Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 03 : Malaikat Berdarah Biru

 
Eps 03 : Malaikat Berdarah Biru


Pesisir Pantai Sendang Biru yang merupakan bagian Teluk Gonggong agaknya kali ini tak bersahabat. Curah hujan masih belum juga beranjak dari langit yang menghitam. Itu pun masih ditingkahi deru ombak mengganas.

Sementara petir sesekali menyibak curahan hujan dari langit yang demikian pekat, membuat suasana yang seharusnya baru beranjak dari tengah hari menjadi gelap. Ketika kilat menyinari bumi, sekilas terlihat satu sosok bayangan berkelebat menuju sebuah bangunan yang terdapat di Teluk Gonggong ini.

Begitu cepat bayangan itu bergerak sehingga sebentar saja sudah tiba di depan bangunan yang ternyata terbuat dan iratan-iratan pelepah pohon kelapa. Empat tiang bambu yang ditancapkan sedemikian rupa ke dalam batu padas menjadi penopang bangunan itu, hingga berada satu tombak di atas batu padas di sekitarnya.

Splash...!

Jderrr...!

Ketika kilat sekali lagi menjilat angkasa dengan sinarnya yang cukup terang tampak jelas kalau bayangan itu adalah seorang pemuda berjubah toga warna merah menyala. Tubuhnya kekar. Kedua kaki dan tangannya tampak kokoh. Alis mata dan kumisnya hitam lebat. Rambutnya yang panjang dikuncir ekor kuda. Di telinga sebelah kiri menggantung anting-anting kecil dari tembaga.

Sambil berdiri tegak, mata pemuda ini nyalang memandang ke arah bangunan tak jauh di depannya. "Anak Agung! Apakah kau itu yang di luar?!"

Baru saja bayangan itu hendak melangkah, mendadak ia dengar suara bertanya dari dalam bangunan. Terdengar berat dan menggema. Sehingga suara gempuran ombak yang berderak keras menghantam batu karang di bawahnya, bagai tertelan.

Pemuda berjubah toga merah ini melangkah mendekati bangunan.

"Benar, Guru! Aku telah selesai menjalankan perintahmu!" jawab pemuda berjubah toga merah yang dipanggil Anak Agung.

Begitu selesai kata-katanya, sepasang mata Anak Agung beranjak memandang ke arah pintu bangunan. Hingga beberapa lama, tak juga ada suara atau sosok yang keluar. Kini mata pemuda itu beralih ke tempat lain.

Tapi begitu berpaling, dari pintu bangunan yang terbuka mendadak melesat sebuah bayangan. Setelah membuat putaran sekali di udara, sosok bayangan ini melayang turun. Namun di luar dugaan kaki kanannya meluncur cepat ke arah Anak Agung yang masih tegak berdiri.

Mendapati serangan tak terduga, Anak Agung membuang tubuhnya hingga rata dengan batu padas di bawahnya.

Wesss!

Terjangan kaki sosok bayangan yang disertai angin menggemuruh, lewat sedepa di atas tubuh Anak Agung.

Namun bayangan itu cepat pula berputar. Tubuhnya kembali melesat dalam keadaan duduk dan kedua kaki lurus ke depan.

"Hiaaa...!"

Disertai bentakan membahana, kini bayangan itu tampak melayang deras bagai terbang, satu tombak di atas batu padas.

Namun dengan sedikit mendongak, Anak Agung cepat menjejakkan tumit kakinya ke batu cadas. Dan ketika sejengkal lagi terjangan kaki lurus itu menggebrak, tubuhnya melesat ke atas melewati lesatan sosok bayangan. Setelah berputaran beberapa kali, Anak Agung mendarat manis dan kokoh di atas batu padas.

Sementara bayangan tadi sudah pula mendarat dan langsung berbalik. Telapak tangannya cepat dikatupkan dan diangkat ke atas kepala. Kemudian tiba-tiba kedua tangannya, disentakkan kedepan.

Wesss...!

Saat itu juga serangkum angin dahsyat menderu disertai hawa panas. Udara mendadak terang. Sedangkan curahan hujan menyibak. Saat itu, gelombang warna hitam melarik cepat laksana kilat menyambar ke arah Anak Agung!

Menyaksikan serangan dahsyat ini, Anak Agung menarik tangannya sejajar dada. Lalu perlahan telapaknya dibuka, dan dihantamkan ke depan.

"Heaaa...!" Wesss...!

Angin sembab seketika menggebrak keluar dari telapak tangan Anak Agung, memapaki serangan yang datang.

Blarrr!

Beberapa gundukan batu padas yang banyak berserakan di sekitarnya pecah berderak-derak. Bahkan berpentalan ke segala arah.

"Hi hi hi...!"

Baru saja suasana senyap mendadak terdengar suara tawa berderai. Suara tawa yang datangnya dari sosok di depan Anak Agung.

"Bagus! Aku sangat gembira melihat pukulan 'Serat Jiwa'-mu sempurna tanpa cela!" susul bayangan itu, setelah tawanya berhenti.

Anak Agung menggerakkan kepalanya menunduk. Sepasang matanya menyorot ke bawah, menekuri padas.

Sosok bayangan di depan Anak Agung ternyata seorang perempuan tua. Pakaiannya merah panjang dengan kembang-kembang putih. Sepasang matanya sayu, menjorok ke dalam rongga yang kulit di sekitarnya telah mengeriput. Meski raut wajahnya telah tersaput kerutan-kerutan, namun nampak cerah. Nenek ini memiliki rambut panjang hitam lebat, disanggul ke atas kepala.

"Guru!" sebut Anak Agung begitu mengarahkan pandangannya ke depan, segera didatangi perempuan tua itu. Sampai di hadapan sang nenek, anak muda ini segera menjura.

Sang nenek mendongakkan kepala memandang langit yang masih mencurahkan hujan. Namun, tak setitik pun air hujan membasahinya. Curahan hujan menyibak ke samping, bagai ada dinding pembatas di atas kepalanya.

"Terima kasih, Guru! Ini semua karena kebaikanmu yang telah mewariskan seluruh ilmumu padaku!" ucap Anak Agung.

Perempuan tua itu tertawa panjang. Sehingga gigi-giginya yang masih utuh dan berwarna kemerahan kelihatan berkilat-kilat.

Dalam rimba persilatan, nenek ini memang sudah tak asing lagi. Ia dikenal dengan julukannya yang angker Bidadari Telapak Setan! Orang rimba persilatan menjuluki demikian, karena selain berkemampuan tinggi, nenek ini juga dikenal mempunyai sebuah pukulan andalan yang bertumpu pada telapak tangan. Yaitu, pukulan 'Serat Jiwa' Orang yang terkena pukulan ini tubuh luarnya memang tak menampakkan cedera. Tapi bagian dalamnya akan mengalami kehancuran! Kalaupun dapat bertahan hidup, maka jiwanya akan terguncang, alias gila.

Selama malang melintang dalam rimba persilatan, tingkah Bidadari Telapak Setan memang ugal-ugalan.

Tak pandang dari golongan hitam atau golongan putih, tokoh-tokoh berkepandaian rendah atau tokoh-tokoh tingkat tinggi, pokoknya yang berani berurusan dengannya akan dihabisi secara kejam! Hingga tak mustahil jika dirinya digolongkan sebagai salah satu momok rimba persilatan.

Untuk melestarikan ilmunya, Bidadari Telapak Setan mengangkat seorang murid. Dan menurut kabar, muridnya itu adalah salah seorang putra mahkota sebuah kerajaan di Pulau Bali yang tersingkir. Ia terlahir dengan nama Anak Agung Gede Mantra.

Dan kini, Anak Agung yang diberi julukan oleh nenek itu sebagai Malaikat Berdarah Biru, telah pula menapak jejaknya. Bahkan sang murid kini telah melangkah untuk menjejak puncak rimba persilatan.

Setelah menyelesaikan perintah Bidadari Telapak Setan dalam menyempurnakan pukulan jurus 'Serat Jiwa' di laut selatan, Anak Agung alias Malaikat Berdarah Biru kini telah kembali dengan segala kemampuannya.

"Hm.... Tak sia-sia aku membawamu dari seberang laut! Aku yakin, tak lama lagi kau akan menjadi dambaanku selama ini. Mempunyai seorang murid yang kedigdayaannya tanpa tanding. Dan, seorang murid yang menjadi penguasa rimba persilatan!" oceh Bidadari Telapak Setan seraya merapikan sanggulnya.

"Hal itu tak usah merisaukanmu, Guru. Dan aku pun tak akan mengecewakanmu! Saat ini, siapa yang berani berurusan dengan Malaikat Berdarah Biru murid Bidadari Telapak Setan? Rimba persilatan tinggal selangkah lagi akan berada dalam genggamanku! Bahkan, aku sudah tak sabar lagi untuk meraih mahkota kerajaan yang lepas dari tanganku...!" sambut Malaikat Berdarah Biru dengan nada meletupletup. Matanya menatap tak kedip kearah Bidadari Telapak Setan.

"Tak salah, Muridku! Aku juga begitu senang mendengar kata-katamu yang membesarkan hati! Kini siapa yang sanggup menandingi Malaikat Berdarah Biru?! Namun, kurasa saat ini masih ada sedikit ganjalan. Dan jika tak lekas disingkirkan, tidak mustahil akan menjadi batu sandungan bagi jalanmu menggapai singgasana raja rimba persilatan! Kau tentunya sudah tahu, muridku!" tandas Bidadari Telapak Setan.

Sejenak Malaikat Berdarah Biru diam beberapa lama.

"Apakah yang Guru maksud adalah seorang yang baru muncul di kawasan timur? Aku memang sudah mendengarnya! Apakah Guru masih menyangsikan kehebatanku...?!" tanya Malaikat Berdarah Biru, berapi-api.

Bidadari Telapak Setan tak segera menjawab. Bahkan tubuhnya berbalik dan berkelebat masuk bangunan gubuk. Sementara Malaikat Berdarah Biru menyusul.

"Muridku...!" panggil Bidadari Telapak Setan setelah berada dalam gubuk dan duduk berhadap-hadapan dengan Malaikat Berdarah Biru. "Aku tidak menyangsikan kehebatanmu. Namun kabar yang santer terdengar, manusia yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang itu telah membuat Sepasang Iblis Pendulang Sukma pontang-panting. Padahal kita tahu, dengan Kitab Dua Belas Titisan Iblis, Sepasang Iblis Pendulang Sukma termasuk orang yang sulit dicari tandingnya. Kau harus pikirkan itu!"

Sejenak Malaikat Berdarah Biru tercengang. Namun raut wajahnya berubah cerah menutupi rasa ketercengangannya.

"Aku telah memiliki jurus 'Serat Jiwa'. Lantas siapa yang bisa mengalahkan aku...?" kata Malaikat Berdarah Biru sambil mengepalkan tangannya.

"Itu betul. Tapi, apakah kau telah tahu kalau pendekar itu mempunyai sebuah kipas sakti ciptaan Empu Jaladara?!"

"Aku tahu itu! Bahkan aku akan merebutnya!" jawab Malaikat Berdarah Biru mantap. "Akan kucari dia!"

"Ha.... Hik.... Hik...!"

Bidadari Telapak Setan menyambutinya dengan tawa aneh.

"Itu perjalanan panjang yang belum tentu hasilnya!" lanjut perempuan tua itu.

"Hmm.... Lantas, apakah Guru punya gagasan lain...?!" tanya Anak Agung.

Bidadari Telapak Setan kembali tertawa.

"Kau tak usah mencari Pendekar Mata Keranjang! Dialah yang akan datang sendiri!"

"Ha... Rupanya Guru mempunyai gagasan bagus!" gumam Malaikat Berdarah Biru, saat Bidadari Telapak Setan menghentikan kata-katanya. "Akan kusebar fitnah, baik di antara golongan putih atau golongan hitam. Lalu, akan kuatur sebuah pertemuan di Teluk Gonggong! Aku yakin, manusia itu akan muncul di sini!" lanjut Bidadari Telapak Setan lagi, tanpa memandang pada Malaikat Berdarah Biru.

Mendengar kata-kata gurunya, Malaikat Berdarah Biru menarik napas dalam-dalam. Lantas bibirnya tersenyum dingin.

"Gagasan menarik. Lantas, apa Guru telah menentukan saat bersejarah itu...?!" tanya Anak Agung, semakin penasaran.

"Malam purnama bulan ketiga!" jawab Bidadari Telapak Setan. "Dan jika golongan putih telah tersungkur, orang-orang golongan hitam saat itu juga kita habisi! Kita akan buat Teluk Gonggong sebagai arena bangkai tokohtokoh persilatan! Dengan demikian, jalanmu menuju penguasa tunggal rimba persilatan akan terpentang tanpa penghalang!"

"Ah! Guru masih juga mengutamakan kepentinganku. Terima kasih, Guru! Bila rencana ini berlangsung tanpa hambatan, aku tak akan mengecewakanmu! Segala kehendakmu akan kupenuhi...! Kau tinggal bilang...!" tekad Anak Agung.

Selesai berkata, Malaikat Berdarah Biru menjura. Namun wajahnya tampak rasa keterpaksaan. Sementara Bidadari Telapak Setan senyum-senyum.

"Kau memang murid yang tahu balas budi. Dan tentunya, kau tahu apa yang menjadi kesukaanku!" puji Bidadari Telapak Setan.

Malaikat Berdarah Biru mengangguk perlahan.

"Guru tak perlu khawatir kalau hanya untuk mencari pemuda-pemuda. Aku akan carikan untukmu yang bertubuh kekar, berkumis lebat, dan berbulu dada...," ujar Anak Agung.

"Ah...!" desah Bidadari Telapak Setan sambil sedikit melengos. "Kalau yang macam begitu, aku sudah sering mencicipi. Sesekali, aku ingin merasakan yang masih hijau dan masih bau kencur! Selain bisa berbasah-basah keringat, kata orang..., yang hijauhijau bisa jadi obat awet muda. "

Selesai berkata Bidadari Telapak Setan tertawa ngikik.

"Sekarang harap Guru memberi tahu, apa yang harus kulakukan untuk mempercepat rencana besar itu. !"

pinta Anak Agung.

Bidadari Telapak Setan serentak menghentikan tawanya. Lalu matanya memandang tajam ke arah Malaikat Berdarah Biru.

"Kau.... Pergilah ke Pucang Anom. Temuilah Selir Iblis. Undang dia ke sini untuk bergabung bersama kita. Sebagai bekas istri seorang pendekar dari golongan putih, mungkin banyak keterangan yang bisa dikorek dari mulutnya!" ujar perempuan tua itu.

Beberapa lama Malaikat Berdarah Biru terdiam.

Wajahnya menampakkan rasa bimbang. Bahkan kepalanya tampak menggeleng pelan.

"Menurut cerita yang pernah kudengar, Selir Iblis adalah seorang tokoh keras kepala yang tak mudah dipengaruhi. Apakah..."

"Satu hal mungkin yang kau lupakan, Muridku!" potong Bidadari Telapak Setan. "Selain watak yang telah kau sebutkan tadi, kesukaannya mungkin bisa mengalahkan segalanya. Dia paling suka bocah-bocah muda yang berbadan kekar dan berotot! Gunakanlah kelemahannya. Mengenai hal yang demikian itu, kukira kau lebih mengerti caranya! Ingat, Anak Agung! Perjuangan apa pun pasti membutuhkan pengorbanan...!"

Mendengar pemaparan Bidadari Telapak Setan, Malaikat Berdarah Biru menarik napas dalam-dalam. Pandangannya dibuang jauh keluar gubuk.

Sedangkan Bidadari Telapak Setan pun juga berpaling. Dirapikannya sanggul rambutnya sambil tersenyum.

"Aku tak ingin melihat seorang murid yang mengatasi persoalan sepele saja sudah kalang kabut! Betapa tololnya! Namun aku yakin, kelak jika kau telah bertemu Selir Iblis, segalanya akan berubah!" kata Bidadari Telapak Setan, dengan sedikit menggoda.

Sejenak Bidadari Telapak Setan menghentikan bicaranya. Kepalanya tetap tak bergeming, memandang ke arah lain.

"Hujan telah reda. Saatnya bagimu memulai perjalanan. Ingat, Anak Agung! Setiap langkah, harus diperhitungkan matang-matang. Gunakan segala cara untuk menyelamatkan selembar nyawa. Jika tidak, singgasana sang penguasa tunggal rimba persilatan akan lepas dari cengkeramanmu! Dan, satu lagi. Bila kau kembali, bawakan oleh-oleh untuk sekadar menepis dinginnya malam dan pelepas dahaga. "

Selesai berkata, Bidadari Telapak Setan kembali tertawa. Sementara, sepasang mata Malaikat Berdarah Biru berkilat membeliak. Mulutnya mengatup. "Sudah tua bangka   masih   juga doyan daun muda! Seandainya tak ada rencana besar ini, aku tak sudi menuruti permintaan gila ini!" umpat

Anak Agung dalam hati.

Tak menunggu lama lagi, Malaikat Berdarah Biru berkelebat keluar dari gubuk. Lantas tubuhnya melesat diiringi senyum dan anggukan kepala Bidadari Telapak Setan.

***

Setelah menempuh perjalanan dua hari dua malam, Malaikat Berdarah Biru tiba di kawasan Hutan Pucang Anom. Ketika mulai memasuki hutan belantara yang masih jarang dirambah manusia ini, langkahnya terlihat pelan-pelan. Dan ketika sampai di tengah hutan, tepatnya di depan sebuah pohon besar dan tinggi, langkahnya berhenti.

Untuk beberapa saat, Malaikat Berdarah Biru mengawasi pohon besar dan tinggi. Ia seakan tak percaya dengan penglihatannya. Bukan karena besar dan tingginya pohon yang membuat hatinya bertanya-tanya heran. Tapi, ternyata pohon itu tumbuh tanpa dedaunan...! Pohon itu hanya ditumbuhi dua dahan yang tidak begitu besar, malah sudah tampak mengering! Namun yang membikin mata terbeliak, di dahan yang tampak mengering menggandul sebuah rumah gubuk dari jerami yang hanya diikat begitu saja dengan seutas tali!

"Hm..... Rumah yang aneh! Apakah penghuninya juga aneh?" gumam Malaikat Berdarah Biru. Sepasang matanya terus berputar liar, dan berujung pada rumah gubuk jerami yang pintu dan jendelanya tampak tertutup.

Selagi diam sambil mengawasi, mendadak pemuda itu diam terpaku. Ekor matanya melirik tajam. Dan telinganya tampak tertarik ke belakang.

"Hm.... Ada orang yang mengawasiku! Tapi..., tidak di rumah itu. Aku yakin, dia memiliki kepandaian tinggi. Karena, aku tidak bisa menentukan di mana dia berada! Aku harus waspada...!" batin Malaikat Berdarah Biru ini.

Namun hingga agak lama ditunggu, tak ada tanda-tanda sang pengintai menampakkan diri.

"Siapa pun adanya kau! Tak usah berlaku pengecut! Tampakkan dirimu! Aku tahu, kau ada di sekitar sini!" teriak Anak Agung.

Suara Pemuda berjuluk Malaikat Berdarah Biru ini membahana, seakan menggugah sunyi belantara. Sejenak senyap. Tinggal gema suara Anak Agung yang menyeruak dan menerabas pohonpohon seantero belantara.

Namun keheningan itu hanya berjalan sesaat. Sejenak kemudian....

"Hi.. hi... hi !"

Terdengar suara tawa merdu. Dan sebelum suara tawa itu lenyap, semak belukar lima tombak di depan Malaikat Berdarah Biru terkuak.

Anak Agung terkejut. Namun secepat itu pula perasaannya terkuasai. Matanya segera nyalang mempehatikan sesosok bayangan melesat dari semak belukar. Dan tahu-tahu di depan Malaikat Berdarah Biru telah berdiri tegak sesosok tubuh sejauh lima langkah.

Sosok bayangan itu ternyata seorang gadis cantik berpakaian warna hitam panjang dan ketat. Pakaian bagian atas tepatnya di bagian dada dibuat sedemikian rupa, sehingga belahan dadanya membuat celah sempit dari dua bukit yang membusung menggiurkan. Sementara pakaian bagian bawah, di bagian depan dibelah hingga lutut. Sehingga membuat sepasang kakinya yang berkulit putih mulus tersembul jelas. Pinggulnya yang besar dan tampak menjanjikan, mata digoyang sedikit. Sementara bibirnya yang merah setengah terbuka.

Setengah memejam, mata gadis ini berkilatan menatap Malaikat Berdarah Biru.

Sejenak Anak Agung terkesima. Belum habis rasa terpesonanya tibatiba....

"Cepat katakan, siapa dirimu! Dan, apa tujuanmu!" bentak gadis itu, ketus.

Malaikat Berdarah Biru tergagap.

Tapi, cepat mampu menguasai diri. "Harap kau tak salah paham. Aku

ke sini dengan niat baik! Mengenai aku, aku dikenal dengan julukan Malaikat Berdarah Biru. Dan jika kau masih tak mengenalku, kau tentunya mengenai Bidadari Telapak Setan! Dialah guruku!"

Sambil berkata Malaikat Berdarah Biru memandang tak berkedip. Napasnya berhembus panjang-panjang. Sementara jakunnya bergerak turun naik.

"Uhhh! Jika aku tahu begini keadaannya...," batin Anak Agung.

"Hemm.... Gelar bagus...," puji gadis itu sambil tersenyum dan anggukan kepala. "Sekarang katakan, apa tujuanmu datang ke tempatku!"

Sambil berkata, gadis ini membusungkan dadanya, membuat mata Malaikat Berdarah Biru mendelik. Pandangannya terus menjilati dada dan pinggul gadis itu berganti-ganti.

"Kedatanganku dengan salam dan pesan dari Bidadari Telapak Setan!" jawab Anak Agung.

"Katakan saja, apa pesannya...!" sahut gadis ini cepat.

"Kau tentunya telah mendengar tentang seseorang yang baru muncul di kawasan timur. Dan dia mengaku sebagai murid Wong Agung...," jelas Anak Agung lagi.

"Hm.... Aku telah dengar itu! Bahkan aku mungkin lebih tahu daripada kau dan gurumu!" tukas sang gadis dengan mata menyorot tajam. Malaikat Berdarah Biru mengangguk perlahan sambil tersenyum.

"Jahanam keparat! Seandainya aku telah mereguk kenikmatan tubuhmu dan tak ada urusan menyangkut masa depanku, sudah kusumpal mulutmu!"

Benak kotor Malaikat Berdarah Biru dirasuki sebuah kenikmatan dan keinginan. Dan anak muda ini jadi merutuk dalam hati.

"Aku mengerti, ngg...," kata Anak Agung, terputus.

"Orang menjuluki aku Selir Iblis!" potong sang gadis tatkala melihat pemuda ini kebingungan dan canggung memanggilnya.

"Aku mengerti, Selir Iblis! Kedatanganku hanya menyampaikan pesan. Mengenai kau nanti memenuhi atau tidak, itu persoalan lain. Dan itu bisa diatur!"

Gadis yang bergelar sebagai Selir Iblis melengos, hingga tubuhnya berputar sedikit. Hal ini membikin mata dan napas Malaikat Berdarah Biru tambah bekerja tak beraturan. Karena dari arah samping, dada Selir Iblis tampak begitu menggemaskan.

"Malaikat Berdarah Biru! Katakan saja! Tapi jangan coba-coba mempengaruhiku! Aku tak sudi diperalat orang!" ujar Selir Iblis bernada agak ketus.

"Kau jangan terburu-buru menduga!" tukas Malaikat Berdarah Biru. "Guru mengundangmu datang ke Teluk Gonggong. Ia mempunyai rencana besar. Dan bila rencananya berhasil, tentunya kau akan mendapatkan imbalan besar!"

Sejenak bola mata Selir Iblis liar menatap Malaikat Berdarah Biru.

"Rencana apa?!"

"Menumpas tokoh-tokoh silat golongan putih!"

"Apakah didalamnya juga termasuk seorang pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang...?!"

Mendengar pertanyaan Selir Iblis, sejenak Malaikat Berdarah Biru terdiam.

"Rupanya dia juga menginginkan kipas itu!" kata batin Malaikat Berdarah Biru.

Anak Agung menatap tajam-tajam Selir Iblis.

"Apakah kau mengenal Pendekar Mata Keranjang...?!" tanya pemuda ini. "Tidak hanya mengenal. Tapi, aku punya urusan dengannya!" sahut Selir

Iblis mantap.

"Urusan...?" ulang Malaikat Berdarah Biru. "Urusan apa...?"

"Ageng Panangkaran, bekas suami ku, dengan sembrono telah memberikan lembaran-lembaran kulit pada pendekar itu! Padahal, aku rela diambil istri karena memang mengincar lembaran kulit itu!" jelas Selir Iblis.

Anak Agung manggut-manggut dengan benak dipenuhi dugaan-dugaan.

"Apakah lembaran kulit yang saat ini menjadi rebutan tokoh rimba persilatan itu? Ah, tapi aku tak tertarik dengan lembaran kulit itu. Aku hanya menginginkan kipasnya! Dan..., hhhmmm.... Jadi perempuan ini mempunyai persoalan tersendiri dengan pendekar itu. Ini bisa kugunakan untuk mempercepat kematiannya! Perempuan ini tak diragukan lagi ketangguhannya. Dan bukan tak mungkin dia dapat menewaskan pendekar itu!" kata hati Malaikat Berdarah Biru.

Kembali Anak Agung menatap Selir Iblis dengan senyum manis.

"Ketahuilah, rencana ini dibuat justru untuk menarik pendekar itu datang ke Teluk Gonggong...!" kata Malaikat Berdarah Biru.

Selir Iblis mengangguk.

"Hm.... Jika demikian halnya, baiklah! Aku akan datang ke Teluk Gonggong! Tapi..., aku punya permintaan sebelum berangkat!"

"Katakan permintaanmu!" ujar Malaikat Berdarah Biru.

"Hi... hi... hi...!"

Mendadak Selir Iblis tertawa, membuat kening Malaikat Berdarah Biru berkerut heran. Walaupun, sudah bisa menduga apa yang bakal dimintanya.

"Kau tahu, bertahun lamanya aku tinggal di tengah belantara yang sunyi. Bisa dibayangkan, bagaimana rasanya malam-malam dingin sendirian di tengah hutan. Sebelum aku berangkat memenuhi undangan gurumu, hm. Aku

ingin malam ini merasakan sedikit kehangatan. Ah, tentunya kau mengerti yang kumaksud bukan...?" jelas Selir Iblis.

Sepasang mata Malaikat Berdarah Biru berkilat-kilat membeliak. Bibirnya menyungging seulas senyum, lalu melangkah mendekati Selir Iblis.

"Jika itu permintaanmu, jangankan hanya satu malam. Sepuluh hari pun akan kupenuhi...!" sahut Anak Agung, mantap.

Selir Iblis menggeliatkan tubuhnya saat mendengar kata-kata Malaikat Berdarah Biru. Sehingga membuat dadanya lebih membusung kencang. Sementara pakaian bagian bawahnya tertarik ke atas, membuat kulit pahanya terlihat jelas.

Beberapa saat Malaikat Berdarah Biru tegak dengan pandangan terkesima. "Berarti kau setuju dengan tawaranku. Tunggu apa lagi...?" Selir

Iblis menegur seraya tersenyum.

Malaikat Berdarah Biru segera gerakkan tangannya. Dan tahu-tahu, Selir Iblis telah terbopong. Lalu dengan sekali jejak, tubuhnya bersama tubuh Selir Iblis melayang ke rumah yang menggantung. Disertai derai tawa, Malaikat Berdarah Biru menyentilkan kaki kirinya ke pintu rumah gubuk membuat pintu itu terbuka. Begitu masuk, dari balik pintu kaki kanannya menyapu ke belakang. Dan..., bleppp! Pintu rumah gubuk bergerak menutup.

