Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 11 : Gembong Raja Muda

 
Eps 11 : Gembong Raja Muda


MALAM telah meniti semakin jauh. Gelap dan dingin menyeruak membungkus lingkaran jagad raya. Sesosok bayangan samar-samar terlihat berkelebat cepat menembus kepekatan malam. Sosok ini sepertinya tergesa-gesa sekali dan tampak khawatir. Terbukti tak jarang dia masuk menyelinap ke balik semak belukar dan baru muncul lagi begitu suasana dirasa aman, dan matanya tak menangkap sesuatu yang patut dicurigai.

"Hmm.... Pendengaranku tak bisa ditipu. Sejak melintas kawasan hutan pinus tadi, seseorang mengikuti perjalananku. Jahanam busuk! Siapa dia? Tampaknya dia berilmu juga, karena beberapa kali ku jebak, dia seolah mengerti. Hmm Kali ini dia tak akan

lolos!" membatin sosok ini. Lantas sosok ini berkelebat laksana kilat dan tiba-tiba lenyap bagai ditelan bumi.

Tak berselang lama kemudian, tak jauh dari tempat sosok tadi lenyap, muncul satu sosok lagi. Seraya mengusap-usap dagu, sosok yang baru muncul ini menyapukan sepasang matanya membelah kepekatan malam. Namun sedemikian lama, sosok ini tak menemukan siapa-siapa.

Sosok yang baru muncul ternyata adalah seorang pemuda. Tubuhnya tegap, sinar matanya menyorot tajam. Rambutnya panjang sebahu dan dibiarkan menjuntai. Wajahnya tampan, mengenakan pakaian warna putih. Di pakaian bagian dada tampak sekuntum bunga berwarna hitam.

"Sialan. Ke mana dia pergi. Aku yakin, dia masih berada di sekitar sini, karena meski gelap pekat mataku masih bisa melihat bahwa dia baru saja di sini!" Sosok ini kembali menyapukan pandangannya berkeliling.

"Heran. Gerakannya begitu cepat. Berarti aku masih belum bisa menjajari kecepatannya. Hmm "

Sosok ini lantas bergerak melangkah ke arah dia tadi muncul. Lalu tiba-tiba berkelebat seakan tak meneruskan niat untuk mengikuti orang. Padahal, dia sebenarnya menyelinap dan mendekam di balik semaksemak yang meranggas tinggi dengan sepasang mata membeliak menyelidik.

Namun gerak tipu sang pemuda ini ternyata sia-sia. Orang yang tadi diikutinya tak juga menampakkan batang hidungnya. Hingga karena menyangka orang yang diikuti telah tiada, pemuda ini kembali keluar dari persembunyiannya.

"Sebaiknya aku meneruskan perjalanan ke Lembah Bandar Lor. Namun, aku tak bisa ditipu, orang yang kuikuti tadi adalah "

Belum selesai sang pemuda membatin, mendadak melesat deras larikan-larikan sinar yang mengeluarkan siutan dahsyat, menggebrak ke arahnya.

Karena sejak semula sang pemuda telah waspada, meski dengan menindih rasa terkejut, pemuda ini segera melesatkan diri ke samping, menghindari serangan. Dari arah samping dia cepat dorong kedua tangannya ke arah sumber serangan.

Wesss!

Brett! Breett! Breett!

Semak belukar rimbun tak jauh dari tempat sang pemuda terbabat rata, hingga sampai terbongkar ke akar-akarnya. Bersamaan dengan menerabasnya serangan sang pemuda, dari semak belukar mencuat sebuah bayangan dengan keluarkan sumpah serapah tak karuan. Begitu sosok dari balik semak belukar mencuat, sang pemuda cepat memburu. Namun tanpa disangkasangka, sosok yang diburu menukik balik dan kibaskan tangan kirinya dua kali berturut-turut.

Wesss! Wesss!

Dua buah benda meluncur deras. Hebatnya meski sosok ini lancarkan serangan tanpa melihat di mana beradanya sang pemuda, serangannya menggebrak lurus ke arah sang pemuda.

"Kiranya dugaanku tak meleset!" kata sang pemuda dalam hati begitu mengetahui benda apa yang kini meluncur deras ke arahnya.

Seraya membuat putaran dua kali, sang pemuda cepat tarik kaki kanannya ke belakang, lalu kedua tangannya menghantam ke depan, menggempur dua benda yang mengarah kepadanya yang ternyata adalah dua kuntum bunga warna hitam!

Bess! Beess!

Serta merta dua kuntum bunga hitam itu hancur lebur dan bertaburan di udara sebelum mencapai sasaran. Namun baru saja sang pemuda berhasil menangkis serangan, sosok yang tadi diikuti sudah hentakkan sepasang kakinya ke atas tanah.

Blamm! Blamm!

Tanah di tempat itu bergetar hebat dengan keluarkan suara berdebam-debam dahsyat. Sang pemuda terperangah, namun cepat pula dia kerahkan tenaga dalam untuk menahan gerak tubuhnya yang terhuyung-huyung akibat bergetarnya tanah yang dipijak. Namun lagi-lagi sang pemuda dibuat kalang kabut, karena baru saja dia kerahkan tenaga dalam, dari arah kegelapan menyambar serangkum angin deras membawa hawa panas menyengat.

"Busyet! Meski serangannya bisa kuduga, tapi kecepatannya yang belum bisa kutandingi...!" bisik sang pemuda sambil dorongkan kembali kedua tangannya ke depan menangkis sambaran angin.

Blarrr!

Terdengar ledakan dahsyat saat dua pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi itu bentrok di udara. Tempat itu makin bergetar. Bahkan tanahnya terbongkar dan membumbung ke udara menambah pekatnya pemandangan!

Karena sewaktu menangkis serangan dalam keadaan terhuyung-huyung dan tampaknya sang pemuda melepas serangan dengan setengah hati, membuat tubuhnya terpental tiga tombak ke belakang dan jatuh terjengkang di atas tanah dengan pantat terlebih dahulu.

Melihat lawan jatuh terjengkang, sosok yang diikuti sang pemuda berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri lima langkah di hadapan sang pemuda dengan tangan kiri siap hendak kirimkan serangan. Namun belum sampai tangan kirinya bergerak, sang pemuda berteriak.

"Guru! Aku Pandu...!"

Sosok di hadapan sang pemuda, yang dipanggil Guru sepertinya tak mengacuhkan teriakan sang pemuda yang menyebut dirinya Pandu. Dia terus hantamkan tangan kirinya, malah kali ini sebelah kakinya juga bergerak menyapu luruhan tanah yang melayang turun dari udara.

Weeess! Seeett!

Deru angin dahsyat dan taburan tanah melesat cepat ke arah Pandu, membuat pemuda ini mau tak mau harus segera bangkit dan lesatkan diri ke udara. Namun begitu tubuh Pandu berada di udara, sosok yang dipanggil Guru ini mencungkilkan kaki kirinya, mengambil tanah. Dan serta merta tanah itu dia sapukan ke udara, bersamaan dengan itu tangan kirinya kembali bergerak menghantam ke atas! Bukan hanya sampai di situ, begitu serangannya melesat, tubuh sosok ini ikut pula melesat dengan kaki lurus!

Mendapat hujan serangan, Pandu tampaknya tidak gugup. Di udara dia putar sekali tubuhnya. Lalu dengan bentakan sedikit keras kedua tangannya didorong pelan. Anehnya, meski dorongan tangan sang pemuda ini begitu pelan namun serangan lawan serta merta ambyar lenyap terkena sambaran yang keluar pelan dari kedua tangannya.

Meski kedua serangannya ambyar lenyap, namun sosok yang dipanggil Guru ini terus melesat. Pandu hanya mendengar angin bersiur dan tahu-tahu dua buah pasang kaki telah satu depa di depan hidungnya. Dengan sedikit terkejut Pandu undurkan lang-

kah satu tindak ke belakang, lantas kedua tangannya dia tebaskan menyilang di depan tubuhnya.

Deess!

Terdengar benturan hebat, Pandu merasakan kedua tangannya menghantam tiang beton, dan sakit bukan alang kepalang. Sebaliknya sosok yang menerjang lurus keluarkan dengusan. Tubuhnya berputar. Namun sosok ini tak mau kehilangan kesempatan. Begitu tubuhnya berputar dia membentak garang dan kakinya kembali menerjang!

"Celaka! Dia benar-benar ingin menghajar ku!" membatin Pandu seraya hendak bergerak menangkis kembali. Namun gerakannya kalah cepat, hingga baru saja kedua tangannya bergerak, kedua kaki telah menyongsong menghantam bahunya!

Deess!

Tubuh Pandu berputar dan terbanting di atas tanah. Takut jika sosok di hadapannya akan kembali kirimkan serangan, pemuda ini cepat bangkit meski bahunya terasa nyeri. Namun begitu bangkit, sang pemuda terkejut. Matanya tak lagi menangkap sosok di hadapannya.

"Heran. Ke mana lagi dia menghilang...," seru Pandu seraya menebarkan pandangan matanya. Saat itu suasana sudah agak terang, karena sang fajar lamat-lamat telah unjuk diri di langit sebelah timur.

Selagi Pandu mencari, tiba-tiba semak belukar sepuluh langkah di sampingnya menguak, dan dari baliknya muncul sosok tubuh seraya memanggul seseorang!

"Guru!" seru Pandu dengan memandang tak kesiap. Bukan pada sosok yang dipanggil Guru, namun pada seseorang yang berada di pundak gurunya.

Sosok yang dipanggil Guru melangkah keluar dari semak belukar. Dia ternyata adalah seorang perempuan. Kulit wajahnya tak jelas warnanya karena wajah itu memakai bedak putih tebal. Bibirnya tebal sebelah atas dan berwarna merah menyala. Rambutnya panjang sepunggung, namun bagian samping dan atas dipotong begitu pendek. Dan tingginya tak lebih hanya setengah tombak! Hebatnya meski sosok yang dipanggil Guru oleh Pandu ini pendek dengan sepasang tangan dan kaki mungil, namun memanggul seseorang di pundaknya dia seolah tak merasakan beban sama sekali.

"Siapa orang yang ada di pundaknya...? Hmm.... Harum tubuhnya bisa aku rasakan...," kata Pandu dalam hati seraya terus memandang tak berkedip pada seseorang di pundak gurunya.

Manusia pendek yang dipanggil Guru oleh Pandu hentikan langkah begitu jaraknya tinggal tiga depa di hadapan Pandu. Dia sejenak memandang Pandu dengan tatapan dingin. Manusia pendek ini bukan lain adalah tokoh hitam rimba persilatan yang beberapa puluh tahun silam pernah membuat geger dunia persilatan, karena dengan tubuh pendek begitu, dia mampu merontokkan dan membuat beberapa tokoh disegani waktu itu harus mengakui kehebatannya. Manusia pendek ini dikenal dengan panggilan Bawuk Raga Ginting.

Sementara pemuda di hadapan manusia pendek ini adalah bekas anak didik Ageng Panangkaran. Namun karena merasa Ageng Panangkaran tak sepenuh hati menurunkan ilmu padanya, serta akibat ditolak cintanya oleh adik seperguruannya dia bertekad mencari Bawuk Raga Ginting untuk menimba ilmu (Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: "Neraka Asmara").

"Pandu! Dari mana kau? Dan kenapa kau mengikutiku seperti pencuri?" Bawuk Raga Ginting angkat bicara. Bibirnya yang merah menyala dan tebal sebelah atas bergerak sedikit membuka, namun suara yang terdengar cukup membuat gendang telinga bagai ditusuk.

Pandu tampak terkejut mendengar pertanyaan Bawuk Raga Ginting. Hingga untuk beberapa saat lamanya dia tak segera menjawab.

"Kau tahu, jika aku tak segera mengenali siapa dirimu sejak dini mungkin kau telah tewas!" sambung Bawuk Raga Ginting dengan sepasang mata menyelidik.

"Sejak kepergianmu, aku merasa kesepian. Maklum sudah beberapa tahun aku tak melihat lagi dunia luar. Jadi untuk mengusir rasa sepi aku keluar dari Lembah Bandar Lor. Selain itu kepergianku juga untuk menyirap kabar dan mengendus sepak terjang Pendekar Mata Keranjang 108. Karena kurasa sekarang aku sudah mempunyai kekuatan untuk membuat pembalasan padanya!" Berkata Pandu dengan dagu terangkat membatu. Suaranya terdengar bergetar dan parau, pertanda menahan marah yang menggejolak di dadanya.

Perempuan pendek di hadapan Pandu keluar kan tawa mengekeh panjang.

"Hmm    Dendam anak ini pada Pendekar Mata

Keranjang 108 nampaknya sudah mendarah daging. Aku senang itu. Namun apakah dia nantinya mampu menaklukkan pendekar doyan gadis itu?" membatin Bawuk Raga Ginting. Lalu dia berkata.

"Muridku. Pembalasan memang harus dilaksanakan. Namun kau juga harus berhati-hati. Musuhmu bukan orang sembarangan!"

Wajah pemuda di hadapan perempuan pendek ini langsung berubah merah padam. Rahangnya mengencang dengan pelipis bergerak-gerak. Seraya mengalihkan pandangan ke jurusan lain, Pandu berkata.

"Siapa pun dia adanya, aku tak takut. Kalau perlu gurunya pun akan kuhabisi sekalian!"

Perempuan pendek tertawa ngakak hingga bedak tebal di wajahnya merekat dan air matanya keluar. Dia lantas mendongak, dalam hati dia membatin.

"Semangat anak ini tinggi sekali! Kiranya aku tak salah memutuskan dia menjadi murid sekaligus pembantuku...." Setelah diam beberapa saat, perempuan pendek ini berkata.

"Aku senang mendengar ucapanmu. Percayalah, segala yang kau inginkan akan segera terwujud!"

"Guru! Kalau aku boleh tahu, siapakah "

Belum habis kata-kata Pandu, Bawuk Raga Ginting telah menyela seraya alihkan pandangannya pada orang yang ada di pundaknya.

"Aku sendiri belum tahu, siapa nama gadis ini. Tapi satu hal yang harus kau ingat, kau jangan cobacoba mendekatinya. Saat ini kau masih dalam keadaan puasa! Kau dengar itu?!"

Pandu anggukkan kepala. Namun diam-diam dalam hati dia mengumpat panjang pendek seakan menyesali diri.

"Sialan benar. Baru kali ini aku menimba ilmu harus dengan pantangan tidak boleh menggauli perempuan dalam jangka waktu seribu sembilan puluh lima hari. Tapi apa boleh buat. Toh waktu itu cuma kurang lima belas hari lagi. Dan setelah itu aku bisa menikmati hangat dan nikmatnya tubuh perempuan "

"Kau nampaknya menyesal. Apa kau sudah ngebet sekali sama perempuan ? Yang berarti kau ha-

rus mengorbankan kerja keras mu selama ini?!" kata Bawuk Raga Ginting seakan mengerti apa yang ada dalam benak muridnya.

Meski dalam hati masih mengumpat, Pandu gelengkan kepala, membuat Bawuk Raga Ginting tersenyum menyeringai. Lalu perempuan pendek ini berkata.

"Kita pulang ke Lembah Bandar Lor! Dan kau yang bawa gadis ini!" Habis berkata, Bawuk Raga Ginting melangkah lebih mendekat ke arah muridnya. Lantas dengan gerakan ringan, gadis di pundaknya dia balik dan enak saja dia lemparkan pada Pandu.

Dengan agak gugup Pandu menyambuti tubuh sang gadis. Setelah sang gadis berada di atas kedua tangannya, barulah pemuda ini dengan jelas bisa melihat raut sang gadis. Ternyata dia adalah seorang gadis muda berwajah cantik jelita. Rambutnya panjang sebahu. Bulu matanya lentik dengan bibir ranum dan merah tanpa polesan. Tubuhnya padat dengan buah dada membusung kencang, sementara pinggulnya besar dan kulitnya putih mulus. Di leher gadis ini nampak melingkar untaian kalung dari bunga-bunga berwarna hitam.

Sejenak Pandu dibuat terkesima, hingga untuk beberapa saat sepasang matanya tak kesiap memandang. Dadanya berdetak lebih kencang, sementara jakunnya terlihat bergerak naik turun.

"Ingat Pandu, belum saatnya kau menikmati apa yang ada dalam pikirannya!" kata Bawuk Raga Ginting seraya berkelebat mendahului.

Pandu seakan tak mendengar ucapan gurunya. Dengan dada makin berdetak kencang dan mata membeliak lebar, pemuda ini terus memandang gadis di atas pangkuan tangannya. Bahkan dengan napas memburu kencang dia turunkan sedikit kepala didekatkan pada bibir sang gadis.

"Anak goblok! Apa kau ingin memulai sesuatu yang membuat kerja keras mu selama ini tiada guna?!" mendadak terdengar suara keras menegur begitu bibir Pandu menyentuh bibir sang gadis.

Tahu siapa yang keluarkan teguran, Pandu cepat tarik kembali kepalanya dan dengan raut merah padam dia segera berkelebat.

"Keparat! Seandainya aku sedang tidak menuntut ilmu demi balas dendam pada Pendekar Mata Keranjang 108, sudah ku langgar pantangan itu. Peduli setan...!" kata Pandu dalam hati seraya terus berkelebat menyusul Bawuk Raga Ginting. DUA

SEORANG pemuda bertubuh tegap dan berwajah tampan, mengenakan pakaian warna hijau yang dilapis dengan baju lengan panjang warna kuning serta rambut panjang dan dikuncir ekor kuda nampak melangkah perlahan seraya berkipas-kipas. Dari mulutnya tak henti-henti terdengar dendang nyanyian yang tak bisa dimengerti.

“Apa aku sekarang harus kembali ke lereng Mahameru menyusul Restu Canggir Rumekso…? Ah, kukira itu tiada guna. Restu Canggir Rumekso tentunya sudah pindah tempat. Lagi pula setelah melihat keadaan Putri Tunjung Kuning sehat-sehat saja, itu sudah cukup membuatku lega, meski kini timbul beberapa pertanyaan baru yang belum bisa kujawab…,” batin sang pemuda seraya terus melangkah.

“Siapa anak kecil bersama Restu Canggir Rumekso itu…? Dan kenapa Putri Tunjung Kuning mencegahku saat dia sudah dalam keadaan tak berdaya? Putri Tunjung Kuning sepertinya mengenali anak itu. Seandainya bukan Putri Tunjung Kuning yang mencegah, saat itu juga mungkin anak itu telah kubuat babak belur. Heran, kenapa anak sekecil dia sudah memiliki ilmu demikian hebat…? Gara-gara anak kecil itu juga pukulan ‘Bayu Kencana’ kulepaskan, dan berarti aku harus menunggu setengah purnama lagi untuk bisa menggunakan ilmu itu…,” sang pemuda yang bukan lain Aji Saputra alias Pendekar Mata Keranjang 108 terus membatin.

“Masalah Putri Tunjung Kuning kuanggap selesai, dan sekarang aku harus mencari tahu di mana beradanya Bawuk Raga Ginting. Ratu Sekar Langit telah berhasil dia bawa pergi, aku khawatir tentang keselamatannya dan….”

Aji cepat memotong kata hatinya. Dia segera berkelebat dan lenyap dari tempatnya semula.

“Aku merasa diikuti seseorang. Hmm…. Siapa lagi dia. Sialan benar! Jangan-jangan Restu Canggir Rumekso. Jika benar dia, celaka aku! Pukulan ‘Bayu Kencana’ belum dapat kugunakan lagi…,” gumam Aji yang ternyata kini telah mendekam di balik semak belukar. Matanya tak kesiap menebar berkeliling, sementara kedua telinganya dia pasang baik-baik.

Tak berapa lama berlalu, dari arah depan, muncul seseorang. Dia adalah seorang laki-laki. Mengenakan pakaian warna biru gelap. Tubuhnya amat besar dengan perut tambun. Begitu besarnya tubuh laki-laki ini sehingga wajahnya hampir tak menggambarkan raut muka seseorang. Pipinya menggelantung hampir menutupi bibirnya. Demikian pula dahinya, dipenuhi daging yang kendor hampir menghalangi kedua mata dan hidungnya.

Saat melangkah, terdengar bunyi berdebamdebam. Ternyata laki-laki tambun ini tidak mempunyai sepasang kaki. Dia berjalan dengan menggunakan tongkat yang dipancangkan pada kedua ketiaknya. Hebatnya, tongkat yang dia pakai sebagai pengganti kedua kakinya itu hanya terbuat dari bambu kecil. Namun demikian bambu kecil itu tidak patah, bahkan mengeluarkan suara yang menggidikkan.

Sepasang mata Aji sejenak dibuat tak kesiap. “Heran. Aku tadi bisa memastikan bahwa orang

yang mengikutiku berada di belakangku. Laki-laki tambun ini muncul dari arah depanku, dan dari tadi aku tak mendengar debaman tongkatnya, hanya begitu dekat saja suara itu baru terdengar. Apa laki-laki ini yang mengikutiku? Namun kenapa tiba-tiba dia muncul dari arah depan? Atau memang orang yang mengikutiku dari belakang dan laki-laki ini memang muncul dari arah depan…,” seraya membatin menduga-duga, sepasang mata Aji tak sedikit pun lepas dari sosok laki-laki tambun itu.

Laki-laki tambun bertongkat bambu tiba-tiba hentikan langkah. Dan dengan gerakan yang sulit diikuti pandangan mata tongkat kirinya dia angkat sedikit. Lalu sebuah ranting kecil yang berserakan di bawah pohon tak jauh dari tempatnya berdiri dia sentak pakai tongkatnya.

Seeett!

Ranting kecil itu melesat bagai anak panah dan menerabas semak belukar di mana Aji mendekam.

“Busyet! Dia mengerti jika aku di sini!” gumam Aji sambil lesatkan diri ke udara. Bersamaan dengan itu, semak belukar di mana tadi Aji mendekam terterabas rata! Malah di kejap itu juga tercium bau sangit bagai kayu terbakar!

Setelah membuat putaran sekali di udara, Aji mendarat dengan sepasang mata membeliak, lalu menyipit. Keningnya mengernyit pertanda berpikir keras.

Seumur-umur baru kali ini aku menemui orang macam ini. Tak dapat disangka, pasti dia mempunyai ilmu tinggi. Hmm…. Siapa dia? Dan kenapa tiba-tiba menyerangku? Apes betul nasibku. Di mana-mana selalu dimusuhi orang!” batin Aji. Lalu dia berkata.

“Kurasa kita belum pernah bertemu. Apa gerangan yang membuatmu mendadak menyerangku?!”

Laki-laki tambun palingkan wajah menghadap Aji. Dahinya yang dipenuhi daging bergerak-gerak, akibat gerakan kelopak matanya yang terangkat ke atas, hingga sepasang matanya terlihat jelas. Sepasang mata laki-laki ini sebentar mengerjap-ngerjap memandang Aji. Namun tak lama kemudian telah tertutup kembali dengan daging dahinya. Bersamaan dengan tertutupnya mata, laki-laki ini menggerakkan bibirnya yang terlindung daging pipi, dan terdengarlah suaranya.

“Sebut nama dan gelarmu!”

Aji jadi terganggu sendiri. Dia menyungging senyum kecut. Dalam hati dia bertanya-tanya heran.

“Ah, dalam rimba persilatan memang banyak orang yang bertingkah dan berciri aneh-aneh….” Lalu Aji memandang jurusan lain dan berkata.

“Namaku Aji Saputra. Aku tidak pernah menggelari diri, karena aku hanyalah seorang pengelana jalanan yang tak tentu juntrungannya!”

“Hmm…,” laki-laki bertongkat bambu menggumam lalu berkata seperti pada dirinya sendiri.

“Susah benar mencari pemuda setan itu. Kalau saja usiaku masih muda…. Segalanya mungkin dapat kuatasi sendiri….”

“Orang ini mencari seseorang…,” membatin Aji seraya melangkah kembali wajahnya memandang lakilaki bertongkat bambu di hadapannya.

