Serial Pendekar Mata Keranjang Eps 01 : Istana Karang Langit

 
Eps 01 : Istana Karang Langit


Sang surya merambat pelan, untuk kemudian tenggelam di ujung laut sebelah barat. Bersamaan dengan itu, di bentangan kaki langit sebelah timur, samar-samar sang rembulan berwarna merah jingga mengintip dari lintasan awan. Cahayanya yang jingga kemerahan mulai semarak mengusap permukaan bumi.

Pada saat yang demikian di tepi pantai Laut Utara yang bergelombang dahsyat tampak dua sosok tubuh sedang berdiri dengan sikap tegang menghadap ke tengah laut. Ternyata mereka adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Yang laki-laki berbaju putih agak kusam. Wajahnya kuning pucat. Kulit mukanya tampak dipenuhi kerutan pertanda usianya sudah tidak muda lagi. Kumisnya hitam legam, lebat dan panjang sehingga dia kelihatan seperti tidak memiliki bibir. Rambutnya yang panjang melambai-lambai dipermainkan angin laut.

Namun yang membuatnya kelihatan angker adalah wajah yang kuning pucat itu hanya memiliki mata di sebelah kiri! Sedangkan yang sebelah kanan hanya merupakan rongga yang menjorok ke dalam.

Ada pun yang perempuan berwajah tiada bedanya dengan laki-laki di sampingnya. Kuning pucat. Kulit wajahnya juga telah dihiasi garis-garis ketuaan. Anehnya kulit wajahnya bertolak belakang dengan kulit dan bentuk tubuhnya. Kulit tubuhnya tampak putih mulus dan kencang.

Bentuk tubuhnya padat. Pinggulnya besar dan dadanya membusung menantang. Tubuh perempuan yang dibungkus pakaian putih tipis dan ketat ini tampak demikian menggiurkan. Di atas lobang hidung sebelah kanan tampak melingkar anting-anting warna hitam yang terbuat dari akar laut. Bibirnya tipis, berwarna merah saga.

Meski tak muda lagi, tubuh mereka tampak kokoh. Tak ada suara yang keluar dari keduanya seolah-olah tak menghiraukan air laut yang telah membasahi kaki dan pakaian bagian bawah. Pandangan mereka lurus ke laut. Tampak di sana seorang nelayan sedang mendayung sampan merapat ke pinggir pantai.

Begitu sampan sudah merapat, laki-laki bermata satu itu langsung saja melangkah mendekat.

“Hei! Aku ingin pinjam sampanmu!” teriak laki-laki bermata satu pada sang nelayan yang akan beranjak turun dari sampan. Begitu menoleh sang nelayan sedikit terkejut. Bibirnya coba tersenyum, namun terlihat kecut.

“Pinjam bagaimana, Den?” tanya sang nelayan dengan badan sedikit membungkuk untuk menghormat.

“Bawa aku bersama temanku ini ke tengah laut! Kami ingin menikmati indahnya bulan purnama di sana...!” 

“Wah! Maaf, Den. Aku sudah dua hari melaut! Istri dan anakku tentu sudah cemas menunggu! Jadi aku harus cepat-cepat sampai di rumah! Lagi pula...”

“Hm... Aku tahu. Tapi jasamu tidak cuma-cuma,” laki-laki bermata satu memotong.

“Yang Aden maksud...?”

Dari balik baju putihnya laki-laki bermata satu mengeluarkan sebuah logam berwarna kuning. Di bawah jilatan cahaya rembulan, logam itu tampak berkilauan. Kemudian kakinya melangkah dua tindak, seraya menyodorkan logam kuning yang ternyata uang emas itu kepada sang nelayan.

Begitu melihat uang emas, mata sang nelayan kontan terbeliak seolah tak percaya. Kemudian matanya beralih dan memandang lekat-lekat ke arah laki-laki bermata satu di depannya, seakan minta jawaban.

Melihat sang nelayan masih termangu, laki-laki bermata satu meloncat menarik tangan sang nelayan. Lalu ditaruhnya uang logam di telapak tangan laki-laki setengah baya itu.

Sebentar kemudian laki-laki bermata satu itu sudah meloncat ke atas sampan dengan gerakan indah sekali. Sang Nelayan yang tangannya ditarik, mau tidak mau ikut meloncat dengan gerakan seadanya. Tanpa berkata perempuan berpakaian putih dan tipis itu turut meloncat pula ke atas sampan. Tak lama kemudian sampan telah bergerak perlahan menuju tengah laut.

“Sunti! Jika tak mendayung sendiri, aku khawatir kita akan terlambat!” kata laki-laki bermata satu, sambil menoleh ke arah perempuan yang berdiri di sampingnya.

Perempuan bernama Sunti ini hanya memandang dan mengangguk. Bersamaan dengan anggukan kepala Sunti, laki-laki bermata satu lalu beranjak ke depan, mendatangi sang nelayan yang tengah mendayung dengan perlahan.

“Huh! Kulihat kau sudah sangat lelah! Biar aku saja yang mendayung! Kau istirahatlah!” ujar laki-laki bermata satu. Lagi-lagi tanpa menunggu jawaban, laki-laki bermata satu segera mengambil dayung dari tangan sang nelayan.

Sementara Sunti tak tinggal diam. Begitu sang nelayan melangkah dan duduk, perempuan itu cepat beranjak mendekati laki-laki bermata satu. Segera diambilnya salah satu dayung dari tangan kiri sang laki-laki. Saat itu juga sampan meluncur cepat begitu dua orang ini menghujamhujamkan dayung yang terbuat dari kayu ke arah gelombang laut yang mengganas. 

Sampan pun lerus membedah kedahsyatan gelombang, membantingbanting para penumpangnya.

“Hmm... Di batu karang yang menjulang paling tinggi itulah bajingan itu mendekam!” laki-laki bermata satu menunjuk seraya memandang tak berkedip ke arah batu karang yang menjulang di tengah laut dengan satu matanya.

“Semoga tidak salah alamat, Kakang Sangsang. Agar perjalanan kita yang jauh ini tak sia-sia!” sahut Sunti sambil menoleh ke arah laki-laki bermata satu yang dipanggil Sangsang.

“Hmm... Kalau kita sampai di tempat lebih cepat dari perkiraan, berarti harus menunggu sesaat. Dan kesempatan itu bisa kita gunakan untuk menyelidik!” gumam Sangsang masih tak mengalihkan pandangan.

Sunti tak menyahuti.

“Hmm... Aku melihat tanda-tanda keganjilan di puncak batu karang itu! Lihat...!” sambung laki-laki bermata satu sambil mengarahkan telunjuk tangan kiri ke batu karang tinggi yang diapit beberapa batu karang.

Beberapa batu karang yang seperti berputar mengelilingi batu karang yang menjulang tinggi itu tampak hitam kemerahan diselaputi cahaya bulan purnama. Tetapi pada bagian tengahnya bagai luput dari terpaan cahaya sang rembulan, karena tersaput kabut dan terbuntal asap putih sehingga bentuknya mirip bongkahan awan besar yang mengapung di atas lautan.

“Meski pun Kakang melihat dengan hanya satu mata, namun aku tak ragu. Aku yakin pandangan Kakang lebih tajam dari pada pandangan orang bermata dua!” sahut Sunti yang bertubuh sintal seraya matanya mengerling nakal.

Sangsang mengalihkan pandang ke arah Sunti. Matanya yang hanya satu menusuk tajam ke arah dada perempuan itu. Kumisnya yang lebat bergerak-gerak sedikit, mengikuti sunggingan bibir yang tersenyum di baliknya.

Sementara itu, meski matanya lurus ke depan tetapi sepertinya Sunti tahu jika dia sedang dipandang. Dadanya yang kencang dan berbentuk bagus tampak sengaja dibusungkan. Apa lagi kain putih tipisnya lekat pada tubuhnya akibat tertiup angin laut yang kencang.

Tetapi mendadak Sunti memberengut. Kala menoleh, ternyata laki-laki di sampingnya telah kembali menatap ke depan, sementara tangannya sibuk menghujamkan dayung ke gelombang laut di bawahnya. Sambil mendengus kesal, perempuan itu kembali mengarahkan pandangan ke depan sambil mengayunkan dayung. 

Sampan ini lebih deras melaju ke depan, menuju ke batu-batu karang yang mengurung batu karang tinggi menjulang dan berkabut. Tak lama kemudian sampan itu mencapai salah satu batu karang. Namun belum sampai merapat, Sangsang dan Sunti sudah melompat ringan. Begitu mendarat, tubuh keduanya sudah tegak di atas sebuah batu karang.

“Pulanglah, Ki. Anak dan istrimu pasti sudah cemas menunggu!” teriak laki-laki bermata satu dari atas batu karang kepada sang nelayan yang ternyata telah tertidur!

Sang nelayan amat terkejut, lantas buru-buru bangkit. Tapi belum juga tubuhnya tegak, Sangsang sudah mendorongkan telapak tangannya ke depan. Seketika itu juga serangkum angin deras melesat ke arah sang nelayan yang hanya terkesiap dengan mata mendelik.

Brasss!

“Aaakh...!” Angin deras pukulan laki-laki bermata satu telah menghajar dada sang nelayan.

Disertai jerit tertahan tubuh sang nelayan terbanting keras mengantuk sampan. Kembali terdengar lenguhan keluar dari mulutnya. Matanya sayu menatap dan perlahan-lahan memejam. Dan bersamaan dengan itu tubuhnya tak bergerak-gerak lagi. Mati!

“Kita harus selalu waspada, Nyai!” gumam Sangsang tanpa menoleh. “Di tempat seperti ini, tidak mustahil apa bila si bangsat Wong Agung memasang jebakan-jebakan mematikan!”

Sunti sepertinya tidak mengindahkan kata-kata laki-laki bermata satu. Dia malah mendekat dengan mulut mendesah.

“Di sini udaranya begitu dingin. Bagaimana kalau kita menghangatkan tubuh sejenak? Lagi pula...” kata Sunti lirih.

“Nyai!” Belum selesai Sunti meneruskan kata-katanya, lelaki bermata satu telah menyela tanpa menoleh. “Tiga dasa warsa aku menyiapkan segalanya! Tiga dasa warsa kita memendam bara! Dan saat ini adalah akhir dari masa penantian panjang! Aku sudah tak sabar ingin menjajal ilmu yang selama ini aku perdalam! Dan aku ingin orang pertama yang merasakan ilmuku adalah penghuni batu karang itu! Wong Agung...!”

Terdengar ada kegeraman dalam nada suara Sangsang yang berat itu. Kulit mukanya yang mengeriput agak mengencang. Mata satu-satunya berkilat membeliak.

“Simpan dulu amarahmu, Kakang! Kita masih harus menunggu hingga tiba waktunya!” sahut perempuan tua bertubuh sintal itu, meredakan amukan amarah Sangsang. 

Sunti segera melangkah ke hadapan laki-laki itu. Lidahnya dikeluarkan sedikit, lantas dijilatkan ke bibirnya yang tipis dan merah saga. Melihat Sangsang seperti tak peduli, perempuan tua bertubuh sintal itu segera melingkarkan tangannya. Dan dadanya yang tampak mulai turun naik ditempelkan ke dada Sangsang.

Laki-laki bermata satu sedikit kaget. Raut mukanya berubah seketika. Darahnya menggelegak, jantungnya berpacu lebih kencang sehingga tubuhnya panas seperti dipanggang bara. Dan pandangannya segera dialihkan ke arah wanita di depan matanya. Perlahan-lahan tangannya bergerak, menakup punggung perempuan di depannya.

“Batu karang masih terendam gelombang pasang. Malam pun belum beranjak. Sebaiknya kita tunggu sampai gelombang surut. Dan waktu menunggu bisa dipergunakan untuk...”

Belum sampai perkataan Sunti selesai, Sangsang telah menundukkan wajahnya yang sudah tampak memerah dan hangat. Dilumatnya bibir tipis Sunti dengan bibirnya. Tangannya digeserkan ke arah dada yang membukit indah. Di antara tingkah deru ombak, sekarang tubuh basah keduanya terlihat menyatu. Sesekali terdengar desahan napas panjang dan memburu.

Malam merambat semakin jauh. Perlahan-lahan di ujung laut sebelah timur, langit tampak berubah warna. Cahaya kuning kemerahan sang mentari mulai merebak, menyibak gulita malam.

Bersamaan dengan itu, batu karang tempat laki-laki bermata satu dan perempuan tua bertubuh sintal itu berada terlihat terang. Ke arah mana mata melihat, kini satu-satunya mata yang dimiliki jelas tampak sedikit membuka. Sangsang mendadak mencekal bahu Sunti di pelukannya.

“Kita harus bergerak sekarang, Nyai!” ujar Sangsang parau.

Tapi perempuan tua bertubuh sintal itu rupanya tidak mendengar katakata Sangsang. Bahkan dadanya yang kini tampak terbuka dan masih berguncang-guncang dirapatkan kembali.

“Kakang! Tiga puluh tahun kita mendekam dalam jurang Lebak Weden! Selama itu pula siang malam waktu kita hanya tersita untuk berlatih dan memperdalam ilmu. Kini ada kesempatan. Kuharap Kakang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini! Teruskanlah, Kakang...!” desah Sunti sambil tengadah memandang dagu Sangsang.

Lelaki bermata satu menunduk. Kumisnya yang lebat bergerak-gerak.

Sementara Sunti memejamkan matanya. Namun karena lama tak juga ada gerakan yang diharapkan, matanya membuka. Dan sekali ini sang perempuan terkejut. Satu-satunya mata milik Sangsang tampak merah dan memandang tanpa nafsu. Bahkan raut mukanya merah padam. 

Rahangnya mengembang. Dari bibirnya yang tertutup kumis terdengar dengusan.

“Ingat, Sunti! Kita akan menghadapi pertempuran! Dan sekarang saat itu sudah tiba! Simpan dulu gejolak nafsumu! Jika tidak, kau akan tahu akibatnya!”

Mendengar ancaman itu buru-buru Sunti melepaskan rangkulannya. Kepalanya ditarik dari dada bidang Sangsang dan tanpa menutup dadanya yang masih turun naik dan terbuka, kakinya langsung mundur dua langkah dengan kepala menunduk.

“Sunti! Kita tunda dahulu permainan ini! Untuk mencapai puncak batu karang itu kurasa kita masih harus mengeluarkan tenaga!” ujar laki-laki itu agak pelan saat Sunti beringsut dengan sedikit ketakutan.

“Ngg..., mengapa Kakang berkata begitu?” tanya perempuan tua yang bertubuh sintal itu, memandang agak heran.

Lelaki bermata satu ini tak menjawab. Hanya pandangannya diarahkan ke batu karang yang kini mulai kelihatan, seiring menghilangnya kabut dan asap putih yang menyelimutinya.

Batu karang itu tinggi menjulang. Dan sisi-sisinya hanya merupakan batu karang lurus ke atas, tanpa tanjakan dan gundukan sehingga sisisisi itu menyerupai dinding tembok sebuah bangunan.

Sunti sejenak terbelalak. Lalu ditutupnya kembali kain bajunya yang terbuka dan berumbai-rumbai tertiup angin.

“Kalau demikian halnya, sebelum kabut dan asap putih membungkus kembali, kita memang harus bergerak sekarang!” kata Sunti akhirnya.

Belum selesai perempuan itu mengucap kata-katanya, Sangsang telah berkelebat melangkahi beberapa selat kecil di antara batu-batu karang. Dan Sunti segera mengikuti.

Melihat gerakan ringan bagaikan bulu tertiup angin, dapat dibayangkan tingkat ilmu meringankan tubuh mereka. Hanya dengan beberapa kali lesatan Sangsang dan Sunti sudah sampai pada sebuah batu karang yang berseberangan dengan batu karang yang menjulang tinggi.

“Kita harus bergabung untuk bisa melewati batu karang lurus itu, Sunti! Kerahkan ilmu 'Iblis Pencakar Langit'!” perintah laki-laki bermata satu.

Tanpa pikir panjang perempuan tua bertubuh sintal itu melepaskan ikat pinggang warna kuning yang melilit pinggangnya. Dengan sekali kebut ujung ikat pinggang telah tergenggam di tangan kiri Sangsang.

Berbarengan dengan itu telapak tangan kanan Sangsang dan telapak tangan kiri Sunti yang terbuka sudah terangkat ke atas. Dengan hanya 

sekali jejak yang disertai bentakan menggemuruh, tubuh mereka lantas melayang melewati pinggiran batu karang yang lurus bagaikan tembok itu. Begitu keduanya sudah berdiri tegak di pelataran batu karang yang menjulang, matahari telah berada satu tombak dari permukaan laut.

“Wong Agung keparat! Keluarlah dari selimut hangatmu! Sekarang hari telah siang! Sambutlah kedatangan kami berdua yang akan mengantar engkau ke akherat...!” teriak Sangsang lantang dengan pandang mata satunya ke arah sebuah bangunan batu yang berada sekitar tiga puluh tombak di depan.

Teriakan lantang yang disertai tenaga dalam tingkat tinggi itu terdengar menggelegar hingga batu karang menjulang itu terasa bergetar bagai kena hempasan ombak teramat dahsyat! Bahkan ombak yang datang menggulung ke arah batu karang di bawah, terhenti barang sesaat.

Tidak ada suara sahutan. Hanya debur ombak terdengar bergemuruh menyelingi.

“Keluarlah, Tua Bangka! Terimalah takdir kematianmu hari ini...!” Lakilaki bermata satu itu kembali berteriak lantang mana kala tetap tiidak ada sahutan dari dalam bangunan batu di depannya. Sementara masih juga belum ada tanda-tanda kalau orang di dalam bangunan batu akan keluar.

“Hmmm... Rupanya kau sudah berubah menjadi pendekar ayam sayur, Wong Agung! Jadi tak heran kalau kau takut menghadapi kedatangan kami...!” teriak Sunti tak kalah menggelegarnya.

Agaknya teriakan mereka kali ini tak sia-sia. Karena...

“Sangsang...! Sunti...! Ada perlu apa sehingga kalian datang ke Karang Langit mengusik ketenanganku...?!” mendadak terdengar sahutan dari bangunan batu di depan mereka.

Suara itu menggema dan terdengar begitu dekat sehingga Sangsang dan Sunti sedikit terlonjak kaget. Tak dapat dipungkiri jika si empunya suara pastilah orang yang berilmu tinggi.

“Bajingan tua! Harap panggil kami Sepasang Iblis Pendulang Sukma! Kau tahu itu, bukan...?!” laki-laki bermata satu itu mendengus dengan menahan marah.

“Hmmm... Sangsang! Sunti! Rupanya kalian masih gila gelar! Boleh...! boleh...! Akan tetapi harus ingat! Kalian berdua adalah juga sepasang manusia yang berbuat mesum sesama saudara seperguruan...! Tentu kalian tahu itu, bukan...?!” kembali terdengar suara lantang dari dalam bangunan tanpa terlihat sosok yang keluar. 

“Jahanam bedebah! He..., Tua Bangka! Keluarlah kau! Jangan bisanya hanya main sembunyi!” bentak Sangsang sambil membuka tangannya. Lalu seketika itu pula disentakkannya ke depan.

Blarrr...!

Sebongkah batu besar yang teronggok di depan bangunan batu lantas hancur berantakan karena terkena hembusan angin pukulan jarak jauh Sangsang.

“Ha-ha-ha...! Tidak perlu menggasak batu itu jika hanya menginginkan aku keluar menemui kalian!”

Entah dari mana keluarnya, tahu-tahu di depan bangunan batu itu telah berdiri seorang laki-laki tua yang berjubah ungu dengan tatapan dingin ke arah Sangsang dan Sunti yang berjuluk Sepasang Iblis Pendulang Sukma. Rambutnya yang putih disanggul. Kumis dan jenggotnya yang panjang berwarna kemerahan. Meski pun kulit wajahnya telah tersaput kerutan, tetapi sisa-sisa ketampanan jelas nampak. Dialah sosok yang dipanggil Wong Agung.

“Kalian belum menjawab pertanyaanku! Apa keperluan kalian datang ke tempatku?” tanya Wong Agung tenang sambil tersenyum.

“Hm... rupanya usia sudah memakan ingatanmu hingga kau pikun, Tua Keparat!” gumam laki-laki bermata satu itu disertai seringai dingin.

“Oh, jadi kalian hendak memperpanjang kisah tiga puluh tahun silam?!” tanya Wong Agung sambil tertawa terkekeh sehingga gigi-giginya yang masih utuh dan putih nampak mengkilat terjilat sinar matahari.

“Hm... Kau makin cerdas, Jahanam Tua!” sela Sunti sambil memutarmutar ikat pinggangnya.

“Hm... Kalau itu yang memang kalian inginkan, sungguh sayang! Aku tak bisa melayani kalian! Aku telah mengundurkan diri dari gelanggang persilatan. Aku ingin mengisi hari-hari tuaku dengan ketenangan tanpa kekuasaan. Jadi silakan meninggalkan tempat ini!” ujar Wong Agung.

“Ha-ha-ha...! Sia-sia kami melakukan perjalanan panjang. Apalagi telah menanti sekian lama. Dan kini kami hanya kau sambut dengan ucapan sok sucimu itu, Tua Keparat!” geram Sangsang yang siap menyerang.

“Hari-hari tuaku malah tidak akan tenang sebelum bisa mengirimmu ke sangkar kematian, Tua Bangka...!” Sunti ikut angkat bicara. Matanya tak beralih nanar menatap bola mata Wong Agung.

Suasana hening sejenak. Tiada suara yang terdengar dari tiga sosok yang sekarang hanya saling pandang itu. Nyanyian burung laut yang biasa menyambut sang mentari pun seakan tidak terdengar. 

Mereka seperti sadar akan ada tanding ulang seperti tiga puluh tahun silam yang telah menggegerkan dunia persilatan, antara seorang tokoh pembela kebenaran dari Karang Langit yang bernama Wong Agung melawan sepasang tokoh sesat yang berjuluk Sepasang Iblis Pendulang Sukma.

“Bersiaplah, Tua Bangka! Hiaaaaa...!” Terdengar suara menggemuruh membangunkan keheningan dari mulut Sangsang.

Salah satu dari Sepasang Iblis Pendulang Sukma itu sudah memulai serangan dengan mendorong telapak tangan yang dialiri tenaga dalam dahsyat ke arah Wong Agung. Tetapi Wong Agung cepat memiringkan tubuhnya ke samping kiri untuk menghindari sambaran angin deras dan panas yang meluruk ke arahnya. Sayangnya bias angin pukulan tadi tak luput seluruhnya dan sempat memerahkan matanya sehingga sejenak matanya dikerdip-kerdipkan.

Mendapati serangannya begitu mudah dielakkan, Sangsang langsung menyambung dengan membuat lompatan tiga kali sehingga tubuhnya berada satu tombak di hadapan Wong Agung. Dan begitu menginjak batu karang, kaki kanannya ditebaskan ke leher Wong Agung.

Wong Agung menghindari tebasan itu dengan sedikit menekuk kakinya sehingga tubuhnya melorot ke bawah. Hasilnya, serangan Sangsang hanya menerpa angin, sejengkal di atas kepala. Kini Sangsang makin geram. Wajahnya merah padam. Giginya terdengar bergemeletak.

“Ternyata kau masih gesit, Tua Bangka! Tapi terimalah ini...!”

Bersama dengan hilangnya bentakan, Sangsang merangsek kepalan tangan ke arah dada. Kembali Wong Agung hanya menghindar dengan mendoyongkan tubuhnya ke samping, hampir menyentuh batu karang. Tapi sungguh janggal terlihat mata. Tubuh Wong Agung yang doyong hampir menyentuh batu karang, tetap lurus bagai disangga!

Tapi tiba-tiba Sangsang membuat gerakan berputar dan kakinya deras menyapu ke arah kaki Wong Agung.

Wuuuttt!

Tapi sayang terlambat! Sebelum kaki Sangsang sempat menghantam, Wong Agung telah menyentakkan tangannya ke batu karang sehingga tubuhnya yang doyong melenting ke udara, kemudian dengan ringan kakinya mendarat di samping bongkahan batu yang telah hancur.

Tiga serangan ganas yang mematikan sudah dilancarkan Sangsang. Tapi sejauh ini Wong Agung hanya berkelit menghindar dan belum ada tanda-tanda untuk balas menyerang: Dalam hati Wong Agung pun tak luput sedikit tertegun. 

Sungguh tidak diduga dia mendapati serangan Sangsang begitu hebat yang dibarengi tenaga dalam begitu kuat. Sungguh tak disangka kalau kepandaian salah seorang dari Sepasang Iblis Pendulang Sukma yang pernah dipecundangi tiga puluh tahun silam, kini telah maju pesat.....

********************

Tiga puluh tahun silam.....

Pada masa itu Sepasang Iblis Pendulang Sukma termasuk tokoh sesat jajaran atas. Tapi tingkat kepandaian dan kedigdayaan mereka masih berada di bawah Wong Agung sehingga sepak terjang mereka masih bisa diatasi.

Memang waktu itu tokoh-tokoh sesat memegang kendali gelanggang persilatan. Sementara tokoh-tokoh golongan putih yang berusaha menghadang gerak laju keangkara-murkaan, satu persatu rontok di tangan orang-orang golongan hitam. Dan kalau pun berhasil selamat, lantas menghilang tak tentu rimbanya.

Pada saat yang telah keruh itulah muncul seorang tokoh dari golongan putih yang tingkat kepandaiannya sukar ditandingi. Sepak terjangnya membuat tokoh-tokoh hitam jajaran atas terguling satu demi satu.

Sejak itu dunia persilatan kontan tersentak dan geger oleh kemunculan tokoh muda golongan putih yang segera menjadi buah bibir. Di mana ada ketidak adilan, kelaliman, dan kesewenang-wenangan maka tokoh muda itu pasti muncul dan segera dapat menguburnya.

