Serial Pendekar Hina Kelana Eps 36 : Misteri Patung Kematian

 
Eps 36 : Misteri Patung Kematian


Laki-laki berbaju serba biru itu hanya dapat membelalakkan matanya saja ketika menemukan tubuh dua orang kawannya tergeletak tanpa nyawa di pinggir sungai Bantar Hulu. Wajahnya membersitkan kecemasan dan berubah pucat seketika. Tangan kanannya segera meraba gagang pedang yang menggantung di pinggangnya. Sepasang bola matanya yang nampak lelah memperhatikan mayat bergelimang darah di depannya. Dengan seksama diperhatikannya bekas-bekas luka yang terdapat di bagian dada dan kening kedua mayat itu. Ketika laki-laki bertubuh tinggi tegap, dengan kulit hitam legam ini sudah dapat memastikan adanya dua titik hitam yang masih mengeluarkan darah, semakin bertambah pucatlah wajahnya. Tanpa disadarinya, laki-laki berbaju biru ini melangkah mundur dua tindak. Seperti dalam keadaan tergesa-gesa dan diburu sesuatu yang tidak jelas. Ia memalingkan wajahnya ke arah jalan yang dilaluinya tadi. Kemudian dia mengedarkan pandangannya berkeliling.

Rasanya tiada alasan baginya untuk curiga pada tempat-tempat yang sangat jarang dilalui oleh manusia seperti di daerah kali Bantar Hulu ini. Lagi pula hari masih terlalu pagi. Namun kematian dua orang kawannya dengan luka sama seperti dialami oleh yang lainnya, telah membuat laki-laki berbaju biru merasa perlu menjaga setiap kemungkinan yang ada. Kemudian dibesarkan keberaniannya untuk meneliti lebih lanjut tentang keadaan mayat kawannya. Tanpa mengurangi kewaspadaannya ia segera meraba saku kedua mayat ini. Dan tubuh yang tegap itu menggigil seketika dengan wajah pucat bagai kehilangan darah.

"Celaka! Benda itu sudah tidak ada lagi. Orang yang telah membunuhnya pasti sudah menemukannya. Bagaimana aku mempertanggung jawabkan semua ini pada Eyang Wiku Swanda?" desisnya. Kata-katanya seakan ditujukan pada dirinya sendiri. Menyadari betapa berbahayanya benda yang telah lenyap dari saku salah seorang mayat itu. Laki-laki berbaju biru itu seperti merasa putus asa.

"Rasanya sia-sia saja pengorbanan besar yang telah di lakukan Eyang. Selain benda jatuh ke tangan orang lain, menurutku posisi kaum golongan putih juga semakin terjepit. Cepat atau lambat tokoh-tokoh persilatan aliran putih pasti akan tersisih!" desahnya dengan tarikan nafas semakin berat.

Sekali lagi dipandanginya keadaan mayatmayat itu. Kali ini tidak ada perubahan yang terjadi pada wajahnya. Sorot matanya terlihat kosong, terarah pada luka yang terlihat samar-samar. Sehingga sama sekali dia tidak melihat kedua mayat itu menunjukkan perubahan sedikit demi sedikit. Mungkin karena begitu beratnya beban yang harus dipikulnya, atau mungkin juga karena pikirannya sedang kacau. Sehingga tidak menyadari kalau dari pori-pori kedua mayat itu mengeluarkan cairan berwarna putih dan berlendir. Bahkan kedua mayat itu semakin menyusut, sehingga kerut merut mulai kelihatan di sekujur tubuhnya.

Baru saja dia hendak mengubur mayat kedua kawannya ini, tiba-tiba saja ia merasakan desiran halus dari arah samping kanan. Cepat-cepat dia melakukan lompatan beberapa kali ke belakang. Gerakannya begitu ringan sekali, menandakan kalau kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Dan sebelum laki-laki berumur tiga puluh lima tahun ini sempat menjejakkan kakinya dengan baik, desiran angin dingin kembali meluruk ke arahnya.

"Ihh!" cepat-cepat dia melakukan gerakan menghindar yang dilakukannya lebih cepat dari yang pertama tadi. Tapi serangan jarak jauh itu terus saja menderu dan mengejarnya ke mana sajapun ia menghindar.

"Kurang ajar! Pekerjaan siapa lagi ini?" desis laki-laki itu bersungut dalam hati.

Saat itu juga dia merasakan seranganserangan gelap itu terus mengejarnya ke manapun dia berusaha menghindar. Sambil berjumpalitan di udara, laki-laki berpakaian serba biru ini menghentakkan tangannya ke arah serangan gelap yang terus mengejarnya ini, dan saat itu juga...

"Haiit!"

Dwueer...!

Seketika terdengar suara ledakan sangat dahsyat, begitu kekuatan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi itu bertemu di udara. Tampak Jala Dara terbanting-banting ke tanah. Seketika itu juga dia merasakan dadanya sesak luar biasa. Dan bagian telapak tangan yang dipergunakan untuk memapak serangan gelap itu terasa nyeri. Tanpa menghiraukan tubuhnya yang terasa remuk, dengan cepat ia melompat bangkit berdiri.

Sungguh mengherankan sekali, saat itu juga tak ada reaksi dari orang yang menyerangnya tadi. Bahkan pukulan yang menebarkan hawa dingin pun seperti tidak pernah ada. Kenyataan ini jelas membuat Jala Dara menjadi sangat penasaran sekali. Beberapa saat dia perhatikan semak belukar asal serangan tadi datang. Jala Dara menjadi merasa heran sendiri. Namun belum juga keheranannya hilang. Tiba-tiba saja dia jadi terkesiap. Tampak dari arah lain terlihat sosok bayangan berkelebat cepat ke arah yang berlawanan.

Beeet!

"Hiyaa...!" laki-laki bertubuh tinggi tegap itu tanpa berpikir panjang lagi segera melesat mengejar. Tetapi bayangan itu sangat cepat sekali gerakannya. Sehingga dalam waktu yang singkat dia sudah kehilangan jejak. Menyadari betapa berbahayanya melakukan pengejaran seorang diri. Tanpa pikir panjang lagi dia berbalik, kemudian berlari sekencang-kencangnya ke arah lain.

Jala Dara terduduk lemas di atas sebongkah batu hitam berlumut. Wajahnya membayangkan rasa letih dan putus asa. Sesekali terdengar tarikan nafasnya yang berat. Tanpa disadarinya matahari telah tenggelam di ufuk Barat. Sekarang yang terlihat hanya rona merah membersit di ufuk Barat. Entah kenapa sampai saat ini ia merasa bingung sekali melihat kejadian demi kejadian yang berlangsung begitu cepat. Pembunuhanpembunuhan dengan luka yang sama. Kemudian korban pembunuhan yang lenyap tanpa bekas. Hingga kalangan persilatan kemudian saling curiga mencurigai antara golongan yang satu dengan golongan yang lain.

Sekarang benda berharga yang telah dilarikan oleh kawannya untuk disampaikan kepada Eyang Wiku Swanda, yaitu tokoh tua sekaligus merupakan ketua perguruan Teratai Putih telah lenyap tanpa bekas. Bagaimana harus mempertanggung jawabkan semua ini di depan Eyang Wiku Swanda? Jala Dara tidak dapat membayangkan betapa marahnya ketua perguruan Teratai Putih dan mungkin saja menghukumnya.

"Hmm... bagaimanapun aku harus mengabarkan semua ini pada Eyang Wiku Swanda. Aku khawatir dengan hilangnya benda itu, pergolakan besar dalam dunia persilatan segera terjadi." gumam Jala Dara perlahan. Selanjutnya dengan perasaan ragu dia bangkit berdiri. Namun ketika pikirannya teringat pada tugas berat dan gagal pula dilaksanakan, dengan cepat ia mulai mengayunkan langkahnya kembali.

Suasana sudah mulai gelap saat Jala Dara menelusuri jalan setapak menuju perguruan Teratai Putih yang terletak di daerah Banjar Kemuning. Belum jauh ia melangkahkan kaki dari tempat ia melepas lelah tadi, kembali ia merasakan adanya desiran halus seperti yang dirasakannya pertama tadi. Tentu sekali ini dia tidak ingin dipermainkan. Yang jelas sejak peristiwa-peristiwa menggemparkan yang pernah dia alami bersama kawankawannya, sikapnya selalu mudah curiga terhadap siapapun.

Satu sambaran angin yang sangat deras menghantam ke arahnya, tanpa membuang waktu tubuhnya langsung melompat ringan. Kemudian berjumpalitan menghindari terjangan hawa panas yang disertai melesatnya benda putih mengkilat ke arahnya. Sesaat dengan gerakan manis ia telah menjejakkan kakinya kembali. Jala Dara memperhatikan suasana di sekelilingnya dengan pandangan menyelidik. Tidak terlihat tanda-tanda mencurigakan, bahkan semak-semak tidak bergoyang sedikitpun juga.

Namun laki-laki ini merasa yakin di dalam semak-semak itu bersembunyi beberapa orang laki-laki.

"Hanya orang-orang pengecut saja yang berani bertindak dan main bokong pada orang yang belum tentu bersalah." kata Jala Dara seolah ucapan itu untuk dirinya. Sepi sejenak, namun kesunyian segera dipecahkan oleh suara tawa yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, sehingga membuat sakit telinga yang mendengarnya. Sadarlah Jala Dara bahwa orang yang bersembunyi di semak belukar itu pastilah bukan orangorang sembarangan. Dia pun bersiaga menjaga segala kemungkinan.

"Serahkan benda yang di bawa oleh kawanmu itu, Jala Dara!" perintah seseorang berwibawa.

Jala Dara bersikap tenang-tenang saja. "Aku tidak mengerti benda apa yang kau maksudkan, sobat."

Mendengar jawaban itu orang yang bersembunyi di dalam semak-semak mendengus marah. Salah seorang dari mereka yang bertindak sebagai pimpinan memberi isyarat pada kawan-kawannya. Maka dari kanan kiri jalan yang dilalui Jala Dara berloncatan delapan laki-laki berpakaian hitam mengurung Jala Dara dengan senjata terhunus. Jala Dara tersentak kaget tanpa sadar ia menggeser dua langkah ke belakang.

"Ka... kalian Iblis Hitam?" Jala Dara mendesis dengan suara bergetar. Tubuhnya langsung menggigil ketakutan saat melihat delapan Iblis Hitam ini. Sebaliknya ketua Iblis Hitam tersenyum sinis.

"Benar Jala Dara, akulah Iblis Hitam. Sebaiknya kau serahkan benda yang dibawa oleh kedua kawanmu itu pada kami!" bentak laki-laki berpakaian serba hitam yang di seluruh wajahnya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Laki-laki bersenjata pedang ini memang berpenampilan menyeramkan. Tindakannya sangat keji dan licik, sehingga kalangan persilatan sangat segan berurusan dengannya.

"Benda itu telah lenyap pagi tadi. Bahkan kedua kawanku telah tewas di pinggir kali Bantaran Hulu." jawab Jala Dara. Nada suaranya bergetar, menandakan ia berusaha menekan gejolak perasaannya yang tiada menentu.

"Siapa yang mau percaya dengan segala ocehanmu, Jala Dara!" nada suara Iblis Hitam dingin dan menyeramkan, sehingga membuat bulu tengkuk Jala Dara meremang berdiri. Sebelum rasa kecut di hati Jala Dara sirna sama sekali, ketua Iblis Hitam telah berkata kembali dengan suara menggelegar.

"Jala Dara! Kuperingatkan padamu untuk segera menyerahkan benda itu secepatnya padaku. Jika tidak aku tidak akan mengampuni jiwamu!"

Jala Dara terkesiap, ia telah tahu betapa kejamnya orang yang berjuluk Iblis Hitam ini. Ancaman Iblis Hitam bukan merupakan kosong belaka. Namun bagaimana mungkin ia dapat menyerahkan benda yang diinginkan oleh Iblis Hitam. Sedangkan Jala Dara sendiri tidak tahu siapa yang telah merampas benda itu dari tangan kawankawannya.

"Maafkan aku kisanak. Mungkin kisanak sendiri telah tahu bahwa kawanku yang ditugaskan membawa benda itu telah tewas di tangan seseorang. Benda itu lenyap tanpa meninggalkan jejak. Lagipula jika benda itu benar-benar ada padaku, tidak mungkin aku menyerahkannya pada orang-orang Iblis Hitam. Yang jelas merupakan golongan beraliran sesat...!" dengus Jala Dara. Entah sebab apa mendadak timbul keberanian di hati Jala Dara untuk membantah perintah orang yang telah ia ketahui kekejamannya.

Ucapan Jala Dara yang sangat meremehkan bagi Iblis Hitam tentu tidak jauh bedanya dengan sebuah tamparan yang sangat keras sekaligus menghina mereka. Selama malang melintang di rimba persilatan belum ada orang dari aliran manapun yang berani membantah keinginannya. Tapi sekarang seorang suruhan Wiku Swanda yang ia taksir memiliki kepandaian lebih rendah darinya berani membantah perintahnya. Kenyataan ini membuat amarahnya membara.

