Serial Pendekar Kelana Sakti Eps 12 : Dua Pendekar Buntung

 
Eps 12 : Dua Pendekar Buntung


Sepagi ini sudah terdengar suara-suara teriakan yang menggelegar. Dibarengi dengan suara gerakan yang menimbulkan deru angin yang bergulunggulung. Jelas suara angin yang menderu-deru itu ditimbulkan oleh seseorang yang tengah melancarkan beberapa hantaman. Pukulan-pukulan yang sengaja diarahkan pada tempat kosong itu justru mengeluarkan benturan yang sangat dahsyat.

Setiap kali orang itu menggerakkan kedua tangannya, seperti keluar serat-serat halus siap menjerat. Gerakan-gerakan dari jurus itu kelihatan sangat hebat. Dan yang aneh lagi, pendekar yang tengah mementang jurus ini tidak memiliki telapak tangan. Pergelangan tangannya kutung. Namun dari situlah serat-serat yang dinamakan 'Gelugut Sutra' keluar.

Sedangkan tidak jauh dari situ, berdiri puluhan tonggak setinggi dua meter. Di atasnya tidak kalah seorang sedang beraksi mengeluarkan jurus-jurusnya. Orang ini memiliki cacat yang lain. Dengan kedua kaki yang buntung dan menggunakan dua buah tongkat masih dapat memamerkan kepandaiannya.

Bahkan ia sanggup berdiri dengan sebuah tongkat. Dan sebelah tongkatnya lain digunakan sebagai senjata. Sambaran-sambaran tongkatnya yang bergerak bergantian tidak ubahnya bagai jurus-jurus pedang. Lompatan-lompatannya yang selalu berpindahpindah dari tonggak ke tonggak tidak pernah meleset. Gerakannya yang lincah membuat semua orang memperhatikan berdecak kagum.

Meskipun cacat tanpa kedua kaki, putra tunggal mantan guru besar Perguruan 'Guci Perak' ini sekarang telah menguasai penuh jurus-jurus pedang yang sangat ampuh.

Pagi itu semua murid Perguruan 'Guci Perak' yang berjumlah dua puluh orang berkumpul menyaksikan kehebatan dua orang yang tengah beraksi. Selama ini pula mereka merasa kagum.

Di depan teras perguruan, Wintara bersama seorang gadis bernama Nalantili turut menyaksikan juga. Telah dua bulan lewat Pendekar Kelana Sakti ini berkecimpung dalam lingkungan Perguruan 'Guci Perak'. Berkat pendekar ini pula kedua manusia cacat ini menempa hidupnya menjadi manusia-manusia tangguh tanpa putus asa.

Sekarang Wintara sudah dapat melihat, dari kegigihan yang disertai semangat, maka jadilah mereka Dua Pendekar Buntung.

"Paman Gelugut Sutra. Mari kita bermain-main barang beberapa jurus. Aku ingin tahu sampai di mana kemajuan paman." ujar Amarsa Rawut sambil mementang jurus pedang dengan tongkatnya.

"Sudah jelas kau lebih tangguh dariku, Amarsa Rawut. Aku yang tua ini sudah tidak bertenaga lagi, mana bisa mengalahkan mu!" jawab Pendekar Gelugut Sutra. Iapun tidak kalah gesit memamerkan ilmu andalannya. Sekali lengannya bergerak memutar. Maka keluarlah serat-serat dari ujung pergelangan tangannya yang buntung.

"Ha-ha-ha-ha... Paman menyerangku lebih dulu. Baik. Jagalah ini 'Pedang Seribu Halilintar'...." Tubuh Amarsa Rawut melesat ke atas meninggalkan tonggak-tonggak yang berdiri bersusun-susun. Begitu Amarsa Rawut menginjakkan tongkatnya ke tanah, sebelah lengannya lagi yang menyandang tongkat berputar merobek. Pendekar Gelugut Sutra beringsut nunduk.

"Astaga.... Amarsa Rawut! Kau hampir saja memenggal kepalaku. Kau tidak main-main rupanya!" hardik lelaki tangan buntu

"Makanya paman harus sungguh-sungguh. Ayo tunjukkan kebolehan paman!" Amarsa Rawut terus memanas-manasi pendekar yang cukup berpengalaman ini.

Saat Pendekar Gelugut Sutra membalas dengan mengeluarkan jurus Menjaring Bayangan, pendekar muda berkaki buntung seperti digeluti oleh ribuan serat. Diapun tidak kalah gesit menyapu hantaman itu dengan babatan tongkatnya yang laksana pedang.

"Bweeeet...!" Ribuan serat yang semula menjaring di tubuh Amarsa Rawut berpencaran. Sebenarnya hantaman Pendekar Gelugut Sutra itu hanyalah merupakan sebuah bayangan. Serat-serat yang dikeluarkan dari kedua pergelangan tangannya yang buntung tidak lebih dari hawa tenaga dalam yang sempurna. Bisa juga dikatakan pukulan jarak jauh. Hanya saja hawa pukulan itu berbentuk laksana serat halus.

Maka sebelum hantaman itu mengenai tubuh pendekar tanpa kaki ini, Amarsa Rawut selekasnya membalas dengan Pedang Menyapu Geledek. Ilmu pedang tingkat tinggi ini sengaja dikeluarkan untuk menghadapi Pendekar Gelugut Sutra. Agar supaya pendekar setengah umur ini tidak segan-segan mengimbangi dengan jurus-jurus andalannya pula.

"Mau pamer di hadapan Pendekar Kelana Sakti? Boleh! Keluarkan semua ilmu pedang tingkat tinggi mu!" Pendekar Gelugut Sutra mulai memancing emosi.

"Dalam latihan kita harus bersungguhsungguh, Paman. Kau boleh membunuhku kalau perlu!" sahut Amarsa Rawut.

Pendekar Gelugut Sutra makin gusar. Kegusarannya ini masih nampak dibuat-buat. Tapi seranganserangan yang ia lancarkan benar-benar membawa maut. Setiap melepaskan hantaman tanpa wujud yang berupa serat-serat halus, Amarsa Rawut seperti keteter.

Yang paling sukar dihindarkan adalah tendangannya. Berkali-kali Amarsa Rawut mundur kelabakan. Desiran anginnya meskipun pelan, tapi mampu mengenai sasaran. Rupanya gerakan-gerakan itu sengaja untuk mengelabui lawan.

Tak terduga saat Amarsa Rawut menghindar ke belakang, sebuah hantaman dapat masuk menggedor dadanya. Untung saja Amarsa Rawut telah memiliki ilmu keseimbangan yang hampir sempurna.

Wintara bersama Nalantili yang sengaja membiarkan mereka unjuk kebolehan, sempat tercengang pula. Dalam keadaan terhuyung Amarsa Rawut dapat melentingkan tubuhnya setengah memutar. Detik itu juga ujung tongkatnya menusuk cepat. Pendekar Gelugut Sutra yang merasa tidak mungkin lagi dapat menghindari tusukan di kepalanya, memejamkan mata. Ia dapat membayangkan bagaimana sakitnya bila ujung tongkat Amarsa Rawut menghantam.

Teriakan Amarsa Rawut berhenti. Pendekar Gelugut Sutra membuka matanya. Pendekar kaki buntung ini seperti tersenyum.

"Mana berani aku menghajar kepala paman. Jelek-jelek aku masih punya rasa hormat terhadap orang yang paling tua. Sekarang sudah terbukti. Pamanlah yang lebih hebat dariku." ujar Amarsa Rawut seraya memberi hormat. Pendekar Gelugut Sutra tidak menjawab. Malah di saat-saat Amarsa Rawut lengah, ia mengibaskan dua lengannya sekaligus. Maka pendekar berkaki tongkat ini mencelat tanpa membalas. Hantaman itu tidak bermaksud melukai. Amarsa Rawut sendiri merasa tubuhnya seperti diangkat oleh tenaga dalam. Dan tahu-tahu saja ia sudah hinggap di hadapan Wintara dan Nalantili. "Sebaiknya memang begitu jika sudah menjadi seorang pendekar. Merendah dan percaya diri. Kau sudah menguasai penuh jurus-jurus pedang 'Guci Perak'. Jurus Gelugut

Sutra milikku tidak ada artinya sama sekali." kata Pendekar Gelugut Sutra melangkah menghampiri mereka.

"Paman serta sobat Amarsa Rawut sangat hebat. Kalau kalian berdua bergabung, maka akan tercipta jurus gabungan yang sukar di tandingi." Wintara menyambut.

"Apakah luka di kedua kakimu sudah sembuh betul, Kakang Amarsa Rawut!" Nalantili ikut nimbrung. "Jangan khawatir! Aku sembuh total." jawab

Amarsa Rawut cepat.

"Ah    Kau selalu memperhatikan dia, Nalantili.

Mentang-mentang aku sudah keriput tidak pernah ada perhatiannya pada ku!" gurau Pendekar Gelugut Sutra. Wajah Nalantili memerah. Amarsa Rawut juga jadi salah tingkah.

"Aku yakin di antara kalian ada 'Udang di balik Batu'. Ha-ha-ha-ha...!" Pendekar tangan buntung itu mengumbar tawa.

Murid-murid 'Guci Perak' yang menyaksikan pertunjukan luar biasa tadi segera bubar. Mereka langsung menempatkan posisi masing-masing. Sebagian lagi ada yang mengikuti gerakan-gerakan Amarsa Rawut. Melihat itupun Amarsa Rawut sesumbar.

"Kelak kalian akan kuajarkan semua jurusjurus yang kumiliki. Kalian memang harus menguasai semua jurus-jurus Perguruan 'Guci Perak'. Dari sekarang perkuat kembali jurus-jurus dasar yang selama ini kalian pelajari.... Itulah satu-satunya kunci ilmu 'Guci Perak' "

"Akupun sekaligus akan mengangkat kalian semua menjadi muridku. Kelak akan tumbuh ratusan Pendekar Gelugut Sutra!" kata lelaki setengah tua yang tak memiliki dua telapak tangan penuh semangat. Itu berarti Pendekar Gelugut Sutra setuju akan usul Wintara. Mereka berniat akan menggabungkan jurus yang sangat berbeda. Namun memiliki kehebatan yang sama dahsyatnya. Mulai saat itu Perguruan 'Guci Perak' seperti hidup kembali. Sisa murid yang tinggal dua puluh orang itu giat berlatih mengulang jurus-jurus dasar. Mereka baru merasakan. Betapa banyak kekurangan-kekurangan mereka.

Apalagi ditambah dengan jurus-jurus dasar Pendekar Gelugut Sutra. Mereka betul-betul seperti yang buta ilmu. Dalam hal ini pula, baik Amarsa Rawut maupun Pendekar Gelugut Sutra setiap malam bertukar pikiran. Pada ruangan khusus mereka berdua berlatih menggabungkan jurus-jurus mereka. Tentunya di bawah pengawasan Pendekar Kelana Sakti.

Terhadap Wintara yang selalu mendampingi, mereka sangat segan. Mereka bukannya tidak tahu akan kehebatan Pendekar Kelana Sakti ini. Bisa saja kedua pendekar Buntung meminta beberapa jurus dari Pendekar Kelana Sakti. Namun sudah tentu mereka tidak akan sanggup.

Mereka begitu yakin kalau ilmu yang dimiliki oleh Wintara, tergolong ilmu kelas tinggi. Diam-diam pula Pendekar Gelugut Sutra yang telah banyak memakan asam garam dunia persilatan merasa kagum. Kekurangan-kekurangan dalam memperdalam ilmunya dapat diawasi.

Murid untung-untungan Eyang Buana Penangsang ini memang tidak pernah menawarkan untuk memberi pelajaran terhadap Amarsa Rawut maupun Pendekar Gelugut Sutra. Wintara tahu betul. Untuk mempelajari jurus-jurus warisan Eyang Buana Penangsang tidaklah mudah. Akan berakibat fatal dan menjurus ke arah kematian bila tidak cocok. Wintara sendiri sampai sekarang tidak bisa memecahkan misteri itu.

Hari-hari berikutnya Amarsa Rawut maupun Pendekar Gelugut Sutra melatih murid-muridnya secara bergantian. Dalam beberapa hari ini mulai nampak kemajuan mereka. Selain nampak gigih dan penuh semangat, mereka betul-betul ingin mengangkat nama besar Perguruan 'Guci Perak'.

Begitu juga dengan gadis Nalantili. Gadis ini lebih bersemangat dalam memperdalam ilmu pedangnya. Untuk Nalantili ada satu kekurangan. Ia tidak bisa mendapat pelajaran ilmu gabungan. Jurus-jurus ampuh Pendekar Gelugut Sutra hanya dapat diterima oleh kaum lelaki. Makanya dalam mempelajari ilmu pedang ia begitu penuh Melihat situasi yang bertambah maju, timbul hasrat Wintara untuk segera meninggalkan mereka. Selama dua bulan lebih ia hampir melupakan tugasnya sebagai pengembara yang siap akan menggulingkan kejahatan. Khususnya dalam rimba persilatan. Masih banyak orang-orang yang butuh pertolongannya. Masih banyak orang-orang persilatan yang perlu ditegakkan. Masih banyak pula tokoh-tokoh sesat yang perlu ditumbangkan.

*

**

2

Untuk itulah Wintara tidak bisa membendung hasratnya lagi. Dengan perasaan berat Amarsa Rawut maupun semuanya melepaskan kepergian Pendekar Kelana Sakti itu.

"Bukan aku tidak kerasan menetap di sini, Sobat Amarsa Rawut. Aku dapat melihat kalian sudah dapat berdiri sendiri. Aku bertambah yakin perguruan ini akan bertambah maju kalau kalian berdua terus membimbing."

"Apa yang telah kau ajarkan baik nasehat maupun pendapat tetap akan kami pegang teguh. Kami memang harus berdiri sendiri. Sayangnya kami akan kesepian tanpa kau." jawab Amarsa Rawut.

"Itulah kehidupan. Ada pertemuan ada juga perpisahan. Baik buruknya, kemajuan

Perguruan 'Guci Perak' dapat berdiri kembali berkat adanya kau, Wintara." ujar Pendekar Gelugut Sutra.

"Kalau sekarang kita harus berpisah mau dibilang apa? Tidak baik menahan-nahan orang yang masih mengemban tugas." kata Amarsa Rawut mengakhiri ucapan perpisahan.

Nalantili datang menghampiri mereka menuntun seekor kuda Cukup kuat dan gagah. Semuanya berdiri di muka pintu gerbang.

"Tidak ada yang dapat kami bekali kecuali ini, Sobat Wintara. Bisa diandalkan kalau menempuh perjalanan jauh." ujarnya saat Nalantili berada di antara mereka. Nalantili menyerahkan tali kekang pada Wintara.

"Ah. Terima kasih..... Ini sudah lebih dari cukup." jawab Wintara, ia langsung menungganginya.

"Selamat jalan, Wintara. Semoga saja kita dapat bertemu kembali." Wintara hanya tersenyum. Tanpa bicara apa-apa Pendekar Kelana Sakti ini menghela kudanya.

Ketiga orang pentolan Perguruan 'Guci Perak' terus berdiri di depan pintu gerbang memandang kepergian Wintara. Derap kaki kuda perlahan semakin menjauh. Mereka belum juga beranjak dari tempat itu sampai

Wintara betul-betul hilang dari pandangan mata. Pendekar Gelugut Sutra nampak menghela nafas.

Murid-murid Perguruan 'Guci Perak' masih berdiri di belakang pintu gerbang. Mereka turut juga menyaksikan kepergian seorang pendekar. Bagaimanapun mereka masih ingat saat kehancuran perguruannya dari tangan Durjana Pemenggal Kepala. Tanpa Pendekar Kelana Sakti, belum tentu perguruan 'Guci Perak' tetap utuh.

Amarsa Rawut masih menatap jauh, meskipun sosok Wintara sudah lenyap. Pendekar Gelugut Sutra menepuk punggungnya dengan pergelangan tangan. Tak urung pendekar tanpa kaki ini jadi terkesiap.

"Apa lagi yang kau pikirkan? Kepergian pendekar muda itu bukanlah apa-apa. Tanpa dia justru kita harus lebih bersemangat."

"Ah, aku tidak memikirkan apa-apa. Semangatku tetap ada. Hanya aku teringat betapa hebatnya Pendekar Wintara ketika menghadapi Durjana Pemenggal Kepala maupun Eyang Tumbal Segara."

"Paman, aku melihat seseorang datang ke mari...." sela Nalantili. Ia mempertajam penglihatannya. Dua Pendekar Buntung ini kompak mengikuti pandangan Nalantili.

"Siapa dia? Nampaknya menunggangi kuda juga. Barangkali Wintara balik lagi!" Amarsa Rawut mengernyitkan alis.

"Bukan, bukan Wintara. Tapi jelas tujuannya ke mari." Penglihatan Pendekar Gelugut Sutra lebih tajam.

Ketiganya berdiri sambil melepas pandangan yang mengarah pada seseorang menunggangi kuda. Orang itu kian lama mendekat. Dalam jarak tiga puluh meter barulah mereka tahu siapa orang itu.

"Rupanya seorang utusan dari Partai 'Dewa Tenggara'. Kenapa baru sekarang mereka mengirimkan utusan?" Amarsa Rawut bisa mengenali orang itu dari pakaian serta pelana kuda yang menjadi ciri khas mereka. Masih dalam jarak cukup jauh si penunggang kuda memberi salam dengan lambaikan tangannya. Ketiga orang yang berdiri berderet di pintu gerbang membalas dengan lambaian tangan pula.

Setelah agak dekat, orang itu menghentikan kudanya. Lalu turun menuntun mendekati mereka. Di tangannya ia menggenggam beberapa gulungan kertas. "Aku utusan dari Partai 'Dewa Tenggara' menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya. Karena sampai saat ini pimpinan kami Kuncoro Sona tidak dapat menjenguk atas musibah yang terjadi di 'Guci

Perak'."

"Tidak apa-apa. Kami bisa memaklumi atas kerepotan-kerepotan orang-orang Tenggara. Mari silahkan masuk." sambut Amarsa Rawut. Orang itu tersenyum ramah.

"Maaf. Selain menyampaikan salam, aku ditugaskan untuk menyebarkan undangan Kuncoro Sona." Orang itu mengambil segulungan kertas dari genggamannya. Lalu ia menyerahkan pada Amarsa Rawut.

"Kenapa harus terburu-buru, bukankah Ki Sanak perlu istirahat sebentar?" ujar Pendekar Gelugut Sutra. Nalantili menggeser dirinya agar kuda itu dapat masuk.

"Sekali lagi aku mohon maaf dan pamit. masih ada tiga undangan lagi yang harus ku sampaikan pada perguruan-perguruan lain. Setelah itu aku ditugaskan agar cepat kembali ke Tenggara."

"Tak apalah kalau begitu." jawab Amarsa Rawut.

"Permisi...." Orang itu kembali menunggangi

kudanya lalu berlalu. Amarsa Rawut membuka gulungan kertas itu.

Dalam waktu dekat ini kami sengaja mengundang beberapa perguruan yang menjadi andalan Tanah Guring Kencana. Guna mempererat sesama perguruan. Juga sekaligus untuk menangani satu masalah yang cukup besar.

