terdengar pekikan tertahan dari mulut Dewi Kayangan.

Bersamaan dengan keluarnya suara pekikan, pegangan pada selendang sedikit mengendur. Hal ini segera dipergunakan oleh Dewi Bayang-Bayang untuk melepaskan diri. Namun Dewi Kayangan tampaknya tak mau begitu saja melepaskan Dewi Bayang-Bayang. Begitu Dewi Bayang-Bayang bergerak hendak melepaskan diri, Dewi Kayangan menarik selendangnya kuat-kuat seraya jatuhkan diri di atas tanah! Ini adalah gerakan untuk membetot tubuh Dewi BayangBayang agar terbanting di atas tanah sekaligus untuk menghindarkan diri dari serangan terompah yang ternyata kembali menderu ke arahnya!

Tak ayal, tubuh Dewi Bayang-Bayang menukik deras dan terbanting di atas tanah, sementara dua terompahnya yang luput menghajar sasaran, menderu berputar dan kembali ke kedua kakinya!

Hebatnya, begitu terompah telah terpakai kembali, Dewi Bayang-Bayang segera bangkit dan berkelebat. Tahu-tahu ujung selendang telah terpegang oleh kedua tangan Dewi Bayang-Bayang.

Meski sedikit terkejut, Dewi Kayangan cepat bangkit. Lalu dengan kerahkan tenaga dalam pada kedua kakinya, kedua tangan Dewi Kayangan menarik kuat-kuat selendang merahnya.

Terjadilah tarik-menarik. Dewi Bayang-Bayang segera pula kerahkan tenaga dalam pada kedua kaki dan tangannya.

Keringat mulai tampak meleleh dari sekujur tubuh dua orang ini. Namun ternyata tenaga dalam Dewi Bayang-Bayang masih berada di atas Dewi Kayangan. Terbukti sesaat kemudian kedua kaki Dewi Kayangan nampak goyah, dan perlahan-lahan tubuhnya terseret maju ke depan. "Edan!" teriak Dewi Kayangan. Sebelum tubuhnya terus terseret, perempuan bertubuh gembrot ini bantingkan sepasang kakinya di atas tanah. Tubuhnya melenting setinggi satu tombak. Dan serta-merta tubuh gembrot itu menggelundung deras di atas selendang.

Dewi Bayang-Bayang tak mau bertindak ayal. Begitu tubuh Dewi Kayangan menggelinding ke arahnya, dia membentak garang. Tubuhnya membumbung ke udara. Dan dari atas udara, Dewi Bayang-Bayang lalu membuat gerakan berputar ke bawah beberapa kali.

Dewi Kayangan menjerit keras. Kini tubuhnya yang terlilit selendangnya sendiri. Saat itulah Dewi Bayang-Bayang sentakkan pegangan pada ujung selendang dan dilepaskan!

Tak ayal, tubuh gembrot Dewi Kayangan terbanting di atas tanah dengan derasnya.

Sejenak Dewi Kayangan diam tak bergerakgerak. Tapi sesaat kemudian, dia tampak membuka kelopak matanya dan merambat bangkit seraya pegangi pantatnya. Namun baru saja tubuh gembrotnya bangkit, kedua kakinya goyah, hingga tak lama kemudian dia jatuh terduduk.

"Gembung! Cukup sekali aku berkata padamu. Minggat dari sini!" teriak Dewi Bayang-Bayang dengan bibir sunggingkan senyum.

Sepasang mata Dewi Kayangan membeliak pandangi Dewi Bayang-Bayang, lalu beralih pada Pendekar Mata Keranjang 108. Lalu pada Eyang Selaksa. Agak lama dia pandangi kakek ini. Mulutnya bergerakgerak mengucapkan sesuatu yang tidak bisa ditangkap pendengaran.

Eyang Selaksa sendiri saat itu sedang pandangi Dewi Kayangan. Bibirnya sunggingkan senyum aneh. Lalu mulutnya terbuka hendak berkata. Namun sebelum ucapan keluar, Dewi Kayangan telah bangkit dan melangkah pergi seraya pegangin pantatnya. Sementara tangan kanannya pegangi ujung selendang yang masih meliuk-liuk di atas tanah mengikuti langkah Dewi Kayangan.

"Gembung! Kau sudah tua, rubahlah perangaimu! Jangan turutkan nafsu!" teriak Dewi BayangBayang seraya melangkah ke arah Eyang Selaksa.

Dewi Kayangan palingkan wajah. Dia cekikikan dahulu sebelum berkata.

"Tikus kurus! Hari terus berputar. Saatnya akan datang untuk bertemu lagi. Emak pasti akan menyesal. Menyesal melihat kau terkapar!"

Habis berkata, kembali Dewi Kayangan arahkan pandangan pada Eyang Selaksa. Lalu balikkan tubuh dan berkelebat. Tubuhnya serta-merta lenyap dari pandangan. Yang terdengar kini hanyalah suara cekikikannya yang berseling-seling dengan suara gemerincing anting-anting.

Begitu suara gemerincing dan cekikikan lenyap, Dewi Bayang-Bayang alihkan pandangan pada Eyang Selaksa dan berkata.

"Sobatku, Selaksa. Harap maafkan perbuatan kakakku. Dia tampaknya belum dapat menghapus kisah lama. "

Dengan paras agak merah, Eyang Selaksa anggukkan kepala.

"Aku mengerti. Dan itu adalah salahku. Hmmm.... Selamat datang di Kampung Blumbang. Silakan masuk "

Dewi Bayang-Bayang dongakkan kepala. Lalu menggeleng perlahan.

"Sayang sekali. Aku masih ada perlu, jadi aku harus cepat tinggalkan tempatmu. Hari masih panjang, kalau ditakdirkan kita pasti akan berjumpa lagi   Aku

pamit!" habis berkata Dewi Bayang-Bayang balikkan tubuh. Saat itulah Pendekar 108 melangkah mendatangi dan menjura hormat.

"Terima kasih atas pertolonganmu. Kalau boleh tahu, siapa kau...?" berkata Pendekar 108 seraya angkat kepala dan pandangi perempuan di hadapannya.

Dewi Bayang-Bayang elus rambutnya yang kaku. Sebelah matanya dikerdipkan. Lalu tersenyum dan berkata.

"Kau tentunya telah dengar bagaimana perempuan gembrot tadi memanggilku. Itulah namaku! Hmmm.... Kau sendiri ?"

Pendekar 108 usap-usap ujung hidungnya. Lalu menyibakkan rambut yang menghalangi pandangan matanya dan berkata seraya menahan tawa.

"Namaku Aji Saputra. Murid Eyang Selaksa dan Wong Agung "

Dewi Bayang-Bayang buka mulutnya lebarlebar seakan hendak keluarkan tawa. Namun yang terlihat kemudian adalah senyuman.

"Jadi kau manusia yang disebut-sebut sebagai Pendekar Mata Keranjang 108. Ingat. Jangan karena digelari Mata Keranjang 108 lantas kau mempermainkan perempuan seenaknya saja. Selamat tinggal !"

Dewi Bayang-Bayang lantas melangkah perlahan. Terdengar suara berdebam terompahnya. Namun semua orang di situ jadi melengak heran. Ternyata saat itu sosok Dewi Bayang-Bayang telah lenyap. Yang tampak hanyalah bayangan sosoknya serta suara berdebam terompahnya yang makin lama makin perlahan sebelum akhirnya hilang sama sekali.

*** LIMA

ORANG-ORANG aneh yang berilmu tinggi. Datang dan pergi begitu cepat seakan ada saja yang diurusi...," gumam Pendekar Mata Keranjang 108 seraya melangkah ke arah Eyang Selaksa.

Setelah dekat, murid Wong Agung ini segera menjura hormat. Namun ekor matanya melirik ke arah Ajeng Roro yang masih duduk di samping Eyang Selaksa.

Eyang Selaksa menganggukkan kepala. Lalu berkata perlahan.

"Kebetulan sekali kau datang. Sudah berapa lama aku mengharap bisa jumpa denganmu "

Sedikit terkejut, Pendekar 108 segera angkat kepalanya dan berkata.

"Tentunya ada hal penting yang akan Eyang sampaikan "

Eyang Selaksa tak segera menyahut. Kakek ini batuk-batuk sebentar, seraya anggukkan kepala dia berkata.

"Tentunya kau pernah dengar tentang Arca Dewi Bumi. Arca yang berisi jurus-jurus silat hebat. Beratus tahun arca itu lenyap tiada rimbanya dan tak seorang pun membicarakannya. Namun mendadak saja akhir-akhir ini terdengar selentingan jika arca itu berada di tangan seseorang. Aku sendiri tak tahu siapa adanya orang itu. Hanya saja, ada seseorang yang tahu betul tentang arca itu. Kau harus menemui dan dapat membujuk agar dia mau mengatakan di mana beradanya orang serta arca itu!"

"Eyang. Aku memang pernah mendengar arca yang kau sebutkan tadi. Tapi setelah ku hubunghubungkan jalinan kisahnya. Ternyata jalinan kisah tentang arca itu simpang siur. Hingga aku berkesimpulan jika arca itu belum tentu adanya...!"

Kembali Eyang Selaksa batuk-batuk beberapa kali. Setelah agak lama diam, akhirnya kakek ini berkata lagi.

"Memang, jika dihubung-hubungkan, orang akan berkesimpulan seperti kau. Namun memang demikian itulah yang dikehendaki orang yang memegang. Hal ini agar arca itu tetap aman tak terusik. Tapi percayalah, arca itu ada. Mendiang Guru pun pernah membicarakannya. "

Hm.... Jika demikian, katakan Eyang, siapa orang yang harus kutemui itu!"

Untuk beberapa lama Eyang Selaksa terdiam. Sepasang matanya menerawang jauh. Ajeng Roro yang sedari tadi hanya mendengarkan, kini melirikkan matanya pada Pendekar 108. Yang dilirik pun saat itu tengah memandang ke arah Ajeng Roro. Sesaat dua anak muda ini saling berpandangan. Namun Ajeng Roro segera alihkan pandangannya tatkala di dengarnya Eyang Selaksa telah berkata kembali.

"Pergilah kau ke dusun Kepatihan. Temuilah orang yang bergelar Dewi Kayangan "

Mendengar nama yang disebut, Ajeng Roro terlonjak kaget. Malah dia segera menangkupkan telapak tangannya agar suara jeritannya tidak begitu keras.

"Eyang.... Bukankah orang yang bergelar Dewi Kayangan adalah orang yang tadi di sini. Yang bertempur dengan Si kurus kering... yang bergelar Dewi Bayang-Bayang  ?!" kata Ajeng Roro.

"Betul. Dia memang Dewi Kayangan. Dan memang dialah orang yang harus kau temui, Aji !"

Mendengar perkataan Eyang Selaksa, Pendekar

108 sendiri merasa terkejut dan heran. Dia menatap Eyang Selaksa seakan ingin meyakinkan. "Eyang. Kenapa "

Ucapan Pendekar 108 tak diteruskan, karena Eyang Selaksa keburu menyahut.

"Aji. Kalau aku yang bertanya padanya, sampai mati pun dia tak akan mau mengatakan. Ini karena dia menaruh sakit hati padaku. Nah, sekarang kaulah yang punya urusan. Hanya sedikit perlu kau ketahui, Dewi Kayangan sebenarnya masih punya adik selain adiknya yang tadi itu. Adik bungsunya ini diduga kakaknya telah tewas. Padahal sebenarnya belum. Untuk apa dia hingga sampai sekarang tak menampakkan diri, sulit diduga. Dia bernama Mekar Sari yang dalam rimba persilatan lebih dikenal dengan gelar Dewi Bunga Iblis. Hanya perlu kau sadari, kau harus waspada. Baik Dewi Kayangan, Dewi Bayang-Bayang serta Dewi Bunga Iblis adalah manusia-manusia yang sukar ditebak jalan pikirannya. Kau harus hati-hati !"

"Apakah mereka-mereka itu menginginkan arca itu ?" tanya Pendekar 108.

"Semua orang yang telah berkecimpung dalam rimba persilatan tak satu pun yang tidak menginginkan arca itu. Sekali lagi, Kau jangan lengah!"

"Apakah ada petunjuk lagi...?!" Pendekar 108 ajukan pertanyaan setelah agak lama Eyang Selaksa berdiam diri.

Kakek ini gelengkan kepalanya perlahan. "Kalau kau dapat membujuk Dewi Kayangan,

petunjuk itu ada di sana!"

"Jika demikian, aku mohon diri sekarang ,"

kata Pendekar 108 seraya menjura.

"Hm.... Bagus. Bertindak memang lebih baik. Hal ini untuk berjaga-jaga. Siapa tahu ada orang lain yang telah menemukan petunjuk itu. Kalau dia orangorang kita tidak jadi masalah. Namun jika orang itu di luar golongan kita, maka kegegeran tak mungkin dapat dihindari lagi "

"Aku berangkat sekarang, Eyang...! Ajeng Ro-

ro...!"

Habis berkata begitu, Pendekar 108 meman-

dang sejenak pada Ajeng Roro. Gadis ini alihkan pandangannya. Wajahnya tampak sekali mengisyaratkan kekecewaan.

"Roro.... Sebenarnya aku ingin di sini dahulu. Namun tak pantas kiranya itu kulakukan, sementara masih ada tugas yang harus kuselesaikan. Semoga kau mengerti. Aku...," Pendekar 108 tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu Eyang Selaksa keluarkan dehem berulang kali.

Setelah mengangguk, Pendekar 108 balikkan tubuh dan melangkah perlahan meninggalkan tempat itu.

Pada suatu tempat yang agak sepi, pendekar murid Wong Agung ini hentikan langkahnya. Kepalanya menengadah memandang langit.

