-->

Serial Pendekar Kelana Sakti Eps 04 : Pemikat Nyi Sekar Dayang Kunti

 
Eps 04 : Pemikat Nyi Sekar Dayang Kunti 


Bau busuk menyeruak menyengat hidung. Para penduduk desa Rawa Kandar merasa resah dengan aroma yang membuat perut mereka mual. Mereka juga bukannya tidak tahu dari mana asal bau busuk itu... Dari sebuah gubuk reyot! Gubuk kecil yang nampak kotor dan tak terurus. Dari celah-celah dinding bilik yang nampak rombeng, banyak bertebaran lalat-lalat hijau keluar masuk dalam gubuk itu.

Pemiliknya seorang nenek keriput bernama Ni Luh Wedas. Dia memang tidak pernah mengurusi rumahnya. Sehari-harinya ia selalu sibuk dengan putrinya yang sudah sekian lama terbaring dalam sebuah kamar.

Keadaan Narsiah, putrinya memang harus mendapat perawatan khusus. Penyakit yang selama ini diderita sangat aneh dan kian parah. Seluruh pori-porinya nampak mengeluarkan darah. Kulitnya seperti meleleh hampir copot. Mungkin itulah yang mengundang lalatlalat berdatangan.

Dalam gubuk itu, Ni Luh Wedas sudah terbiasa dengan bau busuk yang berasal dari tubuh Narsiah. Ia pun hampir putus asa menghadapi kenyataan yang diderita putrinya. Dan siang itu, Ni Luh Wedas betulbetul terkejut melihat orang-orang kampung berdatangan memenuhi halaman gubuk reyot yang menyebarkan bau busuk. Cepat-cepat Ni Luh Wedas menutup pintu.

"Ni Luh Wedas...! Kami sudah hilang kesabaran...! Bukan kami bertindak jahat ataupun tidak memiliki sifat persaudaraan..." Parto yang berdiri paling depan berbicara lantang. Beberapa orang di sebelahnya nampak muntah-muntah sambil memegangi perut. Yang lainnya menutup lobang hidung.

"Kami semua berharap agar Ni Luh Wedas meninggalkan kampung ini..." kata Parto suaranya lebih kencang lagi.

"Betul...! Penyakit putrimu itu akan membawa bencana bagi orang-orang kampung ini...! Penyakit kusta sangat berbahaya dan menular...!" kata Welang Galih yang rumahnya paling dekat dengan gubuk itu. Ni Luh Wedas tidak menjawab.

Tubuh kurusnya gemetar menahan takut. Narsiah yang ikut mendengar teriakan-teriakan itu memeluk ibunya.

"Kalau kau tidak mau pergi dari sini, kami akan mengusir kalian...! Ini demi kebaikan kampung ini...!" Parto masih berteriak. Beberapa orang yang tadi muntah-muntah mengambil beberapa gelintir batu, lalu mereka melemparinya.... Batu-batu itu melesat menghujani gubuk. Timbul suara yang mirip serentetan ledakan senjata. Ni Luh Wedas semakin takut.

"Mereka tidak menjawab, Parto.... Aku khawatir mereka berdua sudah menjadi mayat! Coba kalian mengendus. Bau busuknya lebih parah, bukan...?" kata Welang Galih.

"Kalau benar mereka semua mampus, bakar saja gubuk penyebar penyakit ini..." usul seseorang.

"Ya...! Lebih baik dimusnahkan! Biar penyakit turunan itu tidak menular pada sanak saudara kita...!" Seseorang menimpali.

"Bakar...!"

"Betul...! Bakar gubuk itu, bakar.,.!" Suara teriakan mereka ramai memenuhi halaman muka. Suasana jadi kacau. Beberapa orang mulai menyulut api, di antaranya Parto dan Welang Galih.... Dari dalam gubuk Ni Luh Wedas melihat nyala api meletup-letup dari beberapa batang obor. Mereka semua yang berada di luar halaman sudah nekad dan siap menurut perintah melemparkan batang-batang obor ke atas atap jerami. Semuanya tergantung dari perintah Parto yang memimpin rombongan itu. Pandangan Parto sendiri sudah tidak sabaran. Ingin rasanya gubuk itu cepatcepat menjadi arang. Ketika ia hendak memberikan perintah,

"Hentikan!" Suara teriakan seseorang terdengar tidak jauh dari situ.

Semuanya menoleh ke arah suara. Parto dan Welang Galih tersentak. Ki Lurah Sentanu tiba-tiba saja berada di situ. Wajahnya nampak memancarkan sinar kemarahan.

"Kalian hendak melakukan apa...? Membakar mereka hidup-hidup...? Sungguh picik pikiran kalian...!" kata Ki Lurah Sentanu sambil melangkah mendekati keramaian itu.

"Apakah kalian pikir dengan membakar mereka satu cara yang terbaik...?" kata Ki Lurah lagi. Mereka tidak ada yang berani jawab. Kecuali Parto....

"Apakah Ki Lurah Sentanu tidak menyadari kalau penyakit turunan itu amat berbahaya dan menular ?

Kalau mereka dibiarkan menetap di kampung ini, maka kampung ini akan terancam !"

"Itu bukan berarti kalian harus membakar mereka hidup-hidup...! Mestinya kalian musyawarah dulu!" jawab Ki Lurah Sentanu.

"Buat apa...! Musyawarah atau tidak, hasilnya akan sama saja! Kami tidak setuju dengan adanya mereka di sini.... Apa Ki Lurah Sentanu masih ingat kematian putraku yang masih kecil pada beberapa minggu yang lalu...?" Welang Galih maju mendekati Ki Lurah.

"Itu karena mereka...! Dukun mengatakan putraku mengidap penyakit keparat itu! Bagaimana penyelesaiannya..? Yang jelas anak beranak itu mesti dibikin mampus." katanya lagi lebih lantang.

"Itu bukan suatu usul yang benar. !" bentak Ki Lu-

rah Sentanu sambil menatap Welang Galih. "Sekarang kalian bubar...! Ayo bubar...! Nanti malam kalian semua berkumpul di balai desa untuk membicarakan masalah ini.... Ayo bubar...!" perintah Ki Lurah Sentanu tidak main-main.... Kontan satu demi satu mundur menjauh. Orang-orang itu melangkah meninggalkan gubuk itu. Hanya Parto dan Welang Galih masih tetap berdiri menatap Ki Lurah Sentanu.

"Nanti malam kalian pun harus hadir...!" kata Ki Lurah tidak kalah menatap mereka. Parto dan Welang Galih gelagapan mendapat tatapan yang demikian angker. Keduanya melangkah mundur. Lalu dengan cepat mereka membalikkan tubuh segera berlalu dari situ dengan menggumamkan sumpah serapah.

Ki Lurah Sentanu mencium bau busuk dari dalam gubuk itu. Tapi ia berusaha menahannya. Ia berjalan melangkah mendekati pintu. Ni Luh Wedas yang sedari tadi mengintip dari balik pintu merasa lega, karena orang-orang kampung sudah tidak mengepung rumahnya lagi.

Ia pun memberanikan diri membuka pintu. Daun pintu terbuka dengan disertai deritan yang berat....

Bau busuk menyeruak ke luar. Ki Lurah Sentanu hampir tidak menguasainya. Isi perutnya serasa anjlok ke luar.

"Sebaiknya menjelang gelap nanti kalian meninggalkan kampung ini... Aku khawatir mereka akan bertindak kasar. Aku memang sebagai Lurah....Tapi aku tidak dapat berbuat banyak! Mereka sudah tidak dapat dikendalikan lagi...." kata Ki Lurah Sentanu setengah berbisik. Ni Luh Wedas nampak cemas....

"Ka-ka-kami harus pergi ke mana, Ki.... Lagi pula keadaan putriku "

"Aku tahu, Ni.... Tapi ini demi keselamatan kalian...

Pergilah dari tempat ini, sebelum mereka bertindak seperti yang tidak kita inginkan..." usul Ki Lurah Sentanu halus. Sebenarnya Ki Lurah Sentanu sendiri tidak tega melihat keadaan keluarga kecil Ni Luh Wadas yang amat terpojok itu.

Bagaimana tidak, penduduk kampung tidak menyukai adanya seorang penderita kusta. Ni Luh Wedas sendiri merasakannya. Betapa mereka mengucilkan dirinya. Pahit memang..! Semua orang tidak menerima kehadirannya. Pernah suatu waktu, ketika ia membawa putrinya Narsiah ke sungai untuk memandikannya. Para wanita yang kebetulan mencuci pakaian di sungai melempari dengan batu-batu kali. Mereka sangat jijik melihat keadaan Narsiah. Mereka takut kalau Narsiah mandi di kali itu akan menularkan penyakit keturunannya. Luka dikepala mereka tidak seberapa hebat dengan rasa sakit yang ada di hati... Sampai sekarang luka itu masih membekas!

Ni Luh Wedas tidak lebih bagai seekor makhluk yang amat mengerikan. Tidak ada satu orang pun yang berani mendekat ketika ia melewati perkampungan. Mereka semua beringsut kabur masuk ke dalam rumah. Jangankan mendekat atau berpapasan secara kebetulan, baru melihat sosok tua renta itu saja mereka sudah menyingkir jauh-jauh.

Pernah sewaktu ia berjalan ke pasar. Meskipun ia membawa uang yang sedikit ia tetap bermaksud membeli sesuatu yang dapat mengisi perut bersama putrinya. Seorang pedagang tidak mau melayani Bah-

kan pedagang itu lari pontang-panting meninggalkan dagangannya. Sekalinya ada, seorang pedagang tidak mau menerima uangnya. Pedagang itu hanya melemparkan beberapa batang singkong ke tanah sembari meludahi. Dan semua orang tertawa mengejek melihat sosok tua itu memunguti singkong-singkong yang berserakan di tanah.

Ni Luh Wedas tersadar dari lamunannya ketika sosok Ki Lurah Sentanu sudah berada jauh dari gubuknya. Ia menatap tubuh lelaki yang berjalan semakin menjauh. Dan ia kembali masuk ketika Narsiah memanggil-manggil...

*

* * 2

Hari hampir gelap, dalam sebuah ruangan di balai desa nampak dipenuhi oleh para penduduk desa Rawa Kandar. Semuanya duduk bersila menghadap kepada Ki Lurah Sentanu yang duduk di depan ditemani dengan Mayan Danang, putra tertuanya.

"Kita belum bisa mulai kalau seluruh penduduk ini belum kumpul...!" kata Ki Lurah Sentanu memecahkan kegaduhan dalam ruangan itu. Pertemuan malam itu memang tidak seperti biasanya.... Malam itu Ki Lurah Sentanu sengaja mengundang semua kepala keluarga desa Rawa Kandar.

"Mana Parto dan Welang Galih...? Kenapa mereka belum muncul...!'" katanya lagi.

Semuanya saling mencari-cari dua sosok yang amat dinantikan Ki Lurah Sentanu. Namun Parto dan Welang Galih tetap tidak ada.

"Apa pentingnya mereka, Ayah.... Tanpa mereka pun kita bisa mulai..." kata Mayan Danang putra tertuanya yang duduk di samping sang ayah.

"Karena masalah ini merupakan gagasan mereka..." jawab sang ayah. Tiba-tiba terdengar suara kentongan tanda berita bertalu-talu dipukul oleh orang. Semua orang yang ada di situ menjadi ribut seketika. Ada di antaranya banyak yang keluar sehingga menimbulkan kekacauan. Suara kentongan yang bertalu-talu itu amat mencemaskan bagi orang-orang yang menghadiri pertemuan. Bagaimanapun mereka dapat mengartikan isyarat kentongan... Tanda adanya kebakaran! Dari muka balai desa sudah terlihat asap api yang membubung tinggi menyala dalam kegelapan malam.

Suasana dalam ruangan balai desa morat-marit. Orang-orang itu berdesakkan ke luar. Menyaksikan nyala api yang begitu hebat. Mereka pun berlarian mendekati arah kebakaran. Ki Lurah Sentanu bersama putranya Mayan Danang terpaksa ikut berlari mengikuti mereka.

Api masih berkobar membakar sebuah gubuk kecil. Sekeliling gubuk yang kian panas telah dikerumuni orang-orang kampung. Semuanya terjadi, seperti tidak wajar Tidak ada satu orang pun dari puluhan warga

desa Rawa Kandar yang berusaha memadamkan kobaran api tersebut. Semuanya hanya menonton dengan perasaan puas.

Sementara itu jeritan panjang terdengar jelas dari dalam gubuk yang terbakar. Seorang perempuan tua berusaha keluar dari kurungan api. Orang-orang kampung melihat jelas perempuan tua itu menggapai-gapai meminta pertolongan.

"Jangan bawa anakku...! Kalian jahat...! Jangan bawa Narsiah...!" Suara itu jelas terdengar dari dalam kobaran api. Tapi seakan-akan para penduduk Rawa Kandar tidak mendengarnya sama sekali. Malah....

"Aaaaaaaaaarght!" Nampak jelas tubuh renta bergerak-gerak termakan api yang demikian membara. Tubuh itu kelojotan di tanah dalam kurungan pagar api. Sampai akhirnya sebuah tiang jatuh menimpa tubuh berkelojotan itu.

Ki Lurah Sentanu bersama anaknya baru tiba di tempat kejadian. Ia menatap cemas ke arah gubuk yang mulai habis termakan api.

"Bagaimana keadaan Ni Luh Wedas bersama putrinya...?" tanya Ki Lurah Sentanu ketika mereka melangkah ke depan melihat kobaran api.

"Entahlah.... Dari tadi tidak mendengar suaranya " jawab orang yang ditanya acuh.

Lalu ia berusaha untuk tidak menatap Ki Lurah Sentanu yang berdiri di sebelahnya. Ki Lurah Sentanu menarik lengan orang itu.

"Kau lihat Parto dan Welang Galih ?" tanya Ki Lu-

rah lagi. Orang itu hanya mengangkat bahu.

"Mengapa ayah selalu menanyakan mereka. ?"

tanya putranya Mayan Danang.

"Aku yakin ini hasil perbuatan mereka! Pasti !"

jawab Ki Lurah Sentanu.

"Belum tentu ayah...! Siapa tahu keluarga Ni Luh Wedas memang bermaksud bunuh diri...!" pendapat Mayan Danang. *

* *

Narsiah sudah tidak dapat berteriak lagi. Tubuhnya telah terjerat dengan dua utas tambang. Dua orang bertubuh kekar berusaha menyeretnya cepat. Dua orang itu tidak lain Parto dan Welang Galih, mereka membawanya masuk ke dalam hutan belukar yang gelap dan menyeramkan.

Suara binatang malam maupun burung hantu mengiringi langkah-langkah mereka yang menyeret tubuh Narsiah dengan terburu-buru. Langkahlangkahnya menyeruak menyibak alang-alang liar. Tubuh Narsiah yang diseretnya tidak nampak karena terhalang dengan alang-alang yang tumbuh tinggi. Kedua orang yang menyeret tidak perduli bilamana kepala Narsiah membentur batu. Sekalipun mereka mendengar suara benturan itu sampai membledar.

"Biar mampus sekalian!" sumpah Parto.

Pohon-pohon besar berakar rambat menyaksikan perjalanan mereka.

"Cepat, Welang Galih... Langkahmu kian lama kian lambat saja...! Kenapa? Takut?" kata Parto menarik lebih cepat.

"Bukannya aku takut.... Aku bingung, sebentar kita mau ke mana...?" jawab Welang Galih.

"Ah kau ini...! Makanya sewaktu Den Mayan Danang bicara kau, dengarkan...!" kata Parto. Ia mengibaskan lengannya memberi aba-aba, maka Welang Galih pun menarik cepat tali tambang itu. Kembali suara benturan membledar! Entah apa yang mengenai di tubuh Narsiah.

Udara dingin menyengat kulit, manakala suasana yang begitu menyeramkan menampakkan dua sosok tubuh kekar berjalan menyusuri tepian jeram. Dua sosok itu berhenti menatap gelapnya dasar jurang. Seperti telah direncanakan, mereka menarik tambang lebih kuat! Maka sosok tubuh berlumuran darah menyembul dari hamparan alang-alang. Sosok tubuh Narsiah yang sudah tak sadarkan diri. Kedua orang yang menyeret itu mengikatkan batu pada tiap-tiap ujung tambang. Batu-batu yang dipilihnya cukup besar. Mereka sendiri susah payah mengambil batu-batu itu. Untuk mengikat pada kedua batu itu mereka tidak perlu waktu lama...

"Sudah beres Parto...!" kata Welang Galih selesai mengikat. Parto pun demikian. Tanpa menjawab ia mendorong batu itu. Welang Galih mengikutinya... Sebentar saja batu-batu menggelinding. Begitu juga dengan tubuh Narsiah yang terikat di antara batu-batu ikut terbawa terjerumus ke bawah sana yang demikian gelapnya...

Parto dan Welang Galih merasa tugasnya telah selesai. Merekapun tersenyum puas. Mereka belum beranjak dari tempat yang menyeramkan itu. Masih ada yang mereka tunggu. Yaitu mendengar suara degum batu-batu dari dasar jurang. Karena hal itu meyakinkan mereka, bahwa batu-batu yang mereka lemparkan akan hancur bersama tubuh Narsiah si penyebar malapetaka!

Batu-batu yang membawa tubuh Narsiah memang meluncur deras. Sebelum batu-batu itu jatuh ke dasar jurang, terlebih dahulu membentur tebing-tebing bebatuan yang menjorok ke bawah. Berkali-kali batu-batu itu menggelinding akibat benturan dinding tebing. Parto sendiri yang menantikan dari atas tebing sudah tidak sabaran menantikan deguman batu-batu yang diikatnya.

Wajah Parto maupun Welang Galih tersentak kaget tatkala suara deguman batu amat nyaring menggema. Ingin sebenarnya mereka melongok ke dasar jurang. Sayang ia merasa agak takut dan ngeri karena tebing berbatu itu amat terjal dan dalam. Sambil bergidik membayangkan apa yang terjadi di bawah sana, kedua orang itu berlari menerobos hutan.

Dua bongkah batu besar yang jatuh ke dasar jurang masih menggelinding terpisah berlainan arah. Batu-batu besar itu tidak hancur. Tetapi utuh seperti semula. Hanya tambang pengikat tubuh Narsiah saja yang nampak tersayat-sayat seperti terpotong-potong kecil... Yang lebih aneh, tubuh gadis yang berpenyakit kusta itu tidak ada di sekitar batu-batu dan potonganpotongan tambang... Memang tidak mungkin! Parto dan Welang Galih sudah yakin ikatannya itu begitu kencang. Mereka telah berpendapat tubuh Narsiah akan sama hancurnya bersama batu-batu itu.

Parto dan Welang Galih mana tahu raibnya tubuh Narsiah di dasar jurang. Yang mereka tahu hanyalah degumam benturan batu-batu yang amat dahsyat! Kini mereka berdua berlari menerobos gelapnya hutan kayu. Sesekali mereka harus melompati akar-akar pohon yang malang melintang. Kedua kaki mereka pun terasa sekali perih di saat bergesekkan dengan rumput-rumput berduri. Tidak heran kalau mulai menampakkan baret-baret ringan di kedua betis mereka. Larinya makin kencang ketika mereka hampir berada di pinggir hutan. Mereka pun masih dapat melihat sisasisa asap hitam mengepul membumbung ke atas.

Api yang semula berkobar-kobar, kini perlahanlahan padam akibat siraman-siraman para penduduk yang karena terpaksa atas perintah Ki Lurah Sentanu. Tinggal asap hitam saja yang masih mengepul.

Parto dan Welang Galih sudah berada di situ. Mereka langsung menyelinap dalam kerumunan puluhan orang. Seorang anak muda mengenakan pakaian bulu binatang merasa kaget karena terdorong oleh Parto. Welang Galih sempat menatap anak muda itu, ia pun sama acuhnya dengan Parto. Malah langsung mendesak menerobos kerumunan menyusul.