Kuncoro Sona

Begitulah isi surat itu. Selesai membaca Amarsa Rawut menyerahkannya pada Pendekar Gelugut Sutra.

"Masalah apa yang telah terjadi sampai Partai 'Dewa Tenggara' mengundang kita ke sana?" tanya Pendekar Gelugut Sutra begitu selesai membaca isi surat.

"Untuk mengetahuinya kita harus cepat segera ke sana." jawab Amarsa Rawut. Nalantili sudah tahu maksud isi surat itu meskipun ia tidak ikut membacanya.

Amarsa Rawut melangkah masuk diikuti dengan Pendekar Gelugut Sutra serta Nalantili. Muridmurid Perguruan 'Guci Perak' nampak tengah latihan.

"Tentunya kalian akan pergi lagi meninggalkan kami di sini." sergah Nalantili menyusul langkahlangkah Amarsa Rawut.

"Tidak baik kalau kita tidak menghadiri undangan Kuncoro Sona. Beliau pernah baik terhadap ayahku. Lagi pula undangan ini bersifat sementara. Aku kira kepergian kami nanti tidak akan lama." jawab Amarsa Rawut, "Untuk apa menghadiri undangan segala pepesan kosong, Kakang. Mana kesetiaan mereka di saatsaat kita mengalami musibah?

Mana? Apakah mereka mau menengok kita?" Nalantili membarengi langkah Amarsa Rawut. Lelaki berkaki buntung ini mengumbar senyum.

"Justru kalau kita ke sana, mereka akan berhutang budi."

"Aku rasa kalian tidak perlu ke sana. Biar saja. Toh masalah itu urusan orang-orang Tenggara. Untuk apa?"

Pendekar Gelugut Sutra mendengus. "Untuk menunjukkan bahwa nama besar Perguruan 'Guci Perak' masih ada. Dan mereka harus tahu, tanpa Ki Raka Banjaran kita masih mampu membantu mereka." ujarnya. Nalantili tidak bisa berkata apa-apa. Sampai di sebuah ruangan Amarsa Rawut menduduki sebuah kursi besar yang menghadap ke pelataran gedung di mana semua murid jelas kelihatan sedang berlatih.

"Situasi sekarang sudah aman. Aku berharap kau bisa menjaga mereka, Nalantili." kata Pendekar Gelugut Sutra. Matanya mengarah ke pelataran gedung. Sebentar kemudian ia melirik pada gadis Nalantili. Nampak kecut wajah gadis itu. Pendekar Gelugut Sutra tidak bisa menahan tawanya.

"Aku tahu apa yang sebenarnya kau pikirkan, Nalantili. Aku sudah dapat menerka sikapmu selama ini. Percayalah dalam waktu kurang lebih satu minggu kami akan kembali. Aku juga tidak akan membiarkan Amarsa Rawut kecantol gadis lain." goda lelaki setengah tua ini.

"Paman...." sela Nalantili. Amarsa Rawut hanya menunduk.

"Sudahlah, besok kami berangkat. Suruh pelayan mempersiapkan bekal serta kuda. Dan kau jangan berpikiran macam-macam." pesan Pendekar Gelugut Sutra. Setengah berlari Nalantili menuju ke belakang. Entah seperti apa rupa gadis itu setelah mendengar ucapan Pendekar Gelugut Sutra. Ke belakangpun ia tidak punya maksud apa-apa. Selain menyembunyikan perasaan malu bercampur girang.

***

Terik matahari mencorot masuk menerobos lebatnya hutan Kumbarawa. Siapapun tahu kalau hutan tersebut sangatlah rawan dan menakutkan. Pohonpohon besar yang malang melintang sekitar hutan bagaikan sekumpulan raksasa. Alang-alang yang hampir setinggi manusia menghampar di sekitar hutan.

Jalan yang cuma satu-satunya menghubungkan ke sebuah desa nampak lengang. Tidak segelintir orangpun yang berani melintasinya. Kalaupun ada penduduk hutan terpencil nampak tengah mencari kayu bakar, mereka tidak berani sampai sejauh itu.

Tapi siang itu suasana hutan itu tidak sepi seperti biasanya. Serombongan orang berjalan menyeruak lebatnya alang-alang. Lalu mereka menyusuri jalan tanah. Dua orang yang berjalan paling depan membabatkan golok-golok mereka menebas alangalang membuat jalan.

Di belakangnya lima ekor kuda berjalan berbaris. Dilihat dari cara berpakaian mereka, sudah pasti kelima penunggang kuda itu orang-orang rimba persilatan. Apalagi masing-masing di pinggang mereka terselip senjata. Selama dalam perjalanan itu pula orang yang menunggangi kuda paling depan selalu mengawasi jalan yang mereka lalui.

Sebenarnya pula rombongan ini tidak lain dari Perguruan 'Angin Manik'. Tujuan mereka bukan lain untuk memenuhi undangan Kuncoro Sona. Dalam hal ini semua pentolan 'Angin Manik' yang berjumlah lima orang itu, turun semua.

Nama besar Perguruan 'Angin Manik' yang bercokol di daerah Utara sangatlah ditakuti oleh golongan sesat. Di samping itu guru besar mereka, Ki Geri Mojang memang paling telengas terhadap tokoh-tokoh aliran sesat. Meskipun usianya hampir mencapai tiga perempat abad masih nampak gagah dan tegar. Rambut serta janggut yang memutih sebatas dada menambah angker sosok Ki Geri Mojang.

Saat itu ia berjalan paling depan menunggangi kudanya. Keempat muridnya yang paling tangguh mengikuti. Mereka tahu untuk mencapai Partai 'Dewa Tenggara' akan memakan waktu yang sangat lama. Kalau mereka sekarang berusaha menembus hutan Kumbarawa, itu berarti mereka baru melakukan separuh perjalanannya.

"Guru, kita telah menembus alang-alang membosankan ini. Sebaiknya kita beristirahat saja di sini. Apakah guru tidak haus atau lapar?" kata salah seorang muridnya yang bernama Ageng Sura. Kuda tunggangannya membawa beban lebih banyak.

"Baiklah! Kita memang telah seharian penuh belum mengisi perut. Sebaiknya di sana saja. Pohon rindang itu cukup untuk kita berteduh." jawab Ki Geri Mojang. Ia membawa kudanya mengarah pada sebatang pohon. Sebelum Ki Geri Mojang sampai, dua orang masih memegang golok membersihkan tempat itu.

"Satu harian lagipun kita belum tentu sampai. Buat apa terburu-buru." ujar Tirta Amoksa yang mulai berjalan bareng dengan Ageng Sura.

*

* * 3

Lima orang pentolan Perguruan 'Angin Manik' ini duduk berderet setengah melingkar. Ki Geri Mojang paling tengah. Mereka melepaskan haus dan lapar di situ.

Dua orang yang bersenjatakan golok merupakan penunjuk jalan. Juga ikut bersantap. Saat itu matahari hampir condong ke Barat. Langit di atas kemerahan. Suara binatang malam mulai berderik nyaring.

Ki Geri Mojang nampak heran melihat dua orang penunjuk jalannya cepat-cepat menghabiskan makannya. Apalagi ketika kedua orang itu mengemasi barang-barang serta menyiapkan lagi kuda-kuda mereka. "Ada apa, Sambang?" tanya Ki Geri Mojang tak habis pikir.

"Kita tidak bisa bermalam di sini, Tuan. Hutan ini sangat rawan. Kami sering mendengar di sini sering muncul setan perempuan jahil. Sudah banyak orangorang yang menjadi korbannya."

"Setan perempuan?" ulang Ageng Sura. Ia telah selesai makan.

"Betul, Den. Sebentar lagi hari akan gelap. Lebih baik kita beristirahat di desa sana saja. Dari sini dua jam perjalanan." kata salah seorang penunjuk jalan sewaan.

Ki Geri Mojang berpikir sejenak. Empat orang muridnya memandang ke arah yang ditunjuk oleh dua orang sewaan. Di sana memang ada sebuah desa. Tidak ramai karena terpencil. Mereka bisa melihatnya meski tertutup kabut. Ki Geri Mojang bangkit berdiri.

"Kalau begitu cepat kemasi semua barangbarang. Tempat ini memang kurang baik." ujar Ki Geri Mojang. Empat muridnya menurut. Tirta Amoksa nyeletuk.

"Aku tidak percaya dengan segala setan perem-

puan, Guru. Paling-paling mereka cuma sekelompok perampok. Kenapa kita tidak tunggu saja mereka sekalian di sini. Kita bisa menumpas mereka agar hutan ini menjadi aman."

"Betul, Guru. Apa yang dikatakan Tirta Amoksa adalah benar. Bukankah guru paling pantang melihat seorang tokoh sesat?" Murid paling bungsu mengeluarkan pendapat.

"Murid-muridku.... Kita tidak punya waktu untuk menghadapi mereka. Undangan Kuncoro Sona lebih penting. Menghadapi setan-setan hutan Kumba Rawa hanya membuang tenaga percuma. Mari berangkat." Ki Geri Mojang melompat ke atas pelana. Dua orang penunjuk jalan itu menuntun kudanya.

Kembali rombongan itu melanjutkan perjalanan. Tapi baru saja mereka membawa kudanya beberapa langkah.... "Hik-hik-hik-hik-hik...!" Terdengar tawa yang mengerikan. Jelas tawa itu mengambang di atas rerimbunan daun. Tawa itu berpindah-pindah seakan-akan memutari mereka. Ki Geri Mojang berusaha tetap tenang. Empat orang muridnya bersiap-siap menarik pedang. Sedangkan dua orang sewaannya sebagai penunjuk jalan gemetar menahan takut.

"Orang-orang 'Angin Manik' tak tahu penyakit. Berani-beraninya memasuki wilayah kekuasaan orang. Apa kalian sudah punya nyawa cadangan?" Suara yang melengking itu seperti menusuk telinga.

"Tunjukkan rupa mu, Perempuan Iblis! Jangan cuma berkoar dan menakut-nakuti orang!" bentak Ki Geri Mojang.

"Hik-hik-hik-hik   Buat apa menunjukkan diri.

Tanpa berhadapan pun aku bisa membunuh kalian satu persatu!" Keempat murid Ki Geri Mojang serempak mencabut pedang. Tapi dua orang sewaannya malah lari ketakutan. Dua orang ini tidak memperdulikan majikannya lagi. Larinya tunggang langgang meninggalkan orang-orang 'Angin Manik'.

"Kalian jangan pergi...!" teriak Ki Geri Mojang.

Saat itu bercuitan nyaring benda-benda kecil meluncur deras. Oleh Ki Geri Mojang nampak jelas benda-benda kecil itu merupakan beberapa gelintir senjata rahasia. Majikan 'Angin Manik' ini menghela nafas saat senjata-senjata rahasia itu mengenai kedua orang yang lari terbirit-birit, mereka tewas. Dari kejauhan ia bisa melihat bekas-bekas lukanya seperti terbakar serta masih mengeluarkan asap.

"Racun Kuku Wesi!" desis Ki Geri Mojang dengan mata melotot. Ageng Sura memimpin saudarasaudara seperguruannya turun dari kuda. Keempatnya mengawasi sekitar Hutan Kumba Rawa dengan pedang terhunus.

"Hik-hik-hik-hik-hik.... Cukup jeli juga mata rentamu, Ki. Tidak percuma semua tokoh sesat bertekuk lutut di bawah kakimu. Kiranya di Utara banyak bercokol pendekar-pendekar tangguh!"

"Turunlah, Nyi Awak Ceger! Belangmu sudah ketahuan!" bentak Ki Geri Mojang.

"Baik! Tapi sebelumnya sambut dulu ini! Hreaaaaa...." Kembali senjata-senjata rahasia bercuitan menghujam deras. Kali ini senjata-senjata sebesarbesar biji jagung di keluarkan lebih banyak. Setengah mati empat orang murid andalan Ki Geri Mojang menyambut dengan pedang. Rupanya lemparan lemparan itu disertai dengan tenaga dalam yang sangat tinggi. Benda-benda tajam itu banyak yang menancap di pedang mereka.

Ki Geri Mojang sendiri terus memutar kedua lengannya. Iapun tidak kalah hebat mengeluarkan tenaga dalam. Selama tangannya berputar suara angin menderu-deru. Manakala senjata rahasia milik Nyi Awak Ceger terus mencecar.

Senjata-senjata rahasia berpentalan saat membentur tenaga dalam putaran Ki Geri Mojang. Dua butir senjata rahasia sempat meleset. Untung cuma mengenai lengan baju. Meskipun begitu Racun Kuku Wesi dapat membakar.

Ki Geri Mojang tidak bisa menghadapi terus menerus dengan cara seperti itu. Setelah ia memadamkan api yang membakar lengan baju. Kakek berambut serta janggut memutih itu melesat tinggi dari atas kuda.

Saat tubuhnya melesat itu Ki Geri Mojang melepaskan pukulan.. Tidak kepalang menghantam deras.

"Aahk!" Terdengar pekikan nyaring. Rerimbunan daun di atas gemeresek. Ki Geri Mojang menambahkan satu pukulan lagi ke arah itu. Namun hantaman yang terakhir itu seperti mengenai tempat yang kosong. Ia jadi tidak habis pikir ketika melihat para muridnya masih sibuk mengatasi serbuan-serbuan senjata beracun.

"Hati-hati! Nyi Awak Ceger sangat licik! Kerahkan terus jurus 'Membentang Pelangi'. Aku yakin kita telah terkepung oleh manusia-manusia laknat!" teriak Ki Geri Mojang. Ia sendiri tidak sampai hati melihat keempat muridnya setengah mati menghadapi serangan. Maka hanya dengan sekali lompatan saja ia sudah berada di antara keempat muridnya itu.

"Hik-hik-hik-hik.... Kalian tidak bakal sampai ke Tenggara! Kalian akan bergelimpangan menjadi mayat di sini!" Suara Nyi Awak Ceger menggema lagi. Saat itu pun ia berhenti melemparkan senjata-senjata beracun.

Di luar dugaan dari atas rerimbunan daun berlompatan dua orang bertubuh kekar telanjang dada. Keduanya bersenjatakan sebuah benda berduri. Lalu menyusul lagi seorang perempuan cantik bertubuh ramping. Ia hinggap di tanah tanpa mengeluarkan suara. Berpakaian sangat ketat menunjukkan bentuk tubuh yang padat berisi. Di wajahnya menggambarkan seorang wanita yang sangat cantik. Meskipun nampak kerut-kerut kulit yang menandakan telah termakan usia. Mereka menyeringai menatap kelima orang dari Perguruan 'Angin Manik' ini. Ki Geri Mojang balas menatap tajam.

"Benar kata muridku tadi. Biang kerok persilatan memang harus ditumpas!"

"Perkiraan ku juga demikian. Orang-orang yang menghalangi partai sesat pun musti disingkirkan!" jawab Nyi Awak Ceger menunjukkan kerut alis yang memanjang bagai putri Cina.

"Guru, kita telah terjebak. Bagaimana mungkin mereka bisa menghadang. Pastilah Kuncoro Sona telah mengkhianati kita!" ujar Ageng Sura.

"Sebelum kita membinasakan mereka, mana kita tahu siapa biang keroknya. Kepung!" perintah Ki Geri Mojang.

Nyi Awak Ceger bersama kedua orang pengawalnya berdiri tenang. Ketiganya ini langsung berlompatan saat orang-orang 'Angin Manik' menyerang serempak. Nyi Awak Ceger sengaja memilih lawan pada Ki Geri Mojang. Sedang dua orang pengawalnya yang bersenjatakan gada berduri menghadapi ke empat murid andalan Ki Geri Mojang.

Benturan-benturan senjata mereka berdentingan saat beradu. Babatan-babatan pedang berkelebat tanpa ampun. Namun dua orang telanjang dada ini cukup tangguh untuk mengelakkannya. Malah kedua gada berduri mereka membalas serangan-serangan itu. Menghadapi Nyi Awak Ceger, majikan 'Angin

Manik' ini agak kurang sabaran. Sebentar-sebentar ia menghardik. Karena jurus-jurus yang dikeluarkan perempuan tangguh ini bersifat sangat genit dan merayu. Setiap hantaman Ki Geri Mojang selalu luput. Hanya dielakkan begitu saja. Dan gerakan itu tidak lebih bagaikan seorang penari yang meliuk-liuk.

Terkadang pula majikan 'Angin Manik' ini sering merasa terpengaruh oleh bentuk tubuh Nyi Awak Ceger yang menggiurkan itu. Tentu saja kemarahan Ki Geri Mojang terpancing dengan sendirinya. Gerakan yang sembrono itu membuat Nyi Awak Ceger lebih mudah melancarkan serangan.

Seringkali cakar-cakar besinya yang sepanjang sepuluh senti meter nyaris merobek muka lawannya. Hal itu membuat Ki Geri Mojang jadi kelabakan. Ia baru kali ini menghadapi tokoh sesat macam Nyi Awak Ceger. Kiranya perempuan cabul yang selama ini ditakuti oleh kalangan persilatan, bukanlah cerita bohong.

Sudah banyak orang-orang dari aliran lurus tergiur dan jatuh ke dalam pelukannya untuk kemudian menjadi korban. Dengan cara itulah biasanya perempuan setan ini melumpuhkan lawan-lawannya. Tapi hari ini, Nyi Awak Ceger sengaja tidak mengeluarkan rayuan maut. Ia malah langsung menyerang bagai orang kesurupan. Dan yang lebih aneh lagi dia bertujuan menghalangi orang-orang 'Angin Manik'. Dari mana setan perempuan ini berikut dua orang pengawalnya tahu kalau mereka akan singgah memenuhi undangan Partai 'Dewa Tenggara'. Kalau begitu undangan rahasia itu telah tersebar luas, pikir Ki Geri Mojang.

Ia tersentak kaget saat Nyi Awak Ceger menjentikkan kesepuluh jari besinya. Maka meletiklah tahi kuku besi bagai pasir bara. Secepat itu pula majikan 'Angin Manik' gesit merunduk. Racun Kuku Wesi memang luput, tapi tahi kuku besi yang merupakan senjata rahasia Nyi Awak Ceger segera terus melesat mengenai sasaran lain.

Lebih terkejut lagi ketika mendengar teriakan dari dua orang murid Ki Geri Mojang. Rupanya sasaran luput senjata beracun itu mengenainya. Kontan kedua orang itu berkelojotan tewas.

Demi melihat kedua muridnya tewas dengan seketika, Ki Geri Mojang jadi kehilangan

kontrol. Hal itu memudahkan Nyi Awak Ceger mudah melepaskan pukulan..., "Deees!" Jotosan itu nampak pelan, Tapi tak urung tubuh majikan 'Angin Manik' ini bergelintingan.

Disusul pula dengan ambruknya tubuh Ageng Sura dan Tirta Amoksa. Kepala kedua murid Ki Geri Mojang ini pecah dengan isi kepala berhamburan. Tentu saja berkat hantaman kedua gada berduri. Kedua pengikut Nyi Awak Ceger makin buas menghancur leburkan murid-murid yang sebenarnya sudah tewas semua. Tentu saja hal ini membuat darah Ki Geri Mojang tersirap. Ia hampir tidak percaya melihat keempat muridnya tewas mengerikan.