"Kau memang tidak pantas diberi hidup, Jala Dara! Bunuh dia...!" teriak Iblis Hitam tinggi melengking. Sebelum gema suara Iblis Hitam lenyap ditelan kegelapan malam. Delapan orang bawahan Iblis Hitam segera menyerang dari segala penjuru. Mendapat serangan ganas yang berlangsung sangat cepat ini, Jala Dara tidak tinggal diam. Apalagi ketika melihat para penyerangnya begitu berambisi untuk membunuhnya. Tidak pelak lagi sebelum senjata di tangan lawan-lawannya menghantam tubuhnya. Dengan gerakan yang manis Jala Dara melentingkan tubuhnya ke udara, serangan lawan luput dan menyambar tempat kosong.

"Yeaa!" Bet! Wuut!

Jala Dara terpaksa membanting tubuhnya ke samping kiri begitu menjejakkan kakinya di atas rerumputan. Namun serangan-serangan anggota Iblis Hitam menyambar ke bagian tubuh yang mematikan. Ia harus bekerja keras menghalau setiap serangan yang datang tidak ubahnya air bah. Jala Dara bangkit berdiri, kedua kakinya melakukan gerakan-gerakan lincah, sehingga acapkali ia berhasil mematahkan sabetan senjata yang datang dari sebelah kiri. Bahkan dengan kecepatan gerak tangan yang sulit untuk diikuti oleh mata ia berhasil menjatuhkan lawannya yang menyerang dari bagian depan.

Buuuk! Buuuk!

"Arrk...!" suara teriakan lainnya kembali terdengar. Seorang lawan yang menyerangnya dari bagian belakang terkena sambaran telak di bagian dada sehingga membuat orang itu tersungkur roboh tanpa mampu bangkit kembali.

Apa yang dilakukan oleh Jala Dara rupanya di luar perhitungan ketua Iblis Hitam. Semula ia beranggapan sembilan orang bawahan pasti mampu meringkus Jala Dara. Tapi kenyataannya ketika pertempuran baru saja berlangsung lima belas jurus. Jala Dara yang dianggap lemah oleh Iblis Hitam, telah menjatuhkan tiga orang bawahannya tanpa mampu bangkit kembali. Mendidih darah Iblis Hitam melihat kematian tiga orangnya. Dengan kemarahan meluap. Seraya memungut pedang yang terletak di atas tanah. Lakilaki bertampang sadis ini segera berteriak lantang...

"Minggir kalian semuanya! Rupanya kadal buntung ini ingin melihat betapa tajamnya pedang di tanganku!"

Tanpa berkata lagi lima orang yang sedang mendesak Jala Dara, segera menarik balik serangannya. Dengan cepat mereka melompat mundur. Sementara Jala Dara sendiri merasa sekaranglah ajalnya menjemput. Ia sepenuhnya menyadari, Iblis Hitam merupakan seorang lawan yang sangat tangguh. Kepandaiannya bisa jadi di atas Jala Dara. Namun pantang baginya untuk bersurut mundur, sebelum ia sendiri membuktikan sampai di mana kehebatan lawannya. "Shaa...!" sambil berteriak melengking tinggi, dalam kegelapan malam yang hanya diterangi cahaya bintang. Pedang di tangan Iblis Hitam berkelebat cepat sehingga kelihatan cahaya putih menyilaukan mata menderu deras ke bagian dada Jala Dara. Jala Dara secepatnya menggeser bagian kakinya ke samping kanan sehingga serangan Iblis Hitam yang berupa tusukan menyilang gagal mencapai sasaran. Dengan cepat Jala Dara segera melakukan serangan balasan dengan melontarkan pukulan keras yang disertai seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

Gerakan kilat yang dilakukan Jala Dara rupanya sempat dilihat oleh Iblis Hitam. Sehingga dalam keadaan yang gawat itu Iblis Hitam menadahkan tangan kirinya. Kiranya benturan keras tidak dapat dihindari lagi.

Duees!

"Uh...!" Jala Dara mengeluh tertahan ketika tangannya membentur tangan Iblis Hitam. Jala Dara tersungkur, ia dapat merasakan tangannya terasa nyeri luar biasa. Selain itu dadanyapun berdenyut-denyut. Tanpa menghiraukan luka dalam yang di deritanya. Dia secepatnya bangkit berdiri, langkahnya terhuyung-huyung. Namun dia tetap berusaha memperbaiki posisinya.

"Sebentar lagi nyawamu segera terbang ke Neraka, Jala Dara!" Iblis Hitam menggeram marah. "Lebih baik kau serahkan benda itu, siapa tahu pikiranku berubah...!"

Tapi orang seperti Jala Dara adalah orang yang mempunyai prinsip pantang menyerah. Sebelum bertarung sampai titik darah penghabisan. Sungguhpun ia sendiri telah merasakan kehebatan yang satu ini, namun tiada sedikitpun rasa gentar di hatinya.

Tanpa berkata apa-apa tubuhnya berkelebat. Dengan gerakan yang sulit untuk didugaduga, Jala Dara melakukan tendangan terarah pada bagian perut Iblis Hitam. Tendangan itu keras bukan main, sebaliknya Iblis Hitam begitu merasakan datangnya desiran halus dari bagian punggungnya segera pula mengayunkan senjata di tangannya. Lalu tebasan menyilang dilakukannya beberapa kali.

Wuuus!

"Ihh!" Jala Dara mengeluh tertahan. Masih untung ia sempat menarik balik serangannya, sehingga kaki kanannya berhasil diselamatkan dari ketajaman mata pedang di tangan Iblis Hitam. Tiada diduga-duga lawannya melakukan serangan balik dengan kecepatan berlipat ganda. Jala Dara langsung terdesak hebat. Pada satu kesempatan yang sangat baik, Iblis Hitam tidak menyianyiakan waktu.

Breet!

"Akkh...!" sambil memekik tertahan Jala Dara masih sempat melompat menghindari sergapan senjata berikutnya. Tidak urung bagian bahunya yang tersambar ketajaman pedang di tangan lawan terasa nyeri dan banyak mengeluarkan darah.

Darah meleleh dari luka memanjang di punggung laki-laki ini. Lawan yang sempat melihat semua ini segera memburunya tanpa memberi kesempatan sedikitpun pada Jala Dara untuk melakukan sesuatu. Disertai jeritan tinggi melengking, Iblis Hitam mengayunkan senjatanya ke bagian kepala Jala Dara. Nampaknya dia sudah tidak mempunyai kemungkinan dapat meloloskan diri dari maut, jika pada saat yang sangat kritis itu tidak berkelebat bayangan sesosok tubuh menyambar Jala Dara dan langsung melesat pergi menembus kegelapan malam.

"Kurang ajar!" maki Iblis Hitam ketika menyadari lawannya telah dilarikan oleh sesosok bayangan yang tidak dikenalnya sama sekali. Dengan langkah tergesa-gesa mereka segera memburu ke arah menghilangnya bayangan tadi.

* * *

Gabruk!

Orang yang bergerak dengan kecepatan bagai tidak ubahnya bayangan itu menjatuhkan tubuh Jala Dara di atas tanah berumput hijau. Saat itu bulan di langit sana mulai menampakkan diri, sehingga Jala Dara dapat melihat dengan jelas siapa yang telah menyelamatkan dirinya dari tangan Iblis Hitam. Dengan rasa terima kasih yang mendalam dia melihat orang yang telah menyelamatkannya.

Jala Dara tercengang ketika melihat orang yang telah menolongnya itu ternyata hanya seorang pemuda berpakaian serba merah dengan rambut dikuncir, sementara di pinggangnya menggantung sebuah periuk berwarna hitam. Yang membuat Jala Dara kagum justru karena pemuda ini memiliki ilmu meringankan tubuh dan kecepatan berlari luar biasa. Padahal usia pemuda itu mungkin baru sekitar dua puluhan. Di lain pihak pemuda berpakaian merah yang tidak lain Buang Sengketa ini terus memperhatikan Jala Dara tanpa berkata apa-apa. Jala Dara sebagai orang yang ditolong langsung merapatkan tangannya di depan dada.

"Terima kasih atas pertolongan anda, kisanak! Aku berhutang nyawa pada kisanak." ucapnya dengan wajah tertunduk. Pemuda berpakaian merah melirik pada Jala Dara sekilas. Kemudian timbul dalam ingatannya bahwa orang di depannya ini mempunyai budi pekerti yang luhur.

"Tolong menolong sesama manusia memang sangat dianjurkan, paman. Paman tidak usah berkata begitu, sebab persoalan nyawa merupakan urusan Yang Maha Kuasa!"

"Tapi, kis...!"

"Panggil saja, Buang! Namaku Buang Sengketa, paman...!" sergah Buang Sengketa tanpa ragu. Jala Dara menganggukkan kepalanya dengan perasaan kagum.

"Ah. Buang, jika saja kau tidak muncul. Mungkin sekarang ini aku hanya tinggal nama saja." ucapnya dengan suara tersendat. Mendengar keterangan laki-laki yang duduk tidak jauh darinya ini tentu saja Buang Sengketa atau yang lebih di kenal dengan julukan Pendekar Hina Kelana ini merasa tertarik. "Paman, sebenarnya siapakah paman ini dan siapa pula orang-orang yang telah mengeroyok paman?"

Jala Dara mendapat pertanyaan seperti itu nampak ragu-ragu.

"Katakanlah paman! Barangkali aku dapat menolongmu." desak Buang Sengketa.

Jala Dara menarik nafas, kemudian: "Namaku Jala Dara, sedangkan orang yang

mengeroyokku itu tidak lain Iblis Hitam. Namun menurut hematku sebaiknya kau tidak usah mencampuri urusanku." Jala Dara menyarankan, sepertinya ia enggan persoalannya dicampuri oleh orang lain.

"Mengapa paman menjadi ragu? Apakah paman merasa bahwa aku bukan orang yang dapat di percaya?" desah Buang Sengketa dengan suara agak keras.

"Bukan begitu, aku hanya merasa tidak ada gunanya menceritakan segala yang kuhadapi dengan orang lain. Mungkin engkau tidak tahu bahwa saat sekarang ini rimba persilatan di bagian Timur sedang di landa teror. Begitu banyak tokoh golongan putih yang tewas di tangan golongan hitam."

Buang Sengketa terdiam, bagaimanapun ia merasa terkesan dengan keterangan Jala Dara. Sehingga ia bertekad untuk membantunya.

"Sudah hampir empat purnama rimba persilatan bagian Timur dilanda kejadian-kejadian yang mengejutkan. Beberapa perguruan silat yang terdapat di sekitar daerah Bumi Ayu geger dengan tewasnya beberapa orang murid utama, dan bahkan guru mereka ada yang tewas dengan luka menghitam akibat serangan senjata paku beracun dari Tokoh Misterius yang memiliki kepandaian sulit diukur. Yang lebih mengherankan mayatmayat mereka hilang raib tidak tentu rimbanya."

"Hmm... sebuah kejadian yang sangat langka dan jarang terdengar!" Buang bergumam sambil menatap Jala Dara lekat-lekat.

"Tapi menurutku si Tokoh Misterius melakukan tindakan itu pastilah ada sebabnya."

Jala Dara terdiam, namun tidak lama kemudian...

"Apa yang kau katakan memang benar, Buang. Tokoh misterius itu tidak mungkin melakukan tindakan-tindakan yang keji jika tidak ada sesuatu yang sangat berharga yang dicarinya."

"Coba tolong paman jelaskan padaku!"

Jala Dara menarik nafasnya panjangpanjang.

"Aku sebenarnya penjaga benda langka di lembah Putus Nyawa. Benda yang ku jaga berupa patung yang terbuat dari emas murni. Pemilik patung itu memberi nama Patung Kematian, sebab siapapun yang menyentuh benda itu tanpa kain sutera merah, maka mereka akan menemui kematian dengan kulit berubah membiru."

"Betapa beracunnya patung yang paman jaga itu?" kata Buang, tubuhnya meremang membayangkan betapa ganasnya racun yang terdapat pada patung yang diceritakan oleh Jala Dara.

"Patung Kematian memang mengandung racun yang ganas. Namun dalam kenyataannya sangat banyak orang persilatan yang berhasrat memiliki patung itu. Karena di dalam Patung Kematian sutera yang memuat pelajaran menciptakan racun Seribu Wisa tingkat tinggi yang tidak ada duanya." jelas Jala Dara agak ragu.

Pendekar Hina Kelana merasa terkejut mendengar penuturan Jala Dara. Kalau benar apa yang dikatakan Jala Dara, sama saja artinya rimba persilatan berada dalam situasi curiga-mencurigai. Tapi apa hubungannya antara Patung Kematian dengan sepak terjang si Tokoh Misterius yang terus mengancam keselamatan kaum persilatan golongan putih? Dan bagaimana mungkin orangorang yang menjadi korban Tokoh Misterius bisa hilang begitu saja? Pikir Buang Sengketa.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara desiran halus yang datang dari empat penjuru.

"Paman Jala Dara! Awaas...!" teriak Buang Sengketa sambil melentingkan tubuhnya ke udara menghindari serangan gelap yang datang secara tiba-tiba itu.

