Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 10 : Titisan Darah Terkutuk

 
Eps 10 : Titisan Darah Terkutuk


HAMPARAN bumi menggeliat gersang terpanggang jilatan sinar matahari. Rimbunan daun pohonpohon besar berusia ratusan tahun yang berdiri kokoh tampak berguguran diterpa angin kemarau dengan keluarkan desau. Awan putih tak sebongkah pun menggelantung di angkasa, membuat sengatan bola jagad itu semakin leluasa menikmati gerak geliat bumi.

Di Lereng Gunung Mahameru, tepatnya di Dusun Amadanom, di dalam sebuah bangunan rumah tua yang terletak di ujung dusun, seorang laki-laki tua tampak melangkah perlahan mengelilingi sebuah batu yang membentuk altar, di mana di atasnya terlihat seorang perempuan tidur telentang.

Laki-laki ini mengenakan pakaian putih panjang. Bentuk tubuhnya telah doyong ke depan, membuat punggungnya sedikit melengkung. Janggut lakilaki ini tampak telah ditumbuhi jenggot panjang dan memutih. Meski beg itu wajah laki-laki ini tak begitu jelas, karena dia mengenakan caping dari daun pandan lebar.

"Hmm.... Kurasa tak berapa lama lagi, jabang bayi yang kuharapkan itu akan lahir...," gumam lakilaki bercaping seraya terus melangkah mengelilingi batu altar. Sambil bergumam, orang tua ini menggerakkan tangan kirinya, mengangkat caping pandan di atas kepalanya, hingga wajahnya kini jelas terlihat. Ternyata kepala bagian atas dan samping laki-laki tua ini tak ditumbuhi rambut sama sekali. Rambut itu hanya tumbuh mulai kepala bagian belakang dan memanjang hingga punggung. Keningnya telah membentuk beberapa lipatan, pertanda usianya telah lanjut. Sepasang matanya agak sipit, namun demikian, sepasang mata itu menyorot tajam.

Dalam kancah perjalanan panjang sejarah persilatan, laki-laki tua ini sudah tidak asing lagi. Dia dikenal dengan nama Restu Canggir Rumekso. Seorang tokoh dari jajaran atas golongan sesat yang tingkat kepandaiannya tidak diragukan lagi, karena selama berkecimpung dalam kancah rimba persilatan telah banyak tokoh-tokoh silat yang memiliki nama besar harus mengakui ketinggian ilmunya. Hingga wajar saja jika laki-laki ini dimasukkan dalam salah satu barisan dari momok-momok rimba persilatan yang disegani dan ditakuti. Lain daripada itu, selain dikenal sebagai tokoh hitam yang berilmu tinggi, laki-laki tua itu juga dikenal sebagai seorang tabib, hingga membuat dirinya semakin ditakuti, baik oleh kawan maupun lawan.

Namun setelah sekian puluh tahun malang melintang dengan nama besar, Restu Canggir Rumekso tiba-tiba saja menghilang dari percaturan dunia persilatan. Orang-orang tak ada yang tahu, apa sebabnya momok ini mendadak lenyap begitu saja tanpa ada kabar berita. Hanya kabar burung yang tersiar waktu itu, Restu Canggir Rumekso melakukan tapa sambil memperdalam ilmu ketabiban. Karena lama tak muncul itulah, membuat nama besar Restu Canggir Rumekso perlahan-lahan dilupakan orang.

"Ha... ha... ha.... Tak lama lagi, tak lama lagi nama besar Restu Canggir Rumekso akan kembali bergaung. Menyentak rimba persilatan...," Restu Canggir Rumekso berkata seraya mendongakkan kepala memandang langit-langit bangunan. Tawa-nya meledak menyibak kesunyian bangunan. Namun ledakan tawa Restu Canggir Rumekso serta merta terputus mendadak saat dari mulut perempuan di atas altar terdengar erangan perlahan. Kepala laki-laki ini menunduk dengan sepasang mata menatap tak kesiap ke arah perempuan di atas batu altar.

"Tenang-tenanglah manis. Segalanya akan segera berakhir...," kata Restu Canggir Rumekso sambil melangkah mendekati perempuan di atas altar.

Seolah mendengar kata-kata orang, kedua kelopak mata perempuan yang di atas altar perlahan membuka. Bola mata itu sejenak memandang luruslurus ke atas, memandang langit-langit bangunan. Sesaat kemudian, bola mata itu memutar ke samping, ke arah Restu Canggir Rumekso.

Untuk beberapa saat lamanya dua mata gadis ini terpaku memandangi laki-laki di sampingnya. Namun agak lama, karena tak mengenali siapa adanya laki-laki di sampingnya, kening perempuan ini mengernyit menampakkan keterkejutan hebat. Dan seiring dengan itu dari mulutnya terdengar suara bernada menegur.

"Si..., siapa kau...?!" suara perempuan ini datar dan agak tersendat.

Restu Canggir Rumekso tak menjawab. Dia hanya sunggingkan senyum, membuat perempuan di atas batu altar semakin nampak ketakutan. Dia terlihat hendak bergerak bangkit, namun perempuan ini makin terperangah tatkala mendapati tubuhnya lemas tak bisa digerakkan. Hingga sebagai nada protes dia berkata kembali.

"Siapa kau...?! Dan apa yang kau perbuat terhadapku...?!"

Lagi-lagi Restu Canggir Rumekso menjawab pertanyaan nada menegur sang perempuan dengan seulas senyum. Namun tak berapa kemudian, dia buka mulut. "Kau tak usah banyak berkata dulu. Nanti semuanya akan jelas! Yang kau perlukan sekarang adalah istirahat, agar saat melahirkan nanti, kau tak kehabisan tenaga!"

Mendengar ucapan Restu Canggir Rumekso, perempuan di atas altar yang ternyata adalah seorang gadis muda berwajah cantik jelita, mengenakan pakaian warna kuning terlihat terkejut. Terbukti dari sepasang matanya yang tiba-tiba membelalak besar meski mata itu sayu redup. Mulutnya menganga dengan dahi mengkerut. Lantas kedua bola mata gadis muda ini menatap pada Restu Canggir Rumekso sesaat kemudian beralih pada perutnya. Raut muka sang gadis semakin terlihat kaget, karena ternyata perutnya sudah kelihatan besar dan terasa bergerak-gerak.

"Aku.... Perutku kenapa sudah begini besar...?" "Bukankah waktu itu aku ditolong oleh Pende-

kar Mata Keranjang? Dan bukankah waktu itu perutku belum tampak buncit? Ke mana Pendekar Mata Keranjang...? Dan siapa laki-laki tua ini...?!"

Segala pertanyaan sang gadis yang tersimpan dalam benaknya terputus seketika tatkala perutnya dirasa bergerak-gerak lebih keras dan di bagian samping terasa ditendang-tendang. Makin lama gerakan itu makin keras, membuat gadis ini keluarkan suara jeritan tertahan menahan rasa sakit.

"Oh, Anakku...," kata sang gadis dalam hati dengan meringis.

Sementara itu, melihat perut gadis di hadapannya bergerak-gerak keras, Restu Canggir Rumekso maju mendekat. Bibirnya mengulas senyum. Lalu tangannya bergerak menepuk-nepuk perut gadis di hadapannya, membuat gadis itu terkejut. Dia tampak hendak menepis tangan Restu Canggir Rumekso, namun gadis itu tak kuasa menggerakkan kedua tangannya, hingga hanya nada mencegah dari mulutnya yang terdengar.

"Orang tua! Jangan kau berani berbuat yang tidak-tidak!"

Restu Canggir Rumekso seakan tak mendengar kata-kata gadis di hadapannya, yang bernada sedikit mengancam. Orang tua ini terus menepuk-nepuk, malah kini mengurut-urut perut sang gadis seraya berkata.

"He... he... he.... Kau benar-benar bayi istimewa! Apa kau sudah ingin keluar sekarang...?!"

Seakan-akan mengerti kata-kata Restu Canggir Rumekso, gadis muda itu merasakan bayi dalam kandungannya semakin bergerak keras, menendang dan menyodok, hingga tak ampun lagi gadis muda ini semakin meringis dengan erangan tertahan-tahan.

"Putri Tunjung Kuning...!" panggil Restu Canggir Rumekso pada gadis di hadapannya. Gadis muda itu yang bukan lain memang Putri Tunjung Kuning terperangah kaget demi mendapati orang tua di hadapannya itu mengetahui siapa dirinya. Namun sebelum Putri Tunjung Kuning sempat berkata, Restu Canggir Rumekso telah berkata melanjutkan ucapannya.

"Kau tidak usah risau. Kuatkan sedikit. Bayi dalam kandungan mu memang lain daripada yang lain. Aku akan berusaha menolongmu "

Sebenarnya Putri Tunjung Kuning hendak menolak, namun karena tubuhnya begitu lemas dan tak bisa digerakkan, membuat dia hanya diam pasrah, meski dalam hati masih didera beberapa pertanyaan.

"Pejamkan matamu!" tiba-tiba Restu Canggir Rumekso keluarkan kata memerintah. Seraya berkata, Restu Canggir Rumekso nampak memejamkan sepasang matanya, mulutnya berkemik-kemik mengucapkan sesuatu yang tak jelas. Tak berapa lama kemudian, Restu Canggir Rumekso membuka kelopak matanya. Dia pandang sejenak Putri Tunjung Kuning. Dan demi dilihatnya Putri Tunjung Kuning tidak juga memejamkan mata, malah memandang padanya, orang tua ini melotot sedikit matanya dan berkata agak keras.

"Pejamkan matamu! Atau aku terpaksa memejamkan dengan tanganku!"

Mendengar nada ancaman orang, meski dongkol akhirnya Putri Tunjung Kuning memejamkan juga matanya. Bersamaan dengan itu kedua tangan Restu Canggir Rumekso bergerak mengurut perut Putri Tunjung Kuning, dan dengan cepat pula pakaian bagian bawah Putri Tunjung Kuning disingkapkan hingga paha, membuat Putri Tunjung Kuning sedikit terkejut. Namun begitu tahu kain itu hanya disingkap sebatas paha, dia tampak menarik napas lega. Namun perasaan lega itu hanya sekejap. Karena saat itu juga perutnya seperti diaduk-aduk.

"Tarik napas panjang dalam-dalam!" terdengar Restu Canggir Rumekso berkata seraya mengurut-urut perut Putri Tunjung Kuning.

Menyadari kalau orang tua di hadapannya hendak menolong, Putri Tunjung Kuning menuruti katakatanya. Dia menarik napas dalam-dalam.

"Bagus. Bagus.... Lepaskan pelan-pelan sambil ditekan "

Dengan menahan sakit tak terperikan, Putri Tunjung Kuning terus mengikuti perintah Restu Canggir Rumekso. Hingga tak lama kemudian tubuhnya telah basah kuyup oleh keringat. Sementara Restu Canggir Rumekso sendiri tak jauh berbeda. Keringat mulai tampak menetes dari pelipis dan lehernya. Dan mungkin karena dia ingin bayi dalam kandungan Putri Tunjung Kuning lahir dengan selamat, membuat orang tua ini bertindak dengan sangat hati-hati sekali.

Hingga pada suatu kesempatan, Putri Tunjung Kuning merasakan seluruh persendian tubuhnya seakan tercerabut. Hingga gadis ini menjerit lengking.

Dan bersamaan dengan jeritan Putri Tunjung Kuning, kedua tangan Restu Canggir Rumekso bergerak ke bawah paha Putri Tunjung Kuning yang nampak telah sedikit diangkat.

Restu Canggir Rumekso tidak terlalu lama menunggu. Dia lantas merasakan sesuatu membasahi kedua tangannya, lalu seonggok daging lembut menyentuh tangannya. Dengan perasaan was-was, Restu Canggir Rumekso terus menunggu. Dan begitu daging lembut di atas kedua tangannya terasa bergerak-gerak, dengan cepat tangannya bergerak keluar dari bawah paha Putri Tunjung Kuning.

Ketika kedua tangan Restu Canggir Rumekso ditarik keluar, tampaklah di atas tangan itu sesosok bayi mungil dan sehat serta berwarna merah.

Sejenak Restu Canggir Rumekso memperhatikan orok itu, senyumnya lantas menyeruak di bibirnya. Bersamaan dengan sunggingan senyum Restu Canggir Rumekso terdengar ledakan sang orok!

DUA

AKU.... Aku masih hidup...?" Itulah suara pertama yang terdengar dari mulut Putri Tunjung Kuning saat dia siuman. Dengan masih merasakan ngilu di sekujur tubuh serta perih di pangkal pahanya, gadis berwajah cantik ini membuka kelopak matanya. Dikerjap-kerjapkan mata itu sebentar, setelah dapat menyiasati keadaan sekelilingnya, dia palingkan wajah ke samping kanan dan kiri. Dia terlihat kaget, karena dia tidak lagi menemukan Restu Canggir Rumekso.

"Apakah aku bermimpi...?" seraya bergumam, Putri Tunjung Kuning melirik sepasang matanya ke bawah. Dia masih berada di atas bahu altar. Dan begitu matanya menumbuk ke perutnya, dia terlengak.

"Tidak! Aku tidak bermimpi. Perutku telah mengecil, berarti aku telah benar-benar melahirkan seorang bayi! Mana bayiku...? Dan mana orang tua itu?"

Didorong ingin mengetahui bayi yang telah dilahirkannya, Putri Tunjung Kuning segera bergerak bangkit. Dia heran, tubuhnya kini tak lagi lemas dan bisa digerakkan meski ngilu di persendiannya masih terasa sakit.

"Ya, pasti orang tua itu yang mengambil bayiku!" gumam Putri Tunjung Kuning seraya duduk. "Jika orang tua itu sampai berbuat yang tidak-tidak, siapapun dia adanya, tak akan kubiarkan hidup!"

Selagi Putri Tunjung Kuning bergumam sendiri, telinganya menangkap langkah-langkah kaki dari arah belakangnya mendekat. Serta merta Putri Tunjung Kuning palingkan wajah ke belakang.

"Mana anakku...?!" tanya Putri Tunjung Kuning begitu tahu siapa adanya orang yang melangkah ke arahnya.

Orang yang ditanya hanya menyunggingkan senyum sebagai jawaban. Orang yang ditanya yang bukan lain adalah Restu Canggir Rumekso terus melangkah mendekati altar di mana Putri Tunjung Kuning duduk. "Mana anakku!" tanya ulang Putri Tunjung Kuning dengan suara agak tinggi. Habis bertanya, tanpa mempedulikan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya Putri Tunjung Kuning melompat turun dari atas altar dan menyongsong langkah Restu Canggir Rumekso.

"Siapa kau sebenarnya...?! Jangan coba-coba memisahkan aku dengan anakku!" ancam Putri Tunjung Kuning seraya membelalakkan sepasang matanya.

Restu Canggir Rumekso hentikan langkahnya. Dia masih tersenyum meski sepasang matanya membalas tatapan mata gadis di hadapannya. Setelah batuk-batuk beberapa kali, Restu Canggir Rumekso berkata dengan suara perlahan dan berat.

"Putri Tunjung Kuning! Kau tak usah cemas, anakmu dalam keadaan sehat. Dia seorang laki-laki!"

"Laki-laki...?!" ulang Putri Tunjung Kuning. "Oh...," Putri Tunjung Kuning seakan-akan mengeluh, meski kegembiraan tak dapat dia sembunyikan dari pancaran wajahnya.

"Di mana dia sekarang...? Aku ingin melihat-

nya...!"

"Dengan syarat!" kata Restu Canggir Rumekso,

membuat Putri Tunjung Kuning mengernyit. Wajahnya berubah merah padam mendengar kata-kata orang tua di hadapannya. Sambil menahan marah yang mulai mendesak dadanya, Putri Tunjung Kuning berkata.

"Orang tua! Kau jangan macam-macam. Dia adalah anakku, darah daging ku! Kau tak berhak mengajukan syarat!"

"Terserah apa katamu, hanya saja, jika kau tidak menyetujui syarat yang ku ajukan, kau tak akan bisa melihat darah dagingmu!" "Bajingan! Kau kira aku gentar kau takuttakuti, he...?!" kata Putri Tunjung Kuning seraya melangkah maju dengan kedua tangan siap melepaskan pukulan. Dia sebenarnya merasakan sakit yang tak terperikan saat mengerahkan tenaga dalam yang disalurkan pada kedua tangannya, namun rasa sakit itu ditindihnya.

Di seberang, mendapati Putri Tunjung Kuning melangkah maju dengan siap menyerang, Restu Canggir Rumekso hanya tersenyum dingin. Dia tak berusaha untuk ambil ancang-ancang meski tahu Putri Tunjung Kuning hendak menyerang.

"Putri Tunjung Kuning!" kata Restu Canggir Rumekso perlahan. "Ingat.... Tenagamu masih lemah, kau masih perlu istirahat!"

"Persetan dengan itu. Kalau kau tak menunjukkan dan memberikan anakku, terpaksa aku bertindak kasar padamu, meski kau telah menolongku!"

"Begitu...?" kata Restu Canggir Rumekso dengan tertawa kecil. "Kau telah berpikir masak-masak dengan ucapanmu itu...?!"

"He, Orang Tua! Kau jangan terlalu banyak omong! Lekas tunjukkan!" bentak Putri Tunjung Kuning.

Belum lenyap gema suara bentakan, kedua kaki Restu Canggir Rumekso menghentak dua kali di atas tanah pijakannya. Mendadak bangunan itu bagai dilanda gempa. Bangunan itu bergetar hebat.

Putri Tunjung Kuning terperangah kaget. Dia buru-buru mengerahkan tenaga untuk menahan tubuhnya yang tampak oleng. Namun tenaga Putri Tunjung Kuning seakan tak berarti apa-apa. Hingga tak berapa lama kemudian tubuh Putri Tunjung Kuning terhuyung-huyung dan roboh terduduk! "Orang tua! Siapa kau sebenarnya...?!" tanya Putri Tunjung Kuning seraya merambat bangkit dengan mata menusuk tajam.

Untuk beberapa saat Restu Canggir Rumekso tak segera menjawab. Baru setelah agak lama dan setelah batuk beberapa kali Restu Canggir Rumekso angkat bicara.

"Orang-orang di luar memanggilku Restu Canggir Rumekso!"

Demi mendengar orang tua di hadapannya menyebutkan nama, terkejutlah Putri Tunjung Kuning.

"Astaga! Jadi inikah orang yang dahulu kabarnya pernah menggegerkan dunia persilatan, yang lantas menghilang begitu saja tanpa ada kabar berita...? Menurut kabar di luar, orang yang bernama Restu Canggir Rumekso adalah seorang berkepandaian tinggi dan juga seorang ahli pengobatan...," membatin Putri Tunjung Kuning seraya memperhatikan dengan seksama orang tua di hadapannya dari atas hingga bawah.

"Putri Tunjung Kuning!" kata Restu Canggir Rumekso. "Kuharap kau menuruti kata-kataku. Tak ada gunanya kau berkeras kepala. Itu tindakan bodoh!"

"Tapi...," belum sampai Putri Tunjung Kuning meneruskan kata-katanya, Restu Canggir Rumekso telah menyela.

"Aku tahu. Dia adalah anakmu, darah dagingmu. Namun untuk sementara ini kau harus turut perintahku! Kau untuk sementara ini hanya boleh melihat, tanpa bisa menyentuhnya!"

"Gila! Apa maksudmu sebenarnya? Dan kau apakan anakku?!"

"Aku bermaksud baik dengan anakmu. Dengar baik-baik. Anakmu adalah seorang bayi yang lain daripada yang lain. Dia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki bayi-bayi lain di jagad ini!"

Mendengar keterangan Restu Canggir Rumekso, Putri Tunjung Kuning sedikit terkejut dan hampir tak percaya, hingga dia bergumam mengulangi.

"Kelebihan? Kelebihan apa...?!"

"Aku tak bisa menjelaskan sekarang. Kalau kau ingin melihat, ikut aku. Tapi ingat, kau hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh!"

Habis berkata, tanpa menunggu jawaban dari Putri Tunjung Kuning, Restu Canggir Rumekso balikkan tubuh dan melangkah menuju ke sebuah ruangan yang pintunya tampak tertutup. Dengan dorongkan tangan kirinya, pintu itu terbuka, sejenak Restu Canggir Rumekso memandang pada Putri Tunjung Kuning, namun dari mulutnya tak terdengar ucapan.

Di lain pihak, Putri Tunjung Kuning tampak ragu-ragu. Namun sesaat kemudian ia melangkah ke arah Restu Canggir Rumekso yang telah masuk ke dalam ruangan.

Begitu memasuki ruangan, Putri Tunjung Kuning serentak membelalakkan sepasang matanya. Bibirnya saling menggegat. Setelah bisa menguasai diri, dia melangkah menghampiri Restu Canggir Rumekso yang berdiri di samping sebuah meja bundar agak besar.

"Lepaskan ikatan itu! Kau jangan berbuat gila!" tiba-tiba terdengar suara membentak dari mulut Putri Tunjung Kuning. Sambil membentak, mata gadis ini tak kesiap memandang ke arah atas meja, di mana tampak sesosok bayi mungil sedang tidur lelap. Namun ada suatu yang membuat gadis ini trenyuh. Bayi itu seluruh tubuhnya diikat dengan seutas tali. Demikian ketatnya ikatan tali itu, hingga kulit tubuh sang bayi terlihat berkerut-kerut. Anehnya, meski kulitnya masih kemerah-merahan, kulit itu tak lecet! Apalagi mengeluarkan darah,

Merasa ucapannya tak didengar Restu Canggir Rumekso, Putri Tunjung Kuning melangkah maju mendekati meja. Namun baru akan bergerak, Restu Canggir Rumekso membentak garang.

"Ingat kata-kataku! Kalau kau memaksa, aku tak segan-segan bertindak kasar padamu!"

Putri Tunjung Kuning hentikan gerakan kakinya. Matanya menusuk pada orang tua di sampingnya.

"Kau jangan berbuat tidak-tidak pada bayi yang baru lahir! Dia bisa mati!" kata Putri Tunjung Kuning seraya berpaling memandang pada bayi di atas meja

Restu Canggir Rumekso tertawa bergelak-gelak mendengar kata-kata Putri Tunjung Kuning, membuat gadis ini heran dan geram.

Belum lenyap gema suara tawanya, Restu Canggir Rumekso telah berkata.

