Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 05 : Ratu Petaka Hijau

 
Eps 05 : Ratu Petaka Hijau


Matahari baru saja lepas dari titik tengahnya. Namun karena hujan begitu lebat dengan awan hitam menutupi angkasa, membuat suasana di puncak Gunung Wilangkor ini ditikam kegelapan. Sesekali kilat menjilat angkasa, ditingkahi suara guruh yang menggelegar keras seperti hendak mengguncang bumi. Ketika kilat sekali lagi menjilat, suasana terang-benderang menerangi bukit ini. Dan pada saat yang sekejap itu, tampak dua sosok tubuh manusia berdiri tegak yang sepertinya tidak mempedulikan suasana seperti ini. Pandangan mata masing-masing mengarah pada sebuah bangunan megah di puncak bukit ini yang pintu satu-satunya tampak tertutup.

Dua sosok ini ternyata dua orang perempuan muda yang sama-sama berumur kira-kira delapan belas tahun. Wajah mereka cantik jelita dan hampir mirip satu sama lain. Dengan pakaian hijau-hijau tipis mereka tampak menarik. Apalagi pada bagian bawah pakaian terlihat pendek, hingga paha keduanya yang berkulit mulus terlihat jelas. Sementara pakaian bagian atas dibuat demikian ketat, sehingga lekukan dada masing-masing yang membusung menantang dengan pinggang ramping tampak begitu menggoda mata.

Belum sempat kedua gadis itu bergerak mendekat....

Teng! Teng! Mendadak dari arah bangunan megah di depan kedua gadis kembar ini terdengar bunyi lonceng berdentang dentang. Mula-mula perlahan, namun makin lama makin keras dan bertalu-talu. Begitu kerasnya bunyi lonceng membuat telinga mereka terasa berdengung. Bahkan dentingan lonceng itu seakan menelan gelegar halilintar yang menyalak!

Bersamaan dengan itu, mendadak dari dalam bangunan melesat dua larik asap berwarna biru, langsung meluruk ke arah dua sosok gadis kembar yang masih berdiri terperangah.

Dan satu tombak lagi asap berwarna biru menghantam, dua gadis berbaju hijau itu segera menentangkan kedua kaki. Sehingga pakaian bawah mereka tertarik sampai pangkal paha. Tangan kanan yang mengepal cepat diangkat di atas kepala, lalu diputar-putar. Sementara tangan kiri mereka terbuka dan ditarik sejajar dada.

Dari tangan mereka yang berputar-putar di atas kepala, tiba-tiba melesat asap berwarna hijau bergulung-gulung dan berpusaran. Saat itu juga, asap biru seakan tertahan, tak bisa menembus pusaran asap hijau.

"Hiaaa...!"

Diiringi teriakan menggelegar, tangan kiri masing-masing gadis ini menyentak ke depan.

Glarrr!

Terdengar bunyi gelegar dahsyat tatkala tangan masing-masing gadis ini menyentak.

"He... he... he...!" Belum juga gema gelegar tadi lenyap, terdengar kekehan tawa panjang. Saat itu juga kedua gadis berbaju hijau serentak menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan mata tak berkedip ke arah pintu bangunan yang kini telah terbuka!

Belum sirna kekehan tawa, dari dalam bangunan melesat sebuah kursi berwarna putih yang berdenting-denting. Dan di depan bangunan itu kursi putih melayang turun, tepat di depan dua gadis berbaju hijau.

"Guru!" seru kedua gadis kembar ini serentak, langsung menjura hormat.

Ternyata, di atas kursi putih duduk seorang laki-laki yang sekujur kulit tubuhnya telah mengeriput. Dapat diduga kalau laki-laki ini telah berusia lanjut. Pakaiannya hitam dari bulu kambing. Rambutnya telah memutih dan panjang. Bentuk tubuhnya tirus seperti tikus, kedua pipinya amat cekung, sehingga tulangnya tampak bertonjolan. Di lehernya yang agak miring, melingkar seutas benang yang mengikat sebuah lonceng besar yang menggandul di depan dada. Setiap lakilaki ini bergerak, terdengar berdenting. Dan bila melihat matanya yang tak pernah berkedip, kuat dugaan kalau laki-laki ini buta.

Di hadapan kedua gadis ini, laki-laki di atas kursi putih yang dipanggil guru menengadahkan kepalanya ke langit. Terdengar dentingan lonceng begitu kepalanya bergerak.

"He... he... he...! Dua belas tahun ku didik, ternyata kalian tak mengecewakan! Berarti saatnya kini telah tiba bagi kita untuk mengibarkan bendera!" kata laki-laki tua itu yang diawali dengan kekehan panjang. "Hari ini adalah hari kebangkitan! Kebangkitan Partai Gentapati! Kalian Pusparani dan Puspasari, sekarang berangkatlah! Hancurkan satu persatu partai silat! Buat satu persatu tokoh silat bertekuk lutut! Hingga pada saatnya, tak satu pun partai silat berdiri. Dan, tak segelintir tokoh pun berani unjuk gigi! Kalian berdua kuberi gelar Ratu Petaka Hijau!"

"Segala perintah Guru akan kami laksanakan!" sahut Pusparani dan Puspasari yang digelari Ratu Petaka Hijau, hampir berbarengan.

"Hm..., bagus! Lakukan tugas kalian dengan baik!"

"Guru! Ada yang hendak kami utarakan...," pinta Pusparani.

"Katakanlah...!"

"Berapa lama waktu yang Guru berikan pada kami untuk menyelesaikan tugas ini...?"

"Enam purnama yang akan datang, kalian berdua harus sudah berada di sini lagi!"

"Jika demikian, kami berdua sekarang pamit berangkat!"

Ratu Petaka Hijau sama-sama menjura hormat.

"Sebentar...," tahan laki-laki di atas kursi putih sambil tersenyum.

Walaupun kedua matanya buta, namun laki-laki tua ini seakan-akan berusaha memandang Pusparani dan Puspasari berganti-ganti. Dan dia telah paham betul dengan kedua gadis itu, lewat nada suaranya.

"Kalian tahu, setengah purnama tak jumpa kalian, aku sangat kesepian.... Ngg... Mendekatlah...!" desah laki-laki berkalung lonceng masih dengan senyum.

Pusparani dan Puspasari saling berpandangan. Kemudian dengan langkah berat, mereka berdua maju mendekat.

"Ha... ha... ha...!"

Mendadak tawa laki-laki berkalung lonceng meledak. Lantas kedua tangannya langsung meraup tubuh Pusparani dan Puspasari. Sehingga, kedua gadis ini berada dekat sekali di samping kanan dan kirinya.

Wajah kedua gadis kembar ini nampak merah padam. Sepasang mata mereka berkilat menyala. Namun, keduanya tak bisa mengelak. Bahkan demikian pasrah, saat tangan laki-laki berkalung lonceng mulai nakal bergerak-gerak mengelus pinggul mereka. Malah, tatkala tangan lakilaki itu merambat ke atas, kedua gadis kembar ini tak hendak berontak. Tetap diam. Mereka samasama memejamkan mata, sambil menggigit bibir. Kala tangan itu terus bergerak liar, mereka mengerang halus. Dan ini membuat tangan laki-laki itu tambah meliuk-liuk merambah sekujur tubuh gadis di samping kiri dan kanannya.

Kini tangan laki-laki berkalung lonceng mulai menarik pakaian bawah Pusparani. Gadis itu cepat tersadar, dan segera menahan gerakan tangan gurunya ini.

"Guru.... Sebaiknya bukan di sini tempatnya," desah Pusparani, lirih.

"Ah...!"

Laki-laki berkalung lonceng itu seakan terkejut. Gerakan kedua tangannya segera dihentikan. Senyumnya masih menyungging, sementara napasnya menggebu dan sedikit tersengal. Lantas dengan gerakan tak terlihat, tangannya cepat menggamit tubuh Pusparani dan Puspasari

Serentak kedua gadis ini rebah di pangkuannya.

Saat itu juga kaki laki-laki berkalung lonceng menjejak tanah. Maka kursi putih yang didudukinya bagai terhempas angin. Dan perlahan kursi itu bergerak memutar, lalu melayang dengan tubuh Pusparani dan Puspasari tetap berada di pangkuan laki-laki tua itu. Dan mereka pun masuk ke dalam bangunan itu.

***

"Rani! Kapan kita bisa menghentikan semua ini...? Aku sebenarnya sudah muak dengan cara begini!" kata Puspasari kala mereka telah menuruni Gunung Wilangkor.

"Kita harus bersabar, Sari! Kita harus menyelesaikan tugas ini dahulu. Setelah semuanya beres dan partai tumbuh besar, saat itulah menghantam guru cabul yang bergelar Gentapati itu! Saat ini, kita masih perlu tenaganya!" sahut Pusparani menahan gejolak hati Puspasari, saudara kembarnya.

Sejenak suasana jadi hening ketika belum ada yang membuka suara lagi. Mereka terus melangkah, menuruni bukit ini.

"Tapi di balik ini semua, kita masih bersyukur...," sambung Pusparani.

"Bersyukur...? Apa yang kita syukuri...?!" tanya Puspasari bernada kesal.

"Seandainya kejantanan Gentapati hidup, aku sendiri tak bisa membayangkan. Mungkin aku telah menyingkir jauh-jauh sebelumnya!"

"Hm..., maksudmu? Jika..., ngg, anunya masih bekerja...?" tanya Puspasari sambil tersenyum kecil.

Pusparani tidak menjawab. Ia hanya ikutikutan tersenyum dengan mata sedikit mendelik.

"Ya! Hanya itulah keberuntungan kita!" sambung Puspasari.

***

Dua penunggang kuda berpacu cepat dengan sesekali melepaskan lecutan-lecutan kecil, agar kuda tunggangannya itu berlari semakin cepat. Berkuda di sebelah kanan adalah seorang pemuda berusia kira-kira dua puluh tahun. Sementara di sebelahnya adalah seorang gadis muda berusia tujuh belas tahun.

Pemuda berpakaian putih ini cukup tampan. Kulitnya kuning langsat. Tubuhnya kekar. Sementara gadis di sebelahnya berpakaian jingga. Wajahnya cantik dengan kulitnya putih. Ditingkahi bentuk tubuh yang mempesona, membuat gadis ini makin menarik.

"Kita harus memacu lebih cepat lagi, Kakang Kuswara. Agar kita tak terlambat menghadiri peresmian itu!" teriak gadis itu sambil melirik ke arah pemuda yang dipanggil Kuswara tanpa memperlambat lari kuda tunggangannya.

"Benar, Arum! Namun kau tak usah khawatir. Lembah Gerabah Sewu telah dekat dari sini! Lagi pula, peresmian berdirinya Partai Merpati Putih masih besok pagi...," sambut Kuswara, juga berteriak untuk mengalahkan suara deru angin dan suara derap kaki kuda.

"Tapi kalau kita datang lebih awal, kukira itu lebih baik. Kita masih ada waktu untuk menemui Ketua Partai Merpati Putih. Dan kita bisa menyatakan bahwa guru kita. Mahesa Galuh berhalangan hadir!" balas gadis bernama Arum ini.

Kuswara hanya mengangguk. Namun baru saja akan bicara lagi mendadak di depan mereka berkelebat dua buah bayangan dan langsung berdiri menghadang. Seketika, Kuswara dan Arum menarik tali kekang kuda masing-masing.

Kedua penunggang kuda yang nampaknya saudara seperguruan itu sama-sama tersentak. Mata mereka tak berkedip memandang pada dua bayangan yang ternyata dua orang gadis muda berpakaian hijau tipis. "Mendengar percakapan kalian tadi, kalian tentunya murid manusia yang bernama Mahesa Galuh! Benar...?" sapa salah seorang gadis penghadang.

"Mereka berarti telah menguntit perjalanan kita sejak tadi! Kita harus hati-hati, Arum. Ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi. Itu berarti kepandaian mereka juga sangat tinggi. Buktinya lari kuda kita bisa tersusul!" bisik Kuswara.

Gadis berbaju jingga ini hanya mengangguk perlahan. Sementara, sepasang matanya tak beranjak mengawasi dua gadis berbaju hijau di depannya yang tak lain Pusparani dan Puspasari.

"Benar! Kalian siapa...? Dan, apa maksud kalian menghadang jalan kami?" tanya Kuswara. Sementara, matanya berputar mengawasi gadis di depannya.

"Hm.... Kamilah yang berjuluk Ratu Petaka Hijau!"

"Ratu Petaka Hijau...?!" ulang Kuswara dengan suara hampir tercekat di tenggorokan.

Kelihatannya, pemuda ini benar-benar terkejut mendengar julukan kedua gadis kembar itu. Betapa tidak? Setelah dua purnama ini, Ratu Petaka Hijau telah menggegerkan dunia persilatan dengan sepak terjangnya yang mengiriskan. Kedua murid Gentapati dari Gunung Wilangkor ini telah menunjukkan taringnya dengan membantai tokoh-tokoh berkepandaian tinggi, serta memusnahkan beberapa perguruan silat. Begitulah yang terjadi di rimba persilatan, dan itu sampai juga di telinga Kuswara dan Arum.

Ketika melihat Kuswara sedikit terkejut dan Arum melotot, Pusparani makin tergelak.

"Sebenarnya aku ingin menemui guru kalian. Tapi karena bertemu muridnya dulu, tak apalah...," kata Pusparani masih di tengah-tengah gelak tawanya.

"Apa maksud kailan sebenarnya...?!" bentak Arum, mulai kesal.

"Mengubur nama guru kalian. Sekaligus kalian berdua!" tandas Pusparani.

"Kakang Kuswara! Selentingan tentang dua gadis binal ini rupanya benar! Apakah tidak sebaiknya jika mereka mendapat ganjaran setimpal...?!" desis Arum, dengan dada bergemuruh.

Pusparani dan Puspasari merah padam. Rahang mereka terangkat dengan mata menghujam tajam pada Arum.

"Perempuan sok suci! Kaulah yang patut dihajar!" bentak Pusparani.

Begitu kata-katanya habis, Pusparani langsung menyentakkan kedua tangannya.

Wesss...!

Seketika serangkum angin deras meluncur ke arah Arum. Namun Arum tak kalah sigap. Setelah menepak kudanya agar berlari dari tempat itu, tubuhnya langsung melenting dengan gerakan indah. Dan baru saja tubuhnya akan membuat gerakan berputar di udara, Pusparani telah kembali menyentakkan kedua tangannya.

Wesss...! Angin menderu kembali menggebrak, membuat Arum tercengang. Wajahnya berubah seketika. Tapi satu depa deru angin menghantam tubuhnya yang masih di udara, Kuswara cepat mengirimkan pukulan jarak jauh untuk memapak serangan Pusparani.

Blem...!

Serangan Pusparani kontan ambyar sebelum sempat menghantam Arum. Namun baru saja Kuswara bersiap kembali, Puspasari telah berkelebat. Dan tahu-tahu tangannya telah menukik tajam ke arah kepala.

Dengan menindih rasa tercekat, Kuswara cepat merundukkan kepalanya. Tetapi tanpa diduga sama sekali, gadis itu menyentakkan kakinya. Kuswara makin terkejut. Tak ada waktu lagi untuk berkelit, hingga...

Desss! "Aaakh...!"

Tubuh pemuda itu langsung terpental dari kudanya disertai keluhan tertahan.

Sementara itu Pusparani sudah melesat ke arah Arum yang baru saja mendarat.

"Sari! Kau urus laki-laki itu. Aku akan mempercepat perempuan ini masuk liang kubur!" ujar Pusparani, berteriak.

Di hadapan Arum, Pusparani langsung menghantamkan kakinya ke arah pinggang. Sedangkan tangan kanannya meluruk ke arah leher.

"Hiaaah...!"

Dengan bentakan nyaring, Arum kembali menghindar dengan melesatkan diri ke atas. Namun saat itulah, Pusparani menghantamkan tangannya ke atas. Gerakannya benar-benar tak terduga, sehingga Arum terlambat berkelit. Akibatnya...

Desss! "Aaakh...!"

Terdengar pekikan tertahan begitu hantaman Pusparani menemui sasaran. Tubuh Arum tampak melayang dan jatuh di atas tanah, tak jauh dari tempat Kuswara yang baru saja bangkit. "Arum! Cepat menyingkir dari sini. Biar

aku yang menghadapi gadis-gadis iblis ini!" seru Kuswara, menyadari keadaan yang tak memungkinkan.

Kuswara sadar, bahwa meski bagaimanapun usaha mereka berdua, tak mungkin menghadapi dua gadis yang memiliki kepandaian beberapa tingkat di atas mereka.

"Kakang Kuswara! Lari dari pertarungan adalah tindakan pengecut, meski aku tahu kalau tak mungkin mengalahkan mereka!" sahut Arum seraya bangkit.

Arum rupanya telah pula menyadari, apa yang bakal menimpa dirinya. Namun hatinya telah bulat. Bahkan sebelum Kuswara berbuat sesuatu, tubuhnya telah menyongsong maju ke arah Pusparani.

Belum lima langkah Arum maju, Pusparani tersenyum. Lalu....

"Chiaaa !" Begitu terdengar teriakan dari mulutnya, tubuh Pusparani berkelebat. Begitu cepat gerakannya, sehingga berubah menjadi bayangbayang hijau.

Sementara Arum jadi kebingungan untuk memastikan di mana beradanya lawan. Sehingga untuk beberapa saat ia hanya diam menunggu dengan sepasang mata nyalang berputar. Sedangkan kedua tangannya telah menyilang di depan dada.

Wesss...!

Saat itulah tiba-tiba angin deras menghantam dari arah samping. Arum cepat menghindar dengan miringkan tubuhnya. Tapi di kejap lain, dari arah belakang muncul dua kaki yang menerjang deras.

Digkh...! "Aaakh...!"

Tubuh Arum terbanting ke depan disertai lengkingan keras menyayat, ketika kaki Pusparani mendarat telak di punggungnya.

"Arum!" pekik Kuswara hendak mendatangi Namun baru saja pemuda itu bergerak, da-

ri arah depan Pusparani telah berkelebat dan menghadang.

"Kalian ternyata gadis-gadis biadab!" dengus Kuswara. Rahangnya mengembung. Matanya merah berkilat menahan amarah.

"Peduli apa katamu! Yang pasti, kalian hari ini harus terkubur menyusul beberapa tokoh yang mengalami nasib naas seperti kalian!" desis Puspasari sambil kacak pinggang. Kata-katanya jelas sarat dengan ancaman.

Benar saja. Begitu kata-katanya selesai, Puspasari cepat mendorongkan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya terbuka di depan dada.

Wesss...!

Angin deras berhawa panas segera melesat ke arah Kuswara. Namun pemuda itu cepat pula menyambut dengan menghentakkan kedua tangannya.

Wuttt! Blar...!

Terdengar suara menggelegar saat kedua pukulan jarak jauh yang sama-sama berisi tenaga dalam tinggi itu bertemu di tengah-tengah.

Tapi bersamaan dengan itu, tangan kiri Puspasari bergerak menyentak ke depan. Dan kini Kuswara tidak berdaya lagi berkelit. Akibatnya...

Desss...! "Aaakh...!"

Tanpa ampun lagi sentakan tangan yang berisi tenaga dalam tinggi menghantam tubuh Kuswara. Pemuda itu kontan terpelanting ke belakang. Begitu tubuhnya menyuruk tanah, darah segar muntah dari mulutnya. Sebentar tangannya melambai pada Arum. Namun tangan itu lantas lunglai, seiring hembusan napasnya.

"Kakang...!" panggil Arum perlahan seraya bergerak bangkit.

Tapi saat itu juga, Pusparani telah meloncat ke arah Arum dengan kaki kanan langsung menghentak ke arah leher.

Diegkh! "Aaa...!"

Didahului pekikan dahsyat, Arum terbanting kembali menyuruk tanah. Sejenak tubuhnya bergerak-gerak, namun sesaat kemudian diam kaku!

Pusparani dan Puspasari saling berpandangan, lalu sama angkat bahu.

"Mahesa Galuh kita tunda dahulu. Sebaiknya sekarang kita meneruskan ke Lembah Gerabah Sewu. Di sana akan diresmikan berdirinya Partai Merpati Putih. Sebelum menjadi perintang, sebaiknya kita hancurkan dahulu!" ajak Pusparani, seraya berbalik dan berkelebat ke arah Lembah Gerabah Sewu.

Puspasari masih tampak tegak. Ditatapnya tubuh Kuswara dan Arum. Mereka yakin mereka tewas, Puspasari segera berkelebat ke arah berkelebatnya Pusparani.

2

Lembah Gerabah Sewu hari ini tampak lain dari biasanya. Di depan bangunan besar yang di depannya terpampang tulisan Partai Merpati Putih. Sebuah panggung besar tampak berdiri, dikelilingi para tamu dari golongan kaum persilatan yang duduk di kursi.

Hari ini adalah hari penting dalam catatan dunia persilatan. Karena saat ini di Lembah Gerabah Sewu akan diresmikan sebuah partai silat bernama Merpati Putih.

Peresmian partai ini banyak mendapat perhatian dari tokoh-tokoh persilatan karena yang akan jadi pucuk kendali adalah seorang tokoh yang sangat disegani. Di dalam rimba persilatan, gelarnya Pendekar Bayu Raksa. Digelari demikian, karena setiap gerakan dalam ilmunya bertumpu pada tenaga angin yang telah dilapisi tenaga dalam. Pendekar Bayu Raksa, yang bernama asli Sindu Kerapan, dikenal sebagai tokoh silat beraliran putih.

Tatkala terdengar tambur ditabuh bertalutalu, semua mata yang hadir memandang ke arah bangunan tempat tinggal sekaligus tempat berlatih para murid Pendekar Bayu Raksa.

Dari dalam bangunan, seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun muncul diiringi beberapa pemuda berpakaian serba putih yang membawa bendera berwarna hijau, bergambar seekor burung merpati warna putih. Pada baju bagian dada mereka juga bergambar burung merpati putih. Melihat ciri-cirinya, jelas kalau mereka murid-murid Partai Merpati Putih yang tengah mengiringi gurunya yang berjuluk Pendekar Bayu Raksa.

Dengan langkah ringan, mereka menuju ke atas panggung. Sejenak Pendekar Bayu Raksa menjura ke seluruh yang hadir sambil memperkenalkan diri "Saudara-saudara sekalian yang terhormat, aku selaku ketua partai dan atas nama seluruh anggota partai mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran saudara-saudara sekalian yang meluangkan sedikit waktu untuk turut menyaksikan peresmian partai kami!" kata Pendekar Bayu Raksa, memberi sambutan.

Seraya memberi kata sambutan, sepasang mata Pendekar Bayu Raksa berputar ke arah tamu yang hadir.

"Kami sengaja memilih nama Merpati Putih untuk partai kami, dengan harapan agar seluruh anggota partai lebih menyadari bahwa yang dibutuhkan dalam kancah persilatan adalah perdamaian sebagaimana dilambangkan oleh burung merpati. Namun di sisi lain, sebagaimana manusia pada umumnya, kami juga melakukan beberapa kesalahan. Untuk itulah dengan rendah hati, kami mengharapkan teguran atau nasihat jika kami melakukan tindakan-tindakan ceroboh!"

Setelah mengakhiri kata sambutannya, Pendekar Bayu Raksa kembali menjura pada segenap tamu. Lalu tubuhnya berputar untuk turun panggung. Tapi baru saja akan melangkah turun, seseorang tampak berdiri dari deretan kursi tamu sebelah kanan panggung.

"Bayu Raksa! Kedamaian memang mutlak ditegakkan. Tapi apakah tingkat kepandaianmu mampu mengemban tugas berat itu? Lagi pula, bisakah kedamaian itu tercapai jika segala permasalahan belum dituntaskan...?!" tanya seorang laki-laki berjubah hitam yang baru saja berdiri. Nadanya terdengar menyindir.

Pendekar Bayu Raksa mengurungkan niat untuk turun. Seketika dia berbalik, dan memandang pada laki-laki berjubah hitam. Sementara semua mata yang hadir berpaling ke sebelah kanan, memandang laki-laki gundul berjubah hitam.

Tubuh laki-laki gundul ini terlihat tegap, dengan otot-otot yang kekar. Raut wajahnya bulat. Sepasang matanya melotot. Keramahan tak melintas sedikit pun di wajahnya. Di dalam rimba persilatan, dia berjuluk Jubah Setan dan telah lama malang melintang dalam dunia persilatan. Ketinggian ilmu silatnya sudah tak diragukan lagi. Bahkan banyak orang yang segan berurusan dengannya, karena tabiatnya sangat kejam.