Mayan Danang yang sudah dapat melihat kehadiran Parto dan Welang Galih langsung melangkah mundur, kemudian berbalik menemuinya. Anak muda yang mengenakan baju bulu binatang itu menatap aneh kearah mereka. Ia pun bersikap masa bodoh seakan tak mau ambil pusing, mungkin mereka tengah mengurusi kebakaran itu sampai sedemikian seriusnya. Pikir anak muda itu.

"Singkirkan puing-puing ini... Ayo bantu aku..." kata Ki Lurah Sentanu melangkah mendekati gubuk yang telah menjadi arang. Ia berharap tidak ada korban barang seorang pun.

Ada suatu keanehan dalam pikiran anak muda ini. Mengapa sekarang baru mengadakan pertolongan..? Kenapa tidak di saat-saat api masih berkobar...?

"Ayo...! Bantu aku! Kenapa kalian diam saja!" bentak Ki Lurah Sentanu.

"Tapi, Ki Lurah.... Puing-puing itu masih sangat panas." jawab salah seorang berada di dekatnya.

"Bodoh! Gunakan sebatang bambu...!" Ki Lurah Sentanu sengit sambil melemparkan sebatang bambu yang semula digenggamnya. Dengan gelagapan orang itu menerimanya. Ki Lurah Sentanu mengais-ngais lengannya menyingkirkan puing-puing serta abu-abu bekas atap jerami. Ia tidak melihat apa-apa. Orangorang berdatangan mengerumuni. Cuma menonton...! Ah buat apa aku harus berdiri di sini mengikuti menonton yang semesti memerlukan pertolongan, biar saja! Sekarang aku tidak perlu ikut campur... Besok pun pasti ada beritanya, kata anak muda itu dalam hati sambil berlalu meninggalkan kerumunan orangorang kampung. Baju bulunya bergerak-gerak tertiup angin. Ujung celananya yang compang-camping ikut bergerak-gerak saat ia melangkah.

Ki Lurah Sentanu membelalakkan matanya, ketika ia melihat sosok hangus tertimbun sebatang tiang yang habis termakan api. Cepat ia melangkah ke situ. Dipandanginya sosok kaku itu. Ki Lurah Sentanu mengernyitkan alis... Ia betul-betul tidak dapat mengenalinya lagi... Tubuh Ni Luh Wedas dan Narsiah putrinya hampir sama... Ia tidak dapat membedakan mayat siapa yang tertimbun hangus menghitam bagai arang, dengan wajah yang hampir rata tanpa wujud. Bau busuk sudah lenyap sama sekali, kini berganti bau wanginya daging panggang. Ki Lurah Sentanu menoleh ke belakang ketika mendengar suara beberapa orang mendekati. Ternyata anaknya, Mayan Danang bersama Parto dan Welang Galih.

"Kalian yang melakukan semua ini...?" tanya Ki Lurah Sentanu dengan nada marah.

"Bukan ayah! Mereka mana berani melakukannya... Menurut mereka, sebelum terjadi kebakaran, Parto dan Welang Galih tengah menuju ke balai desa," jawab Mayan Danang membela. Ki Lurah membelalakkan mata....

"Kenapa kalian tidak ada di sini ketika orang-orang bergerombolan menuju ke sini "

"Siapa bilang..! Malah aku dan Welang Galih lebih dulu berada di sini... Kami sembunyi saat melihat Ki Lurah bersama Mayan Danang datang... Kami takut kesalahan." jawab Parto merengut. Welang Galih melangkah, lalu ia mengangkat tiang kayu yang menimbun tubuh hangus itu. Melihat tiang itu sudah terangkat, Parto datang membantu menarik tubuh yang hampir menjadi arang. Sebenarnya ia merasa jijik, tapi lantaran di hadapan Ki Lurah Sentanu, Parto merasa seolah-olah dirinya pahlawan.

*

*   *

Anak muda itu berhenti melangkah di sebuah losmen yang cukup ramai. Di atas pintu gerbang losmen terpampang papan nama yang bertuliskan: Mawar Malam! Para pendatang banyak yang keluar masuk pintu itu. Belasan wanita penghibur menyambut ramah jika ada tamu-tamu yang memasuki pintu gerbang. Bahkan sambutan mereka begitu menyolok. Membawa kesan jorok dan menegangkan saraf.

Anak muda itu masih berdiri memandangi papan nama yang terpampang di atas pintu gerbang yang mirip sebuah gapura. Tembok dindingnya tidak ada. Jadi ia bisa melihat keramaian di situ dari luar. Dan ia pun tersentak kaget ketika seorang wanita menarik tubuhnya terpojok ke tiang pintu gerbang.

"Mau cari hiburan..? Ayo masuk... Aku biasa melayani anak-anak muda sepertimu! Ayo jangan malumalu.... Sudah datang kenapa tidak masuk...?" kata wanita itu penuh manja. Anak muda itu berontak dari pelukannya.

"Ah.... Maaf. Aku ke sini hanya untuk menumpang bermalam..."

"Di dalam akan lebih hangat.... Aku bisa menemanimu..." Wanita itu terus merangsak, anak muda itu mendorong kasar.

"Aku tidak membutuhkan kamu...! Lagi pula aku tidak punya uang...!" jawabnya. Wanita itu pergi sambil menggerutu.

"Sial mimpi apa aku semalam, sampai mendapatkan seorang gembel... huh! Dari tadi aku memang sudah mencium baunya... Sungguh tolol...!" Wanita itu kembali ke tempat semula pasang aksi di depan pintu gerbang. Teman-teman seprofesinya mentertawai.

Mendengar itu anak muda ini menahan tawanya. Ia melangkah agak jauh dari situ. Kemudian ia duduk jongkok bersandar pada pagar pendek. Matanya masih terus menyaksikan keramaian orang-orang yang berdatangan. Celoteh dan cekikikikan para penghibur membisingkan tempat itu. Anak muda ini hanya menggeleng-gelengkan kepala.

*

* *

3

Ingin rasanya anak muda itu tertawa ngakak ketika melihat seorang pelacur memekik di saat seorang tamunya mencubit alat vitalnya. Perempuan itu membalas membuka kain yang membungkus tubuhnya lalu menungging menunjukkan pantatnya. Maka berderailah tawa orang-orang yang berada di situ. Tawa mereka segera berhenti ketika melihat tiga orang mendatangi tempat itu. Malah mereka menyerbu mendatangi tiga orang yang baru datang itu. Tiga orang itu hanya tersenyum bangga mendapat perlakuan dari para wanita penghibur.

Anak muda itu pun mengernyitkan alisnya, sepertinya ia mengenali ketiga orang itu. Ingatannya masih sangat kuat. Meskipun ia hanya sepintas melihat mereka sewaktu melihat kejadian gubuk kecil yang terbakar. Mereka tidak lain Mayan Danang bersama Parto dan Welang Galih... Yaaah! Tidak salah lagi!

Dalam pada itu pun Welang Galih melihat seorang pemuda berpakaian bulu binatang duduk berjongkok memandangi kedatangan mereka. Welang Galih acuh tak perduli, ia menganggap pertemuan yang kedua ini hanyalah suatu kebetulan. Kembali ia asyik dengan wanita-wanita penghibur itu. Mayan Danang telah menemukan wanita pilihannya. Wanita penghibur itu memang lebih cantik dari yang lainnya. Tidak heran kalau Mayan Danang bermata hijau kuning. Wanita itu hanya diam ketika Mayan Danang mendekatinya. Senyum wanita itu membuat langkah Mayan Danang semakin cepat.

Ia langsung memeluk erat bermaksud membawanya ke dalam losmen, tapi... Sosok lengan kekar mencengkeram kerah baju Mayan Danang. Cepat Mayan Danang menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok tubuh besar dengan wajah yang sangat menyeramkan menyeringai.

"Perempuan itu Gundikku, Sobat..! Kau boleh mencari perempuan lain..!" kata orang bertubuh kekar. Mayan Danang membalikkan tubuhnya...

"Perempuan-perempuan di sini milik bersama... Lagipula kau tidak tahu siapa diriku..! Kau kenal dengan Ki Sentanu...?" kata Mayan Danang menantang.

"Ki Sentanu yang lurah itu... Jadi kau anaknya..? Apa yang perlu ditakutkan. Ini tempat kotor! Kita sama-sama nista.... Jadi kita sama...!" jawab orang itu.

"Bangsaaat...!" Mayan Danang geram. Ia melayangkan tinjunya...

Plak! Orang bertubuh kekar itu menangkis tenang. Akibat benturan itu Mayan Danang meringis. Parto dan Welang Galih meluruk mendekati Mayan Danang. Keduanya memandang geram terhadap orang yang menyeramkan itu.

"Hancurkan monyet itu...! Cepaaaat...!" teriak Mayan Danang. Parto dan Welang Galih langsung menerjang. Melihat terjangan mereka, orang itu bermaksud mencabut senjata dari pinggangnya. Tapi ia tidak keburu. Parto sudah lebih dulu menendang...

Blaak!

Dengan memutar lengannya orang itu dapat menangkis tendangan Parto... Disusul oleh serbuan Welang Galih. Tinjunya yang cepat hampir mengenai muka yang menyeramkan itu.

Sekali Mayan Danang ikut melancarkan serangan. Mengambil kesempatan luang. Tapi justru setiap hantaman Mayan Danang selalu mengenai tepat. Sedangkan Parto dan Welang Galih merasa sulit melancarkan hantaman.

Suasana jadi hiruk pikuk. Para wanita penghibur menjerit-jerit ketakutan. Semua orang yang berada dalam losmen mengira ada apa, mereka berhamburan ke luar. Pertempuran masih berlangsung. Pemuda itu masih duduk tenang, meskipun sebenarnya ikut menyaksikan perkelahian itu. "Sungguh berani mereka mengeroyok Kebo Dungkil... Mereka cari penyakit!" kata salah seorang yang berada di situ. Mereka tidak ada yang berani mendekat. Para wanita penghibur bersembunyi di balik tubuh para lelaki.

Parto memekik di saat hantaman keras melanda punggungnya. Hantaman yang sangat keras itu membuat tubuhnya terbanting keras... Saat itu pula Mayan Danang melesat melancarkan tendangan...

Bwak!

Orang itu memekik. Pipinya yang terkena tendangan itu terasa panas. Ia melotot garang... Baru ia hendak menerjang menyerang, Welang Galih menghalanginya dengan sabetan lengan kirinya…. Orang itu cepat mundur, tapi kakinya cepat bergerak memutar menghantam pinggang....

Deeees!

Welang Galih memekik hebat. Sewaktu orang itu melancarkan tendangan, Mayan Danang sempat melancarkan tinjunya. Cukup keras menghantam punggung.

Sekarang Parto maupun Welang Galih sudah tidak dapat bangun. Mayan Danang tidak akan mendapat kesempatan melancarkan serangan. Kini ia berdiri gugup. Meskipun gerakannya seperti mengeluarkan jurus-jurus andalannya.

Tapi ketika orang yang sangat menyeramkan itu menerjang Mayan Danang tidak sempat mengelaknya...

Deeeer!

Tendangan yang begitu keras menghantam dada. Tubuh Mayan Danang terlempar jauh bergulingan di hadapan seorang pemuda yang duduk tenang bersandar pada pagar. Sosok kekar itu melompat ke arah Mayan Danang sambil menarik sebuah golok besar dari pinggangnya.

Sinar lampu memantul dari bilah golok yang berkelebat cepat mengarah ke kepala Mayan Danang. Sebelum golok itu memecah belah kepala itu... Pemuda yang duduk tenang bersandar mengangkat tangannya ke atas....

Plaaaak!

Golok dalam genggaman itu terpental. Orang kekar yang bernama Kebo Dungkil menjerit. Telapak tangannya terasa seperti kesemutan Pemuda yang tadi me-

nepak golok bangkit berdiri memandangi keduanya.

Semua orang jadi ngeri, semula mereka tidak menduga bahwa kepala Mayan Danang pasti terbelah dua. Mereka semua tidak melihat saat golok itu bergerak. Saat itu mereka semua memejamkan mata lantaran ngeri... Ketika mereka membuka mata, seorang anak muda telah berdiri menghadapi di antara Mayan Danang dan Kebo Dungkil.

"Gembel keparat ! Berani kau mencampuri urusan

Kebo Dungkil.... Rasakan ini...!" Lengannya yang memakai gelang bahar bersiap menghantam dengan tubuh yang cepat menerjang.

Kebo Dungkil seakan tak percaya dengan penglihatannya. Sewaktu ia melancarkan hantaman, ternyata pemuda itu telah melayang ke atas. Hantamannya itu hanya mengenai tempat yang kosong. Pemuda yang berjumpalitan di udara mendorong punggung dengan kakinya....

Bugg!

Tendangan itu tidak begitu keras, tapi cukup membuat Kebo Dungkil tersungkur ke depan.

Parto dan Welang Galih cepat bangun berlari ke arah Mayan Danang. Mereka membantu anak Ki Lurah Sentanu bangkit berdiri. Mayan Danang masih keheranan melihat kehebatan seorang pemuda yang telah menyelamatkannya. Mereka dapat melihat anak muda itu dapat mengecoh Kebo Dungkil berkali-kali.

"Siapa dia, Parto ?" tanya Mayan Danang.

"Kalau tidak salah aku pernah melihat dia sewaktu terjadi kebakaran..." Welang Galih memotong pertanyaan Mayan Danang.

"Siapa dia ?"

"Entahlah.... Sepertinya dia orang asing di sini. !"

Kebo Dungkil memekik keras saat dirasakan tulang leher berdetak keras. Sebuah hantaman karate telak menghantam. Setelah melancarkan hantaman itu, anak muda ini hanya berdiri tenang melihat tubuh Kebo Dungkil bergulingan, sesaat kemudian ia pingsan. Melihat ambruknya tubuh Kebo Dungkil, semua orang yang berada di situ membelalakkan mata. Belum pernah mereka melihat seseorang yang dapat merubuhkan Kebo Dungkil. Apalagi orang hebat itu tidak lain seorang anak muda.

Terlebih-lebih pada seorang wanita penghibur yang tadi pertama kali menemui pemuda itu di pintu gerbang losmen. Sambil tersenyum malu ia berlari menghampiri pemuda itu. Sebelum wanita itu mendekat, Parto menyingkirkannya lebih dahulu. Mayan Danang dan Welang Galih mendekati anak muda itu.

"Terima kasih anak muda... Kau telah menyelamatkan diriku.... Mari...! Untuk mengucapkan rasa terima kasihku, kau kuundang makan.... Ayo masuk...!" ajak Mayan Danang.

"Tapi..." Anak muda itu ragu-ragu.

"Ayolah.... Aku paling tidak suka tawaranku ditolak!" Mayan Danang menarik lengan anak muda itu. Ia pun mengikuti....

Mereka sudah menghadapi meja besar berisi ruparupa makanan. Mayan Danang sengaja menuangkan arak ke dalam gelas yang dihadapi anak muda itu. Parto dan Welang Galih senyum-senyum menatap anak muda itu.

"Ah     Anggap saja ini sekedar unjuk rasa dan tan-

da perkenalan.... oh ya siapa nama anda..." kata Mayan Danang setelah menuangkan arak.

"Panggil saja aku Wintara... Hanya itu namaku..!" jawab Wintara.

"Saudara Wintara.... Sebenarnya aku merasa malu dengan kejadian tadi..."

"Itu biasa... Di tempat-tempat seperti ini, apalagi kalau bukan soal berebut perempuan...? Itukan wajar...!" kata Wintara sambil meraih gelas berisi arak. Ia hanya menenggaknya sedikit.

Para wanita penghibur mulai berdatangan. Dengan lenggak-lenggok yang genit mereka mendekati setiap lelaki yang menghadapi meja besar. Tidak terkecuali pada Wintara. Mayan Danang sengaja memilihkan untuknya wanita yang paling cantik di losmen Mawar Malam.

Wintara merasa kikuk menghadapi wanita yang demikian agresif. Berkali-kali ia melepaskan diri di saat wanita itu berusaha memeluknya.

"Anda demikian hebat, tuan pendekar...! Orangorang losmen Mawar Malam memang tidak menyukai dia.... Tapi kami semua khawatir, kami takut kalau pimpinan mereka akan datang ke sini untuk membuat perhitungan..." kata perempuan itu berusaha memeluk. Wintara berontak mengelak.

"Kebo Dungkil mempunyai seorang pemimpin...?" Mayan Danang ketakutan. Begitu juga Parto dan Welang Galih. Mereka tidak berani mengeluarkan suara. "Kebo Dungkil sebenarnya seorang yang hebat... Anak buahnya saja sudah sedemikian tangguh, apalagi pemimpinnya…" kata Wintara duduk tenang.

"Singo Kobar seorang yang memiliki ilmu tinggi, itulah sebabnya ia menguasai daerah ini... Tapi ia bukan orang jahat! Ia paling tidak suka anak buahnya diganggu orang!" Perempuan di sebelah Parto menjelaskan.

"Kalau begitu, aku terancam bahaya.... Aku harus meminta maaf kepada Kebo Dungkil." Mayan Danang gemetar menahan takut. Wintara tersenyum.

"Sebenarnya dalam hal ini akulah yang bertanggung jawab...! Karena akulah yang membuatnya jatuh pingsan!" kata Wintara bangkit dari kursinya.

"Kalau Singo Kobar mau membuat perhitungan, katakan saja aku menunggunya di Bukit Kendal pada malam purnama nanti..." katanya lagi.

Losmen Mawar Malam kembali ramai seperti semula. Orang-orang yang berada di situ sudah tidak perduli lagi dengan peristiwa yang terjadi di depan pintu gerbang. Tiap-tiap meja telah penuh dengan para tamu dan juga para wanita penghibur. Beberapa orang dari mereka sudah. ada yang nampak mulai mabuk Tapi

suasana seperti itu memang sudah biasa di losmen Mawar Malam. Justru hal yang semacam itu menyemarakkan suasana.

Gelak tawa yang hiruk pikuk bercampur dengan musik gending Jawa yang mengalun memenuhi ruangan itu. Wintara telah menghabiskan arak yang berisi dalam gelasnya. Tiba-tiba.... Mayan Danang beringsut bangun ke belakang Wintara. Sosok Kebo Dungkil berjalan sempoyongan mendekati meja mereka.

"Ingat anak muda...! Kami akan membuat perhitungan denganmu...!" katanya nanar.

"Tentunya kalian tidak ingin merusak tempat ini bukan...? Katakan pada pemimpinmu Singo Kobar... Akan kutunggu di Bukit Kendal pada malam purnama pertama..." jawab Wintara. Setelah membuang ludah, Kebo Dungkil beranjak dari situ. Langkah-nya masih sempoyongan.

*

* *

4

Ruangan itu sangat terang menampakkan bentuk bangunan yang sangat indah. Seluruh dinding dan pilar-pilarnya memancarkan sinar kuning keemasan. Tidak ada sebuah kerajaan manapun yang menyamai keindahan ruangan itu.

Hawa di sekitar ruangan itu sangat harum. Sepertinya wangi bunga-bunga hidup yang menghambur di sekitar lantai. Dari balik tembok yang berwarna keemasan terdengar derai tawa beberapa perempuan. Tak lama perempuan-perempuan itu menampakkan diri. Semuanya berjumlah dua belas orang. Pakaian mereka amat menyolok. Tubuh mereka yang ramping-ramping hanya mengenakan selembar kain sutra yang amat tipis. Membuat lekuk tubuh para wanita itu jelas kelihatan.

Semuanya berlarian menuju ke sebuah ruangan yang lebih terang. Dalam ruangan itu telah menunggu seorang wanita cantik terbaring miring di atas sebuah pelaminan. Pelaminan yang terbentuk bagai sebuah bangku panjang berwarna keemasan pula; Hampir seluruh pelaminan itu dihiasi dengan ratusan permata yang berwarna warni menghiasi. Dan para perempuan itu langsung berderet di belakang seorang wanita cantik terbaring miring.