Laki-laki bertongkat bambu tampak lurus menghadap Aji, lalu enak saja dia melangkah pergi tanpa berucap lagi. Suara hujaman tongkatnya kembali menyentak-nyentak.

“Sulit dipercaya. Jika dia tidak memiliki ilmu peringan tubuh luar biasa, tidak mungkin dia bisa melakukannya. Tongkat itu dari bambu dan begitu kecil, namun kuat menahan tubuh sebesar itu…. Dengan serangan tadi, jika aku tidak segera minggat, tentu tubuhku sudah rata!” Aji geleng-geleng kepala dan begitu ingat kata-kata orang, dia lantas berteriak. “Tunggu!”

Suara hentakan tongkat lenyap. Laki-laki itu menghentikan langkah. Lalu tanpa balikkan tubuh dia berkata.

“Apa maumu?!”

“Kau sepertinya sedang kebingungan mencari seseorang. Karena aku seorang pengelana jalanan, mungkin aku sendiri bisa membantu jika kau sudi sebutkan nama orang yang kau cari…!”

“Hm…. Begitu? Sayang sekali, aku tak senang jika dibantu orang hanya sedikit-sedikit. Kalau kau memang ingin menolong, jangan setengah-tengah!”

“Wah, jika begitu maunya aku tak bisa menolong dan lebih baik aku meneruskan perjalanan…,” pikir Aji seraya balikkan tubuh dan berkata seraya melangkah menjauh.

“Bila itu maumu, aku pun menarik ucapanku.

Selamat jalan….”

Begitu tubuh Aji berkelebat meninggalkan tempat itu, laki-laki bertongkat bambu melanjutkan langkah. Namun baru dua hentakan tongkatnya, mendadak.

Beett!

Sebuah bayangan berkelebat. Dan tahu-tahu di hadapan laki-laki ini telah berdiri sesosok tubuh. Meski datangnya sosok ini begitu tiba-tiba, laki-laki ini tak menampakkan rasa terkejut sama sekali, malah seakan acuh dengan kedatangan orang, laki-laki ini meneruskan langkah tanpa memandang orang di hadapannya.

“Ke mana dia?!” orang yang di hadapan laki-laki membentak.

Mendapat teguran yang bernada membentak, laki-laki bertongkat urungkan niat untuk meneruskan langkah. Sejenak dahinya bergerak seiring membukanya mata.

Sepasang mata laki-laki ini sebentar membelalak bolak balik, memperhatikan orang yang menegur. Di hadapannya tampak seorang gadis berwajah cantik, mengenakan pakaian coklat bergaris-garis. Rambutnya panjang dan dikuncir. Matanya bulat dengan hidung mungil.

“Orang tua! Harap segera jawab tanyaku, ke mana perginya dia?!” kembali sang gadis menegur. Suaranya semakin lantang, membuat laki-laki bertongkat bisa segera menebak jika sang gadis menahan marah.

“Anak gadis…. Siapa yang kau maksud dengan dia…?” tanya laki-laki bertongkat sambil merapatkan kembali sepasang matanya.

“Jangan berpura-pura!” hardik sang gadis. “Baru saja dia berada di sini. Berbicara denganmu! Dan kau berpura-pura balik bertanya. Lekas katakan sebelum hilang rasa sabarku!”

Laki-laki bertongkat dongakkan kepala. Lalu mendadak dari mulutnya keluar tawa mengekeh panjang. Gadis di hadapannya surutkan langkah hingga tiga tindak. Raut wajahnya berubah kecut. Suara tawa laki-laki bertongkat demikian membahana, hingga meski sang gadis menyalurkan hawa murni untuk menangkis denging sakit di telinganya, namun usahanya hanya membantu sedikit, membuat gadis ini sadar bahwa laki-laki di hadapannya adalah orang yang berilmu tinggi. Hingga meski laki-laki bertongkat telah hentikan tawanya, sang gadis tidak lagi buka mulut. Dia hanya tegak bagai patung seraya memandang tajam ke depan, diam-diam keringat dingin mulai terasa membasahi tengkuknya.

“Anak gadis…,” kata laki-laki dengan suara pelan, membuat ketegangan sang gadis sedikit reda. “Aku tidak berpura-pura. Aku bersama orang tadi hanya bicara sebentar. Itu pun hanya terbatas pada tanya nama, lain tidak! Setelah dia sebutkan nama, dan ternyata bukan orang yang kucari, aku dan dia pun saling meneruskan perjalanan masing-masing….”

“Ngg…. Kau mencari seseorang…?” sang gadis balik bertanya. Kini suaranya pelan, malah gadis ini berkata seraya menjura sedikit.

Beberapa saat laki-laki bertongkat tak segera menjawab. Namun akhirnya dia membuka mulut juga.

“Yang kau katakan benar. Aku memang dalam perjalanan mencari seseorang. Tapi aku tidak seberuntung kau!”

“Apa maksudmu…?” tanya sang gadis sedikit heran mendengar kata-kata laki-laki di hadapannya.

Laki-laki bertongkat tersenyum, membuat daging yang menutupi bibirnya bergerak ke kanan dan kiri.

“Melihat sikap dan tingkahmu, pada dasarnya kita dalam perjalanan yang sama, yakni mencari seseorang. Hanya saja kau beruntung, kau masih bisa mengenali orang yang kau cari, malah kau hampir mendapatkannya. Sedangkan aku? Aku mencari seseorang yang hanya tahu nama tanpa dapat mengetahui bentuk, usia apalagi tempat tinggalnya….” Laki-laki bertongkat hentikan ucapannya, membuka matanya sebentar lalu melanjutkan ucapannya.

“Orang yang kau cari berkelebat ke sana….” Laki-laki bertongkat angkat salah satu tongkat penyangga tubuhnya dan menunjuk ke satu arah.

“Dia kekasihmu…? Hmm…. Kalian kurasa cocok untuk berdampingan. Yang perempuan seorang gadis cantik yang laki-laki tampan. Hari sudah panas, aku harus pergi….”

Raut wajah sang gadis mendadak berubah merah padam, hingga begitu mendengar ucapan laki-laki di hadapannya, gadis ini sembunyikan wajah dengan memandang jurusan lain.

“Tunggu!” kata sang gadis begitu melihat lakilaki bertongkat hendak melangkah pergi.

“Bisakah kau sebutkan nama orang yang kau cari…?” tanya sang gadis masih dengan tak berani menatap laki-laki di hadapannya.

Laki-laki bertongkat tarik napas panjang, lalu mengangguk.

“Aku mencari orang yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108….”

Sepasang bola mata gadis itu membelalak, keningnya mengernyit.

“Orang itu aneh. Bukankah tadi dia sudah bertemu dengan orang yang dicarinya? Atau saat itu Pendekar Mata Keranjang 108 tak mau sebutkan gelar? Ada apa dia mencari pemuda itu…? Meski aku sakit hati pada pemuda itu, tapi aku tak tega melihat dirinya celaka. Aku akan menyelidik siapa laki-laki ini dan apa masalahnya dia mencari Pendekar 108!” membatin sang gadis.

“Kau tampaknya terkejut, apa kau mengetahui orang yang ku sebut tadi?” tanya laki-laki bertongkat begitu melihat perubahan pada wajah gadis di hadapannya. “Kau tahu…?”

Ditanya begitu, sang gadis tidak menjawab, malah dia balik berkata.

“Kalau tak keberatan, katakan siapa dirimu orang tua!”

Laki-laki bertongkat sejenak terdiam. Sepasang matanya kembali membuka memperhatikan seksama gadis di hadapannya dari ujung kaki sampai ujung rambut, membuat orang yang dipandang terjengah dan tersipu-sipu.

“Anak gadis…,” kata laki-laki bertongkat perlahan. “Melihat perubahan pada wajahmu, aku menduga kau tahu orang yang kucari. Namun jika kau mengajukan syarat ingin tahu siapa diriku, baiklah. Aku oleh orang-orang dipanggil Gongging Baladewa….”

Mendengar orang itu sebutkan nama, sang gadis surutkan langkah.

“Gongging Baladewa. Hmm…. Aku rasa-rasa pernah dengar nama itu. Benar, aku pernah dengar dari mendiang Guru…,” membatin sang gadis. “Menurut penuturan Guru, Gongging Baladewa adalah seorang tokoh nomor wahid yang sulit dicari tandingnya. Dia tokoh aneh, hingga tak satu pun orang tahu, di mana dia tinggal. Dia pun tak akan muncul tanpa ada sesuatu yang sangat penting. Sekarang dia muncul, berarti ada sesuatu yang sangat penting. Kenapa dia mencari Pendekar 108…?”

“Aku telah sebutkan apa yang kau minta. Nah, sekarang katakan di mana aku bisa temukan orang yang kucari!” kata laki-laki bertongkat menyentak lamunan gadis di hadapannya.

Gadis cantik itu kembali tercenung, hingga untuk beberapa saat dia tak segera menjawab pertanyaan orang itu. “Apa aku harus katakan…?”

“Anak gadis…. Kalau kau keberatan, aku tak memaksa. Aku akan mencarinya sendiri….”

Habis berkata, Gongging Baladewa balikkan tubuh dan melangkah pergi.

“Sebaiknya kukatakan saja. Toh, kalau dia berniat jahat, kurasa Pendekar Mata Keranjang 108 mampu untuk menjaga diri!” berpikir begitu, gadis ini lantas berteriak menahan kepergian laki-laki bertongkat.

“Orang tua, tunggu!”

Laki-laki bertongkat hentikan langkah. Dia tegak menunggu. Dan demi didengarnya langkahlangkah halus mendekat, laki-laki itu balikkan tubuh.

“Orang yang kau cari adalah orang yang tadi berbicara denganmu di sini!” kata sang gadis seraya memandang laki-laki itu, ingin mengetahui reaksinya.

Mendengar kata-kata gadis di hadapannya, Gongging Baladewa membuka sepasang matanya. Dari mulutnya terdengar ucapan.

“Jangan berkelakar denganku!”

“Aku berkata sesungguhnya. Pendekar Mata Keranjang 108 adalah orang yang tadi sempat bicara denganmu…,” kata gadis meyakinkan.

Laki-laki bertongkat mengangguk. “Sial betul! Inilah susahnya mencari orang yang hanya tahu namanya tanpa mengetahui rupa dan tempat tinggalnya!” Lalu laki-laki ini bertanya.

“Waktu menegur tadi, nada suaramu terdengar menahan marah, ada apa sebenarnya antara kau dan pemuda itu? Kalian bertengkar…? Atau…,” laki-laki ini tak melanjutkan ucapannya, karena sang gadis telah menyahut.

“Dia adalah laki-laki yang paling kubenci saat ini, karena dia adalah pembunuh mendiang guruku!” suara gadis ini kembali melengking. Matanya berkilatkilat dengan pelipis bergerak-gerak.

“Hanya itu masalahnya? Tidak ada hal lain…?” tanya Gongging Baladewa.

“Heh, apa maksud kata-katamu…?!” balik bertanya sang gadis.

“Melihat kau tadi masih menyembunyikan siapa dia, aku curiga. Jangan-jangan kemarahanmu hanya karena ada hal lain yang mempengaruhi…!”

“Orang ini cerdik. Dia sepertinya dapat meraba apa yang ada dalam benakku. Aku benci dan sakit hati padanya karena dia terlalu meremehkan perempuan. Di sana-sini selalu menggaet perempuan! Tak mau mengerti aku. Tapi apa boleh dikata. Dia adalah seorang laki-laki yang menarik, hingga tak heran jika banyak gadis cantik yang tertarik padanya…..” membatin sang gadis.

“Aku menangkap sesuatu yang tak wajar di balik kemarahanmu. Jika kau tak keberatan, harap kau ceritakan apa sebenarnya yang ada di balik itu. Siapa tahu aku bisa sedikit membantu, hitung-hitung kau telah membantuku hingga aku sekarang dapat mengetahui ciri-ciri orang yang selama ini kucari….”

Agak lama, setelah menimbang-nimbang akhirnya gadis di hadapan laki-laki itu berkata.

“Aku…. Aku Sebenarnya mencintai pemuda itu. Bahkan karena dia pula aku putus hubungan dengan saudara seperguruanku, yang diam-diam menyintaiku….”

Mendengar kata-kata sang gadis, Gongging Baladewa tersenyum lebar, membuat sang gadis bersemu merah.

“Kau tadi mengatakan bahwa dia pembunuh gurumu! Siapa gurumu?”

“Aku sebenarnya masih tak percaya jika dia membunuh Guru. Hanya saja saat kutemukan tewas, pemuda itu ada di samping Guru. Kalau aku masih belum percaya, tak demikian dengan saudara seperguruanku. Dia tetap mengatakan bahwa pemuda itulah yang membunuh Guru! Hingga saudara seperguruan ku itu menaruh dendam!” Laki-laki bertongkat menyeringai, beberapa kali dia berdecak.

“Siapa gurumu…?” ulang laki-laki bertongkat ketika sang gadis belum juga mengatakan nama gurunya.

“Ageng Panangkaran….”

Senyum laki-laki bertongkat mendadak terpenggal seketika. Rautnya berubah terkejut. Seakan tak sadar dia lantas bergumam.

“Ageng Panangkaran. Rupanya kau telah mendahuluiku. Hmm…. Usia manusia memang tak dapat ditentukan….”

“Kau mengenalnya?” tanya sang gadis. “Dia sahabatku!”

Mendengar ucapan Gongging Baladewa, gadis itu serta merta menjura.

“Anak gadis…. Menyimpul dari kata-katamu, kemarahan serta kebencianmu pada manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 mungkin karena kau dipengaruhi rasa cemburu. Begitu bukan?”

Gadis di hadapan Gongging Baladewa palingkan wajahnya yang makin merah mengelam. Dan pada akhirnya kepala gadis ini mengangguk perlahan, membuat Gongging Baladewa kembali tersenyum.

“Cinta. Hmm…. Cinta memang kadang-kadang memutuskan persaudaraan. Dan juga menyulut sesuatu yang terpendam jika cinta itu terganggu. Tapi kalau boleh aku mengatakan, jika kau memang ingin menyelidik siapa pembunuh gurumu, hilangkan rasa cemburu. Kau harus bisa memisah-misah. Sulit memang, tapi itulah jalan terbaik jika kau tidak ingin salah menurunkan tangan maut!”

Sang gadis mengangguk seraya menghela napas panjang dan dalam, lalu berkata. “Kau mungkin benar….”

Gongging Baladewa lantas memandang berkelil-

ing, lalu mendongak ke atas.

“Hari sudah menjelang senja. Aku harus meninggalkan tempat ini. Ngg…. Siapa namamu…?”

“Sakawuni…,” jawab sang gadis.

“Nama bagus, secantik orangnya. Nah, terima kasih atas pemberitahuanmu. Semoga kapan-kapan kita bisa jumpa lagi…,” kata Gongging Baladewa seraya hendak melangkah pergi.

“Eh, kalau boleh aku tahu, ada apa hingga kau mencari Pendekar 108…?” tanya Sakawuni.

“Aku tak bisa mengatakan itu padamu. Hanya saja jika aku nanti bertemu dengannya, akan kukatakan bahwa seorang gadis cantik sedang mengharap dan menunggunya. Dan jika nanti dia bandel, masih suka mempermainkan perempuan biar kujewer telinganya!”

Habis berkata, Gongging Baladewa berkelebat ke arah dari mana tadi dia muncul, karena dia tahu orang yang dicari berkelebat ke arah itu.

Sakawuni untuk beberapa saat lamanya masih tegak di tempatnya, sepasang matanya memandang ke jurusan mana Gongging Baladewa berkelebat.

“Orang hebat. Meski tubuhnya besar dan cacat, namun gerakannya begitu cepat, hampir aku tak bisa mengikuti kelebatnya….”

Gadis itu lantas balikkan tubuh dan berkelebat pula mengambil jalan sama dengan Gongging Baladewa.

*** TIGA

GONGGING Baladewa menggenjot larinya, hingga tubuhnya hanya kelihatan membersit cepat laksana berkas cahaya.

"Segala ucapan gadis tadi moga-moga benar, bahwa pemuda itulah yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108...," membatin Gongging Baladewa begitu jauh di depannya sepasang matanya menangkap orang yang dikejar tampak melangkah perlahan seraya berkipas-kipas dan mendendangkan nyanyian.

"Anak sinting! Dia tampak enak-enakan. Apa dia tak tahu, nyawanya diancam orang "

Gongging Baladewa semakin mempercepat kelebat tubuhnya. Begitu agak dekat, laki-laki besar bertongkat bambu ini kibaskan kedua tongkatnya.

Wess! Wess!

Dua rangkum angin deras segera melesat keluar dari tongkat bambu dan berderak ke depan, ke arah pemuda di hadapannya.

Yang diserang, dan bukan lain memang Aji alias Pendekar 108 alias Pendekar Mata Keranjang 108 segera palingkan wajah dan kibaskan kipas ungunya yang sedari tadi dibuat berkipas-kipas.

Wesss!

Angin deras yang menggebrak ke arahnya tibatiba bagai tertahan, bahkan mental balik ke sang penyerang, membuat Gongging Baladewa terkejut dan buru-buru berkelebat ke samping, menghindari sambaran angin tongkatnya yang mental dan menyambar ke arahnya.

Begitu tahu siapa adanya orang yang membokong, Aji cepat palingkan kembali wajahnya dan berkelebat cepat. Tubuhnya lenyap dari hadapan Gongging Baladewa.

"Jangkrik! Ternyata dia yang terus mengikutiku Apa tujuannya? Lebih baik aku menghindar. Tak

ada guna meladeni orang aneh...," kata Aji dalam hati seraya terus berkelebat.

Begitu dirasa orang yang mengikuti tak bisa mengejar, apalagi suasana gelap mulai turun, Aji memperlambat larinya, namun demikian dia masih tetap waspada. Bahkan untuk meyakinkan diri, dia segera menyelinap ke balik sebuah pohon. Dan begitu agak lama tak ada orang yang dicurigai, Aji keluar dan terus melangkah.

"Di depan kulihat banyak lampu-lampu, berarti ada sebuah perkampungan. Semoga aku dapat menemukan orang yang bisa memberitahu di mana tempat tinggal perempuan pendek itu "

Selagi Aji berpikir begitu dan hendak melangkah, dari arah depan berkelebat sesosok bayangan.

"Ha... ha... ha...! Kau kira bisa lolos dari mataku, he...?! Pemuda pendusta! Kau pantas mendapat gebukan tongkat ini!"

Belum habis kata-kata orang yang baru datang, dan benda hitam melesat, dan terdengar suara.

Clepp! Cleepp!

Begitu dua benda hitam yang ternyata adalah dua batang bambu menancap di tanah di hadapan Aji, Aji undurkan langkah dua tindak ke belakang. Matanya menatap tajam ke depan, lalu menyapu berkeliling.

"Di mana si gendut itu?" membatin Aji dengan mata tak kesiap, sementara kedua tangannya siap pula menyentak.

Aji tak menunggu terlalu lama. Dari kegelapan di sampingnya berdesir angin kencang. Satu bayangan besar berkelebat dan tahu-tahu berdiri di hadapannya, kedua ketiaknya menopang pada dua bambu yang menancap!

"Sebutkan nama dan gelarmu!" kata sosok yang berdiri di hadapannya dan bukan lain adalah Gongging Baladewa.

"Itu lagi, itu lagi yang dikatakan! Apa dia pengumpul nama. Menghadapi orang begini, susah! Dikasih tahu benar-benar tidak percaya. Apa dia ingin dibohongi...?"

"Namaku Aji Saputra...," kata Aji, lalu tersenyum dan melanjutkan. "Gelarku Enceng Gondok! Kau sendiri siapa?"

Orang yang ditanya keluarkan dengusan keras. Dahinya bergerak-gerak, namun sebentar kemudian yang terdengar adalah ledakan tawanya yang menggembor keras dan panjang terbahak-bahak. Karena suara tawa itu dialiri tenaga dalam, membuat Aji harus pula kerahkan tenaga. Maka untuk menangkis tenaga dalam laki-laki di hadapannya, Aji pun ikut-ikutan tertawa. Hingga sebentar kemudian, di tempat itu ramai sekali suara tawa.

Namun secara mendadak Gongging Baladewa hentikan tawanya. Lalu membentak garang.

"Mulut seorang pendusta memang pantas untuk dikoyak-koyak!" selesai bicara, Gongging Baladewa langsung melesat. Tubuhnya melayang deras tanpa tongkat di kedua ketiaknya. Tongkat bambu itu tetap di tempatnya semula.

Prakkk!

Terdengar benturan keras ketika dua lengan beradu di udara. Ternyata sewaktu diserang, Aji menangkis dengan hempaskan kedua tangannya menyilang. Aji merasakan kedua tangannya laksana hantaman tiang baja, hingga saat itu juga wajahnya meringis menahan sakit, sementara dari mulutnya terdengar keluhan pelan. Di lain pihak, Gongging Baladewa tubuhnya terus meluncur ke depan. Namun tubuh besar itu segera membuat gerakan berputar dan kini membalik seraya putar-putar tangan kiri-kanan.

Aji yang masih menahan sakit cepat rebahkan diri ke depan hingga sejajar dengan tanah. Begitu lakilaki besar tambun berada di atasnya, sepasang kaki Aji melenting ke udara, menghadang serangan lawan.

Namun Aji jadi terperangah. Sepasang kakinya tak merasakan menghantam sesuatu, padahal dia sudah memastikan bahwa saat itu laki-laki besar berada tepat di atasnya. Malah Aji semakin terperanjat tatkala sepasang kakinya terasa dihempaskan keras ke bawah. Begitu derasnya hempasan itu, hingga jika saja Aji tidak segera angkat kepalanya dan membuat gerakan berputar niscaya kakinya akan patah menghantam tanah. Tapi begitu kepala Aji terangkat dan akan berkelit menyamping, sebuah tangan besar menyeruak menghajar mulutnya.

Plak!

Tubuh Aji terhuyung ke belakang. Saat demikian itulah, sebuah tangan besar kembali berkelebat ke arah lambung. Dengan perasaan marah yang mulai mendera, Aji segera memapasi tangan itu dengan hantaman kedua tangannya!

Namun Aji terkecoh. Gerakan tangan yang melesat ke arah lambung itu hanyalah gerak tipu belaka. Karena saat kedua tangan Aji bergerak memapas, sebuah tangan lain telah berkelebat ke arah mulutnya.

Plaaakk!

Kali ini Aji tak bisa lagi menahan gerak tubuhnya, hingga kejap itu juga tubuhnya terjengkang dengan mulut mengeluarkan darah!

"Siapa manusia ini sebenarnya. Dan apa maksud dia sebenarnya?" membatin Aji seraya bangkit dan memandang melotot pada laki-laki besar tambun yang kini kembali berdiri dengan kedua ketiak menopang pada dua bambu.

"Orang tua! Siapa kau sebenarnya?!" Yang ditanya tengadahkan kepala. Sepasang matanya membuka dan menatap tajam ke arah Aji. Lalu mulutnya membuka memperdengarkan suara tawa pendek.

"Jika kau masih tak jujur padaku, bukan tamparan akan kau terima! Dan mulutmu akan berubah bentuknya! Lekas sebutkan nama dan gelarmu!"

"Bedebah! Apa dikira aku takut...?", Aji seraya melesat ke depan dan dengan hati panas dia hantamkan tangan kiri-kanan ke arah kepala laki-laki besar tambun.

Yang diserang tidak beranjak dari tempatnya, malah dia keluarkan tawa mengejek. Lalu kepalanya bergerak aneh seperti orang yang menari patah-patah. Hebatnya gerakannya itu mampu menghindarkan kepalanya dari hantaman tangan Aji yang kini terus menghujam kiri-kanan.

Merasa dipermainkan, Aji segera melompat balik ke belakang. Dari tempat ini dia segera rentangkan kedua tangannya lalu dihantamkan ke depan.

Weess! Weess!

Dua rangkum angin yang menggemuruh melesat ke depan.