Pendekar Bayu Raksa diam-diam sadar kalau ucapan Jubah Setan merupakan sebuah pancingan untuk membuat suasana panas. Di lain sisi, Jubah Setan tampaknya menganggap remeh tingkat kepandaian Pendekar Bayu Raksa.

"Jubah Setan! Aku memang tiada artinya jika dibandingkan tokoh-tokoh silat yang hadir di sini. Namun bukan tingkat kepandaian ilmu yang menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk ikut serta menegakkan perdamaian...! Bukankah begitu?" sahut Pendekar Bayu Raksa, seperti tak ingin melayani pancingan itu.

"Ha... ha... ha...!"

Mendengar kata-kata Pendekar Bayu Raksa, Jubah Setan tertawa tergelak.

"Bayu Raksa! Kau rupanya lupa, ini adalah dunia persilatan yang segalanya diukur oleh tingkat ilmu. Bukan dengan mulut! Bagaimana kau akan ikut menegakkan perdamaian, jika ilmumu cekak?" ejek Jubah Setan.

Bagaimanapun kesabaran seseorang, mendengar kata-kata Jubah Setan mau tak mau pasti akan tersinggung. Apalagi, kata-kata itu menjurus pada pribadi. Namun baru saja Pendekar Bayu Raksa hendak menjawab....

"Semua yang hadir di sini tentunya tidak untuk mendengarkan debat kusir yang tiada habisnya. Jika ingin bukti, kenapa tidak langsung saja dilakukan pengujian...?" teriak seseorang dari arah utara.

"Betul...! Betul...!" Terdengar suara lain dari para hadirin.

"Dan sudah selayaknya jika yang menguji adalah orang yang pertama kali tak mempercayai kepemimpinan Pendekar Bayu Raksa!"

Jubah Setan yang merasa kata-kata itu ditujukan padanya, serentak melangkah. Lalu dengan gerakan ringan sekali tubuhnya melesat ke atas panggung.

"Bayu Raksa! Kau tentunya mendengar kata para yang hadir. Nah! Sekarang perlihatkan pada mereka, bahwa kau bukan hanya ingin menegakkan perdamaian dengan mulut!" tantang Jubah Setan seraya menyapu pandangan pada para tamu. Mendengar kata-kata Jubah Setan, para hadirin bersorak-sorak. Sementara murid-murid Pendekar Bayu Raksa terlihat geram.

Mendapati gelagat, Pendekar Bayu Raksa segera memandang ke seluruh anak didiknya, lalu mengangguk.

Melihat isyarat itu seluruh anak didik Pendekar Bayu Raksa langsung turun panggung satu persatu. Maka, kini di atas panggung tinggal Jubah Setan dan Pendekar Bayu Raksa saja.

"Jubah Setan! Sebenarnya hal ini adalah di luar acara yang telah disusun. Namun karena kau memaksa, ada baiknya kita memang saling memberi pelajaran!" sambut Pendekar Bayu Raksa.

Jubah Setan memandang dengan dahi berkernyit.

"Ha... ha... ha...! Bayu Raksa!" panggil Jubah Setan di tengah ledakan tawanya. "Sebagai calon pemimpin sebuah perguruan silat, tentunya kau selalu siap di segala suasana, tanpa terikat pada sebuah acara. Kalau tidak, lebih baik kau turun dari panggung dan bubarkan partaimu!"

Paras Pendekar Bayu Raksa kontan merah padam. Namun dengan menekan hawa marah, Pendekar Bayu Raksa tetap tersenyum dingin.

"Jubah Setan! Kuharap jangan terlalu sembrono berkata-kata! Silakan saja mulai!"

Jubah Setan menyeringai, seperti mengejek. Sementara itu suitan dari bawah panggung makin membuatnya pongah. "Baik! Terimalah ujian pertama mu, Bayu Raksa!" desis Jubah Setan.

Saat itu juga laki-laki gundul ini berkelebat. Tubuhnya tiba-tiba lenyap dan berubah menjadi bayangan hitam. Di lain kejap terdengar deru angin bersiuran bersamaan dengan berkibarnya jubah hitamnya.

Sementara Pendekar Bayu Raksa masih tenang. Bahkan tetap tegak tak bergeming. Baru tatkala sebuah tangan menyambar ke arah kepala, dia cepat merunduk sedikit. Dan dengan cepat kaki kanannya menyapu ke arah kanan.

Wuttt...!

Jubah Setan sedikit terkejut. Namun cepat pula tubuhnya melesat ke atas. Di udara tubuhnya berputar sekali, lalu mendadak sepasang kakinya telah bergerak lurus menghantam dada Ketua Partai Merpati Putih itu.

Pendekar Bayu Raksa sadar, jika kaki lawannya dihantam dengan tangan, tubuhnya akan terpelanting sendiri. Berpikir begitu, cepat dibuatnya gerakan salto.

Tepat ketika sepasang kaki Jubah Setan datang menghantam, kaki Pendekar Bayu Raksa memapak.

Plak!

Benturan keras tak dapat dihindari lagi. Tubuh Jubah Setan yang melancarkan serangan dari udara, membanting ke samping. Sementara Pendekar Bayu Raksa hanya tergontai-gontai sedikit ke belakang. Disertai seringai kasar, Jubah Setan bangkit. Kakinya serasa nyeri sementara wajahnya kelam. Dengan dengusan keras ditariknya jubah hitam ke belakang. Dan sekejap itu juga, dikibaskannya ke depan.

Wesss...!

Seketika serangkum angin menderu dahsyat menggebrak ke arah Pendekar Bayu Raksa.

Beberapa jengkal lagi angin itu menghantam, Pendekar Bayu Raksa menghentakkan kedua tangannya.

Wurrr...!

Segulung gelombang angin saat itu juga melesat dari telapak tangan Pendekar Bayu Raksa memapak angin dari jubah hitam si Jubah Setan. Dan...

Blarrr...!

Terdengar ledakan cukup dahsyat, membuat tempat ini bergetar cukup hebat. Tampak tubuh Jubah Setan terdorong ke belakang hingga empat langkah. Sementara Pendekar Bayu Raksa tegak tak bergeming.

Sorak-sorai hadirin makin menggema, membuat muka Jubah Setan makin memerah. Matanya yang melotot tampak berkilat-kilat, menyengat tajam ke arah Pendekar Bayu Raksa.

"Huh...!"

Dengan dengusan tajam, Jubah Setan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah hitamnya. Kini semua mata tertuju pada laki-laki gundul yang rupanya akan mengeluarkan pukulan andalan.

Melihat hal ini, Pendekar Bayu Raksa segera menakupkan kedua tangannya ke depan dada dengan mulut berkemik. Sementara matanya sedikit terpejam.

Sedangkan mata seluruh yang hadir kini membesar, seakan tak percaya saat Jubah Setan mengeluarkan tangannya kembali. Tangan itu telah berubah menjadi hitam legam berkilat-kilat. Dan tak menunggu lama, laki-laki gundul itu segera menghentakkan kedua tangannya ke arah Pendekar Bayu Raksa.

Werrr...!

Sinar hitam berhawa panas disertai deru angin tajam menyambar cepat. Pada saat yang sama, Pendekar Bayu Raksa segera pula mendorongkan kedua tangannya.

Wuttt...!

Glarrr...!

Panggung besar kembali bergetar hebat ketika dua pukulan bentrok di udara. Jubah Setan tampak terjengkang dan terkapar di atas panggung. Sementara Pendekar Bayu Raksa bergulingan hingga hampir jatuh dari atas panggung.

Dengan meringis menahan nyeri di dada, Pendekar Bayu Raksa cepat bangkit. Lalu kakinya melangkah ke arah Jubah Setan yang juga mulai bergerak bangkit.

"Jubah Setan! Kukira hal ini cukup sampai di sini saja! Silakan kembali ke tempatmu!" ujar Pendekar Bayu Raksa, dingin. Seraya mengusap darah yang mengalir dari sudut bibir, Jubah Setan menggerung keras. Tanpa menghiraukan kata-kata Pendekar Bayu Raksa kedua tangannya diangkat ke atas sejajar kepala.

"Bayu Raksa! Jika mampu menahan pukulan 'Setan Kembar'-ku, kau layak memimpin sebuah perguruan silat!" desis Jubah Setan.

Mendengar Jubah Setan menyebut pukulannya, Pendekar Bayu Raksa merasa jika Jubah Setan telah lebih jauh melangkah. Dia tahu, lakilaki gundul ini mengajak adu jiwa.

"Jubah Setan! Ujian ini tak bertujuan untuk mencelakai. Jadi kuharap kau menyadarinya!" ujar Pendekar Bayu Raksa lagi, agak lembut

"Ha... ha... ha!"

Jubah Setan tertawa bergelak-gelak mendengar kata-kata Pendekar Bayu Raksa. Namun belum usai gerakan tawanya....

"Heh ?!"

***

Semua orang yang ada di sekitar panggung pertarungan terkejut bukan main ketika dua bayangan hijau mendadak berkelebat, dan tahutahu telah berdiri di atas panggung. Yang satu berhadapan dengan Jubah Setan, sementara satunya langsung berhadapan dengan Pendekar Bayu Raksa.

Seluruh mata yang hadir kontan mendelik tak berkedip. Bahkan sebagian ada yang berdecak kagum dengan jakun turun naik dan napas memburu kencang. Karena ternyata yang kini berada di atas panggung adalah dua orang gadis cantik berpakaian hijau-hijau tipis membangkitkan syahwat.

Selagi seluruh perhatian terarah pada dua gadis yang baru datang, salah seorang gadis yang berhadapan dengan Jubah Setan tiba-tiba berpaling pada tamu yang hadir.

"Kalian semua dengar! Kami akan mengampuni nyawa kalian semua, tapi dengan satu syarat!" teriak gadis itu.

Keheningan segera menyambut. Semua telinga dan mata kini tertuju pada gadis yang kini pandangannya menyapu seluruh yang hadir.

"Siapa sebenarnya dua gadis cantik itu...?" bisik salah seorang yang duduk di deretan paling depan pada orang di sebelahnya.

Yang diajak bicara menggeleng perlahan tanpa menoleh.

"Kalian semua harus berlutut dan mengangkat sumpah masuk partai yang akan kami dirikan!" lanjut gadis itu lagi.

Terdengar riuh rendah dari para yang ha-

dir.

"Siapa kalian sebenarnya...?!"

Kali ini Pendekar Bayu Raksa yang angkat

bicara sambil mengibaskan tangan kanannya, saat beberapa anak didiknya akan bergerak ke arah panggung. Dia mengisyaratkan agar muridmuridnya kembali ke tempat masing-masing.

Gadis berbaju hijau yang berada di depan Pendekar Bayu Raksa melangkah maju, menjajari gadis satunya yang tadi di depan Jubah Setan. Sejenak pandangan beredar ke sekeliling.

"Kami adalah Ratu Petaka Hijau! Enam purnama depan, kami akan meresmikan berdirinya Partai Lonceng Kematian! Dan menjadi keharusan bagi kalian semua untuk masuk menjadi anggota partai kami! Jika tidak, kalian akan tahu akibatnya!" teriak gadis itu, lantang.

"Ratu Petaka Hijau...?" seru beberapa hadirin dengan dahi berkernyit. Sementara mata mereka masih tak berkedip.

"Aku hampir tak percaya jika Ratu Petaka Hijau yang kabarnya telah menewaskan beberapa tokoh silat andal serta mengobrak-abrik beberapa perguruan silat, adalah dua orang gadis muda....

Hm.... Jika demikian, mereka tidak boleh dibuat remeh!" batin Pendekar Bayu Raksa.

Sementara, Jubah Setan tak menghiraukan semua kata-kata gadis di depannya. Dia seperti terlalu terkesima dengan penampilan gadis di depannya. Hingga tatkala semua hadirin bagai tersentak mendengar kata-kata salah satu gadis dari Ratu Petaka Hijau, Jubah Setan hanya tersenyum-senyum dengan mata melotot.

"Ratu Petaka Hijau!" sebut Pendekar Bayu Raksa dengan menahan rasa amarah. "Masuk menjadi anggota sebuah partai adalah tidak menjadi keharusan!" "Itu menurutmu! Menurut kami, adalah suatu keharusan. Jika ditawar, maka nyawa adalah imbalannya!" bentak salah seorang gadis berbaju hijau yang tak lain Pusparani dengan nada tinggi.

"Ah...!" sela Jubah Setan seolah terkejut. Namun bibirnya menyungging senyum. "Aku setuju saja masuk partai kalian, asal imbalannya salah satu dari kalian bisa bersenang-senang barang sejenak denganku!"

"Laki-laki bermulut kotor macam kau pantas disumbat!" teriak Pusparani, seraya mengalihkan pandangan pada Jubah Setan dengan mata menyengat.

"Disumbat? Oh! Boleh..., boleh saja asal dengan mulutmu. Ha... ha... ha...!"

Wajah Pusparani merah padam.

"Jubah Setan! Berlututlah! Dan, minta ampun atas kelancangan mulutmu!" dengus Pusparani sambil berkacak pinggang.

Jubah Setan meremehkan. Lantas kakinya maju beberapa tindak dengan sedikit merunduk, seakan hendak menuruti kata-kata Pusparani. Namun tatkala dekat, mendadak tangannya menjulur hendak menggapai tubuh Pusparani.

"Jahanam!" bentak Pusparani.

Gadis itu cepat berkelit ke samping, sehingga tangan Jubah Setan hanya menggapai tempat kosong. Bahkan dari arah samping Pusparani langsung menghentakkan kedua tangan melepaskan pukulan jarak jauh. Wesss...!

Saat itu juga serangkum angin menderu segera melesat membuat Jubah Setan sedikit terkejut. Namun laki-laki gundul itu cepat melenting ke atas menghindar seraya mengibaskan jubah hitamnya.

Wesss!

Kini angin kencang menukik lurus ke arah Pusparani. Namun gadis ini seakan tahu gelagat. Segera dipapaknya serangan itu dengan sentakan tangan kanan. Sementara, tangan kirinya menunggu.

Glarrr...!

Panggung besar itu berguncang saat kibasan jubah hitam Jubah Setan yang bertemu angin pukulan Pusparani, menimbulkan suara menggelegar.

Tubuh Jubah Setan tampak melayang makin tinggi. Dan saat itulah tiba-tiba tangan kiri Pusparani bergerak tepat menghujam ke atas.

Wuttt...!

Jubah Setan tercekat. Dicobanya untuk menghindar dengan membuat putaran di udara. Namun baru saja bergerak berputar, Pusparani kembali menghantamkan kedua tangannya.

Kali ini Jubah Setan tak bisa lagi berkelit.

Hingga....

Desss! "Aaakh !"

Tubuh Jubah Setan melayang turun dengan berjungkir balik. Tapi sebelum tubuhnya sempat jatuh menyentuh panggung, Pusparani yang telah mengepalkan tangan kanan cepat memutar-mutarkannya di atas kepala. Sementara tangan kiri diletakkan sejajar dada. Maka saat itu juga asap berwarna hijau segera bergulunggulung, membuat tubuh Jubah Setan mendadak berputar-putar di udara, mengikuti angin pusaran yang keluar dari tangan Pusparani.

"Hiaaat...!"

Dengan bentakan nyaring, Pusparani tibatiba menghentakkan tangan kirinya pada tubuh Jubah Setan.

Desss! "Aaa...!"

Terdengar jeritan dari mulut Jubah Setan begitu serangan Pusparani mendarat telak pada sasaran. Tubuh laki-laki gundul terlempar keluar dari panggung.

Brak!

Begitu mencium tanah, Jubah Setan coba merambat bangkit dan duduk. Namun baru saja dapat duduk, dari mulutnya keluar muntahan darah berwarna hitam. Bersamaan dengan itu, tubuhnya kembali ambruk dan tak bangkit lagi!

Mulut semua yang hadir langsung terkatup. Keheningan datang menyentak. Di suasana demikian, tiba-tiba Puspasari yang tadi berhadapan dengan Pendekar Bayu Raksa memutar tubuhnya, menghadap Pendekar Bayu Raksa.

"Nah, Bayu Raksa! Sekarang kesempatan untuk menentukan masa depanmu juga partaimu!" kata Puspasari dengan senyum sinis. Kakinya sengaja dipentang-kan, sehingga pakaian bawahnya tertarik ke atas. Dan ini membuat pahanya terlihat jelas hampir seluruhnya

"Kalian terlalu bermimpi jika memaksakan kehendakmu!" desis Pendekar Bayu Raksa, sedikit geram.

"Hm.... Jika demikian, kau berarti telah tahu akibatnya, bukan...?!" leceh Puspasari.

Pendekar Bayu Raksa tidak menjawab.

Sementara beberapa orang yang bernyali ciut segera berdiri hendak meninggalkan tempat. Namun gerakan mereka tertahan tatkala....

"Tak seorang pun bisa meninggalkan tempat ini, sebelum mengangkat sumpah!" teriak Pusparani, lantang.

Beberapa orang yang tadi hendak ngacir dengan tubuh gemetar segera kembali duduk, tanpa berani lagi memandang ke arah panggung.

"Baiklah, Bayu Raksa. Terimalah hari kematianmu!" desah Puspasari setelah menunggu lama, namun tak juga ada tanggapan.

Sehabis berkata, Puspasari segera mengibaskan tangannya ke arah kepala. Sementara kaki kanannya bergerak cepat ke arah selangkangan.

Pendekar Bayu Raksa cepat menyambut serangan dengan merundukkan kepala. Sementara tangan kanannya menghentak ke bawah.

Plak!

Terdengar benturan, tatkala kaki Puspasari terkibas tangan Pendekar Bayu Raksa.

Tubuh gadis itu terhuyung dua langkah ke belakang. Sungguh tak disangka jika kibasan tangan laki-laki itu mampu membuyarkan terjangan dahsyat yang dilancarkannya. Bahkan saat melirik tangan yang terasa panas, matanya sempat terbelalak. Tangannya ternyata berwarna kemerahan!

"Hiaaa...!"

Disertai bentakan menggemuruh, Puspasari mengangkat tangan kanannya ke atas kepala. Lalu diputar-putarnya dengan gerakan cepat.

Wesss...!

Saat itu juga serangkum angin berwarna hijau segera bergulung ke arah Pendekar Bayu Raksa. Namun mendapati hal demikian Ketua Partai Merpati Putih ini telah waspada. Secepat kilat tangan kirinya disentakkan untuk memapak. Sementara tangan kanan siap dengan segala kemungkinan.

Benar saja. Tatkala dua serangan itu bentrok di udara. Puspasari cepat sentakkan tangan kirinya.

Pendekar Bayu Raksa tak tinggal diam. Segera pula tangan kanannya disentakkan.

Glarrr...!

Darrr...!

Terdengar dua suara menggelegar dahsyat berturut-turut. Tubuh Puspasari terlempar ke belakang hingga dua tombak dan terkapar. Sementara Pendekar Bayu Raksa terpelanting ke pojok panggung.

"Chiaaa...!"

Di saat itulah tiba-tiba Pusparani meloncat ke arah Pendekar Bayu Raksa dengan kaki kanan cepat mengarah ke dada. Padahal Pendekar Bayu Raksa baru saja merambat bangkit.

Karena tak menyangka, Pendekar Bayu Raksa terkejut. Namun gerakan kaki itu rupanya lebih cepat. Sehingga....

Desss,! "Aaakh !"

Disertai keluhan tertahan, tubuh Pendekar Bayu Raksa terbanting keras ke samping.

"Perempuan telengas!" teriak beberapa murid Pendekar Bayu Raksa.

Namun, mereka tak berani bergerak. Karena disadari, dua gadis berjuluk Ratu Petaka Hijau memang bukan tandingan mereka.

Puspasari segera bangkit. Sambil mendengus geram dia meloncat ke arah Pendekar Bayu Raksa dengan tangan kanan siap menghantam kepala.

Semua mata yang hadir sama memejam. Bisa dibayangkan, apa yang bakal dialami Pendekar Bayu Raksa.

Pada saat tangan kanan Puspasari akan mendarat di kepala Pendekar Bayu Raksa, tibatiba dari arah kejauhan terdengar nyanyian tak karuan yang meningkahi hembusan angin kencang. Suaranya seakan mengguncang tempat ini.

Pusparani yang berdiri agak jauh cepat menoleh. Sementara Puspasari meneruskan hantaman tangannya. Satu jengkal tangan itu menghempas kepala Pendekar Bayu Raksa, entah dari mana berkelebat satu bayangan yang langsung menyambar tubuh Ketua Partai Merpati Putih itu.

Wuttt! "Heh?!"

Hantaman tangan Puspasari menghantam tempat kosong. Bahkan tubuhnya sempat terdorong dua langkah ke belakang.

"Setan! Siapa berani unjuk gigi di hadapan Ratu Petaka Hijau, he...?" dengus Puspasari setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya. Tubuhnya langsung berbalik mencari sosok yang telah menyelamatkan Pendekar Bayu Raksa.

***

Semua mata yang hadir kini terbuka kembali. Mereka seakan tak percaya, ternyata Pendekar Bayu Raksa sudah tidak ada di tempatnya. Dan mereka kembali mencari siapa gerangan yang telah menyelamatkan Ketua Partai Merpati Putih itu.

Di lain pihak. Puspasari dan Pusparani sama-sama tegak mematung seraya memandang samping kiri panggung, ke arah sosok bayangan tadi membawa Pendekar Bayu Raksa. Dahi mereka sama-sama berkerut, masing-masing matanya membeliak!

Semua yang hadir pun ikut-ikutan mengarahkan pandangan ke arah kiri panggung. Di sana, telah berdiri seorang pemuda mengenakan jubah ketat lengan pendek warna hijau yang dilapisi pakaian dalam lengan panjang warna kuning. Rambutnya panjang, dan dikuncir ekor kuda. Wajahnya tampan dengan tubuh kekar. Pemuda itu berjalan perlahan meninggalkan Pendekar Bayu Raksa yang telah ditangani para muridnya. Sambil berkipas-kipas, dari mulut pemuda itu terdengar dendang nyanyian yang tak karuan.

Selagi semua mata mengarah ke arahnya, tiba-tiba pemuda berjubah hijau berkelebat. Dan tahu-tahu dia telah berdiri tegak di atas panggung sambil tersenyum dengan sepasang mata tak berkedip menelusuri tubuh kedua gadis berjuluk Ratu Petaka Hijau.

Tepat dua tombak di depan Ratu Petaka Hijau, pemuda berjubah ketat warna hijau lengan pendek yang tak lain Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 berhenti. Kipas ungunya segera dimasukkan. Lalu tubuhnya berbalik, sambil mengedarkan pandangan.

"Ah! Kiranya aku datang ke tempat yang salah! Kukira ada pesta besar dengan acara makan-makan. Tak tahunya "

"Pemuda gendeng!" bentak Pusparani, memotong kata-kata Pendekar Mata Keranjang. "Siapa kau ?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 memutar kepala ke arah Pusparani. Sebentar matanya kembali menelusuri lekukan tubuh gadis itu dari paha hingga dada. Lantas matanya melirik ke arah Puspasari yang ada di sampingnya.

"Orang sinting! Kau tidak tuli, bukan...?" bentak Pusparani kembali.

"Ah! Aku hanyalah seorang pengelana jalanan. Namaku Aji!" jawab Aji tetap tersenyum. "Ngg..., lantas siapa kalian ini...?"

Pusparani mendongak memandang langit. "Ha... ha... ha...! Hei, Aji! Sebaiknya kau le-

kas pergi dari tempat ini! Karena, kau sekarang sedang berhadapan dengan Ratu Petaka Hijau!" gertak Pusparani.

Pusparani sengaja menggertak, agar pemuda ini segera pergi. Gadis ini merasa, pemuda di hadapannya memiliki tingkat kepandaian tinggi. Terbukti hanya dengan sekali berkelebat dia telah mampu menyelamatkan nyawa Pendekar Bayu Raksa yang telah di ambang kematian.

Sementara, Aji hanya tersenyum. Tidak tampak rasa terkejut sedikit pun pada wajahnya. Dan ini membuat Pusparani dan Puspasari makin mendelik!

Sedangkan para tamu yang hadir menggeleng-geleng kepala. Mereka saling berbisik dan saling menduga-duga.