Wanita cantik itu memakai mahkota berhias permata pula. Kalung, gelang kaki serta gelang tangan, semuanya terbuat dari emas. Tubuhnya tidak melekat selembar benangpun. Buah dada serta auratnya tertutup oleh rambut hitamnya yang panjangnya sekitar satu setengah tombak. Senyumnya tersungging di saat kedua belas orang perempuan di belakangnya serempak mengipasi dengan kipas-kipas melebar bagai bulu merak.

Sesaat kemudian wanita cantik itu menepukkan telapak tangannya sebanyak tiga kali... Plok...! Plok...! Plok! Maka berdatangan lagi empat wanita. Keadaan empat wanita itu sama, mereka mengenakan kain sutra sebagai penutup tubuhnya yang bugil.

"Ada apa tuan ku, Putri...!" Keempatnya langsung menghaturkan sembah.

"Bagaimana keadaan gadis itu, Dayang-dayang Ayu..?" kata wanita cantik itu sambil melemparkan senyum yang tak pernah putus.

"Beliau tidak apa-apa, hanya sukar sekali untuk menyadarkannya..." jawab keempat wanita yang masih merunduk hormat. Wanita cantik itu beranjak bangun. Rambutnya yang panjang terjuntai ke lantai. Buah dadanya nampak sekal dengan puting yang merah ranum.

"Coba kalian bawa ke mari..." katanya halus. Lalu keempat wanita bangkit memberi hormat. Kemudian berlalu dari hadapan sang putri. Setelah kepergian keempat wanita itu, ia menoleh ke belakang menatap dua belas orang perempuan yang memegang kipas.

"Kalian boleh beristirahat...! Pergilah! Nanti setelah aku membutuhkan kalian, akan kupanggil lagi...!" Kedua belas orang perempuan itu pun berjalan perlahan berbaris masuk ke balik dinding.

Tak lama keempat wanita yang semula diperintahkan oleh sang putri datang lagi dengan membawa sosok tubuh seorang perempuan yang berlumuran darah. Tanpa merasa jijik sang putri meraba sekujur tubuh penuh luka yang menimbulkan bau busuk. Begitu juga dengan keempat wanita yang disebut 'Dayangdayang Ayu'. Mereka tidak merasa geli memapah tubuh itu.

"Kasihan.... Bagaimanapun ia seorang wanita yang masih hidup! Bawa ia ke ruang semedi..." kata wanita cantik yang tak lain sang putri junjungan mereka.

Keempat dayang-dayang ayu tidak menyahut, mereka segera membawa tubuh berlumuran darah itu ke sebuah ruang. Sang putri berjalan lebih dahulu memasuki ruang semedi. Ruangan itu cukup remang tidak ada sinar lampu barang sedikit pun. Membuat suasana ruangan itu nampak hijau. Lantainya tertutup oleh asap putih yang menghampar di bawah ruangan....

Hawa dingin menyengat kulit.

Seperti sudah mengerti akan tugasnya, keempat perempuan itu meletakkan sosok tubuh yang berlumuran darah pada sebuah tempat empuk berlapiskan sutra kehijauan seperti lumut. Sang putri memberi abaaba, maka keempat perempuan itu pergi meninggalkan ruangan itu.

Setelah pintu ruang semedi tertutup, ruangan itu nampak semakin hijau pekat. Wanita cantik itu memperhatikan raut wajah sosok yang terbaring pingsan. Jari-jari tangannya yang lembut menyentuh kening sosok berlumuran darah itu. Sang putri membacakan mantera yang tidak dapat dimengerti oleh bangsa apapun. Hanya terlihat mulutnya yang mungil nampak komat-kamit Sesaat kemudian ia tersentak.

Wanita cantik itu bergetar, sebelah lengannya nampak memegangi kepalanya. Wanita cantik itu seakan melihat serentetan peristiwa yang dialami oleh sosok kaku yang terbujur di atas sutra hijau. Semuanya tergambar jelas... Tiga orang nampak membicarakan sesuatu, lalu yang dua orang pergi menyulut dua batang obor. Keduanya berlari menuju ke sebuah gubuk. Setelah menendang pintu gubuk, salah seorang dari mereka mengikat tubuh seorang gadis yang terluka parah...

Kemudian membakar gubuk itu dan membiarkan seorang nenek keriput terbakar hangus sambil menjerit-jerit.... Dua orang yang telah membakar gubuk itu membawa sosok luka. Mereka menyeretnya sampai ke tepi jurang.... Wanita cantik itu tersentak lagi seolah telah sadar dari perjalanan jauhnya, lalu....

"Laki-laki keparat itu harus menerima balasannya... Mereka akan rasakan nanti akibat perbuatannya..." Wanita cantik itu menatap garang, wajahnya berubah menyeramkan.... Lalu kedua telapak tangannya bergerak cepat menyentuh bagian perut serta dada pada sosok yang terbaring.

"Bangun Cah Ayu...!" Dengan seketika tubuh berlumuran darah itu membuka matanya. Karena kaget ia mendadak bangkit. Pandangannya masih sangat suram. Ia takut sekali melihat pemandangan dalam ruangan yang sangat gelap itu. Di hadapannya telah berdiri seorang perempuan cantik tersenyum manis. Wanita itu datang mendekati, tapi....

"Jangan...! Jangan bunuh aku...! Mana ibuku, mana...? Kalian telah membunuhnya! kalian kejam Ka-

lian keparat!"

Sosok berlumuran darah itu memaki-maki. Namun sekali wanita cantik itu mengibaskan sebelah lengannya, sosok terluka parah itu pingsan lagi. Tubuhnya jatuh tertelungkup di atas kasur empuk berlapis sutra hijau Wanita cantik tersenyum lagi. Ia melepas kan seluruh pakaian yang telah kotor berlumur darah.

Setelah tubuh berbau busuk itu membugil. Wanita cantik meletakkan kedua telapak tangannya ke bagian punggung. Mendadak saja tubuh pingsan itu mengerang kesakitan. Beberapa kali tubuhnya mengejang, setelah itu mulutnya menyemburkan darah Pandan-

gannya seperti normal kembali, seluruh rasa sakitnya hilang dengan seketika.

"Jangan takut, Cah Ayu.... Aku tidak bermaksud jahat, akulah yang telah menyelamatkan nyawamu dari lembah maut ini."

Gadis yang telah telanjang bulat namun masih berlumuran darah karena penyakitnya menatap keheranan. Sebab ia sudah tidak ingat apa-apa lagi ketika Parto dan Welang Galih menyeretnya masuk ke dalam hutan. Sampai sejauh inikah mereka membuang dirinya ke dasar jurang? Sungguh terkutuk perbuatan mereka! Sekarang ia telah berada di hadapan seorang wanita yang mengaku telah menyelamatkan dirinya.

"Kau ingin membalas dendam terhadap mereka...?"

Mendengar tawaran yang menarik ia masih ragu akan siapa adanya wanita cantik. itu.

"Tak perlu ragu ataupun takut, Cah Ayu...! Aku penguasa istana lembah ini. Namaku: Dayang Kunti Naga.   Kau sebenarnya seorang gadis yang cantik jeli-

ta.... Aku pikir kau tak akan percaya dengan ucapanku.... Ke marilah ikut denganku.... Ayo, Cah Ayu "

Wanita cantik yang menamakan dirinya 'Dayang Kunti Naga' menuntun gadis yang masih ketakutan. Ia gemetar sekali, karena lantai yang ia pijak banyak menghampar asap-asap putih sebatas mata kaki.

Setelah mereka melangkah kira-kira lima tombak, Nyi Dayang Kunti Naga menghembuskan angin dari mulutnya... Maka tersibaklah asap-asap putih yang menghampar di lantai. Menampakkan tujuh buah lubang berisi air berwarna warni.

"Kau harus tahu siapa dirimu, Cah Ayu   Nah me-

rendamlah di situ.... Itu namanya: Sumur Banyu Pitu.... Kau harus merendam diri pada sumur-sumur itu.... Ayo !"

Nyi Dayang Kunti Naga membujuk, dengan gemetar tubuh bugil berlumuran darah itu melangkah. Kaki kanannya dicelupkan lebih dahulu. Terasa dingin sekali air yang menyentuh telapak kakinya... Untuk kaki kirinya ia tidak ragu-ragu lagi... Kembali terasa dingin, maka ia menceburkan diri sekaligus... Ternyata air yang merendamnya hanya sebatas dada. Gadis itu nampak menggigil.

"Menyelamlah, Cah Ayu... Menyelam…" perintah Nyi Dayang Kunti Naga. Gadis itu menurut. Sekali sentak. Tubuh itu telah lenyap tenggelam, beberapa saat kemudian gadis itu menyembul dengan nafas yang terengah-engah seperti kehabisan udara.

"Sekarang berpindahlah pada sumur berikutnya... Lakukan seperti tadi..." Gadis itu menurut, hati-hati sekali ia melangkah. Karena ia tahu lantai sekitar situ sangat licin dan banyak ditumbuhi lumut. Untuk sumur kedua itu tidak perlu takut lagi. Sekaligus ia merendamkan diri kemudian tanpa disuruh lagi, gadis itu langsung menyelam. Begitu seterusnya dari sumur ke sumur, gadis itu menyelami, sampai akhirnya pada sumur ketujuh. Begitu gadis itu menyembulkan kepalanya, Nyi Dayang Kunti Naga tertawa menyeramkan.

"Hi-hi-hi-hi-hi-hi.... Apa kataku, Cah Ayu    Kau

akan lihat sendiri."

Dengan tubuh yang menggigil ia keluar dari sumur itu. Nyi Dayang Kunti Naga langsung merangkul sambil menuntun, gadis itu hanya menurut ke mana Nyi Dayang Kunti Naga membawanya.... Ruangan itu sudah tidak gelap lagi. Semua dinding yang tadi nampak kehijauan menyeramkan jadi terang benderang. Seluruhnya memancarkan sinar keemasan. Gadis itu seakan tidak percaya melihatnya.

Ia tersentak kaget dan segera menutup mata, ketika melihat sebuah cermin besar memantulkan sosok bayangan dirangkul Nyi Dayang Kunti Naga, sosok bayangan bugil berkulit halus yang sangat menyolok mata Nyi Dayang Kunti sendiri telanjang bulat! Tapi

rambutnya yang panjang menutupi bagian auratnya. Sedang bayangan di samping Nyi Dayang Kunti Naga tidak ada selembar rambut pun yang menutupi bagian dada dan auratnya....

Perlahan gadis itu membuka matanya, tetap saja bayangan itu selalu nampak. Nyi Dayang Kunti Naga tersenyum...

"Kenapa heran, Cah Ayu..., Itulah tubuhmu yang sebenarnya... Kau boleh memegang tubuhmu sendiri bila masih tak percaya. Semua luka-luka di tubuhmu

telah lenyap, karena kau telah merendam diri di Sumur Banyu Pitu!"

Seperti tidak percaya gadis itu melihat kedua lengannya yang nampak halus mulus. Begitu juga dengan buah dada yang putih mengkal.... Tubuhnya yang ramping aduhai.... Kedua pangkal pahanya yang putih... Ia betul-betul hampir tidak percaya, sewaktu kedua lengannya menyentuh permukaan cermin matanya terbelalak!.. Betul! Itu bayangan dirinya! Nyi Dayang Kunti Naga tertawa lagi...

"Hi-hi-hi-hi-hi-hi-hi...." Tidak malu-malu lagi gadis itu menghadap ke arah Nyi Dayang Kunti Naga. Wajahnya berseri... Karena penyakit yang selama ini menjadi duri dalam kehidupannya telah hilang. Namun dalam sesaat ia berubah muram. Terbayang ibunya yang tua renta berkelojotan termakan api. Begitu juga dengan wajah Parto Kemudian wajah Welang Galih, lalu

secara naluri wajah Mayan Danang ikut tergambar pula.

"Apakah kau ingin membalas dendam terhadap mereka...?" tanya Nyi Dayang Kunti Naga. Pertanyaan itu terulang kedua kalinya. Sambil menatap tajam gadis itu menjawab....

"Kalau saja diperkenankan oleh sang putri Nyi Dayang Kunti Naga, ingin rasanya kuhirup habis darahnya. !" Gadis itu berkata mantap.

*

* *

5

"Lakukan saja, Cah Ayu.... Kenapa tidak boleh? Justru orang-orang yang berada di sini semuanya telah dipengaruhi oleh dendam! Dendam memang harus segera dilenyapkan dalam hatimu.... Aku memang telah memupuknya dari sekarang.... Nah, sekarang sebutkan namamu..."

"Narsiah!" jawab gadis itu.

"Mulai sekarang namamu bukan Narsiah lagi... Tapi, Nyi Sekar Dayang Kunti! Kau dengar...?" Narsiah mengangguk.

"Tubuhmu masih kosong, Sekar Dayang Kunti... Kau belum bisa melepaskan maksud dendammu! Berlututlah di sini, akan ku salurkan tenaga dalam untukmu..."

Nyi Sekar Dayang Kunti alias Narsiah langsung berlutut di hadapan Nyi Dayang Kunti Naga yang mulai menggerak-gerakkan lengannya. Dan ketika kedua telapak tangan itu menyentuh bagian dada, Nyi Sekar Dayang Kunti mengerang hebat.

"Tahan, Sekar...!" Keduanya serasa bergetar. Keringat mengucur dari tubuh bugil Nyi Sekar Dayang Kunti. Kepala seperti berdenyut dengan puluhan bintang yang bertaburan dalam benaknya.

Tak lama kemudian hening, keduanya masih berlutut diam saling berhadapan. Nyi Dayang Kunti Naga membuka mata lebih dulu. Lalu ia bangkit membiarkan tubuh bugil Nyi Sekar Dayang Kunti tetap berlutut memejamkan matanya. Ia belum berani bangkit sebelum sang putri Nyi Dayang Kunti Naga memerintah.

"Ada suatu pesan buatmu, Sekar... Kau boleh melampiaskan dendammu. Tapi jangan sampai melampiaskan dendammu terhadap orang-orang yang tidak pernah menyakitimu! Cukup terhadap Parto, Welang Galih dan Mayan Danang... Atau juga orang-orang yang bakal mengganggumu nanti... Hanya itu pesanku.... Kau ingat?" Nada bicara Nyi Dayang Kunti Naga seakan mengancam. Nyi Sekar Dayang Kunti mengangguk.

*

* *

Begitu mendengar suara langkah kaki yang berjalan cepat di lantai teras, Kunta Danang cepat beranjak menuju pintu dan membukanya. Ia melihat Mayan Danang dengan wajah merah padam. Kunta Danang membiarkan Mayan Danang masuk.

"Kakang Mayan Danang dari mana saja? Sejak terjadinya kebakaran di gubuk Ni Luh Wedas pada beberapa hari yang lalu, Kakang jarang pulang ke rumah... Sudah lama ayah menunggumu Kakang..." kata Kunta Danang mengikuti langkah Mayan Danang.

"Aaah...! Tahu apa kau? Minggir!" Mayan Danang mendorong tubuh Kunta Danang.

"Mayan Danang! Ke mari kau!" Ki Lurah Sentanu yang mendengar suara Mayan Danang membentak. Pintu kamar ayahnya memang terbuka. Mayan Danang sendiri sudah melihat Ki Lurah Sentanu duduk menghadapi meja kerjanya dengan wajah angker.

Dengan langkah malas, Mayan Danang memasuki ruangan itu. Ayahnya menatap tajam.

"Ada apa, ayah...?"

"Selama ini aku curiga bahwa kau bersekongkol dengan Parto dan Welang Galih yang membakar gubuk Ni Luh Wedas!" kata Ki Lurah Sentanu langsung memojokkan.

"Kenapa ayah sampai berkata begitu...? Aku tidak melakukan apa-apa...!" jawab Mayan Danang sambil melangkah mendekat.

"Setelah kuselidik-selidik, banyak orang mengatakan kau selalu pergi dengan mereka ke tempat-tempat pelacuran...! Kau telah menyiram muka ayahmu dengan air comberan, Mayan Danang...!" bentak ayahnya.

"Yah! Aku sering ke tempat-tempat itu bersama Parto dan Welang Galih! Tapi tidak ada hubungannya sama sekali dengan terbakarnya gubuk Ni Luh Wedas...!" jawab Mayan Danang sengit. Ki Lurah Sentanu melotot. ,

"Bagaimanapun peristiwa itu merupakan suatu pembunuhan! Aku akan membawa kalian kepada orang yang berhak menghukum kalian.... Aku rela kehilangan seorang anak, kalau anak itu berhati binatang...!" "Kau rela menjebloskan aku ke dalam tahanan yang bukan tempatku...?" Mayan Danang balas menatap. Ki Lurah Sentanu bangkit berdiri tatapannya meremehkan sekali....

"Kenapa tidak ?"

Braaak! Mayan Danang menggebrak meja, sesaat kemudian ia membalikkan tubuh dan melangkah cepat ke luar dari ruangan itu. Kunta Danang, adiknya yang sedari tadi mendengar percakapan mereka di muka pintu tertabrak oleh Mayan Danang yang berjalan serampangan.

Mayan Danang sendiri menghempaskan tubuhnya pada sebuah kursi empuk di ruangan tamu. Pikirannya serasa kacau dan kalut. Secara tidak langsung perbuatannya telah terbongkar. Dia sendiri sudah merasa takut. Sukar rasanya untuk mengelakkan diri...

Dan ucapan ayahnya itu tidak main-main.

Berulang-ulang ia berusaha memejamkan matanya yang terserang rasa ngantuk. Namun begitu ia memejamkan matanya selalu saja tersentak dengan perasaan was-was. Membuat ia susah tidur. Kepalanya seperti pening berputar.

Ia menghentakkan tubuhnya bangkit dari kursi. Pandangannya menoleh ke sana-ke mari. Setelah itu ia berjalan mendekati sebuah lemari. Pintu lemari itu mudah sekali terbuka. Bahkan hampir tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Di situ ia mengambil sesuatu dari tumpukan barang-barang berharga. Benda kecil itu dimasukkannya ke dalam saku baju.

Dengan langkah yang hati-hati ia menuju dapur. Hari memang masih sore, ia melihat Mang Toyop si pembantu tengah sibuk membuat sesuatu.

"Sedang apa, Mang Toyop...?" tegur Mayan Danang mengejutkan orang itu.

"Aduh! Den Mayan Danang...! Mamang sampai kaget.... Anu, Den.... Saya sedang membuat minuman buat Ki Lurah." jawab! Mang Toyop sambil mengaduk minuman itu dengan sendok.

"Tinggalkan saja dulu itu, Mang    Tolong sediakan

aku air hangat, aku mau mandi. Hari ini rasanya badanku kurang enak..." kata Mayan Danang mendekati Mang Toyop. Mang Toyop sendiri langsung membiarkan gelas di atas meja. Setengah membungkuk ia melewati Mayan Danang yang berdiri menghadapinya. Mang Toyop memang tahu Mayan Danang selalu meminta air hangat untuk mandi.

Sepeninggal Mang Toyop, Mayan Danang mendekati gelas yang tergeletak di atas meja. Asap dari hawa panasnya air masih mengepul dari permukaan gelas. Dengan sedikit gemetaran ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku bajunya. Diam-diam ia melurukkan bubuk isi dalam bungkusan kecil ke dalam gelas. Gerak-geriknya jadi tidak tenang.

Sebelum Mang Toyop datang, Mayan Danang sudah meninggalkan tempat itu. Ia berjalan sambil membuka bajunya. Tak lama....