"Tadi sudah kukatakan, bayimu adalah bayi lain daripada yang lain. Lihat! Dalam waktu satu hari dia sudah seperti bayi berumur tiga bulan! Dan kau lihat sendiri, kulitnya tidak lecet atau mengeluarkan darah! Dengar Putri Tunjung Kuning, bayimu kelak tidak akan mempan senjata atau pukulan apa pun juga! Dia kelak akan menjadi seorang sakti tiada tanding...!"

"Tapi dia masih memerlukan air susu...," ujar Putri Tunjung Kuning seraya tak berkedip memandang bayi yang baru saja dilahirkannya.

"Dia tak memerlukan air susu! Karena dalam jangka waktu sepuluh hari, dia akan seperti bocah berumur dua tahun yang sudah tak perlu lagi menyusui"

"Apa kata-katanya bisa dipercaya? Tapi melihat sekarang, kata-kata orang tua ini benar adanya. Lantas kelainan apa yang sebenarnya merasuki tubuh anakku ini...? Apa darah dari ayahnya...?" membatin Putri Tunjung Kuning. Tatkala berpikir begitu, ingatan gadis ini melayang pada sosok ayah sang bayi.

"Bagaimana jika besar nanti dia tanya soal bapaknya...? Apakah aku harus mengatakan terus terang dan menceritakan siapa sesungguhnya ayahnya...? Seorang dedengkot tokoh sesat yang berjuluk Malaikat Berdarah Biru, hmm.... Tak pernah kuduga, jika akhirnya aku harus melahirkan benihnya. Tapi apa boleh buat, dia adalah anakku Siapa pun dia ayahnya!"

"Kau sudah puas...?" Restu Canggir Rumekso menegur.

Putri Tunjung Kuning tidak menjawab. Dia bagai terbuai dengan alam pikirannya sendiri. Namun ketika tangan kanan Restu Canggir Rumekso menyentuh pundaknya, Putri Tunjung Kuning berpaling, dan menatap tajam. Restu Canggir Rumekso mengangguk, memberi isyarat agar Putri Tunjung Kuning segera keluar.

"Restu Canggir Rumekso, ku mohon padamu izinkanlah untuk sejenak aku menimang anakku....

Aku...," Putri Tunjung Kuning hendak menghambur, namun tangan Restu Canggir Rumekso telah menahannya.

"Dengar! Jika bayi itu tersentuh tangan seseorang sebelum satu purnama, maka kekuatan yang ada dalam dirinya akan punah!"

Selesai berkata, Restu Canggir Rumekso menarik tangan kanannya yang masih mencekal pundak Putri Tunjung Kuning. Anehnya, meski Putri Tunjung Kuning mengerahkan tenaga untuk memberontak, kakinya tetap saja terseret mengikuti langkah Restu Canggir Rumekso keluar dari ruangan!

Begitu sampai di luar ruangan, dan tiba di ruangan di mana terdapat altar, Restu Canggir Rumekso melepaskan cekalan tangannya.

"Putri Tunjung Kuning!" kata Restu Canggir Rumekso. "Sekarang terserah padamu. Ka mau tinggal di sini boleh, atau ingin meninggalkan tempat ini silakan. Dan juga perlu kau camkan, kau baru bisa menyentuh anakmu jika anak itu telah berusia satu purnama!"

Untuk beberapa lama Putri Tunjung Kuning tercenung. Lantas tanpa memandang pada Restu Canggir Rumekso dia ajukan pertanyaan.

"Di mana Pendekar Mata Keranjang yang telah menolongku...?"

Restu Canggir Rumekso tersenyum lebar mendengar pertanyaan Putri Tunjung Kuning.

"Apa dia ayah dari anakmu...?" Restu Canggir Rumekso balik bertanya.

Putri Tunjung Kuning berpaling memandang pada orang tua itu. Wajahnya berubah merah padam.

"Siapa ayah dari anakku, kau tak berhak mengetahuinya! Itu urusanku!"

"Ucapanmu benar, namun aku perlu mengetahuinya. Karena tak mustahil dia suatu saat kelak akan menanyakannya padaku!"

"Hmm.... Sayang sekali aku tak bisa mengatakannya padamu. Biar aku sendiri kelak yang akan mengatakannya padanya!" ujar Putri Tunjung Kuning seraya melangkah hendak pergi.

"Jika demikian, baiklah. Aku pun tak memerlukan siapa ayahnya. Yang kubutuhkan adalah anak itu!" kata Restu Canggir Rumekso pula.

"Orang tua! Aku sekarang akan pergi. Dan satu purnama kemudian aku akan datang lagi ke sini!" Restu Canggir Rumekso tak menanggapi uca-

pan Putri Tunjung Kuning. Dia hanya tersenyum sinis. Dalam hati orang tua itu berkata.

"Hmm   Kau kira satu purnama kemudian kau

akan menemukan anak itu...? Kau bermimpi, Bocah Ayu! Satu purnama kemudian, anak itu sudah akan malang melintang menggegerkan rimba persilatan. Dan kau tahu, anak itu tidak akan memiliki rasa perikemanusiaan, karena sejak lahir dia tak merasakan sentuhan atau air susu ibu yang membuat seorang anak mempunyai rasa kemanusiaan.... Dan satu purnama kemudian, nama Restu Canggir Rumekso akan kembali bergema, ditakuti dan disegani. Ha... ha... ha !"

Di lain pihak, sambil melangkah meninggalkan bangunan, Putri Tunjung Kuning juga membatin

"Aku harus mencari Pendekar Mata Keranjang. Aku , sepertinya tak bisa melupakannya. Tapi apakah

dia juga mengetahui perasaan yang selama ini kupendam...? Kalau dia kelak tahu aku sudah mempunyai seorang anak, apakah dia mau mengerti ?"

Lantas pikiran gadis itu melayang pada seseorang lainnya.

"Malaikat Berdarah Biru.... Hmm.... Meski kau adalah ayah dari anakku, namun kau tetap musuhku! Apakah waktu itu Pendekar Mata Keranjang berhasil menewaskannya atau bangsat itu berhasil lolos. ?

Hmm.... Kejadian itu berarti enam purnama yang lalu, tapi sepertinya masih kemarin. Apa karena usia kandungan ku yang begitu cepat...? Seperti pertumbuhan bayiku ? Restu Canggir Rumekso orangnya aneh. Apa

sebenarnya yang diharapkan dari anakku...? Tapi bagaimana caranya, suatu saat nanti aku harus membawa anak itu  !" Selagi Putri Tunjung Kuning berpikir begitu, mendadak terdengar suara tangisan. Tangisan seorang bayi. Serta merta Putri Tunjung Kuning menghentikan langkahnya. Dia balikkan tubuh memandangi bangunan, di mana Restu Canggir Rumekso tinggal, karena suara tangisan itu bersumber dari sana.

"Anakku...," gumam Putri Tunjung Kuning seraya bergegas melangkah. Namun baru lima langkah kakinya, terdengar suara menegur keras.

"Kau teruskan perjalanan Putri Tunjung Kuning! Anak itu tidak apa-apa!"

Namun Putri Tunjung Kuning tidak menghiraukan kata-kata teguran yang dia tahu pasti diucapkan oleh Restu Canggir Rumekso.

Putri Tunjung Kuning terus melangkah menuju arah bangunan. Namun belum sampai masuk, serangkum angin deras menyambar keluar dari pintu bangunan dan menggebrak ke arah Putri Tunjung Kuning.

Putri Tunjung Kuning terperangah kaget. Namun gerakannya untuk menghindar terlalu lambat, hingga tanpa ampun lagi tubuhnya tersambar derasnya angin dan melayang jauh sebelum akhirnya jatuh bergulingan di atas tanah.

Dan baru saja Putri Tunjung Kuning merambat bangkit, telinganya menangkap suara. Meski suara itu diucapkan dari jarak jauh, namun jelas sekali seperti di depan telinga.

"Putri Tunjung Kuning! Jika kau tetap membandel, membunuhmu bagai membuka telapak tangan bagiku!"

Putri Tunjung Kuning mendengus keras. Mukanya merah padam, pelipisnya bergerak-gerak. Namun merasa dia bukan tandingan Restu Canggir Rumekso, pada akhirnya dengan membawa perasaan geram dan kecewa Putri Tunjung Kuning melangkah menjauhi bangunan.

Seiring langkahan kaki Putri Tunjung Kuning yang menjauhi bangunan, terdengar suara tawa bergelak yang makin lama makin keras.

"Orang tua gila! Aku tak akan membiarkan anakku dalam cengkeraman mu selamanya!" seraya berkata Putri Tunjung Kuning kerahkan tenaga dan berkelebat cepat.

TIGA

SEORANG pemuda tampan berbadan tegap, mengenakan pakaian warna hijau yang dilapis dengan baju kuning lengan panjang, rambut panjang dan dikuncir ekor kuda terlihat melangkah perlahan menyusuri jalan setapak dalam hutan kecil yang sunyi. Namun demikian, wajah pemuda ini yang bukan lain adalah Aji Saputra, atau Pendekar Mata Keranjang 108 tampak riang. Sesekali dia tersenyum lebar, malah tertawa tergelak-gelak.

"Ayo, kejar aku...," kata Pendekar 108 seraya palingkan wajahnya ke belakang. Ternyata meski dia nampak melangkah perlahan, namun karena langkahnya dengan pengerahan tenaga dalam, membuat dirinya bagai terbang di atas jalan setapak.

"Pendekar Mata Keranjang! Tunggu. Aku mengaku kalah...," terdengar suara memanggil dari arah belakang. Dan bersamaan dengan itu dari belokan jalan setapak muncul seorang dara jelita. Dia mengenakan pakaian putih-putih. Rambutnya panjang dan dibiarkan bergerai. Sepasang matanya bulat dan berbinar. Kulitnya putih agak kemerahan karena ditimpa terik matahari. Di leher dara ini nampak melingkar seuntai kalung dari bunga-bunga berwarna hitam. Di atas telinga kirinya juga tampak menyelip sekuntum bunga berwarna hitam.

Mendengar teriakan sang dara, Pendekar Mata Keranjang 108 menghentikan langkahnya. Dan begitu sang dara sampai di dekatnya, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat berpaling dan berkata seraya tersenyum lebar.

"Sesuai perjanjian, jika kau tak dapat menangkapku, maka...," Pendekar Mata Keranjang 108 tak meneruskan ucapannya. Sebaliknya kedua tangannya segera mencekal bahu dara di sampingnya. Dan di lain kejap, bibir Pendekar Mata Keranjang 108 telah merambat memagut bibir dara di sampingnya.

Karena begitu cepat gerakan Pendekar Mata Keranjang 108, hingga dara itu tak bisa lagi berkelit menghindar. Mula-mula dia memang terlihat hendak meronta memberosot dari rengkuhan tangan Pendekar Mata Keranjang 108. Namun hal itu hanya berjalan sekejap. Sesaat kemudian, dara ini membalas pagutanpagutan Pendekar Mata Keranjang 108 dengan berapiapi. Hingga dadanya yang membusung kencang dan menempel di dada Pendekar Mata Keranjang 108 itu terlihat bergerak cepat turun naik, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 lebih merapatkan dadanya.

Selagi kedua orang ini sedang dibuai kenikmatan, terdengar suara tawa perlahan. Namun hebatnya meski tawa itu begitu perlahan, suaranya begitu menusuk gendang telinga.

Serta merta Pendekar Mata Keranjang 108 melepaskan pagutan bibirnya, dia memandang sejenak pada dara di depannya.

"Ratu Sekar Langit. Menilik suara tawanya, aku bisa memastikan jika si pemilik suara adalah seorang yang berilmu tinggi. Kau menjauhlah...," kata Pendekar 108 perlahan.

Yang diajak bicara, yang ternyata adalah Ratu Sekar Langit tidak mengangguk dan tidak menggeleng. Dia hanya  menatap pada  Pendekar Mata Keranjang

108. Wajahnya jelas mengisyaratkan kekecewaan. Sementara dadanya masih tampak turun naik.

Tanpa mempedulikan perasaan Ratu Sekar Langit yang masih tampak kecewa, Pendekar Mata Keranjang 108 berpaling pada sumber suara, demikian juga Ratu Sekar Langit.

Kedua orang ini sama melengak. Tak jauh dari tempat mereka terlihat sesosok manusia berdiri tanpa memandang ke arah mereka. Namun sikapnya mengisyaratkan mengejek.

Setelah mendehem, sosok manusia itu mengalihkan pandangan, menatap pada Pendekar Mata Keranjang 108 dan Ratu Sekar Langit dengan senyum sinis. Ia adalah sesosok manusia bertubuh pendek. Rambutnya panjang sebahu, namun rambut bagian atas dan samping dipotong demikian pendek hingga tampak jabrik. Menilik pakaian dan dandanannya, bisa segera ditebak jika sosok manusia pendek ini adalah seorang perempuan, karena wajahnya dibedaki dengan bedak putih demikian tebal, sementara bibirnya yang tebal sebelah atas diberi pemerah. Sepasang matanya lebar dengan hidung besar agak bengkok.

Pendekar Mata Keranjang sejenak menatap seraya berpikir keras.

"Siapa manusia ini...? Aku tak pernah dengar dan lihat tokoh dunia persilatan yang mempunyai ciriciri seperti dia. Apakah dia tokoh yang baru saja muncul? Namun siapa pun dia adanya, rupanya dia berilmu tinggi. Suara tawanya saja mampu membuat telinga berdenging sakit...," membatin Pendekar 108 dengan memperhatikan lebih seksama.

Merasa dipandangi rupa, sosok manusia pendek yang ternyata berdiri dengan menyilangkan kaki kanannya di atas betis kaki kirinya, serta tangan kanannya mencengkeram sebuah tombak yang pangkalnya membentuk sekuntum bunga berwarna hitam, mendelik dan berkata.

"Bocah! Kalau kau mendampingiku terus, jangan menyesal jika kedua matamu akan kutembus dengan tombakku!"

Seraya berkata manusia pendek ini pindahkan tombaknya ke samping kiri tubuhnya. Dan bersamaan dengan itu bersiur serangkum angin deras yang menderu.

"Hmm    Manusia ini tampaknya sengaja unjuk

kebolehan ," pikir Pendekar Mata Keranjang 108 den-

gan alihkan pandangan seraya tersenyum-senyum. Lalu dia berkata.

"Kalau boleh kami tahu, siapakah kau ?"

"Siapa kau...?!" ulang si manusia pendek dengan nada sinis mengejek. Tawanya lalu meledak, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 dan Ratu Sekar Langit segera mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis tenaga dalam yang keluar bersama dengan suara tawa si manusia pendek.

"He.... Jangan hanya berha.... Ha... ha... ha....

Siapa kau?!" kali ini yang keluarkan teguran adalah Ratu Sekar Langit.

Mendapat teguran, manusia pendek ini serta merta memenggal suara tawanya secara mendadak. Sepasang matanya yang lebar menyengat tajam pada Ratu Sekar Langit dengan pandangan tak senang. Dia lantas berkata dengan nada membentak.

"Gadis jelek! Kalau kau ingin mulutmu tak berubah bentuknya, jaga ucapanmu. Dengar kalian semua! Aku tak suka ditanyai, kalianlah yang harus katakan siapa kalian sebenarnya. Manusia-manusia yang tak tahu malu bermain cinta di jalanan!"

Mendengar kata-kata manusia pendek, Pendekar Mata Keranjang 108 serta Ratu Sekar Langit berubah wajah masing-masing menjadi merah padam. Namun sesaat kemudian, Pendekar Mata Keranjang 108 segera palingkan wajah memandang pada Ratu Sekar Langit seraya mengerdipkan sebelah matanya, membuat gadis ini semakin merah mengelam.

"Kalau kau tak ingin ditanyai, sebaiknya kau segera tinggalkan tempat ini, karena kami juga tak senang ditanyai dan diganggu. Bukankah begitu kekasihku...?" kata Pendekar Mata Keranjang dengan tak mengalihkan pandangannya pada Ratu Sekar Langit.

Ratu Sekar Langit semakin salah tingkah dengan perasaan bercampur aduk mendengar dirinya disebut kekasih oleh Pendekar Mata Keranjang 108.

Di lain pihak, manusia pendek di seberang terlihat tersenyum hambar namun adanya menghina.

"Kekasih.... Hik... hik... hik.... Rupanya kalian sepasang kekasih. Huah.... Aku tahu.... Tahu jika sepasang kekasih sedang dimabuk asmara mereka tak ingin diganggu. Namun karena kalian telah telanjur menanyai ku, terpaksa aku tidak bisa meninggalkan kalian sebelum aku mengetahui siapa adanya kalian! Dan bila kalian tak mau jawab, aku tak segan-segan memaksa!"

Wesss! Blemmm!

Si manusia pendek pindahkan lagi tombaknya, serta pindahkan kaki kirinya dari betis dan dihentakkan di atas tanah, hingga serangkum angin deras yang disertai berguncangnya tanah seraya menyentak tempat itu.

"Hmm.... Manusia macam begini kalau dituruti bisa menjadikan penghalang dalam perjalananku ke lereng Gunung Mahameru. Lebih baik aku turuti saja permintaannya, biar segalanya lekas beres...," lalu Pendekar Mata Keranjang 108 berkata.

"Baik. Kemauanmu ku turuti. Aku akan memberi tahu siapa aku dan kekasihku itu. Aku bernama Aji Saputra, seorang pengelana jalanan. Sementara kekasihku adalah Ratu Sekar Langit "

Manusia pendek di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108 tak menunjukkan rasa terkejut sama sekali. Sebaliknya dia seakan tak percaya dengan ucapan Pendekar 108. Dia menatap menyelidik.

"Hmm    Melihat ciri-ciri bocah laki-laki ini, dia

tampaknya berdusta. Aku tahu, dia berilmu tinggi. Aku harus mengujinya. Apakah dia pemuda seperti dugaanku "

Berpikir begitu, si manusia pendek ini lantas membentak garang.

"Bocah. Aku tak suka dibohongi. Kau telah menjawab pertanyaanku dengan dusta, dan sebagai bayarannya, aku inginkan barang mu, biar kau tak seenaknya saja bermain cinta. Hik... hik... hik "

Ratu Sekar Langit katupkan bibirnya dengan raut muka berubah mendengar kata-kata manusia pendek. Dia segera melangkah maju dan siap hendak menyerang, namun dia urungkan tatkala Pendekar Mata Keranjang 108 berkata.

"Tahan...!" dia lantas memandang pada manusia pendek dan berkata.

"Kami telah mengatakan apa adanya siapa kami. Kalau kau tak percaya itu urusanmu. Dan kalau kau tetap memaksa berarti kau memang cari masalah!" "Benar! Katakan saja apa maksudmu sebenar-

nya? Kalau kau ingin barang' aku bisa mencarikan untukmu. Kau minta yang bagaimana...?" timpal Ratu Sekar Langit, meski dalam hatinya diam-diam dia mengutuk dirinya sendiri mengatakan hal begitu.

Si manusia pendek menyeringai. Dia berpaling memandang pada Ratu Sekar Langit. Matanya berkilat dengan dahi mengkerut, membuat bedaknya rengkah dan jatuh sedikit.

"Gadis liar! Mulutmu memang pantas dirubah bentuknya!" habis berkata, si manusia pendek batuk dua kali, lalu tiba-tiba tubuhnya berkelebat lenyap, meninggalkan tombaknya yang menancap hampir setengah ke dalam tanah.

Sebuah seruan tertahan segera terdengar. Dan di lain kejap si manusia pendek telah kembali tegak di samping tombaknya. Dia berdiri dengan kaki kiri disilangkan di atas betis kaki kanan sementara tangan kanannya memegang ujung tombak dengan tersenyum menyeringai.

Pendekar 108 terkesiap melihat apa yang terjadi, dan semakin terperangah ketika mengetahui Ratu Sekar Langit tampak mundur dua langkah ke belakang dengan muka pias.

Ternyata, bibir Ratu Sekar Langit yang tadinya telah merah tanpa pemerah, kini semakin merah menyala. Jika saja si manusia pendek benar-benar ingin melaksanakan ancamannya, maka sewaktu tubuhnya lenyap dan mengolesi bibir Ratu Sekar Langit dengan pemerah di bibirnya, si manusia pendek ini bisa menghantam bibir Ratu Sekar Langit hingga berubah bentuknya seperti ancamannya! "Aku masih merasa kasihan jika kekasihmu tak bisa mencium bibirmu lagi, maka untuk kali ini cukup itu saja sebagai pelajaran agar kau tahu, membunuh kalian berdua bukanlah hal sulit bagiku. Sekarang katakan siapa kau bocah!"

"Tadi sudah kukatakan. Namaku Aji Saputra!" jawab Pendekar Mata Keranjang 108 agak tinggi seraya menahan rasa geram.

"Bohong!" bentak manusia pendek.

Di sebelah belakang, Ratu Sekar Langit terdengar batuk-batuk beberapa kali seraya menutup hidungnya, karena ternyata pemerah yang dioleskan si manusia pendek itu berbau anyir! Dan bersamaan dengan itu tangan kanannya segera bergerak mengusap bibirnya dengan mengumpat habis-habisan.

"Beraninya kau berkata dusta padaku!" sambung manusia pendek seraya melangkah maju mendekati Pendekar Mata Keranjang 108. Namun begitu manusia pendek ini melangkah maju, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menyongsong.

"Pendekar Mata Keranjang!" seru Ratu Sekar Langit. "Serahkan manusia itu padaku!" seraya berkata Ratu Sekar Langit pun melangkah maju.

Mendengar seruan Ratu Sekar Langit yang memanggil Aji dengan Pendekar Mata Keranjang, manusia pendek menghentikan langkah. Matanya menyorot tajam.

"Pendekar Mata Keranjang...," membatin manusia pendek. "Hm.... Dugaanku nyatanya tidak meleset. Meski aku telah lama tak muncul ke gelanggang dunia persilatan, aku telah menyirap kabar jika manusia satu ini berkepandaian tinggi. Namun yang lebih dari semua itu, dia adalah murid Wong Agung. Musuh besarku. Tak ada salahnya aku mencoba ilmunya dan kalau perlu membunuhnya sekalian. Setelah itu baru gurunya "

"Pendekar Mata Keranjang!" ucap manusia pendek dengan sinis. "Agar kau nantinya tak penasaran saat memasuki alam kubur, dengarkan baik-baik aku akan mengatakan siapa diriku. Orang-orang dahulu memanggilku dengan nama Bawuk Raga Ginting!"

Pendekar Mata Keranjang 108 dan Ratu Sekar Langit sating bertukar pandang mendengar manusia pendek menyebutkan siapa dirinya. Malah Ratu Sekar Langit undurkan langkah ke belakang. Raut wajahnya memperlihatkan keterkejutan sementara Pendekar Mata Keranjang 108 meski dalam hati diam-diam tercekat, namun dia tetap bersikap tenang. Di lain pihak, melihat perubahan wajah Ratu Sekar Langit, Bawuk Raga Ginting tertawa bergelak.

