Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 07 : Persekutuan Para Iblis

 
Eps 07 : Persekutuan Para Iblis


Hujan deras bagai jarum-jarum berkilatan menghujam dataran bumi. Suara menderu dari hembusan angin kencang, meningkahi gemeretak suara hujan. Langit tertutup awan hitam bergulung-gulung, membuat suasana semakin menakutkan. Dalam kepungan suasana seperti itu, sesosok tubuh tampak berkelebat cepat menerjang derasnya hujan. Tepat di kaki Bukit Watu Dakon, sosok ini menghentikan larinya. Kini jelaslah sosok itu yang ternyata seorang pemuda tampan. Rambutnya yang gondrong dikuncir ekor kuda. Bajunya hijau dilapis pakaian dalam lengan panjang warna kuning.

"Hujan sialan!"

Terdengar makian dari mulut sosok berbaju hijau, yang tak lain Aji alias Pendekar Mata Keranjang

108. Ketika guntur menyalak, petir menjilat dengan sinar terang yang hanya beberapa kejap, Aji tak lagi kelihatan di kaki bukit. Ternyata, dia telah berkelebat ke arah sebuah celah di antara dua batu besar yang membentuk lobang.

Di depan celah batu yang ternyata sebuah gua, Aji berdiri tegak sebentar. Wajahnya yang basah diusap. Dan lagi-lagi dari mulutnya terdengar gumaman panjang pendek yang tak jelas, disertai gemeretak giginya. Tubuhnya menggigil, karena cuaca yang begitu dingin.

Pendekar Mata Keranjang 108 untuk beberapa saat masih berdiri dengan sepasang mata tak kesiap memperhatikan keadaan sekeliling.

"Aku harus segera mengetahui apa isi dalam bumbung bambu ini!" gumam Aji lagi seraya meraba bumbung bambu yang diselipkan di balik baju.

Memang, sejak memperoleh bumbung bambu dari seseorang aneh yang tak mau menyebutkan nama, pemuda yang telah menggegerkan rimba persilatan ini sengaja mencari tempat yang aman. Karena menurut pikirannya, apa yang ada dalam bumbung bambu adalah sesuatu yang sangat penting dan harus dipertahankan. Bahkan dalam perjalanannya menuju ke Bukit Watu Dakon, Aji harus menempuh jalan berputar.

Setelah merasa aman, Pendekar Mata Keranjang 108 segera melangkah hendak memasuki gua. Namun baru saja menginjak mulut gua, langkahnya berhenti. Kedua ekor matanya melirik kanan kiri, sementara telinganya bergerak-gerak. Sepertinya ada sesuatu yang membuat kecurigaannya timbul.

"Sialan! Rupanya ada orang yang mengawasi ku! Melihat gelagatnya, dia telah mengikuti sejak tadi. Dan pasti kepandaiannya cukup tinggi. Buktinya aku tak bisa mengetahuinya sejak dini. Betul-betul sialan!" rutuk Pendekar Mata Keranjang 108, dalam hati.

Aji cepat memutar tubuhnya. Sepasang matanya melebar berputar. Tapi dia tak menemukan siapa-siapa. Merasakan ada gelagat tidak baik, segera tubuhnya berkelebat ke balik sebuah batu. Sambil mengendap-endap, mata dan telinganya dipasang baikbaik. Namun hingga beberapa lama tak juga kelihatan orang yang dicurigainya.

"Jangkrik! Apa hanya karena terlalu waspada menjaga bumbung bambu ini, hingga aku dipermainkan perasaanku sendiri?"

Untuk meyakinkan diri, pemuda tampan ini sengaja berdiri diri agak lama di balik batu. Hingga tatkala cuaca agak terang dan orang yang dicurigai tak juga muncul, kakinya melangkah keluar dari balik batu. Sambil menarik napas panjang, diputuskannya masuk ke dalam gua. Namun langkahnya tertahan ketika....

"Ha ha ha...!"

Mendadak dari arah belakang terdengar suara derai tawa, membuat Aji berpaling. Seketika dia terperangah. Matanya kontan tak berkedip memandang. Ternyata lima tombak di hadapannya telah berdiri tegak seorang gadis muda berparas cantik berusia sekitar delapan belas tahun.

Sambil terus tertawa, kedua tangan gadis ini berkacak pinggang. Kakinya sedikit direnggangkan. Tubuhnya yang membentuk bagus terbungkus pakaian ketat tanpa lengan berwarna merah. Sehingga bagian atasnya tampak sedikit terbuka. Sementara pakaian bawahnya dibuat membelah di bagian samping. Sehingga tatkala berdiri dengan kaki merenggang, kulit pahanya yang putih terlihat jelas. Sepasang mata gadis ini bulat berbinar. Rambutnya ikal panjang dan dikuncir ke atas, hingga menampakkan lehernya yang begitu jenjang.

Sementara itu, Pendekar Mata Keranjang 108 terus memandang terkesima tanpa berkedip.

"Busyet! Apakah mataku tak menipu melihat sosok manusia di hadapanku ini...?"

Selagi Aji terkesima dan tak percaya dengan penglihatannya, sekonyong-konyong tercium aroma Bunga Bangkai yang menebar ke segala arah. Namun, di lain kejap aroma Bunga Bangkai berganti aroma Bunga Kamboja.

"Aneh! Siapa dia sebenarnya?" kata batin Aji seraya memperhatikan lebih seksama.

Sementara gadis yang merasa diperhatikan begitu rupa tersenyum dan mengerdipkan sebelah matanya. Dan ini membuat Aji cengar-cengir sendiri sambil mengusap-usap ujung hidungnya dengan punggung tangan kanan.

"He...? Siapa kau...?!" tegur Pendekar Mata Keranjang 108 dengan suara sedikit parau dan tersendat. Gadis berbaju merah itu tidak membuka mulut.

Malah kakinya melangkah maju mendekat dengan senyum mengembang lima langkah di hadapan Aji, langkahnya berhenti.

"Aji.... Manusia yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108.... Apa begitu penting namaku buatmu...?" kata gadis berbaju merah, sambil tersenyum manis.

Suaranya terdengar merdu dan manja sekali. Aji tersentak kaget mendapati gadis di hadapannya mengetahui nama dan julukannya. Maka diam-diam kewaspadaannya ditingkatkan. Saat itu juga rasa terkejut ditekan dan berganti dengan senyuman.

"Nama memang tidak begitu penting. Hanya saja, harap katakan apa maksudmu mengikuti langkahku?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108, agak sungguh-sungguh suaranya.

Sang gadis tertawa tergelak-gelak. Tubuhnya sedikit berguncang, membuat dadanya yang tampak kencang membusung ikut turun naik. Begitu tawanya berhenti, bibirnya tersenyum. Kepalanya mendongak ke atas, sedangkan sepasang matanya sedikit memejam.

"Kau jangan terlalu berprasangka, Pendekar Mata Keranjang 108! Aku tidak mengikuti langkahmu. Kebetulan, aku tadi melihatmu melintas. Karena telah mendengar siapa dirimu, apa salah jika aku ingin mengenalmu lebih dekat... ?" tukas gadis berpakaian merah, seraya melangkah lebih mendekat.

Aji yang masih dalam sikap waspada melangkah mundur tiga tindak. Tangannya cepat meraba bumbung bambu di balik pakaiannya.

Melihat gelagat pemuda di depannya, gadis berbaju merah itu menghentikan langkahnya dan kembali tertawa.

"Sudan kukatakan! Kau jangan terlalu berprasangka, Pendekar! Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat!" tegas gadis berbaju merah.

Kembali Pendekar Mata Keranjang 108 dibuat terperanjat, mendapati gadis di depannya mengetahui kecurigaannya.

"Hm    Dia seakan tahu, yang ku rasakan. Sia-

pa gerangan gadis ini?" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati.

Selagi berpikir begitu, sang gadis tiba-tiba berkelebat. Dan tahu-tahu dia telah berdiri tepat satu langkah di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108. Seketika Aji tergagap. Namun cepat-cepat ditahannya dengan tersenyum lebar. Sementara sepasang matanya terus mengawasi dua buah bukit milik gadis ini yang membusung indah

"Pendekar Mata Keranjang 108! Telah lama aku merindukan pertemuan seperti ini. Kau tahu? Sejak mendengar tentang dirimu, aku berusaha mencarimu. Dan baru kali ini keinginanku terpenuhi ," kata gadis

ini, mendayu-dayu.

Tiba-tiba Aji menepuk keningnya.

"Tak dinyana! Pemuda tanpa juntrung sepertiku ini dicari gadis-gadis cantik. Hm.... Hm.... Hm ,"

gumam Aji cengengesan.

"Kau jangan terlalu besar kepala. Aku mencarimu karena ada berita yang harus kau ketahui!" tukas gadis ini.

"Berita? Berita apa?" sambar Aji acuh tak acuh. Namun matanya tak henti-hentinya merayapi tubuh gadis di hadapannya.

"Kau tentunya telah tahu tentang kitab dan kipas kedua ciptaan Empu Jaladara. Tapi, apakah kau telah mendengar kabar bahwa kitab dan kipas itu telah jatuh ke tangan seorang manusia yang menaruh dendam kesumat padamu?"

Aji ternganga mendengar penuturan sang gadis. Rasanya dia tak percaya dengan pendengarannya. Maka ditatapnya lekat-lekat wajah gadis yang masih menebar aroma Bunga Kamboja itu.

"Kalau tak keberatan, aku sangat berterima kasih padamu jika mau menyebutkan siapa orang yang telah berhasil mendapatkan kitab dan kipas itu...," ujar Pendekar Mata Keranjang 108, penuh harap.

Sang gadis tersenyum dan mengangguk perlahan, tapi tidak segera menjawab. Dan ini membuat Aji tak sabar. Kakinya bergegas melangkah setengah tindak ke depan, mendekati. Namun belum sempat mulutnya terbuka untuk kembali bertanya....

"Aku memang harus memberitahukan berita ini padamu. Karena mungkin hanya kaulah satu-satunya orang yang kelak dapat mengalahkannya!" sambar gadis ini.

Sejenak gadis ini menghentikan ucapannya. Pandangannya dialihkan ke jurusan lain. Sementara, Aji diam menunggu.

"Orang yang telah mendapatkan kitab dan kipas kedua itu adalah Malaikat Berdarah Biru!" lanjut gadis ini, menjelaskan.

Mendengar hal ini, Aji tercekat. Sampai-sampai langkahnya kembali tersurut dua tindak ke belakang. Raut wajahnya berubah. Sepasang matanya berkilat membeliak.

"He? Kau tak main-main dengan ucapanmu?" tekan Pendekar Mata Keranjang 108 dengan suara sedikit bergetar.

Untuk beberapa saat sang gadis diam. Wajahnya sedikit memberengut.

"Apakah wajahku mengisyaratkan hal itu?" cibir sang gadis, balik bertanya.

Aji memperhatikan paras wajah gadis di hadapannya seakan ingin meyakinkan.

"Kenapa kau terdiam? Kau kira aku mengadaada dengan keteranganku?" tukas gadis berbaju merah ini sambil tertawa. Lantas matanya memandang ke atas. "Kitab dan kipas itu adalah benda pusaka yang selama berpuluh-puluh tahun diperebutkan tokohtokoh silat. Jadi jika benda pusaka itu telah jatuh ke tangan seseorang, lambat laun akan membicarakan. Dan pada akhirnya, akan mengetahuinya!"

Aji menarik napas panjang.

"Ucapan gadis ini ada benarnya," gumam Aji dalam hati. "Berarti aku harus segera mengetahui isi bumbung bambu ini, dan segera mencari Malaikat Berdarah Biru. Jika terlambat, dunia persilatan mungkin akan mengalami bencana besar. Aku harus segera pergi dari sini!"

"Pendekar Mata Keranjang!"

Suara gadis berbaju merah itu mengejutkan Pendekar Mata Keranjang 108 yang sedang berpikir mencari jalan keluar.

"Dunia persilatan sedang dalam intaian bahaya besar. Kau harus segera bertindak!" lanjut sang gadis, penuh tekanan.

"Benar katamu. Dan sekarang juga aku akan pergi mencarinya!" tegas Aji seraya hendak melangkah pergi.

"Tunggu!" tahan gadis berbaju merah, lalu bergegas melangkah mendekat. "Kau harus berhati-hati! Karena Malaikat Berdarah Biru sekarang tidak lagi sendirian!"

"Apa maksudmu...?" tanya Aji tanpa berpaling, namun keningnya berkerut.

"Malaikat Berdarah Biru sekarang telah didampingi orang-orang berkepandaian tinggi. Di antaranya adalah Putri Tunjung Kuning, Tengkorak Berjubah, dan Dayang Lembah Neraka!"

Tubuh Aji cepat berbalik. Sepasang matanya menatap menusuk bola mata gadis di depannya.

"Dan kau akan membuang waktu sia-sia tanpa mengetahui terlebih dahulu di mana orang yang kau cari!" sambung sang gadis, balas menatap.

"He "

"Namaku Parameswari!" potong sang gadis berbaju merah, memperkenalkan diri tatkala melihat Aji canggung memanggilnya.

"Parameswari   Apakah kau tahu, di mana aku

dapat menemukan orang yang kucari?" tanya Aji sambil tersenyum.

Gadis bernama Parameswari diam beberapa saat mendengar pertanyaan Aji. Sepasang matanya yang tadi bulat bersinar, sedikit meredup. Sementara kedua tangannya mengepal. Aji jadi heran.

"Karena aku telah mencoba menyelamatkan dunia persilatan dengan jalan merebut kitab dan kipas dari tangan Malaikat Berdarah Biru, aku tahu di mana manusia keji itu!" papar Parameswari, sebelum Aji sempat mengajukan pertanyaan.

"Jadi kau telah ?" "Benar! Aku telah mencoba mengadakan perhitungan dengan Malaikat Berdarah Biru. Tapi aku belum mampu mengalahkannya!" Belum selesai Aji dengan kata-katanya, Parameswari telah menukas.

Pendekar Mata Keranjang 108 menganggukangguk. Sementara matanya masih saja nyalang memandangi gadis di depannya.

"Hm.... Dia tadi meraba pinggangnya. Berarti dia membawa bumbung bambu itu.... Hm     Saatnya

aku harus bertindak !" ancam Parameswari dalam ha-

ti seraya melirik ke pinggang Aji.

Parameswari diam, kemudian mengalihkan pandangan ke wajah Aji.

"Kurasa cukup apa yang seharusnya kukatakan padamu. Aku sekarang harus pergi...," kata Parameswari seraya berbalik hendak pergi.

"He , tunggu!" tahan Pendekar Mata Keranjang

108.

Namun gadis cantik itu sepertinya tak menden-

gar kata-kata Pendekar Mata Keranjang 108. Malah langkahnya semakin dipercepat, lalu berkelebat menghilang.

"Aneh! Muncul tiba-tiba, lantas pergi sesukanya. Hm.... Tapi, orangnya memang cantik Dan

tubuhnya, hmm...," gumam Pendekar Mata Keranjang 108 sambil menggeleng.

Sejenak mata murid Pendekar Wong Agung ini mengawasi arah menghilangnya Parameswari.

"Rupanya di sini keadaannya tidak aman. Terpaksa aku harus cari tempat lain "

Seketika itu juga Pendekar Mata Keranjang 108 cepat putar matanya berkeliling. Dan merasa tak ada orang yang mengawasi, kakinya pun melangkah hendak pergi. Namun baru beberapa tindak.... Wesss...!

Pendekar Mata Keranjang 108 merasakan adanya desir angin. Seketika tubuhnya berbalik dan cepat berpaling. Pendekar Mata Keranjang 108 melengak kaget, mengetahui siapa yang menyebabkan desir angin itu.

"Eyang...," seru Aji seraya menjura hormat. Sementara orang yang dipanggil eyang  terse-

nyum datar. Dia adalah seorang perempuan tua renta, berpakaian compang-camping.

"He...!" kata perempuan tua memanggil Aji. "Apakah sudah kau pelajari, apa yang ada dalam bumbung bambu itu?"

Sebentar mata Aji menatap lekat-lekat perempuan tua di hadapannya. Hidungnya mendengus sebentar, dahinya lantas berkerut.

"He.... Kau belum jawab pertanyaanku...!" tegur perempuan tua ini sedikit keras, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 terkejut.

"Justru aku ke sini akan mempelajari isi bumbung bambu itu, Eyang...," jawab Aji, buru-buru dengan suara tersendat.

Perempuan tua yang tak mau menyebutkan nama itu manggut-manggut. Sepasang matanya yang cekung menatap sejenak pada Pendekar Mata Keranjang 108.

"Aji! Waktu aku memberikan bumbung bambu padamu dahulu, aku melupakan sesuatu. Coba ke sinikan dahulu benda itu!" ujar perempuan tua ini.

Meski wajahnya membersitkan rasa yang tak bisa diartikan, Pendekar Mata Keranjang 108 segera mengambil bumbung bambu dari balik bajunya. Dan dengan masih agak ragu-ragu, kakinya melangkah maju. Langsung diulurkannya bumbung bambu pada perempuan tua di hadapannya.

Perempuan tua itu tersenyum. Tangannya yang keriput terulur mengambil bumbung bambu dari tangan Pendekar Mata Keranjang 108. Sebentar mata sayunya mengawasi bumbung bambu dengan teliti. Kepalanya lalu mengangguk-angguk.

Saat itulah tiba-tiba saja perempuan tua itu berkelebat cepat ke arah Aji. Dan sekonyong-konyong tangannya bergerak cepat, menotok bagian tubuh tertentu Pendekar Mata Keranjang 108!

Tuk! Tuk!

Pendekar Mata Keranjang 108 sejenak terperangah tak percaya. Dicobanya mengerahkan tenaga dalam untuk membebaskan diri dari totokan perempuan tua yang membuat tubuhnya tegang kaku tak bisa digerakkan.

Namun hingga agak lama berusaha, tidak juga mampu membebaskan diri.

"Eyang.... Apa maksudmu dengan semua ini?" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 dengan suara agak keras.

Sambil berkata, hidung Pendekar Mata Keranjang 108 mengendus agak dalam. Dia terkejut bukan alang kepalang. Karena aroma yang tercium bukannya aroma bunga tujuh warna, tapi aroma Bunga Kamboja. Belum yakin benar, kembali Pendekar Mata Keranjang 108 menajamkan penciumannya. Astaga! Memang benar, hidungnya membaui aroma Bunga Kam-

boja.

"Jadi..., dia bukan Eyang...! Tapi gadis yang "

Belum sampai Pendekar Mata Keranjang 108 meneruskan kata hatinya, perempuan tua di hadapannya mengeluarkan tawa berderai. Lantas dia meliuk sambil melepas segala perangkat yang menempel di tubuhnya.

Dan mendadak sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 membeliak lebar. Ternyata perempuan tua di hadapannya telah berubah bentuk menjadi seorang gadis cantik jelita berpakaian warna merah!

"Parameswari!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108, tercekat.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Sungguh sayang, hidupmu akhirnya harus tewas tanpa kubur. Bahkan tanpa ada orang yang tahu!" kata Parameswari, yang baru saja telah merubah bentuk tubuhnya menjadi perempuan tua yang dahulu memberikan bumbung bambu pada Pendekar Mata Keranjang 108. Dan kini dia telah berwujud menjadi seorang gadis cantik.

Parameswari lantas melangkah mendekati Pendekar Mata Keranjang 108 dengan senyum tersungging.

"Jahanam penipu! Serahkan kembali bumbung bambu itu!" bentak Pendekar Mata Keranjang 108 dengan mata berkilat-kilat.

Namun karena saat itu Aji dalam keadaan tertotok, jadi hanya bisa berteriak tanpa bisa bergerak.

"Dengar, Pendekar Mata Keranjang 108! Bertahun-tahun aku menunggu kesempatan seperti ini. Sekarang makilah aku sepuas hatimu. Aku tidak akan marah. Karena penantian ku telah berakhir. Dan kitab serta kipas ciptaan Empu Jaladara sekarang tidak akan ada gunanya lagi, Hik.... Hik.... Hik...!"

"Gadis liar! Penipu gila!" rutuk Pendekar Mata Keranjang 108 berkali-kali. "Kenapa nasibku demikian sial? Betapa bodohnya aku! Bukankah waktu pertama kedatangannya tadi aku tidak mencium aroma bunga tujuh warna?! Kenapa aku tidak curiga? Tolol betul aku!"

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 merutuki

dirinya sendiri, Parameswari melangkah mendekati. Begitu dekat, mendadak kaki kanan gadis ini bergerak cepat menyapu tubuhnya.

Pendekar Mata Keranjang 108 kembali hanya bisa berteriak-teriak tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena saat itu tepat berada di depan mulut gua, maka tatkala sapuan Parameswari menghantam, tubuh murid Wong Agung ini melayang dan masuk ke dalamnya.

Bruk!

"Gila! Apa lagi yang hendak diperbuatnya?" gumam Pendekar Mata Keranjang 108 ketika di atas tanah sambil meringis menahan sakit.

"Parameswari! Apa tujuanmu sebenarnya dengan semua perbuatanmu ini?!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 dari dalam gua.

Tak ada jawaban terdengar. Namun sesaat kemudian, terdengar langkah-langkah halus memasuki gua. Tampak Parameswari mendekati tubuh Pendekar Mata Keranjang 108.

"Parameswari! Ingat! Aku akan memburumu dan merobek-robek mulutmu jika kau tak segera membebaskanku!" teriak Aji.

Yang diajak bicara hanya diam saja, tanpa berusaha membuka mulut. Malah senyumnya terus mengembang tak putus-putusnya. Begitu dekat, Parameswari berjongkok di samping Pendekar Mata Keranjang 108. Dan....

Cup!

Bibir Parameswari mengecup bibir Aji sekilas. Setelah itu, gadis ini bangkit. Dan tanpa menoleh lagi kakinya melangkah menuju mulut gua.

"Parameswari, tunggu!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 menahan kepergian Parameswari.

Namun gadis cantik ini tak menghiraukan.

Langkahnya terus bergerak menuju mulut gua. "Parameswari, kembali!"

Kembali Pendekar Mata Keranjang 108 berteriak kuat-kuat. Namun teriakannya hanya menggema di ruang gua, lalu sirna tanpa mendapat jawaban apaapa. Yang terdengar kemudian hanyalah geraian tawa yang makin lama kian perlahan, sebelum akhirnya lenyap, meninggalkan Pendekar Mata Keranjang 108 bagai orang tolol.

Merasa tidak ada guna lagi berteriak-teriak, Pendekar Mata Keranjang 108 segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan diri dari totokan Parameswari. Namun hingga tubuhnya basah kuyup oleh keringat, totokan Parameswari tak berhasil dibebaskannya. Tapi Aji tidak putus asa. Kembali tenaga luar dan dalamnya dikerahkan. Namun, kembali dia harus terhenyak karena usahanya tak membuahkan hasil.

Akhirnya, karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga, tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 lunglai. Matanya panas dan berkunang-kunang. Dan sebentar kemudian, dia merasakan gelap lalu tak ingat apa-apa lagi.

2

Malam sudah merangkak jauh. Angin dingin yang menusuk tulang makin berhembus kencang. Cahaya bulan hanya samar-samar karena tertutup gumpalan awan hitam yang berarak melintas. Sehingga membuat malam semakin ditikam gulita. Di malam yang demikian, di kaki Bukit Watu Dakon yang terjal berbatu dengan tebingnya yang menjulang tinggi, terlihat beberapa cahaya bergerakgerak meliuk. Seakan tak dapat dipercaya, ternyata cahaya yang bergerak meliuk adalah gerakan beberapa nyala api yang sesekali tampak jelas. Namun, kadangkadang menghilang begitu saja. Dan ternyata, nyala api itu adalah nyala beberapa obor yang dibawa rombongan orang-orang berkuda.

Karena daerah ini bukit berbatu dan di sekitarnya tumbuh pepohonan besar yang berjajar tak beraturan, membuat nyala beberapa obor kadang terlihat jelas dan kadang bagai lenyap padam.

"Kita harus sudah mencapai puncak bukit sebelum fajar menjelang!" ujar salah seorang pembawa obor yang berkuda paling depan. Nampaknya dia jadi pemimpin rombongan ini.

Di bawah cahaya obor, tampak jelas tampang rombongan berkuda ini. Ternyata, mereka beberapa orang perempuan berpakaian biru-biru dengan lengan berumbai-umbai. Mereka mengenakan alas kaki yang di bawahnya tampak tonjolan-tonjolan runcing. Kepala mereka tidak ditumbuhi rambut alias gundul. Meski mereka perempuan, di bawah sinar cahaya obor nampak jelas kalau mata-mata mereka berkilat tajam. Sementara bibir-bibir mereka tak satu pun yang mengumbar senyum.

Mencapai dua batu yang mengapit sebuah lobang gua, mendadak pimpinan rombongan berkuda ini mengangkat tangan kanannya ke atas. Diberinya isyarat agar orang-orang yang berkuda di belakangnya berhenti.

"Kudengar suara rintihan dari dalam gua!" kata pimpinan rombongan itu. Perempuan ini lantas mengangguk pada dua orang di sampingnya agak ke belakang. Kedua orang yang mengerti isyarat sang pimpinan segera turun dari tunggangan masing-masing. Dan dengan hati-hati mereka melangkah memasuki gua

Sampai dalam gua, kedua orang ini saling berpandangan setelah melihat sesosok tubuh pemuda mengenakan pakaian hijau. Rambutnya yang gondrong dikuncir ekor kuda. Sosok ini tengah telentang dengan mata terpejam. Dan dari mulutnya terdengar rintihan.

Untuk beberapa saat kedua orang pembawa obor ini tegak memperhatikan. Dan karena pemuda yang merintih seakan tak mengetahui kedatangan mereka, salah seorang segera menyorongkan obor sedikit ke bawah.

Seketika pemuda yang tak lain Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 segera menghentikan rintihannya. Kedua kelopak matanya langsung terbuka.

"Heh?!"

Begitu bisa menguasai keadaan, Aji tersentak kaget. Dan belum hilang rasa terkejutnya

"Siapa kau?! Dan sedang apa di sini...?!" bentak salah seorang pembawa obor, garang.

