Serial Pendekar Kelana Sakti Eps 02 : Tangan Hitam Elang Perak

 
Eps 02 : Tangan Hitam Elang Perak 


Arus kali Progo begitu deras membawa sebuah perahu yang cukup besar dan bagus. Sekeliling perahu itu dihiasi dengan ukiran-ukiran yang membentuk seperti hiasan-hiasan kerajaan. Pada kepala perahunya tergambar sebuah kepala burung Elang. Dengan layar berkembang dihembus angin, perahu itu semakin melaju menyusuri sepanjang kali. Salah seorang penumpangnya mengatur haluan. Kedua matanya tidak berhenti mengawasi sisi-sisi kali yang mereka lewati. Dari dalam sebuah ruangan yang ter-dapat pada perahu tersebut, ke luar seorang perempuan berumur tiga puluhan. Seekor anjing berbulu hitam mengikuti langkahnya.

"Kanda Adinaya..... Sudah sampai di manakah kita?" kata perempuan itu.

"Masih jauh, istriku... masih jauh sekali..." jawab orang yang berdiri mengatur haluan. Perempuan itu mendekatinya.

"Aku ingin secepatnya sampai di desa Gerongsewu sebelum hari gelap. Udara di sini dingin sekali....

Kanda sendiri sudah merasakannya, bukan ?"

"Ya... ya. Memang dingin di sini, tapi selain di

perahu ini kita harus tidur di mana? Pakailah selimutku biar kau bisa tidur nyenyak  "

Perempuan itu masuk lagi ke dalam, anjing berbulu hitam terus mengikutinya.

"Istriku... Apakah si Gerong sudah kau beri makan?" tanya suaminya dari luar. Gerong yang dimaksud adalah anjing peliharaannya.

"Kau yang lupa makan, Kanda...!" sahut istrinya dari dalam. Senja merambat pelan, angin makin kencang berhembus. Suara dedaunan dari pohonpohon yang lebat di kedua sisi kali itu bergemeresek. Suara binatang malam pun mulai terdengar. Sebentarsebentar lelaki itu mengusap-usap lengannya yang nampak menggigil. Keadaan menjadi sunyi. Hanya suara derit haluan yang bergerak ke kanan dan ke kiri mengiringi perjalanan itu. Mendadak.....

"Hoooooooi...! Orang-orang Elang Perak     Ke-

napa harus terburu-buru...!" teriakan nyaring menggema dari sebelah kanan pinggir kali.

"Apa kalian tidak takut melintasi kali progo di tengah malam buta begini...?" terdengar lagi teriakan dari sebelah kiri. Sudah tentu orang yang memegang haluan itu celingukan. Tanpa rasa takut ia menjawab.

"Ki Sanak.... Kalau kita satu perjalanan, Ki Sanak boleh menumpang di perahuku ini "

"Tidak disangka orang-orang Elang Perak berbudi luhur Sejak tadi kami memang sudah mengun-

tit kalian dan bermaksud singgah di perahu kalian "

Mendengar suara-suara teriak, perempuan yang sudah pulas tertidur bangun lagi. Dari dalam ia langsung bertanya....

"Kanda. bicara dengan siapa?"

Gerong menggonggong. Adinaya, suaminya tidak menjawab pertanyaan sang istri. Malah ia melanjutkan percakapan dengan orang-orang yang bersembunyi di balik pepohonan.

"Aku tahu Ki Sanak adalah orang-orang yang berilmu tinggi, kalau hanya ingin menumpang, silahkan datang ke sini     Mengapa harus malu-malu?" ka-

ta Adinaya tegas. Tiba-tiba saja dedaunan yang lebat itu berguncang-guncang. Kemudian dari atas pepohonan yang cukup tinggi, muncul beberapa sosok bayangan berputar di udara. Lalu dengan mantap hinggap di atas perahu tersebut. Dari sebelah pinggir kanan dua orang, dari kiri dua orang. Keempat orang itu berpakaian sama. Mereka nampak seperti prajurit-prajurit kerajaan. Hanya perawakan mereka saja yang berbeda. Hal itu dapat dilihat karena mereka tanpa mengenakan baju. Rambut mereka disanggul ke atas, dan wajah mereka hampir ditutupi dengan berewok yang menyeramkan. Meskipun Adinaya dan istrinya sudah melihat kedatangan tamu-tamunya ini, mereka bersikap tenang-tenag saja.

"Ah.... kami kira siapa Ki Sanak-Ki Sanak ini....

Rupanya gerombolan begal Singa Kali Progo   " Ternya-

ta Adinaya sudah mengenal mereka sebelumnya....

"Guk... Guk.... Guk...." Gerong menggonggong lagi. Nampaknya binatang itu tidak menyukai kehadiran tamu tak diundang.

"Nama besar Singa Kali Progo tidak berarti apaapa dibanding orang-orang Elang Perak.... he... he....

he lagi pula     Maksud kedatangan kami bukan hanya

untuk menumpang, saudara Adinaya.... juga untuk....

he... he... he "

"Untuk apa, saudara Singa Kali Progo?" tanya Adinaya ingin tahu. Sang istri sudah tahu gelagat, maka diam-diam ia mengencangkan ikat pinggangnya.

"Kalau bukan karena benda pusaka, mana berani orang-orang Singa Kali Progo mengusik muridmurid Elang Perak? He.... he... he "

"Mana ada benda pusaka di sini! Bilang saja kalau kalian mau merampok! Jangan banyak basa ba-

si saudara Singa Kali Progo! Kami sudah tahu segala tindak tanduk kalian huh!!" Isteri Adinaya geram.

"Aahhh.....Tidak perlu bertengkar, Nyonya....

Kami akan segera pergi kalau sudah mendapatkan benda pusaka itu...." kata salah seorang kelompok Singa Kali Progo.

"Sudah kukatakan benda pusaka itu tidak ada pada kami. Sebaiknya kalian menyingkir...!" bentak perempuan itu.

"Guk...! Guk...! ukk....!" anjing itu menyalaknyalak keras.

"Ratih....! Bicaralah yang sopan    Bagaimana-

pun juga kita harus menghormati mereka...." Adinaya menengahi.

"Benar kata suami Nyonya.... percuma saja mengusir kami! Kami tidak akan menyingkir dari sini...

Serahkan dulu pusaka    !"

"Setan Alas.... Heaaaaaaa...!" Ratih main menyerang melancarkan sebuah pukulan ke wajah orang yang berbicara tadi. Kalau saja orang itu tidak segera mundur, mungkin ia sudah terjungkal. Tendangannya memutar namun masih dapat dia tangkis. Seorang dari kelompok begal itu datang membantu. Kini Ratih harus menghadapi dua orang. Tentu saja Adinaya tidak tinggal diam melihat pengeroyokan itu. Ia melompat memotong serangan kelompok begal yang menyerang istrinya. Namun ia pun diikuti oleh anggota kelompok Singa Kali Progo.

"Saudara Adinaya.... Biarkan saja istri mu bermain-main dengan kedua saudara ku... he... he... he....

Kalau kau mau ikut campur, terpaksa kami berdua akan menghadapimu "

"Keparat....! Orang-orang Singa Kali Progo memang musti diberantas! Heaaaaaaa. !" Adinaya meng-

hadapi dua orang. Rentangan tangannya membuat kedua orang bertampang menyeramkan itu jadi gelagapan. Dan teriakan-teriakan terdengar berbarengan dengan setiap gerakan mereka....

"Splaaaaak....!" Sabetan tangan mereka saling beradu....

"Desssss...!" Tendangan Adinaya berhasil masuk di lambung salah satu penyerangnya. Mendapat tendangan yang sangat keras orang itu hanya terdorong beberapa langkah ke belakang. Sungguh luar biasa.... Kalau saja kelompok itu tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, tentunya pasangan suami istri yang kosen dari perguruan Elang Perak sudah melempar jatuh keempat anggota begal Singa Kali Progo itu...

Perkelahian hebat tak terelakkan lagi. Selain suara-suara teriakan mereka maupun suara beradunya pukulan.... Suara gonggongan Gerong ikut meramaikan suasana di atas perahu yang melaju terus mengikuti arus kali. Ranti cepat menepis di saat penyerangnya melancarkan tinjunya, lalu dengan telapak tangannya yang setengah memutar Ranti dapat menangkap lengan kiri itu. Kemudian lengan kiri Ranti langsung menghajar tenggorokan manusia berewok menyeramkan sampai berteriak kesakitan. Dua serangan lagi datang. Kali ini dari arah yang berlainan.

"Hraaaaa....! Heaaaaaat....!" Ranti melompat menghindar. Tapi begitu ia turun, sebuah hantaman mengenai bagian belakang.

"Arggggg...! Ranti memekik kesakitan. Tubuh Ranti berputar berusaha membalas sepakan itu...

"Hiaaaa....! Plaaak....!" Serangan yang begitu dahsyatpun masih juga dapat dihindari oleh anggota begal Singa Kali Progo.

Adinaya betul-betul khawatir terhadap istrinya. Ingin sebenarnya ia membantu. Tapi lawan-lawan yang ia hadapi semakin gencar melancarkan jurus-jurus maut yang mematikan, Adinaya sendiri hampir kewalahan menghadapinya. Gerong masih terus menggonggong. Manakala kedua tuannya sibuk bertempur. Kalau hanya berkelit, Adinaya maupun Ratih masih dapat mengelakan serangan-serangan yang dilancarkan oleh gerombolan Singa Kali Progo yang terdiri dari empat orang itu. Tapi lantaran para penyerangnya memiliki kemampuan yang hampir setaraf, pasangan suami istri itu harus kerja keras mengatasinya.

Gerong melompat menubruk, serta menggigit salah seorang yang menyerang Ratih.

"WUAA....!!" Orang itu menjerit kalap. Lengannya yang kekar reflek mencengkram leher Gerong.

"Kaiii-ing....! Praaaaak...!" kakinya menginjak hancur kepala Gerong. Sesaat Gerong kelojotan, kemudian diam tak berkutik.

"Gerooooong " Ratih memekik.

"Batok kepala kalian akan sama hancurnya seperti anjing ini. Tapi gerombolan Singa Kali Progo masih bisa berbaik hati.... itu pun kalau kalian mau menyerahkan pusaka itu...." kata orang berewok itu dengan menyeringai.

"Sungguh besar nyali kalian berani berkata begitu terhadap orang-orang Elang Perak. Betul-betul tidak tahu aturan. Itu berarti kalian telah menggali lobang untuk kuburan kalian sendiri. Majulah. Telah terlanjur kita bentrok, mengapa tidak kita teruskan sampai titik darah penghabisan." kata Adinaya menahan amarah.

Istrinya, Ratih sudah bersiap-siap dengan jurus-jurus andalannya. Begitu pula dengan gerombolan Singa Kali Progo. Mereka tidak kalah sigapnya mengeluarkan jurus-jurus yang ampuh. Keempat berewok itu berjumpalitan mengelilingi pasangan suami istri dari perguruan Elang Perak. Diselingi dengan beberapa pukulan yang datang secara mendadak ke arah Adinaya maupun Ratih. Adinaya memutar lengannya lalu ia hentakkan ke muka.

“Jebereeet....!" Pukulan itu beradu. Lengannya terasa berdenyut. Matanya yang selalu awas dapat melirik serangan yang datang dari belakang. Secepatnya ia merunduk sambil mendorong kakinya,

"Wessssss...!" Serangan itu meleset. Gerombolan Singa Kali Progo memang bukan lawan yang sembarangan. Kalau serangan tadi lolos, maka menyusul lagi serangan baru. Selalu saja begitu.

Ratih mulai terdesak. Dua orang lawannya menyerang secara bertubi-tubi. Bergerak dan atas dan bawah. Ratih betul-betul tidak dapat membalas serangan itu. Dapat menangkis atau menghindarinya saja sudah bagus. Ia hanya mundur-mundur sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya. "Plaak! Plak!" Jotosan itu dapat ditepis oleh Ratih. Tapi,

"Dess...!" Ratih tidak dapat menghindari tendangan itu     Keras sekali tubuhnya terbanting. Teria-

kan amarah Adinaya menggelegar.... "Hreaaaaaa. !"

Tinjunya menerobos mengenai tubuh salah satu lawannya yang berbadan besar. Lalu kakinya dengan cepat menendang. "Plak! Hiaaaat...! Plaaaaaaak...!" Tendangan beruntun itu masih dapat ditangkis.

"Ternyata kepandaian murid-murid per-guruan Elang Perak hanya sebegini-begini saja. Mana? Apa masih ada jurus-jurus yang lain?" kata salah seorang lawannya mengejek. Mendengar perkataan yang begitu nyelekit, Adinaya menjadi gusar bukan kepalang. Tangannya terkembang ke atas, mengepak-ngepak bagai sepasang sayap. Lalu jari-jari tangannya bergerak kaku membentuk cakar Elang. Cakaran-cakaran itu berkelebat ke sana ke mari. "Wus! Wus! Wus. !" Mendapat

serangan yang begitu, orang-orang Singa Kali Progo menjatuhkan diri menyusup maju menghadapi cakaran-cakaran itu. Salah seorang dari mereka melompat. "Bret... Bret... Bret!" Tubuh yang telanjang dada itu tergores oleh cakaran-cakaran Adinaya. Jelas lukaluka itu mengeluarkan darah. Tapi ia malah maju semakin dekat. "Bret... Bret!" Kembali cakar Adinaya melukai dadanya. Di luar dugaan orang itu langsung menubruk membekuk Adinaya. Tenaganya dikerahkan agar Adinaya tak da-pat lepas. Adinaya meronta-ronta. Dalam keadaan seperti itu orang-orang Singa Kali Progo dengan mudah dapat melancarkan serangan. "Dueeesss....!" Sebuah jotosan menghantam keras di kepala Adinaya. "Bug! Desss!!" Tendangan dan pukulan tak dapat

dihindarinya.

"Kanda...!" Ratih memekik melihat suami nya keteter. Bagaimanapun juga Ratih tidak dapat membantu suaminya. Karena ia sendiri terlalu sibuk mengurusi lawan-lawannya. Rasa khawatir selalu ada dalam pikiran Ratih. Makanya dalam setiap gerakannya menjadi lamban, mungkin dikarenakan pikirannya yang bercabang dua. Sampai-sampai serangan yang begitu cepat tak bisa dihindarinya lagi. "Buuug!" Dua jotosan sekaligus menghantam dada Ratih. Kontan nafasnya menjadi sesak. Pandangannya nanar. Sebelah tangannya memegangi dada-nya yang terasa sakit. Tanpa terasa darah keluar dari mulutnya. "Ohkkk...!" Orang-orang berewok itu tertawa menyeringai. Tahutahu satu pukulan lagi melayang ke perut Ratih.. Tubuh ramping itu terpental membentur tiang layar.

Sekali hentak, Adinaya berhasil melepaskan diri dari bekukan lawannya. Meski-

pun tubuhnya sudah hancur memar, tenaganya yang masih tersisa mengokohkan diri-nya berdiri tegak setegar batu karang. Ke-empat manusia menyeramkan yang berdiri di depannya hanya memandang.

"Kau lihat di sana itu, saudara Adinaya    Is-

trimu yang cerewet sudah kubikin mampus dengan tulang rusuk yang remuk...! Apakah kau juga masih keras kepala...? Serahkan saja pusaka itu kepada kami !"

"Keparaaaaattttt!" Bunuh saja aku sekalian! Mati hidu pun tak akan kuserahkan pusaka itu  Ma-

nusia-manusia busuk !" Adinaya tetap berdiri tegar.

"Membunuh seorang yang hampir mampus apa susahnya ! Jelas-jelas pusaka itu ada di sini, dan kau

sendiri hampir mampus... mengapa masih dipertahankan juga   " kata orang yang berdiri paling depan. Lalu

ia mengangkat tangannya memberi aba-aba. Tentu saja aba-aba itu dapat di-mengerti oleh ketiga orang lainnya. Maka secepat kilat ketiga manusia yang menjuluki kelompoknya Singa Kali Progo memberi hantaman berbareng. "Desss...! Desss...! Desss!" Tubuh Adinaya ambruk tak berkutik.

"Geledah seluruh isi perahu ini. Cari pusaka itu sampai dapat. " perintah orang

yang memberi aba-aba tadi. Maka tanpa buang waktu ketiga orang berewok berpencar menyusup mencari sesuatu benda yang di anggap nya pusaka.

"Kalau perlu bongkar seluruh perahu mi   " ka-

tanya lagi. Dan ia sendiri mendekati tubuh Adinaya. Seluruh pakaiannya digeledah. Tidak ada satu apapun di balik baju yang dikenakan Adinaya. Matanya melotot marah. Lalu ia melirik ke arah Ratih. Tubuh perempuan itu pun tidak luput dari penggeledahan. Sama saja, ia tidak menemukan apa-apa. Sekalipun ia sudah menelanjangi m ay at perempuan itu. Tak lama ketiga prang berewok itu ke luar menemui pemimpinnya.

"Kang Dawuk.... Di dalam perahu tidak |da

apa-apa! Kami sudah membongkar seluruh muatan perahu ini, bahkan seluruh sudut sudah kami cari "

"Apa kalian betul-betul mencarinya? Brengsek! Kita sudah dua kali tertipu oleh orang-orang Elang Perak! Kapan sebenarnya pengiriman pusaka itu ke Gerongsewu? Kapan..,? Apa kita harus menunggu di sini terus?" Dawuk marah.

"Kalau begini terus, lama kelamaan bakal ketahuan siapa yang selalu menjegal orang-orang Elang Perak. Kita-kita akan celaka." katanya lagi. Lalu ia melompat meninggalkan perahu yang masih tetap melaju. Ketiga orang berewok itu mengikuti-nya. Sekali lompat ketiganya sudah berada di pinggiran kali. Kemudian menyusup dalam semak-semak yang lebat mengikuti ke mana arah kepergian Dawuk, pemimpinnya.

*

**

2

Perahu yang dihiasi penuh dengan ukiran, merambat pelan di pinggiran kali Progo. Layarnya masih tetap berkembang karena hembusan angin begitu kencang bertiup. Namun laju perahu itu seperti tak terkendali Kadang-kadang kepala perahu yang bergambar kepala burung Elang membentur tanah pinggiran kali tersebut.

Di bagian atas perahu nampak begitu berantakan. Nampaknya seperti habis di obrak-abrik oleh seseorang. Tidak jauh dari tiang layar tergeletak pula bangkai seekor anjing hitam dengan kepala remuk. Dekat haluan terlentang tubuh seorang lelaki dengan nafas yang sebentar-sebentar terputus. Seluruh tubuh lelaki itu penuh luka memar memerah mulai membengkak. Orang itu merangkak menyeret tubuhnya mendekati mayat bugil di dekat tiang layar.

"Ratih.... Ratihhh..." Lelaki itu ambruk di atas mayat bugil istrinya. Tangisnya hampir tidak kedengaran. Kemudian ia mengangkat wajahnya menatap ke arah bangkai anjing yang tergeletak tidak jauh dari situ. Hanya dengan tiga kali rangkakan ia sudah mencapai bangkai anjing yang sudah kaku beku. Tangannya yang gemetar mengelus-elus leher binatang kesayangannya. Ada sesuatu yang melingkar pada leher binatang itu. Seutas tali hitam. Membentuk seuntai kalung. Bandulannya pun dibungkus dengan kain hitam. Entah apa yang terbungkus di dalamnya. Laki-laki itu menarik dengan sekali sentak. Maka kalung itu sudah berada dalam genggamannya.

"Aaaaaaah    Untung saja benda ini tidak jatuh

ke tangan mereka. Kalau tidak.... Bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap orang-orang Elang Perak.... Aaaa-ah...." katanya sambil berusaha bangun dengan berpegangan pada pinggiran perahu yang penuh ukiran. Hampir ia tidak dapat berdiri. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Untuk berjalan selangkah saja ia harus menahan sakit yang tidak terkira.

"Paman.... Apa yang terjadi di perahu ini ?"

Bagai disambar petir lelaki itu mendengar suara orang lain di atas perahunya. Seorang pemuda tanggung tahu-tahu berada di hadapannya.

"Manusia busuk! Kau pun ingin pusaka ini, bukan? Jangan mimpi.... Sebaiknya cepat tinggalkan perahu ini. Pergi! Pergiiiii...!" "Paman... Aku "

"Orang-orang golongan hitam terlalu banyak basa basi. Toh akhirnya akan terlihat juga maksud dan tujuannya. Untuk apa lagi kalau bukan karena barang pusaka...." Orang itu menyeruduk. Tangannya yang menggenggam kalung hitam maju memukul. Anak muda itu bergeser. Serangannya luput. Maka orang yang sudah sekarat itu ambruk tak bangun-bangun lagi. Anak muda ini pun semakin heran.

"Paman...! Paman...!" Diguncang-guncangkan tubuh yang terluka parah itu. Namun tidak bergeming sedikit pun. Adinaya betul-betul telah mati. Jemari tangannya erat menggenggam kalung hitam.

"Paman ini menyebut-nyebut barang pusaka...

Dan mengira aku berdiri pada golongan hitam yang bermaksud merebutnya.... Pusaka.... Pusaka apa?" Anak muda mi makin heran.

"Siapa sebenarnya mereka ini?" Pikirnya lagi. Ia memeriksa mayat Adinaya. Seluruh tubuhnya penuh luka memar mengerikan. Yang menjadi perhatiannya adalah seuntai kalung hitam yang tergenggam erat. Semula ia tidak memperdulikannya, mungkin karena bentuknya kurang menarik. Kalung itu hanya terbuat dari seutas tali hitam yang berpusat pada sesuatu yang terbungkus dengan kain hitam yang berwarna hitam pula. Terdorong dengan perasaan ingin tahu, akhirnya anak muda ini memberanikan diri mengambil kalung hitam dari genggaman mayat yang tak dikenalnya.

"Kalung jelek seperti inikah yang dimaksudkan benda pusaka? Aneh ! Benda apa pula yang terbung-

kus kain hitam ini? Dan apa yang dilihatnya setelah kain pembungkusnya terbuka.... Tidak ada kejutan sama sekali! Hanya kepala Elang terbuat dari Perak sebesar telapak tangan. Ia pun jadi tersenyum...

"Serasi juga kepala Elang perak ini dengan tali hitam... Kalau aku mengenakannya pasti akan lebih cocok  Lebih cocok disebut pengelana daripada sebe-

lumnya. Kupakai saja kalung ini. Pemiliknya pun sudah mati."

