Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 08 : Geger Para Iblis

 
Eps 08 : Geger Para Iblis


Pendekar Mata Keranjang 108 menggenjot semangatnya, untuk lari lebih cepat lagi. Namun demikian, sepasang matanya terus jelalatan ke sekeliling. Sementara telinganya ditajamkan. Dan saat itu juga sayup-sayup gendang telinganya menangkap derap langkah kaki-kaki kuda yang makin lama makin keras. Dan sepertinya, datang dari arah depan.

Seakan-akan mendapat firasat tidak baik, pemuda murid Wong Agung ini segera menghentikan larinya.

"Penunggang kuda ini sepertinya tergesa-gesa. Derapnya demikian cepat dan keras. Dan riuh rendah suara penunggangnya, mengisyaratkan agar  kudakuda itu berlari lebih kencang. Seolah-olah mereka mengejar sesuatu.... Jangan-jangan mereka "

Belum sampai Aji alias Pendekar Mata Keranjang

108 meneruskan kata hatinya, derap  langkah  kakikaki kuda mendadak berhenti. Dan belum sempat dia berbuat apa-apa, sepasang matanya telah melihat dua ekor kuda telah berdiri kokoh delapan tombak di hadapannya. Cukup terperanjat juga pemuda ini, menyadari kecepatan lari kuda-kuda itu.

Dan lebih terkejut lagi ketika melihat  tampang dua orang penunggang kuda itu. Matanya serentak mendelik lebar dengan dahi berkerut. Sementara di depan dua penunggang kuda tampak saling berpandangan, lalu tertawa lepas.

"Yang memakai jubah hitam, wajahnya mirip tengkorak dengan sepasang mata merah.... Yang satu lagi mengenakan pakaian hitam. Dagunya kokoh. Kedua tangan dan kaki tampak besar berotot. Padahal, dia adalah seorang perempuan.... Hm , aku hanya bisa mengenali yang berjubah hitam dan berwajah mirip tengkorak. Dia adalah tokoh yang dulu menewaskan Dewi Kuning di Jurang Guringring. Kalau tak salah manusia sesat ini berjuluk Tengkorak Berjubah. Sementara yang perempuan, tak bisa ku kenali... Mereka sengaja menghadangku, atau hanya kebetulan...? Namun melihat tampang. mereka "

"Dayang Lembah Neraka   !"

Pertanyaan di hati Pendekar Mata Keranjang 108 seketika terputus tatkala dari arah seberang terdengar suara menegur yang cukup berat dan keras. Jelas asalnya dari mulut laki-laki berjubah hitam yang tak lain Tengkorak Berjubah.

"Hari ini nasib kita memang sangat mujur. Buruan kita sengaja datang menyerahkan apa yang kita inginkan.... Ha... ha... ha...!" lanjut Tengkorak Berjubah.

Sambil berkata, Tengkorak Berjubah melirik penunggang kuda di sampingnya yang tak lain memang Dayang Lembah Neraka.

Sedangkan Dayang Lembah Neraka hanya mengangguk perlahan tanpa menoleh. Sepasang matanya memandang tajam ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 tanpa berkedip.

"Tak disangka! Jadi, inikah manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108? Hm.... Muda dan tampan...," kata batin Dayang Lembah Neraka.

Dayang Lembah Neraka selama  ini  memang hanya mendengar nama Pendekar Mata Keranjang 108 tanpa pernah bertemu sekali pun. Hingga untuk beberapa saat, matanya hanya memandang seakan terkesima. Dan ini membuat Tengkorak Berjubah agak jengkel.

"Dayang Lembah Neraka!" bentak Tengkorak Berjubah menggerakkan tulang bibirnya menegur. "Kau telah tua peot. Tubuhmu sudah melengkung. Apakah kau masih bergairah jika melihat pemuda tampan...?! Kau bisa mencicipinya kalau keinginan kita telah tercapai "

Dayang Lembah Neraka berpaling pada Tengkorak Berjubah dengan dagu semakin membatu.  Matanya melotot, menghujam tajam.

"Tua jelek! Tutup mulut kotormu! Sekarang bukan waktunya untuk bercanda!" dengus Dayang Lembah Neraka.

Mendengar percakapan dua orang di hadapannya, mata Pendekar Mata Keranjang 108 terbelalak. Darahnya tersirap sejenak.

"Mereka menginginkan sesuatu dariku. Pasti bumbung bambu atau kipas ini. Aku  harus  berhatihati. Tengkorak Berjubah adalah tokoh berkepandaian tinggi. Dan perempuan yang bergelar Dayang Lembah Neraka meski aku belum pernah melihatnya, pasti juga tidak bisa dibuat main-main "

Selagi Aji berpikir begitu, Tengkorak  Berjubah dan Dayang Lembah Neraka telah berkelebat melayang dari kuda tunggangan masing-masing. Dan tahu-tahu mereka telah berdiri terjajar sepuluh langkah di hadapannya.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kau bisa melanjutkan perjalanan semaumu. Tapi sebelumnya, tinggalkan dulu kipas dan bumbung bambu yang ada di tanganmu!" ujar Tengkorak Berjubah dengan tulang bibir bergerak, menyunggingkan seringai.

Meski Aji telah dapat menduga apa yang diinginkan mereka, tapi tak urung terkejut juga. Namun sesaat kemudian wajahnya berpaling, memandang jurusan lain.

"Nasib kalian hari ini ternyata tidak semujur yang dikira. Kipas dan bumbung itu telah diambil sepasang manusia yang bergelar Sepasang Iblis Pendulang Sukma. Jadi, jika kalian menginginkan barang itu, silakan berurusan dengan mereka!" kilah Aji, enteng.

Tengkorak Berjubah dan Dayang Lembah Neraka saling beradu pandang. Lalu serentak pula pandangan mata masing-masing segera beralih pada Pendekar Mata Keranjang 108 dengan sorot mata tak percaya.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kali ini kami tak ingin mendengar gurauan mu! Cepat serahkan bendabenda itu jika nyawamu masih ingin tetap di raga!" ancam Dayang Lembah Neraka, membentak.

Pendekar Mata Keranjang 108 bersiul pendek. Matanya menyengat satu persatu pada Tengkorak Berjubah dan Dayang Lembah Neraka. Sementara  bibirnya tersenyum-senyum.

"Aku juga tidak ingin bergurau! Apalagi mendengar tawa temanmu yang merdu bagai bebek pulang kandang. Lebih baik kalian turuti omonganku, atau segera menyusul Sepasang Iblis Pendulang Sukma...!" balas Aji, bernada mengejek.

Raut muka yang hanya berupa rangkaian tulangtulang tanpa kulit milik Tengkorak Berjubah kontan bergerak-gerak, tatkala mendengar ejekan pemuda murid Wong Agung. Segera kedua tangannya ditarik sedikit ke belakang, siap menghantamkan pukulan jarak jauh. 

Namun sebelum hal itu terjadi, Dayang Lembah Neraka maju selangkah. Segera diberinya isyarat agar Tengkorak Berjubah tidak meneruskan niatnya.

"Tengkorak Berjubah! Jangan terlalu  tergesagesa. Kita selidiki dulu kebenaran ucapannya. Agar kita tidak buang-buang waktu dan tenaga!" ujar Dayang Lembah Neraka.

Meski dengan melenguh sember, akhirnya Tengkorak Berjubah mengurungkan niat. Namun mata merahnya tetap berputar liar, menatap Aji dengan dada bergetar menahan gejolak amarah.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kalau ucapanmu benar, kau harus bersedia kami geledah!" ujar Dayang Lembah Neraka sambil mengerdipkan sebelah matanya.

Tingkah laku Dayang Lembah Neraka  membuat Aji mendelik. Sementara bibirnya menahan tawa.

"Busyet! Bentuk tubuhnya memang seorang perempuan. Tapi tangannya yang begitu berotot dan besar, di mana nikmatnya jika meraba...? Apalagi jika tangannya memijit kelerengku. Hiii.... mati aku...!" kata Aji dalam hati seraya menahan bahunya yang bergidik menindih rasa geli dan ngeri.

"He... ?!" teriak Dayang Lembah Neraka. "Wajahmu berubah, sebelum kusentuh. Apakah kau begitu perasa? Aku percaya, kau nanti akan ketagihan jika telah merasakan sentuhan tanganku. Bahkan akan mencari-cari untuk melakukan sentuhan-sentuhan lagi.... Hik... hik... hik...!"

Begitu kata-katanya hilang dari pendengaran, Dayang Lembah Neraka berkelebat cepat. Dan di kejap lain dia telah berdiri dua langkah di depan Aji disertai senyum mengembang serta  dada  dibusungbusungkan. Hal ini tentu saja membuat Pendekar Mata Keranjang 108 semakin tak bisa menahan tawanya.

"Ha... ha... ha...!"

Tak berapa lama kemudian, meledaklah tawa Aji. "He.... Diam!" bentak Dayang Lembah Neraka

dengan mata mendelik.

Ledakan tawa Aji sekonyong-konyong terpenggal. Kakinya segera beringsut satu langkah ke belakang. Namun baru saja melangkah, kedua tangan Dayang Lembah Neraka telah bergerak cepat ke arah pinggang. Aji terperanjat, namun buru-buru menghindar dengan menggeser kakinya ke samping. Sehingga, kedua tangan Dayang Lembah Neraka hanya menakup tempat kosong. Saat itu juga wajah perempuan tua genit ini berubah menjadi merah padam.

"He... he... he...!"

Di pihak lain dari arah belakang terdengar suara tawa sember Tengkorak Berjubah.

Kalau tidak ingat dengan masalah bumbung bambu dan kipas, Dayang Lembah Neraka sudah pasti akan melonjak marah mendengar tawa Tengkorak Berjubah yang bernada  mengejek  barusan.  Matanya hanya sempat melirik tajam ke arah laki-laki berwajah tengkorak, lalu cepat beralih menatap Pendekar Mata Keranjang 108.

"Melihat rasa ketakutan di wajahmu, berarti ucapanmu bohong! Sekali lagi kuperingatkan, lekas serahkan benda itu!" bentak Dayang Lembah Neraka. Pelipisnya sudah bergerak-gerak, menindih amarah di dadanya. Sedangkan kedua tangannya segera pula ditarik ke samping siap melepaskan pukulan.

"Dayang Lembah Neraka!" sebut Aji dengan sikap menangkis.  "Jangan  bertindak  bodoh,  kalau  tak  ingin menyesal. Percayai saja ucapanku. Atau kalau kau ingin bertemu Sepasang Iblis Pendulang Sukma, aku bisa tunjukkan tempatnya!"

"Hmm.... Di mana mereka?!" selak Tengkorak Berjubah sambil meloncat mendekati Dayang Lembah Neraka.

"Di tempat asal temanmu itu!" jawab Aji, seraya mengangkat bahunya mengarah pada Dayang Lembah Neraka.

Tengkorak Berjubah dan Dayang Lembah Neraka saling berpandangan satu sama lain. Dahi masingmasing tampak berkerut.

"Apa maksudmu?!" bentak Dayang Lembah Neraka seakan tak sabar ingin penjelasan. "Kau jangan mengada-ada dengan menebar berita bohong!"

Pendekar Mata Keranjang 108 tersenyum tawar. "Dayang Lembah Neraka.... Melihat gelar yang

kau sandang, tentu sudah tak asing dengan tempat mengerikan itu. Dan Sepasang Iblis Pendulang Sukma mungkin juga sedang bersenang-senang di sana!" jelas Aji, enteng.

"Bajingan! Berarti Sepasang Iblis Pendulang Sukma telah tewas di tangannya...!" sentak Dayang Lembah Neraka seakan berkata pada diri sendiri.

"Nah, kalian telah tahu di mana Sepasang Iblis Pendulang Sukma berada. Sekarang  kalian tinggal pilih salah satu. Cepat tinggalkan tempat ini, atau tetap di sini untuk segera menyusul teman-temanmu itu!" ujar Pendekar Mata Keranjang 108 bernada mengancam.

Dayang Lembah Neraka menyeringai. Sementara Tengkorak Berjubah keluarkan dengusan sengau. Dalam hati masing-masing perlahan-lahan menyeruak perasaan gentar. Namun mereka pantang begitu saja menyerah. Hingga dengan menekan rasa  gentar, Dayang Lembah Neraka keluarkan tawa pendek seraya berkata.

"Bocah ingusan! Jangan dikira kami akan lari tunggang langgang mendengar ancaman. Kuperingatkan sekali lagi, jika tak segera menyerahkan barang yang kami inginkan, kaulah yang akan kukirim ke kampung halamanku di Lembah Neraka!"

"Begitu?" leceh Pendekar Mata Keranjang 108 sambil mengangakan mulutnya, lalu menganggukangguk.

Karena ditunggu agak lama sepertinya Pendekar Mata Keranjang 108 tidak hendak memberi apa yang dikehendaki, kesabaran Dayang Lembah Neraka akhirnya mencapai batas. Kedua tangannya secepat kilat di-hantamkan ke arah pemuda murid Wong Agung ini disertai tenaga dalam tinggi.

Wesss...!

Seketika gelombang angin panas yang menebar kilatan-kilatan segera menyambar cepat dari kedua tangan Dayang Lembah Neraka.

"Hup...!"

Pendekar Mata Keranjang 108 melenting ke udara, menghindar serangan Dayang Lembah Neraka. Dan hantaman kedua tangan perempuan tua itu hanya menerabas tempat kosong tempat tadi Aji berdiri.

Masih berada di udara, Aji segera melirikan ekor matanya ke arah Dayang Lembah Neraka. Lalu sekejap itu juga tubuhnya cepat menukik dengan kaki kanan lurus. Sementara kedua tangannya  bergerak  ke  sana ke mari sukar diikuti mata.

Dayang Lembah Neraka terperangah kaget. Dia masih tak percaya, karena serangannya begitu mudah dielakkan Pendekar Mata Keranjang 108. Namun karena telah kenyang pengalaman selama malang melintang dalam rimba persilatan, membuat sikapnya tak gugup. Meski, diam-diam dalam hati mengutuk habishabisan.

"Haram jadah. Manusia ini benar-benar sulit ditebak gerakannya. Tidak mustahil jika Sepasang Iblis Pendulang Sukma terjungkal di tangannya.... Aku  harus berhati-hati "

Sambil membatin Dayang Lembah Neraka memalangkan kedua tangannya di atas kepala. Sedang kaki kanannya diangkat tinggi dengan sedikit mendoyongkan tubuh ke belakang.

Bersamaan dengan gerakan Dayang Lembah Neraka. Serangan Pendekar Mata Keranjang 108 telah meluncur datang. Dan... Derr...! Derr...!

Terdengar dua kali benturan keras berturutturut. Tubuh Aji tampak mental balik ke udara. Setelah membuat gerakan jungkir balik dua kali, kakinya mendarat di atas tanah dengan tubuh terhuyunghuyung. Kedua tangannya yang sempat bentrok dengan tangan Dayang Lembah Neraka terasa ngilu bukan main. Begitu melirik, Aji sedikit tersentak kaget. Ternyata kedua tangannya telah berubah agak kehitaman. Di lain pihak, tubuh Dayang Lembah Neraka terpelanting hingga beberapa tombak ke belakang. Namun dia masih bisa menguasai diri, hingga tak sampai jatuh terbanting. Meski demikian, tak urung pundak-

nya terasa bagai terpenggal!

"Mengapa aku bodoh! Jelas  kedua  tangannya yang begitu berotot dan besar adalah senjata andalannya. Jadi, aku harus menghindari bentrok dengan kedua tangannya...," kata Aji dalam hati merutuki diri sendiri.

Aji lantas melirik Dayang Lembah Neraka. Perempuan berdagu menonjol kokoh serta tangan besar dan berotot ini tampak bersedekap dengan kedua mata sedikit terpejam. Bibirnya berkemik-kemik seperti mengucapkan sesuatu.

Belum lama Aji memperhatikan, tiba-tiba saja Dayang Lembah Neraka melesat ke arah Aji, memperdengarkan suara melengking tinggi.

Melihat gelagat Dayang Lembah Neraka yang menginginkan bentrok langsung, Pendekar Mata Keranjang 108 segera melompat ke samping berkelit. Namun Aji dibuat terkesima, karena mendadak tubuh Dayang Lembah Neraka berbelok dengan kecepatan luar biasa. Hingga baru saja pemuda ini menjejakkan sepasang kakinya, desir angin deras disertai dua kelebatan bayangan hitam, yang ternyata kedua tangan Dayang Lembah Neraka, sudah berada di depan wajahnya!

Wess! Wess!

Karena tak ada jalan lain untuk bisa menyelamatkan wajahnya dari  gempuran  kedua  tangan Dayang Lembah Neraka, maka dengan memusatkan tenaga dalam Aji menyentakkan kedua tangannya.

Derr...! Derr...!

"Aaakh...!"

Terjadi benturan antara dua pasang tangan. Aji kontan terpekik tertahan. Dan sebelum lenyap suara pekikannya, Dayang Lembah Neraka telah pula menghantamkan kaki kiri ke arah dadanya.

Diegkh...! Bukkk!

Pendekar Mata Keranjang 108 terbanting dengan punggung terlebih dahulu menghempas di atas tanah. Tangannya kini lebih menghitam. Bahkan bagai tegang, tak bisa digerakkan. Dadanya bergetar hebat dan sulit bernapas. Hingga untuk beberapa  saat,  pemuda ini nampak tersengal dengan bahu turun naik.

Namun karena Dayang Lembah Neraka terlihat telah siap kembali dengan serangan, dengan menahan rasa sakit dan marah, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat bangkit. Tapi belum lagi bisa menguasai keadaan, kaki kanan Dayang Lembah Neraka melesat cepat menghantam pinggangnya.

Desss...! Bukkk!

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 sesaat tergontai-gontai, lalu terhempas roboh.

Sementara itu, Dayang Lembah Neraka tersenyum puas. Sedangkan dari arah belakang Tengkorak Berjubah mengeluarkan tawa sember yang menusuk telinga.

Begitu tawanya berhenti Tengkorak Berjubah segera berkelebat. Dan tahu-tahu dia sudah berada lima langkah di samping Pendekar Mata  Keranjang  108, siap mengirimkan pukulan dengan tenaga dalam penuh. Padahal, pemuda murid Wong Agung ini masih tampak menggeliat hendak bangkit.

Di lain pihak, Dayang Lembah Neraka mengira Tengkorak Berjubah akan mengirimkan pukulan mematikan dan merampas kipas serta bumbung bambu dari tangan Pendekar Mata Keranjang 108. Maka perempuan tua itu segera pula berkelebat, lalu berdiri tegak menghadang serangan Tengkorak Berjubah.

"Tua jahanam! Jangan bertindak licik. Aku yang berhasil membuatnya roboh. Jadi sudah sepantasnya kipas dan bumbung bambu itu menjadi hakku!"  bentak Dayang Lembah Neraka dengan sepasang mata berkilat-kilat menatap Tengkorak Berjubah.

"Perempuan sundal! Apa kau lupa, kita samasama tak berhak atas kipas dan bumbung bambu itu. Kita hanya kacung yang bertugas merampas benda itu, dari menyerahkan pada Malaikat Berdarah Biru!" maki laki-laki berwajah tengkorak ini.

Dayang Lembah Neraka mendongakkan kepala. Mulutnya membuka, mengeluarkan tawa  mengikik. Tapi tiba-tiba tawanya berhenti. Kepalanya kembali lurus ke depan memandang sinis pada Tengkorak Berjubah.

"Tua jahanam! Jangan dikira aku tak tahu, apa yang ada dalam benakmu. Kata-katamu tadi hanya untuk menutupi kelicikanmu, bukan?  Dan  sebenarnya, kau ingin menguasai benda itu!" balas Dayang Lembah Neraka sengit

Mendengar kata-kata Dayang Lembah Neraka, tulang-tulang di wajah Tengkorak Berjubah serentak bergerak-gerak. Tangannya yang juga hanya merupakan rangkaian tulang tanpa kulit tampak mengepal. Hatinya geram, bukan karena dihalangi serangannya. Namun karena apa yang ada dalam benaknya ternyata bisa dibaca Dayang Lembah Neraka.

"Bedebah! Perempuan ini rupanya tahu rencanaku. Dia harus kusingkirkan sekarang juga!"

Namun belum sempat niat Tengkorak Berjubah terlaksana, kedua matanya membesar.  Dan  cepatcepat tubuhnya berkelebat ke samping.

"Ha... ha... ha...!"

Dayang Lembah Neraka tertawa ngakak, mengira Tengkorak Berjubah ketakutan. Tapi suara tawanya kontan lenyap tatkala....

Werrr.  !

Mendadak saja dari arah belakang terdengar suara gemuruh dahsyat disertai menyeruaknya hawa panas menyengat. Begitu berpaling, perempuan tua ini tercekat dengan wajah sedikit pias. Tubuhnya segera hendak berkelebat, namun terlambat. Karena ...

Desss. !

"Aaa !"

Sekejap itu juga tubuh Dayang Lembah Neraka terpelanting jauh disertai jeritan keras. Begitu menyuruk di atas tanah, mulutnya ternganga. Baju bagian pundak belakang koyak besar dan hangus. Kulit di balik koyakan itu merah bagai terebus!

Di seberang, tampak Pendekar Mata Keranjang 108 menarik pulang kedua tangannya yang baru saja melepaskan pukulan sap keempat, yakni 'Segara Geni'

"Keparat! Tak kukira! Ternyata pemuda itu masih bisa bertahan dengan pukulanku. Hampir tak dapat kupercaya...," kata batin Dayang Lembah Neraka sambil menatap tajam pada Pendekar Mata Keranjang 108 yang ternyata telah bangkit. Bahkan telah pula melepaskan pukulan jarak jauh.

Dengan dada panas dan wajah merah membara, Dayang Lembah Neraka merambat bangkit. Tidak sampai tegak penuh, tiba-tiba tubuhnya berputar dan hilang dari pandangan.

Tahu apa yang hendak diperbuat lawan, Pendekar Mata Keranjang 108 segera pula memutar tubuhnya. Kini sosoknya pun lenyap, berubah jadi bayangan yang bergerak cepat sulit ditangkap mata.

Werrr...!

Werrr...! "Heaaa...!"

Sebentar kemudian di tempat itu tampak dua bayangan yang saling berkelebat, mengeluarkan deruan-deruan angin kencang. Dan sesekali terdengar suara bentakan membahana tanpa terlihat jelas sosoksosoknya.

Tak jauh dari situ, Tengkorak Berjubah terlihat tenang-tenang saja sambil mengawasi. Namun demikian, kedua tangannya tampak tertarik sedikit ke belakang, pertanda tengah bersikap waspada.

"Lebih baik aku menunggu. Jika  perempuan sundal itu tewas, akan lebih baik lagi. Karena dengan leluasa, aku bisa menguasai kipas dan bumbung bambu yang katanya berisi lembaran-lembaran jurus silat.... Dan jika pun perempuan sundal itu berhasil mematahkan Pendekar Mata Keranjang 108, aku  harus dapat merampasnya. Meski, terlebih dahulu harus menyabung nyawa dengan perempuan sundal itu....

Apa boleh buat? Teman tinggal teman. Urusan benda pusaka itu di atas segalanya...," kata batin Tengkorak Berjubah, bibirnya menyunggingkan senyum beringas dengan kepala mengangguk perlahan.

Selagi Tengkorak Berjubah berpikir begitu....

"Aaa !"

Mendadak terdengar jeritan tertahan, disusul terjerembabnya sesosok tubuh di atas tanah. Begitu menoleh ke arah tubuh yang terjerembab, Tengkorak Berjubah menahan napas. Tapi, bibirnya tetap tersenyum mengejek.

Sosok yang terjerembab ternyata Dayang Lembah Neraka. Namun perempuan tua itu segera bangkit. Sambil memegangi dadanya yang terasa sesak karena terhantam pukulan jarak jauh Pendekar Mata Keranjang 108, matanya melirik ke arah Tengkorak Berjubah.

"Setan alas! Kenapa dia hanya diam saja tanpa melakukan sesuatu untuk segera merampas kipas dan bumbung bambu...?!" maki Dayang Lembah Neraka bergumam. Dahinya tampak berkerut, menduga-duga.

Sementara pada saat itu, Pendekar Mata Keranjang 108 yang telah mendarat kini melangkah tiga tindak ke depan.

"Hmm.... Meski mereka teman, rupanya satu sama lain dihinggapi sifat serakah saling tak mau mengalah. Hal ini harus ku manfaatkan...," gumam Aji.

Maka saat itu juga Pendekar Mata Keranjang 108 segera melesat ke udara, membuat gerakan berputar dua kali. Lalu mantap sekali kakinya mendarat di Samping Dayang Lembah Neraka. Dan tanpa menunggu lama, kedua tangannya segera menghantamkan ke arah Dayang Lembah Neraka.

"Heh?!"

Disertai rasa kaget, Dayang Lembah Neraka segera mengerahkan tenaga dalam ke tangan dan kakinya. Lantas didahului bentakan nyaring kedua tangannya dihantamkan, memapak serangan Pendekar Mata Keranjang 108. Tepat pada saat itu, kedua kakinya pun amblas ke dalam tanah.

