Serial Pendekar Kelana Sakti Eps 08 : Darah Perempuan Iblis

 
Eps 08 : Darah Perempuan Iblis 


Hujan baru berhenti, sisa-sisa gerimis masih menggerayangi permukaan tanah. Membuat tanah sekitar perbukitan makin tergenang air. Langit di atas gelap dengan awan yang bergulung-gulung saling kejar. Manakala petir sesekali menggeletar mengguncangkan Bukit Busung Kawu.

"Glaaaar...!"

Sekejap tempat itu terang, maka nampak jelas pemandangan yang sangat menyeramkan. Seluruh permukaan tanah yang becek itu banyak bergelimpangan sosok-sosok tubuh bergelimpangan darah tanpa nyawa.

"Zglaaaar...!"

Sekali lagi kilat menyambar. Maka keadaan mereka semakin jelas terlihat. Potongan-potongan tangan, kepala atau segala macam senjata banyak berserakan di pelataran bukit yang becek itu. Betul-betul mengerikan! Seluruh tanah becek itu memerah bercampur darah.

Di balik derai gerimis terdengar pula suara beradunya senjata. Berbarengan dengan jatuhnya seorang korban lagi. Tidak jauh dari situ memang telah terjadi suatu pertempuran. Nampak sepasang suami istri sibuk menghadapi lima orang yang mengeroyok dengan serangan-serangan yang membabi buta. Lakilaki itu melindungi istrinya yang menggendong seorang perempuan kecil. Namun sebenarnya wanita itu memiliki jurus-jurus pedang yang sangat hebat. Meskipun ia dalam menggendong putrinya, ia masih bisa menjatuhkan seorang lawannya dengan babatan pedang.

Suaminya pun menghadapi empat orang sekaligus tidak kalah hebat. Pedangnya yang hanya beberapa jengkal dapat menyambut setiap serangan-serangan lawannya. Sekalipun ia tahu keempat lawannya itu bukan orang sembarangan. Yang lebih jelas mereka tidak lain empat orang saudara seperguruannya sendiri.

Tapi dalam pertempuran yang basah kuyup itu, mereka seakan memandang membesar terhadap pasangan suami istri itu. Gigih sekali babatan-babatan senjata mereka mencecar. Setengah mati suami istri itu menangkis atau menghindari serangan yang mematikan.

"Kakang Legowo.... Awas!" teriak perempuan yang menggendong putrinya, padahal dia sendiri hampir kewalahan menghindari sambaran pedang. Tapi rupanya peringatan istrinya itu terlambat. Legowo tidak sempat bergeser saat senjata lawannya mengenai bagian lengan. "Breeet!"

Untung saja hanya tergores. Cepat Legowo membalas serangan itu. Pedang pendeknya berputar.

"Traaang!"

Terjadi benturan nyaring dengan senjata yang datang dari belakang Legowo.

"Istriku, sebaiknya kau pergi dari sini. Bawa Laranti jauh-jauh. Biar aku yang menghadapi setansetan rakus ini!" teriak Legowo. Pedang pendeknya menangkis dua sambaran pedang. Legowo sendiri melompat mendorong istrinya mundur.

"Tidak bisa, Kakang! Mereka terlalu licik. Kau bakal celaka menghadapi sendirian. Biar aku ikut membantu, mati pun kita bersama!" jawab istri Legowo, ia malah maju memutar pedangnya ke depan. Keempat penyerang Legowo berjingkat mundur.

"Kalian memang bakal mampus! saja pergi dari perguruan.... Kalian harus menebus kematian guru." bentak salah seorang lawan Legowo sambil menudingkan pedang ke arah suami istri itu. Legowo dan istrinya melotot.

"Sudah kukatakan, guru tewas karena sakit! Bukan aku yang menyebabkan kematiannya." sahut Legowo sengit. Tapi dijawab dengan sambaran pedang keempat orang lawannya. Istri Legowo yang menggendong putrinya sigap menyambut serangan-serangan itu. Keempatnya sampai terkesiap.

Cepat mereka merubah posisi, keempat saudara perguruannya itu mengurung istri Legowo. Sudah tentu Legowo tidak tinggal diam. Ia segera melompat ke hadapan istrinya. Lalu berkata lantang....

"Saudara-saudaraku.... Hendaknya kesalahpahaman ini diakhiri saja. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di antara kita. Kalau kami meninggalkan perguruan, bukanlah berarti kami melupakan budi baik kalian. Tapi "

"Jangan banyak ngoceh, Legowo! Kita ini semakan dan sepeminuman. Siapa yang tidak tahu kalau kau diberikan 'Ilmu Weduk Pamungkas' oleh guru. Padahal ilmu itu merupakan tingkat akhir jurus-jurus ilmu pedang perguruan kita!"

"Astaga.... Sampai sejauh itukah pemikiran kalian? Mana mungkin guru mau memberikan ilmu itu pada kami. Kalian berempat adalah kakak seperguruan, seharusnya kepada kalianlah guru menyerahkan ilmu tersebut." Legowo membela diri.

"Susah kalau bicara dengan orang yang bersifat serakah! Mungkin kalau nyawa kalian sampai di tenggorokan baru mau mengaku. Sudah habisi saja mereka!" Salah seorang dari keempat orang itu maju menyerang. Yang lain mengikuti. Babatan-babatan pedang kembali membersit. Terpaksa sekali Legowo menghadapinya. Sang istri tidak ingin suaminya terluka, untuk itulah ia ikut maju membantu Legowo. Kemahirannya dalam memainkan pedang jauh dibanding dengan keempat orang yang dihadapinya. Setiap pedangnya bergerak, para penyerang itu kelabakan menghindarinya. Putrinya yang dalam gendongan nampak tersengal-sengal. Gadis berusia tujuh tahunan itu nampak gemetar melihat pedang-pedang mereka beradu sampai mengeluarkan percikan-percikan api.

Bagaimana pun Legowo tidak ingin istrinya ikut-ikutan dalam pertarungan itu. Dan lain kemarahan keempat saudara seperguruannya sudah tidak dapat dibendung. Mereka betul-betul telah memutuskan tali persaudaraan. Meskipun Legowo saudara termuda, ia masih bisa mengimbangi seranganserangan keempat orang itu. Dan kenyataannya Legowo memang lebih tangguh dari mereka.

Kilat menyambar bagai lidah-lidah api yang amat menyilaukan. Gerimis membasahi baju serta rambut orang-orang itu. Manakala benturan senjata berdenting terus menerus. Bersamaan dengan itu pula serentetan teriakan menggema. Legowo membabat ke samping. Pedang pendeknya menancap tepat di perut lawan. Saat itu pun ia tidak sempat menarik lengannya. Tahu-tahu saja lengannya tersayat oleh sambaran pedang. Darah bercampur dengan air hujan di sekujur lengannya.

"Kakang Legowo kau tidak apa-apa?" Istrinya sempat bertanya, padahal ia sendiri merasa sibuk menghadapi dua orang lawannya. Legowo memang telah kehabisan tenaga. Apalagi lengannya banyak mengeluarkan darah. Hal itu membuat istrinya sangat kuatir.

Sambil memondong putrinya itu, ia lihat Legowo agak sedikit kepayahan menghadapi seranganserangan empat orang yang mengeroyok suaminya. Dia hanya dapat menangkis dan menepis. Untuk membalas serangan, tak mungkin ia bisa mengalahkan kecepatan gerak sambaran pedang lawan-lawannya.

Sesekali pula ia memekik sambil melangkah mundur. Untung saja Legowo bisa mengatasi kesulitan-kesulitan itu. Namun menghadapi empat orang yang sangat mahir dalam ilmu pedang tidaklah mudah. Legowo yang sudah kehabisan tenaga itu mudah di perdaya. Tak terduga pula saat Legowo melindungi istrinya, sambaran pedang lawannya dapat menyambar pinggangnya. Legowo memekik hebat.

"Sudah kubilang, Legowo! Aku tak segan-segan membunuh kau dan anak istrimu! Karena kami yakin 'Ilmu Weduk Pamungkas' ada padamu!" Sambil berkata begitu salah seorang lawannya menyerang lagi, kali ini dengan tusukan pedang yang meluncur deras. "Trang...!"

Cepat Legowo menyambut dengan pedang pendeknya. Benturan itu demikian keras sehingga pedang lawannya patah dua. Namun dengan patahan pedang orang tersebut masih menjurus deras. Dan Legowo betul-betul terperanjat menghadapinya. Ia tidak percaya pedang lawannya yang buntung menancap amblas di perut.

"Istriku.... Istriku...." Legowo takut sendiri. Melihat itu istri Legowo jadi kalap. Istrinya menjerit-jerit melihat sang ayah bersimbah darah. Sementara keempat lawannya makin bersemangat menggempur Legowo.

"Mundurlah, Kakang! Keparat-keparat ini aku yang bereskan!" Istri Legowo membentak, pedangnya membersit ke dep menghalau keempat orang yang menyerang Legowo. Legowo yang sudah kehabisan tenaga dan banyak mengeluarkan darah masih saja maju menghadapi mereka. Jelaslah empat orang lawannya akan lebih mudah menghadapi suami istri itu.

Lengan istri Legowo terasa kesemutan saat pedangnya menangkis sambaran-sambaran pedang. Merasa kurang leluasa bergerak, istri Legowo menurunkan putrinya. Lalu ia mengamuk menggantikan Legowo. Meskipun istri Legowo murid termuda, kepandaiannya hampir berimbang dengan keempat saudara seperguruannya. Dua diantaranya mulai terdesak. Serangan perempuan itu tidak kepalang tanggung lagi. Seleret sinar putih berkelebat "Crak!"

Salah seorang dari penyerang itu ambruk dengan batok kepala yang hampir terbelah. Darah pun membanjir di sekitar tanah becek. Istri Legowo tersenyum sinis. Pedangnya masih terus membersit. Tiga orang lawannya mulai mundur-mundur. Perempuan itu makin gencar maju menyerang.

Kembali senjata-senjata mereka berdentingan nyaring. Nampaklah beberapa gulung sinar saling bentur memercikkan api. Teriakan-teriakan mereka menggelegar di balik suara gerimis. Sesekali pula kilat menyambar. Legowo berdiri terhuyung menyaksikan pertarungan istrinya yang mati-matian membela keselamatan mereka.

Saat itu seseorang melompat meninggalkan arena pertarungan. Gerakannya cepat bagai kilat. Perempuan itu sendiri tidak sempat menghalanginya. Karena ia tengah sibuk menghadapi dua orang lawannya. Ia sempat melirik orang yang melompat tadi. Ternyata orang itu menuju ke arah Legowo yang berdiri terhuyung menahan sakit. Laranti putrinya berdiri di samping memeluk.

"Mungkin setelah kau mampus kami baru bisa memiliki 'Ilmu Weduk Pamungkas'. Hreaaaa!" Orang itu langsung membabatkan pedangnya. Legowo yang sudah luka parah tetap waspada. Begitu serangan datang, pedang pendeknya menyambut. Namun gerakannya yang lambat membuat penyerangnya cepat mengganti posisi. Dan Legowo tidak sempat menghindar saat sambaran pedang menghantam dadanya. Legowo pun ambruk.

"Ha-ha-ha-ha.... Kau sendiri yang memaksa aku bertindak kasar, Legowo.... Dan kau tidak perlu khawatir, sebentar lagi anak dan istrimu akan menyusul ke akherat!!" Sambil berkata begitu ia menarik lengan Laranti. Gadis kecil itu memekik ketakutan. Legowo berusaha bangkit, tapi kondisinya yang tidak memungkinkan lagi membuat dirinya ambruk lagi.

"Jangan kau sentuh anakku! Biarkan dia!" bentak istri Legowo sambil lari menjurus ke arah Laranti. Tapi dua orang yang tadi dihadapi cepat menghalanginya. Babatan pedang mereka hampir saja memutuskan lehernya.

"Kau menginginkan putri mu? Nih terimalah...!" Dengan keras orang itu menendang gadis kecil itu. Laranti mencelat jauh. Jelas sekali darah menyembur dari mulutnya.

"Laranti...!" Istri Legowo memekik hebat. Ia tidak memperdulikan lagi pada orang-orang yang menyerangnya. Perhatiannya tercurah penuh pada Laranti. Kesempatan seperti itu tidak disia-siakan oleh kedua orang penyerangnya.

Dari arah belakang mereka membabatkan pedangnya sekuat tenaga. Istri Legowo yang dalam keadaan panik melihat anaknya tergeletak di tanah becek, tahu-tahu saja tersungkur mencium lumpur. Punggungnya terasa perih. Dan memang babatan-babatan pedang itu merobek kulit punggungnya.

"Keparat!" Perempuan itu cepat berbalik. Sambaran-sambaran pedang masih terus mencecar dengan bengis. Tapi sekali perempuan itu menyambar ke depan serangan itu, dua orang penyerangnya terjungkal hebat. Satu di antaranya tewas dengan perut yang membuyarkan isinya. Satu lagi bergulingan. Istri Legowo bangkit dengan geram menghadapi penyerangnya yang tinggal dua orang.

"Kalian bukan saja menginginkan 'Ilmu Weduk Pamungkas'! Tapi juga sengaja ingin membantai kami.... Hmrrrrt! Sekarang majulah! Lebih baik kita mati bersama!"

Dua orang yang dihadapinya malah tertawa mengekeh. Pedang mereka berputar mengancam. Dengan pandangan nanar perempuan itu terus menatap.

"Kau boleh menggulingkan orang-orang ku, Perempuan busuk! Aku memang ingin bertarung sampai mati. Lebih baik mati daripada tidak mendapatkan 'Ilmu Weduk Pamungkas'...!"

"Pantas guru tidak pernah serius memberi kalian pelajaran ilmu pedang. Ternyata watak kalian memang bengkok! Biarlah aku yang akan menghukum kalian!" Istri Legowo menghardik.

*

* *

2

Kedua lawannya beringsut mundur saat perempuan itu maju membabatkan pedangnya. Maka gulungan-gulungan sinar berkelebat ke sana ke mari. Teriakan dahsyat dari ketiga orang itu membahana saling melepaskan serangan. Dentingan beradunya pedang mereka tidak henti-hentinya mengeluarkan percikan api yang amat menyilaukan. Itu tandanya mereka mengerahkan seluruh tenaga dalam setiap menggerakkan pedangnya.

Entah sampai pada jurus yang ke berapa. Tahu-tahu saja sosok Legowo melesat dan langsung berada di antara mereka. Lengannya yang menggenggam gagang golok pendek berputar keras. Mendapat hantaman yang begitu tak terduga. Ketiga orang itu termasuk istrinya sendiri, mendadak bergulingan. Legowo sendiri hampir tidak dapat menahan berdiri. Tindakannya itu sebenarnya hanya membuang-buang tenaga. Sebab begitu bergulingan kedua orang penyerangnya bangkit serempak. Istri Legowo sadar akan keselamatan suaminya. Lalu ia bangkit pula.

Namun gerakannya yang lambat membuat usahanya sia-sia. Sebab kedua orang itu terlebih dahulu membabatkan pedangnya ke tubuh Legowo yang sekaligus ambruk.

Di luar dugaan satu di antara penyerangnya itu ikut ambruk menindih tubuh Legowo. Rupanya ketika kedua orang itu menyerang Legowo, pedang perempuan yang dalam keadaan kalap itu sempat menyambar perut seorang yang berdiri itu sampai terjungkal menghindari sambaran pedangnya.

"Kini tinggal kau sendiri, Wundung Kuro... agaknya perguruan kita memang harus amblas ditelan bumi. Jangan takut, setelah kau mampus, aku pasti bunuh diri. Agar di antara kita sama-sama tidak menguasai 'Ilmu Weduk Pamungkas'..."

"Mendengar ucapanmu, pastilah jurus-jurus terakhir ilmu pedang 'Ilmu Weduk Pamungkas' ada padamu. Heh! Dasar perempuan licik!"

Perempuan itu hanya diam, pandangan matanya nyala memerah seperti bara. Pedang dalam genggamannya bergetar, punggungnya yang terluka semakin banyak mengeluarkan darah. Tapi ia tetap berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. Mendadak ia melompat ke atas. Sambaran pedangnya menjurus ke arah batok kepala lawannya yang tinggal seorang itu. Tapi sebelum pedang itu menyentuh batok kepala, Wundung Kuro cepat merunduk sambil mengangkat pedangnya ke atas pula. Maka pedang mereka beradu.

Namun istri Legowo yang sudah kepalang tanggung melepaskan serangan, ia melancarkan tendangannya. Sudah tentu Wundung Kuro yang berada di bawahnya tidak sempat menghindar. Tubuhnya ambruk ke tanah becek dengan punggung yang berdenyut.

Dan ia tersentak kaget saat istri Legowo hinggap di depannya dengan pedang terhunus. Dengan kalap Wundung Kuro menyambar hantaman pedang perempuan itu dengan pedang. Sambil bangkit pedangnya terus berputar. Perempuan itu pun setengah mati mundur menghindar. Namun tanah yang dipijaknya sangat licin, kedua kakinya yang berdiri lemah terpeleset. Pada saat itulah Wundung Kuro mendorong pedangnya ke depan.

"Breeees...!"

Mata perempuan itu membelalak. Ia tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Pedang Wundung Kuro menancap di tenggorokannya, dari situ mengucur darah segar bagai air mancur. Ketika Wundung Kuro mencabut pedangnya, tubuh perempuan ini ambruk dengan kelojotan. Melihat keadaan lawannya demikian parah Wundung Kuro semakin nafsu. Dengan geram ia maju mendekati perempuan yang masih kelojotan menahan sakit. Pedangnya siap terangkat.