Dia betul-betul mengenakan kalung itu di lehernya. Dan ia merasa puas sekali. Bagaimana tidak. Bajunya yang terbuat dari kulit binatang, kini dihiasi dengan kalung berliontin kepala Burung Elang. Apalagi liontin itu terbuat dari perak. Jarang sekali pengelana mengenakan barang yang berharga. Walaupun dalam bentuk perak maupun emas.

Setelah menatap kedua mayat dalam perahu itu. Ia melompat ke pinggiran kali. Gerakannya sukar diikuti pandangan mata. Tahu-tahu saja ia berada jauh dari perahu. Di lihat dari gerakannya, tentulah anak muda itu memiliki ilmu peringan tubuh yang sangat luar biasa.

***

Kematian Adinaya dan istrinya menjadi masalah besar bagi kalangan perguruan Elang Perak. Seluruh anggota perguruan yang merupakan pentolan berkumpul dalam sebuah ruangan yang cukup besar. Ki Randaka duduk paling menonjol di atas bantalan berlapis sutra merah. Lainnya yang berjumlah kurang lebih empat belas orang duduk melingkar tanpa alas bantalan apa-apa..

"Soal kematian Adinaya dan Ratih memang merupakan pukulan berat bagi kita    Sekarang yang jadi

masalah adalah pusaka Elang yang turut hilang bersama mereka....! Aku khawatir pusaka itu jatuh ke tangan orang-orang golongan hitam " kata Ki Randa-

ka.

"Pastilah ini perbuatan kelompok Singa Kali Progo! Karena mereka penguasa sepanjang kali itu...!" kata orang yang duduk di sebelah kanannya.

"Ya, pasti...! Siapa lagi kalau bukan perbuatan mereka!" Yang lain ikut menimpali.

"Guru.... Sebaiknya kita cepat mencari gerombolan pengacau itu. Kita ambil kembali pusaka Elang.... Kalau perlu kita habisi mereka...!"

"Kalian jangan berperasangka buruk dulu terhadap mereka!" bentak Ki Randaka. Suasana pun menjadi hening kembali. Lalu ia melanjutkan lagi pembicaraannya.

"Kelompok Singa Kali Progo sudah bertekuk lutut terhadap kita. Mana mungkin mereka berani mengusik orang-orang Elang Perak? Kalian masih ingat ketika mereka bersumpah? Dawuk pemimpin gerombolan itu bilang, bahwa mereka akan lari menyingkir bila melihat orang-orang Elang Perak!"

"Tapi, Guru..... Siapa yang tidak akan tergiur dengan pusaka Elang itu...? Mereka bisa saja mengingkari sumpahnya. Segala perampok seperti mereka mana pernah betul ucapannya."

"Memang betul apa yang kau ucapkan itu, Adi Bahruna... tapi mana bisa kita main tuduh seenaknya. Siapa tahu ada partai lain yang mencegat Adinaya, sehingga kelompok Singa Kali Progo menjadi kambing hitam." pendapat Ki Randaka.

"Tidak....! Tidak masuk akal! Partai lain mana mungkin berani beroperasi di daerah kekuasaan orang. Kalau pun ada tentunya ke empat anggota Singa Kali Progo sudah menjadi mayat." kata Bahruna yang duduk urutan kelima dari sisi kiri Ki Randaka. Ki Randaka terdiam berpikir.

"Lalu bagaimana caranya agar kita bisa memperoleh pusaka Elang itu kembali ke tangan kita?" tanya Ki Randaka ketua Agung perguruan Elang Perak.

"Satu-satunya jalan, kita harus pergi ke Gerongsewu. Tentunya mereka tengah menunggu-nunggu pengiriman benda itu. Walaupun mereka percaya, tentunya kita akan kehilangan nama besar."

Para pentolan perguruan Elang Perak tertunduk diam. Hanya Bahruna yang berani menatap Ki Randaka.

"Apapun prasangka mereka, kita harus segera pergi ke Gerongsewu. Setidak-tidaknya kita bisa minta pendapatnya untuk memecahkan masalah ini. Kalau kita hanya diam di sini terus, tidak ada gunanya. Pertemuan empat partai besar tinggal beberapa hari lagi. Kita harus menjelaskannya kepada para pendekar Gerongsewu dari sekarang."

Ki Randaka berpikir sejenak, apa yang dikatakan Bahruna memang benar. Suasana ruangan itu jadi hening.

"Guru..... Kalau boleh saya tahu, sudah berapa kalikah Guru mengikuti pertemuan dengan para pendekar Gerongsewu...?" tanya orang yang duduk pada deretan keenam.

"Empat kali...! Minggu depan kita memasuki pertemuan yang kelima." jawab Ki Randaka cepat.

"Empat kali Guru mengikuti pertemuan, dan empat kali pula Guru keluar sebagai pemenang. Bukankah itu sudah cukup menjadi ahli waris pusaka Elang?" kata muridnya lagi.

"Kalau belum lima kali berturut-turut, belum bisa disebut ahli waris. Atau mendapat julukan Pendekar Elang.....Sebab di dalam liontin kepala Elang... konon ilmu-ilmu itu pernah dikuasai oleh seorang pendekar dari aliran lurus. Seorang pendekar yang tak ada tandingannya. Sampai-sampai semua golongan lurus maupun jahat ditumpas habis sampai ke akarakarnya. Setelah dunia persilatan kembali bersih. Pendekar itu menghilang mengasingkan diri. Sampai sekarang. Bahkan orang-orang partai persilatan sudah melupakan kebesaran nama pendekar itu....." tutur Ki Randaka.

"Kenapa Guru tidak melihat peta itu sebelumnya?" kata orang yang duduk di sebelahnya.

"Sebagai orang yang berpihak pada golongan lurus harus bersikap jujur. Kalau aku melihat peta itu tanpa sepengetahuan partai lain, itu namanya perbuatan curang." Ki Randaka menjelaskan.

Pembicaraan kita sudah terlampau jauh menyimpang. Kembali pada persoalan semula. Kita harus cepat mendapatkan pusaka itu kembali. Dan harus kita putuskan bahwa besok kita berangkat. Sebagian mencari keterangan di mana adanya pusaka itu. Sebagian lagi pergi ke Gerongsewu "

"Ya.... Itu usul yang bagus. Aku setuju..!”

Ki Randaka bangkit berdiri lalu berjalan meninggalkan ruangan itu. Empat belas muridnya tetap diam di situ. Mereka masih membicarakan pusaka Elang. Bahruna merencanakan pergerakan yang akan dilakukan besok.

Pusaka Elang telah hilang. Dan hal itu membuat perguruan Elang Perak seperti kehilangan kendali. Ki Randaka harus bertanggung jawab. Sebab benda itu telah resmi menjadi pusaka yang diperebutkan oleh beberapa partai golongan lurus sejak belasan tahun yang lalu. Pertemuan partai-partai besar yang selalu diadakan di Gerongsewu tentunya tidak akan berlangsung tanpa pusaka Elang. Dan itu bukan berarti gagal begitu saja. Partai-partai yang lain pun akan berpendapat lain terhadap perguruan Elang Perak. Semua itu tergantung pada Ki Randaka.

"Aku akan memimpin kalian ke Gerongsewu, dan Bahruna bersama Wikalpa menyusuri sisi kanan kali Progo untuk mencari gerombolan Singa Kali Progo... Wagun dan Sambali bertugas di sisi kiri dengan tugas yang sama. Yang lain menyebar ke desa-desa untuk mencari tahu adanya pusaka itu. Kita berkumpul pada hari pertemuan   " kata Ki Randaka yang du-

duk kembali di atas bantalan berlapis sutra merah. "Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah be-

rangkat." katanya lagi. Setelah itu mereka bergegas ke luar meninggalkan ruangan. Di luar suasana agak lain, tidak tegang seperti tadi. Percakapan mereka masih tetap pada pokok persoalan. Hampir semua para pentolan Elang Perak membicarakan hal yang sama. Nampak Wagun dan Wikalpa menuju kandang kuda. Wikalpa berjalan ke samping kandang, mengambil sebuah keranjang yang berisi makanan kuda. Dalam kandang itu berderet enam belas ekor kuda dengan peralatan yang lengkap.

Di luar halaman nampak begitu sepi. Tidak seperti biasanya. Sudah dua hari orang-orang Elang Perak tidak melakukan kegiatan, mungkin karena masih dalam suasana berkabung. Ki Randaka sendiri selalu mengurung diri di dalam kamar pribadinya. Kecuali hari ini ia bisa berkumpul dengan murid-muridnya yang dianggapnya bisa memecahkan persoalan.

Langkahnya makin cepat ketika Ki Randaka mendekati kamar pribadi. Pintu kamar Itu selalu terkunci. Lagipula tidak ada orang lain yang berani masuk ke situ. Selain dirinya. Tanpa menoleh ia bermaksud membuka pintu, desiran angin dapat dirasakannya. Bukan angin biasa.

"Wueesss:..!" Ki Randaka bergeser cepat. "Creeeep...!" Sebatang anak panah menancap pada pintu itu. Sebuah gulungan kertas melingkar pada batang anak panah. Cepat Ki Randaka menoleh ke arah dari mana anak panah itu melesat. Sesosok tubuh memegang busur berlompatan dari atas sebuah pohon yang ada di luar pagar. Ki Randaka tidak bermaksud mengejar, karena tidak mungkin ia bisa mendapatkannya. Maka dengan tenang ia meraih anak panah itu. Anak panah itu tidak berarti apa-apa dibanding gulungan keras yang melekat di situ. Sudah pasti sepucuk surat. Ki Randaka langsung membuka dan membacanya.

"Orang-orang Elang Perak tidak akan sampai ke Gerongsewu. Dan pusaka Elang akan jatuh ke tangan kami "

Begitu isi surat itu. Ki Randaka meremas kertas itu. Amarahnya memuncak. Tapi ia tetap berusaha menguasai diri. Seperti tidak terjadi apa-apa ia memasuki kamar pribadinya.

Sebenarnya Bahruna dapat melihat kejadian itu, tapi ia tidak berani menghampiri Ki Randaka yang telah hanyut dengan sejuta beban di atas pundaknya. Sebatang anak panah berani menerobos perguruan Elang Perak. Berarti suatu penghinaan. Partai Elang Perak berdiri paling atas dari daftar seluruh golongan lurus, tapi kenapa masih ada juga partai lain yang berani mengusik dalam keadaan yang terpojok seperti ini. Bahruna tidak habis pikir. Sengaja ia merahasiakan kejadian yang barusan dilihatnya. *

**

Satu-satunya desa yang paling ramai kala itu tak lain, desa Wadaslintang. Hampir kebanyakan orang-orang yang berada di situ para pendatang dari desa-desa lain. Orang-Orang desa Wadaslintang menggunakan situasi yang menguntungkan dengan berdagang atau membuka penginapan. Setiap harinya penginapan-penginapan di situ selalu dipenuhi oleh para pendatang. Orang yang berlalu lalang pun hampir sukar dihitung dengan jari. Kebanyakan dari mereka berjalan kaki. Hanya para pembesar saja mengendarai kereta kuda. Untuk mencari penginapan, sudah tentu para pembesar itu memilih tempat yang lebih bagus. Paling tidak keamanannya terjamin. Sebuah penginapan bertingkat sudah mulai dipenuhi para pengunjung. Seorang pelayan menyambut ramah tamunya yang baru turun dari kereta kuda, orang itu berperawakan gemuk. Pakaiannya pun begitu bagus. Penampilannya seperti seorang ningrat. Dengan setengah merunduk, pelayan itu mengantar masuk ke dalam penginapan bertingkat itu.

*

* *

3

Perempuan muda yang duduk di sudut ruangan tetap tenang menghadapi hidangannya di atas meja. Ia tidak perduli sama sekali dengan kehadiran seorang lelaki gemuk yang mengambil tempat pada meja kedua di hadapan perempuan muda itu. Pelayan yang ramah itu masih terus mengikuti orang kaya yang sudah duduk menghadapi sebuah meja.

"Tuan... Tuan pesan makanan apa?" Kata pelayan itu dengan setengah membungkuk.

"He... he... he... Masa kau lupa dengan seleraku, apa kau bingung karena terlalu banyak tamu di sini? He... he... he..."

"Oh, iya ya.... Saya lupa, Tuan. Wuah rupanya saya sudah pikun. Habis terlalu banyak langganan di sini. Jadi lupa dah " Lalu pelayan itu bergegas ke da-

pur untuk mengambil pesanan yang paling disukai tamunya. Sambil menunggu hidangan, laki-laki gemuk itu mengarahkan pandangannya pada perempuan yang duduk di hadapannya. Merasa diperhatikan ia mengangkat wajahnya membalas tatapan itu, kemudian kembali menyantap hidangannya. Laki-laki gemuk itu tersenyum. Tak lama datang lagi seorang pengunjung. Kali ini seorang lelaki muda bertubuh tegap berpakaian bulu binatang. Di lehernya melingkar seuntai kalung hitam berliontin kepala Elang dari perak. Sebelum ia mengambil tempat duduk, ia memberi hormat pada lelaki gemuk dan perempuan muda. Lelaki gemuk itu menganggukan kepala, tapi perempuan itu acuh. Seakan tidak mengetahui kehadiran pemuda yang baru datang. Meja sang dipilihnya dekat sekali dengan perempuan yang duduk di sebelah kirinya. Kini giliran anak muda itu yang menjadi perhatian si lelaki gemuk. Pandangannya tertuju pada kalung hitam. Matanya sebentar mengernyit setelah melihat liontin kepala Elang sebesar telapak tangan. Jantungnya seakan berdebar melihat liontin yang bergerak-gerak di leher pemuda itu.

"Ini, Tuan.... Hidangannya. Maaf kalau terlalu lama." Pelayan yang tadi ke dapur datang lagi membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi, sayur, ayam goreng berikut sepundi arak. Ia meletakkan hidangan itu dengan hati-hati sekali. Lalu mata pelayan itu melihat tamu baru. Seorang pemuda. Maka ia mendekati menyapa...

"Aden juga mau makan, bukan? Pesan apa?"

Anak muda itu tidak langsung menjawab, ia merogoh saku baju kulitnya. Dikeluarkannya sekeping uang logaman.

"Maaf, Pak... uang saya hanya segini. Apakah masih bisa makan di sini?" kata pemuda itu pelan sambil menyodorkan sekeping uang logam.

"Bi... bisa.... Tapi "

"Kalau sekiranya uang ini tidak mencukupi, tak apa, saya akan keluar saja. " Ia bermaksud bangkit.

"Pelayan... Sini...." Lelaki gemuk itu memanggil.

Si pelayan menghampiri tamu yang kaya ini. Lalu lelaki gemuk membisikkan sesuatu. Pelayan itu nampak manggut-manggut, kemudian ia bergegas menuju dapur. Sepeninggal pelayan...

"Anak muda, kenapa berkecil hati? Duduklah kembali, sekali-sekali menikmati hidangan di sini, pasti akan merasa puas. Biar aku yang bayar. simpan

saja uang itu "

"Ah... Terima kasih! Siapa Tuan yang baik hati ini? Saya Wintara hanya seorang pengelana Memang

tidak sepantasnya datang ke tepat mewah ini...." Pemuda itu duduk lagi.

"Jangan terlalu merendah, anak muda     Seo-

rang pengelana memiliki jiwa yang besar dibanding dengan orang-orang seperti saya. Saya Raden Sintoro Tinggil banyak mendengar pengalaman-pengalaman yang hebat dari mulut para pengelana seperti anda....

"Ah itu pun terlalu berlebihan memberi pendapat " tukas anak muda itu.

Pelayan tadi kembali datang. Ia membawa sebuah nampan lagi dan meletakkan hidangan yang serupa dengan lelaki gemuk yang menamakan dirinya Raden Sintoro Tinggil. Raden Sintoro Tinggil menyilakan dengan telapak tangannya. Lalu ia pun menyantap makanan yang sejak tadi. Setelah membalas dengan senyuman, anak muda yang bernama Wintara mulai ikut menyantap hidangan itu. Ruangan makan di penginapan itu makin lama makin penuh. Hampir setiap meja berisi pengunjung. Beberapa pelayan nampak sibuk berjalan ke sana ke mari melayani para pengunjung yang mulai membanjir.

Sesekali Raden Sintoro Tinggil melirik ke arah Wintara. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, yang membuat selera makannya berkurang. Sementara kalung hitam berliontin kepala Elang terayun-ayun bergerak di saat Wintara menyantap lahap makannya.

Perempuan muda itu telah selesai makan. Ia meneguk habis air minumnya. Ketika ia berdiri terlihat sebilah pedang pendek terselip di pinggangnya yang ramping. Tangannya melambai memanggil pelayan.

"Nona.... Biar saja saya yang bayar sekalian. Kebetulan saya akan menginap di sini. Dan membawa uang lebih...." Raden Sintoro Tinggil memotong langkah pelayan yang melayani mereka.

"Maaf, Raden Sintoro Tinggil    Aku bukan pen-

gelana macam anak muda itu...." cetusnya. "Pelayan " Kembali ia memanggil.

Mendengar ucapan itu Wintara menoleh. Perempuan itu membalasnya dengan tatapan menantang. Setan! Wintara malah nyengir. Raden Sintoro Tinggil diam saja.

"Hebat... Perempuan semuda ini punya uang begitu banyak.... Dari mana? Jangan-jangan...." kata Wintara terputus.

"Apa!" Perempuan itu melompat sambil mencabut pedang pendek. Ujung pedang itu cepat menempel di tenggorokan Wintara.

"Teruskan kata-katamu..... Kalau saja kurang enak kudengar, pedang ini akan menembus tulang lehermu...." bentak perempuan itu keras. Tentu saja menjadi perhatian para pengunjung yang ada di situ.

"Jangan-jangan minta uang pada kekasihnya " Wintara melanjutkan pembicaraannya.

"Huh...!" Pedang pendek berputar, tahu-tahu sudah menancap pada ayam goreng yang berada dalam genggaman Wintara. Sekali sentak, daging ayam itu terlempar ke luar. Bersamaan dengan itu tubuh Wintara melesat bagai terbang. Menangkap daging yang hampir jatuh ke tanah. Perempuan itu ikut melompat, dengan beberapa kali lentingan ia sudah berada di luar penginapan. Wintara asyik menggerogoti daging ayam sambil nangkring di atas balok untuk tambatan kuda.

"Pengelana rakus! Mau unjuk gigi di hadapanku... rasakan ini!! Hreaaaaa. " Pedang pendek berkele-

bat tajam menusuk. Wintara menangkis dengan sebuah tendangan. "Plaaak...!" Lalu ia melompat lagi menjauhi serangan-serangan perempuan muda itu. Ayam gorengnya telah habis, Wintara membuang sisa tulangnya ke tanah. Seluruh orang-orang yang berada di tempat itu keluar menyaksikan perkelahian itu. Mereka kagum dengan jurus-jurus yang di keluarkan oleh dua pendekar muda. Dalam pertarungan itu Wintara tidak pernah menyerang, dia lebih banyak menghindar atau kalau perlu hanya menangkis. Sebagai seorang pengelana tentunya ia membekali dirinya dengan kepandaian ilmu silat. Tapi pengelana yang satu ini betul-betul lain daripada yang lain. Melihat dari gerakannya saja orang sudah tahu kalau ia memiliki ilmu yang tidak boleh dianggap remeh. Begitu juga perempuan muda ini. Gerakan yang sangat gesit terlihat seperti seorang bidadari yang tengah menari-nari. Sebilah pedang pendek berputar-putar ke kanan dan ke kiri menyerang Wintara. Babatan-babatan itu menyerupai serentetan sinar putih kebiruan. Meskipun dahsyatnya serangan itu, Wintara masih dapat menghindar serta menangkis. Sebenarnya usia perempuan muda itu jauh lebih muda dibanding pengelana sakti. Apalagi Wintara belum mengenalnya. Ia tidak boleh bertindak gegabah. Dia sendiri pun terheran-heran, gadis semuda ini memiliki ilmu silat yang jarang dimiliki pendekar mana pun.

"Perempuan sombong.... Kalau aku mau meringkusmu,   sudah   dari   tadi   kulakukan   " teriak

Wintara menyadarkan. Tapi perempuan itu tidak memperdulikan ucapan Wintara. Malah "Hreaaaaa. !

Siuuuut...!" Dengan kedua genggaman tangannya pedang itu menjurus deras. Serangan tersebut tidak ada artinya sama sekali. Ia pun tidak akan berlama-lama menghadapi perempuan muda itu. Sekali ia menepakkan tangannya... "Plaak !" pedang pendek itu terlepas

dari kedua genggamannya. Bukan main kagetnya. Kedua telapak tangannya terasa kesemutan. Gadis itu memekik pelan. Wintara membalikkan tubuh bermaksud kembali ke dalam penginapan bertingkat itu. Membiarkan perempuan muda berdiri sendirian di luar. Tentu saja ia merasa dibuat malu. Maka dengan penasaran ia menubruk lagi. Mendapat serangan yang mendadak, Wintara bergerak cepat mengibaskan lengannya ke belakang. "Weeeessss! Jplaaaak!" Perempuan muda itu terbanting ke belakang. Sebentar kemudian ia bangkit memungut pedang pendek miliknya. Sambil mengacungkan pedangnya.

"Pengelana busuk! Hari ini kau boleh merasa bangga atas kemenanganmu. Ingat...! Suatu hari kelak, kepalamu bakal terbelah dua dengan pedang ini...!" sumpahnya. Lalu ia berlari menerobos kerumunan orang banyak yang tadi menonton perkelahian mereka. Wintara mendengar. Tapi langkahnya terus berjalan memasuki gedung penginapan. Ditemui orang gemuk yang bernama Raden Sintoro Tinggil. Lelaki gemuk itu sudah ada di depan pintu menyambut Wintara.

"Sungguh luar biasa kepandaian ilmu silatmu, Wintara... Betul-betul pengelana sakti.... Semua orang yang berada di sini mengira kau akan kalah oleh perempuan tadi, bagaimana tidak? Jurus-jurus pedangnya begitu hebat! Gerakannya pun sukar diduga "

puji Raden Sintoro Tinggil. Ia merangkul Wintara kembali ke tempat duduknya semula.

"Sebenarnya perempuan itulah yang hebat....

Bukan saya. Nasib saya sedang beruntung. Jadi kemenangan ini saya anggap tidak mutlak...." sela Wintara. Raden Sintoro Tinggil diam sebentar, lalu....

"Kalau anda tertarik saya ada usul. Maukah anda ikut saya ke Gerongsewu... Yaah sekedar mengawal. Saya khawatir akan ada orang-orang jahat mengganggu perjalanan nanti...." kata Raden Sintoro Tinggil.