"Aaah...!" Jala Dara menjerit tertahan. Rupanya ia tidak sempat menghindari serangan gelap berupa paku-paku beracun itu. Tubuh laki-laki ini langsung ambruk ke semak-semak dengan posisi terlentang.

"Paman...!" dalam keterkejutannya itu Buang Sengketa berteriak keras sambil berlari ke arah Jala Dara yang tergeletak tidak berdaya.

Buang Sengketa segera berlutut di samping tubuh Jala Dara yang mendapat luka di bagian dada dan keningnya. Luka yang berbentuk bulat itu meninggalkan luka menghitam dan terus mengalirkan darah berwarna kehitam-hitaman pula. Anehnya paku-paku beracun itu tidak lagi menempel pada luka-luka yang di timbulkannya. Dilihat sekilas saja orang sudah tahu betapa orang yang menyambitkan senjata rahasia itu kemudian mencabutnya kembali setelah mencapai sasaran. Tentu merupakan orang yang memiliki kepandaian tinggi. Pendekar Hina Kelana sadar betul akan hal yang satu ini. Namun ia tidak perduli, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana caranya menyelamatkan nyawa Jala Dara dari racun yang sangat ganas

"Sabarlah, paman. Aku akan berusaha menolongmu..." kata Buang. Meskipun dalam hati kecilnya mengatakan bahwa Jala Dara tidak mungkin tertolong lagi. Rupanya Jala Dara yang kulit tubuhnya mulai membiru akibat cepatnya racun itu bekerja menggelengkan kepala.

"Tid... tidak! Ajalku sudah sampai. Kalau kau butuh keterangan, datanglah ke perguruan Teratai Putih." sebelum Jala Dara sempat melanjutkan ucapannya, tiba-tiba kepalanya terkulai. Tubuh Jala Dara cepat sekali berubah dingin. Buang Sengketa menggelengkan kepalanya lemah. Dalam hati ia bertekad untuk menyelidiki tentang apa yang di sebut-sebut oleh Jala Dara. Dan satusatunya tempat yang akan ditujunya adalah perguruan Teratai Putih.

*** 2

Perguruan Teratai Putih merupakan perguruan yang cukup besar. Murid-muridnya berjumlah tidak kurang dari tiga puluh lima orang. Perguruan ini terletak di daerah padat penduduk di kaki bukit Abadi. Perguruan Teratai Putih menjadi terkenal, bahkan disegani baik oleh kawan maupun lawan karena ketinggian dan kemahiran para murid-muridnya dalam memainkan ilmu pedang.

Namun, pagi itu perguruan Teratai Putih yang dipimpin oleh Eyang Wiku Swanda menjadi gempar dengan hadirnya Iblis Hitam beserta lima orang kawannya. Begitu mereka menginjakkan kakinya di perguruan Teratai Putih, Iblis Hitam dan lima orang kawannya langsung menyerang muridmurid perguruan Teratai Putih. Muridmurid perguruan Teratai Putih yang rata-rata memiliki ilmu pedang yang sangat lumayan ini tentu saja tidak tinggal diam. Dengan cepat merekapun membalas serangan-serangan ganas lawannya dengan tidak kalah sengitnya.

Pertempuran serupun terjadi. Lima orang Iblis Hitam berusaha mendesak murid-murid perguruan Teratai Putih yang juga mempergunakan senjata pedang. Dalam waktu yang singkat, muridmurid perguruan Teratai Putih satu demi satu bergelimpanggan roboh. Semua ini tentu saja memancing kemarahan yang lain. Kemudian secara serentak, dengan disertai teriakan-teriakan menggelegar, mereka yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi segera mengeroyok kelima anggota Iblis Hitam. Dengan turunnya murid utama dari perguruan itu, maka sekarang keadaan menjadi berbalik. Kelima anggota Iblis Hitam mulai merasakan tekanan yang dilakukan oleh lawan-lawan mereka. Semua itu tidak luput dari perhatian laki-laki berwajah angker yang menjadi ketua mereka. Tanpa berkata apa-apa, laki-laki ini segera ikut menggabungkan diri ke dalam pertempuran. Dengan hanya bertangan kosong dia menghajar lawanlawannya. Tendangan kilat yang dilakukannya secara beruntun maupun pukulan-pukulan kilat saling susul menyusul. Beberapa orang murid perguruan Teratai Putih yang berada dekat dengan dirinya nampak bergelimpangan roboh tanpa mampu bangkit kembali.

Ketika Iblis Hitam berusaha membuka jalan darah untuk menerobos masuk ke dalam pondok perguruan. Pada saat itu dari bagian samping pondok menderu angin kencang menebarkan hawa panas luar biasa ke arah Iblis Hitam. Dengan gerakan kilat, laki-laki berwajah bengis ini memiringkan tubuhnya ke samping kiri, lalu iapun melompat sejauh tiga langkah. Pukulan yang hampir menghajar tubuhnya dari samping pondok pun luput dan menghantam tangga hingga hancur berantakan. Dengan cepat Iblis Hitam memandang ke arah datangnya pukulan tadi. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di samping pondok telah berdiri seorang laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun, pakaiannya warna putih tidak ubahnya bagai pendeta Brahma, sedangkan rambut, jenggot serta kumisnya juga berwarna putih. Laki-laki ini tidak lain Eyang Wiku Swanda. Ia memandang tajam pada Iblis Hitam dengan sorot mata tajam menusuk.

"Melihat dandanan kalian yang mirip orang gila. Aku yakin kalian pastilah Iblis Hitam, yang selama ini tinggal di bukit Tunggul. Ada keperluan apakah sehingga begitu datang kalian membunuhi beberapa orang muridku?" tanya laki-laki berpakaian Brahma ini dengan sikap tenang dan pandangan menyelidik.

Ketua Iblis Hitam sebenarnya menyadari betapa tingginya ilmu kepandaian yang dimiliki oleh tokoh golongan putih yang satu ini. Itulah sebabnya walaupun mereka sempat membunuh beberapa orang murid perguruan Teratai Putih. Namun dalam hal bertutur kata ia masih bersikap hatihati.

"Maafkan kami, Eyang Wiku." kata Iblis Hitam yang ternyata kenal betul dengan ketua perguruan Teratai Putih. "Sebenarnya kedatanganku dengan beberapa orang kawan ke perguruan anda ini bukan ingin membuat ribut. Tapi karena murid-muridmu terlalu curiga dan menghalanghalangi kami untuk berjumpa denganmu. Maka dengan sangat terpaksa kami memberi sedikit pelajaran pada mereka." kata-kata Iblis Hitam ini diucapkan seolah penuh penyesalan. Padahal semua murid-murid perguruan Teratai Putih jelas tahu bahwa merekalah yang telah melakukan serangan begitu mereka datang tadi. Sebagai orang yang telah berpengalaman, Eyang Wiku Swanda menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Iblis Hitam hanya berupa kebohongan semata-mata. Diamdiam hati ketua perguruan Teratai Putih ini menjadi geram bukan main, tapi di depan ketua Iblis Hitam ia berusaha menutupi kemarahannya. Karena ia sebenarnya ingin mengetahui apa yang menjadi tujuan Iblis Hitam datang ke perguruan yang dipimpinnya. Kemudian dengan kata-kata tajam menusuk, Eyang Wiku Swanda berkata:

"Membunuh beberapa orang murid perguruan Teratai Putih bukanlah merupakan sebuah pelajaran. Semua itu tidak jauh bedanya dengan sebuah penghinaan dan pembunuhan yang tidak bertanggung jawab. Namun aku yang tua ini mungkin saja dapat memaafkan kalian, jika anda segera menjelaskan padaku apa sebenarnya yang menjadi tujuan kalian hingga datang ke perguruan kami?"

"Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Tanpa bersusah payah menjelaskannya, kiranya Wiku Swanda memberi kesempatan padaku untuk bicara" Pikir Iblis Hitam, sementara Eyang Wiku Swanda terus memandanginya dengan sikap tidak sabar.

"Eyang Wiku! Adapun niat kedatangan kami ke perguruan Teratai Putih ini, pertama-tama adalah untuk melihat keselamatan Wiku. Sedangkan yang kedua adalah untuk menanyakan tentang perihal Patung Kematian yang kabarnya telah lenyap dari sebuah tempat yang hanya Wiku sendiri yang mengetahuinya." kata Iblis Hitam di sertai sesungging senyum penuh kelicikan. Wajah Eyang Wiku Swanda berubah memerah seketika. Tanpa sadar ia mengatupkan gerahamnya rapat-rapat. Sebenarnya ia sendiri selain sangat marah juga heran. Bagaimana Iblis Hitam bisa tahu bahwa Patung Kematian yang baru diambil oleh dua orang muridnya dan jatuh ke tangan orang lain bisa secepat itu beritanya sampai kepada Iblis Hitam. Padahal kabar itu baru diterimanya malam tadi. Eyang Wiku Swanda berkesimpulan, jika saja Iblis Hitam telah mengetahui perihal hilangnya Patung Kematian. Bukan mustahil saat itu golongan persilatan lainnya juga telah mengetahuinya. Kenyataan ini sangat berbahaya sekali. Karena Patung Kematian bisa saja diperebutkan oleh banyak golongan yang berambisi ingin memilikinya. Jika Patung Kematian sampai terjatuh ke tangan golongan sesat, rimba persilatan terancam malapetaka yang sangat besar. Diam-diam Eyang Wiku Swanda bergidik ngeri membayangkan bencana yang mungkin saja bakal terjadi

"Bagaimana, Wiku? Apakah betul apa yang kukatakan tadi?" desak Iblis Hitam tidak sabar. Ketua perguruan Teratai Putih tersentak dari lamunannya.

"Huh!" Eyang Wiku Swanda mendengus. "Dalam sejarahnya belum ada golongan sesat sikap baik pada golongan putih! Biasanya yang kutahu iblis hanya mengunjungi setan. Kalian datang ingin menanyakan keselamatanku. Tapi justru karena kehadiran kalian, beberapa orang muridku menjadi tidak selamat! Bicaramu berputar-putar membuat pusing kepala, tidak tahunya Patung Kematian juga yang menjadi tujuan kalian. Kalian memang orang-orang sesat yang tidak tahu malu." bentak laki-laki berpakaian putih ini dengan kemarahan membara. Iblis Hitam memang tokoh yang tidak bermalu, terbukti...

"Wiku! Kami merasa beruntung kalau Wiku memang telah mengetahui apa yang menjadi tujuan kami. Menurutku berita tentang hilangnya Patung Kematian itu sesungguhnya hanyalah sebuah kabar yang tidak lucu. Dan kami yakin patung itu sekarang berada di tanganmu, singkatnya serahkanlah patung itu kepada kami!" perintah Iblis Hitam tanpa malu-malu lagi. Keinginan tokoh sesat itu tentu saja membuat Eyang Wiku Swanda menjadi gusar. Dia merasa Iblis Hitam tidak memandang muka padanya. Kenyataan inilah yang membuat kesabarannya hilang.

"Iblis Hitam! Kuperingatkan padamu untuk menyingkir dari hadapan kami." begitu dingin suara Eyang Wiku Swanda, namun Iblis Hitam malah tertawa tergelak-gelak. Hatinya merasa senang sekali karena merasa mampu memancing kemarahan laki-laki tua ini.

"Bagaimana kalau kami tidak ingin menyingkir dari tempat kediamanmu ini, Wiku...? Apakah kau merasa mampu mengusirku?" ejek Iblis Hitam disambut gelak tawa kawan-kawannya.

"Wiku. Mengapa harus bersusah payah. Kalau mereka tidak mau menyingkir, lebih baik kita gebuk saja mereka beramai-ramai..." entah dari mana datangnya tahu-tahu tidak jauh dari hadapan mereka telaih berdiri seorang pemuda berwajah sangat tampan berpakaian merah.

Ketika Eyang Wiku Swanda melihat kehadiran Buang, laki-laki tua ini mengernyitkan alisnya. Sama sekali ia tidak mengenal pemuda itu. Namun sebagai orang yang telah berpengalaman, Eyang Wiku Swanda tahu kalau kehadiran pemuda ini bukan membawa maksud-maksud tidak baik.

Lain lagi halnya dengan ketua Iblis Hitam dan lima orang kawannya. Mereka ini jelas pernah bertemu dengan Buang Sengketa, meskipun tidak pernah bentrok secara langsung. Namun melihat gerakannya yang cepat luar biasa saat menyelamatkan Jala Dara beberapa hari yang lalu, mereka segera maklum pemuda itu memiliki kepandaian tinggi. Karena itu ketua Iblis Hitam merasa perlu berbuat sesuatu agar pemuda berpakaian merah ini jangan sampai mencampuri urusannya dengan Eyang Wiku Swanda.

"Kisanak, ku harap engkau tidak mencampuri urusanku dengannya. Jika anda tetap bersikeras, maka kami tidak segan-segan menghajarmu." ancam Iblis Hitam. Namun apa yang dikatakan oleh Buang kemudian benar-benar membuat Iblis Hitam mati kutu.

"Ha... ha... ha...!" Buang menghentikan tawanya sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Kalian bukanlah bangsanya memedi yang patut ditakuti." Buang lalu berpaling pada Eyang Wiku Swanda. "Eyang... anda tentu belum mengenalku. Tapi, ketahuilah beberapa hari yang lalu Iblis Hitam hampir saja membunuh paman Jala Dara, yang mereka sangka membawa Patung Kematian."

