Serial Pendekar Kelana Sakti Eps 03 : Iblis Lengan Tunggal

 
Eps 03 : Iblis Lengan Tunggal 


"Traaaz....! Glegaaaaaaar!" Suara petir memecahkan kelamnya langit dengan lidah-lidah sinar yang amat menyilaukan. Bersamaan dengan itu derasnya air hujan menyiram permukaan bumi. Membuat seluruh jalan itu becek dan tergenang air.

Seorang mengenakan tudung lebar berlari menerobos derasnya hujan. Bajunya sudah nampak basah kuyup, tubuhnya juga kelihatan menggigil. Langkahnya cepat menyeruak tanah becek.

Suasana malam itu demikian dingin dan menyeramkan. Apalagi di sisi jalan nampak jelas puluhan patok kuburan yang telah usang. Pemandangan seperti itu sama sekali tidak membuat takut orang yang berlari melintasi daerah itu.

Di luar dugaan, orang itu membelok ke arah tanah pemakaman. Tidak jarang kakinya yang melangkah cepat menerjang tanpa sengaja patok usang sampai patah.. Orang itu tetap lari tak perduli. Sampai kira-kira ia melangkah sepanjang tiga puluh tombak ia berhenti. Pandangannya menerobos derasnya hujan. Tertuju pada sebuah kuburan batu. Ia dapat melihat lapat-lapat nyala api. Kuburan batu itu mirip sebuah tempat peristirahatan, sayang sudah tak terurus.

Dengan penuh keyakinan, ia melangkah menuju ke situ. Semakin dekat ia mendengar suara halus letupan api unggun.

"Seta Wungu....! Seta Wungu…! Aku datang !"

Suaranya lantang bercampur dengan gemuruh derasnya hujan. Orang yang telah basah kuyup berjalan mendekati kuburan tua. Ia dapat melihat jelas seseorang duduk tenang menghadapi api unggun. Tempat itu cukup lumayan, dapat terlindung dari derasnya hujan.

Air hujan menetes dari baju yang telah basah kuyup, orang itu berdiri di belakang seseorang yang tengah menghadapi api unggun.... Lalu membuka tudung lebarnya. Wajahnya nampak pucat karena hawa dingin.

"Maafkan.... Aku datang terlambat… Cuacanya kurang memungkinkan, Seta Wungu...." katanya lagi. Orang yang diajak bicara diam. Ia nampak tengah menikmati hangatnya api unggun.... "Glegaaaar!" Sekali lagi suara geledek memekakkan telinga. Tubuh kuyup itu menoleh keluar. Dilihatnya hujan semakin deras....

Suasana nampak gelap menakutkan....

"Siapa yang kau inginkan, Somarengga? Katakan sekarang " Tiba-tiba saja orang itu mengeluarkan su-

ara. Pandangannya masih tertunduk menatap lidahlidah api, Tubuh kuyup itu tidak berani mendekat maupun duduk di sebelahnya, ia hanya berdiri di belakang. Lalu dengan gemetar ia berani bicara.... "Sadewo.... Sadewo Mangli… Orang itu yang kuinginkan!"

"Sadewo Mangli....? Kenapa semua orang-orang yang kau inginkan rata-rata dari pembesar kerajaan....?" Orang yang disebut Seta Wungu menoleh ke belakang. Lalu ia berdiri di tempat. Nampak wajahnya yang angker. Begitu juga sebilah pedang tersampir di punggungnya. Sebelah lengannya kutung. Terlihat jelas lengan bajunya melambai-lambai tertiup angin. Lengan kirinya kekar dilapisi dengan lengan baju sampai sebatas pergelangan tangannya.

Tubuh kuyub itu tidak berani menatap. Dari balik bajunya yang basah ia mengeluarkan sebuah kantong sebesar kepala bayi. Dari situ terdengar suara gemerincingnya uang logam. Sudah pasti kantong itu berisi penuh dengan uang.

"Sebelumnya terimalah tanda jasa ini Seta Wungu "

"Untuk Sadewo Mangli, aku minta bayaran dua kali lipat...." kata Seta Wungu. Somarengga yang kuyup kedinginan menatap dalam.

"Atau kita batalkan saja transaksi ini...!" Seta Wungu bicara lagi. Somarengga makin diam kedua kelopak matanya berkedip.

"Ba-ba-baiklah.... Setelah urusan ini beres, akan ku tambahkan lagi...." janji Somarengga "Tapi ingat....

Harus berhasil, Seta Wungu….!" kata Somarengga lagi. "Asal kau tepati janjimu.... Kau tak usah khawatir. " jawab Seta Wungu mantap.

"Traaaaz!" Guratan kilat dengan lidah-lidahnya yang runcing merobek langit. Tempat itu terang dalam sekejap. Hujan masih deras. Percikan air hampir membasahi pinggiran lantai kuburan, batu. Tubuh tanpa lengan itu berdiri menatap derasnya hujan.

"Di mana bisa kutemui Sadewo Mangli ?" Suara

Seta Wungu terdengar datar.

"Besok malam bisa kau temui pada pesta malam di Joglo Alun...." jawab Somarengga sambil mengenakan kembali tudung lebarnya. Seta Wungu kembali duduk menghadapi api unggun, Sebelah lengannya membetulkan letak kayu bakar yang hampir mati.

"Sekarang aku permisi.... Kutunggu hasilnya lusa.... Selamat tinggal...," Setelah mengenakan tudung lebarnya, Somarengga langsung beranjak dari tempat itu. Keduanya sama-sama acuh tak perduli.

Dengan berlari kecil, Somarengga menerobos derasnya air hujan melintasi tanah pekuburan. Beberapa kayu nisan ambruk lagi tertendang tanpa sengaja oleh langkah-langkah itu.

Seta Wungu masih menekuri api unggun. Dalam pikirannya melintas seraut wajah lelaki setengah tua. Ia mengingat-ingat raut wajah itu.... Selintas pula senyumnya pahit. Lengan kanan bajunya melambailambai tertiup angin. * * *

Joglo Alun sebenarnya tidak lebih dari sebuah lapangan luas. Tapi pada pesta malam seperti itu, orang-orang kampung itu menyulapnya menjadi sebuah tempat yang amat menyenangkan. Tenda-tenda didirikan di sana-sini. Segala macam hiburan ada pada tiap-tiap tenda. Para pedagangpun tidak sedikit yang ikut menyemarakkan tempat itu. Tiap setahun sekali tempat itu memang selalu ramai. Dan malam ini betulbetul nampak lebih meriah dibanding tahun-tahun yang lalu.

Orang-orang dari desa manapun pasti berdatangan ke Joglo Alun. Pesta malam yang diadakan setiap setahun sekali memang merupakan tradisi untuk mencari kesenangan atau menghibur diri seusai panen padi. Tidak heran kalau penduduk desa lain bermata hijau melihat lenggak-lenggok para gadis Joglo Alun yang berseliweran di situ....

Musik-musik gending Jawa maupun sejenisnya bercampur aduk terdengar. Tapi bagi orang-orang yang berada dalam tenda, musik yang mereka hadapi terdengar jelas. Dan hampir tiap-tiap tenda penuh dengan para pendatang yang keluar masuk. Dari kaum lelaki, perempuan sampai anak-anak....

Hanya sebuah tenda di bagian paling sudut nampak sepi. Tapi di dalamnya ada beberapa orang duduk menghadapi hidangan. Mereka adalah orang-orang kerajaan yang bertugas di situ sebagai penjaga keamanan. Badewo Mangli sebentar-sebentar ke luar dari tenda itu. Sepertinya ada sesuatu yang ditunggunya. Beberapa penjaga yang berdiri di luar tenda sampai terheran-heran.

Seorang gadis memeluk kecapi (alat musik) berjalan menerobos dari kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Jemarinya yang lentik sengaja menyentilnyentil tali senar. Maka terdengar alunan musik dentingan senar kecapi. Pandangannya memutar mengawasi keramaian itu. Hingga akhirnya tertuju pada sebuah tenda di sudut lapangan. Senyumnya tersungging, iapun menuju ke situ.

Mendengar alunan denting kecapi, Sadewo Mangli langsung berjingkat bangun dari tempat duduknya. Begitu ia ke luar tenda, matanya langsung tertuju pada seorang gadis pemetik kecapi yang telah berdiri di hadapannya.

"Arum Kemuning....! Ah, aku kira kau tidak datang.... Mari masuk semua sudah menunggumu. Ma-

ri !" Sadewo Mangli menyambut ramah.

"Mana bisa begitu, Tuan... Pekerjaan saya memang menjual suara. Kalau saya tidak datang, berarti

sama saja menolak rejeki....." Suara gadis itu lembut, ia melangkah memasuki tenda. Di dalamnya telah menunggu empat orang pembesar istana duduk berderet membentuk setengah lingkaran.

"Nah, sobat-sobat.... Inilah Arum Kemuning yang kumaksudkan.... Dia sengaja ku undang ke mari untuk menghibur kita." kata Sadewo Mangli setelah memasuki tenda. Arum Kemuning senyum-senyum sambil menundukkan wajah berkali-kali ke arah tamutamu itu. 

"Orang-orang menyebutnya Putri Kecapi    Sua-

ranya pun sudah banyak didengar orang. Termasuk aku pengagumnya... Kalian boleh dengar nanti..." kata Sadewo Mangli sambil memberikan tempat duduk kepada Arum Kemuning si Putri Kecapi. Tempat itu sudah disediakan sebelumnya Sebuah bantalan empuk berlapis Sutra berwarna kuning emas. Terletak di tengah-tengah ruangan tenda.

Para pembesar itu begitu kagum setelah melihat penampilan Putri Kecapi yang anggun menawan. Mereka tidak henti-hentinya memandangi wajah cantik itu. Arum Kemuning tertunduk malu Sadewo Mangli

tersenyum melihat sobat-sobatnya merasa puas dengan kehadiran si jelita Arum Kemuning.

Tanpa diperintah lagi, Arum Kemuning mulai memainkan kecapinya. Jari-jemari lentik terlihat halus memetik senar. Suaranya yang merdu mengisi alunan denting kecapi. Semua para pembesar yang berjumlah lima orang termasuk Sadewo Mangli betul-betul kagum dibuatnya. Mereka semua termangu mendengar si Putri Kecapi beraksi.

Dua orang penjaga di hadapan pintu tenda ikut pula mendengarkan suara dan musik kecapi. Mereka seakan hanyut dalam alunan merdunya dentingan senar. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan senjata sebilah tombak. Keasyikannya benar-benar terusik ketika ia melihat seseorang berpakaian serba hitam. Dua penjaga tenda itu dapat melihat jelas sosok yang mendekatinya itu orang cacat. Sebelah lengannya kutung. Di balik punggungnya tersoren sebilah pedang. Wajahnya yang angker menatap para penjaga itu.

Kedua penjaga pintu tenda langsung menyilangkan tombak-tombaknya ketika orang berlengan tunggal itu mendekati. Salah satunya malah melarang....

"Maaf, Kisanak    Tenda ini bukan untuk umum,

di sini khusus para pembesar. " jelasnya.

Sosok serba hitam itu tidak menyahut. Ia malah maju selangkah, lengan kirinya cepat bergerak mencabut gagang pedang. Kedua penjaga itu tidak dapat mengikuti kecepatan sebelah tangan yang bergerak menyilang. Seberkas sinar putih menyilaukan membersit.... Menghantam putus tombak-tombak mereka. Lalu dengan gerakan merunduk ia membabat memutar pedangnya....

"Sreeet!.... Sreeeet! Wuaaaa....!" Mereka menjerit dengan masing-masing luka sayatan pedang di perut. Satu berguling.... Satu lagi ambruk masuk ke dalam tenda. Sudah tentu keduanya tewas.

Ketika tubuh bergelimang darah itu ambruk memasuki tenda, tubuh itu hampir jatuh menimpa Arum Kemuning yang tengah memainkan kecapi. Seketika alunan yang merdu terhenti, malah berganti dengan suara teriakan kaget. Kelima pembesar istana itupun

tersentak menyaksikan tubuh penjaga tenda tahu-tahu ambruk dalam ruangan mereka. Sadewo Mangli berdiri sambil tangannya siap mencabut pedang dari pinggang. Yang empat orang lagi ikut-ikutan bangkit, malah ada yang lebih dulu mencabut pedang.

Di hadapan mereka telah berdiri sosok hitam dengan pedang terhunus. Pandangannya tajam mengawasi kelima orang yang berada dalam ruangan tenda.

"Bandit buntung....! Mau apa bikin onar di sini....

Cari mampus!" hardik Sadewo Mangli.... Kini kelimanya sudah mencabut senjata. Arum Kemuning beringsut ketakutan. Cepat ia berlari ke belakang Sadewo Mangli. Manusia berlengan tunggal itu tidak perduli, ia melangkah terus berdiri sampai di ruangan tengah....

Perlahan sekali ia mengangkat pedangnya. Bersamaan dengan itu, para pembesar mulai menerjang menyerang.... Babatan-babatan pedang bagaikan lecutanlecutan sinar siap merencah. Sosok hitam melesat ke atas sambil pedangnya berputar menyambut gencaran itu... "Trang....! Traang!" Senjata-senjata mereka beradu. Ketika kakinya menyentuh tanah, sosok hitam menggerakkan pedangnya sekuat-kuat ke samping kiri.... "Bwet....! Arghhhhhh!" Salah seorang tewas dengan batang lehernya hampir putus. Darahnya menyembur tenda Datang lagi dua orang dengan baba-

tan-babatan garang mengarah. Sosok hitam berbalik menyambut, lalu bagaikan serigala kelaparan ia mengganas. Ia mainkan pedangnya menerjang ke arah Orang-orang itu. Melancarkan pembunuhanpembunuhan sadis.

Pedangnya bergerak menebas, darah segar seperti air mancur! muncrat berhamburan. Dibarengi dengan batok kepala yang menggelinding ke tanah. Seorang lagi tidak mampu menjerit. Dengan mata terbelalak pedangnya terlepas dari genggaman. Perutnya telah menembus sebilah pedang yang telah berlumuran darah. Dan saat sosok hitam menarik pedangnya, tubuh yang telah tertembus itu ambruk terjungkal. Pedang itu tidak cukup berhenti! sampai di situ. Setelah menarik pedangnya, sosok hitam menyambut serangan yang datang dari arah belakang....

"Traaang!" Kalau saja ia tidak cepat menyilangkan pedangnya ke atas kepala, sudah pasti kepalanya terbelah dua Saat itu pula ia melancarkan tendangan

menghantam keras di perut lawannya....

"Des!" Tubuh itu terhuyung beberapa langkah ke belakang... Dengan beringas sosok hitam lompat menerjang. Babatan pedangnya keras menghantam....

"Breeet!" Tubuh yang terhuyung tadi ambruk dengan luka menggores dari dada ke perut. Sadewo Mangli mundur selangkah sembari melindungi Arum Kemuning. Diam-diam ia cukup gentar menghadapi sosok hitam itu. Meskipun ia berlengan tunggal, tapi permainan pedangnya jauh di luar kemampuannya.

"Sebenarnya aku hanya membutuhkan nyawamu, Sadewo Mangli.... Sayang mereka ikut menjadi korban...." kata sosok hitam dengan nada dingin....

Kedua matanya tidak berkedip menatap Sadewo Mangli. Arum Kemuning yang berdiri di belakang Sadewo Mangli gemetar ketakutan. Sosok hitam melangkah maju mendekati mereka. Telapak tangannya menggenggam erat gagang pedang. Sadewo Mangli sudah tahu akan mendapat serangan. Maka ketika sosok hitam membabatkan pedangnya, cepat Sadewo Mangli memutar pedang itu ke depan....

"Traaang!" Pedang mereka beradu.... Sekali lagi sosok hitam membalikkan pedangnya.     Berkelebat

cepat ke arah muka.... "Sreeet!" Sebelum mata pedang itu mengenai sasaran, Sadewo Mangli merunduk bergulir ke samping. Tapi Arum Kemuning yang berdiri di belakangnya menjerit hebat    Gadis itu bergulingan di

tanah. Kedua telapak tangannya memegangi rongga matanya    yang    tampak    mengeluarkan    darah.... "Waaaaaa-aaaaaaaa!" Wajah cantik itu telah berlumuran darah. Tubuhnya berkelojotan menahan sakit.

Sebenarnya bukan maksud si sosok hitam melukai gadis itu, ia telah kelepasan membabatkan pedangnya ke arah Sadewo Mangli tadi, Kalau saja Sadewo Mangli tidak melarikan diri tentunya gadis itu tidak akan terluka.

Melihat gadis itu berkelojotan sambil berteriakteriak, Sadewo Mangli marah bukan kepalang... Ia tidak lagi memandangi akan kehebatan ilmu pedang lawannya. Dengan nekad ia melompat maju sambil membabatkan pedangnya membabi buta.... Tapi gerakan sosok hitam lebih cepat lagi Ia menghantam ba-

batan-babatan pedang Sadewo Mangli dengan pedangnya....

"Traak!" Sadewo Mangli tersentak melihat pedangnya patah dua.... Dalam ketersiapannya itu ia tidak sempat menghindari babatan pedang yang menghantam putus lehernya...

* * * 2

Beberapa saat kemudian, tenda yang berada di sudut lapangan penuh dikerumuni orang. Semua pertunjukan hiburan berhenti. Alunan bermacam-macam musik lenyap berganti dengan riuhnya suara para pendatang pada pesta malam itu. Hampir semua orang menyaksikan korban-korban pembunuhan sadis di dalam tenda. Beberapa pasukan dikerahkan untuk menjaga kegaduhan itu. Membuat pagar betis agar orangorang yang berada di situ tidak masuk semua ke dalam tenda. Namun mereka masih saja menimbulkan suarasuara gaduh.

Seorang pemuda dengan pakaian bulu binatang menerobos kerumunan itu. Ia berusaha melawan desakan-desakan dengan sekuat. tenaga. Orang-orang yang berada di dekatnya seperti terdorong ketika pemuda itu melewatinya. Pemuda yang tidak lain adalah Pengelana Sakti seakan tidak perduli. Padahal ia sengaja mendorong dengan menggunakan tenaga dalam. Kalau tidak dengan cara demikian, mana mungkin ia bisa berada paling depan, pikir Wintara si Pengelana Sakti. Ia pun ingin melihat para korban pembunuhan.

Setelah berada paling depan, Wintara dapat melihat jelas para korban berserakan di dalam tenda yang sudah terbuka lebar. Mayat-mayat itu dijejerkan berderet. Keadaan mereka semua cukup mengerikan. Perlahan Wintara mencoba melangkah lebih dekat, tapi seorang penjaga mendorong kembali. Pandangannya mengawasi seluruh ruangan dalam. Wintara dapat melihat lima orang terbujur kaku rebah berderet. Ada sesuatu yang menjadi perhatiannya... Sebuah benda tergeletak dengan noda-noda darah. Sebuah alat musik....

Sebuah kecapi! Wintara mengernyitkan alisnya. "Minggir....! Minggir! Kereta pengangkut mayat

datang! Minggir.... Kasih lewat....!" Tiba-tiba terdengar seruan. Deretan orang-orang yang mengerubungi tempat itu menyeruak. Sebuah kereta gerobak menuju ke situ. Orang-orang langsung menyingkir. Penumpang kereta itu tiga orang. Sesampai di tenda yang tertimpa bencana, ketiga orang turun dari kereta. Langsung memasuki tenda dan melihat kelima orang yang bernasib malang.

"Siapa ketiga orang itu, Pak...." tanya Wintara pada orang yang berdiri di sebelahnya. Bapak itu tidak langsung menjawab, ia malah memandang heran ke arah Wintara. Lalu...

"Aneh kau ini, Dik.... Masakah kau tidak mengenali mereka?" bapak di sebelah Wintara berbalik tanya. "Sungguh, Pak.... Saya betul-betul tidak menge-

nali mereka " jawab Wintara polos.

"Ah.... Berarti kau bukan orang Joglo Alun, ya ?" "Betul   Saya hanya seorang pendatang…"

"Pantas Mereka orang-orang kepercayaan Kepa-

tihan." Bapak itu menjelaskan. Wintara manggutmanggut.

"Orang yang berpakaian ningrat itu bernama Akuwu Mambang, pemimpin dari kelima orang yang tewas itu.... Nah yang dua orang lagi    Itu-tuh di bela-

kangnya   " kata bapak di sebelah Wintara sambil me-

nunjuk ketiga orang yang baru turun dari kereta. "Mereka tidak begitu penting.... Karena sama de-

rajatnya dengan kelima temannya yang tewas...." sambungnya lagi. Wintara memandangi orang yang berpakaian ningrat. Orang itu nampak memungut kecapi yang bernoda darah. Ia mengawasi benda itu. Setelah itu ia menyerahkan benda tersebut kepada salah seorang yang ikut bersamanya. Akuwu Mambang bukannya tidak mengenali benda itu. Dengan melihat kecapi itu saja ia sudah dapat membayangkan wajah Arum Kemuning. Kini ia melihat pula alat musik itu bersimbah dengan darah…

Kalau Arum Kemuning terbunuh juga, sudah tentu mayatnya ada di sini. Tapi kenapa kecapi ini tertinggal begitu saja.... Apakah Arum Kemuning melarikan diri pada saat kejadian. Kalau benar demikian benar… Tentulah Arum Kemuning dapat mengenal siapa pembunuh sadis itu.... Itu menurut perkiraan Akuwu Mambang.... Bagaimana kalau perkiraannya meleset....? Andaikata pembunuh itu membawa lari Arum Kemuning untuk maksud-maksud tertentu ? Biadab!

Gerutu Akuwu Mambang.