"Ke Gerongsewu? Bukankah Tuan hendak menginap di sini?" Wintara heran. Raden Sintoro Tinggil nampak kikuk mendengar ucapan Wintara. "Be.... Benar.... Saya memang bermaksud menginap di sini beberapa malam. Tapi tujuan saya tetap ke Gerongsewu! Bertemu dengan orang hebat seperti anda, pikiran saya berubah. Kalau anda mau mengawal, saya bersedia membayar mahal "

"Kalau cuma sekedar mengawal, Tuan tidak perlu membayar. Saya akan ikut dengan Tuan Ang-

gap saja sebagai balas jasa untuk hidangan yang nikmat ini "

Raden Sintoro Tinggil senang mendengar keputusan Wintara. "Terima kasih.... Terima kasih...." Ia menepuk-nepuk dada Wintara kegirangan. Beberapa kali tepukannya menyentuh liontin kepala Elang dari perak Tiba-tiba Wintara memekik"

"Awaaaas....!" Sebatang anak panah menghunjam deras ke arah tubuh Raden Sintoro Tinggil. Tapi sebelum anak panah itu menancap pada sasaran, Wintara dapat menangkapnya. Tidak sempat lagi mereka melihat dari mana anak panah itu berasal. Wintara berlari ke luar. Orang-orang yang ada di sekitar situ keheranan melihat Wintara celingukan mengawasi rumah-rumah penduduk yang berderet memanjang. Baru disadarinya ada segulungan kertas melingkar pada batang anak panah itu.

"Serahkan Pusaka Elang itu pada kami !" Begi-

tulah tulisan yang tertera dalam gulungan kertas. Teringat ia pada seuntai kalung hitam yang melingkar di lehernya. Kalung itukah yang di maksud? Aneh-aneh saja! Menginginkan benda pusaka, tapi tidak mau menampakkan diri. Kalau saja benda ini miliknya mau saja ia menyerahkannya. Karena ia sendiri merasa benda yang melingkar di leher bukan miliknya. Ia mendapatkan benda itu dari tangan seseorang yang telah menjadi mayat. Sudah pasti ada pihak lain yang menginginkan benda ini. Wintara meremas gulungan kertas itu. Sampai sekecil mungkin, kemudian ia menyentilkannya jauh-jauh. Barulah ia tahu sekarang, kalung hitam yang berliontin kepala Elang ternyata benda pusaka. Sudah pasti ia bakal menghadapi pihak-pihak lain, mungkin juga seluruh rimba persilatan yang menginginkan pusaka tersebut. Yang jelas. Sekarang

ia harus menahan benda itu dulu, jangan sampai benda itu jatuh ke tangan orang yang bukan haknya.

Raden Sintoro Tinggil ke luar menemui Wintara. Kelihatan lelaki gemuk itu gemetar. Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri ia berjalan cepat menarik tubuh Wintara. Dirasakan lengan Raden Sintoro Tinggil begitu dingin.

"Kau lihat sendiri, Wintara.... Belum apa-apa sudah ada orang yang bermaksud membunuhku. Cepat saja kita pergi dari tempat ini " kata Raden Sinto-

ro Tinggil ketakutan. Wintara tersenyum. Sudah wajar kalau ia begitu gugup dan gemetar. Karena tadi sebatang anak panah nyaris menembus di perutnya yang gendut.

"Kenapa harus berangkat sekarang?"

"Lebih cepat lebih bagus.... Di Wadaslintang sudah tidak aman lagi   " sergahnya sambil melangkah

menuju kereta kuda miliknya. Wintara mengikuti langkah itu. Tanpa diperintah ia sudah naik dan duduk di samping Raden Sintoro Tinggil yang mengendalikan dua ekor kuda. Kereta mereka berada pada jalan yang lebar dan tidak begitu ramai, Randen Sintoro tinggal menghela kuda-kudanya. "Hea...! Heaaa...! Ctar. !

Ctaar. !" Dua kali sabetan cemeti membuat kuda-kuda

itu berlari kencang. Ternyata Raden Sintoro Tinggil pandai mengendarai kereta kuda. Terbukti kudakudanya menurut tanpa dipecuti lagi. Selama dalam perjalanan itu, Wintara mengelus-elus liontin kepala Elang. Kepada siapa ia harus mengembalikan benda ini, pikirnya.... Apakah kedua mayat yang kutemukan di perahu rusak beberapa hari yang lalu itu pemiliknya...? Kalau benar, mengapa mereka mati dengan pusaka tergenggam di tangan? Mereka ber-kelahi dengan siapa? Sampai terluka parah begitu Bunuh diri? Je-

las tidak mungkin...! Wintara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tangannya menggenggam erat liontin kepala Elang...

"Kenapa dengan kalung bagus itu?" teguran Raden Sintoro Tinggil membuyarkan pikiran Wintara. Ia jadi terperangah.

"Ah... tidak. Aku bermaksud hendak membersihkannya. Sudah lama tidak digosok " Pintar Winta-

ra mencari jawaban.

"Aku tertarik juga dengan kalung itu, seandainya hendak kau jual..... Aku berani membayar berapa pun yang kau pinta...

"Heaaaaa!" Raden Sintoro Tinggil menghela kedua kudanya yang mulai berlari pelan. Wintara menoleh.

"Maaf Tuan... Tidak akan saya jual "

"Ahhhh sayang sekali...." Raden Sintoro Tinggil kecewa.

Kereta kuda ke luar dari daerah perbatasan desa Wadaslintang, larinya begitu cepat dan semakin menjauh. Setelah menikung barulah kereta kuda itu tidak nampak lagi, karena terhalang oleh pepohonan dan semak-semak yang tinggi merimbun. Namun masih saja terdengar deru roda kereta menggilas tanah berbatu disertai dengan gletar-gletar cemeti yang makin lama makin halus menghilang. *

* *

4

"Singa Kali Progo...!" Ki Randaka berteriak lantang. Ia berdiri di atas sebuah perahu yang melaju cepat menyusuri sepanjang kali itu. Kedua kakinya mengangkang lebar. Matanya nyalang mengawasi hutan belukar yang terdapat pada kedua sisi kali.

"Singa Kali Progo...!" teriakannya makin lantang, menggetarkan seluruh dedaunan dan riaknya air. "Keluar Singa Kali Progo! Keluar...!!! Datanglah

kalian ke mari...!" Ki Randaka gemas.

"Bukannya kami tidak menghormati     Tapi

kami sudah berjanji tidak akan menunjukkan diri di hadapan orang-orang Elang Perak...!" terdengar jawaban dari balik hutan di sisi kiri. Ki Randaka berbalik menghadap di mana suara itu berasal.

"Ke marilah saudara-saudara Singa Kali Progo...! Ada sesuatu yang ingin kubicarakan pada kalian.... Cepat ke mari !"

"Begitu pentingkah ?" terdengar lagi suara dari

balik pepohonan. Suara itu makin dekat, hanya saja orang yang berbicara tidak berani menampakkan diri. Tapi Ki Randaka yakin, orang-orang yang dimaksud berada di hadapannya.

"Ke marilah ! Mulai sekarang kucabut sumpah

kalian !"

Maka bertebaran lah empat sosok tubuh dari balik pepohonan. Setelah berjumpalitan di udara keempatnya hinggap di atas perahu yang ditumpangi Ki Randaka. Wajah keempatnya nampak begitu menyeramkan. Mereka rata-rata berewok sampai sebatas dada.

"Dawuk.... Kau sebagai pimpinan gerombolan Singa Kali Progo harus berkata jujur padaku Kalian

telah menguasai sepanjang perairan kali Progo ini, bukan ?" tanya Ki Randaka dengan tatapan yang penuh

curiga.

"Betul.... Sepanjang kali ini memang kami yang menguasai...." jawab Dawuk tegas. Tiga orang temannya diam berdiri tetap menghadap.

"Betulkah kalian tidak tahu atas kematian dua orang murid dari perguruan Elang Perak? Ayo jawab!" Ki Randaka membentak.

"Astaga....! Dua orang murid perguruan Elang Perak memang pernah kami lihat melintasi perairan ini dengan sebuah perahu... Tapi perihal kematian dua orang itu kami betul-betul tidak tahu. Mana berani kami mengusik orang-orang Elang Perak...." jelas Dawuk. "Baru melihatnya saja kami sudah lari...." katanya pula.

"Lalu siapa yang membunuh Adinaya dan istrinya...? Siapa pula yang membawa lari pusaka Elang? Jelas-jelas perahu mereka terdampar di perairan sini. Masihkah kalian tidak mengetahuinya?" tanya Ki Randaka dengan nada marah.

"Ketua agung Elang Perak.... Bagaimana kami harus mengakuinya...? Dibunuh di sini pun kami rela.... Mungkin ini kesalahan kami...." Dawuk berlutut di hadapan Ki Randaka, tiga orang berewok lainnya ikut berlutut di belakang Dawuk. "Silahkan ketua agung Elang Perak menghukum kami.....

Atau bunuh saja kami berempat.... Kami pasrah   " kata Dawuk. Ki Randaka menatap pada keem-

pat orang yang berlutut di hadapannya. Mukanya merah padam. Kalau Ki Randaka mau menghajar kepala mereka satu demi satu, mudah saja ia melakukannya. Keempat batok kepala itu sudah siap diremukkan. Tapi Ki Randaka bukan orang yang kejam seperti yang kita bayangkan.

"Bangun! Dan pergi dari sini.... Cari tahu sampai dapat di mana Pusaka Elang berada. Kalau tidak berhasil, aku tidak akan mengampuni kalian " Suara

Ki Randaka angker.

Tanpa berani menoleh keempat anggota Singa Kali Progo itu mundur perlahan. Lalu keempat orang berewok itu melompat bareng menyeberang ke pinggir kali. Ki Randaka masih tetap berdiri tegak terbawa perahu yang melaju menyusuri sepanjang kali Progo. Dari balik celah-celah dedaunan, empat manusia berewok mengawasi kepergian perahu itu. Ternyata mereka tidak langsung pergi ketika Ki Randaka mengusirnya. Mereka hanya pura-pura pergi, lalu kembali lagi. Dawuk mengepalkan tinjunya.

"Setan....! Tua bangka keparat itu mestinya dibikin mampus! Dia pikir hanya dirinya yang memiliki kehebatan.... Heh! Benar-benar bangsat!" gerutunya. "Kalian dengar tadi, mereka telah kehilangan Pusaka Elang.... Kurasa itu hanya suatu alasan saja...!" katanya lagi.

"Benar, Kang.... Ketika mencegat Adinaya, pusaka Elang tidak ada padanya. Apakah ini hanya satu tipuan belaka?" kata Sempor anggota nomer dua dari urutan kelompok begal Singa Kali Progo.

"Bukan! Ini bukan tipuan! Yang jelas kita yang kurang teliti sewaktu mengobrak-abrik perahu itu!" Dungkil anggota nomer tiga memberi pendapat lain.

"Itu berarti pusaka Elang telah jatuh ke tangan orang lain. Ahhhhh.... Jadi kacau semua! Kacauuuuuuuu...!" Dawuk geregetan. Ingin rasanya menampar pipi ketiga anak buahnya. "Harapan untuk memiliki pusaka Elang pupus sudah. Itu semua karena ketololan kalian!" Amarah Dawuk meluap lagi. Dengan kesal ia menendangi batang pohon yang sangat besar.

"Kita sudah kehilangan pusaka itu.... Kita sudah kehilangan kesempatan besar!!!!" teriak Dawuk makin jadi. Tapi begitu Dawuk ingin membuka mulutnya lagi suaranya tidak sempat keluar.... Dua orang laki-laki telah berdiri di situ, kehadiran dua orang itu membuat kedua mata Dawuk terbelalak. Ketiga anggota Singa Kali Progo sempat kaget juga melihat kedua orang yang berdiri di hadapannya.

"Baru kutahu sekarang siapa yang telah mencoreng nama besar Elang Perak. Ternyata keempat mahluk hina ini. Ayo Dawuk! Berteriaklah! Berteriak seperti tadi. Kenapa diam?" kata salah satu dari kedua orang itu. Kedua orang itu adalah Wagun dan Sambali yang memergoki sekaligus mendengar percakapan mereka. Sudah tentu keempat anggota Singa Kali Progo jadi blingsatan menghadapi mereka. Bukan karena takut. Bukan juga karena Wagun dan Sambali dari perguruan Elang Perak! Tapi karena percakapan dari kelompok Singa Kali Progo yang sudah terlanjur ketelepasan bicara yang sempat didengar oleh Sambali maupun Wagun. Apa-lagi mereka dari perguruan Elang Perak!

"Sekarang juga.... gerombolan Singa Kali Progo musti dilenyapkan. Sekalipun kalian tidak mendapatkan pusaka Elang, tapi kalian membunuh dua saudara perguruan kami dengan maksud yang sama. Yaitu bermaksud merebut pusaka dari tangan kekuasaan perguruan Elang Perak!" Wagun berkata polos. Tapi kata-kata itu justru menggedor jantung Dawuk. Dawuk yang sudah terpojok, tak dapat berkata apa-apa lagi. Setelah matanya melirik ke sana ke mari, Dawuk memberi aba-aba dengan anggukan kepala. Ketiganya mengerti apa yang di inginkan Dawuk. Maka. Tiga orang berewok itu maju melancarkan pukulan.

Wagun melompat maju menghadapi seranganserangan itu. Sambali juga ikut ambil bagian. Ia memilih lawan yang paling seram. Dua pukulannya dihantamkan menyilang, tapi hanya dengan sebuah tendangan ke atas serangan Sambali gagal mengenai sasaran. Menyadari akan kehebatan lawannya, Sambali mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Lima jari tangannya mekar menerobos hampir mengenai pipi Sempor. Sempor membalas dengan rentangan tangan yang sangat cepat.

"Cplaak...!" Kedua tangan itu beradu. Sambali terdorong mundur.

Wagun lebih repot lagi. Kedua lawannya menyerang bergantian. Kalau menghadapi hanya seorang lawan mungkin perkelahian itu tidak akan berlangsung lama. Menghadapi orang-orang Singa Kali Progo yang memiliki ilmu tidak rendah, Wagun mesti menguras tenaga.

Dawuk sebagai pimpinan begal Singa Kali Progo sengaja tidak turun tangan. Ia hanya berdiri tenang melihat perkelahian Itu. Ketiga anak buahnya nampak begitu gigih menggempur pertahanan Wagun dan Sambali. Dari situ Dawuk sudah dapat mengukur kekuatan kedua orang dari perguruan Elang Perak.

"Kalian harus menebus nyawa dua orang saudara kami...!" teriak Sambali. Tinjunya melayang...

"Plaaak...!" Sambil melompat Sempor menangkis. Dan sebelum tubuhnya hinggap di tanah, tendangannya menerobos.

"Bug...!" Sambali tidak dapat menghindari. Bagaimana ia bisa menghindar, andaikata bisa serangan Dungkil yang lebih dahsyat pasti sudah mengenai pada bagian yang mematikan. Sambali mundur mendekati Wagun. Mereka berdua gabung menghadapi tiga anggota Singa Kali Progo.

Hasilnya sama saja, mereka berdua malah kewalahan menghadapi lawan sebanyak tiga orang. Tendangan mau pun pukulan terus dilancarkan oleh Sambali. Wagun tidak kalah hebat, tinjunya yang beruntun berhasil memojokkan lawannya. Kemudian ia kembali lagi membantu Sambali.

"Plaaak...!" Salah satu serangan dapat dipatahkan. Dua orang berewok menggeram sengit sambil menerjang. Mendapat serangan seperti itu Wagun cepatcepat mundur. Lalu menghentakkan kedua kakinya, sehingga tubuhnya terlempar ke atas. Masih dalam keadaan berputar di udara, serentetan tendangan terbang menjurus ke arahnya. Menyadari adanya serangan itu Wagun membalikkan tubuhnya. Maka tendangan terbang itu hanya melewati beberapa senti di samping. Wagun hinggap di tanah dengan kedua kaki yang terentang. Dungkil datang menyambut dengan sambaran kaki memutar di bagian bawah.

"Wessss...!" Wagun bergulingan menghindari serangan itu.

Sambali cepat merunduk ketika Sampor melancarkan tendangan memutar. Tendangan itu bergerak secepat kilat, untuk menangkisnya saja sulit. Apalagi membalasnya? Buru-buru Sambali menjauh. Tapi ia mengambil langkah yang salah. Di belakangnya telah berdiri Dawuk dengan senyum menyeramkan. Sudah tentu Sambali menjadi sasaran empuk. Sebuah hantaman keras bersarang di bagian belakang kepalanya. "Dessss!" Sambali terhuyung. Sempor yang se-

dari tadi susah merobohkan Sambali, sekarang ia merasa ada kesempatan. Dua tinjunya sekaligus maju menggedor dada Sambali. Tubuh Sambali terjungkal, darah menyembur dari mulutnya. Berewok Dawuk bergerak-gerak ketika ia tertawa ngakak melihat tubuh Sambali yang hampir tidak bisa bangun.

"Ha... ha... ha... ha... ha...!" Sekali Dawuk melompat, tubuhnya sudah berada di udara. Menukik ke bawah dengan sebuah tendangan yang terarah kepada Sambali. Telapak kaki yang disertai tenaga dalam itu mematahkan tulang leher Sambali.

Wagun melihat Sambali tergeletak kaku, makanya ia cepat mengerahkan tenaga menyingkirkan lawannya. Sebelah tangannya memutar menyabet kepala Dungkil, kemudian berbalik ke arah perut.

"Jeegg!" Tubuh Dungkil terdorong. Cepat Wagun melompat ke arah Dawuk yang masih menginjak leher Sambali. Terjangannya secepat angin. Kedua tangannya terentang dengan jari-jari yang membentuk cakar Elang. Lalu menyambar menyilang menyerang Dawuk. Sebelah cakar itu berhasil menyambar.

"Breeeet!" Punggung Dawuk berdarah, ia langsung melangkah mundur sambil menepis-nepis sambaran-sambaran cakar Elang yang dilancarkan oleh Wagun. Dawuk menendang. Wagun juga menendang.

"Deessss!" Tendangan mereka beradu. Keduanya terpental. Wagun masih sanggup berdiri meski pun terhuyung, Dawuk terpeleset jatuh. Melihat itu Wagun melesat terbang menjurus ke arah Dawuk dengan kedua cakaran yang siap menyambar.

"Buuug!" Meskipun Dawuk berada di bawahnya, ia dapat melancarkan tendangan keras. Wagun terbanting. Langsung disambut oleh ketiga anak buah Dawuk. Beberapa jotosan sempat bersarang di muka dan dadanya. Gelagapan sekali Wagun menerima hantaman-hantaman itu.

"Desss!" Sebuah tendangan lagi membuat Wagun benar-benar terjatuh mencium tanah. Pandangannya jadi suram, samar-samar ia melihat Dawuk berdiri tertawa menyeringai. Ia bermaksud bangkit.

"Bug!" Hantaman Dungkil membuatnya jatuh terduduk. Sempor menjambak krah baju Wagun sampai terangkat. Dawuk langsung memberi hantamanhantaman yang beruntun di dada Wagun. Yang terakhir tendangan geledek Dawuk melontarkan tubuh Wagun. Kain kerah dalam genggaman Sempor tertinggal. Wagun kelojotan, sesaat kemudian ia diam tak berkutik.

"Buang mayat mereka ke kali!" perintah Dawuk. "Ganduli tubuh mereka dengan batu besar." katanya lagi. Ketiganya menyeret dua mayat itu ke pinggir kali. Di situ mereka menelanjangi mayat Wagun dan Sambali. Pakaian itu untuk mengikat batu besar yang disatukan dengan tubuh-tubuh yang sudah tak bernyawa. Sempor agak kesulitan mengikat batu pada tubuh Sambali, karena batu yang dipilihnya terlampau besar. Dungkil datang membantu dengan mengganti batu yang lebih kecil, maka selesailah pekerjaan itu. Kembali mereka menyeret kedua mayat itu lebih dekat ke pinggir kali. Dengan menendangi mayat-mayat itu mereka berusaha menjatuhkan kedua mayat itu, sampai akhirnya….

"Byuuuuuur! Jbyuuurrr!" Keduanya tenggelam ke dasar kali. Dari kejauhan Dawuk puas dengan pekerjaan ketiga orang anak buahnya. Ketiganya menghambur menemui Dawuk yang sejak tadi menunggu mereka.

"Hampir saja kita celaka. Untung saja kita bisa membereskannya dengan cepat...." desah Dawuk ketika para anak buahnya tiba.

"Itu karena mulut Kang Dawuk yang kurang hati-hati kalau bicara...! Hampir saja kita ketahuan belangnya!" kata Dungkil anggota nomer tiga pada urutan Singa Kali Progo.

"Sudah! Tidak perlu dipermasalahkan... Sekarang kita menyingkir dari sini, paling tidak kita pergi ke Gerongsewu. Tidak dapat pusaka Elang tidak apaapa. Tapi setidak-tidaknya kita bisa mengacaukan pertemuan partai-partai besar. Sudah terlanjur, kenapa mesti tanggung-tanggung.,.." usul Dawuk. Ketiga anak buahnya manggut-manggut.

"Aku rasa tidak sedikit orang-orang golongan hitam yang bakal datang ke sana. " Kuwusura anggo-

ta keempat yang jarang bicara ini memberikan penjelasan. .

"Dengan maksud yang sama, kita bisa bergabung. Kalau seluruh orang-orang golongan hitam bergabung, partai besar Elang bakal hancur..." kata Dungkil semangat. Pikiran Dawuk jadi terang mendengar ucapan Dungkil.

"Jangan banyak bicara lagi. Ayo kita berangkat...." Dawuk berlari. Janggutnya yang sepanjang dada berkibar-kibar melawan angin. Sempor, Dungkil dan Kuwusura mengikutinya dari belakang. Mereka menelusuri pinggiran kali yang ditumbuhi pepohonan lebat. Kadang-kadang juga mereka harus melompati semak-semak belukar yang setinggi pusar bergeromhol. Keempat manusia begal Singa Kali Progo saling mendahului berkejaran, Dawuk masih tetap di depan memimpin. Di depannya menghadang beberapa pohon besar berderet, Dawuk membelok, tidak langsung menerobos.

"Kang Dawuk! Kenapa memilih ke jalan besar...!" teriak Sempor setelah melihat Dawuk pemimpinnya menikung.