Gongging Baladewa kembali hanya tertawa pendek. Begitu serangan Aji sedepa lagi menghajar tubuhnya, laki-laki besar bertongkat ini sentakan kedua tongkatnya ke tanah. Terdengar bunyi berdebam, dan bersamaan dengan itu tubuh Gongging Baladewa lenyap.

"Sialan! Lari ke mana dia...?" batin Aji begitu melihat serangannya menerabas tempat kosong dan lawan lenyap dari hadapannya.

Tiba-tiba dari arah sebuah pohon tak jauh dari tempat Aji terdengar suara tawa mengekeh.

"Pukulan ‘Segara Geni’, apa hebatnya...? Itu hanya pantas kau tunjukkan pada nyamuk-nyamuk kecil!"

Pendekar Mata Keranjang 108 segera berpaling dan tengadah. Darahnya sirap ketika mendapati lawan mengetahui pukulan yang baru saja dilancarkan.

Panas oleh ejekan, Pendekar Mata Keranjang 108 segera keluarkan kipas ungunya. Begitu kipas dibuka, tubuhnya cepat melenting ke udara, ke arah laki-laki tambun yang kini menggelantung dengan perut di atas dahan. Bagaimanapun marahnya, diam-diam Aji merasa kagum juga. Dahan itu tidak begitu besar, namun digelantungi tubuh yang begitu gendut tidak berderak patah, bahkan bergoyang pun tidak.

Begitu tubuh Aji menjejak sebuah dahan yang tak jauh dari laki-laki besar, dia segera lepaskan pukulan ke arah dahan yang digelantungi laki-laki besar.

Dahan itu patah berderak. Tubuh Gongging Baladewa melayang turun, namun kira-kira setengah tombak menukik, tubuhnya kembali melesat ke atas dan hinggap lagi pada sebuah dahan!

Begitu hinggap Gongging Baladewa balik menyerang dengan tebaskan tongkat bambunya pada dahan yang dijejaki Pendekar Mata Keranjang 108. Hingga sejenak kemudian terjadilah pertempuran seru di atas pohon.

Jika saja ada orang yang menyaksikan kejadian ini, pasti dia akan melongo terheran-heran. Dan dari sini bisa dilihat, betapa telah sempurnanya ilmu peringan tubuh kedua orang ini. Karena hingga beberapa jurus berlalu, tak satu pun di antaranya yang terjerembab jatuh. Bahkan batang pohon itu tidak bergeming, hanya daun dan rantingnya saja yang berhamburan tersambar serangan!

Namun pada suatu kesempatan, Gongging Baladewa berhasil memanfaatkan kelengahan Pendekar Mata Keranjang 108. Saat itu Pendekar Mata Keranjang 108 sedang menggempur dengan tendangan kaki kanannya pada tubuh besar Gongging Baladewa yang baru saja hinggap. Namun dengan kecepatan luar biasa, laki-laki tambun ini gelundungkan tubuhnya di atas dahan. Dan bersamaan dengan itu, tongkat bambu di tangan kirinya bergerak menusuk pada kaki kiri Pendekar Mata Keranjang 108 yang dibuat untuk tumpuan tubuhnya.

Desss!

Kaki kiri Aji tergelincir dari dahan, membuat tubuhnya memberosot deras ke bawah. Tapi dalam situasi demikian, Aji segera gerakkan tangan kirinya untuk menangkap sebuah dahan di bawahnya. Namun Gongging Baladewa seakan mengerti. Begitu tangan kiri Aji berhasil menangkap dahan hingga tubuhnya tak jadi meluncur, Gongging Baladewa menukik dan hantamkan kedua tongkatnya pada tangan Aji.

Desss!

Terdengar seruan tertahan dari mulut Aji. Tangannya bagai dihantam besi batangan, hingga pegangannya pada dahan lepas, membuat tubuhnya menukik!

Selagi tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 melayang deras ke bawah, Gongging Baladewa menyusul tubuh. Dan baru saja Aji mendarat dengan tubuh terhuyung-huyung, tongkat Gongging Baladewa telah menyambar dari arah belakang!

Beett!

Tubuh Aji berputar. Gongging Baladewa menunggu. Begitu putaran tubuh Aji tepat menghadap ke arahnya, laki-laki tambun ini sabetkan tongkat kanannya ke bahu Aji.

Aji tak bisa lagi menguasai tubuhnya. Dia terbanting telungkup. Dengan raut merah padam dan marah besar, Aji segera hendak bangkit. Namun dia tercekat. Lehernya bagai dijepit dan tak bisa digerakkan!

"Ha... ha... ha...! Kalau kau tetap membisu kau mau sebutkan nama dan gelar, lehermu akan penyet!" kata Gongging Baladewa. Ternyata laki-laki tambun ini kini tubuhnya berada di atas tubuh Aji dengan tongkat menjepit batang leher.

"Keparat sial!" serapah Pendekar Mata Keranjang 108 sambil menggerakkan tangan kanannya yang memegang kipas hendak dikibaskan ke belakang, sementara tangan kirinya menekuk hendak menghantam tongkat di atas lehernya.

Namun baru saja kedua tangan Pendekar Mata Keranjang 108 hendak bergerak, Gongging Baladewa tunggingkan pantatnya hingga tubuh bagian depannya menukik ke depan. Bersamaan dengan itu tangan kirinya bergerak cepat menyambar kuncir rambut Pendekar Mata Keranjang 108 dan menariknya kuat-kuat!

"Sinting! Edan! Uhhh...!" umpat Pendekar Mata Keranjang 108 seraya merasakan sakit pada batok kepalanya, hingga dia urungkan niat untuk menggerakkan kedua tangannya.

"Ha... ha... ha...! Keluarkan seluruh kepandaianmu, Bocah!"

Pendekar Mata Keranjang 108 melenguh keras. Lalu segera kerahkan tenaga dalam untuk melepaskan diri dari jepitan tongkat Gongging Baladewa. Namun usahanya tak ada hasil, malah jepitan pada lehernya semakin keras, sementara kepalanya terus dikedutkedutkan oleh Gongging Baladewa.

"Sialan!" maki Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati. "Manusia ini benar-benar edan. Rambutku bisa ambrol dan leherku bisa putus jika terus-terusan begini!"

"Baik. Akan kukatakan siapa diriku.... Tapi lepaskan dulu tongkatmu!" kata Pendekar 108 dengan suara tersengal-sengal.

Gongging Baladewa mengekeh, lalu dengan kecepatan luar biasa, tongkat kirinya dia gerakkan mencongkel, sementara tangannya yang menarik rambut Pendekar Mata Keranjang 108 dia kibaskan. Akibatnya sungguh aneh, tubuh Pendekar Mata Keranjang terangkat sedikit ke atas dan membalik, hingga kini pendekar murid Wong Agung itu telentang!

Pendekar Mata Keranjang 108 segera hendak bergerak bangkit tatkala dilihat posisinya memungkinkan. Namun baru saja bergerak, tongkat Gongging Baladewa telah bergerak dan kini ujungnya menekan dadanya.

Melirik ke kiri, terlihat laki-laki tambun itu tersenyum dengan berdiri bertopang pada tongkat satunya.

"Lekas katakan!" kata Gongging Baladewa. Senyumnya pupus, sementara sepasang matanya bergerak membuka.

"Namaku Aji Saputra. Aku tak menggelari di-

ri " Belum habis Aji dengan kata-katanya, Gongging Baladewa menekankan tongkatnya pada dadanya, membuat murid Wong Agung susah bernapas.

"Ingat! Jika kau tetap bohong, aku tak segansegan membongkar dadamu!"

Pendekar Mata Keranjang 108 berusaha menggerakkan anggota tubuhnya, namun begitu hendak bergerak, tusukan pada dadanya semakin keras, membuatnya hanya bisa berteriak mengaduh-aduh.

"Ba.... Baik. Orang-orang menjulukiku dengan Pendekar Mata Keranjang 108...." Pada akhirnya Aji berkata. Suaranya pelan dan tersendat-sendat.

Gongging Baladewa angkat tongkat dari dada Pendekar 108. Lalu berdiri tegak dengan sepasang mata mengawasi lebih seksama.

Pendekar Mata Keranjang 108 terseok-seok bangkit dan duduk. Memandang ke arah Gongging Baladewa, lalu berdiri dan menghela napas panjangpanjang.

"Aku tak habis pikir, apa gunanya nama buatnya? Tapi dia tampaknya tak berniat jahat. Jika dia punya niat jelek, sejak tadi-tadi aku telah roboh di tangannya. Tapi siapa pun dia adanya, yang pasti dia adalah orang berilmu tinggi!"

"Aji. Sini!" kata Gongging Baladewa seraya memberi isyarat agar Pendekar Mata Keranjang 108 mendekat.

Merasa yakin orang di hadapannya tak punya niat jelek, Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah mendekat.

"Kau tentunya bertanya-tanya siapa aku. Dengar baik-baik. Aku dipanggil orang Gongging Baladewa!"

Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 membelalak besar. Keningnya berkerut. "Ah, jika sejak tadi-tadi dia mengatakan siapa dirinya, tidak sampai terjadi seperti ini.... Aku pernah dengar nama dari Eyang Selaksa. Dia adalah salah seorang tokoh besar rimba persilatan dari golongan putih yang akan muncul jika ada sesuatu yang sangat penting dalam rimba persilatan. Hmm.... Apakah dia sekarang muncul karena kejadian akhir-akhir ini yang banyak menelan korban beberapa tokoh silat, yang kabarnya dilakukan oleh seseorang?"

"Aji. Aku sengaja mencarimu. Ada satu hal penting yang harus kusampaikan padamu. Hal ini berhubungan dengan masa depan dunia persilatan. Dalam kesendirianku, aku bermimpi "

Gongging Baladewa tak melanjutkan ucapannya. Matanya berputar menyelidik. "Di sini tak aman. Aku mendengar orang mendatangi tempat ini. Ikuti aku!"

Habis berkata, Gongging Baladewa berkelebat ke arah selatan.

"Pendengarannya tajam sekali. Padahal aku baru menangkap orang yang datang itu sekarang...," membatin Pendekar Mata Keranjang 108 sambil berkelebat menyusul.

EMPAT

DI suatu tempat yang dirasa aman, Gongging Baladewa hentikan larinya. Ketika Pendekar 108 sampai di tempat beradanya Gongging Baladewa, murid Wong Agung ini segera berkata.

"Cerita mengenai mimpi sebenarnya aku tidak begitu tertarik. Namun coba ceritakan mimpimu itu!" Laki-laki bertubuh besar tambun tersenyum menyeringai. Setelah ketuk-ketukkan tongkatnya beberapa kali, laki-laki ini berkata.

"Sebelum bicara tentang mimpi, aku ingin tanya padamu dahulu. Apakah kau telah mendengar berita bahwa akhir-akhir ini banyak tokoh rimba persilatan tiba-tiba ditemukan tewas, atau mendadak saja hilang tanpa kabar berita?"

Mendengar pertanyaan Gongging Baladewa, Pendekar Mata Keranjang luruskan pandangannya ke depan. Dia tidak angkat bicara untuk menjawab, namun kepala bergerak mengangguk.

"Syukur jika kau telah tahu. Lantas apakah kau juga tahu siapa gerangan di balik semua kejadian itu?" Gongging Baladewa lanjutkan pertanyaannya.

Pendekar 108 tetap tak mengalihkan pandangan. Namun gerakan kepalanya kini ke kanan dan ke kiri, memberi isyarat bahwa dia tidak mengetahui. Lalu Aji berkata.

"Aku sudah mencoba untuk menyelidik, namun selama ini aku belum berhasil!"

Gongging Baladewa tertawa perlahan. Dia dongakkan kepala dengan sepasang mata menembus kepekatan malam yang sudah menjelang, dan tak lama kemudian dia berkata.

"Mimpiku memberi isyarat tentang siapa orang di balik kejadian itu!"

Aji mendehem, lalu berkata.

"Mimpi tidak bisa dijadikan bukti kuat untuk menuduh seseorang "

"Ucapanmu tidak salah. Namun aku bukan hanya mengandal mimpi. Kenyataannya sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri!"

"Apa kenyataannya?" tanya Aji cepat. "Aku telah menyelidiki beberapa orang tokoh yang tewas. Dan jenis pukulan yang menewaskannya mengarah pada kebenaran mimpiku!"

"Maksudmu, kau mengenali jenis pukulan itu, dan mimpimu menunjukkan ke arah orang yang memiliki pukulan tersebut?!" simpul Pendekar Mata Keranjang.

Gongging Baladewa terdiam, namun akhirnya dia mengangguk.

"Betul. Aku sebenarnya hampir tak percaya. Tapi itulah kenyataannya. Dan aku merasa ikut bersalah dalam hal ini. "

Mendengar penuturan Gongging Baladewa, Pendekar Mata Keranjang kerutkan dahi keheranan. Dia belum bisa menangkap arah pembicaraan laki-laki tambun di hadapannya.

"Kalau kau tak merasa melakukan, kenapa kau ikut bersalah?"

Raut muka Gongging Baladewa bergerak-gerak, dari mulutnya terdengar gumaman perlahan yang tak bisa ditangkap artinya. Dia seolah berkata pada diri sendiri.

"Aneh. Tak melakukan namun ikut bersalah.

Hmm ," batin Aji dengan geleng kepala.

"Dengar Aji. Aku ikut bersalah karena pukulan yang menewaskan beberapa tokoh rimba persilatan itu adalah milikku!"

Aji kuncupkan mulut lalu dibuka lebar-lebar. Murid Wong Agung ini lantas melangkah mendekat, dan memandangi Gongging Baladewa lekat-lekat. Namun yang dipandangi seolah acuh saja malah sepasang matanya memejam rapat!

"Jika demikian, berarti ada orang lain yang menyadap ilmumu, atau kau pernah menurunkan ilmu itu pada seseorang, lalu dibuat yang tidak semestinya. Harap kau ceritakan bagaimana jalinan kisahnya hingga ilmu milikmu bisa dipunyai orang lain...!"

"Beberapa puluh tahun yang silam " Gongging

Baladewa mulai kisahnya. "Aku yang waktu itu sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari sejarah dunia persilatan didatangi seseorang. Dia datang ingin menimba ilmu. Aku menolak keinginannya karena aku tak berniat mengambil murid. Aku sudah berniat mengisi hari-hari tuaku dengan ketenangan. Namun orang itu bersikeras. Malah dia berkata lebih baik mati di tempatku daripada harus pulang. Sejauh itu aku masih tetap pada prinsipku, tak akan mengambilnya sebagai murid. Namun orang itu tampaknya tabah dan tak putus asa, bahkan pernah dia kutinggalkan pergi selama dua purnama, dengan maksud agar di meninggalkan tempatku. Namun begitu aku kembali, dia masih tetap di tempatku, malah dia berusaha meladeni kebutuhan sehari-hariku. Hingga akhirnya aku izinkan dia menetap di tempatku. Meski begitu aku belum goyah, aku masih tidak berniat mengambilnya sebagai murid. Lama kelamaan, melihat sikap dan tingkahnya aku kasihan juga, hingga akhirnya hatiku meleleh dan meluluskan keinginannya "

Sejenak laki-laki besar tambun ini menghentikan kisahnya. Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 menunggu dengan memperhatikan lebih seksama.

"Sejak itulah orang itu kuangkat menjadi murid. Segala ilmu kuturunkan padanya, karena aku melihat dia bersikap baik. Meski begitu ada satu ilmuku yang tak kuturunkan padanya, karena ilmu itu demikian bahaya jika disalahgunakan. Setelah beberapa tahun menimba ilmu, dia akhirnya pamit padaku untuk hidup di lingkungan luar. Sebagai Guru, aku mengizinkannya dengan harapan dia bisa memanfaatkan segala ilmunya. Sejak saat itu dia tak kudengar lagi kabar beritanya. Tapi beberapa tahun kemudian, dia datang lagi. Dia bercerita bahwa dunia persilatan sedang dilanda duka, karena munculnya seseorang yang digdaya dan merajalela membunuh di mana-mana. Entah dari mana tahu, dia memintaku untuk menurunkan ilmu yang selama ini kusimpan. Aku menolak. Dia waktu itu tampaknya menerima alasanku, hingga meski dia sementara tinggal di tempatku lagi, dia tak memintaku untuk menurunkan ilmu simpanan itu. Tapi pada suatu saat, aku lengah. Dia berhasil mencuri kitab yang berisi ilmu simpanan itu, dan bersamaan dengan itu suatu malam tanpa kuketahui dia menyerangku dan memutus kedua kakiku "

Gongging Baladewa kembali menghentikan ucapannya. Dia terlihat menarik napas dalam-dalam. Dadanya tampak bergetar keras. Setelah dia dapat menguasai diri, laki-laki ini melanjutkan bicaranya.

"Kau tentunya bertanya-tanya, kenapa dia memutus kedua kakiku...," kata Gongging Baladewa seakan berkata pada diri sendiri dan tak membutuhkan jawaban. Karena sebentar kemudian, Gongging Baladewa telah berkata.

"Ilmu simpananku itu memang bertumpu pada kedua kaki. Jadi dengan memutus kedua kakiku, aku tak bisa lagi menggunakan ilmu ciptaanku itu!"

Mendengar keterangan Gongging Baladewa, Pendekar Mata Keranjang 108 mengangguk-anggukkan kepala. Lantas dia berkata.

"Siapa nama muridmu itu?" "Dia bernama Kunyil!"

"Siapa? Siapa namanya? Ulangi lagi...," kata Pendekar Mata Keranjang senyum-senyum. Gongging Baladewa menatap Pendekar Mata Keranjang 108 tajam. Dan melihat pemuda di hadapannya senyum-senyum, sepasang matanya melotot besar.

"Kenapa kau senyum-senyum he...? Apa kau kira itu lucu?!" kata Gongging Baladewa dengan suara agak keras. Mendapati dirinya dibentak, murid Wong Agung ini bukannya diam, malah tawanya meledak, membuat Gongging Baladewa semakin mendelik.

"Nama orang   Eh, muridmu itu. Apa kau yang

memberinya nama? Dari mana kau mendapatkan nama sebagus itu...?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108 di sela gelak tawanya.

"Manusia edan! Kau dengar, memang dia sebutkan nama itu ketika pertama kali datang ke tempatku. Kenapa kau ribut masalah nama? Kalau kau tahu nama asliku, mungkin kau malah jingkrakjingkrak!"

"Eh, siapa nama aslimu...?" tanya Aji dengan hentikan tawanya.

"Kutil!" jawab Gongging Baladewa.

"Heh.... Apa? Sekali lagi!" kata Pendekar 108 dengan menahan tawa, hingga bahunya terlihat berguncang-guncang. Kedua tangannya nampak menutup mulut menahan suara tawanya yang hampir meledak.

"Gendeng! Buka telingamu lebar-lebar. Namaku Kutil!" kata Gongging Baladewa menuruti permintaan Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar Mata Keranjang 108 tak dapat menahan tawanya. Dia tertawa gelak-gelak hingga tubuhnya menungging. Mula-mula Gongging Baladewa hanya senyum-senyum namun akhirnya dia juga ikut tertawa terbahak-bahak.

"Nama guru dan murid sama-sama bagus. Melihat nama kalian berdua, pantas jika kalian dipertemukan jadi seorang guru dan murid. Hanya sayang, muridmu tak tahu adat!"

Meski kata-kata Pendekar Mata Keranjang 108 jelas-jelas mengejek, namun Gongging Baladewa tak menampakkan jengkel, tawanya bahkan makin menjadi-jadi, membuat lemak di wajahnya berguncangguncang keras seakan-akan hendak jatuh.

Setelah keduanya berhenti tertawa, Gongging Baladewa kembali angkat bicara.

"Kau tahu, pembunuh terhadap tokoh-tokoh rimba persilatan saat ini, jelas menunjuk pada pukulan ciptaanku itu. Dan tak ada lain orang yang mempunyai ilmu pukulan itu selain Kunyil!"

"Lantas tentang mimpimu...?" tanya Aji.

"Dalam mimpiku, aku didatangi seseorang. Orang itu berkata dengan segala bencana yang kini dan akan datang adalah karena kesalahanku. Aku berusaha mengelak dengan alasanku, namun dia tak mau menerima, karena hal itu kini telah terjadi. Dan pada akhirnya, sebelum orang itu lenyap, dia berkata bahwa hanya pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 yang dapat menumpas!"

Pendekar Mata Keranjang 108 terdiam beberapa saat mendengar kisah mimpi Gonggeng Baladewa. Lalu dia ajukan pertanyaan.

"Bisa sebutkan ciri-ciri muridmu itu!"

"Dia mengenakan pakaian warna merah. Rambutnya panjang...," belum habis Gongging Baladewa dengan ucapannya, Aji menyela perlahan.

"Kukira pasti dia seorang gadis cantik dan "

"Busyet! Benakmu selalu dijejali pikiran perempuan melulu!" maki Gongging Baladewa. "Jangan menyela sebelum kata-kataku habis!" dia lantas melanjutkan "Dia berambut panjang bagian belakang. Bagian depan dan samping dipotong pendek. Parasnya ditutup dengan bedak tebal, bibirnya merah menyala."

"Benar dugaanku. Pasti dia gadis cantik. Bibirnya merah, menyala lagi!" kata Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati seraya senyum-senyum dan tariktarik kuncir rambutnya, tangan satunya mengusapusap ujung hidungnya.

"Dia adalah seorang perempuan bertubuh pendek, memegang tongkat atau tombak yang pangkalnya membentuk sekuntum bunga berwarna hitam!" lanjut Gongging Baladewa.

Mendengar keterangan laki-laki tambun di hadapannya, Pendekar Mata Keranjang 108 surutkan langkah setindak ke belakang. Paras wajahnya berubah, dan sepasang matanya menatap Gongging Baladewa lekat-lekat.

Gongging Baladewa tak mengindahkan perubahan pada Pendekar Mata Keranjang 108, karena saat itu wajahnya sedang tengadah ke atas. Dia lalu melanjutkan ucapannya.

"Dalam rimba persilatan, Kunyil mengganti namanya dengan Bawuk Raga Ginting!"

"Tepat dugaanku...," batin Pendekar Mata Keranjang 108 dengan raut masih tak berubah seperti tadi.

"Kau tampak terkejut. Kau takut...?" tanya Gongging Baladewa melihat perubahan pada diri Aji sambil tersenyum.

"Tidak. Hanya aku memang punya masalah dengan orang itu!"

"Hah...?" kini Gongging Baladewa yang terkejut. "Masalah apa? Kau terlibat cinta dengannya?"

Raut muka Pendekar Mata Keranjang 108 merah padam, namun bibirnya menyunggingkan senyum. "Benar. Tapi dia menolak cintaku. Dia bilang

masih mencintai seseorang!" kata Pendekar Mata Keranjang 108 dengan muka serius.

Gongging Baladewa sedikit terkejut. Dia buruburu mengajukan pertanyaan. "Siapa? Siapa katanya yang dia cintai?"

"Si Kutil!"

Gongging Baladewa hampir saja terlonjak karena terperangah kaget. Dia hentak-hentakkan kedua tongkatnya ke atas tanah, hingga menimbulkan suara berdebam-debam.

"Anak kurang ajar!" seru Gongging Baladewa setengah berteriak.

Aji tertawa keras. Sementara Gongging Baladewa mau tak mau tersenyum.

"Anak edan! Dalam keadaan begini dia masih bisa bergurau...," membatin Gongging Baladewa seraya merapikan daging di depan mulutnya.

"Sudah, sudah!" ujar Gongging Baladewa. "Aku mencari untuk minta pertolongan, karena kaulah satusatunya orang yang dapat menumpas muridku itu!"

Pendekar 108 mendehem beberapa kali. "Kau yakin itu?" tanya Pendekar Mata Keranjang. Padahal dalam hatinya dia berkata.

"Meski kau tak minta tolong, aku pasti mencari jejak Bawuk Raga Ginting!"

Gongging Baladewa menyeringai lantas mengangguk-angguk. Lantas laki-laki tambun ini berkata.