Namun sejauh itu orang-orang dunia persilatan hanya tahu asal tokoh muda itu, yakni sebuah batu karang menjulang yang diapit beberapa batu karang di tengah Laut Utara. Tentang siapa nama tokoh muda itu, hingga saat itu belum ada yang tahu. Sampai akhirnya dunia persilatan menjulukinya Wong Agung dari Karang Langit.

Karena merasa kedudukannya terdesak, tokoh-tokoh golongan hitam segera mengadakan Gelar Pandega untuk memilih tokoh yang pantas untuk dijadikan pemimpin dalam menghadapi Wong Agung dari Karang Langit. Daluk-datuk sesat dari seluruh penjuru angin diundang. 

Setelah terjadi pertarungan panjang selama satu purnama penuh maka muncullah nama Sepasang Iblis Pendulang Sukma sebagai Pandega. Seperti yang sudah disepakati bersama, akhirnya pasangan tersebut resmi diangkat sebagai pemimpin tokoh golongan hitam.

Demi mengangkat kembali kekuasaan golongan hitam, mereka lantas mengundang berlaga tokoh-tokoh golongan putih untuk menentukan siapa yang layak memegang kendali dunia persilatan. Dan Jurang Gladak Perak adalah tempat yang ditentukan untuk berlaga. 

Karena merasa terpanggil untuk menyelamatkan dunia persilatan dari genggaman tangan orang-orang kalangan sesat, Wong Agung turun gelanggang. Dan akhirnya, di Jurang Gladak Perak Wong Agung harus bertarung melawan Sepasang Iblis Pendulang Sukma yang waktu itu menjadi pentolan golongan hitam.

Setelah melewati pertarungan panjang dan amat melelahkan, akhirnya Sepasang Iblis Pendulang Sukma dapat dipecundangi Wong Agung. Malah mata kanan Sangsang, yaitu salah seorang dari Sepasang Iblis Pendulang Sukma, kena pukulan Wong Agung hingga mengakibatkan kebutaan. Sementara Sunti terluka dalam.

Sebagai seorang pendekar Wong Agung tidak ingin menghabisi musuh yang sudah tidak berdaya itu. Dibiarkannya Sepasang Iblis Pendulang Sukma mengundurkan diri dari gelanggang.

Maka sejak itulah tokoh-tokoh hitam lainnya perlahan-lahan mulai surut dan tenggelam. Dunia kembali damai dan tenteram. Akan tetapi sejak itu pula Wong Agung menghilang tak tentu rimbanya. Hilang bagaikan tenggelam ditelan bumi. Bahkan hingga saat tokoh-tokoh sesat muncul kembali mengusik kedamaian, Wong Agung yang selalu dirindukan tak juga kunjung datang.

Ada pun latar belakang kehidupan Sepasang Iblis Pendulang Sukma bermula dari dua orang saudara seperguruan. Yang laki-laki bernama Sangsang. Wajahnya tampan. Tubuhnya kekar dan berotot. Matanya tajam. Cerdik namun juga licik. Sedangkan yang perempuan bernama Sunti. Parasnya cantik. Kulitnya putih. Pinggulnya besar dan bagus, dengan dada membusung menantang. Tetapi sifatnya cepat jatuh cinta dan tidak dapat mengekang hawa nafsu. Hingga suatu ketika kedua saudara seperguruan ini terlibat perbuatan mesum yang menjijikkan.

Sesudah turun gunung dan bergabung dengan tokoh-tokoh golongan hitam, dua orang ini menamakan diri mereka sebagai Sepasang Iblis Pendulang Sukma. Kemudian, setelah terpilih sebagai Pandega kaum hitam, mereka terlibat pertarungan di Jurang Gladak Perak melawan Wong Agung. Setelah kalah akhirnya mereka kembali ke tempat sang guru di Lebak Weden.

Sang guru juga termasuk tokoh sesat pada zamannya. Julukannya adalah Manusia Titisan Iblis karena ia memiliki sebuah kitab bernama Kitab Dua Belas Titisan Iblis yang menjadi rebutan banyak tokoh silat waktu itu.

Setelah sembuh dari luka-lukanya, Sepasang Iblis Pendulang Nyawa memaksa agar sang guru segera menurunkan Kitab Dua Belas Titisan Iblis. Tapi Manusia Titisan Iblis selalu mengulur waktu sehingga kedua murid ini menghabisinya secara licik, yakni memberikan racun di dalam minumannya. 

Si Manusia Titisan Iblis akhirnya tewas di tangan kedua murid murtad ini. Sejak saat itulah Sepasang Iblis Pendulang Nyawa menghabiskan hari-harinya di jurang Lebak Weden dan mempelajari Kitab Dua Belas Titisan Iblis.....

********************

Sesudah tiga puluh tahun mendekam, kini Sepasang Iblis Pendulang Sukma muncul kembali. Di samping hendak membalas kekalahannya atas Wong Agung, sekaligus bertekad mengendalikan dunia persilatan.

Biar pun mereka sudah mempelajari Kitab Dua Belas Titisan Iblis tetapi bukan hal yang mudah untuk menggulung Wong Agung. Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan ketika tiga serangan mematikan yang dilancarkan Sangsang terhadap Wong Agung bisa dielakkan. Bahkan ketika Wong Agung sudah mulai membalas serangan, Sangsang kelihatan keteter dan terdesak.

Pada satu kesempatan Wong Agung menyilangkan kedua tangannya sejajar dada. Lalu seketika mendorongnya kuat ke depan. Saat itu juga dari kedua tangan Wong Agung meluruk dua kekuatan disertai angin menderu tajam. Begitu cepat serangan itu meluncur, sehingga...

Desss!

“Aaakkhhh...!” Tubuh Sangsang langsung terjengkang sepuluh tombak ke belakang disertai keluhan tertahan. Darah langsung merembes dari bibir melalui kumisnya yang lebat.

Sangsang mengerang sejenak sambil memegangi bahunya yang kena pukulan Wong Agung. Tetapi tubuhnya segera bangkit. Matanya yang cuma satu menusuk tajam.

Untuk pertama kalinya Wong Agung sedikit kaget mendapati Sangsang bangkit dan hanya mengerang sebentar. Ia hampir tak percaya karena pukulan yang dilancarkannya itu dengan telak mengenai bahu laki-laki bermata satu itu adalah pukulan Topan Menerjang Badai tingkat enam yang dimilikinya.

“Keluarkan semua pukulanmu, Wong Agung! Ha-ha-ha !”

Cepat Wong Agung membuka telapak tangannya kemudian memutarmutarnya di atas kepala. Itulah pukulan Topan Menggulung Bumi dari tingkat ketujuh. Begitu tapaknya berputar, terdengarlah desingan angin kencang bergulung-gulung. Saat itu juga Wong Agung menyorongkan tangan kirinya sambil membentak.

“Heaaah !” 

Seketika angin bergulung cepat melesat ke arah Sangsang. Tapi sekali ini laki-laki bermata satu itu telah siap. Ketika gulungan itu hampir tiba, kedua tangannya dihantamkan dari samping pinggang ke depan.

“Heaaa...!” Blarrr!

Batu karang yang tinggi menjulang itu bagai dilanda gempa mana kala kedua hantaman saling beradu hingga terjadi benturan dahsyat.

“Sunti! Sekarang tiba waktunya...!” Tiba-tiba Sangsang berseru kepada perempuan yang sejak tadi masih berdiri mematung. Selesai memberi perintah, kakinya mundur selangkah sambil bersedekap.

Bret! Bret!

Tanpa disangka mendadak perempuan tua bertubuh sintal itu merobek pakaiannya tepat di dada. Maka tak ayal, dua bukit yang masih bagus dan membusung itu terlihat jelas. Sambil tersenyum dan memutar ikat pinggang, Sunti melenggang maju.

Wong Agung kontan menutup kedua matanya dengan telapak tangan sambil mundur beberapa langkah. Pada saat itu pula Sangsang datang merangsek disertai bentakan-bentakan menggemuruh.

Wong Agung kaget dan membuka telapak tangannya. Tapi hantaman tangan Sangsang lebih cepat melanda dadanya yang terbuka.

Bresss!

Tubuh Wong Agung segera terbanting menyuruk batu karang. Bajunya bagian dada robek dan kulitnya tampak membiru.

“Kau tak akan bisa bertahan lama jika terkena pukulan 'Iblis Merenggut Sukma' yang baru saja kulancarkan tadi, Wong Agung!” ejek Sangsang sambil berkacak pinggang saat Wong Agung mulai merambat bangkit.

Benar apa yang dikatakan Sangsang. Ketika tubuh Wong Agung belum sepenuhnya tegak, darah kehitam-hitaman tersembur dari mulutnya.

“Hooaaik!” Byuarrr!

Begitu berhasil berdiri, Wong Agung cepat menatap Sangsang dengan pandangan dingin seraya memegangi dadanya.

“Iblis licik! Kalian sudah berhasil menguasai kitab curian itu rupanya...!” Wong Agung membatin. “Dan... benar apa yang dikatakan oleh Paman 

Selaksa! Dua orang ini memang telah mencuri Kitab Dua Belas Titisan Iblis setelah menewaskan si Manusia Iblis...”

“Bagaimana, Wong Agung...? Benar bukan kata-kataku...?!”

“Licik! Kalian tak akan pernah memperoleh kemenangan tanpa berbuat licik!” dengusan Wong Agung terdengar sengau dan sember.

“Kini nyawamu telah di tenggorokan, Wong Agung! Tidak usah banyak bicara lagi...! Terimalah saat kematianmu...!” sergah Sangsang seraya menoleh dan mengangguk pada Sunti.

Bet! Bet!

Pada saat itu juga hembusan angin panas langsung menyapu tatkala wanita yang dadanya terbuka mulai menyabetkan ikat pinggang sambil mendekati Wong Agung.

Meski terluka dalam tapi Wong Agung tetap tenang. Bahkan ia menanti serangan dengan memasang kuda-kuda.

Wutt!

Ketika sabetan ikat pinggang melesat ke arah lehernya, sambil tetap memegang dada Wong Agung melentingkan tubuhnya ke udara. Tapi rupanya Sunti tak mau memberi kesempatan sedikit pun. Begitu tubuh Wong Agung akan menjejak batu karang, wanita ini telah menyabetkan ikat pinggangnya sehingga untuk beberapa saat lamanya tubuh Wong Agung kembali berputar-putar di udara.

Menyaksikan hal itu Sangsang menangkupkan dua tangannya sejajar dada. Dari telapak tangannya yang menangkup itu tampak mengepul asap tipis. Aroma bunga melati mulai merebak naik mengiringi kepulan asap.

Begitu mencium aroma bunga melati, tiba-tiba Sunti menarik kembali ikat pinggangnya ke belakang lalu menghentikan serangan. Sementara itu Wong Agung yang sedari tadi berjumpalitan di udara, cepat-cepat mendaratkan kakinya di atas batu karang. Bersamaan dengan itulah tapak tangan Sangsang membuka dan dihantamkannya ke arah Wong Agung yang baru mendarat.

Desss!

Tubuh Wong Agung yang baru menginjak batu karang dan belum bisa menguasai keadaan sepenuhnya, kontan saja terhempas ke belakang. Luncuran tubuhnya baru berhenti sesudah mengantuk pada tiang batu penyangga bangunan. 

Tiang dari batu karang yang juga berperan sebagai tiang penyangga bangunan kontan hancur berderak. Tubuh Wong Agung yang berada di bawahnya, tak ampun tertimbun reruntuhan batu karang.

Kini dengan langkah panjang Sepasang Iblis Pendulang Sukma maju mendekat. Ketika kepala Wong Agung tampak menyembul dari bawah reruntuhan, Surti segera menyabetkan ikat pinggangnya ke arah mata kiri, sementara itu Sangsang menghantamkan tangannya ke arah mata kanan Wong Agung. Wong Agung yang sudah tak berdaya hanya bisa menerima pasrah. Hingga...

Bett! Dess!

“Akh...! Akh...!” Dua pekikan tertahan terdengar dari bibir Wong Agung yang segera lunglai di atas reruntuhan batu karang sambil memegangi kedua matanya yang berdarah.

“Ha-ha-ha! Persoalan kita telah selesai, Sunti! Kini tutup auratmu! Kita tinggalkan tempat ini sebelum air laut pasang!” seru Sangsang sambil menatap dingin Wong Agung yang menggeletak. Lelaki bermata satu itu lantas berbalik dan melangkah membelakangi.

“Tapi, Kakang...?!” tukas Sunti menjajari Sangsang.

“Jangan khawatir! Dia tak akan bertahan sampai malam hari,” kata lakilaki itu lirih. Matanya langsung membelalak ke arah dada perempuan itu yang belum juga tertutup.

Ketika matahari tinggal satu jengkal di ujung laut sebelah barat, dua sosok bayangan tampak melayang turun dari batu karang yang tinggi menjulang dan mulai berkabut.....

********************

Senja baru saja menyusup di balik punggung Gunung Semeru! Gelap mulai datang, menggapai puncak gunung berikut sekitarnya. Di lereng gunung, tepatnya di sekitar perbatasan sebuah hutan kecil yang hanya ditumbuhi pohon-pohon karet dan pinus, tampak satu bangunan besar yang kelihatan sudah tua.

Ditilik dari bentuk bangunan serta papan nama di depan yang sudah lapuk dan keropos serta menggantung tak terawat, dapat diduga kalau bangunan tua ini adalah sebuah Perguruan Silat. Nama yang tertera di papan, ‘Perguruan Samudera Putih’. Di kalangan persilatan perguruan ini dikenal berkiblat pada golongan putih.

Meski malam baru saja menjelang, ternyata di sekitar perguruan itu tak terdengar suara orang-orang yang tengah berlatih kanuragan. Dari luar bangunan itu nampak sepi, bagai tak berpenghuni. Namun jika melihat lebih ke dalam, maka suasana akan menjadi lain. Karena meski hanya diterangi bintang-bintang tanpa kemunculan sang rembulan sepotong 

pun, di halaman tengah perguruan itu tampak beberapa orang sedang duduk bersila. Tangan mereka bersedekap, sejajar dengan dada yang tegak lurus dengan kepala tertunduk.

Mereka membentuk tiga barisan. Salah seorang yang memakai jubah putih terlihat duduk di depan berhadapan dengan beberapa orang yang berpakaian putih-putih hingga membentuk sap-sap.

Orang yang duduk paling depan mengenakan jubah putih dan berumur setengah baya. Wajahnya yang dihiasi jenggot selalu tersenyum tetapi berkesan wibawa.

Dia adalah Ketua Perguruan Samudera Putih. Orang-orang kalangan persilatan memanggilnya Aki Lempungan.

“Kita cukupkan latihan pernapasan malam ini!” terdengar suara berat dan berwibawa dari Aki Lempungan.

Maka serentak beberapa pemuda berpakaian putih-putih menegakkan kepala dan menjura hormat.

“Gatra...! Mana Aji...'?!” tanya Aki Lempungan kepada salah seorang pemuda yang masih duduk bersila tepat dihadapannya.

“Ada di biliknya, Guru...,” jawab pemuda yang dipanggil Gatra dengan sedikit mengangguk.

Dari tempatnya bersila Aki Lempungan bangkit. Raut mukanya tampak agak berubah saat mendengar jawaban Gatra. Untuk sejenak matanya menyapu seluruh halaman, tempat beberapa pemuda berpakaian putih duduk bersila. Dia menghela napas panjang sehingga bahunya sedikit terangkat.

“Baik...! Kalian istirahatlah...!” desah Aki Lempungan sambil berbalik membelakangi halaman dan bergegas masuk ke ruangan.

Sementara para pemuda yang tadi duduk bersila, kini segera bangkit. Mereka lantas berjalan memasuki kamar masing-masing di perguruan ini.

“Anak bengal! Aku tak habis pikir kenapa hati anak itu tak juga tergerak untuk mempelajari ilmu silat...” Aki Lempungan bicara sendiiri sambil membelokkan langkahnya ke arah lorong yang menuju beberapa bilik di bagian belakang bangunan perguruan. Di depan sebuah bilik lelaki setengah baya itu menghentikan langkah. Kembali dia menarik napas panjang.

“Aji...! Apa kau ada di dalam...?” panggil laki-laki berjubah putih ini. Tak terdengar sahutan dari dalam bilik. 

“Aji...! Apa kau ada di dalam...?” ulang Aki Lempungan dengan sedikit mengeraskan suara.

Karena belum juga ada jawaban, Aki Lempungan segera mengangkat tangannya. Langsung didorongnya pintu bilik. Matanya sedikit menyipit mana kala pintu bilik mulai terbuka karena seberkas sinar lampu teplok menerpa wajahnya.

Begitu pintu bilik terbuka, Aki Lempungan langsung melangkah masuk. Pandangannya segera menebar ke seluruh ruangan bilik yang hanya terbuat dari pelepah nyiur kelapa.

Disinari warna merah lampu teplok, di atas sebuah bangku panjang terbuat dari bambu, tampak seorang anak muda berusia belasan tahun tidur telentang dengan dengkur keras dan teratur. Tubuh pemuda ini tidak begitu kekar. Rambutnya yang panjang melewati tengkuk awutawutan tak teratur. Tapi wajahnya tampak tampan.

“Aji...!” panggil Aki Lempungan sambil mendekati bangku panjang.

Pemuda yang tidur di bangku panjang menggeliat lalu kedua matanya diusap-usapnya sebelum bangkit duduk dan melonjorkan kakinya.

“Ng... Paman Guru...?!” Pemuda itu agak terkejut mana kala matanya melihat orang berjubah putih yang tegak di hadapannya. Buru-buru dia menurunkan kakinya lantas menjura hormat.

Aki Lempungan tersenyum sedikit. Matanya memandangi lekat-lekat pemuda tanggung yang sedikit menunduk.

“Hmm... Bagaimana, Aji...” Apa kau masih juga belum tertarik dengan ilmu silat...?!” tanya Aki Lempungan, membuka suara.

Pemuda yang dipanggil Aji mendongakkan kepala. Matanya menyorot tajam, menusuk bola mata Aki Lempungan di hadapannya.

“Ngg... Anu, Paman... Maafkan aku... Sampai sekarang ini aku belum tertarik untuk belajar ilmu silat...,” jawab Aji pelan.

“Hm... benar-benar amat disayangkan kalau kau masih belum berubah pikiran, Aji...!” gumam laki-laki berjubah putih ini dengan geleng-geleng kepala.

“Maalkan aku, Paman Guru...”

“Aku bisa saja memaafkanmu, karena belajar ilmu silat memang tidak diharuskan. Tapi..., jika ingat pesan mendiang ibumu yang menitipkan kau kepadaku, kadang-kadang aku merasa bersalah. Mendiang ibumu berpesan agar aku mendidikmu menjadi orang baik. Sekaligus paham ilmu silat. Yahhh..., paling tidak agar kau dapat menjaga diri...!” 

“Tapi, Paman...”

“Aku tahu..., kau pasti akan mengatakan bahwa belajar ilmu silat akan membawa orang takabur memandang rendah orang lain, serta menjadi biang keladi pertumpahan darah. Itu yang sering kau ucapkan, bukan?” tukas Aki Lempungan.

Aji hanya menundukkan kepala sambil menyisiri rambutnya dengan jari-jari tangannya.

“Apa yang kau pikir tidak semuanya benar, Aji... Semuanya berpulang pada orang yang memilikinya! Bahkan orang tidak punya kepandaian ilmu silat juga dapat menumpahkan darah. Malah juga bisa sombong! Pikirkan itu! Aku tidak akan gigih menuntutmu belajar ilmu silat kalau mendiang ibumu tak berpesan padaku...! Ini demi kebaikanmu, Nak..,!” Sesudah berkata begitu Aki Lempungan segera bergegas melangkah meninggalkan bilik, diiringi tatapan sayu mata Aji.....

********************

Waktu terus bergulir seiring muncul dan tenggelamnya sang matahari. Perguruan Samudera Putih yang terletak di lereng bukit pagi itu terlihat seperti biasa. Beberapa pemuda tanggung terlihat sedang mencangkul Sebagian ada yang membelah kayu dan sebagian lagi tampak sedang membawa lesung untuk mengambil air dari pancuran di dekat lembah.

Memang Ketua Perguruan Samudera Putih tak ingin mengajari muridmuridnya untuk hidup bermalas-malasan. Semua murid dibebaninya tugas. Begitu matahari tepat di atas kepala dan setelah menyelesaikan tugas masing-masing, barulah mereka bisa beristirahat melepas penat. Begitulah hari-hari yang dilalui Aji, walau pun hingga saat ini belum ikut belajar ilmu silat.

Siang ini, tepatnya setelah tadi malam didatangi oleh Aki Lempungan, pikiran Aji diselimuti perasaan gundah dan gelisah. Tak bisa disangkal lagi. Sejak Aji menetap dan masuk sebagai keluarga besar Perguruan Samudera Putih, dia adalah satu-satunya murid yang enggan bahkan tak pernah ikut belajar ilmu silat.

Berkali-kali saudara-saudara seperguruan, bahkan Aki Lempungan sendiri telah mendorongnya agar mau belajar ilmu silat. Namun sejauh ini dia masih berpaku pada pendiriannya. Bahwa ilmu silat hanya akan membawa mala petaka dan kehancuran.

“Aji ” Mendadak sebuah panggilan membuyarkan lamunannya.

Dengan mata sayu tak bergairah serta wajah kusut masai, kepalanya menoleh ke arah datangnya suara panggilan. Tetapi begitu tahu siapa yang memanggil, buru-buru tubuhnya cepat berbalik dan mengangguk hormat. 

“Ohh..., Paman Guru...,” desah Aji sambil tersenyum yang dipaksakan, menutupi kegelisahannya.

“Jangan terlampau kau pikirkan ucapanku tadi malam, Aji...! Aku bicara begitu karena merasa sudah kehabisan cara untuk merubah pendirian dalam otakmu...!” ujar Aki Lempungan kala melihat Aji tidak bergairah dan tercenung sendirian.

“Aku mengerti, Paman...”

“Hm... Bagus! Sekarang kau tidak perlu gelisah lagi! Dan kuserahkan semua keputusan kepadamu. Mau belajar ilmu silat boleh, tidak juga boleh. Terserahlah...! Mungkin kau mempunyai cara tersendiri untuk mempertahankan diri kalau suatu saat dihadapkan pada masalah demi mempertahankan hidup!” sambung Aki Lempungan sambil tersenyum tipis.

“Ngg..., Paman Guru..., bolehkah aku tanya sesuatu?” susul Aji seraya mengangkat kepala dan menatap laki-laki berjubah putih itu.

“Tanya...?” Aki Lempungan tertawa. “Mengapa tidak...? Kau mau tanya apa...?!”

“Ng..., Paman! Pernahkah Paman Guru bertarung?”

“Ha-ha-ha... Pertanyaanmu aneh, Aji! Kau menanyakan pertarungan, tapi kau sendiri tak mengerti ilmu silat. Apa perlunya...?!”

“Hanya ingin tahu saja, Paman Guru...,” sela Aji saat Aki Lempungan masih terkekeh-kekeh.

Ketika tawanya berhenti, mendadak kening laki-laki setengah baya itu berkerut sehingga kedua alis matanya yang sebagian sudah memutih beradu.

“Hm... Di sinilah letak kesalahanmu, Aji! Kau menyebut pertarungan...! Padahal bagi seseorang yang berwatak pendekar dan ksatria, tak ada istilah pertarungan. Jadi..., kalau seorang pendekar yang berilmu tinggi terlihat dalam suatu bentrokan, maka yang ada hanyalah perjuangan mempertahankan hidup atau perjuangan membela kebenaran. Lain itu, tidak! Dan itu adalah sesuatu yang mulia, Aji! Lagi pula perjuangan seperti itu akan selalu dikenang, walau sudah berpuluh tahun berlalu...! Kau pernah mendengar nama Wong Agung dari Karang Langit? Itulah salah satu misal. Meski sudah berpuluh tahun namun namanya hingga sekarang masih dikenang orang. Bahkan semua orang kini merindukan kemunculannya kembali demi menegakkan keadilan dan memberantas keangkara murkaan yang sudah merasuk hingga ke seluruh pelosok bumi. Sekarang, tidak adakah dalam benakmu suatu keinginan untuk menjadi seorang pendekar yang selalu dikenang karena keluhuran budinya, serta selalu dirindukan kemunculannya untuk memberantas keangkara murkaan..?” papar Aki Lempungan panjang lebar. 

Aji hanya termangu.

“Hm... Sudahlah, Aji. Kau tidak tertarik dengan ilmu silat. Mungkin juga kau tak akan terusik dengan omonganku tadi...!”

“Tapi...”

“Ah..., sudahlah!” potong Aki Lempungan. “Aku tadi mencarimu karena akan kusuruh menemani Gatra ke kota praja untuk menjual hasil kebun kita. Sekalian mencari semua kebutuhan perguruan kita. Kuharap kau bersedia, Aji...!” jelas Aki Lempungan seraya tersenyum. Lalu tubuhnya berbalik dan melangkah menuju halaman tengah.

“Baik, Paman...,” jawab Aji sambil bangkit, meski raut mukanya tampak menyimpan suatu yang sulit dimengerti.

Dengan langkah berat Aji melangkah menuju halaman tengah. Di sana terlihat Gatra telah siap dengan sebuah gerobak berisi macam-macam hasil kebun.

Ketika matahari baru saja menggelincir dari titik tengah, gerobak yang ditumpangi Aji bersama Gatra tampak keluar dari halaman tengah Perguruan Samudera Putih.....

********************

Lemah Ajang. Sebuah kota praja yang dipimpin seorang Tumenggung. Karena terletak di tengah-tengah beberapa kampung yang bertanah subur dengan hasil bumi melimpah, maka jadilah Lemah Ajang kota yang ramai.