"Sudah, Den.... Air hangat sudah saya sediakan "

kata Mang Toyop yang berpapasan. Tanpa menjawab Mayan Danang memasuki ruangan mandi. Bak besar dari kayu yang berada di sudut ruangan memang sudah berisi air hangat, setelah membuka celananya, ia merendam diri. Sepertinya nyaman sekali.... Tapi apakah hatinya akan dapat tenang? Sengaja ia berlamalama merendam dalam air hangat itu. Sekalipun ia telah menggosok bersih seluruh tubuhnya. Tapi ia belum juga mau bangkit dari bak kayu yang cukup besar. Sepertinya ada sesuatu yang ia tunggu-tunggu     Lama

sekali ia merenung. Kedua matanya menatap dinding yang mulai ditumbuhi lumut.

Air yang semula hangat kini lama-kelamaan menjadi dingin. Mayan Danang tersentak ketika pintu kamar mandi diketuk orang manakala tubuhnya telah menjadi dingin....

"Den.... Den Mayan Danang...! Apakah Den Mayan Danang sudah selesai mandi?" Itu suara Mang Toyop.

"Ada apa. !" tanya Mayan Danang dari dalam.

"Ah, tidak apa-apa.... Den Mayan Danang mandi terlalu lama.... Saya khawatir Aden akan sakit." kata Mang Toyop lagi. Terdengar kecipak suara air. Kemudian suara orang mengenakan pakaian Tak lamapun

Mayan Danang keluar. Sebelum Mayan Danang melangkah ia sempat melirik pada sebuah meja. Gelas yang diberikan bubuk olehnya sudah tidak ada. Lalu ia meneruskan langkahnya.

Suasana ruangan itu telah sepi. Tapi ruang kerja Ki Lurah Sentanu masih terbuka lebar. Ia pun sempat melihat ketika melaluinya. Di atas meja kerja Ki Lurah Sentanu ada sebuah gelas yang telah kosong. Ki Lurah Sentanu sendiri telah tertidur tertelungkup di atas meja.... Mayan Danang tersenyum puas.... Ia terkejut ketika mendengar suara. Klotaak!

Mayan Danang menoleh ke arah suara yang mencurigakan dari kamar Kunta Danang. Maka ia segera melangkah ke situ, dengan cepat ia membuka pintu kamar. Ia melihat Kunta Danang tertidur pulas sambil mendengkur. Mayan Danang menghela nafas.

Ia pun melangkah lagi menuju ke kamarnya. Ketika tubuhnya telah rebah ke atas kasur empuk pikirannya melayang lagi... Apakah yang telah ia lakukan tadi? Sampai hatikah ia meracuni ayahnya sendiri ? Semu-

anya telah terlanjur! Dan semua itu memang ia inginkan! Jiwanya akan terancam bila ayahnya masih hidup... Mayan Danang akan mendekam dalam sel yang paling menakutkan...

*

* * Puing-puing bekas kebakaran masih berserakan. Debu-debu beterbangan tertiup angin. Udara di situ sudah bersih. Tidak lagi tercium bau busuk. Rumahrumah penduduk nampak terang. Meskipun para penduduknya tidak ada yang keluar rumah. Mereka semua asyik bercengkerama bersama keluarganya. Ada juga yang sudah tertidur pulas karena udara yang begitu dingin.

Rumah Parto sendiri yang paling diterangi oleh beberapa lampu gembreng. Karena tadi siang istrinya baru melahirkan. Beberapa orang penduduk banyak begadang di situ menemani keluarga Parto.

Sejak tadi sore Parto tidak beranjak pergi dari samping istrinya yang terbaring di balai beralas tikar. Tidak puas-puasnya ia memandangi bayi pertamanya yang mungil. Bayi perempuan.

"Kang Parto    Kita tidak punya apa-apa lagi untuk

menyuguhkan mereka yang menemani kita malam ini    Uang untuk membeli kopi sudah habis tadi siang

buat bayar dukun beranak... Kasihan mereka hanya minum air putih saja..." kata istrinya dengan suara lirih.

"Habis mau bagaimana...? Lagipula mereka mengerti, kita ini orang tidak punya" jawab Parto. Istrinya menghela nafas.

"Rasanya nggak enak, Kang... Paling tidak kita harus menyuguhkan mereka makanan.... Cobalah Kakang pergi ke rumah Den Mayan Danang, beliau kan teman baik Kakang.... Cobalah pinjam uang padanya..." kata istrinya lagi.

Parto terdiam. Bagaimana caranya ia bisa memperoleh uang dari Mayan Danang? Sebenarnya ia memiliki uang banyak, tapi sebelum anaknya lahir. Uang itu pun upah dari hasil membakar gubuk Ni Luh Wedas. Sekarang uang itu telah ludes di tempat pelacuran.

Kalau sekarang ia datang lagi untuk meminjam uang mana mungkin Mayan Danang percaya. Mayan Danang pasti mengira ia akan pergi lagi ke tempat mesum itu. Karena selama ini Mayan Danang tahu betul sikap Parto... Parto tidak pernah perduli dengan istrinya yang sedang hamil. Sekarang ia betul-betul serba salah...

"Pergilah, Kang... Mayan Danang pasti memberi uang..." kata istrinya yakin.

Dengan perasaan yang masih gelisah ia bangkit. Keluar dari kamar. Orang-orang di luar sudah ramai berkumpul. Parto berusaha bersikap ramah terhadap orang-orang yang menemani begadang menjaga istrinya yang melahirkan... Dengan tubuh setengah membungkuk ia melewati orang-orang itu....

"Mau ke mana, Kang...?" Salah seorang menegurnya.

"Aku hendak membeli kopi sekalian makanan kecil..." kata Parto sambil tersenyum.

"Tidak usah repot-repot.... Kalau perlu bawa saja semua yang ada...!" Yang lain bergurau, maka meledaklah tawa mereka. Parto ikut tertawa.

Langkahnya cepat bergerak meninggalkan gubuknya. Pikirannya telah berobah! Ia tidak akan pergi ke rumah Mayan Danang, tapi tujuannya kepada Welang Galih. Ia berharap Welang Galih masih punya sisa uang upah dari Mayan Danang. Kalaupun Welang Galih tidak dapat membantu, terpaksa ia harus menemui Mayan Danang. Dalam perjalanannya ia mengutuki dirinya. Kenapa ia harus tergila-gila main perempuan? Pada saat-saat begini membutuhkan uang ia merasa kesulitan sekali. Sebenarnya tanpa menyuguhkan apaapa pun tidak jadi masalah. Tapi semua ini lantaran tradisi desa Rawa Kandar. Setiap orang yang baru melahirkan mesti dibegadangi selama tujuh hari tujuh malam. Untuk itu ia harus menyediakan tetek bengek untuk menyuguhkan tamu-tamunya yang ikut menemani selama semalam suntuk.

Selama ia melangkah pikirannya kosong. Namun langkah semakin cepat. Untuk mencapai gubuk Welang Galih ia. harus melewati surau kecil yang mengalirkan air. Matanya begitu terbelalak ketika tanpa sengaja ia melihat ke arah surau. Sebuah pelita kecil menerangi seorang gadis yang sedang mandi. Parto dapat melihat tubuh mulus itu! meskipun terhalang dengan pagar bilik sebatas pinggang.

Langkahnya terhenti mendadak. Parto menelan ludah saat gadis itu menggosok-gosok lengannya. Kemudian berdiri membersihkan bagian pinggang. Gadis itu seakan-akan tidak tahu akan kehadiran Parto yang dapat memandang jelas seluruh tubuh molek itu... Karena gadis itu memang berdiri membelakangi.

Tanpa menoleh gadis itu bermaksud meraih kain yang sengaja ia sangkutkan pada pagar bilik, tapi tanpa sengaja pula tangannya menyentuh jatuh kain itu. Parto tersentak ketika melihat wajah gadis itu. Wajah yang demikian cantik mempesona! Belum pernah ia melihat wanita secantik bidadari seperti ini... Tubuh yang selangit, buah dada yang mengkal... Serta... Serta... Ah! Melihat itu Parto makin gemetar.

Melihat adanya seorang lelaki yang memandangi seperti itu, gadis itu tersenyum.

"Kakang.... Tolong ambilkan kainku yang terjatuh..." kata gadis itu lirih. Parto gelagapan, tanpa berkedip ia memandangi tubuh gadis itu, lengannya yang gemetar mengambil kain yang tergeletak di tanah. Lalu ia memberikannya....

"Terima kasih.... Kakang begitu baik...!" kata gadis itu. Begitu baik? Hanya membantu mengambilkan kain dari tanah dan mendapat imbalan melihat tubuh bugil gadis itu dikatakan begitu baik..? Parto masih memandangi gadis itu yang memulai memakai kainnya. Ketika gadis itu keluar, Parto mengikutinya...

"Kakang mau ke mana..? Bukankah istri kakang baru melahirkan..?"

"Aku baru melihatmu... Kau tinggal di mana?" Parto memberanikan diri. Gadis itu menunjuk tempat tinggalnya dengan jari telunjuk. Parto melihat gubuk Welang Galih. Di samping gubuk itu terdapat sebuah gubuk cukup kecil namun bersih dan terang.

"Kalau mau mampir boleh saja. Mumpung hari masih sore." Gadis itu sengaja tidak menoleh. Ia meneruskan langkahnya. Bagai terkena hipnotis Parto mengikutinya. Sebentar saja gadis itu telah memasuki gubuknya. Parto tidak berani masuk. Ia mencium bau wewangian yang sangat merangsang.

"Kenapa di luar saja.... ayo masuk," kata gadis itu dari dalam

*

* *

6

Parto melangkah masuk. Gadis itu tersenyum membuka kain penutup tubuhnya di samping ranjang. Dalam ruangan itu Parto tidak melihat apa-apa selain sebuah ranjang dan beberapa kursi yang nampak bagus.

"Sepertinya kakang   sedang   kesusahan...?   Ada apa?" tanya gadis itu sambil memborehi seluruh tubuhnya dengan bedak wewangian. Kedua lengannya ke atas mengikat ikal rambutnya, maka kedua buah dada yang mengkal nampak mencuat menantang.

"Be-be-betul Nyi.... Aku kekurangan uang...!" kata Parto jujur. Gadis itu tersenyum ia mengambil sesuatu dari bawah kasur berlapis sprei sutra. Sebelah lengan gadis itu memegang ujung kain yang menutupi tubuhnya.

"Aku punya hanya sekian... Barangkali cukup untuk keperluan Kakang..." kata gadis itu sambil menyodorkan sekantong uang. Parto melotot.

"Uang itu terlalu banyak, Nyi.... Aku hanya..." kata Parto melangkah mendekat.

"Ambil sajalah.... Aku tidak punya sanak saudara di sini, mereka mengusirku..." kata gadis itu memberikan uang dalam telapak tangan Parto. Terasa sekali telapak tangan yang halus lembut.

"Sanak saudaramu mengusirmu...?" tanya Parto. "Yah...!"' Gadis itu hampir menangis. Kainnya ter-

lepas. Jatuh menutupi bagian aurat dan pahanya. Parto melangkah lebih dekat lagi tambah jelaslah buah dada yang bergerak-gerak saat gadis itu menangis terisak. Dada Parto bergemuruh.

"Aku memang telah salah jalan.... Selama ini aku mencukupi hidupnya dengan melacurkan diri..." Gadis itu berkata jujur. Pantas ia banyak uang, pikir Parto. Tiba-tiba saja gadis itu memeluk Parto. Pelukannya hangat sekali. Parto membelai Belaiannya itu bukan

sekedar rasa sayang, tapi nafsu! Berkali-kali ia mengusap-usap buah dada yang kian membengkak kencang. Gadis itu menggelinjang.

"Berhentilah jadi pelacur...! Lebih baik kau jadi istriku, Nyi " bisik Parto meremas buah dada itu. Gadis

itu menganga menahan nikmat.

"Kau sudah punya istri.... Lagi pula baru melahirkan, apa kata mereka nanti bila mereka tahu kalau aku ini seorang pelacur... kata gadis itu mempererat pelukannya.

"Tidak perduli, Nyi.... Tidak perduli...!" Nafas Parto kian memburu.

"Tidak ada orang sebaik Kakang.... Aki Sekar Dayang Kunti merasa beruntung." kata gadis itu merebahkan diri di atas sprei sutra yang lembut. Dengan tidak sabaran Parto menarik kain yang menutupi aurat gadis itu. Gadis itu telah telanjang bulat dengan gerakan-gerakan yang menantang.

Udara makin dingin. Angin berhembus kencang mengerikan. Manakala suara binatang malam terus mengiringi suasana gelap. Seekor burung hantu bertengger dengan memancarkan kedua mata yang nyalang. Menatap ke tiap-tiap rumah penduduk yang kini sudah tertidur lelap. Hanya lampu-lampu pelita yang menerangi pada tiap-tiap halaman rumah tetap berkelap-kelip mengikuti perjalanan malam yang demikian panjang.

Menjelang subuh, orang-orang yang berada di gubuk Parto merasakan mencium sesuatu. Aroma yang kurang menyedapkan itu, seperti bau busuk. Membuat percakapan mereka selama menemani istri Parto yang melahirkan jadi terputus.

Bau busuk itu sebentar-sebentar hilang, sebentarsebentar timbul terbawa angin. Tapi mereka tidak perduli. Ada beberapa orang yang menguap terserang hawa ngantuk, dan mereka mulai rebahan pada sebuah tikar lebar yang memang sudah disediakan oleh Parto.

"Kalau Parto datang, bangunkan aku...! Biar ku damprat habis-habisan dia!" pesan seseorang yang mulai mengambil tempat kosong untuk rebahan. Yang mendengarkan ucapan itu acuh saja. Mereka pun sama kesalnya. Karena sejak tadi sore setelah Parto ke luar rumah sampai sekarang belum juga nongol batang hidungnya. Jangan-jangan ia ngendon di rumah istri mudanya, pikir mereka.

Matahari merambat naik, sinar kemerahan menyeruak bercampur dengan kabut yang bergerak perlahan sirna. Kicau burung-burung dan kokok ayam jantan saling bersahutan. Orang-orang yang semalaman begadang di gubuk Parto berpamitan dengan istri yang masih rebahan menyusui bayinya, lalu mereka berebut ke luar dari gubuk itu. Bau busuk itu menyebar lagi menyengat hidung. Setiap mereka melangkah bau busuk itu makin santer tercium. Adanya bau busuk itu, mengingatkan mereka pada peristiwa beberapa hari yang lalu.... Mereka cukup bergidik! Dan ketika mereka melewati puing-puing bekas sebuah gubuk yang terbakar. Sosok tubuh bergerak-gerak dari tumpukan tiang-tiang arang. Sosok tubuh itu mengerang-erang seperti menahan rasa sakit. Orang-orang yang baru saja melewatinya seakan tak percaya, justru bau busuk itu berasal dari bekas reruntuhan gubuk yang terbakar milik Ni Luh Wedas...! Mereka semuanya hampir lari ketakutan ketika sosok yang bergerakgerak tadi bangkit berdiri....

Bagaimana tidak? Tubuh yang menyebarkan bau busuk dengan keadaan yang mengerikan. Seluruh kulitnya yang tanpa selembar benangpun mengalirkan darah. Wajahnya sudah tidak nampak karena tergenang oleh darah.. Jelas sosok itu tubuh seorang lelaki. "To-to-to-toloooooong.... A-a-aku PaPa-

Partoooo! Aku Partoooo!" jerit sosok berlumuran darah itu.

Siapa yang mau mendekatinya? Tentu saja mereka semua jijik, apalagi bau busuk nya cukup membuat beberapa orang muntah-muntah! Keadaan kulitnya yang nampak meleleh dikerubungi oleh lalat-lalat yang mulai berdatangan. Sosok tubuh itu berkelojotan di tanah. Ia berguling-guling sambil mengerang terus. Kulit dagingnya mengelupas akibat gesekan dengan tanah.

Semua orang menatap ngeri. Merekapun heran dari mana datangnya sosok tubuh berpenyakit kusta ini... Satu orang telah disingkirkan datang manusia berpenyakit kutukan ini... Apakah desa ini memang telah mengalami kutukan dari yang Maha Kuasa...?

Pagi itu desa Rawa Kandar menjadi heboh. Semua penduduk keluar rumah untuk menyaksikan sosok berpenyakit kusta bergulingan ngamuk tak terkendali. Sekalipun mereka melihat sosok bergelimang darah itu, mereka tidak berani mendekat,

"Aku   Partoooo...!   Aku   Partooo      Tolooooong!"

Orang itu menjerit-jerit bergulingan. Darah yang keluar dari pori-pori kulitnya muncrat ke sana-ke mari. Orang-orang berlari menjauh takut terkena cipratan darah yang pasti bakal menularkan penyakit kutukan itu.

Sekalipun mereka yakin sosok itu adalah Parto, siapa yang berani mereka memberikan pertolongan? Kecuali mereka hanya menyaksikan dari kejauhan. Hampir semua warga desa Rawa Kandar memenuhi tempat itu. Antara takut jijik dan penasaran mereka menyerbu ke tempat kejadian yang menghebohkan itu. Seorang anak muda mengenakan baju bulu binatang berlari ke arah itu. Dari kerumunan itu ia dapat melihat sosok bergulingan kelojotan di tanah. "Lagi-lagi di tempat ini terjadi keanehan...! Salah apa desa ini...?" kata anak muda yang tak lain adalah Wintara Pendekar Kelana Sakti. Ia masih melihat je-

las tiang kayu yang telah hitam menjadi arang.

Sesaat kemudian tubuh bergelimang darah itu mengejang kaku, dadanya yang tadi naik turun kini diam menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wintara menghela nafas, ia tahu betul siapa orang itu. Parto! Salah seorang yang pernah mengajaknya makan minum di Losmen Mawar Malam.

Bau busuk hilang bersamaan dengan berakhirnya ajal Parto. Para penduduk mulai berdesakkan mendekati. Yang mereka lihat adalah benar. Sosok tubuh Parto. Wintara membalikkan tubuhnya, tapi ia tidak jadi.... Karena sebuah cengkeraman melekat erat pada pundaknya. Ia hanya menoleh ke belakang. Kebo Dungkil bersamaan seorang temannya menyeringai.

"Sudah kukatakan padamu Kebo Dungkil...! Akan kutunggu pemimpinmu Singo Kobar di Bukit Kendal pada bulan purnama pertama.... Apakah orang yang bersamamu itu pemimpinmu?" kata Wintara sambil menepiskan cengkeraman Kebo Dungkil.

"Bukan...! Mana mau Singo Kobar menghadapi cecoro macam kamu! Lagipula menunggu bulan purnama terlalu lama! Biarlah aku bersama Somat Codet akan membuat perhitungan! Mumpung kebetulan kita bertemu di sini..." Kebo Dungkil menantang. Ia sudah bergerak-gerak mengeluarkan jurus. Tapi orang yang menamakan dirinya Somat Codet cepat menarik.

"Kau sudah pecundangi, Kebo Dungkil...! Biar aku yang ukur kehebatan anak muda ini... Kau menyingkirlah...!" Somat Codet menggebrak tanah. Lalu kedua lengannya bergerak cepat menyilang di depan dada. Kebo Dungkil mundur sambil nyengir.

Wintara diam melihat gerak-gerik orang yang mulai mengeluarkan jurus. Ia sedikit kaget juga ketika sebelah lengannya menyambar ke samping, pukulan anginnya mampu menggetarkan baju bulunya.

Para penduduk desa Rawa Kandar sama sekali tidak menyadari kalau akan terjadi sebuah perkelahian di sekitar situ. Karena mereka sibuk menyaksikan sosok mayat menjijikkan terkapar bersimbah darah. Mereka belum menyadari. Dan begitu mendengar suara teriakan yang menggelegar, serempak orang-orang itu menoleh ke arah suara yang menggelegar itu. Mereka jadi kaget! Dalam situasi yang seperti ini, masih ada peristiwa lain yang betul-betul menghebohkan desa itu.

