Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 12 : Datuk Lembah Neraka

 
Eps 12 : Datuk Lembah Neraka 


LANGIT di atas Laut Utara tampak diselimuti awan bergulung-gulung. Gelombang yang abadi memecah lamping-lamping batu karang terdengar bergemuruh menghentak. Angin laut berhembus kencang menambah tercekamnya suasana.

Di saat itu, dua bayangan kuning terlihat berkelebat cepat laksana bersitan-bersitan sinar menuju arah Laut Utara. Begitu sampai pesisir, dua bayangan tersebut hentikan larinya masing-masing. Seraya mengusap keringat yang membasahi kening masingmasing, kedua pasang mata dua orang ini memandang nyalang berkeliling. Saat kedua pasang mata mereka menangkap julangan batu karang yang berada di tengah-tengah laut, mata keduanya membesar tak kesiap. Bahkan salah seorang di antaranya menadangkan telapak tangannya di depan kening agar pandangan semakin jelas.

"Julangan batu karang di tengah laut, mungkin itu tempat yang kita cari!" berkata orang yang menadangkan telapak tangan dengan sepasang mata tak beranjak dari gundukan batu karang di tengah laut. Dia adalah seorang laki-laki. Badannya tinggi besar, mengenakan pakaian panjang warna kuning yang diselempangkan di pundak kiri kanan. Raut mukanya bundar dengan hidung agak besar, sepasang matanya lebar dengan kepala plontos.

Untuk beberapa saat lamanya orang yang diajak bicara masih diam. Hanya pandangannya lurus ke depan, ke arah julangan batu karang di tengah laut. Kedua tangannya saling menakup dan diangkat se-jajar dada. Mulutnya berkemik. Seperti halnya yang mengajak bicara, orang kedua ini juga berpakaian warna kuning. Sepasang matanya sipit dengan hidung mancung. Tubuhnya tinggi kurus dengan kepala plontos.

Setelah berkemik-kemik yang tak jelas, akhirnya orang yang tinggi kurus ini membuka mulut, namun pandangannya tetap lurus ke depan.

"Bukan mungkin lagi, tapi aku yakin memang itulah tempat yang kita cari. Kita harus segera ke sana agar urusan ini cepat selesai!"

"Benar! Tapi kita juga harus waspada. Manusia yang akan kita hadapi adalah seorang tokoh rimba persilatan yang kenyang pengalaman dan ilmunya sulit diukur. Malah muridnya, manusia yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108 saat ini telah menjadi tokoh yang paling ditakuti oleh momok-momok golongan hitam...!" ujar orang yang bertubuh tinggi besar sambil berpaling ke samping dan menurunkan telapak tangannya dari kening.

Orang yang tinggi kurus mendengus keras dan menoleh. Mereka sejenak saling berpandangan satu sama lain. Namun mendadak saja yang bertubuh tinggi besar tertawa bergelak-gelak melihat sikap orang di sampingnya.

"Kau jangan salah paham dengan ucapanku. Aku berkata demikian tadi bukannya berarti aku takut! Hanya sebagai isyarat agar kau tak memandang remeh orang yang akan kita hadapi. Meremehkan orang tak jarang menjadi bumerang!"

Orang yang tinggi kurus kembali mengeluarkan dengusan. Wajahnya kembali dia luruskan ke depan. Dagunya mengeras dengan pelipis bergerak-gerak.

"Wisnu Paladasa!" panggil orang yang tinggi kurus pada orang di sampingnya tanpa mengalihkan pandangan. "Kau tak usah khawatirkan diriku. Aku telah tahu siapa adanya Wong Agung, orang yang akan kita hadapi itu!"

Orang yang tinggi besar yang tadi dipanggil dengan Wisnu Paladasa tersenyum lebar, lalu berkata.

"Bagus! Kita teruskan perjalanan!"

"Tapi kita perlu alat untuk mencapai tempat itu. Kau lihat...," belum habis kata-kata orang yang tinggi kurus, Wisnu Paladasa telah berkelebat cepat ke arah dari mana mereka tadi datang. Dan tak lama kemudian, dia muncul dengan pundak kiri kanan memanggul dua batang pohon kelapa, dan enak saja kedua batang pohon kepala besar itu lantas dilempar ke tengah laut.

"Jalu Kembara!" panggil Wisnu Paladasa pada orang yang tinggi kurus dengan isyarat kepala agar temannya segera bergerak mengikuti dirinya yang kini telah berkelebat dan kaki kiri kanan terpentang di atas batangan pohon kepala yang telah mengapung.

Tanpa menunggu lama lagi, Jalu Kembara bergerak dan tahu-tahu tubuhnya telah berada tegak kokoh di belakang Wisnu Paladasa. Dan seolah hampir tidak bisa dipercaya, begitu kedua orang botak ini telah berada di atas batangan pohon kelapa, batangan pohon itu meluncur deras ke depan menerjang gempuran ombak! Padahal kedua orang ini hanya memutarmutar kedua tangan masing-masing ke depan dan ke belakang.

"Kita harus sampai sebelum hujan turun. Karena hujan akan menghambat perjalanan kita!" berkata Wisnu Paladasa seraya mempercepat putaran kedua tangannya yang kemudian diikuti oleh Jalu Kembara. Batangan pohon kelapa itu melesat lebih kencang ke depan membedah gulungan ombak. Tak berselang lama, batangan pohon kelapa itu telah sampai di batu karang yang berada di tengahtengah laut. Dan sebelum batangan itu menyentuh batu karang, kedua orang itu telah lesatkan diri masingmasing ke batu karang yang mengelilingi batu karang tinggi menjulang.

Untuk beberapa lama kedua orang ini tak kesiap memandang pada batu karang yang tinggi menjulang, karena selain tinggi ternyata sisi-sisi batu karang itu lurus! Mirip sebuah tembok bangunan!

"Apa kau yakin jika orang yang kita cari itu berada di sana?!" tanya Wisnu Paladasa seraya tengadahkan kepala dan arahkan pandangannya ke atas.

"Aku belum bisa memastikan sebelum kita sampai di sana! Tapi melihat tempatnya, aku hampir yakin, inilah tempat orang yang kita cari. Kita harus cepat menyelidik ke sana!" kata Jalu Kembara dengan menebar pandangan ke sisi-sisi batu karang.

Wisnu Paladasa anggukkan kepala. "Makin cepat kita menyelidik makin baik, karena urusan ini akan segera berakhir dan musuh kita tinggal muridnya, Pendekar 108!"

"Benar! Setelah itu baru kita kuasai rimba persilatan! Jika itu terjadi segala keinginan kita hanya tinggal tunjuk. Kau tahu, apa yang selama ini kuidamidamkan?" berkata Jalu Kembara yang bertubuh tinggi kurus itu, seraya sunggingkan senyum, membuat matanya yang sipit semakin terpuruk.

Yang ditanya hanya gelengkan kepala perlahan tanpa menoleh.

"Aku ingin tidur dengan tujuh perempuan cantik dalam satu ranjang selama tiga hari tiga malam. Ha ha... ha...!"

Wisnu Paladasa yang bertubuh besar ikut-ikutan tertawa, namun tawanya tiba-tiba dia penggal. Dan berkata dengan sedikit keras, mengimbangi suara gelak tawa Jalu Kembara.

"Hentikan tawamu! Lihat di atas!"

Serta merta Jalu Kembara hentikan tawanya. Pandangan matanya dia arahkan pada tempat yang dikatakan Wisnu Paladasa. Ternyata batu karang yang tinggi menjulang itu perlahan-lahan sirna tertutup oleh kabut putih yang turun dari langit.

"Apa karena ini maka tempat ini disebut orang Karang Langit?" bisik Jalu Kembara dengan tak berkedip.

"Kita harus segera mencapai tempat itu sebelum batu karang itu tertutup kabut seluruhnya!" kata Wisnu Paladasa sambil melangkah dua tindak ke depan. Kedua tangannya dia takupkan di depan dada, sepasang matanya terpejam dengan bibir bergerak-gerak mengucapkan sesuatu.

Sementara itu, tahu akan apa yang hendak dilakukan oleh Wisnu Paladasa. Jalu Kembara pun maju dua tindak ke depan dan melakukan seperti apa yang dilakukan Wisnu Paladasa. Lantas bagai dikomando, kedua tangan kedua orang ini mereka buka dan mereka luruskan ke depan tubuh masing-masing mereka putar hingga keduanya kini saling berhadapan dan kedua tangan masing-masing mereka pertemukan. Dan didahului dengan bentakan dahsyat, kedua orang ini jejakkan kaki masing-masing.

Serta merta tubuh Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara melejit ke atas, menembus asap putih dan tak lama kemudian berdiri kokoh di pedataran batu karang yang tinggi menjulang.

"Aneh! Ternyata kabut putih itu hanya menutupi sisi-sisi batu karang. Sementara bagian sini terang benderang!" ujar Wisnu Paladasa begitu sampai di pelataran batu karang yang tinggi menjulang. Seraya berkata, sepasang matanya yang lebar menatap jauh ke depan, di mana tampak sebuah bangunan dari batu. juk. "Ada bangunan di sana!" Wisnu Paladasa menun-

Jalu Kembara mengangguk perlahan.

"Saatnya kita menyelidik!" kata laki-laki tinggi kurus ini. Dan tanpa menunggu jawaban dari Wisnu Paladasa, dia telah berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri dua tombak di depan bangunan batu.

"Hmm   Bangunan ini nampaknya tidak terawat.

Puing-puing bekas hancuran teras depan dibiarkan tetap berserakan. Melihat puing-puing yang telah berlumut, hal ini terjadi telah beberapa tahun silam "

Jalu Kembara terdiam sesaat, sementara sepasang matanya terus menebar ke sekeliling bangunan.

Raut muka Jalu Kembara tiba-tiba berubah. Matanya yang sipit dia buka lebar-lebar. "Kau tunggu di sini, aku akan menyelidik ke samping bangunan! Aku khawatir, tempat ini telah ditinggalkan penghuninya...," kata Jalu Kembara pada Wisnu Paladasa yang ternyata telah berada di sampingnya.

Yang diajak bicara mengangguk perlahan tanpa palingkan wajah. Dan tak lama kemudian Jalu Kembara telah kembali. Parasnya makin mengeras.

"Aku hampir yakin, tempat ini telah ditinggalkan penghuninya!" simpul Jalu Kembara begitu melihat keadaan samping bangunan.

"Kita tak usah buru-buru ambil kesimpulan. Kita belum ke dalam!" berkata Wisnu Paladasa seraya pentangkan sepasang kakinya. Dan baru saja laki-laki tinggi besar ini hendak angkat bicara, dia rapatkan kembali sepasang kakinya, sementara Jalu Kembara surutkan langkah satu tindak ke belakang!

Tempat mereka berdiri mula-mula terasa bergetar perlahan, namun makin lama semakin keras. Hingga membuat kedua orang ini harus mengerahkan sedikit tenaga dalamnya untuk menahan agar tubuh masingmasing tak terhuyung-huyung.

"Keparat!" keluar sumpah serapah dari mulut Jalu Kembara. "Dia tampaknya telah mengetahui kedatangan kita!"

"Betul! Kita harus hati-hati!" bisik Wisnu Paladasa. Laki-laki ini lantas berteriak lantang.

"Wong Agung! Kami tak butuh mainan anak-anak macam ini! Keluarlah, tunjukkan wujudmu! Songsonglah hari kematianmu!"

Karena teriakan itu disertai pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi, maka tak heran jika untuk beberapa saat lamanya getaran yang terasa di pelataran bangunan batu itu terhenti sejenak! Malah gemuruh gelombang laut di bawah bagai tertahan!

"Wong Agung! Lekas keluarlah! Takdir kematianmu telah datang. Pendekar seperti kau tak layak menyambut tamu dengan sembunyi-sembunyi!" terdengar lagi teriakan membahana. Kali ini yang keluarkan teriakan adalah Jalu Kembara. Namun sejauh ini tak ada tanda-tanda sahutan, apa lagi terlihatnya wujud orang yang diteriaki.

Kedua orang berkepala plontos dan berpakaian selempang kuning mirip pakaian seorang pendeta itu sejenak saling berpandangan. Raut wajah ke duanya telah tampak merah padam. Rahang masing-masing terangkat ke atas, sementara pelipisnya bergerak-gerak menindih amarah yang mulai mendera dada masingmasing. Jalu Kembara yang tampaknya ingin segera menyelesaikan persoalan mendekat ke depan bangunan. Kedua tangannya dia usap-usapkan pada batok kepalanya lalu dia tarik ke bawah dan dikeplaknya lalu diadu satu sama lain hingga mengeluarkan suara benturan agak keras, lalu mulutnya kembali membuka hendak berteriak.

Namun belum sampai Jalu Kembara keluarkan teriakan, dari delapan penjuru mata angin terdengar suara. Hebatnya, meski kedua orang ini belum bisa menentukan dari mana sumber suara, namun suara itu bagai dikeluarkan di dekat telinga masing-masing dua laki-laki ini, membuat keduanya serentak undurkan kaki masing-masing.

"Aku sedari tadi telah menyambut kalian di sini!

Hanya kalian saja yang tidak melihat!"

Setelah dapat menentukan sumber suara, serentak kedua orang ini sama-sama balikkan tubuh masing-masing.

"Apa mau kalian mengusik ketenangan tempatku?!" tegur seseorang yang kini telah berdiri empat tombak di hadapan Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara.

Dia adalah seorang laki-laki mengenakan jubah warna putih. Rambutnya panjang bergerai, demikian pula jenggotnya. Sepasang matanya tertutup sepotong kulit yang diikatkan ke belakang kepala, sementara tangan kanannya tak henti-henti mengelus uraian jenggotnya yang telah berwarna putih.

Entah karena masih terkejut dan terkesima, atau mungkin karena belum bisa menguasai diri, kedua orang yang ditegur ini tidak segera menjawab. Hanya sepasang mata keduanya tak kesiap memandang ke depan dengan tatapan nyalang beringas. "Paladasa! Apakah ini bentuknya orang yang kita cari?!" bisik si tinggi kurus tanpa berpaling.

"Benar! Dialah Wong Agung, orang yang akan kita kirim ke neraka!" jawab si tinggi besar juga tanpa palingkan wajahnya.

"Jika kalian tak segera jawab tanyaku, jangan menyesal bila kalian akan kutinggalkan. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan!" berkata laki-laki berjubah putih yang bukan lain memang Wong Agung adanya, guru dari Pendekar Mata Keranjang 108.

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara sama-sama dongakkan kepala ke atas. Dari mulut masing-masing tiba-tiba meledak tawa keras yang membahana bersahut-sahutan. Karena gelak tawa mereka dengan pengerahan tenaga dalam, membuat suara tawa itu seakan menusuk gendang telinga orang yang mendengarnya.

Melihat gelagat tidak enak, Wong Agung segera kerahkan tenaga, lalu kepalanya dia tengadahkan. Dari bibirnya yang sedari tadi menyunggingkan senyum terdengar suara tawa. Mula-mula pelan, namun makin lama makin keras dan menggetarkan pelataran bangunan batu serta menyapu lenyap suara tawa dua orang dihadapannya. Diam-diam kedua orang berkepala plontos ini jadi terkesiap hati masing-masing. Mereka sadar, orang yang berdiri di hadapan ini tingkat tenaga dalamnya masih jauh di atas mereka. Namun demikian, kedua orang ini tidak me-nampakkan rasa takut sama sekali. Malah keduanya sama-sama melangkah maju.

"Tua bangka! Kau boleh tinggalkan kami, tapi itu hanya namamu! Ragamu akan tetap di sini karena sebentar lagi akan segera kami kubur!" kata Wisnu Paladasa dengan bola mata membeliak menusuk.

"Hmm   Karena mataku tak dapat melihat, kalau boleh aku tahu, siapa kalian sebenarnya? Rasarasanya kita belum pernah bertemu!" ujar Wong Agung dengan bibir tetap mengulum senyum.

"Tua bangka ini awas juga. Dia dapat membedakan suara orang yang pernah dikenalnya dan suara orang yang belum pernah bertemu...," membatin Jalu Kembara dengan sepasang mata memperhatikan lebih seksama sosok di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Memang, Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara belum pernah bertemu dengan Wong Agung. Kedua orang ini sebenarnya adalah seorang pendeta. Namun dalam perjalanan hidup mereka, keduanya bertemu dengan seorang pendeta berilmu tinggi. Karena kedua orang ini ingin memiliki ilmu silat tinggi, keduanya pun berguru. Ternyata, pada akhirnya ilmu silat telah mengubah jalan pikiran kedua orang ini, ini karena sang Guru mereka ternyata adalah seorang bekas tokoh silat dari golongan hitam.

Namun, meski kedua orang ini telah melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh seorang pendeta, tapi pakaian dan gaya mereka masih tak meninggalkan laksana seorang pendeta.

"Jalu Kembara...!" ujar Wisnu Paladasa seraya menoleh. "Apa perlu kita perkenalkan diri sebelum mengantarkan nyawanya menuju tempat peristirahatan terakhirnya?"

Jalu Kembara kembali tertawa bergelak. Tiba-tiba suara tawanya lenyap, kedua tangannya dia angkat ke atas dengan dada membusung.

Weesss!

Serangkum angin deras menyambar dari angkatan kedua tangan Jalu Kembara. Merasakan hal ini Wong Agung segera doyongkan tubuh ke samping kanan.

"Untuk yang satu ini, tidak ada salahnya jika kita

perkenalkan diri!" kata Jalu Kembara seraya tersenyum sinis. Wisnu Paladasa busungkan dada, lalu berkata.

"Dengar Wong Agung! Kau tidak perlu tahu siapa kami. Hanya saja mungkin kau masih ingat dengan orang yang bernama Dadaka Lanang. Nah, kami berdua adalah utusan Dadaka Lanang!"

"Dadaka Lanang...," gumam Wong Agung mengulangi kata-kata Wisnu Paladasa seraya dongakkan kepala. Dia tampaknya coba mengingat-ingat.

"Hmm.... Dadaka Lanang   Manusia keji bergelar

Datuk Lembah Neraka. Rupanya dia ingin mengulang rencana yang gagal pada beberapa puluh tahun silam. Manusia yang punya ambisi untuk menguasai rimba persilatan ," batin Wong Agung. Dia lantas berkata.

"Sebenarnya aku sudah menganggap selesai persoalan antara aku dengan manusia bergelar Datuk Lembah Neraka. Jadi jika kalian berdua akan memperpanjang masalah itu, kalian salah alamat! Aku sudah lama mengundurkan diri dari gemerisiknya rimba persilatan. Dengar! Aku sekarang tidak akan lagi menghalangi segala rencana Datuk Lembah Neraka, karena untuk hal itu sudah ada orang yang menangangi! Silakan kalian tinggalkan tempat ini!"

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara saling berpandangan sejenak. Lantas keduanya saling membuang muka masing-masing dengan tersenyum angker.

"Jika kau anggap selesai masalahmu dengan Datuk Lembah Neraka, itu adalah hakmu. Namun satu hal yang pasti, kepalamu sangat berharga bagi Datuk Lembah Neraka, untuk itulah kami datang! Dan kami tak akan tinggalkan tempat ini dengan tangan hampa!" kata Jalu Kembara. Dia lantas berpaling pada Wisnu Paladasa dan berkata.

"Paladasa! Kita selesaikan manusia ini!"

Wisnu Paladasa anggukkan kepala. Dan di kejap lain mendadak kedua manusia berkepala plontos ini sama-sama berkelebat seraya kirimkan pukulan.

Wuuttt! Wuuuttt!

Empat larikan sinar berwarna kuning redup melesat menyambar ke arah tubuh Wong Agung. Bukan hanya sampai di situ, begitu empat sinar melesat, dua sosok ini segera berpencar ke samping kanan dan kiri, dan dari tempatnya ini mereka segera kembali kirimkan serangan.

Kini dari arah depan, samping kanan dan samping kiri melesat larikan-larikan sinar kuning redup! Dari sini jelas terlihat bahwa kedua orang ini ingin segera menyelesaikan Wong Agung saat itu juga!

Meski kedua matanya tertutup, Wong Agung dapat merasakan betapa ganasnya serangan yang dilancarkan oleh kedua orang di hadapannya. Namun sebagai tokoh yang pernah malang melintang menegakkan kebenaran, penghuni Karang Langit ini segera sambut serangan lawan dengan lesatkan diri membuat putaran beberapa kali ke belakang. Pada putaran kelima, kedua tangannya segera dibuka dan didorong ke depan!

Larikan sinar kuning redup yang datang dari arah samping kanan dan kiri bentrok di udara, hal ini karena Wong Agung telah terlebih dahulu melesat ke belakang untuk menghindar. Hingga kejap itu juga terdengar ledakan dahsyat yang mengguncang pelataran batu karang di tengah laut itu. Namun serangan larikan yang datang dari arah depan, terus menerabas! Saat itulah dorongan kedua tangan Wong Agung yang keluarkan suara menggemuruh bagai gelombang datang memapak!

Blarrr!

Kembali terdengar ledakan dahsyat. Batu karang tinggi menjulang di tengah laut itu kembali bergetar. Malah batu karang di bawah bertemunya tiga serangan bertenaga dalam tinggi itu terbongkar dan berhamburan menjadi abu.

Begitu dahsyatnya getaran batu karang, hingga membuat Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara terhuyung-huyung ke belakang, sementara Wong Agung surutkan dua tindak kakinya ke belakang.

