Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 09 : Neraka Asmara

 
Eps 09 : Neraka Asmara


Sebenarnya, sang mentari baru saja merangkak dari peraduannya. Namun karena bongkahan awan hitam berarak terlihat menggantung di angkasa, ditingkahi lecutan kilat membadai centang perentang menghajar ujung langit, membuat suasana menakutkan dan bagai digenggam ujung kebutan. Sebentar kemudian hujan pun turun dengan derasnya.

Di bawah derasnya hujan, tampak seorang penunggang kuda melintasi jalanan agak sepi dan berbatu. Mungkin karena jalanan di hadapannya mulai agak menukik dan terjal berbatu-batu, si penunggang kuda agaknya tak berani menghela kuda tunggangannya agar berlari lebih kencang. Malah sesekali terlihat kuda tunggangannya dihentikan sambil memperhatikan sekeliling. Lalu setelah dapat menyiasati jalan, dia kembali meneruskan perjalanannya.

Namun ketika beberapa langkah memasuki sebuah lembah, penunggang kuda yang tampak menggigil basah kuyup kedinginan, dikejutkan oleh berdesingnya suara menyambar. Dengan cepat dia berpaling, dan langsung terperangah kaget. Dalam kegelapan suasana, tampak melesat sebuah benda berkilau menerabas cepat ke arahnya.

Diiringi rasa terkejut, penunggang kuda ini segera menarik tali kekang. Seketika bahunya sedikit digeser ke samping. Sehingga, benda itu melesat satu jengkal di samping bahunya.

Di bawah pijaran kilat yang sesekali menerpa, wajah penunggang kuda ini tampak berubah menjadi merah padam. Rahangnya terangkat membatu. Sementara matanya membelalak merah menahan marah mendapati dirinya dibokong.

Penunggang kuda ini adalah seorang pemuda tampan. Badannya gagah, terbalut baju putih. Rambutnya panjang sebahu.

Sepasang mata pemuda ini semakin terbeliak tatkala pijaran kilat yang kembali menjilat, menampakkan benda yang baru saja hampir menghantam tubuhnya.

"Tombak!" desis pemuda itu dengan seringai sumbang.

Diam-diam dalam hati pemuda tampan ini terbersit juga perasaan takut. Dan hatinya makin ngeri saat untuk beberapa lagi pijaran kilat memperlihatkan ujud tombak yang ternyata telah menancap ke sebuah batu hitam besar.

Tombak itu berwarna kuning keemasan. Pangkalnya agak menggelembung besar, membentuk sekuntum bunga berwarna hitam! Sementara ujungnya tak kelihatan, karena masuk ke dalam batu hitam. Namun demikian, pemuda ini bisa segera menduga bagaimana bentuk ujungnya. Karena batu di bawah badan tombak yang sebagian masuk ke dalamnya, membentuk lobang segi tiga. Lobang kedua sisinya lebih besar daripada lobang tengahnya.

"Tombak aneh! Pemiliknya tentu orang aneh. Apakah dia nanti orang yang harus kutemui?" kata pemuda itu dalam hati seraya menghela napas panjang dan dalam.

Kedua mata pemuda berbaju putih ini segera nyalang memperhatikan ke sekeliling. Kedua telinganya ditegakkan sedikit ke atas, menajamkan pendengaran. Namun hingga beberapa lama, tak tertangkap adanya seseorang. Merasa tidak yakin, dia tetap tegak di tempatnya seolah menunggu hingga beberapa lama. Namun penantiannya sia-sia.

Dengan perasaan kecewa, penunggang kuda itu menghela tunggangannya mendekati batu hitam yang tertancap tombak. Diperhatikannya dengan seksama tombak itu. Tangan kanannya lantas bergerak hendak meraih tombak, namun mendadak ditarik kembali. Hatinya kecut. Segera kuda tunggangannya diundurkan, berputar melewati samping batu hitam. Lalu bergegas dia meneruskan perjalanan.

Ketika sampai di jalan yang sedikit naik, pemuda ini menghentikan kudanya. Ketika berpaling ke belakang, keningnya mengernyit. Ternyata tombak tadi telah lenyap, meninggalkan lobang berbentuk seti tiga yang menganga hitam!

Dengan tubuh makin gemetar antara menggigil kedinginan dan perasaan takut, pemuda penunggang kuda ini meneruskan langkah kudanya. Namun baru saja hendak bergerak, dia dikejutkan kembali dengan desingan benda yang menderu dari arah belakang.

Dengan perasaan takut dan marah, penunggang kuda ini serta merta merunduk sejajar punggung, membuat benda yang menderu dari arah belakangnya melewati punggung dan kepalanya.

Namun di kejar lain, mendadak kuda itu meringkik keras. Kedua kaki belakangnya bergerak seakan-akan hendak membuat tendangan ke belakang. Tapi bersamaan dengan itu kedua kaki depannya menekuk. Akibatnya, tak ampun lagi kedua kaki belakangnya terangkat tinggi-tinggi melewati kepala dan terjungkir keras di atas tanah bebatuan, mencampakkan penunggangnya hingga jatuh terbanting!

Binatang malang itu untuk beberapa saat tampak melejang-lejang, lalu diam tak bergerak lagi. Mati dengan kepala berlobang segi tiga! Dan tak jauh dari kepala kuda, di atas tanah menancap sebuah tombak yang hanya menyisakan pangkalnya yang berbentuk sekuntum bunga berwarna hitam!

Dengan mendengus keras menahan gejolak amarah, pemuda itu merambat bangkit. Pakaiannya yang telah berwarna kecoklatan terkena tanah berlumpur di kibas-kibaskan. Sepasang matanya melotot merah. Kepalanya menengadah memapak curahan air hujan.

"Siapa pun kau! Jangan berlaku pengecut! Tunjukkan dirimu!" teriak pemuda itu.

Hingga agak lama pemuda tampan ini menunggu, tidak terdengar sahutan.

"Keluarlah! Atau "

Pemuda ini tak meneruskan teriakannya, karena dari arah belakang terasa bahunya ditepuk seseorang. Dengan rasa terkejut, secepat kilat dia meloncat dua langkah ke depan. Tubuhnya cepat berbalik seraya siap menyerang.

Dua puluh langkah di hadapan pemuda itu kini telah tegak berdiri seorang perempuan berdandan aneh. Wajahnya memakai bedak tebal. Bibirnya yang tebal sebelah atas merah menyala. Rambutnya panjang sebahu. Namun potongan rambut bagian atas dipotong pendek dan jabrik. Kedua matanya besar dengan hidung mancung tapi bengkok. Sekilas sosok itu seperti anak kecil, karena tingginya hanya setengah tombak!

Manusia pendek berdandan menyolok itu berdiri dengan sedikit mengangkat kaki kiri, yang disilangkan di betisnya. Sementara tangan kanannya mencengkeram tombak yang pangkalnya membentuk sekuntum bunga.

Merasa yakin kalau perempuan pendek di hadapannya yang telah menyerang dari belakang, pemuda ini menggeram marah dengan mata melotot.

"He...! Siapa kau?! Dan, kenapa menyerangku secara licik?!" bentak pemuda itu.

Perempuan pendek yang ditegur diam saja. Sepasang matanya yang besar malah menyengat galak. Sementara pegangan tangannya pada tombak mengeras, hingga menimbulkan bunyi bergemeretakan.

"He...! Jawab pertanyaanku!" sambung pemuda ini agak jengkel meski hatinya kecut.

Perempuan pendek ini masih tak buka mulut.

Bahkan matanya melotot makin liar saja.

"Manusia satu ini aneh! Apakah dia orang yang harus kutemui? Hm.... Sayang sekali, petunjuk yang tertera dalam buku milik guru yang berhasil ku curi, tak menyebutkan ciri-ciri orangnya.... Namun melihat kelebatannya yang menepuk-nepuk bahu ku, padahal orangnya jauh di belakangku, pasti mempunyai ilmu sangat tinggi. Jangan-jangan memang dia orangnya yang kucari "

Selagi pemuda ini membatin, tiba-tiba manusia pendek di hadapannya bergerak. Tubuhnya seketika lenyap dari pandangan. Namun di kejap lain, tahutahu dia telah berdiri lima langkah di hadapan pemuda itu.

"Manusia! Siapa kau! Dan, apa tujuanmu ke sini?!" tegur perempuan pendek berdandan menor.

Suara perempuan ini demikian keras. Padahal, mulutnya hanya terbuka sedikit. Tombak di tangannya terayun sebentar. Lalu....

Clep!

Tombak itu menancap hingga setengahnya ke dalam tanah bebatuan. Bersamaan dengan itu, menyambar serangkum angin yang membuat pemuda di hadapannya terhuyung-huyung hampir jatuh. Begitu dapat menguasai diri, sang pemuda beringsut mundur dua langkah ke belakang. Dia barusan menahan rasa terkejut, sambil memiringkan tubuh menghindari deruan angin yang masih terasa menyambar.

"Namaku, Pandu. Aku ke sini untuk menemui seseorang yang bernama Bawuk Raga Ginting...," jawab pemuda tampan ini, parau dan tersendat.

Perempuan pendek ini mendongakkan kepala, lalu tertawa aneh. Hebatnya, curahan air hujan yang masih membadai menyibak bagai menerpa dinding tak nampak di atas kepalanya. Sehingga membuat dirinya tak terpercik air sedikit pun.

"Hm.... Pandu...," sebut perempuan pendek, mengulang nama pemuda di hadapannya. "Lekas tinggalkan tempat ini! Kau datang ke tempat yang salah!"

Pemuda berwajah tampan bernama Pandu itu tersenyum kecut.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin aku salah membaca apa yang tertulis dalam buku milik guruku. Tempat yang tertulis di situ adalah tempat ini, Bandar Lor. Dan orang yang harus kutemui adalah Bawuk Raga Ginting...," gumam Pandu sambil menatap perempuan pendek di hadapannya.

Mendengar gumaman Pandu, perempuan pendek ini segera berpaling. Bibirnya menyunggingkan seringai ganas.

"Di kolong langit ini, hanya dua orang yang mengetahui nama dan tempat tinggalku. Hanya saja, belum waktunya aku membuat perhitungan dengan kedua orang itu. Padahal, sebenarnya tanganku sudah gatal ingin mencabik-cabik tubuh dua keparat itu! Hmmm Apakah kedua bangsat itu yang memberi ta-

hu pemuda ini?!" kata batin perempuan pendek ini. Kembali perempuan itu memperhatikan lebih seksama pemuda di hadapannya.

"Dari siapa kau tahu nama Lembah Bandar Lor dan nama Bawuk Raga Ginting?!"

Sambil membentak, perempuan pendek ini mengangkat kaki kirinya dan menyilangkannya di depan kaki kanan. Hebatnya bersamaan dengan itu dari bawah serangkum angin keras menyambar, membuat pakaian pemuda di hadapannya berkibar-kibar sebentar.

"Ngg.... Dari Ageng Panangkaran!" jawab Pandu singkat.

"Keparat!"

Tiba-tiba perempuan pendek itu menekankan tombaknya, hingga amblas masuk. Tanah pun seketika bergetar.

"Benar dugaanku. Bangsat itu rupanya yang mengatakannya...," gumam perempuan pendek dengan mata melotot merah. Tubuhnya bergetar menahan amarah. "Manusia! Kau bernyali besar rupanya, hingga berani datang ke Bandar Lor ini! Tapi, dengar! Ini adalah tempat kematianmu!"

Dan tanpa mempedulikan Pandu yang buka mulut hendak mengatakan sesuatu, perempuan pendek ini menghentakkan kaki kirinya ke tanah, tiga kali berturut-turut.

Lembah berbatu ini mendadak bagai dilanda gempa hebat. Tanah bergetar dengan batu-batu beterbangan.

Pandu terkejut. Buru-buru tenaga dalamnya dikerahkan untuk menahan gerakan tubuhnya yang terhuyung-huyung hendak jatuh. Namun tenaga yang dikerahkannya sia-sia. Getaran lembah itu begitu hebatnya. Hingga tak lama kemudian, tubuhnya oleng dan terbanting keras di tanah lembah berbatu.

Sementara, perempuan pendek berdandan menor ini tertawa tergelak-gelak.

"Ageng Panangkaran keparat! Rupanya kau mengirim utusan yang cekakilmu! Hik... hik... hik...!" teriak perempuan pendek itu, jumawa.

Paras Pandu berubah mengelam. Dia mencoba bangkit. Namun baru saja berdiri, tubuhnya kembali oleng dan terbanting kembali ke atas tanah.

"Hmm.... Mendengar kata-katanya yang begitu menaruh dendam kesumat pada Ageng Panangkaran, pasti dia orang yang kucari. Dialah manusia yang menamai diri Bawuk Raga Ginting. Hmm Rupanya per-

jalananku tidak percuma. Bila saja aku berhasil berguru padanya.... Kau, Pendekar Mata Keranjang 108! Tunggulah saatnya!" desis batin Pandu dengan mata bersinar-sinar.

Setelah merasa tanah yang dipijaknya tidak lagi bergetar, Pandu bangkit dan berdiri. Namun belum sempat berkata....

"Manusia! Kau rupanya makhluk yang tidak beruntung!" bentak perempuan pendek itu garang.

"Apa maksudmu...?!" sahut Pandu dengan suara menggantung di tenggorokan. Wajahnya masih pucat pasi dengan tubuh gemetar.

Manusia pendek kembali tertawa nyaring.

"Kau jangan berlagak bodoh! Bukankah kau datang ke Lembah Bandar Lor ini atas suruhan si tua keparat Ageng Panangkaran?!"

Habis berkata, perempuan pendek itu meloncat-loncat setinggi setengah tombak dengan menghentak-hentakkan sepasang kakinya. Dan kejap itu juga, kembali lembah itu bergetar hebat.

"Tunggu!" teriak Pandu dengan tubuh terhuyung-huyung. "Kedatanganku ke sini tanpa ada yang menyuruh!"

"Jangan dikira aku bisa dikelabui, Manusia Jahanam!" bentak perempuan pendek ini seraya mendorongkan tangannya ke depan perlahan.

Saat itu juga Pandu mendengar suara menderu, tanpa merasakan adanya sambaran angin deras. Anehnya di kejap itu juga dia merasakan sebuah kekuatan dahsyat yang tak tertangkap pandangan mata menghantam tubuhnya!

Raut muka Pandu berubah putih pucat. Dengan bentakan sengau, tenaga dalam yang dimilikinya dikerahkan untuk mencoba menahan serangan. Namun begitu, hempasan yang tidak dapat ditangkap pandangan mata terasa semakin hebat menghantam!

Perlahan-lahan perempuan pendek ini menarik tangannya ke belakang. Dan saat itu juga, tubuh Pandu melayang dan terbanting ke atas tanah. Begitu bangkit, duduk dari sudut bibir dan hidung pemuda ini mengalir darah segar. Kulitnya lecet-lecet serta mata berkunang-kunang.

Perempuan pendek ini melangkah perlahan mendekati pemuda yang kini telah duduk itu. Sementara Pandu menatap manusia di hadapannya dengan tatapan nanar. Namun, mendadak dia jatuhkan diri hingga hidungnya menyentuh tanah.

"Maafkan aku jika berlaku kurang hormat padamu. Namun perlu kau ketahui, kedatanganku ke sini bukan utusan Ageng Panangkaran! Aku datang karena kemauanku sendiri!" ucap Pandu, mantap.

"Penipu busuk!" hardik perempuan pendek itu dengan suara lantang, membuat gendang telinga Pandu berdengung sakit. "Dengar, Manusia Dungu! Di jagad raya ini hanya dua orang yang tahu tempat dan namaku! Bangsat-bangsat itu adalah Ageng Panangkaran dan Junjungan Balaga. Kau tidak mungkin datang ke sini, kalau tidak jadi kacung dua manusia keparat itu! Karena, mereka berdua takut datang sendiri menghadapiku. Hik... hik... hik...! Mereka jerih menghadapi Bawuk Raga Ginting!"

"Dugaanku tidak meleset! Jadi ini orangnya yang kucari!" kata Pandu dalam hati, sambil masih bersujud mencium tanah.

"Manusia! Kenapa mereka tidak datang sendiri, he...?!" tanya perempuan pendek itu.

"Mereka sudah tidak mungkin lagi datang kemari. Karena "

"Karena ketakutan menghadapiku, bukan ?!"

potong perempuan itu.

"Bukan! Bukan karena itu. Tapi "

"Setan alas! Kau jangan banyak bacot membela mereka di hadapanku!"

"Ngg   Aku tidak membela. Dan aku bicara apa

adanya. Mereka berdua sebenarnya telah meninggal dunia!"

Manusia pendek yang memang orang yang menamai diri dengan Bawuk Raga Ginting itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dahinya berkernyit, membuat bedak tebal di wajahnya merekat. Sepasang matanya mendelik, mengawasi punggung Pandu yang tampak bergetar.

"Manusia! Kau jangan bicara yang bukanbukan!" desak Bawuk Raga Ginting.

"Aku tidak mengada-ada. Karena, sebenarnya aku adalah murid Ageng Panangkaran...," sergah Pandu.

Mendengar kata-kata Pandu, perempuan pendek itu menyeringai seraya mendengus. "Lantas, kau datang mewakili mereka untuk menyelesaikan dendam lama itu? Hmm..., bagus! Meski belum percaya dengan segala ocehanmu tentang mereka, namun aku tak akan menyia-nyiakan kedatanganmu! Bangkitlah. Mari kita selesaikan dendam lama itu!" tantang Bawuk Raga Ginting.

"Bawuk Raga Ginting! Kedatanganku bukan untuk menyelesaikan dendam. Karena, aku tidak tahu menahu dendam di antara kalian. Aku datang..., berharap kau sudi mengambilku sebagai murid!" jelas Pandu, sempat ciut nyalinya.

Bawuk Raga Ginting menghentak-hentakkan sepasang kakinya, membuat tubuh Pandu melambung setengah tombak ke udara. Namun begitu kembali mendarat di atas tanah, tanpa mempedulikan Bawuk Raga Ginting yang masih mencak-mencak, pemuda ini kembali menjatuhkan diri dengan keadaan menyembah.

"Manusia busuk! Kau mau berguru padaku?! Bukan mustahil nantinya ilmuku akan kau gunakan untuk melawanku. Begitu bukan? Hik... hik... hik....

Kau akan menjadi musuh dalam selimut. Jangan dikira aku bodoh, tak tahu apa rencanamu!"

"Guru !" sembah Pandu tiba-tiba.

Tapi sebelum pemuda itu meneruskan katakatanya....

"Jaga mulutmu! Siapa yang kau panggil guru? Aku tak pernah mengangkatmu sebagai murid! Dan tak akan pernah. Apalagi, murid bekas musuh besarku!" potong Bawuk Raga Ginting, membentak.

Pandu mengangkat kepalanya, menatap Bawuk Raga Ginting dengan sinar mata redup.

"Kau boleh menaruh curiga padaku. Namun, aku lebih baik mati daripada meninggalkan tempat ini. Karena, hidupku sudah tak ada gunanya lagi. Kalau kau tidak sudi mengangkat ku sebagai seorang murid, bunuhlah aku! Bunuh!" ratap Pandu perlahan.

Bawuk Raga Ginting mengundurkan kakinya dua langkah ke belakang. Sejenak ditatapnya wajah pemuda di hadapannya, seakan ingin meyakinkan.

"Pemuda ini tampaknya bersungguh-sungguh. Apa sebenarnya yang dialami? Hm.... Aku kecewa, karena penantian ku selama ini berakhir sia-sia. Ilmu yang ku perdalam selama berpuluh-puluh tahun, tak ada gunanya lagi. Karena, musuhku telah tewas terlebih dahulu. Aku menyesal! Menyesal kenapa mereka tewas bukan di tanganku? Kenapa mereka tak bisa kupermalukan, sebagaimana mereka membuat aku malu beberapa puluh tahun silam? Sialan benar!" rutuk batin Bawuk Raga Ginting sambil menggelengkan kepalanya.

"Cepat, bunuhlah aku!" teriak Pandu menyadarkan lamunan Bawuk Raga Ginting.

"Manusia! Ceritakan padaku, apa sebenarnya yang telah menimpa dirimu!" ujar Bawuk Raga Ginting dengan suara masih membentak.

"Bertahun-tahun aku berguru pada Ageng Panangkaran. Namun, dia sepertinya terlalu pelit menurunkan ilmunya. Hingga sampai beberapa tahun, aku masih tetap begini-begini saja tanpa ada kemajuan. Dan lebih dari itu, sebenarnya aku mempunyai seorang adik seperguruan. Dia seorang gadis cantik. Aku mencintainya. Namun, adik seperguruanku menolak cintaku. Rupanya, dia jatuh cinta pada seorang pemuda berilmu tinggi yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108. Aku kecewa dan sakit hati, karena merasa tidak mampu mengalahkan pemuda itu!" jelas Pandu, panjang lebar. Bawuk Raga Ginting batuk-batuk kecil beberapa kali. Lalu bibirnya tersenyum mengejek.

"Cinta. Rupanya kau manusia konyol yang masih mempertaruhkan segalanya demi cinta. Apa yang akan kau peroleh dari cinta, he...?! Kebahagiaan? Kepuasan? Kenikmatan? Hik... hik... hik...! Hanya manusia dungu yang masih punya pikiran begitu. Dengar! Cinta hanya akan membawa manusia dalam belenggu dan akan membuat manusia dirundung kecewa!" kata Bawuk Raga Ginting, tanpa memandang pemuda itu.

"Tapi "

"Tak ada tapi!" potong Bawuk Raga Ginting. "Cinta hanyalah tabir kelabu yang membimbing manusia makin terperosok jauh!"

"Ngg... Apakah kau pernah mengalaminya?" tanya Pandu, seakan tak sadar dengan siapa kini berhadapan.

Bawuk Raga Ginting mendongakkan kepala mendengar pertanyaan Pandu. Wajahnya membersitkan ketidaksenangan. Sinar matanya tampak meredup.

"Aku hidup begini juga karena cinta. Hmm....