Setiap hari beberapa orang dari kampung sekitarnya datang ke sana. Selain untuk menjual hasil bumi, membeli keperluan sehari-hari, ada juga yang datang hanya ingin melihat keramaian kota serta menikmati keindahan bangunan kediaman Tumenggung yang begitu megah.

Demikian pula halnya Aji serta Gatra. Sebelum menjual hasil bumi dan membeli beberapa keperluan perguruan, mereka lebih dulu singgah di sebuah kedai minum untuk sejenak melepaskan lelah dan membasahi kerongkongan yang baru saja terpanggang matahari.

Tak lama berselang, sewaktu keduanya sedang menikmati minuman, dari arah utara jalan yang menuju kediaman Tumenggung, tampaklah rombongan orang berkuda. Hentakan ladam rombongan berkuda di siang yang menjilat itu, seketika menarik perhatian orang-orang yang berada di kota praja.

“Ada apa ya, Kang...?” tanya Aji ketika rombongan berkuda itu hampir melewati kedai tempat Aji dan Gatra berada. 

“Mana aku tahu...?!” jawab Gatra sambil mengangkat bahu, kemudian menyeruput minumannya.

Ketika rombongan berkuda lewat di depan kedai, baru Aji bisa melihat jelas wajah-wajah penunggang kuda itu. Rombongan itu ternyata terdiri dari delapan orang.

Dua orang yang paling depan berpakaian hitam-hitam. Tangan kanan masing-masing membawa sebuah bendera warna hitam bergambar tengkorak.

Di belakang dua orang pembawa bendera, tampak seorang lelaki dan perempuan. Yang laki-laki berpakaian putih bersih. Wajahnya sudah tampak mengeriput. Kumisnya amat lebat hingga bibirnya tak terlihat. Rambutnya yang panjang sebahu diikat kain warna hitam.

Sorot matanya dingin. Namun yang membuat orang bergidik dan tidak berani lama-lama memandangi, sesudah melihat matanya yang buta di sebelah kanan. Mata itu hanya merupakan rongga yang mencekung ke dalam!

Ada pun wajah perempuan di samping laki-laki bermata satu, tertutup sepotong kain berbentuk segi tiga yang berlobang kecil-kecil sehingga wajah di baliknya tidak begitu jelas. Meski pun demikian, orang akan betah berlama-lama memandangi perempuan ini karena kulitnya putih, pinggulnya pun besar dengan buah dada yang tampak membusung dan kencang. Dengan dibalut kain berwarna putih ketat perempuan ini nampak mempesona.

Dua orang di belakang laki-laki bermata satu dan perempuan bertubuh sintal itu adalah dua orang berpakaian biru gelap dan agak kebesaran. Raut muka mereka yang hampir mirip kelihatan kasar serta beringas. Keduanya berambut jabrik. Pada punggung masing-masing tersembul senjata kapak berwarna merah.

Ada pun dua orang yang paling belakang adalah dua orang berpakaian sama dengan dua orang yang paling depan.

“Kang...! Berani bertaruh, perempuan yang wajahnya tertutup itu pasti orangnya cantik...!” tebak Aji sambil memandang tak berkedip ke arah rombongan yang lewat.

“Ah, kau...! Kalau bicara soal perempuan, semangatmu minta ampun!” sahut Gatra sambil mengibaskan tangannya di depan mata Aji.

“Ya..., namanya saja laki-laki. Wajar kan, Kang...?!” sergah Aji sambil menepiskan tangan Gatra yang menghalangi pandangannya. “Tapi..., siapa mereka itu ya, Kang...?!”

“Sudah kukatakan, mana aku tahu? Lagi pula apa pedulimu?!” 

“Lho?! Siapa tahu aku dapat menggaet perempuan itu, Kang...? Kan, untung aku...!” jawab Aji seenaknya sembari cengengesan.

“Mau menggaet perempuan itu...? Hm... Berat bocah...!” Tiba-tiba saja terdengar sahutan dari samping kanan Aji.

Begitu Aji dan Gatra menoleh, tampak seorang kakek bercaping lebar yang tengah memandang lurus ke arah rombongan berkuda.

“Kakek tahu...?!” tanya Aji, sedikit penasaran.

“O, pasti! Pasti aku tahu...!” jawab kakek itu tanpa menoleh ke arah Aji. Kepalanya mengangguk-angguk sehingga capingnya yang lebar turun naik menutupi sebagian wajahnya.

“Siapakah mereka itu, Kek...?!” tanya Aji sambil telunjuknya menunjuk ke arah rombongan.

“Bocah! Simpan telunjukmu! Jika mereka tahu, kau akan dibuat lumat jadi bubur!” damprat kakek itu dengan mata melotot ke arah Aji.

“Kakek kenal mereka...?!”

“Pasti! Pasti aku kenal mereka!” sahut kakek bercaping menganggukangguk. Kemudian kakek bercaping itu kembali mengalihkan perhatian ke arah rombongan berkuda. “Jika kau ingin tahu, dengarkan baik-baik, Bocah! Dua orang yang paling depan dan paling belakang adalah para pengawal. Bendera hitam bergambar tengkorak adalah lambang untuk orang-orang dari golongan sesat. Sedangkan lelaki bermata satu dan perempuan yang ingin kau gaet itu adalah dua tokoh hitam jajaran atas yang berjuluk Sepasang Iblis Pendulang Sukma. Mereka baru muncul lagi setelah berpuluh tahun tak ada kabar beritanya. Sekarang mereka menyusun kekuatan kembali setelah tiga puluh tahun yang silam dapat dipecundangi Wong Agung dari Karang Langit. Sedangkan dua orang yang berambut jabrik itu adalah kakak beradik dari Lembah Prangas. Mereka juga termasuk tokoh dari golongan sesat yang berjuluk Kapak Kembar Berdarah...!” papar kakek bercaping.

“Mereka menuju ke mana, Kek...?” Aji menyela kala kakek bercaping berhenti bicara.

“Hm... Kekediaman Tumenggung! Mereka sedang melebarkan sayap! Semua daerah pesisir Pantai Utara dan Selatan sudah mereka kuasai. Sekarang mereka mengajak siapa saja untuk bergabung. Siapa yang menolak pasti dihancurkan. Hmmm... Seandainya Wong Agung hadir, pasti kekejaman dan kekuasaan mereka dapat diatasi...!” desah kakek bercaping itu.

“Apakah Wong Agung sudah meninggal?!” kini Gatra yang ikut-ikutari bertanya. 

“Yah..., soal itulah yang sekarang menjadi tanda tanya. Sejak berhasil mengalahkan tokoh-tokoh sesat, termasuk Sepasang Iblis Pendulang Sukma di Jurang Gladak Perak tiga puluh tahun silam, Wong Agung menghilang begitu saja tanpa jejak. Padahal kehadirannya sekarang ini sangat dibutuhkan! Ng..., atau bagaimana kalau kalian saja yang cobacoba menghadapi mereka...?!” kata kakek bercaping itu mengakhiri bicaranya.

“Kalau boleh kami tahu, Kakek siapa...?!”

“Ahh...! Pertanyaanmu sudah terlampau banyak, Bocah!” jawab kakek bercaping cepat seraya bangkit dari tempat duduknya.

Setelah membayar minuman dia segera keluar tanpa menoleh.

“Bagaimana, Kakang...?!” Tiba-tiba Aji mengejutkan Gatra yang masih memandangi kepergian kakek bercaping lebar.

“Apanya yang bagaimana...?!” “Perempuan yang tadi itu...!”

“Ahh...! Kau memang mata perempuan!” dengus Gatra sambil bangkit berdiri.....

********************

Ketika matahari telah berubah warna kuning kemerahan dan sinarnya hanya menyaput awan-awan yang tergantung di langit sebelah barat, gerobak yang ditumpangi Aji bersama Gatra terlihat keluar dari kota praja menuju utara lereng bukit. Memang mereka baru menyelesaikan tugas yang diberikan Aki Lempungan.

“Kali ini kita pulang terlambat, Aji !” kata Gatra.

“Masalah itu biar aku yang nanti akan bicara kepada Paman Guru !”

jawab Aji seraya menekuk jari telunjuknya sampai menyentuh ibu jari, hingga membentuk bulatan. “Kang..., bagaimana kira-kira rupa Wong Agung itu, ya ?!” tanya Aji, mengusik Gatra.

“Hush ! Jangan ngaco omonganmu, Aji!”

“Tapi. , menurut ibu dan ayahku sewaktu aku masih anak-anak, beliau

adalah seorang pendekar yang berilmu sangat tinggi. Budi pekertinya agung. Namun sungguh mati, hingga sebelum kakek tadi bercerita, aku masih menganggap kalau cerita tentang Wong Agung hanya khayalan belaka, seperti cerita untuk menina-bobokkan si Upik. !”

“Jadi sebelum ini kau pernah mendengar tentang Wong Agung itu?” 

“Memang! Sebelum kakek tadi bercerita, aku pernah mendengar cerita tetang Wong Agung dari Paman Guru Lempungan. Tapi waktu itu aku tidak begitu tertarik. Kupikir itu hanya cerita buatan untuk menggugah semangatku agar mau belajar ilmu silat. Tapi kini...,” timpal Aji namun terputus.

Gerobak terus berjalan menuju lereng bukit. Kini Aji dan Gatra samasama diam. Keduanya tampak terbuai pikiran masing-masing.

Ketika gelap sudah mengurung bumi barulah gerobak yang ditumpangi Aji dan Gatra membelok ke arah jalan satu-satunya yang menuju ke bangunan Perguruan Samudera Putih.

“Kang...! Tempat kita tampak gelap. Apakah mereka lupa menyalakan obor?!” kata Aji, mendadak hatinya merasa tak enak.

Sementara yang diajak bicara diam saja. Mata Gatra hanya menatap bangunan Perguruan Samudera Putih yang tampak sepi dan gelap.

“Aku sendiri heran...!” sahut Gatra tanpa menoleh, setelah sekian lama terdiam.

Belum sampai gerobak mencapai pintu masuk, keduanya sudah loncat turun kemudian berlari. Tapi mereka mendadak berhenti dan langsung tercekat sesudah mata keduanya tertumbuk pada papan nama yang tergantung di depan.

Papan nama yang bertuliskan ‘Perguruan Samudera Putih’ itu sudah tertutup oleh leleran warna merah. Setelah agak dekat baru keduanya sadar bahwa leleran warna merah di atas tulisan adalah darah!

Sejenak Aji dan Gatra saling pandang. Namun dalam sekejap itu pula keduanya langsung berlari menerobos masuk. Dan keduanya merasa tak percaya akan pemandangan di depan mata.

Beberapa tubuh tampak bergelimpangan!

“Kang! Sulut obor!” teriak Aji keras ketika tidak bisa mengenali satu per satu tubuh yang bergelimpangan di halaman karena gelap. Begitu obor menyala, mereka hampir saja melolong. Betapa tidak? Ternyata tidak ada satu pun dari penghuni Perguruan Samudera Putih yang bergerak. Semuanya tak bergeming biar pun Aji mencoba menggoyang-goyang sambil memanggil keras-keras.

“Kang! Cari Paman Guru...!” teriak Aji kembali.

Gatra tak menoleh. Tapi ia cepat membalikkan tubuh-tubuh telungkup yang bergelimpangan.

“Aji...! Guru di sini!” Belum juga Gatra menyelesaikan kata-katanya, Aji telah meloncat ke arahnya. 

Mereka menemukan tubuh Aki Lempungan dalam keadaan demikian mengenaskan. Beberapa bacokan hampir merata di sekujur tubuhnya. Tapi orang tua itu masih bertahan.

Cepat Aji mengangkat kepala Aki Lempungan lalu menaruhnya di atas pahanya.

“Aji...!” panggil Aki Lempungan dengan suara pelan. “Siapa yang berbuat keji ini, Paman Guru...?!”

“Tak perlu kau tanyakan itu! Tak perlu...! Mereka berilmu tinggi!”

“Tapi..., sekarang aku ingin belajar ilmu silat, Paman Guru...”

“Terlambat, Nak. Kau berubah pikiran setelah semua ini terjadi...! Tapi aku gembira mendengarnya...! Aji... kurasa aku sudah tak tahan lagi...”

“Paman jangan berkata begitu...! Kuatkanlah, Paman! Mari kuangkat ke dalam ruangan...”

“Tidak usah, Nak! Waktuku tinggal sedikit sekali...” Sejenak mata sayu Aki Lempungan merayapi wajah Aji. “Aji..., mendiang ibumu menitipkan sesuatu kepadaku. Benda itu kusimpan di bawah almari. Ambillah...!” kata Aki Lempungan lirih. “Hanya...” Suara Aki Lempungan tersendat di tenggorokan.

Aji segera mendekatkan telinga ke mulut laki-laki yang tengah sekarat ini.

“Pergilah kau ke... ke Kam... Kampung... Blumbang...” Begitu selesai berkata, kepala Aki Lempungan lunglai. Tubuhnya dingin dengan mata terpejam.

Aji masih menggoyang-goyangkan tubuh Aki Lempungan. Tetapi tubuh Ketua Perguruan Samudera Putih itu tetap diam tak bergerak.

Dengan mata berkaca-kaca dan tubuh gemetar Aji mengangkat tubuh Paman Gurunya ke ruangan dalam. Sementara Gatra masih berusaha mengumpulkan mayat-mayat murid Perguruan Samudera Putih yang berserakan di sana-sini setelah memastikan kematian Aki Lempungan.

Setelah menaruh tubuh Aki Lempungan di atas dipan dan menutupnya dengan selendang, Aji melangkah ke sebuah almari. Ia berjongkok lalu mengambil sebuah bungkusan di bawahnya. Dengan tangan gemetar dan mata masih berkaca-kaca pemuda itu membuka bungkusan kecil berwarna putih yang diambilnya dari bawah almari.

Ternyata bungkusan kecil itu hanya berisi sebuah benda bulat yang berwarna putih. Besar dan bentuknya mirip kepingan uang emas. Pada muka lempengan benda itu terdapat sebuah gambar tempat mandi 

agak besar yang dikelilingi tembok agak tinggi. Sedangkan lempengan bagian belakang terdapat gambar bangunan tinggi di tengah lautan.

Aji hanya termangu memandangi benda itu. Lantas dimasukkannya ke dalam bajunya.

“Hm, Kampung Blumbang...,” gumam Aji sambil melangkah mendekati tubuh Aki Lempungan di atas dipan.....

********************

Matahari baru saja mengintip malu-malu, menyinari Puncak Gunung Semeru. Sementara bangunan tua Perguruan Samudera Putih yang berada di lerengnya masih tak berubah. Namun kali ini tak lagi terlihat beberapa pemuda tanggung yang lalu lalang. Tak ada lagi suara kapak membelah batang pinus. Tidak terdengar lagi gelak riuh pemuda yang menuruni lereng gunung menuju lembah sambil memanggul lesung tempat air. Suasana bangunan tampak sepi bukan main.

Pagi ini hanya tampak dua pemuda sedang memandangi bangunan. Tak terdengar suara terucap dari keduanya. Masing-masing bagai larut dalam alunan pikiran masing-masing.

“Kang! Tidak kusangka segalanya begitu cepat terjadi. ,” pemuda yang

memakai baju hijau ketat lengan pendek dengan pakaian dalam warna kuning serta rambut dikuncir ekor kuda mendadak buka suara tanpa menoleh ke pemuda di sampingnya.

Yang diajak bicara seakan tidak mendengar. Dia diam saja.

“Kang Gatra! Sekarang aku harus segera pergi. Ada urusan yang mesti kuselesaikan!” sambung pemuda berpakaian hijau ketat lengan pendek dengan pakaian dalam warna kuning. Kali ini matanya melirik pemuda di sampingnya.

“Sekarang... itu memang jalan terbaik yang harus kita ambil! Pergilah...

Aji. Semoga kelak kita akan dipertemukan lagi. !” jawab pemuda yang

tak lain Gatra, di samping pemuda yang dipanggil Aji.

“Aku pun akan ke tempat Paman. Aku akan memulai kehidupan baru di sana ,” lanjut Gatra, kepalanya menoleh dengan senyum dipaksakan.

Dengan langkah berat Aji dan Gatra berbalik. Lalu mereka melangkah meninggalkan bangunan Perguruan Samudera Putih yang sudah sepi. Sampai di sebuah belokan keduanya menghentikan langkah kemudian berbalik. Dan mata mereka kembali menyipit memandangi bangunan perguruan.

“Aku akan mengambil jalan sebelah barat itu, Aji...,” kata Gatra seraya berbalik menghadap Aji. 

“Selamat jalan, Kakang Gatra...,” sahut Aji juga menghadap Gatra.

Aji mengulurkan tangan yang langsung disambut Gatra. Sejenak Gatra tersenyum kemudian berjalan mengambil jalan arah barat. Tidak lama setelah tubuh Gatra menghifang di balik pepohonan karet, Aji berjalan menuju arah yang berlawanan.

Memang, setelah menguburkan korban pembunuhan terhadap hampir semua penghuni Perguruan Samudera Putih, Aji memutuskan untuk pergi ke Kampung Blumbang. Namun karena masih belum tahu letak kampung itu, maka pemuda ini berjalan menuju ke kota praja Lemah Ajang. Siapa tahu di sana ada yang bisa memberikan petunjuk.

Kali ini Aji memakai baju berwarna hijau ketat lengan pendek dengan pakaian dalam warna kuning lengan panjang. Rambutnya dikuncir ekor kuda lalu diikat dengan sobekan kain celana Aki Lempungan. Dengan mengenakan pakaian itu tampangnya terlihat tampan dan perlente.....

********************

Aji kembali berada di kedai tempat ia kemarin singgah bersama Gatra. Selagi menikmati minuman, seorang gadis cantik bertubuh semampai dengan pinggul menggoda terbungkus pakaian ketat berwarna kuning, memasuki kedai itu. Bibir bagian bawahnya sedikit tebal dipadu hidung yang mancung serta dada menantang. Gadis ini berusia kira-kira dua puluh enam tahun. Dan penampilannya begitu menggemaskan.

Aji yang baru saja mengangkat bambu berisi air minum, malah segera mengurungkan niatnya. Matanya langsung agak menyipit memandangi gadis yang melintas di sampingnya lalu duduk di pojok.

“Mau bepergian jauh, ya ?” sapa pemilik kedai mengejutkan Aji.

“Ng..., iya, Pak. ,” jawab Aji setengah gelagapan.

“Hendak ke mana, Nak ?” lanjut pemilik kedai.

Aji tidak segera menjawab. Matanya yang sayu memandang jauh ke lereng bukit, yang kini terpanggang matahari. Dadanya bergetar hingga terasa sesak.

“Kampung Blumbang, Pak. !” sahut Aji dengan suara berat.

Paras pemilik kedai sedikit berubah ketika mendengar jawaban Aji.

“Ada apa, Pak...?!” tanya Aji mana kala melihat perubahan raut wajah pemilik kedai. Namun tak terdengar jawaban dari pemilik kedai, karena sudah meninggalkan Aji dengan terburu-buru.

“Kau takkan pernah mendapat jawaban jika menanyakan kampung itu!” Gadis cantik yang duduk di pojok tiba-tiba berkata sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Aji. 

Aji menoleh ke arah gadis itu. Dan matanya balas mengedip. “Kau tahu tempat itu...?!” tanya Aji.

“Hm..., sedikit...!” jawab si gadis datar. “Boleh aku tahu yang sedikit itu...?!” “Asal memenuhi syarat!”

“Apa itu...?” kejar Aji dengan suara sedikit dikeraskan.

Si gadis tak segera menyahut. Dia malah mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Aji.

Aji kebingungan. Namun cuma sekejap karena gadis itu segera bangkit lantas melangkah mendekati tempat duduk Aji. Begitu dekat, gadis ini membungkukkan badan sehingga rambutnya yang panjang tergerai menyentuh pundak Aji.

“Orang tampan, bayar sekalian minumanku. Kutunggu kau di tikungan menuju arah kediaman Tumenggung!” bisik gadis itu di dekat telinga Aji. Kemudian dengan sekali berkelebat tubuh gadis itu telah berada di pelataran luar kedai. Lalu ringan pula berkelebat ke arah tikungan.

Tanpa sadar Aji berdecak kagum sambil menggeleng-geleng dengan mata membelalak memandangi tingkah gadis tadi. Setelah membayar minumannya dan minuman gadis itu, Aji segera beranjak keluar kedai.

Pemuda itu lalu berlarian ke arah tikungan. Ketika sampai di tikungan, tampak bahunya turun naik mengikuti tarikan napasnya yang memburu tak teratur. Sekujur tubuh serta bajunya basah kuyup terkena keringat. Namun gadis tadi tidak tampak di sana.

“Sialan! Ke mana gadis cantik itu...?” gumam Aji sambil mengusap dahi dengan mata jelalatan.

“Hi-hi-hi...!” Tiba-tiba terdengar suara tawa.

Aji cepat mendongakkan kepala ke arah datangnya suara dan tampak gadis berbaju kuning muda itu dengan enaknya tiduran di atas dahan kecil dengan sebelah kaki menjuntai. Dan sebelum Aji sempat menarik riapas, gadis itu telah meluncur turun lalu berdiri tegak di hadapan Aji.

“Apa perlumu pergi ke Kampung Blumbang?!” tanya si gadis sebelum rasa terheran-heran Aji tuntas.

“Ngg...” Aji tergagap kebingungan. “Ngg... Anu..., aku hanya ingin tahu saja...!” jawab Aji sekenanya. 

Bola mata si gadis menatap lurus ke arah Aji yang blingsatan. Hatinya seperti tidak percaya dengan ucapan laki-laki di depannya.

“Apa kau membawa bekal...?” desak gadis ini dengan mata menyelidik menatap Aji dari kepala hingga ke ujung kaki.

“Bawa bekal?” ulang Aji seperti hendak meyakinkan ucapan gadis itu. “Ada apa dengan Kampung Blumbang itu...? Aku jadi tak mengerti...!”

“Jika kau tidak membawa bekal, berarti kau hanya mengantar nyawa!” Aji kontan terkesima mendengar kata-kata gadis di depannya.

“Hm... Rupanya kau bukan orang yang kuinginkan!” gumam gadis itu. “Tetapi kalau kau ingin mengantarkan nyawamu, silakan pergi ke arah selatan. Setelah berjalan dua hari dari sini kau akan menemukan Desa Sumber Kembar. Itulah satu-satunya desa yang menuju ke Kampung Blumbang!”

Begitu selesai dengan kata-katanya, gadis itu langsung berbalik. Dan sebelum Aji sempat berkata, gadis itu telah berkelebat lalu menghilang di antara rumah-rumah penduduk.....

********************

Tepat saat bulan merambat pelan di ujung langit timur, Aji tiba di Desa Sumber Kembar, seperti yang dituturkan oleh gadis yang ditemuinya di kedai. Ketika melewati sebuah rumah, dan terlihat seseorang duduk di teras depan, Aji menganggukkan kepala.

“Jika boleh bertanya, sebelah mana Kampung Blumbang, Pak?” tanya Aji.

Laki-laki yang ditanya sedikit terlonjak kaget. Lantas dipandanginya Aji dengan mata tidak percaya.

“Anak, kau orang baru, ya ?” sahut lelaki setengah baya yang ditanya,

setelah agak lama termangu-mangu.

“Benar, Pak. Aku hendak ke Kampung Blumbang. Arah mana yang harus kutempuh ?”

Laki-laki setengah baya itu sejenak melemparkan pandangan ke arah barat, yakni salah satu bukit yang mengapit Desa Sumber Kembar.

“Apa Anak tahu, tempat apa itu?” laki-laki itu malah balik bertanya. “Tidak, Pak! Makanya aku ingin ke sana ,” jawab Aji. Dia tidak melihat

perubahan wajah orang yang ditanya. 

“Pergilah ke lereng bukit yang sebelah barat itu. Dari sana Anak akan melihat pagar tembok segi empat yang ada di tengah-tengah dataran berumput. Itulah Kampung Blumbang. Tetapi kalau bisa, urungkan saja niat Anak untuk ke sana...,” ujar laki-laki itu mengakhiri keterangannya.

“Terima kasih, Pak. Sebenarnya aku hanya ingin tahu saja...,” ujar Aji seraya kembali mengangguk. Lalu pemuda itu segera berjalan ke arah yang ditunjukkan laki-laki tadi.

“Aneh! Setiap orang yang mendengar Kampung Blumbang pasti kaget. Ada apa sebenarnya...?” batin Aji sambil matanya memandangi lereng bukit di sebelah barat yang mengapit Desa Sumber Kembar. Desa ini pun sangat sunyi. Nyanyian unggas malam tak satu pun terdengar.

Dengan berdiri di atas sebongkah batu, Aji dapat melihat kawasan di bawahnya. Pandangannya diarahkan lebih jauh. Diterangi sinar bulan, samar-samar tampaklah sebuah gubuk kecil dan sebuah pagar tembok yang berada di tengah-tengah dataran rumput. Lama Aji memandang dengan mata tak berkedip.

“Hm... Pasti itu Kampung Blumbang...,” gumam pemuda itu perlahan. Hatinya sedikit lega karena menemukan tempat yang dicari. Ketika Aji akan beranjak dari batu tempatnya berdiri, mendadak...

“Hiaaaattt...!” Tiba-tiba terdengar pekikan lantang seorang wanita yang bagai membedah kesunyian lereng bukit.

Suara itu sepertinya sangat dekat dengan tempat Aji berada. Namun pemuda itu tidak tahu di mana. Ketika matanya jelalatan memandang sekeliling, yang ditemui jajaran pohon serta semak belukar. Tubuhnya yang memakai baju warna hijau ketat dengan pakaian dalam warna kuning berguncang. Dan membuat tengkuknya merinding seketika.

“Apakah ini yang membuat orang-orang selalu melotot jika mendengar nama Kampung Blumbang?” bisik Aji seraya memegangi kakinya yang menggigil.