*

* *

4

Serta merta Ki Geri Mojang melompat menerjang kedua laki-laki telanjang dada. Kekalapannya membuat lupa diri. Ki Geri Mojang melancarkan beberapa hantaman. Tapi ternyata ia terjatuh lebih dahulu. Dengan tarian mautnya, Nyi Awak Ceger me-

nyapu bagian bawah. Rupanya itu yang membuat Ki Geri Mojang sampai terguling hebat. Bersamaan dengan itu pula dua orang pengikut iblis perempuan ini geram menghantamkan gada berduri mereka.

"Bledar...! Bledaaaar...!" Ki Geri Mojang bergulingan terus menghindari hantaman-hantaman itu. Kedua orang ini seperti tidak memberi kesempatan majikan 'Angin Manik' untuk bangkit. Apalagi Nyi Awak Ceger tidak pernah berhenti menjentik-jentikkan kesepuluh jari besinya membuat tahi-tahi kuku besi menghujam tanpa bisa dihindari.

"Wuaaaaaa...!" Seluruh pakaian Ki Geri Mojang terbakar. Nyi Awak Ceger sengaja menyiksanya dengan cara itu. Tubuh renta itu terbakar bergulingan oleh api yang meletup-letup.

"Perempuan setan! Kenapa tidak kau bunuh saja aku.... Wuaaa...!" teriak Ki Geri Mojang.

"Kau ingin cepat-cepat mampus? Baik!" Nyi Awak Ceger memberi kerlingan mata genit pada dua pengikutnya. Maka dengan langkah-langkah yang gegap kedua orang itu mendekati tubuh renta yang masih terus bergulingan.

Mendadak saja kedua orang itu menghantam kedua kaki Ki Geri Mojang dengan gada berduri mereka.... "Deeer!" Hantaman itu serempak "Wuaaaaaa!"

Ditambah lagi dengan hantaman yang menghancurkan kedua lengannya.

Paling terakhir Ki Geri Mojang tidak sempat berteriak lagi. Karena dua hantaman gada berduri sekaligus meremukkan kepalanya. Darah berceceran di sekitar permukaan tanah. Dua orang pengikut Nyi Awak Ceger nampak puas, begitu juga dengan majikannya. Tawanya yang mengikik terus mengalun. "Kalian cepat ke Tenggara. Katakan padanya kalau kita telah membereskan tua bangkotan ini." perintah Nyi Awak Ceger. Maka tanpa berani membantah keduanya langsung melesat meninggalkan Nyi Awak Ceger tengah menghitung korban.

"Jangan lupa setelah itu kalian harus menemuiku kembali untuk menjalankan tugas yang sama!" pesannya tak ketinggalan. Sehabis bicara begitu Nyi Awak Ceger melangkah. Gayanya bagai gadis remaja. Selama melangkah ia terus tertawa cekikikan.

***

Wintara bersama kudanya melangkah memasuki sebuah desa. Tujuannya sebuah kedai sekaligus penginapan yang cukup ramai. Tapi ia tidak jadi berhenti di situ ketika dilihatnya seorang tua tengah mabuk berat menghadapi belasan pundi arak. Tidak satupun tamu-tamu yang lain berani mendekat.

Semuanya memilih tempat yang agak jauh. Mereka diam-diam menahan tawa melihat kakek pemabuk itu mengoceh. Wintara sendiri hanya tersenyum merasa ditatap ketika melewatinya di muka kedai.

"Wei. Anak muda!" Jelas teguran itu di arahkan pada Wintara.

"Ke marilah! Temani aku minum. Buat apa melakukan perjalanan panjang tanpa menghibur diri. Lebih baik kita bersenang-senang dulu di sini!" Nada suara kakek itu mengambang. Sesekali pula ia sesenggukan. Wintara diam memperhatikan kakek itu menghabiskan pundi arak yang keempat belas.

"Kenapa semua orang tidak mau menemani aku minum? Hah? Kenapa? Aku memiliki uang yang sangat banyak! Kalian tidak perlu takut! Aku bukan bajingan! Bukan orang jahat! Juga bukan perampok! Melainkan si tua keropos yang hampir mampus. Ayo minum! Jangan ragu-ragu, anak muda." Nada suaranya makin meliuk-liuk.

Merasa mendapat kesempatan untuk beristirahat. Wintara terpaksa menambatkan kudanya di muka kedai. Seorang pelayan mendekati untuk menyambut. Saat itu pula pelayan penginapan berbisik....

"Tuan, sebaiknya jangan mengikuti ajakannya. Kakek tua itu terkenal dengan sebutan 'Siluman Arak Sakti'. Dia selalu minum habis-habisan di sini kalau hendak menghadapi satu urusan dengan orang orang persilatan." Wintara sudah terlanjur melangkah. Tidak mungkin ia mundur kembali.

"Duduklah di sini, Anak muda. Hhhhmmm. Siapa namamu?" Kakek itu bertanya dengan mata menyipit. Wintara menggeser kursi kayu yang berhadapan.

"Terimakasih, Kek. Namaku Wintara. Memang aku telah menempuh perjalanan yang sangat jauh." jawab Wintara. Iapun duduk berhadapan. Kakek yang disebut 'Siluman Arak Sakti' ini langsung menyodorkan sepundi arak.

"Minum.... Minum...." Kakek itu berusaha ramah, namun dalam keadaan mabuk seperti ini tingkah lakunya jadi sangat lucu. Wintara memandang berkeliling. Semua tamu yang berada di meja-meja lain nampak menertawakannya.

"Tidak bolehkah kalau aku hanya menemani kakek di sini?" ujar Wintara menolak secara halus.

"Heh-heh-heh-hik! Tak apa... tak jadi soal. Baru kali ini aku merasa ditemani di saat minum arak. Siapa namamu tadi? Oh ya Wintara...! Hik! Yah Wintara! Aku masih ingat betul. Hik! Kenapa kau tidak mau minum? Hik!"

"Dulu beberapa tahun yang lalu, aku gemar sekali minum arak. Hampir setiap malam ku habiskan waktuku dengan minum ark. Tapi sekarang entah kenapa aku mulai tidak menyukai arak." jawab Wintara sopan dan agaknya kakek 'Siluman Arak Sakti' ini tidak tersinggung. Malah...

"Hak-hak-hak-hak...." Kakek ini tertawa ngakak. Ujung hidungnya nampak merah. Tak tertahan pula ingusnya meleleh dari lubang hidung. Cepat pula ia berusaha menyeka. Lalu...

"Aku malah terbalik. Dulu. Hik!... Aku paling anti dengan yang namanya arak. Di pesantren paling fanatik. Tapi justru sekarang tidak boleh ketinggalan arak! Itu berarti kita memiliki kehidupan yang berbeda. Hik! Seperti api dengan air."

"Belum terlanjur untuk merobah semua ini, Kek." Wintara ketelepasan bicara. Ia sadar kalau ucapannya kurang pantas untuk orang setua ini.

"Apa kau tidak mendengar apa yang diucapkan oleh pelayan itu? Aku sendiri kurang suka orang-orang persilatan menyebut diriku 'Siluman Arak Sakti'. Hik! Tapi lama kelamaan kerasan juga aku menyandang gelar itu. Hik! Arak pun seperti sebagian nyawaku." Agak tersentak Wintara mendengar ucapan kakek pemabuk ini.

Bagaimana tidak? Pelayan tadi hanya berbicara dengan Wintara. itupun secara berbisik yang tidak mungkin orang lain dengar. Tapi dalam jarak sejauh itu kakek pemabuk ini dapat mendengar apa yang di ucapkan pelayan itu. Pastilah kakek 'Siluman Arak Sakti' ini benar-benar seorang berilmu tinggi.

Wintara masih terheran-heran bercampur kagum. Kakek itu mengeluarkan sesuatu dari tas kantong di pinggangnya. Segulungan kertas. Di hadapan Wintara ia membuka gulungan kertas itu.

"Kalau aku sampai mabuk sedemikian rupa, undangan Kuncoro Sona inilah penyebabnya. Jangan heran, Anak muda. Semua orang sudah tahu perangai ku Hik!"

"Tidak masuk akal. Hanya karena kertas undangan, kenapa harus serius sekali?" bisik Wintara dalam hati.

"Perjalanan ke Tenggara sangatlah jauh. Orangorang yang buta sekalipun tahu kalau menempuh perjalanan ke sana tidak mudah. Sebagai 'Siluman Arak Sakti' tanpa mabuk seperti ini tidak mungkin bisa menjaga diri." jelas kakek ini. Nada suaranya sangat pelan. Wintara mengerutkan alis demi mendengar penjelasan itu.

Pada saat yang sama, dua orang telanjang dada jalan beriringan memasuki desa. Masing-masing kedua lengan mereka menggenggam senjata gada berduri. Kehadiran mereka sama sekali tidak menjadi perhatian orang-orang yang berlalu lalang. Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang persilatan selalu membawa senjata. Dan setiap orang yang berlalu lalang di situ memang membawa senjata. Jadi tidak ada yang perlu diherankan.

Keduanya melangkah terus, tujuannya pada sebuah kedai yang sangat ramai. Tapi sebelum mereka mencapai kedai itu, keduanya menghentikan langkah.

Pandangan mereka mengarah pada Wintara yang duduk berhadapan dengan Kakek 'Siluman Arak Sakti'. Sebenarnya yang membuat mereka berhenti melangkah tidak lain karena segulungan kertas berada dalam tangan kakek itu.

"Pitu Langsa, kakek peyot itu juga memiliki undangan Kuncoro Sona." Salah seorang telanjang dada itu menyikut temannya.

"Menurut penglihatanku, dialah 'Siluman Arak Sakti'. Tapi terhadap seorang pemuda yang minum bersamanya aku tidak tahu." jawab temannya yang tidak lain bernama Pitu Langsa.

"Mumpung ada di depan mata. Kita habisi saja sekalian dua-duanya. Daripada nantinya akan merepotkan."

"Tanpa Nyi Awak Ceger mana bisa bertindak sembarangan. Lagi pula kehebatan 'Siluman Arak Sakti' bukan nama kosong!" ujar Pitu Langsa.

"Dia dalam keadaan mabuk, Pitu Langsa. Ini kesempatan kita. Sekarang atau nanti nasibnya akan sama. Mereka pasti mampus."

Baik Wintara maupun Kakek 'Siluman Arak Sakti' masih terlibat dalam suatu percakapan. Wintara tidak bosan-bosan menjawab atau meladeni pembicaraan yang nglantur. Malah kakek yang sudah berjalan sempoyongan ini terus memesan beberapa pundi arak lagi. Melihat kakek ini kembali membawa dua buah pundi arak, Wintara menggeleng-gelengkan kepala.

Hati-hati sekali kakek itu meletakkan pundipundi arak di atas meja mereka. Wajahnya yang lucu mengangguk-angguk seperti menghitung pundi-pundi yang kosong berserakan. Tapi mendadak saja... "Braaaak...! Praaaaaang!" Dua buah pundi arak yang baru saja diambilnya hancur. Tahu-tahu saja sebuah gada berduri menghantam meja mereka.

Para tamu yang berada di meja lain tersentak kaget. Hampir semuanya serempak bangkit ketakutan! Karena mereka melihat dua orang telanjang dada mengurung kakek serta pemuda yang sejak tadi menjadi perhatian mereka.

"Dua lalat telah mengusik kita, Anak muda. Mereka betul-betul tidak tahu penyakit." ujar Kakek 'Siluman Arak Sakti' tenang. Wintara sendiri seolaholah tidak perduli dengan kemunculan dua orang telanjang dada itu. "Kakek bonyok! Sebenarnya kami tak akan mengusik kalau saja kalian tidak memenuhi undangan Kuncoro Sona. Bertemu Kami, sama saja menghantarkan nyawa!" gertak Pitu Langsa. Sebelah lengannya siap menghantam gada berduri.

Di luar dugaan kakek ini menyentakkan tangannya ke samping. "Beg...!" Pitu Langsa memekik terhuyung. Dalam posisi duduk begitu ia melepaskan tendangan. Tubuh Pitu Langsa yang tadi hanya terhuyung, sekarang malah mencelat sampai ke luar kedai. Sudah tentu seorang temannya lagi tidak tinggal diam. Dengan teriakan yang menakutkan. Diarahkan gada berdurinya menghantam kepala.

Tapi cepat Kakek 'Siluman Arak Sakti' mengangkat meja sehingga hantaman itu luput. Dibarengi pula dengan sebuah hantaman yang menembus permukaan meja. Tak urung tinju kakek pemabuk ini nyeplos menghantam perut. Pemilik kedai nampak belingsatan. Ia merasa akan mendapat kerugian yang sangat besar.

*

* *

5

Situasi meja sudah berantakan, Wintara tetap tenang menyaksikan kakek itu memamerkan kebolehannya. Pemilik kedai sudah pucat pasi.

"Tenang, Ki.... Semua kerusakan ini akan kuganti. Kau tahu bukan? Aku tidak pernah cacad!" Sambil berkata begitu, Kakek 'Siluman Arak Sakti' berjumpalitan ke luar. Menyusul kedua orang telanjang dada. Dua orang ini malah menyambut dengan babatan-babatan gada berduri.

Meskipun nampak seloyongan hantamanhantaman itu dapat dielakkan. Gerakan-gerakan yang sangat licin bagai belut dan sangat aneh membuat Wintara semakin kagum. Mungkin itu yang dinamakan 'Jurus Pemabuk Meminum Arak'. Semua gerakannya nampak lemah dan gerakannya dapat terlihat mudah. Namun semua itu hanyalah pancingan belaka. Justru dari gerakan-gerakan yang lemah itu dua orang yang tak lain para pengikut Nyi Awak Ceger tidak menyangka, kalau setiap gerakannya selalu disertai tenaga dalam yang sangat tinggi. Sehingga dua orang lawannya ini begitu kewalahan menghadapinya.

Diam-diam Wintara bangkit dari kursi kayu. Dihampiri pemilik kedai. Pendekar Kelana Sakti yang mendekati ini membuat pemilik kedai semakin ketakutan.

"Ki, berikan beberapa pundi arak lagi. Jangan khawatir. Kakek itu akan membayar semuanya." pinta Wintara,

"Tapi tuan, persediaan arak tinggal dua pundi lagi." jawab pemilik kedai gemetaran. "Tak apa. Berikan pundi-pundi arak itu!" Setelah mendapatkan dua buah pundi arak, Wintara melangkah ke luar. Pertarungan Kakek 'Siluman Arak Sakti' belum berakhir. Kedua pengikut Nyi Awak Ceger nampak gigih memberi hantaman-hantaman gada berduri yang mengarah tanpa ampun. Semua orang nampak ngeri menyaksikan pertarungan itu. Tak urung tempat halaman kedai itu jadi penuh sesak.

"Kakek busuk! Kau tidak pantas menghadiri undangan Kuncoro Sona. Sebaiknya mampus saja!" Pitu Langsa memberi hantaman yang mengarah ke perut.

"Apa urusanmu, cecurut-cecurut bengek!" Kakek 'Siluman Arak Sakti' mundur ke belakang. Dari arah belakang itu pula mengarah satu hantaman gada berduri. Tapi tanpa melihat lagi kakek ini melepaskan tendangan ke belakang.... "Deeer!" Pembokong itu ambruk berguling. Melihat itu pun Wintara yang sudah berdiri di depan kedai berteriak....

"Kakek...! Apakah kau tidak merasa kehausan? Terima ini!" Wintara melemparkan sebuah pundi. Kakek pemabuk ini melesat menyambar pundi arak yang melayang di udara.

"Bagus, Wintara. Nampaknya kau mulai memahami jiwaku!" Kakek ini hinggap di tanah dan langsung dalam posisi menenggak arak.

Kedua orang bersenjata ini bersiap-siap menyerang lagi. Dengan serempak mereka maju menerjang, namun....

"Pruuuuuuts...!" Kakek 'Siluman Arak Sakti' menyemburkan arak dari mulutnya. Terasa sekali hawa panas menyengat pergelangan tangan Pitu Langsa saat arak menyiram lengannya. Gada berduri sampai terlepas dari genggamannya.

Belum habis rasa panas itu hilang. Kakek pemabuk melesat ke atas seraya ia melepaskan tendangan memutar di udara.

"Bug...! Bug!" Tak urung dua lawannya bergulingan lagi.

Siluman Arak Sakti sendiri membiarkan dirinya terjatuh di tanah. Kedua lawannya nampak geram melihat sikap kakek pemabuk seperti berbaring menenggak arak. Pitu Langsa menerjang tanpa senjatanya. Sahabatnya mengikuti dengan hantaman gada berduri lebih dahsyat. Tenang sekali kakek pemabuk salto menyambut. Dua jotosannya diarahkan kuat-kuat.

"Jdeeer!" Keduanya mencelat tak kepalang. Mulut mereka menyembur darah. Ketika Pitu Langsa bangkit bermaksud menyerang lagi, sahabatnya menarik.

"Tidak perlu. Kakek sialan ini bukan lawan kita!

Cepat merat."

"Tapi senjataku terjatuh di tanah!" jawab Pitu Langsa.

"Tanpa senjatapun tak jadi soal! Daripada harus mampus di tangan kakek kunyuk itu."

Tanpa membuang waktu keduanya berlari menjauh. Mereka menerobos kerumunan orang yang menyaksikan pertarungan tadi. Kakek 'Siluman Arak Sakti' memandang dengan tubuh yang seloyongan dan masih mementang jurus.

"Hooooy   Pada mau lari ke mana!"

teriak si kakek. Matanya mengarah pada senjata gada berduri tergeletak di tanah.

"Senjata butut kalian tertinggal! Ambil saja buat pengusir lalat!" bentaknya sambil mengibaskan sebelah kakinya menendang senjata itu. Gada berduri melayang menyusul kedua orang pengikut Nyi Awak Ceger. Dan sungguh kebetulan pula senjata itu menghantam pantat Pitu Langsa "Waadooooo!"

Kakek 'Siluman Arak Sakti' tidak perduli orangorang ramai mengerumuni tempat itu. Ia melangkah sempoyongan menghampiri Wintara. Sementara itu Pitu Langsa telah memungut kembali senjatanya dengan pantat yang bercucuran darah. Entah ke mana mereka lari. Kakek pemabuk ini sengaja tidak mengejarnya.

"Siapa mereka itu, Kek. Kenapa mereka tidak suka kakek memenuhi undangan Kuncoro Sona." tanya Wintara sambil mengikuti kakek pemabuk memasuki kedai kembali.

"Sulit untuk mengenali siapa mereka. Tokohtokoh sesat begitu banyak dalam rimba persilatan. Mereka tahu kalau undangan Kuncoro Sona bermaksud mengundang para pendekar dari segala penjuru." jawab si kakek. Langkahnya tertatih-tatih menuju pada pemilik kedai.

"Untuk apa Kuncoro Sona mengundang semua pendekar itu, Kek."

"Aku sendiri kurang jelas. Isi surat dalam undangan itu tidak disebutkan." jawab si kakek sambil merogoh tas kantong. bentar saja ia sudah mengeluarkan beberapa keping uang logam. Lalu ia menyerahkan kepada pemilik kedai yang langsung menghitung uang tersebut.