"Selama ini aku hanya mendengar ciricirinya. Dan ciri-ciri itu rasa-rasanya terlihat pada pemuda ini!" cetus salah seorang laki-laki berbaju kuning di deretan depan, pada laki-laki berbaju merah yang duduk di sampingnya.

"Hm.... Ciri-ciri siapa...?" kata laki-laki berbaju merah.

"Pemuda yang bergelar Pendekar Mata Keranjang!" jelas laki-laki berbaju kuning.

"Pendekar Mata Keranjang 108...?" ulang orang yang diajak bicara agak keras karena terkejut, hingga semua orang mendengar.

Maka sekonyong-konyong di tempat itu terdengar beberapa gumaman. Dan saat bersamaan Pendekar Bayu Raksa yang telah pulih kembali segera berkelebat ke atas panggung. Langsung didekatinya Pendekar Mata Keranjang 108.

"Pendekar Mata Keranjang, selamat datang di Lembah Gerabah Sewu. Maaf, jika sambutan kami tidak begitu berkenan...," ucap Pendekar Bayu Raksa seraya menjura hormat

"Ah! Jangan bersikap begitu, Paman! Sambutan dua gadis ini kurasa cukup membersihkan mata. Bahkan membelalakkan mata...!" sahut Aji sambil balas menjura. Sementara ekor matanya melirik ke arah dua gadis di sampingnya.

Mendengar Pendekar Bayu Raksa memanggil Pendekar Mata Keranjang, dua gadis kembar yang berjuluk Ratu Petaka Hijau serentak beringsut mundur.

"Hm.... Inikah pemuda yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108? Penampilannya memang keren. Tapi..., ah! Tujuanku harus tercapai dahulu!" desah Puspasari dalam hati sambil mengawasi Aji dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Jadi, kau yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108?!" tanya Pusparani melirik tajam.

Aji tertawa.

"Sepertinya kalian tak berkenan dengan pertemuan ini. Padahal aku sangat gembira dapat bertemu gadis-gadis mempesona seperti kalian!" kata Pendekar Mata Keranjang 108, seenaknya.

Ratu Petaka Hijau saling berpandangan. Julukan Pendekar Mata Keranjang 108 memang sudah beberapa lama didengar dua gadis ini. Bahkan jauh hari sebelum berangkat, guru mereka yang berjuluk Gentapati sudah memberikan isyarat bahwa salah satu lawan tangguh yang akan dihadapi adalah manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108. Namun, mereka tak menduga sama sekali jika manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108 adalah seorang pemuda berwajah tampan dan berilmu tinggi. Bahkan pemuda ini membuat mereka berdua sedikit goyah dari tujuan semula, yakni membuat para tokoh silat bertekuk lutut hingga tak berani lagi unjuk gigi.

"Walau kau telah lancang ikut campur urusan kami, namun aku masih berlapang hati mengampuni nyawamu. Asal saja, dengan syarat. Kau harus bersumpah masuk dalam partai yang akan kami dirikan!" kata Pusparani, sedikit meremehkan.

"Hm. "

Aji menggumam seraya manggut-manggut. "Bahkan kau akan memperoleh keuntun-

gan besar, jika menyetujui tawaran kami!" sambung Pusparani dengan senyum menggoda. "Hm.... Jika ada orang yang memaksakan

kehendak yang dibumbui sebuah tawaran, kukira hal itu patut dicurigai!" sahut Aji.

Kontan saja wajah Pusparani kecut bersemu merah.

"Rupanya kau manusia yang tak tahu diuntung! Dikasih hati, malah minta mati!" bentak Pusparani, geram.

Habis berkata, Pusparani segera menghentakkan kedua tangannya.

"Pendekar Bayu Raksa! Karena kau terluka, kuharap untuk sementara turun dari panggung ini. Mereka berdua sangat berbahaya!" ujar Aji memperingatkan.

Cepat bagai kilat Pendekar Bayu Raksa meloncat turun dari atas panggung.

Tepat ketika tubuh Ketua Partai Merpati Putih itu berkelebat, serangan Pusparani empat jengkal lagi menghantam Pendekar Mata Keranjang 108. Seketika Aji cepat menghentakkan tangannya untuk memapak.

Wesss...!

Blarrr...!

Gelombang angin yang datang dari Pusparani langsung ambyar tatkala terpapak sentakan tangan Aji. Akibat pertemuan dua kekuatan tadi, terdengar ledakan dahsyat yang mengguncang tempat ini.

Seketika paras Pusparani berubah. Demikian juga Puspasari. Sementara para tamu yang hadir berdecak kagum.

"Dua gadis jelita! Sebelum segalanya berlanjut, kuharap kalian sadar! Kembalilah ke jalan benar!" seru Aji, lantang.

"Mulutmu terlalu ceroboh mengeluarkan kata-kata, Pendekar!" dengus Pusparani ketus. Lantas tangannya dikepalkan dan diputar cepat di atas kepala.

Segelombang asap hijau langsung berputar-putar di atas kepala Pusparani dan tiba-tiba melesat ke arah Aji.

Wesss...!

Pendekar Mata Keranjang 108 segera mengepalkan kedua tangannya dan mematangkannya di depan dada. Satu depa asap hijau melabrak, kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Wurrr...!

Seketika dua gelombang yang disertai suara gemuruh dahsyat menghembus ke depan. Rupanya Aji telah melepas pukulan 'Gelombang Prahara'!

Brashhh...!

Dua larik gelombang pukulan dari Aji saling bentrok dengan asap hijau dari tangan Pusparani. Demikian dahsyat pertemuan dua serangan ini hingga tubuh Pusparani sampai terjengkang ke belakang dan jatuh terkapar. Sedang Aji sendiri terhuyung mundur dua langkah.

Melihat hal ini, Puspasari yang masih berdiri segera menghambur ke arah Pusparani.

"Kita harus menghadapi bersama-sama, Sari! Pemuda ini begitu tangguh!" bisik Pusparani seraya merambat bangkit.

Puspasari tak menjawab. Malah, kepalanya berputar dan menatap tajam pada Pendekar Mata Keranjang 108!

"Kau tampaknya ragu-ragu! Apakah kau tertarik pemuda itu?" sindir Pusparani, melirik Pendekar Mata Keranjang 108.

Paras Puspasari berubah bersemu merah. Bibirnya mendesis dengan sepasang mata beralih memandang saudara kembarnya.

"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini! Soal pemuda sinting itu, kita tunda dulu sebaiknya. Kita selesaikan dulu yang lainnya. Toh suatu saat, pemuda itu pasti akan mencari kita!" usul Puspasari perlahan.

Saat itu juga Puspasari mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna hijau sebesar kepalan tangan, dan segera dilemparkannya ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

Wuusss!

Asap hijau segera mengurung tempat itu. Dan pandangan Pendekar Mata Keranjang 108 pun tertutup.

"Licik!" seru Aji seraya menerjang kepulan asap hijau.

Namun, ternyata asap itu begitu tebal. Hingga tatkala Aji berhasil keluar dari bungkusan asap hijau, dua gadis jelita berjuluk Ratu Petaka Hijau sudah tak terlihat lagi batang hidungnya!

Namun baru saja Aji hendak berbalik, matanya tertumbuk pada tulisan di atas tanah.

Pendekar Mata Keranjang!

Jika kau pendekar sejati, datanglah ke puncak Gunung Wilangkor lima purnama mendatang!

Terlanda,

Ratu Petaka Hijau

"Hm.... Pasti salah satu dari kedua gadis itu yang menulis! Kecepatannya sungguh luar biasa! Namun sayang, kepandaiannya telah disalahgunakan. Tapi di balik semua itu, pasti ada seseorang yang memperalatnya! Kelak, aku pasti akan datang ke Gunung Wilangkor!" kata Aji, seraya berkelebat pergi.

"Pendekar! Tunggu!" teriak seseorang menahan langkah Pendekar Mata Keranjang.

Aji menoleh sebentar. Ternyata yang berteriak adalah Pendekar Bayu Raksa.

"Aku tak bisa lama-lama di sini. Bagaimanapun juga, aku harus mengikuti jejak kedua gadis itu. Tidak mustahil mereka akan membuat kerusuhan di tempat lain "

Sejenak Pendekar Mata Keranjang menatap Pendekar Bayu Raksa.

"Pendekar Bayu Raksa, maaf. Aku harus buru-buru! Suatu hari nanti aku akan mampir ke sini!"

Begitu kata-katanya habis, Pendekar Mata Keranjang 108 langsung melesat pergi.

"Pendekar aneh! Datang dan pergi bagai angin lalu...," gumam Pendekar Bayu Raksa, seraya berbalik menuju panggung yang kini tampak mulai tenang kembali.

3

Pagi begitu cerah. Langit yang biru hanya disemaraki arakan awan putih tipis yang bergerak perlahan. Sehingga membuat pancaran matahari leluasa menembus dataran bumi, menerangi satu lereng Gunung Mahameru yang menjulang. Sinar itu terus menerpa sesosok tubuh yang duduk bersila di depan mulut sebuah gua di lereng gunung ini. Tubuhnya tak bergeming dan tak juga mengeluarkan suara. Bisa ditebak kalau sosok ini sedang bersemadi.

Sosok yang ternyata seorang laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun ini mengenakan pakaian warna biru kedombrongan. Rambutnya putih dan panjang menjuntai. Meski kulit sekujur tubuhnya telah mengeriput, namun sisasisa gurat ketampanan masih tampak.

Angin pagi ini bertiup semilir. Namun anehnya rambut sosok ini yang putih dan panjang tampak berkibar-kibar seperti ditiup angin keras. Sementara pakaiannya yang gombrong nampak mengembung. Siapa pun lelaki tua ini, pastilah mempunyai ilmu tinggi. Dan ternyata, kibaran rambut serta pakaiannya yang mengembung dikarenakan terdorong kekuatan dahsyat yang keluar dari tubuhnya.

"Hm.... Telingaku menangkap gerakan orang mendaki menuju kemari. Apakah Kuswara dan Arum?" gumam sosok berpakaian biru gombrong seraya membuka kelopak matanya.

Memang sungguh luar. biasa pendengaran laki-laki tua ini. Karena pada saat yang sama, di kaki Gunung Mahameru berkelebat cepat dua sosok bayangan hijau yang meliuk-liuk di antara pepohonan. Bahkan sesekali kedua bayangan hijau itu menerabas semak belukar lebat, mendaki ke arah lereng di mana sosok berpakaian biru gombrang berada.

Sementara itu, sepasang mata laki-laki tua ini kelihatan menyipit. Dahinya yang sudah keriput tampak mengernyit.

"Dua orang! Pakaian mereka hijau-hijau. Berarti bukan Kuswara dan Arum! Melihat gerakannya, mereka berilmu tinggi. Siapakah mereka...? Dan ke mana gerangan Kuswara dan Arum...? Seharusnya mereka telah kembali. Memang, belum waktunya bagi Kuswara dan Arum untuk turun gunung. Mereka masih miskin pengalaman...," kata batin sosok berpakaian biru gombrang dengan mata terus mengawasi dua bayangan hijau yang terus menapak ke arahnya.

Laki-laki berpakaian biru gombrang perlahan bangkit. Matanya memandang ke bawah sebentar, lalu tubuhnya berputar. Kini kakinya melangkah perlahan menuju gua. Namun meski langkahnya perlahan, tahu-tahu tubuh sosok ini telah lenyap masuk ke dalam gua. Jelas dari sini bisa dilihat, betapa tingginya, ilmu meringankan tubuh laki-laki itu.

Bersama dengan lenyapnya sosok berpakaian biru gombrang, dua sosok bayangan hijau yang berkelebat telah tiba di lereng ini. Dan kini mereka berhenti di depan mulut gua.

Dua sosok berpakaian hijau itu ternyata tak lain dari Ratu Petaka Hijau alias Pusparani dan Puspasari. Sejenak kedua gadis kembar ini saling berpandangan, lantas beralih memandang tajam ke mulut gua.

"Mahesa Galuh, keluarlah! Ada kabar penting untukmu!" teriak Pusparani.

Hingga beberapa saat, masih tak terdengar jawaban dari dalam gua.

"Mahesa Galuh! Kami tahu, kau ada di dalam. Apakah kau tak ingin mendengar kabar tentang kedua anak didikmu...?" teriak Pusparani lagi.

"Hai. Pendatang Asing! Bersikaplah sopan di tempat orang lain!"

Mendadak terdengar suara dari dalam gua. "Ha... ha... ha...!" Pusparani dan Puspasari

serentak tertawa panjang.

"Kau tidak usah berbasa basi, Mahesa Galuh! Karena hari ini adalah hari terakhir bagimu menghirup udara!" kali ini yang angkat bicara Puspasari.

Lama tak ada sahutan, membuat Pusparani dan Puspasari mendengus kesal.

"Ternyata kau seorang pengecut, Mahesa Galuh! Kau hanya berani jika bertempur secara keroyokan, seperti yang telah kau lakukan beberapa tahun yang silam, saat menghancurkan Partai Gentapati!" teriak Pusparani.

"Hm.... Rupanya kalian adalah cucu-cucu Partai Gentapati. Apa kalian tak salah alamat datang kemari...?"

Kembali dari dalam gua terdengar lagi sahutan. Namun kali ini kedua gadis itu tak menjawab. Malah Pusparani tampak mengangguk perlahan pada Puspasari. Dan segera tubuhnya berkelebat masuk dalam gua yang kemudian diikuti Puspasari.

Ternyata gua itu cukup besar. Sehingga mereka berdua dengan leluasa bisa melangkah tegak dan berjajar. Tapi semakin jauh ke dalam, ternyata semakin sempit. Dan mau tak mau, mereka berdua harus melangkah satu persatu dengan kepala merunduk. Dan di lain pihak udara dingin mulai menusuk. Dan suasana gelap pun segera menyambut. Tapi keadaan ini rupanya tak membuat Ratu Petaka Hijau bersungut-sungut. Bahkan mereka tampak tegar dan tenang.

Tak lama, mereka sampai di sebuah relung tinggi dan lebar yang mengarah pada dua ruas jalan.

"Hm.... Pasti di ruas jalan yang ujungnya kelihatan terang ini, Tua Bangka itu berada...!" bisik Pusparani, seraya melangkah menelusuri ruas jalan yang ujungnya tampak sedikit terang.

Sampai ujung jalan, mata Ratu Petaka Hijau terbelalak. Ternyata, ujung ruas jalan itu berhubungan dengan sebuah hamparan pasir yang luas. Meski tidak ada penerangan sama sekali, namun tempat itu kelihatan terang. Ketika Pusparani dan Puspasari menengadah, barulah disadari kalau ternyata langit-langit tempat itu berlobang, yang membuat sinar matahari dapat menerobos masuk.

Selagi menengadah....

"Apa tujuan kalian sebenarnya...?!" terdengar kembali suara bentakan.

Ratu Petaka Hijau serentak memutar kepala masing-masing. Dengan mata nyalang mereka mencari sumber suara. Namun hingga beberapa lama sumber suara itu tak dapat ditentukan.

Dari sini mereka sadar kalau orang yang akan dihadapi berilmu sangat tinggi.

"Sari! Kita harus hati-hati. Bangsat tua ini rupanya telah menguasai ilmu 'Penjalin Suara'!" bisik Pusparani.

Puspasari hanya mengangguk perlahan. Mereka sebelumnya memang telah tahu dari Gentapati kalau Mahesa Galuh adalah seorang tokoh silat beraliran putih berilmu tinggi yang tinggal di sebuah gua di lereng Gunung Mahameru. Mahesa Galuh adalah salah seorang yang ikut serta menghancurkan Partai Gentapati pada beberapa tahun silam. Namun Pusparani dan Puspasari tak menduga jika Mahesa Galuh lelah pula menguasai ilmu 'Penjalin Suara', sebelum ilmu yang membutuhkan pengerahan tenaga dalam lebih untuk mempelajarinya.

"Mahesa Galuh! Kami datang memberi kabar baik untukmu. Pertama, kedua muridmu telah kami kirim ke neraka. Kedua, kami ingin juga mengirimmu menyusul kedua muridmu!"

"Hm.... Ternyata kabar tentang iblis yang banyak membuat masalah adalah kalian orangnya!" desis suara dari dalam gua, penuh gejolak amarah.

"Ha... ha... ha...!" Pusparani tertawa mengekeh. "Kalau kau sudah tahu, hanya ada satu syarat yang dapat memperpanjang hidupmu! Lekas tunjukkan dirimu. Dan, berlututlah di hadapan kami sambil mengangkat sumpah untuk masuk menjadi anggota partai kami!"

Selesai berkata. Pusparani berkelebat, lalu berdiri tegak di tengah-tengah dataran pasir. Sementara Puspasari segera mengikuti. Keduanya kini berdiri tegak berjajar, dengan tangan berkacak pinggang.

"Mahesa Galuh! Laksanakan perintah jika masih ingin hidup!" bentak Puspasari.

"Kalian jangan bermimpi, Bocah-bocah!"

Belum juga gema suara itu lenyap, dari ujung dataran pasir melesat sebuah bayangan. Dan di kejap lain di hadapan Ratu Petaka Hijau telah berdiri sesosok bayangan yang tak lain Mahesa Galuh. Langsung ditatapnya dua gadis di depannya tanpa berkedip. Mendapati dirinya dipandangi demikian rupa, Pusparani sedikit mementangkan sepasang kakinya. Sehingga pakaian bawahnya yang sudah pendek tertarik ke atas, membuat seluruh pahanya yang berkulit putih mulus terlihat jelas.

"Mahesa Galuh! Lekas berlututlah! Setelah itu, kau bisa melihat sepuas hatimu. Bahkan tanganmu bisa merasakan apa yang kau lihat!" ujar Pusparani sambil tersenyum.

Mahesa Galuh tersenyum dingin. Sepasang matanya lantas beralih memandang ke arah samping. Sebentar kemudian kepalanya tengadah.

"Kalian kira aku bisa dimuslihati dengan tubuh yang telah dikotori tangan guru kalian...? Hm..., sayang. Aku tidak begitu tertarik dengan sisa-sisa tangan Gentapati!" gumam Mahesa Galuh, dingin.

Pusparani dan Puspasari sama-sama tersentak kaget mendengar kata-kata Mahesa Galuh. Sungguh tak diduga jika Mahesa Galuh mengetahui rahasia kebejatan guru mereka. Raut muka gadis kembar ini merah padam.

"Jaga mulut kotormu, Tua Bangka!" bentak Puspasari, garang.

Mahesa Galuh tertawa sinis.

"Siapa pun telah tahu, siapa Gentapati itu! Manusia macam dia, beserta seluruh pengikutnya, memang tak ada gunanya jika dibiarkan terus hidup!"

Pusparani mendengus geram, lalu memberi isyarat pada Puspasari. Sesaat kemudian....

"Hiaaa !"

Disertai lengkingan dahsyat, Ratu Petaka Hijau menjejak dataran pasir. Tubuh mereka melenting ke udara. Dan dengan gerakan yang tak dapat diikuti mata, kedua gadis ini mendadak muncul. Sepasang kaki masing-masing menerjang dari arah kanan dan kiri Mahesa Galuh yang masih tegak.

Satu jengkal dua pasang kaki putih menghantam, Mahesa Galuh merebahkan diri ke depan rata dengan pasir. Lalu, seketika kedua kakinya bergerak ke atas, seperti hendak bersalto.

Plak! Plak!

Kaki Pusparani dan Puspasari menghantam kedua kaki Mahesa Galuh. Tubuh Ratu Petaka Hijau berputar ke samping, dan melayang ke bawah. Namun sebelum tubuh menghujam ke bawah, serentak mereka berdua menyentakkan tangan ke dataran pasir.

Seketika dataran pasir tersibak, terkena hembusan angin yang keluar dari tangan dan memantul ke atas menahan tubuh mereka. Dan ini membuat tubuh mereka turun perlahan, lalu menjejak dataran pasir dengan kaki kokoh.

Namun tak urung Pusparani dan Puspasari terkejut. Kaki mereka terasa ngilu. Tapi bagai diberi aba-aba, keduanya segera merebahkan diri dan duduk di atas dataran pasir dengan kaki lurus ke depan. Sementara tangan mereka terpentang ke samping. "Hiaaa...!"

Didahului bentakan nyaring, Ratu Petaka Hijau menarik tangan ke belakang dengan seluruh tenaga dalam dipusatkan pada pinggul. Dan begitu pundak masing-masing menyentak, tubuh Pusparani dan Puspasari meluncur cepat, menyusur dataran pasir ke arah Mahesa Galuh yang telah menarik kakinya dan rebah di atas dataran pasir.

Seketika dataran pasir menyibak dan beterbangan, terkena geseran pinggul Pusparani dan Puspasari.

"Mampuslah kau sekarang. Tua Bangka!" teriak Pusparani, beringas.

Wesss! Wesss!

Pada saat yang sama, Mahesa Galuh menyentak kedua tangannya sambil melesat ke atas.

"Heh?!"

Pusparani dan Puspasari terkejut. Saat kaki mereka yang menusuri dataran pasir, ternyata hanya menghantam tempat kosong! Keduanya cepat menengadah ke atas dan kontan terbeliak tak percaya. Orang tua yang dikiranya akan babak belur terhantam kaki tampak dalam keadaan rebah dan mengapung di udara.

Ratu Petaka Hijau bangkit dari duduknya. Satu tangan mereka kemudian diputar di atas kepala, sementara tangan kiri membuka sejajar dada. Dan seketika asap berwarna hijau mengepul di atas kepala.

Dua asap berwarna hijau itu kemudian bergulung-gulung, lalu melesat ke atas. Dan di lain kejap, tangan kiri mereka berdua menghantam ke bawah.

Mahesa Galuh terkejut. Sungguh tak disangka jika serangan kedua gadis ini telah menutup segala penjuru. Dan dia tak bisa lagi menghindar dengan cara mendarat di atas dataran pasir.

Maka dengan membuat gerakan berputarputar di udara, Mahesa Galuh segera merentangkan kedua tangannya, lalu ditarik kembali dan langsung dihadapkan ke bawah, seperti orang menekan!

Saat itu juga, asap hijau yang bergulung dan melesat ke arah Mahesa Galuh mendadak tertahan. Bahkan kini bergerak perlahan kembali ke bawah, ke arah Pusparani dan Puspasari.

Mengetahui hal ini, Ratu Petaka Hijau segera menarik tangan kiri masing-masing, lalu mendorong ke atas.

Kini gelombang asap hijau perlahan-lahan bergerak kembali ke atas, ke arah Mahesa Galuh!

Sekujur tubuh Mahesa Galuh mulai dibasahi keringat. Baju birunya yang gombrong tampak berkibar-kibar. Demikian juga rambutnya. Sementara Pusparani dan Puspasari tak jauh berbeda. Bahkan pakaian kedua gadis ini sudah tampak lengket di tubuh masing-masing, membayangkan lekuk-lekuk tubuhnya.

"Hiaaa...!"

Dengan bentakan membahana, Mahesa Galuh menambah tenaga tekanannya. Maka asap hijau kembali menukik ke bawah. Bahkan kedua kaki Pusparani dan Puspasari mulai masuk ke dalam dataran pasir!

"Robohkan tiang! Dan galang dengan semburan!" seru Pusparani.

Kedua tangan Ratu Petaka Hijau yang mendorong ke atas mendadak menyentak ke bawah, tepat ketika tubuh mereka melesat ke samping kanan dan kiri

Mahesa Galuh yang menekan dari atas tiba-tiba merasakan bagai tersedot ke bawah. Akibatnya mau tak mau tubuhnya menukik deras ke bawah! Namun belum sampai tubuhnya menyentuh dataran pasir, Pusparani dan Puspasari telah meniup ke depan dari arah samping.

"Phuh...!"

Semburan asap hitam segera mengurung, membuat dataran pasir dalam gua meredup.

Mengira Mahesa Galuh tak bisa melihat, Pusparani segera menghantamkan pukulan jarak jauhnya. Namun ternyata dugaannya meleset. Karena, Mahesa Galuh sempat melihat gerakan tangannya. Maka sebelum gadis ini menggerakkan tangannya, Mahesa Galuh mendahului.

Wusss...!

Serangkum angin yang menderu dahsyat melesat dari tangan Mahesa Galuh ke arah Pusparani.

Pusparani berseru terkejut. Sungguh tak diduga kalau Mahesa Galuh dapat melihat gerakannya. Di lain pihak, Mahesa Galuh juga berseru kaget. Karena pada saat yang sama dari arah samping kanan gelombang panas berupa asap hijau yang berkilat menerjang ke arahnya. Begitu menoleh baru disadari ternyata yang telah melepas serangan adalah Puspasari.