Rupanya, nasib pemuda ini malang seperti diriku dulu. Seandainya aku dahulu mempunyai ilmu seperti sekarang, tak mungkin dienyahkan, dihina, dan disingkirkan orang! Bahkan oleh orang yang secara diam-diam kucintai! Sekarang, aku mempunyai ilmu yang tidak mungkin ada yang bisa menyingkirkan dan mengenyahkan ku! Aku akan memuaskan segala yang dahulu tidak ku peroleh. Yah! Sekaranglah saatnya. Namun, aku..., perlu juga seorang pembantu. Hmm..., nasib pemuda ini hampir seperti diriku. Apa salahnya jika dia kuangkat sebagai murid, sekaligus pembantuku?" kata batin Bawuk Raga Ginting mengingat masa lampaunya.

Konon, berpuluh tahun yang silam, Bawuk Raga Ginting yang bernama asli Kunyil memang dilahirkan dan dibesarkan dalam keadaan tidak sempurna. Tubuhnya pendek serta berwajah buruk. Namun sebagai manusia, menginjak dewasa Kunyil jatuh cinta pada seorang pemuda. Hanya sayang, cintanya tanpa sepengetahuan pemuda itu sendiri. Namun, apa lacur? Setelah tahu, pemuda itu menghina Kunyil. Gadis ini jadi sangat sakit hati. Lantas dia pergi mengembara, dan pada akhirnya berguru pada seseorang. Sayang, gurunya adalah seorang tokoh sesat. Sehingga tatkala Kunyil turun gunung dan memakai nama Bawuk Raga Ginting, perangainya jadi berubah.

Bawuk Raga Ginting sempat malang melintang dalam kerasnya kancah dunia persilatan seraya melepas segala dendamnya. Namanya disegani orang, dan menjadi salah seorang dari tokoh hitam yang paling ditakuti. Hanya saja, suatu ketika tatkala bertemu Junjung Balaga dan Ageng Panangkaran, Bawuk Raga Ginting takluk. Untuk kedua kalinya tokoh ini pergi membawa rasa dendam. Dia lantas menyendiri memperdalam ilmu di Lembah Bandar Lor.

"Aku mohon padamu, sudilah mengangkat ku sebagai murid! Apa pun perintahmu akan kujalankan!" pinta Pandu memenggal lamunan Bawuk Raga Ginting. Bawuk Raga Ginting menatap nyalang pada

Pandu seraya manggut-manggut.

"Hanya karena persamaan nasib saja yang membuatmu beruntung, Bocah! Kau akan kuangkat menjadi muridku. Namun sebelum itu, untuk membuktikan kebenaran ucapanmu tentang dua musuhku, kau harus membawa ke sini dahulu kepala Junjung Balaga dan Ageng Panangkaran! Hidup atau mati!" Wajah Pandu berbinar-binar. Dan segera menjura beberapa kali.

"Segala perintahmu akan kujalankan! Sekarang aku mohon diri!"

Habis berkata, Pandu menjura sekali lagi. Lalu tubuhnya berbalik dan melangkah meninggalkan Lembah Bandar Lor.

"Hik... hik... hik...! Nama Bawuk Raga Ginting akan kembali menjadi buah bibir. Ditakuti dan disanjung. Hik... hik... hik...!"

2

Pandu terus berlari. Baru begitu tiba di tempat yang agak sepi di pinggiran sebuah sungai, larinya dihentikan. Kakinya kemudian melangkah perlahan, mendekati sebuah gubuk reot yang sudah tak dipakai. Matanya sejenak memandang ke sekeliling. Pemuda itu lantas duduk di depan gubuk dengan pandangan menatap jauh ke depan.

"Sakawuni! Sebenarnya aku tak menginginkan kita berpisah. Namun, apa boleh buat? Kau tampaknya begitu tertarik pada pemuda bergelar Pendekar Mata Ke-ranjang 108. Bahkan mengenyahkan cintaku yang telah lama ku pupuk dan kupendam" kata Pandu dalam hati.

Wajah pemuda ini tampak murung. Ingatannya lantas melayang, kejadian yang dialami sebelum menentukan pergi ke Lembah Bandar Lor terbayang kembali.

Waktu itu, Pandu dan Sakawuni baru saja selesai memakamkan jenazah Ageng Panangkaran, guru mereka.

"Sakawuni...," bisik Pandu perlahan, seraya berpaling ke arah Sakawuni yang tampak jongkok di samping makam Ageng Panangkaran dengan terisakisak. Kedua tangannya tampak menakup menutupi wajahnya.

Sakawuni sepertinya tak mendengar panggilan Pandu. Bahkan isakannya semakin keras. Bahunya terlihat berguncang-guncang.

"Sakawuni...," ulang Pandu sambil mencekal bahu adik seperguruannya.

Perlahan-lahan Sakawuni meluruhkan kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya, lalu berpaling memandang pada Pandu.

Pandu tersenyum. Namun, Sakawuni tak membalas. Wajahnya dipalingkan kembali memandangi gundukan tanah merah di depannya. Dan ini membuat Pandu menggelengkan kepala perlahan.

"Sakawuni.... Suka dan duka adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari bagian hidup manusia. Kehilangan orang yang kita cintai merupakan sesuatu yang pasti terjadi dan tak bisa dipungkiri. Itu sudah hukum alam yang harus kita terima menjadi kenyataan. Apakah kita akan larut dalam lembah duka berkepanjangan?" Sakawuni masih menekuri tanah merah. Cukup lama dia berbuat begitu.

"Kakang Pandu...," kata Sakawuni tanpa memandang pada kakak seperguruannya. "Ucapanmu betul. Namun perasaan tidak semudah itu bisa ikut dalam hukum alam. Perasaan adalah sesuatu yang hidup. Sedangkan hukum alam adalah sesuatu yang mati. Aku memang harus berani menerima kenyataan ini. Tapi untuk menghilangkan perasaan merasa kehilangan aku membutuhkan waktu " Mendengar kata-kata Sakawuni, Pandu tersenyum rawan.

"Sakawuni   Hari sudah petang. Sebaiknya, ki-

ta tinggalkan tempat ini. Besok kan masih ada waktu !" bujuk Pandu.

"Kakang Pandu. Kalau kau ingin pergi duluan, pergilah! Aku masih ingin di sini!" tolak gadis itu halus.

Meski Pandu agak jengkel, namun juga tak beranjak dari depan makam Ageng Panangkaran.

"Sakawuni    Kuharap kau tak terlalu larut da-

lam kesedihan ini. Karena kita masih mempunyai tugas yang lebih penting daripada hanya meratapi kepergian guru!" bujuk Pandu lagi.

"Aku tak mengerti jalan pikiranmu, Kakang "

"Sakawuni..,. Kita telah sama-sama kehilangan orang yang kita kasihi. Meski itu merupakan hal yang tak bisa dihindari, namun kepergian guru karena perbuatan keji seseorang! Untuk ini, kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus membalas perbuatan orang itu!"

"Benar, Kakang. Tapi, kita juga butuh waktu untuk menyelidiki siapa sebenarnya orang yang berbuat keji pada guru!".

Pandu tersenyum sinis. Wajahnya berpaling, memandang jurusan lain.

"Kita tak membutuhkan waktu. Karena, kita sama-sama tahu siapa orangnya yang berbuat keji itu!" desis Pandu.

"Maksudmu, Pendekar Mata Keranjang?" tanya Sakawuni dengan suara agak bergetar.

Pandu mengangguk perlahan. Lalu wajahnya berpaling kembali memandang lekat-lekat wajah adik seperguruannya. Yang dipandang tampak menghela napas dalam-dalam. Raut mukanya menyembunyikan sesuatu yang sukar diartikan.

"Kau terlihat bimbang. Apa ada hal lain yang membuatmu ragu-ragu?!" panting Pandu.

Sakawuni tidak segera menjawab. Pandangan kedua matanya jauh ke depan.

"Apakah benar Pendekar Mata Keranjang yang melakukan perbuatan terkutuk itu? Waktu bertemu dahulu, aku tak menangkap hal-hal yang mengarah pada perbuatan itu. Aku tidak percaya jika dia yang melakukan," sergah batin Sakawuni.

Perlahan-lahan, Sakawuni menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kakang, aku belum "

Sakawuni tak meneruskan kata-katanya. "Hm.... Kau dilanda keraguan tentang perbua-

tan pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang itu. Apakah kau tertarik padanya ?!"

Paras Sakawuni kontan berubah merah padam. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang tak bisa ditangkap pendengaran Pandu.

Melihat perubahan wajah Sakawuni, meski hanya sekejap, telah cukup membuat hati Pandu bagai terhempas. Segera dipandangnya gundukan di depannya, coba menyingkirkan rasa cemburu yang mendera dadanya.

Sejenak suasana hening terjadi ketika tak ada yang membuka suara.

"Kau tertarik dengan pemuda pembunuh guru kita, Sakawuni?" tanya Pandu, memecah keheningan.

Sakawuni tidak menjawab. Wajahnya semakin merah padam. Dadanya berdetak lebih kencang. Di cobanya untuk dapat menguasai diri.

"Kakang Pandu, sekarang bukan saat yang tepat untuk membicarakan persoalan itu. Kita masih dalam suasana berkabung!" ujar Sakawuni, perlahan.

Pandu mendehem beberapa kali dengan senyum mengejek.

"Kau keliru, Sakawuni. Justru hal itu harus segera dibicarakan. Dan kita harus segera mengambil keputusan. Karena, ini menyangkut masa depan kita bersama...," sergah Pandu.

"Masa depan kita bersama...?" ulang Sakawuni, tak mengerti arah ucapan kakak seperguruannya.

"Ya! Masa depan kita bersama, Sakawuni. Karena sebenarnya aku menyayangi mu!" tandas Pandu.

"Terima kasih, Kakang. Memang sudah selayaknya kau menyayangi ku. Karena, aku adalah adik seperguruanmu!"

"Bukan itu maksudku, Sakawuni. Aku menyayangi mu lebih dari perasaan kakak terhadap adik "

"Kakang! Apa arti ucapanmu...?!" tanya Sakawuni dengan suara agak keras. Dalam hati, dia berharap agar apa yang diduga tak benar-benar terjadi.

"Sakawuni, aku mencintaimu "

Gadis cantik di samping Pandu kontan berseru tertahan. Dia terhenyak meski tadi sudah dapat menduga arah pembicaraan Pandu. Namun, begitu mendengar sendiri dari mulut pemuda ini, mau tak mau membuatnya terperangah. Dia hampir tak percaya dengan pendengarannya.

"Kau jangan bergurau, Kakang!" ujar Sakawuni, seakan ingin meyakinkan.

"Aku sungguh-sungguh, Sakawuni. Aku mencintaimu  ," tegas Pandu.

Air muka Sakawuni semakin memerah. Dadanya bergetar. Hatinya diselimuti berbagai perasaan. Tak percaya, bingung, dan jengkel. Perlahan-lahan dipandangnya paras kakak seperguruannya.

"Bagaimana ini? Ah, Kakang Pandu! Kau terlambat. Hatiku telah terpaut pada seseorang. Lagi pula, aku tak mungkin menerima cinta mu. Karena, kau sudah ku-anggap sebagai kakakku sendiri Kuharap

kau mau mengerti ," desah Sakawuni dalam hati.

"Sakawuni...," panggil Pandu perlahan seraya tersenyum. "Aku tidak menginginkan pernyataan mu sekarang. Kau mungkin masih memerlukan waktu. Namun perlu kau ketahui, itulah perasaan yang kupendam selama ini padamu. Aku berharap kau tidak mengecewakanku " 

"Kakang !" seru Sakawuni.

Namun gadis itu tak meneruskan kata-katanya saat melihat Pandu memberi isyarat agar tak meneruskan kata-katanya.

"Sakawuni, dengar. Aku tak menginginkan pernyataan mu sekarang. Kau perlu istirahat "

Sakawuni benar-benar bingung sekarang. Apakah dia harus berkata terus terang, jika sebenarnya tertarik pada Pendekar Mata Keranjang? Apakah Pandu nanti tidak akan tersinggung? Tapi..., tidak! Sakawuni memang harus mengatakan apa adanya, agar hal itu tidak menambah beban dalam hati. Yang lebih penting agar Pandu tidak terlalu kecewa nantinya!

"Kakang.... Maafkan aku. Aku , aku tidak bisa

menerima kata-kata suci mu tadi. Karena aku telah   "

"Kau telah jatuh cinta pada seseorang. Begitu bukan?" potong Pandu dengan raut wajah merah padam. Lantas pemuda ini membuang muka.

Lidah Sakawuni kelu seketika. Dia hendak mengatakan sesuatu, namun tak kuasa dikeluarkan. Hingga dengan perasaan berat, akhirnya kepalanya hanya mengangguk perlahan. "Aku tidak menyalahkanmu jika tertarik pada pemuda itu. Karena, dia memang lebih segalanya dibanding aku. Hanya kuharap, nantinya kau tidak akan menyesal. Karena bagaimanapun juga, dia dan siapa pun dia adanya, aku akan tetap mencari dan membuat perhitungan dengannya. Sebab, dialah yang telah membunuh guru kita!"

Habis berkata begitu, Pandu bangkit dan berbalik. Dia hendak berlalu, pergi dari tempat ini.

"Kakang, tunggu!" cegah Sakawuni seraya ikut bangkit. Dipandanginya wajah pemuda di depannya. "Kakang, maafkan aku. Bukan maksudku menyakiti hatimu. Namun, rasanya lucu jika kita terlibat dalam satu lingkaran cinta. Karena kau telah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri!"

Pandu tersenyum kecut. Dan di mata Sakawuni senyum itu memang begitu tidak mengenakkan.

"Sakawuni. Cinta tak pandang siapa saja. Tapi..., ah! Percuma hal itu dibicarakan lagi. Aku harus pergi sekarang!"

Pandu lantas melangkah perlahan meninggalkan Sakawuni yang masih tampak tegak tertegun dengan raut cemas dan bingung.

"Kakang! Kau hendak ke mana...?" tanya Sakawuni ragu-ragu.

Sebentar Pandu berhenti, dan berbalik. "Apakah itu masih penting buatmu? Kita bersa-

tu di sini, karena sama-sama menuntut ilmu pada Ageng Panangkaran. Setelah Ageng Panangkaran tiada, kita boleh memilih jalan sendiri-sendiri. Dan aku telah memutuskan hal itu!" kata Pandu,

Sakawuni segera berkelebat, dan berdiri di depan Pandu dengan tatapan menusuk.

"Kakang! Kalau kau telah memutuskan untuk pergi dan memilih jalan sendiri-sendiri, silakan! Namun, sebelumnya dengar dulu ucapanku!" ujar Sakawuni masih dengan pandangan menusuk. Sebuah senyum aneh menyeruak di bibirnya. "Kakang Persau-

daraan lebih sekadar dari cinta. Maka dari itu, meski nantinya kita jalan sendiri-sendiri, kuharap hal ini bukan karena persoalan cinta. Dan, percayalah. Aku tetap akan menyelidiki, siapa pembunuh guru!"

Pandu tidak menyahut. Dia hanya memandang dengan tersenyum dingin.

"Kakang ," sambung Sakawuni. "Jika nantinya

aku berhasil menemukan siapa pembunuh guru kita, meski dia orang yang kucintai, aku akan tetap membuat perhitungan!"

Pandu masih tetap diam. Namun demi melihat Sakawuni tak lagi bicara, dia tersenyum mengejek.

"Kau tidak usah mengatakan demikian, Sakawuni," ujar Pandu. "Kau harus ingat. Cinta itu tak bermata. Tia-da dinding setebal apa pun yang sanggup menghadangnya. Jadi, ucapanmu ku ragukan akan menjadi kenyataan. Sekarang, kau bisa saja mengatakan akan membuat perhitungan meski dengan orang yang kau cintai. Namun, ingat kata-kataku! Cinta akan melenyapkan perhitungan itu!" sergah Pandu.

"Hm.... Begitu!? Kalau umur kita sama-sama panjang, aku ingin menunjukkan padamu jika katakatamu tidak benar!"

"Persetan dengan ucapanmu! Tapi, ada satu hal yang harus kau ketahui. Aku sudah memastikan bahwa pemuda yang kau cintai adalah orang yang membunuh guru. Maka, jangan menyesal jika suatu hari kelak pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang akan kupenggal kepalanya!"

Kata-kata Pandu membuat Sakawuni sedikit terperangah kaget. Dia tak menyangka jika Pandu sudah demikian jauh berprasangka buruk.

"Kakang...!" panggil Sakawuni.

Namun Sakawuni tidak meneruskan ucapannya, karena saat itu juga Pandu berkelebat meninggalkan tempat ini.

"Semoga bukan Pendekar Mata Keranjang yang melakukan pembunuhan itu...," bisik Sakawuni, seraya memandangi kepergian kakak seperguruannya. "Pendekar Mata Keranjang! Hm..., dia mengatakan pergi ke Kampung Blumbang. Ah, sebaiknya aku ke sana. Aku ingin dengar ceritanya tentang guru!"

3

Seorang pemuda tampan berpakaian hijau yang dilapis pakaian lengan panjang kuning dengan rambut dikuncir ekor kuda tampak melintas di jalan setapak. Kedua tangannya membopong sesosok tubuh seorang gadis berbaju kuning yang tampaknya mengalami luka parah dan dalam keadaan pingsan.

Sampai di tempat yang agak lapang pemuda yang tak lain Aji Saputra alias Pendekar Mata Keranjang 108 menurunkan gadis di bopongan dan direbahkannya di atas tanah.

Kedua kelopak mata gadis yang ternyata berparas cantik itu tampak terpejam rapat. Bibirnya membiru dan sedikit terbuka. Air mukanya pucat bagai orang kehabisan darah.

Pendekar Mata Keranjang menatap wajah gadis ini sebentar. Lantas ditariknya napas dalam-dalam. Diambilnya tangan kanan gadis itu lalu denyut nadinya diperiksa.

"Hmm.... Nadi tangannya masih berdenyut. Berarti, dia masih hidup. Semoga tenagaku dapat sedikit membantu, sebelum aku dapat menemukan orang yang bisa menolong...," gumam Aji.

Pendekar Mata Keranjang segera mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkannya pada gadis di sisinya yang tak lain Putri Tunjung Kuning.

Hawa panas segera mengalir ke tubuh Putri Tunjung Kuning. Sebentar tubuh gadis itu bergetar. Lalu, tak lama kemudian terdengar erangan disertai gumaman perlahan.

"Percuma.... Percuma kau melakukan pertolongan. Aku merasa sudah tidak bisa lagi ditolong...," desah Putri Tunjung Kuning.

"Putri Tunjung Kuning.... Kau jangan putus asa. Kau harus bertahan. Jangan bicara soal nasib. Itu bukan urusan kita...!"

"Pendekar Mata Keranjang! Jangan memberi impian-impian yang tidak mungkin padaku! Pukulan Malaikat Berdarah Biru kurasa belum pernah ada seorang pun yang sanggup menahannya. Dan..., coba lihat! Aku melihat kerumunan orang berpakaian putihputih tengah melangkah mendekatiku. Pendekar Mata Keranjang.... Aku..., mohon maaf padamu     Karena,

selama ini aku memendam bara dendam padamu. Bahkan berusaha mencari jalan untuk membunuhmu.... Aku..., aku berdosa padamu...! Akh ," ucap Pu-

tri Tunjung Kuning, terbata-bata.

"Putri Tunjung Kuning.... Lupakan semua itu. Sekarang coba bertahanlah. Aku akan berusaha menyelamatkan jiwamu. Aku akan mengurangi rasa sakitmu dengan penyaluran hawa murni "

Putri Tunjung Kuning membuka kelopak matanya. Dia mengerjap-ngerjap sebentar, lalu menatap redup pada Pendekar Mata Keranjang. Sesaat kemudian kepalanya tampak menggeleng perlahan.

"Aku sudah tidak tahan lagi...," desah Putri Tunjung Kuning seraya menggenggam erat-erat tangan Pendekar Mata Keranjang.

Aji mula-mula merasakan tangan Putri Tunjung Kuning hangat. Namun, lambat laun tangan itu berubah dingin. Dan bersamaan dengan itu, kedua mata gadis ini memejam. Mulutnya mengatup rapat. Sementara pegangan tangannya mengendor, sebelum akhirnya terlepas.

"Hm.... Dia pingsan lagi...," gumam Pendekar Mata Keranjang seraya menatap wajah Putri Tunjung Kuning. "Sayang sekali, aku tak berpengalaman dalam hal pengobatan. Kalau kubawa ke Karang Langit, apakah dia akan bisa bertahan? Aku khawatir di tengah jalan "

"Uhugkh..... Uhugkh !"

Selagi Aji dalam keadaan bingung, terdengar orang batuk-batuk beberapa kali, Seketika Pendekar Mata Keranjang berpaling. Kedua tangannya yang masih tampak memeriksa tangan Putri Tunjung Kuning segera ditarik. Alis Aji bertautan ketika melihat seorang laki-laki tua telah berdiri tak jauh darinya.

Sejenak Pendekar Mata Keranjang memperhatikan baik-baik laki-laki tua yang kini melangkah sambil tersenyum ke arahnya.

"Siapa dia...? Aku seperti baru kali ini bertemu...?" tanya Pendekar Mata Keranjang dalam hati seraya memperhatikan lebih seksama.

Laki-laki tua berjubah panjang warna putih kusam itu tetap tersenyum. Jenggotnya panjang dan sudah memutih. Dia mengenakan caping lebar dari daun pandan, sehingga wajahnya hanya terlihat sebagian. Tubuhnya sudah sangat renta, namun langkahnya masih tampak tegar.

"Anak muda.... Temanmu itu sepertinya dalam keadaan terluka parah. Kalau kau tidak keberatan, bagaimana jika aku mencoba menolongnya...?" sapa lakilaki tua bercaping seraya menatap lekat-lekat Putri Tunjung Kuning.

"Aku belum pernah mengenal orang tua ini. Apakah dia bisa dipercaya?" tanya batin Aji lagi seraya memandang tak berkedip pada orang tua yang kini berhenti tiga langkah di depannya.

"Pendekar Mata Keranjang!" panggil orang tua bercaping.

Aji terkejut, menyadari kalau orang tua itu tahu siapa dirinya. Sebaliknya, orang tua bercaping itu tersenyum dan mendehem beberapa kali.