*

* * *

Letak pondok Tabib Sakti Nayan Gunta jauh di kaki gunung. Tepatnya di sekitar danau dekat sebuah jeram. Pondok itu cukup besar dan berdiri kokoh di atas batu karang. Di sekitar bawah batu karang menghampar tumbuhan kecil dengan bunga-bunga yang bermekaran berwarna-warni. Selain itu ada juga tumbuhan yang merambat sampai ke atas batu karang. Terlebih-lebih pada bagian tangga yang menghubungkan sampai ke pondok. Hampir seluruhnya dirambati oleh tumbuhan.

Pondok itu sendiri tidak ada satupun tumbuhan yang ada. Mungkin karena letak bangunan itu berdiri di atas batu karang. Kecuali pada pot-pot yang tergantung pada tiang-tiang kayu tumbuhan-tumbuhan

aneh selalu ada pada sekeliling pondok itu.

Bau aroma menyengat hidung. Asap putih mengepul ke luar melalui celah jendela pondok itu    Bebe-

rapa saat kemudian jendela itupun terbuka. Nampak seraut wajah tua dengan kedua lengan membuka lebar masih menyibakkan dua daun jendela. Pandangannya tertuju ke luar menikmati keindahan di sekitar pondoknya.

Raut wajah tua yang ditumbuhi dengan rambut serta jenggot memutih berpaling meninggalkan jendela yang barusan dibukanya. Dalam ruangan itu duduk seorang berpakaian serba hitam. Sosok tubuh itu tertunduk. Lengan kirinya menutup wajahnya seperti ada rasa penyesalan selama hidupnya. Dengan tubuh membungkuk, sosok tua berambut serta jenggot yang memutih mendekati orang itu.

"Jangan khawatir, Seta Wungu    Gadis! itu tidak

akan mati! Cuma dia harus menerima keadaan     Se-

bab ada kemungkinan kedua matanya...." Kakek bungkuk yang berjuluk Tabib Sakti Nayan Gunta tidak meneruskan kata-katanya.

"Maksudmu gadis itu akan buta....?" kata Seta Wungu sambil bangkit.

"Kira-kira demikian " jawab kakek bungkuk itu.

"Tidak....! Kau harus bisa memulihkan penglihatannya, Nayan Gunta!" Seta Wungu menatap nanar pada kakek bungkuk di hadapannya. Ia berdiri beringas. Lengan kanannya yang kutung terlihat jelas.

"Perkataan mu sama beringasnya pada beberapa tahun yang lalu, Seta Wungu.... Dulu kau pernah datang ke mari membawa lengan kananmu yang kutung.... Kau berharap aku dapat menyambung lenganmu… Aku hanya seorang tabib, Seta Wungu… Aku tidak bisa melakukannya.... Demikian pula dengan gadis ini.... Aku tidak dapat berbuat banyak Sekalipun

aku telah mengerahkan segala kemampuanku Gadis

ini akan tetap buta!"

"Tidaaak....!" Seta Wungu berteriak. Untuk ini aku bisa membayar mu dengan harga tinggi, Nayan Gunta.... Aku berani membayar mahal....!" kata Seta Wungu berteriak-teriak.

"Aku tidak sanggup, Seta Wungu... Aku tidak sanggup memulihkan penglihatan gadis itu Karena

selaput penglihatannya telah robek...." Nayan Gunta menjelaskan.

Arum Kemuning tergeletak membujur pada sebuah balai. Dua kelopak matanya tertutup dedaunan yang telah diramu oleh Tabib Sakti Nayan Gunta. Nafasnya begitu lemah. Seta Wungu duduk menatap dari kejauhan. Ia benar-benar menyesali akan tindakannya itu.

"Aku berjanji menjaganya, Nayan Gunta    Seo-

rang gadis buta, sama saja dengan seorang yang tidak mempunyai pegangan," kata Seta Wungu tertunduk. Tabib Sakti Nayan Gunta menoleh tersenyum.

"Sssst.... Diam..." bisiknya pada Seta Wungu. Tabib Sakti Nayan Gunta duduk di samping balai. Ia melihat gadis yang terbaring lemas mulai bergerak. Bibirnya yang mungil menganga menahan sakit. Gadis itu berusaha bangun, tapi Nayan Gunta segera menahannya. Seta Wungu bangkit dari kursinya tanpa bersuara.

"Akhhh.... Mataku.... Mataku...." rintih Arum Kemuning.

"Tenang, Nak.... Tenang.... Aku tengah mengobatimu di sini.... Kau bersama seseorang tabib yang berusaha mengobati kedua matamu " kata Nayan Gun-

ta. Ia membantu Arum Kemuning duduk menyandar pada dinding.

"Mengapa semuanya nampak gelap…? Dan mataku terasa sakit sekali "

"Semuanya sudah takdir.... Aku sudah berusaha sebatas kemampuanku.... Ternyata tidak dapat mengembalikan penglihatanmu lagi.... Aku hanya sanggup mengobati luka-lukanya saja." Tabib Sakti Nayan Gunta menjelaskan.

"Oh.... Tidak!" Arum Kemuning menjerit. Ia berontak. Cepat Nayan Gunta menahan.

"Sadarlah.... Jangan terlalu bergerak, lukamu itu belum kering betul.... Nanti ke luar darah lagi Dan

kau tidak akan tertolong...." Nayan Gunta membujuk. Dan ternyata bujukan itu mengena.... Sesaat kemudian Arum Kemuning diam menarik nafas dalamdalam. Tubuhnya bersandar tenang pada dinding kayu.

"Tahan, ya.... Aku akan mengganti daun ramuan yang melekat pada kelopak matamu..." Kedua telapak tangan Nayan Gunta menarik perlahan daun-daun yang hampir mengering pada bagian mata gadis itu....

Arum Kemuning menggigit bibirnya menahan sakit. "Seseorang telah membawamu ke tempat ini     Ia

meminta agar aku mengobatimu.... Yaaaah, mungkin karena aku seorang tabib jadi tak bisa menolak. " ka-

ta Nayan Gunta sembari mengganti ramuan daun ke mata Arum Kemuning.

"Siapa orang   itu....?   Sadewo   Mangli-kah   ?"

tanya gadis itu cepat.

"Bukan.... Bukan dia.... Tapi seorang lelaki yang bernama Seta Wungu.... Kabarnya Sadewo Mangli tewas malam itu juga...." Nampak sekali kesedihan yang melanda dalam gambaran wajah Arum Kemuning. Dalam hatinya ia menyebut nama Sadewo Mangli. Dari rongga matanya yang luka itu masih bisa mengeluarkan air mata.... Bibir mungil Arum Kemuning bergetar.

"Pembunuh itu berlengan tunggal! Aku sendiri melihat dengan mata kepala.... Ia seorang yang sadis....! Kejam!" Datar sekali nada bicara Arum Kemuning. Pembunuh berlengan tunggal! Nama yang cukup mengerikan itu sama sekali tidak membuat Tabib Sakti Nayan Gunta merasa gentar. Ia hanya menoleh ke arah Seta Wungu yang sudah berdiri di sampingnya. Dan ia pun tahu siapa sebenarnya Seta Wungu!

"Apakah kau ingin menyampaikan pesan pada orang yang telah menolongmu....? Kebetulan Seta Wungu ada di sini...." kata Nayan Gunta mengalihkan pembicaraan.

"Oh.... Maaf.... Aku sampai melupakan orang yang menyelamatkan diriku. Mana…" Arum Kemuning menggapai-gapai tangan nya.

"Dari tadi Seta Wungu sudah ada di samping kirimu. Dia yang menjaga selama kau tidak sadarkan diri "

"Ah, begitu merepotkan.... Terimakasih Entahlah aku harus memanggil apa....? Tuan....? Kakang ?

Yang jelas aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih Bahkan rasanya aku tidak dapat membalas budi

baik ini...." kata Arum Kemuning sambil melemparkan senyum ke samping kiri.

"A-A-Aku melakukan yang semestinya Nona....

Karena " Seta Wungu gugup.

"Tentunya kalau tidak ada orang yang bernama Seta Wungu, mungkin diriku sudah menjadi mayat seperti kakang Sadewo Mangli...." Arum Kemuning cepat memotong. Seta Wungu diam, wajahnya tertunduk. Lalu....

"Aku berharap selama lukamu  belum sembuh, tinggallah di sini bersama Tabib Sakti Nayan Gunta....

Aku rasa dia tidak keberatan...." Seta Wungu memberi usul.

"Dengan senang hati.... Tinggallah di sini..." kata Nayan Gunta menyambut.

"Nanti akan bertambah repot. " Arum Kemuning

basa-basi.

"Tidak.... Soal repot memang sudah biasa bagiku Malah kalau kau berminat tinggal di sini aku me-

rasa senang, karena pondok terpencil ini tidak lagi sepi...." kata Tabib Sakti Nayan Gunta memberi semangat. Arum Kemuning tersenyum.

"Nah, sekarang kau perlu istirahat, keadaanmu belum sehat betul.... Berbaringlah...." Arum Kemuning menurut, Tabib Sakti Nayan Gunta membantu membaringkan tubuh itu.

Udara siang itu cukup segar. Seta Wungu yang berdiri pada teras pondok terpencil itu dapat menghirupnya. Lengan baju kirinya yang kosong bergerakgerak terhembus angin. Matanya mengarah pada sebuah jeram yang mengalirkan air begitu deras laksana air bah. Di bawah jeram itu menghimpun kumpulan air membentuk sebuah danau yang cukup luas. Burung-burungpun banyak beterbangan berkeliling saling mengejar. Bahkan ada pula yang hinggap pada batangbatang pohon yang ada di sekitar danau.

Seta Wungu berpaling ketika ia mendengar langkah seseorang mendekati. Ia sudah dapat menebak kalau orang itu adalah Tabib Sakti Nayan Gunta. Ternyata perkiraannya memang benar Nayan Gunta menghampiri dengan membawa segelas air yang masih mengepulkan asap kental.

"Obat ramuan penguat saraf mata tinggal terakhir ini... Nanti aku berikan resepnya dan kau belikan di kota.... Jangan sampai terlambat, obat ini harus terus-menerus diminum oleh gadis itu…" kata Nayan Gunta sambil meniupi asap kental yang keluar dari mulut gelas bambu. Seta Wungu mengangguk, lalu iapun melangkah mengiringi Nayan Gunta.

"Ada sesuatu yang akan kusampaikan padamu, Nayan Gunta...," Mereka berjalan beriringan. Mereka menuju sebuah ruangan tempat pembuatan ramuan.

"Tolong rahasiakan " kata Seta Wungu lagi.

"Seorang tabib harus memegang rahasia    Tapi

aku tidak bertanggung jawab, seandainya gadis itu tahu siapa yang telah membutakan matanya dan membunuh Sadewo Mangli calon suaminya itu      Pa-

ham....?" jawab Tabib Sakti Nayan Gunta yang sekaligus menjadi pertanyaan.

Seta Wungu sengaja tidak ikut masuk ke dalam ruangan itu. Ia tetap berdiri di depan pintu. Namun tatapannya masih mengikuti Nayan Gunta yang tengah memberesi semua peralatannya.

"Apapun yang akan terjadi, akan kuhadapi dengan kenyataan...." kata Seta Wungu yang bersandar tenang pada tiang pintu. Nayan Gunta dapat mendengarnya meskipun ia berada dalam ruangan itu. Malah ia menjawabnya. "Mudah-mudahan saja tidak akan terjadi, Seta Wungu.... Aku ikut berdoa!" kata Tabib Sakti Nayan Gunta yang nampak ke luar. Ia menyerahkan secarik kertas pada Seta Wungu.

"Ini resep yang harus kau beli nanti, secepatnya kau kembali lagi "

*

* * *

3

Bulan yang bersinar penuh jadi kelam karena tertutup oleh awan berarak. Tanah pekuburan yang tadi nampak seram kini menjadi lebih seram lagi. Manakala suara binatang malam membisingkan di sekitar tanah pekuburan. Jauh di tengah-tengah sebuah kuburan batu yang tak terurus nampak terang oleh onggokan api unggun yang meletup-letup nyaring.

Seseorang yang berpakaian serba hitam tanpa lengan kanan berdiri menatap hamparan batu-batu nisan. Pedangnya yang tersoren di punggung mengkilat terkena cahaya api. Seta Wungu berdiri menikmati kesunyian malam itu.

Ia hanya memalingkan wajahnya ketika mendengar langkah yang menginjak tanah berkerikil. Seseorang datang mengejutkan ketenangannya.

"Aku datang untuk menepati janji ku, Seta Wungu...." kata orang yang baru datang sambil mengeluarkan sebuah kantong sebesar kepala bayi dari balik bajunya.

"Terimalah ini   Karena kaupun telah memenuhi

permintaanku..." kata orang itu lagi. Tanpa menjawab Seta Wungu menerima kantong berisi uang. Ia memasukkannya ke dalam baju hitamnya. Lalu orang yang memberikan uang itu melangkah mendekat…

"Aku ada tugas lagi untukmu, Seta Wungu "

"Membunuh lagi....?" tanya Seta Wungu. Orang itu mengangguk.

"Tidak.... Setelah Sadewo Mangli aku tak akan membunuh lagi, Somarengga.... petualangan ini harus kuakhiri...." kata Seta Wungu.... Pandangannya menatap tajam.

"Aneh....! Setan apa yang merubah pikiranmu sampai sedemikian terbaliknya.... Apakah kau takut, karena semua orang yang kau bunuh itu Orang-orang kerajaan…? Baiklah kalau kau merasa takut dan akan melepaskan jabatanmu sebagai pembunuh bayaran...

Tapi ku mohon kau mau memenuhi permintaanku untuk yang terakhir kali, Seta Wungu. Setelah itu kita tidak akan pernah berurusan lagi…"

"Pikiranku telah berubah, Somarengga. Tak mungkin memenuhi permintaan mu !!"

"Aku bersedia membayar berapapun juga     Be-

rapa yang kau kehendaki?" Somarengga memaksa. Dan Seta Wungu betul-betul terdesak. Apalagi ketika mendengar Somarengga bersedia berani membayar berapa yang ia minta. Teringat lagi akan gadis Arum Kemuning di pondok Tabib Sakti Nayan Gunta. La belum bisa memberikan apa-apa sebagai tanda rasa penyesalannya. Belum lagi seluruh biaya yang ia keluarkan nanti untuk pengobatan luka di kedua matanya Su-

dah tentu tidak sedikit. Tabib Sakti Nayan Gunta memang tidak memerlukan biaya. Tapi persediaan obatobatan telah habis. Seta Wungu mempertimbangkannya masak-masak Dan ia mengambil keputusan.

"Ini untuk terakhir kali, Somarengga...! Katakan siapa orang itu?" Suara Seta Wungu dalam. Somarengga tersenyum melangkah ke sampingnya. Lalu ia membisikkan sesuatu ke telinga Seta Wungu.

"Akuwu Mambang,...?" Seta Wungu mengulang meyakinkan bisikan Somarengga

"Betul! Akuwu Mambang ! Orang itu yang seka-

rang ku inginkan." jawab Somarengga. Seta Wungu diam, ia memandang bulan yang sudah terbebas dari kurungan awan berarak. Tanah pekuburan menjadi terang meskipun malam hampir larut.

"Untuk Akuwu Mambang     Aku butuh lima kan-

tong uang yang sama besar dengan kantong tadi   "

Seta Wungu menentukan harga.

"Baik.... Sekarang aku tidak membawa Uang sekepingpun.... Lusa setelah urusan ini beres, kita boleh bertemu lagi di sini " Somarengga setuju.

*

* *

Rumah bertingkat letaknya tidak jauh dari keramaian desa Joglo Alun. Pada halaman rumah bertingkat itu kelihatan begitu rapih. Jalan yang menghubungkan ke pintu pagar terbuat dari susunan batu tertanam ke tanah. Kedua sisi jalan itu ditumbuhi dengan tanaman bunga berwarna-warni bermekaran. Beberapa penjaga nampak patuh berdiri di muka pintu rumah. Mereka bersenjatakan tombak.

Pada ruangan tingkat atas, Akuwu Mambang berjalan mondar-mandir. Sebentar-sebentar matanya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di atas meja berukir. Benda yang menjadi perhatiannya sebuah alat musik yang ternoda dengan bercak-bercak darah Di

mana Arum Kemuning berada? Tanya Akuwu Mambang dalam hati. Ia betul-betul tak habis pikir dengan kejadian yang melanda kelima anak buahnya berikut Arum Kemuning si Putri Kecapi pada pesta malam itu.

Kenapa hampir semua anak buahnya mati di tangan seorang pembunuh sadis. Kalau dulu, anak buahnya mati satu demi satu. Tapi pada malam pesta itu, ia harus kehilangan lima orang anak buahnya sekaligus.... Dengan motif pembunuhan yang sama. Di tangan seorang yang ahli dalam ilmu pedang. Akuwu Mambang berdiri menghadapi meja berukir yang di atasnya tergeletak sebuah kecapi dengan pikiran kalut. Sementara itu bayangan hitam melesat cepat dari pohon ke pohon yang lain. Pohon-pohon besar itu berderet mengelilingi pagar rumah bertingkat. Para prajurit tidak melihat sama sekali ketika sosok bayangan hitam melesat ke arah genting atap ruang atas. Sinar matahari jelas memantulkan bayangan sosok hitam itu ke tanah. Tapi para penjaga itu bagai tersirap tak per-

duli.

Sedangkan dalam ruangan atas, Akuwu Mambang tengah menyulut rokok cerutunya sambil duduk pada kursi kayu berukir pula. la hembuskan asap cerutu kuat-kuat.... Pandangannya masih tertuju pada sebuah alat musik. Ia menoleh cepat ke arah jendela, ketika dilihatnya sebuah bayangan hitam berkelebat. Dengan perasaan was-was ia bangkit melangkah ke arah pedang yang tergantung pada dinding ruangan itu. Perlahan sekali ia mencabut pedang dari sarungnya. Hampir tidak bersuara.

Tiba-tiba saja kaca jendela pecah. Suaranya bergemeretak nyaring. Bersamaan dengan itu sosok bayangan hitam masuk bagai sebatang anak panah menjurus ke arah Akuwu Mambang.

"Traaaaang!" Akuwu Mambang menyambut lesatan yang menubruk demikian cepat dengan pedangnya. Setelah mengalami benturan senjata mereka, sosok hitam berjumpalitan di udara beberapa kali Lalu

hinggap di atas lantai begitu tenang.

Akuwu Mambang dapat melihat orang itu. Sosok hitam tanpa lengan kanan, namun lengan kirinya yang menggenggam pedang siap mengirim maut. Karena begitu dia hinggap, orang cacat itu membabat ke bagian atas. Akuwu Mambang menyambar serangan itu dengan pedangnya....

"Traang!" Kembali pedang mereka beradu. Lalu Akuwu Mambang membalas serangan itu Pedangnya

berkelebat menyambar....

"Wees!" Sosok hitam berlengan tunggal itu terdesak mundur. Ia memutar pedangnya ke atas

"Traang!" Benturan itu lebih keras, Akuwu Mambang sendiri sampai terhuyung dibuatnya.

Ilmu pedang Akuwu Mambang bisa diandalkan untuk menghadapi serangan-serangan itu. Padahal sosok hitam berlengan tunggal sudah habis-habisan menggempurnya Pantaslah kalau Akuwu Mambang menjabat sebagai orang kepercayaan kepatihan. Siang itupun sosok hitam harus kerja keras untuk menuntaskan tugasnya. Kilatan-kilatan pedang berkelebat menyambar.... Sosok hitam kewalahan menghindarinya Sekali ia menyambut, Akuwu Mambang meng-

hantam kuat pedangnya....

"Tralaaak!" Pedang dalam genggaman sosok hitam berlengan tunggal terlepas. Baru kali ini ia mendapat lawan sedemikian tangguhnya.

"Baru ku tahu sekarang    Kaulah orangnya yang

telah membunuh semua anak buahku pada pesta malam itu di Joglo Alun.... Sekarang tak ada ampun lagi buatmu, Pembunuh terkutuk....!" kata Akuwu Mambang menudingkan pedangnya.

Sosok hitam tidak menyahut. Ia malah bergerakgerak seperti mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Telapak tangan kirinya mengepal erat seolah-olah menggenggam sesuatu.... Matanya tajam memandang ke arah Akuwu Mambang.

"Dengan pedang ini, tubuhmu akan terbagi menjadi empat bagian...." Sambil berkata demikian Akuwu Mambang melancarkan serangan bertubi-tubi. Sosok hitam itu bergulingan menghindari babatan-babatan pedang Telapak tangan kirinya yang mengepal dapat

menghantam keras lengan Akuwu Mambang....

"Des!" Terasa sekali denyutan itu. Akuwu Mambang sendiri tidak menyangka akan mendapat serangan balik seperti itu. Dan ia memekik kaget ketika sosok hitam menendang lengannya sampai pedang dalam genggaman Akuwu Mambang terlempar jauh....

"Weeess!" Untuk tendangan yang kedua kalinya Akuwu Mambang dapat menghindari. Ia melihat gerakan-gerakan aneh yang dilakukan oleh sosok hitam lengan tunggal. Dan tahu-tahu saja lengan kirinya yang tergenggam menjurus ke depan. Padahal genggaman itu belum sempat menyentuh tenggorokan Akuwu Mambang.... Tapi akibatnya demikian hebat. Tubuh Akuwu Mambang terlempar dengan semburan darah dari mulutnya Tubuh itu terbanting memben-

tur dinding dengan keras Akuwu Mambang masih mampu berdiri tegar.