Tapi di luar perhitungannya, perempuan itu masih bisa menghalangi gerakan Wundung Kuro meskipun dengan gerakan yang membabi buta. Tapi justru tindakan seperti itu membuat Wundung Kuro celaka. Tanpa terasa lengan lelaki itu yang menggenggam pedang melayang tinggi. Dan tiba-tiba saja Wundung Kuro teriak histeris saat ia lihat pangkal lengannya mengucurkan darah. Ternyata lengannya telah sempat termakan sambaran pedang.

Meskipun darah telah membanjir di sekitar lehernya, perempuan itu berusaha bangkit. Ia menatap geram Wundung Kuro yang menjerit-jerit kehilangan sebelah lengan. Pedangnya bergetar menyambar.

Dengan langkah yang terseret perempuan itu mencoba maju. Wundung Kuro mengira tidak mungkin dapat menghadapinya lagi. Sambil meringis ia mundur.

Padahal perempuan itu hanya menggertak saja. Tapi Wundung Kuro menjadi semakin keder. Maka sebelum pedang menyambar ke arahnya, laki-laki yang tinggal seorang itu melarikan diri. Langkah-langkahnya tidak beraturan, karena sesungguhnya Wundung Kuro telah kehabisan tenaga. Apalagi keadaan telah terluka parah.

Perempuan itu bermaksud mengejarnya, namun sepertinya ia tidak kuat lagi untuk melangkah. Ia hanya menatap kepergian Wundung Kuro dengan gerak tubuh yang sempoyongan. Sebentar kemudian ia berpaling pada tubuh suami dan anaknya yang terlentang bercampur dengan tanah becek. Tubuh Mereka telah basah kuyup tak karuan. Tetes-tetes gerimis masih berderai mengiringi kesunyian itu. Petir menyambar tanpa suara tapi cukup menegangkan suasana.

Dalam pada itu Legowo bergerak lemah. Tangannya menggapai-gapai ke arah istrinya yang perlahan pula melangkah. Perempuan itu ambruk dengan seketika di samping Legowo. Kedua seperti ingin saling berpelukan. "Maafkan aku kakang.... Hh.... Setelah kematian guru, aku memang menyembunyikan jurus-jurus terakhir 'Ilmu Weduk Pamungkas'.... Hhhh    Sekarang

telah terbukti    Empat orang saudara seperguruan ki-

ta tidak bisa dipercaya "

"Tidak kusangka.... Kau... selicik itu istriku....

Perbuatanmu tidak benar. Mengapa kau berani menyembunyikan lembar terakhir itu tanpa sepengetahuanku...?" jawab Legowo dengan nafas yang terputusputus.

"Guru sudah tiada, Kakang.... Sebelum mereka merebutnya, apa salahnya jika aku mencurinya lebih dulu."

"Perempuan rendah! Tidak sadarkah kalau kejadian ini akibat ulah mu? K-kk-kau lihat sendiri Di

sana sini telah bergelimpangan mayat-mayat yang tak berdosa sama sekali.... Hkkkk.... Hhhhhh...." Legowo mencengkeram erat punggung istrinya. Perempuan itu seperti menyesalinya. Air matanya mengembang manakala tubuh suaminya mengejang kaku melepaskan nafas terakhirnya.

"Kakang !" Perempuan itu memekik hebat. Tu-

buhnya telah banjir dengan darah. Sekali tarik tubuh suaminya itu sudah berada dalam pelukannya. Petir menyambar lagi bersama suaranya yang menggelegar menggetarkan suasana.

Sosok anak kecil mengguncang-guncangkan mereka. Darah belum mengering bercampur air hujan di mulutnya. Meski samar tampak gadis kecil itu mengeluarkan suara.

"Bu "

Meskipun suaranya yang pelah tertimbun suara gerimis, masih sanggup menggetarkan wanita yang mulai berpaling ke arah sana. "Laranti... k-kk-kau... t-tt-tidak a-apa-apa, Nak...?" sapanya setelah gadis kecil itu ikut memeluk mereka. Laranti menggeleng. Ia mengusap-usap wajah ayahnya yang telah kaku biru.

"Biarkan ayah pergi dengan tenang, Laranti....

Masih ada ibu yang menjaga mu.... Paman Wundung Kuro yang melakukan semua ini anakku. Kelak kau harus membalas kematian ayahmu...." Perempuan itu tersenyum getir meski tenggorokannya yang berlubang mengeluarkan darah. Ia menarik sesuatu dari gulungan rambutnya. Sebuah tusuk konde berwarna kuning mengkilat.

"Simpanlah ini kalau perlu selipkan saja pada gulungan rambutmu. Jangan sampai hilang, Laranti....

Di dalamnya terselip beberapa lembar jurus ilmu silat yang dapat mengalahkan Paman Wundung Kuro." Laranti yang mendengarkan ucapan ibunya mengangguk. Perempuan itu menatap berkeliling tempat itu. Keadaan gelap Bukit Busung Kawu semakin pekat tertutup oleh kabut. yang mulai turun.

Di sekitarnya banyak bergelimpangan mayatmayat yang telah kaku biru basah kuyup oleh air hujan. Seluruh pelataran tanah perbukitan telah merah bercampur darah.

"Bawa aku pergi dari sini, Laranti.... Ini bukan tempat kita."

"Kita harus ke mana. ?"

"Terserah.... Sekarang aku mengikuti kemauanmu." Perempuan itu berusaha bangkit berdiri. Laranti membantunya. Sebelum mereka melangkah, mereka menatap tubuh Legowo tersiram air gerimis. Lalu mereka segera berlalu dengan diiringi sambaran kilat.

Kejadian itu telah lewat lima belas tahun yang silam. Sampai saat ini kalangan persilatan tidak ada yang mengetahui sebab-sebab kehancuran perguruan itu. Yang mereka tahu hanyalah kabar burung mengenai kematian yang melanda orang-orang perguruan tersebut. Beberapa partai golongan lurus masih terus menyelidiki. Karena beberapa orang yang merupakan pentolan dalam perguruan itu hilang secara misterius. Wundung Kuro sebenarnya orang terpandang dalam dunia persilatan. Dari aliran mana pun semua mengenalnya. Tapi setelah peristiwa itu terjadi, dirinya tidak pernah ditemukan di antara korban-korban lainnya. Begitu juga dengan anak istri Legowo. Sama hilangnya secara bersamaan. Menghilang, atau....

***

Lima belas tahun memang terlalu cepat untuk berlalu. Namun Bukit Busung Kawu tidak pernah berubah sama sekali. Bukit itu nampak tetap gersang dan sunyi. Pohon-pohon kering yang tumbuh di sana sini banyak dihinggapi burung-burung pemakan bangkai. Sementara langit selalu mendung dan permukaan tanah berkabut.

Jarang sekali orang-orang melintasi bukit tersebut. Sebab mereka tahu betapa rawan serta angker tempat itu. Menurut kabar, mereka pernah mendengar munculnya seorang perempuan yang sangat berilmu tinggi juga siap membunuh siapa saja yang melintasi daerah perbukitan itu.

Hal itu memancing keluarnya para pendekar dari kalangan golongan lurus. Mereka masih menyusun rencana untuk menyatroni Bukit Busung Kawu. Manakala orang-orang dari rimba persilatan makin banyak berjatuhan mengantarkan nyawa.

Kabut hitam merayap perlahan menyapu tanah. Sebuah bangunan yang cukup besar dan lapuk, kokoh berdiri menghadap ke arah Bukit Busung Kawu. Dinding-dinding papan serta atap kayu berderak-derak saat angin bertiup kencang. Bekas-bekas pagar yang mengelilingi halaman yang cukup luas itu sudah tidak karuan lagi.

Saat itu sosok tegap mengenakan baju bulu binatang melangkah mulai mendekati bekas pintu gerbang yang usang. Di atasnya tergantung sebuah papan nama. Bekas nama sebuah perguruan. Tanpa raguragu pemuda itu memasuki halaman. Ia yakin sekali kalau di dalam bangunan kayu yang hampir runtuh itu masih didiami oleh penghuninya. Karena ia bisa melihat dari jendela yang terbuka lebar itu mengeluarkan asap serta aroma masakan yang menggoda perut. Pemuda itu semakin berani melangkah mendekati pintu. Dan ia mengetuk pintu itu.

"Ki sanak.... Adakah orang di dalam...” Pemuda ini basa basi. Sekali lagi ia mengetuk. Tapi ternyata pintu memang tidak terkunci.

"Pantas! Gemboknya sudah rusak." gumamnya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan berbau pengap. Tidak ada ruang udara sama sekali. Sinar matahari hanya masuk melewati celah-celah papan yang koyak termakan rayap. Tapi sebelum pemuda itu memasuki ruangan lebih dalam, sosok kurus renta keluar, ia hanya berdiri menatap pemuda yang masih keheranan.

"Kau dari perguruan mana, Anak muda? Rasanya aku belum pernah melihat engkau?" tegur sosok kurus dengan suara dingin dan bergetar.

"Bukan dari perguruan mana pun. Aku cuma pengelana. Dan aku memang baru pertama kali datang ke sini " jawab pemuda itu. Yang tidak lain si Pende-

kar Kelana Sakti.... Atau sering disebut orang dengan nama: Wintara. "Kalau begitu tinggalkan tempat ini, Anak muda. kita tidak pernah punya urusan. Dari partai lurus pun belum tentu aku mengijinkan bermalam di sini, apalagi orang yang tak kukenal seperti engkau."

"Tapi " Wintara menyela.

Orang itu cepat menghardik.

"Pergi, anak muda! Kau tidak tahu bahaya di tempat asing seperti ini!" Sosok kurus renta itu melotot. Wintara hanya tersenyum, lalu ia melangkah mundur.

*

* *

3

Setelah menutup pintu kembali. Wintara berdiri menghela nafas. Dipandanginya langit yang hampir gelap. Juga deretan bukit yang memanjang di depan matanya. Nampak kian berangsur menghitam termakan gelap. Jendela yang masih mengeluarkan asap berderak menutup. Tak lama kemudian terlihat nyala api menerangi ruangan tersebut. Pastilah sosok kurus kering itu yang menyalakan lampu pelita.

Wintara berpaling ke kiri, sebuah gubuk beratap jerami tanpa dinding masih utuh walau tiangtiangnya nampak ada yang patah. Di bawahnya masih banyak berserakan rumput-rumput kering. Gubug itu mirip bekas sebuah kandang kuda. Karena di situ masih utuh bekas tambatan kuda. Wintara melangkah ke situ.

Sebelum ia mendekat, jendela yang tadi tertutup terbuka lagi. Sosok kurus itu berdiri menatap. Wintara nyengir. Sosok kurus mengangkat tangannya. Ia menggenggam lepitan kain tebal.

"Kalau terpaksa juga ingin bermalam di sini, pakai ini.... Mungkin bisa digunakan untuk penahan dingin. Sebentar lagi akan hujan."

Wintara menerima lemparan kain selimut. Lalu jendela itu tertutup lagi berderak.

Anak muda itu langsung duduk dalam naungan gubuk. Selimut tebal pemberi pemilik gedung menutupi seluruh tubuh Wintara.

"Cepat tidur, Anak muda. Besok kau harus pergi dari sini!" Terdengar suara dari dalam gedung.

"Aku tahu, Ki sanak. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih atas pinjaman selimut mu...." jawab Wintara.

Sementara itu langit makin gelap merayap. Awan hitam bergulung menyeramkan. Mendung yang sebentar lagi akan turun hujan mengeluarkan suara guntur. Kilat pun menyambar terpeta di langit. Tak ada satupun suara binatang malam terdengar. Tempat itu betul-betul sunyi. Hanya hembusan angin yang menyapu seluruh permukaan tanah.

Tetes-tetes gerimis mulai jatuh terhempas angin yang bertiup kencang. Wintara yang diam terduduk dalam bekas kandang, membersihkan wajahnya dari lampiasan gerimis. Dan membetulkan letak selimutnya, Tanah kering di sekitarnya mendadak basah, manakala gerimis semakin membesar.

Meski kandang itu tidak besar, sudah cukup bagi Wintara dari curahan derasnya air hujan. Ia bisa menetap di situ sampai besok pagi. Sesekali langit menjadi terang. Bersamaan dengan suara guntur yang bergemuruh.

Dari balik derasnya air hujan. Wintara bisa melihat sosok tubuh berlari melompat-lompat mendekati bangunan. Dengan mempertajam penglihatannya Wintara bisa menentukan sosok itu seorang perempuan muda. Larinya begitu cepat. Sebelah tangannya nampak menggenggam benda berkilat sepanjang tiga jengkal.

Wintara cepat bangkit saat sosok perempuan itu menuju ke arah kandang. Ia menjadi terheranheran, kenapa perempuan itu tidak masuk saja ke dalam bangunan...? Sepertinya ia telah tahu bahwa ada seseorang yang sedang berteduh dalam bekas sebuah kandang. Benda berkilat dalam genggamannya semakin jelas saat perempuan itu mendekat. Sebuah pedang pendek tanpa sarung.

Laki-laki mengenakan baju bulu binatang berdiri tercengang menatap seraut wajah cantik, melesat masuk bagai terbang ke arah di mana Wintara berdiri penuh keheranan. Pedang pendek hitam mengkilat berdesing cepat ke depan. Merupakan serangan mendadak bagi Wintara.

Dengan rasa tidak mengerti, Wintara bergeser dari tusukan pedang yang datang bagai sebutir peluru. Laki-laki itu lolos dari sambaran pedang pendek, tapi ia tidak bisa mengelakkan tendangan. Meskipun cukup telak, Wintara cuma berguling salto menyingkir. Tahutahu sambaran pedang berkelebat lagi di atas kepalanya.

Kalau saja Wintara tidak segera merunduk, mungkin kepalanya sudah menggelinding. Namun bagi seorang Pendekar Kelana Sakti, ia telah banyak makan pengalaman. Makanya setelah ia merunduk, kedua telapak tangannya mendorong ke depan.

"Des...!"

Perempuan cantik itu memekik nyaring. Tubuhnya terlempar jauh membentur tiang. Wintara membiarkan gadis itu berdiri lagi. Ia semakin tidak mengerti saat perempuan itu balas menatap dengan garang.

Nampak sekali kecantikannya. Rambutnya yang tergulung ke atas basah, apalagi bajunya. Di luar dugaan gadis itu menendang bekas tempat makan kuda. Maka dengan siap Wintara menyambut. "Braak!"

Kedua lengan pemuda itu menghantam hancur tempat makan kuda sampai berkeping-keping. Saat itu pun perempuan cantik itu telah lenyap. Wintara berlari ke luar. Hujan deras tidak diperdulikannya. Matanya memandang berkeliling mengawasi sekeliling tempat itu. 

Siapa perempuan itu adanya? Wintara sama sekali tidak tahu. Oleh sebab itu Pendekar Kelana Sakti harus terpaksa menantang hujan deras untuk mencari gadis tersebut. Serangan serta lemparan tempat makan kuda tadi sangat berbahaya. Seakan-akan gadis itu tidak suka dengan kehadiran si Pendekar Kelana Sakti.

"Perempuan terkutuk! Aku tidak suka main kucing-kucingan seperti ini! Kalau mau membunuhku, ayo coba sekali lagi...!" teriak Wintara menerobos derasnya hujan. Tidak ada jawaban. Wintara semakin curiga, karena ia yakin perempuan cantik itu masih berada di sekitarnya. Tiba-tiba saja....

"Aaaaaarght!" Wintara tersentak kaget. Ia mendengar jeritan panjang dari dalam bangunan di sebelah bekas kandang kuda. Jelas sekali suara itu dikenalnya. Suara pemilik bangunan yang memberikan selimut.

Dengan sekali hentakan, Wintara melesat menerobos jendela yang tertutup rapat. Kayu-kayu jendela sudah lapuk, mudah sekali pemuda itu memasukinya. Dalam ruangan yang hanya diterangi sebuah lampu pelita ia mendengar suara rintihan. Matanya langsung menatap pada sosok tubuh kurus renta tergeletak di tanah.

Saat ia mendekati sosok kurus renta itu menghembuskan nafasnya. Bekas babatan pedang di tenggorokan serta dadanya mengalirkan darah. Pastilah perbuatan perempuan yang barusan menyerangnya pula.

Hati-hati sekali ia memeriksa seluruh ruangan itu. Memang gelap. Tapi Wintara cukup nekad. Setiap ruangan tidak luput dari pemeriksaannya. Beberapa saat kemudian ia menghela napas. Pintu gedung sudah terbuka lebar. Tentunya perempuan itu sudah kabur melalui pintu itu. Wintara langkah ke luar. Di luar hujan bertambah deras. Ruangan di mana ia berdiri banyak tergenang air yang masuk melalui celah-celah atap bocor. Hawa dingin yang menerobos ke dalam itu tidak dirasakan.

Saat ia menatap jauh ke luar nampak seseorang menunggangi kuda mendekati bangunan, Wintara menahan nafas mempertajam penglihatannya. Kuda itu berjalan tenang meskipun hujan deras. Penunggangnya seorang pemuda yang sudah basah kuyup.

Wintara berdiri di tengah-tengah pintu memandanginya. Tapi ia tetap waspada dan berhati-hati saat kuda itu semakin mendekat. Si penunggang kuda itu sudah melihat sikap Wintara yang menanti di muka pintu.

"Wuah.... Ternyata bukan hanya aku seorang yang numpang berteduh di sini. Kita sama-sama basah kuyup. Tentunya kau pun baru datang pula " kata si

penunggang itu langsung turun dari kudanya.

"Aku dari sejak sore, dan di sini telah terjadi pembunuhan. Pemilik gedung reyot itu telah tewas "

jawab Wintara menunggu pemuda itu mendekat. "Apa...? Kenapa pemilik gedung itu sampai tewas? Kau tidak menolongnya?" kata pemuda itu yang terus melangkah memasuki ruangan. Wintara mengikutinya dari belakang.