"Kau meragukan uluran tanganku...?!" sambung orang tua bercaping itu perlahan. Matanya tak memandang pada Pendekar Mata Keranjang, namun terus menatap Putri Tunjung Kuning.

Mendengar pertanyaan orang tua di hadapannya, Pendekar Mata Keranjang tidak segera menyahut. Semenjak tertipu Bayangan Seribu Wajah, Aji memang selalu bertindak hati-hati. Terutama, pada orang yang baru saja dikenalnya. Tak heran kalau sekarang dia harus berhati-hati, karena pusaka hitam serta bumbung bambu yang berisi jurus-jurus pemusnah berada di tangannya.

"Orang tua! Aku tidak meragukan kebaikanmu. Namun kalau boleh tahu, siapa kakek adanya...?" tanya Pendekar Mata Keranjang, seraya menyembunyikan kecurigaannya.

Orang tua bercaping tersenyum. Tangan kirinya bergerak, mengangkat ujung caping lebarnya. Sehingga, seluruh wajahnya terlihat jelas. Dahi Aji berkerut mencoba mengingat-ingat raut wajah di hadapannya. Namun kepalanya lantas menggeleng-geleng.

"Aku tidak bisa mengenali siapa dia.    Dan aku

yakin, baru pertama kali ini berjumpa dengannya. ,"

gumam Pendekar Mata Keranjang, dalam hati.

Aji mengangkat wajahnya, menatap orang tua di depannya.

"Orang tua...," panggil Pendekar Mata Keranjang, begitu yakin tidak mengetahui orang di hadapannya. "Aku merasa belum pernah bertemu denganmu. Jadi, kuharap kau sebutkan saja siapa dirimu "

"Kau benar, Pendekar Mata Keranjang-108. Kita memang belum pernah bertemu. Dan sebenarnya. aku sungkan untuk menyebutkan nama. Tapi, tak apalah jika kau yang meminta. Orang-orang memanggilku Restu Canggir Rumekso."

Mendengar nama yang disebut orang tua di hadapannya, Pendekar Mata Keranjang sedikit terkejut. Dia memang pernah mendengar nama Restu Canggir Rumekso, seorang tokoh yang pandai dalam bidang pengobatan. Bahkan kepandaiannya tak bisa disangsikan lagi.

"Oh! Kiranya kakekkah orangnya...?! Hmm....

Nama kakek memang telah tersohor, Aku sangat gembira dapat berjumpa orang tersohor seperti kakek, Maafkan aku yang buta ini masih meragukan uluran kebaikanmu untuk menolong temanku...," ucap Pendekar Mata Keranjang.

Orang tua bercaping yang menyebutkan nama dirinya Restu Canggir Rumekso tersenyum lebar. Lantas ditariknya napas dalam-dalam.

"Jangan berkata begitu, Anak Muda. Mana ada tempat bagi namaku dibanding nama besar Pendekar Mata Keranjang 108? Seorang pendekar gagah pembela kebenaran yang digandrungi banyak gadis cantik....

He... he... he !" seloroh Restu Canggir Rumekso.

Wajah Aji kontan berubah merah padam, mendengar selorohan orang tua ini. Dia merutuk dalam hati, menyumpahi Restu Canggir Rumekso yang tahu tentang dirinya.

"Kakek Restu Canggir Rumekso, sudahlah. Kau jangan memuji begitu. Pujian bisa membuat orang tersesat. Sekarang, kuharap kau sudi mengulurkan tangan untuk menolong sahabatku ini...," pinta Pendekar Mata Keranjang, seraya menjura hormat.

Sementara Restu Canggir Rumekso tampak menggelengkan kepala perlahan. Lantas kakinya melangkah mendekati Putri Tunjung Kuning.

"Hm.... Sahabat atau kekasih...?" tanya Restu Canggir Rumekso sambil lalu. Ekor matanya yang sayu melirik sekilas.

Mendengar pertanyaan Restu Canggir Rumekso, mata Pendekar Mata Keranjang membesar. Namun, bibirnya menyunggingkan senyum.

"Apa ada bedanya ?" Pendekar Mata Keranjang

balik bertanya.

"Oh, tentu!" jawab orang tua bercaping ini cepat, seraya mulai memeriksa tubuh Putri Tunjung Kuning.

"Kau tak keberatan mengatakan perbedaannya ?"

Sejenak sepasang mata Restu Canggir Rumekso memandang Pendekar Mata Keranjang. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Kepalanya lantas mengangguk perlahan.

"Dengar! Sahabat adalah hubungan kawan antara seseorang tanpa didasari asmara. Sebaliknya kekasih, penuh dengan cinta dan asmara. Namun antara sahabat dengan kekasih terdapat benang tipis yang membatasi. Dan bila pembatas itu lenyap, maka entah apa jadinya...?"

"Aku belum paham kata-katamu...?" gumam Pendekar Mata Keranjang seraya mengusap-usap ujung hidungnya. Sementara, tangan satunya menarik-narik kuncir rambutnya.

Restu Canggir Rumekso menengadah sebentar, lalu tangannya mengibas di depan wajahnya.

"Terlalu benar kau ini. Camkan baik-baik. Jika dua orang sedang terlibat asmara, pasti satu sama lain akan saling menyembunyikan sesuatu yang dianggap buruk di mata kekasihnya. Namun jika suatu hari cinta asmara mereka berakhir di tengah jalan, sesuatu yang tadinya disembunyikan akan tampak! Wah     Ki-

ta sudah ngomong terlalu jauh. Sahabat atau kekasih itu bukan urusanku. Kenapa ya, aku tadi lancang bertanya padamu ?" tepis Restu Canggir Rumekso seper-

ti bertanya pada diri sendiri.

Laki-laki tua ini lantas meneruskan memeriksa Putri Tunjung Kuning. Kedua tangannya ditempelkan di dada dan perut gadis itu seraya menarik napas dalam-dalam. Seperti tidak percaya, orang tua ini menempelkan kedua telapak tangannya pada perut Putri Tunjung Kuning. Bahkan kali ini agak lama. Begitu tangannya ditarik, sepasang matanya langsung menatap tajam Pendekar Mata Keranjang dengan sinar mata menyelidik. Namun tak lama kemudian kepalanya manggut-manggut dengan bibir tersenyum, membuat Aji tak enak hati. Keningnya berkernyit mencoba menduga-duga.

"Pendekar Mata Keranjang! Kali ini kau harus jujur menjawab pertanyaanku!" ujar Restu Canggir Rumekso, membuat Pendekar Mata Keranjang semakin keheranan. "Apa hubunganmu dengan gadis ini? Kekasih atau hanya sahabat...?"

"Edan! Orang tua ini senang juga bergurau....

Dalam keadaan memeriksa orang terluka pun, masih sempat...," kata batin Pendekar Mata Keranjang tanpa menjawab pertanyaan Restu Canggir Rumekso.

"Pendekar Mata Keranjang! Kau mendengar pertanyaanku, bukan?!" tegur Restu Canggir Rumekso, agak keras.

Sepasang mata Aji membelalak lebar. Bibirnya tak menyungging senyum sama sekali. Hatinya merasa jengkel dibentak begitu rupa.

"Orang tua! Apakah hubungan ku dengan gadis ini menjadi penting dalam pengobatan mu? Atau, kau hanya mencari-cari alasan untuk mengulur-ulur waktu agar nyawa gadis ini tidak tertolong ?.'" tukas Pen-

dekar Mata Keranjang, lantang.

Restu Canggir Rumekso menarik napas dalamdalam. Hatinya sebenarnya panas juga mendengar kata-kata Pendekar Mata Keranjang yang sepertinya menuduh. Namun semua ini coba ditindihnya dengan tersenyum.

"Tak baik berprasangka buruk, Anak Muda. Ketahuilah. Aku bertanya begitu, karena dia "

Restu Canggir Rumekso tak meneruskan katakatanya.

"Kenapa dia...?!" terabas Pendekar Mata Keranjang cepat.

Namun melihat ulah Pendekar Mata Keranjang, Restu Canggir Rumekso malah tersenyum.

"Katakan! Kenapa gadis ini?!" ulang Pendekar Mata Keranjang. lahan. "Dia hamil!" sahut Restu Canggir Rumekso, per-

Namun kata-kata perlahan Restu Canggir Rumekso laksana geledek di telinga Pendekar Mata Keranjang. "Apa dia tidak pernah mengatakannya padamu?! Sebab, usia kandungannya telah menginjak tiga bulan...," sambung Restu Canggir Rumekso, tanpa memandang lagi pada Pendekar Mata Keranjang.

Pendekar Mata Keranjang terhenyak. Dan sebelum berbuat sesuatu, Restu Canggir Rumekso mengangkat tubuh Putri Tunjung Kuning.

"Pendekar Mata Keranjang, gadis ini dalam keadaan terluka parah dan memerlukan perawatan. Jadi tidak bisa diobati di sini. Namun sebelum aku pergi, sebutkan dulu tempat tinggalmu. Biar kelak gadis ini tidak sulit menemukanmu. Bukankah kau bapak jabang bayi yang ada dalam kandungan gadis ini?!" kata orang tua ini, ceplas-ceplos.

Aji benar-benar sewot. Kalau bukan orang tua yang mengatakannya, tentu sudah ditamparnya mulut Restu Canggir Rumekso.

"Orang tua! Jangan ceroboh berkata-kata. Aku memang bukan pemuda baik-baik. Namun selama ini, aku belum pernah menggauli seseorang. Apalagi gadis yang belum resmi jadi istriku!" Aji setengah menegur.

"Hmm.... Begitu? Lantas siapa bapaknya...?" "Tanyakan saja padanya jika sudah bisa bica-

ra!" ujar Pendekar Mata Keranjang sengit, saking jengkelnya. "Kau sendiri tinggal di mana...?!"

Orang tua bercaping yang kini tampak hendak siap pergi itu mengurungkan niatnya. Tubuhnya diputar menghadap Pendekar Mata Keranjang. Sejenak ditatapnya paras pemuda di hadapannya,

"Kalau kau ingin tahu, dari sini berjalanlah ke arah timur. Di lereng Gunung Mahameru, tepatnya di Dusun Amadanom, kau akan menemukan tempatku. Nah, selamat tinggal "

Habis berpikir, Restu Canggir Rumekso berbalik dan berkelebat sambil membopong tubuh Putri Tunjung Kuning. Ditinggalkannya Pendekar Mata Keranjang yang masih tegak terkesima mendengar keterangan Restu Canggir Rumekso.

"Hm.... Putri Tunjung Kuning hamil. Hampir tak ku percaya keterangan itu. Apa dia telah mempunyai suami? Tapi waktu pertama kali kuselamatkan, dia menyatakan menyintai ku terus terang.... Hmm....

Aku jadi tak mengerti semua ini. Namun, aku bersyukur masih sempat dibawa Restu Canggir Rumekso. Karena menurut berita yang tersiar selama ini, dia adalah seorang tabib pandai. Hmm.... Semoga saja dia bisa diselamatkan. Dan sebaiknya, aku meneruskan perjalanan ke Karang Langit, menemui Eyang Guru "

Berpikir begitu, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat berkelebat meninggalkan tempat ini.

4

Dalam perjalanan menuju Karang Langit, Pendekar Mata Keranjang 108 tak henti-hentinya memikirkan Putri Tunjung Kuning. Hingga karena begitu larutnya, tanpa sadar kalau sejak tadi dirinya diikuti seseorang yang berkelebat mengendap-endap.

"Putri Tunjung Kuning.... Tak dapat dipungkiri, dia memang seorang gadis cantik jelita. Bentuk tubuhnya bagus, membuat semua mata yang memandang enggan untuk melepaskannya. Hmm... Ingat dia, membuatku teringat pada Ajeng Roro. Di mana dia sekarang...?" kata batin Aji seraya menghentikan langkahnya dan menyeka keringat di lehernya.

Pendekar Mata Keranjang menengadah memandang langit. Saat itu matahari masih baru saja tergelincir dari titik pusarnya. Kakinya lantas melangkah mendekati sebuah pohon dan bersandar. Tatapan matanya jauh memandang ke depan. Tiba-tiba perasaannya gundah. Perasaan yang sebelumnya tidak pernah dialami. Memang, pada saat-saat sendiri seperti ini, bayangan Ajeng Roro selalu melintas dalam pikirannya. Aji benar-benar merindukan bertemu dara cantik murid Eyang Selaksa itu.

"Ajeng Roro...," gumam Pendekar Mata Keranjang lirih. "Di mana kau saat ini...? Tidakkah kau merasa seperti yang ku rasakan saat ini? Selalu dan selalu ingin bertemu denganmu...?"

Pendekar Mata Keranjang mengusap kening dengan tangan kanannya. Pandangannya masih jauh menatap ke depan. Lalu ditariknya napas dalamdalam, kemudian dihembuskannya perlahan-lahan.

"Aku memang banyak bertemu gadis cantik. Namun, aku tidak dapat melupakanmu. Apakah aku telah jatuh cinta...?" desah Pendekar Mata Keranjang perlahan, seraya tersenyum-senyum sendiri. "Kalau betul, kenapa perasaan itu tiba-tiba lenyap begitu saja ketika aku berdekatan dengan gadis lain..,? Heran! Aku hampir tak percaya dan tak mengerti dengan perasaanku sendiri Benar-benar edan!"

Selagi Pendekar Mata Keranjang merutuki diri sendiri, tiba-tiba terdengar suara tawa perlahan. Dalam keadaan tersentak kaget, wajahnya segera dipalingkan ke arah datangnya suara. Dan sepasang matanya membelalak seketika. Dahinya membentuk beberapa kerutan. Lantas, jidatnya sendiri ditepuk.

"Ah, rupanya dia...," gumam Pendekar Mata Keranjang, begitu mengenali siapa orang yang mengeluarkan suara tawa.

Tak jauh dari tempat Pendekar Mata Keranjang bersandar di pohon, berdiri tegak seorang gadis cantik berpakaian ketat warna putih-putih, membuat bayang lekukan tubuhnya terpampang jelas. Rambutnya panjang terurai. Sepasang matanya bulat berbinar, ditingkahi bulu mata lentik dan panjang. Di lehernya melingkar untaian kalung dari bunga-bunga berwarna hitam. Di atas telinga kirinya juga tampak menyelip sekuntum bunga berwarna hitam.

Dara jelita berpakaian putih-putih ini menyunggingkan senyum lebar, menampakkan gigigiginya yang putih berkilat. Namun mendadak saja senyumnya lenyap, berganti tatapan mata menyengat tak berkedip.

"Ratu Sekar Langit...," sebut Pendekar Mata Keranjang seraya melangkah maju disertai senyum mengembang. "Bagaimana keadaanmu selama ini...?"

"Pendekar Pembual! Kau harus bayar janjimu padaku dengan sebelah tanganmu!" sentak dara jelita yang memang Ratu Sekar Langit.

Senyum di bibir Pendekar Mata Keranjang ikutikutan sirna mendadak. Langkahnya dihentikan dan malah tampak beringsut mundur dua langkah. Sejenak ditatapnya gadis di hadapannya dengan sinar mata heran bercampur bingung. Namun mengira Ratu Sekar Langit bergurau, Pendekar Mata Keranjang kembali tersenyum sambil mengusap-usap cuping hidungnya. Bahkan sebelah matanya mengerdip.

"Pendekar Mata Keranjang! Kau jangan senyam-senyum. Telah lama aku mencarimu!" bentak Ratu Sekar Langit, tampak sungguh-sungguh. "Mencariku...?" ulang Pendekar Mata Keranjang

dengan kepala mengangguk-angguk.

"Benar. Untuk menebas sebelah tanganmu dan menyumpal mulutmu!" sahut Ratu Sekar Langit, mantap.

"Aneh. Kita lama tidak berjumpa. Dan seingatku, di antara kita tidak ada silang sengketa. Kalau boleh tahu, dosa apakah yang telah kulakukan, sehingga kau tampaknya tidak main-main dengan ucapanmu...?!"

"Dasar laki-laki pembual! Pura-pura atau tidak, tak ada bedanya!" maki Ratu Sekar Langit, sengit.

Wanita ini menyeringai. Sepasang matanya yang bulat berbinar berkilat-kilat membelalak. Wajahnya dibuang ke samping.

"Ada apa sebenarnya ini...? Tak ada ujung pangkalnya, tahu-tahu mengancamku. Bingung aku...," kata Pendekar Mata Keranjang dalam hati.

Dengan langkah mantap, Aji maju dua tindak.

Matanya tetap menatap Ratu Sekar Langit.

"Ratu Sekar Langit. Ada apa sebenarnya...? Kau jangan membuat hatiku dag-dig-dug tak karuan?" tanya Aji, murid Wong Agung ini.

"Manusia satu ini benar-benar gila. Dia sepertinya menganggap sepele segala persoalan. Tapi sebenarnya dia laki-laki menarik. Hmm.... Sayang, ucapannya tak bisa dipegang...," kata Ratu Sekar Langit dalam hati.

Dalam hatinya yang paling dalam, Ratu Sekar Langit memang sangat mengagumi ketampanan dan kejantanan Pendekar Mata Keranjang. Namun karena merasa pernah disakiti, dia berusaha menepis perasaan itu. "Laki-laki buaya! Jangan berpura-pura!" maki Ratu Sekar Langit dengan suara tinggi melengking.

Wajah perempuan ini tampak bersemu merah. Alis matanya yang hitam tebal naik sedikit ke atas. Dia tampaknya hampir tidak dapat lagi menahan gejolak amarahnya yang selama ini ditahannya.

Pendekar Mata Keranjang hanya menggeleng. Bukan karena tak mengerti arti ucapan gadis cantik di hadapannya. Namun, karena paras Ratu Sekar Langit semakin mempesona di matanya tatkala keadaan marah begitu.

"Busyet! Gadis ini makin cantik saja kalau saat meradang begini "

Seraya membatin begitu, sepasang mata Pendekar Mata Keranjang tak lepas-lepasnya menatap paras Ratu Sekar Langit. Dan ini membuat yang ditatap tambah memerah wajahnya. Malah matanya semakin mendelik.

"Laki-laki pembual! Bersiaplah! Aku tidak akan pulang ke Istana Padalarang tanpa membawa sebagian tubuhmu!"

Sambil berkata Ratu Sekar Langit mementang sedikit kedua kakinya. Sementara kedua tangannya ditarik ke belakang, siap melepas pukulan.

"He! Rupanya kau bersungguh-sungguh ?" ka-

ta Pendekar Mata Keranjang kalem. Malah bibirnya masih menampakkan senyum.

"Bangsat! Apa kau kira aku main-main. He ?!"

umpat Ratu Sekar Langit jengkel. "Oh, begitu  ?"

Pendekar Mata Keranjang menganga lebar. Sementara air mukanya tampak tenang, membuat Ratu Sekar Langit semakin jengkel dan geram.

"Kau akan menghukumku tanpa memberitahukan dahulu, apa kesalahanku. Hmm.... Itu kukira hal yang kurang bijaksana. Sekali lagi, kalau kau tak keberatan, katakan apa kesalahanku!" ujar Aji.

Untuk beberapa saat Ratu Sekar Langit diam tak menjawab. Hanya kedua matanya menusuk tak kesiap.

"Kau tak mau menyebutkan dosa-dosaku. Berarti, memang aku tidak bersalah. Atau, kau mungkin punya masalah pada orang yang mirip denganku, lalu kau tumpahkan padaku...?"

Yang diajak bicara diam saja.

"Ratu Sekar Langit.... Sebenarnya, aku sangat gembira bertemu denganmu. Kau tahu? Aku selama ini juga rindu padamu. Aku bahkan punya pikiran, jika suatu ketika bertemu, ingin berlama-lama denganmu.... Namun setelah bertemu, semuanya jadi buyar. Ratu Sekar Langit.... Rupanya kali ini kau tak berkenan. Dan dari pada urusan ini berlarut-larut, lebih baik aku pergi.... Meski sebenarnya, hatiku berat...," jelas Aji seraya menyembunyikan senyum di bibirnya. Kakinya melangkah, hendak meninggalkan gadis itu.

Mendengar ucapan Pendekar Mata Keranjang, dada Ratu Sekar Langit berdetak lebih kencang. Kepalanya berpaling, menyembunyikan wajahnya yang makin mengelam serta senyumnya yang menyeruak aneh. "Dia mengatakan kangen dan ingin berlama-

lama denganku...? Apakah dia..., oh! Laki-laki buaya macam dia mana dapat dipercaya? Aku dahulu sudah pernah ditipu    Namun aku tak dapat menipu hatiku.

Aku senang mendengar dia mengatakan rindu padaku ," gumam batin Ratu Sekar Langit.

Gadis ini lantas memandang ke depan. Dan demi melihat Pendekar Mata Keranjang sudah melangkah agak jauh, dia segera melompat. "Laki-laki pembual! Kau kira dapat meninggalkan tempat ini dengan mulut masih dapat bicara...?" teriak Ratu Sekar Langit.

Ratu Sekar Langit kini telah berdiri tegak menghadang langkah Pendekar Mata Keranjang.

"Seandainya belum kukenal dan bukan gadis cantik, aku sudah sejak tadi meninggalkannya...," gumam batin Pendekar Mata Keranjang.

Aji menghentikan langkahnya. Dipandanginya gadis cantik di hadapannya.

"Ratu Sekar Langit. Aku tak punya banyak waktu. Katakan terus terang, apa maksudmu sebenarnya?!"

"Hmm.... Kau ingat peristiwa di Teluk Gonggong?!" Ratu Sekar Langit mengajukan pertanyaan.

"Tentu! Aku tentu ingat peristiwa itu. Karena, di sanalah aku bertemu gadis cantik bergelar Ratu Sekar Langit...," sahut Pendekar Mata Keranjang, enteng.

"Uh, manusia ini benar-benar gila. Bagaimana aku bisa menghadapi manusia satu ini?" keluh Ratu Sekar Langit dalam hati.

Gadis ini berusaha menekan perasaan hatinya. Diam-diam hatinya dilanda perasaan bercampur aduk, antara senang dan jengkel.

"Kau ingat pernah mengucapkan janji pada-

ku...?!"