"Namaku Aji. Kuharap kalian mau menolongku membebaskan dari totokan jahanam ini!" jawab Aji, tersendat.

Kedua orang pembawa obor kembali saling berpandangan. Lantas salah seorang mengangkat bahunya.

"Tak ada gunanya kita ladeni pemuda ini! Kita teruskan perjalanan!" kata orang ini sambil berbalik hendak melangkah pergi.

"Tunggu sebentar!" cegah wanita gundul yang satunya dengan mata sedikit menyipit memandangi Aji.

Wanita yang tadi hendak melangkah pergi men-

gurungkan niatnya. Tubuhnya segera berbalik kembali seraya menatap temannya.

"Tak ada salahnya jika dia kita bawa serta. Siapa tahu dia ada gunanya!" kata orang yang menahan kepergian temannya.

Wanita ini lantas melangkah mendekati Aji. Dan tanpa bicara sepatah pun diseretnya tubuh pemuda itu menuju mulut gua.

"Celaka! Jangan-jangan mereka anak buah perempuan laknat yang berhasil membawa bumbung bambu itu!" sentak batin Aji.

Pendekar Mata Keranjang 108 menatap pada dua penyeretnya berganti-ganti.

"He...?! Aku akan dibawa ke mana...?!" teriak Aji. Suaranya bergetar menahan marah dan sakit.

Kedua orang pembawa obor tidak ada yang menjawab. Mereka terus melangkah sambil menyeret tubuh Aji.

"Kami menemukan manusia ini!" kata salah seorang pembawa obor, begitu tiba di hadapan rombongan berkuda.

"Ikat dia! Bawa dia menghadap Gusti Ratu. Mungkin dia orang yang berusaha memata-matai tempat kita!" ujar pimpinan rombongan, memberi perintah.

Dengan cekatan, salah seorang segera mengikat kaki dan tangan, bahkan menutup mata Aji dengan sepotong kain warna hitam. Karena masih dalam keadaan tertotok, Pendekar Mata Keranjang 108 tak bisa berbuat banyak. Dia hanya berteriak memberi pengertian ketika dinaikkan ke atas punggung kuda dalam keadaan tertelungkup. Namun rombongan berkuda ini sepertinya tak mendengarkannya.

"Ayo jalan!" perintah pimpinan rombongan, setelah melihat Aji terikat dan ditaruh di punggung kuda. Rombongan pembawa obor kembali bergerak mendaki bukit. Hentakan ladam kuda yang beradu dengan bebatuan bukit seakan menggumpal, meme-

cahkan kesunyian malam di lereng Bukit Batu Dakon.

* * *

"Rombongan Delapan datang, bukalah pintu!" Rombongan berkuda yang menawan Pendekar

Mata Keranjang 108 telah tiba di sebuah bangunan besar dari batu. Ketika tiba di depan pintu gerbang, pimpinan rombongan berteriak, minta dibukakan pintu.

Tak lama, terdengar suara derit pintu menguak. Bersamaan dengan itu, dari bagian bawah pintu bermunculan beberapa batu yang membentuk deretan berjarak setengah tombak antara satu dengan yang lainnya!

Ternyata, di antara pintu depan dengan bangunan di seberangnya, dipisahkan sebuah parit berbentuk sungai yang mengelilingi bangunan di tengahtengahnya.

Keheningan hanya berlalu sesaat. Sebentar kemudian, terdengar suara langkah seorang yang keluar dari dalam bangunan di seberang.

"Tampaknya kalian membawa seseorang, siapa

dia?!"

"Dia mengaku bernama Aji. Kami menemukan-

nya di kaki bukit. Dia dicurigai memata-matai tempat kita!" jawab pimpinan rombongan.

"Bawa dia masuk!" terdengar perintah dari bangunan di seberang. Suasana senyap sejenak. Rombongan pembawa obor tampak saling berpandangan satu sama lain. Sementara pimpinan rombongan mengangguk perlahan pada salah seorang yang lantas turun dari kuda tunggangannya. Dia melangkah mendekati Aji yang masih telungkup di atas punggung kuda. Sementara penunggang lain serentak turun dari kuda masing-masing.

Orang yang mendekati Aji tiba-tiba memiringkan sedikit tubuhnya. Kaki kanannya diangkat, seakan hendak berputar. Namun serta-merta kakinya disentakkan ke arah Aji, tepat pada ikatan di pergelangan kakinya.

Tasss!

Tubuh Aji yang tak berkutik kontan berputar di udara. Tapi sebelum tubuhnya tersungkur menyentuh tanah bebatuan puncak bukit, salah seorang dari rombongan pembawa obor menggerakkan tangan kirinya. Disambar potongan kain penutup mata Aji.

Sret! Buk!

Aji terjerembab, langsung bergulingan di atas bebatuan puncak bukit. Kain penutup mata serta ikatan di kakinya telah terbuka!

Aji meringis menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya. Matanya masih tetap terpejam.

"He, Manusia! Jika kau tidak segera bangkit, jangan menyesal jika tubuhmu akan hangus terbakar!" Terdengar bentakan salah seorang yang lang-

sung menyorongkan obornya ke arah Aji. Pendekar Mata Keranjang 108 mengerdip-ngerdipkan sepasang matanya. Wajahnya tampak merah padam, rahangnya mengembung menahan marah.

"Brengsek! Siapa perempuan-perempuan galak ini?" kata Aji dalam hati, seraya mengawasi satu persatu perempuan yang kini mengelilinginya. "He?! Kau dengar bukan ucapan tadi...?!" bentak salah seorang dari pembawa obor dengan nada dingin.

"Ucapan apa...? Dan, siapa kalian...?!" tanya Aji setengah berteriak.

Tak ada jawaban. Malah mata perempuanperempuan gundul pembawa obor itu memandang tajam ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 tidak berkesiap.

Mendadak salah seorang dari perempuanperempuan gundul itu menggerakkan kakinya menendang. Sementara salah seorang lainnya di bagian seberang, menurunkan obornya.

Aji tersentak kaget. Namun karena tubuhnya tidak bisa digerakkan, dia tak berdaya untuk mengelak. Dan....

Bukkk! "Uhhh..,!"

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 bergulingan. Dan belum sampai tubuhnya terhenti, orang yang tadi menurunkan obornya segera menyambut.

Wusss!

Rambut serta pakaian pemuda murid Wong Agung ini tampak mengelinting terkena sambaran api.

"Keparat! Kalian akan rasakan pembalasanku nanti!" pekik Aji dalam hati.

Pendekar Mata Keranjang 108 benar-benar geram. Giginya pun saling bergemeretak.

"Apa maksud kalian sebenarnya...?!" tegur Aji, dengan suara parau berat

"Manusia lancang! Kami tidak butuh tanya jawab! Cepat bangkit. Dan, ikut kami!" bentak pimpinan rombongan seraya berbalik hendak melangkah ke pintu yang telah terbuka. "Baik. Tapi, bebaskan dulu aku dari totokan ini!" jawab Aji dengan mata merah menyala.

Namun begitu kata-kata Aji selesai, salah seorang telah kembali menurunkan obornya dan menyorongkan ke arah wajahnya.

Wesss...!

"Sial!"

Aji hanya bisa menggerutu panjang pendek dalam hati seraya pejamkan kedua matanya.

"Mereka rupanya menginginkan kematianku secara perlahan-lahan!" kata batin Aji seraya mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Tapi totokan itu masih juga tak bisa dilenyapkan. Aji semakin putus asa. Sementara hawa panas obor semakin terasa mendekati wajahnya. Dan selagi telah pasrah karena tidak bisa berkutik, tibatiba....

"Rupanya manusia itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Angkat tubuhnya dan bawa masuk!"

Terdengar suara teguran dari arah bangunan. Seketika hawa panas obor perlahan menjauh dari wajah Aji. Dan perlahan-lahan pula pemuda tampan ini membuka kembali kelopak matanya.

Pimpinan rombongan mengangguk memberi isyarat. Salah seorang lantas maju. Seperti tanpa beban sama sekali, langsung dipanggulnya tubuh Aji dan dibawanya masuk ke bangunan batu.

Setelah melewati deretan batu di atas parit yang membentuk sungai, rombongan sampai pada suatu ruangan agak besar, yang dinding-dindingnya dari batu pualam putih.

"Gusti Yang Mulia Ratu Pualam Putih! Kami datang menghadap!" kata pimpinan rombongan, seraya menjura diikuti perempuan-perempuan lain yang ternyata berjumlah delapan orang.

Suasana hening sejenak. Tak lama, terdengar suara gesekan antara dua batu. Mendadak dari bawah ruangan, menjorok keluar sebuah kursi dari batu pualam putih, yang di atasnya duduk seorang perempuan berwajah jelita.

Perempuan yang duduk di atas kursi batu pualam putih sesaat memandang Aji yang kini telah menggelosor dengan bibir mengatup rapat dan mata terpejam.

"Bagaimana tugas kalian...?!" tanya perempuan di atas kursi pualam putih yang dipanggil Ratu Pualam Putih.

Pimpinan rombongan menjura.

"Maafkan kami, Gusti Ratu. Kami tidak berhasil membawa kitab dan kipas, karena seseorang ternyata telah mendahului kami!" ucap pimpinan rombongan dengan tubuh sedikit menggetar.

Ratu Pualam Putih mengangguk perlahan. Lalu matanya menatap Pendekar Mata Keranjang 108.

"Dia rupanya tertotok. Siapa dia sebenarnya?!" tanya Ratu Pualam Putih.

"Kami belum jelas benar, Gusti Ratu. Kami menemukannya di kaki bukit!" jawab pimpinan rombongan.

Ratu Pualam Putih memperhatikan Aji dengan seksama. Dan tiba-tiba matanya membelalak, tatkala melihat sebuah kipas lipat yang masih menyelip di baju dalam Pendekar Mata Keranjang 108.

"Melihat ciri-cirinya, apakah manusia ini yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108?" kata batin Ratu Pualam Putih dengan pandangan terpatri pada tubuh Aji.

Pandangan Ratu Pualam Putih kembali beralih pada orang-orang di hadapannya.

"Tinggalkan dia di sini. Kalian boleh pergi!" ujar Ratu Pualam Putih.

Beberapa perempuan di hadapan Ratu Pualam Putih sejenak saling berpandangan. Lalu serentak mereka menjura hormat, dan satu persatu segera berlalu.

"He, Pemuda! Siapa kau sebenarnya...?!" tanya Ratu Pualam setelah rombongan perempuan berlalu dari hadapannya.

Pendekar Mata Keranjang 108 membuka kelopak matanya. Dia sedikit tersentak. Sepasang matanya mendelik dengan dahi berkernyit. Ternyata, perempuan di atas kursi itu berpakaian tipis warna putih sehingga, tubuhnya bagai tidak terbungkus. Dan ini membuat bayang lekukan tubuhnya tampak jelas.

Namun bukan kecantikan dan kemulusannya yang membuat mata Pendekar Mata Keranjang 108 terbelalak. Karena, ternyata kedua telapak tangan Ratu Pualam Putih itu berbulu berwarna hitam. Sementara dari ujung jari-jari tangannya, tak henti-hentinya menetes cairan berwarna putih dan berbau!

"He? Kau belum jawab pertanyaanku...!" tegur Ratu Pualam Putih, mengagetkan Aji.

"Namaku Aji. Aku seorang pengelana jalanan yang tak punya ujung pangkal!" sahut Pendekar Mata Keranjang 108, sambil menahan napas, karena bau yang begitu menusuk.

Wajah Ratu Pualam Putih sedikit berubah dengan mata menyipit. Dia turun dari kursi, lalu melangkah mendekati Aji.

Pendekar Mata Keranjang 108 menahan napas. Belum sampai dua tarikan napas, mendadak Ratu Pualam Putih menggerakkan tangannya. Dan....

Wesss. ! Aji tercekat. Serangkum angin menyambar, seakan menyedot tubuhnya.

Set!

Namun hebatnya, hanya kipas Pendekar Mata Keranjang 108 yang tampak tercabut dari pinggangnya, lantas melayang menuju Ratu Pualam Putih.

"Ah, sial apa yang menimpa ku kali ini! Setelah bumbung bambu dibawa lari, apakah kipas itu juga akan jatuh ke tangan orang lain...?" rutuk Aji dalam hati. Matanya tetap memandang tak kesiap ke arah Ratu Pualam Putih yang kini memperhatikan kipas ungu di tangannya.

"Ratu "

Belum selesai Aji berkata, Ratu Pualam Putih memberi isyarat dengan mengangkat tangannya. Maksudnya agar Aji tidak meneruskan ucapannya.

"Hm.... Apakah kau manusia yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108?" tanya Ratu Pualam Putih.

Aji terkesima.

"Begitulah orang menjulukiku.,.," jawab Aji, perlahan.

"Aku sangat gembira dapat bertemu pendekar hebat. Tapi kenapa kau sampai tersesat di kaki bukit...?!" tanya Ratu Pualam Putih lagi. Bola matanya lekat-lekat memandang Aji.

"Apakah aku harus berterus terang padanya? Hm.... Rupanya dia tidak berniat jelek...," pilar Aji dalam hati.

Dengan ucapan tersendat-sendat akhirnya Pendekar Mata Keranjang 108 menceritakan kejadian di dalam gua. Namun dia tetap merahasiakan tentang bumbung bambu. * * *

"Apakah kau bisa mengutarakan ciri-ciri perempuan yang telah membuatmu begini?" tanya Ratu Pualam Putih, setelah Aji menyelesaikan ceritanya.

"Dia masih muda sekali. Umurnya kira-kira delapan belas tahun. Wajahnya cantik. Rambutnya ikal panjang dan dikuncir. Dia berbaju tanpa lengan!"

"Gadis macam begitu banyak jumlahnya...," potong Ratu Pualam Putih dengan raut sedikit redup. "Kau bisa mengingat ciri-ciri tertentu yang kira-kira tidak dimiliki gadis lain...?"

Sejenak dahi pemuda tampan ini berkerut seolah mengingat sesuatu. Dan tiba-tiba matanya membesar.

"Benar. Aku ingat! Gadis itu mula-mula menebar bau aroma Bunga Bangkai. Namun perlahan-lahan berubah menjadi aroma Bunga Kamboja!"

Ratu Pualam Putih terlonjak mendengar ucapan pemuda di depannya.

"Ratu mengenalnya...?" tanya Aji, sedikit kehe-

ranan.

Ratu Pualam Putih tidak menjawab. Matanya

menerawang jauh.

"Apakah Pendekar ini yang ditunggu-tunggu oleh Guru? Dan, apakah dia telah bertemu Guru?" kata batin Ratu Pualam Putih.

Tiba-tiba, Ratu Pualam Putih menghujamkan sepasang matanya pada wajah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Pendekar Mata Keranjang 108. Apakah kau pernah bertemu seseorang berpakaian compangcamping di pesisir Laut Pantai Utara?" tanya Ratu Pualam Putih. Untuk beberapa lama Aji tidak membuka mulut. Dia tampak ragu-ragu.

"Kau tidak usah khawatir, Pendekar! Jawab pertanyaanku!" tegur Ratu Pualam Putih tatkala melihat Aji ragu-ragu menjawab.

"Betul! Aku memang pernah menemuinya...," kata Aji pada akhirnya.

"Apakah orang tua itu memberikan sesuatu padamu?" kejar Ratu Pualam Putih, menyelidik.

"Benar!" jawab Aji singkat.

"Ah, ternyata benar dugaanku. Pemuda tampan inilah yang kiranya ditunggu Guru...! Tapi aku tidak melihat barang itu. Apakah...?"

Ratu Pualam Putih tak meneruskan katakatanya. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Perlahan-lahan tubuhnya berbalik dan melangkah ke arah kursi.

"Mana barang pemberian orang tua itu, Pendekar?" tanya Ratu Pualam Putih kembali duduk di atas kursi.

Sebentar Aji terperangah oleh pertanyaan Ratu Pualam Putih. Sungguh tidak disangka jika Ratu Pualam Putih mengetahui tentang bumbung bambu.

"Gadis yang kuceritakan itulah yang berhasil mencuri...!" jelas Pendekar Mata Keranjang 108 langsung.

"Astaga! Malapetaka akan segera melanda!" seru Ratu Pualam Putih setengah berteriak, membuat Aji semakin heran.

"Apa maksudmu, Ratu...?" tanya Aji. "Ketahuilah, Pendekar! Orang yang kau temui

di pesisir Laut Pantai Utara itu adalah Guruku! Sementara, gadis yang telah menipumu dan berhasil membawa lari pemberian Guruku adalah adik seperguruan Guruku yang berjuluk Bayangan Seribu Wajah "

Aji tercengang mendengar keterangan Ratu Pualam Putih. Hingga, dia tidak kuasa lagi mengucapkan kata-kata.

"Pendekar!" lanjut Ratu Pualam Putih. "Bayangan Seribu Wajah telah berpuluh-puluh tahun menginginkan bumbung bambu yang ada di tangan Guru. Namun, sejauh itu, dia tidak berhasil merampas. Menurut penuturan Guru, dalam bumbung bambu itu berisi sebuah lembaran daun lontar yang berisi jurus. Dan itu hanya akan diberikan pada seseorang yang memiliki kipas berwarna ungu dengan angka 108. Karena orang itulah yang kelak bisa meredakan gejolak dunia persilatan dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab!"

Sejenak Ratu Pualam Putih menghentikan keterangannya.

"Orang yang dimaksud Guru berarti adalah kau! Namun sayang sekali, kau mudah tertipu. Sehingga, bumbung bambu itu jatuh ke tangan Bayangan Seribu Wajah. Memang, selama ini tidak diketahui, apa maksudnya dia menginginkan bumbung bambu itu. Namun melihat kecenderungannya yang selalu berpihak pada golongan sesat, sedikit banyak bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi!"

"Jika demikian halnya, aku harus segera mencari Bayangan Seribu Wajah. Lekas tolong aku membebaskan diri dari totokan gadis laknat itu!" pinta Pendekar Mata Keranjang 108.

"Pendekar! Bayangan Seribu Wajah bukanlah tokoh sembarangan! Dia mempunyai ilmu yang sukar sekali dijajaki. Namun, aku akan mencoba membebaskan dirimu!" tukas Ratu Pualam Putih. Ratu Pualam Putih lantas berdiri dan melangkah mendekati Aji.

"Pejamkan kedua matamu. Kerahkan seluruh tenagamu untuk menahan!"

Begitu kata-katanya selesai, Ratu Pualam Putih mengangkat kedua tangannya yang masih terus meneteskan cairan putih. Kedua matanya terpejam rapat. Sementara bibirnya berkemik.

Wesss...!

Tiba-tiba dari telapak tangan Ratu Pualam Putih melesat cahaya putih bergulung-gulung, menerobos masuk ke dada Pendekar Mata Keranjang 108.

Waktu cahaya putih menerobos masuk, tubuh pemuda ini bergetar hebat. Kepalanya terasa berputarputar. Kedua matanya panas, lalu tubuhnya terasa bagai melayang jauh dan terpuruk ke kedalaman yang tidak terperi. Ingatannya lantas seperti hilang lenyap, lalu tak ingat apa-apa lagi.

Sementara itu di lain pihak, tubuh Ratu Pualam Putih juga bergetar hebat. Bahkan hampir jatuh. Sekujur tubuhnya telah dibasahi keringat. Malah perlahan-lahan dari mulut serta telinganya mulai tampak mengalir darah segar!

"Aaa...!"

Mendadak Ratu Pualam Putih menjerit keras. Tubuhnya terlempar membentur dinding. Bersamaan dengan jeritannya tubuh Aji melenting ke udara. Lalu tiba-tiba tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 kembali menukik, dan terpuruk mengeluarkan suara bergedebuk.

Saat itulah Aji merasakan bagai terbawa gelombang besar yang menghempas tubuhnya keras ke pinggir pantai. Kemudian hawa hangat merayapi sekujur tubuhnya. Ketika segalanya berlalu, sayup-sayup telinga pemuda ini menangkap suara erangan. Seketika kelopak matanya membuka. Dengan hati-hati dicobanya menggerakkan tangan.

"Ah, aku terbebas!" seru Aji begitu terasa tangannya dapat bergerak.

Dengan perlahan-lahan pemuda itu berusaha bangkit. Sejenak sekujur tubuhnya yang masih terasa ngilu dan tegang digerak-gerakkan.

"Pendekar!" terdengar suara lirih memanggil. "Astaga!" sentak Aji seraya berkelebat ke arah

Ratu Pualam Putih yang telentang di pojok ruangan. "Ratu...!" panggil Aji seraya jongkok.

Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 terbeliak lebar. Ternyata tetesan cairan putih tak lagi menetes dari ujung-ujung jari Ratu Pualam Putih. Namun warna hitam dan bulunya kini merambat ke atas hingga bahu wanita cantik ini.

Dengan cepat Aji segera mengangkat tubuh Ratu Pualam Putih, dan mendudukkan kembali di atas kursi. Sebentar pemuda ini memeriksa. Lalu disalurkannya tenaga dalam ke tubuh wanita ini.

Aji tak menunggu terlalu lama. Kini kedua mata Ratu Pualam Putih membuka. Dari bibirnya keluar suara lirih tak jelas.

"Ratu...," bisik Aji di dekat telinga Ratu Pualam

Putih.

Sepasang mata Ratu Pualam Putih berputar,

memandang ke atas. Lalu melirik ke arah Aji yang langsung mengembangkan senyum sambil mengangguk.

"Pendekar...," terdengar suara lirih dari mulut Ratu Pualam Putih. "Terima kasih, Pendekar. "

"Tidak, Ratu. Aku yang harus mengucapkan terima kasih padamu. Karena berkat pertolonganmu, aku bisa bebas dari totokan!"

Ratu Pualam Putih tersenyum, membuat wajahnya semakin cantik.

"Ratu, katakan! Apa yang harus kulakukan untuk mengembalikan keadaanmu seperti semula!" ujar Aji, menatap lekat-lekat pada bola mata Ratu Pualam Putih.

Wanita cantik itu menggeleng perlahan. Matanya sayu redup. Namun dia tak berusaha menghindar dari tatapan mata Aji. Hingga untuk beberapa saat keduanya saling berpandangan dengan perasaan masing-masing.

"Berita yang selama ini tersiar benar adanya. Dia memang laki-laki yang mempesona. Hingga tak heran jika banyak gadis yang tertarik padanya. Seandainya keadaanku tidak begini...,! Aku terlalu mengharap "

"Ratu! Aku berhutang budi padamu. Apa pun akan kulakukan untuk mengembalikan tanganmu. Katakanlah, apa yang harus kulakukan!" kejar Aji, memotong lamunan Ratu Pualam Putih.

Ratu Pualam Putih kembali hanya tersenyum seraya menggeleng.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Aku menolongmu tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Dan aku pun telah ikhlas menerima akibatnya. Kau tak usah terlalu mencemaskan diriku. Sekarang, pergilah! Kau harus mendapatkan kembali bumbung bambu itu! Dan jika telah berhasil, kalau kau tidak keberatan, harap kembali lagi ke sini...," Jelas Ratu Pualam Putih.

Ratu Pualam Putih kemudian segera mencabut kipas milik Pendekar Mata Keranjang 108 yang diselipkan di bajunya. Lalu cepat diberikan pada Aji. "Ratu...! Siapakah nama Gurumu?" tanya Aji, seraya menerima kipasnya kembali.

"Pendekar! Kau tak perlu heran jika kukatakan bahwa aku sendiri tidak tahu siapa nama Guruku. Karena dia memang tidak pernah menyebutkan namanya, meski aku telah lima belas tahun jadi muridnya!" jelas Ratu Pualam Putih lagi.

"Aneh!" desah Aji perlahan. Sementara sepasang matanya tak lepas-lepas memandang wajah Ratu Pualam Putih.

"Aneh memang. Tapi, itulah kenyataannya...," balas Ratu Pualam Putih sambil tersenyum dan balas memandang Aji.

Keduanya kini kembali saling beradu pandang. "Pendekar, saatnya bagimu untuk pergi...," ujar Ratu Pualam Putih.

"Tapi...!"

"Baiklah!" potong Ratu Pualam Putih. "Kalau kau ingin menolongku, tanyalah pada Guruku, apa saja yang harus kau lakukan! Tapi, itu bisa kau lakukan setelah dapat merebut kembali bumbung bambu dari tangan Bayangan Seribu Wajah "

"Jika demikian halnya, aku minta diri sekarang. Dan aku berjanji akan datang kembali setelah berhasil merebut bumbung bambu!" tegas Pendekar Mata Keranjang 108.

"Kau bersungguh-sungguh...?" tanya Ratu Pualam Putih dengan wajah muram. "Kau akan menyesal, Pendekar! Dan kau tidak akan melakukannya!"

"Ratu! Percayalah.... Apa pun akan kulakukan untukmu!"

Mendadak Ratu Pualam Putih tertawa tergelak-

gelak.

"Tidak mungkin, Pendekar! Kau tidak akan melakukannya "

"Sekarang mungkin tidak. Tapi saatnya nanti, aku akan membuktikan sendiri!"

Setelah berkata, Aji berbalik dan melangkah menuju pintu depan.

"Pendekar! Kedatanganmu selalu kunantikan, meski tidak untuk menolongku. Selamat jalan "

Aji berbalik lagi, namun Ratu Pualam Putih sudah tak terlihat lagi.

"Aneh! Apa sebenarnya di balik kata-kata Ratu Pualam Putih. Dan, kenapa dia mengatakan bahwa aku tidak mungkin melakukan pertolongan padanya? Hm itu bisa kuselesaikan nanti. Sekarang aku harus

mencari Bayangan Seribu Wajah!" kata Aji seraya berkelebat keluar dari bangunan batu ini.

3

Sesosok tubuh berjubah toga merah keluar dari sebuah kamar, menuju ruangan tengah. Di ruangan ini terlihat sebuah meja yang di atasnya terdapat beberapa kendi. Dengan suara tawa keras, sosok yang telinga sebelah kanannya ini menggantung sebuah anting-anting ini meraih salah satu kendi. Lalu bibir kendi didekatkan ke bibirnya. Dan....

Gluk...! Gluk...! Glukkk !