Dayang Lembah Neraka sengaja mengerahkan tenaga pada tangan dan kaki. Tujuannya agar tangannya dapat memapak serangan Pendekar Mata Keranjang 108. Sementara kakinya dapat menahan tubuh jika terjadi bentrokan pukulan.

Blarrr!

Bentrok pukulan berisi tenaga dalam tinggi yang sebenarnya tidak diinginkan Dayang Lembah Neraka, akhirnya tidak dapat dihindarkan lagi.

Begitu dua pukulan bertemu, tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 terseret ke belakang. Namun sebelum tubuhnya lebih jauh tersapu bias pukulan, tenaga dalam-nya segera dikerahkan. Sehingga, mendadak tubuhnya berhenti meluncur. Malah kini, di bawah sepasang kakinya tampak dua kubangan yang membuat tubuhnya bagai terpantek kokoh.

Di lain pihak, tubuh Dayang Lembah Neraka tak bergeming sedikit pun. Hanya pakaiannya yang berkibar-kibar terkena hembusan angin dari pukulan yang bentrok. Senyap beberapa saat.

Di antara Dayang Lembah Neraka dan Pendekar Mata Keranjang 108, kini sama-sama saling diam. Salah satu tidak ada yang bersuara atau memulai serangan. Hanya mata masing-masing saling menghujam. Namun sesaat kemudian, tubuh Dayang Lembah Neraka tampak bergetar hebat, seiring bergetarnya tanah yang dipijak. Sekejap lain dahi perempuan tua ini berubah berkerut-kerut. Sementara sekujur tubuhnya mulai dibasahi keringat.

"Hsss...!"

Tidak berselang lama, terdengar desisan geram dari mulut Dayang Lembah Neraka, karena tubuhnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang.

Di depan, Pendekar Mata Keranjang 108 secara diam-diam menambah tekanan tenaga dalamnya. Sehingga tanah di tempat itu bagai dilanda gempa berkekuatan dahsyat.

Melihat  keadaan   yang   tidak   menguntungkan, Dayang Lembah Neraka segera menjajarkan kedua tangan di depan dada.  Lalu  seketika  disentakkannya ke bawah. Maka terjadilah hal yang menakjubkan. Getaran-getaran hebat di sekitarnya mendadak berhenti. Dan tubuhnya kini kembali kokoh tegak.

Mendapati perempuan tua itu berhasil meredam, Aji kembali menambah tekanan tenaga dalamnya. Sehingga, tanah di sekitar tempat Dayang Lembah Neraka kembali berguncang. Untuk beberapa waktu perempuan ini memang masih mampu  membendung. Tapi itu tidak lama.

"Heaaa...!"

Ketika Pendekar Mata Keranjang 108 membentak keras, tubuh Dayang Lembah Neraka oleng. Bahkan mulai bergerak ke atas, tercabut dari dalam tanah!

"Hih...! Wuuut...!"

Saat demikian itulah, secara tiba-tiba Pendekar Mata Keranjang 108 menghantamkan kedua tangannya ke depan, melepaskan pukulan jarak jauh.

Wuuss! Wuuuss!

Dua rangkum angin menderu menggemuruh dan bergelombang, menyambar keluar dari kedua tangan Pendekar Mata Keranjang 108. Sambaran angin itu terus menyapu deras ke arah Dayang Lembah Neraka, kedua kakinya kini telah terangkat dari dalam tanah.

Namun, sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 tiba-tiba membeliak besar melihat apa yang terjadi.

"Hiaaa...!"

Didahului teriakan bagai merobek langit, satu depa lagi serangan Pendekar Mata Keranjang 108 yang berisi tenaga dalam tinggi menghantam, Dayang Lembah Neraka merentangkan kedua tangannya. Dan di sekejap itu juga, tubuhnya tiba-tiba melenting tinggi ke udara, membuat serangan Pendekar Mata Keranjang 108 yang berhawa maut hanya menghajar tempat kosong!

Malah begitu Dayang Lembah Neraka berhasil berkelit, dari udara tubuhnya berbalik sambil melepaskan pukulan tiga kali berturut-turut dengan gerakan aneh, seperti orang memperagakan tarian patahpatah.

Wuutt! Wuutt!

Gumpalan gelombang yang menebar hawa panas menukik deras dari udara. Hebatnya, belum sampai gumpalan gelombang itu menggebrak, terdengar letupan perlahan. Di sekejap lain gumpalan gelombang itu pecah berantakan, menyambar bersiutan ke sana kemari dari segala jurusan. Namun semuanya mengarah pada satu titik, yakni tubuh Pendekar Mata Keranjang 108!

"Jangkrik!  Rupanya  dia  masih  menyimpan  ilmu. Apa boleh buat! Aku terpaksa menggunakan kipas untuk menghalau gelombang yang seperti hujan jahanam ini...!" rutuk batin Aji, seraya  cepat  menyabut  kipas dari balik bajunya. Dan secepat kilat pula dikebutkannya secara berputar-putar di atas kepala.

Wuutt! Wuutt! Tarrr...!

Pecahan-pecahan gelombang berwarna hitam serta merta berhamburan mental. Namun di pihak lain, Dayang Lembah Neraka menambah sentakan-sentakan tangannya, Akibatnya gelombang berwarna hitam itu tak henti-hentinya menyambar.

"Busyet! Aku tak bisa bertahan begini terusterusan. Karena pecahan gelombang ini bertambah banyak, sumber penggerak darinya harus dilumpuhkan dulu...!"

Berpikir begitu, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat cepat menjauh dari kurungan pecahan gelombang. Aji tahu, meski gelombang itu hanya pecahan-pecahan, namun akibat yang ditimbulkannya sangat hebat. Buktinya tanah di sekitar tempat itu kini banyak membentuk lobang sebesar satu genggaman tangan, terhajar pecahan gelombang hitam yang menerabas. Bahkan karena begitu gencarnya sentakan tangan Dayang Lembah Neraka, udara di tempat itu menjadi redup!

Sebelum kehilangan lawan yang tertutup gumpalan-gumpalan gelombang, dan sebelum pecahanpecahan gelombang itu ada yang menghantam, Pendekar Mata Keranjang 108 bertindak cepat. Tangan kanannya memutar-mutar kipas lebih cepat, sementara tangan kiri menghantamkan ke udara.

Wusss...!

Tiba-tiba udara redup yang  melingkupi  tempat itu terkuak sinar  putih, membuat suasana seketika jadi terang benderang. Inilah pertanda Pendekar Mata Keranjang 108 telah melepaskan pukulan sap kelima.

"Bayu Cakra Buana!" sentak Tengkorak Berjubah tanpa sadar dari tempatnya berdiri, ketika melihat apa yang terjadi.

"Aaa...!"

Belum habis rasa terkejut Tengkorak Berjubah, terdengar jeritan keras. Bersamaan dengan itu, dari sela-sela gelombang hitam yang masih saja menyambar turun, menukik deras tubuh Dayang Lembah Neraka!

Brak!

Keras sekali tubuh Dayang Lembah Neraka terbanting di atas tanah, tanpa dapat bergerak lagi. Akibatnya, ketika sambaran pecahan gelombang dari serangannya sendiri menghajar tubuhnya, dia tidak bisa menghindar.

Darrr...! Darrr...!

"Aaa...!"

Tubuh Dayang Lembah Neraka kontan tersambar pecahan-pecahan gelombang warna hitam. Terdengar beberapa kali jeritan. Begitu suaranya terhenti, tubuhnya telah hangus dengan kulit mengelupas!

Melihat Dayang Lembah Neraka tewas, Tengkorak Berjubah tersenyum. Dan sebelum senyumnya lenyap, tubuhnya segera berkelebat sambil menghentakkan kedua tangannya ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Hih...!"

Wesss...!

Angin deras segera menyapu, mengeluarkan kilatan-kilatan menggidikkan. Pada saat yang sama, sosok Tengkorak Berjubah melesat cepat ke arah samping sambil menunggu. Bahkan telah siap pula melepaskan pukulan beruntun.

"Hiaaa...!"

Aji sedari tadi memang telah mewaspadai gerakgerik Tengkorak Berjubah. Maka disertai bentakan keras, tubuhnya langsung menerjang ke samping, menyongsong langkah Tengkorak Berjubah sambil menghindari serangan. Dan seketika tangan kanannya mengibaskan kipas ungu. Sementara tangan kiri melepas pukulan Bayu Cakra Buana.

Werrr...!

Tengkorak Berjubah menggerutukkan tulang rahangnya. Sinar berkilau keputihan yang melesat menyambar dari tangan kiri Pendekar Mata  Keranjang 108, segera disambut dengan hantaman  tangan  kiri dan ka-nan.

Wuuut! Wuuut...! Darr! Daarr!

Dua kali ledakan segera menggulung sekitarnya. Tanah yang tadi sudah porak poranda semakin berantakan, membubung ke udara menutupi pemandangan. Saat demikian, Tengkorak Berjubah yang tubuhnya sempat terhuyung-huyung ke belakang akibat bentrokan pukulan, segera melesat ke udara. Begitu berada di udara jubah hitamnya dikibaskan. Lalu secepat itu pula dibuatnya gerakan salto beberapa kali. Maka, tiba-tiba saja tubuhnya melayang turun menerjang ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Werrr...!

Kibasan jubah Tengkorak Berjubah memang bukan kibasan biasa, karena disertai tenaga dalam kuat. Maka saat itu juga angin kencang segera melesat, mengarah pada Pendekar Mata Keranjang 108.

Melihat serangan beruntun Tengkorak Berjubah, Pendekar Mata Keranjang 108 sedikit terkejut. Namun dia segera melompat ke samping, menghindari sambaran angin jubah hitam. Nyatanya sambaran itu memang hanya lewat disampingnya. Namun baru saja Aji berhasil menghindar, kaki Tengkorak Berjubah tibatiba sudah menghantam ke arah dadanya.

Bukkk! "Aaakh...!"

Pendekar Mata Keranjang 108 berteriak keras ketika kaki Tengkorak Berjubah mampir di dadanya. Tubuhnya mencelat hingga beberapa tombak dan jatuh berdebuk di tanah. Perlahan Aji merambat bangkit. Da-rah segar muntah dari mulutnya.

Sementara Tengkorak Berjubah menyeringai. Kakinya lantas melangkah mendekati Pendekar Mata Keranjang 108.

"Bocah! Nyawamu sudah berada di ujung tanduk. Sebelum tubuhmu hancur, lekas serahkan kipas itu. Sekalian dengan bumbung bambu yang pasti kau simpan! Jika kau menuruti kehendakku, nyawamu masih bisa kuampuni!" ujar Tengkorak Berjubah, pongah.

"Tua jahanam! Jangan disangka bisa mendapatkan kipas ini, sebelum kau benar-benar melihat mayatku!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 marah seraya bangkit.

Baru saja tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 tegak, Tengkorak Berjubah mengeluarkan lenguhan keras. Lalu tubuhnya melesat. Setelah membuat gerakan berputar beberapa kali di udara, sepasang kakinya yang tertutup jubah hitam menukik deras ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Dengan gerakan mengagumkan, Pendekar Mata Keranjang 108 merebahkan tubuhnya sejajar tanah.

Weess! Weess!

Terjangan sepasang kaki Tengkorak Berjubah hanya menghantam tempat kosong di atas tubuh Aji.

"Keparat!" maki Tengkorak berjubah.

Laki-laki berwajah tengkorak ini segera memutar tubuhnya. Kini tubuhnya menyusur tanah dengan kencang. Sepasang kakinya lurus, mengarah ke tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih telentang.

Karena waktu untuk menghindar tidak ada, dengan cepat Aji memiringkan tubuh.  Pada saat yang sama kedua kakinya diangkat dan ditekuk di depan dada. Dan begitu terjangan kaki lurus Tengkorak Berjubah satu depa lagi menghempas, kakinya cepat diluruskan untuk memapak.

Brakk! Brakk! "Aaa...!"

"Aaakh...!"

Terdengar dua kali benturan keras, disusul terdengarnya seruan dua kali. Ternyata baik Tengkorak Berjubah maupun Pendekar Mata Keranjang 108 sama-sama kesakitan.

Sementara itu tubuh Tengkorak Berjubah tampak mental balik. Kuat sekali tubuhnya terjungkal di tanah lalu bergulingan beberapa kali. Sedangkan  tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 terbalik dengan kepala lebih dahulu menyuruk tanah.

Tengkorak Berjubah segera bangkit. Sepasang matanya berkilat membeliak. Tulang pelipisnya bergerak-gerak keras.

"Heangg...!"

Didahului bentakan sengau, tubuh Tengkorak Berjubah membuat lompatan-lompatan. Dan mendadak dia bergulingan di atas tanah dengan cepat. Begitu tiga tom-bak di depan Pendekar Mata Keranjang 108, tubuhnya berhenti. Dan dalam keadaan miring, kedua tangannya dihantamkan.

Weess! Weess!

Dua gelombang angin laksana gelombang bergemuruh langsung menghantam ke depan.

Di lain pihak, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menghentakkan kipasnya melengkung di depan dadanya. Sedangkan tangan kiri  melepas  pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Wesss...!

"Heh?!"

Sepasang mata Tengkorak Berjubah tiba-tiba terbelalak lebar dengan wajah mengisyaratkan kecemasan. Karena serangannya mendadak  bagai  tertahan dan mengapung di udara. Sementara itu, lesatan sinar putih bagai tak terbendung lagi menerobos gelombang angin sentakan tangannya dan terus melesat cepat.

Tengkorak Berjubah berusaha menghindar, namun gerakannya terlambat. Hingga....

Dess !

"Aaakh !"

Tak ampun lagi tubuh laki-laki berwajah tengkorak ini tergeser jauh ke belakang dengan jubah berderik robek-robek. Dari tulang bibirnya mengalir darah kehitaman pertanda terluka dalam amat parah.

Hebatnya,  meski   keadaannya   sudah   tak   memungkinkan lagi, Tengkorak Berjubah segera bangkit. Dan dengan sisa-sisa tenaganya. Tubuhnya melesat sambil mengeluarkan bentakan-bentakan sengau dahsyat.

Karena tenaganya sudah terkuras, membuat Tengkorak Berjubah hanya mengandalkan sepasang tangan dan kakinya untuk menghantam sambil menubruk.

Diam-diam Pendekar Mata Keranjang 108 yang telah bangkit pula tercengang. Sungguh tidak disangka jika manusia tanpa kulit ini memiliki ketahanan tubuh yang sangat tangguh. Karena sampai saat  ini,  belum ada seorang pun yang bisa selamat dari pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Maka secepat itu pula Pendekar Mata Keranjang 108 cepat menakupkan kedua tangannya di depan dada dengan kipas terkembang. Dan begitu tubuh Tengkorak Berjubah melabrak, kipasnya disentakkan. Sementara kaki kanannya diangkat ke atas. Lalu....

Dess! Desss! Prak! "Aaakh !"

Tulang wajah Tengkorak Berjubah kontan tanggal berantakan. Namun tak urung juga sepasang tangannya masih sempat menangkap leher Pendekar Mata Keranjang 108, dan menyentakkannya ke samping. Hingga sekejap kemudian, tampak dua sosok tubuh sama-sama terbanting dan terkapar di atas tanah.

Yang pertama sosok Tengkorak Berjubah yang terkapar dengan wajah cerai berai tidak bernyawa lagi. Sementara sosok satunya, Pendekar Mata Keranjang

108 yang terkapar dengan tangan kiri memegangi lehernya yang tampak membiru dan terasa panas!

*** 2

Langit di atas Singasari terhalangi arak-arakan awan hitam dan tebal. Nun jauh di ujung  sebelah barat, sesekali terdengar gelegar bersahutan diiringi kilatan-kilatan. Sekejap suasana sedikit terang, namun setelah itu cuaca semakin hitam kelam dan mencekam. Angin berhembus kencang, membawa udara dingin menusuk tulang.

Di dalam sebuah ruangan yang terletak di bagian belakang Candi Singasari, dua sosok tampak berdiri saling berhadapan. Ruangan ini tampak lengang, karena hanya berisi sebuah ranjang besar yang tertata rapi dan sebuah penerangan lampu teplok. Karena ruangan itu agak besar, membuat sinar lampu tak mampu menerobos seluruh ruangan. Sehingga suasana tampak remang-remang.

Sebuah tangan kekar sesekali bergerak mengusap-usap dagu yang kokoh, Sementara sepasang matanya tak berkedip memandang ke depan, dengan sorot jalang dan liar penuh nafsu.

Yang memiliki tangan kekar dan dagu kokoh serta mata jalang adalah seorang pemuda tampan. Tubuhnya terbungkus jubah toga hitam merah menyala, yang di pinggangnya tampak terselip sebuah kipas lipat berwarna hitam. Tubuhnya tegap. Bibirnya sering mengumbar senyum seringai. Pemuda ini tak lain adalah Malaikat Berdarah Biru.

Sementara yang di hadapan Malaikat Berdarah Biru adalah seorang gadis muda berwajah cantik. Tubuhnya yang ramping sekal, dibungkus baju warna merah tanpa lengan. Pakaian bawahnya dibuat membelah di bagian samping. Hingga meski hanya diterangi cahaya temaram, kulit pahanya yang putih mulus terlihat jelas. Bahkan makin mengundang hasrat. Rambutnya yang ikal panjang dikuncir ke atas, menampakkan lehernya yang jenjang. Dadanya kencang membusung, dengan pinggul besar menantang. Siapa lagi gadis ini kalau bukan Bayangan Seribu Wajah.

"Malaikat Berdarah Biru!" panggil Bayangan Seribu Wajah, setelah lama mereka terkekang kebisuan. "Tadi aku sudah menceritakan tentang perjalananku dengan Bayangan Iblis, gurumu. Memang itulah kenyataannya. Kami berdua tak bisa mengorek keterangan dari mulut perempuan setan kakak  seperguruanku tentang di mana Pendekar Mata Keranjang 108 berada. Jadi, terpaksa kita harus melacaknya sendiri!"

Senyum seringai Malaikat Berdarah Biru menyeruak keluar. Namun matanya tak juga beranjak dari lekuk-lekuk tubuh gadis di depannya.

"Bayangan Iblis dan Bayangan Seribu Wajah nyatanya hanya besar gelar! Mengorek keterangan saja tak berhasil...!" rutuk batin Malaikat Berdarah Biru.

Setelah puas menatap tubuh, kini mata Malaikat Berdarah Biru beralih ke wajah Bayangan Seribu Wajah.

"Bayangan Seribu Wajah...," panggil pemuda murid Bayangan Iblis. "Benar apa katamu. Kita harus melacak sendiri Pendekar Mata Keranjang 108.  Karena aku juga sudah cemas, Sepasang Iblis  Pendulang Sukma, Tengkorak Berjubah, Dayang Lembah Neraka, serta Putri Tunjung Kuning seharusnya telah  kembali ke sini Apakah mungkin mereka menipuku!"

Bayangan Seribu Wajah tersenyum seraya merenggangkan kedua kakinya, membuat sepasang pahanya lebih terlihat: Seketika mata Malaikat Berdarah Biru beralih menjilati paha yang putih menantang itu, hingga makin terbeliak.

"Malaikat Berdarah Biru...! Persoalan menghadapi Pendekar Mata Keranjang 108, seharusnya kau tidak menyerahkan begitu saja pada mereka-mereka. Meski kemampuan mereka tak diragukan lagi, namun untuk menghadapi manusia berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108, kurasa tidak bakal mampu. Bahkan....

"

"Bayangan Seribu Wajah...!"

Belum habis Bayangan Seribu Wajah bicara, Malaikat Berdarah Biru sudah mengelak sambil memalingkan wajahnya.

"Dalam masalah ini, aku lebih tahu daripada kau! Harap kau jangan menggurui ku!" lanjut Malaikat Berdarah Biru.

Air muka Bayangan Seribu Wajah merah padam. "Anak ini angkuh dan bermulut besar. Sean-

dainya bukan murid dari Bayangan Iblis, sudah kutampar mulutnya. Namun demikian, di balik itu dia memang pemuda yang menggoda. Tubuhnya tegap kekar dengan tangan kokoh. Hmm.... Di atas  tempat  tidur pastilah mengasyikkan...," desah batin Bayangan Seribu Wajah.

Membayangkan hal-hal yang memabukkannya, raut wajah Bayangan Seribu Wajah tiba-tiba berubah. Senyumnya mengembang. Dadanya sengaja dibusungkan.

"Malaikat Berdarah Biru.... Aku tak berniat menggurui mu. Namun, aku hanya mengingatkan mu. Kau terima boleh, tidak pun tidak apa-apa. Ngg..., kalau sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku akan menemui gurumu untuk membicarakan langkah apa selanjutnya...," kata gadis cantik ini dengan suara perlahan, se-olah-olah mendesah.

Sebelum berbalik, Bayangan Seribu Wajah mengerling. Lalu kakinya melangkah hendak pergi. Tapi langkahnya tertahan, tatkala tangan kokoh Malaikat Berdarah Biru terasa memegang pundaknya dari belakang.

"Tunggu...," ujar Malaikat Berdarah Biru seraya memperkeras cekalannya pada pundak Bayangan Seribu Wajah.

"Auuuww...!"

Bayangan Seribu Wajah menjerit tertahan, namun berkesan manja.

"Bayangan Seribu Wajah.... Soal itu, bisa dibicarakan nanti. Kalau boleh aku tahu, benarkah ucapanmu tentang bumbung bambu yang kini berada di tangan Pendekar Mata Keranjang 108 itu berisi  jurusjurus hebat?" tanya Malaikat Berdarah Biru.

Bayangan Seribu Wajah berpaling. Sejenak sepasang matanya menusuk tajam ke bola mata Malaikat Berdarah Biru yang tampak berkilat meredam amukan nafsu. Disertai senyum, kepalanya lantas mengangguk perlahan.

Malaikat Berdarah Biru melepaskan cekalan pada pundak Bayangan Seribu Wajah. Tangannya diangkat, lalu diusap-usapnya pada ujung dagu gadis itu. Sementara, matanya menyengat tajam ke dada montok menantang di depannya.

"Jika  demikian,  besok  pagi  aku  akan  mencari  jejak Pendekar Mata Keranjang 108. Aku hanya memerlukan kipasnya. Bumbung bambu akan kuserahkan padamu...," kata Malaikat Berdarah Biru.

Gadis di hadapan Malaikat Berdarah Biru membelalakkan matanya, seakan terkejut tak percaya.

"Kau akan merebut bumbung bambu...?" tanya Bayangan Seribu Wajah.

"Benar. Aku akan merebutnya dari tangan musuhku untukmu!" tegas Malaikat Berdarah Biru disertai anggukkan kepala.

Wajah Bayangan Seribu Wajah makin cerah. Sebagai luapan kegembiraan, tiba-tiba saja Bayangan Seribu Wajah memeluk Malaikat Berdarah Biru. Wajahnya langsung direbahkan di dada bidang pemuda ini. Dadanya yang kencang menantang ditekankan rapatrapat, membuat hasrat kelaki-lakian Malaikat Berdarah Biru semakin menggelegak.

"Kau tidak berdusta...?" desah Bayangan Seribu Wajah mengusap punggung Malaikat Berdarah Biru.

Malaikat Berdarah Biru tidak buka mulut. Sebagai jawaban kedua tangannya dikatupkan ke  punggung Bayangan Seribu Wajah. Sementara wajahnya bergerak turun ke kuduk gadis dalam rangkulannya kini. Lalu dengan napas menghembus panjang, kuduk gadis ini diciuminya.

Bayangan Seribu Wajah menggelinjang seraya menengadahkan wajahnya. Saat itulah wajah Malaikat Berdarah Biru segera menyergap, memagut bibir merah menantang milik gadis ini.

Malaikat Berdarah Biru dan Bayangan Seribu Wajah cukup lama tenggelam dalam amukan samudera asmara. Apalagi didukung  oleh  suasana  temaran dan malam dingin yang berhembus menusuk. Sehingga, membuat keduanya seakan segan untuk melepaskan pelukan satu sama lain. Hingga tatkala sang surya sudah menampakkan diri dari ufuk timur, mereka masih terlelap kelelahan setelah mengarungi samudera asmara.

Namun, mendadak terasa getaran-getaran di ruangan itu. Sebagai orang yang berilmu tinggi, Malaikat Berdarah Biru cepat membuka sepasang matanya. Lalu, secepat kilat pakaian yang berserakan disambarnya. Cepat kipasnya dilepitkan. Saat itu juga tubuhnya berkelebat keluar dari ruangan.

Tapi mendadak langkah Malaikat Berdarah Biru berhenti. Matanya terbelalak besar, dengan senyum seringai tak senang.

"Setan buntung! Mengganggu kesenangan saja!" rutuk Malaikat Berdarah Biru begitu tahu apa yang menyebabkan getaran-getaran tadi terjadi.

Ternyata, di ruangan tengah tampak Bayangan Iblis, guru Malaikat Berdarah Biru sendiri. Perempuan tua itu tengah duduk bersila dengan kedua tangan menakup di depan dada. Matanya yang cekung mengatup rapat. Sementara bibirnya bergerak-gerak seperti mengucapkan sesuatu.