Namun Malaikat Berdarah Biru tak melihat kalau wajah gadis jelita yang dibopongnya saat ini telah berubah menjadi seorang nenek tua dengan pipi kempot dan dagu kendor. Sementara, kedua matanya sayu dan bibirnya kehitaman.

Dalam satu kejapan, nenek itu tampak tersenyum dengan mata sayunya yang terpejam-pejam.

* * *

2

Di padang rumput luas yang dikelilingi semak belukar, Aji Saputra alias Pendekar Mata Keranjang 108 duduk bersandarkan sebuah pohon, melindungi dirinya dari sengatan matahari yang panas menyengat.

"Meski menentukan tempat serta mendapatkan kitab dan kipas yang kedua merupakan perjalanan berat, aku tidak boleh lengah. Apalagi, putus asa. Namun..., sebenarnya aku masih ingin berlama-lama tinggal di Lem-bah Pring Sewu bersama Ajeng Roro. Hm..., gadis itu hampir setiap kali tak bisa lenyap dari setiap langkahku. Tapi..., apa boleh buat? Tugaslah yang mengharuskan untuk sementara waktu aku harus memendam rasa rindu...," gumam Aji pada diri sendiri. Hatinya sejenak bergulat dengan kegelisahan.

Namun belum tuntas batinnya berucap, dari ujung jalan tempat Aji muncul, lamat-lamat terdengar derap kaki kuda menghentak ditingkahi gemeretak roda kereta.

"Ada orang lewat! Lebih baik aku menyelinap. "

Aji segera berkelebat, menyelinap masuk di balik rimbunan semak belukar yang merangas dan lebat di sekitar hamparan rumput.

Tak lama, dari ujung jalan muncul sebuah kereta tertutup yang ditarik dua ekor kuda. Kusirnya adalah seorang laki-laki bertubuh telah melengkung ke depan. Wajahnya telah tersaput kerutan, menandakan kalau usianya telah lanjut. Rambutnya panjang dan sudah memutih. Demikian pula jenggotnya. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu yang ujungnya bercabang dua.

Memasuki hamparan rumput, mendadak kusir kereta menarik tali kekang kudanya. Maka seketika sepasang kuda itu serentak menghentikan langkahnya.

Cukup lama juga kusir tua ini tak menggerakkan kembali tangannya untuk menghela kudanya. Sepasang mata kelabunya malah memandang tajam ke depan. Melihat gerak-geriknya, tampaknya dia menunggu.

Memang, Tak lama berselang, dari arah berlawanan muncul seorang penunggang kuda. Tepat sepuluh tombak lurus di depan kereta kuda, penunggang kuda itu menghentikan tunggangannya.

Ternyata penunggang kuda itu adalah pemuda berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala juga berwarna hitam. Tubuhnya kekar dan berotot. Raut wajahnya hanya tampak sebagian, karena tertutup brewok dan kumis yang tampak terawat rapi. Namun, tampangnya tidak menampakkan garis keramahan.

"Tak ada hujan tak ada angin, kenapa kau menghadang perjalananku, Tua Bangka?!" bentak pemuda itu dengan sepasang mata tak berkedip memandang lurus ke depan.

Sang kusir kereta tak menjawab. Bahkan malah menggerakkan tongkat kayu di tangannya ke depan.

Wuuut!

Seketika gelombang angin deras meluruk ke depan, membuat pemuda itu mendelik. Sambil berseru keras, ia meloncat menghindar. Namun, tak demikian dengan kuda tunggangannya yang tak bisa menghindar.

Splash! "Hieeekh...!"

Disertai ringkikan keras, binatang itu kontan terlempar dan terbanting ke tanah tak bergerak lagi. Keheningan segera menyambut. Dua pasang mata saling bertatap. Namun mata pemuda yang kini berdiri tegak lima tombak di depan kusir kereta tampak menyengal. Mulutnya menyeringai buas membawa maut. Sementara kusir tua itu memandang dengan seulas senyum mengejek. Bahkan tak lama kemudian

tawa kekehnya meledak.

"Dajal Ireng! Akhirnya kau kutemui di sini...!" kata kusir tua itu dengan suara berat, setelah tawanya berhenti.

Pemuda yang dipanggil Dajal Ireng sedikit terkejut, mendengar namanya disebut.

"Phuih! Jahanam tua! Siapa kau?!" bentak Dajal Ireng setelah meludah untuk menuangkan kegeramannya. Matanya menyorot tajam disertai dagu mengembang.

Tak juga ada jawaban. Sedangkan Dajal Ireng segera menarik kedua tangannya, lalu memutarnya kebelakang. Kumisnya bergerak-gerak, tanda mulut dibaliknya komat-kamit. Sesaat kemudian, tangannya telah lurus di atas kepala dan siap disentakkan ke depan. Kusir tua itu rupanya tahu, apa yang akan diperbuat Dajal Ireng. Segera telapak tangannya didorong tepat ketika pemuda itu juga menyentakkan tangannya ke depan.

Wesss! Blap!

Seakan tak dapat dipercaya, tibatiba gelombang angin yang keluar dari tangan Dajal Ireng memantul balik bagai membentur dinding kasatmata. Karena tak menduga, pemuda itu terlambat menghindar. Akibatnya....

Derrr. !

"Aaakh. !"

Tanpa dapat dicegah lagi tubuh pemuda itu terjungkal disertai pekik kesakitan. Dan keras sekali pantatnya mencium tanah, begitu jatuh terduduk.

Disertai dengusan keras Dajal Ireng berusaha bangkit. Matanya berkilatan, memancarkan kemarahan.

Namun belum lagi dia melancarkan serangan kembali....

"Ki Buyut! Waktu kita terbatas. Cepat katakan padanya, siapa kita! Agar bangsat itu tahu adat!"

Mendadak terdengar suara dari dalam kereta yang tertutup. Dan sepertinya suara seorang perempuan.

Kakek kusir itu membusungkan dadanya. Sehingga tubuhnya yang bungkuk nampak dipaksa lurus tegak. Tongkatnya diputar-putar, seperti hendak memamerkan kelihaiannya. "Dengar, Dajal Ireng! Aku Buyut

Linggar Dipa. Dan tentunya kau telah tahu, siapa yang ada di dalam kereta!" ujar kusir tua yang mengaku bernama Buyut Linggar Dipa.

Mendengar penjelasan orang tua di depannya, Dajal Ireng kontan terkejut. Raut wajahnya berubah pucat pasi. Sekejap itu juga, tubuhnya melesat ke depan dengan sekali jejak. Satu tombak di samping bawah Buyut Linggar Dipa, Dajal Ireng menjatuhkan diri dan menjura.

"Mohon ampun, Ki Buyut. Selama ini aku yang muda ini hanya mendengar namamu. Namun, belum pernah mengenalimu! Sekali lagi harap maafkan tingkahku tadi yang tidak tahu adat...," ucap Dajal Ireng.

Buyut Linggar Dipa diam sesaat. Sepasang matanya menatap dengan sedikit membulat. Lalu, kepalanya mengangguk. Namun mendadak terdengar kekehannya menyeruak, dengan kepala menengadah memandang langit.

"Dajal Ireng! Seperti tadi kau dengar, waktu kami terbatas. Katakan saja, akan ke mana kau sebenarnya?!" susul Buyut Linggar Dipa.

Dajal Ireng mengangkat kepalanya. Namun tetap saja matanya tak berani memandang laki-laki tua itu.

"Aku   mendapat   undangan   dari Bidadari Telapak Setan untuk berkunjung ke tempatnya...," sahut Dajal Ireng, datar.

"Hm.... Bila benar demikian, berarti kabar yang tersiar bahwa Bidadari Telapak Setan punya perhelatan besar itu tidak omongan kosong belaka. Dapatkah kau jelaskan, apa maksud sebenarnya undangan itu?!" tanya Buyut Linggar Dipa dengan wajahnya kembali menatap Dajal Ireng.

"Bidadari Telapak Setan merencanakan suatu peristiwa besar yang akan membuat dunia persilatan guncang...!" jelas Dajal Ireng.

"Rencana apa?!"

Kali ini terdengar suara bernada pertanyaan itu berasal dari dalam kereta. Sangat merdu, namun nadanya ketus.

Dajal Ireng menyeringai seraya menggeser tubuhnya ke belakang.

"Bidadari Telapak Setan ingin menjadikan Teluk Gonggong sebagai kubangan darah dan bangkai tokoh-tokoh persilatan golongan putih! Dan jika hal itu terjadi, secara tak langsung siapa pun yang akan tampil menjadi penguasa rimba persilatan, yang pasti dari golongan kita!" jawab pemuda ini seraya bangkit.

"Hm.... Rencana besar dan bagus!"

Terdengar suara pujian dari dalam kereta. Sementara Aji dalam persembunyian nya kontan terbelalak. Mulutnya menganga, menciptakan gua besar bagi seekor lalat.

"Gila! Rencana ugal-ugalan dan edan! Rimba persilatan akan geger jika hal itu benar-benar berlangsung. Ini tidak boleh terjadi! Hm. Siapa

gerangan Bidadari Telapak Setan si pembuat ulah gila ini? Rupanya makin banyak tokoh yang belum kukenal dalam arena persilatan, telah bermunculan. Bahkan membuat tingkah aneh-aneh yang condong berbahaya...! Aku akan mengorek keterangan dari mereka! Tapi. "

***

Belum habis Aji membatin, mendadak sebuah bayangan berkelebat menerabas semak belukar tempat persembunyian Aji. Dan tahu-tahu empat langkah di tengah semak belukar tepat di depan murid Wong Agung, sosok itu mengeram!

Aji kontan tercekat, tatkala mendapati kakek bungkuk alias Buyut Linggar Dipa telah berdiri tegak dengan mata menyorot tajam. Cepat pemuda itu hendak bergerak bangkit. Namun....

"Bangsat kecil! Apa kerjamu di sini?! Beraninya kau memata-matai kami?! Siapa kau...?!" bentak Buyut Linggar Dipa sambil membalingbalingkan tongkatnya.

Wesss...!

Saat itu juga, serangkum angin deras berputar-putar dengan pusaran tak putus-putus menggebrak mengancam keselamatan Aji. Seketika semak belukar di sekitarnya terbabat pupus sampai ke akar-akarnya.

Melihat hal ini pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108 cepat melesat ke atas. Setelah membuat putaran beberapa kali tubuhnya telah kembali luruh, lalu menyelinap hilang di balik semak belukar.

Mata kelabu Buyut Linggar Dipa mencari-cari, namun sosok Pendekar Mata Keranjang tak juga ditemukannya. Padahal hatinya sudah amat geram, melihat serangannya gagal. Dan kini, pemuda itu mempermainkannya. Maka segera laki-laki tua ini meloncat sambil mengeluarkan seruan keras. Tongkatnya langsung ditusukkan ke semak belukar, tempat Aji tadi menghilang.

Tap!

Namun mendadak tusukan tongkat Buyut Linggar Dipa bagai tertahan. Seketika, terjadi adu kekuatan saling menahan hingga beberapa saat. Tapi, tiba-tiba tanpa diduga Buyut Linggar Dipa menjejakkan kakinya. Begitu tubuhnya melayang dengan tongkat masih menusuk ke bawah, tangannya pun cepat disentakkan ke bawah.

Bret! Brettt!

Namun serangan  itu hanya menyambar tempat kosong, karena sosok Pendekar Mata Keranjang telah melesat ke udara. Sesaat kemudian, tubuhnya melayang turun mendarat di atas tanah. "Keparat!" dengus Buyut Linggar Dipa sambil  loncat balik. Lalu, kakinya mendarat empuk satu tombak di depan sosok Pendekar Mata Keranjang

yang baru saja mendarat.

Tanpa bicara lagi, Buyut Linggar Dipa segera mengatupkan tangannya. Tongkatnya yang terjepit diantara katupan kedua tangannya, siap disentakkan lurus ke depan. Namun belum sampai gerakan tangannya menyentak, Aji sudah membentangkan kedua tangannya.

"Tahan!" seru Aji sambil mundur dua tindak ke belakang.

Senyum dikulum tampak menghias wajahnya. Buyut Linggar Dipa cepat menghentikan gerakan. Namun tangan kanannya, tetap memutar-mutar tongkat, kemudian berhenti dalam keadaan menjurus ke depan.

"Ki.... Mari kita bicara baikbaik!" ajak Aji, tenang.

"Buyut! Tak perlu berlama-lama meladeni bocah yang berani mematamatai kita. Bunuh!"

Mendadak terdengar suara perempuan bernada memerintah dari dalam kereta.

Untuk beberapa saat, Buyut Linggar Dipa tegak mengawasi tak berkedip. Sementara Dajal Ireng memandang sebentar, lantas berpaling dan meludah ke tanah.

"Bocah! Kau dengar perintah tadi, bukan?! Hem.... Aku masih akan mengampuni nyawamu. Tapi, jawab dengan jujur pertanyaanku! Siapa kau! Dan apa perlumu mendekam memata-matai kami...?!" tanya Dajal Ireng, membentak.

"Namaku Aji. Aji Saputra!" kata Aji sambil tersenyum. "Dan kuharap, Ki Buyut tidak terburu-buru salah sangka. Sungguh, aku tidak memata-matai kalian! Aku hanyalah seorang pengelana jalanan yang tak ada juntrungannya...!"

Ketika Aji bicara, mendadak diamdiam Dajal Ireng menarik tangannya ke belakang. Sebentar tangannya diputar, lalu disentakkan ke arah Aji.

"Hih!"

Wesss...!

Seketika selarik gelombang warna hitam melesat bergulung-gulung ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Pengecut licik!" desis Aji. "Hup!" Saat itu juga Pendekar Mata Keranjang meloncat ke samping, menghindari serangan. Lalu secepat itu pula, tangannya dipentangkan hendak membuat gerakan pukulan 'Ombak Menggulung Badai'. Namun....

"Bocah! Melihat gerakanmu, aku yakin perkataanmu dusta!" bentak Buyut Linggar Dipa, mencegah gerakan Pendekar Mata Keranjang.

"Buyut! Terserah kau mau berkata apa. Tapi satu hal, aku bicara apa adanya! Lagi pula, apa untungnya aku bicara dusta...?!" jawab Aji meyakinkan. Suaranya masih bergetar menahan marah, ketika dirinya mendapat serangan secara pengecut dari Dajal Ireng. "Begitu? Baik! Kau telah bicara dusta padaku, Berarti hukuman yang

pantas. "

"Bunuh!" potong suara dari dalam kereta. Begitu suara tadi lenyap, pintu kereta terbuka. Kini, tampaklah sesosok perempuan muda berusia kirakira delapan belas tahun. Tubuhnya terbungkus pakaian putih ketat, hingga lekukannya membayang jelas. Di lehernya melingkar untaian kalung dari bunga-bunga berwarna hitam. Parasnya yang cantik diperindah dengan sepasang mata bulat dan berbinar. Alis matanya tebal dan hitam, ditingkahi bulu mata lentik. Di atas kedua telinganya menyelip sekuntum bunga yang juga berwarna hitam.

Begitu menginjak tanah, gadis berpakaian putih ini segera melangkah perlahan ke arah Buyut Linggar Dipa.

Sementara Pendekar Mata Keranjang

108 sejenak memandang dengan mata membesar.

"Busyet! Gadis ini cantiknya mungkin lebih dari bidadari!" desis Aji.

"Ratu Sekar Langit!" sebut Dajal Ireng. Wajahnya segera dipalingkan, memandang dengan lirikan tajam.

"Buyut! Ada yang tak beres dengan orang sinting ini! Aku curiga, janganjangan dia kaki tangan orang golongan putih yang menguntit perjalanan kita. Meski tampak bodoh, firasatku mengatakan di balik itu dia berbahaya!" bisik gadis berbaju putih yang tadi di panggil Ratu Sekar Langit oleh Dajal Ireng. Sepasang matanya sebentar melirik pada Aji.

Buyut Linggar Dipa mengangguk pelan. "Benar, Ratu! Aku juga berfirasat begitu. Pemuda ini tidak bisa dianggap sembarangan, walau wajahnya tampak kekanak-kanakan dan tolol...!" kata Buyut Linggar Dipa, membenarkan.

Bisa dimengerti, jika dua orang ini bisa segera menebak. Memang, kepandaian dua orang ini tak diragukan lagi. Gadis yang bergelar Ratu Sekar Langit adalah tokoh yang sangat disegani. Selain berkepandaian tinggi, wajahnya pun membuat mata yang melihat seolah sayang untuk berkedip. Konon, Ratu Sekar Langit tinggal di sebuah kaki bukit yang telah dirombak menjadi sebuah bangunan megah. Dia juga mempunyai beberapa murid yang seluruhnya wanita. Karena begitu megah dan dihuni beberapa orang yang punya tugas sendiri-sendiri, maka tempat tinggalnya mirip sebuah istana. Hingga orangorang luar menyebutnya Istana Padalarang, karena tempatnya memang di kaki Bukit Padalarang.

Menurut kabar yang tersiar, Ratu Sekar Langit adalah putri pembesar istana sebuah kerajaan di daerah Sumbawa. Karena waktu itu dalam keadaan perang saudara, maka Ratu Sekar Langit diungsikan ke tanah Jawa bersama seorang pengasuhnya, yang juga merangkap sebagai gurunya. Dia tak lain Buyut Linggar Dipa.

Dalam kancah rimba persilatan di tanah Jawa, sebenarnya Ratu Sekar Langit tidak berada di pihak manamana. Tidak ada golongan putih, maupun golongan hitam. Namun karena terseret nafsu serakah Buyut Linggar Dipa yang ingin mendirikan sebuah perguruan silat terpandang, Ratu Sekar Langit lantas menghabisi siapa saja yang tidak bersedia berada di bawah partainya. Dan ketika mendapat undangan Bidadari Telapak Setan, maka segera saja disambutnya dengan maksud ingin mengetahui tingkat kepandaian tokoh-tokoh yang diundang. Sekaligus, mengajak mereka dalam partainya.

Namun dalam perjalanan ke Teluk Gonggong, tanpa sengaja mereka bertemu Dajal Ireng. Bahkan kini muncul pula pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108.

Kepandaian Dajal Ireng, rupanya masih jauh bila dibanding Buyut Linggar Dipa atau Ratu Sekar Langit. Ini terbukti dalam beberapa gebrakan saja, dia telah bertekuk lutut. Namun tidak demikian Pendekar Mata Keranjang

108. Begitu Buyut Linggar Dipa menguji, kepandaian mereka ternyata seimbang. Bahkan Ratu Sekar Langit berfirasat di balik sifat ketololtololannya, pemuda itu menyimpan kepandaian, Hingga untuk beberapa saat lamanya Ratu Sekar Langit dan Buyut Linggar Dipa bicara saling berbisik.

"Sudahlah!" ucap Aji seakan menghentikan bisik-bisik antara Ratu Sekar Langit dan Buyut Linggar Dipa. "Aku harus meneruskan perjalananku yang tak berujung ini! Suatu saat jika bertemu lagi, mungkin kita akan ngobrol lebih lama. "

Ratu Sekar Langit dan Buyut Linggar Dipa langsung menghentikan bisik-bisik. Serentak mereka memandang pada Aji.

Pendekar Mata Keranjang balas menatap. Namun, matanya hanya tertuju pada Ratu Sekar Langit. Sebenarnya, Aji masih ingin lama-lama di situ, melihat paras cantik gadis itu. Tapi karena ingin mengikuti perjalanan mereka tanpa diketahui, maka dia berlagak mau pergi.

"Tunggu! Tidak semudah itu kau bisa ngeloyor pergi!" tahan Buyut Linggar Dipa.

Aji seperti tidak mendengar katakata Buyut Linggar Dipa. Kakinya terus melangkah. Bahkan sambil jalan, didendangkannya satu nyanyian perlahan.

"Orang edan! Tapi wajahnya menarik. Dan matanya...," kata Ratu Sekar Langit dalam hati.

Mendapati seruannya tak digubris, Buyut Linggar Dipa segera berkelebat. Dan tahu-tahu tubuhnya telah berada di depan Aji dengan tongkat berputaran.

Aji masih tak acuh. Kakinya melangkah ke samping, akan melewati orang tua itu. Namun saat itu, Buyut Linggar Dipa segera menusukkan tongkatnya ke arah dada Aji.

Wuttt! Bet!

Sambil terus mendendangkan nyanyian tak karuan, Pendekar Mata Keranjang 108 mengeluarkan kipasnya, langsung dikebutkan di depan dadanya. Sementara, matanya tak memandang pada Buyut Linggar Dipa. Dan ternyata, gerakan tongkat orang tua itu tertahan.

"Heh?!"

Buyut Linggar Dipa tersentak kaget. Cepat tongkatnya ditarik pulang. Sementara Aji terus melangkah dan memasukkan kembali kipasnya.

"Buyut! Aku sudah mengatakan yang kau minta. Dan sekarang aku akan pergi!" tandas Pendekar Mata Keranjang 108.

"Kau tak bisa pergi sebelum mendapat hukuman!" dengus Buyut Linggar Dipa.

"Aneh! Aku sudah mengatakan sejujurnya, tapi kau tak mau menerima. Lantas, apa yang harus kukatakan...?!" Buyut Linggar Dipa tak menjawab.

Namun tongkatnya langsung ditusukkan ke arah dada Aji.

"Hm.... Orang tua ini tak mainmain. Ia ingin mengambil nyawaku!"

Sambil membatin, Aji menghindar. Tubuhnya melesat ke samping, lalu dengan gerakan kilat dikirimnya serangan dari samping.

Wuttt!

Buyut Linggar Dipa terkejut, untung masih sigap. Secepat itu pula tangannya segera ditarik, lalu menghindar dengan lompat ke udara. Sehingga, tubuhnya terhindar dari sambaran angin yang keluar dari tangan Aji, yang mungkin saja bisa membuatnya terpental.

Belum sampai kaki Buyut Linggar Dipa mendarat di tanah, Pendekar Mata Keranjang telah berbalik dan akan melangkah meninggalkan tempat. Namun belum sempat kakinya melangkah.

Wusss...!

Mendadak serangkum angin menderu keras dari arah belakang.

Merasakan ada satu sambaran, Aji terkejut. Cepat kepalanya menoleh. Ternyata Dajal Ireng telah melepaskan pukulan sambil meloncat mendekat. Maka secepat kilat Pendekar Mata Keranjang menjejakkan kakinya. Tubuhnya seketika mengudara dan berputar membalik. Begitu mendarat, tubuhnya diputar menghadap Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng.

"Sebenarnya aku tak ingin membuat urusan dengan kalian! Namun, rupanya kalian tidak bisa diajak bicara baikbaik. Baiklah akan kuturuti kehendak kalian!" kata Aji, dingin.

Pendekar Mata Keranjang cepat menarik tangannya, melepaskan pukulan 'Ombak Menggulung Badai' ke arah Dajal Ireng.

Wesss!

Di lain kejap, secepat itu pula Aji menakupkan tangan. Setelah diputar di atas kepala, tangannya dihentakkan ke arah Buyut Linggar Dipa. Inilah pukulan sap kedua 'Ombak Membelah Karang'.

Wesss!

Maka, serentak dua angin deras bagai ombak saling susul bergulung ke depan. Satu mengarah pada Dajal Ireng, dan satunya ke arah Buyut Linggar Dipa.

Walaupun cukup terkejut, Buyut Linggar Dipa segera memapaki serangan dengan sentakan tangan kedepan.

"Hih!"

Sementara Dajal Ireng menakupkan tangannya sejajar dada, lalu mendorongkannya ke depan.

"Heaaah!" Blem! Blem!

Tempat bertemunya dua serangan mendadak tampak berkilat benderang, disusul dua ledakan menggelegar.

Tampak tubuh Buyut Linggar Dipa langsung terjengkang tiga tombak ke belakang, dan jatuh terkapar. Sedangkan Dajal Ireng lebih parah. Tubuhnya mencelat enam tombak ke belakang, lalu bergulingan di atas tanah. Sementara Aji sendiri terjajar lima langkah ke belakang terhuyung-huyung.

Serentak Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng merambat bangkit. Dengan mata menghujam tajam, mereka memandang seakan tak percaya.

"Pukulan 'Ombak Menggulung Badai' serta 'Ombak Membelah Karang' belum membuat mereka jera. Akan kucoba dengan pukulan sap ketiga 'Gelombang Prahara'!" kata batin Aji sambil mengepalkan kedua tangan dan menyilangkannya di depan dada.

Tapi belum sampai Aji membuka tangannya untuk melancarkan serangan, tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat.

"Minggir! Biar kuselesaikan bangsat ini!" Aji segera berpaling, seraya mengurungkan serangan.

Pada saat itulah tubuh Ratu Sekar Langit berputar dan lenyap. Namun di lain kejap tiba-tiba tangannya telah berkelebat ke arah kepala Aji.

Wuttt! "Uts!"

Walaupun sempat terkejut, murid Wong Agung ini segera merundukkan kepalanya. Kakinya cepat disurutkan ke belakang. Hampir terlambat, namun tak urung rambut gondrongnya tersambar pukulan tangan Ratu Sekar Langit, hingga terbabat bagai terkena pisau tajam. Bahkan seketika tercium bau sangit, seperti ada rambut terbakar.

Melihat serangannya hanya bisa memangkas sedikit rambut pemuda itu, Ratu Sekar Langit tampak geram bukan main. "Jahanam!" bentak Ratu Sekar Langit, segera melesat ke udara.

Di atas, gadis itu bergulunggulung. Dan tahu-tahu, tubuhnya kaku dan lurus menukik dengan cepat ke arah Aji.

"Sontoloyo! Gerakannya tak terlihat dan tak terduga!" rutuk Aji dalam hati.

Pendekar Mata Keranjang 108 cepat mendoyongkan tubuhnya ke samping kanan. Sehingga, kepalan tangan Ratu Sekar Langit hanya menggebrak tempat kosong di samping bahunya.

"Hiaaat...!" Wet!

Tapi, mendadak kaki wanita itu bergerak lurus, ke arah tengkuk Aji. Sementara pemuda itu salah duga, sehingga terlambat menghindar. Dan....

Desss! "Aaakh. !"

Tubuh Pendekar Mata Keranjang 108

kontan terjengkang ke samping begitu tendangan itu tepat menghantam tengkuk. Dan deras sekali Aji jatuh telentang. Sambil bangkit pemuda itu menatap tajam Ratu Sekar Langit.

Begitu tegak, Ratu Sekar Langit telah lima langkah di depan pemuda itu dengan kaki kokoh dan terpentang. Sepasang matanya yang bulat dan berbulu lentik menukik tajam tak berkedip ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

"Terimalah hukuman matimu

sekarang, Bocah!" desis Ratu Sekar Langit, seraya menarik tiga kuntum bunga berwarna hitam dari untaian kalungnya. Dan secepat itu pula, tiga kuntum bunga hitam ini dilemparkan ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.

Set! Settt!

Tiga kuntum bunga melayang cepat disertai suara berdesing ke arah kepala, perut, dan leher Aji. Sedangkan Pendekar Mata Keranjang 108 hanya menyipitkan matanya. Namun mendadak tubuhnya segera direbahkan, sejajar dengan tanah. Dihindarinya serangan yang menuju bagian atas tubuhnya. Dan dalam keadaan demikian, Aji melepaskan pukulan 'Ombak Membelah Karang'.

Wesss!

Seketika serangan angin bergulung melesat, memapak desingan kuntum bunga.

Pas! Passs!

Dua kuntum bunga hitam kontan ambyar terkena gulungan angin yang keluar dari telapak Pendekar Mata Keranjang 108. Namun sekuntum bunga masih lolos, bahkan kini melabrak ke arah Aji yang masih di atas tanah. Maka....

"Hiaaa. !"

Disertai bentakan keras Aji segera menjejak tanah. Tubuhnya segera melengos ke samping. Dan....

Crep!

Seketika tanah tempat tadi Aji bergulingan terbongkar mengeluarkan asap! Begitu menoleh, mata Aji terbelalak. Kuntum bunga hitam itu menancap di atas tanah yang masih keluarkan asap.