Desss...! "Aaakh...!"

Tanpa dapat dicegah lagi, terdengar pekik tertahan dari mulut Pusparani ketika hantaman Mahesa Galuh mendarat di tubuhnya. Gadis itu terlempar ke belakang hingga lima tombak, lalu terkapar di atas dataran pasir. Pakaian bagian bahunya tampak menghitam dan koyak. Kulitnya memerah, seperti kulit terjilat api. Dengan meringis kesakitan dia merambat bangkit. Tampak dari sudut bibirnya mengalir darah!

Pada saat yang sama juga terdengar pula lenguhan keras dari mulut Mahesa Galuh ketika serangan Puspasari mendarat di sasaran. Tubuhnya melayang dan jatuh bergulingan di atas dataran pasir. Baju bagian punggungnya robek menganga, sementara rambutnya yang putih menghitam dan mengelinting berbau sangit!

Puspasari segera menghambur ke arah saudara kembarnya.

"Mundurlah, Rani! Biar aku sendiri yang menghadapi tua bangka itu! Dia telah terluka. Tak mungkin dia terus kuat bertahan!" ujar Puspasari seraya menggandeng tangan saudara kembarnya untuk diajak menjauh. "Jangan anggap remeh tua bangka itu, Sari! Dia masih terlalu berbahaya jika dihadapi sendirian. Perhatiannya harus kita pecah!" cetus Pusparani dengan mata menyengat ke arah Mahesa Galuh yang telah berdiri sambil mengusapusap dadanya.

"Tapi bahumu terluka. Rani!"

"Jangan hiraukan! Aku akan memancingnya, kau yang menyerang!" bisik Pusparani, tanpa menoleh.

Pusparani lantas mementangkan kedua kakinya lebar-lebar dengan kedua tangan bersedekap sejajar dada. Sementara Puspasari melangkah menjauh, dan berbuat sama seperti yang dilakukan Pusparani.

"Hm.... Dua belas tahun menghilang, ternyata Gentapati telah berhasil menjadikan gadisgadis ini sejajar dengan tokoh-tokoh atas. Jika muridnya demikian hebat, tentunya dia sekarang sukar dijajaki ketinggian ilmunya...," kata batin Mahesa Galuh sambil mengawasi kedua gadis berbaju hijau.

Mata laki-laki tua ini sedikit menyipit, melihat bentuk tubuh Pusparani dan Puspasari. Apalagi kini baju bagian bawah keduanya tertarik seiring pentangan kaki keduanya. Dada Mahesa Galuh sedikit bergetar.

Namun belum lama Mahesa Galuh merasakan getaran dadanya, mendadak Pusparani memutar tubuhnya yang langsung berubah menjadi bayangan hijau. Dan sebentar kemudian, tubuh gadis itu berkelebat tak terlihat.

Mahesa Galuh segera sadar. Secepat kilat tubuhnya diputar berubah jadi bayangan dan bergerak melesat ke atas. Lalu....

Glarrr. !

"Aaakh !"

Terdengar benturan dahsyat yang disusul jeritan panjang. Lalu, tampak tubuh Pusparani melayang jungkir balik menukik ke bawah. Sementara di lain pihak, Mahesa Galuh tampak membuat gerakan berputar di udara. Saat itulah tiba-tiba Puspasari membuka kedua tangannya.

"Hiaaa !"

Disertai lengkingan nyaring, gadis itu meloncat ke arah Mahesa Galuh yang hendak mendarat dengan kedua tangan berkelebat menghantam.

Wusss...!

Angin kedatangan Puspasari begitu deras, membuat Mahesa Galuh yang baru saja mendarat cepat berpaling. Dan laki-laki tua ini kontan terkejut, namun segera merunduk menghindari hantaman tangan Puspasari. Kepalanya memang selamat dari hantaman tangan Puspasari. Namun begitu hantaman tangan lewat, kaki kanan Puspasari menyapu ke arah dada. Mahesa Galuh tak bisa lagi berkelit lagi. Dan....

Desss !

"Aaa !"

Tubuh Mahesa Galuh terpental dengan jeritan panjang ketika kaki Puspasari mendarat telak di dadanya. Begitu jatuh di pasir, tubuhnya langsung terkapar. Darah kehitaman muntah dari mulut Mahesa Galuh.

Melihat keadaan ini, Puspasari tak lagi menunggu Mahesa Galuh bangkit. Tubuhnya cepat berkelebat. Dan disertai pengerahan seluruh tenaga dalamnya, kedua tangannya segera dihantamkan ke arah Mahesa Galuh yang baru akan bangkit.

Mata Mahesa Galuh hanya mampu terbeliak dengan tenggorokan seperti tercekat. Ia berusaha menghindar, namun tangan Puspasari lebih dahulu menggebrak tubuhnya.

Desss...! "Aaa...!"

Untuk kedua kalinya Mahesa Galuh terlempar dengan jeritan dari mulutnya. Di atas dataran pasir, tubuh Mahesa Galuh masih tampak bergerak-gerak. Sebentar saja, karena kemudian diam kaku dengan kulit sekujur tubuh membiru! Rambutnya terpangkas hampir setengah!

Puspasari berbalik dan melesat ke arah Pusparani.

"Kita harus cari tempat untuk merawat lukamu, Rani...," bisik Puspasari seraya mendudukkan Pusparani.

Pusparani tersenyum kecut. Tangannya memegangi dadanya yang terasa nyeri bagai ditusuk Lalu kepalanya mengangguk perlahan. 4

Seorang penunggang kuda berpakaian hitam dengan topi lebar tampak meluncur perlahan, melintasi sebuah desa yang padat penduduk. Karena topinya lebar, maka raut mukanya hanya tampak sebagian. Namun yang membuat beberapa orang tertarik, adalah suara denting lonceng setiap kudanya menapak tanah. Di bawah leher orang itu memang menggandul sebuah lonceng besar yang hanya diikat seutas tali yang melingkar di lehernya.

Penunggang kuda ini seperti tak menghiraukan sama sekali pandangan beberapa orang. Dia terus menghela kuda tunggangannya.

Di depan sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tinggi, penunggang kuda itu berhenti. Kepalanya berputar sedikit, seperti mengawasi ke dalam bangunan lewat pintu gerbangnya yang tampak dijaga empat orang bersenjata golok panjang.

Untuk beberapa saat laki-laki bertopi lebar ini memandang ke dalam bangunan. Sehingga tanpa sadar, saat itu dua orang penjaga bersenjata golok panjang telah berada di sampingnya. Sepasang mata mereka melotot, mengawasi gerakgerik penunggang kuda ini dengan curiga.

"Hei, Orang Asing! Kau sadar sedang berada di mana sekarang...?!" tegur salah seorang penjaga dengan suara agak keras. "Orang asing! Buka topi lebarmu, agar kami dapat melihat jelas tampangmu!" bentak penjaga satunya seraya mengacungkan golok panjang di tangannya.

Penunggang kuda ini memutar kepalanya, menghadap dua orang yang menegur. Bibirnya menyeringai, lalu kembali memutar kepala menghadap pintu gerbang masuk.

"Orang asing! Kalau kau tak mau membuka topimu, aku akan membuka dengan ujung golok ini!" ancam pengawal yang berkumis lebat geram, karena merasa diremehkan.

"Hm.... Kalian petugas-petugas yang ramah. Baiklah.... Aku menurut perintah kalian...!" kata laki-laki bertopi lebar tanpa menoleh pada dua penjaga di sampingnya. Lalu perlahan-lahan topi lebarnya yang menutupi sebagian mukanya dibuka.

Begitu topinya telah terbuka, penunggang kuda itu perlahan pula memutar kepala, menghadap dua penjaga yang sepertinya tak sabar melihat gerakannya.

Namun mendadak dua penjaga itu surut dua langkah ke belakang begitu mereka melihat mata si penunggang kuda yang ternyata putih semua, tanpa ada titik hitamnya. Memang mata penunggang kuda itu buta!

"Orang asing! Siapa kau sebenarnya?! Dan, apa keperluanmu ke sini?!" kata penjaga yang berkumis lebat. Suaranya agak bergetar, pertanda menahan ketakutan. Untuk beberapa saat penunggang kuda yang tak lain Gentapati tak menjawab. Bahkan matanya yang buta seperti hendak menelan bulatbulat kedua penjaga itu.

"Aku ingin bertemu ketua kalian!" kata Gentapati tandas.

"Siapa kau?! Dan, apa perlumu...?!" tanya penjaga satunya yang berhidung lebar dengan tatapan menyelidik.

Teng! Teng! Teng!

Gentapati kembali tersenyum menyeringai, lalu menggerakkan kepalanya.

Lonceng di depan dada laki-laki tua ini berdenting tiga kali. Namun, cukup membuat dua penjaga tersentak. Mereka berdua segera menutup telinga masing-masing dengan kedua tangan.

"Aku tak butuh tanya-jawab dengan kalian! Aku butuh bertemu dengan ketua kalian!" bentak Gentapati menggelegar.

Mendapat bentakan demikian, dua penjaga itu mundur.

"Siapa pun kau, tanpa menyebutkan nama jangan harap bisa masuk ke dalam! Lagi pula, ketua kami saat ini sedang tak mau diganggu!" kata penjaga berkumis setelah bisa menguasai keadaan.

"Hm..., begitu? Baik! Akan kubuktikan ucapan kalian!" desis Gentapati.

Setelah memutar tubuhnya, Gentapati menghela kuda tunggangannya, bergerak hendak masuk. Namun dua penjaga tadi buru-buru menahan dengan melompat dan menghadang di depannya. Namun baru saja mereka akan bergerak mengayunkan senjata masing-masing, Gentapati sudah mengebutkan telapak tangan ke depan.

Wusss...!

Serangkum angin menderu kencang, membuat dua penjaga kaget. Namun mereka terlambat untuk menghindar. Dan....

Des! Des! "Aaakh !"

"Aaa !"

Tanpa ampun lagi tubuh keduanya terlempar tiga tombak ke belakang disertai jeritan panjang.

Melihat keadaan ini, dua penjaga lain segera menghambur sambil acungkan senjata masingmasing. Tapi belum sempat mereka menghujamkan senjata, asap berwarna kebiruan telah memapak gerakan.

"Aaa...!"

Dua jeritan kembali terdengar disusul terlemparnya dua penjaga itu hingga menghantam tembok yang mengelilingi bangunan.

Mendengar suara ribut-ribut di luar, beberapa orang yang ada di dalam bangunan segera berlari ke depan. Tapi seketika mereka menghentikan langkah, begitu melihat Gentapati memasuki pintu gerbang dengan seulas senyum.

"Pengacau busuk! Siapa kau...?!" bentak seorang laki-laki kekar yang tampaknya menjabat sebagai kepala penjaga. Gentapati tidak menjawab. Sementara bibirnya terus tersenyum mengejek.

"Tangkap pengacau buta ini!" perintah lakilaki kekar, setengah berteriak.

Lima orang segera maju mengurung Gentapati. Dan tanpa diberi aba-aba lagi, senjata masing-masing langsung dihantamkan.

Sementara Gentapati masih tetap duduk di atas kuda tunggangannya tanpa bergeming. Namun sejengkal lagi kelima golok itu mencacah tubuhnya, kedua tangannya diputar.

Wusss...!

Segelombang angin dahsyat segera berputar membuat lima golok itu serentak berpentalan. Sedangkan lima orang yang mengurung terjerembab berkaparan di atas tanah!

Beberapa orang yang melihat kejadian ini segera beringsut mundur dengan wajah diselimuti rasa khawatir.

"Aku tak percaya kalau dia masih hidup!" kata salah seorang dengan suara bergetar.

"Kau mengenalnya...?" tanya yang lain. "Buka matamu lebar-lebar! Bukankah dia

Gentapati? Dialah tokoh jajaran atas dari golongan hitam yang dulu pernah menguasai dunia persilatan, sebelum akhirnya ditumbangkan beberapa tokoh dari golongan putih. Hanya saja penampilannya sekarang beda. Kini kedua matanya buta!" jelas orang itu.

"Kalau dia memang Gentapati, kenapa membuat kekacauan di sini...? Bukankah berarti dia sealiran dengan ketua kita...?!" kata yang lain seraya terus mengawasi.

"Lekas panggil ketua kalian! Suruh dia keluar dari bawah selimutnya!" perintah Gentapati membentak dengan kepala memandang ke sekeliling.

Belum juga gema bentakan Gentapati lenyap....

"Bangsat! Siapa berani menyuruh dengan seenak dengkulnya, he  ?!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar, diikuti kelebatan sesosok bayangan. Dan tahu-tahu sosok itu berdiri tegak di hadapan Gentapati. Seketika kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Wuttt!

Mendapat serangan demikian cepat, Gentapati langsung melenting ke atas. Namun....

Brakkk! "Hiekh!"

Kuda tunggangan Gentapati kontan meringkik keras dan langsung bergulingan di atas tanah begitu hantaman sosok itu mendarat di punggungnya hingga robek meregang nyawa. Binatang malang ini sebentar kemudian diam tak bergerak lagi!

Pada saat masih di udara, Gentapati membuat gerakan berputar, lalu kembali menjejak tanah dengan kaki kokoh.

Sosok yang baru saja mengirimkan serangan sedikit terkejut. Sungguh tak disangka jika penunggang kuda itu begitu mudah menghindari serangannya.

Sosok yang ternyata seorang laki-laki berusia lanjut, memandang dengan sorot mata tajam. Wajahnya yang bulat, dipenuhi bopeng. Dan di sana sini terdapat beberapa guratan bekas luka. Matanya sipit. Kepalanya tak ditumbuhi rambut. Dalam rimba persilatan, dia dikenal sebagai Datuk Penyebar Maut. Dialah salah seorang dari sekian banyak tokoh hitam yang disegani.

"Jahanam!" bentak Datuk Penyebar Maut geram. "Siapa kau...?!"

Gentapati menyeringai. Lalu telunjuk tangannya diluruskan pada mata Datuk Penyebar Maut.

"Datuk Penyebar Maut! Bukankah kau tidak buta? Lebarkan sepasang matamu! Apa kau tidak mengenaliku lagi...?!"

Sambil berkata Gentapati gelengkan kepalanya. Maka lonceng di depan dadanya bergerak dan berdenting.

"Gentapati...?!" desis Datuk Penyebar Maut, seraya mundur dua tindak ke belakang. Sepasang matanya yang sipit terbeliak. Tubuhnya tampak sedikit bergetar.

"He... he... he...!"

Gentapati tertawa mengekeh, membuat dentingan lonceng di depan dadanya bergerak keras mengeluarkan suara memekakkan telinga.

Dari suara kekehan tawa serta dentingan lonceng, Datuk Penyebar Maut segera tahu kalau Gentapati yang sekarang lain dengan dua belas tahun yang silam. Namun ada sesuatu yang membuatnya sedikit lupa, karena kali ini sepasang mata Gentapati buta.

"Datuk Penyebar Maut!" panggil Gentapati dengan senyum sinis. "Tidak disangka kita bertemu di sini. Apa kau juga telah menjadi kaki tangan si Ganda Mayat...?!"

Dirinya disebut kaki tangan, rahang Datuk Penyebar Maut mengembung. Pelipisnya bergerak-gerak. Sepasang matanya membesar menahan amarah.

"Dengar, Manusia Buta! Kau sekarang bukanlah Gentapati dua belas tahun silam, yang dapat mengumbar kata-kata dengan seenak udelmu. Namun karena kita masih satu aliran, juga karena aku masih menghormati nama besarmu, tingkah lakumu masih kuampuni. Tapi, lekaslah angkat kaki dari sini!" desis Datuk Penyebar Maut.

"Ha... ha... ha...!"

Tawa Gentapati meledak mendengar katakata Datuk Penyebar Maut. Dan ini membuat dentingan lonceng di dadanya berdenting keras. Hingga mau tak mau Datuk Penyebar Maut harus sedikit mengerahkan tenaga dalam untuk menahan getaran pada dadanya. Sementara beberapa orang yang berada di halaman bangunan itu tampak menutup telinganya. Bahkan sebagian orang terlihat bergulingan sambil menjerit dan memegangi telinga yang mengeluarkan darah! "Phuih...!"

Gentapati meludah ke tanah, ketika tawanya berhenti. Juga suara denting loncengnya.

"Dengar, Datuk Penyebar Maut! Kedatanganku kemari adalah untuk membuat ketuamu meletakkan jabatan. Dan yang lebih penting, dia harus berlutut di hadapanku dan bersumpah masuk menjadi anggota partaiku! Tak terkecuali, kau!" bentak Gentapati, lantang.

"Kau jangan bermimpi, Gentapati! Partaimu telah hancur! Lagi pula, jika kau ingin berhadapan dengan Ganda Mayat, langkahi dahulu tubuhku!" tantang Datuk Penyebar Maut sambil mengusap-usap kepala.

"Rupanya kau jongos yang setia, Datuk! Baiklah. Akan ku langkahi dahulu tubuhmu. Bahkan akan ku injak-injak!" balas Gentapati, tak kalah gertak.

"Anjing buduk!" hardik Datuk Penyebar Maut marah.

Saat itu juga, Datuk Penyebar Maut menghentakkan kedua tangannya.

Wesss...!

Serangkum angin langsung melesat ke arah Gentapati.

Gentapati hanya tersenyum dingin. Kemudian kedua tangannya diangkat dan dibuka di depan dada. Sementara loncengnya terus berdenting.

Blap!

Tahu-tahu saja angin serangan itu berbalik, melesat ke arah Datuk Penyebar Maut.

Datuk Penyebar Maut mendengus geram. Cepat tubuhnya dilempar ke samping. Namun baru saja mendarat, selarik gelombang hitam menerjang ke arahnya. Kembali Datuk Penyebar Maut harus menghindar dengan melenting ke udara.

Saat itulah mendadak Gentapati menghentakkan bandul yang ada di loncengnya.

Tang!

Seketika lonceng itu berdenting dahsyat, membuat Datuk Penyebar Maut yang masih di udara harus segera mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis tenaga dalam yang keluar dari dentingan lonceng.

Pada saat seperti ini, tiba-tiba Gentapati menghentakkan tangannya.

Karena saat ini sedang mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis tenaga dentingan lonceng, maka Datuk Penyebar Maut tak dapat lagi menangkis sentakan tangan Gentapati. Dan dia hanya mampu melotot dengan wajah pucat/ Lalu....

Desss...! "Aaakh...!"

Sesaat kemudian terdengar raungan keras dari mulut Datuk Penyebar Maut ketika serangan Gentapati mendarat telak di dadanya. Saat itu juga tubuh Datuk Penyebar Maut menukik, dan langsung menghantam tanah.

Bruk! Dengan rahang berkerut geram. Datuk Penyebar Maut bergerak bangkit. Hidungnya tampak mengeluarkan darah. Kepalanya yang gundul memerah.

"Bangsat! Dia memang berubah banyak setelah menghilang beberapa tahun. Tapi "

Belum sempat Datuk Penyebar Maut meneruskan kata hatinya Gentapati telah kembali menyentakkan kedua tangannya

Wusss !

Seketika dari arah gelombang asap biru bergulung meluncur ke arah Datuk Penyebar Maut

Datuk Penyebar Maut makin blingsatan. Namun kedua tangannya cepat dipalangkan di depan dada dengan mulutnya berkemik-kemik. Dan mendadak, tangannya berubah menjadi putih berkilat-kilat Sesaat kemudian, kedua tangannya didorong ke depan.

Splash! Splash! Splash!

Tiga larik sinar putih seketika melesat dari tangan Datuk Penyebar Maut, meluruk ke arah asap biru. Dan....

Blarrr. !

Terdengar gelegar dahsyat, disertai percikan bunga api membumbung ke udara. Suasana sebentar terang benderang.

Tampak Datuk Penyebar Maut terjajar mundur dua langkah ke belakang.

Sementara Gentapati tertawa terkekeh tanpa bergeming sedikit pun. Namun kekehannya tiba-tiba sirna, tatkala satu larik sinar putih sempat lolos dan kini menuju ke arahnya.

***

Dengan gerakan cepat bagai kilat, Gentapati segera memiringkan tubuhnya. Lalu disertai bentakan keras, menyemburkan ludah ke depan.

"Chuhhh...!" Besss...!

Saat itu juga larikan sinar putih kontan musnah bagai tertelan ludah panas yang keluar dari mulut Gentapati.

"He... he... he...!"

Sejenak kemudian terdengar kembali kekehan Gentapati.

Merasa penasaran dan marah, tubuh Datuk Penyebar Maut segera berkelebat cepat. Sementara Gentapati yang hanya mengandalkan indera keenam segera mendongakkan kepala. Dia mengira serangan datang dari arah atas. Namun baru saja mendongak, tubuh Datuk Penyebar Maut telah meluncur deras dengan kedua tangan laksana besi hitam menyambar ke arah kepala.

Sebagai tokoh tingkat tinggi, Gentapati merasakan adanya desir angin kencang di depan hidungnya. Maka segera tangannya disapukan menyilang ke depan.

Buk! Brak! "Aaakh...!"

Dua pasang tangan beradu disertai pekikan Datuk Penyebar Maut. Tubuh laki-laki bopeng ini terpental ke belakang, namun cepat membuat gerakan bersalto. Dan mantap sekali kakinya mendarat. Lalu dengan gerakan amat cepat tubuhnya melesat kembali dengan kaki kanan mengarah dada Gentapati yang terbuka. Begitu cepat gerakannya, membuat Gentapati tak sempat menutup bidang yang lowong. Dan....

Desss! "Aaakh !"

Gentapati terhuyung ke belakang dengan lenguhan amarah. Selagi tubuhnya masih mundur terhuyung, Datuk Penyebar Maut kembali melesat. Tangan kanannya kini terjulur ke depan, mencari sasaran....

Dalam keadaan yang demikian singkat, Gentapati langsung menjatuhkan diri ke belakang sambil mengangkat kedua kakinya. Begitu cepat gerakannya, sehingga Datuk Penyebar Maut sama sekali tak pernah menduga. Dan...

Desss !

"Aaakh !"

Telak sekali kedua kaki Gentapati mendarat di perut Datuk Penyebar Maut. Hantaman yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, membuat tubuh laki-laki bopeng itu terpental dan Tak kuasa lagi menguasai keseimbangan.

Brak!

Keras sekali tubuh Datuk Penyebar Maut mencium tanah. Padahal pada saat yang sama, Gentapati telah melenting dan berputaran di udara menuju ke arahnya. Dan dengan perhitungan yang tepat, Gentapati mendaratkan kakinya di leher Datuk Penyebar Maut.

"Khekgh...!"

***

"Dengar, Datuk Penyebar Maut! Hanya satu hal yang dapat memperpanjang hidupmu! Tentunya, kau telah tahu itu bukan...?!" desis Gentapati disertai senyum mengejek.

Sementara Datuk Penyebar Maut tak mampu berbuat apa-apa lagi. Bila kaki Gentapati menekan disertai penambahan tenaga dalam pasti pada lehernya patah.

"Baiklah! Aku akan mengangkat sumpah menjadi anggota partaimu!" desah Datuk Penyebar Maut, tersendat.

"Ha... ha... ha...!"

Gentapati tertawa tergelak-gelak. Sepasang matanya yang berwarna putih jadi tampak menyipit. Lantas dikeluarkannya kantong dari balik baju hitamnya.

"Aku tak percaya dengan pernyataan mulut. Datuk! Inilah yang lebih kupercaya!" kata Gentapati sambil mengeluarkan sebutir benda bulat kecil berwarna hijau dari kantongnya.

Gentapati sedikit menekan kakinya pada leher Datuk Penyebar Maut. Dan ini membuat mulut laki-laki botak itu terbuka sedikit karena tergencet. Pada saat itulah Gentapati memasukkan butiran warna hijau pada mulutnya.

Begitu butiran masuk, Gentapati mengangkat kakinya dari leher Datuk Penyebar Maut. Lantas tubuhnya berbalik. Pandangannya langsung beredar ke sekeliling, seolah mengawasi semua orang yang masih berdiri gemetar di tempatnya.

"Datuk!" panggil Gentapati tanpa menoleh. "Kumpulkan semua orang. Dan, suruh mereka menelan satu-satu butiran yang ada di kantong ini!"

Gentapati segera melemparkan kantong ke arah Datuk Penyebar Maut yang mulai bangkit sambil meringis kesakitan.