Begitu dapat kuasai tubuh masing-masing, Wisnu Paladasa kertakan rahang, sedangkan Jalu Kembara keluarkan dengusan keras. Kedua murid Datuk Lembah Neraka ini segera merangsek maju. Sementara di seberang sana Wong Agung hanya berdiri menunggu.

"Kita hantam dari jarak dekat!" bisik Wisnu Paladasa. Dia lirikkan matanya pada Jalu Kembara. Dua orang ini saling beri isyarat dengan anggukkan kepala masing-masing. Lantas tiba-tiba saja tubuh kedua orang ini berkelebat lenyap. Dan tahu-tahu kedua sosoknya menukik dari atas tubuh Wong Agung dengan kedua tangan masing-masing menekan ke bawah! Hebatnya sebelum tekanan yang bisa menghancurkan batok kepala itu mencapai sasaran, empat angin deras yang keluarkan suara menggidikkan melesat mendahului!

Wong Agung sejenak terkesiap. Dan sebelum serangan mematikan itu menghantam kepalanya, dia undurkan kaki satu tindak, lalu tubuhnya dia lorotkan sedikit ke bawah. Dan dengan didahului bentakan keras, kedua tangannya yang telah mengepal dia angkat lurus ke atas!

Deess! Deess! Deess! Deeesss!

Terdengar empat kali suara beradunya lengan tangan. Lalu disusul dengan suara pekikan tertahan dua kali berturut-turut. Tubuh Wisnu Paladasa berputar balik dan jatuh berkaparan di atas batu, sementara tubuh Jalu Kembara mental dan menukik ke bawah tanpa bisa lagi menguasai keadaan, hingga di kejap kemudian tubuhnya menghempas batu karang.

Jika bibir Wisnu Paladasa langsung keluarkan darah begitu mengantuk batu karang, tidak demikian halnya dengan Jalu Kembara. Meski tubuhnya keras menghantam batu karang, namun dia tampak tidak mengalami cedera, bahkan di kejap itu juga dia segera bangkit kembali dengan kedua tangan saling menakup di depan dada. Mulutnya berkemik-kemik. Dan mendadak saja tubuhnya kembali melesat ke depan dengan kedua tangan terbuka dan dipukulkan ke arah Wong Agung.

Wong Agung yang baru saja dapat menguasai diri dari olengan tubuhnya akibat benturan tangan diamdiam merasa heran. Dia tak menduga jika salah satu lawannya yang baru saja jatuh berkaparan secepat itu bangkit dan malah kirimkan serangan! Namun rasa herannya tak berlangsung lama, karena saat itu juga dari kedua tangan Jalu Kembara melesat asap hitam yang membentuk batangan-batangan laksana batangan pohon besar. Hebatnya batang asap itu bukan hanya lurus, namun salah satu di antaranya berputar bagai baling-baling dan keluarkan suara mendesisdesis sementara satunya lagi menyilang lurus!

Wuuusss! Wuuusss!

Wong Agung dengan menahan rasa heran cepat rebahkan tubuhnya di atas batu karang. Kedua kakinya dia hantamkan ke arah batang asap yang membentuk baling-baling.

Beek! Beekk!

Batangan asap itu, yang ternyata keras bagai batu mencelat ke atas, dan detik itu juga tubuh Wong Agung membal dan menyusul lesatan batangan asap ke atas. Saat tubuhnya melenting ke atas, kedua tangannya segera dia dorongkan ke arah batangan asap yang membentuk silangan!

Weess! Weeesss!

Batangan asap yang menyilang tiba-tiba terhenti di udara, dan dengan gerak cepat, kedua kaki Wong Agung menjejak. Batangan asap itu melayang ke udara menyusul batangan yang pertama.

Begitu dua batangan asap berada di atas udara, Wong Agung segera menukik ke bawah, dan begitu hampir menginjak batu karang, kedua kakinya menjejak keras. Tubuhnya kembali melesat ke udara. Dan dengan gerakan ringan kedua kakinya mendarat ringan di atas dua batangan asap yang kini turun dengan posisi lurus menyamping

Bukan hanya sampai di situ, begitu dua batangan yang dinaiki hampir menyentuh batu karang, Wong Agung lesatkan diri ke depan, dan serta merta kedua kakinya menyentil kedua ujung batangan asap!

Hebatnya, meski sentilan kedua kaki itu hanya perlahan, namun batangan asap itu kini meluncur deras. Satu mengarah pada Wisnu Paladasa yang baru saja bangkit sementara satunya lagi mengarah pada Jalu Kembara yang tampaknya masih terkesima dengan apa yang diperbuat oleh Wong Agung!

Jalu Kembara yang tahu banyak jika terhantam batangan asap serangannya sendiri segera berteriak memberi peringatan pada Wisnu Paladasa. "Menyingkir! Jangan ditangkis!" seraya berteriak, Jalu Kembara lesatkan diri ke samping untuk menghindari batangan asap yang menuju ke arahnya. Di lain pihak, Wisnu Paladasa segera melompat mengikuti petunjuk temannya.

Benar saja, begitu kedua orang pendeta ini berhasil meloloskan diri masing-masing dari hantaman batangan asap, batangan asap itu meledak di udara dengan keluarkan kepingan-kepingan yang menghambur ke segala jurusan!

"Setan alas!" kertak Jalu Kembara. "Tampaknya mata batin manusia ini lebih sempurna dari penglihatan mata biasa "

"Sudahlah! Kalian lekas tinggalkan tempat ini. Tak ada gunanya masalah ini diteruskan!" berkata Wong Agung dengan bibir tersenyum. Seolah sepasang matanya bisa melihat, kepalanya bergerak bergantian ke arah Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara.

"Kami tak akan turun dari sini dengan berhampa tangan!" teriak Wisnu Paladasa dengan air muka merah padam. Lantas laki-laki tinggi besar ini berkelebat cepat dan tahu-tahu tubuhnya telah menerjang ke arah Wong Agung dengan sepasang kaki lurus mengarah pada dada.

Di lain pihak, begitu tahu Wisnu Paladasa menggebrak, Jalu Kembara tak tinggal diam. Dia pun segera melesat ke depan.

Wong Agung segera miringkan tubuh untuk menghindari terjangan sepasang kaki Wisnu Paladasa, dan begitu sepasang kaki Wisnu Paladasa lewat sejengkal di samping tubuhnya, tangan kanannya segera berkelebat cepat hendak mencekal. Namun belum sampai tangan kanannya mencekal, dari arah samping Jalu Kembara telah datang dengan tangan berputarputar dan kaki menggunting!

Bukkk! Bukkk!

Wong Agung keluarkan seruan tertahan begitu kaki Jalu Kembara berhasil menggunting bahunya dan membantingnya ke samping, membuat guru Pendekar Mata Keranjang 108 ini tubuhnya terbanting deras menghantam batu karang!

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara tertawa bergelak-gelak. Keduanya lantas melangkah mendekat ke arah Wong Agung yang merambat bangkit. Dan seakan ingin segera menyelesaikan persoalan, kedua laki-laki ini segera hantamkan kedua tangan masing-masing ke arah Wong Agung!

Wong Agung tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, dia tak menduga jika lawan akan lancarkan serangan pada saat dia bangkit.

"Hmm.... Apa boleh buat. Aku sebenarnya tidak menginginkan masalah ini berlarut-larut. Tapi mereka tampaknya memaksa...," membatin Wong Agung sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi di atas kepalanya.

Mendadak suasana di pelataran bangunan batu itu menjadi terang benderang, padahal saat itu awan bergulung-gulung menutupi langit. Itulah sebuah isyarat jika Wong Agung hendak kirimkan pukulan andalan.

Kedua tangan Wong Agung lantas dipukulkan satu sama lain di atas kepalanya. Dan kejap itu pula dari kedua tangan guru Pendekar Mata Keranjang 108 ini berpencaran beberapa pijaran cahaya yang memapak serangan kedua tangan Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara. 

Plarrr! Plaaarrr!

Terdengar beberapa kali letupan. Serangan yang menyambar dari kedua tangan dua laki-laki di hadapan Wong Agung itu hilang lenyap! Malah sebagian pijaran yang melesat dari tangan Wong Agung menerabas ke arah Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara.

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara sama-sama keluarkan runtukan. Dan dengan menindih rasa jerih kedua orang ini segera putar-putar kedua tangan masing-masing untuk melindungi diri dari hantaman pijaran yang mengarah pada mereka dari segala jurusan!

Saat kedua laki-laki ini sibuk menghadapi pijaran-pijaran yang ternyata bisa meluluh lantakan batu karang, Wong Agung cepat rebahkan tubuh ke atas batu karang, dan serta merta tubuhnya menggelinding cepat. Dan ketika ia bangkit, ternyata tubuhnya telah berada di antara tubuh Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara.

Baik Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara samasama terperangah kaget, namun sebelum kedua orang ini berbuat sesuatu, kedua tangan Wong Agung telah berkelebat mendahului dan menghantam dada masingmasing laki-laki di samping kanan dan kirinya.

Wisnu Paladasa meraung keras, tubuhnya terbanting ke samping. Dadanya seolah terhantam benda berat membuat dadanya berdenyut sakit, dan pakaian bagian dada itu robek! Dari sudut bibirnya mengalir darah kehitaman pertanda jika dia terluka dalam!

Tak beda dengan Wisnu Paladasa, Jalu Kembara mengalami nasib yang sama. Hanya dia lebih parah, karena dia terhantam tangan kanan Wong Agung yang daya gedornya lebih keras. Hingga darah hitam tidak hanya keluar dari bibirnya saja, namun juga keluar dari hidung dan telinganya!

Sambil merambat bangkit, dua lelaki ini saling berpandangan. Mereka sama-sama meringis menahan rasa sakit yang mendera dada masing-masing. Malah begitu Jalu Kembara berhasil bangkit, kaki kanannya oleng, dan sebentar kemudian tubuhnya kembali terjatuh!

Merasa lawan telah roboh, Wong Agung melangkah mendekati. Bibirnya tetap sunggingkan senyum.

"Kuminta sekali lagi, kalian lekas tinggalkan tempat ini!" kata Wong Agung dengan suara berwibawa.

Kembali Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara saling berpandangan satu sama lain. Dan entah merasa di bawah angin atau jerih, kedua laki-laki ini dengan berjalan tertatih-tatih menjauhi Wong Agung.

Begitu sampai pinggiran batu karang, Jalu Kembara balikkan tubuh menatap Wong Agung yang masih tampak berdiri seakan melihat kepergian dua lawannya. Dengan memegangi dadanya, Jalu Kembara angkat bicara.

"Wong Agung! Tunggulah saatnya, kami pasti akan kembali!"

Yang diancam lagi-lagi hanya sunggingkan senyum. Lalu berkata seraya balikkan tubuh melangkah ke arah bangunan batu.

"Itu hak kalian! Yang perlu kalian ketahui, aku menganggap hal ini selesai sampai di sini!"

Begitu gema suaranya lenyap, sosok Wong Agung telah pula tak kelihatan.

"Bagaimana sekarang...?" tanya Wisnu Paladasa. "Apa pun resikonya, kita harus menghadap

Guru!" jawab Jalu Kembara seraya pegangi dadanya dan jejakkan kaki. Tubuhnya lantas melayang turun dari batu karang tinggi yang menjulang di tengah Laut Utara. Di belakangnya Wisnu Paladasa menyusul.

*** DUA

BUKIT sepi yang terletak di sebelah barat Desa Sumbersuko masih diselimuti kabut pagi ini. Udara dingin menusuk masih terasa mendera. Dua sosok bayangan penunggang kuda serta merta hentikan kuda tunggangannya masing-masing begitu ladam kuda mereka menginjak kaki bukit.

Dua penunggang kuda yang ternyata dua orang laki-laki mengenakan pakaian warna kuning dan kepala plontos dan bukan lain adalah Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara saling diam tak ada yang buka suara. Paras mereka jelas mengisyaratkan kekece-waan dan ketakutan. Malah di suasana yang dingin mencekam itu, tubuh mereka berdua basah oleh keringat.

"Jalu Kembara!" berkata si tinggi besar Wisnu Paladasa dengan suara bergetar. "Terus terang, aku khawatir, apakah Datuk Lembah Neraka akan menerima alasan kita!"

Yang diajak bicara masih diam. Namun tak berapa lama kemudian laki-laki tinggi kurus ini buka mulut.

"Mula-mula aku punya perasaan seperti kau, namun setelah kupikir-pikir, perasaan itu tak harus ada. Karena dalam masalah ini Datuk Lembah Neraka mau tak mau masih membutuhkan tenaga kita! Kalau bisa justru kita harus menuntut padanya agar mau menurunkan ilmu andalannya! Jika tidak, kita masih akan terus-terusan menjadi sang Pecundang!"

"Tapi.... Apakah dia mau menuruti permintaan kita?" tanya si tinggi besar Wisnu Paladasa dengan palingkan wajahnya ke samping.

Si tinggi kurus Jalu Kembara menggeleng perlahan. "Aku tak bisa menduga. Namun satu hal yang pasti, jika Datuk Lembah Neraka masih menginginkan kita untuk membantu, dia harus mau menuruti permintaan kita. Apalagi yang hendak kita hadapi adalah seorang tokoh muda yang ilmunya mungkin sejajar dengan Wong Agung!"

"Pendekar Mata Keranjang 108 maksudmu?" tanya si tinggi besar Wisnu Paladasa.

Si tinggi kurus Jalu Kembara mengangguk. "Menurut berita yang kudengar, dia telah berhasil merontokkan beberapa tokoh atas dari jajaran golongan hitam, malah di antaranya ada yang terbirit-birit terlebih dahulu sebelum sempat bertemu! Dari sini bisa kita kira-kira ketinggian ilmu yang dimiliki pemuda mata keranjang itu!"

Si tinggi besar Wisnu Paladasa mendengus perlahan. Dia lantas berkata.

"Soal Pendekar Mata Keranjang 108, itu urusan nanti. Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana caranya menghadapi Datuk Lembah Neraka!"

Si tinggi kurus Jalu Kembara mendehem beberapa kali dengan nada mengejek, membuat raut muka Wisnu Paladasa merah mengelam.

"Kita katakan terus terang apa yang terjadi! Kita tak usah malu-malu! Justru Datuk Lembah Neraka yang seharusnya merasa malu, karena kedua anak didiknya tak mampu mengubur Wong Agung!" berkata Jalu Kembara seraya lirikan sepasang mata sipitnya.

Selagi kedua laki-laki ini berbincang, dari arah bukit sebelah atas meluncur deras dua buah ranting yang mengarah pada mereka. Begitu derasnya lesatan dua ranting itu, hingga yang tampak hanyalah bersitan warna hitam yang keluarkan suara berdesing!

Singg! Sinngg! Dengan menindih rasa terkejut, kedua laki-laki ini berseru keras dan serta merta meloncat dari punggung kuda tunggangan masing-masing selamatkan diri. Di lain pihak, kuda tunggangan mereka tak lagi sempat menghindar, hingga saat itu juga kaki bukit sepi itu terbuncah oleh ringkihan kuda. Dan di kejap lain, terdengar suara bergedebukan. Kuda-kuda malang itu ternyata terbanting ke tanah! Dari moncong binatang itu membusai darah kental kehitaman! Dan tak lama kemudian, kedua binatang itu diam tak bergerak lagi!

Namun kesepian hanya berlangsung sekejap, sesaat kemudian, dari atas bukit terdengar kekehan tawa panjang. Hebatnya, suara tawa itu berselang seling, bagai dikeluarkan oleh beberapa orang!

"Jalu Kembara!" kata si tinggi besar Wisnu Paladasa dengan tubuh gemetaran. "Datuk Lembah Neraka tampaknya telah mengetahui kedatangan kita!"

Si tinggi kurus Jalu Kembara anggukan kepala. Lalu tanpa memandang pada orang di sampingnya, dia berkata.

"Tidak hanya mengetahui kedatangan kita, namun juga mengetahui tentang kegagalan kita! Kau lihat sendiri, bagaimana sambutannya tadi! Tapi...," belum selesai kata-kata Jalu Kembara, kedua orang lakilaki ini kembali dikejutkan oleh suara teguran.

"Murid-murid setan! Kenapa kalian masih berdiri di situ? Apa kalian takut untuk mempertanggungjawabkan kesalahan kalian?!"

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara saling berpandangan. Dan baru saja kedua laki-laki ini hendak melangkah mendaki bukit, kembali terdengar suara.

"Bagus! Ternyata kalian bukan murid-murid pengecut! Kalian siap menerima imbalan atas kegagalan kalian!"

"Peduli setan! Apa yang kita takutkan. Kegagalan ini bukan hanya kesalahan kita. Tapi juga kesalahan Datuk Lembah Neraka! Kita naik ke atas!" kata Jalu Kembara seraya berkelebat yang lantas di-ikuti oleh Wisnu Paladasa. Dan tak berselang lama kemudian, keduanya telah berdiri kokoh di puncak bukit. Di situ mereka melihat sesosok tubuh terbalut pakaian warna kuning panjang mirip pakaian seorang pendeta. Tangan kanannya memegang sebuah untaian tasbih berwarna kuning yang tak henti-hentinya berputar-putar seiring bergeraknya jari-jari. Tubuhnya begitu jangkung. Lebih jangkung dari kedua muridnya. Paras wajahnya telah mengeriput. Kedua pipinya sangat cekung membuat sepasang matanya yang besar seakan hendak memberojol keluar. Hidungnya mungil dengan mulut sangat lebar. Namun yang membuat laki-laki jangkung ini tampak angker adalah mata kanannya yang menjorok keluar itu juling! Sementara kedua telinganya tak berdaun! Ditingkahi kepalanya yang gundul, laki-laki ini sungguh menyeramkan!

Begitu melihat sosok jangkung ini, Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara segera melangkah mendatangi dan serta merta kedua laki-laki ini jatuhkan diri di hadapan sosok jangkung yang bukan lain adalah Dadaka Lanang, manusia sadis yang bergelar Datuk Lembah Neraka.

"Guru! Mohon ampunmu. Kami gagal melaksanakan tugas yang kau bebankan pada kami berdua!" berkata Jalu Kembara tanpa mengangkat kepala. Suara serak parau dan bergetar.

"Betul! Namun jika masih diberi kesempatan, kami akan berangkat sekarang juga untuk mencari Pendekar Mata Keranjang 108! Ini demi untuk menebus kegagalan kami mengubur Wong Agung...," sambung si tinggi besar Wisnu Paladasa dengan keringat menetes dari kening dan lehernya.

Datuk Lembah Neraka terdiam sesaat. Pandangannya menyengat tajam silih berganti pada kedua muridnya. Lantas dia membuang muka dengan dagu membatu. Dan sekonyong-konyong manusia jangkung tak berdaun telinga ini angkat tubuhnya seperempat tombak, lalu kedua kakinya bergerak menyapu ke arah pundak Jalu Kembara dan Wisnu Paladasa.

Terdengar seruan keras berbarengan. Tubuh Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara mencelat dan sama-sama berkaparan menggeletak di atas tanah. Pakaian bagian pundak kedua laki-laki ini tampak robek dengan kulit mengelupas!

"Murid-murid bodoh! Menghabisi Wong Agung saja tidak sanggup. Sekarang ngomong hendak mencari Pendekar Mata Keranjang 108, apa kau kira pemuda itu ilmunya di bawah gurunya?" kata Datuk Lembah Neraka dengan mengusap-usap kepalanya yang plontos.

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara merambat bangkit dan sama-sama tengadahkan kepala memandang pada sang Guru. Namun demi dilihatnya Datuk Lembah Neraka melangkah mendatangi, serta merta kedua orang ini kembali jatuhkan diri hingga kening keduanya menyentuh tanah!

"Guru!" berkata Jalu Kembara begitu didengarnya langkah-langkah Datuk Lembah Neraka dekat dengan dirinya. "Kami tak peduli dengan ketinggian ilmu Pendekar 108! Kami akan menyabung nyawa dengannya untuk menebus kegagalan kami!"

Mendengar ucapan Jalu Kembara, Datuk Lembah Neraka tertawa bergelak-gelak. Suara tawanya berselang-seling bagai suara tawa beberapa orang. Namun mendadak suara tawanya dia penggal. Lalu dengan mata kiri membeliak merah dia berkata.

"Kalian rupanya murid-murid dungu yang ingin cari mati! Daripada membuat malu namaku dengan tewasnya kalian di tangan pemuda itu, lebih baik kalian bunuh diri di hadapanku sekarang juga!"

"Guru!" kali ini yang angkat bicara Wisnu Paladasa. Tapi sebelum dia meneruskan ucapannya, Datuk Lembah Neraka telah berpaling dan menyela dengan suara membentak garang.

"Tutup mulutmu! Aku tak ingin dengar lagi katakata kalian!"

Sesaat kemudian suasana sepi mencekam Datuk Lembah Neraka melangkah setindak mendekati Jalu Kembara. Yang didekati semakin gemetar, seakan tahu apa yang hendak menimpa dirinya.

Begitu tepat di hadapan Jalu Kembara, Datuk Lembah Neraka angkat kaki kirinya, ujung jari kakinya dia tempelkan pada kening muridnya ini. Lalu diangkat, membuat kepala Jalu Kembara ikut terangkat ke atas. Dan begitu kepala Jalu Kembara tengadah, kaki kanan Datuk Lembah Neraka bergerak dengan tumit menghujam kening!

