Serial Pendekar Kelana Sakti Eps 14 : Dewi Jalang Dari Gunung Tanggul

 
Eps 14 : Dewi Jalang Dari Gunung Tanggul


Gunung Tunggul tetap menyeramkan. Hutanhutan yang gelap serta semak-semak belukar tumbuh di sana sini. Dataran tanahnya banyak berbatu. Namun sangat subur. Di situ pula banyak ditumbuhi alang-alang yang tinggi sebatas pinggang. Alang-alang itu terus menghampar sampai ke atas puncak.

Meski keadaan Gunung Tunggul sangat menyeramkan, udara di sekitar puncak amatlah sejuk dan segar. Bila angin berhembus, suaranya menderu-deru bagai iringan musik alam yang membuat pohon-pohon cemara hutan bergoyang-goyang.

Sesekali pula burung-burung beterbangan berkelompok-kelompok meninggalkan sarangnya. Mereka terbang meliuk-liuk kemudian hinggap pada satu bangunan yang nampaknya bekas sebuah kuil. Bangunan batu itu tetap tegar meski sudah sangat usang. Seluruh dindingnya banyak ditumbuhi akar-akar pohon merambat. Juga lumut-lumut jamur hampir menutupi seluruh genting yang nyaris ambruk. Di sekitar pelataran bangunan terkumpul tumpukan-tumpukan jerami kering.

Di situlah tempat pemukiman dua pendekar wanita penguasa Gunung Tunggul. Dua perempuan sakti dari aliran sesat itu dapat tinggal tenang, tanpa ada yang mengetahui di mana adanya bekas sebuah kuil. Murid dan guru yang sama-sama malang melintang mengacaukan dunia persilatan kerap kali selalu turun gunung. Kehadiran mereka selalu mencemaskan orang-orang dari aliran lurus. Nama busuknya sebagai Penguasa Gunung Tunggul betul-betul sangat menakutkan.

Tapi pagi ini mereka, murid dan guru, yang tidak lain Nilasari Grewek dan Srikaton Munggel, hanya berdiam diri dalam pemukiman mereka. Sang guru, Nilasari Grewek yang telah berusia hampir tiga perempat abad dengan rambut yang memutih sebatas pinggang serta selalu mengenakan pakaian serba merah tengah duduk menikmati teh hangat ramuannya sendiri. Ia duduk bersila di sudut ruangan. Matanya tidak lepas menatap Srikaton Munggel murid tunggalnya. Perempuan cantik molek ini duduk di atas tumpukan jerami menatap keluar dengan pandangan yang kosong! Melihat itu, Nilasari Grewek menggelengkan kepalanya.

"Berhari-hari kerjamu hanya memikirkan Gentara Karma. Latihan ilmu pun kau tidak bersemangat. Mau jadi apa? Mau jadi Telembuk?" gerutu Nilasari Grewek. Srikaton Munggel tersadar dari lamunannya.

"Tapi Kakang Gentara Karma telah tewas, Guru. Kematiannya sangat mengenaskan. Siapa yang tidak kasihan mendengar tokoh hebat macam Kakang Gentara Karma." sahut Srikaton Munggel. Nenek berambut putih ini seperti hendak tertawa mengekeh.

"Kau ini ada-ada saja. Dulu semasa aku mempertunangkan kau dengan Gentara Karma, kau tolak. Kau bilang jorok, memuakkan, dan masih banyak lagi sumpah serapahmu, dulu, semasa Gentara Karma masih hidup, hubungan kalian bagaikan anjing dan kucing. Sekarang pasanganmu sudah mampus, bagaikan pungguk merindukan bulan. Lupakan saja soal kakakmu itu. Yang kau pikirkan bagaimana kita dapat membalas dendam?"

"Balas dendam? Balas dendam terhadap siapa, Guru?.... Siluman Muka Buruk juga telah tewas." jawab Srikaton Munggel.

"Dasar murid tolol. Musuh-musuh kita masih banyak di depan mata. Bagaimana pun aku tidak bisa melupakan Pendekar Kelana Sakti. Tindakannya membuat kita terhina di mata orang-orang persilatan. Kalau saja pendekar sialan itu tidak ada, Ki Wirayuda bersama Pendekar dari Bukit Sinimbung sudah kucabut jantungnya." Nilasari Grewek kertakan rahangnya. Kemarahannya tiba-tiba saja muncul saat teringat akan Pendekar Kelana Sakti.

"Satu-satunya penghalang cuma bocah ingusan itu. Dia harus disingkirkan terlebih dulu." sambung Srikaton Munggel.

"Nah, itulah yang sekarang tengah ku pikirkan, muridku. Persoalan Gentara Karma sudah basi. Masih banyak laki-laki di luar sana. Kupikir kau sangat cantik. Tubuhmu sangat molek menggiurkan. Siapa yang tidak tertarik denganmu!?" Setelah berkata begitu Nilasari Grewek menghirup habis teh hangat dalam cangkir bambu.

"Apakah kita berdua cukup mampu menghadapi Pendekar sialan itu? Ilmunya yang setinggi langit membuat kita lari morat marit. Aku khawatir kita berdua akan celaka."

"Pendekar asal jadi itu setingkat denganku." jawab Nilasari Grewek.

"Kenapa saat kita menggempur Ki Wirayuda harus lari?"

"Sekali lagi kubilang kau murid tidak punya otak!" Maki nenek berambut putih. Srikaton Munggel bergidik ketakutan.

"Hal itu dikarenakan adanya Siluman Muka Buruk. Saat itu kita memang betul-betul buta. Tidak tahu kelemahan Ilmu Mati Pamungkas. Tapi sukurlah sekarang bangsat itu sudah mampus."

Srikaton Munggel diam. Matanya tidak berkedip menatap gurunya bangkit berdiri. Nilasari melangkah ke depan pintu batu. Ia berdiri di situ memandang jauh keluar. Hembusan angin gunung menerpa rambut putihnya. Pikirannya melayang mundur pada beberapa hari sebelumnya. Ketika mereka berdua menyatroni pemukiman Ki Wirayuda. Hal itu memang tidak bisa dilupakan. Nama besar Pendekar Gunung Tunggul benar-benar telah tercoreng.

Belum pernah ia merasa gentar atau lari mundur dari musuh-musuhnya. Wajah Pendekar Kelana Sakti membekas berat di lubuk matanya. Tentunya pendekar muda itu tengah disanjung-sanjung saat ini. Srikaton Munggel mengernyitkan alis melihat gurunya berdiri seperti menahan amarah. Murid tinggal ini mendadak kaget saat Nilasari hentakkan kedua tangannya ke depan.

"Bledaaaar...!" Kiranya Nilasari Grewek lepaskan satu hantaman. Pukulan jarak jauh itu meruntuhkan satu pohon kering yang ada di muka bangunan. Itulah luapan amarah Nilasari Grewek. Nenek keriput ini memang selalu begitu bila dilanda kemarahan.

"Lihat, Srikaton! Hantaman Tombak Gunung akan menghancurkan tubuh pendekar sialan itu." kata Nilasari Grewek dengan nafas yang kian memburu.

"Be-benar, Guru. Pendekar Kelana Sakti tidak akan mampu menghadapi hantaman itu." sambut Srikaton Munggel memberi semangat. Seraya ia melangkah bangun mendekati gurunya.

"Guru pun harus mengajarkan jurus itu padaku. Belum pernah kulihat ilmu yang sedahsyat ini "

Srikaton Munggel merayu.

"Belum saatnya, Srikaton. Belum saatnya. Kau tidak akan sanggup mempelajarinya sekaligus. Ini terdiri rangkaian jurus Jari Tombak dan Jari Pedang. Apakah kau sudah menguasai jurus keduanya?" ujar Nilasari Grewek. Srikaton Munggel menunduk.

"Bagaimana aku bisa melumpuhkan Pendekar Kelana Sakti, kalau guru tidak memberi pelajaran jurus itu." celetuk Srikaton.

"Heh! Pendekar ingusan itu bagianku! Biar olehku pendekar sial itu berjalan merangkak seperti anjing." Sumpah nenek keriput Nilasari Grewek. "Bagianmu Ki Wirayuda dan pendekar Witasoma. Aku yakin mereka berdua tidak akan mampu menghadapi engkau. Bersiaplah... Sebentar lagi kita akan turun gunung."

"Hari ini? Apakah tidak terlalu lelah?"

"Bila menunggu-nunggu lagi. Pendekar Kelana Sakti keburu merat. Ke mana kita mencari pendekar itu. Langkah-langkahnya sukar untuk dicari." jawab Nilasari Grewek. Ia kembali masuk menutupi semua jendela ruangan. Ruangan bangunan bekas kuil itu menjadi gelap. Srikaton Munggel melangkah keluar. Di pelataran bangunan, ia mengikuti gerakan-gerakan jurus gurunya. Seolah-olah ia arahkan hantaman Tombak Gunung pada sebuah pohon kering yang ada di hadapannya. Berulang-ulang ia lancarkan hantaman jarak jauh itu. Tapi pohon kering tetap berdiri tegak tak bergeming.

Hampir kesal ia menghadapi pohon kering yang berdiri diam menantang. Manakala ia terus melancarkan jurus Tombak Gunung. Diam-diam Nilasari Grewek yang telah menutup pintu batu memandangi sambil mengekeh. Diam-diam pula nenek keriput ini lancarkan hantaman yang serupa. Srikaton Munggel terkejut dengan tiba-tiba. Karena pohon kering di hadapannya hancur berderak, maka.....

"Guru.... Aku bisa! Aku bisa!" Srikaton meloncat kegirangan.

"Bisa apa? Matamu Pecak? Aku tadi yang menghancurkan pohon itu. Kau belum sanggup untuk melakukannya, Srikaton. Jangan mimpi. Untuk mempelajari jurus Tombak Gunung, harus disertai kesungguhan yang bulat. Juga tidak memakan waktu yang sedikit." ujar Nilasari Grewek masih mementang jurus. Srikaton Munggel jadi malu.

Daerah itu di tumbuhi pohon-pohon besar. Nyaris gelap dan menakutkan. Namun bagi kedua pendekar wanita ini sama sekali bukan halangan. Dari puncak Gunung Tunggul sampai lereng memang daerah kekuasaannya. Binatang apapun lari sembunyi bila melihat mereka.

Dengan bebas tanpa halangan mereka menembus lereng gunung. Keduanya menatap lapang tanah perbukitan tandus berbatu. Keduanya tidak langsung melanjutkan perjalanan. Karena mereka dapat melihat sesuatu yang menjadi perhatian.

"Nampaknya seperti sebuah iring-iringan. Guru." ujar Srikaton Munggel. Sang Guru tidak menjawab. Ia mempertajam mata tuanya. Lalu tak lama ia mengangguk-anggukkan kepala.

Iring-iringan berkuda itu makin lama makin dekat. Beberapa penunggang kuda memegangi beberapa bendera. Di tengah-tengah iring-iringan itu sebuah tandu gemerlapan didukung enam orang. Di belakangnya berderet para pengawal berkuda.

"Hm, calon pengantin perempuan rupanya." gumam Nilasari Grewek. Srikaton Munggel tidak mengerti. Dia hanya diam mengawasi rombongan itu. "Mereka akan mempertemukan calon pengantin perempuan dengan pengantin laki-laki." gumamnya lagi. Srikaton makin tidak mengerti.

"Dari mana guru tahu kalau iring-iringan itu membawa calon pengantin perempuan?" tanya Srikaton Munggel.

"Tiga puluh tahun malang melintang dalam dunia persilatan rupanya membuat otakmu tambah bebal. Tidakkah kau lihat bendera-bendera yang mereka bawa?" kata Nilasari Grewek seraya ia menarik kepala Srikaton Munggel agar dapat terlihat dengan jelas iring-iringan itu.

"Oh, bendera yang bergambar sebuah pedang dengan ular melingkar?" jawab Srikaton Munggel.

"Bukan bendera yang bergambar. Bendera itu menyatakan mereka dari perguruan 'Pedang Ular.' Yang kumaksud bendera-bendera yang berwarna merah tersulam benang mas." Srikaton Munggel menganggukkan kepalanya.

"Pasti calon pengantin perempuan itu berada dalam usungan tandu. Entah mereka mengadakan pertemuan di mana. Biasanya orang-orang aliran lurus selalu merahasiakannya." kata Nilasari Grewek, sikapnya hati-hati sekali agar tak terlihat oleh rombongan berkuda itu.

"Lalu apakah kita membiarkan orang-orang aliran lurus melintasi sekitar lereng Gunung Tunggul?"

"Tidak akan, Srikaton. Tanganku selalu gatal bila melihat orang-orang aliran lurus." Nilasari Grewek kertakan tinju. Serta merta ia mendorong tubuh Srikaton Munggel. Meski dorongan itu perlahan, namun akibatnya sangat fatal. Tubuh Srikaton Munggel terguling dahsyat.

"Guru...! Apa yang kau lakukan?" Srikaton Munggel memekik. Nilasari Grewek tidak menjawab. Malah ia melepaskan lagi hantaman-hantaman ringan ke arah Srikaton, murid tunggalnya. Sudah tentu murid tunggalnya itu tidak berani membalas atas perbuatan nenek berambut putih.

"Kau ingin membunuhku?" Srikaton Munggel berusaha mengelak.

"Murid tolol. Diam dan jangan berteriak, kita bermain sandiwara di hadapan mereka. " Srikaton baru mengerti. Dirasakan hantaman-hantaman gurunya seperti menghalau ke arah rombongan itu. Tahu begitu, Srikaton sengaja bergulingan. Tindakan mereka seperti tengah melakukan perkelahian sungguhan.

Sementara itu rombongan kuda jadi mendadak berhenti. Seorang setengah tua mengangkat tangannya. Ia memimpin rombongan berkuda itu. Matanya tidak lepas mengawasi perkelahian dua orang wanita. Nampak jelas sosok nenek keriput menghajar habishabisan seorang wanita yang jauh lebih muda.

Di dalam tandu duduk seorang wanita berumur dua puluhan lebih. Ia juga turut terheran-heran melihat perkelahian tersebut. Ia dapat melihat langsung peristiwa itu.

"Paman, nampaknya nenek keriput itu! bukanlah orang baik-baik. Aku curiga ia dari aliran sesat. Rupanya pun amat buruk. Lihat saja tindakannya yang kelewat telengas." ujar gadis yang berada dalam tandu. Laki-laki yang mengangkat tangan ini membawa kudanya ke samping tandu.

"Sekitar lereng Gunung Tunggul ini memang rawan, Umbayani. Aku khawatir tua. bangka itu penguasa Gunung Tunggul." jawab lelaki setengah tua ini.

"Kalau begitu lerai saja mereka. Cari tahu siapa mereka berdua." perintah gadis bernama Umbayani. Tanpa menyahut pemimpin rombongan memacu kudanya. Langkah kudanya cepat menuju ke arah perkelahian. Lelaki itu langsung melompat dan hinggap di antara mereka.

"Nenek yang maha sakti, mohon hentikan sebentar. Persoalan apa kiranya yang membuat turun tangan begini kelewatan?"

Nenek keriput yang tidak lain Nilasari Grewek tidak menjawab. Malah ia melancarkan serangan pada laki-laki yang baru turun dari kuda. Sudah tentu lakilaki setengah tua ini jadi kelabakan.

"Jangan campuri urusanku. Biar aku si tua majikan Gunung Tunggul menghajar sampai mampus perempuan ini!" bentak Nilasari Grewek, sebelah tangannya menyambar melepaskan hantaman. Serta merta lelaki yang tidak tahu menahu itu menjadi sasaran. Meski ia menangkisnya, tak urung tubuhnya terhuyung akibat pukulan yang sangat keras itu.

"Kalau begitu engkau seorang tokoh aliran sesat yang selama ini meresahkan rimba persilatan." Lelaki ini menarik tubuh Srikaton Munggel yang berpurapura mencari perlindungan.

"Siapa pun tidak ku ijinkan melintasi lereng Gunung Tunggul. Siapa pun bagusnya jadi mayat penghias di sini!" Nenek berambut putih mengembangkan jurus-jurusnya. Srikaton Munggel nampak ketakutan sekali, ia memegangi tubuh laki-laki yang bermaksud melindungi. Tapi malah berakibat membahayakan. Hantaman Nilasari tidak bisa dielakkan. Hantaman itu masuk ke bagian dada, sampai jatuh terguling.,

"Nenek keriput! Kebetulan aku akan meringkusmu!" bentak lelaki itu bangkit balas menerjang. Menghadapi kemarahannya, Nilasari Grewek agak keder. Pemimpin rombongan berkuda agaknya tidak dapat dianggap main-main. Terjangannya disertai pukulan yang beruntun. Sambil mundur nenek berambut putih itu memapaki serangan-serangan itu. Tapi sekali ia melepaskan hantaman Tombak Gunung, pemimpin rombongan ini memekik dengan tubuh yang terlempar jauh terasa tulang-tulangnya remuk. Dalam urutan perguruan Pedang Ular, laki-laki ini tergolong cukup berilmu tinggi. Ia bernama Rakadewa Geni. Makanya ia cukup mampu menahan hantaman Tombak Gunung yang sangat ampuh itu. Dengan seloyongan Rakadewa Geni bangkit mencabut pedang dari pinggangnya. Melihat pemimpin rombongan ini tidak main-main menghadapi seorang tokoh aliran sesat. Semua anak buahnya turun tangan. Mereka serempak maju mengepung. Melihat itu pun Srikaton Munggel berlari ke belakang dengan sikap ketakutan.

Sambaran pedang Rakadewa Geni berkelebat bagai kiciran angin. Serangan-serangan itu gencar mencecar nenek berambut putih yang bergerak-gerak berkelit menghindari sambaran pedang. Manakala belasan orang mulai maju melepaskan serangan pula. Nilasari Grewek makin kewalahan. Namun menghadapi itu semua nenek keriput itu hanya mengekeh mengumbar tawa, Gerakannya yang sangat ringan menepis tiap-tiap sambaran pedang. Bahkan sekali ia membalas serangan, tiga sampai lima orang jatuh menyembur darah.