Tetapi ketika pekikan pertama mendapat sahutan pekikan lainnya yang tak kalah lantang serta mendirikan bulu roma, Aji segera memusatkan pendengarannya.

“Hm... Di bawah sana...,” gumam Aji.

Segera pemuda itu turun dari batu lalu berjalan mengendap-endap di antara pepohonan dan semak belukar, menuju arah datangnya suara. Begitu sampai di bawah, Aji dihadang dataran rumput. Dan dia seakan tidak percaya pada penglihatannya ketika memandang ke depan.

Di bawah cahaya bulan yang tak terlindung awan secuil pun, di atas padang rumput yang ternyata berwarna merah darah, dia melihat dua 

orang wanita sedang mengadu jiwa. Salah seorang berpakaian kuning muda dengan rambut panjang.

“Perempuan di kedai!” pekik pemuda itu tertahan.

Ada pun wanita satunya, Aji tak mengenali. Rambut wanita itu dikuncir. Wajahnya tertutup kerudung warna putih. Bagai burung malam wanita itu gerakan-gerakannya tak kalah lincahnya dari gadis berbaju kuning muda.

“Berhenti!” Akhirnya Aji berteriak lantang karena lama belum juga ada tanda-tanda ada yang kalah, bahkan serangan satu sama lain semakin menggila.

Dua wanita yang saling bertempur serentak menghentikan pertarungan mereka. Laju secara bersamaan mereka menoleh ke arah datangnya suara datar yang membentak.

“Ada apa? Mengapa kalian saling bertempur?!” tanya Aji agak keras, langsung keluar dari balik pohon besar dan melangkah maju. Tapi baru saja dua tindak melangkah, tepatnya ketika kakinya menginjak padang rumput berwarna merah...

“Jangkrik! Rumput apa ini?!” teriak Aji seraya menarik pulang kakinya. Dipandanginya kaki kanannya yang mengeluarkan darah seperti baru saja tergores benda tajam.

Kedua wanita itu menatap nanar pada Aji. Namun tatapan mata wanita yang berbaju kuning muda diiringi cibiran melecehkan. Ada pun wanita yang berkerudung tampak menahan tawa.

“Kau...?!” seru wanita berbaju kuning muda sedikit terkejut.

“Ya...! Kenapa?” sahut Aji sambil memandang dengan sedikit meringis menahan sakit.

“He! Cepat katakan! Apa sebetulnya tujuanmu datang kemari?” bentak wanita yang berbaju kuning.

“Ng..., dapatkah kau sedikit mendekat?!” kata Aji sambil melambai.

Wanita berbaju kuning beberapa saat memandang lekat-lekat pada Aji. Rasa curiga tampak terpancar dari raut mukanya. Lalu pandangannya dilemparkan ke arah wanita berkerudung putih. Namun cuma sekejap. Kakinya lantas melangkah tenang di atas rumput warna merah ke arah Aji.

Sementara wanita berkerudung putih mengawasi dengan lirikan tajam. 

“Sontoloyo! Enak saja dia berjalan di atas rumput merah itu!” bisik Aji. Matanya tidak berkedip menyaksikan kaki putih wanita berbaju kuning menerabas rumput menuju ke arahnya.

“Cepat katakan! Apa maumu?!” desak wanita berbaju kuning bernada agak tinggi mana kala telah dekat dengan tempat Aji.

“Katakan! Apa yang kau maksud dengan bekal tempo hari?!” Aji ikutikutan bertanya disertai senyum.

Tetapi wanita berbaju kuning tak menjawab, malah kakinya melangkah setindak mendekati pemuda itu. Mendadak tangannya dikibaskan ke arah dada Aji.

Pemuda itu kaget, namun terlambat. Tangan wanita itu telah merobek baju bagian dalam Aji, tepat bagian dada. Begitu kulit dada Aji terlihat, wajah wanita itu segera berubah. Raut muka serta lenguhan napasnya mengisyaratkan rasa kecewa.

“Kau tak ada bedanya dengan perempuan itu!” bentak wanita berbaju kuning ini melotot tajam bergantian ke arah Aji dan wanita berkerudung putih.

“Hei...! Kau belum menjawab pertanyaanku...!” seru Aji seraya meraih bajunya dan menutupi dadanya yang terbuka.

“Pertanyaanmu itu memang tidak perlu dijawab!” sahut wanita berbaju kuning itu ketus, kemudian tubuhnya berkelebat lantas menghilang di antara pohon-pohon besar.

“Jangkrik! Apa arti semua ini?” pikir Aji.

Pandangan pemuda itu kini terarah kepada wanita berkerudung yang masih berdiri tegak memandangi arah berkelebatnya wanita berbaju kuning. “Aku harus bertanya kepadanya! Tinggal dia satu-satunya yang ada di sini! Tetapi bagaimana aku harus berjalan ke arahnya? Rumputrumput itu... Sial!”

Ketika wanita berkerudung putih berbalik membelakangi, Aji tersentak. “He... Tunggu! Bisakah aku bicara sebentar?!” teriak Aji buru-buru.

Wanita berkerudung putih itu segera mengurungkan langkahnya.

“Bicaralah!” jawab wanita itu tanpa menoleh. Karena lama Aji tidak juga bicara, wanita berkerudung putih itu segera melanjutkan langkahnya.

“Tunggu! Ng..., kenalkah kau dengan Aki Lempungan?!” 

Wanita berkerudung kelihatan sedikit terkejut mendengar kata-kata Aji. Cepat tubuhnya membalik. Matanya yang bulat menyengat tajam ke arah Aji.

“Siapakah kau?!” tanya wanita itu dengan suara mengejutkan Aji yang memandang sambil tersenyum-senyum.

“Aji Saputra! Aku... diutus Aki Lempungan ke sini!”

Wanita berkerudung putih itu lantas berkelebat. Dan tahu-tahu kini dia berdiri tegak di hadapan Aji. Maka pemuda itu kini dapat dengan jelas melihat raut mukanya. Bola mata wanita berkerudung itu begitu bulat. Bulu matanya lentik. Bibirnya tipis. Hidungnya mungil namun mancung. Wanita itu nampak anggun dalam terpaan sinar rembulan.

“Apa kau membawa sesuatu?” tanya wanita berkerudung.

“Sesuatu? Senjata maksudmu? Jelas bawa! Kemana-mana pasti aku membawa senjata...!” jawab Aji cengar-cengir.

Saat itu juga wanita berkerudung ini wajahnya memerah dengan mata melotot.

“Ng..., maaf, Ni...! Apa yang kau maksud...?” Aji cepat menyusuli katakatanya. Dia merasa tak enak. Ucapannya memang seenak dengkul.

“He...! Cepat tunjukkan barang itu!” bentak wanita itu. “Barang? Barangku...?!” ulang Aji untuk meyakinkan. “Barang dari Aki Lempungan!” sergah wanita berkerudung.

“Ooo...” Aji mengangguk-angguk sambil merogoh ke saku baju. “Ini...!” lanjut Aji, menunjukkan kepingan logam warna putih.

Sesaat wanita itu memandangi Aji, lalu beralih ke logam putih. “Jadi kaulah yang dimaksud Eyang Selaksa...,” gumam wanita berkerudung dengan raut wajah mempesona.

“Eyang Selaksa...? Siapa pula dia?”

“Jangan banyak bicara! Ayo kuantar kau menemuinya...!”

Wanita berkerudung putih lalu membalik tubuh dan melangkah ke arah rerumputan.

“He..., tunggu! Aku tidak bisa berjalan di atas rumput itu...!”

Seketika wanita berkerudung putih menghentikan langkah. Kerudung yang menutupi sebagian wajahnya lalu dilepas. Dengan sekali sentak, ujung kerudung melesat ke arah Aji. 

“Naiklah!” perintah wanita itu tanpa menoleh.

Sejenak Aji ragu-ragu. Namun akhirnya memberanikan diri menginjak kerudung dan berdiri di atasnya. Sungguh, Aji seakan tidak percaya. Kerudung warna putih yang terbuat dari kain itu ternyata bisa berubah keras bagai papan kayu. Dan kerudung itu meluncur ke depan seiring langkah cepat wanita berkerudung ketika melewati rerumputan merah di bawahnya.

“Eyang...! Barang kali orang inilah yang Eyang tunggu!” panggil wanita berkerudung kala mereka sampai di sebuah gubuk, di samping sebuah bangunan tembok persegi agak tinggi dan tak berumput.

Tak berselang lama dari dalam gubuk keluar seorang lelaki bercaping lebar.

“Kakek di kedai!” seru Aji dalam hati begitu laki-laki tua bercaping lebar itu berada di luar gubuk, tiga tombak di depan Aji.

“Apa betul, Roro?” tanya kakek bercaping ini pada wanita di depannya yang ternyata bernama Roro.

“Betul, Eyang... sebab dia membawa benda itu...,” papar Roro sambil menjura.

Orang tua bercaping itu menoleh ke arah Aji. Kemudian dengan tangan kiri dia mengangkat ujung depan caping lebarnya sehingga wajah yang setengah tertutup itu kini tampak seluruhnya.

“Apa benar yang dikatakan Roro, Bocah?” Sekali ini mata laki-laki tua yang berkilat lurus ini mengarah ke Aji.

“Benar, Eyang...,” jawab Aji pelan sambil menyodorkan logam warna putih ke hadapan orang tua bercaping lebar yang dipanggil Eyang.

“Siapa namamu?”

“Aji Saputra, Eyang...”

Lama tak ada suara yang terucap dari tiga sosok itu. Lelaki bercaping lebar masih mengamati benda bulat di tangannya. Ada pun Aji hanya melirik dan sesekali berpaling ke arah Roro di sampingnya. Wanita itu hanya menunduk dan tersenyum ketika matanya tertumbuk pada mata nakal Aji.

“Kalau Eyang sudi, bolehkah aku ngg... berguru kepada Eyang?” tanya Aji perlahan.

Lelaki tua bercaping lebar itu meluruskan pandang matanya. Kerutan di wajahnya nampak mengencang. 

Mendapatkan ucapannya membuat perubahan pada wajah laki-laki tua itu, buru-buru Aji menjura sambil menundukkan kepala.

“Aku, Selaksa, tidak mudah mengangkat seseorang menjadi muridku!” sahut laki-laki tua bercaping lebar yang ternyata bernama Selaksa.

“Jadi..?”

“Harus melalui beberapa persyaratan!” potong Eyang Selaksa, masih dengan suara berat dan tanpa senyum.

“Akan kucoba, Eyang...”

“Baik! Sekarang istirahatlah! Tetapi..., di luar gubuk!” Selesai berkata, Eyang Selaksa berbalik dan melangkah masuk ke dalam gubuk.

Sementara wanita berkerudung putih yang bernama Roro itu mengikuti dari belakang. Tapi sebelum menutup pintu, Roro memandang ke arah Aji. Wajahnya nampak kecut mana kala orang yang dipandang masih menunduk memandangi tanah bebatuan di bawahnya.....

********************

Kampung Blumbang ternyata tidak sesuai dengan namanya. Karena pada kenyataannya memang jauh dari apa yang dinamakan Kampung. Kampung ini hanya terdiri dari tempat mandi agak besar yang dikitari oleh tembok setinggi dua tombak. Letaknya di tengah-tengah dataran rumput tajam yang membentang dan berwarna merah. Dari tempatnya berada dan jalan yang harus dilalui, bisa dipastikan kalau hanya orangorang tertentu yang dapat sampai dengan selamat.

Pagi itu Aji yang sudah melepaskan baju hijau lengan pendeknya dan pakaian dalam warna kuningnya tampak berdiri tegang di depan pintu masuk Blumbang. Memang salah satu sisi tembok setinggi dua tombak itu terdapat sebuah pintu. Sementara di atas tembok lelaki bercaping lebar yang tak lain Eyang Selaksa duduk menjuntai tanpa senyum.

“Aji! Kau harus naik-turun di dalam air itu! Tanpa boleh berenang atau merapat. Dan latihan itu harus dilakukan selama empat bulan penuh!” perintah Eyang Selaksa. Untuk sejenak matanya memandang ke arah Aji, lantas menebar ke air di bawahnya.

“Sekarang bersiaplah!”

Dengan dada berdegup kencang, pemuda itu mulai melangkah masuk ke dalam Blumbang. Sungguh! Kalau bukan karena pesan mendiang ibunya serta kematian Paman Gurunya, maka dia akan segera pergi meninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Betapa tidak? Ternyata air yang ada di dalam Blumbang berwarna merah! 

Baru saja melewati pintu masuk, tubuh Aji yang tidak kekar sesudah bertelanjang dada tampak bergetar. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya. Wajahnya pias. Matanya seakan tak percaya bahwa selain air itu berwarna merah, dari dalam air itu keluar asap putih dan gelembung-gelembung udara bagai air mendidih!

“Buka mata! Tarik napas dalam-dalam! Dan masuk!” kembali terdengar suara Eyang Selaksa. “Pusatkan pikiran sehingga tidak ada satu pun yang terbersit di otakmu!” sambung Eyang Selaksa begitu kaki Aji telah berada di atas air.

Sejenak Aji ternganga mana kala tubuhnya telah berada dalam air. Air berwarna merah serta mengepul itu ternyata dingin dan hanya sebatas lutut! Sekejap segala ketegangan serta kengerian pemuda itu pupus.

Namun hanya sekejap, karena sekonyong-konyong pijakan kakinya di dalam air bergerak-gerak. Dan belum sempat dapat menduga, pijakan kakinya telah oleng mengikuti gerakan di bawahnya.

Kontan Aji mengangkat tubuhnya ke atas, menghindari olengan yang makin keras. Tapi begitu tubuhnya kembali ke bawah, pijakannya telah lenyap sehingga untuk sementara seluruh tubuhnya masuk ke dalam air. Agak dalam.

Mendadak kakinya kembali menyentuh pijakan. Tapi kali ini menusuk bagai duri. Menyadari dirinya perlu udara untuk bernapas mau tak mau Aji harus sekuat tenaga mengangkat tubuhnya kembali ke atas, meski harus terlebih dahulu menjejak sesuatu yang menusuk kakinya.

Demikianlah hal itu terus berlangsung. Setiap kali tubuhnya masuk ke dalam air, setiap kali itu pula pijakannya bertambah dalam hingga tak ada waktu untuk berpikir apa-apa selain menghindar dari kemasukan air. Lagi pula dalam perintahnya Eyang Selaksa tak memperbolehkan untuk berenang atau pun merapat. Jadi waktunya hanya dipergunakan untuk mengatur napas. Syarat itu harus dijalani Aji mulai terbit hingga terbenamnya matahari, selama empat purnama penuh.....

********************

Seorang pemuda berambut dikuncir ekor kuda, pakaiannya berwarna hijau ketat dengan baju dalam warna kuning tampak duduk termangu memandang jauh ke arah Puncak Gunung Semeru. Memang, dia tidak lain dari Aji.

Tanpa terasa pemuda itu sudah empat purnama berada di Kampung Blumbang. Selama itu pula setiap hari ia berjuang melawan dingin dan panas serta penat. Bahkan tidak jarang dia harus keluar dari Blumbang dengan terhuyung-huyung dan sesekali pingsan.

“Aji !” Tiba-tiba sebuah suara berat memanggil nama Aji. 

Pemuda yang duduk termenung sambil memandangi Puncak Gunung Semeru itu tersentak. Ketika menoleh, dua langkah di depannya telah tegak berdiri Eyang Selaksa.

“Ngg... Eyang...,” kata Aji disertai senyum, menutupi keterkejutannya. Buru-buru dia menjura.

“Harimu sudah berakhir di sini! Perjalananmu harus diteruskan ke Laut Utara! Di sana kau akan menemukan sebuah batu karang tinggi, yang di tengah-tengahnya ada sebuah bangunan! Itulah tujuanmu...!”

Aji terkejut mendengar penuturan Eyang Selaksa yang tak terduga itu. Memang, selama empat purnama di Kampung Blumbang baru kali ini laki-laki tua itu berkata-kata padanya. Sedangkan hari-hari sebelumnya Eyang Selaksa hanya menungguinya tanpa bicara sambil mengawasi tanpa senyum pada Aji yang tengah megap-megap kehabisan napas di dalam Blumbang yang berair merah.

“Laut Utara?” gumam Aji mengulangi kata-kata Eyang Selaksa.

“Ya! Dan bawalah benda milikmu ini! Pergunakan sebaik-baiknya bekal yang kau dapat selama berada di sini!”

Sejenak Aji masih tak mengerti maksud kata-kata Eyang Selaksa. Dan sebelum sempat Aji bertanya, Eyang Selaksa sudah menoleh ke arah Ajeng Roro yang melintas di samping gubuk. “Roro! Antar Aji sampai di balik bukit!” ujar lelaki tua itu. Setelah berkata, Eyang Selaksa tampak tersenyum.

Sungguh! Itulah pertama kalinya Aji melihat Eyang Selaksa tersenyum. Ketika Ajeng Roro mendekat, laki-laki tua ini berbalik lantas berkelebat masuk ke dalam gubuk.

“Ayo! Akan kuantar kau ke balik bukit!” ajak Ajeng Roro mengejutkan Aji yang masih memandangi kepergian Eyang Selaksa.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Aji ketika keduanya mulai beranjak dari batu dekat Blumbang. Ajeng Roro tak menjawab, melainkan hanya menganggukkan kepala.

“Siapa wanita yang sempat bertempur denganmu tempo hari?” tanya Aji.

Tiba-tiba Ajeng Roro mengangkat kepala dan menoleh. Bola matanya yang bulat tampak menyipit, lalu kembali membuka lebar-Iebar.

“Bukankah kau sudah mengenalnya?” Mengapa tanya-tanya padaku?” jawab Ajeng Roro ketus. 

“Kau salah. Aku tidak pernah mengenal wanita itu! Aku hanya pernah bertemu dia di sebuah kedai. Aku berani sumpah!” sanggah Aji sambil mengibaskan tangannya.

Gadis itu menatap dalam-dalam mata Aji. Namun cuma sekejap. Ia lalu mengalihkan pandangan ke rumput di depannya. Memang, semenjak semula gadis itu selalu tertunduk malu jika matanya bertatapan dengan mata Aji.

Sementara Aji sendiri merasakan sesuatu yang sulit dijabarkan apabila matanya bertumbukan dengan mata bulat Ajeng Roro di sampingnya. Aji tidak mengerti perasaan apa yang sudah menjalari relung kalbunya. Hanya ia merasa senang dan selalu ingin berlama-lama bersama gadis anggun ini.

“Aku sendiri tidak tahu. Ia hanya sempat menyebutkan namanya, Putri Tunjung Kuning!” jelas Ajeng Roro setelah diam agak lama.

“Tapi kenapa kalian bertempur?”

“Pada saat sedang sendirian di dekat padang rumput itu, aku melihat seseorang berkelebat. Segera terlintas keinginanku untuk mengetahui maksudnya, maka diam-diam kuikuti. Tetapi sial! Rupanya dia memiliki kehebatan lumayan. Buktinya, biar pun aku telah mengerahkan tenaga agar tidak diketahuinya tapi dia tahu juga. Malah dia bertanya macammacam kepadaku, yang tak mungkin kujawab. Karena pertanyaannya menjurus pada suatu yang amat rahasia. Karena aku mungkir akhirnya terjadilah pertarungan!” papar Ajeng Roro.

Gadis itu sejenak menghentikan kata-katanya. Kepalanya menoleh ke arah Aji yang mendengarkan penuh perhatian.

“Sebenarnya yang dia cari adalah benda yang ada padamu!” ungkap Roro mengakhiri ucapannya.

Sejenak Aji terkejut. Lantas kepalanya mengangguk-angguk meski pun wajahnya menampakkan ketidak mengertian.

Sambil bercakap-cakap dan sesekali saling berpandangan, tak terasa perjalanan sudah sampai batas padang rumput warna merah. Kembali Aji bergetar. Dia ingat saat pertama kali datang.

“Ngg... Dapatkah kau menolongku sekali lagi?” tanya Aji dengan muka ditekukkan.

Ajeng Roro menoleh. Bibirnya menyungging senyum sehingga giginya yang putih tampak.

“Kau sekarang bukan lagi kau empat purnama yang lalu!” jelas Ajeng Roro. 

Sesaat wajah Aji berubah pucat. “Apa maksudmu?”

“Anggap saja padang rumput itu seperti air di Blumbang!” papar Ajeng Roro, lantas melesat cepat ke depan melewati padang rumput.

Tanpa pikir panjang Aji mengerahkan tenaga seperti saat-saat berada di dalam air Blumbang. Dan sungguh sukar dipercaya. Tubuhnya kini berputar-putar ringan laksana kapas di atas padang rumput, mengikuti gerakan Ajeng Roro. Dan hanya sekejap tubuh mereka telah berada di lereng bukit.

“Hanya sampai di sini aku bisa mengantarmu! Selamat jalan!”

“Terima kasih banyak, Roro...,” gumam Aji pelan seraya menatap mata bulat gadis di sampingnya. Hatinya berdebar.

“Apakah dia tahu apa yang kurasakan saat ini?” tanya hati Aji.

“Aji! Sebelum kau sampai di tempat tujuan, berhati-hatilah!” ujar Ajeng Roro.

“Apa maksudmu?!” sahut Aji cepat.

“Ngg... Maksudku, kini kau menjadi incaran beberapa orang! Bahkan beribu-ribu orang di sana menanti kehadiranmu! Karena keselamatan dunia persilatan kelak akan tergantung padamu!”

“Tergantung padaku? Apa alasannya?!” “Waktulah yang akan menjawabnya...!”

Setelah selesai bicara Ajeng Roro berkelebat. Dan sebentar kemudian tubuhnya telah bergerak lincah melewati padang rumput.

Setelah tubuh gadis itu tak kelihatan, barulah Aji berjalan ke arah yang ditunjuk Ajeng Roro. Sekali lagi dia menjajal kemampuan yang kini ada pada dirinya. Dan nyatanya kemampuan itu tetap ada. Maka dengan serta merta pemuda ini melesat sambil meliuk-liuk di antara bebatuan dan pepohonan kawasan bukit yang mengapit Desa Sumber Kembar.

Ketika tubuh Aji melenting-lenting di udara, mendadak pandangannya melihat bayangan gelap dan perlahan-lahan bayangan itu berubah jadi putih. Kini pandangannya jadi semakin jelas. Dia melihat pohon-pohon, semak belukar, bahkan desa terpencil di kaki gunung.

Untuk kedua kalinya Aji tidak mempercayai dirinya, bahwa pandangan matanya mampu menembus tempat yang begitu jauh. Bahkan tempat yang terlindung oleh pepohonan.....

******************** 

“Laut Utara! Apa lagi yang akan kutemui di sana? Orang aneh seperti Eyang Selaksa? Ataukah gadis anggun seperti Ajeng Roro...? Hmm... Semoga gadis cantik saja yang akan kutemui...!” bisik Aji, tersenyum sendiri.

“Eiiii...! Hi-hi-hi...” Tiba-tiba terdengar derai tawa seorang wanita hingga membuat langkah Aji terhenti. Pada waktu mengarahkan matanya ke depan, Aji melihat seorang wanita sudah berdiri sejauh empat tombak dari tempatnya. Kalau menilik kemunculannya, rupa-rupanya wanita ini sengaja menghadang.

Wanita itu masih amat muda. Bahkan mungkin masih gadis. Tubuhnya sedikit gemuk tapi kencang. Pinggulnya besar dengan sepasang dada membusung. Ditambah pakaian ketat berwarna hitam, penampilannya amat menyolok dengan kulitnya yang putih.

Gadis berusia kira-kira dua puluh tahun ini benar-benar mengundang bibir berdecak. Rambutnya yang panjangnya sepinggang dan sebagian luruh ke pelipis dan dagunya, ditambah bibir merah serta mata bundar, gadis ini mampu membuat dada setiap laki-laki bergetar.

Aji kontan mengerdip-ngerdipkan sepasang matanya, mana kala gadis di depannya memandang dan tersenyum genit padanya.

“Mau jalan-jalan ke mana, Orang Tampan? Bolehkah aku ikut?” tanya gadis berbaju hitam disertai desahan manja sambil melangkah maju.

“Boleh, tentu saja boleh... dengan senang hati pula...!” jawab Aji sambil menyibak rambut bagian depan yang menghalangi pandang matanya.

“Mau ke mana, Orang Tampan?”

“Karena perutku dari tadi mulas, tentunya kau tahu ke mana tujuanku, bukan...?!” sahut Aji dengan senyum menggoda.

“Ihhh! Jahatnya...!” seru gadis berbaju hitam itu memberengut. Orang Tampan! Sesungguhnya kau hendak kemana...? Karena kalau searah, bukankah kita bisa jalan bersama-sama...?!”

“Bagaimana ini? Tapi..., tidak! Aku tidak boleh memberitahu tujuanku! Roro bilang...”

“Bagaimana, Orang Tampan? Apakah yang masih memberatkanmu? Apakah aku begitu memalukan jika dijadikan teman perjalanan?” desak gadis itu seraya menyibakkan rambut yang luruh di dagunya sehingga lehernya yang jenjang dan putih tampak jelas.

“Gadis Ayu! Sungguh sayang, untuk kali ini aku tak bisa mengajakmu! Bukan karena malu, malah aku merasa bangga berjalan dengan gadis seayu kau. Tapi..., tujuanku kali ini melewati hutan yang banyak dihuni oleh bangsa dedemit, jin, jerangkong...!” 

“Ih..., ih...!” cibir gadis itu sambil menubrukkan tubuhnya ke tubuh Aji. Tangannya langsung melingkar di pinggang pemuda itu.

“Jangkrik! Ditakut-takuti malah begini jadinya!” rutuk Aji berbisik seraya melirik dan menarik napas dalam-dalam. “Hei, rambutmu menggelikan pipiku!”

Perlahan-lahan gadis itu melepaskan lingkaran tangannya pada tubuh Aji. Dipandanginya pemuda itu dengan sinar mata sayu dan bibir menyungging senyum.