"Arca Dewi Bumi.... Hmm.... Jika kalau mendiang Guru dari Eyang Selaksa, yang juga berarti guru dari Eyang Wong Agung pernah membicarakannya, berarti arca itu memang benar-benar ada. Tapi kenapa petunjuk itu ada di tangan Dewi Kayangan? Ah, aku belum bisa pecahkan masalah ini sebelum bertemu dengan Dewi Gembrot itu lagi...." Lalu ingatan Pendekar 108 beralih pada Ajeng Roro.

"Roro    Kapan kita punya kesempatan panjang

untuk saling cerita dan bersenda gurau seperti dahulu? Kau masih cantik saja.... Dan ," Pendekar 108 pu-

tuskan kata hatinya. Ekor matanya melirik menebar ke samping.

"Ada orang mengawasiku...." Murid Wong Agung ini lantas balikkan tubuh. Kedua tangannya diangkat dan ditarik sedikit ke belakang. Namun Pendekar Mata Keranjang 108 segera turunkan tangannya. Sepasang matanya memandang tajam ke depan dengan tak kesiap.

***

ENAM

DI hadapan Pendekar murid Wong Agung kini berdiri seorang gadis cantik. Meski saat itu telah berdiri berhadapan, namun pandangan gadis ini mengarah pada jurusan lain. Rambutnya yang dibiarkan bergerai dan berkibar-kibar ditiup angin menampakkan lehernya yang jenjang dan tampak berkeringat. Jelas bahwa gadis ini habis berlari. Bahunya masih bergerak turunnaik seiring menghembusnya napas yang tak teratur.

"Roro...," desis Pendekar 108 seraya melangkah mendekat.

Yang didekati tak beranjak dari tempatnya.

Namun pandangannya tetap pada lain jurusan. "Busyet! Apakah dia marah padaku karena si-

kapku yang sepertinya acuh di hadapan Eyang Selaksa tadi...? Ataukah ini hanya sifat kepura-puraan kebanyakan perempuan...?" membatin Pendekar 108 seraya terus melangkah mendekat.

Begitu dekat, dan dilihatnya Ajeng Roro masih bersikap seperti semula, Pendekar Mata Keranjang mengeluh dalam hati.

"Aku tidak dapat membohongi diri, sebenarnya aku menyukai gadis ini. Dan tampaknya dia pun begitu sebaliknya. Tapi merasa tak enak dengan Eyang Selaksa. Seandainya saja dia bukan murid Eyang Selaksa "

Pendekar Mata Keranjang 108 usap-usap ujung hidungnya lalu tersenyum dan berkata.

"Roro    Maafkan sikapku tadi jika tidak berke-

nan di hatimu. Aku...," Pendekar 108 tak meneruskan ucapannya, karena saat itu Ajeng Roro bantingkan kedua kakinya dan menyela. Pandangannya kini lurus ke depan.

"Aji.... Kadang-kadang aku menyesal, kecewa! Berbulan-bulan aku menginginkan bertemu denganmu. Tapi setelah berjumpa, apa yang kudapat adalah perasaan kecewa. Kau sepertinya tak mengenalku lagi!" Pendekar 108 merasakan tenggorokannya ter-

cekat. Hingga untuk beberapa saat lamanya dia hanya bisa memandang tanpa sepatah kata pun keluar suara dari mulutnya.

"Aji...," sambung Ajeng Roro. Sepasang mata gadis ini sudah nampak berkaca-kaca. "Kadangkadang aku juga mengutuki perjalanan hidup. Kenapa kita selalu dipertemukan dalam suasana yang tidak menguntungkan. Ah, mungkinkah hal ini akan terjadi berkelanjutan...?"

"Roro.... Sebenarnya bukan kau saja yang merasakan hal seperti itu. Aku pun merasakannya. Namun apa boleh buat. Kita harus dapat menerima kenyataan. Tapi aku percaya, suatu saat nanti pasti akan datang waktu yang tepat untuk kita bersama "

Ajeng Roro gelengkan kepalanya. Kelopak matanya memejam seakan menghapus kaca-kaca di matanya yang menghalangi pandangan. "Ucapanmu benar. Tapi kapan...?" Pendekar Mata Keranjang tersenyum. Dia melangkah makin mendekat. Lalu kedua tangan Ajeng Roro digenggamnya erat-erat.

"Soal itu telah ada yang mengatur. Bersabar-

lah...!"

Ajeng Roro buka kelopak matanya. Sejenak di-

pandanginya pemuda yang kini begitu dekat di hadapannya.

"Aji.... Kau tahu, aku selalu mengkhawatirkan keselamatanmu. Apalagi jika kau mengemban tugas seperti ini "

Pendekar 108 mempererat genggaman tangannya. Lalu tangan gadis itu diangkat dan diciumnya.

"Aji.... Berjanjilah. Setelah selesai dengan urusan Arca Dewi Bumi kau akan datang ke Kampung Blumbang "

Murid Wong Agung ini anggukkan kepalanya. Saat itulah Ajeng Roro dekatkan wajahnya. Sepasang matanya dikatupkan, sementara bibirnya sedikit dibuka.

Pendekar Mata Keranjang 108 tampak dilanda kebimbangan. Tapi sesaat kemudian wajahnya bergerak mendekati gadis di hadapannya. Perlahan, dikecupnya kedua pipi dan mata gadis itu. Lalu perlahan pula bibirnya bergerak memagut bibir Ajeng Roro.

Beberapa saat lamanya kedua manusia ini terbuai oleh gejolak yang selama ini saling mereka pendam.

Pendekar 108 lepaskan genggaman tangannya. Lalu tangan itu bergerak merengkuh tubuh Ajeng Roro. Namun tangan itu lantas bergerak lagi. Ajeng Roro lepaskan pagutan bibirnya. Setengah berteriak dia berkata. ini...?!" "Jangan berbuat edan! Kau kira di mana saat

Pendekar 108 keluarkan tawa bergerai-gerai. Sementara Ajeng Roro segera undurkan kaki dua tindak ke belakang. Namun Pendekar 108 segera pegang tangannya dan berkata seraya tersenyum.

"Roro.... Setelah urusan ini selesai, aku akan minta izin Eyang Selaksa untuk mengajakmu ke Karang Langit." "Ke Karang Langit...? Bukankah itu tempat kediaman Eyang Wong Agung?" berkata Ajeng Roro seraya luruskan pandangan seolah menerka,

"Benar. Aku akan minta tolong Eyang Wong Agung untuk melamarmu pada Eyang Selaksa...!"

"Aji...!" pekik Ajeng Roro seraya terperanjat. "Kau jangan menggodaku. Aku...," Ajeng Roro tak meneruskan kata-katanya. Tenggorokannya seolah tersumbat.

"Kau ini aneh. Kalau tidak diperhatikan kau merutuki hidup. Tapi kalau disungguhi kau kira aku bercanda...!"

"Kau bersungguh-sungguh...?!"

Murid Wong Agung tak menjawab dengan katakata. Hanya kepalanya bergerak mengangguk. Lantas dia mendongak dan berkata.

"Sekarang aku harus pergi dulu   " Paras wajah

Ajeng Roro kembali berubah redup. Mulutnya membuka seakan hendak mengucapkan sesuatu. Namun hingga agak lama ditunggu tak ada suara keluar, Pendekar 108 ajukan pertanyaan. "Kau hendak mengatakan sesuatu ?" Meski mulutnya menggumam sesuatu

yang tak jelas, namun kepala gadis ini bergerak menggeleng.

"Kau menyimpan sesuatu, Roro. Katakanlah!" ujar Pendekar 108 ketika menangkap isyarat bahwa gadis di hadapannya menyimpan sesuatu yang disembunyikan. Namun Ajeng Roro kembali hanya gelengkan kepala, membuat Pendekar Mata Keranjang hanya bisa menarik napas dalam-dalam seraya balikkan tubuh hendak pergi.

"Aji.... Aku menunggumu...!" teriak Ajeng Roro begitu murid Wong Agung ini mulai melangkah meninggalkan tempat itu.

Pendekar Mata Keranjang palingkan wajah. Bibirnya tersenyum dengan kepala mengangguk.

Tak jauh dari tempat itu, tanpa disadari oleh Pendekar 108 dan Ajeng Roro sedari tadi dua pasang mata terus mengawasi. Pemilik dua pasang mata adalah dua orang berpakaian gombrong yang menutupi sekujur tubuh masing-masing orang, hanya meninggalkan bagian wajah dan telapak tangan. Namun sepertinya tak ingin dikenali, wajah kedua orang ini juga ditutup dengan kulit tipis berwarna hitam dan putih, hingga wajah keduanya sulit untuk dikenali.

"Apakah kau yakin, orang yang kita cari adalah pemuda yang sedang dimabuk asmara itu?!" berkata orang yang berwajah hitam.

"Tahan sedikit suaramu!" sergah orang yang berwajah putih seraya menyeringai pada temannya. "Aku belum dapat memastikan betul. Tapi melihat angka pada kipasnya sewaktu bertempur dengan Dewi Kayangan, aku hampir merasa pasti. Namun kenyataannya kita lihat nanti! Ayo kita kejar dia!"

"Gadis itu...?" kata orang yang berwajah hitam seraya angkat bahu menunjuk pada Ajeng Roro.

"Tua-tua keladi. Apa perlu kita dengan perempuan itu? Apa kau tertarik padanya?!"

Yang didamprat keluarkan tawa tertahan. Lalu berkata seraya letakkan tangan di depan mulut. "Tuatua nyatanya kau masih juga cemburu. Dasar perempuan!"

"Kalau mulutmu tak bisa diam, kusumpal nanti dengan kepalan tanganku!"

Orang yang berwajah hitam kembali keluarkan tawa tertahan.

"Mana aku percaya ucapanmu. Paling-paling kau akan menyumbatnya dengan bi "

Belum selesai kata orang ini, yang berwajah putih palingkan wajah. Tangan kanannya diangkat. Namun sebelum tangan itu bergerak, orang yang berwajah hitam surutkan langkah dan berkelebat ke arah perginya Pendekar Mata Keranjang 108.

Sembari mengomel panjang, orang yang berwajah putih cepat pula berkelebat menyusul.

***

TUJUH

JAHANAM betul! Larinya begitu cepat. Hampirhampir saja napas ku habis. Ke mana tujuan pemuda itu...?" berkata orang yang berwajah hitam seraya mempercepat larinya agar tak kehilangan jejak orang yang diikuti.

Orang yang berwajah putih yang lari di sebelahnya palingkan wajah. Parasnya menampakkan rasa jengkel, terbukti dari sepasang matanya yang membeliak, sementara dari hidungnya terdengar dengusan keras.

"Kau dari dulu tak pernah berubah. Terus dan terus mengeluh! Kalau tak mengingat pentingnya masalah, ingin aku berhenti dan menghajar mulutmu!"

Orang yang berwajah hitam menoleh.

"Kau juga tak pernah berubah. Bila punya kemauan tak bisa dicegah. Apalagi berurusan dengan pemuda tampan! Sialnya diriku, kenapa aku tak punya wajah setampan pemuda itu...!"

"Hik.... Hik.... Hik...! Tampaknya kau juga masih mencemburui diriku!" kata orang yang berwajah putih seraya tertawa.

"Astaga! Siapa bilang aku cemburu? Kau terlalu besar rasa. Apa kau sering berkaca dan melihat parasmu...?" "Kurang ajar! Jadi selama ini kau anggap apa diriku, he...?!" orang berwajah putih tak dapat menyembunyikan lagi rasa geramnya. Seraya terus berlari dia mengomel panjang-pendek. Sementara orang di sampingnya hanya tertawa-tawa seraya sesekali berpaling.

"Sudah! Jangan berhaha saja! Lekas kita pegang pemuda itu!"

"Ha.... Ha.... Ha...! Sebaiknya kau saja yang pegang...!"

"Kau memang betul-betul tua sialan! Tapi jika itu maumu, baiklah!" kata orang berwajah putih. Dia lantas berkelebat mendahului. Tubuhnya tiba-tiba lenyap. Tahu-tahu telah berdiri menghadang di depan Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar 108 hentikan larinya. Sepasang matanya memandang lurus tak kesiap ke depan. Keningnya berkerut dengan tangan mengusap-usap ujung hidung.

"Apa mataku tidak lamur. Di tempat yang sesunyi dan sesepi ini ada badut! Apa dia bangun kesiangan dan lupa membasuh muka...?" Setelah memperhatikan sesaat, murid Wong Agung ini berseru.

"Siapa kau...?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 hanya mendapat balasan tawa berhi... hi... hi....

"Jangkrik! Tampaknya kau sengaja menghadangku!" kata Pendekar 108 dengan suara agak meninggi. Dia nampaknya mulai jengkel melihat sikap orang di hadapannya.

"Benar. Memang sengaja menghadangmu. Bahkan kalau perlu memeriksa dan membawamu!" terdengar suara lain menyahut.

Berpaling, murid Wong Agung ini dibuat sedikit terperangah. Dari semak belukar yang menguak tak jauh dari sampingnya, muncul sesosok tubuh yang mengenakan pakaian mirip dengan orang yang menghadang. Hanya wajah orang berwarna hitam.

"Tampaknya kalian adalah rombongan badut. Dan kalau bukan, berarti kalian adalah orang-orang yang mempunyai maksud buruk! Karena tak mungkin orang berniat baik menggunakan pakaian seperti kalian!"

Orang yang berwajah hitam berkelebat, lalu menjajari orang yang berwajah putih. Sejenak dua orang ini saling pandang satu sama lain. Orang yang berwajah putih alihkan pandangan pada Pendekar 108 lalu berkata.

"Anak tampan! Kau jangan terburu berprasangka buruk. Ah, tapi itu urusanmu! Yang kami perlukan sekarang adalah dirimu! Bukankah begitu?" seraya berkata, orang ini palingkan wajah kepada orang di sampingnya.

"Betul. Betul. Tak salah ucap mu!" kata orang di samping. Lalu dia menyambung. "Aji! Jika kau ingin segala rencanamu dengan gadis cantik tadi terlaksana, turuti saja perintah kami!"

