Serial Pendekar Kelana Sakti Eps 07 : Setan Gila Dari Lereng Ungaran

 
Eps 07 : Setan Gila Dari Lereng Ungaran 


"Gunung mau meledak! Langit mau runtuh! Biar saja bumi retak! Apa betul padang pasir ini tiada batasnya?..." celoteh Umbara Komang nyaring. Ia duduk menunggangi kudanya yang berjalan tenang. Hamparan pasir membentang di hadapannya seperti tanpa batas. Sejauh mata memandang Umbara Komang tidak melihat apa-apa kecuali bukit-bukit berdiri samar di kejauhan.

"Kiamat sekalipun aku tidak gentar!" Suaranya makin parau terdengar. Manakala matahari keriput. Keringatnya sudah lengket dengan debu dan pasir. Manakala matahari terus mencorot mengundang panas, dan hembusan angin semakin kencang menebarkan debu-debu menerpa tubuhnya. Sering kali ia melindungi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dari terpaan pasir debu.

Perjalanannya mengarungi padang pasir yang sangat luas itu bagaikan sebatang jarum yang terkatung-katung di dasar lautan. Dia sendiri tidak tahu akan ke mana tujuannya. Umbara Komang hanya duduk tenang, tertawa oleh langkah-langkah kudanya. Lelaki berpenyakit senewen ini sudah tidak ingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit serta nyeri di sekujur tubuhnya. Pada hal beberapa jam yang lalu Umbara Komang ikut bertempur membantu orang-orang kerajaan. Dan ia juga sempat mengenal erat dengan seorang pendekar yang sangat berilmu tinggi. Bersama seorang Pendekar Pengelana Sakti, ia ikut bertempur bahu membahu melumpuhkan seorang tokoh kosen dari golongan hitam (Untuk mengetahui lebih lanjut, pembaca bisa mengikuti dalam cerita: Bidadari Kuil Neraka). Kalaupun sekarang ia terkatung-katung sendirian mengarungi hamparan padang pasir, itu kemauannya sendiri. Setelah mereka berhasil menjatuhkan tokoh sesat itu, ia sengaja memisahkan diri. Atas dasar kemauannya, siapa pun tidak ada yang dapat menghalanginya.

Dalam perjalanannya ia selalu mengingat sosok tubuh kekar seorang pendekar muda yang dianggapnya seperti 'dewa'. Yang begitu gigih berjuang bahkan sempat menyelamatkan nyawanya. Hanya itu yang dia ingat. Sekarang pikirannya hanya tertuju pada hamparan pasir yang tidak pernah berhenti menyebarkan pasir debu.

Dari ketinggian sosok kuda itu tidak lebih seperti sebuah titik yang bergeser sedikit demi sedikit dengan meninggalkan jejak pada dataran pasir. Jejakjejak itu membentuk sebuah garis yang memanjang mengikuti ke mana langkah kaki kuda bergerak maju di bawah mencorotnya sinar terik.

"Sial! Aku tadi hanya bergurau...! Kenapa jadi sungguhan!" gerutu Umbara Komang menatap langit yang tadi biru, kini tiba-tiba saja berubah keruh. Awan bergumpul-gumpal bergerak demikian cepat seakanakan benar-benar hendak ambruk.

"Celaka! Langit mau runtuh, di sini tidak ada tempat untuk berlindung...." Umbara Komang ketakutan. Dan saat itu suasana berubah gelap. Angin menderu-deru kencang melanda dataran pasir. Mengoyakkan seluruh permukaan dataran itu.

Kuda yang ditunggangi Umbara Komang meringkik keras sambil kedua kaki depannya terangkat ke atas menyepak-nyepak. Bulu-bulu yang tumbuh di sepanjang lehernya bergerak-gerak tertiup angin yang sangat kencang. Umbara Komang sendiri setengah mati mengimbangi tubuhnya di atas punggung kudanya. Ia berusaha keras memegang tali kekang. Sementara kuda yang ditunggangi itu terombang ambing terbawa oleh gerakan angin yang mendorong begitu deras.

Belum habis ia berusaha mengimbangi tubuhnya dari amukan kuda yang ditungganginya, mendadak kuda itu terbanting ke samping. Sedangkan Umbara Komang sendiri ikut terbanting berdegum di tanah dengan sangat keras. Angin menderu-deru bagaikan badai. 

Pasir debu menerpa tubuhnya semakin deras. Ia tidak sanggup membuka matanya. Umbara Komang hanya tetap berpegangan pada tali kekang. Dan ia sendiri tidak mengerti kenapa angin yang bertiup sangat kencang itu mampu menerbangkan tubuhnya. Untung saja ia berpegangan kuat pada tali kekang. Memang tidak dapat diatasi lagi. Angin yang menderuderu kencang itu mampu mendorong tubuh Umbara Komang bersama kudanya sehingga bergulingan di dataran berpasir.

Manakala langit makin gelap tertutup awan hitam yang merambat di cakrawala. Debu-debu beterbangan memenuhi seluruh dataran itu. Membuat mata Umbara Komang semakin rapat terkatup. Untuk bernafas saja demikian sesak. Ia seperti mati konyol dibuatnya. Dan merasa tidak dapat berbuat apa-apa.

Sementara tubuhnya kini mulai terombang ambing terdorong oleh hembusan angin. Dari kejauhan nampak tubuhnya mengapung-apung di atas permukaan dataran padang pasir. Untung saja ia berpegangan erat pada kekang yang menjerat di leher kudanya. Kalau tidak tentu Umbara Komang sudah terbawa hanyut oleh angin yang maha ganas itu. Didengarnya pula deru angin makin kencang. Bergemuruh laksana ribuan jarum yang menerpa di tubuhnya.

Sesaat ia membuka matanya. Bukan main Um- bara Komang terkejut. Di hadapannya nampak pusaran angin berwarna hitam kecoklatan bergulunggulung. Pusaran angin itu memporak-porandakan seluruh tanah berpasir yang dilaluinya. Umbara Komang memekik nyaring saat pusaran angin itu kian mendekat menerjang. Tubuh serta kudanya tidak dapat bertahan lagi. Dan ketika pusaran angin itu melandanya, tahu-tahu saja keduanya bagai tersedot masuk dalam gulungan angin yang berwarna hitam kecoklatan.

Keduanya berputar-putar semakin tinggi dalam pusaran angin. Teriakan Umbara Komang dan ringkik kuda terdengar nyaring dari ketinggian. Keduanya nampak seperti sosok-sosok kecil yang melayanglayang dalam pusaran angin. Dan lagi pusaran angin itu membawanya semakin jauh. Sesaat kemudian, suasana berubah tenang kembali. Gemuruh angin masih terdengar meskipun sayup-sayup. Pusaran angin telah berlalu. Namun dari kejauhan masih nampak bagai sebuah tiang yang menjulang ke atas. Di mana di atasnya masih bergumpal awan-awan hitam bertebaran. Lalu tak lama tiang hitam itu menghilang entah ke mana. Langit kembali membiru bersama sinar matahari yang terik mencorot ke bumi. Pada dataran padang pasir membekas jejak-jejak pusaran angin yang baru saja lewat. Jejak-jejak itu memanjang berliku-liku bagai sebuah galian memanjang sepanjang dataran itu. Tapi lebih mirip lagi jejak-jejak seperti bekas seekor ular raksasa.

Seperti apapun jejak-jejak pusaran angin itu, bagi Umbara Komang tidak lain bagaikan maut yang merenggut nyawanya. Baginya memang terlalu awam untuk melintasi dataran itu. Dan ia tidak menduga sama sekali kalau ia akan menghadapi badai angin yang demikian dahsyatnya.

Itulah sebabnya banyak  orang dari kalangan manapun tidak berani melintasi dataran tersebut. Karena sering terjadi hal-hal yang tak terduga seperti ini. Begitu tolol Umbara Komang melintasi dataran itu sendirian yang akhirnya harus menempuh bahaya beresiko berat. Bagaimana pun Umbara Komang harus menerima nasibnya.

Seperti yang sudah-sudah, belum pernah ada terdengar segelintir nyawa yang bisa selamat dari amarah pusaran angin. Dibawa berputar-putar setinggi langit itu saja sudah sampai pingsan. Apalagi sampai terbanting dari ketinggian? Itu yang diketahui oleh banyak orang.

Bagaimana dengan nasib Umbara Komang? Mungkinkah ia bernasib sama seperti korban-korban lainnya? Sampai detik ini belum dapat diketahui. Badai pusaran angin membawanya semakin tinggi dan menjauh.

Umbara Komang sendiri sudah tidak sadarkan diri. Tubuhnya hanya mengikuti dan berputar dalam badai angin yang membawanya pergi. Sebenarnya badai pusaran angin yang ganas itu tidak sedahsyat tadi. Setelah melewati dataran padang pasir badai pusaran angin kian melemah. Tubuh Umbara Komang dan kudanya yang hanyut di dalamnya tidak lagi terombang ambing tinggi. Keduanya makin perlahan turun. Perlahan pula badai pusaran angin bergemuruh. Warnanya tidak lagi hitam. Awan di atasnya bergerak berpencaran. Lalu tempat itu menjadi terang dengan seketika. Bersamaan itu pula badai pusaran angin hilang.

Mendadak saja tubuh Umbara Komang beserta kudanya jatuh ke bawah. Keduanya meluncur deras ke bawah. Sedang di bawahnya telah menunggu sebuah dataran baru yang banyak ditumbuhi pepohonan.

Dataran yang menghijau itu tidak lain dari sebuah lembah pembatas dataran berpasir. Ke lembah tersebut mereka terjatuh Kuda yang memiliki bobot lebih berat dari Umbara Komang meluncur lebih dulu.

Kuda itu meringkik-ringkik saat tubuhnya jatuh menerobos rimbunnya dedaunan. Terdengar pula derak cabang pohon yang patah akibat benturan. Lalu sebuah deguman bergedebuk sangat nyaring pada permukaan tanah.

Saat itu pun tubuh Umbara Komang mulai jatuh menerobos dedaunan. Tubuhnya meluncur terus ke bawah, dan berkali-kali membentur cabang-cabang pohon yang tumbuh di sana sini. Tapi untuk terakhir kali, tidak terdengar deguman sosok tubuh yang membentur permukaan tanah. Dasar lembah yang banyak ditumbuhi pepohonan sebesar-besar raksasa nampak sunyi. Akar-akar pohon yang merambat tak beraturan bergetar perlahan. Tidak terhitung pula betapa tingginya pohon-pohon yang memenuhi lembah itu.

Sosok Umbara Komang tersangkut lemas pada cabang pohon yang agak besar. Matanya membiru akibat benturan cabang pohon yang berada di atas. Di bawahnya, di atas permukaan tanah berumput terkulai pula sosok seekor kuda terbalik dengan tulang punggung yang patah. Sehingga bentuk kuda itu tidak karuan lagi. Pada tubuh kuda itu banyak menancap pohon-pohon onak yang bergerombol di sekitarnya.

Kuda yang malang itu tewas mengerikan. Kepalanya nampak berkelojotan sambil menyemburkan darah yang keluar dari sederetan giginya yang terkatup rapat. Untuk kemudian diam tak bergeming. Puluhan meter di atasnya, tubuh Umbara Komang masih tergantung di atas cabang pohon. Tubuh lelaki itu pun sama diamnya. Dedaunan yang berada di atas berjatuhan ke bumi akibat terobosan tubuh Umbara Komang. Bersamaan dengan itu pun burung-burung yang bersarang di atas pohon beterbangan menimbulkan suara bergemericit meriuhkan suasana lembah. Kepak-kepak sayap mereka menandakan bahwa mereka berpindah tempat ke pohon lainnya.

Sampai segerombolan orang berdatangan ke tempat itu, Umbara Komang belum juga sadar dari pingsannya. Orang-orang itu nampak bertelanjang dada semua. Dan hampir rata-rata bersenjatakan tombak maupun panah. Mereka langsung mengelilingi bangkai kuda yang tergeletak di tanah. Dua orang di antaranya yang membawa golok melangkah ke tengah dan langsung mencabut dari pinggang mereka.

Tanpa diperintah lagi kedua orang itu memotong-motong tubuh kuda itu menjadi beberapa bagian. Yang lain menampani potongan-potongan daging itu. Setiap potongan masih mengeluarkan darah segar. Membuat mereka makin bersemangat memutusmutuskan bagian tubuh kuda.

Sebenarnya mereka tidak tahu kalau di atas sana masih ada sosok tubuh tersangkut pada cabang pohon yang sangat tinggi. Karena darah yang menetes dari atas semakin deras. Mereka semua yang berada di bawah kalang kabut menoleh ke atas. Dan yang mereka lihat memang sosok tubuh seorang lelaki tersangkut.

"Rezeki besar! Binatang apalagi yang ada di atas sana?"

"Nampaknya seperti orang hutan. Ia pun sama mampusnya seperti kuda ini," jawab salah seorang temannya. Gerombolan itu menengadah ke atas semua.

"Melihat dari darahnya pastilah bangkai itu masih segar!"

"Bangkai apapun di sana, ambil saja.   Toh kita

memang tengah kekurangan makanan... Ayo beberapa orang naik ke atas untuk mengambilnya!" perintah seseorang yang bermuka garang ditumbuhi berewok. Maka dua orang sekaligus memanjat ke atas pohon. Mereka dengan mudah dapat naik ke atas dengan cepat. Karena hampir di sekeliling batang pohon raksasa itu banyak akar-akar merambat sampai ke atas. Jadi mereka berdua tidak menemui kesulitan apapun. Selain itu mereka memang sudah terbiasa melakukan hal yang seperti itu. Gerak-gerik mereka bagaikan dua ekor kera yang sangat lincah.

Orang-orang yang berada di bawah hampir selesai memotongi tubuh kuda yang kini tinggal bagian tubuh plontos tanpa kaki dan kepala. Pemimpin mereka yang seram penuh berewok masih menatap ke atas memandangi kedua orang yang melompat-lompat mendekati cabang pohon di mana Umbara Komang tersangkut. Setelah berada pada cabang itu, keduanya mengernyitkan alis.

"Rowok Tunggel! Dia bukan binatang ataupun orang hutan!" teriak salah seorang orang yang disebut Rowok Tunggel kurang jelas mendengar.

"Bicaralah yang keras! Aku tidak mendengar suaramu...!" jawab Rowok Tunggel dari bawah.

"Dia bukan binatang apapun! Tapi manusia yang terluka!" teriak orang di atas itu lebih keras. Rowok Tunggel keheranan seperti tidak percaya dengan ucapan anak buahnya. Nampak pula dua orang itu mendekati sosok tubuh yang tersangkut.

"Manusia?... Kalau sudah mampus tinggalkan saja, tapi jika masih hidup...." teriak Rowok Tunggel belum habis.

"Orang ini masih hidup!" jawaban dari atas po-

hon.

"Bawa turun ke sini!" perintah Rowok Tunggel.

Setelah itu menggerutu....

"Edan.... Iblis mana yang telah melemparkan orang itu sedemikian tingginya. Aku jadi heran, sejak tadi mengitari tempat ini tidak mendengar suara apaapa. Kenapa sekarang ada sosok seseorang yang terluka. Dan lagi bangkai kuda ini seperti terjatuh dari langit." Rowok Tunggel menunggu kedua orang anak buahnya turun membawa tubuh Umbara Komang dari atas pohon.

*

**

2

Wintara hanya tersenyum menatap orang-orang yang melambaikan tangannya. Belasan kuda berikut lengkap dengan para penunggangnya melepaskan kepergian seorang Pendekar Pengelana Sakti. Salah seorang lelaki bersama seorang gadis duduk di atas pelan dalam satu kuda melambai-lambaikan tangannya,

"Selamat jalan pendekar... Aku berterima kasih sekali padamu!" teriak lelaki itu

"Jangan sungkan-sungkan kalau mau singgah di Rogojembangan. Kami semua akan menyambut dengan tangan terbuka...!" teriaknya lagi. Wintara nyengir, sebelah tangannya membalas lambaian tangan mereka. Ia pun nampak gagah menunggangi seekor kuda putih.

"Suatu saat pasti kita akan bertemu lagi, Raden... Cepatlah kembali ke kota, tentunya kalian harus cepat-cepat menikah." jawab Wintara. Gadis yang duduk di depan lelaki itu tersenyum malu. Kuda yang mereka tunggangi menyepak-nyepak seakan-akan ikut menyalami kepergian Pendekar Kelana Sakti itu. Lalu tempat itu menjadi sunyi. Lambaian tangan dari belasan orang melemah turun. Mereka semua menatap ke- pergian seekor kuda putih yang ditunggangi Wintara. Kuda itu membawanya pergi menjauh dari belasan kuda yang masih berdiri di situ.

Mereka belum beranjak sebelum Wintara betulbetul hilang dari pandangan mata. Lama kelamaan sosok kuda putih itu makin mengecil dan hilang bagai ditelan bumi. Wintara menghela kudanya kuat-kuat, maka kuda putih melaju cepat diiringi dengan derap langkah yang menyapu dataran tanah perbukitan.

Dilaluinya semak-semak kering yang berderet di sepanjang jalan yang menurun ke bawah. Jalan itu berliku-liku menuju ke sebuah tanah subur. Dan Wintara sendiri sudah berada jauh dari tanah Rogojembangan. Manakala kuda putih yang ditungganginya makin cepat berlari. Tanah yang dilaluinya mulai nampak menghijau ditumbuhi rerumputan.

Saat matahari mulai tenggelam, barulah ia tiba di salah satu desa. Meskipun tidak begitu ramai, desa itu nampak banyak dilalui orang. Kebanyakan dari orang-orang itu hanyalah penduduk asli. Wintara menghentikan kudanya tepat di depan sebuah gapura yang berdiri di mulut desa.

Dan ia menjadi terkejut sekali saat ia melihat beberapa penduduk berlarian masuk ke dalam rumah. Wintara semakin penasaran. Ia turun dari kudanya dan menuntun memasuki desa. Kedua matanya memandangi orang-orang yang berlarian memasuki gubuknya.

Apa yang membuat mereka takut. Wintara sendiri semakin tidak mengerti. Sejak kehadirannya di desa itu semua orang belingsatan berlarian sembunyi. Dua orang penduduk desa yang semula duduk-duduk berbincang langsung melompat ketika melihat Wintara melangkah mendekati mereka. Keduanya berlarian masuk dan mengunci pintu gubuk sampai berderak. Wintara menatap heran.

Dalam sekejap saja desa itu menjadi sunyi. Wintara memandangi sekeliling desa. Ia tidak menyangka sama sekali kalau akan mengalami perlakuan seperti ini. Pastilah mereka takut akan kehadirannya.

"Hooooiiiii...! Para penduduk desa...! Kenapa kalian semua bersembunyi!" Wintara berteriak-teriak. Suaranya menggelegar dan menggetarkan seisi kampung. Ia pun menambatkan kudanya pada sebatang pohon, lalu....

"Kalau kalian tidak mau keluar, aku tidak akan pergi dari sini. ! Keluarlah!"

Tidak ada jawaban. Suasana desa nampak sepi bagai mati.

Pendekar Kelana Sakti memandang berkeliling mengawasi tiap-tiap gubuk. Semua pintu nampak tertutup rapat. Wintara membuang nafasnya kuat-kuat. Lalu berjalan melangkah melewati tiap-tiap muka halaman gubuk. Langkah-langkah Wintara membuat jantung pemilik gubuk yang dilaluinya berdegup ketakutan.

Sementara hari mulai merambat gelap. Tanpa seorang pun yang berani memasang pelita. Ringkik kuda putih yang tertambat pada batang pohon sesekali terdengar. Wintara masih berjalan mengitari desa itu.

"Aku bukan sebangsa setan atau jin sekalipun! Kenapa kalian semua takut!" Pada suasana gelap dan sunyi suara Wintara bergema.

"Baik! Aku akan tetap di sini sampai kalian keluar semua!" bentak Wintara. Ia pun duduk di sebuah balai dekat kuda putihnya tertambat.

Dalam hatinya Wintara mengutuk orang-orang kampung. Jelas-jelas kedatangannya ke desa itu tidak ada maksud apa-apa. Ia hanya kebetulan lewat dan harus kemalaman di situ. Dan berharap ada seseorang yang bersedia memberikan tempat untuk nya barang semalaman. Tapi kenyataannya yang ia terima sungguh di luar dugaan. Semua orang kampung berlarian sembunyi ketika melihat kedatangannya. Pastilah telah terjadi sesuatu di desa ini, pikir Wintara. Belum habis pikirannya menerawang, mendengar derit pintu bambu. Segera saja Wintara menoleh ke arah suara. Gubuk itu tepat di hadapannya. Pintu bambu semakin terbuka lebar berderit. Lalu seorang anak perempuan kecil keluar dengan membawa sebuah pelita. Anak berumur enam tahun itu melangkah menuju tiang gubuk, di mana pada tiang itu tergantung sebuah cempor.