Malaikat Berdarah Biru melangkah  mendekat. Dan baru saja mulutnya membuka hendak  berkata, sang guru telah membuka kelopak matanya. Diberinya isyarat agar sang murid tidak meneruskan niatnya.

Malaikat Berdarah Biru yang telah tahu apa yang sedang dilakukan gurunya segera mengatupkan kembali mulutnya. Padahal, dalam hati dia mengutuk habis-habisan. Wajahnya cepat dipalingkan, memandang jurusan lain sambil menunggu dengan perasaan tak senang.

"Apa lagi yang diperoleh dalam semadinya kali ini...? Tapi, baiklah. Akan kutunggu saja...," kata batin Malaikat Berdarah Biru seraya kembali memandang pada Bayangan Iblis.

Pada saat itulah Bayangan Iblis melambaikan tangan, memberi isyarat agar Malaikat Berdarah Biru mendekat. Dengan langkah berat pemuda ini menuruti isyarat itu dan duduk di hadapan gurunya.

"Muridku.... Kau jangan kecewa jika aku mengatakan sesuatu yang tak berkenan di hatimu...," ujar Bayangan Iblis.

Sebentar perempuan tua itu menghentikan ucapannya. Ditariknya napas dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat.

Malaikat Berdarah Biru mengeluarkan gumaman tak jelas. Dahinya berkerut, seakan-akan mendugaduga.

"Jangan  berbelit-belit.  Katakan  saja...!"  ujar  Malaikat Berdarah Biru agak keras, seolah-olah tidak berada di hadapan gurunya.

Bayangan Iblis menatap tajam muridnya seben-

tar.

"Orang-orang yang kau tugaskan untuk membu-

ru Pendekar Mata Keranjang 108, rupanya sedang mengalami nasib jelek. Mereka tak berhasil. Malah sekarang hanya tinggal Putri Tunjung Kuning yang masih membawa nyawa di hadapannya!" jelas Bayangan Iblis.

Meski terkejut bukan alang kepalang, namun Malaikat Berdarah Biru mencoba menahannya dengan senyum. Dia diam untuk beberapa lama, menampakkan sikap biasa-biasa saja.

"Muridku...!" lanjut Bayangan Iblis. "Dalam mata batin ku, aku mendapat firasat jelek "

"Guru!" selak Malaikat Berdarah Biru. "Apa hidup ini hanya akan ditentukan oleh firasat-firasat yang belum tentu benar? Hal itu hanya akan membuat kita bodoh, dan takut berbuat sesuatu. Kitab dan kipas pusaka telah berada di tanganku. Dan aku tak akan percaya dengan segala macam firasat!"

Bayangan Iblis batuk beberapa kali. Lalu kepalanya mendongak menghadapkan wajahnya ke langitlangit ruangan.

"Kau benar, Muridku. Namun, satu hal yang  perlu kau ketahui. Selama hidupku yang sudah hampir seratus tahun ini, firasat ku tak pernah meleset! Dengarlah! Ingat! Kau hanya perlu mendengar. Soal percaya atau tidak, itu urusan nanti...!" tegas  Bayangan Iblis sambil tetap memandangi langit-langit.

Malaikat  Berdarah  Biru  mengangkat   bahunya, menyembunyikan rasa jengkel dan geram. Namun demikian, dia tak hendak membantah. Seakan disadari, bahwa ucapan orang tua di hadapannya memang ada benar-nya.

"Muridku...," lanjut Bayangan Iblis setelah melihat muridnya menyadari arti ucapannya. "Kau melihat arak-arakan awan hitam bergelombang, melingkupi langit. Sehingga, suasana bumi menjadi hitam pekat. Namun tiba-tiba saja arakan awan hitam itu menguak, dengan menerobosnya sebuah larikan-larikan kilatan putih. Bahkan tak lama kemudian, arakan awan hitam itu lenyap bagai tertelan kilatan-kilatan putih. Saat demikian itulah, aku melihat jelas sosok manusia duduk di atas arakan awan hitam yang mulai menipis pudar. "

"Siapa manusia itu, Guru...?!" desak Malaikat Berdarah Biru tak sabar.

Perempuan tua itu tidak segera menjawab. Wajahnya kini berpaling, memandang muridnya.

"Aku sebenarnya hampir tak percaya, kalau dia yang duduk ," jawab Bayangan Iblis.

"Guru! Siapa orangnya? Apakah musuhku, Pendekar Mata Keranjang 108?" desak Malaikat Berdarah Biru lagi.

Bayangan Iblis menggeleng perlahan.

"Dia adalah kakak seperguruan Bayangan Seribu Wajah! Perempuan tua aneh yang tak mau menyebutkan namanya sendiri. Dan perempuan tua yang telah menyerahkan bumbung bambu pada Pendekar Mata Keranjang 108!" jelas Bayangan Iblis.

Malaikat Berdarah Biru kepalkan kedua tangannya. Lalu dipukulkannya tangan itu satu sama lain, menumpahkan rasa marah. Dagunya yang kokoh semakin kencang dengan pelipis bergerak-gerak.

"Muridku.... Kau  telah  tahu.  Meski  aku  dan Bayangan Seribu Wajah telah berhasil mengalahkan perempuan tua itu, namun kami berdua tak berhasil menewaskannya...," kata Bayangan Iblis lagi.

"Hmm.... Apakah ucapanmu sebagai ungkapan bahwa aku harus mencari sekaligus membuatnya jadi mayat?!" tukas Malaikat Berdarah Biru dengan nada tinggi.

Bayangan Iblis tersenyum. Mulutnya yang selalu bergerak-gerak seakan-akan mengunyah sesuatu yang tak habis-habisnya, mendadak berhenti.

"Sebenarnya tidak ada artinya membunuh perempuan tua itu. Dia hanyalah perlambang, bahwa benda dari dirinyalah yang membuat keadaan hitam pekat itu menjadi terang kembali "

"Apa maksudmu, Guru?!"

"Bumbung bambu yang diberikannya pada Pendekar Mata Keranjang 108, itulah yang sebenarnya pangkal dari cahaya putih itu!" jelas Bayangan Iblis.

Saat itu juga, Malaikat Berdarah  Biru  terdiam. Kali ini perasaan cemas dan khawatir tak bisa disembunyikan dan terpancar jelas dari raut wajahnya.

"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang, Guru?!" tanya Malaikat Berdarah Biru dengan suara bergetar.

"Kita korek kembali keterangan dari mulut perempuan tua itu! Aku merasa dia masih menyimpan sesuatu. Dan lain dari itu, firasat ku mengatakan Pendekar Mata Keranjang 108 juga akan menemuinya. ,"

sahut Bayangan Iblis.

"Tapi di mana kita akan menemukannya? Bukankah tempatnya telah kau hancurkan?" tanya Malaikat Berdarah Biru lagi.

"Hmm.... Soal di mana tempatnya, Bayangan Seribu Wajah yang pasti tahu. Bangunkan dia. Kita berangkat sekarang juga! Tapi, kau harus keramas dahulu. Baumu bukan seperti biasanya.   "

Wajah Malaikat Berdarah Biru merah padam. Dia cepat berdiri, lalu segera berkelebat meninggalkan Bayangan Iblis. Sementara perempuan tua ini tersenyum sambil menggeleng-geleng.

***

3

Puncak Bukit Watu Dakon terbungkus  kabut tipis pagi hari. Bangunan batu yang berdiri kokoh di puncaknya sepi bagai tak berpenghuni. Padahal, di dalamnya tampak beberapa orang perempuan gundul berpakaian hijau-hijau tengah hilir mudik. Raut muka mereka menampakkan rasa kecemasan.

Di sebuah ruangan dalam, tampak seorang gadis muda berwajah cantik tengah duduk dengan wajah redup. Rambutnya panjang. Kulitnya yang putih terbungkus pakaian tipis berwarna putih. Begitu tipisnya, membuat lekuk tubuhnya yang membentuk indah terlihat sangat mempesonakan. Namun ada satu kejanggalan. Meski raut wajahnya cantik, kedua tangannya ternyata hitam legam dan berbulu.

Sepasang mata gadis ini tak henti-hentinya memandang ke depan, ke arah ranjang besar yang di atasnya tergolek sesosok tubuh yang ternyata seorang perempuan tua. Pakaiannya compang-camping. Raut wajahnya menakutkan. Karena, di bawah sepasang matanya tak terlihat tonjolan hidung. Rambutnya putih dan awut-awutan. Sekujur tubuhnya tampak membiru dengan darah mengering terlihat di sekitar telinga dan mulutnya yang tipis. Napas perempuan ini berhembus pelan-pelan, dan sesekali terdengar batukbatuk kecil. Melihat keadaannya, dia sedang terluka parah.

Gadis cantik yang bertangan hitam dan berbulu itu tak lain adalah Ratu Pualam Putih. Dia melangkah mendekati ranjang. Sepasang matanya yang bulat berbinar, berkaca-kaca. Sementara bahunya tak  jarang naik turun menahan isak.

Mendengar langkah-langkah halus dan isakan tertahan, perempuan tua di atas ranjang yang tak lain perempuan tak bernama itu membuka kelopak matanya. Sejenak mata perempuan tua guru Ratu Pualam Putih ini memandang ke atas. Lalu matanya beralih ke samping, tempat gadis itu berdiri. (Tentang Ratu Pualam Putih, silakan baca serial Pendekar Mata Keranjang 108 dalam episode: "Persekutuan Para Iblis").

"Guru...," sebut Ratu Pualam Putih perlahan. "Bagaimana keadaanmu...?"

Setelah mengatur napas dan batuk kecil berulang kali, perempuan tua itu tersenyum. Padahal, tampak benar kalau senyum itu sangat dipaksakan.

"Kadarwati...," kata perempuan tua itu memanggil nama asli Ratu Pualam Putih. "Kau tidak usah cemas begitu rupa. Keadaanku sudah membaik. Dan secepatnya aku akan meninggalkan tempatmu ini "

"Tapi, Guru    "

Belum selesai Ratu Pualam Putih meneruskan ucapannya, perempuan tua itu menggeleng perlahan.

"Sudah kukatakan, keadaanku sudah  baik.  Aku tak mau membuatmu repot. Lagi pula, orang yang mencelakai ku pasti akan terus memburu ku. Dan itu berarti, kau "

"Perempuan setan! Aku tahu kau ada di dalam. Lekas keluar! Jika tidak, tempat ini akan kami hancurkan!"

Perempuan tua  itu  menghentikan  kata-katanya. Karena dari arah luar terdengar bentakan keras mengancam.

Jelas, ucapan bernada ancaman itu dikeluarkan dari jarak jauh. Namun karena dikerahkan lewat tenaga dalam, maka suaranya menggema dan mengiang di telinga setiap orang yang ada di dalam bangunan.

Beberapa anak buah Ratu Pualam Putih yang ada dalam ruangan ini segera membentuk barisan, siap hendak menyongsong keluar. Namun belum sampai mereka bergerak, Ratu Pualam Putih telah memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengurungkan niat. Gadis ini lantas berpaling ke belakang, memandang lekat-lekat pada gurunya yang telah berdiri dan mulai melangkah hendak keluar.

"Kadarwati.... Jangan ikut campur masalah ini. Biar aku sendiri yang menyelesaikan...!" ujar perempuan tak bernama setelah dekat dengan Ratu Pualam Putih.

Ratu Pualam Putih menarik napas panjang, seakan melepaskan beban berat yang menindih dadanya. Wajahnya tampak menyiratkan kekecewaan.

"Guru! Bertahun-tahun aku kau didik. Budi jasamu padaku tidak bisa lagi dihitung. Sekarang, ku mohon berilah kesempatan padaku untuk sedikit membalas budi-mu!" ucap Kadarwati alias Ratu Pualam Putih.

Perempuan tua berpakaian compang-camping ini tersenyum kecut, lalu menggeleng.

"Muridku, aku bukannya tak mau dibantu. Namun bukan sekarang waktunya!" tolak perempuan tua itu.

"Aku tak mengerti maksudmu     "

"Sekarang mundurlah. Biar aku yang menghadapi mereka. Lagi pula, orang-orang di luar ini bukan tandingan mu ," ujar perempuan tua ini. Setelah berkata, perempuan tua berpakaian compang-camping itu melesat keluar, diiringi tatapan kosong Ratu Pualam Putih. Sedangkan gadis berwajah cantik jelita ini masih tegak termangu agak lama. Tapi perasaan khawatir yang begitu dalam terhadap gurunya membuat kakinya perlahan-lahan melangkah keluar.

Sementara itu, begitu perempuan tak bernama menjejakkan kakinya di luar, tiga sosok manusia langsung mengurungnya. Sejenak matanya menyapu dengan tajam pada tiga orang yang mengurungnya. Nampaknya yang dikenalnya hanya dua orang. Yakni, perempuan tua berjubah dengan sorban hitam, yang mulutnya tak henti-hentinya bergerak. Dia tak lain adalah Bayangan Iblis. Seorang lagi adalah gadis berparas jelita. Pakaiannya warna merah. Dan dia tak lain adik seperguruannya sendiri yakni Bayangan Seribu Wajah.

Sedang yang tak dikenali adalah seorang pemuda berwajah tampan. Badannya kekar, terbungkus jubah toga merah menyala. Sesekali bibirnya mengembangkan senyum.

"Perempuan setan!" bentak Bayangan Iblis dengan mata membelalak. "Kali ini kau tak akan bisa lolos lagi. Tapi hal itu masih bisa diatur, asalkan kau mau mengatakan di mana pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108 itu!"

Wajah perempuan tak bernama berubah merah padam.

"He... he... he...!"

Aneh! Meski baru saja diejek dengan sebutan 'perempuan setan', sesaat kemudian  perempuan  tua ini malah tertawa mengekeh panjang.

Ternyata kekehan tawa itu bukan tawa biasa. Buktinya sesaat kemudian tampak Bayangan Iblis dan Bayangan Seribu Wajah memejamkan mata masingmasing sesaat, untuk mengerahkan tenaga dalam. Mereka berusaha menangkis suara mengiang keras yang menusuk-nusuk gendang telinga. Sementara pemuda berjubah toga merah yang tak lain Malaikat Berdarah Biru tampak tenang. Bahkan tersenyum mengejek.

Begitu kekehan tawa perempuan tua itu terhenti, Bayangan Iblis dan Bayangan Seribu Wajah saling berpandangan. Mereka benar-benar sadar kalau lawan dihadapi benar-benar tangguh. Belum lama ini,  mereka berdua telah berhasil membuat perempuan tak bernama ini terluka parah. Tapi nyatanya, perempuan tua itu masih mampu mengerahkan tenaga dalam tinggi.

Di pihak lain, perempuan tua juga sedikit terkejut. Karena dia sempat melihat kalau Malaikat Berdarah Biru tak terpengaruh sama sekali oleh tawanya.

"Hmm.... Siapa gerangan pemuda ini? Melihat sikapnya, ilmunya jelas lebih tinggi daripada Bayangan Iblis dan Bayangan Seribu Wajah. Buktinya dia tak terpengaruh sama sekali oleh tenaga dalam yang ku keluarkan...," kata batin perempuan tua itu seraya menatap Malaikat Berdarah Biru dengan sorot mata menyelidik.

Pada saat yang sama, tiba-tiba Bayangan Iblis telah berkelebat. Dan tahu-tahu dia telah berdiri tegak lima langkah di hadapan perempuan tua itu.

"Kau jangan memaksaku, Bayangan Iblis! Sudah kukatakan, aku tak tahu ke mana perginya  pemuda yang kau cari!" tegas perempuan tua itu, mendahului.

"Setan alas! Kau memang ingin mampus!" gertak Bayangan Iblis.

Begitu tuntas kata-katanya, Bayangan Iblis langsung meloncat sambil menghentakkan kedua tangannya ke arah kepala perempuan tua itu.

Wesss...!

Begitu tiba-tiba dan cepat serangan Bayangan Iblis, namun perempuan tak bernama masih sempat menghindar dengan menarik kepalanya ke samping. Dan belum sampai perempuan tua itu kembali bersiap, mendadak saja Bayangan Iblis menyusuli serangan dengan terjangan kaki ke dada. Lalu....

Desss! "Aaakh..,!"

Perempuan tak bernama itu berseru tertahan dengan tubuh mencelat dua tombak ke belakang. Cukup keras tubuhnya mencium  tanah.  Dan  baru  saja dia hendak bangkit, Bayangan Seribu Wajah telah berkelebat. Lalu, tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya.

"Ratih!" seru perempuan tua itu setelah benarbenar berdiri, menyebut nama asli Bayangan Seribu Wajah. "Sadarlah. Meski kau runtuhkan langit dan keringkan lautan, bumbung bambu itu tak mungkin kau dapatkan!"

Ratih atau Bayangan Seribu Wajah menyeringai. Dan tanpa berkata-kata lagi kedua tangannya segera dihantamkan ke arah perempuan tua.

Wesss...! Wesss. !.

Dua rangkum sinar merah segera meluncur dari tangan Ratih, menggebrak kakak seperguruannya.

"Hiaaa !"

Didahului bentakan melengking keras, perempuan tua itu cepat mengepakkan  kedua  tangannya. Saat itu juga gumpalan asap putih yang menebar aroma bunga tujuh warna segera mengepul. Namun sesaat kemudian, kepulan asap itu mengeras. Bahkan tiba-tiba saja melesat ke depan, memapak serangan lawannya.

Blarrr!

Seketika terdengar ledakan dahsyat. Tubuh Bayangan Seribu Wajah tampak terpelanting dan jatuh tersuruk di tanah. Namun sesaat kemudian dia telah bangkit, meski mulutnya keluarkan caci maki tak karuan. Sudut bibirnya tampak menggenang darah. Tangan kanannya merah melepuh. Dan nafasnya berhembus tersengal.

Sementara perempuan tak bernama itu hanya terseret dua langkah ke belakang dengan tubuh tetap tegak kokoh. Bahkan secepat kilat kedua tangannya dihantamkan. Dan kali ini yang jadi sasarannya adalah Bayangan Iblis.

"Hih!"

Wesss...!

Angin deras bergemuruh dahsyat yang menebarkan aroma bunga tujuh warna kembali menggebrak ke arah perempuan guru dari Malaikat Berdarah Biru.

Bayangan Iblis yang tak menyangka akan mendapat serangan sedikit terkejut. Secepat kilat  tubuhnya dimiringkan.

Plashhh! "Aaakh...!"

Namun sambaran serangan perempuan tua itu masih sempat menghantam bahu sebelah kanan Bayangan Iblis. Disertai keluhan tertahan, Bayangan Iblis terbanting dan terjengkang jatuh. Jubah  hitamnya tampak berlobang dan berbau sangit. Kedua matanya mendelik dengan napas tersengal-sengal. Namun begitu, Bayangan Iblis tak mau menyerah begitu saja. Secepatnya dia bergerak bangkit. Sejenak dipandangnya Bayangan Seribu Wajah. Diberinya isyarat dengan angguk-anggukkan kepala Ratih.

Begitu anggukan kepala Bayangan Iblis berhenti, Bayangan Seribu Wajah mendadak berkelebat. Pada saat yang hampir bersamaan, Bayangan Iblis berkelebat.

Sekejap kemudian kedua tokoh sesat ini telah berdiri berjajar dan langsung menghentakkan kedua tangan ke depan bersamaan.

Werrr...!

Wesss...!

Larikan sinar merah hitam menghentak. Suaranya menggemuruh, bagai ombak menggulung. Sementara, perempuan tak bernama itu terbelalak. Dari mulutnya terdengar seruan tertahan karena tercengang. Rambutnya yang tipis dan awut-awutan tampak berkibar-kibar. Demikian juga pakaiannya.

Mendapati serangan, perempuan tua ini segera mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya untuk membendung. Namun bagaimanapun tenaga dalamnya dikerahkan, dia hanya bertahan sebentar. Karena....

"Uhhh. !"

Tubuh perempuan tua yang memang masih terluka dalam ini terseret mencelat ke belakang, lalu jatuh terkapar begitu punggungnya yang bungkuk menghempas sebatang pohon!

Beberapa lama perempuan tua ini terhenyak dengan napas sesak. Sekujur tubuhnya terasa tegang kaku dan remuk redam. Sepasang matanya mengerjap-ngerjap perih. Telinganya berdengung-dengung nyeri.

Sementara itu Bayangan Seribu Wajah dan Bayangan Iblis saling berpandangan. Lalu mereka melangkah mendekati disertai tawa kemenangan. Sedangkan di belakang, Malaikat Berdarah Biru hanya menyeringai, lalu meludah.

Ketika dekat dengan perempuan tua yang kini duduk bersila menahan sakit, Bayangan Seribu Wajah dan Bayangan Iblis menghentikan tawanya. Bayangan Iblis lantas hendak merengkuh tubuh perempuan tua ini, bermaksud menyeretnya.

"Hih !"

Tiba-tiba saja perempuan tua ini melepaskan pukulan yang telah dialiri tenaga dalam tinggi.

Wesss!

"Awas serangan!" teriak Bayangan Seribu Wajah memperingati.

Gumpalan asap segera melesat cepat dari telapak tangan perempuan tak bernama ini mengeluarkan suara menggidikkan.

Namun karena jaraknya begitu dekat, membuat Bayangan Iblis tak sempat lagi menghindar. Sehingga....

Desss...! "Aaakh...!"

Tanpa ampun lagi, serangan perempuan tua ini telak menghantam dada Bayangan Iblis. Seketika guru Malaikat Berdarah Biru ini terhumbalang sampai beberapa tombak ke belakang.

Begitu tubuh Bayangan Iblis berhenti dan terkapar di atas tanah, Bayangan Seribu Wajah serta Malaikat Berdarah Biru tercengang. Sekujur tubuh Bayangan Iblis tampak telah berubah kebiru-biruan. Dari mata dan hidungnya keluar darah kehitaman. Pakaiannya telah koyak di sana-sini. Dan dikala mencoba merambat bangkit, tubuhnya kembali jatuh dan terkapar tak sadarkan diri.

Melihat hal demikian, Bayangan Seribu Wajah beringsut mundur dua tindak. Tubuhnya sedikit bergetar. Dia sepertinya tahu, tak akan mampu menghadapi kakak seperguruannya ini sendirian. Meski, kakaknya telah terluka parah.

Berpikir demikian, Bayangan Seribu Wajah berpaling pada Malaikat Berdarah Biru. Seakan tahu apa yang ada di benak wanita ini, pemuda berbaju toga merah ini segera berpaling dari tubuh gurunya. Wajahnya tampak mengelam dengan pelipis bergerakgerak. Dagunya mengembung, dengan sepasang mata berkilat-kilat menindih hawa amarah yang meluap. "Heaaa...!"

Disertai bentakan keras, Malaikat Berdarah Biru berkelebat. Begitu menjejakkan kaki tak jauh dari tempat perempuan tua, kedua tangannya segera dihantamkan, melepaskan dua pukulan sakti. Tangan kanan melepas pukulan  'Serat Jiwa', sedang tangan kiri melepas pukulan 'Badai Biru'.

Wess! Weess!

Dua larik sinar merah dan biru yang menebarkan hawa panas menyengat segera menghajar ke arah perempuan tua. Sementara dari arah samping, Bayangan Seribu Wajah tak tinggal diam. Tangannya juga segera menghentak, melepas pukulan.

Wert...!

Kini perempuan tua itu terkurung larikan-larikan sinar yang berhawa maut.

Disadari, jika tak dapat membendung seluruh serangan, maka diputuskan untuk menangkis serangan Malaikat Berdarah Biru. Karena diduga serangan pemuda ini lebih berbahaya.

"Hih...!"

Seketika perempuan tua ini menghantamkan kedua tangannya ke depan. Sementara tubuhnya dimiringkan hampir menyentuh tanah, untuk menghindari serangan Bayangan Seribu Wajah yang  menggebrak dari samping.

Blarr! Blaarr!

Puncak Bukit Watu Dakon bagai dilanda gempa dahsyat. Pohon-pohon di puncak bukit banyak yang berderak, lalu bertumbangan. Tanah terbongkar hebat dengan berubah menjadi hitam.

Sementara itu tubuh perempuan tua terseret ke belakang. Sepertinya dia masih bisa bertahan, agar tak terpelanting terkena bias bentrok pukulannya dengan pukulan Malaikat Berdarah Biru. Namun gerakannya untuk bertahan justru membuatnya lupa dengan serangan Bayangan Seribu Wajah yang datang dari samping. Tatkala dia sadar, datangnya sudah terlambat. Dan....

Desss!

Saat itu juga serangan Bayangan Seribu Wajah menghujam tepat ke dada perempuan tua itu. Tak terdengar suara jeritan dari mulutnya, meski nampak ternganga lebar! Yang terdengar hanya suara bergedebukan. Kemudian  disusul tubuhnya yang  bergulingan di tanah.