"Sementara harus menghindar, aku akan menguntit perjalanan mereka! Inilah satu-satunya jalan. Karena, tak mungkin lagi aku mengorek keterangan dari mulut mereka...," kata batin murid Wong Agung ini, sambil melirik nyalang dengan ekor matanya.

Menyadari keadaan ini, Aji cepat bangkit. Segera tangannya dikepalkan, lalu disilangkan ke depan dada. Dan belum sempat Ratu Sekar Langit membuat gerakan, Pendekar Mata Keranjang 108

telah membuka silangan tangan dan mendorongnya ke depan.

Wesss. !

Saat itu juga gelombang angin dahsyat disertai suara menggemuruh, bergulung cepat dan menghantam ke arah Ratu Sekar Langit.

Sementara itu, Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng segera maju. Namun, belum juga tiga langkah, Aji segera pula menghentakkan kedua tangannya, melepaskan pukulan 'Ombak Membelah Karang'.

Tepat ketika tiga orang lawannya bergerak memapak, Pendekar Mata Keranjang 108 segera mengerahkan tenaganya. Secepat kilat tubuhnya berkelebat, lalu menghilang di balik rimbunan semak belukar.

Glarrr...!

Tatkala tubuh Aji telah menghilang, terdengar suara gelegar. Memang, saat itu serangan pukulan Pendekar Mata Keranjang 108 terpapaki pukulan tangan Ratu Sekar Langit dan Buyut Linggar Dipa.

Begitu suara gelegar sirna, tiga pasang mata liar beredar ke sekeliling. Namun mereka tak lagi melihat sosok Pendekar Mata Keranjang 108.

"Jahanam busuk! Kali ini kau bisa lolos. Tapi suatu ketika, kau akan kucincang dan kugantung!" maki Ratu Sekar Langit seraya berkelebat ke arah kereta dan masuk.

Sejenak Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng saling berpandangan.

"Ki Buyut! Kita teruskan perjalanan saja!" kata Ratu Sekar Langit dari dalam kereta.

Buyut Linggar Dipa segera berkelebat, loncat ke atas bangku kusir. Sementara Dajal Ireng masih tegak termangu.

"Dajal Ireng! Apa lagi yang kau tunggu? Kita searah! Lekas naik!"

Belum habis kata-kata Buyut Linggar Dipa, Dajal Ireng telah berbalik dan meloncat di samping Buyut Linggar Dipa.

Ketika kereta itu kembali bergerak, diam-diam Aji mengikuti sambil sesekali menyelinap dari arah belakang. Ternyata Pendekar Mata Keranjang 108 tidak benar-benar pergi, dan hanya bersembunyi saja

***

3

"Gila! Hampir empat hari aku menguntitnya terus menerus. Namun, perjalanan mereka tampaknya belum juga berujung. Teluk Gonggong jauh juga rupanya."

Sambil melontarkan makian, Pendekar Mata Keranjang 108 memacu larinya seiring cepatnya kereta yang ditumpangi Buyut Linggar Dipa, Ratu Sekar Langit, dan Dajal Ireng. Bahkan sesekali ia mendahului dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi. Setelah berada di depan, Aji sengaja menunggu sambil bersembunyi di balik semak belukar. Atau terkadang di atas sebuah pohon yang berdaun rimbun, hingga dapat melindungi tubuhnya.

"Hm.... Tapi aku lamat-lamat mendengar debur ombak. Dan sepertinya laju kereta mulai melambat. Berarti mereka hampir sampai tujuan," gumam Aji, setelah berada sepuluh tombak di belakang kereta.

Sampai ujung sebuah desa kecil, Buyut Linggar Dipa makin memperlambat langkah kudanya. Dan tepat di depan sebuah kedai kereta dihentikan.

"Kita mampir dulu untuk mengisi perut sambil istirahat. Perjalanan kita sudah hampir sampai...," kata Buyut Linggar Dipa, tanpa menoleh.

"Benar, Buyut! Aku sejak tadi sebenarnya mau mengatakannya. "

Belum selesai Dajal Ireng meneruskan kata-katanya, orang tua itu telah meloncat turun dan berjalan kesamping. Baru dua langkah, pintu kereta terbuka, menjulurkan sebentuk kaki mulus milik Ratu Sekar Langit yang hendak turun dari kereta. Begitu keluar wanita iri menebar pandangannya ke sekeliling.

"Ratu. Kita istirahat sebentar di kedai. Teluk Gonggong sudah dekat," kata Buyut Linggar Dipa.

Ratu Sekar Langit hanya mengangguk perlahan, lalu melangkah ringan menuju kedai diikuti Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng.

Seorang laki-laki tua pemilik kedai tergopoh-gopoh menyambut, ketika mereka tiba di pintu kedai. Sambil tersenyum ramah, dipersilakannya para tamu untuk memilih tempat duduk. Mendapat sambutan ramah, Ratu Sekar Langit tak begitu acuh. Bahkan sepasang matanya yang bulat dan berbulu lentik tampak liar menyapu seluruh ruangan kedai. Demikian juga Buyut Linggar Dipa. Dia hanya memandang sekilas ke arah pemilik kedai. Sedangkan Dajal Ireng malah melengoskan wajahnya ke samping. Dan hampir saja ia meludah jika....

"Dajal Ireng! Sejelek-jelek tingkahmu, kau harus hormat pada Ratu Sekar Langit. Ia sekarang ada bersamamu! Jika kau masih berlaku demikian, jangan menyesal jika mulutmu akan kulumat dengan ujung tongkat ini!" bentak Buyut Linggar Dipa menyorongkan tongkat bututnya ke arah muka Dajal Ireng.

Mendapat teguran, buru-buru Dajal Ireng memasukkan kembali air ludah yang telah tampak merambah di bibirnya. Raut mukanya tampak merah padam. Kepalanya sedikit tertarik ke belakang, saat air ludah itu kembali masuk ke tenggorokannya.

"Sediakan makan dan minum untuk kami!" perintah Buyut Linggar Dipa pada pemilik kedai sambil menarik bangku dan mempersilakan Ratu Sekar Langit duduk.

"Buyut! Kulihat daerah ini tenang-tenang saja. Sepertinya, mereka tidak mengerti akan terjadi sebuah peristiwa besar. Aku curiga, janganjangan undangan Bidadari Telapak Setan hanya untuk memancing agar kita keluar dari Istana Padalarang!" duga Ratu Sekar Langit sambil menyantap hidangan.

"Kurasa hal itu tak mungkin, Ratu. Menurut undangan, hari yang ditentukan malam purnama bulan ketiga. Berarti, hari penentuan itu masih kurang empat hari lagi. Jadi, bisa dimaklumi jika sekarang keadaannya masih tenang-tenang. Bahkan tak tampak ketegangan sedikit pun. Namun bila nantinya ternyata undangan palsu, akan kurobek mulut betina itu! Sejak semula aku memang berkeinginan menjajal kedigdayaan betina itu. Apalagi menurut kabar yang santer terdengar, pukulan 'Serat Jiwa'-nya telah banyak merontokkan tokoh tingkat tinggi! Aku ingin membuktikan, pukulan macam apa 'Serat Jiwa' itu!" ungkap Buyut Linggar Dipa seraya memandang Ratu Sekar Langit, setelah menghentikan makannya.

"Selain itu, aku mendengar kabar bahwa Bidadari Telapak Setan adalah tokoh yang sukar ditandingi dan licit Menurut kabar itu, aku menangkap isyarat bahwa di balik rencana besarnya dalam menumpas tokoh-tokoh golongan putih, dia menyimpan rencana yang lebih besar lagi.... Dan kudengar, dia juga telah mendidik seorang murid yang kemampuannya telah menyamai gurunya!" papar Ratu Sekar Langit.

"Tak salah penuturanmu, Ratu! Aku pun sudah berpikir ke arah sana. Dia pasti mempunyai rencana lain, di balik rencana sekarang ini. Bahkan aku sudah menyimpulkan, Bidadari Telapak Setan ingin melambungkan anak didiknya dalam rimba persilatan. "

"Benar! Malah beberapa minggu terakhir ini, murid Bidadari Telapak Setan yang bergelar Malaikat Berdarah Biru, telah berhasil mengobrak-abrik beberapa perguruan silat dari golongan putih. Bahkan dalam sepak terjangnya, dia dibantu seorang perempuan cantik!" timpal Dajal Ireng.

"Hm. "

Ratu Sekar Langit menggumam seraya mengangkat tangannya yang memegang cangkir bambu. Setelah meneguk minumannya, dia memandang keluar kedai.

"Dajal Ireng! Dapatkah kau sebutkan sedikit tentang pendamping Malaikat Berdarah Biru yang katamu seorang perempuan cantik itu?" tanya Ratu Sekar Langit tanpa menoleh.

"Dia mengenakan pakaian hitam dan ketat, sehingga. "

Dari sini Dajal Ireng tak melanjutkan kata-katanya saat melihat mata Ratu Sekar Langit mendelik tajam. "Kau tak usah menceritakan bentuk tubuhnya! Aku ingin dengar ciri-

cirinya!" bentak Ratu Sekar Langit. "Rambutnya panjang tergerai. Dan,

masih muda...," lanjut Dajal Ireng. "Mengenakan pakaian hitam, rambut

panjang dan masih muda. "

Ratu Sekar Langit mengulangi kata-kata Dajal Ireng dengan kening berkernyit, membentuk tiga kerutan kecil.

"Kau tak salah sebutkan ciri-ciri itu, Dajal Ireng?!" tanya Buyut Linggar Dipa, seraya memandang keluar kedai juga.

"Tidak, Buyut! Karena aku sempat melihat sepak terjangnya, sewaktu mereka berdua melabrak habis Perguruan Teratai Putih beberapa hari lalu! Tidak sampai seperempat hari, mereka berdua telah membumi hanguskan perguruan itu, sampai tak seorang pun tersisa!"

Mendengar keterangan Dajal Ireng, Buyut Linggar Dipa memalingkan wajahnya ke arah Ratu Sekar Langit, seakan minta jawaban.

"Aku tidak bisa menduga, siapa gerangan perempuan itu, Buyut!" kata Ratu Sekar Langit, seperti mengetahui arti tatapan Buyut Linggar Dipa.

Buyut Linggar Dipa tersenyum. "Aku heran. Dan, hampir tak percaya...!" gumam Buyut Linggar Dipa. "Tentang apa, Buyut?!" tanya Ratu

Sekar Langit cepat.

"Jika ciri-ciri yang disebutkan Dajal Ireng bisa dipercaya kebenarannya, maka perempuan itu adalah seorang perempuan berkepandaian sangat tinggi. Gelarnya, Selir Iblis! Namun aku tak habis pikir. Kalau memang dia, kenapa mesti berbuat begitu? Padahal, dia adalah istri seorang tokoh yang disegani dari jajaran tokoh golongan putih, bernama Ageng Panangkaran...! Ada apa sebenarnya di balik semua ini?!" tanya Buyut Linggar Dipa, seperti untuk dirinya sendiri.

"Kau tak usah terlalu memikirkan hal yang demikian itu, Buyut! Bukankah kau pernah mengatakan, pikiran manusia adalah sesuatu yang tak bisa dijajaki. Tidak sampai satu kejapan mata, pikiran itu bisa berubah. Mungkin saja hati Selir Iblis terpaut pada Malaikat Berdarah Biru. Lalu, mereka saling jatuh cinta. Kalau sudah soal cinta yang bicara, kekuatan apa yang bisa membendungnya...?"

Sejenak Ratu Sekar Langit menghentikan ucapannya.

"Bila demikian halnya, kita harus lebih waspada, Buyut! Jelas di balik rencana besar Bidadari Telapak Setan, ada tujuan pribadi yang lebih besar!" lanjut wanita itu, meletup-letup. "Betul, Ratu! Dan merujuk pada hal itu, aku jadi teringat pada pemuda yang sempat berhadapan dengan kita tempo hari. Aku memang baru pertama kali itu bertemu dengannya. Namun, ada sesuatu yang membuatku sempat terkejut dan hampir tak percaya. Sayang, waktu itu hanya kudiamkan saja "

"Apa itu, Buyut?!" tanya Ratu Sekar Langit cepat.

"Tak bisa kupungkiri. Sebenarnya, pemuda itu mempunyai kepandaian tinggi. Hanya saja, waktu itu dia tidak mengeluarkannya. Aku yakin itu! Tapi, bukan hal itu yang membuatku terkejut, bahkan hampir tak mempercayai penglihatanku sendiri. Setiap jurus pembukanya aku hampir bisa mengenalinya. Karena jurus awalnya sama dengan jurus milik seorang tokoh yang beberapa puluh tahun lalu aku pernah beberapa kali bertarung dengannya!" papar orang tua itu.

"Siapa orang itu...?" sela Dajal Ireng.

"Wong Agung dari Karang Langit!" jawab Buyut Linggar Dipa singkat.

Mendengar nama Wong Agung disebut Buyut Linggar Dipa, mata Ratu Sekar Langit dan Dajal Ireng terbeliak.

"Ratu! Dan kau, Dajal Ireng. Mungkin kalian hanya dengar tentang Wong Agung dari Karang Langit itu. Namun sebagai orang yang pernah menjajal ketinggian ilmunya, tak dapat kuingkari kalau kedigdayaannya belum bisa kujajari. Hanya saja, menurut kabar yang sekarang beredar di dunia persilatan, Wong Agung telah binasa di tangan dua tokoh yang saat ini juga sudah tersohor. Mereka adalah dua orang murid 'Manusia Titisan Iblis' yang berjuluk Sepasang Iblis Pendulang Sukma. Jadi, aku sendiri sekarang masih dibuat tak mengerti, mana yang benar tentang berita itu! Hanya saja satu hal. Siapa pun pemuda itu, dia sangat berbahaya jika memang mulai menjejak dunia persilatan. Barisan golongan putih akan memiliki seorang pandega yang mungkin sukar dicari tandingnya! Namun, aku bicara begini bukannya takut! Siapa pun orang itu, gerak langkah majunya akan kutahan dengan segenap kekuatan, sebelum rencanaku mendirikan sebuah partai yang disegani dan tak tersaingi terwujud. Bukankah begitu, Ratu...?"

Ratu Sekar Langit mengangguk perlahan.

"Bahkan Bidadari Telapak Setan, Malaikat Berdarah Biru, serta Selir Iblis, akan kita singkirkan jika mereka nanti tak bisa diajak bicara baik-baik untuk mendukung berdirinya partai kita! Biarlah, sekarang undangan Bidadari Telapak Setan kita sambut. Karena, tenaganya benar-benar diperlukan jika partai kita telah berdiri kelak. Setelah rencana Bidadari Telapak Setan berlangsung, kita akan ajak mereka bicara baikbaik. Jika menolak, kita libas mereka sekalian biar tak jadi duri di kemudian hari!" kata Ratu Sekar Langit, berapi-api.

Tak lama kemudian, wanita itu berdiri.

"Kita teruskan perjalanan. Waktu sisa kita, bisa dipakai untuk berunding dengan Bidadari Telapak Setan...," ajak Ratu Sekar Langit.

Sesaat wanita cantik ini mengawasi seluruh ruangan, lalu melangkah menuju pintu. Sementara Buyut Linggar Dipa bergerak mengikuti. Sedangkan Dajal Ireng agak belakangan, karena masih melangkah mendekati orang tua pemilik kedai. Dilemparkannya beberapa keping uang perak.

"Sombong! Mentang-mentang dari kaum persilatan, menganggap remeh orang lain!" umpat orang tua pemilik kedai habis-habisan dalam hati, seraya membungkuk memunguti kepingan uang perak yang tercecer.

***

Pendekar Mata Keranjang 108 yang saat ini berada di samping sebelah rumah penduduk sambil mengintip mengawasi Ratu Sekar Langit, Buyut

Linggar Dipa, dan Dajal Ireng,

sebenarnya sudah mulai tak sabar menunggu mereka keluar kedai. Namun, kini wajahnya kembali berseri, begitu melihat kemunculan Ratu Sekar Langit.

Wanita itu tampak menebar pandangan kesekeliling halaman kedai, lalu bergerak melangkah menuju kereta. Sebelum bergerak masuk kereta, kembali pandangannya menyapu. Lantas, dengan ringan tubuhnya melesat masuk ke dalam kereta.

Sepasang mata Aji terus mengawasi tanpa berkedip.

"Sontoloyo! Wajahnya benar-benar mengagumkan! Ditambah bentuk tubuhnya yang aduhai. Hem..., betul-betul suatu keindahan tersendiri yang tak bisa dilewatkan begitu saja...," kata batin pemuda itu sambil cengar-cengir dan usap-usap janggutnya.

Sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108 lantas memperhatikan Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng yang baru keluar dari kedai dan melangkah menuju kereta. Dengan gerakan indah, kedua orang itu meloncat ke bangku kusir dan duduk berdampingan. Sekali tangan orang tua ini menyentak tali kekang, maka dua binatang itu bergerak dan melangkah menuju pantai.

Sesaat setelah kereta berderak, Aji menarik napas dalam-dalam. "Melihat arah kereta yang menuju

pantai, berarti tak salah dugaanku. Teluk Gonggong sudah tak jauh dari sini. Sekarang, aku sudah dapat menentukan tempatnya. Dan sebaiknya, aku menuju kedai itu sambil mengisi perut. Siapa tahu, di sana aku dapat sedikit gambaran. "

Sambil bicara sendiri, Aji keluar dari tempat intaiannya. Sebentar dipandangnya ke arah kereta. Sesaat setelah kereta itu tertelan belokan jalan dan tak tampak lagi, baru Pendekar Mata Keranjang 108 ini bergegas menuju kedai.

Begitu masuk, pemuda yang dikenal sebagai Pendekar Mata Keranjang 108

ini langsung memilih dipojok paling samping. Sehingga dengan leluasa dari tempatnya, ia dapat melihat halaman kedai.

"Ki, sediakan makan dan minum untukku...," ujar Aji disertai senyum tersungging pada laki-laki pemilik kedai.

Dengan sedikit membungkuk sopan, orang tua itu mengangguk dan berlalu membuat pesanan.

Pendekar   Mata   Keranjang   108

kembali mengedarkan pandangannya. Tak ada yang menarik perhatiannya. Lalu tatapannya beralih pada pemilik kedai yang membawa pesanannya. "Terima kasih, Ki...," ucap Aji setelah orang tua pemilik kedai meletakkan pesanan di meja.

Orang tua itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Bukannya kembali, dia malah agak lama berdiri di samping Aji. Bahkan seakan mengawasi dengan tatapan penuh selidik.

"Apa ada yang lucu dengan diriku, Ki...?" tanya Aji, heran saat pemilik kedai memperhatikan dirinya.

Orang tua yang ditanya menggeleng.

"Tidak! Tidak ada yang lucu pada dirimu, Den...," jawab pemilik kedai tergagap dan terputus.

"Namaku Aji...," sebut Aji, memperkenalkan diri saat pemilik kedai tampak canggung.

"Ya! Tidak ada yang lucu pada diri, Den Aji. Hanya saja, aku kadangkadang dibuat tak habis pikir tentang tingkah orang-orang yang datang ke sini. Ada yang ramah dan sopan sepertimu, tapi tak jarang pula ada yang berlaku urakan. "

"Aki tak usah panjang-panjang berpikir. Itulah kehidupan. Kalau tak ada yang begitu-begitu, mana mungkin kita dapat membedakan yang baik dan buruk...?" ujar Pendekar Mata Keranjang 108, sok menasihati.

Mendengar kata-kata Aji, sejenak pemilik kedai itu diam termangu. "Sial! Kenapa mulutku lancang menggurui orang tua...?" rutuk batin Aji ketika melihat si pemilik kedai termangu. Pendekar Mata Keranjang 108 langsung menatap si pemilik kedai, dengan sinar mata penuh penyesalan.

"Ngg.... Maaf atas ucapanku yang sepertinya menggurui Aki...," ucap Aji hati-hati.

"Ah...!" seru pemilik kedai, seolah-olah terkejut. "Tidak apa, Den Aji. Justru aku merasa dapat sedikit pelajaran dari seorang muda. Ng....

Kalau boleh tahu, hendak ke manakah tujuanmu. ?"

"Apakah Teluk Gonggong masih jauh dari sini, Ki?" Aji balik bertanya.

Orang tua pemilik kedai sedikit terkejut. Agak lama dia terdiam.

"Apakah kau ingin ke sana. ?"

tanya orang tua ini. Aji mengangguk perlahan.

"Teluk Gonggong sudah dekat dari sini. Jalan ini lurus, lalu berbelok sedikit," jelas pemilik kedai sambil menunjukkan tangannya ke arah selatan. "Dari belokan itu, Pantai Sendang Biru yang merupakan bagian dari Teluk Gonggong bisa terlihat...! Kalau Den Aji tak keberatan, bisakah menjelaskan ada apa sebenarnya di sana...? Aku sendiri heran, karena beberapa hari ini, banyak orang asing di mataku pergi ke arah Pantai Sendang Biru. Malah jika tidak salah, orang sombong tadi juga menuju ke arah Pantai Sendang Biru...!"

"Apakah yang kau maksud perempuan yang berbaju putih tadi...?"

"Den Aji tahu...?" pemilik kedai balik bertanya. Aji hanya senyumsenyum. Sementara si pemilik kedai menggeleng-geleng.

"Bukan, bukan yang perempuan. Temannya yang berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala berwarna hitam pula. "

Belum sampai keduanya berbincang lebih lama, dari arah utara terdengar hentakan kaki kuda, lalu disusul ringkikan disertai hingar-bingar helaan dari mulut sang penunggangnya. Melihat gelagatnya, rupanya si penunggang kuda ingin mempercepat lari tunggangannya. Namun tepat di sebelah kedai, binatang itu meringkik keras lalu berhenti. Dan sesaat kemudian, kedua kaki kuda itu doyong.

Sebelum binatang malang itu ambruk kehabisan tenaga, penunggangnya telah meloncat. Setelah membuat dua putaran, dia mendarat dengan kaki kokoh di depan kedai.

"Hm.... Binatang malang. Apa boleh buat. !"

Sambil bergumam, si penunggang kuda memandang ke belakang, arah dia tadi lewat. Sesaat kemudian, kakinya melangkah menuju pintu kedai.

Di ambang pintu baru jelas sosok penunggang kuda ini. Ternyata, dia adalah seorang laki-laki berpakaian hijau-hijau agak tua. Usianya sudah tak muda lagi. Ini bisa ditebak dari warna rambut panjangnya yang telah berwarna dua. Hidungnya mancung. Kulit mukanya meski telah tersaput ketuaan, namun bersih dan cerah. Kedua kakinya memakai alas kaki dari kayu. Dan di lehernya, melingkar untaian kalung dari manik-manik berwarna hijau yang berkilauan.

Dengan langkah ringan, laki-laki ini melangkah menuju sebuah meja.

Blem! Blem!

Ternyata, setiap injakan alas kakinya, membuat mata para pengunjung kedai melotot hampir tak percaya. Begitu menginjak tanah, suaranya mampu menggetarkan dada setiap pengunjung kedai!

Sementara itu, si pemilik kedai dengan mata sedikit menyipit memandang ke arah Aji. Namun kali ini Pendekar Mata Keranjang 108 tak memandangnya. Matanya saat ini lurus menatap lakilaki berbaju hijau yang baru saja masuk.

Segera saja pemilik kedai menghampiri laki-laki yang baru datang, dengan sedikit menjura hormat.

"Beri aku makan dari minum, Ki...," ujar laki-laki berbaju hijau ini.

Dengan sedikit gugup, si pemilik kedai segera berlalu untuk menyediakan pesanan.

Namun di saat laki-laki berbaju hijau ini menunggu pesanannya, terdengar kembali ringkikan kuda yang sepertinya dihentikan secara mendadak. Tepat ketika  laki-laki    ini menoleh ke pintu kedai, terdengar orang melangkah menuju kedai. Dan sesaat kemudian,  di pintu  masuk berdiri seorang laki-laki berpakaian putih-putih. Di baju bagian dadanya nampak gambar kecil berbentuk sebuah Pura. Pakaiannya nampak rapi, meski tampak habis melakukan perjalanan jauh. Kumis dan jenggotnya terawat rapi. Rambutnya panjang, hitam, dan kelimis,  dibiarkan   jatuh   di  atas bahunya yang kekar. Namun dari sorot matanya yang agak merah, dia tampak menahan geram. Apalagi ketika sapuan matanya  berujung  pada  laki-laki

berbaju hijau-hijau.

"Manik Angkeran! Kau tak akan bisa lolos dari tanganku!" teriak laki-laki berbaju putih yang masih berdiri. Matanya nyalang memandang tak berkedip ke arah laki-laki berbaju hijau bernama Manik Angkeran.

Orang tua pemilik kedai yang baru saja meletakkan makanan pesanan lakilaki berbaju hijau, kembali menyambut kehadiran tamunya. Dan dengan ramah dipersilakannya sang tamu untuk duduk. Namun  laki-laki berbaju putih yang disambut tak mengacuhkan. Sepasang matanya tetap menatap Manik

Angkeran.

"Manik Angkeran! Selesaikan makan terakhirmu! Kutunggu kau di luar!" lanjut laki-laki berbaju putih dengan suara menggelegar. Akibatnya, piringpiring di atas meja langsung jatuh pecah berantakan.

Sehabis berkata, laki-laki berbaju putih berbalik. Dan sekali kelebat, tubuhnya telah berada di halaman kedai.

Orang tua pemilik kedai hanya bisa melongo. Dan sambil menutupi telinganya dengan kedua tangannya, dia berpaling ke arah Aji.

Pendekar Mata Keranjang 108 hanya mengangguk sambil tersenyum menahan tawa. Sehingga, bahunya nampak sedikit terangkat.

Sementara itu, Manik Angkeran yang merasakan ucapan laki-laki berbaju putih ditujukan padanya, hanya melirik sebentar. Lalu dia mulai makan yang tersedia. Piring makannya tadi memang tak ikut beterbangan. Karena waktu laki-laki berbaju putih mengerahkan tenaga dalam melalui suaranya, rupanya dia telah waspada. Maka segera sedikit tangannya dikerahkan, sehingga piring dan mejanya tak bergeming sedikit pun.

Sesudah menghabiskan makanannya, laki-laki berbaju hijau ini bangkit dan mendekati pemilik kedai. Dibayarnya semua pesanannya, lalu dengan tenang melangkah keluar."

"Hm.... Ada apa lagi ini...? Rupanya mereka akan segera bertarung! Ah! Dunia ternyata penuh perselisihan...," kata batin Aji prihatin.

Aji pun segera beranjak dari mejanya, untuk membayar makanan. Dan segera kakinya melangkah keluar dari kedai.

Di tiang penyangga kedai, Pendekar Mata Keranjang 108 menyandarkan tubuhnya. Dia ingin tahu, apakah yang dirasakan akan segera meledak.

Di halaman kedai, Manik Angkeran menghentikan langkah. Dan dengan tenang tubuhnya berbalik menghadap laki-laki berbaju putih yang berada sepuluh tombak di hadapannya.

Sementara itu, laki-laki berbaju putih tampak tak sabar. Tangannya telah mengepal, membuat otot-otot tangannya bergurat jelas. Sepasang matanya menyengat tajam, seperti ingin segera menggebrak.

"Bagus! Ternyata kau bukan manusia pengecut, Manik Angkeran! Terimalah hukumanmu!" desis laki-laki berbaju putih. Suaranya tetap menggeram dan dahsyat.

"Rama Gita! Sebenarnya aku tak ingin berurusan denganmu. Karena, menang atau kalah tak membawa arti apa-apa bagiku! Tapi jika kau masih tetap menuduhku, apa boleh buat?! Nyawaku pun akan kupertaruhkan untuk mempertahankan keyakinanku!" sahut Manik Angkeran, mantap.

Laki-laki berbaju putih yang dipanggil Rama Gita mendengus.