“Sudahlah! Aku harus buru-buru! Lain waktu aku akan mengajakmu jalan-jalan ke mana kau suka!” kata Aji.

“Tidak! Aku minta sekarang...!” sela gadis itu dengan suara keras. “Tidak! Aku minta kapan-kapan...!” Aji ikut-ikutan keras.

“Baiklah, kalau itu maumu, Orang Tampan! Aku menunggu. Tapi untuk kali ini, bagaimana kalau kau memberiku sebuah tanda mata sebagai gantinya?”

“Dengar, Gadis Ayu! Aku seorang pengelana jalanan yang tidak punya arah tujuan! Mana mungkin aku punya sesuatu yang pantas kuberikan padamu? Yang kupunya hanyalah yang menempel di tubuhku! Apa itu yang harus kuberikan padamu...?”

“Jangan ngaco, ah...!”

“Kalau pegang-pegang saja boleh. Asal bukan yang di bawah pusar! Tapi..., ya, kapan-kapan saja! Aku janji deh...!”

“Omonganmu ngelantur!” dengus gadis itu sengit, tetapi raut wajahnya nampak senang. “Aku tidak ingin yang nempel-nempel! Dan kau punya itu! Boleh aku ambil? Kalau kau tidak tahu, aku tahu tempatnya...!”

Selesai bicara gadis ini segera maju. Lalu cepat pula tangan putihnya menyambar ke arah lipatan ikat pinggang Aji.

Melihat gelagat tak baik Aji sadar. Dengan cepat tubuhnya menghindar ke belakang sehingga tangan gadis itu hanya menyentuh perut.

“Sontoloyo! Sepertinya dia menginginkan logam ini!” batin Aji dengan sedikit mendelik.

Tapi belum sempat pemuda itu berpikir lebih jauh, gadis ini telah maju. Kembali tangannya menyambar ke arah saku baju dalam Aji.

Dengan sekuat tenaga Aji melesatkan dirinya ke belakang. Tapi gadis itu tak tinggal diam. Cepat diburunya Aji yang sekarang tiga tombak di 

depannya. Kali ini Aji tak menghindar. Pemuda itu berdiri tegak sambil senyam-senyum.

Melihat hal ini serta-merta mata gadis itu berbinar. Maka dengan buruburu tangannya merogoh ke saku baju dalam Aji. Akan tetapi sejenak kemudian ditatapnya Aji dengan raut wajah merengut membersitkan rasa kecewa. Karena merasa belum yakin, digeledahnya sekujur tubuh Aji tanpa tertinggal sejengkal pun.

Aji tegak diam saja sambil sebentar-sebentar menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sementara mulutnya meringis menahan geli.

“Wadouu...! Biji itu jangan dipencet-pencet begitu...!” teriak Aji tiba-tiba.

Gadis itu sejenak memandang. Dia curiga. Maka sekali lagi tangannya meraba sambil menggigit bibirnya.

“Wadouuu...! Heiii...! Jangan gila! Aku bisa kelenger jika bijiku pecah...! Pegang boleh, tapi jangan kasar... Pelan-pelan dong...”

Tiba-tiba gadis itu melengos. Cepat tangannya diangkat ke arah wajah Aji.

Aji yang keenakan dengan mata terpejam menjadi terkejut. Buru-buru kepalanya ditundukkan. Dan seketika tubuhnya melesat meninggalkan gadis itu. Sampai agak jauh, ternyata gadis itu tidak memburu. Maka Aji segera menghentikan langkahnya. Sesudah mengambil logam dari mulutnya, tubuhnya berbalik ke arah gadis yang tadi ditinggalkannya.

“Hmmm... Sekarang aku harus lebih berhati-hati lagi. Peringatan Ajeng Roro benar adanya. Dan melihat banyak orang menginginkan, berarti logam ini amat berharga...,” bisik Aji, kembali berbalik. Lalu dia kembali meneruskan perjalanannya.....

********************

Senja terasa basah oleh hujan seharian. Bumi jadi agak lembab. Angin berhembus pelan, seiring hilangnya rintik hujan. Saat yang demikian Aji sudah tiba di kota praja Kedung Langkap. Sebuah kota di Pesisir Laut Utara. Sampai sejauh ini pemuda itu tak mengerti kenapa Eyang Selaksa menyuruhnya meneruskan perjalanan ke Laut Utara.

Yang lebih sukar dimengerti adalah ucapan Ajeng Roro ketika mereka berpisah di lereng bukit. Katanya suatu saat Aji akan dihadang orangorang yang menginginkan logam di tangannya.

Di sebuah kedai yang terletak di perbatasan kota praja Kedung Langkap, Aji berniat mengisi perut yang telah seharian penuh tak terisi apa-apa. 

Ketika Aji masuk, pandangannya segera beredar ke sekeliling. Tampak dua orang tua berpakaian dekil dan awut-awutan duduk di sudut kedai.

“Ki, tolong sediakan makanan dan tuak dua bumbung,” ujar Aji sambil menyibakkan baju hijau ketatnya yang ngelawir ke bawah. Tidak begitu lama Aji menunggu.

Sebentar kemudian pesanannya telah datang diantarkan pemilik kedai yang tampak ramah dan selalu tersenyum. Namun begitu pemilik kedai baru saja beranjak dari hadapan Aji, di luar kedai terdengar ringkikan kuda yang melengking tinggi. Dua kaki depannya yang berladam besi menghentak dan menghujam tanah yang baru saja tersiram hujan seharian hingga tanah yang diinjaknya ambles membentuk kubangan kecil.

Sebentar kemudian terlihat dua orang berpakaian biru gelap memasuki kedai dengan tampang begitu kasar. Wajah mereka yang hampir tidak dapat dibedakan sedikit pun tidak menampakkan guratan keramahan. Rambut mereka yang jabrik, dan senjata kapak berwarna merah yang menyembul dari punggung menambah keangkeran dua orang ini.

Aji yang duduk di samping pintu terperangah sejenak. Sepertihya dua orang ini pernah dilihatnya. Tak salah lagi! Di kota praja Lemah Ajang. Keduanya ada di antara rombongan berkuda yang menuju kediaman Tumenggung!

Saat dua orang ini masuk, buru-buru Aji mengalihkan pandangan pada santapan di depannya. Sikapnya seperti tak peduli pada tatapan dua orang ini yang seakan menyapu seluruh ruangan kedai.

“Kapak Kembar Berdarah!” bisik salah seorang tua yang berpakaian dekil dan awut-awutan di sudut.

Aji melirik sebentar, telinganya lantas dipasang baik-baik. Dia memang sudah tahu siapa dua orang yang baru datang ini. Tapi Aji belum tahu sepak terjangnya. Dan kenapa mereka berada di sini.

“Jangan-jangan... Ah, tak mungkin!” Aji bertanya-tanya sendiri.

“Beruntung kita menemukan mereka di sini, Kakang Braja! Berarti kita tidak usah mencarinya jauh-jauh!” kata orang berpakaian dekil yang terlihat agak muda.

Dahulu, tepatnya tujuh belas tahun yang lalu, Adipati yang memerintah Kadipaten Pamotan memiliki dua orang tangan kanan. Bisa dipahami mengapa kedua orang tersebut dirangkul sang adipati. Karena mereka memang berkepandaian tinggi. Lagi pula pada saat itu rimba persilatan dalam keadaan goncang, setelah menghilangnya tokoh golongan putih jajaran atas sehingga di sana-sini muncul gerombolan-gerombolan liar yang menjarah dan membunuh seenaknya. Untuk mengatasi hal-hal 

seperti itulah sang adipati sengaja menjadikan kedua orang itu sebagai tangan kanannya.

Konon dua orang itu memang memiliki ciri tertentu. Yakni berpakaian dekil dan awut-awutan. Padahal wajah keduanya sebenarnya tampan. Walau begitu dua orang ini sangatlah bengis dan kejam. Mereka tidak segan-segan membunuh, meski pun terhadap orang yang melakukan kesalahan kecil dan remeh. Bahkan terhadap orang yang sudah tidak berdaya. Sehingga mereka dijuluki Dua Utusan Maut.

Kini Braja dan Rekso yang berjuluk Dua Utusan Maut itu muncul lagi. Kemunculan mereka ke pelataran sesudah mangkatnya sang adipati ialah untuk membalas dendam terhadap Kapak Kembar Berdarah yang telah menewaskan guru mereka.

Sesudah berbulan-bulan lamanya mencari, akhirnya mereka mendapat keterangan kalau Kapak Kembar Berdarah kini telah mengetuai tokohtokoh hitam di Pesisir Laut Utara. Dan pencarian Dua Utusan Maut rupanya tidak sia-sia setelah keduanya mendapatkan si Kapak Kembar Berdarah baru saja memasuki kedai.

Meski pun orang yang dicari-cari telah ditemukan, rupanya Braja orang tertua dari Dua Utusan Maut itu tidak berani berlaku gegabah. Hal ini dapat dimaklumi karena orang yang sudah berhasil menewaskan guru mereka pasti tidak bisa dianggap sembarangan.

“Kita tidak boleh bertindak sembarangan Rekso. Mereka adalah tangan kanan Sepasang Iblis Pendulang Sukma yang sudah mengobrak-abrik seluruh perguruan silat dari utara hingga selatan! Tentu mereka bukan lawan yang enteng. Kita harus menunggu sejenak! Bukan tak mungkin sekonyong-konyong datang beberapa teman mereka! Apa bila hal itu terjadi, maka kita akan gagal dalam membalas dendam! Karena bisa saja mereka main keroyok!” cegah Braja, ketika melihat Rekso mulai menampakkan kemarahannya.

Ketika mendengar pembicaraan salah seorang dari Dua Utusan Maut, seketika itu Aji menghentikan kunyahannya. Tenggorokannya bagaikan tersendat. Tanpa sadar sejenak ingalannya melayang balik pada hari kejadian pembantaian Perguruan Samudera Putih. Ya, hari kejadian itu tepat saat mereka berkunjung ke kediaman Tumenggung!

“Bisa jadi mereka yang berbuat keji terhadap Paman Guru!” batin Aji, sambil tetap memasang telinga baik-baik.

Matanya menusuk tajam pada dua orang berpakaian biru gelap yang baru saja duduk. Meski dadanya terasa bagaikan terhimpit bongkahan batu besar, Aji masih saja belum berani bertindak konyol. Dia sadar dirinya tak bisa ilmu silat. Sedangkan dibandingkan dengan dua orang berambut jabrik itu tidak ada apa-apanya. 

“Tetapi kalau benar mereka yang berbuat, suatu saat nanti aku akan membuat perhitungan!” bisik Aji dengan napas memburu.

“Pak, sediakan kami tuak!” ujar salah seorang berpakaian biru dengan suara keras. Bibir orang yang baru saja bicara tampak tersenyum sinis. Kemudian menebarkan pandangan ke arah orang di dalam kedai satu persatu.

“Kakang Braja! Kita harus bertindak sekarang!” ujar Rekso agak keras hingga seluruh mata memandang ke arahnya.

“Tahan, Rekso! Kita tunggu mereka di luar!” cegah Braja dengan wajah khawatir. Namun cegahannya terlambat.

Rekso, salah satu dari Dua Utusan Maut telah menjejak meja. “Anjing busuk, Jabrik!” bentak Rekso.

Tubuh lelaki itu meloncat, lalu mendarat kokoh di samping meja Kapak Kembar Berdarah. Matanya menembus tajam ke arah dua orang jabrik yang masih saja tak mengacuhkan kehadiran dan hardikannya.

“Terimalah hari kematian kalian, Anjing!” dengus Rekso sambil tangan kanannya dikibaskan ke bumbung tuak yang akan disuguhkan pelayan kedai.

Seketika dua bumbung tuak itu menukik tajam ke arah meja, langsung menumpahkan isinya. Akan tetapi sekonyong-konyong kedua benda itu memantul cepat ke arah kepala Kapak Kembar Berdarah. Namun hanya memiringkan kepala ke samping secara bersamaan, pantulan bumbung tuak yang berisi tenaga dalam tinggi itu berdesing menerpa angin sejauh empat jari di samping kepala Kapak Kembar Berdarah.

“He-he-he,..!” Saat itu juga terdengar tawa terkekeh salah satu orang berambut jabrik dari Kapak Kembar Berdarah.

Belum habis kekehan itu, kepalanya menunduk ke arah meja, lalu tuak yang masih menggenang di atas meja dijilatinya. Belum ada setarikan napas, meja yang baru saja tersentuh lidah salah satu Kapak Kembar Berdarah langsung mengepulkan asap. Bahkan langsung mengelinting bagai kulit kayu yang terbakar. Dan bersamaan dengan itu, tuak yang baru saja masuk ke mulut disemburkan ke arah Rekso yang masih tegak di sampingnya.

Semburan tuak itu mendadak berubah jadi gelembung-gelembung api, langsung melesat cepat ke arah Rekso. Beruntung laki-laki dekil itu waspada. Sebelum gelembung-gelembung api melabraknya, tubuhnya melesat ke atas. Setelah membuat beberapa putaran, kakinya hinggap di salah satu meja.

Sementara itu, tanpa terbendung gelembung-gelembung api melesat ke samping, menerobos dinding kedai. Seketika beberapa bundaran 

sebesar buah Langsep itu menghiasi dinding kedai yang terbuat dari bambu.

“Tempat ini terlampau sempit untuk main-main, Jahanam! Keluarlah!” bentak Rekso, lalu tubuhnya melesat di atas kepala Aji dan menerobos keluar kedai.

“Gendeng!” umpat Aji sambil memegangi kepala dan menunduk.

“Keluarlah, Anjing Kudis!” teriak Rekso begitu kakinya sudah menjejak pelataran kedai.

Dengan wajah dingin serta mata menyorot tajam, salah seorang dari si Kapak Kembar Berdarah yang tadi menyemburkan tuak melangkah keluar. Tidak lama kemudian di pelataran kedai tampaklah dua orang saling berhadapan dan siap menyerang.

Wajah Rekso tampak merah membara, menyimpan dendam kesumat. Rahangnya mengembang. Matanya tak berkedip memandangi laki-laki berambut jabrik di hadapannya.

Sedangkan satu laki-laki dari Kapak Kembar Berdarah terlihat tenangtenang saja. Bibirnya tetap menyunggingkan senyum dingin. Memang, Kapak Kembar Berdarah terdiri dari dua orang saudara kembar yang keganasannya sudah amat terkenal. Dalam setiap menghabisi lawanlawannya, mereka tidak pernah banyak bicara. Hanya senyum dingin saja yang selalu mengiringi tebasan kapak mautnya.

Dahulu, dua orang kembar yang sebenarnya bernama Jurig dan Girig itu adalah gelandangan kota praja. Karena lingkungan dan kebutuhan yang menghimpit, akhirnya mereka menjadi ketua begal di kota praja. Mereka berdua sangat ditakuti penduduk karena kekejian dalam setiap melakukan perampokan.

Namun setelah hadirnya Wong Agung dan beberapa tokoh-tokoh putih waktu itu, akhirnya dua orang itu harus mengundurkan diri dari dunia begal. Apa lagi ruang gerak mereka sudah terjepit karena munculnya tokoh-tokoh golongan putih.

Konon, setelah itu mereka pergi ke Lembah Prangas. Sebuah lembah yang dihuni oleh seorang sakti bernama Rambujang yang juga berjuluk Jagal Prangas. Di sana kedua orang itu berguru. Dan setelah merasa memiliki kepandaian tinggi, mereka muncul kembali.

Mereka lantas memakai julukan Kapak Kembar Berdarah! Karena di pinggang masing-masing memang tak pernah lepas dari senjata kapak berwarna merah. Dan tak tanggung-tanggung, sekarang mereka telah bergabung, bahkan menjadi tangan kanan Sepasang Iblis Pendulang Sukma, sepasang tokoh golongan sesat yang mulai menguasai dunia persilatan. 

Dalam upaya melebarkan sayap, Kapak Kembar Berdarah tak segansegan membinasakan orang yang menolak bergabung. Dan salah satu dari korban mereka adalah guru dari Braja dan Rekso.

Sejauh ini Rekso hanya mendengar tentang kehebatan Kapak Kembar Berdarah. Jadi mereka belum pernah sekali pun bertemu. Hingga saat menemukannya, Rekso seolah tak sabar ingin menjajal kehebatannya.

“Anjing busuk! Mengapa kalian tidak maju sekalian saja! Biar sekalian masuk kubur bersamaan?!” ujar Rekso tak sabar.

“Tua busuk! Untuk membuatmu mandi darah cukup dengan aku saja!” balas Jurig, salah satu dari Kapak Kembar Berdarah dengan senyum masih tersungging. “Tapi sebelum kubuat berkubang darah, katakan dulu siapa kau! Dan, apa urusanmu hingga tiba-tiba menyerangku?!”

“Baik! Biar arwahmu tidak penasaran, dengar baik-baik! Kami adalah Dua Utusan Maut!” jawab Rekso dengan suara menggemuruh.

Sementara Aji yang masih menonton dari dalam kedai jadi ternganga. Pemuda itu memang baru kali ini mendengarnya. Dan tanpa sadar pandangannya langsung diarahkan kepada orang yang masih duduk di sudut.

Wajahnya memang sudah tidak muda lagi. Namun sambaran matanya yang menghujam tajam mengisyaratkan kalau orang ini tampak kejam dan tak pandang bulu.

Jurig, salah seorang dari Kapak Kembar Berdarah yang kini berada di luar kedai dan berhadapan dengan Rekso, sejenak bergetar. Namun dia tetap tenang. Bahkan tangannya lantas saja mengusap-usap ujung senjatanya di pinggang.

“Senang sekali dapat berjumpa orang-orang hebat macam kalian! Tapi apa gerangan yang membuat Dua Utusan Maut tiba-tiba menyerang kami? Bukankah Kapak Kembar Berdarah tidak pernah bersengketa dengan Dua Utusan Maut?” tanya Jurig kalem.

“Kau terlalu berbasa-basi! Dengar! Kami hanya ingin menagih hutang atas nyawa Randu Keling, guru kami!” jelas Rekso dengan sepasang mata melotot.

“Itu salah guru kalian sendiri! Mengapa ia menolak ajakan kami? Kalian tahu imbalan sebuah kesalahan bagi kami, bukan? Nyawa!” kata Jurig tak kalah garang. Dan mendadak wajah Jurig berubah berseri. Senyum manis yang sebenarnya lebih mirip seringai langsung terkembang di bibirnya.

“Namun..., untuk Dua Utusan Maut, kami masih mempunyai perasaan! Kesalahan kalian akan kuampuni, kalau mau bergabung dengan kami!” lanjut Jurig. 

“Tahi kambing! Itu suatu penghinaan bagi kami! Kau tahu bukan, apa yang harus dibayar jika menghina kami? Maut!” bentak Rekso.

Pada saat itu juga Rekso mendorong kedua telapak tangannya. Maka terciptalah satu pusaran angin panas dari kedua telapak tangan yang langsung melesat ke depan.

“Uts!” Jurig cepat mengibaskan tangan kirinya ke samping, tepat ketika tubuhnya miring menghadap ke samping kanan.

Begitu sambaran angin panas lewat kemudian amblas di sampingnya, tubuhnya cepat berputar hingga seakan lenyap. Dan tiba-tiba sebuah terjangan kaki menerobos masuk ke arah pinggang Rekso.

Hampir saja terlambat, kalau Rekso tidak cepat menarik badannya ke belakang. Namun tidak urung kaki itu menyambar kain dekil Rekso di bagian pinggang. Kain itu sontak terkoyak mengeluarkan bau sangit!

Mendapatkan serangannya tidak mengenai sasaran, bahkan serangan susupan yang dilancarkan Jurig nyaris saja menjebolkan pinggangnya, Rekso maju setindak. Setelah menyusupkan serangan, kakinya lantas cepat menyapu ke leher Jurig yang masih jongkok.

Kali ini Jurig tidak memiliki waktu lagi untuk memutar tubuhnya. Maka disambutnya sapuan deras kaki Rekso dengan tangan terpentang di atas leher.

Prakk!

Terdengar suara benturan keras. Si tua dekil, yaitu salah satu dari Dua Utusan Maut terhuyung ke belakang beberapa tindak. Wajahnya yang sudah mengeriput mendadak menegang seiring ringisan bibirnya yang menahan sakit luar biasa.

Sedangkan Jurig hanya sedikit goyah ke samping. Namun tidak urung tangannya nampak membiru. Dan diiringi satu dengusan keras, Jurig meloncat ke arah Rekso yang masih terhuyung-huyung ke belakang dengan satu hantaman kepalan tangan.

Karena belum bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, Rekso segera saja menyilangkan kedua tangannya untuk menangkis serangan Jurig yang tak terduga. Tetapi begitu kepalan tangannya menghantam, Jurig juga memasukkan terjangan kaki ke arah perut.

Kepalan tangan Jurig memang dapat ditangkis tangan Rekso. Namun terjangan kaki yang datang bersamaan itu tidak bisa lagi dihindarinya. Maka...

Bress! 

“Aaakh...!” Tubuh salah satu dari Dua Utusan Maut itu langsung saja bergulingan di pelataran kedai disertai jerit kesakitan. Darah terlihat mengucur dari mulutnya.

Sementara Jurig cepat-cepat melangkah mendekat. Tangannya segera diangkat, siap membabat ke arah Rekso yang sudah tak berkutik. Tapi sebelum sambaran tangan Jurig menghujam, tiba-tiba sebuah kibasan angin kencang memapak tangannya.

Wett! Prakk!

Sebuah tamparan keras mendarat telak di bahu kiri Jurig. Tak ampun lagi tubuhnya terbanting ke samping beberapa tindak. Namun laki-laki berambut jabrik ini cepat bangkit berdiri dengan satu lentingan indah. Begitu menoleh ke samping, Jurig melihat seorang laki-laki dekil yang tadi duduk di kedai telah berdiri dengan seringai menggiriskan. Dia tak lain memang Braja, satu dari Dua Utusan Maut lainnya.

“Setan alas! Pembokong keparat!” geram Jurig.

Sementara itu tanpa menunggu lama Braja segera kembali melangkah maju sambil kembali tangannya menghantam ke arah Jurig. Pada saat itu juga terdengar deru angin serangan seiring dengan melayangnya tangan Braja.

Jurig tidak tinggal diam. Meski bahu kirinya masih terasa nyeri, tentu saja kepalanya tak sudi menjadi sasaran berikutnya. Cepat kepalanya menunduk sedikit, lalu memiringkan tubuhnya. Saat hantaman keras lewat di atas kepala, kakinya mendepak ke perut Braja.

Namun serangan itu telah lebih dahulu dibaca Braja. Cepat bagai kilat kakinya diangkat tinggi-tinggi. Begitu terangkat, kakinya diluruskan ke belakang. Sejenak Braja bagai orang sedang melayang, namun kaku! Maka loloslah serangan kaki Jurig yang tadi telah merobohkan Rekso.

Bahkan begitu serangan itu lolos, tak disangka-sangka kaki Braja yang masih kaku di atasnya cepat terayun ke bawah. Padahal saat itu Jurig sedang menarik pulang kakinya. Tak urung sekali ini Jurig terlambat menghindar sehingga ayunan kaki Braja kontan menghantam punggungnya.

Bress!

“Aaakh...!” Tubuh Jurig langsung terpuruk ke tanah lima tombak ke depan. Terdengar lenguhan keras. Darah tampak menetes dari lobang hidungnya.

Namun Jurig ternyata amat tangguh. Cepat ia tampak bangkit. Bahkan tangannya diangkat memberi isyarat pada Girig, saudara kembarnya yang telah berdiri di luar kedai untuk menahan langkahnya. 

“Biar aku saja yang mengurus tikus ini!” tukas Jurig kepada saudara kembarnya. Setelah berkata dernikian Jurig tampak sedekap. Matanya dikedipkan dua kali. Maka saat itu pula tangannya dibuka lalu didorong ke depan perlahan-lahan.

Seketika tercipta angin dingin menusuk melesat ke depan.

Menyaksikan hal itu Braja cepat menjajarkan tangannya ke dada dan secepat itu pula disentakkannya ke depan, memapak serangan angin dingin yang menuju ke arahnya. Dan...

Blarr!

Seketika terdengar dentuman menggelegar begitu kedua serangan itu bertemu. Tanah di bawah bertemunya serangan tampak terbongkar.

Sementara Braja terhuyung-huyung ke belakang. Ada pun Jurig hanya terjajar dua tindak ke samping. Hal ini bisa dimaklumi. Karena biar pun tenaga mereka sama-sama hebat, tapi usia pula yang telah membuat Braja harus mengakui keunggulan satu dari Kapak Kembar Berdarah ini.

Ketika tubuh Braja terhuyung-huyung, Jurig bersuit. Maka sekonyongkonyong saudara kembarnya telah merangsek maju dengan hantaman keras ke dada Braja yang belum menguasai keadaan. Maka...

Bress!

Pada saat yang sama Jurig juga melenting lalu berputar di udara. Saat menjejak tanah, tubuhnya telah berdiri di samping Rekso.

Rekso kaget, namun terlambat. Karena ayunan kaki Jurig telah deras menghantam ulu hatinya.

Dess!

Tak ayal, Dua Utusan Maut sama-sama bergulingan di pelataran kedai. Sebentar mereka berusaha bangkit, tetapi begitu menegakkan kepala, darah segera tersembur dari mulut mereka.

Sebentar kemudian tampak Dua Utusan Maut meregang nyawa. Kaku, lalu diam tak bergerak. Mati dengan tubuh hitam.

“Biadab! Seandainya aku punya kekuatan, tak mungkin hal itu terjadi di depan mataku!” dengus Aji menyaksikan pertarungan yang sangat tak enak dipandang mata.