Malaikat Berdarah Biru dan Bayangan Seribu Wajah seketika membesarkan mata masing-masing. Mereka hampir tak percaya dengan pandangannya sendiri. Meski telah terluka parah dan baru saja terhantam telak pukulan Bayangan Seribu Wajah, perempuan tua itu masih bisa merambat bangkit.  Bahkan duduk, walau dengan tubuh lunglai.

Malaikat Berdarah Biru yang serangannya dapat dibendung perempuan tua itu menggeram marah. Lantas kakinya melangkah lebar-lebar ke arah perempuan tua ini, tanpa lagi memandang. Dan dua tombak di hadapan perempuan tua yang sudah nampak tak berdaya, langkahnya berhenti. Sejenak matanya memandang tajam, lalu meludah ke tanah. Dan setelah itu tiba-tiba kedua tangannya ditarik ke belakang, siap melepas pukulan.

"Perempuan setan! Kau pantas tewas dengan membawa kebodohanmu!"

Setelah berkata begitu, Malaikat Berdarah Biru menghantamkan kedua tangannya ke depan.

Wesss. !

Karena tubuhnya telah terluka, perempuan  tua itu tak bisa lagi untuk bergerak menghindar. Dan dia hanya diam, seolah pasrah menunggu saat kematian. Namun sedepa lagi hantaman tangan Malaikat

Berdarah Biru menghajar, mendadak berkelebat sebuah bayangan, lalu berdiri  di  hadapan  perempuan tua seakan membentengi dari serangan Malaikat Berdarah Biru.

Anehnya, sosok yang berdiri di depan perempuan tua itu tak berusaha menangkis. Dia hanya berdiri diam, sehingga....

Desss. !

"Aaakh !"

Tak pelak lagi, hantaman tangan Malaikat Berdarah Biru menggebrak tubuh sosok hingga terpental.

"Kadarwati   ," bisik perempuan tua itu lirih.

Guru dari Ratu Pualam Putih ini mencoba berteriak agar sosok yang tak lain memang Kadarwati atau Ratu Pualam Putih itu segera menghindar. Namun dari mulutnya tak terdengar suara. Hingga hanya sepasang matanya saja yang terpejam tatkala hantaman tangan Malaikat Berdarah Biru yang bertenaga dalam tinggi menghajar tubuh Ratu Pualam Putih.

Ratu Pualam Putih telah terkapar di atas tanah puncak bukit. Keadaannya sudah sangat mengerikan. Pakaian yang dikenakannya hangus.  Sekujur  tubuhnya menjadi merah biru. Rambutnya rontok. Matanya mengalirkan darah!

Jauh sebelum Ratu Pualam Putih membentengi gurunya dari serangan Malaikat Berdarah Biru, dia telah menyuruh seluruh anak buahnya meninggalkan bangunan tempat tinggalnya untuk sementara. Semula, wanita berkepala gundul itu menolak. Tapi karena melihat kesungguhan Ratu Pualam Putih, mereka tak berani membantah. Maka dengan berat hati mereka meninggalkan bangunan di puncak Bukit Watu Dakon. Sementara itu kini Malaikat Berdarah Biru tersenyum puas. Sedangkan, Bayangan Seribu Wajah mengerling sebentar, lalu melangkah mendekati perempuan tua yang kini juga terkapar terkena  bias  pukulan, Malaikat Berdarah Biru.

Bayangan Seribu Wajah segera memeriksa tubuh perempuan tua itu.

"Hmm.... Nadi tangannya sudah tidak terasa denyutan. Dadanya juga tak terlihat bergerak. Dia sudah tewas...," gumam Bayangan Seribu Wajah dalam hati, seraya bangkit dan melangkah ke arah Malaikat Berdarah Biru.

"Bagaimana, Bayangan Seribu Wajah?" tanya Malaikat Berdarah Biru.

Bayangan Seribu Wajah menggeleng perlahan. "Dua-duanya telah tewas!" jelas wanita ini sambil

mengerdipkan sebelah matanya.

Malaikat Berdarah Biru mengangguk, lalu berbalik melangkah ke arah Bayangan Iblis yang masih terkapar tak sadarkan diri. Di belakangnya Bayangan Seribu Wajah mengikuti.

"Kita harus segera membawanya. Dia tampak terluka cukup parah!" ujar Malaikat Berdarah Biru tanpa menoleh pada Bayangan Seribu Wajah yang kini telah berdiri menjajari.

Bayangan Seribu Wajah tidak menjawab. Hanya sepasang matanya memandang ke arah Bayangan Iblis sebentar, lalu beralih pada Malaikat Berdarah Biru.

Tangannya lalu bergerak melingkar ke pinggang pemuda ini.

"Benar. Kita harus membawanya...," ucap Bayangan Seribu Wajah dengan suara mendesah.

Wajah wanita ini lantas mendongak sedikit, dengan tumit terangkat. Dan dengan tiba-tiba dipagutnya bibir Malaikat Berdarah Biru.

Sejenak Malaikat  Berdarah  Biru  terkesima.  Namun tak lama kemudian dibalasnya pagutan itu dengan semangat. Tapi ketika kedua tangan Bayangan Seribu Wajah mulai bergerak menjalar, tangan kokohnya segera menepisnya.

"Jangan   berlaku  gila   di   sini...!"   sergah   Malaikat Berdarah Biru dengan suara sedikit bergetar. "Waktu kita masih banyak! Kita urus guru dulu "

Bayangan Seribu Wajah tak  menjawab,  seperti tak mendengar teguran Malaikat Berdarah Biru.

"Kau dengar kata-kataku tadi bukan?!" bentak Malaikat Berdarah Biru. "Kita harus urus tubuh Guru yang masih memerlukan pertolongan dahulu."

Habis berkata, Malaikat Berdarah Biru menepiskan tangan Bayangan Seribu Wajah agak keras. Lantas kakinya melangkah mendekati tubuh gurunya. Lalu dengan cepat diangkat dan dipanggulnya di atas pundak.

Sementara Bayangan Seribu Wajah yang gejolak nafsunya terpenggal, jadi cemberut sambil membuang muka. Namun tatkala Malaikat Berdarah Biru menjajarinya dan berbisik perlahan, wajah Bayangan Seribu Wajah berubah cerah. Lantas digandengnya tangan Malaikat Berdarah Biru yang memanggul tubuh Bayangan Iblis. Mereka kini menuruni Bukit Watu Dakon.

***

4

Begitu Pendekar Mata Keranjang 108 menghentikan langkahnya ketika melihat dua sosok tubuh  tengah menuruni Bukit Watu Dakon. Setelah mengawasi dengan seksama dan memasang telinga baik-baik, dia cepat menyelinap ke balik semak belukar.

Gerakan dua sosok itu amat cepat, sehingga sebentar saja telah dekat dengan Pendekar Mata Keranjang 108. Ketika telah jelas tampang dua sosok yang sedang menuruni bukit, sepasang mata Aji terbelalak lebar.

"Hmm.... Malaikat Berdarah Biru... Bayangan Seribu Wajah...," gumam Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati. Matanya yang tajam memperhatikan lebih seksama lagi. "Hmm.... Mereka sepertinya telah saling kenal baik. Bahkan nampaknya  tengah  jatuh  cinta. Tapi Malaikat Berdarah Biru membawa seseorang....

Siapa dia? Dan orang itu tampaknya terluka    "

Sambil terus memperhatikan, Pendekar Mata Keranjang 108 berpikir keras.

"Melihat ada yang terluka, pasti telah terjadi sesuatu di atas sana.... Sebaiknya aku menghindar  dahulu bertemu dengan mereka. Aku khawatir pada Ratu Pualam Putih. Jangan-jangan "

Pendekar Mata Keranjang 108 tidak meneruskan kata hatinya. Pada saat yang sama Bayangan Seribu Wajah dan Malaikat Berdarah Biru tepat melintas tak jauh dari tempatnya. Sejenak ditahannya napas dengan lebih merundukkan kepala.

Hanya beberapa saat setelah mereka melintas, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat. Dan dengan ilmu meringankan tubuh yang telah sangat tinggi, dia berlari kencang mendaki arah puncak bukit. Sampai di puncak bukit, sepasang mata Aji lang-

sung mendelik dengan raut wajah berubah. Sepasang kakinya bagai tiang besi terpancang kokoh, berat untuk digerakkan.

"Ratu Pualam Putih!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 keras

Saat itu juga, Aji melompat ke arah tubuh Ratu Pualam Putih yang tampak terbujur kaku dalam keadaan mengenaskan. Diguncang-guncangnya tubuh kaku wanita cantik itu, namun sudah tak lagi bergerak. Cepat Pendekar Mata Keranjang 108 mencoba mengerahkan tenaga dalam, dan menyalurkannya pada dada Ratu Pualam Putih. Tapi, sia-sia. Wanita ini tetap tak bergeming sedikit pun.

"Apa yang telah terjadi? Pasti ini perbuatan Malaikat Berdarah Biru dan Bayangan Seribu Wajah! Keparat! Aku tak akan tinggal diam. Aku akan membuat per-hitungan dengan mereka. Perbuatan mereka sudah melampaui batas!"

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 berkata pada diri sendiri dengan menahan rasa amarah yang menggebu, terdengar erangan menyayat. Bagai kilat tubuhnya segera berkelebat ke arah sumber suara erangan.

Untuk kedua kali pendekar murid  Wong  Agung ini dibuat terbeliak tak berkedip. Bahkan sepasang kakinya tampak goyah, karena bergetar hebat.

Di samping sebuah pohon besar yang tumbang, tampak tubuh perempuan tua berpakaian compangcamping terkapar mandi darah. Dadanya yang tak lagi tertutup, naik turun menghembuskan napas satu-satu tak beraturan.

"Eyang...," teriak Pendekar Mata Keranjang 108 seraya melompat mendekati. "Eyang..., aku Aji. Bertahanlah! Aku akan menolongmu "

Dada perempuan tua itu berhenti bergerak. Erangannya pun sesaat tak lagi terdengar. Kelopak matanya yang telah cekung dan berdarah, membuka perlahan. Namun sesaat kemudian kembali memejam.

"Eyang  ," panggil Aji lagi.

"Aji...," sebut perempuan tua itu perlahan,  hampir tak terdengar. Tangannya bergerak seakan menggapai. "Kau telah mempelajari isi bumbung bambu itu...?"

Aji mengangguk "Sudah, Eyang "

Pendekar Mata Keranjang 108 berkata agak keras, khawatir perempuan tua itu tak bisa mendengar suaranya. Karena, ternyata dari lobang telinganya telah mengalir pula darah berwarna kehitaman.

Perempuan tua itu menarik napas panjang. Bibirnya yang kecil tersenyum meski sepasang matanya masih tetap terpejam.

"Bagus. Pergunakanlah sebaik-baiknya apa yang ada padamu. Hanya itu pesanku.... Dan jika aku meninggal, kuharap sudilah kau menyandingkan kuburku dengan kubur Kadarwati.... Dan..., satu lagi....

Kau..., harus cepat bertindak sebelum para iblis itu merajalela ," ujar perempuan tak bernama.

Habis berkata begitu, bibir perempuan tua itu terkatup rapat. Nafasnya tak lagi berhembus. Aji coba menyalurkan tenaga dalam. Namun begitu tangannya menempel, tubuh perempuan tua itu sudah terasa dingin.

"Eyang  ," teriak Aji melengking.

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 lantas terduduk lemas dengan sepasang mata nanar, memandangi tubuh di depannya. Lalu tatapannya beralih pada tubuh Ratu Pualam Putih. Kedua tangannya mengepal dan diangkat ke atas.

"Bayangan Seribu Wajah! Malaikat Berdarah Biru! Tunggulah saatnya. Kalian tak akan lolos lagi!" desis Pendekar Mata Keranjang 108.

Senja sudah turun melingkupi puncak Bukit Watu Dakon. Delapan anak buah Ratu Pualam Putih yang semula diperintahkan menyingkir oleh pimpinan mereka, kini telah kembali dengan wajah tersaput kedukaan dan kekecewaan. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Karena bagi mereka, pantang untuk menentang perintah pimpinan.

Dibantu delapan wanita berkepala gundul itu, Pendekar Mata Keranjang 108 selesai memakamkan jenazah perempuan tua dan Ratu Pualam Putih. Dan seperti pesan perempuan tua, kuburan mereka disandingkan.

Setelah delapan anak buah Ratu Pualam Putih masuk ke dalam bangunan, Pendekar Mata Keranjang 108 masih tetap duduk di atas makam yang masih baru ini dengan wajah muram. Sesekali ditariknya napas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan-lahan. Bayangan wajah Ratu Pualam Putih  dan  perempuan tua itu terus terbayang di pelupuk matanya.

"Ratu Pualam Putih...," bisik Pendekar Mata Keranjang 108. "Maafkan, aku telah terlambat menyelamatkanmu. Namun, percayalah. Mereka yang berbuat kejam padamu akan menerima balasan setimpal. Dan aku juga minta maaf, karena belum bisa menepati janji ku padamu "

Aji mengusap wajahnya dengan telapak tangan, lalu menarik napas panjang dan dalam.

"Ratu Pualam Putin...,"lanjut Aji. "Aku merasa memerlukanmu, begitu kau telah pergi. Ah! Segalanya memang tak ada gunanya lagi. Tapi bagaimanapun juga, kau akan tetap kusimpan di hatiku "

Kenangan pemuda ini lantas beralih pada perempuan tua itu. Seorang tua aneh yang telah memberi bumbung bambu padanya.

"Eyang     Aku berjanji di depan makammu, akan

selalu menuruti kata-kata yang kau pesankan. Menumpas para iblis keparat itu, dan mengamalkan apa yang telah  ku  peroleh  untuk  kebaikan  umat  manusia ," desah Pendekar Mata Keranjang 108. Malam terus beranjak. Namun, rupanya Pendekar Mata Keranjang 108 tak hendak beranjak juga dari makam dua wanita yang patut dihormatinya. Dia tetap duduk merenung. Hingga mungkin karena tubuh dan pikiran terlalu lelah, akhirnya dia jatuh tertidur.

"Aji "

Sebuah suara terdengar sayup-sayup memanggil. Pendekar Mata Keranjang 108 sepertinya tak asing lagi dengan suara itu. Suara orang yang telah dikenalnya dengan baik. Begitu wajahnya berpaling, tampak Wong Agung berdiri tak jauh di hadapannya.

"Eyang Wong Agung...," seru Aji, seraya menjura hormat.

Guru Pendekar Mata Keranjang 108 ini tersenyum. Kepalanya mengangguk.

"Aji.... Dalam rimba persilatan keadaan memang datang silih berganti. Ada kalanya keadaan datang membawa kesenangan, dan tak jarang pula membawa kedukaan. Sebagai ksatria, kau harus bisa menerima kenyataan ini. Inilah hidup! Dan sebagai ksatria, pantang juga meneteskan air mata hanya karena kenyataan. Kau harus tegar. Apa pun kenyataan yang terjadi!" kata Wong Agung dengan suara berat.

Sejenak Wong  Agung  menghentikan  ucapannya.

Wajahnya menatap jauh ke depan.

"Aji! Aku melihat burung gagak terbang ke arah utara, dan hinggap di atas tempat Ageng Panangkaran. Burung gagak adalah perlambang alam kegelapan. Aku khawatir, sesuatu terjadi pada paman Ageng Panangkaran. Pergilah kau ke tempatnya. Dan, harap ingat ucapanku. Tegarlah menghadapi kenyataan...," lanjut Wong Agung.

Setelah berkata begitu, Wong Agung tersenyum. Dan perlahan-lahan tubuhnya menghilang dari hadapan Pendekar Mata Keranjang 108. Aji tersentak. Dan dia mendapatkan dirinya masih duduk di atas makam Ratu Pualam Putih dan perempuan tua itu.

"Hmm.... Aku bermimpi...," gumam Aji termangu. Kedua matanya segera dikucek-kucek. Begitu matanya terang, Pendekar Mata Keranjang 108 sedikit terkejut, Karena, ternyata sinar matahari sudah mulai mengintip dari balik gunung.

Perlahan-lahan Pendekar Mata Keranjang 108 berdiri. Matanya memandang berkeliling, dan berujung pada dua makam di sampingnya.

"Ratu Pualam Putih dan Eyang     Aku pergi seka-

rang. Damailah kalian    "

Setelah berucap begitu, Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah meninggalkan puncak Bukit Watu Dakon.

"Mimpi ku tadi malam, adalah  sebuah  isyarat. Aku harus segera ke tempat Eyang Ageng Panangkaran. Bukan tak mungkin para iblis itu menuju ke sana, untuk mencariku...," gumam Aji.

Pendekar Mata Keranjang 108 terus berkelebat, dan kini tiba di lereng bukit.

"Kalau aku ke sana, pasti bertemu Sakawuni. Lantas, bagaimana jika nantinya Eyang Ageng Panangkaran meminta ku untuk..., ah! Itu urusan nanti. Yang penting, aku menemui Eyang Ageng Panangkaran...," lanjut Aji,

Pendekar Mata Keranjang 108 terus melangkah menuju arah utara, arah tempat Ageng Panangkaran berada. Yakni, Lembah Baka.

***

Dua penunggang kuda langsung menghentikan tunggangan masing-masing ketika di depan terhampar sebuah lembah agak luas. Lembah ini telah banyak dikenal orang. Selain karena pemandangannya indah, di lembah ini juga hidup seorang tokoh silat berkepandaian tinggi yang bersifat ramah dan suka menolong. Dia tak lain tokoh bernama Ageng Panangkaran.

"Inilah Lembah Baka, Malaikat Berdarah Biru! Tempat orang yang kita cari!" jelas penunggang kuda di sebelah kanan, yang ternyata seorang gadis berwajah cantik jelita. Rambutnya yang  panjang  dikuncir  ke atas. Pakaian yang dikenakannya berwarna merah dan begitu ketat, menampakkan tubuhnya yang membentuk indah.

"Tapi, apakah Pendekar Mata Keranjang 108 berada di sini?" tanya penunggang kuda di sebelah kiri yang ternyata Malaikat Berdarah Biru.

"Tujuan kita kemari bukan untuk mencari Pendekar Mata Keranjang 108, namun untuk menghabisi penghuni Lembah Baka ini. Dengan begitu, Pendekar Mata Keranjang 108 pasti akan mencari kita. Karena, penghuni tempat ini adalah salah satu gurunya Se-

kaligus, untuk membalas atas perbuatan  Pendekar Mata Keranjang 108 yang menewaskan para pembantumu!" jawab gadis berbaju merah yang tak lain Bayangan Seribu Wajah sambil mengerling.

Sementara pemuda kekar dengan dagu kokoh ini hanya menyorot tajam dengan matanya. Dibalasnya kerlingan itu dengan senyum buas.

"Tapi kita harus berhati-hati. Ageng Panangkaran adalah tokoh tersohor...!" sambung Bayangan Seribu Wajah.

"Phuih !"

Malaikat Berdarah Biru berpaling, langsung meludah ke tanah mendengar kata-kata gadis di sampingnya. Wajahnya berubah merah padam. Pelipisnya bergerak-gerak dengan dagu semakin mengembang. "Malaikat Berdarah Biru! Kau jangan terburu marah," sambung Bayangan Seribu Wajah perlahan, begitu melihat gelagat tak baik. "Aku percaya, meski Ageng Panangkaran mempunyai nama besar, namun dibanding dirimu, dia tidak ada apa-apanya!"

"Hmm "

Hanya itu yang kemudian terdengar dari mulut Malaikat Berdarah Biru. Kembali kepalanya berpaling pada Bayangan Seribu Wajah.

"Ayo kita teruskan perjalanan. Akan kubuktikan bahwa nama besar Ageng Panangkaran tidak berarti banyak bagi Malaikat Berdarah Biru, calon pemimpin rimba persilatan!" ajak Malaikat Berdarah Biru dengan sikap jumawa.

Mereka lantas menghela kuda tunggangan masing-masing, menuju ke Lembah Baka. Namun baru saja mencapai tengah lembah....

"Jika   kalian   berniat   tidak   baik,   kuharap   lekas tinggalkan tempat ini!"

Mereka berdua dikejutkan suara teguran yang tiba-tiba saja bergaung.

Malaikat Berdarah Biru dan Bayangan Seribu Wajah sekonyong-konyong menghentikan kuda tunggangan masing-masing. Mereka saling berpandangan. Bayangan Seribu Wajah nampak terkejut besar. Sementara Malaikat Berdarah Biru tetap berlaku tenang. Malah kepalanya segera mendongak.

"Jahanam!  Perlihatkan  bentuk  mu!  Jangan  hanya berkata dari balik tempat persembunyian seperti seorang pengecut!" bentak Malaikat Berdarah Biru, keras.

Bentakan Malaikat Berdarah Biru dilanjutkan dengan tawa mengekeh. Namun tiba-tiba saja kekehan tawanya berhenti. Suasana hening sejenak.

"He...! Cepat tunjukkan dirimu! Mari kita buktikan siapa di antara kita yang patut menyandang nama besar!" lanjut Malaikat Berdarah Biru kembali. "Ha... ha... ha...!"

Terdengar suara tawa membahana panjang, lalu gema suara itu lenyap.

"Rupanya kalian datang menginginkan nama besar. Ah! Sungguh sayang sekali. Hari ini aku tak menjual nama besar itu. Maka dari itu, lekaslah tinggalkan tempat ini. Kalian salah alamat jika datang ke sini dengan menginginkan nama besar...!" lanjut suara itu.

"Setan alas!" desis Malaikat Berdarah Biru dengan raut mengelam. Kedua tangannya mengepal. Alis matanya menukik saling bertautan. Gerahamnya gemeletak menekan rasa geram.

"Kulihat kalian tidak tuli. Lantas kenapa masih berdiri di situ?" terdengar lagi suara tanpa  terlihat  sosok yang berucap.

Suasana hening seketika. Ekor mata Malaikat Berdarah Biru melirik sebentar, lalu tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat. Gerakannya diikuti oleh Bayangan Seribu Wajah. Dan tahu-tahu mereka telah berdiri sambil berkacak pinggang di sebelah sebuah batu besar. Sepasang matanya menyapu  berkeliling,  namun tak menemukan siapa-siapa.

"Jahanam  busuk!  Rupanya  kau  takut  menghadapiku...!" maki Malaikat Berdarah Biru.

"Apa yang perlu ditakutkan?"

Tiba-tiba saja terdengar sahutan, membuat Malaikat Berdarah Biru segera berpaling. Demikian juga Bayangan Seribu Wajah.

Kedua orang ini sama-sama terperangah. Di dekat kuda mereka berdua tadi, tampak berdiri tegak seseorang sambil mengulas senyum. Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Rambutnya panjang sudah memutih. Demikian pula jenggotnya. Meski telah berumur, namun bekas ketampanan masih tergambar jelas di wajahnya.

"Siapa kau?!" bentak Malaikat Berdarah Biru, mengawasi tanpa berkedip.

Yang ditanya hanya tersenyum, tanpa membuka mulut. Dan ini membuat amarah Malaikat Berdarah Biru. Segera jubah toganya dikibaskan.

Wuuut! Wuuuttt!

Dua hempasan angin kencang dari kibasan jubah toga Malaikat Berdarah Biru menggebrak cepat. Namun hanya dengan sedikit memiringkan tubuhnya tanpa me-rubah kedua kakinya, sambaran angin itu hanya lewat satu depan di samping laki-laki berusia lanjut ini.

"Sebelum kau menyesal, lekas jawab pertanyaanku!" bentak Malaikat Berdarah Biru kembali.

"Sebagai tuan rumah, mestinya aku yang layak bertanya pada kalian. Siapa kalian sebenarnya?! Dan, apa maksudmu datang ke sini!"

Malaikat Berdarah Biru mendengus keras. Wajahnya dipalingkan ke samping. Sementara Bayangan Seribu Wajah tertawa perlahan bernada mengejek.

"Dengar, Orang Tua! Aku adalah Bayangan  Seribu Wajah. Sedang temanku itu adalah calon pemimpin tunggal rimba persilatan, yang sudah mempunyai nama besar. Orang-orang dunia persilatan menggelarinya sebagai Malaikat Berdarah Biru!"

Laki-laki berusia lanjut yang tak lain Ki Ageng Panangkaran terperangah kaget. Kedua kakinya beringsut mundur satu tindak ke belakang. Dia memang belum pernah bertemu Bayangan Seribu Wajah dan Malaikat Berdarah Biru. Namun sebagai seorang tokoh yang pernah malang melintang dalam rimba persilatan, nama-nama tokoh yang kini ada di hadapannya  pernah didengarnya. Dia juga telah mendengar bahwa mereka adalah tokoh sesat yang bengis dan licik. Melihat laki-laki di hadapannya beringsut mundur, Malaikat Berdarah Biru tersenyum menyeringai penuh ejekan. Sedangkan Bayangan Seribu Wajah semakin keras tawanya.

"Malaikat Berdarah Biru...!" kata Bayangan Seribu Wajah. "Si tua inilah yang kita cari!"

"Aku sudah tahu!" jawab Malaikat Berdarah Biru tanpa menoleh. Sepasang matanya lurus menatap tajam Ki Ageng Panangkaran.