Somat Codet melancarkan serangan gencar bagai seekor banteng. Menyeruduk dan melayangkan tinjunya berkali-kali. Wintara mundur-mundur menghindarinya. Kebo Dungkil yang masih merasa dendam, diam-diam ikut melancarkan serangan. Hal itu bukannya Wintara tidak tahu, maka ketika Somat Codet melancarkan tendangannya, Wintara cepat melesat ke atas sambil kakinya berputar ke arah Kebo Dungkil...

Bugg!!

Lumayan, cukup membuat Kebo Dungkil jungkir balik. Melihat temannya dibuat seperti itu, Somat Codet makin geram. Tendangannya yang bagai kilat berputar. Wintara hanya dapat menangkis dua kali....

Begg!

Untuk ketiga kalinya, Wintara terhuyung mundur. Tendangan itu cukup keras mengenai pinggang. Tapi Wintara hanya senyum merasakan itu.

Orang-orang desa Rawa Kandar menghambur buyar. Semuanya menatap bingung.... Dan tidak mengerti! Apa sebab musabab mereka sampai berkelahi di tempat ini...? Tapi mana sempat mereka memikirkan hal itu.... Sekarang mereka hanya menyaksikan sebuah perkelahian yang tidak seimbang. Mereka memang cukup mengenal siapa Kebo Dungkil dan Somat Codet, tapi untuk pemuda asing yang mengenakan pakaian bulu binatang itu, merupakan suatu hal yang menarik perhatian. Bagaimana tidak? Mereka dapat melihat gerakan pemuda itu di saat Kebo Dungkil dan Somat Codet menyerang bersamaan. Tendangan maupun pukulan mereka hanya nyeplos mengenai angin. Sedangkan si pemuda itu sendiri dapat beterbangan, bahkan berjumpalitan berkali-kali di udara menghindari serangan-serangan itu. Orang-orang itu dapat melihat betapa kerasnya Somat Codet mendesak dengan serangan-serangan yang mematikan. Wintara sendiri tidak pernah akan menyangka, di saat kakinya menginjak tanah setelah be-jumpalitan tadi....

Deess!!

Tahu-tahu sebuah hantaman mengenai bagian punggung. Secepatnya Wintara membalikkan tubuh, jelas sekali Somat Codet melancarkan tendangannya lagi, tapi....

Plak!!

Wintara merunduk sambil mengangkat lengannya ke atas menangkis. Masih dalam keadaan merunduk di luar dugaan Wintara mendorong telapak tangan kirinya menghantam dada Somat Codet...

Bwaaak!

Kontan tubuhnya menggeledak ke tanah!

Tidak ada anak muda sepantaran Wintara di desa itu yang sanggup menjatuhkan Somat Codet, karena mereka tidak ada yang berani. Selain itu mereka juga tahu kalau Somat Codet maupun Kebo Dungkil sangatlah berilmu tinggi. Tapi saat ini mereka baru betulbetul kena batunya. Keduanya dibuat jatuh bangun.

Namun begitu, mereka masih saja penasaran menghadapi pemuda yang demikian tangguh ini. Wintara pun tetap melayaninya, walaupun tidak dengan sungguh-sungguh! Tapi lama-kelamaan Wintara bosan juga dengan permainan ini. Sekali ia hentakkan sebelah kakinya, tubuh Kebo Dungkil menabrak Somat Codet yang baru saja ingin melancarkan serangan....

Bruaaaak!!

Keduanya bergulingan di tanah.

*

* *

7

Mayan Danang terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara seperti orang yang sedang menggali lubang. Ia tidak segera bangkit untuk melihat ke arah suara. Lengannya mengucek-ngucek kedua matanya yang masih perih. Matahari sudah tinggi menerobos jendela... Sekali lagi ia mendengar suara cangkul menyentuh tanah.

Cepat ia bangkit dari pembaringan dan melangkah ke arah jendela. Ia melihat Mang Toyop menggali sebuah lubang yang cukup besar. Maka ia teringat akan serbuk racun yang dibubuhkan pada gelas minuman ayahnya semalam.... Ia tersenyum puas! Pastilah ayahnya telah mampus, pikirnya....

Setelah ia mengganti pakaiannya, Mayan Danang lari ke samping rumah menemui Mang Toyop yang telah banjir keringat. Mang Toyop yang melihat kehadiran Mayan Danang kembali giat menggali lagi.

"Lubang sebesar ini buat apa, Mang..." tanya Mayan Danang seolah-olah tidak tahu.

"Semalam ayam-ayam milik Den Kunta Danang ada yang meracuni, Den...!" jawab Mang Toyop sambil menyeka keringatnya yang mengalir di keningnya. Mata Mayan Danang terbelalak mendengar ucapan Mang Toyop. Dengan penasaran ia berbalik melangkah... Dan ia terperangah sekali ketika hampir menabrak sosok tubuh Ki Lurah Sentanu yang tengah menuju ke arah Mang Toyop... Setengah gelagapan Mayan Danang terus berlari. Ia melihat pula Kunta Danang membawa enam ekor ayam yang telah kaku biru.

Mengapa semuanya jadi berubah dan tidak sesuai dengan rencana? Siapa yang telah menukar minuman ayahnya yang berisi racun...? Ia melangkah cepat ke luar da rumah. Perasaannya dihantui oleh perasaan takut. Ia tidak berani menuduh terhadap Mang Toyop maupun adiknya Kunta Danang. Kalaupun ia berani menuduh ada yang menukar gelas minuman ayahnya, itu sama saja membongkar rahasianya sendiri.

Mayan Danang melewati terus jalan-jalan yang berliku. Rumah-rumah penduduk nampak sepi Tidak

seperti biasanya! Tidak ada tegur sapa sekedar rasa hormat terhadap dirinya karena desa itu kini betulbetul sepi seperti kehilangan penduduknya.

Namun tak berapa lama kemudian, baru tahulah ia sekarang! Semua penduduk desa berkerumun menyaksikan suatu perkelahian. Dia sendiripun heran, hanya ada sebuah perkelahian saja semua orang kampung sampai budal menyaksikan. Ia lebih terkejut lagi ketika ia melihat siapa yang berkelahi itu.

Wintara...! Astaga.... Kenapa ia harus berkelahi di sini, dan lagi itu Kebo Dungkil bersama temannya sengaja mengeroyok. Mungkin ia masih menaruh dendam terhadap Wintara atas peristiwa malam itu di Losmen Mawar Malam, pikir Mayan Danang.

Pikirannya masih terheran-heran, tiba-tiba seseorang menariknya menjauh dari tempat itu... Mayan Danang merasa lega! Sebelumnya ia mengira orang itu adalah Ki Lurah Sentanu... ternyata bukan orang itu Welang Galih.

"Parto tewas..." bisik Welang Galih. Mayan Danang tersentak!

"Siapa yang membunuhnya... Mereka itukah?" tanya Mayan Danang penasaran.

"Bukan.... Ia tewas secara mengerikan! lihat itu di sana...!" Welang Galih mengarahkan telunjuknya. Mayan Danang dapat melihat apa yang ditunjukkan oleh Welang Galih. Sosok mayat berlumuran darah mirip orang penderita kusta tergeletak kaku di tanah. Mayan Danang bergidik menahan jijik.

"Kenapa sampai begini, Welang...? Pasti ada yang membunuhnya! Paling tidak ia dibakar orang..." "Entahlah! Kejadiannya baru diketahui tadi pagi..." jawab Welang Galih. Mayan Danang menoleh ketika mendengar teriakan dahsyat....

Heaaaaaaa!

Somat Codet melesat dengan tinjunya siap mengarah, begitu juga dengan Kebo Dungkil, tendangan terbangnya siap melancarkan maut.

Wintara malah maju Lengannya dapat menangkis

jotosan Somat Codet yang begitu keras, lalu kakinya menyambut terbang Kebo Dungkil. Setelah itu tubuh Wintara melintir, kedua lengannya bergerak melancarkan pukulan menyilang....

Bwaaaak! Deeeees!

Mendapat hantaman begitu, Somat Codet terhuyung hampir jatuh. Tapi Kebo Dungkil yang tidak dapat mengelakkan hantaman itu, kembali tubuhnya terbanting Kali ini mulutnya! menyemburkan darah.

Seluruh tulang dadanya remuk ia meringis tak dapat bangkit.

Bukan kepalang marahnya Somat Codet. Kini ia berdiri tegak dengan kedua lengan berputar menghimpun tenaga dalamnya. Lalu kedua lengan yang semula di atas disilangkan di depan dada. Dengan terjangan

yang sangat cepat Somat Codet menghempaskan kedua telapak tangannya ke arah Wintara....

Bwueeees!

Wintara yang bermaksud hendak menangkis serangan itu mendadak terdorong terkena angin pukulan Somat Codet. Tubuh Wintara melayang perlahan bagaikan selembar daun yang tertiup angin. Dan hinggap di tanah tanpa bersuara.

Melihat itu Somat Codet menerjang lagi dengan serentetan hantaman, Wintara menghentakkan kakinya, maka sebentar saja tubuhnya sudah melesat bagai terbang menyambar tubuh Somat Codet....

Bug ! Bug!

Dua pukulan sekaligus menghantam bagian pinggang dan dada! Somat Codet terpelanting dan berguling berkali-kali. Nafasnya terasa sesak.

Wintara melangkah berjalan mendekati Somat Codet yang sudah tidak dapat bangkit lagi. Kebo Dungkil mengira pastilah anak muda itu bakal menghajar Somat Codet lagi.

"Kedatanganku ke desa ini bukan untuk mencari permusuhan.... Aku lebih senang kalau kalian mau bersahabat denganku itu akan lebih baik!" kata Win-

tara sambil membantu Somat Codet bangkit.

"Kau masih bisa berjalan, bukan?" kata Wintara lagi. Tapi Somat Codet segera menepiskan lengan Wintara yang masih membantunya berdiri. Somat Codet berjalan sendiri meski tubuhnya masih sempoyongan.

"Bantulah sahabatmu Kebo Dungkil, mungkin kakinya terkilir..!" Wintara memberi saran. Somat Codet menatap penuh kebencian, kedua lengannya mengangkat berdiri tubuh Kebo Dungkil. Lalu dengan terpaksa Somat Codet setengah menyeret tubuh Kebo Dungkil yang meringis menahan sakit pada kakinya.

Mayan Danang dan Welang Galih menghampiri Wintara yang menatap kepergian Somat Codet memapah setengah mati tubuh Kebo Dungkil. Sebelum mereka mendekat, Wintara sudah membalikkan tubuhnya. Ia pun tersenyum.

"Rupanya dunia ini terlalu sempit untuk kita, sobat Wintara...! Sepagi ini kita dapat bertemu lagi..." sapa Mayan Danang. Wintara nyengir.

"Bagaimana menurutmu mengenai kematian Parto itu...?" tanya Wintara.

"Mungkin dia sendiri telah mengidap penyakit kusta... Desa ini memang telah kena kutukan!" jawab Welang Galih.

"Secepat itukah penyakit kusta menjalar? Padahal belum lama ini..." kata-kata Wintara terputus karena Mayan Danang segera memotong.

"Namanya juga penyakit kutukan! Datang dan perginya selalu tak dapat diketahui. Mungkin juga nanti giliran Welang Galih, ataupun aku kemudian..." kata Mayan Danang. Wintara manggut-manggut.

"Lalu bagaimana dengan mayat Parto itu    Kasi-

han istrinya yang baru melahirkan." Welang Galih khawatir. Perasaannya pun menjadi kurang enak.

"Tentunya kalian sebagai warga desa ini harus bisa mengurusinya." kata Wintara tegas. Ia menatap Mayan Danang kemudian kepada Welang Galih.

"Ya-ya...! Kami akan mengurusnya...!" jawab Mayan Danang.

Saat itu sosok Ki Lurah Sentanu mendatangi tempat itu. Ia mendapat laporan dari beberapa orang warganya. Wintara pun dapat melihat sosok yang berpakaian serba putih. Orang itu menghampiri mereka. Mayan Danang tertunduk ketika Ki Lurah Sentanu ada di antara mereka....

"Apa yang terjadi di sini, Mayan Danang...?" tanya Ki Lurah Sentanu secara tiba-tiba.

"Kau mau menyalahkan aku lagi...! Pasti kau menuduh aku yang membunuh Parto! Iya, kan !" Mayan

Danang bicara lantang di hadapan ayahnya.

"Diam!" Ki Lurah Sentanu membentak Mayan Danang bungkam.

"Parto tewas secara mendadak tadi pagi, Ki Lurah " Welang Galih menjelaskan.

Ki Lurah Sentanu berjalan mendekati mayat yang nampak menjijikkan itu. Ia memperhatikan mayat itu dari ujung kaki sampai kepala. Sudah tidak dapat dikenali lagi. Sekalipun ia tahu itu mayat Parto. Itu pun laporan dari warganya.

"Mayan Danang! Welang Galih! Bawa mayat Parto ke rumahnya dan urus sebagaimana mestinya...! Cepat!" Mayan Danang maupun Welang Galih tidak dapat menolak. Ia melangkah enggan. Tapi mereka harus menuruti perintah Ki Lurah Sentanu. Mayan Danang dan Welang Galih membuka kain sarungnya. Mereka membungkus mayat yang menjijikkan itu dengan kainkain mereka, barulah mereka membawa tubuh itu. Sebelum mereka beranjak Ki Lurah Sentanu menahannya, lalu,

"Ini semua akibat ulah kalian..." katanya pelan agar tidak ada yang mendengarnya.

Seperti tidak mengerti ucapan Ki Lurah Sentanu, mereka terus membawa sosok kaku itu. Mayat itu memang sudah tidak menyebarkan bau busuk. Hanya saja darah masih merembes dari kain sarung yang membungkusnya.

Orang-orang kampung berduyun-duyun mengiringi Mayan Danang dan Welang Galih. Membuat mereka berdua susah melangkah. Sebenarnya mereka merasa keki mendapat tugas seperti ini. Ki Lurah sendiri dapat melihat langkah-langkah mereka yang begitu enggan.

Ki Lurah Sentanu berbalik menatap ke arah Wintara. Anak muda itu tetap berdiri ketika orang yang berpakaian serba putih itu datang mendekat.

"Anak muda! Aku rasa kau bukanlah warga desa ini.... Kenapa bikin onar! Apalagi sampai berurusan dengan orang-orang Singo Kobar! Kau bakal celaka!" kata Ki Lurah Sentanu. Wintara menunduk, lalu....

"Aku memang bukan warga sini.... Baru saja seminggu yang lalu aku singgah di desa ini     Bahkan

aku sempat berkenalan dengan anakmu, Ki Lurah....

Kalaupun orang-orang Singo Kobar bermaksud ingin mencelakakan diriku, itupun lantaran aku pernah menolong Mayan Danang ketika Kebo Dungkil hendak membunuh Mayan Danang..." Ki Lurah Sentanu tertegun mendengar ucapan Wintara. Sebentar kemudian....

"Terima kasih atas pertolonganmu terhadap anakku, Mayan Danang... Tapi aku berharap sekali kau pergi meninggalkan desa ini, anak muda," Mendengar ucapan itu Wintara tersenyum....

"Sebenarnya aku pun ingin pergi dari desa yang mulai tidak bersih ini. ! Desa ini semestinya aman dan

damai, mungkin karena ada beberapa orang yang merubah desa ini menjadi seperti kena kutuk...! Anakmu terancam bahaya dari orang-orang Singo Kobar, Ki Lurah.   Asalnya   memang dari anakmu    Aku hanya

sekedar menyelamatkannya. Ternyata peristiwa itu menjadi berkepanjangan... Aku khawatir Mayan Danang akan celaka bila aku meninggalkannya     Aku

bertanggung jawab atas segalanya untuk orang-orang Singo Kobar. "

"Anak muda, siapa sebenarnya dirimu...?" Ki Lurah Sentanu heran melihat sikap tenang Wintara. Sikap Ki Lurah Sentanu nampak lebih ramah.

"Aku hanya seorang pengelana, Ki Lurah    Tidak lebih dari itu!" jawab Wintara.

"Betulkah Mayan Danang dalam bahaya...?" Nada bicara Ki Lurah Sentanu khawatir.

"Kira-kira begitu.... Aku di sini akan berjaga-jaga saja. Sekalian ingin tahu siapa adanya Singo Kobar itu...!"

"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di rumahku, anak muda.... Bagaimana pun Mayan Danang adalah anakku. Aku pun patut melindunginya...!"

Rumah Parto ramai dikerumuni orang. Mayan Danang merebahkan mayat yang dibungkus kain itu di atas balai teras. Istrinya yang baru beranak itu langsung pingsan mendengar suaminya tewas secara mengerikan. Dalam suasana itu seorang gadis cantik ada di antara orang-orang yang berkerumun di gubuk itu, Mayan Danang yang tanpa sengaja tiba-tiba saja dapat melihat raut wajah cantik seorang gadis di antara kerumunan orang-orang kampung. Ketika ia bermaksud ingin mendekatinya, gadis itu sudah menghilang entah ke mana. Mayan Danang penasaran.

*

* * 8

Mayan Danang merasa senang akan kehadiran Wintara di rumahnya. Sebab keadaannya lebih terjamin dari ancaman orang-orang Singo. Kobar. Ia sendiri pun tahu kalau Wintara adalah bukan pemuda yang sembarangan.

Namun di rumah itu Mayan Danang tidak lebih bagai hidup di neraka. Ayahnya yang Lurah selalu mengungkit-ungkit peristiwa kebakaran di gubuk Ni Luh Wedas. Padahal peristiwa itu sudah berlalu satu minggu.

Di hadapan Wintara, Ki Lurah Sentanu terus mendesak agar Mayan Danang mau mengakui perbuatannya.

"Baik aku, Parto maupun Welang Galih sama sekali tidak melakukan apa-apa, ayah. Mana mungkin aku berani membakar gubuk Ni Luh Wedas...! Kalau aku menyuruh mereka membakarnya, sama saja menghianati jabatan ayah sebagai Lurah...! Aku akui peristiwa yang terjadi di Losmen Mawar Malam memang itu kesalahanku! Wintara pun tahu!" kata Mayan Danang menyangkal.

"Lalu siapa yang menaruh racun ke dalam gelas minuman ayah!" Tiba-tiba saja terdengar suara lantang dari dalam kamar. Kemudian orang bicara tadi keluar. Wintara dan Ki Lurah Sentanu menatap orang itu yang melangkah kian mendekat.

"Kunta Danang! Kau bicara apa...!" bentak Mayan Danang.

"Aku bicara yang sebenarnya...! Kalau saja aku tidak cepat-cepat mengganti minuman ayah, mungkin..." "Bohong...! Kau ngelantur! Kau mimpi! Jangan menambah sulit persoalan, Kunta!" Mayan Danang bang-

kit, tapi Wintara cepat mencegah.

"Masih ingat tadi pagi? Delapan ekor ayamku mati semua! Itu akibat racun dalam gelas yang kau taburi racun untuk ayah!" kata-kata Kunta Danang jelas sekali.

"Semula aku tidak yakin kau akan meracuni ayah! Makanya setelah kuganti dengan air yang lain, air itu ku tuang ke dalam tempat minum ayam Hasilnya

kau dan ayah tahu sendiri "

"Bangsat kau, Kunta...! Mulutmu perlu kurobek! Itu fitnah! Fitnah! Aku tidak melakukan apa-apa...

Sungguh!" Mayan Danang melompat menerjang. Wintara tidak sempat menghalangi. Amarahnya meluap...

Tinjunya melayang...

Wwwes!

Kunta Danang tenang menghindar, sebelah lengannya nyeruduk masuk ke lambung Mayan Danang, ia pun jatuh menggelosoh menahan nafas yang sesak.