Kata-kata yang disampaikan oleh Buang

membuat terkejut kakek tua ini. Sama sekali ia tidak pernah menyangka kalau pemuda ini malah pernah bertemu dengan Jala Dara penjaga pintu Kematian. Tapi Eyang Wiku Swanda menjadi bingung sendiri ketika ia tidak melihat Jala Dara datang bersama pemuda berpakaian merah itu. Beberapa orang muridnya yang melakukan pencarian mengatakan Jala Dara telah tewas, jadi mana yang benar?

"Kisanak. Siapakah engkau? Dan bagaimana bisa mengenal Jala Dara?" tanyanya dalam keraguan.

"Namaku Buang Sengketa. Mengenai perjumpaanku dengan paman Jala Dara agak panjang ceritanya. Tapi apakah anda merasa pantas kalau kuceritakan segala sesuatunya di depan orangorang ini?" Buang langsung menunjuk ke arah Iblis Hitam dan kawannya. Tokoh aliran sesat ini menjadi marah karena merasa diremehkan. Ketika Eyang Wiku Swanda belum sempat berkata apaapa, ketua Iblis Hitam segera menyerang Pendekar Hina Kelana. Sedangkan lima orang lainnya dengan pedang terhunus segera menyerang Eyang Wiku Swanda. Eyang Wiku Swanda menyambut serangan senjata kelima anggota Iblis Hitam dengan sikap tenang. Pada kenyataannya Eyang Wiku Swanda bukanlah lawan bagi lima anggota Iblis Hitam. Ilmu kepandaian yang dimiliki oleh kakek tua ini jelas jauh lebih tinggi dari lawan-lawannya. Namun bagi lawan yang senantiasa haus darah, mereka mana mau perduli dengan kenyataan yang mereka hadapi. Lima mata pedang laksana kilat menghujani laki-laki berumur tujuh puluh tahun ini, sehingga harus membuatnya mengerahkan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak yang tiada dapat diduga-duga.

"Uakh...!" Wuuus!

Satu tusukan mata pedang yang mengarah bagian lambung kiri berhasil dielakkan oleh kakek ini. Pada kesempatan itu Eyang Wiku Swanda melontarkan pukulan keras ke arah lawannya.

Blaaar! "Wuaark...!"

Dua orang lawan yang terus berusaha mendesaknya di bagian samping kiri langsung terbanting roboh. Pukulan kakek tua yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi menghajar tubuh mereka. Terdengar tulang-belulang berderak patah menyertai jatuhnya dua sosok tubuh anggota Iblis Hitam. Kedua laki-laki yang terkena pukulan kakek tua ini nampak memuntahkan darah segar. Tubuh mereka berkelojotan, selanjutnya terdiam tiada bergerak-gerak lagi.

Melihat dua orang kawannya dapat dijatuhkan oleh lawan mereka, tiga orang lainnya langsung menghentikan serangan. Tapi sesaat setelah mereka saling berpandangan sesamanya. Dengan disertai teriakan-teriakan melengking tinggi, ketiga orang itu sudah membangun serangan kembali. Semakin lama serangan yang dilakukan oleh ketiga laki-laki ini semakin bertambah gencar dan ganas. Meskipun laki-laki tua ini agak kerepotan juga menghadapi serangan mata pedang yang meluncur deras ke arahnya, Eyang Wiku Swanda masih dapat bersikap tenang. Semua ini merupakan suatu pertanda bahwa laki-laki itu mempunyai kepandaian di atas lawan-lawannya.

Di lain pihak, ketua Iblis Hitam yang sedang berhadapan dengan Buang atau Pendekar Hina Kelana. Nampak sudah mulai mendesak pendekar ini. Berulangkali senjata andalannya berupa pedang yang mengandung hawa panas beracun berkelebat cepat terarah pada bagian-bagian tubuh yang mematikan. Dengan cepat Buang melentikkan tubuhnya ke udara. Selanjutnya dengan gerakan yang ringan, tubuhnya telah meluncur ke bawah sambil melontarkan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Serangkum gelombang pukulan yang menebarkan hawa panas tiada tertahankan menghantam tubuh Iblis Hitam. Namun rupanya lakilaki bertampang angker ini menyadari datangnya pukulan ini. Hanya sesaat saja dia terperangah. Selanjutnya dengan gerakan yang tiada terduga oleh Buang Sengketa, lawan langsung memutar pedangnya di atas kepala. Buang sempat tersentak kaget, ia memang tidak pernah menyangka lawannya mampu melakukan gerakan yang sangat sulit seperti itu. Masih untung ia masih dapat menghentikan arus pukulannya.

"Heeuph!"

Sesaat ia terhindar dari serangan senjata lawannya, Buang telah menjejakkan kedua kakinya kembali ke tanah. Pendekar Hina Kelana ini berdiri tegak sambil memandang tajam pada lakilaki berbadan pendek yang seluruh bagian wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus. Sementara Iblis Hitam ini juga menghentikan serangannya. Seraya melirik pada Buang dengan pandangan kagum bercampur amarah. Namun tidak lama setelahnya dia telah berpaling ke arah Wiku Swanda yang baru saja menyelesaikan pertarungan dengan anggota Iblis Hitam.

Iblis Hitam tersentak kaget melihat seluruh anak buahnya terbantai habis oleh Eyang Wiku Swanda, dengan geram...

"Keparaat! Kalian telah membunuh orangorangku!" bentak Iblis Hitam dengan amarah berkobar-kobar.

Eyang Wiku Swanda dan Buang Sengketa saling berpandangan. Hampir bersamaan mereka mengalihkan perhatiannya pada Iblis Hitam yang telah berubah tegang akibat kematian kawankawannya.

"Iblis Hitam. Kalau kau tidak segera pergi dari tempat kediamanku ini. Jangan menyesal nanti jika aku sampai turun tangan kejam padamu!" desis Eyang Wiku Swanda dengan suara dingin menggetarkan.

Ketua Iblis Hitam mendengus. Pikirannya yang cerdik dam dipenuhi kelicikan ini berputar cepat. Dia sadar karena Patung Kematian yang kabarnya mengandung ilmu racun ganas, dia telah mengorbankan nyawa lima orang kawannya. Padahal seperti yang diakui oleh Eyang Wiku Swanda, benda yang sedang diincar oleh berbagai tokoh itu tidak ada padanya. Dan mengapa baru sekarang dia ingat bahwa dua orang murid perguruan Teratai Putih yang membawa Patung Kematian tewas di tangan pembunuh misterius bersama lenyapnya Patung Kematian itu. Andai sekarang ini ia tetap bersikeras melanjutkan pertarungan dengan Wiku Swanda. Maka semakin kecillah harapan baginya untuk keluar sebagai pemenang. Eyang Wiku Swanda adalah seorang tokoh persilatan yang mempunyai kepandaian tinggi, belum tentu dia mampu mengalahkannya, apalagi jika sampai pemuda berperiuk itu turut membantu. Bisa saja jiwanya tidak akan selamat. Kalau begitu siasialah harapannya selama ini untuk memiliki Patung Kematian. Teringat sampai di situ, Iblis Hitam tidak mampu membayangkan bagaimana nasibnya nanti. Dia pun akhirnya memutuskan...

"Baiklah orangtua. Hari ini kau boleh tertawa atas kemenanganmu, tapi ingat di suatu saat kelak aku akan mencarimu!" kata Iblis Hitam penuh ancaman. Selanjutnya tanpa berkata-kata lagi, ia segera memutar tubuh kemudian berlari cepat meninggalkan perguruan Teratai Putih.

***

3

"Terlalu sulit untuk mencari kepastian siapa yang telah merebut patung itu, Buang!" ujar Eyang Wiku Swanda ketika sore itu mereka terlihat pembicaraan serius di ruangan pendopo depan. "Lalu menurut kakek sendiri bagaimana?"

Eyang Wiku Swanda langsung terdiam sesaat setelah Pendekar Hina Kelana ini mengajukan pertanyaan. Memang sebenarnya terasa sulit bagi laki-laki berusia tujuh puluhan ini untuk menerka siapa sebenarnya orang yang telah berhasil merampas Patung Kematian dari tangan kedua orang muridnya. Sepanjang yang diketahuinya, sejak Patung Kematian berada dalam pengawasan Jala Dara. Salah seorang abdi yang sangat dipercayainya, Patung Kematian selalu menjadi incaran kaum golongan sesat. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, tokoh-tokoh persilatan dari golongan putihpun mengincar patung itu. Selain itu ada satu hal yang selalu membebani perasaannya. Yaitu siapakah pembunuh misterius yang mempergunakan paku beracun sebagai senjata rahasia? Apakah Tokoh Misterius itu yang telah merampas Patung Kematian yang dibawa oleh kedua orang muridnya? Eyang Wiku Swanda tidak berani menarik kesimpulan sampai sejauh itu. Sebab selama ini ia merasa tidak mempunyai seorang musuhpun di rimba persilatan.

Sekarang ada pula seorang pemuda yang muncul begitu saja dan menyatakan kesanggupannya untuk membantu menemukan patung yang hilang itu. Eyang Wiku Swanda sebenarnya merasa senang juga dengan kemunculan serta kesanggupan Buang Sengketa. Namun keraguan terkadang selalu hadir di benaknya. Entah mengapa akhir-akhir ini dia mudah curiga terhadap orang lain. Terlebih-lebih sejak almarhum kakeknya Besu Dewa memberi amanat untuk menjaga keselamatan Patung Kematian. Tidak seharusnya aku menanamkan kecurigaan yang berlebih-lebihan pada itikad baik pemuda ini, pikir Eyang Wiku Swanda.

"Hemm...!"

Suara Pendekar Hina Kelana memecah keheningan suasana yang terasa kaku. Ketua perguruan Teratai Putih yang sejak tadi di buai lamunannya nampak tersentak kaget. Laki-laki ini menggeragap, bibirnya menyunggingkan seulas senyum tipis.

"Baiklah, kek! Kalau kakek masih menaruh kecurigaan terhadap niat saya. Baiknya saya tidak usah terlalu memaksakan diri. Lagi pula tidak ada untungnya bagi saya mencampuri urusan kakek." desah Buang, seakan ia dapat membaca pikiran orangtua yang duduk di depannya itu.

"Eh, tunggu Buang! Bukankah aku belum memutuskan apa-apa!" Eyang Wiku Swanda buruburu mencegah saat dilihatnya Buang Sengketa hendak beranjak dari tempat duduknya.

"Kau jangan tersinggung, Buang. Terus terang kukatakan padamu, bahwa pada saat sekarang ini pikiranku sedang kacau. Aku mengharapkan pengertianmu, sungguh...!"

Mau tidak mau Pendekar Hina Kelana kembali duduk di tempatnya, namun ia tetap diam dengan sikap menunggu.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu yang sifatnya sangat rahasia sekali." ketua perguruan Teratai Putih ini melanjutkan ucapannya. Sebentar matanya yang agak cekung itu memperhatikan suasana di sekitarnya.

"Katakan saja Kek! Kakek tidak perlu merasa ragu." tegas Buang Sengketa berusaha menghilangkan keraguan di hati Eyang Wiku Swanda.

Kakek tua ini kembali tersenyum sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Sebagai orang berpengalaman dia tahu Buang berkata jujur. Sehingga sesaat kemudian...

"Telah begitu lama aku menghawatirkan keamanan Patung Kematian yang saat itu kusimpan di kuburan Mayit. Selama lima tahun tempat penyimpanan benda peninggalan leluhurku itu dijaga Jala Dara. Ia merupakan abdiku yang paling setia. Abdi keluarga kami itu mempunyai ilmu kanuragan yang cukup tinggi, bahkan aku sendiri tidak meragukan kemampuannya. Selama itu Patung Kematian tersimpan di tempat yang aman." jelas Eyang Wiku Swanda dengan suara tersendat bercampur sedih. Sesaat dia terdiam, tapi kemudian segera melanjutkan kembali setelah Buang Sengketa hanya diam saja.

"Beberapa purnama belakangan, seorang Tokoh Misterius muncul dalam rimba persilatan. Kemunculannya menebarkan malapetaka besar, karena ia melakukan pembunuhan di mana-mana. Satu purnama yang telah lewat, Tokoh Misterius itu datang ke perguruan Teratai Putih ini. Yang membuat aku terkejut justru kehadirannya di sini menanyakan Patung Kematian. Aku saat itu hanya bersikap tidak tahu menahu dengan benda yang ditanyakannya itu. Akibatnya Tokoh Misterius itu membunuh beberapa orang muridku. Setelah itu bagai bantu yang bergentayangan ia pergi dalam kegelapan malam, setelah mengancamku. Jika dalam waktu dua purnama di depan aku tidak menyerahkan benda yang diinginkannya. Maka dia akan menghancurkan perguruan Teratai Putih" kata laki-laki berpakaian serba putih itu sedih.

"Kakek menyanggupi keinginannya itu?" tanya Buang Sengketa penuh perhatian.