"Mula-mula aku yang menjadi sasaran. Tapi entah kenapa pembunuh itu mengurungkan niatnya. Aku pun hampir tewas. Wintara menjelaskan. Ia melangkah menunjukkan di mana sosok kurus renta tergeletak.

Si penunggang kuda yang baru datang itu mengernyitkan alisnya. Ia menatap sosok kurus renta tergeletak dengan luka-luka bekas babatan pedang yang masih mengucurkan darah. Sesaat kemudian ia menoleh pada Wintara yang berdiri di belakangnya.

"Dia telah mengabdi di tempat ini hampir tiga puluh tahun. Namanya: Ki Pelong. Mungkin kau mengenali rupa pembunuh itu?"

"Seorang perempuan cantik."

"Aku pun sudah menduga demikian... Kalau benar katamu pembunuh itu seorang perempuan. Itu berarti nasibmu mujur, Sobat.... Biasanya ia tak pernah membiarkan orang-orang yang berkeliaran di sekitar Bukit Busung Kawu. Apalagi kalau kau di kalangan persilatan." tutur anak muda itu.

"Lalu kau sendiri ada maksud apa melintasi Bukit Busung Kawu? Aku rasa kau datang ke sini bukan hanya sekedar numpang berteduh?" Wintara memperhatikan gerak-gerik pemuda di hadapannya. Sebilah pedang tersoren di pundak. Gagangnya menggambarkan kepala tengkorak. Dengan sarung dari kulit binatang.

"Namaku: Tapak Welang    Tempat ini tidak as-

ing bagiku. Aku pernah tinggal di dini lima belas tahun yang lalu. Jadi aku tidak perlu takut dengan segala pembunuh macam perempuan yang kau sebutkan tadi." Pemuda itu menyeka air yang memenuhi di mukanya.

"Kenapa perempuan itu sampai membunuh Ki Pelong? Anda betul mengenalinya?"

"Lebih dari itu, Sobat.... Ki Pelong pernah mengasuh ku. Beliau seorang abdi yang ulet dan jujur. Dia sendiri tidak tahu kenapa perguruan ini sampai hancur."

"Perguruan...? Jadi tempat ini bekas sebuah perguruan?" tanya Wintara.

Tapak Welang mengangguk. Secara spontan Wintara memandang berkeliling. Dia bisa melihat halaman yang luas saat petir menyambar. Bekas-bekas pagar nampak porak poranda hampir punah. Kini hanya tinggal tonggak-tonggak tiang yang berdiri berderet. Juga ia ingat sewaktu memasuki halaman. Sebuah papan nama masih tergantung dengan tulisan yang sukar untuk dibaca. Dari pengakuan Tapak Welang pasti ia pun dari perguruan ini. Hanya saja Tapak Welang tidak berterus terang menjelaskannya.

"Soal munculnya seorang pembunuh perempuan tidak penting bagiku. Kedatangan ku ke sini memang ada urusan penting yang lama terpendam dalam perguruan ini.... Oh ya. Siapa dirimu, Sobat?" tanya Tapak Welang. Senyumnya mengundang persahabatan.

"Aku hanya orang asing yang kebetulan berteduh di sini. Namaku: Wintara...." jawab Wintara tegas. "Kenapa? Anda mencurigaiku membunuh Ki Pelong?" katanya lagi.

"Ah... kau terlalu berperasaan, Wintara. Mana mungkin aku menuduh mu? Kau tidak memiliki senjata. Lagi pula kau tahu sendiri siapa orang yang menyerangmu   " Tapak Welang menepuk punggung Wintara

yang basah kuyup. Lalu Tapak Welang mengeluarkan sebuah anak kunci dari balik bajunya. Ia melangkah meninggalkan ruangan itu. Ditujunya sebuah ruangan lain. Pintunya terkunci dengan gembok yang sudah hitam berkarat.

Wintara tidak menahan saat Tapak Welang membuka pintu itu. Karena Tapak Welang memiliki kuncinya. Wintara tidak ikut masuk ketika pemuda itu melangkah memasukinya tanpa ragu-ragu. Ia hanya mendengar suara yang berderak-derak seperti

di bongkar. Tapak Welang pun tidak perduli sejak tadi Wintara memperhatikannya.

Wintara sendiri sampai bosan menunggu Tapak Welang keluar dari ruangan itu. Maka ia sengaja menunggu di ruangan tengah. Di situ ia mengumpulkan kepingan-kepingan kayu usang. Lalu dijadikannya api unggun.

Udara malam yang dihiasi hujan lebat tidak terasa dingin saat api unggun menyala. Wintara duduk menghadapinya. Ruangan itu menjadi hangat. Beberapa saat kemudian muncul Tapak Welang.

"Sial! Aku tidak menemukan apa-apa di dalam " Wintara tidak menyahut.

Tapak Welang langsung duduk di samping Wintara. Pemuda itu menghela nafas panjang.

"Celaka kalau sampai dikuasi oleh orang lain. Ke mana aku harus mencarinya?" Tapak Welang menggerutu sendiri. Tapi ia baru sadar kalau Wintara yang duduk di sebelahnya dapat mendengar.

"Kau ini aneh, Sobat Tapak Welang. Apa sebenarnya yang kau cari?" Terpaksa Wintara bertanya. Semula Tapak Welang segan menjawab, tapi....

"Maaf, sebaiknya kau pun tak perlu tahu, Wintara. Ini menyangkut nama baik nama sebuah perguruan. Bukannya aku tidak mau menjelaskannya." "Ah, tidak apa-apa...." kata Wintara sambil menambahkan kepingan kayu pada api unggun. Lalu keduanya terdiam. Suasana hening, hanya curahan derasnya air hujan menerpa atap yang terdengar. Diiringi pula oleh suara petir yang sesekali menggelegar. Dalam keheningan itu tiba-tiba saja keduanya tersentak. Keduanya bangkit bersamaan.

*

* *

4

Bledar...! Bledar...!"

Dinding kayu seperti tertimbun bongkakanbongkahan batu. Rupanya seseorang telah melempari bangunan itu dengan batu-batu yang cukup besar. Bersamaan dengan itu menyusul pula bentakanbentakan:

"Semua orang-orang persilatan harus mampus! Juga pendekar-pendekar keparat seperti kalian, sebentar lagi pasti modar!" Suara lantang itu jelas sekali kedengaran sampai ke dalam bangunan. Tapak Welang melompat ke luar. Wintara cepat mengikuti.

"Tidak perlu dikejar! Dia pasti sudah pergi dari sini." Wintara menahan.

"Kau tidak merasa kalau kata-kata itu terlalu menyakitkan?" Tapak Welang menatap geram. Wintara hanya tersenyum.

"Itu cuma gertak agar kita segera meninggalkan tempat ini. Lagi ia tidak cukup mampu menghadapimu. Kalau pun ia ingin membunuh kita, dia pasti datang lagi ke sini." Wintara acuh meninggalkan Tapak Welang berdiri di luar tersiram deras air hujan. Kudanya nampak tenang ditambatkan pada sebuah tiang. Saat Wintara duduk menghadapi api unggun, Tapak Welang masuk lagi, Kali ini mereka duduk berhadapan di antara nyala api yang meletup-letup.

Keduanya saling diam. Sikap Tapak Welang jadi serba salah. Seringkali Wintara melirik. Lama-lama berdiam, tidak enak juga.

"Perempuan muda itu sangat cantik. Rasanya tidak masuk akal kalau ia selalu membunuh tanpa alasan." Wintara membuka pembicaraan.

"Cantik atau buruk bukan ukuran bagi orang Alap-alap Bukit Busung Kawu. Entah sudah berapa banyak tulang belulang orang-orang persilatan yang berserakan di bukit ini. Termasuk sekarang, Ki Pelong menjadi korbannya." Tapak Welang terpaksa menimpali.

"Tempat ini satu-satunya perguruan yang ada di Bukit Busung Kawu. Mungkinkah kehancurannya atas perbuatan perempuan itu juga?" Pertanyaan Wintara cukup hebat.

"Tentu saja tidak! Lima belas tahun yang lalu aku masih tinggal di sini, sampai perguruan ini berantakan. Sayang saat itu aku belum tahu apa-apa Apa

yang menyebabkan perguruan ini hancur aku tidak tahu sama sekali."

"Lalu bagaimana kau bisa keluar dari sini? Adakah orang yang menyelamatkan dirimu?" Pertanyaan Wintara mendesak.

"Kau terlalu jauh bertanya, Wintara.... Aku keberatan menjawabnya."

"Ah   Sayang."

*** Sosok-sosok tubuh kerdil yang berjumlah tiga orang melintasi perbukitan Busung Kawu. Saat itu matahari mulai bangkit dari tidurnya. Ketiganya nampak bersungut-sungut. Selain mereka bertiga kerdil, ciriciri mereka berlainan. Orang yang berjalan paling tengah, Gindek. Berwajah paling seram. Dia seorang lelaki bertubuh gemuk dengan rambut berjuntai sebatas lutut.

Lain lagi dengan Gondok, tubuh lelaki itu nampak kurus. Namun memiliki leher yang sangat besar seperti orang yang berpenyakit gondokan.

Sedangkan Gundik, seorang perempuan kerdil yang sama gembrotnya dengan Gindek. Rambutnya agak pirang serta semerawut. Matanya besar dan kedua alis menyambung. Mereka tiga saudara yang berjuluk 'Gagak Hitam Penyebar Maut'

Sepanjang jalan Gundik nyerocos terus. Dia memang paling cerewet di antara dua saudaranya. Gindek dan Gondok malah terus menanggapinya.

"Kita akan sia-sia sesampainya di perguruan bejad itu! Percayalah padaku! Lagi pula mana ada pusaka ditinggalkan begitu saja! Salah-salah kita bertemu dengan Alap-alap Bukit Busung Kawu." Gundik ngoceh. Gindek yang berjalan di tengah tertawa.

"Ha-ha-ha-ha.... Kenapa musti takut terhadap Alap-alap Busung Kawu? Jangan mudah terpancing oleh berita yang baru simpang siur itu, Gundik!"

"Baru satu alap-alap.... Seratus pun masih sanggup kita hadapi." Si kurus Gondok menimpali. Gundik cemberut. Sambil melangkah terus ia menyahut.

"Bukannya takut.... Perguruan itu jelas sudah tidak ada apa-apanya lagi. Pusaka sudah jatuh ke tangan orang. Yang kita temui paling-paling si alap-alap itu." "Tolol! Kalau kita benar-benar ketemu dia, cepat-cepat kabur." sela Gindek. "Berarti kau yang pengecut!" "Gindek benar! Kita bisa memanfaatkan adanya Alap-alap Bukit Busung Kawu. Biar saja ia menghabisi semua orang -orang dari partai aliran lurus. Toh tindakannya sangat menguntungkan kita." Gondok memberi pendapat.

Gundik diam. Tapi sebentar kemudian ia nyerocos lagi.

"Alap-alap Bukit Busung Kawu mana mau perduli.... Dari aliran lurus kek, dari aliran bengkok kek. Dia tidak pandang bulu!"

"Kalau terpaksa, ya... kita habisi saja sekalian. Sejak kapan 'Gagak Hitam Penyebar Maut' takut sama segala alap-alap?"

"Itu sama juga membuang tenaga percuma....

Alap-alap Bukit Busung Kawu yang tersohor itu tidak ada arti bagi kita. Tapi cukup repot kalau kita sampai berurusan dengannya. Orang-orang dari partai aliran lurus akan menertawai kita."

"Kenapa harus memusingkan Alap-alap Bukit Busung Kawu? Tujuan kita bukan ke situ, tapi untuk mencari pusaka 'Weduk Pamungkas!" bentak Gondok. Terhadap Gondok, Gundik cukup segan. Ia tidak nyerocos lagi saat si kurus kerdil membentaknya.

Ketiganya berjalan menyusuri daerah perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon kering bagai tulang kerangka raksasa. Tanah di sekitar bukit masih becek bekas hujan semalam. Tidak heran kalau kakikaki mereka penuh dengan tanah lumpur. Setiap langkah mereka menapak memanjang di sepanjang jalan.

Gundik membuang ludah saat ia menemui sosok mayat yang hampir busuk. Apa lagi sekitar situ banyak menghampar tulang belulang. Burung-burung nazar yang semula berdiri di atas tulang-tulang kerangka beterbangan saat mereka melintasi tanah itu.

Angin gurun berdesir menerpa ketiga manusia kerdil. Udaranya cukup segar meskipun sesekali tercium bau bangkai busuk. Ketiganya berhenti melangkah menatap kejauhan. Mereka melihat sosok tubuh ramping menghadapi dua gundukan tanah.

Sosok ramping itu tidak menoleh sekalipun sudah mendengar langkah-langkah manusia kerdil mendekati. Ia tetap diam menatap dua gundukan tanah yang ditumbuhi rumput halus.

Gundik paling tidak suka melihat gadis cantik, makanya ia tetap cemberut dan bersikap acuh. Lain dengan Gindek dan Gondok. Mata mereka hijau kuning melihat sosok yang begitu menggiurkan.

Hoooi.... Cah ayu! Sedang apa di sini." kata Gindek yang langsung melompat mendekat. Gondok hanya berjalan cepat menyusul si gembrot Gindek.

"Sungguh besar nyalimu, Cah ayu. Tidak tahukah kalau Bukit Busung Kawu sering berkeliaran alapalap yang gemar menghitung mayat? He-he-he-hehe "

"Tidak disangka kalau dalam perjalanan ini kita bisa bertemu dengan bidadari secantik ini.... Aku memang sudah karatan, sudah lama tidak ketemu perempuan." Gondok paling berani. Ia mulai gerayangan menyentuh gadis itu.

Gadis itu hanya diam tersenyum. Tanpa sepengetahuan mereka, tangannya yang putih mulus menarik gagang pedang. Gondok tersentak kaget ketika pedang itu keluar membersit. Mendadak saja laki-laki kurus kerdil menjerit-jerit. Kedua matanya membelalak melihat keempat jari yang menggerayang tadi sapat. Sedangkan potongan-potongan jarinya bergetar berserakan di tanah berumput. Saat pedang pendek berputar ke arah Gindek. Si gembrot kerdil cepat menyingkir. Gindek cepat menarik tubuh Gondok yang masih mengerang memegangi lengannya yang kutung tanpa jari. Gundik langsung melompat menghadapi gadis itu. Tapi ia pun hampir terkena sambaran pedang kalau tidak cepat menarik diri.

"Bocah kurang ajar! Berani mengusik 'Gagak Hitam Penyebar Maut'." Gundik membentak, tapi ia sendiri beringsut mundur.

"Baru gagak hitam! Setan rajawali pun tak akan kubiarkan berkeliaran di Bukit Busung Kawu ini!" Gadis itu balas menghardik. Maka ketiga orang kerdil ini pun saling pandang. Ucapannya sangat menggetarkan jantung mereka.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin kalau kau mengaku Alap-alap Bukit Busung Kawu. Siapa yang percaya pada ocehan bocah ingusan, kau bukan alapalap Tapi cecurut yang mencari alat penggebuk!" sa-

hut Gundik yang dower nyerocos.

"Bagaimana kalian akan percaya kalau tidak segera membuktikan?" Sambil berkata begitu, tubuh ramping melesat ke atas. Pedangnya berkelebat menyambar. Ketiga sosok kerdil berhamburan menghindar. Mereka menggelinding bagai sebuah bola.

Tapi gadis itu sendiri terus berputar bagai kitiran dengan babatan pedang mengeluarkan suara yang menderu-deru. Setiap kali pedang itu mengarah, sosok kerdil berjumpalitan menghindar.

Dengan sebuah tusukan yang sangat cepat, gadis itu menerjang.

Gundik terlambat menepis. Ia hanya bergeser sedikit, namun sebentar kemudian Gundik pun memekik hebat. Telapak tangannya reflek meraba telinga. Ternyata tusukan pedang pendek memutuskan daun telinga Gundik. Saat Gundik berteriak marah, darah dari telinganya muncrat berhamburan. Nekad pula ia mendekati sambaran-sambaran pedang. Lenturanlenturan tubuh yang gesit berkelit melawan sambaransambaran pedang. Melihat Gundik bersusah payah menarung maut, Gindek dan Gondok tidak tinggal diam. Mereka datang berlompatan membantu saudara perempuannya. Tiga saudara kecil itu memang tanpa senjata. Tapi dengan ilmu yang mereka miliki cukup mampu mempersulit gerakan gadis cantik itu.

Namun ketiga manusia kerdil itu selalu dibuat porak poranda. Sekali pedang pendek membersit, mereka hampir serempak melompat mundur. Apalagi serangan gadis itu tidak pernah berhenti. Babatanbabatan pedang bergulung-gulung berkelebat ke sana ke mari. Setiap sambaran pedangnya sukar di ikuti oleh pandangan mata. Sedikit keder juga ketiga manusia kerdil itu menghadapinya. Manakala gadis itu tidak main-main lagi melancarkan serangan. Gondok selalu menggerutu saat sambaran pedang hampir memisahkan lehernya. Ia berusaha membalas dengan tinjunya sekalipun keempat jarinya telah putus.

Gundik lebih sengit. Mungkin karena benci terhadap perempuan. Apalagi yang di hadapi cuma seorang gadis yang masih di bawah umur. Seluruh kemarahannya hampir tercurah. Namun gadis itu tak bisa dianggap remeh. Tanpa menggunakan pedang, ia bisa menjatuhkan Gundik. "Beeeg!"