"Ilmu Pedang Tanpa Wujud. Hhhhh...." desahnya sambil menyeka darah yang mengalir di sela-sela mulutnya. Sebaliknya, sosok hitam berlengan tunggal tersenyum.... Akuwu Mambang maju dengan serangan yang mematikan. Kedua lengannya bergerak menghantam.... Dengan lengan kirinya, sosok hitam lengan tunggal menyambut hantaman-hantaman itu. Lalu gerakan kaki yang begitu cepat menyambar tubuh Akuwu Mambang....

"Deees!" Sekali lagi tubuh Akuwu Mambang terbanting keras. Pada waktu yang bersamaan sosok hitam melesat menerjang dengan tendangannya, maka....

"Der!" Dua kali Akuwu Mambang mendapat tendangan geledek, tubuhnya yang terlempar keras membentur jendela kaca. Bahkan tubuh ningrat itu menerobos dari jendela itu ke luar ruangan.

Akuwu Mambang sudah tidak ingat apa-apa lagi di saat tubuhnya terlempar dan jatuh dari ruangan atas. Dan ketika kepalanya hampir menyentuh tanah, sosok bayangan lain berkelebat menyambar tubuh Akuwu Mambang.... Bayangan misterius itu langsung melompati pagar halaman membawa pergi Akuwu Mambang yang sudah tidak sadarkan diri.

Sosok hitam lengan tunggal bermaksud melompati jendela setelah memungut pedangnya. Tapi ia dikejutkan oleh sebatang tombak yang menjurus deras ke arahnya. Sambil membalikkan tubuh sosok hitam memutar pedangnya.... "Traaak!" Tombak yang hampir menembus di tubuhnya patah dua. Dia kedatangan tiga orang penjaga bersenjata tombak. Rupanya para penjaga itu langsung naik ke atas ketika mendengar suara gaduh. Menemui seorang berpakaian serba hitam, para penjaga itu langsung menyerang. Mereka mengepung dari segala arah. Tombak-tombak mereka merejam sosok hitam yang berjumpalitan menghindar.

Seleret sinar putih berkelebat menyambar... "Trak…! Trak!" Tongkat-tongkat itu patah dua semua. Sosok hitam itu melompat ke atas sambil lengannya yang menggenggam pedang bergerak cepat menghantam, dua orang ambruk sekaligus. Tinggal seorang lagi yang masih ragu-ragu menyerang. Tapi ia jadi bergidik setelah melihat kedua temannya mati dengan mengerikan. Tubuh mereka tergeletak dengan masing-masing tenggorokan yang hampir putus.

Seorang yang ketakutan itu mendadak semangat. Sepuluh penjaga berdatangan dalam ruangan itu. Mereka bersenjatakan pedang dan tombak. Tempat itu jadi penuh sesak. Sosok hitam lengan tunggal berdiri tenang, pedangnya siap berputar lagi. Dan ketika tiga orang maju menyerang… "Sreeet!" Babatan pedang lebih dulu menyambar di tubuh mereka. Maka ketiganya ambruk dengan nyawa melayang seketika. Perut mereka robek, satu di antaranya sampai menghamburkan usus.

Sekalipun mereka tahu akan kehebatan sosok hitam itu, para penjaga tidak gentar sedikitpun. Dengan serempak mereka menyerang. Senjata-senjata mereka berkelebatan di sana-sini mencecar sosok hitam. Tapi di saat sosok hitam menggerakkan pedangnya selalu saja memakan korban.

Tidak semestinya sosok hitam membantai para penjaga itu. Tujuannya hanya untuk membunuh Akuwu Mambang. Mungkin karena sudah kepalang tanggung mereka mengetahui tujuannya, sosok hitam itu jadi tidak setengah-setengah bertindak.

Sekalipun ditambah lagi dengan sepuluh orang, sosok hitam itu sama sekali tidak mengalami kesulitan. Ia membabat ke sana kemari dengan terarah dan tepat mengenai sasaran. Satu demi satu para penjaga itu tumbang dengan berlumuran darah.

Gerakannya yang sangat cepat membuat pedangnya berkelebat bagaikan sinar putih yang siap menjemput maut. Dua orang terlempar ke luar dari jendela kaca yang telah rusak. Jeritan mereka terhenti ketika kepala mereka membentur permukaan tanah.

Ruangan tingkat itu menjadi sunyi. Belasan mayat bergelimpangan memenuhi lantai rumah. Sosok hitam berdiri mengawasi mayat-mayat itu. Lengannya masih menggenggam pedang. Bilah pedang itu telah berlumur darah. Ia khawatir kalau-kalau masih ada yang tertinggal. Dan mengetahui perbuatannya. Hal itu akan berbahaya sekali buat dirinya.

Sosok hitam melangkah mendekati jendela kaca. Pandangannya menuju ke bawah... Wajahnya mendadak berkerut. Ia hanya melihat dua orang penjaga tergeletak dengan kepala remuk serta perut yang berlumuran darah. Selain itu tidak ada siapa-siapa lagi.

"Bangsat....! Ke mana Akuwu Mambang? Jelas tadi terlempar di sini.... Mengapa tidak ada di bawah ?" gerutunya dalam hati.

Tanpa membersihkan pedangnya ia langsung menyarungkan ke punggung, lalu bermaksud meninggalkan tempat itu. Sebelum ia pergi, sosok hitam sempat melihat sebuah benda yang tergeletak di atas meja berukir. Sebuah kecapi.... Ia teringat akan Arum Kemuning. Ingat pula ketika ia melihat Arum Kemuning memainkan kecapi itu pada pesta malam. Mungkin Arum Kemuning akan bertambah senang bila kecapi miliknya kembali.

Setelah menyambar alat musik itu, sesosok hitam melesat melalui jendela. Hinggap di atas pagar, kemudian melesat lagi ke cabang-cabang pohon berpindahpindah semakin jauh. Gerakannya begitu cepat sehingga sukar diikuti dengan pandangan mata.

Kepergian sosok hitam itu bukannya tak diketahui, seseorang yang tadi membawa pergi tubuh Akuwu Mambang ternyata masih bersembunyi di balik rerimbunan daun. Dan ia melihat ke mana sosok hitam itu pergi. Setelah sosok hitam itu betul-betul sudah tidak nampak, barulah ia turunkan Akuwu Mambang yang belum juga sadar, ketika orang itu membawa masuk ke dalam rumahnya. Setelah melihat adanya sebuah bangku panjang dalam ruangan itu, orang itu meletakkan tubuh Akuwu Mambang.

Ia memperhatikan seluruh ruangan yang sangat bagus. Seluruh perabotannya barang-barang mewah. Banyak barang-barang seni menghiasi ruangan itu. Di sebelah sudut terdapat sebuah tangga menuju ke atas. Orang itu menuju tangga, dan ia menjajakinya perlahan. Bukan main terkejutnya ketika sampai pada ruangan atas. Ruangan yang sama bagusnya dengan ruangan bawah telah bergelimpangan mayat-mayat dengan bentuk yang mengerikan. Iapun sempat menghitung jumlah para korban, termasuk dua orang yang tergeletak di luar. Semuanya berjumlah tiga belas orang. Mulutnya berdecak.... Ia betul-betul kagum akan kehebatan ilmu pedang si pembunuh. Ia dapat menebak kehebatan si pembunuh setelah menghitung jumlah korban yang tidak sedikit, dapat dibereskan dalam waktu yang sangat singkat.

*

* * *

4

Mendengar erangan panjang dari mulut Akuwu Mambang, orang itu langsung bergegas ke arah Akuwu Mambang yang tengah berusaha bangkit. Perlahan Akuwu Mambang membuka matanya, pandangannya yang semula remang berangsur pulih. Di hadapannya berdiri seorang pemuda tanggung memakai baju dari kulit binatang.

Tentu saja Akuwu Mambang jadi terkejut melihat orang asing berada dalam ruangan itu. Maka mendadak lengannya melancarkan serangan. Pemuda itu cepat mundur. Ketika Akuwu Mambang bergerak melancarkan serangan, dadanya terasa sesak. Sesuatu seperti mendorong dari dalam perut. Sambil berpegangan pada bangku panjang Akuwu Mambang memuntahkan darah hitam. Tubuhnya mengejang, urat-uratnya menonjol dari kulit seperti mau ke luar ketika ia memuntahkan gumpalan-gumpalan darah hitam. Ia memandang nanar ke arah pemuda yang masih berdiri di dekatnya... "Ketika aku lewati jalan itu, aku melihat tubuhmu terlempar dari jendela atas... Dan juga kulihat seorang pendekar buntung mengamuk di sana...." kata pemuda yang tak lain adalah Wintara si Pengelana Sakti.

Akuwu Mambang menarik nafas. Dadanya turun naik.... Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat. Mendengar ucapan Wintara menyebut 'Pendekar Buntung' Akuwu Mambang jadi teringat akan wajah si pembunuh yang ternyata berlengan tunggal.

"Kau lihat para anak buahku…? Di mana mereka..?" tanya Akuwu Mambang, dadanya masih terasa sakit dan tidak mungkin dapat berdiri, Wintara mendekat membantu tubuh Akuwu Mambang duduk pada bangku panjang itu.

"Mereka semua tewas di ruangan atas...." kata Wintara sambil menunjuk ke arah langit ruangan. Akuwu Mambang mengikuti arah telunjuk Wintara. Kalau saja ia tidak begitu parah, Akuwu Mambang sudah naik ke atas untuk melihatnya.

"Dua orang tewas terkapar di luar dengan kepala remuk "

"Khepharaaaaaat....!" Akuwu Mambang mengge-

ram.

"Tidak adakah kerabat mu yang tinggal di si-

ni ?" tanya Wintara.

"Tidak ada! Mereka tidak tinggal sini Karena rumah ini merupakan pos pertahanan desa Joglo Alun Ada apa?"

"Aku khawatir tidak ada yang merawat lukalukamu " jawab Wintara cepat.

"Percuma... Luka-luka ini sangat parah aku rasa harus memerlukan tabib..." Ah! Wintara kecewa. Ia membuka kancing baju Akuwu Mambang setelah minta ijin terlebih dahulu. Pada dada serta bagian rusuk kanan membekas luka memar yang masih memerah.

"Anak muda.... Sudikah kau menolongku...." Suara Akuwu Mambang berat.

"Kenapa tidak....?" jawab Wintara sambil melontarkan senyum.

"Aku mengenal seorang tabib yang terkenal sakti, namanya Nayan Gunta.... Maukah kau mengantarkan aku ke sana ? Mudah-mudahan ia bisa menyembuh-

kan luka-luka ini...." Wintara menganggukkan kepala. Lalu....

"Kapan kita berangkat    Tapi menurut hematku,

kita harus pergi sekarang juga." Wintara memberikan keputusan sendiri.

"Yaaah! Mumpung belum terlambat.    ambillah

seekor kuda di kandang belakang, sementara itu aku akan menulis surat mengabarkan peristiwa ini pada kepatihan, agar mereka dapat mengurus semuanya. "

kata Akuwu Mambang sambil melangkah menuju meja tulis. Langkahnya demikian lemah dan lambat. Untuk mencapai meja Akuwu Mambang memerlukan waktu yang cukup lama. Karena jarak meja tulis itu cukup jauh juga. Ada kira-kira lima tombak.

Di kandang belakang Wintara melihat ada tiga ekor kuda tertambat. Ia melepaskan salah seekor kuda yang paling gemuk. Ia menuntunnya sampai ke depan pintu rumah.

Akuwu Mambang belum selesai menulis surat, tapi setelah ia melihat Wintara kembali ia mempercepat tulisannya. Tak lama ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku yang ada di balik baju. Ia sengaja meninggalkan penanya tergeletak begitu saja di atas meja. Melihat Akuwu Mambang selesai menulis surat, Wintara membantunya melangkah ke luar. Dalam setiap langkahnya, Akuwu Mambang selalu meringis menahan sakit.

Seekor kuda telah menunggu di depan pintu. Wintara langsung membantu Akuwu Mambang naik ke atas pelana.

"Anak muda, siapakah namamu....? Dari tadi sampai lupa aku menanyakannya…" tanya Akuwu Mambang setelah dengan susah payah berusaha naik ke atas pelana. Sekarang ia dapat duduk tenang.

"Namaku Wintara.... Asalku dari Karang Hampar. Dan aku tidak punya tempat tinggal" jawab Win-

tara singkat sambil menyusul menunggang kuda itu di belakang Akuwu Mambang. "Kiranya seorang pengelana.... Tentunya bukan pengelana sembarangan...." kata Akuwu Mambang sembari memberikan tali kendali pada Wintara. Ia menginginkan Wintara yang mengendalikan kudanya selama dalam perjalanan.

"Ah! Kau terlalu berlebihan memuji..." Wintara menghentakkan tali kekang, maka kuda itupun berlari meninggalkan rumah bertingkat megah. Debu-debu beterbangan di saat kuda itu melangkah cepat....

*

* * *

Rambut Arum Kemuning berderai-derai halus tertiup angin. Begitu juga dengan rambut serta jenggot yang memutih Tabib sakti Nayan Gunta. Senja itu angin berhembus kencang. Tubuh bongkok Nayan Gunta menuntun Arum Kemuning menuruni anak tangga batu karang yang dipenuhi dengan tumbuhan merambat. Arum Kemuning merasakan kesejukan itu.

Nayan Gunta membawanya pada halaman sekitar bukit karang. Di mana menghampar bunga-bunga bermekaran. Di situ terdapat batu-batu menonjol membentuk kursi-kursi. Nayan Gunta mendudukkannya pada salah satu batu yang agak besar.

"Sayang kau tak dapat melihat, Arum Kemuning.... Sayang sekali! Kau tak perlu menyesali hidupmu.... Semuanya sudah kehendak Hyang Whidi....

Meskipun matamu buta, tapi kau masih memiliki hati nurani yang begitu jernih...." kata Tabib Sakti Nayan Gunta menghibur. Arum Kemuning yang kedua rongga matanya masih tertutup dengan daun ramuan tersenyum.

"Aku mendengar suara air mengalir deras. Be-

tulkah perkiraan ku?" kata Arum Kemuning mempertajam pendengarannya.

"Betul....! Betul sekali....! Di hadapanmu sebuah jeram menerjunkan airnya demikian deras Air terjun

itu menimpah batu-batu karang sehingga menimbulkan suara yang begitu hebat... Di bawahnya menyambut kumpulan air membentuk sebuah danau. Nayan Gunta menggambarkan pemandangan di hadapan mereka dengan kata-kata.

"Tempat yang indah.... Aku dapat menghirup udaranya yang segar...." kata Arum Kemuning, wajahnya berseri-seri.

"Semuanya lebih dari apa yang kau perkirakan, Arum.... Coba kau terka apa yang menghampar di bawah kedua kakimu…" Arum Kemuning tidak menjawab. Ia merunduk, kedua telapak tangannya merabaraba sekitar kedua kakinya. Mula-mula ia menyentuh rumput-rumput kecil yang menghampar.

"Bergeser sedikit ke kiri, Arum.... Yak! Sedikit lagi...." Nayan Gunta memberi semangat. Arum Kemuning cepat menggeser telapak tangannya, maka ia menyentuh suatu yang amat lembut.

"Bunga ! Aku dapat memastikan yang kupegang

ini adalah sekuntum bunga!" Arum Kemuning mencabut sesuatu yang disentuhnya tadi. Nayan Gunta tersenyum melihat tingkah gadis itu yang nampak mencium bunga.

"Oh? Ini bunga mawar   Yah! Pasti mawar. Tidak

salah lagi Betulkah itu?"

"Yang kau genggam itu memang sekuntum mawar, Arum  " Nayan Gunta membenarkan.

"Begitu banyakkah mawar-mawar ini menghampar....?" tanya Arum Kemuning yang masih menciumi mawar dalam genggamannya.

"Seandainya kau dapat melihat.... Kau tak akan mampu menghitung jumlah mawar-mawar yang bertebaran di sini " kata Nayan Gunta.

"Kau pandai memilih tempat tinggal, Tabib Nayan Gunta.... Kau laki-laki berdarah seni.... Dari ucapanmu saja aku sudah dapat menyukai tempat ini     Be-

tulkah mawar-mawar itu sukar untuk di hitung   ?"

Wajah Arum Kemuning makin berseri-seri. Sekalipun Arum Kemuning tidak dapat melihat keindahan yang sebenarnya. Dalam pada itu.... "Triiing....!" Arum Kemuning dapat mendengar suara itu. Tabib Sakti Nayan Gunta langsung menoleh ke arah dentingan suara itu. Ia melihat Seta Wungu berjalan mendekat dengan membawa sesuatu dalam rengkuhan lengan kirinya. "Kecapi...! Itu suara kecapiku " Arum Kemuning

menggapai-gapai tangannya. Dentingan suara senar makin mendekat. Nayan Gunta menyentuh pundak Arum Kemuning agar tetap tenang.

Seta Wungu yang menghampiri kedua orang itu, langsung menyerahkan alat musik pada Arum Kemuning     Sudah tentu Arum Kemuning tidak dapat mene-

rimanya. Pandangan Arum Kemuning sendiri begitu gelap. Tapi yang jelas ia dapat mendengar langkah orang lain mendekatinya. Seta Wungu yang membawa alat musik itu menyentil tali-tali senar di hadapan Arum Kemuning. Seta Wungu sendiri berharap agar Arum Kemuning dapat mengetahui kehadirannya....

Maka ketika senar berdenting lagi Arum Kemuning menggapaikan kedua tangannya ke samping kanan....

Seta Wungu sendiri mendekatkan kecapi itu ke lengan Arum Kemuning. Seperti tidak percaya Arum Kemuning menjamahnya. Terlebih-lebih ketika ia menelusuri lekuk-lekuk alat musik itu. Wajahnya nampak bersinar, penuh dengan perasaan girang yang tiada terkira....

"Ini kecapi milikku....! Oh, siapa yang membawanya ke mari....? Ohh...." Suara Arum Kemuning haru. Sebelah lengannya menggapi-gapai agar bisa menyentuh seseorang yang membawakan kecapi miliknya Tabib Sakti Nayan Gunta membantu lengan Arum Kemuning menyentuh baju Seta Wungu

"Oh… Diakah orangnya..? Siapa lagi..? Seta Wungukah..?" Tanya gadis itu.

"Yah.... Dialah Seta Wungu... Si penyelamat dirimu...!" kata Nayan Gunta membenarkan.

"Terima kasih   Terima kasih, kakang Seta Wun-

gu.... Kau baik sekali.... Darimana kau mendapatkan benda yang ku sayangi ini, kakang....?" Arum Kemuning memeluki kecapinya. Seta Wungu gelagapan mencari alasan, lalu...

"A-A-Aku mendapatkannya dari seorang teman baik, Arum ," kata Seta Wungu gugup.

"Siapakah temanmu itu, kakang....? Bagaimana ia bisa berada di tangannya. ?"

"Entahlah    Dia bilang menemukan kecapi ini di

Joglo Alun pada pesta malam...." Wajah Arum Kemuning berseri. Seta Wungu dapat menatap raut wajah yang amat cantik, Yah...! Arum Kemuning memang cantik, meskipun sekarang ia kehilangan kedua penglihatannya. Setiap kali Seta Wungu menatap wajah buta itu, selalu ada rasa penyesalan.

"Untunglah kecapi ini tidak rusak, kakang Seta Wungu.... Aku bisa memainkannya.... Oh, ya....! Sampaikan juga rasa terima kasihku pada temanmu, kakang." Arum Kemuning menyentil-nyentil tali senar.

"Kakek Nayan Gunta dan kakang Seta Wungu, apakah kalian ingin mendengarkan aku menyanyi ? Anggap saja sebagai rasa terima kasih "

"Mendengar suara bicaramu sudah begitu merdu.... Apalagi kalau sedang menyanyi diiringi kecapi...

Tentunya akan lebih merdu lagi! Cobalah, sekali-kali aku mendengar alunan Putri Kecapi....!" kata kakek Nayan Gunta si Tabib Sakti. Wajah Arum Kemuning memerah. Tapi ia dapat menguasainya....

Dan tanpa menunggu waktu, jari jemarinya yang lentik memainkan kecapi. Maka suara merdu Arum Kemuning yang diiringi dentingan kecapi mengalun mengisi suasana senja itu.... Angin tetap berhembus dan burung-burung beterbangan di atas langit yang memancarkan sinar kemerahan. Pohon-pohon besar yang lebat tumbuh di pinggiran danau seakan berbaris menyaksikan permainan Putri Kecapi. Demikian juga dengan kakek bongkok Nayan Gunta serta Seta Wungu, keduanya betul-betul hanyut oleh alunan suara Putri Kecapi yang amat merdu bagai buluh perindu....

Meskipun pandangan Arum Kemuning gelap, sepuluh jarinya bagaikan lima pasang mata yang tidak pernah meleset dalam memetik senar-senar kecapi dalam pelukannya.

Kurang lebih Arum Kemuning memainkan tiga buah lagu, Seta Wungu mengeluarkan sebuah bungkusan dari balik bajunya. Bungkusan itu diserahkan pada Tabib Sakti Nayan Gunta. Kakek bongkok berambut putih itu sudah tahu isi dalam bungkusan. Karena sewaktu Seta Wungu menyerahkan bungkusan itu, selembar kertas resep yang pernah diberikannya pada beberapa hari yang lalu ikut diberikannya pula. Kemudian tabib Sakti Nayan Gunta melangkah mendekati Arum Kemuning yang masih mendendangkan senandung yang keempat.

"Sudahlah, Arum... Kami berdua sudah mendengar... Kau memang pantas disebut 'Putri Kecapi'... Istirahatlah, mungkin kau lelah..." kata Nayan Gunta setelah berada di sebelah gadis itu. Arum Kemuning menghentikan permainannya, kemudian....