"Apa perlu mereka mencariku...? Apa ada hubungannya dengan Aji?" kata batin Ki Ageng Panangkaran.

Laki-laki tua ini memandang satu persatu pada dua orang di hadapannya.

"Aku sudah dengar nama-nama kalian. Dan aku sangat gembira bisa bertemu orang-orang hebat seperti kalian. Tapi kalau aku boleh tahu, ada urusan apakah yang membuat orang-orang besar seperti kalian datang ke tempat sunyi seperti ini?!" tanya Ki Ageng Panangkaran.

"Aku menginginkan nyawamu!" serobot Bayangan Seribu Wajah dengan mendelik.

"Benar! Kami ingin nyawamu. Namun, itu bisa ditangguhkan jika kau mengatakan dimana Pendekar Mata Keranjang 108!" timpal Malaikat Berdarah Biru sambil melangkah mendekati Ki Ageng Panangkaran.

Mendengar kata-kata dua orang  di hadapannya, Ki Ageng Panangkaran tersenyum. Sementara diamdiam, dalam hatinya terselip perasaan sedikit gentar.

"Kalian datang ke tempat yang salah jika menanyakan keberadaan Pendekar Mata Keranjang 108! Aku sudah tua, dan sudah tak pernah ikut campur lagi segala macam persoalan dunia persilatan. Jadi, harapan kalian mungkin tak bisa aku penuhi. Dan di satu sisi aku pun tak mau dipaksa demikian rupa dengan segala macam ancaman!" sahut Ki Ageng Panangkaran, berusaha menindih rasa gentarnya.

"Jangan  berdusta  di  hadapan  kami.  Dan,  ingat! Ancaman kami tidak main-main. Sekarang katakan saja, di mana Pendekar Mata Keranjang 108. Maka nyawamu akan selamat!" desak Bayangan Seribu Wajah seraya melangkah menjajari Malaikat Berdarah Biru.

"Sayang sekali, aku tak bisa menjawabnya!"  sahut Ki Ageng Panangkaran dengan sikap waspada. Dia merasa ancaman Malaikat Berdarah Biru dan Bayangan Seribu Wajah tidak hanya sekadar gertakan.

Mendengar jawaban Ki Ageng Panangkaran, Malaikat Berdarah Biru tertawa tergelak-gelak.

"Kau layak segera masuk liang kubur!" kata Malaikat Berdarah Biru ketika tawanya berhenti.

Seketika Malaikat Berdarah Biru mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan. Dorongan itu sepertinya pelan. Namun hebatnya....

Werrr.   !

Satu gelombang pusaran angin deras yang berderak-derak keras menyambar cepat ke arah Ki Ageng Panangkaran.

"Hup!"

Ki Ageng Panangkaran yang sudah waspada segera melesat cepat ke arah samping untuk menghindar. Lalu seketika dia balas menggempur dengan menghentakkan kedua tangannya.

"Hih !"

Werrr.  !

Serangkum angin menggemuruh dahsyat yang menebarkan hawa dingin menusuk melesat ke arah Malaikat Berdarah Biru.

Mendapati serangan, manusia kejam yang dikenal suka perempuan dan berilmu tinggi ini mendongakkan kepala sambil mendengus. Dia tidak berusaha menghindar dari serangan. Bahkan sepertinya tidak menganggap bahaya serangan Ki Ageng Panangkaran.

Baru ketika satu depa lagi serangan laki-laki tua itu menggebrak, Malaikat Berdarah Biru menarik kedua tangannya ke belakang. Dan seketika dihamparkannya ke depan.

Wusss...!

Angin kencang berhawa dingin yang menyambar dari telapak tangan Ki Ageng Panangkaran langsung menghilang musnah, tersapu sambaran angin yang keluar dari sentakan  tangan  Malaikat  Berdarah  Biru. Dan sekejap itu juga, tubuh pemuda murid Bayangan Iblis ini berputar cepat. Lalu didahului bentakan rampak, kedua tangannya menghentak hampir berbarengan.

Wesss...!

Wusss...!

Larikan sinar merah dan biru dari pukulan sakti 'Serat Jiwa' dan 'Badai Biru' menghempas ke arah Ki Ageng Panangkaran.

Werrr...!

Sementara pada saat yang sama, Bayangan Seribu Wajah yang dari tadi hanya diam memperhatikan, kini juga ikut-ikutan mengirimkan serangan. Mereka berdua sepertinya ingin segera menyudahi Ki Ageng Panangkaran.

Seketika Ki Ageng Panangkaran tercekat  kaget. Dia tak menduga jika akan dikeroyok demikian rupa. Namun, laki-laki tua ini tak bisa berpikir  lebih  lama lagi. Karena, larikan-larikan sinar merah dan biru, serta gelombang angin sentakan Bayangan Seribu Wajah, telah merambah ke arahnya dari empat jurusan!

Ki Ageng Panangkaran cepat menakupkan kedua tangannya di depan wajah. Matanya langsung dipejam rapat-rapat. Dan mendadak kedua tangannya dibuka didorong ke depan sambil diputar-putar. Malaikat Berdarah Biru dan Bayangan Seribu Wajah tidak merasakan adanya sambaran angin kencang. Mereka hanya mendengar suara perlahan seperti desisan. Namun kedua orang berilmu tinggi ini dibuat tak percaya dengan apa yang terjadi. Ternyata serangan hebat keduanya seperti terkena kekuatan dahsyat dan berhenti secara tiba-tiba!

Malaikat Berdarah Biru membanting-banting kedua kakinya, menahan geram. Sedang  Bayangan Seribu Wajah terbeliak marah.

"Heaa...!"

Mereka sama-sama mengeluarkan bentakan menggemuruh, dan serentak pula kembali mengirimkan serangan susulan.

Wesss...!

Wusss...!

Tapi untuk kedua kali kedua orang ini dibuat terkejut. Serangan mereka ternyata tak bisa menerobos pertahanan lawan. Malah ketiga Ki Ageng Panangkaran mengibaskan kedua tangannya ke depan, mereka terkesima. Karena, serangan mereka mental balik. Bahkan melesat ke arah mereka sendiri.

Werrr...!

"Menyingkir!" seru Malaikat Berdarah Biru memperingati Bayangan Seribu Wajah seraya melompat menghindar.

Namun, peringatan itu datangnya terlambat. Bayangan Seribu Wajah yang seperti tercengang tak percaya, lamban untuk berkelit. Akibatnya...

Prasss...! "Aaakh...!"

Tak ampun lagi tubuh wanita itu terterabas serangannya sendiri. Seketika tubuhnya mencelat diiringi jeritan dari mulutnya.

Begitu menghempas di atas tanah, Bayangan Seribu Wajah melotot tajam. Wajahnya merah padam dengan bibir mengembung. Gadis ini lantas  bangkit, dan meludah. Tampak cairan berwarna merah keluar dari mulutnya yang mengembung.

"Keparat edan! Kubunuh kau!" maki Bayangan Seribu Wajah seraya berkelebat cepat sambil mengirimkan pukulan.

Sementara Malaikat Berdarah Biru menggertakkan rahang. Hatinya panas melihat dua kali serangannya dapat dibendung dengan mudah.

"Waktunya ku coba ilmu dari kitab hitam...!" kata batin Malaikat Berdarah Biru.

Pemuda ini segera memalangkan kedua tangannya di depan dada. Lantas tangan kanannya  menyusup ke balik baju. Dan sebentar kemudian di tangan kanannya telah tergenggam kipas berwarna hitam yang ujung sebelahnya terkikis.

Sementara itu Ki Ageng Panangkaran tampak berkelebat menjauh, menghindari serangan Bayangan Seribu Wajah. Sampai saat ini pun serangan yang dilancarkan Bayangan Seribu Wajah hanya menghantam tempat kosong.

Saat itulah Malaikat Berdarah Biru segera mendorong tangan kirinya. Sementara tangan kanan mengibaskan kipas hitamnya.

Wuuut...!

Blarrr. !

Suasana mendadak redup  hitam,  dan  disusul oleh terdengarnya suara menggemuruh bagai gelombang dahsyat yang disertai kilatan-kilatan menakutkan! Inilah jurus kelima dari kitab hitam ciptaan Empu Jaladara, yakni pukulan 'Bayu Sukma'.

Ki Ageng Panangkaran yang baru saja menjejakkan kedua kakinya setelah berhasil menghindarkan diri dari pukulan Bayangan Seribu Wajah kontan terperangah. Dia hampir tidak percaya. Dahinya berkerut dengan mata menyipit dan terbelalak.

"Celaka! Jadi dia yang telah berhasil mendapatkan kitab dan kipas pusaka kedua milik Empu Jaladara! Ah!, Semoga saja Aji telah pula berhasil mendapatkan jurus pemusnahnya. Karena jika tidak, dunia persilatan akan mengalami sebuah sejarah hitam...," desis Ki Ageng Panangkaran.

Ki Ageng Panangkaran tidak bisa lagi meneruskan kata batin. Karena, pukulan sakti Malaikat Berdarah Biru telah berarak menuju ke arahnya. Dengan segenap tenaga, dia menghempaskan diri bergulingan di atas tanah. Dan bersamaan dengan itu, dilepaskannya satu pukulan untuk menghadang.

Blarrr! "Aaakh...!"

Lembah Baka bagai diguncang gempa dahsyat. Gelegarnya mampu membuat tanah di tempat itu terbongkar dan rengkah-rengkah hitam. Sementara  tubuh Ki Ageng Panangkaran terlempar deras sampai tiga tombak disertai kekehan tertahan. Kedua tangannya yang digunakan untuk menghadang serangan Malaikat Berdarah Biru lunglai tak bisa digerakkan. Dadanya berdebar nyeri dengan kedua kaki bergetar hebat. Sementara jubah yang dikenakan tampak koyak di sana-sini.

"Ha... ha... ha...!"

Malaikat Berdarah Biru yang tidak bergeming sama sekali mengeluarkan tawa bergerai-gerai.

"Hmm.... Luar biasa! Aku tak  mengira  jika  ilmu ini demikian hebatnya!" seru batin Malaikat Berdarah Biru sambil tersenyum puas.

Namun senyum pemuda itu mendadak berganti seringai, tatkala Ki Ageng Panangkaran terlihat bangkit berdiri seraya siap melepaskan pukulan jarak jauh. "Orang tua ini hebat juga pertahanan tubuhnya! Akan ku coba sekali lagi, apakah dia masih bisa menahan pukulan 'Bayu Sukma'!" kata Malaikat Berdarah Biru dalam hati, seraya melangkah ke arah Ki Ageng Panangkaran.

Sementara itu, Bayangan Seribu Wajah cepat mundur dari gelanggang pertarungan. Dan kini dia hanya melihat dari jarak agak jauh.

"Tua bangka bau kubur! Umurmu tinggal lima kejapan mata. Jika kau bisa tunjukkan di mana Pendekar Mata Keranjang 108, umurmu akan ku perpanjang!" kata Malaikat Berdarah Biru dengan jumawa sambil berkipas-kipas.

Ki Ageng Panangkaran yang tampaknya telah terluka, tersenyum ramah menyembunyikan rasa nyeri yang mendera dada serta kedua tangannya. Namun matanya tak hendak berpaling dari bola mata Malaikat Berdarah Biru.

"Kau bukan penentu umur manusia. Lebih baik mati bagiku, daripada hidup menebar kekejian seperti kau!" tegas Ki Ageng Panangkaran.

"Jahanam!" maki Malaikat Berdarah  Biru.

Segera pemuda itu mendorong tangan kirinya ke depan. Sedang tangan kanannya memutar kipas dengan cepat.

Wesss...!

Werrr...!

Di lain pihak, meski Ki Ageng Panangkaran merasa tak bisa menandingi pukulan sakti Malaikat Berdarah Biru, namun tak mau menyerah  begitu saja. Segera pula seluruh tenaga dalamnya dikerahkan pada kedua tangannya.

"Heaaa...!"

Disertai bentakan keras Ki Ageng Panangkaran menghantamkan kedua tangannya, memapak serangan Malaikat Berdarah Biru.

Werrr! Glarrr! Brattt...!

Terdengar gelegar hebat, disusul melayangnya tubuh Ki Ageng Panangkaran. Begitu terkapar di atas tanah, pakaian laki-laki tua ini tak karuan. Sekujur badannya bermandikan darah. Sebentar tubuh itu masih bergerak-gerak, namun tak lama diam tak berkutik lagi.

Sebentar Malaikat Berdarah Biru memandangi mayat Ki Ageng Panangkaran. Dan ketika telinganya mendengar suara langkah kaki, dia menoleh. Ternyata Bayangan Seribu Wajah telah setengah tombak di dekatnya.

"Kau pantas memimpin dunia persilatan! Dan sekarang aku merasa pasti, kau kelak pasti dapat mengalahkan Pendekar Mata Keranjang 108...," puji Bayangan Seribu Wajah.

Yang, dipuji mengembangkan cuping hidungnya. Ekor matanya melirik ke arah dada Bayangan Seribu Wajah yang sepertinya nampak sengaja dibusungkan.

"Hmmm      Ayo kita pulang!" ajak Malaikat Berda-

rah Biru.

"Tapi "

Bayangan Seribu Wajah tidak meneruskan katakatanya, karena saat itu juga Malaikat Berdarah Biru telah meraih tubuhnya. Seketika dipanggulnya tubuh ramping itu meninggalkan tengah lembah menuju kuda tunggangan mereka.

*** 5

"Burung gagak adalah  perlambang  alam  kegelapan "

Kata-kata Wong Agung dalam mimpi terngiangngiang di telinga Pendekar Mata Keranjang 108.

"Hmm.... Alam kegelapan.... Apa maksudnya?" gumam Aji saat dalam perjalanan ke Lembah Baka, tempat tinggal Ki Ageng Panangkaran. "Alam kegelapan.... Alam kegelapan tak ada lain, kecuali alam  kubur. Eyang Wong Agung melihat alam kegelapan di tempat tinggal Ki Ageng Panangkaran. Berarti beliau sedang dalam keadaan "

Pendekar Mata Keranjang 108 tak meneruskan. Larinya makin dipercepat disertai ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi.

Begitu menginjak Lembah Baka, Pendekar Mata Keranjang 108 agak mengurangi kecepatan larinya.

"Semoga tak terjadi apa-apa pada Eyang Ageng Panangkaran ," bisik Aji sambil terus melangkah den-

gan sepasang mata terus menebar ke sekeliling.

Mencapai tengah lembah, dada Aji bergetar. Sepasang mata dan telinganya lebih dipertajam. Di tempat itu pemuda ini melihat tanahnya porak poranda seperti habis terjadi perkelahian. Dan kepalanya bagai tak bisa digerakkan lagi, tatkala sepasang matanya tertumbuk pada sosok berjubah koyak-koyak bermandi darah.

"Eyang  ," jerit Pendekar Mata Keranjang 108, se-

raya cepat menghambur.

Yang dipanggil diam saja. Bahkan tatkala Pendekar Mata Keranjang 108 mendekat dan mencoba mengguncang tubuhnya, sosok yang tak lain Ki Ageng Panangkaran tetap diam: Pendekar Mata Keranjang 108 menengadahkan kepalanya memandang langit. Dadanya bergetar hebat. Tangannya mengepal dengan otot-otot menggurat jelas. Jakunnya naik turun tak beraturan. Matanya  memejam dengan bibir saling menggigit.

"Mereka benar-benar kejam! Apa yang mereka inginkan hingga sampai hati berbuat keji  pada  orang yang tak bersalah? Kalau mereka mencariku, kenapa mesti berbuat kejam pada orang yang telah kuanggap sebagai guru-guruku?" desis Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati.

Pendekar Mata Keranjang 108 lantas duduk bersimpuh di samping tubuh Ki Ageng Panangkaran. Dipandanginya tubuh bermandi darah di hadapannya.

Tiba-tiba mata Pendekar Mata Keranjang 108 membesar, ketika melihat di saku jubah Ki Ageng Panangkaran yang sudah tak karuan terdapat robekan kain berwarna merah. Dengan tangan gemetar, dipungutnya robekan kain itu. Dan dadanya semakin menghentak keras, tatkala melihat tulisan  di robekan kain itu.

Jika ingin tahu apa yang terjadi, datang ke Candi Singasari

Pendekar Mata Keranjang 108 menganggukangguk, setelah membaca isi tulisan itu.

"Hmm.... Iblis-iblis itu rupanya mendekam di sana! Aku akan cepat melacak ke sana! Sebelum kekejaman itu merambat ke mana-mana!" desis Pendekar Mata Keranjang 108 dengan dada bergemuruh dan gigi bergemerutuk menahan amarah.

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 berpikir begitu, terdengar hentakan ladam kaki-kaki kuda  menuju Lembah Baka. Dan sebelum sempat menduga siapa adanya para penunggang, hentakan ladam kuda lenyap. Dan bersamaan dengan itu, tiba-tiba sepuluh langkah di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108 berdiri dua orang dengan sikap curiga. Malah sepasang mata mereka membesar berkilat merah, tatkala melihat keadaan Ki Ageng Panangkaran.

Pendekar Mata Keranjang 108 luruskan pandangan, melihat satu persatu pada dua orang yang kini berdiri. Seulas senyum segera mengembang dari bibirnya begitu mengenali, siapa dua orang tersebut.

Namun senyum Pendekar Mata Keranjang 108 serentak terpotong, tatkala dua orang di hadapannya malah saling pandang satu sama lain tanpa senyum. Tentu saja Pendekar Mata Keranjang 108 murid Wong Agung ini jadi tidak enak hati.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Apa yang telah kau perbuat pada Guru!"

Mata Pendekar Mata Keranjang 108 mendelik hampir tak percaya, ketika terdengar suara  teguran dari salah seorang yang ada di sebelah kiri. Dia adalah seorang pemuda tampan dengan sepasang trisula terselip di pinggang.

Aji tidak menjawab. Ditahannya hawa amarah yang mulai menjalari dadanya.

"Sialan! Rupanya mereka mencurigai aku!" Melihat suasana kaku dan gelagat tidak baik,

Pendekar Mata Keranjang 108 segera bangkit. Ditatapnya kembali dua orang di hadapannya dengan sorot tajam.

"Kakang Pandu! Tapi, apakah mungkin...," bisik salah sosok yang berdiri di sebelah kiri. Dia ternyata seorang gadis berwajah manis dengan mata sayu.

Pemuda yang dipanggil Pandu berpaling. "Sakawuni! Kau lihat sendiri tadi, bagaimana dia

bertingkah di hadapan tubuh Guru. Pasti dia yang berbuat keji pada Guru!" sergah pemuda bersenjata trisula. "Pandu, Sakawuni! Jangan  berprasangka  padaku. Waktu aku datang, keadaan Eyang Ageng Panangkaran sudah meninggal. Dan aku sendiri tak tahu, siapa yang berbuat kejam seperti ini!" tegas Aji dengan tatapan meyakinkan.

Dua orang yang memang Pandu dan Sakawuni, murid Ki Ageng Panangkaran sejenak saling tukar pandangan. Sementara mengetahui gurunya telah meninggal, wajah Sakawuni langsung berubah mendung.

"Hmm.... Begitu? Pendekar Mata Keranjang 108! Apa ucapanmu bisa dipercaya?! Kita sudah saling kenal. Maka lebih baik terus teranglah!" kata Pandu dengan tatapan masih curiga.

Aji semakin mendelikkan matanya. Sementara Pandu dan Sakawuni mulai bergerak melangkah mendekati.

"Kalau bukan kau yang mengatakan, pasti sudah kurobek-robek mulutmu!" desis Aji, geram.

Pandu tersenyum sinis.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kami tahu, kau adalah manusia berkepandaian tinggi. Namun, aku tak takut! Apalagi jika masalahnya berhubungan nyawa Guru! Menyingkirlah...!"

Meski dengan menahan perasaan dongkol, marah, panas, Pendekar Mata Keranjang 108 akhirnya menjauh dari sisi tubuh Ki Ageng Panangkaran.

Begitu dekat dengan tubuh gurunya, Sakawuni langsung menghambur dan memeluk tubuh Ki Ageng Panangkaran yang sudah kaku dan dingin. Tangisnya yang sejak tadi ditahan-tahan akhirnya meledak. Sementara Pandu yang mengikuti langkah Sakawuni terus mengawasi tubuh gurunya dengan seksama. Sesekali wajahnya diusap lalu menarik napas dalam-dalam. "Guru! Aku bersumpah, akan kucincang orang

yang membuatmu seperti ini!" ucap Sakawuni di selasela isak tangisnya.

"Dan akan kubawa penggalan kepala orang yang berbuat keji padamu!" timpal Pandu dengan suara bergetar dan berapi-api.

Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Namun begitu sadar ada orang lain di tempat ini, serentak mereka menghentikan ratapan serta isak tangisnya. Keduanya berpaling ke tempat tadi Pendekar Mata Keranjang 108 berdiri. Dan mereka jadi melengak kaget, tatkala  mengetahui Aji sudah tidak ada di tempatnya semula.

"Dia ketakutan! Berarti dialah yang berbuat ini!" desis Pandu seraya menyapukan pandangannya berputar, namun tidak menemukan orang yang dicari. "Sakawuni! Kau ke arah barat. Dan aku ke  arah  timur!"

Pandu cepat berbalik dan berkelebat ke arah ti-

mur.

Dan tak menunggu lama, Sakawuni pun berkele-

bat ke arah barat.

"Hmm     Apakah mungkin Pendekar Mata Keran-

jang 108 yang melakukan perbuatan keji itu?!" gumam Sakawuni dalam hati sambil terus berkelebat mengejar Pendekar Mata Keranjang 108. "Seandainya bukan dia, lantas siapa? Selama ini, Guru tak pernah lagi berurusan dengan orang-orang rimba persilatan. Tapi siapa pun orangnya, dia pasti berilmu tinggi. Jangan-jangan memang dia. Kalau dia, apa masalahnya? Bukankah antara Pendekar Mata Keranjang 108 dengan Guru sudah saling kenal baik. Malah menurut cerita Guru, Pendekar Mata Keranjang 108 pernah menolongnya. Ah! Tapi manusia kerap kali berubah pikiran, tak terkecuali Pendekar Mata Keranjang 108. Dan kalau memang dia yang melakukan, aku pun tak akan tinggal diam,  meski  sebenarnya  aku  begitu  merindukan  dirinya sejak pertama kali bertemu.... Ah! Kenapa  aku bisa bertemu dengannya dalam keadaan sulit begini...?"

Tiba-tiba Sakawuni menghentikan larinya. Kepalanya langsung menoleh ke belakang. Sepasang matanya memandang menyelidik.

"Aku merasakan sedang diikuti seseorang. Bukan Kakang Pandu. Hmm      Dia tampaknya berkepandaian

tinggi. Karena begitu saja lenyap bagai ditelan perut bumi.... Aku akan membuatnya menampakkan diri    ,"

gumam Sakawuni.

Sakawuni lantas  melanjutkan  larinya.  Namun kali ini ekor matanya tak henti-hentinya berputar liar. Sementara telinganya dipasang baik-baik.

Agak jauh, gadis itu kembali merasakan orang mengikuti langkahnya. Namun, dia seperti tak  acuh. Dan begitu merasa orang yang mengikuti tak berada jauh, dan dapat menentukan arah adanya, tubuhnya mendadak berbalik. Saat itu juga kedua tangannya dihantamkan ke tempat yang diduga menjadi persembunyian orang yang mengikuti langkahnya.

Wuuuttt!

Serangkum angin berdesir kencang dari kedua telapak tangan Sakawuni segera melesat, mengeluarkan suara bagai gelombang dahsyat.

Brakkk !

Ternyata Sakawuni hanya mendengar suara berderaknya pohon tumbang, tanpa jeritan atau dengusan seperti yang diharapkan. Dengan menggeram marah tubuhnya lantas berbalik kembali, dan melesat meneruskan perjalanan ke arah barat. Namun baru saja kakinya melangkah hendak bergerak berkelebat,  dari arah samping terdengar  suara gemerisik. Cepat gadis itu berpaling ke kiri.

Sakawuni tercekat.  Ternyata  lima  langkah  dari tempatnya berdiri, semak belukar menguak. Lalu, muncul Pendekar Mata Keranjang 108.

Sebentar Sakawuni terkesima. Namun tak lama kemudian, dia telah dapat menguasai diri.

"Manusia satu ini benar-benar  berilmu  tinggi. Aku bisa dikecohnya. Aku sebenarnya masih meragukan dugaan kakang Pandu. Tapi "

Belum selesai Sakawuni membatin, Aji telah melangkah mendekati tanpa senyum. Malah sepasang matanya tajam berkilat, mengawasi gadis itu.

Tak tahan ditatap demikian, Sakawuni menunduk. Bukan karena takut, namun karena mata itu seperti memendam keanehan yang membuat dadanya berdebar lebih cepat. Dan ini membuat dia ingin berlama-lama di situ, meski tanpa memandang.

"Sakawuni!" tegur Aji dengan suara  perlahan. "Aku meninggalkan kalian jangan dianggap karena takut atau pengecut. Tapi, itu kulakukan karena aku tak ingin menambah kepedihan hatiku. Dan aku tak ingin membuat keributan di depan jenazah Eyang Ageng Panangkaran!"