Gundik ngusruk kena tendangan. Tubuhnya yang kerdil bergulingan. Gindek memekik! Ia khawatir sekali akan diri Gundik yang menggelinding menuju ke arah jurang. Makanya ia cepat meninggalkan gadis itu. Sekali lompat Gindek sudah berada di bibir jurang sekaligus menahan tubuh Gundik. Mereka cepat bangkit dan datang membantu Gondok yang jatuh bangun menghadapi

amukan gadis itu. Mendapat bantuan dari dua saudaranya, Gondok menggelinding minggir.

Sementara itu Tapak Welang dan Wintara keluar dari bangunan bekas perguruan. Kuda milik Tapak Welang masih tertambat di depan pintu. Kuda itu meringkik saat Tapak Welang melangkah mendekat. Wintara hanya berdiri menatap.

"Wintara, sebaiknya kau pun harus meninggalkan tempat ini... Aku pikir tempat ini bukan lagi tempat yang aman.: pesan Tapak Welang ketika ia sudah duduk di atas pelana. Wintara tersenyum mengangguk.

"Dan hati-hatilah terhadap perempuan yang menyerang mu semalam." Setelah berkata begitu, Tapak Welang menghela kudanya. Kuda itu berjalan perlahan melintasi tanah becek. Wintara tetap berdiri di situ sampai Tapak Welang jauh menghilang dari penglihatannya.

Pada saat yang bersamaan itu, ketiga manusia kerdil masih terus menggempur. Gadis yang dikeroyoknya tetap gigih menghadapi. Padahal ketiga manusia kerdil itu telah bertekad akan melarikan diri. Sebab mereka merasa kalau gadis muda belia itu bukan tandingan mereka. Tapi siasat apa pun selalu dapat diraba oleh si gadis yang sudah kepalang tanggung mengeluarkan ilmu pedangnya.

Gadis itu selalu mencecar setiap mereka bergerak menjauh. Dalam hal ini Gundik lebih banyak mengeluarkan tenaga menggagalkan serangan yang hampir menghantam dua saudaranya. Dia pun nyaris terkena babatan pedang. 5

Saat itu sosok penunggang kuda menatap) pertarungan yang demikian serunya. Penunggang kuda itu sengaja membawa kudanya ke arah pertarungan. Dan ia berdecak kagum saat melihat kehebatan seorang gadis dalam memainkan jurus-jurus pedang.

Tapak Welang menahan tawanya ketika gadis itu melancarkan tendangan memutar membuat tiga kurcaci itu menggelinding seperti bola. Pemandangan seperti itu membuat Tapak Welang tertarik, dan turun dari kudanya.

Kedatangan Tapak Welang ke tempat itu bukan berarti tidak diketahui oleh si gadis yang tengah mengamuk. Diam-diam si gadis menggiring ketiga lawannya ke arah Tapak Welang. Gadis itu bermaksud akan menghadapi empat orang sekaligus.

Tapi bagi ketiga manusia kerdil, mereka memanfaatkan kesempatan itu. Ketiganya menyelinap ke belakang Tapak Welang. Pemuda itu yang masih keheranan tidak menyangka kalau ketiga manusia kerdil itu serempak mendorongnya.

Karuan saja Tapak Welang terlontar ke depan. Sedangkan gadis yang ada di hadapannya langsung menyambut dengan babatan pedang.

"Beeeeet!"

Hampir saja pedang pendek itu merobek tenggorokannya. Untunglah Tapak Welang cepat bergulir ke samping.

Nampaknya gadis itu tidak cukup menyerang hanya sekali. Babatan pedangnya kembali bergulunggulung menyambar Tapak Welang yang setengah mati menghindari. Tapi serangan itu tidak berarti apa-apa bagi Tapak Welang, karena hanya dengan sekali hentakan pemuda itu dapat melesat dan hinggap berdiri dengan ringan.

Sebentar Tapak Welang menoleh ke arah tiga orang kerdil itu. Ia menghardik geram. Tiga saudara kerdil itu telah lari jauh dan tidak mungkin dapat dikejar. Namun kembali ia gelagapan menerima sambaransambaran pedang yang malang melintang merencah.

Sigap pula Tapak Welang melompat mundur. Lengannya cepat menarik gagang pedang yang tersoren di punggung. Pedang itu berdesing saat keluar dari sarungnya.

"Maaf, Nona! Aku tidak bermaksud mengganggumu...!" Tapak Welang menepis pedang pendek dengan pedangnya.

"Traang!"

Gadis itu rada terhuyung. Namun ia masih terus berusaha melancarkan babatan-babatan pedangnya.

"Berhadapan denganku tidak perlu banyak bicara! Kalau tadi aku kehilangan tiga orang manusia busuk, aku tidak menyesal. Karena aku mendapat gantinya walaupun hanya seorang!" Gadis itu menerjang. Tapak Welang tidak membalas. Dia hanya menggeser tubuhnya menghindari babatan .pedang.

"Orang-orang persilatan harus mampus di tanganku. Apalagi berani melintasi Bukit Busung Kawu! Heaaaaat!"

Mendengar ucapan gadis itu, Tapak Welang tercengang. Ia sampai tidak sempat ketika sambaran pedang menggores lengannya. Perih sekali. Dan luka itu cukup dalam juga mengeluarkan darah yang tidak sedikit.

"Tidak kusangka kalau Alap-alap Bukit Busung Kawu ternyata seorang perempuan yang masih bau kencur! Terhadap diriku kau boleh menyembah, Perempuan laknat. Tapak Welang membersitkan pedangnya ke depan. Gadis itu seakan melayang ke belakang. Tapi ia merasakan pula desiran angin dari babatan pedang pemuda itu.

Gadis itu segera membalas. Sekali membabat ke depan. Pedangnya beradu.

"Traang!"

Terasa pula tenaga dalam yang disertakan dengan babatan tadi. Tapi Tapak Welang pura-pura tidak merasakannya. Perlakuan seperti itu membuat si gadis makin geram.

Tapak Welang tidak memperdulikan darah mengalir dari lengannya. Ia terus menyambut sambaran-sambaran pedang. dua pedang itu bergulunggulung saling bentur, berbarengan pula dengan suara teriakan-teriakan mereka.

Menghadapi Tapak Welang, gadis itu seperti menghadapi puluhan orang bersenjata. Gempuran Tapak Welang yang begitu bertubi-tubi mendesaknya mundur. Tidak sadar pula kalau mereka mulai terbawa ke arah jurang menganga. Namun sebagai Alap-alap Bukit Busung Kawu, gadis itu sudah menguasai betul tempat itu. Meskipun ia terdesak ia sengaja bersikap mundur.

Dan saat gadis itu berdiri tepat di bibir jurang, Tapak Welang membabat sekuat tenaga. Tapi sambaran pedang itu meleset ke tempat kosong. Karena begitu pedang Tapak Welang berkelebat, gadis itu cepat merunduk sambil menyapu dengan tendangan. "Bug!"

Malah Tapak Welang yang terguling.

Pemuda itu berusaha mengimbangi tubuh dengan berjumpalitan. Tapi sambaran pedang pendek menyambar ke arah dada tanpa dapat dihindari.

"Breet!" Tapak Welang ambruk. Malang baginya karena harus terjerumus ke dalam jurang mengganga. Gadis itu cepat berlari untuk melihat bagaimana Tapak Welang mengalami maut.

Di luar dugaan, gadis itu mendadak tersentak. Karena baru saja ia menoleh ke bawah, tahu-tahu saja sosok Tapak Welang melesat ke atas. Bersamaan dengan itu pun tendangan Tapak Welang bersarang telak di tenggorokan.

"Des!"

Gadis itu memekik kesakitan.

Tapak Welang masih berjumpalitan salto di udara. Sebelum kakinya menginjak tanah terlebih dahulu ia menendang lagi.

"Deees!"

Tanpa bisa menahan lagi gadis itu mencelat jauh ke belakang. Kedua kakinya yang berusaha mengimbangi tubuh tidak sempat menginjak mulut jurang. Maka tak ayal lagi, gadis itu terjerembab ke bawah. Tapi kedua lengannya yang cekatan cepat meraih batu yang menonjol pada bibir jurang. Tapak Welang dapat melihat betapa gadis itu berusaha bertahan, Manakala dasar jurang yang sangat curam berwarna gelap menanti. Batu-batu mulai berserakan jatuh ke

bawah.

Gadis itu menggigit bibirnya menahan sakit yang menyerang tenggorokan serta dadanya. Pedang pendeknya masih tergenggam erat. Tapak Welang sendiri telah bersimbah darah. Luka di dada serta di lengannya telah membengkak.

"Wajah cantik cuma hiasan bagi dirimu yang busuk! Sayang aku tidak tertarik sama sekali! Rupanya dasar jurang ini pula yang menentukan nasib burukmu   " Tapak Welang berucap kasar. Ia berdiri di

atas gadis itu yang masih berpegangan pada tonjolan batu. Tapak Welang tidak ragu-ragu lagi mengangkat pedangnya.

Maka dalam sekejap ia membabat ke bawah. "Breeeet...! Arrrrrghtf'

Gadis itu melepaskan pegangannya. Tubuhnya meluncur deras dengan wajah yang hampir tidak berbentuk lagi. Jeritannya panjang melengking terdengar makin pelan dan lenyap.

Tapak Welang menatap puas ke bawah. Ia membiarkan luka-lukanya mengalirkan darah. Tidak terdengar suara berdegumnya tubuh gadis itu membentur dasar jurang. Karena jurang itu memang tinggi dan curam. Tapi yang jelas Tapak Welang berpikiran riwayat Alap-alap Bukit Busung Kawu tewas di tangannya.

Setelah dirasakan luka-lukanya berdenyut, Tapak Welang melangkah terhuyung mendekati kudanya yang masih menunggu. Lemah sekali ia menaiki pelana. Tanpa menghela lagi, kudanya sudah mengerti ke mana mereka harus melangkah.

Angin kembali menghembus menghiasi suasana pagi. Bercak-bercak darah masih tersisa pada permukaan tanah becek. Begitu juga bekas tapak-tapak kaki mereka saat bertempur. Tanah berumput itu telah penuh dengan lumpur.

Tapak Welang hanya memegangi tali kekang ketika kudanya berlari cepat. Dan sebentar saja kuda itu lenyap menuruni tanah perbukitan tersebut.

Tiga manusia kerdil itu melangkah terburuburu. Mereka hampir mendekati sebuah bangunan yang telah termakan usia. Dari kejauhan sudah nampak jelas bangunan itu. Gondok berjalan berjingkatjingkat menahan sakit. Ia memegangi sebelah lengan yang telah kehilangan empat jarinya. Gundik pun sama meringisnya. Sejak tadi ia memegangi sebelah telinganya yang masih mengucurkan darah. Sumpah serapahnya tidak pernah putus. Gindek tidak perduli dengan dua orang saudaranya yang berjalan di belakang. Dia sengaja melangkah paling dulu. Si kerdil gembrot ini memang tidak pernah terluka dalam pertempuran apa pun.

Tapi kali ini, meskipun ia tidak terluka. Nama besar 'Gagak Hitam Penyebar Maut' telah tercoreng dengan kotoran yang paling kotor. Biasanya mereka tidak pernah kabur dalam menghadapi musuhmusuhnya.

Mendengar nama besar mereka saja orangprang persilatan dari golongan lurus sudah grabak grubuk! Apalagi sampai berurusan dengan mereka. Tiga orang kerdil itu memang musuh besar orang-orang golongan lurus. Karena mereka selalu ikut campur mengotori urusan rimba persilatan. Tapi sekarang mereka benar-benar telah kena batunya.

"Aku sudah bilang. Kalau ketemu sama Alapalap itu cepat merad!" gerutu Gindek.

"Jangan ngebacot seenaknya. Ini semua garagara ulah tingkah hidung belang kalian! Lagi pula siapa yang tahu kalau bocah ingusan itu Alap-alap Bukit Busung Kawu!" jawab Gundik. Sebelah mukanya telah banjir dengan darah.

"Aku pun sependapat denganmu, Gundik. Kita semua tidak mengira Aduh sakitnya." Suara gondok

gemetar. Gindek berhenti melangkah dan berbalik menghadapi dua saudara kerdilnya.

"Kita yang sudah malang melintang dalam dunia persilatan telah menjadi buta. Anggap saja ini sebuah pelajaran agar kita semakin berhati-hati. Kalian lihat di hadapan sana.   Itulah perguruan yang pernah

jaya pada belasan tahun yang lalu." kata Gindek sambil menunjuk ke arah bangunan yang cuma satusatunya ada di sekitar perbukitan.

"Di situ pula kita akan menemukan Pusaka 'Weduk Pamungkas' yang merupakan serentetan jurus ilmu pedang tingkat atas," Gindek memberi semangat pada kedua saudaranya yang mulai berjalan mendekat.

"Masa bodoh! Aku sudah tidak tertarik dengan segala barang pusaka!" bentak Gundik marah. "Yang ku pikirkan bagaimana caranya dapat membalaskan sakit hati atas hilangnya sebelah daun telingaku!" bentaknya menyambung.

"Aku juga! Bagaimana mungkin ke empat jariku ini dapat tumbuh kembali?" sahut Gondok sambil meringis.

"Kalau kalian sudah tidak tertarik dengan pusaka itu, biarlah untuk kusimpan bila kutemukan!" Sambil berkata begitu, Gindek berbalik. Lalu ia menghentakkan kedua kakinya melesat ke arah bangunan yang tetap diam menanti. Gundik menatap dengan kedua bola mata yang hampir keluar.

"Setan gembrot serakah! Kau tidak mengerti perasaanku sekali! Bagaimana aku bisa membalas dendam tanpa mempelajari 'Weduk Pamungkas'?" katanya setengah membentak. Saat itu pun Gundik berlari menyusul. Gondok yang semula berjalan terjingkatjingkat terpaksa pula menyusul mereka.

Wintara yang duduk-duduk di undakan tangga di depan pintu mendadak salto ke belakang masuk ke dalam ruangan. Matanya terus memandang ke luar mengawasi tiga sosok kerdil berlarian saling mendekati bangunan bekas sebuah perguruan.

Menduga akan mendatangi ke tempat itu, Wintara cepat melompat ke atas. Tanpa bersuara tubuh Wintara melekat di atas para. Di situ ia tidak akan terlihat kalau ketiga manusia kerdil masuk, sebab ruangan itu cukup gelap.

Masih dalam keadaan yang berdebar-debar Wintara dapat melihat jelas setiap gerak-gerik orangorang yang telah masuk ke dalam bangunan itu. Leluasa sekali Wintara melihat Gindek langsung mengobrak-abrik ruangan. Sedangkan Gundik dan Gondok terus mengiring membiarkan Gindek keluar masuk ruangan.

"Kenapa kalian diam saja! Cepat bantu aku!" Gindek menghardik.

Gondok cepat masuk ke dalam salah satu ruangan yang di dekatnya. Sebelah lengannya masin dipegangi. Gundik masih berdiam diri. Darah yang mengalir dari lubang telinganya makin banyak mengalir. Gindek membelalakkan matanya.

"Lukamu masih termasuk ringan, Gundik! Coba saja bayangkan apa yang bakal di alami pemuda tolol itu! Masih untung kita sempat kabur...! Cepat cari!"

Tanpa menyahut Gundik pun mulai masuk ke dalam ruangan dengan langkah-langkah sigap. Gindek sendiri memasuki ruangan lain. Maka terdengarlah suara-suara yang bergemelotak. Mereka membongkar segala yang ada dalam ruangan-ruangan itu. "Melihat dari luka-luka mereka pastilah bekas babatan pedang, astaga...! Apa yang terjadi pada Tapak Welang?" tanya Wintara dalam hati. Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun di atas para. Ia mengira ketiga orang kerdil itu bermaksud mencari sesuatu seperti Tapak Welang. Hanya sayang Wintara tidak tahu benda apa yang mereka cari.

*

* * 6

Timbul rasa khawatir pada diri Wintara. Tentunya terhadap diri Tapak Welang. Padahal mereka berkenalan baru satu malam. Tapi nampaknya ada sesuatu yang amat penting pada diri mereka. Tapi ia belum tahu sepenuhnya dari pembicaraan orang-orang kerdil. Dia masih berada di atas dan berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka.

Gindek keluar dari ruangan yang telah diobrakabrik. Geram sekali ia menendang pintu ruangan.

"Pejajaran! Aku tidak menemukan apa-apa!" katanya dengan kesal. Tak lama Gondok dan Gundik keluar juga dari ruangan lain.

"Sama saja! Tidak ada yang kutemukan selain pakaian usang yang sudah lapuk." sahut Gondok. Gundik hanya mengangkat bahu bertanda gagal. Matanya memandang pada bara api yang masih mengepul asap.

"Tentu saja kita tidak menemukan apa-apa di sini, sebab kita telah keduluan orang lain...." sahut Gundik secara tiba-tiba.

"Apa maksudmu, Gundik?" tanya Gindek tidak sabar dengan mata yang jelalatan.

"Akibat nafsu serakah kalian jadi buta. Apa kalian tidak dapat melihat bekas api unggun itu?" Gundik menunjukkan bara api yang memoncongkan bibirnya. Gondok serta Gindek langsung tanggap. Mereka memang melihat bekas api unggun yang masih mengepulkan asap.

"Seseorang baru saja meninggalkan tempat ini. Dia pasti sudah mendapatkan 'Weduk Pamungkas'. Siapa lagi kalau bukan pemuda yang kita temui tadi." Gundik melanjutkan pembicaraannya. Gondok dan Gindek merenung. Tapi Gindek cepat melesat luar.

Sampai di depan pintu ia memandangi permukaan tanah. Maka nampak jelas bekas tapak-tapak kaki kuda. Gindek jadi geram. Dengan langkah yang tegap ia kembali masuk ke dalam ruangan.

"Benar katamu, Gundik.... Pemuda sial itu rupanya baru dari sini..!" katanya kesal.