Pendekar 108 terlonjak mendapati orang di hadapannya tahu namanya. Dengan dahi berkerut murid Wong Agung ini berkata dalam hati.

"Sialan! Dari mana dia tahu namaku? Dan rencana apa yang dimaksud mereka...?" Lantas Pendekar 108 dongakkan kepala seraya berkata.

"Badut-badut kesiangan! Apa maksudmu dengan rencana?"

Orang yang berwajah putih tertawa cekikikan.

Lalu berkata pada orang di sampingnya.

"Dasar laki-laki! Belum hangat-hangat tahi ayam sudah lupa pada janji. Bukankah kau tadi berjanji pada kekasihmu hendak mengajaknya ke Karang Langit?"

"Dan akan minta tolong pada seseorang untuk melamar...?" sahut satunya sembari tertawa bergelakgelak.

Pendekar 108 surutkan langkah satu tindak ke belakang. Paras wajahnya menjadi berubah. Diamdiam dia berkata dalam hati.

"Jadi kedua badut jalanan ini telah menguntit ku sejak di Kampung Blumbang. Hm.... Siapa mereka sebenarnya? Dan apa maksud mereka...?" Pendekar 108 menatap pada orang di hadapannya satu-satu silih berganti. Mulutnya terbuka hendak berkata. Namun sebelum suaranya keluar, salah seorang dari orang di hadapannya telah mendahului angkat bicara.

"Kalau mau urusan lamar-melamar gadis itu akan berjalan tanpa halangan, ikuti saja perintah kami. Kami tidak minta yang muluk-muluk. Itu pun jika kau sudah kami periksa cocok tidaknya!"

"Sialan! Apa maksud kalian sebenarnya...?!" bentak Pendekar 108 makin tak mengerti dan makin jengkel.

Orang yang berwajah hitam anggukkan kepala pada orang yang berwajah putih. "Tunggu apa lagi. Katakan saja padanya. Jika dia menolak, berarti urusan lamaran hanya jadi impiannya!"

Orang yang berwajah putih tertawa dahulu. Lalu berkata.

"Kami memerlukan dirimu untuk mengambil sesuatu!"

"Busyet! Apa kalian menganggap diri orangorang besar hingga mengambil sesuatu saja harus minta bantuan orang? Lekas beri jalan. Aku ada urusan yang lebih penting daripada ngomong tak ada juntrungan dengan badut-badut seperti kalian!"

"Hm.... Begitu? Jadi kau tak mau membantu kami? Baiklah. Tapi ingat, itu berarti rencana lamaranmu akan gagal!" berkata orang yang berwajah putih. Kali ini tanpa lagi terdengar suara tawanya. Malah suaranya tinggi dengan sepasang mata melotot.

"Jahanam! Kalian mengancam. Apa yang ditakutkan dari badut-badut macam kalian!"

Orang yang berwajah putih gertakkan rahang. Pelipisnya bergerak-gerak, kedua tangannya diangkat. Namun sebelum kedua tangan itu bergerak melepaskan pukulan, orang yang berwajah hitam angkat bicara. Suaranya perlahan.

"Jangan keburu marah. Urusan begini jika dihadapi dengan otak panas, bisa jadi amburadul! Kita coba dengan kepala dingin, dan jika memang tidak berhasil, apa boleh buat!" Orang ini lantas menatap pada Pendekar 108 dan berkata.

"Aji! Kami hanya minta bantuanmu sebentar. Ini pun karena kami memang tak sanggup untuk mengambilnya! Dan permintaan ini bukannya tanpa imbalan!"

Meski tak begitu tertarik dengan imbalan yang dijanjikan, Pendekar 108 jadi penasaran. Setelah terdiam agak lama dia berkata.

"Hm   Katakan, apa yang harus kuambil!"

Untuk sesaat lamanya orang yang berwajah hitam tak segera menjawab. la berpaling pada orang yang berwajah putih seolah hendak minta persetujuan. Tapi orang yang dimintai persetujuan diam tak mengatakan sepatah kata. Hingga pada akhirnya orang yang berwajah hitam berkata.

"Untuk kali ini kami tak dapat mengatakan di sini. Lebih baik kau ikut saja dengan kami!"

"Ah, kalian tampaknya main-main. Jadi aku tak dapat membantu kalian. Cari saja bantuan orang lain!" Habis berkata begitu, Pendekar 108 balikkan tubuh hendak pergi. Namun baru saja melangkah, serangkum angin dahsyat menyambar dari arah belakang. Bersamaan dengan menyambarnya angin, terdengar suara.

"Kau nyatanya manusia yang tidak bisa diajak baik-baik!"

"Sialan. Ancaman mereka tampaknya tidak main-main! Apa sebenarnya sesuatu yang hendak mereka ambil...? Tapi itu bukan urusanku. Lebih baik aku segera menyingkir. Perjalananku masih jauh "

Berpikir begitu, seraya menghindari serangan dari belakang, Pendekar 108 berkelebat ke samping. Angin menggebrak menghantam tempat kosong di samping tubuh Pendekar 108. Lalu tanpa mengacuhkan kedua orang di belakangnya, Pendekar 108 teruskan langkahnya. Bahkan kini seraya melangkah murid Wong Agung ini lantunkan dendang nyanyian.

Namun langkahnya terhenti tiba-tiba. Di hadapannya kini dua orang tadi telah berdiri dengan kedua tangan masing-masing siap lepaskan pukulan.

"Bangsat! Apa mau kalian sebenarnya?!" bentak Pendekar 108. Kemarahan yang sejak tadi coba diredamnya naik ke ubun-ubun.

"Kau tak usah banyak mulut. Kau sudah tahu segalanya!" orang yang berwajah putih balas membentak. "Kalau tak mau ikut kami dengan baik-baik, jangan menyesal jika kau kami seret!"

"Hmm    Nyatanya betul dugaanku. Kalian ber-

dua punya niat busuk! Aku tak akan menyerah begitu saja. Lakukanlah kalau memang ingin menyeretku!"

"Setan alas!" maki orang yang berwajah putih. Lalu pukulkan kedua tangannya ke arah Pendekar

108. Sementara orang yang berwajah hitam tak mau tinggal diam. Dia segera pula pukulkan kedua tangannya. Dilihat dari sini, jelas kedua orang ini ingin segera menyelesaikan masalah dengan cepat.

Kejap itu juga, empat larik sinar hitam melesat ke depan. Bersamaan dengan melariknya sinar hitam, suasana di tempat itu meredup. Udara mendadak berubah panas menyengat!

Di seberang, seraya berteriak keras, Pendekar 108 lesatkan tubuhnya ke udara. Dari udara Pendekar

108 segera kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya dan siapkan pukulan ‘Segara Geni’ untuk melenyapkan keadaan yang meredup. Lalu dengan didahului bentakan, Pendekar 108 dorongkan kedua tangannya ke arah dua lawan di bawahnya.

Namun murid Wong Agung ini jadi terkejut, karena serangannya hanya menerabas tanah. Tanah itu terbongkar dan bongkarannya membumbung ke udara, menambah kepekatan suasana!

Selagi pendekar murid Wong Agung ini tersirap kaget melihat gagalnya pukulan yang dilancarkan, dia mendengar dua suara tawa bersahutan dari arah samping bawahnya. Serta-merta Pendekar 108 pukulkan kembali kedua tangannya. Namun lagi-lagi Pendekar Mata Keranjang terperangah. Pukulannya hanya menghantam tanah!

Saat itulah, dari arah belakang dirasa angin deras menghampar. Pendekar 108 segera palingkan wajah seraya melayang turun. Namun Pendekar 108 jadi membelalakkan sepasang matanya dan keluarkan suara tertahan. Karena dari arah bawah, samar-samar terlihat dua lawan tegak menunggu dengan kedua tangan masing-masing siap menghantam.

Dengan memperlambat gerak layang turun tubuhnya, Pendekar 108 sentakkan dua tangannya ke bawah. Namun terlambat. Sebelum kedua tangannya bergerak, dari arah bawah menyambar sinar!

Seraya menahan rasa terkejut, Pendekar 108 membuat gerakan jungkir balik. Namun saat dia berhasil meloloskan dari serangan, dua bayangan berkelebat. Sekali lagi Pendekar 108 harus membuat gerakan jungkir balik. Namun bayangan itu memburu. Karena suasana masih pekat. Pendekar 108 tak dapat menentukan di mana beradanya lawan yang terus berkelebat memburunya di atas udara. Sebaliknya, sang lawan seakan dapat melihat, karena bayangan tersebut selalu memburu ke mana Pendekar 108 bergerak!

"Sialan! Aku tak biasa bertempur dalam suasana gelap seperti ini!" keluh Pendekar Mata Keranjang 108 seraya melayang turun. Dia memutuskan bergerak turun, karena di atas tanah mungkin lebih bisa melihat keadaan dan beradanya lawan.

Namun baru saja kedua kaki Pendekar 108 mendarat di atas tanah, dua bayangan menyambar dari arah samping kanan dan kiri!

Pendekar Mata Keranjang cepat lesatkan tubuhnya setinggi satu tombak ke udara. Kedua kakinya dipentangkan ke samping!

Tapi murid Wong Agung ini tercekat. Kakinya hanya menghantam angin, padahal dia telah yakin, bahwa salah satu lawan pasti akan terjerembab terhajar kakinya. Selagi Pendekar 108 terkesima, sebuah kaki melesat mengarah kepalanya.

Pendekar 108 rundukkan kepala, saat itulah tiba-tiba saja dua terjangan melesat dari arah belakangnya!

Desss! Desss!

Pendekar 108 keluarkan seruan tertahan. Tubuhnya laksana dihantam kayu besar. Dia coba kerahkan tenaga dalam untuk hentikan tubuhnya yang menekuk ke depan hendak terjerembab. Namun baru saja dia kerahkan tenaga, dari arah depan melesat sepasang kaki! Pendekar 108 cepat palangkan kedua tangannya melindungi dada dari terjangan sepasang kaki. Tapi nyatanya sepasang kaki itu tidak langsung menghantam. Begitu setengah depa lagi menggebrak sasaran, sepasang kaki itu menekuk sebatas lutut. Lantas membuka lebar-lebar dan menghantam dari arah samping kanan dan kiri!

Gerakan Pendekar 108 yang hendak membuka kedua tangannya terlambat. Kedua kaki itu telah menggapit lehernya dan serta-merta dikebatkan ke arah samping.

Pendekar Mata Keranjang masih berusaha melepaskan diri dengan pukulkan kedua tangannya ke arah dua kaki yang menggapit lehernya. Namun lagilagi gerakannya terlambat. Tubuh orang yang menggapitkan kedua kakinya telah berputar. Akibatnya Pendekar 108 ikut berputar keras dan sesaat kemudian terbanting deras ke tanah!

"Jahanam betul! Leherku serasa patah!" keluh Pendekar Mata Keranjang 108 seraya gerakkan sedikit kepalanya. Tubuhnya untuk beberapa saat tampak diam tak bergerak terkapar di atas tanah. Pendekar 108 merasakan pandang berkunang-kunang. Kepalanya berdenyut-denyut nyeri.

Pendekar Mata Keranjang 108 segera salurkan tenaga dalamnya. Lalu secepat kilat dia bangkit begitu didengarnya langkah-langkah kaki mendatangi.

Di hadapannya dua orang berwajah putih dan hitam memandangi dengan tatapan dingin. Mereka saling pandang sejenak. Yang berwajah putih anggukkan kepalanya.

Bersamaan dengan anggukan kepala orang yang berwajah putih, orang yang berwajah hitam sentakkan kedua tangannya. Sementara yang berwajah putih berkelebat. Seberkas sinar hitam menyambar ke depan. Dan bersamaan dengan itu sebuah bayangan berputar lalu lenyap.

Pendekar Mata Keranjang 108 keluarkan kipas ungunya. Dan serta-merta dikibaskan melengkung ke depan.

Seberkas sinar keputihan menghampar lengkung dan menahan gerak sambaran berkas sinar hitam.

Terdengar letupan keras tatkala dua serangan itu bertemu di udara. Tubuh Pendekar Mata Keranjang

108 tersurut dua langkah ke belakang. Sementara orang yang berwajah hitam terhuyung-huyung, namun bisa segera kuasai diri. Saat ledakan terdengar itulah, dan baru saja Pendekar Mata Keranjang 108 tersurut, tiba-tiba orang yang berwajah putih telah menukik dari atas tubuh Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar Mata Keranjang 108 tengadah sebentar. Lalu gerakkan kipasnya dari bawah ke atas!

Orang yang menukik tidak menampakkan rasa terkejut, malah yang terdengar adalah suara tawanya. Dan masih dengan tertawa-tawa, tubuhnya berkelebat lenyap! Sambaran angin yang melesat keluar dari kipas Pendekar 108 menghantam angin!

Saat itulah, orang yang berwajah hitam dorong kedua tangannya ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

Murid Wong Agung ini tercekat. Dia ternyata tertipu. Karena orang yang berwajah putih hanya mengalihkan perhatian agar orang yang berwajah hitam dapat sarangkan serangan dengan telak.

Desss!

Pendekar Mata Keranjang 108 merasakan tubuhnya dihantam benda berat. Tubuhnya melayang hingga beberapa tombak ke belakang. Dan begitu tubuhnya terkapar di atas tanah, Pendekar Mata Keranjang 108 merasakan segala sesuatunya menghitam. Kepalanya lantas terkulai dengan bibir keluarkan darah!

Di seberang, orang yang berwajah putih dan hitam saling berpandangan.

"Ternyata nama besar Pendekar Mata Keranjang 108 hanya omong kosong! Mari kita periksa!" berkata orang yang berwajah putih seraya melangkah mendahului.

Orang yang berwajah hitam tak menyahuti kata-kata orang di sampingnya. Dia hanya batuk-batuk sebentar lalu melangkah di belakang orang yang berwajah putih.