Meski gerakan itu terlihat perlahan, namun kejap itu juga Jalu Kembara meraung keras dan tubuhnya terjengkang sampai tiga tombak ke belakang! Kulit di keningnya membiru.

Lalu dengan langkah-langkah lebar, Datuk Lembah Neraka mendekati Wisnu Paladasa. Yang didekati sudah olengkan tubuhnya, matanya yang menyuruk tanah terpejam rapat-rapat, bibirnya saling mengatup. Dan tanpa berkata-kata lagi Datuk Lembah Neraka melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pada Jalu Kembara.

Karena tubuh Wisnu Paladasa oleng terlebih dahulu, membuat terjangan tumit Datuk Lembah Neraka menghantam lebih deras hingga tubuhnya mencelat ke belakang lebih deras dan lebih jauh!

Begitu merambat bangkit, dua murid Lembah Neraka ini saling berpandangan. Lalu secara serentak mereka mengalihkan pandangan masing-masing ke arah Datuk Lembah Neraka.

"Hmm.... Daripada mati konyol, lebih baik aku melarikan diri! Menjadi murid Datuk Lembah Neraka sekian tahun, aku tak memperoleh apa-apa. Mencicipi tubuh perempuan pun harus dengan jalan men-curicuri. Kalau aku terbebas dari tangan Datuk Lembah Neraka, mungkin lebih banyak waktu bagiku untuk merasakan     hangatnya     tubuh-tubuh     bahenol....

Hmm ," membatin Jalu Kembara dengan menebarkan

pandangan berkeliling.

Di pihak lain, diam-diam Wisnu Paladasa mempunyai niat yang sama. Namun dia tak berani melihat sekeliling. Pandangannya tertuju pada tanah di hadapannya dengan kepala tertunduk.

Selagi kedua orang ini membatin, tiba-tiba Datuk Lembah Neraka berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri dua langkah di hadapan Jalu Kembara. Jalu Kembara beringsut mundur, malah diam-diam dia siapkan pukulan jika sewaktu-waktu tanpa diduga Datuk Lembah Neraka menghantam. Sementara itu Wisnu Paladasa tidak berani menoleh!

Tapi, Jalu Kembara segera tarik niatnya kembali begitu Datuk Lembah Neraka berkata. Suaranya sudah agak melemah meski tetap mengandung ancaman.

"Kali ini kalian kuampuni. Namun jika untuk kedua kalinya nanti kalian gagal, kalian tahu apa imbalannya!"

"Tapi, Guru! Kalau kau tak menurunkan ilmu yang lebih tinggi dari yang kami miliki sekarang, mustahil kami dapat menjalankan perintahmu!" kata Jalu Kembara yang kini telah berani memandang pada gurunya.

Datuk Lembah Neraka mendehem beberapa kali, lalu mengangguk dan berkata.

"Hmm    Begitu? Baiklah. Demi cita-cita kita ber-

sama aku akan menurunkan ilmu yang lebih tinggi pada kalian. Namun perlu kalian ketahui, jika kalian ingin mempelajari ilmu yang hendak aku turunkan, ada satu yang harus kalian hindari!"

Baik Jalu Kembara dan Wisnu Paladasa wajahnya berseri cerah. Kedua laki-laki ini tersenyum. Dan buru-buru Jalu Kembara berkata.

"Katakan, apa yang harus kami hindari!"

Untuk sesaat Datuk Lembah Neraka tak segera menjawab. Dia pandangi muridnya silih berganti. Pada akhirnya dia pun lantas berkata.

"Jika kalian ingin mempelajarinya, kalian harus jauhkan diri dari perempuan! Bila kalian mendekati perempuan dan menidurinya, ilmu kalian akan lenyap!"

Jalu Kembara membeliakkan sepasang matanya. Dalam hati dia merutuk habis-habisan. Dia sama sekali tak menduga, jika syarat yang diajukan Datuk Lembah Neraka demikian berat baginya, karena pada dasarnya, dia adalah seorang laki-laki yang paling suka pada perempuan!

Di lain pihak, Wisnu Paladasa pun mengumpat panjang pendek dalam hati.

"Edan! Syarat yang diajukannya seakan-akan dibuat-buat agar aku tak dapat menikmati kesukaanku! Tapi apa boleh buat, syarat yang diajukannya harus kuterima. Bukan tidak mungkin syarat itu hanya untuk mencegah agar aku tidak keluyuran setiap malam "

Melihat kedua muridnya agak terkejut dan tak ada yang buka mulut, Datuk Lembah Neraka tersenyum lebar. Lalu berkata dengan tanpa memandang.

"Bagaimana? Apa kalian sanggup?!"

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara kembali saling berpandangan. Keduanya saling memberi isyarat dengan anggukkan kepala masing-masing.

"Baik, Guru. Kami sanggup!" kata Jalu Kembara yang kemudian disambung oleh Wisnu Paladasa. "Kami siap, apa pun syaratnya"

Datuk Lembah Neraka tertawa keras.

"Bagus! Kalian ternyata murid-murid yang tabah! Ikuti aku!" berkata Datuk Lembah Neraka seraya berkelebat ke sebuah gubuk yang berada di puncak bukit. Begitu Datuk Lembah Neraka lenyap dari pandangan kedua muridnya, kedua laki-laki murid Datuk

Lembah Neraka ini saling melangkah mendekat.

"Aku yakin, syarat itu hanya buatan Guru!" bisik Jalu Kembara begitu dekat dengan Wisnu Paladasa. Wisnu Paladasa sejenak menebar pandangan ke sekeliling. Dan merasa tak ada orang lain, dia pun berkata perlahan.

"Aku pun sudah menduga demikian. Namun sementara ini kita harus mematuhi syarat itu. Jika Pendekar Mata Keranjang 108 dan Wong Agung telah dapat kita patahkan, kita akan buktikan kata-kata Datuk Lembah Neraka "

Si tinggi kurus Jalu Kembara, lalu mengangguk.

Lantas kedua murid Datuk Lembah Neraka ini berkelebat cepat ke arah berkelebatnya Datuk Lembah Neraka.

***

TIGA

SEORANG pemuda berbadan tegap dan berwajah tampan, mengenakan pakaian hijau yang dilapis dengan baju lengan panjang warna kuning, rambut panjang dan dikuncir ekor kuda tampak berjalan perlahan saat hampir memasuki sebuah dusun yang tak jauh di depannya.

Sambil berjalan, sepasang mata pemuda ini jelalatan menyapu ke sana kemari. Dari mulutnya terdengar dendang nyanyian yang tak habis-habisnya dan tak dapat ditangkap artinya. Tangan kanannya memegang sebuah kipas warna ungu yang dikipas-kipaskan di depan dadanya. Hebatnya, meski kipasan-kipasan itu hanya perlahan, namun rimbunan daun-daun pohon yang dilewatinya tampak berkibar-kibar bahkan tak jarang banyak yang langsung berguguran.

"Aku tak habis pikir. Sudah dua desa yang kulalui dan semuanya dalam keadaan porak poranda berat. Siapa gerangan pembuat ulah keji ini?" Pemuda ini tak meneruskan kata hatinya. Malah langkahnya dia hentikan dengan tiba-tiba. Meski demikian suara dendang nyanyian dari mulutnya tak berhenti. Sejenak kepala pemuda ini bergerak ke kanan dan ke kiri. Tapi begitu sepasang matanya tak menangkap seseorang, pemuda ini meneruskan langkahnya. Dan kembali dia meneruskan kata hatinya. "Siapa pun pelakunya, yang pasti dia berkepandaian tinggi. Karena seluruh penduduk yang dibantai dalam keadaan mengenaskan! Dan dada mereka membekas sebuah telapak tangan    Heran-

nya, meski banyak gadis cantik yang ikut terbunuh, tak satu pun di antaranya yang mengalami perkosaan. Pakaiannya tetap utuh. Hmm.... Apakah yang membuat ulah ini seorang perempuan? Kalau...." Pemuda ini putuskan kata hatinya kembali. Di depan sana, terdengar suara jeritan lengking.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, pemuda ini segera berkelebat menuju dusun yang tak jauh di depannya, karena suara jeritan tadi berasal dari sana.

Begitu sampai, sepasang mata pemuda berbaju hijau ini membeliak besar. Di pelataran setiap rumah, tampak bergeletakan beberapa sosok tubuh yang sudah tak bergerak-gerak lagi.

"Sialan! Hal ini tak bisa dibiarkan terus-terusan!" Ujar sang pemuda dengan menyapukan pandangannya ke setiap sudut rumah. Paras muka pemuda ini telah mengelam, matanya merah dengan kedua tangan mengepal. Dia lantas melangkah mendekati beberapa orang yang menggeletak dan memeriksanya.

"Hmm.... Pelakunya adalah orang yang sama. Dada orang-orang ini membekas sebuah telapak tangan. Tapi ini dilakukan oleh dua orang! Bekas telapak tangan yang membekas di dada tak sama besarnya. "

Perhatian sang pemuda pada dada orang-orang yang menggeletak mendadak terpenggal oleh suara erangan halus yang berasal dari sebuah rumah paling sudut. Dengan cepat pemuda ini lesatkan diri ke rumah yang paling sudut. Dan apa yang ditemukan sang pemuda di rumah itu, membuat pemuda ini terkesiap. Di rumah ini sang pemuda menemukan beberapa orang digantung dengan menggunakan robekan kain.

Selagi pemuda ini memperhatikan, salah seorang yang digantung tampak bergerak-gerak, dan dari mulutnya terdengar suara erangan menyayat.

Dengan cepat sang pemuda berbaju hijau kibaskan tangan kanannya. Robekan kain yang dipergunakan orang untuk menggantung serta merta putus. Dan dengan cekatan pula, pemuda ini menangkap tubuh orang yang meluncur ke bawah.

"Katakan, apa yang terjadi, Dan siapa yang membuat ulah begini!" kata sang pemuda begitu tubuh orang yang tadi digantung telah ditelentangkan di atas tanah di dalam rumah.

Orang yang ditanya, yang ternyata adalah seorang laki-laki setengah baya untuk beberapa saat lamanya tak menjawab. Dia masih mencoba berjuang dengan mengurut-urut tenggorokannya. Sementara tangan satunya memegangi dadanya yang tampak membekas sebuah telapak tangan.

Sesaat orang ini batuk-batuk beberapa kali. Sudut bibirnya terlihat genangan darah hitam,

sementara sepasang matanya memejam,

"Katakan. Siapa pembuat malapetaka ini?!" ulang sang pemuda dengan mendekatkan mulutnya pada telinga orang di hadapannya.

Begitu terlihat mulut orang yang ditanya bergerak-gerak, pemuda ini dekatkan telinganya.

"Dua orang.... Ber..., pakaian..., mirip seorang..., pen..., de..., ta...," kata laki-laki setengah baya lirih hampir tak terdengar.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, laki-laki ini katupkan mulutnya. Tangannya terkulai. Dan nafasnya terhenti!

"Dua orang berpakaian mirip pendeta.... Hm....

Siapa mereka? Dalam kancah rimba persilatan, baru kali ini aku mendengar pendeta membantai penduduk. Apa maksud mereka? Dan siapa mereka sebenarnya...?" gumam sang pemuda yang bukan lain adalah Aji Saputra alias Pendekar Mata Keranjang 108.

"Melihat orang ini masih bertahan, pasti dua orang tersebut masih belum jauh dari sini! Aku akan menyusulnya...." ujar Aji seraya bangkit. Namun baru saja dia hendak melangkah meninggalkan rumah itu, sebuah suara mengejutkannya.

"Tidak semudah itu kau bisa meninggalkan tempat ini!"

Secepat kilat Aji palingkan wajah memandang keluar melalui pintu yang tidak tertutup. Di depan rumah, tampak seorang gadis muda. Parasnya cantik jelita. Mengenakan pakaian tipis warna hijau. Rambutnya panjang sebahu dengan sepasang mata bulat. Dadanya membusung kencang menantang.

"Aku banyak bertemu dengan beberapa gadis cantik. Namun yang satu ini sungguh mempesona....

Mata dan bibirnya begitu menggoda ," kata Aji seraya

melangkah ke arah sang gadis. Bibirnya mengulaskan sebuah senyum, sementara mata kirinya dia kedipkan. "Berhenti! Selangkah lagi kau melangkah maju,

kau akan kubunuh!" teriak sang gadis dengan undurkan kakinya dua langkah ke belakang.

Aji hentikan langkahnya. Dia menunggu dengan sepasang mata tak kesiap memandang pada sang gadis. Bibirnya terus mengumbar senyum. Malah kini dari mulutnya terdengar suara dendang nyanyian, membuat gadis di seberang membelalakkan sepasang mata bulatnya.

"Hmm.... Siapa pemuda ini? Apa dia yang telah melakukan pembantaian akhir-akhir ini di manamana? Aku akan mengorek dirinya!" kata sang gadis dalam hati. Lalu dia berseru lantang.

"Siapa kau? Dan apa maksudmu dengan perbuatan ini?!"

"Ah...!" Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 seakan-akan terkejut mendengar teriakan lantang sang gadis. Namun sebentar kemudian, bibirnya telah kembali tersenyum. Tapi dari mulutnya tak keluar ucapan untuk menjawab pertanyaan sang gadis, membuat gadis cantik itu mengulangi kata-katanya dengan suara tinggi. Matanya yang bulat membesar.

"Edan! Gadis ini semakin cantik jika marah...," kata Aji dalam hati seraya pandangi sang gadis. Lalu dengan kerdipkan sebelah matanya, dia berkata.

"Namaku Aji Saputra. Dan kuharap kau tidak salah paham. Ketika aku datang keadaan sudah begini!"

"Kau berdusta!" kertak sang gadis seraya palingkan wajah, karena dilihatnya pemuda di hadapannya terus menerus memandang.

"Tak ada untungnya aku berkata dusta!" "Ungkapan klasik yang sering dikumandangkan

orang untuk menutupi perbuatannya!" sahut sang gadis dengan hadapkan kembali wajahnya. Sepasang matanya menatap tajam.

"Gadis cantik. Kau telah tahu siapa aku, kalau tak keberatan boleh aku tahu siapa kau...?"

Sang gadis sejenak termangu. Wajahnya merah saga disebut gadis cantik oleh pemuda di hadapannya. "Aku cantik...?" kata sang gadis dalam hati.

Mungkin karena masih memikirkan kata-kata Aji, hingga untuk beberapa lamanya gadis ini tidak segera menjawab.

"Sudahlah.... Kalau kau keberatan sebutkan nama, aku tak memaksa. Aku harus pergi sekarang "

Habis berkata begitu, Aji balikkan tubuh dan hendak melangkah pergi. Namun langkahnya tertahan tatkala tiba-tiba sang gadis berkata. "Tunggu!"

Aji palingkan wajahnya memandang sang gadis. Namun setelah ditunggu agak lama gadis itu tak meneruskan kata-katanya, Aji teruskan langkah.

"Aku harus cepat mengejar si pembuat ulah ini! Mereka mungkin belum jauh dari sini!" kata Aji dalam hati sambil terus melangkah. "Seandainya saja aku tak mengejar pembuat ulah keji ini, aku masih ingin berlama-lama dengan gadis cantik itu "

"Tampaknya pemuda itu kata-katanya bisa dipercaya. Bekas telapak tangan itu menandakan bahwa yang melakukan perbuatan  ini adalah dua orang....

Tapi apa peduliku dengan semua ini? Ada tugas penting yang harus kuselesaikan. Pemuda itu, melihat pakaiannya tampaknya seorang pesilat. Akan kutanyakan padanya, barangkali dia tahu tentang orang yang kucari...," membatin gadis ini seraya berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri menghadang di depan Aji.

"Apa maksud sebenarnya gadis ini? Ditanya tak mau jawab. Ditinggal mengikuti! Dasar perempuan!" kata Aji dalam hati. Dia lalu berkata.

"Ada yang hendak kau katakan?" tanya Aji saat dilihatnya gadis di hadapannya hendak buka mulut.

"Apa kau tahu, di mana letak Karang Langit?" tanya sang gadis.

Aji terkejut bukan main mendengar pertanyaan sang gadis. Namun dia cepat menekan rasa terkejutnya dengan tersenyum lebar.

"Ada apa gadis ini mencari tempatnya Eyang Wong Agung? Melihat nada tanyanya, dia tampaknya mempunyai keperluan yang sangat penting ," memba-

tin Aji. Lalu dengan masih tersenyum yang dipaksakan, Aji bertanya.

"Untuk apa kau ke sana  ?" "Aku tak bisa mengatakannya padamu untuk apa aku ke sana. Hanya bagaimanapun juga, aku harus menemukan tempat itu. Kau tahu, arah mana yang harus kuambil jika aku ingin ke sana...?"

Aji kernyitkan kening. Dia seolah-olah berpikir keras, membuat gadis di hadapannya menunggu seraya memandanginya dengan pandangan aneh.

"Karang Langit...," gumam Aji, membuat gadis itu melangkah makin mendekat.

"Benar, Karang Langit. Kau tahu di mana letaknya bukan...?" kata sang gadis.

Aji menggeleng perlahan. "Aku memang pernah mendengar nama itu. Namun, aku tak tahu di mana letaknya. Hanya menurut kabar yang pernah kudengar, tempat itu dihuni oleh "

"Keparat Wong Agung!" sahut sang gadis dengan wajah berubah merah padam. Sepasang matanya makin membesar dengan bibir saling menggegat menahan marah.

"Benar katamu. Tempat itu dihuni oleh orang yang bernama Wong Agung. Tampaknya kau punya silang sengketa dengan orang itu. Betul?" kata Aji memancing.

Gadis di hadapan Aji tidak mengangguk dan juga tidak menggeleng. Malah dia arahkan pandangannya pada jurusan lain. Dari mulutnya terdengar ucapan.

"Jangan harap kau akan mendapat jawaban jika itu yang kau tanyakan! Aku tidak akan terpancing dengan kata-katamu!"

Aji kembali dibuat terperangah kaget.

Gadis ini selain cantik, otaknya juga cerdik. Syukur dia tak mengenaliku...," membatin murid Wong Agung ini. Lantas dengan tersenyum tawar, dia berkata. "Maaf. Aku tidak memancingmu agar mengatakan ada apa di antara kau dengan Wong Agung. Aku hanya menduga dari paras wajahmu yang tiba-tiba berubah saat menyebut nama Wong Agung. Bahkan seandainya aku tahu, itu tak akan ada artinya buatku. Aku hanya seorang gelandangan yang tak punya juntrung. Hanya saja, seandainya aku tahu di mana letaknya tempat itu, aku akan dengan senang hati mengantarmu!"

Gadis di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108 ini tampak terdiam sesaat. Wajahnya dia hadapkan lurus pada Aji, membuat jantung murid Wong Agung ini berdegup agak kencang.

"Terima kasih atas tawaranmu. Aku bisa pergi sendirian.... Hmm Kau sendiri hendak ke mana?"

"Tadi sudah kukatakan. Aku salah seorang pengelana yang tak punya juntrung. Jadi aku akan pergi ke mana saja kakiku melangkah "

Gadis di hadapan Aji kerutkan dahi. Dia pandangi pemuda di hadapannya dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"Untuk yang ini, perkataannya mungkin berdusta. Aku tak percaya jika pemuda seperti dia tak punya juntrung. Tapi apa peduliku memikirkan dia sampai sejauh itu ?" kata sang gadis dalam hati seraya terse-

nyum sendiri. Lalu dia berkata lirih.

"Karena aku masih ada keperluan, aku pergi dahulu!"

"Hai, tunggu!" seru Aji menahan kelebatan sang gadis. Namun seruan Aji seakan tak didengar. Gadis berbaju hijau tipis itu terus berkelebat dan lenyap dari pandangan Aji.

"Bagaimana ini? Hmm.... Sebaiknya aku menunda mengejar dua orang si pembuat malapetaka itu. Aku akan mengikuti perjalanan gadis tadi. Aku khawatir akan keselamatan Eyang Wong Agung "

Memikir sampai di situ, pendekar murid Wong Agung ini lantas berkelebat ke arah berkelebatnya sang gadis baju hijau.

***

EMPAT

TAMPAKNYA gadis ini menuju arah yang benar. Berarti pertanyaannya tadi hanyalah pura-pura ,"

membatin Aji seraya terus mengikuti berkelebatnya gadis berbaju hijau tipis. "Melihat kecepatan larinya, gadis ini tidak bisa dipandang enteng.... Siapa sebenarnya gadis cantik ini? Dan ada urusan apa dengan Eyang Wong Agung. ?"

Selagi Aji menguntit seraya merenung dan menduga-duga demikian, mendadak gadis yang diikutinya berkelebat lenyap di sebuah hutan kecil.

"Edan. Ke mana lenyapnya dia?" gumam Aji seraya pasang telinga dan menebar pandangan berkeliling. Namun hingga matanya lelah menebar dan kepalanya kelu berpaling ke sana kemari, orang yang dicari tak juga terlihat batang hidungnya.

"Kalau dia tak kutemukan di sini, dia akan ku hadang di dekat Pesisir Laut Utara. Aku harus cepat ke sana sebelum kedahuluan.... Tapi apakah "

Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara nyanyian dari tempat yang tidak begitu jauh.