Sakawuni diam saja. Wajahnya dipalingkan. Namun ekor matanya sesekali mencuri pandang.

"Percayalah,  bukan  aku  yang  melakukannya  ,"

sambung Aji dengan kedua mata tetap memandang Sakawuni.

Sementara yang diajak bercakap masih saja tak buka suara.

"Sakawuni! Sebenarnya aku ingin lebih lama bertemu denganmu. Namun kali ini rupanya kau tak begitu berkenan. Baiklah Aku pun masih punya sesuatu

yang harus segera kuselesaikan. Jaga dirimu baikbaik!" lanjut Aji.

Habis  berkata,  Pendekar  Mata  Keranjang  108

berbalik dan melangkah pergi. Namun baru tiga langkah, gerakan kakinya dihentikan tatkala....

"Pendekar Mata Keranjang 108!" panggil Sakawuni. "Kau tak perlu bicara soal kematian Guru. Karena hal itu masih kuselidiki. Jika nantinya memang kau yang melakukannya, sumpahku terhadap Guru masih berlaku! Dan, jangan harap kau bisa lolos dari tanganku. Tubuhmu akan kucincang dan kepalamu akan kubawa ke makam Guru!"

Pendekar Mata Keranjang 108 berbalik, memandang Sakawuni dengan senyum tersungging.

"Bagus! Itu memang hal yang patut dilakukan seorang murid yang baik. Kutunggu kedatanganmu di Kampung Blumbang. Namun, percayalah. Kedatanganmu nantinya kuharap tidak membawa amarah. Apalagi berniat memenggal kepalaku. Kuharap, kedatanganmu dengan senyum yang selama ini selalu ku rindukan dan mata yang selalu ku impikan...," tegas Pendekar Mata Keranjang 108.

Wajah Sakawuni berubah merah padam. Dadanya berdebar-debar.

"Ah! Kenapa aku tadi bicara begitu keras? Dia tadi  mengatakan  senyum  ku  selalu  dirindukan       Apa-

kah dia selama ini juga merasakan seperti apa yang ku rasakan... ? Hmm      Betapa bahagianya jika dia benar-

benar selalu mengimpikan diriku. Aku akan datang kelak ke Kampung Blumbang, membawa seperti apa yang dikatakannya tadi ," rutuk Sakawuni dalam hati.

"Sakawuni     Kau temukan dia?!"

Sebuah suara tiba-tiba menyadarkan Sakawuni. Begitu berpaling gadis ini terperanjat. Ternyata Pandu telah berdiri tak jauh darinya dengan dahi mengernyit. Sedangkan matanya memandang dengan menyipit dan membesar.

Sebentar Sakawuni mengerjap-ngerjapkan sepasang matanya yang sayu. Lantas pandangannya berputar ke sekeliling.

"Hmm.... Pendekar Mata Keranjang 108 telah pergi. Aku harus menyembunyikan pertemuan tadi, karena kurasa kakang Pandu masih curiga pada Pendekar Mata Keranjang 108...," gumam gadis itu dalam hati.

"Sakawuni.... Ada apa denganmu?" tanya Pandu sambil menggeleng-geleng penuh keheranan.

Sakawuni tersenyum, lalu melangkah mendekati kakak seperguruannya.

"Kakang.... Aku tidak menemukan dia...," sahut Sakawuni perlahan.

"Tapi sepertinya kau tadi termenung. Janganjangan kau "

"Kakang Pandu!" potong Sakawuni dengan wajah cemberut. "Kita baru saja ditinggalkan orang yang selama ini mengasuh dan mendidik kita. Aku sedang merenungkan Guru!"

Pandu sedikit tersentak, dan seperti baru sadar.

Lantas kepalanya mengangguk.

"Maafkan aku, Sakawuni.... Aku..., aku terlalu berprasangka padamu! Ini gara-gara Pendekar Mata Keranjang 108! Hmm ," ucap Pandu.

Sakawuni sesaat menatap Pandu, lalu  tersenyum.

"Kakang! Kita harus cepat kembali dan mengurus jenazah Guru.... Soal lainnya, kita bicarakan nanti setelah pemakaman Guru selesai "

Pandu mengangguk.

*** 6

Guntur menggelegar membelah angkasa. Langit menghitam tertutup bongkahan-bongkahan awan yang sepertinya enggan beranjak. Saat itu juga hujan deras mengguyur bumi, mengeluarkan desahan yang menggidikkan bulu roma. Padahal sebenarnya matahari baru saja merayap bangun dari titik timur.

Pendekar Mata Keranjang 108 berkelebat membelah derasnya hujan. Tubuhnya tampak bergetar menggigil kedinginan. Sementara gigi-giginya saling beradu satu sama lain mengeluarkan suara bergeletak.

Ketika mencapai ujung desa yang berbatasan dengan Singasari, Pendekar Mata Keranjang 108 menghentikan larinya. Dan tatkala melihat sebuah kedai, tanpa pikir panjang lagi tubuhnya langsung berkelebat.

Namun baru saja Pendekar Mata Keranjang 108 memasuki kedai, langkahnya terhenti seketika. Sepasang matanya sesaat membeliak tak berkedip. Dadanya berdebar kencang dengan tubuh semakin bergetar. Kedua tangannya kontan membentuk kepalan.

Pemilik kedai yang mengetahui tingkah Pendekar Mata Keranjang 108 serentak mengawasi dengan sinar mata curiga. Dengan tatapan nyalang. Kakinya melangkah mendekati Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih tampak berdiri di ambang pintu kedai.

"Silakan, Den. Mari masuk...," sapa pemilik kedai dengan senyum yang dipaksa-paksakan.

Namun Pendekar Mata Keranjang 108 sepertinya tidak mendengar sapaan ramah itu. Sepasang matanya tetap mengawasi dengan pandangan amarah pada seorang gadis yang duduk di pinggir dinding kedai.

Gadis yang dipandangi Pendekar Mata Keranjang 108 berwajah cantik jelita. Kulitnya putih, dibalut pakaian ketat warna merah. Rambutnya panjang ikal dan dikuncir agak ke atas.

"Bayangan Seribu Wajah! Kali ini kau tak akan kulepaskan lagi!" desis Pendekar Mata Keranjang 108 dengan geram.

Aji lantas berbalik dan melangkah keluar dari kedai. Tindakannya membuat pemilik kedai makin heran. Sejenak diawasi kepergian Pendekar Mata Keranjang 108, lalu beralih pada gadis berbaju merah.

"Anak muda, jika melihat gadis cantik tingkahnya aneh-aneh...," bisik pemilik kedai sambil menggeleng dan melangkah kembali ke dalam.

Sampai di meja gadis berbaju merah itu berada, pemilik kedai sejenak menghentikan kakinya. Matanya yang sudah redup dimakan usia sedikit membesar memperhatikan.

"Hmm.... Tak dapat disangkal! Gadis ini memang benar-benar cantik. Apalagi potongan tubuhnya indah. Dan pakaiannya pun dibuat demikian rupa. Hm....

Seandainya masih muda, aku tentu  tak  mau  kalah saing dengan pemuda tadi ," kata batin pemilik kedai.

Namun pemilik kedai ini segera memalingkan wajahnya tatkala gadis berbaju merah serta merta memandang ke arahnya.

"Tua-tua masih juga suka mencuri pandang. Dasar laki-laki!" gumam gadis yang tak lain Bayangan Seribu Wajah seraya mengalihkan pandangan ke jurusan lain.

Saat itulah sepasang mata Bayangan Seribu Wajah menangkap sesosok tubuh berpakaian hijau dengan baju dalam warna kuning lengan panjang sedang duduk jongkok di tiang kedai.

"Hm.... Rupanya dia datang lebih awal dari dugaan.... Dia pasti telah melihatku. Ini kesempatan baik...," gumam Bayangan Seribu Wajah.

Gadis cantik berbaju merah itu tetap tenang meneruskan santap makanannya. Namun ekor  matanya tak henti-hentinya melirik.

Setelah menyelesaikan makan, Bayangan Seribu Wajah berdiri. Kakinya melangkah tenang ke dalam, membayar harga makanannya. Lalu dengan tenang dia melangkah keluar.

Di ambang pintu, Bayangan Seribu Wajah menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut dengan mata berputar ke sekeliling halaman kedai yang baru saja diguyur hujan. Dahinya makin mengernyit, tatkala sepasang matanya tak menemukan orang yang dicari.

"Hmm.... Aku tadi pasti tidak salah  lihat.  Memang dia, Pendekar Mata Keranjang 108 yang tadi jongkok di sini. Tapi, ke mana dia sekarang...? Apa langsung menuju Singasari...? Hmm.... Berarti  dia  telah mengetahui kejadian di Lembah Baka," kata Bayangan Seribu Wajah dalam hati.

"Sebaiknya aku cepat ke Candi Singasari."

Bayangan Seribu Wajah segera melangkah keluar dari kedai sambil memperhatikan berkeliling. Namun orang yang dicari memang tidak ada. Maka segera menghempos kekuatannya hendak berkelebat. Namun gerakan tubuhnya tiba-tiba dibatalkan ketika telinganya menangkap sebuah nyanyian tak karuan, ditingkah siulan pendek-pendek. Perlahan memang. Namun hebatnya, mampu membuat telinga yang mendengarnya bagai ditusuk-tusuk

"Dia masih berada di sini. Rupanya dia sengaja menungguku "

Bayangan Seribu Wajah segera memalingkan wajah ke arah sumber suara nyanyian. Hatinya sedikit terkejut. Karena saat berpaling....

Wesss. ! Mendadak terasa serangkum angin menyambar ke arah gadis ini.

Bayangan Seribu Wajah segera berbalik cepat sambil menghantamkan kedua tangannya.

Wusss...!

Prasss...!

Namun kembali gadis itu dibuat terkejut. Karena serangan yang dilancarkannya mendadak mental balik, dan melesat ke arah dirinya sendiri.

"Hiaaa...!"

Disertai teriakan nyaring, Bayangan Seribu Wajah cepat melesat ke samping, menghindari serangannya sendiri.

"Heh?!"

Begitu menjejak tanah di samping, Bayangan Seribu Wajah membelalak mata hampir tak percaya. Ternyata sambaran angin yang mengarah padanya dan serangannya yang berbalik akibat kipasan-kipasan Pendekar Mata Keranjang 108 yang sepertinya tidak disengaja. 

Memang saat itu Aji tengah berkipas-kipas bagai menghilangkan rasa gerah yang mendera sekujur tubuhnya.

Selagi Bayangan Seribu Wajah terlolong keheranan, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat

"Bayangan Seribu Wajah! Hari ini kau tidak akan bisa lari dari tanganku! Berdoalah sebelum ajal menjemput mu!" bentak Pendekar Mata Keranjang  108 yang tahu-tahu telah berdiri tujuh langkah di depan Bayangan Seribu Wajah.

Dengan menekan rasa terkejut, gadis itu menatap nyalang pada murid Wong Agung ini. Bersamaan dengan itu senyumnya segera menyeruak di bibirnya yang tampak membentuk indah.

"Kau terlalu sembrono bicara. Kaulah yang terlebih dahulu akan kukirim menyusul nenek moyangmu!" balas Bayangan Seribu Wajah, jumawa.

Saat itu juga Bayangan Seribu Wajah segera menyongsong Pendekar Mata Keranjang 108 dengan hentakan kedua tangannya ke arah kepala.

"Heaaa...!"

Didahului bentakan keras, Aji cepat melesat ke udara, sehingga hantaman tangan Bayangan Seribu Wajah yang langsung mengarah pada salah satu  bagian me-matikan lolos menerabas angin.

Aji yang kali ini bertekad menaklukkan Bayangan Seribu Wajah, tak lagi menyia-nyiakan  kesempatan. Saat itu juga, dari udara tubuhnya mendadak menukik deras dengan kaki kiri  lurus  menghantam.  Serangan ini sebenarnya hanya untuk mengalihkan perhatian. Karena begitu lawan menghindari terjangan kaki kirinya, tangan kirinya cepat mengibaskan. Sedangkan tangan kanan menusuk dengan pangkal kipas.

Namun Bayangan Seribu Wajah rupanya bisa membaca tipuan ini. Nyatanya, dia tidak berusaha menghindar. Malah sambil mengeluarkan tawa ngikik, disambutnya terjangan kaki kiri Aji dengan pentangan tangan di depan dada. Lalu begitu terjangan itu sampai, kedua tangannya segera diputar.  Sehingga,  mau tak mau Aji harus menarik pulang kaki kirinya.

Namun Aji pun tak mau serangannya sia-sia. Sambil menarik kembali kaki kirinya, kedua tangannya segera bergerak. Tangan kirinya yang terbuka didorong perlahan ke arah dada. Sedangkan tangan kanan yang memegang kipas disabetkan melengkung

Wusss...!

Desiran angin kencang yang menggemuruh melesat, disusul kemudian sambaran sinar keputihan melengkung.

Bayangan Seribu  Wajah  sadar  bahaya  sedang mengancamnya.

"Huhhh...!"

Sambil mendengus keras, Bayangan Seribu Wajah langsung berkelebat ke samping, menghindari sambaran serangan tangan kiri Aji. Lalu, mendadak tubuhnya terus bergulingan di atas tanah. Pada gulingan kelima, dia berhenti. Langsung kedua tangannya dihantamkan, memapasi sinar putih lengkung dari kibasan kipas ungu Pendekar Mata Keranjang 108.

Wuttt...!

Wusss...!

Blarrr...! "Aaakh...!"

Suara desiran-desiran yang sejak tadi melingkupi akibat bias pukulan Bayangan Seribu Wajah atau Pendekar Mata Keranjang 108, segera punah oleh gelegar dahsyat. Memang begitu keras hantaman kedua  tangan Bayangan Seribu Wajah bentrok dengan sinar putih melengkung. Bahkan gadis itu sampai menjerit tertahan.

Tampak tubuh Bayangan Seribu Wajah melenting ke udara, lalu jatuh berdebuk di atas tanah dengan pakaian berubah warna agak kebiruan.

Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 sendiri terjajar tiga langkah ke belakang. Tubuhnya terhuyung-huyung, lantas jatuh terduduk.

"Keparat! Kubunuh kau!" bentak Bayangan Seribu Wajah seraya bangkit.

Dan tiba-tiba saja tubuh gadis itu berputar melesat ke udara, lalu lenyap dari pandangan.

"Gila! Ke mana dia lenyapnya?!" gerutu Aji dalam hati sambil memutar kepalanya, mencari Bayangan Seribu Wajah.

Sewaktu Aji memutar pandangan, mendadak menebar hawa dingin yang disertai aroma bunga kamboja dari belakang. Seketika tubuhnya berbalik cepat. Ternyata, Bayangan Seribu Wajah telah berdiri tegak dengan senyum satu langkah di belakangnya. Dan sebelum sempat Pendekar Mata Keranjang 108 melompat menjauhkan diri, kedua tangan gadis itu telah terlebih dahulu berkelebat menyambar ke arah pelipis.

Werrr...!

Deru angin kencang melesat mendahului hantaman tangan Bayangan Seribu Wajah, membuat Aji terhuyung sedikit. Saat demikian itulah hantaman kedua tangan Bayangan Seribu Wajah datang!

Wuttt...!

Dengan menindih rasa terkejut, Aji mengerahkan segenap tenaga untuk melenting ke atas. Namun justru saat itulah secepat kilat Bayangan Seribu Wajah menarik kembali kedua tangannya seraya melepas kaki kanannya. Dan....

Bukkk! "Aaakh !"

Pendekar Mata Keranjang 108 seketika merasakan dadanya seperti jebol begitu tendangan Bayangan Seribu Wajah mendarat telak. Disertai lenguhan pendek, tubuhnya meluncur deras lima tombak, dan baru terhenti ketika punggungnya menghempas tiang penyangga kedai. Saat itu juga tiang kedai patah dan atapnya runtuh, menimpa tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 yang terkapar di bawahnya.

"Jangkrik!   Keras   benar   tendangannya.   Dadaku terasa ambrol, dan sakit bukan alang kepalang. Napas ku sesak.  Huhhh...!  Mataku  sedikit  berkunangkunang. Benar-benar gila!" keluh Pendekar Mata Keranjang 108. Untuk beberapa saat lamanya dia hanya diam tak bergerak.

Namun tatkala matanya melihat Bayangan Seribu Wajah melangkah mendatangi, Pendekar Mata Keranjang 108 segera bangkit dari timbunan atap kedai. Seketika tubuhnya berkelebat menyongsong langkah gadis itu, sambil melepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'. Sementara, tangan kanannya lurus mengebutkan kipasnya.

Wuttt...! Wesss...!

Seketika larikan-larikan sinar putih redup menggebrak, mengeluarkan suara deru dahsyat. Di sekejap lain menyusul tebaran angin dingin menusuk!

Menyadari adanya serangan berbahaya, Bayangan Seribu Wajah cepat menghalau. Kedua tangannya disentakkan bersiutan terus menerus, membuat kilatan-kilatan merah yang menyambar dari kedua tangannya bagai hujan tak henti-hentinya.

"Heh?!"

Namun Bayangan Seribu Wajah menjadi pucat pasi tatkala mendapati serangannya bagai tertahan dinding karang. Dan bahkan sedikit demi sedikit lenyap ditelan sinar redup putih pukulan sakti 'Bayu Cakra Buana'. Dan wajahnya semakin pias  bagai  kafan, ketika matanya menangkap sinar redup putih terus saja menerabas ke arahnya.

"Ah!"

Bayangan Seribu Wajah mengeluarkan seruan seolah-olah terkejut cemas. Dia hampir  tak  percaya dan tak habis pikir, mengapa serangan andalannya begitu mudah hilang lenyap? Dengan wajah terheranheran, tubuhnya direbahkan sejajar tanah. Lalu tibatiba kedua tangannya kembali disentakkan untuk membendung lesatan sinar putih redup.

Wesss...! "Heh...?!"

Namun usaha Bayangan Seribu Wajah tak ada hasilnya. Ternyata lesatan sinar sambaran tangan Pendekar Mata Keranjang 108 tak bisa ditahannya. Akibatnya....

Plassshh !

"Aaa !"

Terdengar jeritan melengking dari  mulut  Bayangan Seribu Wajah tepat  ketika  tubuhnya  melayang. Tubuh itu meliuk sebentar, lalu roboh  ke  tanah  yang baru saja tersiram air hujan.

Mendapati lawan roboh, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat mendekati. Dia khawatir, Bayangan Seribu Wajah masih mampu bertahan. Namun langkah pendekar murid Wong Agung ini terhenti, ketika yakin kalau gadis itu tak lagi bangkit dengan sepasang mata terbelalak seperti menyimpan dendam. Jelas, dia telah tewas!

Pendekar Mata Keranjang 108 segera  berbalik dan berkelebat ke arah barat, arah Candi Singasari.

Begitu sosok Aji tak lagi tampak, beberapa orang di kedai yang sedari tadi melihat dengan kagum dan khawatir, segera menghambur keluar.

Berpasang-pasang mata serentak melotot dengan mulut menganga, seperti hampir tak percaya. Gadis cantik berbaju merah yang tadi sempat menyantap makanan di kedai, tubuhnya perlahan-lahan berubah. Wajahnya yang tadinya putih dan tampak kencang dengan dada membusung menantang, berubah menjadi wajah seorang nenek-nenek. Rautnya keriput dan kehitaman. Dadanya pun kendor, hampir menyentuh perut!

*** 7

Tidak sulit bagi Pendekar Mata Keranjang 108 untuk menemukan Candi Singasari. Namun begitu suasana pelataran candi yang lengang, membuat perasaan ragu-ragu menyeruak di hatinya.

"Di bagian mana bajingan itu mendekam...? Aku tidak melihat satu bangun pun yang layak untuk dijadikan sebagai tempat tinggal." gumam Pendekar Mata Keranjang 108 bertanya dalam hati. Pandangan matanya yang tidak kesiap diarahkan jauh ke depan, mengitari pelataran dan sisi candi.

Tapi perasaan ragu-ragu pendekar murid Wong Agung ini sedikit sirna. Malah matanya segera dipejamkan. Sementara pendengarannya ditajamkan. Begitu matanya dibuka kembali, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menyelinap ke balik sebuah pohon.

"Aku merasakan ada getaran-getaran halus yang tak henti-hentinya...," kata batin Pendekar Mata Keranjang 108. "Hmm.... Ini getaran-getaran yang diakibatkan tenaga dalam. Aku harus berhati-hati. Yang membuat getaran-getaran ini pasti mempunyai ilmu cukup tinggi. Dan sebaiknya, aku menunggu sebentar sambil menyelidik sekitar tempat ini "

Berpikir begitu,  Pendekar  Mata  Keranjang  108

segera berkelebat cepat mengitari pelataran candi. Namun sebegitu jauh sumber getaran yang kini terasa mulai agak sirna belum bisa ditemukan.

Dan  baru  saja  Pendekar  Mata  Keranjang  108

hendak melanjutkan penyelidikikannya, sepasang telinganya menangkap suara benda bergesek. Kedua matanya segera nyalang mencari. Kakinya seketika mundur tiga langkah ke belakang. Sementara matanya tak hentinya mengawasi ke depan. Tepatnya, ke bagian belakang candi yang sepertinya tak terawat baik.

"Suara itu berasal dari sana...," bisik Pendekar Mata Keranjang 108.

Selagi berpikir begitu, tiba-tiba dari bagian belakang candi melesat sebuah bayangan hitam.

"He... he... he...!"

Kemudian menyusul suara tawa mengekeh. Ketika suara tawa lenyap, tahu-tahu....

"Jangan  berani  berbuat  macam-macam  di  sini  jika nyawamu masih kau perlukan!"

Terdengar suara bentakan dahsyat seketika Pendekar Mata Keranjang 108 menoleh, melihat satu sosok telah berdiri empat tombak di belakang. Dan baru saja Aji berbalik, sosok itu telah menghentakkan kedua tangannya.

Dua rangkum angin kencang laksana gemuruh gelombang segera menyapu ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Aji terperangah. Raut mukanya berubah seketika dengan mata membesar. Namun dia tak bisa berlamalama karena saat itu juga sapuan angin kencang melabrak.

Dengan gerakan lincah Pendekar Mata Keranjang 108 memiringkan sedikit tubuhnya. Sehingga, sambaran angin itu hanya menghantam tempat kosong satu jengkal di sampingnya.

"Ha... ha... ha...!"

Terdengar kembali suara tawa keras panjang berderai-derai. Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 memperhatikan seksama.

"Hmm     Siapa manusia ini?" tanya Pendekar Ma-

ta Keranjang 108 dalam hati, seraya memperhatikan lebih seksama.

Di hadapan Aji kini berdiri seorang  perempuan tua berjubah warna hitam dan bersorban. Rambutnya putih yang panjang dibiarkan bergerai awut-awutan. Paras wajahnya putih pucat. Namun kulit wajahnya tebal dengan sepasang mata terpuruk ke dalam. Mulutnya tak henti-hentinya bergerak-gerak, seperti mengunyah sesuatu yang tak pernah habis.

"Siapa kau?!" bentak perempuan tua berjubah hitam itu tiba-tiba.

Dahi Pendekar Mata Keranjang 108 mengernyit. Matanya memandang tak berkedip. Dia berpikir keras, mengingat-ingat.

"Ah, aku ingat. Manusia ini adalah orang yang dipanggul Malaikat Berdarah Biru, saat turun dari Bukit Watu Dakon. Hm..., tapi siapa dia? Sobat Malaikat Berdarah Biru? Atau...?"

"Bocah setan!"

Pendekar Mata Keranjang 108 tidak meneruskan kata batinnya, karena saat itu terdengar lagi bentakan dari orang di hadapannya. Dia tak lain guru Malaikat Berdarah Biru, yakni Bayangan Iblis.

"Sebelum kurobek mulutmu, lekas jawab pertanyaanku!" lanjut Bayangan Iblis.

Pendekar Mata Keranjang 108 menarik kuncir rambutnya. Bibirnya tersenyum.

"Orang tua! Namaku Aji Saputra. Aku seorang pengelana yang tersesat jalan. Bisakah kau menunjukkan padaku, ke mana arah menuju tempat pemakaman?" jelas Aji, berpura-pura.

Bayangan Iblis tiba-tiba menghentikan gerakan mulutnya. Sorban di kepalanya bergerak sedikit, mengikuti kerutan dahinya. Sedangkan matanya melotot, mengawasi pemuda di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Aneh! Pemuda tersesat jalan yang ditanyakan tempat orang mati. Siapa kampret ini? Tapi melihat dengan mudahnya dia menghindari sambaran seranganku, jelas bukanlah orang sembarangan. Lagi pula sikapnya tak menunjukkan rasa takut sama sekali, meski ku gertak dengan serangan mendadak. Hmm....

Siapa sebenarnya dia. ?" kata batin Bayangan Iblis.

Tatapan Bayangan Iblis menjalan terus, dan berhenti pada dua bola mata Aji. Bahkan kini sinar matanya mencorong tajam, seperti hendak menghujam jantung pemuda itu.