*

**

2

Nenek berambut putih terus melepaskan serangan balasan meskipun sambaran-sambaran pedang selalu nyaris nyerempet di tubuhnya. Rombongan pengantar calon pengantin perempuan makin gigih mendesak. Apalagi setelah dilihatnya beberapa orang temannya berjatuhan terluka parah.

Rakadewa Geni lepaskan jurus-jurus maut perguruan Pedang Ular. Tapi jurus-jurus itupun nampaknya tidak berarti. Untunglah ia dibantu dengan belasan orang para pengikutnya. Sehingga Nilasari Grewek agak sukar lepaskan hantaman Tombak Gunung.

Dalam hal ini Nilasari Grewek tidak hentihentinya memaki. Serangan lawan-lawannya pating serabut lancarkan babatan-babatan pedang. Hingga nampak nenek berambut putih itu di kelilingi dengan gulungan-gulungan sinar pedang yang mematikan.

Sebenarnya pula serangan-serangan itu amatlah mudah dielakkan. Karena Nilasari Grewek yang jauh memiliki kepandaian selalu bisa berkelit menghindari, maka dalam satu kesempatan ia lepaskan juga hantaman Tombak Gunung.

"Bledaaaar...!" Jurus itu selain aneh, juga disertai dengan tenaga yang sangat tinggi. Tak urung dari hantaman itu bergulingan lima orang sekaligus. Derak tulang iga mereka yang patah sampai terdengar mengilukan. Dan kelima orang itu ambruk tak berkutik bagai tumpukan-tumpukan sampah.

Melihat itu pun Rakadewa Geni tidak tanggungtanggung lancarkan serangan. Babatan pedangnya cepat berputar menyilang. Lalu memutar lagi ke arah bawah, selalu begitu. Membuat Nilasari Grewek agak kewalahan. Menghadapi pemimpin rombongan ini memang harus mementang mata. Kalau tidak entah jadi apa tubuh renta Nilasari Grewek.

Sambil terus berkelit, nenek keriput penguasa Gunung Tunggul mencari-cari kesempatan. Gerakannya selalu dibayang-bayangi oleh beberapa orang lawannya yang masih tersisa. Kedua tangannya mengibas-ngibas bergulung memapaki tiap-tiap serangan.

Ringan saja Nilasari Grewek memutar kedua lengannya, tapi malah berakibat sangat meyakinkan. Tiga orang lawan jatuh terguling. Hal itu menjadi satu kelonggaran nenek berambut putih lepaskan Tombak Gunung. Serta merta kedua tinju keriput Nilasari Grewek menjurus ke depan mengarah pada Rakadewa Geni.

"Blaaaaar...!" Rakadewa Geni tidak sempat

menghindar, ia memekik keras dengan tubuh terbanting. Dua kali ia terkena hantaman yang dahsyat itu. Sebagai orang berilmu tinggi, hantaman itu bagi Rakadewa Geni cukup hanya menyemburkan darah. Tidak fatal seperti para pengikutnya.

Lawan-lawan Nilasari Grewek tinggal beberapa orang termasuk Rakadewa Geni, gadis dalam tandu bukannya tidak melihat pertarungan itu, apalagi separuh para pengawalnya jatuh luka parah, ada juga yang sampai tewas. Ia murka sekali.

Srikaton Munggel yang masih berada di situ pura-pura berlari ketakutan. Dengan tubuh yang gemetar penuh luka memar ia menuju ke arah tandu. Srikaton Munggel sudah dapat melihat seorang gadis duduk dalam tandu berlapis sutra.

"Nona.... Tolong, iblis itu bisa membantai kita semua! Cepat nona, bertindaklah...!" Srikaton Munggel memohon-mohon di samping tandu. Umbayani sendiri memang sudah tidak sabaran ingin turun tangan. Makin lama para pengawalnya habis bergelimpangan di bawah kaki nenek penguasa Gunung Tunggul, pamannya sendiri, Rakadewa Geni sudah keteter terus menerus menyambut hantaman Tombak Gunung.

"Nona yang berilmu tinggi, mohon cepat membantu mereka. Iblis tua itu tidak pernah main-main." Srikaton Munggel merengek-rengek.

Maka saat itu pula tandu berlapis sutra berderak hancur. Kain sutra yang tipis sebagai tirai penghias hancur menjadi serpihan-serpihan kain, Begitu juga dengan tandu yang bagus berukir gemerlapan. Dari situ sosok ramping Umbayani melesat berjumpalitan di udara. Umbayani hinggap di tanah tanpa bersuara. Mata Srikaton Munggel tidak berkedip. Bukan melihat kehebatan ilmu peringan tubuh Umbayani, tapi karena benda yang ada dalam genggaman gadis itu. Sebilah pedang berwarna keemasan.

Pedang itu meliuk-liuk bagai tubuh ular. Panjangnya satu meter lebih. Setiap kali Umbayani bergerak Pedang itu membiaskan sinar keemasan. Itulah Pedang Ular Emas. Pusaka turun temurun perguruan 'Pedang Ular'.

Kebetulan sekali Srikaton Munggel dapat melihat sekarang. Maka sandiwara itu telah usai. Serta merta Srikaton Munggel melesat cepat bagai angin menjurus ke arah Umbayani. Gadis itu tidak menyangka kalau pedang ular dalam genggamannya terlepas, Srikaton Munggel cepat merebutnya dari genggaman Umbayani. Gadis itu pun menghardik dengan suara keras.

"Bangsat! Kembalikan pedang itu, kalau tidak...?" Srikaton Munggel tidak perduli. Ia terus berlari ke arah Nilasari Grewek. Nenek berambut putih itu sekarang tengah menghadapi Rakadewa Geni seorang diri. Para pengikutnya yang belasan telah bergelimpangan di tanah.

"Murid goblok, kenapa harus lari meninggalkan mangsa. Cepat habiskan calon pengantin perempuan itu!" bentak Nilasari Grewek. Tangannya menampar muka Rakadewa Geni. Lelaki inipun terjatuh untuk yang kesekian kalinya.

"Terkutuk! Rupanya kalian sengaja mempermainkan aku! Kalian akan tahu rasa akibatnya!" Umbayani berdiri murka. Lalu ia keluarkan jurus-jurus tangan kosong. Rakadewa Geni sudah bangkit siap lancarkan serangan lagi. Ia sampai terheran-heran melihat pedang Ular Emas berada di tangan Srikaton Munggel. Malah perempuan penuh luka memar itu sekarang berdiri berdampingan dengan nenek penguasa Gunung Tunggul.

"Dasar mata kalian pecak semua. Tidak kenalkah kalau kami berdua adalah para pendekar sesat Gunung Tunggul? Hik... hik... hik... hik...! Sungguh bodoh. Sudah mengantarkan nyawa, harus pula kehilangan pusaka." ujar Nilasari Grewek.

Sudah tentu ucapan itu membuat para pendekar Pedang Ular makin sengit. Maka serta merta Umbayani dan Rakadewa Geni menyerang serempak. Sebelumnya Umbayani si calon pengantin meraih pedang anak buahnya yang tergeletak di tanah. Keduanya maju melancarkan babatan-babatan pedang.

Srikaton Munggel tenang menyambut. Ia menarik keluar Pedang Ular Emas dari sarungnya. Maka terlihatlah pedang yang lebih langsing. Bersinar keemasan menyambut sambaran pedang kedua lawannya......

"Traaakk!.... Traaaaak!" Pedang Umbayani maupun Rakadewa Geni patah dua. Tapi mereka terus lancarkan serangan meski pedang dalam tangan mereka kuntung.

"Guru, biar kedua pendekar-pendekar tolol ini menjadi bagianku. Sekalian ingin mencoba keampuhan pusaka Pedang Ular Emas. Hreaaaaaa. !" ujar Sri-

katon tanpa mundur menyambut dua serangan dari arah berlawan.

"Bikin habis mereka, Muridku! Orang-orang aliran lurus pantang berdiri di sekitar Gunung Tunggul!" jawab Nilasari Grewek mengekeh.

Murid tunggalnya makin bersemangat. Ia merasakan ada suatu kejutan dalam membalas serangan. Pedang Ular Emas dapat mempengaruhi setiap gerakan Srikaton Munggel. Sambaran pedangnya cepat dua kali lipat. Saat berkelebat pedang itu hampir tidak kelihatan. Hanya desingan angin yang terdengar. Umbayani yang tergolong paling tinggi dalam perguruan Pedang Ular betul-betul merasa tidak berkutik. Apalagi Rakadewa Geni. Keduanya jatuh bangun.

Srikaton Munggel tidak menyadari kalau kehebatannya makin bertambah saat menggunakan pedang itu. Maka sekali ia babatkan memutar. Tubuh Rakadewa Geni berguling bersama penggalnya kepala lelaki itu. Darah menyembur dari tubuh kelojotan tanpa kepala. Umbayani gusar tidak kepalang. Tapi ia pun harus mengalami nasib sial. Sabetan Pedang Ular Emas menghantam perutnya. Umbayani memekik. Tubuh rampingnya menggelosoh lemas ke tanah. Lalu diam tak berkutik.

Dua penguasa Gunung Tunggul masih berdiri memandangi tubuh-tubuh yang bergelimang darah. Ia seperti puas melihat belasan orang tumpang tindih di sekitar tempat itu.

"Hik-hik-hik-hik...! Tuntas sudah semua. Itu berarti riwayat perguruan Pedang Ular sudah tamat. Hik-hik-hik-hik...!"

*

**

3

Tragis memang. Umbayani pewaris terakhir perguruan Pedang Ular. Sekarang pusaka milik mereka pun telah lenyap. Nasib Umbayani belum dapat dipastikan. Luka di perutnya sangatlah parah. Tapi kalau nasib pamannya, Rakadewa Geni jelas sudah. Ia tewas dengan kepala terpisah. Yang lebih mengenaskan lagi dikarenakan oleh pusakanya sendiri. Dulu semasa ayah Umbayani masih memegang tampik sebagai majikan perguruan Pedang Ular, paling pantang ia mendengar para murid atau kerabatnya dihina orang. Apalagi mengetahui putrinya yang cuma satu-satunya ini mengalami nasib seperti sekarang. Pastilah mati hidupnya dipertaruhkan untuk membela. Nasib tak dapat dirobah. Orang sakti gagah be-

rani macam ayah Umbayani tidak berumur panjang. Ia tewas karena sakit setahun yang lalu. Kalau saja ia dapat hidup bertahan dua sampai tiga tahun lagi, sudah tentu majikan perguruan Pedang Ular dapat mengantar putrinya mempertemukan calon pengantin pria. Umbayani memang sudah dijodohkan dengan seorang putra dari Resi Wesakih. Ayah Umbayani sudah mengikat tali pertunangan semasa Umbayani kanak-kanak. Sebagai anak berbakti pada orang tua Umbayani tidak dapat menolak. Bagaimanapun Umbayani harus menikah dengan Arso Lumbing putra Resi Wesakih. Tapi selama ia hidup, belum pernah Um-

bayani melihat bagaimana rupa calon suaminya itu.

Ayah Umbayani cuma berpesan saat-saat akhir hidupnya. Bahwa calon suaminya itu memiliki Pedang Ular Emas juga. Dan hari pertemuannya sudah ditentukan tanpa bisa diundur-undur lagi. Adapun Pedang Ular Emas yang dimiliki calon pengantin pria itu, tidak lain buatan Resi Wesakih sendiri. Resi itu sengaja membuatnya atas persetujuan Ayah Umbayani sebagai tanda. Orang yang paling dekat dengan Umbayani setelah ayahnya wafat adalah Rakadewa Geni, pamannya. Dia pula yang ,mewakili ayah Umbayani mengantarkan ke pertemuan sepasang pengantin.

Tapi apa mau dikata, malapetaka datang tanpa diundang. Orang-orang perguruan Pedang Ular mengalami musibah luar biasa. Dua pendekar wanita sesat penguasa Gunung tunggul telah merubah segalanya. Umbayani tetap terbaring. Bergetar ia membuka kedua kelopak matanya. Ia tidak tahu macam apa luka di perutnya itu. Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit yang begitu hebat.

Samar-samar dilihatnya para pengawal berserakan tanpa nyawa. Di sebelahnya terbaring tubuh tanpa kepala. Tapi setelah ia melihat kutungan kepala yang tidak jauh dari situ, Umbayani hampir memekik. Matanya berkunang-kunang lagi. Pandangannya jadi gelap. Lapat-lapat ia mendengar suara derap langkah kuda. Tapi ia hanya mampu mendengar sampai sebatas itu. Ia tidak kuat bertahan lama, tubuhnya kembali terkulai lemas. Ia pingsan.

Kiranya si penunggang kuda itu seorang pemuda yang kebetulan melintasi daerah itu. Langkah kudanya dipercepat saat mendekati sosok-sosok bergelimpangan. Sebuah benda panjang berguncangguncang saat kudanya berlari cepat. Benda itu terserong di punggung. Benda sepanjang satu meter lebih terbungkus kain sutra berwarna putih.

Pemuda itu langsung turun dari kuda dan memeriksa satu demi satu sosok-sosok bergelimpangan itu. Semuanya tidak ada harapan. Mereka telah tewas. Ia bergidik pula saat melihat sosok bersimbah darah tanpa kepala. Tapi justru melihat itu pandangannya membentur pada seorang gadis cantik terbaring dengan luka di sekitar perut.

Ia langkahkan kakinya ke situ. Gadis itu tidak luput dari pemeriksaannya. Dan pemuda ini benarbenar membelalakkan matanya. Betapa tidak, saat ia memijit urat nadi pada leher gadis itu, masih berdenyut meskipun lemah.

"Astaga.... Dia masih hidup. Rupanya pertempuran baru saja terjadi." kata pemuda itu dalam hati.

"Darahnya pun masih segar, tapi syukurlah sudah tidak mengalir lagi." gumamnya, ia menarik ikat pinggangnya yang dari kain. Lalu ia balut melilit menutupi luka Umbayani.

"Kasihan.... Sayang aku tidak membawa obatobatan. Tapi tak apalah kalau lukanya tertutup akan lebih aman. Mudah-mudahan saja gadis ini masih dapat bertahan. Karena aku akan membawanya ke Desa Sungkawarang. Kebetulan desa itu tidak jauh lagi. Aku bisa meminta pertolongan pada Ki Wirayuda di sana." Selesai membalut, pemuda ini mengangkat tubuh Umbayani. Hati-hati sekali ia meletakkan di atas punggung kuda.

Tak lama pun kuda itu meninggalkan bekas arena pertempuran. Selama dalam perjalanan, pemuda ini menjaga agar tubuh si gadis tidak terguncang, meskipun demikian benda yang terselubung kain sutra terus bergoyang-goyang di punggungnya.

***

Kematian Nyi Andini membuat Ki Wirayuda patah semangat. Sudah lebih satu minggu ia tidak melatih para muridnya. Menyadari akan kekalutan sang guru, murid-muridnya ini sengaja berlatih sendiri, Ki Wirayuda tidak melarang. Ia menghabiskan waktunya dengan menyendiri dalam ruangan khusus.

Wintara agak kerasan berada dalam pemukiman Ki Wirayuda. Sekalipun sikap Ki Wirayuda agak kurang enak. Pendekar Kelana Sakti ini menyadari kalau Ki Wirayuda seorang yang 'Dingin' bergaul. Untunglah Wintara bisa menempatkan diri. Kalau sampai saat ini Wintara masih berada dalam pemukiman Ki Wirayuda, ia masih yakin kalau di tengah kekalutan ini akan muncul tokoh-tokoh sesat macam Nilasari Grewek dan Srikaton Munggel. Pendekar Kelana Sakti ini hanya sendirian sebagai tamu di antara orang-orang Ki Wirayuda, karena Wita Soma, Pendekar yang sama-sama melumpuhkan Gentara Karma telah kembali membawa kepahitannya ke Bukit Sinimbung.

Diam-diam pula orang-orang Ki Wirayuda merasa kagum akan kehebatan Pendekar Kelana Sakti ini, untuk itu mereka selalu melayani Wintara sebagaimana layaknya seorang tamu. Entah kapan Wintara akan meninggalkan pemukiman itu, mungkin nanti setelah situasi benar-benar tenang.

Namun di tengah-tengah kekalutan itu mendadak saja jadi bising. Pintu gerbang seperti digedor orang secara paksa. Beberapa murid yang tengah latihan ini menjadi terkejut. Wintara hanya berdiri mengawasi kegaduhan itu. Ki Wirayuda yang tengah mengasingkan diri dalam ruangan khusus, tersentak bangkit. Pintu gerbang semakin. kencang berderak berkali-kali.

Seorang murid bermaksud membukakan pintu, Tapi sebelum tangannya membuka palang pintu, sebuah benda tajam keemasan dari balik pintu membersit keras. Pintu gerbang terbelah dua. Bahkan sambaran pedang itu menembus pada orang yang bermaksud membuka pintu gerbang. Tak ayal orang itu langsung memekik kelojotan. Dari atas muka sampai ke perut nyaris terbelah dua pula.

Semua orang yang berada di situ menatap ngeri, namun serempak pula mereka semua berlari menghambur ke arah pintu. Nampaklah dua orang perempuan tertawa menyeringai. Siapa lagi kalau bukan Srikaton Munggel dan gurunya. Pedang di tangan Srikaton Munggel masih bersimbah darah.

Melihat itu pun Ki Wirayuda yang berada dalam ruangan khususnya langsung berjingkat lari. Cepatcepat ia meraih pedangnya yang tergantung di dinding. Wintara sudah dapat menerka apa yang akan dilakukan Ki Wirayuda. Maka sebelum Ki Wirayuda bertindak, Wintara menghadapi dua perempuan sesat itu lebih dulu. Anak buah Ki Wirayuda segera menyingkir saat Wintara berhadapan dengan dua pendekar wanita itu.

"Hik-hik-hik...! Bagus kau masih tetap berada di sini, Pendekar sialan. Kedatangan kami kemari memang sengaja untuk mengambil kepalamu!" ujar Nilasari Grewek.