"Aku percaya bahwa kau bisa mengalahkan Kunyil. Tapi aku minta tolong padamu ini tidak cumacuma!"

"Hmm Maksudmu?"

"Aku akan memberimu sebuah ilmu agar kau bisa tahan jika terkena pukulan 'Sapu Bumi' milik Bawuk Raga Ginting, bahkan pukulan apa pun!" Pendekar Mata Keranjang 108 terkesiap. Belum habis rasa kagetnya, Gongging Baladewa telah angkat bicara.

"Mendekatlah kemari!"

Aji melangkah lebih dekat. Tiba-tiba Gongging Baladewa mendengus keras. Bersamaan dengan itu, kedua tongkat yang menjadi tumpuan tubuhnya bergerak amblas masuk ke dalam tanah. Begitu bekas penggalan kedua kakinya hampir menyentuh tanah, dia membuat gerakan berputar. Tatkala pantatnya berada di atas kedua tangannya cepat beralih dan kini kedua tangan itu menekan tongkat dengan tubuh terbalik, kepala di bawah. Sejengkal lagi kedua tongkat itu amblas, Gongging Baladewa lesatkan diri ke udara. Dan dengan gerakan yang sulit diikuti mata tahu-tahu tubuh tambun itu kini berada di atas tongkat yang tinggal sejengkal di atas tanah dengan posisi tidur miring. Anehnya, tongkat itu tak amblas!

"Hmm.... Benar-benar sebuah unjuk kebolehan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu...," batin Pendekar Mata Keranjang 108 seraya duduk di hadapan Gongging Baladewa.

"Berbalik dan pejamkan mata!" perintah Gongging Baladewa. Pendekar 108 lakukan apa yang diperintahkan Gongging Baladewa. Begitu Aji membalik dan pejamkan kedua matanya, Gongging Baladewa buka kedua telapak tangannya dan ditempelkan pada punggung Aji.

Aji merasakan sebuah sambaran hawa panas dan dingin menyengat punggungnya. Mula-mula memang tidak begitu panas dan dingin, namun makin lama hawa itu semakin panas dan semakin dingin. Kejap itu juga punggungnya terasa jebol, kepalanya bagai diputar-putar keras, mata setelah kanan terasa panas dan perih, sementara mata kiri terasa dimasuki es. Murid Wong Agung ini terdengar memekik tertahan, lalu pikirannya melambung jauh dan tidak ingat apa-apa lagi. Saat kedua telapak tangan Gongging Baladewa diangkat dari punggung Aji, Aji roboh di atas tanah.

Gongging Baladewa mengusap keringat yang membasahi daging tebal wajahnya. Lalu menghela napas panjang dan dalam-dalam. Setelah batuk berulang kali, laki-laki tambun ini bergerak cepat, dan tahutahu tubuhnya kembali membalik dan kedua tangannya mencabut tongkat yang amblas. Saat kedua tongkatnya telah tercabut, tanpa memandang ke arah Aji, laki-laki ini melangkah meninggalkan tempat itu. Di kejauhan debaman-debaman tongkatnya yang menyentuh tanah terdengar menghentak-hentak.

***

LIMA

SETENGAH purnama telah berlalu    Hentakan

ladam kaki kuda terdengar abadi bersahut-sahutan menghentak membuncah keheningan pagi buta. Di langit sebelah timur, cahaya kekuningan serta sisa bulan yang hampir lenyap telah menguak kegelapan malam, membuat kuda yang menghentak-hentak itu dapat memapaki jalanan yang hendak dilalui hingga kuda tunggangan itu dapat berlari kencang.

Di atas punggung kuda adalah seorang pemuda berwajah tampan. Mengenakan pakaian putih bagian dalam, sementara pakaian luarnya berupa jubah panjang bagian atas warna hitam sedangkan sebagian lagi berwarna merah. Tubuhnya tegap berotot dengan rambut panjang lebat. Sepasang matanya tajam berkilat. Di leher kudanya terlihat sebuah tombak pendek yang pangkalnya membentuk se-kuntum bunga berwarna hitam legam.

Sang penunggang kuda tampaknya mengejar sesuatu. Ini jelas tampak dari sikapnya yang tiada henti-henti menghujam-hujamkan telapak tangan kanannya ke tubuh binatang tunggangannya, membuat binatang itu berlari kian kencang seraya meringkih keras-keras.

"Kuda sialan! Apa kau tak mengerti aku punya masalah penting yang harus segera kuselesaikan. Ayo kerahkan tenagamu! Heaaai..!" teriak sang penunggang dengan kembali hujamkan telapak tangan kanannya. Meski hujaman itu dengan menggunakan telapak tangan, dan tampak tak begitu keras. Namun, kuda itu terlihat melonjak kaget lalu meringkik keras seraya mengangkat kaki depannya sebelum akhirnya menghentak kembali dan berlari makin kencang.

"Sebenarnya aku ingin menikmati tubuh gadis yang diboyong Guru itu. Namun apa boleh buat. Perjalananku kali ini lebih penting. Selain meneruskan tindakan Guru dengan membunuh beberapa tokoh yang dulu pernah menyengahkannya, juga untuk mencari pemuda bangsat bergelar Pendekar Mata Keranjang 108! Dan Sakawuni.... Hmm.... Sakawuni, aku ingin akulah orang pertama yang dapat menikmati tubuh telanjangmu! Kau akan kubuat barang mainan! Pendekar jahanam itu hanya akan memperoleh sisa! Ya, sisaku! Ha... ha... ha...!"

Memasuki sebuah perkampungan, pemuda itu terus memacu kuda tunggangannya, dia seolah tak peduli dengan caci-maki dan umpatan beberapa orang di sekitar jalan yang dilaluinya. Bahkan ketika sampai ujung kampung pemuda ini makin menghentak lari kudanya. Baru saat memasuki kawasan dataran agak tinggi yang di tengah-tengahnya terlihat sebuah rumah kayu, pemuda ini seketika menarik tali kekang kuda tunggangannya, membuat binatang itu angkat kepalanya dan meringkik keras. Empat kakinya merajut tanah coba berhenti. Hingga saat itu juga pemandangan agak kabur tertutup buraian debu dan tanah yang membumbung ke udara.

Demikian kencang lari binatang itu serta demikian tiba-tibanya sang penunggang menarik tali kekangnya, hingga meski kuda itu berhasil berhenti, namun binatang itu tak bisa menguasai badannya.

Hingga begitu terhenti kaki belakangnya terangkat tinggi ke atas mencampakkan penunggangnya!

Sadar kuda tunggangannya tak bisa menguasai diri dan sebelum tubuhnya tercampak di atas tanah, sang penunggang mengambil tombak di leher kuda, dan berkelebat lenyap dari pandangan. Dan tahu-tahu telah berdiri tiga langkah di belakang kuda yang kini terseok-seok bangkit.

Begitu kuda tunggangannya bangkit, pemuda ini langsung menghantamkan kedua tangannya ke arah sang binatang.

Wesss!

Serangkum angin deras menghantam ke arah kuda tunggangannya!

Binatang malang itu meringkik keras, lalu menghambur ke depan. Demikian deras hantaman angin yang menyambar itu, membuat kuda itu melabrak terus ke depan, di mana rumah kayu berada!

Brakkk!

Dua penyangga rumah tertabrak dan hancur berkeping-keping. Rumah itu bergemeretakan lalu roboh bersama dengan masuknya sang kuda ke dalam rumah!

Sejekap lagi rumah kayu itu roboh, dari dalam rumah kayu melesat sesosok bayangan disertai seruan keras. Setelah membuat gerakan jungkir balik di udara, bayangan itu mendarat dengan kaki kokoh di atas tanah.

"Anak muda! Tak ada hujan tak ada angin kau tiba-tiba merobohkan rumah tinggalku. Siapa kau?" tegur sang bayangan yang ternyata adalah seorang perempuan tua. Dia mengenakan pakaian warna biru cerah panjang. Rambutnya telah seluruhnya putih. Meski sudah nampak lanjut usia, paras perempuan ini kelihatan berseri. Hidungnya mancung dengan bibir tipis. Walau alis matanya telah putih namun masih tebal, sementara bulu matanya terlihat melentik. Jelas pada saat mudanya, perempuan ini adalah seorang berparas cantik.

Pemuda yang ditanya tidak menjawab teguran perempuan tua. Sepasang matanya memperhatikan seksama perempuan di hadapannya.

"Tahi lalat di atas bibir adalah cirinya. Berarti dia!" membatin sang pemuda. "Meski sudah lanjut, kecantikan wajahnya masih tersirat jelas. Tidak heran jika Guru menaruh dendam pada perempuan ini. Waktu mudanya pasti menjadi rebutan pemuda, hingga orang yang dicintai Guru pun terpikat padanya!"

"Anak muda! Aku tak punya banyak waktu untuk melayani orang bisu macam kau! Lekas dirikan kembali rumahku dan keluarkan bangkai kudamu!" bentak perempuan dengan palingkan wajah. Tapi ekor matanya nyalang melirik.

Sang pemuda dongakkan kepala. Dari mulutnya terdengar ledakan tawanya secara tiba-tiba. Namun mendadak pula pemuda ini hentikan tawanya dan berkata.

"Nyai Tandhak Kembang! Permintaanmu tidak bisa kuturuti, karena sebentar lagi kau tak memerlukan rumah. Hanya tanah berlubang yang kau butuhkan!"

"Setan alas!" rutuk perempuan tua yang dipanggil Tandhak Kembang. Dia segera palingkan kembali wajahnya. Kedua alis matanya menukik tajam dengan geraham menggegat pertanda dadanya telah dirasuki hawa amarah.

Tanpa bicara lagi, Nyai Tandhak Kembang berkelebat, dan tahu-tahu sepasang tangannya telah menyambar deras ke arah kepala sang pemuda.

Yang diserang tak memperlihatkan rasa terkejut sama sekali, malah dia tersenyum mengejek. Sejengkal lagi kedua tangan Nyai Tandhak Kembang menghajar kepala sang pemuda, pemuda ini angkat tangan kirinya dan diputar di atas kepala, sementara kepalanya dia rundukkan sedikit.

Prakkk!

Terdengar benturan keras ketika sepasang tangan Nyai Tandhak Kembang beradu dengan putaran tangan sang pemuda. Nyai Tandhak Kembang tersurut langkah dua tindak ke belakang dengan meringis merasakan rasa sakit pada kedua tangannya yang baru saja bentrok. Sementara sang pemuda tetap tak beranjak sedikit pun dari pijakan tempatnya berdiri.

Dengan menahan rasa marah yang makin meluap, Nyai Tandhak Kembang kembali maju dua tindak dan serta merta kedua tangannya didorong keras ke depan, kirimkan pukulan jarak jauh mengandung tenaga dalam tinggi. Hingga saat itu juga segelombang angin deras menggebrak ke depan dengan keluarkan suara menggemuruh dahsyat.

Sang pemuda berseru keras. Tubuhnya berkelebat dan lenyap dari tempatnya berdiri. Hingga serangan Nyai Tandhak Kembang yang dialiri tenaga dalam penuh itu hanya menerabas tempat kosong!

"Anak keparat! Kau tak akan lolos dari tanganku!" seru Nyai Tandhak Kembang begitu melihat serangannya tak menghantam sasaran bahkan sang lawan lenyap bagai ditelan bumi. Perempuan tua ini menyapukan pandangannya berkeliling.

Mendadak dari arah belakangnya terdengar su-

ara.

"Ratna Suri! Kau mencariku? Aku di sini!" Perempuan tua yang wajahnya masih menyi-

ratkan kecantikan itu palingkan wajah ke belakang. Orang ini tersirat saat mengetahui sang pemuda menyebut nama.

"Anak keparat ini siapa sebenarnya? Dari mana dia tahu nama asliku?" batin Nyai Tandhak Kembang seraya balikkan tubuh dan memandang tajam pada pemuda yang kini enam langkah di hadapannya.

"Jahanam! Siapa kau sebenarnya?" teriak Nyai Tandhak Kembang.

Pemuda yang ditanya tengadahkan kepala memandang langit. Lalu dari mulutnya keluar ucapan.

"Hari sudah merangkak siang. Tak ada gunanya banyak cakap. Dengar baik-baik. Aku adalah Gembong Raja Muda! Orang yang akan mengantarmu ke liang lahat!"

Perempuan tua itu kernyitkan dahi. Dia selama bertahun-tahun berkecimpung dalam kancah rimba persilatan baru pertama kali ini mendengar nama itu. Perempuan ini yang memang bukan lain adalah Nyai Tandhak Kembang yang bernama asli Ratna Suri adalah seorang tokoh rimba persilatan yang beberapa tahun silam sempat pula menggegerkan dunia persilatan. Karena selain dikenal sebagai tokoh berilmu tinggi, dia juga terkenal karena kecantikannya. Hingga wajar saja jika saat itu Ratna Suri menjadi rebutan beberapa orang pemuda. Di antara pemuda yang terpikat padanya adalah pemuda bernama Randu Lanang yang juga terkenal dengan Restu Canggir Rumekso. Dan karena kecantikannya pula membuat Ratna Suri banyak mempunyai musuh. Sadari satu musuh utamanya adalah Kunyil atau dikenal dengan nama Bawuk Raga Ginting. Bawuk Raga Ginting menaruh dendam pada Ratna Suri karena Randu Lanang yang diam-diam dicintainya menjalin hubungan dengan Ratna Suri. Malah karena Ratna Surilah, Randu Lanang menghina Bawuk Raga Ginting.

Karena baru kali ini mendengar nama Gembong Raja Muda, Nyai Tandhak Kembang memandangnya dengan sebelah mata. Dia menduga pemuda di hadapannya adalah orang yang baru saja muncul dalam rimba persilatan dengan berbekal ilmu cekak. Namun demikian perempuan ini masih bertanya-tanya, dari mana pemuda kemarin sore mengetahui nama aslinya. "Aku akan mengorek mulut besarnya!" pikir

Nyai Tandhak Kembang seraya melesat ke depan dengan kedua kaki lurus dan bentakan membahana.

Sang pemuda yang menyebut nama Gembong Raja Muda terkesiap membeliakkan sepasang matanya. Bukan karena terkejut mendapat serangan namun justru karena menerjang dengan kaki lurus itulah kedua pahanya terlihat jelas karena pakaian panjang sebelah bawahnya menyingkap.

"Edan! Meski tua, pahanya tetap saja mulus dan menggairahkan!" membatin Gembong Raja Muda. Namun dia tak bisa berlama-lama menikmati kemulusan paha Nyai Tandhak Kembang, karena saat itu juga kedua kaki perempuan tua cantik ini telah menyuruk ke arahnya.

Sambil tersenyum menyeringai dan mata melotot, Gembong Raja Muda takupkan sepasang tangannya. Lalu begitu sepasang kaki datang, dia hantamkan menangkis!

Desss!

Sepasang tangan dan sepasang kaki beradu di udara menimbulkan suara keras. Nyai Tandhak Kembang berseru tertahan. Kakinya laksana menghantam benda keras. Hingga dengan sedikit terkejut, perempuan ini menarik tangannya yang sebenarnya waktu itu hendak dia hantamkan seketika. Di lain pihak, Gembong Raja Muda semakin tersenyum lebar, malah sepasang matanya tambah melotot ketika Nyai Tandhak Kembang telah mendarat kembali di hadapannya setelah membuat gerakan salto di udara.

Mendapati pandangan sang pemuda, membuat Nyai Tandhak Kembang heran. Dan saat dia tercenung heran, berhembus angin semilir. Nyai Tandhak Kembang mengkerut tatkala dia merasakan pakaian bawahnya berumbai-rumbai ditiup angin, dan kakinya dingin.

Dengan wajah masih diselimuti rasa heran, Nyai Tandhak Kembang menggerakkan kepalanya mengikuti arah pandangan sang pemuda yang sendiri tadi menatap bagian bawahnya. Astaga! Nyai Tandhak Kembang kontan terperangah begitu kepalanya menunduk. Saat itu ternyata kain sebelah bawahnya telah robek menganga lurus ke atas. Hingga pahanya yang putih mulus dan masih kencang tampak jelas. Paras muka Nyai Tandhak Kembang pucat pasi namun gerahamnya terkatup rapat. Bibirnya saling menggigit. Tapi hal itu hanya berlangsung sebentar. Sesaat kemudian, wajahnya kembali seperti semula bahkan kini bibirnya menyunggingkan senyum lalu dibuka sedikit. Dadanya yang masih membusung kencang dia busungkan ke depan, sementara matanya dia pejamkan sedikit.

"Pemuda ini tampaknya berilmu tinggi. Dan berhasil merobek pakaianku padahal aku tak terasa. Namun tampaknya dia pemuda doyan perempuan. Akan kulawan dengan cara lain...," membatin Nyai Tandhak Kembang seraya melangkah perlahan mendekati Gembong Raja Muda.

Gembong Raja Muda yang rupanya terkesima tetap tegak dengan mata melotot dan bibir tersenyum. Selagi pemuda ini menikmati kemulusan paha dan gerak Nyai Tandhak Kembang yang seolah mengundang itu, mendadak Nyai Tandhak Kembang angkat kaki kanannya tinggi-tinggi, membuat kainnya menyingkap hampir ke pangkal pahanya. Namun sesaat kemudian tubuh perempuan ini berputar dan berkelebat lenyap dari pandangan Gembong Raja Muda.

Di kejap lain terdengar suara seruan tertahan. Gembong Raja Muda merasakan sebuah angin menyambar kencang. Dia buru-buru berkelit sambil kebatkan tangan kirinya cepat. Namun tak urung juga pakaian dalamnya sebelah dada terasa dibetot.

Breettt!

Nyai Tandhak Kembang tertawa perlahan melihat pemuda di hadapannya menyeringai melihat pakaian sebelah dalamnya robek dengan telapak tangan membekas membarut di dada.

"Jahanam! Kau telah merusak pakaianku! Tapi tak apalah, karena aku kini bisa juga melihat dada menantang.... Ha... ha... ha Sayang, wajahmu sudah

tak memungkinkan. Seandainya kau masih muda....

Hmm ," seraya berkata bibir sang pemuda tersenyum-

senyum, sedangkan matanya berkilat-kilat menatap lurus pada dada Nyai Tandhak Kembang.

Tanpa menunggu lagi, Nyai Tandhak Kembang segera mengikuti arah pandangan pemuda di hadapannya. Serta merta raut mukanya merah padam, dari mulutnya terdengar makian panjang pendek. Ternyata pakaian bagian dada Nyai Tandhak Kembang robek sebelah dada, membuat payudaranya yang masih kencang putih itu menyembul jelas.

"Keparat! Dia seakan hendak menelanjangiku!" gumam Nyai Tandhak Kembang tanpa berusaha menutup dadanya. Di seberang Gembong Raja Muda semakin terbeliak menyaksikan Nyai Tandhak Kembang tak bergerak untuk menyibakkan kain di bagian dadanya, malah dengan tawa cekikikan kedua tangan perempuan ini bergerak menyibak kainnya ke atas!

Seettt!

Dua buah dada Nyai Tandhak Kembang kini polos menantang di hadapan sang pemuda.

"Gila! Hampir tak bisa dipercaya, orang seusia dia dadanya masih begitu kencang menantang "

Selagi Gembong Raja Muda keheranan, Nyai Tandhak Kembang cepat tutup kembali matanya dan serta merta kedua tangannya bergerak menghantam ke depan.

"Perempuan sundal licik!" damprat Gembong Raja Muda sambil memikirkan pukulan untuk menangkis dengan dorong kedua tangannya.

Blaamm!

Tempat itu seakan dibuncah gempa dahsyat. Tanahnya berserakan dan sebagian lagi membumbung ke angkasa. Begitu tingginya tenaga dalam yang dikerahkan masing-masing orang ini, membuat tubuh Nyai Tandhak Kembang mental ke belakang dan berkaparan di atas tanah dengan dada berdenyut nyeri. Sementara bahunya ngilu hampir seperti sempal kala digerakkan kembali. Sedangkan tubuh Gembong Raja Muda terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk.

"Aku harus segera menyelesaikan perempuan ini. Perjalananku mengejar Pendekar Mata Keranjang 108 dan Wong Agung masih membutuhkan waktu dan tenaga!" batin sang pemuda. Dia segera bangkit, dan tanpa menunggu diserang lagi, dia berkelebat dan tahu-tahu kedua kakinya bergerak berputar-putar mengeluarkan suara menderu dahsyat disertai angin deras. "Hah, aku sepertinya mengenali jurus yang dimainkan anak ini!" desis Nyai Tandhak Kembang seraya palingkan sedikit wajahnya menghindari samba-

ran angin yang datang mendahului serangan kaki.

Dengan berteriak lengking Nyai Tandhak Kembang tekan kakinya ke bawah, sehingga kakinya amblas masuk sedalam mata kaki dan kokoh bagai tiang. Sementara kedua tangannya dia gerakkan bersiutan di atas kepala dan dengan dadanya.

Di atas udara seraya menerjang, Gembong Raja Muda hantamkan kedua tangannya, hingga saat itu juga menyambar gelombang warna hitam yang selain panas juga menghalangi pandangan.

Nyai Tandhak Kembang terkejut. Dan buruburu tarik kedua tangannya dan dihantamkan ke depan.

Blammm!

Terdengar kembali ledakan dahsyat ketika dua pukulan sakti itu bertemu. Namun mendadak saja di balik warna hitam yang menutupi pemandangan itu tubuh Gembong Raja Muda melesat deras dengan kaki tetap posisi menerjang.

Desss!

Nyai Tandhak Kembang menjerit keras. Bahu kiri kanannya terasa sempal dilanggar kedua kaki Gembong Raja Muda. Karena saat itu kakinya amblas ke dalam tanah, membuat tubuhnya tak terpental, namun akibatnya bertambah parah. Sebab tubuhnya terbanting keras ke belakang dengan punggung terlebih dahulu!

"Jahanam! Apa hubunganmu dengan Bawuk Raga Ginting?!" tegur Nyai Tandhak Kembang sambil merambat bangkit. Sudut bibirnya tampak mengalirkan darah segar. Sementara pakaian di bagian bahu kanan-kiri hangus!

Gembong Raja Muda menjawab teguran dengan tawa bergelak, membuat Nyai Tandhak Kembang dadanya bergetar. Diam-diam dia merasa kecut. Diamdiam pula angannya menerawang pada beberapa puluh tahun silam. Waktu itu dia memang masih bisa mengimbangi Bawuk Raga Ginting. Namun saat ini tenaganya sudah tidak memungkinkan lagi, sementara lawannya kini masih muda.

"Ratna Suri! Apa hubunganku dengan Bawuk Raga Ginting tak usah kau urusi! Uruslah dirimu yang hendak masuk tanah!" Agak lama Gembong Raja Muda akhirnya berkata juga.

"Begitu? Baik! Namun siapa pun kau yang pasti kau ada hubungan dengan musuhku itu. Dan bisa jadi kau adalah pemuas nafsu wanita pendek itu!" kata perempuan tua berwajah cantik ini dengan tersenyum menjijikkan.

"Bangsat! Kuhancurkan   mulutmu!"   gereng Gembong. Raja Muda seraya melompat dan kirimkan serangan dengan dorongan telapak tangan, lantas begitu serangan menggebrak, dia segera menyusul serangannya dengan terjangan sepasang kaki yang menderu-deru dan menyambarnya hawa panas!

Sadar mendapat serangan bahaya. Nyai Tandhak Kembang tak tinggal diam. Dia pun segera melompat ke udara memapasi tubuh Gembong Raja Muda seraya hantamkan kedua tangannya.

Bummm!

Dua tenaga dalam tinggi beradu di udara. Tubuh Nyai Tandhak Kembang terpelanting dan melayang ke belakang. Sementara Gembong Raja Muda tubuhnya menukik ke bawah. Hebatnya, begitu menukik, pemuda ini segera kebutkan jubahnya. Tubuhnya kembali membumbung dan serta merta melesat ke depan menyusul tubuh Nyai Tandhak Kembang!