"Aku tidak pernah menuruti keinginannya, Buang! Karena aku tidak tahu siapakah Tokoh Misterius yang telah mengetahui rahasia yang terkandung di dalam Patung Kematian itu."

"Lalu kakek mengutus beberapa orang murid untuk mengambil benda itu dari kuburan Mayit?" tebak Buang. Kemudian dijawab oleh Eyang Wiku Swanda dengan anggukkan kepala.

"Dua orang muridku memang kusuruh mengambil Patung Kematian yang selama ini di jaga oleh Jala Dara di kuburan Mayit. Kemudian kejadian selanjutnya kau sendiri sudah mengetahuinya."

"Hmm...!" Buang Sengketa menggumam tidak jelas.

Suasana sunyi kembali mencekam, baik Buang Sengketa maupun Eyang Wiku Swanda nampak tenggelam dalam pikirannya masingmasing. Bagi Pendekar Hina Kelana sendiri sudah tentu merasa kesulitan untuk menentukan di tangan siapa sebenarnya Patung Kematian saat ini berada. Repotnya begitu banyak orang-orang dari rimba persilatan yang menginginkan benda itu. Mula-mula Iblis Hitam, kemudian Eyang Wiku Swanda ada menyebut bahwa Tokoh Misterius yang mempergunakan senjata paku beracun juga menginginkan benda itu.

Kenyataaannya paku-paku beracun itu pula yang telah menewaskan Jala Dara dan dua orang murid Teratai Putih ketika mereka diutus untuk mengambil Patung Kematian dari kuburan Mayit. Begitupun tidak tertutup kemungkinan beberapa tokoh lain bersembunyi di balik semua peristiwa yang terjadi. Namun mungkinkah mereka semuanya tewas di tangan Tokoh Misterius itu? Buang Sengketa sendiri merasa perlu tahu lebih banyak lagi dari Eyang Wiku Swanda.

"Kek... sepanjang yang kakek ketahui apakah hanya Tokoh Misterius itu dan Iblis Hitam saja yang menginginkan benda itu?"

"Kalaulah hanya Iblis Hitam dan tokoh yang selalu memakai topeng itu saja yang menginginkan Patung Kematian. Tentu bagi kita sangat mudah untuk mencarinya. Tapi masih ada lagi dua kekuatan lain yang bergerak secara sembunyi-sembunyi. Mereka itu adalah Pengemis Partai Utara dan juga seorang tokoh sesat yang sangat sakti yang mempunyai julukan Beruang Hitam...!"

"Ternyata untuk mendapatkan benda itu kembali, kita harus mampu menembus lingkaran setan. Semua ini bukanlah pekerjaan mudah, karena kita harus menyelidiki di tangan siapa sebenarnya Patung Kematian berada." kata Buang Sengketa setengah mengeluh. Dalam hati Buang sebenarnya agak menyesal juga karena telah ikut terlihat dalam urusan yang agak rumit itu. Namun bagi Pendekar Hina Kelana, untuk bersurut mundur dan tidak mencampuri urusan yang sedang dihadapi oleh Eyang Wiku Swanda rasanya sangat mustahil sekali. Apalagi bila mengingat betapa berbahayanya Patung Kematian jika sampai terjatuh ke tangan golongan sesat. Dunia persilatan pastilah dilanda malapetaka.

"Semuanya memang terasa sulit, Buang! Tapi jika tidak kita lakukan, tidak dapat kubayangkan apa yang terjadi di rimba persilatan jika kitab ilmu penggunaan racun dalam tubuh Patung Kematian diketahui oleh orang-orang sesat. Tidak seorang pun di kolong langit ini yang mampu menandinginya." suara Eyang Wiku Swanda bergetar. Sementara wajahnya membayangkan rasa khawatiran yang mendalam. Melihat semua ini Pendekar Hina Kelana merasa tidak tega jadinya.

"Baiklah, kek. Sekarang segala-galanya telah jelas bagiku, aku bahkan bersedia membantumu. Tapi bagaimana jika aku pergi nanti Tokoh Misterius itu menagih janji datang ke sini?" tanya Buang dengan perasaan cemas.

Eyang Wiku Swanda menyambutnya dengan sesungging senyum ramah.

"Aku tidak pernah merasa gentar dengan kehadirannya, Buang. Aku sudah terlalu tua untuk menjalani sisa-sisa hidup ini. Tapi aku bisa menyesal seumur hidup, jika Patung Kematian itu salah dipergunakan oleh orang lain."

Buang Sengketa merasa tersentuh juga hatinya mendengar pengakuan tulus laki-laki itu. Dalam hati ia telah bertekad untuk membantu laki-laki tua itu dengan segenap kemampuannya.

"Baiklah, kek. Besok pagi-pagi sekali aku akan segera memulai mencari jejak hilangnya Patung Kematian itu." janji Buang sambil mengangguk dengan sikap hormat.

Malamnya setelah melakukan santap malam bersama Eyang Wiku Swanda, Pendekar Hina Kelana segera melangkahkan kakinya memasuki kamar yang telah disediakan. Waktu terus berlalu tiada henti, di luar rumah kediaman Eyang Wiku Swanda terasa gelap, sepi mencekam. Hanya sesekali saja terdengar suara lolongan serigala di kejauhan sana. Sehingga membuat merinding bulu kuduk murid-murid perguruan Teratai Putih yang sedang bertugas jaga. Sementara di dalam kamarnya, Buang sudah terlelap sejak dua jam tadi. Pada saat itu di dalam kegelapan nampak berkelebat beberapa sosok tubuh mendekati kamar yang di tempati oleh Buang Sengketa. Melihat dari gerakan mereka, jelas mereka merupakan orang-orang persilatan yang memiliki kepandaian tinggi. Sejenak bayangan itu menghentikan gerakannya, kemudian mereka memperhatikan kamar yang ditempati oleh Buang Sengketa. Selanjutnya ketiga bayangan itu segera mengambil sesuatu dari balik jubah hitam mereka yang menjela-jela sampai ke tanah. Maka tidak lama kemudian terlihatlah sebuah benda berwarna putih berkilauan berada di tangan mereka. Namun pada saat itu ketiga pendatang ini sibuk berkasak-kusuk dengan kawan-kawannya. Di dalam kamarnya Buang Sengketa menggeliat gelisah. Kemudian ia merasakan seperti mendengar suara almarhum gurunya membisikkan sesuatu tentang situasi di sekelilingnya. Pendekar Hina Kelana langsung terjaga dari tidurnya. Secara reflek ia melirik ke arah jendela kamar. Pada saat itulah matanya yang tajam melihat berkelebatnya beberapa buah benda berwarna putih berkilauan meluncur deras ke arahnya. Dengan cepat Buang menjatuhkan tubuhnya di samping dipan yang ditempatinya.

Weees! .....

Zeb! Zeb!

Benda putih yang ternyata merupakan dua buah pedang pendek itu luput dari sasarannya. Kemudian meluncur dan menancap dinding yang berada di belakangnya. Dengan cepat Buang bangkit berdiri, tanpa menghiraukan pedangpedang pendek yang menancap di dinding itu ia segera melompati jendela dan melakukan pengejaran ke arah menghilangnya tiga sosok bayangan tadi.

Berkat ilmu lari cepat Ajian Sepi Angin, serta ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna. Dalam waktu yang singkat Buang telah berhasil menyusul tiga orang berjubah hitam yang hampir saja berhasil membunuhnya.

"Heeuup...!"

Tubuh Buang Sengketa melompat ke udara, kemudian dengan gerakan yang ringan pula tanpa menimbulkan suara sedikitpun, Buang telah menjejakkan kakinya persis di depan tiga laki-laki berjubah hitam ini. Mereka terpaksa menghentikan larinya ketika melihat Pendekar Hina Kelana menghadang di depannya.

"Siapa kalian!" bentak Buang Sengketa dengan amarah membara. Sebaliknya tidak seorangpun diantara ketiga orang ini yang menjawab pertanyaan Buang, terkecuali suara dengusan yang membuat Buang kehilangan rasa kesabarannya.

"Kurang ajar! Kalian benar-benar membuat kesabaranku hilang, manusia bertopeng jubah hitam!" teriak Buang dingin menggetarkan.

Tapi anehnya tak sedikitpun ketiga laki-laki berjubah hitam itu terpengaruh. Bahkan tanpa berkata apa-apa lagi, mereka serentak mencabut senjata mereka berupa pedang pendek, lalu langsung menyerang Pendekar Hina Kelana dari tiga penjuru arah. Tanpa memberi kesempatan pada penyerangnya, Buang segera menyambut serangan mereka dengan kekuatan berlipat ganda. Namun penyerang itu rupanya rata-rata mempunyai kepandaian tinggi. Sehingga bagi Buang bukan merupakan pekerjaan yang mudah untuk menjatuhkan lawan-lawannya.

"Huup! Ciaaat...!"

Buang dengan cepat mempergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra ketika dua tusukan yang datang dari depan dan belakang menderu ke bagian perutnya. Serangan kilat yang dilakukan lawan, luput. Tapi serangan lainnya mengancam bagian kepalanya.

"Iih...!"

Pemuda ini merasakan serangan yang dilakukan lawannya yang seorang lagi benar-benar sangat berbahaya sekali. Terbukti ketika pedang pendek di tangan lawan menyambar ganas, terasa adanya hembusan udara dingin yang membuat nyeri kulit tubuhnya.

"Haiit!" Wuuus!

Hanya dengan jurus si Jadah Terbuang, Pendekar Hina Kelana menarik balik tubuhnya sejauh dua langkah ke belakang. Luput dari ancaman maut itu, serangan lain yang datang dari dua penjuru arah menderanya. Bahkan sekali ini lawan sengaja melipat gandakan tenaga dalamnya. Sehingga serangan pedang mereka mengeluarkan bunyi menderu dan berbahaya sekali. Menyadari kenyataan ini tentu saja Buang Sengketa semakin bertambah marah. Sekali ia menghentakkan tangannya ke arah depan, maka menderulah serangkum gelombang menebarkan hawa panas luar biasa dari telapak tangannya itu. Tidak ayal lagi pada saat itu Buang Sengketa telah melepaskan pukulan Empat Anasir kehidupan. Salah seorang penyerang hanya sempat melihat serangkum gelombang Ultra Violet melesat ke arahnya. Ia menjadi terkejut beberapa saat lamanya. Dengan sigap ia membabatkan senjatanya membentuk perisai diri. Di luar dugaan pukulan yang datangnya bergulung-gulung itu lebih kuat lagi dari perisai diri yang dibuatnya.

Blaam!

Terdengar suara ledakan yang sangat keras saat pukulan Buang Sengketa menghantam tubuh lawannya.

"Arrgkh...!" laki-laki berjubah hitam itu langsung tersungkur roboh dengan tubuh menghitam, darah kental menyembur dari mulut serta hidungnya.

Dua laki-laki berjubah hitam serta bertopeng tengkorak itu menjadi terpana karenanya. Serangan mereka mendadak terhenti ketika melihat salah seorang kawan mereka jatuh di atas tanah berpasir tanpa mampu bangkit kembali. Sesaat mereka saling berpandangan. Bahkan tanpa sadar bibir mereka mendesis tidak ubahnya bagai melihat bantu di siang bolong.

"Pendekar Hina Kelana?!" gumamnya serentak. Nyali mereka berobah ciut. Selama ini rupanya mereka mengenal kehebatan sepak terjang Pendekar Hina Kelana. Dengan senjata andalannya yang berupa Golok Buntung serta Cambuk Gelap Sayuto. Dan mereka sama sekali-tidak menyangka kalau malam ini orang yang harus mereka hadapi adalah pendekar yang sangat tangguh itu.

"Bagus sekali jika kalian telah mengenalku. Sekarang katakan padaku, siapakah orang yang berdiri di belakang kalian?" bentak Buang Sengketa dengan sorot mata tajam menusuk.

"Kami tidak akan menjayab pertanyaanmu itu, pendekar! Sebuah kesetiaan bagi kami lebih berharga bila dibandingkan dengan kematian...!" dengus salah seorang dari laki-laki bertopeng itu dengan sikap waspada. Bukan main geramnya Buang Sengketa mendengar jawaban itu.

"Hemm...!" Buang menggumam tidak jelas. Dipandanginya dua orang laki-laki berjubah hitam tersebut. Dan dia semakin bertambah yakin, orang-orang bersenjata pedang pendek itu pastilah bekerja atas perintah seseorang. Itulah yang perlu dicari jawabannya.

"Kalian orang-orang sesat masih menghargai arti sebuah kesetiaan. Kalau begitu kalian menghendaki jalan kekerasan agar aku dapat membongkar topeng yang sangat menakutkan itu?" geram Pendekar Hina Kelana.

Tanpa berkata lagi, Buang Sengketa segera berkelebat melancarkan serangan-serangan mematikan. Meskipun kedua laki-laki ini merasa tidak akan menang menghadapi Pendekar Hina Kelana. Namun diam-diam mereka telah memikirkan jalan untuk meloloskan diri. Itulah sebabnya ketika Buang menyerang mereka dengan mempergunakan jurus Si Gila Mengamuk yang tidak perlu lagi diragukan kedahsyatannya. Dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Dua orang berjubah hitam ini berusaha mematahkan setiap serangan yang dilakukan oleh Buang dengan kecepatan gerak pedang pendek di tangan mereka.