Terdengar suara tegukan ketika sosok itu menenggak tandas isi dalam kendi, yang berisi arak manis. Hingga sebentar kemudian, raut wajahnya menjadi panas dan berubah kemerahan. Sepasang matanya membesar merah dan berputar liar. Sementara, tawa dari mulutnya semakin meledak. Namun serta-merta sosok yang tak lain adalah Malaikat Berdarah Biru hentikan tawanya. Wajahnya langsung berpaling ke ruangan kamar, ketika terdengar suara erangan halus dari sana. Tapi kesunyian itu hanya berlalu sesaat, tak lama kemudian tawa Malaikat Berdarah Biru kembali menggema.

"Ha... ha... ha...! Rupanya kau masih belum puas juga. Dasar betina!"

Sambil berkata, Malaikat Berdarah Biru melangkah ke arah kamar, tempat tadi dia keluar.

Dengan sekali ayun kaki, pintu kamar terbuka. Sepasang mata Malaikat Berdarah Biru makin membeliak merah. Kakinya perlahan melangkah ke arah ranjang tempat tertelungkupnya satu sosok tubuh menggiurkan milik seorang gadis berambut panjang. Dan ternyata, sosok itu sudah tidak tertutupi benang sehelai pun.

Seakan mendengar suara pintu terbuka, gadis yang tergolek tanpa penutup sehelai benang pun ini bergerak memiringkan tubuhnya. Sehingga sepasang payudaranya yang putih dan membusung kencang terlihat jelas bagai menantang. Sepasang matanya perlahan membuka, diiringi seulas senyum. Pandangannya sayu ke arah Malaikat Berdarah Biru.

"Apa boleh buat? Demi mendapatkan kitab dan kipas itu, aku harus menahan perasaan sakit!" kata gadis ini dalam hati.

Sejenak gadis ini menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan.

"Malaikat Berdarah Biru!" panggil gadis ini dengan pandangan redup sayu. "Apa yang kau kehendaki telah ku penuhi. Sekarang harap penuhi janjimu untuk memberikan kitab itu padaku!"

Sekonyong-konyong tawa Malaikat Berdarah Biru lenyap. Parasnya kontan berubah. Rahangnya yang kokoh semakin mengembung dengan bibir mengembangkan senyum buas, mirip seringai serigala.

"Gadis bodoh!" dengus Malaikat Berdarah Biru dalam hati. "Apa dikira gampang kitab itu kuberikan padamu? Kau jangan mimpi! Hidupmu ada di tanganku. Untuk sementara ini, hidupmu memang masih ku perpanjang. Karena, tenagamu masih kubutuhkan. Setelah itu kematian adalah balasan setimpal bagimu!"

Malaikat Berdarah Biru menutup senyumnya. Namun matanya masih liar melahap tubuh gadis di pembaringan.

"Putri Tunjung Kuning!" panggil Malaikat Berdarah Biru. "Janji ku padamu tetap akan ku penuhi. Namun karena kitab itu pusaka yang tiada tanding, apakah sudah layak jika hanya ditukar tubuhmu?"

Seketika berubahlah air muka gadis polos di depan Malaikat Berdarah Biru yang ternyata Putri Tunjung Kuning.

"Apa maksudmu...?!" tanya Putri Tunjung Kuning, membesarkan sepasang matanya. Sementara dadanya sedikit berguncang menahan rasa terkejut, mendengar ucapan Malaikat Berdarah Biru barusan.

"Kitab itu akan kuberikan padamu, jika kau berhasil membawa ke hadapanku kipas milik Pendekar Mata Keranjang 108!" tandas Malaikat Berdarah Biru, tanpa tedeng aling-aling.

Dahi Putri Tunjung Kuning berkerut. Dalam hati dia mengutuk tak habis-habisnya.

"Jahanam busuk! Mulutmu ternyata tak bisa dipercaya. Terlambat aku mengetahui akal bulusnya. Tapi..., sudah kepalang basah. Bagaimanapun juga, terpaksa aku akan melakukan apa yang dikehendakinya. Namun aku akan tetap mencari kesempatan untuk merampas kitab itu!"

Sebisa mungkin gadis ini menekan perasaannya yang bergolak.

"Malaikat Berdarah Biru!" panggil Putri Tunjung Kuning berusaha tak menampakkan rasa tertekan. "Kau jangan gila. Bagaimana aku bisa mendapatkan kipas milik Pendekar Mata Keranjang 108. Dia manusia cerdik yang sulit dibujuk. Bahkan aku pun pernah tertipu olehnya! Kau jangan terlalu mengada-ada dengan alasanmu!"

"Putri Tunjung Kuning! Bagaimana caranya, tidak perlu kau tanyakan padaku. Tapi, ingat hanya satu hal yang perlu kau ketahui. Meski Pendekar Mata Keranjang 108 manusia berilmu tinggi dan sulit dibujuk, dia juga seorang laki-laki yang punya nafsu. Sementara, kau seorang gadis cantik yang bertubuh menggiurkan. Jadi, apa salahnya jika apa yang kau miliki dimanfaatkan."

Bibir Putri Tunjung Kuning saling menggegat.

Darahnya kian meluap.

"Manusia durjana licik!" jerit Putri Tunjung Kuning dalam hati.

Melihat perubahan wajah Putri Tunjung Kuning, Malaikat Berdarah Biru tahu apa yang ada di benak gadis itu. Lantas kakinya melangkah ke ranjang dan duduk di tepinya. Dibelainya rambut Putri Tunjung Kuning.

"Tubuhmu sudah tidak berharga lagi, Putri Tunjung Kuning! Apakah masih akan kau jual dengan harga mahal? Lagi pula, apakah kau sudah tidak menginginkan lagi kitab itu? Hm..., sekarang segalanya terserah padamu!" kata Malaikat Berdarah Biru pelan.

Putri Tunjung Kuning menarik napas dalamdalam. Di dadanya berkecamuk bermacam perasaan. Marah, benci, jijik, dan sebuah harapan. Semuanya bercampur aduk jadi satu.

"Baiklah... Kini kau menang. Tapi tunggu saatnya nanti!" desis batin Putri Tunjung Kuning, seraya menepiskan tangan Malaikat Berdarah Biru.

Tangan Malaikat Berdarah Biru merambat pelan ke punggung Putri Tunjung Kuning. Tubuh gadis itu langsung menggeliat. Sementara laki-laki ini tersenyum penuh kemenangan.

"Malaikat Berdarah Biru!" kata Putri Tunjung Kuning, menatap mata laki-laki di sebelahnya. "Segala kemauanmu akan ku turuti. Bahkan aku tidak akan lagi menginginkan kitab milikmu, jika kau menyetujui permintaanku!"

"Kau punya permintaan?" tanya Malaikat Berdarah Biru disertai tawa lebar. Namun tawanya cuma sesaat. Di kejap lain, tawanya berganti senyum seringai. "Katakan, apa permintaanmu hingga kau tak bernafsu lagi memiliki kitab itu!"

"Aku akan merampas kipas milik Pendekar Mata Keranjang 108, dan menyerahkan padamu. Dan kau tak perlu mengganti dengan kitab milikmu. Asal, kau bersedia mengawini ku!" papar Putri Tunjung Kuning.

"Ha... ha... ha...!" Tawa Malaikat Berdarah Biru kontan meledak.

"Hanya itu...?!" tanya laki-laki ini.

Putri Tunjung Kuning mengangguk perlahan. "Kalau hanya soal itu, kau tidak usah khawatir!

Karena sebenarnya aku mencintaimu. Tapi bagiku, cinta tak cukup tanpa pengorbanan. Rebutlah kipas milik Pendekar Mata Keranjang 108. Dan kau akan jadi istriku!" tegas Malaikat Berdarah Biru.

"Apakah ucapanmu kali ini tidak main-main?" tanya Putri Tunjung Kuning. "Putri Tunjung Kuning! Aku sudah kenyang dengan asam manis kehidupan! Dan sudah saatnya bagiku memiliki seorang pendamping yang nantinya bisa memberikan keturunan padaku, demi berlanjutnya keturunan Malaikat Berdarah Biru!"

"Ah!"

Putri Tunjung Kuning menjerit tertahan seakan-akan terkejut. Dan baru saja hendak mengucapkan sesuatu, Malaikat Berdarah Biru telah merebahkan diri di sampingnya. Tangan kanan laki-laki itu bergerak cepat, merengkuh tubuh gadis ini. Sementara tangan kirinya bergerak menanggalkan pakaiannya satu persatu.

"Besok pagi, kau harus segera melakukan perjalanan untuk menjadi calon pendamping ku!"

Sepasang mata Putri Tunjung Kuning terbelalak. Nafasnya mulai memburu kencang dengan dada naik turun. Bibirnya tersenyum memperdengarkan erangan halus. Namun diam-diam dalam hatinya menyimpan seribu kata.

"Kau jangan mimpi! Pengorbanan telah banyak. Dan tak akan lunas sebelum aku dapat merampas kitab dari tanganmu, serta mengubur cabikan-cabikan tubuhmu dengan tanganku sendiri!" desis Putri Tunjung Kuning dalam hati. Hanya sampai dalam hati. Tak lebih. 

4

Dua penunggang kuda yang memacu kencang tunggangannya masing-masing. Padahal binatangbinatang itu sudah terlihat kelelahan dengan napas menderu-deru kencang. Di sebuah dataran yang agak luas, kedua penunggang kuda itu menarik tali kekang untuk menghentikan laju kuda-kudanya. Kedua binatang tunggangan itu langsung mengangkat kaki depannya disertai ringkikan membahana.

Begitu berhenti, tampak jelas kalau kedua penunggang kuda itu adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan.

"Kita menyelidik di sini, Sunti. Di depan itu telah tampak bangunan Candi Singasari. Berarti tujuan kita telah dekat!" kata laki-laki setengah baya yang penunggang kuda disebelah kiri. Rambutnya yang panjang, sebagian sudah tampak memutih. Kumisnya lebat dan terawat rapi. Namun ada satu ciri yang membuat siapa saja yang memandangnya akan merasa ciut nyalinya. Sebelah mata laki-laki ini hanya merupakan lobang menganga yang menjorok ke dalam.

Sedangkan perempuan penunggang kuda di sebelah kanan yang dipanggil Sunti, tidak jelas bentuk wajahnya. Karena seluruh wajah perempuan ini tertutup sepotong kain. Meski demikian, siapa pun juga yang memandang tentu tak akan melewatkan begitu saja. Karena tubuhnya memang terlihat menantang. Dadanya kencang membusung dengan pinggul besar menggoda. Apalagi dibalut pakaian ketat tipis warna putih, membuat lekukan tubuhnya terpampang menggiurkan.

Rimba persilatan pada beberapa tahun silam memang pernah guncang oleh kemunculan dan sepak terjang kedua orang ini. Karena, mereka berhasil membuat tokoh bernama Wong Agung dari Karang Langit yang disegani waktu itu harus terluka. Selain itu, mereka berdua juga berhasil menghimpun beberapa tokoh golongan hitam untuk bernaung di bawahnya. Karenanya, tidak mustahil jika kedua orang ini telah menjadi momok dalam percaturan dunia persilatan. Memang merekalah yang berjuluk Sepasang Iblis Pendulang Sukma!

Meski tingkat ketinggian ilmu Sepasang Iblis Pendulang Sukma tidak diragukan lagi, telah berhasil mempelajari kitab Dua Belas Titisan Iblis, namun sejauh ini cita-cita mereka dalam melacak jejak kitab dan kipas ciptaan Empu Jaladara, tidak juga kunjung tersampaikan.

Namun demikian, kedua orang ini tidak pantang menyerah dan terus berusaha. Dan tatkala mendengar kabar bahwa Malaikat Berdarah Biru berhasil mendapatkan kitab dan kipas pusaka yang diinginkan, mereka pun melakukan perjalanan untuk mencarinya. Apalagi mereka juga mendengar kabar kalau Tengkorak Berjubah telah menjadi anak buah Malaikat Berdarah Biru. Maka keduanya makin bersemangat. Karena, mereka memang menaruh dendam pada Tengkorak Berjubah yang pernah menipu.

Salah satu dari Sepasang Iblis Pendulang Sukma yakni laki-laki berkumis dan bermata satu bernama asli Sangsang, berpaling pada perempuan bercadar di sampingnya.

"Kita harus bertindak dengan perhitungan, Sunti! Kalau manusia berjuluk Malaikat Berdarah Biru memang telah berhasil mendapatkan kitab dan kipas pusaka kedua bukan tidak mungkin dia sangat berbahaya!"

"Hi... hi... hi...!"

Sunti mengeluarkan tawa dari balik cadarnya. Sepasang matanya yang terlihat dari lobang cadar berputar ke sekeliling.

"Benar, Kakang. Tapi kita belum bisa memastikan, apakah betul Malaikat Berdarah Biru telah mendapatkannya. Jadi, kita tak perlu takut!" Sangsang menyeringai.

"Aku tidak takut. Tapi melihat beberapa tokoh telah turun tangan memperebutkan benda pusaka itu, siapa pun yang mendapatkannya pastilah sulit ditaklukkan! Karena, kitab itu pasti berisi jurus-jurus aneh tanpa tanding!" tegas Sangsang.

"Hm.... Tapi kau juga jangan lupa, Kakang. Selain ilmu silat yang kita miliki, aku masih mempunyai senjata yang dapat digunakan dalam keadaan terjepit!" Mendengar kata-kata itu, wajah Sangsang cepat berpaling kembali ke arah Sunti. Mata satu-satunya menatap liar dada Sunti yang membusung kencang.

Lalu tatapan itu beralih ke pinggul. Dada laki-laki ini bergetar dengan jakun turun naik.

Mendapati dirinya dipandangi seperti itu, Sunti mengerdipkan sebelah matanya.

"Kau tak perlu cemas dengan kata-kataku tadi, Kakang. Aku bisa jaga diri. Percayalah Tubuhku ha-

nyalah milikmu ," ujar wanita menggiurkan ini.

Kumis Sangsang bergerak-gerak melepas senyum. Pandangannya lantas beralih ke depan, di mana pelataran Candi Singasari telah nampak.

"Lebih baik kuda kita ditambatkan dulu di balik pohon itu, agar kita leluasa bergerak...!" ujar Sangsang.

Tanpa menunggu jawaban, laki-laki bermata satu ini telah menggeprak kuda tunggangannya, menuju ke arah sebuah pohon. Namun mendadak tali kekang kuda itu ditarik kembali tatkala ekor matanya menangkap kelebatan sesosok bayangan keluar dari pelataran candi. Dan baru saja Sangsang berpikir menduga-duga....

"Hieeekh !" Sekonyong-konyong kuda tunggangan itu meringkik keras dengan kaki belakang melejang. Sesaat kemudian binatang itu melenting satu tombak ke udara. Sementara penunggangnya yang menyadari adanya bahaya cepat melenting ke udara. Beberapa kali tubuhnya membuat gerakan jungkir balik. Tepat ketika Sangsang mendarat dengan kedua tangan terkembang siap melepaskan pukulan, kudanya terjerembab di tanah tak bergerak lagi.

Sementara Sunti cepat pula melenting ke samping dengan kaki menendang pantat kudanya. Seketika binatang itu terkejut, langsung menghambur cepat ke depan. Sehingga, kuda itu selamat dari sambaran pukulan yang ternyata juga mengarah pada Sunti.

Sepasang Iblis Pendulang Sukma ini serta merta berpaling ke kanan, arah serangan tadi berasal. Keduanya terperangah. Sepuluh langkah di samping mereka tampak berdiri tegak seorang pemuda berjubah toga warna merah. Kedua kakinya kokoh merenggang dengan kedua tangan berkacak pinggang. Bibirnya menyunggingkan senyum seringai bernada mengejek. Namun sepasang matanya menatap lekat-lekat pada dada dan pinggul Sunti. Dia tak lain dari Malaikat Berdarah Biru.

"Siapa kau?!" bentak Sangsang, mengawasi tak berkedip.

Malaikat Berdarah Biru mengatupkan dagunya rapat-rapat. Kedua tangannya terangkat, lalu mengusap-usap. Dan begitu menghentak....

Desss. !

"Heh?!"

Bersamaan dengan itu serangkum angin keras menyambar, Sangsang dan Sunti tersentak kaget, namun cepat merunduk. Sehingga serangan itu hanya menyambar angin saja.

"Manusia konyol! Kalian tak berhak bertanya! Kalian hanya bisa jawab! Ini daerah kekuasaanku!" bentak Malaikat Berdarah Biru.

Mendengar kata-kata Malaikat Berdarah Biru, Sangsang dan Sunti yang sudah tegak kembali jadi berkernyit keningnya. Kemudian mereka saling berpandangan.

"Ha... ha... ha...! Lihat, Sunti! Kunyuk ini rupanya belum tahu sedang berhadapan dengan siapa?! Berani benar dia bertingkah seperti anjing kepanasan! Beri dia pelajaran agar berubah jadi kucing kedinginan!" leceh Sangsang.

Sementara Sunti hanya menggeliatkan tubuhnya, membuat mata Malaikat Berdarah Biru merayapi tanpa berkedip. Mendadak tubuh wanita itu berkelebat lenyap.

Di pihak lain, Malaikat Berdarah Biru yang mengerti keadaan segera pula mundur tiga langkah ke samping. Tangan kanannya cepat mengayun ke bawah. Sedangkan tangan kiri bergerak lurus ke samping.

Wuuut! Wuuut!

Dan begitu serangan Sunti mendekati, seberkas cahaya biru dari papakan Malaikat Berdarah Biru melesat menyambar ke arah samping. Sementara dari arah bawah menderu sinar merah melingkar seakan melapis tubuh laki-laki berjubah toga merah ini. Lalu....

Des! Prak!

Terdengar benturan keras, yang disusul jerit tertahan. Tiga langkah di samping Sangsang, tampak tubuh Sunti terkapar. Pakaian bagian bawahnya robek menyilang, membuat pahanya terpampang jelas.

Malaikat Berdarah Biru tersenyum mengejek. Kepalanya tengadah memandang langit. "Ha... ha... ha...!"

Dari mulut laki-laki berjubah toga merah ini keluar suara tawa panjang dan bergelak. Seakan-akan saat merambat bangkit, Sunti segera memalingkan wajahnya pada Sangsang. Keduanya sejenak saling berpandangan. Dan manusia bergelar Sepasang Iblis Pendulang Sukma ini diam-diam jadi tercekat. Mereka baru sadar jika manusia bertoga merah di hadapannya adalah orang berilmu tinggi. Namun karena sudah kenyang pengalaman, mereka tak menampakkan rasa takut sama sekali. Malah tiba-tiba Sangsang menghentakkan kedua tangannya ke depan.

Wesss...!

Cahaya hitam bergulung-gulung dari serangan Sangsang, melesat mengeluarkan suara gemuruh dahsyat dan berhawa panas.

Melihat serangan ini Malaikat Berdarah Biru melangkahkan kakinya satu tindak ke samping. Sementara tangannya masih kacak pinggang. Sehingga serangan Sangsang yang berupa cahaya hitam menerabas tempat kosong di samping Malaikat Berdarah Biru.

"Chuih...!"

Malaikat Berdarah Biru meludah ke tanah. Kedua tangannya ditarik sedikit ke belakang. Lantas disertai dengusan keras, kedua tangannya dihentakkan ke arah Sangsang dan Sunti.

Wusss! Wesss...!

Dua sinar merah dan biru langsung menyengat cepat dari telapak tangan Malaikat Berdarah Biru. Seketika tempat ini tiba-tiba menjadi terang benderang.

Sejenak Sepasang Iblis Pendulang Sukma terkejut. Sangsang melirik sekilas pada Sunti. Dan perempuan itu mengangguk perlahan. Dan di kejap itu pula, mereka langsung merapat dan menghentakkan tangan bersamaan, memapak serangan.

Wuuut! Wuuut...!

Empat larik gelombang hitam keluar dari telapak tangan Sepasang Iblis Pendulang Sukma langsung menderu kencang dan bertemu dengan serangan Malaikat Berdarah Biru. Maka....

Bum! Bum!

Dua ledakan hebat segera mengguncang. Tanah berhamburan ke udara. Suasana seketika redup, terhalangi hamburan tanah yang membumbung. Tempat di mana bertemunya dua serangan tampak membentuk lobang besar.

"Aaakh !"

Hampir berbarengan Sepasang Iblis Pendulang Sukma berseru keras dengan tubuh masing-masing terjengkang sejauh beberapa tombak. Sementara Malaikat Berdarah Biru hanya goyah sebentar, tanpa sejengkal pun bergeming dari tempat berpijaknya.

Sambil bangkit Sangsang saling mengadukan kepalan tangannya. Sedang Sunti masih membuat gerakan jungkir balik di atas tanah, lalu berdiri tegak.

"Sunti! Lepaskan jurus pamungkas!"

Meski masih merasakan nyeri di dada, Sunti mengangguk. Segera kedua tangannya dikatupkan di depan dada. Demikian juga Sangsang. Sesaat kemudian, kaki masing-masing langsung maju satu langkah ke depan.

"Hiaaa !"

Disertai bentakan membahana, Sepasang Iblis Pendulang Sukma menghantamkan kedua tangan masing-masing ke arah Malaikat Berdarah Biru.

Wesss. ! Melihat serangan yang memburu ke arahnya, Malaikat Berdarah Biru sedikit terkejut. Namun cepat ditindihnya dengan senyum lebar mengejek. Cepat dicabutnya kipas lipat dari balik jubahnya. Begitu kipas terkembangkan di depan dada, langsung dikibaskan secara melingkar.

Weeer!

Seketika melesat cepat sinar redup berkilat, disertai suara menderu.

Blap! "Heh?!"

Mendadak Sepasang Iblis Pendulang Sukma tercengang, karena serangan mereka bagai tertahan dinding tebal. Sangsang cepat menambah tekanan tenaga dalamnya. Demikian pula Sunti. Namun keduanya hampir-hampir saja tak percaya dengan apa yang terjadi. Serangan mereka tetap tak mampu menerobos sinar redup berkilat yang keluar dari kibasan kipas warna hitam milik Malaikat Berdarah Biru. Malah sampai-sampai keringat dingin telah keluar dari sekujur tubuh masing-masing, saat serangan mereka perlahan-lahan bergerak mental balik.

Sepasang Iblis Pendulang Sukma tidak pantang menyerah. Dengan menggembor keras, seluruh tenaganya dikerahkan. Sehingga untuk sesaat kedua orang itu memang berhasil menahan gerak laju kembalinya serangan mereka sendiri.

Namun kali ini Malaikat Berdarah Biru cepat menghantamkan tangan kiri. Akibatnya Sepasang Iblis Pendulang Sukma tak sanggup lagi bertahan. Dan....

Blasssh !

"Aaa !"

Disertai jeritan keras, tubuh Sepasang Iblis Pendulang Sukma terjerembab ke tanah. Malaikat Berdarah Biru menurunkan kipasnya disertai tawa terkekeh. Lalu dengan langkah perlahan, didekatinya Sunti.

Tepat tiga langkah lagi Malaikat Berdarah Biru sampai, Sangsang melesatkan diri ke udara. Begitu berada di atas tubuhnya meluncur ke arah Malaikat Berdarah Biru dengan kedua kaki lurus mengancam.

Malaikat Berdarah Biru cepat menghentikan langkahnya. Tangan kanannya yang memegang kipas segera ditarik ke depan dada. Sementara, tangan kirinya mengepal. Secepat kilat tubuhnya berbalik sambil mengibaskan kipasnya. Sedangkan tangan kiri menghantam ke arah kaki Sangsang.

Wuuut! Prak! Des! "Aaakh...!"

Terdengar benturan keras disertai suara keluhan tertahan. Tubuh Sangsang tampak terpental ke atas. Lalu sesaat kemudian dia menukik deras, dan jatuh berdebuk di atas tanah. Kedua kakinya tampak merah melepuh. Dadanya berdenyut nyeri. Dari sudut bibirnya mengalir darah kehitaman.

Hebatnya meski sudah dalam keadaan terluka, Sangsang segera menakupkan tangan. Lalu sekejap kemudian tubuhnya telah kembali bangkit berdiri. Matanya menyengat tajam ke arah Malaikat Berdarah Biru.

Kening berkernyit. Sepasang matanya menyipit, lalu membesar.

"Gila! Manusia satu ini rupanya tahan pukulan. Saat bagiku mencoba pukulan yang baru saja aku pelajari dari kitab hitam!" desis batin Malaikat Berdarah Biru.

"Bocah! Sebelum gurat kematianmu tiba, lebih baik katakan siapa dirimu sebenarnya...!" gertak Sangsang, seraya menyiapkan pukulan.

"Jahanam! Mata satu mu belum buta, kenapa tidak bisa melihat? Buka lebar-lebar matamu yang tinggal satu! Kau tentunya bisa melihat, apa yang ada di tangan kananku!"

Memang sejak tadi Sangsang tidak begitu memperhatikan. Dikira yang ada di tangan kanan Malaikat Berdarah Biru hanyalah kipas biasa. Namun setelah diperhatikan seksama, diam-diam hatinya berguncang juga. Karena ternyata yang ada di tangan kanan laki-laki berjubah toga merah itu mengeluarkan sinar hitam redup berkilat-kilat.

"Kipas pusaka itu!" pekik Sangsang dalam hati, memandang tanpa berkedip. "Jadi, dia adalah manusia yang bergelar Malaikat Berdarah Biru!"

Sementara itu di belakang, Sunti yang juga sudah bangkit ikut-ikutan mengawasi kipas yang ada di tangan Malaikat Berdarah Biru.

"Hm    Jadi berita selama ini benar adanya. Ki-

pas itu telah jatuh ke tangan manusia ini!" kata batin Sunti, seraya berpaling pada Sangsang yang langsung memberi isyarat penyerang.

Wusss! Wesss. !

Secara bersamaan, kembali Sepasang Iblis Pendulang Sukma menghentakkan tangan masing-masing. Seketika dari arah depan dan belakang Malai-

kat Berdarah Biru melesat kilatan-kilatan sinar kehitaman dengan suara bergemuruh, yang keluar dari tangan Sunti dan Sangsang. Inilah pukulan yang selama ini jarang sekali ada orang bisa mengelak.