"Suaranya seorang perempuan. Jangan-jangan dia...," berpikir sampai di situ, murid Wong Agung ini segera berkelebat menuju sumber suara. Sampai di tempat sumber suara nyanyian, yang ternyata sebuah sendang berair jernih, Aji menjadi terkesiap. Sepasang matanya melotot besar dengan jakun bergerak turun naik tak beraturan, sementara dadanya berdetak kencang.

Gadis yang dia ikuti, ternyata sedang mandi seraya mendendangkan nyanyian. Mungkin karena tidak merasa dilihat orang, gadis ini dengan leluasa bermain-main di air sendang. Malah sesekali tubuhnya dia angkat ke atas, menampakkan sepasang dadanya yang membusung kencang, membuat Aji semakin membeliak.

"Gila! Benar-benar aduhai...," bisik Aji seraya melangkah perlahan menuju tempat yang agak terlindung.

Prakkk!

Karena waktu melangkah pandangan mata Aji tertuju pada sang gadis, maka tanpa sengaja kaki kanannya menginjak sebuah ranting kering. Hingga menimbulkan bunyi agak keras.

Gadis cantik yang sedang mandi itu cepat berpaling. Dia hanya selintas melihat berkelebatnya sebuah bayangan. Dengan menahan rasa kejut dan marah gadis ini segera menyelam satu kali, lantas tiba-tiba muncul dengan kedua tangan dihantamkan pada arah berkelebatnya bayangan.

Serangkum angin deras menyambar dengan membawa hawa panas. Sebuah pohon besar tempat bersembunyinya sang bayangan tumbang dengan batang patah. Semak belukar di sekitarnya diterabas musnah dengan mengepulkan asap dan hangus!

Dan, begitu habis lancarkan pukulan, gadis ini dengan tubuh polos naik dari sendang dan melangkah cepat ke tempat dia meletakkan pakaiannya. Setelah mengenakan pakaiannya, dia segera berkelebat ke arah pohon yang tumbang, di mana tadi dilihatnya sang bayangan menyelinap pergi.

"Tukang intip busuk! Kukorek kedua biji matamu!" kata sang gadis setengah berteriak sambil hantamkan kembali kedua tangannya.

Sebongkah sinar hitam berkilat melesat menyambar keluar dari kedua tangan sang gadis. Suara laksana gelombang dahsyat melingkupi tempat itu. Hawa panas menyengat menebar.

Kejap itu juga kembali dua pohon besar gemeretak tumbang, semak belukar terbongkar hingga akarakarnya. Tanah bongkaran semak itu mengangkasa membuat tempat itu sejenak redup pekat.

Namun hingga tanah itu turun kembali ke bawah, dan tempat itu kembali terang benderang, sang gadis tak menemukan bayangan yang dicarinya. Dengan muka merah padam menahan marah, gadis ini lantas melangkah meninggalkan sendang.

Tak jauh dari tempat sang gadis, Aji terperangah kaget melihat pukulan gadis cantik yang diikutinya.

"Untung aku segera menyingkir. Jika tidak, aku akan hangus seperti batang pohon itu...," batin Aji sambil mengawasi sang gadis yang mulai melangkah menuju arah utara.

Hampir sampai Pesisir Laut Utara, mendadak gadis ini hentikan larinya, membuat Aji mau tak mau juga hentikan larinya dan segera menyelinap ke balik semak belukar.

Pada saat itulah terdengar suara langkahlangkah pelan mendatangi dari arah depan sang gadis. Sepasang mata Aji terbeliak lebar begitu melihat siapa gerangan orang yang melangkah menuju arah sang gadis. Dia adalah seorang laki-laki mengenakan jubah putih panjang. Rambutnya panjang demikian juga jenggotnya. Kedua matanya ditutup oleh sepotong kulit yang diikatkan ke belakang kepala.

"Eyang Wong Agung...," gumam Aji perlahan sambil memperlihatkan dengan seksama.

Gadis berbaju hijau tipis sejenak memandangi orang yang melangkah ke arahnya. Dahinya berkerut dengan bibir tersenyum sinis.

"Hmm.... Ternyata dia kutemukan di sini... Kebetulan sekali!" gumam si gadis ketika mengenali siapa adanya orang yang kini semakin dekat dengan tempatnya berdiri. Begitu delapan langkah lagi sampai, gadis berbaju hijau ini angkat bicara.

"Tua bangka! Terimalah ajal kematianmu hari

ini!"

Laki-laki berjubah putih dan bukan lain memang

Wong Agung adanya serta merta hentikan langkahnya. Kepalanya dia luruskan ke depan seakan-akan kedua matanya memandang gadis di hadapannya. Bibirnya lantas menyunggingkan senyum dan dengan suara perlahan guru Pendekar Mata Keranjang 108 ini berkata.

"Gadis cantik. Kukira ajal kematian tidak ditentukan oleh seseorang. Tapi jika memang hari ini adalah saatnya, aku sudah siap! Hmm.... Siapa kau sebenarnya? Apa kau memang ingin menemuiku? Rasarasanya aku belum pernah bertemu dengan kau "

"Orang tua! Dengar baik-baik. Aku Ratih Purnamasari, murid I Gusti Ayu Wayan Rikmasari dari puncak Gunung Larantuka. Guruku menugaskan untuk mencari sekaligus membunuh!"

Dari tempat persembunyiannya, Pendekar Mata Keranjang 108 terkejut bukan alang kepalang mendengar pernyataan sang gadis. Sedari tadi dia memang telah curiga ada masalah antara gadis itu dengan gurunya, namun dugaannya tidaklah sejauh itu. Murid Wong Agung ini segera saja hendak keluar dari tempat persembunyiannya, namun niatnya dia urungkan tatkala dilihatnya Wong Agung tersenyum seraya berkata.

"Gadis cantik! Agar masalah ini menjadi jernih, marilah kita bicara baik-baik!"

Gadis berbaju hijau tipis yang tadi menyebutkan nama Ratih Purnamasari tertawa bergelak mendengar perkataan Wong Agung. Namun secara tiba-tiba tawanya dia putus, lalu dia berkata dengan tanpa memandang.

"Kau tak perlu mengulur-ulur waktu. Semuanya sudah jelas bagiku! Yang kuperlukan sekarang adalah kepalamu!"

Kembali Wong Agung hanya tersenyum mendengar ucapan gadis di hadapannya. Malah sesekali kepalanya digeleng-gelengkan. Dia melangkah maju seraya berkata.

"Anak gadis! Sebelum kau menyelidiki benar tidaknya, kuharap kau tak ikut hanyut dalam deru perkataan orang, meski orang itu adalah gurumu sendiri. Karena jika tidak, kau akan ikut tenggelam dalam arus!"

Ratih Purnamasari mendengus keras seraya palingkan wajah, membuat kepala Wong Agung bergerak mengikuti arah berpalingnya Ratih Purnamasari.

"Orang tua! Jangan mimpi kau bisa mengalihkan niatku dengan segala kata-kata manismu! Aku telah tahu siapa kau dari kecil hingga tua bangka!"

Raut wajah Wong Agung sesaat berubah. Keningnya bertambah kerutan pertanda berpikir keras. Dia lalu sedikit mendongakkan kepalanya seraya digoyanggoyangkan perlahan ke kiri dan ke kanan.

"Kau mungkin dengar cerita tentang diriku dari gurumu. Benar?"

Ratih Purnamasari tidak menjawab. Dia hanya luruskan pandangannya dengan sepasang mata melotot. Sementara kedua tangannya telah mengepal dengan kaki sedikit dipentangkan.

"Meski kau tak jawab tanyaku, aku tahu pasti. Lantas apakah pernah terlintas dalam benakmu, bahwa gurumu mengatakan apa adanya tanpa mengurangi dan menambahi?" sambung Wong Agung begitu ditunggu agak lama Ratih Purnamasari tidak membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya.

"Kau jangan menambah dosamu dengan menuduh guruku menambah atau mengurangi cerita tentang dirimu!"

Wong Agung tertawa pendek, lantas kembali geleng-gelengkan kepala.

"Aku tidak menuduh gurumu. Hanya aku bertanya padamu. Karena tatkala peristiwa antara aku dan gurumu terjadi, kau tentunya masih belum ada. Bukan tidak mungkin, gurumu sengaja menceritakan apa yang tidak terjadi dan tidak menceritakan apa yang terjadi!" Wong Agung terdiam sesaat, lalu menyambung dengan suara makin perlahan.

"Sudahlah.... Urusan ini biar nanti kuselesaikan dengan gurumu! Katakan di mana sekarang gurumu berada!"

Ratih Purnamasari kembali keluarkan dengusan keras.

"Kau tak perlu tahu di mana guruku berada! Yang pasti, dia menantikan kedatanganku dengan penggalan kepalamu!"

"Kurang ajar! Gadis itu benar-benar mulutnya minta dirobek!" gumam Aji dari tempatnya mengintip. Namun dia masih belum berniat untuk keluar, karena masih ingin melihat apa yang bakal terjadi.

"Anak gadis!" kata Wong Agung. "Dengarkan. Akan kujelaskan masalahku dengan gurumu. Setelah itu silakan kau ambil kesimpulan! Kalau "

Belum sampai Wong Agung meneruskan katakatanya, Ratih Purnamasari telah menyela dengan suara keras meradang.

"Aku tak butuh ceritamu! Yang kubutuhkan adalah kepalamu!"

Habis berkata begitu, Ratih Purnamasari segera berkelebat dan tahu-tahu telah kirimkan serangan dengan pukulan kedua tangannya ke arah Wong Agung yang masih tampak tercekat kaget mendengar kata-kata Ratih Purnamasari.

Sebongkah sinar hitam melesat keluar dari kedua tangan Ratih Purnamasari. Keluarkan suara gemuruh dahsyat bak gelombang laut serta hawa panas menyengat!

Dengan masih menahan rasa kejut, guru Pendekar Mata Keranjang 108 ini segera lesatkan diri ke udara. Namun ternyata pukulan Ratih Purnamasari ini sungguh luar biasa. Karena sebelum bongkahan hitam itu menghantam sasaran, serangkum angin dahsyat mendahului menyambar, hingga meski Wong Agung cepat lesatkan dirinya ke udara, tak urung bias angin itu menerpa tubuhnya, membuat lesatan tubuhnya sedikit melenceng.

"Pukulan bagus...," puji Wong Agung dari atas udara.

Ratih Purnamasari kertakkan rahang karena serangannya dengan mudah dapat dielakkan oleh lawan, padahal lawan tidak bisa melihat! Diam-diam perasaan keder mulai timbul di hati gadis cantik murid I Gusti Ayu Wayan Rikmasari ini. Namun dia tak menunjukkan rasa itu, malah yang tampak adalah raut wajahnya yang merah mengelam dengan dagu membatu.

"Anak gadis!" kata Wong Agung begitu kedua kakinya telah menjejak kembali di atas tanah. "Marilah kita bicara dari hati ke hati, agar masalah ini tidak berlarut-larut dan menimbulkan sesuatu yang tidak kita inginkan!"

"Teruslah kau bicara! Aku tak akan goyah dengan niatanku! Aku tidak sudi pulang berhampa tangan!" teriak Ratih Purnamasari lantang. Dia cepat lesatkan dirinya ke depan. Kedua tangannya dibuka dan sepasang kakinya ditekuk sebatas lutut. Begitu lesatan tubuhnya satu tombak lagi menyambar tubuh Wong Agung, Ratih Purnamasari dorongkan kedua tangannya sementara kakinya dia luruskan!

Wong Agung yang mendapat serangan dahsyat ini segera miringkan tubuhnya ke samping kanan, seraya rundukkan kepalanya. Terjangan sepasang kaki Ratih Purnamasari sejengkal menghantam angin di samping tubuh Wong Agung, sementara sambaran angin dahsyat yang melesat dari dorongan tangannya hanya mampu membuat tubuh Wong Agung terhuyunghuyung sebentar, lalu kembali berdiri kokoh dengan senyum masih tersungging.

"Keparat!" rutuk Ratih Purnamasari merasa dipermainkan, karena sejauh ini Wong Agung hanya menghindar tanpa lancarkan serangan balasan, padahal jika mau kesempatan membalas pukulan itu ada.

"Tua Bangka! Balaslah menyerang. Jangan hanya menghindar seperti manusia tolol! Tunjukkan cerita nama besarmu!" teriak Ratih Purnamasari dengan senyum sinis.

Wong Agung tersenyum ramah. Kepalanya menggeleng perlahan.

"Orang tua seperti aku ini, sudah tidak layak kiranya menunjukkan kehebatan ilmu silat. Justru kalau kau tak keberatan, berilah aku jalan. Aku akan meneruskan perjalanan "

Ratih Purnamasari merengut dengan buang muka. Dia tampaknya semakin jengkel mendapatkan perlakuan demikian. Maka dengan tanpa memandang dia berkata.

"Baiklah! Kau telah kuberi kesempatan untuk membalas serangan. Dan hal itu tak kau gunakan, maka jangan menyesal jika nantinya kau celaka tanpa bisa membalas!"

Habis berkata begitu, Ratih Purnamasari berkelebat. Dan mendadak sosoknya lenyap dari pandangan. Namun dikejap lain, tiba-tiba sosoknya menukik tajam dengan kaki menggunting ke arah kepala Wong Agung, sementara kedua tangannya memukul bertubi-tubi ke depan.

Bongkahan-bongkahan sinar hitam yang mengeluarkan suara menggemuruh serta membawa hawa panas yang menyengat melesat bersusul-susulan.

Wong Agung yang tampaknya sudah waspada segera buka kedua telapak tangannya dan didorong kuat-kuat ke depan.

Seberkas sinar putih menggebrak ke depan, memapak serangan Ratih Purnamasari.

Blarrr! Blarrr!

Terdengar beberapa kali letupan dahsyat tatkala kedua pukulan sakti itu bertemu di udara. Tempat itu bergetar hebat. Namun sejauh ini tubuh Wong Agung tidak bergeming sama sekali. Sementara di lain pihak, tubuh Ratih Purnamasari terus meluncur di atas udara dengan kaki menggunting ke arah kepala Wong Agung.

Melihat luncuran tubuh lawan, Wong Agung segera angkat kedua tangannya ke atas melindungi kepalanya. Namun anehnya, begitu luncuran tubuh gadis ini hampir menghantam, gadis ini sentakkan pundaknya. Tubuhnya yang tadi lurus kini membumbung ke atas. Dari atas dengan gerak cepat dia membuat gerakan jungkir balik beberapa kali. Dan tiba-tiba saja sepasang kakinya menghantam ke arah dada dan punggung Wong Agung!

Wong Agung yang mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepala tersipu. Namun dia cepat kibaskan kembali kedua tangannya ke bawah, begitu merasa angin deras menyambar ke arah dada dan punggungnya.

Prakkk! Prakkk!

Terdengar dua kali benturan keras. Ketika kedua tangan Wong Agung bentrok dengan kedua kaki Ratih Purnamasari.

Gadis cantik ini keluarkan jeritan tertahan. Tubuhnya mental balik dan melayang jauh ke belakang sampai tiga tombak dan berputaran di atas tanah.

Sementara Wong Agung sendiri hanya tersurut satu tindak ke belakang. Seraya menyunggingkan senyum, Wong Agung melangkah perlahan ke arah Ratih Purnamasari yang saat ini merambat bangkit dengan memandang tak berkedip ke arah Wong Agung.

Melihat kejadian ini, Aji segera berkelebat keluar dari tempat persembunyiannya seraya berseru.

"Eyang !"

Ratih Purnamasari palingkan wajah dan keluarkan seruan tertahan ketika mengetahui siapa adanya orang yang berseru. Di lain pihak, Aji tak menghiraukan pandangan heran Ratih Purnamasari. Dia mendekat ke arah Wong Agung dan menjura hormat.

"Jahanam! Apa hubungannya antara pemuda itu dengan keparat tua bangka itu? Apakah dia muridnya? Jika benar, berarti dialah pemuda yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108.... Keparat benar! Dia telah menipuku!" batin Ratih Purnamasari seraya terus mengawasi Aji tanpa kesiap!

"Eyang... Kenapa kau diamkan saja gadis liar itu menghantammu?" berkata Aji seraya lirikkan sepasang matanya pada Ratih Purnamasari.

Wong Agung tersenyum.

"Aji.... Jika aku melawannya, mana perbedaan antara orang tua dan anak muda? Lagi pula masalah ini hanyalah salah paham. Dia termakan kata-kata orang yang menjelek-jelekkan diriku "

"Tapi tingkahnya bisa mencelakakan jiwamu!" kata Aji seraya palingkan wajahnya pada Ratih Purnamasari. Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108

berkilat merah. Dia melangkah maju. Namun baru dua langkahan kaki, gadis berbaju hijau telah angkat bicara.

"Laki-laki pembual! Ternyata kau kaki tangan tua bangka itu. Bagus...! Bersiaplah kalian berdua untuk mati satu kubur bersama!" teriak Ratih Purnamasari seraya hantamkan kedua tangannya ke arah Aji.

"Aji.... Jangan dilawan. Hindari saja! Dia sedang emosi...," bisik Wong Agung perlahan.

Sebenarnya Aji tak tahan dengan perlakuan gadis di hadapannya, namun karena gurunya menyarankan untuk menghindar, mau tak mau Aji menuruti. Dia lantas berkelebat ke samping kiri begitu bongkahan asap hitam menggebrak ke arahnya. Bongkahan asap hitam itu menghajar tempat kosong, membuat Ratih Purnamasari semakin merah mengelam wajahnya.

"Hmm.... Orang yang mengintipiku saat mandi di sendang, mungkin saja pemuda ini    Buktinya, dia te-

lah berada di sini. Berarti dia mengikuti perjalananku    Kurang ajar!" kata Ratih Purnamasari dalam hati

seraya menatap tajam pada Pendekar 108 dengan tatapan lain. Di seberang, murid Wong Agung ini juga memandangi gadis berbaju hijau dengan pandangan aneh. Malah sebentar kemudian bibir murid Wong Agung ini sunggingkan senyum, membuat Ratih Purnamasari jadi jengah sendiri. Dia merasa yakin, bahwa orang yang mengintipnya sewaktu mandi di sendang adalah pemuda di hadapannya ini.

Entah merasa malu atau jengkel, gadis yang mengaku sebagai murid I Gusti Ayu Wayan Rikmasari ini cepat palingkan wajahnya memandang jurusan lain. Sekilas Aji dapat menangkap rona merah di pipi sang gadis.

Lalu tanpa berkata apa-apa, gadis berbaju hijau ini balikkan tubuh dan melangkah pergi.

"He.   Tunggu!" tahan Aji sambil melangkah hen-

dak menyusul. Namun pundaknya segera dicekal oleh Wong Agung.

"Untuk sementara ini biarkan dia pergi. Suatu waktu nanti kau pasti akan bertemu dengannya lagi "

"Eyang.... Siapakah dia sebenarnya? Dan ada masalah apa sebenarnya?"

Untuk beberapa saat lamanya Wong Agung tidak segera menjawab. Dia hanya batuk-batuk seraya mengelus jenggotnya dan mengencangkan ikatan potongan kulit di belakang kepalanya. Setelah agak lama baru dia menjawab.

"Kalau mendengar kata-katanya, dia mengaku murid I Gusti Ayu Wayan Rikmasari. Seorang tokoh silat dari daratan pulau Dewata yang dahulu pernah malang melintang di pulau Jawa. Dia sebenarnya seorang tokoh netral. Tidak berpihak pada golongan putih juga pada golongan hitam. Seperti halnya tokoh-tokoh masa lalu, I Gusti Ayu Wayan Rikmasari datang ke pulau Jawa untuk menambah pengalaman juga untuk mencari jejak kekasihnya. Sayangnya dia terlambat datang. Karena sewaktu dia datang, kekasihnya telah tewas. Kekasihnya tewas di tanganku, karena kekasih perempuan itu adalah seorang tokoh golongan hitam yang menyamar sebagai seorang pendeta...." Sejenak Wong Agung hentikan keterangannya. Setelah batuk-batuk tiga kali, dia melanjutkan ucapannya.

"Hanya saja, beberapa waktu yang lalu aku kedatangan dua orang. Aku benar-benar hampir tak percaya, karena dua orang tersebut mengaku utusan seseorang yang bernama Dadaka Lanang  "

"Dadaka Lanang?" ulang Aji. "Siapa dia. ?"

"Dialah kekasih I Gusti Ayu Wayan Rimaksari "

"Jadi dia belum tewas. ?" simpul Aji agak heran.

"Begitulah. Mungkin saat itu aku salah lihat. Karena kukira Dadaka Lanang telah tewas. Dan menilik pukulan yang dimiliki dua utusan yang mengaku murid Dadaka Lanang, aku yakin Dadaka Lanang memang masih hidup!"

"Berarti ada hubungannya antara kejadian akhirakhir ini dengan peristiwa beberapa tahun silam itu ,"

gumam Aji perlahan seakan berkata pada diri sendiri. "Maksudmu ?" tanya Wong Agung sedikit heran.

"Dalam perjalananku, di beberapa tempat aku mendapati pembantaian. Dan menurut seorang yang sempat berkata sebelum mati, dia mengatakan bahwa yang melakukan pembantaian itu adalah dua orang yang berpakaian mirip pendeta "

Wong Agung sedikit tersentak kaget. Dia lantas melangkah mendekati sebuah pohon, yang kemudian diikuti oleh Aji. Setelah duduk berhadapan di bawah pohon, Wong Agung berkata.