Dalam keadaan melayang, Nyai Tandhak Kembang masih sempat melihat kelebatnya lawan. Dia cepat dorongkan tangannya. Namun karena dia sedang berada di udara, lagi pula telah terluka, membuat gerakannya lamban. Hingga sebelum tangannya mendorong, sepasang kaki telah menghajar dadanya di atas udara!

Desss!

Nyai Tandhak Kembang menjerit lengking. Tubuhnya kini meluruk deras ke bawah dengan punggung terlebih dahulu. Namun jeritan lengking itu tibatiba disusul dengan erangan dahsyat ketika sejengkal lagi tubuhnya menghantam tanah sepasang kaki, lakilaki menghajar dadanya.

Desss!

Tubuh Nyai Tandhak Kembang kembali membumbung ke udara. Lalu menukik deras ke bawah. Hebatnya, meski sudah dalam keadaan demikian, perempuan ini masih sempat gerakan kedua tangannya menghantam tanah, hingga tubuhnya kini melayang lamban. Saat itulah dengan sisa-sisa tenaganya, Nyai Tandhak Kembang melengking tinggi. Lalu membuat gerakan berputar di udara dua kali. Sebelum akhirnya menjejak tanah.

Pertama-tama memang terhuyung-huyung, malah kaki kanannya goyah dan tubuhnya jatuh terduduk. Namun hal ini cukup membuat Gembong Raja Muda terkesiap. Dia hampir tak percaya jika tendangan 'Sapu Bumi' yang baru saja dilancarkan dan menghantam telak itu belum mampu membuat Nyai Tandhak Kembang tumbang.

Selagi Gembong Raja Muda tercenung begitu, tiba-tiba Nyai Tandhak Kembang bangkit. Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan tiga benda hitam. Seraya berkelebat tiga benda tersebut dihempaskan....

Wuttt! Wuttt! Wuttt!

Tiga benda yang ternyata adalah tiga buah tombak kecil melesat angker dengan keluarkan suara menggidikkan!

Gembong Raja Muda terperangah. Dengan menggerendeng panjang pendek dia dorong kedua tangannya, lalu tubuhnya melesat hingga tiga tombak ke samping.

Dua tombak langsung bermentalan, namun yang satu terus menerabas. Gembong Raja Muda terkesiap. Namun dia buru-buru miringkan tubuh, namun....

Breet...!

Baju Gembong Raja Muda robek bagian punggung, tombak terus berkelebat dan menghujam sebuah batang pohon. Pohon itu langsung gemeretak, lalu tumbang dengan batang hangus!

"Jahanam!" rutuk Gembong Raja Muda seraya tebarkan pandangan ke depan. Dia tercekat. Matanya membeliak merah. Dagunya terangkat dengan pelipis bergerak-gerak.

Ternyata, Nyai Tandhak Kembang telah lenyap dari tempat itu.

"Kali ini kau bisa lolos! Tapi tidak untuk yang kedua kali!" teriak Gembong Raja Muda seraya balikkan tubuh dan meninggalkan tempat ini.

***

ENAM

ANGKASA di atas Lembah Bandar Lor tampak ditutupi gumpalan-gumpalan awan, membuat sengatan sinar bola jagad tak bisa menembus dan memanggang mentah-mentah lembah yang sepertinya tak bertuan itu.

Seseorang tua renta dengan baju gombrong panjang yang menutup sekujur tubuhnya terlihat melangkah tertatih-tatih melintasi dataran lembah. Sebentar-sebentar nenek tua ini menghentikan langkahnya, merapikan rambutnya yang awut-awutan dan menyeka keringat yang telah membasahi wajah dan lehernya. Setelah itu kembali nenek tua ini meneruskan langkah menelusuri pedataran lembah. Sepasang mata sayunya sesekali dikucek-kucek, lalu tangannya yang hanya terlihat sebatang pergelangan itu bergerak mengusap-usap sekitar bibirnya yang belepotan merah karena pemerah bibirnya meleleh terkena keringat. Sampai di tengah lembah nenek ini hentikan langkah. Matanya berkeliling bersamaan dengan gerakan kepalanya yang bergerak berpaling ke kanan dan ke kiri. Lantas dari mulut nenek ini meluncur kata-katanya.

"Lembah edan! Sudah demikian jauh melakukan perjalanan namun mataku tidak melihat seekor nyamuk pun. Apalagi manusia tampan. Hik.... hik... hik.... Apa lembah ini hanya dihuni setan-setan gentayangan seperti kata-kata orang selama ini...? Ih, ih, jika demikian halnya aku benar-benar tersesat jalan. Tapi apa aku harus kembali pulang...? Ah, sungguh sial nasibku. Sudah renta peot begini masih harus melakukan perjalanan yang tak tentu ujung juntrungannya... Benar-benar sial! Hik... hik... hik...!"

Sambil berkata, nenek ini kembali sapukan matanya. Ketika matanya melihat sebuah lubang yang ada di ujung lembah, nenek ini melangkah tertatihtatih menuju ke arah lobang tersebut. Mulutnya membuka dan keluarkan suara mendesis.

"Uhhh...! Siang-siang begini ngantuk, maklum tubuh sudah bau tanah! Di depan kulihat lobang gua, hm    Kurasa untuk sementara bisa kugunakan untuk

tiduran. Siapa tahu bisa mimpi bertemu dengan pemuda tampan. Hik... hik... hik    Lalu pemuda tampan

itu mendekapku, mencium keningku, menci "

Perempuan tua renta ini tak meneruskan katakatanya. Bahkan langkahnya pun terhenti. Karena lobang yang sepertinya sebuah gua itu melesat ke luar sesosok bayangan.

Sang nenek surutkan langkah dan tindakan ke belakang, tangannya bergerak menutup mulutnya yang hendak keluarkan jeritan karena terkejut, sementara matanya menyipit memandang ke depan.

"Walah! Apa karena mataku sudah tua, atau memang demikian kenyataannya. Di hadapanku ada manusia kecil tapi kok pandai dandan. Hik... hik... hik.... Bibir sama merahnya dengan bibirku. Sungguh sayang, yang kuharap bisa jumpa dengan pemuda tampan, yang kudapat anak kecil pintar dandan "

Bayangan di hadapan sosok tua renta ini keluarkan dengusan keras. Matanya yang lebar kian membelalak. Dari mulutnya lantas terdengar bentakan keras.

"Nenek peot! Aku tak perlu berulang kali bicara.

Lekas tinggalkan tempat ini!"

Dibentak begitu, nenek ini bukannya takut. Dia malah tertawa terbahak-bahak. Seraya tertawa tangannya bergerak merapikan rambutnya yang menghalangi pandangan matanya. Lalu begitu tawanya berhenti nenek ini tersenyum lebar sambil berkata...

"Anak kecil! Jaga mulutmu jika bicara dengan orang tua. Kau bisa kualat kejebur sepiteng! Seharusnya aku yang tua ini menghardikmu agar kau lekas tinggalkan tempat ini. Anak kecil biasanya hanya suka mengganggu orang tua yang lagi tidur. Lekas pergi sana aku ingin tidur!" Habis berkata, nenek tua ini menguap lebar-lebar, lalu hendak melangkah ke arah lobang gua.

Sosok di hadapan nenek, yang ternyata adalah seorang perempuan bertubuh pendek, raut wajahnya dibedaki pupur tebal serta bibir merah menyala kembali mendengus marah. Matanya berkilat-kilat tajam.

"Orang tua kurang ajar! Selangkah lagi kau teruskan, tubuhmu akan kutekuk jadi dua!" hardik perempuan pendek yang bukan lain adalah penghuni Lembah Bandar Lor yakni Bawuk Raga Ginting.

"Ah, kenapa nasibku sial betul? Sudah tak mendapatkan yang kuharap, malah ketemu anak kecil judes. Kalau saja aku masih muda.... Tapi tak apalah, kalau kau tak mengizinkan aku tidur di sana, aku akan tidur di sini saja.  "

Habis berkata, nenek tua ini lantas enak saja rebahkan tubuhnya di tempatnya dia berdiri. Sebentar tangannya merapikan pakaiannya, karena demikian besar pakaian itu, membuat tubuhnya hampir seluruhnya tertutupi.

"He ! Aku bilang tinggalkan tempat ini!" bentak

Bawuk Raga Ginting seraya melangkah mendekat. Meski kakinya tampak kecil, namun tatkala menginjak tanah terdengar suara menghentak.

Nenek yang kini telah meringkuk di atas tanah seakan tak mendengar hardikan. Dia tak bergerak sedikit pun meski langkah-langkah yang keluarkan suara menghentak itu semakin dekat ke arahnya. Bahkan nenek itu telah mendengkur keras.

"Kau membuatku hilang kesabaran! Dan kau rupanya ingin dihajar!" seraya berkata, Bawuk Raga Ginting sapukan kaki kanannya ke tubuh sang pendek.

Wesss!

Sekejap lagi kaki mungil itu menghajar tubuh nenek yang lagi meringkuk tidur nenek ini seolah tak sadar gerakkan tubuhnya ke samping dan bergulingan dua kali. Hingga kaki Bawuk Raga Ginting menerpa tempat kosong.

"Setan alas!" teriak Baruk Raga Ginting mendapati serangannya begitu mudah dielakkan sang nenek. Perempuan pendek ini segera melompat dan kini menerjang dengan kaki kanan dan kiri menyapu deras.

Wess! Wesss!

Namun lagi-lagi Bawuk Raga Ginting berseru marah. Karena seperti tadi sebelum terjangan sepasang kaki Bawuk Raga Ginting menghantam, sang nenek bergerak dan tubuhnya kini menggelinding.

Begitu tubuhnya berhenti, nenek ini tertatihtatih bangkit. Mengusap-usap pakaiannya, lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan dan berkata.

"Apa kubilang. Anak kecil sukanya mengganggu orang tua sedang tidur!"

Bawuk Raga Ginting wajahnya menggeram. Dia segera berkelebat dan berdiri dengan mata menyelidik pada nenek tua di hadapannya.

"Nenek gila! Siapa kau...?!" katanya menelusuri tubuh nenek di hadapannya dan Bawuk Raga Ginting hampir saja terlonjak kaget saat kedua matanya mendapati jakun di leher orang di hadapannya.

Di lain pihak, melihat raut curiga pada perempuan pendek, sang nenek buru-buru bungkukkan tubuhnya mengibaskan pakaian bawahnya, padahal gerakkan ini sebenarnya untuk menutupi lehernya.

"Tolol betul aku. Kenapa leherku tadi tak kututup dengan kain...?" batin sang nenek dengan angkat sedikit kepalanya dan mata melirik ke depan.

"He...! Siapa kau sebenarnya? Kalau tak kau jawab, aku tak akan main-main lagi!" membentak Bawuk Raga Ginting.

Yang ditanya tak segera menjawab. Namun begitu dilihat kedua tangan Bawuk Raga Ginting bergerak menarik ke belakang, buru-buru sang nenek buka mulutnya.

"Baiklah. Kedua orang tuaku memberi nama 'Tak Tahu'.... Hik... hik... hik.... Nama bagus bukan? Tentu, tentu bagus. Karena waktu aku muda banyak pemuda tertarik padaku hanya karena namaku. Hik... hik... hik.... Bagaimana menurutmu...?"

"Kau memang sengaja ingin membuatku tak main-main lagi!" sergah Bawuk Raga Ginting seraya menggegatkan dagunya. Pelipisnya telah bergerakgerak, sementara matanya telah merah menahan marah.

"Betul. Betul ucapmu. Aku memang tak ingin kau main-main lagi, agar aku bisa meneruskan tidurku. Nah, sekarang kau tak main-main lagi. Aku akan tidur!" kata sang nenek dan kembali hendak rebahkan dirinya ke tanah.

Namun belum sampai tubuh nenek ini menelentang di atas tanah, Bawuk Raga Ginting sentakkan kedua tangannya ke depan. Kali ini Bawuk Raga Ginting tak dapat menahan lagi marahnya, hingga saat itu juga dua larik sinar hitam melesat ke arah sang nenek yang hendak rebah.

"Tidurlah di alam akherat!"

Mendapati serangan, nenek ini tak mengisyaratkan rasa kejut sama sekali. Dia angkat tubuhnya sedikit lalu tangannya bergerak mendorong ke depan.

Blaasss!

Bentrok dua pukulan di udara seketika, keluarkan suara dahsyat. Bawuk Raga Ginting melengak kaget dan berseru keras. Untung waktu sentakan tangannya tadi dia mengerahkan seperempat tenaga dalamnya, jika tidak mungkin akan terseret oleh bias tangkisan serangan nenek yang menyebut dirinya dengan nama 'Tak Tahu' itu. Dan diam-diam Bawuk Raga Ginting sadar bahwa si 'Tak Tahu' adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

"Siapa orang ini sebenarnya? Dia berkepandaian tinggi. Melihat lehernya ditumbuhi jakun, dia adalah laki-laki yang menyamar perempuan, tapi suaranya, suara seorang perempuan. Persetan dengan itu! Siapa pun dia adanya, dia telah mempermainkan aku, dan harus dibunuh!" batin Bawuk Raga Ginting seraya melesat ke depan. Kedua tangannya berputar-putar, sementara sepasang kakinya lurus menerjang deras.

Di seberang 'Tak Tahu' hanya dongakkan kepala. Tangan kirinya diangkat ke atas, sementara tangan kanannya disilangkan di depan dada.

Deesss! Deeesss!

Terdengar dua kali bentrokan keras. Tubuh pendek itu melenting ke udara seraya berseru keras. Sementara nenek 'Tak Tahu' kernyitkan kening dengan undurkan langkah setindak ke belakang. Nenek 'Tak Tahu' merasakan tangannya kesemutan, namun tangan satunya yang menangkis terjangan tangan bagai dihantam benda keras. Namun nenek ini tak keluarkan suara.

"Jahanam busuk! Makanlah tanganku ini!" teriak Bawuk Raga Ginting. Tubuhnya berkelebat ke depan. Namun begitu sedepa lagi kakinya menghantam, dan sang nenek sudah siap menangkis, Bawuk Raga Ginting belokkan tubuhnya ke samping. Dari samping dia hantamkan pukulan jarak jauh. Bersamaan dengan itu tubuhnya melesat pula menghantamkan kedua kakinya.

Sang nenek sedikit terkejut. Dia segera miringkan tubuhnya dan dorongkan kedua tangannya. Terdengar bentrok pukulan di udara. Namun belum lenyap gema suara bentrokan, tubuh pendek Bawuk Raga Ginting telah melesat.

"Uhhh, sialan betul ini anak!" seru sang nenek dengan menahan rasa kejut. Dia segera lesatkan diri ke samping. Namun gerakannya kalah cepat dengan lesatan tubuh Bawuk Raga Ginting. Hingga tanpa bisa dihindari lagi sepasang kaki mungil perempuan pendek ini menghajar pundak sang nenek!

Buukkk! Tubuh sang nenek berputar dan terbanting ke tanah. Namun Bawuk Raga Ginting dibuat ternganga agak heran, karena nenek ini tak keluarkan seruan kesakitan.

"Untung pundakku yang kena. Kalau sampai dadaku, bisa celaka. Dia akan segera tahu siapa aku...," batin sang nenek seraya tertatih bangkit. Baju bagian pundak robek besar. Namun bukan kulit yang kelihatan, tapi kain berwarna hijau.

"Heran. Meski kakiku telak menghantam pundaknya, dia tak mengeluh!" batin Bawuk Raga Ginting dengan katupkan rahangnya rapat-rapat. Begitu sang nenek bangkit, Bawuk Raga Ginting tak menunggu lagi. Dengan didahului bentakan garang, dia meloncat kembali ke depan. Dan entah dari mana dapatnya, di tangan perempuan pendek ini telah menggenggam sebuah tombak pendek yang pangkalnya membentuk sekuntum bunga berwarna hitam legam.

Di udara, tombak pendek itu dia putar-putar dan sesekali menusuk ke depan. Begitu cepatnya gerakan tangan yang menggenggam tombak, hingga saat itu juga tombak itu laksana berubah jadi banyak dan sulit dilihat mana yang tombak dan mana yang hanya bayangannya saja.

Sang nenek nampaknya sedikit kewalahan juga mendapati hujanan tombak yang bergerak cepat dan keluarkan suara mendesing-desing itu. Namun dia segera mengimbangi dengan beberapa kali lesatan ke samping kanan dan kiri, dan sesekali ulurkan tangan untuk menggaet tombak. Namun gerakan menghindar sang nenek ini lama-kelamaan bisa dibaca oleh Bawuk Raga Ginting, hingga pada suatu kesempatan, dia menyerbu ke samping, waktu sang nenek menghindar dengan tangkisan tangan kanan, Bawuk Raga Ginting rebahkan diri sejajar tanah. Dan serta merta tombaknya dia sapukan ke bagian bawah pakaian sang nenek. "Kurang ajar! Mata besarmu ingin lihat pahaku,

ya...?" ujar sang nenek sambil melirik tangannya ke bawah dan kibaskan pakaiannya. Namun lagi-lagi gerakan tombak Bawuk Raga Ginting lebih cepat. Hingga saat itu juga terdengar suara kain robek.

Brettt!

Bukan hanya sampai di situ. Begitu kain bagian bawah sang nenek berhasil terobek, tubuh Bawuk Raga Ginting melenting ke udara. Dan sekonyongkonyong tangan kirinya menjulur cepat hendak menarik robekan di pundak sang nenek.

Sang nenek yang tahu gelagat cepat miringkan tubuhnya. Namun ternyata nenek ini tertipu. Begitu tangan kiri Bawuk Raga Ginting menjulur, tangan kanannya yang memegang tombak berkelebat ke bawah.

Brettt!

Robekan pakaian sang nenek bagian bawah lebih menganga. Dan kini hampir saja pakaian dalam sang nenek terlihat sebatas pinggang.

"Celaka! Ternyata memakai pakaian panjang besar begini menyulitkan gerakan...," gerutu sang nenek seraya balikkan tubuh dan menutupkan kembali pakaian bawahnya. Namun baru saja dia balikkan tubuh, dari arah belakang Bawuk Raga Ginting telah kembali lancarkan serangan. Kali ini dengan kaki lurus dan tombak diangkat tinggi-tinggi ke udara.

Sang nenek cepat palingkan wajah ke belakang dan serta merta dia membuat gerakan salto. Hebatnya Bawuk Raga Ginting yang tubuhnya meluncur itu tibatiba naik sedikit ke atas menghindari lentikan kaki nenek yang membuat gerakan salto. Dan begitu berhasil menghindari lentikan kaki sang nenek tangan kanan Bawuk Raga Ginting bergerak cepat.

Brettt!

Kali ini pakaian sang nenek bagian pundaknya tambah menganga lebar. Dan begitu berhasil merobek pundak sang nenek, tiba-tiba Bawuk Raga Ginting jungkir balik dan sepasang kakinya lurus menghajar dada sang nenek yang baru saja berdiri tegak dari saltonya.

Desss!

"Jangkrik!" seru sang nenek. Tubuhnya melayang ke belakang dan jatuh terduduk dengan mata terbuka terpejam. Di seberang, Bawuk Raga Ginting terperangah hampir tak percaya. Sepasang matanya mengawasi berlama-lama.

"Aneh. Dia tampaknya punya ilmu kebal terhadap pukulan kakiku. Hm.....Siapa dia sebenarnya. Pakaian hijau.... Yang pasti laki-laki, karena kedua kakinya besar. "

Selagi Bawuk Raga Ginting termangu seraya menduga-duga, sang nenek takupkan kedua tangannya ke wajahnya. Dia tampak sesenggukkan, hingga kedua bahunya berguncang-guncang.

"Uuhh.... Uuhh.... Uuhh    Kunyil, Kunyil. Tega

nian kau menghajar orang tua. Apa kau tak takut balak? Uhh.... Uhh.... Uhh. ," kata sang nenek di sela se-

senggukannya.

Bawuk Raga Ginting hampir melonjak saking terkejutnya mendengar kata-kata sang nenek. Matanya membeliak. Namun diam-diam perempuan pendek ini kecut juga. Karena selain mengetahui siapa nama aslinya, sang nenek tampaknya tak mengalami cedera parah meski telak terhajar pukulan kakinya yang mengerahkan pukulan ‘Sapu Bumi’.

Ketika Bawuk Raga Ginting masih terlengak begitu rupa, sang nenek buka telapak tangannya. Ternyata waktu menakupkan kedua tangannya tadi, perlahan-lahan nenek ini membuka topeng tipis di wajahnya. Dan dengan cekatan pula tangannya bergerak ke sana kemari menanggalkan pakaian besarnya. Dan sekali loncat pakaian gombrong itu telah terpuruk di atas tanah.

Sepasang mata Bawuk Raga Ginting kini semakin melotot besar melihat adanya orang yang menyamar menjadi nenek-nenek itu. Ternyata dia adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan tubuh tegap. Pakaiannya berwarna hijau yang dilapis dengan pakaian warna kuning lengan panjang.

"Bajingan! Ternyata dia!" seru Bawuk Raga Ginting dengan surutkan satu langkah ke belakang.

"Kunyil! Kuharap kau tak lupa denganku. Ha... ha... ha...," kata orang muda yang kini memandang tajam pada Bawuk Raga Ginting dengan senyumsenyum. Suaranya kini berubah, demikian juga suara tawanya.

Untuk menutupi rasa terkejutnya, Bawuk Raga Ginting yang bernama asli Kunyil tertawa lebar. Lalu berkata sambil kebatkan tombaknya ke atas tanah.

Cleeep!

Tanah itu terbongkar dengan kepulkan asap. "Rupanya kau kekasih yang setia. Mau bertan-

dang jauh-jauh ke tempatku demi seorang gadis....

Hmm Tapi sayang, kedatanganmu hanya akan men-

gantarkan nyawa. Hik... hik... hik !"

"Kau keliru. Kedatanganku bukan hanya demi gadis itu. Namun aku juga membawa pesan dan salam dari seseorang. Kau tentunya gembira jika mendengarnya!" kata sang pemuda yang bukan lain adalah Aji Saputra alias Pendekar Mata Keranjang 108. Seraya berkata, dalam hati Aji membatin. "Untung Gongging Baladewa meninggalkan tulisan di atas tubuhku sewaktu aku pingsan, yang menunjukkan di mana beradanya perempuan cebol ini "

"Sebelum kau minggat ke akherat, coba katakan siapa orangnya!" berkata Bawuk Raga Ginting dengan mimik sedikit terkejut.

Pendekar 108 tak segera menjawab ucapan tanya Bawuk Raga Ginting. Dia merapikan rambutnya dan dikuncir ekor kuda, lalu usap-usap ujung hidungnya dengan mata melirik ke depan.

Karena dilihat Pendekar Mata Keranjang 108 hanya melirik tanpa segera menjawab, Bawuk Raga Ginting berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri empat langkah di hadapan Pendekar Mata Keranjang dengan tombak kembali di tangan kanan.

"Lekas katakan! Siapa orangnya!" ulang Bawuk Raga Ginting dengan membentak keras. Tombaknya dia baling-balingkan di depan dadanya. Hingga di kejap itu juga tubuhnya bagai dibungkus kilatan bayangbayang tombak yang menderu-deru.

"Orang itu.... Hmm.... Si Kutil!" kata Aji perlahan, namun cukup jelas didengar Bawuk Raga Ginting.

Mendengar nama disebut orang, Bawuk Raga Ginting hentikan baling baling tombaknya. Langkahnya mundur dua tindak. Matanya menyipit dengan dahi mengernyit.

"Ah, dugaanku ternyata meleset. Kau bukannya suka ria mendengar ucapanku, malah tampak terkejut besar. Apa aku salah omong atau mataku yang salah sangka?" kata Pendekar Mata Keranjang 108 dengan air muka seolah heran. Meski bibirnya melebar sunggingkan sebuah senyum. "Bangsa kecil! Kau apanya si Tambun itu, he?!" hardik Bawuk Raga Ginting dengan maju kembali dua langkah.