"Shaa...!"

Dua orang lawan menerjang Buang Sengketa dalam waktu bersamaan. Pedang di tangan mereka mengancam bagian kepala dan perut. Sedangkan kaki mereka melakukan tendangan menggeledek menyapu pertahanan Buang Sengketa.

"Heeuup!" tidak kalah cepatnya, Pendekar Hina Kelana melentikkan tubuhnya ke udara. Begitu pemuda ini menjejakkan kakinya di atas tanah. Dengan gerakan cepat dan sulit di duga-duga tubuhnya berbalik dan melontarkan pukulan si Hina Kelana Merana menyongsong serangan susulan lawan yang berupa sambitan senjata pedang pendek di tangan.

Brees!

Angin kencang yang menebarkan hawa panas luar biasa menderu hebat dari kedua telapak tangan Buang Sengketa. Dua buah senjata yang disambitkan oleh lawannya hancur berantakan dilanda pukulan Buang Sengketa. Namun beberapa saat kemudian pemuda ini menjadi kecewa ketika dilihatnya dua orang lawan bertopeng tengkorak itu telah lenyap dari hadapannya.

"Kurang ajar! Mereka kiranya memilih jalan sebagai pengecut dari pada harus memberi keterangan padaku." desis Buang Sengketa.

Saat Pendekar Hina Kelana bermaksud kembali ke dalam kamarnya, dilihatnya Eyang Wiku Swanda telah berada di sana bersama beberapa orang.

"Siapakah mereka, Buang?" tanya laki-laki tua ini sambil memandangi Buang Sengketa dengan perasaan cemas.

"Aku tidak tahu, kek. Mereka menyerangku dengan pedang ketika aku sedang tidur." sahutnya sambil memperhatikan mayat yang tergeletak tidak jauh dari mereka.

"Apakah itu mayat salah seorang...!" "Betul...!" Buang menyahut.

Eyang Wiku Swanda segera memeriksa keadaan mayat itu. Kemudian dari balik jubah manusia bertopeng itu ditemukan beberapa bilah pedang yang sama. Kakek tua itu mengerutkan keningnya. Nampaknya ia sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. Namun akhirnya beliau menggelengkan kepalanya ketika merasa tidak mengenali pemilik senjata rahasia itu.

"Tidak ada petunjuk lain kecuali senjata yang sama, Buang!"

"Apakah kakek tidak dapat memastikan dari golongan mana mereka berasal?"

"Mempergunakan pedang pendek sebagai senjata rahasia, baru kali ini kutemui." sahut ketua perguruan Teratai Putih.

Buang Sengketa menjadi bingung sendiri. Lenyapnya Patung Kematian, kemunculan Tokoh Misterius serta kehadiran tiga laki-laki bertopeng. Semuanya merupakan teka-teki yang membuat kepalanya berdenyut-denyut.

"Bagaimana dengan Beruang Hitam?" "Beruang Hitam merupakan tokoh tunggal

yang tidak mempunyai kawan. Jangankan lagi anggota...!"

"Terlalu sulit jika kita hanya menduga-duga. Baiknya malam ini juga aku akan mulai mencari jejak mereka." keputusan Pendekar Hina Kelana ini tentu saja membuat Eyang Wiku Swanda menjadi terkejut.

"Secepat itu?" tanya kakek tua ini seolah tidak percaya. Buang Sengketa menganggukkan kepalanya pelan.

"Melakukan perjalanan pada malam hari terlalu besar resikonya, Buang!"

"Kakek tidak usah menghawatirkan keselamatanku. Pesanku kakek dan murid-murid Teratai Putih ini harus selalu bersiaga. Mungkin satu purnama di depan aku telah kembali ke perguruan ini." Buang berjanji.

Selanjutnya mereka beriringan menuju ke padepokan, sedangkan Buang segera kembali ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam ruangan itu Buang Sengketa segera mengitarkan pandangan matanya ke segenap ruangan. Sesaat setelah itu sadarlah pemuda ini ketika melihat pedang pendek yang disambitkan orang-orang bertopeng tadi salah satu diantaranya terdapat daun lontar. Buang segera mengambil daun lontar bertuliskan tinta darah itu. Dengan hati berdebar Pendekar Hina Kelana langsung membacanya.

Pemuda berperiuk!

Siapapun adanya engkau ini, kami harap kau jangan coba-coba mencampuri urusan kami. Apalagi sampai membantu perguruan Teratai Putih. Jika kau sayangkan nyawamu, baiknya kau turuti perintah kami!

Tertanda

Arwah Bayangan

"Keparaat!" Buang Sengketa menggeram. Dengan geram diremasnya daun lontar di tangannya sehingga menjadi serpihan-serpihan kecil.

"Arwah Bayangan! Setan mana lagi yang memakai gelar menyeramkan ini." gumam si pemuda. "Tapi ada baiknya kalau apa yang kuketahui ini tidak kuberitahukan pada Eyang Wiku Swanda. Aku harus melakukan penyelidikan secepatnya." Buang Sengketa akhirnya keluar kembali dari dalam kamarnya. Setelah berpamitan pada Eyang Wiku Swanda. Akhirnya malam itu juga ia meninggalkan perguruan Teratai Putih.

***

4

Lembah Tapis Angin merupakan sebuah daerah yang sangat subur. Walaupun begitu selama ratusan tahun yang lalu hingga sampai saat ini, lembah itu sangat jarang di jamah oleh kalangan manapun. Karena daerah itu dihuni oleh berbagai jenis binatang berbisa. Tapi siapa sangka nun jauh di tengah-tengah lembah, berdiri sebuah rumah berukuran cukup besar, yang lantai dan dindingnya terbuat dari batu pualam putih. Di daerah itulah orang-orang berjubah hitam bertopeng tengkorak melakukan segala kegiatannya.

Pagi itu lembah Tapis Angin yang senantiasa berselimut kabut abadi nampak sunyi. Namun bukan berarti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Saat itu di dalam sebuah ruangan yang cukup besar seorang laki-laki berpakaian serba hitam, berkumis serta berjambang lebat nampak sedang duduk di atas sebuah kursi berwarna hitam. Kursi yang didudukinya berukiran gambar tengkorak kepala manusia. Sedangkan tidak jauh dari tempat laki-laki bertampang bengis itu berada, nampak puluhan orang yang mengenakan pakaian yang sama duduk bersimpuh dengan sikap penuh hormat. Dilihat sekilas laki-laki berwajah bengis ini tidak ubahnya bagai seorang raja kecil di dalam lingkungan lembah yang tidak terukur luasnya.

Sejenak laki-laki yang menjadi penguasa lembah Tapis Angin yang memiliki julukan Iblis Tengkorak Hitam ini memperhatikan orang-orang yang bersimpuh tidak begitu jauh dari hadapannya.

"Sepuluh tahun aku mendidik kalian menjadi murid-murid pilihan. Ternyata dalam melaksanakan sebuah tugas kalian tidak becus sama sekali." walaupun kata-kata yang diucapkan oleh Iblis Tengkorak Hitam diucapkan dengan suara lirih. Namun gema suaranya menggetarkan jantung para pendengarnya. Dapat dibayangkan betapa tingginya tenaga dalam yang dimiliki oleh laki-laki itu. Sepuluh orang murid pilihan yang hadir di dalam ruangan itu terdiam. Masing-masing kepala nampak tertunduk dalam-dalam. Sesaat lamanya suasana dalam kesunyian yang mencekam. Iblis Tengkorak Hitam kembali memperhatikan orangorang yang mengelilinginya. Kemudian perhatiannya terhenti pada seorang laki-laki berpakaian tambal-tambalan. Usia laki-laki itu mungkin tidak lebih dari enam puluh tahun. Wajahnya tirus, air mukanya memancarkan mimik duka yang mendalam.

Di atas pangkuan laki-laki berpakaian tambal-tambalan itu terdapat sebuah tongkat sepanjang satu depa. Sedangkan pada bagian hulu tongkat itu berhiaskan gambar kepala seekor Naga. Kalangan persilatan mengenalnya sebagai ketua Pengemis Partai Utara dengan julukan Tua Duka Tongkat Naga.

"Kau, Tua Duka! Apa pendapatmu tentang kegagalan yang dialami oleh ketiga orang utusan kita?" tanya Iblis Tengkorak Hitam dengan tatapan tajam menusuk. Laki-laki berpakaian tambaltambalan ini merapatkan kedua tangannya ke depan hidung. Selanjutnya terdengar pula suaranya yang serak bagai orang yang mengidap penyakit sesak nafas.

"Ketua! Sebenarnya kita tidak perlu lagi mengutus orang-orang bernyawa seperti mereka ini. Usaha itu hanya akan sia-sia belaka."

"Maksudmu...?" tanya laki-laki itu penuh perhatian. Yang ditanya nampak menarik nafas dalam-dalam. Namun sikapnya tetap hormat seperti tadi.

"Maafkan aku ketua, jika pendapatku ini keliru nantinya...!" ujar ketua Pengemis Partai Utara ini dengan sikap ragu. Hal ini membuat Iblis Tengkorak Hitam menjadi tidak sabaran lagi. Dengan suaranya yang senantiasa membuat sakit gendang-gendang telinga, ia pun berucap.

"Tua Duka Tongkat Naga! Dua tahun kau kuangkat menjadi wakilku di singgasana Iblis, yang selalu kuharapkan darimu adalah demi terbinanya sebuah kerja sama yang baik sesama golongan sendiri. Karena itu aku selalu berharap agar kau bersikap terbuka. Karena siapa tahu pendapatmu patut kita pertimbangkan." katanya tenang berwibawa.

Ketua Pengemis Partai Utara kembali merapatkan tangannya ke depan hidung.

"Begini ketua. Menurut hematku, sekarang sudah saatnya bagi kita untuk mengerakkan mayat-mayat korban si Tokoh Misterius yang telah ketua bangkitkan kembali. Dengan kekuatan yang kita miliki itu, mungkin dalam waktu yang singkat kita sudah dapat merebut Patung Kematian dari si Tokoh Misterius tersebut. Keuntungan lainnya kita dapat menghemat tenaga tanpa harus mengorbankan murid-murid yang berada di singgasana iblis ini!" jelas Tua Duka Tongkat Naga.

Iblis Tengkorak Hitam mengerutkan keningnya. Dalam hati ia membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh wakilnya itu. Tapi pada sisi lain ia masih merasa ragu, benarkah Patung Kematian berada di tangan si Tokoh Misterius atau di tangan Beruang Hitam dedengkot tokoh sesat yang tidak pernah mengenal arti persahabatan. Namun begitupun akhirnya ia memutuskan.

"Saranmu cukup baik, Tua Duka. Tapi aku belum begitu yakin kalau Patung Kematian sekarang ini telah jatuh di tangan Tokoh Misterius itu?" "Mengapa ketua harus ragu. Bukankah dengan terbunuhnya penjaga serta kedua murid perguruan Teratai Putih yang diutus Wiku Swanda sudah merupakan satu bukti yang kuat bahwa Tokoh Misterius itulah sekarang yang telah menguasai Patung Kematian!" jelas  ketua Pengemis Partai Utara penuh keyakinan.

"Bagaimana kau bisa berkata begitu?" tanya Iblis Tengkorak Hitam pelan.

"Beberapa orang-orang kita yang kutugaskan melakukan pengintaian mengatakan, bahwa pemilik senjata rahasia yang berupa paku beracun itu tidak lain dan tidak bukan si Tokoh Misterius itulah orangnya." jelas Tua Duka Tongkat Naga lebih lanjut. Sementara ini ketua singgasana iblis itu menganggukkan kepalanya dengan sedikit keraguan di hatinya.

"Beberapa laporan lain yang kuterima, pada saat kedua murid perguruan Teratai Putih yang membawa Patung Kematian mendapat serangan senjata rahasia seperti yang kau sebutkan itu. Kabarnya Iblis Hitam dan orang-orangnya juga berada di sana. Bukan tidak mustahil kalau sekarang ini benda yang sedang diperebutkan oleh tokohtokoh rimba persilatan itu berada di tangan Iblis Hitam."

Ketua Pengemis Partai Utara cepat-cepat menggelengkan kepalanya ketika Iblis Tengkorak Hitam menyebut-nyebut Iblis Hitam sebagai orang yang telah berhasil merampas Patung Kematian dari tangan kedua murid perguruan Teratai Putih.

"Dengan pasti aku dapat mengatakan Iblis Hitam bukanlah orang yang telah menguasai Patung Kematian. Sebab seingatku, Iblis Hitam memiliki kepandaian tidak sehebat Tokoh Misterius itu. Bukannya menyombongkan diri, kalau kukatakan kepandaian yang dimiliki oleh ketua Iblis Hitam beberapa tingkat berada di bawahku." sergah Tua Duka Tongkat Naga dengan penuh keyakinan. Sekali ini Iblis Tengkorak Hitam berdecak kagum dengan pengalaman yang dimiliki oleh wakilnya itu.