"Hmm.... Aku lamat-lamat memang pernah dengar nama itu.... Lantas aku tak habis pikir kenapa tiba-tiba dia membuka sengketa...? Apa maksudnya. ?!" membatin Pendekar Mata Keranjang 108. Lalu

dia berkata.

"Sobat! Aku memang telah dengar siapa kau adanya. Manusia berilmu tinggi yang sukar dicari tandingnya, namun antara kita tak ada silang sengketa sebelumnya! Mengapa kau mendadak bertingkah begitu ?!"

"Tanyalah nanti di alam kubur pada gurumu yang nanti akan menyusulmu!" jawab Bawuk Raga Ginting dengan mata melotot angker.

Selesai berkata, Bawuk Raga Ginting segera meloncat ke atas setinggi setengah tombak. Lalu dia hentakkan sepasang kakinya empat kali berturutturut, sementara tangan kanannya bertumpu pada pangkal tombak. Pangkal tombak itu melesak, membuat ujungnya amblas ke dalam tubuh, dan bersamaan dengan itu bumi tempatnya menghentak tiba-tiba bergetar hebat bagai dilanda gempa.

Pendekar 108 cepat kerahkan tenaga dalamnya untuk menangkis agar tubuhnya tidak ikut bergetar. Demikian juga Ratu Sekar Langit.

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 berkutat mengerahkan tenaga dalam, tiba-tiba saja Bawuk Raga Ginting berkelebat dan di kejap lain tahu-tahu sepasang tangan dan kakinya telah satu depa di de-pan hidung dan perut Pendekar Mata Keranjang 108.

Murid Wong Agung dari Karang Langit ini segera angkat kedua tangannya. Satu dia angkat menutupi mukanya sementara satunya lagi dia palangkan di depan perut.

Namun Pendekar Mata Keranjang 108 terkejut bukan alang kepalang, karena ternyata Bawuk Raga Ginting tidak meneruskan hantaman tangan dan kakinya. Sebaliknya dia membuat gerakan jungkir balik di udara, dan dengan cepat mendarat di sebelah kanan Pendekar Mata Keranjang 108! Lalu didahului dengan bentakan nyaring, Bawuk Raga Ginting sentakkan kedua tangannya.

Terdengar seperti deru gelombang dahsyat menghampar di tempat itu. Bersamaan dengan itu kilatan-kilatan warna hitam redup yang membias hawa panas segera menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Gila! Serangannya sulit diduga!" keluh Pendekar 108 seraya miringkan tubuhnya menyongsong serangan lawan dengan hantaman kedua tangannya lepaskan pukulan 'Segara Geni'.

Untuk kali kedua Pendekar Mata Keranjang 108 dibuat melengak. Pukulan sakti 'Segara Geni', jurus ke empat dari Karang Langit bagai lenyap ditelan kilatan-kilatan hitam serangan Bawuk Raga Ginting, membuat serangan manusia pendek ini menerobos terus ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang 108! 

Dengan menindih rasa terkejut, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat kerahkan pukulan 'Bayu Cakra Buana'. Hingga kejap itu juga udara terang benderang. Dan bersamaan dengan itu terdengar letupan beberapa kali. Bumi tempat itu berguncang hebat. Debu beterbangan melingkupi suasana. Sementara begitu letupan lenyap, tanah tempat bertemunya dua serangan yang telah sama-sama dialiri tenaga dalam itu terbongkar dan membentuk lobang besar sedalam setengah tombak.

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 terhuyung-huyung dan jatuh terduduk, sementara tubuh Bawuk Raga Ginting yang pendek dan kecil melayang ke belakang, namun sebelum tubuhnya terjerembab, Bawuk Raga Ginting membentak. Tubuhnya melenting ke udara lebih tinggi, lalu membuat gerakan salto di udara sebelum akhirnya mendarat kembali di samping tombaknya dengan berdiri kokoh!

"Rupanya kabar yang tersebar selama ini benar adanya. Manusia satu ini berilmu tinggi...," membatin Bawuk Raga Ginting dengan tersenyum beringas.

Manusia pendek ini lantas kembali melangkah maju. Matanya yang lebar memejam rapat sementara kedua tangannya diputar-putar di samping tubuhnya.

Angin menderu-deru segera terdengar, dan di kejap lain secara cepat Bawuk Raga Ginting hantamkan kedua tangannya. Matanya tetap tak dibuka.

Angin menderu-deru lebih dahsyat segera terdengar tanpa terlihat adanya kilatan atau warna. Namun sejenak sempat membuat Pendekar Mata Keranjang 108 seakan hendak tersapu.

Melihat serangan lawan, dan sebelum tubuhnya sampai tersapu tunggang langgang, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat lepaskan kembali 'Bayu Cakra Buana'.

Hantaman angin dari Bawuk Raga Ginting mendadak seperti tertahan di udara, namun suara deruannya tetap mendengung dahsyat, membuat tempat itu semakin terbongkar.

Bawuk Raga Ginting terhenyak hampir tak percaya. Dengan berteriak keras dan mata mendelik, dia hantamkan kembali tangannya, sementara kakinya tak henti-hentinya dibanting-banting di atas tanah.

Pendekar Mata Keranjang 108 tambah tekanan tenaga dalamnya. Beberapa kali kedua tangannya juga menghantam ke depan menangkis angin pukulan lawan yang semakin deras dan dahsyat, hingga pakaian dan rambutnya tampak berkibar-kibar.

Keringat mulai membasahi sosok-sosok Pendekar Mata Keranjang 108 dan Bawuk Raga Ginting. Sementara tanah tempat mereka berpijak terus bergetar, membuat kaki Pendekar Mata Keranjang 108 sedikit demi sedikit melesak masuk! Di lain pihak tubuh Bawuk Raga Ginting tak bergeming karena dengan cerdik dia segera memegangi tombaknya.

Dan mendadak setelah sekian lama saling bertahan dengan mengerahkan tenaga dalam masingmasing, Bawuk Raga Ginting berkelebat cepat menerobos pertemuan dua serangan.

Hebatnya, tubuhnya seperti tak mengalami bias serangan, hingga tubuh kecil itu nyelonong menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih tampak menduga-duga arah serangan lawan. Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 mendugaduga itulah, serangan Bawuk Raga Ginting datang menerjang.

Dess! Desss!

Kedua tangan kecil Bawuk Raga Ginting menghantam deras ke bahu Pendekar Mata Keranjang 108. Meski tangan itu kecil namun karena telah dialiri tenaga dalam, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 menjerit keras dan bersamaan dengan itu tubuhnya berputar keras dan terbanting menghujam tanah!

"Ratu Sekar Langit, kau menyingkirkan! Manusia satu ini benar-benar ingin nyawaku!," kata Pendekar Mata Keranjang 108 tatkala dilihatnya Ratu Sekar Langit yang sedari tadi hanya melihat bergerak melangkah maju.

Dan tanpa diduga sama sekali, begitu tubuh Pendekar Mata Keranjang roboh, dua serangan yang tadi bertemu di udara itu ambyar seketika dengan keluarkan ledakan dahsyat.

Bawuk Raga Ginting yang telah waspada dan telah memikirkan hal itu, segera melompat jungkir balik ke belakang.

"Ratu Sekar Langit! Cepat menyingkir!" ingat Pendekar Mata Keranjang 108. Namun peringatan itu datangnya sudah terlambat. Bias ledakan dahsyat itu menerpa tubuh Ratu Sekar Langit. Hingga saat itu juga dari mulut gadis cantik itu terdengar jeritan lengking. Tubuhnya mencelat.

Pendekar Mata Keranjang 108 yang baru saja bangkit segera melesat mengikuti arah tubuh Ratu Sekar Langit, dan sebelum tubuh itu menghempas di atas tanah, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menangkapnya, dan dengan agak sempoyongan keduanya mendarat di atas tanah. "Kau berdiamlah di sini!" kata Pendekar 108. Lalu tanpa melihat Ratu Sekar Langit yang ingin mengucapkan sesuatu, Pendekar Mata Keranjang 108 balikkan tubuh dan melangkah ke arah Bawuk Raga Ginting dengan tangan kanan memegang kipas yang telah dibuka. 

Sepasang mata Bawuk Raga Ginting sejenak memandang tak kesiap ke arah kipas ungu di tangan kanan Pendekar Mata Keranjang 108.

"Hmm   Pasti itu kipas yang puluhan tahun la-

lu pernah jadi rebutan tokoh-tokoh silat...," membatin Bawuk Raga Ginting. Diam-diam dalam hati manusia pendek ini jerih juga. Namun dia tampak menindihnya dengan berkata.

"Kipas mainan. Siapa takut!" Belum lenyap suaranya, Bawuk Raga Ginting telah menyerbu dengan lepaskan hantaman tangan kosong kiri kanan.

Pendekar Mata Keranjang yang belum sempat kibaskan kipasnya merasa tubuhnya terhantam angin deras. Dengan menggereng murid Wong Agung ini lantas berkelit dengan meloncat ke samping. Namun lagilagi belum sempat gerakkan kakinya. Bawuk Raga Ginting telah menerjang kembali. Kali ini sepasang kaki mungilnya menerjang hebat ke arah dada!

"Edan! Dia sepertinya tak memberiku kesempatan untuk menyerang. Dia rupanya tahu, serangan tenaga dalam akan terbendung jika terkibas kipas ini. Hingga dia tak melancarkan serangan jarak jauh ,"

batin Pendekar Mata Keranjang 108 sambil palangkan kedua tangannya di depan dada.

Prakk! Prakk!

Terdengar dua kali benturan keras tatkala sepasang tangan mungil Bawuk Raga Ginting menghantam punggung kedua tangan Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar Mata Keranjang 108 terjengkang dan

jatuh terduduk, sementara Bawuk Raga Ginting mental balik. Dia mencoba membuat gerakan berputar, namun karena jaraknya terlalu rendah dengan tanah, membuatnya tak ada ruang untuk bergerak, hingga tak ampun lagi tubuh kecil pendek itu menghujam di atas tanah.

"Jahanam!" seru Bawuk Raga Ginting seraya bangkit. Bedak tebal di wajahnya telah jatuh berluluran, karena menuruk ke atas tanah dan terkena keringat yang membasahi wajahnya.

Pendekar Mata Keranjang 108 tersenyum melihat hal itu, karena ternyata wajah Bawuk Raga Ginting bopeng-bopeng, sementara bibirnya berwarna hitam!

Melihat senyuman Pendekar Mata Keranjang

108 yang bernada menertawakan, membuat Bawuk Raga Ginting marah besar. Seraya melompat disertai bentakan keras dia sentakan kedua tangannya!

EMPAT

DUA rangkum angin deras berhawa panas menyambar cepat ke arah Pendekar Mata Keranjang. Dan belum sampai serangan ini melabrak, Bawuk Raga Ginting telah bergerak cepat, mencabut tombaknya dan serta merta dilemparkannya ke depan. Hebatnya, di udara tombak itu pecah. Pangkalnya yang membentuk sekuntum bunga mencelat dan membubung tinggi ke atas, namun sekejap kemudian, kuntuman bunga itu menukik deras ke bawah. Sementara tombaknya lurus menerabas.

Mendapati hujan serangan yang bertubi-tubi itu mau tak mau Pendekar Mata Keranjang tergagap juga. Namun dia segera sadar dan dengan kibasan kipasnya dia melompat ke samping.

Angin deras itu mendadak mental balik, namun pangkal tombak itu sepertinya tak terpengaruh. Pangkal tombak yang membentuk kuntum bunga berwarna hitam itu terus menukik sementara batangan tombaknya juga terus melabrak.

"Gila!" umpat Pendekar Mata Keranjang 108 seraya hantamkan kedua tangannya melepas pukulan sakti 'Bayu Cakra Buana'.

Sinar putih segera menyelimuti tempat itu dan mendadak terdengar berderaknya dua benda hancur. Begitu suasana kembali terang, tombak serta kuntum bunga itu telah hancur berantakan di atas tanah.

Bawuk Raga Ginting melenggak marah melihat serangannya begitu mudah ditangkis lawan. Dengan membentak marah, manusia pendek ini langsung putar tubuhnya, hingga detik itu juga sosoknya lenyap dari pandangan.

Pendekar Mata Keranjang cepat pasang mata dan telinganya untuk mengetahui di mana beradanya lawan. Namun murid Wong Agung ini tiba-tiba terkesima. Karena mendadak saja dari segala jurusan tampak sosok-sosok manusia pendek menerjang ke arahnya.

Karena tak bisa menentukan mana Bawuk Raga Ginting sebenarnya, membuat Pendekar Mata Keranjang putar-putar kipas dan tangannya di atas kepala.

Suara angin menderu-deru segera berputar menyelimuti tubuh Pendekar Mata Keranjang seakan melindungi dirinya dari segala penjuru angin. Sosok Bawuk Raga Ginting yang kini tampak menjadi empat sosok itu bagai tertahan dan tersapu tunggang langgang. Namun saat itu juga terdengar beberapa teriakan, dan sosok-sosok Bawuk Raga Ginting membalik seraya menerjang. Tapi sosok-sosok ini tampaknya tak mampu menembus pertahanan yang menyelimuti tubuh Pendekar Mata Keranjang. Hingga keempat sosok Bawuk Raga Ginting ini mengapung di udara.

Pendekar Mata Keranjang terus menambah putaran kedua tangannya untuk mementalkan sosoksosok manusia pendek ini. Namun sosok-sosok ini sepertinya mampu membendung, hingga keempatnya tetap mengapung di udara.

"Hmm.... Salah seorang di antaranya pasti Bawuk Raga Ginting yang asli. Tapi yang mana? Keempatnya tak bisa dibedakan, padahal kekuatannya pasti berada di yang asli...," batin Pendekar 108 seraya mengawasi satu persatu manusia pendek yang kini mengitari dirinya dari empat penjuru dan siap menerjang jika Pendekar Mata Keranjang lengah sedikit saja.

Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Pendekar Mata Keranjang, namun murid Wong Agung ini nambah tekanan tenaga dalamnya, keempat sosok itu tak juga bergeming. Bahkan ketika sosok yang berada di samping kanan keluarkan bentakan dahsyat, pertahanan Pendekar Mata Keranjang ambrol!

Sosok ini langsung melejit menerabas dinding pertahanan Pendekar Mata Keranjang dengan kedua kaki lurus sementara kedua tangannya terpentang, siap hendak memecah batok kepala.

"Celaka!" seru Pendekar Mata Keranjang kebingungan, karena jika dia menangkis serangan sosok yang berhasil menerabas ini, mau tak mau pertahanan lainnya akan lowong, dan ini makin membahayakan jiwanya. Dengan menggerutu panjang pendek, akhirnya Pendekar Mata Keranjang 108 berkelit dengan miringkan tubuhnya ke samping, sedangkan kepalanya dia rundukkan sedikit. Hingga sosok yang berhasil menerabas pertahanan itu menghujam tempat kosong di samping Pendekar Mata Keranjang. Namun gerakan Pendekar Mata Keranjang 108 itu membuat pertahanan di samping kiri goyah dan ambrol. Hingga kali ini sosok Bawuk Raga Ginting yang dari sebelah kiri menerjang deras.

"Sialan! Aku tak bisa bertahan begini terusterusan...," Pendekar Mata Keranjang segera hentikan putaran tangannya dan dihantamkan ke kiri dan ke depan.

Sosok Bawuk Raga Ginting yang menerjang dari arah kiri mental balik, sementara yang hendak menerjang dari arah depan tersapu dan melayang jauh dengan keluarkan jeritan tertahan.

Namun sosok yang berada di belakang, melihat pertahanan Pendekar Mata Keranjang 108 bobol segera meluncur deras. Karena saat itu Pendekar Mata Keranjang sedang menangkis sosok yang datang dari arah kiri dan depan, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 tak bisa lagi menghindar dari terjangan sosok yang datang dari belakang. Hingga sesaat kemudian terdengar seruan keras dari mulut Pendekar Mata Keranjang. Dan bersamaan dengan itu tubuh Pendekar Mata Keranjang terjerembab ke depan dengan menyusup tanah! 

Dadanya terasa sesak menghantam tanah, sementara punggungnya bagai ditembus kayu batangan. Dari hidungnya serta sudut bibir keluar darah segar. Matanya berkunang-kunang.

Sementara itu, keempat sosok Bawuk Raga Ginting sama-sama keluarkan kekehan. Dan sesaat kemudian tiga di antaranya dari kepalanya mengepul asap putih yang makin lama makin membungkus. Begitu asap itu lenyap, ketiga sosok Bawuk Raga Ginting yang terbungkus asap hilang lenyap, tinggal satu yang ternyata tadi melepaskan terjangan dari arah belakang! Melihat Pendekar Mata Keranjang roboh, Ba-

wuk Raga Ginting melangkah mendekat. Bibirnya yang hitam legam tampak sunggingkan senyum buruk. Sementara kedua tangannya siap hendak lepaskan pukulan.

Saat itulah berkelebat bayangan putih, membentak sambil menyongsong Bawuk Raga Ginting yang hendak lepaskan pukulan pada Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih mulai merambat bangkit dengan meringis kesakitan.

Bawuk Raga Ginting urungkan niat, dan berpaling pada bayangan yang menyongsongnya. Dan bersamaan dengan itu Bawuk Raga Ginting menjejak tanah, tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu telah berada di belakang bayangan putih yang ternyata adalah Ratu Sekar Langit.

Ratu Sekar Langit nampak terkejut melihat kecepatan lawan. Hingga sebelum dia sempat bergerak, kedua tangan Bawuk Raga Ginting telah bergerak menotok jalan darah Ratu Sekar Langit bagian punggung dan bahu, membuat gadis ini tegang kaku tak bisa bergerak.

Bawuk Raga Ginting tertawa terkekeh panjang, hingga matanya menyipit.

"Bangsat keji. Lepaskan diriku!" raung Ratu Sekar Langit keras. Namun gadis ini hanya bisa berteriak tanpa dapat menggerakkan anggota tubuhnya.

Bawuk Raga Ginting tak menghiraukan teriakan Ratu Sekar Langit, dia melangkah perlahan ke arah Pendekar Mata Keranjang yang kini telah berdiri dengan pelipis bergerak-gerak, dagunya terangkat menahan amarah.

"Keparat! Bebaskan dia. Kalau tidak...." Pendekar Mata Keranjang tidak meneruskan ucapannya, karena Bawuk Raga Ginting telah menyela.

"Kalau tidak kenapa...?" tanya Bawuk Raga Ginting sambil menyeringai. "Kalau kau berilmu tinggi, tentunya kau bisa bebaskan kekasihmu itu. Hik... hik... hik...!"

"Kau benar-benar cari gara-gara untuk mampus!" bentak Pendekar Mata Keranjang seraya hantamkan tangan kirinya melepas pukulan 'Bayu Cakra Buana' sedangkan tangan kanannya kibaskan kipas ungu.

Sinar putih yang membawa suara gemuruh dahsyat dan hawa panas serta angin deras segera melesat menyambar ke arah Bawuk Raga Ginting yang tampak melangkah ke arahnya. Sambil lepaskan pukulan, sepasang mata Pendekar Mata Keranjang tak kesiap memperhatikan sosok Bawuk Raga Ginting, dia waspada jika sewaktu-waktu manusia pendek ini merubah dirinya menjadi beberapa sosok.

Di seberang, melihat serangan datang padanya, Bawuk Raga Ginting tersenyum. Lantas masih dengan tersenyum manusia pendek ini dorong kedua tangannya ke depan dengan gerak perlahan.

Sinar berwarna hitam kelam yang disertai asap melesat keluar dari kedua tangan Bawuk Raga Ginting menyongsong serangan Pendekar Mata Keranjang.

Keadaan di tempat itu mendadak redup gelap karena bertemunya dua serangan. Dan bersamaan dengan itu terdengar ledakan dahsyat. Blarrr!

Sinar putih dan sinar hitam pecah dan lenyap begitu bentrok di udara. Tanahnya bergetar hebat dan rengkah-rengkah. Tubuh Ratu Sekar Langit yang tak bisa bergerak tersapu hingga tiga tombak dan baru terhenti ketika tubuhnya mengantuk sebatang pohon besar.

Begitu gema ledakan lenyap dan keadaan sedikit terang, tiba-tiba Bawuk Raga Ginting meloncat dan tahu-tahu kedua tangannya telah mencengkeram bahu kiri Pendekar Mata Keranjang!

Sambil memaki panjang pendek, Pendekar Mata Keranjang 108 segera ayunkan tangan kanannya untuk menghantam tubuh kecil Bawuk Raga Ginting yang kini mengapung di udara dengan kedua tangan mencengkeram bahunya. Namun begitu tangan kanan Pendekar Mata Keranjang 108 bergerak menghantam, kaki kecil Bawuk Raga Ginting bergerak memapasi.

Prakkk!

Astaga! Pendekar Mata Keranjang hampir tak percaya. Tangkisan kaki mungil Bawuk Raga Ginting itu ternyata mampu membuat tubuh Pendekar Mata Keranjang berputar. Dan tatkala tubuhnya berputar, Bawuk Raga Ginting menyentakkan tangannya yang mencengkeram bahu. Hingga membuat putaran tubuh Pendekar Mata Keranjang semakin deras.

Dalam keadaan berputar itulah tiba-tiba Bawuk Raga Ginting meloncat ke udara. Lalu sepasang tangannya dia satukan dan dengan gerak cepat dia hantamkan ke tangan kanan Pendekar Mata Keranjang yang memegang kipas.

Pendekar Mata Keranjang meraung keras. Dan bersamaan dengan itu tangan kanannya terasa dihantam batangan pohon besar. Kipas ungunya terlepas, dan jatuh di atas tanah. Namun dalam keadaan sekejap itu Pendekar Mata Keranjang sempat hantamkan tangan kiri ke tubuh Bawuk Raga Ginting.

Tubuh Bawuk Raga Ginting melayang jauh. Manusia pendek ini coba kerahkan tenaga untuk menghentikan gerak laju tubuhnya, namun usahanya sia-sia. Hingga sambil menjerit-jerit tubuhnya terus melayang dan jatuh terkapar di atas tanah dengan kepala terlebih dahulu, membuat rambut jabriknya sebelah atas terpangkas rata. Dadanya berdenyut sakit dan sukar untuk bernapas. Seraya bangkit, manusia pendek ini batuk-batuk beberapa kali, lalu meludah ke tanah. Ludah itu telah berwarna merah kehitaman, pertanda dia mengalami luka dalam cukup parah akibat hantaman tangan kiri Pendekar Mata Keranjang.