"Kau terlalu banyak bersilat lidah, Manik Angkeran! Akui saja perbuatanmu! Setelah itu, ikutlah aku untuk menghadap raja. Beliaulah yang nanti akan menentukan nasibmu! Namun jika kau tetap membendel, jangan menyesal kalau aku langsung turun tangan untuk mengirimmu ke neraka tanpa pengadilan!"

"Rama Gita!" bentak Manik Angkeran disertai pengerahan tenaga dalam pada suaranya. "Sewaktu kau mengobrak-abrik tempatku, pertanyaanku kau belum jawab...! Apa hubunganmu dengan Gusti Agung Penatek yang katamu telah tewas terbunuh?!"

"Manik Angkeran! Meski kuduga pertanyaanmu hanya pura-pura, namun biar perjalananmu menuju alam neraka tak penasaran, akan kujelaskan. Gusti Agung Penatek adalah putra mahkota! Dan aku adalah Hulubalang Perang Kerajaan! Dan tentunya kau telah tahu, kerajaan geger setelah Gusti Agung Penatek diketemukan mangkat terbunuh!" Wajah Manik Angkeran berubah sebentar pertanda terkejut. Sementara Aji yang semula acuh saat mendengarkan

percakapan mendadak ternganga!

"Hm.... Ini rupanya peristiwa besar...," kata batin Aji.

"Dan kau menuduhku, bahwa aku pelaku pembunuhan itu. Begitu, bukan?" tanya Manik Angkeran dengan senyum tersungging.

"Telah kau jawab sendiri pertanyaanmu, Manik Angkeran!"

"Ah! Ini sebuah cerita besar sepanjang hidupku. Kau menyebut Gusti Agung Penatek sebagai putra mahkota. Apakah kau tahu, kapan seorang gelandangan seperti aku mendapat kesempatan menemui seorang putra mahkota? Kau rupanya sengaja membuat cerita bohong, Rama Gita!" kilah Manik Angkeran.

"Ha... ha... ha...!"

Rama Gita tertawa terbahak-bahak. "Manik Angkeran!" teriak Rama

Gita garang, begitu tawanya lenyap. "Ini bukan cerita bohong atau dibuatbuat. Kau adalah seorang pendekar. Maka seharusnya tak melakukan perbuatan pengecut dengan dalih tak masuk akal! Akuilah perbuatanmu! Segalanya akan beres...!" "Kau berani menuduhku, tentunya punya bukti!" kata Manik Angkeran dengan hujaman mata menyengat.

Dari kantong bajunya, Rama Gita mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Segera dibukanya bungkusan itu, lalu diambilnya dua buah manik-manik kecil berwarna hijau berkilauan dan dilemparkan ke hadapan Manik Angkeran.

Melihat manik-manik berwarna hijau, wajah Manik Angkeran segera berubah. Keningnya mengernyit dalam menunjukkan keheranannya.

"Bagus! Kau menuduh, sekalian dengan bukti! Namun sayang, bukti itu tak bisa memberikan kepastian kalau aku sebagai pembunuh! Siapa saja bisa mendapatkan manik-manik seperti itu! Bahkan tak mustahil, kau sengaja menjebakku untuk segera menuntaskan masalahmu dengan Raja. Dan tidak mustahil pula, kaulah pelaku itu. Lalu kau, cari kambing hitam!" balas Manik Angkeran, menuduh balik.

"Kau pandai bicara, Tua Bangka! Tapi, bukalah matamu lebar-lebar! Lihat manik-manik itu. Dan hitung untaian manik-manik yang melingkar di lehermu...!" dengus Rama Gita.

Belum usai Rama Gita dengan katakatanya, Manik Angkeran telah menarik telapak tangannya sedikit ke belakang. Seakan tak dapat dipercaya, dua manik-manik yang berada di tanah mencelat bagai tersedot ke arah Manik Angkeran. Sesaat kemudian, laki-laki berbaju hijau ini sudah mengamati manik-manik yang ada di tangannya. Begitu manik-manik itu dilihat, wajahnya berubah pias. Dgn tanpa sadar, tangan kirinya bergerak menghitung manik-manik di untaian kalungnya. Tepat ketika tangannya berhenti, wajahnya tambah tercengang. Bahkan sepasang matanya mendelik!

"Manik Angkeran! Sekarang, kau tak bisa lagi mengelak! Bukti itu menguatkan bahwa kaulah pelaku perbuatan keji itu!" teriak Rama Gita, lantang.

"Tunggu!" cegah Manik Angkeran. Namun Rama Gita rupanya sudah tak sabar lagi. Kakinya segera menjejak tanah. Tubuhnya langsung melenting dan membuat putaran. Lalu, manis sekali kakinya mendarat dua tombak di samping Manik Angkeran.

Dari arah samping, Rama Gita segera menyentakkan kedua tangannya yang telah dialiri tenaga dalam, mengirimkan serangan jarak jauh.

Wesss...! "Hiaaa...!"

Didahului bentakan menggemuruh, Manik Angkeran berkelebat menghindar. Dan tiba-tiba tubuhnya telah lima langkah di samping Rama Gita dan langsung menghentakkan tangannya melepaskan serangan.

Wesss...! Wesss...!

Rama Gita terkejut. Segera dipapaknya serangan itu dengan sentakan tangannya kembali.

Blar! Blarrr!

Dua dentuman segera menyambut, ketika dua serangan bertemu. Bahkan membuat debu halaman kedai menggumpal membubung ke udara. Di udara gumpalan debu itu pecah. Sehingga, sebentar kemudian mata dibuat tertutup debu yang beterbangan dan menyelimuti halaman.

Belum hilang saputan debu, Rama Gita telah melangkah dua tindak ke depan. Dengan menarik sedikit tubuhnya ke belakang, kedua tangannya didorong ke depan.

Wesss...!

Kembali gelombang angin berderak ke depan, menuju Manik Angkeran.

Sementara laki-laki berbaju hijau itu segera melepas kalung dan memutarmutarkannya di depan dada.

Wes! Wesss...!

Angin putaran yang mengeluarkan suara menderu keras, menyentak suasana. Bahkan segera memapak serangan Rama Gita. Dan ketika dua serangan itu bertemu....

Blar! Btarrr. !

Kembali terdengar suara ledakan menggelegar. Manik Angkeran dan Rama Gita sama-sama menghindar dengan melesatkan tubuh masing-masing ke udara. Begitu berada di udara satu sama lain saling menyerang kembali.

Rama Gita yang tampaknya sudah hilang kesabarannya, segera menggeser tubuhnya yang masih di udara ke samping. Seketika tubuhnya jungkir balik, menerobos dengan terjangan kaki ke arah selangkangan Manik Angkeran.

"Hup!"

Manik Angkeran segera mengangkat kakinya. Dan begitu terjangan kaki Rama Gita datang, kakinya bergerak menyapu.

Dig! Dig!

Dua pasang kaki yang mengandung tenaga dalam tinggi itu berbenturan, menimbulkan suara keras. Dan akibatnya lebih parah lagi. Tubuh Rama Gita berputar-putar beberapa kali di udara, sebelum akhirnya terjerembab di tanah. Sementara Manik Angkeran yang memapak terjangan, hanya jatuh terduduk.

"Hiaaa...!"

Dengan mengeluarkan teriakan beringas, Rama Gita merambat bangkit. Namun baru saja tubuhnya mulai bergerak, Manik Angkeran segera memutar pantatnya.

Set! Settt!

Seketika dua alas kaki Manik Angkeran yang terbuat dari kayu melesat cepat, mengeluarkan desingan ke arah Rama Gita yang mulai bergerak bangkit.

Adanya angin keras yang melabrak sebelum serangan itu sendiri datang, cukup membuat Rama Gita waspada. Sebelum dua alas kaki itu menggebrak tubuhnya, tangannya cepat menghentak tanah.

Bug! "Hup!"

Maka saat itu pula tubuh Rama Gita kembali melesat ke udara. Dan seketika, tangannya kembali disentakkan ke arah dua alas kaki yang berdesing tak terlihat di bawahnya.

Wes! Wesss!

Bagai terkena tekanan angin keras dari atas, luncuran dua alas kaki Manik Angkeran terhenti dan menukik ke bawah.

Crep! Crep!

Dua alas kaki itu menancap di tanah hingga dua pertiga dalamnya. Namun yang membuat mata agak mendelik, tanah yang tertancap menjadi hitam legam, dalam jarak satu putaran tombak.

Pada saat yang sama, tepat ketika tubuh Rama Gita akan mendarat, Manik Angkeran bangkit. Seketika tubuhnya berputar sekali berkelebat cepat dan langsung tak terlihat. Dan....

Des! Des. ! "Aaakh...!"

Terdengar suara jeritan, disusul ambruknya tubuh Rama Gita di atas tanah. Sambil mengeluarkan lenguhan keras, laki-laki berbaju putih itu memandangi tangan dan kakinya yang terasa ngilu dan panas. Seketika wajahnya mendadak pucat pasi dengan bibir bergetar. Ternyata tangan dan kaki Rama Gita telah berubah kemerahan seperti kulit terpanggang.

"Rama Gita! Cepatlah minggat dari hadapanku, sebelum nafsuku mengalahkan otak jernihku!" bentak Manik Angkeran sambil mengalungkan kembali kalungnya. Dipandangnya Rama Gita dengan senyum.

Sementara Rama Gita kembali merambat bangkit, disertai sorot mata tajam.

"Aku tak akan pulang ke Bali dan menghadap Raja dengan tangan kosong, Manik Angkeran!" sahut Rama Gita setengah berteriak.

Pada saat itu juga, Rama Gita mengangkat kedua tangannya ke depan kening, membuat gerakan seperti orang menyembah. Mulutnya kemak-kemik. Dan kini wajahnya berubah menjadi kehitaman.

"Dua belas tahun aku mengasah ilmu pukulan 'Guntur Sajen'. Dan selama itu pula, banyak para pemberontak tangguh yang mencoba berbuat makar terhadap Raja jatuh terkapar. Sekarang, kau yang merasakan, Manik Angkeran!"

Baru saja Rama Gita selesai berucap, Manik Angkeran segera pula menakupkan kedua tangannya sejajar dada. Matanya terpejam rapat. Mulutnya menguncup, lalu meniup tangannya. Kemudian tubuhnya berputar membelakangi Rama Gita.

"Dua puluh tahun aku mempelajari ilmu pukulan 'Sirna Jagat'. Dan jika korban pertama yang jatuh adalah seorang hulubalang kerajaan, itu adalah suatu keistimewaan tersendiri, Rama Gita!"

Baru saja kata-kata Manik Angkeran tuntas....

"Suiiittt"

Mendadak terdengar suara. Pertama perlahan, namun makin lama makin melengking.

Mendapati suara suitan yang mengandung tenaga dahsyat, perhatian Rama Gita dan Manik Angkeran terpecah. Di satu sisi mereka harus mengerahkan tenaga untuk menyerang, di sisi lain juga harus menangkal suara suitan.

Rama Gita segera mencari tahu, siapa gerangan yang berbuat usil. Sementara Manik Angkeran membuka matanya, lalu berbalik.

"Hentikan pertempuran!"

Rama Gita dan Manik Angkeran sama-sama mendelik tak percaya melihat siapa orang yang telah berbuat usil dengan berteriak menghentikan pertempuran. Bahkan sebelumnya dengan suara suitan.

***

4

Rama Gita menghentikan gerakannya, seraya mundur dua tindak ke belakang. Sementara Manik Angkeran menggeser kakinya ke samping.

Tak jauh dari mereka berdua telah berdiri seorang pemuda berjubah ketat lengan pendek warna hijau dengan pakaian dalam warna kuning. Rambutnya panjang, dikuncir ekor kuda.

Untuk beberapa saat, Rama Gita dan Manik Angkeran mengamati pemuda berambut gondrong yang tak lain Pendekar Mata Keranjang 108 tanpa berkedip.

"Hm.... Selama aku berkecimpung dalam rimba persilatan, rasa-rasanya belum pernah menemukan orang seusianya yang mempunyai tenaga dalam demikian tinggi. Siapa pemuda ini...? Apakah dia yang akhir-akhir ini jadi berita?" tanya Manik Angker, membatin.

"Hm.... Semuda itu sudah memiliki tenaga dalam yang tak bisa dipandang sebelah mata. Siapakah pemuda ini...?" Tak jauh dari kata batin Manik Angkeran benak Rama Gita pun berkata demikian.

Namun karena merasa urusannya dicampuri, wajahnya jadi berubah merah padam.

"Orang asing! Siapa kau...?! Dan, apa urusanmu berani ikut campur...?" bentak Rama Gita.

Aji berpaling. Dibalasnya tatapan Rama Gita dengan tajam.

"Aku Aji. Dan, maaf. Aku bukan ikut campur masalah kalian. Aku hanya tak ingin melihat persoalan yang dapat diatasi dengan jalan bicara baik-baik, harus diakhiri pertumpahan darah!" kata Aji, setelah sedikit menjura.

Wajah Rama Gita berubah membesi. Dagunya mengeras, sementara pelipisnya bergerak-gerak. Lalu....

"Ha... ha... ha...! Anak muda! Dia telah membunuh seseorang! Lalu, apakah kurang pantas jika imbalan yang harus diterimanya adalah kematian..?!" "Kau terlalu ceroboh menuduh orang, Rama Gita!" sahut Manik Angkeran. Nadanya tenang, meski matanya

nampak berkilat-kilat.

"Bukti telah berbicara, Manik Angkeran! Kau tak perlu lagi banyak omong!" ujar Rama Gita seraya berpaling pada Manik Angkeran.

"Anak muda! Kuharap kau lekas menyingkir dari sini! Ini urusanku dengan Manik Angkeran. Namun bila kau ikut campur, jangan menyesal bila aku akan bertindak kasar padamu!"

Seperti tidak mendengar nada ancaman, Pendekar Mata Keranjang 108 mengalihkan pandangan pada Manik Angkeran.

"Paman Manik Angkeran! Meski kita belum pernah jumpa, namun aku pernah mendengar nama besarmu. Makanya aku tidak yakin kalau Hulubalang Rama Gila menuduhmu sebagai pembunuh. Bagaimana, Paman?" tanya Pendekar Mata Keranjang

108 mencoba memancing dengan kata-kata halus.

Manik Angkeran tidak segera menjawab. Dipandangnya silih berganti pada Rama Gita dan Aji. Lalu ditariknya napas dalam-dalam.

Memang, dalam rimba persilatan Manik Angkeran dikenal sebagai tokoh golongan putih yang sabar. Kendati demikian, dia tidak segan bertindak keras jika memang diperlukan. Menurut kabar yang tersiar, Manik Angkeran telah mengundurkan diri dari gelanggang persilatan. Jadi jika saat ini muncul, tentu ada sesuatu yang sangat penting.

Dan Aji mendengar perihal Manik Angkeran dari Eyang Selaksa. Saat itu Pendekar Mata Keranjang 108 tengah dirawat, setelah terjadinya peristiwa di Jurang Guringring. Karena merasa ada yang tak beres dalam masalah ini, apalagi tuduhan pembunuhan yang tidak mungkin dilakukan seorang pendekar seperti Manik Angkeran, maka Aji mencoba menengahi masalah.

"Ngg.... Bagaimana, Paman...?" tanya Aji setelah agak lama Manik Angkeran belum juga menjawab.

"Hm.... aku merasa ada yang tidak wajar dalam persoalan ini. Ada pihak ke tiga yang sengaja memfitnah dan menjebakku!" sahut Manik Angkeran kalem.

"Tidak usah mencari-cari alasan, Manik Angkeran!" sahut Rama Gita. Sikapnya masih keras.

Manik Angkeran tak menanggapi kata-kata Rama Gita.

"Anak muda!" panggil Manik Angkeran pada Aji. "Aku tak menyalahkan dia, jika menuduhku sebagai pembunuh putra mahkota Gusti Agung Penatek. Karena manik-manikku ada di tangannya. Dan katanya, ditemukan di samping mayat sang putra mahkota. Tapi aku yakin, di balik semua ini ada tangan-tangan kotor yang menjadikanku sebagai kambing hitam. Dan aku curiga pada seorang gadis muda yang beberapa minggu berselang telah datang ke tempatku. Waktu datang, dia dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya terkena racun ganas. Aku berusaha mengobatinya dan menyuruhnya tinggal di tempatku untuk sementara waktu. Tapi..., ketika tubuhnya agak pulih, gadis itu pergi tanpa pamit. Dia hanya meninggalkan pesan, jika ada kesempatan, aku diundang ketempatnya pada malam purnama bulan ketiga. Dan tempat yang disebut adalah Teluk Gonggong!"

Sebentar Manik Angkeran menghela napas.

"Aku sebenarnya tidak tertarik pada undangan itu. Tapi karena tanpa ujung pangkal mendadak Rama  Gita mengobrak-abrik  tempatku, bahkan menuduhku melakukan pembunuhan, maka aku jadi berhasrat untuk datang ke Teluk Gonggong. Karena aku curiga dengan gadis itu, sekaligus ingin menunjukkan bahwa tuduhan ini tidak benar!" lanjut Manik Angkeran, mantap. "Kau curiga gadis itu mencuri manik-manikmu. Lalu dia membunuh putra mahkota, dan meninggalkan manik-manik curian itu di sampingnya...," simpul

Aji sambil usap-usap dagunya.

Manik Angkeran batuk-batuk. "Benar. Jadi ada yang sengaja mengadu domba dengan menebar fitnah!" jawab Manik Angkeran.

Aji mengangguk, sementara Rama Gita masih nampak gusar. Sikap belum puas masih terpancar dari wajahnya, mendengar alasan Manik Angkeran.

Dan belum sempat Aji mengalihkan pandangan pada Rama Gita untuk minta penjelasan....

"Manik Angkeran!" panggil Rama Gita, tiba-tiba. "Dengar! Walau aku belum puas dengan alasanmu, namun karena tujuan kita sama-sama ke Teluk Gonggong, maka untuk sementara masalah ini kutunda, hingga aku dapat menyelesaikan tugasku yang lain di Teluk Gonggong! Tapi kau jangan terburu senang. Aku menunda masalah ini dengan syarat!"

"Hm.... Syarat apa?!" tanya Manik Angkeran cepat. "Kau harus melingkarkan sebuah karet pada pergelangan tanganmu! Karet gelang itu akan bekerja dua hari, setelah malam purnama dan akan memutus urat nadimu. Tapi jika malam purnama kelak ucapanmu bisa dibuktikan, karet itu akan kulepas!" sahut Rama Gita.

Wajah Manik Angkeran sejenak berubah mendengar kata-kata Rama Gita. "Bagaimana, Manik Angkeran. ?"

desak Rama Gita seraya mengeluarkan sebuah lingkaran karet kecil berwarna putih. "Jika kau tak menerima syarat yang kuajukan, berarti alasanmu hanya omong kosong belaka!" Manik Angkeran tersenyum.

"Serahkan karet gelang itu padaku!" ujar Manik Angkeran, sambil mengangkat bahunya.

Begitu kata-kata Manik Angkeran selesai, Rama Gita menyentilkan tangannya. Maka karet gelang di tangannya melesat ke arah Manik Angkeran.

Sementara, Manik Angkeran segera meluruskan tangannya ke depan. Maka karet gelang itu menerabas masuk ke dalam pergelangan tangannya.

"Bagus! Urusan kita untuk sementara selesai. Sekarang, aku harus pergi. Empat hari lagi, tepatnya pada malam purnama, kita akan bertemu di Teluk Gonggong. '"

Selesai berkata, Rama Gita berbalik hendak pergi.

"Tunggu!" teriak Aji, menahan kepergian Rama Gita

Rama Gita mengurungkan niatnya. Tubuhnya kembali berbalik. Matanya menatap tajam penuh selidik.

"Apalagi, Anak Muda...?!" tanya Rama Gita.

"Ngg.... Kalau boleh tahu, apa tujuan Hulubalang Rama Gita ke Teluk Gonggong. ?"

Agak lama Rama Gita terdiam.

Lalu....

"Anak muda! Kedatanganku ke tanah Jawa dengan dua maksud. Pertama, menangkap hidup-hidup pembunuh putra mahkota Gusti Agung Penatek. Kedua, menangkap putra mahkota pengkhianat kerajaan, yang berhasil dilarikan seseorang. Menurut para penyelidik kerajaan, mereka kini menetap di Teluk Gonggong. Ketika aku sampai di sini, telah tersiar kabar kalau di Teluk Gonggong pada malam purnama bulan ketiga, akan ada suatu perhelatan besar. Aku sendiri tak tahu, perhelatan apa. Yang pasti, kedatanganku ke sana dengan tujuan tertentu!"

Selesai berkata, Rama Gita berbalik dan berkelebat ke arah pantai.

"Aji! Purnama masih empat hari lagi. Aku sekarang harus pergi dulu, karena masih ada yang harus kuselesaikan," pamit Manik Angkeran.

"Sebentar, Paman!" ujar Aji sambil melangkah mendekat. "Mendengar penuturanmu, mungkin ada kaitannya dengan apa yang dipercakapkan Ratu Sekar Langit, Buyut Linggar Dipa, dan Dajal Ireng tempo hari. "

"Heh?! Kau mengenai mereka. ?!"

sentak Manik Angkeran dengan mata disipitkan. Sementara kerutan di keningnya bertambah.

"Tidak. Aku tidak mengenai mereka. Hanya saja, aku sempat bertukar jurus dengan mereka. Karena percakapan mereka pulalah yang membuatku ingin lebih tahu, apa sebenarnya yang bakal terjadi di Teluk Gonggong!" jelas Joko.

"Bertukar jurus dengan mereka? Hm.... Mungkin benar dugaanku, pemuda itulah yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang. Mereka bertiga, sedangkan dia sendiri. Dan kulihat, dia tidak mengalami cedera. Juga, melihat penampilannya? Hm..., pasti dia Pendekar Mata Keranjang!"

Pendekar Manik Angkeran mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata sendiri dalam hati. Sebentar kemudian, dia sudah memandang Aji.

"Apa yang mereka percakapkan...?" tanya Manik Angkeran sambil mengawasi Aji tanpa kedip.

Pendekar Mata Keranjang 108 lantas menceritakan percakapan antara Ratu Sekar Langit. Buyut Linggar Dipa, dan Dajal Ireng.

Belum juga habis keterangan Aji, mata Manik Angkeran terbelalak. Bahkan dia segera meloncat, langsung memegang pundak Pendekar Mata Keranjang 108.

"Kau tidak main-main dengan ceritamu, Aji?" terabas Manik Angkeran.

Aji menggeleng. Sementara, raut wajah Manik Angkeran merah padam. Rahangnya sedikit terangkat, menahan kecamuk amarah di hatinya.

"Hm.... Jika demikian dugaanku tidak meleset. Dan peristiwa besar mungkin bakal terjadi di Teluk Gonggong!"

Kembali kepala Manik Angkeran mengangguk-angguk perlahan. Sepertinya, apa yang selama ini jadi ganjalan hatinya hampir terjawab. Terutama tentang gadis yang telah memfitnah dirinya, sehingga dia dituduh sebagai pembunuh.

"Nah, Aji. Persoalan Teluk Gonggong bagiku sudah jelas. Sekarang, aku harus pergi untuk kembali ke Teluk Gonggong empat hari lagi. Tapi..., ngg.... Jika dugaanku tak salah, apakah kau yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang?" tanya Manik Angkeran menatap Aji.

Aji hanya tersenyum.

"Ah! Itu hanya orang-orang yang menjuluki. Bukan aku yang membuat julukan...," desah Pendekar Mata Keranjang 108, merendah.

Manik Angkeran tersenyum, lalu berbalik.

"Pendekar Mata Keranjang! Kuharap kau akan datang pada malam purnama di Teluk Gonggong!" kata Manik Angkeran, sebelum berkelebat.

"Kurasa begitu, Pendekar Manik Angkeran!" kata Aji agak keras.

Memang, Manik Angkeran telah berkelebat meninggalkan tempat. Kini, hanya ada Pendekar Mata Keranjang 108 sendiri di depan kedai.

"Sementara menunggu malam purnama, aku akan berkeliling di daerah sini...," kata Aji dalam hati. ***

5

"Ada seorang berdiri di pinggiran teluk!"

Kata-kata yang nyaris berbisik itu keluar dari mulut laki-laki berpakaian hitam, ikat kepalanya juga warna hitam.

"Aku sudah melihat itu!" jawab laki-laki tua yang tangan kanannya memegang sebuah tongkat, tanpa mengalihkan pandangan.

"Menurut Buyut, apakah rencana Bidadari Telapak Setan akan berlangsung tanpa hambatan...?" tanya orang berpakaian hitam yang tak lain Dajal Ireng. Sementara yang diajak bicara adalah Buyut Linggar Dipa.

Memang, saat ini Buyut Linggar Dipa, Dajal Ireng, dan Ratu Sekar Langit baru saja tiba di Teluk Gonggong. Sementara kereta kuda masih tetap berjalan, walaupun beberapa puluh tombak didepan, berdiri sesosok tubuh dengan rambut panjang yang dikuncir ekor kuda. Jubah toganya yang berwarna merah tampak berkibaran ditiup angin. Berdirinya bagai menghadang di atas batu padas pinggiran teluk.

"Pertanyaanmu aneh, Dajal Ireng! Jika tahu apa yang bakal terjadi, aku tak usah jauh-jauh keluar dari Istana Padalarang!" sahut Buyut Linggar Dipa, agak keras.

Mendengar jawaban orang tua yang bertindak sebagai kusir itu, wajah Dajal Ireng tampak mengelam. Dalam hati dia memaki panjang pendek habishabisan. Tanpa sepengetahuan Buyut Linggar Dipa, ekor mata Dajal Ireng melirik tajam.

"Jahanam tua! Suatu saat kelak, mulut sombongmu akan kusumpal dengan kepalan tanganku. Tubuh rentamu akan kupatah-patahkan!" maki Dajal Ireng dalam hati.

Suasana jadi hening, ketika tak terdengar lagi ada yang buka suara. Sementara kereta terus berderak melewati alur teluk.

"Harap sebutkan nama masingmasing, sebelum kalian bergerak maju lagi!"

Tiba-tiba terdengar suara menegur, yang jelas datangnya dari sosok yang berdiri kokoh di atas batu padas. Dua orang yang berada di atas kereta saling  berpandangan. Buyut Linggar  Dipa segera menghentikan kereta,   seraya    mengangkat bahu. Sementara   Dajal   Ireng  mengalihkan pandangan pada sosok yang berdiri di

atas batu padas.

"Buyut! Jangan-jangan kita datang ketempat. "

"Dasar manusia penakut!" bentak Buyut Linggar Dipa, memotong bayangan buruk Dajal Ireng. Kemudian dia beringsut hendak meloncat turun. Tapi....

"Keparat busuk! Siapa berani memerintah dengan seenak dengkulnya, he?! Buyut! Jalan terus...!" terdengar teguran dari dalam kereta.

Buyut Linggar Dipa mengurungkan niatnya. Kembali tali kekang kudanya disentakkan. Dan kereta pun kembali melaju. Dekat sebuah batu padas yang menggugus, kereta berhenti.

Belum sampai Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng loncat turun dari kereta, mendadak sesosok bayangan merah berkelebat. Dan tahu-tahu, sosok itu berdiri berkacak pinggang, tak jauh dari mereka.

Kedua tokoh persilatan ini segera berpaling, menatap sosok yang ternyata seorang pemuda berjubah toga warna merah menyala. Wajahnya tampan. Sepasang matanya menatap tajam pada Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng.

"Malaikat Berdarah Biru!" seru Dajal Ireng begitu mengenali pemuda berjubah toga merah yang ternyata Malaikat Berdarah Biru.

Sementara dahi Buyut Linggar Dipa berkernyit. Sepasang matanya mengawasi pemuda bertoga merah itu dengan senyum yang lebih mirip seringai.

"Siapa kalian...?!" tanya Malaikat Berdarah Biru dengan sorot mata menyelidik.