"Semua orang yang ada di sini, dengar! Kalian satu persatu harus menelan butiran yang ada di kantong itu! Itu jika kalian masih ingin hidup! Nah, sekarang kalian maju!" ujar Gentapati berteriak.

Beberapa orang masih tampak ragu-ragu. Namun tatkala melihat Datuk Penyebar Maut mengangguk perlahan, satu persatu mulai melangkah ke arah Datuk Penyebar Maut.

Dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi beberapa orang menerima butiran dari kantong yang berada di tangan Datuk Penyebar Maut, dan langsung menelannya.

"He... he... he...!" Gentapati tertawa mengekeh. "Butiran itu berisi racun! Dan akan bekerja, setelah lima purnama yang akan datang. Jika pada saat yang ditentukan, kalian tidak datang ke puncak Gunung Wilangkor dan mengangkat sumpah menjadi anggota partaiku, tubuh kalian akan menghitam dengan kulit mengelupas!" ancam Gentapati di sela tawanya.

Beberapa orang terperanjat. Dan mereka hanya bisa mengumpat panjang pendek dalam hati.

"Jika kalian kelak datang, aku akan memberi penawarnya!" sambung Gentapati. Kemudian kakinya melangkah menuju pintu bangunan yang dari tadi tampak tertutup.

Di depan pintu langkah Gentapati berhenti.

Kemudian ditariknya bandul loncengnya.

Teng! Teng!

Suara berdenting keras terdengar. Namun belum lenyap suara dentingan...

"Ganda Mayat! Keluarlah! Aku. "

Belum habis kata-katanya, sekonyongkonyong pintu bangunan di depan Gentapati berdiri ambrol. Pada saat yang sama, mendadak melesat sosok putih dari dalam bangunan.

Begitu mendarat lima tombak di hadapan Gentapati, baru jelas siapa sosok ini. Dia ternyata seorang laki-laki berusia lanjut. Rambutnya sudah memutih dan tegak kaku serta jarang. Demikian juga jenggot dan kumisnya. Raut wajahnya pucat, bagai tak pernah terkena sinar. Matanya bulat, namun tersuruk dalam rongga yang amat menjorok ke dalam. Kulit di wajahnya sangat tipis dan hampir tak terlihat, membuat tulang-tulang wajahnya bertonjolan. Tubuhnya kurus kering, terbungkus pakaian putih yang hanya dibalutkan di sekujur tubuhnya. Tapi yang membuat orang segera menjauh jika berhadapan, sosok berbalut kain putih ini ternyata menyebar bau amis seperti mayat. Karena itulah orang-orang persilatan menjulukinya Ganda Mayat.

Dan memang, Ganda Mayat adalah salah seorang berkepandaian tinggi dari jajaran atas golongan sesat. Dia mau bekerja untuk siapa saja, asalkan mendapatkan bayaran. Namun dalam setiap menyelesaikan pekerjaan, dia tak turun tangan sendiri. Jika yang dihadapi orang yang berilmu tinggi, barulah dia akan turun tangan. Maka tak heran jika Ganda Mayat mempunyai beberapa anak buah. Bahkan tempat tinggalnya pun dijaga ketat. Dalam beberapa tahun terakhir ini. Ganda Mayat memang leluasa malang melintang tanpa ada yang menghadang. Hal ini terjadi, tepatnya setelah Gentapati yang waktu itu merajalela, dapat ditumbangkan tokoh-tokoh golongan putih.

Namun dalam beberapa hari terakhir ini, Ganda Mayat agak begitu khawatir. Perasaan itu timbul, setelah mendengar kabar tentang kemunculan dua orang gadis berilmu tinggi yang berhasil menghancurkan beberapa perguruan silat, dan merobohkan beberapa tokoh kosen. Dan kedua gadis itu membawa-bawa nama Gentapati!

Tadi, tatkala terdengar ribut-ribut di luar. Ganda Mayat sengaja tidak menampakkan diri. Dia sengaja menunggu. Tapi ketika didengarnya yang berteriak adalah seorang laki-laki, tanpa pikir panjang lagi tubuhnya melesat ke luar.

Kini sepasang mata Ganda Mayat berputar liar. Tulang-tulang yang bertonjolan di wajahnya tampak bergerak-gerak, seiring berkerutnya dahi. Bahkan sesaat kemudian, sepasang kakinya mundur satu tindak ke belakang begitu mengetahui orang yang kini berdiri di hadapannya.

"Gentapati...?!" desis Ganda Mayat, seperti tersedak.

"Hm... Syukur kalau kau masih mengenaliku. Ganda Mayat!" gumam Gentapati dengan senyum sinis. "Ganda Mayat! Waktuku tidak banyak. Di tempat ini, tinggal kaulah satu-satunya yang belum menyatakan masuk menjadi anggota partaiku! Sekarang, cepat berlututlah!"

Ganda Mayat menggeram. Pandangannya langsung berputar ke arah beberapa anak buahnya.

"Mereka telah bersedia masuk anggota partaiku!" usik Gentapati, selagi Ganda Mayat menebar pandangan. Laki-laki tua berbau amis ini tersentak. Sementara Gentapati tertawa mengekeh, membuat loncengnya berdenting keras.

"Gentapati! Kau boleh memaksakan kehendakmu atas tikus-tikus itu. Tapi terhadapku...? Mungkin tidak semudah dugaanmu!" desis Ganda Mayat.

"Aku tak butuh omong congkakmu, Ganda Mayat! Yang ku mau, kau berlutut di hadapanku. Dan, menjadi anggota partaiku!" hardik Gentapati. "Sungguh sayang, aku orang yang tidak suka dipaksa!"

Habis berkata Ganda Mayat mendongak. Seketika bau busuk segera menebar. Beberapa bekas anak buahnya buru-buru menutup hidung masing-masing.

"Matahari sudah tinggi. Dan aku tak suka dengan matahari. Selagi belum terlambat, cepatlah angkat kaki dari mukaku, Gentapati!" sambung Ganda Mayat sambil mengelus jenggotnya yang jarang.

"Hm.... Jika begitu, berarti kau telah siap dengan gurat kematian, Ganda Mayat!"

"Jahanam!" bentak Ganda Mayat sambil berbalik seakan-akan hendak kembali ke dalam bangunan tempat tinggalnya.

Namun mendadak, tubuh laki-laki berbau amis ini berkelebat cepat membalik sambil mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Gentapati.

Wusss...!

Serangkum angin menggemuruh disertai bau busuk segera melesat.

Teng! Teng!

Saat bersamaan terdengar dentingan lonceng bergaung keras. Dan begitu Gentapati menyentakkan tangannya, melesat asap biru yang menderu dahsyat.

Tanah dan debu di depan halaman bangunan ini berhamburan, membawa bau busuk bercampur aduk. Lantas.... Blarrr...!

Mendadak terdengar ledakan dahsyat yang mengguncang tempat ini. Ganda Mayat terpental hingga membentur pintu bangunan yang telah jebol. Ketika mencoba bangkit mukanya bertambah pias dan memutih. Tubuhnya tampak bergetar hebat.

Di pihak lain, Gentapati terhuyung-huyung lalu roboh ke tanah. Setelah mengucek-ucek sepasang matanya yang buta, kepalanya segera menggeleng-geleng.

Sementara itu Ganda Mayat tidak bisa menahan geramnya. Saat itu juga sepasang kakinya menjejak, membuat tubuhnya yang kurus kering melayang ringan ke depan dengan kedua tangan bergerak cepat ke sana kemari. Sementara, kakinya berputar-putar liar menghantam. Pada setiap gerakan tangan dan kakinya, menebar bau busuk disertai sinar putih yang menyilaukan! Hebatnya, sebelum tangan dan kakinya sempat melabrak tubuh Gentapati, larikan beberapa sinar putih telah melesat terlebih dahulu!

Namun sebegitu jauh, Gentapati masih tampak tegak diam. Bahkan sepasang matanya yang buta terpejam rapat. Dan satu depa larikan sinar putih berkilauan menghantam, mendadak Gentapati menjatuhkan diri ke samping. Dengan tubuh miring, kedua kakinya langsung memutar ke depan.

Wusss...!

Angin bersiutan melesat, memapak beberapa larik sinar putih.

Tar! Tar!

Terdengar beberapa kali letusan ketika angin yang dibuat Gentapati membentur sinar putih.

Pada saat yang sangat singkat, tangan dan kaki Ganda Mayat datang. Seketika Gentapati cepat mengibaskan kedua tangannya.

Plak! Plak!

Dua pasang tangan saling bentrok mengeluarkan suara benturan keras beberapa kali. Tubuh Ganda Mayat tampak terpental balik, lalu bergulingan di atas tanah dengan telinga dan hidung mengucurkan darah. Sementara Gentapati hanya terseret dua tombak menyuruk tanah.

Sambil mengusap darah Ganda Mayat bangkit. Tapi belum juga sempurna bangkitnya, tiba-tiba tubuh Gentapati melesat laksana kilat. Kakinya terjulur, siap menghantam kepala. Begitu cepat dan mendadaknya serangan itu. Dengan sebisa-bisanya Ganda Mayat mengangkat tangan untuk melindungi kepala. Namun di luar dugaan, tendangan Gentapati berbelok, dan tahu-tahu menghantam dada Ganda Mayat.

Desss! "Aaakh...!"

Ganda Mayat terjengkang ke belakang disertai pekikan keras, lalu jatuh keras menimpa tanah. Dan selagi hendak merambat bangkit, Gentapati telah menyentakkan kedua tangannya kembali. Wesss...!

Paras Ganda Mayat mendadak putih dengan mata terbeliak dan tubuh gemetar melihat luncuran asap biru ke arahnya. Dia berusaha mengelak, namun gerakannya lamban. Sehingga sebelum tubuhnya dapat digerakkan, asap biru itu telah menghantam tubuhnya.

Desss...! "Aaa...!"

Tubuh Ganda Mayat kontan melayang, tatkala terhantam asap biru dari telapak Gentapati. Tak lama, tubuhnya telah jatuh berdebuk di tanah. Dan tidak bergerak-gerak lagi!

Gentapati menggerak-gerakkan kepalanya, membuat loncengnya berdenting. Lalu tubuhnya berbalik menghadap beberapa bekas anak buah Ganda Mayat.

"Dengar! Lima purnama yang akan datang, kalian kutunggu di puncak Gunung Wilangkor! Dan sejak hari ini, tempat ini kuserahkan pada kalian! Kau, Datuk Penyebar Maut, kuangkat jadi wakilku di sini! Nah, sekarang aku perlu kuda. Cepat ambilkan!"

"Baik, Gentapati!" jawab Datuk Penyebar Maut sambil menjura diikuti beberapa orang lain.

5

"Rani, istirahatlah! Aku akan keluar mencari daun-daunan untuk mengobati lukalukamu!" ujar Puspasari seraya beranjak.

Saat ini dua gadis kembar berjuluk Ratu Petaka Hijau berada dalam sebuah bangunan rumah kayu di pinggir Hutan Sedayu yang berbatasan dengan Desa Jatisrono.

Pusparani yang masih merasakan luka dalam akibat bentrok pukulan dengan Mahesa Galuh hanya mengangguk perlahan, lalu merebahkan diri di sebuah dipan yang beralas jerami kering. Lantas kedua matanya dipejamkan dengan kedua tangan menakup di atas dada. Hembusan napasnya tampak teratur dan panjang-panjang. Pusparani mencoba mengerahkan tenaga hawa murni ke seluruh persendian tubuhnya yang terasa ngilu.

Sementara Puspasari tersenyum, lalu melangkah perlahan ke arah pintu. Dibukanya daun pintu perlahan-lahan agar tidak mengusik ketenangan saudara kembarnya.

Begitu berada di luar, Puspasari sesaat memandang ke sekeliling. Setelah merasa tidak ada orang lain di tempat itu, tubuhnya segera berkelebat ke dalam hutan. Sebentar kemudian, tubuhnya telah lenyap di balik pohon-pohon hutan serta semak belukar.

"Hm... Untung Guru juga mengajari cara meramu daun-daunan...," gumam Puspasari.

Kini gadis itu telah berada di sebuah kawasan yang ditumbuhi bermacam-macam tumbuhan yang bisa dibuat obat-obatan.

"Matahari masih baru saja beranjak dari titik tengahnya...," kata hati Puspasari sambil menengadah ke atas. "Masih cukup waktu untuk mencari daun-daun yang kuperlukan sambil melihat suasana!"

Puspasari terus berkata-kata sendiri. Sementara, angannya mulai melayang jauh.

"Ah! Kenapa sejak bertemu pemuda yang bergelar Pendekar Mata Keranjang aku tak bisa menepis bayangan wajahnya? Apakah aku telah jatuh cinta...? Tapi, apakah mungkin? Dia adalah salah seorang pendekar dari golongan putih. Selain itu, dia tampan yang bukan mustahil banyak gadis yang menyukainya! Haruskah aku mengorbankan cita-cita hanya karena seorang pemuda?"

Seraya melangkah, Puspasari mengawasi beberapa tumbuhan. Namun gerakan langkahnya tiba-tiba terhenti ketika....

"Ha... ha... ha !"

Terdengar derai tawa yang makin lama semakin dekat dengan tempat Puspasari berada. Setelah beberapa saat, gadis ini berpaling ke belakang, ke arah sumber suara. Namun baru saja menggerakkan kepala, Puspasari tersentak. Kakinya langsung mundur sambil berbalik tubuh. Ternyata di belakangnya telah berdiri seorang laki-laki dan seorang perempuan.

"Hm.... Suara tawanya terdengar masih jauh. Namun, orangnya berada di sini. Siapa pun mereka, pasti berilmu tinggi!" gumam batin Puspasari. Sepasang matanya membesar, mengawasi dua orang di hadapannya yang masih tertawa berderai-derai!

Yang laki-laki berpakaian putih bersih. Wajahnya tampan dengan sepasang mata menyorot tajam. Rambutnya panjang sebahu. Usianya kirakira masih tiga puluh tahun. Sementara yang perempuan berpakaian merah muda. Rambutnya ikal dan panjang bergerai. Bentuk dadanya membusung kencang dengan pinggul besar. Parasnya manis. Sepasang matanya bulat dan berbinar. Ketika tertawa, lesung pipitnya tampak menghiasi kedua pipinya yang montok. Usianya kira-kira dua puluh tahun.

"Siapa kalian...?!" tegur Puspasari, setelah berhasil menekan rasa terkejutnya.

Puspasari memandang berganti-ganti pada dua orang di hadapannya dengan kening berkernyit.

Laki-laki dan perempuan yang ditegur saling berpandangan, lalu tertawa. Begitu gema tawa lenyap, laki-laki tampan itu berpaling ke arah Puspasari. Sepasang matanya berputar liar, menelusuri sekujur tubuh Puspasari dan berhenti pada pahanya.

"Gadis cantik! Kalau tak salah, kami sedang berhadapan dengan salah seorang dari dua gadis yang bergelar Ratu Petaka Hijau. Apa betul?!" tanya laki-laki itu.

Puspasari menyipitkan kedua matanya, lalu menyeringai sinis. Namun, dia tak menjawab.

Sementara gadis berbaju merah muda mendelik saat pemuda di sampingnya memandang Puspasari, seakan-akan hendak menerkam. Lantas tatapannya beralih ke arah Puspasari.

"Gadis binal, dengar! Aku adalah Sapta Kenaka. Sedang kekasihku ini Gembong Batara! Kami memang mencarimu!" bentak perempuan berbaju merah muda yang mengaku bernama Sapta Kenaka.

Sementara Puspasari tampak terkejut, mendengar nama mereka. Dalam dunia persilatan, nama Sapta Kenaka dan Gembong Batara memang cepat dikenal dan menjadi buah bibir. Karena mereka berdua yang dikenal sebagai sepasang kekasih, ternyata telah unjuk taring dengan merobohkan beberapa tokoh angkatan tua yang cukup disegani. Sepak terjang sepasang kekasih ini memang sukar ditebak arah tujuannya. Jika dimasukkan dalam golongan lurus, mereka nyatanya beberapa kali terlibat bentrok dengan orang-orang dari golongan putih. Kalau digolongkan orang sesat, mereka berdua buktinya telah pula merobohkan beberapa tokoh hitam. Bahkan kini, mencari jejak dua gadis yang bergelar Ratu Petaka Hijau.

"Begitu...? Lantas, apa maksud kalian mencariku...?!" tanya Puspasari, balas membentak.

Sepasang kaki gadis ini sengaja dipentangkan agak lebar, hingga pahanya makin terlihat hampir seluruhnya. Sementara sepasang matanya tak memandang Sapta Kenaka, sebaliknya malah menatap Gembong Batara sambil mengerdip sebelah. Puspasari sepertinya memancing kecemburuan Sapta Kenaka.

Sapta Kenaka makin mendelik. Sementara Gembong Batara semakin tidak berkedip memandang paha Puspasari.

"Kami ingin mengantarmu ke akhirat!" jawab Sapta Kenaka, galak.

Wanita ini rupanya geram melihat tingkah kekasihnya yang seperti terpesona dengan keindahan tubuh Puspasari.

Puspasari tersentak mendengar jawaban Sapta Kenaka. Dadanya sedikit bergetar. Sungguh tak disangka kalau akan memperoleh jawaban demikian. Apalagi, dia baru pertama kali ini bertemu Sapta Kenaka dan Gembong Batara.

"Membunuhku...?" ulang Puspasari sambil tertawa berderai. "Lucu! Tak ada hujan tak ada panas, mendadak sepasang kekasih datang membawa kabar buruk "

"Kau tak usah banyak omong, Perempuan Liar! Pasang telingamu baik-baik! Kami tak ingin siapa pun juga merajalela di rimba persilatan. Siapa pun yang berani menonjolkan diri, kami pasti akan menghadapinya!" dengus Sapta Kenaka lantang.

"Oh, hebat betul bicaramu, Betina! Namun sayang, perjalananmu kiranya hanya sampai hari ini !" balas Puspasari.

Begitu kata-katanya selesai, satu dari Ratu Petaka Hijau ini melompat ke depan. Begitu berada setengah tombak di depan Sapta Kenaka, kedua tangannya cepat menyentak.

Wusss...!

Gelombang asap hijau segera melesat ke depan. Karena jarak yang terlalu dekat, maka tak ada waktu lagi bagi Sapta Kenaka untuk berkelit.

"Heaaa...!"

Sambil berteriak nyaring, Sapta Kenaka menghentakkan kedua tangannya pula.

Glarrr...!

Tempat itu mendadak bagai dibuncah ledakan dahsyat, saat dua pukulan yang samasama mengandung tenaga dalam tinggi bentrok.

Tubuh Sapta Kenaka terdorong hingga tiga tombak ke belakang dan jatuh terduduk. Dadanya bergetar dan berdenyut nyeri. Matanya terasa perih. Begitu memandang ke arah Puspasari matanya kontan terbelalak tak percaya. Sungguh tak disangka jika tenaga dalam salah satu gadis bergelar Ratu Petaka Hijau demikian hebatnya. Karena biasanya, sampai saat ini belum ada yang mampu bertahan bila bentrok pukulan dengannya.

Sementara Puspasari yang terpental satu tombak ke belakang segera bangkit berdiri. Dia juga tampak terkejut, karena Sapta Kenaka ternyata masih bisa bertahan. Padahal waktu mengirimkan serangan, setengah dari tenaga dalamnya telah dikerahkan.

Sementara itu Gembong Batara cepat-cepat menjauh ketika terjadi pertarungan. Tampak bibirnya menyeringai dengan jakun turun naik. Gejolak birahinya seketika terbangkit.

"Hm.... Aku tak akan turun tangan. Akan kutunggu hingga keduanya loyo. Lantas..., aku akan bisa mencicipi tubuh gadis itu! Bentuk tubuhnya memang mempesona.... Tentunya dia juga...," gumam Gembong Batara seraya tersenyum lagi membayangkan sesuatu yang indah nanti.

Sementara itu, Puspasari telah bangkit. "Betina! Mana omong besarmu, he...?!" bentak Puspasari.

Wajah Sapta Kenaka merah padam. Bibirnya saling menggegat. Dengan mengumpat tak jelas, wanita ini bangkit. Sebentar matanya melirik Gembong Batara, sesaat kemudian beralih pada Puspasari dengan sorot tajam.

"Heaaa...!"

Sambil mengeluarkan seruan nyaring, mendadak Sapta Kenaka menjejak tanah. Tubuhnya melesat cepat ke depan. Membawa serangan berhawa maut. Dan satu tombak lagi tangannya menggebrak ke arah kepala Puspasari, sekonyong-konyong tubuhnya membuat putaran sekali di udara. Lalu dengan cepat kedua kakinya menerjang.

Puspasari hanya tersenyum. Sejengkal lagi kedua kaki Sapta Kenaka menghantam, tubuhnya direbahkan ke tanah.

Wuttt...!

Sepasang kaki Sapta Kenaka hanya menghantam tempat kosong. Saat bersamaan, Puspasari cepat menggerakkan kedua tangannya ke atas.

"Hih...!"

Wesss...!

Serangkum angin langsung meluruk,

membuat Sapta Kenaka tersentak kaget. Untung dia masih dalam keadaan sigap. Tatkala angin berisi tenaga dalam itu melesat, cepat pula kedua tangannya memapak dengan sentakan.

Blarrr...!

Terdengar lagi ledakan dahsyat. Namun karena Sapta Kenaka memapak serangan dari udara, tubuhnya langsung terpental dan jatuh menyuruk tanah. Dari sudut bibirnya tampak mengalir darah segar. Matanya berkunang-kunang.

Sementara itu Puspasari sempat bergulingan di atas tanah. Pakaiannya tampak koyak, sampai-sampai bahu hingga hampir buah dadanya yang berkulit putih terlihat jelas.

Sepasang mata Gembong Batara tambah membesar. Tenggorokannya turun naik. Sementara ujung hidungnya mengembang mengeluarkan dengus napas memburu, penuh gejolak nafsu.

Sapta Kenaka saat ini sudah dapat menguasai diri. Dan kini dia segera menarik kedua tangannya ke belakang dengan mulut berkemik. Lantas dengan sebuah lompatan panjang, kedua tangannya dihantamkan ke depan.

Wusss!

Angin kencang yang mengandung tenaga dalam tinggi meluruk deras. Sedangkan Puspasari yang dari tadi telah bersiaga, segera pula menghantamkan kedua tangannya.

Wusss...!

Glarrr...!

Kembali terdengar ledakan dahsyat menggelegar saat kedua pukulan itu bertemu. Namun, lagi-lagi kali ini Sapta Kenaka harus terjungkal. Ini karena saat melancarkan serangan, dia meloncat. Sementara Puspasari menunggu dengan sepasang kaki kokoh. Sehingga, dia hanya terjajar satu tombak ke belakang.

Sapta Kenaka tersuruk ke tanah dengan pakaian hangus. Kulit sekujur tubuhnya memerah, bagai terpanggang. Kedua matanya tampak melotot. Sedang pipinya tertarik ke atas sedikit, meringis menahan sakit yang mendera dadanya. Tampaknya dia telah terluka dalam.

Melihat keadaan demikian, secepat kilat Gembong Batara berkelebat ke arah Sapta Kenaka. Begitu tiba dengan cekatan jari-jarinya menotok jalan darah kekasihnya.

"Kau terluka, Sapta Kenaka. Cepat salurkan hawa murni. Aku akan menotok jalan darah yang menuju arah jantung! Aku khawatir, janganjangan pukulan gadis itu mengandung racun...," ujar Gembong Batara.

Sapta Kenaka sebenarnya mau mencegah. Namun gerakan tangan Gembong Batara telah terlebih dahulu bergerak. Hingga tanpa bisa dicegah lagi, tubuhnya kini diam tak bergerak.

"Hm.... Saatnya aku menghadapi gadis itu! Aku akan menggiringnya menjauh dari sini. Dengan demikian, apa pun yang nanti akan kulakukan terhadap gadis itu, Sapta Kenaka tidak tahu...! Ah! Aku ingin rasanya segera menikmati kehangatan tubuhnya "

Sambil berpikir begitu, Gembong Batara bangkit dan melangkah mendekat Puspasari. Bibirnya tersenyum, tak menampakkan rasa permusuhan sama sekali. Dan ini membuat Puspasari yang tampak sudah mengangkat kedua tangannya hendak melepaskan serangan, mengernyitkan dahi. Namun di saat itulah mendadak Gembong Batara mengangkat tinggi-tinggi tangan kirinya yang mengepal. Sementara tangan kanan diselempangkan di depan dada, memegang bahu kirinya.