"Lebih baik mengaku dan minta ampunlah pada ayah, Kakang..." kata Kunta Danang bijaksana. Ki Lurah Sentanu, tidak percaya dengan apa yang dijelaskan Kunta Danang. Wintara beranggapan lain, Mayan Danang dan Kunta Danang memiliki watak yang berbeda, tapi soal siapa yang berniat meracuni sang ayah, Wintara sendiri masih bingung untuk menentukan.

Lagi pula bukan urusannya, kehadirannya di rumah itu bukan untuk soal racun. Yang jelas sekarang ia harus bisa menenangkan suasana agar tidak terjadi keributan di antara saudara. Kalau saja sampai terjadi, Mayan Danang tidak mungkin dapat mengalahkan sang adik. Karena Wintara dapat melihat dari gerakan Kunta Danang tadi sewaktu menghindar dan membalas dengan sebuah serangan yang sangat cepat.

"Benarkah apa yang dikatakan adikmu itu, Mayan...?" tanya Ki Lurah Sentanu. Mayan Danang diam saja, malah tatapannya liar terhadap Kunta Danang.

"Katakan, Mayan...!" Ki Lurah Sentanu membentak, tiba-tiba....

Praaaang!

Kaca jendela pecah. Beberapa batu masuk ke dalam ruangan itu. Orang-orang yang berada dalam ruangan itu terkejut. Wintara cepat bangkit menyelinap di balik jendela.

"Ki Lurah Sentanu...! Serahkan Mayan Danang beserta orang sewaanmu itu pada kami sekarang juga. ! Kalau tidak...!" Suara itu terdengar dari halaman rumah. Wintara dapat melihat jumlah mereka dari balik jendela yang pecah itu. Satu.... Dua.... Tiga Em-

pat   Semuanya tujuh orang.

"Kaukah yang bernama Singo Kobar...?" kata Wintara teriak, suaranya terdengar sampai ke luar.

"Kau kira Singo Kobar itu siapa? Beliau paling pantang menghadapi musuh yang bukan tandingannya. !"

Tujuh orang itu berdiri berjajar menghadapi rumah Ki Lurah Sentanu. Wintara memberi aba-aba agar mereka yang ada di ruangan itu tenang dan jangan mengeluarkan suara. Kunta Danang diam-diam bergerak ke arah pintu, lalu secepat kilat ia membuka pintu dan berlari ke luar....

"Kunta Danang...! Kembali...!" Wintara berteriak, Kunta Danang mengacuhkannya.

"Kalau kalian menghendaki kedua orang itu, Iangkahi dulu mayatku...!" kata Kunta Danang setelah berada di luar. Sudah tentu ketujuh orang itu datang meluruk memenuhi permintaannya.

Tiga orang sekaligus datang melancarkan serangan. Kunta Danang yang sudah siap-siap itu menyambut. Kedua lengannya bergerak-gerak lincah menangkis serangan-serangan itu. Bahkan kakinya sempat menendang salah seorang yang bermaksud menyerang dari belakang  Deees! Orang itu jatuh bergulingan ke

samping. Dua orang yang dihadapinya masih terus melancarkan serangan. Kunta Danang tidak kalah gesit menyambut, benturan-benturan lengan mereka saling beradu. Dan di saat sebuah hantaman melesat ke arah muka, Kunta Danang merunduk! Sambil menangkis serangan yang lain, kakinya maju menghantam perut lawannya....

Bugg!

Datang lagi empat orang menyerang Kunta Danang. Sudah tentu Kunta Danang tidak mungkin dapat menghadapi orang-orang itu. Wintara yang melihat tindakan mereka langsung melesat dari jendela itu. Gerakannya sulit sekali untuk dilihat. Tahu-tahu saja ia sudah menghajar orang yang bermaksud melancarkan serangan terhadap Kunta Danang. Ketujuh orang itu pun beringsut kaget!

"Orang inikah yang telah membuat Kebo Dungkil dan Somat Codet jatuh bangun?"

"Bukan jatuh bangun! Tapi sekedar memberi pelajaran tata sopan santun!" jawab Wintara...

"Bangsat...! Kepung...!" kata salah seorang pemimpin dari ketujuh orang itu. Maka ketujuh orang itu mengelilingi Wintara dan Kunta Danang yang berdiri di tengah-tengah mereka.

Dari balik jendela itu pula, Ki Lurah Sentanu menyaksikan kenekadan anaknya. Lalu,

"Kau lihat, Mayan Danang...! Kau lihat adikmu.... Kau bisa apa!" Ki Lurah Sentanu membentak marah, telapak tangannya melayang mendarat di pipi Mayan Danang....

Ploook!

Kemudian ia pun melesat melalui pintu yang sudah terbuka.

Di luar pertempuran sedang berlangsung. Kunta Danang kelabakan menghadapi serangan-serangan mereka yang datang secara beruntun. Untunglah Wintara ada di situ melindunginya. Kunta Danang sendiri sebenarnya masih mampu menjatuhkan lawanlawannya, meskipun dia harus mendapat hantaman dari salah seorang lawannya. Kalau ia mendapat sekali hantaman, tapi ia bisa membalas menjatuhkan dua orang sekaligus.

Melihat itu Wintara membiarkan Kunta Danang mengurus dirinya dari serangan-serangan musuhnya, karena Wintara sendiri tidak tinggal diam. Ia menjatuhkan satu demi satu musuh-musuh lainnya. Hantaman Wintara malam itu betul-betul tidak kepalang tanggung. Sekali hantam ada yang giginya rontok! Ada pula yang lengannya patah. Tapi mereka begitu alot....

Meskipun banyak di antara mereka yang terluka, mereka masih saja menyerang.

Sekali waktu Kunta Danang jatuh terbanting mendapat hantaman dari salah seorang lawannya, tubuhnya bergulingan menghindari serangan-serangan yang dilancarkan oleh beberapa orang yang mengejarnya Dalam pada itu Ki Lurah Sentanu cepat datang,

maka....

Des!... Des! Des…!

Tiga tubuh sekaligus berpentalan oleh hantaman Ki Lurah Sentanu.... Kunta Danan bangkit di belakang ayahnya.

*

* *

Mendengar adanya Wintara di rumah Mayan Danang, Welang Galih jadi gelisah. Ingin sebenarnya ia datang ke sana untuk ngobrol dengan pemuda yang berilmu tinggi itu. Tapi sang istri sudah berpesan agar malam ini ia tidak perlu ke luar rumah.

Tapi kalau malam ini ia tidak ke luar rumah rasanya tidak akan ada kesempatan lagi bertemu dengan pemuda hebat Wintara. Susah rasanya mencari alasan agar bisa ke luar rumah. Sejak tadi istrinya selalu berada di dekatnya terus.

"Nyi    Habis makan tidak menyulut rokok rasanya

hambar." Tiba-tiba tercetus alasan yang tepat. Istrinya tidak perduli, ia malah bersandar di samping Welang Galih.

"Tolong ambilkan, Nyi... Barangkali masih ada di saku bajuku." katanya lagi. Dengan malas sang istri beringsut bangkit. Ia menuju pada sangkutan baju pada tiang pintu kamar. Ia merogoh pada tiap-tiap saku baju yang tergantung, tidak sebatang rokok pun yang ada di situ.

"Tidak ada, Kang...!"

"Ah, yang benar.... Perasaanku tadi ada satu batang lagi...!"

"Masa aku bohong... Sudah, Kakang beli saja di warung. Tapi ingat jangan lama-lama." pesan istrinya. Welang Galih tersenyum. Di saku bajunya memang tidak ada sebatang rokok pun, itu hanya siasatnya saja agar bisa ke luar rumah. Welang Galih meraih bajunya yang tergantung pada tiang pintu kamar. Lalu ia mengenakannya. Ia pura-pura merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang.

"Aku pergi, Nyi..." kata Welang Galih sambil melangkah ke luar. Udaranya memang cukup dingin. Selintas ia menatap reruntuhan kayu bekas kebakaran yang tadi pagi terjadi peristiwa kematian Parto yang mengerikan. Welang Galih bergidik! Ia tidak berani menatap bekas kebakaran itu lama-lama.

Sengaja ia memotong jalan. Tidak berani ia melewati tempat itu sekalipun hari masih sore. Pikirannya hanya tertuju bahwa ia harus sampai di rumah Mayan Danang. Soal pulang terlambat, atau istrinya bakal mendamprat... Itu bisa diatur. Ngomelnya akan lenyap bila melihat sejumlah uang.... Mudah-mudahan saja nanti Mayan Danang bisa meminjamkan uang sebagaimana biasanya.

Mayan Danang pasti akan memberi. Apalagi di hadapan Wintara, rasa sok dermawannya pasti keluar. Lihat saja.... pikir Welang Galih mantap. Langkahnya semakin cepat menjauh. Pelita-pelita yang ada di setiap depan rumah-rumah berkelap-kelip. Jalan kecil yang melintas menghubungkan ke rumah Mayan Danang nampak terang. Sambil bersiul-siul Welang Galih melangkah.

Alisnya mengernyit ketika dilihatnya sosok tubuh berjalan yang melalui jalan itu makin lama makin dekat. Ah! Kiranya seorang wanita! Tapi siapa...? Welang Galih tidak perduli. Semakin dekat semakin jelas wajah perempuan itu....

Wuaaaaaah!

Welang Galih bagai melihat bidadari. Ia sendiri menghentikan langkahnya. Belum puas kalau tidak menatapnya lebih lama, perempuan itu pun tersenyum.... Bahkan....

"Kakang..." Perempuan itu menarik lengan Welang Galih. Lelaki itu pun terperangah.

"Sejak dari siang aku kesasar, maksud tujuanku hendak mencari rumah Ni Luh Wedas. Apakah sekiranya Kakang tahu...?" kata perempuan itu. Suaranya lebih lembut. Nada suara itu memang pelan, tapi Welang Galih yang mendengarnya seperti suatu guntur yang menyambar di telinganya. Mukanya pucat seketika. Dalam pikirannya tergambar seonggokan kayukayu telah usang menjadi arang. Lalu berganti sesosok tubuh kurus bergulingan termakan api...

"E-e-e-rumah Ni Luh Wedas sudah pindah... Dulu memang gubuknya di sini..." kata Welang Galih gugup. Perempuan itu tersenyum. Welang Galih mundur menjauh....

"Ni Luh Wedas bersama putrinya memang berpenyakit kusta.... Tapi saudaranya tidak! Coba lihat ini..." Perempuan itu tanpa malu-malu membuka kebayanya.

Astaga! Tubuh tanpa kutang terlihat jelas dengan mata kepala Welang Galih. Meskipun hanya diterangi lampu pelita jalanan nampak jelas kemulusan tubuhnya.

"Kalau Ni Luh Wedas sudah pindah dari sini, aku harus ke mana.... Tempat asalku jauh sekali Aku ta-

kut pulang sendirian." Perempuan itu mengenakan kembali kebayanya.

"Tidak jauh dari sini ada gubuk kosong kau bisa bermalam di sana..." kata Welang Galih yang kini mulai berani mendekat. Rasanya, ingin sekali lagi ia melihat kemulusan yang dimiliki oleh perempuan itu.

*

* * 9

"Sendirian...? Aku tidak berani, Kang   Bagaimana

kalau Kakang menemani..?" Tawaran yang menarik! Welang Galih seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Di mana gubuk kosong itu, Kang... Jauhkah dari sini?"

"Tidak... Ma-mari kuantar...!" Welang Galih mencengkeram erat lengan perempuan itu,

Ia membawanya menerobos alang-alang dan semak-semak. Tidak jauh dari situ memang ada sebuah gubuk usang yang sudah tidak terurus. Suasana yang gelap dan menyeramkan sama sekali tak membuat mereka takut. Begitu mereka mendekati gubuk kosong, puluhan kelelawar beterbangan ke luar.

Welang Galih masuk lebih dulu ke dalam gubuk itu. Ia mencari beberapa batang kayu untuk dibakar. Perempuan itu hanya berdiri di depan gubuk. Sepertinya ia merasa takut sekali dengan suasana sesunyi ini. Ketika api unggun mulai menyala, barulah perempuan itu berani masuk. Nampak ruangan dalam gubuk itu semerawut tak terurus.

Tiba-tiba Welang Galih mengeluarkan sesuatu yang berkilat dari pinggangnya, sebuah pedang pendek. Lalu....

"Jangan berteriak kalau tidak ingin mampus ! Kau telah membuatku menjadi jalang, perempuan cantik! Ayo buka semua pakaianmu...! Cepat!" Welang Galih membentak, tangannya yang menggenggam pedang pendek mengarah ke tenggorokan perempuan itu...

"Kakang.... kau..." Perempuan itu ketakutan. "Jangan banyak bicara... Ayo buka!" bentaknya la-

gi. Perempuan itu makin takut. Welang Galih makin geram. Ia menarik kain yang dikenakannya....

"Breeet!"

Maka terlihatlah paha yang begitu mulus. Perempuan itu memekik. Kembali Welang Galih menarik kebayanya. Hanya dengan sekali sentak, tubuh itu telah telanjang dada. Sobekan-sobekan kebayanya masih ada yang tertinggal. Welang Galih tertawa menyeringai. "Sekarang bukalah olehmu sendiri, Nyi.... kalau tidak " Welang Galih siap menikam pedang pendeknya,

padahal ia hanya menakut-nakuti saja, tapi perempuan itu segera melepaskan semua yang melekat di tubuhnya. Melihat itu Welang Galih menelan ludah. Belum pernah ia melihat tubuh yang begitu mulus seperti ini    Pernah ia mengintip seorang gadis yang pal-

ing tercantik di desa ini ketika sedang mandi, tapi keindahannya tidak seperti apa yang ia lihat sekarang. Sinar api unggun menerangi tubuh bugil itu. Namun justru dalam keremangan yang seperti itu membuat darah Welang Galih tersirap.

"Sekarang terlentang di sini   Ayo!" Pedang pendek menakut-nakuti lagi. Gadis itu menurut. Ia menelentangkan diri. Tanpa diperintahkan lagi kedua kaki perempuan itu mengangkang. Welang Galih membuka semua pakaiannya dengan dada yang bergemuruh. Perempuan itu sama sekali tidak berontak saat Welang Galih menindih. Nafasnya yang seperti kuda mendengus-dengus. Tidak ada reaksi, tidak ada rontaan juga tidak ada jeritan, seolah-olah perempuan itu pasrah dan tidak ada pemaksaan...! Aneh!

Api unggun yang menyala menerangi ruangan itu meletup-letup. Lidah-lidah api menjilat habis kayu bakar itu sedikit demi sedikit. Hawa di sekitar itu menjadi hangat Rumput alang-alang yang menghampar d sekitar gubuk bergoyang-goyang tertiup angin. Langit di atas makin kelam menakutkan.

Welang Galih membuka matanya. Nyala api unggun masih meletup-letup. Perempuan yang tadi bersamanya sudah tidak ada di situ. Tapi ia masih melihat sobekan-sobekan kain yang berserakan di sekitar ruangan yang kotor itu. Ia menggaruk-garuk tubuhnya yang terasa gatal. Ah! Mungkin kotoran yang berada di tempat ini melekat di tubuhnya sehingga menimbulkan gatal-gatal.

Ia meraih pakaiannya yang tergeletak di situ. Secepatnya ia mengenakannya. Namun rasa gatal itu selalu saja mengganggu. ia menggaruk-garuk terus. Lalu ia pergi meninggalkan gubuk itu.... Masa bodoh perempuan itu pergi ke mana! Yang penting ia sudah puas! Lagi pula mana mungkin gadis! itu akan menuntut, ia tidak mengenali Welang Galih Pikirnya.

Langkahnya masih tetap pada tujuan semula, ke rumah Mayan Danang. Tapi sepanjang jalan tidak henti-hentinya ia menggaruk. Sepertinya seluruh tubuhnya terasa gatal-gatal. Dan ia terkejut setengah mati ketika melihat telapak tangannya penuh dengan cairan lendir Karena suasana gelap ia tidak dapat memasti-

kan cairan apa yang melekat pada telapak tangannya. Yang jelas ia terus menggaruk dan menggaruk.

*

* *

Wintara tidak menyangka sama sekali, kalau Ki Lurah Sentanu ternyata memiliki kepandaian yang tidak bisa dianggap enteng. la sempat melirik sewaktu menghadapi lawan-lawannya. Ki Lurah Sentanu dapat memukul jatuh lawannya sekaligus dua orang.

Wintara sempat pula melihat Kunta Danang kewalahan menghadapi dua orang lawannya. Wintara sendiri sibuk menghadapi tiga orang yang menyerang dengan gencar. Kedua lengannya bergerak menyilang menyambut pukulan tiga orang yang mengarah ke mukanya. Sambil menangkis begitu, Wintara mendorong kakinya ke samping menghantam Orang yang menyerang dari samping itu....

Bugg!!

Kontan orang itu berguling ke tanah dengan menyemburkan darah. Datang lagi seorang penyerang. Kali ini dengan terjangan melompat ke atas. Wintara cepat merunduk dengan kedua lengan yang masih menyilang. Di luar dugaan lengan itu menyambar kaki yang masih melesat ke atas. Lalu Wintara menariknya sekuat tenaga.... Dan melemparkannya. Bruuuuug!

Terbanting dengan keras dan tak bangun lagi.

Kunta Danang memekik! Tulang rusuknya terasa patah. Sebuah hantaman tidak dapat dielakkan olehnya, mendengar anaknya memekik, Ki Lurah Sentanu melompat ke belakang. Melancarkan serangan kepada orang yang menghantam Kunta Danang Namun serangan-serangan datang lagi semakin sengit. Ki Lurah Sentanu yang sudah kelewat murka maju mengibaskan kedua lengannya....

Bwes! Bwes!

Beberapa orang bergulingan, tapi salah seorang dapat melancarkan sebuah pukulan tepat mengena ulu hati....

Deeeeeees!

Menahan rasa sakit yang sangat menyesakkan pernafasan, Ki Lurah Sentanu menggelosoh ke tanah. Beberapa orang lawannya yang masih segar bugar langsung meluruk menerjang. Pada waktu itu, Wintara sudah membereskan lawan-lawannya. Ia melihat Ki Lurah Sentanu bersama anaknya dalam keadaan bahaya. Maka secepat kilat ia melesat. Para penyerang yang tadi hampir melancarkan hantaman, tiba-tiba saja mereka bergelimpangan sambil memekik hebat. Ternyata ketika Wintara tadi melesat ia melancarkan pukulan maut yang dapat merobohkan para penyerang itu. Dengan geram para penyerang itu bangkit lagi. Mereka tinggal empat orang. Masing-masing mengucurkan darah dari hidungnya.

Wintara sudah dapat mengukur kekuatan mereka. Maka ia pun nampak mengeluarkan sebuah jurus yang sangat aneh. Keempat orang itu tidak langsung maju. Mereka mengepung dari segala arah. Wintara melirik ke samping, ia merasa lega. Sebab Ki Lurah Sentanu sudah bangkit dan sekarang ia membantu Kunta Danang berdiri.

Ketika keempat orang itu datang menerjang, Wintara melesat ke atas. Tubuhnya berputar seperti gangsing, begitu juga sebelah kakinya. Menyambar dua orang sekaligus....

Des! Des!

Dua orang itu hanya terhuyung ke belakang..Dua orang lagi melancarkan serangan dengan pukulanpukulan berantai saat Wintara hinggap di tanah. Mendapat serangan seperti itu Wintara mundur salto ke belakang.... Wuk!... Wuk!... Wuk!... Wuk!

Begitu Wintara berhenti salto, kaki melayang ke depan menghantam muka penyerang yang melancarkan serangan berantai tadi....

Deeees! Tubuh itu terjungkal tak bangun lagi.

Tiga orang yang masih ada nampak beringas menatap Wintara. Ketiga orang inilah yang nampaknya lebih lumayan dibanding dengan yang lainnya. Wintara tidak main-main lagi menghadapi mereka. Setelah ia melangkah dua kali tubuh Wintara melesat lagi ke atas! Berputar di udara bagaikan sebuah kitiran. Ketiga orang inipun mengikuti melesat ke atas. Masingmasing melancarkan serangan. Tubuh Wintara masih berputar. Meskipun begitu ia dapat melihat ketiga serangan yang datang dari arah yang berlainan.