Di lain pihak, Pendekar Mata Keranjang tak jauh berbeda. Tubuhnya yang tadi berputar deras akhirnya menukik deras menghujam tanah dengan bahu terlebih dahulu, membuat pakaian di bagian bahunya robek lebar dan bahu kirinya mengucur deras akibat cengkeraman kedua tangan Bawuk Raga Ginting yang ternyata berkuku runcing dan tajam!

"Manusia edan!" teriak Pendekar 108 sembari bangkit meski dengan memegangi bahunya dan mencari-cari kipasnya.

Selagi pendekar murid Wong Agung ini menyapukan pandangannya berkeliling mencari kipasnya, Bawuk Raga Ginting telah kirimkan serangan. Hingga saat itu juga keadaan tempat itu menjadi gelap.

Dengan menahan rasa sakit dan terkejut, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat pula hantamkan kedua tangannya ke depan memapak serangan Bawuk Raga Ginting.

Blarrr! Kembali hutan kecil itu disentak dengan ledakan dahsyat. Pohon-pohon berderak tumbang, sementara angin kencang menggemuruh bersiutan menderuderu menyambar ke sana kemari.

Saat keadaan jelas kembali, Pendekar Mata Keranjang terkejut.

"Sialan! Ke mana sirnanya manusia edan itu?!" ujar Pendekar Mata Keranjang sambil melayangkan pandangannya berkeliling. Namun hingga agak lama matanya tidak menemukan sosok Bawuk Raga Ginting. Dan Pendekar Mata Keranjang semakin tercengang tatkala dilihatnya Ratu Sekar Langit juga tak terlihat di tempatnya dia menggeletak.

"Bajingan. Dia kabur! Namun ke mana gerangan Ratu Sekar Langit...?" Dia lantas menarik napas dalam-dalam. Sepasang matanya menyapu kembali berkeliling, dan Pendekar Mata Keranjang 108 merasa lega tatkala masih menangkap kipasnya yang tergeletak di atas tanah.

Dengan cepat Pendekar Mata Keranjang 108 berkelebat dan memungut kipas ungunya lalu dilipat dan dimasukkan ke balik baju hijaunya.

Tatkala itulah, sepasang matanya melihat sebuah tulisan di tanah. Tulisan itu tak karuan namun masih bisa dibaca.

Kekasihmu kubawa. Kalau kau benar mencintainya, kau pasti bisa menemukanku.

"Manusia gila! Apa maksud dia sebenarnya dengan semua ini...? Jangkrik betul. Urusan satu belum selesai kini timbul lagi urusan lain. Namun aku harus meneruskan dahulu perjalanan ke lereng Gunung Mahameru, mencari tahu keadaan Putri Tunjung Kuning, karena bagaimanapun juga akulah yang menyerahkan gadis itu pada Restu Canggir Rumekso yang ternyata adalah tokoh sesat. Ah, kenapa aku selalu tertipu melulu...?"

Seraya berpikir, Pendekar Mata Keranjang 108 bergerak melangkah meninggalkan tempat itu. Namun baru dua langkah, dia menghentikan gerakan kakinya. Sepasang ekor matanya melirik tajam, sementara telinganya ditarik sedikit ke atas. Kedua tangannya siap melepas pukulan. Dan begitu dapat menentukan letak orang yang dirasa membuntuti, Pendekar Mata Keranjang cepat balikkan tubuh.

Pendekar Mata Keranjang 108 serta merta urungkan niat untuk melepaskan serangan. Dia terlihat menarik napas dalam-dalam dan sesaat kemudian tersenyum demi mengetahui siapa adanya orang yang kini berada di hadapannya.

"Manik Angkeran!" seru Pendekar 108 seraya melangkah mendekat.

Yang dipanggil hanya tersenyum seraya anggukan kepala. Dia adalah seorang laki-laki setengah baya. Namun jenggotnya telah panjang dan memutih. Rambutnya demikian juga, panjang dan memutih. Dia mengenakan jubah putih panjang di tangannya tampak seuntai tasbih yang terus bergerak-gerak memutar seiring bergeraknya tangan. Di lehernya juga terlihat untaian kalung dari manik-manik berwarna hijau yang berkilau.

"Bagaimana kau selama ini...?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108 begitu dekat dengan laki-laki yang baru datang yang bukan lain memang Manik Angkeran. Seorang tokoh putih sahabat Pendekar Mata Keranjang 108 yang turut serta membasmi para tokoh golongan hitam waktu terjadi peristiwa diteluk Gonggong. "Yakh. Aku baik-baik saja. Aku sangat gembira sekali tanpa kuduga bisa bertemu denganmu lagi. Dan lebih suka lagi tatkala aku dengar kabar bahwa kau telah berhasil menumpas gerombolan Malaikat Berdarah Biru. Ngg.... Bagaimana tentang gadis berjuluk Ratu Sekar Langit yang dahulu pergi bersamamu itu?"

"Ya begitulah. Aku memang telah berhasil menumpas gerombolan Malaikat Berdarah Biru. Namun seperti pada waktu di teluk Gonggong, dia masih berhasil melarikan diri. Dan soal gadis itu, baru saja dia bersamaku, tapi...," Pendekar Mata Keranjang 108 tak meneruskan kata-katanya.

"Tapi kenapa? Apa yang terjadi...? Kulihat kau tadi juga sepertinya sedang tegang "

Pendekar Mata Keranjang lantas menceritakan perjalanannya bersama Ratu Sekar Langit dan pertemuannya dengan Bawuk Raga Ginting.

"Kau menyebut Bawuk Raga Ginting!" kata Manik Angkeran setengah terkejut, begitu mendengar cerita Pendekar Mata Keranjang.

"Kau harus berhati-hati menghadapi manusia itu. Dia adalah seorang tokoh golongan sesat yang telah lama tak terdengar kabar beritanya, namun dia adalah tokoh yang ilmunya sukar dijajaki "

"Kau benar. Namun aku tak habis pikir, kenapa tanpa ujung pangkal tiba-tiba saja dia mencari garagara bahkan tampaknya menginginkan nyawaku!"

Manik Angkeran berdehem beberapa kali, lalu menarik napas dalam-dalam.

"Yang pernah kudengar, manusia pendek ini menaruh dendam pada gurumu! Juga pada orangorang yang dahulu pernah mengucilkannya. Kau tahu? Bawuk Raga Ginting adalah manusia yang diciptakan Tuhan dengan keadaan kurang sempurna. Hanya sayangnya, Bawuk Raga Ginting tak menyadari hal itu. Dia terlalu ambisi. Hingga waktu itu katanya banyak orang yang mengucilkannya. Bahkan orang yang diamdiam dicintainya pun menghinanya. Waktu itu Bawuk Raga Ginting lantas menghilang. Namun selang beberapa tahun kemudian muncul dan membuat semua orang hampir tak percaya, karena dia telah menguasai ilmu silat tinggi hingga waktu itu banyak orang rimba persilatan tumbang di tangannya. Namun, pada akhirnya lantas tersiar kabar jika Bawuk Raga Ginting dapat dikalahkan oleh Wong Agung dan Ageng Panangkaran. Aku tak tahu apa masalahnya sampai Bawuk Raga Ginting bersengketa dengan Wong Agung dan Ageng Panangkaran "

Mendengar keterangan Manik Angkeran, Pendekar Mata Keranjang 108 angguk-anggukkan kepala.

"Kalau dia sekarang muncul lagi, dan tiba-tiba ingin membunuhmu, maka kau tentu tahu apa sebabnya  ," sambung Manik Angkeran pula.

"Hmm.... Lantas apakah kau juga tahu tentang seseorang yang bernama Restu Canggir Rumekso ?"

tanya Pendekar Mata Keranjang.

Raut wajah Manik Angkeran kembali menampakkan keterkejutan. Hingga untuk beberapa saat lamanya sepasang matanya menatap pada Pendekar Mata Keranjang seakan ingin meyakinkan ucapan pemuda di hadapannya.

"Kau juga mempunyai sengketa dengan orang itu ?!" Manik Angkeran balik bertanya.

"Sebenarnya tidak. Hanya saja sahabatku telah kuserahkan padanya untuk diobati. Namun karena aku lantas mendengar bahwa Restu Canggir Rumekso adalah seorang tokoh sesat, aku berusaha untuk mencarinya. Karena orang yang kuserahkan itu adalah menjadi tanggung jawabku jika terjadi apa-apa dengannya!"

"Melihat nada kekhawatiran ucapanmu, apakah sahabatmu itu juga seorang gadis muda, dan cantik...?"

Wajah Pendekar Mata Keranjang berubah agak merah padam. Namun sesaat kemudian dia tersenyum meski dalam hatinya dia menyumpah habis-habisan demi dilihatnya Manik Angkeran berkata seraya tersenyum penuh arti.

Melihat perubahan wajah Pendekar Mata Keranjang yang meski hanya sesaat, Manik Angkeran tertawa lebar.

"Kau tak perlu menjawab. Dari raut muka dan nada bicaramu tadi aku tahu, sahabatmu adalah seorang gadis muda berwajah cantik jelita, dan mungkin kau jatuh cinta padanya...," Manik Angkeran menghentikan ucapannya. Lantas matanya memandang ke jurusan lain.

"Orang itu dugaannya hebat juga. Semoga dia juga mengetahui tentang Ratu Sekar Langit, biar aku memperoleh sedikit jalan...," membatin Pendekar Mata Keranjang.

"Pendekar Mata Keranjang! Kalau kau memang berurusan dengan orang bernama Restu Canggir Rumekso, kau juga harus lebih hati-hati. Selain berilmu tinggi dan ahli pengobatan, dia juga terkenal sangat licin dan licik!" kata Manik Angkeran setelah agak lama berdiam diri.

"Namun sungguh kau kali ini menghadapi situasi sulit. Karena sebenarnya Restu Canggir Rumekso adalah orang yang dahulu diam-diam dicintai oleh Bawuk Raga Ginting "

Pendekar Mata Keranjang membelalakkan sepasang matanya mendengar keterangan Manik Angkeran. Manik Angkeran lantas tengadahkan kepala melihat ke atas. "Nampaknya sebentar lagi senja akan turun. Kalau benar apa yang telah kau ceritakan, sebaiknya kau lekas meninggalkan tempat ini. Perjalananmu ke lereng Gunung Mahameru masih jauh. Lagi pula kurasa kau telah rindu dengan gadismu yang kini berada di tangan Restu Canggir Rumekso, Bukankah begitu...?"

Meski dalam hati mengumpat habis-habisan, Pendekar Mata Keranjang 108 akhirnya mengangguk juga. Dia lantas maju selangkah, dan berkata.

"Aku berterima kasih atas keteranganmu. Menuruti perkataan mu, memang sebaiknya aku pergi sekarang. Tapi sebelumnya aku ingin tanya, apakah kau tak ingin pesan sesuatu padaku. Gadis cantik untuk pendamping hidup misalnya?"

Manik Angkeran tertawa lebar. Dalam hati lakilaki ini membatin. "Anak ini benar-benar edan. Apa dikiranya aku tak bisa cari sendiri?" Setelah mendehem beberapa kali Manik Angkeran berkata.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Aku tahu, teman-teman perempuanmu memang cantik-cantik, namun mungkin dari sekian banyak temanmu itu tak ada yang cocok untukku. Apalagi yang bekas kau jadikan kekasihmu. Jadi terpaksa aku harus cari sendiri "

Pendekar Mata Keranjang 108 mengangguk perlahan seraya tersenyum.

"Jika demikian, baiklah. Aku pergi sekarang. Tapi tawaranku padamu tetap berlaku. Dan jika sewaktu-waktu kau membutuhkan, kau dapat mencariku!"

Habis berkata Pendekar Mata Keranjang 108 balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan Manik Angkeran yang memandangi kepergiannya dengan geleng-geleng kepala.

LIMA

SETELAH melakukan perjalanan selama tiga hari tiga malam, dan setelah bertanya kian kemari akhirnya Pendekar Mata keranjang 108 dapat menemukan di mana Restu Canggir Rumekso berada.

Seraya melangkah perlahan-lahan dan tetap waspada, Pendekar Mata Keranjang 108 mendatangi bangunan tua di sudut desa yang menurut orangorang itu adalah tempat kediaman Restu Canggir Rumekso.

"Hmm.... Benar apa yang dikatakan Manik Angkeran. Restu Canggir Rumekso adalah seorang tokoh hitam yang licin dan licik. Terbukti dari sekian banyak penduduk kampung yang kutanyai, mereka hampir semuanya mengenal, dan wajah mereka sepertinya tak menaruh curiga atau cemas tatkala kutanyakan tentang Restu Canggir Rumekso. Malah mereka sepertinya menaruh hormat.... Hmm Menghadapi

orang demikian memang lebih sulit "

Sambil membatin Pendekar Mata Keranjang 108 terus melangkah, namun sampai dekat bangunan, tak ada tanda-tanda orang akan muncul atau sesuatu yang mencurigakan.

"He ! Ada orangkah di dalam?" teriak Pendekar

Mata Keranjang keras begitu ditunggu agak lama belum juga ada tanda-tanda orang. Namun seperti halnya ketika dia menunggu, tak ada jawaban keluar dari dalam bangunan. "Aku harus berhati-hati. Bukan tidak mungkin ini adalah jebakan...," batin Pendekar 108 seraya melayangkan pandangan ke dalam bangunan lewat selasela pintu depan yang sudah agak keropos.

Namun hingga matanya pedas dan kakinya lelah berdiri, orang yang diharapkan tak juga menampakkan diri. Akhirnya dengan hati-hati sekali Pendekar Mata Keranjang 108 memutuskan untuk masuk.

Dengan kaki kanan didorongnya pintu depan. Ternyata pintu itu tak direkatkan pakai paku, hingga tatkala kaki kanan Pendekar Mata Keranjang 108 bergerak mendorong, pintu itu jatuh terhumbalang dengan keluarkan suara berderak, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 terkejut sendiri.

"Sialan!" seru pendekar murid Wong Agung ini sambil melangkah memasuki bangunan. Sejenak sepasang matanya memandang berkeliling. Tak tampak perabotan rumah tangga di ruang itu. Yang ada hanyalah sebuah batu berbentuk altar.

"Apakah orang itu sudah meninggalkan tempat ini...? Di sana ada ruangan, akan kulihat...," dia lantas melangkah ke sebuah ruangan yang pintunya juga tampak tertutup.

Takut jika pintu itu seperti pintu bagian depan, Pendekar Mata Keranjang 108 sejenak meneliti sisi pintu. Dan begitu merasa yakin pintu itu direkatkan, dengan hati-hati didorongnya pintu itu menggunakan kaki. Sementara kedua tangannya siap jika sewaktuwaktu ada sesuatu mendadak muncul.

"Sial! Dia memang benar-benar telah tidak berada di sini lagi...," gumam Pendekar Mata Keranjang begitu pintu ruangan terbuka dan matanya tak juga menemukan siapa-siapa.

Belum yakin benar, akhirnya Pendekar Mata Keranjang melangkah masuk, di ruangan itu hanya ada sebuah meja bundar agak besar, dan seutas tambang besar yang dibiarkan berserakan begitu saja di bawah meja.

"Hmm.... Ke mana gerangan Restu Canggir Rumekso...? Dan Putri Tunjung Kuning bagaimana? Apa dia tak mengalami halangan...?" seraya bergumam sendiri, Pendekar Mata Keranjang 108 jongkok dan meneliti tambang besar itu dengan lebih seksama. Kecewa tak mendapati apa-apa Pendekar Mata Keranjang 108 lantas kembali berdiri. Saat itulah sepasang matanya melihat bekas darah yang telah mengering di atas meja.

"Darah     Darah siapa ini? Jangan-jangan Putri

Tunjung Kuning mengalami hal yang tidak-tidak ,"

merasa khawatir dengan keadaan Putri Tunjung Kuning, Pendekar Mata Keranjang 108 memperhatikan dengan seksama setiap sudut ruangan bahkan tak jarang tangannya memukul-mukul tembok ruangan takut jika tembok itu memiliki ruangan rahasia.

Namun hingga lama memperhatikan dan menyelidik Pendekar Mata Keranjang 108 tidak menemukan apa-apa.

"Keparat! Ke mana sekarang aku harus mencarinya...? Hmm    Bagaimana kalau sekarang aku mela-

cak jejak Ratu Sekar Langit yang dibawa Bawuk Raga Ginting ? Tapi aku juga tak tahu di mana dia bertem-

pat tinggal. Ah, benar-benar sial aku!" seraya terus bergumam menggerutu panjang pendek, Pendekar 108 melangkah keluar dari dalam bangunan, dan berkelebat pergi ke arah mana tadi dia datang.

*** Sementara itu di sebuah ruangan bawah tanah, di bawah bangunan tempat tinggal Restu Canggir Rumekso terlihat sesuatu pemandangan aneh. Seorang anak laki-laki berusia dua tahun sedang menggelantung terbalik dengan kedua pergelangan kaki terikat jadi satu. Ikatan tali itu menjulur ke atas dan ditalikan pada sebuah tiang yang terdiri dari ranting kecil. Hebatnya ranting itu tidak patah ataupun bergerakgerak, padahal anak yang menggelantung itu sesekali tubuhnya bergoyang-goyang, bahkan tak jarang berputar-putar.

Meski anak ini baru berusia sepuluh hari tetapi besarnya sama seperti anak berusia dua tahun. Rambutnya amat tebal dan panjang, hingga saat menggelantung begitu, wajahnya menjadi tak terlihat jelas. Hanya dari sela-sela rambutnya yang menjuntai panjang itu terlihat sepasang mata yang berkilat-kilat.

Di depan anak yang menggelantung terbalik, tampak seorang laki-laki tua sedang duduk bersila. Dia mengenakan jubah hitam agak kusam. Rambutnya panjang hingga punggung, hanya saja rambut itu tumbuh mulai dari bagian belakang kepala. Sementara kepala bagian samping dan atas tak ditumbuhi rambut sama sekali.

"He... he... he.... Bagus, bagus!" terdengar nada suara memuji dari laki-laki yang duduk bersila yang bukan lain adalah Restu Canggir Rumekso, begitu melihat anak kecil di hadapannya bergerak-gerak seperti yang dia perintahkan.

"Seandainya waktunya telah tiba, tamu kita tadi yang tidak kita undang kedatangannya pasti sudah merasakan bagaimana kedahsyatan mu. Ha... ha... ha.... Namun aku tidak kecewa, suatu saat kelak kita pasti akan dipertemukan lagi dengan manusia berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108 itu, dan kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan...," kata Restu Canggir Rumekso seperti berkata pada dirinya sendiri.

Lantas laki-laki ini menggerakkan tangan kanannya menyentak ke atas, ke arah ikatan yang ada di ranting.

Tasss!

Tali pengikat di ranting putus tanpa menimbulkan bunyi. Anehnya anak laki-laki yang menggelantung itu tidak jatuh, tubuhnya tetap terbalik dengan ujung pergelangan kaki terikat jadi satu.

"Hmm    Ilmu peringan tubuhmu rupanya telah

benar-benar tinggi.... Aku tak salah memilihmu     Kau

benar-benar anak ajaib!"

Ternyata tubuh anak kecil itu tak jatuh karena tubuhnya ditopang oleh untaian rambutnya yang menjulur ke bawah menyentuh tanah. Bahkan rambut itu ujung-ujungnya hanya sedikit menyentuh tanah!

Tidak berselang lama, tanpa didahului bicara atau bentakan, Restu Canggir Rumekso sentakan kembali kedua tangannya ke arah rambut anak kecil yang tampak kaku menopang tubuhnya.

Wesss!

Sulit dipercaya, begitu serangkum angin deras menyambar dari kedua tangan Restu Canggir Rumekso, anak kecil ini bergerak cepat membuat putaran satu kali di udara dan akhirnya berdiri dengan kedua tangan sedekap di depan dada. Hingga sambaran angin deras itu menghajar tempat kosong.

Begitu berdiri kedua tangan anak kecil ini merapikan rambutnya yang rupanya menghalangi pandangannya, hingga kini tampak jelas raut wajahnya. Ternyata raut wajah anak laki-laki ini tampan dan mungil, sama seperti anak-anak berusia sebaya dengannya. Hanya saja sepasang matanya terlihat berkilat-kilat beringas, sementara bibirnya tak hentihentinya mengeluarkan seringaian, serta tubuhnya telah tampak berotot!

Anak laki-laki ini yang bukan lain adalah anak Putri Tunjung Kuning memang lahir dan tumbuh seperti yang diharapkan dan diyakini Restu Canggir Rumekso. Begitu lahir, perkembangan anak ini begitu pesat. Dalam sepuluh hari perkembangan badannya sudah menyerupai anak berusia dus tahun.

Dan yang lebih membuat Restu Canggir Rumekso bertambah girang, ternyata kecerdasan anak ini sungguh luar biasa. Dia dapat segera menangkap apa yang diajarkan dengan hanya melihat sepintas lalu. Dan di lain pihak ternyata tubuh anak ini tahan terhadap pukulan dan tak mengeluarkan darah meski kulit tubuhnya robek!

"Hmm.... Dua puluh hari lagi usiamu akan genap satu purnama. Aku sebenarnya sudah tak sabar menanti hari. Aku ingin rasanya segera memasukkan tenaga sakti ke dalam tubuhmu, namun karena tubuhmu tidak boleh tersentuh tangan manusia sebelum usiamu genap satu purnama, maka aku harus bersabar. "

Restu Canggir Rumekso lantas melirik pada anak laki-laki yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Dan serta merta laki-laki tua ini sentakkan kedua tangannya ke arah sang anak.

Wesss! Wesss!

Dua rangkum angin menggemuruh yang berhawa panas melesat menerjang ke depan mengarah pada anak kecil.

Melihat serangan, anak kecil ini keluarkan seringai ganas, namun dia tak berusaha untuk bergerak menghindar. Hingga tanpa ampun lagi serangan Restu Canggir Rumekso menghantam telak tubuhnya. Namun, seakan janggal, pukulan yang dilancarkan Restu Canggir Rumekso yang mampu menumbangkan beberapa tokoh pada zamannya itu hanya mampu membuat anak kecil ini bergoyang sedikit! Dan sesaat kemudian telah tegak kokoh kembali.