Ternyata, dua serangan ini mampu membuat Malaikat Berdarah Biru sedikit terkejut. Hingga untuk beberapa saat dia hanya seperti tercengang, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi begitu kilatan-kilatan itu sedepa lagi menghantam hancur tubuhnya, Malaikat Berdarah Biru melesat sambil berputar. Kipas di tangan kanannya disentakkan melengkung ke arah Sangsang. Sedangkan tangan kirinya dihantamkan ke arah Sunti.

Wuuut...!

Wesss...!

Sinar hitam redup langsung menyambar dari kipas Malaikat Berdarah Biru, dan seperti menelan lenyap kilatan sinar kehitaman dari tangan Sangsang.

Crap! Crap!

Bersamaan itu terdengar dua kali suara seperti pohon terkena sambaran pisau.

Sementara Sangsang sendiri merasa tubuhnya bagai terhantam badai. Dia berusaha agar tidak terhempas. Tapi usahanya sia-sia. Semakin berusaha menahan, hembusan angin yang menghantamnya semakin kencang. Hingga tak lama kemudian, tubuh Sangsang melayang jauh, dan tersuruk di atas tanah.

Di lain pihak, karena separo tenaganya dikerahkan ke arah Sangsang, membuat hantaman tangan kiri Malaikat Berdarah Biru yang mengarah pada Sunti tidak begitu berisi tenaga dalam. Akibatnya serangan wanita itu tidak bisa dibendungnya. Hingga ketika tubuh Sangsang melayang, tubuh Malaikat Berdarah Biru pun terbanting ke tanah. Tangan kirinya terasa ngilu bukan main. Tubuhnya bergetar hebat, hingga jika saja tidak segera menarik pulang tangan kanannya, niscaya kipas hitamnya akan terpental lepas!

Melihat lawan terbanting, Sunti cepat melepaskan serangan susulan. Sepertinya hatinya tak sabar ingin segera menyudahi pertarungan.

Wesss...! Mendapati serangan, Malaikat Berdarah Biru mengutuk panjang pendek. Karena Sunti melepaskan pukulan jarak jauh ketika tubuhnya terbanting ke tanah. Sehingga, tak ada kesempatan baginya untuk menangkis. Maka mau tak mau, Malaikat Berdarah Biru hanya bisa menghindar dengan bergulingan di atas tanah.

Namun tanpa diduga sama sekali oleh Sunti, tiba-tiba Malaikat Berdarah Biru melesat ke udara. Dari atas tubuhnya berputar hingga sejenak kemudian menghilang dari pandangan. Dan tahu-tahu, dia sudah berada dua langkah di samping Sunti.

Sunti yang masih menduga-duga arah berkelebatnya Malaikat Berdarah Biru terkejut, namun terlambat. Belum hilang rasa terkejutnya, kaki kanan Malaikat Berdarah Biru telah bergerak menghantam kakinya.

Duk! "Aaakh...!"

Sunti terbanting ke belakang disertai seruan tertahan dari mulutnya. Dan dalam keadaan seperti itu, kedua kakinya masih mencoba melejang untuk menghantam.

Tapi, rupanya Malaikat Berdarah Biru lebih cepat memiringkan tubuhnya. Sehingga hantaman kedua kaki Sunti hanya menerabas tempat kosong di samping tubuh Malaikat Berdarah Biru. Dan sekejap itu juga laki-laki berjubah toga merah ini mengangkat kaki kirinya, seakan mau bergerak memutar.

Des! Des! "Aaa...!"

Terdengar bentrokan keras. Disertai raungan setinggi langit. Tubuh Sunti berputar di atas tanah terhantam papasan kaki Malaikat Berdarah Biru yang menghantam kedua kakinya.

Sunti masih mencoba bergerak bangkit. Namun kali ini tubuhnya serasa tidak bisa lagi digerakkan.

Malaikat Berdarah Biru tersenyum puas. Matanya berkilat-kilat merah, memandang bergantian ke arah Sangsang dan Sunti yang kini tampak bergerakgerak tanpa bisa bangkit.

"Mereka tampaknya mempunyai ilmu tinggi. Hm.... Tenaga mereka bisa digunakan...," kata batin Malaikat Berdarah Biru.

Laki-laki ini lantas melangkah mendekati Sangsang. Begitu dekat, kedua tangannya bergerak cepat menotok.

Tuk! "Aaa...!"

Sangsang yang masih terkapar menjerit begitu jalan darahnya tertotok. Anggota tubuhnya seketika tak bisa digerakkan sama sekali.

Malaikat Berdarah Biru cepat berbalik dan berkelebat ke arah Sunti.

Tahu apa yang akan diperbuat lawan, Sunti segera menghindar. Tubuhnya bergulingan. Tapi hatinya jadi tercekat. Karena begitu tubuhnya berhenti, tahutahu Malaikat Berdarah Biru telah berada di sampingnya dengan kedua tangan siap bergerak.

Sunti masih kembali mencoba menghindar. Tapi kali ini Malaikat Berdarah Biru tidak lagi memberi kesempatan. Seketika, kedua tangannya cepat mendahului, menotok.

Tuk! Tuk!

"Jahanam! Lepaskan aku!" teriak Sunti dengan mata mendelik tajam.

Malaikat Berdarah Biru mendekat. Tiba-tiba telapak tangannya bergerak. Lalu.... Plak!

"Sekali lagi memaki, mulutmu akan kupecahkan!" gertak Malaikat Berdarah Biru dengan rahang mengembung.

Serta-merta Sunti terdiam. Cadar putihnya tampak berubah menjadi merah, karena dari mulutnya merembes darah segar akibat tamparan tangan Malaikat Berdarah Biru.

Kini Malaikat Berdarah Biru berbalik dan melangkah perlahan ke arah Sangsang yang tampak berubah ketakutan pada wajahnya. Tanpa berkata-kata lagi, laki-laki berjubah toga merah ini menarik kaki kanan Sangsang. Seketika dihempaskan tubuh satu dari Sepasang Iblis Pendulang Sukma keras-keras.

Tubuh Sangsang meluncur deras di atas tanah, dan berhenti tatkala menghantam tubuh Sunti. Sepasang Iblis Pendulang Sukma saling bergulingan.

Malaikat Berdarah Biru tertawa tergelak-gelak. Kedua tangannya diangkat ke atas siap melepaskan pukulan.

"Jangan bunuh kami!" teriak Sunti dengan suara bergetar menghiba.

"Benar! Kami akan lakukan apa saja perintahmu, asal nyawa kami diperpanjang!" timpal Sangsang seraya berpaling pada Sunti.

Malaikat Berdarah Biru tertawa lebar. Kedua tangannya diturunkan.

"Baik. Permintaanmu ku turuti. Namun jika kalian ingkar, akan tahu sendiri akibatnya!" sahut Malaikat Berdarah Biru, seraya berbalik dan melangkah menuju arah pelataran candi.

"Tunggu!" teriak Sangsang. "Apakah kami akan kau biarkan begini?"

"Sebagai pembantuku yang baru, kalian perlu dapat latihan!" kata Malaikat Berdarah Biru, tanpa berpaling.

"Manusia iblis!" rutuk Sangsang-dengan menelan ludah.

Malaikat Berdarah Biru meneruskan langkah. Dan sebelum menghilang di balik pelataran candi, dia tertawa.

"Malaikat Berdarah Biru tak akan menerima pembantu yang tidak tahan banting. Karena, kalian kelak akan menghadapi pertarungan hidup dan mati!" kata Malaikat Berdarah Biru, jumawa.

5

Panasnya hari ini begitu terik menyengat. Seakan-akan hendak menghanguskan kulit, Pendekar Mata Keranjang 108 yang sudah dua hari melakukan perjalanan setelah turun dari puncak Bukit Watu Dakon.

"Sial betul nasibku! Gara-gara gadis cantik, persoalan jadi panjang. Lalu bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan Eyang Selaksa serta Wong Agung! Aku benar-benar tolol!" rutuk Pendekar Mata Keranjang 108, tak habishabisnya.

Pendekar Mata Keranjang 108 terus melangkah dengan membawa kekesalan yang terus menyesaki dada.

"Kepada siapa aku sekarang harus bertanya? Keberadaan Bayangan Seribu Wajah tak kuketahui di mana. Sementara kitab dan kipas kedua, kabarnya telah jatuh pada Malaikat Berdarah Biru. Ah! Jika saja aku tidak segera mendapatkan kembali bumbung bambu itu, malapetaka pasti akan melanda dunia persilatan. Dan semua itu tak mungkin bisa dihentikan! Kalau saja waktu itu aku tidak tergoda, mungkin "

Belum tuntas Pendekar Mata Keranjang 108

berpikir begitu, dari arah belakang sayup-sayup terdengar suara derap langkah kaki kuda menuju ke arahnya. Dan bersamaan dengan itu pula, dari arah depan pun terdengar derap kaki kuda pula.

"Untuk sementara waktu, aku harus menghindari orang-orang tertentu paling tidak, sebelum aku mendapatkan kembali bumbung bambu ," gumam Aji.

Sejenak Aji berpaling ke belakang, lalu ke depan. Kejap berikutnya, tubuhnya telah berkelebat cepat, menyelinap ke balik semak belukar yang diyakini bisa melindungi dirinya agar tidak terlihat.

Agaknya, derap langkah kuda dari arah depan lebih dahulu sampai di dekat Aji bersembunyi. Dan ketika mendengar dari depannya derap kaki kuda seketika sosok yang baru datang menghentikan kuda tunggangannya.

Begitu penunggang kuda ini berhenti, sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 kontan membeliak lebar lalu menyipit. Dahinya berkerut tanda berpikir keras. Ternyata penunggang kuda yang lebih dulu datang adalah seorang gadis muda berparas cantik. Tubuhnya sintal, menggiurkan. Pakaiannya warna kuning ketat. Rambutnya tergerai panjang.

"Putri Tunjung Kuning!" desis Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati begitu dapat mengenali siapa gadis penunggang kuda berpakaian kuning itu.

"Gadis ini sepertinya makin cantik saja. "

Sambil membatin, Aji tak henti-hentinya memandangi Putri Tunjung Kuning. Dan mengingat gadis ini pikirannya lantas melayang jauh Ajeng Roro. Murid Wong Agung ini mengusap-usap hidungnya seraya tersenyum sendiri.

"Ajeng Roro.... Kapan kita bisa bertemu lagi?

Apakah kau juga rindu seperti diriku?"

Selagi Aji melamun, penunggang kuda satunya yang terakhir datang dari arah berlawanan, tahu-tahu telah berhenti sepuluh tombak di hadapan Putri Tunjung Kuning.

Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 sesaat berkilat mendelik tak berkedip. Degup jantungnya berdetak lebih kencang. Kedua tangannya sertamerta mengepal dengan dagu membatu.

"Penipu jahanam! Akhirnya kutemukan juga kau!" desis Aji lagi, tapi masih dalam hati.

Penunggang kuda yang barusan datang ternyata seorang gadis juga, namun berpakaian warna merah. Raut wajahnya tak kalah cantiknya dibanding Putri Tunjung Kuning. Rambutnya panjang dan dikuncir agak tinggi. Dia tak lain adalah gadis yang telah memperdayai Aji. Siapa lagi kalau bukan Parameswari alias Bayangan Seribu Wajah.

Namun belum sampai Aji bergerak bangkit hendak menumpahkan segala amarahnya, Bayangan Seribu Wajah telah melompat dari punggung kuda tunggangannya. Dia langsung berdiri tegak menghadang gadis berbaju kuning di depannya.

Putri Tunjung Kuning tersirap sejenak. Keningnya berkerut dengan mata menyipit. Dicobanya menduga-duga, siapa gerangan gadis berbaju merah yang tiba-tiba saja menghadang perjalanannya.

Sementara Aji telah mengurungkan niat hendak keluar dari persembunyiannya. Gejolak amarahnya cepat ditindihnya.

"Kulihat dulu, apa yang akan dilakukan gadis jahanam itu!" kata Aji dalam hati seraya memandang lekat-lekat pada Bayangan Seribu Wajah.

"Tak ada hujan tak ada angin, mengapa kau menghadang perjalananku?!" bentak Putri Tunjung Kuning

Begitu kata-katanya habis, gadis ini melesat satu tombak ke udara. Dibuatnya gerakan berputar, lalu mendarat delapan langkah di hadapan Bayangan Seribu Wajah. Begitu indah gerakannya, pertanda gadis ini tak bisa dibuat main-main.

Di seberang, Bayangan Seribu Wajah tidak segera menjawab. Diawasinya Putri Tunjung Kuning dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tiba-tiba senyumnya menyeruak menghias bibirnya.

"Hei, perempuan berjuluk Putri Tunjung Kuning! Dengar! Aku tidak suka ditanyai! Dan lebih tidak suka lagi, jika melihat orang mempunyai ilmu silat yang melebihi ku!" ujar Bayangan Seribu Wajah, jumawa.

Putri Tunjung Kuning menarik napas panjang. Mendadak cuping hidungnya mengembang, seakan tidak percaya. Kembali ditarik napas dengan sepasang mata membesar.

"Mengenakan pakaian merah dan menebar aroma Kamboja. Dan mungkin wajahnya sering berubah-rubah. Meski aku belum pernah mengenalnya, tak salah lagi. Pasti gadis ini digelari Bayangan Seribu Wajah...," kata batin Putri Tunjung Kuning.

Sehabis membatin dengan dugaannya, Putri Tunjung Kuning menatap tajam Bayangan Seribu Wajah.

"Bayangan Seribu Wajah! Apa maumu sebenarnya?! Kita tidak pernah saling berjumpa. Semestinya di antara kita tak ada urusan!" Mendengar kata-kata itu, Bayangan Seribu Wajah menengadahkan kepalanya.

"Syukur jika kau telah mengenalku! Tadi sudah kukatakan, aku paling tidak suka melihat orang mempunyai ilmu silat. Siapa pun orangnya. Jadi, siapa pun juga orang berilmu yang bertemu denganku, maka harus mampus!" tandas Bayangan Seribu Wajah dengan mata melirik meremehkan.

"Edan!" rutuk Pendekar Mata Keranjang 108 seraya tetap memperhatikan.

"Huh!"

Putri Tunjung Kuning mendengus keras, membuat Bayangan Seribu Wajah memalingkan wajah ke arahnya.

"Bicaramu terlalu sombong! Kalau kau bicara dengan anak kecil, mungkin akan terus lari terkencing-kencing. Tapi kali ini kau bicara pada orang yang salah!" balas Putri Tunjung Kuning, tak kalah jumawa. "Kau terlalu banyak bacot! Terimalah ajalmu!"

kata Bayangan Seribu Wajah.

Seketika Bayangan Seribu Wajah menggerakkan tangan kanannya ke balik baju. Dan begitu disentakkan, empat kuntum bunga kamboja melesat keluar dari telapaknya.

Set! Set!

Melihat lawan telah melepas serangan, Putri Tunjung Kuning membuat gerakan berputar dua kali dalam keadaan rebah. Kaki kanannya cepat terangkat.

Tas! Tas! Tas! Tas!

Saat itu juga empat kuntum bunga kamboja hancur, terkena sambaran kaki. Dan sekejap itu juga dari arah, bawah melesat selarik cahaya kuning.

Wesss...!

Ternyata sambil menangkis serangan, Putri Tunjung Kuning menghantamkan kedua tangannya.

Bayangan Seribu Wajah hanya tersenyum sinis. Cepat tubuhnya dimiringkan ke samping, sehingga larikan cahaya kuning itu menyambar sejengkal di sebelah sampingnya menerabas angin.

"He... he... he...!"

Bayangan Seribu Wajah tertawa pendek. Sesaat kemudian, tubuhnya berkelebat lenyap. Dan tahutahu....

Wesss...!

Putri Tunjung Kuning melihat dua buah kilauan cahaya merah disertai aroma Bunga Kamboja yang menyengat. Maka cepat kakinya mundur ke belakang. Dan ternyata, kilauan cahaya merah tersebut adalah dua tangan Bayangan Seribu Wajah yang menghantam ke arah wajah Putri Tunjung Kuning.

Sambil tetap melangkah mundur, Putri Tunjung Kuning berusaha menangkis. Kedua tangannya cepat diputar ke depan. Tapi, tiba-tiba kaki kiri Bayangan Seribu Wajah telah menghempas ke arah dadanya dan tak dapat dihindari lagi.

Bresss! "Aaakh...!"

Hantaman kaki itu memang tidak begitu keras. Namun hebatnya, Putri Tunjung Kuning merasakan dadanya seakan-akan jebol. Tubuhnya terlempar sampai tiga tombak ke belakang.

Bruk!

Seketika perutnya terasa mual. Lalu Keras

sekali tubuh Putri Tunjung Kuning terhempas di tanah.

"Heoekh...!"

Putri Tunjung Kuning muntah beberapa kali. Dan pelan-pelan kepalanya berpaling pada Bayangan Seribu Wajah. Ditatapnya wanita berbaju merah itu dengan pandangan buas, lalu bergerak bangkit. Tapi tubuhnya tiba-tiba terhuyung-huyung dan jatuh terduduk.

"Ha... ha... ha '"

Bayangan Seribu Wajah tertawa keras. Kakinya melangkah ke arah Putri Tunjung Kuning dengan kedua tangan tertarik ke belakang sedikit. Seakan dia siap melepaskan pukulan.

Mengetahui gelagat tidak baik, Putri Tunjung Kuning segera mengumpulkan segenap tenaganya. Tapi wajahnya mendadak berubah pias, karena nafasnya tidak bisa lagi berjalan seperti biasa. Semakin menarik napas, dadanya semakin sesak.

Putri Tunjung Kuning baru sadar. Ternyata sewaktu Bayangan Seribu Wajah menghantamkan kakinya, rupanya juga telah menghembuskan hawa beracun Bunga Kamboja. Itulah salah satu senjata andalan Bayangan Seribu Wajah, yang terkenal bernama jurus 'Kamboja Penebar Maut'.

"Putri Tunjung Kuning! Bersiaplah menghadapi malaikat maut!"

Sambil berkata, Bayangan Seribu Wajah menghentakkan kedua tangannya.

Wes! Wes!

Dua larik sinar merah langsung menerjang ke arah Putri Tunjung Kuning yang kini duduk tak bergerak dengan raut muka penuh ketakutan.

Tapi belum juga sinar merah akan mendapat sasaran, mendadak tak jauh dari tempat itu terdengar nyanyian tak karuan. Dan bersamaan dengan itu....

Werrr. !

Tiba-tiba bertiup angin kencang disertai gemuruh dahsyat menggebrak dari arah samping, langsung melabrak larikan sinar merah.

Blassshhh...!

Sinar merah itu langsung membelok, dan menyambar di samping tubuh Putri Tunjung Kuning.

Begitu berpaling, Bayangan Seribu Wajah tersentak kaget.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Bagaimana dia bisa bebas dari totokanku? Padahal selama ini tidak satu pun orang yang berhasil menyelamatkan diri dari totokan tanganku. Hm Apakah si Tua Edan itu yang

menyelamatkan? Brengsek! Urusan akan jadi runyam. Kalau saja aku telah berhasil membuka bumbung bambu ini, mungkin tidak akan begitu khawatir. Tapi Apakah dia bersama si Tua Edan itu?"

Sambil berpikir begitu, Bayangan Seribu Wajah menebar pandangan ke sekeliling.

Selagi Bayangan Seribu Wajah menebarkan pandangan, orang yang menyelamatkan Putri Tunjung Kuning tak lain Pendekar Mata Keranjang 108 berkelebat cepat. Dan di kejap lain, tubuhnya telah tegak di depan Bayangan Seribu Wajah dengan mata terbeliak. Tangannya mengepal dan dagunya membatu, menahan gejolak amarah yang memang telah lama ditahantahan.

Sambil menindih rasa terkejut, Bayangan Seribu Wajah balas menatap pada Aji. Bibirnya langsung mengembang senyum.

"Pendekar Mata Keranjang 108!" sebut Bayangan Seribu Wajah.

Gadis berbaju merah ini melangkah maju ke arah Aji. Wajahnya yang cantik sama sekali tidak menunjukkan perubahan meski tahu kalau pemuda di hadapannya menyimpan amarah terhadapnya.

"Kau menyusul ku rupanya. Apa ingin meneruskan permainan yang kemarin dulu...?" kata Bayangan Seribu Wajah begitu tiba di hadapan Aji.

Gadis yang mengaku bernama Parameswari ini membuka sedikit bibirnya. Sedang tubuhnya menggeliat, dengan gerakan mempesonakan.

Sesaat Pendekar Mata Keranjang 108 terkesima. Hawa amarahnya seakan-akan hilang lenyap.

"Kau mau mengajakku sekarang...?" sambung Bayangan Seribu Wajah, sambil mengerdipkan sebelah matanya.

Aji tidak menjawab. Dua bola matanya seketika membesar merah.

"Bayangan Seribu Wajah! Nyawamu kuampuni jika barang ku yang telah kau curi diserahkan kembali!"

Paras Bayangan Seribu Wajah berubah, namun cepat tersenyum.

"Bumbung bambu itu! Cepat serahkan kembali padaku!" sentak Aji.

"Kau bernasib sial, Pendekar Mata Keranjang 108!" sahut Bayangan Seribu Wajah, enteng.

"Apa maksudmu...?!" tanya Pendekar Mata Keranjang 108, dengan kening berkerut.

"Seseorang telah berhasil merampasnya dari tanganku "

"Siapa percaya omongan mu! Lekas serahkan!

Jika tidak "

"Jika tidak kenapa?" potong Bayangan Seribu Wajah. "Kau mau menggeluti ku lagi ?"

Wajah Aji merah mengelam.

"Kau memang pantas dihajar!" teriak Aji. Pendekar Mata Keranjang 108 cepat mengele-

batkan tangan kanannya ke arah perut Bayangan Seribu Wajah. Tindakan ini selain menyerang, juga untuk mengetahui di mana sebenarnya bumbung bambu itu disimpan.

Bayangan Seribu Wajah ternyata telah waspada. Kakinya segera bergerak mundur dua langkah sambil memalangkan tangan kanan. Sementara tangan kirinya bergerak menyentak ke depan.

Wesss...!

Seketika cahaya merah menebar aroma kamboja menusuk melesat dari tangan kiri Bayangan Seribu Wajah.

"Kulihat Putri Tunjung Kuning tadi tak berdaya karena hawa ini. Aku harus hati-hati...," kata batin Aji, siap menangkis tanpa menarik napas.

Prak! Wuuut!

Terdengar suara benturan. Di lain kejap, cahaya terang menyambar. Dan ini membuat murid Wong Agung ini sejenak silau tak bisa melihat.

"Edan! Ke mana dia larinya?" rutuk Aji. Pandangan Pendekar Mata Keranjang 108 me-

nyapu ke sekeliling. Tubuhnya masih terhuyung akibat benturan dengan Bayangan Seribu Wajah menangkis serangan.

"Hi... hi... hi...!"

Mendadak terdengar suara tawa mengikik. Ketika berpaling ke arah sumber suara, diam-diam dada Aji sedikit bergetar. Lima langkah di sampingnya tampak mencorong cahaya merah berkilau. Tak lama semak belukar di situ menguak, lalu sekonyong-konyong muncul sesosok tubuh.

"Putri Tunjung Kuning!" seru Aji hampir tak percaya.

Pendekar Mata Keranjang 108 lantas menoleh pada tempat tadi Putri Tunjung Kuning berada. Dan ternyata, di sana gadis itu masih ada dan tetap duduk seperti semula.

Sementara di lain pihak, Putri Tunjung Kuning yang dari tadi menyaksikan, tiba-tiba berseru tertahan. Karena wajah yang muncul dari balik semak belukar sama persis dengan wajahnya.

"Hm.... Sesuai julukannya, ternyata dia memang bisa mengubah bentuk wajahnya. Tapi jangan harap aku bisa ditipu!" geram Aji dalam hati.

Saat itu juga Pendekar Mata Keranjang 108 mengeluarkan kipas ungu, dan menyentakkannya ke arah Putri Tunjung Kuning yang baru saja keluar dari semak belukar.

Tapi sebelum Aji mengibaskan kipasnya, Bayangan Seribu Wajah yang kini berubah mirip Putri Tunjung Kuning berkelebat ke udara dengan kedua tangan mengembang. Begitu berada di udara, kedua tangannya dihantamkan ke tanah.

Keadaan tempat itu menjadi terang benderang terbias kilatan merah yang keluar dari tangan Bayangan Seribu Wajah. Lalu....

Splash! Blarrr. !

Terdengar gelegar dahsyat tepat ketika Pendekar Mata Keranjang 108 sudah melesat menghindar. Tanah yang terhantam pukulan tangan Bayangan Seribu Wajah terbongkar, berhamburan ke udara membuat suasana berubah menjadi redup.

Meski masih kalah cepat, Aji yang berada di udara tetap mengibaskan kipasnya. Bahkan kali ini tangan kirinya juga menghantam, melepaskan pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Keadaan yang redup tiba-tiba berubah terang kembali. Sementara tanah yang tadi membumbung ke udara kontan terhembus kencang dan menjadi lembut! Begitu mendarat di tanah, Aji membesarkan matanya untuk mengetahui di mana Bayangan Seribu Wajah berada. Seketika parasnya terperangah. Karena, Bayangan Seribu Wajah tak kelihatan lagi. Dan lebih tercekat lagi, karena ternyata Putri Tunjung Kuning yang tadi masih duduk juga tidak tampak!

Selagi Aji tercengang....

"Kau mencari-cari kami Pendekar Mata Keranjang 108?"

Tiba-tiba terdengar suara menegur dari belakang, Pendekar Mata Keranjang 108 berbalik. Kini tampak dua Putri Tunjung Kuning berdiri lima tombak di hadapannya. Sesaat lamanya tak bisa dibedakan mana yang Putri Tunjung Kuning asli, dan mana yang palsu. Apalagi, kedua-duanya juga memakai baju kuning. Kalau benar Bayangan Seribu Wajah telah berubah wajah menjadi Putri Tunjung Kuning, kapan dia berganti baju. Sedemikian cepatkah? Dan Pendekar Mata Keranjang 108 tak mampu menjawabnya.