"Apa masih kurang?" tanya si kakek sambil merogoh lagi tas kantongnya.

"Ti-tidak, Kek.... Sudah lebih dari cukup. Hehe-he-he... terima kasih." jawab si pemilik kedai kegirangan mendapat bayaran dua kali lipat. Wintara menyerahkan satu pundi arak lagi pada Kakek Siluman Arak Sakti.

"Gelagatnya sudah tidak beres. Aku harus cepat-cepat ke Tenggara untuk memenuhi undangan Kuncoro Sona." ujar si kakek sambil mengikat dua buah pundi arak yang tadi diserahkan Wintara.

"Kau boleh ikut menemaniku, Wintara. Di sana kau akan bertemu dengan pendekar-pendekar tangguh." ajak kakek pemabuk. Sebelum menjawab Wintara tersenyum...

"Kebetulan sekali. Aku ingin tahu dunia ramai persilatan di Tenggara. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Sejak tadi kita sudah menjadi perhatian orangorang sini." ujar Wintara.

"Aku membawa kuda. Kita bisa menunggangi bersama." ajak Wintara.

"Bagus.... Bagus.... Kita akan lebih cepat sampai ke Tenggara." jawab si kakek sambil melangkah ke luar. Wintara melepaskan tali hambatan. Setelah itu pun ia langsung naik ke atas pelana. Si kakek menyusul. Hanya dengan sekali lompatan saja ia sudah duduk di belakang Wintara.

Beberapa pelayan membereskan meja dan kursi yang berantakan. Para tamu kembali tenang. Halaman kedai tidak lagi ramai seperti tadi. Semuanya kembali seperti semula.

Perkelahian antar pendekar sering terjadi di situ. Penduduk desa sudah tidak merasa aneh lagi. Wintara dan Kakek Siluman Arak Sakti dapat pergi begitu saja. Semudah ia melangkah membawa kudanya. Tanpa halangan apapun.

***

Amarsa Rawut menenggak persediaan airnya. Ia duduk di atas kuda. Di sebelahnya Pendekar Gelugut Sutra duduk pula menunggangi kuda. Kedua kuda mereka melangkah tenang menyusuri hutan lebat. Mereka melewati jalan setapak. Di mana kedua sisi jalan itu ditumbuhi oleh alang-alang setinggi kuda mereka.

Dua pendekar buntung ini berusaha menembus hutan Kumba Rawa. Kedua mata mereka tidak hentihentinya mengawasi sekitar jalan yang dilaluinya. Udaranya cukup sejuk. Tapi angin yang berdesir semilir membawa aroma yang kurang sedap. Sejak tadi Pendekar Gelugut Sutra mendengus-denguskan penciumannya.

"Bau bangkai." ujar Pendekar Gelugut Sutra.

Amarsa Rawut selesai mengikat kantong airnya.

"Di sekitar hutan ini masih banyak berkeliaran binatang-binatang buas. Paling-paling bangkai kambing atau apa. Tapi tak lama lagi kita akan mencapai sebuah desa. Kita bisa beristirahat di sana." jawab Amarsa Rawut. Kudanya mengangguk-angguk menggigiti alang-alang hijau yang menghalangi langkahnya. Begitu juga dengan kuda Pendekar Gelugut Sutra. Mereka membiarkan kuda-kuda mereka mengunyah alang-alang di sepanjang jalan. Sehingga tidak perlu re pot-repot memberi mereka makan.

"Perjalanan ke Tenggara sangat memakan waktu lama. Paling tidak kita masih harus menempuh dua hari perjalanan lagi," kata Amarsa Rawut.

"Yang jelas kita harus segera meninggalkan hutan busuk ini. Hidungku seperti mau meledak dijejali dengan bau busuk seperti ini." tukas Pendekar Gelugut Sutra.

Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang ada cuma satu-satunya dalam hutan Kumba Rawa. Tak lama mereka pun sudah menerobos dari hamparan alang-alang. Dan bukan main mereka terkejut ketika pandangan mereka langsung membentur pada tumpukan-tumpukan mayat mengerikan.

Amarsa Rawut membawa kudanya agak cepat ke tempat itu. Pendekar Gelugut Sutra hanya menunggu. Bau busuk bertambah santer. Karena dari tumpukan mayat itulah sumbernya. Pendekar dari 'Guci Perak' ini membolak balikkan tumpukan mayat dengan tongkatnya. Ia tetap duduk di atas pelana sambil memperhatikan wajah mayat-mayat itu satu persatu.

"Mereka adalah para pendekar dari Perguruan 'Angin Manik', Paman. Mereka telah tewas mengerikan. Siapa yang telah berbuat sekeji ini?"

Mendengar ucapan Amarsa Rawut, Pendekar Gelugut Sutra seperti tidak percaya. Ia terpaksa turun dari kudanya mendekati arah Amarsa Rawut, meskipun ia paling tidak suka dengan bau busuk. Sambil menutup kedua lobang hidungnya ia ikut memperhatikan raut-raut wajah yang masih di kenalinya.

"Astaga... Ki Geri Mojang bersama empat orang murid andalannya. Mereka penguasa daerah Utara yang paling ditakuti. Mengapa sampai tewas mengerikan di sini?"

Amarsa Rawut tidak langsung menjawab. Diperhatikannya tiga orang mayat termasuk Ki Geri Mojang dengan kepala remuk serta isi kepala menghambur dan hampir kering dikerubungi lalat. Dua orang lagi seperti terbakar hangus. Di tubuh mereka masih membekas luka-luka berlubang.

"Tidak salah lagi. Pasti mereka akan menghadiri undangan Kuncoro Sona. Seseorang telah mencegat dan membantai mereka. Kita pun harus hati-hati, Paman."

*

* *

6

Pintu gerbang serta pelataran sebuah gedung telah dipasang umbul-umbul. Hal itu sengaja dipasang untuk menandakan adanya suatu pertemuan bagi orang-orang persilatan. Tiap-tiap umbul-umbul itu dikibarkan pula bendera-bendera kebesaran bagi Partai 'Dewa Tenggara'.

Selain di depan pintu gerbang, di sekeliling gedung berderet para penjaga bersenjata lengkap. Mereka sengaja ditugaskannya untuk menyambut para undangan yang akan menghadiri pertemuan.

Di sebuah ruangan yang menghadap ke halaman gedung, Kuncoro Sona berkumpul bersama orang-orang kepercayaannya. Laki-laki berumur hampir lima puluh tahun itu memijit-mijit keningnya. Seperti tengah memikirkan sesuatu. Beberapa orang kepercayaannya duduk berkeliling berjumlah enam orang sejak tadi memperhatikannya. Mereka semua sebenarnya merasa risih sejak tadi berdiam diri.

Kuncoro Sona sebentar-sebentar bangkit dari tempat duduknya memandang ke luar. Dan selalu saja disertai dengan desahan nafas yang panjang.

"Kenapa sampai hari ini mereka belum juga berdatangan? Tidak tahukah dalam dua hari ini kita harus segera berkumpul." desah Kuncoro Sona.

"Urusan ini berada dalam tangan Nara Subala sebagai penyebar undangan. Apakah kau sudah betulbetul menyerahkan undangan pertemuan?" kata seseorang yang duduk di sebelah Kuncoro Sona.

Ucapan itu ditujukan pada seorang yang duduk di tengah deretan mereka. Dia adalah Nara Subala yang ditugaskan untuk menyebar undangan. Dia pula yang pernah datang ke Perguruan 'Guci Perak'. Juga menyebarkan pada perguruan-perguruan atau pendekar-pendekar lain.

"Semua undangan sudah ku sebar seperti apa yang ditugaskan oleh Kuncoro Sona. Semuanya kurang lebih lima belas tokoh aliran lurus. Kalau hari ini mereka belum satupun yang muncul mungkin saja mereka masih dalam perjalanan. Mungkin ada juga yang halangan." jawab Nara Subala.

"Apa yang dikatakan Nara Subala adalah benar, Kakang Kuncoro Sona. Perjalanan ke mari sangatlah jauh dan juga sangat sulit. Paling tidak mereka harus beristirahat selama dua kali di desa-desa terpencil." yang lain ikut menimpali.

"Jangan khawatir, semua perguruan dari partai manapun cukup menghormati kita. Tidak mungkin kalau mereka tidak datang. Toh pertemuan nanti guna membicarakan persekutuan aliran lurus yang selama ini mulai terancam." sela lainnya.

"Bukan apa-apa. Aku khawatir dari Perguruan 'Guci Perak' tidak menghadiri pertemuan nanti, karena saat mereka tertimpa musibah kita tidak bisa menjenguk mereka. Karena kita sendiri di sini sesungguhnya merasa kerepotan menghadapi seorang tokoh sesat yang mulai mengacak-ngacak partai 'Dewa Tenggara'. Kita sudah sungsang sumbel menghadapi perempuan setan macam Nyai Awak Ceger. Sampai mampus pun kita tidak bakal sanggup membasmi gerombolan mereka." tutur Kuncoro Sona.

"Sebenarnya kita masih sanggup menghadapi perempuan cabul itu, Kakang Kuncoro Sona. Hanya saja Nyi Awak Ceger licin bagai belut. Tidak mudah kita bisa menemukan mereka."

"Apakah kita tidak merasa malu? hanya menghadapi seorang iblis betina saja harus mengundang semua orang persilatan?! kata orang-orang aliran sesat nanti? Di kiranya kita main keroyokan." ujar Nara Subala.

"Bukan main keroyokan, Nara Subala. Kau salah berfikir. Dalam pertemuan nanti aku pun ingin tahu. Sampai di mana sepak terjang Nyi Awak Ceger. Aku tahu betul sifat rusuh betina cabul itu." kata Kuncoro Sona. Lalu ia meneruskan lagi kata-katanya...

"Selain itu kita akan memperlihatkan sebuah pusaka pada mereka."

"Apakah Kakang Kuncoro Sona tidak salah bicara. Untuk apa Pusaka 'Dewa Tenggara' diperlihatkan? Hal itu akan mengundang kerusuhan saja. Bisa-bisa Nyi Awak Ceger akan merecoki pertemuan nanti."

Mendengar kata-kata itu Kuncoro tersenyum. Ia menggelengkan kepala. Tatapannya terarah pada orang yang bicara tadi. "Sukur-sukur kalau betina cabul itu dapat mencium maksudku. Kalau dalam pertemuan nanti dia muncul. Kita semakin mudah meringkusnya." jawabnya tegas. Barulah mereka tahu maksud undangan pertemuan Kuncoro Sona.

"Tidak kusangka pikiran Kakang Kuncoro Sona begitu jernih. Kenapa tidak dari dulu saja kalau punya rencana seperti itu."

Mereka sudah membayangkan seandainya Nyi Awak Ceger benar-benar terpancing dengan rencana Kuncoro Sona. Perempuan yang sudah malang melintang merecoki dunia persilatan bagian Tenggara, sudah tentu Akan mengalami nasib sial.

Mereka berharap pula agar semua orang-orang persilatan dapat semua hadir. Namun di balik itu semua tanpa diketahui oleh mereka, Nyi Awak Ceger lebih cerdik. Sebenarnya perempuan itu sendiri tidak tahu maksud tujuan orang-orang 'Dewa Tenggara'. Kalau dia bersama dua orang anak buahnya selalu menjegal bahkan membunuhi setiap orang-orang aliran lurus yang akan menghadiri undangan Kuncoro Sona, itupun atas dasar suruhan seseorang yang bermaksud menggagalkan pertemuan nanti.

Sayangnya, dalang semua ini belum dapat dipastikan siapa orangnya. Kuncoro Sona sudah merasa curiga terhadap orang-orang kepercayaannya sendiri. Selama ini majikan 'Dewa Tenggara' hanya menyelidiki secara diam-diam. Bahkan sekarang ia mengatakan bahwa dalam pertemuan nanti akan menunjukkan barang pusaka milik Partai 'Dewa Tenggara'.

***

Dua Pendekar Buntung semakin menerobos ke luar dari hutan. Dari situ mereka sudah dapat melihat sebuah desa terpencil. Jaraknya masih sangat jauh. Rumah-rumah penduduk nampak bagai titik-titik yang berwarna warni. Dibatasi dengan sederetan pohon yang menghijau.

Demi melihat korban-korban dari Perguruan 'Angin Manik' mereka sengaja tidak berniat untuk meneduh di perbatasan hutan. Meskipun demikian, mereka selalu tetap waspada. Karena mereka yakin sekali para pembantai itu setiap saat akan muncul.

Kekhawatiran itu pun rupanya masih menggeluti mereka. Setelah menembus perbatasan hutan, bau busuk menyengat lagi Mereka bukannya tidak melihat kalau di hadapannya telah bergelimpangan belasan mayat. Hampir rata-rata keadaan mereka begitu mengerikan. Tubuh mereka penuh lubang. Dan masih mengeluarkan darah segar. Pastilah pertempuran itu belum lama berlangsung.

Yang lebih terkejut lagi saat mereka melihat seorang perempuan cantik duduk di atas batu yang menonjol. Pandangan perempuan itu tidak lepas menatap kedua Pendekar Buntung. Sebelah kakinya menginjak seonggok mayat penuh luka.

"Pendekar-pendekar gagah. Kalau tidak salah lihat, kalian pastilah dari Perguruan 'Guci Perak'." kata perempuan cantik yang tidak lain adalah Nyi Awak Ceger. Amarsa Rawut maupun Pendekar Gelugut Sutra balas menatap...

"Siapapun anda. Tentunya anda juga seorang yang gagah berani, Nyi. Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan orang-orang "teratai Kencana'." tanya Gelugut Sutra.

"Kenapa harus bertanya kepadaku? Tanya saja pada mereka." jawab Nyi Awak Ceger segan sambil menjentik-jentikkan kukunya yang runcing. Tentu saja kedua Pendekar Buntung ini jadi saling pandang. "Mereka telah jadi mayat. Apa maksud mu berkata begitu, Nyi?"

"Hik-hik-hik-hik   Pakai pura-pura tanya sega-

la. Mana ada manusia berbicara pada mayat. Kecuali kalian telah menjadi mayat!" Nyi Awak Ceger menendang satu mayat yang tadi diinjaknya. Kemudian ia bangkit dengan lenggak-lenggok yang genit.

"Huh! Rupanya iblis betina yang menghalangi orang-orang undangan Kuncoro Sona. Biadab!" hardik Pendekar Gelugut Sutra.

"Tepatnya memang begitu. Dan kau sendiri, kenapa berlindung di bawah Perguruan 'Guci Perak'? Apakah merasa takut karena kedua telapak tanganmu buntung?" Ucapan pedas itu ditujukan pada Pendekar Gelugut Sutra. Sudah tentu lelaki setengah tua ini jadi naik darah.

"Selama ini aku belum pernah mengenal seorang tokoh sesat perempuan jalang macam kau. Berani pula ngaku perbuatan sendiri." Pendekar Gelugut Sutra melompat turun dari pelana.

"Kenapa harus takut menyimpan perbuatan sendiri? Toh kalian juga bakal mampus sekarang!" kata Nyi Awak Ceger mementang jurus. Gerak-geriknya bagaikan seorang penari. Jelas setiap gerakannya membuat Pendekar Gelugut Sutra maupun Amarsa Rawut sangat terpesona. Apalagi lekuk-lekuk tubuh Nyi Awak Ceger begitu mempesona dan memikat. Sebagai laki-laki sempurna, mereka betul-betul mengagumi tubuh ramping Nyi Awak Ceger.

"Perempuan cabul! Jangan coba-coba menggoda kami! Cepat minta ampun dan menyerahkan diri!" bentak Amarsa Rawut. Ia telah sadar dari bius asmara yang diam-diam dilancarkan oleh Nyi Awak Ceger. Tubuh tanpa kaki itu melesat dari atas kuda.

"Laki-laki goblok! Tidak tahukah kalau Pendekar Gelugut Sutra sangat tertarik padaku?" Nyi Awak Ceger mundur. Tubuh Amarsa Rawut berjumpalitan hinggap di tanah. Lalu ia berdiri dengan kedua tongkatnya.

"Paman! Hati-hati terhadap perempuan ini!" teriak Amarsa Rawut sambil lancarkan babatan tongkatnya. Bagai terkesiap Pendekar Gelugut Sutra tahutahu sudah melihat Amarsa Rawut menggempur Nyi Awak Ceger. Ia pun segera datang melompat membantu Amarsa Rawut.

"Bangsat! Rupanya ilmumu tidak cetek, pemuda ganteng. Pantas kau diundang oleh Kuncoro Sona." tukas perempuan itu. Mendadak ia menjentikkan jarijarinya. Maka seperti yang sudah-sudah, tahi kukutahi kuku mengandung 'Racun Kuku Wesi' menghujani mereka.

Tidak kalah sigap Amarsa Rawut melindungi diri. Tongkatnya berputar menderu-deru. Tahi kuku yang merupakan senjata andalan Nyi Awak Ceger berpentalan.

Begitu juga dengan Pendekar Gelugut Sutra. Tanpa basa-basi ia melancarkan jurus 'Jaring Merencah Kutu'. Dengan begitu semua senjata rahasia Nyi Awak Ceger dapat dikendalikan seperti orang menjala ikan. Bukan main terkejutnya perempuan itu. Ia tidak menyangka akan kehebatan dua Pendekar Buntung. Terlebih-lebih terhadap Pendekar Gelugut Sutra. Meskipun kedua telapak tangannya telah buntung, pendekar itu masih bisa mengeluarkan jurus-jurus simpanan. Bahkan lebih sempurna dari sebelumnya.

Menghadapi dua orang cacat itu, Nyi Awak Ceger bagai menghadapi sepasukan orang berilmu tinggi. Bagaimana tidak? Serangannya yang selama ini selalu mematikan bagi musuh-musuhnya, kini seakan tiada berarti apa-apa. Amarsa Rawut gencar memainkan tongkat pedangnya. Ia tidak segan-segan mengeluarkan jurus 'Pedang Seribu Halilintar'. Jurus tersebut sangatlah dahsyat. Dapat memapaki setiap gerakan-gerakan Nyi Awak Ceger. Sudah tentu ia menjadi kelabakan. Apalagi Pendekar Gelugut Sutra tidak henti-hentinya dengan serangkaian pukulan ' Tinju Kepompong' yang selalu mengena. Menghadapi serangan dari dua jurusan, Nyi Awak Ceger sangatlah terdesak. Ujung tongkat Amarsa Rawut dapat masuk menghantam kepalanya.

*

* *

7

"Bledar...!" Batok kepala Nyi Awak Ceger mengucurkan darah. Ujung tongkat Amarsa Rawut berputar lagi. Tapi pada hantaman ini Nyi Awak Ceger dapat menghindar cepat. Tubuhnya melesat jauh-jauh. Ia meringis menahan sakit. Dalam pada itu datang pula serentetan hantaman dari Pendekar Gelugut Sutra....

"Plakk!... Plak!... Des!" Pukulan 'Ulat Menggempur Lobang' mengena telak menghantam punggung. Nyi Awak Ceger tersungkur menyembur darah.