"Kau tak boleh menuduh begitu saja sebelum tahu buktinya.... Mungkin saja orang yang mengatakan itu salah ucap karena dalam keadaan meregang nyawa. Atau kau memang punya bukti-bukti kuat?"

"Di dada tiap-tiap orang yang terbantai, terdapat bekas telapak tangan, dan aku dapat memastikan hal itu dilakukan oleh dua orang, karena antara telapak tangan satu dengan lainnya besarnya tidak sama "

"Tapak Geni!" ujar Wong Agung setelah mendengar keterangan Aji.

"Hmm.... Kini aku yakin. Bahwa dua orang yang kemari itulah yang melakukan pembantaian itu. Dan aku percaya, mereka berdua adalah murid Datuk Lembah Neraka. Karena yang mempunyai pukulan itu hanyalah dia!"

"Datuk Lembah Neraka ?"

"Ya. Datuk Lembah Neraka adalah gelar daripada Dadaka Lanang !"

"Tapi, apa maksudnya   dengan   pembantaian itu ?" tanya Aji dengan menatap tajam pada gurunya.

"Aku belum bisa menduga. Hanya saja, satu hal yang pasti, perbuatan mereka harus secepatnya dihentikan! Dan itu menjadi tugasmu!"

Murid Wong Agung ini mengangguk perlahan. Sementara Wong Agung tengadahkan kepalanya seakan memandang langit. Lalu dia berkata.

"Nampaknya hari akan senja. Aku harus segera kembali ke Karang Langit. Kau pergilah. Tugas telah di tanganmu! Dan jika kau bertemu dengan murid I Gusti Ayu Wayan Rikmasari, kau bisa menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya.... Selamat tinggal, Muridku "

Habis berkata, Wong Agung bangkit dan berkelebat ke arah pesisir. Sebenarnya Aji ingin menahan kepergian gurunya. karena masih ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Namun sebelum Aji berucap, Wong Agung telah lenyap dari pandangan.

"Aku harus segera kembali ke dusun itu ,"

membatin Pendekar 108 seraya berkelebat ke arah dari mana dia tadi datang.

***

LIMA

DUA orang berpakaian kuning dengan kepala gundul tampak berkelebat ke sana kemari. Bersamaan dengan kelebatnya terdengar suara jeritan menyayat susul menyusul dari sebagian penduduk Dusun Majang Tengah. Namun jeritan menyayat itu rupanya tak sedikit pun membuat kedua orang ini hentikan perbuatannya, malah keduanya semakin membabi-buta! Hingga tak bisa dihindari jatuhnya korban lebih banyak lagi, tanpa sedikit pun ada perlawanan.

Setelah dirasa tak ada lagi yang tersisa, kedua orang ini keluarkan tawa bergelak-gelak.

"Paladasa. Kita tinggalkan tempat ini. Kita cari mangsa di tempat lain. Agar jerat yang kita pasang ini lekas termakan!" kata orang berpakaian kuning gundul dengan tubuh tinggi kurus yang bukan lain adalah Jalu Kembara.

"Aku agak kurang pas dengan jerat seperti ini. Karena telah sekian lama kita terapkan, orang yang kita harapkan kemunculannya dengan adanya pembantaian ini, ternyata tidak tampak batang hidung-nya. Apa tidak sebaiknya kita langsung mencarinya...?" kata yang satunya yang bertubuh tinggi besar, dan bukan lain adalah Wisnu Paladasa.

Mendengar ucapan Wisnu Paladasa, Jalu Kembara tertawa ngakak. Seraya mengusap-usap kepalanya yang keringatan, dia berkata.

"Jika kita tahu di mana beradanya dia, aku pun tak mau melakukan hal seperti ini. Karena selain tak ada gunanya, juga membuang-buang tenaga! Namun, kurasa hanya inilah satu-satunya jalan untuk menarik Pendekar Mata Keranjang 108 muncul mencari kita. Sebagai pendekar muda, dia tak akan tinggal diam melihat kejadian-kejadian seperti ini. Dan dalam setiap aksi, kita akan menyisakan seseorang, agar dia bisa bicara dan menceritakan tentang kita...!"

"Tapi sampai kapan...?"

"Waktu nanti yang menentukan pertanyaanmu itu!" jawab si tinggi kurus Jalu Kembara sedikit jengkel. Dia pandangi saudara seperguruannya itu dengan sedikit melotot. Lalu dengan suara agak tinggi dia lanjutkan ucapannya.

"Kita lanjutkan perjalanan!"

Meski agak geram dibentak begitu, si tinggi besar Wisnu Paladasa mau tidak mau mengikuti perkataan si tinggi kurus Jalu Kembara. Namun baru saja kedua orang ini balikkan tubuh hendak melangkah pergi terdengar suara menegur dengan berkelebatnya sesosok bayangan.

"Berhenti! Manusia-manusia pembuat malapetaka!"

Dengan sedikit menahan rasa terkejut, kedua

orang ini palingkan kepala masing-masing ke arah datangnya teguran.

"Keparat! Kukira orang yang selama ini kucari!" rutuk Wisnu Paladasa begitu mengetahui siapa adanya orang yang menegur. Matanya memandang tajam. Bibirnya tersenyum sinis dengan dagu agak ter-angkat. Tampaknya si tinggi besar Wisnu Paladasa tidak senang ditegur demikian.

Namun tidak demikian halnya dengan si tinggi kurus Jalu Kembara. Dia memandangi dengan sepasang mata disipitkan dan dilebarkan. Bibirnya tersenyum penuh arti, sementara jakunnya segera turun naik.

Ternyata, di hadapan kedua orang berpakaian kuning ini berdiri seorang gadis berbaju hijau tipis. Rambutnya panjang sebahu dengan dada membusung menantang. Sepasang matanya bulat.

Sejenak kedua laki-laki gundul berpakaian mirip pendeta ini saling pandang satu sama lain. Sebentar kemudian dari mulut kedua orang ini keluar suara tawa. Seraya tertawa tak henti-hentinya kedua orang ini usap-usap kepalanya dengan memandangi gadis di hadapannya dari atas hingga bawah.

Namun secara serentak mendadak saja kedua laki-laki ini hentikan tawanya masing-masing. Si tinggi kurus Jalu Kembara yang tampaknya terkesima dengan kecantikan gadis berbaju hijau melangkah satu tindak ke depan lalu membuka mulut.

Tapi sebelum ucapan keluar dari mulutnya, gadis berbaju hijau yang bukan lain adalah Ratih Purnamasari kibaskan tangan kanannya. Bersamaan dengan bergeraknya tangan, menderu angin kencang melesat menyambar pada Jalu Kembara dan Wisnu Paladasa, membuat kedua laki-laki ini cepat-cepat hindarkan diri masing-masing dengan tarik sedikit tubuhnya ke samping.

"Kau tidak pantas bertanya padaku. Jawab saja pertanyaanku jika kalian ingin panjang umur!"

Kembali kedua orang laki-laki ini saling berpandangan. Bibir mereka saling tersenyum.

"Gadis galak begini, begitu mengasyikkan di atas ranjang. Kau percaya itu?" kata si tinggi kurus Jalu Kembara seraya tertawa pendek, membuat Ratih Purnamasari berubah wajah. Matanya mendelik dengan dada sedikit bergetar menahan marah.

"Bukan hanya mengasyikkan, sekaligus berapiapi dan selalu ingin tambah lagi. Ha... ha... ha...!" timpal si tinggi besar Wisnu Paladasa seraya ikut-ikutan melangkah maju menjajari Jalu Kembara.

Ratih Purnamasari semakin mengelam paras wajahnya. Matanya semakin membelalak. Dengan tanpa berkata lagi, gadis cantik ini dorongkan kedua tangannya ke depan. Sebongkah sinar hitam menyambar cepat, keluarkan suara menggemuruh serta hawa panas menyengat!

Wisnu Paladasa hentikan tawanya tiba-tiba, sementara Jalu Kembara pupuskan senyumnya. Dua murid Datuk Lembah Neraka ini diam-diam jadi terkesiap. Mereka sama sekali tak menduga jika gadis di hadapan mereka mempunyai pukulan bertenaga dalam demikian hebat. Namun karena yang mereka hadapi adalah seorang perempuan muda, mereka tak hendak menunjukkan rasa terperangahnya. Mereka menyembunyikan perasaan terkesiapnya dengan tertawa lebar seraya lesatkan diri masing-masing ke samping kanan dan kiri, menghindari serangan Ratih Purnamasari. Namun tak urung kedua orang ini begitu terkejut, karena bersamaan dengan menghindarinya mereka, angin deras menyambar, membuat kedua orang ini terhuyung-huyung sebentar. Untung mereka segera sadar, hingga begitu mereka dapat kuasai keadaan, mereka berdua cepat pukulkan kedua tangan masingmasing memapak serangan sang gadis.

Wuutt! Wuutt!

Dua larikan sinar Kuning redup melesat ke depan. Bersamaan dengan itu, kedua laki-laki ini segera pula menyingkir ke samping kanan dan kiri. Dan dari tempatnya ini, secara serentak pula kedua orang ini lancarkan kembali serangan!

Plaarr! Plaarrr!

Terdengar letupan beberapa kali ketika dua serangan sama-sama teraliri tenaga dalam tinggi itu bentrok di udara. Tubuh Ratih Purnamasari tersurut tiga langkah ke belakang, dadanya berdenyut nyeri. Namun gadis ini segera salurkan tenaga dalam untuk mengatasi rasa nyeri dadanya. Saat itulah, larikan sinar kuning redup melabrak dari arah samping kanan dan kirinya!

Didahului bentakan melengking tinggi, Ratih Purnamasari lentingkan tubuhnya ke udara. Setelah membuat gerakan berputar-putar beberapa kali di udara gadis ini mendarat dengan kaki terpentang kokoh!

Wisnu Paladasa serta Jalu Kembara sama-sama kertakkan rahang masing-masing mendapati serangan susulannya dapat dihindari lawan. Jalu Kembara lirikkan sepasang matanya yang sipit pada Wisnu Paladasa. Kedua laki-laki gundul saling gerakkan kepalanya mengangguk. Tiba-tiba keduanya berkelebat kirimkan kembali serangan! Empat larik sinar kuning redup kembali menyambar ke arah Ratih Purnamasari. Dua melarik menuju arah kepala, dua lainnya melarik ke arah tubuh bagian bawah.

Walaupun tak terkejut melihat serangan lawan, namun gadis ini tak mau bertindak ayal. Dia cepat melompat ke samping seraya kirimkan serangan balasan!

Plaarr! Plaaarrr!

Terdengar kembali suara letupan berturut-turut. Namun karena Ratih Purnamasari sendirian, sementara lawan dua orang, membuat tubuhnya gadis ini terhuyung-huyung ke belakang begitu bentrok pukulan terjadi.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si tinggi kurus Jalu Kembara. Dia segera lesatkan dirinya menyongsong ke arah tubuh Ratih Purnamasari. Kedua kakinya menghujam menyilang.

Karena demikian cepatnya gerakan Jalu Kembara, membuat Ratih Purnamasari tak ada waktu lagi untuk menghindar. Hingga saat itu juga tanpa ampun lagi kaki Jalu Kembara menggebrak serta bergerak menyamping!

Desss!

Ratih Purnamasari keluarkan seruan tertahan. Tubuhnya terbanting ke samping dan menyusur tanah. Dari sudut bibirnya keluar darah segar begitu gadis ini merambat bangkit. Namun sebelum benarbenar bangkit, kembali Jalu Kembara lancarkan serangan. Kali ini dengan melompat ke depan, dan serta merta sapukan kaki kanannya!

Wuuuttt!

Ratih Purnamasari menggerutu panjang pendek. Sebelum sapuan kaki itu datang, gadis ini segera rebahkan kembali tubuhnya sejajar tanah. Lalu dengan cepat tubuhnya bergulir bergulingan di atas tanah. Hebatnya, sebelum bergulingan, kaki kirinya masih sempat bergerak ke kanan, menghantam kaki kiri Jalu Kembara yang dipakai untuk tumpuan tubuhnya.

Wuuttt!

Jalu Kembara terkejut. Karena kaki kanannya sedang bergerak ke depan, dia tak mampu lagi untuk menghindar, hingga kejap itu juga tubuhnya terjengkang ke belakang!

"Jahanam busuk! Gerakannya cepat luar biasa!" gumam Jalu Kembara dengan wajah merah padam. Dia merasakan pantatnya melesak, karena dia bertubuh kurus.

Melihat saudaranya bisa dibuat terjengkang, si tinggi besar Wisnu Paladasa segera menyusul gulingan tubuh Ratih Purnamasari. Dan begitu gulingan tubuh gadis ini terhenti, Wisnu Paladasa cepat hantamkan tangannya seraya sedikit bungkukkan tubuhnya.

Beett! Beett!

Selarik angin kencang melesat mendahului sebelum kepalan tangan itu datang!

Meski Ratih Purnamasari tahu, bahwa tingkat kepandaian Wisnu Paladasa sedikit di bawah Jalu Kembara, namun dia tak berani main-main. Seraya miringkan tubuhnya, kedua tangannya dia angkat ke atas dan dihantamkan menyamping.

Prakkk! Prakkk!

Terdengar dua kali benturan keras. Wisnu Paladasa terseret ke belakang hingga lima langkah, dua tangannya terasa ngilu bukan main. Dadanya bergetar dan sesak. Di lain pihak, Ratih Purnamasari tubuhnya kembali bergulingan.

"Paladasa! Kita harus cepat selesaikan kunyuk ini! Tugas kita masih banyak!" berkata Jalu Kembara seraya memberi isyarat dengan kerdipkan sebelah matanya.

Tahu isyarat, Wisnu Paladasa anggukkan kepala. Dan bersamaan dengan itu tubuhnya melesat ke depan seraya kirimkan serangan. Sebenarnya serangan yang dilancarkan Wisnu Paladasa ini hanyalah untuk membagi perhatian Ratih Purnamasari. Karena sewaktu Wisnu Paladasa lancarkan serangan dan Ratih Purnamasari siap menangkal, diam-diam Jalu Kembara takupkan kedua tangannya di depan dada, sepasang matanya terpejam rapat, mulutnya berkemik.

Di lain pihak, Ratih Purnamasari segera tarik kedua tangannya sedikit ke belakang, dan serta merta didorong kuat-kuat seraya membentak garang.

Plaarrr!

Kembali terdengar letupan tatkala serangan yang dilancarkan Wisnu Paladasa bentrok dengan pukulan Ratih Purnamasari. Namun saat itu juga, tanpa diduga sama sekali oleh Ratih Purnamasari, Jalu Kembara buka kedua telapak tangannya dan dihantamkan ke depan!

Wuuuttt!

Asap hitam yang membentuk batangan laksana pohon kelapa melesat deras ke arah Ratih Purnamasari. Dua batangan itu bergerak berputar-putar laksana baling-baling sementara satunya bergerak lurus. Kedua batangan tersebut keluarkan suara berdesis-desis! Dari uap dingin yang keluar serta desisan yang menyertai dua batang asap yang membentuk batangan, Ratih Purnamasari segera maklum bahwa serangan yang kini meluruk ke arahnya tidaklah bisa diang-

gap sebelah mata.

Didahului bentakan nyaring, gadis ini cepat geser kakinya hingga tiga langkah ke samping kanan. Dari sini, dia segera pula hantamkan kedua tangannya merentang!

Sebongkah sinar hitam melesat melengkung menerabas batangan asap dari samping kanan ke samping kiri.

Bummm!

Satu ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Satu batangan asap hancur berkeping-keping.

Namun satunya lagi terus bergerak laksana balingbaling. Suara desis yang keluar semakin keras!

Dengan tengkuk sedikit dingin, Ratih Purnamasari rebahkan tubuhnya ke belakang. Sepasang kakinya lantas dia angkat tinggi-tinggi, membuat sepasang pahanya yang putih mulus terlihat jelas. Sepasang mata Jalu Kembara serta Wisnu Paladasa membeliak lebar tak kesiap.

Sewaktu Ratih Purnamasari angkat sepasang kakinya itulah, batangan itu meledak. Demikian dahsyatnya ledakan itu, hingga biasnya mampu membuat tubuh Ratih Purnamasari membumbung sampai satu tombak ke udara. Karena sewaktu meledak batangan itu mengeluarkan pijaran yang menebar ke manamana dan sebagian menerabas ke arah Ratih Purnamasari, membuat gadis ini meraung keras. Tubuhnya yang membumbung tidak mampu lagi dia kuasai, hingga saat itu juga tubuhnya kembali menukik ke bawah dan jatuh telentang!

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara sama-sama berpandangan. Lantas dari mulut keduanya keluar suara tawa panjang. Namun Jalu Kembara segera hentikan suara tawanya begitu melihat Ratih Purnamasari menggeliat hendak bangkit.

Secepat kilat laki-laki tinggi kurus ini segera berkelebat dan tahu-tahu tubuhnya telah berada di samping Ratih Purnamasari dan kedua tangannya siap bekerja menotok peredaran darah gadis di sebelahnya!

Ratih Purnamasari menjerit tertahan.

"Bangsat keji! Laki-laki pengecut! Bebaskan aku!" teriak Ratih Purnamasari tanpa bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Kaki dan tangannya terasa lunglai.

Jalu Kembara tertawa mengekeh. Sepasang matanya yang sipit membeliak besar. Apalagi tatkala dilihatnya dada gadis di sampingnya berguncang turun naik, seiring bergetarnya dada menahan rasa geram dan marah.

"Jahanam! Setan alas! Cepat bebaskan aku!" kembali Ratih Purnamasari berteriak lantang. Namun karena hanya bisa berteriak tanpa bisa berbuat apaapa, maka teriakannya hanya dijawab dengan kekehan tawa oleh Jalu Kembara, malah tatkala gadis ini hendak buka mulutnya kembali, Jalu Kembara angkat bicara dengan nada keras.

"Sekali lagi kau bicara tak karuan, kau akan merasakan digilir tiga hari tiga malam tanpa henti! Mengerti?!"

Ratih Purnamasari urungkan niat buka mulut mendengar ancaman orang, malah matanya nampak meredup mengisyaratkan ketakutan luar biasa. Namun justru hal ini membuat Jalu Kembara semakin terpesona dengan gadis ini. Dia lalu melangkah mendekat. Ratih Purnamasari yang merasa tahu apa yang hendak dilakukan oleh Jalu Kembara segera berkata.

"Kalau kau menyentuhku, kubunuh kau!"

Mendengar ancaman, Jalu Kembara palingkan wajah pada Wisnu Paladasa. Dan serta merta tawanya pun meledak.

"Paladasa. Kau dengar kata-katanya? Dia akan membunuhku jika kusentuh. Lantas kalau kutiduri, aku akan dia apakan...?"

"Kau jangan terkejut. Perempuan di mana-mana begitu. Dia lebih pandai menyimpan nafsu di balik kata-katanya!" sambung si tinggi besar Wisnu Paladasa seraya ikut-ikutan tertawa. Dan dia pun melangkah mendekat.

Ratih Purnamasari makin merah mengelam parasnya. Bahkan kini tampak memutih bagaikan kapas ketika dilihatnya Wisnu Paladasa yang bertubuh tinggi besar melangkah ke arahnya.

"Celaka! Apa yang harus kuperbuat sekarang?" membatin Ratih Purnamasari. Dia diam-diam kerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan diri dari totokan Jalu Kembara. Namun usahanya tidak berhasil. Malah ketika Jalu Kembara mengetahui Ratih Purnamasari hendak berusaha membebaskan diri, dia marah besar. Kedua tangannya segera berkelebat cepat, dan....

Brett! Brettt!

Baju hijau Ratih Purnamasari robek besar di bagian perut dan dada sebelah kiri, membuat dadanya yang membusung menantang itu menyembul jelas. Sementara kulitnya yang putih di bagian perut juga jelas terlihat. Hingga membuat dua pasang mata lakilaki di dekat gadis ini melotot besar. Di lain pihak, Ratih Purnamasari keluarkan jeritan tertahan. Namun hanya itu yang bisa dia lakukan. Paras wajahnya telah pias. Bahkan untuk angkat bicara pun sepertinya sudah demikian berat.

Sementara itu, dua orang murid Datuk Lembah Neraka yang pada dasarnya memang suka perempuan ini cuping hidung masing-masing membengkak keluarkan desahan napas memburu. Jakun masing-masing pulang balik turun naik tidak beraturan. Bahkan kepala Jalu Kembara bergerak ke kiri kanan seakan mengagumi apa yang ada di hadapannya. Lalu sepertinya tak sabar, laki-laki tinggi kurus ini memandang pada saudara seperguruannya dan berkata.

"Paladasa. Aku yang menaklukkan kunyuk ini. Jadi sudah layak bila aku yang mendapat jatah pertama! Kau tunggulah agak jauh! Atau kau perlu menonton dahulu?!"

Wisnu Paladasa tidak menyahut ucapan saudaranya. Dia hanya melambaikan tangan kanannya, memberi isyarat agar Jalu Kembara mendekat ke arahnya.

Meski mengomel panjang pendek, namun Jalu Kembara melangkah juga mendekat. Dan begitu dekat dia langsung ajukan pertanyaan.

"Apa kau minta dahulu?"

Wisnu Paladasa gelengkan kepala. Dia berucap perlahan.

"Apa kau lupa syarat yang dikatakan Datuk Lembah Neraka? Segala ilmu yang kita miliki akan lenyap begitu kita menggauli perempuan! Atau kau memang menginginkan hal itu?"