"Lalu kita musti bagaimana? Kembali ke sana?" tanya gondok.

"Tolol! Kau ingin sebelah lenganmu kehilangan empat jari lagi?" hardik Gundik.

"Belum tentu pemuda itu mendapatkan Pusaka 'Weduk Pamungkas'! Kalau dia sudah mendapatkannya, mana mau ia berurusan dengan Alap-alap Bukit Busung Kawu. Kita-kita saja yang tolol. Mana mungkin pusaka ditinggal begitu saja di sini. Paling tidak pusaka 'Weduk Pamungkas' sudah lenyap bersamaan hancurnya perguruan ini."

"Satu-satunya orang yang perlu kita satroni adalah Wundung Kuro. Karena dia satu-satunya orang yang masih hidup. Apalagi ia murid tertua. Pasti dia yang menyimpan." kata Gondok. Pikirannya memang lebih tajam dari kedua saudaranya.

"Mencari Wundung Kuro sama saja mencari jarum di dasar laut.... Jangankan kita bertiga, ratusan orang rimba persilatan sampai sekarang belum menemukan dia. Malah sekarang mereka repot menjaring Alap-alap Bukit Busung Kawu,"

"Sudah jangan banyak kotbahi Tidak mendapat pusaka pun, kita tidak bakal mati! Sekarang kita bergabung saja dengan orang-orang persilatan. Kita kabarkan bahwa kita pernah bertemu Alap-alap Bukit Busung Kawu." Gindek melangkah ke luar. Gondok dan Gundik ikut melangkah ke luar meskipun mereka masih menahan sakit. Keduanya melangkah di belakang Gindek. Suara-suara mereka terdengar terus oleh Wintara setelah mereka jauh meninggalkan bangunan itu, barulah Wintara turun dari para. Kakinya hinggap di lantai tanpa bersuara.

Matanya menatap tiga orang kerdil yang makin lama makin jauh melangkah.

"Terlalu lancang bila ikut campur urusan mereka. Tapi justru yang ku khawatirkan adalah diri Tapak Welang. Tentunya ketiga kurcaci-kurcaci itu sudah berhadapan dengan Tapak Welang. Mungkin juga dengan Alap-alap Bukit Busung Kawu." kata Wintara dalam hati. Ia sudah tidak melihat lagi tiga manusia kerdil.

"Melihat dari tampang mereka bertiga, mereka bukanlah dari aliran lurus. Malah sekarang mereka berniat akan mengacaukan dunia persilatan. Rupanya mereka yang selama ini bikin hura-hura orang-orang persilatan." Wintara mulai keluar dan ia pun segera pergi mengikuti jejak-jejak tapak kuda yang membekas pada permukaan tanah.

"Tapak Welang mungkin lebih memerlukan pertolongan." Wintara terus melesat, kecepatan larinya sangat luar biasa. Hampir sukar diikuti oleh pandangan mata.

***

Entah sudah berapa lama sosok ramping itu tergeletak di dasar jurang yang dipenuhi oleh kabut. Tubuhnya nampak bergetar dengan nafas yang perlahan turun naik. Darah telah menutupi seluruh wajahnya. Sukar sekali ia membuka kelopak mata. Darah memang telah mengering di seluruh wajahnya. Lengannya yang gemetar berusaha menyeka. Tapi ia cepat memekik. Rasa sakit yang tak terhingga menyengat kulit muka. Meski dengan susah payah, akhirnya gadis itu dapat menyingkirkan bercak-bercak darah kering yang menutup di sekitar rongga mata.

Sekalipun ia dapat melihat, pandangannya masih kabur. Mungkin karena sudah lama tidak sadarkan diri. Wajah cantiknya tampak begitu menyeramkan tatkala ia mencoba bangkit. Seluruh tulang-tulang sendinya terasa remuk.

Lama-kelamaan pandangannya kembali pulih. Jelas sekali pedang pendeknya tergeletak di samping tubuh. Setelah ia meraih pedang itu ia bangkit berdiri. Namun keadaan yang masih lemah membuat tubuhnya ambruk lagi. Saat itu pun secara tidak sengaja sesuatu jatuh dari gulungan rambutnya. Sebuah tusuk konde berwarna keemasan.

Bergetar ia meraih tusuk konde itu. Lapat-lapat pula ia seperti mendengar suara yang sangat halus. Suara itu pernah di dengarnya pada lima belas tahun yang lalu.

"Simpanlah ini.... Kalau perlu selipkan saja pada gulungan rambutmu. Jangan sampai hilang, Laranti.... Di dalamnya tersimpan beberapa lembar jurus ilmu silat yang dapat mengalahkan Paman Wundung Kuro.! Wundung Kuro.... Wundung Kuro Wundung

Kuro...." Suara itu sebenarnya datang dari ingatannya sendiri yang telah terbuka bersama kenangan masa silam.

Maka air matanya berderai pula mengaliri kerak-kerak darah di wajah gadis itu. Bola mata yang bening menampakkan sinar kebencian yang paling dalam.

Saat itu bibirnya bergetar. "Aku betul-betul telah melupakannya Bu    Aku

mengira ilmu pedang yang kupelajari darimu sudah cukup untuk membalas kematian ayah dan ibu    Se-

karang sudah tak mungkin lagi bisa membalas kepada manusia keparat itu.... Aku putus asa, Bu     Putus

asa...!" Gadis itu tertunduk. Tubuhnya tertelungkup tersiram kabut yang memenuhi dasar jurang. Namun suara bathinnya seperti kembali terngiang....

"Di dalam terselip beberapa lembar jurus ilmu silat yang dapat mengalahkan Paman Wundung Kuro.... Wundung Kuro.... Wundung Kuro Wundung

Kuro...." Bersamaan dengan itu pula genggaman gadis itu mengejang kuat. Tusuk konde dalam genggamannya sampai patah. Perlahan ia mengangkat wajahnya menatap patahan tusuk konde itu. Di dalamnya terselip gulungan kulit yang sangat tipis. Tanpa ragu-ragu pula ia mengeluarkan gulungan itu dan langsung membukanya.

Pada lembaran itu tertera belasan gambar serta petunjuk serangkaian ilmu pedang. Ia tahu betul kalau gambar-gambar itu merupakan perpaduan ilmu pedang yang selama ini ia dapatkan dari ibunya.

Melintas pula saat ibunya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Membiarkan Laranti terkatungkatung sendiri memperdalam ilmu pedang. Untunglah saat itu Laranti telah menguasai seluruh ilmu yang diturunkan dari sang ibu. Meskipun dengan perbekalan ilmu pedang yang belum tuntas, namun Laranti sudah dapat mengguncangkan dunia persilatan. Bahkan telah menyandang gelar sebagai 'Alap-alap Bukit Busung Kawu'.

Terlintas pula dalam ingatannya saat ia tergantung di mulut jurang menarung nasib. Masih terbayang jelas ketika sambaran pedang menyambar mukanya. Sampai di situ pandangannya kabur lagi. Mendadak gelap dan pingsan.

Tidak jauh dari situ terdengar recek air yang jatuh bagai air terjun ke dalam telaga. Tebing-tebing batu berlumut serta kumpulan kabut yang merayap di permukaan tanah berbatu menyemarakkan suasana dasar jurang.

Langit biru yang jauh di atas sana hanya nampak dari celah-celah daun dari tiap-tiap pohon yang merimbun. Di bawah situ telah tergeletak sosok Laranti. Entah sampai kapan ia akan tersadar lagi...?

***

Niat Wintara yang bermaksud mencari Tapak Welang ternyata membuang waktu saja. Sampai saat ini ia belum juga menjumpainya. Jejak-jejaknya telah hilang dan sukar untuk menentukan ke mana arah Tapak Welang berlalu. Ia tetap yakin kalau Tapak Welang masih 'utuh' seperti adanya. Makanya ia tetap bersikeras terus melangkah.

Bukit Busung Kawu telah jauh dilaluinya. Kini langkahnya yang perlahan tengah menyusuri pinggiran kali. Kali itu tidak lebar, namun di kedua sisinya banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Di bawahnya menghampar akar-akar pohon yang merambat. Terkadang Wintara harus menerobos semak-semak yang menghalang di depan. Sepertinya ia sengaja mengikuti ke mana arah kali itu berakhir.

Selama dalam perjalanannya pula ia berharap agar dapat menemui Tapak Welang. Ada sesuatu hal yang membuat ia penasaran. Mengenai adanya 'Weduk Pamungkas' serta kemunculan tiga manusia kerdil yang bakal merecoki dunia persilatan. Kalau soal Alapalap Bukit Busung Kawu, Wintara belum begitu yakin. Walaupun Tapak Welang sudah menjelaskan Alap-alap Bukit Busung Kawu adalah seorang wanita cantik yang pernah menyerangnya. Wintara belum bisa mengatakannya demikian, karena ia sendiri sudah mengukur kepandaian gadis itu sewaktu menyerangnya pada dua malam yang lalu.

Sekarang ia hanya melangkah mengikuti sepanjang kali. Sepertinya ia begitu yakin bakal bertemu dengan Tapak Welang di kemudian hari. Tapi mendadak saja kebisuannya itu tersentak. Permukaan air kali yang tadi tenang tiba-tiba berkecipak oleh jatuhnya beberapa butir buah dari atas pohon. Sebentar Wintara menghentikan langkahnya. Pandangannya seolah menatap riaknya air, tapi pendengarannya yang selalu tajam dapat mendengar gerak gerik yang lain.

Di atas pohon sana memang telah mengendapendap beberapa orang. Sejak tadi mereka mengawasi setiap langkah Wintara. Wintara sendiri yang sudah dapat menduga jumlah mereka lebih dari lima, seolah tidak perduli. Ia kembali meneruskan perjalanannya.

Tapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, Wintara mendengar suara teriakan yang datangnya dari atas pohon ke arahnya. Mengetahui adanya serangan, Wintara cepat melompat ke depan. Maka nampaklah beberapa orang berloncatan datang menyerang.

Satu, dua... tiga... empat.... Semuanya tujuh orang, Wintara menghitung. Dan mereka tidak memberi kesempatan pada Wintara untuk buka suara. Tahutahu saja mereka menyerang dengan serempak. Namun begitu mereka datang menerjang, Wintara menyambut dengan sapuan kakinya.

"Sreeet...! Buuuuug...!"

Tiga orang yang datang menyerang itu ambruk terpelanting. Bahkan dua orang di antaranya masuk ke dalam kali. Datang lagi dua orang, kali ini menggunakan pedang. Wintara cepat melirik, dua laret sinar putih menyambar.... Menghadapi dua sambaran pedang, Wintara tidak bergerak sejengkal pun. Malah kedua tangannya bergerak memutar. Tahu-tahu saja kedua lining itu memekik hebat. Karena saat Wintara memutar kedua lengannya tepat menghantam pergelangan tangan mereka.

Dua orang yang melihat teman-temannya ambruk berjatuhan sigap menarik pedangnya. Tapi mereka menunggu semua temannya bangkit. Setelah itu barulah mereka menyerang lagi serempak. Babatanbabatan pedang menyambar ke arah Wintara.

Menghadapi lima orang bersenjata pedang cukup bagi Wintara untuk bersikap mundur ke belakang. Tapi bukan berarti bagi Wintara kabur. Saat pedangpedang mereka bergerak menyambar, mendadak Wintara melesat ke atas. Bersamaan dengan itu pula kedua kakinya berputar menyambar setiap kepala para penyerangnya. Maka dengan serempak pula mereka jatuh terguling. Malang bagi ketiga orang yang langsung nyemplung ke kali. Dua orang yang tadi nyebur lebih dulu menyelam kembali, karena tertimbun oleh ketiga orang temannya.

*

* *

7

Susah payah kelima orang itu memanjat ke pinggir kali. Mereka langsung berlari datang membantu dua orang temannya yang sibuk menghadapi Wintara. Saat itu pun Wintara sudah ketelepasan melancarkan sebuah tendangan memutar.

"Des...! Des...!"

Dua orang itu langsung celentang tak berkutik di tanah. Lima orang yang telah basah kuyup mendadak berhenti menyerang karena...

"Ha-ha-ha-ha-ha-ha.... Aku sudah menduga! Ha-ha-ha-ha-ha...." Terdengar tawa yang menggelegak. Cepat Wintara menoleh ke arah suara itu.

"Tapak Welang!" Wintara tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. "Aku memang sengaja menyuruh mereka untuk menyambutmu, Wintara," Tapak Welang tersenyum, langkahnya mendekat.

"Dan ternyata dugaanku tidak meleset bahwa kau bukanlah seorang pengelana sembarangan Ini

memang daerah kekuasaan ku, Wintara," sambung Tapak Welang.

"Sambutan mu cukup hangat. Hampir saja kepalaku menggelinding di sini." jawab Wintara. "Tidak tahukah kau, aku sudah setengah mampus mencarimu?"

"Mencariku? Ada urusan apa?" tanya Tapak Welang keheranan.

"Tidakkah kau bertemu dengan tiga orang kerdil pada beberapa hari yang lalu?"

"Mereka tiga orang kerdil yang hampir saja mencelakai diriku. Mengapa dengan mereka?" Tapak Welang menunjukkan bekas-bekas luka babatan pedang yang telah dibalut pada dada serta lengannya.

"Mereka datang juga ke perguruan itu. Mereka sama dengan kau mencari Pusaka 'Weduk Pamungkas'. Dia juga menyebut-nyebut nama Wundung Kuro. Siapa Wundung Kuro itu?"

Bagai tersambar petir Tapak Welang mendengar pertanyaan Wintara. Ia hampir tidak dapat menjawabnya. Wintara dapat melihat perubahan sikap sahabatnya. Tapak Welang akhirnya menjawab juga.

"Pusaka 'Weduk Pamungkas' adalah warisan dari perguruan yang pernah kami tempati. Ayahku satu-satunya pewaris tunggal yang masih hidup. Tapi sampai saat ini kami belum juga mendapatkan pusaka tersebut."

"Kalau ayahmu pewaris tunggal yang masih hidup, pastilah ia Wundung Kuro murid tertua perguruan itu." Wintara bisa berkata seperti itu karena ia sudah mendengar dari pembicaraan ketiga manusia kerdil.

"Kenapa ayahmu sampai meninggalkan perguruan? Dan juga kenapa baru sekarang ia memerlukan Pusaka 'Weduk Pamungkas'? Tidak sadarkah kalau persoalan ini menjadi rumit akhirnya.... Apalagi sekarang tiga manusia cebol telah mengetahuinya."

"Cukup Wintara...! Kau telah banyak tahu dalam urusan ini! Sekarang aku mulai curiga, tentunya kau pun punya maksud lain terhadap kami." Tapak Welang berubah sinis. Secepat kilat ia mencabut pedang dan langsung menghunuskannya ke arah tenggorokan Wintara. Sebagai seorang pendekar, Wintara tetap tenang.

"Apa perduli mu sampai datang ke tempat itu? Tidak mungkin kalau kau pun tidak tertarik dengan pusaka itu!" Tapak Welang berkata lebih sinis. Perlahan Wintara menggeser pedangnya yang mengarah di tenggorokannya, lalu....

"Itu tuduhan yang tidak mutlak, Tapak Welang. Aku tidak tertarik dengan pusaka warisan kalian. Aku justru datang menemuimu untuk memberi kabar bahwa ketiga orang kerdil itu telah bergabung dengan orang-orang persilatan untuk mencari Wundung Kuro." Wintara berkata yang sesungguhnya. Tapi.... "Pembohong besar!" Sambil menghardik begitu, Tapak Welang membabatkan pedangnya ke depan.

"Weees!"

Wintara berjingkat mundur.

"Tapak Welang.... Tahan!" Wintara membentak. Namun Tapak Welang tidak menggubris bentakan itu. Babatan pedangnya semakin gencar menyerang Wintara. Kalau Wintara tidak berhati-hati mungkin sudah melukai tubuhnya.

Lima orang anak buah Tapak Welang yang basah kuyup itu mengangkat dua orang yang pingsan. Mereka tidak membantu Tapak Welang menghadapi Wintara. Karena mereka tahu, Tapak Welang tidak pernah minta bantuan dalam menghadapi suatu.

Wintara sendiri sudah dapat mengukur. Betapa hebatnya ilmu pedang yang dikeluarkan oleh Tapak Welang. Setiap babatannya selalu mengundang maut. Tatkala pedang itu berdesing saat berkelebat. Wintara sengaja tidak membalas. Dia hanya berusaha menghindar. Karena ia tidak ingin Tapak Welang berprasangka makin buruk terhadap dirinya.

Diperlakukan demikian, Tapak Welang sangat merasa diremehkan. Maka serangannya makin gencar menggempur Wintara. Dalam hal ini pun Wintara tetap mengalah. Sekalipun dalam hatinya ia sudah tidak sabar atas perlakuan Tapak Welang.

Tapi sebelum Wintara bertindak untuk memba-

las....

"Bruuug!"

Tapak Welang jatuh berguling. Wintara sadar

kalau pukulannya itu tidaklah keras dan juga tidak mengena. Beberapa saat pula Wintara baru sadar akan bergulingnya Tapak Welang. Itu disebabkan oleh seseorang yang datang secara tiba-tiba. Orang itu langsung berdiri di hadapan Wintara dengan sikap menantang. Seorang setengah tua berbaju serba putih, sebelah lengannya buntung. Namun begitu sebilah pedang tersoren di pinggangnya.

"Sungguh besar nyalimu, Anak muda    Berani

memasuki daerah kekuasaan kami.

Apalagi berani menyebut-nyebut nama besar Wundung Kuro. Benar-benar tak tahu penyakit! Tidak tahukah setiap orang itu harus mati bila menyebut namaku?" Suara orang tua itu pelan, tapi cukup berwibawa. Wintara mundur selangkah.