"Aku khawatir ucapanmu itu akan terbalik, Nenek sakti." jawab Wintara tenang.

"Terhadap orang-orang aliran lurus tidak perlu banyak basa-basi, Guru. Musuhmu sudah ada di depan mata, langsung labrak saja!" kata Srikaton Munggel. Wintara melirik ke arahnya. Pedang Ular Emas berada di tangan perempuan itu, sebuah pedang yang meliuk-liuk bagai tubuh ular berwarna keemasan.

*

**

4

"Perempuan-perempuan setan! Kalian hanya mengantar nyawa datang ke sini!" Tiba-tiba saja Ki Wirayuda menerjang dengan babatan pedangnya. Srikaton yang sedari tadi menunggu-nunggu kehadirannya melesat menyambut.

"Mari kita perhitungan, Ki Wirayuda...!" Tubuh Srikaton berjumpalitan di udara seraya ia memutar Pedang Ular Emas. Tapi mana mau Wintara membiarkan tindakan itu. Cepat pula ia bergerak mundur lancarkan pukulan ke atas.....

"Bug!" Tepat mengenai pinggang Srikaton Munggel. Perempuan itu memekik hinggap dengan sempoyongan. Bahkan ia hampir saja kena sambaran pedang Ki Wirayuda.

Ternyata nenek sakti penguasa Gunung Tunggul pun tidak tinggal diam. Serta merta ia maju menjurus ke arah Wintara. Pendekar Kelana Sakti ini tidak kalah siap. Hantamannya menyambut serangan Nilasari Grewek. Terhadap perempuan berusia lanjut ini Wintara tidak segan-segan lancarkan pukulan keras. Karena ia tahu siapa adanya Nilasari Grewek. Terasa sekali hantaman-hantaman nenek itu sangat mematikan. Jurus-jurus Jari Tombak mengais-ngais mengarah jantung, tidak henti-hentinya Wintara keluarkan jurus Menyibak Tirai Bayu, sehingga hantamanhantaman Jari Tombak selalu meleset.

Saat itu lima jurus pedang sudah membentang di hadapan Ki Wirayuda. Ia sendiri sudah kewalahan menghindari sambaran-sambaran Pedang Ular Emas. Tidak menyangka pula kalau Srikaton Munggel kini demikian hebat. Sukar sekali bagi Ki Wirayuda untuk membalas serangan.

Kepandaian Srikaton Munggel memang setingkat lebih tinggi dari Ki Wirayuda, Srikaton Munggel sudah berada di atas angin. Apalagi sekarang ia menggunakan Pedang Ular Emas. Manakala pedang itu terus menyabet berkali-kali. Dengan nekad ia menyambut lancarkan babatan pedangnya. Tapi yang ia lihat sungguh diluar dugaan. Sambaran pedang Srikaton Munggel yang berkali-kali menghantam memutuskan pedang Ki Wirayuda menjadi potongan-potongan besi mengkilat.

Pedang di tangan Ki Wirayuda benar-benar pupus. Yang tersisa tinggal beberapa senti lagi dari gagang pedang. Mana mampu ia menggunakan pedang itu lagi. Terpaksa pula ia menghadapinya dengan tangan kosong.

"Sudah kubilang, Ki Wirayuda. Kau harus tahu akibat perbuatan mu terhadap Kakang Gentara Karma! Kau harus menebusnya dengan nyawamu!" Kuat-kuat Srikaton Munggel lepaskan babatan pedang.....

"Swwwwiiiiiiiiit...!" Ki Wirayuda cepat bergulir. Meski cepatnya ia menghindar, tak urung punggungnya kena sambar juga.

"Ha-ha-ha-ha-ha...! Sebentar lagi kepalamu yang akan menggelinding!" Srikaton Munggel makin sengit lancarkan serangan.

"Perempuan sundal! Kita boleh mati bareng!" ujar Ki Wirayuda. Tubuhnya menjadi bulan-bulanan Srikaton Munggel yang terus menerus mencecar dengan babatan pedang. Terpaksa pula Ki Wirayuda bergulingan untuk menghindarinya.

Melihat itu pun, Wintara sempat meninggalkan pertarungannya dengan Nilasari Grewek. Gerakannya yang cepat bagai angin memapak serangan Srikaton Munggel. Perempuan itu tidak menyangka kalau Wintara akan menyerang secara mendadak.

Tahu-tahu saja hantamannya bersarang di perut, sudah tentu ia gagal melepaskan babatan pedangnya terhadap Ki Wirayuda. Ia memaki habis-habisan. Saat itu pun telah datang Nilasari Grewek di samping Srikaton Munggel.

"Pengecut! Kau lawanku Pendekar ingusan!" bentak Nilasari Grewek, nampaknya ia tak mau kehabisan lawan.

"Kalian boleh berdua menghadapi aku perempuan-perempuan sesat!" jawab Pendekar Kelana Sakti. Ki Wirayuda sudah berdiri siap lancarkan serangan lagi. "Mari kita hadapi bersama kedua wanita busuk ini, Wintara."

"Hem   Bagaimana keadaanmu, Ki?" kata Win-

tara terus mengawasi gerak gerik dua perempuan penguasa Gunung Tunggul.

"Tidak apa-apa. Selama berada di sampingmu aku tidak perlu takut." jawab Ki Wirayuda mantap.

"Jangan selalu berharap keselamatanmu berada di tanganku. Dua wanita ini memiliki ilmu yang tinggi. Salah-salah kita berdua bakal tewas."

"Kenapa harus kasak kusuk macam anjing gudik! Hadapi ini!" Nilasari Grewek menghardik serangannya deras lepaskan dua hantaman sekaligus.

"Cwwiiiiiiiit !" Pedang Ular Emas di tangan Sri-

katon Munggel berdesing menyambar kepala mereka. Tidak kepalang Wintara lepaskan hantaman Tinju Bayu Delapan Penjuru. Maka kedua perempuan ini mendadak mundur. Keduanya merasakan benturan hantaman itu demikian kerasnya.

Demi keadaan mereka yang mulai mundurmundur itu, Ki Wirayuda makin bersemangat lancarkan serangan, meskipun dengan tangan kosong. Pukulannya menderu-deru ke arah Nilasari Grewek.

Tentu saja hal itu merupakan tindakan yang salah. Dia lupa akan siapa adanya Nilasari Grewek. Serta merta nenek berambut putih ini lepaskan sebuah hantaman keras....

"Deeeer!" Ki Wirayuda memekik hebat, tubuhnya mencelat sangat jauh dan jatuh berdegum di tanah menyemburkan darah. Kiranya hantaman Tombak Gunung telah mematahkan beberapa tulang iganya.

Meski dalam keadaan terluka itu Ki Wirayuda tetap bangkit bermaksud membalas serangan. Wintara yang sibuk menghadapi , babatan-babatan Pedang Ular Emas sempat melihat Ki Wirayuda jatuh bangun terkena hantaman Tombak Gunung Nilasari Grewek. Maka demi melihat itu Wintara tidak tanggungtanggung lepaskan hantaman paling dahsyat....

"Buuuug!" Bayu Menghempas Gelombang membuat Srikaton Munggel terhuyung mundur. Pada kesempatan itu Wintara meninggalkan lawannya. Lesatan tubuh pemuda kekar ini langsung hinggap menghadapi Nilasari Grewek.

Nenek berambut putih ini sudah tahu akan kedatangan Pendekar Kelana Sakti. Maka Nilasari Grewek langsung menyambut dengan Tombak Gunungnya. Demikian pula dengan Wintara. Sebagai seorang pendekar yang banyak makan pengalaman ia tidak hanya berdiri mematung menunggu serangan lawan. Hantaman Tinju Bayu Delapan Penjuru dihempaskannya di hadapan Nilasari Grewek, maka:

"Bledaaaaar...!" Kedua hantaman mereka beradu nyaring. Nilasari Grewek memekik terhuyung ke belakang. Hampir saja ia terjatuh terserimpat kakinya sendiri. Wintara hanya terdorong dua langkah. Namun sebenarnya hantaman nenek berambut putih ini mengena telak di tubuh Pendekar Kelana Sakti. Namun Wintara bisa menyembunyikan rasa sakitnya.

Srikaton Munggel berjingkat maju. Pedang Ular Emas terhunus ke depan. Ia belum berani maju. Sengaja ditunggunya Nilasari. Dan mereka bisa melancarkan serangan berdua.

"Mari kita kepruk bersama-sama pendekar sial ini, Guru!" Srikaton Munggel mementang jurus. Nilasari berdiri di samping murid tunggalnya. Ia kerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan pukulan Tombak Gunung lagi.

Melihat keduanya murka, Wintara bersiap-siap pula dengan pukulan-pukulan ampuhnya.

Dua perempuan penguasa Gunung Tunggul ini memang berniat menyerang serempak. Maka Nilasari Grewek memberi aba-aba dengan dengusan nafasnya. Keduanya maju menerjang. Srikaton Munggel lepaskan babatan-babatan pedang menyilang sekuat tenaga. Nilasari Grewek lontarkan hantaman Tombak Gunung disertai tenaga

dalam penuh. Pedang bergulung-gulung bercuitan juga hantaman-hantaman nenek berambut putih menderu-deru menyambar keras.

Wintara mundur selangkah memapaki hantaman Nilasari Grewek, juga ia harus merunduk serta berkelit menghindari babatan Pedang Ular Emas. Tapi ia masih sanggup lepaskan pukulan Bayu Menghempas Tebing.....

"Splaaaak!" keduanya seperti terhuyung. Serangan Wintara tidak berhenti sampai disitu. Serta merta ia melanjutkan serangannya lagi dengan Pukulan Tinju Rayu Delapan Penjuru '

"Blaaaaaaar!"

Keduanya kontan bergulingan. Keduanya pula menyemburkan darah.

Mereka betul-betul kena batunya. Pendekar Kelana Sakti bukan orang yang mudah disentuh. Hal itu pula membuat nyali kedua perempuan penguasa Gunung Tunggul jadi ciut.

*

**

5

Nenek berambut putih ini menggeliat mengurangi rasa sakit. Tapi sebenarnya ia segan untuk menghadapi pendekar itu lagi. Ia sudah dapat mengukur akan kehebatan Pendekar Kelana Sakti yang setinggi langit itu. Pukulan apalagi yang akan dikerahkan Nilasari Grewek? Sudah tidak ada. Tombak Gunung satu-satunya jurus andalan nenek berambut putih itu.

Murid tunggalnya bangkit terhuyung-huyung. Karena pukulan Tinju Bayu Delapan Penjuru tadi mengena telak di tubuhnya. Pedang Ular Emas dalam tangannya bergetar. Ia tidak berani menyerang sendiri. Srikaton Munggel hanya menunggu perintah gurunya.

Tapi rupanya Nilasari Grewek tidak punya cara lain. Cepat kilat ia menyambar lengan Srikaton Munggel. Perempuan ini tidak menolak saat gurunya membawa dirinya menyingkir jauh-jauh. Wintara lepaskan lagi sebuah hantaman. Tapi kedua perempuan itu sudah terlanjur melarikan diri. Dalam beberapa kejap saja keduanya sudah melesat jauh.

"Wintara, jangan beri mereka kesempatan lolos! Kejar!" perintah Ki Wirayuda. Ia berdiri memegangi rusuk kirinya. Tapi Wintara tidak memenuhi perintah itu. Pendekar Kelana Sakti mulai melangkah mendekati Ki Wirayuda. Langkahnya agak tersendat-sendat. Setiap orang yang berada di situ dapat melihat wajah Wintara begitu berobah pucat.

"Maaf, Ki.... Aku tidak dapat mengejar mereka. Karena.... Karena...." Wintara tidak meneruskan katakatanya. Tubuh Pendekar Kelana Sakti seperti mengejang. Sesaat kemudian....

"Hroooooek...!" Darah kental hitam menyembur dari mulut Wintara. Ki Wirayuda maupun seluruh anak buahnya mendadak terkejut. Kiranya Wintara terluka pula. Mungkin tadi ketika Nilasari melancarkan pukulan Tombak Gunung. Ki Wirayuda sendiri hampir tidak dapat berjalan. Bahkan tulang iganya mungkin ada yang patah. Karuan saja para murid Ki Wirayuda terpecah menjadi dua. Sebagian mengerubung Wintara, sebagian lagi menolong Ki Wirayuda.

"Terima kasih.... Aku tidak apa-apa, kalian tolong saja Ki Wirayuda. Bawa beliau langsung ke dalam." ujar Wintara. Keadaannya memang segera pulih. Beruntunglah ia masih dapat bertahan saat kedua perempuan Penguasa Gunung Tunggul menyerang. Kalau kedua perempuan itu masih dapat melancarkan serangan-serangan lagi pastilah Wintara sudah menjadi bubur. Bersyukur pula Pendekar Kelana Sakti ini, karena kedua penguasa Gunung Tunggul telah kalah mental.

Anak buah Ki Wirayuda sibuk memapah. Mereka berduyun-duyun membawa masuk ke dalam, tubuh Ki Wirayuda. Wintara sudah pulih melangkah mengikuti mereka. Tapi semua orang-orang yang berjalan di belakang dikejutkan oleh sesuatu.

Jelas sekali suara derap langkah kuda memasuki pekarangan mereka. Wintara yang berjalan paling belakang melihat seorang pemuda memegangi tubuh seorang perempuan di atas kudanya. Langkah kuda makin pelan saat memasuki ke dalam pelataran.

Anak buah Ki Wirayuda segera berbalik mengepung kuda itu. Pada saat-saat seperti ini mereka perlu kecurigaan terhadap orang-orang asing. Melihat sikap yang berhati-hati itupun pemuda di atas kuda ini bersikap ramah.

"Saudara-saudara sekalian, maafkan kami yang kurang sopan ini. Aku, Arso Lumbing hendak meminta pertolongan terhadap Ki Wirayuda." ujar pemuda itu yang mengaku dirinya Arso Lumbing.

"Gadis yang bersamaku ini tengah terluka. Satu-satunya tempat pertolongan adalah tempat ini. Aku berharap kalian sudi mempertemukan aku dengan Ki Wirayuda." kata Arso Lumbing ramah. Wintara hanya mengawasi pemuda itu. Arso Lumbing balas menatap dengan senyum bersahabat. Yang lain perlahan menyingkir memberi kelonggaran jalan. Mata mereka semua tidak lepas menatap sosok Arso Lumbing memegangi tubuh seorang gadis bersimbah darah.

Mereka memang pernah dengar nama Arso Lumbing putra dari Resi Wesakih yang kosen dalam rimba persilatan. Tapi mengenai siapa adanya Arso Lumbing itu tidak satu pun yang mengenali.

Arso Lumbing menatap jauh ke dalam gedung. Matanya mendadak menyipit saat dilihatnya Ki Wirayuda duduk bersandar pada dinding serambi. Beberapa anak buahnya tengah memijiti. Pemuda ini dapat mengetahui kalau Ki Wirayuda tengah terluka.

"Apa yang telah terjadi di sini?" tanya Arso Lumbing. Wintara cepat menjawab....

"Kami baru saja diserang oleh dua perempuan sesat penguasa Gunung Tunggul. Sukurlah Ki Wirayuda hanya terluka ringan."

"Astaga.... Kedatangan aku ke sini akan menambah susah saja. Sungguh aku tidak tahu kalau terjadi sesuatu di sini. Lalu bagaimana dengan kedua perempuan sesat itu?" kata Arso Lumbing. Pemuda itu tetap di atas kudanya. Hal itu bukan berarti Arso Lumbing sangat angkuh. Karena ia harus terus memegangi tubuh gadis berlumur darah.

"Ah, aku pikir orang-orang Ki Wirayuda tidak keberatan memberi pertolongan. Sudah menjadi kewajiban berbuat tolong menolong. Apalagi kita berdiri pada pihak aliran lurus. Silahkan." sambut Wintara bermaksud membantu menurunkan gadis itu.

Arso Lumbing tidak menolak.

Wintara memapah membawa masuk ke dalam gedung. Arso Lumbing turun dari kudanya mengikuti langkah-langkah di Wintara. Ia membetulkan letak benda panjang terbungkus di punggungnya. Pemuda ini terus melangkah masuk mendekati sosok Ki Wirayuda yang hampir pingsan. Dalam kesamaran pandangannya itu, Ki Wirayuda masih dapat melihat kedatangan seorang pemuda yang sangat dikenalinya betul. Namun untuk menyebutkan namanya, Ki Wirayuda berusaha mengingat-ingat....

"Kau.... Kau...?" Ki Wirayuda hendak mengangkat tubuhnya. Tapi rasa sakit di sekitar rusuknya menyengat hebat. Rintih Ki Wirayuda tertahan. Arso Lumbing berjalan ke sampingnya.

"Aku Arso Lumbing, Paman Ki Wirayuda. Sangat disayangkan kalau pertemuan kita dalam keadaan seperti ini." ujar Arso Lumbing. Ki Wirayuda tertawa mengekeh.

"Justru aku berterima kasih dalam keadaan begini kau bisa menyambangi ke mari." kata Ki Wirayuda, lalu Ki Wirayuda meneruskan kata-katanya lagi......

"Bagaimana keadaan Resi Wesakih? Sudah lama aku tidak menengok beliau."

"Ayahku baik-baik saja, Paman. Aku hanya kebetulan lewat sini, dan juga bermaksud " Arso Lumb-

ing ragu-ragu mengutarakan maksudnya.

"Sobat Arso Lumbing ini membawa seorang gadis yang tengah terluka, Ki. Keadaannya sangat parah. Dan harus mendapat perawatan sekarang juga." ujar Wintara sambil meletakkan tubuh gadis itu di sebuah balai. Melihat itu Ki Wirayuda menghela nafas. Bagaimana ia mau menolong orang kalau ia sendiri tengah terluka juga. Wintara cukup mengerti akan hal itu.

"Terlambat sedikit saja menolong, gadis ini tidak akan tahan lagi. Biarlah aku yang akan menangani." kata Pendekar Kelana Sakti. Mendengar ucapan Wintara, Arso Lumbing merasa lega. "Siapa gadis ini sebenarnya, mengapa anak Arso Lumbing ingin menolongnya mati-matian?" tanya Ki Wirayuda yang nampaknya mulai setuju dengan usul Wintara.