Tubuh ramping bergulingan. Namun secepat kilat Nyi Awak Ceger bangkit. Mulutnya menyeringai menyeramkan. Mulutnya tadi menyemburkan darah, telah penuh dengan lumuran darah mengotori. "Hikhik-hik-hik.... Hebat, hebat! Pendekar Gelugut Sutra maupun pendekar dari 'Guci Perak' memang bukan nama kosong. Tidak mungkin aku yang berilmu rendah ini dapat mengalahkan kalian." Meskipun masih terasa sakit, Nyi Awak Ceger masih dapat mengumbar tawa.

"Sudah tahu begitu, kenapa tidak cepat bunuh

diri di hadapan kami! Ayo lakukan perempuan cabul. Hitung-hitung menebus dosa." ujar Amarsa Rawut.

"Sekarang pun rasanya seperti hampir mati. Kenapa tidak kalian saja yang membunuhku?" Suara Nyi Awak Ceger menggoda. "Kami tidak ingin mengotori tangan kami dengan darah cabulmu!" bentak Pendekar Gelugut Sutra.

"Hik-hik-hik-hik...! Pendekar-pendekar munafik! Aku khawatir kalian akan memperkosa diriku setelah aku mati!"

"Bangsat! Kepalamu memang harus di hancurkan!" Pendekar Gelugut Sutra mendidih. Ia menerjang siap melancarkan hantaman. Tapi....

"Tunggu dulu.... Tunggu dulu...." Nyi Awak Ceger mundur sambil mendorong dengan kedua telapak tangan. Pendekar Gelugut Sutra mengurungkan niatnya.

"Baiklah, aku akan bunuh diri." kata Nyi Awak Ceger tegas.

"Cepat lakukan!" perintah Pendekar gelugut Su-

tra.

Nyi Awak Ceger mengangkat bahu. Lalu tata-

pannya berputar mengarah pada sebuah batu terjal bagai bukit. Ia tersenyum...

"Biarlah akan ku benturkan kepalaku ke sana. Semoga saja kalian puas menyaksikan kematianku." katanya lirih. Setelah itu pun ia berlari ke arah batu terjal yang berdiri tegak. Larinya semakin cepat bagai terbang.

Kedua Pendekar Buntung menatap tanpa berkedip manakala kepala Nyi Awak Ceger menjurus deras. Tapi di luar dugaan mereka, perempuan itu menghentakkan kedua kakinya. Lalu melesat ke atas menghindari benturan kepalanya.

Jelas sekali Nyi Awak Ceger terbang menghilang. Kedua Pendekar Buntung ini telah ditipunya mentah-mentah. Keduanya pun tidak sempat lagi mengejar. Nyi Awak Ceger telah melarikan diri entah ke mana.

"Hik-hik-hik-hik-hik.... Siapa yang sudi bunuh diri, Pendekar-pendekar tolol!" Suara perempuan itu menghilang di kejauhan.

"Keparat! Kita telah diperdaya!" gerutu Pendekar Gelugut Sutra. Amarsa Rawut tidak perduli. Ia nampak menaiki kudanya.

"Sudahlah, Paman. Perjalanan kita masih sangat jauh. Nanti setelah sampai di Perguruan 'Dewa Tenggara' kita laporkan saja pada Kuncoro Sona." ujar Amarsa Rawut. Pendekar Gelugut Sutra tetap menggerutu.

"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika perempuan sial itu selalu menghadang setiap orang akan menghadiri undangan. Permainan macam apa ini? Kenapa Kuncoro Sona tidak hati-hati dalam menyebarkan undangan?

Jangan-jangan...." Pendekar Gelugut Sutra tidak meneruskan kata-katanya.

"Mengejar perempuan itu bukan berarti menyelesaikan persoalan. Pada pertemuan nanti iblis jalang itu akan muncul. Pada hematnya aku yakin ada yang mendalangi atas perbuatannya itu." kata Amarsa Rawut sambil memberi aba-aba agar Pendekar gelugut Sutra segera meninggalkan tempat itu. Lelaki setengah, tua ini pun langsung menunggangi kudanya.

"Aku khawatir Kuncoro Sona sendiri yang menjebak semua para undangan." Pendekar Gelugut Sutra membawa kudanya melangkah mengikuti Amarsa Rawut. "Dugaanku pun demikian. Tapi kita lihat saja nanti." jawab Amarsa Rawut.

Keduanya meninggalkan perbatasan hutan Kumba Rawa. Membiarkan mayat-mayat orang-orang Perguruan Teratai Kencana' tetap bergelimpangan. Tujuan mereka sebuah desa terpencil. Mereka berjalan terus menunggangi kuda. Semakin lama semakin jauh, kemudian lenyap tersapu kabut yang mulai turun sore itu.

***

Berlari dan terus berlari, Nyi Awak Ceger terus memegangi luka di kepalanya. Sedangkan tubuhnya entah seperti apa rasanya. Dia sudah membayangkan bekas-bekas hantaman Pendekar Gelugut Sutra pasti memar di sekujur punggungnya.

Langkahnya semakin cepat ketika ia ada di depan sebuah gubuk usang. Sebelum ia memasukinya, terlebih dahulu Nyi Awak Ceger menoleh ke belakang. Ia khawatir sekali kalau pelariannya itu dibuntuti oleh kedua Pendekar Buntung itu.

Setelah yakin betul-betul aman barulah ia masuk. Dalam keadaan gelap seperti itu, tempat kediaman Nyi Awak Ceger sangatlah

menyeramkan. Hampir seluruh dinding bilik serta atap jerami diselubungi oleh tanaman merambat. Ruangan itu lebih mirip di sebut goa semak.

"Pendekar-pendekar sial! Belum pernah aku menghadapi ilmu yang dimiliki oleh dua Pendekar Buntung itu. Setahuku, jurus-jurus Perguruan 'Guci Perak' maupun Pendekar Gelugut Sutra tidaklah demikian." gerutu Nyi Awak Ceger.

Lalu duduk di atas sebuah balai berlapis bulu domba. Sambil duduk begitu ia membuka pakaiannya. Maka masih nampaklah tubuh ramping memikat, walaupun dalam keadaan remang. Dia membiarkan tubuhnya telanjang bulat. Kedua tangannya membersihkan darah di sekitar kepalanya.

Saat itu pintu gubuk terbuka lagi. nampak dua orang lelaki telanjang dada memasukinya. Mereka tidak lain dua pengikut Nyi Awak Ceger, mereka pun langsung dapat melihat tubuh bugil majikannya. Seperti sudah terbiasa, mereka malah mendekat.

"Kami sudah menyampaikan berita kematian orang-orang 'Angin Manik' kepadanya, Nyai. Beliau menugaskan lagi untuk menghadapi Maung Logaya. Dan juga orang-orang dari 'Guci Perak'." kata Pitu Langsa yang bertubuh lebih kekar.

"Kalau tidak salah, Maung Logaya sering disebut orang: Siluman Arak Sakti. Aku belum pernah mengukur kehebatannnya. Tapi terhadap para Pendekar Buntung dari 'Guci Perak' kita harus waspada." jawab Nyi Awak Ceger. Dia sudah terbiasa dalam ruangan itu membugil. Membiarkan kedua pengikutnya menatap liar sekujur tubuh mulusnya.

"Kami tahu di mana sekarang pemabuk sial itu berada." ujar seorang lagi.

"Heh, rupanya kalian sudah berhadapan dengannya." kata Nyi Awak Ceger.

"Tua bangka keparat itu tidak sendirian. Dia bersama seorang pemuda." jawab Pitu Langsa.

"Kalau begitu besok saja kita bereskan mereka." tukas Nyi Awak Ceger. Ia membaringkan tubuhnya di atas balai. Kedua pengikutnya tetap berdiri menatap.

"Nyi.... He-he-he-he...." Pitu Langsa nyengir, ia menyikut lelaki di sebelahnya.

"Ada apa?" tanya Nyi Awak Ceger menggeliat. Darah kedua laki-laki ini makin terkesiap melihat dua buah dada yang ranum yang menyembul berguncang. "He-he-he-he.... Malam ini giliran siapa?" Pitu Langsa menunduk. Lelaki di sebelahnya juga. Tanpa menoleh Nyi Awak Ceger menjawab.

"Kalian berdua boleh bermain denganku malam ini." Nyi Awak Ceger terlentang pasrah. Kedua kakinya langsung mengangkang.

***

Hari yang ditentukan oleh Kuncoro Sona tinggal sehari lagi. Umbul-umbul serta hiasan sudah memenuhi pelataran Perguruan 'Dewa Tenggara'. Semua muridnya hari ini begitu banyak nampak berjaga-jaga siap menyambut.

Kuncoro Sona bersama orang-orang andalannya berkumpul di sebuah ruangan yang menghadap pelataran. Gerak-geriknya sangat resah. Begitu juga dengan kelima orang yang sedari tadi memandangi. Ketika Kuncoro Sona melangkah ke luar menuju pelataran. Kelima orang ini bangkit mengikuti. Mereka mengiring Kuncoro Sona menuju pintu gerbang. Saat mereka mendekati para penjaga pintu....

"Guru.... Beberapa orang mulai berdatangan." kata salah seorang penjaga pada Kuncoro Sona. Laporan itu membuat hati majikan 'Dewa Tenggara'. cukup senang. Dari situ mereka memang dapat melihat tiga ekor kuda berlari sangat cepat menuju ke arah perguruan.

"Bersiap-siaplah menyambut mereka." perintah Kuncoro Sona. Dia tetap berdiri di depan pintu menanti kedatangan tiga orang itu. Melihat kedatangan yang sangat tergesa-gesa itu Kuncoro Sona merasa heran.

"Mereka para pentolan di Selatan dari Perguruan 'Kilat Buana'. Apa yang membuat kedatangan mereka seperti dikejar-kejar setan?" tanya Kuncoro pada diri sendiri. perasaan itu ia simpan sampai ketiga undangan itu turun dari kudanya.

"Selamat datang, orang-orang 'Kilat Buana'. Terima kasih atas luangan waktu kalian ini." sambut Kuncoro Sona. Para penjaga pintu gerbang juga ikut menyambut mengantarkan kuda-kuda mereka.

"Maaf kalau kedatangan kami ini terlambat. Sudah adakah perguruan lain yang datang?" kata majikan 'Kilat Buana' langsung melangkah mendekati Kuncoro Sona.

"Belum, justru kalian manusia-manusia pertama." jawab Kuncoro Sona. Ketiga orang 'Kilat Buana' saling tatap.

"Tidak tahukah kalau di sana telah terjadi sesuatu? Beberapa perguruan telah hancur dihadang oleh seorang pembantai berilmu tinggi. Kami menemukan mayat-mayat mereka bergelimpangan di sekitar hutan Kumba Rawa. Di antaranya Perguruan 'Angin Manik' dan 'Teratai Kencana'." Salah seorang menjelaskan.

"Astaga...!" Kuncoro Sona seakan tidak percaya. "Melihat keadaan mereka pastilah itu perbua-

tan Nyi Awak Ceger. Aku jelas betul melihat tandatanda adanya 'Racun Kuku Wesi' pada tiap-tiap korban."

"Keparat! Lagi-lagi perempuan cabul itu yang bikin ulah. Tidak kusangka kalau undangan pertemuan ini akan membawa bencana. Pastilah ada yang membocorkan rahasia pertemuan ini." gerutu Kuncoro Sona.

Saat itu datang lagi beberapa ekor kuda. Kali ini dari Perguruan 'Gunung Tambur'. Mereka empat orang, perempuan semua. Mereka pun mendapat sambutan yang sama. "Ada apa ini? Nampaknya tegang sekali?" ujar seorang perempuan yang tidak lain majikan Perguruan 'Gunung Tambur'.

"Ah, kiranya nona-nona cantik dari Gunung Tambur. Mari silahkan masuk. Tidak baik kalau kita bicara di sini." Kuncoro Sona menuntun mereka semua masuk ke dalam. "Wuah rupanya kami telah keduluan dengan orang-orang 'Kilat Buana'." celetuk salah seorang perempuan itu.

*

* *

8

"Soal kehadiran kami memang selalu nomor satu. Tapi tak usah risau, kita belum terlambat mengikuti pertemuan. He-he-he-he...." ujar majikan 'Kilat Buana'.

"Betul. Kalian bisa beristirahat sambil menunggu yang lain di sini. Kita bisa ngobrol-ngobrol untuk pembicaraan yang serius tadi." kata Kuncoro Sona. Ia berjalan paling dulu. Sedangkan lima orang andalannya berjalan di belakang mengiringi mereka. Namun sebelum mereka memasuki ruangan yang menghadap ke pelataran....

"Hoooooy...! Tunggu...!" Terdengar lagi teriakan seseorang bersama derap kaki kuda yang menderuderu. Semuanya serempak menoleh. Dilihatnya Pendekar Sapu Angin seorang diri tergesa-gesa. Ia menyerahkan kudanya pada penjaga pintu gerbang.

"Mentang-mentang datang sendirian, kalian tidak memperdulikan aku." ujar pendekar Sapu Angin. Senjatanya terselip di pinggang belakang. Mirip sebuah sapu berukuran kecil, tapi semua kalangan persilatan tahu akan keampuhan senjata itu. Sebentar saja pen-  dekar itu dapat menyusul mereka.

"Kebetulan, kebetulan.... Ada Pendekar Sapu Angin di sini. Kita bisa menyapu bersih semua kekeruhan 'Partai Dewa Tenggara'." gurau majikan 'Kilat Buana'.

"Siapa yang tahu kedatangan tokoh sakti ini, munculnya saja kayak setan." Kuncoro Sona merangkul pendekar itu. Lalu semuanya masuk. Dibarengi dengan derai tawa mereka.

Di ruangan itupun mereka langsung memilih tempat. Sengaja Kuncoro menyusun bantalan-bantalan empuk melingkar. Sehingga mereka nampak duduk berderet seperti lingkaran.

Nara Subala orang yang paling dipercayai Kuncoro Sona beranjak ke dapur. Tak lama pun ia keluar membawa nampan berisi belasan gelas bambu. Lalu ia kembali lagi ke dapur untuk mengambil air.

"Aku sangat terpukul mendengar penjelasan dari Saudara Kilat Buana yang mana telah menjumpai mayat-mayat orang-orang perguruan Angin Manik maupun Teratai Kencana." Kuncoro Sona mengawali pembicaraan mereka.

"Ah! Bagaimana mungkin mereka bisa tewas di daerah ini?!" Majikan Gunung Tambur yang sangat cantik ini setengah kurang percaya.

"Apa yang kami lihat benar-benar kenyataan. Lebih jelas lagi kalau itu perbuatan perempuan cabul dari golongan sesat." Majikan Kilat Buana menimpali.

"Perempuan cabul?" ulang Pendekar Sapu An-

gin.

"Ya, dia tidak lain Nyi Awak Ceger. Memiliki Ra-

cun Kuku Wesi yang sangat mematikan. Dalam pertemuan nanti kita akan membicarakan soal gerombolan mereka." jawab Kuncoro Sona.

"Rasanya tidak masuk akal. Perempuan itu sudah lama tidak menampakkan diri. Kenapa tiba-tiba saja dia muncul menghadangi setiap para undangan. Maaf, Kuncoro Sona, kami yakin kalau dalam Partai Dewa Tenggara ada seekor kutu 'Busuk' bermuka dua. Sudah jelas maksud kutu busuk itu ingin menggagalkan pertemuan kita." Majikan Gunung Tambur berkata blak-blakan. Kuncoro Sona merasa terpojok. Dia sendiri bukannya tidak tahu kalau ada yang sengaja membocorkan rahasia undangan. Tapi siapa yang harus dituduh? Kelima orang andalannya tidak menandakan rasa curiga. Selama ini mereka juga ikut memikirkan keterlambatan para undangan. Kuncoro Sona hanya bisa menghela nafas.

"Orang-orang Angin Manik dan Teratai Kencana merupakan dua perguruan yang sangat kuat. Kita-kita jauh dibanding dengan mereka. Perempuan itu benarbenar licik. Dia menggulingkan pentolan-pentolannya dulu. Setelah itu mungkin giliran kita." ujar majikan Kilat Buana.

"Takut apa kalau hanya menghadapi iblis betina itu? Mati pun aku puas bila sudah berhadapan dengannya." kata Pendekar Sapu Angin. Lalu ia meneruskan kata-katanya lagi...

"Secepatnya kita harus bisa membongkar siapa dalang di balik semua ini. Sebagai orang-orang persilatan aliran lurus, aku bersedia membantu."

"Heh! Memangnya hanya kau yang merasa dari golongan lurus? Aku pun tidak tinggal diam kalau masalah ini belum terbongkar." Perempuan-perempuan dari Gunung Tambur tidak kalah semangat.

"Biar nanti aku yang memberi hukuman terhadap perempuan cabul itu!" Pendekar

Sapu Angin kertakkan rahang.

"Kita masih menunggu yang lain. Juga pendapat mereka nanti harus kita terima." ujar Kuncoro Sona.

"Sekarang jangan bersitegang dulu. Bukankah.

kalian masih lelah setelah beberapa hari menempuh perjalanan? Diminum dulu-lah airnya." kata Nara Subala yang sejak tadi sudah memenuhi gelas-gelas bambu di hadapan mereka.

"Apakah Kakek Siluman Arak Sakti tidak kau undang?" kata Pendekar Sapu Angin sambil meraih gelas berisi air.

"Mana bisa aku melupakan kakek itu. Biar dia seorang pemabuk, pendapatnya selalu jernih dan tenang. Kemampuannya pun setaraf dengan majikan Angin Manik. Jelas dia akan membantu kita. Entahlah dengan orang-orang 'Guci Perak'. Seandainya mereka tidak datang aku bisa memakluminya. Karena mereka masih digeluti duka cita." Kata Kuncoro Sona.

"Memang malang nasib orang-orang 'Guci Perak'. Konon kabarnya Pendekar Gelugut Sutra juga ikut bergabung dengan Perguruan Guci Perak. Sangat disayangkan waktu munculnya 'Durjana Pemenggal Kepala' mereka tidak memberi kabar. Itu kesalahannya." ujar majikan kelompok Gunung Tambur.

"Tapi kita harus angkat jempol untuk mereka. Buktinya mereka bisa menanggulangi si Durjana Pemenggal Kepala itu.

***

Mendengar berita telah berdatangan tokohtokoh aliran lurus di pesanggrahan 'Dewa Tenggara', Nyi Awak Ceger ini terus bermuram durja. Saat itu ia bersama dua orang pengikutnya berada di dataran tinggi berbatu. Dari situ mereka bisa mengawasi keadaan Partai 'Dewa Tenggara'. Dua orang pengikutnya yang bersenjata gada berduri berdiri pada batu karang paling tinggi. Mereka terus mengawasi sekitar tempat itu. Nyi Awak Ceger diam memainkan kesepuluh kukukuku runcingnya.

"Mereka mulai berdatangan, Nyai. Aku tidak dapat jelas siapa mereka." kata Pitu Langsa sambil mempertajam penglihatannya.

"Kita tidak ditugaskan untuk menghadang mereka. Berarti mereka tidak berbahaya." kata orang yang satunya lagi. Nyi Awak Ceger bangkit, ia melangkah ke atas. Dan ikut memandangi suasana Partai Dewa Tenggara.