"Sialan! Bagaimana aku menentukan mana yang Bayangan Seribu Wajah dan Putri Tunjung Kuning?" rutuk Pendekar Mata Keranjang 108.

Saat Aji masih ragu-ragu menentukan, kedua gadis ini sama-sama melepas senyum.

"Hm.... Akan kutunggu sampai dia menyerang. Dengan demikian aku dapat menentukan!" kata Aji dalam hati seraya tetap tak bergerak dari tempatnya.

Namun harapan tinggal harapan. Karena sampai lama menunggu, seakan tahu apa yang ada di benak Aji, kedua gadis ini tidak ada yang bergerak menyerang. Mereka diam. Malah kini mulai tertawa tergelak-gelak. Anehnya, suara tawanya tak bisa dibedakan. "Bajingan!" seru Aji sambil mengusap-usap da-

gunya dengan kepala menggeleng-geleng. Tapi, mendadak Aji mengangguk-anggukkan kepalanya. Kakinya lantas melangkah mendekat. Kedua gadis ini tetap tak bergeming dari tempatnya.

Begitu dekat, Pendekar Mata Keranjang 108 menarik napas dalam-dalam dengan wajah suram. Kembali ditariknya napas dalam-dalam. Namun siasia. Aroma Bunga Kamboja tidak lagi tercium.

"Benar-benar konyol! Kalau kuhantam keduanya, pasti Putri Tunjung Kuning yang asli akan menemui ajal. Karena, dia tadi telah terluka. Tapi heran, kenapa Putri Tunjung Kuning asli tidak berontak? Malah dia seakan membantu menyulitkan...! Kalau terlalu dekat, aku tidak ada kesempatan jika diserang mendadak "

Selagi Aji berpikir keras mencari jalan keluar, tiba-tiba kedua Putri Tunjung Kuning melesat ke samping kanan kiri. Dan bersamaan dengan itu keduanya menghantamkan kedua tangan masing-masing ke arah kepala dan perut Aji.

Wut! Wut!

Pendekar Mata Keranjang 108 terbelalak melihat datangnya serangan yang mendadak dan bersamaan. Segera kaki kirinya diangkat dan dihantamkan ke sebelah kiri. Sedang tangan kanannya diputar, dan disentakkan ke sebelah kanan.

Wut! Wut!

Tendangan kaki kiri Aji menghempas keras, mengeluarkan siuran angin kencang. Sedang tangan kanannya mengeluarkan sinar putih pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Plak! Plak! Des! Des! "Aaakh...! Auhhh...!"

Benturan keras terdengar dua kali berturutturut. Kedua Putri Tunjung Kuning sama-sama keluarkan seruan tertahan. Putri Tunjung Kuning yang ada di sebelah kiri terlempar hingga dua tombak. Sedangkan yang di sebelah kanan, yang terkena hantaman 'Bayu Cakra Buana' lebih parah lagi. Tubuhnya terbanting dan terseret menyuruk tanah hingga lima tombak.

Paras kedua gadis ini sama-sama pucat pasi. Namun gadis yang terkena sambaran 'Bayu Cakra Buana' tampak terluka dalam. Karena dari sudut bibirnya mengalir genangan darah kehitaman, sedangkan tangan kanannya kemerahan.

Enam tombak di seberang kedua gadis ini, Pendekar Mata Keranjang 108 terbujur di tanah. Tangan dan kakinya yang tadi digunakan untuk menangkis sekaligus menyerang tampak bergetar dengan kulit agak menghitam! Tenggorokannya terasa tersumbat. Dan dadanya berdetak nyeri. Meski demikian, dia segera bangkit. Kipasnya langsung dipalangkan di depan dada. Sementara tangan kirinya siap melepaskan serangan susulan.

Tadi Pendekar Mata Keranjang 108 sempat melihat kalau gadis yang di sebelah kiri masih tampak segar bugar. Kuat dugaan, itulah Putri Tunjung Kuning palsu yang sebenarnya Bayangan Seribu Wajah. Lantas Pendekar Mata Keranjang 108 memalingkan tubuh ke kiri. Tampak Putri Tunjung Kuning palsu ini memang telah bangkit dan tampak menyiapkan serangan.

"Heaaa...!"

Dengan didahului bentakan, tangan kanan Aji yang memegang kipas bergerak. Namun sebelum tangannya menyentak, sebuah bayangan berkelebat cepat ke arahnya.

"Jika yang kau maksud Bayangan Seribu Wajah. Maka kau menghantam orang yang salah!" tegur bayangan yang tahu-tahu telah mendarat di samping berjarak lima tombak.

Pendekar Mata Keranjang 108 memalingkan wajah, ke arah suara yang menegur.

"Eyang...," seru Aji tatkala melihat orang yang menegur.

Di situ tampak berdiri tegak seorang perempuan tua. Paras wajahnya menakutkan, karena di bawah sepasang matanya yang begitu cekung, tak tampak tonjolan hidung. Bibirnya tipis dan kecil. Rambutnya putih serta awut-awutan. Sementara pakaian yang dikenakannya amat dekil dan sudah robek di sanasini. Hingga tonjolan tulang-tulang dadanya yang berkulit tipis jelas kentara.

Di pihak lain, kedua Putri Tunjung Kuning sama-sama terkejut. Masing-masing matanya membesar dan naik ke atas mendelik.

"Tua Edan! Kau jangan turut campur!" bentak Putri Tunjung Kuning yang berada di kanan Pendekar Mata Keranjang 108.

Perempuan berbaju compang-camping itu berpaling pada Putri Tunjung Kuning yang baru saja membentak. Dan pada saat itulah tubuhnya berkelebat cepat, menjadi bayang-bayang dan lenyap dari pandangan.

"Aaa...!"

Mendadak terdengar jeritan lengking dari Putri Tunjung Kuning yang tadi membentak. Tangannya berusaha menghantam kiri dan kanan dengan tubuh didoyongkan ke belakang. Namun bayangan tangan yang hampir tak terlihat terus bergerak seakan merambah tubuhnya.

Ketika bayangan yang ternyata tangan perempuan berpakaian compang-camping berhenti bergerak, sebuah bumbung bambu telah tergenggam di tangannya.

"Ratih!" panggil perempuan berpakaian compang-camping seraya memandang pada Putri Tunjung Kuning palsu yang tak lain Bayangan Seribu Wajah. "Lekas tinggalkan tempat ini!"

Untuk beberapa saat gadis yang dipanggil Ratih tegak diam dengan mata merah menyala. Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 mengawasi dengan kekaguman.

"Luar biasa kecepatannya! Perempuan setua itu mampu bergerak yang aku sendiri tak bisa mengikutinya...," desah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Kau dengar kata-kataku, Ratih?!" tegur perempuan berpakaian compang-camping lagi.

Belum usai perempuan tua ini menegur, gadis yang sebelumnya mengaku pada Aji bernama Parameswari menggerakkan kedua tangannya.

Wes! Wes!

Seketika berlarik-larik sinar merah menerabas cepat mengarah pada perempuan tua berpakaian compang-camping.

"Hi... hi... hi...!"

Sementara perempuan tua ini tak bergerak sedikit pun. Malah dari mulutnya yang kecil keluar suara tawa mengikik. Namun bersamaan dengan itu perempuan tua ini kedua tangannya diangkat dan dibuka di depan dada.

Slap! Slap!

Seakan tak dapat dipercaya, larikan-larikan sinar merah tersedot dan masuk ke telapak tangan perempuan tua berpakaian compang-camping ini. Dan tidak hanya sampai di situ. Begitu larikan sinar merah lenyap tersedot, perlahan-lahan pula tubuh Ratih alias Bayangan Seribu Wajah terseret ke depan. "Aaa...!"

Disertai teriakan-teriakan nyaring, Ratih mencoba menahan gerak tubuhnya. Namun sedotan dari tangan perempuan tua di depannya bagai tak bisa dibendung. Hingga tanpa ampun lagi, tubuhnya terus maju mendekat. Sekujur tubuhnya telah dibasahi keringat. Nafasnya tampak terengah-engah. Dan begitu berada dua langkah di hadapan perempuan tua itu, Ratih jatuh terduduk dengan tubuh lunglai kehabisan tenaga.

"Katakan, Ratih! Apakah kau ingin mampus sekarang?!" bentak perempuan tua dengan kepala memandang langit.

Dengan tubuh terhuyung-huyung, Bayangan Seribu Wajah yang masih berwajah Putri Tunjung Kuning bangkit.

"Kau memperpanjang masalah ini. Tunggulah pembalasanku!" desis Ratih.

Habis berkata, Ratih berbalik. Seketika tubuhnya berkelebat meninggalkan tempat itu. Aroma Bunga Kamboja kembali menebar sengit.

"Tahan nafasmu!" ujar perempuan tua itu mengingatkan seraya memandang Pendekar Mata Keranjang 108.

Begitu Ratih, Bayangan Seribu Wajah tak nampak lagi, perempuan tua berpakaian compang-camping ini mengalihkan pandangan pada Putri Tunjung Kuning yang asli.

"Gadis itu terluka parah. Lekas angkat dia kemari!" ujar perempuan tua berpakaian compangcamping yang tak lain juga kakak seperguruan Bayangan Seribu Wajah.

Pendekar Mata Keranjang 108 berpaling pada Putri Tunjung Kuning. Dan betapa tercengangnya Aji, melihat Putri Tunjung Kuning kini telah telentang dengan sekujur tubuh mengelam merah.

Setelah menyelipkan kipas di balik bajunya, Aji segera berkelebat. Dan dengan cepat pula diangkatnya tubuh Putri Tunjung Kuning ke dekat perempuan tua.

"Telungkupkan!" perintah perempuan ini.

Aji menelungkupkan tubuh Putri Tunjung Kuning. Sementara perempuan tua itu duduk bersila. Kedua tangannya dibuka dan ditempelkan pada punggung Putri Tunjung Kuning.

Sesaat tubuh Putri Tunjung Kuning menggeliat, lalu bergetar hebat. Tampak asap putih mengepul perlahan-lahan. Tak lama kemudian, kepala gadis ini bergerak terangkat. Dari mulutnya terdengar suara batukbatuk beberapa kali, lalu....

"Hoakh! Hoakh!"

Dari mulut Putri Tunjung Kuning keluar darah kehitaman dan menggumpal. Setelah itu, kepalanya kembali lunglai.

"Biarkan dia beberapa saat. Kita bicara di sebelah sana. ," ujar perempuan tua ini seraya bangkit dan

melangkah menuju ke sebuah pohon.

6

"Eyang...," sebut Pendekar Mata Keranjang 108 agak tersendat, ketika sama-sama telah duduk berhadapan di bawah pohon. "Maafkan aku yang berlaku ceroboh "

Perempuan tua berpakaian compang-camping itu batuk-batuk kecil beberapa kali.

"Tak ada gunanya minta maaf. Segalanya telah berakhir. Coba ceritakan, bagaimana Ratih berhasil merebut bumbung ini dari tanganmu!" ujar perempuan tua ini.

Paras wajah Pendekar Mata Keranjang 108berubah merah padam. Sungguh tak diduga permintaan perempuan tua di hadapannya. Hingga untuk beberapa saat dia masih diam.

"He...! Kau dengar tidak kata-kataku?!" tegur perempuan tua dengan suara agak keras.

Aji melengak dengan jakun turun naik. "Jangkrik! Bagaimana aku harus menceritakan

kejadian itu? Sial! Benar-benar sial! Tapi, apa boleh buat? Toh, segalanya telah terjadi...," umpat Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati.

Berpikir sebentar, Aji lantas mulai bercerita tentang kejadian di kaki Bukit Watu Dakon, hingga pertemuannya dengan Ratu Pualam Putih.

Begitu cerita Pendekar Mata Keranjang 108 selesai, perempuan tua berpakaian compang-camping ini menyeringai. Seketika wajah Aji semakin merah padam. Dan bibirnya tersenyum kecut tatkala perempuan tua di hadapannya tertawa perlahan.

"Manusia jika sudah ditindih nafsu serakah, apa pun akan dilakukannya. Tidak peduli perbuatannya kelak akan merugikan orang banyak...," sindir perempuan tua ini, membuat Aji kembali tersenyum kecut.

"Eyang.... Aku mengaku salah. Dan "

"Kata-kata itu tidak perlu kau ucapkan!" potong perempuan tua itu. "Itu adalah ucapan basa-basi pinggiran jalan. Ingat! Kau adalah sebuah harapan dari beribu-ribu manusia! Apa pernah terpikir olehmu, apa jadinya jika bumbung bambu ini sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab?" Pendekar Mata Keranjang 108 hanya diam mendengar keterangan perempuan tua di depannya. Malah kepalanya tidak berani diangkat untuk memandang orang tua ini.

"He...!" usik perempuan tua itu memanggil Aji. "Orang aneh!" batin Aji. "Dia telah tahu nama-

ku, kenapa memanggil dengan He... he...!"

"Kau jangan tersinggung atas ucapanku tadi. Aku tidak berniat menggurui mu,..," sambung perempuan tua. Kali ini suaranya merendah. "Aku hanya ingin melenyapkan tabir yang menutup mata hatimu, agar lain waktu kau tidak mudah terperosok!"

Pendekar Mata Keranjang 108 mengangguk Sejenak kemudian mereka saling diam. Suasana jadi hening.

"Kata-kataku sudah terlalu banyak..," kata perempuan tua itu memecah keheningan. Pandangannya menyapu ke sekeliling.

Kini mata perempuan tua itu terpaku pada Putri Tunjung Kuning.

"Gadis itu jangan diganggu! Kalau racun yang bersemayam di tubuhnya telah punah, dia akan bangun sendiri. Sekarang, aku harus pergi. Ini, terimalah kembali!"

Habis berkata, perempuan tua itu mengeluarkan bumbung dari balik bajunya dan menyodorkannya pada Aji

Sejenak Pendekar Mata Keranjang 108 tampak ragu-ragu. Ditatapnya lekat-lekat wajah perempuan tua di hadapannya. Tatkala yang dipandang mengangguk perlahan, dengan tangan sedikit gemetar, diterimanya bumbung bambu itu.

Sesaat Aji memperhatikan bumbung bambu di tangannya. "Simpan baik-baik. Dan, cepat pelajari isinya!

Selamat tinggal "

"Eyang, tunggu!" tahan Aji, ketika perempuan tua itu hendak bangkit meninggalkan tempat ini.

"He...! Kau ingin apa lagi ?!"

"Eyang...!" sera Aji setengah berbisik. "Kalau tidak keberatan, bolehkah aku mengetahui nama Eyang sebenarnya. ?"

"Ha... ha... ha !"

Perempuan tua itu tertawa tergelak-gelak. Lalu kepalanya mendongak memandang ke atas.

"Aku sendiri sudah lupa, siapa namaku! Jadi jangan harap kau mengetahuinya. Kau boleh memanggilku sekehendak hatimu!"

Pendekar Mata Keranjang 108 menahan senyum, melihat keanehan orang tua di depannya. Masa' namanya sendiri dia lupa?! Ini kan, aneh!

Sementara perempuan tua itu kembali hendak bangkit. Namun....

"Satu lagi, Eyang ," tahan Aji.

"Kunyuk geblek! Banyak benar pertanyaan-

mu...!"

Pemuda tampan ini seakan tidak mendengar-

kan cacian barusan. Karena meski mengucapkan katakata caci-maki, mulut perempuan tua ini yang kecil menyunggingkan senyum. Sedangkan sepasang matanya yang cekung menyipit.

"Eyang.... Tadi telah kuceritakan, bahwa aku ditolong muridmu, Ratu Pualam Putih. Namun setelah memberikan pertolongan padaku, kedua tangannya berubah. Warna hitam serta bulu yang tadinya hanya sebatas pergelangan tangan, merambat hingga lengan. Kau tentunya tahu, apa yang harus kulakukan untuk menolong mengembalikan kedua tangan muridmu itu?"

Mendengar penuturan Pendekar Mata Keran-

jang 108, perempuan tua itu tiba-tiba seperti dirundung kecemasan. Sinar matanya yang cekung tampak meredup.

"He...! Bagaimana pendapatmu mengenai muridku itu?" tanya perempuan tua itu, setelah dapat menguasai diri dengan menekan rasa kecemasannya.

"Karena aku baru saja bertemu dan hanya sebentar, jadi tidak punya pendapat apa-apa tentang dia. Tapi yang pasti, dia seorang gadis cantik "

Perempuan tua itu batuk-batuk dan mendehem beberapa kali.

"Kau tertarik padanya?" pancing orang tua ini. "Setengah! Setengah tertarik!" jawab Aji sambil

cengengesan.

"Hm... Kau hanya tertarik setengah, karena muridku cacat, bukan? Seandainya dia tidak cacat, mungkin kau akan tertarik seluruhnya. Bahkan bisa tergila-gila! Tapi itu suratan yang harus dijalaninya. ,"

papar perempuan tua ini.

"Eyang.... Kau belum menjawab pertanyaanku ," ujar Aji.

"Lebih baik simpan dulu pertanyaanmu! Karena jika kujawab, kau tak akan melakukan pertolongan padanya. Dan itu membuatku makin kecewa...," kata perempuan tua sambil menggeleng.

"Eyang! Aku telah telanjur janji padanya untuk menolong. Dan janji itu sudah seharusnya ku tepati! Katakan saja, apa yang harus kulakukan!" desak Pendekar Mata Keranjang 108.

Beberapa saat perempuan tua itu tidak berucap. Namun ketika melihat, wajah Aji bersungguhsungguh ingin mengetahui, akhirnya dia mengalah. "Ketahuilah! Totokan Ratih bukan sembarang totokan, karena dilakukan lewat pengerahan tenaga dalam penuh. Hingga barang siapa yang membebaskan, maka segala ilmu miliknya akan punah! Selain itu, anggota tubuh yang digunakan untuk membebaskan akan ditumbuhi bulu dan berwarna hitam yang tak akan bisa hilang. Kecuali "

Perempuan tua ini tak meneruskan katakatanya.

"Kecuali apa, Eyang...?" kejar Pendekar Mata Keranjang 108.

"Kecuali jika kalian berdua mau menjalani Anggoro Pati. Yakni melakukan tapa selama satu purnama penuh dalam keadaan telanjang bulat dan duduk bersila tanpa harus memejamkan mata. Harus duduk berhadap-hadapan. Dan, ingat! Tapa kalian akan siasia jika salah satu ada yang dilanda gejolak nafsu!"

Sekonyong-konyong murid Wong Agung ini jadi terkesiap. Jakun tenggorokannya serasa terbetot keluar. Hingga dia tak mampu mengucapkan kata-kata, selain melongo dan bernapas panjang.

"Eyang!" panggil Aji setelah dapat mengatur jalan nafasnya yang tadi seperti berhenti tersendat "Kau tidak bergurau dengan kata-katamu?"

"Kau yang suka bergurau. Aku tidak!" jawab perempuan tua ini dengan mata mendelik.

"Edan! Bagaimana sekarang? Apa aku mampu menjalani Anggoro Pati?! Padahal aku tidak bisa menahan gejolak, jika melihat gadis cantik. Apalagi ini harus telanjang. Ah, benar-benar berat!"

"Nah, kau   telah   mengetahuinya   sekarang.

Saatnya aku harus pergi!"

"Sebentar, Eyang ," tahan Aji lagi.

Namun kali ini perempuan tua itu seolah tak mendengar. Tubuhnya yang sudah bangkit berkelebat, meninggalkan Aji yang tetap memandanginya dengan beribu perasaan.

"Runyam, betul-betul runyam! Ini semua garagara Bayangan Seribu Wajah!"

Selagi Aji masih berkata-kata sendiri, terdengar suara erangan halus. Pendekar Mata Keranjang 108 cepat memalingkan wajahnya ke arah Putri Tunjung Kuning yang memang keluar suara mengerang.

"Putri Tunjung Kuning rupanya telah sadar...," gumam pemuda ini lalu melangkah ke tempat Putri Tunjung Kuning. Saat berdiri di sampingnya, diawasinya gadis itu dengan seksama.

Sementara Putri Tunjung Kuning segera membuka kedua matanya ketika tadi mendengar suara langkah mendekat. Sejenak sepasang mata bulat miliknya memandang ke atas, lalu beralih ke samping, tempat Aji berdiri.

"Pendekar Mata Keranjang 108?!" keluar panggilan perlahan dari mulut Putri Tunjung Kuning.

Aji mengangguk dengan senyum manis.

Putri Tunjung Kuning menggerak-gerakkan sepasang kakinya. Merasa tidak terasa sakit, gadis ini lantas bangkit duduk. Senyumnya segera menyeruak di bibirnya.

"Ngg.... Terima kasih atas segala pertolonganmu. Aku tidak tahu, harus berbuat apa untuk membalas jasamu...," ucap Putri Tunjung Kuning, lirih.

Aji menggeleng perlahan. Sementara senyumnya tetap mengembang. Malah sebelah matanya mengerdip, membuat paras Putri Tunjung Kuning berubah. "Manusia satu ini benar-benar menggoda. Pan-

tas jika banyak gadis cantik menyukainya. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Meski dia dahulu pernah menipuku, tapi dibanding pertolongannya dalam menyelamatkan nyawaku, apakah pantas jika aku membalasnya dengan hal yang tidak terpuji? Lagi pula, kenapa perasaanku menjadi berubah? Apakah aku..., ah! Tidak mungkin. Aku gadis yang tidak lagi bersih..."

"Putri Tunjung Kuning? Jika kau tidak keberatan, maukah kau menjawab pertanyaanku?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108, memenggal lamunan Putri Tunjung Kuning.

Mendengar kata-kata Pendekar Mata Keranjang 108, kening Putri Tunjung Kuning membentuk beberapa kerutan. Senyumnya yang tadi menyeruak tiba-tiba lenyap.

Melihat perubahan wajah Putri Tunjung Kuning, Aji segera mengalihkan pandangannya.

"Kalau kau merasa keberatan, aku tidak memaksa...," kata Aji, tanpa beraling lagi

Putri Tunjung Kuning sesaat masih diam. "Katakanlah...," desah Putri Tunjung Kuning, li-

rih.

Aji kembali menoleh memandang. Sejenak pan-

dangan mereka saling bertemu. Tapi tidak lama, karena Putri Tunjung Kuning segera menundukkan kepalanya, menyembunyikan bias semu merah di air mukanya.

"Putri Tunjung Kuning!" kata Aji seraya terus menatap, seakan tidak peduli pada perasaan gadis di sampingnya.

"Sewaktu terjadi pertarungan antara aku dengan Bayangan Seribu Wajah, kenapa tiba-tiba saja kau seakan-akan membantunya?"

Putri Tunjung Kuning menggeleng.

"Aku sendiri waktu itu tak tahu. Yang kurasa, saat Bayangan Seribu Wajah berkelebat ke arah ku, pikiranku tiba-tiba bagai melayang. Dan tubuhku seperti dimasuki sesuatu yang tak bisa ku jelaskan. Setelah itu, aku merasa dikendalikan sesuatu yang tak bisa ku lawan. Hingga meski bawah sadar ku memberontak, tubuhku tak berdaya...!" papar Putri Tunjung Kuning.

Pendekar Mata Keranjang 108 mengangguk. "Menurut yang pernah kudengar..," sambung

Putri Tunjung Kuning. "Bayangan Seribu Wajah selain menguasai ilmu merubah bentuk juga menguasai ilmu kendali yang lebih dikenal dengan nama ilmu 'Penjalin Sukma'!"

"Astaga! Aku juga pernah mendengar tentang ilmu itu. Hm..., ilmu itu bisa berbahaya jika digunakan orang tidak bertanggung jawab...," sentak Aji dalam hati sambil menggeleng-geleng. "Hm.... Urusan di sini kurasa telah selesai. Aku harus cepat tinggalkan tempat ini. Menuruti perkataan Eyang tanpa nama itu, memang sebaiknya aku segera mempelajari apa yang ada dalam bumbung bambu ini "

Berpikir begitu, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berbalik.

"Tunggu! Kau hendak ke mana?" cegah Putri Tunjung Kuning, seraya bangkit.

Pendekar Mata Keranjang 108 memalingkan wajahnya, sebelah matanya mengerdip.

"Sebenarnya aku ingin berlama-lama denganmu. Tapi karena masih ada sesuatu yang harus segera diselesaikan, aku harus pergi sekarang. Semoga kita nanti dapat berjumpa lagi  "

Habis berkata, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat meninggalkan tempat ini.

Sebenarnya Putri Tunjung Kuning masih mencoba mencegah kepergian Aji. Namun teriakan panggilannya seakan tidak didengar pemuda itu, hingga dengan raut muka diselimuti perasaan kecewa, gadis ini hanya bisa memandangi arah berkelebatnya tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 sampai menghilang dari pelupuk mata.

7

Sang mentari baru saja tenggelam di bentangan kaki langit sebelah barat, membuat suasana sedikit temaram. Dalam keadaan seperti ini, sesosok tubuh berbalut pakaian warna merah tampak berkelebat cepat, menyusuri temaram senja. Tujuannya, sebuah candi yang berdiri megah meski di sana-sini sudah tampak keropos termakan usia.

Sosok terbalut pakaian merah yang ternyata seorang gadis cantik itu tak lain dari Bayangan Seribu Wajah. Di satu tempat di luar pelataran candi, gadis ini menghentikan larinya. Sepasang matanya yang tajam, berbinar sejenak menebar ke sekeliling. Hidungnya tampak mengembang mengendus. Seakan mengetahui, niat untuk menuju candi lewat pelataran depan diurungkan.

"Aku mengendus adanya sosok manusia tak jauh dari sini. Aku harus mengetahui dahulu, siapa orang itu!"

Berpikir begitu, Bayangan Seribu Wajah cepat berbalik. Seketika tubuhnya berkelebat cepat, dan tahu-tahu muncul dari arah samping candi. Dari balik sebuah pagar candi yang berbentuk gapura, matanya dapat melihat jelas keadaan di pelataran dengan candi. Untuk beberapa lama, kedua mata Bayangan Seribu Wajah tak beralih memandangi dua sosok tubuh yang tampak duduk tak bergerak di pelataran candi. Lalu pandangannya berputar liar ke sekeliling. Ketika matanya tak menemukan siapa-siapa lagi, pandangannya kembali diarahkan pada dua sosok yang masih juga tak bergerak di depan candi.

"Laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bermata satu. Sedangkan yang perempuan wajahnya tertutup sepotong kain...," gumam Bayangan Seribu Wajah sambil menyipitkan sepasang matanya. "Hm Tak

salah lagi! Mereka adalah tokoh silat yang bergelar Sepasang Iblis Pendulang Sukma! Sedang apa mereka berada di situ?"

Sekali lagi Bayangan Seribu Wajah memperha-

tikan.

"Ah! Rupanya mereka berdua terkena totokan,

hingga tak bisa bergerak! Hik... hik... hik...!"

Sambil masih tertawa tertahan-tahan, Bayangan Seribu Wajah keluar dari balik pagar. Kakinya melangkah tenang memasuki pelataran candi lewat depan.

Di seberang sana, dua sosok yang duduk tanpa bisa bergerak memang Sepasang Iblis Pendulang Sukma adanya. Mereka tampak terkejut dengan dahi berkerut. Namun karena belum mengenal Bayangan Seribu Wajah, mereka tak berani buka mulut minta pertolongan. Mereka hanya mengawasi Bayangan Seribu Wajah yang kini mulai memasuki pelataran candi, dan terus ke ruangan belakang candi yang tampak tidak begitu terawat.

Seakan sudah kenal tempat itu, Bayangan Seribu Wajah langsung menuju ke sebuah arca. Digeser arca tersebut. Lalu dengan langkah tenang, dituruninya tangga batu di bawah arca. Ketika sepasang kakinya menginjak anak tangga paling bawah dan sampai di sebuah ruangan yang tampak benderang, Bayangan Seribu Wajah menghentikan langkah. Matanya memandang ke tengah ruangan, di mana terlihat sesosok tubuh renta duduk terkantuk-kantuk.

Sosok yang duduk ternyata seorang perempuan tua bersorban hitam dan berjubah warna hitam juga. Rambutnya panjang dan seperti tak terawat. Wajahnya pucat pasi dengan kulit wajah amat tebal. Mulutnya tak henti-hentinya bergerak-gerak, seolah mengunyah sesuatu yang tidak habis-habis.

"Bayangan Iblis! Lama kita tidak jumpa! Bagaimana kabarmu?"

Tiba-tiba Bayangan Seribu Wajah membuka mulut menegur sosok yang duduk terkantuk-kantuk.

Sosok perempuan yang duduk terkantukkantuk memang tak lain dari Bayangan Iblis. Kini kedua matanya terbuka lebar-lebar. Mulutnya berhenti bergerak. Lalu....

"Ha... ha... ha !"

Saat kemudian terdengar suara tawa bergeraigerai dari mulut Bayangan Iblis.

"Sobat lamaku, Bayangan Seribu Wajah. Aku gembira sekali kau masih tak lupa padaku. Aku baikbaik saja...!" sambung Bayangan Iblis yang juga guru Malaikat Berdarah Biru.

Bayangan Seribu Wajah melangkah mendekat, lalu duduk di hadapan Bayangan Iblis.

Bayangan Iblis sejenak mengembangkan cuping hidungnya, mengendus aroma Bunga Kamboja yang terasa menyeruak. Lalu ditatapnya Bayangan Seribu Wajah.

"Kau pasti tidak akan menyambangiku jika tak ada masalah penting. Lagu lamamu tak bisa kau hilangkan! Dan ujung-ujungnya, minta pertolongan!" sindir Bayangan Iblis.

Mendengar kata-kata Bayangan Iblis, Bayangan Seribu Wajah seketika tersenyum seringai. Lalu pandangannya beralih.

"Kali ini dugaanmu meleset, Sobat. Justru kedatanganku memberi kabar baik dan buruk!" tukas Bayangan Seribu Wajah.

"Kabar baik dan buruk?" ulang Bayangan Iblis sedikit keheranan. "Hm..., katakan. Kabar apa itu?"

"Kau masih ingat pada kakak seperguruanku?" Bayangan Seribu Wajah malah bertanya, setelah sekian lama terdiam.

"Manusia jelek tak berhidung itu?" tukas Bayangan Iblis dengan senyum mengejek. Tawanya ditahan, membuat mulutnya yang selalu bergerak-gerak menjadi peot. "Kenapa dengan dia...?"

Bayangan Seribu Wajah tak langsung menja-

wab.

"Kau masih ingat akan bumbung bambu milik

kakak seperguruanku yang pernah kuceritakan dahulu?" kembali Bayangan Seribu Wajah, balik bertanya.

"Kenapa dengan bumbung bambu itu?" tanya Bayangan Iblis.

Bayangan Seribu Wajah membesarkan sepasang matanya.

"Kau dari dulu tetap saja bodoh! Jawab saja, ya atau tidak!" sergah Bayangan Seribu Wajah.

"Ha... ha... ha...!"

Bayangan Iblis tertawa ngakak. Namun mendadak tawanya berhenti tiba-tiba, ketika....

"Bumbung bambu itu telah diberikannya pada manusia yang tersohor dengan gelar Pendekar Mata Keranjang 108!" lanjut Bayangan Seribu Wajah dengan suara sedikit dikeraskan.

Bayangan Iblis terperangah sesaat. Mulutnya berhenti bergerak. Sepasang matanya yang terpuruk membelalak lebar.

"Kau tidak bercanda, Sobat?!" tanya Bayangan

Iblis.

Yang ditanya malah menggeleng. Lalu ditarik-

nya napas panjang seakan melepas beban berat yang menindih dadanya.

Sementara melihat tingkah sobat lamanya, Bayangan Iblis tersenyum sinis.

"Hanya sebuah bumbung bambu butut, apanya yang perlu dicemaskan...? Apakah kau telah dengar, jika kitab pusaka dan kipas hitam ciptaan Empu Jaladara yang bertahun-tahun diperebutkan tokoh-tokoh rimba persilatan, kini telah tergenggam muridku yang berjuluk Malaikat Berdarah Biru?" kata Bayangan Iblis bernada angkuh.

"Tentu saja aku mendengarnya!" jawab Bayangan Seribu Wajah.

"Kitab serta kipas hitam itu adalah kitab pusaka sakti yang tak ada tanding di dunia. Lantas, kenapa kau begitu cemas? Berbekal benda pusaka itu, Pendekar Mata Keranjang 108 akan bertekuk lutut!" tandas Bayangan Iblis, mantap.

Bayangan Seribu Wajah kembali menarik napas panjang.

"Ucapanmu tidak benar, Sobatku!" kata Bayangan Seribu Wajah. "Kedua kitab dan kipas ciptaan Empu Jaladara tidak akan ada apa-apanya, dibanding isi bumbung bambu itu!"

"Ha... ha... ha...!"

Bayangan Iblis tertawa gelak-gelak mendengar keterangan Bayangan Seribu Wajah.

"Kau terlalu percaya omong kosong yang belum terbukti kebenarannya!" tukas Bayangan Iblis, sedikit pongah.

"Terserah padamu, bagaimana kau mengatakannya. Aku hanya memberi kabar!" sergah Bayangan Seribu Wajah. "Hm..., hal itu lupakan saja. Aku ingin bertanya padamu. Di luar, aku melihat Sepasang Iblis Pendulang Sukma. Apa yang mereka lakukan?"

"Mereka sedang berlatih untuk menjadi pembantu-pembantuku!"

Tiba-tiba sebuah suara menjawab, membuat wajah Bayangan Seribu Wajah berpaling ke samping.

Tampak Malaikat Berdarah Biru berdiri tegak berkacak pinggang. Sementara sepasang matanya memandangi Bayangan Seribu Wajah dengan tatapan liar. Lalu kakinya melangkah mendekat.

"Hm    Aku yakin, inilah murid Bayangan Iblis.

Seorang pemuda yang bergelar Malaikat Berdarah Biru!" kata batin Bayangan Seribu Wajah, membalas tatapan Malaikat Berdarah Biru.

"Anak Agung!" panggil Bayangan Iblis pada Malaikat Berdarah Biru yang bernama asli Anak Agung. "Inilah tokoh yang pernah kuceritakan dahulu!"

Sambil berkata, Bayangan Iblis mengarahkan pandangan pada Bayangan Seribu Wajah.

"Aku sudah tahu. Dan aku juga mendengar apa yang tadi dikatakannya mengenai bumbung bambu yang kini ada di tangan Pendekar Mata Keranjang 108 !" sahut Malaikat Berdarah Biru.

"Hm.... Lantas, apa pendapatmu?" tanya Bayangan Iblis.

"Aku tak percaya omong kosong itu!" jawab Malaikat Berdarah Biru dengan rahang mengembang. Raut muka laki-laki ini mengisyaratkan keangkuhan. Bibirnya menyungging seulas senyum sinis. Dia merasa kitab dan kipas hitam di tangannya melebihi dari apa pun.

"Waktulah yang nanti akan menyaksikan. Pusaka mana yang kelak lebih hebat!" lanjut Malaikat Berdarah Biru, pongah.

Bayangan Seribu Wajah hanya mengangguk "Manusia sombong! Bukan hanya waktu, siapa

pun kelak akan menyaksikan. Dan kau baru akan menyadari kebodohanmu!" kata Bayangan Seribu Wajah dalam hati.

Sejenak ketiga orang ini saling diam.

"Muridku! Kehebatanmu sekarang memang tak perlu diragukan lagi. Tapi, kupikir tidak ada salahnya jika kita mulai dini menyelidik tentang kebenaran apa yang dikatakan sobatku ini..!" kata Bayangan Iblis, memecah keheningan.

Bayangan Seribu Wajah tersenyum sinis seraya menggumam, membuat Malaikat Berdarah Biru berpaling memandang ke arahnya.

"Kau tak perlu khawatir, Guru! Aku sudah memerintahkan Putri Tunjung Kuning untuk mengikuti gerak langkah Pendekar Mata Keranjang 108. Kalau bisa, sekaligus kuperintahkan untuk membunuhnya!" kata Malaikat Berdarah Biru sambil terus melirik dada Bayangan Seribu Wajah.

Seperti tak ingin terganggu mata Malaikat Berdarah Biru terus menjilati tubuh menggiurkan itu.

"Hm... Perempuan ini benar-benar menggoda. Dadanya membusung kencang. Pinggulnya besar serta tampak padat. Kulit putih serta wajah jelita. Bentuk yang menjanjikan kenikmatan "

Merasa dirinya dipandangi, Bayangan Seribu Wajah tersenyum. Lalu kepalanya mendongak. Diperlihatkan lehernya yang jenjang.

"Malaikat Berdarah Biru! Pendekar Mata Keranjang 108 tak gampang ditaklukkan. Apalagi hanya dengan seorang perempuan macam Putri Tunjung Kuning. Kalau kau betul-betul ingin membuatnya bertekuk lutut, setidaknya harus menugaskan beberapa orang. Dan itu harus kau lakukan secepatnya...!" jelas Bayangan Seribu Wajah.

"Muridku, tak salah apa yang diucapkannya!" timpal Bayangan Iblis.

Malaikat Berdarah Biru berpaling.

"Aku sudah berpikir ke arah sana! Dan malam ini, orang yang bertugas itu akan datang...!"

"Siapa mereka...?!" tanya Bayangan Iblis. "Dayang Lembah Neraka dan Tengkorak Berju-

bah. Juga kedua orang yang kini sudah di pelataran candi!" jelas Malaikat Berdarah Biru.

"Sepasang Iblis Pendulang Sukma, maksudmu?" kali ini yang bertanya Bayangan Seribu Wajah.

Malaikat Berdarah Biru mengangguk. Sementara gurunya mengeluarkan tawa mengejek. Dan ini membuat rahang sang murid mengembung dengan muka merah padam.

"Guru...!" kata Malaikat Berdarah Biru pula. "Kau tak perlu mencemooh begitu rupa. Aku tak akan menugaskan seseorang, jika tidak tahu ketinggian ilmunya!"

"Hm    Bagus jika demikian. Sekarang, jemput-

lah para temanmu itu!"

Malaikat Berdarah Biru terdiam beberapa lama. Matanya tak henti-henti memandangi Bayangan Seribu Wajah.

Sang guru yang tahu apa yang terkandung dalam benak muridnya, tertawa pendek.

"Muridku! Kedatangan Bayangan Seribu Wajah kemari untuk membantumu. Jadi, untuk beberapa waktu dia akan berada di sini!" kata Bayangan Iblis sambil mengerling.

Belum yakin apa yang diucapkan gurunya, Malaikat Berdarah Biru menatap lekat-lekat Bayangan Seribu Wajah seakan minta kepastian.

Sementara Bayangan Seribu Wajah tersenyum seraya mengangguk.

"Seperti halnya kau, aku pun mempunyai sengketa dengan Pendekar Mata Keranjang 108. Jadi kita satu jalan. Aku akan tetap di sini, sampai segala citacitaku tercapai!" jelas Bayangan Seribu Wajah.

"Hm.... Jika begitu, aku akan keluar sebentar.

Silakan kalian menyusun rencana. "

Habis berkata, Malaikat Berdarah Biru berbalik. Lalu kakinya melangkah ke arah tangga, dan berkelebat keluar.

8

Langit di atas pesisir Pantai Laut Utara tampak gelap menghitam. Taburan bintang lenyap begitu saja, tertelan arakan awan yang seolah tak mau bergerak. Angin pesisir berhembus kencang, menebar hawa dingin menusuk. Sementara gelombang laut semakin bergolak, mengeluarkan gemuruh menakutkan.

Di suasana demikian, tampak dua sosok tubuh manusia berkelebat menuju sebuah batu karang. Di antaranya keduanya tak terdengar suara. Malah kelebatan mereka begitu sulit dilihat mata. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kedua sosok manusia ini mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sempurna.

Malam terus merambat perlahan. Dua sosok yang tadi menyelinap di balik batu karang sejenak saling berpandangan. Wajah mereka tampak sekali menyimpan suatu ketegangan. Hingga untuk beberapa saat keduanya masih belum ada yang membuka suara. Hanya sepasang mata masing-masing tak beranjak, memandangi sebuah pohon besar yang tak berdaun, namun di batangnya terdapat sebuah lobang menyerupai pintu. Dan dari pohon itu, menebar aroma bunga tujuh warna.

Kedua sosok ini terus memperhatikan, seakanakan menunggu. Dan ketika apa yang ditunggu tak juga menampakkan tanda-tanda keberadaannya, salah satu sosok terlihat tak sabar. Kepalanya segera berpaling pada temannya.

"Sebaiknya kita langsung menggempurnya, Bayangan Seribu Wajah! Percuma kita mendekam di sini menunggu dia keluar!" kata sosok yang sudah tak sabar ini.

"Kau jangan bodoh, Bayangan Iblis! Manusia satu itu tak bisa dikalahkan jika berada di dalam pohon itu. Kita harus menunggu sampai dia muncul!"

"Menunggu sampai kapan?" tanya sosok yang dipanggil Bayangan Iblis.

Sosok yang dipanggil Bayangan Seribu Wajah menggeleng. Ternyata, memang gadis cantik berpakaian warna merah yang tak lain Bayangan Seribu Wajah. Sementara temannya yang juga seorang perempuan bersorban dan jubah warna hitam tak lain Bayangan Iblis.

Selagi mereka berbincang, pohon yang tak berdaun dan menebar aroma bunga tujuh warna terlihat asap putih mengepul tipis. Dan begitu asap putih lenyap, tampaklah sesosok tubuh duduk bersandar.

Sosok yang baru muncul adalah seorang perempuan tua berpakaian compang-camping. Parasnya menakutkan, karena di bawah sepasang matanya tidak tampak sama sekali tonjolan hidung.

"Apa yang kita tunggu akhirnya datang juga!" sera Bayangan Seribu Wajah, langsung menatap perempuan tua yang tersandar di pohon yang tak lain kakak seperguruannya sendiri.

Bayangan Iblis memperhatikan sejenak. Dan baru saja hendak berkata....

"Rupanya kalian tamu-tamu yang datang ke tempat yang salah!"

Mereka berdua mendadak dikejutkan sebuah bentakan dahsyat.

Wesss. !

Bersamaan dengan terdengarnya bentakan, dua gelombang angin kencang melesat menuju batu karang tempat Bayangan Seribu Wajah dan Bayangan Iblis berada.

Dengan mata terbelalak karena terkejut, kedua orang ini segera melesat ke samping kanan dan kiri untuk menyelamatkan diri.

Blarrr...!

Batu karang tempat kedua tokoh sesat itu berada hancur berkeping-keping, terhantam angin dahsyat tadi.

Kesunyian hanya merayap sesaat. Tak lama kemudian....

"Ha... ha... ha !"

Bayangan Iblis tertawa panjang dan keras. Sehingga, membuat suara letupan hancurnya batu karang tertindih lenyap.

"Perempuan edan! Jika kau mengatakan di mana pemuda gondrong berkuncir itu, nyawamu akan terselamatkan!" bentak Bayangan Iblis, begitu tawanya lenyap.

Habis berkata, Bayangan Iblis mengangguk pada Bayangan Seribu Wajah. Mereka lantas berkelebat, dan sesaat kemudian sudah berdiri tiga tombak di hadapan perempuan tua berpakaian compang-camping.

"Manusia-manusia setan! Meski sudah reot, kalian masih juga serakah! Dengar! Percuma kalian mengejar bumbung bambu jelek itu. Karena kalian tak akan bisa membukanya!" kata perempuan tua berpakaian compang-camping seraya mengerdip-ngerdipkan sepasang matanya.

Bayangan Seribu Wajah mendengus. Sedangkan Bayangan Iblis menyeringai dan membuang muka ke samping.

"Perempuan edan! Kami tak butuh keterangan. Jawab saja pertanyaan kami!" bentak Bayangan Seribu Wajah, seraya melangkah empat tindak.

"Begitu? Hm.... Baik. Lihat langit itu. Jika ada yang mampu menggiring awannya, hingga keadaan tidak begini gelap, kalian akan mendapat apa yang diinginkan!" ujar perempuan tua itu.

Gerakan mulut Bayangan Iblis yang tak habishabisnya itu berhenti seketika. Wajahnya dipalingkan dengan mata mendelik.

"Kakakmu ini rupanya memang ingin segera pergi ke alam kubur!"

"Kalau perlu, tidak usah dikubur!" sahut Bayangan Seribu Wajah.

Kedua orang ini lantas sama-sama tertawa berderai. Karena bukan sembarang tawa, maka untuk sesaat tubuh perempuan tua berpakaian compangcamping tampak terhuyung-huyung seakan mau roboh terkena getaran tanah yang didudukinya.

Namun tak berselang lama, tawa kedua tokoh sesat ini mendadak sontak berhenti. Masing-masing memegangi perut yang seperti dilanda mulas amat sangat.

Sementara itu perempuan tua berpakaian compang-camping ini tengah meremas-remas tangannya. Dan ini membuat tubuh Bayangan Seribu Wajah dan Bayangan Iblis melintir berputar. Kedua mulut orang ini terbuka, namun tidak sepatah kata pun yang terdengar.

Saat perempuan tua melepas tangan dan menghempaskannya ke bawah, Bayangan Seribu Wajah serta Bayangan Iblis jatuh bergulingan dengan seruan tertahan. Wajah mereka kebiruan menahan rasa sakit yang mendera perut. Ketika gulingan tubuh keduanya berhenti, mereka langsung bangkit.

Bayangan Iblis terlebih dahulu berkelebat. Dan tiba-tiba sekali, kedua tangannya melesat di depan kepala perempuan tua.

Yang diserang seakan tahu, jika Bayangan Iblis melakukan serangan, maka gerakan tangannya hanyalah sebuah tipuan belaka. Sementara serangan sesungguhnya akan dilancarkan dengan kaki.

Maka perempuan tua itu tidak berusaha mengelak dari sambaran kedua tangan Bayangan Iblis. Malah kedua tangannya dipalangkan di depan dadanya. Sementara kedua kakinya yang bersila diluruskan ke depan.

Werrr...!

Satu deruan keras menyambar mengeluarkan sinar putih biru. Perempuan tua itu menjadi terkesiap sejenak, ketika sinar putih itu menerobos masuk di antara kedua tangannya. Maka cepat kaki kanannya diangkat untuk menghadang. Namun deru yang ternyata hantaman kaki Bayangan Iblis lebih cepat menghujam. Sehingga....

Desss. !

"Aaakh !"

Tubuh perempuan tua terhempas, diiringi keluhan tertahan. Punggungnya langsung menerabas pohon, lalu jatuh bergulingan ke samping. Pada saat yang sama terdengar gemeretak. Tampak pohon yang tadi dibuat sandaran perempuan tua itu berderak tumbang.

"Setan!" bentak perempuan tua berpakaian compang-camping.

Perempuan tua ini meringis menahan rasa sesak dadanya yang tampak menghitam. Dikerahkannya tenaga dalam untuk menyalurkan hawa murni. Namun baru saja bangkit, Bayangan Seribu Wajah telah berkelebat sambil menghentakkan kedua tangannya.

Wesss. !

Sementara jika saja saat ini perempuan tua itu tidak sedang memusatkan tenaga dalamnya, tentu tubuhnya akan kembali mencelat menghindar. Maka seketika itu pula kedua tangannya dihentakkan, memapak serangan Bayangan Seribu Wajah.

Wesss. !

Prattt!

Benturan keras terjadi. Dengan demikian, perempuan tua itu selamat dari hantaman Bayangan Seribu Wajah. Namun, tak urung telapak tangannya tampak melepuh merah. Sambil menahan geram, perempuan tua ini membuka kedua telapak tangannya dan meluruskannya di depan dada. Mulutnya berkemik sebentar, lalu mendadak kedua tangannya ditarik sedikit ke belakang. Dan seketika kedua telapak tangannya dihantamkan ke depan, ke arah Bayangan Iblis.

Wesss...!

Seketika keluar sinar-sinar berkilatan dari telapak tangan perempuan tua berpakaian compangcamping.

"Awas serangan!" teriak Bayangan Seribu Wa-

jah.

Tentu saja sebagai adik seperguruan perem-

puan tua itu, Bayangan Seribu Wajah tahu benar kalau kakak seperguruannya telah mengepakkan kedua tangannya, maka jarang ada lawan yang mampu membendung. Makanya sambil berteriak memperingatkan, kedua tangannya dihantamkan untuk memapak kepakan kedua tangan perempuan tua berpakaian compang-camping yang mengarah pada Bayangan Iblis.

Sementara itu, Bayangan Iblis yang mendapati serangan tersirap. Sama sekali tidak disangka, kalau perempuan tua berpakaian compang-camping itu masih mampu melakukan balasan. Maka sambil menahan rasa kaget, segera dia menjatuhkan diri ke samping seraya melepaskan pukulan.

Wesss...!

Sinar putih biru serta sinar merah meluruk, menghadang kilatan-kilatan cahaya yang keluar dari kedua tangan perempuan tua.

Blar! Blar!

Gelegar dahsyat terdengar dua kali berurutan. Tubuh perempuan tua sesaat masih bertahan, tak bergeming meski terkena bias sambaran akibat bentroknya pukulan. Tapi cuma sesaat. Begitu gelegar kedua terdengar, tubuhnya tak bisa bertahan, langsung terpental.

Di lain pihak, waktu gelegar pertama terdengar sosok tubuh Bayangan Seribu Wajah dan Bayangan Iblis telah terbanting. Dan ketika gelegar ke dua terjadi, tubuh mereka terseret. Dan mereka baru terhenti saat sama-sama meraung keras, mengeluarkan segenap tenaganya.

"Dia terlalu tangguh bila kita hadapi bersamaan!" bisik Bayangan Seribu Wajah.

Bayangan Iblis kernyitkan dahi, tak mengerti maksud Bayangan Seribu Wajah.

"Aku akan memancingnya agar dia lepaskan pukulan ke depan. Sementara kau menghantam dari arah belakang. Ingat! Arahkan ke kakinya. Pertahanan setan itu ada di situ!" ujar Bayangan Seribu Wajah.

Selesai berkata, Bayangan Seribu Wajah bangkit. Diusapnya darah di bibirnya, lalu melangkah mendekati perempuan tua yang kini telah tegak dengan sepasang mata menyipit mengawasi.

"Katakan saja, di mana pemuda itu berada! Persaudaraan kita akan tetap langgeng!" tekan Bayangan Seribu Wajah, mengerling pada Bayangan Iblis.

Bayangan Iblis yang mengerti isyarat segera melangkah ke arah samping, lalu diam menunggu.

Perempuan tua itu tidak buka mulut.

"Kau jangan pura-pura tuli, Setan! Cepat katakan!" ulang Bayangan Seribu Wajah.

"Ratih! Kita telah sama-sama tua, meski kau tampak muda! Tak ada guna persoalan ini diteruskan. Ke ujung langit pun berusaha, bumbung bambu itu tidak akan kau dapatkan. Karena seseorang telah ditakdirkan memilikinya. Bukan kau atau Bayangan Iblis! Juga, bukan aku!" tegas perempuan tua itu.

Bayangan Seribu Wajah menyeringai.

"Peduli dengan isapan jempol seperti itu!" desis Bayangan Seribu Wajah yang bernama asli Ratih. Sambil berkata kakinya terus melangkah sedikit demi sedikit mendatangi perempuan tua.

"Ratih! Kau jangan memaksaku. Kita nanti akan sama-sama menyesal!" ingat perempuan tua berpakaian compang-camping, perlahan.

"Kau yang akan menyesal, bukan aku!"

Sambil berkata, tiba-tiba Bayangan Seribu Wajah melompat. Kaki kirinya menerjang ke perut perempuan tua. Sebelum terjangan itu sendiri menggebrak, sambaran deras yang menebar hawa panas melesat mendahului.

Perempuan tua tak bergeming. Baru ketika terjangan kaki Bayangan Seribu Wajah satu jengkal lagi menerpa, tubuhnya dimiringkan doyong ke belakang. Dan bersamaan itu, tangan kanannya melesat cepat menangkap kaki yang menghantam.

"Tap!"

Begitu kaki itu tertangkap, tangan perempuan tua ini bergerak memutar, membuat tubuh Bayangan Seribu Wajah melintir. Namun saat itu juga, Bayangan Seribu Wajah mengangkat kaki kirinya, dan menghantamkan ke arah kepala.