Dengan susah payah bocah itu berjingkatjingkat menyalakan lampu cempor. Sudah tentu usahanya itu akan sia-sia. Karena lampu cempor yang tergantung di tiang jauh lebih tinggi dari jangkauannya.

Wintara yang melihat usaha bocah berumur enam tahun itu beranjak dari balai. Mana mungkin anak sekecil itu sanggup melakukannya? Dan yang pasti akan berbahaya untuk anak kecil itu. Kenapa tidak orang tuanya saja yang menyalakannya.

Bocah kecil itu langsung berbalik dengan menggigil ketakutan setelah melihat Wintara berada di dekatnya.

"Cah ayu    Kau hendak menyalakan pelita itu,

bukan?" Wintara tersenyum. Tapi anak perempuan itu malah mundur ketakutan. Pendekar Kelana Sakti berjongkok menghadapi. Ia menatap kedua bola mata yang berapi-api penuh keberanian. Dan Wintara pun berusaha seramah mungkin agar anak itu tidak berprasangka buruk.

"Jangan takut, paman akan membantumu menyalakannya.... Kau bersedia?" Wintara mengelus-elus kedua lengan yang gemetar. Anak itu diam membisu. Tapi di wajahnya menunjukkan perasaan yang amat takut sekali.

"Ke marilah, paman akan menunjukkan bagaimana caranya...." Wintara menarik perlahan anak itu ke dalam pangkuannya. Lampu kecil dalam genggaman gadis itu masih meletup-letup menyala. Maka nampaklah wajah yang amat dekil dan kusam. Wintara mengangkat tubuh kecil itu.

"Siapa namamu, Cah ayu...?" tanya Wintara sambil membantu lengan kecil itu menjulurkan pelita yang menyala ke arah sumbu lampu cempor pada tiang gubuk.

Lampu cempor langsung menyala menerangi muka gubuk. Gadis kecil itu masih dalam gendongan Wintara. ia menatap dengan sorot mata yang keheranan. Wintara membalasnya dengan senyuman. Mendadak saja....

"Siluman jahil! Lepaskan anak itu!" Tiba-tiba terdengar bentakan dari arah belakang. Wintara segera menoleh, tahu-tahu seseorang menyerang dengan membabatkan golok ke arahnya. Wintara yang dalam

keadaan menggendong seorang bocah sempat bergeser ke samping. Maka sabetan golok pun terhindar. Dalam keadaan seperti itu pun Wintara sempat membalas serangan. "Bug!" Telak sekali tendangan itu bersarang di pinggang. Penyerang itu langsung ambruk merintihrintih kesakitan.

"Siluman keparat! Masih kurang puaskah kau menghirup darah orang-orang kampung ini? Sampai berapa banyak lagi korban yang kau inginkan!" Penyerang itu bersiap lagi mengangkat goloknya.

"Bicaramu ngawur, Sobat! Apakah rupa ku sangat menakutkan, sehingga kau menduga aku ini iblis menghisap darah? Bicaralah yang tenang dan baikbaik," ujar Wintara. Gadis kecil dalam gendongannya memeluk erat leher pendekar itu.

"Tenanglah, Cah ayu.... Kau tak perlu takut. "

bisik Wintara.

"Siluman laknat! Dia hanya seorang bocah yang tidak tahu apa-apa! Kalau saja kau membawanya, aku akan mengadu jiwa dengan mu!" Kali ini serangannya lebih garang. Babatan goloknya berkelebat ke sana ke mari. Wintara yang masih menggendong anak perempuan itu tidak sempat menurunkannya.

Tapi ia cukup tangkas berkelit menghindari babatan-babatan golok. Sekali babatan golok menyambar di kepalanya, Wintara cukup menangkis dengan kedua jarinya, maka...."Trak!" Golok itu patah dua. Pemiliknya sendiri sampai terbengong-bengong.

"Kau hanya dikuasai perasaan emosi mu, sobat. Aku yakin kau adalah salah seorang penduduk yang berjiwa ksatria. Hanya sayang kau salah menempatkan perasaanmu."

"Ciis! Kau hanya berpura-pura siluman! Kenapa berbasa basi segala, siluman tengik macam kau memang harus diberantas!" Orang itu maju lagi. Golok buntungnya meski tinggal separuh masih nampak tajam berkilat. Dan berkelebat bersama teriakannya yang menggelegar. Wintara tenang menghantam lengan itu sampai goloknya terpental jauh. Detik itu pula tendangan Wintara maju ke depan... "Des!" Melemparkan orang itu terbanting ke tanah. Tapi ia cepat bangkit menatap ke arah Wintara dengan pandangan nanar menahan sakit.

"Pergilah dan jangan sampai membuat bocah ini ketakutan!" bentak Wintara. Orang itu setelah merangkak beberapa langkah, ia melarikan diri.

"Nah, kau sekarang tidak perlu takut lagi, Cah

ayu."

"Namaku: Dwi Langsih, Paman... Dan aku ya- kin, paman bukanlah siluman jahat." ketus bocah kecil dalam gendongan Wintara.

"Bagaimana kau bisa yakin, Dwi Langsih...?" tanya Wintara dan ia menurunkan gadis kecil itu. Dwi Langsih meletakkan pelita kecil ke atas tanah.

"Kalau paman mau membunuhnya, paman bisa melakukan semudah paman mematahkan golok dari tangan Kang Birun " jawabnya tegas.

"Ah! Ternyata kau gadis cilik yang cerdik, Dwi Langsih." Wintara mengelus-elus rambut Dwi Langsih. Bocah itu hanya tersenyum.

"Langsih.... Langsih.... Kau bicara dengan siapa? Sudahkah engkau menyalakan lampu

cempor?" Keduanya menoleh ke dalam gubuk. Dan terlihatlah seorang nenek berjalan tertatih-tatih sambil meraba-raba. Langkahnya yang perlahan itu menuju ke luar.

"Kita kedatangan tamu, Nek... Tamu yang luar biasa," jawab Dwi Langsih menuntun nenek buta keluar gubuk. Nenek buta menghentikan langkahnya. Ia tidak berani keluar melewati pintu.

"Kau terlalu gegabah, Langsih. Saat matahari tenggelam kau tidak boleh menerima tamu sembarangan. Kau tahu, siluman jahat itu selalu datang pada saat-saat begini."

"Tapi dia bukan siluman, Nek... Paman ini hanya membantu menyalakan lampu cempor di tiang itu." Dwi Langsih menjelaskan.

"Dia juga menghajar Kang Birun yang telah kurang ajar terhadap paman ini. Nenek tak perlu takut."

"Apa yang diucapkan Dwi Langsih terlalu berlebihan, Nek Aku hanya seorang pengelana yang kebe-

tulan lewat di desa ini." Wintara ikut bersuara.

"Oh...." Nenek buta mengangguk. Tubuhnya yang bungkuk melangkah maju. Kedua lengannya menggapai-gapai seperti ingin menyentuh pengelana itu. Dwi Langsih membantunya. Maka telapak tangannya pun dapat meraba baju kulit binatang yang dikenakan Wintara.

"Ma-masuklah.... Tidak baik berlama-lama di luar." kata nenek buta. Ia pun dituntun ke dalam kembali oleh Dwi Langsih. Wintara mengikuti melangkah di belakang. "Langsih, sediakan air minum buat paman. Kau harus sopan melayani tamu." Nenek itu dituntun mendekati sebuah balai lalu ia pun duduk di situ.

Tanpa dipersilahkan Wintara langsung duduk pada kursi yang tersandar di bilik. Dwi Langsih menuangkan segelas air kemudian menyodorkannya pada Wintara. Lelaki itu menerimanya.

"Kenapa Kang Birun sampai bentrok dengan pengelana itu, Langsih?" tanya nenek buta dengan suara parau. Kelopak matanya yang tertutup rapat seolah-olah menatap tajam ke arah Wintara. Dwi Langsih belum jauh dari sisi Wintara.

"Semua salah Kang Birun, Nek. Kang Birun menuduh paman ini siluman jahat. Malah Kang Birun menyerang lebih dulu. Untung saja paman seorang yang berilmu tinggi... Kang Birun dibuatnya merangkak," jawab Dwi Langsih.

"Pantas saja Kang Birun mengiranya siluman. Karena pengelana ini sangat asing di desa ini. Kau sendirikan tahu...? Siluman jahat memang setiap kali mengambil korban di sini. Lagipula semua anak isteri Kang Birun telah habis menjadi korban siluman itu. Pantaslah dia menjadi kalap sekali melihat orang asing." kata nenek buta yang nampak mulai merebahkan tubuhnya di atas balai.

“Aku rasa bukan hanya dia yang menganggap aku siluman. Semua orang kampung ini merasa takut dan bersembunyi ketika melihat kehadiranku, mengapa demikian, Nek?" Wintara bertanya heran. Nenek buta seperti tersenyum dan berpaling ke arah suara Wintara.

"Menurut kabar, siluman itu dapat bergantiganti rupa. Wajarlah kalau mereka merasa takut terhadap orang asing yang memasuki kampung ini."

Begitu ganaskah siluman itu?"

"Tentu saja! Semua korbannya seperti kehabisan darah dengan batok kepala yang berlubang sebesar telapak tangan. Tapi syukurlah... Aku yang sudah renta ini belum pernah menemuinya, hanya aku khawatir terhadap cucuku Dwi Langsih "

*

* *

3

Nenek buta menceritakan keadaan korban keganasan siluman dengan sungguh-sungguh. Padahal kedua matanya buta. Tapi ia bisa membeberkan semua yang terjadi seperti ia melihatnya sendiri.

"Untung siluman itu belum berpaling kepada kami, entah esok atau lusa pastilah kami menjadi korbannya..." nenek buta terbaring rebah seolah menerawang ke atas atap. Semuanya tetap gelap. Dwi Langsih melangkah mendekat, lalu memijit-mijit tubuh keriput itu yang sudah menjadi kebiasaannya setiap malam.

"Apakah kepala kampung sama sekali tidak melakukan tindakan. Sebenarnya kalau seluruh penduduk kampung bersatu, aku rasa mereka bisa mengatasi kesulitan." Ucapan Wintara pelan, tapi cukup membuat nenek buta berpaling lagi ke arahnya. Orang- orang kampung sama sekali tidak mempunyai nyali. Apalagi kepala kampung, dia tidak pernah mau perduli. Pekerjaannya hanya ongkang-ongkang kaki di tumpukan hartanya," kata nenek itu.

"Bicara nenek terlalu kencang. Nanti terdengar orang," kata Dwi Langsih berhenti memijit.

"Mana ada orang yang berani berkeliaran di saat begini! Kau pun harus segera tidur, Langsih. Tidak baik anak sekecil kau ikut campur pembicaraan orang tua." Suara nenek itu parau sekali. Dwi Langsih nunduk terdiam, ia melangkah lesu ke sudut ruangan yang sudah tersedia sebuah tikar untuknya berebah.

Wintara memandangi keluguan gadis kecil itu. Sekarang gadis kecil itu telungkup di atas tikar. Sebentar saja dengkurnya sudah mengalun menyusul.

Lelaki pengelana masih duduk bersandar pada bangku kayu. Air dalam gelas bambu masih utuh. Wintara meletakannya di atas meja sebelahnya. Tubuhnya sudah nampak letih betul, dan ia memang perlu beristirahat.

"Maaf, anak muda. Aku tidak memiliki persediaan tikar. Kau bisa tidur di kursi itu bukan...?" kata nenek itu acuh. Tubuhnya tetap terlentang. Mulutnya menganga perlihatkan gusinya yang mengkilat tanpa sebutir gigi.

"Tak apa. Ini sudah lebih dari cukup. Nek... Malah aku telah mengganggu ketenangan di sini. Besok pun pagi-pagi sekali aku harus pergi dari kampung ini."

"Kenapa harus buru-buru? Tidak inginkah kau mengungkap malapetaka ini?"

*

* * Suasana malam di pedalaman yang dipenuhi hutan belukar, di mana pohon-pohon berdiri tegar bagai raksasa nampak ramai. Orang-orang bertelanjang dada banyak berdatangan memenuhi suatu tempat. Empat api unggun yang meletup-letup sejak tadi sore sudah menyala. Sekeliling tempat itu penuh sesak dengan manusia-manusia bertelanjang dada. Sepertinya mereka tengah menunggu sesuatu.

Di tengah-tengah kerumunan itu terlentang sosok tubuh penuh luka memar. Tubuh itu terlentang di atas tumpukan gedebong-gedebong pisang yang disusun rapi. Di bawahnya bertaburan bara-bara api yang menggarang sosok tubuh terlentang itu.

Setumpukan daging yang sudah terpotongpotong membukit beralasan pelepah-pelepah daun pisang berada pada tiap-tiap api unggun. Beberapa orang pun siap membakar daging-daging itu. Dan semua orang yang mengerumuni tempat itu seperti tidak sabar menunggu kenikmatan daging bakar. Tiba-tiba saja keriuhan itu mendadak berhenti. Dalam suasana sepi itu terdengar beberapa orang meniup terompet dari tanduk, juga terdengar suara genderang yang bertalu-talu. Tanda aba-aba itu bersumber dari atas pohon.

Tapi semua orang yang mengerumuni tempat itu seperti mengerti akan aba-aba yang mengumandang itu. Maka dengan serempak kerumunan itu langsung bergeser. Dari keluangan itu muncullah beberapa orang melangkah cepat. Mereka langsung menuju ke tengah lapangan di mana sosok tubuh tergarang di atas susunan gedebong pisang.

"Semuanya sudah dipersiapkan?" Suara Rowok Tunggel memecah kesunyian. Seseorang yang berdiri di sebelahnya menganggukkan kepala. Dua orang lagi yang ada di belakangnya berjalan mendekati sosok terlentang itu. "Balur seluruh tubuhnya dengan daun-daun jarak. Dan juga sediakan darah anjing hutan secepatnya." Kedua orang itu menuruti perintah Rowok Tunggel.

"Siapa pun orang ini kita harus berusaha menyelamatkannya. Kalau saja orang ini bisa hidup, itu berarti warga pedalaman lereng Ungaran bertambah satu." kata Rowok Tunggel sambil melangkah ke arah dua orang itu. Di hadapannya sebuah pendulangan besar tersedia berisi cairan kental berwarna merah. Rowok Tunggel mencelupkan kedua lengannya ke dalam pendulangan. Maka begitu ia menarik ke luar kembali, kedua lengannya telah berlumuran darah anjing hutan.

Semua mata yang memandang mengelilingi menyaksikan Rowok Tunggel membasuh mukanya dengan darah. Wajah yang penuh berewok makin tampak menyeramkan. Lalu ia membalur seluruh tubuhnya dengan sisa-sisa darah yang masih tersisa di kedua lengannya. Dua orang yang tadi ikut membantu segera menyingkir. Membiarkan Rowok Tunggel berdiri sendiri menghadap sosok yang terlentang itu Orangorang yang berdiri berkeliling tempat itu serempak membacakan mantra saat Rowok Tunggel mengangkat kedua lengannya ke atas. Maka terdengarlah seperti raungan harimau yang memenuhi seisi pedalaman. Mereka yang sesungguhnya penduduk suku pedalaman Lereng Ungaran memang tengah mengadakan 'Upacara Penyembuhan' terhadap seseorang yang ditemuinya tersangkut di atas pohon.

Dalam 'Upacara Penyembuhan' itu tidak diperkenankan seorang perempuan ataupun anak-anak menghadirinya. Namun begitu mereka tidak boleh menampakkan diri sama sekali. Andaikata ada salah seorang perempuan ataupun anak kecil sempat turun ke tempat upacara, maka dukun yang memimpin 'Upacara Penyembuhan 'seperti Rowok Tunggel, tidak bisa menyelamatkan pasiennya. Itulah sebabnya mereka yang hadir hanya kaum lelaki. Mereka nampak mengeluarkan serentetan rapalan mantra. Makin lama mantra-mantra itu keras dan cepat. Tubuh mereka bergerak-gerak mengeluarkan suara yang beraturan. Rowok Tunggel sendiri berteriak-teriak nyaring menyaingi raungan para pengikutnya.

Sesaat kemudian Rowok Tunggel mengangkat pendulangan yang berisi darah anjing hutan. Dan saat ia berjalan berkeliling membawa pendulangan itu, semua pengikutnya membacakan mantra sekuatkuatnya. Sehingga seperti teriakan-teriakan yang menyayat.

"Bres... Bres... Bres...!" Rowok Tunggel menyiram berkali-kali sosok yang ditutupi dengan dedaunan jarak.

Seluruh cairan darah tertumpahan habis, dengan begitupun rapalan mantra berangsur-angsur perlahan. Untuk kemudian menghilang membuat seisi pedalaman nampak sunyi. Semua orang yang berderet menatap dengan pandangan dalam. Dan tiba-tiba saja orang-orang itu menyingkir menjauh. Rowok Tunggel mendadak melesat ke atas. Tubuhnya berjumpalitan di udara. Ketika ia turun ke tanah, mulutnya menyemburkan sesuatu.

"Bruuuus... Blaaaaar!" Bara api yang menggarang sosok terlentang itu mendadak berkobar. Api menjilat-jilat gedebong-gedebong pisang. Sekitar tempat itu menyengat hawa panas.

Tapi begitu Rowok Tunggel menyembur lagi, api yang tadi berkobar-kobar mendadak padam. Lalu orang-orang kembali berkerumun sambil melanjutkan mengeluarkan rapalan mantra. Daun-daun jarak yang menutupi sosok tubuh terlentang berjatuhan ke tanah. Rapalan mantra makin santer terdengar. Saat itu pun sosok terlentang itu mendadak bangkit...

"Wuaaaaa...! Panas! Panaaaas!" Ia langsung berjingkat-jingkat di atas susunan gedebong-gedebong pisang. Bekas-bekas luka memar sudah tidak nampak lagi. Sosok itu melompat ke bawah memandang bara api yang mengepulkan asap hitam.

"Bangsat! Api apa ini!" hardiknya. Suaranya tenggelam dalam keriuhan orang-orang yang membacakan mantra. Dia memandang berkeliling.

"Kalian kira aku ini daging panggang? Wuahwuah... Rupanya aku terjebak oleh segerombolan siluman pemakan daging!"

"Bukan! Kami bukan bangsa siluman! Tapi suku pedalaman bangsa Bajor yang menyelamatkan anda!" Rowok Tunggel melangkah mendekat.

"Rupa kalian begitu buruk. Pastilah kalian penghuni neraka! Yah...! Tidak salah Pasti aku sudah berada di neraka... ahh, nasib." Sosok itu duduk ngedeprok. Rowok Tunggel memandang aneh, ia merasa ada sesuatu yang ganjil.

"Anda telah sembuh dari kematian, dan juga bukan berada di neraka." "Bohong! Buktinya api neraka banyak sekali bertebaran di sini." katanya sambil menunjuk ke arah bara api dan keempat api unggun yang berada di setiap sudut. Orang-orang yang berada di situ menahan senyum. Tempat itu mulai ramai. Kaum perempuan dan anak-anak banyak yang berdatangan. Mereka berani ke tempat itu karena 'Upacara Penyembuhan' telah selesai. Dan menganggap Rowok Tunggel berhasil menyembuhkan pasiennya.

"Semua perkiraan anda salah. Kami cuma sekelompok kecil suku pedalaman bangsa Bajor. Yang kau sebut api neraka itu hanyalah beberapa unggun sebagai penerang. Sewaktu kami berburu, anda kami temukan tersangkut tak sadarkan diri. Kalau saja kami terlambat menemukan anda, mungkin anda benarbenar telah berada di neraka." Rowok Tunggel menjelaskan. Sosok itu bergidik lalu bangkit.

"Jangan menakut-nakuti aku. Tahukah kalian, aku pernah bertarung melawan raksasa angin juga badai pasir... Cuma aku tidak ingat siapa yang menang dan yang kalah." ucap sosok itu sambil menunjukkan mimik muka yang sedih. Sudah tentu hal itu menjadi bahan tertawaan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Bagaimana tidak. Ucapannya yang selalu ngawur dan tidak masuk di akal sehat itu cukup menggelitik perut mereka.

Siapa yang akan percaya akan ucapannya itu? Segala menyebut-nyebut pernah bertempur melawan raksasa angin, badai pula... Anak kecil pun tidak akan percaya. Rowok Tunggel sendiri hampir tidak tahan melepaskan tawanya. Dari situ ia mempunyai kesimpulan, bahwa orang yang mereka selamatkan tidak lain orang yang menderita sakit ingatan. Namun begitu ia tidak menyesal menyelamatkannya.

Rowok Tunggel memberikan aba-aba kepada orang-orang agar segera tidak menertawakannya lagi.