"Bagus.... Bagus...," ujar Restu Canggir Rumekso seraya memberi isyarat pada sang anak untuk balik menyerangnya. Hingga tak lama kemudian di ruang bawah tanah itu terjadilah pertukaran jurus yang mengakibatkan ruang itu porak poranda.

Demikianlah hari-hari terus dipergunakan oleh Restu Canggir Rumekso untuk mendidik sang anak dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya.

ENAM

DUA puluh hari kemudian    Di lereng Gunung

Mahameru tampak dua bayangan berkelebat cepat melewati sela-sela pohon yang berjajar rapat tak beraturan. Dan hanya sekejap saja dua bayangan ini telah sampai di kaki gunung. Lalu sepertinya sedang mengejar sesuatu, dua sosok bayangan ini terus berkelebat ke arah barat.

Dan memang benar, begitu kedua bayangan ini sampai pada sebuah hutan lebat, mereka menghentikan gerakannya. Kedua bayangan ini ternyata adalah seorang laki-laki berusia lanjut yang mengenakan pakaian jubah warna putih. Di atas kepalanya terlihat caping dari daun pandan lebar, membuat wajahnya tidak begitu jelas. Sementara satunya lagi adalah seorang anak kira-kira berusia tujuh tahun. Namun meski begitu tubuh anak ini tampak tegap dan berotot, dan yang lebih dari itu sepasang matanya berkilat-kilat dengan bibir terus menerus menyeringai.

Dua orang yang bukan lain adalah Restu Canggir Rumekso dan anak muridnya ini tampak berdiri dengan memandang lurus ke arah depan, di mana terlihat sebuah belokan.

"Saatnya kita menggegerkan rimba persilatan!" ujar Restu Canggir Rumekso dengan melirik pada anak yang berdiri di sampingnya.

Sang anak yang diajak bicara diam tak menyahut. Hanya sepasang matanya balas melirik tanpa memalingkan wajah.

Restu Canggir Rumekso tersenyum rawan, dalam hati dia berkata.

"Hmm.... Harapanku menjadi anak ini tak punya perasaan dengan tidak memberinya air susu ibu serta sentuhan tangan, rupanya berhasil. Dengan demikian anak ini tak segan-segan melakukan tindakan apa saja tanpa mempedulikan batas-batas...," orang tua ini lantas berucap seraya matanya memandang lurus ke arah belokan yang agak jauh di depannya.

"Abilowo!" panggil Restu Canggir Rumekso pada sang anak. "Korban pertama mu akan segera datang! Habisi mereka!"

Belum selesai Restu Canggir Rumekso berkata, dari arah belokan muncul dua orang penunggang kuda. Kedua penunggang kuda ini serta merta menghentikan kuda tunggangan masing-masing tatkala mereka mengetahui dua orang sedang berdiri pada jalan yang hendak mereka lalui dengan sikap menghadang.

Seraya menadangkan tangan masing-masing di depan kening menangkis silaunya matahari, kedua penunggang kuda ini memandang ke depan dengan menyipit dan membelalak. Keduanya lantas saling berpandangan satu sama lain.

"Tampaknya ada tikus tua dan muda yang sengaja menghadang perjalanan kita!" kata penunggang kuda sebelah kanan. "Sudah beberapa hari ini memang tanganku gatal-gatal, rupanya ada orang yang ingin diantar tanganku pergi ke liang kubur!"

Penunggang kuda yang sebelah kiri tak menyambuti ucapan temannya, sebaliknya sepasang matanya menatap tajam pada dua orang penghadang di depannya dengan tak kesiap.

"Kau kenal dengan manusia bercaping lebar berjubah kusam itu...?" tanya penunggang kuda sebelah kiri ini tanpa berpaling pada temannya.

"Untuk mengirim orang ke neraka kita tak perlu tahu siapa mereka!" sahut penunggang kuda sebelah kanan seraya kepalkan kedua tangannya dan dipertemukan menjadi satu di depan dada.

Penunggang kuda sebelah kiri tertawa bergelakgelak. "Ucapanmu benar. Tapi tak ada salahnya jika kali ini kita tanya dahulu siapa mereka. Karena sepertinya aku mengenali tikus yang tua!"

Penunggang sebelah kanan berpaling memandang pada temannya. Lalu beralih pada orang yang mengenakan caping lebar di hadapannya.

"Memakai caping lebar, rambut panjang, berjubah putih kusam.... Hmm...," dahi penunggang kuda sebelah kanan ini mengerut. Matanya menyipit. Dan setelah memperhatikan sekali lagi, penunggang kuda ini serta merta tersenyum sinis. "Keparat ini rupanya belum tewas ketika kita hajar di kotaraja beberapa puluh tahun yang lalu. Restu Canggir Rumekso! Seorang tokoh sesat segolongan kita yang sangat licik dan pengecut!" kata penunggang sebelah kanan perlahan, namun masih bisa ditangkap oleh temannya.

"Betul, dia memang Restu Canggir Rumekso. Manusia yang pernah kita pecundangi beberapa puluh tahun yang lalu...," sahut penunggang kuda sebelah kiri sambil alihkan pandangannya pada anak kecil di samping Restu Canggir Rumekso. "Yang kecil itu kau mengenalnya...?"

"Tidak!" jawab penunggang kuda sebelah kanan. "Kita harus cepat sampai di kotaraja. Berarti siapa pun orang yang menghadang kita, harus segera kita selesaikan!"

Kedua penunggang ini sejenak saling berpandangan, lalu seperti dikomando keduanya meneruskan langkah. Baru kuda masing-masing bergerak melangkah, Restu Canggir Rumekso berteriak lantang.

"Resi Rangrang Geni, Resi Jala Sukma! Kematian kalian sudah digariskan berada di hadapanku!" Restu Canggir Rumekso lantas berpaling pada anak kecil di sampingnya yang tadi dipanggil Abilowo.

"Habisi mereka"

Begitu suara perintah Restu Canggir Rumekso lenyap, Abilowo segera merentangkan kedua tangannya ke samping. Lalu dengan tersenyum menyeringai dihantamkan kedua tangannya ke depan.

Wuuut! Wuuut!

Dua rangkum angin deras laksana gelombang amat dahsyat menggebrak ke arah dua penunggang kuda di hadapannya yang tadi disebut Restu Canggir Rumekso dengan nama Resi Rangrang Geni dan Resi Jala Sukma.

Resi Rangrang Geni dan Resi Jala Sukma sama-sama berseru keras dan dengan menahan rasa terkejut dalam diri masing-masing mereka segera melompat melayang dari kuda masing-masing selamatkan diri. Kuda tunggangan mereka kaget dan segera pula melompat ke depan. Namun tak urung bagian pantat kuda itu tersambar angin pukulan jarak jauh Abilowo, membuat kedua binatang itu terbanting dan roboh di atas tanah. Namun karena binatang malang itu tadi masih sempat melompat, membuat badannya selamat dari hantaman telak, hingga tak berapa lama kemudian, kedua binatang malang itu bangkit dengan terhuyung-huyung sebelum akhirnya keluarkan ringkihan keras dan menghambur kencang masuk ke dalam hutan.

Sunyi sejenak. Lalu tak berapa lama kemudian terdengar kekehan tawa keras dan panjang keluar dari mulut Restu Canggir Rumekso.

"Rangrang Geni. Aku hampir tak percaya dengan anak itu. Siapa dia sebenarnya...?" tanya Resi Jala Sukma. Resi Jala Sukma adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Dia mengenakan pakaian dari kain sutera yang diselempangkan menyilang di bahu kirinya, sementara tubuh kanannya terbuka. Kepalanya besar dan tak ditumbuhi rambut sama sekali. Sedangkan temannya Resi Rangrang Geni, adalah juga seorang laki-laki, usianya tak jauh beda dengan Resi Jala Sukma, yang membedakan antara kedua orang ini adalah warna pakaian yang dikenakannya. Resi Jala Sukma memakai pakaian warna merah, sedangkan Resi Rangrang Geni warna biru gelap.

Konon, kedua resi ini adalah orang-orang pandai besi yang terkenal. Hingga keduanya dipanggil oleh raja di kawasan barat untuk dijadikan resi-resi kerajaan. Namun tatkala diketahui selain pandai besi juga berilmu tinggi, pada akhirnya sang raja menjadikan kedua orang ini sebagai penasihatnya. Dan nama kedua orang ini semakin disegani ketika keduanya berhasil menumpas pemberontak yang salah satu pimpinannya adalah seorang yang waktu itu sangat ditakuti yaitu Restu Canggir Rumekso.

Namun dalam perjalanan selanjutnya, kedua orang itu tampaknya terpengaruh dengan lingkungan. Sikap dan perbuatan kedua orang ini sedikit demi sedikit berubah. Malah mereka bersahabat dengan tokoh-tokoh golongan hitam. Hingga pada akhirnya kedua orang ini menjadi lain. Keduanya menjadi beringas dan tak segan-segan menjatuhkan tangan pada siapa saja!

"Persetan dengan tikus cilik itu siapa lagi! Lagi pula apa yang kita takutkan?!" berkata Resi Rangrang Geni lalu berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri lima langkah di hadapan Restu Canggir Rumekso dan Abilowo. Sementara itu Resi Jala Sukma tak tinggal diam. Dia pun ikut berkelebat dan berdiri menjajari sahabatnya.

"Tak perlu ku ingatkan. Kalian mestinya telah tahu masalah di antara kita beberapa puluh tahun silam. Nakh, sekarang sebelum menghadapi aku, akan ku coba kehebatan kalian dengan muridku ini!" lantas Restu Canggir Rumekso melirik pada Abilowo dan berkata singkat.

"Habisi mereka!"

Tanpa berbicara, Abilowo langsung melompat ke depan dan serta merta kirimkan serangan dengan hantaman kedua tangannya ke arah kepala Resi Rangrang Geni dan Resi Jala Sukma.

Kedua orang yang diserang, tahu kalau hantaman tangan anak kecil itu bukan sembarang hantaman, maka mereka berdua segera rundukkan kepala masing-masing. Hingga hantaman tangan Abilowo menerpa tempat kosong sejengkal di atas kepala Resi Rangrang Geni dan Resi Jala Sukma.

Namun tak urung kedua orang ini dibuat terperangah. Meski hantaman kedua tangan Abilowo tak mengenai sasaran, tapi bias sambarannya mampu membuat kedua resi ini terhuyung-huyung dan undurkan kaki masing-masing ke belakang satu tindak.

Mendapati hantaman tangannya tak mengenai sasaran, Abilowo keluarkan dengusan keras. Bibirnya menyeringai dengan tatapan berkilat-kilat marah.

Dan sepertinya ingin segera menghabisi lawan, Abilowo lantas kembali maju dan dengan bentakan keras kaki kanannya dia sapukan berputar dari kiri ke kanan. Yang dituju kali ini adalah Resi Jala Sukma.

Wesss!

Merasa penasaran, kali ini Resi Jala Sukma tidak lagi menghindar. Dengan tegakkan kembali tubuhnya, resi ini sambut sapuan kaki Abilowo dengan hujamkan tangan kanannya.

Prakkk!

Terdengar benturan hebat ketika tangan sang resi menyambut kaki Abilowo. Sang resi terkejut bukan alang kepalang. Raut wajahnya meringis menahan sakit di pergelangan tangan. Sementara tubuhnya terdorong dua langkah ke belakang.

Melihat sahabatnya bisa dibuat terdorong dan meringis menahan sakit, Resi Rangrang Geni melompat ke depan, memanfaatkan situasi karena dilihatnya sang anak hendak tarik kakinya yang baru saja bentrok dengan tangan Resi Jala Sukma.

Sambil melompat, Resi Rangrang Gent luruskan sepasang tangannya menjurus pada dada Abilowo.

Seeett! Namun Resi Rangrang Geni terkesima. Serangannya yang begitu cepat dan pernah merontokkan beberapa tokoh itu hanya menyambar angin di sebelah kanan sang anak. Malah tatkala serangannya lolos, dan belum sempat bergerak hendak melancarkan serangan susulan, Abilowo telah lentingkan tubuhnya ke udara setinggi setengah tombak, dan dengan gerakan yang sukar diikuti pandangan mata biasa, Abilowo menukik deras dengan kaki lurus. Dan tahu-tahu sepasang kaki anak ini telah menjepit leher Resi Rangrang Geni.

Seraya meraung keras Resi Rangrang Geni putar-putar tubuhnya. Anehnya tubuh Abilowo bukannya jatuh terhumbalang, malah sang resi merasakan lehernya hendak copot. Hingga dia menghentikan putaran tubuhnya dan dengan sentakan keras kedua tangannya dia hempaskan ke atas menepis kedua kaki sang anak. Namun sebelum tangan Resi Rangrang Geni menepis, Abilowo telah sentakkan tubuhnya ke samping dengan keras seraya melompat. Akibatnya tubuh Resi Rangrang Geni terbanting deras menghujam tanah! Sementara di lain pihak, Abilowo mendarat dengan kaki kokoh.

Abilowo tampak melangkah perlahan mendekat, membuat Resi Rangrang Geni yang masih berusaha bangkit terkejut apalagi ketika dilihatnya sepasang mata lawan berkilat-kilat merah. Resi ini lantas berpaling cepat pada sahabatnya seakan minta pertolongan.

Mengerti isyarat bahaya mengancam sahabatnya, Resi Jala Sukma segera takupkan kedua tangannya di depan dada. Lantas sesaat kemudian kedua tangan itu dihantamkan ke depan, ke arah Abilowo yang kini semakin dekat dengan tempat Resi Rangrang Geni. Serangan angin deras bersuara menggeledek yang disertai kilatan-kilatan menyilaukan segera keluar menyambar ke arah Abilowo.

Mendapat serangan berbahaya, Abilowo tampaknya tidak berusaha untuk menghindar. Malah dia menghentikan langkah seakan hendak menyongsong serangan dengan tubuhnya.

Benar saja, Abilowo memang tak berusaha mengelak apalagi menangkis. Dia diam tak bergeming menyongsong serangan Resi Jala Sukma.

Hingga tanpa ampun lagi hantaman tangan Resi Jala Sukma menghajar tubuh Abilowo.

Desss!

Ketika pukulan Resi Jala Sukma menghajar tubuh Abilowo, asap hitam segera melingkupi tempat di sekitar Abilowo. Hal ini bisa dimengerti, karena saat itu Resi Jala Sukma melancarkan pukulan 'Sukma Hitam'. Sebuah pukulan sakti yang akan mengeluarkan asap hitam jika mengena sasaran, dan setelah itu orang yang terbungkus asap hitam akan melayang dan menyuruk tanah dengan tubuh hangus dan nyawa lenyap!

Begitu tahu pukulannya menghajar lawan, dan asap hitam sudah membungkus tubuh lawan, Resi Jala Sukma tertawa terkekeh-kekeh. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun kekehan tawa Resi Jala Sukma terputus tiba-tiba. Malah kedua kakinya kini mundur dua tindak ke belakang. Sepasang mata Abilowo memandang tak kesiap.

Apa yang dibayangkan Resi Jala Sukma ternyata keliru. Abilowo yang baru saja terhantam serangan 'Sukma Hitam' tetap kokoh berdiri. Pakaian yang dikenakannya pun tak hangus sama sekali. Malah sepasang matanya menyengat tajam berganti pada Resi Jala Sukma dan Resi Rangrang Geni.

"Ha... ha... ha...! Rangrang Geni, Jala Sukma. Kemampuan kalian ternyata tidak ada kemajuannya. Kalian menghadapi anak didik ku saja sudah moratmarit. Jadi terimalah kematian kalian hari ini dengan lapang dada! Ha... ha... ha...!" kata Restu Canggir Rumekso dengan tertawa gelak-gelak, hingga air matanya keluar.

Meski dalam hati masing-masing resi ini diamdiam kecut, namun karena mereka sudah pernah malang melintang berpuluh tahun dalam rimba persilatan, membuat mereka tidak begitu saja mudah menyerah kalah. Malah keduanya kini segera melompat agak menjauh dan berdiri berjajar.

"Aku tak habis pikir anak apa ini. Pukulanku tidak ada apa-apanya ketika menghajar dirinya...!" kata Resi Jala Sukma tanpa menoleh.

"Aku pun heran. Dari mana bang sat itu memperoleh murid demikian hebat?" tanya Resi Rangrang Geni dengan pandangan menyorot pada Abilowo yang kini melangkah mendekati tempat mereka.

"Kita coba menyerang bersama-sama!" kata Resi Jala Sukma. Resi Rangrang Geni mengangguk perlahan. Lantas kedua orang ini sama-sama keluarkan bentakan dahsyat. Dan bersamaan dengan itu, kedua orang ini dorong tangannya masing-masing ke depan.

Larikan-larikan sinar berkilau berhawa panas segera bersiutan menggebrak ke arah Abilowo. Namun kali ini pun Abilowo tak juga berusaha berkelit. Dia tetap melangkah seakan tak ada serangan yang menuju ke arahnya. Hingga tanpa ampun lagi hantaman tangannya yang telah dialiri tenaga dalam tinggi dari Resi Rangrang Geni dan Resi Jala Sukma itu menghujam telak ke tubuh Abilowo.

Sebenarnya Restu Canggir Rumekso khawatir juga melihat Abilowo tak berusaha mengelak. Karena dia tahu, bahwa jika serangan kedua orang ini telah menyatu, sukar orang bisa selamat. Dia yang pernah dipecundangi kedua resi ini pada beberapa puluh tahun yang lalu pernah merasakan hal itu, untung saja waktu itu Restu Canggir Rumekso telah menguasai ilmu pengobatan, jika tidak nyawanya mungkin sudah amblas waktu itu.

Namun untuk meyakinkan kedigdayaan muridnya, akhirnya Restu Canggir Rumekso tak hendak memperingati muridnya untuk menghindar. Dia hanya melihat, meski dalam hati dicekam perasaan khawatir.

Di lain pihak, Abilowo yang terhantam serangan kedua orang resi mendengus keras. Tubuhnya terhumbalang satu tombak ke belakang dan roboh menghantam tanah.

Resi Rangrang Geni dan Resi Jala Sukma keluarkan tawa pendek. Kepuasan nyata jelas meraupi raut wajah mereka. Sementara Restu Canggir Rumekso terbelalak kaget.

Namun semua itu hanya sesaat. Tak lama kemudian, ganti Restu Canggir Rumekso yang tertawa dengan mata mengejek, sementara kedua orang resi itu putus tawa masing-masing berganti dengan belalakkan mata tak percaya.

Abilowo tanpa mengeluarkan keluhan, bangkit. Tubuhnya tak mengalami cedera sama sekali dan tak setetes darah pun yang mengalir.

"Jala Sukma. Kita rupanya tak mampu menghadapi anak gila ini. Lebih baik kita segera kabur tinggalkan tempat ini!" kata Resi Rangrang Geni seraya memperhatikan anak yang kini mulai melangkah kembali ke arahnya.

"Betul. Kita harus segera meloloskan diri. Dan untuk memecahkan perhatiannya, kau ke sebelah selatan, aku ke sebelah utara...," jawab Resi Jala Sukma seraya melirik keadaan sekeliling.

Habis berkata, Resi Jala Sukma segera ancangancang hendak berkelebat, demikian juga Resi Rangrang Geni. Namun naluri sang anak rupanya tahu. Sebelum kedua orang ini berkelebat melarikan diri, Abilowo telah jejakkan sepasang kakinya. Tubuhnya meluncur deras ke depan, dan berdiri di tengah-tengah dua resi ini, dan belum sempat kedua resi berbuat sesuatu, Abilowo telah melesatkan dirinya ke atas dengan kedua kaki dipentangkan ke samping kiri dan kanan, menghantam iga kanan Resi Ranggang Geni dan iga kiri Resi Jala Sukma.

Kedua orang ini masih berusaha menangkis, namun gerakan tangan menangkis mereka terlambat. Hingga saat itu juga terdengar raungan keras bersahutan.

Tubuh Resi Rangrang Geni terbanting ke kiri sedangkan Resi Jala Sukma terbanting ke kanan. Dan belum sempat kedua orang ini merambat bangkit, Abilowo telah banting-bantingkan kedua kakinya ke atas tanah.

Bumm! Bummm! Bummm!

Tanah di hutan itu laksana didera gempa dahsyat, hingga membuat tanahnya rengkah-rengkah bahkan tak jarang yang terbongkar. Bersamaan itu, Resi Rangrang Geni dan Resi Jala Sukma berubah tampang masing-masing menjadi pucat pasi, karena tanah di bawahnya terasa bergerak hebat membelah. Mereka berdua berusaha mengerahkan tenaga dalam untuk segera bangkit dan menghentikan gerak tubuhnya yang sedikit demi sedikit bagai tersedot masuk ke dalam tanah yang semakin menganga di bawah tubuh masing-masing.

Namun usaha mereka tampaknya sia-sia belaka. Karena Abilowo menambah tenaga dalamnya pada kedua kaki yang terus menerus dibanting-bantingkan. Hingga tak lama kemudian kedua resi ini menjerit keras bersamaan dengan masuknya tubuh keduanya ke dalam tanah.

Melihat kedua lawan telah masuk ke dalam tanah, Abilowo menghentikan bantingan kakinya. Dengan mata tetap nyalang beringas, dia dorongkan kedua tangannya ke tanah rengkah tempat kedua resi masuk. Tanah rengkah itu mendadak laksana didorong kekuatan dahsyat dan perlahan-lahan bergerak menu-

tup!

Terdengar beberapa umpatan dan raungan keras bersahutan, makin lama makin lemah sebelum akhirnya lenyap dengan menutupnya tanah tempat kedua resi masuk dan hanya menyisakan empat pergelangan tangan yang tampak kaku di atas tanah!

"Ha... ha... ha... Bagus.... Bagus...," kata Restu Canggir Rumekso sambil melangkah mendekati Abilowo. Diusapnya kepala anak itu, dan disibakkan rambutnya yang menghalangi pandangannya. Lalu dengan tersenyum lebar dia berkata.

"Abilowo, kita teruskan perjalanan ini. Namamu dan namaku akan segera ditakuti bahkan oleh setan sekalipun. Ha... ha... ha...!"

Seakan mengerti perkataan orang di sampingnya, Abilowo mengangguk perlahan. Lantas keduanya pun melangkah perlahan meninggalkan tempat itu dengan tawa tetap terdengar keluar dari mulut Restu Canggir Rumekso. TUJUH

SEORANG pemuda tampan mengenakan pakaian hijau yang dilapis dengan baju dalam lengan panjang warna kuning, dan bukan lain adalah Aji Saputra alias Pendekar Mata Keranjang 108, terlihat melangkah hendak memasuki sebuah dusun yang tak jauh di depannya.