Sejenak Jalu Kembara lepaskan napas dalamdalam. Dia seakan baru tersadar. Namun entah karena kuatnya amukan nafsu yang telah mendera tubuhnya, dia menyahut ucapan Wisnu Paladasa seraya palingkan wajahnya pada Ratih Purnamasari.

"Apa kau percaya ucapan Guru?"

"Sepenuhnya tidak. Namun setidaknya untuk saat ini belum saatnya kita mencoba melanggar, karena tugas kita masih banyak. Kita akan rugi waktu dan tenaga jika segalanya hanya akan berakhir gara-gara perempuan! Toh kita nantinya dapat merasakan yang bagaimanapun bentuknya jika cita-cita kita tercapai! Pikirkan itu!"

"Sialan! Setan busuk!" keluar sumpah serapah tak karuan dari mulut Jalu Kembara.

"Kembara!" sambung Wisnu Paladasa dengan memandang pada jurusan lain. "Kau sementara ini harus dapat menahan nafsu. Namun karena gadis itu telah menghina kita, maka layak jika dia kita kasih pelajaran...!"

Kembali Jalu Kembara menarik napas dalam dalam. Dia sepertinya masih begitu menyayangkan kesempatan baik ini. Namun setelah agak lama berdiam diri, dia akhirnya melangkah maju mendekati Ratih Purnamasari.

"Ingat! Jika kau masih bersikeras hendak berbuat yang tidak-tidak, kau akan kukejar ke mana pun kau lari!" berkata Ratih Purnamasari yang tampaknya mulai bangkit kembali keberaniannya.

Jalu Kembara tidak menyambuti kata-kata Ratih Purnamasari. Sepasang matanya memandang tak kesiap, membuat gadis yang dipandangi jengah dan buang muka.

"Laki-laki pengecut! Beraninya hanya pada perempuan yang sedang tidak berdaya!" sambung Ratih Purnamasari ketika diliriknya Jalu Kembara hanya memandangi dirinya tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya.

Kali ini, mendengar ucapan Ratih Purnamasari, Jalu Kembara merah padam mukanya. Nafsunya yang tadi sudah naik ke ubun-ubun perlahan tertindih oleh hawa amarah. Dan serta merta tanpa berkata-kata lagi, tangan kirinya bergerak ke arah muka.

Plak!

Tamparan tangan kiri dengan keras menghajar pipi kanan Ratih Purnamasari, membuat gadis ini terbanting di atas tanah dengan jeritan tertahan. Dari sela bibirnya yang pecah, nampak mengalir darah segar!

"Jahanam! Laki-laki terkutuk!" maki Ratih Purnamasari begitu tubuhnya terkapar di atas tanah. Dia kembali mencoba kerahkan tenaga luar dan dalam untuk membebaskan diri dari totokan Jalu Kembara, namun usahanya tak juga berhasil. Malah kini Jalu Kembara kembali mendekat ke arahnya. Paras wajah laki-laki ini telah berubah. Bibirnya tersenyum sinis. Disangkanya hendak menghajar kembali, ketika begitu dekat, Ratih Purnamasari tak memandangnya, malah dia pejamkan sepasang matanya dengan bibir saling menggigit.

Namun apa yang diduga Ratih Purnamasari meleset. Begitu dekat, Jalu Kembara segera kelebatkan tangan kirinya.

Brettt!

Kembali baju bagian dada sebelah kanan milik Ratih Purnamasari mengaga lebar, hingga kini dada sebelah kanan dan kiri terlihat jelas terpentang.

Bukan hanya sampai di situ, begitu kedua dada Ratih Purnamasari telah berhasil dibuka, Jalu Kembara bungkukkan tubuh. Mungkin hendak menyentuh atau kembali hendak merobek pakaian bagian bawah. Pada saat itulah terdengar orang berteriak.

"Tampaknya tua-tua masih juga mengingini seorang dara. Apa memang betul bahwa hal itu sebagai obat awet muda?! Ha... ha... ha...!"

Begitu suara tawa lenyap serangkum angin keras melesat menyambar ke arah Jalu Kembara.

"Kembara! Awas ada seseorang membokong!" ingat Wisnu Paladasa.

Jalu Kembara cepat palingkan wajah dan tegakkan tubuh. Dan serta merta bertindak cepat dengan melompat ke samping kanan. Namun gerakannya sedikit terlambat. Meski tubuhnya selamat dari hajaran telak angin yang menyambar, namun baju kuningnya sempat tersambar, hingga baju itu robek di bagian pinggang!

"Bangsat! Kupecahkan kepalamu!" maki Jalu Kembara seraya layangkan pandangannya mencari tahu siapa adanya orang yang ikut campur urusannya, demikian halnya Wisnu Paladasa dan Ratih Purnamasari.

***

ENAM

SEPULUH langkah di samping kanan Jalu Kembara, tegak berdiri seorang pemuda mengenakan pakaian hijau yang dilapis dengan baju dalam lengan panjang warna kuning. Parasnya tampan dengan rambut dikuncir ekor kuda.

Sejenak baik Jalu Kembara dan Wisnu Paladasa memperhatikan pemuda di sampingnya dengan lebih seksama. Sementara itu Ratih Purnamasari tersentak kaget, sepasang matanya menatap lurus tajam tak berkesiap ke depan.

"Dia...!" gumam Ratih Purnamasari perlahan begitu mengetahui siapa adanya orang yang baru saja menyelamatkan dirinya.

"Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan gadis itu?!" tanya Wisnu Paladasa dengan suara tinggi. Dagunya tampak mengeras dengan sepasang mata melotot. Yang ditanya masih senyam-senyum, malah tak memandang pada Wisnu Paladasa atau Jalu Kembara, sebaliknya sepasang mata pemuda berbaju hijau ini yang bukan lain adalah Aji Saputra alias Pendekar Mata Keranjang 108 memandang lurus pada Ratih Purnamasari yang terkapar di atas tanah tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya.

Mendapati pertanyaannya tidak mendapat jawaban, Wisnu Paladasa naik pitam. Dia segera melangkah maju dengan kedua tangan siap dihantamkan. Namun, sebelum hal itu sempat dilakukan, dari jarak jauh Jalu Kembara memberi isyarat agar Wisnu Paladasa urungkan niat untuk menyerang. Malah Jalu Kembara kini melangkah mendekat pada Wisnu Paladasa.

"Paladasa!" kata Jalu Kembara seraya berbisik. "Kau perhatikan lebih seksama lagi. Melihat ciricirinya, apa bukan pemuda ini yang kita cari?"

Mendengar ucapan saudara seperguruannya, Wisnu Paladasa segera perhatikan pemuda di hadapannya dengan lebih teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dahi laki-laki bertubuh tinggi besar ini berkerut. Kepalanya yang gundul dia dongakkan ke atas. Dia seakan mengingat-ingat. Dan tiba-tiba dia palingkan wajahnya pada Jalu Kembara dan berkata.

"Benar! Memang dia pemuda yang kita cari! Tapi sebaiknya kita tanyakan terlebih dahulu!"

"He! Sekali lagi kau tak mau jawab pertanyaan kami, jangan menyesal jika mulutmu kurobek!" kertak Jalu Kembara seraya melangkah dua tindak ke depan.

"Sebutkan siapa dirimu!"

Aji hadapkan wajahnya pada Jalu Kembara. Kalau tadi bibirnya tersenyum-senyum, kini senyum itu lenyap, berganti senyum sinis. "Tampaknya dua orang ini biang keladi kerusuhan selama ini! Kalau benar, berarti kedua orang inilah murid Datuk Lembah Neraka! Mereka harus dihentikan. Dunia persilatan akan keruh jika orang-orang seperti mereka masih dibiarkan untuk hidup!" membatin Aji. Lalu dia berkata.

"Orang rimba persilatan menyebutku Datuk Lembah Neraka!" kata Aji dengan enaknya. Dia sengaja menyebut dirinya Datuk Lembah Neraka untuk mengetahui reaksi kedua laki-laki di hadapannya. Apakah kedua laki-laki gundul itu murid Datuk Lembah Neraka atau bukan.

Di lain pihak, mendengar jawaban yang tak pernah diduga sama sekali itu, Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara saling berpandangan satu sama lain dengan tatapan heran dan jengkel.

"Kembara!" bisik Wisnu Paladasa. "Apa di dunia ini banyak manusia bergelar Datuk Lembah Neraka?!"

"Diam kau!" bentak Jalu Kembara merasa jengkel karena Wisnu Paladasa tampaknya termakan oleh tipuan Aji. Di lain pihak, Ratih Purnamasari yang menyaksikan kejadian itu, meski menahan sakit di bibirnya, dia tak bisa menahan tawanya, hingga tawanya pun keluar. Sementara itu Aji hanya tersenyum seraya mengawasi silih berganti.

"Bocah! Tampaknya kau bercanda dengan maut!

Terimalah!"

Habis berkata begitu, Jalu Kembara yang sudah dirasuki rasa geram segera hantamkan kedua tangannya ke depan.

Selarik sinar kuning melesat deras ke arah Aji.

Murid Wong Agung ini geser kakinya dua langkah ke samping kanan, membuat serangan pembuka Jalu Kembara menghajar tempat kosong. Di kejap lain begitu habis menghindar, Aji segera dorongkan kedua tangannya ke depan.

Serangkum angin dahsyat yang keluarkan suara bagai gelombang segera melesat menggebrak. Pendekar Mata Keranjang 108 tampaknya lepaskan pukulan 'Gelombang Prahara'.

Jalu Kembara sedikit terperangah melihat lawan begitu mudah menghindari serangannya. Malah kini melancarkan serangan balasan. Diam-diam Jalu Kembara agak yakin, bahwa pemuda di hadapannya inilah yang memang dia cari. Malah serangannya tadi memang dia sengaja dengan kerahkan seperempat tenaga dalamnya untuk mengetahui sampai di mana ketinggian ilmu lawan.

Dengan menindih rasa kaget, Jalu Kembara melompat ke samping. Selain untuk menghindar, juga agar lebih dekat lagi dengan Wisnu Paladasa.

"Paladasa!" kata Jalu Kembara tanpa palingkan wajahnya. "Hari ini nampaknya kita akan dapat rejeki besar. Aku hampir yakin, dialah orang yang kita cari!"

"Tapi apa tidak sebaiknya kita tanyai lebih jelas lagi?!"' tanya Wisnu Paladasa dengan memandang pada Jalu Kembara.

Jalu Kembara palingkan wajahnya. Parasnya semakin membatu. Kalau saja bukan saudara seperguruannya, mungkin sedari tadi sudah dilumatnya mulut Wisnu Paladasa.

"Kau memang benar-benar bodoh!" batin si tinggi kurus Jalu Kembara. Dia lantas berkata agak keras.

"Untuk menghabisi orang, apa perlu kita jelaskan dahulu nama dan gelarnya?!"

Si tinggi besar Wisnu Paladasa terdiam sesaat. Dia seolah berpikir keras. Namun mendadak dia keluarkan tawa bergelak, membuat Jalu Kembara heran dan tak mengerti apa yang ditertawakan Wisnu Paladasa. "Kau betul! Untuk menghabisi orang, memang

tak perlu kita tanyakan dahulu siapa dia!" kata Wisnu Paladasa di tengah-tengah tawanya, membuat Jalu Kembara makin dibuat jengkel.

"Hentikan tawamu!" bentak Jalu Kembara seraya memandang pada Aji yang kini tampak melangkah mendekati Ratih Purnamasari.

Namun baru saja Aji hendak bungkukkan tubuh untuk membebaskan Ratih Purnamasari, dari arah belakang empat larik sinar kuning redup telah menyambar!

"He! Awas serangan!" ingat Ratih Purnamasari. Aji yang telah waspada, segera bungkukan tu-

buh, kedua tangannya bergerak cepat. Di lain pihak, Ratih Purnamasari yang sedari tadi malu-malu merasa dipandang, merasakan sambaran di samping tubuhnya. Dia pejamkan kedua matanya. Dan ketika dia samar-samar membuka kelopak matanya, dia tersentak kaget, karena tahu-tahu tubuhnya telah digendong Aji dan disingkirkan agak jauh.

"Terima kasih!" kata Ratih Purnamasari dengan paras merah saga begitu tubuhnya diturunkan dan ternyata telah bebas dari totokan.

"Kau di sini saja! Laki-laki itu harus dimusnahkan dari muka bumi!" kata Aji seraya balikkan tubuh dan melangkah kembali ke arah Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara.

"Keparat!" rutuk Jalu Kembara dan Wisnu Paladasa hampir berbarengan, begitu mendapati Aji berhasil lolos dari serangan mereka bahkan bisa membebaskan Ratih Purnamasari.

Tanpa berkata-kata lagi, begitu dilihatnya Aji melangkah ke arahnya, Jalu Kembara segera menyongsongnya dengan membuat gerakan berputar di udara dua kali, dan tahu-tahu tubuhnya telah menghadang di hadapan Aji.

Pendekar Mata Keranjang hentikan langkahnya. Dan baru saja langkahnya berhenti, Jalu Kembara telah kirimkan serangan jarak jauh dengan pukulan kedua tangannya ke depan.

Wuutt! Wuuuttt!

Karena tidak ada lagi waktu untuk menghindar, membuat Aji harus pula lepaskan pukulan untuk menangkis. Murid Wong Agung ini segera saja tarik dengan cepat kedua tangannya ke belakang, lalu serta merta dihantamkan ke depan.

Plaarrr!

Terdengar letupan keras tatkala dua pukulan sakti itu bentrok di udara. Baik Aji maupun Jalu Kembara sana sama surutkan langkah masing-masing satu tindak ke belakang. Jalu Kembara nampak meringis seraya pegangi lengannya yang terasa nyeri. Di lain pihak, Aji tampak tersenyum-senyum meskipun sebenarnya tangannya merasa kesemutan juga.

Jalu Kembara menoleh pada Wisnu Paladasa. Si tinggi besar Wisnu Paladasa yang seolah mengerti arti pandangan saudara seperguruannya cepat mendatangi "Kita kerahkan seluruh tenaga untuk menghabisi

bocah ini!" berkata Jalu Kembara.

Wisnu Paladasa menganggukkan kepala. Dua laki-laki ini lantas saling beri isyarat, dan tiba-tiba kedua laki-laki ini lesatkan tubuh masing-masing seraya lepaskan serangan dengan hantamkan kedua tangan masing-masing ke depan. Begitu pukulan menyambar, keduanya lantas saling berpencar ke kanan dan ke kiri.

Dari arah samping, keduanya lantas kembali kirimkan serangan dengan hantamkan kedua tangan seraya rebahkan tubuh masing-masing sejajar tanah. Ini adalah serangan untuk menangkal lawan jika lawan menghindari serangan pertamanya dengan bergerak tanpa melesatkan dirinya ke udara.

Melihat gencarnya serangan, Aji segera dapat mengetahui jika lawan ingin segera menghabisinya. Tapi murid Wong Agung ini tak mau bertindak ceroboh. Dia cepat keluarkan kipas ungunya dan secepat kilat dia kebutkan melintang di depan dada.

Wuuuttt!

Seberkas cahaya putih berkelebat angker membentuk kipas dan menebarkan hawa panas luar biasa!

Blarrr!

Ledakan dahsyat segera terdengar begitu larikan sinar kuning bentrok dengan angin yang menyambar dari kipas ungu Pendekar Mata Keranjang 108. Hebatnya, larikan yang datang menyusul dari arah samping pun sepertinya tertahan, membuat Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara sama-sama terkejut bukan alang kepalang. Namun mereka sadar, bahwa pemuda di hadapannya tidak boleh diberi kesempatan untuk balas menyerang, karena itu akan sangat berbahaya.

Berpikir begitu, kedua laki-laki ini lantas saling takupkan kedua telapak tangannya sejajar dada, matanya sebentar memejamkan dengan mulut bergerakgerak. Tak lama kemudian, keduanya saling pandang sejenak, dan....

"Tapak Geni!" seru Jalu Kembara seraya melompat ke depan dengan membuat putaran satu kali. Demikian pula Wisnu Paladasa.

Empat langkah di hadapan Aji, kedua laki-laki ini terkesiap. Mereka sekarang baru yakin bahwa pemuda di hadapannya adalah pemuda yang mereka cari. Mereka pandangi kipas ungu milik Aji dengan pandangan nanar.

"Hmm.... Nyatanya memang dia pemuda bergelar Pendekar 108 itu. Aku harus semakin berhati-hati. Kabarnya, kesaktian manusia ini sudah menyamai gurunya...," membatin Jalu Kembara. Lalu dia berkata pada Wisnu Paladasa.

"Sekarang jangan tahan-tahan lagi kerahkan tenaga. Memang pemuda inilah yang kita cari!"

Habis berkata begitu, Jalu Kembara berkelebat yang kemudian diikuti oleh Wisnu Paladasa. Kedua sosok laki-laki ini lantas lenyap dari pandangan. Dan tiba-tiba sekali sosok keduanya telah menukik deras dari udara dengan telapak tangan terbuka, sementara kakinya berputar-putar bagai baling-baling keluarkan suara bersiutan.

Pendekar Mata Keranjang yang sedari tadi menunggu serangan, segera luruskan tubuh dan begitu telapak tangan yang telah dialiri tenaga dalam itu hendak menghajar dada dan punggungnya, dia re-bahkan diri di atas tanah, bergulingan beberapa kali. Dan pada gulingan kelima, mendadak pendekar murid Wong Agung ini serta merta bangkit dan kirimkan serangan!

Tempat itu seketika berubah menjadi terang benderang. Ternyata Pendekar Mata Keranjang 108 telah lepaskan pukulan sakti ‘Bayu Cakra Buana’

Di seberang, Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara yang baru saja sama-sama mendarat terperangah kaget. Jalu Kembara yang tahu bahaya segera berseru keras memperingati saudaranya seraya berkelebat. Tubuh laki-laki tinggi kurus ini bergerak lenyap sebelum serangan Pendekar Mata Keranjang 108 menghantam. Jika Jalu Kembara segera berkelebat, tidak demikian halnya dengan Wisnu Paladasa. Meski dia sempat berkelebat, namun gerakannya sudah begitu terlambat, hingga tanpa ampun lagi kaki kanannya tersambar pukulan Pendekar Mata Keranjang 108!

Wisnu Paladasa meraung keras. Tubuhnya yang berkelebat serta merta berputar menyamping dan jatuh bergeleparan di atas tanah dengan kaki kanan merah bengkak!

"Anjing kurap!" rutuk Jalu Kembara mengetahui saudaranya roboh tersambar pukulan Pendekar Mata Keranjang 108. Dia lantas maju dua langkah ke depan. Dan mendadak tubuhnya melesat lurus! Telapak tangannya terbuka sementara sepasang kakinya lurus dan menekuk pulang balik!

Aji kepalkan tangan kirinya dan diangkat di atas kepala, sementara tangan kanan yang memegang kipas dia sejajarkan di depan dada.

Begitu sedepa lagi sepasang kaki Jalu Kembara menghantam, Aji rentangkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya bergerak memukul ke samping.

Jalu Kembara tercekat bukan alang kepalang, karena tiba-tiba saja tubuhnya bagai tertahan kekuatan yang kasat mata. Dia mencoba kerahkan tenaga dalamnya untuk menembus, agar sepasang kakinya dapat menerobos masuk, namun usahanya sia-sia belaka. Bahkan tatkala Jalu Kembara kerahkan tenaga dalam, tangan kiri Aji bergerak menghantam.

Untung Jalu Kembara masih bisa melihat serangan lawan, hingga meskipun tersambar bahunya, namun dia bisa selamatkan kepalanya dari hantaman telak.

Desss!

Jalu Kembara melayang berputar. Hebatnya, dalam keadaan demikian, laki-laki ini masih bisa membuat gerakan berputar hingga selamatkan tubuhnya dari menghantam tanah!

"Bocah keparat!" hardik Wisnu Paladasa. Tanpa menunggu lama lagi, dia langsung kembali menyerang. Kali ini dia hantamkan pukulan jarak jauh dengan tangan kosong, lantas didahului bentakan keras, lakilaki bertubuh tinggi besar ini keber tubuhnya. Tubuhnya melesat cepat ke depan.

Aji yang tahu gelagat segera menyongsong dengan hantamkan kedua tangannya ke depan. Namun kali ini Aji tertipu, karena begitu lesatan tubuh Wisnu Paladasa hampir terhantam serangan tangan Aji, tubuh Wisnu Paladasa membumbung sedikit ke atas, membuat serangan Aji lewat di bawahnya. Pada saat itulah Wisnu Paladasa membuat gerakan berputar cepat dan sepasang kakinya menggebrak dari belakang!

Bukkk!

Pendekar Mata Keranjang 108 tersuruk menyusup tanah di depannya. Punggungnya terasa jebol, dan sebelum dia benar-benar tersuruk, dari arah depan tiba-tiba Jalu Kembara sapukan kaki kanannya!

Wuuuttt!

Dengan terkejut, Pendekar Mata Keranjang 108 lesatkan tubuh bagian atasnya ke belakang dengan posisi kaki tetap. Ini untuk menjaga keseimbangan tubuh jika pada saat yang sama Wisnu Paladasa menyerang dari belakang.

Benar saja, tatkala sapuan kaki kanan Jalu Kembara menghajar angin di depan tubuh Pendekar Mata Keranjang 108, dari arah belakang, Wisnu Paladasa pukulkan kedua telapak tangannya yang telah terbuka.