"Kalau memang anda pernah bertarung dengan semua itu, tentunya anda masih ingat dari mana anda berasal dan juga tentunya mempunyai nama, bukan "

"Oh, tentu saja punya, dong... Mula-mula aku memang tidak punyai nama, tapi setelah bertemu dewa, ia memberi ku nama Siluman Baik. Senang sekali aku mendapatkan nama itu. Namun tak lama 'Dewa' mengganti sebutan itu menjadi: Umbara Komang. Kupikir lebih bagus daripada menyandang nama Siluman Baik." kata sosok sinting yang tak lain dari Umbara Komang. Rowok Tunggel manggut-manggut.

"Lalu di mana kampung halamanmu?!"

Belum Umbara Komang menjawab, terdengar terompet nyaring bersahutan di atas ketinggian sebuah pohon. Orang-orang yang mendengar suara itu langsung lari berserabutan. Tempat itu jadi kalang kabut seketika. Masing-masing menaiki tangga yang menuju ke atas ke gubuk mereka.

Rowok Tunggel dan Umbara Komang merasa terkejut dengan keadaan yang hiruk pikuk itu. Dukun Suku Bajor berusaha untuk menenangkan suasana, tapi bagaimana mereka bisa tenang! Orang-orang itu tetap berlarian menuju tangga tali saling berebutan.

Mendengar suara terompet tadi, bukan berarti Rowok Tunggel tidak mengetahui arti aba-aba yang merupakan tanda bahaya. Tapi bagi Umbara Komang ia hanya berdiri tenang-tenang saja...

"Tentunya itu suara panggilan Malaikat. Tuhan untuk menghukum kita... He he he... Rasain! Kalian memang pantas dihukum, siluman-siluman jahil!" teriak Umbara Komang. Rowok Tunggel tidak memperdulikan ocehannya.

"Heii... Siluman Bewok! Kenapa kau tidak lari seperti siluman-siluman itu?" Umbara Komang menarik lengan Rowok Tunggel.

"Tolol! Kau harus menyelamatkan diri!" Bersamaan dengan itu Rowok Tunggel melemparkan tubuh Umbara Komang ke atas.

Tiba-tiba saja tubuh itu melayang dan hinggap dia antara cabang pohon. "Diam di situ!" bentak Rowok Tunggel.

Sementara itu orang-orang masih berhamburan. Banyak anak-anak yang tertinggal memanjat tangga tali. Sedangkan di belakang mereka seekor sin- ga meraung-raung melangkah mengincar mangsanya yang berlarian menyelamatkan diri. Para lelaki bergelayutan menyambar anak-anak mereka yang berada di bawah. Jerit tangis ketakutan membisingkan telinga. Bersamaan dengan itu pula raungan singa menggetarkan jantung orang-orang yang berada di situ.

Rowok Tunggel melompat menghadapi singa yang melangkah makin dekat. Dengan sebatang tombak ia berusaha menghalaunya. Tapi bagi singa yang tengah kelaparan tidaklah berarti apa-apa. Singa itu menunjukkan giginya yang putih mengkilat setajam mata pisau.

*

**

Belasan anak panah beserta beberapa tombak meluncur deras dari atas pohon. Menghujani tepat ke tubuh singa yang siap menerkam Rowok Tunggel. Singa itu seperti kelabakan menghadapi hujan senjatasenjata itu. Namun tidak satu pun yang dapat melukainya. Raungannya makin keras. Anak-anak panah makin deras pula menghujani.

Sementara makhluk liar itu sibuk mengamuk mengatasi anak-anak panah, Rowok Tunggel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melempari satu persatu para anak kecil maupun orang-orang dewasa ke atas gubuk di atas pohon. Gubuk-gubuk mereka memang sengaja didirikan di atas pohon, dan itu memang salah satu kebudayaan suku pedalaman Bangsa Bajor.

Melihat mangsa-mangsanya beterbangan ke atas, singa itu tidak lagi memperdulikan seranganserangan dari atas. Lagi pula panah dan ujung tombak tidak cukup kuat untuk menembus kulitnya yang alot laksana karet... Dengan raungan yang sangat menyeramkan makhluk itu melompat menerjang.

Sekalipun Rowok Tunggel sibuk menyelamatkan para anak buahnya, tapi perhatiannya tidak pernah lepas dari sosok makhluk ganas yang kini menerjang ke arahnya. Maka saat kedua kaki makhluk berkuku runcing menyambar, Rowok Tunggel merunduk ke bawah. Terjangannya luput. Namun sosok makhluk itu masih mendapatkan sasaran lain, yaitu seorang lelaki yang berdiri di belakang Rowok Tunggel.

Lelaki itu berteriak-teriak dengan tubuh yang mulai terkoyak oleh kuku-kuku runcing. Dan saat giginya yang runcing menggerogoti bagian perut, orang itu mati dengan seketika.

Meskipun tindakan Rowok Tunggel terlambat, ia tidak membiarkan makhluk ganas itu menggerogoti mangsanya. Dengan terjangan yang sangat dahsyat laki-laki berewok segera melompat ke punggung. Sebelah tangannya mencekik leher. Singa itu meraung meronta-ronta. Pergumulan sengit tak terelakan lagi. Beberapa pukulan Rowok Tunggel menghantam ke tulang rusuk, namun makhluk ganas membalasnya dengan cakaran-cakaran yang merobek di paha Rowok Tunggel.

Sedikitnya Rowok Tunggel merasa kewalahan mengatasinya, ia merasa lebih baik menghadapi puluhan orang dari pada seekor singa jantan seperti sekarang ini. Tenaga seekor singa lebih kuat dari pada seorang pendekar sakti manapun. Rowok Tunggel sendiri harus terbanting dari punggung makhluk ganas itu. Padahal seluruh tenaganya telah dikerahkan untuk mematahkan tulang lehernya. Dan singa itu makin tergiur saat melihat mangsanya jatuh berdegum di tanah. Puluhan pasang mata menyaksikan makhluk itu menerjang disertai raungan yang dahsyat. Mereka sudah menduga Rowok Tunggel pasti tidak akan sanggup menghindari terjangan yang begitu cepat.

Detik itu sekelebat bayangan melesat dari atas pohon meluncur ke bawah. Semua orang yang berada di atas pohon tidak menyangka, kalau sosok bayangan itu adalah seorang yang dianggap kurang waras. Siapa lagi kalau bukan Umbara Komang!

Kedua tinju Umbara Komang menghantam telak ke tulang rusuk... "Kraaak!" Makhluk itu terbanting ke samping. Sebelumnya kuku-kuku yang runcing sempat menyerempet ke dada Rowok Tunggel. Laki-laki berewok ini tidak percaya Umbara Komang bisa melakukannya. Kedua matanya sempat terbelalak saat singa itu bangkit menerjang ke arah Umbara Komang yang berdiri tenang menantang.

Tenang sekali Umbara Komang menyambut dengan mengangkat sebelah tinjunya. Meskipun perlahan tapi cukup membuat makhluk itu meraung melengking. Hantaman itu tepat mengenai tenggorokan. Saat itu pula Umbara Komang menambahkan hantamannya ke bagian kepala. Kali ini kedua lengannya disertai dengan tenaga penuh... "Praaak!" Batok kepala makhluk itu berderak.

Raungannya makin lemah. Sesaat kemudian tubuhnya berdiri limbung. Umbara Komang bermaksud melancarkan serangan lagi, tapi makhluk itu keburu ambruk ke tanah dengan batok kepala yang remuk. Suasana tempat itu kembali sunyi. Hanya letupletup api unggun yang mengisi kebisuan itu. Beberapa pasang mata menatap tidak percaya dari ketinggian sebatang pohon. "Apakah dia juga salah satu penghuni neraka?" Umbara Komang menendang tubuh singa yang sudah tak bernyawa. Tendangan itu pun sangat luar biasa! Mampu menggeser bangkai binatang itu sampai di hadapan Rowok Tunggel. Lelaki berewok sulit menjawabnya. Dia hanya kagum akan kehebatan Umbara Komang.

"Sudah kukatakan, bahwa kita ini bukan di neraka, Siluman Umbara Komang. Makhluk itu seekor binatang buas pemakan daging. Untung kau telah mengatasinya... Tidak kusangka kau demikian hebat! Pantas ketika aku melemparkan dirimu ke atas pohon terasa sekali tubuhmu begitu ringan."

"Aku bukan Siluman Umbara Komang. Cukup Umbara Komang saja! Tidak pakai embel-embel!"

"Umbara Komang!" Rowok Tunggel mengulangi. "Ya, begitu. Kedengarannya merdu." Umbara

Komang melipat tangannya di dada.

"Sekarang nasib kami tergantung padamu... Secara tidak langsung kuserahkan jabatanku untuk menguasai Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Kau memiliki kepandaian yang sangat hebat, aku bersama yang lainnya akan mengabdi sampai akhir hayat," Rowok Tunggel menunduk seperti menyembah.

"Sudilah kiranya kau memimpin kami di sini. "

Melihat Rowok Tunggel menyembah-nyembah Umbara Komang, orang-orang yang berada di atas pohon berloncatan ke bawah. Mereka semua turun sampai tidak ada yang tersisa. Hanya kaum perempuan dan anakanak yang tetap tinggal di atas gubuk. Para lelaki itu berbaris di belakang Rowok Tunggel. Mereka pun mengikuti apa yang dilakukan Rowok Tunggel.

"Aku tidak mau memimpin para siluman. Lagi pula siapa yang sudi tinggal di neraka jahanam. Aku mau pergi saja!" cetus Umbara Komang.

"Kami akan tetap mengikutimu, Umbara Komang," jawab Rowok Tunggel.

"E, Ehhh. Badung. Kalau memang mau mema-

tuhi perintahku, coba sediakan makanan untukku. Dari tadi perutku sudah keroncongan," katanya menguji. "Kalau cuma itu permintaanmu kami akan memenuhinya sekarang juga," kata Rowok Tunggel, ia pun memberi aba-aba dengan kedipan matanya kepada dua orang yang berlutut di sampingnya. Dan kedua orang itu pun melangkah menuju api unggun di mana di situ telah tersedia setumpukan daging. Umbara Komang mengawasi kedua orang itu. Hidungnya kembang kempis mencium bau amis. Apalagi setelah dua orang itu mulai membakar daging-daging itu. Perut Umbara Komang makin melilit.

"Hebat! Rupanya kalian sengaja mempersiapkan untukku." kata Umbara Komang tersenyum. Rowok Tunggel mengangguk, lalu ia memberi aba-aba lagi dengan tepukan tangan. Maka seluruh orang yang berdiri di sekelilingnya berjalan memutar membuat lingkaran. Kemudian mereka duduk bersila mengelilingi Umbara Komang dan Rowok Tunggel yang saling berhadapan.

Wangi daging bakar makin santer membuat duduk Umbara Komang tidak tenang. Sebentarsebentar ia menoleh ke arah api unggun. Beberapa perempuan nampak turun dari atas pohon di mana tempat tinggal mereka. Tiga perempuan itu masing-masing membawa dua gelondong bambu yang berisikan tuak. Rowok Tunggel menyambutnya saat mereka tiba di situ.

"Selama menunggu daging bakar, kita bisa menikmati tuak... Silahkan diminum Umbara Komang." kata Rowok Tunggel ketika seorang perempuan menyerahkan dua gelondong bambu itu.

"Aha ha ha ha... Terima kasih! Terima kasih...! Aku suka sekali. Wuah... harumnya... Baru kali ini aku menemukan tuak sewangi ini." Umbara Komang menunggingkan gelondongan bambu itu ke mulutnya.

Suasana pedalaman yang gelap itu kembali te- rang. Wangi daging bakar menyebar dimana-mana. Orang-orang yang duduk bersila berkeliling itu ramai membicarakan kehebatan Umbara Komang. Sedikitnya mereka mengharap agar laki-laki senewen itu mau memimpin Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Selama ini Rowok Tunggel memang memimpin mereka. Dan sekarang mereka menganggap Umbara Komang jauh lebih sakti dari Rowok Tunggel. Rowok Tunggel sendiri berusaha membujuknya agar Umbara Komang mau memimpin mereka.

Umbara Komang mendapat jatah daging bakar lebih dulu. Jatahnya lebih banyak daripada yang diberikan kepada Rowok Tunggel. Kedua orang yang selesai membakar daging itu berjalan membagikannya pada orang-orang yang duduk bersila melingkar.

Rakus sekali Umbara Komang menggerogoti daging bakar. Kelucuan yang nampak itu membuat para perempuan dan anak-anak yang berada di atas pohon tertawa tergelak-gelak. Merekapun segera turun membawakan tuak untuk para suaminya. Mereka dan anak-anaknya juga mendapat bagian.

Daging ini sebenarnya tidak enak, lumayan untuk dijadikan isi perut di saat lapar begini...." Umbara Komang menyantap rakus.

"Ya-ya memang lumayan. Bagi kami sudah terbiasa mengisi perut selama ada yang bisa dimakan... Masih kurang? jawab Rowok Tunggel sekaligus menawarkan.

"Kalau masih ada, boleh!" jawabnya cepat. "Eh, Rowok Tunggel sedari tadi aku tidak melihat kuda milikku... Kau taruh mana dia " sambungnya lagi.

"Maaf, Umbara Komang. Yang kau makan itu adalah kudamu." Rowok Tunggel tidak berani menatap. Mendengar itu, daging bakar di mulut Umbara Komang keluar lagi. "Apa?... Aduh gusti...! Kuda itu pemberian seorang raden! Kalian benar-benar siluman keparat!" Umbara Komang menghardik marah.

"Terpaksa Umbara Komang!... Terpaksa! Kami menemukannya telah mati sekarat di saat kami berburu. Begitu juga dengan kau. Sama sekaratnya dengan kuda milik mu." Rowok Tunggel gemetar menjelaskannya. Rasa takutnya bukan karena Komang memiliki ilmu setinggi langit, tapi karena Umbara Komang sekarang menjabat sebagai pemimpin Suku Pedalaman Bajor. Rowok Tunggel hanyalah orang kecil di bawah Umbara Komang. Karena dia tidak memiliki ilmu yang langka dikuasai orang.

"Ah! Aku baru ingat! Pastilah angin raksasa dan badai pasir telah mengalahkan aku di saat bertempur! Hiii... Ngerinya! Jangan-jangan angin raksasa dan badai pasir akan datang ke sini! Wuaaaaa... Aku takut!" Tiba-tiba saja Umbara Komang lari menjauh. Gerakannya yang gerabak gerubuk membuat orang-orang di sekitarnya menjadi terkejut. "Aku tidak mau lagi bertemu dengan dua laknat itu. Hiiii! Siapa pun tidak ada yang sanggup mengatasi mereka!" Lari Umbara Komang makin cepat.

"Umbara Komang...! Tunggu...!" Rowok Tunggel menyusul. Begitu juga dengan lainnya.

Tempat itu jadi riuh oleh derap langkah yang serabutan. Mereka semua mengejar sang pemimpin baru. Umbara Komang tidak memperdulikan orangorang yang berlari mengejar di belakangnya. Malah ia mempercepat larinya dengan ilmu peringan tubuh. Bagi Rowok Tunggel, ia bisa mengimbangi dengan kecepatan larinya. Tapi bagi orang-orang yang mengikuti mereka di belakang cukup kewalahan. Untuk itulah Rowok Tunggel memberi tanda agar mereka bisa mengikuti. "Siluman-siluman brengsek! Apa-apaan mengikutiku! Pergi! Bikin susah saja!"

"Sekarang kau ketua kami, Umbara Komang!

Bagaimana pun kami harus ikut kau!"

*

* *

"Ni Klesung Rangit...! Ni Klesung Rangit...!" teriak salah satu orang yang mengerumuni gubuk kecil itu. Semua mata mengarah pada pintu bambu yang tertutup rapat. Orang-orang semakin ramai berdatangan ke tempat itu. Dan menyaksikan sosok mayat tergeletak di depan pintu bambu tersebut. Sosok itu jasad Kang Birun. Tubuhnya biru seperti kehabisan darah dengan kepala berlubang sebesar telapak tangan. Bau amis seperti busuk menyengat.

"Pastilah Ni Klesung Rangit dan cucunya Dwi Langsih sudah tewas seperti Kang Birun... Karena sejak tadi kita berteriak-teriak mereka tidak keluar juga." Penduduk yang lain menimpali.

"Ni Klesung Rangit...! Apakah kalian baik-baik saja?" Mereka berteriak lagi. Di antara kerumunan itu berdiri sosok kepala kampung, Ki Sangga Wana. Ia menatap tajam gubuk itu. Pikirannya sama dengan para penduduk lainnya. Ia sudah menduga kalau terjadi sesuatu atas diri Ni Klesung Rangit dan cucunya. Ia pun sudah membayangkan kematian mereka pasti serupa dengan yang dialami Kang Birun. Kehabisan darah dengan batok kepala berlubang. Tapi mendadak saja semua mata mereka terbelalak dengan mulut menganga. Betapa tidak. Pintu bambu itu berderit terbuka. Dari dalamnya keluar seorang nenek buta terbungkuk-bungkuk dituntun oleh anak perempuan berumur lima tahun. Namun setelah melihat sosok mayat yang tergeletak di depan pintu, anak perempuan itu berlari ke belakang nenek buta, ketakutan.

"Syukurlah kau tidak kurang satu apapun, Ni Klesung Rangit... Kami sudah khawatir terhadap kalian " ujar Ki Sangga Wana sang kepala kampung.

*

* *

5

Wajah Ni Klesung Rangit berubah kecut, sebelah lengannya yang keriput memeluk Dwi Langsih yang masih memalingkan wajahnya di belakang nenek buta. "A-ada apa, Ki Sangga Wana...?" tanya Ni Kle-

sung Rangit tergagap. Ia kenal betul dengan suara orang yang berdiri di hadapannya.

"Kang Birun tewas disantap siluman itu, Ni...

Mayatnya tergeletak di sini. Apakah...." Kata-kata Ki Sangga Wana belum habis, dari gubuk itu keluar sosok Wintara. Ia langsung berdiri di belakang Ni Klesung Rangit. Ia juga tersentak kaget menatap sosok mengerikan terkapar di hadapan pintu.

Yang lebih heboh lagi terhadap orang-orang kampung. Mereka berjingkat kabur setelah melihat Wintara keluar dari gubuk.

Sejak kemarin sore mereka memang takut akan kehadiran Wintara di kampung itu. Apalagi sekarang telah jatuh korban. Rasa takut mereka makin bertambah. Tapi Wintara tetap tenang menatap Ki Sangga Wana.

"Pemuda asing... Aku cenderung kaulah yang melakukan ini. Tentunya kaulah yang selalu mengambil korban dari penduduk desa ini! Sekarang perbua- tan busukmu sudah ketahuan. Kau harus menebus dengan nyawa anjingmu!" Ki Sangga Wana mencabut keris dari pinggangnya. Nampak sekali keris itu memancar sinar keemasan. Meskipun Ni Klesung Rangit tak dapat melihat, ia sudah dapat menduga apa yang bakal terjadi. Maka ia melangkah menghalangi.

"Sabar... Sabar...! Kalian sudah salah menuduh. Wintara bukanlah bangsa siluman yang kita takuti selama ini. Ia hanya seorang pengelana yang kebetulan singgah di sini. Kalian saja yang berpikiran buruk." sergah Ni Klesung Rangit.

"Betul. Paman Wintara bukan orang jahat." Dwi Langsih ikut membela.

"Lalu apa artinya mayat Kang Birun tergeletak di depan gubukmu? Pantas saja kalian tidak dapat melihat rupa siluman itu, karena kalian buta semua!" Ki Sangga Wana geram. Kerisnya yang mencereng terhunus ke atas.

"Begitu burukkah rupa ku...? Sehingga kau yakin akan ketololan kedua insan ini! Ni Klesung Rangit memang buta. Tapi begitu yakin akan ketajaman mata hatinya. Daripada kalian yang sebenarnya melek tapi memiliki pikiran yang sangat rendah!" jawab Wintara tenang.

"Bangsat!" Tentu saja Ki Sangga Wana menjadi sangat marah. Kerisnya meluncur di depan. Desiran anginnya membersit. Wintara yang sudah terlanjur menghadapi melesatkan tubuhnya ke atas. Keris Ki Sangga Wana terus berkelebat mengikuti.

"Paman... Jangan berkelahi!" pekik Dwi Lang-

sih.

"Tenang, Langsih. Wintara pasti bisa mengatasi

kecongkakan Ki Sangga Wana!" bentak Ni Klesung Rangit. Dwi Langsih mendadak merungkut.

Orang-orang kampung menyaksikan bagaimana Wintara berkelit menghindari setiap tusukan keris yang menjurus mematikan. Mereka tidak berkedip barang sekejap pun. Dan mengharap setiap tusukan keris menancap di tubuh lawan Ki Sangga Wana Saat itu Ki Sangga Wana benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya, dan ternyata kepala desa itu memang hebat. Setiap serangannya nyaris melukai Wintara. Pendekar Kelana Sakti masih menimbang-nimbang agar ia tetap berkepala dingin. Setiap gerakannya terlihat selalu menghindar.