"Sudah dua puluh hari menyelidik dan tanya ke sana kemari, namun aku belum juga mendapatkan kepastian di mana beradanya Restu Canggir Rumekso serta Putri Tunjung Kuning.... Hmm.... Ke mana lagi aku harus mencari...?" membatin murid Wong Agung ini seraya terus melangkah perlahan.

Selagi Pendekar Mata Keranjang. 108 batinnya disarati dengan berbagai hal yang belum bisa dipecahkannya, dari arah belakang dia mendengar derap ladam kaki-kaki kuda menuju ke arahnya.

"Aku masih punya urusan yang belum selesai. Menilik derap langkahnya, yang datang dari belakang ini adalah beberapa orang. Lebih baik aku menyingkir dulu, daripada ada masalah lagi "

Berpikir begitu, Aji segera berkelebat masuk ke balik semak belukar, dan mengendap-endap memperhatikan siapa gerangan yang datang.

"Hmm    Melihat pakaian seragam yang mereka

kenakan, mereka adalah pasukan kerajaan...," duga Pendekar Mata Keranjang 108 begitu rombongan berkuda melintas di dekat tempatnya sembunyi. Rombongan berkuda ini ternyata terdiri dari delapan orang, semuanya mengenakan pakaian seragam kerajaan. Hanya satu orang di antaranya yang mengenakan pakaian lain. Dia berada paling belakang. Dia adalah seorang laki-laki bertubuh kurus dan tinggi luar biasa. Raut wajahnya hampir tak jelas kelihatan, karena wajah laki-laki dipenuhi dengan jambang dan kumis lebat. Sepasang matanya sipit. Hidungnya kecil tetapi bibirnya begitu tebal dan lebar. Kepalanya tak ditumbuhi rambut sama sekali.

Pendekar Mata Keranjang 108 dongakkan kepala, memandang langit seraya coba menduga-duga siapa adanya laki-laki berpakaian dan bertampang lain dari rombongan berkuda.

"Tubuh tinggi kurus, rambut tak ada sama sekali di kepalanya, bibir tebal dan lebar, Hmm     Aku

tak bisa mengenalinya, tapi melihat mereka berbondong-bondong dan tergesa-gesa, pasti ada sesuatu yang penting. Namun ah, peduli apa dengan mereka....

Aku tak ada urusan dengan pasukan kerajaan "

Setelah rombongan lewat, Aji segera keluar dari tempat persembunyiannya. Memandangi rombongan yang terus berpacu memasuki dusun.

"Derap langkah mereka tampaknya lenyap. Hmm.... Barangkali mereka singgah di kedai. Aku sebenarnya juga sudah lapar, namun tak enak rasanya makan bersama-sama dengan pasukan kerajaan. Lebih baik aku mencari sumber air, sambil menunggu rombongan tadi meninggalkan kedai ," Pendekar Mata Ke-

ranjang 108 lantas putar tubuhnya, melangkah ke sebuah danau berair jernih yang tak jauh dari tempatnya bersembunyi tadi.

Sementara itu, dugaan Pendekar Mata Keranjang 108 benar adanya. Rombongan berkuda ini berhenti di sebuah kedai besar yang berhalaman luas. Setelah menambatkan kuda masing-masing, rombongan ini satu persatu memasuki kedai.

Melihat siapa yang datang, pemilik kedai segera memberi isyarat pada para pelayan untuk segera menyambut. Para pengunjung kedai yang saat itu ramai segera menyelesaikan makanannya masing-masing dan keluar satu persatu dengan bersungut-sungut.

Melihat sikap para pengunjung kedai, kesepuluh orang berseragam kerajaan saling pandang satu sama lain. Lalu meledaklah tawa mereka, keras dan panjang bersahut-sahutan.

"Apa tampang kita mirip hantu pocong hingga orang-orang tadi sampai lari ketakutan. He...?" kata salah seorang sambil menyeret kursi kayu dan menghempaskan tubuhnya hingga kursi itu berderak-derak. "He pelayan, sediakan untuk kami makanan

dan minuman. Cepat!" kata salah seorang lainnya pada dua orang pelayan yang datang hendak menyambut.

"Untukku sediakan satu bumbung besar arak murni!" seru laki-laki yang duduk sendirian dan berpakaian serta bertampang lain itu. Meski dia berpakaian lain, namun tampaknya dia adalah pimpinan rombongan, terbukti ketika dia angkat bicara ke delapan orang berseragam itu serta merta menghentikan tawa masing-masing.

Ketika beberapa pelayan sibuk menyiapkan makanan dan minuman serta membersihkan meja, terdengar seseorang berkata dari ambang pintu kedai.

"Kami juga perlu makan dan minum. Sediakan seperti pesanan tamu-tamu agung ini!"

Ke delapan orang berseragam, yang ternyata adalah pasukan prajurit kerajaan sama-sama palingkan kepala masing-masing ke arah pintu. Hanya lakilaki yang duduk sendirian tak memandang, malah dia memandang ke jurusan lain.

Ke delapan prajurit melihat dua orang melangkah masuk kedai, lalu tanpa memandang kedua orang ini memilih duduk agak menjauh. Yang satu adalah seorang laki-laki mengenakan caping lebar. Sementara satunya adalah seorang anak yang bertubuh seperti anak tujuh tahun. Berbadan tegap dan bermata tajam.

Laki-laki yang duduk sendirian dan menjadi pimpinan rombongan melirikkan sepasang matanya. Dari nada bicara dan sikap, laki-laki ini segera menangkap gelagat buruk pada kedua orang yang baru masuk, yang bukan lain adalah Restu Canggir Rumekso dan Abilowo. Namun laki-laki berjambang dan berkumis lebat serta bertubuh tinggi kurus ini menampakkan sikap tenang.

"Rasa-rasanya aku mengenal siapa laki-laki bercaping itu...," membatin laki-laki tinggi kurus sambil mendehem beberapa kali. Dia lantas mendongak sambil berpikir terus mengingat-ingat.

"Benar! Aku ingat. Dia pasti manusia bernama Restu Canggir Rumekso bekas pimpinan pemberontak yang berhasil ditumpas oleh Kakang Resi Rangrang Geni dan Kakang Resi Jala Sukma pada beberapa puluh tahun silam. Hmm.... Kukira anak yang bersamanya...? Aku tak bisa mengenalinya. Ada apa dia muncul kembali...? Ingin melakukan makar lagi?" lakilaki tinggi kurus batinnya disemaki beberapa dugaan. "Kakang Resi Rangrang Geni dan Kakang Resi Jala Sukma, seharusnya mereka berdua kemarin telah sampai di kotaraja. Hingga tak merepotkan aku untuk menyusulnya. Apa mereka dapat halangan di jalan?"

"Abilowo! Puaskan minum mu kali ini, karena minuman itu adalah minuman terakhir yang kau rasakan!" tiba-tiba Restu Canggir Rumekso berkata.

Nadanya memang ditujukan pada anak yang duduk di hadapannya, namun wajah dan matanya lurus menatap pada laki-laki tinggi kurus. Laki-laki tinggi kurus tersentak kaget. Dia segera palingkan wajah. Hingga untuk beberapa saat lamanya terjadi bentrok pandangan antara Restu Canggir Rumekso dan laki-laki tinggi kurus.

Laki-laki tinggi kurus tersenyum sinis. Lantas menyapukan pandangan pada prajurit, dan berkata.

"Prajurit! Hari ini kalian akan mendapatkan hadiah besar. Domba yang berpuluh tahun menjadi buruan kita, sedang siap menyerahkan nyawanya!"

Para prajurit yang tak mengerti maksud katakata laki-laki tinggi kurus hanya saling pandang satu sama lain. Lantas menyantap hidangan yang kini telah dihidangkan di meja mereka.

"Abilowo!" kata Restu Canggir Rumekso dengan suara keras, hingga semua orang yang ada di dalam kedai mendengar. "Delapan kecoak itu sudah terlalu kenyang makan enak. Jangan sampai makanan kedai ini masuk seluruhnya dalam perut mereka. Sisakan makanannya untuk anjing-anjing jalanan yang lebih terhormat dari kecoa-kecoa itu!"

Sekonyong-konyong ke delapan kepala prajurit melengak dan menoleh pada Restu Canggir Rumekso dan Abilowo. Mata-mata mereka menyengat tajam memandang silih berganti pada dua orang ini. Dua orang di antaranya tampak berdiri dan dengan langkah lebar keduanya mendekati meja Restu Canggir Rumekso.

"Orang tua! Buka matamu lebar-lebar. Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini, he...?!" kata salah seorang sambil siap cabut golok dari selipan bajunya.

Restu Canggir Rumekso tertawa gelak-gelak mendengar ucapan prajurit. "Sedang berhadapan dengan siapa?" ulang Restu Canggir Rumekso disela tawanya. "Apa kau tadi tidak dengar ucapanku. Dengar baik-baik. Aku berhadapan dengan manusia-manusia yang lebih hina dari anjing jalanan!"

"Keparat!" bentak sang prajurit seraya cabut goloknya dan serta merta dibabatkan pada Restu Canggir Rumekso. Sementara itu keenam prajurit lainnya segera pula berdiri dan melangkah ke arah meja Restu Canggir Rumekso lalu berdiri mengurung.

Mendapati babatan golok, Restu Canggir Rumekso tak berusaha mengelak. Dia hanya angkat tangannya dan secepat kilat disentakkan ke pergelangan tangan sang prajurit.

Tasss!

Prajurit itu berseru tertahan. Pegangan pada goloknya terlepas, membuat golok itu mencelat dan menancap pada meja. Di lain kejap, Restu Canggir Rumekso angkat pantatnya, dan kaki kirinya menendang kursi yang didudukinya.

Settt!

Kursi itu meluncur deras ke arah prajurit yang tadi hendak membabat, karena sang prajurit tidak menduga, hingga dia tak punya kesempatan untuk menghindar, hingga tanpa halangan lagi kursi itu menghantam kakinya, membuat jatuh bergedebukan di lantai kedai. 

Seett! Seett!

Tujuh orang prajurit kontan mencabut golok masing-masing dan dengan gerak cepat ketujuh orang ini langsung menghujamkan golok masing-masing ke arah Restu Canggir Rumekso.

Bersamaan dengan gerak ayunan tangan ketujuh prajurit, Abilowo yang sedari tadi hanya memandang dengan tatapan tajam bergerak cepat. Tubuhnya berkelebat lenyap dari pandangan. Dan tahu-tahu kejap itu juga terdengar jeritan tujuh kali berturut-turut. Tubuh ketujuh prajurit itu mental dan mence-

lat masing-masing dua tombak ke belakang, di antaranya ada yang menumbuk meja dan kursi serta tiang kedai, hingga saat itu terdengar berderaknya mejameja patah, serta pecahnya beberapa piring.

Abilowo kini tegak di samping Restu Canggir Rumekso dengan mata nyalang memandang ketujuh prajurit. Bibirnya menyeringai tak henti-henti. Dan di tangannya tergenggam tujuh golok!

Restu Canggir Rumekso makin ngakak. Sementara diam-diam laki-laki kurus tinggi membelalakkan sepasang matanya yang sipit. Dia hampir saja tidak mempercayai apa yang baru saja dilihat. Namun dia menindih perasaan terkesimanya dengan tersenyum sinis.

Di lain pihak, ketujuh prajurit nyalinya mengkeret seketika. Namun salah satu dari mereka, yakni yang tadi terhajar kursi Restu Canggir Rumekso berteriak lantang.

"Jangan takut! Dia hanya anak kecil"

Meski nyali mereka telah lumer, melihat salah seorang temannya memberi semangat, serta merta mereka pun berdiri kembali dan dengan tampang masingmasing merah padam, mereka pun merangsek maju seraya hantamkan tangan masing-masing ke arah Abilowo.

Terdengar suara menggereng dari mulut Abilowo. Dia tak bergerak sama sekali mendapati serangan hantaman tangan para prajurit itu. Namun sejengkal lagi tangan-tangan itu menghantam tubuhnya, Abilowo bergerak memutar dengan cepat.

Jeritan menyayat terdengar menyalak berturutturut. Begitu jeritan itu lenyap, tampak tujuh prajurit roboh dengan perut masing-masing tertancap golok! Sementara yang satu tubuhnya hangus dengan tangan hampir sempal!

Melihat keadaan, si empunya kedai serta para pelayan segera menghambur keluar melarikan diri.

"Jambu Naga!" seru Restu Canggir Rumekso pada laki-laki tinggi kurus yang masih tampak duduk di mejanya.

"Cepat bunuh dirimu dengan tanganmu sendiri!" seraya berkata Restu Canggir Rumekso lemparkan salah satu golok yang dicabutnya dari salah seorang prajurit ke meja laki-laki tinggi kurus yang dipanggil dengan Jambu Naga.

"Bedebah! Kau kira aku takut menghadapi manusia macam kau dan anjing kecilmu itu!" ucap Jambu Naga sambil berdiri dan melesat keluar kedai.

"Abilowo! Habisi bapak anjing-anjing itu!" kata Restu Canggir Rumekso seraya melangkah menuju ambang pintu kedai.

Jika Restu Canggir Rumekso melangkah perlahan hendak keluar dari kedai, tak demikian halnya dengan Abilowo. Seakan tak sabar, bocah ini segera berkelebat ke udara, menembus langit-langit kedai dan serta merta melayang turun dengan kirimkan serangan hantaman kedua tangannya pada Jambu Naga yang tampak berdiri menunggu di halaman kedai.

Wuutt! Wuutt!

Dengan menahan rasa terkejut, Jambu Naga segera berkelit rebahkan diri ke samping. Hampir sejajar tanah, kedua tangan laki-laki kurus ini menyentak ke bawah, membuat tubuhnya membumbung ke udara. Dari udara setelah membuat gerakan jungkir balik dua kali, sepasang kakinya yang panjang menyapu deras ke arah kepala Abilowo. Abilowo keluarkan dengusan marah, karena serangannya dapat dihindari. Tapi mendapati serangan balik ini dia tak bergerak sedikit pun. Hingga sapuan kaki Jambu Naga menghantam telak kepalanya.

Prakk!

Tubuh bocah ini oleng dengan kepala mendongak, lalu roboh ke atas tanah, membuat Jambu Naga tertawa mengejek lalu melangkah mendekati Abilowo yang masih diam tak bergerak di atas tanah.

Namun lima langkah lagi sampai, dan Jambu Naga baru ancang-ancang akan kirimkan pukulan, kedua kali Abilowo bergerak menendang tanah, hingga tubuhnya melesat ke atas.

Jambu Naga yang ternyata adalah salah satu penasihat raja dan pengawal pribadi raja segera jatuhkan diri bergulingan, saat gulingan ke tiga, dan dilihatnya sang bocah terus menukik ke arahnya, dia cepat kirimkan serangan dengan sentakan kedua tangannya.

Sett! Settt!

Sepuluh senjata rahasia berupa pisau kecilkecil berwarna hitam redup melesat keluar dari kedua tangan Jambu Naga.

Karena jaraknya begitu dekat, hingga tak ada ruang lagi untuk Abilowo bisa menghindar dari senjata rahasia Jambu Naga. Sepuluh senjata rahasia itu pun tak terbendung menghujam. Namun sepasang mata Jambu Naga kembali dibuat mendelik. Senjata rahasianya yang berisi racun jahat itu bermentalan bahkan diantaranya ada yang mental keras mengarah pada dirinya yang masih rebah di atas tanah!

"Jahanam!" teriak Jambu Naga sambil melompat berdiri menghindari senjata rahasianya sendiri yang mental. Saat itulah Abilowo mendarat di atas tanah dan hantamkan kedua tangannya.

Wess! Wesss!

Dua rangkum angin deras menggeledek melesat menyambar. Jambu Naga tak tinggal diam, dia pun segera sentakkan kedua tangannya menangkis serangan.

Bumm! Bumm!

Terdengar dentuman keras tatkala kedua pukulan itu bertemu di udara. Begitu tingginya tenaga dalam sang bocah, membuat tubuh Jambu Naga terhuyung-huyung ke belakang. Pada saat itulah, Abilowo jejakkan sepasang kakinya ke tanah. Tubuhnya melesat cepat ke depan.

Jambu Naga yang kerahkan tenaga untuk menahan tubuhnya agar tidak roboh terkejut besar. Dia coba berkelit, namun gerakannya terlambat. Hingga sepasang kaki Abilowo tak terhalang lagi menggebrak dadanya!

Dess! Desss!

Bukan hanya sampai di situ, begitu sepasang kakinya berhasil menggebrak dada lawan, kaki kanannya cepat bergerak ke atas, dan menghantam kepala.

Prakkk!

Darah muncrat dari bibir dan hidung Jambu Naga. Tubuhnya deras menghujam tanah dengan punggung terlebih dahulu. Sebentar Jambu Naga tampak bergerak-gerak, namun sesaat kemudian tubuh itu diam kaku!

Restu Canggir Rumekso tersenyum puas melihat kejadian itu. Lantas dia melambaikan tangan. Abilowo melangkah mendekat.

"Masih ada yang harus kita kerjakan. Kita tinggalkan tempat ini...," kata Restu Canggir Rumekso sambil mengangguk pada Abilowo. Abilowo tidak membalas anggukan sang guru, dia hanya menatap tanpa berkata, lalu melangkah begitu dilihatnya Restu Canggir Rumekso bergerak melangkah meninggalkan halaman kedai yang telah sepi.

DELAPAN

DUA orang terlihat berlari kencang sampai ujung desa, mereka tampaknya ketakutan. Terbukti sambil berlari kencang, keduanya sesekali berpaling ke belakang hingga tak heran jika salah satu dari mereka tak jarang jatuh menyusup tanah karena tak dapat menyiasati jalanan di depannya. Bahkan tak jarang kedua orang ini saling terguling bersamaan karena bertubrukan satu sama lain.

"He...? Apa yang terjadi...?!" mendadak ada orang menegur tatkala kedua orang ini hampir keluar dari ujung desa.

Kedua orang yang ternyata adalah sebagian dari para pelayan kedai sama palingkan wajah masingmasing pada orang yang menegur.

"Kau.... Apakah kau.... Bu..., bukan teman mereka...?" tanya salah seorang di antara dua orang pelayan ini dengan tergagap dan memandang pada orang yang menegur dengan tatapan menyelidik.

Yang ditanya, seorang pemuda berpakaian hijau dan bukan lain adalah Aji atau Pendekar Mata Keranjang 108 kernyitkan kening dengan mata membelalak.

"Sialan! Ditanya malah ganti bertanya!" bentak Aji sambil tersenyum. "Lekas katakan ada apa...!" sambung Pendekar Mata Keranjang 108 dengan memandang bergantian pada orang di hadapannya yang masih tampak ketakutan. Setelah dapat menguasai diri dan yakin bahwa pemuda di hadapannya bukan orang jahat, salah seorang dari pelayan kedai itu berkata. Suaranya bergetar dan parau.

"Di kedai.... Ada orang berkelahi...!" Belum selesai sang pelayan ini dengan ucapannya, Pendekar Mata Keranjang telah menyela.

"Sialan! Ada perkelahian saja kalian lari tunggang langgang. "

"Tapi.... Ini lain. Para prajurit kerajaan itu dibuat mati hanya dalam satu ginian...!" kata salah seorang sambil ayunkan tangan dari bawah ke atas. "Dan yang membuat mati itu adalah.... Seorang anak kecil!" timpal satunya seraya menoleh ke belakang.

"Heran. Tampaknya mereka sangat ketakutan sekali. Namun aku belum begitu jelas dengan maksud kata-kata mereka. Dasar orang-orang penakut!" Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah mendekat, dan berkata.

"Kalian tak perlu takut. Ceritakan dengan jelas apa yang terjadi!"

Setelah merasa yakin tak ada orang yang mengejar, salah satu dari pelayan ini menceritakan apa yang terjadi dalam kedai.

"Kau ingat ciri-ciri mereka. Maksudku anak kecil itu ?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108.

"Dia berusia kira-kira delapan atau tujuh tahun. Badannya tegap dan berotot, matanya berkilatkilat garang. Dia tak pernah tertawa. Justru yang tua yang terus-terusan tertawa bergelak-gelak "

"Yang tua ?" sela Pendekar 108.

"Benar. Anak itu datang bersama seorang lakilaki agak tua. Raut wajahnya tak jelas kulihat, karena dia mengenakan caping lebar. Pakaiannya jubah putih kusam, rambutnya panjang sepunggung "

"Restu...," Pendekar Mata Keranjang 108 bisa menduga siapa adanya laki-laki yang diceritakan orang di hadapannya. Hingga tanpa menunggu orang meneruskan kata-katanya, Pendekar Mata Keranjang 108 balikkan tubuh dan berkelebat cepat ke arah desa.

"Orang edan! Tanya-tanya belum selesai sudah minggat tanpa bilang ba, bu!" rutuk salah seorang pelayan itu seraya pandangi arah berkelebatnya Pendekar Mata Keranjang 108.

"Jangan-jangan dia orang gila. Kau lihat tadi, sambil terus bertanya, dia tak henti-hentinya cengengesan! Sial betul kita. Dikibuli orang gila...," kata satunya sambil tertawa.

"Ah, persetan dengan dia. Gila atau tidak. Yang penting sekarang kita harus cepat tinggalkan tempat ini!" ujar yang tadi bercerita seraya bergerak melangkah meninggalkan tempat itu, lalu diikuti temannya.

Sementara itu, Pendekar Mata Keranjang 108 menggenjot larinya, dan dalam waktu singkat telah sampai pada halaman kedai.

"Jangan-jangan aku terlambat. Suasana sepertinya sudah sunyi!" gumam Pendekar Mata Keranjang

108 seraya menyapukan pandangannya berkeliling di halaman kedai. Ketika sepasang matanya tertumbuk pada seseorang yang menggeletak, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat mendatangi.

"Astaga! Orang yang paling belakang dari rombongan prajurit...," membatin Pendekar Mata Keranjang 108 dengan memperhatikan lebih seksama. "Hm.... Pasti yang membunuhnya adalah seorang berilmu tinggi...." Dia lantas memandang sekali lagi berkeliling. "Tapi ke mana Restu Canggir Rumekso ? Dan

siapa anak kecil itu " Mendapati di halaman kedai tak ada orang lagi, Pendekar Mata Keranjang melangkah memasuki kedai. Dan baru sampai di ambang pintu, dia hentikan langkahnya. Matanya mengawasi berkeliling. Mata itu menyipit lantas membeliak.