Sebelah lengannya berhasil menangkis sebuah hantaman yang hampir mengenai mukanya.    Kakinya

bergerak lagi ke samping menahan sebuah tendangan, tapi    Wintara tidak dapat menghindar! sebuah puku-

lan yang menghantam bagian punggungnya....

Bug!

Bersamaan dengan itu, Wintara membarengi dengan melancarkan hantaman yang sangat keras terhadap penyerangnya itu....

Dueeeees!

Seorang penyerangnya yang tadi menghantam punggung terbanting ke tanah Wintara masih merasakan sakit pada punggungnya. Tapi ia tetap bersiapsiap menghadapi para penyerang itu.

Kedua penyerang itu menerjang beterbangan bagai rajawali menyambar mangsa ke arah Wintara, Wintara yang dapat melihat betapa cepatnya terjangan mereka, langsung merebahkan diri ke tanah. Dalam keadaan terlentang begitu Wintara menendangkan kedua kakinya ke atas menyambar mereka, maka....

Deeees! Deeees!

Keduanya terlempar jauh membentur dinding batu dengan masing-masing kepala yang remuk. Tujuh orang telah bergelimpangan. Ada yang tewas, ada pula yang pingsan.

*

* *

10

Mereka yang masih bisa bangkit langsung lari terbirit-birit. Wintara sengaja tidak mengejar mereka. Ki Lurah Sentanu pun mengharapkan demikian. Kunta Danang melangkah mendekati mereka, nafasnya masih terasa sesak. Ia tersenyum setelah menatap Wintara. Wintara pun demikian. Setelah Kunta Danang mendekati Wintara merangkul.

"Tidak kusangka, anak Ki Lurah Sentanu yang satu ini luar biasa..."

"Ah! Kaulah yang sebenarnya luar biasa! Aku dan Kunta Danang bisa apa? Untung saja ada kau Wintara, kalau tidak-..?"

Tiba-tiba saja ketiganya tersentak mendengar sesuatu yang berderak! Sosok tubuh melesat dari dalam rumah menerobos pintu yang hancur berantakan. Sosok itu membawa tubuh Mayan Danang yang meronta-ronta dalam dekapannya.

"Ia membawa Mayan Danang, ayah...!" seru Kunta Danang. Wintara reflek mengejar sosok itu yang melesat menembus di kegelapan malam. Matanya yang jeli dapat melihat sosok itu pergi, tapi....

"Jangan mengejar sobat! Kalau tidak Mayan Danang akan mati sekarang juga!.. Aku Singo Kobar akan menunggumu di bukit Kendal besok malam di bulan purnama!... Kembalilah!" Suara itu hilang bersamaan dengan hilangnya sosok tubuh yang membawa Mayan Danang.

Wintara berhenti mengejar. Sekalipun ia merasa khawatir akan diri Mayan Danang yang berada di tangan Singo Kobar. Ia melesat kembali menemui Ki Lurah Sentanu dan Kunta Danang yang menunggu di rumahnya.

"Mayan Danang dijadikan sandera! Singo Kobar menginginkan diriku sebagai penebusnya... Ki Lurah Sentanu tak perlu khawatir, seperti yang pernah kukatakan kemarin, aku bertanggung jawab atas Mayan Danang Mudah-mudahan saja besok Mayan Danang

selamat." kata Wintara sesampainya di hadapan mereka. Belum Ki Lurah Sentanu menjawab, mereka dikejutkan lagi oleh sesuatu....

"Mayan Danang...! Aaarght! Mayan Danang. Tolooooong!' Sosok tubuh berlumuran darah jatuh bangun di hadapan mereka. Seluruh kulitnya nampak meleleh seperti mau lepas dari daging. Tubuh itu menggapai-gapai....

"Dia.... dia Nyi Sekar Dayang Kunti...! Mayan Danang. Tolooooong!" Sosok tubuh itu menjerit-jerit menahan sakit. Wintara, Ki Lurah Sentanu maupun Kunta Danang menatap keheranan. Ketiganya tidak ada yang berani mendekat. Sosok tubuh itu tidak ubahnya seperti seekor makhluk yang mengerikan.

"Aku Welang Galih...! Aku Welang Galih...! Tolooong!" Tubuh menjijikkan itu berkelojotan di tanah.

"Nyi   Sekar    Dayang    Kunti....    Dia....    Dia....

Arghhhhhht!" Tubuh itu berhenti dari kejang-kejang, kemudian kaku tak bergeming. Ki Lurah Sentanu menatap wajah yang sangat dikenalinya itu. Wajah Welang Galih. Mereka melihat cara kematian yang sama yang dialami oleh Parto. Tubuh meleleh mengeluarkan darah, seperti penderita kusta. Ketiganya saling pandang. Masih terngiang kata-kata Welang Galih yang keluar ketika ia menghembuskan nafas yang terakhir... Nyi Sekar Dayang Kunti...! Belum pernah mereka mendengar nama yang amat menyeramkan itu Siapa

Nyi Sekar Dayang Kunti sebenarnya? Hal itu menjadi bahan pemikiran mereka!

"Mungkin mereka kena tuntutan dari arwah Ni Luh Wedas!" kata Kunta Danan Dalam ruangan itu Wintara hanya berdiri di samping jendela yang telah rusak. Ki Lurah Sentanu duduk berhadapan dengan anaknya.

"Tidak mungkin, Kunta.... Mana mungkin arwah bisa menuntut! Menurut pemikiran ku Pasti ada se-

seorang yang sengaja menteror desa ini dengan cara yang keji " kata Ki Lurah Sentanu

Mang Toyop keluar membawa sebuah nampan yang berisi tiga buah gelas air. Dari tadi ia sudah mendengar percakapan mereka.

"Saya memang pernah dengar sebuah nama yang sangat menyeramkan... Tapi bukan Nyi Sekar Dayang Kunti..! Waktu itu seorang perempuan di kampung saya kesurupan, ia mengaku dirinya Nyi Dayang Kunti Naga... Tapi setan perempuan itu tidak berbahaya, sama sekali tidak ada kematian setelah menyurupi    Ia

hanya berpesan agar penduduk desa saya jangan mengganggu ketenangannya..." kata Mang Toyop setelah meletakkan ketiga gelas itu di atas meja. Ki Lurah Sentanu menoleh ke arah Mang Toyop dengan pandangan yang amat tidak suka. Melihat gelagat yang kurang baik, Mang Toyop cepat mundur kembali ke dapur.

"Nampaknya kematian mereka seperti suatu pembalasan, Ki Lurah..." kata Wintara yang tetap berdiri di samping jendela.

"Aku khawatir Mayan Danang akan menjadi korban yang ketiga...!" katanya lagi.

*

* *

Bulan yang bersinar penuh tertutup awan berarak berjalan perlahan. Manakala langit makin lama menampakkan bintang-bintang yang bertebaran berkelapkelip. Dan ketika awan berarak itu berlalu. Sinar bulan menerangi bukit Kendal.

Sebuah bukit dengan dataran yang sangat luas ditumbuhi rumput halus, di mana sisi dataran tersebut dirimbuni oleh semak-semak dan pohon-pohon yang sangat lebat. Di tengah-tengah dataran itu terdapat sebatang tonggak bekas batang pohon yang telah patah tersambar petir. Pada batang pohon itu, sosok tubuh terikat menggantung sambil meronta-ronta. Sosok itu tidak lain tubuh Mayan Danang. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara, karena mulutnya tersumbat oleh secarik kain yang mengikat sampai ke belakang kepala.

Ia hanya meronta-ronta, namun tambang pengikat tubuhnya sangat kuat. Sehingga tubuhnya yang tergantung bergoyang-goyang kesana kemari.

Sesosok tubuh menerobos ke luar dari rerimbunan semak yang amat lebat. Sosok yang mengenakan baju bulu binatang itu tidak terus melangkah ketika tiba di dataran berumput. Wintara datang ke tempat itu untuk memenuhi janjinya. Ia menatap sebatang pohon yang telah patah. Ia pun dapat melihat jelas sosok tubuh Mayan Danang tergantung pada pohon itu. Wintara melangkah lagi.

Ingin rasanya ia cepat-cepat bertemu dengan orang yang menamakan dirinya Singa Kobar. Seperti macam apa dia? Melihat dam belasan anak buahnya yang rata-rata sangar, tentulah pemimpinnya lebih sangar lagi. Paling tidak, amat menakutkan! Wintara melangkah terus ke tengah-tengah dataran itu. Mayan Danang meronta-ronta terus.

"Singo Kobar...! Tunjukkan dirimu...! Aku datang memenuhi janjiku...!" teriak Wintara. Suasana tetap hening. Tidak ada jawab an.

"Singo Kobar, keluarlah...!" teriak Wintara makin lantang.

Lapat-lapat terdengar suara gerakan baju yang tertiup angin, cepat Wintara menoleh ke arah suara itu. Ia melihat sosok tubuh melesat bergerak cepat menerobos rimbunnya pepohonan. Tubuh itu terus melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Sesaat kemudian tubuh yang melesat itu berputar di udara, lalu hinggap di tanah tanpa bersuara. Wintara menatap tenang. Mata Wintara terbelalak melihat beberapa orang yang pernah dihadapi keluar, dari semak-semak. Mereka berdiri di belakang orang yang tadi berjumpalitan tadi.

"Siapa di antara kalian yang bernama Singo Kobar...? Aku datang hanya untuk menemuinya...!" kata Wintara tegas. Kebo Dungkil dan Somat Codet ada di deretan itu. Seseorang yang berdiri paling depan melangkah maju.... Wintara masih ingat orang itu tadi yang melesat bagai anak panah.

"Aku Singo Kobar...! Bagus! Kau datang memenuhi janjimu! Cukup ksatria...!" Wintara setengah tidak percaya! Orang yang mengaku Singo Kobar ternyata seorang anak muda sepantarannya. Seorang pemuda tampan.

Semula Wintara mengira Singo Kobar seorang yang amat menyeramkan, bertubuh besar, berewok, bermata nyalang, dan macam-macam dalam pikirannya. Tapi setelah ia melihat siapa adanya Singo Kobar. Seakanakan Wintara tak percaya!

"Aku ingin tahu sampai di mana kehebatanmu, sobat...! Ilmu apa yang membuat aku harus kehilangan beberapa orang anak buahku...! Juga lima anak buahku ada yang menderita patah tulang...!" kata anak muda yang tak lain Singo Kobar. "Mengapa harus menanyakan soal ilmu padaku... Aku rasa setiap orang punya. ilmu! Lagi pula soal kematian atau patah tulang anak buahmu, bukan aku yang menghendaki.... Tapi..."

"Jangan banyak omong! Kau boleh menukar nyawamu dengan nyawa Mayan Danang!"

"Tentu setelah aku menjadi mayat, bukan...?" jawab Wintara.

"Dan bukan karena aku harus bunuh diri di sini...!" kata Wintara lagi.

Mendengar ucapan yang begitu menggelitik kuping. Singo Kobar menghentakkan kedua kakinya. Lalu kedua tangannya bergerak ke atas sambil mengeluarkan teriakan yang begitu dahsyat!

*

* *

11

Berbarengan dengan suara teriakan yang begitu menggelegar, tiba-tiba saja angin kencang bertiup. Makin lama makin kencang bagai badai angin. Beberapa anak buahnya yang berderet di belakangnya berpentalan terdorong putaran angin yang melanda bagai topan... Tubuh Mayan Danang terombang ambing. Kalau saja tubuhnya tidak terikat kencang, mungkin Mayan Danang sudah terlempar jauh.

Teriakan Singo Kobar masih menggelegar seakan tidak pernah putus mendatangkan angin topan yang deras menerjang. Wintara tetap berdiri, seolah-olah angin yang mendorong sangat kuat itu tidak berarti apa-apa. Rambutnya yang gondrong serta baju bulu yang dikenakan Wintara berderai-derai terkena getaran angin yang begitu kencang! Tubuhnya tidak bergeser sejengkalpun.

Di luar dugaan, Wintara mendorong ke dua telapak tangannya ke depan. Kedua telapak tangan itu nampak bergetar. Tapi akibatnya sangat dahsyat pula...! Angin itu kembali berputar berbalik menerjang Singo Kobar.... Mendapat serangan yang demikian mendadak, Singo Kobar melesat ke atas... Angin kencang terus menerjang anak buah Singo Kobar yang berusaha bertahan. Tubuh Singo Kobar yang melesat itu terus menukik melancarkan serangan.

Menghadapi seorang lawan yang memiliki kepandaian luar biasa ini, Wintara harus pentang mata. Ia tidak boleh menganggap remeh tiap serangan-serangan yang dilancarkan oleh Singo Kobar. Wintara sendiri mengakui akan kehebatan tenaga dalam lawannya. Setiap kali serangan itu hampir menyerempet, ia sudah merasakan getaran angin yang mendorong demikian keras. Sudah tentu Wintara tidak hanya menghindar terus menerus, sesekali ia berusaha membalas serangan itu....

Deeees!

Hantaman mereka beradu.

Keduanya sama-sama melompat ke atas. Singo Kobar melepaskan pukulan ke depan. Wintara menyambut dengan sebelah telapak tangannya. Sebenarnya pukulan yang dilancarkan Singo Kobar sangatlah keras, namun karena Wintara menyambut sama kerasnya.... Sehingga menimbulkan suara yang amat dahsyat. Keduanya sama-sama jatuh ke tanah dengan posisi yang tidak berubah. Tinju serta telapak tangan mereka tetap menyatu. Sebelah lengan Wintara yang sedari tadi menunggu kesempatan, maju menghantam dada Singo Kobar....

Deees!

Singo Kobar memang terpelanting, tapi dalam keadaan yang seperti itu, Singo Kobar sempat melancarkan tendangannya....

Plaaak!

Wintara cepat menangkis. Akibat tangkisan yang disertai tenaga penuh, tubuh Singo Kobar makin terbanting keras!

Hanya dalam sekejap tubuh Singo Kobar bangkit lagi. Wintara sengaja menunggu lawannya menyerang lebih dulu. Dan begitu Singo Kobar menerjang, Wintara hanya memutar sebelah lengannya. Hantaman Singo Kobar luput. Tapi lututnya yang setengah menekuk menghantam perut Wintara.

Dua anak muda yang sama-sama memiliki kepandaian tinggi ini makin ganas saling terjang. Benturanbenturan hantaman mereka yang tidak perlu sebenarnya menghamburkan tenaga tertuang dengan sia-sia. Singo Kobar yang selalu melesat melancarkan serangannya geram dan penasaran. Wintara pun begitu. Sekali ia melancarkan hantaman....

Deeeeer!

Singo Kobar yang sudah kehabisan tenaga terlempar sambil menyemburkan darah dari mulutnya.

Wintara sendiri terhuyung. Rupanya ketika tadi ia melancarkan hantaman, ia menguras semua tenaganya. Dengan seloyongan Singo Kobar bangkit berdiri. Kedua matanya menatap nanar.... Wintara berusaha berdiri tenang, ia menganggap Singo Koba betul-betul kuat dan tangguh. Matanya selalu mengawasi gerakan Singo Kobar yang nampak berusaha menerjang lagi.

Dengan disertai teriakan yang menggelegar, Singo Kobar melancarkan dua tinjunya sekaligus. Meskipun gerakannya terhuyung, Wintara dapat menepis pukulan-pukulan itu. Sebelum Wintara membalas serangan....

Buugg!

Tendangan Singo Kobar masuk ke perut Wintara. Belum hilang rasa sakitnya, tahu-tahu tubuh Singo Kobar berputar. Sebelah lengannya menghantam keras muka Wintara.

Tubuh Wintara bergulingan di tanah, sesaat kemudian ia duduk bersila dengan pandangan yang berputar. Kedua telapak tangannya menyatu di depan dada. Matanya terpejam rapat. Singo Kobar dengan garang maju melancarkan pukulannya berkali-kali ke tubuh Wintara yang masih tetap duduk bersila. Bahkan tendangannya dua kali menghantam leher. Namun bagai batu karang yang tegar, Wintara tetap diam tak bergerak. Darah mulai keluar dari lobang hidungnya. Singo Kobar masih terus menghujani tubuh Wintara dengan segala hantaman maupun tendangan.

Entah pada hantaman yang keberapa kali Wintara berteriak menggelegar sambil mulutnya menyemburkan darah bagai air mancur. Kedua lengannya bergerak cepat menyilang. Singo Kobar yang berada di dekatnya terpental jauh terkena sambaran sebelah lengan Wintara.

Mendadak saja tubuh Wintara melesat ke atas dalam keadaan duduk bersila dan kedua mata yang masih terpejam. Tubuhnya melayang mengikuti ke mana arah Singo Kobar terbanting. Dan begitu kedua mata Wintara terbuka, hantamannya beruntun mengarah di tubuh Singo Kobar. Singo Kobar sendiri tidak dapat mengelakkan amukan Wintara yang melancarkan serangan terus-menerus. Rupanya sewaktu Wintara duduk bersila tadi, ia tengah menghimpun tenaga baru. Meskipun tadi Singo Kobar berusaha mengacaukan jalan pikirannya dengan melancarkan seranganserangan yang melanda di tubuh Wintara. Ia berusaha bertahan walaupun harus mengeluarkan darah Dan

sekarang tenaga inti itu telah menjelma menyalur ke seluruh tubuhnya... Tendangannya yang keras menghantam kepala Singo Kobar.... Saking kerasnya tendangan itu, kulit kepala bagian pelipis Singo Kobar terkelupas sampai ke rambut-rambutnya.

"Waaaaaaarghat!"

Jeritan Singo Kobar tidak kepalang tanggung kerasnya. Tubuhnya kelojotan menahan sakit yang tidak terkira! Dengan nafas yang memburu Wintara menatap tubuh yang sekarat itu. Sebenarnya kalau Wintara mau membunuhnya, bisa saja. Tapi ia sengaja melihat Singo Kobar bergelintingan menjerit-jerit.

"Tobaaaat...! Tobaaaat...! Waaaaaarght" Singo Kobar masih bergelintingan.

"Hei...! Kalian manusia-manusia keparat! Bawa pergi Singo Kobar dari sini...! Kalian ingin melihat darahnya membanjiri bukit Kendal ini...?" bentak Wintara kepada anak buah Singo Kobar yang berdiri ketakutan di balik semak-semak yang merimbun.

Maka dengan memberanikan diri para anak buah Singo Kobar menampakkan diri satu per satu. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan tatapan ngeri mengarah pada Wintara. Setelah mereka mendekati Singo Kobar yang masih kelojotan, mereka langsung membawa cepat tubuh majikannya.

Mayan Danang masih tergantung pada batang pohon di tengah dataran bukit Kendal. Ia merasa lega melihat orang-orang Singo Kobar meninggalkan bukit itu. Ia tidak meronta-ronta lagi saat Wintara melangkah mendekati.

"Ingat Mayan Danang...! Aku mempertaruhkan nyawaku demi kau! Kalau sampai terjadi apa-apa lagi terhadap dirimu, aku lepas tangan... Rubahlah segala sikap burukmu. Karena selama ini segala tindak tandukmu telah ku baca!" kata Wintara mengancam. Darah yang mengalir di sudut bibirnya belum mengering. Mayan Danang tidak berani menjawab.