"Entahlah...." tukas Arso Lumbing. "Tapi melihat dari pakaiannya pasti gadis ini seorang tokoh persilatan juga. Aku yakin lukanya itu bekas babatan pedang. Untunglah hanya tergores sedikit."

"Kalau begitu bawa saja ia masuk ke dalam kamar. Luka-lukanya mesti dibersihkan." ujar Ki Wirayuda. Wintara mengangguk ke arah Arso Lumbing. Ia mengerti maksud Wintara. Maka Arso Lumbing segera membawa tubuh gadis itu ke dalam sebuah kamar.

Ki Wirayuda memanggil beberapa pembantu perempuan, mereka ditugaskan untuk mengganti pakaiannya yang koyak serta membersihkan lukalukanya. Arso Lumbing keluar lagi bersama Wintara.

"Sebelumnya aku yang merepotkan ini berterima kasih sekali atas keringanan tangan kalian. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Karena secepat ini pula aku harus pamit mundur. Resi Wesakih telah menugaskan aku untuk keperluan sesuatu." kata Arso Lumbing tertunduk. Ia merasa tidak enak sekali harus meninggalkan mereka secepat itu. Ki Wirayuda nampak mengerutkan kening.

*

**

6

Sepertinya Ki Wirayuda teringat akan sesua-

tu.... "Oh, ya... ya.... Aku baru ingat sekarang. Bukankah Resi Wesakih telah menjodohkan engkau dengan seorang putri dari perguruan Pedang Ular?" tukas Ki Wirayuda.

"Sebenarnya memang demikian, Paman. Hari ini pula aku harus menjemput calon istriku." jawab Arso Lumbing.

"Sayang sekali keadaan kami seperti ini. Jadi tidak bisa ikut mengantar." ujar Ki Wirayuda.

"Ah, tidak mengapa, Paman. Akupun cukup mengerti."

"Kalau begitu pergilah. Kami di sini semua merestui atas pertunangan kalian. Juga jangan khawatir, gadis ini akan kami rawat baik-baik." Wintara ikut bicara.

"Terima kasih, aku pasti ke mari lagi untuk menengok gadis itu. Permisi...." Arso Lumbing beri salam. Ki Wirayuda mengangguk. Wintara mengantar Arso Lumbing sampai mendekati kudanya.

"Sampai jumpa lagi, Sobat. Nanti kita akan bertemu lagi." Tak ketinggalan ia memberi salam pada Wintara. Pendekar Kelana Sakti ini tersenyum mengangguk. Arso Lumbing tidak menunggu waktu lagi. Ia langsung memacu kudanya meninggalkan tempat pemukiman Ki Wirayuda.

Sementara itu dua perempuan penguasa Gunung Tunggul berjalan tersaruk-saruk. Mereka menelusuri jalan berbatu. Langkah-langkah Nilasari Grewek agak lambat, karena memang ia tengah terluka. Srikaton Munggel tidak kurang suatu apa. Ia hanya merasa kehabisan tenaga. Melihat gurunya itu berjalan payah, Srikaton Munggel tidak perduli. Ia sengaja berjalan paling dulu.

"Murid dogol, tunggu aku! Tidak kasihankah melihat gurumu seperti ini." Nilasari Grewek berjalan tertatih-tatih.

"Masih untung kita dapat cepat-cepat kabur. Mungkin kau sudah mati duluan. Mana jurus ampuh Tombak Gunung itu? Menghadapi anak ingusan itu saja sampai lari terbirit-birit." jawab Srikaton Munggel acuh. Tapi ia menghentikan langkahnya menunggu sang guru yang berjalan menyusul tersaruk-saruk.

"Dasar murid sialan. Menyesal aku mengurusmu sejak kecil. Tidak mau mampus disambar kilat!" gerutu nenek berambut putih. Tak urung juga Srikaton Munggel membantu gurunya berjalan.

"Kalau Pendekar Kelana Sakti itu masih tetap berada di Sungkawarang, kita-kita sebagai pendekar sesat akan tidak mendapat muka. Dengan apa lagi kita menyingkirkan pendekar sial itu? Jurus Tombak Gunung tidak berarti, Pedang Ular Emas sama sekali tidak berpengaruh. Ilmu apa sebenarnya yang dimiliki pendekar sial itu." Srikaton bergumam.

"Sudah jangan ngoceh terus. Pusing aku mendengarkan celotehmu. Sebaiknya kau pergi saja ke kota. Carikan aku obat." Perintah Nilasari Grewek. Sambil mendorong tubuh Srikaton Munggel.

"Bagaimana guru bisa sampai ke puncak sana?" ujar Srikaton Munggel. Nenek berambut putih memandang melotot.

"Aku jangan dianggap remeh. Jelek-jelek aku ini gurumu. Aku masih bisa mencapai puncak Gunung Tunggul dibanding menghadapi pendekar sialan itu!" bentaknya. Srikaton Munggel merungkut. "Cepat berangkat! Kembali secepatnya!" bentaknya lagi. Nilasari Grewek melangkah berpisah. Srikaton Munggel juga melangkah lesu.

Tapi dalam beberapa saat nenek penguasa Gunung Tunggul ini berbalik lagi.

"Srikaton...! Tunggu dulu!" Nenek yang tadi berjalan tertatih-tatih mendadak berlari cepat ke arah Srikaton Munggel.

"Ada apa lagi sih? Aku pasti balik membawa obat untuk luka-lukamu." sambut Srikaton Munggel.

"Seharusnya kau tidak perlu membawa Pedang Ular Emas. Hal itu akan membahayakan dirimu. Aku khawatir orang-orang persilatan mengepung mu beramai-ramai." kata Nilasari Grewek. Apa yang diucapkannya memang benar. Srikaton Munggel tidak perlu berpikir panjang. Maka ia langsung berikan saja pedang itu.

"Ambillah untukmu. Aku tidak perlu barang rongsokan itu." kata Srikaton Munggel.

"Hus! Ngomong sembarangan. Gini-gini benda pusaka, tahu!"

Srikaton Munggel tidak perduli ia terus melangkah cepat meninggalkan gurunya. Buat apa Pedang Ular Emas kalau tidak mampu mengalahkan seorang bocah ingusan macam Pendekar Kelana Sakti, pikir Srikaton Munggel. Dalam hatinya terselip pula rencana lain. Ia tidak perlu lagi mengikuti jejak Nilasari Grewek. Untuk apa mengikuti nenek peyot yang sudah tidak mampu. Tiga puluh tahun lamanya mengekor bersama Nilasari Grewek tidak pernah merajai dunia persilatan. Malah sekarang harus lari kocar kacir di bawah kaki Pendekar Kelana Sakti.

Permintaan Nilasari Grewek untuk membawakan obat-obatan tidak perlu lagi dituruti, sebab Srikaton Munggel sudah menentukan hidupnya sendiri. Perduli apa dengan Nilasari Grewek, guru yang selama tiga puluh tahun mengurusnya. Mau mati kek Mau

keriput kek   Mau mati berdiri kek, masa bodoh!

Bagi perempuan cantik seperti Srikaton Munggel, mudah saja ia mencari jalan kehidupannya. Apalagi ia mantan tokoh sesat. ***

Apapun yang ia lakukan tidak pernah mempertimbangkannya terlebih dahulu.

Sesiang itu ia sudah berada dalam sebuah desa yang sangat ramai. Ia berjalan menunjukkan lenggak lenggok tubuhnya yang aduhai. Pandangannya menoleh kanan kirim melihat keramaian desa itu. Pada sisi jalan banyak terdapat tempat-tempat penginapan dan kedai-kedai. Para pendatangnya pun banyak yang berdatangan.

Ada beberapa tempat penginapan yang selalu ramai. Siang malam selalu dikunjungi para tamu. Tentu saja penginapan itu selalu ramai. Selain tempatnya besar dan bersih, tempat itu disediakan wanita-wanita penghibur.

Tak urung kemunculan Srikaton Munggel yang kebetulan melewati penginapan itu, menjadi perhatian para hidung belang. Sampai ada yang tidak tahan, coba-coba menggoda. Diperlakukan seperti itu, Srikaton Munggel makin genit mempermainkan mereka. Sudah tentu para wanita penghibur yang kebetulan melihatnya jadi iri hati.

Kecantikan Srikaton Munggel jauh lebih tinggi dibanding para wanita penghibur. Penampilannya juga lebih seksi. Dia mengenakan pakaian yang sangat menyolok mata.

Pahanya yang putih mulus nyaris telanjang tanpa penutup. Tidak ada para wanita penghibur yang seberani itu.

Beberapa pentolan dari lembah hitam tersebut datang menghadang. Srikaton Munggel menyambut mereka dengan senyuman genit. Tiga orang laki-laki penghadang ini langsung mengurungnya. Tindakan mereka menjadi perhatian orang banyak. Siapapun sudah mengetahui watak tiga lelaki yang menguasai desa itu. Sudah banyak para wanita yang jatuh menjadi korban nafsu mereka. Mereka akan bertindak kasar bila seorang wanita coba-coba menolak keinginannya.

"Nona.... Tidak sembarangan orang asing memasuki desa ini." tegur mereka. Mata mereka tidak lepas menatap tubuh yang menggiurkan itu.

"Maafkan aku, orang-orang gagah. Aku tidak tahu tata krama peraturan desa ini." ujar Srikaton Munggel. Gerakannya lemah gemulai membuat setiap orang yang melihatnya makin gemas.

"Bagus kalau kau menyadari akan kesalahanmu. Kau harus membayar upeti terlebih dahulu pada kami." kata mereka lagi.

"Upeti? Aku tidak punya apa-apa."

"Jangan pura-pura bodoh. Tubuhmu saja serahkan pada kami." Seseorang dari mereka menarik lengan Srikaton Munggel. Perempuan cantik ini tidak menolak. Dua orang temannya mengikuti. Mereka menuju sebuah penginapan yang cukup ramai.

"Tunggu dulu...." Srikaton Munggel berhenti melangkah. Lalu:

"Tidak mungkin aku harus melayani kalian bertiga." Mata Srikaton mengerling. Ketiga laki-laki ganas ini saling pandang.

"Kami biasa melakukannya bergiliran, nona. Jangan coba-coba menolak keinginan kami." bentak mereka.

"Aku tidak mau. Aku tidak biasa seperti itu. Terus terang saja aku perlu satu orang di antara kalian." jawab Srikaton Munggel. Sikapnya menantang namun memberi harapan pada ketiga orang laki-laki ini. Ketiganya jadi serba salah. *

**

7

"Atau sama sekali kalian tidak akan menikmati 'upeti' ku?" gertak Srikaton Munggel. Seraya ia hendak pergi begitu saja. Tapi seseorang cepat meraih kembali lengannya.

"Tunggu, Nona." kata salah seorang dari mereka. Orang itu paling seram. Brewoknya memanjang sampai sebatas dada.

"Aku pemimpin mereka. Karena aku paling hebat di antara mereka. Namaku Rengga Loka." kata lakilaki penuh brewok menatap pada kedua temannya.

"Hm.... kalau begitu kaulah yang berhak atas diriku." Srikaton Munggel langsung menggandeng menuntun laki-laki bernama Rengga Loka memasuki sebuah penginapan. Semua orang yang tadi menyaksikan penghadangan mereka jadi terheran-heran. Baru kali ini mereka melihat seorang gadis cantik dapat melemahkan ketiga orang pentolan lembah hitam tersebut.

Hari makin siang dengan sinar matahari mencorot menggarang bumi. Rengga Loka merasa bangga mendapatkan seorang wanita cantik bernama Srikaton Munggel. Perempuan itu duduk di sebelahnya menemani laki-laki brewok itu minum arak.

Para tamu yang kebetulan singgah pada penginapan itu bersikap hormat pada Rengga Loka. Wanitawanita penghibur lainnya mencibir melihat kegenitan Srikaton Munggel. Ia tidak mengelak pula saat Rengga Loka menciumi habis-habisan di ruangan itu. Rintihan-rintihan Srikaton Munggel membuat suasana makin panas. Apalagi Rengga Loka semakin mabuk. Di dalam dekapan perempuan itu Rengga Loka semakin tidak berdaya.

Tamu-tamu semakin berdatangan. Yang hanya makan, yang minum, ada juga yang hendak menginap di penginapan itu. Para wanita penghibur berebut mencari mangsa. Tawa-tawa cekikikkan perempuan memenuhi suasana panas ruangan.

Saat itu seorang pemuda gagah memasuki ruangan itu. Ia memilih sebuah meja yang masih kosong. Benda panjang yang terserong di punggungnya diletakkannya di atas meja. Kemudian ia memesan makanan pada salah seorang pelayan yang hilir mudik menyambut para tamunya.

Pemuda itu pun tidak luput dari serbuan para wanita penghibur. Dikerubungi oleh wanita-wanita itu pemuda tampan jadi kikuk. Kehadiran pemuda tampan ini juga jadi perhatian Srikaton Munggel yang duduk pada meja sebelahnya.

"Aih, tampannya...!" Tidak sadar ia memekik kagum. Rengga Loka yang hampir terlena dalam pelukan Srikaton Munggel tersentak kaget. Ia mengira Srikaton memuji dirinya, maka ia semakin terlena menciumi jenjang leher Srikaton Munggel. Sedangkan Srikaton Munggel sendiri tidak henti-hentinya menatap pemuda itu.

Rayuan-rayuan para wanita penghibur tidak mengena. Pemuda tampan yang tidak lain Arso Lumbing ini bersikap dingin. Maka satu persatu perempuanperempuan itu mulai menyingkir,

"Maaf.... Tiada maksud apa-apa aku singgah di sini. Aku hanya ingin mengisi perut, lain tidak. Sebaiknya kalian menyingkirlah. Masih banyak tamutamu lain yang perlu hiburan." ujar Arso Lumbing. Saat itu pelayan sudah datang membawakan pesanan. "Sudah Sana cari yang lain..... Laki-laki kan banyak di sini." gurau pelayan itu. Karuan saja para perempuan penghibur jadi kabur. Ada juga yang menggerutu.

"Huuuuh.... Mentang-mentang cakep, sombong benar dia. Perempuan seperti apa sih yang dia mau." gerutu mereka meninggalkan meja Arso Lumbing. Pemuda ini hanya menggelengkan kepala mendengar sumpah serapah mereka yang bermacam. Tanpa sadar pula ia menatap seorang perempuan berusaha menolak dari dekapan seorang lelaki brewok. Srikaton Munggel lemparkan senyum ke arah Arso Lumbing. Pemuda tampan ini membalas senyumnya pula, lalu ia tidak perduli mulai menikmati pesanannya.

Di lain pihak, Srikaton Munggel meronta-ronta melepaskan diri dari pelukan Rengga Loka. Dalam hasratnya ingin sekali Srikaton menaklukkan pemuda tampan itu. Maka ia berusaha sebisanya agar terlepas dari dekapan Rengga Loka.

"Sebentar, sayang.... Aku tidak akan lamalama...." Rayu Srikaton Munggel. Rengga Loka akhirnya melepaskan pelukannya. Secepatnya Srikaton Munggel meninggalkan laki-laki itu. Langkahnya hatihati mendekati Arso Lumbing.

Arso Lumbing menyadari kalau ia didatangi seorang perempuan yang baru saja ditatapnya. Perempuan itu kini sudah duduk di hadapan meja. Mengawasi Arso Lumbing. Senyumnya terkulum.

"Kenapa kau tinggalkan tamu itu?" tegur Arso Lumbing.

"Aku bukan wanita penghibur macam mereka. Aku sama seperti dirimu dan kebetulan singgah di penginapan ini." jawab Srikaton.

"Oh, maaf atas kata-kataku tadi. Pandanganku terlalu cetek. Lalu siapa laki-laki brewok itu. Suamimukah." Arso Lumbing jadi salah tingkah.

"Bu-bukan.... Dia penguasa desa ini. Sikapnya memang menjemukan, juga sering mengganggu wanita. Seperti yang kau lihat tadi. Aku harus terpaksa menemaninya minum arak." tutur Srikaton Munggel. Arso Lumbing mendengus.

"Kau ingin makan?" tawar Arso Lumbing. "Terima kasih. Aku baru saja selesai makan."

jawab Srikaton cepat. Terhadap Srikaton Munggel sikap Arso Lumbing agak lain. Kecantikan Srikaton Munggel memang tidak pantas disebut wanita penghibur. Ia lebih pantas disebut seorang pendamping lakilaki bangsawan atau paling tidak seorang punggawa. Tapi kenapa perempuan ini harus berkeliaran di sini. Tidak tahukah kalau tempat ini tidak pantas untuk dirinya? Keakraban mereka membuat iri para wanita penghiburlainnya. Kenapa perempuan asing ini bisa lebih cepat mengambil hati pemuda ganteng itu. Apakah karena perempuan itu sangat cantik, juga seksi?

Tidak urung salah seorang dari mereka mengadukan hal itu pada Rengga Loka. Laki-laki brewok ini sudah terpekur mabuk arak. Kepalanya sudah tertelungkup di atas meja dengan pundi-pundi arak berserakan. Tapi setelah ia mendengar berita yang memanaskan telinganya, ia cepat berjingkat. Langkahnya sempoyongan serudak seruduk macam banteng ketaton. Langkahnya cepat menyeruak menuju ke arah Srikaton Munggel.

Perempuan itu nampak tengah duduk menghadapi seorang pemuda tampan. Hatinya makin terbakar. Apalagi Srikaton Munggel nampak tersenyum-senyum selama berbicara dengan pemuda itu.

Percakapan mereka mendadak terhenti saat Rengga Loka berdiri sangar. Srikaton Munggel berjingkat bangun. Ia lari ke samping Arso Lumbing. "Perempuan bangsat! Kau hendak mempermainkan aku? He-he-he-he. Anak muda. Pergilah da-

ri sini. Perempuan itu milikku." bentak Rengga Loka. Matanya garang menatap. Tapi Arso Lumbing seakan tidak mengacuhkan bentakan itu. Ia semakin asyik menikmati santapannya. Srikaton Munggel memeluki pemuda itu. Tiba-tiba saja....