"Melalui pesisir kali akan memakan waktu lama...!" jawab Dawuk lantang agar dapat di dengar oleh ketiga anak buahnya. Larinya makin cepat. Begitu juga dengan orang-orang yang mengikutinya. Memang betul! Bila menempuh sepanjang pesisir kali mereka akan banyak menemui rintangan. Selain pohon-pohon besar yang tumbuh tidak beraturan. Semak-semak yang ada di mana-mana, ada juga batu-batu kali yang menonjol membentuk sebuah bukit kecil menghadang. Sedangkan tempat yang mereka tuju masih sangat jauh sekali. Tidak cukup memakan waktu satu hari. Itulah sebabnya orang-orang Elang Perak memilih jalan perairan kali Progo.

Dari hutan belukar mereka menembus sampai kehamparan alang-alang. Dawuk masih terus berlari, tidak perduli hamparan alang-alang menghalanginya. Langkahnya yang sangat cepat menimbulkan suara bergemerisik. Beberapa puluh meter lagi ia sudah sampai pada jalanan besar. Tapi sengaja ia menghentikan larinya. Dari kejauhan Dawuk melihat sesosok bayangan putih menyusuri jalan besar yang terbentang di matanya. Seorang perempuan muda berjalan terburu-buru. Sesuatu yang terselip di pinggangnya bersinar menyilaukan tertimpa sinar matahari. Ternyata benda yang terselip pada ikat pinggang yang berwarna kuning adalah sebilah pedang, pedang pendek. Sekarang Dawuk tidak lagi berlari, ia malah merunduk menyamakan tinggi tubuhnya dengan alang-alang yang menghampar luas. Sambil merunduk ia berjalan cepat, Ketiga anak buahnya yang mengikuti di belakang jadi terheran-heran melihat sikap Dawuk. Ketika tiga anak buahnya hampir mendekati, Dawuk memberi aba-aba agar mereka segera ikut merunduk. Serempak mereka me: runduk, meskipun dengan susah payah mereka mendekat pemimpinnya. Dawuk masih memperhatikan gerak gerik gadis itu. Lekuk-lekuk tubuh ramping itu membuat mata Dawuk makin terbeliak.

*

* *

5

"Kita akan merampok!" jelas Dawuk setengah merunduk sambil menyibakkan alang-alang yang mengganggu penglihatannya.

"Merampok? Apa tidak salah mencari mangsa? Perempuan itu tidak membawa apa-apa, mana mungkin ia membawa harta..." Dungkil ikut memperhatikan langkah-langkah seorang perempuan yang hampir mendekat.

"Goblok...! Yang kumaksud bukan merampok harta.... Tapi " Dawuk kesal.

"He... he... he... he.... Sekian lama mendekam dalam hutan, pengap rasanya. Masakah kita tidak mau menghibur diri? He... he... he...." Sempor dapat mengerti maksud Dawuk. "Ayam betina di depan mata....

Tunggu apa lagi " katanya lagi.

Sesekali perempuan muda itu menyeka keringat yang meleleh di keningnya. Panas terik matahari betul-betul menguras keringat. Angin memang berhembus, walau perlahan. Cukup menghibur perjalanan gadis itu. Rambutnya yang bagai ekor kuda bergerak mengikuti setiap langkahnya. Sebentar-sebentar ia membetulkan letak pedang pendek yang terselip dalam ikat pinggang. Tiba-tiba saja alang-alang di sampingnya tersibak, dari balik alang-alang itu muncul empat orang berewok. Langsung menghadang. Gadis itu tersentak mundur, jari-jemarinya yang lentik siap menarik gagang pedang pendek. Pandangannya tidak berkedip. Ia yakin sekali, kalau keempat orang itu tentu akan bermaksud tidak baik. Melihat tampang keempat orang itu saja sudah menyebalkan. Apalagi raut wajah Dawuk dan Sempor, barangkali tikus pun akan lari melihatnya.

"Menyingkirlah...! Jangan menghalangi jalanku...!" hardik perempuan muda itu. Orang-orang yang menghadangnya malah mendekat.

"Nona yang cantik. Nampaknya perjalanan Nona masih sangat jauh, kami punya tempat peristirahatan yang baik dan teduh. He... he... he...." Dawuk merayu. Sempor berjalan mengelilingi gadis itu. Dungkil dan Kurusuwa memandangi paras yang cantik mengagumkan.

"Ada urusan apa sehingga kalian menghalangi jalanku? Menyingkirlah...! Aku tidak perlu istirahat. Dan aku tidak butuh kalian temani " tukas gadis itu

sengit, jemarinya erat menggenggam gagang pedang. Tangan Sempor yang kasar mencolek pundaknya, tapi.....

"Splaaak!" Cepat dia menepis.

"Jangan coba-coba menyentuh diriku, dan jangan sampai aku yang muda ini terpaksa berbuat kurang ajar...!" Gadis itu makin sengit. Pedang pendek keluar dari sarungnya. Terhunus ke arah Sempor. Dawuk mendorong tubuh Sempor, lalu.... "Wueeeeeh   Ayam betina ini cukup galak juga.

Orang galak biasanya akan ramah bila berada di atas tempat tidur. " Dawuk mengejek.

"Kurang ajar.!" Pedang pendek berkelebat menyambar muka Dawuk. Kalau saja Dawuk tidak cepat mundur mulutnya sudah robek. Sempor yang berada dekat situ langsung menepak lengan yang menggenggam pedang. Gadis itu membalasnya dengan sebuah tendangan.

"Buuug!" Sempor terhuyung. Pedang pendek menjurus lagi terarah ke perut Sempor, rupanya gadis ini tidak main-main lagi. Melihat keadaan yang mendesak, Dungkil mengalihkan serangan itu dengan tendangan yang melintas mendesak dada. Cepat, gadis itu mengibaskan lengan kirinya. Maka tendangan yang mengarah ke dadanya meleset. Kuwusura menerjang, sebuah babatan pedang hampir saja menggores di punggungnya. Tapi dengan gerakan yang sangat cepat ia sempat melancarkan sebuah jotosan.

"Akh...!" Gadis itu memekik. Dirasakan ngilu menyengat tulang rusuk. Baru kali ini ia mendapatkan pukulan yang demikian hebat. Tapi mana mau ia mengalah, sekalipun lawannya itu berjumlah empat orang. Dengan jurus-jurus pedang yang ampuh, gadis itu menyerang membabi buta pada keempat manusia berewok. Dungkil setengah memutar tubuhnya, maka tusukan pedang pendek luput. Semakin geram. Gadis itu menarik pedangnya lalu digantikan dengan sebuah tendangan keras ke depan.

"Buug!" Dungkil terguling. Dawuk melompat mengganti posisi Dungkil. Ia pun tidak luput dari sambaran-sambaran pedang pendek.

"Wesss! Wesssss!" Susah payah Dawuk menghindarinya. Sempor cepat datang membantu. Tendangan terbang melesat, teriakan Sempor nyaring. "Heaaaaa!" Gadis itu merunduk sambil memba-

batkan pedangnya ke atas.

"Breeeet!" Paha Sempor tergores. Untung saja tidak begitu dalam. Sewaktu pedang pendek membabat paha Sempor, Sempor berhasil pula melancarkan pukulan pada lengan yang menggenggam pedang. Gadis itu pun kesakitan, terbukti lengannya bergetar. Sempor masih dapat berdiri walaupun sebelah tangannya memegangi paha yang terluka itu. Dawuk melompat, terbang dengan kedua tangan yang siap menghantam. Gadis itu menyambut dengan babatan pedang yang bergerak lemah. Ternyata tendangan Dawuk lebih dulu menghantam pergelangan tangan, sampai pedang pendek yang tergenggam erat terlepas. Lalu kedua tangan yang tadi siap menghantam menarik baju putih yang dikenakan. Gadis itu menepak kuat cengkraman Dawuk.

"Breeeeek!" Cengkraman Dawuk terlepas berikut sobekan kain putih. Gadis itu menyadari kalau bagian dadanya terbuka lebar, buru-buru ia menutupi dengan sebelah tangannya.

"Manusia-manusia terkutuk! Aku akan mengadu jiwa dengan kalian...!" Dia menyerang Dawuk dengan sebelah tangan. Dawuk hanya tertawa menyeringai....

"Ha... ha... ha   Hari ini empat begal Singa Kali

Progo akan pesta besar..." Dawuk menghindari serangan-serangan itu.

"Keparat...!" Gadis itu memekik hebat. Dari arah belakang Dungkil maju menyerang, tapi cepat gadis itu membalikkan tubuhnya. Sebelah lengannya tadi menutupi bagian dadanya berkelebat. Melihat buah dada yang putih mulus, Dungkil terbeliak. "Deeess!" Sampai-sampai ia tidak sempat menghindari pukulan keras ke arah mukanya. Dungkil menjerit memegangi muka. Hidungnya banyak ke luar darah. Dawuk dan Sempor tertawa melihatnya. Gadis itu menutup kembali bagian dadanya. Tapi bagaimana bisa ia menghadapi keroyokan itu hanya mengandalkan sebelah lengannya? Apalagi serangan-serangan mereka gencar makin kurang ajar. Mula-mula ia hanya mengandalkan sebelah lengan, tapi lama kelamaan harus terpaksa mengerahkan kedua lengan. Membiarkan dadanya yang putih halus terbuka lebar. Tanpa pedang pendek keempat manusia berewok makin mudah menyerang gadis itu. Sempor yang sudah tidak sabaran melompat maju, gadis itu menyambut dengan tendangan.

"Blaak!" Tendangan itu terhempas oleh gerakan Sempor. Tapi tendangan berikutnya berkelebat menyilang ke atas.

"Beeg!" Sempor sempoyongan, kepalanya terasa pening. Dawuk maju lagi. Kuwusura menyerang dari belakang. Menghadapi serangan dari dua arah cukup menyulitkan. Dia bermaksud menyambut serangan mana yang datang lebih dulu. Tapi yang disergap serangan Dawuk. Karena kalau tidak segera diatasi, mungkin tubuhnya sudah terkena dua pukulan sekaligus. Dawuk yang tidak pernah tanggung-tanggung menghajar lawannya masih terus melancarkan serangan beruntun. Gadis itu cepat memutar ke atas tangannya, jotosan Dawuk meleset ke samping. Lolos dari Dawuk kini ia menghadapi Kuwusura. Sebuah tendangan geledek menghalangi langkah Kuwusura. Namun cepat ia melompat menghindari tendangan itu. Dungkil yang hidungnya masih keluar arah maju menghantam pinggul gadis itu dengan keras. Sempor malah berhasil menghajar punggungnya. Untuk Sempor gadis itu asih dapat membalas. Pukulan karate menghantam tenggorokan Sempor. Tapi secepat kilat Kuwusura melayangkan tamparannya.

"Ploookk!" Gadis itu terpelanting hebat. "Bodoh...! Kalian tak perlu membunuhnya!

Tangkap dia hidup-hidup...!" Perintah Dawuk. Ketiganya berdiri tegar menyeramkan. Melihat lawanlawannya masih nampak segar bugar, gadis yang telanjang dada itu jadi mengkirik. Cepat ia bangkit dan berlari menerobos hamparan alang-alang. Ia berpikir tidak mungkin dapat mengalahkan mereka, makanya ia cepat melarikan diri...

"Kejar...! Kejar....! Giring dia ke dalam hutan! Cepat....!" teriak Dawuk sambil mengejar. Ketiga anak buahnya berlari mengikuti. Hamparan alang-alang menyeruak oleh langkah-langkah mereka. Tanpa menoleh gadis itu berlari semakin kencang.

*

* *

Derak roda kereta disertai derap sepatu kuda membuyarkan debu-debu sekitar jalan itu berterbangan. Geletar cemeti sesekali terdengar bercampur helaan si pengemudi kereta kuda itu. Penumpangnya cuma satu orang, dengan si pengemudi jadi dua orang. Keduanya bergoyang-goyang dalam lajunya kereta. Wintara duduk diam dengan pandangan lurus ke depan di samping Raden Sintoro Tinggil sibuk mengendalikan kuda-kudanya. Di hadapannya terlihat bayangan sebuah gunung berwarna kebiruan kemudian warna hijau menghampar di bawahnya. Pada sisi kanan kiri jalan itu menghampar pula alang-alang menghijau menari-nari tertiup oleh angin. Pandangan Wintara tersentak melihat sesuatu yang aneh di ujung hamparan yang menghijau setinggi satu meter itu. Sosok bayangan putih berlari kencang sedang di belakangnya empat orang bertubuh kekar-kekar mengejar. Wintara mengernyitkan alisnya. lalu...

"Stop, Raden...! Stop dulu!" Wintara menahan lengan Raden Sintoro Tinggil yang memegang tali kemudi.

"Ada apa...?" Raden Sintoro Tinggil menarik tali itu, maka tak lama kereta itu berhenti. Wintara langsung lompat. "Raden tunggu saja di sini...!" katanya. "Jangan ke mana-mana...!" Pesannya sambil lari menyusuri jalanan itu. Pandangannya masih terus terarah sosok bayangan putih. Sebuah benda sepanjang dua jengkal bersinar menyilaukan mengganggu penglihatan Wintara. Setelah mengamati benda itu Wintara memungut nya dari tanah berpasir. Ternyata sebilah pedang pendek. Ingatannya terlintas sewaktu ia berada di desa Wadaslintang. Di sebuah penginapan. Dan seorang wanita muda berkepandaian tinggi. Kenapa pedang ini sampai terjatuh di sini tanpa sarung? Pikir Wintara. Lalu siapa pula sosok bayangan putih yang berlari kencang bagai angin itu? Siapa pula keempat orang bertubuh kekar yang mengejarnya? Wintara tidak perduli, dengan menggenggam pedang pendek ia terus mengikuti ke mana arah orang-orang itu pergi.

Dawuk memasuki daerah hutan pesisir kali Progo. Pohon-pohon besar tumbuh di mana-mana. Semak-semak juga tumbuh merimbun tidak beraturan. Dawuk celingukan mencari-cari gadis yang dikejarnya tadi. Ternyata buruannya telah hilang bersembunyi. Sampai ketiga anak buahnya datang menghampiri, Dawuk belum juga menemukan tanda-tanda di mana adanya gadis itu. Tentu saja mereka tidak akan menemuinya. Tubuh gadis itu bergelantungan di atas sebatang ranting pohon yang dirimbuni dedaunan hijau melebat. Nafasnya diatur perlahan manakala keempat pengejarnya berada di bawahnya. Nampak Dawuk memberi aba-aba. Dan ketiga anak buahnya menyebar.

Tapi.... "Kkrkrekraaaak...!" Ranting pohon itu tidak cukup kuat menahan beban. Sudah tentu suara itu menjadi perhatian keempat manusia berewok yang berada di bawahnya. Dibarengi suara patahnya ranting, melesat sosok tubuh ramping berjumpalitan ke bawah. Hinggap begitu baik di tanah bererumputan. Melihat itu Dawuk menyeringai lebar. Terjangannya yang cepat membuat gadis itu gelagapan. Tahu-tahu saja Dawuk sudah memeluk erat tubuhnya. Ketiga anak buahnya ikut memegangi kedua tangan yang meronta-ronta. Seorang lagi memegangi kedua kakinya. Dawuk melumati habis jenjang leher gadis yang berada di dalam dekapannya. Tangannya yang jahil menarik kasar celana panjangnya sampai robek. Terlihat paha yang putih mulus bergoyang-goyang meronta-ronta.

"Manusia-manusia bejad! Tidak ada pekerjaan lainkah selain memperkosa anak gadis orang...?" Suara itu begitu lantang terdengar. Serempak orang-orang berewok menoleh ke arah suara itu. Wintara berdiri tenang sambil menggenggam sebilah pedang pendek. Dawuk bangun melepaskan dekapannya. Sempor bersama Dungkil masih memegangi tubuh gadis itu. Kuwusura juga ikut bangkit memandang bengis pada orang yang baru datang itu.

"Tampang kalian semua mirip perampok. Ha... ha... ha     Mustahil kalau tidak sanggup membeli seo-

rang pelacur. Ha... ha... ha...." Wintara tertawa terbahak-bahak. Kalung hitam bergerak-gerak di lehernya. Mata Dawuk terbelalak melihat liontin kepala Elang dari perak bergerak-gerak saat Wintara tertawa. Dawuk mundur beberapa langkah kembali ke tempat semula. Di luar dugaan jari telunjuknya bergerak cepat menotok peredaran darah gadis itu membuat tidak sadarkan diri. Kemudian keduanya mendekati Dawuk menghadapi pemuda itu. Wintara menyelipkan pedang pendek di balik ikat pinggangnya. Kuwusura yang merasa terganggu atas kehadiran pemuda itu langsung menyerang. Hantamannya melesat cepat. Wintara hanya menyingkir selangkah. Tangan kirinya menyodok keras.

"Buuug!" Tubuh Kuwusura terguling. Wintara memandangi tubuh Kuwusura bergulingan, padahal hantaman itu tidak begitu keras. Dawuk langsung melotot. Ia memberi aba-aba pada Dungkil dan Sempor untuk menyerang. Wintara malah maju. Kedua telapak tangannya menjurus ke depan, kemudian dua lengannya memutar mematahkan serangan Dungkil maupun Sempor. Dungkil yang semula melancarkan tinjunya jadi berbalik mundur mendapat balasan kibasan tangan Wintara. Sempor yang masih belum yakin akan kehebatan Wintara menyeruduk menyerang. Serudukannya disertai dengan beberapa pukulan yang diarahkan pada perut maupun muka. Dengan mudah Wintara menepis dan menyambutnya dengan sebuah tendangan.

"Beeeeeeg!" Sempor terlempar bergulingan. Wintara masih berdiri menghadapi mereka. Bibirnya tersenyum ke arah gadis itu. Gadis itu sebenarnya masih bisa menangkap arti senyuman itu. Hanya saja ia telah terkena totokan dari Dawuk, sehingga ia tidak dapat bergerak. Gadis itu pun sempat melihat pedang pendek terselip dalam pinggang Wintara. Dawuk, Dungkil, dan Sempor menyerang serempak. Belum sempat mereka melancarkan hantaman, Wintara mencelat ke atas.

Masih dalam keadaan di udara Wintara menghajar sekaligus mereka bertiga dengan sabetan kaki. Ketiganya bergulingan. Tubuh Dawuk menabrak Sempor. Kemudian mereka bangkit lagi.

"Mata kalian buta semua...." bisik Dawuk pada Sempor. Dungkil tidak mengerti. "Kau lihat kalung yang melingkar di leher bocah itu " bisiknya lagi. Se-

buah kalung hitam berliontin kepala Elang dari perak. Dungkil, Sempor maupun Kuwusura tersentak kaget. Kenapa bisa berada di tangan anak muda itu? Pikir mereka.

"Pusaka sudah ada di depan mata. Langsung

saja kita rebut...." Kuwusura nekad maju. Terjangannya bagai seekor banteng. Wintara yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik mereka melompat mundur, kedua kakinya hampir tidak menyentuh tanah. Dengan lentingan tubuh yang ringan, tahu-tahu Wintara sudah berada di belakang Sempor. Lalu sodokan telapak tangannya mendorong tubuh Sempor hingga terpental.

"Kalian bertiga kenapa tidak maju sekalian? Hayo maju! Jangan kasak kusuk macam anjing tumang " Wintara menantang. Dawuk jadi geram.

"Seraaaaang....!" Dawuk menerjang. Sempor bersama Dungkil juga ikut menerjang. Mereka bertiga menggempur dengan serangan-serangan dahsyat. Jotosan Dawuk hampir mengenai kepala, Wintara cepat menepak. Datang lagi tendangan dari arah kiri. Itu pun nyaris menghantam perutnya. Sempor menyerang dengan dua pukulan beruntun. Kaki Wintara naik ke atas menangkis, lalu maju ke depan menghajar pinggang Dungkil. Terlempar masuk ke dalam semak-semak. Dawuk melompat dengan teriakan nyaring menyerang, Sempor melayangkan tinjunya. Tetapi gerakan Wintara lebih cepat lagi, begitu habis menendang, tubuhnya terus memutar. Loncat menjauh menghindari dua sergapan itu. Dawuk dan Sempor seperti sadar dari mimpinya. Serempak mereka membalikkan tubuhnya.

Dari dalam semak-semak Dungkil muncul membantu dua orang temannya. Kemunculan Dungkil mengejutkan Wintara. Kalau saja Wintara kurang awas. Tentunya hantaman yang dilancarkan Dungkil membuatnya terdorong atau terbanting. Kuwusura berusaha bangkit walaupun masih dalam keadaan sempoyongan. Ia melihat ketiga temannya susah payah menghadapi pemuda itu.

"Plaaaaak!" Wintara berhasil menghajar punggung Dawuk. Sempor membalas dengan tendangan, tapi meleset menyerempet baju dari kulit binatang yang dikenakan Wintara. Cepat Wintara menghantam kaki Sempor dengan pukulan karate. Sempor terguling. Kuwusura tidak berani maju. Dawuk masih memegangi punggungnya yang terasa nyeri.

"Munduuuuur……!" Dawuk memberi perintah. Seperti biasa, ia lari paling dulu Sempor dan Dungkil langsung berjingkat menyusul. Kuwusura paling belakangan. Wintara berdiri tenang memandangi keempat orang berewok yang lari terbirit-birit. Apalagi melihat langkah-langkah Kuwusura yang terpincang-pincang.

*

** 6

Wintara memalingkan wajahnya saat ia melihat tubuh gadis itu tergeletak telentang di atas tanah berumput. Bagaimana tidak. Kulit dada yang putih mulus terbuka lebar dari balik bajunya yang terkoyak. Tidak pantas seorang pendekar sejati menatap pemandangan semacam itu. Kasihan. Gadis itu betul-betul tak dapat bergerak. Mengeluarkan suara saja tidak mampu. Dengan sedikit kikuk Wintara menghampiri tubuh ramping itu, si gadis menatap dengan sorot mata yang penuh amarah. Wintara membuang muka lagi. Jari telunjuk dan jari tengahnya menyatu lurus. Ia memberanikan diri menyentuh kulit dada dengan kedua jarinya itu. Merayap perlahan sampai pada selasela dua bukit yang menonjol di bagian dada yang putih halus. Wajah gadis itu merah padam. Di luar dugaan Wintara cepat menotok di bagian itu. Si gadis tersentak. Terbebas dari totokan, telapak tangannya re flek melayang menyambar pipi Wintara. Pedas juga tamparan itu. Cepat Wintara melompat mundur. Ia mengerti perasaan gadis itu.

Sebenarnya si gadis pun mengerti apa yang dilakukan Wintara terhadap dirinya. Tidak ada maksud apa-apa selain membebaskan totokan Dawuk. Tamparannya hanya spontanitas yang terpaksa di luar pikirannya. Wajahnya masih merah padam, tangannya pun cekatan membetulkan baju yang terkoyak itu.