Dahi Pendekar Mata Keranjang berkerut. Dico-

banya mengingat-ingat, namun gagal. "Rasa-rasanya aku tidak pernah..."

"Dasar laki-laki mata keranjang! Kau memang tak bisa dikasih hati!"

Pendekar Mata Keranjang tidak meneruskan kata-katanya. Karena, Ratu Sekar Langit telah menukas dengan nada keras. Bahkan seketika kedua tangannya mendorong ke arah Aji.

Serangkum angin deras seketika keluar dari kedua tangan Ratu Sekar Langit, menyambar membawa suara menggemuruh dahsyat.

Dengan menahan rasa terkejut, Pendekar Mata Keranjang segera melompat ke samping untuk menghindar. Namun baru saja kakinya menginjak tanah, angin deras yang bahkan disertai sekuntum bunga berwarna hitam melesat ke arahnya.

Dengan kening masih berkerut mencoba berpikir keras mengingat-ingat apa yang pernah diucapkan pada Ratu Sekar Langit, Pendekar Mata Keranjang melesat ke udara. Dibuatnya gerakan berputar dua kali, lalu mendarat sambil memberi isyarat dengan kedua tangan agar Ratu Sekar Langit tak meneruskan serangan.

"Ratu Sekar Langit! Akhir-akhir ini aku banyak menghadapi masalah besar. Masalah itu berhubungan langsung dengan keselamatan jiwaku dan juga ketenangan dan ketenteraman dunia persilatan. Jadi kau harus maklum jika aku sama sekali tak ingat dengan janji ku padamu. Katakan saja, janji apa yang pernah kuucapkan padamu...!"

Ratu Sekar Langit sejenak menatap, Pendekar Mata Keranjang seraya menepiskan helaian rambut yang menghalangi pemandangannya. Wajahnya lantas berpaling.

"Waktu di Teluk Gonggong, kau berjanji akan mengunjungi ku di Istana Padalarang, serta akan membantuku mendirikan perguruan silat. Sekarang kau ingat?!" sahut Ratu Sekar Langit, mengingatkan.

Pendekar Mata Keranjang menepuk jidatnya berkali-kali. Lantas bibirnya tersenyum sambil mengangguk-angguk. "Pendekar Mata Keranjang!" tambah Ratu Sekar Langit dengan suara agak rendah. "Sejak peristiwa di Teluk Gonggong, aku selalu menanti kedatanganmu. Namun setelah sekian purnama kau tak juga muncul, aku mulai menyesal. Menyesal kenapa terlalu mempercayai janji-janjimu. Kau tahu...? Seandainya kau tak mengucapkan janji, waktu itu aku tidak akan meninggalkan Te luk Gonggong. Apalagi pengasuh ku, Ki Buyut Linggar Dipa tewas di tangan temanmu! Sekarang, aku ingin menagih janji yang pernah kau ucapkan!"

Untuk beberapa saat Pendekar Mata Keranjang terdiam.

"Gawat! Kenapa saat itu mulutku tak bisa diam? Bicara soal janji-janji. Padahal, aku mengucapkan janji itu hanya untuk meredakan suasana dan agar dia berpihak padaku...," rutuk Aji, dalam hati.

"Pendekar Mata Keranjang! Kenapa kau diam? Apa kau tak mendengar penjelasanku?!" tegur Ratu Sekar Langit.

Seakan baru tersadar, Pendekar Mata Keranjang hanya menganggukkan kepala. Padahal, hatinya kebingungan mencari jalan keluar agar kali ini dapat menghindar dari Ratu Sekar Langit. Karena, perjalanannya ke Karang Langit menemui Wong Agung jauh lebih penting.

"Hmm.... Terima kasih jika kau mau mengerti. Kita berangkat sekarang?" tawar Ratu Sekar Langit seraya melangkah mendekat. Senyumnya mengembang dengan mata bersinar.

"Tunggu...," ujar Pendekar Mata Keranjang, membuat langkah Ratu Sekar Langit terhenti. "Maksudku bukan begitu. Aku mengerti penjelasan mu. Namun untuk menepati janji ku, aku minta pengertianmu. Sementara ini aku minta waktu padamu. Karena, aku masih ada masalah yang sekarang harus diselesaikan. Kalau sekarang aku ke tempatmu, urusanku bisa terabaikan. Dan itu akan membawaku pada keadaan sulit!"

"Pendekar Mata Keranjang! Kau ternyata lakilaki pengecut yang kata-katanya sulit dipegang!" bentak Ratu Sekar Langit.

"Dengar dahulu, Ratu Sekar Langit...," ujar Pendekar Mata Keranjang perlahan. "Aku sekarang dalam perjalanan ke tempat guruku "

"Siapa percaya ocehanmu?!" damprat Ratu Sekar Langit dengan seringai.

"Kau boleh percaya, boleh tidak. Namun untuk sekarang ini, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Meski, sebenarnya itu janji ku!" kilah Pendekar Mata Keranjang agak jengkel.

"Mulutmu memang pantas dirobek, biar tidak mudah menebar janji-janji palsu!"

Sambil berkata, Ratu Sekar Langit melesat ke depan. Kedua tangannya cepat menghentak.

"Gadis ini sepertinya tidak main-main dengan ucapannya. ," kata batin Pendekar Mata Keranjang se-

raya melompat ke samping, menghindari pukulan Ratu Sekar Langit.

Namun Pendekar Mata Keranjang dibuat terkejut bukan alang kepalang. Karena baru saja mendarat, Ratu Sekar langit telah berdiri dua langkah di belakangnya. Dan sekonyong-konyong dilepaskannya hantaman tangan kiri dan kanan ke arah kepalanya.

Kalau saja Pendekar Mata Keranjang tidak waspada dengan segera merunduk, niscaya kepalanya akan terhantam telak tinju kanan dan kiri Ratu Sekar Langit. Namun selagi Pendekar Mata Keranjang merunduk menghindari hantaman tangan, Ratu Sekar Langit sudah menerjang kaki kanannya.

Wuuut! Buk! "Aaakh...!"

Begitu cepatnya gerakan kaki Ratu Sekar Langit, hingga kali ini Pendekar Mata Keranjang tak sempat lagi berkelit. Punggungnya kontan terhajar kaki kanan Ratu Sekar Langit. Tubuhnya langsung tersuruk.

Dengan menggumam tak karuan, Pendekar Mata Keranjang merambat bangkit. Namun begitu berdiri dan berbalik, sepasang matanya tak lagi menangkap sosok Ratu Sekar Langit.

Saat kebingungan begitu, tiba-tiba terdengar tawa cekikikan. Pendekar Mata Keranjang segera berpaling. Dari arah sebuah pohon, Ratu Sekar Langit tampak melayang turun. Namun sebelum tubuhnya mendarat, empat kuntum bunga berwarna hitam sudah melesat cepat mengeluarkan suara mendesing. Hebatnya, empat kuntum bunga itu langsung berpencar dan menukik deras ke arah Pendekar Mata Keranjang dari empat jurusan.

Aji hampir tak mempercayai penglihatannya. Dia meracu tak karuan, seraya melesat ke udara. Tangan kanan cepat dihantamkan ke depan. Sementara, kaki kanannya disapukan menyamping.

Bet! Bet!

Dua rangkum angin kencang bergemuruh segera menerpa, memapak kuntum bunga yang mengarah dari arah depan. Tiga kuntum bunga serta merta hancur berhamburan. Namun, satu kuntum lainnya lolos dan kini menukik deras menerabas dari arah atas kepala Pendekar Mata Keranjang!

Begitu kencangnya lesatan bunga itu, hingga tak ada kesempatan lagi bagi Pendekar Mata Keranjang untuk menangkis. Maka mau tak mau dia hanya bisa menghindar dengan melangkah ke samping.

Namun baru saja Aji dapat selamat, dari arah depan Ratu Sekar Langit telah kembali menghentakkan kedua tangannya.

Seketika arak-arakan asap berwarna keputihputihan yang sesekali tampak menggumpal disertai hawa panas menyengat menggebrak ke arah Pendekar Mata Keranjang!

Pendekar Mata Keranjang yang masih tampak terhuyung-huyung setelah dapat menghindari serangan kuntuman bunga Ratu Sekar Langit jadi tersadar kalau serangan kuntuman bunga hanyalah serangan tipuan untuk mengalihkan perhatiannya. Melihat hal itu, segera tubuhnya direbahkan di tanah dan cepat bergulingan. Pada gulingan keenam, sepasang kakinya segera menendang ke tanah, membuat tubuhnya melesat ke atas. Dan bersamaan dengan itu dilepaskannya pukulan 'Segara Geni'.

Des! Bum! Bum!

Tempat itu laksana diterpa gempa dahsyat. Tanahnya bergetar. Pohon berderak tumbang dalam keadaan hangus menghitam.

Sementara itu Ratu Sekar Langit menjerit tertahan. Tubuhnya tampak gemetaran. Kedua tangannya memerah. Sementara pakaian yang dikenakannya berkibar-kibar, membuat lekukan tubuhnya semakin terlihat jelas. Namun hebatnya, sosok gadis ini tak bergeming sama sekali, laksana tiang menancap kokoh.

Sementara, Pendekar Mata Keranjang yang melancarkan serangan sambil meloncat ke udara sudah kembali mencelat dua tombak ke belakang. Untung dia masih sempat membuat gerakan salto, hingga tubuhnya selamat dari pengaruh ledakan barusan.

"Gadis ini benar-benar nekat! Bagaimana ini? Kalau aku terus menerus bertahan, tak mustahil suatu kesempatan aku akan terhantam pukulannya. Sementara, aku tak tega untuk melepaskan pukulan secara langsung ke arahnya. Aku..., khawatir dia akan cidera " 

Di lain pihak, Ratu Sekar Langit yang masih tampak berdiri kokoh segera menakupkan kedua tangannya sejajar dada. Dan begitu telapak tangannya membuka dan hendak dihantamkan, mendadak berkelebat sesosok bayangan. Dan tahu-tahu sosok itu telah berdiri tegak, seakan menghadang serangan yang akan dilancarkan Ratu Sekar Langit.

"Gadis cantik! Apakah layak melakukan pembunuhan pada orang yang bertarung setengah hati?!" tegur sosok yang kini memandang pada Ratu Sekar Langit.

Pendekar Mata Keranjang melengak tak percaya, begitu mengenali siapa orang yang menghadang serangan Ratu Sekar Langit. Dia adalah seorang gadis berparas cantik. Rambutnya panjang sebahu dan bermata bulat.

"Ajeng Roro...," sebut Pendekar Mata Keranjang seraya melangkah mendekat.

Mendapat sapaan Pendekar Mata Keranjang, gadis yang memang Ajeng Roro tidak menyahut, apalagi berpaling. Dan ini membuat murid Wong Agung menggeleng seraya menarik napas dalam-dalam.

"Benar apa yang dikatakan Eyang Selaksa. Sadis satu ini keras kepala. Hmm.... Mungkin dia masih memendam rasa jengkel padaku, atas kejadian di Kotaraja Malowopati. Atau mungkin juga cemburu pada Ratu Sekar Langit.... Namun dengan kedatangannya aku bisa menghindar dari Ratu Sekar  Langit     Ya,

seandainya saja aku tidak dalam perjalanan menuju Karang Langit, tentu mau saja ke Istana Padalarang. Apalagi, diajak gadis secantik Ratu Sekar Langit ," ka-

ta batin Pendekar Mata Keranjang seraya mendehem beberapa kali.

"Siapa kau?!" tegur Ratu Sekar Langit, dengan suara meradang. "Jangan berani mencampuri urusan ini, bila masih ingin tetap hidup!"

Untuk sesaat Ajeng Roro tidak menjawab. Hanya sepasang matanya yang bulat memandang tak kedip ke arah Ratu Sekar Langit. Sinar matanya mengisyaratkan ketidaksenangan.

"Aji. Kau benar-benar laki-laki mata keranjang! Di mana-mana selalu dan selalu terlibat persoalan dengan gadis-gadis cantik. Aku jadi tak percaya pada diriku sendiri. Gadis yang tampaknya tertarik padamu begitu banyak dan cantik-cantik. Sedangkan aku ?"

kata batin Ajeng Roro dengan menarik napas panjang dan dalam-dalam.

"He. ! Kau jangan berpura-pura tak mendengar

pertanyaanku!" bentak Ratu Sekar Langit dengan mata membesar. Sementara dahinya membentuk kerutan.

Bentakan Ratu Sekar Langit seakan menyentakkan lamunan Ajeng Roro. Sehingga gadis ini tampak gugup dan gelagapan. Namun sebentar kemudian dia sudah dapat menguasai diri dan tersenyum seraya berkata dengan tenang.

"Aku, Roro! Dan perlu kau camkan baik-baik. Aku tidak suka diancam oleh siapa pun! Aku juga tak ingin ikut campur masalah dengan pemuda ini. Namun karena aku juga punya persoalan dengan pemuda ini, maka kuharap kau mengerti! Kau sendiri siapa...?!" sahut Ajeng Roro seraya balik bertanya.

Ratu Sekar Langit tersenyum dingin. Matanya membeliak lebar dan memandang bergantian pada Ajeng Roro dan Pendekar Mata Keranjang. Lantas pandangannya dibuang jauh ke jurusan lain. Tawanya perlahan segera terdengar. Dan begitu tawanya berhenti, ekor matanya melirik tajam pada Ajeng Roro.

"Aku sebenarnya sungkan untuk menyebutkan nama. Namun karena kau tadi telah memperkenalkan diri, maka tak ada salahnya jika aku pun memperkenalkan diri. Orang-orang memanggilku Ratu Sekar Langit! Dan perlu juga kau perhatikan baik-baik. Aku tak mau tahu kau punya persoalan atau tidak dengan pemuda itu. Namun yang pasti, kau telah mencampuri urusanku dengan caramu barusan. Dan jika kau tidak segera tinggalkan tempat ini, berarti membuka ajang sengketa denganku!" tegas Ratu Sekar Langit.

Ajeng Roro tersenyum rawan.

"Hmm..., begitu?" tukas Ajeng Roro tanpa menunjukkan rasa gentar sama sekali.

Gadis ini lantas berpaling pada Pendekar Mala Keranjang yang kini berdiri tak jauh darinya. Dan Aji tampak kebingungan tak tahu harus berbuat apa.

Saat Ajeng Roro berpaling, Pendekar Mata Keranjang juga sedang menoleh. Seketika keduanya saling berpandang. Hati Ajeng Roro berdetak lebih kencang. Raut wajahnya bersemu merah.

Pendekar Mata Keranjang tersenyum. Namun Ajeng Roro tak membalas. Hanya pandangan matanya tak beralih dari bola mata Aji.

"He! Kuperingatkan sekali lagi, tinggalkan tempat ini!" seru Ratu Sekar Langit.

"Hmmm.... Tampaknya kau terkesima dengan pemuda itu. Apa hubunganmu dengannya? Kekasih...?" sambung Ratu Sekar Langit, begitu agak lama Ajeng Roro tidak menyahuti kata-katanya. Bahkan memandang pun tidak!

Mendengar ucapan Ratu Sekar Langit. buruburu wajah Ajeng Roro berpaling. Rautnya semakin merah padam. Dari mulutnya terdengar gumaman yang tak jelas. Matanya kini memandang tajam pada Ratu Sekar Langit.

"Kau tak usah tahu, apa hubungan ku dengannya! Dan kaulah yang seharusnya segera meninggalkan tempat ini!" balas Ajeng Roro seraya melangkah maju.

"Ah! Urusan ini akan semakin rumit jadinya....

Apa yang harus kulakukan? Jika aku menengahi, keduanya pasti tidak ada yang saling mengerti. Dasar gadis-gadis keras kepala...," rutuk Pendekar Mata Keranjang.

Aji memandang satu persatu pada Ajeng Roro dan Ratu Sekar Langit.

"Hm..., sebaiknya aku segera meninggalkan tempat ini. Dengan begitu, mereka pasti akan bubar sendiri... Tapi, aku harus mencari saat yang tepat. Hm..., terpaksa akan kubiarkan dahulu mereka saling menukar jurus. Dengan demikian, perhatiannya padaku pasti berkurang ," pikir Pendekar Mata Keranjang,

seraya menyapukan pandangan ke sekeliling.

Apa yang menjadi dugaan Pendekar Mata Keranjang ternyata benar. Begitu Ajeng Roro melangkah maju, Ratu Sekar Langit tidak tinggal diam. Tubuhnya pun berkelebat. Dan tahu-tahu dia telah berdiri tegak lima langkah di hadapan Ajeng Roro.

"Gadis liar! Jangan menyesal jika aku berlaku kasar padamu!" bentak Ratu Sekar Langit, seraya mengirimkan serangan jarak jauh menggunakan tangan kosong.

Seketika arak-arakan asap putih segera menyambar. Namun Ajeng Roro yang telah waspada segera melompat ke samping menghindar seraya mengirimkan serangan dengan pukulan jarak jauh.

Des! Des!

Terdengar bentrok pukulan dua kali berturutturut di udara. Arak-arakan asap putih serangan Ratu Sekar Langit yang menyambar-nyambar seketika, terkena papasan angin serangan Ajeng Roro.

Setelah itu jurus demi jurus segera berlangsung. Kekuatan mereka tampaknya seimbang. Terbukti hingga menginjak jurus kedua puluh lima, satu sama lain masih tampak tegar.

Namun, tak berapa lama kemudian Ajeng Roro tampak mulai terdesak hebat. Dan dalam suatu gebrakan yang dilancarkan secara beruntun, gadis itu tampak terkurung serangan kuntuman bunga hitam Ratu Sekar Langit.

Merasa terdesak, Ajeng Roro segera-melesat ke udara. Namun tanpa diduga sama sekali, pada saat itulah hantaman kedua tangan Ratu Sekar Langit datang menyambar.

Dengan gerakan cepat, Ajeng Roro sempat menangkis dengan menghentakkan tangan kanan dan kiri. Namun, tak urung sambaran serangan Ratu Sekar Langit yang telah dialiri tenaga dalam tinggi sempat menghajar kaki kanannya.

Digkh...! "Aaakh...!"

Hingga kejap itu juga terdengar jeritan tertahan dari mulut Ajeng Roro. Sosoknya langsung berputar, dan menukik deras terbanting di atas tanah. Begitu bangkit, darah segar tampak mengalir dari sudut bibirnya. Sementara pakaian di bagian paha tampak robek, memperlihatkan kulit yang membiru!

Sementara, Ratu Sekar Langit tampak tersenyum mengejek. Kakinya lantas melangkah maju, mendekati Ajeng Roro yang kini telah bangkit dengan raut wajah meringis menahan sakit di pahanya.

"Tampaknya dia ingin membunuhku! Apa boleh buat? Aku tidak akan tinggal diam!" bisik Ajeng Roro seraya menyiapkan pukulan.

Namun segera urungkan niat, ketika melihat Ratu Sekar Langit mengurungkan niatnya seraya menghentikan langkahnya.

"Keparat! Dia kabur!" desis Ratu Sekar Langit dengan menyapukan pandangannya ke sekeliling. Wajahnya menampakkan rasa kecewa. Dari mulutnya terdengar gumaman tak karuan.

Melihat keadaan ini, Ajeng Roro pun ikutikutan menyapukan mata ke sekeliling. Dia pun juga menggumam panjang pendek yang tak bisa dimengerti sambil memukulkan kedua tangannya satu sama lain untuk melampiaskan rasa kecewa dan jengkel.

"Hmm..,. Berbulan-bulan kucari. Setelah bertemu, akhirnya pergi lagi. Ke mana perginya? Menurut kabar yang berhasil kusirap, dia baru saja berhasil menumpas Malaikat Berdarah Biru serta sekutusekutunya. Apa tak mungkin dia pergi ke Karang Langit menemui Eyang Wong Agung...? Atau, ke Kampung Blumbang menemui Eyang Selaksa...? Hmm..., Eyang Selaksa. Telah lama aku meninggalkanmu. Aku ingin

bertemu denganmu...," kata batin Ajeng Roro dengan wajah menekuri tanah. Rasa sakit yang mendera kakinya seakan tak dirasakan.

Di lain pihak, Ratu Sekar langit diam-diam juga membatin.

"Melihat sikapnya, nampaknya gadis ini mencintai pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 itu. Hmm..., masa bodoh dengan semua itu! Tadi Pendekar Mata Keranjang berkata akan menemui gurunya. Aku akan mencari tahu, di mana tempat tinggal gurunya!" 

Berpikir begitu, Ratu Sekar Langit lantas memandang Ajeng Roro. Tak terhindarkan, keduanya sejenak saling bentrok pandangan. Dan belum sempat Ajeng Roro berkata, Ratu Sekar Langit telah berbalik.

"Aku ada kepentingan lain. Semoga kita samasama berumur panjang, hingga dapat melanjutkan masalah yang belum tuntas ini!" kata Ratu Sekar Langit.

Ratu Sekar Langit segera berkelebat pergi, meninggalkan Ajeng Roro yang tampak memandangi dengan senyum dingin.

Sementara, Ajeng Roro lantas terlihat mengangkat kepala memandang langit.

"Kau kutunggu sampai kapan pun untuk menuntaskan masalah ini!" seru Ajeng Roro, keras.

5

Mentari merah jingga perlahan unjuk diri, menapak dari celah pinggiran ufuk sebelah timur Gunung Semeru. Udara malam samar-samar merambat terusir, berganti udara baru yang memberi kehangatan bagi mayapada ini.

Di tengah laut utara yang bergelombang dahsyat, tepatnya di atas salah satu batu karang yang mengelilingi sebuah batu karang menjulang yang dikenal sebagai Karang Langit, terlihat seorang pemuda berpakaian hijau dilapis dengan pakaian lengan panjang warna kuning. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Dia berdiri tegak, memandangi batu karang tinggi di depannya.

Pemuda yang tak lain Aji Saputra alias Pendekar Mata Keranjang 108 sepagi itu tampak mandi keringat. Nafasnya berhembus panjang-panjang tak beraturan. Sebentar-sebentar tangannya terangkat, mengusap peluh yang mengalir di keningnya.