Sesudah berhasil menewaskan Dua Utusan Maut, Kapak Kembar Berdarah pergi meninggalkan kedai. Dan diam-diam Aji mengikuti dari belakang. Aji terus melarikan kencang kudanya di atas tanah yang becek sehingga setiap hentakan kaki kudanya menimbulkan kecipak.  

Namun Kapak Kembar Berdarah terus menggebah kudanya kencangkencang pula. Bahkan tak jarang kaki dua orang itu dikepak-kepakkan di perut kuda tunggangannya.

Namun setelah sampai di suatu padang ilalang yang merangas tinggitinggi, Aji segera menghentikan lari kudanya dengan kening berkerut. Ternyata pemuda itu kehilangan jejak Kapak Kembar Berdarah yang diikutinya.

Aji coba menebarkan pandangan, namun hanya padang ilalang yang terpampang di hadapan dan kanan-kirinya. Dua orang berambut jabrik itu bagai lenyap ditelan bumi.

“Jangkrik! Ke mana larinya mereka?” rutuk Aji sendirian dengan mata tetap jelalatan.

Tanpa disadari Aji, ilalang yang berada lima tindak di kanan kiri pemuda itu bergerak-gerak. Namun sebelum Aji sempat melihat apa yang terjadi, terdengar suara tawa terbahak-bahak yang disusuli oleh berkelebatnya dua bayangan biru.

Belum habis rasa kagetnya, di samping kanan dan kiri Aji telah berdiri dua orang yang berpakaian biru gelap dengan rambut jabrik. Memang mereka tak lain adalah Kapak Kembar Berdarah.

“Bangsat! Apa perlumu mengikuti perjalanan kami, he?!” bentak Jurig.

Aji terkesiap seketika. Wajahnya sontak pias. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Sungguh hal ini di luar dugaannya. Maka sambil mengusap-usap jakun, kepalanya menoleh kanan-kiri.

“Mengikuti? Siapa mengikuti kalian? Mungkin kita satu arah!” kilah Aji dengan suara bergetar. Keringat dingin tampak mulai membasahi sekujur tubuh dan pakaian hijau ketatnya serta pakaian dalamnya.

“Penipu busuk! Beraninya kau bicara bohong pada kami! Kau kira kami tidak tahu tingkahmu, he?!” hardik Girig. Bersama Jurig dia melangkah dua tindak ke arah Aji.

“Tahan! Mari kita bicara baik-baik!” ujar Aji.

“Bocah! Lekas katakan, apa maksudmu mengikuti kami! Dan siapa kau sebenarnya?!”

“Wah! Runyam ini masalah...,” bisik Aji dalam hati. Sebentar pemuda itu menatap Jurig. Lalu tatapannya beralih pada Girig, berganti-ganti. Sepertinya, Aji hendak meyakinkan salah seorang dari Kapak Kembar Berdarah. 

“Eh! Aku... maksudku, namaku Aji. Aku... tidak punya maksud apa-apa terhadap kalian. Aku... aku hanya ingin melihat kehebatan kalian,” kata Aji dengan suara seperti menggantung di tenggorokan.

“Dusta!” hardik Girig. “Dari cara mengikuti, kau pasti memiliki maksud tertentu! Cepat katakan!”

“Percayalah! Aku tak punya maksud apa-apa terhadap kalian!” ujar Aji dengan suara sember.

“Keparat!” dengus Jurig sambil melepaskan pukulan tangan kiri ke arah bahu kiri pemuda tampan dan perlente.

Walau Aji tidak mengerti ilmu silat, namun nalurinya mengatakan harus menyelamatkan diri. Maka saat pukulan tangan Jurig tinggal sejengkal lagi akan melabrak bahu, tubuhnya langsung diangkat semampunya ke atas untuk berkelit menghindar.

“Uts...!” Maka tak ayal pukulan tangan Jurig hanya menerpa angin. Ada pun tubuh Aji berputar di angkasa, lalu menjejak tanah lima tombak di belakang.

“Anjing kurus!” dengus Jurig geram. Tubuhnya langsung berbalik, lalu memandangi pemuda tampan dan perlente dengan pandang mata tak percaya.

Aji sendiri juga tidak percaya bahwa dirinya bisa selamat dari pukulan orang yang sudah menewaskan salah satu dari Dua Utusan Maut! Sejenak bahu kirinya diraba. Legalah hatinya ketika menyadari bahu kirinya masih utuh.

“Heaaat...!”

Belum lama Aji menikmati kelegaannya, satu bentakan menggemuruh dengan kaki lurus melabraknya. Kali ini datangnya dari Girig.

Aji tersentak, namun cepat kembali berkelit dari terjangan kaki Girig dengan melenting ke samping. Maka terjangan dahsyat Girig dengan kakinya hanya menerpa tempat kosong.

Merasa dipermainkan bocah kemarin sore, Kapak Kembar Berdarah naik pitam. Sejenak mereka saling berpandangan.

“Bocah keparat ini tak bisa dibuat main-main, Kakang!” ungkap Jurig, langsung merapatkan tangan di dada.

Tindakan itu juga dilakukan Girig. Lalu keduanya tampak komat-kamit. Kelihatannya, Kapak Kembar Berdarah sedang mengerahkan jurus andalan. 

Memang, sejak pertama kali muncul kembali ke dunia persilatan, dua orang ini diketahui mempunyai sebuah jurus yang amat ditakuti lawanlawannya. Bahkan karena jurus itulah mereka disejajarkan dengan tokoh-tokoh tingkat atas. Jurus yang menitik-beratkan pada tenaga gabungan ini dinamakan jurus 'Kapak Kembar Sapu Bumi'.

Tubuh Kapak Kembar Berdarah tampak berputar-putar cepat, lalu menyatu. Kemudian tubuh mereka tampak memisah, sebelum akhirnya menyatu kembali sambil menyentakkan kedua tangan ke depan kuatkuat.

“Hiaaa...!”

Seketika dua larik gelombang disertai angin menderu kencang meluruk ke depan, ke arah Aji yang sedang berdiri kebingungan.

Melihat keadaan gawat, Aji segera mengerahkan seluruh kemampuan untuk menghindar. Supaya dapat melesat ke atas lebih tinggi, kakinya menjejak kuat-kuat tanah berilalang di bawahnya pada saat dua larik gelombang berangin kencang meluruk ke arahnya.

Dan yang terjadi benar-benar sukar dipercaya Aji sendiri. Tanah yang terjejak kakinya sekonyong-konyong ambrol.

Brulll!

Maka seketika seluruh tubuh pemuda itu terperosok ke dalam lobang tanah yang terjejak kakinya. Demikian kuat jejakan kakinya sehingga dalamnya lobang yang tercipta sampai satu tombak di atas kepalanya.

Sementara itu dua larik gelombang angin dahsyat itu hanya menerpa ilalang yang merangas tak beraturan di sekitar lobang tempat Aji terperosok. Dan akibatnya ilalang itu kontan terberangus sampai akarakarnya tercabut keluar dari tanah!

Sedangkan larikan gelombang angin terus meluncur, lalu menghantam hingga pecah berantakan membentuk kepingan-kepingan kecil.

Menyadari dirinya terperosok ke dalam tanah, tanpa pikir panjang Aji menjejak tanah dalam lobang untuk melenting ke atas. Tubuh pemuda itu lantas mendarat di tanah ilalang yang terberangus, diiringi tatapan beringas Kapak Kembar Berdarah.

Sret! Sret!

Dua kapak warna merah sudah tercabut dari pinggang Kapak Kembar Berdarah. Maka tanpa bicara lagi keduanya meluruk, mencecar tubuh Aji dengan sabetan-sabetan kapak dan sesekali dengan terjangan kaki. 

Tampaknya kini Kapak Kembar Berdarah tak mau bertindak sembrono. Mereka menyadari bocah tanggung itu ternyata tidak bisa diremehkan. Buktinya jurus andalan mereka begitu mudah dielakkan.

Sementara Aji sendiri masih berusaha menghindar, walau sebenarnya gerakan itu hanyalah gerakan naluri untuk menyelamatkan diri.

Beberapa jurus sudah dilancarkan Kapak Kembar Berdarah dengan kapak merahnya. Namun sejauh ini, hanya mengandalkan kelitan atau kecepatan geraknya, Aji masih mampu menyelamatkan diri, walau pun tak jarang goresan-goresan kapak sesekali sempat menyerempet kulit tubuhnya.

Begitu cepat serangan Kapak Kembar Berdarah serta gerakan berkelit Aji sehingga jika dilihat mata biasa mereka bertiga hanya bagai kilatankilatan warna merah yang melesat kian kemari tanpa ada sosok yang terlihat. Hingga pada satu kesempatan, Kapak Kembar Berdarah yang telah dirasuki amarah menggebu, menebaskan kapak mereka secara berbarengan disertai tenaga dalam kuat.

“Uhh...!” Dengan sisa-sisa tenaga yang hampir pupus, Aji melentingkan diri tinggi-tinggi sehingga kapak berwarna merah itu menerabas tanah di bawahnya lantas menancap tanpa bisa ditarik lagi.

Pada saat yang sama tubuh Aji meluncur ke bawah dan tanpa disadari kakinya menjejak tubuh Kapak Kembar Berdarah di bawahnya.

Des! Des!

“Aaaakh...! Aaaakh...!” Terdengar dua pekikan menyayat sebelum dua tubuh berambut jabrik ambruk ke tanah dengan punggung menganga!

“Heh? Apa yang kulakukan tadi? Jadi...?” kata Aji terperangah begitu meloncat dan mendarat di tanah, setelah dua kakinya menjejak Kapak Kembar Berdarah.

Pemuda berpakaian hijau ketat dengan pakaian dalam warna kuning itu melihat kedua orang yang hendak membunuhnya tampak sekarat dengan darah mengalir dari mulut mereka. Mata dua orang berjuluk Kapak Kembar Berdarah ini menatap sayu ke arah Aji, sebelum akhirnya melotot tak berkedip selamanya!

Aji masih termangu-mangu menyaksikan semua ini. Benar-benar sukar dipercaya bahwa gerakan tanpa sadar kakinya dapat menewaskan dua orang yang disegani dunia persilatan saat ini! Bagaimana hal itu bisa terjadi ?

******************** 

Ditingkahi deru angin kencang yang mengiringi, gelombang Laut Utara tampak ganas dan bergulung-gulung. Udara tepi pantai terasa panas menyengat karena mentari belum juga beranjak dari titik tengah.

Di pinggir pantai, tepatnya di sebuah batu besar yang menghadap Laut Utara, tampak seorang pemuda tanggung berpakaian warna hijau ketat lengan pendek dengan pakaian dalam warna kuning lengan panjang serta rambut dikuncir ekor kuda. Matanya yang menyorot tajam tampak memandangi debur ombak yang menghempaskan buih-buih putih ke tepian. Pemuda yang tak lain Aji itu seperti tengah termangu.

Dia tak habis pikir tentang kejadian-kejadian yang baru saja dialami. Aji masih tak percaya bahwa kini dia bisa mengangkat tubuhnya dengan ringan. Bahkan pandangannya kini bisa jauh menerawang. Lebih-lebih dengan hentakan kaki yang tak disengaja, Aji bisa merontokkan Kapak Kembar Berdarah.

Padahal semua itu mungkin hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berilmu tinggi dan sudah berpengalaman dalam dunia persilatan. Sedangkan dia?

Sementara belum bisa menjawab keganjilan-keganjilan dalam dirinya, kini Aji dihadapkan pada hal yang juga tidak bisa dimengerti. Tentang Eyang Selaksa! Mengapa orang tua yang selalu bercaping dan tidak pernah tersenyum itu menyuruhnya pergi ke sini? Ke Laut Utara?

“Tetapi... tidak mungkin orang tua itu menyuruh begitu saja tanpa ada maksud-maksud tertentu!” gumam Aji.

Mengingat itu, pemuda ini segera beranjak dari batu besar. Matanya memandang jauh ke tengah-tengah laut yang bergelombang dahsyat. Lamat-lamat matanya melihat sebuah gundukan tinggi yang menjulang di tengah laut.

“Hmm... mungkin tempat itulah yang dimaksud Eyang Selaksa...,” pikir Aji. “Tapi bagaimana aku harus ke sana?”

Lama Aji berdiri dengan tercenung. Tetapi sekonyong-konyong kakinya menghentak sambil menepuk jidatnya.

“Jangkrik! Bodohnya aku...!” umpat Aji sambil manggut-manggut.

Memang, untuk sampai ke gundukan tinggi menjulang di tengah laut, tidak ada jalan lain kecuali harus mengarungi air laut. Dan, bukankah selama empat purnama penuh ia selalu bergulat dalam air di Kampung Blumbang?

“Ya...! Sekarang aku mengerti! Orang tua itu sengaja merendam diriku empat purnama karena perjalanan selanjutnya berhubungan dengan air! Sial...! Mengapa baru sekarang aku mengerti? Bodoh...! Bodoh...!” rutuk Aji sambil tersenyum sendiri. 

Maka Aji segera melepas baju hijau ketatnya, kemudian melipatnya dan memasukkan baju itu ke dalam pakaian dalamnya. Lantas dengan langkah-langkah lebar pemuda itu mulai maju mendekati ombak yang menuju ke arahnya.

Sebentar Aji berdiri kaku memandangi gelombang. Seluruh perhatian dipusatkan pada air di hadapannya. Ketika merasa sudah benar-benar siap, kakinya menjejak ke pasir pantai.

Saat itu juga tubuhnya melesat menerjang gelombang. Sebentar saja tubuh Aji telah timbul tenggelam membedah ombak yang dahsyat menuju gundukan tinggi di tengah laut.....

********************

Matahari telah berwarna merah saga. Sementara dua tombak di ujung barat Laut Utara, tampak sosok Aji menyembul dari sela batu karang di tengah laut. Dan dengan sekali jejak, tubuhnya sudah berdiri kokoh di atas sebongkah batu karang yang mengelilingi batu karang yang menjulang tinggi, dan samar-samar mulai terselimuti kabut serta asap putih.

“Apakah di sini aku akan menemui seseorang?” tanya Aji dalam hati.

Perlahan-lahan dia melangkah ke pinggir batu karang. Matanya mulai menebar ke sekeliling batu karang yang kini mulai tampak menghitam seiring memudarnya sinar mentari. Tapi hingga matanya lelah mencari, tidak juga ditemukan seseorang, kecuali batu-batu karang yang mulai tergenangi air laut pasang.

“Apakah di batu karang yang tinggi itu?” tanya Aji seraya mengenakan kembali baju hijau ketat lengan pendeknya karena udara dingin terasa mulai menusuk. “Akan kucoba kesana!”

Seketika itu juga Aji berkelebat melewati beberapa selat-selat kecil di antara batu-batu karang. Begitu kakinya menginjak batu karang yang berseberangan dengan batu karang yang tinggi menjulang, mulutnya lantas ternganga.

Dia seakan tak percaya pada penglihatannya bahwa batu karang tinggi yang diselimuti kabut tipis dan tegak berdiri menjulang ternyata tanpa tonjolan dan gundukan di sisi-sisinya. Sisi-sisi batu karang itu hanya berupa batu karang yang lurus bagai tembok sebuah bangunan.

“Jangkrik!” serapah Aji. “Bagaimana aku harus sampai ke sana?”

Sejenak pemuda berpakaian hijau ketat dengan pakaian dalam warna kuning itu menarik-narik kuncir rambutnya lalu menangkupkan kedua lengannya ke dada karena terkena hembusan angin tengah laut. 

Kembali matanya memperhatikan batu karang menjulang di depannya.

“Mustahil mencari tali di tempat seperti ini!” gumam Aji sambil gelenggeleng kepala. Tapi tiba-tiba raut muka pemuda itu berubah ceria. Tak lama kemudian ia menarik kakinya tiga tindak ke belakang lalu telapak tangannya dibuka serta ditariknya ke dekat mulut.

“He...! Adakah orang di atas...?!” teriak Aji dengan kepala mendongak. Tak ada sahutan.

“He...! Adakah kau di atas...?!” Kembali Aji berteriak lantang.

Akan tetapi belum juga ada jawaban. Bahkan suaranya bagai lenyap begitu saja tanpa meninggalkan gema. Mendapati teriakan-teriakannya tidak mendapat sambutan, wajah Aji menjadi kecut. Kedua tangannya segera dijuntaikan ke bawah. Kakinya lalu melangkah maju mendekati sisi batu karang yang lurus menjulang. Sejenak tangannya merabaraba sisi batu karang, lalu kepalanya menengadah.

“Buntu!” dengus Aji.

Dengan tubuh lemas pemuda itu berbalik lantas melangkah ke sebuah batu karang yang menjorok ke tengah laut. Sambil bergerak duduk dia memandangi laut lepas yang kini sudah tampak menghitam.

“Kalau pun tempat ini yang harus kutuju, sebelumnya Eyang Selaksa pasti sudah mengukur batas kemampuanku. Tetapi..., apakah Eyang Selaksa belum pernah ke tempat ini? Seandainya Eyang mengatakan begini tempatnya, mungkin aku dapat mempersiapkan perlengkapan,” batin Aji sambil memasukkan tangan ke baju dalamnya.

Ketika masuk ke saku, tangan Aji menyentuh logam putih pemberian mendiang ibunya yang dititipkan kepada Aki Lempungan, Tanpa sadar diambilnya logam putih itu.

Selintas mata pemuda itu menerawang jauh. Ingatannya terasa dibawa kembali ke seberang laut lepas. Ke sebuah bangunan tua yang berada di lereng bukit, Aki Lempungan dan Gatra. Lalu terbayang lagi tubuhtubuh bergelimpangan, lantas beralih ke gadis cantik dan menantang berbaju kuning, gadis anggun di Kampung Blumbang, hingga akhirnya kepada Eyang Selaksa!

Begitu teringat kepada orang tua itu, Aji lantas menundukkan kepala. Matanya memandangi logam di tangannya. Dia sedikit terlonjak ketika memperlihatkan lukisan di lempengan logam. Tanpa sadar kepalanya menoleh ke batu karang tinggi. Lalu tatapannya kembali ke logam di tangannya. Lantas dibaliknya kepingan logam. Lagi-lagi Aji terkejut. 

“Hm... Berarti ada hubungan antara Kampung Blumbang dengan batu karang itu!” bisik Aji sambil memandang ke arah batu karang. “Tetapi apa?”

Aji terus berpikir keras. Dicobanya untuk merangkai semua peristiwa yang pernah dialaminya. Sampai pada akhirnya...

“Ahh...! Kenapa aku masih juga tolol?!” sentak Aji tiba-tiba. “Bukankah waktu terendam di Blumbang aku harus berjuang mengangkat tubuhku ke atas? Agar tidak mati sia-sia karena kebanyakan minum air merah? Dan bukankah pijakan-pijakan di bawah air makin lama makin dalam dan runcing? Dan..., ya! Sekarang tahulah aku...! Aku harus berjuang melewati sisi batu karang itu dengan cara menjejak batu karang di bawahnya yang tidak beraturan. Bahkan tak jarang di antaranya ada yang runcing!”

Aji lalu bangkit mendekati sisi batu karang. Perlahan-lahan ia menjejak batu karang di bawahnya. Pada jejakan ketiga langsung dikerahkan tenaga kuat-kuat.

“Hup!” Maka saat itu juga tubuh Aji melenting ke atas. Namun lentingan tubuhnya belum sampai setengah tinggi sisi batu karang. Kala kakinya mendarat, kembali dijejakkan kuat-kuat. Tubuhnya kembali melenting ke udara dan kali ini lebih tinggi dari semula.

Kini di bawah langit yang tak bersinar rembulan, tampak tubuh pemuda berpakaian hijau ketat dengan pakaian dalam berwarna kuning serta berkuncir itu melenting-lenting di sisi batu karang. Tetapi ketika kakinya menjejak batu karang runcing...

Crass!

“Aaakh...!” Batu karang runcing itu memang tidak bisa dihindari lagi. Aji berdiri sejenak, kakinya diangkat dan dibalik. Tampak telapak kakinya robek dan berlobang. Darah mulai merembes dari lobang telapak kaki. Raut wajahnya sontak mengerut menahan sakit dan perih.

“Jangkrik! Untung kakiku sudah terbiasa dan terlatih empat purnama di dalam Blumbang. Kalau tidak...?!” Aji mengomel seraya menggidikkan tubuhnya.

Kembali Aji menengadah memandangi batu karang. Dan entah dengan meringis atau senyum, kembali kakinya menjejak batu karang.

Sebentar kemudian tubuhnya sudah kembali mengangkasa. Sampai pada jejakan yang keenam puluh dua, ujung sisi batu karang sudah tergapai tangan Aji. Namun karena pegangan tangannya belum begitu kuat, akhirnya tubuhnya kembali meluruk ke bawah.

Dan pada saat itulah dengan sisa-sisa tenaga, kakinya menjejak batu karang di bawah sekuat-kuatnya. Seketika itu juga tubuhnya kembali 

membumbung dan..., sisi batu karang yang tinggi dan lurus itu sudah terlewati!

Begitu kaki Aji berhasil mendarat di pelataran batu karang yang tinggi dan berkabut, tubuhnya limbung. Dan tak lama kemudian pemuda itu ambruk menggeloso di atas batu karang.....

********************

“Masih hidupkah aku?” Pertanyaan tak terjawab ini keluar ketika sosok berpakaian hijau ketat dengan pakaian dalam berwarna kuning yang bukan lain Aji membuka kelopak matanya. Pandangan matanya masih remang-remang. Kepalanya menggeleng-geleng sambil bangkit duduk.

Ketika matanya sudah terbiasa lagi, ditariknya napas panjang. Tampak keceriaan terpancar dari wajahnya yang kuyu itu.

“Akhirnya aku sampai juga...” gumam Aji seraya menyapu pandangan matanya ke samping.

Terlihat laut lepas yang membiru dan sesekali dihiasi lonjakan-lonjakan putih yang menggulung dan menerjang dahsyat. Ketika pandangannya mengarah ke depan, Aji sedikit terkejut. Kira-kira tiga puluh tombak di depannya, tampak sebuah bangunan batu. Maka buru-buru dia bangkit dan melangkah ke depan.

Namun tatkala Aji mulai melangkah dan kakinya baru menginjak batu karang, tampak wajahnya meringis menahan sakit.

“Jangkrik! Aku lupa kalau kakiku terluka ,” dengus Aji.

Namun kakinya terus melangkah kedepan meski dengan terbungkukbungkuk dan terpincang-pincang. Ketika pemuda tampan dan perlente itu berada lima tombak di depan bangunan batu, apa yang terlihat di depan membuatnya terkesiap.

Tepatnya di depan bangunan batu, tampak kepingan-kepingan batu karang kecil yang berantakan. Pada saat memandang sedikit ke atas, nampak atap bangunan batu bagian depan berlobang dan rengkah. Tiang penyangga bangunan pun tak tampak sehingga jika bangunan itu bukan bikinan alam, mungkin telah ambruk.

“Apakah yang terjadi dengan bangunan itu? Dan siapakah yang telah merusaknya? Jangan-jangan  ”

Serentak sepasang mata Aji melotot ke samping kanan-kiri bangunan. Namun tidak ada tanda-tanda orang di sana. Kakinya lalu melangkah lebih dekat. Kepingan-kepingan batu karang semakin banyak. Dan di antaranya ada yang menghitam bagai baru terbakar. 

“Jika melihat pecahan yang berserakan begitu saja, ini pasti perbuatan tangan jahil manusia!” batin Aji.

Kemudian pemuda itu bergerak melongok ke dalam bangunan yang pintunya melompong dan rengkah-rengkah.

“He... Adakah orang di dalam...?!” teriak Aji mana kala tak menemukan seorang pun ketika kepalanya melongok.

Tidak ada jawaban yang diharapkan. Sunyi sepi. Hanya pantulan gema suaranya yang kemudian disahuti gemuruh ombak di bawah. Perlahanlahan Aji melangkah dan masuk ke dalam bangunan.

Ternyata bagian dalam bangunan itu hanya berupa satu ruangan besar tanpa ruangan kamar-kamar atau pajangan. Untuk sesaat Aji terdiam. Sementara matanya menyorot tajam memperhatikan sekeliling.

“Hm... di belakang tampaknya ada lobang pintu...,” gumam Aji seraya beranjak ke arah belakang ruangan. Begitu sampai depan lobang yang ternyata tak berpintu, Aji kembali berteriak. “He...! Apakah ada orang di dalam...?!”

Tapi kali ini jawaban itu juga tak terdengar. Aji menggeleng-gelengkan kepala dan menarik-narik kuncir rambutnya. Karena lama tak juga ada tanda-tanda munculnya seseorang, kakinya lantas bertindak memasuki lobang yang tak berpintu.

Baru selangkah masuk Aji terlonjak karena merasakan getaran-getaran hebat di belakang lobang pintu. Buru-buru pemuda itu menarik kembali tubuhnya keluar dari lobang pintu.

“Aneh!” batin Aji. “Di sini getaran tadi tidak terasa...!”

Karena belum yakin, Aji kembali masuk. Dan ternyata getaran-getaran itu masih ada. Dia kembali keluar. Tak ada getaran!

“He...! Jawablah! Adakah orang di dalam...?!” teriak Aji lantang. Baru saja kata-kata Aji lenyap...

“Sebagai tamu, berlakulah sedikit sopan...!” Tiba-tiba saja terdengar suara berat menyahut. Suaranya seperti diucapkan di samping telinga Aji sehingga tanpa sadar Aji mundur dua tindak ke belakang. Matanya jelalatan, namun tak juga muncul orang yang memperingatkannya tadi.

“Di manakah kau...?!” tanya Aji memberanikan diri setelah orang yang ditunggu-tunggu tidak juga muncul.

“Jangan berteriak-teriak, Bocah! Masuklah...!” Kembali terdengar suara berat yang memerintah. Namun belum juga tampak sosoknya. 