"Kurasa di sini kurang enak untuk memeriksa dia. Lebih baik kita bawa langsung ke Kepatihan!" berkata orang yang berwajah hitam seraya menjajari langkah orang yang berwajah putih. Orang ini hentikan langkah. Dia sepertinya memikir. Lalu kepalanya mengangguk.

"Ya.... Kita bawa saja langsung ke Kepatihan!" kata orang yang berwajah putih. "Tapi "

"Jangan berpura-pura! Kau akan mengajukan usul agar kau yang menggendongnya. Betul...?" kata orang yang berwajah hitam seraya tertawa, lalu menyambung. "Itu lebih baik. Aku pun tidak sudi menggendongnya!"

"Kau masih cemburu?"

"Puihhh. Apa yang masih bisa dirasakan dari tua bangka seperti kau? Paling-paling hanya bisa gelundang-gelundung di atas jerami tanpa bisa mengobarkan gelora! Ha.... Ha.... Ha !"

"Setan alas! Awas kalau kau minta...!" ancam orang yang berwajah putih seraya angkat tubuh Pendekar 108 dan diletakkan di atas pundaknya. "Minta?" ulang orang yang berwajah hitam seraya cibirkan bibir. "Dikasih saja aku tak mau! Punyamu sudah bau tanah!"

"Brengsek! Kuhajar kau!" maki orang yang berwajah putih seraya berkelebat ke arah kelebatnya orang yang berwajah hitam.

***

DELAPAN

MATAHARI masih menyembunyikan diri di bawah bentangan kaki langit sebelah timur. Namun bias kekuningan pancarannya telah menghiasi langit ujung timur, membuat arakan kegelapan perlahan-lahan menghilang.

Di tengah pergantian suasana demikian itu, di dusun Kepatihan yang sepi senyap terlihat dua bayangan berkelebat dengan cepat. Sampai pada ujung dusun, tepatnya di depan sebuah gua agak besar yang diapit gundukan dua batu besar-besar, dua bayangan tersebut hentikan larinya.

Kedua bayangan yang ternyata adalah dua orang berpakaian gombrong dengan wajah masingmasing ditutup kulit tipis berwarna putih dan hitam sejenak saling berpandangan satu sama lain. Lantas sepasang mata kedua orang ini menyapu berkeliling dan berujung pada gua.

Orang yang berwajah putih anggukkan kepala memberi isyarat pada temannya. Sang teman langkahkan kaki satu tindak ke depan. Dari mulutnya terdengar suara lantang.

"Kali Nyamat! Hari sudah siang. Bangun dan keluarlah!" Untuk beberapa lama kedua orang ini menunggu. Namun dari dalam gua tak ada tanda-tanda orang akan keluar atau terdengarnya suara sahutan.

Orang berwajah hitam arahkan pandangannya pada orang yang berwajah putih. Yang dipandangi hanya tegak dengan sepasang mata memandang tak kesiap ke arah gua. Dagunya tampak sedikit terangkat dengan kedua tangan mengepal.

Orang berwajah hitam kembali arahnya pandangan pada gua. Lalu sekali lagi orang ini berteriak. Kali ini dengan kerahkan tenaga dalam, hingga suaranya menggema panjang, sampai sempat menggugurkan rimbunan daun pohon yang tak jauh dari situ.

"Kali Nyamat! Keluarlah! Ada urusan yang harus kita selesaikan!"

Untuk kedua kalinya, dari dalam gua tak ada tanda-tanda orang akan keluar atau pun suara yang menyahut.

Kedua orang ini tampaknya hilang kesabaran. Tanpa berteriak lagi, keduanya langsung melangkah mendekati mulut gua. Mereka mendatangi dari arah samping kanan dan kiri.

Namun baru saja kedua orang ini hendak langkahkan kaki memasuki gua, terdengar suara cekikikan dari arah belakang. Kedua orang ini palingkan wajah masing-masing dengan cepat. Di hadapan mereka kini telah berdiri seorang perempuan bertubuh gemuk besar. Rambutnya disanggul ke atas. Sepasang matanya sayu kelabu namun besar dan menjorok ke dalam. Bibirnya berwarna merah polesan. Telinga sebelah mengenakan anting-anting yang dimuati beberapa antinganting kecil.

"Berpuluh tahun centang perentang dalam rimba persilatan, hanya beberapa orang yang tahu nama asliku. Hm.... Siapa sebenarnya kecoa-kecoa ini? Mereka menggunakan penutup kulit pada wajahnya, berarti mereka memang kukenal tapi takut kuketahui...!" membatin perempuan bertubuh gembrot yang bukan lain adalah Kali Nyamat yang dalam rimba persilatan lebih dikenal dengan julukan Dewi Kayangan.

"Bagus. Berarti kau masih seorang tokoh yang bukan pengecut!" berkata orang yang berwajah hitam seraya melangkah maju. Sementara orang yang berwajah putih masih tetap di tempat semula. Hanya sepasang matanya tak berkesiap mengawasi pada sosok perempuan besar.

"Hik.... Hik.... Hik...! Manusia tolol! Aku memang bukan manusia pengecut macam kalian yang takut perlihatkan wajah dan menggunakan suara yang disarukan!" berkata Dewi Kayangan seraya amat-amati dua orang di hadapannya. Dahinya sebentar berkerut, lalu sepasang matanya membesar dan menyipit.

"Edan! Aku tak bisa mengenali wajah mereka...!" kata Dewi Kayangan dalam hati seraya gelenggelengkan kepala, hingga saat itu juga terdengar gemerincingnya anting-anting.

"Kali Nyamat!" kata orang yang berwajah hitam. Suaranya sengaja disarukan antara suara laki-laki dan perempuan. "Kami tak akan berlama-lama. Kami hanya ingin tahu, di mana beradanya Sahyang Resi Gopala! Tapi ingat. Jika mulutmu berkata bohong, kami tak keberatan untuk menguburmu hidup-hidup!" Untuk pertama kalinya paras   wajah   Dewi Kayangan menampakkan rasa terkejut. Bahkan dadanya tampak bergetar dengan kedua kaki mundur satu tindak ke belakang. Dari mulutnya tak terdengar

suara tawa cekikikan seperti biasanya.

Melihat sikap yang ditunjukkan Dewi Kayangan, orang berwajah hitam keluarkan tawa berderai. Sementara yang berwajah putih hanya tersenyum sinis.

"Mereka tanya tentang Sahyang Resi Gopala. Ini

tak main-main. Berarti rahasia yang telah kupegang bertahun-tahun lamanya telah bocor keluar! Siapa pun mereka adanya, harus kuhabisi sekarang juga! Karena jika tidak, rahasia ini akan menyebar. Dan hal itu akan menjadikan rimba persilatan kembali bergolak!" membatin Dewi Kayangan seraya memandangi silih berganti pada kedua orang di hadapannya.

"Kali Nyamat! Apa pertanyaanku perlu ku ulangi lagi?!" kata orang berwajah hitam seraya busungkan dada.

Untuk beberapa saat lamanya, Dewi Kayangan masih tak menjawab pertanyaan orang. Dia tampaknya masih terkesima dalam keterkejutan. Namun begitu dilihatnya orang berwajah hitam hendak berteriak lagi, Dewi Kayangan dongakkan kepala. Lalu mulai lagi keluar suara tawa cekikikannya. Setelah puas cekikikan, dia berkata.

"Soal di mana beradanya Sahyang Resi Gopala, itu urusan gampang. Yang penting sekarang adalah unjukkan siapa diri kalian sebenarnya! Aku tak layak memberitahu pada orang yang bersembunyi!"

Kembali kedua orang yang wajahnya ditutupi kulit ini saling pandang. Lalu yang berwajah putih melangkah menjajari temannya dan berbisik.

"Kita tak boleh membuka penyamaran ini. Mau tak mau, perempuan gembung itu harus mengatakan dengan tanpa syarat apa pun. Kalau tidak mau, kita paksa dengan kekerasan!"

Yang dibisiki mengangguk. Lalu orang ini ber-

kata.

"Kali Nyamat! Kau tak usah banyak cari dalih.

Katakan saja apa yang kami tanyakan. Jika tidak...," orang ini tak meneruskan kata-katanya. "Jika tidak, kenapa? Katakan!" kata Dewi Kayangan seolah menantang. Lalu keluarkan tawa cekikikan.

"Lidahmu akan ku cabut!" sahut orang yang berwajah putih dengan mendengus.

Kembali Dewi Kayangan keluarkan tawa cekikikannya. Lalu berkata seraya rapikan sanggul rambutnya.

"Kalian tampaknya orang-orang yang pemarah. Kalau tak mau unjukkan diri memperlihatkan wajah, sebutkan saja nama kalian atau gelar kalian jika kalian punya nama besar!"

Kedua orang di hadapan Dewi Kayangan tak segera ada yang buka mulut untuk menjawab, membuat Dewi Kayangan geleng-geleng kepala hingga terdengar lagi gemerincing anting-antingnya.

"Mungkin tampang dan nama kalian jelek-jelek, hingga kalian tak berani membuka dan mengatakannya! Hik.... Hik.... Hik...! Apa boleh buat, aku tak mau berteman apalagi mengatakan di mana beradanya Sahyang Resi Gopala pada orang-orang jelek!"

"Jahanam! Kiranya kau pilih tercabut lidahmu daripada mengatakan di mana beradanya orang yang kami cari!" bentak orang berwajah putih. Lalu orang ini dorong kedua tangannya ke depan.

Wuuuttt! Wuuuttt!

"Ah, tampaknya kalian bukan hanya jelek tampang dan nama, tapi juga buruk kelakuan! Kau menyerangku, padahal kita tak punya silang sengketa! Hik.... Hik.... Hik...!"

"Kau terlalu banyak kotbah!" bentak orang berwajah hitam seraya pukulkan pula kedua tangannya ke depan.

Kini empat larik sinar hitam yang menghamparkan kegelapan menggebrak ke arah Dewi Kayangan. Dewi Kayangan segera kelebatkan tubuh. Astaga! Tiba-tiba tubuhnya yang gemuk subur itu lenyap dari pandangan. Yang tersisa hanyalah suara gemerincing anting-anting yang tak bisa ditentukan di mana beradanya. Namun salah satu dari orang yang menutupi wajahnya, yakni yang berwajah putih seakan telah tahu gerak Dewi Kayangan. Terbukti, meski Dewi Kayangan itu tak bisa ditentukan di mana beradanya, namun orang ini segera pukulkan kembali kedua tangannya ke arah samping kanan.

"Edan!" tiba-tiba dari arah samping kanan terdengar makian. Dan bersamaan dengan itu, melesat sosok besar Dewi Kayangan dari samping kanan. Setelah membuat gerakan jungkir balik aneh, Dewi Kayangan mendarat dengan sepasang mata melotot pada orang yang berwajah putih.

"Aneh. Tampaknya yang satu ini tahu gerakanku. Dan rasa-rasanya aku mengenal pukulannya...! Hmm.... Benar dugaanku, mereka adalah orang yang telah kukenal. Tapi siapa? Kenapa memaksaku dengan cara begini? Siapa pun dia, yang pasti dia menginginkan Arca Dewi Bumi! Tapi dia apa juga sudah tahu, jika hanya seorang yang mampu mengambilnya?" membatin Dewi Kayangan seraya mengingat-ingat. Namun lagi-lagi Dewi Kayangan gagal untuk mendapat jawaban.

Selagi Dewi Kayangan terheran-heran mencari jawaban, kedua orang di hadapannya kelebatkan tubuh masing-masing. Tahu-tahu dari arah samping kanan dan kiri Dewi Kayangan menderu angin dahsyat.

Berpaling ke kanan kiri, Dewi Kayangan sedikit terkejut. Namun yang keluar dari mulutnya justru suara tawa cekikikan. Lalu orang ini kebutkan tangan kiri kanannya.

Prakkk! Prakkk! Terdengar dua kali benturan keras. Lantas disusul dengan terdengarnya dua seruan tertahan. Di samping kiri kanan Dewi Kayangan, orang berwajah hitam dan putih surutkan langkah masing-masing dua langkah ke belakang. Wajah masing-masing orang ini meringis menahan sakit.

Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Dewi Kayangan. Kedua tangannya direntangkan ke kanan dan kiri dengan pergelangan diputar-putar. Inilah pukulan terkenal yang dimiliki oleh Dewi Kayangan, yakni pukulan 'Pusaran Sukma'.

Saat itu juga gelombang yang berpusaran aneh dan mengeluarkan suara gemuruh dahsyat menghampar ke kanan dan kiri!

'"Pusaran Sukma'!" seru orang yang berwajah putih mengenali pukulan yang dilancarkan Dewi Kayangan. Sementara orang yang berwajah hitam terperangah kaget mendengar ucapan temannya. Kedua orang ini kembali melompat mundur. Namun kedua orang ini merasa tercekat leher masing-masing, karena saat itu juga kedua orang ini merasa ada kekuatan dahsyat yang memutar tubuhnya.

Tapi kedua orang ini tampaknya pantang menyerah begitu saja. Kedua orang ini lantas putar tubuh masing-masing dan hantamkan tangan masing-masing ke samping. Namun hantaman tangan mereka seakan tertahan kekuatan yang tak terlihat, hingga hantaman itu mental balik.

Di saat yang demikian itu, mendadak dua orang ini merasa tubuhnya berputar ke atas. Namun sesaat kemudian tubuh masing-masing terasa dihempaskan ke bawah!

Bleeekkk! Bleeekkk!

Tubuh dua orang berwajah putih dan hitam jatuh berkaparan di atas tanah. Di seberang, Dewi Kayangan tertawa cekikikan seraya tarik tangannya dari samping. Lalu balikkan tubuh. Pandangannya menerawang jauh. Kening perempuan bertubuh gembrot ini mengkerut.

"Dia mengenali pukulanku! Apakah dia...? Jika memang dia, kenapa berbuat begini...? Ah, apa aku terpengaruh dengan bualan Tua bangka Selaksa jika dia benar-benar masih hidup...?" membatin Dewi Kayangan.