"Benar-benar tidak berperikemanusiaan orang yang melakukan ini...," gumam Pendekar Mata Keranjang 108 sambil memperhatikan mayat-mayat prajurit yang masing-masing perutnya tertembus golok.

Pendekar 108 balikkan tubuh, melangkah kembali ke halaman kedai. "Ke arah mana aku harus mengejar...?"

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 berpikir keras untuk menentukan arah mana yang harus ditempuh untuk melakukan pengejaran, mendadak terdengar langkah-langkah ladam kuda berderap.

"Hmm.... Tampaknya derap ladam kuda itu menuju kemari!" batin Pendekar Mata Keranjang 108 seraya palingkan wajah ke arah datangnya langkahlangkah derap kuda.

Baru saja Pendekar Mata Keranjang 108 palingkan wajah, dari arah barat tampak tiga orang berkuda mendatangi. Sampai halaman kedai, ketiga penunggang ini hentikan kuda masing-masing.

Ketiga penunggang itu serentak membelalakkan mata masing-masing bahkan salah satu di antaranya berseru keras kala mereka mengetahui siapa adanya orang yang tewas menggeletak di halaman kedai.

"Keparat busuk! Kau harus bayar kematian Resi Jambu Naga dengan nyawamu!"

Salah seorang dari ketiga penunggang kuda ini membentak garang.

Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih tak mengerti pada siapa bentakan ditujukan, hanya senyum-senyum bahkan hendak bergerak meninggalkan halaman kedai.

"Jahanam! Mau lari ke mana kau, he...?!" bentak salah satunya sambi meloncat turun dari kuda tunggangannya, dan menghadang langkah Pendekar Mata Keranjang 108. Sementara dua lainnya segera pula loncat dari punggung kuda masing-masing dan mengurung Pendekar Mata Keranjang 108.

"Ada apa sebenarnya ini...?!" tanya Pendekar Mata Keranjang sambil memandang berputar ke arah tiga orang yang mengurungnya.

"Keparat! Justru kami yang harus tanya padamu! Siapa kau dan apa yang telah kau lakukan pada Resi Jambu Naga!" kata salah seorang dengan nada membentak.

"Jangkrik! Kenapa aku selalu dan selalu ditimpa nasib jelek! Dasar apes...," batin Pendekar Mata Keranjang 108 sambil gelengkan kepala.

"Manusia! Jawab pertanyaan kami!" bentak satunya dengan mata mendelik.

Pendekar 108 usap-usap cuping hidungnya.

Lantas dengan tetap tersenyum dia angkat bicara. "Aku bernama Aji Saputra. Aku tiba di sini su-

dah dalam keadaan begini. Kalau tak percaya tanya pada mayat temanmu itu!"

Tiga orang ini saling berpandangan satu sama lain. Tampang mereka berubah merah padam. Mereka ini yang ternyata adalah tiga laki-laki berusia setengah baya. Mengenakan pakaian seragam kerajaan. Namun melihat pakaiannya yang begitu mentereng, bisa segera ditebak jika mereka adalah para perwira tinggi kerajaan. Yang membedakan ketiga orang ini adalah ban dari kain yang diikatkan pada lengan masing-masing. Salah seorang di antaranya memakai warna merah, satunya putih, sedang satunya lagi warna kuning. "Manusia! Sekali lagi kuperingatkan. Jawab

dengan jujur pertanyaan kami!" kata laki-laki yang mengenakan ban warna merah, dan tampaknya lebih tua dibanding dua lainnya.

"Manusia!" kata Aji ikut-ikutan memanggil pada orang yang baru berkata. "Sudah kukatakan, kalau kalian tak percaya, tanya pada temanmu itu!" sambil berkata Pendekar Mata Keranjang 108 serahkan pandangannya pada mayat Jambu Naga.

"Bangsat!" serapah laki-laki yang memakai ban merah seraya member! isyarat pada laki-laki yang mengenakan ban putih.

Laki-laki yang mengenakan ban putih segera melangkah maju, dan tanpa berkata-kata lagi, dia meloncat sambil hantamkan kedua tangannya ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang 108.

Sambil mengusap cuping hidungnya Pendekar Mata Keranjang 108 memiringkan bahunya, hingga hantaman tangan ini lewat menghajar tempat kosong sejengkal di samping kepala Pendekar Mata Keranjang 108.

"Setan alas! Kucincang tubuhmu!" kertak lakilaki yang mengenakan ban putih ini dengan tarik pulang kedua tangannya dan didahului dengan bentakan menggeledek, dia merangsek maju dengan tangan kiri menjotos, sementara tangan kanan di depan dada. Kaki kanannya juga bergerak menerjang.

"Benar-benar apes! Aku tak akan meladeni mereka. Lebih baik aku menyingkir...," sambil berpikir begitu, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat jejakkan kaki, tubuhnya melenting tinggi, menghindari serangan laki-laki berbaju putih. Lalu setelah membuat gerakan salto dua kali di udara, murid Wong Agung ini mendarat agak jauh dari kurungan tiga laki-laki.

Begitu mendarat, Pendekar Mata Keranjang 108 segera hendak berkelebat pergi. Namun langkahnya terhenti ketika tahu-tahu tiga laki-laki itu sudah tegak di hadapannya menghadang.

"Dengar!" kata Pendekar Mata Keranjang lantang. Benaknya telah disarati dengan kejengkelan. "Aku tak tahu menahu dengan semua hal yang telah terjadi. Harap kalian jangan menghalangi langkahku!"

Laki-laki yang mengenakan ban kuning tersenyum sinis. Lalu dengan mata membeliak angker dia berkata.

"Siapa percaya dengan omongan mu. Melihat gerakanmu, tak mustahil kaulah yang membuat ulah itu! Sekarang terimalah hukumanmu!"

Habis berkata, laki-laki itu sentakkan kedua tangannya ke depan.

Wesss!

Serangkum angin bertenaga dalam tinggi menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Rupanya kalian memaksa!" ujar Pendekar 108 seraya melangkah tiga tindak ke samping. Dari samping Pendekar Mata Keranjang 108 kirimkan serangan tangkisan dengan sentakan kedua tangannya, lepaskan pukulan 'Ombak Membelah Karang'.

Blem!

Dentuman keras segera menyeruak di tempat itu. Laki-laki yang mengenakan ban kuning terkejut. Tubuhnya terseret hingga lima langkah ke belakang. Untung dia masih sempat kerahkan tenaga untuk menahan huyungan tubuhnya, kalau tidak, pasti tubuhnya telah terjengkang menyuruk tanah.

Sementara itu di seberang, Pendekar Mata Keranjang 108 tampak tetap tak bergeming, membuat tiga laki-laki di hadapannya kernyitkan dahi masingmasing. Dalam benak mereka, ditumbuhi berbagai pertanyaan tentang pemuda berbaju hijau di hadapannya. "Kakang...," kata laki-laki berbaju putih pada

laki-laki berbaju merah. "Siapa gerangan pemuda ini. Dia sepertinya tak sepenuh hati dalam menghadapi kita. Dan kalau mau tentunya dia tadi telah mengerahkan jurus yang mematikan. Kurasa kata-katanya benar. Bukan dia yang menewaskan Resi Jambu Naga!"

"Lantas siapa?" laki-laki berbaju merah membentak.

Dibentak seperti itu, laki-laki berbaju putih gelengkan kepalanya. "Namun satu hal yang pasti, kuat dugaan bukan dia yang membuat ulah itu!"

Laki-laki berbaju merah tertawa pendek. "Kalau kau jerih menghadapinya, kau pergilah. Biar aku yang hadapi!"

Mendengar kata-kata temannya itu, meski hatinya dongkol, laki-laki mengenakan ban putih ini tetap berdiri di tempatnya tanpa memandang pada lakilaki di sampingnya yang kini tampak melangkah maju hendak lepaskan pukulan pada Pendekar Mata Keranjang.

"Keparat jahanam! Kalau kau masih tetap tak mengaku, mampuslah kau!" hardik laki-laki berbaju merah dengan meloncat ke depan. Kakinya lantas dia angkat tinggi-tinggi ke atas. Tubuhnya diputar cepat, tiba-tiba kaki kirinya menyapu deras.

Wesss!

Begitu derasnya sapuan kaki itu, hingga sebelum kaki itu sampai, angin kencang mendahului, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 harus undurkan kakinya satu tindak ke belakang, menghindari sapuan angin yang mendahului serangan. Pada saat itulah sapuan kaki sesungguhnya datang. Karena tak ada waktu lagi jika menghindar, membuat mau tak mau Pendekar Mata Keranjang 108 tangkis sapuan kaki itu dengan ayunkan kedua tangannya.

Prakk! Prakk!

Dua kali terdengar benturan hebat, lantas disusul dengan seruan tertahan keluar dari mulut lakilaki berbaju merah. Tubuh laki-laki ini mental balik dan terjungkal di atas tanah. Di lain pihak, Pendekar Mata Keranjang 108 hanya terhuyung-huyung sebentar, lalu kembali tegak meski tampak meringis.

Melihat temannya jatuh terjungkal, laki-laki berbaju putih dan kuning segera berdiri berjajar. Mata mereka masing-masing menghujam tajam ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

Laki-laki berbaju kuning mengangguk. Lantas kedua orang ini melangkah masing-masing satu tindak ke depan. Kedua tangan mereka menakup di depan dada masing-masing, lalu sesaat kemudian tangan itu mereka rentangkan dan siap hendak kirimkan serangan.

Pada saat itulah berkelebat sebuah bayangan kuning disertai teguran keras.

"Hentikan pertempuran!"

Dua laki-laki yang hendak menyerang, urungkan niat dan memandang tajam pada orang yang baru datang. Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 berpaling ke kanan.

*** SEMBILAN

PUTRI Tunjung Kuning!" seru murid Wong Agung, begitu mengetahui siapa adanya orang yang kini tegak di hadapan dua laki-laki yang siap menyerangnya.

"Bukan mata kalian lebar-lebar! Kau sedang berhadapan dengan siapa kali ini!" bentak orang yang baru datang, yang ternyata adalah seorang gadis cantik jelita dan bukan lain adalah Putri Tunjung Kuning,

Dua laki-laki yang tadi hendak menyerang, memandang tak kesiap ke arah Putri Tunjung Kuning. Bukan karena marah sebab urusannya dicampuri, namun karena melihat bentuk tubuh gadis di hadapannya yang memang membentuk bagus karena tubuh itu dibungkus dengan pakaian warna kuning tipis dan ketat, membuat lekukan tubuhnya membayang jelas.

"Cepat tinggalkan tempat ini!" sambung Putri Tunjung Kuning begitu melihat dua laki-laki di hadapannya bengong memandangi dirinya. Sementara lakilaki berbaju merah yang baru saja bangkit juga melangkah menjajari temannya, dan ikut-ikutan menatap pada Putri Tunjung Kuning dengan tatapan gairah.

"Gadis cantik! Baiklah. Menuruti kemauanmu, kami akan meninggalkan tempat ini. Namun kau harus ikut dengan kami sebagai ganti pemuda itu!" kata laki-laki berbaju merah seraya mengerdipkan sebelah matanya.

Dua laki-laki temannya menyambuti ucapan laki-laki berbaju merah dengan tawa gelak-gelak dan angguk-anggukkan kepala.

"Tua bangka tak tahu diri!" teriak Putri Tunjung Kuning dengan raut muka berubah merah padam. "Kalau kalian tak lekas minggat dari hadapanku, aku tak segan-segan merobek mulut kalian!"

Laki-laki berbaju merah walau sangat marah mendengar ucapan gadis di depannya, namun dia masih tersenyum.

"Gadis cantik. Kau tak perlu khawatir jika ikut dengan kami. Segala maumu akan ku turuti. Daripada kau ikut pemuda gembel itu, apa yang akan dia berikan padamu...?"

"Benar. Pemuda itu paling-paling hanya punya biji. Ha... ha... ha...!" sahut laki-laki berbaju putih dengan kerjap-kerjapkan matanya.

"Tidurnya pun di sembarang tempat. Mana ada nikmatnya...!" timpal satunya sambil tertawa terbatukbatuk.

Paras Putri Tunjung Kuning makin merah mengelam. Bibirnya bergetar menahan marah. Sepasang matanya yang bulat membeliak berkilat.

"Kalian boleh menghina dia. Namun dengar dulu siapa dia adanya!" kata Putri Tunjung Kuning dengan menindih hawa amarah yang menyesaki dadanya.

"Katakan siapa dia!" seru laki-laki berbaju merah dengan mata beralih memandang Pendekar Mata Keranjang 108.

"Pasang telinga kalian baik-baik. Dia adalah pemuda yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108!" ucap Putri Tunjung Kuning, lantang.

Ketiga laki-laki di hadapannya serentak saling berpandangan satu sama lain. Malah tanpa sadar ketiganya undurkan langkah masing-masing satu tindak ke belakang. Mata-mata mereka memandang tak kesiap. Lantas bagai dikomando ketiganya melangkah maju. Laki-laki yang mengenakan ban merah berkata dengan membungkukkan sedikit badannya. "Pendekar Mata Keranjang 108! Maafkan kami yang tak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Kami gembira dapat bertemu dengan pendekar bernama besar. Sekali lagi maafkan sikap kami tadi "

Pendekar Mata Keranjang merasa jengah diperlakukan seperti itu, membuatnya hanya mengangguk seraya mengerling pada Putri Tunjung Kuning.

Putri Tunjung Kuning melangkah mendekati Pendekar 108, wajahnya disembunyikan dengan memandang ke jurusan lain, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 heran dan bertanya-tanya.

"Dia tampaknya pucat. Apakah dia ," Pendekar

Mata Keranjang 108 tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu Putri Tunjung Kuning telah berada di sampingnya dan berkata.

"Pendekar 108, syukur kita dipertemukan di sini. Aku sudah bermaksud menyusulmu ke Kampung Blumbang "

"Menyusul ku...?" ulang Pendekar Mata Keranjang 108 dengan kernyitkan kening. Matanya memandang menyelidik.

"Ya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang kau berikan padaku ," kata

Putri Tunjung Kuning sambil menundukkan kepala. "Ah, lupakan masalah itu. Justru kalau tidak

ada kau, mungkin waktu itu nyawaku sudah melayang di tangan Malaikat Berdarah Biru. Ngg.... Lantas bagaimana dengan Restu Canggir Rumekso...?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108 hati-hati.

Sejenak Putri Tunjung Kuning melayangkan pandangannya. Dan demi dilihatnya ketiga laki-laki masih tegak dengan memandang ke arah mereka, Putri Tunjung Kuning palingkan wajah dan berkata perlahan. "Pendekar 108. Kita tak bisa membicarakan hai itu di sini. Kita harus cari tempat lain "

Tanpa menunggu sahutan dari Pendekar Mata Keranjang, Putri Tunjung Kuning berkelebat meninggalkan tempat itu. Sejenak Pendekar Mata Keranjang hanya memandangi kepergian Putri Tunjung Kuning. Lalu dia pun lantas berkelebat menyusul Putri Tunjung Kuning.

"Hmm.... Pendekar muda tampan, sudah semestinya banyak yang menggandrungi. Apalagi bergelar Mata Keranjang ," gumam laki-laki berbaju merah.

Lalu menoleh pada dua temannya.

"Kita lanjutkan perjalanan. Mayat Resi Jambu Naga nanti kita bisa suruh orang untuk menguburnya!"

Di satu tempat agak sepi, Putri Tunjung Kuning menghentikan larinya. Dan tatkala Pendekar Mata Keranjang 108 sampai juga di tempat itu, gadis ini ajukan pertanyaan.

"Pendekar 108, kau tak keberatan jika kuminta untuk menceritakan bagaimana jalinan kisahnya, hingga aku berada di tangan Restu Canggir Rumekso...?"

Sesaat Pendekar Mata Keranjang 108 seperti terkejut. Namun setelah dipikir agak lama, dia pun berkata.

"Waktu itu aku kebingungan harus membawamu ke mana, karena saat itu keadaanmu sungguh parah. Nah, saat itulah datang Restu Canggir Rumekso. Karena siapapun juga telah mengenai jika Restu Canggir Rumekso adalah seorang tabib, dan juga waktu itu dia mengulurkan tangan untuk menolong, maka aku pun merelakan mu dibawa olehnya. Apa yang terjadi dengan dirimu di tangan Restu Canggir Rumekso...? Apa dia menyakitimu...?"

Gadis di depan Pendekar Mata Keranjang 108 ini menggeleng perlahan. Namun pandangannya menerawang jauh.

"Apakah aku harus berterus terang padanya bahwa aku sebenarnya telah melahirkan seorang anak, dan anak itu.... Tidak. Aku harus menyimpan semua ini...," kata Putri Tunjung Kuning dalam hati.

"Katakan apa sebenarnya yang terjadi!" kata Pendekar Mata Keranjang makin penasaran dan agak jengkel. Namun perasaan itu ditahannya dalam-dalam, karena dia juga merasa salah menyerahkan Putri Tunjung Kuning pada orang yang baru dikenalnya. Hingga dengan nada menyesal, murid Wong Agung berkata.

"Putri Tunjung Kuning, kalau kau tak mau mengatakannya tak apa. Semua ini memang salahku. Aku begitu percaya pada orang, hingga tanpa pikir panjang lagi aku menyerahkanmu pada Restu Canggir Rumekso. Tapi percayalah Hal itu kulakukan karena

aku mengkhawatirkan keadaanmu!"

"Aku mengerti...," kata Putri Tunjung Kuning perlahan.

"Putri Tunjung Kuning. Aku perlu memberitahu padamu, sesungguhnya Restu Canggir Rumekso adalah seorang tokoh dari jajaran atas golongan hitam. Ia telah lama menyembunyikan diri, namun tampaknya kini mulai unjuk diri lagi. Aku tak tahu apa yang dicarinya saat ini. Tapi satu hal yang pasti, dia mulai menebar maut di sana-sini. Mayat yang menggeletak di depan halaman kedai tadi adalah salah satu dari korbannya!"

"Aku sekarang juga telah tahu, siapa sebenarnya Restu Canggir Rumekso!"

"Juga tahu, tentang anak yang bersamanya. ?" Pendekar Mata Keranjang 108 ajukan pertanyaan.

Putri Tunjung Kuning terkesiap kaget mendengar pertanyaan Pendekar Mata Keranjang 108. Sepasang matanya membelalak lebar, dahinya mengernyit penuh keheranan.

"Anak...?" kata Putri Tunjung Kuning seakan tak sadar dengan ucapannya.

"Benar. Restu Canggir Rumekso kini gentayangan bersama dengan anak kira-kira berusia tujuh tahun. Hebatnya anak itu telah pula memiliki kepandaian yang mengagumkan. Aku sendiri hanya menyirap kabar, hal yang sesungguhnya aku belum tahu "

Putri Tunjung Kuning makin terkesiap kaget. Diam-diam dia ingat kata-kata Restu Canggir Rumekso. "Bayimu adalah bayi lain daripada yang lain. Dalam waktu satu hari dia sudah seperti bayi berumur tiga bulan. Bayimu kelak tidak akan mempan senjata atau pukulan apa pun juga. Dia kelak akan menjadi seorang sakti tiada tanding ," Putri Tunjung Kuning don-

gakkan kepala berpikir.

"Sekarang bayi itu sudah berumur satu purnama. Kalau satu hari sama dengan umur tiga bulan, satu purnama berarti sama dengan umur tujuh tahun. Berarti yang bersama Restu Canggir Rumekso adalah anakku. Oh, anakku "

"Kau tahu...?" ulang Pendekar Mata Keranjang 108 setelah ditunggu agak lama Putri Tunjung Kuning tak juga menjawab.

Sambil menindih rasa gagap, Putri Tunjung Kuning menggelengkan kepala.

"Hmm     Aku harus pergi sekarang, mencari je-

jak Restu Canggir Rumekso dan mengambil kembali anakku ," berpikir begitu Putri Tunjung Kuning lantas

berpaling pada Pendekar Mata Keranjang dan berkata. "Aku ada masalah yang harus kuselesaikan. Jadi maaf aku tidak bisa bicara lebih lama. Sebelum aku pergi ada satu hal yang ingin kutanyakan. Kalau kau keberatan, kau boleh tidak menjawab. Setelah terjadi pertempuran antara kau dan Malaikat Berdarah Biru, apakah Malaikat Berdarah Biru tewas...?"

"Aneh. Kenapa kau tanya tentang dia...?" "Jawab saja!" tukas Putri Tunjung Kuning ce-

pat. Meski dipenuhi perasaan heran akhirnya Pendekar Mata Keranjang 108 menjawab. "Dia berhasil melarikan diri. Namun sudah dalam keadaan luka parah....

Ada "

Pendekar Mata Keranjang belum sampai meneruskan kata-katanya Putri Tunjung Kuning telah balikkan tubuh dan berkata menukas.

"Terima kasih. Kalau umur panjang, aku masih ingin bertemu denganmu lagi...," habis berkata, Putri Tunjung Kuning berkelebat tinggalkan Pendekar Mata Keranjang 108.

"Tunggu!" tahan Pendekar Mata Keranjang 108. Tapi Putri Tunjung Kuning terus berkelebat dan menghilang.

Begitu Putri Tunjung Kuning pergi, Pendekar Mata Keranjang 108 usap-usap hidungnya. "Rasarasanya ada yang tak beres antara Putri Tunjung Kuning, Restu Canggir Rumekso dan Malaikat Berdarah Biru.... Ada apa sebenarnya di balik semua ini...?"

SEPULUH

RESTU Canggir Rumekso dan Abilowo terus berkelebat cepat. Mereka telah dua hari dua malam berlari. Hingga wajar saja jika Restu Canggir Rumekso sudah nampak lelah. Wajahnya kusut masai, nafasnya berhembus tak teratur dan terengah-engah. Namun sebaliknya, Abilowo tak sedikit pun terlihat payah. Bocah ini masih kelihatan segar bugar.

"Gila! Aku bisa mati kelelahan kalau terus berlari. Sebaiknya aku istirahat dahulu. Di depan tampaknya ada kedai...," lalu orang tua bercaping lebar ini berkata pada Abilowo.

"Abilowo. Kita singgah sebentar di kedai itu. Perutmu pun kukira sudah minta diisi!"

Abilowo tak menyahut. Dia hanya palingkan wajahnya sebentar. Lalu menatap ke arah kedai yang memang sudah terlihat dari tempatnya.

Begitu sampai di depan kedai yang tidak begitu besar, Restu Canggir Rumekso dan Abilowo hentikan larinya. Keduanya lantas melangkah beriringan menuju kedai.