"Braaaak...!" Rengga Loka menggebrak meja. Piring di hadapan Arso Lumbing sampai berderak goyang.

"Dia mengaku bukan wanita penghibur. Bagaimana bisa kau bilang perempuan ini milikmu?" ujar Arso Lumbing. Tenang ia memegang benda panjang terbungkus kain sutra. Lalu pemuda ini bangkit menghadapi Rengga Loka. Serta merta Rengga Loka lepaskan sebuah tinju. Malah ketika Arso Lumbing membalas serangan, Rengga Loka terhuyung mundur.

Tempat itu jadi gaduh seketika. Para tamu yang lain beringsut menyingkir. Perempuan-perempuan penghibur berlarian ketakutan. Mereka sudah tahu kemurkaan Rengga Loka. Pastilah pemuda tampan ini akan mati penasaran dibuatnya.

Tapi ternyata apa yang dilihat oleh mereka, sama sekali diluar dugaan. Rengga Loka berkali-kali jatuh setiap kali ia lancarkan serangan. Arso Lumbing selalu dapat mengincar dan lancarkan serangan balasan.

Rupanya kedua teman Rengga Loka belum beranjak dari tempat itu. Mereka sejak tadi mengawasi pemimpinnya. Melihat itupun kedua orang itu berlarian membantu Rengga Loka. Arso Lumbing tidak gentar menghadapi lawannya bertambah dua orang. Serta merta ia melompat melindungi Srikaton Munggel. Tangannya siap-siap memegang benda panjang terbungkus kain sutra. Tatkala dua orang itu menyerang serempak. Arso Lumbing lepaskan babatan dengan benda itu.

*

**

8

"Plaak...!" Kontan keduanya tersungkur ke lantai. Namun mereka cepat bangkit kembali mendampingi Rengga Loka. Pemuda tampan berdiri tenang melindungi Srikaton Munggel.

"Mereka semua orang-orang jahat! Mereka bermaksud mengganggu diriku!" ujar Srikaton berlindung di belakang Arso Lumbing.

"Bangsat! Rupanya pemuda bertampang perempuan ini gundikmu! Menyesal kau akan mati muda, sobat. Kau belum tabu siapa kami!" bentak mereka. Serempak mereka berjaga-jaga dengan benda panjang yang terbungkus. Matanya memandang berkeliling mengawasi mereka.

Tanpa basa basi lagi ketiga pentolan desa itu babatkan senjata-senjatanya. Golok dan pedang pating serabut mencecar dari arah yang tak menentu. Gesit pula Arso Lumbing berkelit menghindari sambaransambaran senjata mereka. Dia sengaja hanya menangkis serangan-serangan itu dengan benda panjang itu.

Meski hanya memapaki begitu, nampak ketiga lawannya harus kewalahan. Sambaran senjata mereka selalu meleset. Srikaton dapat melihat akan kehebatan pemuda idamannya. Ia makin tertarik melihat gerakangerakan semacam ilmu pedang yang dikeluarkan oleh Arso Lumbing. Sudah terlihat jelas kalau ketiga lawannya ini tidak akan sanggup mengalahkan Arso Lumbing.

"Hreaaaaa...!" Sekali lagi Arso Lumbing hentak-

kan benda terbungkus itu memutar ke depan....

"Plaaak...! Plaaak!.... Plaaaak!" Ketiga lawannya jatuh bergulingan. Masing-masing mendapat luka memar di bagian mata. Dua teman Rengga Loka kelojotan berusaha bangkit. Rengga Loka semakin murka. Terjangannya deras lancarkan babatan golok. Tapi Arso Lumbing hanya bergeser cepat ke samping, lalu kakinya menendang....

"Beeeeg!" Tak urung tubuh Rengga Loka mencelat jauh ke luar ruangan. Tubuh laki-laki penuh brewok itu bergulingan di jalan. Untuk kemudian jatuh ambruk, ia pingsan.

Dua orang lawannya ragu-ragu menyerang. Nyalinya jadi keder melihat Rengga Loka tidak bangkit-bangkit. Maka keduanya lepaskan jurus langkah seribu. Arso Lumbing hanya melihat bagaimana keduanya lari kocar kacir.

"Huh. Baru punya kepandaian setahi kuku saja mau unjuk gigi. Jangan lari kalian!" ejek Srikaton sekaligus memuji Arso Lumbing. Ia memaki-maki terus, bahkan berlari keluar menendangi tubuh Rengga Loka yang tidak berdaya tergeletak di tanah.

"Sudahlah, Nona. Kau tidak akan di ganggu lagi oleh mereka." ujar Arso Lumbing mengulum senyum. Srikaton kembali lagi menemui pemuda itu.

"Mereka memang perlu diberi hajaran. Bagusnya mereka dibikin mampus saja tadi!" gerutu Srikaton Munggel. Arso Lumbing tidak menyahut. Ia mengikat kembali benda panjang terbungkus ke punggungnya. Demi melihat itu Srikaton tahu kalau pemuda ini hendak meninggalkan penginapan. Apalagi ketika dilihatnya Arso Lumbing sudah membayar pesanannya tadi. Srikaton Munggel buru-buru menyusul. "Sobat, kau hendak ke mana bukankah makananmu belum habis?"

"Selera makanku sudah hilang, Nona. Lagi perjalananku masih sangat jauh." jawab Arso Lumbing ia bersikap acuh meninggalkan Srikaton Munggel. Perempuan cantik ini hanya melongo menatap kepergian Arso Lumbing. Tapi saat pemuda ini mulai membawa kudanya, Srikaton Munggel berusaha mengejar.

"Kau mau ke mana? Kalau satu perjalanan kita bisa berangkat bersama-sama." kata Srikaton Munggel. "Rasanya tidak mungkin, Nona." ujar Arso

Lumbing.

"Kenapa tidak mungkin. Bukankah lebih baik ada seorang teman dalam perjalanan?"

"Kau tidak akan mengerti."

Srikaton Munggel diam. Maka Arso Lumbing terus menunggangi kudanya berjalan perlahan. Perempuan ini seperti kesal. Tak urung juga ia ikut melangkah membuntuti jalannya kuda itu. Kelakuan Srikaton Munggel menjadi perhatian orang-orang sedesa itu. Dengan tidak perduli Srikaton Munggel mengikuti terus sampai keluar desa. Ia nekad ingin mengikuti Arso Lumbing ke mana pergi.

Pemuda tampan menghela nafas di atas kudanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Tapi ia tetap tidak perduli membawa kudanya berjalan terus.

Matahari semakin tinggi. Arso Lumbing sengaja mengatur kudanya berjalan perlahan. Sesekali ia melirik ke belakang, dan sosok molek menggiurkan Srikaton Munggel tetap mengikutinya. Apalagi sekarang mereka telah meninggalkan jauh desa. Sekarang mereka mengarungi dataran kering berbatu.

Selama itu pula panas menyengat membuat tenggorokan mereka semakin kering. Tapi Srikaton Munggel tetap berjalan di belakang tanpa mengenal lelah. Padahal keringat sudah mengucur deras di sekujur tubuhnya. Langkahnya pun sudah mulai goyah.

Bisa saja Arso Lumbing meninggalkan Srikaton Munggel dengan memacu kudanya cepat, maka ia bisa bebas tanpa diikuti perempuan itu. Tapi Arso Lumbing tidak tega untuk berbuat itu. Manakala langkahlangkah Srikaton Munggel sudah tidak karuan lagi.

Perjalanan Arso Lumbing demi menjemput calon pengantin perempuan untuknya agak terhambat. Juga kalau ia bersikap begini terus akan memakan, waktu yang sangat lama. Tindakannya jadi serba salah. Tidak mungkin Arso Lumbing meninggalkan begitu saja. Kalau ia mengikut sertakan Srikaton menunggangi kuda bersama-sama, akan membawa kesan yang kurang baik. Bagaimana nanti kalau kebetulan mereka bertemu dengan calon pengantinnya di perjalanan?

Sebagai calon pengantin pria cuma itu yang bisa menjadi beban pikirannya. Berkali-kali ia menghela nafas. Sepanjang dataran itu seakan tiada batas. Di kejauhan matanya menghampar bukit hijau menghampar samar. Tidak terasa pula kalau matahari mulai condong ke barat. Langit di atas membias kemerahan.

Teringat akan sosok ramping yang mengikuti perjalanannya. Tapi setelah Arso Lumbing menoleh ke belakang, sosok Srikaton Munggel. Dataran kering berubah dingin diiringi hembusan angin. Namun Arso Lumbing membelalakkan matanya. Srikaton Munggel bukan hilang atau pergi begitu saja.

Dalam jarak yang sangat jauh Arso Lumbing dapat melihat sosok ramping Srikaton Munggel terbaring di atas permukaan tanah. Maka cepat-cepat pemuda tampan ini menghela kudanya mendekati. Ia langsung turun di samping tubuh terbaring.

Wajah Srikaton Munggel nampak begitu pucat. Keringat yang membanjir di sekujur tubuhnya telah bercampur dengan debu. Melihat itu perasaan iba muncul. Wajah cantik dalam keadaan begitu menggetarkan jantung Arso Lumbing. Sesaat ia menatap wajah yang sangat menggoda hatinya.

Lalu terpaksa pula ia harus memapah menaikkan ke atas kuda. Di atas kuda itu Arso Lumbing membasahi wajah Srikaton Munggel dengan persediaan airnya. Perempuan itu tetap memejamkan mata disertai nafas yang pelan. Tubuhnya terasa dingin dalam pelukan Arso Lumbing.

Hari makin gelap. Sambil menjaga tubuh Srikaton, pemuda tampan mengendalikan kudanya melangkah cepat. Bulan di atas mengambang menerangi perjalanan mereka. Srikaton Munggel tetap belum siuman. Tidak mungkin kalau Arso Lumbing meneruskan perjalanannya pada malam itu.

Sehingga harus terpaksa pula ia bermalam di tengah-tengah dataran gersang berbatu. Dengan letupan api unggun Arso Lumbing menghangati tubuhnya. Srikaton Munggel terbaring berselimut kain tebal. Tapi rasanya, kehangatan api unggun tiada artinya dibanding udara malam yang semakin dingin menyengat. Manakala persediaan kayu bakar makin habis berkurang.

"So-sobat... Hh... hah...." Terdengar rintihan Srikaton Munggel. Tubuhnya menggigil hebat. Kedua rahangnya terkatup rapat bergetar. Arso Lumbing menatap perempuan itu melawan hawa dingin yang tidak mungkin dapat diatasi. Arso Lumbing mendekatinya. Ia sendiri pun mulai menggigil.

"Ki-kita akan mati kedinginan.... Brrr...," rintih Srikaton Munggel bergetar. Ia menarik baju Arso Lumbing. Arso Lumbing langsung jatuh dalam dekapan itu. Terasa sekali perempuan ini bergetar hebat. Dirasakan pula dekapan Srikaton Munggel semakin erat. Namun akibat dari sentuhan itu, seperti mengalir kehangatan yang luar biasa.

*

**

9

Rasanya seperti mimpi menghadapi sergapansergapan Srikaton Munggel yang menghanyutkan itu. Arso Lumbing tak dapat mengelak. Ia malah menyambut menggeluti tubuh Srikaton Munggel. Sebagai lelaki Arso Lumbing memang tidak bisa membohongi diri. Di malam yang gelap gulita berselimut dingin. Mereka berdua saling membagi kehangatan.

Tidak ada lagi rasa dingin di antara tubuh mereka. Kalau tadi waktu terasa begitu lama menyiksa, kini serasa teramat cepat. Tidak disadarinya bulan di atas sana sudah bergeser jauh. Manakala tubuh keduanya menggelepar-gelepar.

Seekor kuda yang berdiri tidak jauh dari situ seakan merinding menyaksikan sesuatu yang amat asing baginya. Saat itu api unggun telah menjadi bara api. Mengeluarkan asap putih kehitaman membumbung tinggi.

Dua sosok masih nampak duduk berpelukan. Keringat mereka deras mengucur. Srikaton Munggel tidak lagi menggigil. Ia membiarkan tubuhnya luruh dalam pelukan Arso Lumbing. Pemuda ini diam bagai patung. Ia tidak ingat apa yang telah dilakukannya terhadap perempuan cantik. Membiarkannya pula sekarang perempuan itu mengelus-elus dadanya.

Arso Lumbing terbuai untuk kedua kalinya. Ia betul-betul lupa dengan tujuan perjalanannya. Untuk apa ia melakukan perjalanan sejauh ini, untuk apa pula sebenarnya Resi Wesakih menugaskan dirinya? Apakah ia tidak teringat sama sekali kalau dirinya harus menjemput seorang wanita yang kelak menjadi istrinya?

Seratus persen memang tidak lupa. Tuntutan badaniah memang selalu dapat berontak dan tak terkendali. Apalagi Arso Lumbing seorang laki-laki normal. Muda dan gagah. Srikaton Munggel kurang apa. Tubuhnya yang mulus, wajahnya yang cantik, serta bentuk tubuhnya yang jarang dimiliki wanita sempurna manapun. Pada malam yang dingin ini Arso Lumbing telah menikmati apa yang dimiliki oleh Srikaton Munggel.

Ada sesuatu yang membuat Arso Lumbing mulai tertarik pada Srikaton Munggel. Sekalipun ia menyadari kalau perempuan dalam dekapannya itu jauh lebih tua darinya. Seperti yang kita ketahui Srikaton Munggel telah malang melintang hidup bersama nenek berambut putih penguasa Gunung Tunggul selama kurang lebih tiga puluh tahun. Ternyata pula kalau Srikaton Munggel benar-benar masih perawan tulen.

***

Ki Wirayuda setengah tidak percaya ketika mendengar cerita dari seorang gadis bernama Umbayani. Keadaan Umbayani setelah dua hari ini agak membaik. Sekeliling pinggangnya masih terbalut dengan kain perak. Saat ini Umbayani tengah duduk menghadapi Ki Wirayuda dan Pendekar Kelana Sakti.

"Tidak kusangka kalau nona yang cantik ini seorang putri dari majikan perguruan Pedang Ular. Tidak disangka-sangka pula bahwa kita mengalami nasib yang sama. Dua perempuan iblis Gunung Tunggul itupun pernah membuat kami di sini kalang kabut." ujar Ki Wirayuda.

"Yang kusesalkan hanyalah soal Pedang Ular Emas, Paman. Biarlah kami gagal dalam pertemuan hari pertunangan. Asalkan pusaka milik perguruan kami kembali." Umbayani merenung.

"Kami melihat sendiri Pedang Ular Emas berada dalam tangan Srikaton Munggel. Pantaslah ia sedemikian hebatnya hari itu. Kiranya ia menggunakan pusaka Pedang Ular." jawab Ki Wirayuda.

"Terlalu... Persoalannya akan rusuh. Orangorang persilatan akan menganggap ini perbuatan orang-orang Pedang Ular, padahal...." kata Umbayani lagi.

"Kami cukup mengerti, Nona." tukas Wintara. "Malah yang membingungkan ini adalah persoalan pertunangan nona."

"Maksud Pendekar Wintara?" Umbayani kernyitkan alls.

"Apakah kau tidak tahu sama sekali terhadap orang yang membawa dirimu ke pemukiman ini?" tanya Wintara agak menyelidik.

"Bagaimana bisa tahu. Setelah berada di sini saja, aku betul-betul merasa keheranan. Aku mengira diriku sudah berada di neraka. Ternyata?" Umbayani menahan tawanya.

"Mungkin kau tidak percaya kalau penyelamat itu bernama Arso Lumbing." tukas Ki Wirayuda.

"Arso Lumbing?" Mata Umbayani hampir keluar dari rongganya.

"Betul. Kenapa Arso Lumbing tidak mengenalimu?" tanya Ki Wirayuda. Suasana diam sesaat. Umbayani hampir tidak percaya.

"Kami sudah dijodohkan sejak kecil. Aku maupun Arso Lumbing sama sekali tidak saling kenal. Hanya ayah dan paman Rakadewa Geni yang mengenal jelas terhadap calon suamiku."

"Memang sulit untuk mengenali pendekarpendekar muda sekarang. Sampai-sampai aku sendiri sulit mengenali engkau sewaktu dibawa ke sini. Wahwah Runyam. Sebenarnya kalian sudah saling temu.

Sayang aku yang tua pikun ini tidak tahu situasi." ujar Ki Wirayuda.

"Sekarang persoalannya sudah jelas. Alangkah baiknya kalau kita mencari Srikaton Munggel untuk mengambil kembali pusaka Pedang Ular. Sekaligus kita lumpuhkan mereka. Karena tindakannya sudah di luar batas." ujar Wintara.

"Jangan dulu. Aku hanya mengusulkan, kalau Umbayani harus menemui Resi Wekasih untuk menjelaskan keterlambatan ini. Biarlah dalam hal ini aku tugaskan Pendekar Wintara menemanimu, setelah itu terserah pada Resi Wesakih nanti." Usul Ki Wirayuda. Sebagai orang yang cukup tua usul itu sangat disetujui oleh kedua pendekar muda ini. "Bagaimana dengan luka-lukamu, Umbayani?" tanya Ki Wirayuda. Laki-laki tua ini duduk setengah bersandar di atas balai. Tulang rusuknya yang patah belum sembuh betul. Belum tentu satu bulan dapat pulih. Melihat itu pun Umbayani cepat menjawab....

"Luka babatan pedang di perut ini memang masih terasa sekali, Paman. Aku tidak khawatir selama Wintara bersedia membantu. Siapa yang tidak kenal dengan Pendekar Kelana Sakti?" ujar Umbayani.

"Kalau begitu pergilah ke kandang, kalian boleh pilih kuda yang kalian sukai." tukas Ki Wirayuda.

Di atas puncak Gunung Tunggul. Nenek berambut putih berbaju serba merah mondar mandir dalam ruangan agak gelap. Rambutnya yang putih beruban bergerak-gerak sebatas pinggang. Raut mukanya menandakan ia sedang murka.