Pendekar murid Wong Agung ini kembali kerahkan tenaga untuk menghindar dengan gerakkan kembali tubuh atasnya ke depan. Namun pada saat itu juga kaki kanan Wisnu Paladasa bergerak lurus menghantam dari belakang!

Desss!

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 terhuyung ke depan. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Jalu Kembara. Dia segera memapak huyungan tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 dengan telapak tangan terbuka dan mengarah pada dada!

Dalam keadaan yang demikian, Aji cepat silangkan kedua tangannya di depan dada.

Prakkk!

Pendekar Mata Keranjang 108 terbanting ke samping. Kedua tangannya serasa terhantam benda panas dan amat berat, hampir saja pegangan pada kipasnya terlepas jika saja murid Wong Agung ini tidak segera salurkan hawa murni untuk mengatasi kenyerian yang kini mendera tangannya.

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara saling pandang dan sama-sama keluarkan tawa panjang bersahut-sahutan.

"Setelah ini tinggal kita selesaikan gurunya!" berkata Jalu Kembara dengan melangkah mendekat.

Namun baru dua langkahan kaki, Pendekar Mata Keranjang 108 telah bangkit dan tiba-tiba saja tubuhnya melesat dengan tangan kanan kibaskan kipas, sementara tangan kiri lepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Baik Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara samasama terkejut, karena mereka menyangka bahwa Pendekar Mata Keranjang hanya kuat bangkit tanpa bisa melancarkan serangan. Karena ‘Tapak Geni’ serangan yang tadi dilancarkan Jalu Kembara dapat membuat orang mampu bergerak tanpa bisa menyerang. "Heran! Dia tampaknya tak mempan dengan 'Tapak Geni'!" membatin Jalu Kembara. Namun dia tak bisa berlama-lama membatin, karena saat itu juga serangan Pendekar Mata Keranjang 108 telah meluruk ke arahnya!

Dengan masih memendam rasa heran, kedua laki-laki ini segera dorongkan masing-masing tangannya ke depan.

Larikan-larikan sinar kuning redup kembali melarik ke depan. Namun kembali Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara dibuat terkejut. Karena serangannya kini bagai tertahan dinding, dan terapung di udara.

Selagi kedua orang ini terkesima. sambaran angin yang keluar dari tangan kiri Pendekar 108 melabrak lurus!

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara berseru keras. Tubuh kedua laki-laki ini melayang jauh ke belakang. Dan jatuh berkaparan di atas tanah dengan dada berdenyut sakit serta pakaian hangus!

Keduanya merangkak bangkit seraya mengumpat habis-habisan. Namun baru saja mereka dapat bangkit, tubuh keduanya kembali oleng dan lutut mereka bergetar. Dan tak lama kemudian, tubuh keduanya kembali jatuh terduduk.

"Kita tertipu oleh Datuk Lembah Neraka. Karena ternyata masih ada manusia yang tahan pada pukulan ‘Tapak Geni’!" kata Jalu Kembara pada Wisnu Paladasa seraya berpaling.

"Tapi apa boleh buat, kita harus bertahan. Kita tidak boleh menyerah begitu saja!" sahut Wisnu Paladasa dengan mengawasi Pendekar Mata Keranjang 108 yang kini semakin dekat ke arah mereka.

"Kalian murid Datuk Lembah Neraka?!" Aji ajukan pertanyaan seraya terus mendekat. Sejenak Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara saling pandang. Lalu Jalu Kembara tersenyum sinis dan berkata.

"Bukankah kau Datuk Lembah Neraka?" Pendekar Mata Keranjang 108 yang semula wak-

tu ditanya enak saja menyebut nama Datuk Lembah Neraka senyam-senyum sendiri. Namun mendadak senyumnya dia penggal. Sepasang matanya membesar pandangi Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara silih berganti dan berkata dengan nada tinggi.

"Jawab dengan jujur pertanyaanku. Itu kalau kalian memang masih ingin hidup!"

Diam-diam saat demikian itu, Jalu Kembara coba kerahkan tenaga untuk memulihkan kembali tenaganya. Namun tampaknya usahanya tiada hasil. Membuat laki-laki ini wajahnya pucat pasi. Demikian juga Wisnu Paladasa.

"Hmm.... Tampaknya kalian memang sudah bosan hidup!" kata Pendekar Mata Keranjang 108 begitu ditunggu agak lama di antara kedua laki-laki ini tidak ada yang buka mulut untuk menjawab.

"Ampun...!" kata Wisnu Paladasa, "Benar... Kami memang murid dari..,."

Belum sampai Wisnu Paladasa meneruskan katakatanya, serangkum angin dahsyat menyambar dari arah samping, menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat palingkan wajah dan serta merta melompat ke samping kiri untuk menghindar. Sambaran angin terus melabrak dan menghajar sebuah rumah, membuat rumah itu terbabat roboh dan terbakar!

"Sialan betul!" rutuk Pendekar Mala Keranjang

108 seraya tebarkan pandangan mencari tahu siapa adanya manusia yang melakukan hal itu. Di lain pihak. Ratih Purnamasari yang sedari tadi hanya menyaksikan, terperangah kaget bahkan surutkan langkah tiga tindak ke belakang begitu mengetahui siapa adanya orang yang melancarkan serangan. Sementara itu Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara segera jatuhkan kepalanya dan berseru bersamaan.

"Guru...!"

***

TUJUH

PENDEKAR Mata Keranjang 108 ikut-ikutan berpaling. Dia terkejut melihat paras dan bentuk orang yang dipanggil Guru oleh Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara.

Dia adalah seorang laki-laki bertubuh jangkung. Mengenakan pakaian mirip seorang pendeta berwarna kuning. Kepalanya gundul dengan kulit sekujur tubuh sudah mengeriput. Tangan kanannya memegang sebuah tasbih yang tak henti-hentinya bergerak. Namun yang membuat laki-laki ini angker, mata kanannya yang menjorok keluar itu juling. Sementara kedua telinganya tak berdaun!

Tanpa berkata lagi, laki-laki jangkung yang bukan lain adalah Datuk Lembah Neraka gerakkan tangan kanannya. Tasbih yang ada di tangannya bergerak melesat.

Weerrr!

Serangkum angin yang berputar-putar seiring putaran tasbih melabrak ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih mengawasi orang dengan pandangan heran.

"Gila! Bias serangannya sudah terasa sebelum serangan itu sendiri datang...!" kata Aji dalam hati seraya miringkan kepala dan bahunya.

Tasbih yang berputar-putar dan mengeluarkan suara bersiutan itu menggebrak tempat kosong di samping tubuh Aji. Anehnya, tasbih tersebut langsung bergerak dan kembali pada Datuk Lembah Neraka.

Begitu kembali, Datuk Lembah Neraka kembali sentakkan tangan kanannya, tasbih itu kembali berputar dan kini berdesing lenyap. Hanya suaranya saja yang terdengar.

Untuk menangkal serangan yang tak tampak ini, murid Wong Agung segera putar-putar kipas ungunya di atas kepala, membuat tubuhnya diselimuti sinar putih.

Tasss! Tasss! Tasss!

Tiga kali benturan yang keluarkan cahaya api segera muncrat begitu sinar putih yang menyelimuti tubuh Pendekar 108 diterabas deru tasbih!

Datuk Lembah Neraka mendengus marah. Dalam sejarah panjang kecimpungnya dalam rimba persilatan, baru kali ini serangan tasbihnya dapat ditangkis orang dengan begitu mudah, malah jika Datuk Lembah Neraka tidak segera menarik tasbihnya kembali, tidak mustahil tasbih itu akan hancur luluh!

"Bajingan busuk! Siapa pemuda ini? Apakah dia manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang?" membatin Datuk Lembah Neraka seraya memperhatikan lebih seksama kipas yang kini masih diputar-putar oleh Aji.

"Hmm.... Tampaknya dugaanku tidak meleset. Memang dia orangnya...!" sambung kata hati Datuk Lembah Neraka. Parasnya kini berubah merah padam. Pelipisnya bergerak-gerak dengan mata kiri membeliak merah. Tubuhnya yang jangkung dia lorotkan ke bawah. Saat hampir pantatnya menyentuh tanah, tibatiba tubuhnya melesat tinggi ke udara dan lenyap dari pandangan.

"Edan! Ke mana perginya?" batin Aji dengan putar kepalanya.

Selagi Pendekar 108 mencari tahu di mana beradanya lawan, tiba-tiba tubuh Datuk Lembah Neraka melayang deras ke bawah bagai sergapan seekor burung rajawali. Kedua tangannya membuka dan dihantamkan ke bawah.

Pendekar Mata Keranjang 108 merasakan tekanan angin yang seakan memantek gerak tubuhnya. Hingga dia tak dapat menggerakkan tubuh untuk menghindar. Namun murid Wong Agung ini tidak mau berdiam diri. Didahului bentakan dahsyat, telapak tangan kirinya dia buka dan dihantamkan lurus ke atas, sementara tangan kanannya yang memegang kipas dia kibaskan berputar dari belakang!

Prakkk!

Dua tangan teraliri tenaga dalam tinggi beradu di atas kepala Pendekar Mata Keranjang 108. Datuk Lembah Neraka berseru kesakitan. Seraya membuat gerakan berputar di atas tubuh Pendekar Mata Keranjang 108, laki-laki berkepala plontos ini jejakkan kakinya pada punggung Pendekar Mata Keranjang 108!

Beekk!

Pendekar Mata Keranjang 108 terpekik. Dan belum lagi dia dapat kuasai tubuhnya, dengan gerak cepat Datuk Lembah Neraka balikkan tubuh dan dorongkan tangan kanannya!

Kembali Pendekar Mata Keranjang 108 terpekik, sebelum tubuhnya menghempas di atas tanah. Saat yang demikian itu tak disia-siakan oleh Jalu Kembara. Dia segera bangkit dan melompat. Lalu serta merta kaki kanannya bergerak cepat menghajar tubuh Pendekar Mata Keranjang 108!

Pada saat tendangan akan menghajar, sekonyong-konyong serangkum angin dahsyat disertai bongkahan asap hitam yang mengeluarkan hawa panas menyengat menyambar ke arah kaki Jalu Kembara.

Meski Wisnu Paladasa telah berteriak memperingatkan, namun tampaknya Jalu Kembara meneruskan tendangan kakinya. Namun sejengkal lagi terjangannya menghajar, Jalu Kembara terpekik kaget dengan tarik pulang kembali kakinya.

"Jahanam licik!" seru Pendekar 108 saat mengetahui dirinya akan dibokong oleh Jalu Kembara. Seraya bangkit, sepasang matanya naik dengan alis mata bertemu. Bibirnya tersenyum pada Ratih Purnamasari yang baru saja selamatkan dirinya dari terjangan kaki Jalu Kembara. Di pihak lain, Ratih Purnamasari hanya tersenyum sekilas tanpa berani memandang lebih lama, karena pakaiannya masih tak karuan. Dia lantas miringkan tubuh untuk menyembunyikan sebagian auratnya yang tampak tak tertutup.

"Mundur!" bentak Datuk Lembah Neraka.

Jalu Kembara yang dibentak beringsut melangkah mundur. Sementara Datuk Lembah Neraka maju selangkah. Dari mulutnya terdengar teriakan nyaring. Lantas tubuhnya melesat ke atas. Di atas udara, Datuk Lembah Neraka putar-putar tasbihnya. Lalu sekonyong-konyong tubuhnya melayang turun dengan tasbih bergerak cepat ke arah kepala Aji.

Weeerrr!

Pendekar Mata Keranjang 108 hantamkan tangan kirinya lepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'. Sementara tangan kanannya berkelebat dengan tusukkan ujung kipas pada perut Datuk Lembah Neraka.

Prakkk!

Terdengar suara benturan tatkala tasbih Datuk Lembah Neraka bergerak dan menghantam ujung kipas.

Datuk Lembah Neraka keluarkan suara mendengus marah, karena tasbihnya mental balik dan menghantam pergelangan tangannya. Bukan hanya sampai di situ, karena begitu kakinya mendarat di atas tanah, pukulan tangan Pendekar Mata Keranjang 108 datang melabrak!

"Bocah jahanam! Kalau saat ini aku tak bisa membunuhmu, lebih baik mati!" kertak Datuk Lembah Neraka seraya kembangkan kedua tangannya dan serta merta diangkat ke atas.

Pukulan Pendekar Mata Keranjang 108yangtadi meluncur deras, mendadak bagai tertahan dan kini bergerak pelan, membuat Datuk Lembah Neraka dengan leluasa melangkah perlahan satu langkah ke samping untuk menghindar. Lalu dengan tertawa terkekeh-kekeh laki-laki jangkung bermata juling ini lepaskan tasbihnya. Sementara tubuhnya sendiri berkelebat dengan kirimkan serangan.

Delapan larik sinar kuning redup melesat dari empat jurusan, mengeluarkan suara menggemuruh dahsyat!

Pendekar Mata Keranjang 108 sejenak bagai terperangah dengan serangan yang dilancarkan Datuk Lembah Neraka. Namun dia segera sadar, dan dengan cepat dia lesatkan tubuhnya ke atas dengan membuat gerakan berputar di udara. Seraya membuat putaranputaran di udara, pendekar murid Wong Agung ini kibas-kibaskan kipasnya sedemikian rupa untuk melindungi dirinya. Karena kibasan kipas itu dengan pengerahan tenaga dalam, maka tak heran jika saat itu juga tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 laksana diselimuti gulungan-gulungan asap putih yang tak bisa ditembus!

Datuk Lembah Neraka menyeringai seraya bergumam panjang pendek. Lantas dia dongakkan kepala seraya bibir berkemik-kemik. Lalu dengan segera kedua tangannya diangkat ke atas kepala lalu diputarputar.

Mendadak tempat itu menjadi gelap pekat. Yang tampak hanya lah gulungan asap putih yang masih membungkus tubuh Pendekar Mata Keranjang 108.

Pada saat itulah Datuk Lembah Neraka melompat menerabas kepekatan suasana dan menggebrak dengan kedua tangan mengepal ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang 108!

Pendekar Mata Keranjang hanya mendengar deruan angin yang menyambar ke arah kepalanya. Dan tatkala kepalanya dia rundukkan sedikit, dua pasang lengan berkelebat deras di atasnya.

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 rundukkan kepala, tiba-tiba lengan yang menerabas di atasnya berhenti dan serta merta menghujam ke bawah!

"Edan! Dia mampu menghentikan gerakan tangannya dengan tiba-tiba!" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati sambil silangkan kedua tangannya di atas kepala.

Prakkk!

Dua lengan bentrok di udara. Namun karena hantaman Datuk Lembah Neraka ke arah bawah, maka tekanannya jelas lebih besar, membuat Pendekar

108 tersurut tiga langkah ke belakang. Murid Wong Agung ini mencoba kerahkan tenaga agar mampu menahan tubuhnya yang terhuyung-huyung. Namun kaki kanannya telanjur goyah, dan tak lama kemudian Pendekar Mata Keranjang jatuh terduduk!

"Murid Wong Agung! Ternyata nama besarmu hanyalah bualan kosong!" kata Datuk Lembah Neraka seraya melangkah mendekat. Kedua tangannya yang tadi disilangkan di depan dada, dia kembangkan ke depan.

Di seberang, Pendekar Mata Keranjang 108 kertakan rahang dengan paras merah padam. Dia segera bangkit dan menatap nyalang pada Datuk Lembah Neraka seraya berkata.

"Datuk Lembah Neraka! Aku tak punya nama besar. Namun untuk menguburmu kedua tanganku masih sanggup!"

Ratih Purnamasari yang mendengar nama disebut orang, tersentak kaget! Dengan sepasang mata dibesarkan, dia tatap lekat-lekat Datuk Lembah Neraka.

"Mana ini yang benar? Kata Guru, Datuk Lembah Neraka telah tewas. Apakah memang benar, di dunia banyak orang bergelar Datuk Lembah Neraka? Tapi menurut yang pernah kulihat, dan kudengar gelar itu hanya akan digunakan oleh satu orang. Hmm     Aku

tak habis pikir. ," kata Ratih Purnamasari seraya terus

memandangi Datuk Lembah Neraka seraya tercenung. Di lain pihak, mendengar kata-kata Pendekar Ma-

ta Keranjang 108, Datuk Lembah Neraka mendehem beberapa kali. Lalu tertawa dan berkata.

"Gurumu saja tidak sanggup membunuhku, apa lagi kau!"

"Beliau memang tidak ada niatan untuk membunuhmu, karena dia berharap kau akan kembali ke jalan kebaikan. Namun nyatanya kau tak berubah. Mati memang layak untukmu!"

Datuk Lembah Neraka bukannya jengkel diejek demikian rupa, malah dia keluarkan tawa bergerai.

"Gurumu, dari dulu memang begitu. Jika tidak sanggup membunuh musuh, maka alasannya ya begitu itu. Alasan yang cocok digunakan pada anak-anak kecil. Sekarang giliranku yang akan membunuhnya jika dia dahulu tak mau membunuhku! Tapi sebelumnya kepalamu akan kuhadiahkan untuknya!"

Habis berkata, Datuk Lembah Neraka lemparkan tasbihnya pada Jalu Kembara. Lalu secepat kilat tubuhnya berkelebat lenyap. Dan tahu-tahu tubuhnya telah berada dua langkah di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108 dengan kedua tangan berkelebat menghantam muka!

Pendekar Mata Keranjang 108 yang bersikap waspada segera tarik wajahnya ke belakang. Namun ternyata hantaman tangan itu hanyalah tipuan belaka. Karena saat Pendekar Mata Keranjang 108 tarik kepalanya, kaki kanan Datuk Lembah Neraka menggaet kaki Pendekar Mata Keranjang dengan keras.

Pendekar 108 terkejut bukan main. Dia segera imbangi dirinya dengan doyongkan kembali wajahnya. Namun karena gaetan kaki Datuk Lembah Neraka terlalu keras, membuat tubuh murid Wong Agung ini terjerembab dahulu sebelum sempat bertindak lebih jauh. Pada saat itulah, Datuk Lembah Neraka hantam-

kan kedua tangannya dengan tenaga dalam penuh!

Wuuuttt!

Mengetahui bahaya besar, Pendekar Mata Keranjang 108 segera gulingkan tubuhnya. Dan dalam keadaan miring, tangan kanannya berkelebat mengibaskan kipasnya sementara tangan kirinya lepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Plarrr! Plaaarrr!

Dua tenaga dalam bertemu. Larikan kuning redup yang melesat menyambar dari kedua tangan Datuk Lembah Neraka lenyap musnah. Namun bias angin serangan masih mampu membuat Pendekar Mata Keranjang 108 terseret satu tombak ke belakang. Di lain pihak, Datuk Lembah Neraka sendiri terpelanting dan tubuhnya menyuruk tanah! Darah segar telah membasahi bibir dan bajunya. Sementara kedua tangannya berubah merah dan sakit bila digerakkan.

"Jahanam! Kucincang tubuhmu!" teriak Datuk Lembah Neraka seraya bangkit. Namun baru saja lakilaki jangkung berkepala gundul ini hendak lancarkan serangan, terdengar seruan lantang.

"Hentikan pertempuran!"

Semua kepala yang ada di situ segera palingkan wajah masing-masing ke arah orang yang berseru.

Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara mengawasi dengan pandangan mengejek sinis pada orang yang baru datang. Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 menatap dengan dahi berkerut. Sedangkan Datuk Lembah Neraka yang berpaling hanya sekilas tampak mengernyitkan kening. Bibirnya terkatup rapat. Sementara mata kanannya membesar tak kesiap.

"Apakah memang dia?" terdengar gumaman dari mulut Datuk Lembah Neraka.

Sementara itu Ratih Purnamasari, demi melihat siapa adanya orang yang berseru, segera menghambur dan jatuhkan diri.

"Guru! Maafkan muridmu yang gagal melaksanakan tugas!"

Orang yang dipanggil Guru oleh Ratih Purnamasari dan baru saja keluarkan seruan tak mengacuhkan pandangan mata beberapa orang di situ. Tanpa menoleh dia melangkah ke arah muridnya.

***

DELAPAN

DIA adalah seorang perempuan. Meski umurnya bisa dibilang tidak muda lagi, namun paras wajahnya masih menampakkan sisa-sisa kecantikan. Rambutnya panjang sepinggang. Mengenakan pakaian bawah seperti jarit, sementara pakaian atasnya berupa baju lengan panjang. Di pinggangnya nampak melilit seutas ikat pinggang warna merah. Sepasang matanya bulat dan bersinar dengan mulut mengunyah sirih, membuat bibirnya yang telah merah itu semakin merah.

"Apa kerjamu di sini?" bentak perempuan yang dipanggil Guru oleh Ratih Purnamasari.

Ratih Purnamasari tidak segera menjawab pertanyaan gurunya. Dia angkat kepalanya. Lalu memandangi wajah gurunya lekat-lekat.

Wajah gadis ini jelas menampakkan rasa takut. Sebelum gadis ini buka suara, sang guru membentak garang.

"Kalau memang gagal membekuk Wong Agung seharusnya kau cepat pulang!"