"Ha ha ha ha... Kau takut menghadapi keris perakku, siluman. Sebentar lagi perut mu akan robek!" bentak Ki Sangga Wana, tusukan kerisnya menyambar bagian muka. Wintara harus cepat merunduk. Bersamaan itu pula tendangan Ki Sangga Wana menjurus deras. Disertai dengan sebuah bentakan, Wintara mengangkat lengannya ke atas. Bukan main kerasnya benturan tendangan itu. Kiranya kepala kampung itu bukan sosok kosong tanpa ilmu. Melihat dari jurusjurus yang dilancarkannya, Wintara sudah bisa mengukur. Namun hal itu bukanlah berarti Ki Sangga Wana berada di atas kemampuan Pendekar Kelana Sakti.

"Mampus keparat sialan!" Keris perak menusuk berkali-kali. Wintara lincah mengelak. Tindakannya itu seperti mengejek.

"Aku bukannya takut mati, Ki... Tapi masih sayang dengan nyawaku yang hanya selembar." kata Wintara sambil menepis tusukan-tusukan keris.

"Jangan hanya mengelak! Tunjukkan semua kebolehan mu, penghuni neraka!" Bersamaan dengan ucapannya, Ki Sangga Wana lancarkan tinjunya dengan telak. Kalau hanya sebuah tinju, Wintara tidak perlu mengelak. Ia sengaja membiarkan tinju itu mengenai dadanya. Tapi sesaat kemudian tubuh Ki Sangga Wana mencelat ke belakang. Pekikannya nyaring saat tubuhnya berdegum di tanah. Tapi ia siap bangkit mengarahkan kerisnya lagi. Amarahnya sudah meluap, mukanya nampak memerah.

Begitu melihat Ki Sangga Wana maju menerjang, Wintara sempat melihat langkah-langkah yang gemetar. Ia pun sudah menduga kalau kepala kampung sudah terluka akibat terbanting tadi. Namun sedikitnya Wintara cukup mengerti akan kekerasan hati Ki Sangga Wana. Semuanya hanya menunjukkan sifat kesombongan. Mungkin karena hanya dia yang berilmu tinggi di desa itu.

Tusukan-tusukan kerisnya serba ngelantur dan tak terarah. Dan ternyata Wintara cukup bosan melayaninya. Sekali ia bergeser ke samping kakinya menyapu ke bawah...

"Sreeeet... Blaaaak!" Untuk kedua kalinya Ki Sangga Wana terbanting. Keris dalam genggamannya terlepas. Dan dia sendiri tidak dapat bangkit lagi. Mulutnya menyeringai menahan sakit.

"Aku cukup menghargai ketangkasan mu, Ki Sangga Wana. Tapi sayang... Kepandaian disertai dengan kesombongan tidak akan sejalan. Bagaimana kau bisa mengalahkan siluman yang selalu mendatangi desa ini? Kalau kau sendiri tidak dapat membedakannya.. Aku memang orang asing di sini. Untuk itu maafkanlah atas kekurangajaran ku tadi." Wintara memandangi Ki Sangga Wana kepayahan berusaha bangkit.

"Aku dapat melihat dari sinar matamu, bahwa kau sendiri pun menyesalinya. Tak apa, Ki. Aku bisa menjadi bulan-bulan orang."

Ki Sangga Wana tidak bermaksud mendengar ucapan Wintara. Dirinya merasa malu sekali di hadapan orang-orang kampung. Itu pun lebih bagus! Untung lawannya itu tidak sungguh-sungguh menghada- pinya. Ki Sangga Wana sendiri harus mengakui akan kesalahannya. Tidak semestinya ia bertindak se kasar itu. Apalagi ia seorang kepala kampung. Tapi semua itu bisa dimaklumi oleh Wintara. Desa itu memang sedang kalut. Jadi ia cukup mengerti dengan perasaan orang-orang kampung. Hanya saja Wintara masih tidak mengerti mengenai adanya siluman jahat yang selalu mengambil korban. Diam-diam Wintara menyusun rencana untuk membuktikan kekalutan yang selama ini menjadi keresahan penduduk desa.

"Rasanya tidak pantas lagi kalau aku berlamalama di sini. Aku tidak ingin membuat seluruh orang kampung panik. Anggap saja kalian tidak pernah melihat kehadiran ku." Setelah berkata begitu, Wintara melangkah mendekati Ni Klesung Rangit yang masih berpegangan pada cucunya. Orang-orang kampung tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Ki Sangga Wana mengelus-elus pinggangnya yang nyeri. Ia tidak tahu apa yang mesti diucapkan terhadap pendekar itu.

"Terima kasih atas pelayanan mu semalam, Ni Klesung. Seperti yang telah aku katakan, aku harus meninggalkan desa ini sedini mungkin." Wintara memberi salam Ni Klesung Rangit menggapai-gapaikan kedua tangannya. Wintara membiarkan Ni Klesung Rangit menyentuh baju bulunya.

"Kau mau ke mana Wintara? Tetap tinggallah di sini. Jangan diambil hati perlakuan orang-orang kampung ini. Sekarang mereka sudah yakin bahwa kau bukanlah siluman jahat. Dengarlah kataku Wintara. "

Ni Klesung Rangit menahan.

"Paman Wintara mau ke mana? Tetap saja di sini menemani Langsih. Kalau paman pergi, paman tidur di mana ?"

Suara Dwi Langsih polos. Wintara jongkok lalu mencubit pipi Dwi Langsih. "Paman harus pergi, Lang- sih. Dan juga kau tak perlu khawatir. Paman bisa tidur di mana saja. Cuma satu pesanku, jagalah nenek baikbaik. Suatu saat paman pasti datang lagi menemuimu...." Wintara tersenyum. Ia pun bangkit melangkah mundur. Lalu ia menatap Ki Sangga Wana.

"Tanpa kau usir pun aku akan pergi, selamat tinggal, Ki... Mudah-mudahan kau menjaga desa ini." Kata-kata Wintara cukup pedas. Tapi Ki Sangga Wana tidak berani menyahut. Ni Klesung Rangit bersama cucunya tidak bisa menahan. Wintara berjalan tenang meninggalkan keramaian. Kuda putihnya masih tertambat menunggu.

Kuda itu menyepak-nyepak kaki depannya saat Wintara mengelus bulu-bulu yang tumbuh di sepanjang leher.

Cepat sekali tubuh Wintara melompat ke punggung kuda. Sebentar saja ia sudah menghela kudanya dengan suara yang lantang. Derap kuda pun menderuderu meninggalkan desa itu. Orang-orang kampung mulai berdatangan memenuhi gubuk Ni Klesung Rangit. Ki Sangga Wana sudah dapat berjalan meskipun terpincang-pincang. "Kau benar, Ni... Anak muda itu seharusnya tetap tinggal di desa ini. Dia seorang pendekar sakti. Satu-satunya orang yang bisa melindungi kita, kini sudah pergi. Kita sudah tidak punya harapan lagi." Ki Sangga Wana menyesali tindakannya.

"Nasi sudah menjadi bubur. Kau telah menghinanya, Ki Sangga Wana. Mana mau pendekar itu berpaling lagi kepada kita! yang mesti mencari jalan keluarnya." jawab Ni Klesung Rangit. Ia menggeser tubuh cucunya. Dwi Langsih mengerti akan maksud neneknya, maka ia menuntun masuk kembali ke dalam gubuk. Pintu bambu di banting keras-keras. "Orangorang tidak tahu diuntung!" Suara parau itu terdengar dari dalam gubuk. Ki Sangga Wana menatap penduduk kampung yang mengerubungi mayat Kang Birun. Kejadian seperti itu sudah tujuh kali berturut-turut

menggemparkan desa. Namun sampai saat ini mereka belum tahu siapa adanya siluman yang menghantui desanya.

"Saudara-saudara sebaiknya kita cepat menguburkan mayat Kang Birun. Kasihan, ia sudah tidak punya sanak saudara lagi, kini ia pun menyusul mereka. " kata Ki Sangga Wana memecah kerumunan itu.

Serempak pula para penduduk kampung itu mengangkat jasad Kang Birun. Darah

masih berceceran ketika tubuh tanpa nyawa itu di bawa pergi. Ki Sangga Wana mengikuti rombongan itu. Beberapa penduduk kampung mengiringi langkahnya.

"Sudah tujuh orang yang menjadi korban, Ki. Kalau kita selamanya berdiam diri, lama-kelamaan penduduk kampung ini habis semua." kata salah seorang yang mengikuti Ki Sangga Wana.

"Itu memang sudah ku pikirkan, tapi siapa yang sanggup melawan siluman keparat itu. Melihat kematian dari para korban, tentulah siluman itu sangat ganas dan tak mengenal ampun. Satu-satunya jalan kita harus meninggalkan kampung ini." jawab Ki Sangga Wana. 

"Itu bukan satu tindakan yang benar, Ki. Bagaimanapun kita harus tinggal di sini. Bukankah desa ini dulu tempat yang aman? Kita harus menyelidikinya, mengapa desa ini terancam malapetaka."

Ki Sangga Wana diam seribu bahasa. Ia terus melangkah mengikuti rombongan yang membawa jasad Kang Birun. Bagi seorang kepala kampung memang serba salah. Masalah apapun akan menjadi tanggung jawab yang serius. Apalagi macam pembu- nuhan yang terjadi berturut-turut seperti ini. Sudah tentu sebagai kepala kampung ia merasa panik. Ia sudah tidak bisa menenangkan warganya lagi. Setiap malam penduduk desa dilanda ketakutan. Pernah ada seorang dukun mengatakan bahwa mereka harus menggantungkan sebuah penangkal di atas pintu. Namun usaha itu sia-sia saja. Malam itu kedapatan seorang penduduk tewas dengan keadaan yang serupa dengan Kang Birun. Esok malamnya pun, dukun itu sendiri yang menjadi korban. Mereka bisa bilang apa. Siapa yang bisa mengatasi pembunuh yang sama sekali tidak diketahui rupanya... Cuma tujuh orang yang bisa tahu. Ketujuh orang itu pun kini telah terbujur dalam liang kubur,

Beberapa orang yang menggali lubang untuk jasad Kang Birun telah selesai, di tempat itu pula mayat itu dimandikan serta dibekali serentetan doa sebagai penghantar upacara pemakaman. Jauh dari keramaian di balik semak-semak yang merimbun, sosok kuda putih bersama seorang penunggangnya mengawasi tanpa diketahui oleh siapapun. Penunggang kuda itu sejak tadi mengawasi.

Sampai orang-orang kampung selesai menguburkan mayat Kang Birun dan bubar meninggalkan tempat itu, sosok yang di atas punggung kuda tetap diam di balik semak.

"Kalian boleh mengira aku benar-benar meninggalkan kampung ini. Bagaimana pun aku tidak bisa tinggal diam. Nasib kalian sangat mengenaskan. Mungkin dengan pura-pura pergi begini, aku bisa menyelidiki Siluman apa kiranya yang menghantui desa ini." kata Wintara dalam hati. Kedua matanya menerobos semak-semak menatap kepergian penduduk kampung dari tanah pemakaman. Ia masih di situ sampai tanah pekuburan betul-betul sepi. *

* *

6

Saat itu juga Sangga Wana menuruti kehendak para penduduk kampung. Mereka bermaksud akan berjaga malam secara bergiliran. Seluruh lelaki desa itu dipecah menjadi dua bagian. Dua kelompok itu berjaga-jaga tiap dua malam sekali. Sangga Wana menyetujui usul warganya, dengan harapan dapat memergoki pelaku pembunuh yang secara berturut-turut datang menghebohkan. Malam itu pun semenjak kematian Kang Birun, kampung itu tidak nampak sepi lagi seperti sebelumnya. Sangga Wana memberi tugas pada tiap-tiap orang, untuk menjaga rumah-rumah penduduk berkeliling. Kepala kampung itu sendiri ikut repot pentang mata. Suasana malam itu jadi ramai. Tiap-tiap di halaman muka rumah dinyalakan pelita. Dari kejauhan nampak berkelap-kelipan orang-orang yang berjalan simpang siur memenuhi pelataran desa.

Semua mata memandang berkeliling mengawasi ke segala sudut. Tempat-tempat yang biasanya gelap kini dipasangi pelita. Mereka begitu bersemangat meskipun udara cukup dingin. Sangga Wana nampak berjalan mondar mandir.

"Sampai saat ini masih tenang-tenang saja, Ki. Jangan-jangan siluman itu sudah tahu kalau kita tengah mengepungnya di sini." Salah seorang warga datang melapor. "Biar saja. Tapi kita harus tetap waspada! Bagaimana keadaan di Utara dan Barat? Dari tadi aku belum mendengar laporannya." kata Sangga Wana.

"Aku lihat mereka tengah berjaga-jaga. Yang lain berkeliling mengawasi tiap-tiap gubuk. Aku rasa tidak ada apa-apa di sana." "Syukurlah! Aku harapkan demikian untuk seterusnya."

Kembali Sangga Wana berkeliling mengawasi tiap pelosok. Penduduk kampung pun sama gesitnya mengawasi. Mereka siap dengan senjata yang tajam mengkilap. Semak-semak yang dianggap mencurigakan, habis terbabat. Apalagi mendengar suara-suara aneh. Mereka langsung mengepung.

Bulan sabit menggantung di langit se bentar terang sebentar gelap tertutup awan yang bergerak tertiup angin. Suara binatang malam mengerik mengisi suasana malam yang demikian dingin mencekam. Pada tengah malam itu penduduk kampung sudah terlelap dalam tidurnya. Hanya orang-orang yang tengah berjaga di luar yang masih mendengar pembicaraan mereka. Sangga Wana sendiri sudah merasa lelah. Setengah malaman ia berkeliling dan kini matanya mulai sepat.

Sangga Wana menghentikan langkahnya tepat di depan gubuk Ni Klesung Rangit. Dua orang yang mengawalnya ikut berhenti. Mereka berdua terus mengikuti ketika Sangga Wana duduk di balai yang ada di depan gubuk.

"Ni Klesung Rangit, kami numpang beristirahat sebentar di sini. Maaf kalau kami mengganggu." kata Sangga Wana menghadap ke bilik. Tidak ada jawaban kecuali suara dengkur yang saling susul. Pelita yang tergantung di tiang menerangi tempat itu. Dan mereka bertiga cukup santai duduk-duduk di atas balai.

"Sayang pendekar sakti itu telah pergi! Aku pun sampai lupa menanyakan namanya." Sangga Wana menghela nafasnya. Tubuhnya tersandar ke bilik.

Tapi aku sempat mendengar Dwi Langsih memanggil pendekar itu dengan nama: Wintara. Yah! Mungkin namanya Wintara." jawab orang yang duduk di sebelahnya.

"Padahal kalau kita mengijinkan ia tinggal di sini, pendekar itu pasti mau." Orang yang satu lagi ikut menimpali. Wajah Sangga Wana mendadak kecut.

"Yaaah aku memang salah tindak. Dan aku tidak habis pikir, kenapa mayat Kang Birun tergeletak di sini saat pengelana itu menginap di gubuk Ni Klesung Rangit. Siapa yang tidak sengit! Kampung kita selalu terjadi pembunuhan yang tidak masuk di akal sehat."

"Mungkin siluman itu sengaja mengkambing hitamkan Wintara."

"Bisa jadi, Ki "

Sangga Wana diam seribu bahasa. Kedua matanya memandang di kejauhan pada orang-orang kampung yang bersiap siaga. Diam-diam ia menyesali kejadian tadi siang. Pikirannya melayang jauh, ia tidak lagi mendengar dua orang yang duduk di sebelahnya bercakap-cakap. Tapi mendadak saja lamunannya buyar.

Pintu bambu berderit panjang. Ketiga orang yang duduk di balai langsung menoleh ke arah itu. Dwi Langsih gadis lima tahunan keluar dari gubuknya. namun setelah melihat ketiga orang yang duduk di muka gubuk itu, ia tidak jadi melangkah.

"Langsih, ada apa malam-malam berani keluar...?" tegur Sangga Wana. Dwi Langsih ketakutan. Dua orang yang duduk di samping Sangga Wana tersenyum.

"Ada apa? Kok diam saja?" sapanya. "Langsih mau buang air " jawab gadis kecil itu.

"Ohhh... Kok sendirian. Kenapa tidak minta diantar Ni Klesung."

"E-e-e... Be-be-beliau " Dwi Langsih tergagap.

"Kau anak yang baik. Tentunya kau tidak ingin mengganggu tidur nenekmu, bukan? He he he he...

Tak apa. Paman justru mau mengantarkan kamu." "Antarkan Langsih, Kunto. Jangan lupa membawa obor." perintah Sangga Wana. Seorang pengawalnya yang bernama Kunto beranjak bangun dan menyalakan obor dari bambu. Lalu lelaki itu menggendong Dwi Langsih.

"Bersama Paman Kunto kau akan aman " ka-

ta Sangga Wana lagi. Kunto membawa Dwi Langsih. Sebentar saja mereka hilang dari pandangan Sangga Wana yang menggeleng-geleng menatapnya.

Pintu gubuk tetap terbuka. Sangga Wana bangkit berjalan dan menutup pintu bambu itu. Ia tidak berani menatap ke dalam. Makin malam udara makin dingin. Ketiga orang yang di atas balai mengusap-usap kedua lengannya.

"Dingin?" sapa Ki Sangga Wana pada seorang pengawalnya.

"I-iya, Ki... Mungkin kalau kita bawa berjalanjalan rasa dingin ini akan hilang."

jawab orang itu. "Kita tunggu Kunto. Setelah itu kita berkeliling lagi." Sangga Wana menyodorkan kotak bakaunya. Pengawal itu langsung membuka dan membuat satu linting daun kawung. Ki Sangga Wana sendiri ikut melinting.

"Sebaiknya Ki Sangga Wana tidak usah pentang mata begini. Penduduk kampung cukup banyak yang berjaga malam...." kata pengawalnya sambil menyulut lintingan bakau.

Lalu ia menghembuskan asapnya kuat-kuat. "Mana bisa begitu, Dun. Kita sudah sepakat

untuk berjaga secara bergiliran. Lagipula aku bertanggungjawab atas desa ini." Mardun terdiam mendengar ucapan Ki Sangga Wana. Pikirannya melayang pada anak istrinya di rumah. Mungkinkah mereka dapat tertidur lelap tanpa dilanda ketakutan? Sementara sang suami keluar selama satu malam berjaga berkeliling dengan para penduduk lainnya. Bagaimanapun Mardun tetap khawatir akan keselamatan keluarganya di rumah.

"Lama betul Kunto mengantar Dwi Langsih. Padahal tempat buang air tidak jauh dari sini." ujar Ki Sangga Wana. Mardun terkesiap.

"Coba kau susul mereka, Dun. Biar aku di sini menjaga Ni Klesung Rangit." Mardun tidak bisa menolak perintah kepala kampung. Ia membetulkan kain sarungnya kemudian bangkit berdiri.

"Baik, Ki. Aku pun mulai khawatir pada mereka." Mardun melangkah meninggalkan Ki Sangga Wana yang masih duduk di balai. Langkahnya cepat berlalu. Ia berpapasan dengan rekan-rekan sekampung yang juga melaksanakan tugas di malam itu. Goloknya terseron erat di pinggang.

Tanpa sebuah obor ia bisa melihat jalan ke pinggir kali. Karena sepanjang jalan memang banyak didirikan tiang-tiang yang digantungi sebuah lampu pelita. Jalan menuju ke sana agak sedikit sulit. Di sana sini banyak ditumbuhi semak-semak dan pepohonan. Daun-daun pisang mulai nampak dibasahi oleh embun. Manakala angin terus menerus berhembus menusuk tulang. Mardun yang telanjang kaki terus melangkah. Pelita yang berderet di atas tiang menerangi jalannya. Letup api pelita bergoyang-goyang tertiup angin. Mendadak saja angin berhembus kencang menderu-deru. Namun sebenarnya angin kencang itu hanya dirasakan oleh Mardun.

Lelaki itu jadi ketakutan setengah mati. Langkah-langkahnya jadi kian lambat. Pendengarannya serasa berdenging nyaring memecahkan gendang telinga.

Kedua mata Mardun terbelalak saat ia melihat sosok tubuh melompat-lompat mengelilinginya. Sosok tubuh itu nampak kurus kering berkulit hitam dengan rambut putih seperti kapas. Rongga matanya nampak besar memerah. Mardun berdiri gemetar melihat sosok menyeramkan itu.

Dengan mengeluarkan suara yang sangat aneh, sosok itu menerjang. Mardun tidak sempat menghindari sergapan yang demikian cepatnya. Tahu-tahu saja lengan hitam bergerak menghantam keras di atas batok kepala. Darah pun menyembur bagai air mancur. Dan sosok hitam itu tidak membiarkan darah tergenang. Mardun sendiri tidak sempat berteriak lagi saat nyawanya hampir putus.