Saat itu matahari sudah menggelincir dari titik tengahnya, hingga kedai itu nampak sepi dari pengunjung.

Pemilik kedai, seorang laki-laki tua segera melangkah menyambut begitu terlihat ada orang masuk. Dia sejenak menatap pada pengunjungnya dengan tatapan sedikit heran.

"Laki-laki ini nampaknya baru saja melakukan perjalanan jauh. Peluhnya masih nampak meleleh di sekujur tubuhnya. Tapi kenapa anak ini kelihatan segar sekali.... Dan aneh, anak ini tidak seperti anak yang umurnya sebaya dengannya. Tidak mau omong atau tersenyum, padahal anak yang "

Pemilik kedai tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu Restu Canggir Rumekso telah berkata.

"Sediakan makan dan minum!" "Ngg.... Baik, Den " Sang pemilik kedai lantas balikkan tubuh untuk menyediakan pesanan, namun saat membalik, matanya sempat melirik pada sang anak. Kuduk pemilik kedai ini merinding seketika, dan dia buru-buru berlalu.

"Mata, ya. Mata anak itu tajam berkilat dan bibirnya menyeringai...," batin sang pemilik kedai seraya menyediakan pesanan.

Setelah pesanan selesai dan diantar ke meja di mana Restu Canggir Rumekso dan Abilowo berada, pemilik kedai ini cepat berlalu dan tak berani lagi memandang pada tamunya.

Selagi kedua orang ini sedang menyantap makanannya, seorang pemuda tampak celingak-celinguk di depan kedai. Lantas pemuda ini kelihatan mengusap-usap cuping hidungnya, lalu tangan kirinya bergerak menarik-narik kuncir rambutnya. Dari mulutnya terdengar dendang nyanyian yang tak jelas ditangkap telinga.

Orang tua pemilik kedai beranjak ke depan. Dia tampaknya curiga dengan tingkah sang pemuda.

Begitu sampai pintu kedai dan melihat sikap sang pemuda, sang pemilik kedai ini geleng-geleng kepala seraya bergumam pelan.

"Kasihan. Tampangnya sikh boleh. Tapi gila...," lalu orang tua pemilik kedai ini berkata sedikit membentak.

"He.... Hari ini tak ada jatah makan untuk orang gila. Lekas tinggalkan tempat ini. Kau hanya akan membuat tamuku takut dan mengurungkan niat untuk masuk kemari!"

Sang pemuda tak mengacungkan kata-kata pemilik kedai. Malah kini melangkah menuju pintu. Kepalanya tetap celingak-celinguk, dan nyanyiannya juga tak berhenti.

"Kalau kau meneruskan langkah, kuhajar kau!" hardik sang pemilik kedai seraya acungkan kepalan tangannya. Matanya yang sudah sayu melotot.

Namun lagi-lagi yang diancam tak menghiraukan. Dia tetap melangkah, membuat pemilik kedai itu akhirnya menyingkir sendiri, berlalu ke belakang hendak mengambilkan makanan.

Namun begitu pemilik kedai telah kembali ke depan dengan membawa bungkusan, dia hentikan langkahnya mendadak. Dia memandang heran pada sang pemuda yang terus menatap pada laki-laki bercaping dan anak kecil yang menyantap makanan di sudut kedai.

"Hmm   Rupanya arah yang kutempuh tak me-

leset. Mereka kutemukan di sini. Akan kutunggu mereka di luar. Tidak layak menanyai orang sedang bersantap...," membatin sang pemuda yang bukan lain adalah Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar Mata Keranjang 108 lantas balikkan tubuh dan keluar dari kedai, lalu berkelebat menyelinap di balik sebuah pohon tak jauh dari kedai, mendekam seraya mengawasi pintu kedai.

Pemilik kedai yang berteriak memanggil tak dihiraukannya, membuat orang tua ini jengkel dan melemparkan bungkusan nasi ke halaman kedai seraya berkata.

"Dasar orang gila!"

"Tapi pandangan pemuda tadi pada tamu itu sepertinya pandangan orang waras. Atau pandangan yang sudah lamur, hingga salah mengartikan pandangan orang ? Ah, kenapa aku harus memikirkan orang

edan. He... he... he...!" batin pemilik kedai dengan tertawa sendiri dalam hati seraya kembali masuk. Pendekar Mata Keranjang 108 tak menunggu lama. Dari pintu kedai tampak Restu Canggir Rumekso dan Abilowo melangkah keluar. Laki-laki tua bercaping lebar ini sejenak memandang berkeliling. Dia sebenarnya ingin tahu pemuda yang dikatakan gila oleh sang pemilik kedai. Namun ketika pandangannya tak menemukan siapa-siapa lagi di luar, kedua orang ini mulai melangkah menuju arah barat.

Baru tiga langkah, dari balik pohon tiba-tiba melesat seorang pemuda, dan tahu-tahu telah berdiri sepuluh langkah di hadapan Restu Canggir Rumekso dan Abilowo.

"Kuharap kau tak lupa padaku, Orang Tua!" berkata Pendekar Mata Keranjang 108 sambil tersenyum. Namun matanya tak memandang pada Restu Canggir Rumekso. Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 tak kesiap menatap pada anak di sebelah Restu Canggir Rumekso.

Langkah Restu Canggir Rumekso dan Abilowo terhenti seketika. Keduanya menatap tajam ke depan.

"Pendekar Mata Keranjang 108!" seru Restu Canggir Rumekso lantas melangkah maju mendekat dengan tersenyum. Sementara Abilowo tetap di tempatnya. Namun matanya tak henti-hentinya menyengat tajam pada Pendekar Mata Keranjang.

"Jadi rupanya kau yang dikatakan pemuda gila oleh pemilik kedai tadi! Sungguh kebetulan sekali. Aku hari ini memang bermaksud ke tempat gurumu si Wong Agung. Untuk menagih nyawanya serta mengambil bumbung bambu dan kipas hitam. Bukankah benda pusaka itu kau berikan padanya...?"

Pendekar 108 tak menyambuti kata-kata Restu Canggir Rumekso. Dalam hati murid Wong Agung ini bertanya-tanya sendiri. "Dari mana dia tahu aku memberikan benda pusaka itu pada Eyang Wong Agung...? Hmm     Ki-

ranya itu yang menjadi niatannya.    Terpaksa aku ha-

rus mencegahnya. Mereka rupanya orang-orang yang tak boleh dibiarkan hidup. Dunia persilatan akan gempar jika mereka merajalela. ,"

"Restu Canggir Rumekso! Kau salah alamat jika pergi ke Karang Langit untuk mencari benda itu. Benda itu sudah musnah!"

Restu Canggir Rumekso tertawa lebar mendengar kata-kata Pendekar Mata Keranjang 108.

"Aku bukan orang yang bisa kau bodohi. Lagi pula hidupku tidak akan tenang sebelum bisa mengantar gurumu ke alam baka. Beberapa puluh tahun yang lalu, gurumu memang pantas disebut-sebut sebagai orang tiada tanding. Namun sekarang hal itu akan dilupakan orang. Sekarang orang-orang rimba persilatan akan mempunyai orang baru yang pantas disebut manusia tiada tanding!"

Lalu Restu Canggir Rumekso berpaling pada Abilowo dan berkata.

"Abilowo! Habisi kecoa itu!"

Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 mendelik hampir tak percaya, Abilowo nampak melangkah maju dengan senyum seringai. Matanya tak kesiap menyengat tajam pada Pendekar Mata Keranjang 108.

"Siapa sebenarnya anak ini ?"

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 bertanyatanya, Abilowo telah meloncat seraya kirimkan serangan dengan hantamkan kedua tangannya.

Pemandangan di tempat itu serentak agak gelap redup. Pendekar Mata Keranjang 108 terlengak kaget melihat dari kedua telapak tangan Abilowo melesat keluar berlarik-larik sinar hitam dengan suara menggidikkan.

Sambil menahan rasa tak percaya pada penglihatannya, Pendekar 108 segera berkelebat ke samping selamatkan diri. Selagi Pendekar 108 berkelit inilah, Abilowo kembali melompat menyusur ke samping dan kembali sentakkan kedua tangannya dengan mengerahkan tenaga dalam penuh. Terbukti serangannya kali ini membuat tanah di halaman kedai itu bergetar hebat!

"Edan! Bagaimana mungkin anak sekecil dia bisa melakukan serangan sehebat ini...?" membatin Pendekar Mata Keranjang seraya kembali melompat ke samping. Hingga dua serangan hebat pembuka itu menerpa tempat kosong.

Walau serangan itu menghantam tempat kosong, Pendekar Mata Keranjang 108 segera sadar jika anak ini tak boleh diberi kesempatan lagi untuk lancarkan serangan. Hingga tanpa menunggu sang anak lancarkan serangan, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat. Dan tahu-tahu kaki kirinya melesat ke arah kepala Abilowo. Sebenarnya lesatan kaki kiri ini hanyalah sebuah gerak tipu. Karena begitu bergerak menghindar, kaki kiri itu dia tarik cepat dan tangan kanan dan kiri segera menghantam dari arah samping! Namun kali ini serangan Pendekar Mata Keran-

jang 108 itu hanya disambut senyum seringai oleh Abilowo. Bocah ini secepat kilat rundukkan kepalanya dan kedua kakinya dia geser ke belakang, hingga tubuhnya sedikit menyusur di atas tanah. Dan serta merta Abilowo bergerak menyusup melewati selangkangan Pendekar Mata Keranjang 108. Begitu berada di belakang Pendekar Mata Keranjang 108, kedua kaki Abilowo cepat menyapu kaki kanan Pendekar Mata Keranjang 108 yang kini dibuat tumpuan tubuhnya.

Desss!

Pendekar Mata Keranjang 108 keluarkan seruan keras. Kaki kanannya goyah, dan hampir saja dia jatuh terjerembab ke depan jika dia tidak segera lesatkan diri ke udara dan mendarat kembali dengan kaki kanan kesemutan.

"Sialan!" sumpah Pendekar Mata Keranjang geram. Dia tak habis pikir, bagaimana Abilowo bisa menduga serangannya, padahal serangannya tadi begitu cepat.

Dengan katupkan rahang, Pendekar Mata Keranjang 108 balikkan tubuh. Kini murid Wong Agung ini tak main-main lagi. Dia sadar, meski nakal kecil, Abilowo adalah lawan tangguh.

Pendekar Mata Keranjang 109 kembali berkelebat. Kedua tangannya lantas bergerak cepat menghantam dari samping kiri kanan mengarah pada kepala Abilowo. Sedangkan tubuhnya mengapung di udara dengan sepasang kaki diangkat sedikit berjaga-jaga jika lawan melesat ke udara. Namun apa lacur. Abilowo memburu gerakan salto. Begitu kepalanya berada di bawah, tubuhnya lantas kaku dan kini bergerak menggelundung dengan cepat.

Kira-kira satu tombak jauhnya, Abilowo hentikan gerakan tubuhnya. Lalu dengan miringkan tubuh, anak ini hantamkan kedua tangannya lepas serangan jarak jauh yang dialiri tenaga dalam kuat.

Sinar hitam berlarik-larik yang menghalangi pandangan segera melesat keluar dan menyambar ke arah murid Wong Agung yang masih tegak keheranan.

Melihat serangan berbahaya, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat. Tubuhnya lenyap dari pandangan sebelum larikan-larikan sinar hitam yang berhawa panas itu menyambar. Hingga larikan sinar hitam serangan Abilowo menerabas terus dan melabrak kedai.

Kedai yang terbuat dari kayu dan pelepah daun kelapa itu berderak roboh dan mengeluarkan asap! Dari sini bisa dilihat bagaimana dahsyatnya pukulan Abilowo.

"Gila! Sebelum terlambat, aku harus melumpuhkannya dahulu!" batin Pendekar Mata Keranjang 108 seraya keluarkan kipas ungunya.

Melihat Pendekar 108 keluarkan senjata, Restu Canggir Rumekso tertawa mengekeh.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Keluarkan seluruh kepandaianmu. Kalau kau bisa mengalahkan dia, baru hadapi aku!"

Ucapan bernada mengejek Restu Canggir Rumekso membuat telinga dan wajah Pendekar Mata Keranjang 108 merah mengelam. Tanpa menunggu lama lagi, dia segera melesat ke depan dengan kibasan kipasnya, sementara tangan kirinya lepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Sinar putih yang berkilau melesat dari tangan kiri Pendekar Mata Keranjang 108, sementara dari kipasnya menyambar angin deras menggemuruh.

Di seberang, Abilowo hanya menyeringai melihat serangan itu. Bahkan tampaknya dia tidak berusaha untuk menghindari. Malah dia melangkah menyongsong serangan dengan kedua tangan merentang.

Weesss! Deesss!

Sambaran kipas dan hantaman pukulan 'Bayu Cakra Buana' menggebrak telak tubuh Abilowo, membuat tubuh anak kecil itu mencelat jauh dan jatuh bergedebuk di atas tanah, dan diam tak bergerakgerak lagi. Restu Canggir Rumekso sangat cemas menyaksikan kejadian itu. Senyumnya yang sedari tadi tersungging pupus tiba-tiba. Dia segera melangkah mendekati Abilowo. Namun langkahnya tertahan tatkala dilihatnya Abilowo bangkit berdiri dan memandang tajam ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

Pendekar Mata Keranjang hampir tak percaya. Bocah kecil yang terhantam telak pukulan 'Bayu Cakar Buana' ini tak cedera sama sekali. Setetes darah pun tak terlihat keluar dari hidung atau sudut bibirnya. Padahal pukulan sakti 'Bayu Cakra Buana' telah banyak membuat tokoh-tokoh hitam babak belur dan tak jarang pula yang menemui ajal!

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 terperangah heran, Abilowo telah merangsek maju dengan melompat seraya hantamkan kedua tangannya. Namun Pendekar Mata Keranjang 108 dibuat bingung bukan alang kepalang, karena tubuh anak ini berkelebat cepat dan mengitari dirinya dari bawah ke atas dan sesekali memutar.

Karena baru pertama kali ini menemui serangan macam begini, Pendekar Mata Keranjang 108 kehilangan akal. Hingga dengan memutar otak bagaimana mencari jalan untuk melumpuhkan sang anak, Pendekar Mata Keranjang 108 putar-putar kipasnya, sementara tangan kirinya dia putar pula di atas kepala. Hingga saat itu juga tubuh murid Wong Agung ini dibungkus sinar putih dan angin yang menderu-deru dahsyat.

Melihat lawan bagai dibentengi dinding tebal, Abilowo kertakan rahang, dia segera sentakkan kedua tangannya tak putus-putus ke arah sinar putih yang membungkus tubuh Pendekar Mata Keranjang 108. Kini Pendekar Mata Keranjang 108 dan Abilowo samasama kerahkan tenaga. Yang satu membentengi dirinya seraya sesekali lancarkan serangan, sementara satunya tak putus-putusnya lancarkan serangan untuk menjebol pertahanan lawan.

Setelah sekian lama saling mengerahkan tenaga, benteng pertahanan Pendekar Mata Keranjang 108 yang terus menerus dihujani serangan itu tampak mulai goyah. Dan pada suatu kesempatan, dengan membentak lengking, Abilowo tubrukkan tubuhnya.

Sinar putih yang membungkus Pendekar Mata Keranjang 108 menguak, dan seketika itu juga kedua tangan Abilowo menelusup masuk menghantam! Meski Pendekar Mata Keranjang 108 berhasil berkelit, namun tangan kiri Abilowo menggebrak bahunya!

Tubuh Pendekar 108 terhuyung. Dan pada saat itulah kaki kanan Abilowo datang menghajar dada!

Desss!

Pendekar Mata Keranjang keluarkan pekik keras. Dadanya terasa terhantam batangan kayu besar hingga untuk beberapa saat lamanya tak bisa digunakan untuk bernapas. Tubuhnya melesat sampai dua tombak dan terkapar di atas tanah dengan baju robek sebelah bahu dan dada.

Pendekar Mata Keranjang 108 segera kerahkan tenaga dalam untuk mengurangi sakit yang mendera dada dan bahunya. Lalu dengan tertatih-tatih dia merambat bangkit. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Di seberang, Restu Canggir Rumekso tertawa terbahak-bahak. Sementara Abilowo tegak memandang sambil menyeringai.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Rupanya kau ditulis untuk tewas mendahului gurumu!" kata Restu Canggir Rumekso di sela-sela tawanya. Pendekar Mata Keranjang 108 kertakkan geraham. Rautnya merah padam seraya meringis menahan sakit dan sesak.

"Hmm    Terpaksa aku harus menggunakan ju-

rus 'Bayu Kencana'!" batin Pendekar Mata Keranjang sambil memindahkan kipas ke tangan kirinya sementara tangan kanannya dibuka.

Abilowo yang melihat lawan masih siap hendak menyerang segera palingkan wajah pada Restu Canggir Rumekso seakan minta perintah.

"Habisi dia!" kata Restu Canggir Rumekso lan-

tang.

Abilowo segera melesat ke depan, dan begitu

empat langkah di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108, dia cepat sentakkan kedua tangannya.

Larikan-larikan sinar hitam melesat lurus ke arah murid Wong Agung ini. Bersamaan dengan itu, Pendekar Mata Keranjang 108 tarik tangan kanannya sedikit ke belakang. Terjadi suatu keanehan.

Larikan-larikan sinar hitam yang melesat dari kedua tangan Abilowo bagai tertahan sesuatu yang tak terlihat, dan perlahan-lahan menerabas terus masuk ke telapak tangan Pendekar Mata Keranjang 108.

Abilowo yang nampak tersentak kaget menambah tenaga dalamnya. Namun begitu hampir menggebrak, sinar yang keluar dari sentakan tangannya bergerak pelan dan perlahan-lahan masuk ke telapak tangan kanan Pendekar Mata Keranjang 108.

Abilowo merasakan bahunya kebas dan ngilu bukan main, dadanya bergetar sakit karena perlahanlahan tubuhnya juga mulai tertarik ke depan. Namun anak ini tak hendak menyerah begitu saja. Dia coba hentakkan kedua kakinya ke atas tanah, hingga tanah itu bergetar dan membentuk kubangan. Untuk beberapa saat Abilowo memang berhasil menahan gerak tubuhnya yang bergerak maju. Namun begitu Pendekar Mata Keranjang 108 membentak sambil menarik tangan kanannya, tanah tempat pijakan Abilowo yang membentuk kubangan itu pecah, dan bersamaan dengan itu kembali tubuh Abilowo bergerak ke depan.

Begitu dua langkah lagi tubuh Abilowo sampai di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108, murid Wong Agung ini sentakkan tangan kanannya cepat, sementara tangan kirinya yang memegang kipas dia tusukkan ke depan.

Desss!

Untuk pertama kali dari mulut Abilowo terdengar seruan lengking. Bersamaan dengan itu, tubuhnya tertahan oleh tusukan kipas Pendekar Mata Keranjang

108. Hebatnya, tubuh Abilowo tak mengeluarkan darah setetes pun meski tusukan ujung kipas itu merobek bahunya. Malah dalam keadaan demikian, kedua tangannya masih sempat bergerak hendak merampas kipas.

Pendekar Mata Keranjang 108 yang tahu gelagat, cepat tarik kipasnya dan dengan gerak kilat tangan kanannya dia sentakkan ke depan.

Desss!

Abilowo meraung keras. Tubuhnya melayang jauh dan jatuh terkapar di atas tanah. Untuk beberapa lamanya tubuh kecil itu tidak tampak bergerak-gerak. Namun tak lama kemudian, tubuh kecil itu bergerak merambat bangkit. Tapi begitu bangkit, tubuh Abilowo kembali oleng dan jatuh telungkup, membuat Restu Canggir Rumekso segera berkelebat mendatangi.

Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah mendekat. Kedua tangannya siap akan kirimkan serangan. Namun saat itu berkelebat sebuah bayangan seraya menegur.

"Apa layak melakukan pembunuhan pada lawan yang sudah tak berdaya?"

Pendekar Mata Keranjang 108 palingkan wajah ke arah bayangan yang baru saja menegur.

"Ah, Putri Tunjung Kuning!" kata Pendekar Mata Keranjang 108.

"Menghadapi orang berbahaya seperti mereka, terlalu enak jika peraturan begitu diterapkan! Alam kubur lebih baik bagi mereka daripada hidup menebar maut di mana-mana!"

"Ucapanmu benar. Namun kali ini kuharap kau melihatku. Beri mereka kesempatan demi aku!" kata Putri Tunjung Kuning perlahan. Dari sudut matanya terlihat air mata hendak bergulir.

Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 menyipit dan melebar. Keningnya mengernyit. Dari mulut murid Wong Agung ini keluar ucapan bernada heran.

"Putri Tunjung Kuning. Apa arti ucapanmu?

Apa hubunganmu dengan anak itu...?"

Putri Tunjung Kuning tidak menjawab. Dia malah balikkan tubuh dan menghambur ke arah Abilowo yang kini telah ada di bopongan kedua tangan Restu Canggir Rumekso.

"Serahkan anak itu padaku! Kau tak berhak atas anak itu!" seru Putri Tunjung Kuning begitu dekat dengan Restu Canggir Rumekso.

Restu Canggir Rumekso tersenyum sinis. Lalu berkata.

"Siapa pun tak berhak atas anak ini!"

Habis berkata, Restu Canggir Rumekso balikkan tubuh dan berkelebat meninggalkan tempat itu. Mungkin karena masih terkesima dengan keadaan, Putri Tunjung Kuning terlambat untuk mencegah kepergian Restu Canggir Rumekso. Dia baru sadar tatkala Restu Canggir Rumekso telah berkelebat hilang dari pandangan.

Menyadari hal itu, Putri Tunjung Kuning segera pula hendak berkelebat mengejar. Namun Pendekar Mata Keranjang menghadang dan berkata.

"Putri Tunjung Kuning. Katakan terus terang, apa hubunganmu dengan anak itu!"

Sejenak Putri Tunjung Kuning menatap bola mata Pendekar Mata Keranjang 108. Dari mata gadis cantik ini telah bergulir air bening membasahi pipinya.

"Aku tak bisa mengatakan sekarang. Suatu saat kelak kau akan tahu sendiri "

Habis berkata, Putri Tunjung Kuning segera berkelebat ke arah menghilangnya Restu Canggir Rumekso.

"Tunggu!" ujar Pendekar Mata Keranjang 108. Namun Putri Tunjung Kuning tak menghiraukan teriakan Pendekar Mata Keranjang 108. Dia terus berkelebat dan meninggalkan murid Wong Agung dengan batin disarati beberapa pertanyaan.

SELESAI