Selagi Dewi Kayangan dilanda kebimbangan, orang berwajah putih dan hitam sama-sama merambat bangkit. Setelah saling beri isyarat, kedua orang ini takupkan tangan masing-masing sejajar dada. Mulut keduanya berkemik-kemik ucapkan sesuatu.

Didahului dengan bentakan dari mulut orang yang berwajah putih, kedua orang ini buka tangan masing-masing dan disentakkan ke arah Dewi Kayangan.

Gelombang angin dahsyat membawa hawa panas menyambar cepat ke depan. Bukan hanya sampai di situ, begitu dari tangan masing-masing melesat gelombang serangan, kedua orang ini lesatkan tubuh masing-masing.

Dewi Kayangan tanpa palingkan wajah dan tubuh jejakkan kakinya di atas tanah. Tubuhnya melenting di udara. Gelombang yang menyambar menghantam tempat kosong!

Di udara, Dewi Kayangan balikkan tubuh. Tapi perempuan gemuk ini terkejut, kedua lawan ternyata telah merangseknya dengan kaki lurus!

Seraya menahan rasa terkejut, Dewi Kayangan angkat tangan kanannya dan dihantamkan ke sisi kanan. Sementara tangan kiri diayunkan dari atas ke bawah.

Prakkk! Prakkk! Benturan antara kedua tangan Dewi Kayangan dan dua pasang kaki milik orang berwajah putih dan hitam tak dapat dihindarkan lagi.

Tubuh orang berwajah putih terpelanting dan berputar, namun saat itu kakinya masih sempat bergerak menyapu ke arah kaki Dewi Kayangan. Sementara orang yang berwajah hitam tubuhnya mental balik, namun orang ini tak mau juga tinggal diam. Sebelum tubuhnya mental, kedua tangannya didorong ke depan.

Dewi Kayangan memekik. Tubuhnya yang besar bergerak deras ke depan karena kakinya tersapu ke belakang. Di saat itu pukulan yang dilancarkan orang berwajah hitam menggebrak!

Desss!

Tubuh Dewi Kayangan menukik deras ke bawah dengan menelungkup. Meski dia sudah berusaha keras membalikkan tubuh, namun gerakannya terlambat. Hingga tak ampun lagi tubuhnya yang besar terjerembab dengan posisi telungkup!

Di lain pihak, orang yang berwajah putih juga berusaha menahan putaran tubuhnya, namun usahanya sia-sia. Hingga bersamaan dengan terdengarnya suara berdebam terjerembabnya tubuh Dewi Kayangan, tubuh orang berwajah putih terkapar di atas tanah! Lalu sesaat kemudian disusul terdengarnya suara terbantingnya tubuh orang yang berwajah hitam!

***

SEMBILAN

TAK jauh dari tempat terjadinya pertarungan antara Dewi Kayangan dengan orang berwajah putih dan hitam terlihat sesosok manusia melangkah tertatih. Seraya melangkah orang ini tersenyum-senyum, padahal saat itu tidak ada sesuatu yang pantas disenyumi! Namun tiba-tiba saja senyum orang ini yang ternyata adalah seorang perempuan bertubuh kurus kering terpenggal. Seraya hentikan langkah dan mengelus rambutnya yang kaku dan disanggul ke atas, orang ini pandangi sesosok tubuh yang tergolek tak jauh dari hadapannya.

"Sial! Mataku tidak lamur. Tapi aku tak dapat melihat dengan jelas, apa yang teronggok melingkar itu! Ular hijau atau manusia...!"

Perempuan kurus kering yang ternyata mengenakan terompah hitam besar dan bukan lain adalah Rayi Seroja atau Dewi Bayang-Bayang melangkah mendekat.

"Sial betul! Kalau memang ular hijau, kenapa pakai kuncir? Kalau manusia kenapa sudah siang begini masih enak-enakan tidur melingkar?"

Dewi Bayang-Bayang ulurkan kaki kanannya. Terompahnya yang besar bergerak menggoyang-goyang sosok hijau di bawahnya.

"Uhhh...!" terdengar lenguhan dari sosok hijau yang tergoyang.

"Sial! Dia melenguh. Berarti manusia adanya! Dasar manusia malas, matahari sudah tinggi begini masih juga ngorok!" gumam Dewi Bayang-Bayang seraya goyang-goyangkan terompahnya agak keras.

Sosok hijau yang melingkar, yang ternyata adalah seseorang manusia buka kelopak matanya. Sebentar sepasang mata itu memandang lurus ke atas. Mungkin karena silau oleh sinar matahari, sepasang mata itu lantas berpaling ke samping. Anehnya, meski sepasang mata orang ini telah membuka, namun anggota tubuh lainnya tak hendak dia gerakkan! Dia tetap melingkar seperti semula.

Saat berpaling ke samping, dan dilihatnya ada seseorang berdiri seraya senyum-senyum meski tak memandang ke arahnya, orang ini kernyitkan dahi. Lantas orang ini coba gerakkan anggota tubuhnya. Namun orang ini sepertinya terkejut. Anggota tubuhnya serasa tegang kaku tak bisa digerakkan!

Dahi orang ini makin mengernyit. Dia sepertinya mengingat-ingat.

"Hmm.... Aku bertemu dengan dua orang yang wajahnya ditutupi kulit tipis hitam dan putih. Lalu terjadi perkelahian. Aku berhasil mereka robohkan, lalu aku tak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu sudah berada di sini "

Orang berpakaian hijau ini yang bukan lain adalah Aji Alis Pendekar Mata Keranjang 108 memandang berkeliling. Begitu pandangannya berujung pada sosok perempuan kurus di hadapannya, dia coba menerka-nerka.

"Apakah salah satu orang yang menghadangku itu adalah orang ini? Bukankah dia orang yang menyelamatkan aku sewaktu di Kampung Blumbang...? Tapi ciri-ciri orang yang menghadangku tidak seperti dia! Apakah dia yang menyelamatkanku lagi dari kedua orang itu ?"

Berpikir begitu, Pendekar Mata Keranjang 108 lantas buka mulut dan berkata.

"Dewi Bayang-Bayang ! Terima kasih atas per-

tolonganmu!"

Dewi Bayang-Bayang palingkan wajah memandang Pendekar Mata Keranjang. Bibirnya mengulas sebuah senyum. Sementara sepasang matanya mengerdip-ngerdip beberapa kali. Lalu masih dengan senyumsenyum dia berkata.

"Kau ini mengigau atau bergurau! Siapa yang menolongmu?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 menarik napas dalam-dalam seraya menggumam yang tak jelas. Dalam hati dia berkata.

"Menghadapi orang ini gampang-gampang susah! Tapi kebetulan sekali, mungkin dia bisa sedikit memberi petunjuk tentang kakaknya!" Murid Wong Agung ini lantas hendak bangkit. Dia sepertinya lupa, jika tubuhnya masih tegang kaku tak bisa digerakkan.

"Busyet! Tubuhku tertotok!" keluh Pendekar Mata Keranjang. Dia lantas kerahkan tenaga dalam untuk membebaskan dirinya dari totokan. Namun hingga keringatnya membasahi tubuh, dia tak berhasil membebaskan diri.

Di hadapannya, Dewi Bayang-Bayang memandang Pendekar 108 dengan kening mengkerut, namun bibirnya tetap sunggingkan senyum.

"Tak ada hujan tak ada angin, kenapa tubuhmu keringatan? Kau takut padaku? Ah, wajahku memang menakutkan. Lebih baik aku pergi saja!" kata Dewi Bayang-Bayang seraya balikkan tubuh dan hendak melangkah pergi.

"Nek! Tunggu!" teriak Aji menahan kepergian Dewi Bayang-Bayang.

Dewi Bayang-Bayang urungkan niat. Tanpa berpaling, dia berkata.

"Kau mau apa...?"

"Minta tolong lagi! Aku tertotok!" kata Aji setengah berteriak karena saat itu dilihatnya Dewi BayangBayang hendak melangkah.

Dewi Bayang-Bayang dongakkan kepala. Lalu terdengar dengusan dari hidungnya. "Dasar anak tolol! Kalau saja tidak mengingat persahabatanku dengan tua jelek Selaksa, mungkin aku masih berpikir seribu kali untuk menolongmu!" omel Dewi Bayang-Bayang seraya balikkan tubuhnya kembali. Tangannya diangkat, lalu digerakkan dengan cepat di depan dadanya.

Astaga! Aji merasakan tubuhnya dipukul-pukul di beberapa bagian. Namun begitu tangan Dewi Bayang-Bayang berhenti bergerak, Pendekar 108 merasakan anggota tubuhnya mengendor dan bisa digerakkan.

Seraya bangkit, Pendekar 108 cepat mendekat dan menjura hormat seraya berkata.

"Terima kasih! Terima kasih! Budi jasamu tak akan kulupa "

Dewi Bayang-Bayang sepertinya acuh saja dengan sikap Pendekar 108. Malah dia balikkan tubuh hendak melangkah pergi lagi, membuat Pendekar Mata Keranjang geleng-geleng kepala.

"Dewi! Ada sesuatu yang hendak kutanyakan!" seru Aji seraya bergegas menyusul Dewi BayangBayang yang telah melangkah tertatih-tatih seakan keberatan terompah.

Mendengar seruan, Dewi Bayang-Bayang bukannya hentikan langkah, malah dia mempercepat langkah, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 harus kerahkan tenaga dalam untuk mengejar. Karena, meski terlihat melangkah sosok Dewi Bayang-Bayang sepertinya melesat dengan cepat!

"Anak kurang ajar! Apa maumu sebenarnya? Apa kau tertarik padaku...?!" kata Dewi BayangBayang seraya hentikan langkah begitu dilihatnya Pendekar 108 menghadang di depannya.

Sejenak Pendekar 108 tarik-tarik kuncir rambutnya seraya tangan satunya usap-usap cuping hidungnya. Sepasang matanya pandangi perempuan di hadapannya. Lalu seraya ikut-ikut tersenyum, Pendekar Mata Keranjang berkata.

"Dewi Bayang-Bayang! Kau adalah sobat baik eyangku. Perkenankan aku ajukan tanya! Kalau senang boleh jawab, kalau tidak senang juga harus dijawab!"

"Anak kurang ajar! Kau...." Dewi BayangBayang tak meneruskan ucapannya, karena saat itu Pendekar Mata Keranjang 108 telah berkata menyela.

"Tentunya sebagai seorang tokoh yang telah lama malang melintang dalam rimba persilatan, kau pernah dengar tentang adanya Arca Dewi Bumi. Tolong katakan, di mana aku bisa menemui Dewi Kayangan!"

"Hmm.... Tampaknya pemuda ini telah mengetahui rahasia arca itu! Mungkin dia tahu dari Selaksa. Sewaktu terjadi pertarungan dengan Kali Nyamat ia menggunakan kipas berwarna ungu yang berangka 108, demikian pula gelarnya, Pendekar Mata Keranjang 108, hmm Apakah benar dia orang yang kelak dapat

mengambil dan mewarisi arca itu?" membatin Dewi Bayang-Bayang seraya menatap tak kesiap pada Aji. Lalu orang ini berkata.

"Hm   Apa kau menginginkan arca itu?"

"Soal menginginkan dan tidak menginginkan itu bukan persoalan. Tapi satu hal yang pasti, arca itu harus diselamatkan! Aku khawatir rahasia tentang beradanya arca itu bocor ke pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab!"

Dewi Bayang-Bayang anggukkan kepala. "Sebelum aku memberi keterangan tentang arca itu, sebaiknya aku periksa dahulu, apakah memang dia orang yang kelak dapat mengambilnya!" membatin Dewi Bayang-Bayang.

"He...! Sini!" teriak Dewi Bayang-Bayang seraya melambai agar Pendekar Mata Keranjang mendekat.

"Namaku Aji! Bukan he...!" ujar Pendekar 108. Dia tak segera melangkah ke arah Dewi BayangBayang. Wajahnya jelas menampakkan kebimbangan. Dia malah pandangi perempuan berterompah besar di hadapannya dengan pandangan menyelidik. Pendekar Mata Keranjang 108 tampaknya masih teringat akan kata-kata Eyang Selaksa bahwa harus bersikap waspada, meski terhadap Dewi Bayang-Bayang!

Melihat sikap ragu-ragu Pendekar 108, Dewi Bayang-Bayang lebarkan senyumnya. Lalu berkata tanpa melihat pada Pendekar 108.

"Kau tampaknya curiga padaku. Aku senang itu, berarti kau adalah anak yang tidak sembrono! Tapi sayang, sikapmu itu membuatku muak memandangmu!"

Habis berkata begitu, Dewi Bayang-Bayang melangkah dua tindak ke depan. Namun tiba-tiba balikkan tubuh dan melangkah pergi.

"Dewi! Tunggu...!" seru Pendekar 108 seraya berkelebat menyusul. Begitu dekat, Pendekar 108 segera bungkukkan tubuh seolah minta maaf. Lalu berkata. "Dewi! Kini aku sudah dekat denganmu!"

Pendekar 108 berkata begitu karena meski kini Pendekar Mata Keranjang telah berada dekat dengan Dewi Bayang-Bayang, namun perempuan ini tidak palingkan wajah apalagi berkata.

"Dewi! Aku "

"Anak kurang ajar! Kau tampaknya sengaja membuat kesabaranku lenyap!" seraya berkata, Dewi Bayang-Bayang sentakkan tangan kanannya. Karena waktu itu Pendekar 108 berada begitu dekat, hingga tatkala serangkum angin deras menggebrak keluar dari tangan kanan Dewi Bayang-Bayang, Pendekar Mata Keranjang 108 tidak sempat lagi menghindar. Hingga tak ampun lagi tubuhnya terjengkang di atas tanah!

Seraya menindih rasa terkejut, murid Wong Agung ini coba bangkit. Namun Pendekar 108 tercekat. Tubuhnya ternyata tegang kaku tak bisa digerakkan. Ternyata, sentakan tangan kanan Dewi Bayang-Bayang selain merupakan sebuah serangan juga merupakan totokan jarak jauh!