Mengetahui orang yang mendorongnya Wundung Kuro, Tapak Welang langsung bangkit.

"Ayah, dia seorang pengelana yang berilmu sangat tinggi. Berbahaya sekali kalau dibiarkan hidup. Karena ia telah tahu Pusaka 'Weduk Pamungkas' yang kita cari!" kata Tapak Welang yang berdiri di belakang Wundung Kuro.

"Diam kau, Anak tolol! Bisa mu hanya berkoar saja!" Wundung Kuro membentak. Saat itu Wundung Kuro menarik pedangnya. Suaranya berdesing panjang. Terhadap laki-laki setengah tua ini, Wintara lebih berhati-hati lagi.

Saat itu dua orang yang tadi pingsan telah dibawa pergi. Di tempat itu hanya mereka bertiga. Sekarang Tapak Welang malah ikut mengurung Wintara. Pendekar Kelana Sakti sudah menduga, bakal repot menghadapi mereka berdua.

Malah Tapak Welang sendiri yang menyerang lebih dulu. Pedangnya berkelebat menyambar bagian kepala. Serangan itu tidak main-main lagi. Wintara melesat ke samping. Tapi tikaman pedang Wundung Kuro deras menghujani tubuhnya. Untung Wintara cukup awas. Dia bisa menghindari diri dengan bersalto ke belakang. Wintara yang hanya mengandalkan kemampuan tangan kosong harus berkelit mati-matian menghindari sambaran-sambaran pedang dari dua orang lawannya. Lentingan tubuhnya yang gesit selalu berjumpalitan atau beterbangan ke sana ke mari. Ia tidak berani mendekat, karena ia tahu setiap gerakan mereka sangat berbahaya.

Apalagi Wundung Kuro mengerahkan hampir seluruh permainan pedangnya. Gerakannya yang ringan selalu dapat mengejar ke mana Wintara menghindar. Begitu juga dengan serangan Tapak Welang, sambaran pedangnya tidak kalah hebat dengan ayahnya.

Terhadap Tapak Welang, Wintara dapat membalas serangan itu dengan sesekali ia melancarkan tendangan. Sehingga Tapak Welang harus terbanting. Melihat Tapak Welang mencium tanah, sudah tentu Wundung Kuro makin geram. Dengan gerakan yang sangat cepat Wundung Kuro menendang pergelangan tangan Tapak Welang.

Maka pedang dalam genggaman itu terlempar. Yang lebih tak terduga lagi, pedang itu melesat deras mengarah pada Wintara.

Mendapat serangan yang tak terduga, Wintara rada tersentak. Tapi ia cepat menepis lesatan pedang.

"Trak!"

Pedang itu kembali menancap di tanah dan hampir mengenai Tapak Welang yang masih tergeletak. Tapi ternyata saat Wintara menepis lesatan pe-

dang, Wundung Kuro membarengi dengan sebuah terjangan. Pedangnya menyambar.

"Breeet!"

Wintara tidak sempat menghindar. Tahu-tahu saja lengannya mengucurkan darah. Setelah melancarkan babatan pedang, Wundung Kuro melompat mundur. Wintara tidak berusaha membalas, karena ada rasa kelainan pada luka goresan tadi...

"Riwayatmu sudah tamat, Anak muda! Tidak ada seorang pun yang dapat hidup terkena racun 'Pedang Geni Kluwuk'. Aku menciptakan ilmu pedang itu agar tidak ada orang yang mengusik ketenangan kami di sini." Suara Wundung Kuro seakan mengancam.

"Kau...." Wintara merasakan berat badannya melayang. Pandangannya mulai kabur. Seluruh lengannya membiru. Mungkin racun 'Pedang Geni Kluwuk' sudah menjalar di tubuhnya. Nampak pula Wundung Kuro tertawa mengekeh.

"Nasibmu sangat malang. Itu karena ulah mu yang terlalu banyak campur tangan terhadap orangorang persilatan." Selesai berkata begitu, Wundung Kuro mengangkat pedangnya. Meskipun dengan pandangan yang kabur serta tubuh seloyongan, Wintara sudah menduga apa yang bakal dilakukan Wundung Kuro.

Maka saat pedangnya bergerak menyambar. Wintara dapat menghindar. Dua kali sambaran pedangnya nyaris merobek perut. Serangan-serangan itu pula yang mendesak Wintara. Tapi begitu Wundung Kuro melepaskan tendangannya, Wintara tidak sempat lagi mengelak.

"Der!"

Tendangan itu mendarat telak di dadanya. Dia tidak ingat apa-apa lagi sesaat tubuhnya masuk ke dalam kali.

Tapak Welang yang sudah bangkit tersenyum melihat tubuh Wintara mengambang di kali terbawa arus. Wundung Kuro memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya. Tanpa bicara ia pergi melangkah meninggalkan anaknya yang masih berdiri menatap Wintara semakin jauh mengapung.

***

Tenda-tenda yang berderet di sekitar perbatasan Bukit Busung Kawu sudah tiga hari berdiri di situ. Empat partai besar perguruan ilmu pedang telah berkumpul. Bendera-bendera lambang kebesaran mereka banyak berdiri di atas tiap-tiap tenda. Begitu juga dengan murid-murid yang berkumpul di situ, rata-rata mereka merupakan andalan tiap-tiap perguruan.

Para tetua mereka berkumpul pada satu tenda yang lebih besar. Mereka memang tengah menyusun satu rencana. Semuanya atas prakarsa gerombolan 'Gagak Hitam Penyebar Maut'. Ternyata usaha pendekatannya kepada orang-orang persilatan berjalan mulus.

Kini ketiga manusia kerdil itu tengah duduk bersila di antara keempat ketua partai perguruan ilmu pedang. Selama ini mereka bertiga selalu bersikap baik terhadap orang-orang perguruan. Siapa pun tidak menyangka kalau di balik kebaikannya itu

terselip maksud tertentu. "Kita telah mendatangi bekas perguruan tersebut. Ternyata telah banyak orang-orang yang berdatangan ke tempat itu. Bahkan Ki Pelong telah kita temukan mati terbunuh. Jelas sekali luka-lukanya bekas babatan pedang." kata Abiyasa yang memimpin pertemuan empat partai itu.

"Menurut saudara Tiga 'Gagak Hitam Penyebar Maut' itu perbuatan Alap-alap Bukit Busung Kawu, betulkah demikian?" tanya Ki Rantungan yang duduk di sebelah Abiyasa.

"Kalau kami belum pernah berhadapan dengannya, mana berani kami menuduh. sendiri tidak percaya kalau Alap-alap Busung Kawu hanya seorang gadis yang masih bau kencur." jawab Gindek. Gondok dan Gundik hanya senyum-senyum saja.

"Hm.... Kalau begitu pastilah Alap-alap Bukit Busung Kawu telah mengambil Pusaka 'Weduk Pamungkas', karena menurut kabar hanya Ki Pelong yang tahu letak penyimpanan pusaka tersebut." tukas Buluk Bongas.

"Bukan    Aku tahu betul perihal Ki Pelong. Be-

liau tidak tahu menahu persoalan pusaka. Ki Pelong hanya seorang abdi dalem perguruan itu. Soal siapa yang mencuri Pusaka 'Weduk Pamungkas' masih dalam teka-teki. Lagi pula tujuan kita bukan ke sini. Kita berkumpul di sini untuk merencanakan bagaimana menghadapi Alap-alap Bukit Busung Kawu." Abiyasa menenangkan suasana dalam tenda itu.

"Bagaimana pun kita harus menemukan kembali pusaka itu." sela Gundik yang kini kehilangan sebelah telinga.

Mendengar ucapan Gundik, Gindek langsung menyikut secara diam-diam. Tapi keempat ketua perguruan ilmu pedang melotot secara bersamaan.

"Maksud kami, kita harus menyerahkan pusaka tersebut pada orang yang berhak mewarisi Weduk Pamungkas' " Gundik nyengir.

*

* *

8

"Hraaaaat !"

Di balik gemericiknya air yang jatuh ke dalam telaga, terdengar pula serentetan teriakan panjang. Sosok tubuh ramping berjumpalitan di udara. Dengan putaran-putaran pedang pendek yang menderu-deru bagai angin taufan. Begitu tubuhnya hinggap di atas tanah, maka belasan ranting pohon yang berada di dekatnya berjatuhan.

Belum lagi ranting-ranting itu jatuh menyentuh tanah, sosok ramping itu menyebar lagi dengan babatan pedang. Seleret sinar putih kehitaman berdesing. Dan saat ranting-ranting itu jatuh, daun-daun yang tadi memenuhi tiap-tiap ranting rontok terbabat habis oleh sambaran pedang.

Beberapa saat kemudian gadis itu berdiri menatap satu demi satu ranting-ranting yang plontos tanpa daun. Ia telah puas dengan apa yang ia tekuni selama ini di dasar jurang. Dan ternyata ilmu yang ditekuninya itu sangatlah luar biasa.

Kembali suasana hening. Gadis itu tetap berdiri di pinggiran telaga. Sesaat kemudian ia melangkah mengitari telaga itu. Kabut-kabut putih yang menghampar di permukaan tanah buyar. Maka nampak jelas air yang bening bagai kaca. Nampak jelas pula bayangannya yang berjalan mengitari pinggiran itu.

Bagai tersambar petir ia melihat bayangannya sendiri. Ditatapnya seraut wajah yang membayang di permukaan air. Wajah cantiknya telah tercoreng oleh bekas luka yang belum mengering. Luka itu memanjang dari kening sampai ke dagu. Hidung mancungnya sudah tidak nampak lagi. Kini hanya terlihat dua lubang besar di atas mulutnya.

Bergetar ia meraba bagian wajah. Makin dirasakan benjulan-benjulan yang memanjang bekas luka itu. Mendadak wajah seram itu berubah makin menyeramkan. Tubuhnya seperti bergemuruh menahan amarah yang tiada tara. Saat ingatannya menggambarkan seraut wajah seorang pemuda yang telah melukainya, tiba-tiba saja telapak tangannya menghantam bayangan yang muncul di permukaan air. Hantaman itu disertai dengan luapan yang sudah tak tertahan lagi. Maka menimbulkan suara yang membledar. Air telaga muncrat ke atas setinggi dua tombak. Lalu....

"Biar keadaanku begini, mungkin sudah takdir. Tapi aku belum puas kalau belum bermandikan darah orang-orang persilatan. Terlebih-lebih pada Wundung Kuro dan pemuda keparat itu ! Lihat saja nanti!" kata

gadis itu seolah berbicara pada dirinya sendiri. Dan ucapannya itu memang telah tertanam sebagai dendam yang sukar untuk dihapus.

Pandangannya nyalang menatap ke atas pada batas jurang yang nampak tegar menanti kemunculannya. Setelah pedang pendek tersarung kembali di pinggangnya, gadis itu melesat ke atas bersama dengan teriakannya yang menggema di sekitar dasar jurang.

"Wundung Kuro.... Kau tidak bisa menghindari dendam! Lima belas tahun aku mencari kesempatan ini...!" Suara itu terus menggema. Manakala tubuh ramping itu semakin tinggi dengan lesatan tubuh yang ringan mencapai puncak jurang.

Kau tidak dapat menghindari ku lagi, meskipun sampai ke ujung langit!" Gadis itu sudah tidak nampak, tapi gema suaranya tetap memecah kesunyian dasar jurang.

Kita semua tahu, bahwa pada lima belas tahun yang lalu istri Legowo berhasil selamat dari kepungan saudara seperguruannya, Wundung Kuro memang telah menghancur belahkan keluarga Legowo. Hal ini berlatar belakang adanya sebuah Pusaka 'Weduk Pamungkas' yang telah dicuri oleh istri Legowo sendiri.

Sekarang Wundung Kuro tidak mungkin lagi dapat memiliki pusaka tersebut. Karena si gadis kecil yang dulu menyelamatkan serta merawat ibunya kini telah menguasai tingkat akhir ilmu pedang itu.

Mereka betul-betul telah melupakan seorang gadis kecil yang bernama Laranti anak dari Legowo. Selama itu pula ia pernah membuat heboh orangorang persilatan. Bahkan orang-orang menyebutkan sebagai Alap-alap Bukit Busung Kawu. Sebutan apa lagi yang akan diberikan pada Laranti, setelah sekarang ia menguasai tingkat akhir ilmu pedang itu...?

Kini Laranti tengah menghadapi gundukan tanah berlapis rerumputan halus. Dua gundukan tanah itu tidak lain kubur orang tuanya. Siapa pun tidak akan menyangka kalau dua gundukan tanah itu kuburan. Karena pada bukit itu memang banyak gundukangundukan lain. Laranti sendiri akan bingung kalau ia tidak menandainya dengan tumpukan tulang-tulang kerangka bekas korbannya.

Di depan dua gundukan tanah itu pula Laranti menghancurkan beberapa lembar kulit yang merupakan pusaka 'Weduk Pamungkas'. Dia menebarkan sobekan-sobekan kulit itu bagai menabur bunga. Maka kepingan-kepingan kecil kulit berserakan di atas dua gundukan tanah itu.

***

Setelah seharian penuh, rombongan yang berjumlah belasan orang itu baru menemui sebuah kali yang memanjang pada dataran Bukit Busung Kawu. Bagai menemui sesuatu yang berharga, rombongan itu saling serabut menuju ke arah kali. Hanya tujuh orang yang tetap berjalan tenang menyusul orang-orang

Di antara ketujuh orang itu terselip tiga orang kerdil. Mereka pun berjalan ke arah kali. Abiyasa yang memimpin rombongan itu membiarkan belasan anak buahnya melepaskan dahaga. Dia sendiri pun merasa tenggorokannya telah kering.

Gabungan empat partai besar itu seperti berpesta pora. Ada yang langsung menyebur ke kali. Ada juga yang hanya meminum dan mengisi tempat persediaan air mereka. Tawa beberapa orang yang bermata jeli dapat melihat situasi air kali yang mengalir.

"Aneh! Ikan-ikan di sini semua mengambang. Apa yang menyebabkan ikan-ikan ini mati?" tanya salah seorang yang mengawasi seluruh pinggiran kali. Ikan-ikan memang banyak mengambang, bahkan telah kembung membiru. Saat itu tiga orang kerdil dan rombongan Abiyasa mulai mengambil air untuk mencuci muka.

"Airnya pun sangat aneh. Coba kau perhatikan. Seperti ada cairan hitam yang larut bersama air kali." jawab seorang lagi. Abiyasa yang mendengar pembicaraan itu tidak jadi mengambil air. Matanya pun ikut mengawasi arus air kali yang mengalir tenang. Saat ia tengah memperhatikan permukaan air, tiba-tiba saja beberapa anak buahnya yang tadi meminum air kali berteriak dengan tubuh mengejang. "Aaaaarght...!"

Abiyasa langsung melompat ke arah orangorang yang mengejang itu. Ki Rantungan dan Buluk Bongas mengikuti gerakkan Abiyasa.

Didapatinya tiga orang tewas dan langsung membiru saat itu juga. Setelah Abiyasa mengawasi permukaan air, ia mendapatkan satu kesimpulan.

"Air kali mengandung racun! Jangan ada yang minum!" teriaknya. Orang-orang itu menyingkir semua dari kali. Mereka segera berkumpul mengerumuni tiga mayat yang telah membiru.

"Pasti ada yang sengaja meracuninya. Cepat periksa...!" perintah Ki Rantungan. tiga manusia kerdil berlari ke pinggiran kali. Begitu juga dengan Buluk Bongas dan para pengikutnya. Mereka berjalan di sepanjang pinggiran kali. Air kali memang tampak lain. Ada cairan hitam yang tidak larut dalam arus kali. Selain itu banyak pula bangkai-bangkai ikan. Kelompok 'Gagak Hitam Penyebar Maut' paling sibuk. Tubuh kerdil mereka yang lincah meloncat ke seberang kali. Mereka terus mencari sumber racun itu.

"Aku menemukan mayat...!" Tiba-tiba saja terdengar teriakan. Kontan orang-orang berdatangan.

"Nampaknya orang ini masih hidup, coba perhatikan nafasnya." teriaknya lagi. Yang mereka lihat memang sosok tubuh seorang pemuda terlentang di pinggiran kali. Abiyasa dan teman-temannya menuju ke tempat itu, "Angkat dia. Pemuda ini tidak keracunan. Mungkin kita bisa menolongnya." kata Buluk Bongas setelah mengamati sosok tubuh kekar.

"Tunggu dulu!. bentak Gindek. "Jangan terlalu ceroboh. Siapa bilang pemuda ini tidak keracunan. Coba kalian lihat luka di lengannya itu." kata Gindek lagi. Semua mata memandang luka pada lengan pemuda itu. Dari situ mengalir cairan hitam kental.

"Dari manusia keparat ini rupanya racun itu berasal...!" Gondok menghardik.

"Kenapa tidak dihabisi saja nyawa anak muda ini." usul Gundik.

"Bukan! Racun itu bukan berasal dari lengan anak muda ini. Kalian lihat disepanjang kali ini masih mengalir cairan kental seperti itu." teriak dari salah seorang rombongan itu.

"Ah! Terlalu buang waktu, sudah jelas luka di lengannya itu mengeluarkan racun. Kenapa kalian masih kurang yakin?" Gundik geram. Sebelah lengannya ke atas hendak menghantam. Tapi Abiyasa cepat menahan. "Selamatkan dia dulu. Aku yakin anak muda ini korban dari racun itu juga. Cepat angkat dia."

Maka beberapa orang mengangkat tubuh pingsan itu. Mereka meletakkannya pada tempat yang cukup leluasa. Ki Rantungan memeriksa luka di lengannya. Yang lain masih terus mengamati permukaan air kali. Tiga manusia kerdil nampak bersungut.