Semalam penuh, Pendekar Mata Keranjang memang habis memacu larinya sekencang mungkin. Segenap ilmu meringankan tubuh yang dimiliki dikerahkan. Ini dilakukan karena khawatir jika Ajeng Roro atau Ratu Sekar Langit akan dapat mengendus kepergiannya.

Waktu terjadi bentrok antara Ajeng Roro dan Ratu Sekar Langit, diam-diam Pendekar Mata Keranjang yang merasa serba salah, berkelebat meninggalkan kedua gadis itu yang sedang bertukar jurus.

"Gadis-gadis itu, hm.... Aku tak mengerti, apa maksud mereka sebenarnya...," gumam Aji seraya mengalihkan pandangan pada gelombang laut yang tak henti-hentinya menghempas kisi-kisi batu karang.

"Ratu Sekar Langit.... Tak dapat dipungkiri, dia memang cantik jelita. Namun aku belum bisa menduga, apa tujuannya ingin mendirikan sebuah perguruan silat! Aneh! Seorang gadis ingin punya perguruan silat.... Dan aku sangat menyesal, kenapa begitu gampang membuat janji-janji...," lanjut Aji dalam hati, seraya membayangkan Ratu Sekar Langit.

Membayangkan wajah Ratu Sekar Langit, mau tak mau membawa murid Wong Agung ini teringat pada Ajeng Roro.

"Ajeng Roro.... Kau juga nampak semakin cantik. Namun, aku tak habis pikir, kenapa kita dipertemukan pada saat ada masalah? Kapan kita bisa bertemu dalam suasana tenang dan damai? Seperti saat pertemuan pertama di Kampung Blumbang dahulu?"

Sewaktu Aji merenung mengenang masa-masa lalunya, tiba-tiba....

"Aji, udara di tempatmu kurang baik untuk kesehatan. Angin laut yang membawa butiran garam bisa menyumbat jalan nafasmu. Bergegaslah pergi dari tempat itu!"

Terdengar sebuah suara bernada menegur. Meski amat pelan, namun jelas mengiang di dekat telinga. Aji mengenal jelas, siapa orang yang mengeluarkan suara itu. Lantas kepalanya menengadah memandang batu karang yang tinggi menjulang. Kedua tangannya lalu ditakupkan di depan dada. Matanya terpejam sebentar. Bersamaan dengan itu kedua tangannya disentakkan ke bawah. Sementara kedua kakinya menjejak.

Saat itu juga batu karang tempat Aji berpijak bergetar hebat. Dan bersamaan dengan itu, tubuhnya melenting tinggi, melewati sisi-sisi batu karang. Dan akhirnya Pendekar Mata Keranjang mendarat kokoh di pelataran batu karang yang tinggi menjulang.

Sepasang mata Aji sejenak menebar ke sekeliling. Bangunan batu yang ada di Karang Langit itu tak berbeda dengan waktu pertama kali dia datang pada beberapa puluh bulan yang silam. Bagian depannya tampak porak poranda dengan salah satu tiangnya roboh.

Pendekar Mata Keranjang menghela napas dalam-dalam. Kakinya lantas melangkah mendekati bangunan batu. Dan begitu sampai di depan bangunan langkahnya berhenti.

"Eyang...," panggil Pendekar Mata Keranjang pelan. lah!" "Aji.... Kau tak usah berbasa-basi lagi. Masuk-

Kembali terdengar suara dari dalam bangunan. Dengan langkah perlahan, Pendekar Mata Keranjang meneruskan langkahnya memasuki bangunan batu. Tiba di ruangan depan, sepasang matanya memandang berkeliling.

"Hmmm..,. Tak ada yang berubah...," bisik Pendekar Mata Keranjang seraya terus melangkah ke sebuah pintu di bagian belakang.

Setelah melewati pintu dan menuruni tangga yang juga terbuat dari batu-batu karang, Aji mendapati sebuah ruangan. Di situ, tampak seorang laki-laki berambut putih berjubah putih. Kedua matanya tertutup sehelai kulit yang diikatkan ke belakang. Laki-laki tua ini duduk bersila di atas sebuah batu.

"Eyang...," seru Aji seraya melangkah mendekati laki-laki berjubah.

Pendekar Mata Keranjang segera mengambil tangan laki-laki itu dan menciumnya. Setelah menjura hormat, Aji duduk di depan laki-laki berjubah yang tak lain dari Wong Agung.

"Bagaimana perjalananmu, Aji?" tanya Wong Agung seraya tersenyum.

"Baik, Eyang...," sahut Aji, pelan. "Hm   Lantas

soal tugasmu ?"

"Juga bisa berjalan baik, Eyang...," jawab Aji yang kemudian disambungnya dengan cerita tentang petualangannya. Juga tentang pertemuannya dengan perempuan aneh yang memberi bumbung bambu, serta pertemuannya dengan Malaikat Berdarah Biru. Dan cerita itu diakhiri soal pertemuannya dengan Ajeng Roro (Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: "Persekutuan Para Iblis" dan "Geger Para Iblis").

Wong Agung manggut-manggut mendengar cerita Pendekar Mata Keranjang.

"Mana bumbung bambu dan kipas hitam itu?" tanya Wong Agung, setelah Aji selesai dengan ceritanya.

Dari balik baju hijaunya, Aji segera mengeluarkan bumbung bambu serta kipas hitam. Segera kedua benda itu diangsurkan pada Wong Agung.

Sejenak Wong Agung menimang kedua benda pusaka tersebut. Lalu tangannya bergerak merabaraba. Bersamaan dengan itu, kepalanya menganggukangguk perlahan.

"Aji...," panggil Wong Agung setelah agak lama memeriksa bumbung bambu dan kipas hitam. "Untuk sementara ini, biarkan bumbung bambu dan kipas hitam ini aku yang simpan. Bukan karena apa-apa, hanya aku merasa khawatir. Sebagai laki-laki muda, kau nanti tidak kuat menghadapi godaan. Karena kipas hitam ini membawa pengaruh besar sekali pada siapa yang membawanya. Sebab, siapa pun yang memegang kipas ini, maka jiwanya akan terus menerus dihantui rasa ingin membunuh dan mempermainkan perempuan.... Kau tidak keberatan dengan hal ini bukan?"

Pendekar Mata Keranjang menggeleng perlahan sambil menengadah memandang Wong Agung.

Wong Agung mengangguk, lalu memasukkan bumbung bambu dan kipas hitam ke balik jubah putihnya. "Eyang.... Ngg "

"Adakah sesuatu yang hendak kau tanyakan?" potong Wong Agung bertanya, begitu melihat muridnya ragu-ragu untuk meneruskan kata-katanya.

Sejenak Aji   terdiam. "Katakan !" ujar Wong Agung.

"Soal Ageng Panangkaran, Eyang.... Dia "

Wong Agung melintangkan telunjuk jarinya di depan mulut memberi isyarat agar muridnya tak meneruskan ucapannya. Laki-laki tua itu terlihat menarik napas dalam-dalam.

"Aku sudah tahu nasib yang menimpa Paman Ageng Panangkaran. Kematian memang tak dapat ditentukan kapan datangnya, meski hal itu pasti tiba. Dan juga, tak bisa ditentukan apa penyebabnya. Hanya saja, soal Paman Ageng Panangkaran, aku sangat menyesalkan orang yang berbuat keji padanya. ,"

kata Wong Agung dengan suara berat dan sengau.

Sejenak Wong Agung menghentikan ucapannya. Tubuhnya tampak sedikit bergetar. Jari-jari tangannya gemetar dan mengepal.

"Aji.... Kalau sudah tidak ada yang ingin kau sampaikan, istirahatlah dahuluBesok pagi-pagi benar, turunlah. Temui Paman Selaksa...," ujar Wong Agung.

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan, Eyang...," kata Aji sambil menatap lekat-lekat gurunya.

"Apakah Eyang mengenal orang yang bernama Restu Canggir Rumekso?"

Wong Agung nampak sedikit tersentak mendengar pertanyaan muridnya.

"Hmm.... Ada apa dengan dia...?"

"Tidak apa-apa, Eyang. Hanya waktu menuju kemari, aku sempat bertemu dengannya " "Kau jangan berdusta, Aji. Nada suaramu mengisyaratkan ada sesuatu yang ingin dikatakan, namun kau urungkan..."

Paras Pendekar Mata Keranjang merah padam.

Tapi bibirnya tetap menyunggingkan senyum.

"Jangan cengengesan. Ada apa dengan Restu Canggir Rumekso? Kau punya masalah dengannya...?" desak Wong Agung.

Aji menggeleng perlahan

"Tidak, Eyang. Hanya saja seorang temanku yang terluka parah sempat dibawanya. Katanya, dia mau menolong. Bukankah dia memang seorang tabib yang masyhur...?"

"Dengar, Aji. Kau harus berhati-hati menghadapi manusia bernama Restu Canggir Rumekso. Dia adalah salah seorang tokoh berkepandaian tinggi yang ilmunya sulit dijajaki. Selain itu, dia juga cerdik dan licik. Di luar, dia memang terlihat baik. Suka menolong, dan menebar kebaikan di mana-mana. Namun di balik semua itu, sebenarnya dia adalah seorang tokoh sesat. Berpuluh-puluh tahun dia tak ada kabar beritanya. Maka bila sekarang dia muncul lagi ke gelanggang, berarti ada sesuatu yang diinginkannya. Jika berhadapan dengannya kau harus waspada. Menghadapi orang seperti dia, dibutuhkan akal jernih...," papar Wong Agung.

"Celaka!" desis Aji dalam hati, mengutuk dirinya sendiri. "Kenapa aku begitu percaya padanya? Bagaimana nasib Putri Tunjung Kuning nantinya? Busyet! Lagi-lagi aku tertipu  "

"Ada lagi yang hendak kau tanyakan...?" tegur Wong Agung.

"Tidak Eyang ," sahut Aji.

"Jika begitu, istirahatlah dahulu. Karena, besok pagi kau harus segera ke Kampung Blumbang "

6

Langit di atas Kampung Blumbang tampak cerah. Sinar mentari begitu leluasa menerobos sela-sela pohon yang tampak berjajar di sekitarnya. Sehingga, membuat kehangatan melingkupi tempat ini.

Di dalam sebuah gubuk yang terletak di sebelah timur Kampung Blumbang, tampak dua orang duduk berhadap-hadapan. Bahu salah seorang terlihat berguncang-guncang menahan isak tangis. Sementara orang satunya tampak memandang dengan sinar mata sayu. Namun, kegembiraan jelas sekali memancar dari raut wajahnya.

Yang terisak menahan tangis ternyata seorang gadis berparas jelita. Pakaiannya warna biru. Rambutnya panjang tergerai. Sementara orang yang duduk di hadapannya adalah seorang laki-laki berusia lanjut berpakaian warna putih panjang. Sepasang matanya telah terlihat sayu. Janggutnya ditumbuhi jenggot panjang dan telah berwarna putih.

"Roro...," panggil orang tua di hadapan gadis yang ternyata Ajeng Roro dengan suara serak. "Aku begitu gembira sekali melihat kau kembali. Kau tahu...? Sejak kepergianmu, aku begitu kesepian. Tak ada teman yang bisa diajak berbincang. Maka dari itu, ku mohon setelah ini jangan lagi meninggalkan Kampung Blumbang! Apapun alasannya. "

Ajeng Roro mengangkat kepalanya. Dipandangnya orang tua itu dengan sinar mata redup. Tampaknya dia masih berusaha menahan diri agar air matanya tak bergulir.

"Eyang   Maafkan aku," ucap Ajeng Roro, begi-

tu bisa menguasai diri. "Aku memang terlalu mementingkan diri sendiri. Tak menghiraukan kata-kata Eyang "

Orang tua yang dipanggil Eyang dan tak lain Eyang Selaksa ini menarik napas dalam-dalam. Pandangan matanya tak beranjak dari Ajeng Roro.

"Aku tahu. Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Sekarang, yang lalu biarlah berlalu. Kau berjanji tak akan meninggalkan Kampung Blumbang lagi, bukan ?"

Yang ditanya mengangguk perlahan, membuat Eyang Selaksa tersenyum. Tatapan orang tua ini lantas beralih jauh keluar gubuk yang pintunya tampak terbuka.

"Roro..., apa selama ini kau sempat berjumpa Aji?" tanya Eyang Selaksa.

Ajeng Roro tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan Eyang Selaksa. Hingga untuk beberapa saat, dia terdiam.

"Kau tampaknya terkejut. Kenapa? Kau pernah bertemu dengannya, bukan?" desak Eyang Selaksa.

Ajeng Roro kembali hanya menganggukkan kepala. Wajahnya lantas berpaling menyembunyikan rona merah.

"Aku mendengar berita, dia telah berhasil menumpas Malaikat Berdarah Biru. Apakah kau juga mendengarnya?"

"Benar, Eyang. Aku juga mendengar berita itu Namun, aku sendiri belum dengar dari dia sendi-

ri.... Karena saat bertemu, kami tidak sempat bertanya !" sahut Ajeng Roro.

"Kau ini aneh. Sempat bertemu, tapi tak sempat bertanya. Lantas apa yang kalian bicarakan...?" tanya Eyang Selaksa, bingung.

Ajeng Roro tak menjawab. Wajahnya semakin memerah.

"Bagaimana aku harus mengatakannya...? Apa aku harus berterus terang? Tidak! Eyang tidak boleh tahu apa yang terpendam dalam hatiku...," kata batin Ajeng Roro, seraya menatap ke jurusan lain.

"Kalau kau tak mau mengatakannya, tak apalah. Yang penting, bagiku kau telah kembali dan tak akan meninggalkan ku lagi. Dan "

Ucapan Eyang Selaksa terputus ketika tiba-tiba melihat sesosok tubuh berkelebat di sekitar Blumbang. "Hmm.... Ada orang di luar!" seru Eyang Selak-

sa.

Serta merta laki-laki tua ini berdiri. Tubuhnya

segera berkelebat ke arah sekitar Blumbang, lalu mengendap-endap di samping tembok Blumbang.

Melihat Eyang Selaksa berkelebat, Ajeng Roro tak tinggal diam. Segera diikutinya dari belakang, dan mengendap di belakang Eyang Selaksa.

"Hmm.... Dia rupanya berkepandaian tinggi. Gerakannya begitu cepat. Namun aku percaya, dia masih berada di sekitar sini. Melihat sosoknya, sepertinya dia mengenakan pakaian hijau. Apa kira-kira bukan "

Kata-kata Eyang Selaksa tidak berlanjut, tatkala sepasang matanya menangkap seseorang sedang berdiri di dekat pintu masuk Blumbang.

"Ah, rupanya dia!" sentak Ajeng Roro dengan mata menatap ke arah sosok yang tampak membelakangi.

"Anak konyol! Kenapa dia berlaku seperti anak main petak umpet!" umpat Eyang Selaksa, begitu mengetahui sosok yang berdiri membelakangi.

Sosok yang berdiri membelakangi berbalik, menghadap Eyang Selaksa dan Ajeng Roro dengan bibir cengengesan. Dia ternyata Pendekar Mata Keranjang!

"Eyang, Ajeng Roro...," sapa Pendekar Mata Keranjang seraya melangkah mendekati.

Eyang Selaksa menggumam tak karuan. "Anak kurang ajar! Kenapa kau berlaku seperti anak-anak? Kau patut disodok berani mempermainkan orang tua!"

Aji semakin tersenyum lebar. Dan begitu dekat dengan Eyang Selaksa, dia segera menjatuhkan diri dan menjura hormat berulang kali.

Eyang Selaksa meluruskan tubuhnya, lalu menggeleng-geleng. Sementara Ajeng Roro mengalihkan pandangan, tak berani menatap Aji yang kini telah mengangkat kepalanya. Pemuda ini memandang bergantian pada kedua orang di hadapannya.

"Eyang..., maafkan muridmu yang telah membuatmu terkejut...," ucap Pendekar Mata Keranjang.

"Untung aku mengenalimu, meski dari arah belakang. Kalau tidak, kepalamu mungkin sudah benjotbenjot! Ayo masuk!" ujar Eyang Selaksa seraya berbalik dan melangkah ke arah gubuk.

Namun karena hingga sampai gubuk tak terdengar suara langkah-langkah mengikuti, Eyang Selaksa segera berbalik kembali. Dan dahinya berkerut ketika mengetahui Ajeng Roro dan Aji masih tegak diam di tempat. Mereka berdua tampak saling berpandangan. Namun di antara keduanya, tak satu pun yang bicara.

"He...? Sebenarnya ada apa di antara kalian berdua? Yang Gadis tak bicara. Bahkan bermuka cemberut seperti orang bertemu musuh. Sementara yang satunya hanya memandang dengan   senyumsenyum "

"Eyang.... Manusia satu ini memang pantas dihajar! Di mana-mana dia selalu membuat masalah dengan ga "

"Roro.... Kalau kau meneruskan kata-katamu, aku akan mengatakannya pada Eyang. Kau berkata begitu, hanya karena cemburu  "

Ajeng Roro tak meneruskan ucapannya, karena saat itu juga Aji telah menyela kata-katanya. Perlahan memang, hingga Eyang Selaksa tak mendengarnya.

Ajeng Roro mendengus seraya memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Membuat Eyang Selaksa semakin heran.

"Hmm    Begitu? Baik. Tapi, ingat. Aku tak me-

nerimakan perlakuanmu padaku! Dan kau pasti mendapati ganjaran!" desis Ajeng Roro-Paras Aji sesaat berubah.

"Roro...," panggil Aji seraya mendongak ke atas dan tersenyum. "Kalau itu maumu, aku menyerah. Kau boleh menghukumku, sekehendak hatimu. Namun satu hal yang harus kau ketahui. Biar terlibat dengan banyak gadis, aku tak dapat melupakanmu! Kau selalu dan selalu di hatiku "

Entah malu atau marah, tanpa bicara apa-apa lagi Ajeng Roro segera melangkah cepat ke arah Eyang Selaksa. Raut mukanya tampak semakin merah padam.

Begitu Ajeng Roro melangkah, Aji pun ikutikutan melangkah mengikuti. Sedangkan Eyang Selaksa yang melihat tingkah kedua orang ini hanya menggeleng-geleng. Sebentar-sebentar matanya memandang Ajeng Roro, lalu beralih pada Aji. Lantas, kakinya melangkah memasuki gubuk. "Aji! Apakah kau selama ini baik-baik saja? Dan, apakah kau telah menjenguk gurumu di Karang Langit?" tanya Eyang Selaksa begitu mereka bertiga telah berada di dalam gubuk dan duduk melingkar.

"Aku baik-baik saja, Eyang. Dan aku pun memang telah menjenguk Eyang Wong Agung di Karang Langit. Dia menyuruhku ke sini...!" sahut Aji, gamblang.

"Aku memang berpesan pada gurumu. Jika sewaktu-waktu kau datang, kau kusuruh datang ke Kampung Blumbang.... Aku hanya ingin mendengar cerita tentang perjalananmu. Karena aku menyirap kabar, kau telah berhasil menunaikan tugas yang diembankan padamu."

Aji lantas menceritakan perjalanannya dari awal hingga sampai di Kampung Blumbang. Sedang Eyang Selaksa mendengarkan dengan seksama sambil sesekali batuk dan berdecak. Sementara, Ajeng Roro sepertinya tak tertarik dengan cerita Aji, meski dalam hatinya diam-diam juga kagum dan senang.

"Hmm.... Aku bangga dan gembira mendengar ceritamu, Aji. Namun, kau jangan cepat puas dengan apa yang telah diperoleh selama ini. Dunia persilatan tidak akan pernah sepi dari huru-hara. Karena selama dunia ini masih berputar, kejahatan tidak akan pernah mati. Dan kau telah ditakdirkan untuk meredamnya. Kau harus tetap berlaku waspada...," ujar Eyang Selaksa, mengingat.

Pendekar Mata Keranjang mengangguk-angguk. Namun matanya tak henti-hentinya melirik Ajeng Roro. Sementara, gadis itu sendiri sesekali sempat mencuri pandang. Tapi begitu matanya tertumbuk dengan lirikan mata Pendekar Mata Keranjang, cepat-cepat membuang muka ke arah lain. Begitu asyiknya mereka berbincang-bincang, hingga tanpa disadari sesosok tubuh tampak mengendap-endap mencuri dengar pembicaraan.

Pendekar Mata Keranjang yang segera merasa ada yang tak beres di sekitar gubuk, segera memberi isyarat agar pembicaraan dihentikan.

"Hmm     Ada orang di sekitar gubuk yang men-

curi dengar pembicaraan kita. Biar aku tangkap dia ,"

gumam Aji perlahan, sambil bangkit dan berkelebat keluar gubuk.

7

"Setan!" rutuk Pendekar Mata Keranjang. "Dia berhasil melarikan diri. Hmm Siapa dia? Melihat so-

soknya dia sepertinya seorang perempuan!"

Saat itu Pendekar Mata Keranjang berada agak jauh dari Kampung Blumbang, karena terus mengejar bayangan yang telah mencuri dengar pembicaraan.

"Sialan! Lagi-lagi seorang perempuan!" umpat Pendekar Mata Keranjang berbisik sambil menyapukan pandangannya sekali lagi ke sekeliling. Namun kedua matanya tak menangkap sosok yang dicari.

Dengan perasaan kecewa, Aji berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya tertahan seketika, tatkala telinganya menangkap langkahlangkah perlahan mendatangi dari arah samping.

Berpaling, pendekar murid Wong Agung ini terkejut. Ajeng Roro tampak melangkah mendatangi. Sepasang matanya menyorot tajam tak berkedip.

Pendekar Mata Keranjang 108 mencoba tersenyum. Namun yang diajak senyum tak membalas. Malah segera mengangkat kepalanya memandang ke atas. "Aji! Sekarang saatnya kau menerima huku-

man! Kau telah mengecewakanku! Meninggalkan aku begitu saja. Sementara, kau enak-enakan bercinta!" kata Ajeng Roro, agak keras.

"Hei! tunggu...!" cegah Aji sambil melangkah dua tindak ke belakang. "Kau waktu itu salah tafsir, Roro! Aku tak berniat meninggalkanmu dan enakenakan bercinta. Gadis itu adalah "

"Aku tak akan lagi bisa dimuslihatkan dengan kata-kata manis mu!" Ajeng Roro menghardik memotong ucapan Aji seraya mendelik.