"Aku Buyut Linggar Dipa! Dan di sebelahku Dajal Ireng. Sedang yang ada dalam kereta adalah Ratu Sekar Langit! Kami dari Istana Padalarang!"

Mendengar nama-nama itu, bibir Malaikat Berdarah Biru mengembangkan senyum. Wajahnya berseri, memancarkan rasa gembira.

"Ah! Rupanya para sobat guruku! Terima kasih, karena kalian bersedia datang menyambuti undangan kami. Silakan langsung menuju tempat Bidadari Telapak Setan di gubuk itu," ucap Malaikat Berdarah Biru, seraya menunjuk sebuah gubuk yang tinggal beberapa tombak lagi di depan.

"Dasar manusia congkak! Rupanya belum kenal kami!" rutuk Buyut Linggar Dipa dalam hati.

Laki-laki ini belum juga bergerak melangkah. Sedangkan sebentar-sebentar melirik Buyut Linggar Dipa.

"Kalian nampaknya ragu-ragu? Apa takut datang ke tempat yang salah...?" tegur Malaikat Berdarah Biru.

Tanpa menyahuti kata-kata Malaikat Berdarah Biru, Buyut Linggar Dipa, dan Dajal Ireng segera loncat turun. Dan bersamaan dengan itu, pintu kereta terbuka. Sebentar kemudian, muncullah sesosok tubuh nampak berkelebat, dan tegak di samping kereta.

"Ratu Sekar Langit...!" desis Malaikat Berdarah Biru.

Sepasang mata Malaikat Berdarah Biru liar berputar begitu melihat sosok Ratu Sekar Langit. Napasnya saat itu juga bagai diatur dan berhembus panjang-panjang. Walau sudah sering mendengar, namun dia memang belum pernah bertemu wanita itu. Hingga matanya untuk beberapa saat tak ingin beranjak memandang dari wajah Ratu Sekar Langit.

"Sungguh tak kuduga jika orangnya demikian cantik! Hm. Seandainya

saat ini bukan waktunya untuk berbenah diri, ingin rasanya tubuhnya segera kucicipi...," kata hati Malaikat Berdarah Biru, disertai senyum penuh hasrat.

Tanpa menghiraukan pandangan liar Malaikat Berdarah Biru, Ratu Sekar Langit melangkah menuju gubuk diikuti Buyut Linggar Dipa dan Dajal Ireng.

Namun baru beberapa langkah, dari dalam gubuk melesat sesosok tubuh. Dan tahu-tahu di hadapan Ratu Sekar Langit telah berdiri tegak seorang perempuan tua berpakaian panjang warna merah.

"Selamat datang di tempatku, Ratu Sekar Langit, Buyut Linggar Dipa, dan Dajal Ireng...," sambut perempuan tua yang tak lain Bidadari Telapak Setan, guru Malaikat Berdarah Biru. "Mohon dimaafkan jika sambutanku kurang begitu berkenan. Dan harap dimaafkan pula, tingkah muridku yang menyambut kedatangan sahabat-sahabat dengan tidak sebagaimana mestinya. Aku sungguh gembira melihat kalian semua memenuhi undanganku. Terimalah rasa hormat dan terima kasihku atas kedatangan kalian. "

Ratu Sekar Langit menganggukkan kepala pelan.

"Kami datang jauh-jauh ke sini bukan hanya untuk menyambuti undanganmu saja!" kata Ratu Sekar Langit, langsung.

"O, begitu...? Lantas...?" tanya Bidadari Telapak Setan.

"Sebelum Teluk Gonggong dibanjiri genangan darah tokoh-tokoh golongan putih, sebelum peristiwa besar ini mengguncang dunia persilatan, kuharap kau bersumpah di hadapan kami!" ujar wanita dari Istana Padalarang ini, tegas.

Mendengar kata-kata pedas Ratu Sekar Langit, tenggorokan Bidadari Telapak Setan bagai tercekat. Untuk sesaat wajahnya menengadah menghadap langit.

"Manusia busuk ini rupanya belum tahu, dengan siapa berhadapan. Huh! Berani-beraninya dia mengatur.... Hem..., aku tidak sebodoh yang kau kira...!" kata hati Bidadari Telapak Setan.

"Bidadari Telapak Setan! Ketahuilah! Setelah urusan besar Teluk Gonggong usai, kuharap kau mau menyumbangkan tenaga untuk berdirinya partai kami! Dan kau harus ucapkan sumpah hari ini juga sebagai anggota!" ujar Ratu Sekar Langit.

"Sobatku, Ratu Sekar Langit! Kalau hanya soal itu, kau tak usah khawatir! Jika segala rencana di Teluk Gonggong ini berjalan mulus, sebagai balas jasa, segala pintamu akan kupenuhi. Jangankan hanya untuk mengucapkan sumpah. Kepalaku kau minta pun aku tidak akan menolak!" sahut Bidadari Telapak Setan, meyakinkan.

Bidadari Telapak Setan kini memalingkan wajah, menghadap gubuk.

"Hm.... Aku bukan manusia tolol yang begitu saja bisa diatur, Betina! Begitu urusan Teluk Gonggong selesai, maka selesai pula riwayatmu!" rutuk Bidadari Telapak Setan, dalam hati.

Ratu Sekar Langit menyunggingkan senyum mendengar kata-kata Bidadari Telapak Setan.

"Aku tahu siapa kau sebenarnya, Tua Bangka! Aku sangsi, apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu! Namun jika kau berdusta, jangan harap kau bisa tinggal di Teluk Gonggong dengan tubuh utuh!"

Ternyata, Ratu Sekar Langit juga membatin tak kalah garangnya. Tentu saja dia tak semudah itu mempercayai kata-kata Bidadari Telapak Setan.

Sejenak suasana dilanda kebisuan.

Namun, tak lama. Karena....

"Sobatku sekalian! Udara di luar sini lembab. Sebaiknya kita ke gubuk saja. Sambil menunggu kedatangan teman-teman yang lain, kita bisa berbincang-bincang lebih enak. "

Sambil berkata, Bidadari Telapak Setan menunjukkan tangannya kearah gubuk.

Ratu Sekar Langit mengangguk.

Seketika Bidadari Telapak Setan mendahului melesat ke arah gubuk, diikuti Ratu Sekar Langit, Buyut Linggar Dipa, dan Dajal Ireng.

Waktu terus merangkak. Malam purnama kurang tiga hari.

Teluk Gonggong masih tampak sepi. Hanya gempuran ombak yang sayup-sayup terdengar gelegarnya. Namun kesunyian itu tidak berlangsung lama, ketika....

"Anak Agung! Apakah kau lihat ada orang datang tanpa diundang?" tanya Bidadari Telapak Setan.

"Betul, Guru! Bahkan mungkin aku lebih tahu, siapa orang itu!" jawab Anak Agung alias Malaikat Berdarah Biru.

Seketika tubuh pemuda itu melesat keluar. Tubuhnya berkelebat ke balik gundukan sebuah batu padas, sehingga tak terlihat.

"Hm.... Jahanam Rama Gita! Rupanya kau datang mengantar nyawa busukmu...! Kebetulan sekali. Berarti aku tak usah jauh-jauh mencarimu...! Hm..., hari ini rupanya dendam yang telah tertindih sekian lama akan tersampaikan juga. Rama Gita, bangkaimu akhirnya harus terpuruk di sini...!" desis Malaikat Berdarah Biru, perlahan.

"Anak Agung! Kau tentunya tahu, apa yang harus diperbuat pada orang yang datang tanpa diundang...!" Terdengar lagi suara dari dalam gubuk. "Aku tahu, Guru! Malah aku sudah menyiapkan sesuatu tersendiri bagi pendatang haram ini!" sahut Malaikat Berdarah Biru,  sedikit menahan suaranya. Karena, ia merasa tamu yang datang tanpa diundang telah dekat

dengan tempatnya mendekam.

"Bagus! Laksanakan tugasmu!" Malaikat Berdarah Biru mengeluarkan seringai ganas. Dengan sekali jejak, tubuhnya melenting. Setelah berputaran, dia berdiri kokoh di atas sebuah gugusan batu padas yang paling tinggi.

Sebentar kemudian, sepasang mata Malaikat Berdarah Biru tampak memejam. Kedua telinganya tampak bergerak-gerak ke belakang. Kelihatannya, dia tengah mengerahkan ilmu pendengarannya untuk menentukan keberadaan tamu yang datang tanpa diundang.

Dan memang, di bawah sebuah lekukan batu padas tampak sesosok tubuh berpakaian putih bergerak mengendap-endap. Sesekali kepala sosok itu berputar, diikuti sapuan sepasang matanya yang liar berkeliling. Tak lama kemudian, tubuhnya berkelebat cepat menuju gubuk yang hanya satusatunya di Teluk Gonggong ini.

Namun belum juga tubuh sosok ini sempat menyelinap ke balik gundukan batu padas di sampingnya, mendadak sesosok bayangan telah berkelebat. Dan....

"Hup!"

"Heh?!"

Tahu-tahu satu sosok lain telah berdiri menghadang, membuat sosok berbaju putih yang tak lain Rama Gita tersentak kaget. Untuk beberapa saat Rama Gita hanya memperhatikan sosok penghadang yang tak lain Malaikat Berdarah Biru.

"Hm.... Aku memang sudah berpuluh tahun tak lagi pernah bertemu Anak Agung Gede Mantra. Namun, mataku tak akan bisa melupakan raut wajahmu!" gumam Rama Gita.

Malaikat Berdarah Biru hanya menatap tajam Rama Gita yang ada di depannya.

"Rama Gita! Lama tak berjumpa, ternyata tak membuat dua biji matamu menjadi rabun!" kata Malaikat Berdarah Biru, bernada meremehkan.

"Bagus! Berarti aku tidak datang ke tempat yang salah...! Sekarang menyerahlah, Anak Agung! Dan, ikut aku menghadap Raja. Kau harus pertanggungjawabkan pengkhianatanmu di pengadilan Raja!" ujar Rama Gita.

"Ha... ha... ha...!"

Mendadak Malaikat Berdarah Biru tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menggelegar, hingga untuk sesaat Rama Gita harus mengerahkan hawa murni ke telinga dan dadanya.

"Ucapanmu salah, Rama Gita! Yang benar adalah, kau datang ke tempat yang salah. Karena kedatanganmu hanya mengantar selembar nyawa! Sungguh suatu hal yang tak terduga jika darah orang pertama yang tergenang di Teluk Gonggong adalah darah hulubalang kerajaan...! Ha... ha... ha...!"

Mendengar nada suara dan tawa Malaikat Berdarah Biru, Rama Gita merasa harus waspada dan tidak bisa menganggap remeh. Namun, tugas adalah tugas. Bagaimanapun tinggi ilmu yang dimiliki, dia harus tetap melaksanakan tugas!

"Dengar, Anak Agung! Aku tak butuh pamer kekuatan yang muluk-muluk. Kedatanganku hanyalah mengemban tugas, membawamu menghadap Raja! Dan jika kau membangkang, aku punya cara tersendiri untuk menyelesaikannya!" tandas Rama Gita, mantap.

"Membawaku menghadap Raja...?" ulang Malaikat Berdarah Biru dengan senyum mengejek. "Kau lagi-lagi salah ucap", Rama Gita! Justru aku yang akan membawa kepalamu ke hadapan Rajamu! Setelah itu baru Rajamu akan menyusul mengalami nasib sama!"

"Cakapmu terlalu besar, Anak Agung! Sekali lagi kuperingatkan, menyerahlah secara baik-baik! Dengan demikian, pengadilan kerajaan mungkin bisa mempertimbangkan hukumanmu!"

"Ah! Bahasanmu terlalu tinggi, Rama Gita! Camkan baik-baik! Sebelum sempat membawaku ke pengadilan kerajaan, mungkin kau akan kuadili dahulu! Saat ini, kau berada di tempatku. Berarti, sekarang kau harus tunduk pada aturan-aturanku...!"

"Anak Agung! Pasang telingamu baik-baik! Kedatanganku ke sini bukan untuk mengikuti segala aturan-aturan gilamu, tapi untuk menangkapmu sebagai pengkhianat kerajaan!"

"Ha... ha... ha.... Begitu, Rama Gita? Baik, baiklah! Tapi sebelum membawaku menghadap Rajamu, boleh aku tanya sesuatu...?" ujar Malaikat Berdarah Biru dengan tersenyum. "Tapi, pertanyaanku kali ini tak perlu dijawab! Hanya perlu kau dengar dan camkan baik-baik!"

Mendengar kata-kata Malaikat Berdarah Biru, kening Rama Gita berkernyit pertanda heran dan berpikir keras. Matanya menyipit. Namun begitu mulut Malaikat Berdarah Biru bergerak akan bicara lagi, mata Rama Gita kembali membesar.

"Rama Gita! Kau tahu jalan pintas menuju neraka?! Kalau kau belum tahu, kedatanganmu ke sini adalah jalan pintas itu!" leceh Malaikat Berdarah Biru singkat dan tandas.

"Tak ada jalan lain. Berarti aku harus pergunakan cara tersendiri untuk membawamu, Anak Agung!"

Sambil berkata Rama Gita segera menghentakkan tangannya.

Bet! Wesss...!

Saat itu juga, serangkum angin deras menggebrak ke arah Malaikat Berdarah Biru. Namun pemuda bernama Anak Agung itu hanya tertawa. Bahkan tawanya tak putus saat mendorongkan telapak tangannya, menyambut serangan Rama Gita.

Wesss...! Blarrr! "Aaakh...!"

Terdengar suara ledakan menggelegar, sewaktu terjadi bentrokan antara dua kekuatan yang sama-sama mengandung tenaga dalam.

Dari mulut Rama Gita terdengar seruan tertahan. Parasnya langsung memerah. Meski tubuhnya hanya terjajar dua tindak ke belakang, namun dalam hatinya kini benar-benar percaya, bahwa Malaikat Berdarah Biru memang telah jauh berubah.

"Rama Gita! Kenapa diam...? Bukankah kau akan menangkapku...? Atau ingin segera kutunjukkan jalan pintas menuju neraka itu?!" ejek Malaikat Berdarah Biru saat melihat Rama Gita agak lama tercenung.

"Hiaaa...!"

Diejek demikian, dibarengi bentakan menggemuruh, Rama Gita melangkah dua tindak ke depan. Lalu sambil mengepalkan kedua tangan, kakinya menjejak tanah. Seketika tubuhnya melesat cepat dengan kepalan tangan bergerak ke sana kemari mengeluarkan angin berkesiutan keras.

Bet! Bet! Bettt!

Sementara, Malaikat Berdarah Biru hanya meloncat ke arah samping menghindari. Sehingga kepalan tangan Rama Gita hanya menghantam tempat kosong.

Selagi Rama Gita belum melepaskan serangan kembali, Malaikat Berdarah Biru sudah memutar tubuhnya. Dan tahutahu, tubuhnya melenting ke belakang membuat jarak.

Pada saat yang sama, Rama Gita segera mengangkat kedua tangannya ke depan perut. Sedangkan mulutnya kemakkemik. Perlahan-lahan dari tubuhnya mengeluarkan asap putih. Mula-mula tipis. Namun dalam waktu sekejap telah menggumpal, membungkus tubuh Rama Gita.

Dalam rimba persilatan, para tokoh dari daratan timur selain dikenal mempunyai pukulan hebat, juga diketahui memiliki sebuah ilmu penangkal yang dikenal ilmu 'Pembungkus Sukma'. Ilmu ini memang digunakan untuk menangkis serangan yang datang tak terlihat. Jika seseorang telah mengerahkannya, maka tubuhnya akan terbungkus asap putih. Sehingga, setiap serangan yang datang akan seperti membentur dinding tembok.

Melihat lawan mengerahkan ilmu 'Pembungkus Sukma', Malaikat Berdarah Biru segera menakupkan tangannya sejajar dada. Kedua matanya memejam.

"Heaaat...!"

Didahului bentakan garang bagai menusuk langit, Malaikat Berdarah Biru mendorong tangannya kedepan.

Wet! Wesss!

Seketika segulung angin panas berwarna merah segera meluruk ke depan. Sebentar udara terang benderang bagai terkena jilatan api. Lalu.... Blarrr...!

Dibarengi bunga api yang beterbangan ke segala arah, terdengar gelegar membahana saat gulungan angin warna merah mendobrak asap putih yang membungkus Rama Gita.

Cras! Prashhh...! "Aaakh...!"

Asap putih yang membungkus tubuh Rama Gita ambyar dan pecah. Sementara hulubalang kerajaan itu sendiri terpental disertai jeritan melengking, dan jatuh keras di tanah beberapa tombak dari asap yang tadi menyelubunginya. Namun ada keanehan. Ternyata asap itu tak ambyar kemanamana, melainkan tetap menggumpal tak bergerak dan berubah menjadi hitam! Itulah bias pukulan 'Serat Jiwa' yang telah dilancarkan Malaikat Berdarah Biru.

Rama Gita berusaha bergerak bangkit. Dari sela bibirnya tampak mengalir darah kehitaman. Tangannya melepuh dan berwarna kemerahan. Pakaian putihnya telah menghitam dan robek di sana-sini.

Namun belum juga Rama Gita sempurna berdiri, Malaikat Berdarah Biru telah menghentakkan tangannya pada asap yang masih menggumpal.

"Hih!"

Wesss...! Seketika asap hitam itu bergerak cepat ke arah Rama Gita. Begitu hampir mencapai tubuhnya, gumpalan itu berderak pecah berkeping-keping. Dan di luar dugaan, asap-asap hitam itu menyerang hulubalang kerajaan ini dari berbagai jurusan.

Mendapat hujan kepingan asapnya sendiri, Rama Gita jadi gugup bukan main. Segera tubuhnya direbahkan sejajar tanah. Seketika kedua kaki dan tangannya bergerak kesana kemari menghalau kepingan asap hitam yang rupanya telah membatu!

Selagi Rama Gita menghalau serangan asap hitam, Malaikat Berdarah Biru kembali melepaskan pukulan 'Serat Jiwa'. Namun kali ini tenaga yang dikeluarkannya tidak penuh.

"Aku tak ingin kau cepat-cepat tewas. Agar kau bisa merasakan, bagaimana nikmatnya meregang nyawa!" desis Malaikat Berdarah Biru.

"Hih...!"

Wesss...!

Rama Gita sedang sibuk menghalau kepingan asap kontan terkejut, saat serangkum angin bergerak ke arahnya. Tak ada yang bisa diperbuat, kecuali memandangi datangnya serangan dengan mata terbeliak lebar. Dan....

Prash. !

"Aaa. !"

Dibarengi jeritan panjang, tubuh Rama Gita melayang jauh dan tercebur ke laut.

Byurrr...!

Air laut tempat tubuh Rama Gita jatuh tampak sebentar bergolak, mengeluarkan semburan merah. Sesaat kemudian tubuh Rama Gita tampak mengambang. Dan sekali diterjang ombak. tubuhnya menepi lalu menggeletak di pantai.

Sementara Malaikat Berdarah Biru segera melangkah mendekati tubuh Rama Gita. Disertai senyum menggiriskan, kakinya segera terayun keras melepaskan tendangan.

Namun sejengkal kaki itu menerpa tubuh Rama Gita....

"Kekasih! Bolehkah kakiku juga mencicipi tubuh hulubalang itu. ?"

Mendadak terdengar sebuah suara dari belakang. Dan Malaikat Berdarah biru cepat menarik pulang kakinya. Kepalanya segera berputar mencari arah sumber suara. Sepasang mata pemuda bernama Anak Agung ini membesar tak berkedip. Napasnya berdegup makin kencang.

"Selir Iblis!" bisik Malaikat Berdarah Biru dengan mata menelusuri tubuh sosok yang barusan berbicara.

Memang, tak jauh dari Malaikat Berdarah Biru telah berdiri tegak sosok perempuan cantik berpakaian warna hitam ketat. Rambutnya panjang bergerai. Dan memang Selir Iblis!

"Ah! Untuk yang satu ini, khusus bagianku, Selir Iblis!" desah Malaikat Berdarah Biru seraya bergegas mendekati wanita cantik ini. Senyumnya menyeruak.

"Hm.... Begitu? Lantas untuk ku...?" tanya Selir Iblis sambil mengedipkan sebelah matanya. Sementara tubuhnya ditegakkan sedikit, hingga dadanya yang terbungkus pakaian ketat makin kencang menantang.

"Untukmu, aku telah menyiapkan sesuatu yang mungkin akan membuatmu lebih kerasan tinggal di sini...," jelas Malaikat Berdarah Biru balas mengerdip.

"Ah...!" desah Selir Iblis seakan terkejut. Bola matanya sedikit memejam. "Tak sia-sia aku datang sebelum waktunya, jika ternyata kau telah siap menemani malam-malamku, Malaikat Berdarah Biru. "

Malaikat Berdarah Biru seakan tak mendengar ucapan Selir Iblis. Segera diraihnya wanita cantik ini.

Selir Iblis sebentar menggeliat. Namun ketika bibir Anak Agung bergerak menutup bibirnya, tangannya cepat melingkar pada leher. Langsung dibalasnya pagutan pemuda ini.

Di tengah mereka mereguk kenikmatan, mendadak berkelebat sesosok tubuh. Angin kedatangannya begitu deras, sehingga membuat Malaikat Berdarah Biru dan Selir Iblis terkejut.

"Setan alas!" maki Selir Iblis, langsung melepaskan pagutan bibirnya. "Siapa kurang ajar menghalangi kenikmatan orang, he...?!"

Selir Iblis sambil menoleh. Demikian pula Malaikat Berdarah Biru, walaupun disertai gerutuan kecewa.

Tiga tombak di sebelah Selir Iblis tahu-tahu telah berdiri tegak sesosok tubuh perempuan tua. Pakaiannya merah dengan rambut disanggul ke atas.

"Bidadari Telapak Setan!" desis Selir Iblis dengan raut wajah cemberut campur merah padam.

"Selamat datang di Teluk Gonggong, Selir Iblis. Maaf jika aku menunda kenikmatanmu. Ngg, sebaiknya biar muridku menyelesaikan urusannya dulu dengan manusia yang tergeletak itu. Setelah itu, silakan kalian bersenang-senang!" ucap perempuan berpakaian merah yang memang Bidadari Telapak Setan sambil tersenyum. Sementara, matanya melirik sekilas.

Melihat siapa yang telah menghentikan kenikmatannya, wajah Malaikat Berdarah Biru yang merah padam segera berpaling. Tanpa menoleh lagi, kakinya melangkah mendekati tubuh Rama Gita yang nampak mulai bergerak-gerak disertai erangan menyayat. "Sobatku, Selir Iblis. Sebuah anugerah tersendiri bagiku, hingga kau sudi sedikit meluangkan waktu untuk menyambuti undanganmu. Kelak jika urusan Teluk Gonggong selesai, kau akan mendapatkan imbalan besar...," sambut Bidadari Telapak Setan, setelah Malaikat Berdarah Biru melangkah ke arah Rama Gita.

"Hm.... Terima kasih, Sobatku. Tapi, perlu kau ketahui. Aku menyambuti undanganmu, bukan karena imbalan. Hidupku telah cukup, tanpa bantuan siapa pun juga!" sahut Selir Iblis.

"Begitu...?"  tanya  Bidadari Telapak Setan dengan senyum. "Lantas, apa gerangan yang membuatmu datang..?" Lama Selir Iblis terdiam.

Lalu....

"Apa kau telah mendengar munculnya seorang pemuda berjuluk Pendekar Mata Keranjang. ?"

Bidadari Telapak Setan mengangguk perlahan. Senyumnya tetap menyungging. "Apakah kau juga telah tahu, jika

pendekar itu memiliki sebuah kipas?"

Lagi-lagi Bidadari Telapak Setan hanya mengangguk.

"Dan, apakah kau juga telah mendengar kabar, bahwa gulungan kulit yang menjadi buah bibir rimba persilatan juga telah jatuh ke tangannya. ?" Kali ini Bidadari Telapak Setan tidak mengangguk. Bahkan sebaliknya mengeluarkan seruan kaget, seakan tak percaya.

"Sobatku Bidadari Telapak Setan! Aku akan turun tangan dan berada di barisanmu, jika pendekar itu datang dan ikut berlaga di sini! Jika tidak, terpaksa aku hanya akan jadi penonton!" tandas Selir Iblis.

Dengan menekan rasa terkejut, Bidadari Telapak Setan tersenyum.

"Perhelatan ini telah kusebarkan pada seluruh tokoh silat. Sebagai tokoh muda, apalagi dari jalur putih, tentu Pendekar Mata Keranjang penasaran. Dan aku yakin, dia pasti akan datang!" sahut Bidadari Telapak Setan meyakinkan.

"Bagus! Jika dia benar-benar datang, serahkan padaku!" ujar Selir Iblis.

"Hanya itu...?" tanya Bidadari Telapak Setan.

Selir Iblis tersenyum dan mengangguk.

"Hm.... Itu bisa kita atur nanti! Sekarang, sebaiknya  kau ikut ke tempatku. Malaikat Berdarah Biru biar menyelesaikan tugasnya dulu!" ajak Bidadari  Telapak Setan  dengan mengerling. Tubuhnya lantas berbalik dan langsung berkelebat ke arah gubuk. Dengan wajah bersemu merah, Selir Iblis cemberut. Lantas kakinya melangkah ke arah Malaikat Berdarah Biru yang masih tegak mengawasi Rama Gita.

Melihat kedatangan Selir Iblis, Malaikat Berdarah Biru segera mengalihkan pandangan. Dan bibirnya melepas senyum menatap Selir Iblis.

Selir Iblis berkelebat. Dan tahutahu, dia telah berdiri tegak tepat dihadapan Malaikat Berdarah Biru. Dan belum sempat pemuda itu berbuat apaapa Selir Iblis telah memeluk dan mengecup bibirnya.

Sejenak Malaikat Berdarah Biru kaget. Namun sesaat kemudian, telah membalas kehangatan bibir Selir Iblis. Tapi saat tangan pemuda ini bergerak hendak mengelus punggung, Selir Iblis telah menarik tubuhnya dan berkelebat kearah gubuk.

"Anak Agung! Selesaikan dulu tugasmu. Segalanya akan kau nikmati, setelah malam menjelang nanti....

Hik.... Hik.... Hik. !"

"Sialan!" gerutu Malaikat Berdarah Biru sambil melengos dan memaki tak karuan. Dan begitu Selir Iblis telah tidak kelihatan lagi, segera diawasinya Rama Gita yang masih bergerak-gerak.

"Nyawamu akan ku perpanjang hingga malam purnama, Bangsat!" desis Malaikat Berdarah Biru. ***

6

Dua sosok tubuh tampak memacu cepat kuda tunggangannya. Hentakan ladam besi kaki-kaki kuda ditingkahi teriakan penunggangnya seakan menyentak desa kecil pinggiran Pantai Sendang Biru.

Mendekati sebuah kedai yang terletak di ujung desa, kedua sosok itu tak juga menghentikan kuda tunggangannya. Malah kedua kaki mereka dikepakkan ke pantat kuda masingmasing. Sehingga, kuda tunggangannya itu melonjak kaget dan mengeluarkan ringkikan keras, sebelum akhirnya melesat lebih cepat menuju arah Pantai Sendang Biru.

"Semoga kedatangan kita tiga hari sebelum waktunya ini bisa memberikan gambaran lebih jelas tentang apa maksud di balik undangan itu...!" kata sang penunggang di sebelah kanan, mendadak memperlambat lari kudanya.

"Betul! Tapi menurutmu, apakah Guru akan menyambuti undangan ini...?" tanya si penunggang di sebelah kiri juga memperlambat lari kudanya.

"Ternyata dia seorang gadis muda belia. Pakaiannya agak ketat berwarna coklat bergaris-garis. Wajahnya cantik. Sepasang matanya tampak sayu namun tajam berkilat-kilat. Rambutnya panjang sepinggang. Hidungnya mancung serta bibirnya mungil.