"Aku belum lelah, kakek Nayan Gunta    biarkan-

lah aku menghibur diri dengan kecapi ini.   Aku masih

merindukannya " kata Arum Kemuning menolak.

"Kalau begitu, tetaplah kau di sini    Aku dan Se-

ta Wungu akan ke pondok membuat ramuan     Nanti

menjelang gelap Seta Wungu akan menjemput mu   "

Nayan Gunta menyentuh punggung gadis itu, Arum Kemuning seolah tengadah ke arah kakek bongkok berambut putih disebelahnya. Ia kemudian mengangguk sambil tersenyum. Setelah menepuk perlahan dua kali punggung gadis itu, Tabib Sakti Nayan Gunta meninggalkannya. Seta Wungu mengikuti langkahnya di belakang. Arum Kemuning tidak perduli, ia melanjutkan permainan kecapinya.

Matahari belum tenggelam. Sinarnya yang tertutup awan membiaskan sinar keperakan. Air jeram yang terjun demikian deras menimbulkan suara bergerumuh. Deru itu bercampur dengan kicauan burungburung yang beterbangan kembali ke sarangnya.

Tiga sosok bayangan mengendap-endap dari balik batu-batu karang yang menonjol besar. Ketiga orang itu berwajah menyeramkan. Gerak-geriknya sangat mencurigakan pastilah ada suatu maksud yang tidak baik Apalagi mereka mulai bergerak mendekati Arum Kemuning. Langkah-langkah mereka begitu hati-hati sekali.... Salah seorang dari mereka membawa seutas tali yang tergulung di lengan kanannya.

Ketika hampir mendekat, Arum Kemuning mendengar tumbuhan di sebelahnya bergemeresek. Ia berhenti memetik kecapi, lalu....

"Kakang Seta Wungukah itu.... Apakah sekarang sudah menjelang malam....?" tanya Arum Kemuning sambil menoleh ke krah suara langkah-langkah itu. Ketika orang itu melihat Arum Kemuning, mereka baru tahu kalau gadis itu buta. Pantaslah kehadiran mereka tidak diketahui sama sekali.

"Kakang Seta Wungu....?" tanya Arum Kemuning lagi dengan penasaran.

"Ya.... Ya. Aku Kakang Seta Wungu " Kata salah

seorang yang berusaha mendekati

"Kau bukan kakang Seta Wungu      Suaramu

sangat menyeramkan   ! Juga kau bukan si Tabib Sak-

ti Nayan Gunta..., Siapa kau....?" Arum Kemuning bangkit dari duduknya. Sebuah lengan kekar menariknya dengan kasar. Seorang lagi membekapnya. Arum Kemuning meronta-ronta. Ia menjerit sekuatnya....

Orang yang membawa tali susah payah mengikat tubuh ramping Arum Kemuning.

*

* * *

5

Seta Wungu maupun Tabib Sakti Nayan Gunta tersentak kaget mendengar suara jeritan Arum Kemuning. Maka dengan cepat Seta Wungu berlari ke luar. Matanya yang selalu awas, melihat Arum Kemuning meronta-ronta dengan tubuh terikat. Tiga orang bertampang menyeramkan berusaha membawanya kabur. Lengan kirinya yang cekatan menarik gagang pedang. Lalu menghentakkan kedua kakinya, maka tubuhnya itu melesat cepat menerjang ke arah tiga orang yang membawa Arum Kemuning.

Ia tidak berani ceroboh membabatkan pedangnya ke arah mereka. Karena Arum Kemuning dekat di antara orang-orang itu. Ia takut kalau-kalau sambaran pedangnya akan salah mengenai sasaran Perasaan yang selalu menghantui pikirannya.

Terjangannya yang disertai sebuah tendangan, menghantam salah seorang penculik sampai bergulingan.... "Des!" Mulutnya menyembur darah, tapi ia masih dapat bangkit.

"Lepaskan gadis itu, kalau tidak.... Aku tidak pandang lagi siapapun adanya kalian! " kata Seta Wungu tenang, ia berdiri dengan genggaman yang erat memegang gagang pedang. Arum Kemuning yang mengenali suara Seta Wungu berontak.

"Kakang Seta Wungu. Tolooooong !"

"Tenang, Arum.... Tenang....!" Seta Wungu bersiap-siap dengan pedangnya setelah melihat dua orang menyeramkan itu mencabut senjata mereka. Begitu juga dengan orang yang tadi bergulingan menyemburkan darah. Ia sudah berdiri garang dengan senjata pedang terhunus. Tubuh Arum Kemuning sengaja dibiarkan terikat. Keadaan menjadi hening.

Dan ketika salah seorang menerjang menyerang dengan pedangnya, Seta Wungu menyambut. "Traaang !" terdengar nyaring senjata mereka beradu.

Arum Kemuning dapat mendengarnya. Ia dapat memastikan kalau Seta Wungu menggunakan pedang menghadapi orang-orang itu. Arum Kemuning khawatir sekali, karena ia tahu orang-orang yang bermaksud membawa dirinya lebih dari satu orang....

Seta Wungu menghantam keras pedangnya, maka. "Waaaark!" Seorang lawannya menjerit kesakitan,

pergelangan tangannya putus melayang tinggi di udara. Serangan Seta Wungu tidak berhenti sampai di situ. Kakinya dengan keras menendang ke depan....

"Deeeer!" Menghantam dada orang yang masih menjerit itu sampai terlempar beberapa tombak ke belakang. Ia berpaling lagi pada dua orang yang siap-siap menyerang.... Mereka maju serempak. Pedang mereka berkelebat menyilang bergantian.... Seta Wungu melompat mundur, tapi pedang terus berputar menyambut babatan-babatan itu.

Serangan kedua orang itu makin gencar. Teriakan-teriakan makin lantang menggempur. Sekali Seta Wungu menghentakkan pedangnya.... Benturan keras tak terelakkan lagi. "Traaang!" Lengan Seta Wungu sendiri kesemutan. Tapi bagi lawannya yang tersentak kaget, ia tidak percaya pedangnya terlempar begitu saja dari genggamannya. Seta Wungu melesat ke atas mengikuti ke mana pedang lawannya terlempar, lalu dengan kecepatan bagai kilat ia menyambar pedang itu dengan pedangnya....

"Traaak!" Pedang itu kembali ke bawah menjurus cepat, dalam sekejap pedang itu menancap tembus di antara kedua mata pemiliknya....

"Aaaaaaarght!" Tubuh dengan kepala tertembus pedang kelojotan hebat, kemudian tak berkutik lagi. Seta Wungu membabat cepat ke samping kiri mengetahui lawannya yang tinggal seorang lagi datang menyerang....

"Traaang!" Penyerang itu menyambutnya dengan babatan pedang pula. Lalu pedangnya menyabet berkali-kali.... "Bret..! ret....! Bret....! Waaaaarg!" Penyerang itu ambruk bersimbah darah yang mengerikan...

Kalau saja tadi Seta Wungu mengerahkan seluruh tenaganya mungkin tubuh itu sudah terpotong menjadi tiga bagian.

Langkah Seta Wungu cepat menghampiri Arum Kemuning yang terikat erat. Ia sudah tidak mendengar suara-suara benturan pedang maupun teriakanteriakan jerit kesakitan. Pertarungan sudah berakhir, pikirnya... Bagaimana keadaan Seta Wungu..? Apakah ia mampu menghadapi orang-orang itu....? Tanya Arum Kemuning dalam hati.

"Kau tidak apa-apa, Arum ?" tanya Seta Wungu

langsung membuka ikatan-ikatan tubuhnya. Mendengar suara yang sudah dikenalnya itu, Arum Kemuning merasa lega.

"Kakang Seta Wungu.... Ah! Syukurlah kau selamat.... Bagaimana dengan orang-orang itu?" tanya Arum Kemuning. Setelah semua ikatan itu terlepas barulah Seta Wungu menjawab....

"Mereka tewas... Yang seorang lagi, aku tidak tahu bagaimana keadaannya...." jawab Seta Wungu jujur. "Kau membunuhnya, Kakang ?"

"Terpaksa, Arum    Kalau tidak, mungkin nyawa-

ku yang melayang "

"Rupanya kakang pandai juga memainkan pedang..." Seta Wungu terpojok. Dari mana Arum Kemuning tahu ia menghadapi lawan-lawannya menggunakan pedang... Sedangkan kedua matanya buta! Bagaimana ia dapat mengetahuinya. ?

"Aku memang mempunyai sebilah pedang    Yah,

untuk sekedar menjaga diri. Setiap laki-laki harus memiliki pedang. Dan harus membawanya ke manapun ia pergi...." Seta Wungu menjelaskan. Arum Kemuning mengangguk mengerti.

"Sebagai wanitapun, kau harus bisa menjaga diri…" katanya lagi.

"Maksudmu mengerti ilmu bela diri… Sayang....

Sejak kecil aku tidak menyukai ilmu silat, aku malah tertarik dengan seni." tutur Arum Kemuning. Mendengar Arum Kemuning mengucap 'seni', Seta Wungu tidak melihat kecapi miliknya. Maka ia blingsatan mencari-cari, pandangannya mengawasi di mana tadi gadis itu duduk memainkan alat musiknya.... Dan ternyata kecapi itu masih ada tergeletak di tanah berumput.

"Kakang.... Kenapa diam saja?" tanya Arum Kemuning, Seta Wungu tersentak.

"Ah, tidak.... Aku tengah memikirkan kau harus bagaimana " "Apanya yang bagaimana...." tanya gadis itu keheranan.

"Paling tidak mengerti sedikit ilmu bela diri....

Nah coba kau pegang ini!" Seta Wungu meraih lengan gadis itu yang halus. Ia meletakkan gagang pedang ke dalam telapak tangan Arum Kemuning.

"Yang kau pegang ini adalah gagang pedang...

Genggamlah yang erat..." perintah Seta Wungu, Arum Kemuning menurut.   Maka dengan kedua telapak tan-

gannya gadis itu menghunuskan pedang... Pedang itu masih berlumuran darah, kalau saja Arum Kemuning dapat melihat, tentunya ia akan merasa jijik    Bahkan

mungkin tidak berani memegang pedang itu.

"Kedua kakimu jangan terlalu rapat...! Melebar sedikit ke belakang... Ya, begitu baru benar...!" Arum Kemuning tersenyum ia masih merasa kikuk. Seta Wungu mundur beberapa langkah sebelum itu ia memungut beberapa batu karang sebesar kepalan tangan. "Aku akan melemparkan batu ini satu demi sa-

tu... Kau tahu apa yang harus kau lakukan...?" kata Seta Wungu yang telah siap-siap melempar. Arum Kemuning menggeleng...

"Babatkan pedang itu ke arah suara jatuhnya batu... Mengerti ?"

"Hanya demikian? Baiklah akan ku coba...." Senyum Arum Kemuning berseri.

"Nah.... Bersiaplah " Keadaan hening... Gadis buta itu memasang telinga tajam-tajam... Sedangkan batu menjurus perlahan ke samping... Begitu batu karang itu jatuh ke tanah, gadis itu melompat kaku sambil membabatkan pedangnya ke arah di mana batu karang itu jatuh... Seta Wungu hampir tertawa menahan geli... Bagaimana tidak, ketika Arum Kemuning melompat membabatkan pedangnya, ia terjatuh... Mungkin karena gadis itu terlalu bersemangat!

"Sewaktu membabatkan pedang kau tak perlu melompat, Arum.... Kedua kakimu tetap berpijak pada tanah... Salurkan tenagamu pada kedua lenganmu yang menggenggam gagang pedang... Nah! Ayo berdiri lagi... Kita ulangi...." Sambil nyengir, gadis itu bangkit bergerak pada posisi seperti semula...

Kembali sebongkah batu karang melesat perlahan... Begitu batu itu jatuh ke tanah, Arum Kemuning bergerak sesuai dengan ajaran Seta Wungu... "Bweeet!" Pedang itu bergerak cepat membentuk kilatan sinar putih ke arah suara jatuhnya batu karang. Hal itu dilakukannya berkali-kali, Seta Wungu sendiri merasa gembira melihat gerakan-gerakan Arum Kemuning yang demikian lincahnya... Beberapa kali ia membabatkan pedangnya pada arah jatuhnya batu karang yang dilemparkan oleh Seta Wungu. Seta Wungu sengaja melempar batu-batu itu makin lama makin cepat... Sampai pada batu karang terakhir, lemparan batu   itu   sengaja   dipercepat     "Weeeees!" Anginnya

berdesir keras. Arum Kemuning langsung membabatkan pedangnya ke samping kanan    "Praaaaak!"

Batu karang itu hancur sebelum mencapai tanah. Seta Wungu tidak menyangka sama sekali, ia mengira tindakan itu hanyalah kebetulan belaka. Maka sekali lagi Seta Wungu memungut sebongkah batu yang ukurannya lebih kecil. Meskipun batu-batu karang itu telah habis, Arum Kemuning masih mengira Seta Wungu masih memiliki batu-batu itu. Maka ia masih terus berjaga-jaga, malah gerakannya itu seperti seorang ahli pedang layaknya... Dan ketika batu kecil melesat ke arahnya. Kali ini Seta Wungu melempar tepat ke arah

Arum Kemuning… "Weeeeees!" Tanpa melangkah, gadis itu menyambut ke arah desiran angin... "Prrrak" Batu yang hampir mengenai tubuhnya hancur berkepingkeping.

Seta Wungu ternganga melihat kehebatan gadis itu yang menjelma begitu cepat. Terdengar pula derai tawa Arum Kemuning. Seta Wungu pun jadi ikut tertawa....

"Aku menganggapnya seperti memainkan kecapi, Kakang Seta Wungu.... Tanpa melihat, tapi aku dapat memainkan sebuah lagu dengan sentilan jari-jemari tanganku    Begitu juga ketika kau melemparkan batu,

aku dapat menghitung kecepatan yang kau lemparkan... Justru sewaktu kau melempar perlahan, aku tidak dapat mendengar desiran anginnya...." Arum Kemuning menjelaskan. Seta Wungu terpana mendengar apa yang diucapkan gadis itu.

"Ternyata   kau   gadis    yang    cerdik Arum... Aku   tidak   menyangka   sama sekali...! Selama ini kau tidak boleh memegang pedang... Nanti aku buatkan satu senjata untuk dirimu... Kalau kau ku persenjatai sebilah pedang, tentunya akan berbahaya... Aku takut bila suatu saat aku datang kepadamu, lalu kau membabatkan pedang ke arahku... Aku bisa mati konyol!"

"Ha... ha... ha... ha... ha..." Arum Kemuning tertawa lepas. Belum pernah Seta Wungu mendengar gelak tawa yang begitu lepas.

"Aku dapat melihat keadaan, Kakang Seta Wungu... Mana mungkin aku berani membabatkan pedang di saat-saat yang bukan tepat pada waktunya..." kata Arum Kemuning penuh semangat.

"Ternyata memainkan sebilah pedang lebih mudah dibandingkan dengan memetik kecapi" katanya lagi. Arum Kemuning kasih menghunuskan pedang. Seta Wungu tidak berani mendekat, Takut kalau langkahnya itu dikira lemparan sebuah batu karang. Sebelum ia maju melangkah mendekati gadis itu....

"Sudahlah, Arum   Sekarang kau sudah mengerti

apa yang dimaksudkan ilmu bela diri. Aku berharap kau dapat mengingatnya..." kata Seta Wungu sambil melangkah mendekati Arum Kemuning. Gadis itu menyerahkan bilah pedang pada Seta Wungu.

Pada waktu itu sosok yang telah menggeletak di tanah berusaha bangkit... Ternyata orang yang kehilangan pergelangan tangannya berlari meninggalkan tempat itu. Ingin rasanya Seta Wungu merebut cepat pedang dalam genggaman Arum Kemuning tapi Seta Wungu membatalkan niatnya... Ia tidak ingin kekasarannya dapat diketahui oleh gadis itu.

Bagi Arum Kemuning, ia dapat mendengar suara langkah yang demikian cepatnya...

"Suara apa itu..? Aku mendengar suara langkah orang berlari...!" kata Arum Kemuning setelah mendengar langkah-langkah yang semakin halus menjauh....

"Bukan apa-apa, Arum... Itu cuma seekor rusa yang lari menjauh ketika melihat kau memegang pedang " Seta Wungu membohongi.

"Oh... Aku khawatir lawan-lawanmu tadi masih ada yang tersisa dan menyerangmu, kakang Seta Wungu... Hanya itu kekhawatiran ku "

"Baru saja kau mempelajari dasar ilmu pedang, tapi kau sudah berpikiran buruk…"

*

* * * Sambil memegangi pergelangan tangannya, orang itu terus melarikan diri. Darah menetes pada setiap ia melangkah. Tercecer di sepanjang jalan yang menembus ke dalam hutan. Larinya pontang-panting, sebentar-sebentar ia menoleh ke belakang. Sepertinya ia takut kalau-kalau ada seseorang yang membuntutinya.

Tidak ada rasa takut sama sekali ketika kakinya melangkah cepat memasuki hutan yang begitu lebat. Hutan yang menyeramkan itu banyak ditumbuhi semak-semak belukar, juga akar-akaran yang merambat naik hampir ke setiap pohon-pohon besar yang ada di situ. Orang itu pun terkadang harus merunduk molos melewati akar-akaran yang malang melintang menghalang.

Darah masih terus menetes mengikuti ke mana ia pergi. Ketika ia melihat sebuah tenda, langkahnya dipercepat. Belasan orang nampak duduk-duduk di sekitar tenda, ada juga yang berbincang-bincang berdiri bersandar pada sebatang pohon. Malah ada yang rebahan pada tanah berumput. Mereka langsung menoleh ketika melihat seseorang berlari mendekati....

Orang itu tidak perduli sambil memegangi pergelangan tangannya yang kutung, ia langsung memasuki tenda. Di dalam tenda seseorang telah menunggu, seseorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahun lebih. Duduk tenang menghadapi sepundi arak. Mukanya sudah merah, mungkin terlalu banyak minum... Dan ia langsung melotot ketika melihat kehadiran seseorang dengan pergelangan tangan berceceran darah... Mengotori ruangan itu.

"Maaf, Tuan... Kami gagal membawa Arum Kemuning ke sini... Kalau saja Seta Wungu tidak muncul, kami sudah berhasil membawanya... Hanya saya sendiri yang berhasil lolos... Dua teman saya tewas...! Orang yang baru datang itu menjelaskan, wajahnya pucat. 

"Mengapa kau harus kembali...? Pengecut...!" Lelaki berpakaian mewah itu berdiri menatap pergelangan tangan yang menjijikkan. Lalu ia melangkah mendekat.

"Agar saya dapat mengabarkan bahwa Seta Wungu berada disana..." Ia meringis menahan sakit pada pergelangan tangannya. Lelaki setengah baya itu menghentakkan kakinya ke depan... "Des!" Menghantam orang yang berdiri di hadapannya, lalu sambil melompat tendangannya berputar lagi... "Deeeer!" Kali ini membuat orang itu terlempar ke luar tenda. Ambruk ke tanah tanpa berkutik.

Orang-orang yang berada di luar terkejut. Mereka semua berdiri menatap tubuh yang terkapar tanpa nyawa... Sosok tubuh berpakaian mewah ke luar dari tenda. Ia berdiri di samping mayat itu, lalu meludahinya... Tak satupun dari belasan orang yang berada di situ tak ada yang berani mengeluarkan suara. "Kalian akan bernasib seperti ini bila membangkang perintahku, mengerti...!" katanya terdengar seperti tidak main-main. Orang-orang itu menunduk.

"Ditempat ini kalian harus hati-hati... karena Seta Wungu berada tidak jauh dari sini... Dan juga..." Orang itu tidak meneruskan kata-katanya, ia menoleh dengan pandangan yang menerobos jauh. Suara derap kaki kuda terdengar sayup-sayup. Langkah-langkah kuda itu makin lama jelas terdengar. Lalu laki-laki setengah baya itu memberi aba-aba dengan kedua lengannya. Maka belasan orang yang berada di situ berlarian berpencar.

*

* * *

6

Kuda putih menerobos rimbunnya semak-semak dalam hutan itu. Berjalan mengikuti jalan yang selalu ditumbuhi oleh semak-semak dan rumput liar. Dua orang penunggangnya setengah mati mencari jalan yang dapat dilalui. Wintara yang memegang tali kekang hati-hati sekali mengendalikan kudanya. Akuwu Mambang yang duduk di depannya selalu dan menarik nafas dalam-dalam ketika dirasakan luka terguncang. Tanah berumput itu memang tidak selalu rata. Dan juga mereka memang harus melaluinya. Tidak ada jalan yang menghubungkan menuju pondok Tabib Sakti Nayan Gunta. Kecuali menerobos hutan belukar.

"Bagaimana dengan luka-lukamu...? Terasa tambah parahkah....?" tanya Wintara. Kedua lengannya menjaga agar tubuh Akuwu Mambang tidak bergulir ke samping.

"Entahlah... Sekarang aku merasakan sakit sekali..." jawab Akuwu Mambang tanpa menoleh. Wintara dapat melihat raut muka yang menahan sakit meskipun ia duduk dibelakangnya. Ia menarik tali kekang agar kuda berhenti...

"Mungkin kita perlu beristirahat...?" usul Winta-

ra.

"Tidak... Tidak usah, pondok Tabib Sakti Nayan

Gunta tidak jauh lagi dari sini...." kata Akuwu Mambang menolak. "Tetap saja lurus sebentar lagi kita akan melewati hutan ini," katanya lagi. Wintara menurut, ia menghela keras, maka kuda itu berlari kencang menerobos di antara batang-batang pohon besar. Tidak luput juga, dengan alang-alang serta semak yang menghalang.