Tubuh Mardun masih kelojotan. Saat itupun telapak tangan legam menghantam sampai kelima jarinya menembus pada batok kepala itu. Kulit serta rambutnya terkelupas. Dari situ sosok mengerikan menyedot habis darah dan isi kepala Mardun.

*

* *

"Wuaaaaaa...!" Jeritan itu mengagetkan seluruh penduduk kampung yang tengah berjaga-jaga. Terlebih-lebih pada diri Ki Sangga Wana. Ia langsung bangkit dari atas balai. Seluruh peronda malam pating serabut berlarian ke arah suara teriakan. Ki Sangga Wana cepat memburu menyusul mereka.

"Cepat, Ki! Aku mendengarnya dari arah pinggir kali... Cepat!"

"Astaga...! Mardun dan Kunto ada di sana!" pekik kepala kampung. Larinya cepat menyusul orangorang yang berlarian ke arah kali. Semuanya menerobos pohon tanpa peduli. Senjata-senjata mereka siap mengacung.

"Cepat! Siluman laknat itu pasti di sana! teriak salah seorang yang berlari paling depan. Mereka me- mang sedang menunggu-nunggu kesempatan itu. Sekaranglah saatnya menunjukkan kemarahan mereka. Tapi sesampainya di pinggir kali mereka semua bengong melompong bercampur ngeri. Mereka tidak melihat sosok tubuh tergeletak berlumuran darah.

"Kunto apa yang terjadi?" tanya Ki Sangga Wana sesampainya pada kerumunan itu. "Entahlah... Aku menemukannya tergeletak di sini." jawab Kunto ketakutan. Ki Sangga Wana maju ke tengah mendekati sesosok mayat. Mengerikan sekali. Tubuh Mardun nampak biru dan di atas kepalanya berlubang sebesar telapak tangan.

"Kita terlalu lengah. Mardun korban yang kedelapan. Cepat menyebar...! Siluman itu pasti masih ada di sekitar sini!" Ki Sangga Wana memberi perintah.

"Kita berpencar. Awas jangan terpisah dengan yang lain " Mereka menyebar.

"Kalau ketemu langsung saja cincang!" teriak mereka ramai. Beberapa orang tetap tinggal bersama Ki Sangga Wana membereskan mayat Mardun. Dwi Langsih ketakutan. Ia memegangi ujung baju Kunto. Melihat itu Ki Sangga Wana mengelus-elus rambut kemudian menggendongnya.

"Kau tidak perlu takut, Langsih. Penduduk kampung sedang mencari siluman itu. Malam ini pasti tertangkap." bujuk Sangga Wana. Dwi Langsih diam. Kunto ikut menggotong mayat Mardun. Mereka membawanya ke perkampungan.

"Mungkin nenekmu sudah cemas menunggu...

Kau sendiri tidak apa-apa, bukan? Dwi Langsih menggeleng. Ia tetap dalam gendongan Ki Sangga Wana yang melangkah cepat menuju keramaian.

Keadaan desa jadi gaduh. Orang-orang yang tengah pulas tertidur mendadak bangun dan keluar dari gubuknya masing-masing. Mereka semua ketaku- tan. Istri Mardun langsung pingsan setelah mendengar kabar dari para penjaga malam.

"Langsih...! Langsih...!" Ni Klesung Langit melangkah menggapai-gapai kedua tangannya. Semua orang tidak perduli. Tapi saat Ki Sangga Wana melihatnya, ia langsung melangkah menemuinya.

"Langsih tidak apa-apa, Ni... Ia bersama ku." kata Ki Sangga Wana menurunkan Dwi Langsih. Bocah itu meluruk lari memeluk nenek buta Ni Klesung Rangit.

"Neeeeek...!"

"Kepala kampung tak tahu diuntung! Kau hampir saja mencelakakan cucuku!" hardik Ni Klesung Rangit. Mendengar perkataan yang demikian, Ki Sangga Wana naik pitam.

"Justru kau yang sengaja mencelakakan cucu mu sendiri, Ni Klesung Rangit. Kau membiarkan cucumu keluar malam sendirian. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padanya? Apakah kau juga akan menyalahkan aku?" Ki Sangga Wana membentak.

Bibir Ni Klesung Rangit bergetar menampakkan kemarahan yang luar biasa. Kedua matanya yang buta tertutup rapat oleh kelopak mata, seperti melotot hendak keluar dari rongganya.

*

* *

7

Setelah menggeram Ni Klesung Rangit menarik lengan Dwi Langsih.

"Kembali ke gubuk, Langsih! Jangan mencampuri urusan para pahlawan yang sok jago. Chis!" Ni Klesung membuang ludah di hadapan Ki Sangga Wana. Kepala kampung itu berusaha acuh meskipun ia merasa terhina. Penduduk kampung memaklumi akan perangai Ni Klesung Rangit. Mereka hanya memperhatikan sampai nenek dan cucu itu masuk ke dalam gubuknya. Setelah itu pun mereka sibuk kembali mencari-cari sosok yang mencurigakan.

Semua penduduk keluar dari gubuknya. Mereka berkumpul dalam satu lapangan yang cukup besar. Semuanya bergidik setelah melihat mayat Mardun. Mereka menimbulkan suara yang sangat ribut dan membisingkan. Apalagi semua keluarga Mardun yang tidak rela akan kematiannya.

"Kalian tenang! Tenang!" Ki Sangga Wana berusaha menenangkan mereka, namun para penduduk kampung makin kalang kabut.

"Kalau kalian begini terus bagaimana kita bisa mendapatkan siluman itu? Diam! Kalian bisa tenang atau tidak!"

Bagaimana pun bentakan kepala kampung tak digubrisnya. Para penduduk makin takut dan semakin ribut. Penjaga-penjaga malam berkeliling bersiap-siap dengan senjata. Lampu-lampu obor dinyalakan membuat kampung itu menjadi terang seketika. Sampai saat itu mereka belum menemukan apa-apa. Tapi mendadak saja mereka kaget semua.

"Rowok Tunggel kau tidak perlu mengikutiku! Pergi! Pergi! Kau sudah menyembelih kudaku...!" Tibatiba saja terdengar seorang berteriak-teriak. Orangorang kampung terlolong melihat seseorang berlari kencang. Di belakangnya seorang lelaki telanjang dada mengejarnya.

"Aku tidak mau! Kalian siluman jahat!" teriak lelaki yang berlari di depan. Mereka tidak lain dari Umbara Komang dan Rowok Tunggel. Mereka berdua tidak menyadari kalau saat itu sudah memasuki perkampungan orang. Umbara Komang sendiri tersentak kaget disambar petir saat melihat orang-orang yang berkerumun di hadapannya. Apalagi orang-orang itu mengacung-acungkan senjata mereka.

"Mati aku! Rupanya aku terkepung." Umbara Komang menghentikan larinya. Rowok Tunggel masih jauh tertinggal. Melihat begitu banyak orang mengacungkan senjata, Umbara Komang berlari ke arah lain. Tapi justru tindakannya itu membuat orang-orang kampung jadi curiga. Maka...

"Kepung mereka! Dan tangkap mereka hiduphidup!" perintah kepala kampung. Lalu semua orang yang ada di situ langsung menyerbu Umbara Komang. Begitu juga dengan Rowok Tunggel. Ia tidak mengerti, tahu-tahu saja puluhan orang bersenjata menghadangnya. Mereka memang tidak langsung menyerang, tapi cukup membuat Rowok Tunggel jadi panik. Makanya begitu orang-orang itu mendekat, Rowok Tunggel melancarkan hantaman-hantaman kepada orang yang menghalangi langkahnya.

Ki Sangga Wana sang kepala kampung sampai turun tangan. Dia sengaja tidak mengeluarkan keris. Karena dengan tangan kosong pun ia bisa menahan serangan-serangan Rowok Tunggel yang selalu menjatuhkan orang-orang kampung.

Sebenarnya dalam hal ini Rowok Tunggel membela diri dari kepungan puluhan orang. Tapi Ki Sangga Wana telah mengira orang asing itu bermaksud kurang baik dan bersangkutan dengan kematian Mardun dan korban-korban sebelumnya.

Untuk itulah Ki Sangga Wana mengerahkan seluruh tenaganya menghalangi setiap gerakan-gerakan Rowok Tunggel. Menghadapi orang yang cukup memiliki ilmu, Rowok Tunggel sulit menyingkirkan orang- orang yang datang menghadang. Sampai mereka saling berhadapan, lelaki telanjang dada itu seperti kewalahan.

Hantaman-hantaman Ki Sangga Wana hampir mengenai bagian kepala dan dadanya. Rowok Tunggel berusaha menghindarinya walaupun sekeras apa hantaman itu. Laki-laki telanjang dada itu harus melompat ke sana ke mari menghindari babatan-babatan senjata yang membabi buta mengarah ke tubuhnya. Manakala serangan-serangan Ki Sangga Wana begitu gencar mengikuti ke mana Rowok Tunggel bergerak.

Gerakan Ki Sangga Wana sangat cepat, begitu juga dengan Rowok Tunggel yang sudah menyadari adanya seseorang yang mengikuti. Tapi ia tidak perduli. Ia lebih ngeri menghadapi orang-orang yang bersenjata. Saat itulah ia tidak sempat lagi menghindari pukulan Ki Sangga Wana yang menghantam membuatnya jatuh. Sudah tentu semua orang kampung yang melihat lelaki itu jatuh langsung mengepung. Senjatasenjata mereka siap merencah. Tapi sebelum senjatasenjata itu menghujani, Rowok Tunggel salto ke belakang. Nafasnya tersengal-sengal masih menahan sakit akibat hantaman Ki Sangga Wana tadi.

"Tunggu! Aku menyerah! Aku menyerah!" Rowok Tunggel mundur-mundur, tapi ia masih sanggup menepiskan beberapa senjata yang mencecar ke arahnya.

"Kalian ini siapa? Kenapa kalian tiba-tiba saja menyerang?" Rowok Tunggel melompat mundur.

"Jangan banyak bicara! Ringkus saja manusia busuk itu!" Orang-orang kampung semakin gencar menyerang. Ki Sangga Wana melepaskan jurus-jurus maut mematahkan pertahanan Rowok Tunggel.

"Tangkap dia hidup-hidup!" teriak kepala kampung penuh semangat. Sementara itu orang-orang yang mengepung Umbara Komang berpentalan satu demi satu. Bersamaan dengan itu pula teriakan Umbara Komang menggelegar. Nampak jelas sekali gerakan-gerakan kedua lengan Umbara Komang yang menghantam jatuh lawan-lawannya. Orang-orang yang telah jatuh itu tak dapat bangkit lagi, karena mereka semuanya mengalami patah tulang.

Senjata-senjata mereka tidak berarti sama sekali. Umbara Komang dapat dengan mudah menghindar dan membalas serangan.

"Kebetulan! Kebetulan sekali aku dapat menemukan gudang siluman! Hua ha ha ha... Aku paling gatel melihat siluman-siluman tengik macam begini. Heaaaaa!" Umbara Komang memutar sebelah lengannya maka empat orang sekaligus bergulingan sambil menjerit karena tulang kaki mereka terkilir.

"Biar langit runtuh! Biar bumi bergoncang!... Aku tidak takut!" Umbara Komang teriak-teriak. Suaranya berbareng dengan teriakan orang-orang yang jatuh bergulingan. Dan ia cukup puas akan tindakannya. Tawanya terkekeh-kekeh.

"Rasain! Biar kalian pada pedok! Pada pencot! Hih! Hih!" Lelaki senewen itu memandangi orang-orang itu dengan sapuan kakinya yang memutar berkali-kali. Kontan semua lawannya meringis sambil berjingkatjingkat. Sebentar saja para pengeroyoknya itu berkurang banyak, dan mereka jadi ragu-ragu untuk maju lagi.

Siapa pun tidak ada yang sanggup mengatasi amukan Umbara Komang. Laki-laki senewen itu selalu dapat membalas di saat mereka melancarkan serangan. Sampai saat itu pun senjata-senjata mereka yang tajam berkilat tidak mampu menyentuhnya. Gerakan Umbara Komang yang nampak asal asalan itu justru membawa maut bagi orang yang coba-coba mendekat. Semuanya dibuat tunggang langgang.

Di lain pihak, Rowok Tunggel nampak berlarilari menghindari kejaran Ki Sangga Wana dan kepungan orang-orang kampung. "Wuaaa... Rowok Tunggel. Gara-gara kau, aku jadi ikut-ikut sial!" kata Umbara Komang yang melihat lelaki telanjang dada itu berlari ke arahnya.

"Sekarang kau seorang pemimpin. Bagaimana pun kau tidak bisa meninggalkan kami di Pedalaman Lereng Ungaran!" jawab Rowok Tunggel. Tidak hentihentinya ia menoleh ke belakang. Ki Sangga Wana mulai mencabut kerisnya.

"Jangan banyak omong! Awas di belakang mu biang siluman akan menikam." bentak Umbara Komang, ia cepat menarik tubuh Rowok Tunggel. Keris Ki Sangga Wana berkelebat nyaris merobek pinggang.

"Hati-hati, Komang. Orang yang satu ini luar

biasa!"

*

* *

Ah! Peduli amat!" jawab Umbara Komang. Tusukan-tusukan keris dihadapinya. Tubuhnya yang lentur bergerak ke sana ke mari seakan mengejek. Sudah tentu membuat Ki Sangga Wana makin kalap. Orangorang kampung yang bermaksud datang membantu kepala kampung itu dihadapi oleh Rowok Tunggel. Tanpa Ki Sangga Wana, lelaki telanjang dada itu dapat menghalau para pengeroyok. Ia masih belum mengerti kenapa orang-orang kampung bertindak membabi buta macam itu.

Tapi bagi Rowok Tunggel yang berpikiran panjang, ia sengaja betul-betul tidak menyakiti orang- orang itu. Setiap hantamannya membuat mereka terguling atau mundur. Kalau Rowok Tunggel mau, ia bisa merebut senjata mereka dan menghabisi mereka satu persatu.

Bagi Umbara Komang lain lagi. Laki-laki senewen itu tidak pandang bulu. Siapapun yang datang melancarkan serangan padanya, ia tidak segan-segan membalas dengan hantaman yang paling dahsyat. Untuk itulah Ki Sangga Wana harus kewalahan menghadapinya. Tapi bagi seorang kepala kampung pantang untuk menyerah atau mundur. Ia semakin gigih melancarkan babatan-babatan serta tusukan keris. Umbara Komang yang sendiri tadi melayani hanya memutar-mutar kedua lengan dengan sesekali berlompat. Dan mendadak sekali tubuh Ki Sangga Wana terhuyung ke belakang. Dadanya terasa sakit dan ia tidak tahu kapan hantaman itu datang. Yang lebih mengejutkan lagi, keris milik Ki Sangga Wana telah berpindah tangan pada Umbara Komang. "Hak hak hak hak...! Kau pikir senjata butut ini mampu melumpuhkan kesaktianku? Jangan mimpi, Biang Siluman! Kalau bukan angin raksasa dan badai pasir tidak ada yang bisa mengalahkan ku! Kau baru jadi biang siluman sudah sok main keroyok. Nih! Kukembalikan senjata taik kucingmu!" Umbara Komang melemparkan keris itu ke hadapan Ki Sangga Wana yang masih heran. Keris itu menancap tepat di atas permukaan tanah. "Ayo ambil! Aku tidak butuh pusaka butut! Hak hak hak hak...!" tawa Umbara Komang menggelakgelak. Perutnya sampai tergoyang-goyang.

Ki Sangga Wana hanya memandangi laki-laki bertingkah aneh itu. Ia seperti tidak percaya ketika melihat Umbara Komang berlalu dengan acuh. Kenapa orang ini tidak menghisap darahnya? Atau melubangi kepala Ki Sangga Wana? "Hai, Siluman senewen! Kau pikir bisa pergi begitu saja? Tinggalkan dulu nyawamu di sini!" bentak Ki Sangga Wana. Ia mengejar dengan langkah yang sangat cepat menyusul Umbara Komang berjalan tenang.

"Mampus!" Ki Sangga Wana menerjang dengan tusukan keris. Tanpa menoleh Umbara Komang sudah mencium adanya serangan gelap dari arah belakang.

Maka ia segera bergeser ke samping. Ki Sangga Wana mengarahkan kerisnya ke tempat kosong. Bersamaan dengan gerakan itu Umbara Komang melancarkan hantamannya... "Bug!" Ki Sangga Wana yang hampir jatuh tambah ngusruk mencium tanah.

Umbara Komang mengekeh. Bibirnya mencibir monyong dengan kedua mata yang terbelalak. Kepala kampung itu meringis berusaha bangkit.

"Aku bukan siluman! Tapi Umbara Komang! Sekali lagi kau menyebutku siluman, lidahmu akan ku tarik ke luar! Jangan plintat plintut begitu! Aku lagi serius!" Lelaki senewen itu tolak pinggang berjalan mengelilingi Ki Sangga Wana. Kepala kampung itu balas menatap dengan geram. Lalu dengan teriakan lantang ia julurkan ujung kerisnya yang setajam mata pedang. Sinar keemasan membersit ke arah lelaki yang berjalan mengelilinginya. Tapi secepat kilat pula Umbara Komang dapat menangkap pergelangan tangan Ki Sangga Wana. Bahkan melintirnya... "Aaaaarght!" Keris berwarna keperakan terlepas.

Mendadak saja Umbara Komang melepaskan cengkramannya. Bibirnya yang rada monyong menganga lebar. Ki Sangga Want yang nampak meringis sempat tersentak kaget. Cepat-cepat ia meraih kerisnya yang tergeletak di tanah. Mengapa tidak? Dari arah lain puluhan orang bertelanjang dada berlarian memasuki desa itu. Mereka bersenjatakan panah dan golok terhunus sepanjang lengan. "Rowok Tunggel...! Umbara Komang...! Kami datang!" teriak orang-orang itu.

Melihat Rowok Tunggel terkepung macam itu, tentunya orang-orang telanjang dada tidak tinggal diam. Sebagian dari orang-orang yang bersenjata parang maju mengempur. Yang lain menyebarkan anak-anak panah.

"Jangan...! Jangan serang mereka!" teriak Rowok Tunggel. Ia menerobos kepungan orang-orang kampung. Tapi teriakan itu tidak didengar sama sekali. Keadaan makin riuh. Teriakan Rowok Tunggel tenggelam dalam kegaduhan malam itu. Rowok Tunggel cukup mengerti kemarahan orang-orang suku Pedalaman Bangsa Bajor. Tapi dengan cara seperti itu tentunya akan banyak memakan korban. Manakala anak-anak panah melesat deras seperti air hujan meluruk ke arah para penduduk kampung yang mulai sadar akan kedatangan puluhan tamu tak di undang.

Di balik dentingan senjata beradu dan desiran angin, batang-batang anak panah. Sosok tubuh melayang berjumpalitan di udara. Kedua lengannya sigap menangkapi batang-batang anak panah. Sosok itu begitu cekatan dan cukup berani menentang derasnya hujan panah. Rowok Tunggel

yang melihatnya langsung mengikuti cara itu. Tubuhnya segera melesat dan harus melompat-lompat menyambar tiap-tiap batang anak panah. Melihat kemunculan Rowok Tunggel, mereka mengurangi serangan anak panah. Mereka tidak ingin lelaki telanjang dada itu kena sasaran.

*

* * 8

Dua lelaki masih berjumpalitan, kedua lengan mereka sigap menyambar lesatan-letatan anak panah. Saat itu pun mereka saling pandang. Diam-diam Rowok Tunggel menatap kagum terhadap seorang pemuda yang mengenakan baju bulu binatang. Dan begitu keduanya hinggap di tanah. Pasukan telanjang dada menghentikan serangan panahnya.

Orang-orang itu mendekati Rowok Tunggel. Penduduk kampung tidak ada yang berani mendekat. Kecuali Ki Sangga Wana. Rupanya ia masih mengenali pemuda yang baru datang itu. Ia segera melompat meninggalkan Umbara Komang. Lelaki senewen itu tidak mau kalah cepat. Tubuhnya yang lentur berjumpalitan mendahului langkah-langkah Ki Sangga Wana. Dan tahu-tahu saja mendarat di hadapan pemuda yang mengenakan baju bulu binatang.

"Dewa!" Suara Umbara Komang keras menyapa. Orang yang disebut dewa tidak lain Wintara adanya. Pendekar Kelana Sakti itu seakan tidak percaya melihat Umbara Komang kini berdiri di hadapannya.

"Ha ha ha ha... Dunia betul-betul sempit. Dalam keadaan seperti ini pun kita bisa ketemu lagi "

Umbara Komang langsung memeluk Wintara.

"Aku pikir kau sudah terkubur hidup-hidup oleh badai pasir!" tawa Wintara menggelegak. Mereka berpelukan. Ki Sangga Wana maupun orang-orang kampung keheranan.