"Aku tak bisa menduga, karena beliau juga menunggu berita dari penyelidikan kita ini. Tapi, nanti akan kucoba mengajukan usul agar beliau tidak usah datang. Lebih baik, kita yang datang mewakilinya," sahut penunggang kuda di sebelah kanan.

Dia ternyata seorang pemuda tampan. Alis matanya tebal dan menukik tajam. Sepasang matanya menyorot berbinar. Di sela pakaiannya yang berwarna coklat bergaris-garis, tepatnya di bagian pinggang, tampak menyembul sebuah trisula berwarna kuning keemasan.

Hampir mencapai belokan menuju pantai, mendadak....

Werrr. !

"Heh?!"

Kedua anak muda ini dikejutkan sebuah suara yang kemudian disusul melesatnya sebuah selendang berwarna hitam. Selendang itu bergerak cepat meliuk-liuk. Satu tombak hampir menghantam mereka, mendadak selendang itu berubah mengeras. Dan bagai sebuah potongan besi hitam berputar-putar, selendang itu menghujam ke arah dua penunggang ini.

"Hup!" Begitu menyadari adanya bahaya, kedua penunggang ini melenting hampir bersamaan ke udara, setelah menyapu pantat kuda masing-masing. Seketika kedua binatang itu kaget dan melonjak ke depan. Tapi selendang yang telah berubah menjadi seperti potongan besi itu bergerak sangat cepat. Hingga...

Tak! Tak! "Hieeekh...!"

Walau binatang itu selamat dari hantaman keras potongan besi hitam, namun tak urung kedua kaki belakang masing-masing terhantam. Binatang itu kontan terguling, diiringi ringkikan keras. Sebentar kuda-kuda itu menggelepar, akhirnya diam tak bergerak dengan kaki tertekuk!

Begitu mendarat, kedua anak muda ini saling berpandangan.

"Adik Sakawuni, hati-hati! Penyerang pengecut ini rupanya memiliki kepandaian tinggi!" bisik pemuda pada gadis di sebelahnya.

Gadis  yang dipanggil  Sakawuni mengangguk perlahan. Matanya berkilat mengawasi ke arah potongan besi hitam. "Kakang Pandu!  Belum sampai tujuan, rupanya telah ada kerikil penghalang!" kata  Sakawuni  tanpa

menoleh.

Baru saja kata-kata Sakawuni selesai selendang hitam itu telah bergerak cepat ke arah Sakawuni dan pemuda bernama Pandu.

Sakawuni dan Pandu segera melompat ke samping kanan dan kiri. Dari arah samping, mereka berdua cepat melepaskan pukulan jarak jauh.

Wut! Wuttt!

Dua rangkum angin dari samping kanan dan kiri saat itu juga meluncur, menimbulkan suara menderu ke arah selendang hitam. Namun, tiba-tiba selendang kembali berubah lemas, dan meliuk-liuk menghindari serangan angin yang datang menderu.

"Keluarlah kau! Jangan hanya sembunyi seperti kucing karung!" bentak Pandu, lantang.

"Hik.... Hik.... Hik...!"

Sebuah suara tawa menyambuti bentakan Pandu.

"Kalian belum waktunya melihatku, Bocah-bocah! Lihat selendangku dulu!"

Begitu kata-kata itu lenyap selendang itu bergerak kembali, mengeluarkan suara bersiutan dan melabrak ke arah Sakawuni dan Pandu.

"Kakang Pandu! Gunakan jurus 'Kilat Halilintar'!" seru Sakawuni seraya menakupkan kedua tangannya di depan bahu kanan. Matanya memejam.

Sementara, Pandu pun segera berbuat sama. Begitu membuka, tangan mereka didorong ke depan.

"Heaaah...!" Srat! Srat! Seketika beberapa larik gelombang bergaris-garis yang berkilat melesat. Namun, selendang yang meliuk-liuk itu kali ini tak bisa lagi menghindar. Dan....

Bret! Bret!

Terjadi keanehan. Begitu larikan gelombang garis berkilat menghantam telak, selendang itu mengeluarkan asap hitam.

"Lumpuhkan!"

Terdengar nada perintah dari balik pohon. Dan mendadak, kepulan asap hitam lenyap. Bahkan kini berganti dengan seekor ular berwarna hitam legam mendesis-desis, langsung menyambar. Kepalanya melesat ke arah Sakawuni, sementara ekornya bergerak menghantam ke arah Pandu.

Sakawuni cepat mundur ke belakang. Sedangkan Pandu menghindar dari sabetan ekor ular dengan melesatkan diri ke atas.

Namun, tiba-tiba ekor ular yang menghantam tempat kosong segera melesat ke arah Sakawuni yang baru saja menghindar dari sambaran kepala ular.

Karena terkejut, Sakawuni tak bisa lagi berkelit. Yang dapat dilakukan hanya menyambut ekor ular itu dengan kedua tangannya.

Des! Cras! "Aaakh...!"

Ekor ular terpental. Namun, tangan Sakawuni mengeluarkan darah, karena kulit ular itu memang tajam bagai pisau. Dengan tubuh terjajar beberapa langkah sambil memegangi tangannya yang berdarah. Sakawuni menjerit.

Pandu segera menoleh. Dan saat itulah kepala ular hitam menukik deras ke arahnya.

Pandu tersentak kaget. Cepat tubuhnya merebah. Dan dengan mengangkat kakinya tinggi-tinggi, sambil berputar kepala ular itu disapunya.

Des! Cras! "Aaakh...!"

Kepala ular hitam itu kontan terbanting ke tanah. Namun seperti halnya Sakawuni, kaki Pandu tiba-tiba seperti terkena hujaman pisau dan langsung mengucurkan darah!

Selagi Sakawuni dan Pandu tercekat, mendadak ular hitam yang telah rebah ke tanah itu menggeliat. Dari mulutnya tampak keluar asap hitam. Belum sempat kedua anak muda itu berbuat sesuatu, mendadak ular itu kembali bergerak dengan cepat ke arah Sakawuni.

"Adik Sakawuni! Jangan sampai menyentuh! Menghindar saja!" teriak Pandu mengingatkan, seraya siap dengan trisula di tangannya. Sakawuni cepat melesatkan diri ke udara, dan langsung mengirimkan pukulan jarak jauh.

Wuttt...!

Desss...!

Gelombang garis-garis yang berkilat menghantam kepala binatang melata ini. Tapi bersamaan dengan itu, ekor ular cepat menyambar. Sakawuni tak bisa menghindar, karena saat ini masih berada di udara. Sehingga....

Bret! "Aaakh. !"

Tubuh Sakawuni kontan terpental. Begitu jatuh di atas tanah, tampak baju bagian perutnya menganga lebar. Sementara kulitnya berbarut-barut mengucurkan darah! Wajahnya pucat pasi. Begitu akan bangkit, tubuhnya tampak limbung dan akhirnya jatuh terduduk.

Mendapati Sakawuni terluka, Pandu marah besar. Dengan mendengus keras, pemuda ini melompat dengan trisula berdesingan ke arah kepala ular yang kini tampak diam di atas tanah.

Sementara kepala ular itu nampak diam, ketika Pandu melabraknya. Bahkan saat pemuda ini menghujamkan trisulanya ke arah kepala, ular itu tak bergeming. Hingga....

Cras! Crep!

Kepala ular kontan terhujam trisula Pandu. Tapi karena dihujamkan disertai tenaga dalam, maka trisula itu menancap dan tak bisa dicabut. Dan saat itulah....

Wut!

Tiba-tiba ekor ular berkelebat cepat dari arah belakang. Pandu terkejut. Tapi, dia terlambat untuk menghindar. Hingga....

Bret! Bret! "Aaakh. !"

Pandu terjungkal ke depan disertai lenguhan keras. Pakaian bagian belakang terkoyak. Kulitnya mengucur darah!

Tepat ketika tubuh Pandu ambruk, ular itu pun jatuh berdebam ke atas tanah.

"Hi... hi... hi. !"

Sesaat kemudian terdengar tawa panjang. Begitu suara tawa lenyap, dari balik pohon melesat sesosok tubuh. Dan tahu-tahu, sosok itu telah berdiri di samping ular yang kini diam tak bergerak.

Sejenak sosok itu mengawasi kepala ular yang tertancap trisula. Lalu tangannya dikebutkan. Ular hitam itu tampak menggeliat mengeluarkan asap.

Begitu asap sirna, kulit ular itu tampak mengelupas bagai baru saja dijilat api. Dan dari kulit ular yang mengelupas, tampak selendang berwarna hitam!

Dengan senyum, sosok di hadapan ular itu kembali mengebutkan tangannya. Maka selendang warna hitam di balik kulit ular seperti bergerak meliuk ke genggaman sosok yang di sampingnya.

Sakawuni dan Pandu sebentar melotot seakan tak percaya. Sementara sosok di samping ular yang ternyata seorang gadis itu melangkah mendekati Sakawuni.

"He....! Apa maumu sebenarnya!" teriak Pandu.

Gadis yang menggenggam selendang menghentikan langkahnya. Tubuhnya segera berbalik, menghadap Pandu. Sesaat pemuda itu terkesima. Ternyata, gadis yang menggenggam selendang berparas cantik. Rambutnya panjang sebahu. Bola matanya bulat dan berbinar. Pakaiannya biru ketat. Baju atasnya dibuat agak rendah, hingga lekukan buah dadanya nampak jelas.

"Jaga mulutmu, Bangsat! Aku yang berhak bertanya! Bukan kau!" bentak gadis jelita itu tiba-tiba dengan sorot mata menyengat pada Pandu. "Siapa kalian berdua?!"

"Kau tak perlu tahu siapa kami!" sahut Sakawuni ketus.

"Begitu...? Baik! Melihat arah kalian pasti akan menuju Teluk Gonggong! Dan kalian pasti dari golongan putih. Nah, dengar baik-baik! Aku tak suka melihat kerucuk-kerucuk golongan putih macam kalian mengotori Teluk Gonggong. Bersiaplah kalian berdua untuk menerima ajal di sini!"

Sehabis berkata, gadis berbaju biru segera mengibaskan tangannya yang memegang selendang hitam. Maka seketika selendang hitam itu bergerak meliuk, mengeluarkan angin bersiutan ke arah Sakawuni yang masih terduduk memegangi perutnya.

Karena tak mampu lagi melesatkan tubuhnya, Sakawuni hanya menghindar dengan merebahkan diri di atas tanah. Wajahnya tampak menunjukkan kepasrahan.

Tubuh Pandu sendiri tak kuasa digerakkan. Sehingga ketika melihat serangan datang ke arah Sakawuni, dia hanya bisa menggigit bibir dengan mata terpejam. Jelas, hatinya tak tega melihat Sakawuni.

Selendang hitam terus meliuk. Satu depa hampir menghantam Sakawuni, tiba-tiba....

Wesss!

Dari arah samping mendadak bertiup angin kencang memapak selendang, hingga langsung berbelok kearah samping Sakawuni dan menghantam tempat kosong.

Gadis berbaju biru cepat menarik pulang selendangnya. Sementara Sakawuni yang telah pasrah, perlahan membuka matanya tatkala dirasa selendang itu tak menghantam dirinya.

"Setan alas!" maki gadis berbaju biru, langsung menoleh ke samping.

Sakawuni cepat pula palingkan wajahnya.

Gadis berbaju biru dan Sakawuni sama-sama terkejut. Tak jauh dari samping mereka, duduk seorang pemuda berjubah lengan pendek warna hijau. Rambutnya panjang dan dikuncir ekor kuda. Sambil duduk mengipas-ngipas, bibirnya tersenyum manis pada gadis berbaju biru.

Gadis berbaju biru hampir tak percaya. Ternyata, angin dahsyat yang telah membelokkan selendangnya keluar dari kebutan kipas berwarna ungu yang ada di tangan pemuda berjubah hijau!

"Hiaaat...!"

Disertai bentakan garang, gadis berbaju biru mengebutkan selendangnya ke arah pemuda yang tak lain Pendekar Mata Keranjang. Sementara, Aji alias Pendekar Mata Keranjang 108 seperti acuh dengan selendang yang meliuk datang ke arahnya. Tapi satu depa selendang itu menerabas, kipasnya cepat dikebutkan.

Wut! Weer!

Selendang itu bagai menghantam angin dahsyat, dan mental meliuk ke arah gadis berbaju biru.

Sakawuni dan juga Pandu yang telah membuka mata tersentak melihatnya. Mata mereka masing-masing memandang tak berkedip ke arah pemuda itu.

"Siapa kau...?" bentak gadis berbaju biru dengan tatapan garang.

Sedangkan Aji sendiri seperti tak mendengar. Malah kepalanya menoleh memandang ke arah Pandu.

"Lekas bawa temanmu sedikit menjauh dari sini!" ujar Pendekar Mata Keranjang 108.

Merasa dirinya tak ditanggapi, wajah gadis berbaju biru merah padam. Dengan sekali loncat, tubuhnya telah lima langkah di depan Aji yang mulai bangkit berdiri.

Sepasang mata gadis berbaju biru mengawasi Pendekar Mata Keranjang 108 dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan dahi berkerut.

"Maaf, aku menghalangi niatmu. Aku tak suka melihat seorang gadis cantik menghabisi lawan yang sudah tak berdaya!" ucap Aji seraya memasukkan kipasnya ke balik jubah hijaunya. Matanya balas menatap dengan seulas senyum.

Ditatap demikian, wajah gadis berbaju biru melengos ke samping sambil memberengut. Namun hal ini membuat wajahnya tambah cantik di mata Aji. Sehingga untuk beberapa saat, pemuda ini memandangnya dengan tak berkedip.

"Pemuda ini berwajah tampan. Bersenjata kipas, berambut gondrong. Apakah dia yang akhir-akhir ini banyak disebut orang dengan julukan Pendekar Mata Keranjang...?" kata batin gadis berbaju biru dengan lirikan matanya.

Dengan memberanikan diri, gadis itu menatap Pendekar Mata Keranjang

108 kembali.

"He...! Siapa kau sebenarnya?!" ulang gadis berbaju biru ini, membentak.

"Aku Aji. Ngg.... Dan kau sendiri siapa, Gadis Cantik...?" tanya Aji seraya tersenyum.

Raut wajah gadis berbaju biru tambah memerah.

"Apakah kau manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang?!" gadis ini balik bertanya. Suaranya tetap ketus. Namun matanya kembali berpaling ke arah lain, tak kuasa menatap mata Pendekar Mata Keranjang 108 terlalu lama.

Aji tak menjawab. Dia hanya cengengesan sambil menarik-narik kuncir rambutnya.

"Kakang Pandu, melihat penampilan dan senjata pemuda itu, aku yakin dialah pemuda yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan orang. Pastilah dia yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang," duga Sakawuni perlahan pada Pandu yang berada di sampingnya.

Saat itu kedua anak muda ini sudah menyingkir agak jauh. Sambil mata mereka tak lepas dari Aji dan gadis berbaju biru.

"Aku pun sudah menduga demikian Sakawuni...," jawab Pandu.

Sementara itu gadis berbaju biru tampak gusar, karena pertanyaannya tak dijawab. Disertai dengusan, pandangannya kembali dipatri ke arah Aji. Ditatapnya pemuda itu dengan sorot mata menyengat.

"Jawab pertanyaanku! Apakah kau manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang!"

"Ah! Begitulah orang-orang menyebutku.... Lantas, kau sendiri siapa?" tanya Aji dengan senyumsenyum.

Gadis berbaju biru mengangguk perlahan. Lalu....

"Ha... ha... ha. !"

"Pendekar Mata Keranjang! Dengar baik-baik. Orang-orang rimba persilatan memberiku gelar Dewi Naga Hitam!" kata gadis berbaju biru tandas.

Aji hanya tersenyum mendengar gadis itu menyebutkan gelarnya.

Sementara di tempat agak jauh, Sakawuni dan Pandu ternganga. "Ah! Urusan kita bakal runyam, Kakang Pandu! Kudengar Dewi Naga Hitam memiliki kepandaian luar biasa! Dan dia juga kejam!" bisik Sakawuni.

Dalam rimba persilatan, nama Dewi Naga Hitam memang telah banyak dikenal orang sebagai tokoh hitam berkepandaian tinggi, yang sangat kejam. Dia telah malang melintang di daerah barat, dan telah banyak tokoh yang terjungkal di tangannya. Tampaknya setelah lama malang melintang, telinganya mendengar berita bahwa di Teluk Gonggong akan ada suatu peristiwa besar. Maka, dia pun lantas menuju Teluk Gonggong.

Mendapati Aji tak terkejut dengan gelar yang disebut, Dewi Naga Hitam sedikit melotot. Jelas, ini seakan sulit dipercaya.

"Hm.... Gelar bagus, cocok dengan orangnya.... Tapi. "

"Pendekar Mata Keranjang!" potong Dewi Naga Hitam. "Kebetulan, kedatanganku ke wilayah timur selain ingin tahu ada apa sebenarnya di Teluk Gonggong, juga ingin membuktikan berita besar tentang kehebatanmu. Hm..., menurut kabar, kau telah berhasil membuat tokoh-tokoh bertekuk lutut. Nah, bersiaplah!"

Sepasang mata Aji terbelalak. Senyumnya yang dari tadi menyungging, tiba-tiba lenyap, ketika Dewi Naga Hitam menghentakkan selendangnya kembali ke arah Pendekar Mata Keranjang.

Wuttt! Werrr!

Selendang yang meliuk-liuk dan kadang-kadang mengeras itu berkelebat cepat ke sana kemari, mengeluarkan desingan angin panas. Dan di lain kejap, mendadak sebuah terjangan sepasang kaki putih menyeruak di antara liukan selendang dan menghujam ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang 108.

Aji merasakan bagai ada badai yang datang menghempas, hendak melabrak tubuhnya. Maka secepat itu pula Pendekar Mata Keranjang 108 segera melesat, dan membuat putaran dua kali di udara, kalau tak ingin tubuhnya tersabet selendang dan terhantam kaki!

"Keparat!"

Dewi Naga Hitam memaki garang dengan mata mendelik. Seumur-umur baru kali ini serangan berantainya dapat dielakkan begitu mudah. Segera selendangnya ditarik pulang dan dililitkan pada pinggangnya yang ramping. Lantas kedua tangannya ditakupkan. Saat itu juga tubuhnya berputar dan meluncur ke atas. Dan sekejap kemudian, asap hitam segera melingkupi tubuhnya. Mata Aji kontan melotot menelusuri tubuh Dewi Naga Hitam yang tadi meluncur berputar ke atas. Namun baru saja mendongak, dari bawah meluruk dua gelombang warna hitam. Pendekar Mata Keranjang 108 hanya sempat melihat sekejap, dan tahu-tahu dua buah tangan menggebrak dadanya.

Desss! Desss! "Aaakh...!"

Didahului seruan keras, tubuh Aji terpental ke belakang hingga lima tombak dan jatuh bergulingan. Sambil mendengus keras pemuda ini menjejakkan tumit kakinya. Dan tubuhnya pun tegak kembali meski agak terhuyung-huyung.

"Jangkrik! Asap hitam dan putaran tubuhnya ke atas hanya tipuan belaka. Dirinya sebenarnya tetap berada di tempatnya semula. Hm. Sialan!"

rutuk Aji dalam hati sambil memegangi dadanya yang terasa terhantam benda berat. Jubah hijaunya tampak membekas telapak tangan berwarna hitam, tepat di dadanya.

"Ternyata gembar-gembor akhirakhir ini tentang dirimu hanya gombal belaka. Tahu begini adanya, aku tak akan jauh-jauh datang ke Teluk Gonggong. Percuma menghadiri undangan yang diikuti orang-orang berilmu cekak!" dengus Dewi Naga Hitam dengan senyum mengejek.

Murid Wong Agung ini menggeram marah. Pelipisnya bergerak-gerak. Tanpa menghiraukan dadanya yang masih terasa nyeri, cepat dipersiapkannya pukulan ke tiga 'Gelombang Prahara'!

"Hiaaa...!"

Dibarengi bentakan, Pendekar Mata Keranjang 108 mendorongkan tangannya ke depan. Sementara Dewi Naga Hitam yang memandang remeh diam seakan menunggu.

Wesss...!

Saat itu gelombang angin yang mengeluarkan suara bagai prahara melesat ke arah Dewi Naga Hitam.

Wanita kejam ini terkejut. Buruburu kedua tangannya segera ditakupkan ke dada dan disentakkan menghadang serangan.

"Hih...!"

Namun karena Dewi Naga Hitam agak terlambat dalam memapak serangan, akibatnya....

Glarrr. !

"Aaakh.,.!"

Setelah terjadi gelegar hebat akibat bertemunya dua kekuatan dahsyat, tubuh Dewi Naga Hitam terpental jauh dan menghantam pohon disertai jeritan dari mulutnya.

Pakaian biru Dewi Naga Hitam bagian dada tampak terkoyak. Sehingga, buah dadanya yang putih kencang terlihat jelas. Dan sesaat kemudian, kulit dada yang putih itu merebak warna merah seperti terpanggang api. Kedua matanya yang berbinar terbelalak. Dari sudut-sudut bibirnya tampak mengalir darah kehitaman.

Namun hebatnya, dalam keadaan demikian, Dewi Naga Hitam segera menyentakkan tangannya ke tanah.

Brolll! Wesss...!

Tanah itu mendadak terbongkar. Dan tiba-tiba, dari bongkahan tanah serangkum angin berhembus kencang, melambungkan tubuh Dewi Naga Hitam. Di udara wanita itu membuat gerakan berputar. Dan dengan sedikit tergontai-gontai, kakinya mendarat.

"Pendekar Mata Keranjang! Kutunggu kau malam purnama di Teluk Gonggong! Kau akan rasakan pembalasanku nanti!" dengus Dewi Naga Hitam, dingin.

Selesai berkata, wanita berhati iblis ini segera melesat. Namun saat yang sama dilemparkannya sebuah benda bulat sebesar telur berwarna hitam ke arah Sakawuni dan Pandu.

"Cepat menyingkir!" teriak Aji, memperingatkan.

Namun rupanya Sakawuni dan Pandu hanya ternganga. Mereka begitu terkejut, sehingga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Untungnya, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat menyadari keadaan. Segera tubuhnya melesat. Dan.... Bet! Bet!

Tubuh Pandu dan Sakawuni langsung melayang bagai terdorong angin keras. Dan keduanya hampir tak percaya, saat menoleh ternyata mereka telah berada dalam gapitan tangan Aji. Tubuh Pandu di sebelah kanan, sementara Sakawuni berada di sebelah kiri.

Empat tombak dari tempat Pandu semula, Pendekar Mata Keranjang 108 mendarat. Dan……

Glarrr...!

Tepat ketika Aji mendarat, terdengar gelegar hebat di tempat Pandu semula.

"Terima kasih, Pendekar Mata Keranjang! Budimu tak akan kulupa...!" ucap Pandu sedikit menjura hormat. Sedangkan Sakawuni hanya tersipu-sipu. Namun, matanya melirik ke arah Aji.

"Ah! Simpan dulu penghormatanmu itu! Aku percaya, kalian berdua mempunyai ilmu yang tak bisa dipandang enteng. Namun, untuk menghadapi peristiwa di Teluk Gonggong, masih membutuhkan waktu lagi. Nah! Kalau aku boleh usul, sebaiknya kalian kembali saja!" ujar Aji sambil memandang ke arah Sakawuni.

Sakawuni menunduk. Wajahnya bertambah merah.

"Baiklah, Pendekar Mata Keranjang! Dan.... Jika peristiwa Teluk Gonggong telah selesai, kau kami undang untuk datang ke tempat kami. Guru kami pasti akan gembira sekali...," sahut Pandu sambil mengerdipkan mata pada Sakawuni.

"Jika ada umur panjang dan ada kesempatan, aku akan mampir ke tempat kalian. "

"Ngg.... Apakah Pendekar telah tahu siapa dan tempat tinggal kami?" tanya Pandu sedikit heran.

Aji tersadar, kalau belum tanya tentang diri dua anak muda di depannya. Dan, di mana tempat tinggal mereka.

"Ngg.... Siapa kalian berdua? Dan, di mana tempat tinggal kalian...?" tanya Aji seakan tak ada kejanggalan.

Pandu hanya menggeleng, sambil tersenyum.

"Aku, Pandu. Dan ini Sakawuni, adik seperguruanku. Kami bertempat tinggal di Lembah Sumber Ayu!" jawab Pandu, akhirnya.

Mendengar penuturan Pandu, mendadak Aji terlonjak. Matanya menyorot tajam pada Pandu.

"Jadi...? Kalian berdua kenal Ageng Panangkaran?!" tanya Pendekar Mata Keranjang 108.

"Bukan hanya kenal. Bahkan beliau adalah guru kami!" jawab Pandu.

"Ah, kebetulan sekali. Bagaimana beliau sekarang? Apakah sudah sembuh?" Kali ini Pandu dan Sakawuni yang terkejut. Mereka heran, dari mana Aji tahu jika Ageng Panangkaran baru saja sakit?

"Pendekar tahu perihal guru kami...?" tanya Pandu, heran.

"Begitulah...," kata Aji perlahan. "Sampaikan salamku padanya. Setelah urusan Teluk Gonggong selesai, aku akan pergi ke sana. Sekarang aku harus pergi. Ada sesuatu yang arus kuselesaikan. "

Selesai berkata, Pendekar Mata Keranjang 108 melempar pandangan pada Sakawuni. Dan sebelum berkelebat pergi, mata kirinya mengerdip nakal.

Wajah Sakawuni bersemu merah dan agak jengkel. Namun yang keluar malah senyum di bibirnya.

"Julukannya memang pantas dengan orangnya! Hm.... Tapi menarik juga tampangnya...," kata batin Sakawuni, sambil matanya mengikuti arah berkelebatnya Aji.

"He.... Kau sedang melamun. ?"

ledek Pandu.

Sakawuni cemberut, lalu bergegas pergi mendahului Pandu. Dengan senyumsenyum, Pandu mengikuti dari arah belakang.

"Pendekar Mata Keranjang. Ah! Orangnya memang menyenangkan. Tak heran jika banyak gadis tertarik padanya...," kata Pandu agak keras. Sakawuni menoleh. Namun saat melihat Pandu tersenyum, gadis ini ikut tersenyum. Wajahnya tampak ceria, meski jalannya agak tergontai-gontai karena terkena pukulan selendang Dewi Naga Hitam.

***

7

Menjelang malam purnama bulan ketiga. Sang surya penerang jagat raya baru saja kembali ke peraduannya. Bias sinarnya yang berwarna kemerahan masih tampak menerangi langit bagian barat, lalu perlahan-lahan meredup dan lenyap sama sekali. Kini gelap penuh telah membungkus bumi. Dan bersamaan dengan itu, dari arah timur sang rembulan mulai keluar dari lintasan awan. Bentuknya yang bulat penuh berwarna keputihan, membuat bumi sedikit terang.

Saat keremangan demikian, bagai burung-burung malam yang pulang kandang, tampak berkelebatan beberapa sosok tubuh dari berbagai arah menuju satu tempat. Teluk Gonggong. Ada yang berkelebat berbarengan berjumlah dua atau tiga orang. Dan, ada juga yang bergerak sendirian.

Begitu sosok-sosok bayangan itu mencapai Teluk Gonggong, di antara mereka ada yang langsung mendekam di balik gugusan batu padas. Dan, ada pula yang tegak berdiri seraya memandang ke sekeliling.

Sementara bulan bulat merayap makin ke titik tengah. Sehingga membuat bumi semakin terang benderang. Dalam suasana agak terang, tampak sesosok bayangan lain berkelebat cepat. Dan, dia tahu-tahu telah berdiri di atas satu gundukan batu padas.

"Manik Angkeran!"

Terdengar suara panggilan dari balik batu padas.

Sosok yang baru datang dan berdiri di atas batu padas memang Manik Angkeran. Dia sejenak menebar pandangan ke sekeliling dataran teluk. Namun karena dataran teluk itu banyak diseraki batu-batu padas, dia tak dapat segera tahu siapa saja orang yang ada di baliknya.