"Manusia kurang ajar...! Aku sudah berjanji akan membelah kepalamu. Sekarang malah berani menunjukkan diri   " kata gadis itu dengan muka yang

memerah. Wintara tidak menyahut. Ia mencabut pedang, pendek dari pinggangnya, kemudian ia melemparkannya ke hadapan si gadis itu. Lain berkata...

"Itu milikmu..... Kutemukan tergeletak di tengah jalan...." Wintara beranjak meninggalkan si gadis. Gadis itu melompat menghadang langkah-langkah Wintara. Ujung pedang yang tajam dingin menempel di dada Wintara. Wintara tidak bereaksi....

"Nona.... Anggap saja perselisihan kita di Wadaslintang hanya persoalan kecil. Aku pun sudah melupakannya. Bahkan sudah tidak ingat lagi. Sekarang kita bertemu. Aku mempunyai kesan bahwa kau adalah seorang pendekar yang sangat hebat...." kata Wintara tenang.

Gadis itu menatap tajam ke wajah Wintara. Tangannya yang menggenggam pedang di tarik perlahan. Setelah memasukan pedang pendek ke dalam sarungnya, ia mengambil sesuatu dari balik ikat pinggang. Sekeping uang emas.

"Tolong belikan aku pakaian. Dan secepatnya bawa ke mari...." Selintas Wintara teringat Raden Sintoro Tinggil yang menunggunya di jalan besar. Ingat pula dengan perbekalan yang dibawa oleh orang kaya itu. Mustahil kalau Raden Sintoro Tinggil tidak membawa bekal pakaian. Maka....

"Uang sebesar itu tidak mungkin akan ada kembalinya, simpan saja. Dan tunggu aku di sini "

Wintara beranjak, langkahnya setengah berlari. Ke luar hutan dan menerobos hamparan alang-alang nan luas. Kereta kuda masih menunggu di sana. Begitu juga Raden Sintoro Tinggil. Ia masih nangkring di atas kursi kereta. Ia berkedip ketika dilihatnya Wintara berlari mendekatinya. !

"A-a-ada apa, anak muda " tanyanya gagap.

"Maaf, Raden.... Apakah Raden membawa pakaian salin?" kata Wintara begitu mendekati kereta kuda.

"Bawa...." jawabnya cepat sambil menoleh ke

belakang, pandangannya tertuju pada sebuah buntalan besar.

"Kalau boleh, saya pinjam dulu satu pasang. Bukan buat saya, tapi...." Wintara tidak berani meneruskan kata-katanya.

"Aaaah... Buat siapa pun tidak jadi masalah. Aku tahu! Pasti untuk menolong seseorang. Iya kan? He... he... he Kau boleh ambil sendiri dalam bunta-

lan itu..... Ambillah.."

Maaf. Kata itulah yang keluar dari mulut Wintara sebelum membuka buntalan kain yang ada di belakang kereta.

Gadis itu masih berdiri menanti kedatangan Wintara. Sebentar-sebentar ia menoleh ke hamparan alang-alang. Kedua tangannya melipat di atas dada. Udara di sekitar hutan memang menyegarkan, kicauan burung tidak henti-hentinya bersahutan. Sayup-sayup terdengar pula suara riak air kali Progo. Ia tersentak ketika langkah-langkah Wintara kembali menemuinya.

"Pakailah. Mungkin kebesaran. Karena tubuh Raden Sintoro Tinggil memang gemuk. Maaf aku tidak tahu warna kesukaan mu...." Wintara melempar satu pasang pakaian berwarna biru muda. Gadis itu menangkapnya dengan sebelah lengan. Alisnya mengernyit. Raden Sintoro Tinggil? Mengapa kebetulan sekali ia menjumpai orang-orang yang tadi berada di Wadaslintang? Ah! Masa bodoh... Yang penting sekarang ia sudah mendapatkan sepasang pakaian.

"Dasar kurang ajar! Tunggu apalagi? Mau lihat aku tukar pakaian?" Gadis itu setengah membentak. Wintara jadi salah tingkah.

"Bu-bukan...! Aku tidak bermaksud ke situ. Aku mau tanya.... Kemanakah tujuan Nona sebenarnya? Nona bisa menumpang di kereta Raden Sintoro Tinggil  " tukas Wintara. Gadis itu melotot.

"Mau tahu urusan orang Dasar culas!"

"Kalau begitu.... Aku permisi. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi " Setelah berkata begitu, Winta-

ra bergegas pergi meninggalkan gadis itu sendirian.

*

**

"Kang...! Kang Dawuk.... Tungguuuuu!" Kuwusura berlari menyusul ketiga sahabatnya. Meski pun dengan terpincang-pincang larinya cepat sekali. Masih bisa melompat batu-batu terjal yang menghadang.

"Kangggg. Tungguuuuuuu!"

Dawuk tidak perduli dengan teriakan-teriakan Kuwusura. Larinya semakin cepat. Dungkil dan Sempor setengah mati mengimbangi. Sebenarnya mereka kasihan melihat Kuwusura yang berlari jauh tertinggal....

"Kang....! Sudah sejauh ini kita berlari...!" Kenapa belum juga berhenti...!" teriak Dungkil.

"Tidak ada waktu lagi... Kita harus cepat menemui Ki Randaka sekarang juga...! Sebaiknya kalian tidak perlu ikut....! Awasi saja ke mana perginya pemuda sial itu,...!” jawab Dawuk dari kejauhan. Hebat! Dawuk pemimpin begal Singa Kali Progo punya rencana lain. Ada rasa khawatir yang membebani pikiran mereka. Takut kalau-kalau KI Randaka tidak akan menerima kehadirannya. Atau menghajar habishabisan.

Sebentar saja Dawuk sudah hilang dari pandangan mereka. Menyusuri sepanjang pinggiran kali lebih mudah untuk menemukan Ki Randaka. Dawuk berharap masih bisa menemuinya. Makanya larinya makin cepat laksana kijang. Kadang-kadang pula ia harus meloncat mempercepat langkahnya. Sekali lompatannya hampir mencapai sepuluh meter. Berlari dan melompat. Begitu terus tanpa mengenai lelah. Hatinya cukup tenang ketika dari jauh ia melihat sebuah perahu dengan layar terkembang. Melaju mengikuti arus air kali. Saking gembiranya ia tidak memperhatikan tanah becek yang diinjaknya, ia pun tergelincir hampir nyemplung ke kali. Dawuk bangun lagi kemudian melanjutkan larinya.

"Ki Randakaaaaaaa.....!" Teriakannya nyaring bergema. Lelaki tua yang berdiri mengendalikan haluan menoleh mendengar teriakan yang bergema itu. Ia melihat sosok tubuh berlari kencang berusaha menyusul. Sosok bayangan itu begitu kecil, sehingga sukar untuk mengenali siapa orang tersebut...

"Wagunkah....?" terkanya dalam hati. Ki Randaka memutar layar agar laju perahunya sedikit berkurang. Ia sengaja menanti orang yang berusaha menyusulnya. Kalau Wagun atau Sambali kenapa ia harus tidak memakai baju? Lagipula seluruh muka orang itu nampak hitam pekat dari kejauhan. Setelah agak mendekat barulah ia tahu warna hitam pekat itu wajahnya itu berewok yang sangat lebat. Pasti salah satu anggota Singa Kali Progo, pikir Ki Randaka. Memang betul. Dawuk terengah-engah dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya, Ki Randaka memandang penuh keheranan.

"Cari mampus! Berani benar kau menghadang jalanku "

"Maaf, Ki Randaka.... Izinkanlah aku bicara sebentar saja " "Soal apa...?" tanya Ki Randaka.

"Pusaka Elang...." jelas Dawuk dengan nafas ngos-ngosan. Bagai disambar petir Ki Randaka mendengar ucapan Dawuk.

"Mana pusaka itu...! Mana...!" Ki Randaka gu-

sar.

"Ada pada seorang yang sadis dan kejam Aku

sendiri melihat saudara Wagun dan Sambali dibunuhnya "

"Bangsat! Kraaaak...!" Ki Randaka menghajar hancur kayu haluan. Sekonyong-konyong tubuhnya melesat berputar di udara, kemudian hinggap di hadapan Dawuk. Langsung mencengkeram leher Dawuk.

"Di mana manusia jahanam itu. Cepat    Kata-

kan!" Ki Randaka murka sekali. Ia mengguncangguncangkan leher Dawuk yang hampir tidak bisa bernafas.

"Tidak ada yang bisa mengalahkan dia. Kelompok kami pun tidak dapat mengatasinya " Suara Da-

wuk hampir hilang. Cengkeraman Ki Randaka mengendur.

"Bagaimana kau bisa tahu pusaka Elang ada di tangannya!" Ki Randaka membentak.

"Dikenakannya sebagai kalung dengan seutas tali hitam!" Jawab Dawuk cepat. Cengkeramannya terlepas. Ki Randaka ingat betul ketika ia mengikat pusaka Elang dengan tali hitam. Juga membungkus pusaka itu dengan kain hitam, lalu dengan sengaja ia mengenakannya pada seekor anjing yang ikut bersama Adinaya bersama istrinya membawa pusaka Elang ke Gerongsewu. Pasti orang itu pula yang telah membunuh Adinaya bersama istrinya, dan sampai tega pula menghancurkan kepala anjing yang mengenakan kalung itu, Keparat! Gerutu Ki Randaka.... "Antar aku ke sana...! Orang itu harus bertanggung jawab atas kematian orang-orang Elang Perak. Dan pusaka Elang harus kembali berada dalam tanganku "

"Tenang... Tenang.... Tiga anak buahku tengah menguntit perjalanannya...." kata Dawuk menenangkan suasana. Dawuk berjalan di depan, keringatnya masih membanjir di sekujur tubuhnya. Wajah yang ditumbuhi janggut yang lebat mencereng terkena sinar matahari.

*

**

Bulan bersinar penuh menerangi desa terpencil yang jauh dari Wadaslintang. Beberapa gubuk terdapat di situ dengan jarak yang berjauhan terhalang semaksemak. Sebuah jalanan selebar hampir tiga meter menghubungi dari gubuk ke gubuk. Desa yang sunyi sepi, dengan keheningan malam yang diterangi rembulan. Padahal hari masih sore, tapi para penduduknya jarang ada yang keluar.

Sebuah kereta kuda tertambat di samping gubuk yang diterangi lampu obor. Di depan gubuk itu terdapat sebuah balai. Di atasnya terbaring sosok tubuh gemuk seorang lelaki. Nampaknya telah tertidur pulas. Di halaman gubuk banyak bertumpuk batubatu kali yang besarnya tidak beraturan. Seorang lelaki muda duduk pada tumpukan batu tersebut. Sambil menatap ke langit memandangi bulan yang bergeser sedikit demi sedikit. Ia menghirup udara malam dalam-dalam.

Pemilik gubuk ke luar membawa sepiring makanan dan meletakkan di atas balai yang cukup besar, lalu ia ke luar menemui pemuda itu.

"Den.... Dimakan dulu singkong rebusnya. Maklum saja, Aki tidak punya apa-apa...." Pemilik gubuk menyentuh baju bulu pemuda yang duduk di atas bebatuan. Pemuda itu tersenyum, ia mengikuti langkah orang tua si pemilik gubuk. Sampai di teras gubuk, ia membangunkan lelaki gemuk yang tertidur pulas di atas balai. Lelaki gemuk itu menggeliat.

"Raden.... Kopinya hampir dingin sebaiknya diminum saja..... Biar tidak ngantuk "

Orang yang disebut Raden menguap lebar. Matanya masih sepat. Lesu ia menyambar gelas berisi kopi yang sejak tadi berada di atas balai. Dihirupnya sampai tinggal tiga perapat gelas.....Ahhhhhh. Nik-

mat meskipun sudah terlanjur dingin. Tiba-tiba....

"Hieeeeeeeee...!" Dua ekor kuda yang tertambat di samping gubuk meringkik nyaring. Ketiga orang berada dalam teras gubuk tersentak. Pemuda itu lari ke samping. Kuda-kuda itu diam kembali setelah dielus-elus. Lalu mengawasi sekitar tempat itu. Gampang saja! Karena malam itu terang bulan. Pemuda itu melihat sosok tubuh ramping berjalan perlahan dengan langkah-langkah yang gagah. Hm... Gadis itu lagi Pikirnya.

"Nona, sudah tiga kali ini kita bertemu    Pasti-

lah tujuan kita sama, Nona ingin ke Gerongsewu, bukan....?" Pemuda itu langsung menegur. Tapi wanita muda itu terus melangkah.

"Kalau bakal ketemu di sini, menyesal aku tidak mengajakmu menumpang di kereta milik Raden Sintoro Tinggil "

Gadis itu tetap acuh. Kata-kata pemuda itu tidak dihiraukan sama sekali. Ia melangkah terus menuju gubuk yang masih terang. Ia melihat dua orang lelaki. Yang satu pendek gemuk yang pernah ditemuinya di Wadaslintang, satu lagi bertubuh kurus. Pakaiannya pun nampak lusuh dan kumal, Pastilah ia pemilik gubuk ini, pikirnya. Tanpa menoleh ke arah Raden Sintoro Tinggil ia mendekati pemilik gubuk.

"Maaf, Ki    Malam ini aku bermaksud menum-

pang beristirahat di sini...." kata gadis itu tanpa raguragu. Orang tua itu tidak langsung menjawab. Ia sendiri hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang gadis cantik berpakaian serba biru muda, bermaksud beristirahat di gubuknya. Baru kali ini ia kedatangan tamu-tamu yang sangat ganjil. Apakah ini alamat akan mendapat rezeki?

"Aki tidak perlu repot-repot melayani saya, cukup saya beristirahat di luar " kata gadis itu lagi.

"Ah.... Mana bisa begitu.... Pantangan bagi seorang perempuan tidur di luar. " sergah Raden Sintoro

Tinggil.

"Terima kasih atas pinjaman sepasang baju ini, Raden.... Kapan-kapan akan saya kembalikan..." jawab gadis itu lain. Raden Sintoro Tinggil menunduk malu. Pemilik gubuk memandang keduanya. Wintara sudah ada di situ.

"Benar kata Raden Sintoro Tinggil itu, Nona....

Gubuk ini memang kecil, tapi sepuluh orang macam Nona masih bisa menampung." kata pemilik gubuk itu. "Justru kalau nona tidur di luar, saya tidak akan mengijinkannya...." katanya lagi. Gadis itu tersenyum. Ia mengambil sekeping uang emas dari balik bajunya. Lalu...

"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih. Ambillah ini sebagai oleh-oleh dari saya. Ayo..." Gadis itu menarik lengan kurus si pemilik gubuk, lalu meletakkan uang emas itu ke dalam telapak tangan yang gemetar. Seperti terbangun dari mimpi orang tua itu membuka telapak tangan yang semula tergenggam. Matanya melotot menatap kepingan uang logam berwarna keemasan.

"Aduuuh.... Orang-orang desa ini tidak percaya saya memiliki uang sebanyak ini, Nona...." Pemilik gubuk malah ketakutan "Saya tidak bisa menerimanya...." katanya lagi sambil mengembalikan uang emas itu.

"Kenapa musti bingung-bingung. Aki bagikan saja orang-orang kampung sini, tentunya mereka akan senang. Dan katakan pada mereka bahwa Aki menemukan uang itu. Kan beres..."

Orang tua kurus itu mengangguk-angguk perlahan. Lalu ia masuk ke dalam menaruh uang logam itu. Si gadis hanya mengawasinya, sebentar kemudian ia ke luar dengan kedua tangan melipat di dada. Pandangannya menatap ke atas. Wintara melangkah perlahan mengikuti gadis itu yang sudah berdiri dekat tumpukan-tumpukan batu kali. Berat sekali ia mengeluarkan kata-kata.

"Janggal rasanya kalau kita tidak saling berkenalan, Nona... Namaku Wintara.... Siapakah kiranya Nona ini? Aku sampai di sini hanya mengantar Raden Sintoro Tinggil ke Gerongsewu. Nona juga mau ke sana, kan?" kata Wintara memberanikan diri.

"Pintar juga akalmu.... merasa punya keberanian tinggi, pura-pura mengantarkannya. Padahal ingin menguras seluruh isi kantong Raden Sintoro Tinggil yang terkenal banyak uang " jawab Gadis itu.

Wintara hanya senyum mendengarnya, lalu....

"Bukan aku yang menawarkan mengantar Raden Sintoro Tinggil, tapi dia sendiri yang meminta. Malah tadinya ia ingin membayar mahal tapi dengan tulus aku menolak " jelas Wintara. Gadis itu menoleh.

"Begitu berani kau pergi ke Gerongsewu dengan memamerkan pusaka Elang, betul-betul tidak tahu penyakit "

Wintara kaget setengah mati, jantungnya bagai disiram air panas. Ternyata gadis yang selama ini tiga kali bertemu, tahu adanya pusaka yang melingkar di leher Wintara. Wintara langsung mengusap benda itu.

"Apakah kau juga ingin merebut pusaka ini. Sudah banyak orang yang menginginkannya...." kata Wintara polos.

"Aku tidak tertarik dengan segala benda pusaka. Buat apa? Kalau nantinya menjadi malapetaka. Betul! Aku akan ke Gerongsewu... Hanya untuk mencari seorang pembunuh " Kata gadis itu lirih.

"Pembunuh ?"

"Yah. Pembunuh Ayahku...." jawabnya cepat. "Salah seorang dari orang-orang yang akan mengikuti pertemuan adalah pembunuh Ayahku!" katanya lagi.

"Siapakah nama Ayahmu. Itu pun kalau boleh kutahu " tanya Wintara.

"Kau akan mati berdiri bila mendengarnya "

"Katakanlah "

"Lungo Paksi!" jelas sekali sebutan nama itu. Astaga, Ternyata gadis cantik ini putri seorang tokoh kosen yang termasyur dalam rimba persilatan. Pantas.... Pantas... Ia pun memiliki ilmu yang tinggi pula seperti ayahnya. Hanya sayang ia masih terlalu muda.

"E-e Nona "

"Jangan pangil aku dengan sebutan itu lagi. Namaku Tari Wening Asih.... Atau Tari Wening singkatnya "

Tari Wening Asih.... Tari Wening      Wening

Asih.... Tari.... Ah apa kira-kira yang cocok untuk sebutan gadis secantik itu? Wintara masih mencari-cari. "Mereka mengkhianati Ayahku. Dengan tudu-

han telah bersekongkol pada orang-orang yang berdiri di deretan aliran hitam. Sekali pun benar, mereka tidak perlu membunuhnya dengan cara keji. Paling tidak menghukumnya secara adilnya hukum persilatan aliran lurus. Mereka menyeretnya sampai ke Gerongsewu. Salah seorang dari mereka telah menewaskan Ayahku dengan sebuah pukulan Telapak Tangan Hitam. Selain itu, tidak ada lagi tanda-tanda bekas pukulan atau pun pembunuh Ayahku. Beberapa hari lagi mereka akan berkumpul di Gerongsewu, untuk mengikuti pertemuan yang diadakan tiap tiga tahun sekali..." "Pertemuan...? Pertemuan untuk mengadu kepandaian ilmu....?" tanya Wintara ingin tahu. Hampir saja kedua tangannya menyentuh tubuh gadis itu yang berdiri membelakanginya. Untung saja Wintara cepat

sadar dari ketololannya.

*

* *

7

"Wuaaaaaa...! Toloooooong...! Tolooooong...!" Raden Sintoro Tinggil menjerit-jerit histeris. Pemilik gubuk cepat ke luar. Begitu juga Wintara dan Tari Wening Asih, keduanya segera melompat ke arah teriakan itu. Nampak Raden Sintoro Tinggil setengah tertidur meronta-ronta. Lengan kanannya terangkat menempel pada dinding kayu. Sebatang anak panah menembus lengan baju sampai ke dinding kayu.

"Lenganku...! Lenganku !" Wintara menarik anak panah itu, cukup keras juga menembus ke dinding kayu. Sebatang anak panah yang sama seperti yang didapat di desa Wadaslintang. Sebelum mencabutnya Wintara sudah melihat gulungan kertas mengelilingi batang anak panah itu. Wintara tidak memperdulikan Raden Sintoro Tinggil maupun orang lain yang berada di situ sekalipun pada Tari Wening Asih. Ia langsung membaca isi surat itu....

Serahkan pusaka Elang pada kami.

Jangan coba-coba menolak, bila kepala kalian ingin menggelinding ke tanah...

Wintara diam lalu menyerahkan kertas itu pada Tari Wening Asih yang segera langsung membacanya. Raden Sintoro Tinggil masih gemetaran ketakutan. Sekalipun yang ditembus batang anak panah itu hanya lengan bajunya. Pemilik gubuk juga nampak ketakutan "Tenang... tenang, Ki.... Aki tidak perlu takut.

Lagipula Aki tidak akan terlihat dalam urusan ini   "

kata Tari Wening Asih membujuk.

"Bagaimana Aki bisa tenang, Non.... Coba saja lihat Orang kaya itu hampir saja dia terbunuh di si-

ni " kata si pemilik gubuk gemetar.

"Percayalah.... Kami akan melindungi Aki juga orang kaya itu." Tari Wening Asih menunjuk ke arah lelaki gemuk yang duduk merungkut.

Anak panah masih dalam genggaman Wintara, ia ke luar gubuk dengan perasaan yang tidak habis pikir. Wintara menuju pada tumpukan batu kali, lalu ia duduk di pinggirannya. Sebenarnya ia ingin menyerahkan pusaka itu pada si pemanah misterius. Tapi apakah betul orang itu pemiliknya? Bagaimana kalau bukan? Tentunya akan lebih parah lagi.... Wintara tidak takut pada ancaman yang tertulis dalam gulungan kertas yang barusan dibacanya. Jangankan hanya sebuah ancaman, tantangan pun pasti akan ia hadapi. Tapi ini soal lain. Soal pusaka. Wintara sendiri tidak tahu milik siapa pusaka yang tergantung di lehernya ini. Ini yang membuat Wintara tak habis pikir. Dan merasa terlibat. Dua kali Raden Sintoro Tinggil nyaris membuang nyawa. Kenapa harus sasarannya Raden Sintoro Tinggil? Bukan kepada dirinya yang mengenakan kalung hitam berliontin kepala Elang sebesar telapak tangan. Kenapa? Dan berkali-kali hanya nyaris merenggut nyawa Raden Sintoro Tinggil. Raden Sintoro Tinggil hanya seorang saudagar kaya yang tidak tahu apa-apa soal pusaka Elang. Kenapa ia harus terlibat. Apakah lantaran ia dekat dengan Wintara....? Wintara makin tidak mengerti. Ada penyesalan sewaktu ia mengambil kalung hitam dari orang yang sudah tak bernyawa. Yang ditemukannya di pinggiran kali Progo.