"Hebat! Anak muda ini telah bebas dari pengaruh racun. Tubuhnya telah melewati masa kritis. Mungkin karena terlalu lama terendam dalam air." Ki Rantungan membolak balikkan tubuh pemuda itu. "Racun apa gerangan yang bekerja sangat ganas ini? Darah korban akan cepat membeku dan tidak mungkin tertolong."

Merasa diguncang-guncangkan, tubuh pingsan itu mulai siuman. Tanpa sadar pula ia menyebutkan sesuatu.

"Wundung Kuro.... Wundung Kuro...." Katakata itu yang keluar dari bibir gemetar. Abiyasa dan Buluk Bongas beranjak ke samping Ki Rantungan. Mereka seperti menemukan sesuatu setelah mendengar ucapan pemuda yang tanpa sadar.

Tubuh yang mulai siuman itu mendadak kelojotan. Ki Rantungan bersama yang lainnya cepat memegangi tubuh kelojotan seperti mengamuk. Mereka merasakan hawa panas yang keluar di sekujur tubuh pemuda itu.

"Saudara 'Gagak Hitam', kenapa diam saja...? Bantu aku!" Rombongan 'Gagak Hitam Penyebar Maut' yang tadi hanya diam berpangku tangan, berdatangan ikut memegangi tubuh yang meronta-ronta itu. Mereka yang memegangi tercengang melihat asap kehitaman keluar dari sekujur tubuh basah kuyup. Mendadak pula pemuda itu mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah beku dari mulutnya. Beberapa saat kemudian barulah ia dapat tenang. Mereka tidak merejang lagi. Mereka membiarkan anak muda itu terlentang bebas di tanah. Kedua matanya mulai membuka. Dan dapat terlihat beberapa orang mengerumuninya.

"Anak muda.... Kau telah selamat dari racun ganas yang bersarang di tubuhmu. Untunglah daya tahan tubuhmu sangat kuat." sapa Abiyasa ketika anak muda benar-benar sadar dan berusaha bangkit.

"Aku...." Sukar sekali anak muda itu menceritakan. Kepalanya masih terasa pening. Ia tidak perduli dengan orang-orang yang mengerubungi. Pikirannya berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya.

"Anak muda, barusan kau menyebut-nyebut nama Wundung Kuro. Di mana kau pernah menemukan dia...?" tanya Ki Rantungan tidak sabar.

"Betul, Anak muda. Sudah lima belas tahun kami mencari beliau. Sampai saat ini pun kami tengah mencarinya." kata Buluk Bongas. "Beliau salah satu orang yang perlu diselamatkan "

"Wundung Kuro...?" kata pemuda itu mengulang. Kesadarannya telah pulih.

"Hm... Beliau salah seorang pewaris dari partai perguruan ilmu pedang."

"Apa aku tidak salah dengar kalau kalian akan menyelamatkan Wundung Kuro?" Pemuda itu malah balik bertanya. Kedua matanya berputar mengawasi tiap-tiap orang yang mengerubungi. Sampai pandangannya membentur pada tiga manusia kerdil....

"Kenapa anjing-anjing kontet ini berada di sini pula? Apakah mereka juga akan menyelamatkan Wundung Kuro?"

Disebut anjing kontet, mata ketiga manusia kerdil ini melotot. Gundik dan Gondok tidak sabar lagi ingin menampar. Gindek yang bersikap tenang menahan mereka. Abiyasa dan lainnya semakin tidak mengerti dengan ucapan itu. Tapi mereka sengaja membiarkan pemuda itu meneruskan kata-katanya.

"Belum lama ini aku melihat kurcaci-kurcaci jelek macam mereka berkeliaran menggeradai bekas perguruan. Apakah pusaka 'Weduk Pamungkas' belum juga didapati, sehingga mereka sekarang bergabung dengan partai-partai lain?" ucapnya makin berani.

*

* *

9

Mendengar ucapan yang demikian pedas, tentu saja wajah ketiga manusia kerdil memerah. Abiyasa dan yang lainnya saling pandang.

"Bocah keparat! Mulutmu memang harus diberi pelajaran!" hardik Gondok. Tinjunya melayang ke depan. Gondok tidak menyadari kalau empat jarinya telah kutung, bagaimana Ia bisa mengerahkan tenaganya...?

"Dasar manusia busuk. Menyerang tanpa pakai pikiran!" tukas pemuda itu. Dengan mudah pula ia menepis pukulan Gondok. Hampir-hampir manusia kerdil itu ngusruk ke tanah. Gundik dan Gindek bermaksud maju menyerang, tapi....

"Cukup...!" Ki Rantungan membentak. Orangorang kerdil itu mengurungkan niatnya.

"Bocah sial ini terlalu lancang, Ki, main tuduh sembarangan. Siapa yang datang mengacak-acak bekas perguruan itu?" Gondek menyangkal. "Hal itu tidak penting! Kita telah kehilangan tiga nyawa, kenapa harus bertengkar pula. Tujuan ki-

ta hanyalah mencari Wundung Kuro, Pusaka 'Weduk Pemungkas' hanya membuat kita celaka." Bulus Bongas angkat bicara.

"Biarkan saja Wundung Kuro pada tempatnya. Laki-laki yang akan kalian selamatkan tidak lebih seekor binatang." sahut pemuda itu. Abiyasa dan Ki Rantungan mendelik.

"Sudah kubilang, pemuda itu terlalu lancang! Sudah habisi saja dia!" Gondok memanas-manasi. Tapi Abiyasa tetap bersabar.

"Apa yang kau ketahui tentang Wundung Kuro, Anak muda?" tanya Buluk Bongas dengan suara pelan. Anak muda itu tidak langsung menjawab, ia hanya menoleh pada luka di lengannya. Luka itu sudah agak membaik. Lalu....

"Aku sungguh tidak mengerti, mengapa orang macam Wundung Kuro mesti diselamatkan. Wundung Kuro bisa menjaga dirinya sendiri. Ilmu pedangnya sangat hebat. Selain itu...." Belum habis anak muda itu menjelaskan, tiba-tiba saja ucapannya terputus. Karena seseorang telah membentak...

Wintara...!" teriakan itu jelas terdengar. Maka semua orang pun menoleh ke arah suara itu. Nampaklah sosok Tapak Weleng berdiri angker. Di belakangnya berdiri pula beberapa orang pengikutnya. Anak muda yang ternyata Wintara itu tersenyum memandang Tapak Welang. "Dengan apa kau melenyapkan pengaruh Racun 'Pedang Geni Kluwuk' ayahku, Wintara?" Tapak Welang membalas senyuman itu dengan sinis.

"Entahlah.... Barangkali racun ayahmu itu tergolong racun murahan." jawab Wintara mengejek. Tapak Welang bersikap tenang. Tapi setelah melihat gerombolan 'Gagak Hitam Penyebar Maut' ia berubah sinis. "Kebetulan kita ketemu lagi, Cecoro kerdil. Kita bisa perhitungan untuk persoalan yang lalu."

Tapak Welang melangkah. Para pengikutnya yang berderet di belakang ikut juga melangkah. Bahkan mereka sudah siap mencabut senjata.

Gabungan empat partai besar itu pun tak kalah sigap. Saat rombongan Tapak Welang melangkah makin dekat, mereka serempak menarik gagang pedang. Suasana nampak tegang. Tapak Welang seperti tertawa mengekeh. Langkah yang dituju mendekat pada gerombolan 'Gagak Hitam Penyebar Maut'. Tiga manusia kerdil itu langsung berpencar.

Abiyasa selaku pemimpin rombongan itu cepat menghadang langkah Tapak Welang,

"Apa maksudmu menghadang kami, Anak muda? Kita belum pernah berurusan sebelumnya." Pandangan Abiyasa tajam memandang Tapak Welang.

"Memang benar apa katamu.... Tapi sekarang kita mulai berurusan." jawab Tapak Welang. Pemuda ini menarik gagang pedangnya dari punggung.

"Anak dan ayah sama konyolnya. Sama-sama tidak tahu diri. Buat apa menyendiri di dalam hutan kalau diri tetap terancam." Wintara menyindir. Tapi Tapak Welang yang berada di dekatnya langsung mengarahkan sambaran pedangnya pada Wintara.

"Weees!"

Untung Wintara cepat merunduk. "Manusia cerewet! Kau pun bakal mampus di sini!" bentak Tapak Welang. Sambaran pedangnya terus mencecar. Abiyasa cepat menarik pedang. Kemudian menangkis setiap serangan Tapak Welang.

Melihat Tapak Welang sudah mulai menyerang, para pengikutnya langsung menyerang menggempur gabungan empat partai ilmu pedang itu. Maka saat itu pula berdentingan senjata-senjata mereka beradu. Para pengikut Tapak Welang yang berjumlah tujuh orang harus terpaksa melayani belasan orang. Mereka memang memiliki ilmu pedang yang tidak rendah. Tapi menghadapi gabungan empat partai itu mereka hanya membuang tenaga. Karena gabungan itu terdiri dari andalan jago-j ago pedang.

Kelompok 'Gagak Hitam Penyebar Maut' diamdiam meninggalkan tempat itu. Tapi Tapak Welang yang tengah menghadapi Abiyasa dapat melirik, maka setelah ia menepiskan sambaran pedang, Tapak Welang melompat. Tubuhnya berjumpalitan di udara, tahu-tahu saja sudah hinggap di muka tiga manusia kerdil. Ketiganya serempak bergulingan saat pedang Tapak Welang menyambar keras. Wintara hanya berdiri tenang menyaksikan pertempuran itu. Sedikitnya ia mengagumi kehebatan Tapak Welang.

"Monyet-monyet kerdil! Kalian pikir Alap-alap Bukit Busung Kawu cukup mampu mengalahkanku...? Ha-ha-ha-ha.... Dia telah mampus di dasar jurang sana!" Pedangnya berkelebat cepat. Gerombolan kerdil jatuh bergulingan.

"Siapa yang percaya dengan ocehanmu, Pemuda sinting?" Gindek membalas serangan Tapak Welang. Ternyata hantaman jarak jauhnya cukup lumayan. Terkena angin pukulan itu Tapak Welang sampai terdorong mundur. Gondok dan Gundik melancarkan pukulannya juga.

"Bweees...!"

Kalau Tapak Welang tidak segera melompat ke atas, dua hantaman itu pasti mengenai dadanya.

"Paling-paling kau sendiri yang minta ampun terhadap Alap-alap Bukit Busung Kawu!" Gondok mengejek sambil melepaskan hantaman ke atas. Tapi malang baginya. Tapak Welang yang berjumpalitan di udara itu sempat membabatkan pedangnya ke bawah. "Crak!"

Gondok tidak sempat berteriak lagi. Karena kepalanya sudah menggelinding ke tanah.

"Seperti itulah nasib Alap-alap Bukit Busung Kawu. Kalau kalian tidak percaya, silahkan tengok ke dasar jurang!" Pedang Tapak Welang terus berputar. Kelompok manusia kerdil yang tinggal dua orang itu berjingkat mundur

Kedua mata mereka menatap pada tubuh tanpa kepala kelojotan di tanah. Tapi saat itu pula Tapak Welang menghentikan serangannya, karena....

"Pemuda keparat! Bicaramu kelewat ngawur...!" Terdengar bentakan keras. Terlihat pula sosok ramping melesat di udara bagai rajawali. Tapak Welang tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Bagaimana pun ia masih mengenali sosok ramping itu. Pedang pendek Laranti berputar menderu menimbulkan suara angin yang bergemuruh. Secepat itu pun tubuhnya menukik ke arah pertempuran antara para pengikut Tapak Welang dengan gabungan empat partai ilmu pedang. Di luar dugaan pula sambaran pedangnya membabat setiap kepala yang di laluinya.

Jeritan yang menyayat memenuhi tempat itu bersamaan dengan jatuhnya kepala-kepala mereka. Manakala Laranti belum berhenti memutar pedang. Maka makin bergelimpangan tubuh tanpa kepala. Tanah sekitar itu telah banjir dengan darah. Untung saja dalam pertempuran itu ada Abiyasa, Ki Rantungan dan Buluk Bongas. Mereka dapat menahan amukan Laranti yang datang secara tiba-tiba itu.

Adanya ketiga orang tersebut, Laranti mengalihkan serangan. Selama tubuhnya melesat ia tidak menyentuh tanah, ke kepala orang yang tengah bertempur itu di jadikan batu loncatan. Hanya dengan beberapa hentakan saja ia telah menjurus ke arah Tapak Welang. Pemuda itu sendiri masih sibuk menghadapi hantaman-hantaman jarak jauh dari Gindek dan Gundik.

Pada saat yang sama dari arah berlawanan, melesat pula sosok serba putih menyambut lesatan Laranti yang siap mengarah babatan pedang pada Tapak Welang. Sosok putih berlengan tunggal itu sebenarnya sudah mengarahkan pedangnya pula pada Laranti, maka saat mereka membentur. Hanya dentingan senjata mereka yang terdengar. Beberapa saat kemudian keduanya hinggap di tanah tanpa bersuara.

Tapak Welang yang melihat sosok tanpa berlengan tunggal datang, semakin bersemangat. Tapi ia tersentak pula saat melihat wajah Laranti yang telah jauh berubah. Begitu juga dengan Wintara. Ia masih ingat sosok ramping yang pernah menyerangnya dulu. Seorang gadis yang cantik jelita. kini sosok jelita itu sangat mengerikan. Benjulan luka yang memanjang sampai ke dagu dengan kedua lubang hidung sebesar seperti tengkorak. Lama juga Wundung Kuro menatap jijik.

"Wundung Kuro, selama lima belas tahun aku malang melintang mencari kau, akhirnya kita bertemu di sini. Sangat kebetulan sekali. Hutang darah itu harus diselesaikan sekarang juga, Wundung Kuro!" Suara Laranti dingin. Matanya nyalang menatap tubuh tanpa sebelah lengan.

"Kaukah Alap-alap Bukit Busung Kawu? Huh! Apa perduli mu kau mencariku selama lima belas tahun itu?" tanya Wundung Kuro.

"Masih ingat peristiwa lima belas tahun yang lalu? Ketika kau dan saudara seperguruanmu mengerjai saudara seperguruannya sendiri? Mungkin juga nama Legowo belum terhapus dalam ingatanmu!" Laranti sengaja bicara agak keras. Abiyasa dan teman lain yang melangkah ke situ dapat mendengar ucapan Laranti.

"Siapa kau sebenarnya, Perempuan buruk?" Wundung Kuro murka.

"Lima belas tahun memang waktu yang sangat panjang! Cukup membuat pikun untuk orang se usiamu. Sebenarnya terhadap mu aku harus memanggil paman. Karena aku putri tunggal Legowo!"

Wundung Kuro agak tersentak. Tapak Welang berhenti menyerang dua manusia kerdil, itu pun setelah manusia-manusia kerdil itu bergulingan kehabisan tenaga. "Tidak kusangka kalau semua ini akibat ulah mu sendiri, Wundung Kuro. Terhadap saudara seperguruanmu sendiri kau tega membantainya." Ki Rantungan mendongkol. "Kau tahu apa, Ki Rantungan! Lagi pula ini bukan urusan kalian!" Wundung Kuro melancarkan babatan pedangnya. Tapi Abiyasa dan Buluk Bongas cepat menepis serangan itu dengan senjata mereka. Benturan senjata itu mengakibatkan tubuh mereka terlempar. Ki Rantungan yang melihat cepat pula membalas. Tapi sabetan pedangnya melesat. Malah Ki Rantungan terjengkal terkena sambaran tendangan dari Wundung Kuro.

Melihat ketiga tetua partai ilmu pedang itu bergelimpangan, Wundung Kuro gigih melancarkan serangan. Tapi saat tubuhnya melesat maju, hampir saja sambaran pedang pendek Laranti merobek dadanya.

Sementara itu Tapak Welang masih mengawasi gerak-gerik Laranti. Ia tidak sadar kalau Gindek dan Gondok diam-diam kabur dari tempat itu. Larinya cepat menggelinding bagai bola. Namun begitu mereka bangkit berdiri, mereka terkejut setengah mati.

Karena tahu-tahu saja Wintara sudah berdiri di hadapan mereka. Mereka tidak sempat pula menghindar saat Wintara mendorong dengan kedua telapak tangannya. "Deeeer...!"

Dua tubuh kerdil itu mencelat ke arena pertempuran kembali.

Para pengikut Tapak Welang menduga kedua orang kerdil itu akan melancarkan serangan. Maka begitu mereka jatuh di tanah, beberapa orang dari mereka langsung mencacah tubuh keduanya. Darah menyembur dari tubuh kerdil itu bagai air mancur. Saat itu juga riwayat 'Gagak Hitam Penyebar Maut' telah pupus,"

Tapak Welang tidak membiarkan para anak buahnya mulai kewalahan menghadapi gabungan partai ilmu pedang itu. Sebab ia melesat pedangnya berputar. Wintara yang sudah tahu niat Tapak Welang, melompat pula ke arah pertempuran. Tinjunya berhasil menghantam lengan Tapak Welang. Tapi setelah tahu adanya Wintara, putra Wundung Kuro itu tidak menggubrisnya.

Babatan-babatan pedang Tapak Welang dapat menjatuhkan satu demi satu gabungan partai ilmu pedang. Gerakannya yang sangat cepat luar biasa selalu memakan korban. Sementara itu pun Wintara sengaja menghabisi semua para pengikut Tapak Welang. Malah gerakan Wintara lebih sengit. Meskipun tanpa senjata, ia bisa menjatuhkan dua sampai tiga orang sekali pukulan. Memang tidak tewas! Tapi cukup mengurangi kekuatan lawan.