"Bocah sesat!" kembali Bayangan Iblis membentak. "Kalau itu yang kau tanyakan, aku bisa tunjukan padamu! Ini jalannya!"

Saat itu juga Bayangan Iblis segera melesat cepat ke depan. Kedua tangannya yang mengepal menghantamkan ke arah kanan kiri pelipis Pendekar Mata Keranjang 108!

Wuuut! Wuuut!

Sinar putih biru redup berkilat menghantam terlebih dahulu sebelum dua tangan itu menggebrak.

Pendekar Mata Keranjang 108 bertindak cepat. Disadari betul meski belum pernah bertemu, namun melihat serangan dadakan tadi, Pendekar Mata Keranjang 108 bisa segera menduga bahwa orang tua di hadapannya mempunyai kepandaian tinggi. Maka secepat kilat kepalanya merunduk menghindari hantaman tangan. Kemudian kedua tangannya yang berputar didorongkan. Sehingga secara tiba-tiba, tangannya menjulur hendak menangkap dua pundak Bayangan Iblis.

Namun Pendekar Mata Keranjang 108 terperanjat, karena saat itu mendadak pula Bayangan Iblis memiringkan tubuhnya ke belakang. Tepat ketika Pendekar Mata Keranjang 108 menarik kedua tangannya, hantaman kaki kanan Bayangan Iblis melesat ke depan. Sehingga gerakan Aji agak terlambat. Dan....

Prakkk! "Aaakh !" Terdengar benturan keras. Tangan Pendekar Mata Keranjang 108 bagai tersengat jilatan api. Tubuhnya segera beringsut mundur dengan mulut meringis kesakitan. Sementara orang tua renta itu mengeluarkan seruan perlahan. Wajahnya yang berkulit tebal bergerak-gerak, dan berubah menjadi mengelam.

"Kurang ajar! Siapa kau sebenarnya...?!" bentak Bayangan Iblis.

"Tadi sudah kukatakan. Apa perlu ku ulangi lagi?" sahut Pendekar Mata Keranjang 108 masih dengan meringis.

"Orang sesat! Waktuku tidak banyak!  Katakan, apa maksudmu sebenarnya?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 memasukkan tangan kiri ke balik pakaian hijaunya. Lalu begitu keluar lagi, dalam genggamannya terdapat robekan kain berwarna merah. Dengan senyum dikulum, dilemparkannya robekan kain ke hadapan Bayangan Iblis,

Sejenak Bayangan Iblis memperhatikan wajah Pendekar Mata Keranjang 108 dengan pandangan tak mengerti. Lalu, matanya beralih pada robekan  kain yang kini tercampak di depannya. Tiba-tiba mata perempuan tua ini membeliak besar. Hidungnya mengendus. Dan sebentar kemudian, dihelanya napas dalam-dalam. Tingkahnya seakan-akan ingin  meyakinkan penciumannya.

"Hmm.... Aku mencium aroma Bunga Kamboja. Astaga! Berarti ini robekan kain pakaian Bayangan Seribu Wajah!" sentak Bayangan Iblis.

Dan sekonyong-konyong, air muka Bayangan Iblis tambah memerah. Pelipisnya bergerak-gerak pertanda menahan amarah.

"Kurasa kau sudah tahu. Sekarang giliranmu untuk menyusul temanmu itu!" usik Pendekar Mata Keranjang 108 sebelum Bayangan Iblis bersuara. Wajahnya kini telah berubah. Tak ada senyum di bibirnya. "Keparat! Kau apakan temanku itu, heh?!" "Pertanyaan bodoh. Tapi karena orang tua yang

bertanya, aku maklum. Dengar baik-baik, biar aku tak usah mengulangi. Temanmu yang bergelar Bayangan Seribu Wajah, telah kukirim ke tempat pemakaman!" jelas Pendekar Mata Keranjang 108 enteng.

Bayangan Iblis melengak kaget. Tanpa terasa dia menelan liurnya sendiri. Mulutnya bergerak-gerak lebih cepat dan keras, seraya menggumam sesuatu yang tidak jelas. Lantas kakinya mundur dua langkah. Kepalanya mendongak ke atas.

"Pemuda jahanam! Pasang telingamu baik-baik. Kau saat ini sedang berhadapan dengan tokoh rimba persilatan yang berjuluk Bayangan Iblis. Dan melihat tampang dari ciri-cirimu, serta dendam yang kau tumpahkan pada Bayangan Seribu Wajah, aku yakin kau pasti pemuda yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!"

"Bagus! Dan untung kau telah dapat mengenaliku, hingga aku tak perlu susah-susah lagi menerangkan...!"

"Hmm... begitu?" kata Bayangan Iblis sambil tertawa panjang. "Pendekar Mata Keranjang 108! Dengar! Jika kau bersedia menyerahkan kipas dan bumbung bambu yang ada padamu, aku tidak akan menuntut ke-matian Bayangan Seribu Wajah. Bahkan aku akan menggantinya dengan perawan sebanyak yang kau minta!"

"Ha... ha... ha...!"

Pendekar Mata Keranjang 108 malah tertawa terbahak-bahak.

"Sayang sekali kau terlambat, Orang Tua! Aku sebenarnya tertarik sekali dengan tawaranmu yang membuat dadaku bergetar. Namun seperti yang kukatakan tadi, kau terlambat. Bayangan Seribu Wajah telah merampas kipas dan bumbung bambu itu.  Kalau kau benar-benar menginginkannya, aku bisa mengantarmu ke tempat Bayangan Seribu Wajah. Sekarang juga!" balas Pendekar Mata Keranjang l08, enteng.

Bayangan Iblis menggeram. Tubuhnya yang renta bergetar hebat. Lalu....

"Heaaa !"

Didahului bentakan nyaring, tubuh  perempuan tua itu berputar hebat, dan bergulingan di pelataran candi dua kali. Pada gulingan ketiga, tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara dan langsung melemparkan tanah yang ternyata telah tergenggam di tangannya.

Wuuuss! Wuuuss!

Pemandangan tiba-tiba redup terhalang taburan tanah yang ternyata kini telah pula menebarkan hawa panas menyengat. Dan sebelum taburan tanah itu menghambur kembali ke bawah, Bayangan Iblis segera men-dorong kedua tangannya.

Wusss !

Taburan tanah itu seketika tertahan  di  udara. Dan sekejap kemudian, bergerak cepat ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 laksana kabut hitam!

Pendekar Mata Keranjang 108 tercekat sebentar. Namun seketika kedua tangannya segera dipentangkan, lalu digerakkan ke depan. Jelas terlihat  kalau murid Wong Agung ini ternyata telah melepas pukulan 'Ombak Membelah Karang'.

Wuttt! "Heh?!"

Namun mata Pendekar Mata Keranjang 108 jadi terkesiap. Ternyata kabut hitam hamparan tanah  itu tak mempan oleh pukulan yang telah dilepaskannya. Malah kabut hitam berhawa panas itu lebih cepat lagi bergerak! "Edan! Pukulan 'Ombak Membelah Karang' tak mampu membendungnya. Akan  ku  tahan  dengan 'Bayu Cakra Buana'!"

Pendekar Mata Keranjang 108 menarik tangan kirinya. Sementara tangan kanannya cepat  menyelinap ke balik baju, mengambil kipasnya. Di sekejap lain, tangan kiri dan kanannya segera menghentak ke atas.

Wuttt! Werrr...!

Hamparan tanah yang menghampar panas kontan tersapu, dan berhamburan mental lalu lenyap!

"Hei?!"

Bayangan Iblis yang baru saja mendarat terkejut bukan kepalang. Sambil menyeringai buas, dia cepat melompat ke samping.

"Hiaaat...!"

Lalu dengan bentakan  dahsyat  perempuan  tua itu mengirimkan serangan dengan terjangan kaki lurus.

Begitu cepat terjangan kaki itu. Sehingga belum sempat Pendekar Mata Keranjang 108 mengetahui apa yang hendak dilakukan lawan, terjangan kaki itu telah datang menghantam.

"Celaka! Aku hampir tak percaya kalau gerakan perempuan setua dia masih begitu cepat. Hmm Tak

percuma jika rimba persilatan menjulukinya Bayangan Iblis!" desis Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati. Dan...

Desss! Desss! "Aaakh !"

Pendekar Mata Keranjang 108 merasakan tubuhnya bagai terhantam beban berkati-kati. Kedua kakinya terasa goyah, lalu tubuhnya melayang ringan disertai keluhan panjang. Begitu membuka mata, tubuhnya telah terkapar di pelataran candi dengan darah merembes dari sudut bibir.

Melihat pemuda itu terjengkang roboh, Bayangan Iblis tak menyia-nyiakan kesempatan. Tubuhnya cepat dilorot hingga hampir jongkok. Dan sekonyongkonyong, tubuhnya melesat ke udara. Satu tombak di atas udara, tiba-tiba dia menukik deras dengan tangan kanan kiri terpentang siap memukul. Sementara, kaki kanan dan kiri siap menerjang!

Aji hanya menyeringai. Tubuhnya segera bangkit seraya mengibas-ngibaskan bajunya yang penuh dengan lumuran tanah. Lalu sambil menggeram disongsongnya serangan Bayangan Iblis. Dilepaskannya satu pukulan tangan kiri. Sedang tangan kanannya menusuk menggunakan kipas ungu.

"Hih...!"

Desss! Desss! Prakkk! "Aaakh...!"

Terdengar benturan dua kali berturut-turut. Di lain sekejap terdengar pula bunyi patah. Sementara, perempuan renta berjuluk Bayangan Iblis yang semula merasa di atas angin kini mengeluarkan pekikan beberapa kali. Tangan kanan kirinya yang siap menghantam ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang 108 bermentalan. Sedangkan sepasang kakinya terhumbalang ke atas, membuat tubuhnya terjungkir dan menyusup tanah!

Di lain pihak, Aji tak bergeming sedikit pun. Namun tubuhnya sebentar kemudian tampak oleng dan jatuh terduduk.

Untuk beberapa saat perempuan tua renta guru Malaikat Berdarah Biru itu terhenyak nanar dengan wajah meringis menahan sakit. Dari sela bibirnya mengalir darah kehitaman, pertanda terluka dalam.

Hebatnya, meski telah terluka Bayangan Iblis bagai tak merasakannya. Dia segera bangkit. "Heaaagh...!"

Sambil meraung keras, perempuan tua itu melompat seraya mengirimkan jotosan yang telah dialiri tenaga dalam penuh.

Seett! Seeett!

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat mengembangkan kipasnya dan langsung dikebut-kebutkan di depan dada. Tubuhnya diputar hingga miring. Sepasang matanya melirik ke kanan, ke arah serangan Bayangan Iblis datang.

Jotosan-jotosan Bayangan Iblis begitu cepat dan susul menyusul. Sehingga yang tampak hanya bayangbayang hitam yang melesat kian kemari mengeluarkan sinar biru redup. Dahsyatnya, setiap kelebatan tangannya yang belum menghantam sasaran, sinar putih biru telah terlebih dahulu melesat mendahului!

Begitu sinar putih biru yang datangnya mendahului serangan sesungguhnya datang, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat menghentakkan kipasnya dari bawah melengkung ke atas.

Weeesss! Weeesss! Blap!

Larikan-larikan sinar putih segera melingkupi, membuat deruan sinar putih biru tertahan.

"Heh?!"

Bayangan Iblis terperangah kaget. Namun karena tubuhnya telah telanjur maju, hingga tak ada waktu untuk mengurungkan serangan. Maka mau tak mau sambil menindih rasa jera yang mulai mengusik dadanya, jotosan-jotosan tangannya diteruskan.

Wuutt...! Wuutt...!

Murid Wong Agung segera merunduk, menghindari jotosan-jotosan tangan Bayangan Iblis. Dan bersamaan dengan itu tangan kirinya dihantamkan sambil memutar tubuhnya.

Sinar putih redup disertai kepalan tangan Pendekar Mata Keranjang 108 yang keras bukan main tidak bila lagi dibendung. Akibatnya, langsung menghantam telak dada Bayangan Iblis.

Desss...! "Aaakh...!"

Orang tua ini meraung keras. Tubuhnya mencelat sampai delapan tombak. Saat tubuhnya melayang, dia masih bisa menyadari keadaan. Maka tenaga dalamnya coba dikerahan untuk menahan luncuran tubuhnya.

"Hei?!"

Namun Bayangan Iblis jadi terkejut. Semakin coba menahan, semakin cepat luncuran tubuhnya. Hingga tanpa bisa lagi berpikir apa yang harus diperbuat, tubuhnya telah menghantam pintu masuk candi yang terbuat dari batu hitam.

Brakkk...!

Sekujur tubuh Bayangan Iblis telah merah bermandi darah yang keluar dari lobang-lobang di seluruh tubuhnya. Begitu banyaknya darah yang keluar, membuatnya tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Jubah hitam yang dikenakan telah terkoyak tak karuan. Rambutnya yang semula putih kini berubah menjadi hitam berbau sangit!

Pendekar Mata Keranjang 108 yang sempat juga terkapar, segera bangkit. Lalu kakinya melangkah, mendekati Bayangan Iblis sambil berkipas-kipas.

"Bayangan Iblis!" panggil Pendekar Mata Keranjang 108 begitu dekat. "Tunjukkan, di mana manusia laknat yang menggelari diri dengan Malaikat Berdarah Biru itu...!"

Yang diajak bicara hanya diam saja. Hanya sepasang matanya tampak mengerjap-ngerjap, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 naik pitam. Aji lantas berjongkok. Janggut Bayangan Iblis disentuh dan ditengadahkan ke atas. Sementara kipasnya disentakkan melipat, dan ditekankan ke pipi Bayangan Iblis.

"Jika  kau  tidak  mau  menjawab,  jangan  menyesal bila pipimu akan kubuat berlobang dengan ujung kipas ini!" gertak Pendekar Mata Keranjang 108 dengan mata berkilat-kilat.

Bayangan Iblis yang nampak ketakutan coba membuka mulutnya. Namun, tak ada suara yang terdengar keluar.

"Sialan! Kau benar-benar ingin pipimu berlobang...!" kembali Pendekar Mata Keranjang 108 menggertak.

Dan baru saja hendak membuka mulutnya....

"Kau tidak usah berlaku kasar pada orang tua jika aku yang kau cari!"

Mendadak Pendekar Mata Keranjang 108 dikejutkan suara yang datang dari arah  belakangnya. Cepat Aji berpaling dan kontan terperangah....

***

8

Seorang pemuda bertubuh kekar terbungkus jubah toga warna merah menyala tahu-tahu telah berdiri tegak. Di telinga kirinya tampak sebuah anting-anting sambil berdiri demikian, tangannya tak henti-hentinya mengipas. Setiap kibasan kipasnya tampak menyambar sinar hitam. Setelah sejenak mengawasi, pemuda berjubah toga merah yang tak lain Malaikat Berdarah Biru berpaling dan meludah ke tanah.

"Phuih !" Pendekar Mata Keranjang 108 cepat bangkit, memandang tajam ke depan. Sepasang matanya menyipit dengan dahi membentuk beberapa kerutan. Sementara tangan kirinya mengepal.

"Sialan! Dia memang benar-benar telah berhasil mendapatkan benda pusaka itu! Aku harus  berhatihati. Dia mungkin akan jauh lebih hebat daripada beberapa tahun silam...," rutuk batin Pendekar Mata Keranjang 108 seraya melangkah ke tengah pelataran candi.

Begitu Malaikat Berdarah Biru memalingkan wajahnya kembali, pelipisnya bergerak-gerak. Dagunya yang kokoh mengembung dengan sepasang mata membeliak.

"Guru!" teriak Malaikat Berdarah Biru seraya menghambur ke arah Bayangan Iblis.

Pendekar Mata Keranjang  108  kaget.  Sungguh tak disangka kalau Bayangan Iblis adalah guru Malaikat Berdarah Biru.

"Hmm.... Jadi dia gurunya...!" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 sambil mengangguk-angguk.

"Guru! Akan ku kuliti bangsat itu!" geram Malaikat Berdarah Biru seraya menoleh ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Anak Agung...," panggil Bayangan Iblis perlahan dengan suara agak tersendat. "Kau harus berhati-hati menghadapinya. Dia ternyata hebat!"

Mendengar ucapan gurunya, Malaikat Berdarah Biru mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Bibirnya menyeringai, lalu mendengus keras.

"Guru! Kau tidak pantas mengeluarkan kata-kata itu di hadapanku! Kau boleh mengakui kehebatannya. Namun pantang bagi Malaikat Berdarah Biru."

"Anak Agung...," kata Bayangan Iblis, memanggil nama asli Malaikat Berdarah Biru. "Kau berhak mengatakan itu. Tapi   "

"Cukup!" sentak Malaikat Berdarah Biru, menyela kata-kata gurunya. "Aku tak mau mendengar lagi ucapanmu! Lihat saja nanti, siapa yang terlebih dahulu menjadi penghuni liang kubur!"

Saat itu juga Malaikat  Berdarah Biru melangkah ke tengah pelataran candi. Matanya menyengat tajam, seakan ingin mengelupas batok kepala Pendekar Mata Keranjang 108.

"Perbuatanmu sudah melampaui batas. Hari ini adalah hari akhir penundaan nyawamu yang dahulu masih kuampuni!" desis  Pendekar  Mata  Keranjang 108.

Malaikat Berdarah Biru hanya mendongak  ke atas. Bibirnya menyeruakkan senyum bernada mengejek.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Orang yang akan menemui ajal memang biasanya suka mengungkitungkit masa lalu. Kau tahu? Ajalmu rupanya harus ditentukan tanganku! Tangan Malaikat Berdarah Biru. Ha... ha... ha...!" balas Malaikat Berdarah Biru pongah! "Manusia angkuh! Seharusnya kau belajar dari kematian gurumu si Bidadari Telapak Setan, serta

guru barumu yang kini tinggal menunggu jemputan!"

Malaikat Berdarah Biru kembali menyunggingkan senyum mengejek. Matanya melirik pada gurunya si Bayangan Iblis.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kau keliru jika menyuruhku belajar dari mereka. Karena, merekamereka adalah orang bodoh yang tak sanggup mengantarmu ke liang kubur!" kata Malaikat Berdarah Biru, makin pongah. Saking pongahnya, para gurunya dianggap orang bodoh,

"Hmm.... Rupanya kini kau tak  membutuhkan guru lagi. Apakah berarti ilmumu telah demikian tinggi? Bagaimana kalau kau ajarkan padaku barang sejurus dua jurus?" ujar Pendekar Mata Keranjang 108, bernada menantang.

"Ha... ha... ha...!"

Malaikat Berdarah Biru tertawa bergelak-gelak. "Aku bukan hanya akan mengajarimu jurus-

jurus. Namun juga akan menunjukkan, bagaimana caranya menikmati kematian!" lanjut pemuda bernama Anak Agung ini.

Saat itu juga Malaikat Berdarah Biru segera meluruk ke depan sambil menghantamkan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan tetap mengipas-ngipas.

Wusss...!

Selarik sinar biru redup melesat cepat ke arah Pendekar Mata Keranjang 108. Rupanya Malaikat Berdarah Biru langsung memulai serangan dengan melepaskan pukulan sakti 'Badai Biru'.

Aji sadar, serangan ini amat berbahaya. Maka segera kakinya bergeser ke samping, menghindari serangan Malaikat Berdarah Biru. Maka pukulan pembuka Anak Agung hanya menghajar tempat kosong di samping kanannya.

Wajah Malaikat Berdarah Biru makin geram, melihat serangan pembukanya begitu mudah dihindari. Gigi-giginya saling beradu bergemeletak.

"Heaaa...!"

Didahului bentakan garang, Anak Agung melompat sambil mengibaskan kipasnya. Sementara tangan kirinya melepas pukulan 'Badai Biru'.

Wusss...!

Wesss...!

Sinar hitam, merah, dan biru bergemuruh segera menggebrak.

Sadar kalau serangan ini tak cukup hanya dihindari, Pendekar Mata Keranjang 108 segera bertindak cepat. Tangan kanannya cepat mengebutkan kipasnya, sementara tangan kiri mendorong ke depan.

Wusss...!

Werrr...!

Segurat sinar putih dan berlarik-larik sinar putih redup menyambar ke depan, memapak serangan Malaikat Berdarah Biru. Lalu....

Blaarr! Blaaarrr!

Gelegar dahsyat segera memecah tempat itu. Tanah pelataran candi nampak porak poranda dan berhamburan ke udara. Suasana menjadi gelap seketika.

Saat demikian, Malaikat Berdarah Biru segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Seketika tubuhnya berputaran, dan mendadak lenyap bagai ditelan suasana gelap. Namun di kejap lain, tahu-tahu Anak Agung telah lima langkah di samping Pendekar Mata Keranjang 108. Langsung tangan kirinya menghantam. Sedangkan tangan kanannya bergerak menusukkan kipas yang terlipat.

"Heh?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 berseru terkejut, tak mengira jika Malaikat Berdarah Biru dapat melihat keberadaannya dalam suasana demikian. Padahal saat itu, tubuhnya sudah berkelebat ke samping untuk menghindar dari sesuatu yang tak diduga.

Sambil menekan rasa terkejut, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat merebahkan diri di atas tanah. Namun tak disangka, Malaikat Berdarah Biru menyapukan sepasang kaki ke bahunya yang terbuka! Dan....

Desss! "Aaakh !"

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 berputar disertai keluhan pendek. Saat itulah Malaikat  Berdarah Biru menyapukan kembali kakinya dari arah berlawanan putaran tubuh Pendekar Mata Keranjang 108! Desss! Aaakh...!"

Dari mulut Pendekar Mata Keranjang 108 kembali terdengar pekikan tertahan begitu sapuan Anak Agung menemui sasaran. Tubuhnya melayang jauh sampai tiga tombak, lalu terkapar di tanah dengan pakaian koyak dan kulit merah melepuh.

Begitu Pendekar Mata Keranjang 108 jatuh terkapar, Malaikat Berdarah Biru tertawa tergelak-gelak. Lantas kakinya melangkah dua tindak ke depan. Dengan mata terpejam, bibirnya berkemik-kemik mengucapkan sesuatu yang tidak jelas. Saat Pendekar Mata Keranjang 108 murid Wong Agung bangkit, Malaikat Berdarah Biru segera berkelebat sambil mengirimkan serangan.

Wuuuttt! Wuuuttt!

Serangkum angin deras disertai melesatnya sinar merah, biru, dan hitam meluruk ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 yang baru saja bangkit berdiri.

"Celaka!" keluh Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati.

Dengan raut muka tercengang, Aji segera pula menghentakkan tangannya. Sementara, tangan satunya mengibaskan kipas.

Wuuut...!

Udara yang semula agak redup karena bias serangan pukulan Malaikat Berdarah Biru kontan saja menguak benderang. Di kejap lain....

Blarrr.   !

Blarrr.   !

Terdengar suara gelegar dua kali. Karena saat melepaskan serangan keadaan tubuhnya belum begitu sempurna, tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 terhuyung-huyung. Namun sebelum jatuh terkapar kembali, tenaga dalamnya segera dikerahkan untuk menahan tubuhnya.

Wusss...!

"Heh?!"

Tapi Pendekar Mata Keranjang 108 terkejut. Karena begitu berhasil menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, dari arah samping menyambar angin keras. Akibatnya lututnya yang mulai tampak goyah dan bergetar hebat. Aji sadar betul adanya  bahaya. Maka tekanan tenaga dalamnya ditambah agar tubuhnya tidak tersapu. Hingga tak lama kemudian, tubuhnya kembali tegak kokoh.

Sementara itu Malaikat Berdarah Biru yang tadi menghantamkan pukulan jarak jauh dengan setengah tenaganya, merasa sangat penasaran. Ternyata serangannya masih bisa dibendung. Maka segera tenaganya dilipatgandakan.

Kini di pelataran candi tampak dua orang tokoh tingkat tinggi sedang berdiri dengan tangan masingmasing mendorong ke depan. Tubuh-tubuh mereka mulai tampak dibasahi keringat. Sesekali tubuh mereka terlihat goyah, namun sejenak kemudian telah kembali kokoh.

Untuk beberapa saat kedua orang ini masih bisa bertahan dengan membendung serangan satu  sama lain.

"Hiaaa...!"

Mendadak Pendekar Mata Keranjang 108 membentak garang sambil melipatgandakan tenaga dalam. Sedangkan Malaikat Berdarah Biru tampak terkejut, karena kedua kakinya tiba-tiba goyah. Tanah yang dipijak bergetar hebat, membuat tubuhnya perlahanlahan terhuyung-huyung hendak roboh.

"Heaaa...!"

Malaikat Berdarah Biru juga mengeluarkan bentakan membahana, sambil menghentakkan kedua tangannya mengirimkan pukulan 'Serat Jiwa' dan 'Badai Biru'.

Wusss...!

Wesss...!

Sinar merah dan biru menggebrak ke depan ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih berdiri kokoh.

Mendapati serangan ini Pendekar Mata Keranjang 108 tidak berani bertindak ceroboh. Kedua tangannya segera pula disetakkan ke depan.

Wesss...!