"Siapa pun yang segolongan denganku, harap tak jauh dari tempatku berdiri!" kata Manik Angkeran agak keras.

Begitu mengetahui siapa yang baru saja berucap, dari balik batu padas tampak beberapa kepala menyembul. Dan mereka langsung berkelebat ke arah Manik Angkeran.

"Manik Angkeran! Undangan macam apa sebenarnya ini...?" tanya seseorang tanpa menunjukkan dirinya.

"Aku pun masih belum begitu jelas. Namun yang pasti, kita harus hati-hati! Orang-orang golongan sesat nampaknya mempunyai maksud jelek di balik undangan itu!" jawab Manik Angkeran, tanpa menoleh.

Sepasang mata Manik Angkeran tampak mencorong tajam, memandang ke arah gubuk. Dari dalam gubuk, tampak mulai berkelebat beberapa sosok tubuh yang langsung menyelinap kebalik gundukan batu padas. Sedangkan dua sosok bayangan lainnya tampak berdiri berjajar di atas gugusan batu padas paling tinggi.

"Guru! Hingga tengah malam, aku tak menangkap kedatangan orang yang kita inginkan! Apakah orang itu tak datang...?" tanya sosok yang berdiri di atas gugusan batu padas paling tinggi.

Sosok itu ternyata seorang lakilaki berjubah toga warna merah menyala. Siapa lagi kalau bukan Malaikat Berdarah Biru? Saat bicara kepalanya sama sekali tak menoleh pada orang di sampingnya yang dipanggil guru.

"Kau tidak usah cemas, Anak Agung! Pemuda itu pasti datang. Kalaupun tidak datang, jangan khawatir. Korban-korban Teluk Gonggong telah berdatangan. Cita-citaku menjadikan Teluk Gonggong sebagai kubangan darah dan makam tak bernisan bagi para tokoh silat golongan putih akan tercapai malam ini! Juga citacitamu menggenggam puncak pimpinan rimba persilatan, tak lama lagi akan terwujud!" kata sosok yang dipanggil guru.

Sosok itu ternyata seorang perempuan tua berpakaian warna merah. Rambutnya panjang dan disanggul ke atas. Dia tak lain Bidadari Telapak Setan, guru Anak Agung yang berjuluk Malaikat Berdarah Biru.

"Guru! Mana kira-kira orang yang berpihak pada kita...?" tanya Malaikat Berdarah Biru seraya menebar pandangan.

"Sahabat-sahabat yang sealiran dengan Bidadari Telapak Setan, harap unjukan diri!" ujar Bidadari Telapak Setan lantang.

Kejap itu juga, dari balik gundukan batu-batu padas muncul beberapa sosok tubuh. Mereka langsung berdiri berhadapan dengan beberapa orang yang ada di sekitar Manik Angkeran.

Pada saat yang sama, beberapa orang yang masih mendekam di sekitar Manik Angkeran segera pula unjuk diri dan tegak berdiri.

Di bawah sinar rembulan kini jelas, di dataran Teluk Gonggong tampak dua kubu saling berhadaphadapan. Kubu sebelah kanan tampak beberapa orang yang menampakkan ketenangan. Pakaian mereka sebagian besar putih-putih. Mereka berdiri di sebelah Manik Angkeran. Sementara, kubu yang di sebelah kiri tampak beberapa orang berwajah beringas dan tak menampakkan gurat keramahan. Mereka berdiri tak jauh dari Bidadari Telapak Setan dan Malaikat Berdarah Biru. Pakaian mereka sebagian berwarna gelap.

"Mereka semua adalah calon korban, Muridku!" kata Bidadari Telapak Setan perlahan.

Malaikat Berdarah Biru hanya mengangguk pelan disertai seringai di bibir.

Malam terus merambat pelan. Suasana di dataran Teluk Gonggong tampak tegang, meski tak ada suara yang terdengar. Saat tengah malam tepat, tiba-tiba dari gugusan batu padas yang paling tinggi, Bidadari Telapak Setan mengangkat tangan kanannya. Lalu....

"Aku, Bidadari Telapak Setan penghuni Teluk Gonggong menghaturkan terima kasih kepada kalian yang telah sudi meluangkan waktu untuk datang ke sini. Perlu kalian ketahui, undangan ini dimaksudkan agar kalian menyaksikan sendiri bahwa pada malam ini, muridku yang bergelar Malaikat Berdarah Biru, menyatakan diri sebagai pimpinan tokoh-tokoh silat. Baik itu dari golongan putih, atau dari golongan hitam. Dan dengan demikian, semua urusan yang menyangkut dunia persilatan harus sepengetahuan Malaikat Berdarah Biru...!" teriak Bidadari Telapak Setan, mantap.

Terdengar gumaman dan seruan riuh rendah, baik dari kubu di sekitar Bidadari Telapak Setan maupun dari kubu di sekitar Manik Angkeran. Sementara Malaikat Berdarah Biru tampak berkacak pinggang sambil tersenyum. Matanya menyapu ke seluruh dataran teluk. Namun mendadak senyumnya lenyap. Pandangan matanya menuju satu arah di seberang pesisir.

"Ada seseorang baru datang...," bisik Malaikat Berdarah Biru.

Berpasang-pasang mata yang berada di dataran teluk serentak mengarah pada sesosok tubuh yang berjalan perlahan di pesisir pantai. Di terangi cahaya rembulan yang bersinar benderang, sosok yang terlihat jelas ini adalah seorang pemuda berpakaian jubah ketat lengan pendek warna hijau yang dilapisi baju dalam warna kuning lengan panjang. Rambutnya yang panjang dan dikuncir ekor kuda tampak berkibar-kibar dihembus angin pantai. Meski masih jauh, namun suara nyanyiannya yang tak bisa dimengerti, terdengar jelas di dataran teluk.

Sebelum semua tahu siapa gerangan pendatang baru ini, tahu-tahu pemuda berjubah hijau yang tak lain adalah Aji atau Pendekar Mata Keranjang 108 telah 100 berdiri di pinggiran teluk. Matanya bergantian memandang pada dua kubu secara bergantian.

Sementara, sepasang mata Malaikat Berdarah Biru langsung menyengat tajam. Tangannya serentak mengepal tanda tak Sabar. Meski pemuda bernama Anak Agung itu belum pernah berjumpa, tapi telah bisa menebak siapa pemuda berambut gondrong dan berjubah hijau ketat berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108.

Semua kepala yang berada di dataran Teluk Gonggong melenggak heran. Karena, pemuda itu sepertinya tak acuh. Bahkan terus menyanyikan lagu tak karuan. Namun, sepasang matanya terus berkeliling mengawasi.

"Pendekar Mata Keranjang panggil Manik Angkeran sambil menggelenggeleng.

"Pendekar Mata Keranjang ...?" gumam orang-orang yang di sekitar Manik Angkeran. "Hm.... Jadi, inikah orang yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang. ?"

"Tingkahnya seperti anak sinting, tapi...." sambut yang lain.

"Berita yang tersiar, dia adalah pendekar budiman. Bahkan ilmunya sukar dijajaki. Beberapa tokoh hitam kabarnya tunggang-langgang ketika bertarung dengannya.

"Pendekar Mata Keranjang...! Akhirnya kau datang juga!" teriak seseorang yang berdiri di sekitar Bidadari Telapak Setan.

Dia adalah gadis berpakaian biru ketat yang tak lain Dewi Naga Hitam!

Serta-merta sosok-sosok yang di sekitar Bidadari Telapak Setan menggumam riuh rendah, mendengar suara lantang Dewi Naga Hitam.

"Astaga! Pemuda sinting itu rupanya!"

Salah seorang yang berada di sekitar Bidadari Telapak Setan berseru kaget. Orang yang barusan berseru adalah seorang perempuan jelita berpakaian putih ketat. Di lehernya, melingkar untaian kalung dari bungabunga hitam. Sedang di atas telinganya, tampak dua kuntum bunga berwarna hitam. Siapa lagi kalau bukan Ratu Sekar Langit?

"Sudah kuduga sebelumnya, pemuda yang katanya tanpa juntrung ini pasti akan datang ke sini. Hm.    Rupanya

dialah yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang! Ratu harus hati-hati! Meski tampak begitu, dia sangat berbahaya!" ujar orang tua di samping Ratu Sekar Langit yang tangan kanannya memegang sebuah tongkat. Dia tak lain Buyut Linggar Dipa.

Ratu Sekar, Langit hanya mengangguk perlahan tanpa menoleh.

"Pendekar Mata Keranjang ....

Hmmm..., julukan bagus. Dan, sesuai dengan pemiliknya...," desis Ratu Sekar Langit dengan pandangan tak berkedip.

"Muridku! Dugaanku tak meleset. Yang kau idam-idamkan telah datang!" kata Bidadari Telapak Setan pelan.

Malaikat Berdarah Biru yang diajak bicara tak menanggapi. Pandangannya tetap pada Aji yang tampak melangkah perlahan ke arah Manik Angkeran.

"Akhirnya kau datang juga, Pendekar!" kata Manik Angkeran. "Aku tadinya cemas. Karena, kau dan Hulubalang Rama Gita tak terlihat!"

"Apakah Rama Gita mendapat halangan...?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108.

"Aku belum bisa memastikan. Namun sungguh semangatku jadi menyala, melihat kehadiranmu...," jawab Manik Angkeran, polos.

Sesaat Aji mengawasi beberapa orang yang ada di sekitar Manik Angkeran.

"Mereka adalah teman-teman dari golongan kita, Aji!" jelas Manik Angkeran.

Aji tersenyum dan sedikit menjura pada beberapa orang di situ.

Belum selesai Aji mengangkat tubuhnya....

"Saudara-saudara! Menyambung kata-kataku tadi, perlu juga kalian ketahui. Karena malam ini adalah suatu pertemuan yang jarang terjadi, maka jika di antara kalian ada yang punya masalah, silakan selesaikan di sini! Biar nantinya tidak ada lagi persoalan yang terpendam, saat Malaikat Berdarah Biru menjadi pimpinan kalian!" sambung Bidadari Telapak Setan memancing suasana.

"Kami, golongan putih tidak ada masalah, Bidadari Telapak Setan! Dan kami tidak sudi tunduk begitu saja pada segala aturanmu! Silakan kau pimpin orang-orang yang tunduk padamu! Tapi bagi kami, golongan putih tak akan menuruti peraturanmu!" teriak Manik Angkeran.

Bidadari Telapak Setan tertawa terkekeh. Sementara, Malaikat Berdarah Biru mengalihkan pandangan pada Manik Angkeran.

"Begitu...?" kata Bidadari Telapak Setan. "Dengar, Manik Angkeran! Peraturanku mengatakan, barang siapa menolak kepemimpinan Malaikat Berdarah Biru, maka tidak akan bisa meninggalkan Teluk Gonggong dengan nyawa menempel di tubuh!"

"Tunggu!" sela gadis berbaju biru yang tak lain Dewi Naga Hitam.

Semua mata beralih pada gadis berbaju biru itu dengan tatapan membelalak. Karena, pakaian Dewi Naga Hitam di bagian dada tampak koyak hingga tak bisa menyembunyikan buah dadanya yang menyembul kencang.

"Aku datang jauh-jauh dari belahan barat, bukan untuk mendengarkan khotbah-khotbah kalian! Aku hanya ingin menjajal kemampuan manusia yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang !" teriak Dewi Naga Hitam.

Sementara Aji hanya tersenyum. Sedangkan Dewi Naga Hitam mulai melangkah ke arah Aji.

Melihat wanita itu melangkah ke arahnya, Pendekar Mata Keranjang segera pula melangkah menyongsong. Maka sekejap kemudian, mereka sudah saling berhadapan.

"Pendekar Mata Keranjang! Malam ini kita tuntaskan persoalan yang kemarin tertunda!" desis Dewi Naga Hitam.

Aji tetap tersenyum. Matanya tak berkedip menatap gugusan dada Dewi Naga Hitam yang menantang.

"Dewi Naga Hitam! Sebenarnya di antara kita tidak ada masalah! Malah persoalan kita kemarin kuanggap telah selesai. Tapi jika kau ingin meneruskan, aku hanya ikut saja!" sahut Pendekar Mata Keranjang 108, enteng.

"Dajal Ireng!" potong sebuah suara, memanggil. "Laki-laki berbaju hijau adalah bagianmu!"

Karena yang memanggil Malaikat Berdarah Biru, Dajal Ireng segera melangkah. Padahal, wajahnya merah padam karena merasa diperintah.

Sementara orang berbaju hijau yang tak lain dari Manik Angkeran segera menyongsong langkah Dajal Ireng.

Kini, di dataran teluk tampak dua orang di sebelah kanan dan dua orang di sebelah kiri telah bergerak memulai serangan.

Pada saat itu Dewi Naga Hitam cepat menjentikkan tangannya. Maka mendadak selendang hitamnya yang melingkar di pinggang lepas, langsung meliuk mengeluarkan suara mendesis ke arah Aji.

Dengan gerakan mengagumkan, Pendekar Mata Keranjang 108 segera melesat ke udara. Begitu berada di udara, cepat dikirimkannya pukulan 'Ombak Membelah Karang'!

Wusss!

Seketika serangkum angin bergulung-gulung cepat menukik ke bawah ke arah selendang itu. Dewi Naga Hitam segera menarik selendangnya. Lalu tangan kirinya segera didorong ke arah Aji. Dan. .

Blarrr!

Terdengar ledakan, membuat tanah di dataran teluk seakan terjadi gempa saat pukulan Aji dipapasi sentakan tangan kiri Dewi Naga Hitam.

Tubuh Dewi Naga Hitam tampak terjajar beberapa langkah, namun saat itu juga selendangnya dikebutkan.

Wuttt...!

Selendang hitam itu meliuk, mengeluarkan asap hitam. Tapi sebelum sempat berubah menjadi seekor ular hitam, Aji segera mengebutkan tangannya ke arah asap yang mulai bergerak-gerak.

Bret! Bret! "Keparat...!"

Dewi Naga Hitam berteriak marah, tatkala dilihat selendang hitamnya robek terbelah dua. Bahkan matanya semakin merah berkilat, saat selendang hitamnya mengepulkan asap dan berbau sangit.

Werrr...!

Selagi Dewi Naga Hitam dilanda amarah, mendadak dari arah samping terdengar suara menderu dahsyat disertai hembusan angin kencang. Dan begitu melirik sekilas, wajahnya tampak tercekat. Namun dengan menindih rasa terkejut, segera kedua tangannya ditakupkan sejajar dada. Lalu, secepat itu pula disentakkan ke arah gelombang angin yang datang dari samping.

Bret! Blar! "Aaakh...!"

Dewi Naga Hitam terpental disertai raungan menyayat. Tubuhnya langsung menerabas gundukan batu padas dan roboh.

Semua mata di dataran teluk mengarah pada Dewi Naga Hitam. Dan semua mata itu melotot, saat melihat Dewi Naga Hitam diam tak lagi bergerak.

Sementara itu, Aji yang tadi mengirimkan pukulan dari arah samping tampak terjajar dua langkah kebelakang. Begitu telah mampu menguasai diri, dia telah siap kembali.

Namun kembali semua mata di situ terbelalak. Begitu Aji telah menggerakkan tangannya, tiba-tiba Dewi Naga Hitam menghentakkan tangannya ke tanah. Tubuhnya yang tadi diam tak bergerak, melesat ke udara dan langsung berputaran. Maka saat itu juga asap hitam segera menggulung seluruh tubuhnya.

Selagi Pendekar Mata Keranjang

108 baru dongakan kepala ke atas, tiba-tiba gulungan asap hitam itu telah menukik ke arahnya. Seketika tubuhnya melompat ke samping kanan, seraya mengarahkan tangannya yang telah dialiri tenaga dalam penuh ke udara, di mana tubuh Dewi Naga Hitam tadi tergulung asap.

Asap hitam yang menukik kearah Aji tadi memang hanya tipuan. Karena begitu mencapai tanah, asap itu segera ambyar tanpa mengeluarkan akibat apaapa!

Pada saat yang sama Pendekar Mata Keranjang 108 menghantamkan pukulan ke udara. Dan....

Desss. !

"Aaakh. !"

Terdengar jeritan melengking, saat pukulan tangan Aji yang diarahkan ke atas menghantam bayangan yang hampir saja tak terlihat.

Begitu jeritan lenyap, tubuh Dewi Naga Hitam tampak luruh deras dari udara, menghujam tanah. Sebentar dari bibirnya yang menggenang darah kehitaman keluar erangan perlahan, sebelum akhirnya terkatup. Tubuhnya tak bergerak lagi dengan sepasang mata mendelik!

Sementara semua mata tertuju pada tubuh Dewi Naga Hitam yang telah kaku, sekonyong-konyong dari arah sepuluh tombak dekat gubuk terdengar bentakan dan sumpah serapah.

Ketika semua mengarah pada suara bentakan, tampak Dajal Ireng roboh terkapar. Begitu merambat bangkit, tiba-tiba tubuh Manik Angkeran berputar. Dan sesaat kemudian tubuh, Manik Angkeran telah tak bisa lagi terlihat mata!

Selagi Dajal Ireng kebingungan, mendadak berkelebat dua tangan ke arah kepalanya. Dia terkejut, tak bisa lagi menghindar. Dan....

Prak! Prak! "Aaa. !"

Kepala Dajal Ireng yang diikat kain warna hitam itu penyok. Darah segar langsung muncrat dari hidung dan telinganya! Dan sebelum tubuhnya roboh mengantuk tanah, Manik Angkeran menghantamkan kakinya.

Buk!

Telak sekali kaki Manik Angkeran mendarat di perut Dajal Ireng, membuat tubuhnya melesat kencang dan jatuh di lekukan teluk tanpa membuat bersuara lagi!

Melihat dua orang dari barisannya menemui ajal beriringan, mata Malaikat Berdarah Biru mendelik bagai ingin keluar dari rongganya.

"Anak Agung! Kau tak usah khawatir demikian rupa! Itu adalah keuntungan tersendiri bagi kita. Tanpa mengeluarkan tenaga, telah bertumbangan orang-orang yang mungkin bisa menjegal kita di tengah jalan! Dan kau tak usah cemas. Orang yang selama ini kita tunggu-tunggu, kini telah berada di sini! Aku yakin, pemuda yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang itu adalah murid Wong Agung! Gerakan dan kuda-kuda yang dimain-kannya mirip sekali dengan gurunya. Meskipun, gerakan untuk menyerang dan pukulannya baru kali ini kulihat...," bisik Bidadari Telapak Setan.

"Aku pun sudah menduga! Lihat, di balik jubah hijau ketatnya tergurat sebatang kayu kecil. Itu pasti kipas lipat!" tunjuk Malaikat Berdarah Biru seraya mengangkat sedikit bahunya.

Bidadari Telapak Setan hanya mengangguk.

"Anak Agung! Ingat! Kau jangan turun tangan d-hulu, sebelum semuanya tumbang. Kau harus simpan tenaga! Saat mereka sudah loyo, kau masih segar bugar...!" lanjut Bidadari Telapak Setan.

Selagi kesunyian masih mencekam di tempat itu, mendadak dari arah gundukan melesat sesosok tubuh. Dan tahu-tahu, sosok itu telah berdiri dengan kaki terpentang di hadapan Pendekar Mata Keranjang 108.

Sejenak mata Aji terbelalak lebar-lebar, karena pakaian sosok berbaju hitam yang kini lima langkah di depannya, pada bagian bawahnya dibuat membelah tengah memanjang. Sehingga, saat kedua kakinya terpentang, kulit putih mulus sosok itu jelas terlihat sampai hampir pangkal pahanya!

Sosok berbaju hitam itu adalah perempuan muda bertubuh bagus. Rambutnya panjang tergerai. Baju bagian atas dibuat sedemikian rupa, hingga lekukan buah dadanya tampak mempesona. Dan dia tak lain dari Selir Iblis. Senyumnya tampak tersungging tatkala melihat sepasang mata Aji yang nyalang tak berkedip memandang pahanya.

"Pendekar Mata Keranjang! Kenapa hanya memandang begitu rupa? Kau boleh menyentuh dan merabanya...! Bukan hanya itu saja. Yang ini pun boleh!"

Sambil berkata, Selir Iblis menyingkapkan kain bagian dadanya. Sehingga, setengah dari buah dada yang menantang itu menyembul jelas.

"Mendekatlah, Pendekar Gagah! Rabalah.... Jangan hiraukan mata-mata yang melihatmu! Atau kalau kau malu, bagaimana kalau mencari tempat yang jauh dari berpasang mata yang mengawasi...?" desah Selir Iblis, seraya melangkah mendekat.

Sebentar jakun Aji turun naik dengan cepat. Dadanya berdebar. Aliran darahnya mendesir kencang. Namun belum sampai tiga langkah kaki Selir Iblis.

"Aji, hati-hatilah! Jangan terjerat tipuan nafsu!"

Terdengar bisikan Manik Angkeran, membuat Aji terkejut. Buru-buru pemuda ini mengangguk perlahan.

"Tahan!"

Dua langkah lagi Selir Iblis sampai, mendadak Aji membentak garang. "Perempuan!  Sungguh   sayang sekali, aku tidak berselera dengan tubuh yang bagus itu. Bagaimana jika kau mencari saja di alam kubur...? Atau..., kau   jajakan di pinggir jalan...?!" lanjut Pendekar  Mata

Keranjang 108.

"Jahanam!" seru Selir Iblis. "Hih!"

Seketika perempuan itu menyentakkan tangannya ke depan. Maka larikan gelombang warna hitam segera berkiblat ke arah Aji.

Wesss...!

Karena begitu dekat, Pendekar Mata Keranjang 108 tak sempat menangkis dengan pukulan tangannya. Tubuhnya hanya berkelebat, namun larikan gelombang hitam itu seakan bermata. Ke mana tubuhnya berkelebat, larikan hitam menggidikkan itu terus mengikuti.

"Jangkrik! Aku tak ada ruang untuk lepaskan pukulan...," rutuk batin Aji.

"Giring ke batu padas!"

Tiba-tiba terdengar teriakan Manik Angkeran, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 tersadar. Segera tubuh Aji melesat ke gundukan batu padas. Dan begitu larikan gelombang yang mengikuti sedepa di belakangnya, tubuhnya cepat menyelinap ke balik batu padas. Lalu....

Darrr!

Gundukan batu padas kontan hancur berkeping-keping terkena larikan gelombang warna hitam. Pada saat yang sama tubuh Aji telah melesat. Dan tahu-tahu Pendekar Mata Keranjang 108

telah berdiri tiga tombak di hadapan Selir Iblis.

"Perempuan liar! Tiba waktunya bagimu menyusul teman perempuanmu tadi!" bentak Aji dengan kedua tangannya terkepal tersilang di depan dada, siap melepas pukulan 'Gelombang Prahara'.

Tapi saat Aji siap menyerang....

"Buyut Linggar Dipa, kau diundang ke sini bukan hanya untuk menonton orang berkelahi!"

Malaikat Berdarah Biru berteriak lantang dari gugusan batu padas.

Sejenak Buyut Linggar Dipa mendengus geram. Namun demi melihat Ratu Sekar Langit mengangguk perlahan, tubuhnya cepat berkelebat ke arah Manik Angkeran.

"Manik Angkeran! Akulah tandingmu!" teriak Buyut Linggar Dipa, tepat ketika Pendekar Mata Keranjang

108 melepaskan pukulan ke arah Selir Iblis.

Namun, bentakan Buyut Linggar Dipa bagai tertelan suara menggemuruh pukulan tangan Aji.

Mendapati gelombang angin yang mengeluarkan suara bagai air bah, Selir Iblis cepat pula mendorong telapak tangannya.

Brak! Bret!

Terdengar suara benturan saat gelombang angin yang keluar dari tangan Aji terpapak angin dingin yang keluar dari tangan Selir Iblis. Tapi, tenaga yang keluar dari tangan Pendekar Mata Keranjang 108 lebih kuat, sehingga tubuh Selir Iblis terpental dan melayang jauh. Untung saja perempuan itu cepat mematahkan daya dorong, dengan membuat putaran tubuh. Sebentar kemudian tubuhnya mendarat, walaupun sedikit gontai.

Aji sendiri terjajar lima langkah ke belakang dan jatuh terduduk. Namun begitu bangkit, matanya kembali nyalang melihat keadaan Selir Iblis.

Ternyata baju bagian bawah Selir Iblis yang telah membelah telah terkoyak. Sehingga, tanpa urung kaki sebelah kanannya polos tanpa penutup.

Selir Iblis sesaat jadi tertegun. Namun belum habis rasa tertegunnya, Pendekar Mata Keranjang 108 telah meloncat, hendak melancarkan serangan kembali.

Selir Iblis tak tinggal diam. Cepat pula dia meloncat mendekati Aji. Sehingga belum sempat Pendekar Mata Keranjang 108 melepaskan pukulan, dia telah mendahuluinya dengan terjangan kaki ke arah dada.

Aji tersentak. Namun cepat dia membuang diri ke tanah. Sambil memutar tubuh, kaki kanannya menggaet kaki Selir Iblis yang tegak mengimbangi tubuhnya yang sedang menerjang.

Dug! Bruk!

Tak ampun lagi, Selir Iblis terbanting deras ke tanah. Darah segar mulai mengucur dari hidungnya.

Belum sempat Selir Iblis bangkit, satu tangan Pendekar Mata Keranjang

108 menyambar cepat ke arah dada. Wuttt!

Merasa bahaya datang, Selir Iblis cepat miringkan tubuhnya. Namun tanpa diduga sama sekali, dari arah samping sebuah tangan lain menghantam tubuhnya yang sedang miring.

Des! "Aaakh...!"

Untuk kedua kali, tubuh Selir Iblis terbanting di tanah disertai keluhan tertahan. Kali ini, dari bibirnya memuntahkan darah kehitaman. Dan perlahan-lahan, kulitnya yang putih mulus berubah kebiru-biruan. Lalu di lain kejap, wajahnya yang tampak cantik berubah menjadi kisut mirip nenek-nenek. Sebentar matanya yang sayu menatap ke arah Aji yang kini berdiri tak jauh darinya. Lantas dengan suara tak dapat dimengerti, Selir Iblis terkulai dan tak bergerak lagi!

Sepasang mata Malaikat Berdarah Biru mendelik.

"Jahanam tua! Dia telah menipuku!

Ternyata dia seorang nenek-nenek!"

Mulut Anak Agung mengeluarkan serapahan panjang pendek dalam hati.

Di lain pihak, Buyut Linggar Dipa tampak terdesak hebat. Namun dalam keadaan demikian, mendadak dia sempat memukulkan tongkatnya.

Wut!

Seketika beberapa benda putih berbentuk pipih menyerupai pisau kecil melesat cepat ke arah Manik Angkeran. Dengan sedikit terkejut, Manik Angkeran cepat pula menghentakkan kalung yang kini telah diputar-putar di depan dada.

Wusss!

Seketika angin keras berputarputar kencang di depan Manik Angkeran seperti melindungi dari segala serangan yang datang dari arah depan.

Tak! Tak!

Tampak beberapa benda menyerupai pisau berpentalan, terpapak angin yang diciptakan Manik Angkeran. Namun agaknya salah satu dari benda mirip pisau itu menerobos tak terbendung.

Tak ada jalan lain bagi Manik Angkeran, kecuali harus menyambut senjata rahasia itu. Karena jika menghindar dengan menggeser tubuhnya, akan lebih banyak lagi senjata rahasia yang lolos dari angin pertahanannya. Maka secepat kilat kakinya segera dikepakkan, memapak senjata rahasia Buyut Linggar Dipa yang berhasil lolos.

Bret! Pras!

Terdengar kain terkoyak. Dan ketika Manik Angkeran melirik, tampak kulit bagian pahanya terkelupas mengeluarkan darah. Pisau kecil berwarna putih telah menancap di pahanya.