"Soal itu biarlah menjadi pekerjaan rumah buatmu. Yang perlu kau tahu, dia menginginkan kakinya kembali. Kalau tidak, dia menginginkan bibirmu yang menggairahkan itu! Kau tinggal pilih salah satu. Atau kedua-duanya boleh!"

"Keparat! Nasibmu sungguh-sungguh jelek Pendekar 108! Bersiaplah untuk mampus!"

"Hah, kau punya kuasa apa untuk menentukan kematian orang? Apa kau utusan sang Pencabut Nyawa yang gentayangan di bumi?"

"Tak perlu kau pusingkan hal itu. Yang pasti kau akan mati di tanganku! Sekarang juga!"

Habis berkata begitu, Bawuk Raga Ginting keluarkan seruan keras. Tubuhnya melesat ke udara dan tiba-tiba lenyap. Kejap lain tiba-tiba sepasang kakinya telah menerjang dengan keluarkan deruan keras ke arah dada Pendekar Mata Keranjang 108.

Karena tadi telah dapat melihat kecepatan Bawuk Raga Ginting, kini Aji tak mau lagi setengahsetengah. Dia segera memiringkan tubuhnya ke samping, bersamaan dengan itu tangannya cepat menarik kipas dari balik bajunya dan segera pula dikibaskan ke arah Bawuk Raga Ginting.

Blaasss!

Terjangan sepasang kaki Bawuk Raga Ginting meleset dan menerpa tempat kosong sejengkal di samping tubuh Pendekar Mata Keranjang 108. Di lain kejap, dia segera pula hantamkan kedua tangannya memapasi kibasan kipas!

Wesss!

Tiba-tiba Bawuk Raga Ginting kerutkan dahi, matanya melotot besar karena serangannya kali ini bagai membentur dinding kasat mata mental balik menggebrak ke arahnya!

Didahului bentakan, Bawuk Raga Ginting berkelebat ke samping menghindari mentalan serangannya sendiri. Dan dari tempatnya yang baru ini, dia segera sentakkan kedua tangannya.

Beberapa benda hitam melesat. Anehnya begitu di atas udara benda-benda yang ternyata adalah kuntum bunga berwarna hitam itu berpencaran dan serta merta menukik ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 dari segala jurusan.

Mendapati hujanan bunga yang ternyata selain menyambar kencang juga keluarkan hawa panas, Pendekar Mata Keranjang lesatkan dirinya ke atas. Dari udara seraya berputar, dia kibaskan kipasnya melengkung di depan tubuhnya seolah melindungi tubuhnya.

Bunga-bunga hitam itu telah hancur berhamburan sebelum sempat meluruk. Namun sebuah bunga yang menyambar dari atas lolos dan menukik deras!

Beeettt!

Pendekar 108 berkelit ke kiri, anehnya kuntum bunga hitam itu laksana punya ujung mata. Bunga itu ikut melenceng ke kiri.

"Sialan! Aku harus menunggunya lebih dekat...," pikir Pendekar Mata Keranjang. Begitu bunga itu sejengkal lagi melabrak, Aji segera doyongkan tubuh ke depan. Bunga itu lurus ke bawah dan....

Seeettt!

Rambut bagian belakang Pendekar Mata Keranjang 108 tersambar, membuat rambut itu terpangkas ujung belakangnya. Kejap itu juga tercium bau sangit! Meski hanya tersambar rambutnya namun Pendekar Mata Keranjang 108 merasakan batok kepalanya panas bukan main!

Melihat serangan bunga-bunganya hanya bisa menyambar dan memangkas sedikit rambut lawan, Bawuk Raga Ginting segera berkelebat kembali. Dan kini tubuhnya terlihat hanya bayang-bayangnya saja dan berputar-putar mengitari tubuh Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar Mata Keranjang 108 coba berkali-kali menusukkan ujung kipasnya ke depan dan ke samping, namun selalu menghantam tempat kosong, membuat murid Wong Agung ini segera kerahkan tenaga untuk lepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'. Tapi Bawuk Raga Ginting seolah tahu. Sebelum Pendekar Mata Keranjang sempat kirimkan pukulan, perempuan pendek ini lesatkan diri ke atas. Dan dengan gerakan yang sukar diikuti pandangan mata, tiba-tiba tubuh Bawuk Raga Ginting menukik ke bawah dengan tebaskan tombaknya. Saat itu juga terlihat membersitnya cahaya hitam berkilau dari atas ke bawah seakanakan hendak membedah separo tubuh Pendekar Mata Keranjang 108!

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat langkahkan kakinya satu tindak ke samping. Bersamaan dengan itu kedua tangannya bergerak. Tangan kanan menghantamkan kipasnya sementara tangan kiri lepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Weeesss! Weeesss!

Seberkas sinar putih lengkung serta sinar putih berkilau melesat ke samping dan ke depan. Cahaya hitam yang membersit dari tangan Bawuk Raga Ginting yang ternyata adalah tombaknya, hancur begitu terpapasi sinar putih yang keluar dari hantaman tangan Pendekar Mata Keranjang 108. Namun dugaan Pendekar Mata Keranjang 108, yang mengira tubuh Bawuk Raga Ginting ikut melayang ke bawah meleset. Karena begitu tombaknya menukik ke bawah, Bawuk Raga Ginting tahan sebentar tubuhnya di udara. Dan begitu Pendekar Mata Keranjang 108 sudah lepaskan pukulan, Bawuk Raga Ginting melayang ke bawah!

Desss!

Kaki kanan Bawuk Raga Ginting berkelebat dan menghantam pelipis Pendekar Mata Keranjang! Tubuh Pendekar Mata Keranjang terhuyung ke samping, dan jatuh terduduk.

Anehnya, Aji tak merasakan sakit sama sekali, hanya kepalanya seperti berputar-putar dan mata berkunang-kunang.

"Hmm.... Apa yang dilakukan Gongging Baladewa ternyata ada gunanya! Kalau tidak, mungkin kepalaku sudah pecah...," membatin Pendekar Mata Keranjang 108 seraya merambat bangkit.

Di seberang, Bawuk Raga Ginting tak habis pikir. Dia terheran-heran.

"Hmm   Dia tampaknya mempunyai penangkal

pukulan 'Sapu Bumi'. Kurang ajar! Terpaksa untuk sementara aku harus menyingkir dahulu!" membatin Bawuk Raga Ginting. Perempuan pendek ini segera melompat ke depan seraya hantamkan kedua tangannya.

Weeesss!

Segelombang sinar hitam yang menebar hawa panas segera melesat.

Pendekar Mata Keranjang 108 segera pula lepaskan kembali 'Bayu Cakra Buana'.

Blaaarrr!

Satu ledakan dahsyat segera mengguncang tempat itu.

Pendekar Mata Keranjang 108 terhuyunghuyung ke belakang seraya salurkan tenaga dalam ke tangan kanan karena pegangan pada kipasnya terasa goyah. Hal ini membuatnya tak bisa kuasai diri lagi, hingga kakinya yang coba menahan gerak tubuhnya tak kuasa bertahan. Akhirnya pendekar murid Wong Agung ini jatuh terduduk dengan tangan ngilu!

Di lain pihak, tubuh Bawuk Raga Ginting terguling di atas tanah dan menggelundung. Namun keadaan seperti ini digunakan oleh Bawuk Raga Ginting. Dia tak berusaha menahan gelundungan tubuhnya, malah dia kerahkan tenaga agar tubuhnya menggelundung lebih cepat dan lebih menjauh.

Begitu jaraknya lima tombak, Bawuk Raga Ginting cepat bangkit. Lalu dengan membentak garang, dia lepaskan lagi pukulan jarak jauh! Habis lepaskan pukulan tubuhnya segera berkelebat dan lenyap.

Di seberang, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menangkis dengan kibasan kipasnya, sementara tangan kirinya menunggu.

Begitu serangan Bawuk Raga Ginting yang keluarkan larikan-larikan sinar hitam terbendung sambaran kipas, tangan kiri murid Wong Agung ini segera menghantam!

Wesss!

Namun Pendekar Mata Keranjang 108 terperanjat. Karena pukulannya menghantam tempat kosong.

"Keparat! Ke mana dia?" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 seraya menebarkan pandangannya ke sekitar lembah. Namun hingga agak lama nyalangkan mata, dia tak menemukan batang hidung Bawuk Raga Ginting.

"Kali ini dia lolos lagi. Namun sekali lagi bertemu, dia tak akan bisa melarikan diri lagi...," ujar Pendekar Mata Keranjang sambil sekali lagi putar tubuh dan kepalanya, seakan ingin meyakinkan.

Yakin bahwa Bawuk Raga Ginting tak berada di sekitar lembah, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat ke arah lobang gua.

"Semoga Ratu Sekar Langit tidak mengalami hal buruk "

Ternyata gua itu tidak begitu besar. Dan di sebelah ujung tampak tangga menurun.

"Ratu Sekar Langit!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 begitu tak melihat orang yang dicari di dalam gua. Tapi teriakannya tak ada yang menyahut.

"Aku akan menyelidik ke bawah...." Dia lantas berkelebat dan menuruni tangga ke bawah.

Gua sebelah bawah ini agak besar dibanding dengan yang sebelah atas. Namun di tempat ini Ratu Sekar Langit yang dicarinya tak juga ditemukan. Beberapa kali Pendekar Mata Keranjang 108 berteriak memanggil. Namun tak ada jawaban.

"Keparat! Di mana Ratu Sekar Langit dia sembunyikan...?" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 dengan raut merah padam dan dagu membatu menahan marah. Sekali lagi murid Wong Agung ini berteriak. Dan ketika tak ada jawaban, tangan kirikanannya segera bergerak dan dihantamkan ke dinding gua, melepaskan rasa dongkol.

Dinding gua itu terbongkar. Bersamaan dengan itu Aji seraya melesat ke atas. Lalu bergegas keluar gua.

"Kunyil! Ke mana pun langkahmu, kau pasti kukejar!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 seraya berkelebat meninggalkan pedataran Lembah Bandar Lor. TUJUH

SEORANG gadis muda berparas cantik dan bermata bulat serta rambut sebahu dan dikuncir agak tinggi terlihat melangkah perlahan memasuki kedai yang sarat pengunjung.

Begitu masuk, beberapa mata pengunjung kedai segera berpaling dan memandang sang gadis dengan pandangan sulit diartikan. Pandangan antara kagum dan nafsu. Hal ini bisa dimengerti, karena selain berparas cantik, ternyata gadis ini mempunyai bentuk tubuh bagus. Dadanya tampak kencang membusung di balik pakaian warna coklat bergaris-garis, kulitnya putih dengan pinggul besar dan padat.

Namun di lain pihak, dipandangi begitu rupa oleh beberapa mata, gadis ini segera tak mengacuhkan. Dia tetap melangkah tanpa sedikit pun merasa kikuk atau jengah. Dia mendekati meja yang tinggal satu-satunya yang kosong.

Setelah duduk, pemilik kedai segera melangkah mendekati sambil membungkuk. Lalu menanyakan pesanan sang gadis. Habis itu pemilik kedai kembali ke belakang dan tak lama kemudian keluar lagi dengan membawa pesanan sang gadis.

Beberapa mata pengunjung tetap tak beranjak dari menjilati tubuh sang gadis, malah di antaranya ada yang berbisik-bisik dengan temannya lalu tertawa tertahan. Sementara lainnya ada yang hanya memandang dengan tak berkedip, lalu geleng-geleng kepala dengan mulut berdecak-decak.

Kali ini yang dipandangi seolah merasa. Gadis ini sejenak menyapukan pandangan matanya keliling. Beberapa mata yang dari tadi memandang segera beralih ke jurusan lain, namun sejenak kemudian melirik tajam.

"Dasar mata laki-laki!" rutuk sang gadis seraya mulai menyantap hidangan yang telah dia pesan.

Selagi gadis ini tengah menyantap makanannya, terdengar langkah-langkah halus memasuki kedai. Beberapa mata segera beralih ke pintu masuk. Mata-mata itu kembali dibuat tak berkedip. Karena kali ini di pintu kedai terlihat seorang gadis muda melangkah masuk. Setelah menebar pandangan gadis yang baru masuk ini hendak keluar lagi, karena dilihatnya seluruh meja sudah terisi.

Sang gadis yang baru masuk ini yang ternyata juga berparas jelita, mengenakan pakaian warna kuning. Rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai. Matanya bulat bersinar. Bentuk tubuhnya juga membuat mata sayang untuk dikesiapkan, apalagi pakaian yang dikenakannya begitu ketat dan tipis.

Namun langkah sang gadis berbaju kuning yang baru masuk segera tertahan begitu dilihatnya gadis berbaju coklat garis-garis berdiri dan memberi isyarat agar gadis yang baru masuk melangkah ke arahnya dan duduk di sampingnya.

Gadis berbaju kuning sejenak bimbang. Namun ketika gadis berbaju coklat tersenyum dan mengangguk, gadis berbaju kuning segera melangkah dan setelah balas tersenyum, dia pun duduk di samping gadis berbaju coklat.

"Tampaknya kita dijadikan bahan pemandangan oleh pengunjung kedai!" gumam gadis berbaju kuning setelah memesan makanan, dan berpaling pada gadis di sebelahnya.

Yang diajak bicara hanya tersenyum lalu mengangguk perlahan, dan berkata perlahan. "Jangan hiraukan mereka. Laki-laki di mana saja memang begitu!"

Gadis berbaju kuning anggukkan kepala, sambil tersenyum dia berkata.

"Terima kasih atas kebaikanmu memberiku tempat duduk.... Ngg, kalau boleh aku tahu "

Belum selesai gadis berbaju kuning dengan ucapannya, gadis berbaju coklat telah mengangguk, dan seakan tahu arah bicara gadis di sebelahnya dia berkata...

"Namaku Sakawuni "

"Aku...," gadis berbaju kuning tak meneruskan kata-katanya karena pemilik kedai melangkah ke arahnya dan menyerahkan pesanan. Setelah pemilik kedai berlalu, gadis berbaju kuning melanjutkan katakatanya.

"Aku Putri Tunjung Kuning "

"Putri Tunjung Kuning?" batin gadis berbaju coklat yang bukan lain adalah Sakawuni. "Aku rasarasanya pernah mendengar nama itu...," Sakawuni memandang keluar kedai seraya tangannya memasukkan makanan ke mulutnya. "Tapi, aku lupa siapa yang mengatakannya "

"Melihat pandangan orang-orang itu, tampaknya kau bukan orang daerah sini. Hendak ke mana kau ?" tanya Putri Tunjung Kuning seraya menyantap

makanannya.

Sakawuni tak segera menjawab. Dia berpaling pada Putri Tunjung Kuning dan menatapnya lekatlekat. Setelah menarik napas dalam-dalam dia berkata. "Aku memang bukan orang sini...!" sejenak Sakawuni menghentikan ucapannya, lalu melanjutkan. "Untuk sementara ini aku memang belum bisa memu-

tuskan hendak pergi ke mana!" Putri Tunjung Kuning hentikan kunyahan mulutnya. Dia berpaling pada Sakawuni dan memandangnya dengan pandangan heran. Dan belum sempat Putri Tunjung Kuning angkat bicara, Sakawuni telah berkata lagi.

"Kau tentunya heran. Tapi itulah adanya. Aku belum memutuskan harus ke mana pergi "

"Kau mencari seseorang...?" tanya Putri Tunjung Kuning.

Mendengar pertanyaan Putri Tunjung Kuning paras Sakawuni sedikit berubah malah tampak terkejut. Namun ketika diliriknya Putri Tunjung Kuning menatap ke arahnya, Sakawuni segera tersenyum menutup rasa terkejutnya.

"Tanpa kau jawab, dugaanku pasti tidak meleset. Kau sedang dalam perjalanan mencari seseorang ," kata Putri Tunjung Kuning dengan tak menga-

lihkan pandangannya pada paras Sakawuni. Sakawuni tertawa lebar, meski dalam hati dia membatin.

"Otaknya tajam juga orang ini. Apa aku akan mengatakan padanya tentang siapa orang yang kucari? Mungkin dia bisa membantu. Tapi apa tidak janggal berterus terang pada seseorang yang baru kukenal ?"

Sakawuni menarik napas dalam-dalam. Rambutnya yang luruh ke dahi dia sibakkan ke belakang, hingga parasnya kelihatan makin cantik.

"Kau tampaknya melamun. Maaf jika ucapanku tadi membuat kau bersedih. Aku hanya menduga "

Sakawuni menggeleng perlahan seraya terse-

nyum.

"Aku tidak bersedih. Aku hanya bingung. Tak

tahu apa yang harus kulakukan...," kata Sakawuni perlahan.

"Kita bernasib sama. Tak ubahnya kau, aku pun sebenarnya sedang bingung, tak bisa melakukan sebuah kepastian...," Putri Tunjung Kuning akhirnya berkata setelah keduanya agak lama saling berdiam diri.

"Kalau boleh tanya, kau sedang mencari siapa?" Putri Tunjung Kuning melanjutkan ucapannya dengan berpaling pada Sakawuni.

Mendengar pertanyaan Putri Tunjung Kuning, Sakawuni palingkan wajahnya, hingga untuk beberapa saat lamanya kedua gadis ini saling bertatapan. Sakawuni tampak ragu-ragu untuk menjawab. Namun setelah menimbang-nimbang akhirnya dia berkata.

"Aku memang sedang mencari seseorang. Tapi orang yang kucari tempatnya tak bisa ditentukan "

Putri Tunjung Kuning geleng-geleng kepala. "Mendengar ucapanmu, orang yang kau cari tentunya seorang pesilat. Karena hanya orang-orang demikian itulah yang tempatnya sulit ditentukan, apalagi jika dia seorang pendekar. "

"Ah, gadis ini dugaannya selalu benar. Apakah aku berterus terang saja padanya? Melihat pakaian dan sikapnya, tampaknya dia juga seorang berilmu "

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Sakawuni berkata.

"Yang kau katakan benar. Aku memang mencari seorang tokoh silat. Apakah kau juga begitu?" Sakawuni balik bertanya.

Kali ini Putri Tunjung Kuning yang tampak terkejut. Dia segera mengalihkan pandangannya keluar kedai. Saat itulah seorang pemuda berwajah tampan mengenakan pakaian dalam warna putih yang dilapis pakaian luar sebuah jubah panjang berwarna hitam dan merah masuk ke dalam kedai.

"Kosongkan meja ini. Aku ingin makan!" Dua orang yang duduk di meja serentak saling berpandangan. Lalu menoleh pada sang pemuda dengan senyum mengejek. Salah satu dari kedua orang ini berkata tanpa lagi memandang.

"Ganjaran apa yang pantas bagi manusia tak tahu adat, Kakang?"

Orang yang dipanggil 'Kakang' tersenyum. Lalu berkata.

"Mulutnya ditampar sampai giginya tanggal!"

Sang pemuda yang mengerti bahwa kata-kata kedua orang tersebut ditunjuk padanya segera melangkah lebih dekat. Bibirnya menyunggingkan senyum aneh. Lalu berkata dengan sibakkan jubahnya.

"Begitu? Baiklah!" bersamaan dengan itu serangkum angin deras menyambar ke arah dua orang di hadapan sang pemuda. Karena dua orang tersebut tak menduga, keduanya terkejut, dan buru-buru berdiri hendak menghindar. Namun sambaran jubah sang pemuda sudah terlebih dahulu menghantam.

Desss! Desss!

Tubuh dua orang yang duduk di atas bangku itu terhumbalang. Waktu terhumbalang kaki salah satu orang tersebut tak sengaja melentik ke arah meja, hingga meja yang masih terdapat makanan dan minuman itu terbalik. Makanan dan minumannya meraupi kedua orang yang terhumbalang. Sesaat dua orang ini mencak-mencak lalu bangkit dengan menyumpah panjang pendek.

Sang pemuda tidak tersenyum. Malah sepasang matanya menatap tajam, membuat dua orang ini keluarkan keringat dingin dan lutut gemetar. Kedua sesaat saling berpandangan, lalu bagai dikomando keduanya langsung melangkah cepat hendak pergi.

Sang pemuda cepat gerakkan kakinya ke arah kaki meja yang terbalik.

Prak!

Dua kaki meja serentak patah. Dengan gerakan cepat patahan kaki meja yang membumbung itu dia tangkap dan serta merta dia lemparkan ke arah dua orang yang hendak lari.

Seett! Seettt!

Karena kaget dan terkesima, dua orang ini tak bergerak sedikit pun. Malah mulut masing-masing menganga lebar. Saat itulah kedua kaki meja melayang deras dan menghajar mulut dua orang tersebut!

Dua orang ini menjerit keras. Dengan menutupi masing-masing mulutnya yang tampak mengucurkan darah, keduanya segera lari keluar kedai.

Melihat apa yang terjadi, beberapa pengunjung segera berdiri dan seraya beringsut satu persatu keluar. Sang pemuda mengawasi satu persatu pengunjung yang keluar dengan senyum sinis. Dia lantas melangkah menuju sebuah meja yang telah ditinggalkan pengunjung. Dengan acuh pemuda ini segera hempaskan pantatnya ke bangku.

Pemilik kedai mengkerut di sudut belakang. Bahkan dia memejamkan kedua matanya dengan lutut bergetar.

Karena lama tidak ada orang yang mendatangi.

Pemuda ini busungkan dadanya dan berkata.

"Kalau tak ingin meja-meja ini hancur, lekas siapkan makan dan minum! Cepat!"

Mendengar nada ancaman orang ini, dan sebelum orang ini melaksanakan ancamannya, pemilik kedai dengan tubuh gemetaran melangkah mendekat.

"Sial! Aku tak menyuruh kau ke sini. Kau kusuruh menyiapkan makanan!" bentak sang pemuda dengan melirik tajam. Pemilik kedai tergopoh-gopoh balikkan tubuh dan masuk ke dalam.

"Manusia macam itu, tidak layak lagi diberi hidup!" berkata Putri Tunjung Kuning dengan memperhatikan sang pemuda lebih seksama. Matanya membesar agak merah menahan marah melihat tingkah sang pemuda. Di pihak lain Sakawuni tampak tercenung bengong. Sepasang matanya tak kesiap memandang dari ujung kaki hingga ujung rambut pada sang pemuda. Keningnya terus-menerus mengkerut.

"Apa penglihatanku tak keliru? Ah, tidak! Pasti dia! Tapi kenapa perangainya jauh berubah? Sebaiknya aku menghindarinya. Kalau Putri Tunjung Kuning tanya, aku akan beralasan...," batin Sakawuni seraya berpaling pada Putri Tunjung Kuning.

Putri Tunjung Kuning seolah tahu, dia pun segera menoleh.

"Kau takut?" tanya Putri Tunjung Kuning begitu melihat perubahan pada wajah Sakawuni.

Sakawuni menggeleng. Namun matanya melirik pada sang pemuda yang tampaknya juga sedang melirik ke meja Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning. Sang pemuda kernyitkan dahi.

"Sepertinya aku mengenalinya. Ah, betul. Dia adalah Sakawuni. Hmm.... Sebuah keistimewaan tersendiri bagiku. Tak disangka-sangka, ternyata orang yang kucari kutemukan di sini! Siapa gerangan yang bersamanya...?" membatin sang pemuda. Lirikannya kini ditujukan pada Putri Tunjung Kuning.

"Aku tak bisa mengenalinya! Itu tak penting. Yang penting dia juga berwajah cantik. Hmmm     Ma-

lam nanti nampaknya menjadi malam paling berkesan. Aku ingin menikmati keduanya. Ha... ha... ha...! Tapi akan kubiarkan dahulu dia meninggalkan tempat ini. Dengan demikian aku lebih leluasa...," berpikir begitu, sang pemuda lantas mengalihkan pandangannya ke jurusan lain, dan seolah acuh.

Di lain pihak, meski hanya selintas, Sakawuni bisa melihat perubahan pada wajah sang pemuda. Hingga saat itu juga dia palingkan wajahnya, membuat Putri Tunjung Kuning heran.

"Kau kenal manusia sombong itu?" tanya Putri Tunjung Kuning dengan melirik pada sang pemuda.