Berkali-kali ia menendangi tumpukantumpukan jerami yang berserakan dalam ruangan tersebut. Demi kekesalannya, tidak henti-henti ia memaki....

"Murid sialan! Murid tidak tahu balas budi! Ke mana perginya ia mencari obat. Tiga harian Juntreng belum juga nongol batang hidungnya. Dasar brengsek!" Tanpa lelah Nilasari Grewek terus berjalan mondar mandir. Kedua tinjunya mengepal erat.

"Bila kembali ke sini kau akan tahu rasa perempuan tengik!" Ia mengepal tinjunya sendiri. Lalu seperti biasa ia selalu duduk di sudut ruangan yang terlindung dari sinar matahari. Di sampingnya ada sebuah meja kecil pendek. Tersedia pula teh hangat ramuannya sendiri.

Pada meja itu tergeletak pula sebilah pedang bersinar keemasan. Apalagi kalau bukan Pedang Ular Emas. Kemarahannya segera lenyap demi melihat pedang tersebut. Tangan keriputnya lantas menimangnimang Pedang Ular Emas.

Dalam hatinya ia sangat kagum pada si pencipta Pedang Ular Emas. Entah pengaruh apa yang terkandung dalam pedang ini. Teringat akan Srikaton Munggel lagi, saat murid tunggalnya itu menghadapi Pendekar Kelana Sakti dan Ki Wirayuda. Ketika ia menggunakan pedang tersebut, kemampuan murid tunggalnya dua kali lipat lebih hebat.

Wajah Nilasari Grewek mendadak pucat. Perasaan cemas serta khawatir timbul dengan seketika.

"Dasar aku yang bodoh! Tahunya hanya ngomel! Marah-marah! Menyalahkan Srikaton Munggel! Tidak pernah memikirkan akan keselamatan murid tunggalku.... Jangan-jangan ia telah bertemu dengan pendekar-pendekar sial itu. Celaka! Pastilah Srikaton Munggel mendapat halangan. Tidak mungkin ia pergi sampai berlarut-larut!" Nilasari Grewek cemas bukan kepalang.

*

**

10

Selama didampingi Srikaton Munggel, Arso Lumbing benar-benar lupa daratan. Dalam hati serta matanya hanya Srikaton Munggel yang selalu nampak. Tidak ada istilah di antara mereka beda usia. Hubungan mereka makin rapat penuh kasih sayang.

Baik Arso Lumbing maupun Srikaton Munggel tidak perduli lagi akan tujuan mereka sebenarnya. Kini mereka memilih sebuah tempat untuk kediaman. Dalam perjalanannya ketika mereka menelusuri aliran sungai. Mereka menemukan sebuah gubuk yang sudah tidak ditempati. Mereka sepakat untuk menempati dan membetulkan gubuk reyot tersebut.

Seharian penuh mereka memberesi tempat tinggal yang baru. Gubuk mereka nampak bagai rumah panggung yang mengambang di atas aliran sungai. Pohon-pohon yang rindang tumbuh di tepi sungai. Cukup melindungi gubuk mereka dari sinar matahari. Manakala air sungai begitu bening. Ikan-ikan yang berenang kian kemari dapat terlihat berseliweran di bawah gubuk mereka.

Arso Lumbing sengaja membuat tangga kayu yang menjurus ke bawah. Tangga itu gunanya untuk turun ke sungai bila ingin mandi atau mencari ikan. Hampir kebanyakan Arso Lumbing menggunakan cabang-cabang pohon untuk membangun gubuknya. Cukup tegar dan kokoh.

Seperti hari itu, saat Arso Lumbing selesai membuat tangga kayu, ia langsung mencari ikan. Sebelumnya ia memang telah menyediakan tombak runcing dari kayu pula.

"Ha-ha-ha-ha.... Hari ini kita makan besar, Srikaton.... Aku sudah mengumpulkan lima ekor ikan. Cepat kau sediakan api!" teriak Arso Lumbing. Di ujung tombak kayunya menggelepar-gelepar seekor ikan cukup besar. Di pinggangnya telah terkumpul empat ekor ikan.

"Dari tadi api sudah meletup-letup, Arso Lumbing. Kau saja yang tidak mendengarnya." jawab Srikaton Munggel. Ia duduk di teras belakang gubuk. Sejak tadi ia memperhatikan pemuda idamannya.

"Cukupkah lima ekor ikan?" teriak Arso Lumbing yang sudah mengincar seekor lagi di bawah kakinya.

"Rasanya tidak. Aku tahu betul kau sangat lelah. Pasti makanmu banyak sekali." ujar Srikaton Munggel.

"Wah... Kalau menuruti kamu, ikan-ikan di sungai ini bisa habis." Tak urung Arso Lumbing lancarkan tusukan tombaknya ke bawah. Air sungai bergeming tertembus tombak kayu. Tapi gagal. Ikan incarannya keburu pergi jauh.

"Kampret! Ikan-ikan di sini mulai gesit." Mendengar itu Srikaton Munggel hanya tersenyum. Ia betul-betul mengakui akan ketampanan Arso Lumbing. Rasanya pula ia tidak ingin berpisah dengan pemuda ini. Ia makin jatuh cinta melihat Arso Lumbing telanjang dada, bergerak-gerak menunjukkan otot-ototnya yang kekar.

Malamnya mereka menyantap hasil tangkapan Arso Lumbing. Arso Lumbing sanggup menghabiskan tiga ekor. Berkali-kali pula tenggorokannya terselak, sehingga ia harus cepat-cepat menenggak air dalam pundi. Srikaton Munggel sudah selesai makan. Ia membiarkan Arso Lumbing makan sendirian. Karena tempat tidur mereka masih berantakan. Ia membenahi tumpukan alang-alang yang memenuhi sebagian ruangan gubuk, lalu dilapisi dengan selimut tebal. Dia sudah membayangkan, pasti Arso Lumbing akan tertidur dengan nyenyak.

Memang benar. Tak lama pun setelah usai makan, dengkur Arso Lumbing sudah terdengar. Srikaton Munggel duduk bersandar pada dinding gubuk tanpa bisa memejamkan matanya. Malam itu ia benar-benar tidak dapat tidur. Perasaannya seperti mengganjal sesuatu. Dalam kesunyian itu pikirannya menggambarkan peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya.

Teringat pula akan seraut wajah keriput Nilasari Grewek. Nenek yang selalu memakinya tanpa juntrungan. Namun kepada nenek itu pula ia selalu berlindung. Kesan-kesannya memang pahit selama tiga puluh tahun mengekor dalam aliran sesat. Terakhir ia meninggalkan gurunya, dalam keadaan luka parah. Bagaimana sekarang keadaannya. Sehat-sehatkah ia? Tapi karena terlalu banyaknya kepahitan hidup bersama Nilasari Grewek, membuat Srikaton Munggel tidak perduli. Sekarang ia coba-coba menggantungkan hidupnya terhadap orang yang begitu cepat ia cintai. Rela pula ia menyerahkan kesuciannya yang selama tiga puluh tahun ia pertahankan. Selama ini pula ia berusaha menyembunyikan diri yang sebenarnya.

Dia sudah bertekad akan mengabdi pada orang yang dicintainya itu. Andai saja Arso Lumbing menyakiti hatinya, Srikaton Munggel tidak akan segan-segan melumuri tangannya dengan darah Arso Lumbing.

Kedua mata Srikaton Munggel memandang berkeliling menatap dinding gubuk yang begitu kokoh tanpa celah. Ruangan itu dapat diterangi dengan api unggun yang meletup-letup di tepi sungai, dalam keremangan itu Srikaton dapat melihat benda panjang terbungkus kain sutra. Benda apa sebenarnya itu. Benda itu tergantung di dinding. Arso Lumbing ternyata sudah lama tidak menyentuhnya. Hari-harinya dihabiskan selalu bersama Srikaton Munggel.

Tergerak pula rasa ingin tahu Srikaton Munggel. Tanpa bersuara ia melangkah mendekati benda yang diam dingin tak bergerak. Cekatan pula tangannya yang mulus itu mulai membuka bungkusan kain sutra. Sesaat matanya membelalak lebar.

Ternyata benda itu hanya sebilah pedang yang bersinar keemasan. Bentuk pedang membuat Srikaton Munggel tidak percaya. Betapa tidak, pedang dalam tangannya itu tidak lain Pedang Ular Emas.

Dia masih ingat betul ketika ia pernah merebutnya dari tangan seorang gadis. Bahkan ia pernah menggunakannya menumpas rombongan itu. Tapi sepengetahuannya, Pedang Ular Emas telah ia berikan pada Nilasari Grewek, gurunya. Kenapa pedang ini sekarang berada dalam tangan kekasihnya?

Timbul pikiran yang bermacam-macam. Bagaimana mungkin Pedang Ular Emas bisa berada dalam tangan Arso Lumbing? Apakah ia juga telah merebutnya dari tangan gurunya? Kalau begitu.... pastilah Nilasari Grewek telah tewas! Perasaan itu yang tergambar dalam benak Srikaton Munggel. Arso Lumbing tetap mendengkur pulas.

Ada juga sedikit dendam di jantung Srikaton Munggel. Pikirannya mulai bercabang, manakala Pedang Ular Emas terhunus tajam dalam genggamannya. Tapi secepat itu pula ia jadi 'Dingin'.

Hidup bersama Arso Lumbing meskipun baru beberapa hari merasakan dirinya selalu bahagia. Tidak tega ia membunuh Arso Lumbing dalam keadaan seperti ini. Lagi pula Pedang Ular Emas tidak berarti apaapa, pikirnya. Pendekar Kelana Sakti masih dapat mengalahkan dengan ilmu-ilmu yang dimiliki. Biar saja Pedang Ular Emas menjadi kebanggaan Arso Lumbing. Toh pemuda ini merupakan pujaannya.

Cinta memang hebat! Dapat merubah segalanya. Yang baik bisa berubah jahat, begitu juga dengan yang jahat, akan berubah sebaliknya. Perlahan Srikaton Munggel membungkus kembali Pedang Ular Emas itu. Hati-hati pula ia menggantungkan kembali ke dinding. Lalu ia kembali ke samping Arso Lumbing. Mengelus-elus sosok pemuda yang tertidur pulas.

***

Keresahan yang disebabkan oleh pendekarpendekar muda, bukan hanya menggayuti pikiran Nilasari Grewek. Ternyata pula perasaan itu mencemaskan seorang tua bungkuk bernama Resi Wesakih. Kakek bungkuk ini tinggal dalam sebuah goa dekat jeram.

Hari pertunangan putranya telah lewat satu minggu lebih. Keterlambatan itu sangat keterlaluan. Resi Wesakih selalu menatap keluar menunggu kedatangan orang-orang Pedang Ular. Namun sampai saat ini, baik orang-orang Pedang Ular maupun putranya Arso Lumbing belum juga muncul.

Ia hidup seorang diri dalam goa itu. Ternyata pula goa itu bukan sembarang goa. Di dalamnya lebih nampak seperti layaknya sebuah bangunan batu yang ditata sedemikian rapi. Lampu-lampu damar tergantung pada tiap-tiap sudut menerangi ruangan itu. Dalam keresahannya, mendadak jantungnya bergetar ketika didengarnya derap langkah-langkah kuda.

*

**

11

Serta merta ia langsung berlari keluar. Dari depan pintu ia dapat melihat dua orang berkuda mendekati goanya. Jelas terlihat oleh mata tuanya kalau salah seorang dari penunggang kuda itu seorang perempuan. Seorang lagi laki-laki muda berpakaian bulu binatang.

Resi Wesakih tetap menunggu mereka dengan hati yang berdebar. Langkah-langkah kuda berderak nyaring semakin dekat. Mata tuanya memang tidak pernah salah. Mereka memang dua muda mudi yang tengah menuju ke arahnya. Dan ternyata pula dua muda mudi ini tidak lain Wintara dan Umbayani.

Ketika mereka tiba di mulut goa, Resi Wesakih berdiri terbungkuk keheranan. Umbayani dan Wintara segera turun dari kudanya.

"Maaf, apakah kakek yang bernama Resi Wesakih?" sapa Umbayani berjalan ke hadapan kakek bungkuk berambut putih. Kakek ini tidak langsung menjawab. Kedua matanya yang hampir tertutup alis hanya menatap gadis muda itu. Lalu ia mengangguk perlahan.

"Oh, Paman Resi Wesakih!" Melihat itu Umbayani langsung berlutut memberi hormat.

"Mata tuaku ini tidak bisa dikelabui, pastilah kau cah ayu Umbayani." Resi Wesakih mengangkat bangkit Umbayani. Wintara hanya berdiri mengawasi pertemuan itu. "Mana Pedang Ular Emas dan Arso Lumbing? Mengapa ia tidak bersama kalian?" tanya Resi Wesakih. Hampir menangis pula Umbayani mendapat pertanyaan itu. Dengan bergetar ia menjawab.

"Mengenai Kakang Arso Lumbing, aku sama sekali tidak bertemu dengannya. Karena-karena Kami

telah dihadang.... Tidak disangka pula Pedang Ular Emas di rebut orang." tutur Umbayani.

"Astaga. ?! Sebaiknya kita bicara di dalam, Cah

ayu. Ceritakan dengan jelas bagaimana sampai terjadi hal seperti ini. Arso

Lumbing pun belum kembali ke sini." ujar Resi Wesakih. Kakek bungkuk itu menuntun Umbayani memasuki goa. Wintara mengikutinya tanpa bicara. Dalam ruangan itu menyebar bau wangi pendupaan, Terheran-heranpula Wintara saat berada di dalam ruangan goa tersebut. Dirinya tidak mirip di dalam sebuah goa, Mereka bagaikan dalam sebuah ruangan megah yang indah.

Di dalam ruangan itu Umbayani menceritakan panjang lebar mengenai nasibnya. Dimulai dari perjalanannya yang telah terjebak oleh dua penguasa Gunung Tunggul. Sampai ia berada di pemukiman Ki Wirayuda, lalu bagaimana ia sampai di situ bersama seorang berilmu tinggi yaitu Pendekar Kelana Sakti.

Resi Wesakih kerutkan kening, sepertinya ada kesan tersendiri dari penuturan cerita Umbayani.

"Mungkin pula Kakang Arso. Lumbing telah dijegal oleh kedua perempuan iblis itu." ucap Umbayani sebagai penutup dari penuturannya.

"Maksudmu, Arso Lumbing telah tewas di perjalanannya? Tidak mungkin, Umbayani. Arso Lumbing cukup dikenal dalam kalangan persilatan, kalaupun ia sudah tewas, pasti kabar beritanya sudah sampai oleh ku." tukas Resi Wesakih. "Kalau begitu, bagaimana mengenai pusaka perguruan Pedang Ular, Paman?" ujar Wintara yang duduk bersebelahan dengan Umbayani. Kakek bungkuk ini seperti hendak mengekeh.....

"Jangan khawatir. Pedang Ular Emas yang berada di tangan dua penguasa Gunung Tunggul itu hanyalah pedang tiruan buatanku." jawab Resi Wesakih. Umbayani dan Wintara menatap tidak mengerti. Tapi Resi Wesakih cepat menjelaskannya.

"Pedang Ular Emas yang asli justru berada di tangan Arso Lumbing, putra ku. Memang cukup rumit. Dan kalian juga tidak bakal mengerti."

"Jadi selama ini perguruan Pedang Ular hanya memegang pusaka buatan Paman?" Umbayani hampir tidak percaya.

"Betul, kisahnya berawal pada dua puluh tahun yang lalu. Saat Perguruan Pedang Ular menjadi incaran tokoh-tokoh aliran sesat. Dengan gigih ayahmu mempertahankan nama besar perguruannya. Tentunya dibantu pula dengan pendekar-pendekar lain. Bahkan di antara pendekar-pendekar itu ada yang menjadi korban. Begitu pula dengan tokoh-tokoh sesat, mereka lebih banyak dapat ditumpas. Semuanya bermaksud ingin merampas Pedang Ular Emas. Saat itu aku berumur enam puluh tahun. Dengan ilmu yang kumiliki turut pula membantu ayahmu. Aku memang tinggal di sana. Arso Lumbing masih berumur tujuh tahun. Mungkin saat itu kau baru berumur empat tahun, Umbayani, tentunya kau masih ingat. Waktu itu kau hidup tidak sendirian. Kau hidup dua bersaudara dengan kakak perempuan bernama Umbamayu. Masih ingat?"

"Ingatanku tidak setajam itu, Paman." tukas Umbayani.

"Saat itu kau masih bau kencur yang lugu. Kakakmu Umbamayu selalu mengajak kau bermain. Tapi ketenangan itu nampaknya tidak langgeng selamanya. Seorang tokoh sesat berjuluk Penguasa Gunung Tunggul datang menyatroni perguruan Pedang Ular. Dengan tujuan yang sama. Ingin merebut pedang Ular Emas. Dalam pertempurannya, ayahmu terkena pukulan Tombak Gunung yang sangat dahsyat. Aku yang mengabdi terhadap ayahmu selama puluhan tahun mana sempat berdiam diri. Nekad pula aku menghadapi penguasa Gunung Tunggul itu. Rupanya keberuntungan ada di pihak kami, Penguasa Gunung Tunggul dapat kami usir dengan luka parah yang sama. Hal itu tidak membuat kami tenang. Karena ia sempat pula membawa Umbamayu kakakmu. Saat itu kami tidak berkutik. Karena ia menyandera Umbamayu dan mengancam, Sampai sekian lama akhirnya penguasa Gunung Tunggul tidak pernah kembali. Umbamayu pun lenyap bersama tokoh perempuan sesat itu, Setelah itu pun aku merawat ayahmu sebagaimana layaknya seorang saudara. Rupanya ayahmu menaruh simpati padaku. Dalam keadaan sakit ia menjodohkan kau dengan Arso Lumbing. Mula-mula aku menolak. Aku merasa kurang pantas menerima tawaran yang bagai mimpi. Karena aku mengingat hanyalah seorang abdi yang bertugas selama bertahun-tahun membuat pedang. Ayahmu sangat memaksa, dan tawaran tak dapat kutolak. Dia menyuruh membuat tiruan Pedang Ular Emas. Lebih gila lagi aku ditugaskan memelihara pedang aslinya. Pedang itu kelak akan dipertemukan lewat pertunangan kau dan Arso Lumbing, Dan sekaligus kau menjadi pewaris ayah, karena kakakmu Umbamayu hilang tanpa ada beritanya lagi." Resi Wesakih mengakhiri ceritanya.