"Dengar, Roro! Aku menyayangi mu. Jadi tak mungkin menipumu!" ujar Aji sambil balas memandang.

Hingga untuk beberapa saat keduanya saling beradu pandang. Namun sesaat kemudian, Ajeng Roro mencibir serta mengangkat kedua tangannya, siap melepas pukulan.

Namun kali ini tampaknya Pendekar Mata Keranjang tak hendak membuat gerakan menangkis atau berkelit menghindar. Dia tetap berdiri, seolah pasrah. Hanya kedua matanya yang menatap tak berkedip, menusuk dalam-dalam ke arah bola mata gadis di depannya yang telah siap melakukan serangan.

Ajeng Roro merasakan getaran aneh menyeruak di dadanya. Makin memandang Pendekar Mata Keranjang, dadanya semakin bergerak. Dia coba menahan getaran-getaran itu. Namun semakin ditahan, dadanya semakin dibuncah perasaan tidak karuan. Hingga lambat laun tangannya yang telah diangkat luruh ke bawah.

"Gila! Kenapa aku jadi begini? Aku tidak sanggup melakukannya! Benar-benar memalukan!" umpat gadis ini dalam hati seraya berbalik hendak pergi. "Tunggu!" sergah Pendekar Mata Keranjang

mencegah sambil menarik napas lega.

Aji lantas melangkah mendekati Ajeng Roro. "Roro..., aku tak mau di antara kita ada ganjalan. Kalau kau memang masih mau menghukumku, lakukanlah." ing. Ajeng Roro tidak menjawab, Juga, tidak berpal-

Pendekar Mata Keranjang mengusap-usap ujung hidungnya. "Kau tak mau melakukan, berarti hukuman yang akan kau jatuhkan impas..,."

"Tidak!" sahut Ajeng Roro masih dengan nada jengkel. "Saat ini, hukuman itu ku tunda. Dari mungkin lain kali akan ku tepati!"

Pendekar Mata Keranjang anggukkan kepala. Dalam hati dia membatin. "Gadis itu benar-benar sukar ditaklukkan. Keras kepala! Untungnya dia cantik. Kalau tidak..., hmm "

Sejenak suasana jadi hening. Belum ada yang bersuara.

"Kenapa kau menyusul ku ke sini...?" tanya Pendekar Mata Keranjang, memecah keheningan. "Kau mengkhawatirkan aku bukan?" pancingnya seraya menahan senyum.

Serta merta Ajeng Roro berpaling menghadap Pendekar Mata Keranjang.

"Kau telah dewasa! Siapa yang mengkhawatirkan dirimu? Kau jangan terlalu besar kepala!"

"Ah, benar. Selama ini aku memang terlalu besar kepala. Jadi selama ini juga aku mengharapkan sesuatu yang sia-sia. Hmmm..., betapa malangnya nasibku ," desah Pendekar Mata Keranjang perlahan.

"Ngg..., bukan begitu masalah ku. Aku tidak mengkhawatirkan mu, karena percaya kau dapat menjaga diri. Kau sekarang bukan lagi Aji yang dulu. Aji yang merengek-rengek minta tolong, tatkala hendak melewati rumput-rumput merah di sekitar Kampung Blumbang. Kau sekarang telah menjadi seorang tokoh bernama besar, hingga tak heran jika banyak gadis yang memburu...," sergah Ajeng Roro.

Pendekar Mata Keranjang tersenyum kecut. Cuping hidungnya mengembang mendengar pujian itu. Tangannya lantas terangkat dan menarik-narik kuncir rambutnya.

"Ah, lupakan semua itu. Sekarang kita baikan lagi. Bagaimana...?" tawar Pendekar Mata Keranjang sambil menatap tajam gadis di hadapannya.

Yang ditatap tidak menjawab. Hanya kepalanya tampak bergerak mengangguk. Sedangkan Pendekar Mata Keranjang tersenyum lebar. Lalu diambilnya tangan gadis di hadapannya, dan diciumnya berkali-kali.

Sejenak Ajeng Roro memang tampak jengah. Namun lama kelamaan, dia diam saja. Malah ketika Pendekar Mata Keranjang menengadahkan kepala dan mendekatkan ke wajahnya, gadis ini tak berusaha menghindar. Tentu saja hal ini membuat Aji semakin berani. Dan tanpa bicara lagi, murid Wong Agung ini memagut bibir gadis cantik yang kini merapat di dadanya. Kedua tangannya pun bergerak merengkuh punggung Ajeng Roro dan menekannya. Hingga kedua orang ini untuk sesat dibuai kehangatan.

Namun tak lama kemudian, Ajeng Roro meronta dan melepaskan diri dari rengkuhan tangan kokoh Pendekar Mata Keranjang.

"Kita harus cepat kembali. Eyang nanti cemas menunggu...," ujar Ajeng Roro dengan napas terengahengah dan dada turun naik. Sementara wajah yang merah merona dihadapkan ke arah lain. Lantas tanpa menoleh lagi. Kakinya melangkah mendahului Pendekar Mata Keranjang.

Tanpa disadari Aji dan Ajeng Roro, di balik sebuah pohon tak jauh dari tempat itu, sepasang mata dari tadi tampak mengawasi dengan terbeliak merah.

"Bajingan! Siapa gadis itu...? Hmm..., nampaknya pemuda itu telah mempunyai seorang kekasih. Tapi, kenapa dia menyuruhku datang ke Kampung Blumbang? Untuk menyaksikan dia bermain ciuman? Dia rupanya benar-benar pemuda mata keranjang, sesuai julukannya. Ternyata, mulut pemuda itu memang tak bisa dipercaya. Jangan-jangan apa yang dikatakannya mengenai tewasnya guru, juga bualan saja! Jangan-jangan dialah pembunuh guru, seperti apa yang dikatakan Kakang Pandu.... Hmm..., aku harus membuat perhitungan dengannya!" desis si empunya mata seraya keluar dari balik pohon. Tubuhnya berkelebat cepat, karena Pendekar Mata Keranjang terlihat telah melangkah agak jauh mengejar Ajeng Roro.

"Berhenti!" tegur sosok yang baru saja keluar dari balik pohon, begitu sudah agak dekat dengan Pendekar Mata Keranjang.

Dengan menahan rasa terkejut, Pendekar Mata Keranjang menghentikan langkah. Seketika dia berbalik. Di hadapannya kini berdiri seorang gadis berwajah cantik.

"Sakawuni!" seru Pendekar Mata Keranjang disertai senyum lebar meski sepasang matanya lantas melirik, takut jika Ajeng Roro mendengar dan kembali.

Gadis di hadapan Aji yang memang Sakawuni mendengus keras sambil menyeringai. Niatnya semula yang hendak ingin bertemu Pendekar Mata Keranjang untuk mendengar cerita tentang siapa pembunuh gurunya serta melampiaskan rasa rindu yang selama ini dipendam pupus begitu saja, berganti perasaan geram dan cemburu. Hingga yang muncul sekarang adalah prasangka buruk.

"Laki-laki pembunuh!" dengus Sakawuni, menghardik. "Menyerahlah kau! Dan, ikut aku ke Lembah Baka untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"

Senyum Pendekar Mata Keranjang lenyap seketika. Malah kakinya tampak mundur dua langkah ke belakang.

"Apa maksudmu dengan semua ini, Sakawuni?" tanya Pendekar Mata Keranjang, bingung.

"Kau tak usah berbelit-belit. Kau sudah tahu jawabannya! Sekarang, ikut aku!" tegas Sakawuni.

"Gila! Aku benar-benar tak mengerti maksudmu!" kilah Aji.

"Hmm    Apa karena cumbuan gadis tadi, hing-

ga kau begitu pelupa?!" sindir Sakawuni.

Paras Pendekar Mata Keranjang berubah merah mengelam. Kedua matanya membelalak melotot, memandangi gadis di hadapannya.

"Hmm.... Jadi, orang yang mengendap-endap mencuri dengar tadi ternyata Sakawuni. Dan tentunya, dia tadi mengetahui apa yang kulakukan dengan Ajeng Roro. Walah gawat urusannya...! Dia pasti telah termakan fitnah bahwa akulah pembunuh gurunya, Ageng Panangkaran...," kata batin Pendekar Mata Keranjang, dalam hati.

"Pembunuh keji! Jangan membuat kesabaranku habis. Cepat ikut aku!" bentak Sakawuni, seraya berkacak pinggang.

Pendekar Mata Keranjang terdiam. Sikapnya tampak ragu-ragu mengambil keputusan. Kepalanya sesekali berpaling ke belakang.

"Atau kau akan mengajak gadismu ikut serta? Boleh...! Asal tahu saja, dia pun akan pulang nama! Seperti kau!" sambung Sakawuni begitu Pendekar Mata Keranjang hanya diam dan tampak kebingungan.

"Tunggu, Sakawuni. Kau tampaknya telah termakan ucapan Pandu. Percayalah, bukan aku yang melakukannya!" cegah Aji.

"Bangsat! Kau terlalu banyak omong! Lagi pula, siapa sekarang mau percaya kata-katamu!" hardik Sakawuni. "Kalau kau tidak bisa diajak baik-baik, aku pun tidak keberatan berbuat kasar!"

Habis berkata begitu, Sakawuni segera menarik kedua tangannya sedikit ke belakang. Sambil menggereng, kedua tangannya didorong ke depan.

Seketika hembusan angin deras yang tidak bersuara terasa menghantam keras ke arah Pendekar Mata Keranjang.

Dengan menindih rasa terpana, Pendekar Mata Keranjang segera melompat ke samping. Namun dia terkejut bukan alang kepalang, karena ternyata hembusan angin itu masih terasa menerpa. Malah, kini semakin deras menghantam.

"Setan! Ilmu apa ini? Tidak ada suara dan rupa, tapi rasanya begitu dahsyat!" rutuk batin Pendekar Mata Ke-ranjang sambil mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis.

Sebentar kemudian, kedua orang ini tampak berdiri sambil mengerahkan tenaga dalam masingmasing.

Namun tak berselang lama, karena tampaknya tingkat tenaga dalam Sakawuni masih jauh dibanding Pendekar Mata Keranjang. Dan sebelum oleng dan jatuh, tubuhnya segera melenting ke udara seraya membentak lengking.

Dari udara, Sakawuni cepat membuat gerakan berputar satu kali. Kecepatannya hampir tak dapat diikuti mata. Lalu tiba-tiba, tubuhnya menukik deras dengan kedua tangan menghantam ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang. Hantaman tangan itu belum sampai, namun deru dahsyat sudah melesat mendahului.

Pendekar Mata Keranjang tak tinggal diam. Segera tubuhnya miring ke samping, membuat hantaman tangan Sakawuni menerabas tempat kosong di samping lengan Pendekar Mata Keranjang.

Karena serangannya begitu mudah dielakkan Pendekar Mata Keranjang membuat amarah Sakawuni makin memuncak. Begitu sepasang kakinya menjejak tanah, tubuhnya segera berbalik. Dan seketika tenaga dalamnya disalurkan pada tangannya. Didahului bentakan keras, Sakawuni menghentakkan kedua tangannya ke arah Aji.

Saat itu juga berlarik-larik sinar putih ke abuabuan yang mengeluarkan suara menderu-deru dan berhawa panas melesat menyambar ke depan.

"Edan! Dia benar-benar ingin menyabung nyawa!" rutuk Pendekar Mata Keranjang dalam hati.

Segera Aji menyambut serangan Sakawuni dengan pukulan 'Segara Geni'. Namun kali ini tenaga dalamnya tidak dikerahkan penuh.

Des! Blum!

Dua pukulan sakti bentrok di atas udara, membuat tanah di sekitar tempat itu bergetar hebat. Pohon-pohon bergoyang, menggugurkan dedaunan. Tubuh Sakawuni tampak terhuyung-huyung. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar. Sementara sekujur tubuhnya telah mandi keringat. Dilain pihak, Pendekar Mata Keranjang tampak tetap tegar di tempatnya. Hal ini membuat Sakawuni makin sadar kalau tingkat kepandaiannya jauh di banding pemuda di hadapannya. Namun tampaknya hal itu bukannya membuatnya takut, tapi semakin penasaran. Saat itu juga tekanan tenaga dalamnya ditambah dan segera kembali melakukan serangan. Padahal, di bagian kedua tangannya telah terasa ngilu.

Dalam hati, diam-diam Pendekar Mata Keranjang terkesima. Sungguh tak diduga jika gadis di hadapannya selain mempunyai kemampuan lumayan, bahkan juga berhati baja.

"Gadis tangguh! Hanya sayang termakan katakata kakak seperguruannya, tanpa menyelidik terlebih dahulu.... Dan tampaknya dia "

Pendekar Mata Keranjang tidak bisa meneruskan kata hatinya, karena saat itu Sakawuni telah berkelebat. Dan mendadak, sepasang kakinya telah menerjang ke arah Aji. Sementara, kedua tangannya bersiutan ke sana kemari.

Saat itu juga Aji memalangkan kedua tangannya, dengan tubuh bergerak satu tindak ke samping. Maka pukulan tangan serta terjangan sepasang kaki Sakawuni hanya menerpa angin di sebelah Pendekar Mata Keranjang.

Di lain kejap Pendekar Mata Keranjang cepat mendorongkan telapak tangannya ke depan perlahan.

Karena pukulannya baru saja meleset, membuat tubuh Sakawuni terdorong ke depan. Padahal, bersamaan dengan itu dorongan tangan Pendekar Mata Keranjang datang. Hebatnya meski dalam keadaan terjepit begitu, raut wajah gadis ini tidak mengisyaratkan rasa kebingungan. Bahkan mencoba menangkis dengan menarik tangannya dan menghentakkannya secara mendadak ke depan.

Prak! Prak!

Terdengar benturan keras dua kali berurutan. Tubuh Sakawuni terbanting di tanah. Sementara Pendekar Mata Keranjang hanya terhuyung-huyung sebentar, sebelum akhirnya tegak kembali dengan kaki kokoh.

Dengan muka merah padam dan bibir pecah mengeluarkan darah, Sakawuni merambat bangkit. Dan begitu tubuhnya telah berdiri tegak, sepasang matanya langsung menyengat tajam. Namun, cuma sekilas. Wajah cantik Sakawuni lantas menoleh ke samping.

"Pembunuh licik! Jangan kau kira aku kalah!"

Habis berkata, Sakawuni tampak memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya menakup di depan dada. Dan dari mulutnya terdengar suara yang tak bisa dimengerti.

"Tunggu!" teriak Aji.

Sakawuni membuka kelopak matanya, lantas memandang terbeliak.

"Jahanam! Apa maumu...?" desis Sakawuni tatkala melihat Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah mendekat sambil tersenyum.

"Aku tak mau melayanimu dengan jalan begini. Kita berdua nanti akan sama-sama rugi. Lebih baik tinggalkan tempat ini. Nanti suatu saat, aku pasti akan datang ke Lembah Baka dengan membawa kepala orang yang menewaskan gurumu!"

"Kau kira aku mempercayai omongan mu? Meski kau bersumpah pun, aku tidak akan percaya...," gumam Sakawuni, membatin.

Tiba-tiba, gadis ini tersenyum sinis.

"Baik! Aku akan tinggalkan tempat ini. Tapi, denganmu!"

"Gila! Dengar, Sakawuni. Aku masih ada urusan lebih penting yang harus diselesaikan. Setelah urusan ini selesai, aku akan menyusulmu ke Lembah Baka!" ujar Pendekar Mata Keranjang.

"Urusan penting mengejar gadis itu, bukan? Laki-laki pengecut! Kau tak pantas menyandang nama besar jika ternyata tidak berani mengakui kesalahan!"

Di saat keduanya saling bertukar pandang satu sama lain, terdengar langkah-langkah mendatangi tempat itu.

"Celaka! Kalau Ajeng Roro..., oh! Urusannya akan makin rumit!" keluh Pendekar Mata Keranjang dalam hati, tak berani melihat orang yang mendatangi.

Sementara itu dahi Sakawuni segera berkernyit tatkala melihat siapa orang yang datang.

8

Orang yang datang mendadak tertawa bergelakgelak pendek. Bersamaan dengan itu, serangkum gelombang angin dahsyat menghempas deras ke arah Pendekar Mata Keranjang dan Sakawuni.

Aji terlengak kaget, karena dugaannya meleset. Secepat kilat Pendekar Mata Keranjang berbalik. Dia sedikit tersentak, melihat orang yang baru datang. Bahkan tiba-tiba telah melepaskan serangan, meski sepertinya tidak disengaja!

Namun Pendekar Mata Keranjang tidak sempat lagi berbuat lebih jauh. Karena saat itu juga, gelombang angin yang dikeluarkan orang yang barusan datang telah menggebrak. Dengan memaki panjang pendek dalam hati, Pendekar Mata Keranjang cepat merebahkan diri hingga sejajar tanah. Maka serangan orang yang baru datang melesat di atas tubuhnya. Namun, tak urung juga sambaran serangan yang ternyata menebarkan hawa panas itu menyerempet rambutnya. Akibatnya, rambut Pendekar Mata Keranjang terpangkas sebagian!

Di bagian lain, Sakawuni yang tidak menyangka akan diserang secara tiba-tiba, tidak sempat lagi berkelit. Maka tanpa ampun lagi terdengar jeritan dari mulutnya. Tubuhnya mencelat hingga tiga tombak ke belakang, serta menyuruk tanah menimbulkan suara berdebam.

Orang yang baru saja datang ternyata seorang laki-laki tua berjubah putih kusam. Di atas kepalanya tampak sebuah caping lebar dari daun pandan. Sehingga, membuat wajahnya hanya tampak sebagian. Berjenggot panjang berwarna putih. Tubuhnya agak bungkuk.

"Restu Canggir Rumekso!" seru Pendekar Mata Keranjang, dalam hati sambil menatap tak berkedip. "Apa maksudnya dengan semua ini? Tampaknya apa yang dikatakan Eyang Wong Agung tentang dia ternyata benar. Hmm.... Aku harus waspada. Rupanya dia berilmu tinggi.... Lantas, ke mana perginya Ajeng Roro...?"

Pendekar Mata Keranjang memandang ke arah belakang, lalu beralih pada Sakawuni yang baru saja bangkit.

"Orang tua!" panggil Pendekar Mata Keranjang, lantang. "Apa kau telah merasa benar dengan tindakan yang baru saja kau lakukan?"

Orang tua bercaping lebar yang memang Restu Canggir Rumekso meluruskan tubuhnya. Lalu kepalanya mendongak seraya tertawa bergelak.

"Pendekar Mata Keranjang! Aku tak mau menilai perbuatanku. Namun satu hal yang sudah pasti, kau telah melakukan kesalahan pada muridku. Maka dari itu, sekarang juga kau harus ikut ke tempatku!"

"Manusia satu ini sulit ditebak jalan pikirannya. Saat bertemu pertama kali dulu, dia tampaknya baik-baik. Hmm..., lalu siapa muridnya? Putri Tunjung Kuning? Orang ini benar-benar licin "

Selagi Pendekar Mata Keranjang berpikir begitu, mendadak sebuah bayangan berkelebat. Dan di kejap lain, telah berdiri tegak di hadapan Restu Canggir Rumekso.

"Orang tua! Harap segera menyingkir dari sini! Jangan cari-cari alasan untuk membawa dan menyelamatkan pemuda itu!" tegur sosok yang baru saja berdiri dan ternyata Sakawuni.

Mendengar teguran ini, Restu Canggir Rumekso terkekeh. Namun belum lenyap kekehannya, capingnya sengaja ditekan turun. Seketika, membuat raut wajahnya hampir tak kelihatan.

"Gadis cantik! Kau bilang aku akan menyelamatkan dia?" tukas Restu Canggir Rumekso seraya menunjuk pada Pendekar Mata Keranjang.

"Kau salah besar! Justru aku menjemputnya agar dia tak lari lagi dari tanggung jawab!"

Sakawuni sejenak memalingkan wajahnya memandang Pendekar Mata Keranjang.

"Apa lagi yang diperbuatnya? Apakah benar yang dikatakan orang tua ini...? Dia sendiri siapa...? Dan siapa juga muridnya...? Seorang gadis?"

Batin Sakawuni terus bertanya-tanya. Namun wajahnya kini sudah dipalingkan ke arah Restu Canggir Rumekso. "Orang tua! Coba katakan perbuatan apa yang dilakukannya!" ujar Sakawuni seraya menarik kedua tangannya, siap melepaskan pukulan apabila orang tua di hadapannya bertindak.

"Gadis cantik! Aku sebetulnya tidak suka membeberkan hal ini. Namun karena kepentingan kita sama, yakni membawa pemuda ini, maka setelah kau nanti mendengar keteranganku, kuharap bersedia melepaskannya untukku. Namun jika kau masih tidak juga melepaskannya untukku, aku tak keberatan membuatmu jadi bangkai!" gertak Restu Canggir Rumekso dengan senyum mengejek.

"Orang tua! Kau terlalu tua untuk menggertak ku. Jangan dikira aku takut. Katakan saja terus terang, apa yang dilakukan pemuda itu! Mungkin, aku nanti bisa mengerti dan melepasnya untukmu. Meski, bukan berarti urusanku dengannya selesai!" balas Sakawuni, sengit.

"Dia telah menghamili muridku!"

Sakawuni kontan ternganga. Kepalanya berdenyut keras. Tubuhnya terlihat bergetar hebat. Bahkan langkahnya surut tiga tindak ke belakang. Dari mulutnya terdengar gumaman yang tak bisa ditangkap telinga.

Mendadak saja Sakawuni berbalik dan berkelebat. Dan di kejap lain, telah berdiri satu langkah tepat di depan Pendekar Mata Keranjang.

Aji yang masih tak mempercayai pendengarannya atas ucapan Restu Canggir Rumekso, terkesiap kaget. Namun belum habis rasa terkejutnya, Sakawuni telah melayangkan tangan kanan ke pipinya.

Plak! Plak!