Maka dalam waktu yang sangat singkat pertempuran itu mendadak sepi. Banyak orang-orang bergelimpangan tewas atau tanpa sadar. Namun masih saja terdengar suara beradunya senjata maupun jerit kesakitan yang menyayat. Tapak Welang tidak kepalang tanggung membantai lawan-lawannya. Wintara hampir tidak sanggup membendung. *

* *

10

Tapak Welang yang nampak seperti kesetanan menyerang membabi buta. Pedangnya bergerak bak kilatan-kilatan sinar putih yang siap menjemput maut. Wintara yang tanpa senjata terpaksa berkelit menghadapi setiap sambaran pedang. Maka nampaklah tubuh gesit Wintara beterbangan ke sana ke mari.

"Tapak Welang tidak semestinya kau membantai mereka!" bentak Wintara. Tinjunya melayang hampir mengenai muka Tapak Welang.

"Kenapa? Lebih baik tidak ada perguruan sama sekali di muka bumi ini! Hraaaaat!" Membersit sinar putih di atas kepala Wintara. Dalam keadaan merunduk seperti itu, Wintara mendorong kedua telapak tangannya.

"Der...!"

Terasa sekali hantaman itu begitu dingin. Tapi berakibat sangat fatal. Tapak Welang seloyongan ke belakang sambil menyemburkan darah segar dari mulutnya.

"Belum terlambat bagimu untuk kembali ke jalan yang benar, Tapak Welang... Masih ada waktu." Wintara sengaja tidak menyerang lagi. Tapi ia tetap waspada terhadap pemuda itu. Setiap saat pedangnya dapat menyambar tak terduga.

Tapi ternyata tidak. Hantaman Wintara tadi cukup membuat Tapak Welang tak berkutik. Di dadanya masih mengepul uap dingin tenaga pukulan Wintara. Rupanya ada berapa tulang iganya telah patah, sehingga sukar bagi Tapak Welang bergerak. Baginya tidak ada pilihan lain. Tapak Welang melepaskan pedangnya ke tanah. Dan ia sekarang berdiri pasrah.

Mulutnya menyembur darah lagi. Tubuh Tapak Welang seakan lemas tak bertenaga saat tubuhnya bergulir ambruk. Wintara cepat melompat menyanggah. Tapak Welang berpegangan erat pada punggung Wintara. Sementara itu para tetua partai perguruan ilmu pedang menjadi bingung. Mereka tidak tahu mesti berpihak pada siapa. Wundung Kuro tidak terima atas perlakuan baik mereka. Malah membalasnya dengan sambaran pedang. Apalagi Laranti. Gadis berilmu tinggi ini sukar diajak kompromi. Ia tidak perduli terhadap siapa pun. Pedang pendeknya selalu bergerak kepada siapa saja yang mendekat.

Abiyasa sendiri menjadi repot. Mana kala ia tengah menghadapi serangan Laranti, Wundung Kuro malah menggunakan kesempatan itu. Ia menyerang dari arah lain. Untung saja Ki Rantungan selalu waspada akan keselamatan temannya. Ia bisa mencegah serangan Wundung Kuro.

Namun bagi Buluk Bongas, pikirannya tetap tidak terpecah dua. Serangannya dari tadi mendesak gadis berilmu tinggi itu. Sayangnya Buluk Bongas bukanlah ukuran bagi Laranti yang telah menguasai tingkat akhir ilmu pedang. "Ztraaaang...!"

Saat pedangnya tersambar pedang pendek. Pedang Buluk Bongas patah dua. Bersamaan dengan itu pula tenggorokannya robek mengalirkan darah yang menyembur bagai air mancur. Buluk Bongas ambruk kelojotan di tanah. Ki Rantungan menggeram melihat Buluk Bongas kaku diam bersimbah darah memenuhi bajunya.

Tentu saja Abiyasa dan Ki Rantungan segera mengalihkan serangannya. Amarah mereka memuncak karena telah kehilangan salah satu sahabat mereka. Kedua tetua itu mendesak pertahanan Laranti.

Tenang sekali Laranti menyambut seranganserangan mereka. Hanya dengan memutar pedang pendeknya, senjata-senjata lawan patah dua semua. Gadis itu tersenyum sinis melihat mereka berdua gelagapan.

Keduanya merunduk serempak saat Wundung Kuro datang membersitkan pedang, desingan anginnya terasa sekali di atas kepala mereka. Belum habis ia menghindari serangan Wundung Kuro. Laranti melepaskan tendangan berantai yang bertubi-tubi ke arah mereka. ,

"Bug...! Bug...! Bug...! Bug...!"

Kontan Abiyasa maupun Ki Rantungan bergulingan di tanah.

Bagi Wundung Kuro yang sudah kepalang tanggung bertindak belum cukup puas sebelum pedangnya menghirup darah mereka. Dengan langkah gencar ia mengarahkan pedangnya. Abiyasa dan Ki Rantungan belum sempat bangun.

"Mampuslah kalian!" Pedang Wundung Kuro menyambar ke arah leher keduanya. Tapi sebelum pedang itu mengena....

"Arghtt !"

Wundung Kuro memekik. Kedua matanya membeliak menatap perutnya yang tertembus pedang.

Rupanya tindakan Wintara tidak terlambat. Saat Wundung Kuro membabatkan pedangnya, Wintara cepat menendang pedang Tapak Welang yang tergeletak di tanah. Dan lesatan pedang itu tepat menembus di perut Wundung Kuro.

"Para tetua ! Hati-hati terhadap Wundung Ku-

ro! Pedangnya mengandung racun!" teriak Wintara. Ia tetap duduk menyanggah Tapak Welang. "Menyingkir dari situ. Gadis itu lebih berbahaya lagi!" Mendengar perintah Wintara. Abiyasa maupun Ki Rantungan bersalto mundur. Wundung Kuro masih berdiri tegar dengan sebilah pedang menembus di perut. Tapi ia cepat segera menoleh ketika mendengar suara teriakan garang menjurus ke arahnya. Laranti yang sudah menunggu-nunggu kesempatan itu meluncur deras. Pedang pendeknya mengarah cepat bagai anak panah.

Wundung Kuro hanya bergeser ke samping, maka terjangan Laranti melesat. Dalam pada itu pun Laranti cepat membalikkan serangan. Pedang pendek menyambar disertai dengan sebuah tendangan. Wundung Kuro dapat menepis babatan pedang pendek dengan pedangnya. Tapi ia tak bisa menghindari tendangan Laranti menghantam pedang yang menancap di perut semakin amblas.

Seperti tidak dirasakan sama sekali, Wundung Kuro membalas serangan itu. Keduanya sama-sama membabatkan pedangnya. Benturan pedang mereka beradu sampai memercikkan api. Lesatan tubuh mereka bergulung-gulung bersamaan dengan berendarnya sinar pedang saling bentur membersit.

Sekali Wundung Kuro mengerahkan tenaganya. Lengannya bergerak cepat. Maka sambaran pedang dapat menggores punggung Laranti. Reflek pula gadis itu membabatkan pedangnya ke samping. Seketika itu juga wajah seram Laranti terkena cipratan darah.

Sambaran pedang Laranti yang tanpa disadarinya itu telah menyambar putus kepala Wundung Kuro. Tubuh tanpa kepala Wundung Kuro tetap berdiri. Dari lehernya yang buntung mengucur darah. Memercik mengotori wajah Laranti. "Gadis itu mendorong pelan tubuh Wundung Kuro. Perlahan pula tubuh tanpa kepala itu ambruk ke belakang. Laranti sendiri merasakan punggungnya berdenyut. Racun pedang 'Geni Kluwuk' Wundung Kuro bekerja cepat. Sebentar saja sebagian punggung Laranti membiru. Dengan langkah gemetar pula ia maju mendekati pada Tapak Welang.

"Kini giliranmu, Pemuda keparat! Luka di wajahku belum kering, begitu juga dengan dendam yang membakar hangus jantungku!" Sambil berkata demikian Laranti mengeluarkan jurus-jurusnya lagi. Pedang pendek berputar menderu-deru.

Wintara yang berada sangat dekat dengan Tapak Welang cepat menarik sebelum Pedang itu berkelebat. Tapi tindakan itu justru membahayakan diri Wintara. Karena saat Wintara membawa tubuh Tapak Welang, Laranti gencar membabatkan pedangnya. Abiyasa dan Ki Rantungan datang membantu.

"Tetua.... Selamatkan Tapak Welang dari sini!" Wintara menyerahkan Tapak Welang pada Abiyasa. Namun seperti sudah kesetanan Laranti melesat terus ke arah Tapak Welang. Melihat itu Wintara langsung melancarkan tendangan memutar.

"Bug...!"

Laranti memekik. Tubuhnya ambruk di tanah. "Tahanlah, Nona.... Anda sudah terkena racun

pedang Wundung Kuro. Racun itu amat ganas. Kalau tidak segera mengobatinya dengan tenaga inti, kau bisa mati. bentak Wintara. Bentakan itu tidak diperdulikan. Laranti malah melempar Wintara dengan pedangnya.

"Bweees...!"

Wintara salto ke belakang membarengi lesatan pedang.

Di luar dugaan Laranti melancarkan dua pukulan sekaligus. Sudah tentu Wintara yang dalam keadaan berjumpalitan tidak mengetahui adanya serangan. Apalagi hantaman-hantaman itu mendadak mendera di dadanya.

Melihat Laranti tidak menggunakan pedang lagi, Abiyasa dan Ki Rantungan serempak maju. Namun hal itu bukan berarti gadis berilmu tinggi itu tidak tahu. Setelah menghantam Wintara, ia berbalik melepaskan tendangan.

"Deeer..!"

Abiyasa balik mencelat. Bajunya basah oleh darah yang menyembur dari mulut Ki Rantungan pun demikian. Ia tidak menyangka kalau tendangan itu dapat langsung melencong ke arahnya. Melihat gerakan kaki yang sangat cepat, Ki Rantungan sangat tersentak. Makanya ia tidak bisa menghindari tendangan Laranti yang menghantam tenggorokannya. Keadaannya lebih parah. Ki Rantungan ambruk dengan tulang leher patah.

Semuanya di luar dugaan. Wintara sendiri tidak menyangka kalau gadis itu demikian luar biasa. Tanpa pedang pun gadis itu dapat mendesak pertahanan Wintara. Setiap kali Wintara menangkis hantamanhantaman Laranti, terasa sekali dorongan tenaga dalam mematahkan lengan-lengan Wintara.

"Seluruh tubuhmu telah membiru, Nona! Pembuluh darahmu sudah mulai beku!" Tidak hentihentinya Wintara memperingati. Sebenarnya apa yang dikatakan Wintara memang sudah terasa oleh Laranti. Selain tubuhnya yang mulai membiru, gerakannya pun seperti lambat. Namun demikian Laranti keras kepala menyerang Wintara.

Terpaksa pula Wintara meladeninya. Hantaman-hantaman mereka beradu sampai menimbulkan suara yang membledar. Hantaman Laranti bagaikan ribuan jarum menyengat di tubuh Pendekar Kelana Sakti. Tapi Alap-alap Bukit Busung Kawu mendadak mental ke belakang saat Wintara mengerahkan seluruh pukulan hawa dingin. Tubuh Laranti bergulingan dengan mengepulkan asap. Dalam keadaan berguling seperti itu Laranti sempat meraih sebilah pedang yang tergeletak di tanah. Dan begitu ia bangkit berdiri, tahu-tahu saja sudah menyandera Tapak Welang. Wintara tidak jadi menyerang. Abiyasa yang membantu Ki Rantungan bangkit merasa khawatir.

"Benarkah anak muda ini bernama Tapak Welang?" tanya Laranti dengan suara parau.

"Ada berapa Tapak Welang sebagai anak Wundung Kuro? Sudah tahu dia Tapak Welang masih banyak tanya! Lepaskan saja dia! Dia sudah tidak berdaya! Akulah yang mesti kau hadapi!" Wintara bersikap menantang.

"Pendekar sombong!" Sambil menghardik begitu Laranti membanting tubuh Tapak Welang. Lalu menodongkan pedang itu di tenggorokannya. Senyum gadis itu nampak sinis.

"Kita memang pernah bermain bersama, Tapak Welang. Kau yang selalu menjaga dan melindungiku ternyata berjiwa anjing! Masih ingat lima belas tahun yang lalu saat seorang gadis kecil jatuh bersamamu pada sebuah batang pohon di samping perguruan?"

Pertanyaan itu membuat Tapak Welang membelalakkan mata. Selintas ingatannya membayang pada lima belas tahun yang lalu. Ia memang pernah terjatuh dari sebatang pohon di saat bermain bersama seorang teman gadis kecil.

"K-Kk-Kaukah Laranti...?" Gadis berwajah buruk itu tersenyum. Kenangan masa kecil memang teramat manis. Tidak terasa pula Laranti menitikkan air mata. Bersama Tapak Welang masa kecilnya tidak dapat dilupakan. Janji bocah ingusan yang bersumpah akan menjadi pasangan raja pedang terngiang kembali. Manakala wajah tampan Tapak Welang menatap Laranti. Saat itu pula keharuan yang melanda hati Alapalap Bukit Busung Kawu sirna. Sinar matanya yang berkaca-kaca berubah nyalang.

Pedang dalam genggaman Laranti bergetar hebat. Lalu tanpa memejamkan mata Laranti memutar pedang ke arah wajah Tapak Welang. "Breees...!"

Seketika wajah Tapak Welang mencair darah. Seluruh wajahnya nampak rata. Bersamaan dengan itu pula Tapak Welang kelojotan. Dingin Laranti menatap tubuh kelojotan itu.

Kejadian itu terjadi sangat cepat. Wintara menyesali diri karena ia tidak sempat menyelamatkan Tapak Welang. Dengan langkah yang gesit ia melompat bermaksud mengambil tubuh Tapak Welang. Tapi ternyata Laranti telah mendahuluinya. Saat tubuh mereka melesat, Laranti maupun Wintara saling melancarkan hantaman. Terdengarlah suara benturan hantaman mereka. Begitu juga dengan jeritan panjang Laranti.

Keduanya memang terbanting di tanah. Wintara cepat bangkit meskipun mulutnya menyemburkan darah. Laranti bangkit pula dengan pandangan yang nyalang. Mulut serta lubang hidungnya yang besar mengucurkan darah kehitaman. Bibirnya menggeram. Beberapa detik kemudian tubuh ramping itu melesat lagi. Kali ini terjangannya lebih dahsyat. Kedua telapak tangannya merentang siap menghantam kepala.

Wintara yang sudah bersiap-siap, cepat pula menghimpun tenaga inti hawa dingin. Begitu Laranti berkelebat di atas kepala, Wintara menjatuhkan diri sambil melepaskan dua hantaman sekaligus.

"Deeeeer...!"

Hantaman-hantaman Wintara mendarat telak pada dada serta perut. Laranti tidak memekik lagi. Tubuhnya langsung terbanting keras di tanah dengan nyawa melayang. Tubuhnya terlentang menghadap langit. Dari setiap bekas hantaman Wintara mengepul asap putih.

Wintara menatap tubuh Laranti dengan berdiri sempoyongan. Membiarkan Tapak Welang tetap kelojotan. Membiarkan Abiyasa mendekati membawa Ki Rantungan yang nampak parah. Orang-orang gabungan partai ilmu pedang yang masih sisa atau terluka mulai berdatangan menghampiri. Beberapa orang dari mereka mengangkat tubuh Tapak Welang yang pingsan. Wintara menoleh ketika Abiyasa menepuk pundaknya. Sebelum Abiyasa bicara, Wintara mendahului.

"Dalam hal ini Tapak Welang tidak bersalah. Perlakukan dia baik-baik. Tindakannya selama ini hanya dipengaruhi oleh Wundung Kuro. Dia pula rupanya yang menyebabkan peristiwa lima belas tahun itu. Aku rasa kalian sudah mengerti akan persoalannya"

"Anak muda.... Siapa sebenarnya diri mu? Sejak aku temukan kau di pinggir kali, aku sudah merasa curiga. Bahwa kau bukanlah orang yang sembarangan." tanya Abiyasa.

"Aku hanya seorang pengelana yang mencari pengalaman. Tidak lebih dari itu." jawab Wintara singkat.

"Tapi kau telah banyak mengetahui persoalan sengketa antara keluarga Legowo dan Wundung Kuro. Apakah kedatangan mu ke bukit ini untuk memperebutkan pusaka 'Weduk Pamungkas' juga?" Mendengar pertanyaan seperti itu Wintara nyengir. Lalu, "Aku tidak pernah memimpikan sebuah pusaka. Juga kalian tidak bakal akan mendapatkan pusaka itu. Karena 'Weduk Pamungkas' sudah sirna bersama tewasnya Alap-alap Bukit Busung Kawu.... Tidakkah kalian dapat melihat jurus-jurusnya tadi. Selain ilmu pedang yang tinggi, jurus-jurus tangan kosongnya pun sangat mematikan. Kepandaiannya jauh di atas kita. Pastilah Alap-alap Bukit Busung Kawu telah menguasai pusaka 'Weduk Pamungkas'. Kalau saja ia tidak terkena racun 'Pedang Geni Kluwuk' ciptaan Wundung Kuro, mungkin kita semua sudah binasa."

Setelah berkata begitu Wintara melangkah. Abiyasa dan orang-orang gabungan partai ilmu pedang menatap heran. Tidak ada yang berani menahan langkah-langkah Pendekar Kelana Sakti itu.

"Anak muda.... Sebutkan siapa nama mu!" teriak Abiyasa yang merasa kagum. Wintara tetap tidak menjawab. Ia terus melangkah semakin menjauh. Tanpa menoleh Wintara melambai-lambaikan tangannya.

TAMAT