"Aku yakin Srikaton Munggel adalah kakakmu, Umbayani. Cerita Paman Resi Wesakih menjelaskan semuanya." ujar Wintara. Umbayani menatap diam Resi Wesakih.

"Ada kemungkinan juga. Kalau memang benar Srikaton Munggel adalah Umbamayu, kita bisa menariknya dari tangan Nilasari Grewek." kata Resi Wesakih.

"Satu-satunya jalan kita harus mencari Nilasari Grewek. Dia harus menerima pembalasan dariku." Sumpah Umbayani di hadapan Resi Wesakih.

"Kita juga tidak harus berdiam diri di sini. Nasib Arso Lumbing perlu kita pikirkan. Kalau memang tujuannya ke perguruan Pedang Ular tidak mungkin akan berlarut-larut seperti ini." Wintara kemukakan pendapat. Resi Wesakih menghela nafas....

"Siapa yang tidak merasa khawatir terhadap anaknya. Sekali pun aku yakin Arso Lumbing masih hidup, Kita memang harus mencarinya. Pertunangan Umbayani dengan anakku harus terjalin. Itu sudah menjadi amanat majikan Perguruan Pedang Ular." Kakek bungkuk itu seraya bangkit dari tempat duduknya. Hutang darah yang terpendam selama dua pu-

luh tahun itu akhirnya terjangkit pula di kalangan orang tua. Selama dalam goanya Resi Wesakih tidak menyangka kalau nenek keriput Nilasari Grewek muncul kembali mengaduk-aduk tanah Sungkawarang. Hal itu tidak bisa dibiarkan. Nilasari Grewek memang tokoh paling sesat dan mesti ditumpas.

Hari itu juga Resi Wesakih mempersiapkan senjatanya. Senjatanya itu merupakan dua buah palu sebesar kepalan tangan. Dengan senjata itu Resi Wesakih pernah menghantam mundur musuh-musuhnya pada dua puluh tahun yang lalu. Termasuk pula Nilasari Grewek. Kalau saat itu Nilasari Grewek tidak menyandera Umbamayu, tentunya Nilasari Grewek si penguasa Gunung Tunggul sudah tamat riwayatnya. Terhadap Umbayani ini Resi Wesakih memperlakukan sebagaimana ia pernah mengabdi pada ayahnya. Sekalipun ia calon mertua. Tapi bagaimana sikapnya nanti seandainya Srikaton Munggel benarbenar Umbamayu.

*

**

12

"Aduh Srikaton yang malang, nasib apa gerangan yang melandamu, kalau kau tewas di tanah orang bagaimana dengan nasib ku.... Aduh Srikaton.,.." keluh Nilasari Grewek. Nenek keriput berbaju serba merah itu mengarungi pinggiran sungai. Ia baru saja turun dari Puncak Gunung Tunggul. Tangannya erat menggenggam pedang berkilau keemasan.

"Menyesal aku selalu mencaci maki dan menganggapmu murid tolol. Kiranya tanpa dirimu hidupku begitu kesepian. Aduuuh..... mudah-mudahan saja aku bisa menemukan engkau dalam keadaan sehatsehat saja. Biar cacad juga tidak apa-apa." keluhnya terus. Meski sosok itu sudah nampak peyot keriput serta rambut beruban sebatas pinggang, langkahlangkah kakinya masih nampak tegar. Tubuhnya begitu ringan. Sehingga dalam beberapa langkah saja kelihatan Nilasari Grewek seperti berlari. Menyapu tepian sungai. Manakala air sungai sangat bening menampakkan ikan-ikannya. Penguasa Gunung Tunggul itu tanpa berhenti melangkah.

Dia sengaja mengambil jalan pintas. Jalan yang jarang dilalui orang-orang. Dengan begitu ia bebas membawa pusaka Pedang Ular Emas tanpa diketahui orang-orang persilatan. Nilasari Grewek sebenarnya enggan membawa pusaka tersebut. Tapi enggan pula ia meninggalkan pusaka itu dalam gubuknya. Dalam hatinya dia yakin sekali kalau nanti akan berhadapan dengan orang-orang Pedang Ular. Dengan begitu peristiwa dua puluh tahun bakal terjadi lagi.

Sementara itu pada jalur sungai mengalir, terdapat sebuah gubuk kayu. Tempat tinggal itu tidak lain sebuah gubuk panggung yang mengambang di atas aliran sungai milik Arso Lumbing bersama Srikaton Munggel. Saat itu Arso Lumbing tidak ada di situ. Arso Lumbing tengah mencari kayu bakar di pinggiran kali.

Sudah sejak tadi Srikaton Munggel menunggu kedatangannya, ia duduk di depan teras gubuk. Menatap ke bawah pada aliran air yang begitu beningnya. Namun dari semalam pikirannya agak kacau. Ada sesuatu yang ingin ditanyakan pada Arso Lumbing, tapi ia sendiri sengaja menahan-nahan. Takut kalau pertanyaannya itu akan meretakkan hubungan mereka yang selama ini terjalin baik. Pikirannya masih membayang pada pusaka Pedang Ular Emas. Benarkah Arso Lumbing telah merebutnya dari tangan Nilasari Grewek? Begitu mudahnya Arso Lumbing dapat meraih pusaka tersebut. Setahunya, tidak mungkin Nilasari Grewek mau menyerah begitu saja. Paling tidak mereka harus menghadapi pertarungan dulu. Tentunya pula kalau Pedang Ular Emas berada di tangan Arso Lumbing, pastilah Nilasari Grewek gurunya telah tewas.

Lamunannya buyar saat datangnya Arso Lumbing memanggul seikat kayu-kayu ranting di punggungnya. Pemuda tampan ini tersenyum dari kejauhan. Srikaton tetap diam tanpa menyahut.

"Aduh dewiku   Setengah harian penuh aku lelah mencari kayu bakar, malah disambut dengan cemberut." goda Arso Lumbing.

Dia terus berjalan ke samping gubuk. Srikaton Munggel tetap acuh. Diliriknya Arso Lumbing tengah menyusun kayu-kayu ranting kering. Selesai menyusun kayu-kayu itu Arso Lumbing berjalan ke arah Srikaton, lalu duduk di sampingnya.

"Ada apa seharian ini kau jarang bicara." tegur Arso Lumbing. Tubuhnya yang telanjang dada basah dengan keringat.

"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu Arso Lumbing."

"Soal apa? Kau masih belum percaya kalau aku mencintaimu sepenuh hatiku?"

"Bukan. Bukan soal itu...." Srikaton Munggel ragu-ragu.

"Lalu apa?" Arso Lumbing penasaran.

"Harap kau jangan marah. Kau harus berjanji

dulu."

"Hm Katakanlah."

"Benda apa sebenarnya yang tergantung di da-

lam?" Srikaton Munggel pura-pura tidak tahu apa yang terbungkus dengan kain sutra yang tergantung di dinding. Arso Lumbing kernyitkan alis. Ia teringat akan benda yang jarang disentuhnya selama berdampingan dengan Srikaton.

"Cuma itu yang ingin kau ketahui? Benda itu cuma sebilah pedang. Kenapa?" Arso Lumbing balik bertanya. Ia tidak menyangka kalau siang itu sikap Srikaton Munggel agak berubah. Perempuan ini tidak bicara. Ia langsung bangkit berjalan ke dalam gubuk. Tak lama keluar lagi dengan membawa benda terbungkus kain sutra. Di hadapan Arso Lumbing, Srikaton Munggel membukanya.

"Katakan dari mana kau dapatkan pedang ini. Arso Lumbing?" Srikaton Munggel menghunuskan pedang Ular Emas. Arso Lumbing tenang-tenang saja menjawab...

"Ayahku sendiri yang membuat pedang itu." "Jangan bohong, Arso Lumbing. Aku tahu be-

nar pusaka ini milik siapa."

"Heh, kau ini kenapa Srikaton. Kau anggap apa aku ini. Kau pikir aku tukang rebut dan main rampas milik orang lain?" Arso Lumbing bangkit berdiri menghadapi Srikaton Munggel. Perempuan ini tidak sanggup menatap Arso Lumbing. Keduanya berdiri diam. Srikaton Munggel seperti hendak menangis.

"Srikaton.... Ada apa dengan kau? Kau boleh memiliki pedang itu. Aku tidak perlu lagi. Semenjak hidup bersamamu, aku menarik diri dari dunia persilatan. Bahkan aku telah melupakan tugas dari ayahku sendiri " Arso Lumbing membujuk.

"Arso Lumbing kuharap kau tidak berdusta "

Suara Srikaton Munggel terisak. Kedua bola matanya tergenang air bening. Menatap itu Arso Lumbing makin trenyuh. Maka tak sanggup lagi Arso Lumbing menahan diri. Ia memeluk tubuh Srikaton Munggel yang terisak menahan tangis. Namun dengan tiba-tiba saja....

"Srikaton...!" Kedua muda mudi ini mendadak tersentak kaget. Bentakan itu sangat nyaring. Keduanya serempak menoleh ke arah suara. Tidak jauh, Srikaton Munggel membelalakkan matanya lebar-lebar.

Sosok Nilasari Grewek berdiri tegak menyaksikan mereka. Tidak percaya pula Srikaton melihat Pedang Ular Emas di tangan gurunya. Lalu pedang apalagi yang ada di tangan Srikaton Munggel? Bentuknya sama tiada beda. Srikaton Munggel jadi serba salah.

"Susah payah aku mencari-cari kau. Penuh rasa cemas, khawatir, tahu-tahunya lagi enak-enakan di sini bersama seorang anak Resi Wesakih. Brengsek!" bentak Nilasari Grewek.

Arso Lumbing melepaskan pelukannya. Ia juga hampir tidak percaya melihat sosok

Nilasari Grewek berdiri di hadapannya. Terlebih-lebih nenek itu menggenggam Pedang Ular Emas. Dari mana ia dapat? Pikir Arso Lumbing.

"Murid bejad! Kenapa kau biarkan putra Resi Wesakih itu! Ayo bunuh!" perintah Nilasari Grewek dengan kedua mata melotot.

"Guru.... Aku " Srikaton keluar dari teras ber-

jalan menghampiri nenek berbaju serba merah. Mendadak Nilasari Grewek terkejut setengah mati. Srikaton Munggel juga memegang Pedang Ular Emas.

"Pantas kau tidak kembali ke Gunung Tunggul. Kiranya kaupun memiliki Pedang Ular Emas juga. Cepat Srikaton, sebelum habis kesabaranku, bunuh dia!" perintah Nilasari Grewek.

"Tidak bisa, Guru. Arso Lumbing adalah suamiku!" tukas Srikaton Munggel.

"Chis, tidak sudi aku bermantukan orang aliran lurus. Baiklah kalau kau tak sanggup membunuhnya. Biar aku yang tua keriput membinasakan putra Resi Wesakih!" Serta merta nenek berambut putih ini merebut pedang dalam genggaman Srikaton Munggel. Perempuan ini tidak menyangka kalau gurunya akan bertindak seperti itu.

Arso Lumbing masih ingat betul akan sosok Nilasari Grewek. Dulu dua puluh tahun yang silam ia pernah mengenalinya. Saat Arso Lumbing bersama ayahnya, Resi Wesakih mengabdi pada majikan Perguruan Pedang Ular. Masih ingat pula bagaimana ayah Arso Lumbing menghantam mundur nenek berambut putih itu.

Tapi hari ini rupanya, Arso Lumbing menerima karma dari perbuatan orang tuanya. Kini ia harus menghadapi serangan Nilasari Grewek. Dengan dua buah Pedang Ular Emas di tangannya, Nilasari Grewek mencecar habis-habisan pemuda Arso Lumbing. Nyatanya pula Arso Lumbing bukan sembarangan orang. Tidak percuma ia sebagai putra Resi Wesakih.

*

**

13

Meski tanpa menggunakan senjata sekalipun, Arso Lumbing dapat menghadapi serangan-serangan nenek keriput berambut putih.

"Aku memang pikun! Mudah melupakan kejadian pada dua puluh tahun yang telah lalu. Dan aku telah mengira pula kalau Resi Wesakih telah mampus, sekarang kehadiranmu ini membuat kedua mata tuaku terbuka!" gerutu Nilasari Grewek. Ia memutar kedua Pedang Ular Emas. Maka bergulung-gulung sinar keemasan. Suara anginnya menderu-deru. Bahkan sampai mengoyak ketenangan arus air sungai. Sekali ia hentakkan kedua pedang tersebut, Arso Lumbing menghindar mundur. Sepertinya pula angin mendorong begitu keras membuat dirinya terlempar jauh ke belakang sampai tercebur ke dalam sungai.

"Hak-hak-hak-hak...! Biar tak kesampaian melepas dendam terhadap Resi Wesakih. Jantungku akan puas dengan mampusnya anak jelek ini, "Hreaaaaaa...!" Nilasari Grewek menerjang lagi. Ia nekad ikut masuk ke dalam kali. Saat itu Arso Lumbing sudah berdiri meski harus terendam dalam sungai. Ia baru tahu akan kehebatan Pedang Ular Emas. Tapi mengapa sekarang harus ada dua? Apakah Perguruan Pedang Ular telah kecolongan pusaka itu? Arso Lumbing tidak sempat memikirkan persoalan itu. Serangan Nilasari Grewek datang begitu cepat.

Melihat Arso Lumbing tercecar demikian rupa, mana mau Srikaton Munggel berdiam diri. Dengan kalap pula ia melompat ke dalam sungai.

"Guru, kau tidak boleh membunuhnya. Karena Arso Lumbing harus menjadi bapak si jabang bayi ini!" ujar Srikaton Munggel menghalangi serangan-serangan Nilasari. Nenek berambut putih hentikan serangan menatap geram dua muda mudi yang telah basah kuyub....

"Dasar jalang! Murid tidak tahu diuntung! Sebaiknya kalian mati bersama dengan pemuda anjing ini! Pergilah ke akherat. Hiaaaaaaa...!" Nilasari Grewek babatkan dua Pedang Ular Emas sekaligus ke arah mereka, tapi Arso Lumbing yang selalu waspada itu dapat menarik tubuh Srikaton Munggel. Ia segera melesat ke atas hindari babatan-babatan maut tersebut. Lalu keduanya hinggap persis di tepian sungai.

Dengan sigap Nilasari Grewek menyusul mereka, lentingan tubuh keriputnya sangat cepat tahu-tahu saja ia sudah hinggap tanpa bersuara di hadapan mereka..... Arso Lumbing siap siaga.... Kedua matanya menatap jalang. Tak urung juga ia keluarkan jurusjurus andalannya.

"Baiklah, Nilasari Grewek. Aku tidak pandang lagi siapa kau. Jelasnya aku pernah tahu kau pernah malang melintang merecoki Perguruan Pedang Ular. Seperti apa yang pernah dilakukan Resi Wesakih. Aku pun akan bersikap sama. Menghentikan perbuatan sesatmu." ujar Arso Lumbing mantap.

Nilasari Grewek tidak perduli, ia terus maju lancarkan babatan-babatan Pedang Ular Emas. Serangan itu begitu dahsyat. Tapi Arso Lumbing yang telanjang dada sigap berkelit mati-matian. Setiap kali gerakannya dapat menghindari sinar keemasan yang berkelebat cepat. Arso Lumbing yakin dua dari pedang itu, salah satunya 'Asli'. Karena ia tahu ayahnya pernah membuat pedang tersebut guna pertemuan pertunangannya dengan Umbayani.

Sudah tentu Arso Lumbing tidak akan sanggup menghadapi amukan Pedang Ular Emas yang asli. Nilasari Grewek sendiri sudah merasakan akan kehebatan pedang yang berada dalam genggaman tangan kirinya. Ia bisa bergerak ringan setiap kali ia lancarkan babatan. Dirasakannya pula pedang itu dapat bergerak sendiri dalam tangannya mencecar ke arah lawan.

Setengah mati Arso Lumbing dibuat jatuh bangun. Pada kesempatan itu Srikaton Munggel datang membantu. Ia ikut memapaki serangan-serangan gurunya. Mati hidup ia sudah nekad akan membantu Arso Lumbing. Ternyata di mata Arso Lumbing, Srikaton Munggel ini seorang perempuan yang memiliki ilmu setinggi gunung.

Maka makin bersemangat Arso Lumbing membalas serangan ke arah Nilasari Grewek. Menghadapi serangan balasan itu Nilasari Grewek tidak tanggungtanggung lepaskan babatan Pedang Ular Emas di tangan kirinya. Akibatnya sangat dahsyat, meski hanya terkena sambaran anginnya saja, tubuh Arso Lumbing terpelanting bergulingan.

Namun terhadap murid tunggalnya, Nilasari Grewek masih memberi hati. Serangan-serangan Srikaton Munggel disambut dengan lesatan-lesatan tubuh. Tapi justru bertindak seperti itu malah membahayakan dirinya. Karena Srikaton Munggel menyerang tanpa memandang kalau Nilasari Grewek adalah gurunya.

"Baiklah, Srikaton...! Kau boleh pilih hidup bersama pemuda itu. Kau boleh hidup tenang, tapi di sana.... Di akherat!" bentak Nilasari Grewek seraya ia melepaskan Pedang Ular Emas buatan Resi Wesakih, Sebenarnya pula ia tidak becus menggunakan senjata pedang, Hanya saja ia sekarang memiliki Pedang Ular sungguhan yang pernah menjadi impiannya pada dua puluh tahun yang lalu.