Tamparan keras tangan kanan Sakawuni sejenak membuat pendekar murid Wong Agung ini bagai orang gagu. Menahan rasa sakit dan terkejut, serta geram. Berkali-kali diusapnya bekas tamparan tangan Sakawuni Sedangkan sepasang matanya membelalak merah, memandang Restu Canggir Rumekso dan Sakawuni bergantian.

"Dengar, Pendekar Mata Keranjang. Masalah kematian guru sebenarnya belum bisa kupastikan orangnya. Mungkin saja kau, dan mungkin saja bukan. Namun pengakuan yang diucapkan orang tua itu, jelas tidak bisa kau pungkiri lagi. Kau harus bertanggung jawab. Kau adalah seorang pendekar! Tunjukkanlah bahwa kau adalah seorang laki-laki bertanggung jawab dan tak mau enaknya saja!" bentak Sakawuni.

Paras Pendekar Mata Keranjang kembali merah padam. Matanya semakin mendelik.

"Sakawuni! Kau tak usah menggurui ku! Lekas tinggalkan tempat ini!" sergah Aji.

Suaranya terdengar parau dan bergetar. Entah jengkel belum bisa menerima hal yang baru saja didengarnya dari Restu Canggir Rumekso, Sakawuni beringsut mundur menjauhi Pendekar Mata Keranjang. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.

"Baiklah. Aku akan meninggalkan tempat ini. Namun, ingat. Masalah kita masih belum selesai! Suatu hari nanti, aku pasti datang!" kata Sakawuni dengan suara ditekan.

Pendekar Mata Keranjang trenyuh melihat sikap Sakawuni. Sepertinya dia sadar kalau sebenarnya Sakawuni mencintainya. Sikap gadis ini yang kasar tadi, hanya karena terdorong cemburu pada Ajeng Roro. Dan Aji segera melangkah mendekati Sakawuni.

"Aku akan ingat baik-baik ucapanmu, Tapi satu hal yang perlu dicamkan, aku belum pernah menggauli seorang perempuan. Apalagi, membunuh gurumu!" ujar Pendekar Mata Keranjang.

Sakawuni terdiam. Kebimbangan jelas nampak di raut wajahnya.

"Hmm   Itu tak perlu kau katakan. Nanti, wak-

tulah yang akan membuktikan!"

Habis berkata begitu, Sakawuni memandang tajam pada Pendekar Mata Keranjang, lalu beralih pada Restu Canggir Rumekso. Lalu tubuhnya berbalik, membuat lompatan beberapa kali, sebelum akhirnya lenyap.

"Restu Canggir Rumekso! Aku tak bisa mengerti, apa maksudmu sebenarnya?!" tanya Pendekar Mata Keranjang minta penjelasan seraya melangkah maju.

Restu Canggir Rumekso tertawa panjang.

"Kau tak akan bisa mengerti, karena kau memang bodoh!" sahut Restu Canggir Rumekso, enteng.

"Jahanam!" hardik Pendekar Mata Keranjang. "Kau cari penyakit!"

"Bukan cari penyakit. Tapi, cari kematianmu!" balas Restu Canggir Rumekso.

Pendekar Mata Keranjang habis kesabaran. Lantas telunjuk jarinya ditudingkan tepat pada muka Restu Canggir Rumekso.

"Kau ternyata manusia munafik. Berbuat baik karena mempunyai maksud-maksud tertentu. Manusia macam kau, terlalu berbahaya jika dibiarkan hidup!"

Kembali Restu Canggir Rumekso hanya tertawa terkekeh mendengar ucapan Pendekar Mata Keranjang.

"Bicaramu terlalu tinggi, Anak Sombong. Kaulah yang membahayakan jika dibiarkan hidup! Karena, kau akan menebar benih di mana-mana tanpa berani bertanggung jawab!"

"Fitnah keji!" desis Pendekar Mata Keranjang marah. Saat itu juga Aji berkelebat, membuat tubuhnya hilang dari pandangan. Namun di kejap lain, tubuhnya mendadak muncul dengan kedua tangan siap menghajar kepala Restu Canggir Rumekso.

Namun yang diserang sepertinya tak mempedulikan. Restu Canggir Rumekso tetap berdiri. Bahkan mengeraskan gelak tawanya. Dan sejengkal lagi hantaman tangan Pendekar Mata Keranjang menghajar kepalanya, tiba-tiba tubuhnya rebah kaku bagai batangan pohon di atas tanah!

Wesss! Wesss!

Hantaman tangan Pendekar Mata Keranjang yang telah dialiri tenaga dalam hanya menghajar angin di atas tubuh Restu Canggir Rumekso.

"Sial! Rupanya dia memang tokoh yang sulit diduga, baik jalan pikiran atau ilmunya...," maki batin Pendekar Mata Keranjang seraya berbalik dan meloncat setengah tombak ke udara.

Dan tiba-tiba saja Pendekar Mata Keranjang menaikkan kedua kakinya ke depan. Kini tubuhnya seakan melayang deras satu jengkal di atas tanah, menyusur ke arah Restu Canggir Rumekso yang masih kaku rebah di atas tanah.

Namun, Pendekar Mata Keranjang dibuat terkejut bukan kepalang. Karena begitu kedua kakinya hampir menggebrak, dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata orang tua itu bergerak cepat. Tubuhnya melesat ke udara, membuat gerakan berputar satu kali. Lalu tiba-tiba tubuhnya menukik deras ke arah punggung Pendekar Mata Keranjang yang kini tengah melayang menyusur di atas tanah.

Aji tersentak kaget dan cepat berpaling. Orang tua yang disangkanya akan terhajar kedua kakinya, kini menerjang ke arahnya! "Bedebah!"

Hanya itu suara yang terdengar dari mulut Pendekar Mata Keranjang. Karena sesaat kemudian, punggungnya terasa ambrol dan tubuhnya melesat lebih kencang ke depan.

Bukan hanya sampai di situ. Sebelum Pendekar Mata Keranjang sempat mengerahkan tenaga dalam untuk menghentikan gerak laju tubuhnya, Restu Canggir Rumekso telah berkelebat cepat. Dan tahutahu, sepasang kakinya telah menjepit ketat leher Pendekar Mata Keranjang!

Dengan menindih rasa tercekat, Pendekar Mata Keranjang mengeluarkan bentakan-bentakan menggeledek sambil menghantamkan kedua tangannya ke arah tubuh Restu Canggir Rumekso yang kini duduk di atas lehernya. Namun hantaman-hantaman itu seakan tak dirasakan Restu Canggir Rumekso. Bahkan tatkala orang tua itu menghentakkan sepasang kakinya ke samping, Pendekar Mata Keranjang tak bisa lagi menahan tubuhnya. Hingga tak ampun lagi, tubuhnya terbanting keras di atas tanah!

"Jangkrik! Gerakannya seperti setan. Leherku bagai hendak putus!" keluh Pendekar Mata Keranjang, sambil merambat bangkit.

Namun baru saja bangkit, tubuh Aji oleng kembali dan jatuh terkapar!

Untuk beberapa saat Pendekar Mata Keranjang tak bergerak di atas tanah. Kepalanya terasa berputarputar. Lehernya panas bagai terjilat api. Sementara punggungnya serasa jebol. Dan begitu kelopak matanya membuka pandangannya berkunang-kunang. Tanah tempatnya terkapar seperti berputar.

Pada saat demikian itulah, terdengar gelak tawa Restu Canggir Rumekso. Lalu, terdengar langkahlangkah berat mendatangi. Dan sebelum Pendekar Mata Keranjang bergerak hendak mengetahui apa yang dilakukan Restu Canggir Rumekso, sebuah tangan terasa mengambil kepalanya. Lalu, tiba-tiba saja sebuah tangan lain menghantam deras dadanya.

Des! "Ukhhh...!"

Pendekar Mata Keranjang merasa dadanya tertimpa beban berat. Tubuhnya melayang. Dan sebelum jatuh di atas tanah, dia tak merasakan apa-apa lagi. Pandangannya seketika gelap.

Melihat lawan roboh, Restu Canggir Rumekso menghentikan gelak tawanya. Kakinya melangkah mendekati tubuh Pendekar Mata Keranjang yang telah terpuruk di atas tanah.

Sejenak orang tua bercaping ini melihat Pendekar Mata Keranjang. Matanya yang sayu sejenak menelusuri sekujur tubuh pemuda di hadapannya, lalu jongkok. Diraba-rabanya tubuh Aji.

Sesaat kemudian, wajah orang tua ini tampak meredup, menandakan rasa kecewa. Entah marah entah kecewa, kedua tangannya segera meraba-raba kembali sekujur tubuh Pendekar Mata Keranjang. Namun, kali ini dengan sentakan-sentakan keras. Sehingga, pakaian Pendekar Mata Keranjang tampak centang perentang tak karuan.

"Setan alas! Dia tidak membawa benda itu!" gerutu Restu Canggir Rumekso.

Orang tua ini pun bangkit. Dicampakkannya kipas hijau milik Pendekar Mata Keranjang.

"Bukan kipas butut ini yang kucari!" dengus Restu Canggir Rumekso, seraya melangkah pergi meninggalkan Pendekar Mata Keranjang. "Untuk kali ini, nyawanya masih ku tunda. Aku masih mengharapkan sesuatu darinya!"

Namun seakan tidak percaya, orang tua ini kembali melangkah mendekati Aji. Tapi niatnya segera diurungkan tatkala telinganya menangkap suara langkah dan orang berseru memanggil.

"Aku mendengar akan ada orang yang datang. Hmm..., aku sebaiknya pergi sekarang. Masih ada masalah penting yang harus kuselesaikan. Merawat Putri Tunjung Kuning, hingga jabang bayinya lahir. Hmm, aku akan mempunyai seorang murid! Firasat ku mengatakan, jabang bayi dalam kandungan gadis itu mempunyai keanehan dan keajaiban "

Berpikir begitu, Restu Canggir Rumekso segera berkelebat menghilang dari tempat Pendekar Mata Keranjang 108 terkapar.

9

Ajeng Roro tampak duduk tepekur di depan gubuk. Sesekali pandangan matanya berpaling ke belakang. Namun ketika pandangannya tak juga menangkap sosok yang diharapkan, wajahnya yang cantik terlihat cemberut.

"Manusia satu itu memang suka menggoda. Hingga bagaimanapun rasa jengkel yang telah lama kupendam, tatkala bertemu orangnya, kejengkelan itu lenyap seketika. Hmm.... Apakah dia akan di sini terus? Ah! Betapa senangnya jika demikian "

"Roro "

Sebuah suara berat dari dalam menyentakkan lamunan Ajeng Roro.

"Kulihat kau tadi menyusul Aji. Mana anak itu...?" tanya suara yang berasal dari mulut Eyang Selaksa.

Ajeng Roro tidak segera menjawab. Dibasahinya

bibirnya sebentar.

"Ngg... Tadi, kulihat dia juga melangkah ke arah sini...," sahut Ajeng Roro setelah berhasil menguasai rasa gugupnya.

"Aneh?! Kalian ini ada apa sebenarnya...? Sejak bertemu di sini, kalian berdua seperti kucing bertemu tikus...," desah Eyang Selaksa.

Ajeng Roro sepertinya tidak mengindahkan kata-kata dari dalam gubuk. Karena saat itu, pikirannya berkata-kata sendiri.

"Jangan-jangan dia jengkel dengan sikapku tadi, yang memberosot dari "

Ajeng Roro tidak meneruskan kata hatinya. Wajahnya merona merah.

"Jangan-jangan   dia   mendapat   halangan ,"

gumam gadis ini, tercenung sejenak. "Jika tak ada apaapa, tentunya dia telah sampai di sini. Atau kalau menggoda, tentunya telah berbuat yang tidak-tidak....

Hm   Sebaiknya aku kembali ke tempat tadi!"

Gadis cantik ini lantas berdiri. Matanya menatap sebentar ke arah gubuk, lalu berbalik dan berkelebat ke arah dia tadi datang.

"Roro...," panggil suara dari dalam gubuk. "Apa tak sebaiknya kau kembali melihat "

Suara Eyang Selaksa dari dalam gubuk terhenti seketika. Tak lama Orang tua itu muncul dari dalam gubuk. Matanya sebentar memandang berkeliling, lantas menggeleng-geleng.

"Dasar anak muda...!" desah Eyang Selaksa seraya kembali masuk ke dalam gubuk.

Di tempat lain, begitu dari kejauhan Pendekar Mata Keranjang 108 tampak terkapar di atas tanah, Ajeng Roro mempercepat larinya.

"Astaga! Apa yang terjadi dengan dirinya...?

Tampaknya dia "

Begitu tiba, Ajeng Roro cepat jongkok di samping tubuh Aji. Lalu matanya berputar menyelidik ke sekeliling. Pendengarannya dipasang baik-baik. Namun hingga agak lama, tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Segera wajahnya dipalingkan pada Aji. Kedua tangannya bergerak memeriksa.

"Dia pingsan. Tubuhnya tampaknya terluka....

Siapa yang melakukannya...? Jika berniat jahat, kenapa dia dibiarkan begitu saja. ? Lagi pula, kipas ini juga

tak diambil!"

Ajeng Roro lantas mengambil kipas hijau milik Aji dan menyimpannya di balik pakaian.

Saat itulah terdengar erangan dari mulut Aji. Kedua mata Pendekar Mata Keranjang lantas perlahan terbuka, memandang langit.

"Aji..., apa yang terjadi? Dan siapa yang melakukan ini ?" tanya Ajeng Roro langsung.

Kedua mata Aji berputar. Lalu ditatapnya Ajeng Roro. Sejenak mata itu menyipit, lalu membelalak.

"Roro "

Sebuah suara meluncur dari mulut pemuda itu. Ajeng Roro tersenyum, lalu mengangguk perla-

han.

"Siapa orang yang berniat jahat padamu, Aji?" Pendekar Mata Keranjang tak menjawab. Tu-

buhnya bergerak bangun, dan duduk. Keningnya mengernyit. Bibirnya meringis menahan sakit yang mendera punggung dan dadanya. Dia terbatuk beberapa kali, lalu meludah ke tanah. Ternyata, ludahnya telah bercampur darah, pertanda terluka dalam. Menyadari hal itu, Pendekar Mata Keranjang segera menyalurkan tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit.

"Orang tua gila! Aku tak menduga jika dia berkepandaian begitu tinggi. Hmm..., aku harus menyelamatkannya...," gumam Pendekar Mata Keranjang setelah dapat menguasai rasa nyeri di dadanya.

"Orang tua...? Orang tua siapa...? Dan, siapa pula yang harus kau selamatkan...?" desak Ajeng Roro, tak mengerti gumaman Pendekar Mata Keranjang.

Sejenak Pendekar Mata Keranjang menatap gadis di sampingnya.

"Waktu aku akan melangkah menyusulmu, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat menghadangku. Aku sempat bertukar beberapa jurus dengannya. Namun, aku tak menduga sama sekali jika dia berilmu demikian tinggi...," jelas Aji

"Kau kenal dengannya? Apa dia musuhmu...?" tanya Ajeng Roro.

Pendekar Mata Keranjang mengangguk lalu menggeleng, membuat Ajeng Roro keheranan.

"Aku mengenalnya. Namanya, Restu Canggir Rumekso. Dia bukan musuhku. Karena, antara aku dan dia tidak ada silang sengketa!" jelas Aji, tetap memandangi wajah Ajeng Roro. Dan gadis ini jadi jengah sendiri.

"Lantas, kenapa dia berbuat kejam padamu...?" cecar Ajeng Roro.

Pendekar Mata Keranjang menggeleng.

"Itulah yang tak habis ku mengerti! Dia tibatiba saja menyerangku "

Aji lantas memperhatikan pakaiannya. Dahinya berkernyit. Dan tiba-tiba dia teringat pada kipas miliknya. Serta merta tangannya bergerak meraba di balik pakaiannya yang tampak centang perentang. Sekejap wajahnya berubah, karena tak menemukan kipasnya. "Kau mencari barang mu...?" tanya Ajeng Roro. Pendekar Mata Keranjang tersenyum lebar,

membuat Ajeng Roro semakin keheranan.

"Orang ini benar-benar edan! Dalam keadaan begini masih bisa senyum-senyum....," gumam gadis itu, tak diungkapkan lewat mulutnya.

"Barang ku rasa-rasanya masih ada dan tetap utuh. Apa kau tidak merasakannya?" seloroh Pendekar Mata Keranjang sambil melirik ke bawah.

"Edan! Mulutmu kotor...," cibir Ajeng Roro seraya mengalihkan pandangan. Karena tatkala mengikuti arah pandangan Aji, mata pemuda itu berhenti pada pangkal pahanya.

Namun hal itu hanya berlangsung sekejap. Di kejap lain, Pendekar Mata Keranjang tampak bingung.

"Kau melihat senjataku...?" tanya Aji.

Yang ditanya tidak menjawab, dan juga tidak menoleh. Ajeng Roro terlihat menyembunyikan wajahnya yang merah padam.

"Roro...," panggil Aji bersungguh-sungguh. "Kau melihatnya...?"

"Bukankah kau tadi mengatakannya sendiri? Kenapa sekarang berkata?" tukas Ajeng Roro acuh. Padahal sebenarnya dia tahu yang dimaksud senjata oleh Aji adalah kipas.

"Ngg.... Yang ku maksud, kipas ku "

Ajeng Roro segera mengeluarkan kipas milik Pendekar Mata Keranjang dari balik pakaiannya. Segera benda itu diangsurkan pada Aji.

Sambil menarik napas lega, Pendekar Mata Keranjang mengambil kipasnya dan menyimpan di balik pakaian.

"Hmm.... Aku tak mengerti, apa tujuan sebenarnya manusia bernama Restu Canggir Rumekso itu. Kalau memang berniat jelek, tentunya mudah baginya membunuhku saat aku pingsan tadi. Juga, tampaknya dia tak tertarik dengan kipas ini. Nyatanya, kipas ini tidak diambilnya...," gumam Pendekar Mata Keranjang dalam hati.

"Namun, aku menangkap sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Menghadapinya benar-benar dibutuhkan akal sehat.... Aku akan menyelidikinya. Karena, akulah yang bertanggung jawab atas keselamatan Putri Tunjung Kuning  "

"Eh! Kau melamunkan seseorang ?" usik Ajeng

Roro membuyarkan lamunan Pendekar Mata Keranjang.

Untuk menyembunyikan rasa terkejut, Pendekar Mata Keranjang tersenyum lebar.

"Di sampingku ada gadis cantik. Untuk apa melamunkan seseorang?"

"Kau telah agak baikan?" tanya Ajeng Roro, mengalihkan pembicaraan. "Eyang Selaksa mengkhawatirkan kau!"

Sambil berkata begitu, Ajeng Roro bangkit dan melangkah ke arah Kampung Blumbang. "Eyang Selaksa atau "

Pendekar Mata Keranjang tak meneruskan ucapannya. Karena pada saat itu, Ajeng Roro telah berbalik dan membelalakkan sepasang matanya.

Selagi mereka berdua saling berpandangan begitu, sebuah bayangan berkelebat.

"Anak-anak konyol! Ada apa ini ?"

"Eyang...," desah Pendekar Mata Keranjang, seraya bangkit dan melangkah mendekati. "Aku akan mohon diri sekarang.... Ada sesuatu yang harus kuselesaikan "

Habis bicara, Pendekar Mata Keranjang menjura hormat pada sosok yang baru datang yang tak lain Eyang Selaksa. Orang tua ini sebentar memandang pada Pendekar Mata Keranjang, lalu beralih pada Ajeng Roro.

"Kau hendak ke mana...?" tanya Eyang Selaksa. "Aku harus pergi ke Dusun Amadanom. Dan,

maaf. Aku tak bisa menceritakan hal ini sekarang...," jelas Aji.

Eyang Selaksa hanya mengangguk.

"Kalau itu memang demi kebaikan, pergilah "

Sementara itu, Ajeng Roro yang tak menduga secepat itu Aji mengambil keputusan untuk pergi, segera menundukkan kepala. Wajahnya redup. Bias kekecewaan jelas terpancar dari sikapnya.

"Eyang, Roro.... Aku pergi sekarang...," pamit

Aji.

Habis berkata, sejenak Pendekar Mata Keran-

jang menatap Ajeng Roro.

Seperti tahu, gadis itu mengangkat kepalanya, memandang Aji.

Pendekar Mata Keranjang tersenyum. Namun, Ajeng Roro tidak membalas. Hingga untuk beberapa saat, kedua orang ini saling pandang. Satunya tersenyum, satunya cemberut.

Melihat suasana kaku, Eyang Selaksa batukbatuk beberapa kali. Dan membuat Pendekar Mata Keranjang tahu diri. Tubuhnya segera berbalik, lantas melangkah meninggalkan Eyang Selaksa dan Ajeng Roro.

"Roro   Kau tampaknya bersedih. Aku tahu pe-

rasaanmu. Tapi, kau harus dapat mengerti jiwa seorang pendekar. Dia harus ada di tempat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan berlangsung. Kau paham maksudku ?" tegur Eyang Selaksa. Ajeng Roro mengangguk, meski matanya masih menatap punggung Aji yang makin lama makin kecil, sebelum akhirnya hilang dari pandangan.

"Apakah kita akan tetap di sini...?" lanjut Eyang Selaksa, begitu agak lama Ajeng Roro tidak juga beranjak dari tempatnya.

Dengan raut merah padam, Ajeng Roro cepat melangkah mendatangi Eyang Selaksa. Dua langkah lagi, gadis ini nampak tersenyum. Lantas tangannya menggandeng tangan Eyang Selaksa. Dan mereka pun melangkah menuju Kampung Blumbang.

10

Lembah Bandar Lor tampak hitam pekat diselimuti awan hitam yang menggantung. Suara guntur menggelegar terdengar bersahutan, menyalak bagai tak habis-habisnya. Lidah petir sambung menyambung, seakan ingin melahap bumi dan isinya. Udara dingin yang berhembus kencang, membuat keadaan semakin mencekam.

Di dalam sebuah gua di ujung lembah yang hanya diterangi sebuah obor yang ditancapkan begitu saja di sela batu, samar-samar terlihat dua orang sedang duduk berhadapan.