"Win...." Terdengar suara halus menegurnya. Wintara tahu itu suara Tari Wening Asih. Tapi Wintara tetap tidak mau menoleh. Ia semakin hanyut dalam pikiran yang datang bertubi-tubi merumit. Wintara memejamkan matanya. Dirasakannya jemari lentik Tari Wening Asih. Wintara tetap tidak menoleh.

"Aku tidak tahu pusaka ini milik siapa...! Aku hanya menemukannya di pinggiran Kali Progo pada seorang yang sudah tidak bernyawa !" Wintara seten-

gah berteriak. Tari Wening Asih memandangi wajah Wintara.

"Menemukan secara tidak sengaja. Itu sudah berarti pusaka itu telah menjadi milikmu mutlak!" kata Tari Wening Asih. Baru dirasakan oleh Wintara katakata yang begitu lembut keluar dari mulut seorang wanita yang diduganya tinggi hati. "Tapi pusaka ini bukan milikku yang semestinya. Aku tidak tahu ke mana pusaka Elang ini mesti kubawa dan kuberikan pada siapa...?" kata Wintara dengan nada menyesali.

"Baru kali ini kulihat seorang pendekar kesatria bertingkah cengeng. Baru menghadapi surat ancaman saja, sudah belingsatan "

Mendengar ucapan itu, Wintara langsung mematah belahkan anak panah yang tergenggam. Wintara tidak tersinggung atas kata-kata Tari Wening Asih. Tapi Wintara berpendapat gadis cantik itu justru tidak tahu apa yang ia pikirkan saat itu. Patahan-patahan anak panah itu dilemparkan demikian kencang sembarangan, tapi.....

Beberapa jeritan terdengar panjang. Dari semak-semak yang merimbun bergulingan tiga sosok tubuh memegang busur berkelojotan dan kemudian kaku tak berkutik. Masing-masing kepalanya menancap sebuah bekas patahan-patahan batang anak panah yang barusan dilemparkan oleh Wintara. Wintara sendiri jadi terpana menyaksikannya. Tari Wening Asih lain lagi. Ia segera memperhatikan seluruh semaksemak merimbun yang berada di situ. Segerombolan semak bergoyang. Tari Wening Asih melompat ke atas gundukan pada tumpukan batu-batu kali. Secepat kilat ia menendang batu yang paling menonjol.

"Weeessss!" Batu itu melesat ke arah semaksemak yang bergoyang tadi. Sesosok tubuh keluar dari situ dengan jeritan yang hebat. Busur panah terlempar. Sedangkan pemiliknya sudah terkapar dengan kepala hancur.

"Kita sudah terkurung...." bisik Tari Wening Asih. Sudah tentu bisikannya tertuju pada Wintara. Wintara memandang ke arah gubuk. Raden Sintoro Tinggil sudah tidak ada di situ. Mungkin ia telah masuk ke dalam gubuk. Syukurlah di dalam gubuk tentunya ia akan aman.

Tari Wening Asih menendangi setiap batu dalam tumpukan itu. Semua tendangannya terarah pada semak-semak yang ada di situ. Namun tidak ada jeritan satu pun dari hasil tendangan-tendangan batu itu. Sungguh tenaganya terbuang percuma. Tapi ia cukup puas. Itu berarti pasukan pemanah sudah tidak ada lagi di sekitar situ. Wintara berlari memasuki gubuk itu. Perlahan ia membuka pintu kamar. Dilihatnya Raden Sintoro Tinggil sudah tertidur lelap bersama pemilik gubuk dalam satu balai. Wintara menghela nafas, kekhawatirannya sirna. Selagi Wintara masuk ke dalam gubuk, Tari Wening Asih berjaga di luar. Benarbenar sunyi..... Tapi bukan berarti mereka masih bisa beristirahat dengan tenang. Satu detik saja mereka lengah, barangkali serangan semacam tadi akan datang lagi.

"Benar katamu, Tari " kata Wintara sambil ke

luar kamar. Tari Wening Asih menoleh ke arah suara itu.

"Aku khawatir Raden Sintoro Tinggil dan pemilik gubuk ini akan menjadi korban " Sambungnya la-

gi. Ia menghampiri gadis itu.

"Kenapa musti takut? Kalau tadi pasukan pemanah mau membunuh mereka, tentunya mereka sudah menyerang dari tadi...." Pendapat gadis itu. Lalu keduanya terdiam. Masing-masing dalam kebisuannya. Suasana makin sunyi. Bulan di atas sana masih menerangi desa terpencil itu, meski dengan sinar yang redup. Berjalan merambat menelusuri sang waktu...

* * * Sinar matahari menyilaukan mata Tari Wening Asih yang tertidur memeluki kedua lututnya di atas balai. Tubuhnya bersandar pada dinding kayu. Telinganya dibisingkan oleh suara batu-batuan yang beradu sangat keras. Cepat ia menoleh keluar. Nampak Wintara mengumpulkan kembali batu-batu kali yang berantakan bekas semalam. Dengan malas Tari Wening Asih menggeliat bangun.

"Tadinya aku yang akan membereskan batubatu itu. Ah.... Kenapa aku jadi terlambat bangun "

kata gadis itu sekedar basa basi.

"Sekarang sudah beres....! Mau apalagi....?" jawab Wintara sambil mengumbar senyum.

"Paling tidak mengucapkan terima kasih "

Gadis itu menggeliat lagi melemaskan seluruh ototototnya. Kemudian ia ke luar dari teras gubuk.

"Bagaimana dengan Raden Sintoro Tinggil....

Apakah dia sudah bangun...?" tanya Wintara sambil meletakkan batu yang terakhir.

"Entahlah.... Sejak aku bangun dengkurnya masih kedengaran." jawab Tari Wening Asih sambil melangkah ke samping gubuk. Ia menuju surau. Air pancuran terdengar gemericik. Wintara membetulkan letak batu yang hampir menutupi empat mayat tersebut dengan tikar bekas alas balai. Sudah dari tadi ia menunggu pemilik gubuk itu keluar. Maksudnya agar minta pertolongan pada orang-orang kampung untuk menguburkan mayat-mayat itu sebagai mana mestinya. Biasanya orang-orang kampung bangun lebih awal sebelum matahari terbit. Aneh.... Apakah mereka tidak mempunyai kesibukan sehari-hari.... Paling tidaknya mereka ke sawah atau mengambil air. Ini Tidak! Pintu gubuk berderit, lalu terkuak lebar. Muncul Raden Sintoro Tinggil dengan muka masam. Ia mengucek-ucek matanya yang masih terasa perih karena kurang tidur. Tak lama kemudian pemilik gubuk ke luar menyusul. Tenang pikiran Wintara, ia langsung menemui pemilik gubuk itu.

"Ki, tolong minta bantuan pada orang-orang sekitar sini untuk menguburkan empat mayat itu " ka-

ta Wintara sambil menunjukkan ke tumpukkan batubatu kali. Raden Sintoro Tinggi dan pemilik gubuk melihat empat mayat terbujur kaku ditutupi dengan selembar tikar.

"Se-se-semalam ada serangan lagi...?" kata pemilik gubuk itu.

"Semuanya pasukan pemanah.... Entah dari partai mana !" kata Wintara tegas. Pemilik gubuk jadi

kikuk. Tapi ia melangkah dengan ragu-ragu meninggalkan gubuknya untuk meminta bantuan. Desa terpencil itu hanya terdapat beberapa gubuk. Semuanya dapat dihitung dengan jari. Jaraknya berjauhan. Ada kira-kira tiga puluh meter. Setengah berlari orang tua itu menuju salah satu gubuk yang paling dekat dengan gubuknya. Dari kejauhan nampak gubuk yang ditujunya begitu sepi.

"Go.... Wanggo....! Aih... apa sudah pada be-

rangkat ke sawah..... Go..... Wanggo   "

Orang itu memperhatikan keadaan muka gubuk. Pintunya memang terbuka sejak tadi. Makanya ia masuk saja. Baru ia melangkahi pintu, mata serta mulutnya terbuka lebar. Teriakannya parau terdengar menyeruak.

"Arghhhhhht...!" Bagai terpaku ia tidak bisa bergerak. Di hadapannya telah bermayat Wanggo beserta istri dan sanak saudaranya. Berikut kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Wanggo terlentang menindih mayat istrinya dengan empat batang anak panah menembus di bagian punggung dan perut. Istrinya sendiri mati dengan rongga mata yang hancur tertembus anak panah. Salah seorang saudara lelaki Wanggo kepalanya hilang. Dua anaknya yang masih kecil-kecil mati berpelukan dengan mulut berlumuran darah. Hampir seluruh ruangan itu berhamburan anak-anak panah. Orang tua itu bergidik, kedua kakinya gemetar. Susah sekali ia beranjak dari situ. Setelah ia tersadar barulah ia melangkah mundur. Kemudian berlari dengan muka yang pucat biru. Kedua langkahnya tersaruk-saruk menyusuri jalan itu lagi. Jalan yang penuh bertebaran dengan batu-batu kerikil tajam.

Tiga orang telah berdiri dekat tumpukan batu. Menatap aneh pada orang tua yang berlari-lari mendekati mereka. Seraut wajah pucat dan penuh ketakutan..

"Mereka.... Mereka.... Mereka tewas.... Se.....

Arghhhhhhhht!" Teriakannya terputus. Orang tua itu jatuh tersungkur. Pada punggungnya tertancap sebatang anak panah. Ketiga orang yang berdiri di samping tumpukan batu mundur keheranan. Wintara dan Tari Wening Asih langsung memeriksa pemilik gubuk yang sudah terkapar tak bernyawa.

"Keparat... Rupanya desa ini telah terkurung oleh pasukan-pasukan pemanah...!" Tari Wening Asih mengawasi seluruh pohon-pohon dan semak-semak belukar. Tiba-tiba matanya yang jeli menangkap sesuatu, maka....

"Wintara, awaaaaaaas....!" Ia melompat sambil mencabut pedang pendek dari pinggangnya. Belasan anak panah menghujani mereka, Wintara juga melompat menghindar sembari melindungi Raden Sintoro Tinggil. Tari Wening Asih memutar pedang pendeknya berkelebat bagai lingkaran kilat. Belasan anak panah itu yang belum sampai mengenai sasaran patah dua semua. Teriakan gadis itu melengking tinggi menyambut hujan panah yang tidak pernah habis-habisnya. Tubuhnya yang ramping melesat ke udara berjumpalitan. Pedangnya terus ber-putar mematah belah serangan yang dilancarkan oleh pasukan pemanah. Lengan kirinya sibuk menangkapi batang anak-anak panah yang masih melesat. Setelah berjumpalitan beberapa kali tubuhnya hinggap di atas tumpukan batu kali. Lengan kirinya yang banyak menggenggam anak panah dilemparkan ke arah asalnya, maka terdengar beberapa jeritan disertai dengan jatuhnya beberapa tubuh dari atas pohon, Satu, dua, tiga, empat... enam, tujuh Semuanya tujuh orang. Mereka tewas seketika

oleh lemparan Tari Wening Asih.

Di halaman gubuk yang luas itu banyak ditumbuhi pepohonan besar berdaun lebat. Pasukan pemanah memilih medannya di atas pohon sana, bersembunyi di balik dedaunan. Bisa juga di balik rimbunnya semak-semak.

Raden Sintoro Tinggil di belakang Wintara sambil memegangi dengan tangan gemetar. Beberapa anak panah mulai menyerang. Kali ini dari sebelah kanan dari balik semak-semak. Lima batang anak panah tidak berhasil mengenainya. Karena sabetan tangan Wintara begitu cepat membuat kelima batang anak panah itu mencelat menancap pada tiang kayu. Lima orang ke luar dari semak-semak siap mengarahkan anak panahnya lagi. Wintara hanya menunggu. Ia tidak dapat berbuat banyak selain melindungi Raden Sintoro Tinggil. Anak panah itu belum sempat melesat. Tari Wening Asih yang melihat Wintara terdesak langsung menendangi tumpukan batu yang diinjaknya. Lima tendangan berturut-turut tepat mengenai empat orang itu sekaligus. Yang seorang lagi berhasil menghindar... dan berusaha meloncat ke atas hinggap pada cabang pohon didekatnya. Gadis itu menendang sekali lagi.

"Weess...! Buug...!" Batu itu menghantam keras dada orang itu. Lalu jatuh dengan kepala lebih dulu menyentuh tanah. Tari Wening Asih menoleh Wintara melemparkan senyum.

"Jangan marah. Nanti aku yang membereskannya kembali." katanya. Wintara nyengir.

"Raden.... sebaiknya sembunyi dalam gubuk. Biar mereka cepat ku atasi...." usul Wintara. Raden Sintoro Tinggil cepat beranjak masuk ke dalam gubuk. Dua batang anak panah melesat ke arah tubuh lelaki gemuk itu. Wintara dapat melihat, maka cepat ia menepakan tangannya. Dua anak panah itu menancap di atas tanah. Merasa tidak ada yang perlu dilindungi, Wintara melompat. Sekali hentakan saja, tubuhnya sudah melesat cepat hinggap di atas pohon. Astaga...! Pantas anak panah mereka tidak pernah habis. Di atas pohon itu ia menemukan kurang lebih sepuluh orang pemanah dengan perlengkapan yang sangat banyak. Dalam keadaan yang dipenuhi dengan dedaunan, mana sempat mereka dapat melihat kedatangan Wintara yang sangat cepat itu. Dengan begitu Wintara mudah menghajar mereka. Sekali hantamannya menjatuhkan dua orang. Lalu seorang lagi Diam-diam Tari Wening

Asih kagum akan tindakan Wintara yang cukup menggelikan.

Perkelahian di atas pohon itu akhirnya dapat diketahui oleh para pemanah yang berada di situ. Menyadari adanya penyerang gelap. Tujuh orang yang masih tersisa berbalik mengarahkan anak panahnya. Sebelum anak panah itu meluncur, Wintara melesat berpindah tempat ke cabang lain sambil tangannya menyambar seorang pemanah yang paling dekat.

"Beeg.... Twing... Twing...!" Di atas sana pengelana sakti bergelut menumbangkan lawan-lawannya dari cabang ke cabang....

Di atas tumpukan batu Tari Wening Asih masih sibuk menghadapi belasan anak panah dari pohon yang lain. Pedang pendeknya berputar lebih cepat menangkis melindungi tubuhnya dari hujan panah. Di bawah kakinya telah bertumpuk puluhan anak panah berserakan. Banyak juga yang patah dua akibat babatan pedang pendek Tari Wening Asih....

*

* *

8

Berdiri terus di atas tumpukan batu-batu tidak lagi leluasa menghindari serangan-serangan para pemanah. Tari Wening Asih melompat ke samping. Bergulingan menyusup ke dalam gubuk. Dia masih sempat melirik pada beberapa pohon besar yang tumbuh berderet di hadapan gubuk. Sudah pasti di atas tiaptiap pohon itu bersarang puluhan pemanah. Melihat gadis itu bersembunyi dalam gubuk serangan panah berhenti. Serombongan orang turun dengan memegang busur. Semuanya berjumlah sebelas orang. Selain busur, orang-orang itu bersenjatakan sebilah pedang yang nampak terselip di pinggang mereka masing-masing. Sebagian malah sudah ada yang mulai mencabut. Dengan mengendap-endap kesebelas orang itu mendekati gubuk. Tari Wening Asih yang mengintip akan adanya bahaya bersiap-siap. Langkah-langkah mereka terdengar kasar. Kira-kira jarak mereka tinggal dua langkah lagi, gadis itu mendobrak pintu gubuk. Mendorong ke depan melabrak kesebelas penyerangnya yang masih dicekam rasa kaget. Tiga orang jatuh. Namun masih dapat bangun dengan cepat. Tapi babatan pedang pendek membuat mereka jatuh lagi sekaligus tewas, rata-rata tenggorokan mereka robek. Yang lain membalas menyerang. Babatan-babatan pedang berkelebat ke sana ke mari mencecar Tari Wening Asih. Gadis itu merunduk sambil melancarkan tendangan.

"Beeeg...!" Tendangan itu tak bisa dihindari. Penyerang itu terpental berikut pedangnya. Tari Wening Asih mengangkat pedang pendeknya menyilang di atas kepala menangkis babatan pedang yang hampir saja membelah batok kepalanya.

Wintara baru saja memukul jatuh semua lawan-lawannya di atas pohon. Ia meluncur ke bawah sambil melancarkan hantaman pada salah seorang pengeroyok Tari Wening Asih. Mendapat bantuan dari Wintara, gadis itu maju menyerang makin bersemangat. Tendangan disertai babatan pedang pendek menjatuh bangunkan lawan-lawannya. Begitu pula Wintara. Meskipun tanpa senjata ia sanggup menghajar pengeroyok itu sampai remuk ke tulang-tulangnya. Tiba-tiba....

"Hentikann,..!" terdengar suara bentakan seseorang. Dari atas pohon yang rindang, melompat seorang pemuda berambut gondrong dengan ikat kepala warna merah. Paras pemuda itu cukup ganteng. Tangannya yang menggenggam busur panah teracung.

"Hebat.... Tidak kosong nama besar Pengelana Sakti. Pantas dapat merebut pusaka Elang dari tangan orang-Orang Elang Perak...." kata pemuda berambut gondrong dengan pandangan terarah pada kalung hitam yang melingkar di leher Wintara.

"Kalau begitu pusaka ini milik orang-orang Elang Perak! Lalu apakah maksudnya saudara pemanah ulung ingin merebut pusaka ini dari tanganku? Aku saja berniat ingin mengembalikan pusaka yang selalu membawa malapetaka...." jawab Wintara. Tari Wening Asih berdiri menantang menatap pemuda gondrong di hadapannya.

"Serahkan saja padaku, maka kau bersama gadismu tak akan terkena bencana...." kata pemuda itu tidak main-main. Bersamaan dengan itu orang-orang yang berada di atas pohon berlompatan ke bawah, sehingga seluruh halaman itu dikelilingi oleh pasukanpasukan pemanah. Belum lagi dari balik semaksemak. Jumlah mereka semua hampir mencapai empat puluh orang Gila! Wintara dan Tari Wening Asih be-

nar-benar telah terkurung.

"Tidak bisa! Tidak bisa! Jangan serahkan pusaka Elang pada mereka,..! Jangan serahkan...!" Tibatiba saja Raden Sintoro Tinggil berlari ke luar mendekati Wintara dan Tari Wening Asih. Wintara begitu terkejut. Kenapa ia harus keluar. Bukankah bersembunyi dalam gubuk lebih aman? Kenapa ia yang penakut tiba-tiba saja berani keluar dalam keadaan seperti ini. Untuk menyelamatkan diri saja belum tentu Wintara bisa.... Ahhh... Keadaan jadi semakin kacau. Di luar dugaan tangan Raden Sintoro Tinggil bergerak cepat ke arah leher Wintara dan menarik putus kalung hitam berliontin kepala burung Elang. Untuk menepak tangan itu saja Wintara tidak keburu. Gerakan Raden Sintoro Tinggil begitu cepat. Tiba-tiba saja tubuh gemuk itu berputar di udara dan hinggap di atas atap jerami. Jemari tangannya menggenggam pusaka itu. Lalu....

"Ha... ha... ha... ha... ha... Bubar...! Bubar semua. Pusaka ini telah menjadi milikku. Hua.... Ha...

ha.... ha...!" Tawanya lepas. Belum pernah Wintara mendengar suara tawa Raden Sintoro Tinggil selepas itu. Ternyata selama Raden Sintoro Tinggil berada dekat dengan Wintara ia berperan sebagai orang yang dungu tulen. Wintara betul-betul terkecoh. Ia mengutuki dirinya. Rona muka itu jelas terlihat oleh Tari Wening Asih. Karena dirinya sendiri pun telah dibohongi.

"Kalian semua cecoro-cecoro kerdil yang tiada artinya bagiku. Hah...! Masih mau merebut pusaka ini dari tangan Raden Sintoro Tinggil...? Ayo maju saja kalau mau cepat-cepat kukirim ke akherat...!" katanya sadis. Tubuh gemuk itu masih berdiri di atas atap jerami. Pemuda berambut gondrong merasa terhina mendengar perkataan seperti itu. Maka ia memberi aba-aba kepada seluruh anak buahnya. Mereka semua mengangkat busur dengan anak panah yang siap dilancarkan. Sesaat kemudian.

"Sreeeengggg !" Puluhan anak panah menghu-

jani lelaki bertubuh gemuk yang berdiri di atas atap. Raden Sintoro Tinggil tetap berdiri di situ. Ketika puluhan anak panah hampir mengenainya. Tubuh gemuk itu berputar lurus dalam keadaan berdiri laksana gasing. Maka batang-batang anak panah itu berpentalan. Sungguh luar biasa. Wintara tidak menyangka sama sekali akan kehebatan Raden Sintoro Tinggil. Rasa kagum itu sirna dengan seketika. Wintara menatap geram. Mentah-mentah ia telah diperalat oleh Raden keparat itu. "Hajar terus...! Hujani bangsat itu dengan panah-panah kalian. Ayo terus...." Pemuda gondrong itu berteriak memerintahkan seluruh anak buahnya. Tubuh gemuk itu terus berputar, dan anak-anak panah berpentalan. Tidak satu anak panah pun yang berhasil melukai apalagi menyentuhnya. Yang terdengar hanya suara gelak tawa terbahak-bahak.

"Ayo hujani terus. Hujani dengan anak panah kalian...!" Teriak pemuda berambut gondrong itu.

"Maaf, Pameang.... Persediaan anak panah hampir habis...." kata salah seorang anak buahnya. Pemuda itu menggeram. Secepat kilat ia melesat ke atas. Tubuh gemuk itu masih berputar selagi puluhan anak panah menghujaninya. Ia melancarkan sebuah pukulan dahsyat yang tidak kepalang tanggung kearah tubuh yang berputar laksana gasing... Deeees...! Keduanya jatuh bergulingan. Raden Sintoro Tinggil tidak mengira akan mendapatkan serangan yang membuatnya jatuh.

Tapi benturan itu mengakibatkan pemuda gondrong itu harus mengeluarkan darah merah dari rongga mulutnya. Ia cepat bangkit menyeka ceceran darah di kedua sudut bibirnya.