Srikaton tidak perduli dengan sikap gurunya. Ia makin gencar lepaskan serangan. Sudah pasti tindakan murid tunggalnya membuat Nilasari Grewek murka. Maka dengan sebelah tangan kosongnya ia lancarkan pukulan Tombak Gunung....

"Deeeer!" Srikaton Munggel tidak sempat mengelak. Hantaman itu telak mendera di tubuhnya. Tak urung tubuh rampingnya terjungkal ke belakang sambil menyemburkan darah. Melihat itu pun Arso Lumbing cepat melindungi Srikaton. Cepat pula ia meraih Pedang Ular Emas 'Tiruan' yang tergeletak di tanah. Srikaton Munggel bangkit terhuyung di belakangnya. Tapi belum sempat Arso Lumbing lancarkan serangan, Nilasari Grewek lepaskan lagi hantaman Tombak Gunungnya.

"Bledaaaaaar...!" Kerasnya tidak kepalang. Pasangan muda mudi ini kembali ambruk. Srikaton Munggel lebih parah. Ia menyemburkan darah berkalikali. Arso Lumbing merasakan sekujur tubuhnya remuk. Manakala Nilasari Grewek tidak tinggal diam melihat keadaan mereka. Dengan gerakan yang sangat cepat ia menerjang lepaskan babatan Pedang Ular Emas. Tapi Arso Lumbing yang masih dapat bertahan, menangkis dengan babatan pedang pula.

"Traaaang...!" Benturannya nyaring sekali. Tapi kedahsyatannya jauh dibanding dengan pedang di tangan Nilasari Grewek. Tentu saja. Karena Arso Lumbing menggunakan 'Tiruannya'. Arso Lumbing hampir tidak mampu menahan kekuatan yang maha dahsyat itu. Kedua tangannya erat menggenggam pedang. Menyambut setiap serangan Nilasari Grewek.

Pandangan Srikaton Munggel mulai nanar. Seluruh tubuhnya serasa lemas. Tenaganya benar-benar ludes terkuras. Manakala rasa sakit di sekujur tubuhnya itu membuat ia hampir pingsan. Pandangannya tidak lepas menyaksikan bagaimana Arso Lumbing mempertahankan nyawanya dari maut.

Setiap babatan pedang Nilasari Grewek disertai dengan teriakan lantang merencah di tubuh Arso Lumbing. Namun lelaki muda ini tetap berupaya menyingkir, meskipun ia yakin bakal tewas di tangan nenek berambut putih itu.

"Sekarang mampuslah kau, pemuda keparat! Hreaaaaaa...!" Nilasari Grewek arahkan Pedang Ular Emas kuat-kuat ke batok kepala Arso Lumbing, tapi....

"Traaaaang...!" Pedang di tangan Nilasari Grewek mendadak bergetar. Suatu benda melayang-layang di udara. Kiranya benda itu pula yang menggagalkan niatnya. Sebuah palu sebesar kepalan. Palu itu terus melayang menjauh dan kembali pada pemiliknya.

Resi Wesakih sigap menangkap sebelah palunya. Ia berdiri bringas didampingi dengan Wintara dan Umbayani. Ketiga orang yang baru datang itu cepat menuju ke pinggiran kali. Nilasari Grewek kernyitkan alls menatap Resi Wesakih.

"Heh, kiranya kau telah menjadi tua bangka bejad! Tak kusangka pertemuan ini sangat mengharukan. Kau lihat putramu ini bakal mampus di tanganku!" bentak Nilasari Grewek.

Ketiga orang ini menatap Arso Lumbing bangkit dengan sebilah pedang bersinar keemasan. Namun dari kejauhan itu Resi Wesakih dapat melihat kalau pedang dalam tangan Arso Lumbing adalah pedang buatannya sendiri. Mendadak kaget pula saat ia melihat Pedang Ular Emas dalam tangan Nilasari Grewek. "Nenek usil! Rupanya kau belum bisa mampus

dengan tenang sebelum melihat pusaka Ular Emas. Ternyata pula hari ini kau mesti mampus." ujar Resi Wesakih.

***

Umbayani yang berdiri di samping kiri Resi Wesakih dapat melihat sosok Srikaton Munggel berlumuran darah. Melihat perempuan itu Umbayani jadi geram. Serta merta ia berjingkat maju.

"Paman, perempuan busuk itulah yang ikut membantu merampas Pedang Ular Emas dari tanganku. Sekarang ia harus menerima ganjarannya!" Umbayani mementang jurus, tapi Srikaton Munggel tetap diam dengan pandangan samar.

"Tahan amarahmu, Umbayani." ujar Resi Wesakih. Sesaat pula orang tua bungkuk itu menatap jelas perempuan berlumuran darah.

"Tidak salah dugaan kita. Srikaton Munggel yang selama ini mengekor bersama Nilasari Grewek adalah Umbamayu, kakak mu Umbayani." kata Resi Wesakih pasti. Saat itu Arso Lumbing membawa tubuh Srikaton Munggel dari tempat itu. Ia membawa masuk ke dalam gubuk. Umbayani berdiri mematung. Pikirannya bimbang.

"Sekarang kita sudah berkumpul semua di sini. Selanjutnya bisa kita atasi setelah melumatkan Iblis Keriput ini!" Resi Wesakih bersiap-siap dengan kedua senjata palunya.

"Hik-hik-hik-hik...! Boleh.... Boleh...! Majulah kalian semua...! Selama Pedang Ular Emas di tanganku, aku tidak bakal mundur. Juga kepada Pendekar Kelana Sakti, kau boleh pergi ke akherat lebih dulu!" kata Nilasari Grewek lantang. Ia langsung menyerang. Serangannya itu diarahkan pada Wintara. Pendekar Kelana Sakti tidak perlu menyambut, karena Resi Wesakih dan Umbayani menghalanginya terlebih dahulu.

Palu godam berturut-turut seakan menghantam kepala Nilasari Grewek, Umbayani tidak kenal takut lepaskan hantaman meskipun lawannya menggunakan pusaka Pedang Ular. Saat itu Arso Lumbing sudah ke luar dari gubuknya. Dia pun melihat pertarungan tersebut. Gerakan Umbayani diawasi oleh Arso Lumbing. Ia masih ingat akan wajah gadis yang pernah ditolongnya itu. Tidak menyangka pula kalau gadis itu calon pengantin perempuan untuknya. Bagaimana dengan Srikaton Munggel? Bagaimana pula dengan sikap ayahnya nanti? Hal itu akan sangat panjang bila dipikirkan. Sekarang ia melompat ikut mengeroyok Nilasari Grewek.

Wintara belum bereaksi. Diam-diam ia merasa kagum akan kehebatan Nilasari Grewek. Meskipun lawannya berjumlah tiga orang ia tidak merasa keteter. Malahan babatan pedangnya membuyarkan serangan ketiga orang itu. Yang ia khawatirkan adalah gadis Umbayani, karena ia masih terluka di perutnya. Terlihat jelas kalau bagian perutnya itu mengembar darah. Bahkan terdesak dari serangan-serangan nenek berambut putih.

Demi melihat itu Wintara melesat ke arah pertempuran. Ia cepat menarik tubuh Umbayani dari sambaran pedang.

"Nona, sebaiknya kau tidak perlu campur tangan. Nenek itu terlalu berbahaya. Menyingkirlah." ujar Wintara.

"Aku sanggup menghadapi keparat itu!" tukas Umbayani.

"Jangan, Nona. Luka di perutmu belum sembuh betul. Lihatlah." Umbayani menatap ke bawah. Benar saja. Perutnya telah banyak mengeluarkan darah lagi. Maka tanpa bicara Umbayani segera melangkah mundur. Wintara berbalik menghadapi pertempuran.

Resi Wesakih bersama putranya kompak melancarkan serangan. Palu godam menderu-deru berkelebat di sekitar tubuh Nilasari Grewek. Sambaran palu itu menggetarkan rambut putih nenek berbaju merah.

Dari arah lain Arso Lumbing lancarkan pukulan tangan kosong yang bertubi-tubi mencecar ke bagian dada.

Wintara melompat lancarkan pukulan Bayu Menghantam Tebing. Nilasari Grewek tidak gentar. Ia menyambut dengan sambaran Pedang Ular Emas sekuatnya. Maka hantaman Wintara berbalik mengenai tuannya sendiri. Tak urung Wintara mundur terhuyung. Begitu juga dengan Resi Wesakih dan Arso Lumbing. Saat nenek berbaju merah itu kibaskan pedangnya, anak beranak ini jatuh bangun dibuatnya.

"Hik-hik-hik-hik.... Apa kubilang! Kalian semua bakal mengambang di sepanjang sungai ini!" ejek Nilasari Grewek. Ia terus memutar-mutar pedangnya sehingga timbul suara yang berdesing panjang.

Tak terduga kalau desingan panjang itu memekakkan telinga. Membuat semua orang yang berada di situ blingsatan. Umbayani erat menutup telinga dengan kedua tangannya. Resi Wesakih mempengaruhi desingan suara itu dengan benturan dua palu godam. Wintara tidak henti-hentinya keluarkan jurus Bayu Menghempas Gelombang. Kedua tangannya bergerak bergulung-gulung menimbulkan suara yang amat bergemuruh. Tapi Nilasari Grewek semakin tertawa mengikik memutar pedang tersebut tanpa berhenti.

Arso Lumbing bertahan sekuat tenaga. Telinganya serasa pecah. Pada detik itu ia nekad melompat deras ke arah Nilasari Grewek.

"Arso Lumbing.... Jangan...!" Terlambat. Teriakan Resi Wesakih tidak diperdulikan. Arso Lumbing lepaskan babatan pedang pada Pedang Ular Emas yang tengah berputar sangat cepatnya.

"Traaaaaaaang...!" Benturan kedua pedang itu memercikan api. Dari benturan itu Aso Lumbing terlempar berdegum di tanah. Tubuhnya kelojotan menyembur darah. Tapi hasil dari terjangan Arso Lumbing melenyapkan suara desingan Pedang Ular Emas. Resi Wesakih menggeram hebat. Ia nekad pula membalas dengan kedua palu godam. Hantaman-hantaman palu godam disambut dengan babatan-babatan pedang. Suaranya berdentang nyaring.

Tak terkira kalau diam-diam Nilasari Grewek lepaskan hantaman Tombak Gunung. Resi Wesakih memekik sambil terhuyung. Nilasari Grewek tidak berhenti. Jurus-jurus Jari Tombak pun beraksi. Jari-jari Nilasari Grewek yang laksana mata jarum mengaisngais ke bagian perut. Disertai pula dengan tusukan pedang. Akibat dari cakaran-cakaran itu lengan Resi Wesakih tergores dan tersayat mengeluarkan darah.

Setengah mati Wintara menghalangi seranganserangan Nilasari Grewek, malah sambaran pedang lawannya nyaris memisahkan kepalanya. Tujuan dari Pendekar Kelana Sakti ini adalah menghindari Resi Wesakih dari serangan-serangan Nilasari Grewek, karena hanya Wintara yang tahu kehebatan nenek penguasa Gunung Tunggul. Tapi siapa yang menyangka kalau sekarang nenek itu mendadak hebat. Apalagi ia menggunakan pusaka Pedang Ular. Wintara yang selalu dapat membuat nenek penguasa Gunung Tunggul lari kocar kacir, malah sekarang jadi bulan-bulanan.

Reflek tubuh Pendekar Kelana Sakti menghindari serangan Nilasari Grewek. Setiap gerakannya ia mencari kesempatan untuk membalas. Maka pada detik berikutnya Wintara tidak tanggung-tanggung lepaskan hantaman Tinju Bayu Delapan Penjuru.

"Deeeeer...!" Tubuh Nilasari Grewek mencelat ke belakang. Lalu membentur batang pohon besar. Dengan murka ia menggeram. Dia babatkan Pedang Ular Emas sekehendak hatinya. Tapi babatan pedang itu hanya menumbangkan pohon besar yang ada di belakang. Wintara sudah mundur terlebih dulu. Bahkan telah bersiap-siap lepaskan hantaman Menyibak Tirai Bayu.

Benar saja ketika Nilasari Grewek maju dengan putaran Pedang Ular Emas. Serangan itu bergulunggulung menyerupai putaran sinar kemilau. Hantaman itu pun dilepaskan sekuatnya oleh Wintara. Kembali Nenek penguasa Gunung Tunggul memekik. Rambut putihnya seakan bergetar saat tubuh keriput Nilasari Grewek ambruk di tanah.

"Nenek yang maha sakti, sudi kiranya menyerahkan pedang itu pada kami." ujar Wintara. Nilasari Grewek beringsut bangkit. Ia menyeka aliran darah di sudut bibirnya....

"Chis! Pendekar sialan! Siapa yang tidak tahu akal busukmu! Bukankah kau pun ingin memiliki pedang ini? Ambillah olehmu sendiri...." jawab Nilasari Grewek, ia malah maju lancarkan tusukan Pedang Ular Emas ke arah jantung. Wintara yang berdiri di hadapannya cepat menghindar lalu lancarkan lagi Tinju Bayu Delapan Penjuru.

"Bledaaaar...!" Tak pelak Nilasari Grewek menyemburkan darah. Tubuhnya mencelat terlempar ke tengah sungai. Tak lama ia bangkit dengan tubuh basah kuyub. Ia hentakkan kedua kakinya.

"Splaaaaaash...!" Maka terlihatlah satu pemandangan yang sangat mengagumkan. Nilasari Grewek dapat berdiri di atas aliran sungai bening. Lalu tanpa perduli ia melarikan diri ke sebrang. Larinya sangat cepat, sampai-sampai Wintara dan yang lain tidak sempat mengetahui ke mana perginya. Tapi suara parau Nilasari Grewek bergema di sekitar tempat itu....

"Pendekar-pendekar sialan! Kalian akan tahu rasa nanti! Tunggu saja sampai aku kembali lagi untuk menghancurkan batok kepala kalian!" Suara itu terus menggema lalu hilang tertelan dengan arus air yang mengalir.

Wintara menghela nafas panjang. Berkali-kali Nilasari Grewek selalu dapat melarikan diri darinya. Menyesal sekali Pendekar Kelana Sakti tidak dapat merebut pusaka Perguruan Pedang Ular. Ia berdiri menatap Resi Wesakih didampingi Arso Lumbing dan Umbayani.

"Tidak perlu disesali, Wintara. Kita bisa menemukan Nilasari Grewek lagi. Selama Pedang Ular Emas di tangannya ia akan selalu muncul membuat keonaran." ujar Resi Wesakih. Lelaki tua bungkuk ini nampak mengurut-ngurut dadanya.

"Sebenarnya orang macam Nilasari Grewek itu tidak bisa dibiarkan. Meskipun tua renta, tindakannya melebihi daripada iblis. Menyesal aku tidak dapat melumpuhkannya." desah Wintara.

"Tak jadi soal. Lagi pula ke mana kita harus mengejarnya? Biarkan saja, nanti setan tua itu pasti muncul lagi." jawab Resi Wesakih yang mulai pulih. Lalu ia menoleh pada Arso Lumbing.

"Anakku, bawa keluar Umbamayu kemari." Arso Lumbing tidak mengerti akan maksud ayahnya.

"Siapa? Umbamayu?" ulang Arso Lumbing.

"Ya, perempuan yang bersamamu tadi." kata Resi Wesakih. "Dia Srikaton Munggel, bukan Umbamayu, Ayah "

"Tidak, kau tahu apa, bawa Umbamayu ke luar." perintah Resi Wesakih dituruti juga. Maka tak lama Arso Lumbing ke luar dari gubuk memapah tubuh pingsan Srikaton Munggel.

"Nah, kau perhatikan baik-baik. Apakah kau masih belum mengenali Umbamayu? Kau lihat Umbayani, kau lihat dengan gelas. Srikaton adalah kakamu, Srikaton bukan lain dari Umbamayu. Kakakmu yang selama dua puluh tahun menghilang."

Baik Arso Lumbing maupun Umbayani teringat akan masa silam mereka. Dua puluh tahun memang cukup lama. Membuat mereka melupakan sosok Umbamayu yang lenyap itu. Dan ternyata masih ada pula cacad luka di kening Srikaton Munggel. Cacad lama. Cacad sewaktu menyelamatkan Umbayani dan Arso Lumbing terjatuh dari sebuah pohon. Yakinlah sekarang kalau Srikaton Munggel adalah Umbamayu. Lalu bagaimana dengan pertunangan Arso Lumbing dengan Umbayani?..... Tiba-tiba Arso Lumbing merasakan kepalanya berputar tujuh keliling. Kenapa Srikaton harus kakak Umbayani? Kenapa pula Umbamayu harus kakak Umbayani, kenapa Arso Lumbing bisu.

"Tindakannya selama ini di aliran sesat hanya karena pengaruh tokoh sesat penguasa Gunung Tunggul. Kau harus memaafkan segala perbuatannya, Umbayani. Selama ini Umbamayu hanya diperbudak. Kau harus menerima kehadirannya...." ujar Resi Wesakih. Umbayani tertunduk menitikkan air mata. Di perutnya darah mengembar terus akibat gerakan-gerakan tadi. Tapi rasa sakit itu seakan tak terasa saat ia menatap wajah pucat Umbamayu. Bayangan-bayangan masa silam tergambar menguras habis air matanya.

Arso Lumbing sudah melihat bagaimana sikap Umbayani, calon pengantin perempuannya. Ia jadi serba salah. Kekikukan itu dapat dirasakan oleh Resi Wesakih. Lelaki bungkuk ini sempat melihat bagaimana Arso Lumbing ketika melindungi Umbamayu. Dia kerahkan tenaga mati-matian, bagai membela seorang kekasih dari maut. Resi Wesakih dapat membaca lewat pikiran tuanya. Apalagi hampir sebulan ia tidak menampakkan diri ke hadapan Resi Wesakih. Dan sekarang Arso Lumbing ditemukan dalam keadaan akrab dengan Umbamayu. Bagaimana pertunangan putranya itu dengan gadis Umbayani? Kita tidak dapat mengikutinya sekarang. Masih ada satu kisah lagi yang akan membuat anda semakin haru dan mengerti.

Ikutilah.... Pedang Ular Emas.

TAMAT