"Apakah racun yang kuberikan sudah kalian kirimkan?" tanya Nyi Awak Ceger.

"Sudah, beliau sendiri yang menerimanya." jawab Pitu Langsa. Nyi Awak Ceger tersenyum lebar...

"Bagus. Dalam beberapa hari ini mereka pasti bakal tewas semua." kata perempuan itu mantap.

"Sssst   Nyi, coba lihat di sebelah sana."

Serempak Nyi Awak Ceger dan Pitu Langsa menoleh ke arah lain. Nampak dua sosok menunggangi seekor kuda melintasi jalan itu. Meski dalam jarak jauh seperti itu Pitu Langsa dapat mengenali siapa dua penunggang kuda tersebut.

"Ho-ho.... Mereka si kakek pemabuk itu rupanya." Pitu Langsa tergelak-gelak.

Kebetulan, tanpa dicari mereka datang sendiri. Ayo suami-suamiku hadang mereka!" perintah Nyi Awak Ceger. Keduanya menurut.

Wintara menghentikan langkah kudanya ketika di hadapannya berlompatan dua sosok telanjang dada mengibas-ngibaskan dua gada berduri. Wintara masih ingat betul siapa kedua orang itu. Maka ia menoleh ke belakang di mana Siluman Arak Sakti duduk berpegangan.

"Kek, musuh-musuhmu datang lagi." bisik Wintara. Kakek Siluman Arak Sakti tidak menyahut. Rupanya ia tertidur sambil berpegangan erat di pinggang Wintara. Kudanya terus melangkah meski dua orang bersenjata gada berduri menghadang.

"Kedua paman yang murah hati, sebaiknya memberi jalan untuk kudaku ini. yang tidak pernah ikut campur dalam urusan persilatan hanya bermaksud mengantarkan kakek ini." Wintara berusaha ramah. Dua orang penghadang ini menyeringai.

"Tidak mudah untuk mencapai Partai 'Dewa Tenggara' anak tengik. Kau harus melewati kami dulu!" bentak Pitu Langsa.

"Aku khawatir kakek pemabuk akan menghajar pantatmu lagi, Paman. Wataknya bengis apalagi sekarang ia mabuk betul." ujar Wintara.

"Ngoceh sembarangan! Suruh dia turun, biar kepalanya kuhancurkan! Kalau perlu kau pun akan kubuat dendeng, anak tengik!" Seorang lagi murka, ia mengacung-ngacungkan senjatanya.

"Goblok! Kalian hanya buang-buang waktu! Langsung saja gempur! Tidak perlu basa-basa lagi!" Jelas itu suara Nyi Awak Ceger. Tapi perempuan itu belum menampakkan diri.

Demi mendengar suara itu, kedua penghadang ini serempak melompat sambil melepaskan hantaman gada berduri. Sebelum hantaman itu mengena, Wintara menendang salah satu hantaman itu. Kemudian ia melompat dari kudanya. Kakek Siluman Arak Sakti tetap tertidur berpegangan. Kakek ini sama sekali tidak terjaga meskipun Wintara bergerak-gerak menghadapi dua orang lawan.

Ketika hantaman itu datang dari arah yang berlawanan, Wintara merentangkan kedua tangannya. Itulah salah satu jurus yang dinamakan 'Menyibak Tirai Bayu'. Meski nampak pelan pendekar ini merentangkan kedua tangannya, tak urung dua orang lawannya ini terjungkal hebat. Begitu juga dengan si kakek yang berpegangan erat di pinggang Wintara. Ikut terlempar juga. Tenaga dalam yang dikerahkan Wintara ini sangat luar biasa. Mengetahui Kakek Siluman Arak Sakti terlempar, Wintara berlari ke arahnya.

"Waaah.... Benar-benar kebluk. Kakek Siluman Arak Sakti, bangun!" teriak Wintara. Si kakek tetap mendengkur seolah tidak terjadi apa-apa. Manakala dua penyerang ini makin beringas melancarkan serangan. Terpaksa pula Wintara menghadapi.

Dalam menghadapi dua orang lawan ini, sebenarnya Wintara mudah untuk melumpuhkan mereka. Ia hanya khawatir melihat si kakek tetap tertidur. Makanya saat mereka serempak menerjang, Pendekar Kelana Sakti sengaja menghadapinya. Dan berusaha memancing agar pertempuran mereka jauh dari tempat si kakek.

Hantaman-hantaman gada berduri buas mencecar kepala. Wintara berkelit ke bawah. Sambil melepaskan pukulan 'Tinju Bayu Delapan Penjuru'. Tanpa bisa menghindari lagi kedua lawannya ambruk bergulingan. Keduanya menyemburkan darah. Tanpa memberi kesempatan mereka bangkit, Wintara menerjang dengan hantaman-hantamannya lagi.

Saat itu dari arah lain meletik sepuluh tahi kuku membara mengarah deras ke arah Pendekar Kelana Sakti. Tapi tebaran Racun Kuku Wesi itu mendadak berhamburan tanpa mengenai tubuh Wintara. Kakek Siluman Arak Sakti telah menangkis dengan semburan araknya. 

Wintara sendiri sudah menyadari kalau ia telah diselamatkan Siluman Arak Sakti. Maka ia tidak tanggung-tanggung lagi lanjutkan niatnya untuk menghantam ke dua lawannya. Meledaklah teriakan Wintara membahana. Kedua telapak tangannya mengarah tepat dengan jurus 'Bayu Menghembus Tebing’. Kedua lengan itu nampak bergulung-gulung menimbulkan suara angin yang menderu-deru.

Dan ketika kedua telapak tangan Wintara menghantam tepat mengenai mereka, tidak ampun lagi kedua orang telanjang dada itu mencelat membentur dataran berbatu. Satu di antaranya tewas dengan tulang dada remuk. Satu lagi tewas saat kepalanya hancur membentur batu. Mengenaskan. Wintara sendiri tidak bermaksud membunuh mereka. Dia tidak yakin hantamannya sedahsyat itu. Wintara masih terheranheran....

"Aku yang melancarkan pukulan jarak jauh, Wintara." Kakek Siluman Arak Sakti bangkit dari tidurnya. Barulah Wintara tahu kalau kematian mereka tadi akibat hantaman si kakek pemabuk.

"Mereka memang pantas menerima kematian. Tidak perlu dipikirkan nyawa-nyawa anjing mereka. Entah sudah berapa banyak korban yang bergelimpangan akibat ulahnya." Kakek pemabuk tersenguksenguk saat melangkah ke arah Wintara. Lalu ia menenggak arak lagi.

"Lawan kita belum tuntas, Kek. Bukankah tadi kau telah menyelamatkan aku dari senjata-senjata rahasia?"

"Prrrrrrts...!" Kakek Siluman Arak Sakti seperti terselak mendengar ucapan Wintara.

Wajahnya yang merah hangus memandang berkeliling sambil mendengus-dengus.

"Nyi Awak Ceger...! Kenapa harus sembunyisembunyi! Ayo keluar! Jangan bertingkah macam kutu busuk!" bentak kakek. Suaranya lantang menggema di dataran itu. Wintara ikut mengawasi dengan pandangan yang berkeliling. Yang nampak hanya batu-batu besar setinggi rumah menghampar.

Dari balik batu-batu itu pula melesat ke atas sosok ramping Nyi Awak Ceger. Ia langsung berdiri di puncak batu sambil menatap geram ke arah mereka.

"Kalian telah membunuh dua orang pengikut setia ku! Kalian berdua harus menebus dengan nyawa kalian!" Nyi Awak Ceger murka.

"Wuah maling teriak maling! Siapa sebenarnya di antara kita yang berniat membunuh? Bukankah kalian yang diam-diam menghadang kami? Lihat-lihat dulu kalau mau menghadapi orang!" ujar Kakek Siluman Arak Sakti.

"Keparat...!" Nyi Awak Ceger menjentikkan jari jemarinya. Maka meletiklah Racun Kuku Wesi yang terkenal ampuh. Benda-benda kecil namun mematikan itu menghujan ke arah mereka. Wintara berjumpalitan menghindar. Kakek Arak Sakti menyembur

kan arak dari mulutnya. Terlihatlah senjatasenjata rahasia beracun itu meluruk ke bawah membakar bumi.

"Segala tahi kuku macam upil saja kau pamerkan! Mana lagi senjata andalanmu. Tunjukkan pada si kakek peyot ini!" Kakek Siluman Arak Sakti malah menerjang melepaskan hantaman. Tidak kalah hebat Nyi Awak Ceger menyambut.... "Bledaaar!" Hantaman mereka beradu. Kakek Siluman Arak Sakti terguling terkena hantamannya sendiri. Melihat itu pun Nyi Awak Ceger terus melancarkan serangan gencar. Sudah tentu Wintara tidak tinggal diam.

Dengan memberanikan diri Pendekar Kelana Sakti. ini menggagalkan serangan Nyi Awak Ceger.

*

* * 9

Terhadap Pendekar Kelana Sakti Nyi Awak Ceger terlalu pandang remeh. Serampangan ia melancarkan pukulan. Makanya saat Wintara menangkis hantamannya, Nyi Awak Ceger memekik hebat. Tinjunya serasa berdenyut hebat. Dengan begitu kakek Siluman Arak Sakti mendapat kesempatan untuk bangkit lagi.

Sempat pula Kakek Siluman Arak Sakti melihat kegesitan Wintara. Dia hanya tersenyum kecut melihat Nyi Awak Ceger begitu kewalahan. Apalagi saat Wintara melepaskan pukulan 'Bayu Menghantam Karang'. Bagi kakek pemabuk ini jurus itu sangat aneh. Karena begitu hantaman itu mengena, Nyi Awak Ceger langsung mundur bagai diseruduk banteng, juga menyemburkan darah dari mulutnya.

"Aha.... Rupanya kau memiliki kepandaian juga, Wintara. Tapi sebaiknya biarkan perempuan cabul itu menjadi bagianku!" Kakek pemabuk tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Pendekar Kelana Sakti.

"Ilmu yang kumiliki hanya untuk sekedar pengusir kutu busuk! Tiada gunanya sama sekali." jawab Wintara sambil menatap Siluman Arak Sakti mementang jurus-jurusnya yang nampak lemah dan limbung. Nyi Awak Ceger sudah bangkit dengan tatapan yang nanar. Kuku-kukunya yang runcing meregang siap menebarkan Racun Kuku Wesi.

"Mustahil kalau kalian tidak mampus di tanganku, pendekar-pendekar dungu! Hreeaaaaa...!" Sambil menerjang begitu Nyi Awak Ceger menjentikjentikkan jari jemarinya. Setengah mati Kakek Siluman Arak Sakti maupun Wintara menghindari hujan Racun Kuku Wesi. Kali ini mereka baru tahu akan kehebatan Nyi Awak Ceger. Pantaslah kalau orang-orang Angin Manik dan Teratai Kencana tidak sanggup menghadapi perempuan cabul ini.

Berkali-kali kakek pemabuk menyemburkan araknya untuk meruntuhkan hujan Racun Kuku Wesi. Bagi Wintara cukup mengandalkan hantaman Tinju Bayu Delapan'. Maka senjata-senjata rahasia Nyi Awak Ceger seperti menghambur berbalik. Kakek Siluman Arak Sakti tidak sempat melangkah mundur. Jaraknya begitu dekat dengan Nyi Awak Ceger yang tidak pernah berhenti melancarkan serangan. Kakek itu harus repot menghindari hantaman-hantaman serta tahi kuku. Sesaat setelah ia mendapat kesempatan menarik dirinya, sempat pula ia menenggak arak.

Namun Nyi Awak Ceger lebih dulu menebarkan Racun-racun Kuku Wesinya. Tanpa bisa dihindari lagi kakek pemabuk memekik. Saat ia menenggak arak, pundinya hancur bersama masuknya senjata-senjata rahasia ke wajah Kakek Siluman Arak Sakti.

Wintara terlambat menyelamatkan. Namun ia tetap melompat melindungi. Kakek Siluman Sakti berkelojotan dalam lindungan Pendekar Kelana Sakti. Pendekar muda ini pun harus melompat berpindahpindah menghindari serangan-serangan Nyi Awak Ceger.

"Hi-hi-hi-hi.... Percuma kau selamatkan kakek keropos itu, Anak muda! Dia sudah mampus!" kata Nyi Awak Ceger mengerikan.

Bukan main marahnya Wintara saat melihat tubuh Kakek Siluman Arak telah biru kaku. Setelah ia melompat menghantamkan serentetan tendangan. Tubuh kurus yang telah tewas itu diletakkan pada permukaan dataran berbatu. Gerakannya yang lincah menyongsong hantaman-hantaman Nyi Awak Ceger.

Sedari tadi perempuan ini sudah merasa kalau anak muda yang ia hadapi ini sangatlah berilmu tinggi. Maka ia berusaha mengelabui dengan akal genitnya. Jurus-jurus 'Perayu Sukma' tidak putus-putusnya menggasak Wintara. Namun selama menghadapi perempuan ini Wintara tetap konsentrasi penuh. Nyi Awak Ceger sengaja menonjolkan gerakan-gerakan yang amat merangsang. Hal itu guna membuyarkan perhatian pendekar muda ini.

Tapi semua usaha Nyi Awak Ceger tidak mempan. Malah tidak segan-segan Wintara menyebarkan serentetan pukulan 'Bayu Menghempas Gelombang'. Terlihat dua telapak tangan Wintara menyentaknyentak mengeluarkan tenaga dalam yang sangat dahsyat. Akibatnya sungguh fatal pula. Sekali saja terkena hantaman itu Nyi Awak Ceger terpelanting jatuh bangun. Di tambah lagi dengan sabetan kaki yang menghantam perut. Tulang-tulangnya seperti remuk. Dengan lemas pula ia berusaha bangkit.

Sebelum Wintara melepaskan hantamannya,

Nyi Awak Ceger melesat ke atas puncak

bukit batu. Mengingat akan keampuhan Racun Kuku Wesi Wintara tidak langsung menyusul. Tapi perempuan itu memancing agar Wintara mendekatinya. Padahal ia sudah bersiap-siap menebarkan senjata Tahi Kukunya.

"Wintara...!" Terdengar sebuah teriakan, juga derap kaki kuda yang mengarah ke tempat itu. Nyi Awak Geger sangat terkejut melihat siapa yang datang itu. Mereka tidak lain Pendekar Gelugut Sutra bersama Amarsa Rawut.

"Jangan biarkan perempuan cabul itu lolos!" teriak Pendekar Gelugut Sutra. Kuda-kuda mereka berlari kencang mendekat. Melihat kedatangan mereka Wintara bertambah semangat. Lalu kedua tangannya menjurus ke depan melepaskan hantaman. Mengetahui adanya 'Penyakit' Nyi Awak Ceger cepat menyingkir. Sekali ia berjumpalitan, hantaman Wintara nyeplos menghancurkan puncak batu.

"Anak muda...! Lain kali kita boleh bertarung lagi! Sekarang aku tidak sempat melayanimu!" teriak Nyi Awak Ceger. Larinya bagai angin. Sebentar saja ia sudah hilang.

Wintara tidak bermaksud mengejarnya. Ia sengaja menunggu kedatangan Dua Pendekar Buntung itu mendekati.

"Sayang kau biarkan perempuan merat, Wintara. Dia telah membunuhi orang-orang persilatan. Kepalanya harus di penggal. Hukuman itu yang pantas untuknya." gerutu Pendekar Gelugut Sutra.

"Kakek Siluman Arak Sakti pun telah menjadi korbannya. Perempuan itu berkemampuan sangat tinggi. Aku yakin betul kalau ia belum mengerahkan seluruh kemampuannya." jawab Wintara. Bibirnya monyong mengarah pada sosok kurus kakek pemabuk yang terbujur kaku. Dua Pendekar Buntung ini mengeryitkan alis mengikuti pandangan Wintara.

"Sungguh malang nasibnya. Sepak terjangnya dalam dunia persilatan sangat di segani. Kakek ini sebenarnya dari golongan sesat. Sepuluh tahun yang lalu ia bergabung dengan orang-orang aliran lurus. Gerombolan aliran sesat pernah dibuat berantakan. Tapi sekarang...." Amarsa Rawut tidak melanjutkan penjelasannya. Karena riwayat Kakek Siluman Arak Sakti ini lebih banyak diketahui oleh Pendekar Gelugut Sutra.

"Apakah kalian juga akan menghadiri undangan Kuncoro Sona?" tanya Wintara.

"Betul. Dan nampaknya selama dalam perjalanan ada yang tidak beres. Seseorang telah mendalangi Nyi Awak Ceger untuk menghadang tiap-tiap undangan. Sekarang aku malah curiga dengan Kuncoro Sona sendiri." ujar Amarsa Rawut. "Undangan ini tidak seperti biasanya. Aku sendiri kurang mengerti." kata Pendekar Gelugut Sutra.

Orang-orang persilatan dari aliran lurus seperti terperangkap." katanya lagi. "Sudah kepalang tanggung, Paman. Tadinya pun aku berniat akan menghadiri undangan itu bersama Kakek Siluman Arak Sakti." kata Wintara.

"Kalau begitu kau bisa meneruskan perjalanan bersama kami, sobat Wintara." kata Amarsa Rawut.

Wintara tidak menyahut. Ia langsung menaiki kudanya. Dan melangkahkan kudanya beriringan dengan mereka.

"Dunia betul-betul terasa sempit. Tidak disangka-sangka kita bisa berkumpul kembali. Mari kita berangkat." tukas Wintara!

"Hreeeaaa...!" Amarsa Rawut menghela kudanya kuat-kuat. Maka ketiga ekor kuda itu berlari kencang saling susul. Derap kaki kuda mereka berderak-derak menyentak dataran tanah berbatu. Asap debu bergulung-gulung mengiringi kepergian mereka.

"Pendekar-pendekar tolol! Setibanya di sana kalian akan mampus semua!" Teriak Nyi Awak Ceger menggema. Sumbernya entah dari mana. Yang pasti teriakan itu sertai dengan gelombang suara bertenaga

dalam. Sehingga dalam keadaan jarak yang sangat jauh dapat terdengar jelas oleh ketiga pendekar ini. Namun mereka tidak memperdulikan suara-suara teriakan Nyi Awak Ceger. Mereka terus memacu kudanya kuat-kuat menuju pemukiman orang-orang Partai Dewa Tenggara*.

"Percuma, pendekar-pendekar tolol! Mereka semua yang ada di sana telah menjadi makanan caring!" Teriakan Nyi Awak Ceger menggetarkan telinga mereka. Teriakan itu akhirnya menghilang dengan sendirinya. Tersapu oleh derap kaki kuda yang bertalu-talu bagai genderang perang.

*

* *

10

Kuncoro Sona agak kecewa. Karena undangan yang hadir hanya enam partai. itu menjadi tuntutan pertanyaan-pertanyaan dari pihak lain. Sembilan partai tidak hadir. Semuanya menjadi gusar. Apalagi mereka mengetahui beberapa partai perguruan tewas dalam perjalanan. Peristiwa itu menjadi pokok pembicaraan dalam pertemuan hari ini.