Dengan wajah kaku dan dada berdetak kencang akhirnya Aji masuk ke lobang tak berpintu. Getaran-getaran masih ada. Dan ternyata di balik lobang pintu terdapat tangga ke bawah yang juga terdiri dari tumpukan batu karang yang tersusun rapi.

Setindak demi setindak Aji mulai menuruni tangga. Semakin ke bawah getaran-getaran itu semakin keras sehingga ketika berada dua tangga paling bawah, tubuh Aji menjadi terhuyung-huyung. Dan begitu kakinya menginjak sebuah ruangan, tubuhnya langsung ambruk. Tapi anehnya, ruangan yang hanya disinari sebuah obor dan ditancapkan begitu saja pada dinding ruangan, sepertinya tak terpengaruh.

Sesudah dapat menguasai diri, tiba-tiba pemuda tanggung berpakaian hijau ketat dengan pakaian dalam warna kuning serta rambut dikuncir kuda itu terkesima. Dengan diterangi cahaya obor, delapan tombak di depannya tampak sesosok tubuh sedang duduk sambil bersedekap di atas sebuah batu karang.

Sejenak Aji merasa was-was. Hatinya bimbang dan bulu kuduknya merinding. Apakah sosok di hadapannya itu manusia atau hantu batu karang?

“Bapak..., ehh! Hmm.., Embah! Apakah Embah penghuni tempat ini?” tanya Aji. Suaranya seperti menggantung di tenggorokan. Tetapi orang yang bersedekap itu tak juga menjawab. Apa lagi menoleh!

Aji lalu melangkah mendekati. Satu tombak di depan orang tua bersila, kakinya berhenti melangkah. Dengan disinari cahaya obor, kini tampak jelas wujud orang yang bersila.

Ternyata dia seorang tua yang berambut putih dan disanggul ke atas. Jubahnya ungu. Kumis dan jenggotnya panjang berwarna kemerahan. Namun yang membuat pemuda itu heran, sepasang mata orang tua berjubah tersebut tertutup sepotong kulit yang diikatkan ke belakang kepalanya. Sementara jubah ungu yang dikenakan tampak berbintikbintik oleh noda darah yang sudah menggenang. Menyaksikan orang di depannya tetap diam, Aji setindak mendekati.

“Mbah...! Eyang...!” tegur Aji dengan memandang tak kesiap.

Tidak ada jawaban. Orang tua berjubah tetap diam bersedekap bagai batu karang. Sementara getaran-getaran di ruangan tetap saja terasa, bahkan makin keras sehingga kembali tubuh Aji oleng dan terduduk.

“Eyang...!” tegur Aji kembali. Kali ini suara pemuda itu agak keras. Namun masih juga tidak ada sahutan dari orang tua di depannya.

Aji segera merangkak mendekati, namun saat itu juga tubuhnya seperti dilemparkan ke samping. Aji melotot tidak percaya. Ternyata getarangetaran yang terasa di ruangan itu bersumber dari hembusan napas si 

orang tua berjubah ungu ini! “Edan...! Ini orang, apa...”

Belum lagi habis kata-kata Aji, orang tua berjubah ungu itu membuka mulut. “Apa maksudmu datang ke Karang Langit mengusik khusukku, Bocah...?!” Suaranya berat dan menggema ke seluruh ruangan.

Dan bersamaan dengan itu, getaran-getaran di dalam ruangan terhenti seketika. Aji terlonjak, seakan-akan tidak mempercayai kata-kata orang berjubah di depannya.

“Karang Langit? Berarti dia adalah... Wong...”

“Kau belum jawab pertanyaanku, Bocah...!” tegur orang berjubah mana kala Aji belum habis membatin.

“Aku..., aku..., disuruh kemari oleh...”

“Oleh siapa..., Bocah...?” sela orang berjubah dengan suara berat tapi terdengar ramah.

“Eyang Selaksa...!” jawab Aji cepat-cepat ketika nada bicara orang tua berjubah itu terdengar ramah.

“Maha Besar Tuhan. Akhirnya datang juga seorang penyelamat dunia persilatan,” desah orang tua berjubah ungu bersyukur. “Hm... Siapakah namamu, Nak...?”

“Aji Saputra, Eyang...,” sahut Aji sambil menjura hormat.

“Mana benda itu...?!” Orang tua berjubah ungu mengangsurkan tangan ke bawah.

Aji segera merogoh pakaian dalamnya. Kemudian ditaruhnya logam berwarna putih itu di tangan orang tua ini. Sebentar kemudian tampak orang tua berjubah itu meraba-raba permukaan logam. Lalu bibirnya tersenyum seraya mengangguk-angguk.

“Hm..., kaulah orangnya... Buka ikatan rambutmu! Dan mendekatlah ke sini...!” Aji terkesiap mendengar ucapan orang tua di atasnya. Matanya menatap tajam seolah ingin ketegasan.

“Apakah rupaku mirip hantu karang...?!” kata orang tua berjubah ketika Aji lekat-Iekat menatapnya.

Mendengar sindiran itu, buru-buru Aji melepas kain ikatan rambutnya. Lantas dia merangkak mendekat. Ketika sudah berhadapan, orang tua berjubah menjuntaikan tangan kanannya.

“Berbalik! Dan tundukkan sedikit kepalamu...!” perintah orang tua itu. 

Walau masih didera beberapa pertanyaan, dengan wajah tegang dan kaku Aji melaksanakan perintah. Perlahan-lahan Aji merasakan tangan orang tua berjubah ungu meraba-raba kulit rambut kepalanya. Sampai pada satu tempat, orang tua itu menekan agak keras sambil memijitmijitnya.

“Hm... Kaulah orangnya...,” gumam orang tua berjubah ungu perlahan ketika merasakan dekat pusaran rambut pada bagian belakang kepala Aji terdapat beberapa guratan angka.

Tak lama berselang Aji merasakan ada desir angin di atas kepalanya. Dia menoleh dan sedikit tengadah. Tampak orang tua ini mengibaskan tangannya dan dengan perlahan melempar logam itu. Ternyata logam itu melesat kencang, kemudian menumbuk dinding ruang yang sedikit menonjol. Begitu logam menancap, terdengar suara gesekan batu dan tak lama kemudian di bawah dinding yang tertancap logam tampaklah sebuah lobang!

“Aji...! Kaulah orang yang berhak masuk ke sana! Tentunya kau sendiri juga yang harus memecahkan hal-hal di dalamnya...!”

Aji membalikkan tubuh, lalu menjura hormat. Sesudah itu dia bangkit berdiri dan melangkah menuju lobang di bawah dinding yang tertancap logam. Tetapi lobang di bawah dinding ruangan yang tertancap logam ternyata tidak bertangga.

“Hmm... Terpaksa aku harus terjun...,” bisik Aji sembari memusatkan perhatian. Kakinya melangkah setindak, lalu meloncat dalam lobang.

Begitu tubuh pemuda itu masuk lobang, suasana gelap langsung saja menyambutnya. Aji meramkan matanya rapat-rapat. Tubuhnya seakan jungkir balik di sepanjang lobang. Ketika akhirnya tubuhnya terhempas di suatu ruangan yang agak terang, sekujur tubuhnya terasa diguyur es.

Ketika kedua matanya terbuka, Aji terkejut bukan main. Dari mulutnya terdengar suara tertahan. Dan tubuhnya menggeser ke belakang. Tak jauh di hadapan Aji tampak sosok manusia tak berdaging dengan sikap bersila dan tangan bersedekap.

Di sekitar sosok yang hanya berupa tengkorak itu tampak rambahan sarang laba-laba. Tangan kanannya tampak menggenggam sesuatu berwarna hitam. Hampir tak dapat dipercaya, ternyata benda hitam itu sebuah kipas. Tetapi yang membuat Aji terbelalak, tengkorak manusia bersila itu ternyata mengambang di udara! Di bawahnya kira-kira satu depa, tampak sebongkah batu karang yang berbentuk seperti sebuah peti mayat dan terbuka!

“Siapa lagi yang ini...?!” gumam Aji. Keringat dingin segera membasahi sekujur tubuh pemuda itu walau udara di ruangan itu dingin menusuk. 

Dengan tubuh gemetar Aji menoleh ke samping kanan. Di dinding batu karang tampak lukisan. Sedikit melotot baru terlihat jelas gambarnya yang berupa orang sedang memainkan jurus-jurus silat. Kemudian Aji mengalihkan pandangan ke arah kiri. Tampak lobang menganga dan deburan ombak.

“Hm... Rupanya ruangan ini berhubungan dengan laut! Pantas udara di sini dingin. Namun aneh! Deburan ombak itu tak terdengar di ruangan ini! Apakah aku sedang bermimpi...?!” tanya Aji. Nada suaranya jelas mengisyaratkan rasa tak percaya.

Dicubitnya keras-keras sebelah tangannya. Tapi mendadak ia menjerit. Dengan tubuh menggigil antara takut dan dingin, Aji melangkah ke arah tengkorak manusia yang mengambang di atas peti batu karang. Sepuluh tindak di depan tengkorak manusia, pemuda berpakaian hijau ketat dengan pakaian dalam berwarna kuning ini kembali menyurut selangkah ke belakang.

Di sisi batu karang yang berbentuk peti, tertera tulisan seperti dipahat. ‘Ambil Kipas! Lihat lukisan! Duduk di mulut lobang!’

Lama Aji memandangi tulisan itu.

“Apakah perintah itu ditujukan kepadaku...?” bisik Aji seraya menyisir rambutnya yang basah dengan jari-jari tangan. “Tetapi di sini tidak ada orang selain aku. Berarti perintah itu ditujukan padaku...!”

Aji mendekat tepat di hadapan tengkorak manusia, lantas tangannya diulurkan. Tetapi tangannya bagaikan tertahan oleh dinding yang kasat mata. Sebentar saja Aji mengangguk-angguk sambil tersenyum. Tetapi hanya sekejap.

Saat itu juga sikapnya berubah. Dengan wajah sedikit tegang, pemuda itu menakupkan kedua tangannya. Kedua tangannya segera diangkat ke atas kepala. Lalu tubuhnya melorot ke bawah.

Tiga kali Aji menjura, tidak lama kemudian bangkit. Dan segera saja tangannya diulurkan. Ternyata tangannya kini tak lagi tertahan dinding kasat mata.

Dengan tangan bergetar perlahan-lahan Aji mengambil kipas lipat yang tergenggam di tangan tengkorak manusia. Dan seketika terjadi suatu keanehan. Begitu kipas berpindah tangan, tengkorak manusia itu tibatiba luruh ke bawah lalu masuk ke dalam peti! Mendapati kenyataan ini, buru-buru Aji mundur tiga langkah dan kembali menjura.

Tapi tatkala kepalanya terangkat, kembali Aji tertegun. Pahatan tulisan pada sisi peti batu karang perlahan-lahan sirna. Sementara cekungan tulisan kembali menutup, terkena tekanan angin tengkorak manusia yang baru luruh. 

Sejenak kemudian tampak Aji memperhatikan kipas lipat di tangannya. Kipas yang berwarna hitam itu ternyata terbuat dari besi, namun ringan laksana kain. Diiringi degup jantung yang mengeras dan tangan yang bergetar, Aji mulai membuka kipas. Dan ternyata lipatan kipas bagian dalam berwarna merah menyala dengan gambar ombak yang menggulung dan angka 108.

Ketika kipas lipat itu telah terbuka seluruhnya, mendadak warna merah menyala yang terpancar dari kipas melesat cepat sekali ke dada Aji hingga pakaiannya berkibar oleh hembusan angin di ruangan. Saat itu juga Aji merasakan dadanya bagaikan jebol terkena hantaman hebat. Matanya seketika berkunang-kunang, tetapi cuma sekejap saja karena dadanya terasa biasa kembali.

Pada saat matanya dibuka, ternyata kipas di tangannya sudah berubah warna. Seluruh dasar kipas itu kini berwarna ungu dan dihiasi lukisan ombak berwarna biru. Di tengah-tengahnya tampak terdapat angka 108 berwarna putih. Dan bersamaan itu pula angin yang berhembus dalam ruangan terhenti.

“Apa yang terjadi dengan diriku?” tanya Aji dalam hati. Namun jawaban itu tak juga ditemukannya.

Kemudian ditutupnya kipas di tangan. Maka angin dingin berhembus kembali. Barulah Aji mengangguk-angguk. Dimasukkannya kipas itu ke dalam saku baju dalamnya. Dibiarkannya angin dingin berhembus di dalam ruangan.

Ia lantas kembali menjura, sebelum bangkit dan berbalik. Kakinya lalu melangkah ke arah dinding yang berlukisan. Ternyata lukisan pada dinding itu terdiri dari lima sap ke atas. Tiap sap terdapat garis yang memisahkan.

“Hm... Berarti aku harus mulai dari sap yang paling bawah...!” pikir Aji sambil mengamati lukisan pada sap yang paling bawah.

Sementara mata terus memperhatikan lukisan, Aji menirukan gambar di dinding dengan gerak tubuhnya.

“Aku harus mulai sekarang...!” kata Aji sambil melepas pakaiannya.

Tak lama Aji telah berjalan menuju dinding ruangan samping kiri yang berlobang dan tembus ke laut. Udara dingin masih terasa. Namun kini tubuhnya sedikit pun tak goyah ketika terkena hembusan angin yang menerpanya.

Di mulut lobang Aji berdiri menghadang ombak yang menggulung. Lalu diingatnya gerakan-gerakan yang ada pada lukisan dinding sap paling bawah. 

Sebentar kemudian tampaklah pemuda tanggung dengan rambut yang berkibar-kibar tertiup angin laut memainkan gerakan-gerakan. Begitu Aji selesai mencoba gerakan-gerakan yang ada pada lukisan dan kembali ke dinding, lukisan pada sap paling bawah telah sirna.....

********************

Lima purnama berselang...

Selama itu pada sebuah ruangan di bawah sebongkah batu karang di tengah Laut Utara, tampak seorang pemuda yang tak lain Aji membuat gerakan-gerakan.

Sesekali tubuhnya menerjang ombak yang menggemuruh. Dan di lain saat tubuhnya meliuk-liuk menghindari gempuran ombak. Bahkan tidak jarang terlihat sebuah kipas ungu dihiasi warna biru berputar-putar dan terpentang.

“Aji...! Apakah segalanya sudah berhasil kau selesaikan?” Suatu saat terdengar suara berat dan berwibawa menggema di ruangan tempat Aji berlatih.

Aji yang pada saat itu sedang bersemadi di pojok ruangan membuka matanya. “Sudah, Eyang !” jawab Aji pelan.

Ternyata suara pelan Aji memantul keras. Bahkan hingga ruangan di atasnya, tempat seorang tua berjubah ungu yang bukan lain memang Wong Agung, sedang duduk bersila di atas sebuah batu.

“Bagus! Kau memang anak yang cerdik! Sekarang tibalah waktunya bagimu keluar dari situ!”

Namun sebelum suara Wong Agung lenyap, Aji telah melesat ke atas. Dan sekali berkelebat pula, tubuhnya sudah tegak di hadapan Wong Agung. Sebentar kemudian Aji menjura.

“Aji! Tibalah saatnya bagimu turun ke dunia luar! Pergunakan sebaikbaiknya apa yang telah kau dapatkan! Bersikaplah arif dan rendah hati. Tetapi jangan cengeng! Dan jangan sungkan-sungkan bertindak keras jika itu memang diperlukan!” ujar Wong Agung.

“Ng..., boleh aku bertanya sesuatu, Eyang?” kata Aji dengan sedikit membungkuk.

“Hm... Tanyalah ,” sahut Wong Agung.

“Siapakah Eyang sebenarnya? Dan siapa tengkorak manusia di bawah sana itu? Dan mengapa mata Eyang ditutup demikian rupa?” tanya Aji tanpa bernapas.

“Aneh !” gumam Wong Agung. 

“Apanya yang aneh, Eyang?” sela Aji sambil mengangkat kepala memandang Wong Agung yang tampak sedikit tersenyum.

“Pertanyaanmu itu...! Kau tanya, apa nyerocos? Tapi..., baiklah! Akan kujawab pertanyaanmu satu persatu. Mengenai aku dan tengkorak di bawah sana, tanyakan nanti kepada Eyang Selaksa. Mengenai mata yang kututup ini karena terluka oleh perbuatan licik Sepasang Iblis Pendulang Sukma...”

“Sepasang Iblis Pendulang Sukma?! Eyang..., aku berjanji kelak akan mengadakan perhitungan pada mereka!” seru Aji, berapi-api.

“Itu balas dendam, Aji! Dan itu tidak bijaksana. Biarkanlah! Hal itu tak usah kau perhitungkan! Kalaupun kau nanti berurusan dengan mereka, jauhkan rasa dendam di hatimu! Yang penting utamakan ketenangan dan kedamaian umat manusia. Berbuatlah seperti yang tertera dalam kipas milikmu!” papar Wong Agung, tenang.

Aji mengangguk-angguk, berusaha menelaah kata demi kata Wong Agung.

“Kau tahu makna yang tertera dalam kipas itu?” tanya Wong Agung. Aji tidak menjawab kecuali menggeleng perlahan.

“Kau ingin tahu...?”

Lagi-lagi Aji tidak menjawab. Dan kali ini kepalanya mengangguk.

“Hmm... baiklah! Keluarkan kipas itu. Buka lipatannya lantas hadapkan kemari...!” perintah Wong Agung.

Aji segera mengambil kipas dari saku pakaian dalamnya. Kemudian dibukanya kipas itu dan dihadapkan pada Wong Agung.

“Kau dengarlah!” ujar Wong Agung sambil menggapaikan tangannya ke arah kipas.

Aji mulai memasang perhatiannya sungguh-sungguh.

“Warna ungu pada dasar kipas melambangkan cinta dan kedamaian. Ada pun lukisan ombak berwarna biru melambangkan tantangan. Dan angka 108 melambangkan Tuhan beserta seluruh isi dunia. Jadi cinta dan perdamaian adalah 'buah'. Sedangkan jalan yang harus ditempuh adalah sebuah perjalanan panjang yang saling terkait. Maksudnya rasa cinta dan kasih sayang yang ditujukan untuk perdamaian akan selalu mendapat tantangan. Tapi segala bentuk tantangan akan dapat diatasi apa bila seseorang meresapi apa yang terkandung dalam angka 108. Yakni seseorang harus tahu siapa 'dirinya'! Seseorang tak akan dapat mengenai dirinya sendiri tanpa mengenai siapa yang menciptakan. 

Yang menciptakan itulah yang berada di atas sana. Maha Tunggal. Inilah yang dilambangkan dengan angka 1. Sedangkan angka 0 terlihat kosong, padahal sebetulnya yang kosong itu ada. Semakin seseorang terlihat kosong, sebenarnya dia semakin berisi. Itulah yang diharapkan darimu, Aji. Semoga kau selalu berusaha mengosongkan diri, mawas diri, waspada terhadap sekelilingmu. Ada pun angka 8 melambangkan delapan unsur dunia yang terdapat di alam ini, yakni: udara, air, tanah, kayu, batu, rembulan, matahari, dan api. Jadi kalau mampu menelaah apa yang tersirat dan tersurat dalam alam, lantas merenungkan dalamdalam, di sana kita akan menemukan kehidupan yang sejati. Inti dari semuanya adalah kedamaian dan keselamatan setiap manusia hanya tergantung pada sampai sejauh mana manusia itu mengenal Tuhan dan dirinya sendiri dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Nah, karena kipas itu perlambang, maka sebagai pemiliknya kau harus bisa melaksanakan apa yang dilambangkan oleh milikmu itu!” jelas Wong Agung mengakhiri keterangannya.

Aji kembali mengangguk-angguk perlahan, mencoba mengerti semua penjelasan Wong Agung.

“Sekarang turunlah! Temui Eyang Selaksa! Mungkin masih ada yang harus kau perbuat...!” sambung Wong Agung disertai senyum.

“Baik, Eyang. Aku akan berusaha untuk menjalankan apa yang Eyang katakan dan menggunakan sebaik-baiknya apa yang telah kuperoleh!”

********************

Memasuki kawasan hutan kecil yang banyak ditumbuhi pohon besar dan semak belukar, Aji mempercepat larinya. Sampai di perempatan jalan setapak, tubuhnya cepat menyelinap masuk di balik pohon besar. Tubuhnya tegak mematung dengan mata nyalang dan telinga ditarik ke belakang.

“Mata dan telingaku memang belum terlatih benar. Namun sejak dari seberang sungai dekat desa, aku merasa diikuti seseorang...!” bisik Aji.

Aji berlama-lama berdiri tegak. Tetapi hingga sepasang kakinya terasa pegal-pegal, tidak ada tanda-tanda orang yang ditunggu akan muncul.

“Aku akan memutar dan kembali dari arah masuk kawasan ini!” gumam Aji.

Tubuh pemuda itu lantas berkelebat keluar dari balik pohon besar. Tapi hingga sampai di tempat menyelinap tadi, dia tidak menemukan siapasiapa. Aji masih tidak percaya, maka ditunggunya sejenak. Ketika tak juga muncul seseorang, perjalanannya diteruskan.

Ketika tiba di perbatasan keluar hutan dan sudah melihat sebuah desa barulah Aji menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh ke arah kiri. Tampak Puncak Gunung Semeru masih diselimuti awan. 

“Aku akan menemui Eyang Selaksa seperti apa yang dikatakan Eyang di batu karang. Sekalian menanyakan kejelasan akan hal-hal yang tak kumengerti selama ini.”

Baru akan beranjak menuju arah desa di depannya, tiba-tiba saja Aji mendengar suara halus yang lebih mirip erangan. Tetapi dari mana? Cepat Aji memusatkan pendengarannya untuk menentukan sumber suara.

Ketika erangan itu terdengar lebih menyayat, Aji yang telah yakin arah sumber suara segera berkelebat. Karena suara erangan memang tak begitu jauh, sebentar saja Aji telah sampai. Pemuda itu sedikit kaget melihat di tempat itu bagai baru saja terjadi pertempuran. Pohon-pohon agak besar bertumbangan. Bahkan daun-daunnya tampak mengering dan kulitnya mengelupas. Semak belukar berserakan, tercabut sampai ke akar-akarnya. Begitu melihat ke samping kanan, di bawah sebuah pohon tampak seorang perempuan menggeletak.

Tanpa menunggu lama Aji segera melangkah ke arah perempuan yang menggeletak telungkup. Begitu sampai Aji berjongkok. Perlahan-lahan dibaringkannya tubuh perempuan itu.

Untuk sejenak Aji menahan napas. Ternyata pakaian perempuan yang berwarna kuning muda itu telah koyak di sana sini sehingga sebagian buah dada yang tampak kencang membusung dan paha yang berkulit putih itu jelas terlihat. Ketika melihat wajah perempuan itu ia terhenyak.

“Perempuan di kedai!”

Cepat Aji mengambil tangan sang perempuan. Diperiksanya denyutan nadi perempuan itu. Tak terasa adanya denyutan. Aji tampak bingung. Perempuan yang berusia kurang lebih dua puluh dua tahun itu tak juga bergerak. Dengan sedikit menahan napas Aji meletakkan telinganya di antara buah dada terbuka perempuan ini.

“Masih ada detakan! Berarti gadis ini masih hidup!”

Dengan cepat Aji mengangkat tubuh gadis berbaju kuning muda itu ke bawah sebuah pohon yang agak rindang, lalu ditariknya bagian bawah baju gadis itu sehingga paha yang agak terbuka itu tertutup. Kemudian digoyang-goyangkan bahunya.

Perlahan-lahan terlihat dada gadis itu bergerak-gerak. Napasnya mulai berhembus satu-satu. Dan dari bibirnya yang bagus terdengar erangan halus dan menyayat. Tidak lama kemudian terlihat gadis itu membuka kelopak matanya. Tatapannya sayu.

“Heii...” 

Gadis itu tidak menjawab. Pandangan matanya lurus ke atas. Lalu kepalanya menoleh ke samping. Melihat Aji di dekatnya, raut mukanya membersit keterkejutan. Seketika alis matanya dikernyitkan.

“Kau...?!” desah gadis itu hampir tak terdengar. “Ya, apa yang telah terjadi...?”

“Oh...!” Tiba-tiba sang gadis membentangkan kedua tangannya, lalu bangkit menubruk Aji yang duduk di sampingnya.

Aji terkejut. Namun dibiarkannya kepala sang gadis rebah di dadanya. “Jangkrik! Dadaku terasa...”

Tapi tiba-tiba sang gadis melepaskan rangkulannya. Segera ditariknya kepalanya dari dada Aji. Gadis ini beringsut mundur dengan dua bola mata menatap tajam. Wajahnya tampak bersemu merah.

“Ngg... Terima kasih atas pertolonganmu...,” kata gadis itu.

Kali ini matanya tak berani menatap ke arah Aji. Kepalanya menunduk, namun tiba-tiba dia terperangah. Buru-buru kainnya yang koyak ditarik menutupi sebagian buah dadanya yang tersembul.

“Apa yang terjadi dengan dirimu...?” tanya Aji mengalihkan perhatian. Gadis ini tak menjawab. Tubuhnya dimiringkan sedikit.

“Apakah rupaku menakutkanmu...?” tanya Aji sedikit berkelakar.

Sang gadis menoleh. Mukanya masih bersemu merah. Bibirnya sedikit tersenyum. “Ngg... Aku... aku malu atas tingkahku tadi...”

Aji tersenyum. Namun matanya sesekali melirik nakal.

“Jika melihat keadaanmu, sepertinya kau baru saja bentrok...!” duga Aji menghilangkan kecanggungan.

“Benar! Tapi mereka memang manusia licik! Manusia macam mereka harus dimusnahkan dari muka bumi!” dengus sang gadis. Wajahnya berapi-api.

“Siapa yang kau maksud dengan mereka...?”

“Sepasang Iblis Pendulang Sukma!” sahut gadis itu cepat. “Sepasang Iblis Pendulang Sukma?” ulang Aji meyakinkan. “Ya. Kenapa...?” tanya gadis itu sambil melirik. 