Dewi Bayang-Bayang melangkah mendekati Pendekar Mata Keranjang yang masih dilanda keheranan dan kecurigaan. Dan kecurigaan jelek Pendekar 108 menyeruak begitu Dewi Bayang-Bayang telah dekat dan serta-merta mengangkat tubuh Aji.

Begitu tubuh Pendekar 108 terangkat, tangan kanan Dewi Bayang-Bayang kembali bergerak. Kini menampar pipi kanan dan kiri Aji. Meski tamparan itu sangat perlahan, namun karena tamparan itu dialiri tenaga dalam, tak ampun lagi keluar jeritan tertahan dari mulut Pendekar 108.

Pendekar Mata Keranjang merasakan kepalanya pecah. Setelah itu segala sesuatunya terlihat menghitam dan tak ingat apa-apa lagi. Tubuhnya dilepaskan oleh Dewi Bayang-Bayang, hingga tubuh itu meliuk roboh di atas tanah dengan keadaan pingsan!

***

SEPULUH

SEORANG perempuan bertubuh kurus kering, mengenakan pakaian gombrong dan berterompah besar terlihat melangkah tertatih-tatih. Di pundaknya tampak seseorang berbaju hijau menelungkup dengan kepala di punggung dan kaki di depan dada sang perempuan.

Mendadak, perempuan kurus kering ini dan bukan lain adalah Rayi Seroja atau Dewi BayangBayang hentikan langkah. Setelah memandang berkeliling, dia berkelebat dan jongkok di tengah semak belukar seraya mengendap-endap. Setelah meletakkan orang yang dipanggulnya, kembali sepasang mata Dewi Bayang-Bayang menyapu ke depan. Dahinya berkerut senyumnya menyungging.

"Sial! Apa pula di depan itu...? Orang kenduri atau orang sedang berlatih gila-gilaan...?" menggumam Dewi Bayang-Bayang seraya terus memandang tak berkesiap ke depan.

Tak jauh dari tempatnya mengendap-endap bersembunyi, terlihat tiga orang sedang berkaparan di atas tanah. Seorang di antaranya adalah seorang perempuan bertubuh besar dengan rambut disanggul ke atas. Sementara dua lainnya adalah orang yang tidak bisa ditentukan laki-laki perempuannya, karena kedua orang ini mengenakan pakaian sangat besar menutupi sekujur tubuhnya, sementara wajah mereka ditutup dengan kulit tipis berwarna hitam dan putih.

"Sial! Bukankah yang sebelah kanan itu si Gembung Kali Nyamat...? Hm.... Dua lainnya tak bisa kukenali! Mungkin wajah mereka sangat elek, hingga ditutup segala...!" kembali Dewi Bayang-Bayang menggumam.

Selagi perempuan kurus berterompah besar ini menggumam sendiri, orang berbaju hijau yang tadi di pundaknya dan kini diletakkan tak jauh di sampingnya membuka kedua kelopak matanya.

Untuk beberapa lama orang ini yang bukan lain adalah Pendekar Mata Keranjang 108 hanya membuka kelopak matanya tanpa berusaha menggerakkan anggota tubuhnya.

Setelah mengerjap-ngerjap beberapa kali, Pendekar Mata Keranjang sapukan pandangannya. Mulamula yang terlihat adalah semak belukar merangas tinggi-tinggi, lalu pohon-pohon besar yang berdaun rindang. Berpaling ke kanan, Pendekar 108 membelalak. Dewi Bayang-Bayang tampak jongkok mengangkang dengan sepasang mata memandang lurus ke depan.

"Nenek sontoloyo! Apa yang diperbuatnya di sini? Untung aku ada di sampingnya. Kalau aku tepat di depannya...?" membatin Pendekar 108 seraya pandangi sikap jongkok Dewi Bayang-Bayang. Pendekar 108 angkat bahu seraya menggeleng perlahan dan tersenyum.

"Tampaknya dia tak berniat jahat padaku. Terbukti dia tak membunuhku...! Tapi apa yang sedang dikerjakan dengan jongkok begitu? Jangan-jangan dia sedang buang air...!" berpikir begitu, Pendekar 108 cepat seret tubuhnya agak menjauh.

"Dewi! Kalau kencing jangan "

Aji tak meneruskan kata-katanya. Karena saat itu Dewi Bayang-Bayang palingkan wajah seraya melototkan mata.

"Jangan berisik!"

Habis membentak, kembali Dewi BayangBayang arahnya pandangannya ke depan

Pendekar Mata Keranjang 108 gelengkan kepala. Lalu seraya merangkak ia mendekati Dewi BayangBayang. Sepasang matanya lantas memandang ke arah tempat yang dipandangi Dewi Bayang-Bayang.

Sepasang mata murid Wong Agung ini terbeliak besar saat melihat ke depan dan mengetahui siapa adanya ketiga orang yang kini telah tegak berdiri berhadap-hadapan. Dewi Kayangan berdiri di seberang, sementara kedua orang berwajah hitam dan putih berjajar di seberang lainnya.

"Jahanam! Kedua orang itulah yang mencelakakan diriku! Aku akan buat perhitungan!" kata Pendekar 108 seraya kertakkan rahang dan kedua tangan mengepal. "Anak kurang ajar! Disuruh jangan berisik malah mengomel tak karuan! Kalau tak bisa diam, kutampar lagi mulutmu!" bentak Dewi Bayang-Bayang seraya palingkan wajah menghadapi Pendekar 108. Meski nada suaranya membentak, anehnya bibir perempuan ini sunggingkan senyum.

Mendengar ancaman orang, Pendekar 108 segera katupkan mulut. Sepasang matanya kini ikutikutan mengawasi ke depan, seperti yang dilakukan Dewi Bayang-Bayang.

Sementara itu di depan, Dewi Kayangan tampak gerak-gerakkan kepalanya seraya pandangi satu persatu dua orang di hadapannya. Bersamaan dengan gerakan kepalanya, terdengar gemerincing antinganting. Namun suara gemerincing itu kini makin lama makin melengking tinggi seiring gerakan cepat kepala Dewi Kayangan.

Dua orang berwajah putih dan hitam keluarkan dengusan seraya menyeringai. Kedua orang ini lantas kerahkan tenaga dalam masing-masing untuk menahan suara lengkingan gemerincing anting-anting.

Belum lenyap suara gemecincing anting-anting, terdengar suara tawa cekikikan lenyap. Lalu terdengar suara Dewi Kayangan berseru seraya berkelebat.

"Kalian yang mulai semua ini dan kalian pula yang memaksa, jadi jangan menyesal nantinya! Menyesal kemudian apa artinya. Ehhh, menyesal kemudian...," seruan Dewi Kayangan terputus. Tubuhnya tiba-tiba lenyap. Dan tahu-tahu....

Wuuuttt!

Orang berwajah hitam dan putih terperangah kaget. Di hadapannya menghampar sinar merah disertai deruan angin yang menyambar dahsyat!

Kalau saja kedua orang ini tidak waspada dan segera tarik tubuh masing-masing dengan melompat mundur, niscaya tubuh kedua orang ini akan tersambar hamparan sinar merah yang ternyata adalah selendang merah Dewi Kayangan!

Seraya melompat mundur, kedua orang ini segera dorongkan tangan masing-masing ke depan!

Dua gelombang angin dahsyat yang keluarkan suara menggemuruh menggebrak menghantam selendang merah. Namun hebatnya, selendang itu bergerak meliuk seakan menghindari hantaman angin. Malah begitu hantaman dapat dielakkan, selendang merah itu meliuk lagi dengan keadaan menggulung dan membuka!

Tahu bahaya, kedua orang ini cepat lesatkan diri masing-masing setinggi satu tombak ke udara. Lalu secara bersamaan kedua orang ini merangsek maju sebelum selendang merah bergerak membuka dari gulungannya!

Dewi Kayangan cekikikan sebentar, lalu menarik tangan kanannya yang memegang pangkal selendang. Secepat tarikan tangan Dewi Kayangan, secepat itu pula selendang merah bergerak ke belakang.

Belum sampai ujung selendang tertangkap tangan Dewi Kayangan, perempuan gemuk ini sentakkan kembali tangan kanannya.

Selendang membuka dan kini menghampar terus ke depan!

Dua orang di seberang yang tak berhasil menggaet ujung selendang segera hentakkan pundak masing-masing untuk kerahkan tenaga agar tubuhnya melesat lebih tinggi.

Saat itulah, didahului cekikikan keras, tubuh Dewi Kayangan melesat ke udara. Lalu tubuh besarnya bergelundungan di atas selendangnya yang menghampar. Sambil bergelundungan, tangan kiri Dewi Kayangan menyentak-nyentak ke atas, sementara kedua kakinya melejang-lejang!

Dua orang yang berada di atas Dewi Kayangan serta-merta dorong tangan masing-masing ke bawah.

Plaaar! Plaaar!

Terdengar dua kali letupan berturut-turut ketika dorongan tangan kedua orang di atas Dewi Kayangan bentrok dengan sentakan tangan kiri Dewi Kayangan.

Bersamaan dengan terdengarnya suara letupan, Dewi Kayangan sentakkan tangan kanannya dan diputar ke atas. Selendang merah berkelebat meliuk ke atas, sementara tubuh Dewi Kayangan tetap melejanglejang di atas udara!

Dua orang berwajah putih dan hitam terkejut. Namun sudah tak ada kesempatan lagi untuk menghindar. Sambaran selendang menghantam terlebih dahulu pada orang berwajah hitam. Lalu meliuk menghantam orang berwajah putih!

Terdengar suara tertahan susul-menyusul. Tubuh orang berwajah hitam menukik dan terjungkal di atas tanah, belum sempat bangkit, tubuh orang berwajah putih melayang dan menghantam tubuh orang berwajah hitam! Kedua orang ini berkaparan di atas tanah saling tindih-menindih!

Dewi Kayangan cekikikan keras. Sementara itu, dari tempat persembunyiannya, Dewi Bayang-Bayang tersenyum-senyum. Sedang Pendekar 108 gelenggeleng kepala.

"Luar biasa! Dia dapat menahan bobot badannya dan melejang-lejang di atas selendang dengan enaknya seperti anak-anak!" membatin Pendekar Mata Keranjang 108. "Siapa sebenarnya dua orang itu...? Apa mereka memang sengaja meninggalkan diriku begitu saja...? Mereka bilang minta tolong padaku untuk mengambil sesuatu, sesuatu apa? Lantas kenapa mereka tiba-tiba bentrok dengan Dewi Kayangan...? Masalah sulit yang belum bisa kupecahkan! Sebaiknya kutanyakan pada Dewi Bayang-Bayang "

"Dewi!" seru Pendekar 108 perlahan. Yang dipanggil hanya lirikkan mata. Namun Pendekar 108

meneruskan kata-katanya. "Kau tahu, siapa sebenarnya dua orang itu?"

"Ah, kau ternyata benar-benar anak tolol! Kalau kau yang masih muda dengan pandangan lebih tajam saja tidak tahu, apalagi aku yang sudah rabun!"

"Hmm    Bukan begitu, karena kedua orang itu

memaksa diriku untuk mengambil sesuatu, tapi karena aku tak mau, mereka mengeroyokku. Aku berhasil mereka buat pingsan, anehnya sewaktu sadar kau yang terpampang di hadapanku! Dan kini mereka terlibat bentrok dengan Dewi Kayangan, apa mereka juga hendak minta tolong Dewi Kayangan. ?!"

Sejurus nenek ini pandangi Pendekar Mata Keranjang 108 dengan seksama, membuat yang dipandang kikuk dan salah tingkah.

"Hmm.... Bila demikian halnya, berarti rahasia tentang Arca Dewi Bumi telah bocor keluar! Dan siapa pun adanya dua orang itu, yang pasti mereka tahu tentang rahasia itu! Dewi Kayangan harus diselamatkan. Tampaknya kedua orang itu tidak baik, terbukti mereka menyembunyikan siapa adanya mereka!" membatin Dewi Bayang-Bayang. Lalu berkata pada Pendekar Mata Keranjang.

"Kalau nantinya aku turun tangan menyelesaikan pertengkaran ketiga orang itu, kau tetap di sini! Jangan ke mana-mana. Mengerti?!"

Meski di dalam hati masih disarati dengan beberapa tanda tanya, namun murid Wong Agung ini akhirnya anggukkan kepala.

Kedua orang ini lantas layangkan pandangan masing-masing ke depan lagi. Di mana saat itu Dewi Kayangan sedang memperdengarkan suara cekikikannya seraya mendekati kedua orang yang berkaparan.

Yang didekati untuk beberapa saat lamanya tak menampakkan tanda-tanda akan bangkit. Malah sepasang mata masing-masing kedua orang ini terpejam rapat.

Dewi Kayangan lilitkan selendang merah pada pinggangnya. Lalu perlahan terus mendekati kedua orang berwajah hitam dan putih.

Tiga langkah lagi langkahnya sampai, Dewi Kayangan hentikan kakinya, sepasang matanya yang besar memandangi silih berganti pada orang di hadapannya. Lalu keluar tawa cekikikannya.

"Sebenarnya aku ingin melihat tampang orangorang ini, namun kurasa mereka bertampang jelekjelek. Itu nanti membuat perutku mual dan muntahmuntah. Daripada mengotori bumi, lebih baik tak lihat tampang mereka!"

Habis berkata begitu, Dewi Kayangan dongakkan kepala seraya menadangkan telapak tangan di depan kening.

"Waduh, hari sudah siang. Padahal ada sesuatu yang harus kuselesaikan! Aku harus pergi!"

Dewi Kayangan sekali lagi pandangi dua orang yang terkapar di sampingnya. Lalu balikkan tubuh dan melangkah pergi. Namun baru tiga langkahan kakinya kedua orang yang terkapar serta-merta bangkit. Dan tanpa berkata-kata lagi secara serentak kedua orang ini hantamkan kedua tangan masing-masing ke arah Dewi Kayangan.