"Tidak salah! Tidak salah apa yang kau katakan, Dewa! Kalau saja Rowok Tunggel tidak keburu menyelamatkan aku, mungkin sudah jadi setan gentayangan." Suara Umbara Komang lepas.

"Mana mungkin kau bisa jadi setan gentayan- gan! Kalau jadi setan gila, aku baru yakin... Ha ha ha ha ha...!" "Ha ha ha ha ha...!"

"Anak muda." teguran Rowok Tunggel menghentikan tawa mereka. "Untung kau cepat datang. Orang-orangku dan penduduk desa ini nyaris berperang. Aku sendiri pun tidak mengerti apa yang telah terjadi di sini. Tiba-tiba saja mereka menghadang dan menyerang kami " tutur Rowok Tunggel.

"Bagaimana kami tidak menyerang. Kalian berdua datang di tengah malam begini, gasak gerusuk selagi kampung ini tengah terjadi sesuatu. Coba saja lihat, semua penduduk masih merasa ketakutan." Ki Sangga Wana membela diri.

"Apalagi yang terjadi di sini, Ki?" tanya Wintara. "Malam ini telah jatuh seorang korban." jawab

kepala kampung itu cepat.

"Korban yang sama seperti Kang Birun?" Wintara meyakinkan. Ki Sangga Wana mengangguk. Bersamaan dengan itu pula mayat Mardun diusung ke tempat terang. Penduduk kampung ikut mengiringi. Rowok Tunggel mengeryitkan alis memandang iring-iringan itu. Umbara Komang dan Wintara ikut melihat. Bagi Wintara sudah tidak heran lagi melihat korban kehabisan darah dengan kepala bolong sebesar telapak tangan. Tapi,

"Astaga...! Tunggu dulu!" Rowok Tunggel menahan iring-iringan itu. Maka orang-orang yang mengusung mayat Mardun berhenti penuh ketakutan. Apalagi saat Rowok Tunggel mendekat. Kedua matanya tidak berkedip. Malah membelalak.

"Sudah berapa orang yang tewas seperti ini?" tanya Rowok Tunggel dengan suara gemetar. Ia tidak berani menyentuh mayat itu.

"Untuk malam ini genap delapan orang! Siluman penghisap darah itu memang selalu mengambil korban di sini. Itu yang membuat kami kalut." Ki Sangga Wana yang menjawab.

"Ini bukan perbuatan siluman atau sebangsa setan lainnya." Rowok Tunggel yakin sekali. Wintara dan Ki Sangga Wana menatap tajam. Mereka menunggu ucapan Rowok Tunggel.

"Kalau kalian percaya, ini perbuatan seseorang yang tengah menggenapi ilmunya. Dengan darah dan isi kepala baru bisa sempurna. Delapan nyawa belum cukup menyempurnakan 'Ilmu Gelugut Manik'...." tutur Rowok Tunggel.

"Harus berapa nyawa lagi yang perlu di ambil dari desa ini!" Ki Sangga Wana geram setelah mendengar penjelasan laki-laki berewok telanjang dada.

"Orang itu masih membutuhkan empat nyawa

lagi."

Mendengar ucapan Rowok Tunggel, orang-

orang kampung merinding dan semakin ciut. Bagaimana pun ucapan itu menghantui setiap orang. Sampai saat ini siluman tersebut belum juga ditemui, datang dan perginya selalu meninggalkan korban. Siapa yang bisa mengatasinya.

Sementara itu Ni Klesung dan Dwi Langsih mendengar kegaduhan itu dari dalam gubuknya. Mereka memang belum bisa memejamkan mata sejak kegaduhan itu

"Nek, Paman Wintara datang lagi ke sini. Pastilah siluman itu akan tertangkap." Dwi Langsih yang sudah mengenali suara Wintara yakin akan kedatangan Pendekar Kelana Sakti. Wajahnya berseri.

"Hus! Anak kecil tahu apa! Tidur sana!" bentak Ni Klesung Rangit. Gadis kecil itu mengkerut langsung beranjak ke sudut ruangan.

"Sampai kapan pun mereka tidak akan sanggup menangkap siluman itu!" Di luar keadaan semakin ramai. Apalagi ditambah dengan puluhan orang-orang bersenjata panah. Membuat tempat itu penuh sesak. Penduduk kampung yang terluka di seret ke pinggir. Untunglah tidak sampai korban nyawa.

"Terus terang 'Ilmu Gelugut Manik' salah satu ilmu kesempurnaan tingkat tinggi yang dimiliki Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Tapi sampai saat ini belum ada orang yang sanggup menguasainya." kata Rowok Tunggel.

"Nampaknya kau tahu persis siapa pelaku pembunuhan ini, Sobat. Apa yang membuat kau begitu yakin?" Ki Sangga Wana penasaran.

"Karena aku dan orang-orang itu para penghuni Lereng Ungaran. Boleh dibilang penduduk asli Suku Pedalaman Bangsa Bajor." Rowok Tunggel menjawab mantap.

"Kalau begitu...." Ki Sangga Wana menerjang lagi. Kerisnya siap menikam. Tapi cepat Wintara menahan.

"Sabar, Ki... Kita tidak boleh asal tuduh. Semua yang diucapkannya hanyalah penjelasan." Wintara berdiri di tengah-tengah. Umbara Komang nyengir. Lalu...

"Rowok Tunggel bukan siluman! Tapi dia seorang dukun yang hebat. Ilmu yang dikuasainya hanya bisa menyembuhkan orang-orang sekarat."

"Benar! Dan sekarang yang memimpin kami adalah Umbara Komang. Untuk itulah aku mengejarnya, karena dia lari dari sumpah Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Orang yang telah disumpah menjadi pemimpin tak boleh mengelak."

"Kau dengar, Ki... Aku rasa sekarang sudah jelas persoalannya." Wintara menepuki punggung Ki Sangga Wana. Amarahnya belum juga reda. "Orang-orang kampung yang terluka biarlah kami yang akan mengobati. Kalau hanya patah tulang atau terkilir, kami bisa mengatasi."

"Kumpulkan saja mereka yang terluka. Mudahmudahan saja sobat kita ini bisa menyembuhkannya." tutur Wintara. Ki Sangga Wana menatap penduduk kampung yang penuh ketakutan itu. Lalu setelah ia memberi aba-aba. Beberapa orang yang nampak segar bugar membantu mengumpulkan teman-temannya yang terluka. Banyak juga yang terluka dan mengerang-ngerang menahan sakit.

Rowok Tunggel sendiri memilih orang-orangnya dari Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Enam orang yang betul-betul dianggapnya bisa mengobati luka patah atau sejenisnya. Keenam orang itu menunjukkan sikap yang bersahabat. Penduduk kampung tidak takut lagi. Mereka menuruti apapun perintah keenam orang pilihan Rowok Tunggel.

"Yang lain boleh kembali ke gubuk, tidak akan terjadi apa-apa lagi di sini " perintah Rowok Tunggel.

"Karena pembunuh itu hanya memerlukan satu nyawa setiap malamnya."

"Turuti saja perintahnya. Rowok Tunggel selalu berkata benar." sumbar Umbara Komang. Kata-kata itu ditujukan pada Ki Sangga Wana. Kepala kampung itu hanya diam. Keputusannya ada pada tiap-tiap penduduk desa. Nyatanya mereka tidak ada yang mau menuruti, mungkin dikarenakan masih ketakutan. Rowok Tunggel tak bisa berbuat banyak. Wintara mendekati kepala kampung...

"Untuk sementara biarkan saja orang-orang pedalaman tinggal di sini. Aku rasa ada baiknya. Desa ini butuh pertolongan orang banyak."

"Mereka akan tinggal di mana? Jumlah mereka begitu banyak. Mana mungkin bisa menampung orang sebanyak ini." jawab Ki Sangga Wana.

"Kami sudah terbiasa hidup di alam terbuka. Kalau tidak keberatan, biarkan saja kami berkeliaran di sini " Rowok Tunggel menimpali. Entah karena apa

tiba-tiba saja ia ingin menetap di desa itu. Mungkin karena salah seorang yang menyempurnakan 'Ilmu Gelugut Manik' selalu mengambil korban di situ. Yang ia ketahui "Ilmu Gelugut Manik' hanyalah ilmu yang berasal dari Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Sejenis ilmu sesat. Dia sendiri tidak mau menguasai ilmu itu. Dulu memang banyak para tetua suku Bajor yang menguasai ilmu itu. Tapi menurut sepengetahuannya 'Ilmu Gelugut Manik' sudah punah beberapa puluh tahun yang lalu, karena seluruh tetua itu sadar akan ilmu yang tidak dibenarkan. Maka mereka pun bunuh diri. Yang pada sekarang tinggal generasi Rowok Tunggel.

"Untuk mereka boleh tinggal berkeliaran di luar. Tapi aku tidak." Tiba-tiba saja Umbara Komang menyela.

"Kenapa. Bukankah sekarang kau ketua Suku

Pedalaman Bangsa Bajor? Kau harus memimpin mereka." jawab Wintara.

"Aduh, Dewa... Aku paling tidak tahan kantuk dan lapar. Bagaimana aku bisa bertahan hidup di luar sepanjang hari." Umbara Komang hampir menangis.

"Pendekar macam apa kau ini. Terhadap badai angin dan pasir kau tahan. Masa hanya begadang beberapa malam saja kau tidak sanggup. Jangan khawatir Umbara Komang, aku akan menemanimu Juga

bapak kepala kampung akan bersama-sama kita menghadapi siluman itu." Wintara memberi semangat.

"Benar, Umbara Komang... Kau sebagai ketua kami semestinya bertindak, jangan sampai 'Ilmu Gelugut Manik' tercipta. Kalau sampai orang itu menguasai ilmu itu, maka kita semua tidak akan lagi dapat men- gatasinya." ujar Rowok Tunggel.

"Terserah kalian saja! Pokoknya aku tidak mau sampai kelaparan." jawab Umbara Komang. Wintara tersenyum. Ia merangkulnya berjalan menghadap Ki Sangga Wana.

"Namanya Umbara Komang. Maafkan saja kalau bicaranya rada ngaco. Kadang-kadang otaknya rada miring." Wintara memperkenalkan sahabat lamanya itu pada Ki Sangga Wana. Kepala kampung itu tidak ragu-ragu lagi.

"Lalu kau sendiri siapa, Anak muda. Ilmu yang kau miliki sangat luar biasa!" tanya Rowok Tunggel. Saat itu suasana desa sudah tenang kembali. Yang terdengar hanya kasak kusuk beberapa penduduk kampung dan erangan orang-orang yang terluka.

"Aku hanya seorang pengelana. Namaku Wintara. Anda Rowok Tunggel, bukan? Ilmu peringan tubuhmu pun sangat hebat."

“Sekarang kalian menjadi tamu-tamu kami ini. Adalah wajar kalau kami bermaksud menjamu kalian." kata Ki Sangga Wana.

"Itu bisa menyusul. Yang penting kita urus dulu mayat itu." sela Wintara.

Penduduk kampung memang sudah mengurusi jenasah Mardun. Meskipun tidak dibungkus dengan kafan, kain sarung pun bisa digunakan. Mayat itu di letakkan di tempat yang lebih terang. Terdengar pula beberapa orang membacakan doa. Para penduduk Suku Pedalaman Bangsa Bajor hanya terdiam memandangi adat itu.

"Biar saja orang-orang itu yang mengurus, toh kita menguburkannya besok. Lagi pula tanah pemakaman jauh dari sini. Bukankah katamu tadi siluman itu tidak bakal datang lagi? Sebaiknya kalian datang ke rumah ku. Mungkin ada satu rencana yang akan dibi- carakan." Ki Sangga Wana mengundang. Ketiga orang itu tidak bisa menolak, mereka pun mengikuti langkah-langkah kepala kampung.

Rumah gedung itu terletak tidak jauh dari situ. Meskipun dengan beberapa lampu gembreng, bangunan berwarna serba putih itu nampak terang. Setelah Ki Sangga Wana mengetuk pintu berkali-kali, maka perempuan setengah tua keluar membukakan. Perempuan itu tidak lain istri Ki Sangga Wana. Ia terheranheran melihat suaminya pulang dengan tiga orang berpakaian sangat lusuh. Terlebih-lebih saat melihat Rowok Tunggel yang wajahnya hampir tertutup oleh berewok. Terhadap lelaki yang tidak mengenakan baju, istri Ki Sangga Wana merinding.

Ruangan tamu cukup besar, isinya pun dilengkapi dengan perabotan yang bagus-bagus. Mungkin hanya Ki Sangga Wana orang terkaya di desa itu. Makanya ia terpilih menjadi kepala kampung.

Lapat-lapat tercium bau kemenyan. Umbara Komang yang sedari tadi mencium bau itu mengendusendus hidung. Wintara sedari tadi pun sudah merasa. Hanya Rowok Tunggel yang nampak tenang-tenang saja.

Rupanya bau kemenyan itu berasal dari salah satu yang diterangi dengan sebuah lampu pelita. Asapnya masih mengepul keluar. Bara api di pendupaan masih marong. Ki Sangga Wana memasuki ruangan itu. Ketiga orang yang dibawanya mengikuti masuk ke dalam ruangan. Maka mereka melihat setumpukan sesajen yang mengampar di sekitar pendupaan. Mendadak saja Ki Sangga Wana menendangi sesajen berupa macam-macam makanan. Pendupaan itu sampai pecah belah berantakan. Wintara tetap tidak mengerti. Tapi ia cepat menahan amukan Ki Sangga Wana.

"Penangkal-penangkal ini tidak ada gunanya sama sekali. Aku bodoh mengotori tempat ini dengan segala macam barang penangkal!" gerutu Ki Sangga Wana.

*

* *

9

Selesai mengubur jenasah Mardun, penduduk kampung kembali ke desa. Orang-orang yang terluka semalam juga ikut. Rasa sakit pada luka-luka mereka hilang seketika. Malah mereka mulai mengikat tali persahabatan dengan para anggota Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Akrab sekali kelihatannya. Satu sama lain saling menceritakan pengalaman. Ternyata orangorang Suku Pedalaman Bangsa Bajor amatlah menyenangkan.

Selain ramah, mereka juga ringan tangan. Kebanyakan dari mereka giat membantu meringankan beban para penduduk desa. Ki Sangga Wana tidak menyangka sebelumnya. Ada juga yang coba-coba menggoda para gadis desa. Lucu juga! Tapi wajar kalau hal itu terjadi di kalangan anak muda.

Ki Sangga Wana dan keluarganya tidak perlu repot menyambut Wintara dan kawan-kawannya. Anak perawannya yang dua orang sibuk membuat hidangan. Dan ketika mereka keluar membawakan hidangan, Umbara Komang menyambar lebih dahulu.

Rumah-rumah penduduk nampak ramai. Semuanya berada di luar duduk-duduk di atas balai di depan gubuk mereka. Hanya ada satu gubuk yang nampak sepi dan pintunya masih terkunci. Pandangan Rowok Tunggel mengarah ke situ. Dan sejak tadi ia di- am saja.

"Saudara Rowok Tunggel ada apa?" tegur Ki Sangga Wana yang mulai merasa kevakuman Rowok Tunggel.

"Apakah gubuk itu tidak ada penghuninya, Ki. Sejak tadi kuperhatikan tidak ada orang yang keluar masuk dari situ." jawab Rowok Tunggel tanpa menoleh. "Oh... Ada! Seorang nenek buta dan cucunya.

Sebenarnya mereka orang baik-baik. Mungkin karena usianya yang sudah tua dan pikun, hal itu membuat penduduk kampung menjadi kurang suka." Ki Sangga Wana menjelaskan.

"Semua orang tua renta pasti pikun. Kau pun akan seperti itu kelak." sahut istrinya yang duduk di sebelah Ki Sangga Wana.

"Menurutku Ni Klesung Rangit tidak pikun. Tapi ia terlalu berhati-hati. Hanya kita selalu salah tafsir." Wintara menimpali. Tapi mendengar ucapan Wintara, Rowok Tunggel bagai disambar petir.

"Siapa katamu, Ni Klesung Rangit...?" Rowok Tunggel mengulangi ucapan Wintara. "Ya! Ni Klesung Rangit!" Mendadak saja Rowok Tunggel bangkit. Matanya membinar seolah-olah telah menemukan sesuatu yang sangat berharga. Umbara Komang sampai kaget.

"Kalau betul ia Ni Klesung Rangit, pastilah bersama seorang anak kecil." Rowok Tunggel masih merasa kurang yakin.

"Dia memang bersama seorang cucu perempuan bernama Dwi Langsih." Istri Ki Sangga Wana ikut menjelaskan. Maka entah karena apa ia keluar dari teras rumah besar itu. Wintara tidak sempat menahan. Kecepatan lari Rowok Tunggel bagaikan angin menuju ke arah gubuk kecil kediaman Ni Klesung Rangit.

"Ibuuuu...! Langsih...!" Rowok Tunggel langsung membuka pintu gubuk itu sampai berderak. Deritnya terdengar nyaring. Tindakan itu menjadi perhatian seluruh orang-orang yang berada di desa itu. Wintara dan Umbara Komang menghampiri Rowok Tunggel

yang berdiri diam terpaku. Orang-orang kampung maupun para Suku Pedalaman Bangsa Bajor berdatangan ke tempat itu.

"Ibu... Anakku... Di mana kalian...?" suara Rowok Tunggel parau.

Kedua matanya berputar mengawasi tiap-tiap sudut ruangan. Tidak ada siapa-siapa di dalam gubuk itu. Kecuali perabotan yang berserakan di tanah.

"Be-benarkah mereka tinggal di sini...?" tanya Rowok Tunggel setelah Ki Sangga Wana datang ke tempat itu. Ki Sangga Wana tidak langsung menjawab sebab ia menatap langsung ke atas melihat atap jerami yang jebol. Tapi tak lama...

"Semalam ia masih tinggal di sini, bahkan kami sempat bentrok. Mustahil kalau kepergiannya tidak diketahui oleh siapa pun."

"Atapnya jebol! Mungkin seseorang telah membawanya pergi." kata Wintara setelah memperhatikan tempat itu. Rowok Tunggel melihat ke atas. Atap itu memang ternganga lebar.

"Benarkah Ni Klesung Rangit dan Dwi Langsih keluargamu dari Suku Pedalaman bangsa Bajor? Kalau benar bagaimana mungkin bisa berada di sini?" Wintara jadi penasaran. Rowok Tunggel berbalik menghadap Wintara.

"Dunia kita sempit, Wintara. Tidak mungkin ada orang lain yang memiliki ibu dan anak bernama Ni Klesung Rangit dan Dwi Langsih. Tidak mungkin ada kesamaan. Aku yakin mereka bagian dari hidupku."

"Kenapa kalian sampai terpisah?"

"Pertanyaan itu memang menyakitkan. Dan aku tidak bisa melupakannya. Peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu. Di mana kami selalu berkumpul hidup di pedalaman. Ni Klesung Rangit adalah orang tertua Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Ia memimpin suku kami sebagaimana layaknya para tetua terdahulu. Ilmu pengobatan yang dimilikinya sangat luar biasa. Sampai-sampai aku pun diwarisinya. Tapi setelah aku betul-betul menguasai ilmu pengobatan, Ni Klesung Rangit pergi mengunjungi makam para tetua Bangsa Bajor. Ia membawa anakku Dwi Langsih yang baru berumur tiga tahun. Mulai hari itu mereka tidak kembali. Kami semua mengira mereka telah menjadi mangsa binatang buas. Namun kami tidak menemukan tandatanda apapun sewaktu mencari mereka. Istriku sampai meninggal karena memikirkan Langsih." Rowok Tunggel selesai menceritakan perihal Ni Klesung Rangit. Semua orang terdiam. Ada banyak pertanyaan di benak Wintara dan Ki Sangga Wana. Tapi mereka tidak mengutarakannya pada Rowok Tunggel dalam keadaan demikian.

*

* *

Matahari tepat mencorot di atas kepala. Jauh dari keramaian desa, tepatnya di perbukitan yang mengelilingi desa. Dua sosok tubuh nampak duduk di bawah rindangnya pepohonan. Sejak tadi Dwi Langsih sudah mengucurkan keringat. Ni Klesung Rangit pun nampak demikian. Kulitnya yang kurus keriput sampai legam mengkilat terkena sinar matahari. Bibir mereka mengering.

"Nek,... Kenapa kita harus meninggalkan desa, bukankah di sana ada Paman Wintara? Lagipula perut Langsih sudah keroncongan." "Bocah cerewet! Tidak bisakah kau diam saja! Nanti aku carikan makanan!" bentak Ni Klesung Rangit. Seperti biasa bila nenek membentak, Dwi Langsih langsung mengkerut takut.

"Siapa yang meninggalkan desa? Nanti pun kita akan kembali lagi ke sana. Orang-orang keparat itu yang membuat kita harus menyingkir sementara. Wintara itu sama keparatnya dengan mereka." gerutu Ni Klesung Rangit.