"Seraaaang....!" Pemuda itu selalu berteriak memerintahkan anak buahnya. Raden Sintoro Tinggil yang telah berdiri lebih dulu tidak mundur selangkah pun, ia malah menyambut serangan yang terdiri dari puluhan orang banyaknya. Tinjunya yang mengepal pusaka Elang menjatuhkan sekaligus tiga orang. Sekali saja ia menerjang, dua orang bergelimpangan tanpa nyawa.

"Serang teruuuuuus...." perintah pemuda berambut gondrong itu. Seluruh pasukan pemanah yang kini bersenjatakan sebilah pedang merangsak menyerang Raden Sintoro Tinggil. Betul-betul ingin mencincang habis. Seketika Raden Sintoro Tinggil tertawa keras. Hua... ha.... ha., ha., ha...." Disertai tenaga dalam yang hebat suara tawa itu menggelegar hebat. Siapa yang sangka tawa yang hebat itu disertai tenaga dalam yang mampu memecahkan gendang telinga orangorang yang berada di sekitarnya. Kontan saja semua pasukan pemanah berjatuhan dengan gendang telinga yang pecah. Hampir semuanya para pasukan pemanah itu mengeluarkan darah dari liang telinganya. Sementara suara tawa Raden Sintoro Tinggil masih berkumandang keras. Pemuda gondrong itu pun terduduk jatuh sambil menutupi kedua telinganya. Begitu juga dengan Wintara dan Tari Wening Asih, keduanya menutup telinga. Sekalipun mereka menutup telinga, tawa yang disertai tenaga dalam itu nyaris saja menulikan pendengaran mereka.

"Hua... ha... ha... ha...." Tawa maut itu terus berkumandang. Dua ekor kuda yang tertambat di samping gubuk meringkik-ringkik mendengar gelak tawa yang disertai tenaga dalam penuh. Kelentingan yang tergantung di leher kedua kuda itu bergerakgerak menimbulkan bunyi. Ada satu keanehan. Begitu terdengar suara kelentingan, suara tawa yang disertai tenaga dalam seakan mengendur. Wintara berjumpalitan ke samping gubuk menuju di mana kedua kuda itu tertambat. Kedua telapak tangannya masih menutupi kedua telinganya. Secepat kilat Wintara menarik dua lonceng kecil yang melingkar di kedua leher kuda tersebut. Lalu ia berjalan dengan tenang. Membunyikan lonceng kecil itu. Ketika ia berjalan di halaman gubuk itu, Wintara mengguncang-guncangkan kedua lonceng kuda itu.

"Tinggg... Tinggg.... Tinggggg !" Terus menerus dibunyikan kelentingan itu. Suara tawa dahsyat yang mampu memecahkan gendang telinga itu tidak berfungsi lagi. Raden Sintoro Tinggil pun terkejut karenanya. Ia menambah tenaga dalamnya. Teriakannya makin dahsyat. Pasukan pemanah sudah banyak yang bergulingan tak berkutik kehilangan pendengarannya. Wintara makin kencang menggoyang-goyangkan kelentingan kuda itu. Makin kencang pula suara tawa itu terdengar. Tari Wening Asih bergulingan dengan kedua telapak tangannya erat menutup kedua telinganya. Begitu juga pemuda berambut gondrong. Setengah berlutut ia menghadapi suara tawa yang maha dahsyat itu. Wintara terus mengguncangkan kedua kelentingan itu sambil merangsak menyerang Raden Sintoro Tinggi.

"Tingg... Tinggg... Ting !" Raden Sintoro Tinggi

melompat menjauh dari serangan Wintara, Wintara mengikuti terus ke mana melesatnya tubuh Raden Sintoro Tinggil. Kelentingannya masih terus berbunyi mematahkan suara tawa yang maha dahsyat itu.

Raden Sintoro Tinggil menghentikan tawanya, geram sekali ia menyerang Wintara. Pukulan telapak tangannya yang dahsyat beradu dengan hantaman Wintara.

"Blaarrr!" Keduanya terpental. Wintara terguling menabrak tumpukan batu. Raden Sintoro Tinggil mundur terhuyung. Pemuda berambut gondrong menyerang melancarkan tendangan ke arah Raden Sintoro Tinggil yang masih terhuyung bersandar pada batang pohon. Cepat Raden Sintoro menghindar. Tendangan itu mengenai batang pohon. Tari Wening Asih merangsak dengan sodokan pedang pendek.

"Weeees...!" Kembali Raden Sintoro Tinggil berjumpalitan. Sambaran pedang pendek meleset.

Pasukan pemanah telah bergulingan. Ada juga yang coba-coba berusaha bangkit. Namun mereka tak ada yang berlangsung lama. Mereka jatuh lagi. Mereka bergelimpangan bukan karena terkena pukulan maupun hantaman, tapi karena mendengar suara tawa yang maha dahsyat tadi. Telinga mereka rata-rata mengeluarkan darah. Dan sudah tentu rasa sakit itu teramat nyeri.

Serombongan pasukan kuda memasuki desa terpencil. Ki Randaka memimpin paling depan menunggangi kuda putih memacu kencang. Di belakangnya bersusulan empat ekor kuda yang ditunggangi oleh orang-orang berewok. Bahruna dan Wikalpa mengikuti dengan cepat pula. Debu-debu membumbung bagaikan asap kuning mengepul bersama derap-derap beberapa pasang sepatu kuda. Tujuan mereka adalah gubuk itu, di mana telah terjadi satu pertempuran.

Ki Randaka tidak langsung turun ketika tiba di sana. Malah keempat manusia berewok yang turun dari masing-masing kuda-nya. Langkah-langkahnya yang beringas melalui orang-orang yang bergelimpangan. Terkadang pula Dawuk menendangi orang-orang yang menghalangi langkahnya. Mereka melangkah terus mendekati pertarungan itu.

Raden Sintoro Tinggil bergerak setengah memutar menghindari serangan berupa tendangan keras dari Wintara. Cepat lelaki gemuk itu membalas menghantam, tapi Tari Wening Asih menghalanginya dengan babatan pedang. Maka gagallah hantaman yang akan dilancarkan oleh Raden Sintoro Tinggil. Ia menarik lengannya kemudian melesat ke arah pemuda berambut gondrong. Tangannya yang menggenggam pusaka Elang maju menghantam. Mendapat serangan mendadak, si gondrong ini cepat merunduk menghindari hantaman itu. Tapi tendangan Raden Sintoro Tinggil tidak dapat dielakkan.

"Dueees...!" Pemuda itu mencelat ke belakang dengan darah menyembur deras. Ia masih mampu bangkit meski dengan tubuh yang sempoyongan. Empat manusia berewok yang menamakan dirinya Begal Singa Kali Progo sudah berada di situ. Dawuk menendang lagi tubuh gondrong itu, sehingga tubuhnya mencelat kembali menyambar Raden Sintoro Tinggil.

"Baaaag...!" Dua telapak tangan Raden Sintoro Tinggil menghantam tubuh yang terlempar. Pemuda gondrong mencelat ke atas tinggi sekali. Kemudian jatuh di atas atap jerami. Atap jerami yang kurang begitu kuat ambruk.

Tari Wening Asih tersentak begitu melihat kelompok Singa Kali Progo. Rasa kagetnya membuat dirinya nyaris terhantam oleh pukulan Raden Sintoro Tinggil. Untung Wintara cepat memotongnya dengan sebuah tendangan. Raden Sintoro Tinggil melompat ke samping ke tempat yang lebih leluasa. Menatap tajam keempat orang berewok yang baru datang.

"Heh....! Ternyata begal-begal Singa Kali Progo pun menginginkan pusaka ini... He... he.... he     Jan-

gan mimpi. Kalau benda ini sudah berada dalam genggaman tangan ku. Kalian atau siapa pun tak akan ada yang dapat merebutnya. He... he.... he.... he   " Randen

Sintoro Tinggil tertawa terkekeh-kekeh.

"Raden Sintoro Tinggil !" Terdengar suara ben-

takan parau. Semuanya menoleh ke arah suara itu. Terutama Raden Sintoro Tinggil. Ia kenal betul dengan orang yang barusan memanggilnya. Ki Randaka....

"Kembalikan pusaka itu pada kami, karena benda itu milik perguruan Elang Perak...." kata Ki Randaka melotot. Bahruna dan Wikalpa bersiap-siap menyerang. Tari Wening Asih menatap nanar ke arah Ki Randaka. Kedua bola matanya tidak berkedip. Ki Randaka salah seorang yang akan menghadiri pertemuan di Gerongsewu. Mungkinkah dia yang memiliki pukulan Telapak Tangan Hitam? Yang telah membunuh Lungo Paksi, ayah Tari Wening Asih.....? Kalau iya, Pedang pendek ini akan bicara, pikirnya....

Wintara masih mengawasi gerak gerik Raden Sintoro Tinggil. Dawuk terheran-heran melihat pusaka Elang berada di tangan seorang lelaki gemuk. Kemarin ia melihat pusaka itu melingkar di leher seorang pemuda berbaju kulit binatang. Sekarang Pemuda yang

mengenakan pakaian kulit binatang itu ada di sini pula....

"Cepat Raden.....! Serahkan pusaka milik kami...!" Ki Randaka menahan amarah.

"Apa...? Enak saja Ambillah olehmu sendiri...!" ejek Raden Sintoro Tinggil. Ki Randaka langsung mencengkram leher Dawuk. Dawuk gelagapan.

"Siapa orang yang kau maksudkan ...itu, Dawuk....! Kau bilang seorang yang sadis dan kejam..., Apakah Raden Sintoro yang kau maksudkan....?" kata Ki Randaka. Suara itu hanya terdengar oleh Dawuk.....

"Be-be-betul, Ki.... Betul.... Kau lihat pusaka Elang sudah berada di tangannya. Apakah itu bukan suatu bukti yang cukup? Dan berhati-hatilah terhadap pemuda dan gadis itu. Mungkin mereka temannya. Sekarang mereka bentrok, sudah pasti berebutan pusaka...." bisik Dawuk. Ki Randaka menatap kedua muda mudi yang nampak berdiri tenang.

Tanpa diperintah lagi Bahruna dan Wikalpa maju menyerang Raden Sintoro Tinggil dengan jurusjurus cakar Elang. Ki Randaka mendorong tubuh Dawuk, maksudnya agar membantu Bahruna dan Wikalpa. Maka serempak keempat manusia berewok jadi ikut maju menyerang. Sebelum menghadapi mereka, Raden Sintoro Tinggil menyusupkan pusaka Elang ke dalam bajunya. Lalu ia melompat maju dengan kibasan-kibasan dua lengan sekaligus. Bahruna mencecar bagian atas. Sedangkan Wikalpa berusaha mencabikcabik ke arah perut. Keempat begal Singa Kali Progo mengelilingi. Sekali-sekali pukulan mereka melayang. Cakaran Bahruna ditepak begitu saja. Cabikancabikan Wikalpa disambut dengan tendangan memutar. Lalu sekali Raden Sintoro Tinggil mengibaskan lengannya dua orang murid Ki Randaka terhuyung ke belakang. Empat manusia berewok susah payah menggempur, namun akhirnya mereka pun dibuat bergulingan ke tanah. Raden Sintoro Tinggil melompat tendangan terbangnya terarah deras pada Bahruna. Tapi cepat Wintara datang membantu dengan serangan pukulan ke arah perut.

"Buuug...!" Raden Sintoro Tinggil jatuh berdiri tegak ke tanah bagai tonggak. Wikalpa merangsak menyerang, ia mengira Raden Sintoro Tinggil tengah mengambil nafas karena menahan sakit. Tapi di luar dugaan kedua kaki Raden Sintoro Tinggil tersentak ke atas. Cepat sekali kedua telapak kaki itu menghantam dada Wikalpa. Darah menyembur dari mulut Wikalpa yang nampak berusaha bangkit kembali. Dawuk dan Sempor menghantam dari belakang, cepat memutar tubuh Raden Sintoro Tinggil sambil mengibaskan lengannya.

"Plaaak! Plak!" Keduanya terdorong mundur. Kuwusura menendang keras. Namun lelaki gemuk itu bersalto gesit menghindar, malah dalam keadaan seperti itu Raden Sintoro Tinggil sempat melayangkan lengan kanannya. "Bee-eeg!" Kuwusura tumbang dengan tulang rusuk patah remuk. Wintara membiarkan keempat manusia berewok menghadapi Raden Sintoro Tinggil. Ia menjaga dua orang murid dari perguruan Elang Perak. Karena nyawa kedua orang itu lebih berharga. Tapi Bahruna dan Wikalpa malah salah tanggap. Mereka menyerang. Susah sekali Wintara memberi penjelasan, karena mereka berdua menyerang bergantian berturut-turut. Dan tak mau perduli sergapan Wintara. Untuk membalas serangan sangat tidak mungkin, pikirnya. Seharusnya mereka membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan pusaka miliknya kembali.

Tari Wening Asih berjalan mendekati Ki Randaka. Ki Randaka sendiri telah siap siaga kalau-kalau gadis itu menyerang secara mendadak.

"Kenapa tidak engkau sendiri yang menghadapinya, Ki Randaka? Apa kau pikir kedua muridmu itu akan sanggup mengalahkan Raden Sintoro Tinggil yang ilmunya setinggi langit...?" kata Tari Wening Asih berjalan memutari Ki Randaka. Lalu katanya lagi...

"Apakah sengaja, kau akan membunuh kedua muridmu melalui tangan orang lain. Hebat! Hebat! Pantas nama Elang Perak semakin ditakuti. Karena mereka telah bergabung dengan kelompok begal Singa Kali Progo!"

"Tutup mulutmu! Kau pun gundiknya lelaki keparat itu yang sama-sama akan ku hancurkan nanti " Amarah Ki Randaka meluap.

"Dengan apa kau akan menghancurkan kami, he..! Dengan Telapak Tangan Hitam?"

"Lancang mulutmu. Jangan sebut-sebut nama itu di hadapanku. Hreaaaaaaaaaa...!" Ki Randaka menghantam. Gadis itu cepat mundur. "Wesss...!" Angin pukulannya begitu deras. Tari Wening Asih membalas dengan sabetan pedang pendek yang memutar menyilang ke wajah Ki Randaka. Secepat kilat Ki Randaka mengangkat tangannya. "Plaaak!" Cakar Elang menjurus ke perut gadis itu. Dengan kaki kanan cakaran itu dapat diatasi. Tari Wening Asih mundur berputar. Lalu tubuhnya melompat ke atas tumpukan batubatu kali. Ki Randaka maju menyerang. Tapi ia harus menghadapi batu-batu, yang terlempar akibat tendangan-tendangan Tari Wening Asih.

"Duar... Duar... Duar...!" Batu-batu yang melandanya hancur oleh empat kali cakaran Ki Randaka.

"Kita akan mengadu jiwa, pembunuh laknat...!" teriak gadis itu meluncur dengan pedang pendek tergenggam kedua tangannya. Hampir saja tusukan pedang itu menembus di lambung kiri Ki Randaka. Sewaktu pedang Tari Wening Asih menjurus. Sesosok tubuh menabrak mereka berdua. Sosok tubuh Sempor. Rupanya ia terlempar nyasar terkena pukulan Raden Sintoro Tinggil. Ki Randaka mau pun Tari Wening Asih terdiam sesaat. Di dada Sempor yang sudah tak bernyawa itu mengepul asap. Di situ tergambar sebuah telapak tangan berwarna hitam. Itulah Pukulan Telapak Tangan Hitam. Mata Ki Randaka merah padam.

Bangsat...! Baru sekarang ketahuan biang keladinya. Ternyata yang membunuh sahabatku Lungo Paksi, adalah kau..... Raden Sintoro Tinggil...," kata Ki Randaka dengan nada marah.

"Kau pun akan segera menyusulnya, tua bangka dungu!" Teriak Raden Sintoro Tinggil sambil menghajar kepala Dawuk. Untung saja hanya menyerempet. Ia hanya merasa sedikit pening dan cepat-cepat mundur. Ki Randaka melesat meninggalkan Tari Wening Asih yang tidak percaya dengan pembicaraan itu. Bukan main rasa malunya. Ia telah berbuat kurang ajar terhadap Ki Randaka. sekarang apa yang harus ia lakukan? Pembunuh ayahnya ternyata Raden Sintoro Tinggil. Bukan orang-orang yang akan mengikuti pertemuan di Gerongsewu.

Dua hantaman sekaligus dilancarkan oleh Ki Randaka. Raden Sintoro Tinggil menyambut serangan itu dengan sabetan lengannya yang memutar ke atas. "Ayo keluarkan pukulan Telapak Tangan Hitammu...!

Hayo   !" Ki Randaka menyerang dengan puku-

lan-pukulan mematikan. Sudah tentu Raden Sintoro Tinggil tidak akan mampu menghadapinya. Ia hanya mundur terbang ke belakang. Lalu tubuhnya yang gemuk berputar ke atas membalas serangan. Sambil berputar demikian, sebelah kakinya melayang menjurus ke bagian kepala Ki Randaka. Cepat Ki Randaka merunduk sambil mendorong dua kepalan tangan yang terarah di bagian perut.

"Dueer....!" Raden Sintoro Tinggil mencelat ke belakang menabrak sebatang pohon besar.

"Kembalikan pusaka itu, Raden.... Maka kau akan kuampuni..." Ki Randaka memberi kesempatan. "Hayo... Tunggu apa lagi? Apa perlu kucabut nyawamu " kata Ki Randaka tidak sabaran.

Raden Sintoro Tinggil tidak menjawab. Pandangannya menjurus tajam. Lalu kedua telapak tangannya terangkat ke atas nampak seperti menyanggah. Kemudian telapak-telapak tangan itu menyatu. Turun Ke bawah.... Sampai sebatas dada. Kedua kakinya merenggang ke samping kanan dan kiri. Membuat tubuhnya semakin pendek.

Ki Randaka memandang aneh. Inikah jurusjurus pembuka pukulan Telapak Tangan Hitam? Hawa dingin tenaga dalamnya saja sudah terasa.... Hebat....

Pantas pendekar sakti sahabatnya Lungo Paksi tewas di tangannya. Tiba-tiba Raden Sintoro Tinggil menghantamkan kedua telapak tangannya ke depan dengan hentakan yang sangat keras. Tentu saja di arahkan kepada Ki Randaka yang sedari tadi memperhatikannya. Ia sudah menduga kalau Raden Sintoro Tinggil telah menghimpun tenaga dalam, begitu angin kencang menghembusnya ia melesat ke atas sambil bersalto. Pukulan tenaga dalam itu melesat mengenai sasaran lain kepada tumpukan batu-batu kali.

"Blaaaarrrr...!" Batu-batu itu berpentalan tak tentu arah memenuhi pelataran.

*

* *

9

Wintara masih menghadapi Bahruna dan Wikalpa. Serangan-serangan mereka begitu gencar. Kalau kurang-kurang mengimbangi tentunya Wintara akan terdesak juga. Sebenarnya kepandaian mereka jauh dibandingkan dengan Wintara yang berjuluk Pengelana Sakti. Karena Wintara tahu kedua orang yang dihadapinya murid-murid pilihan perguruan Elang Perak. Mereka tidak menyadari kalau dirinya tengah terancam. Sengaja Wintara menghalangi mereka walau dengan cara seperti ini. Menghadapi Wintara lebih baik, daripada mereka harus berhadapan dengan Raden Sintoro Tinggil. Tentunya akan membuang nyawa dengan siasia.

Bahruna melancarkan tendangan, cakarancakaran Wikalpa siap mencabik-cabik punggung Wintara. Sungguh tidak bisa dianggap main-main lagi. Wintara merasa sudah membuang-buang waktu serta tenaga dengan percuma. Mereka belum juga mengerti. Selama menghadapi, Wintara tidak pernah membalas. Apalagi berniat menyerang. Setidak-tidaknya mereka merasakan keganjilan itu. Sampai sejauh ini mereka malah berniat memojokkan Wintara. Mana bisa?

Wintara menghentakkan kakinya menghindari serangan kedua orang itu. Tubuhnya melesat ke atas, kedua orang itu berbalik hendak menyerang lagi. Tapi dua totokan sekaligus mengenai tepat mengenai punggung kedua orang itu Bahruna maupun Wikalpa diam tak bergerak. Kemudian tubuh mereka ambruk pingsan.

Mendapat kesempatan luang, kelompok Begal Singa Kali Progo yang tinggal Dawuk dan Dungkil. Mereka berniat melarikan diri. Keduanya berlari menerobos semak-semak. Kali ini Dawuk tertinggal oleh Dungkil. Tanpa menoleh mereka berdua lari kencang bagai dikejar hantu. "Dungkil keparat...! Tunggu aku setaaaan!" Teriakannya kesal. Kalau saja kakinya tidak terasa sakit, Dawuk sudah dapat menyusul Dungkil. Bahkan dapat mendahului seperti biasanya. Mana mau Dungkil berhenti mengingat situasi sudah begitu gawat! Biar saja Dawuk tertinggal. Toh tidak ada yang mengejarnya. Siapa bilang! Langkah Dungkil terhenti mendadak..... Ia tidak dapat meneruskan langkahnya. Karena di hadapannya telah berdiri sosok tubuh ramping berpakaian serba biru. Mata Dungkil melotot tak percaya. Dawuk melihat Dungkil berhenti, ia mengira Dungkil menungguinya.... Tapi sesampainya ia di samping Dungkil jantungnya tersentak setengah mati....

"Mau ke mana? Kita masih punya urusan bukan....? Aku masih ingat Sekarang aku sudah berdiri di hadapan kalian. Mengapa kalian tidak tergiur untuk memperkosa diriku...?" kata Tari Wening Asih tenang. Pedang pendeknya teracung mengancam. Mulamula ke arah Dawuk lalu bergerak perlahan ke arah Dungkil.

"Berapa banyak wanita-wanita muda yang telah menjadi korbanmu Singa Kali Progo? katakan Satu

orang, dua orang, tiga.... atau lebih dari lima!" Ayo katakan.... Aku akan mengikuti hitungan kalian dengan babatan-babatan pedangku...." Mata Tari Wening Asih nampak jalang. Mereka berdua terdiam bukan karena rasa takut menghadapi gadis cantik itu. Tapi merasa kepergiannya tertunda. Mau tidak mau mereka harus menyingkirkannya lebih dulu. Dawuk berteriak keras.