Wuuut!

Karena tubuh perempuan tua ini membungkuk doyong ke belakang, maka tak ada ruang lagi baginya untuk bisa menghindar. Namun, dia tidak hilang akal. Tangan kirinya cepat diangkat dan disodokkan ke arah kaki yang sedang mengarah ke kepala.

Desss!

Tubuh Bayangan Seribu Wajah yang kaki kanannya terpegang tangan perempuan tua terbalik. Sementara pada saat yang sama Bayangan Iblis dari arah belakang.

Perempuan berpakaian compang-camping ini menyadari adanya serangan dari belakang. Dia berusaha berkelit. Pegangannya pada kaki Bayangan Seribu Wajah dilepaskan. Kedua telapak tangannya cepat dibuka dan didorong berputar ke belakang. Namun, tetap saja gerakannya terlambat. Dan....

Prak! "Aaakh !"

Kedua tangan Bayangan Iblis lebih cepat menggebrak kedua kakinya. Akibatnya, tubuh perempuan tua ini terhuyung ke samping. Saat demikian, Bayangan Seribu Wajah tak menyia-nyiakan kesempatan. Tubuhnya langsung melesat ke udara, lalu menukik deras.

Bresss!

Dua sosok tubuh tampak bentrok, lantas samasama bergulingan di atas tanah. Yang pertama sosok Bayangan Seribu Wajah yang menggebrakkan tubuhnya ke tubuh perempuan tua berpakaian compangcamping. Dia terkapar, dengan kulit bagian kedua pundaknya merah. Sedang sosok yang kedua adalah perempuan tua yang terkapar dengan tulang iga patah. Sementara dari lobang hidungnya yang tidak menonjol mengalir genangan darah kehitaman, pertanda tengah terluka dalam.

Hebatnya, meski sudah dalam keadaan terluka, perempuan tua itu masih mencoba bangkit. Namun karena kedua kakinya sudah tak bisa lagi digerakkan akibat hantaman tangan Bayangan Iblis, maka akhirnya dia hanya duduk dengan kedua tangan dibuka di depan dada.

Bayangan Seribu Wajah segera bangkit. Matanya memandang Bayangan Iblis, lalu mengangguk.

Seketika Bayangan Seribu Wajah kembali berkelebat, sambil menghantamkan kedua tangannya. Sedangkan Bayangan Iblis berkelebat, langsung melancarkan pukulan dari arah belakang.

Karena dalam keadaan duduk maka gerakan perempuan tua itu tidak bisa lagi secepat kala berdiri. Kendati demikian dia tetap mencoba menghentakkan tangannya. Serangan dari Bayangan Seribu Wajah memang bisa dibendung. Bahkan kini tubuh wanita bernama Ratih itu ikut tertarik ke depan. Lalu satu depa lagi tubuh adik seperguruannya ini melabrak, perempuan tua melesatkan kaki kanannya.

Des! "Aaakh...!"

Jeritan melengking keluar dari mulut Bayangan Seribu Wajah. Tubuhnya mental jauh.

Namun baru saja perempuan tua berpakaian compang-camping memutar tubuhnya hendak membendung serangan dari arah belakang, tubuh Bayangan Iblis telah berputar mendahului. Kedua tangannya cepat dihantamkan ke arah pelipis perempuan tua itu.

Prak! "Aaa...!"

Kepala perempuan tua berpakaian compangcamping ini berputar. Disertai pekikan. Belum sirna suara pekikannya, kedua tangan Bayangan Seribu Wajah telah menghantam.

Desss...! "Aaakh...!"

Kali ini hantaman tangan Bayangan Seribu Wajah tepat menggebrak dada. Perempuan tua itu terbanting ke samping. Darah muncrat dari mulutnya. Meski demikian perempuan yang tak dikenal namanya ini masih mencoba bangkit. Tapi karena tubuhnya telah terluka parah, dia hanya bisa menggerakkan tangannya. Sedang tubuhnya tetap terkapar. Bayangan Seribu wajah dan Bayangan Iblis sejenak saling berpandang. Kemudian mereka berkelebat, dan berdiri tegak mengurung perempuan tua yang tak punya nama ini.

"Perempuan setan!" bentak Bayangan Iblis. "Ajal sudah di pelupuk mata. Kami akan menolongmu jika kau mau jujur menjawab pertanyaan kami!"

Perempuan tua itu hanya diam. Malah kedua matanya dipejamkan. Sementara bibirnya bergerakgerak seolah menggumamkan sesuatu.

"Awasss...!"

Mendapati gelagat, Bayangan Seribu Wajah segera berteriak agar kawannya segera menyingkir. Tapi Bayangan Iblis tidak menganggap. Malah kedua tangannya disentakkan menghantam.

Wesss...!

Sinar putih biru langsung menderu cepat. Namun satu depa lagi sinar itu menghantam, tiba-tiba asap putih mengepul dari tubuh perempuan tua. Maka sinar putih biru langsung tertahan. Bahkan hilang lenyap, seakan tertelan asap putih.

Begitu asap putih sirna, sepasang mata Bayangan Iblis terbelalak. Sedangkan Bayangan Seribu Wajah tenang-tenang saja.

"Ilmu Halimun!" kata Bayangan Seribu Wajah, memberitahu Bayangan Iblis.

Bayangan Iblis masih belum percaya. Dia menunggu hingga asap putih benar-benar lenyap. Dan ketika asap putih sinar sama sekali, tubuh perempuan tua itu memang sudah tidak ada lagi!

Bayangan Iblis memandang Bayangan Seribu

Wajah.

"Dia masih ada di sekitar sini. Hanya saja, kita

tak bisa melihatnya! Sementara, dia bisa melihat kita. Namun, tak kuasa menyerang! Itulah ilmu 'Halimun'!" "Sekarang apa yang harus kita perbuat?" tanya

Bayangan Iblis.

"Sementara waktu kita kembali ke candi sambil menunggu kabar dari Tengkorak Berjubah, Dayang Lembah Neraka, serta Sepasang Iblis Pendulang Sukma yang juga bergerak mencari Pendekar Mata Keranjang 108...," jawab Bayangan Seribu Wajah seraya berkelebat meninggalkan tempat itu.

Bayangan Iblis untuk beberapa waktu masih tegak, seraya menyapukan pandangan berputar. Namun ketika matanya tidak menemukan seorang pun, tubuhnya lantas berkelebat menyusul Bayangan Seribu Wajah.

9

Kesunyian mengungkung sebuah rumah gubuk di puncak bukit yang sudah tidak berpenghuni lagi. Tampak semak belukar merambat liar. Ruangan dalamnya tak satu pun terlihat perabotan rumah tangga. Untuk beberapa lama Pendekar Mata Keranjang 108 mengawasi dengan seksama.

"Aku akan menunggu sampai cuaca terang...," kata Pendekar Mata Keranjang 108 dalam hati seraya melangkah mengitari ruangan.

Memang, setelah mendapat kembali bumbung bambu dari perempuan tua berpakaian compangcamping, Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 berlari ke arah selatan. Dicarinya tempat yang dirasa aman untuk mempelajari isi yang ada dalam bumbung bambu, sebagaimana yang dikatakan perempuan tua berpakaian compang-camping yang dipanggil Aji sebagai Eyang.

Pendekar Mata Keranjang 108 menghentikan

langkahnya dipojok gubuk, lalu duduk bersila. Matanya sesekali masih menebar ke sekeliling. Kewaspadaannya ditingkatkan penuh karena khawatir kejadian di kaki Bukit Watu Dakon akan terulang kembali. Hingga untuk kali ini, menunggu cuaca terang pagi hari terasa begitu lama sekali.

Malam terus merayap. Pagi hari pun akhirnya datang.

Murid Wong Agung ini sejenak memejamkan kedua matanya. Begitu kelopak matanya terbuka kembali, kedua tangannya dengan agak gemetar serta dada berdetak kencang mengeluarkan bumbung bambu dari balik pakaian hijaunya. Sebentar diawasinya benda itu. Lalu, matanya berputar ke seluruh ruangan.

"Apakah aku mampu membukanya?"

Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dalam benak Pendekar Mata Keranjang 108. Dia teringat perempuan tua berpakaian compang-camping serta Bayangan Seribu Wajah yang meski telah memegang bumbung bambu, namun tidak kuasa membukanya.

Raut wajah Aji sedikit panas. Dadanya berdebar-debar. Jari telunjuk serta ibu jarinya bergetar hebat, tatkala mulai bergerak hendak membuka penutup bumbung bambu yang ternyata hanya terbuat dari semacam gabus ringan itu.

Ketika jari-jari tangannya mulai membuka, darah Aji tersirap sejenak. Ditegakkannya bumbung bambu yang kini penutupnya telah terbuka.

Dari dalam bumbung bambu keluar gulungan kulit lontar berwarna kecoklatan. Dengan tangan tetap gemetar, Aji segera membuka gulungan lontar. Ternyata gulungan itu hanya berisi dua lembar kulit lontar. Dengan suara perlahan, Aji membaca lembaran pertama.

Dalam gemuruh bunyi kebenaran, Suara kegelapan akan terbungkam. Dalam hiruk-pikuk arakan warna putih,

Jejak-jejak warna hitam akan tertelan musnah Dua cinta tidak akan pernah bersatu

Cinta Kebenaran dan Cinta Kejahatan.

Pendekar Mata Keranjang 108 berulang-ulang membaca tulisan yang ada di lembar pertama. Kepalanya mengangguk perlahan, seakan mengerti apa yang dimaksud dengan tulisan di lembar pertama.

Dengan tenang, Aji kini mulai membuka lembar kedua. Ternyata pada lembar kedua terdapat gambargambar orang melakukan gerakan-gerakan ilmu silat.

"Hm... Gerakan ini sama dengan yang terdapat pada dinding batu karang di tempat Eyang Wong Agung...," kata batin Aji dalam hati.

Kembali Pendekar Mata Keranjang 108 memperhatikan lebih seksama.

"Ah! Yang dua terakhir baru berbeda. Dan, tidak ada di dinding batu karang itu!"

Aji meneruskan kata hatinya. Lantas diamatinya baik-baik.

"Jurus ini kuda-kudanya sama dengan jurus sap ke lima 'Bayu Cakra Buana'. Hanya kedua tangan membuka di depan dada, sementara tangan kiri yang memegang kipas. "

Setelah merasa cukup, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menutup kembali lembaran kulit lontar. Lalu digulung benda ini dan dimasukkan kembali dalam bumbung bambu yang langsung disimpan ke balik baju hijaunya kembali.

Dengan menarik napas dalam-dalam, Pendekar Mata Keranjang 108 mulai memperagakan jurus-jurus yang ada dalam lembar kedua. Menginjak jurus yang berbeda dengan apa yang telah dimilikinya, segera dirubahnya letak kipasnya yang semula di tangan kanan, kini berada di tangan kiri. Dan kini, kedua tangannya dibuka di depan dada.

Werrr...!

Mendadak terdengar deru angin kencang, membuat pintu gubuk terbuka. Aji menjadi terkesiap. Namun belum juga rasa terkejutnya sirna, melesat seberkas sinar putih berkilau.

Aji berusaha menghindar. Tapi, tubuhnya tibatiba tegang kaku tak bisa digerakkan. Darahnya terasa berhenti mengalir. Tenggorokannya tercekat. Sepasang matanya tiba-tiba berkunang-kunang, lalu gelap.

Namun semuanya berjalan begitu cepat. Pendekar Mata Keranjang 108 hanya merasakan sesuatu menerobos telapak tangan, lalu mengalir ke seluruh tubuhnya. Begitu matanya kembali seperti biasa, tubuhnya kembali bisa digerakkan.

Dalam keadaan bingung, sayup-sayup terdengar suara yang seperti datang dari kejauhan. Namun anehnya, jelas sekali terdengar di telinga Aji.

"Aji, ketahuilah. Tubuhmu baru saja menerima sinar 'Bayu Kencana' yang tidak bisa gunakan untuk menyerang. Karena sinar itu hanyalah penyedot kekuatan yang bisa kau gunakan dalam waktu-waktu tertentu!"

Suara itu lantas lenyap dari telinga Pendekar Mata Keranjang 108. Untuk sesaat pemuda ini masih duduk terkesima. Dahinya mengerut mengingat sesuatu. "Hm.... Aku ingat. Suara itu mirip suara gadis cantik penunggang kuda yang pernah kutemui, setelah aku turun dari Karang Langit. Gadis salah satu dari anak kandung Empu Jaladara. "

Mengingat hal itu, buru-buru Pendekar Mata Keranjang 108 membungkuk dalam-dalam. Lalu perlahan-lahan wajahnya diangkat dengan mata menyapu ke seluruh ruangan.

"Saat bagiku untuk mengejar Malaikat Berdarah Biru sebelum terlambat!" Aji lantas bangkit, lalu berkelebat keluar dari rumah gubuk.

10

Empat penunggang kuda menghentikan tunggangan masing-masing di depan sebuah kedai yang agak besar dan tampak ramai pengunjung di Kadipaten Panjalu ini. Setelah menambatkan kuda masingmasing, keempat orang itu melangkah dengan pandangan masing-masing nyalang ke seantero halaman kedai.

Begitu mereka memasuki kedai, satu persatu pengunjung beringsut keluar dengan mata tak berani memandang. Mereka tak tahu, siapa keempat orang yang baru masuk. Namun melihat tampangtampangnya, cukup membuat para pengunjung kedai bisa menduga-duga. Agaknya keempat orang ini adalah tokoh-tokoh persilatan. Hanya saja, tak satu pun dari mereka yang menggambarkan keramahan.

Keempat tokoh persilatan ini terdiri dari dua pasang laki-laki dari perempuan. Pasangan pertama, yang laki-laki berpakaian putih-putih. Kumisnya lebat dan bermata satu. Sementara perempuan di sampingnya bertubuh sintal. Seluruh wajahnya tertutup sepotong kain. Memang mereka tak lain dari Sepasang Iblis Pendulang Sukma.

Sedang pasangan kedua yang laki-laki berjubah panjang besar berwarna hitam. Sehingga sekujur tubuhnya tertutup kecuali muka dan pergelangan tangan. Namun demikian, anggota yang tampak itu sungguh menyeramkan. Wajah laki-laki ini tidak dilapisi kulit sama sekali. Hingga, wajahnya hanya merupakan tulang-tulang dengan sepasang mata menjorok ke dalam cekungan dalam, berwarna merah. Di samping laki-laki bermuka tengkorak ini, seorang perempuan tua bertubuh telah bungkuk. Tapi yang membuat penampilannya tampak angker. Rahangnya begitu kokoh dan menonjol. Sepasang matanya membeliak lebar. Hidungnya melesak ke dalam, serta mulut moncong ke depan. Rambutnya putih yang jarang, dipotong cepak.

Dalam rimba persilatan, kedua orang ini memang sudah tidak begitu asing lagi. Mereka adalah Tengkorak Berjubah dan Dayang Lembah Neraka!

Tengkorak Berjubah yang berada paling belakang sesaat masih berdiri tegak di ambang pintu kedai sambil tersenyum sinis, memperhatikan beberapa tamu yang ketakutan. Lantas kakinya melangkah menuju meja Dayang Lembah Neraka duduk.

Sementara Sepasang Iblis Pendulang Sukma memilih meja sendiri agak jauh dari keduanya. Sebentar-sebentar baik laki-laki bermata satu yang bernama Sangsang, dan perempuan bercadar bernama Sunti memandang tajam ke arah Tengkorak Berjubah.

"Kita harus mencari waktu yang tepat untuk membalasnya, Kakang!" tegas Sunti perlahan, namun nadanya mengisyaratkan kegeraman. "Benar! Tengkorak Berjubah telah menghina martabat kita. Kita harus membalasnya. Namun bukan sekarang waktunya. Saat ini, lebih baik kita berpurapura melupakan peristiwa itu. Nanti setelah dapat menemukan Pendekar Mata Keranjang 108 serta merampas kitab dan kipasnya, kita akan laksanakan hukuman padanya!"

"Bagaimana dengan Malaikat Berdarah Biru?" tanya Sunti.

Sejenak mata satu-satunya milik Sangsang memandang jauh keluar. Lantas ditariknya napas panjang.

"Untuk sementara ini, kita harus berpura-pura menuruti segala perintahnya. Namun jika kitab dan kipas itu telah jatuh ke tangan kita, ganti dia yang harus menuruti kehendak kita!" desis Sangsang.

"Tapi..,, Malaikat Berdarah Biru telah pula memegang kitab dan kipas. Apakah kita..."

"Sunti!" potong Sangsang. "Urusan Malaikat Berdarah Biru bisa dibicarakan nanti. Kita telah tahu, apa kelemahannya. Itu nanti bisa kita manfaatkan. Sekarang, curahkan perhatian pada Pendekar Mata Keranjang 108. Kurasa pendekar satu ini sangat cerdik dan sulit ditaklukkan  "

Selagi Sangsang dan Sunti alias Sepasang Iblis Pendulang Sukma saling berbincang....

"Pelayan! Kalau kau tidak segera kemari, mejameja ini akan kuhancurkan!"

Dari arah seberang terdengar Tengkorak Berjubah mengeluarkan suara sembernya, membentak.

Mendengar nada ancaman, buru-buru salah seorang pelayan tergopoh-gopoh dengan tubuh gemetar melangkah mendekat

"Sediakan makan serta arak. Cepat!" Sang pelayan segera berbalik, dan melangkah ke dalam. Namun baru saja dua tindak melangkah.

"He! Sini!" bentak Sangsang.

Tergopoh-gopoh pelayan itu melangkah ke arah meja Sangsang dan Sunti.

"Aku ayam panggang dan sebumbung arak!"

Sang pelayan mengangguk beberapa kali, lalu berbalik menuju ke dalam. Sejenak mata Sangsang melirik Tengkorak Berjubah. Namun yang dilirik tak begitu menghiraukan, karena sepasang mata merahnya sedang mengawasi seksama perempuan di samping Sangsang, yang tak lain Sunti.

"Seandainya kita tidak sama-sama menjalankan perintah Malaikat Berdarah Biru, ingin rasanya aku menikmati kehangatan tubuhmu kembali seperti dulu! Hm.... Tapi, masih ada waktu...," kata batin Tengkorak Berjubah.

Sementara itu, sang pelayan telah muncul kembali dengan membawa pesanan Tengkorak Berjubah. Belum sampai pelayan berbalik beranjak ke meja Sangsang, Tengkorak Berjubah telah mengangkat tangannya. Diambilnya teko berisi arak dan diteguknya dengan lahap.

Dayang Lembah Neraka yang berada di sampingnya memandang dengan perasaan mangkel. Namun sejenak kemudian dia telah mulai pula menyantap makanan di hadapannnya.

Sebentar saja makanan dan arak terlahap habis oleh Tengkorak Berjubah. Kini laki-laki berwajah seram itu mengangguk pada Dayang Lembah Neraka Keduanya lantas berdiri.

Tengkorak Berjubah menuju ambang pintu, sedang Dayang Lembah Neraka melangkah mendekati meja. Tempat Sepasang Iblis Pendulang Sukma berada. "Sesuai kesepakatan, aku bersama Tengkorak Berjubah akan bertolak ke arah barat. Kalian ke selatan. Tujuh hari di muka, kita kembali bertemu di sini!" ujar Dayang Lembah Neraka seraya memandang Sepasang Iblis Pendulang Sukma.

Yang diajak bicara tak ada yang angkat bicara. Keduanya hanya mengangkat kepala masing-masing, memandang pada Dayang Lembah Neraka.

"Jahanam! Setelah urusan ini selesai, mulut kalian akan kubuat tidak bisa bicara sungguhan!" desis Dayang Lembah Neraka dalam hati, seraya mengepalkan kedua tangannya. Sepasang matanya mendelik. Rahangnya yang menonjol kokoh mengembung menahan jengkel. Tapi lantas tubuhnya berbalik ketika terdengar Tengkorak Berjubah memanggilnya.

Sampai di pintu kedai, Dayang Lembah Neraka masih menoleh pada Sepasang Iblis Pendulang Sukma. Tapi karena yang dipandang sedang menyantap makanan, sehingga hanya sepasang kakinya yang bisa dihentak-hentakkan untuk melepaskan perasaan kecewa. Akibatnya kedai itu sedikit bergetar.

Sepasang Iblis Pendulang Sukma ternyata tahu kelakuan Dayang Lembah Neraka. Dan mereka samasama tersenyum.

"Si tua jelek itu punya nyali juga rupanya!" kata Sangsang, seraya melirik Sunti.

Sunti mengangguk dan balas melirik. "Jahanam tua itu nanti serahkan saja padaku. Aku ingin membuktikan apakah nama besarnya bukan isapan jempol belaka!"

Kembali mereka melanjutkan makannya. Dan sebentar kemudian, dari luar kedai terdengar derap langkah kuda menghentak meninggalkan kedai. Hanya beberapa saat saja derap langkah kuda berlalu, tampak sesosok tubuh mengenakan baju hijau. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Sosok yang tak lain Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 ini segera melangkah pelan menuju kedai.

Di ambang pintu masuk, sepasang kaki Pendekar Mata Keranjang 108 seperti terpantek. Dadanya berdebar keras. Sementara kedua tangannya mengepal. Matanya membeliak tak kesiap.

"Sepasang Iblis Pendulang Sukma! Manusiamanusia keji yang mencederai Eyang Wong Agung! Kali ini kalian tidak akan lolos dari tanganku!" gumam Aji dalam hati seraya berbalik. "Kutunggu kalian di luar!"

Pendekar Mata Keranjang 108 langsung berkelebat ke arah tempat terdapatnya dua kuda sedang ditambatkan.

Beberapa orang pelayan yang sempat menangkap gerak-gerik Aji segera saling berpandangan. Mereka seperti merasakan, pemuda berambut dikuncir itu menaruh hawa amarah pada tamu yang kini sedang menyantap makanan. Dan untungnya, kedua tamu itu tak melihat sosok yang baru datang. Sementara, para pelayan tetap saling bicara berbisik, dengan sesekali memandang Sepasang Iblis Pendulang Sukma.

Bisik-bisik serta pandangan para pelayan rupanya tertangkap Sangsang. Karena merasa dirinya dibicarakan Sangsang naik pitam. Meja di depannya serta-merta digebraknya.

Brak!

Empat kaki meja masing-masing patah satu depa. Hebatnya meski kaki empat patah, makanan di atas meja tak bergeming sama sekali.

"He! Kamu sini!" teriak Sangsang seraya melambaikan tangan pada salah seorang.

Orang yang dipanggil sejenak memandang pada temannya sesama pelayan. Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya.

"He! Kalau kau tak lekas kemari, kepalamu akan kuhancurkan!"

Orang yang dipanggil melangkah perlahan, mendatangi dengan tubuh menggigil ketakutan.

"Apa yang kalian omongkan, he?!" bentak Sangsang dengan mendelikkan satu matanya.

"Ngg.... Anu, Tuan. Ngg..., ada seseorang yang akan masuk kedai. Namun setelah melihat tuan berdua, orang itu mengurungkan niatnya...," kata pelayan dengan suara seolah menggantung di tenggorokan.

"Ha... ha... ha...!"

Mendengar keterangan pelayan, serta-merta tawa Sangsang meledak. Namun tiba-tiba saja ledakan tawanya berhenti.

"Lantas, apa anehnya kalian terus memandangi ku seraya bisik-bisik?!"

"Orang itu tampaknya memandang tuan berdua dengan sinar mata berbeda!" jawab pelayan ini, setelah dapat menguasai jalan nafasnya.

"Kau jangan omong berbelit-belit!" sergah Sunti. "Apa maksudmu dengan sinar mata berbeda!"

"Pandangan orang itu mengisyaratkan kebencian dan kegeraman. Matanya membelalak, serta tangannya mengepal..."

Sangsang dan Sunti menebarkan pandangan mata masing-masing ke seluruh ruangan kedai hingga halaman depan.

"Katakan, bagaimana orang itu?!" tanya Sangsang dengan mata masih mengawasi.

Sejenak dahi sang pelayan berkernyit seolah mengingat.

"Dia masih muda dan tampan. Bajunya warna hijau yang dilapis pakaian dalam warna kuning lengan panjang. Rambutnya panjang dan dikuncir ekor kuda,..."

Serentak Sepasang Iblis Pendulang Sukma saling berpandangan. Kumis Sangsang bergerak-gerak pertanda bibir di baliknya menyunggingkan senyum. Sementara Sunti masih mencoba menduga-duga.

"Pendekar Mata Keranjang 108!" gumam Sangsang seraya berkelebat, dan tahu-tahu telah berdiri di depan pintu kedai.

Sunti terlonjak kaget mendengar Sangsang menyebut nama Pendekar Mata Keranjang 108. Hingga untuk beberapa saat, dia hanya duduk bengong. Namun buru-buru dia berdiri, dan melangkah cepat ke arah Sangsang yang kini telah berdiri di halaman kedai dengan tubuh berputar. Matanya nyalang ke sudutsudut di sekeliling tempat itu.

"Apakah dugaanmu tidak keliru, Kakang?" tanya Sunti, ikut-ikutan melayangkan pandangan.

"Ciri-ciri itu tak ada duanya! Lagi pula, mendengar keterangan pelayan yang katanya pendekar itu memandang kita dengan perasaan benci, maka tak ada lain dialah Pendekar Mata Keranjang 108! Dialah yang kita cari!" jawab Sangsang pula.

Namun hingga beberapa lama kedua orang ini mencari di sekitar tempat itu, tak juga menemukan apa yang diharapkan.

"Aku akan menyelidik agak jauh sedikit! Kau tunggu sebentar di sini!"

Sangsang lalu berkelebat dan menghilang dari halaman kedai

Baru saja Sunti hendak melangkah kembali masuk ke dalam kedai, Sangsang telah kembali muncul di hadapannya dengan raut mengisyaratkan kekecewaan.

"Aku tak menemukannya! Dia rupanya ketakutan melihat kita, lalu pergi dengan cepat! Kita terlambat.... Berarti kita harus segera menentukan arah untuk mengejarnya!" jelas Sangsang.