Ruangan yang semestinya penuh dengan orangorang persilatan, hari itu nampak agak berkurang. Namun begitu keadaan di luar maupun sekitar pintu gerbang dijaga ketat oleh orang-orang Partai 'Dewa Tenggara'. Mereka bersiap siaga kalau-kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan. Sampai saat ini keadaan masih tetap aman.

Kuncoro Sona duduk berderet bersama kelima orang kepercayaannya. Sedang para tamu undangan duduk bersila berhadapan. Suasana dalam ruangan khusus itu menjadi riuh saat mereka membicarakan pokok persoalan mengenai seorang tokoh sesat macam Nyi Awak Ceger.

Kemunculan Nyi Awak Ceger yang seperti membuat teror itu benar-benar membuat murka keenam partai yang mengikuti pertemuan. Namun dalam mengeluarkan pendapat, mereka tetap dengan kepala dingin.

"Bukan kami tidak sanggup mencari di mana adanya Nyi Awak Ceger. Perempuan sadis itu selalu muncul di luar dugaan kami. Bahkan orang-orang 'Dewa Tenggara' sendiri sudah banyak yang menjadi korban. Soal menghadapi kemampuannya, kami sudah mengerahkan beberapa orang. Tapi selalu saja kami tidak dapat menjumpai tokoh sadis itu." ujar Kuncoro Sona.

"Sebelum terlambat atau merajalela. Kita sepakati saja untuk meringkus setan cabul itu bersamasama. Perempuan itu memang licik. Kita tidak bisa menyalahkan Kuncoro Sona." kata Pendekar Sapu Angin.

"Kalau kita belum bisa menemukan dia, mana bisa kita ketahui dalang semua ini. Mana mungkin dia sendirian berani merecoki di Tenggara. Kita semua tahu. Semua tokoh sesat telah digulung mentah-mentah oleh Kuncoro Sona." sambut Majikan Kilat Buana.

"Demikian hebatnyakah dia, sehingga orangorang Angin Manik dan Teratai Kencana tewas di tangannya?" tukas partai lain.

"Ahh.... Sehebat apapun dia, kalau kita bergerak kompak, niscaya dia akan terkelupas kulitnya." jawab perempuan cantik dari Gunung Tambur.

"Betul! Kita luangkan waktu beberapa hari sampai kita betul-betul dapat menjerat perempuan cabul itu!"

"Setuju! Kami setuju apa yang dikatakan oleh Pendekar Guntur Kelud. Sebagai orang-orang aliran lurus sudah sewajarnya membela ke langgengan dunia persilatan." kata Partai Bukit Merak penuh semangat. "Akuuuuuur...!" Serempak berteriak. "Terima kasih atas niat saudara-saudara yang bermaksud akan membantu Partai 'Dewa Tenggara'. Semoga saja kita berhasil dalam menanggulangi iblis betina itu. Dan juga harap saudara-saudara sekalian tetap tenang." Kata Kuncoro Sona. Ia bangkit berdiri. Dengan kedua tangan terangkat. Maka suasana riuh itu berubah senyap. "Dalam pertemuan ini kami akan menunjukkan sesuatu pada kalian. Harap semua tenang." kata Kun-

coro Sona lagi.

Semua undangan menatap tajam. Mereka diam menunggu sesuatu yang akan diperlihatkan oleh majikan 'Dewa Tenggara' ini. Kuncoro Sona menoleh ke samping. Lalu ia memberi aba-aba pada Nara Subala. Laki-laki yang telah mengerti akan aba-aba itu segera bangkit.

Tanpa menunggu perintah lebih lanjut Nara Subala melangkah meninggalkan ruangan itu.

"Kau sengaja membuat kami tegang, Kuncoro Sona. Apa sebenarnya yang akan kau tunjukkan pada kami?" tanya mereka penasaran.

"Sebenarnya bukan apa-apa. Mumpung kalian semua berada di sini. Sekali-sekali kami ingin memperlihatkan barang pusaka milik Partai 'Dewa Tenggara'." jawab Kuncoro Sona.

"Astaga! Dalam situasi yang begini kau ingin mengeluarkan pusaka?" Pendekar Sapu Angin tidak menduga.

"Hal ini berguna agar sesama perguruan saling mengenal pusaka. Situasi memang sedang ricuh, tapi apa yang mesti ditakuti? Bukankah kalian semua berada di sini? Tidak mungkin segala kutu busuk berani nyelinap merebut pusaka milik kami." jawab Kuncoro Sona.

"Yang kami takuti justru ada musuh dalam selimut." tukas majikan Kilat Buana." Semua undangan dalam ruangan itu saling pandang. Tak lamapun Nara Subala datang kembali. Ia membawa sebuah nampan berhias. Dalam nampan itu ada sesuatu yang terselubung dengan selembar sutra emas.

Nara Subala menyerahkan nampan itu pada Kuncoro Sona. Majikan Dewa Tenggara tidak mengambilnya. Ia hanya membuka kain sutra emas sebagai penutupnya.

Maka terlihatlah dua buah benda berkilat. Benda itu mirip dua batang tongkat selebar dua jengkal. Putih berkilat. Jelas tongkat-tongkat kecil bukan dari logam biasa, warnanya yang seputih kaca menyalanyala.

"Inilah pusaka 'Dewa Tenggara' kami menamakannya Dua Batu Kutub Utara-Selatan. Nenek moyang Dewa Tenggara telah menyimpannya selama beratusratus tahun. Kedahsyatannya melebihi dari pedang setajam apapun." jelas Kuncoro Sona. Nara Subala diperintahkan berjalan berkeliling agar semua para undangan dapat melihat jelas. Semua mata memandang tanpa berkedip. Manakala sinar menyilaukan memancar dari kedua benda tersebut.

"Aku berharap saudara-saudara sekalian bisa mengenali dan juga saling menjaga. Pusaka sangat perlu kita ketahui." ujar Kuncoro Sona.

"Melihat dari bentuknya, pastilah kedua senjata ini sangat luar biasa." Majikan Bukit Merak berkata kagum.

"Memang!" jawab Kuncoro Sona cepat. "Tapi kami tidak pernah menggunakannya sama sekali."

Kata-kata itu membuat para undangan berdecak kagum.

Sementara itu di luar, suasana tetap sepi dan tenang. Semua penjaga bersiap mengawasi sekitar tempat itu. Dari pintu gerbang sampai sekeliling bangunan berderet orang-orang Dewa Tenggara. Namun suasana di luar pelataran mendadak dikejutkan oleh beberapa orang penjaga yang tiba-tiba saja bergelintingan di tanah.

Melihat kejadian itu pun para penjaga yang lain berdatangan. Mereka mendapatkan lima orang temannya kelojotan sambil memegangi perut. Dan yang lebih aneh lagi semua orang yang berdatangan itu merasakan sesuatu yang aneh dalam perut mereka. Tak lamapun semuanya bergelimpangan seperti menahan sakit pada perutnya.

Begitu juga dengan para penjaga pintu gerbang. Mereka semua mengalami hal yang sama. Satu demi satu bergelimpangan menahan gejolak yang mengamuk dalam perut mereka.

Jatuhnya orang-orang Dewa Tenggara itu dapat terlihat jelas oleh para undangan. Kuncoro Sona sendiri jadi terkejut. Nara Subala masih memegangi nampan yang berisi benda pusaka. Demi keterkejutan itu mereka semua bangkit. Mereka mengira seseorang yang menyerang pemukiman Dewa Tenggara. Keadaan ruangan jadi kacau.

Serempak mereka bermaksud berlari keluar. Tapi baru saja beberapa langkah, beberapa orang termasuk Kuncoro Sona bergulingan. Mereka mengalami nasib yang sama seperti para penjaga di luar. Entah mengapa mendadak perut mereka tiba-tiba seperti disayat-sayat.

Tak terduga pula semuanya ikut jatuh menahan sakit yang menyerang perut mereka. Ruangan itu jadi kacau. Para pendekar mengerang-ngerang menahan sakit. Tak satupun yang dapat bangkit. Kecuali Nara Subala. Ia tetap berdiri tegar memegangi nampan berhias.

Laki-laki yang amat dipercaya oleh Kuncoro Sona ini memandang tenang ke arah mereka. Kuncoro Sona menggapai-gapai berusaha bangkit. Suaranya tidak dapat keluar. Kedua matanya membelalak menatap Nara Subala.

"Ha-ha-ha-ha-ha-ha...!" mendadak Nara Subala tertawa terbahak-bahak. Ia meraih dua buah pusaka 'Dewa Tenggara'. Membiarkan nampan berhias terbanting di lantai.

"Betapa mudahnya aku menyingkirkan orangorang tolol ini. Selama bertahun-tahun akhirnya sampai juga niatku untuk menguasai Pusaka 'Dewa Tenggara'...," Suara Nara Subala tajam bagai mata pedang. Kedua tangannya erat menggenggam pusaka-pusaka itu.

"Nara Su-Ba-la...! A-apa yang kau per-buat ini...!" bentak Kuncoro Sona terputus-putus.

"Ketahuilah, selama ini minuman kalian telah kuberi Racun Pengerat Usus. Kalian sudah tahu akan keganasan racun ini bukan? Semakin kalian banyak bergerak semakin cepat pula kalian menuju liang kubur!" ujar Nara Subala.

"Khe-pha-rhat...!" Kuncoro Sona tidak mampu berbuat apa-apa. Dan nampaknya semua orang dalam ruangan itu sangat parah. Semuanya berusaha menenangkan diri. Mereka berusaha menghimpun tenaga untuk mematikan pengaruh racun.

"Aku yakin racun itu tidak ada artinya bagi kalian. Kalau kalian gigih menyalurkan tenaga inti, maka dalam dua jam kalian akan kembali normal. Tapi siapa yang akan bertindak bodoh. Tentu saja sebelum meninggalkan tempat sial ini, aku mengirim kalian ke akherat terlebih dahulu. Biarlah istriku yang akan menentukan nasib kalian!" kata Nara Subala sambil memasukkan dua benda pusaka ke dalam balik bajunya. Lalu ia menoleh kesatu ruangan lain...

"Istriku! Keluarlah, sekarang kau perlu sembunyi-sembunyi macam anjing tumang!" teriak Nara Subala, maka dari balik pintu ruangan itu keluar seorang perempuan setengah umur. Perempuan itu masih nampak cantik dan mempesona, Apalagi pakaian sangat ketat menonjolkan tubuh yang aduhai. Semua para undangan membelalakkan mata menatap sosok perempuan yang tidak lain Nyi Awak Ceger.

"Na-Nara Su-Suba-la khe-pharat...! Rupanya kau yang se-sela-lu merecoki du-du-nia per-per-persilatan... Ahk...!" Pendekar Sapu Angin berniat bangkit menyerang, tapi ia terguling kembali.

"Hik-hik-hik-hik-hik...! Apa yang harus kita lakukan terhadap para pendekar malang ini, Kakang Nara Subala?" Suara Nyi Awak Ceger lirih. Nara Subala mengangkat bahu.

"Terserah kau, Istriku. Bukankah ini semua rencanamu?" jawab Nara Subala.

"Hik-hik-hik...! Kalau begitu, kau menyingkirlah, Kakang. Biar mereka jadi mangsa Tahi-tahi Kuku Wesiku." Nyi Awak Ceger melangkah menghadapi orang-orang itu. Kedua lengannya merentang siap menjentikkan jari jemarinya.

"Mampus lebih cepat lebih bagus!" bentaknya. Kali ini ia tidak main-main lagi. Sekali ia menjentikkan kesepuluh jari jemarinya, meletiklah senjata-senjata rahasia yang mengeram di balik kuku-kuku besi runcing Nyi Awak Ceger.

Bagai serbuk-serbuk besi membara, tahi kuku itu menghujan pada semua pendekar yang pasrah menerima nasib. Namun....

"Sreeeet...! Pruuuuul...!" Mendadak serbukserbuk itu meluruk ke tanah kembali. Tanpa mengenai satu orang pun. Nyi Awak Ceger maupun Nara Subala tersentak kaget melihat semua Racun Kuku Wesinya terjerat oleh serat-serat halus berwarna keputihan. Serat-serat itu pun sirna tatkala senjata-senjata rahasia Nyi Awak Ceger hangus di lantai.

*

* * 11

Di hadapan mereka berdiri sosok Pendekar Gelugut Sutra mementang jurus. Kedua ujung lengannya yang kutung mengarah ke depan siap melancarkan serangan lagi. Di belakang Pendekar Gelugut Sutra berdiam pula dua sosok pendekar yang tak lain Amarsa Rawut bersama Wintara.

"Pendekar buntung keparat! Berani kau menghalangi Racun Kuku Wesiku? Bagus... Bagus. Ada

baiknya kalian cepat ke mari. Biar sekalian aku menghabisi kalian bersama yang lain!" ujar Nyi Awak Ceger.

Amarsa Rawut mendekati sosok Kuncoro Sona yang berbanjir peluh. Majikan Partai 'Dewa Tenggara' ini tidak menyangka kalau Pendekar-pendekar dari 'Guci Perak' bakal hadir.

"Maaf atas keterlambatan ini, Saudara Kuncoro Sona. Anjing betina ini selalu menghalangi setiap langkah kami." Amarsa Rawut menjelaskan.

"Kami semua terkena Racun Pengerat Usus. Kami tidak dapat berbuat apa-apa." rintih Kuncoro Sona.

"Gawat. Untunglah kami cepat datang. Aku tahu bagaimana mengatasinya." Amarsa Rawut langsung menotok peredaran darah bagian ulu hati. Dengan begitu Kuncoro Sona merasa agak lebih baik. Tapi ia seperti tidak dapat bergerak.

"Tak apa-apa. Beberapa saat pengaruh totokan bersama racun akan lenyap." ujar Amarsa Rawut. Lalu ia menotoki lagi pada para pendekar lainnya. Melihat itu pun Wintara ikut membantu. Tanpa di perintah ia menotoki pula para korban keracunan.

Pendekar Gelugut Sutra tetap bersitegang menghadapi Nyi Awak Ceger, Nara Subala kertakkan rahang melihat Amarsa Rawut dan Wintara berusaha menyelamatkan mereka. Maka dengan sengit ia menerjang ke arah pendekar-pendekar itu. Bersamaan pula dengan terjangan Nyi Awak Ceger yang tidak kepalang melancarkan serangan pada Pendekar Gelugut Sutra.

Amarsa Rawut menyambut hantaman Nara Subala. Pendekar tanpa kaki ini dapat membuat Nara Subala mundur dengan sabetan tongkatnya. Sekali berkelebat, tongkat itu menyambar bagaikan sebilah pedang. Namun dengan tangan kosong Nara Subala tetap gigih membalas. Terhadap musuhnya, Amarsa Rawut menggempur dengan jurus 'Tendangan Seribu Halilintar'. Maka Nara Subala kewalahan memapaki dengan jurus 'Mengusir Badai'. Dan ternyata ilmu paduan Amarsa Rawut dapat mematahkan serangan balasan Nara Subala. Laki-laki memekik sambil berjingkat mundur. Ia merasakan benturan hantaman mereka begitu dahsyat. Apalagi setelah Amarsa Rawut memutar sebelah tongkatnya.... "Wuuuuuuk!" Sambaran angin itu menggetarkan rambut Nara Subala.

Sementara itu hantaman Pendekar Gelugut Sutra bergulung-gulung menyambut tebaran Racun Kuku Wesi Nyi Awak Ceger. Perempuan setengah umur ini beterbangan kian ke mari. Tidak putus ia menebarkan racun-racun mautnya. Sesekali pula ia melepaskan cakaran serta tendangan. Tak urung Pendekar Gelugut Sutra menepis dengan putaran kedua lengan buntungnya.

Wintara sudah selesai menotoki pendekar yang terkena Racun Pengerat Usus. Dia hanya berdiri tenang menyaksikan kedua temannya bertarung satu lawan satu. Dalam hal ini Pendekar Kelana Sakti merasa khawatir akan tindakan Pendekar Gelugut Sutra. Serangan-serangan Nyi Awak Ceger lebih berbahaya. Serat-serat gelugut sutra memang sempat meruntuhkan semua serbuk-serbuk membara tanpa ampun. Tapi Wintara dapat melihat jelas kalau pendekar tanpa telapak tangan ini begitu kewalahan.

Maka untuk Pendekar Kelana Sakti, ia mengambil langkahnya sendiri. Sekali ia melentingkan tubuh. Ia langsung memapak serangan Nara Subala. Amarsa Rawut yang tengah menghadapi serangan Nara Subala sampai terkejut.

"Maaf, Sobat Amarsa Rawut. Pendekar Gelugut Sutra memerlukan bantuanmu." kata Wintara. Kibasan tangannya tidak berhenti menyambut seranganserangan Nara Subala. Amarsa Rawut menyadari, tanpa dirinya ilmu paduan antara 'Guci Perak' dan ilmu 'Gelugut Sutra' tidak bersatu. Maka setelah melepaskan tusukan tongkatnya pendekar tanpa kaki ini melompat berganti arah.

"Hati-hati terhadap penghianat ini!" Tubuh Amarsa Rawut salto mengarahkan serangan terhadap Nyi Awak Ceger. Wintara tidak menyahut. Ia belum membalas serangan Nara Subala.

Menghadapi dua orang lawan, Nyi Awak Ceger bukan main sibuknya. Perempuan ini terus melancarkan racun-racun Kuku Wesi. Namun Amarsa Rawut dapat merontokkan serangan tersebut dengan jurus Pusaran Angin. Manakala hantaman Pendekar Gelugut Sutra mendesak pertahanan Nyi Awak Ceger.

"Perempuan cabul! Kematianmu memang harus di tangan kami! Karena dosa-dosamu telah bertumpuk!" hardik Pendekar Gelugut Sutra. Hantamannya tidak kepalang tanggung mendera. Tanpa bisa mengelak Nyi Awak Ceger memekik. Belum sempat pula ia membalas, sambaran tongkat Amarsa Rawut menghantam dadanya…. "Craaaas!" Darah menyembur dari bagian dadanya yang ranum.

Meskipun ia telah malang melintang dalam dunia persilatan, Nyi Awak Ceger harus mengakui akan kehebatan Dua Pendekar Buntung ini. Dia boleh mudah mengalahkan pendekar-pendekar lain dengan racun-racun andalannya. Tapi terhadap pendekarpendekar cacat ini, sekarang dibuatnya seperti bola.

Hantaman-hantaman serat sutra membuat diri Nyi Awak Ceger tak mampu berkutik. Dan perempuan malang ini tidak sempat mengelak saat kedua tongkat Amarsa Rawut bergerak menyilang menghantam Wajah cantik itu.... "Waaaarght!" Tapak tangan bercampur darah membekas di wajah perempuan yang bergelintingan ini. Kedua pendekar buntung hanya menyaksikan dengan puas saat Nyi Awak Ceger kaku menghembuskan nafasnya. Demi melihat tewasnya Nyi Awak Ceger, Nara Subala jadi kalap. seranganserangannya membabi buta mengarah pada Wintara. Baik pukulan maupun tendangan selalu nyaris mengena. Namun setelah Wintara mengeluarkan Menyibak Tirai Bayu, serangan-serangan Nara Subala bagai menghantam dorongan tenaga dalam yang sangat dahsyat. Ia sendiri hampir tak tahan memekik.