Sambil menahan sakit tak terperi, Manik Angkeran memutar lebih cepat kalung manik-maniknya. Angin keras terus berkiblat. Dan sesaat kemudian, tanpa diduga sama sekali, Manik Angkeran melemparkan kalung ke arah Buyut Linggar Dipa.

Wuttt...!

Kalung yang telah terisi tenaga dalam tinggi itu meluruk deras tak terbendung lagi, menerabas dada Buyut Linggar Dipa.

Prat! "Aaakh...!"

Tubuh Buyut Linggar Dipa kontan terjungkal disertai keluhan tertahan. Lalu keras sekali tubuhnya menghantam tanah. Pakaiannya nampak berlubang kecil-kecil, membentuk seperti manikmanik. Sekujur kulit tubuhnya bagai terjilat api, hingga merah membara. Dari hidung dan bibirnya mengucur darah. Namun dalam keadaan yang demikian itu, Buyut Linggar Dipa tetap berusaha merambat bangkit.

Rupanya Manik Angkeran tahu gelagat. Sebelum tubuh Buyut Linggar Dipa tegak penuh, tubuhnya cepat berputar dengan kaki sebelah kanan sedikit diangkat. Dan....

Set!

Alas kaki Manik Angkeran yang terbuat dari kayu seketika melesat cepat ke arah tubuh Buyut Linggar Dipa yang mulai bergerak bangkit.

Dengan rasa terkejut yang amat sangat. Namun, rupanya serangkum angin yang mendahului serangan telah menerjangnya.

Dugh!

Tubuh Buyut Linggar Dipa terhuyung hampir jatuh. Padahal pada saat itu, alas kaki yang merupakan serangan sesungguhnya, terus menerjang arah dadanya.

Buyut Linggar Dipa masih coba menyilangkan kedua tangannya di depan dada, namun....

Desss. !

"Aaakh. !"

Alas kaki itu telah lebih dahulu menghujam dada orang tua itu, hingga kembali terjatuh. Sebentar kakinya yang tampak membujur itu melejanglejang. Namun, tak lama kemudian diam tak bergerak!

Melihat keadaan ini, Ratu Sekar Langit segera menghambur ke arah Manik Angkeran, Namun, Pendekar Mata Keranjang 108 segera dapat menghalangi dengan sentakan tangan ke depan.

Werrr!

Angin menderu segera menggulung, membuat Ratu Sekar Langit segera menghentikan gerakannya. Kepalanya langsung menoleh ke arah Aji dengan sepasang mata menghujam tajam. Padahal, pada saat yang sama angin serangan Pendekar Mata Keranjang 108

masih menderu kearahnya.

Dengan jejakan kakinya, Ratu Sekar Langit melenting tinggi. Maka serangan angin dari tangan Pendekar Mata Keranjang 108 lewat menerabas tempat kosong.

Sementara, begitu mendarat Aji cepat meloncat ke arah wanita itu, tanpa gerakan menyerang.

"Tunggu, Ratu! Kuharap kau melihat keadaan ini! Tak ada untungnya mengorbankan nyawa sia-sia. Lagi pula, kalau hanya untuk mendirikan sebuah partai besar, tanpa bantuan Bidadari Telapak Setan dan muridnya aku percaya kau bisa mewujudkannya." Atau kalau Ratu perlu bantuan, aku akan senang hati membantu. "

Ratu Sekar Langit tak segera menjawab. Bibirnya tersenyum, walau terasa dipaksakan.

"Pendekar Mata Keranjang! Sungguh sayang, aku tak tertarik tenaga yang kau tawarkan! Bersiaplah menghadapi kematianmu!" teriak Ratu Sekar Langit lantang.

Saat itu juga Ratu Sekar Langit menakupkan tangannya sejajar mulut. Perlahan-lahan tangannya dibuka dan siap dihantamkan. Namun, ia jadi terheran-heran saat Aji tak juga bergerak untuk menghindar atau membuat gerakan untuk menangkis. Malah sepertinya pemuda itu pasrah! Hanya sepasang mata Pendekar Mata Keranjang

108 yang tajam memandang dalam-dalam ke bola mata bulatnya.

Ratu Sekar Langit serasa menangkap hawa aneh pada tatapan mata tajam di depannya. Semakin ditatap, hawa aneh itu serasa makin menghujam dadanya.

Dan tanpa disadari, tangan Ratu Sekar Langit yang telah siap menghantam perlahan-lahan luruh ke bawah. Pendekar Mata Keranjang 108 menarik napas dalam-dalam. Senyumnya segera menyungging. Matanya tak henti menatap bola mata Ratu Sekar Langit.

"Terima kasih.... Ternyata Ratu tidak meneruskan niat untuk menghabisiku...," ucap Aji perlahan.

"Pendekar Mata Keranjang ! Untuk saat ini mungkin tidak. Tapi di lain waktu, mungkin pikiranku berubah!" kata Ratu Sekar Langit tanpa senyum.

"Ngg.... Bagaimana dengan tawaranku tadi...?" tanya Aji sambil melirik tajam dan tetap tersenyum.

"Aku menyangsikan ucapanmu!" jawab Ratu Sekar Langit, tandas.

"Apakah rupaku mirip anak kecil, hingga kau ragu dengan ucapanku...?"

Mendengar kata-kata  Aji, Ratu Sekar Langit tak segera menjawab. Ia tampak ragu-ragu. Sementara, matanya lekat-lekat menatap pemuda tampan ini. "Aku tidak tahu. Tapi melihat tingkahmu,  kau  memang mirip anak kecil! Tapi...,  baiklah.  Kutunggu kedatanganmu di Istana Padalarang, setelah urusan ini selesai. Aku harus pergi sekarang...!" ucap Ratu Sekar Langit  seraya   berbalik  akan

meninggalkan tempat ini. "Tunggu!" tahan Aji.

Ratu Sekar Langit mengurungkan niat. Dan dia langsung berpaling pada Aji dengan tatapan tajam. "Sebelum aku datang ke tempatmu, berikan dahulu penangkal racun yang diakibatkan senjata rahasia Buyut Linggar Dipa...," pinta Aji, sedikit mengangguk.

Serentak Ratu Sekar langit menoleh ke arah tubuh Buyut Linggar Dipa yang telah tak bergerak. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca.

"Maafkan, Ratu. Ajal memang tak dapat ditolak! Tapi, percayalah. Aku sangat bahagia sekali melihat Ratu Sekar Langit keluar dari barisan Bidadari Telapak Setan... !"kata Aji, perlahan.

Bibir Ratu Sekar Langit menyungging senyum, meski guliran bening mulai menetes dari sudut matanya. Lantas tangannya terangkat. Segera dicabutnya bunga berwarna hitam yang ada di atas telinga.

"Suruh Manik Angkeran menelan bunga ini.... Dan. "

"Harap Ratu suka meneruskan katakatanya...!" pinta Aji, sedikit heran. "Selamatkan Rama Gita. Dia berada

di sela batu di pulau itu!"

Sambil berkata, Ratu Sekar Langit menunjuk pada pulau. Kemudian tubuhnya berbalik dan berkelebat meninggalkan Teluk Gonggong dengan diikuti tatapan dan senyum Aji.

Aji segera melangkah ke arah Manik Angkeran. Segera diberikannya bunga berwarna hitam pemberian Ratu Sekar Langit.

"Paman Manik Angkeran! Setelah kau telan bunga ini, harap menuju pulau itu. Rama Gita berada di sana...," ujar Aji perlahan.

Manik Angkeran mengangguk disertai ringisan, menahan rasa sakit yang kini mulai menjalar sampai perut.

 ***


Kepergian Ratu Sekar Langit

membuat para tokoh golongan putih

tersenyum. Sementara di lain pihak terdengar sumpah serapah dan makian panjang pendek.

"Jahanam! Betina itu rupanya terkena bujukan pemuda edan ini...! Saatnyalah bagiku turun tangan...!" rutuk Malaikat Berdarah Biru.

"Anak Agung! Rupanya keadaan tidak memungkinkan bagi kubu kita! Orang-orang di sekitar kita tak ada lagi yang bisa diandalkan. Ternyata, mereka hanya keroco-keroco! Sementara di pihak lawan, belum satu pun yang tewas. Ngg..., kurasa lebih baik kita cari siasat untuk mengundurkan diri.... Setelah itu, aku akan atur lagi bagaimana caranya mengadakan pembalasan!" kata Bidadari Telapak Setan.

Orang-orang golongan hitam yang berdiri di belakang Malaikat Berdarah Biru tampak menahan rasa terkejut. Wajah mereka cemas, mendengar percakapan Bidadari Telapak Setan dengan Malaikat Berdarah Biru. Namun tak satu pun yang berani bergerak.

"Guru! Ikan telah berada di telapak tangan. Lantas, apakah harus kita lemparkan kembali ke air...? Kalau kau ingin mengundurkan diri, lekas menyingkirlah!" tegas Malaikat Berdarah Biru, tanpa memandang.

Mendengar kata-kata bernada meremehkan, wajah Bidadari Telapak Setan bagai hangus terbakar. Hatinya benar-benar jengkel, betapa muridnya saat ini sudah berani kurang ajar.

"Anak Agung! Ingat! Urusanmu bukan hanya sampai di sini saja. Perebutan kekuasan di Bali masih membutuhkan pemikiran tersendiri. Jika kau tewas sekarang, betapa senangnya Rama Gita. Dia akan membawa penggalan kepalamu untuk diadili tanpa tubuhmu! Ah, bet-pa mengenaskan. Sekali ini, turuti saranku! Kita tinggalkan tempat ini. Masih banyak waktu untuk menyusun pembalasan!" kata Bidadari Telapak Setan, mengingatkan.

Bidadari Telapak Setan lantas melangkah satu tindak ke depan. "Anak Agung! Aku akan menghadapi anak keparat itu! Dan kau, lekaslah tinggalkan tempat ini. Kau tentunya tahu ke mana harus pergi!" bujuk perempuan tua itu.

Sementara, Malaikat Berdarah Biru hanya mengusap-usap janggutnya. Tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Bahkan memandang pun tidak.

Dengan raut merah padam, Bidadari Telapak Setan segera berkelebat ke arah Pendekar Mata Keranjang 108 yang telah berdiri dengan bersedekap.

"Aji! Hati-hati menghadapinya. Hindarkan tubuhmu dari benturan secara langsung dengan telapak tangannya!" ujar Manik Angkeran mengingatkan, saat melihat Pendekar Mata Keranjang 108 mulai bergerak melangkah menyambut Bidadari Telapak Setan.

Aji menoleh ke arah Manik Angkeran, dan langsung mengangguk.

Sementara, semua mata kini tertuju pada dua orang yang telah saling berhadapan.

"Hiaaat...!"

Bidadari Telapak Setan yang rupanya telah tak sabar, segera menyentakkan tangannya ke depan.

"Hm.... Akan kulayani bentrok pukulan. Usianya telah lanjut. Jadi tak mungkin tahan terus-menerus mengerahkan tenaga untuk memukul...," kata batin Aji. Secepat itu pula, Pendekar Mata Keranjang 108 memapak sentakan tangan Bidadari Telapak Setan dengan pukulan 'Ombak Membelah Karang'. Dan....

Blarrr!

Ledakan menggelegar segera menyambut, saat dua pukulan bertemu. Namun Aji sedikit terkejut, melihat tubuh Bidadari Telapak Setan ternyata tak bergeming sedikit pun.

Melihat hal ini, Pendekar Mata Keranjang 108 cepat menyiapkan pukulan 'Gelombang Prahara'. Namun baru saja Aji akan bergerak, Bidadari Telapak Setan telah menyentakkan kedua tangannya, melepaskan pukulan 'Serat Jiwa'.

Wesss. !

Seketika selarik gelombang merah disertai gemuruh, meluruk ke arah Pendekar Mata Keranjang 108. Namun secepat itu pula, Aji melempar tubuhnya ke samping seraya menghentakkan tangan ke arah gelombang yang lewat di depannya.

Blarrr!

Suasana di Teluk Gonggong mendadak terang benderang oleh bungabunga api yang berpentalan ke segala arah bagai jilatan petir. Gundukan batu-batu padas tampak berhamburan. Gubuk yang ada di tengah dataran sebentar tampak berguncang hebat, sebelum akhirnya roboh menimbulkan bunyi berderak.

Namun, lagi-lagi mata Pendekar Mata Keranjang 108 dibuat terkesiap. Tubuh renta Bidadari Telapak Setan ternyata tetap tak bergeming. Padahal pemuda itu sendiri sempat terlempar satu tombak ke belakang!

Sementara tubuh Aji terlempar ke belakang, kesempatan itu digunakan Bidadari Telapak Setan untuk menoleh kearah muridnya. Maka demi melihat Malaikat Berdarah Biru masih tegak mematung, wanita tua itu melotot garang.

"He...! Apa lagi yang kau tunggu...?!" bentak Bidadari Telapak Setan.

Malaikat Berdarah Biru mengeluarkan dengusan keras. Lalu tubuhnya berbalik dan segera melangkah kearah pesisir.

Pendekar Mata Keranjang 108 yang telah bisa menguasai dirinya, melihat murid Bidadari Telapak Setan itu hendak kabur. Maka Aji cepat bangkit akan mengejar. Tapi belum sempat bergerak....

Werrr!

Dari arah samping tahu-tahu telah menderu gelombang angin berwarna merah. Maka secepat itu Aji mengurungkan niat untuk mengejar. Dan karena tak ada waktu lagi untuk menghindar, tangannya cepat dimasukkan kebalik jubahnya.

Wuttt! Bet!

Dan sesaat kemudian, dengan kaki terpentang di tangan Aji telah menggenggam kipas ungu yang langsung direntangkan di depan dada. Lalu secepat kilat, kipasnya dikibaskan ke arah gelombang yang datang.

Blap!

Gelombang angin warna merah mendadak bagai membentur dinding, bahkan mental balik ke arah Bidadari Telapak Setan, Tentu saja hal ini membuatnya tercekat. Wajahnya tampak pucat. Namun, ia cepat menghindar dengan meloncat ke samping.

Tapi baru saja tubuh Bidadari Telapak Setan mendarat, pada saat yang sama Pendekar Mata Keranjang 108 telah melepaskan pukulan 'Gelombang Prahara'! Akibatnya, gelombang angin langsung meluruk ke arah wanita tua ini.

"Hiaaat...!"

Didahului dengan bentakan melengking, Bidadari Telapak Setan segera mendorongkan tangannya. Namun pada saat itu, Aji juga cepat mengibaskan kipasnya.

Werrr...!

Blarrr...!

Terdengar ledakan menggelegar hebat, saat sentakan tangan Bidadari Telapak Setan yang telah mengerahkan pukulan 'Serat Jiwa' bertemu pukulan 'Gelombang Prahara' milik Pendekar Mata Keranjang 108. Pijaran api tampak mengangkasa. Tanah tempat bertemunya dua pukulan itu terbongkar, menciptakan lobang cukup lebar.

Namun tanpa diduga sama sekali kedua tokoh yang sama-sama telah mengerahkan ilmu tingkat tinggi itu hanya terjajar beberapa langkah. Bahkan Pendekar Mata Keranjang 108 kembali menyentakkan tangannya, melepaskan jurus sap keempat, 'Segara Geni' dengan gerakan amat cepat.

Werrr...!

Saat itu juga melesat serangkum angin kencang yang diiringi kilatan api, menuju ke arah Bidadari Telapak Setan.

Sementara perempuan tua itu tampak tersentak dan buru-buru hendak berkelit. Namun....

Jderrr. !

"Aaa. !"

Terdengar jeritan menyayat begitu hantaman Pendekar Mata Keranjang 108

mendarat telak di tubuh Bidadari Telapak Setan. Seketika, tubuh perempuan itu melayang hingga pinggiran pesisir, lalu jatuh berdebuk keras di pasir.

Sementara Pendekar Mata Keranjang

108 segera melesat ke arah robohnya Bidadari Telapak Setan. Dan betapa sukar dipercaya. Ternyata tubuh Bidadari Telapak Setan telah hangus, menimbulkan bau sangit seperti daging terbakar!

"Hmm... Benar kata Eyang Selaksa. Pukulan sap keempat dan kelima tidak boleh digunakan secara ceroboh. Akibatnya, sungguh mengenaskan...," gumam Aji pelan. Tubuhnya lantas berbalik, hendak pergi dari tempat ini.

Namun baru beberapa tombak berkelebat Pendekar Mata Keranjang 108 menghentikan gerakannya, takkala sebuah bayangan melesat. Dan tahutahu, bayangan itu telah berdiri satu tombak di depan Aji.

"Malaikat Berdarah Biru!" desis Pendekar Mata Keranjang 108.

Tanpa banyak bicara, sosok yang memang Malaikat Berdarah Biru segera membuka serangan dan melepas pukulan 'Serat Jiwa'!

Wesss...!

Seketika gelombang angin berwarna merah melesat bergemuruh membuat Pendekar Mata Keranjang 108 terpaksa menghindar dengan melenting ke samping.

Namun Malaikat Berdarah Biru tak mendiamkan begitu saja. Kakinya langsung menjejak, sehingga tubuhnya melesat dengan kaki lurus ke arah kepala Aji.

Cepat Pendekar Mata Keranjang 108 merundukkan kepalanya, dengan tangan terangkat ke atas. Namun, mendadak murid Bidadari Telapak Setan ini menarik pulang kakinya. Bahkan dengan gerakan cepat tubuhnya melenting ke atas, langsung mendorongkan tangannya ke bawah!

Wesss...!

Gelombang angin berwarna merah kembali menukik dari atas dengan suara menggemuruh. Untung Aji masih sigap. Tubuhnya cepat dibuang ke tanah berpasir, lalu bergulingan menjauh. Sedikit saja terlambat menghindar, bukan tak mungkin tubuhnya akan melesak ke dalam pasir pantai yang kini terbongkar dan beterbangan.

"Jangkrik! Ternyata dia  lebih hebat daripada gurunya! Gerakannya cepat. Dan sepertinya hendak mengajak adu badan! Hm..., aku harus menyerang dengan jarak jauh! Peringatan Manik Angkeran pasti juga berlaku untuk Malaikat Berdarah Biru!" kata batin Aji, begitu melenting bangkit berdiri. Namun rupanya Malaikat Berdarah Biru telah membaca jalan pikiran lawannya. Baru saja pemuda murid Wong Agung ini berusaha menjauh, Malaikat

Berdarah Biru meluruk deras.

Dengan jarak dekat, Aji merasa tak ada kesempatan untuk melepaskan pukulan. Sementara, lawannya terus mengejar dengan berharap agar terjadi adu anggota badan.

Maka dengan gerakan mengagumkan Pendekar Mata Keranjang 108 menghindar dengan membuat lentingan ke depan. Sehingga terjangan Malaikat Berdarah Biru hanya menebas angin kosong.

Tepat ketika Malaikat Berdarah Biru berbalik, Pendekar Mata Keranjang

108 telah mendarat sepuluh torn bak dari tempat semula.

"Sial!" dengus Aji.

Saat itu juga Pendekar Mata Keranjang 108 mengepalkan kedua tangan dan menyilangkannya di depan dada. Segera dibuatnya gerakan jurus 'Gelombang Prahara'.

"Hih...!"

Pada saat yang sama, murid Bidadari Telapak Setan ini telah menyentakkan tangannya, melepaskan pukulan 'Serat Jiwa'. Maka dari kedua telapaknya meluncur gelombang merah yang menderu tajam.

"Heaaah...!"

Begitu gelombang itu satu depa lagi menghantam, Pendekar Mata Keranjang 108 menghentakkan tangannya pula. Dan....

Glarrr. !

Pantai Sendang Biru bagai terhempas ombak dahsyat begitu terjadi ledakan dahsyat, saat dua pukulan tingkat tinggi beradu. Suasana yang mulai terang karena sang surya mulai tampak dari ujung laut sebelah timur, semakin terang benderang oleh bungabunga api yang berpijaran ke segala arah.

Tubuh Aji terlempar dua tombak ke belakang. Sementara Malaikat Berdarah Biru terbanting di atas pesisir. Dan mereka segera sama-sama merambat bangkit, saat itu juga keduanya cepat menyiapkan serangan kembali.

Tepat ketika Malaikat Berdarah menyentakkan tangannya, sesaat Aji sudah mencabut kipasnya.

Bet!

Sekali kebut, kipas itu telah terkembang di depan dada Pendekar Mata Keranjang 108. Dan begitu gelombang merah dari tangan Malaikat Berdarah Biru hampir menghantam, Aji langsung mengibaskannya ke depan.

Blarrr...!

"Aaakh..!"

Dua kekuatan berisi tenaga dalam tinggi bertemu, menimbulkan suara menggeledek. Pasir pantai tampak beterbangan, menutupi pandangan. Dan dari kepulan pasir, mencelat satu sosok tubuh. Sosok yang terbungkus jubah toga merah itu bergulingan, lalu berusaha duduk bersila.

Sementara, sosok satu lagi hanya terjajar beberapa langkah walaupun dari mulutnya memamerkan seringai kesakitan.

Pasir yang berhamburan seperti terkena angin kencang dan berhembus menuju satu arah. Malaikat Berdarah Biru berseru kaget

Begitu kepulan debu lenyap terbawa angin laut, sosok berjubah toga merah yang tak lain Malaikat Berdarah Biru tampak menggereng marah. Matanya nampak merah. Napasnya tersengal dengan dada berguncang. Dari bibirnya tampak mengalir darah segar. Jelas, dia dalam keadaan terluka dalam yang cukup parah. Sehingga, tidak bisa segera bangkit berdiri, kecuali hanya meringis kesakitan.

Aji sendiri merasakan tangannya kesemutan. Namun dia cepat mampu menguasai diri. Bahkan kini berdiri mantap dengan tangan bersedekap, menanti lawannya berdiri.

"Pendekar Mata Keranjang! Ingat! Urusan kita tidak akan habis sampai di sini! Tunggu hari pembalasanku!"

Begitu kata-katanya lenyap, Malaikat Berdarah Biru mengempos tenaganya. Dan ketika bangkit tubuhnya cepat berbalik, lalu berkelebat cepat meninggalkan tempat ini.

Sementara, Pendekar Mata Keranjang 108 tidak berusaha mengejar ketika mendadak dari dataran teluk terdengar suara riuh rendah. Begitu menoleh, Aji terkejut. Ternyata, orang-orang golongan putih telah bergerak menyongsong orang-orang golongan hitam yang telah tampak kehilangan nyali.

"Pertumpahan darah lebih lanjut harus dicegah!" gumam Aji, langsung berkelebat ke arah dataran teluk.

Dengan gerakan cepat, Pendekar Mata Keranjang 108 mencari tempat yang lebih tinggi. Dan secepat itu pula kakinya mendarat kokoh di sebuah batu padas yang tadi ditempati Bidadari Telapak Setan.

"Berhenti...!"

Beberapa orang golongan putih menghentikan langkah dan menoleh, begitu mendengar teriakan Pendekar Mata Keranjang 108.

"Harap semua dapat kendalikan diri! Tak ada gunanya pertumpahan darah diteruskan. Masalah ini kita anggap tuntas! Bagi mereka yang tidak sepaham dengan golongan putih, lekas angkat kaki dari sini!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108 lagi.

Mendengar kata-kata Aji, beberapa orang dari golongan hitam satu persatu beringsut mundur. Dan dengan wajah tertekuk mereka melangkah menuruni dataran teluk dan berkelebat ke arah pantai.

Pendekar Mata Keranjang 108 tampak menarik napas panjang dan dalam.  Setelah menyimpan kembali kipasnya ke balik jubah hijaunya, matanya   beredar  ke  sekeliling. Dirayapinya orang-orang di sekitarnya. "Kita semua harus  bersyukur, karena rencana jahat Bidadari Telapak Setan dan Malaikat Berdarah Biru bisa

dibendung!" lanjut Aji.

"Benar, Pendekar! Kami juga menghaturkan terima kasih padamu yang telah menyelamatkan dunia persilatan dari tangan keji Malaikat Berdarah Biru!" sambut salah seorang seraya menjura hormat.

Beberapa orang ikut-ikutan menjura.

"Aji..,."

Tiba-tiba terdengar panggilan yang disusul dengan berkelebatnya sosok bayangan yang memanggul seseorang di pundaknya.

"Paman Manik Angkeran...!" seru Aji agak terkejut, seraya melompat ke arah Manik Angkeran.

"Dia terluka parah. Aku harus menyelamatkannya. Karena, nyawaku juga tergantung pada kesembuhannya!" kata Manik Angkeran, seraya melirik orang di pundaknya yang tak lain Rama Gita.

"Hm.... Syukur Rama Gita masih selamat. Jika tidak, mungkin pergelangan tangan Manik Angkeran akan terputus setelah dua hari mendatang...," kata batin Aji. "Pendekar Mata Keranjang dan teman-teman dari golongan putih....

Aku mohon maaf, karena harus pergi dahulu. Semoga di lain waktu kita bisa berjumpa lagi. "

Selesai berkata, Manik Angkeran berkelebat diiringi anggukan Aji dan beberapa orang yang berada di situ.

***

Tepat ketika orang-orang golongan putih telah meninggalkan Pendekar Mata Keranjang 108 di Pantai Sendang Biru, mendadak terdengar derap ladam kaki kuda. Cepat Aji menoleh, ternyata yang datang adalah seorang dara jelita berpakaian putih menunggang kuda. Sementara, di sebelahnya tampak seekor kuda yang tanpa penunggang.

Tapi mendadak sepasang mata Aji terbelalak seakan tak percaya, melihat siapa yang datang.

"Ratu Sekar Langit! Apakah dia datang menagih janji...? Brengsek! Kenapa aku ceroboh mengumbar janji?! Lantas, bagaimana jika dia memang benar-benar menagih janji dan mengajakku ke tempatnya...?" rutuk batin Aji.

Aji segera berkelebat menyongsong kedatangan gadis berparas ayu itu.

"Ada apa, Ratu...?" tanya Aji seraya senyam-senyum bodoh. Ratu Sekar Langit menghentikan kuda tunggangannya. Sejenak matanya memandang pemuda itu.

"Manusia sunting! Apa dia sudah lupa pada janjinya yang belum selang satu hari...?" maki Ratu Sekar Langit dalam hati.

Dengan lompatan indah, Ratu Sekar Langit turun dari kudanya. Langsung telunjuknya menuding Pendekar Mata Keranjang 108.

"Pendekar Mata Keranjang! Kuharap kau tak menarik pulang segala ucapan yang telah kau katakan!" kata Ratu Sekar Langit bernada jengkel, wajahnya bersemu merah.

Aji tampak menarik napas panjang. Sementara, matanya menatap tajam pada bola mata bulat Ratu Sekar Langit.

"Ngg....Tapi...?"

"Kau tak usah bertapi-tapian, Pendekar! Aku perlu jawaban pasti sekarang juga!" sentak Ratu Sekar Langit!

Aji terdiam. Kata-kata gadis cantik itu ternyata tak meleset dari dugaannya.

Karena lama pemuda ini tak juga menjawab, dengan wajah memberengut Ratu Sekar Langit kembali naik kepunggung tunggangannya.

"Sebentar, Ratu!" ujar Aji. "Janji bohong apa lagi yang akan

kau ucapkan, Pendekar?!" Pendekar Mata Keranjang 108 lagilagi tak menjawab. Malah kakinya melangkah mendekati kuda yang tanpa penunggang. Dengan sekali jejak, tubuhnya melenting. Dan tahu-tahu, dia sudah berada di punggung kuda.

"Ratu, silakan jalan!"

Ratu Sekar Langit menoleh. Bibirnya tampak menyungging senyum. Matanya tampak berkaca-kaca. Lalu dengan masih tersenyum, tangannya menyentak kekang tali kuda tunggangannya.

Dengan senyam-senyum Aji mengikuti tarik kekang tali kuda dan berjalan menjajari. Memang sulit bagi pemuda urakan macam Aji untuk menolak tawaran menarik dari seorang gadis jelita macam Ratu Sekar Langit.

SELESAI