Empat sinar hitam menghampar ke depan. Dewi Kayangan yang tidak menduga sama se-

kali cepat palingkan wajah. Parasnya pucat pasi. Karena jaraknya begitu dekat, hingga belum sampai Dewi Kayangan berbuat sesuatu hamparan sinar hitam telah menghantam tubuhnya!

Terdengar pekik kesakitan dari mulut Dewi Kayangan. Tubuhnya yang gemuk besar terpelanting hingga lima tombak ke belakang. Dan begitu tubuhnya tergolek di atas tanah, darah kehitaman tampak mengalir dari sudut bibirnya. Pakaian bagian dada dan bahu kanan terlihat robek besar dengan kulit membiru di baliknya.

Dewi Bayang-Bayang yang menyaksikan kejadian itu mengomel panjang pendek. Bahkan Pendekar Mata Keranjang sempat keluarkan makian keras. Untung ia segera sadar. Buru-buru dia tekap mulutnya lalu bersungut-sungut menggeser tubuhnya seraya menggumam tak karuan.

Di arena pertempuran, melihat Dewi Kayangan berhasil mereka kelabui malah kini berhasil mereka robohkan, kedua orang berwajah hitam dan putih ini segera berkelebat mendatangi.

Di lain pihak, Dewi Kayangan cepat merambat bangkit, dan serta-merta tubuhnya dia putar. Selendang merah di pinggangnya sekonyong-konyong berkelebat. Namun karena tenaga dalam yang dikerahkan tidak penuh, karena Dewi Kayangan dalam keadaan terluka dalam, maka kelebatan selendang itu dengan mudah dapat disergap oleh orang berwajah putih.

Begitu ujung selendang dapat tertangkap, secepat kilat orang berwajah putih ini berkelebat memutarmutar.

Dewi Kayangan tercekat, tubuhnya kini terlilit selendangnya sendiri. Namun perempuan ini tak begitu saja menyerah. Tubuhnya dia lesatkan ke udara. Tapi justru gerakannya ini menjadi bumerang. Karena begitu tubuhnya melesat ke atas, orang berwajah putih sentakkan ujung selendang di tangannya. Mau tak mau tubuh Dewi Kayangan terbetot dengan deras ke bawah. Saat itu, di bawah orang yang berwajah hitam telah menanti dengan kedua tangan siap memukul!

Sesaat lagi tubuh gemuk Dewi Kayangan sampai di hadapan orang berwajah hitam yang sudah siap lancarkan pukulan, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat. Dan dengan gerakan aneh, bayangan tersebut menyambar tubuh besar Dewi Kayangan. Begitu keras dan cepatnya sambaran bayangan tersebut, hingga orang berwajah putih yang masih pegangi ujung selendang terhuyung-huyung terseret ke atas! Bukan hanya itu saja, seraya menangkap tubuh Dewi Kayangan, bayangan tersebut gerakkan kaki kanannya menghentak pada selendang.

Orang berwajah putih terperangah kaget. Pegangan pada ujung selendang bergetar hebat dan panas! Melihat bahaya, orang ini tak mau bertindak ayal, seraya mengumpat keras pegangan tangannya pada ujung selendang dia lepaskan.

***

SEBELAS

BEGITU pegangan terlepas, bayangan yang menggendong tubuh gemuk Dewi Kayangan melayang turun. Sejengkal lagi kaki bayangan ini yang ternyata mengenakan sepasang terompah besar berwajah hitam mendarat di atas tanah, mendadak kaki kanan bayangan ini mendahului menjulai dan menjejak tanah. Tubuh bayangan ini kembali membumbung lalu melesat agak menjauh dari orang berwajah hitam dan putih yang masih seperti terkesima!

Di tempat agak jauh dan aman dari jangkauan orang berwajah hitam dan putih, bayangan yang menggendong tubuh Dewi Kayangan mendarat. Mendudukkan tubuh Dewi Kayangan dan berkata.

"Gembung! Kalau kau tak bisa rubah sikap sembronomu, hidupmu tak akan berumur panjang!"

Dewi Kayangan yang dipanggil Gembung oleh sosok yang menggendongnya dan bukan lain adalah Dewi Bayang-Bayang kerjap-kerjapkan sepasang matanya. Seraya pegangi dadanya yang berdenyut sakit, Dewi Kayangan berkata.

"Panjang dan tidaknya hidupku bukan urusanmu! Kenapa kau repot-repot mengurusi? Hik....

Hik.... Hik...!" Setelah puas cekikikan, Dewi Kayangan terlihat meringis. Lalu meludah ke tanah. Ternyata ludah itu telah berwarna hitam. Menyadari akan dirinya yang telah terluka dalam, Dewi Kayangan segera kerahkan tenaga dalam seraya mengurut-urut dada dan perutnya.

Di seberang, setelah sadar dari rasa terkesimanya, dua orang yang berwajah hitam dan putih saling pandang.

"Rayi Seroja!" seru orang yang berwajah putih begitu mengenali siapa adanya orang yang menyelamatkan Dewi Kayangan.

Mendengar nama itu disebut oleh orang yang berwajah putih, orang yang berwajah hitam surutkan langkah dua tindak ke belakang. Seraya ingin meyakinkan sepasang mata orang ini memandang lurus ke depan tak kesiap. Saat itu Rayi Seroja alias Dewi Bayang-Bayang telah balikkan tubuh dan memandangi silih berganti pada dua orang berwajah hitam dan putih dengan tersenyum-senyum.

Meski bibirnya tersenyum-senyum, diam-diam dalam hati Rayi Seroja berkata.

"Dia mengenaliku. Hmm.... Berarti aku pun pasti mengenalnya! Siapa dia...? Akan kubuka tutup wajahnya!" Dewi Bayang-Bayang angkat kepalanya tengadah ke langit, lalu berkata.

"Wahai orang-orang yang tertutup wajahnya. Di hadapanku lebih baik kalian terus terang saja. Buka penutup wajah kalian! Jika tidak, aku tak segan-segan menelanjangi kalian!"

Orang berwajah putih keluarkan dengusan keras. Sepasang matanya membeliak besar. Pelipisnya bergerak-gerak, sementara dagunya terangkat. Temannya hanya memandang dengan tatapan bimbang. Jelas orang yang berwajah hitam ini agak keder menghadapi Dewi Bayang-Bayang.

"Tua bangka bermulut besar! Apa yang ditakutkan dari ancamannya!" berkata orang yang berwajah putih begitu melihat temannya dilanda perasaan bimbang dan khawatir.

Habis berkata, orang yang berwajah putih berkelebat. Tahu-tahu tubuhnya telah empat langkah di hadapan Dewi Bayang-Bayang. Dan seketika itu juga kedua tangannya disentakkan ke depan.

Dua larik sinar hitam menyambar cepat ke arah Dewi Bayang-Bayang. Suasana seketika menjadi redup dan panas!

Dewi Bayang-Bayang sesaat terlihat tertegun dengan sepasang mata melotot. "Tak mungkin! Tak mungkin dia! Tapi tidak ada dua orang di rimba persilatan ini yang mempunyai jurus seperti ini selain dia! Aku makin penasaran!"

Dewi Bayang-Bayang berseru keras, lalu meloncat ke samping kanan, membuat gerakan berputar dua kali di udara dan serta-merta sentakkan kedua tangannya.

Blaammm!

Dusun Kepatihan laksana dilanda gempa dahsyat. Tanah terbongkar dan melambung ke udara. Tiga pohon besar yang tak jauh dari tempat bertemunya dua serangan berderak tumbang.

Setelah suasana agak terang karena tanah yang beterbangan telah surut, orang berwajah putih katupkan rahangnya rapat-rapat. Sepasang matanya mendelik dan mengedar berkeliling. Ternyata Dewi Bayang-Bayang lenyap bagai ditelan bumi.

Selagi orang berwajah putih mengedarkan pandangan mencari-cari, terdengar ketukan-ketukan. Baik orang yang berwajah putih maupun orang berwajah hitam yang sedari tadi hanya menyaksikan, segera layangkan pandangan matanya ke arah sumber suara ketukan.

Astaga! Kedua pasang mata kedua orang ini membesar dan menyipit. Dewi Bayang-Bayang ternyata duduk dengan kepala bergoyang ke kanan dan kiri di atas sebuah cabang pohon yang tak begitu besar. Kedua kakinya yang mengenakan terompah besar dia ketuk-ketukkan pada batang cabang di bawahnya! Dia seakan-akan menyelaraskan irama ketukan terompahnya dengan gelengan kepalanya.

"Jahanam!" gertak orang yang berwajah putih seraya memberi isyarat pada temannya. Yang diberi isyarat segera takupkan kedua tangannya. Matanya memejam dengan mulut berkemik.

Tanpa didahului dengan suara bentakan, orang berwajah hitam melompat maju dan sekonyongkonyong sentakkan kedua tangannya ke arah Dewi Bayang-Bayang. Di saat yang bersamaan, orang yang berwajah putih melesat ke depan dan hantamkan pula kedua tangannya.

Hebatnya, mendapat serangan dari dua jurusan begitu rupa, Dewi Bayang-Bayang hanya sunggingkan senyum. Dan begitu serangan setengah depa lagi menghantam, Dewi Bayang-Bayang jejakkan kakinya pada cabang di bawahnya. Tubuhnya melesat ke atas, menerabas beberapa cabang pohon. Cabang-cabang pohon itu patah berderak-derak.

Bersamaan dengan melesatnya tubuh Dewi Bayang-Bayang, serangan dari orang berwajah putih dan hitam menderu menghajar. Pohon di mana Dewi Bayang-Bayang tadi berada langsung tumbang dengan kulit mengelupas!

Begitu pohon tumbang, kedua orang ini segera menyapukan pandangannya kembali, karena sosok Dewi Bayang-Bayang tak terlihat melayang turun. Kedua orang ini kembali dibuat melengak. Ternyata Dewi Bayang-Bayang duduk pada sebuah cabang pohon di sebelah pohon yang tumbang.

Selagi kedua orang ini melengak, dari arah pohon di mana Dewi Bayang-Bayang berada melesat dua buah benda hitam. Begitu cepat lesatan benda hitam tersebut, hingga hanya nampak seperti bersitan sinar hitam yang keluarkan suara mendesing! Anehnya, dua benda hitam tadi menerabas satu persatu ke arah orang berwajah putih dan hitam.

Orang berwajah putih dan hitam segera miringkan tubuh masing-masing ke samping, menghindari sambaran benda hitam yang ternyata adalah terompah hitam milik Dewi Bayang-Bayang. Hebatnya, begitu tidak menghajar sasaran, terompah itu mental balik. Saat itulah Dewi Bayang-Bayang menyongsong turun. Setelah mengenakan terompahnya di atas udara, perempuan ini segera merangsek ke arah orang berwajah putih. Namun begitu di lihatnya orang berwajah hitam bertindak lengah, Dewi Bayang-Bayang balikkan tubuh di atas udara dan berkelebat mengarahkan serangan ke arah orang yang berwajah hitam. Tangan kanannya diangkat di atas kepala, sementara tangan kirinya merentang.

Orang yang berwajah hitam terkejut. Namun dia segera miringkan tubuh ke kiri menghindari sabetan tangan kanan Dewi Bayang-Bayang. Saat itulah, tangan kiri Dewi Bayang-Bayang yang merentang dia tarik sedikit, dan serta-merta disentakkan ke wajah orang yang berwajah hitam!

Orang yang berwajah hitam meraung keras. Dia tampaknya tertipu dengan gerak tangan kanan Dewi Bayang-Bayang yang mengharuskan wajahnya menghindar ke samping kiri, saat mana tangan kiri Dewi Bayang-Bayang telah siap menyentak!

Seettt!

Orang berwajah hitam cepat takupkan telapak tangannya ke wajahnya yang kini kulit penutupnya telah terbuka. Saat itulah Dewi Bayang-Bayang segera daratkan kakinya di atas tanah. Lalu tangan kanannya menjotos arah perut orang yang tadi berwajah hitam.

Karena untuk melindungi perutnya dari jotosan, mau tak mau orang ini segera turunkan tangan dan wajahnya! Dan dihantamkan ke bawah! Tapi orang ini terkejut, karena tangannya hanya menghantam tempat kosong, ternyata Dewi Bayang-Bayang telah tarik pulang tangannya yang hendak menjotos.

"Rakai Sirapan! Kau...!" seru Dewi BayangBayang begitu mengetahui siapa adanya orang yang tadi berwajah hitam.

Orang yang dipanggil Rakai Sirapan mendengus keras. Wajahnya yang kini tak lagi tertutup tampak merah padam. Dan dengan marah yang meluap orang ini segera melompat seraya hantamkan kedua tangan sekaligus ke arah kepala Dewi Bayang-Bayang.

Dewi Bayang-Bayang angkat kedua tangannya dan direntangkan sedikit di atas kepalanya.

Prakkk! Prakkk! Terdengar benturan keras. Namun Rakai Sirapan jadi tercengang, karena tangannya kini terjepit kedua tangan Dewi Bayang-Bayang yang ditakupkan begitu kedua tangan Rakai Sirapan menghantam.

Rakai Sirapan kerahkan tenaga dalam untuk menarik tangannya. Namun tiada guna. Jepitan tangan Dewi Bayang-Bayang laksana tiang besi. Saat itulah Dewi Bayang-Bayang sentakkan kaki kanannya.

Desss!

Tubuh Rakai Sirapan melayang dan jatuh bergulingan di atas tanah dengan pakaian bagian dada robek. Darah segera muntah dari mulutnya. Namun orang ini segera merambat bangkit. Tapi begitu agak tegak, tubuhnya meliuk dan roboh kembali.

Di seberang, begitu kulit penutup orang berwajah hitam terbuka Dewi Kayangan membeliak lebar. Mulutnya komat-kamit menggumam sesuatu yang tak jelas. Lalu kepalanya mendongak ke atas. Diam-diam dalam hati dia berkata.