Sakawuni tidak menjawab. Malah dia bangkit dan berkata.

"Kita bicarakan nanti di luar. Kita harus cepat tinggalkan tempat ini! Atau kalau kau tak mau, aku akan keluar sendiri!"

Habis berkata, tanpa menunggu lagi, Sakawuni segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah cepat keluar dari kedai.

Putri Tunjung Kuning sejenak menatap pada sang pemuda lalu beralih pada Sakawuni.

"Ada apa sebenarnya antara Sakawuni dan pemuda congkak ini? Tampaknya mereka saling kenal! Sebaiknya aku menyusul Sakawuni. Toh nanti masih bisa kembali ke sini lagi. Kukira pemuda itu masih lama di sini. Aku akan memberinya pelajaran biar tak bersikap sombong!" kata Putri Tunjung Kuning dalam hati seraya menyusul Sakawuni.

Di luar Sakawuni segera berkelebat dan berlari menuju arah selatan. Begitu sampai di tempat agak sepi, Sakawuni hentikan langkah. Sepasang matanya sejenak memandang berkeliling.

"Aku hampir tak percaya bahwa dia adalah Kakang Pandu. Tapi, kenapa bisa begitu? Dan tampaknya dia sekarang berilmu tinggi! Hmm.... Kakang Pandu....

Apa yang membuatmu berubah? Kau dulu begitu arif pada setiap orang, bahkan kau akan bertindak keras pada orang yang bersikap kurang santun. Tapi kini? Apa karena kau telah berilmu tinggi atau...," Sakawuni tidak meneruskan kata hatinya, karena saat itu juga dari arah belakang terdengar orang memanggil namanya.

Tahu siapa orang yang menyusul, Sakawuni segera balikkan tubuh. Putri Tunjung Kuning terlihat berkelebat ke arahnya.

"Hmm.... Gadis ini rupanya juga berilmu...," membatin Sakawuni seraya menyongsong Putri Tunjung Kuning. Begitu sampai Putri Tunjung Kuning langsung ajukan pertanyaan.

"Katakan siapa adanya pemuda tadi. Tampaknya kau mengenalinya...!"

Sakawuni menatap Putri Tunjung Kuning lekatlekat. Raut wajahnya jelas menyembunyikan kebimbangan. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia berkata.

"Aku rasa-rasanya memang mengenalnya, tapi aku belum yakin benar, karena tiga tahun yang lalu dia tidak begitu. Tapi entahlah.... Mungkin benar dia orangnya atau bukan "

"Tapi bukan diakan yang kau cari?" tanya Putri Tunjung Kuning seraya balas tatapan Sakawuni. Sakawuni menggeleng sambil tersenyum. Namun senyumnya serasa dipaksakan.

"Kalau benar dia orang yang kau kenal, siapa dia?" sambung Putri Tunjung Kuning.

"Kakak seperguruanku. Namanya Pandu. Kami berdua pernah berguru bersama-sama. Namun setelah Guru meninggal dunia kami mencari jalan sendirisendiri...," Sakawuni berkata sambil tengadahkan kepala. Suaranya sedikit tersendat dan bergetar.

"Tapi kenapa kau tampaknya ketakutan. Kalian punya masalah?"

"Ah, pertanyaan gadis ini tak mungkin kujawab. Ku ingin masalah ini hanya aku yang tahu...," setelah tercenung sebentar Sakawuni berkata.

"Aku tak pernah takut menghadapi siapa pun juga. Hanya untuk sementara ini memang tak menginginkan bertemu dengannya "

Meski Putri Tunjung Kuning tahu bahwa Sakawuni menyembunyikan sesuatu, namun dia tak hendak menanyakan lebih jauh.

"Hmm.... Siapa pun dia adanya, dia pantas diberi pelajaran. Aku akan kembali ke kedai "

Berpikir begitu, Putri Tunjung Kuning segera balikkan tubuh hendak berkelebat ke arah dari mana dia datang. "Kau tunggu di sini sebentar. "

"Putri Tunjung Kuning! Kuharap kau tak kembali ke kedai. Itu hanya akan menambah masalah!" ujar Sakawuni sambil melangkah mendekat. Namun Putri Tunjung Kuning sepertinya tidak mendengar kata-kata Sakawuni. Begitu Sakawuni melangkah ke arahnya, Putri Tunjung Kuning berkelebat.

"Aku tak akan mencampuri urusan di antara kalian. Aku hanya ingin memberi pelajaran padanya agar dia tidak bersikap sombong pada orang!" terdengar suara Putri Tunjung Kuning meski tubuhnya sudah lenyap dari pandangan Sakawuni.

"Gadis keras hati. Semoga saja yang di kedai tadi bukan Kakang Pandu adanya. Meski Kakang Pandu mungkin masih menyimpan rasa jengkel dan sakit hati padaku, namun bagaimanapun juga dia masih kakakku. Ah, seandainya tidak muncul Pendekar 108, mungkin masalah ini tak terjadi. Hmm..., Pendekar Mata Keranjang 108, ke mana dia perginya? Kenapa aku tak bisa melupakannya? Meski hatiku sakit melihat dirinya sewaktu bersama gadis di Kampung Blumbang. Apakah ini yang namanya cinta? Benci namun rindu untuk jumpa? Dan seandainya waktu itu tak kepergok Gongging Baladewa, mungkin dia sudah dapat kutemukan.... Sekarang ke mana aku harus mencarinya? Mencari orang seperti dia layaknya mencari permata di tengah padang pasir. Tapi.... Aku harus mencarinya "

Setelah merenung sejenak, Sakawuni segera balikkan tubuh hendak pergi. Namun sebuah bayangan mendadak berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri di depannya. Gadis ini cepat miringkan tubuhnya, karena bersamaan dengan berkelebatnya sang bayangan, angin deras menderu menyambar.

Sakawuni serta merta membelalakkan sepasang matanya, dahinya berkerut, sementara secara tak sadar langkahnya tersurut dua tindak ke belakang.

"Ah, rupanya dia!" gumam Sakawuni dengan bibir mengatup.

***

DELAPAN

DI hadapan Sakawuni berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Mengenakan jubah panjang warna belang merah dan hitam. Rambutnya panjang sebahu. Sepasang matanya menyorot tajam. Pemuda yang bukan lain memang Pandu atau yang kini menjuluki dengan Gembong Raja Muda sejenak mengawasi Sakawuni dengan tatapan dingin. Bibirnya tersenyum tawar. "Sakawuni.... Kau tampaknya makin cantik saja, membuatku ingin segera dapat menikmati tubuhmu.... Hmm.... Yang seorang lagi kulihat kembali ke kedai, ini kesempatan bagus. Setelah kau dapat kutaklukkan, gadis itu pasti akan kembali ke sini. Hmm....

Malam ini tampaknya aku akan menikmati dua tubuh yang sama-sama menjanjikan kehangatan...," membatin Pandu dengan tatapan tidak beranjak dari tubuh Sakawuni.

"Kau...? Bukankah kau Kakang Pandu...?" Sakawuni angkat bicara. Namun jelas sekali suaranya bergetar. Pandangannya beralih pada jurusan lain meski sesekali melirik.

Yang ditanya tidak cepat menjawab. Malah bibirnya menyunggingkan senyum. Senyum aneh yang sulit diartikan. Sementara sepasang matanya tak juga habis-habisnya menjilati dada dan pinggul gadis di hadapannya.

"Hmm.... Kenapa dia jadi berubah begini? Lantas apa yang harus kuperbuat sekarang?" membatin Sakawuni setelah dapat meyakinkan diri bahwa pemuda di hadapannya kini adalah Pandu alias Gembong Raja Muda, kakak seperguruannya.

Selagi Sakawuni dilanda kebingungan tak tahu harus berbuat apa, Pandu melangkah maju setindak sambil berkata.

"Sakawuni! Apa kau sudah lupa padaku hingga mengajukan pertanyaan yang seharusnya tidak kau ucapkan? Bagaimana keadaanmu? Mana kekasihmu, he ?"

Mendengar kata-kata Pandu, paras Sakawuni berubah mengelam. Dia segera palingkan wajah dan menatap tajam menusuk bola mata pemuda di hadapannya. "Kakang Pandu. Aku layak bertanya padamu, karena kau sekarang telah jauh berubah dengan Kakang Pandu yang kukenal selama ini!"

Pandu tertawa bergelak-gelak mendengar pernyataan Sakawuni. Namun tiba-tiba dia hentikan tawanya dan berkata.

"Dengar Sakawuni! Aku sekarang bukanlah Pandu. Aku adalah Gembong Raja Muda!"

"Hmm.... Gelar bagus!" puji Sakawuni dengan senyum sinis. "Kalau boleh aku tahu, ke mana saja Kakang selama ini?"

Gembong Raja Muda tak segera menyahut. Dia dongakkan kepala. Bibirnya menyeruakkan senyuman. Namun senyum itu tiba-tiba pupus tatkala dia kembali luruskan pandangannya dan berkata,

"Aku tak bisa mengatakannya padamu. Yang perlu kau tahu, saat ini aku sedang mencari kekasihmu! Pendekar Mata Bongsang! Tak usah kau tanya, kau tentunya tahu apa masalahnya!"

"Tapi Kakang.... Sebaiknya kau...," belum habis kata-kata Sakawuni, Pandu telah menyela. Wajahnya merah padam dengan rahang terangkat.

"Sakawuni! Aku tak butuh nasihatmu!"

"Begitu? Apa kau lupa, bahwa aku adalah adik seperguruanmu yang tidak ada jeleknya jika memberi saran? Apa kau lupa ucapan mendiang Guru?"

Pandu kembali tertawa bergelak-gelak. "Sakawuni! Kau tak usah mengingat hal-hal seperti itu, karena aku sudah membuangnya jauh-jauh! Di antara kita sekarang tak ada lagi pertalian saudara seperguruan. Yang ada hanyalah dua manusia lain jenis!"

"Apa maksudmu, Kakang?"

Pandu mengarahkan pandangan matanya pada dada dan pinggul Sakawuni bergantian dengan senyum, membuat gadis yang dipandangi merasa tengkuknya dingin dan mengumpat habis-habisan dalam hati.

"Kau tak usah tanya apa maksudku. Yang pasti kau sekarang harus ikut denganku! Percayalah, aku tak akan menyakitimu, malah aku akan memberimu kenikmatan! Ha... ha... ha...!"

"Mulutmu kotor, Kakang! Sadarlah Kakang! Kau selama ini hanya dibakar perasaan dendam dan cemburu, padahal jika kau mau berpikir jernih, tak mungkin semua ini terjadi!"

"Tutup mulutmu, Sakawuni! Dengar. Kaulah yang harus sadar! Kau bisa-bisanya melupakan masalah pembunuh gurumu hanya karena orang yang membunuh adalah orang yang kau cintai!" bentak Pandu dengan suara menggeledek. "Kau tolol Sakawuni! Mengenyahkan masalah besar hanya karena cinta!"

"Kau keliru, Kakang! Kaulah yang memperbesar masalah karena dibakar cemburu!"

Pandu tersenyum sinis. Dia lantas melangkah lagi dua tindak ke depan.

"Sakawuni! Aku telah melupakan urusan cinta dan cemburu. Aku sekarang tak butuh lagi cinta, karena aku bisa mendapatkan di mana-mana! Bahkan darimu!"

Habis berkata, Pandu segera berkelebat. Bersamaan dengan kelebatnya tubuh Pandu, serangkum angin menyambar kencang dari mengibasnya jubah yang dikenakannya.

Sakawuni yang masih tercenung mendengar kata-kata Pandu segera menyisih ke samping. Wajahnya jelas mengisyaratkan keterkejutan besar. Dan belum lenyap rasa terkejutnya, dari arah samping menderu angin deras. "Kakang! Apa maumu dengan semua ini?!" teriak Sakawuni seraya meloncat tiga langkah ke belakang.

"Ha... ha... ha...! Kau ternyata benar-benar bodoh! Tubuhmu perlu diberi kenikmatan agar otakmu bisa menangkap bicara orang!"

"Ingat, Kakang! Aku adalah adikmu. Tak pantas kau bicara begitu!"

"Adik tinggal adik. Kenikmatan tak mempersoalkan itu! Kalau kenikmatan itu ada pada sang adik, apakah harus mencari orang lain?!"

"Gila! Tampaknya untuk membalas sakit hatinya karena kutolak cintanya, dia sekarang menginginkan tubuhku! Hmm     Jangan dikira aku akan me-

nyerah begitu saja, meski aku tahu, kau sekarang berkepandaian tinggi ," membatin Sakawuni seraya meli-

rik tajam pada Pandu yang kini lima langkah di sampingnya dan memandangi dirinya dengan senyumsenyum dan jakun bergerak turun naik.

"Sakawuni! Menyerahlah kau padaku dengan baik-baik. Dengan demikian kita bisa menikmati kebersaman ini lebih asyik!"

Mendengar kata-kata Pandu, kemarahan Sakawuni yang sedari tadi ditahan-tahan meledak. Seraya mendengus geram, dia melompat ke depan dan berkata.

"Otakmu yang kotor itu sudah layak diberi penyegaran!"

Weesss!

Serangkum angin kencang segera melesat menyambar ke arah Pandu. Namun yang diserang tak berusaha mengelak. Pandu malah dongakkan kepala dan tertawa ngakak.

"Betul. Penyegaran itu adalah tubuhmu. Ha... ha... ha...!"

Sejengkal lagi serangan Sakawuni menghantam tubuh Pandu, pemuda ini segera doyongkan tubuhnya ke samping. Serangan Sakawuni menyisih dan menghantam tempat kosong. Di kejap itu, Pandu sibakkan jubahnya, dan tubuhnya berkelebat lenyap.

Di kejap lain, terdengar seruan tertahan dari mulut Sakawuni. Dia terhuyung ke belakang dua tindak seraya memegangi kain bawahnya yang terasa tersambar benda tajam. Begitu menunduk, gadis cantik ini pucat pasi. Ternyata kain bawahnya bagian paha robek menganga, membuat pahanya jelas terlihat!

Enam langkah di hadapan Sakawuni, Pandu tegak dengan tersenyum. Matanya menyengat tajam pada paha Sakawuni.

"Sakawuni! Tawaranku masih berlaku! Bagaimana...?l"

"Manusia kotor!" hardik Sakawuni. Gadis ini segera meloncat ke depan, kedua tangannya berkelebat cepat menghantam kepala Pandu. Lagi-lagi yang diserang tak bergerak menghindar. Baru saat kedua tangan itu hampir menemui sasaran, sang pemuda rundukkan kepalanya, dan tangannya bergerak cepat dari bawah menyamping.

Breett!

Kain bagian dada Sakawuni robek besar. Bukan hanya sampai di situ, begitu berhasil merobek pakaian bagian dada, tangan Pandu bergerak ke samping, dan....

Breett!

Kain bagian pinggang kanan juga robek. Sakawuni menjerit tinggi. Dia segera tarik pu-

lang kedua tangannya, dan serta merta undurkan kaki dua langkah ke belakang, lalu dihantamkannya ke depan.

Tangan kiri Pandu coba menyabet kaki Saka-

wuni, namun Pandu tertipu, karena Sakawuni cepat tarik pulang kakinya sebelum kaki itu lurus menghantam, dan begitu tangan kiri Pandu bergerak, tubuh Sakawuni doyong sedikit ke depan, tangannya pun bergerak cepat.

Desss!

Pundak Pandu telak terhantam pukulan tangan Sakawuni. Namun Sakawuni terlengak. Pandu tidak keluarkan seruan, malah tubuhnya tidak sedikit pun bergeming. Padahal saat pukulkan tangan, Sakawuni telah kerahkan setengah dari tenaga dalamnya.

"Sakawuni! Kau bisa memilih bagian tubuhku yang kau suka! Keluarkan ilmu yang kau pelajari dari Ageng Panangkaran! Ha... ha... ha...!"

"Ilmu ternyata telah merubah dirimu, Kakang!

Tapi jangan kau kira aku akan menyerah!"

"Bagus! Itu akan menambah gairahku!" jawab Pandu dengan usap-usap dagunya. Sementara matanya tak kesiap memandangi dua buah dada Sakawuni yang menyembul dari balik pakaiannya yang robek.

Meski diam-diam Sakawuni merinding, namun dia tak hendak menyerahkan diri. Dengan berteriak lengking gadis ini kembali menyerang. Dua tangannya dipukulkan ke depan. Dua larik sinar redup segera menyambar. Itulah pukulan 'Kilat Halilintar'.

"Kilat Halilintar. Apa hebatnya?" ujar Pandu dengan menyeringai. Dia segera lesatkan diri ke udara, membuat serangan yang dilancarkan Sakawuni lagilagi menghantam angin.

Dari atas udara, Pandu sibakkan jubahnya. Angin kencang menderu. Bersamaan dengan itu tubuhnya melayang ke bawah dengan kaki kanan lurus!

Sakawuni sesaat jadi tercenung. Dia merasa tak ada apa-apanya dibanding dengan bekas kakak seperguruannya ini. Namun dirinya juga tak mau pasrah. Apalagi mengingat ungkapan kotor dari mulut Pandu. Maka ketika sambaran jubah Pandu menggebrak, gadis ini segera menyambutnya dengan kirimkan kembali pukulan 'Kilat Halilintar'.

Hebatnya meski serangan yang dilancarkan Pandu hanya dengan mengandalkan sibakan jubahnya, namun hal itu mampu membendung tangkisan Sakawuni. Hingga saat itu juga terdengar benturan dahsyat yang keluarkan suara berdebam.

Sakawuni terjajar satu langkah ke samping. Saat itulah, tubuh Pandu menukik ke arahnya. Meski Sakawuni coba menghindar dengan meloncat lagi ke samping, namun gerakan Pandu ternyata telah mengetahui langkah Sakawuni. Hingga tubuhnya pun segera menerabas ke samping. Namun Sakawuni dibuat terkejut, karena Pandu tidak kirimkan serangan. Dan selagi Sakawuni dilanda bingung mendapati sikap Pandu, pemuda ini gerakkan kedua tangannya.

Sakawuni berserikeras. Dia hendak melangkah maju, karena saat itu Pandu berada di belakangnya. Namun Sakawuni tercengang kaget. Wajahnya berubah pias. Ternyata tubuhnya tak bisa digerakkan!

Pandu tertawa terbahak-bahak. Pemuda ini ternyata telah menggerakkan kedua tangannya menotok punggung dan leher Sakawuni, membuat gadis ini tegang kaku. Hanya bisa buka suara tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Lantas masih dengan tertawa terbahak-bahak, Pandu menyergap tubuh Sakawuni, dan dengan gerakan cepat tubuh itu dibopongnya. "Manusia kotor! Lepaskan aku!" Sakawuni menjerit keras di bopongan Pandu yang kini melangkah perlahan ke balik pohon besar. Lalu terdengar suara kain terobek dengan paksa, dan bersamaan itu juga terdengar umpatan panjang pendek yang disahuti dengan tawa gelak-gelak.

"Berteriaklah setinggi langit, Sakawuni! Itu akan menambah nafsuku. Ha... ha... ha...!"

Sesaat lagi Pandu alias Gembong Raja Muda berhasil melampiskan nafsu bejatnya pada Sakawuni, tiba-tiba serangkum angin deras menyambar. Karena saat itu Pandu dalam keadaan diamuk nafsu, membuat kewaspadaannya jauh berkurang, hingga meski sambaran itu hanya perlahan, dia tak sanggup untuk mengelak.

Tubuh Pandu yang tadi terlihat hendak menindih tubuh Sakawuni serentak terbanting keras ke samping. Dan bersamaan dengan itu sebuah kilatan berwarna kuning segera menggebrak!.

Pandu yang masih terkejut lagi-lagi kalah cepat untuk menghindar. Hingga tak ampun lagi kilatan warna kuning itu menerabas tubuhnya. Tubuhnya kembali terbanting. Dari hidungnya mengucur darah segar dan bibirnya nampak pecah-pecah!

Seraya menggereng marah, Pandu cepat lesatkan diri ke samping. Dan siap kirimkan serangan. Namun dia urungkan niat tatkala dia melihat siapa adanya orang yang sepuluh langkah di hadapannya.

SEMBILAN

TERNYATA dia adalah seorang gadis cantik jelita mengenakan pakaian warna kuning, dan bukan lain adalah Putri Tunjung Kuning.

"Jahanam busuk! Laki-laki tak tahu malu! Apakah pantas perbuatan ini kau lakukan pada saudara seperguruanmu? Orang macam kau jika dibiarkan bisa merendahkan harkat perempuan. Mampus adalah imbalan setimpal untuk laki-laki sepertimu!" Putri Tunjung Kuning berkata seraya memandang tajam pada Pandu.

Seraya mengusap-upas bibirnya Pandu keluarkan dengusan. Mulutnya dia kembungkan lalu meludah ke tanah. Sejenak kepalanya berpaling pada Sakawuni yang masih telentang dengan pakaian tak karuan. Lalu beralih pada Putri Tunjung Kuning.

"Perempuan macam dia harkatnya memang pantas untuk direndahkan agar dia bisa berpikir secara jernih! Lalu, apakah kau juga ingin menikmati kesenangan seperti ini?"

Paras Putri Tunjung Kuning berubah merah padam. Tangannya mengepal dengan mata berkilat menusuk.

"Dengar laki-laki kotor! Yang ku ingin adalah menanggalkan kepalamu!"

Pandu tertawa gelak-gelak. Kedua tangannya bergerak merapikan jubah lorengnya, lalu melangkah maju, dan berkata.

"Kau ingin menanggalkan kepalaku. Hmm....

Aku ingin menanggalkan pakaianmu! Ha... ha... ha !"

"Setan alas!" sergah Putri Tunjung Kuning seraya melompat ke depan dan hantamkan kedua tangannya. Kali ini dia kerahkan setengah dari tenaga dalamnya. Hingga saat itu juga berlarik-larik sinar kuning melesat ke arah Pandu alias Gembong Raja Muda.

Dari kilatan yang redup dan berhawa panas yang menyertai sentakan tangan Pandu, Pandu sadar jika serangan itu tidak bisa dipandang enteng. Sambil sibakkan jubahnya, Pandu menghindar ke samping. Dari arah samping pemuda ini segera pukulkan kedua tangannya memapak serangan Pandu.

Bummm!

Terdengar ledakan dahsyat tatkala dua pukulan itu bertemu di udara. Tempat itu bergetar hebat. Tubuh Sakawuni yang tak jauh dari tempat bertemunya serangan itu terguling dengan keluarkan seruan tertahan.

Sementara, Putri Tunjung Kuning terlihat surutkan langkah ke belakang dengan memegangi dadanya. Dia segera salurkan hawa murni ke dada untuk mengurangi rasa nyeri yang mendera dadanya. Di lain pihak, Pandu tak bergerak dari tempatnya semula. Dari kejadian ini Putri Tunjung Kuning sadar jika pemuda di hadapannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Menyadari hal itu, Putri Tunjung Kuning segera takupkan kedua tangannya sejajar dada. Matanya memejam dengan mulut berkemik. Tampaknya dia akan melakukan serangan andalan. Hal ini bisa dimengerti, karena jika dia menunggu diserang, bukan tidak mungkin dia akan segera dapat ditaklukkan lawan.

"Laki-laki busuk! Terimalah kematianmu!" Bersamaan dengan makian itu Putri Tunjung

Kuning buka kedua tangannya dan serta merta dihantamkan ke arah Pandu yang tampaknya menunggu.

Segelombang angin deras yang mengeluarkan suara menggeledek dan kilatan-kilatan kuning menggebrak ke depan.

Satu depa lagi gelombang itu menghajar tubuh Pandu, pemuda ini lesatkan diri ke udara. Dari udara kedua tangannya disentakkan ke bawah.

Blarrr! Tanah terbongkar dengan meninggalkan lobang menganga sedalam setengah tombak. Putri Tunjung Kuning tampak terhuyung-huyung ke belakang. Dia coba menahan gerak tubuhnya, namun kakinya goyah, hingga saat itu juga tubuhnya jatuh terduduk dengan kaki menekuk! 