"Hiaaa !"

Disertai bentakan menggelegar secepat kilat Gembong Batara mendorong kedua tangannya ke depan.

Berrr. !

Terdengar suara menderu bagai gulungan ombak menerjang yang makin menggemuruh disertai badai menghempas.

Puspasari yang sudah mengurungkan serangannya jadi tercekat dengan mata mendelik. Gadis ini tak bisa lagi menghindar.

"Jahanam! Bedebah busuk! Kau penipu. !"

teriak Puspasari.

Blash !

Tubuh Puspasari kontan terpental hingga dua tombak, begitu terhantam angin menggemuruh dari serangan Gembong Batara. Dan keras sekali tubuhnya mencium tanah setelah menghantam sebuah pohon besar.

Beberapa lama Puspasari terkapar di atas tanah. Dari sudut bibirnya tampak mengalir darah. Dadanya berdenyut sakit. Kedua telinganya berdengung, bagai ditusuk-tusuk. Dan pakaian hijaunya koyak di sana sini.

Gembong Batara tersenyum. Sepasang matanya nanar, mengawasi tubuh Puspasari yang telentang menantang.

"Hm.... Akan kubawa ke balik pohon sana. Ha... ha...!" oceh Gembong Batara dalam hati, seraya melangkah mendekati Puspasari.

Sejenak Gembong Batara melirik Sapta Kenaka. Namun tatkala kekasihnya tampak memejamkan kedua mata, laki-laki ini tersenyum lebar seraya mengangkat bahunya.

Begitu dekat, tangan Gembong Batara bergerak cepat akan menjamah dada Puspasari yang tampak membusung kencang, karena pakaiannya koyak. Namun....

Wuttt!

Sekonyong-konyong Puspasari melepas pukulan dengan memutar tubuhnya. Sementara kakinya menghantam deras

"Uts...! Sialan!" teriak Gembong Batara terkejut, langsung merebahkan diri untuk berkelit. Dan nyatanya, terjangan kaki Puspasari melabrak tempat kosong.

Dengan gerak cepat, Gembong Batara segera bangkit. Dan tubuhnya langsung berkelebat mengitari tubuh Puspasari. Gerakannya makin lama makin cepat, membuat sepasang mata gadis itu berkunang-kunang. Apalagi, putaran tubuh Gembong Batara mengeluarkan desir angin dan asap yang memerihkan mata.

"Aaah...!"

Puspasari mengeluh tertahan ketika dirinya bagai terombang-ambing bagai terbawa ombak dahsyat. Kedua tangan dan kakinya coba menerabas pusaran angin dan asap. Namun, tangan Gembong Batara ternyata lebih cepat bergerak.

Tuk! Tuk!

Puspasari kontan lemas tak berdaya ketika dua totokan Gembong Batara tahu-tahu mendarat di punggungnya. Bahkan kini suaranya bagai tersendat di tenggorokan.

Sementara Gembong Batara segera menghentikan putaran tubuhnya dengan bibir menyungging senyum. Sepasang matanya kembali memandang ke arah kekasihnya.

Sapta Kenaka ternyata masih memejam. Dia rupanya terluka agak parah. Melihat hal ini tawa Gembong Batara pecah. Lalu diangkatnya tubuh Puspasari, dan dibawanya ke balik pohon besar.

Perlahan-lahan Gembong Batara membaringkan tubuh Puspasari. Gadis ini coba berteriak, namun tak ada suara sedikit pun yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Gembong Batara terus tertawa bergelak-gelak. Sepasang matanya semakin membeliak melihat gugusan dada Puspasari yang terguncang karena suaranya tercekat di tenggorokan dan dadanya.

Lalu tanpa banyak bicara lagi, tangan Gembong Batara bergerak. Dan....

Brettt   Brettt!

Pakaian hijau Puspasari yang koyak di sana-sini langsung tanggal dan luruh di atas tanah.

"Hm.... Baru kali ini aku melihat tubuh yang begini montok dan mulus. Tentunya, hangat pula... Ha... ha... ha...!" gumam Gembong Batara, seraya melepas bajunya sendiri. Napasnya memburu, sementara matanya tak berkedip, merah, dan melotot.

Sambil menahan liurnya yang hendak jatuh dari mulut, perlahan-lahan Gembong Batara bergerak mengusap kaki dan tangan Puspasari. Lalu dengan mendengus keras, ditindihnya tubuh Puspasari yang sudah tampak pasrah!

Namun belum juga Gembong Batara melaksanakan perbuatannya

Werrr. !

Mendadak, terdengar suara angin kencang menderu bergemuruh. Dan sebelum sempat Gembong Batara melihat apa yang terjadi, tubuhnya yang menindih tubuh Puspasari sudah terdorong dan terguling ke samping.

Gembong Batara mencoba menahan deru angin dengan kerahkan tenaga dalam. Namun belum sampai tangannya bergerak, tubuhnya telah terpental dan menyusup ke batang pohon.

Pada saat yang sama, sebuah bayangan berkelebat, langsung menyambar pakaian Gembong Batara. Lalu dilemparkannya pakaian itu di atas tubuh Puspasari yang sudah hampir polos.

Sementara dengan mendengus marah, Gembong Batara berpaling ke belakang dan langsung terkejut. Tak jauh dari tubuh Puspasari yang masih tertotok ternyata telah berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Pakaiannya berjubah ketat warna hijau lengan pendek dilapis pakaian dalam warna kuning lengan panjang. Rambutnya yang panjang dikuncir ekor kuda. Pemuda ini berdiri sambil mengibas-ngibaskan sebuah kipas warna ungu di depan dadanya. Rupanya kibasan kipas itulah yang telah membuat tubuh Gembong Batara terpental dari atas tubuh Puspasari.

"Keparat tengik!" serapah Gembong Batara

keras.

Laki-laki ini berusaha bangkit. Namun se-

kali lagi pemuda berambut ekor kuda itu mengibaskan kipasnya.

Werrr...!

Deruan kencang dan menggemuruh kembali menggebrak ke arah Gembong Batara. Begitu cepat kibasan kipasnya, hingga Gembong Batara tak bisa lagi menghindar.

Brash!

Untuk kesekian kalinya, tubuh Gembong Batara terhempas. Pemuda berambut kuncir ekor kuda yang tak lain Pendekar Mata Keranjang 108 tersenyum. "Anak manis! Perbuatanmu sungguh menjijikkan! Jika dalam rimba persilatan orang sepertimu dibiarkan hidup, dunia persilatan akan ce-

mar!" desis Pendekar Mata Keranjang 108. "Jahanam! Siapa kau...?!" hardik Gembong

Batara, seraya memegangi dadanya yang terasa bagai berhenti berdetak.

"Ha... ha... ha...!" Aji tertawa lebar. "Orang macam kau tak pantas mengenalku! Cepat menyingkirlah dari hadapanku, sebelum aku muak melihat tampangmu yang hanya pakai kolor!"

Gembong Batara yang kini telah bangkit segera menyentakkan kedua tangannya ke depan.

Wesss...!

Satu gelombang angin menderu keras meluruk ke arah Pendekar Mata Keranjang 108. Namun karena tenaganya yang disalurkan ke tubuhnya telah terkuras, membuat serangannya begitu lamban.

Sementara dengan gerakan indah, meloncat ke samping, menghindari serangan pukulan jarak jauh. Dan dari arah samping tangan kirinya balas menyentak. Sementara tangan kanannya mengebut melengkung ke depan.

Wesss! Plash...!

Serangkum angin disertai sebuah sinar lengkung melesat ke arah Gembong Batara yang kini tampak berdiri bengong, karena terkejut bercampur heran. Dan tak ada waktu lagi buatnya untuk menghindar. Sehingga....

Brashhh !

"Aaa !"

Tubuh Gembong Batara kembali terpental, dan melayang bagai kapas ditiup angin disertai jerit tertahan. Tubuhnya baru berhenti, setelah menerabas pohon besar dan terkapar di sampingnya. Dari hidung dan telinganya darah kehitaman tampak menetes. Pakaian yang hanya kolor, hangus dan robek.

"He! Apa lagi yang kau tunggu...? Apa kau ingin terus menuju akhirat...?!" bentak Pendekar Mata Keranjang 108 tatkala Gembong Batara masih menggelosor di atas tanah.

Dengan tertatih-tatih, Gembong Batara segera melangkah perlahan ke arah tergeletaknya Sapta Kenaka. Sejenak matanya melirik Aji. Dahinya langsung mengernyit, seperti mengingatingat. Namun sebentar kemudian tubuhnya berkelebat ke arah Sapta Kenaka. 

Seraya masih mendengus dan bergumam panjang pendek tak karuan, Gembong Batara segera membebaskan totokan pada tubuh Sapta Kenaka.

Sapta Kenaka sejenak mengerjapngerjapkan sepasang matanya. Dan tatkala melihat keadaan kekasihnya, Sapta Kenaka mendadak berdiri dengan mata mendelik.

"Siapa yang berbuat tak senonoh padamu ini, Kakang?!" tanya Sapta Kenaka, keras.

Gembong Batara   tidak   menjawab,   dan hanya mengangkat bahu.

"Kekasihku! Lebih baik kita tinggalkan tempat ini!" ajak Gembong Batara, serak parau.

Namun, rupanya Sapta Kenaka penasaran "Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum men-

getahui siapa yang telah berbuat seperti ini, hingga kau begini!" tolak Sapta Kenaka, keras.

"Aku yang telah memberi pelajaran padanya! Karena, dia akan berbuat tak senonoh pada gadis berbaju hijau itu!"

Mendengar ada suara lagi, serentak Sapta Kenaka dan Gembong Batara sama-sama menoleh.

Gembong Batara tersentak. Sementara Sapta Kenaka dadanya berdesir melihat siapa orang yang memberi jawaban.

"Hm.... Pemuda tampan. Siapa dia...? Menilik dari pakaian dan ciri-cirinya, apalagi melihat kipas warna ungu bertuliskan 108 di tangannya, pastilah dia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang...," kata batin Sapta Kenaka seraya memandang tak berkedip. 

"Jangan hiraukan omongannya! Ayo kita tinggalkan tempat ini!" desak Gembong Batara seraya menggandeng tangan Sapta Kenaka.

Walau dengan wajah memberengut, akhirnya Sapta Kenaka mengikuti juga langkah Gembong Batara yang seakan tak sabar untuk segera meninggalkan tempat itu. Namun demikian, matanya masih saja memandang ke arah Aji.

Aji tersenyum. Bahkan mengerdipkan sebelah matanya, membuat Sapta Kenaka menghentikan langkahnya. Namun tarikan tangan Gembong Batara telah membuatnya kembali melangkah, meski dalam hatinya menyumpah-nyumpah.

Setelah dua orang itu menghilang di balik pohon dan semak belukar, Pendekar Mata Keranjang 108 segera berkelebat ke arah Puspasari yang masih tergeletak dalam keadaan tertotok.

Sepintas pandang, Aji telah dapat mengetahui di mana Puspasari tertotok. Segera dibebaskannya totokan pada gadis itu. Kemudian cepat Pendekar Mata Keranjang 108 berdiri membelakangi.

"Pakailah pakaian seadanya itu! Dan setelah itu, kalau kau mau, kembalilah ke jalan benar. Aku tahu, kau berilmu tinggi. Sungguh sayang jika ilmumu digunakan di jalan sesat. Maaf! Aku telah menggurui mu "

Habis berkata, Aji berkelebat pergi.

Untuk beberapa saat Puspasari masih terkesima. Dadanya seperti dibuncah beberapa perasaan. Namun, gadis ini segera sadar kalau Pusparani mungkin telah mencemaskan dirinya. Dia segera bangkit, lalu mengenakan bekas pakaian Gembong Batara. Sejenak matanya memandang ke arah Aji menghilang tadi. Hatinya berdegup kencang. Sepasang matanya nampak berkacakaca.

Setelah dapat menguasai perasaan, Puspasari cepat mencari tumbuhan yang diperlukannya untuk mengobati Pusparani. 6

Pendekar Mata Keranjang 108 kini telah memasuki kawasan Gunung Wilangkor. Pemuda ini memang bertekad akan datang lebih awal ke tempat ini, sehari sebelum hari yang ditentukan. Dengan demikian, dia akan lebih tahu siapa sebenarnya tokoh di balik kejadian yang akhir-akhir ini meresahkan beberapa tokoh silat. Tokoh yang mengancam orang-orang persilatan untuk bergabung dalam satu partai.

Baru saja Pendekar Mata Keranjang 108 sampai di lembah kala Gunung Wilangkor, terdengar derap kaki kuda di belakangnya. Rasa curiga, mendorongnya untuk mengetahui siapa penunggang kuda itu.

Maka sebelum derap ladam kuda lebih dekat ke arahnya, tubuhnya segera berkelebat dan bersembunyi di balik sebatang pohon.

Tidak lama, tampak seorang penunggang kuda melintas di depan Pendekar Mata Keranjang

108. Saat itu juga sepasang matanya tak berkedip memandang ke arah penunggang yang ternyata seorang dara jelita berpakaian biru. Rambutnya panjang tergerai. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat kecil yang pangkalnya berbentuk kepala seekor ular berwarna putih.

"Siapa gadis jelita ini? Apakah dia juga teman atau saudara seperguruan dua gadis berbaju hijau itu? Jika benar, sungguh luar biasa! Gadisgadis cantik berilmu tinggi, telah bersatu padu membuat keguncangan. Ckk.... Ckk...!" decak Aji

Belum juga puas Aji menikmati wajah cantik itu, dari arah yang sama kembali terdengar derap kaki kuda yang lain. Sebentar saja, sepasang bola mata Aji kembali terbelalak ketika melihat tampang penunggang yang baru datang. Dan lebih tak percaya lagi, saat penunggang kuda yang barusan datang ini menarik bandul lonceng yang ada di depan dadanya.

Teng! Teng!

Lonceng itu berdentang nyaring, dan memekakkan telinga.

Penunggang kuda yang baru datang ternyata seorang laki-laki berusia lanjut, berpakaian hitam. Rambutnya sudah memutih. Bentuk mukanya tirus dengan kedua pipi amat cekung. Sementara, kedua matanya buta!

Gadis yang telah melintas di depan Pendekar Mata Keranjang 108 segera menghentikan lari kudanya. Segera kepalanya berpaling, tatkala mendengar derap langkah kuda di belakangnya. Dia sejenak terperanjat, lalu membalikkan arah kudanya. Sementara laki-laki berbandul lonceng yang tak lain Gentapati tertawa lebar.

"Hm.... Kau mencariku, Bidadari Tongkat Putih?" kata Gentapati pada gadis yang dipanggil Bidadari Tongkat Putih.

Gadis ini lebih terperanjat, mendengar lakilaki di hadapannya menyebutkan gelarnya.

"Kalau kau yang bergelar Gentapati, ucapanmu tidak salah!" jawab gadis berjuluk Bidadari Tongkat Putih.

"He... he... he...!"

Gentapati kembali mengekeh panjang.

"Ah! Rupanya kini telah banyak orang yang mencariku! Lantas, apa ada yang perlu kubantu...?!" tanya Gentapati datar.

"Tidak! Justru aku yang akan membantumu menunjukkan jalan ke alam kubur!" desis Bidadari Tongkat Putih, dingin.

"Adatmu memang tidak ada bedanya dengan gurumu! Kalau saat ini aku belum sempat membuat perhitungan dan pembalasan pada gurumu, tak apalah. Asalkan, aku dapat mencicipi muridnya!"

"Jangkrik! Si buta ini ternyata berilmu tinggi dan peka sekali...! Bagaimana dia tiba-tiba bisa tahu gadis di depannya?" rutuk batin Aji dengan hidung mengembang. Memang, lamatlamat hidungnya membaui aroma harum seperti bunga sedap malam.

Sepasang mata Aji berputar mencari-cari. "Di sini sepertinya tak terdapat bunga itu!

Lantas, dari mana aroma bunga itu? Lagi pula, bukankah aroma bunga itu hanya akan berbau pada malam hari...?"

Sambil berpikir begitu, mata Aji terus nyalang mencari. Sampai akhirnya matanya tertumbuk pada Bidadari Tongkat Putih.

"Hm.... Aku tahu sekarang. Si buta itu mengenali gadis ini mungkin dari aroma bunga! Ah! Tak disangka sama sekali. Sudah berwajah cantik, berbau harum lagi "

Namun Aji segera menghentikan kata hatinya saat....

"Mulutmu terlalu kotor, Tua Bangka! Dan sudah selayaknya jika mulutmu disumpal bersama mimpi besarmu untuk mendirikan partai kembali!" bentak Bidadari Tongkat Putih, lantang. Aji terkesiap mendengar kata-kata Bidadari

Tongkat Putih.

"Hm.... Jadi, inikah biang di balik tingkah Ratu Petaka Hijau?!" desis Aji ketika pandangannya beralih pada Gentapati.

Saat mendengar kata-kata Bidadari Tongkat Putih, Gentapati tersenyum.

"Dengar, Bidadari Tongkat Putih. Aku masih mau mengampuni selembar nyawamu, jika kau bersedia masuk menjadi anggota partaiku. Bahkan kau kelak akan kuberi kedudukan istimewa!" ujar Gentapati menawarkan.

"Simpanlah semua anganmu itu bersama mimpimu, Gentapati!" bentak Bidadari Tongkat Putih.

Saat itu juga Bidadari Tongkat Putih mengirimkan serangan dengan sentakan tangan kiri.

Wesss...!

Mendapati dirinya diserang begitu rupa, Gentapati hanya tersenyum. Lantas kepalanya mendongak menghadap langit, membuat lonceng di depan dadanya berdenting. Dan tiba-tiba kedua tangannya bergerak mengibas. Blash...!

Angin pukulan Bidadari Tongkat Putih kontan ambyar musnah. Dan ini membuat gadis itu tercengang. Padahal, serangan yang baru saja dilancarkan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Saat itu juga parasnya berubah.

Sementara itu Gentapati segera pula meloncat turun dari punggung kuda tunggangannya. Begitu mendarat, kakinya melangkah perlahan ke arah Bidadari Tongkat Putih. Sekitar dua tombak dari gadis itu, mendadak Gentapati menghentikan langkahnya. Belum sempat Bidadari Tongkat Putih berpikir lebih jauh, tubuh Gentapati bergetar. Dan tahu-tahu tubuhnya berputar cepat, membuat denting lonceng segera membahana bertalutalu menyentak suasana.

Bidadari Tongkat Putih buru-buru mengerahkan tenaga dalam yang langsung disalurkan pada gendang telinganya yang seperti tertusuktusuk. Sedangkan Aji yang terus mengawasi mengomel panjang pendek, karena harus berbuat yang sama.

Pada saat itulah tiba-tiba Gentapati seperti lenyap. Yang tampak kini hanyalah selarik gelombang warna biru melesat ke arah Bidadari Tongkat Putih.

Bidadari Tongkat Putih tersentak. Lalu secepat kilat tongkat di tangannya disetakkan.

Wuttt!

Saat itu juga gelombang asap putih berbentuk kepala seekor ular meliuk-liuk, memapak gelombang warna biru.

Blarrr...!

Terdengar ledakan hebat ketika dua kekuatan beradu. Tubuh Bidadari Tongkat Putih tampak terpental dari punggung kuda tunggangannya, dan jatuh berdebuk di atas tanah. Tapi belum sempat bergerak bangkit, gelombang asap biru sudah kembali melesat ke arahnya.

Splash! "Aaakh...!"

Terdengar seruan tertahan ketika asap biru menghantam gadis itu. Tubuh Bidadari Tongkat Putih yang akan bergerak bangkit, kembali menggelosor di tanah. Namun seluruh tenaga dalamnya segera dikerahkan untuk menangkis asap biru yang rupanya telah mengekang rongga dadanya.

Rupanya gelombang asap biru itu lebih kuat. Dan ini membuat mata Bidadari Tongkat Putih gelap. Pandangannya mendadak berkunang-kunang. Bibirnya bergetar dengan wajah pucat pasi.

Sementara tak jauh dari tempatnya, Gentapati berdiri tegak seraya tertawa mengekeh.

"Bidadari Tongkat Putih! Meski aku tak dapat lagi melihat wajahmu, firasatku mengatakan kau adalah seorang gadis cantik jelita dan bertubuh montok. Dan tentunya, sebelum kukirim ke alam kubur, kau juga ingin merasakan sentuhan hangat bukan...?" kata Gentapati mendesis menjijikkan. Wajah Bidadari Tongkat Putih makin pias. Bibirnya yang saling menggegat berwarna kebirubiruan, mendengar kata-kata Gentapati. Terbayang di benaknya apa yang akan dilakukan Gentapati terhadapnya.

Gentapati melangkah perlahan, mendekati tubuh Bidadari Tongkat Putih dengan hidung kembang kempis. Dua langkah lagi Gentapati sampai.

"Manusia bejat! Perbuatan yang akan kau lakukan tak akan berlangsung selama aku masih di depanmu!"

Langkah Gentapati terhenti ketika dari belakang terdengar bentakan menggelegar. Saat itu juga tubuhnya berbalik, menghadap suara yang baru saja membentak. Sejenak dahinya berkerut. Sepasang matanya yang buta mengerdip-ngerdip, seolah-olah melihat. Namun untuk beberapa saat dia hanya diam, seperti tak mengenali sosok di hadapannya.

"Setan! Siapa kau...?!" hardik Gentapati, karena tidak mengenali.

Sementara Bidadari Tongkat Putih membuka kelopak matanya yang dari tadi terpejam. Wanita ini juga nampak terkejut. Sepasang matanya membesar, mengawasi sosok yang secara tak langsung menyelamatkannya dari Gentapati.

"Hm    Siapa dia? Apakah dia akan mampu

mengalahkan Gentapati? Kalau tidak, celakalah aku! Tapi selagi mereka berhadapan, aku akan mengerahkan tenaga. Barangkali aku nanti dapat menolong...," gumam Bidadari Tongkat Putih dalam hati.

"Hei, jawab pertanyaanku. Siapa kau...?!" ulang Gentapati geram.

"Aku setan pencabut nyawa manusiamanusia macam kau!" jawab sosok yang tak lain memang Pendekar Mata Keranjang 108, dingin menggetarkan.

"Setan bangsat!" maki Gentapati geram. Belum juga gema suaranya lenyap, Genta-

pati sudah berkelebat. Dan tahu-tahu tubuhnya lenyap dari pandangan.

"Jangkrik! Tubuhnya sukar diikuti mata!" rutuk Aji dalam hati.

Dan mendadak, Pendekar Mata Keranjang

108 dikejutkan oleh melesatnya dua tangan di depan kepala. Untung saja Aji cukup sigap. Cepat tubuhnya mengegos ke kanan. Namun, tak urung tubuhnya terhuyung juga terkena sambaran angin kelebatan tubuh Gentapati.

Gentapati tampak marah besar, mendapati serangan pertamanya begitu mudah dihindari. Sebelumnya dia memang tidak menyangka. Karena diduga orang yang muncul itu hanya seorang yang mencari mati.

"Setan! Ternyata kau berani juga membuat urusan denganku. Apakah kau telah tahu, sedang berhadapan dengan siapa saat ini...?!" gertak Gentapati.

Aji tersenyum lebar, setelah memberi isyarat pada Bidadari Tongkat Putih untuk menjauh. "Dengar, Gentapati! Aku memang sejak satu purnama yang lalu mencari-carimu. Berarti, aku telah tahu siapa kau!" kata Aji berbohong.

Pendekar Mata Keranjang 108 memang sebenarnya tidak tahu sebelumnya. Dia sengaja berbuat begitu, dengan maksud agar nyali Gentapati sedikit ciut

"Ha... ha... ha...!"

Namun mendengar kata-kata Aji, tawa Gentapati meledak.

"Dalam satu purnama ini telah banyak tokoh silat ngacir begitu saja mendengar denting loncengku. Tapi kali ini, seorang anak bawang coba-coba menggertakku? Ha... ha... ha...! Apakah kau tidak bermimpi anak muda...?!" leceh Gentapati.

Mau tak mau Aji terkejut. Ternyata Gentapati telah dapat menebak kalau usia Aji masih muda.

"Mimpi atau kenyataan, itu bukan urusanmu! Sekarang terimalah pukulanku!" teriak Aji.

Seketika Pendekar Mata Keranjang 108 mendorongkan telapak tangannya yang telah mengepal, langsung mengirimkan pukulan 'Gelombang Prahara'.