Dwi Langsih cemberut. Paman Wintara orang baik. Mengapa nenek bilang Paman Wintara keparat? Dalam hati Langsih mendongkol.

Keduanya menatap desa itu dari kejauhan. Sayup-sayup terdengar keramaian di sana. Nampak pula orang-orang yang berjalan simpang siur di sekitar desa. Gelak anak-anak desa menghalau kerbau, juga gurau para gadis yang menertawakan para pemuda Suku Pedalaman Bangsa Bajor.

Sumpah serapah Ni Klesung Rangit tidak hentihentinya mengutuk. Matanya yang buta seakan menatap tajam ke arah keramaian itu. Dwi Langsih sesekali melirik. Melihat Ni Klesung Rangit diam bagai patung, ia makin ngeri. Ia tidak lagi berani tanya ini itu. Sebab takut kena bentak bagaikan sengatan lebah.

Mereka masih tetap di situ sampai matahari mulai terbenam. Dwi Langsih nampak begitu kelelahan seharian penuh hanya berdiam di situ. Rambut kusut Ni Klesung Rangit berderai-derai tertiup angin. Saat itu pun ia menyeringai mengeluarkan geram yang amat menakutkan. Berbareng dengan geraman itu, Ni Klesung Rangit bangkit. Dia langsung menyeret tubuh Dwi Langsih menyandarkannya pada batang pohon di mana mereka berteduh. Jari-jari tangannya yang keriput menjambak rambut gadis kecil itu.

"Diam di sini! Aku akan menemui orang-orang keparat itu. Mengerti! Setelah aku kembali pasti membawa makanan untuk mu." Suara Ni Klesung Rangit menakutkan. Dia menarik angkin yang melilit di pinggangnya.

Dengan angkin itu Ni Klesung Rangit mengikat tubuh Dwi Langsih pada batang pohon. Dwi Langsih berontak. Tapi tenaga nenek buta itu kuat bagai lengan-lengan raksasa yang mencengkram.

"Aku tidak mau diikat begini, Nek... Aku tidak mau!" Gadis kecil itu terus meronta-ronta, tapi... "Plaaak!" Ni Klesung Rangit menampar.

"Kalau tidak diikat begini, kau pasti bakal kabur! Dengar, Langsih! Kau harus patuh padaku. Dan jangan coba-coba berteriak selama aku belum kembali!"

"Aku patuh... Aku akan patuh, Nek. Tapi jangan diikat begini "

"Diam!"

*

* *

Meskipun hari telah gelap desa itu masih tetap nampak ramai. Selain lampu-lampu obor yang menerangi tiap-tiap gubuk mereka membuat juga beberapa api unggun di tengah-tengah pelataran desa. Beberapa ternak terpaksa dikorbankan untuk makan malam orang-orang Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Ki Sangga Wana yang mengeluarkan biaya semua itu. Dan ia mempunyai banyak ternak.

Tidak jauh dari keramaian itu, tepatnya di depan bekas gubuk Ni Klesung Rangit, Rowok Tunggel bersama Ki Sangga Wana sibuk membuat cairan hitam yang berasal dari kerak dapur. Wintara pun berada di situ. Ia hanya memperhatikan cara kerja Rowok Tung- gel. Umbara Komang sibuk menghadapi hidangan yang disuguhkan oleh kedua anak perawan Ki Sangga Wana. Kedua gadis itu selalu tertawa cekikikan karena tingkah laki-laki senewen itu memang cukup menggelitik perut.

Istri Ki Sangga Wana beserta perempuanperempuan lain ikut membantu menumbuki kerakkerak dapur sampai halus. Bubuk-bubuk hitam diserahkan pada Rowok Tunggel yang langsung mencampurnya dengan darah binatang. Cairan hitam semakin kental menggumpal dalam satu tempat yang besar.

"Cukup! Cukup banyak! Bawalah cairan itu pada orang-orang kampung. Suruh mereka mencoreng muka dengan ini. Jangan sampai di antara mereka ada yang tidak mencoreng muka. Bayi pun harus menggunakannya." pesan Rowok Tunggel sambil menyerahkan cairan berwarna hitam ke tangan Ki Sangga Wana.

Melihat Ki Sangga Wana menerima sesuatu dari Rowok Tunggel, Umbara Komang langsung berjingkat. Kedua tangannya langsung masuk ke dalam cairan kental itu.

"Ini bukan makanan, Umbara Komang. Sudah terlanjur. Corengkan saja di muka mu." kata Ki Sangga Wana. Wintara hanya tersenyum. Ia menggeleng-geleng kepala.

"Apa ini? Baunya busuk sekali." Umbara Komang melihat kedua telapak tangannya hitam. Ki Sangga Wana tidak perduli ia terus melangkah membawa cairan kental berwarna hitam ke arah para penduduk yang telah berkumpul.

"Itu kerak dapur yang dicampur dengan darah binatang." jawab Wintara.

"Hiiiy...!" Umbara Komang mendelik. Ia langsung menyeka cairan yang melekat di kedua tangan pada bajunya. Sementara itu Ki Sangga Wana berjalan berkeliling memerintahkan penduduk kampung agar mencoreng muka mereka dengan cairan hitam itu. Semua orang-orang itu menurut. Berbagai macam mereka mencoreng muka. Dari anak-anak, bayi, laki, perempuan, nenek-nenek sampai aki-aki. Meskipun cara itu agak aneh tapi mereka tidak ada satupun yang menolak.

Begitu juga dengan orang-orang Suku Pedalaman Bangsa Bajor, mereka ikut mencoreng muka dengan cairan itu.

"Lucu! Mereka takut terhadap siluman, malah mereka sendiri menyamar seperti siluman." Umbara Komang nyengir menertawakan orang-orang kampung. Tapi tiba-tiba saja ia melompat kaget, ketika dua orang anak Ki Sangga Wana mendekatinya. mereka sengaja menakut-nakuti saat muka mereka telah di corengi cairan hitam. Umbara Komang sampai jatuh terduduk. Maka meledaklah tawa orang-orang yang berada di gubuk itu.

"Kalian nampak seperti para penghuni neraka." Lelaki senewen menggerutu. Wajah kedua gadis itu pun merah padam.

Langit makin gelap manakala angin bertiup kencang. Api unggun menari-nari menimbulkan suara letupan. Suasana mencekam sunyi. Saat ketegangan mulai merambat pada tiap-tiap jantung manusia. Para penduduk kampung sengaja berdiam di luar, mereka berkumpul di pelataran itu. Semua orang sudah membayangkan bakal ada satu peristiwa lagi pada malam itu. Yakin akan kedatangan siluman yang mengambil korban di desanya, untuk itu mereka tidak memejamkan mata.

Anak-anak kecil memeluki ibunya dengan penuh ketakutan. Beberapa bayi tengah menyusui sam- bil sesenggukan seakan-akan bahaya yang akan menjemput. Tangis mereka kadang terdengar di kesunyian. "Usahakan bayi-bayi itu agar tenang, Ki... Sua-

ra tangis mereka akan mempengaruhi. Dan juga untuk orang-orang kampung jangan banyak bicara." bisik Rowok Tunggel di sebelah Ki Sangga Wana. Kepala kampung itu langsung bangkit dan mendekati para perempuan yang tengah menyusui bayinya. Ia mengatakan apa yang diperintahkan Rowok Tunggel. Wintara dan Umbara Komang diam bersandar pada bilik gubuk. Matanya terus mengawasi tiap-tiap pelosok.

*

* *

10

Puluhan pasang mata mendadak kaget saat melihat sosok tubuh kurus terbungkuk memasuki mulut desa. Sosok buta itu cukup dikenal di mata penduduk kampung. Dan hampir semua orang menyebutkan namanya ketika sosok itu mulai nampak jelas. 'Ni Klesung Rangit'... Suara mereka tidak keluar seakan tersangkut dalam tenggorokan. Sedangkan nenek buta itu terus melangkah memasuki desa.

Rowok Tunggel tidak percaya pada penglihatannya sendiri. Bibirnya bergetar menatap kehadiran Ni Klesung Rangit di tengah malam begini. Perasaan yang dialami Rowok Tunggel sama halnya dengan orang-orang Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Mereka masih kenal betul dengan sosok Ni Klesung Rangit, meskipun sekarang nampak lebih renta dan buta. Mereka pun menjadi tegang saat Rowok Tunggel melangkah mendekati sosok nenek buta. "Bu... Aku tahu ibu menetap di sini, kenapa kau harus pergi meninggalkan aku lagi? Mana Dwi Langsih...?" Ternyata Ni Klesung Rangit benar adanya orang tua Rowok Tunggel. Nenek buta menyeringai.

"Rowok Tunggel! Kau memang anakku. tapi jangan harap aku merasa bahagia dengan pertemuan ini. Pergilah jauh-jauh dari sini..." jawab Ni Klesung Rangit.

"Apa yang akan ibu lakukan, justru aku mencari ibu dan anakku agar kita bisa berkumpul lagi seperti dulu."

"Aku sudah menganggap diriku sudah mati, Rowok Tunggel. Kau sudah tidak punya ibu lagi." Ni Klesung Rangit terus melangkah.

"Kenapa ibu bilang begitu? Mana Dwi Langsih?" Pertemuan yang amat mengecewakan ini men-

jadi perhatian banyak orang. Rowok Tunggel tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu. Wintara dan Ki Sangga Wana menatap iba. Mereka tidak bisa mencampuri urusan keluarga kecil itu.

"Dwi Langsih akan tetap menemaniku! Kau tidak akan mendapatkannya, Rowok

Tunggel! Karena...." Bersamaan dengan itu, Ni Klesung Rangit memutar sebelah tangannya... "Bug!" Cukup telak menghantam tubuh Rowok Tunggel. Lelaki telanjang dadu itu terhuyung ke belakang. "Kau pun akan ku kirim ke akherat bersama mereka!" Nenek buta itu meneruskan ucapannya. Nenek buta maju lagi menyerang, tentu saja Rowok Tunggel tidak berani membalas. Melihat itu, orang-orang Suku Pedalaman Bangsa Bajor tidak tinggal diam. Mereka maju serempak menghalangi serangan-serangan Ni Klesung Rangit yang di arahkan pada Rowok Tunggel yang setengah mati menghindarinya.

Tapi malah berakibat fatal. Ni Klesung Rangit mengamuk. Gerakannya yang berkelebat bagai angin menjatuhkan orang-orang itu satu persatu. Sekali hantam ada yang batok kepalanya pecah atau perut mereka terbeset cakaran yang runcing bagai mata pisau. Usaha mereka hanya mengantarkan nyawa dengan percuma.

"Ni Klesung Rangit, kami ini orang-orangmu... Jangan bertindak seperti ini!" teriak dari salah seorang. Ni Klesung Rangit menjawab sengit...

"Aku akan memberi muka terhadap kalian kalau kalian segera pergi meninggalkan desa ini. Aku tidak ingin niatku setengah-setengah, sudah kepalang tanggung! Aku hampir menguasai 'Ilmu Gelugut Manik'!" Selesai berucap begitu Ni Klesung melancarkan tendangan sekuatnya... "Breeees!" Kaki yang kurus bagai tiang galah menembus sampai ke tulang belakang. Darah menyembur. Penduduk kampung yang melihatnya memekik penuh ngeri.

Tentu saja Wintara dan Ki Sangga Wana tidak bisa membiarkan korban semakin berjatuhan. Keduanya melesat berjumpalitan di udara menyelamatkan orang-orang yang nyaris tewas di tangan Ni Klesung Rangit. Saat itu pun Umbara Komang menyusul menunjukkan kebolehannya. Sekali menghentakkan kedua kakinya ia sudah menghadapi nenek buta yang tengah mengamuk.

Wintara sendiri tidak tahu kapan datangnya Umbara Komang. Tahu-tahu saja ia sudah melancarkan serangan. Ni Klesung Rangit yang buta itu bagai memiliki seribu pasang mata. Setiap serangan Umbara Komang, dapat dihindarinya.

"Semuanya mundur...! Mundur...!" teriak Ki Sangga Wana. Mendengar komando itu, kontan orangorang kampung maupun para penduduk Suku Bangsa Bajor berlari menyelamatkan diri. Rowok Tunggel su- dah bangkit. Bagaimana pun ia tidak tega me lihat ibunya yang renta itu dikeroyok oleh Wintara dan kawan-kawan.

Umbara Komang sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Maka ia bertindak cepat melancarkan serangan, tapi sebelum hantaman itu mengena, Rowok Tunggel menggagalkannya. Wintara cukup mengerti. Makanya ia pun segera menghalangi Umbara Komang saat ia berniat membalas serangan Rowok Tunggel.

Dalam keadaan seperti itu Ni Klesung Rangit tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melancarkan serangan pada Ki Sangga Wana yang berdiri sendiri dengan keris perak terhunus. Kepala kampung gelagapan, tahu-tahu saja sebuah hantaman melanda bagian kepala. Lelaki itu sampai jatuh kelojotan. Pandangannya berkunang-kunang seperti mau pecah. Wintara cepat memutar tubuhnya, ia cepat menangkis hantaman Ni Klesung Rangit yang hampir memecahkan batok kepala Ki Sangga Wana.

"Jangan kira aku tidak tahu siapa diri mu, Pendekar Kelana Sakti. Aku tidak gentar dengan nama besarmu! Heaaat!" bentak Ni Klesung Rangit. Tubuh bungkuk kurus itu melompat menerjang. Wintara yang sudah bersiap-siap menyambut dengan pukulan kedua telapak tangan... "Blaaaar!" Keduanya terlempar pada arah yang berlawanan. Ni Klesung Rangit bergulingan, Wintara pun bergulingan tapi ia cepat salto ke depan bersiap menyerang lagi.

Umbara Komang yang selalu ganas ikut menerjang. Ni Klesung Rangit memang belum sempat bangkit. Namun Rowok Tunggel cepat datang menghalangi langkah-langkah mereka. Lengannya berputar-putar menepis hantaman Wintara dan Umbara Komang.

"Tahan, Sobat!" teriak Rowok Tunggel. Wintara dan Umbara Komang menghentikan serangan. Tapi apa yang mereka lihat, Ni Klesung Rangit menghantam Rowok Tunggel dari arah belakang... "Blaaaar!" Rowok Tunggel ambruk ke tanah dengan menyemburkan darah dari mulutnya. Ia cepat berbalik menatap nanar ke arah nenek buta.

Saat itu pun Ni Klesung Rangit melancarkan serangan lagi dengan tidak tanggung-tanggung. Wintara maupun Umbara Komang tidak sempat menarik tubuh Rowok Tunggel yang menerima hantaman keras di dadanya. Ketiganya sampai terpelanting bergulingan.

"Sudah kubilang Rowok Tunggel! Kau pun akan mampus bareng dengan pendekar-pendekar busuk itu." kata Ni Klesung Rangit dengan suara parau menyeramkan.

Bersamaan itu lengan kurusnya menepis keris perak yang dilemparkan Ki Sangga Wana.

"Keparat! Yang kuperlukan memang menghisap habis darahmu, Ki Sangga Wana!"

Lesatan tubuh kurus bungkuk itu sungguh cepat. Kedua lengannya siap menghantam. Untunglah Ki Sangga Wana cepat menjatuhkan diri dan berguling ke samping... "Deeeerrr!" Dua hantaman itu hanya mengenai tanah. Namun akibatnya sangat dahsyat sekali, kedua telapak tangan itu sampai melesak ke tanah.

Rowok Tunggel tak dapat bangkit lagi. Beberapa tulang rusuknya patah. Umbara Komang membawanya agak jauh dari situ. sementara Wintara datang menghadapi Ni Klesung Rangit. Ia berusaha melindungi Ki Sangga Wana yang terancam bahaya. Tendangan serta pukulannya sengaja ia arahkan mengenai lenganlengan kurus Ni Klesung Rangit.

Sudah tentu nenek buta itu merasa di permainkan. Maka setelah ia menghadapi beberapa hantaman keras dari Wintara, ia segera menghimpun tenaga baru. Dengan suara teriakan yang menggelegar kedua telapak tangannya maju mendorong ke depan.

Di luar dugaan, Wintara hanya diam menghadapi hantaman itu dengan dadanya. "Blaaar!" Terdengar pekikan nyaring, tapi bukan pekikan berasal dari mulut Wintara. Ni Klesung Rangit mundur terhuyung. Dirasakan tulang-tulang lengannya menghantam batu karang.

Wintara sendiri hanya berdiri tegak dengan dada yang mengepul. Tubuh itu tetap diam tak bergeming. Dari sela-sela bibirnya mengalir darah kental. Benturan hantaman itu begitu dahsyat, mengundang Umbara Komang maju menyerang. Terjangan Umbara Komang kali ini lebih hebat. Ketika tubuhnya melesat, kedua lengannya berputar menimbulkan suara yang bergemuruh bagai kitiran angin. Ni Klesung Rangit yang baru saja berdiri tegak, tersentak kaget mendapat beberapa hantaman yang bersarang di punggung serta perut. Tak urung lagi tubuh renta itu jatuh kelojotan di tanah sambil menyembur darah.

"Komang...! Jangan bunuh dia! Dia ibuku...!" Rowok Tunggel teriak-teriak. Umbara Komang memang menghentikan serangannya, ia hanya berdiri menatap Ni Klesung Rangit yang berusaha bangkit. Wintara sudah merasa pulih dari rasa sakitnya. Keduanya merasa serba salah. Para penduduk desa pun sudah tidak sabaran ingin melihat bagaimana para pendekar sakti itu menamatkan sosok renta yang ternyata selama ini bikin rusuh desanya. Darah membanjir di mulut Ni Klesung Rangit. Seluruh tubuhnya nampak bergetar ketika ia bangkit berdiri. Kesepuluh jarinya meregang kaku. Wajahnya begitu menyeramkan saat ia menyeringai bagai setan. Mendadak saja kedua kelopak matanya membelalak lebar. Kedua bola matanya merah seperti darah. Bersamaan dengan itupun kulit keriputnya bergelora bagai air mendidih. Berubah menjadi hitam sehitam arang. mengeluarkan suara lebih parau mirip suara binatang.

"Ki Sangga Wana...! Perintahkan semua orang jangan mengeluarkan suara! Dan juga coreng hitam di wajah mereka jangan sampai hilang...!" Rowok Tunggel berteriak lagi. Kali ini ia menyeret tubuhnya sendiri ke arah kerumunan orang-orang kampung. Semua yang dikatakan Rowok Tunggel benar. Ni Klesung Rangit yang sudah membuka matanya tidak dapat melihat mereka. Mungkin pengaruh kerak dapur yang dicoreng ke muka membuat mereka tidak nampak dalam penglihatan Ni Klesung Rangit. Ia hanya dapat melihat beberapa sosok orang yang tadi menyerangnya.

"Jangan ada yang mengeluarkan suara kalau ingin selamat. Ni Klesung Rangit sudah tidak dapat dikendalikan. Sekarang ia betul-betul memerlukan darah dan isi kepala!" Rowok Tunggel memperingati para penduduk dengan suara lantang.

Ni Klesung Rangit yang sudah tidak karuan rupanya itu memang tidak dapat melihat kerumunan orang-orang yang dilanda ketakutan. Tapi ia bisa mendengar suara-suara teriakan ngeri yang riuh di sekitar pelataran desa. Wintara maupun Umbara Komang cepat berlari melindungi orang-orang itu.

"Rowok Tunggel keparat! Anak tak berbudi! Rupanya kau telah memecahkan rahasia 'Ilmu Gelugut Manik' hebat! Aku tidak segan-segan lagi untuk membunuhmu!" Ni Klesung Rangit melangkah perlahan. Setiap langkahnya hampir tidak menyentuh tanah. Matanya yang semerah darah menatap dua pendekar yang siap melindungi penduduk desa maupun orangorang Suku Pedalaman bangsa Bajor.

"Aku hanya perlu satu nyawa setiap malamnya. Tapi untuk malam ini terpaksa sekali aku harus membantai kalian semua. Terutama pendekar-pendekar keparat seperti kalian yang mesti dibikin mampus lebih dulu!" Ucapan itu terarah pada Wintara dan Umbara Komang. 

"Siluman keriput! Kalau penyakit jengek mu belum sembuh jangan banyak mulut!" hardik Umbara Komang. Ki Sangga Wana melangkah dengan geram, tapi Wintara cepat menahannya.

"Hak hak hak hak hak...!" Ni Klesung Rangit mengekeh. Selesai tertawa tubuh hitam itu melesat menyambar ketiga orang yang berdiri paling depan. Siapa lagi kalau bukan Wintara, Umbara Komang dan Ki Sangga Wana. Ketiganya hampir jatuh bergulingan. Namun bagi Wintara dan Umbara Komang sangatlah mudah untuk bangkit kembali, keduanya langsung bergerak menghalangi serangan Ni Klesung Rangit yang mengarah pada Ki Sangga Wana. Terasa sekali hantaman mereka beradu.