"Tapi, Kakang.... Aku jadi ragu. Mungkin orang itu bukan Pendekar Mata Keranjang 108. Kalau memang dia, tentunya tak akan lari. Karena bagaimanapun juga, kita punya silang sengketa dengannya. Walaupun tak secara langsung. Karena, kita telah berhasil membuat Gurunya cedera!" sergah Sunti.

"Kalau bukan dia, lantas keparat siapa lagi yang mempunyai ciri-ciri seperti itu?!" kata Sangsang dengan suara keras. Mata satu-satunya membeliak merah, menindih rasa geram.

Mendengar nada keras Sangsang, Sunti menarik napas dalam-dalam. Dan Sangsang segera menyadari diri Lantas kakinya melangkah mendekati wanita ini.

"Kita harus segera pergi dari sini. Kurasa, keparat itu belum terlalu jauh! Kita menuju arah selatan sambil bertanya-tanya di jalan yang kita. "

Habis berkata Sangsang melangkah menuju ke arah kudanya ditambatkan. Begitu sampai, matanya sontak tercengang. Karena tadi terburu-buru, hingga dia tidak sempat melihat kuda tunggangannya. Ternyata kuda tunggangan yang ditambatkan tinggal satu!

"Bangsat! Berarti keparat itu mengambil kuda satunya, dan dibawa untuk melarikan diri!" rutuk Sangsang seraya berpaling pada Sunti.

Tepat ketika kepalanya berpaling, sesosok tubuh melesat turun dari atap kedai. Dan tahu-tahu, sosok itu telah berdiri tegak di halaman kedai sambil memperdengarkan nyanyian tak karuan. Lantas matanya memandang tajam ke arah Sangsang. "Kau mencari binatang mu...!"

"Dia rupanya!" gumam Sunti dengan mata membelalak tak kesiap.

Sementara Sangsang berkelebat mendekati Sunti, saat mengetahui siapa pemuda yang kini berdiri di halaman kedai.

"Sunti! Kita harus hati-hati! Bukan mustahil dia kini lebih hebat, dibanding saat kita melawannya di Jurang Guringring! Kita langsung menggebraknya dengan jurus pamungkas, agar tidak berlama-lama!"

Sunti mengangguk perlahan dengan pandangan lurus ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kalau kau bersedia menyerahkan kipas serta bumbung bambu yang ada di tanganmu, kau bisa pergi leluasa!" kata Sunti, pongah.

"Ha... ha... ha...!"

Aji tertawa ngakak. Matanya menyengat satu persatu pada Sangsang dan Sunti.

"Kalian dengar baik-baik! Aku memang telah lama mencari kalian. Tentunya, kalian tahu kalau masih punya hutang padaku!" sahut Pendekar Mata Keranjang 108, kalem.

"Ha... ha... ha...!"

Kini balik Sangsang dan Sunti yang keluarkan tawa panjang.

"Sunti...!" kata Sangsang tanpa menoleh pada Sunti. "Kau dengar kata-katanya? Rupanya anak ini ingin balas budi terhadap gurunya...!"

"Hai, Anak Tampan! Jika mau belajar dengan nasib yang menimpa Gurumu, kau akan segera menyerahkan apa yang kami minta! Jika tidak, kau akan mengalami nasib yang sama. Bahkan akan lebih parah lagi!" timpal Sunti.

"Kau telah tahu kesalahan kalian. Sebaiknya, kalian cepat sadar dan segera bersujud di hadapanku!" "Keparat! Kaulah yang harus menjilat kakiku!" bentak Sangsang, seraya menghantamkan kedua tan-

gannya.

Wesss...!

Seberkas cahaya hitam langsung bergulunggulung melesat ke arah Aji, disertai suara gemuruh dahsyat serta menebarkan hawa panas.

Pendekar Mata Keranjang 108 tak tinggal diam. Cepat tubuhnya direbahkan ke samping. Sambil bergulingan di atas tanah halaman kedai, dilepaskannya pukulan jarak jauh untuk memapak serangan.

Wuuut! Darrr!

Dentuman keras segera mengguncang tempat itu. Hawa panas menyengat menerabas, membuat daun-daun pohon di sekitar tempat ini berguguran luruh dengan keadaan hangus!

Tubuh Sangsang terjajar beberapa tindak ke belakang. Sementara tubuh Aji terus bergulingan. Begitu tubuhnya berhenti, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat bangkit dan cepat pula berkelebat ke arah Sunti.

Sunti yang tidak menyangka, jadi terkejut bukan main. Namun buru-buru tubuhnya diputar, dan tahu-tahu menukik deras ke arah Aji dengan sepasang kaki lurus mengarah dada. Sementara kedua tangannya bersiutan, membentuk beberapa gerakan yang sulit diikuti mata.

Wut! Wut!

Pendekar Mata Keranjang 108 berdiri tegak menunggu. Begitu sejengkal lagi sepasang kaki dan tangan Sunti menerabas, tubuhnya direbahkan ke belakang. Kedua kakinya lantas diangkat tinggi, seakan membuat gerakan berbalik. Lalu....

Des! Des!

"Aaakh! Aaakh !"

Terdengar dua kali berurutan benturan keras. Tampak tubuh Sunti melayang mental, lalu terbanting di atas tanah. Sementara tubuh Aji hanya terkapar, setelah bergulingan beberapa kali. Namun baru saja Aji bangkit....

Wesss!

Serangkum angin keras menyambar dari arah belakang Pendekar Mata Keranjang 108. Begitu berpaling, Aji terpaku. Larikan gelombang hitam bergerak cepat ke arahnya. Dia berusaha menghindari namun terlambat. Hingga...

Desss! "Aaakh !"

Tanpa ampun lagi larikan gelombang hitam yang ternyata serangan Sangsang menerabas tubuh Pendekar Mata Keranjang 108. Aji berseru tertahan. Tubuhnya terpental, dan jatuh bergedebukan di atas tanah. Bibirnya pecah mengeluarkan darah. Dadanya seakan terburai barang berat. Sehingga untuk sesaat nafasnya tersengal-sengal.

Melihat lawan tak berdaya, seakan diberi abaaba, Sepasang Iblis Pendulang Sukma segera berkelebat bersamaan. Tubuh mereka lantas saling merapat. Dan kejap itu juga, mereka menghentakkan tangan masing-masing.

Wusss !

Empat larikan gelombang hitam melesat kencang, mengarah pada Pendekar Mata Keranjang 108 yang sedang bangkit.

Mendapati hujan serangan, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menarik kipas dari balik bajunya dan segera merentangkannya di depan dada. Dan sedepa lagi larikan gelombang hitam itu menghantam, kipasnya secara melingkar ke depan dikebutkan.

Werrr!

Terdengar suara kipas menderu. Bersamaan dengan itu, menebar cahaya putih lengkung.

Bagai gelombang dahsyat, cahaya putih yang menebar dari kipas Pendekar Mata Keranjang 108 menelan lenyap larikan gelombang hitam serangan Sepasang Iblis Pendulang Sukma. Di lain kejap....

Blarrr. !

Terdengar benturan membahana. Sepasang Iblis Pendulang Sukma merasakan tubuhnya bagai terhembus gelombang dahsyat. Mereka cepat mengerahkan tenaga untuk bertahan agar tidak terpental. Namun hembusan gelombang yang tak terlihat seakan tak mudah ditaklukkan.

"Hiaaa !"

Disertai bentakan, Sepasang Iblis Pendulang Sukma segera melesat ke samping dengan membuat gerakan bersalto.

Begitu mendarat, Sangsang keluarkan dengusan keras. Mata satu-satunya merah menyala.

"Heaaa !"

Didahului bentakan, tubuh satu dari Sepasang Iblis Pendulang Sukma melesat hilang dari pandangan. Sementara itu, Aji yang kini telah bangkit sege-

ra menengadahkan kepalanya mencari tahu arah mana lawan berada. Tapi baru saja kepalanya bergerak dari arah belakang menyambar deruan angin kencang.

Menyangka serangan datang dari belakang, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat berbalik. Tapi, Aji tertipu. Sambaran itu ternyata hanya sebuah tipuan untuk mengalihkan perhatiannya. Karena serangan sesungguhnya datang dari arah depan.

Merasa tertipu, Aji segera pula berbalik kembali. Tapi gerakannya telah didahului oleh menukiknya tubuh Sangsang. Dan....

Des! Des! "Aaakh !"

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 sebentar terhuyung-huyung. Namun tak berselang lama tubuhnya tersungkur di atas tanah. Baju bagian dadanya terlihat berwarna biru kehitaman. Bibir dan hidungnya keluarkan darah.

Di saat yang demikian, tiba-tiba Sunti meluruk. Langsung dikirimkannya hantaman tangan terbuka ke arah tubuh Aji yang masih terkapar di atas tanah.

Wesss. !

Aji tercekat. Dan begitu sadar akan bahaya yang mengintai, kedua kakinya segera dihantamkan. Sedangkan tangan kanannya menghentakan kipas, dan tangan kiri melepas pukulan.

Wut! Wusss !

Empat sambaran menggebrak. Dua dari tangan, dan dua lagi dari kaki Pendekar Mata Keranjang 108!

Sunti yang tidak mengira akan balasan serangan seperti itu jadi kalang kabut. Tangannya yang tadi buat menghantam segera ditarik sedikit ke belakang. Sedang kakinya deras melaju mendahului. Tapi....

Des! Des! Blarrr! "Aaakh !"

Sunti berteriak keras. Benturan antara kedua kakinya dengan kaki Pendekar Mata Keranjang 108, membuat tubuhnya mental balik. Namun sebelum tubuhnya terpental, kedua tangannya masih sempat menghantam, memapak sentakan kipas.

Blarrr!

Di lain kejap, terdengar suara gelegar keras. Tubuh Sunti melayang, lalu terpuruk di samp-

ing Sangsang yang kini telah siap hendak menyerang. Tapi laki-laki ini segera mengurungkan serangan tatkala melihat tubuh Sunti yang terkapar menggeliatgeliat.

Sambil melirik tajam ke arah Aji, Sangsang memapah Sunti bangkit duduk. Saat itulah Pendekar Mata Keranjang 108 menjadi terperangah. Karena sambaran kipas dan pukulan tangannya tadi sempat menghempas bagian muka Sunti. Akibatnya, kain penutup wajah wanita itu robek dan luruh. Kini wajah Sunti jelas terlihat

"Gila!" rutuk Aji sambil memegangi dadanya yang masih terasa nyeri akibat tendangan kaki Sangsang. "Meski tubuhnya demikian bagus bahkan menggiurkan, ternyata wajahnya begitu menakutkan! Hm..., selera laki-laki memang akan segera lenyap jika memandang wajahnya. Makanya dia tak pernah melepas kain penutup wajahnya. "

Aji terus menatap ke arah Sunti yang meski dalam keadaan terluka parah, namun masih mencoba menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Sunti...! Kau terluka. Kumpulkan tenaga dalammu. Aku akan menyalurkan hawa murni ke tubuhmu!" bisik Sangsang, melangkah ke belakang Sunti.

"Kakang, jangan hiraukan aku. Selesaikan dahulu keparat itu!" kata Sunti. Suaranya tersendat.

Namun Sangsang tak mempedulikan kata-kata wanita kekasihnya itu. Dia malah segera duduk di belakangnya, dan menempelkan kedua tangan ke punggung Sunti.

"Aaakh...!"

Sesaat terdengar suara seruan tertahan dari mulut Sunti, tatkala kedua tangan Sangsang mulai memasukkan hawa murni. Bersamaan dengan itu, asap hitam keluar dari telapak tangan Sangsang. Sedangkan tubuh Sunti tampak bergetar hebat. Dan tak lama kemudian, pakaian Sunti tampak mulai hangus. Lalu sedikit demi sedikit luruh bagai kain terbakar.

"Akan kubiarkan dulu dia menolong kawannya. Tidak pantas rasanya menyerang orang yang dalam keadaan begitu...," kata batin Aji, seraya duduk bersila. Segera dikumpulkannya segenap tenaga untuk mengatasi getaran dada yang masih terasa sakit jika dibuat bernapas.

"Aaa...!" Tiba-tiba terdengar jeritan melengking, membuat Aji membuka kelopak matanya. Di seberang, nampak tubuh Sunti melejang-lejang sambil menjeritjerit. Sedangkan Sangsang masih tampak menyalurkan hawa dari belakang. Sekujur tubuh laki-laki bermata satu ini telah basah kuyup. Tubuhnya ikut bergetar. Dan rambutnya yang riap-riapan, bagai terkena hembusan angin kencang.

Kelopak mata Aji yang memandang tak segera beralih. Bahkan sejenak membeliak. Karena pakaian Sunti bagian atas telah luruh, hingga membuat sepasang payudaranya yang kencang dan putih terlihat jelas.

"Edan! Dadanya benar-benar mempesona. Jika saja wajahnya tidak demikian menakutkan, perempuan itu betul-betul sempurna...," rutuk batin Aji tanpa mengalihkan pandangan.

Selagi Aji terpesona dengan pemandangan bagus itu, tiba-tiba Sangsang bangkit. Matanya memandang tajam pada Pendekar Mata Keranjang 108 seakan-akan ingin memutus habis kepalanya.

"Keparat setan! Kau telah melukai kekasihku. Tak ada balasan yang setimpal, selain tercabutnya nyawamu!" teriak Sangsang sambil melangkah maju.

Melihat gelagat, Pendekar Mata Keranjang 108 segera pula bangkit. Matanya balas menyengat ke arah bola mata Sangsang.

"Tidak usah banyak bicara! Kau dahulu telah menanam benih. Sekarang waktunya kau peroleh hasilnya!" balas Aji, datar.

"Setan jahanam! Mampus kau!" bentan Sang-

sang.

Tubuh laki-laki ini segera bergerak berputar

jungkir balik, lalu mendarat lima langkah di hadapan Aji sambil mendorongkan kedua tangannya ke depan.

Wesss...!

Serangkum gelombang angin panas dan cahaya hitam yang mengeluarkan suara deru dahsyat menyambar.

Namun Pendekar Mata Keranjang 108 segera mengibaskan kipasnya. Bersamaan dengan itu tubuhnya melompat ke samping, menghindari serangan Sangsang. Segera pula dikirimkannya.

Blarrr...!

Bentrok pukulan yang terisi tenaga dalam segera mengguncang. Tubuh Sangsang terhuyung. Namun sungguh tidak disangka datang serangan Pendekar Mata Keranjang 108 dari arah samping berupa tusukan pangkal kipas. Sangsang terkejut bukan alang kepalang. Dia berusaha melesat untuk menghindar, tapi tusukan kipas itu lebih cepat menghadang lesatan tubuhnya. Hingga....

Tanpa ampun lagi, kipas itu tak terbendung menerobos perut Sangsang. Maka satu jeritan lengking menggema di tempat itu. Perut Sangsang nampak mengucurkan darah. Hebatnya dalam keadaan yang demikian, laki-laki bermata satu ini masih sempat menekuk tubuhnya, hingga hampir duduk.

"Heaaa...!"

Dengan bentakan tersendat, Sangsang melenting ke udara. Darah segar nampak berhamburan ketika tubuhnya membumbung.

Seakan tak percaya melihat kejadian di depan matanya, Aji sesaat ternganga. Belum hilang rasa herannya, tubuh Sangsang telah menukik turun dengan kaki dan tangan sama-sama menghantam.

"Bayu Cakra Buana, terpaksa akan kulepaskan!" gumam Pendekar Mata Keranjang 108.

Seketika Aji cepat mengebutkan kipasnya. Sedangkan tangan kirinya siap menghantam.

Wut!

Tubuh Sangsang yang kini menukik deras mendadak bagai tertahan tenaga yang tak terlihat. Hingga, tubuhnya untuk beberapa lama terapung di udara. Dan bersamaan dengan itu, hantaman tangan Aji menerjang keras.

Des! "Aaa...!"

Untuk kedua kalinya, laki-laki bermata satu salah seorang dari manusia yang berjuluk Sepasang Iblis Pendulang Sukma menjerit keras. Tubuhnya terpental. Ketika jatuh di atas tanah, keadaannya begitu mengenaskan. Perutnya berlobang dan mengalirkan darah. Sementara dadanya kebiru-biruan. Pakaiannya sudah terkoyak-koyak!

Sesaat tubuh Sangsang masih tampak bergerak-gerak disertai erangan. Namun sebentar kemudian tubuhnya diam kaku dengan mulut menganga tanpa bersuara lagi!

11

Sunti menjerit keras, menyaksikan kekasihnya terkapar dan tewas begitu mengenaskan. Tanpa menghiraukan lagi keadaan dirinya yang sedang terluka parah, wanita ini bangkit dengan sepasang mata menyengat tajam. Wajahnya yang ternyata lurus bagai papan merah padam. Mulutnya yang tampak sangat lebar, mengeluarkan ludah.

"Anjing kudis! Hidupku tak akan tenang sebelum memenggal kepala dan mengunyah jantungmu!" bentak Sunti.

Sehabis berkata, Sunti melompat. Begitu berdiri tegak satu tombak di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108, tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Sementara tangan kirinya membuka di depan dada. Seluruh tenaga luar dan dalam dikerahkan.

"Hiaaa...!"

Didahului bentakan melengking, Sunti mendorong tangan kirinya ke depan, ke arah Aji yang telah pula menyiapkan kipasnya di depan dada pada tangan kanan. Sedang tangan kiri mendorong perlahan ke depan.

Werrr...!

Deru angin yang membawa suara bagai ombak menghantam Pendekar Mata Keranjang 108 yang mengetahui keadaan lawan, tidak segera melepaskan pukulan. Tenaga dalamnya dikerahkan, dan dipusatkan pada sepasang kakinya. Hingga kedua kaki Aji bagai terpantek, dan membuat tubuhnya tak bergeming sama sekali oleh hembusan angin keras yang menyambar dari tangan Sunti.

Melihat lawan bertahan, Sunti menambah tenaga dorongnya. Namun karena keadaan tubuhnya telah tak memungkinkan, membuat dorongan tangannya tak lagi bertenaga kuat. Hingga saat Pendekar Mata Keranjang 108 mulai menggerakkan tangan kiri mendorong ke depan, serta-merta tubuh perempuan sintal berwajah menakutkan ini tampak bergetar. Namun dia masih tak bergeming.

Pendekar Mata Keranjang 108 menambah tekanan. Pakaian Sunti mulai terlihat robek-robek, tersambar hawa panas dan angin keras dari tangannya. Dari balik pakaiannya yang koyak, tampak mulai terlihat darah mengalir dari sebagian tubuhnya. Demikian juga dari lobang hidung dan sudut bibirnya. Tampak darah berwarna kehitaman mengalir.

Merasa dirinya dalam bahaya, dengan segenap tenaga terakhirnya Sunti melesat ke depan. Tubuhnya langsung bergulingan cepat di atas tanah. Dan....

Bret!

Pakaian Pendekar Mata Keranjang 108 bagian selangkangan robek lebar hingga ke dalam. Namun bersamaan dengan itu, kipas ungu pendekar digdaya ini menyentak keras dan ujungnya menerabas punggung Sunti.

Crasss! "Aaa !"

Mulut Sunti menjerit keras. Tubuhnya terus bergulingan, dan baru terhenti saat melabrak tubuh Sangsang yang telah kaku menjadi mayat. Sebentar sepasang mata wanita ini memandang sayu pada Pendekar Mata Keranjang 108, lalu beralih pada tubuh di sampingnya.

"Kakang "

Hanya itu suara yang terdengar dari mulut Sunti. Sepasang matanya lantas meredup. Dan tak lama kemudian, terpejam rapat. Wanita ini tewas dengan tangan merangkul tubuh kekasihnya.

Pendekar Mata Keranjang 108 melipat kipas dan menyimpannya ke balik pakaian hijau. Matanya memandang ke sekeliling. Ternyata di tempat itu kini telah banyak orang.

"Aku harus cepat menyingkir dari tempat ini ,"

kata batin Aji, seraya hendak melangkah meninggalkan tempat ini. Namun langkahnya tertahan ketika....

"Pendekar Mata Keranjang 108! Tunggu !"

Dari arah belakang terdengar suara memanggil. Murid Wong Agung dari Karang Langit ini me-

nolehkan kepalanya ke belakang.

"Ratu Pualam Putih!" seru Aji saat mengetahui siapa orang yang memanggilnya. Dan kini sosok itu telah berdiri tegak sepuluh langkah di hadapannya.

Di situ, kini memang berdiri seorang gadis cantik berpakaian tebal warna putih. Rambutnya panjang tergerai. Dan dia tak lain dari Ratu Pualam Putih.

Sebentar Aji memperhatikan. Dahinya menger-

nyit.

"Hm.... Dia memakai pakaian tebal dengan len-

gan begitu besar panjang, sampai menutupi seluruh anggota tangannya. Kasihan, kau. Gara-gara aku, kedua tanganmu harus disembunyikan...," kata batin Aji. Pendekar Mata Keranjang 108 melangkah men-

dekat.

"Ratu.... Sedang apa kau di sini...?" tanya Aji,

agak tersendat.

Ratu Pualam Putih tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih berkilat. Namun tiba-tiba senyumnya lenyap dengan wajah redup.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kau harus segera ke tempatku!" ujar wanita ini.

Pendekar Mata Keranjang 108 tersentak kaget. Tubuhnya bergetar. Dia langsung teringat akan janji yang telah diucapkan pada Ratu Pualam Putih, serta keterangan perempuan tua berpakaian compangcamping yang dipanggilnya dengan sebutan Eyang.

"Sialan! Bagaimana ini? Aku telah berjanji padanya untuk menolong. Sementara untuk menolongnya, menurut penuturan perempuan tua itu, aku harus menjalani Anggoro Pati Malang benar nasibku!"

Melihat gerak-gerik Aji, sepasang mata Ratu Pualam Putih melebar. Dahinya berkerut.

"Ada apa dengan dirimu, Pendekar...?" tanya Ratu Pualam Putih. Suaranya merdu, seperti meluncur dari bibirnya yang merah merekah.

Aji tampak gelagapan dengan pertanyaan gadis di hadapannya.

"Hm     Nampaknya kau ketakutan. Apa kau ta-

kut jika aku menagih janji padaku ?" tukas Ratu Pua-

lam Putih.

Paras Aji seketika berubah merah padam. Dia mengeluarkan gumaman tidak jelas, sementara pandangan matanya ke arah lain.

Ratu Pualam Putih tersenyum.

"Pendekar Mata Keranjang 108! Kau tak usah khawatir. Aku tidak akan menagih janjimu, meski kau sendiri yang mengucapkan janji itu. Aku sudah tahu, jika kau tidak akan mampu melaksanakan janjimu! Namun bukan itu masalahnya aku mengajak mu ke tempatku !" kata Ratu Pualam Putih, perlahan.

Mendengar keterangan Ratu Pualam Putih, Aji segera mengalihkan pandangannya pada gadis cantik di hadapannya. Tapi sebelum dia sempat bertanya....

"Kita tak bisa bicara di sini. Lihat! Beberapa orang dari tadi terus mengawasi mu ," kata Ratu Pua-

lam Putih mendahului, seraya memandang ke sekeliling.

Pendekar Mata Keranjang 108 ikut-ikutan memandang ke sekeliling. Beberapa orang memang tampak terus mengawasinya. Malah mereka memandang dengan tawa ditahan-tahan.

Aji semakin tak mengerti ketika saat itu tibatiba saja Ratu Pualam Putih mengalihkan pandangan jauh-jauh dari tubuhnya. Wajahnya tampak disembunyikan.

"Aneh! Apa yang Ratu lihat hingga bersikap demikian. Dan juga orang-orang itu memandangku sepertinya mengejek menertawakan ku. Ada apa ini?"

Setelah menebar pandangan ke sekeliling, Pendekar Mata Keranjang 108 menghujamkan pandangannya pada Ratu Pualam Putih.

"Ratu! Ada apa sebenarnya...?!" Yang diajak bicara tidak menjawab. Malah wajahnya dipalingkan dengan bahu terguncang. Merasa jengkel, Aji segera melangkah mendekati seseorang yang sedari tadi dilihatnya cengar-cengir.

Melihat Aji melangkah mendekati, beberapa orang di situ tampak tambah tertawa tertahan-tahan. Dan ini membuat Aji semakin jengkel.

Dengan sekali berkelebat, Pendekar Mata Keranjang 108 tahu-tahu berdiri di depan seseorang. Baju orang itu serta-merta ditariknya, hingga terangkat.

"Dengar! Jika tak ingin kepalamu copot, katakan apa yang membuatmu tertawa seperti menghina!" dengus Aji dengan suara agak dikeraskan. Sebenarnya, Pendekar Mata Keranjang 108 berbuat demikian hanya menakut-nakuti agar orang ini mau bicara.

Dan orang yang diancam ciut juga nyalinya. Namun, dia sepertinya tak bisa segera mengutarakan apa yang ada di tenggorokan. Hingga dia hanya bisa mengarahkan telunjuk ke bawah, memberi isyarat.

Mata Aji terbeliak ke bawah. Namun dia tak menemukan yang membuatnya lucu.

"He! Kau jangan main-main! Katakan saja, tak usah main tunjuk-tunjuk segala!" bentak Aji dengan mata sengaja dipelototkan.

"Anu.... Anu Pendekar...!" kata orang yang ditanya tersendat. "Ngg.... Kelereng milik Pendekar. "

Sebelum orang ini meneruskan kata-katanya, Pendekar Mata Keranjang 108 segera menurunkan tangannya dari bajunya. Lalu dengan perlahan-lahan matanya melirik ke bawah.

Sekonyong-konyong wajah Pendekar Mata Keranjang 108 bagai terbakar. Ternyata pakaian bagian selangkangannya robek lebar, akibat sambaran tangan Sunti. Sehingga, membuat dua kelereng yang menggandul miliknya terlihat jelas.

"Jangkrik! Sial!" maki Pendekar Mata Keranjang 108, langsung cepat berkelebat sambil menutupi burung dan kelerengnya.

Karena Ratu Pualam Putih sudah mendahului, Pendekar Mata Keranjang 108 pun lantas menyusul dari belakang dengan langkah lebar-lebar.

Sementara beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu makin tertawa tertahan-tahan. Dan tawa mereka baru meledak, ketika Pendekar Mata Keranjang 108 sudah tidak terlihat lagi. 

SELESAI