Tiba-tiba saja kuda itu berhenti mendadak, dan meringkik kencang. Dua orang penunggangnya berusaha tetap duduk mengendalikan keseimbangan. Kuda itu malah menyepak-nyepak berontak. Dari atas pohon belasan orang terjun ke bawah menukik bagai rajawali berebut mangsa. Wintara maupun Akuwu Mambang melihat mereka semua. Tentulah mereka bermaksud menghadang.

Salah seorang dari mereka, ketika loncat dari atas pohon langsung melancarkan serangan ke arah dua penunggang kuda. Wintara menyambut tendangan itu "Plaaak!" Sebelum penyerangnya menginjak tanah, Wintara melayangkan tendangannya. "Deees!" Penye-

rang itu terbanting keras mencium tanah dengan bergulingan. Akuwu Mambang begitu melihat orang-orang yang menghadang langsung melompat. Ia tidak perduli dengan luka-lukanya Wintara jadi khawatir. Apalagi para penyerang itu rata-rata bersenjata... Dan di saat mereka menyerbu serempak, Wintara berlari ke arah Akuwu Mambang...

Dengan gerakan lincah, ia menyambut enam orang sekaligus. Keenamnya membabatkan senjata...

Wintara melesat ke atas. Sewaktu tubuhnya berada di

udara.... "Bug....! Bug! Bug!" Kakinya bergerak cepat menyambar. Hanya tiga orang yang terkena tendangan itu, Wintara hinggap di tanah berumput. Dari arah belakang kilatan senjata berkelebat... Akuwu Mambang melompat, tinjunya menghantam keras penyerang gelap itu. Mendengar jeritan di belakangnya, Wintara membalikkan tubuhnya.   Seseorang telah ambruk ter-

kena hantaman Akuwu Mambang. Wintara tersenyum. Serangan mereka makin gencar. Pedang maupun golok berputar-putar bagai kilatan sinar putih merencah Wintara dan Akuwu Mambang. Ketika sebuah babatan pedang melayang ke samping kiri, Wintara cepat bergeser bahkan dua hantamannya menyilang bersarang telak pada wajah serta lengan yang masih memegang gagang pedang.

Begitu juga dengan Akuwu Mambang, dua orang maju membabatkan senjata. Cepat Akuwu Mambang berlompat ke atas. Setelah tubuhnya berputar di udara, tahu-tahu kedua penyerang itu jatuh bergulingan sambil memekik. Ternyata Akuwu Mambang melancarkan tendangan terlebih dahulu. Dari arah samping kanan, tujuh orang maju serempak. Akuwu Mambang cepat menendang salah seorang yang tadi bergulingan. Tubuh itu melesat menubruk ketujuh penyerangnya. Lalu Akuwu Mambang meraih sebilah pedang yang tergeletak di tanah. 

"Tunggu dulu...! Mau apa kalian sebenarnya...? Mau merampok...? Aku tidak membawa harta...!" kata Akuwu Mambang sambil melirik ke arah Wintara yang masih bertempur, dan saat itu ia berhasil memukul roboh satu orang lawannya.

"Chis...! Buat apa segala macam harta…! Dan jangan anggap kami ini semua rampok... Kami tidak butuh harta apa pun...! Yang kami butuhkan adalah nyawa kalian... Hreaaaaa!" Ketujuh orang yang sudah bangkit maju, kali ini terjangannya begitu semangat. Akuwu Mambang yang sudah mendapatkan senjata tenang-tenang saja menghadapi mereka... Senjata mereka teracung mengkilat mengerikan... Dan ketika mereka mendekat, pedang di tangan Akuwu Mambang berkelebat menyerupai segulungan sinar putih. Sedangkan tubuhnya cepat bergulir ke samping, karena tidak mungkin Akuwu Mambang dapat menghadapi mereka sekaligus. Iapun dapat melihat akibat babatan pedangnya... Dua orang terkapar tanpa nyawa dengan perut robek selebar jengkal. Lima orang lagi masih terus menyerang, mereka mengejar ke manapun Akuwu Mambang bergeser.

Wintara mengangkat tangannya ke atas melancarkan pukulan.... "Dees!" Satu orang terlempar membentur batang pohon. Wintara sendiri mundur ke belakang setelah melancarkan serangan tadi. Ia pun menghadap sama banyaknya dengan orang-orang yang menyerang Akuwu Mambang. Cuma bedanya Wintara tidak menggunakan senjata… Meskipun dengan tangan kosong, ia sanggup membuat lawannya lumpuh hanya dengan sekali hantam.

Pemuda yang mengenakan baju kulit binatang ini tidak berani mendekat, manakala semua penyerangnya membabatkan pedangnya, malah sampai beberapa kali ia harus terpaksa mundur. Salah seorang dari penyerangnya melemparkan pedang.... Pedang itu melesat seperti anak panah   Wintara bergeser setengah puta-

ran maka pedang itu hanya menyerempet baju bulu di bagian dada. Berbarengan dengan itu lima orang penyerangnya, membabatkan pedang pada arah-arah yang sama. Sebelum pedang-pedang itu merencahnya, Wintara melesat ke atas. Lalu hinggap dengan cepat di belakang mereka....

Belum sempat mereka berbalik, Wintara melancarkan dua pukulan pada dua orang di hadapannya, maka dua orang itupun langsung tersungkur dengan masing-masing tulang leher mereka patah. Untuk berteriak saja mereka tidak bisa mengeluarkan suara....

Dan mereka tidak ingat apa-apa lagi setelah tubuh mereka ambruk. Ketiga orang ini terbelalak melihat dua orang temannya ambruk dengan seketika. Malah mereka melihat Wintara telah bersiap-siap melancarkan serangan lagi. Sebelum tendangan Wintara bergerak, salah seorang dari mereka membabatkan pedangnya ke arah kaki yang cepat ditarik mundur. Di luar dugaan, tinju Wintara menerobos menghantam muka....

"Des!" Dan di saat orang itu memekik, tendangan Wintara berputar menghantam lambung.... "Buuug!" Kontan orang itu kelojotan di tanah.

Pedang dalam genggaman Akuwu Mambang berkelebat menyilang membentuk segoresan sinar putih....

"Traaang!" Senjata mereka beradu nyaring. Dari arah belakang angin berdesir kencang mengarah     Akuwu Mambang menyilangkan pedang di atas kepala, maka    "Traaang!" Seseorang gagal melancarkan babatan

pedangnya     Menyadari orang itu masih berada di be-

lakangnya Akuwu Mambang berjumpalitan salto, telapak kakinya menghantam keras batok kepala si pembokong sampai remuk.

Ada sesuatu yang mendesak ke luar dari dalam perut Akuwu Mambang. Ia berusaha menahannya. Dadanya mulai terasa sakit., Dengan bantuan sebilah pedang Akuwu Mambang bertahan berdiri.... Tapi....

Tiba-tiba saja ia mengejang     Dari mulutnya menyem-

bur darah, kemudian berganti dengan gumpalangumpalan darah hitam...

Para penyerangnya yang bersenjata datang menghambur dengan teriakan-teriakan lantang. Akuwu Mambang tidak sempat lagi melihat, karena pandangannya sudah tertutup dengan keringat yang mengucur dari keningnya. Dan di saat para penyerang itu hampir membenamkan senjata mereka di tubuh Akuwu Mambang. Sosok tubuh melesat cepat. Tahu-tahu sudah berdiri di depan Akuwu Mambang. Sosok tubuh yang mengenakan baju dari kulit binatang itu langsung melancarkan tendangan yang menghantam ketiga penyerang Akuwu Mambang.... Mendapat tendangan yang sangat keras, ketiganya bergulingan sekaligus.

Ternyata Wintara telah selesai membereskan lawan-lawannya. Sekarang ia datang membantu kesulitan Akuwu Mambang. Kalau saja tadi Wintara terlambat, mungkin tubuh Akuwu Mambang sudah menjadi sate. Akuwu Mambang sendiri bukan tidak mengetahui kehadiran Wintara. Sambil menahan sakit, tiga orang itu bangkit lagi..... Tapi Wintara tidak memberi kesempatan barang sekejap pun Kedua telapak tangannya

menghantam satu demi satu sampai mereka berpentalan menyembur darah.... Pedang-pedang mereka terlepas semua berdenting di tanah, Mereka tidak tewas, tapi cukup membuat mereka tak dapat berdiri.

Tiba-tiba beberapa benda tajam sebesar ibu jari berdesing.... Beberapa saat kemudian ketiga orang itu memekik hebat. Pada kepala mereka rata-rata menancap sebuah benda kecil, namun mematikan Wintara

cepat menoleh ke arah dari mana asal senjata rahasia tersebut. Dalam pada itu ia melihat sosok gemerlapan melompat berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain. Menjauh semakin jauh. Wintara berlari, kemudian melompat ke atas cabang pohon mengikutinya. Namun....

"Tidak usah kau kejar, Wintara ! Tidak mungkin

kau dapat menyusulnya!" kata Akuwu Mambang setengah berteriak. Wintara yang melesat cepat masih dapat menangkap suara itu. Maka ia berhenti pada salah satu cabang pohon. Pandangannya menoleh pada Akuwu Mambang. Keadaan tubuh Akuwu Mambang lebih penting dibanding pengejaran terhadap sosok gemerlapan itu. Sekalipun ia mengejarnya dengan sekuat tenaga belum tentu Wintara dapat menyusul! Betul! Semua yang diucapkan Akuwu Mambang memang betul. Andaikata Wintara masih nekad menyusul, bagaimana dengan Akuwu Mambang yang tertinggal sendiri..? Tentunya akan lebih berbahaya. Apalagi Akuwu Mambang dalam keadaan seperti ini parahnya.

"Orang itu bermaksud ingin membunuh kita... Siapa dia kira-kira...?" kata Wintara setelah mendekati Akuwu Mambang.

"Ia begitu jauh... Aku tidak dapat mengenalinya, tapi dari bentuk tubuhnya... Aku seperti pernah kenal..." Jawab Akuwu Mambang. Ia sudah dapat berdiri, tapi untuk bergerak sangat sukar sekali... Wintara yang memapah tubuh Akuwu Mambang. langkahnya berjalan menuju pada seekor kuda putih yang menunggunya di kejauhan. Akhirnya kuda putih itu sendiri yang datang menghampiri mereka. Wintara menaikkan tubuh Akuwu Mambang lebih dahulu. Setelah Akuwu Mambang menunggangi dengan betul, barulah Wintara menyusul naik. Wintara sengaja mengendalikan kuda itu berjalan perlahan, agar tubuh Akuwu Mambang tidak terguncang. Saat itu matahari telah tenggelam, suasana hutan itu makin gelap. Binatang malam mulai membisingkan telinga. Suara burung hantu menimbulkan suara yang amat menyeramkan. Mereka baru ke luar dari hutan saat bulan purnama menerangi sekitar danau. Mereka dapat mendengar pula suara derasnya air terjun.

*

* * *

Seluruh ruangan pondok Tabib Sakti Nayan Gunta diterangi oleh beberapa pelita yang memancarkan sinar terang. Arum Kemuning duduk tegak pada sebuah kursi, sosok tua Nayan Gunta berdiri menghadapi gadis itu. Rupanya Tabib Sakti Nayan Gunta tengah mengganti ramuan daun pada rongga mata Arum Kemuning.

"Dari tadi aku tidak mendengar suara Kakang Seta Wungu... Di mana dia?" tanya Arum Kemuning memecah kesunyian.

"Dia bilang akan pergi ke Joglo Alun untuk menemui sahabatnya Somarengga. Apa dia tidak bilang sebelumnya padamu...?" Nayan Gunta balik bertanya.

"Tidak. Dia tidak bilang apa-apa... Tapi yaaah... Tidak jadi masalah... Oh, ya... apa tadi kau bilang, kek...? Seta Wungu ingin menemui Somarengga, betulkah itu..?" Wajah Arum Kemuning berseri.

"Dia memang bilang begitu   Kenapa nampaknya

kau senang kalau Seta Wungu bersahabat dengan Somarengga...." kata Tabib Sakti Nayan Gunta selesai mengganti ramuan daun. "Kakek tidak tahu kalau Somarengga, siapa...? Somarengga adalah orang kepercayaan kepatihan Joglo Alun. Namun yang nasibnya kurang beruntung... Teman-teman sederajatnya malah lebih maju dibanding dengan Somarengga..."

"Ohhh... Ternyata kau lebih tahu perihal Somarengga..." kata Nayan Gunta menimpali. Nayan Gunta menyerahkan gelas bambu pada telapak tangan gadis itu. Arum Kemuning yang menerimanya langsung mereguk habis isi gelas bambu itu.

"Aku tidak lebih dari seorang pengamen, kek...! Tapi yang jelas, orang-orang kepatihan banyak yang menyukai suaraku... Sehingga tidak jarang aku menghibur mereka..." tutur Arum Kemuning. Sebenarnya Nayan Gunta ingin menyampaikan sesuatu, tetapi gadis itu melanjutkan pembicaraan…

"Tapi aku cukup senang setelah berkenalan dengan Kakang Seta Wungu... Ternyata ia memiliki pergaulan yang demikian luasnya... Pantas kakang Seta Wungu sampai mengenal akrab dengan Somarengga... Kakang Seta Wungu itu pandai memainkan pedang... Akupun sempat diajarkan dasar ilmu pedang olehnya..."

"Seta Wungu mengajarkan ilmu pedang dalam waktu yang sesingkat ini...?" Tabib Sakti Nayan Gunta seakan tak percaya. Arum Kemuning menganggukkan kepala. "Kalau Seta Wungu telah memberi pelajaran dasar ilmu pedang, bagaimana kau bisa menjaga diri...? Sebilah pedangpun kau tidak memiliki..." kata Tabib Sakti Nayan Gunta. Arum Kemuning diam, terdengar langkah Nayan Gunta menjauh. Sebentar terdengar lagi langkah yang datang mendekati...

"Peganglah ini... Memang bukan sebilah pedang! Hanya sebatang rotan... Tapi kau bisa menggunakannya sebagai sebilah pedang..." kata Nayan Gunta sambil menyerahkan sebatang rotan pada kedua telapak tangan Arum Kemuning. Secara langsung gadis itu dapat menggenggamnya. Nayan Gunta belum beranjak dari sisi Arum Kemuning…

"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu, Arum…"

"Apakah itu...?" tanya Arum Kemuning penasa-

ran.

"Sebelumnya kau harus berjanji akan merahasia-

kannya..." jawab Nayan Gunta.

"Begitu pentingkah...?" Arum Kemuning berdebar... Tabib Sakti Nayan Gunta berjalan mendekati Arum Kemuning. Ia membisikkan sesuatu pada gadis itu... Sesaat kemudian gadis itu bangkit kegirangan...

"Benarkah apa yang kau katakan kakek Nayan Gunta... Benarkah...?" kata Arum Kemuning penuh semangat... Jari telunjuk Nayan Gunta menutup bibir mungil gadis itu, lalu… "Sekalipun pada Seta Wungu, kau harus merahasiakan hal ini, Arum... Bisakah...?" Arum Kemuning mengangguk. Sebelah lengannya memeluk pinggang Tabib Sakti Nayan Gunta.

Derap kaki kuda terdengar jelas, Nayan Gunta mempertajam penglihatannya. Dalam keremangan itu, ia dapat melihat seekor kuda putih dengan dua orang penunggangnya... Kuda itu memasuki halaman pondok Tabib Sakti Nayan Gunta.

"Aku mendengar derap kaki kuda seperti menuju ke sini... Apakah itu kakang Seta Wungu bersama sahabatnya...?" kata Arum Kemuning sambil menoleh ke arah suara derap kaki kuda.

*

* * *

7

Di halaman pondok Tabib Sakti Nayan Gunta, Wintara menghentikan kudanya. Ia memandangi pondok yang diterangi dengan beberapa pelita. Dalam remangnya sinar rembulan, Wintara melihat sosok bungkuk keluar dari pondok dan menuruni tangga batu. Sosok bungkuk itu tak lain si Tabib Sakti Nayan Gunta.

"Apa yang bisa aku bantu sobat....?" Nayan Gunta datang menyambut. Ia melihat seseorang duduk di depan seorang anak muda dengan kepayahan. Kuda putih nampak diam berdiri tenang.... Wintara turun dari kuda, tapi sebelah tangannya memegang tubuh Akuwu Mambang.

"Orang ini membutuhkan pertolongan., Apakah kau Tabib Sakti Nayan Gunta?" tanya Wintara sopan. Kakek bungkuk tersenyum jenggotnya bergerak tertiup angin.

"Dia memang Tabib Sakti Nayan Gunta," kata Akuwu Mambang dari atas kuda. Ia memang mengenali sosok itu meskipun dalam keadaan remang.

"Oh, kebetulan sekali.. Maafkan aku yang muda ini, kurang berpengalaman dalam mengenal orangorang terkemuka seperti kakek..." Wintara memberi hormat. Setelah itu Wintara menuruni Akuwu Mambang. Orang itu betul-betul sudah tidak dapat berjalan. Wintara membantunya berdiri... Tabib Sakti Nayan Gunta tidak hanya diam, iapun ikut membantu memapah tubuh Akuwu Mambang. Secara tidak langsung kakek bungkuk itu menuntun masuk ke dalam pondok.

"Demikian parahnya orang ini... Rebahkan dulu orang ini di balai, biar kulihat luka-lukanya..." kata Nayan Gunta setelah berada dalam ruangan. Wintara menuruti perintah itu.

Sambil duduk di samping Akuwu Mambang yang terbaring, Tabib Sakti Nayan Gunta membuka baju ningrat yang dikenakan orang itu Ia meraba seluruh

tubuh yang penuh dengan luka-luka memar. Akuwu Mambang meringis menahan sakit.

"Pantas ia tidak dapat berjalan.... Tulang pinggang serta dua tulang rusuknya patah.... Siapa yang melakukan ini, Anak Muda?" tanya Nayan Gunta sambil menoleh ke arah Wintara. Belum dapat Wintara menjelaskan, Akuwu Mambang memotong...

"Seorang pembunuh berlengan tunggal...! Ilmu pedangnya sangat luar biasa. !" Wajah kakek bungkuk

Nayan Gunta berubah. Ia tahu siapa yang dimaksudkan pembunuh berlengan tunggal. Kalau begitu orang yang terbaring ini tentunya memiliki ilmu yang tidak rendah... Karena ia bisa selamat dari seorang pembunuh yang ahli dalam ilmu pedang.

"Tunggulah sebentar di sini, aku akan ke belakang mengambil ramuan obat " Nayan Gunta bangkit,

lalu ia beranjak meninggalkan mereka, Sebelumnya ia berpesan...

"Biarkan saja bajunya terbuka.... Sebentar aku akan kembali lagi ke sini...." Setelah itu Nayan Gunta hilang menyelinap melalui pintu.

Dentingan kecapi mengalun merdu, iramanya begitu tenang seakan menghanyutkan perasaan bagi orang yang mendengarnya. Dentingan itu jelas terdengar dari balik ruangan di mana Akuwu Mambang terbaring. Ia berusaha bangkit, tapi luka-lukanya yang masih terasa sakit membuat tubuhnya ambruk lagi terlentang...

"Ada apa...?" tanya Wintara yang duduk di sebelahnya. Dada Akuwu Mambang nampak naik turun. Kepalanya menoleh ke samping dinding kayu. Dentingan senar semakin merdu terdengar, Akuwu Mambang mengetuk-ngetuk dinding pembatas ruangan itu.

Saat itu Tabib Sakti Nayan Gunta sudah kembali ke ruangan itu dengan membawa gelas bambu dan bungkusan yang berisi peralatan. Nayan Gunta memberikan gelas bambu itu pada Wintara.

"Beri dia minum ini... Mudah-mudahan rasa sakitnya berkurang " kata kakek itu. Wintara memban-

gunkan setengah duduk tubuh Akuwu Mambang. Lalu menyodorkan ramuan obat dalam gelas bambu ke mulutnya. Akuwu Mambang menenggak habis ramuan itu...

"Nayan Gunta... Aku mendengar seseorang memainkan kecapi di sebelah ruangan ini..." kata Akuwu Mambang yang masih setengah duduk bersandar pada Wintara. Tabib Sakti Nayan Gunta sibuk menumbuk ramuan obat-obat pada sebuah lumpang kecil dari batu. Ia sendiri duduk bersila di lantai.

"Permainannya begitu halus.   Mengingatkan aku

pada seseorang gadis pemetik kecapi, sampai sekarang gadis itu menghilang entah ke mana..." Pandangan Akuwu Mambang masih menghadap pada dinding kayu di sebelahnya.

"Di sini memang ada seorang gadis yang sedang memerlukan perawatan... Ia pun pandai memainkan kecapi. Namanya Arum Kemuning..." kata Tabib Sakti Nayan Gunta yang telah selesai menumbuk obat. Ia berdiri melangkah setelah meletakkan bubur obat pada dua lembar daun waru yang telah kering.

Akuwu Mambang seakan tidak percaya pada ucapan kakek bungkuk yang melangkah mendekatinya...

"Arum Kemuning ada di sini...? Gadis itulah yang kumaksudkan...!" Akuwu Mambang nampak duduk tegak di atas balai. Wintara membiarkannya.

"Bisakah kau bawa gadis itu ke mari…? Agar aku yakin bahwa gadis itu benar-benar ada di sini..." katanya lagi... Tabib Sakti Nayan Gunta tersenyum menatap, lalu…

"Arum Kemuning...!" Nayan Gunta memanggil dengan nada suara keras. Dentingan kecapi di ruangan sebelah berhenti.