"Guru...! Aku memang dalam perjalanan pulang. Tapi di tempat ini aku bertemu dengan dua orang yang berbuat keji pada penduduk. Aku "

Ratih Purnamasari tak meneruskan kata-katanya karena saat itu juga sang guru telah menyela dengan suara tetap tinggi. "Murid bodoh! Apa untungnya kau ikut-ikutan mengurusi penduduk? Tugasmu hanya membekuk Wong Agung! Lain tidak!"

Ratih Purnamasari tundukkan kepala tak berani memandangi gurunya. Tubuhnya tampak sedikit bergetar. Tangannya bergerak menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, membuat sang guru berkerut dan berkata.

"Apa yang kau perbuat hingga pakaianmu begitu rupa!"

"Sewaktu bentrok dengan dua jahanam itu, mereka berhasil merobek pakaianku. Malah hampirhampir saja memperkosaku!"

Orang yang dipanggil Guru oleh Ratih Purnamasari palingkan wajah pada Jalu Kembara dan Wisnu Paladasa. Sepasang mata perempuan ini membeliak besar dengan mulut komat-kamit menggumam sesuatu yang tak jelas. Alis matanya terangkat dengan pelipis bergerak-gerak.

Namun Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara sepertinya acuh dengan pandangan marah guru Ratih Purnamasari. Malah mulut kedua orang ini, sunggingkan senyum. Mereka berbuat begitu karena mereka yakin, jika guru Ratih Purnamasari bertindak ayal. Maka Datuk Lembah Neraka tak akan tinggal diam.

Melihat sikap gurunya, Ratih Purnamasari angkat bicara.

"Guru! Mereka berdua adalah murid...," Ratih Purnamasari sengaja penggal kata-katanya, membuat sang Guru menatap lurus pada gadis ini. Saat itulah Ratih Purnamasari lirikkan matanya pada Datuk Lembah Neraka yang berada tak jauh dari sampingnya.

Mendapati pandangan muridnya, sang Guru yang bukan lain adalah I Gusti Ayu Wayan Rimaksari sedikit merasa heran. Dahinya berkerut. Lalu pandangannya menebar pada Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara. Saat melihat dua laki-laki ini, I Gusti Ayu Wayan Rimaksari sedikit terkejut. Lalu pandangannya beralih pada Pendekar Mata Keranjang 108. Perempuan agak tua yang masih menampakkan kecantikan ini sedikit terkesiap. Dia memandanginya agak lama. Lantas ketika pandangannya berujung pada Datuk Lembah Neraka, I Gusti Ayu Wayan Rimaksari surutkan langkah ke belakang. Keningnya semakin berkerut. Sepasang matanya menyipit dan membesar. Dan tiba-tiba bibirnya berkemik dengan mengucapkan nama perlahan.

"Dadaka Lanang "

Di lain pihak, Datuk Lembah Neraka saat itu juga sedang memandang I Gusti Ayu Wayan Rimaksari. Dua pasang mata saling bertemu. Dada dua orang ini sama-sama saling berdebar.

"Apakah mataku tidak kabur...? Atau ini hanya mimpi ? Bukankah Datuk Lembah Neraka telah tewas

di tangan Wong Agung pada beberapa puluh tahun silam? Ataukah dia mirip Datuk Lembah Neraka...?" kebimbangan kembali mendera I Gusti Ayu Wayan Rimaksari.

"Gusti Ayu...," sebut Datuk Lembah Neraka seraya melangkah mendekati.

Tenggorokan I Gusti Ayu Wayan Rimaksari serasa tercekik mendengar namanya disebut. Air mukanya mendadak berubah putih lalu merah. Dan tanpa sadar, dia pun lantas kembali menyebutkan nama.

"Dadaka Lanang !"

Datuk Lembah Neraka mendekat. Dan begitu yakin bahwa perempuan tak jauh di sampingnya adalah I Gusti Ayu Wayan Rimaksari, dia percepat langkah.

Di lain pihak, Pendekar Mata Keranjang 108 senyam-senyum menyaksikan pertemuan kembali dua kekasih yang telah lama tak jumpa bahkan telah diduga meninggal dunia.

Sementara itu, Ratih Purnamasari mengawasi tak kesiap. Dalam hati dia berkata.

"Hmm    Benar apa yang dikatakan Wong Agung.

Telah terjadi salah paham dalam hal ini. Tapi tampaknya Datuk Lembah Neraka masih memendam dendam "

"Kau baik-baik saja selama ini Gusti Ayu ?"

tanya Datuk Lembah Neraka dengan menggenggam kedua tangan I Gusti Ayu Wayan Rimaksari. Perempuan ini agak tersipu malu. Wajahnya merah saga. Sejenak dia melirik pada Ratih Purnamasari. Yang dilirik alihkan pandangan pada jurusan lain. Wajahnya tampak merah merona. Perlahan entah malu atau tidak suka, Ratih Purnamasari melangkah agak menjauh. Seraya melangkah dia menggumam.

"Hm.... Nyatanya cinta tidak memandang usia dan tempat! Mereka sepertinya menganggap tidak ada orang lain!"

"Kakang.... Kukira kau telah tewas...," kata Gusti Ayu Wayan Rimaksari dengan menatap bola mata Datuk Lembah Neraka.

Datuk Lembah Neraka tertawa terkekeh. "Semestinya memang begitu. Namun malaikat

rupanya tak sampai hati mencabut nyawaku. Malah sebentar lagi Wong Agung yang akan kuantar ke liang kubur! Dan setelah itu, kita akan bersenangsenang "

I Gusti Ayu Wayan Rimaksari kembali parasnya merah mengelam. Dengan tak mengalihkan pandangan, perempuan berwajah cantik ini berkata.

"Ke mana saja kau selama ini ?!" Datuk Lembah Neraka mendehem beberapa kali.

Lalu menjawab perlahan.

"Sejak peristiwa pertarungan berdarah dengan Wong Agung, aku melarikan diri. Aku malu pada orang dan pada diriku sendiri. Lebih-lebih padamu. Karena Wong Agung telah menjulingkan mata kananku, dan menghilangkan kedua daun telingaku...," sejenak Datuk Lembah Neraka hentikan kata-katanya. Parasnya tiba-tiba berubah. Dagunya terangkat dengan mata kiri membeliak.

"Percayalah Kakang. Bagaimana keadaanmu. Aku tetap yang dulu!" sela I Gusti Ayu Wayan Rimaksari dengan mempererat genggaman tangannya.

"Sejak saat itulah aku menyendiri seraya memperdalam ilmu untuk suatu saat membuat perhitungan. Dan saat itu kini telah tiba. Kau tahu, manusia itu adalah murid keparat Wong Agung. Dia akan kuhadiahkan pada gurunya. Tapi hanya kepalanya!" kata Datuk Lembah Neraka seraya angkat bahunya menunjuk pada Pendekar Mata Keranjang 108.

"Murid Wong Agung...? Berarti manusia yang digelari Pendekar Mata Keranjang 108!" kata I Gusti Ayu Wayan Rimaksari seraya layangkan pandangannya pada Pendekar Mata Keranjang 108 yang saat itu juga sedang memandang ke arahnya.

"Aku akan selesaikan dahulu kunyuk satu itu!" kata Datuk Lembah Neraka seraya lepaskan genggaman tangannya.

Sebenarnya I Gusti Ayu Wayan Rimaksari ingin mencegah. Namun Datuk Lembah Neraka telah keburu berkelebat dan secara mendadak langsung kirimkan serangan pada Pendekar Mata Keranjang 108!

Pendekar Mata Keranjang 108 yang telah menunggu cepat membuat gerakan berputar dua kali di belakang. Dan begitu mendarat, kedua tangannya dia hantamkan ke depan!

Serangan yang dilancarkan Datuk Lembah Neraka tertahan di udara. Hingga membuat Datuk Lembah Neraka ini terpengarah kaget. Demikian I Gusti Ayu Wayan Rimaksari. Dia tak menduga jika kelebatan kipas pemuda itu sanggup menahan gerak laju pukulan Datuk Lembah Neraka yang pada dekade silam ditakuti beberapa tokoh baik dari golongan putih atau hitam.

Bahkan sebaliknya, pukulan tangan kiri Pendekar 108 kini menerabas terus ke arah Datuk Lembah Neraka yang masih seperti terkesiap.

"Hm.... Ini sangat bahaya! Aku harus menolongnya!" membatin I Gusti Ayu Wayan Rimaksari. Dia lantas berkata.

"Kakang! Awas serangan!"

Mungkin karena masih terkesima atau memang sedang menunggu, Datuk Lembah Neraka tidak bergeming dari tempatnya, malah menggerakkan anggota tubuhnya untuk menangkis serangan pun tidak, membuat I Gusti Ayu Wayan Rimaksari segera melompat di hadapannya dan serta merta dorong kedua tangannya.

Bummm!

Terdengar ledakan dahsyat ketika serangan yang menggebrak dari tangan kiri Pendekar 108 bentrok dengan pukulan yang dilancarkan I Gusti Ayu Wayan Rimaksari.

Namun karena sewaktu menangkis serangan begitu mendadak dan jaraknya telah dekat, membuat perempuan ini keluarkan jeritan tertahan, tubuhnya terseret ke belakang. Untung Datuk Lembah Neraka yang seakan baru tersadar dan berada di belakangnya segera tanggap. Dengan sigap, tubuh kekasihnya itu ia sergap hingga selamatlah dia dari menghempasan di atas tanah.

"Gusti Ayu.... Menyingkirlah! Biar aku sendiri yang menghadapinya!" kata Datuk Lembah Neraka seraya tersenyum mesra.

I Gusti Ayu Wayan Rimaksari menggeleng perla-

han.

"Kau jangan menganggapnya remeh. Kita hadapi

manusia itu bersama-sama agar cepat selesai. Apa kau tidak ingin urusan ini cepat selesai...?" kata I Gusti Ayu Wayan Rimaksari seraya mengerling.

"Kita bagi perhatiannya. Dengan demikian serangannya akan tertuju pada dua tempat. Di situ pasti akan banyak tempat yang kosong!" sambung I Gusti Ayu Wayan Rimaksari seraya melepaskan diri dari rengkuhan tangan Datuk Lembah Neraka.

"Hmm.... Tak enak rasanya bertarung dengan orang yang sedang dimabuk kasmaran. Lebih baik aku mencari waktu yang tepat saja. Aku akan tinggalkan tempat ini "

Berpikir sampai di situ, Pendekar Mata Keranjang

108 lantas mengerling pada Ratih Purnamasari. Dan tatkala diliriknya gadis ini sedang memandangnya, pendekar murid Wong Agung ini berpaling ke arah sang gadis seraya kerdipkan sebelah matanya.

Ratih Purnamasari yang saat itu memang sedang memandang pada Pendekar Mata Keranjang tersentak kaget. Parasnya serentak berubah merah bersemu putih. Bibirnya lalu tersenyum, namun pandangannya dia alihkan ke jurusan lain.

"Gila! Dalam keadaan begini, dia masih sempat memainkan matanya! Benar-benar edan...! Tapi Dia

memang menarik!" kata Ratih Purnamasari dalam hati seraya lirikkan ekor matanya. Dia serentak palingkan wajahnya begitu terlihat Pendekar Mata Keranjang melangkah hendak pergi. Mulutnya yang sedari tadi tersenyum hendak berkata. Namun sebelum mulutnya terbuka, dari arah samping terdengar bentakan menggelegar.

"Jangan mimpi bisa lari dari tanganku, Bocah!" Mendengar bentakan, Pendekar Mata Keranjang

108 urungkan niat untuk melanjutkan langkah. Dia balikkan tubuh dan balas membentak.

"Siapa mau lari? Aku cuma tidak suka bertarung dengan orang yang sedang kasmaran. Lebih baik kalian berkangen-kangen dahulu!"

"Kurang ajar!" sentak Datuk Lembah Neraka seraya menyeringai. Sementara itu I Gusti Ayu Wayan Rimaksari merah padam mukanya. Dia berkata dengan menatap tajam tak kesiap.

"Kakang, manusia seperti dia terlalu bermulut jika dibiarkan!"

Sepasang kekasih ini lantas segera berjajar. Dan didahului bentakan garang Datuk Lembah Neraka, kedua kekasih ini sama-sama lepaskan pukulan.

Empat larik sinar kuning redup serta larikanlarikan sinar hitam yang keluarkan suara bak gelombang segera menghampar ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Pendekar Mata Keranjang 108 terbelalak melihat ganasnya serangan. Dengan perkokoh kuda-kuda sepasang kakinya, murid Wong Agung ini lantas hempaskan kipas yang berada di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya melepaskan 'Bayu Cakra Buana'.

Wuusss! Wuuttt!

Dua pukulan sakti melesat ke depan. Satu memapak sinar kuning redup, sementara satunya lagi memapasi larikan sinar hitam!

Bummm! Bummm!

Tempat itu laksana dibuncah gempa dahsyat. Rumah-rumah di sekitarnya banyak yang bergoyang dan roboh berderak. Sementara tanah tempat bertemunya serangan menjadi kubangan yang dalam.

I Gusti Ayu Wayan Rimaksari menjerit keras. Tubuhnya terpelanting sampai beberapa tombak ke belakang. Tangan dan dadanya berdenyut sakit. Bahkan di sudut bibirnya terlihat genangan darah agak hitam, pertanda dia terluka cukup parah.

Di lain pihak, Datuk Lembah Neraka sendiri berseru tertahan. Tubuhnya pun terjengkang, namun dia segera dapat kuasai diri sebelum pantatnya menyentuh tanah.

Murid Wong Agung sendiri terhuyung-huyung ke belakang seraya pegangi dadanya. Dari sudut bibirnya pun tampak mengalir darah. Namun pemuda ini seakan tidak peduli. Dia segera bangkit.

"Akan kucoba menggunakan 'Bayu Kencana'!" gumam Aji seraya pindahkan pegangan pada kipasnya ke tangan kiri, sementara tangan kanan dia buka di depan dada.

Datuk Lembah Neraka gegat gerahamnya. Dagunya terangkat dengan sepasang mata seakan hendak memberojol keluar. Kemarahannya tampaknya sudah mencapai ubun-ubun. Apalagi ketika melihat I Gusti Ayu Wayan Rimaksari terluka.

Dengan bentakan nyaring, laki-laki jangkung ini segera dorongkan kedua tangannya. Mulutnya berkemik dengan dada bergetar.

Weeesss!

Serangkum angin dahsyat yang keluarkan warnawarna redup melesat keluar disertai hawa panas! Pendekar Mata Keranjang 108 menarik napas dalam-dalam. Tenaga dalamnya dia kerahkan ke tangan kiri dan kanan. Lalu tangan kanannya dibuka perlahan, sementara tangan kiri yang memegang kipas dipalangkan di depan dada.

Angin dahsyat yang keluar dari kedua tangan Datuk Lembah Neraka serta merta bergerak perlahan dan malah kini menuju satu titik, yakni telapak tangan Pendekar Mata Keranjang. Tampaknya murid Wong Agung telah gunakan jurus ‘Bayu Kencana’.

Datuk Lembah Neraka terkesiap kaget. Dia mencoba menambah tenaga dalamnya untuk menjebol telapak tangan Pendekar Mata Keranjang 108. Namun usahanya tidak ada guna, malah tenaganya semakin tersedot masuk!

Namun laki-laki jangkung ini tak mau begitu saja menyerah. Dia kembali mencoba dengan keluarkan tenaga luar dan dalam. Tapi ternyata usahanya sia-sia, malah kakinya kini goyah dan perlahan-lahan ikut terseret ke depan.

Melihat keadaan ini, Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara segera bangkit hendak menolong, namun sebelum mereka berdua bergerak, I Gusti Ayu Wayan Rimaksari telah bergerak mendahului.

Tubuh perempuan ini berkelebat lenyap. Dan tahu-tahu tubuhnya menerabas dari belakang Pendekar Mata Keranjang 108. Pendekar murid Wong Agung ini terkejut. Dia segera putar kipasnya ke belakang.

Seberkas sinar putih berkelebat melengkung ke belakang.

I Gusti Ayu Wayan Rimaksari ganti terkejut. Namun karena dia sudah kepalang meluncur, maka dengan wajah pucat pasi dia hantamkan kedua tangannya. Plarrr!

Terdengar letupan keras. Karena waktu melancarkan serangan berada di atas udara membuat tubuhnya terpelanting jauh. Lalu bergedebukan di atas tanah dengan darah semakin banyak menggenangi sudut bibirnya.

Namun karena mendapat serangan dari belakang ini membuat perhatian Aji pada Datuk Lembah Neraka sedikit terpengaruh. Hingga kejap itu jugs tubuh Datuk Lembah Neraka terhenti. Dan kesempatan ini nampaknya tidak di sia-siakan oleh Datuk Lembah Neraka. Dengan menggereng, dia melompat ke hadapan Pendekar Mata Keranjang 108 dan hantamkan kedua tangannya ke arah kepala.

Pendekar murid Wong Agung ini terperangah kaget, dia buru-buru rundukkan kepalanya. Namun mendadak saja kaki Datuk Lembah Neraka berkelebat cepat.

Bukkk!

Pendekar 108 terbanting di atas tanah. Seakan ingin segera menyudahi pertarungan, saat itu juga Datuk Lembah Neraka berkelebat lagi dan tahu-tahu kedua tangannya telah kirimkan serangan ganas!

"Pengecut! Licik!" tiba-tiba terdengar seruan. Bersamaan dengan itu berdesir angin dahsyat memapasi serangan Datuk Lembah Neraka.

***

SEMBILAN

DENGAN sumpah serapah panjang pendek, Datuk Lembah Neraka palingkan wajah ke samping. Di situ telah berdiri tegak seorang laki-laki bertubuh tambun besar. Rambutnya panjang dengan pakaian ketat. Dia berdiri dengan bertopang pada dua bambu kecil yang berada di ketiaknya. Karena laki-laki ini ternyata tidak memiliki sepasang kaki.

"Gongging...," seru Pendekar 108 dengan usap bibirnya yang masih keluarkan darah.

Laki-laki yang dipanggil mengangguk perlahan. Lalu melangkah ke arah Aji. Hebatnya, suara ketukan bambunya mampu membuat dua murid Datuk Lembah Neraka saling pandang dan tutup telinga masingmasing. Sementara Ratih Purnamasari segera kerahkan tenaga dalam untuk menangkis suara ketukan yang bagai menusuk telinganya.

Di lain pihak, Datuk Lembah Neraka terkesiap. Dia memperhatikan laki-laki tanpa kaki dengan seksama. Dahinya berkerut seolah mengingat-ingat.

"Jahanam! Aku tak berhasil mengenalinya! Tapi siapa pun dia. tampaknya dia mempunyai ilmu tinggi. Suara ketukan bambunya saja sudah demikian dahsyat. Hmm... Sebaiknya aku menyingkir terlebih dahulu. Gusti Ayu dalam keadaan terluka..,," membatin Datuk Lembah Neraka. Lalu dia berkelebat ke arah I Gusti Ayu Wayan Rimaksari. Membimbingnya bangkit dan berkata perlahan.

"Gusti Ayu.... Kita harus tinggalkan tempat ini. Kita bisa bikin perhitungan lagi. Lagi pula datang penolongnya yang ilmunya kurasa tinggi juga "

I Gusti Ayu Wayan Rimaksari mengangguk. Keduanya lantas memberi isyarat pada murid masingmasing untuk pergi. Wisnu Paladasa dan Jalu Kembara segera menyambuti. Namun tidak demikian Ratih Purnamasari. Dia masih menatap Pendekar Mata Keranjang 108 dengan pandangan aneh. "Hmm.... Kau ragu-ragu. Kau tertarik dengan pemuda itu...?!" kata I Gusti Ayu Wayan Rimaksari.

Paras wajah Ratih Purnamasari merah padam. Mulutnya mengucapkan sesuatu yang tak bisa ditangkap pendengaran. Lalu tanpa memandang pada gurunya, gadis ini meninggalkan tempat itu.

"Murid Wong Agung! Tunggulah. Hal ini tidak hanya sampai di sini!"

Habis berkata begitu, Datuk Lembah Neraka balikkan tubuh dan menggandeng tangan I Gusti Ayu Wayan Rimaksari lalu berkelebat pergi.

Pendekar Mata Keranjang 108 hendak mengejar. Namun segera dicegah oleh laki-laki tanpa kaki yang bukan lain adalah Gongging Baladewa.

"Tak usah dikejar. Saatnya akan tiba kalian untuk dipertemukan lagi!"

Pendekar Mata Keranjang 108 menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya hatinya masih panas. Namun karena dicegah oleh Gongging Baladewa maka meski dengan menggerutu dalam hati, Aji hanya bisa diam mengawasi kepergian Datuk Lembah Neraka dan I Gusti Ayu Wayan Rimaksari bersama muridnya.

"Kau terluka, sebaiknya kau ikut aku dahulu!" berkata Gongging Baladewa dengan terbatuk-batuk kecil.

Pendekar Mata Keranjang 108 menjura hormat.

Lalu berkata.

"Terima kasih atas pertolonganmu "

Gongging Baladewa tertawa pelan. Lalu dengan bambunya dia pukul punggung Aji. Aji melengak kaget. Pada saat itulah dengan kecepatan luar biasa, Gongging Baladewa bungkukkan tubuh. Tangan kanannya bergerak cepat meraih tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 dan diselipkannya di ketiak. Dengan tertawa gerai-gerai, Gongging Baladewa melesat lenyap dari tempat itu diiringi suara sengalan batuk Pendekar Mata Keranjang 108 yang berada di ketiaknya.

SELESAI