Namun, ada sesuatu yang membuat mata seakan tak percaya. Salah seorang di antaranya, ternyata duduk di atas sebuah tiang kecil. Dan ternyata, tiang kecil yang dibuat duduk adalah sebuah tombak yang menancap hampir setengah ke dalam tanah dalam gua. Hebatnya, tombak yang pangkalnya membentuk sekuntum bunga berwarna hitam itu tidak terus amblas ke dalam tanah. Sedangkan sosok yang duduk juga terlihat tenang-tenang saja.

Melihat hal ini, bisa dibayangkan kalau sosok yang duduk tentu seorang memiliki ilmu meringankan tubuh yang benar-benar sempurna. Dan mungkin hanya satu dua orang yang bisa melakukannya.

Yang duduk di atas tombak ternyata seorang perempuan. Usianya tidak mudah untuk ditebak. Karena, wajahnya ditutupi bedak tebal. Bibirnya yang tebal sebelah atas berwarna merah menyala. Rambutnya panjang sebahu. Tapi, rambut bagian atasnya dipotong amat pendek, hingga jabrik! Sepasang matanya lebar. Hidungnya mancung, tapi bengkok. Dan yang membuat semakin janggal, ternyata tubuhnya pendek! Dalam kancah dunia persilatan, wanita pendek yang bernama asli Kunyil ini berjuluk Bawuk Raga Ginting.

Sementara orang satunya yang duduk di hadapan dengan Bawuk Raga Ginting adalah pemuda berwajah tampan. Pakaiannya putih. Sepasang matanya tajam dengan alis tebal. Rambutnya panjang sebahu.

"Pandu...!"

Setelah saling berdiam diri agak lama, Bawuk Raga Ginting yang duduk di atas tombak membuka mulut, membuncah kesunyian yang sesekali hanya dipecahkan oleh suara guntur menggelegar.

"Kau telah melaksanakan tugas membawa penggalan kepala Ageng Panangkaran. Maka seperti janji ku padamu, mulai saat ini kau kuangkat menjadi muridku!" lanjut perempuan pendek itu.

"Terima kasih..., Guru...!" ucap pemuda yang memang Pandu, bekas murid Ageng Panangkaran, seraya menjura hormat.

"Pandu.... Sekarang, jawablah dengan jujur. Dari mana sebenarnya  kau mengetahui tempat dan namaku...?" ujar Bawuk Raga Ginting.

Pandu tidak segera menjawab. Wajahnya tampak bimbang.

"Setelah terjadi peristiwa perselisihan dengan adik seperguruanku, aku yang sejak semula mencurigai Ageng Panangkaran menyembunyikan sesuatu, menyelidik ke ruangannya. Namun, ternyata apa yang kuduga meleset. Sampai akhir hayatnya, ternyata Ageng Panangkaran tak menyembunyikan sesuatu yang kuduga berupa kitab atau benda pusaka. Yang kutemukan hanyalah sebuah buku kecil. Setelah kubuka, ternyata hanya berisi nama-nama orang...," jelas Pandu setelah agak lama dengan suara bergetar.

"Hmm..., lantas kenapa kau memilih ku...?" tanya Bawuk Raga Ginting.

Sementara sambil bertanya, mata perempuan pendek ini tak berkedip menatap pemuda yang kini telah diangkat menjadi muridnya.

"Aku memilihmu, karena dari sekian namanama itu, hanya ada dua nama yang diberi bundaran merah tebal. Aku berpikir, nama yang diberi bundaran merah adalah nama yang paling menonjol. Dan berarti, orangnya pun demikian juga," papar pemuda itu.

"Selain namaku, siapa lagi nama lainnya...?" desak Bawuk Raga Ginting.

"Restu Canggir Rumekso...," sahut Pandu, per-

lahan.

Bawuk Raga Ginting manggut-manggut. Dalam

hati manusia pendek ini memuji kalau pemuda ini cerdik juga. Selain itu, tampaknya juga licik. Hanya saja, Pandu pandai menyembunyikannya. Dan memang, orang seperti inilah yang diinginkan Bawuk Raga Ginting.

"Kira-kira siapa sebenarnya yang membunuh Ageng Panangkaran...?" tanya perempuan pendek itu.

Pandu menggeleng perlahan.

"Hanya saja, waktu itu aku mendapati seorang pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang berada di samping mayat Ageng Panangkaran...," jelas Pandu.

"Tunggu!" seru Bawuk Raga Ginting tiba-tiba seakan terkejut. "Kau menyebut Pendekar Mata Keranjang. Apakah dia yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir dalam rimba persilatan...?"

Pandu menyeringai tak senang. Namun akhirnya menganggukkan kepala.

"Aku menyirap kabar di luaran, Pendekar Mata Keranjang berhasil mengikis habis tokoh dan momok rimba persilatan yang bergelar Malaikat Berdarah Biru. Apa benar demikian...?" sahut Bawuk Raga Ginting.

"Itu hanya kabar yang beredar di luaran. Namun, yang terjadi sebenarnya sulit diduga...," kata Pandu dengan suara agak berat. Pelipisnya terlihat bergerak-gerak. Dagunya terangkat membatu. Sementara, alis matanya menukik bertautan, seakan-akan menahan hawa amarah besar.

Melihat perubahan pada wajah muridnya setiap kali membicarakan Pendekar Mata Keranjang, membuat Bawuk Raga Ginting sedikit heran.

"Dari raut wajahmu, sepertinya kau tidak senang dengan pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang. Apakah "

"Dialah pemuda yang mengecewakan hatiku! Adik seperguruanku yang kucintai, ternyata jatuh cinta padanya.... Dan aku akan berusaha, bagaimanapun caranya untuk membalas pemuda keparat itu !"

Belum habis Bawuk Raga Ginting bicara, Pandu telah menyela dengan suara sedikit keras, untuk menindih luapan amarahnya. Bawuk Raga Ginting tertawa ngikik.

"Kau tak usah khawatir, Pandu! Segala yang kau inginkan, pasti akan tercapai. Aku akan menurunkan segala ilmuku padamu. Namun, kau harus mengerti. Setelah lancar, kau harus turuti segala perintahku! Kalau coba-coba membelot, aku tak segansegan membunuhmu!" kata Bawuk Raga Ginting tegas. "Aku mendengarkan mu, Guru. Segala keingi-

nan dan perintahmu akan ku turuti...," sahut Pandu, mantap.

"Bagus! Namun, kau harus sungguh-sungguh! Karena masalah yang akan kuhadapi sangat berat! Tapi, aku percaya kau akan berhasil menghadapinya!"

Pandu yang mendengarkan keterangan Bawuk Raga Ginting sedikit terkejut.

"Guru! Kalau boleh tahu, kira-kira tugas apa nantinya yang harus kulakukan...?!" tanya Pandu hatihati, takut gurunya tersinggung.

Bawuk Raga Ginting menatap lekat-lekat wajah muridnya. Sebentar kemudian pandangan matanya beralih memandang ke lobang gua, dan tembus ke luar. Seolah-olah dia tengah mengingat-ingat masa lalunya, yang kini membayang jelas di pelupuk matanya.

"Dengar, Pandu. Bertahun-tahun aku hidup menyendiri dengan menyimpan dendam membara. Aku sebenarnya tahu, siapa pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang itu. Karena, dia sebenarnya adalah murid Jayang Parama, tokoh yang akhirnya terkenal bergelar Wong Agung dari Karang Langit. Waktu itu, dalam rimba persilatan beredar kabar bahwa senjata ciptaan Eyang Empu Jaladara jatuh ke tangan Wong Agung. Aku yang waktu itu juga mencari jejak senjata ciptaan Empu Jaladara, pada akhirnya bertemu Wong Agung. Namun, nyatanya aku tak bisa menaklukkannya."

Sejenak Bawuk Raga Ginting menghentikan ce-

ritanya. Sepertinya, dia berusaha mengumpulkan segala ingatannya untuk diungkapkan pada muridnya.

"Di lain pihak, juga tersiar kabar kalau senjata ciptaan Empu Jaladara lainnya berada di tangan Ageng Panangkaran. Menurut kabar itu, aku pun mencari Ageng Panangkaran. Tapi, lagi-lagi aku gagal. Karena waktu itu, Ageng Panangkaran ternyata juga dibantu gurunya Junjung Balaga! Maka sejak saat itulah aku hidup menyendiri, memendam, dendam pada mereka. Sekarang tersiar kabar kalau senjata itu jatuh ke tangan Pendekar Mata Keranjang dan Malaikat Berdarah Biru. Dan jika benar kabar Malaikat Berdarah Biru telah takluk di tangan pendekar sialan itu, berarti semua senjata ciptaan Empu Jaladara sekarang berada di tangannya. Dengar! Aku sekarang tidak menginginkan senjata itu. Yang kuinginkan sekarang adalah, kepala Wong Agung! Selain itu, masih banyak lagi. Dan kau akan tahu sendiri nantinya. Yang jelas mereka adalah orang-orang yang dahulu menyingkirkan ku dari pergaulan. Bahkan menghina karena aku begini...," lanjut Bawuk Raga Ginting, menuntaskan ceritanya.

Pandu mendengarkan keterangan gurunya dengan seksama. Seakan-akan dia ikut larut dengan apa yang dirasakan gurunya.

"Jika saja aku sekarang mampu, sekarang juga akan berangkat mencari kepala Wong Agung serta orang-orang yang mengecewakan hatimu!" tegas Pandu, setelah agak lama.

Bawuk Raga Ginting tertawa keras mendengar kata-kata Pandu. Sehingga, tubuhnya terlihat berguncang-guncang. Namun anehnya, tombak yang diduduki tak bergeming dan tak amblas!

"Semangat mu berkobar-kobar dan keberanianmu besar! Aku tak salah mengangkatmu jadi murid. Hik... hik... hik...!"

"Guru! Ada satu hal lagi. Siapa orang yang bernama Restu Canggir Rumekso itu...?" tanya Pandu, di sela-sela tawa Bawuk Raga Ginting.

Tawa Bawuk Raga Ginting terputus, ketika mendengar pertanyaan Pandu. Sepasang matanya yang lebar membeliak merah. Dahinya mengernyit, membuat bedak di wajahnya luruh. Tubuhnya bergetar hebat. Sehingga tombak di bawahnya amblas ke dalam tanah, menyisakan pangkalnya yang berupa sekuntum bunga berwarna hitam.

"Dia adalah pemuda yang dulu pernah kucintai. Namun, dia menolak dan menghinaku. Untuk dia, biar aku sendiri nantinya yang mengurus...," jelas Bawuk Raga Ginting, setelah dapat menguasai gejolak yang nampaknya mendera hatinya.

Kembali suasana jadi hening.

"Pandu!" panggil Bawuk Raga Ginting setelah keduanya agak lama diam. "Lepas baju atasmu. Kita mulai latihan sekarang!"

Sejak hari itu, Pandu memulai hari-hari barunya di Lembah Bandar Lor. Dia berlatih di bawah bimbingan tokoh aneh berjuluk Bawuk Raga Ginting.

11

Begitu agak jauh meninggalkan Kampung Blumbang, Pendekar Mata Keranjang 108 memperlambat larinya. Bahkan kini terlihat melangkah perlahan. Sambil berkipas-kipas. Mulutnya mengumandangkan nyanyian yang tak jelas di telinga.

"Restu Canggir Rumekso.... Aku harus segera menemukan tempat tinggalnya. Aku selalu mengkhawatirkan keadaan Putri Tunjung Kuning. Apalagi, katanya dia sedang hamil.... Siapa kira-kira ayah jabang bayi dalam kandungannya?" kata batin Pendekar Mata Keranjang sambil terus melangkah.

Namun langkah Aji mendadak tertahan tatkala kedua telinganya menangkap suara mencurigakan. Sambil tetap mendendangkan nyanyiannya, murid Wong Agung ini cepat berbalik.

Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang serentak terbelalak hampir tidak percaya. Matanya dikucek-kucek, seakan ingin meyakinkan. Dan nyatanya pandangan matanya tidak menipu.

Di hadapan Aji, kira-kira sepuluh langkah tampak berdiri tegak seorang gadis cantik jelita berpakaian putih-putih. Di lehernya, melingkar untaian kalung dari bunga-bunga berwarna hitam. Sementara di atas telinga kirinya, juga menyelip sekuntum bunga berwarna hitam.

"Pendekar Mata Keranjang! Kau tak akan bisa lari dari mataku!" tegur gadis berbaju putih ini dengan nada tinggi.

"Ratu Sekar Langit...," sebut Pendekar Mata Keranjang, memandang tak berkedip. "Gadis ini tak kenal menyerah. Terpaksa kali ini aku akan turuti permintaannya, daripada masalah ini tak ada ujung pangkalnya...," kata batin Pendekar Mata Keranjang sambil tersenyum lebar.

"Laki-laki pembual! Kali ini kau tak akan lolos lagi!" teriak Ratu Sekar Langit.

Seraya berkata, gadis ini segera menarik kedua tangannya, siap melepaskan pukulan.

"Tunggu!" tahan Pendekar Mata Keranjang. Cepat kipasnya dilipat dan disimpan di balik baju hijaunya.

Ratu Sekar Langit mengurungkan niat. Namun, tangannya tetap siap. Sepasang matanya tetap menatap menyelidik.

"Dengar, Ratu Sekar Langit. Aku memang sedang dalam perjalanan ke tempatmu. Karena, urusanku yang kukatakan dahulu telah selesai "

Paras Ratu Sekar Langit menjadi berubah seketika. Matanya yang bulat memperhatikan sejenak, seolah belum yakin. Tapi begitu Pendekar Mata Keranjang tetap tersenyum dan malah mendekat ke arahnya, dia terlihat sedikit gugup salah tingkah.

"Ucapanmu bisa dipercaya...?" tanya Ratu Sekar Langit. Tatapannya menusuk bola mata Pendekar Mata Keranjang.

Murid Wong Agung ini hanya mengangguk. "Kita berangkat sekarang...?" tantang Pendekar

Mata Keranjang seperti bersungguh-sungguh meski dalam hati masih bingung tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Seolah tersentak dari rasa terkejut, Ratu Sekar Langit menggumam pelan seraya memalingkan wajahnya.

"Hmm... Gadis ini benar-benar cantik. Dadanya dari arah samping begitu kencang menantang. Pinggulnya besar. Dan, hm... Bau harum tubuhnya menyeruak sampai sini "

Sambil membatin begitu, sepasang mata Pendekar Mata Keranjang tak henti-hentinya menatap. Dan ini membuat gadis yang ditatap semakin salah tingkah. "Pendekar Mata Keranjang. Maafkan perlakuanku padamu selama ini...," ucap Ratu Sekar Langit sambil melirik.

"Tak ada yang perlu dimaafkan. Yang salah sebenarnya aku...," sahut Pendekar Mata Keranjang, mengerdipkan sebelah matanya.

"Pemuda ini menarik. Tak heran jika banyak gadis yang menyukainya.... Dan aku sendiri, sepertinya tak bisa melupakannya...," kata batin Ratu Sekar Langit. Dengan berusaha menghilangkan sikap salah tingkahnya, Ratu Sekar Langit tersenyum manis pada Pendekar Mata Keranjang.

"Silakan kau berjalan di muka...," ujar gadis ini. "Ah! Kata-katamu masih menyimpan rasa curi-

ga padaku. Kau tak perlu curiga dan khawatir jika aku lari. Bagaimana jika kita jalan bersamaan...? Aku sudah lama tak pernah jalan-jalan dengan gadis cantik...," desah Pendekar Mata Keranjang, menggemaskan.

Wajah Ratu Sekar Langit mendadak bersemu merah mendengar pujian Pendekar Mata Keranjang. Dan sebelum menyatakan persetujuannya, Aji telah menjajarinya.

Kini mereka tampak berjalan seiring. Namun hingga beberapa lama, tidak ada seorang pun yang bersuara. Mereka tampaknya seperti terbuai angan masing-masing.

"Bagaimana sekarang...?" tanya batin Pendekar Mata Keranjang. "Apa aku ke tempatnya dahulu, yang berarti tujuanku ke lereng Gunung Mahameru tertunda. Atau, aku akan memuslihatinya dan meninggalkannya? Tapi, itu akan berakibat lebih parah lagi. Karena, dia pasti akan tetap mencariku.... Hmm..., bagaimana kalau dia kuajak serta ke lereng Gunung Mahameru mencari tempat tinggal Restu Canggir Rumekso?"

Sementara Pendekar Mata Keranjang membatin, Ratu Sekar Langit pun membatin.

"Aku heran. Jika sudah berdua dengannya, sepertinya kehabisan bahan untuk bicara...," keluh Ratu Sekar Langit.

"Ratu Sekar Langit...!" panggil Pendekar Mata Keranjang, memecah kekakuan. "Kalau boleh tahu, apa kau masih berniat mendirikan perguruan silat...?"

"Benar! Itu memang cita-citaku sejak kecil. Kau mau membantuku, bukan...? Perguruan itu nantinya akan kita pimpin bersama. Dan kau bisa menetap di istanaku...!" sahut Ratu Sekar Langit, lugas.

Pendekar Mata Keranjang tertawa perlahan, mendengar tawaran Ratu Sekar Langit. Dan ini membuat gadis itu memalingkan wajahnya.

"Sayang sekali, aku tidak bisa menerima tawaran baikmu itu, Ratu Karena, aku masih suka hidup

begini. Ke sana kemari, tanpa ada yang mengikat. Lagi pula, tak layak pemuda macam aku mendampingi gadis cantik sepertimu! Kalau kau suka, aku punya beberapa kenalan yang mungkin cocok mendampingimu!" tolak Pendekar Mata Keranjang, halus.

Wajah Ratu Sekar Langit meredup tiba-tiba. Ditariknya napas dalam-dalam. Tapi sepasang matanya tiba-tiba mendelik.

"Pendekar Mata Keranjang! Sejak kapan kau berubah jadi calo jodoh?!"

"Sejak bertemu kau!" jawab Pendekar Mata Keranjang, seenaknya.

Sebuah cubitan segera hinggap di lengan Pendekar Mata Keranjang. Seketika murid Wong Agung ini memekik perlahan. "Ratu Sekar Langit! Kita lupakan dulu soal perguruan silatmu. Terus terang, aku sebenarnya hendak ke Dusun Amadanom yang terletak di lereng Gunung Mahameru. Aku..., ada hal yang harus kuselesaikan...," kata Pendekar Mata Keranjang terus terang.

Terkejutlah Ratu Sekar Langit mendengar katakata Pendekar Mata Keranjang

"Jadi, kau akan mungkir lagi...?" tukas Ratu Sekar Langit dengan nada tinggi.

"Tidak! Namun jika kau mau mengerti, aku akan ke sana dahulu. Lantas, setelah itu akan ke istanamu!" jelas Aji.

Ratu Sekar Langit menghela napas dalamdalam. Matanya memandang jauh. Lalu kepalanya menggeleng.

"Pendekar Mata Keranjang. Bagaimana kalau aku ikut serta denganmu? Kau tak keberatan, bukan...?" tanya Ratu Sekar Langit.

Pendekar Mata Keranjang tidak bisa segera menjawab. Hingga mungkin karena tidak sabar menunggu jawaban, Ratu Sekar Langit yang berdiri tepat di depan segera mencekal bahu Pendekar Mata Keranjang.

"Kau tidak keberatan bukan...?" desak Ratu Sekar Langit, semakin mengencangkan cekalan tangannya.

"Baik-baik. Tapi, lepaskan dulu cekalan tanganmu. Kalau ingin cekal, yang lain saja...," jawab Pendekar Mata Keranjang, bercanda.

Entah gembira entah karena disengaja, mendadak Ratu Sekar Langit melepaskan cekalan tangannya pada lengan Pendekar Mata Keranjang. Namun mendadak dia bergerak merangkul tubuh pemuda itu.

Dada Pendekar Mata Keranjang menggemuruh seketika. Jantungnya berdetak makin kencang. Lebihlebih, tatkala dada membusung indah milik Ratu Sekar Langit menempel rapat di dadanya.

"Pendekar Mata Keranjang...," bisik Ratu Sekar Langit, perlahan. "Terima kasih kau mau mengajakku ikut serta "

Karena begitu tercekat, membuat Pendekar Mata Keranjang tak segera menjawab kata-kata Ratu Sekar Langit. Hanya kedua tangannya lantas bergerak ke belakang tubuh Ratu Sekar Langit, dan menekannya.

Ratu Sekar Langit sepertinya terlena. Tubuhnya makin dirapatkan. Lalu, kepalanya terangkat menengadah. Sementara, dadanya makin berguncang keras.

Pendekar Mata Keranjang merundukkan kepalanya sedikit. Lalu, bibirnya memagut bibir Ratu Sekar Langit yang tampak sedikit terbuka.

Lama kedua anak manusia ini saling berpagutan. Malah karena begitu terbuainya, perlahan-lahan kaki Ratu Sekar Langit tampak goyah. Dan tak lama kemudian, tubuh keduanya oleng dan luruh di atas tanah lalu bergulingan.

Begitu di atas tanah, sepertinya mereka masih terbuai. Keduanya terus saling berpagutan. Baru tatkala Ratu Sekar Langit pasrah menerima apa yang akan diperbuat Pendekar Mata Keranjang....

"Astaga!" seru Pendekar Mata Keranjang begitu tersadar, segera dia melepaskan rangkulannya di bawah punggung Ratu Sekar Langit

"Pendekar Mata Keranjang   " panggil Ratu Se-

kar Langit, lirih.

"Ratu Sekar Langit.... Kita harus cepat menuju lereng Gunung Mahameru...," ujar Pendekar Mata Keranjang

Aji segera bangkit. Kedua tangannya diulurkan, memberi isyarat agar Ratu Sekar Langit segera bangkit.

Dengan wajah memerah dan tak berani memandang Pendekar Mata Keranjang, Ratu Sekar Langit menyambuti uluran tangan itu. Segera gadis ini bangkit, dengan wajah berpaling.

"Nanti kita teruskan, jika kita telah selesai dengan urusan di lereng Gunung Mahameru...," kata Pendekar Mata Keranjang sambil mengerdipkan sebelah matanya.

Yang dikerdipi mendelik. Namun, bibirnya menyunggingkan senyum bahagia.

SELESAI