Tampak terjadi perubahan pada wajah Aji. Mendapati gadis itu melirik, buru-buru Aji tersenyum menutupi rasa keterkejutannya. “Tidak, tidak apa-apa...,” jawab Aji berkilah. “Ngg... Namamu siapa?”

“Putri Tunjung Kuning...!” sahut gadis ini memperkenalkan diri. “Aji...” Aji ikut-ikutan menyebutkan nama.

Keduanya lantas saling berpandangan, lalu sama-sama tersenyum.

“Siapakah Sepasang Iblis Pendulang Sukma itu?” tanya Aji meneruskan kata-katanya yang tadi terpotong.

“Dua orang licik yang berilmu tinggi! Suatu saat nanti aku pasti akan membalas perbuatannya ini! Beruntung mereka tadi dapat kukelabui! Aku pura-pura tewas!” jelas Putri Tunjung Kuning. Nada suaranya jelas menampakkan kegeraman.

“Ya! Ketenteraman memang tidak ada jika orang seperti mereka masih berkeliaran...!” timpal Aji.

“Kau juga ada silang sengketa dengan mereka?” Putri Tunjung Kuning balik bertanya.

Aji tak menjawab. Ragu-ragu. Tapi akhirnya kepalanya mengangguk.

“Berarti kau juga pernah bentrok dengan mereka!” simpul Putri Tunjung Kuning.

Aji menggeleng, membuat raut wajah gadis di sampingnya berubah. “Lantas...?”

Sejenak Aji diam termangu. “Aku tidak pernah bentrok dengan mereka. Tapi..., seseorang yang telah kuanggap... kuanggap sebagai Eyangku, telah mereka celakakan!”

“Eyangmu? Astaga! Pasti orang tua di Kampung Blumbang itu!” sentak Putri Tunjung Kuning.

Aji menatap gadis di depannya. Pada saat Putri Tunjung Kuning juga menatapnya, Aji menggeleng.

“Jadi...?” desak Putri Tunjung Kuning.

“Eyang yang bermukim di sebuah batu karang di Laut Utara!”

Mulut Putri Tunjung Kuning sedikit ternganga. “Apakah Wong Agung maksudmu...?” tanya Putri Tunjung Kuning. 

Kali ini Aji tidak mengangguk dan tidak menggeleng. “Kau tahu tentang beliau...?” Aji balik bertanya.

“Sedikit!” ujar Putri Tunjung Kuning. Sebentar gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Sementara Aji seperti tak sabar menunggu penjelasan Putri Tunjung Kuning.

“Guruku pernah bercerita bahwa beberapa puluh tahun yang lampau, hidup seorang yang amat sakti bernama Panembahan Gede Laksana. Dia memiliki tiga orang murid. Dua laki-laki dan seorang perempuan. Dua orang laki-laki itu masih ada hubungan darah. Meski seluruh ilmu sang guru telah diturunkan kepada ketiga muridnya, namun masih ada yang tidak diwariskan. Sang guru menyatakan bahwa yang berhak mewarisinya adalah seorang yang mempunyai tanda-tanda khusus.”

Sebentar Putri Tunjung Kuning menghentikan ceritanya, seperti tengah mengumpulkan ingatannya.

“Sesudah ketiga muridnya turun gunung, satu di antaranya ada yang paling menonjol sebab ia berhasil menggeser kekuatan golongan sesat pada waktu itu. Karena ia bermukim di sebuah batu karang di tengahtengah Laut Utara, orang-orang lantas menjulukinya Wong Agung dari Karang Langit. Namun, sejak kemunculan terakhirnya di jurang Gladak Perak, Wong Agung tak terdengar lagi kabar beritanya. Demikian juga gurunya. Jika benar ucapanmu bahwa orang yang bermukim di batu karang itu Eyangmu, berarti kau adalah orang beruntung! Bahkan tak mustahil kau juga telah bertemu Panembahan Gede Laksana! Karena menurut cerita guruku, Wong Agung ialah murid yang paling disayangi di antara ketiga murid Panembahan Gede Laksana,” tutur gadis itu.

Mendengar pemaparan Putri Tunjung Kuning, Aji termangu. Matanya menatap jauh.

“Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu...?!” tanya Putri Tunjung Kuning dengan menghadapkan tubuhnya ke arah Aji. Tapi kali ini mata nakal Aji seakan tidak tertarik dengan pemandangan yang sepertinya disengaja.

“Kalau gurumu tahu cerita yang begitu jelas, berarti ada hubungan atau dekat dengan salah satu dari tiga murid Panembahan Gede Laksana.” tanya Aji.

“Bukan hanya ada hubungan atau dekat,” jawab Putri Tunjung Kuning. “Guruku adalah murid perempuan dari Panembahan Gede Laksana!”

Mendengar kata-kata Putri Tunjung Kuning, Aji terperanjat. Kemudian matanya menatap tajam pada Putri Tunjung Kuning. Sekali ini dengan sedikit mengangguk.

“He..., mengapa kau menatapku begitu?” tanya Putri Tunjung Kuning yang merasa jengah dipandangi seperti itu. 

“Karena kau berarti kakakku...!” jawab Aji cepat. “Berarti dugaanku tak salah! Kau adalah murid Wong Agung! Dan tidak mustahil kau sudah bertemu dengan Panembahan Gede Laksana, bukan...?”

Meski pun Aji sendiri tak pernah bertemu Panembahan Gede Laksana, tapi setelah mendengar keterangan Putri Tunjung Kuning hatinya yakin bahwa tengkorak manusia yang ditemukan di Karang Langit itu adalah Panembahan Gede Laksana. Maka akhirnya kepalanya mengangguk.

Bersamaan dengan anggukan kepala Aji, Putri Tunjung Kuning maju mendekat. Mulutnya dibuka sedikit. Dadanya cepat ditempelkan pada dada Aji.

Aji jadi salah tingkah. Sekujur tubuhnya bagai terpanggang bara. Tapi begitu tangan Putri Tunjung Kuning bergerak meraih lehernya, kakinya segera mundur ke belakang.

“Apa aku tidak begitu menarik di hadapanmu...?” tanya Putri Tunjung Kuning dengan napas memburu.

“Ngg... Maafkan, aku. Sebagai murid dari adik gurumu, aku tak pantas untuk menyentuh tubuhmu yang bagus itu...!” cegah Aji.

Putri Tunjung Kuning tertawa lebar hingga dadanya jadi lebih terbuka. “Tapi bagaimana kalau aku minta?” tanya Putri Tunjung Kuning tanpa diduga Aji.

“Jangkrik! Seandainya kau bukan murid dari..,” batin Aji.

“Kau mau, kan...?!” desak Putri Tunjung Kuning, kembali mendekatkan tubuhnya kala dilihatnya Aji hanya diam termangu. “Mau, kan?” ulang Putri Tunjung Kuning seraya tersenyum.

Aji tampak ragu. Tapi ketika Putri Tunjung Kuning lebih mendekat dan tubuhnya menempel pada dada Aji, Aji terhanyut. Tangan Aji bagaikan terkena arus, dan bergerak perlahan melingkar pada pinggang Putri Tunjung Kuning.

Merasa Aji terseret, Putri Tunjung Kuning menggerakkan tangannya melingkar pada leher Aji. Kemudian perlahan-lahan ditariknya kepala Aji mendekat. Mata Putri Tunjung Kuning sedikit meredup, sementara dari mulutnya keluar erangan halus.

Aji tambah terhanyut sehingga pada saat hidung Putri Tunjung Kuning menyapu dagu Aji, tanpa sadar Aji merendahkan sedikit kepalanya hingga kedua wajah mereka saling berdekatan.

Sambil menghembuskan napas panjang perlahan-lahan Putri Tunjung Kuning menempelkan wajahnya ke wajah Aji. Bibirnya bergerak dan memagut bibir Aji. 

Aji hanya diam, tidak membalas pagutan itu. Namun saat kehangatan terasa mulai menjalari tubuhnya, perlahan dia membalas pagutan itu. Beberapa saat lamanya mereka saling berpagutan. Tapi ketika tangan Putri Tunjung Kuning mulai bergerak melepaskan kancing-kancing baju Aji, Aji tersentak. Dan segera mencekal bahu Putri Tunjung Kuning.

“Jangan lakukan itu!” desis Aji sedikit keras.

Perlahan-lahan Putri Tunjung Kuning menarik kepalanya. Matanya menatap tajam bola mata lelaki di depannya. Tapi sebentar kemudian tangannya bergerak ke arah dada dan pahanya.

Bret! Bret!

Pakaian gadis yang sudah koyak itu kontan melebar sehingga dadanya yang putih kencang dan menantang itu terpentang tanpa tertutup lagi. Bahkan paha yang mulus itu terlihat hingga hampir pangkalnya.

“Di depan sana ada desa. Jika kau tak mau melakukannya, aku akan menjerit! Dan kau akan tahu akibatnya!” ancam gadis itu.

“Ngg... Mintalah apa saja dan akan kuturuti. Asal jangan yang satu itu! Kumohon...,” kata Aji pelan sambil mengalihkan pandangannya.

“Benar begitu...?” Pemuda ini mengangguk.

Sementara Putri Tunjung Kuning menyunggingkan senyum. “Kau ini orang aneh! Dikasih yang paling bagus malah orang disuruh minta yang lain...!”

Raut muka Aji berubah merah padam.

“Kalau itu maumu, baiklah! Bagaimana kalau aku minta diperlihatkan sesuatu yang telah kau peroleh dari Karang Langit...?”

Tiba-tiba Aji teringat dengan kipas lipatnya! Cepat tangannya merogoh pakaian dalamnya yang berwarna kuning. Ia menarik napas lega ketika menyadari kipas itu masih ada.

“Bagaimana...?” ulang sang gadis.

Aji tak menjawab. Lalu dikeluarkannya kipas lipatnya. “Ini...!” “Buka...!” perintah gadis itu.

Aji menuruti perintah. Perlahan dibukanya kipas lipat di tangannya. Sementara Putri Tunjung Kuning mengawasi dengan tak berkedip. 

“Sebetulnya aku berbuat begitu tadi hanya ingin melihat kejujuran katakatamu...! Dan melihat tingkahmu tadi, aku tahu jika matamu memang nakal dan tak bisa melihat perempuan sedikit bagus! Ngg... dan kalau melihat dari kipas yang kau pakai berangka 108, julukan yang cocok bagi orang sepertimu adalah Pendekar Mata Keranjang 108. Tapi biar pun mata keranjang, nyatanya kau tak mudah tergoda! Jadi memang patut kau menjadi murid Wong Agung!” ucap gadis itu seraya menatap tajam.

Sehabis berkata, Putri Tunjung Kuning berbalik kemudian berkelebat. Ditinggalkannya Aji yang masih tegak terpaku.

“Putri Tunjung Kuning! Tunggu...!” seru Aji sambil mengejar gadis itu. Namun gadis itu telah lenyap cepat bagai ditelan bumi.

Tanpa diketahui Aji, di atas sebuah dahan pohon yang tak begitu jauh, ada seseorang sedang mengawasi gerak-gerik Aji sambil tiduran. Jika dilihat dengan teliti, ternyata dia adalah seorang perempuan berparas cantik. Kulitnya putih, rambut panjang tergerai, dan dia memakai baju kuning muda.

“Manusia tolol...! Hi-hi-hi...!”

Aji cepat mencari datangnya suara. Ia tercekat kala matanya menatap sosok tubuh yang tiduran di atas dahan pohon di atasnya.

“Putri Tunjung Kuning...!”

Perempuan berbaju kuning itu hanya memandangi Aji. Belum habis rasa heran Aji, Putri Tunjung Kuning yang tadinya di atas pohon telah berkelebat. Tidak lama kemudian dari perbatasan hutan kecil terdengar suara tawa perempuan.

Aji cepat berkelebat menuju arah suara. Ia tertegun tak percaya ketika melihat dua orang wanita sedang berlarian dan sama-sama berbaju kuning muda! Namun hingga sampai di perkampungan, Aji kehilangan jejak.

“Hmm... Pendekar Mata Keranjang 108? Ahh, bisa saja Putri Tunjung Kuning menjulukiku Pendekar Mata Keranjang 108. Tetapi apakah aku memang mata keranjang?!” gumam Aji seraya melangkah keluar dari kawasan perkampungan. “Boleh juga julukan itu. Terserah saja orangorang nanti mau memanggilku Pendekar Mata Keranjang 108 atau bukan. Yang penting, hm, rasanya cocok juga julukan itu buatku...!”

********************

Hari telah beranjak senja ketika Aji memasuki kota praja Lemah Ajang. Dan pemuda itu segera memasuki sebuah kedai ketika perutnya terasa minta diisi. 

“Selama sepuluh purnama kulihat telah banyak perubahan di sini!” kata Aji dalam hati. Setelah mengedarkan pandangannya ke sekelihng, Aji duduk di sudut.

“Pak, makan sama tuaknya...,” kata Aji begitu duduk.

Pemilik kedai mengangguk sambil tersenyum. Ramah seperti dahulu. Tapi Aji menangkap raut keterkejutan pada wajah pemilik kedai.

“Kulihat di sini sudah banyak berubah ya, Pak...,” kata Aji mana kala sang pemilik kedai menghidangkan pesanannya.

“Bukan terlihat..., tapi...” Belum selesai pemilik kedai meneruskan katakatanya, dua orang laki-laki masuk.

Keduanya kurang lebih masih berusia setengah baya. Salah seorang mengenakan baju putih panjang. Meski pun belum begitu tua namun seluruh rambut kepalanya tampak putih. Demikian juga alis mata dan bulu matanya. Tapi kumisnya yang lebat berwarna hitam legam. Pada pipi kanan tampak codet bekas luka yang menggurat memanjang dari bawah mata hingga dagu. Dari cara memandang, tampaknya orang itu cukup menggiriskan.

Sedangkan yang seorang lagi berbaju hitam. Rambut kepala, alis dan bulu matanya tampak hitam legam. Namun kumisnya tampak putih. Di sekujur tubuhnya kecuali wajah, terlihat bermacam-macam rajahan bergambar.

Melihat orang yang datang, buru-buru pemilik kedai berlari menyambut dengan tubuh agak gemetar sambil berkali-kali membungkuk. Namun kedua laki-laki itu sepertinya acuh.

“Sediakan tuak yang pilihan...,” kata salah seorang yang baru datang tanpa memandang.

Untuk sejenak Aji melirik. Tapi kala melihat laki-laki berkumis hitam itu memandang ke arahnya, lirikannya cepat dialihkan dan bersikap acuh. Segera makanan di depannya disantap tanpa mempedulikan empat mata tajam yang mengawasi dengan tak berkedip.

“Dugaanku benar! Undangan Sepasang iblis Pendulang Sukma pasti akan membawa kita kepada hidup lebih enak! Makan minum tersedia. Dan yang lebih enak masalah perempuan, tinggal pilih! Ha-ha-ha...!” kata salah seorang dengan suara keras.

Namun bukan kata-kata itu yang membuat Aji harus sedikit menarik tubuhnya dari meja santapan. Suara tawa itu terasa bagai bulu yang menusuk-nusuk telinga hingga pemilik kedai sejenak harus meletakkan hidangan dan menutup telinganya yang terasa nyeri dengan tajam. 

“Jangkrik! Rupanya mereka unjuk kehebatan!” dengus Aji perlahan sambil menahan napas. Langsung disalurkannya hawa murni untuk menangkis tenaga dalam yang keluar bersama suara tawa.

“Walau tidak diundang tapi kita juga hidup enak! Bukankah selama ini kita juga makan dan minum tanpa bayar? Soal gadis, kita juga tinggal comot dan bawa! Siapa yang tidak mengenai kita sekarang ini? Diraja Kilatan Maut! Penduduk akan ngacir apa bila nama kita disebut!” timpal laki-laki yang berbaju putih panjang.

Begitu tuak terhidang, lelaki berbaju putih dan berkumis hitam segera meneguk.

“Seandainya kita bisa muncul tiga puluh tahun yang lalu, mungkin kita akan lebih terkenal! Karena aku yakin, kita akan bisa mencundangi si kentut Wong Agung yang katanya berilmu tinggi! Ha-ha-ha...!” tambah lelaki berkumis hitam itu ketika tuak dalam mulutnya belum seluruhnya masuk dalam kerongkongannya.

Tak ayal lagi sebagian tuak yang masih di mulut laki-laki itu bertebaran sampai meja tempat Aji duduk. Meja itu langsung mengepul dan retak! Wajah Aji kontan merah padam. Jika saja tak teringat kata-kata Eyang di batu karang, ingin rasanya mulut laki-laki itu ditamparnya.

“Hei...! Tambah tuaknya!” perintah laki-laki berkumis hitam.

“Ngg... Persediaannya habis, Tuan...,” jawab pemilik kedai menggigil.

“Keparat! Kenapa tidak kau tutup saja kedai ini, he...?!” bentak laki-laki berkumis hitam itu. Sambil membentak tangannya menggebrak meja.

Brakk!

Meja kedai yang terbuat dari kayu jati tebal itu kontan saja terbelah. Sementara pemilik kedai sudah jatuh terduduk ketakutan.

“Gendeng!”

“He... Bocah! Apa kau bilang...?!” dengus laki-laki berkumis itu seraya berkelebat ke arah Aji.

Tiba-tiba orang berkumis hitam telah tegak di samping Aji dengan mata menyengat. Aji tidak menoleh, seakan tidak mendengar bentakan tadi. Merasa tak digubris oleh pemuda tanggung, laki-laki berkumis hitam ini langsung mengangkat kakinya dan menghentakkannya pada bangku tempat duduk Aji.

Brakk!

Bangku tempat duduk Aji pecah berantakan, tapi tanpa diduga pemuda itu masih tak acuh dalam keadaan duduk tanpa bangku! 

“Maaf! Aku tak punya urusan dengan kalian...!” kata Aji atau pun yang dijuluki Pendekar Mata Keranjang 108, seraya bangkit. Kakinya lantas melangkah tanpa mempedulikan lelaki di sampingnya yang mengawasi dengan hawa amarah.

“Kurang ajar! Rupanya kau ingin merasakan tamparan Diraja Kilatan Maut...!” bentak laki-laki berkumis hitam dengan gigi gemeletak hingga rahangnya tampak mengeras.

“Gendeng! Siapa bilang mau merasakan tamparan?” celetuk Aji sambil melangkah keluar kedai.

Tapi belum sampai langkahan ketiga, sebuah tamparan deras meluruk dari belakang Aji. Angin tamparan sudah sampai, sebelum tangan itu sendiri mendarat. Saat angin tamparan terasa, cepat bagaikan kilat Aji menekuk lututnya sedikit hingga tamparan deras yang ternyata datang dari lelaki berkumis hitam itu melabrak angin sejengkal di atas kepala.

“Keparat!” rutuk lelaki berkumis hitam saat melihat tamparannya begitu mudah dielakkan dengan acuh oleh pemuda tanggung ini. Bersamaan dengan bentakannya, laki-laki berkumis hitam kembali menyerang. Kali ini kakinya dihantamkan ke arah tubuh Pendekar Mata Keranjang 108 yang masih menekuk.

Wutt!

Tapi terlambat. Ternyata Aji lebih cepat mengangkat tubuhnya ke atas sebelum hantaman kaki menghajar tubuhnya. Bahkan begitu tubuhnya turun, tangan kanannya langsung dikibaskan.

Laki-laki berkumis hitam tidak menduga. Karena masih berdiri dengan satu kaki, tak ayal tubuhnya terjajar ke belakang terkena sambaran angin kencang kibasan tangan kanan Aji.

“Anak jahanam! Kubunuh kau...!” teriak laki-laki berkumis hitam. Cepat diburunya Aji yang kini telah berada di luar kedai.

“Kita tidak punya masalah! Jadi biarkanlah aku pergi!” kata Aji sambil melanjutkan langkahnya.

Tapi setelah menjejak tanah, tubuh lelaki berkumis hitam ini melenting ke udara. Tubuhnya berputaran di udara sebelum akhirnya mendarat dua tombak di depan Aji.

Dari gerakannya, kali ini laki-laki berkumis hitam tak lagi memandang enteng pemuda di depannya. Dengan tangan terbuka ia diam sejenak. Namun tiba-tiba kakinya menendang ke arah Aji. 

Aji atau pun Pendekar Mata Keranjang 108 itu tidak menyangka. Dia menduga laki-laki itu akan menyerang dengan tangan. Maka dengan agak kaget tubuhnya diangkat ke atas.

Pada saat itulah tiba-tiba laki-laki berkumis hitam itu menghantamkan tangannya. Aji tidak dapat menghindar lagi. Segera dipapaknya tapak tangan laki-laki berkumis dengan ayunan kakinya.

Prakk!

Terdengar benturan keras. Lelaki berkumis hitam itu mundur setengah langkah. Sedangkan Aji, karena tubuhnya masih melayang di udara untuk menangkis serangan tadi, keseimbangannya jadi sedikit goyah sehingga akhirnya ia jatuh menyuruk tanah dengan pantat lebih dulu.

Brukk!

Aji meringis kesakitan. Sementara lelaki berkumis hitam itu melangkah mendekati. Begitu dekat, tangannya langsung dihantamkan. Aji sedikit menunduk menghindar, tapi kembali Aji salah duga karena bersamaan dengan itu, laki-laki ini menerjangkan kakinya ke arah dada. Terlambat bagi Aji untuk menghindar. Dan...

Bresss!

Tubuh pemuda itu terbanting ke samping lantas terseret lima tombak. Darah merembes dari sela-sela bibirnya.

“Jangkrik...! Ternyata orang ini tidak main-main...! Apakah aku harus menggunakannya sekarang...?!” tanya hati Aji.

Melihat lawannya terbanting, lelaki berkumis hitam ini menjejak tanah. Sekejap saja tubuhnya telah berada di hadapan lawannya yang mulai bangkit. Dan sebelum pemuda itu sepenuhnya tegak, laki-laki berkumis telah kembali menghantam bagian leher.

Kali ini Pendekar Mata Keranjang mundur ke belakang. Dan pada saat itulah dibuatnya gerakan sambil merentangkan tangan ke samping kiri dan kanan. Laki-laki berkumis hitam itu tidak menunggu lama, segera maju dengan kepalan tangan. Saat itulah tiba-tiba Aji menarik tangan dan memutarnya ke depan.

“Hiaaah...!”

Laki-laki berkumis hitam itu mendadak bagai terkena hembusan angin kencang dari belakang sehingga gerak majunya jauh lebih cepat dari perkiraannya. Belum sempat dia menghantamkan kepalan tangannya, Aji memapak dengan kaki ke arah laki-laki itu.

Plakk! 

Terjadi benturan kuat. Namun pada saat yang bersamaan, tangan Aji cepat membuka. Langsung didorongkan telapak tangannya ke depan perlahan-lahan.

Dess!

Tubuh lelaki berkumis hitam kontan terpelanting ke belakang sepuluh tombak, begitu terhantam deru angin dari tangan Aji.

“Bangsat! Kucincang kau!” dengus laki-laki berkumis hitam itu sambil bangkit dan memegangi dadanya.

Tetapi sebelum berdiri, laki-laki itu kaget. Ternyata batang hidung sang lawan sudah tak tampak lagi olehnya. Pandangannya segera menebar ke sekeliling. Namun tak juga tampak sosok pemuda yang dicarinya.

“Bocah edan itu telah pergi!” Tiba-tiba terdengar suara dari pintu kedai, menyentakkan lelaki berkumis hitam. Begitu menoleh dia melihat lelaki berkumis putih dan tubuh dirajah sedang keluar dari kedai. Sementara tidak begitu jauh dari tempat itu tampak dua sosok yang semenjak tadi terus memperhatikan pertarungan salah satu dari Diraja Kilatan Maut melawan seorang pemuda tampan berpakaian hijau ketat dengan pakaian dalam berwarna kuning.

“Sunti! Kau tahu, siapa gerangan pemuda tanggung itu?” kata sosok yang ternyata seorang laki-laki dengan mata kanan buta dengan suara berat.

Perempuan yang dipanggil Sunti menggeleng.

“Kau tahu, gerakan kuda-kuda dan kelitan-kelitan pemuda tanggung tadi?” tanya laki-laki itu kembali.

Kembali perempuan itu menggeleng. “Tak kuduga!”

“Apanya, Kakang...?”

“Gerakan, kuda-kuda serta kelitannya tadi persis benar dengan yang diperagakan musuh besar kita Wong Agung! Tapi gerakan tangannya baru kali ini kulihat!”

“Hm... Apa berarti Wong Agung punya murid?” tanya Sunti. “Tidak bisa kuduga...!” jawab laki-laki yang tak lain Sangsang.

Memang mereka adalah Sepasang Iblis Pendulang Sukma yang sejak tadi mengawasi jalannya pertarungan.

******************** 

Sementara itu Pendekar Mata Keranjang terus memacu larinya. Begitu Kampung Blumbang terlihat, larinya baru diperlambat.

“Hm... Aku akan melihat mata bulat Roro. Senyum, dan...” bisik hati Aji sambil tersenyum sendiri.

Begitu telah berada di depan gubuk, Aji berhenti. “Eyang...,” panggil Aji.

Tak ada sahutan.

“Eyang...! Ajeng Roro...!” Aji agak mengeraskan suara kala suasana terlihat sepi.

Tak juga ada jawaban. Aji menjadi curiga.

Segera dikitarinya gubuk itu. Namun tak juga menemukan siapa-siapa. Kakinya segera melangkah memasuki gubuk dengan mendorong pintu. Aji tercekat saat pintu gubuk terbuka.

Pada dinding gubuk yang terbuat dari iratan-iratan bambu, terpampang tulisan di atas daun lontar. ‘Kalau kau ingin menemui mereka datang ke Jurang Guringring’.

>>>>> SELESAI <<<<<