Blarrr...!

Terdengar dentuman dahsyat. Pelataran candi bagai diguncang gempa maha dahsyat. Pohon-pohon yang ada di sekitarnya berderak bertumbangan.

Tampak Malaikat Berdarah Biru goyah, tak bisa menguasai diri lagi. Saat itu juga, tubuhnya jatuh bergulingan di atas tanah. Dicobanya bangkit, namun terhuyung kembali dan jatuh lagi. Maka segera tenaga dalamnya dipusatkan, lalu perlahan-lahan bangkit dan duduk bersila.

Di lain  pihak,  tubuh  Pendekar  Mata  Keranjang

108 tampak bergetar hebat ketika terjadi bentrokan barusan. Kakinya sedikit demi sedikit bagai tersedot dan masuk ke dalam tanah. Begitu kakinya masuk, lututnya goyah. Lalu, tak lama kemudian  tubuhnya  jatuh terduduk dengan kaki masuk ke dalam tanah! Seperti Malaikat Berdarah Biru, saat jatuh terduduk, segera pula kakinya ditarik. Lalu dia duduk bersila mengembalikan tenaganya.

***

Begitu keadaannya pulih, Malaikat Berdarah Biru segera berkelebat, lalu berdiri di tengah pelataran candi dengan tangan kiri berkacak pinggang. Sementara tangan kanan mengipas-ngipas. Sepasang matanya tampak merah membeliak dengan dagu mengembung.

"Pendekar Mata Perempuan!" bentak Malaikat Berdarah Biru sambil memalingkan wajahnya dan meludah. "Kau telah keluarkan pukulan 'Bayu Cakra Buana! Dan kau sendiri lihat, aku tidak apa-apa. Sekarang, terimalah pukulan 'Bayu Sukma'!"

Pendekar Mata Keranjang 108 terkejut. Dia telah tahu, pukulan 'Bayu Sukma' adalah pukulan sap kelima dari kitab hitam, seperti apa yang pernah didengar dari gurunya. Namun pendekar murid Wong Agung ini tetap tenang, tidak memperlihatkan raut  terkejut, meski diam-diam dalam hati khawatir juga.

Merasa gelagat tidak baik, sebelum Malaikat Berdarah Biru melepaskan pukulan, Pendekar Mata Keranjang 108 segera mendahului dengan menghentakkan kedua tangannya. Dilepaskannya kembali 'Bayu Cakra Buana'.

Wusss...!

Malaikat Berdarah Biru yang sepertinya bisa membaca benak Pendekar Mata Keranjang 108 segera melesat jauh ke samping sambil mengibaskan kipasnya. Akibatnya serangan Pendekar  Mata  Keranjang 108 membelok, menghantam angin.

Saat itulah dari arah samping, sambil membuat gerakan dua kali putaran di udara Malaikat Berdarah Biru melepaskan pukulan 'Bayu Sukma'.

Wuttt...!

Pelataran candi Singasari mendadak menghitam.

Di lain kejap...

Blarrr...!

Terdengar suara menggemuruh bagai gelombang dahsyat, disertai kilatan-kilatan menakutkan. Inilah pukulan sakti sap kelima dari kitab hitam yakni pukulan 'Bayu Sukma'!

Pendekar Mata Keranjang 108 tak mau terseret dalam rasa terkejut. Maka segera dilepaskannya pukulan 'Bayu Cakra Buana' untuk membendung pukulan sakti 'Bayu Sukma'.

Werrr...!

"Heh?!"

Mau tak mau Pendekar Mata Keranjang 108 harus menerima kenyataan. Ternyata sinar putih yang menyambar dari kipas dan tangan kirinya tak mampu melabrak habis sinar hitam yang menyambar dari tangan Malaikat Berdarah Biru. Bahkan sinar hitam itu pecah, melebar membentuk kilatan-kilatan semakin banyak dan mengarah padanya.

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat melesat ke belakang. Begitu mendarat kembali, tenaga dalamnya dikerahkan sambil mengirimkan pukulan.

"Hih!"

Wesss...!

Namun pukulan Pendekar Mata Keranjang 108 yang kedua kali ini pun rupanya tak membawa hasil banyak. Malah, membuat pecahan-pecahan sinar  hitam semakin banyak, dan semakin cepat melesat ke arahnya!

"Sialan! Celaka tiga belas!" gerutu Pendekar Mata Keranjang 108 seperti kehilangan akal.

Sementara, Malaikat Berdarah Biru semakin garang, sambil tak henti-hentinya menghantamkan kedua tangannya.

"Hmm.... Saatnya aku menggunakan jurus 'Bayu Kencana' dalam bumbung bambu...," kata Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati.

Dengan gerakan cepat, Aji mengalihkan kipasnya ke tangan kiri. Sementara tangan kanan dibuka di depan dada. Namun baru saja Pendekar Mata Keranjang 108 hendak menggunakan pukulan 'Bayu Kencana', serangan Malaikat Berdarah Biru telah meluncur dekat. Dan...,

Desss! "Aaakh...!"

Disertai keluhan tertahan tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 terpelanting begitu serangan Anak Agung menerabas bahu kirinya. Tubuhnya kontan melayang dan jatuh terkapar di tanah. Tubuh sebelah kirinya bagai ngilu tak bisa digerakkan. Tangan kirinya lumpuh lunglai. Sementara hawa panas menjilat, mulai menjalari seluruh tubuhnya.

Pendekar Mata Keranjang 108 bangkit. Tapi mendadak, wajahnya pucat pasi. Karena, tubuhnya bagai tegang kaku tak bisa digerakkan. Hingga untuk beberapa saat, Aji hanya diam sambil mengawasi Malaikat Berdarah Biru yang tampak mulai melangkah ke arahnya disertai tawa bergelak-gelak.

"Jangkrik!  Aku memerlukan waktu  agak lama untuk memulihkan tenagaku. Tapi, bagaimana? Bajingan itu telah mendatangi...," kata batin Pendekar Mata Keranjang 108 Seraya memutar otak untuk mengalihkan perhatian Malaikat Berdarah Biru.

Sebelum Pendekar Mata Keranjang 108 tuntas berpikir, tiba-tiba Malaikat Berdarah Biru telah berkelebat. Dan tahu-tahu dia berdiri sepuluh langkah di hadapannya, dengan sepasang mata menyengat tajam. Sementara bibirnya menyeringai mengejek.

"Akhirnya ajalmu hanya tinggal seperti membalikkan tangan saja! Ha... ha... ha...!" ejek Malaikat Berdarah Biru sambil memutar-mutar kipasnya.

"Jahanam!   Mulutmu   terlalu   besar   berkoar!   Kau tak bisa menentukan ajal!" bentak Pendekar Mata Keranjang 108. Diam-diam, tenaga dalamnya dikerahkan untuk memulihkan tubuhnya.

Malaikat Berdarah Biru mengertakkan rahang. Kepalanya berpaling. Lalu dari mulutnya mengumbar senyum buas.

"Kau bisa bicara seenakmu. Tapi aku akan membuktikannya!" desis Malaikat Berdarah Biru sambil melangkah mundur dua tindak ke belakang. Tangan kirinya di-tarik sedikit ke belakang. Sementara kipasnya dipalangkan di bawah dagu.

"Busyet! Dia benar-benar ingin segera menghabisi ku.... Setan! Tubuhku belum sepenuhnya pulih. Jika langsung melepaskan 'Bayu Kencana' pasti akan siasia Padahal hanya itu satu-satunya jalan untuk me-

nangkis serangannya  ," gerutu Aji.

Sewaktu Pendekar Mata Keranjang 108 dilanda kebimbangan, Malaikat Berdarah Biru telah melepaskan pukulan 'Bayu Sukma'.

"Apa boleh buat? Terpaksa aku akan menghadangnya dengan 'Bayu Kencana'!" kata Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati.

Saat itu juga Aji membuka tangan kanannya di depan dada. Sementara tangan kirinya memutar-mutar kipas dengan gerakan perlahan.

Wusss !

Sinar hitam melesat, membuat pemandangan tak bisa menembus kepekatan. Pendekar Mata Keranjang 108 telah siap menangkis. Namun satu tombak lagi serangan Malaikat Berdarah Biru menghajar....

Wesss...! Wesss. !

Entah dari mana, berlarik-larik sinar kuning tibatiba menghadang, membuat suasana sedikit  terang. Saat demikian itulah Pendekar Mata Keranjang 108 melesat jauh ke samping untuk menghindari serangan sinar hitam.

Meski sinar  kuning  itu  hanya  sejenak  mampu membendung, dan kemudian lenyap ditelan sinar hitam, namun dalam waktu yang sekejap itu Pendekar Mata Keranjang 108 bisa meloloskan diri dari serangan berbahaya. Hingga tak ayal lagi, sinar hitam pukulan Malaikat Berdarah Biru hanya menerpa tempat kosong!

"Jahanam   bedebah!   Siapa   berani   ikut   campur masalah ini, he...?!" bentak Malaikat Berdarah Biru.

Saat itu juga, Anak Agung memalingkan wajahnya ke samping. Di tempat lain Pendekar Mata Keranjang 108 pun ikut-ikutan mencari tahu, siapa orang yang menyelamatkan jiwanya.

Begitu mengetahui siapa orang yang menghadang serangan, baik Malaikat Berdarah Biru atau Pendekar Mata Keranjang 108 sama-sama melengak!

***

9

Sepuluh langkah di samping Malaikat Berdarah Biru, tampak tegak berdiri seorang gadis cantik. Kulitnya putih mulus dengan dada membusung kencang menantang. Pakaiannya warna kuning. Rambutnya panjang tergerai. Matanya bulat berbinar.

"Putri Tunjung Kuning!" seru Pendekar Mata Keranjang 108 tertahan hampir tak percaya.

Sementara itu begitu melihat siapa orang yang menghalau serangannya, mata Malaikat Berdarah Biru kontan membeliak besar. Tangannya bergetar dan bergeretakan mengepal. Pelipisnya bergerak-gerak dengan dahi  mengernyit.  Sedangkan  bibirnya   menyeringai buas. "Perempuan sundal! Rupanya kau ular  kepala dua. Musuh dalam selimut! Perbuatanmu harus dibayar mahal dengan nyawamu!" dengus Malaikat Berdarah Biru sambil melangkah mendekat.

Gadis berpakaian kuning yang memang Putri Tunjung Kuning hanya tersenyum ramah.

"Manusia licik! Kaulah yang harus menyerahkan nyawa busukmu padaku!" teriak Putri Tunjung Kuning sambil siap melepas pukulan.

"Ha... ha... ha...!"

Mendengar ucapan Putri Tunjung Kuning, Malaikat Berdarah Biru tertawa keras. Namun tiba-tiba saja tawanya terpenggal. Wajahnya dipalingkan ke samping.

"Phuih! Phuih!"

Setelah meludah dua kali, Malaikat Berdarah  Biru mendongak.

"Perempuan tak tahu diri! Bersiaplah menghadapi kematianmu!"

Saat itu juga Malaikat Berdarah Biru menghentakkan kedua tangannya ke depan. Karena merasa dikhianati, kali ini tanpa pikir panjang lagi langsung dilepaskannya pukulan 'Bayu Sukma'.

Wesss!

Saat itu juga udara di pelataran candi kembali hitam redup. Di kejap lain, sinar hitam segera menggebrak ke arah Putri Tunjung Kuning.

"Hiaaat...!"

Didahului jeritan melengking, tangan kiri dan kanan Putri Tunjung Kuning segera bergerak menghantamkan pukulan.

Wuttt! "Heh?!"

Paras Putri Tunjung Kuning mendadak meredup pucat, tatkala tangkisan yang dilancarkannya hanya sejenak membendung serangan Malaikat Berdarah Biru. Tak lama kemudian, sinar hitam itu bagai tak terhalang lagi, menerabas cepat ke arahnya.

"Lekas menyingkir!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108, memperingati Putri Tunjung Kuning.

Namun, Putri Tunjung Kuning  sepertinya  tak acuh dengan peringatan barusan. Malah kembali dilepaskannya satu pukulan.

Wesss...!

Tapi seperti semula, serangan gadis itu tak mampu menahan gerak sinar hitam yang terus meluruk. Sehingga....

Desss. !

"Aaakh !"

Tanpa ampun lagi terdengar  suara  jeritan  lengking yang menyayat dari mulut Putri Tunjung Kuning. Begitu gema jeritannya lenyap, tampak tubuh gadis ini telah telentang di atas pelataran candi dengan pakaian hangus  tak  karuan.  Kulitnya  yang  semula  putih  mulus, berubah menjadi kebiruan. Dari sudut bibirnya mengalir darah hitam kental.  Matanya  merah  dan rambut mengelinting!

Pendekar Mata Keranjang 108 laksana disengat kalajengking melihat keadaan Putri Tunjung Kuning. Meski tahu kalau gadis itu menginginkan sesuatu darinya, dan bahkan tak mustahil menginginkan kematiannya, namun jasa dalam menyelamatkan dirinya dari serangan Malaikat Berdarah Biru, membuatnya melupakan semuanya. Hingga tatkala Malaikat Berdarah Biru mulai melangkah mendekati Putri Tunjung Kuning yang sudah lemah tak berdaya, Pendekar Mata Keranjang 108 segera melesat dan tegak berdiri menghadang Malaikat Berdarah Biru.

"Malaikat Tengik! Seharusnya kau-malu menghajar orang yang sudah tidak berdaya! Hadapilah aku!" tantang Pendekar Mata Keranjang 108.

Sejenak mata Malaikat Berdarah Biru menatap tajam Pendekar Mata Keranjang 108.

"Ha... ha... ha...!"

"Pendekar Bodoh! Dengar! Kejahatan memang tidak adil dan tidak pernah mengenal adat. Karena itulah kejahatan pasti menang!" tukas Malaikat Berdarah Biru, pongah.

"Hmmm.... Begitu?" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 sambil tersenyum dingin. "Otakmu memang perlu dicuci. Akan kutunjukkan padamu tempat yang baik untuk mencuci otak. Bersiaplah berangkat!"

"Ha... ha... ha...! Malaikat Berdarah Biru pantang minta petunjuk pendekar perempuan!"

Seketika bibir Malaikat Berdarah Biru berkemik. Lalu sesaat kemudian, tangan kiri kanannya telah bergerak melepas pukulan.

Wusss...!

Kali ini Pendekar Mata Keranjang 108 tidak berusaha mengelak atau menangkis. Dan ini membuat Malaikat Berdarah Biru gusar.

Begitu sinar hitam satu depa lagi menghajar, Pendekar Mata Keranjang 108 mendorong telapak tangan kanannya ke depan dada. Sedangkan tangan kiri yang memegang kipas dipentangkan ke samping.

Wesss...!

"Heh?!"

Malaikat Berdarah Biru tertegun hampir tak mempercayai penglihatannya. Sinar hitam pukulan 'Bayu Sukma' yang dilancarkannya ternyata tersedot tangan Pendekar Mata Keranjang 108! Bahkan sebentar kemudian, sinar itu lenyap!

Saat demikian itulah, Pendekar Mata Keranjang 108 segera mengibaskan kipasnya ke depan.

Wuttt...! Karena masih terkesima melihat apa yang baru saja terjadi, Malaikat Berdarah Biru tak sempat lagi menghindar. Akibatnya....

Desss. !

"Aaakh !"

Tanpa ampun lagi, tubuh Anak Agung terhumbalang ke belakang sejauh lima tombak disertai keluhan tertahan. Begitu kerasnya sambaran angin yang keluar dari kibasan kipas Pendekar Mata Keranjang 108, membuat tangan Malaikat Berdarah Biru yang memegang kipas bergetar hebat. Dan tak lama kemudian, tampak kipas di tangan kanannya terpental jatuh!

Malaikat Berdarah Biru menggereng keras. Matanya nanar, mencari kipasnya. Begitu sepasang matanya melihat kipasnya, dia cepat bangkit hendak mengambil. Namun baru saja tubuhnya berdiri hendak berkelebat, Pendekar Mata Keranjang 108 telah melepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Wuuuttt! "Heh?!"

Malaikat Berdarah Biru kaget. Namun tubuhnya masih berusaha berkelit dengan menjatuhkan diri ke samping sejajar tanah. Tapi, tanpa diduga sama sekali, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat melesat. Dan begitu murid Bayangan Iblis ini akan bangkit, kedua tangan Aji telah memapak kepalanya!

Prak! Prakkk! "Aaakh,..!"

Malaikat Berdarah Biru kontan menjerit tertahan merasakan kepalanya seperti terpenggal. Matanya mendadak menghitam, tak bisa melihat. Sementara darah segar telah muncrat dari mulut dan hidungnya.

Hebatnya, meski sudah dalam keadaan begitu, Malaikat Berdarah Biru segera merambat bangkit. Dan tanpa melihat di mana lawannya berada, kedua tangannya segera disentakkan.

Wusss...!

Wesss...!

Sejenak kemudian di pelataran candi melesat beberapa sinar merah biru dari tangan kiri dan kanan Malaikat Berdarah Biru yang melepaskan  pukulan 'Serat Jiwa' dan 'Badai Biru'.

Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 segera meloncat ke sana kemari untuk menghindar.

Namun tak demikian halnya Putri Tunjung Kuning dan Bayangan Iblis. Karena sedang terluka dalam, membuat mereka tak bisa lagi bergerak menghindar. Sehingga tatkala sentakan tangan Malaikat Berdarah Biru yang menghempas ke sana kemari meluncur ke arah mereka....

Desss! Desss! "Aaakh !"

"Aaa !"

Seketika terdengar dua lengkingan keras dari mulut Putri Tunjung Kuning dan Bayangan Iblis!

Sebenarnya, waktu itu Pendekar Mata Keranjang

108 hendak menyelamatkan Putri Tunjung Kuning. Namun karena begitu gencarnya serangan Malaikat Berdarah Biru yang tak bisa ditentukan arahnya, membuat gerakannya terlambat untuk bertindak.

Melihat Putri Tunjung Kuning bergulingan di atas tanah, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat menghambur.

"Putri Tunjung Kuning!" seru Pendekar Mata Keranjang 108.

Putri Tunjung Kuning membuka kelopak matanya. Dipandanginya Pendekar Mata Keranjang 108 dengan tatapan aneh. Bibirnya berusaha dibuka hendak mengucapkan sesuatu.

"Putri   Tunjung   Kuning....   Bertahanlah        Aku akan menolongmu!" ujar Pendekar Mata Keranjang 108 lirih sambil mengangkat kepala gadis ini.

Putri Tunjung  Kuning  tersenyum.  Kepalanya yang telah lunglai digelengkan perlahan.

"Pendekar  Mata....  Keranjang  108      Maafkanlah

segala kesalahanku selama ini...," ucap Putri Tunjung Kuning perlahan dan tersendat-sendat.

Pendekar Mata Keranjang 108 menempelkan telunjuknya di depan mulut, memberi isyarat agar Putri Tunjung Kuning tak meneruskan ucapannya.

"Pendekar.... Aku...,  aku  sebenarnya....  Men  ,

mencintaimu "

Habis berkata, kelopak mata Putri Tunjung Kuning mengatup. Lalu kepalanya lunglai ke samping. Pingsan!

"Putri Tunjung Kuning!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 keras, membuat Malaikat Berdarah Biru cepat palingkan wajahnya ke arah sumber suara.

Karena pandangan Malaikat Berdarah Biru  saat itu masih belum bisa digunakan, membuat dirinya hanya mengandalkan telinga untuk mengetahui tempat beradanya Pendekar Mata Keranjang 108.

Demi mendengar teriakan Pendekar Mata Keranjang 108, tanpa membuang-buang waktu lagi Malaikat Berdarah Biru segera mengirimkan serangan kedua tangannya menghentak melepas pukulan 'Serat Jiwa' dan 'Badai Biru'.

Wesss...! Wusss. !

Berlarik-larik sinar berwarna merah biru yang bergemuruh dahsyat menyambar cepat ke arah Pendekar Mata Keranjang 108!

Secepat  kilat,   Pendekar   Mata   Keranjang   108

bangkit dari sisi Putri Tunjung Kuning. Segera tubuhnya diputar hingga miring. Lalu tiba-tiba kipasnya dikibaskan. Wuuuttt! Wesss!

Sinar berwarna keputihan menebar, memapak serangan. Dan mendadak saja, serangan Malaikat Berdarah Biru bagai menghantam dinding tebal kasat mata. Dan lebih dahsyat lagi serangan yang menyambar berwarna merah biru itu mental balik.

Wesss...!

Karena tak bisa lagi melihat, akibatnya Malaikat Berdarah Biru tak mengetahui jika pukulannya kini melesat ke arahnya. Telinganya sejenak hanya mendengar suara gemuruh menyambar ke arahnya.

"Heh?!"

Anak Agung terperangah dengan mulut mendengus. Dia coba menduga-duga. Namun begitu sadar, pukulannya sendiri yang mental telah sedepa lagi menghajar tubuhnya. Meski begitu, tak  kehabisan akal.

"Hup!"

Dengan sisa-sisa tenaganya, Malaikat Berdarah Biru bergerak berkelit. Namun, terlambat. Karena....

Dess! Desss! "Aaa !"

Serangan yang mental itu ternyata lebih cepat menghajar, sebelum Malaikat Berdarah Biru bergerak. Hingga tanpa ampun  lagi  pukulan  'Serat  Jiwa'  dan 'Badai Biru' menggebrak pemiliknya sendiri!

Langit bagai dirobek jeritan yang keluar dari mulut Malaikat Berdarah Biru. Tubuhnya melayang, dan jatuh terpuruk di atas tanah dengan baju toga merahnya hangus dan centang perentang. Raut mukanya membiru. Sementara dari lobang-lobang di sekujur tubuhnya mengalir darah kehitaman, pertanda terluka amat dalam!

Namun Pendekar Mata Keranjang 108 hampir saja tak mempercayai penglihatan matanya. Dalam keadaan terluka dalam, ternyata Malaikat Berdarah Biru mampu bergerak-gerak bangkit.

Dan tanpa diduga sama sekali, begitu  telah bangkit Malaikat Berdarah Biru cepat memutar tubuhnya. Lalu secepat kilat pula berkelebat meninggalkan pelataran candi.

Pendekar Mata Keranjang 108 tidak mau begitu saja melepaskan orang yang telah menewaskan orang tua aneh serta Ki Ageng Panangkaran. Tubuhnya cepat pula berkelebat menyusul. Namun baru saja bergerak, terdengar erangan menyayat dari mulut Putri Tunjung Kuning.

Pendekar Mata Keranjang 108 tampak ragu-ragu. Padahal, semula disangka Putri Tunjung Kuning telah tewas.

Karena didorong keingintahuannya, Pendekar Mata Keranjang 108 mengurungkan niat untuk menyusul Malaikat Berdarah Biru. Kepalanya lantas berpaling ke arah Putri Tunjung Kuning. Dan begitu melihat mulut gadis itu bergerak-gerak mengerang, tubuhnya segera berkelebat.

Sejenak Pendekar Mata Keranjang 108 memandangi gadis yang kini tampak mengerang dengan mata redup sayu.

"Putri Tunjung Kuning...," sebut Aji pelan.

Putri Tunjung Kuning terlihat berusaha keluarkan suara. Namun hingga agak lama, tak juga terdengar apa-apa dari mulutnya. Bahkan kedua kelopak matanya kembali meredup pelan-pelan dan memejam.

Perlahan-lahan Aji menarik nadi tangan Putri Tunjung Kuning.

"Hmm.... Masih terasa denyutan.... Berarti dia masih hidup. Aku harus segera mencari orang yang dapat mengobatinya...," gumam Pendekar Mata Keranjang

Saat itu juga Pendekar Mata Keranjang 108 sege-

ra menyapukan pandangan ke arah Malaikat Berdarah Biru berkelebat. Namun, sosok tokoh sesat itu telah lenyap. Kemudian Aji bangkit berdiri.

"Untuk kedua kalinya dia bisa lolos. Namun untuk ketiga kali nanti, jangan harap bisa kabur lagi!" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 seraya melangkah ke tengah pelataran candi. Dipungutnya kipas hitam milik Malaikat Berdarah Biru yang terjatuh.  Sesaat ditimang-timangnya, lalu dijajarkan dengan kipas ungu miliknya.

Kedua kipas itu memang nyaris serupa, baik ukuran maupun bahannya. Yang membedakan adalah warna, serta ujung sebelah kipas.  Jika  ujung  kipas ungu milik Pendekar Mata Keranjang 108 utuh, maka ujung kipas hitam Malaikat Berdarah Biru tampak terkikis sedikit. Sepertinya si pencipta belum selesai membuatnya.

"Meski kipas ini dibuat satu tangan, namun nyatanya pengaruh yang dipancarkannya berbeda...," bisik Pendekar Mata Keranjang 108, sambil melipat kedua kipas dan memasukkannya ke dalam balik jubahnya.

Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah ke arah Putri Tunjung Kuning kembali. Begitu dekat, dengan cekatan tubuh Putri Tunjung Kuning segera diangkat dan dibawanya meninggalkan pelataran Candi Singasari yang sudah lengang.

SELESAI