"Bocah celaka, kau tidak tahu dengan siapa berhadapan!" gertak Nara Subala. Wintara tidak menyahut. Ia tetap berdiri menghadapi. Dan bersiap-siap menyambut serangan Nara Subala lagi. Saat itu datang Dua Pendekar Buntung. Nara Subala melangkah mundur memasang jurus baru.

"Untuk kalian, pendekar-pendekar cacad, aku tidak segan-segan untuk menghirup darah kalian. Majulah kalian bertiga. Dan cepat mampus menebus kematian istri ku!" kata Nara Subala dengan gerakangerakan yang sulit diikuti pandangan mata.

"Itu jurus Dewa Tenggara Murka! Kalian hatihati menghadapinya...!" teriak Kuncoro Sona. Majikan Partai Dewa Tenggara ini masih duduk bersila menghimpun tenaga inti. Begitu juga dengan para pendekar yang ada di ruangan itu. Mereka sendiri turut menyaksikan pertarungan.

"Kalau balas dendam soal kematian istri keparatmu itu boleh! Apakah kau sanggup menghadapi kami bertiga." sahut Pendekar Gelugut Sutra. Pendekar tua ini telah siap pula mementang jurus.

"Arwah istriku tidak akan tenang sebelum kalian semua mampus!" bentak Subala. Serta merta ia melepaskan sebuah hantaman. Ketiga pendekar ini tidak menyangka kalau hantaman itu dapat membuat ketiganya belingsatan.

"Segala istri sering berbuat serong kau bela mati-matian. Pikirkan saja nasib busukmu itu!" ujar Amarsa Rawut. Dia sendiri berjumpalitan menghindari serangan Nara Subala. Pendekar Gelugut Sutra hampir terpelanting. Kecuali Wintara. Setelah ia bergeser, sebelah telapak tangannya maju menepis. "Plaaak!"

Usaha itu cukup menggagalkan serangan kedua Nara Subala. Lelaki ini agak tersentak ketika ia menerima tangkisan Wintara. Maka ia lebih condong melancarkan serangannya lagi pada Pendekar Kelana Sakti.

Untuk menghadapi serangan-serangan selanjutnya, Wintara gigih memapaki sambil berkelit. Hantaman Bayu Menghembus Tebing bergulung-gulung mendesak Nara Subala. Manakala Dua Pendekar Buntung datang lagi membantu.

Sabetan tongkat Amarsa Rawut membersit. Begitu juga dengan hantaman-hantaman Gelugut Sutra yang disebut Pukulan Tinju Kepompong. Kedua hantaman itu mendera langsung ke tubuh Nara Subala.

Tapi entah kenapa kedua pendekar buntung itu mencelat saat hantaman mereka mengenai perut Nara Subala. Nara Subala sendiri terhuyung ke belakang. Namun ia tidak merasakan kedua hantaman itu. Baru disadari kalau benturan hantaman-hantaman mereka berkat adanya dua buah benda pusaka di balik bajunya.

Sebelumnya Wintara agak terheran-heran melihat Dua Pendekar Buntung mencelat terbanting di lantai. Tapi rasa heran itu mendadak sirna. Karena dalam pada itu Nara Subala mengeluarkan kedua pusaka 'Dewa Tenggara'. Terlihatlah dua buah tongkat kecil memancarkan sinar begitu menyilaukan mata.

"Heh. Rupanya kau pun sudah berhasil menguasai Pusaka Dewa Tenggara. Benar-benar busuk jantungmu, Nara Subala!" bentak Pendekar Gelugut Sutra, Amarsa Rawut sudah bangkit. Kedua tongkatnya siap di lancarkan.

"Sobat Amarsa Rawut, para penjaga di luar nampaknya tengah keracunan juga. Sebaiknya kau menolong mereka dulu." perintah Wintara. Matanya nyalang mengawasi gerak gerik Nara Subala. Mendengar perintah itu Amarsa Rawut menoleh ke luar.

"Biadab. Orang-orang Partai Dewa Tenggara juga terkena racun Pengerat Usus. Kita harus cepat menolong mereka Paman." ujar Amarsa Rawut. Ia langsung melesat ke luar dengan diikuti oleh Pendekar Gelugut Sutra.

"Hadapi dulu olehmu manusia busuk itu, Wintara." sahut Pendekar Gelugut Sutra. "Setelah itu kami akan datang membantu!" Tanpa menoleh Wintara sudah tahu kalau Dua Pendekar Buntung itu pasti menotoki semua para korban yang masih bergelintingan mengerang-ngerang menahan sakit.

Tapi tindakan kedua pendekar itu dihalangi oleh Nara Subala. Dari situ ia membenturkan dua buah tongkat kecil. Maka terdengarlah sebuah ledakan dengan disertai lecutan sinar yang teramat panas. Leretan sinar biru mencuat mengarah. Dua Pendekar buntung cepat berjumpalitan mengelak. Tapi sinar kebiruan terlanjur memakan korban lainnya. Seorang Penjaga yang masih bergelintingan hangus terbakar dengan seketika.

"Teruskan menotok mereka!" teriak Wintara. Tendangannya menggagalkan Nara Subala membenturkan dua pusaka itu. Wintara hampir memekik saat Nara Subala menangkis dengan benda pusaka itu. Tendangannya seperti menghantam benda yang mengeluarkan dorongan tenaga dalam. Kalau ia tidak bisa mengimbangi tubuhnya, Wintara sudah jatuh bergulingan.

Tapi mana mampu Wintara menghadapi leretan-leretan sinar ganas. Manakala Nara Subala berkali-kali membenturkan dua pusaka. Sinar-sinar kebiruan meleret ke sana ke mari. Bahkan beberapa orang pendekar yang tanpa daya itu harus terkena hantaman pusaka tersebut, tak urung mereka mengalami nasib yang malang seperti penjaga di luar tadi. Kuncoro Sona yang berada di situ tidak sanggup memandang dua pendekar di sebelahnya, hangus terbakar.

Tidak ada pilihan bagi Wintara. Dia harus bisa membawa ke luar Nara Subala. Dalam keadaan setengah mati menghindari leretan-leretan sinar. Wintara menerjang.

*

* *

12

Terjangan Wintara cepat bagaikan kilat. Kedua telapak tangannya mengarah melepaskan hantaman Tinju Bayu Delapan Penjuru'. Nara Subala tidak sempat menghindar atau membenturkan pusaka-pusaka itu. Maka ia tersentak saat Wintara menerjang. Dan kedua telapak tangan Pendekar Kelana Sakti ini menghantam keras.

"Duaaaar!" Keduanya ambruk bersamaan. Benturan itu sangat keras. Sampai dinding ruangan jebol. Keduanya masih berguling dan berada di luar ruangan. Dengan begitu para pendekar yang tak berdaya ini ada kemungkinan terlindung dari leretan-leretan sinar pembawa maut.

Wintara cepat bangkit. Nara Subala berdiri terhuyung. Mulutnya menyemburkan darah. Kedua lengannya yang menggenggam dua pusaka bergetar. Ia masih merasakan sakit akibat hantaman Wintara tadi.

Sekali lagi Wintara melesat ke atas. Benturan sinar menjurus menghantam permukaan tanah. Sinarsinar mematikan itu terus mencecar ke mana Wintara mengelak. Dan selalu luput. Namun sinar-sinar itu menghancurkan apa saja yang menjadi sasarannya.

"Ha-ha-ha-ha-ha.... Tamat riwayatmu pendekar ingusan!" bentak Nara Subala. Wintara memapaki hantaman-hantaman pusaka dengan pukulan 'Bayu Menghempas Gelombang'. Setengah pula Nara Subala menghindari serangan balasan Wintara. Dalam pada waktu itu pun Wintara sempat melepaskan tendangan memutar mengenai lengan kirinya.... "Deeees!" Sangat keras. Sampai sebuah pusaka dalam genggamannya terlempar.

"Kita boleh mengadu kepandaian manusia telengas! Aku ingin tahu sampai di mana ilmu curian dari Partai Dewa Tenggara!" Wintara menarik nafas panjang. Dia masih yakin kalau sebuah pusaka lagi dalam tangan musuhnya merupakan senjata andalan.

"Apa perduli mu! Jangan anggap remeh pusaka ini!" jawab Nara Subala. Sambil berkata begitu ia menyerang. Menghantamkan pusaka ke arah Wintara. Pendekar Kelana Sakti tidak mengelak. Ia coba menangkis dengan sebelah lengannya.

"Deeer...!" Tak pelak Wintara jatuh terpelanting. Tenaga dahsyat Pusaka Dewa Tenggara tidak boleh dianggap enteng. Wintara sudah merasakannya. Maka ia cepat bangkit untuk menghadapi serangan berikutnya. Dan terpaksa pula melepaskan hantaman 'Menyibak Tirai Bayu'. Dari hantaman itu serasa angin berputar kedua arah. Hantaman pusaka di tangan Nara Subala seperti tidak terasa. Nara Subala hampir tidak percaya. Maka ia melancarkan serangan lagi. Tendangannya deras. Dibarengi pula dengan hantaman Pusaka Dewa Tenggara.

Tanpa bergeser Wintara menghadapi dua hantaman itu sekaligus. Nara Subala memang tokoh silat berilmu tinggi. Wintara bisa mengukur. Hantamanhantaman yang dilancarkan sangat cepat. Wintara hanya bisa menangkis atau mengelak. Untuk membalas serangan Pendekar Kelana Sakti belum mendapat kesempatan.

Tapi menghadapi sebelah Pusaka Dewa Tenggara agak lebih mudah. Wintara tidak perlu repot menghindari leretan-leretan sinar yang dapat menghancur leburkan apa saja. Selama itu pula Nara Subala berusaha meraih pusaka satunya lagi. Tapi Wintara terus menggagalkannya.

Bahkan Wintara sempat pula menendang pusaka itu ke tempat yang lebih jauh. Tindakan itu membuat Nara Subala makin murka. Kuat-kuat ia menghantamkan Pusaka Dewa Tenggara ke bagian kepala. "Bweeeet...!" Wintara cepat merunduk. Dua tinjunya bergerak maju menghantam perut Nara Subala. Laki-laki itu mencelat tak kepalang. Tubuhnya berdegum di tanah sambil menyemburkan darah. Sekujur tubuhnya terasa remuk. Dengan sempoyongan Nara Subala bangkit berdiri. Wintara menambahkan lagi dengan tendangan yang bagaikan hembusan angin "Deeer!" Tubuh Nara Subala melin-

tir tak terkendali, kemudian jatuh telak dengan sebelah lengan yang patah.

Saat itu Pendekar Gelugut Sutra maupun Amarsa Rawut telah selesai menolong para korban keracunan. Keduanya berlari ke arah pertarungan. Mereka melihat Nara Subala berdiri limbung. Langkahnya berat menerjang Wintara. Sebelah pusaka masih tergenggam di tangannya. Dengan pusaka itu pula ia menghantam Wintara kuat-kuat.

Namun sebelum hantaman itu berkelebat, Amarsa Rawut menyambut dengan jurus tongkat yang dinamakan Pedang Menyapu Geledek. Sambaran tongkat Amarsa Rawut menghantam keras pergelangan tangannya.... Praaaak! Pergelangan tangan Nara Subala hancur. Tulang-tulang jemari tangan yang menggenggam pusaka terasa remuk. Tak terasa mulai mengeluarkan darah. Dengan mata terbelalak Nara Subala melihat pusaka terjatuh dari genggamannya.

Nara Subala sendiri yang membenturkan tongkatnya tadi menghantam pusaka mencelat tak kepalang tanggung. Melihat itu pun Pendekar Gelugut Sutra melepaskan Gelugut Jaring Sutra, Akibatnya Nara Subala seperti di rejam ribuan jarum. Belum lagi dengan serang-serangan Wintara. Pukulan Tinju Bayu Delapan Penjuru benar-benar meremukkan dada Nara Subala.

Laki-laki ini dibuatnya jatuh bangun. Pandangannya juga mulai suram. Namun begitu Nara Subala masih bisa melihat tiga orang pendekar berdiri di hadapannya.

"Anak muda.....Pukulan apa yang kau lancarkan tadi? Hantaman itu benar-benar menghancurkan tulang belulangku." kata Nara Subala.

"Pukulanku tidak seberapa dibanding dengan hantaman Pendekar Gelugut Sutra." jawab Wintara sambil melirik ke arah Dua Pendekar Buntung yang berdiri di sebelahnya.

"Chis! Hantaman-hantaman manusia-manusia buntung itu tidak ada artinya bagiku! Dalam keadaan begini pun aku masih sanggup menghadapinya," tukas Nara Subala.

"Keparat...! Bentak Amarsa Rawut. Ucapan Nara Subala membuat telinganya panas. Pendekar Gelugut Sutra sudah tidak sabaran untuk melepaskan pukulan menghancurkan mulut Nara Subala. Namun mendadak saja ia mengurungkan niatnya, karena....

"Tunggu,..!" Terdengar satu bentakan. Dari dinding yang bobol bermunculan beberapa pendekar melangkah mendekati. Paling depan Kuncoro Sona melangkah cepat. Dia pula tadi yang menggagalkan hantaman Pendekar Gelugut Sutra.

"Syukurlah kalian telah bebas dari pengaruh Racun Pengerat Usus." tegur Amarsa Rawut, Semua pendekar itu memang telah segar bugar. Mereka langsung berdiri mengelilingi Nara Subala.

"Kami bisa selamat berkat bantuan kalian. Entah bagaimana nasib kami tanpa kehadiran kalian di sini." jawab Kuncoro Sona. Ia memunguti dua Pusaka 'Dewa Tenggara'

yang berserakan di tanah. Lalu ikut berkumpul dengan pendekar-pendekar lainnya. "Nara Subala memang pantas menerima hukuman. Biar aku sebagai majikan Partai 'Dewa Tenggara' yang akan menentukannya." ujar Kuncoro Sona. la memandang geram pada laki-laki yang duduk tak mampu berdiri.

"Mati pun aku puas, Kuncoro Sona. Silahkan kau membunuhku!" jawab Nara Subala. Ucapannya sangat menantang. Maka tidak segan-segan lagi Kuncoro Sona berdiri di hadapannya. Dengan mata yang melotot, majikan Partai Dewa Tenggara menghantam kepala Nara Subala dengan kedua pusaka itu.

Sekaligus tubuh Nara Subala ambruk dengan kepala hancur. Pusaka dalam tangan Kuncoro Sona bersimbah darah. Semua mata tidak berkedip menatap tindakan itu.

"Manusia macam Nara Subala sudah sepantasnya hidup di akherat. Sungguh malu orang-orang Partai Dewa Tenggara tidak dapat mengetahui hal ini sebelumnya. Aku pun pantas menerima hukuman." kata Kuncoro Sona. Semua pendekar yang berada situ melihat Kuncoro Sona berniat menghancurkan kepalanya sendiri dengan pusaka itu. Namun sebelum pusaka itu menghantam remuk kepalanya, Wintara bertindak menghalangi. Kedua lengannya cepat merebut Pusaka Dewa Tenggara.

"Kenapa harus bertindak bodoh seperti ini. Apakah semua para undangan yang datang ke sini hanya untuk menyaksikan kematian anda?" ujar Wintara.

"Jauh-jauh kami datang ke sini untuk mengikuti pertemuan. Tanpa kau percuma saja undangan ini disebar." tukas Amarsa Rawut. Pendekar cacat tanpa kaki ini merangkul Kuncoro Sona. Majikan Partai Dewa Tenggara nampak menarik nafas.

"Apakah kami telah terlambat mengikuti pertemuan?" tanya Pendekar Gelugut Sutra. Pendekarpendekar lain mengangkat bahu. Salah seorang dari mereka ada yang menjawab.

"Bukan hanya terlambat, Saudara Pendekar Gelugut Sutra. Justru dengan kehadiran kalian ini. Semua titik persoalan telah selesai." "Apa...?" Pendekar Gelugut Sutra mengernyitkan alis.

"Apa lagi yang perlu dimasalahkan? Nyi Awak Ceger telah tewas juga penghianat ini telah mampus. Untung saja kedua Pusaka Partai Dewa Tenggara tidak jatuh ke tangan mereka." jawab pendekar perempuan dari Gunung Tambur.

Amarsa Rawut dan Pendekar Gelugut Sutra jadi bengong. Keduanya saling pandang mengangkat bahu.

"Tapi kedatangan kalian bertiga tidak sia-sia. Siapa pula pendekar muda yang gagah berani ini?" kata Pendekar Sapu Angin.

Wintara tidak menyahut. Ia menyerahkan kembali pusaka-pusaka milik Partai Dewa Tenggara pada Kuncoro Sona. Laki-laki ini menerimanya dengan senang hati.

"Nama besarnya lebih tinggi dari para pendekar-pendekar yang ada di desa ini. Kalian pasti tidak percaya kalau kusebutkan siapa gerangan sobatku ini  " sahut Amarsa Rawut.

"Ah, kalau beliau berada di pihak lurus, kau dan aku tidak ada bedanya, Amarsa Rawut. Aku juga pantas jadi sahabatnya." gurau majikan Perguruan Kilat Buana. Laki-laki setengah tua ini berjalan mendekat ke arah Wintara. Ia berjabatan tangan.

"Kita semua harus tahu kalau pemuda itu adalah Pendekar Kelana Sakti...." kata Pendekar Gelugut Sutra.

"Astaga, sungguh lamur mata tuaku ini. Kiranya anda sobat muda yang menyandang gelar Pendekar Kelana Sakti. Sungguh tidak kusangka kalau menjelang maut tadi aku diselamatkannya." gumam pendekar Dari Gunung Kelud.

"Siapa bilang kalau kedatangan kami ini berarti semua persoalan telah selesai?" tanya Pendekar Gelugut Sutra.

"Maksudmu?" Majikan Bukit Merak balik ber-

tanya.

"Kita harus mengurusi mayat-mayat yang ber-

gelimpangan di sana. Beberapa perguruan telah tewas mengerikan." kata Pendekar Gelugut Sutra tegas.

"Ha-ha.... Kalau cuma itu yang ada dalam benakmu. Kami semua sudah memikirkannya." jawab mereka hampir serempak.

Dalam suasana itu hanya kelompok pendekarpendekar wanita dari Gunung Tambur yang nampak muram. Karena di dalam ruangan di mana para pendekar melawan pengaruh racun, nampak dua sosok pendekar wanita tewas hangus terbakar. Mereka masih ingat bagaimana kedua pendekar wanita itu tanpa daya terkena hantaman Pusaka Dewa Tenggara. Itu juga sangat disesali oleh Kuncoro Sona.

Majikan dari Gunung Tambur ini hanya menghela nafas. Dia sendiri sudah menyadari kalau setiap perjuangan selalu memakan korban. Sedikitnya dia akan merasa kehilangan dua orang murid andalannya. Semua terasa begitu cepat. Apakah perasaan pendekar-pendekar lain akan sama dengan yang dialami Majikan Gunung Tambur ini? Rasanya memang tidak.

TAMAT