*

* *

Selama tiga hari ini Mayan Danang tidak pernah ke luar rumah. Cerita ayahnya tentang kematian Welang Galih yang serupa dengan Singo Kobar sangat mempengaruhi dirinya. Perasaan takut selalu menghantui, membuat dirinya harus terkurung di dalam rumah. Selama itu pula ayahnya maupun Kunta Danang tidak pernah mau menemuinya. Mayan Danang merasa dirinya terkucil. Hanya Wintara yang senantiasa menemui ngobrol di kala senggang. Wintara sendiri sudah tidak perlu lagi tinggal di rumah Ki Lurah Sentanu berlama-lama. Sekalipun Ki Lurah Sentanu merasa tidak keberatan seandainya Wintara harus tinggal di situ selamanya. Tapi bagi seorang pengelana sebuah rumah sama sekali tak ada artinya. Ki Lurah Sentanu tidak bisa menahannya.

Siang itu Wintara pamit kepada keluarga Ki Lurah Sentanu. Dengan berat Ki Lurah Sentanu melepaskan kepergian seseorang sangat berjasa bagi kehidupan keluarganya. Segalanya dapat tenang kembali berkat Wintara. Mayan Danang berniat mengantarkannya sampai ke pintu desa. Wintara tidak keberatan.

Keduanya berjalan beriringan saling bisu. Mayan Danang merasa seperti ada kebebasan setelah menghirup udara lepas. Wajahnya begitu berseri. Selama tiga hari ini sepertinya banyak berubah. Para pedagang yang biasanya dapat dihitung, kini para pedagang itu berderet memenuhi sepanjang jalan. Malah mereka itu ada yang bertengkar mulut karena berebut tempat. Apa yang menyebabkannya para pedagang itu jadi demikian banyak berjubal bagai air bah.... Pikir Mayan Danang! Mungkin... Pasti karena Singo Kobar sudah tidak lagi berhak memegang kekuasaan di daerah ini....

Sesaat Mayan Danang sempat melirik pada sebuah losmen yang sangat bagus dan bersih. Pada pintu gerbang yang mirip sebuah gapura tergantung papan nama yang bertuliskan: Mawar Malam... Sesiang itu pun tempat itu demikian ramai dikunjungi para pendatang. Mayan Danang tidak menyadari kalau sejak tadi Wintara memperhatikannya....

"Terima kasih, Mayan Danang.... Kau boleh mengantarku sampai di sini saja. Aku bisa meneruskan jalanku sendiri... Hanya satu pesanku itu yang harus kau ingat...! Dan juga jangan keluar malam selama keadaan belum jernih betul..." kata Wintara. Ia pun melangkah meneruskan perjalanannya. Baju bulu Wintara bergeming tertiup angin. Langkahnya makin lama semakin menjauh, Mayan Danang menatap terus sampai Wintara sudah tidak nampak lagi.

*

* *

12

Dengan penuh semangat, Mayan Danang melewati pintu gerbang yang bertuliskan Mawar Malam. Sebelumnya para perempuan penghibur yang banyak berdiri di situ menyambutnya dengan segala cara mereka, Mayan Danang tidak meladeni.

Kedatangannya ke situ untuk menemui seorang perempuan. Perempuan itu pula yang menyebabkan dirinya sampai berurusan dengan orang-orang Singo Kobar. Sekarang ia datang untuk mengangkat perempuan itu dari lembah hitam. Mayan Danang berniat menjadikan istrinya.

Kurang lebih setanakan nasi, Mayan Danang belum juga menemukan perempuan itu. Ia hampir putus asa. Tiap-tiap kamar ia telusuri, namun tetap saja hasilnya sama. Matanya memandang ke ruangan atas. Di situ berderet beberapa kamar dengan pintu terbuka semua. Betapa kecewanya Mayan Danang... Ia memilih tempat duduk paling tengah. Lalu ia memesan sepundi arak.

Sambil meminum arak matanya terus berputar mengawasi tiap-tiap perempuan yang berlalu-lalang dalam ruangan itu. Mukanya telah memerah. Kupingnya pun berdenging mendengarkan bisingnya suasana itu...

Tiba-tiba saja matanya terbelalak menatap seorang perempuan menaiki anak tangga yang menuju ke ruangan kamar atas.... Dengan cepat Mayan Danang mengejar ke arah perempuan yang dilihatnya, gerakannya yang terburu-buru menyenggol pundi arak itu sampai jatuh dan pecah. Semua orang menoleh dan menganggap Mayan Danang mabuk. Mayan Danang sendiri tidak perduli.

Merasa dibuntuti seseorang, perempuan itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar yang terbuka. Ia menatap wajah Mayan Danang yang tercengang setelah berhadapan. Perempuan itu tersenyum. Mayan Danang seperti melihat senyum yang memikat itu....

Yah ! Ia masih ingat ketika membawa jenazah Par-

to ke rumahnya. Perempuan itu ada di antara kerumunan orang-orang kampung    Tapi kenapa sekarang

ia harus berada di tempat ini? Apakah ?

"Kakang perlu saya temani...?" Tiba-tiba saja perempuan yang cantik luar biasa mengeluarkan suara. Mayan Danang tersentak. Matanya liar menatap kecantikan itu.

"Lebih dari itu, Nyi    Semula aku memang mencari

seseorang untuk kujadikan istri    Tapi setelah melihat

kau.... Aku seperti ingin memiliki mu     Bersediakah

kau menjadi istriku, Nyi... Bersediakah...?" Mayan Danang mendorong tubuh perempuan itu masuk ke dalam kamar. Perempuan it tertunduk malu.

"Kakang ini bicara apa.... Mana ada seorang lelaki terpandang seperti Kakang mau beristrikan seorang pelacur. Kakang pasti mabuk." jawab perempuan itu.

"Tidak! Aku tidak mabuk! Sungguh aku ingin memperistrikan mu, Nyi..." Mayan Danang memeluki tubuh perempuan itu yang tidak berontak sama sekali. "Tutup pintunya, Kang.... Aku malu dilihat orang dari bawah..." Mayan Danang menyepakkan kakinya ke arah daun pintu yang terbuka lebar, maka pintu pun berdentum menutup. Mayan Danang makin gila mempereteli seluruh pakaian yang melekat pada tubuh perempuan itu. Dari ikat rambut, kebaya... Bahkan sampai pada kain yang melekat di sekitar pinggang.

Tubuh ramping yang menggiurkan setiap lelaki telah berdiri bugil. Kulit yang putih mulus membuat Mayan Danang menelan ludah. Dengan tidak sabaran pula Mayan Danang melepaskan semua pakaiannya....

Kini keduanya sama-sama bugil berdiri berhadapan. Saat mereka bersentuhan terasa sekali kehangatan birahi yang menyerang dalam tubuh Mayan Danang.

Bagai srigala liar lelaki itu merengkuh kuat-kuat tubuh yang ramping menggelinjang dengan nafas yang tersengal-sengal. Mayan Danang membaringkannya dengan hati-hati sekali, Perempuan itu terpejam saat Mayan Danang menindih serta mengangkat setengah duduk tubuh yang menggeliat itu dalam pangkuannya. Tiba-tiba saja perempuan itu mendorong keras tubuh Mayan Danang. Ia mendengar beberapa orang melangkah menaiki tangga. Langkah-langkah yang begitu banyak berhenti di depan pintu kamar di mana mereka

berada....

Braaak!

Pintu itu terbuka lebar. Nampak beberapa orang berwajah beringas memasuki kamar itu. Mayan Danang maupun perempuan yang bersamanya masih membugil. Beberapa orang datang menyeret tubuh Mayan Danang. Tapi....

Praaak! Perempuan bugil itu mengibaskan tangannya, maka beberapa orang itu berpentalan. Salah seorang di antaranya ambruk dengan kepala pecah.

"Kalian mau membunuh Mayan Danang...? Tidak bisa! Dia bagianku...! Kalian tidak berhak! Menyingkirlah..."

Seseorang muncul lagi. Seorang lelaki dengan balutan di kepalanya. Laki-laki itu tidak lain Singo Kobar....

"Cepat! Kalau perlu bunuh saja mereka...! Ayo bunuh!" kata Singo Kobar sengit.

"Hi.... hi.... hi.... hi    Kalian cari mampus! Aku Nyi

Sekar Dayang Kunti tidak bakal mati   Heaaaaat!"

Sambil berkata begitu kedua lengannya menyebar ke atas. Maka beberapa orang beterbangan mencelat. Bahkan sampai jatuh ke ruangan bawah. Suasana itu menjadi, ricuh. Orang-orang yang berada di situ menjadi panik. Mereka melihat seorang perempuan telanjang bulat mengamuk.

Perempuan itu masih terus melancarkan serangannya. Dan setiap kali lengannya bergerak, beberapa orang ambruk berjatuhan ke lantai bawah dengan luka-luka yang tidak ringan. Beberapa meja pun terpaksa hancur berderak tertimpa tubuh-tubuh yang berjatuhan dari ruangan atas. Melihat anak buahnya cerai berai berjatuhan, Singo Kobar menerjang geram! Perempuan cantik itu menyambutnya dengan sebuah tendangan mengarah perut.... Breeees!

Kaki yang putih mulus itu menembus di perut Singo Kobar! Dan ketika perempuan itu menghentakkan kakinya, tubuh Singo Kobar mencelat ke bawah dengan darah yang menyembur dari perut membanjiri lantai ruangan bawah. Tubuhnya terlentang kaku tak berkutik.

Mayan Danang yang mendengar siapa nama perempuan itu langsung teringat akan cerita ayahnya... Nyi Sekar Dayang Kunti...! Perempuan itu pula yang telah membunuh Parto dan Welang Galih. Cepat-cepat ia meraih celananya. Tapi perempuan yang menyebut diri Nyi Sekar Dayang Kunti berbalik menghadapi Mayan Danang.

Orang-orang yang berada di bawah segera menyingkir dari losmen itu. Mereka semua ketakutan melihat seorang perempuan cantik telanjang bulat mengamuk bagai kesetanan! Tubuh itu memang nampak mulus dan menggiurkan, tapi itu tadi.... Sekarang sama sekali tidak ada kesan membangkitkan birahi. Mayan Danang beringsut mundur ketika Nyi Sekar Dayang Kunti me-langkah mendekati.

"Hi.... hi.... hi.... hi.... Setelah tadi kau merasakan kenikmatan tubuhku, sekarang kau harus menikmati pula rasanya kematian.... Hi.... hi.... hi.... hi.... Aku tidak perlu mengotori tanganku, Mayan Danang...! Kau akan mati dengan sendirinya.... Hi... hi... hi...hi...!" Nyi Sekar Dayang Kunti tertawa menakutkan.

Dalam pada itu sosok tubuh melesat ke atas dari lantai bawah ke ruangan itu. Nyi Sekar Dayang Kunti yang melihat lesatan tubuh seseorang memasuki ruangan itu cepat menyambar dengan lengannya. Serangan itu melesat hanya menyerempet bulu-bulu yang kasar. Bulu-bulu kasar itu tidak lain pakaian yang dikenakan Wintara.

Wintara melompat ke arah Mayan Danang, tapi sebelum ia mencapainya Nyi Sekar Dayang Kunti mendorong telapak tangannya ke depan, maka Wintara tersungkur ke depan sambil memekik. Pukulan itu sangat keras menghantam punggung Wintara. Ia merasa serba salah menghadapi perempuan yang telanjang bulat berdiri mengangkang di hadapannya. Wintara menghentakkan kedua kakinya, maka sebentar saja tubuhnya melesat berputar di ruangan itu. Sambil menyeringai, Nyi Sekar Dayang Kunti melancarkan tendangan ke atas....

Dees!

Wintara tidak dapat menghindari tendangan yang berkelebat demikian cepatnya.... Tubuh itu terlempar ke bawah berdegum di lantai.... Dirasakan tulang punggungnya remuk.

Sosok tubuh bugil itu terus memburu menukik ke bawah. Sebelah telapak tangannya siap melancarkan hantaman. Sebelum hantaman itu mengenai, Wintara berguling ke samping.

"Sekar Dayang Kunti...! Hentikan...!" Terdengar suara seorang perempuan membentak.

Nyi Sekar Dayang Kunti menghentikan serangannya. Ia mengarah ke arah suara. Tidak ada sosok manusia di sana. Kecuali seberkas sinar yang amat me-

nyilaukan. Orang-orang yang berada di luar losmen menjadi sangat takut.

"Kau telah melanggar perjanjian, Sekar...!" Sinar menyilaukan itu berkerlip-kerlip.

"Maaf, Nyi.... Aku terpaksa.... Dendam ku belum terlaksana, tapi mereka mencoba menghalangi !" kata

Nyi Sekar Dayang Kunti.

"Apanya yang belum terlaksana! Orang itu telah menyerap racun kusta mu.... Dia pasti mati! Ayo, Sekar! Kau harus menjadi dayang-dayang ku !" Sinar itu

nampak lebih menyilaukan. Wintara menutupi kedua matanya dengan lengan.

"Tidak, Nyi.... Aku tidak mau jadi dayang-dayang mu! Sekarang aku cantik, mulus tidak ada cacat bekas penyakit kusta.... Aku akan tetap di sini...!" jawab Nyi Sekar Dayang Kunti.

"Makhluk terkutuk! Tidak sadarkah semua keadaan yang ada padamu itu titipan ?"

"Ku mohon padamu, Nyi.... Biarkanlah aku...!" Nyi Sekar Dayang Kunti berlutut. Ia tidak perduli tubuhnya yang bugil dipandangi orang banyak, meskipun orang-orang itu hanya melihat dari kejauhan.

"Kau tidak bisa menentang kehendakku, Sekar...! Bersiaplah...!" Sinar menyilaukan itu berputar-putar di udara. Lalu melesat ke arah Wintara yang masih menutupi kedua matanya dengan lengan. Sinar yang berputar-putar di udara mendadak berhenti di atas kepala Wintara. Semua orang tertegun tatkala sinar itu masuk menembus melalui ubun-ubun kepala.

Mendadak saja Wintara bangkit berdiri; dengan kedua mata yang terbelalak. Langkahnya berat menuju Nyi Sekar Dayang Kunti berlutut menghadapinya. Begitu Wintara mendekati, Nyi Sekar Dayang Kunti melancarkan serangan....

Buuug!

Pukulan itu menghantam dada Wintara.

"Bagus kau berani memukul ku, Sekar. Bersiap-

lah! Aku akan menjemput mu...! Dan akan menghukum mu di sana...!" kata Wintara. Suara itu jelas bukan suaranya, tapi suara seorang perempuan yang berasal dari sinar yang amat menyilaukan tadi.

Kedua lengan kekar Wintara mencengkeram erat kepala Nyi Sekar Dayang Kunti, lalu mulutnya yang menganga mendekat seperti hendak menelan kepala itu bulat-bulat.

"Jangan, Nyi.... Jangaaaaaaaaaaaaan...!" Nyi Sekar Dayang Kunti memekik hebat ketika mulut Wintara yang menganga melekat di batok kepalanya. Tubuh bugil itu kelojotan bergoser-goser. Teriakannya keras memenuhi ruangan itu. Buah dada serta auratnya membentang ke mana-mana. Sampai akhirnya tubuh bugil itu terkulai lemas terlentang di lantai.

Wintara tersentak ketika sinar menyilaukan keluar dari kepalanya. Ia seperti baru bangun dari tidurnya. Rasa sakit dan ngilu yang menggeram dalam tubuhnya hilang seketika. Di bawah kedua kakinya terlentang sosok bugil.

Lengannya cepat menutupi kedua matanya saat sinar menyilaukan itu terbang mendekati.

"Terima kasih, anak muda.... Aku telah meminjam ragamu untuk melumpuhkan perempuan itu… Aku tidak menyangka daya tahan tubuhmu begitu kuat....

Tadi aku mengira kau akan mati, makanya aku mempergunakan ragamu....

Kalau saja manusia biasa, tentunya ia akan mati saat aku keluar dari tubuhnya.... Karena inti tenaga yang tersalur tadi energi panas, bahkan lebih panas dari inti api.... Kau boleh mempergunakan inti api itu, anak muda! Aku akan datang setiap kau betul-betul membutuhkannya, sebut saja namaku sambil semedi.... Nyi Dayang Kunti Naga Aku pasti datang mem-

bantu.... Nah, sekarang aku pergi dulu.... Sampai ketemu lagi anak muda!" Sinar menyilaukan itu sirna menjelma asap keputihan yang kemudian menghilang sama sekali. Wintara masih tertegun, mulutnya terasa terkunci. Orang-orang yang bersembunyi di balik tembok mulai bermunculan satu per satu. Para wanita penghibur berlarian masuk ke dalam kamar. Semua orang ramai memenuhi ruangan itu.

Mayan Danang turun dari anak tangga sambil menggaruk-garuk tubuhnya yang terasa gatal. Ia berlari cepat ke arah Wintara sepuluh jarinya tidak berhenti menggaruk. Wintara menatap aneh. Darah mulai keluar dari setiap titik lobang pori-pori. Kulitnya-mulai mengeriput. Lama-kelamaan nampak seperti meleleh menjijikkan.

Wintara mundur ketika Mayan Danang yang mulai kehilangan bentuk mendekatinya. Cepat ia melompat ke atas dan masuk ke salah satu kamar yang masih terbuka. Kemudian ia turun lagi dengan membawa selembar kain seprei. Dengan gerakan yang sangat cepat ia membungkus seluruh tubuh Mayan Danang... Setelah itu ia menerobos orang-orang yang berkerumun di ruangan itu sambil membawa tubuh Mayan Danang kembali ke rumahnya.

Orang-orang masih memenuhi ruangan losmen. Tubuh yang aduhai, mulus, putih.... Dan     Tiba-tiba

saja orang-orang yang berada di situ membelalakkan mata. Tubuh mulus itu berangsur-angsur berubah. Kulit yang mulus mulai mengeriput     Dagingnya yang

gempal menciut. Warna kulitnya yang putih berubah kian memerah.... Mencair. Wajah cantik mempesona berobah kembali asal Mereka memekik ketika wajah

itu mulai nampak. Wajah yang selama ini paling ditakuti.... Wajah Narsiah putri tunggal Ni Luh Wedas. Kontan semuanya berlarian pating serabut takut kena ketularan penyakit itu. Dalam sekejap losmen itu menjadi sepi, tinggallah tubuh busuk Narsiah terlentang tanpa nyawa.

*

* *

Mayan Danang mengerang-ngerang kesakitan. Tubuhnya masih terbungkus dengan kain sprei. Ki Lurah Sentanu dan Kunta Danang menatap penuh iba. Wintara yang berdiri di situ tidak dapat berbuat apa-apa. Semuanya telah terjadi. Tangis sang ayah dan adiknya meledak saat Mayan Danang menghembuskan nafasnya....

"Bakar rumah Ki Lurah.... Bakar!" Tiba-tiba saja terdengar suara orang-orang kampung Rawa Kandar meluruk memasuki halaman Ki Lurah Sentanu.

"Desa ini harus bersih dari penyakit kutukan Ayo

Bakar...!" Semua orang sudah membawa obor yang menyala.

"Tunggu apa lagi! Ayo bakar!" Mereka melempari rumah itu dengan obor. Ki Lurah Sentanu melihat seorang pemuda memimpin orang-orang kampung. Pemuda itu mirip Parto! Tapi yang jelas dia bukan Parto! Parto telah tewas! Ki Lurah Sentanu dan Kunta Danang tidak ingat apaapa lagi. Tubuh mereka terasa melayang terbang. Dan mereka masih sempat merasakan seseorang membawa mereka menerobos pintu belakang. Siapa lagi kalau bukan Wintara yang membawa tubuh mereka dari jilatan-jilatan api yang mulai membakar habis rumahnya.

Mereka dapat melihat jelas api berkobar-kobar menjilati tiang-tiang rumah. Ki Lurah Sentanu bersama Kunta Danang menyaksikan sampai tuntas rumahnya menjadi arang. Dari kejauhan mereka masih dapat melihat asap hitam membumbung tinggi ke angkasa. Mereka berdua berdiri tak bergeming sedikit pun. Air mata Ki Lurah Sentanu mengalir.... Dan di saat ia menoleh ke belakang, sosok Wintara sudah hilang entah ke mana....

T A M A T