"Ada apa, Kakek Nayan Gunta...." terdengar pula jawaban dari sana.

"Kemarilah... Kau bisa berjalan ke mari bukan...?"

"Bisa...! Tunggu saja..." Akuwu Mambang berdebar-debar menunggu kedatangan gadis itu. Sementara Tabib Sakti Nayan Gunta tengah memborehi semua luka-luka dengan bubur obat-obatan. Mula-mula memang terasa sakit, apalagi ketika tabib itu membungkusnya dengan daun-daun waru. Dan ia sempat memekik saat Nayan Gunta membalut tubuhnya dengan sobekan kain panjang.

Wintara memberikan baju ningratnya, membantu Akuwu Mambang mengenakan. Mata Akuwu Mambang terbelalak lebar, ketika ia melihat seorang gadis berjalan merambat pada dinding. Gadis itu berjalan dengan bantuan sebatang tongkat. Kedua rongga matanya tertutup dua lembar daun ramuan. Ia nampak berjalan memasuki ruangan.

"Arum....!" kata Akuwu Mambang tersentak. Arum Kemuning sendiri terkejut mendengar suara yang lain memanggilnya.

"Kakek Nayan Gunta, siapa orang yang menyebut namaku tadi...? Rasanya "

"Aku Akuwu Mambang, Arum.... Masakah kau tak mengenaliku... Dan kenapa dengan matamu itu, Arum...?" Akuwu Mambang beringsut bangun. Tapi...

Akh! Lukanya menimbulkan rasa nyeri. Gadis itu dituntun oleh kakek bungkuk Nayan Gunta mendekati Akuwu Mambang.

"Anda, Tuan Akuwu Mambang....? Nampaknya tuan tengah terluka parah..." Arum Kemuning sambil meraba-raba arah suara lelaki itu. Akhirnya ia dapat menyentuh tubuh yang telah dibalut.

"Ya... Aku terluka, Arum... Lalu... bagaimana kau bisa ada di sini?"

"Seseorang membawa ke sini untuk mengobati kedua mataku... Pembunuh buntung itu telah melukai kedua mataku… Juga dia telah membunuh Sadewo Mangli..," tutur Arum Kemuning.

"Kita telah dilukai oleh orang yang sama, Arum....

Parahkah kedua mata itu ?"

"Entahlah... Ada kemungkinan aku akan buta "

jawab Arum Kemuning.

"Kau beruntung ada orang yang menyelamatkanmu pada malam petaka di Joglo Alun     Siapa-

kah si penyelamat yang hebat itu   ?" Wintara ikut ber-

tanya. Gadis itu menoleh ke arah Wintara yang berdiri di samping balai dekat Akuwu Mambang duduk.

"Dia pun seorang ahli pedang... Namanya Seta Wungu!" Gadis itu menjawab. Lalu ia meneruskan kata-katanya...

"Sekarang ia sedang pergi menemui sahabatnya Somarengga "

"Kapan ia akan dapat ke mari lagi....?" tanya Akuwu Mambang.

"Tidak dapat dipastikan... Datang dan perginya kakang Seta Wungu bagaikan angin.... Tapi yang jelas ia akan datang ke sini selama aku masih dalam perawatan " Tabib Sakti Nayan Gunta membereskan semua peralatannya ke dalam sebuah kantong kain. Lalu ia mendekati mereka. Wajahnya yang keriput halus memancarkan keramahan.

"Hari sudah larut malam, sebaiknya kalian beristirahat saja dahulu... Untuk Akuwu Mambang jangan terlalu banyak bergerak, mungkin besok bubur obat itu mesti diganti..."

"Aku akan menjaganya, Kek...." kata Wintara sambil merebahkan tubuh Akuwu Mambang.

"Ayo, Arum... Kau harus kembali ke kamarmu..." Kakek bungkuk Nayan Gunta menuntun gadis itu berjalan dengan bantuan sebatang tongkat dari rotan. Mereka menuju kamar sebelah. Lengan kanan Arum Kemuning yang menggenggam tongkat terjulur ke depan mengetuk-ngetuk lantai. Sepeninggal mereka, Wintara mengambil selimut yang sudah tersedia di sudut balai! langsung menyelimuti tubuh Akuwu Mambang yang belum memejamkan matanya.

*

* * *

Irama senar berdentingan membuat Wintara terjaga dari tidurnya. Sinar panas menyorot ke arah mata. Wintara memicingkan matanya. Sinar matahari pagi masuk menerobos dari celah-celah dinding kayu. Ternyata hawa dingin semalam membuat tidur mereka begitu pulas dan nyenyak. Ia bangkit menggeliat.

Akuwu Mambang masih pulas tertidur. Nafasnya nampak perlahan naik turun dengkurnya pun masih terdengar. Wintara membetulkan selimut yang hampir terlepas dari tubuh yang terbaring pulas. Setelah itu ia melangkah ke arah jendela. Kedua telapak tangannya mendorong membuka daun jendela. Maka terlihatlah pemandangan yang begitu indah. Hamparan bunga yang bertebaran di bawah batu karang... Air danau yang beriak-riak oleh benturan air tepian yang masih tertutup oleh kabut putih. Dentingan senar kecapi mengalun mengisi suasana pagi.

Musik kecapi berhenti, Wintara melihat kakek Nayan Gunta berdiri di hadapan Arum Kemuning. Ia nampak seperti mengganti daun ramuan di mata gadis itu. Wintara tersenyum sambil melangkah ke luar. Dengan bergegas ia menuruni anak tangga batu. Mendengar langkah itu Tabib Sakti Nayan Gunta menoleh...

"Bagaimana dengan Akuwu Mambang apakah ia sudah bangun...?" tanya Nayan Gunta.

"Belum, ia masih tertidur pulas..." Wintara mendekat.

"Ah... Aku mesti mengganti bubur obat di tubuhnya... Biarlah kita tunggu saja sampai ia bangun...!" Nayan Gunta selesai mengganti daun ramuan pada mata Arum Kemuning. Wintara melihat alat musik dalam pelukan gadis itu. Maka ia teringat pada beberapa hari yang telah lalu, ketika sebuah peristiwa pembunuhan sadis terjadi di Joglo Alun. Kecapi itu masih bernoda darah yang telah menghitam... Dan ia ingat pula ketika menolong tubuh Akuwu Mambang dari jatuh… Sewaktu bersembunyi Wintara melihat jelas pembunuh berlengan tunggal membawa benda tersebut... Wintara tidak habis pikir.

"Kalian boleh menikmati pemandangan pagi ini, aku hendak menyiapkan obat untuk Akuwu Mambang..." Setelah berkata begitu, Tabib Sakti Nayan Gunta berlalu, tapi kembali ia menoleh ke belakang...

"Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian... Nanti kita sarapan bersama, ya..?!" Kemudian Nayan Gunta berjalan tidak balik-balik lagi. Tubuhnya yang bungkuk menaiki anak tangga batu. Dalam pada waktu itu, ia sempat melihat sosok tubuh gemerlapan melesat cepat ke arah ruangan di mana Akuwu Mambang berada. Adanya kecurigaan itu, Tabib Nayan Gunta tidak kalah cepat melesat menyusul... Tubuh bungkuk itu menerobos cepat melalui jendela..! "Des"! Langsung menggagalkan serangan tubuh gemerlapan itu yang nyaris melancarkan hantaman ke arah Akuwu Mambang yang tertidur pulas. Tubuh gemerlapan mundur, pandangannya menatap garang. Nayan Gunta lompat ke samping balai melindungi tubuh yang terbaring. "Memalukan.... Perbuatan apa itu! Membunuh orang yang tengah tertidur pulas..." kata Tabib Nayan Gunta. Sudah tentu orang yang berpakaian gemerlapan itu menjadi gusar. Ia tidak menjawab, malah ia menyerang dengan beringas... Hantamannya hampir saja mengenai kepala Tabib Sakti Nayan Gunta. Ia dapat merunduk, sebelah lengannya menangkis hantaman itu....

"Plaaak!" Nayan Gunta tidak bergeser sedikit pun, tiba-tiba lengannya yang lain menerobos ke depan menghantam perut... "Deees!" Orang itu mundur beberapa langkah.

Mendengar suara berisik, Akuwu Mambang terjaga dari tidurnya. Ia melihat langsung perkelahian di ruangan itu. Jantungnya terkesiap ketika melihat sosok tubuh gemerlapan...

"Somarengga…! Apa-apaan kau   !"

Akuwu Mambang menghardik. Ia bangkit dari tidur... Rasa sakitnya sedikit berkurang. Bahkan ia dapat berdiri... Sebenarnya ia bergerak dalam keadaan refleks. Saat luka-luka berdenyut ia teringat akan tulang-tulangnya yang remuk.

Sosok gemerlapan yang ternyata adalah Somarengga tidak perduli hardikan Akuwu Mambang. Ia semakin gencar melakukan serangan balasan pada kakek bungkuk Nayan Gunta. Sambil menepis serangan-serangan itu, ia berteriak... "Akuwu Mambang.... Menyingkirlah dari sini! Keparat busuk ini bermaksud membunuhmu... Cepat menyingkir..." Tubuh bungkuk Nayan Gunta bergerakgerak lincah. Sekali waktu pukulan Somarengga berhasil menghantam punggung bungkuk Nayan Gunta. Kakek itupun tersungkur ke lantai. Begitu tubuhnya jatuh ia langsung bergulingan menghindari seranganserangan berikutnya.

"Biar aku yang menghabiskan nyawa anjingnya... Heaaaa!" Akuwu Mambang maju menerjang. Tinjunya melayang ke depan. Somarengga yang tengah melancarkan serangan terhadap kakek Nayan Gunta mendadak berbalik mundur. Serangan Akuwu Mambang memang sukar untuk dielakkan. Karena meskipun ia dalam keadaan terluka parah, Akuwu Mambang masih mampu mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya. Hanya saja tiap-tiap gerakannya sekarang nampak lambat.

Untuk membalas serangan balik pada Akuwu Mambang, Somarengga tidak dapat melaksanakannya. Karena serangan-serangan Akuwu Mambang nampak demikian gencar... Somarengga hanya dapat menangkis atau menghindar. Namun bagaimana hebatnya Akuwu Mambang yang tengah terluka itu, keadaan tubuhnya makin menurun. Melihat itu Tabib Sakti Nayan Gunta melesat menerjang.... Tendangannya berhasil menghantam dada... Bersamaan itu pula Somarengga sempat melancarkan sebuah pukulan yang bersarang telak di tenggorokan Akuwu Mambang. Somarengga maupun Akuwu Mambang bergulingan.

Nayan Gunta cepat membantu Akuwu Mambang berdiri. Namun Somarengga yang sudah kalap lalu datang lagi menerjang... Tendangannya yang keras menghantam mereka sekaligus. Akuwu Mambang terpelanting... Kakek bungkuk Nayan Gunta sempoyongan mundur. Pandangannya masih terus mengawasi Somarengga, takut kalau-kalau ia melancarkan serangan kepada Akuwu Mambang...

Kekhawatiran Nayan Gunta ternyata benar. Somarengga menghentakkan kedua kakinya, maka tubuhnya melesat dengan pukulan yang siap menghantam ke arah Akuwu Mambang Tentu saja Tabib Sak-

ti Nayan Gunta tidak tinggal diam. Ia pun berusaha menyelamatkan Akuwu Mambang dari maut. Somarengga yang mengetahui terjangan Tabib Sakti Nayan Gunta, memutar sebelah lengannya... "Bwaaak!" Hantaman itu membuat Nayan Gunta terpelanting. Tubuh Somarengga yang masih melesat tetap menjurus dengan tendangan yang sangat keras.... "Deeeees!" Akuwu Mambang tidak sempat menghindar, tubuhnya terlempar keras menerobos jendela kayu yang terbuka lebar...

* * * 8

Wintara maupun Arum Kemuning tersentak, manakala terdengar suara derak dari arah ruangan pondok. Sosok tubuh terlempar ke luar menerobos jendela. Tubuh itu tak lain Akuwu Mambang. Saat ia terlempar tubuhnya berputar, berjumpalitan. Lalu hinggap di atas tanah tanpa bersuara.

Selain Akuwu Mambang, tubuh Tabib Sakti Nayan Gunta bersama Somarengga ke luar pula menerobos jendela. Keduanya berlompatan saling susul. Lama sekali tubuh mereka berjumpalitan di udara. Selama itupun mereka saling hantam menyerang. Akuwu Mambang melesat lagi ke atas, ke arah mereka Te-

riakannya menggelegar disertai dengan tendangan mengarah deras ke tubuh Somarengga.... "Dues!" Somarengga memekik, tubuhnya ambruk ke tanah.

Bersamaan dengan itu, Tabib Sakti Nayan Gunta menukik ke bawah... "Deeeeer" Tinjunya menghantam deras ke dada Somarengga yang masih bergulingan. Akuwu Mambang maju lagi menyerang, tapi mendadak langkahnya terhenti. Rasa sakit di luka-luka itu menyerang tubuhnya. Sesaat ia kejang... Wintara sudah berada di situ, Ia langsung memegangi tubuh Akuwu Mambang. Lelaki itu memuntahkan cairan kental kehitaman. "Wintara, jaga Akuwu Mambang....!" teriak kakek bongkok Nayan Gunta. Lengannya berkelebat menyambar... Kalau Somarengga tidak bergeser, hantaman itu pasti mengenai mukanya.

Di luar dugaan, Somarengga yang bergerak ke samping tidak kalah cepat menyambar hantaman itu... "Plaak!" Kedua lengan mereka berdenyut. Somarengga melancarkan serangannya lagi. Kali ini dengan tendangan setengah memutar.... "Bwwwet" Dengan merunduk, kakek bungkuk Nayan Gunta menghindar, tubuhnya hampir merebah ke tanah Tanpa sepengeta-

huan Somarengga, Nayan Gunta melancarkan sabetan kaki Membuat tubuh Somarengga terjungkal.

Diam-diam Wintara merasa kagum akan kehebatan Tabib Sakti Nayan Gunta. Ia tidak menyangka sama sekali kalau kakek bungkuk itu memiliki ilmu yang hebat pula. Pelukannya erat memapah tubuh Akuwu Mambang yang nampak pucat mengucurkan keringat. Arum Kemuning berjalan dengan rotannya, Sebelah tangannya menggapai-gapai seperti mencari sesuatu.

"Wintara.... Kakek Nayan Gunta...! Di mana kalian...?" Suara gadis itu halus memanggil-manggil. Langkahnya menuju ke arah perkelahian. Sambil memapah Akuwu Mambang, Wintara berjalan mendekati Arum Kemuning.

"Diam saja di situ, Arum.... Aku akan ke sana !"

kata Wintara. Sebelum Wintara mendekati gadis itu, ia melihat sosok serba hitam berlengan tunggal melesat ke arah Arum Kemuning. Pandangan gadis itu yang gelap mengira kedatangan sosok hitam itu Wintara...

"Wintara...." tegur Arum Kemuning, "tapi..." "Bukan! Aku Seta Wungu..." Sosok hitam berlen-

gan tunggal mengaku.

"Ah... Kakang Seta Wungu.... Ada apa di sana, aku mendengar suara ribut-ribut..."

"Tidak ada apa-apa, Arum   Sebaiknya kita pergi

dari sini...!" kata Seta Wungu menarik perlahan-lahan Arum Kemuning.

"Bagaimana   dengan    kakek   Nayan Gunta ?

Masakah kita pergi begitu saja...?" Gadis itu belum mau beranjak. Kehadirannya yang diketahui oleh Wintara dan Akuwu Mambang membuat Seta Wungu lepaskan lengan gadis itu.

Wintara tidak mengeluarkan suara. Begitu juga Akuwu Mambang. Dua orang itu menatap tajam Seta Wungu. Permainan macam apa ini... Bagaimana sosok berlengan tunggal bisa ada di sini    Apa hubungannya

dengan Arum Kemuning...? Apakah Arum Kemuning tidak tahu kalau lelaki berlengan tunggal itu seorang pembunuh sadis yang pernah meneror Joglo Alun maupun di tempat kediaman Akuwu Mambang ? Win-

tara juga pernah melihat lelaki itu membawa sebuah kecapi dari rumah bertingkat itu... Seta Wungu perlahan menarik gagang pedang dari punggungnya. Hampir tidak bersuara. Wintara tetap diam tidak bergeming. Matanya mengawasi genggaman pedang. Pedang itu sudah terhunus, begitu mengkilatnya. Sambil melangkah maju Seta Wungu siap mem-

babatkan pedangnya... Begitu pedang itu berkelebat menyambar, Wintara melesat ke atas bersama tubuh lemas Akuwu Mambang.... Tahu-tahu mereka hinggap di belakang Arum Kemuning. Seta Wungu membalikkan tubuh dan dia menatap geram...

"Bangsat...! Jangan dekati gadis itu...!" suara Seta Wungu terdengar keras. Arum Kemuning merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Perlahan Wintara berbisik...

"Tenang, Arum... Aku Wintara bersama Akuwu Mambang... Temanmu itu bermaksud ingin membunuh kami... Aku khawatir dia pun akan berlaku sama terhadap diriku "

"Arum Kemuning menyingkirlah dari sini   !"

Sambil berteriak, Seta Wungu maju menerjang    Pe-

dangnya yang berkilat nampak menyilaukan terkena sinar matahari. Suara terjangan itu dapat didengar Arum Kemuning.... Seperti apa yang diajarkan Seta Wungu dalam permainan pedang, gadis itu membabatkan tongkat rotan ke arah desiran terjangan Seta Wungu.... Sebelum membabatkan pedangnya Seta Wungu mundur menghindari sambaran tongkat rotan. "Aku tidak percaya dengan tingkah lakumu itu, Kakang Seta Wungu.... Wintara dan Akuwu Mambang bukan orang jahat, mengapa sampai hati kau ingin membunuh mereka...?" Arum Kemuning menudingkan tongkat itu.

"Kau tidak mengerti, Arum... Menyingkir saja dari situ... Aku tidak ingin menyakiti dirimu lagi..." kata Seta Wungu.

"Tidak ingin menyakiti diriku lagi...?!" Arum Kemuning tersentak. Seta Wungu berdiri tegak tidak menjawab... Sebelah telapak tangan gadis itu melepaskan daun-daun yang menutupi kedua matanya....

Ia ingin membuktikan apa yang pernah dibisikkan Tabib Sakti Nayan Gunta. Kelopak matanya terbuka lebar... Bola matanya nampak suram, begitu juga dengan penglihatannya! Meskipun semua nampak suram, ia masih dapat melihat sosok hitam berdiri di hadapannya.   Sebelah lengan kanan sosok hitam itu berge-

rak-gerak tertiup angin.

"Kaukah Seta Wungu...? Aku berharap kau mengatakannya 'tidak' " Suara gadis itu dingin.

"Akulah Seta Wungu yang selama ini kau kenal..." jawab Seta Wungu jujur. Bagai disambar petir Arum Kemuning mendengar jawaban itu. Ia maju melangkah dengan genggaman tongkat yang gemetar...

"Kalau begitu, kaulah pembunuh Sadewo Mangli... dan kau juga yang telah membuat cacat kedua mataku... Kau harus menebusnya, laki-laki terkutuk....!" Arum Kemuning membabatkan tongkat rotan ke arah kepala Seta Wungu... Seta Wungu sengaja tidak mengelak. Ia membiarkan hantaman rotan itu menghantamnya berkali-kali di kepala.

"Arum.... Apapun yang kau lakukan kepadaku, aku pasrah... Tapi berikan dulu kesempatan padaku untuk membunuh anjing-anjing itu..." kata Seta Wungu tenang. darah membanjir di wajahnya.

"Tidak ada, Seta Wungu...! Tidak ada kesempatan lagi untukmu...!" Suara Arum Kemuning parau. Ia menghantamkan lagi tongkatnya ke tubuh Seta Wungu. Tetap saja Seta Wungu tidak mengelak... Hantaman-hantaman tongkat itu mendera tubuh berlengan tunggal. Entah pada hantaman keberapa kali, tubuh Seta Wungu melesat ke atas... Wintara yang masih berada di situ cepat menyingkir menghadapi lesatan tubuh Seta Wungu yang langsung menerjang dengan babatan pedang. Sinar pedang bergulung-gulung mencecar Wintara.

"Hadapi dia, Wintara... Lepaskan aku..." kata Akuwu. Mambang dalam lindungan Wintara Benar

juga, kalau dia masih memapah Akuwu Mambang keselamatan mereka berdua malah tidak terjamin. Manakala pedang itu masih terus berputar bagai kilatankilatan yang menyilaukan!

Dengan sekali hentakan tubuh Wintara yang memapah Akuwu Mambang melesat arah Arum Kemuning. la langsung merebahkan tubuh Akuwu Mambang dibawah kaki gadis itu. "Arum.... Akuwu Mambang ada di dekatmu.... Aku mohon lindungi dia! Aku yakin ia akan aman bersamamu..." kata Wintara, wajahnya menoleh ke belakang melihat Seta Wungu datang bagai setan kelaparan... Begitu Seta Wungu membabatkan pedangnya... Wintara melesat ke atas kakinya dapat menendang lengan Seta Wungu....

"Deees!" Hampir saja pedang itu terlepas, Mendapat serangan yang begitu mendadak, Seta Wungu terkesiap... Wintara sudah hinggap di tanah dan ia cepat merunduk saat pedang menyambar melewati kepalanya… "Weees!" Lengan kekar Wintara memutar menghantam perut Seta Wungu....