"Hm.... Rakai Sirapan! Berarti tak ada lain orang yang bersamanya adalah Mekar Sari! Ternyata tua bangka Selaksa tidak membual. Mekar Sari benarbenar masih hidup! Tapi kenapa tiba-tiba dia muncul dan menginginkan arca itu? Apa ini bukan karena hasutan kekasihnya si Bangsat Rakai Sirapan...?"

Sementara itu, orang berwajah putih segera melompat maju begitu melihat temannya telah terbuka kedoknya. Dan tanpa berkata-kata lagi kedua tangannya segera mendorong ke depan.

Dewi Bayang-Bayang tak berusaha menghindari serangan orang yang berwajah putih. Dia hanya angkat kedua tangannya, dan dengan pengerahan tenaga dalam penuh, kedatangannya didorong ke depan.

Blarrr!

Terdengar ledakan dahsyat tatkala dua serangan berisi tenaga dalam itu bertemu, di udara. Baik Dewi Bayang-Bayang maupun orang berwajah putih sama-sama terhuyung ke belakang. Saat itulah seraya menahan huyungan tubuhnya, kaki kiri Dewi BayangBayang melejang ke depan, lalu disusul kaki kanannya.

Wuuttt! Wuuuttt!

Terompah besar Dewi Bayang-Bayang berkelebat deras ke depan, ke arah orang berwajah putih yang masih berusaha menguasai dirinya dari olengan tubuhnya!

Seraya menahan rasa tercekat, tangan orang berwajah putih menghantam ke depan. Terompah yang satu bisa dibuat mental, namun satunya lagi tak bisa dipapas, hingga tanpa ampun lagi terompah itu menghantam telak bahunya!

Orang yang berwajah putih menjerit tertahan.

Tubuhnya berputar dan jatuh terjengkang.

Dewi Bayang-Bayang tersenyum. Lalu dengan tanpa memandang orang berwajah putih dia berkata.

"Tanpa kau buka tutup wajahmu aku telah tahu siapa kau! Mekar Sari, lekas menyingkir dari hadapanku! Hari ini aku masih berbaik hati dan menganggapmu sebagai adik! Namun jika suatu waktu kelak kau masih bermain-main dengan orang-orang sesat, jangan menyesal jika aku menutup mata padamu!"

"Ah, bertahun lamanya aku coba menyirap kabar tentangmu yang katanya telah tewas, namun setelah bertemu nyatanya kau berbuat tak pantas! Aku menyesal! Hik.... Hik.... Hik...!" sahut Dewi Kayangan seraya merambat bangkit dan mendekati Dewi BayangBayang.

Sejenak Dewi Kayangan memandang silih berganti pada orang berwajah putih yang ternyata adalah Mekar Sari atau lebih dikenal dengan julukan Dewi Bunga Iblis, lalu beralih pada Dewi Bayang-Bayang. Saat itu baik Dewi Bunga Iblis maupun Dewi BayangBayang juga sedang memandang ke arah Dewi Kayangan, hingga untuk beberapa saat lamanya tiga bersaudara ini saling pandang satu sama lain.

"Kali Nyamat!" berkata Dewi Bayang-Bayang memanggil nama asli Dewi Kayangan. "Cepat suruh minggat anak salah asuhan itu sebelum mataku jenuh melihat tampangnya!"

Dewi Kayangan cekikikan sebentar, lalu berpaling pada Dewi Bunga Iblis dan berkata setengah berteriak.

"Mekar Sari! Telingamu telah dengar ucapan orang, kenapa kau masih enak-enakan menggelosoh di situ? Hayo, minggat sana jauh!"

Sepasang mata Dewi Bunga Iblis membeliak pandangi kedua kakaknya bergantian. Dengan mendengus keras, orang ini merambat bangkit seraya pegangi bahunya yang baru saja terhantam terompah kakaknya Dewi Bayang-Bayang. Perlahan, Dewi Bunga Iblis melangkah ke arah Rakai Sirapan yang ternyata adalah kekasihnya.

"Kakang, kita tebus kegagalan ini pada suatu hari kelak! Kita pergi dari sini!"

Rakai Sirapan tak menyahuti ucapan kekasihnya. Dia hanya bangkit dan melangkah mengikuti Dewi Bunga Iblis yang terlebih dahulu meninggalkan tempat itu.

***

DUA BELAS

BEGITU Dewi Bunga Iblis dan kekasihnya telah pergi, Dewi Bayang-Bayang berpaling pada Dewi Kayangan. Setelah tersenyum dia berkata.

"Kali Nyamat! Kau terima atau tidak, nyatanya rahasia yang bertahun-tahun kita simpan akhirnya bocor juga! Dan bukan tak mungkin hal ini telah menyebar di kalangan orang-orang rimba persilatan!"

Dewi Kayangan mengangguk-angguk seraya cekikikan.

"Benar juga! Tapi kau tahu sendiri, hanya seorang yang kelak dapat mengambil sekaligus mewarisi arca itu. Padahal sampai sekarang aku belum menemukan orangnya!"

Dewi Bayang-Bayang gelengkan kepala sambil tersenyum. Tangannya bergerak melambai pada Pendekar Mata Keranjang 108 yang sedari tadi diam menunggu di balik semak belukar.

Melihat isyarat lambaian tangan Dewi BayangBayang, Pendekar 108 berkelebat keluar. Melangkah mendekati Dewi Bayang-Bayang dan Dewi Kayangan yang tegak memperhatikan dengan dahi berkerut.

"Rayi Seroja! Untuk apa kau bawa gembel jelek ini? Meski dia gagah dan mungkin digandrungi banyak gadis-gadis, aku tak sedikit pun tertarik padanya!"

Meski dalam hati Pendekar Mata Keranjang 108 menggerendeng panjang pendek, namun dia tak menyahuti kata-kata Dewi Kayangan. Dia hanya memandang seraya usap-usap cuping hidungnya.

"Kali Nyamat! Soal tertarik atau tidak, itu urusan belakangan. Yang pasti kita memerlukan manusia satu ini! Dialah orang yang kau tunggu-tunggu!"

Mendengar ucapan adiknya, untuk kali pertama Dewi Kayangan tak keluarkan cekikikannya. Sepasang matanya mengawasi tampang Pendekar Mata Keranjang 108 dari kaki sampai rambut.

"Kau sudah memeriksanya?!" kata Dewi Kayangan tanpa palingkan wajah.

"Mana aku berani bawa orang sebelum kuperiksa keadaannya?!" jawab Dewi Bayang-Bayang sambil elus rambutnya yang menjulai kaku ke atas.

"Aku belum percaya sebelum melihat sendiri!" "Hmm Jika begitu, silakan lihat!" jawab Dewi

Bayang-Bayang seraya senyum-senyum dan kibaskibaskan pakaiannya yang gombrong.

Pendekar Mata Keranjang yang bukan lain Aji adanya tarik kuncir rambutnya seraya menggumam.

"Dari tadi kudengar kalian ribut soal periksa memeriksa. Sebetulnya apa yang sedang kalian bicarakan?"

Dewi Bayang-Bayang berpaling pada Pendekar 108 dan berkata, "Bukankah jauh-jauh kau menuju ke dusun Kepatihan hendak mencari tahu tentang Arca Dewi Bumi? Ketahuilah! Petunjuk tentang beradanya arca itu ada di tangan kakakku ini. Hanya saja syarat utama yang kuketahui, bahwa kelak hanya seorang yang bisa mengambilnya. Orang itu memiliki tandatanda khusus yang dibawa sejak lahir! Nah, sekarang kau mendekatlah pada Dewi Kayangan, dia akan lihat, apakah kau memiliki tanda-tanda khusus itu!"

"Betul! Sini kau!" sambung Dewi Kayangan seraya memberi isyarat agar Pendekar 108 mendekat.

Meski masih banyak pertanyaan di dalam hati, Pendekar 108 melangkah mendekati Dewi Kayangan.

Begitu dekat, kedua tangan Dewi Kayangan segera bergerak meraba-raba tubuh Pendekar 108. Karena kaget tidak menduga, pendekar murid Wong Agung ini segera hendak melompat mundur. Namun Pendekar

108 terperangah. Wajahnya berubah pias dengan sepasang mata membeliak. Karena ternyata tubuhnya tegang kaku tak bisa digerakkan!

"Gila! Dia telah menotokku!" umpat Aji dalam hati seraya pandangi silih berganti pada Dewi BayangBayang dan Dewi Kayangan. Yang dipandangi hanya senyum, sementara satunya cekikikan seraya terus meraba-raba.

"He...! Lepaskan pegangan jarimu pada bijiku!" teriak Pendekar Mata Keranjang saat dirasa tangan kiri Dewi Kayangan meraba pangkal pahanya dan memencet dua bijinya.

"Walah, kenapa tanganku ngelantur tak karuan? Sial benar!" kata Dewi Kayangan lalu berpaling pada Dewi Bayang-Bayang dan ajukan pertanyaan.

"Rayi Seroja! Kau jangan bohongi aku, di mana letaknya...?"

Dewi Bayang-Bayang katupkan mulut dan mengangkat tangannya ditekapkan pada mulut. Bahunya nampak berguncang menahan tawa. Lalu berkata. tanya!" "Dasar tolol! Sudah dipegang masih tanya-

"Hahhh? Jadi di sini...?!" kata Dewi Kayangan seraya memencet kembali. Pendekar 108 semakin membeliakkan sepasang matanya. Dari mulutnya keluar gerendengan tak karuan. Sementara Dewi BayangBayang tergelak-gelak.

Setelah puas tertawa, Dewi Bayang-Bayang mendekati Dewi Kayangan yang masih memencet mencet seraya tertawa cekikikan.

"Kali Nyamat! Tanda itu ada pada kepalanya!" bisik Dewi Bayang-Bayang seraya cepat mundur karena saat itu juga Dewi Kayangan lepaskan pegangan tangan kirinya yang memencet dan kibaskan tangannya pada Dewi Bayang-Bayang.

"Dasar perempuan tua tak tahu malu! Beraninya kau mengerjai aku!" kata Dewi Kayangan seraya melotot. Namun sebentar kemudian tawa cekikikannya keluar. Tangannya lantas bergerak memegang kepala Aji dan ditekan.

"Gila! Apa maunya orang-orang ini sebenarnya? Apa dikiranya aku barang mainan?" gerutu Pendekar

108. Namun dia tak bisa berbuat apa. Tubuhnya segera menekuk begitu tangan Dewi Kayangan menekan.

"Hmmm.... Jadi memang dia orangnya...," gumam Dewi Kayangan setelah puas meraba-raba dan menekan kepala Pendekar 108. Tangan orang ini lantas bergerak kembali ke sana kemari di sekujur tubuh Pendekar Mata Keranjang. Begitu tangannya berhenti bergerak, astaga! Pendekar Mata Keranjang bisa gerakkan kembali anggota tubuhnya.

"Satu nol delapan!" seru Dewi Kayangan. Dia sengaja memanggil begitu setelah mengetahui bahwa di kepala Aji memang terdapat guratan angka 108.

"Dengar baik-baik! Di rimba persilatan ini memang ada arca bernama Dewi Bumi. Namun arca itu hanya bisa diambil oleh orang yang mempunyai tanda angka 108 di tubuhnya. Karena orang itu adalah kau, maka sekarang kau pergilah ke utara. Di sebuah daerah bernama Bajul Mati, carilah seorang pertapa bernama Resi Sahyang Gopala! Hanya itu petunjuk yang ada padaku! Selanjutnya urusanmu!"

Pendekar Mata Keranjang 108 sepertinya masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia memandang lurus-lurus pada Dewi Kayangan dan Dewi Bayang-Bayang.

Dewi Bayang-Bayang tersenyum, lalu dengan mata sedikit melotot dia berkata.

"Kau sudah dengar kata-kata orang. Tunggu apa lagi? Apa ingin dipencet lagi...?!"

"Brengsek! Siapa yang mau pencet-pencet lagi? Enak di dia, rugi di kita! Hik.... Hik.... Hik...!" sahut Dewi Kayangan seraya kibas-kibaskan tangan kirinya yang tadi memencet biji Pendekar 108.

Pendekar 108 usap-usap cuping hidungnya seraya menggumam perlahan. "Apa dikira aku senang kau pencet-pencet! Kalau kalian gadis-gadis cantik, kalian pencet sampai lumer pun aku tak akan menjeritjerit!" Lalu Pendekar Mata Keranjang 108 membungkuk dan berkata.

"Hanya ucapan terima kasih yang dapat kusampaikan atas petunjuk yang telah kalian berikan! Aku mohon diri sekarang "

"Hik.... Hik.... Hik ! Kau tak usah berbasa-basi

begitu! Lekas pergi sana!" bentak Dewi Kayangan. Namun meski nada suaranya membentak, mulut orang ini mengumbar tawa panjang seakan tak henti henti.

Pendekar Mata Keranjang 108 luruskan tubuh. Mengawasi sejenak pada Dewi Kayangan dan Dewi Bayang-Bayang. Dalam hati dia berkata.

"Orang aneh! Kalau terus kumpul dengan orang-orang begini, bisa-bisa aku kejangkitan jadi orang aneh "

Setelah puas menatapi dua orang kakak beradik itu, Pendekar 108 kerdipkan sebelah matanya pada keduanya. Lalu balikkan tubuh dan melangkah meninggalkan tempat itu.

Dewi Kayangan membelalakkan sepasang ma-

tanya.

"Dasar Mata Keranjang! Pada orang-orang tua

bangka seperti kita-kita ini masih juga sempat kerdipkerdipkan sebelah matanya!" Lalu perempuan bertubuh gemuk besar ini tertawa cekikikan, sementara Dewi Bayang-Bayang buka lebar-lebar mulutnya seakan hendak tertawa bergelak, namun yang terlihat kemudian adalah senyum di bibirnya! 

SELESAI