Wintara yang sudah kepalang maju melancarkan pukulan berkali-kali. Begitu juga dengan Umbara Komang beberapa tendangannya mendesak pertahanan Ni Klesung Rangit.

Menghadapi kedua orang yang berilmu tinggi sangatlah sulit bagi Ni Klesung Rangit. Hantamanhantaman mereka yang selalu bergantian datang hampir sukar untuk dihindari. Sosok hitam itu terpaksa sekali berjumpalitan di udara. Dengan begitu serangan-serangan Wintara dan Umbara Komang dapat dielakkan. Sesekali pula Ni Klesung Rangit melepaskan hantaman dahsyat ke arah mereka. Saat mereka menangkis maka timbullah suara yang membledar nyaring. Umbara Komang berjingkat-jingkat menahan sakit di lengannya. Tubuh Wintara sampai melintir.

Wintara kertakan gigi saat menyambut serangan Ni Klesung Rangit. Tendangannya mendesak mengenai perut. Juga hantamannya yang cepat dapat ber- sarang di mukanya. Mendapat hantaman-hantaman yang begitu dahsyat, Ni Klesung Rangit mundur beberapa langkah. Umbara Komang menerjang tidak memberi kesempatan. Tapi mendadak pula Ni Klesung Rangit mengangkat sebelah tangannya. Dari tiap-tiap ujung jarinya mengeluarkan sejenis serat yang langsung membelit di tubuh Umbara Komang.

Tingkat akhir 'Ilmu Gelugut Manik' yang hampir sempurna. Umbara Komang berusaha berontak dari belitan serat-serat yang alot bagai kawat. Sementara Ni Klesung Rangit makin terkekeh. Wintara pun tidak luput dari serangan serat-serat itu. Tapi saat serat-serat berdatangan membelit tubuh, Wintara menghentakkan kedua telapak tangan disertai dengan hentakan nafas panjang... "Hraaaaa!" Serat-serat itu seperti berbalik menyerang tuannya. Ni Klesung Rangit sendiri kelabakan menghadapi serat-serat yang alot bagai kawat. Untung saja ia cepat menggeser tubuhnya ke samping.

*

* *

11

Dan Ni Klesung Rangit dapat mengetahui saat Ki Sangga Wana datang menyerang dari arah lain, maka ia pun mengangkat lengannya lagi. Seperti apa yang dialami Umbara Komang, tubuh Ki Sangga Wana terbelit serat-serat. 'Gelugut Manik' yang kian lama kian mengkerut melilit tubuh.

Umbara Komang menghempaskan seluruh tenaganya. Teriakannya menggelegar lantang, maka seluruh serat-serat yang melilit di tubuhnya putus terpotong-potong. Di tubuh Umbara Komang membekas se- perti sayatan-sayatan pisau yang mengeluarkan darah. Malang bagi Ki Sangga Wana. Ia tidak bisa melepaskan diri dari belitan yang semakin mengkerut membelit. Umbara Komang sudah berusaha sekuat tenaga melepaskan belitan-belitan yang alot laksana kawat. Juga beberapa penduduk kampung berdatangan ikut membantu melepaskan belitan itu. Malang tak dapat dibuang! Ki Sangga Wana harus menerima nasibnya. Belian-belitan serat Gelugut Manik mencerai beraikan tubuh Ki Sangga Wana menjadi belasan po-

tong.

Pekik kengerian pun menggelegar. Apalagi dari keluarga Ki Sangga Wana. Semuanya meluruk mendekati potongan-potongan tubuh tanpa jijik. Saat itu Wintara sibuk mengatasi serat-serat 'Gelugut Manik' yang terus berdatangan menyerang. Berkali-kali pula Wintara mengerahkan tenaga dalam mengenyahkan serat-serat yang datang tiada henti. Membuat seratserat itu berserabutan memenuhi pelataran desa.

"Pendekar ingusan! Ilmu apa yang kau miliki itu, hah!" Suara Ni Klesung Rangit seperti kehabisan tenaga. Ia merasakan hawa dingin yang menerpa seluruh kulit hitamnya. Melumerkan semua serat-serat yang muncul dari kelima ujung jari.

Belum Wintara menjawab, mendadak Umbara Komang menerjang. Menghadapi tenaga dalam Wintara saja ia sudah gedubukan, apalagi mendapat serangan Umbara Komang yang datangnya secara tiba-tiba ini. Ni Klesung Rangit memekik dengan tubuh yang terbanting keras ke tanah.

Laki-laki senewen penuh luka bekas lilitan serat itu terus mencecar tubuh Ni Klesung Rangit yang masih bergulingan. Tendangan maupun hantaman membuat sosok hitam mencelat ke sana ke mari. Darah pun hamburan dari mulut Ni Klesung Rangit, se- tiap hantaman Umbara Komang mengena telak. Dan pada hantaman yang dilancarkan Wintara, tubuh Ni Klesung Rangit mencelat tidak kepalang tanggung.

Meskipun dalam keadaan parah, sosok hitam itu masih bisa mengimbangi tubuh. lentingan tubuhnya berjumpalitan gesit di udara. Diam-diam Ni Klesung Rangit pergi menjauh.

"Hak hak hak hak... Malam ini kalian ku beri ampun! Darah kalian tak kubutuhkan karena aku masih punya darah simpanan yang lebih segar dari darah kalian...!" Suara itu makin hilang ditelan keramaian malam. Sekejap saja tubuh Ni Klesung Rangit melesat pergi entah ke mana.

"Kejar dia, Wintara! Cepat kejar! Dwi Langsih ada padanya! Dia pasti membunuhnya untuk dijadikan korban malam ini! Cepat! Selamatkan Langsih anakku!" teriak Rowok Tunggel. Wintara dan Umbara Komang saling pandang. Mereka baru sadar kalau Ni Klesung Rangit membutuhkan satu nyawa dalam satu malam. Ia perlu darah dan isi kepala seseorang. Sekarang Dwi Langsih berada di tangannya. Pastilah Ni Klesung Rangit akan membunuh gadis kecil yang masih suci itu. Tersadar dari mimpi buruk, Wintara dan Umbara Komang segera berlari menyusul sosok hitam Ni Klesung Rangit.

"Cepat, Wintara. Sebelum Ni Klesung Rangit menguasai penuh 'Ilmu Gelugut Manik' kalian harus cepat bertindak!" Rowok Tunggel terus berteriak. Suaranya masih dapat didengar meskipun dua pendekar sakti itu telah menjauh hilang di kegelapan malam. Keduanya sama-sama mempertajam penglihatan. Sebab dalam keadaan gelap begitu sukarlah untuk menentukan ke mana arah kepergian Ni Klesung Rangit.

"Larinya begitu cepat padahal ia sudah terluka. Pastilah ia mengikuti ke mana arah angin berhembus," ujar Wintara.

"Siluman licik! Pantas bau badannya tidak tercium oleh ku!" sahut Umbara Komang. Keduanya membelok berlari searah dengan arus angin. Wintara paling depan. Umbara Komang berusaha mengimbangi dengan kecepatan larinya. Mereka melintasi

hutan yang menuju ke arah bukit. Batangbatang pohon berderet. Dari situ pula nampak titik putih bergerak-gerak semakin jauh.

"Itu dia! Rambutnya kelihatan...!" Rambut Ni Klesung Rangit memang seputih kapas. Mereka dapat melihat meskipun dalam keadaan gelap seperti itu.

"Awasi terus dan jangan sampai kita kehilangan jejak!" Wintara mempercepat larinya. Sosok mereka berdua berkelebat dan sukar diikuti oleh pandangan mata.

*

* *

Dalam keadaan terikat begitu Dwi Langsih tidak dapat memejamkan matanya. Udara malam yang sangat dingin membuat dirinya gemetaran. Tenggorokannya telah kering dan dirasakannya keluh. Pandangannya mulai kabur dengan seluruh rambut yang kusut. Sedangkan tali ikatan yang membelit di tubuhnya tetap kuat. Batang pohon tempat ia bersandar terikat terasa dingin.

Dwi Langsih tidak mengeluarkan suara saat sosok hitam melompat ke hadapannya.

Pandangannya yang kabur mengabaikan sosok kurus hitam dengan rambut bergerak-gerak kaku laksana kapas. Dua titik merah menyala mewarnai kedua rongga mata sosok hitam itu. Dan terasa perih saat sosok hitam mencengkram kedua lengan gadis berusia lima tahun. Dwi Langsih memekik menahan sakit. "Cucuku... Malam ini aku tidak mendapat kor-

ban. Pendekar-pendekar sialan itu menghalangi. Dan memang benar apa kata mu itu. Mereka memang hebat! Maafkan aku Langsih. Sebenarnya aku sayang pada mu...." Suara Ni Klesung Rangit parau menyeramkan. Dwi Langsih semakin gemetar menatap sosok yang amat menakutkan.

"Kau bukan nenek ku... Kau bukan Ni Klesung Rangit. "

"Apapun yang kau katakan, aku memerlukan korban satu nyawa sekarang. Berkorbanlah demi nenekmu ini, Langsih... Demi kesempurnaan 'Ilmu Gelugut Manik' " Mulut Ni Klesung Rangit menganga lebar

dan mengarah tepat pada ubun-ubun gadis kecil yang terikat tanpa daya. Kedua mata yang nyala memerah itu makin membesar saat gigi-gigi runcing menyentuh batok kepala Dwi Langsih   "Aaaaarght!" Langsih men-

jerit sekuatnya. Dan saat itu pun mendadak saja tubuh Ni Klesung Rangit seperti membentur benda yang amat keras...

"Breeesss" Sosok hitam itu bergulingan ke samping. Saat ia bangkit, Ni Klesung dapat melihat dua sosok bertubuh kekar. Sosok Wintara dan Umbara Komang.

"Sudah jelas 'Ilmu Gelugut Manik' adalah ilmu yang sesat, kenapa kau begitu tega mengorbankan cucumu sendiri... Tidak ku sangka hatimu sungguh bejat, Ni !"

"Keparat kau selalu mencampuri urusan orang!" Ni Klesung menghardik.

"Siapa yang akan tinggal diam kalau melihat seorang bocah tewas di tangan seorang nenek peyot macam kau. Ha ha ha ha. " sahut Umbara Komang.

"Manusia gila, kukira sudah mampus oleh jerat 'Gelugut Manik' ku."

"Chis! Segala serat macam benang jahit tidak mampu menewaskan aku. Tulang-tulangku cukup kuat untuk dicerai beraikan."

"Pendekar ingusan! Jangan coba-coba melepaskan bocah itu!" Ni Klesung Rangit melangkah maju saat Wintara mencoba melepaskan ikatan angkin yang melilit di tubuh Dwi Langsih. Umbara Komang melompat menghalangi langkah sosok hitam.

"He he he he, rupa kita sama-sama buruk. Tapi sayang nasibmu lebih buruk dari ku." Umbara Komang mengejek. Bersamaan dengan itu tangannya melayang. Cepat Ni Klesung Rangit menepis. Namun serangan Umbara Komang tidak berhenti sampai di situ.

Wintara tidak sempat membuka ikutan Dwi Langsih, karena Ni Klesung Rangit cepat lari ke arahnya. Serangan-serangan Umbara Komang tidak diperdulikan, membuat lelaki senewen itu bertambah gusar. Dan ia dapat menyerang dengan leluasa saat Ni Klesung Rangit menghadapi Wintara. "Beg!" Sosok hitam itu hampir ngusruk ke tanah. Bahkan ia setengah mati menghindari serangan-serangan Wintara yang bergulung-gulung.

Umbara Komang sendiri tersentak kaget, karena tahu-tahu saja Ni Klesung Rangit membalas serangan. Dua kali berturut-turut cakaran sosok hitam itu mengenai wajah Umbara Komang. Kalau saja Wintara tidak cepat membantu, mungkin sobat gilanya itu sudah terkena tendangan Ni Klesung Rangit.

Menghadapi gerakan-gerakan Ni Klesung Rangit yang begitu cepat, Wintara maupun Umbara Komang hampir kehabisan akal. Mereka tidak menyangka kalau 'Ilmu Gelugut Manik' amatlah dahsyat. Padahal Ni Klesung Rangit menguasai ilmu itu baru separuhnya. Nyatanya sekarang mereka malah berbalik repot menghadapi amukan Ni Klesung Rangit. Kini kedua telapak tangan Ni Klesung Rangit mulai berputar. Untuk itu kedua pendekar ini perlu hati-hati. Karena setiap gerakannya dari kesepuluh ujung jari Ni Klesung Rangit bertebaran serat-serat yang sudah kita ketahui kedahsyatannya.

Bagi kedua pendekar yang cukup awas ini, mereka hanya melompat ke atas menghindari terjangan serat-serat 'Gelugut Manik'. Mereka berjumpalitan ke sana ke mari. Manakala serat-serat itu makin berhamburan menyerang. Suara tawa Ni Klesung Rangit mengekeh menyaksikan mereka setengah mati meloloskan diri dari serat 'Gelugut Manik’.

Kembali Wintara mengeluarkan tenaga hawa dingin. Kedua telapak tangannya mengepak-ngepak ke depan menyambut sambaran-sambaran jerat 'Gelugut Manik'. Serat-serat itu bagai terkena angin topan. Serat, 'Gelugut Manik' berpentalan dibarengi dengan tenaga pukulan yang bergemuruh.

"Pendekar ingusan sialan! Kita akan mati bareng!" jerit Ni Klesung Rangit. Dari hidung dan telinganya mengalir darah. Wintara tidak dapat mendengar apa yang di ucapkan Ni Klesung Rangit. Sebab dia sendiri hampir kehabisan tenaga. Keringat dingin mulai mengucur membasahi seluruh tubuhnya. Makin lama pukulan hawa dingin yang dikerahkannya makin mengendur.

Saat itu pun Umbara Komang datang menyerang. Sekali lompat ia sudah berada di hadapan Ni Klesung Rangit. Mengetahui adanya Umbara Komang datang menyerang, Ni Klesung Rangit langsung berbalik menghadapi Umbara Komang. Namun hantaman Umbara Komang yang sangat keras menghantam dada tidak sempat dihindari. Saat itu pun kesepuluh jari hitam Ni Klesung Rangit cepat mengeluarkan serat yang datang langsung melilit di tubuh Umbara Komang.

Dengan geram Wintara datang menerjang. Hantaman-hantamannya sengaja diarahkan pada lenganlengan Ni Klesung Rangit. Namun sosok hitam itu seakan tidak merasakan hantaman-hantaman Wintara, Sementara Umbara Komang kalang kabut merontaronta dari lilitan serat 'Gelugut Manik'. Makin keras Wintara mengarahkan hantamannya. Ni Klesung Rangit menyemburkan darah untuk kesekian kalinya. Namun ia masih saja mengeluarkan serat-serat itu sebagai senjata andalannya. Lilitan di tubuh Umbara Komang makin tebal. Dirasakan pula oleh Umbara Komang lilitan itu semakin mengkerut bagai mengirisngiris tubuhnya. Wintara sudah berupaya melepaskan segala macam pukulan untuk menghentikan serangan Ni Klesung Rangit. Usahanya itu hanya sia-sia belaka.

Di luar dugaan, Umbara Komang melesat ke atas. Ia tidak perduli tubuhnya terlilit serat 'Gelugut Manik' yang makin kencang. Meskipun ia tidak dapat melancarkan serangan, Umbara Komang berlari mengelilingi Ni Klesung Rangit. Membuat sosok hitam Ni Klesung Rangit ikut terbelit oleh senjatanya sendiri.

Seluruh tubuh Umbara Komang mengeluarkan darah dari setiap belitan serat. Sekalipun ia mengerahkan tenaganya. Belitan serat 'Gelugut Manik' tidak dapat dilepaskannya. Terasa sekali serat yang alot bagai kawat itu menggerogoti daging yang melekat di tubuh Umbara Komang.

Ni Klesung Rangit sendiri menjerit-jerit berontak dari belitan senjatanya. Ia tidak dapat menghentikan serat 'Gelugut Manik' yang terus menerus keluar dari kesepuluh jarinya. Apalagi Wintara melancarkan hantaman dengan bertubi-tubi.

"Dewa toloooong... Aaaaarght!" jeritan Umbara Komang, tubuhnya telah memerah bercampur darah. "Kerahkan seluruh tenaga dalam mu Umbara!" Wintara menghimpun pukulan hawa dinginnya. Umbara Komang kelojotan menahan sakit yang tak terkira.

"Hraaaa...!" Wintara menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan mengarah pada Umbara Komang... "Bledaaar!" Sosok Umbara Komang mencelat jauh. Bersamaan dengan itu seluruh belitan serat hancur bagaikan ribuan batang jarum yang berhamburan. Tubuh Umbara Komang jatuh diam bersimbah darah. Wintara cepat menghampiri tubuh itu. Sosok Umbara Komang tetap diam tak bergeming.

"Wuaaaaa...!" Terdengar jeritan panjang dari mulut Ni Klesung Rangit. Tubuhnya telah penuh dengan serat 'Gelugut Manik'. Wintara menatap ngeri saat serat-serat itu mengkerut melumatkan tubuh Ni Klesung Rangit. Jeritannya berhenti tatkala tubuh hitam menjadi potongan-potongan daging segar.

*

* *

Istri Ki Sangga Wana maupun kedua anak perawannya menangisi sosok yang terpisah-pisah. Malam itu Ki Sangga Wana mengalami kematian yang sangat mengerikan. Potongan-potongan tubuhnya telah terkumpul menjadi satu dalam bungkusan selembar kain. Tak ada seorang pun yang berani melihat tubuh hancur Ki Sangga Wana.

Rowok Tunggel masih bersandar menahan sakit pada tulang rusuknya. Orang-orang Suku Pedalaman Bangsa Bajor banyak mengerubungi. Beberapa orang nampak tengah mengobati luka-luka Rowok Tunggel. Sedangkan penduduk kampung hanya terdiam membisu menatap pada keluarga Ki Sangga Wana.

Api unggun masih menyala menerangi pelata- ran desa. Suasana itu tidak lebih seperti medan perang. Beberapa mayat bergelimpangan di sekitar pelataran. Kebanyakan mayat-mayat itu dari penduduk Suku Pedalaman Bangsa Bajor. Penduduk kampung itu sendiri hanya satu dua orang yang menjadi korban. Bagi Suku Pedalaman Bangsa Bajor, kematian adalah hal yang biasa. Mereka lebih mementingkan orang-orang yang terluka. Namun bagi penduduk kampung, mereka harus meraung-raung menangisi mayat para keluarganya. Rowok Tunggel memaklumi akan hal itu. Ia seperti menyesali peristiwa yang melanda desa. Apalagi yang menjadi topik persoalan adalah ibunya. Ni Klesung Rangit... Entah perasaan apa yang ada di dalam Rowok Tunggel. Namun nyatanya para penduduk kampung desa itu malah ikut merawat luka-lukanya. Dan Rowok Tunggel tak dapat menolak

uluran tangan mereka.

Saat itu di mulut desa telah muncul orang yang sangat dinanti-nantikan. Wintara dengan lunglai memapah tubuh Umbara Komang yang telah berlumuran darah. Di sampingnya seorang gadis kecil ikut melangkah memegangi ujung baju bulu Wintara. Mereka melangkah menuju kerumunan di pelataran. Langkahlangkah Wintara yang cukup menggetarkan itu menjadi perhatian penduduk kampung. Orang-orang itu berserabutan mendekati Wintara. Mereka mengiringi bagai menyambut seorang pahlawan perang. Rowok Tunggel berjingkat bangkit ikut berlari menyusul para penduduk yang datang mengerubungi Wintara.

"Itu ayahmu, Langsih. Sudah dua tahun ia merindukan kamu." Orang-orang kampung memberi jalan pada Rowok Tunggel yang menerobos kerumunan. Dia langsung memeluk Dwi Langsih erat-erat. Gadis kecil itu diam tak mengerti.

"Maafkan aku, Rowok Tunggel... Aku tak dapat menyelamatkan ibumu. Ia termakan oleh ilmunya sendiri." kata Wintara menatap Rowok Tunggel penuh haru.

"Tak ada yang perlu ku maafkan, Pendekar hebat... Ni Klesung Rangit memang harus mengorbankan dirinya sendiri. Hanya itu jalan satu-satunya." jawab Rowok Tunggel. Pelukannya makin erat merengkuh Dwi Langsih.

"Bagaimana keadaan sobat Umbara Komang? Nampaknya ia begitu parah." tanya Rowok Tunggel. Wintara tidak menjawab. Kedua matanya menatap ke bawah pada Umbara Komang yang diam dalam papahan Wintara. Tapi Wintara mendadak kaget. Ia melihat sebelah mata Umbara Komang mendelik...

"Apakah kita sudah sampai di desa?"

Suara Umbara Komang lancar. "Sompret! Kau mengerjai aku!" Wintara melepaskan papahannya. Umbara Komang jatuh berdegum di tanah. "Ha ha ha ha ha...!" Ia malah tertawa ngakak.

TAMAT