Di atas udara, setelah hantamkan kedua tangannya, Pandu kibaskan tangan kirinya.

Weeettt!

Tiga benda hitam melesat ke arah Putri Tunjung Kuning yang berusaha bangkit. Anehnya, tiga benda hitam yang ternyata adalah tiga kuntum bunga hitam itu menebar dan menukik dengan mengarah dari tiga jurusan.

Putri Tunjung Kuning terkejut. Mula-mula dia hanya melihat kuntum bunga itu lurus ke arahnya, namun ketika tiba-tiba kuntum bunga itu menebar malah menyambar dari depan, samping kanan, dan samping kiri gadis ini terlihat gugup. Dia segera berseru keras, tubuhnya dia rebahkan ke samping kanan, lalu tangannya dia hantamkan ke depan dan samping kiri.

Taasss! Taaasss!

Dua kuntum bunga yang menyambar dari arah depan dan samping kiri hancur berhamburan. Namun bunga yang datang dari arah kanan lolos dari sergapannya meski saat itu kaki kanannya telah dia angkat dan dijejakkan menyilang. Hingga tanpa ampun lagi, kuntum bunga itu menerabas cepat ke pundaknya!

Putri Tunjung Kuning menjerit lengking. Meski hanya sekuntum bunga, namun nyatanya bunga itu mampu merobek pakaiannya, bahkan kulit di balik pakaian itu merah bagai kulit dipanggang.

Dengan meraba pundaknya, Gadis ini bangkit, dan sekonyong-konyong tubuhnya melesat ke depan, saat mana Pandu baru saja mendarat dengan tersenyum-senyum.

Pandu hanya melihat dua kilatan benda hitam yang mendesir. Tahu-tahu kedua tangan Putri Tunjung Kuning telah meluruk di depan kepalanya!

Meski sempat terkejut, namun pemuda ini tak berbuat ayal. Dia segera angkat kedua tangannya dan diputar di atas kepalanya. Dengan demikian selain melindungi kepala, dia juga menangkis.

Prakkk! Prakkk!

Dua pasang tangan bentrok di atas kepala Pandu. Putri Tunjung Kuning memekik kesakitan. Dia segera undurkan kakinya dua tindak lalu kaki kanannya dia hantamkan ke depan.

Tapi yang diserang tampaknya telah dapat membaca arah serangan. Hingga begitu kaki kanan Putri Tunjung Kuning melejang ke depan, Pandu rundukkan tubuhnya dan kaki kirinya menyapu ke arah kaki kiri Putri Tunjung Kuning yang digunakan sebagai tumpuan tubuhnya.

Meski pun segera menarik pulang kaki kanannya untuk mengimbangi tubuhnya yang hendak terbanting, namun terlambat. Karena saat itu juga tangan kanan Pandu bergerak cepat dan menotok kaki serta pundaknya! Karena tubuhnya tertotok sebelum roboh, maka mau tak mau gadis ini tak bisa menghindar diri dari gerakan tubuhnya yang hendak terbanting. Hingga kejap itu juga terdengar suara bergedebukan.

Pandu tertawa lalu melangkah ke arah Putri Tunjung Kuning yang kini telah terkapar tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Namun mendadak pemuda ini hentikan langkahnya. Seraya berpaling pada Sakawuni yang juga terkapar, dia berkata. "Gadis cantik! Tunggulah sebentar di sini. Lebih nikmat rasanya menikmati tubuh gadis cantik di hadapan gadis cantik lain! Ha... ha... ha...!" Pandu balikkan tubuh dan melangkah ke arah Sakawuni.

"Jahanam! Ternyata kau adalah laki-laki bangsat yang hanya berani dengan perempuan-perempuan tak berdaya! Aku bersumpah akan menguliti tubuhmu jika kau masih bertindak tak senonoh!" kata Sakawuni dengan mata merah berkilat-kilat.

Pandu tidak mendengarkan kata-kata Sakawuni meski telinganya tampak merah. Dia segera membungkuk dan dengan cekatan tangannya bergerak. Tahu-tahu tubuh Sakawuni telah berada di gendongannya.

"Gadis liar! Nampaknya kau belum pernah merasakan nikmatnya kebersamaan. Jika tahu, kau tentunya tak akan merendeng begini rupa. Bahkan sebaliknya kau akan terpejam-pejam sambil minta sekali lagi! Ha... ha... ha...!"

Pandu seraya tertawa melangkah ke arah Putri Tunjung Kuning. Lalu membaringkan tubuh Sakawuni di samping Putri Tunjung Kuning. Matanya sejenak memandangi dua gadis di hadapannya yang telentang tanpa daya. Bibirnya mengeluarkan kata-kata perlahan yang tak bisa ditangkap pendengaran. Sepasang matanya lantas menebar berkeliling.

"Hmm    Dari pada mencari tempat lain, di sini

pun tak apa...." Berpikir begitu, Pandu lantas tengadahkan kepala dan berkata.

"Di antara kalian, siapa yang minta duluan?!"

Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning saling berpandangan. Paras keduanya telah pucat pasi. Kedua gadis ini tak ada yang angkat bicara.

"Baik. Jika kalian tak ada yang jawab, biarlah aku sendiri yang menentukan siapa orang yang akan menikmati terlebih dahulu!" Pandu lantas melangkah setindak ke dekat Putri Tunjung Kuning. Yang didatangi membelalakkan mata dengan bibir mengatup rapat. Dan tanpa berkata lagi, Pandu bungkukkan tubuhnya, tangannya bergerak.

Brettt! Breett!

Pakaian bawah Putri Tunjung Kuning robek besar, menampakkan pahanya yang putih mulus. Gadis ini menjerit. Dari mulutnya keluar makian panjang pendek. Sementara Sakawuni tak berani berpaling. Dia memejamkan sepasang matanya dengan bibir bergetar.

Pandu menggerakkan kedua tangannya, tangan kanan mengusap-usap janggutnya, sementara tangan kiri membuka satu persatu kancing jubahnya. Meski Putri Tunjung Kuning memaki terus menerus, namun Pandu seolah tak ambil peduli.

Begitu semua kancing jubahnya telah terbuka, Pandu keluarkan tawa tergelak-gelak. Namun tiba-tiba dia melompat ke samping, dan berdiri dengan rentangkan kakinya di atas tubuh Sakawuni.

Sakawuni yang sedari tadi memejamkan mata segera membuka kelopak matanya begitu terasa ada angin berdesir di atas tubuhnya. Gadis ini kontan menjerit dengan bibir gagu! Di atas tubuhnya, Pandu tertawa. sambil memandangi dada Sakawuni yang nampak naik turun.

Dengan tetap tertawa, perlahan-lahan Pandu gerakkan tubuhnya membungkuk, sementara tangannya pun bergerak hendak menyentuh dada Sakawuni. Saat itulah mendadak terdengar orang berseru.

"Sobatku ini tampaknya orang serakah. Bagaimana kalau yang satunya untukku saja?!"

Bersamaan dengan terdengarnya seruan, angin kencang menderu dengan keluarkan suara menggemuruh dahsyat.

"Keparat! Siapa berani mengganggu orang ingin bersenang-senang?!" kata Pandu seraya melompat ke samping menghindari terjangan angin. Dari sini Pandu segera balikkan tubuh ingin tahu siapa adanya orang yang menghalangi hasratnya.

Di hadapan Pandu saat itu telah berdiri seorang pemuda tegap. Wajahnya tampan dengan rambut dikuncir ekor kuda. Pemuda ini mengenakan pakaian warna hijau yang dilapis dengan pakaian kuning lengan panjang.

"Nampaknya hari ini adalah hari bersejarah bagiku. Sekali jalan bisa menemukan orang yang lama kucari!" Sepasang mata Pandu mendelik besar. Rahangnya mengembang kaku dengan tangan mengepal.

"Mata Keranjang 108. Perhitungan kita nampaknya akan selesai hari ini. Sebelum pergi untuk selamanya, apakah kau tak ingin meninggalkan pesan pada gadismu ini?" sambil berkata, pundak Pandu bergerak seakan menunjuk ke arah Sakawuni.

Di seberang, pemuda berbaju hijau dan bukan lain memang Pendekar Mata Keranjang 108 mendadak memenggal senyumnya tatkala mengetahui siapa adanya pemuda yang hendak berbuat tidak senonoh. Dan dadanya bergetar saat mendapati siapa adanya dua gadis yang telentang.

"Sakawuni, Putri Tunjung Kuning! Kenapa kalian bisa berurusan dengan pemuda ini...? Bagaimana kalian bisa bersamaan...? Hmm    Itu bisa kutanyakan

nanti. Sekarang aku harus memberi pelajaran pada pemuda ini. Hmm.... Tampaknya dia telah berubah. Nada suaranya mengandung tenaga dalam kuat. Aku tak boleh memandangnya sebelah mata...," membatin Pendekar 108.

Di lain pihak, begitu mengetahui siapa adanya orang menggagalkan niat Pandu, baik Sakawuni atau Putri Tunjung Kuning sama-sama mengeluarkan gumaman.

"Ah, rupanya dia!" seru Sakawuni seraya memandang tajam pada Pendekar Mata Keranjang 108. Bibirnya menyunggingkan senyum aneh.

Putri Tunjung Kuning yang mendengar seruan Sakawuni segera berpaling, dan terheran-heran melihat perubahan pada paras gadis di sebelahnya. "Rupanya dia mengenali Pendekar Mata Keranjang 108. Hmm Pendekar satu ini memang banyak disukai ga-

dis-gadis. Pandangan mata serta senyum Sakawuni tidak bisa menyembunyikan rasa suka itu. Ah, seandainya aku tidak mengalami nasib sial...," batin Putri Tunjung Kuning seraya berpaling pada Sakawuni dan berkata perlahan.

"Kau mengenali pemuda itu!"

Sakawuni seolah tak mendengar kata-kata Putri Tunjung Kuning. Matanya tetap menatap lurus pada Pendekar Mata Keranjang.

"Kau kenal dengan pemuda itu?" ulang Putri Tunjung Kuning agak keras.

Sakawuni berpaling. Senyum di bibirnya masih tampak. Dia menatap pada Putri Tunjung Kuning berlama-lama, namun dari mulutnya tak terdengar ucapan. Baru ketika Putri Tunjung Kuning memperlihatkan rasa heran, Sakawuni anggukkan kepalanya. Dan entah karena gembira atau tak sadar, Sakawuni berkata.

"Orang itulah yang sebenarnya kucari!"

Kini Putri Tunjung Kuning yang balik terkejut, membuat Sakawuni menjadi terheran-heran. Namun keduanya segera luruskan pandangannya ke depan ketika didengarnya Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 berkata lantang.

"Pandu! Sebenarnya! masalah di antara kita ku anggap selesai. Namun kulihat ulahmu, kau terlalu enak jika dibiarkan menikmati hidup!"

Pandu tertawa mendengar kata-kata Pendekar Mata Keranjang 108. Tapi tiba-tiba dia menghentikan tawanya dan berkata dengan kedua tangan dia tarik ke belakang.

"Kau tak usah banyak ucap, Bangsat!"

Belum habis kata-katanya, Pandu telah berkelebat seraya hantamkan tangannya. Begitu angin deras menyambar keluar dari tangannya, Pandu pun segera melejit ke udara.

Di seberang, Aji cepat rebahkan diri ke samping, lalu dengan memutar tubuh menyusur tanah, kedua tangannya bergerak memukul ke depan.

Bummm!

Satu ledakan segera menyentak di tempat ini. Tapi belum lenyap suara ledakan, tubuh Pandu telah menukik dengan sepasang kaki menghujam ke arah kepala Aji.

Aji sedikit terkejut mendapati gerak cepat lawan. Dari sini Aji merasa yakin jika Pandu yang sekarang di hadapannya bukanlah Pandu yang dahulu. Murid Wong Agung ini segera tegakkan tubuh dan kedua tangannya dia palangkan di atas kepala.

Prakk! Prakkk!

Bentrok sepasang kaki dan tangan tak bisa dihindarkan lagi. Tubuh Aji tersurut dua langkah ke belakang. Sementara Pandu membuat gerakan berputar sekali lalu mendarat dengan kaki terlebih dahulu. Namun tampaknya Pandu tak ingin berlama-lama. Begitu mendarat dia segera melompat dengan lancarkan tendangan ke arah dada Pendekar 108!

Wuuuttt!

Secepat kilat Aji menarik kipas dari balik bajunya dan dikibaskan melengkung di depan dada. Namun murid Wong Agung ini terkejut. Tendangan Pandu seolah tak terbendung oleh sambaran kipasnya yang mengeluarkan desiran angin dahsyat. Hingga dengan menindih rasa terkejut, Aji cepat miringkan tubuh. Tendangan kaki Pandu lewat sejengkal di bahunya, namun kejap itu juga Pandu cepat tarik pulang kakinya dan berputar. Kini kaki kirinya menggebrak!

Karena waktu itu Aji menghindar ke samping kanan, sementara kaki Pandu menggebrak dari arah kanan, membuat murid Wong Agung ini sedikit gugup. Dia tarik kembali tubuhnya agar tegak, namun kaki Pandu melesat lebih cepat.

Desss!

Dada Pendekar Mata Keranjang 108 mentahmentah terhantam tendangan kaki kiri Pandu. Dia mencelat hingga dua tombak ke belakang. Darah tampak memercik dari hidung dan mulutnya.

"Hmm.... Rasa-rasanya aku pernah melihat jurus yang dimainkannya...," Pendekar Mata Keranjang bangkit seraya mengusap hidung dan mulutnya.

"Pandu! Apa hubunganmu dengan manusia bernama Kunyil?!" kata Aji dengan menatap lurus. Namun ekor matanya sekilas melirik pada Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning.

Mendengar pertanyaan Aji, paras Pandu berubah. Namun hanya sekejap. Sesaat kemudian, senyum telah menghiasi bibirnya. Lalu mulutnya membuka.

"Untuk mengantarmu menuju kematian, apakah perlu menjawab soal hubungan segala?" Pendekar Mata Keranjang 108 kertakkan rahang. Tapi sebelum dia bergerak, Pandu telah mendahului melompat. Kedua tangannya lurus ke depan, sementara kedua kakinya berputar-putar mengeluarkan suara dahsyat.

"Ilmu 'Sapu Bumi'!" gumam Aji seraya gulingkan tubuhnya ke atas tanah. Tapi gerakan Aji kali ini tampaknya kurang cepat, karena meski tubuhnya dapat terhindar dari terjangan sepasang kaki Pandu, sambaran angin deras yang keluar dari tangan Pandu menyapu tubuhnya. Hingga tak ampun lagi tubuh murid Wong Agung ini melayang dan jatuh terkapar di atas tanah.

Pandu tak sia-siakan kesempatan, dia segera memburu. Dan begitu Pendekar Mata Keranjang 108 merambat bangkit, Pandu telah membentak garang seraya kirimkan tendangan dengan dua kaki!

Mendapati serangan bahaya, Aji cepat tarik kipasnya sedikit ke belakang sementara tangan kirinya mengepal. Begitu tendangan Pandu datang, kedua tangan Aji secara bersamaan menyentak ke depan.

Prakkk! Prakkk!

Terdengar dua kali bentrokan. Pandu keluarkan seruan keras. Namun hebatnya dia segera dapat menguasai tubuhnya yang mencelat ke belakang, bahkan dengan pengerahan tenaga dalam penuh, Pandu memutar tubuhnya yang masih berada di atas udara dan tiba-tiba tubuhnya kembali melesat ke depan.

Melihat lawan kembali melakukan serangan, Aji yang masih terhuyung-huyung segera kibaskan kipasnya sementara tangan kirinya menghantam ke depan.

Sinar putih segera membersit dengan mengeluarkan suara menggidikkan. Murid Wong Agung tampaknya telah lepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'. Pandu merasakan tubuhnya bagai tertahan. Dan dikejap lain sengatan hawa panas yang keluarkan suara bagai gelombang menghantam tubuhnya yang sedang menerjang ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Pandu masih mencoba menahan dengan pukulkan kedua tangannya. Namun pukulannya bagai tertahan hingga tak mampu menahan gerak laju tubuhnya yang melayang ke belakang.

Tubuh Pandu menyuruk tanah. Jubah lorengnya tampak hangus dan robek di sana-sini. Dari sudut bibirnya keluar darah kehitaman, pertanda terluka dalam cukup parah.

"Jahanam!" rutuk Pandu sambil merambat bangkit. Tangan kanannya memegangi dadanya yang berdenyut sakit. Namun sekonyong-konyong tubuhnya melesat cepat dan lenyap dari pandangan.

Pendekar 108 yang tahu gelagat segera putarputar kipasnya. Sinar keputihan segera bergulunggulung seakan membungkus dirinya.

"Terimalah kematianmu!" terdengar seruan dari udara. Ternyata tahu-tahu Pandu telah menukik dari atas dengan sepasang kaki lurus mengarah pada kepala Pendekar Mata Keranjang 108! Namun Pandu terpengarah, karena terjangan kakinya mental balik, malah dia merasakan satu kekuatan dahsyat mendorong tubuhnya dari bawah, membuat tubuh merasakan satu kekuatan balik ke udara.

Saat itulah Pendekar Mata Keranjang hentikan putaran kipasnya dan lesatkan diri ke udara menyusul Pandu. Pandu terkejut, dia segera hantamkan tangan kiri-kanan, namun karena waktu menghantam dia tak bisa kuasai tubuhnya, membuat hantaman kedua tangannya melenceng menghantam tempat kosong. Di lain pihak, Aji segera pukulkan tangan kirinya sedikit ke bawah, karena waktu itu tubuh Pandu sedang menukik.

Paras Pandu menjadi pucat past. Dia masih berusaha menghindar, namun gerakannya lambat. Hingga tanpa ampun lagi pukulan tangan jarak jauh yang dilepaskan Aji telak menghajar bahunya.

Desss!

Pandu keluarkan jeritan tertahan. Bersamaan dengan itu, tubuhnya menyongsong tanah dengan bahu terlebih dahulu. Tertatih-tatih Pandu coba bangkit, namun begitu berdiri, kakinya goyah. Hingga tak lama kemudian tubuhnya kembali roboh.

Setelah mendarat dan memasukkan kipas ungunya, Pendekar Mata Keranjang melangkah mendekat. Namun langkahnya tertahan tatkala dari arah samping berkelebat sebuah bayangan dan berdiri tak jauh dari Pandu.

"Sekali lagi melangkah, gadismu tidak akan selamat!" berkata bayangan yang baru datang.

Berpaling, murid Wong Agung ini terkejut. Demikian pula Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning. Kedua gadis ini malah katupkan mulut masing-masing agar tak keluarkan seruan. Di lain pihak, Pandu memandangi dengan tatapan dingin pada orang yang baru datang.

Saat itu di tempat itu berdiri sesosok tubuh pendek. Raut wajahnya dilapis bedak tebal. Sementara bibirnya yang tebal sebelah atas berwarna merah menyala. Sepasang matanya lebar dengan hidung agak bengkok. Rambut sebelah belakang panjang, sedang bagian atas dan samping dipotong pendek. Dia bukan lain adalah Bawuk Raga Ginting, guru Pandu.

Pendekar Mata   Keranjang   108   seolah   tak menghiraukan kata-kata Bawuk Raga Ginting. Dia terus melangkah hendak mendekati Pandu.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Nyawa kekasihmu masih berada di tanganku. Kalau kau teruskan langkah, nyawa kekasihmu tak akan tertolong!" kata Bawuk Raga Ginting agak keras.

Pendekar Mata Keranjang 108 hentikan langkah. Memandang lekat-lekat pada Bawuk Raga Ginting.

"Hmm.... Ternyata Pandu, adalah murid orang edan ini. Aku bisa saja mengirim keduanya ke akherat saat ini juga. Tapi bagaimana nasib Ratu Sekar Langit yang kini masih di tangan Bawuk Raga Ginting...?" membatin Aji. Lantas berkata.

"Apa maksudmu?!"

Bawuk Raga Ginting tersenyum dingin. "Biarkan dia pergi bersamaku...!" sambil berka-

ta, Bawuk Raga Ginting palingkan wajahnya pada Pandu. Lalu melanjutkan ucapannya. "Dan kau akan memperoleh kekasihmu kembali!"

Mendengar ucapan Bawuk Raga Ginting, Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning sama-sama terkejut. Seolah tak sadar keduanya sama-sama berpaling dan saling berpandangan satu sama lain dengan raut sukar diartikan.

Pendekar Mata Keranjang 108 sendiri tampaknya dilanda bimbang.

"Apakah ucapannya bisa dipercaya?"

"Kau terlihat ragu-ragu. Tapi itu urusanmu. Sekarang kau tinggal pilih, membiarkan dia pergi bersamaku, atau kekasihmu menemui ajal!" kata Bawuk Raga Ginting seraya mendekati Pandu.

"Di mana dia sekarang?!"

"Kau setuju dengan tawaranku?" tanya Bawuk Raga Ginting seraya memandangi silih berganti pada Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning.

"Kau tak usah banyak bicara. Katakan di mana dia sekarang!" kata Aji tanpa mempedulikan pandangan heran Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning.

"Kau tentunya telah tahu tempatku. Kembalilah kau ke sana. Pada ruang gua kedua, sebelah pojok kanan kau akan menemukan lantai batu persegi empat. Sekali jejak, batu itu akan terbuka, dan kau akan menemukan kekasihmu!"

Habis berkata, Bawuk Raga Ginting meloncat ke arah Pandu, dan secepat kilat tangannya meraih tubuh Pandu dan ditaruh di atas pundaknya. Lalu tanpa menoleh lagi dia berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Kalau kata-katamu dusta, ke mana pun kalian pergi, kalian akan kukejar!" kata Pendekar 108 seraya pandangi kepergian Bawuk Raga Ginting dan Pandu.

Begitu Bawuk Raga Ginting dan Pandu berlalu, Aji segera mendatangi Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning. Sejenak murid Wong Agung ini dibuat tak kesiap. Karena saat itu keadaan kedua gadis ini tak karuan. Pakaian keduanya robek di sana-sini menampakkan auratnya.

"He...? Kenapa kau tak segera bebaskan kami?" teriak Putri Tunjung Kuning. Sementara Sakawuni hanya menggegat bibir tak berani memandang.

Dengan usap-usap ujung hidungnya, Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah mendekat. Dengan alihkan pandangan, meski sekilas melirik Aji segera membebaskan Putri Tunjung Kuning dan Sakawuni dari totokan yang membuat keduanya tak bisa bergerak,

Begitu terbebas, kedua gadis ini segera bangkit dan balikkan tubuh masing-masing membelakangi Pendekar Mata Keranjang 108. Paras kedua gadis ini merah padam. Sementara di belakang mereka, Aji cengar-cengir seraya memandangi punggung Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning. Tapi dia segera teringat pada Ratu Sekar Langit.

"Aku harus cepat membebaskan Ratu Sekar Langit...," murid Wong Agung ini lantas berkata perlahan.

"Aku sebenarnya masih ingin berlama-lama ngobrol dengan kalian. Namun karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan, aku harus pergi!"

"Tunggu!" secara bersamaan Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning berseru. Namun Aji seolah tak mendengarkan seruan. Dia segera berkelebat meninggalkan tempat itu.

Begitu berkelebat, Sakawuni dan Putri Tunjung Kuning sama-sama balikkan tubuh, namun Pendekar Mata Keranjang 108 telah lenyap.

Sejenak kedua gadis ini saling berpandangan. Namun sebentar kemudian, Sakawuni tampak takupkan kedua tangannya ke wajah. Lalu melangkah ke arah utara tanpa menghiraukan Putri Tunjung Kuning. Putri Tunjung Kuning sendiri tampak menggigihkan bibirnya satu sama lain. Lalu balikkan tubuh dan berkelebat ke jurusan selatan. Di sudut kedua ma-

tanya tampak guliran air bening jatuh!

SELESAI