"Waaaaaaaaa!" Pandangan Tari Wening Asih teralih kepada Dawuk. Maka pada kesempatan itu Dungkil menepis lengan gadis itu yang menggenggam pedang pendek. Ternyata teriakan Dawuk hanya sebuah siasat. Agar Dungkil dapat bergerak cepat di saat gadis itu lengah. Namun Dungkil hanya melakukan tepisan tangan. Tari Wening Asih membalas dengan membabatkan pedangnya menyilang lalu disertai tendangan ke depan mengarah muka. Dungkil tidak mundur. Hanya badannya saja bergeser miring ke kiri. Sebelah tangannya yang kekar menahan tendangan itu. Dawuk maju dengan sodokan telapak tangan menyerempet pinggang Tari Wening Asih.

"Kurang Ajar...!" Bentaknya sambil memutar pedang pendek ke belakang. "Wesssss...! Beberapa lembar rambut kasar Dawuk rontok terbabat pedang itu. Saking cepat ia merunduk, Dawuk sampai terjatuh duduk. Melihat itu Dungkil langsung menyerang lagi, jangan sampai gadis itu menghajar Dawuk yang sudah hilang keseimbangan tubuh. Gerakannya begitu cepat, lengan-lengannya yang kekar menghantam berkali-kali tendangan Tari Wening Asih. Walaupun pedangnya berkelebat menyambar, Dungkil masih dapat menangkis bahkan sempat melancarkan sebuah pukulan ke arah punggung gadis itu. Bersamaan dengan itu pula pedang pendek menyambar cepat. Keduanya bergulingan. Tari Wening Asih masih merasakan sakit pada punggungnya. Dungkil berusaha bangkit. Tubuhnya kaku.... Sepuluh jari tangannya meregang. Dari tenggorokannya mengalir cairan merah kental yang mulai membanjiri dadanya. Sesat kemudian Dungkil ambruk ke depan mencium tanah dengan nafas terputus.

"Sekarang giliranmu. Ayo bangkit...! Dan percuma mengemis meminta ampun...." kata Tari Wening Asih menatap jalan ke arah Dawuk. Ia menoleh ke arah Dungkil yang telah menjadi mayat. Darah merah masih terus keluar dari tenggorokkannya.

"Baik baik! Aku satu-satunya Singa Kali Progo yang masih hidup akan mempertahankan nama besar itu   " Dawuk bangkit perlahan. Tapi sebelum ia berdi-

ri tendangan keras menghantam tulang lehernya. "Duee-esssss!" Tubuh Dawuk terguling. Kedua

tangannya memegangi tenggorokkannya dengan mata mendelik menahan sakit. Lalu sebuah tendangan lagi membuatnya jatuh terlentang terbanting demikian keras.

“Untuk manusia macam kau tidak perlu diberi hati. Dengan cara apa pun kau memang lebih baik mati...." kata Tari Wening Asih sinis. Dawuk tidak bangun-bangun lagi. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan kedua mayat itu. Tapi....

"Hreaaaaaaaaa...!" Sebuah teriakan menerjang dari arah belakang. Cepat Tari Wening Asih merunduk sambil membabatkan pedang pendek ke belakang.... "Breeeeet.....! Arghhhhhhh!" Terdengar rintihan panjang yang keluar dari mulut Dawuk. Ia terduduk memegangi perutnya yang tergenang oleh cairan kental berwarna merah kehitaman. Luka di perutnya memanjang sekitar dua jengkal. Ia masih tetap terduduk dengan wajah tertunduk kaku. Gadis itu mendekatinya....

Telapak kakinya mendorong tubuh itu.... Perlahan tubuh yang terduduk itu menggelosoh ambruk.

"Heaaaaa...! Wuus! Wuus!" Angin pukulan tenaga dalam bergulung-gulung menghantam ke arah Ki Randaka. Wintara yang berada di situ tidak luput menjadi sasaran. Keduanya baik Wintara maupun Ki Randaka melompat-lompat menghindar.

"Bledaa-arrrr! Bledaaaaar! Dua batang pohon hancur terkena sasaran pukulan itu. Wintara berlari ke depan menyerang Raden Sintoro Tinggil Larinya

begitu cepat. Kedua kakinya hampir tidak menyentuh tanah. Sehingga tubuh Wintara nampak seperti terbang. Sebuah tinjunya siap melayang.....

Kembali tubuh Raden Sintoro Tinggil berputar tegak lurus. Ketika hantaman Wintara dilancarkan, Raden Sintoro Tinggil menyambut dengan pukulan Telapak Tangan Hitam... Hingga tinju itu beradu dengan telapak tangan yang membara....

"Deesss!" Jari-jari tangan Wintara serasa menghantam besi panas.... Ki Randaka mengeluarkan jurus 'Sayap Menghempas Karang.' Begitu lengannya mengibas tubuh Raden Sintoro Tinggil terdorong beberapa langkah. Terkejut sekali ia merasakan hawa pukulan itu. Tapi mana mau Raden Sintoro Tinggil berdiam diri. Ia pun membalas serangan tadi Belum

sempat ia menyerang Wintara sudah memotong gerakan itu.

"Anak muda siapa sebenarnya kau...." teriak Ki Randaka. Bersamaan dengan itu Wintara berhasil mengenai muka Raden Sintoro Tinggil dengan sebuah jotosan. Pukulan Telapak Tangan Hitam bergerak maju ke dada Wintara. Cepat ia menangkis dengan kedua tangannya yang dikibaskan menyilang. Lalu lengan kirinya memutar menghantam perut Raden Sintoro Tinggil. Melihat anak muda itu begitu bersemangat menyerang Raden Sintoro Tinggil, Ki Rantaka melompat membantu dengan melancarkan cakaran-cakaran... Di serang dengan jarak dekat Raden Sintoro Tinggi merasa kewalahan... Ia bergerak menghindar menjauh. Tapi dengan gerakan yang sangat ringan Wintara melesat mengikutinya.... Begitu juga dengan. Ki Randaka Ia

tidak kalah gesit melesat dengan kedua tangan merentang bagai sayap-sayap elang.

Tari Wening Asih yang sudah berada di situ langsung mencari posisi. Tendangannya berkelebat di hadapan Raden Sintoro Tinggil. Langkahnya terhalang oleh tendangan itu. Lelaki gemuk membalasnya. Ga-

dis itu cepat bergeser. "Deeerrr!" Pukulan Telapak Tangan Hitam menghantam batang pohon sampai berbekas sebuah telapak menghitam juga mengepul asap hitam.

"Mati di tangan pembunuh Ayahku   Aku tidak

penasaran!" teriak Tari Wening Asih. Pedang pendeknya menyambar.... "Wuuuss !"

"Tari.... Awas !" teriak Wintara.

Hampir saja Tari Wening Asih terkena pukulan maut itu. Untunglah ia cepat melompat jauh     Raden

Sintoro Tinggil berdiri menghadapi tiga orang lawannya. Kedua tangannya nampak membara kembali. lalu memutar perlahan siap menghantam. Wintara menarik nafas. Matanya mengikuti gerak gerik putaran tangan Raden Sintoro Tinggil. Sekali lelaki gemuk itu maju menyerang, Wintara membarengi dengan menjatuhkan diri sambil kakinya menyambar langkah-langkah Raden Sintoro Tinggil. Lalu Ki Randaka menyambut jatuhnya tubuh itu dengan sebuah tendangan. Sayang lolos. Sewaktu Raden Sindoro Tinggil jatuh ia sudah tahu apa yang bakal terjadi. Maka ia cepat melintir, sehingga tendangan itu nyasar. Benar-benar hebat....

Dalam keadaan yang demikian pun Raden Sintoro Tinggil sempat menendang Wintara...

"Deess!" Wintara terdorong ke belakang. Tari Wening Asih yang sudah menemukan pembunuh orang tuanya maju membabatkan pedang pendek. Sungguh tidak disangka babatan pedang yang cepat dapat ditangkap oleh Raden Sintoro Tinggil. Bahkan sewaktu gadis itu menariknya, pedang itu masih terus melekat dalam genggaman Raden Sintoro Tinggil. Tari Wening Asih seperti tidak percaya melihat pedang pendeknya melekat dalam genggamannya. Rasa panas merambat cepat, ia melepaskan gagang pedang itu. Tapi gadis itu tidak gentar menghadapi ilmu yang cukup mengherankan. Apapun yang terjadi ia harus menghadapi orang yang telah membunuh ayahnya. Mati hidup ia harus berhadapan dengannya. Ki Randaka berbalik ngeri melihat serangan-serangan gadis itu. Dan hampir tidak mengerti siapa sebenarnya jago-jago muda ini. Keduanya begitu berani menghadapi Raden Sintoro Tinggil. Tanpa pedang gadis itu berusaha melancarkan serangan. Ki Randaka melihat keteledoran yang membawa maut. Gerakannya yang cepat laksana burung Elang menyambar tubuh gemuk itu.....

"Deeess!" Hantaman yang tidak seberapa keras, namun cukup menyelamatkan gadis itu dari pukulan Telapak Tangan Hitam. Tari Wening Asih senyum ke arah Ki Randaka. Ki Randaka sendiri tidak mengerti apa arti senyuman itu.

Raden Sintoro Tinggil menatap geram ketiga orang lawannya    Tiba-tiba saja mereka tersentak oleh

sebuah teriakan.. "Hhre-aaaa...!" Teriakan itu berasal dari dalam sebuah gubuk... "Brak...! Kraaaak !" Seso-

sok tubuh melesat ke atas menembus keluar dari atap jerami yang telah lapuk. Sesosok tubuh tegap berambut gondrong dengan tubuh berlumuran darah serta merta ia hinggap menginjak tanah tanpa bersuara.

"Mana pusaka itu...! Mana....! Serahkan padaku...!" Pemuda gondrong itu terus berlari menjurus melancarkan pukulan dahsyat. Raden Sintoro Tinggil seakan tidak percaya melihat pemuda gondrong itu masih tetap hidup. Keterpanaannya itu membuat pukulan-pukulan pemuda gondrong itu bersarang di dadanya berkali-kali. Namun tidak sedikit pun tubuh Raden Sintoro Tinggil bergeser. Malah kedua telapak tangannya menghantam keras ke dada pemuda berambut gondrong itu membuatnya pula terlempar jauh dengan dada mengepul asap hitam. Pemuda itu berkelojotan... Dan berusaha bangkit meskipun di dadanya telah tertera bekas hantaman tadi.... Telapak Tangan Hitam yang masih mengeluarkan asap hitam. Pemuda itu mengerang. Tapi ia masih sanggup berdiri mengeluarkan jurus-jurus yang sukar dimengerti. Wintara maupun Tari Wening Asih berjaga-jaga. Apalagi Ki Randaka.... Pemuda berambut gondrong itu melesat menerjang Raden Sintoro Tinggil. Raden Sintoro Tinggil bermaksud menghabiskan nyawa pemuda itu sekalian. Tapi Ki Randaka menghalangi dengan cakaran-cakaran Elang. Pemuda gondrong itu gagal melancarkan serangan. Begitu pula Raden Sintoro Tinggil ia gagal melumatkan pemuda itu. Tentu saja pemuda itu tidak akan merasa senang mendapat perlakuan seperti itu. Meskipun dalam keadaan terluka parah, pemuda berambut gondrong masih sempat melompat ke arah Raden Sintoro Tinggil.... Melancarkan serangan-serangan. Tapi dalam keadaan lemah seperti itu bagaimana bisa ia menyentuh tubuh Raden Sintoro Tinggil. Malah menguntungkan bagi Raden Sintoro Tinggil. Sekali ia bergerak....

"Deee-esss!" Jurus Telapak Tangan Hitam menghantam dada pemuda itu. Tidak pelak lagi pemuda berambut gondrong itu terlempar jauh dengan nafasnya yang terhenti. Raden Sintoro Tinggil menoleh pada Wintara. Pandangannya begitu menyeramkan. Sebelum Raden Sintoro Tinggil mengerahkan serangan, Ki Randaka maju dengan mengeluarkan jurus 'Elang Terbang Mencari Mangsa.' Raden Sintoro yang bermaksud melancarkan serangan dengan mengandalkan pukulan Telapak Tangan Hitam terhalang. Karena cengkeraman Ki Randaka berhasil menangkap pergelangan tangan Raden Sintoro Tinggil. Tapi yang berhasil dicengkeramnya hanya sebelah lengan. Lengan yang lainnya menghantam tubuh Ki Randaka Ki Randaka

terguling mendapat hantaman yang begitu dahsyat. Dadanya mengepul asap hitam. Darah hitam keluar dari mulutnya.

*

* *

10

Sambil menahan nafas Ki Randaka bangkit. Tari Wening Asih memapah Ki Randaka. Wintara berjagajaga... Matanya terus mengawasi gerak gerik Raden Sintoro Tinggil yang bersiap-siap melancarkan pukulan Telapak Tangan Hitam ke arah mereka...

"Ting...! Ting...! Ting...!" Lonceng kecil berdenting-denting di pergelangan tangan Wintara. Lonceng kecil itu pula yang mematahkan pekikan dahsyat Raden Sintoro Tinggil.

Sesaat Raden Sintoro Tinggil mendorong kedua telapak tangannya yang membara. Wintara bergeser sambil tangannya menjurus menghantam kedua lengan Raden Sintoro Tinggil. "Plak!" Tubuh lelaki gemuk itu bergoyang. Wintara memberinya lagi sebuah tendangan memutar. Cepat Raden Sintoro Tinggil melompat membalas tendangan itu dengan tendangan yang tidak kalah kerasnya. Lalu telapak tangannya menyambar ke bawah. Sebelum pukulan Telapak Tangan Hitam mengenai tubuhnya, Wintara bergulingan.

"Deeeerrrr!" Hantaman itu mengenai tanah. Telapak tangan itu melesak ke dalam tanah sekitar lima senti meter. Raden Sintoro Tinggil mencecar terus tubuh Wintara yang bergulingan menghindari seranganserangan itu. Tidak ada kesempatan bagi Wintara untuk bangkit berdiri. Pada saat yang bersamaan, sosok tubuh ramping melesat dengan sebuah tendangan yang tepat menghantam pinggang Raden Sintoro Tinggil...

"Beeeegg!" Lalu tubuh ramping itu berputar di udara membentuk bulatan biru. Menukik lagi dengan sebuah jotosan. "Plak!" Raden Sintoro Tinggil menampar hantaman itu. "Des! Tubuh ramping yang tak lain adalah Tari Wening Asih mencelat membentur tiang gubuk. Dengan terjangan yang cepat Raden Sintoro Tinggil menyerang Tari Wening Asih. Wintara tersentak. Sudah pasti gadis itu tidak bisa menghindari hantaman yang akan dilancarkan oleh Raden Sintoro Tinggil. Maka cepat Wintara menarik dua lonceng kecil dari pergelangan tangannya. Melempar secepat kilat bagai senjata rahasia.... Sedetik saja terlambat nyawa Tari Wening Asih melayang...."Creep! Crep! Dua lonceng kecil menancap tepat di kedua bola mata Raden Sintoro.... "Wuaaarrk...!" Raden Sintoro Tinggil mengerang hebat. Dari kedua rongga matanya mengalir cairan yang menjijikkan. Cairan itu menetes di tubuh Tari Wening Asih yang terlentang di bawahnya. Raden Sintoro Tinggil berdiri mengangkangi sambil menjerit-jerit. Dalam keadaan seperti itu Tari Wening Asih menendang dengan sekuat tenaga.

"Duessssss!" Kontan tubuh gemuk itu mental ke belakang beberapa meter. Wintara datang menghajar dengan dua pukulan karate di tulang leher Raden Sintoro Tinggil... Tari Wening Asih tidak memberi ampun. Dendamnya yang selama ini terpendam ia lampiaskan sekarang juga. Ia melompat berjumpalitan di udara lalu kedua kakinya menginjak dengan keras di dada lelaki yang sudah sekarat itu. Tidak sedikit darah yang menyembur. Dan tubuh itu mengejang kaku dengan mata melotot, Wintara menarik nafas panjang. Tari Wening Asih menoleh ke arahnya. Ki Randaka menatap kagum, pikirannya masih bertanya-tanya Siapa-

kah mereka ini....

"Ugh!" Ki Randaka terbatuk. Pukulan Telapak Tangan Hitam membekas di dadanya. Susah sekali ia berusaha bangkit.

Wintara berjalan mendekati tubuh Bahruna dan Wikalpa yang saling tindih. Ia menatap tubuh kedua murid dari perguruan Elang Perak. Lalu ia menotok kembali. Perlahan keduanya mulai siuman sekalipun pandangan mereka masih nampak kabur     Sa-

mar-samar ia melihat seorang pemuda berpakaian kulit binatang berjalan menjauh. Hanya bagian belakang saja yang mereka lihat.... Tari Wening Asih masih berdiri di samping mayat Raden Sintoro Tinggil. Memandang penuh kebencian pada wajah lelaki gemuk yang melotot tak berkutik. Setelah Wintara mendekatinya barulah ia mundur selangkah.... Wintara merogoh ke balik baju Raden Sintoro Tinggil. Dikeluarkannya suatu benda berupa kalung hitam berliontin kepala burung Elang sebesar telapak tangan. Benda kekuningkuningan itu diberikan pada gadis yang masih berdiri di situ. Ki Randaka memandang tegang. Benda itu diperhatikan oleh Tari Wening Asih. Lalu matanya tertuju pada Ki Randaka, sebentar kemudian ia melangkah mendekati.... Ki Randaka yang merasa didatangi gadis itu segera bersiap-siap mengeluarkan jurus-jurus Elang ... Gadis itu malah tersenyum....

"Maafkan aku, Ki.... Aku telah berlaku kurang ajar." Sambil menyerahkan benda itu, Tari Wening Asih berlutut menyembah Ki Randaka. Ki Randaka jadi tak mengerti.

"Tidak seharusnya aku menuduh Ki Randaka memiliki pukulan Telapak Tangan Hitam Sungguh

di luar dugaan semua prasangka buruk yang selama ini mendekam di jantungku, cuma pikiran yang terlalu ceroboh.... Tidak semestinya aku menuduh Ki Randaka " kata gadis itu lagi.

"Menuduhku ?" Ki Randaka makin heran.

"Ya.... Karena aku putri tunggal Lungo Paksi !"

"Astaga.... Sudah sebesar inikah putri tunggal Lungo Paksi?"

Ki Randaka hampir tidak percaya. Tari Wening Asih mengangkat wajahnya, terlihat wajah yang begitu cantik mempesona.

"Wajar saja kalau putri seorang pendekar menuntut kematian Ayahnya.... Aku tidak salahkan engkau...." kata Ki Randaka sabar. "Tapi sekarang sudah cukup jelas bukan... Yaaaah. Kematian Ayahmu memang sangat disesalkan." kata Ki Randaka lagi. Lalu ia mulai menuturkan sebuah cerita...

"Tiga tahun yang lalu saat kami mengadakan pertemuan di Gerongsewu, kami telah kehilangan satu peserta yang tidak lain adalah Lungo Paksi, Ayahmu....

Meskipun kurang satu orang pertemuan terus dilangsungkan    Meskipun terasa ada kekurangan atau rasa

tidak enak.... Sepulang dari Gerongsewu, kami menemukan jasad Lungo Paksi dalam keadaan tak bernyawa, di dadanya membekas pukulan Telapak Tangan Hitam. Semula kami saling curiga terhadap sesama teman. Tapi ternyata tidak satu pun di antara kami yang memiliki pukulan dahsyat seperti itu. Kami coba menghimpun untuk memecahkan ilmu itu dan berusaha menyelidiki siapa pelakunya. Dan ternyata...." Ki Randaka tidak meneruskan kata-kata-nya, pandangannya keluar mengarah pada sosok tubuh gemuk yang tergeletak bergelimang darah. Lalu lengannya yang menggenggam pusaka Elang menunjuk....

"Dia adalah kakak kandung Lungo Paksi " ka-

tanya. Gadis itu tersentak kaget. Pandangannya cepat menoleh ke arah tubuh Raden Sintoro Tinggil.

"Apakah semasa hidup Ayahmu tidak pernah menceritakan tentang kakak kandungnya di Bantaran...?" tanya Ki Randaka. Gadis itu menggeleng. Lalu ia bangkit.

"Kenapa mesti disesalkan? Orang semacam itu memang tidak pantas dibiarkan hidup ! Siapapun dia

tanpa kecuali harus di musnahkan dari muka bumi. Apa jadinya bila ia tetap hidup   !" Tiba-tiba saja gadis

itu berkata penuh semangat. Lalu Tari Wening Asih membantu Ki Randaka bangkit. Bahruna dan Wikalpa nampak telah pulih kembali. Mereka nampak geram ketika melihat Wintara masih berdiri di situ. Maka dengan serempak mereka menyerang.... Wintara tidak mau membuang-buang tenaga lagi. Ia cepat melesat menjauh meninggalkan mereka. Tahu-tahu tubuhnya telah duduk di atas cabang sebuah pohon...

"Keparat... Turun kau   Mari kita teruskan lagi

pertarungan kita...!" bentak Wikalpa. Tari Wening Asih yang memapah Ki Randaka tersenyum geli.

"Siapakah pemuda itu, Nona    Pasanganmu-

kah ?" tanya Ki Randaka.

"Bu-bukan   Dia hanya seorang pengelana. Ka-

lau tidak ada dia, mungkin kita semua tewas di tangan Raden Sintoro Tinggil." jelas Tari Wening Asih. Bahruna menggantikan gadis itu memapah Ki Randaka.

"Seorang pengelana....? Aku pernah mendengar nama besar seorang pemuda yang berjuluk Pengelana Sakti. Benarkah dia orangnya ?" Ki Randaka berpikir.

Bahruna mendengar ucapan gurunya. Cukup kaget juga ia mendengar julukan itu. Kalau benar pemuda itu si Pendekar Kelana Sakti.... Betapa malunya Bahruna. Wikalpa masih memaki-maki pemuda yang duduk di atas cabang sebuah pohon. Wintara cuma nyengir, lalu tubuhnya melesat lagi pergi menjauh dari tempat itu. Hanya Ki Randaka dan Tari Wening Asih yang tahu ke mana perginya pemuda itu.

Wintara berjalan menyusuri jalanan berbatu, pikirannya telah jernih Itu karena pusaka Elang su-

dah tidak berada di tangannya. Langkahnya pun seakan bebas. Tidak ada lagi orang-orang dari rimba persilatan yang datang menghadang dengan alasan mencari benda pusaka. Tidak akan ada lagi.

Tubuh Wintara nampak kecil dari kejauhan menyusuri daerah perbukitan yang menghijau. Bergerak sedikit demi sedikit menjauh semakin menghilang.... Di belakangnya menyusul sosok tubuh kecil. Dari kejauhan berwarna biru seperti langit di atas sana. Sosok biru itu mengikuti ke mana Wintara melangkah....

T A M A T