Menghadapi seorang pemuda yang begitu tangguh, Seta Wungu makin geram. Babatan-babatan pedangnya berputar lagi... Kali ini kecepatannya luar biasa. Kalau saja pedang itu bukan benda tajam, Wintara berani menangkis atau menyambut dengan pukulan-pukulannya. Tapi siapa yang berani menghadapi babatan-babatan pedang itu dengan lengan telanjang. Tidak ada cara lain untuk menghindarinya. Kecuali Wintara harus mundur beberapa langkah sambil mencari titik kelemahannya.

Arum Kemuning menyaksikan pertarungan itu meskipun dengan pandangan yang suram. Ia dapat melihat betapa Wintara kewalahan menghadapi Seta Wungu yang menyerang membabi buta...

"Wintara.... Tangkap ini...!" Arum Kemuning melemparkan tongkat rotannya, tongkat itu melayang di udara ke arah Wintara. Wintara yang melihat sebatang tongkat melayang ke arahnya langsung melompat berniat meraih benda itu. Tapi Seta Wungu pun melompat ke atas... Pedang tajamnya berkelebat mematah duakan batang rotan.... Bersamaan dengan itu, Wintara yang masih melesat di udara menendang tubuh Seta Wungu sampai jatuh bergulingan.

Dadanya terasa sesak, ia melihat Wintara hinggap di tanah tanpa bersuara dengan mantap. Baru kali ini ia mendapatkan lawan yang demikian tangguh. Apalagi orang yang ia hadapi seorang anak muda yang jauh lebih muda dari usianya. Dengan geram Seta Wungu melemparkan pedangnya ke samping... Dan menancap ditanah yang menghampar bunga-bunga bermekaran. Wintara tidak mengerti mengapa Seta Wungu membuang senjata andalannya. Dengan mata yang nyalang Seta Wungu memperlihatkan jurus-jurus aneh. Telapak tangannya menggenggam sesuatu yang kosong... Bergerak-gerak seolah-olah tengah memainkan pedang...

Meskipun kelihatannya tidak begitu mematikan, Wintara tidak memandang remeh. Ia pun mulai bersikap hati-hati.... Kedua lengannya bergerak menyilang, kemudian sebelah lengan kanannya naik ke atas kepala... Yang sebelah lagi tetap menyilang bawah dada. Dengan disertai teriakan, Seta Wungu menerjang... Lengannya yang tunggal bergerak lebih dulu menyambar... Wintara tidak mundur, ia malah maju sambil melancarkan serangan... Tapi mendadak tubuhnya terjungkal ke belakang. Seperti ada sesuatu yang menghantam pangkal lengannya... Padahal ia tahu betul Seta Wungu tidak menyentuhnya... Ilmu apa ini? Tanpa menyentuh, tapi tenaga dalam pukulan itu dapat menjatuhkan lawannya!

Bekas hantaman itu terasa nyeri sekali. Wintara merasakan seperti sambaran mata pedang. Kalau begitu, untuk menghadapi Seta Wungu, ia harus pula menghimpun tenaga inti penuh.

*

* * *

Sementara itu, Tabib Sakti Nayan Gunta tampak mengangkat kedua tangannya ke atas. Rupanya ia menyambut tendangan Somarengga. Dalam pada itu Nayan Gunta berhasil mencengkeram kaki yang masih berkelebat diatasnya. Sambil memegangi kaki Somarengga... Kakek bongkok Nayan Gunta balas menendang... Menghantam keras dari perut ke tenggorokan. Maka tubuh Somarengga mencelat tidak tanggungtanggung.

Dasar Somarengga seorang yang memiliki ilmu, ia masih dapat mengimbangi tubuhnya ketika mencelat. Ia malah berjumpalitan salto di udara... Di luar dugaan, ia sempat melemparkan beberapa senjata rahasia dari balik bajunya yang gemerlapan... Senjatasenjata rahasia itu meluncur deras ke arah Tabib Sakti Nayan Gunta. Kalau saja matanya yang ditumbuhi alis putih kurang awas, mungkin senjata-senjata rahasia itu sudah bersarang di tubuhnya... Ketika senjatasenjata itu berdesingan, Nayan Gunta berhasil menyampok dengan kedua telapak tangannya... Bahkan dua buah pisau kecil itu dapat ditangkap dengan jari telunjuk dan jari tengah.

Sekali lagi Somarengga melemparkan beberapa senjata rahasia. Senjata rahasia itupun berdesingan... Tabib Sakti Nayan Gunta melesat ke atas sambil melemparkan kembali kedua pisau kecil yang terselip di kedua jarinya... "Aaaargh!" Somarengga memekik! Ia tidak dapat menghindari senjata-senjata rahasianya sendiri. Dua pisau kecil menancap pada bahu serta lengannya... Dan sewaktu Nayan Gunta turun ke tanah, tendangannya yang keras melemparkan tubuh Somarengga... Tubuh itu mencelat tak terkendali... Jatuh di arena pertarungan Wintara dengan Seta Wungu. Semula Seta Wungu berniat melancarkan seran-

gan kepada Wintara, tapi setelah melihat Somarengga yang jatuh di bawah kakinya, ia langsung menarik kerah baju gemerlapan Somarengga.

"Keparat kau Somarengga...! Kau telah mengkhianati diriku...! Semua ini terbongkar akibat ulah dungumu yang rakus akan kedudukan...! Kau tidak mungkin dapat menggantikan kedudukan Akuwu Mambang, Anjing busuk...! Karena kau pun akan sama mampusnya dengan mereka...!" kata Seta Wungu mencengkeram erat kerah baju gemerlapan Somarengga.

"Tidak mungkin kau bisa membunuhku Seta Wungu... Aku banyak uang! Kau boleh ambil semua harta kekayaanku, asal…"

Perkataan Somarengga terputus, karena sebuah hantaman menghantam telak pada batang lehernya. Darah menyembur. Somarengga sudah tidak dapat gerak. Tulang lehernya terasa patah.

"Setelah kau mampus, apa susahnya menguasai hartamu...!" Wajah Seta Wungu nampak menyeramkan, seluruh wajahnya memerah dengan darah dari luka-luka di kepalanya.

Semua orang yang berada di situ menatap ngeri ke arah Seta Wungu. Bukan ngeri lantaran takut. Tapi ngeri melihat darah yang membanjir dibagian muka sosok berlengan tunggal.

"Kalian dengar...! Khususnya untuk Akuwu Mambang! Anjing busuk inilah yang selalu mendalangi tiap-tiap pembunuhan orang-orang kepercayaan kepatihan...! Aku bicara yang sebenarnya...! Juga Untuk Arum Kemuning..." Seta Wungu yang nampak mengerikan tidak melanjutkan kata-katanya... Karena ia sendiri tengah memukul ambruk Somarengga ke tanah. Tubuh itu kelojotan... Sesaat kemudian Somarengga diam tak berkutik, nyawanya telah jauh terbang melayang, lalu...

"Arum Kemuning boleh mengatakan aku seorang pembunuh... Tapi sebenarnya luka yang ada di kedua matanya bukan unsur kesengajaan... Itulah sebabnya aku membawanya ke mari... Mengurus serta menjaganya..."

Wintara, Akuwu Mambang juga Arum Kemuning dan Tabib Sakti Nayan Gunta tidak bereaksi. Mereka malah bersyukur karena dengan kematian Somarengga berarti telah mengurangi kekuatan lawan mereka. Mereka hanya mendengarkan ocehan Seta Wungu...

"Untuk Nayan Gunta.... Terpaksa dalam, hal ini kau ku libatkan.... Kau pernah mengatakan Arum Kemuning akan buta! Tapi nyatanya.... Sekarang gadis itu telah tahu siapa diriku yang sebenarnya... Sama kau menipu, Nayan Gunta.   Sekali lagi kuperingatkan

padamu, Arum Kemuning Menyingkirlah dari tempat ini...! Aku sudah bersumpah tidak ingin menyakitimu lagi...! Setelah aku membunuh tiga orang keparat ini, kau boleh membunuhku, Arum…" Sambil berkata begitu Seta Wungu menggerak-gerakkan sebelah tangannya. Maka terlihat jurus-jurus aneh Seta Wungu. Telapak tangannya tergenggam seperti memegang sebilah pedang. tang. *

* * *

9

"Majulah kalian bertiga...." Seta Wungu menan-

"Hati-hati, ia menggunakan jurus 'Pedang Tanpa Wujud'... Jurus itu lebih berbahaya dari pedang sungguhan..." bisik Tabib Sakti Nayan Gunta pelan. Arum Kemuning maju menghadang Seta Wungu.

"Sebelum kau membunuh mereka, kau harus membunuhku terlebih dahulu... Ayo kakang Seta Wungu... Kenapa mesti ragu-ragu...!" Gadis itu menghalangi dengan kedua tangannya.

"Sudah kubilang, aku tak dapat menyakitimu, Arum... Menyingkirlah..." Tiba-tiba saja tubuh bungkuk Nayan Gunta melesat ke atas, lalu berputar di udara... Sesaat kemudian dia hinggap dalam jarak beberapa tombak di belakang Seta Wungu.

"Manusia sombong...! Buktikan ocehanmu itu...! Kau pikir kami seekor lalat yang mudah ditepuk dengan telapak tangan. Mari Seta Wungu... Aku yang tua ini belum pernah tahu kehebatan ilmu 'Pedang Tanpa Wujud'..." Tabib Sakti Nayan Gunta telah bersiap menghadapi sosok lengan tunggal Maka dengan gerakan yang sangat cepat, Seta Wungu berlari mendekati Tabib Sakti Nayan Gunta. Arum Kemuning tidak dapat menghalangi lagi…

"Kakang Seta Wungu... Jangan bunuh dia...!" Teriakan Arum Kemuning tidak diperdulikan. Seta Wungu terlanjur melancarkan serangan terhadap kakek bungkuk itu. Sebelah lengannya bergerak... Lengan keriput Nayan Gunta menyambut. Benturan dahsyat tak terelakkan...

Keduanya sama-sama melancarkan serangan. Dari kejauhan perkelahian mereka nampak seperti dua sosok ringan yang beterbangan saling bentur. Kurang lebih mereka sudah mengeluarkan sepuluh jurus. Namun masih belum dapat dipastikan di antara mereka siapa yang bakal jatuh. Baik Seta Wungu maupun kakek bungkuk Nayan Gunta masih sama-sama kuat. Jurus-jurus ampuh mereka makin gencar. Kalau Seta Wungu melancarkan serangan maut, Tabib Nayan Gunta pun tidak kalah hebat menyambut serangan itu... dan saat hantaman mereka beradu, terdengar suara yang amat nyaring. Seperti benturan dua bongkah batu.

Wintara membantu Akuwu Mambang berdiri. Rasa sakit di tubuhnya rada berkurang. Arum Kemuning masih berdiri menyaksikan pertarungan itu. Ia merasa lega, karena kakek bungkuk Nayan Gunta dapat mengimbangi serangan-serangan Seta Wungu. Ia berharap tidak ada yang terluka di antara keduanya. Ia pun merasa menyesal karena telah melukai kepala Seta Wungu. Tidak seharusnya ia bertindak demikian.

"Arum, kemarilah... Akuwu Mambang perlu pertolongan. Kau bisa membawanya ke dalam pondok...?" kata Wintara. Arum Kemuning menoleh ke arah Wintara. Lalu tanpa menjawab ia melangkah mendekat. Dalam jarak yang sangat dekat, gadis itu dapat melihat Wintara dan Akuwu Mambang dalam rangkulan. Wintara membiarkan Arum Kemuning menuntun Akuwu Mambang berjalan lemah menuju pondok. Dalam penglihatan gadis itu, pondok yang ada di hadapannya nampak suram. Namun begitu ia masih bisa melihat jalan yang menuju pondok dengan jelas.

Lengan Tunggal Seta Wungu berkelebat memutar. Nampak lingkaran hitam bergulung-gulung bagai kitiran angin. Menghantam keras ke segala arah titik kelemahan kakek bungkuk Nayan Gunta yang kewalahan menghindari serangan-serangan itu. Sekali ia menghentakkan kakinya ke atas, dalam sekejap tubuh bungkuk itu sudah berada di udara... Lengannya bergerak cepat menghantam punggung Seta Wungu… "Des!" Dalam pada itu pun Seta Wungu tidak kalah cepat memutar lengan tunggalnya ke atas ke arah Nayan Gunta yang nampak masih berjumpalitan di udara... Jelas sekali hantaman itu tidak mengena, tapi... "Deeees!" Entah karena apa Nayan Gunta memekik hebat, tubuhnyapun terbanting jatuh menggelinding ke tanah.

Sekali lagi Seta Wungu menerjang deras. Lengan tunggalnya siap melancarkan pukulan 'Pedang Tanpa Wujud'... Manakala Tabib Sakti belum sempat bangkit dan ma sih mengerang menahan sakit... Saat itu sosok Wintara berkelebat sambil menghantam. Lengan Tunggal Seta Wungu yang tadi hampir menghantam kepala... Tiba-tiba saja bergeser melenceng terkena pukulan Wintara yang datang begitu keras. Diam-diam Wintara merasakan tinjunya berdenyut.

"Bagus... Anak muda. Kalian boleh mengeroyokku sekaligus! Mana Akuwu Mambang...? Kenapa ia tidak menunjukkan diri..?" Lengan Tunggal Seta Wungu menyilang di hadapan mukanya. Kemudian terjangan yang bagaikan setan tahu-tahu hantamannya menjurus ke muka Wintara... Desiran anginnya begitu kencang terasa menghantam samping muka. Secepatnya kedua telapak tangan Wintara maju mendorong tubuh berlengan tunggal itu. Dalam pada itupun Seta Wungu sempat melancarkan tendangan ke perut. Maka kedua tubuh itu mencelat... Tapi keduanya sama-sama memiliki keseimbangan tubuh yang hebat.

Saat mereka mencelat, mereka dapat mengendalikan diri... Keduanya berjumpalitan di udara... Kemudian sebelum hinggap di tanah keduanya saling maju menerjang Bagai dua ekor rajawali yang berebut mangsa...

"Blaaaaar!" Hantaman mereka saling beradu. Kali ini betul-betul berakibat fatal. Tubuh Wintara ambruk bergulingan di tanah, Seta Wungu mencelat terlempar ke arah batu karang. Sebelum tubuhnya membentur batu karang... Kedua kaki Seta Wungu menjejak batu itu, sehingga tubuhnya memantul kembali... Mengarah deras menubruk Wintara yang baru berusaha bangkit.

Melihat situasi seperti itu, Tabib Sakti Nayan Gunta maju melancarkan serangan....

"Deees!"

Seta Wungu memekik sambil bergulingan. Ia tidak menyangka mendapat serangan mendadak dari kakek bungkuk Nayan Gunta.

Tabib Sakti Nayan Gunta sendiri nampak berdiri terhuyung. Tendangannya memang keras menghantam Seta Wungu, membuat seluruh tenaganya terkuras habis. Namun tindakannya itu tidak percuma. Dalam hati Wintara berterima kasih sekali terhadap Tabib Sakti Nayan Gunta. Kalau saja kakek bungkuk itu tidak melancarkan tendangan memotong serangan Seta Wungu. Barangkali pukulan 'Pedang Tanpa Wujud' melumpuhkan tubuh kekar Wintara. Seta Wungu bangkit menggeram. Mukanya lebih seram lagi... Karena darah yang mengalir dari kepalanya mengucur deras membasahi raut wajah si Lengan Tung gal. Teriakannya begitu menggelegar saat ia menerjang mengumbar maut. Melihat keadaan yang demikian, Wintara melompat arah kakek bungkuk Nayan Gunta. Ia khawatir, kalau-kalau Nayan Gunta akan menjadi sasaran utamanya. Maka ketika Wintara berada di hadapan kakek bungkuk, ia sudah berancang-ancang menyambut serangan yang bakal datang.

Apa yang dikhawatirkan oleh Wintara, ternyata benar...! Seta Wungu membabatkan lengan tunggalnya kuat-kuat. Wintara menyambut dengan tendangannya... "Plaaak!" Lalu tinju Wintara maju menerobos, Seta Wungu menghindar lincah. Tubuhnya bergeser. Cepat lengan tunggalnya menepis jotosan itu...

Perkelahian dua manusia sakti ini berlangsung sengit. Dua sosok itu gencar melancarkan seranganserangan. Tabib Sakti Nayan Gunta dapat melihat kehebatan anak muda yang mengenakan baju dari kulit binatang. Belum pernah ia melihat jurus-jurus yang begitu dahsyat, seperti yang dilancarkan Wintara. Tubuhnya yang nampak begitu ringan berpindah-pindah mengelakkan serangan Seta Wungu.

Seta Wungu pun demikian, dengan gerakan yang ringan ia mencecar anak muda itu. Keduanya nampak bergerak-gerak tanpa menyentuh tanah. Itu bertanda bahwa Keduanya memiliki ilmu peringan tubuh yang sempurna. Walaupun mereka menginjak tanah, itupun hanya sekejap! Sedetik kemudian mereka beterbangan lagi bertempur di udara.

Dua belas jurus telah berlalu. Keduanya samasama belum dapat melancarkan serangan. Mereka sama-sama tidak dapat menyentuh. Kecuali benturanbenturan hantaman yang terdengar. Tabib Sakti membelalakkan matanya, ketika melihat Wintara berhasil menghantam dada Seta Wungu sampai terdorong ke belakang. Seta Wungu mengikuti dorongan pukulan itu... Mendadak ia berhenti berdiri di atas semaksemak yang rimbun.

Hebat! Tabib Sakti Nayan Gunta merasa kagum. Dirinya sendiri belum tentu bisa melakukan seperti itu. Dia pernah mempelajari berdiri di atas semak, tapi ia tidak dapat bertahan lama seperti yang dilakukan Seta Wungu sekarang. Di atas semak itu Seta Wungu nampak mengeluarkan jurus-jurusnya lagi. Gerakannya seolah-olah menantang... Wintara menatap tajam, sambil berdiri di tempat ia mengangkat kedua tangannya.... Sekali ia menggerak-gerakkannya nampaklah sepasang tangan Wintara menjadi demikian banyak. Bayangan-bayangan lengan itu jelas sekali dapat dihitung. Semuanya berjumlah lima pasang… Sukar untuk menentukan sepasang lengan yang asli.

Dengan gerakan yang sukar diikuti pandangan mata, Wintara melesat dengan lima pasang lengannya.... Dia tidak langsung menyerang Seta Wungu, Wintara masuk menerobos dalam rimbunnya semak... Seta Wungu yang berdiri di atasnya tersentak kaget. Saat tubuh Wintara tahu-tahu menyembul ke atas semak... Kemunculan Wintara yang mendadak disambut dengan babatan lengan tunggal Seta Wungu... Wintara telah menghantam lebih dulu dengan lima pasang lengannya... Maka keduanya sama-sama terbanting lebih dulu bukan karena kena hantaman... Tapi akibat benturan tenaga dalam mereka sendiri... Darah menetes dari sela-sela bibir Wintara... Seta Wungu tidak terluka sedikit pun. Apalagi mengeluarkan darah.... Ia hanya merasakan nyeri pada sendi-sendi tulangnya... Wintara belum bangkit, Seta Wungu berdiri dengan tubuh sempoyongan... Wajahnya yang berlumur darah makin menyeramkan.

"Kakang Seta Wungu, hentikan...!" Arum Kemuning berlari ke arah mereka.

"Tuan Akuwu Mambang akan mengampuni bila kau kembali ke jalan yang benar... Itu tawaran yang menarik, kakang Seta Wungu...! Kau akan hidup bebas...!" kata gadis itu lagi... Langkahnya makin dekat. Seta Wungu menyeringai.

"Aku yang tidak mengampuni mereka, Arum... Bukan dia! Karena hukum tidak berlaku bagiku..." jawab Seta Wungu lantang. "Sadarlah, kakang... Tinggalkan kehidupan yang bergelimang darah itu...!"

"Demi kau semua akan ku tinggalkan… Tapi nanti setelah anjing-anjing ini mampus semua... Aku tidak suka dengan tindakan yang setengah-setengah... Sekarang sudah kepalang basah... Menyingkirlah, Arum… Aku tidak melibatkan dirimu..." Seta Wungu maju. Wintara bersiap-siap melindungi Arum Kemuning.

"Seekor anjing masih punya perasaan... Dibanding dengan dirimu, kau tidak lebih dari bangkai hidup...!" Tabib Sakti Nayan Gunta menimpali ucapan Seta Wungu. Sesaat Seta Wungu menoleh ke arah kakek bungkuk itu, lalu.... Dengan lesatan yang sangat cepat Seta Wungu bergerak melancarkan serangan... Bersamaan dengan itu tubuh Arum Kemuning ikut berlari mengikuti arah Seta Wungu... Sebelumnya ia meraih pedang Seta Wungu yang tertancap di tanah... Bagaimana pun gadis itu tidak dapat menyamai kecepatan Seta Wungu!

"Kau ingin mampus lebih dahulu, kakek keparat...!" Terjangannya sangat cepat. Lengan tunggalnya bergerak sangat mengerikan, Tabib Sakti Nayan Gunta sudah bersiap menyambut... Wintara tidak tinggal diam... Selama Seta Wungu melesat... Wintara pun berlari dengan kecepatan penuh.

Hal ini bukan berarti Seta Wungu tidak tahu. Sebelum Seta Wungu menghantam kakek itu, lengan tunggalnya berputar ke samping menyambar tubuh Wintara. Dengan gelagapan Wintara menangkis serangan itu, tapi hantaman yang begitu keras membuatnya terbanting. Tabib Sakti Nayan Gunta langsung melancarkan tinjunya. Seta Wungu yang sudah berniat ingin menghabiskan nyawa renta itu, membabatkan lengan tunggalnya tidak tanggung-tanggung ke arah jotosan itu… "Praaaaak!" Kedua lengan mereka beradu keras! Tabib Sakti Nayan Gunta memekik hebat... Sebelah tulang lengannya remuk. Nayan Gunta bergulingan sambil memegangi lengannya yang patah.