Wesss...!

Segelombang angin dahsyat laksana prahara gelombang menderu ke arah Gentapati. Beberapa pohon dan semak belukar yang dilewati berderak tumbang dan berserakan. Gentapati terkejut bukan alang kepalang merasakan hawa serangan ini. Namun sebagai tokoh yang pernah malang melintang dalam dunia persilatan, dia segera tahu apa yang harus dilakukannya.

"Hiaaa...!"

Dengan seruan nyaring, Gentapati menekan tangannya ke bawah. Sementara seluruh tenaga disalurkan ke arah kaki, sehingga meski sapuan angin yang menyerangnya begitu dahsyat, tubuhnya tidak bergeming sedikit pun! Sepasang kakinya sepertinya terpantek ke dalam tanah!

"Keluarkan seluruh tenagamu, Bocah!" ujar Gentapati memanas-manasi dengan senyum mengejek.

Aji tambah penasaran. Kembali kedua tangannya didorongkan dengan tenaga berlipat ganda.

Wesss...!

Gentapati mulai waswas saat kakinya terasa mulai agak goyah dan tubuhnya terhuyunghuyung hendak roboh.

"Hiaaa...!"

Sambil menghardik lantang, Gentapati cepat menghentakkan kedua tangannya ke depan.

Wusss...!

Segelombang asap biru melesat. Namun Pendekar Mata Keranjang 108 tidak mau bertindak ceroboh. Dengan menambah kekuatan, kedua tangannya yang mengepal segera disentakkan ke depan. Dan.... Blarrr...! "Aaakh...!"

Seketika terdengar suara berdentum ketika dua kekuatan beradu. Tempat terjadinya pertemuan dua pukulan itu bagai terhempas gempa dahsyat. Sementara Gentapati yang mengeluarkan seruan tertahan, terpental ke belakang dan bergulingan di atas tanah.

Tokoh sesat ini, cepat bangkit. Namun, mendadak tubuhnya terhuyung-huyung, dan kembali terjatuh. Buru-buru diambilnya sikap duduk bersila dengan kedua tangan menakupkan di depan dada. Matanya langsung terpejam dengan mulut bergerak-gerak. Dicobanya untuk mengatur peredaran darah yang terasa tersendat dan bagai terhenti.

Sementara Aji juga terpental empat langkah ke belakang. Sekujur tubuhnya terasa ngilu dan nyeri. Seperti Gentapati, Aji pun lantas duduk bersila untuk mengalirkan hawa murni ke seluruh persendian tubuhnya.

Setelah dapat menguasai keadaan, Gentapati bangkit berdiri dengan kacak pinggang. Matanya yang buta membesar liar.

Melihat lawan sudah berdiri, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat pula berdiri. Kini Aji siap dengan kuda-kuda menyerang.

"Setan!" hardik Gentapati masih dengan kacak pinggang. "Pukulan 'Gelombang Prahara'mu memang hebat. Namun aku tak mungkin bisa kau kalahkan dengan pukulan itu! Ha... ha... ha...! Jawab, Setan! Apa hubunganmu dengan manusia bernama Selaksa dan Wong Agung dari Karang Langit? He...?!"

Pendekar Mata Keranjang 108 mau tak mau tersentak kaget bahwa Gentapati mengenali pukulannya. Dan dia makin terkejut, saat tokoh sesat ini menyebut nama dua orang yang sudah tak asing lagi, yakni Eyang Selaksa dan Wong Agung. Mereka tak lain memang guru-guru Pendekar Mata Keranjang 108.

Namun meski terkejut, Aji cepat menepisnya. Bahkan dia kini tertawa renyah.

"Kau tak usah banyak tanya, Gentapati! Pertanyaanmu sebenarnya sudah kau jawab sendiri!" sahut Aji, enteng.

"Hm.... Jika begitu, berarti kau manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang...! Bagus! Aku memang mengharapkan bertemu orangorang macam kau!" desis Gentapati.

Mendengar kata-kata Gentapati, Bidadari Tongkat Putih terkesima. Sepasang matanya lantas mengawasi Pendekar Mata Keranjang 108 dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"Ah! Jadi, inikah pemuda yang bergelar Pendekar Mata Keranjang 108?" kata batin Bidadari Tongkat Putih.

"Setan!" tegur Gentapati, masih dengan panggilan semula. "Bagaimana jika kau masuk menjadi anggota partaiku? Kedudukan tinggi akan kau terima, jika menerima tawaranku!"

"Hm.... Kau menawarkan kedudukan padaku, karena takut menghadapiku bukan...?" ejek Aji sambil tersenyum-senyum.

"Bangsat!" bentak Gentapati. "Siapa takut menghadapi kerucuk macam kau...?!"

Selesai menghardik, Gentapati mendorongkan kedua tangannya ke depan. Sementara mulutnya yang menggembung tiba-tiba menyembur ke depan.

Wesss...!

Tiga asap biru berhawa panas segera melesat. Namun Aji tak tinggal diam. Segera pula kedua tangannya didorongkan mengirimkan pukulan 'Gelombang Prahara'.

Rupanya, asap biru berhawa panas itu tidak musnah terpapak gelombang angin pukulan Pendekar Mata Keranjang 108. Malah asap biru itu kini berkeping-keping, dan melesat ke segala penjuru mengancam keselamatan Aji.

Dengan rasa terkejut, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat menghindar dengan melompat ke belakang. Dan dari tempat itu cepat pula dikirimkannya serangan dengan pukulan 'Segara Geni', pukulan sap keempat.

Werrr...!

Gelombang angin berkilat-kilat langsung meluncur dari tangan Pendekar Mata Keranjang 108, dan segera menggebrak

Bletar! Tar...!

Di sekitar tempat ini seakan-akan tersambar kilatan petir. Gentapati cepat menambah kekuatan tenaga dalamnya ke dalam dorongan tangan. Namun tenaga tambahan itu rupanya tak mampu lagi menahan gelombang angin berkilat-kilat yang keluar dari sentakan tangan Aji. Bahkan angin yang keluar dari tangan pemuda itu dengan mudah menerabas asap biru, dan menggebrak lurus ke arah Gentapati.

"Hiaaa...!"

Gentapati berseru nyaring. Segera tubuhnya melesat ke samping, seraya melepas tali yang melingkar di lehernya. Dan saat itu juga segera disentakkannya tali yang tadi melingkar di lehernya.

Teng! Teng!

Suara lonceng segera terdengar menghentak-hentak, membuat Aji terbelalak. Ternyata tali pengikat lonceng itu bisa menjulur!

Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 terkesima, mendadak denting lonceng itu menderu di atas kepala dan berputar-putar.

"Uts!"

Cepat-cepat Pendekar Mata Keranjang 108 merunduk. Namun, rupanya lonceng itu seperti punya mata, sehingga terus berputar dan memburu ke arah kepala. Sementara denting suaranya menusuk-nusuk, makin menghentak. Ini tentu saja membuat Aji harus mengerahkan dua perhatian. Pertama harus berkelit menghindar dari hantaman lonceng, dan kedua harus mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis suaranya. Kini Aji tak bisa lagi punya kesempatan untuk balas menyerang. Dan di lain pihak, tenaganya terus terkuras.

"He... he... he...!"

Melihat Aji kalang kabut, Gentapati tertawa mengekeh.

Sementara Bidadari Tongkat Putih yang baru saja bisa menguasai diri tak dapat lagi menolong. Karena, dia sendiri kini harus mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis dentingan suara lonceng.

Lama-lama Pendekar Mata Keranjang 108 makin terdesak. Dan pada suatu kesempatan, sewaktu Aji berkelit menyamping, Gentapati mengirimkan pukulan susulan.

Wesss...!

Aji tak menduga. Tak ada kesempatan baginya untuk mengelak. Dan....

Splash !

"Aaakh !"

Seketika tubuh Pendekar Mata Keranjang

108 terpental menyusur tanah disertai pekikan tertahan. Saat itu Aji merasa kepalanya bagai terkena batangan besi. Pandangannya tiba-tiba gelap. Namun sebelum tubuhnya menggelosor tak sadarkan diri

"Bidadari! Cepat tinggalkan tempat ini!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108.

Bidadari Tongkat Putih nampak ragu-ragu. Namun karena merasa tidak akan mampu melawan sendiri, akhirnya diturutinya kata-kata Aji. "Pendekar Mata Keranjang! Aku akan datang lagi ke sini!"

Sambil berseru, Bidadari Tongkat Putih cepat berkelebat dan menghilang. Dia tak peduli apakah Aji mendengar teriakannya atau tidak.

"Ha... ha... ha...! Kau saat ini sengaja kuberi hidup, Gadis Cantik...! Dengan demikian, tentunya kau akan datang lagi ke sini. Dan pasti, bersama gurumu! Itulah nanti yang kutunggu!" kata Gentapati, sambil tertawa mengekeh.

Kini kaki tokoh sesat itu melangkah ke arah tubuh Aji yang diam tak bergerak-gerak.

"Hm.... Kau tentunya lebih berharga dari gadis tadi, Setan! Dengan kukatakan bahwa kau telah menjadi anggota partaiku, dunia persilatan akan bertambah guncang. Dan, tokoh-tokoh persilatan akan berpikir beberapa kali untuk ambil tindakan.... Ha... ha... ha...!"

Dengan masih tertawa mengekeh, Gentapati lantas melingkarkan kembali loncengnya. Lalu dengan cepat, diangkatnya tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 dan dibawa berkelebat ke arah bukit.

7

Hari terus berjalan sesuai kodratnya. Dan tanpa terasa, hari yang telah dinantikan Gentapati untuk meresmikan partainya hampir tiba.

Saat ini, tokoh sesat itu memang gembira sekali. Karena telah banyak tokoh silat dapat ditundukkannya. Belum lagi bila ditambah korbankorban yang bertekuk lutut di tangan Ratu Petaka Hijau, yang sepertinya makin merajalela.

Sebenarnya banyak tokoh yang mencoba membendung sepak terjang Gentapati dan dua muridnya. Namun karena kini Gentapati telah pula menurunkan beberapa tokoh yang telah bersumpah akan menjadi anggota partainya, membuat beberapa tokoh mundur teratur sambil menyusun kekuatan dan menunggu waktu yang tepat.

Dunia persilatan kali ini kembali diguncang prahara besar. Keresahan dan kecemasan muncul di mana-mana, menyelimuti setiap orang.

Karena waktu yang ditentukan semakin dekat, Pusparani dan Puspasari yang mengemban tugas dari Gentapati segera pula kembali ke Gunung Wilangkor.

"Hm.... Bagus! Tak sia-sia aku mendidik kalian selama bertahun-tahun!" puji Gentapati tatkala mereka berada di ruang utama bangunan megah tempat tinggal tokoh sesat itu.

"Tapi..., Guru! Ada sesuatu hal yang harus kita waspadai...!" lapor Pusparani, setelah agak lama diam.

"Katakan...!" ujar Gentapati, sedikit heran. "Dalam perjalanan selama enam purnama,

kami bertemu pemuda yang mungkin dapat membahayakan kita!" lapor Pusparani lagi seraya melirik Puspasari. Yang dilirik tak menoleh. "Seorang pemuda...? Siapa...?!" kejar Gentapati, cepat

"Pemuda itu berilmu tinggi. Bahkan hampir saja dapat menewaskan kami berdua! Dia bergelar Pendekar Mata Keranjang 108!" jelas Pusparani.

"He... he... he...!"

Mendengar keterangan Pusparani, Gentapati tertawa tergelak-gelak. Dan ini membuat Pusparani dan Puspasari mengernyitkan dahi masing-masing.

"Kalian tidak usah mengkhawatirkan pemuda itu! Dia kini sudah ada di tangan kita, setelah berhasil kulumpuhkan. Dan sekarang dia berada di tempat tahanan kita! Jika waktu peresmian nanti tidak juga mau bersumpah menjadi anggota partai, pemuda itu kita habisi! Agar dikelak kemudian hari tidak menjadi duri!" sambung Gentapati mendesis.

Pusparani terkejut. Namun yang lebih tercekat adalah Puspasari. Sungguh tak disangka kalau gurunya telah menawan pemuda yang mendadak membuat hatinya kepincut. Namun buru-buru rasa tercekatnya disembunyikan saat Pusparani menatap ke arahnya.

"Bagaimana pemuda itu bisa tertawan? Apakah setelah kejadian itu...?" kata batin Puspasari menerka-nerka.

Gadis ini memang tak menceritakan tentang kejadian di lengah hutan yang mempertemukan dirinya dengan Pendekar Mata Keranjang 108.

"Kau tampaknya murung. Ada apa, Sri?"

bisik Pusparani, tatkala paras Puspasari terlihat sedikit masam.

Puspasari terkejut mendengar teguran Pusparani. Namun bibirnya cepat tersenyum dan menggeleng perlahan. Tapi, tak urung Pusparani curiga. Ia menduga Puspasari menyembunyikan sesuatu.

"Tentunya kalian lelah, setelah melakukan perjalanan jauh! Istirahatlah. Mulai besok, mungkin kita akan mulai kedatangan tamu. Karena, aku telah menyuruh beberapa orang untuk menyebarkan undangan pada beberapa tokoh yang belum sempat kudatangi. Dan kalian juga harus turut mengawasi tawanan kita itu. Karena meski aku telah menugaskan beberapa orang untuk menjaga, bukan tak mungkin dia akan mencoba melarikan diri...!" ujar Gentapati.

Pusparani dan Puspasari mengangguk, lalu merapatkan telapak tangan di depan hidung.

***

"Kau menyembunyikan sesuatu padaku, Sari...?" kejar Pusparani setelah berada di sebuah ruangan khusus buat mereka.

Sepasang mata Puspasari sebentar menatap bola mata Pusparani.

"Apakah aku harus berterus terang padanya? Tidak! Rani mungkin tidak setuju dengan jalan yang akan kuambil! Ah! Memang sebaiknya aku tidak menceritakan padanya!" kata batin Puspasari

Sejenak suasana hening, ketika Puspasari belum memberi jawaban.

"Selama ini kita selalu bersama-sama. Apa yang harus ku sembunyikan?" Puspasari balik bertanya.

"Hm.... Tapi, sejak pertemuan kita dengan pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108, kulihat kau sering melamun sendiri. Dan tadi, sewaktu guru memberitahukan bahwa pemuda itu berhasil ditawan, kau sepertinya bersikap lain! Apakah kau "

Pusparani tidak meneruskan kata-katanya saat Puspasari melotot

"Kau jangan menduga yang tidak-tidak, Rani!" desis Puspasari.

"Sekadar menduga, kan tidak apa-apa. Siapa tahu kau diam-diam mencintainya...?" kata Pusparani kalem.

"Sialan! Dia mengetahui segala gerakgerikku!" rutuk batin Puspasari.

"Tapi, kurasa tidak mungkin kau menyukai pemuda itu. Bukankah dia musuh kita? Bahkan dia mungkin akan menjadi halangan besar bagi kita kelak?!" sambung Pusparani dengan wajah tegang.

Puspasari hanya manggut-manggut mendengar kata-kata Pusparani.

"Rani.... Dalam hal satu ini, mungkin kita akan berbeda jalan! Aku sendiri tak tahu, kenapa tiba-tiba saja menginginkan sebuah kehidupan damai, tanpa pertumpahan darah, tanpa permusuhan, tanpa dendam. Ah! Mungkin ini sebuah masalah yang berat bagiku. Tapi " Puspasari tak

melanjutkan kata hatinya, ketika....

"Kau melamun lagi, Sari...?!" usik Puspara-

ni.

"Kau terlalu menduga terus menerus, Ra-

ni...!" kata Puspasari menutupi rasa terkejutnya. "Syukurlah jika tidak. Tapi kalau kau akan

melamun, silakan saja. Aku akan tidur...!" ujar Pusparani sambil tersenyum dan mengerling pada Puspasari.

"Tidurlah. Aku belum ngantuk. Lagi pula aku belum mandi!" sahut Puspasari, balas mengerling.

Setelah berkata begitu, Puspasari keluar dari ruangan, menuju ruangan belakang. Beberapa orang memang sudah tampak di situ. Walau mereka belum saling mengenal, namun sudah mengetahui siapa gadis berbaju hijau ini. Sehingga tanpa diberi tahu lagi, mereka segera menjura begitu bertemu Puspasari.

Puspasari hanya mengangguk, mendapat penghormatan beberapa orang yang ternyata dari bekas anak buah Gentapati yang telah kembali lagi, setelah mendengar kabar bahwa tokoh sesat itu akan mendirikan kembali partainya yang pernah hancur.

Ketika Puspasari sampai pada ruangan paling belakang yang memang disediakan sebagai tempat untuk para tawanan, langkahnya berhenti.

Sepasang mata Puspasari mendadak terbelalak. Dadanya berdesir kencang. Bibirnya saling menggigit, tatkala melihat kepala Pendekar Mata Keranjang 108 tampak terkulai. Sementara kaki dan tangannya dipentang dan diikat dengan keadaan berdiri.

"Buka pintunya...!" perintah Puspasari pada salah seorang penjaga pintu.

Penjaga itu buru-buru membuka gembok dan membuka pintu. Dengan langkah perlahan, gadis berbaju hijau itu mendekat ke arah Aji. Puspasari didera perasaan campur aduk. Senang, risau, jengkel. Ingin rasanya dia menghambur dan membebaskan pemuda di hadapannya, jika keadaan memungkinkan.

Puspasari terus mendekat. Dan saat dekat sekali, tanpa sadar tangannya bergerak menjamah tubuh Pendekar Mata Keranjang.

Perlahan Aji membuka kelopak matanya. Sejenak matanya mengerdip-ngerdip. Tatkala matanya benar-benar terang, pemuda ini sedikit tersentak.

"Hm..„ kau...?" desah Aji lirih. Sementara matanya terus menatap Puspasari.

Puspasari tak kuasa menjawab. Kepalanya hanya mengangguk dengan sepasang mata tampak berkaca-kaca.

"Kenapa perempuan ini menangis? Apakah dia "

Belum sampai Aji meneruskan kata ha-

tinya....

"Maafkan aku, Pendekar! Aku tak kuasa untuk menolongmu. ," ucap Puspasari.

Namun suara gadis itu terdengar sangat perlahan. Bahkan tersendat bagai menggantung di tenggorokan.

Habis berkata Puspasari segera bergegas keluar. Beberapa orang penjaga nampak keheranan melihat tingkah gadis ini. Namun mereka tak berani berkata apa-apa. tiba.... 8

Hari yang ditentukan Gentapati akhirnya Puncak Gunung Wilangkor hari ini tampak luar biasa. Di tengah-tengah hamparan puncak bukit, tampak sebuah panggung besar. Sementara di sekitar panggung, duduk berputar beberapa tamu dari kaum rimba persilatan. Kedatangan mereka ada yang sengaja karena diundang, namun ada juga yang datang terpaksa karena sudah dibubuhi racun yang penawarnya akan diberikan pada hari peresmian ini.

Sementara itu di dalam ruangan khusus, Gentapati mengadakan pertemuan tersendiri dengan beberapa orang yang dianggap dapat dipercaya. Beberapa lama tokoh sesat itu memberi beberapa tugas-tugas terakhir pada mereka.

Tak lama kemudian, terdengar dentangan lonceng bertalu-talu. Begitu gema dentingan lonceng lenyap dari arah dalam bangunan megah melesat sebuah bayangan disertai dentingan lonceng. Dan tahu-tahu, sosok itu telah berdiri tegak di tengah-tengah panggung.

Seluruh mata yang hadir segera saja terpusat pada sosok yang kini berdiri di tengah panggung. Sosok ini yang tak lain Gentapati segera menyapukan pandangan, seolah-olah matanya tidak buta. Lantas kepalanya sedikit mendongak

"Aku, Gentapati yang juga Ketua Partai Lonceng Kematian, menghaturkan banyak terima kasih atas kedatangan saudara-saudara di sini, untuk ikut serta menyaksikan peresmian berdirinya kembali Partai Lonceng Kematian. Perlu saudara-saudara ketahui, maksud kami mendirikan kembali partai ini adalah untuk mempersatukan beberapa perguruan silat yang ada serta mempersatukan beberapa tokoh silat dalam satu wadah partai. Yakni, Partai Lonceng Kematian! Kami tidak memaksakan kehendak saudarasaudara sekalian untuk menjadi anggota partai kami. Namun begitu, siapa pun juga yang merasa sebagai tokoh silat dan memiliki perguruan silat maka, dia harus ada di bawah pengawasan kami!" kata Gentapati, angkat bicara. Nadanya terdengar pongah.

Terdengar riuh   rendah   suara   hadirin, tatkala mereka mendengar kata-kata Gentapati Mereka saling berpandangan satu sama lain, menyadari kalau kata-kata itu mengandung paksaan.

"Saat ini beberapa tokoh silat berilmu tinggi, bahkan sebagian di antaranya pernah malang melintang dalam dunia persilatan, telah resmi menjadi anggota partai kami. Kini untuk mempersingkat waktu, kuharap kalian semua berdiri dan mengucapkan sumpah setia pada partai kami. Sekaligus, semuanya berada di bawah pengawasan kami!" lanjut Gentapati.

Kembali suasana riuh rendah. Di antara yang hadir saling berucap sendiri-sendiri. Dan tiba-tiba....

"Gentapati! Mendengar segala ucapanmu, berarti tidak sesuai apa yang tertera dalam undanganmu! Karena di dalam undangan, hanya tertulis undangan peresmian. Tidak ada istilah kami harus mengangkat sumpah setia pada partaimu!" teriak seseorang sambil mengacungkan tangan.

Semua kepala yang hadir segera berpaling pada orang yang baru saja berkata pedas. Ternyata, dia adalah seorang laki berusia agak tua yang dikenal sebagai tokoh dari golongan putih.

"Hm.... Rupanya Pendekar Jala Sakti!" gumam Gentapati. "Untuk tokoh-tokoh seangkatanmu, memang telah kami sediakan tersendiri jabatan tertentu. Jadi, tak usah khawatir!" sahut Gentapati seenaknya. Seluruh yang hadir dibuat tercengang! Betapa tidak? Walau buta, Gentapati bisa tahu siapa gerangan yang baru saja berkata.

"Aku tidak mengharapkan jabatan apa-apa dalam hal ini! Aku sudah waktunya mengundurkan diri dari dunia persilatan! Aku hanya ingin mengutarakan, bahwa tidak sepantasnya kau memaksa kehendak para hadirin!" teriak laki-laki tua berjuluk Pendekar Jala Sakti.

"Hm.... Begitu? Lalu, apa yang kau kehendaki?!" tanya Gentapati agak jengkel.

"Kuharap kau mau menarik kata-katamu yang memaksa untuk harus mengangkat sumpah setia pada partaimu!" sahut Pendekar Jala Sakti lantang.

Gentapati tersenyum sinis.

"Kalau itu kehendakmu, aku memang tidak memaksa. Tapi, perlu kau ketahui. Siapa pun yang turun dari Gunung Wilangkor tanpa terlebih dahulu mengangkat sumpah, maka yang turun, hanya namanya saja. Sementara, jasadnya terkapar di sini!" desis tokoh sesat Ketua Partai Lonceng Kematian.

"Itu pemerasan, Gentapati! Siapa pun, pasti menolak hal itu!" kata Pendekar Jala Sakti lantang.

Gentapati mengeluarkan seruan kesal. Lantas kepalanya berpaling ke arah depan bangunan rumahnya. Di sana, tampak berderet beberapa anak buahnya

"Pusparani! Cepat selesaikan manusia tua itu!" perintah Gentapati. Saat itu juga, sosok tubuh ramping berpakaian hijau berkelebat ke arah panggung. Dan tahu-tahu, gadis yang dipanggil Pusparani telah berdiri di situ.

"Pendekar Jala Sakti! Karena kau satusatunya orang yang tidak setuju dengan kemauan kami, maka kau harus tinggalkan jasadmu di Gunung Wilangkor ini!" bentak Pusparani, begitu memandang tajam ke arah Pendekar Jala Sakti.

Pendekar Jala Sakti menggeram. Lantas dia meloncat ke atas panggung.

"Aku memang rela mati, daripada harus mengorbankan dan menjual harga diri!" balas Pendekar Jala Sakti.

Sementara, Gentapati sudah melangkah ke pojok panggung. Sementara semua mata yang hadir dibuat terpesona melihat penampilan Pusparani. Karena pakaiannya demikian tipis dan ketat. Sehingga lekukan seluruh tubuhnya tampak jelas.