"Baiklah! Sekarang aku tidak ragu lagi. Kurasa sekaranglah saatnya yang tepat bagi kita untuk menggerakkan mayat-mayat yang telah kubangkitkan dengan ilmu iblisku itu. Tetapi sebagai orang kepercayaanku, kuharap kau mau memimpin mayat-mayat itu agar maksud kita segera terlaksana." kata Iblis Tengkorak Hitam memberi keputusan.

"Baiklah ketua! Aku berjanji dengan segenap kemampuan yang kita miliki untuk segera mendapatkan Patung Kematian. Tidak perduli siapapun yang telah berhasil mendapatkan patung itu kita harus mendapatkannya." ucap Tua Duka Tongkat Naga penuh percaya diri.

Iblis Tengkorak Hitam langsung tertawa tergelak-gelak. Selain ketua Pengemis Partai Utara, beberapa orang lainnya yang berada di tempat itu terpaksa menutup indera pendengaran mereka demi mendengar suara tawa ketua mereka yang menggeledek bagai bunyi petir. Pagi itu juga berangkatlah Tua Duka Tongkat Naga itu memimpin mayat-mayat yang telah berhasil dibangkitkan oleh Iblis Tengkorak Hitam dengan ilmu iblisnya. Sungguh menyeramkan sekali iring-iringan mayat yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang ini. Sepintas lalu, laki-laki tua berpakaian tambaltambalan ini tidak ubahnya bagai seorang pengembala di tengah-tengah hewan yang digembalakannya. Suasana menyeramkan berbau kematian, meskipun saat itu matahari mulai naik tinggi.

* * *

Laki-laki berbadan gemuk berperut buncit itu tidur mendengkur tidak ubahnya bagai suara kodok. Tidurnya nyenyak sekali, terkadang tubuhnya yang gemuk bundar seperti gentong menggeliat beberapa kali. Di lain saat tangannya yang pendek mengusap air liur yang meleleh di sela-sela bibirnya. Nampaknya ia tidak perduli dengan terik matahari yang memanggang tubuhnya. Bahkan ia lebih baik tidak perduli lagi meskipun saat itu ia tertidur di pinggiran jalan.

Tidak begitu jauh di sisi laki-laki berambut jarang ini menggeletak sebuah benda terbungkus kain sutera merah. Di lihat sekilas benda yang terbungkus itu tidak ubahnya bagai bocah bayi berumur belasan hari. Dan bungkusan itulah yang menarik perhatian seorang laki-laki berbadan tegap yang terus memperhatikannya sejak tadi. Berulang kali laki-laki berpakaian serba hitam itu berusaha mempertegas penglihatannya. Semakin tajam pandangan matanya memperhatikan bungkusan yang berada di sisi laki-laki gemuk perut buncit yang sedang tertidur pulas ini, maka semakin berdebarlah hatinya.

"Kurasa yang satu ini tidak salah lagi. Mungkin inilah benda yang telah membuat gempar delapan penjuru persilatan itu. Aku harus mengambilnya dari tangan Beruang Hitam. Tetapi...!" sejenak laki-laki yang tidak lain adalah Iblis Hitam ini menjadi ragu. Rupanya ia sadar betul siapa yang dihadapinya kali ini. Dedengkot golongan sesat yang dapat membunuh tanpa memandang dari golongan mana dia berasal. "Hem. Dia sedang tertidur pulas. Sangat mustahil kalau bakul nasi ini tahu jika aku mengambil Patung Kematian dari tangannya." gumamnya lagi. Selanjutnya dengan sikap sangat berhati-hati sekali ia mulai melangkah mendekati Beruang Hitam yang sedang tertidur pulas.

Sementara tidak jauh dari tempat itu, pada sebuah kerimbunan pohon, seorang pemuda berpakaian merah nampak sedang memperhatikan apa yang dilakukan oleh laki-laki yang sudah dikenalnya itu. Ternyata bukan secara kebetulan pemuda berpakaian merah yang tidak lain Buang Sengketa ini melihat Iblis Hitam di tempat itu. Sejak meninggalkan perguruan Teratai Putih dalam perjalanannya mencari jejak Patung Kematian yang diduga telah berhasil dirampas oleh si Tokoh Misterius. Di dalam perjalanan, Buang melihat berkelebatnya sosok bayangan hitam menuju ke arah Tenggara. Merasa curiga dan penasaran, dari jarak tertentu Buang mengikuti bayangan hitam yang tidak lain merupakan Iblis Hitam. Setelah hampir setengah hari dua sosok bayangan yang tidak ubahnya bagai orang yang sedang berkejarkejaran. Mendadak Iblis Hitam menghentikan larinya. Ia tertegun ketika melihat sosok tubuh yang tidak ubahnya bagai sebuah gentong nampak tertidur di pinggiran jalan. Pada saat itu Buang secara diam-diam menyelinap di sebuah tempat yang tersembunyi. Niatnya sudah jelas ingin mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh Iblis Hitam terhadap laki-laki yang tertidur pulas di pinggiran jalan.

Sekarang jarak antara Iblis Hitam dengan Beruang Hitam yang sedang tertidur pulas ini semakin bertambah dekat saja. Semakin dekat jarak diantara mereka, maka semakin bertambah berdebarlah dada Iblis Hitam. Bagaimana tidak, orang yang dihadapinya kali ini adalah tokoh dari seluruh kaum sesat. Ia sendiri tidak dapat membayangkan bagaimana nantinya jika sampai perbuatannya itu ketahuan oleh laki-laki berperut buncit ini. Begitupun Iblis Hitam tidak ingin bersurut langkah, meskipun perasaannya kian tidak menentu, namun langkah kakinya tetap bergeser juga.

Ketika jarak diantara mereka tinggal hanya setengah tombak lagi. Maka Iblis Hitam ini menjulurkan tangannya untuk meraih benda yang terbungkus kain sutera itu. Namun belum lagi tangannya mencapai bungkusan yang tergeletak di sisi laki-laki berbadan gembur itu. Tiba-tiba terdengar suara lirih.

"Eiit, mau ngapain kau? Jangan bertindak gegabah jika kau sayang dengan nyawamu." kata Beruang Hitam bagai orang yang sedang mengigau dalam mimpi.

Tentu saja Iblis Hitam cepat-cepat menarik balik tangannya yang sudah terulur. Dengan hati berdebar keras  diperhatikannya Beruang Hitam yang masih mendengkur bagai suara kodok. Dalam perkiraannya pastilah dedengkot golongan sesat ini sedang dalam keadaan pulas. Tapi bagaimana mungkin orang yang sedang tertidur dapat mengetahui gelagat yang tidak baik. Ataukah Beruang Hitam itu sedang bermimpi? Merasa penasaran Iblis Hitam akhirnya mencoba mengulangi niatnya. Sekali ini gerakan tangannya lebih cepat dari yang pertama tadi.

Celakanya begitu jemari tangannya hampir menyentuh benda yang terbungkus kain sutera merah itu. Dari arah samping sebuah gerakan yang lebih cepat lagi dari gerakan yang dilakukan Iblis Hitam menyambar ke arah tangannya.

Wuus! Dess!

"Uhh...!" Iblis Hitam mengaduh, tubuhnya terlempar sejauh dua tombak. Pada saat laki-laki berbadan tegap itu belum mengerti apa yang terjadi. Laki-laki gemuk yang tertidur pulas itu telah terjaga dari tidurnya. Dengan bermalas-malasan Beruang Hitam bangkit dari tempatnya. Matanya yang sipit itu masih agak terpejam. Sementara mulutnya menguap beberapa kali. Sebentar diperhatikannya bungkusan yang menggeletak di bawah kakinya. Kemudian seperti ditujukan buat dirinya sendiri. Laki-laki berambut jarang-jarang ini berkata dengan angkernya.

"Sudah kukatakan jangan bertindak macam-macam. Terlalu berani jika seekor tikus kecil mengusik tidur seekor beruang. Heh, siapakah kau?" tanpa memandang pada Iblis Hitam sedikitpun. Laki-laki berbadan gemuk bertubuh pendek inipun membentak dengan suara menggeledek. Iblis Hitam terkesiap demi mendengar suara teguran yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam sangat tinggi itu. Bahkan Buang Sengketa yang terus memperhatikan kejadian demi kejadian itu buru-buru mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir pengaruh suara Beruang Hitam.

"Ah. Seumur hidup Beruang Hitam paling tidak suka mengulang pertanyaan sampai dua kali. Kalau kau tetap tidak mau menjawab! Maka teguranku yang kedua adalah kematian bagimu!" kata Beruang Hitam dengan suara dingin mengancam.

Iblis Hitam terdiam beberapa saat lamanya. Rupanya ia sadar betul dengan siapa ia berhadapan. Tapi baginya apakah masih mungkin menghindari Beruang Hitam ini, padahal perbuatannya sudah sempat diketahui oleh lawannya!

* * *

"Maafkan aku, paman Beruang Hitam. Hanya secara kebetulan saja aku melewati daerah ini. Sekali lagi aku mohon maafmu jika hal ini anda anggap sebagai sebuah kesalahan." jawab Iblis Hitam dengan nada suara setenang mungkin.

Mendengar jawaban ini untuk pertama kalinya Beruang Hitam memperhatikan lawan bicaranya yang saat itu telah berdiri dengan jarak tidak begitu jauh darinya. Sepasang mata Beruang Hitam yang tidak ubahnya bagai orang mengantuk ini berkedip-kedip. Kemudian sesungging seringai maut pun menghias bibirnya.

"Setan mana yang berani mengakuiku sebagai pamannya. Hidup sembilan puluh tahun aku merasa tidak punya keponakan di kolong langit ini."

"Aku bukan setan, paman. Aku Iblis Hitam yang masih merupakan kaum segolonganmu." ucap laki-laki berpakaian serba merah ini dengan suara agak tergetar.

"Hahaha! Iblis Hitam. Aku Beruang Hitam. Kita sama-sama Hitam, tapi bukan berarti saudara. Julukanmu memang meyakinkan, namun tindakanmu tidak jauh bedanya dengan seorang pengecut. Bicara terus terang, bukankah kau menghendaki isi bungkusan ini?" bentak Beruang Hitam dengan pandangan berapi-api. Maka semakin bertambah pucatlah laki-laki berpakaian serba hitam ini demi mendapat kenyataan kalau laki-laki berbadan gembur ini sulit untuk di ajak kompromi. Tanpa berpikir panjang lagi akan akibatnya Iblis Hitam menjadi nekad.

"Bicara terus terang. Aku memang menghendaki bungkusan itu, tetapi mana berani aku bertindak gegabah pada dedengkot rimba persilatan." akhirnya dengan wajah merah padam Iblis Hitam mengakui.

"Tahukah kau benda apa yang berada dalam bungkusan ini?" geram Beruang Hitam.

"Karena aku mengetahui dengan pasti isi bungkusan itulah maka aku ingin memilikinya." kata Iblis Hitam sambil bersikap waspada.

"Hemm." Beruang Hitam menggumam tidak jelas. Sebagaimana diketahui oleh laki-laki berpakaian serba hitam ini. Orang yang dihadapinya kali ini merupakan seorang lawan yang mempunyai watak aneh. Tindak tanduknya sangat sulit untuk diduga-duga. Apa yang diperhitungkan oleh Iblis Hitam ini ternyata terbukti. Pada saat itu juga, Beruang Hitam menjentikkan jemari tangannya yang memiliki kuku panjang dan runcing. Dari jari-jari tangan Beruang Hitam kemudian menderu angin kencang yang disertai dengan menebarnya hawa panas ke arah Iblis Hitam.

Laki-laki berbadan tegap ini yang sudah memperhitungkan segala sesuatunya sejak dari tadi segera menghindari serangan mendadak yang dilakukan oleh Beruang Hitam dengan cara membantingkan tubuhnya ke sisi kanan. Serangan pertama itu dapat dielakkan oleh Iblis Hitam dengan baik. Tapi celakanya sebelum ia siap dengan posisinya. Serangan lain yang dilancarkan oleh Beruang Hitam telah melabraknya. Dengan kecepatan yang sangat sulit untuk diduga-duga. Iblis Hitam terpaksa melontarkan pukulan keras untuk menjajaki sampai di mana kekuatan pukulan jarak jauh yang dilakukan oleh lawannya.

Wus! Wus! Bledar!

Terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat ketika dua tenaga sakti itu saling bertemu. Tapi dalam hal adu tenaga dalam ini nampaknya Iblis Hitam kalah beberapa tingkat di bawah Beruang Hitam. Terbukti selain tubuhnya terlempar agak jauh. Namun dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar. Di lain pihak Beruang Hitam hanya tergetar saja tubuhnya. Iblis Hitam cepat bangkit kembali. Tanpa menghiraukan luka dalam yang dideritanya, sekali ini ia menyerang Beruang Hitam dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Tapi yang menjadi lawannya kali ini adalah tokoh sesat yang memiliki kepandaian bermacam-macam. Sehingga ketika melihat Iblis Hitam mempergunakan jurus-jurus silatnya untuk mendesak lawan. Beruang Hitam hanya tertawa sambil melayani serangan-serangan gencar lawannya.

"Hiyaa! Hiyaaa!"