Arum Kemuning berlari ke arah kakek bungkuk Nayan Gunta. Ia langsung menghalangi Seta Wungu yang siap melancarkan serangannya lagi. Gadis itu langsung mengacungkan pedangnya menghadang...

"Jangan, kakang... Sudahi pertumpahan darah ini..." kata Arum Kemuning memohon.

"Tidak, Arum.... Kau menyingkirlah !"

Sambil berkata begitu Seta Wungu melesat memutar ke samping, hantamannya siap dilancarkan...

Tapi Arum Kemuning membabatkan pedangnya menghalangi... Tiba-tiba saja Seta Wungu berteriak panjang seperti menahan sakit! Tubuhnya kelojotan di tanah. Lengan tunggalnya memegangi kedua matanya yang berlumuran darah. Rupanya ketika Arum Kemuning membabatkan pedangnya, tanpa sengaja mata pedang itu menyambar kedua kelopak mata Seta Wungu    Pekik kesakitan Seta Wungu menggelegar!

Padahal sambaran pedang itu tidak sengaja di arahkan ke bagian mata. Mana mungkin Arum Kemuning dapat berbuat seperti itu... Penglihatannya saja suram, lagi pula gerakan Seta Wungu sewaktu melancarkan serangan kepada Tabib Sakti Nayan Gunta begitu cepat melesat. Nayan Gunta maupun Wintara seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan Arum Kemuning.

"Kakang...! Aku tidak sengaja. Aku..." Arum Kemuning ketakutan. Seta Wungu tidak menjerit lagi. Sambil menggeram ia bangkit. Dua rongga matanya hancur! Lengan tunggalnya bergetar hebat seperti menahan amarah yang sangat luar biasa. Dilihat dari luka di kedua rongga matanya yang begitu parah, pastilah Seta Wungu buta total! Bagaimana tidak, kedua bola matanya nampak hancur dan hampir copot.

"Arum... Sekali lagi kuperingatkan menyingkirlah dari tempat ini... Aku tidak ingin kau celaka... Cepat Arum menyingkirlah..." Suara Seta Wungu parau bergetar. Arum Kemuning berjalan perlahan. Tabib Sakti Nayan Gunta berusaha diam tidak mengeluarkan suara... Wintara sudah berdiri tegang....

"Hreaaaaaaaaaaaaaaa!" Mendadak Seta Wungu mengerahkan segenap suaranya. Teriakannya sangat lantang membisingkan tempat itu... Yang ia dengar hanya langkah Arum Kemuning. Tiba-tiba saja ia melesat ke arah Arum Kemuning.... Gerakannya seperti hendak melancarkan serangan...

Sudah tentu Wintara tidak akan membiarkan Seta Wungu menghantam gadis itu. Maka Wintara melompat bermaksud melindungi Arum Kemuning... Di luar dugaan Seta Wungu membalikkan serangan ke arah Wintara.... "Bug!" Tendangan Seta Wungu masuk menghantam perut. Ternyata ketika ia melesat ke arah Arum Kemuning, itu hanyalah suatu tipu muslihat. Dengan begitu sudah pasti salah seorang dari mereka pasti datang untuk menggagalkan serangannya....

Sewaktu Wintara melompat, Seta Wungu dapat mendengar desiran angin.. Dari situlah Seta Wungu membalikkan serangan Hebat.

Seta Wungu sudah dapat memastikan mana Wintara berada   Sewaktu Wintara jatuh akibat tendangan

tadi, Seta Wungu dapat mendengar suara di mana musuhnya terjatuh. Maka setelah ia mendengar suara gedebuk di tanah, Seta Wungu langsung mengarahkan serangan-serangan ke arah suara itu     Sebenarnya

Wintara bisa mengelakkan serangan-serangan itu. Tapi lantaran serangan gencar itu tidak pernah putus Wintara kewalahan juga menghadapinya.

Hebatnya Seta Wungu adalah dapat mendengar setiap gerakan Wintara...! Sekalipun Wintara melancarkan serangan, Seta Wungu tetap menyambut dengan lengan tunggalnya. Mungkin karena dasar-dasar ilmu pedang membuat Seta Wungu dapat membedakan suara sehalus apapun... Tapi Wintara tetap memiliki keyakinan... Sesuatu melintas dalam benaknya.

*

* * *

10

Sedetik kemudian Wintara mengarahkan tendangannya ke samping. Tabib Sakti Nayan Gunta heran melihat tingkah Wintara. Mengapa ia harus menendang ke tempat yang kosong? Kenapa tidak langsung saja diarahkan pada Seta Wungu...?

Tendangan Wintara yang begitu keras menimbulkan suara angin yang menjadi pusat pendengaran Seta Wungu... Maka setelah mendengar desingan itu, Seta Wungu mengira Wintara bergeser... Ia pun bermaksud melangkah ke arah desiran angin, tahu-tahu....

"Deeees!" Wintara yang masih tetap di situ dengan mudah dapat melancarkan serangan. Seta Wungu sendiri betul-betul merasa terkecoh... Sekarang tubuhnya mental jauh! Hantaman telapak tangan Wintara yang berisi tenaga dalam itu membuat Seta Wungu menyemburkan darahnya dari mulut.

Sosok hitam lengan tunggal bergulingan, mulutnya menyemburkan darah berkali-kali. Baru kali ini ia mendapat hantaman yang demikian hebatnya. Dan sekarang harus mengakui akan kehebatan anak muda itu. Wintara telah membayar tunai kelicikan Seta Wungu.

Seta Wungu sempoyongan, sebentar-sebentar tubuhnya melayang ambruk. Meskipun pandangannya gelap, kepalanya tetap terasa seperti berkunangkunang dan berputar. Wintara membiarkan tubuh Seta Wungu jatuh bangun, ia sudah menghentikan serangan-serangannya. Tabib Sakti Nayan Gunta dibantu berdiri oleh Arum Kemuning. Mereka semua menatap Seta Wungu. Betapa sukarnya ia bangkit berdiri. Ada rasa iba dalam hati mereka...

"Arum.... Arum Kemuning, Ahhhh !" rintih Seta.

Wungu sambil merangkak di atas tanah. Ia masih belum dapat berdiri..

"Kau sudah lihat, Arum... Aku hampir mati    Pu-

askah kau...? Puaskah...? Mana anak muda itu    Su-

ruh ke mari... Kenapa ia tidak membunuhku sekalian... Ahhhh! nama besar Pendekar Kelana Sakti memang bukan sekedar nama kosong !"

Pendekar Kelana Sakti..? Siapa yang dimaksudkan dengan si Pendekar Kelana Sakti? Arum Kemuning maupun Tabib Sakti Nayan Gunta keheranan mendengar ucapan Seta Wungu. Belum habis rasa heran mereka, Wintara berjalan mendekat ke arah Seta Wungu. Langkahnya perlahan penuh hati-hati....

"Seta Wungu... Sebenarnya kau seorang yang berilmu tinggi.. Sayang kau berada pada jalan yang tidak benar... Kalau sekarang kau mau merobah segala tata cara kehidupanmu, aku rasa Akuwu Mambang akan mengampunimu... Peristiwa ini tidak akan sampai ke kepatihan... Beliau akan menganggapnya selesai " ka-

ta Wintara.

"Baru kali ini Pendekar Kelana Sakti mengenal kompromi.... Padahal aku sudah banyak mendengar semua sepak terjang mu dalam dunia persilatan     Ke-

napa sekarang kau menginginkan aku tetap hidup ?

Tidak seperti musuh-musuhmu yang lain    Lakukan-

lah.. seperti kau membantai musuh-musuhmu. "

"Aku membantai musuh-musuh dari golongan hitam menurut caraku....! Dengan cara sadis ataupun wajar, itupun menurut caraku... Seperti mereka yang telah membantai kedua orang tuaku... Mereka pun punya cara tersendiri...! Masing-masing mempunyai cara...! Untukmu, Seta Wungu Aku tidak perlu mem-

bunuhmu. "

"Kenapa..! Kau lebih senang melihat aku tersiksa begini ?" Seta Wungu berusaha bangkit, tapi percuma

sesaat kemudian tubuhnya ambruk lagi.

"Kau tak akan tersiksa, Seta Wungu! Tabib Sakti Nayan Gunta mau mengobatimu. Asalkan kau kembali pada jalan yang benar...." kata Wintara tegas.... "Aneh seorang pembunuh macam aku masih mau diselamatkan "

"Kau memang seorang pembunuh....! Tapi kau masih punya perasaan !"

"Aku tidak pernah memiliki perasaan...!" bentak Seta Wungu, kali ini ia dapat bangkit, tapi bukan berdiri. Melainkan duduk berlutut.

"Kalau kau tidak punya perasaan, kenapa kau tidak membunuh Arum Kemuning di saat menghantam memecahkan kepala sekaligus juga membutakan kedua Matamu Hah!"

"Karena aku sudah berjanji tidak akan menyakiti untuk kedua kalinya setelah melukai kedua matanya ketika peristiwa di Joglo Alun....!" Seta Wungu menerangkan.

"Aku rasa bukan lantaran sumpah janjimu, Seta Wungu.... Aku dapat melihat gerak-gerik di saat kau berhadapan dengan Arum Kemuning... Kau tak dapat membohongi dirimu... Benarkah kau mencintai Arum Kemuning "

Seta Wungu tidak menjawab. Pertanyaan Wintara bagaikan cambuk berduri yang menjerat lehernya. Sukar sekali Seta Wungu mencari jawaban yang tepat.

"Seperti yang telah kau katakan, bahwa selama ini pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang kepercayaan kepatihan didalangi oleh Somarengga...

Selain terhadap orang-orang itu kau tidak pernah melakukan pembunuhan apapun...!"

"Pendekar hebat, dari mana kau tahu hal itu ?"

Seta Wungu keheranan.

"Karena tidak mungkin Somarengga menyuruh kau membunuh orang-orang yang tidak menurut rencananya... Iya, kan....?" Seta Wungu diam lagi. Kartunya benar-benar terbongkar!

Ia tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan 'Pendekar Kelana Sakti' yang seakan-akan menelanjangi dirinya. Entah kekuatan dari mana tahu-tahu saja Seta Wungu menghentakkan tubuhnya... Dalam sekejap Seta Wungu dapat berdiri tegak. Di luar dugaan....

"Semua yang kau ucapkan memang benar, Pendekar... Aku memang mencintai Arum Kemuning    Te-

lah kukumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk meminang gadis itu... Tapi sekarang pikiranku telah berobah! Biarlah uang itu tetap akan kuberikan pada Arum Kemuning. Sekarang yang ku pinta    Bunuhlah

aku!"

"Tidak, Seta Wungu... Sebelumnya kita memang tidak pernah punya urusan..."

"Kalau begitu, akupun mempunyai cara tersendiri..." Seta Wungu bergerak. Nampak ia mengeluarkan jurus-jurus seperti tadi yang pernah diperlihatkan. Wintara bersiap-siap menyambut. Tapi Wintara yakin, serangan-serangan itu tidak mungkin mematikan... Begitu tubuh Seta Wungu melesat Wintara cepat bergeser... Ternyata Seta Wungu tidak melancarkan serangan..! Tubuhnya meluncur deras ke arah bukit batu karang, membiarkan kepalanya membentur keras... "Praaaak!" Seta Wungu ambruk tanpa berkelojotan lagi...

Tidak ada yang dapat menyelamatkannya. Wintara yang mengira Seta Wungu yang melancarkan serangan tidak sempat lagi meraih tubuh yang melesat cepat. Mereka hanya bisa melihat kepala Seta Wungu hancur berderak menghantam batu karang.

Arum Kemuning berlari ke arah tubuh Seta Wungu yang terkapar di bawah bukit batu karang. Jeritannya menyayat ketika keadaan sosok yang masih mengeluarkan nafas tersendat-sendat...

"Kakang...! Pikiranmu buntu...! Kenapa harus melakukan ini...?" Arum Kemuning menangis di samping tubuh berlengan tunggal yang terkapar bersimbah darah.

"B-B-Benar apa... yang diucapkan olah     Si Pen-

Pendekar Ke-Kelana Sakti i... itu.. Ma-M-Manusia mememang memiliki cara ter-tersendiri.... Ahhhhhh   ! A-

A-Arummm Li-lihat sendi…ri caraku tadi "

"Kakang Seta Wungu.... Kau tidak akan mati !"

"U-uang itu....! Uang itu.... Ku-Ku-kusim     pan

di ku-kubu.... ran.... tua d-d-di Jog... Jog.... Joglo....

al…" kata-kata Seta Wungu terputus. Ia telah menghembuskan nafasnya yang terakhir....

"Kakaaaaaaaaang!" Arum Kemuning memekik. Tangisnya membuat suasana haru. Dunia ini memang aneh. Atau semua ini karena karunia Tuhan Seo-

rang pembunuh yang tewas mendapat iringan tangis seorang gadis cantik jelita. Sementara tangisan Arum Kemuning belum berhenti....

"Seta Wungu telah menebus dosanya. Dia memang seorang yang berjiwa kesatria." Suara Wintara menghentikan tangis Arum Kemuning.

"Benar... Seta Wungu menghendaki sendiri cara kematiannya, siapa akan menyangka kalau dia akan bertindak begini...." Tabib Sakti Nayan Gunta berjalan mendekati mereka.

Air terjun yang jatuh dari atas jeram meluncur deras menghantam bebatuan yang menghampar di bawahnya... Suara itu tidak pernah berhenti. Permukaan danau itupun terus beriak. Dari kejauhan diantara derunya suara derasnya air terjun, terdengar suara derap kaki kuda dari balik hutan yang berderet di sekeliling danau.

Ketiganya tersentak dan menoleh ke arah suara derap kuda. Mereka melihat kepulan debu beterbangan di permukaan tanah. Nampak jelas belasan ekor kuda keluar dari balik hutan... Teriakan para penunggangnya pun terdengar di saat menghela kuda yang mereka tunggangi. Belasan kuda-kuda itu makin lama makin dekat menuju pondok yang berdiri tegak di atas bukit batu karang. Tapi setelah mereka melihat ketiga orang yang masih berdiri di samping mayat Seta Wungu, belasan kuda-kuda itu menghampiri mereka.

"Arum Kemuning ketakutan, ia menyelinap ke belakang Wintara.

Nayan Gunta tenang-tenang mengawasi langkahlangkah belasan kuda-kuda yang kian mendekat. Kuda-kuda itu berhenti tepat dihadapan mereka. Para penunggangnya menatap tajam.

"Akuwu Mambang menulis surat ke kepatihan, bahwa ia terluka parah... Benarkah beliau berada di sini...?" tanya salah seorang penunggang kuda paling depan. Penunggang kuda yang lain maju ke depan, mendekati orang yang berbicara tadi.

"Anak muda itulah yang membawa Akuwu Mambang mengantarkan surat ke kepatihan. Aku melihatnya sendiri..." bisiknya. Lalu ia membawa kudanya berjalan mendekati ketiga orang yang masih berdiri.

"Jangan takut...! Kami utusan kepatihan yang akan menjemput Akuwu Mambang! Benarkah keadaannya telah pulih...?" Orang itu memandang kakek bungkuk Nayan Gunta, lalu...

"Aku yakin kakek adalah Tabib Sakti Nayan Gunta... Bagaimana keadaan beliau, kek?" tanya orang itu sambil turun dari kudanya. Kakek bungkuk Nayan Gunta menoleh ke arah pondok. Wintara berjalan mendekat....

"Beliau memang ada di sini... Lukanya belum sembuh betul! Beliau masih dalam perawatan Tabib Sakti Nayan Gunta Wintara menjelaskan.

"Ah, syukurlah.... Kami merasa khawatir akan keselamatannya! Hanya Akuwu Mambang yang masih tersisa dalam kepercayaan Kepatihan! Biarlah kami akan menjaganya di sini sampai beliau sembuh betul, dan...." Orang itu tidak meneruskan kata-katanya. Pandangannya tertuju pada sosok tubuh tanpa lengan tergeletak di bawah batu karang.

"Siapa dia...? Sosok yang serupa dengan tulisan yang tertera dalam surat Akuwu Mambang Pembu-

nuh berlengan tunggal," katanya dengan nada keheranan.

"Heh...! Di sini ada juga sosok si pengkhianat Somarengga... Lihat itu...!" teriak salah seorang penunggang kuda, lalu orang itu pun turun dari kudanya. Menuju ke sosok kaku Somarengga yang berlumur darah.

"Kalian akan segera tahu....!" Tiba-tiba terdengar suara dari arah pondok. Serempak mereka semua mengarahkan pandangannya ke sebuah pondok yang berdiri kekar di atas bukit karang. Akuwu Mambang berdiri menghadapi jendela. Tubuhnya yang telanjang dada nampak penuh dengan balutan. "Kalian jangan bersikap seperti itu terhadap mereka... Turunlah dari kuda, tunjukkan kesopanan kalian di hadapan para pendekar sakti... Karena merekalah yang menyelamatkan diriku..." katanya lagi dengan setengah berteriak. Kontan belasan penunggang kuda itu turun dari kudanya masing-masing. Tabib Sakti Nayan Gunta melangkah mendekati salah seorang berada tidak jauh darinya.

"Silahkan.... Silahkan kalian ke pondok, kalian boleh menengok Akuwu Mambang." Kata kakek bungkuk Nayan Gunta menyambut ramah. Orang-orang kepatihan tidak menjawab, tapi langkah mereka berjalan mengikuti langkah si Tabib Sakti Nayan Gunta yang berjalan lebih dulu…. Akuwu Mambang tersenyum memandangi mereka dari jendela. Ia pun sempat melihat Wintara bersama Arum Kemuning tetap berdiri di tempat itu. Mereka berdua memang sengaja tidak ikut memasuki pondok.

Arum Kemuning masih memandangi tubuh Seta Wungu yang terkapar tanpa nyawa. Pandangan matanya yang suram mengalirkan air mata yang begitu bening. Isak tangisnya hampir tidak kedengaran.

"Aku akan tetap di sini menjaga batu nisan kakang Seta Wungu, kalau perlu sambil memainkan kecapi... Agar setiap dentingan senar dapat menentramkan kehidupannya di sana. Aku menyesal telah membutakan matanya, sekalipun dia pernah melukai kedua mataku."

"Lebih baik kau kembali ke Joglo Alun, Arum....

Di sana akan lebih baik." kata Wintara yang berdiri di belakangnya.

"Tidak, Wintara... Biarlah aku menanam semua kepahitan di sini " jawabnya pelan.

"Kalau itu keputusanmu, aku rasa tidak jadi masalah "

"Bagaimana dengan kau...?" Arum Kemuning balik bertanya.

"Aku selalu pergi setelah tugasku selesai " Arum

Kemuning tersenyum meskipun air matanya masih meleleh.

"Benar apa yang dikatakan oleh kakang Seta Wungu, kalau kau adalah 'Pendekar Kelana Sakti'...

Darimana kau mendapat ilmu yang setinggi langit itu? Atau kalau perlu boleh ku tahu nama gurumu "

"Aku tidak mengenali guruku sama sekali Aku

menganggap guruku adalah dari pengalamanku sendiri, yaitu dari musuh-musuhku.. Aku dapat mempelajarinya dari mereka  !"

Ruangan itu penuh dengan belasan orang-orang kepatihan yang duduk bersila mengelilingi dinding. Akuwu Mambang duduk di atas balai dekat jendela. Ia menceritakan semua yang terjadi atas dirinya. Orangorang itu begitu kagum begitu mendengar seorang tokoh anak muda yang berjuluk 'Pendekar Kelana Sakti' yang merupakan pokok cerita yang dibeberkan Akuwu Mambang,

Tabib Sakti Nayan Gunta menyuguhkan mereka beberapa kendi air, seorang membantunya menuangkan air dalam tiap-tiap gelas. Tubuh bungkuk itu kembali ke dapur untuk mengambil beberapa gelas bambu lagi.

"Kita harus memberi hadiah besar kepada pendekar sakti itu, Tuan Akuwu Mambang...." kata salah seorang yang duduk menghadap kepada Akuwu Mambang.

"Aku sudah memikirkan... Tapi hadiah apa yang pantas kita berikan padanya?"

"Beri saja dia kedudukan di kepatihan... Aku rasa dia pasti setuju...!" kata yang lain menimpali. Lalu seorang lagi angkat bicara…

"Dengan adanya pendekar sakti, Joglo Alun akan tentram !"

Arum Kemuning memasuki ruangan itu. Ia tidak langsung masuk, karena jalannya terhalang oleh beberapa orang yang duduk bersila. Kehadiran gadis itu, mereka yang duduk menghalangi, langsung memberi jalan...

"Wintara sudah pergi... Ia titip salam untuk tuan Akuwu Mambang dan Tabib Sakti Nayan Gunta " ka-

ta Gadis itu sambil melangkah memasuki ruangan.

Mendengar ucapan itu, Akuwu Mambang langsung menoleh ke jendela yang terbuka lebar. Di luar sudah tidak nampak lagi sosok tubuh Wintara. Akuwu Mambang bangkit menghadap ke luar. Nampak sosok tubuh mengenakan baju kulit binatang berjalan semakin kecil menyusuri pinggiran hutan. Mereka semua kecewa ketika sosok yang semakin menjauh itu hilang menerobos ke dalam lebatnya pepohonan.

T A M A T