Dan tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Jala Sakti dan Pusparani langsung terlibat dalam pertempuran sengit. Namun tanpa disadari semua yang hadir, diam-diam sesosok tubuh yang seluruh tubuh dan mukanya tertutup, tampak mengendap-endap ke belakang ruangan tempat tinggal Gentapati. Sosok ini melangkah, sepertinya telah paham betul dengan tempat ini.

Karena semua orang sedang berada di luar, hal ini membuat sosok itu leluasa melangkah. Baru saat mencapai ruangan tahanan, dia berhenti Sejenak tubuhnya menyelinap di balik sebuah ruangan.

Dari ruangan ini, sosok itu bisa melihat ke arah ruangan tahanan yang dijaga dua orang.

"Mereka hanya orang-orang yang berilmu cekak. Aku bisa mengatasi mereka! Aku harus segera bertindak, karena waktuku singkat!" gumam sosok yang seluruh tubuhnya terbungkus ini, dan hanya menyisakan pada lobang matanya.

Sosok bertubuh ramping itu lantas melangkah perlahan, mendekati arah ruang tahanan. Begitu melihat kehadirannya, dua orang penjaga ruang tahanan tampak terkejut. Buruburu mereka menyongsong dengan senjata terhunus.

Namun baru saja kedua orang itu bergerak menyongsong, sosok bertubuh ramping ini telah menggerakkan kedua tangannya.

Wusss...!

Segelombang asap berwarna hijau segera melesat, membuat dua orang penjaga itu terkejut. Tapi mereka tidak bisa menghindar.

Baru saja dua penjaga itu berusaha menghalau asap, sosok ramping ini melepaskan pukulan jarak jauh.

Desss! Desss! "Aaakh!" "Aaa...!"

Tubuh kedua penjaga itu terpental disertai lenguhan dan menghantam dinding.

Tubuh kedua penjaga itu tampak bergerakgerak sebentar, namun tidak lama kemudian diam kaku! Pakaian keduanya hangus dengan kulit sekujur tubuh tampak berubah kebiruan. Rupanya, telak sekali pukulan jarak jauh sosok bertubuh ramping ini mendarat di tubuh mereka.

Sosok terselubung kain ini kembali melanjutkan langkahnya ke ruang tahanan. Begitu tiba dengan kekuatan dahsyat disentaknya gembok itu hingga pintu ruang tahanan terbuka. Dan dengan gerakan cepat, sosok itu segera masuk.

Pendekar Mata Keranjang 108 sempat tersentak ketika sosok ini langsung membuka ikatan pada tangan dan kakinya. Padahal, Aji sudah mengerahkan tenaga untuk mencoba membuka ikatan itu, namun tidak berhasil.

"Siapa kau...?" tanya Aji lirih, seraya mengawasi sosok di depannya.

Sosok terbungkus ini tidak menjawab, dan terus membuka ikatan. Baru setelah Aji terbebas, dia bergerak cepat menelusuri lorong-lorong ruangan.

Sementara itu di arena pertarungan, ternyata Pendekar Jala Sakti telah tewas di tangan Pusparani. Dan seluruh tamu yang hadir pun kembali bergumam riuh rendah. Pada saat itulah tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat, dan berdiri di atas panggung satu tombak di depan Pusparani.

"Bidadari Tongkat Putih! Akhirnya kau datang juga. Pusparani! Selesaikan pula gadis laknat itu!" perintah Gentapati dari sudut panggung. Hidungnya seketika mendengus-dengus. Karena bersamaan dengan berkelebatnya bayangan Bidadari Tongkat Putih tadi, menyebar aroma bunga sedap malam.

Seluruh mata yang hadir kembali tertuju pada panggung. Dan tanpa menunggu perintah lagi, Pusparani segera memulai serangan dengan menghantamkan kedua tangannya.

Wusss...!

Gelombang angin kencang dan asap hijau segera menggebrak ke depan. Namun pada saat yang sama Bidadari Tongkat Putih menyentakkan kedua tangannya pula.

Blarrr...!

Ledakan dahsyat segera terdengar ketika dua serangan bertenaga dalam itu bentrok, membuat panggung itu berguncang hebat.

Tubuh Pusparani tampak terjengkang dan jatuh terduduk. Pakaiannya tampak hangus. Sementara, Bidadari Tongkat Putih terjajar dua tindak ke belakang. Tubuhnya terhuyung-huyung, sebelum akhirnya jatuh juga.

Pusparani segera bangkit. Demikian pula Bidadari Tongkat Putih. Sementara seluruh hadirin menarik napas dalam-dalam. Sedangkan Gentapati hanya tersenyum dengan kepala mendongak.

Pusparani cepat menarik kedua tangannya ke belakang. Lalu dengan bentakan nyaring dia melompat dengan mulut menyembur ke depan.

Splashhh...! Tiga larik asap hijau segera melesat ke arah Bidadari Tongkat Putih. Satu datang dari arah kanan, satu dari arah kiri, dan satunya lagi menghantam dari arah atas.

Mendapati serangan berbahaya, Bidadari Tongkat Putih cepat mengatupkan kedua tangannya ke depan dada. Lalu tongkatnya disentakkan ke depan.

Wuttt!

Saat itu juga tercipta asap putih yang membentuk kepala seekor ular, meliuk-liuk memapak tiga larik sinar asap biru. Karena asap putih ini meliuk cepat, membuat tiga larik asap biru dapat segera terpapasi.

Bletar! Tar! Tar! "Aaakh...!"

Terdengar tiga ledakan berturut-turut, tatkala asap putih berbentuk kepala ular itu menghantam tiga larik asap biru. Dan suara itu disusul oleh keluhan Pusparani yang tangannya terasa kesemutan dan dadanya terasa berdenyut nyeri. Tubuhnya tampak sudah terkapar di atas panggung.

Sementara Bidadari Tongkat Putih sendiri hanya jatuh terduduk. Namun, tak urung tangannya juga gemetar. Bahkan hampir saja tongkatnya terpental.

Pada saat Bidadari Tongkat Putih akan bergerak bangkit, Gentapati telah menggerakkan kedua tangannya.

Wuttt...! Gelombang angin menderu disertai asap biru berhawa panas meluncur, membuat Bidadari Tongkat Putih tersentak kaget. Dia menggeram marah, menyadari dirinya diserang secara pengecut. Namun segera tongkatnya disentakkan ke depan.

Tapi, rupanya Gentapati sudah tahu apa yang akan dilakukan Bidadari Tongkat Putih. Sehingga sebelum asap putih membentuk kepala seekor ular, telah dikirimkannya serangan susulan.

Blsattt...!

Asap putih yang mulai melesat dan akan berubah bentuk itu seketika musnah. Sementara asap biru dari sentakan Gentapati terus melabrak tanpa halangan lagi!

Tampak wajah Bidadari Tongkat Putih telah pias. Dia sudah tidak bisa lagi berkelit.

"Matilah aku...," desah Bidadari Tongkat Putih, dengan sepasang mata terpejam rapat. Pasrah.

Sementara mata seluruh hadirin juga ikutikutan memejam. Di lain pihak terdengar gumaman panjang pendek, mencela tindakan Gentapati.

Namun di saat yang sangat gawat itu tibatiba menderu serangkum angin keras yang menggemuruh dahsyat. Dan ketika asap biru sejengkal lagi menghantam tubuh Bidadari Tongkat Putih, angin itu langsung melabrak, membelokkan arah serangan hingga menghantam tempat kosong. Blarrr...!

Terdengar ledakan dahsyat ketika asap biru berbelok arah dan langsung menghantam sisi panggung hingga jebol. Sementara, tak urung tubuh Bidadari Tongkat Putih ikut terseret terkena sambaran angin serangan yang baru datang.

Bidadari Tongkat Putih yang dari tadi sudah memejam serentak membuka kelopak matanya, saat tubuhnya terasa bukan dihantam namun hanya terseret ke samping.

Begitu menoleh, Bidadari Tongkat Putih melihat seorang pemuda berpakaian jubah ketat warna hijau lengan pendek yang dilapisi baju warna kuning lengan panjang tengah melangkah ke arah panggung sambil mengebut-ngebutkan kipas warna ungunya.

9

"Pendekar Mata Keranjang!" teriak Bidadari Tongkat Putih.

Gentapati terkejut besar. Demikian juga Pusparani. Sementara, seluruh pandangan mata yang hadir terbelalak lebar.

"Rani! Mana Sari?! Bangsat ini bagaimana bisa lolos? Padahal tali ikatan itu hanya kita yang tahu, bagaimana cara melepasnya! Pasti ada di antara kalian berdua yang berkhianat!" dengus Gentapati, membentak galak. Pusparani tak menjawab. Sepasang matanya berputar ke seluruh tempat itu. Dan tatkala matanya tertumbuk pada Puspasari yang tampak berdiri di tengah-tengah para hadirin, dia melotot garang.

"Sari! Dari mana saja kau?! Dan, kenapa kau berada di situ...?!" teriak Pusparani.

"Rani! Dengar! Mulai hari ini, aku memutuskan untuk mengakhiri segala impian kita!" sahut Puspasari, enteng.

"Rani! Kutugaskan padamu untuk meringkus betina itu, dan membunuhnya!" perintah Gentapati berapi-api.

Paras Pusparani tampak berubah. Namun kala teringat impiannya akan segera sirna, kemarahannya menggelora. Segera dia ancang-ancang hendak meloncat ke arah Puspasari yang berada di tengah-tengah para tamu.

Namun sebelum Pusparani bergerak, Puspasari telah meloncat mendahului. Dan indah sekali kakinya menjejak tanah di samping panggung.

"Sari! Rupanya kau telah terbujuk mulut pemuda konyol itu! Hingga rela mengorbankan semua jerih payah kita selama ini! Ingat, Sari...! Impian kita sudah di depan mata...!" desis Pusparani yang kini telah berdiri di depan Puspasari.

"Rani!" kata Puspasari, pelan. "Maafkan aku, Rani. Dalam hal ini, rupanya kita berbeda jalan! Kalau kau mau mengikuti jejakku yakni kembali ke jalan benar, mari kita segera tinggalkan tempat ini! Kita bisa berkumpul lagi seperti dahulu!"

"Bedebah!" umpat Pusparani. "Matamu rupanya telah tertutup cinta buta, Sari! Hingga kau berubah pikiran...!"

"Rani! Jangan kau sebut-sebut soal cinta. Itu urusanku! Walau kau saudaraku, namun soal cinta siapa pun tak berhak ikut campur!" balas Puspasari.

"Lidahmu ternyata telah pandai bicara, Sari! Baiklah. Kuperingatkan padamu, kembalilah...! Impian kita pasti tercapai!"

"Tidak, Rani! Aku telah memutuskan jalan hidupku!"

"Kau memang keras kepala!" bentak Pusparani. "Sari! Terpaksa aku bertindak kejam, karena kau telah menghancurkan cita-citaku selama ini! Kau ternyata pengecut, Sari! Hanya karena cinta, kau berani pertaruhkan segalanya!"

"Itu jalan yang terbaik bagiku, Rani! Dan kau tak punya hak untuk mengatur!"

"Keparat!" dengus Pusparani, seraya menghentakkan kedua tangannya.

Wesss...!

Serangkum angin disertai asap berwarna hijau segera melesat. Namun Puspasari tidak tinggal diam. Segera pula kedua tangannya disentakkan.

Blarrr...!

Dua pukulan yang sama jenisnya segera bentrok di udara menimbulkan suara menggelegar. Karena keduanya adalah saudara seperguruan, maka kekuatan yang dikerahkan sama besarnya. Dan itu membuat tubuh mereka samasama terpental ke belakang.

Pusparani segera bangkit dari jatuhnya. Demikian pula Puspasari. Kini keduanya telah sama-sama berdiri berhadapan, dan saling memasang kuda-kuda untuk menyerang.

"Anggota Partai Lonceng Kematian! Lekas musnahkan mereka-mereka yang masih membandel dengan perintah kita!" teriak Gentapati.

Dari dalam bangunan megah itu mendadak muncul sekitar seratus orang.

"Siapa yang tidak mau diperintah tua buta ini harap segera berkumpul ke arah samping panggung! Kalian akan dipimpin Bidadari Tongkat Putih!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108, cepat ambil tindakan dengan berkelebat ke panggung.

Bidadari Tongkat Putih segera meloncat ke arah samping, setelah mendengar kata-kata Aji. Dan beberapa orang dari hadirin yang ada, bergegas menuju ke arah Bidadari Tongkat Putih. Dan sebagian lagi nampak menyambut beberapa orang yang juga mulai bergerak ke arah panggung dari bangunan megah itu.

Maka tanpa dapat dielakkan lagi terjadilah pertempuran dahsyat antara golongan orangorang yang tidak setuju, dengan orang-orang yang menjadi anggota partai Gentapati.

Ratusan senjata berseliweran segera terlihat berkilat mencari korban. Suara jerit kematian dan bentakan-bentakan segera terdengar menjadi satu, bagai membuncah puncak Gunung Wilangkor.

"Kau bagianku, Buta!" bentak Aji, langsung menghadang Gentapati. Langsung dikeluarkannya kipas dan disentakkannya melengkung ke depan.

Wuttt...!

Serangkum angin bergerak melengkung, dan melesat ke arah Gentapati. Namun tokoh sesat itu segera pula melepas ikat lehernya. Dan secepat kilat loncengnya dilontarkan memapak serangan Aji.

Sayang, kali ini bandul lonceng Gentapati bagai tertahan angin lengkung serangan Aji, dan langsung terpental. Bahkan jika Gentapati tak segera berkelit, kepalanya pasti akan terhantam loncengnya sendiri.

Namun Gentapati yang sudah malang melintang dan kenyang pengalaman, segera melesat ke atas. Sementara loncengnya berderak di bawahnya. Dan pada saat itulah, tiba-tiba Gentapati segera menyentakkan tangannya, sehingga lonceng itu segera melesat lagi. 

Aji cepat menjejak panggung. Tubuhnya melenting ke atas menghindari terjangan lonceng.

Sementara Gentapati segera mengerahkan tenaga dalamnya, hingga tubuhnya mental balik ke atas panggung

"Menghadapi manusia satu ini, terpaksa aku harus menggunakan jurus sap kelima! Jika tidak, pertempuran di bawah tidak akan segera selesai!" kata Aji dalam hati. Segera kipasnya dikatupkan di depan dada. Dan mendadak seluruh tubuhnya berubah menjadi kemerah-merahan.

Pada saat yang sama, Gentapati juga siap. Kedua tangannya terkepal di depan dada. Sementara loncengnya sudah menggantung di depan perutnya.

"Hiaaa...!"

Disertai hentakan garang, Aji cepat menggerakkan kipasnya.

Wusss...!

Gelombang angin warna merah muda disertai suara menggemuruh melesat ke arah Gentapati.

"Bayu Cakra Buana!" desis Gentapati, seperti mengenali pukulan yang dilancarkan Pendekar Mata Keranjang 108.

Gentapati sejenak tampak tersentak kaget. Namun buru-buru menyentakkan tangan kanannya. Sementara, tangan kiri memutar loncengnya.

Wusss...!

Gelombang asap biru disertai dentang lonceng yang bertalu-talu segera melesat.

Blast...!

Namun gelombang angin merah muda mudah sekali memusnahkan asap biru. Dan suara dentangan lonceng segera pula terhenti, tepat ketika tali pengikat lonceng itu putus terkena sambaran angin sentakan kipas Pendekar Mata Keranjang 108.

Namun demikian, Gentapati tak juga ciut. Dia segera melompat sampai empat tombak ke udara. Lalu seketika kedua telapak tangannya disentakkan ke muka yang disusul muntahan hawa dari mulutnya.

Kini Aji bagai terkurung oleh asap biru yang datang dari segala penjuru. Tapi dengan cepat kembali. Pendekar Mata Keranjang 108 menyentakkan kipasnya. Kembali dikirimkannya jurus sap kelima pukulan 'Bayu Cakra Buana'.

Wuttt...!

Gelombang angin merah muda kembali menghantam ke depan. Dan di tengah jalan tibatiba gelombang angin merah muda itu berpencar, memapasi seluruh asap biru yang datang.

Blashhh...!

Gentapati kaget. Benar-benar tak disangka jika serangan terakhirnya masih bisa dimusnahkan Pendekar Mata Keranjang 108. Hingga untuk beberapa saat, dia tercenung! Belum habis rasa kagetnya, selarik gelombang merah muda telah kembali melesat.

Gentapati yang telah waspada segera melesat ke samping, sehingga sinar merah muda itu hanya menghantam tempat kosong!

Tapi, kali ini Pendekar Mata Keranjang 108 tak memberi lagi kesempatan pada Gentapati. Begitu gelombang merah muda lolos, Aji segera melompat. Dan segera pula kipasnya disentakkan ke sana kemari. Wurrr...!

Kembali gelombang angin merah menebar ke segala jurusan, ke arah tubuh Gentapati. Sedangkan tokoh sesat itu tak bisa lagi mengelak, karena larikan warna merah muda itu begitu banyak dan datang dari segala arah. Lalu....

Blash! Blash !

"Aaa !"

Gentapati menjerit lengking ketika larikan warna merah muda menghantam tubuhnya. Tokoh sesat itu kontan terpelanting keluar dari panggung.

Demi mengetahui siapa yang terpental, beberapa orang dari golongan putih yang tidak setuju depan Gentapati segera menghambur ke arah robohnya dedengkotnya tokoh sesat itu.

Dengan bentakan-bentakan membahana mereka segera menghujamkan senjata di tubuh Gentapati.

Jras! Crap! Crasss !

"Aaa !"

Gentapati menjerit-jerit. Namun beberapa orang tambah beringas menghujamkan senjatanya. Dan ketika jeritannya tak terdengar lagi, orang-orang itu segera menghentikan hujamannya.

Begitu semua senjata terangkat, tampak tubuh Gentapati telah berserakan. Kedua tangannya terpenggal dan kaki kanan hancur!

Beberapa orang pengikut Gentapati segera menghentikan pertempuran. Mereka mulai mundur teratur menuju bangunan megah itu. Sementara orang-orang dari golongan putih segera mengejar.

Melihat hal itu Aji segera bertindak. "Hentikan pertempuran!" teriak Pendekar

Mata Keranjang 108.

Serta merta langkah-langkah orang yang mengejar berhenti. Dan mereka sama-sama menoleh ke arah Aji.

Tapi mendadak mereka dikejutkan oleh suara bentakan yang masih juga membahana. Ketika menoleh, mereka semua sama tercekat. Ternyata di arah lereng, tampak Pusparani dan Puspasari masih terlibat pertempuran sengit.

Tubuh mereka sudah tampak mengenaskan. Pakaian mereka sudah koyak tak karuan. Dari bibir dan hidung sudah tampak darah kehitaman, pertanda sama-sama terluka dalam.

"Hentikan, Sari!" teriak Aji.

Namun, terlambat. Pada saat yang bersamaan, Pusparani melancarkan serangan dengan sisa-sisa tenaganya. Sementara Puspasari yang diserang tak tinggal diam. Dengan segenap tenaga yang masih ada juga segera dilepaskannya pukulan jarak jauh. Dan....

Blarrr. !

Suara menggelegar dahsyat segera mengguncang tempat ini. Sementara tubuh Pusparani dan Puspasari tampak sama-sama terpental. Begitu menghantam tanah, tubuh keduanya samasama menggelepar. Namun sesaat kemudian gadis bersaudara kembar yang satu seperguruan ini sama-sama diam tak bergerak!

Semua mata yang menyaksikan tampak terpejam. Mereka menarik napas panjang, menyayangkan kejadian itu.

Sedangkan Pendekar Mata Keranjang 108 tampak tercenung, namun tak bisa berbuat banyak.

10

Tokoh-tokoh silat segera menyatu. Dan secara serentak mereka menjura pada Pendekar Mata Keranjang 108 dan Bidadari Tongkat Putih. Sementara, bekas anggota Partai Lonceng Kematian alias Partai Gentapati yang selamat, tampak berdiri dengan tubuh gemetar. Mata mereka tak berani memandang ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Kalian boleh pergi. Namun, kalian harus sadar dengan kembali ke jalan yang lurus! Sekali lagi kutemui di antara kalian masih tetap di jalur hitam, tiada ampun lagi!" ancam Bidadari Tongkat Putih dingin menggetarkan.

Mendengar kata-kata Bidadari Tongkat Putih, anggota Partai Gentapati segera membuang senjata dan buru-buru berlutut di depan Pendekar Mata Keranjang 108 dan Bidadari Tongkat Putih.

"Hari ini, mata kami benar-benar terbuka. Kami berjanji akan kembali ke jalan lurus...," ucap salah seorang bekas anggota Partai Lonceng Kematian tetap berlutut.

"Sekarang kalian boleh pergi!" ujar Bidadari Tongkat Putih.

Satu persatu bekas anggota Partai Gentapati mendongak. Dan perlahan-lahan mereka beringsut mundur, sebelum akhirnya berbalik. Kini masing-masing melangkah menuruni Gunung Wilangkor.

"Kami merasa kagum terhadap jiwa besar Pendekar berdua! Seandainya tidak ada kalian, entah nasib apa yang bakal menimpa. Lebih-lebih terhadap dunia persilatan...," ucap salah seorang dari golongan putih dengan mata tak berkedip.

"Ah! Kalian terlalu membesar-besarkan hal ini! Apalah artinya aku, jika tanpa bantuan kalian semua...," jawab Aji, merendah. "Kukira persoalan di sini telah berakhir. Kalian bisa meninggalkan tempat ini. Aku harus tinggal sejenak di sini, masih ada yang harus aku selesaikan "

Pendekar Mata Keranjang 108 segera mendekati mayat Puspasari. Para tokoh sepertinya tahu, apa yang berkecamuk dalam benak Pendekar Mata Keranjang 108. Mereka pun tanpa bicara lagi segera meninggalkan Gunung Wilangkor ini.

Sementara Bidadari Tongkat Putih tetap diam dengan sepasang mata mengawasi Pendekar Mata Keranjang.

"Manusia satu ini memang menarik. Tak mustahil jika banyak gadis terpikat. Dan, apakah dia juga tahu jika aku "

Bidadari Tongkat Putih tak meneruskan kata hatinya tatkala Pendekar Mata Keranjang mengangkat tubuh Puspasari dan membopongnya.

"Pendekar Mata Keranjang! Aku turut bersedih atas kematian orang yang mencintaimu. Ngg..., tapi bisakah kita bicara sebentar...?" usik Bidadari Tongkat Putih seraya melangkah mendekati Pendekar Mata Keranjang yang membopong tubuh Puspasari.

Pendekar Mata Keranjang 108 tak menjawab. Perasaannya masih galau.

"Bidadari Tongkat Putih.... Hari ini aku betul-betul merasa kehilangan. Ku mohon kau tak menggangguku. Jika ada umur panjang, kita pasti akan bertemu lagi. Dan tentunya kita bisa cerita panjang lebar. Aku ingin mengubur jenazah Puspasari dan saudara kembarnya!" tolak Pendekar Mata Keranjang, halus. Suaranya terdengar lirih, seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

Dalam hati, Pendekar Mata Keranjang 108 yakin kalau orang yang membebaskannya dari tahanan adalah Puspasari. Inilah yang membuat Aji tak ingin diganggu dulu. Dia merasa, Puspasari telah menolong jiwanya. Itu yang tak akan dapat dilupakannya....

Bidadari Tongkat Putih menarik napas panjang, berusaha menguatkan perasaannya yang galau. Kakinya melangkah menjauhi Pendekar Mata Keranjang 108, menyusul beberapa tokoh yang telah terlebih dahulu meninggalkan Gunung Wilangkor.

"Puspasari.... Maafkan aku yang tak bisa menyelamatkanmu! Sebenarnya, aku juga "

Aji tak meneruskan ucapannya. Sepasang matanya memandang lekat-lekat pada paras Puspasari di bopongannya yang-masih tampak tersenyum, meski tubuhnya telah dingin

Perlahan Aji membungkuk, lantas mencium kening Puspasari. Bidadari Tongkat Putih yang ternyata masih berdiri dan hendak berkelebat, sempat melihat tingkah Aji. Dadanya langsung bergemuruh terbakar api cemburu. Hatinya bagai ditusuk. Wajahnya segera dipalingkan. Dan dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya berkelebat menuruni Gunung Wilangkor.

SELESAI