Dengan gerakan kilat Iblis Hitam melakukan tendangan terarah ke bagian perut lawannya. Tangannya terkepal menghantam ke bagian kepala Beruang Hitam. Sekali ini ia berharap salah satu dari serangan yang dilakukannya dapat mencapai sasarannya dengan baik. Namun Beruang Hitam yang sudah dapat membaca gerakan lawan hanya dalam waktu sekedipan mata, segera menggeser kakinya dua langkah ke samping. Dengan tubuh setengah menunduk dan kedua tangan terkembang ia memapaki tendangan sekaligus pukulan lawan yang berisi tenaga dalam kuat.

"Hep!"

Dengan perasaan kesal Iblis Hitam cepatcepat menarik balik arus pukulan. Rupanya ia sadar betul sangat besar resikonya jika harus mengadu tenaga dalam dengan lawannya yang nyatanyata beberapa tingkat berada di atasnya.

"Hahaha...! Kau memang pantas untuk kujadikan sebagai santapan cacing tanah." Kembali terdengar suara tawa Beruang Hitam yang dapat membuat merinding bulu roma siapapun. Dengan gerakan serta langkah yang agak lambat namun terarah, sekarang Beruang Hitam berbalik melakukan serangan dahsyat ke arah lawannya.

Sementara itu Pendekar Hina Kelana yang terus mengawasi jalannya pertempuran antara Iblis Hitam dan Beruang Hitam, mulai berpikir-pikir untuk menyelamatkan benda yang menggeletak tidak jauh dari tempat pertempuran itu terjadi.

"Aku merasa yakin meskipun mereka tidak menyebut isi bungkusan itu. Tetapi itulah Patung Kematian yang menggemparkan itu. Untuk mengambilnya selagi mereka terlihat pertempuran seperti itu, rasanya tidak pantas untuk kulakukan. Tetapi...!" Buang Sengketa menjadi ragu-ragu. Sejenak perhatiannya kembali ke arah pertempuran. Saat itu dilihatnya Iblis Hitam sudah dalam keadaan terdesak hebat. Bahkan laki-laki tinggi tegap berpakaian serba hitam itu hanya mampu menangkis setiap serangan ganas yang datang tanpa dapat melancarkan serangan balik.

"Sebentar lagi mungkin saja Iblis Hitam tidak mampu berbuat apa-apa. Lebih baik kutunggu saat-saat yang tepat seperti itu. Jika Iblis Hitam telah mampus di tangan laki-laki berkepala botak, saat itulah aku harus berhadapan dengan pencuri Patung Kematian." gumam Buang sambil terus memperhatikan jalannya pertempuran. Dan kenyataannya apa yang diperhitungkan oleh Pendekar Hina Kelana ini tidak lama kemudian segera terbukti. Iblis Hitam mengeluarkan jeritan keras ketika jemari tangan lawan menghunjam di bagian wajah dan lehernya. Dan ketika Beruang Hitam menyentakkan kuku-kukunya yang menghunjam dalam dari tubuh lawannya itu. Maka terdengarlah suara daging serta kulit tercabik-cabik dari tubuh lawannya. Iblis Hitam tidak mampu mengeluarkan jeritan lagi. Suaranya terhenti sebatas tenggorokannya yang terputus akibat disentakkan oleh lawannya. Tidak lama kemudian tubuh laki-laki berpakaian serba hitam inipun jatuh tersungkur tanpa mampu bergerak-gerak lagi, mati.

Pendekar Hina Kelana yang melihat kesadisan Beruang Hitam bergidik ngeri. Tapi sekejap kemudian dari tempat persembunyiannya tubuhnya berkelebat menghampiri Beruang Hitam yang sedang memandangi mayat Iblis Hitam sambil tertawa-tawa puas bagai orang sinting.

"Ternyata nama Beruang Hitam bukan nama kosong. Hem, baru sekali ini kulihat seorang manusia memiliki perilaku seperti binatang." kata Buang dengan sesungging senyum mengejek.

Beruang Hitam tentu saja merasa terkejut sekali mendengar suara teguran yang tidak disangka-sangkanya itu. Dan laki-laki berbadan gembur berperut buncit ini lebih terkejut lagi ketika ia memutar tubuh, entah dari mana datangnya tahutahu seorang pemuda berwajah tampan berpakaian merah ini telah berdiri tidak jauh di depannya.

"Kau. Siapakah engkau ini? Apakah kau kawannya kadal buntung yang menginginkan isi bungkusan itu?" tanyanya sambil menunjuk ke arah bungkusan yang menggeletak di atas tanah.

Buang berpikir tokoh yang satu ini sebenarnya merupakan figur manusia yang lucu. Hanya saja ia memiliki watak yang sangat kejam sekali. Terhadap orang yang satu ini rasanya Pendekar Hina Kelana tidak perlu basa basi. Itulah sebabnya dengan tegas ia menjawab.

"Aku bukan kawan Iblis Hitam. Tapi kedatanganku ke mari adalah untuk mengambil benda yang telah kau curi untuk dikembalikan pada yang berhak." kata Buang dengan suara tajam menusuk.

Beruang Hitam tersentak kaget, sama sekali ia tidak menduga kalau kehadiran pemuda itu juga menginginkan benda yang sama. Baginya hal ini merupakan suatu persoalan yang patut diwaspadai. Sekarang setindak demi setindak Beruang Hitam melangkahkan kakinya mendekati Patung Kematian yang terbungkus kain sutera merah itu.

"Sudah begitu banyak korban berjatuhan akibat benda yang sangat berharga ini. Apakah engkau juga ingin mengorbankan nyawa hanya demi benda ini?" tanya laki-laki berperut buncit ini sambil menepuk-nepuk bungkusan yang telah berada di tangannya.

Buang mendengus geram, sekarang ia merasa semakin tidak sabar saja menghadapi tingkah Beruang Hitam yang berubah jadi memuakkan.

"Benda itu ada pemiliknya yang sah. Kalau sekarang ia berada di tanganmu, semua itu pastilah karena kau merampasnya."

"Hey, bocah! Bicaramu kelewat lancang. Tahukah engkau dengan siapa kau berhadapan!" bentak Beruang Hitam dengan amarah membara

Pendekar Hina Kelana ini sadar betul siapa yang dihadapinya kali ini. Namun baginya hal itu sudah menjadi perhitungannya.

"Yang kutahu, kau tidak lebih dari seorang tokoh sesat yang terlalu kemaruk dengan bendabenda berharga milik orang lain. Bicara terus terang lebih baik kembalikan benda itu kepada perguruan Teratai Putih. Jika tidak aku pasti akan menghajarmu." bentak Buang hampir tidak dapat lagi mengendalikan amarahnya.

Beruang Hitam nampak tertegun beberapa saat lamanya. Dipandanginya Buang Sengketa dengan tatapan tajam menyelidik. Selama ini rasanya ia belum pernah bertemu dengan seorang pemuda berpakaian serba merah dengan rambut dikuncir itu. Tapi sebagai orang yang selalu malang melintang di rimba persilatan, nampaknya ia sadar betul bahwa pemuda itu tidak dapat dianggap enteng.

"Hahaha. Kau benar-benar seorang pemuda pemberani yang pernah kujumpai. Tapi ketahuilah sama sekali aku tidak pernah mencuri Patung Kematian. Hanya saja aku telah merampasnya dari tangan si Tokoh Misterius ketika ia sedang lengah."

"Kalau begitu kalian sama saja. Kukatakan sekali lagi padamu. Cepat kau serahkan benda di tanganmu itu." teriak Buang Sengketa dengan suara menggeledek.

Hebatnya Beruang Hitam malah menyambutnya dengan tawa.

"Lakukanlah kalau kau mampu." dengus Beruang Hitam dengan sikap menantang.

Buang sudah dikuasai hawa amarah, akhirnya tidak dapat lagi menahan diri. Dengan diawali lengkingan tinggi melengking. Dia melepaskan pukulan Si Hina Kelana Merana, yaitu salah satu pukulan maut yang memancarkan sinar merah membara ke arah Beruang Hitam. Laki-laki ini semula ingin tertawa, sekarang malah terperangah. Pukulan yang dilontarkan oleh Buang Sengketa di samping menimbulkan hembusan angin yang sangat kuat, juga menebarkan hawa panas luar biasa. Buang memang tidak bertindak setengah-setengah. Apalagi menyadari lawan yang dihadapinya merupakan seorang tokoh sesat berilmu tangguh. Maka begitu mengawali serangannya dia telah melepaskan salah satu pukulan yang sangat dahsyat. Serangan Buang yang datangnya laksana kilat membuat Beruang Hitam menjadi kelabakan sesaat. Namun kesempatan yang hanya sedetik itu telah dimanfaatkan oleh Buang Sengketa dengan sebaik-baiknya.

Blaam! Blaaam! "Uuhgk...!"

Beruang Hitam memekik keras ketika pukulan yang dilakukan oleh lawan menghantam di bagian dadanya. Laki-laki bertubuh gembur ini jatuh terjengkang. Dari mulutnya meleleh darah kental. Buang sendiri langsung terperangah melihat kekebalan yang dimiliki oleh lawannya. Seperti diketahui, pukulan Si Hina Kelana Merana adalah merupakan pukulan pamungkas yang maha dahsyat. Jangankan hanya manusia biasa, sedangkan seekor gajahpun akan hangus bila terkena pukulan maut itu. Tapi kini Beruang Hitam hanya terluka dalam menerima pukulan itu. Kenyataan ini membuat, Buang memuji kehebatan lawan dalam hati. Beruang Hitam sekarang telah bangkit kembali. Sepasang matanya yang agak sipit itu berkilat-kilat mengisyaratkan hawa pembunuhan. Nafasnya memburu tidak jauh bedanya dengan dengusan banteng yang sedang mengamuk.

"Tidak perduli siapa engkau. Hari ini aku harus membunuhmu!" desis Beruang Hitam mulai membuka jurus andalannya yang diberi nama Beruang Hitam Mengusir Lebah.

"Hiaat...!"

Begitu lawan melancarkan serangkaian serangan ganas dengan mempergunakan kukukukunya yang runcing lagi berbisa. Bergegas Buang Sengketa berputar sambil melesat ke udara. Sergapan itu luput. Ketika tubuh Buang Sengketa kembali menukik ke bawah dengan kaki lurus di atas, ia kembali melepaskan pukulan Si Hina Kelana Merana dengan mempergunakan setengah tenaga dalam yang dimilikinya. Angin yang sangat kencang menderu di sertai bergulung-gulungnya udara panas bagai bara api. Beruang Hitam yang kehilangan posisi lawannya tersentak kaget. Begitu tubuhnya berbalik. Pukulan yang dilepaskan lawannya tepat mengenai dada.

Blaam! "Wuaah...!" Untuk kedua kalinya Beruang Hitam jatuh tersungkur di atas tanah berdebu. Seluruh mukanya yang kotor agak basah oleh keringat bercampur darah yang menetes di bagian hidung. Buang Sengketa kembali terperangah saat melihat lawan yang terkena pukulannya itu telah bangkit kembali seolah tidak merasakan pukulan yang dideritanya.

"Ka... kau memang hebat, orang muda. Gerakan silatmu yang sangat cepat membuat kepalaku berdenyut-denyut sakit. Tapi jangan kira kau sudah menang dalam menghadapi aku. Tidak seorangpun di rimba persilatan ini yang bakal mampu mengalahkan Beruang Hitam!" teriak laki-laki berperut buncit ini sambil tertawa-tawa bagai orang sinting. Sekarang tanpa menghiraukan buntalan yang terjatuh akibat pukulan Pendekar Hina Kelana. Beruang Hitam segera merentangkan kedua tangannya. Terdengar suara raungan bagai orang kesetanan saat laki-laki ini memburu ke arah si pemuda. Tidak salah lagi Beruang Hitam saat itu memang telah mempergunakan Ajian 'Raungan Iblis' untuk menghadapi lawannya. Buang Sengketa tidak tinggal diam, ia sadar lawan kali ini benarbenar mulai mempergunakan segenap kepandaian yang dimilikinya. Pada saat itu juga si pemuda menghentakkan tangannya ke bagian dada lawannya, herannya lawan yang berperut buncit ini tidak berkelit sama sekali. Sebaliknya dengan cepat dia menggerakkan jari tangannya yang berkuku runcing. Buang Sengketa merasa terkejut bukan main. Dengan cepat tangannya di tarik kembali. Belum sempat Buang melakukan sesuatu, mendadak dari arah bawah melesat tendangan telak. Pemuda ini segera mempergunakan jurus Si Gila Mengamuk untuk menghindari tendangan lawannya itu. Tubuh Buang Sengketa terhuyunghuyung bagai seorang pemabukan. Meskipun lawan terus memburunya, namun berkat jurus Si Gila Mengamuk serangan Beruang Hitam selalu mencapai sasaran kosong. Satu kali tendangan Beruang Hitam menyerempet punggungnya.

Buuk!

"Aduh...!" Buang Sengketa jatuh terjengkang, manakala tendangan Beruang Hitam yang mempergunakan tenaga dalam sepenuhnya itu menghantam punggungnya. Buang merasakan tubuhnya seperti remuk. Sambil terus bergulingguling menghindari tendangan susulan. Cepat sekali Buang bangkit kembali. Namun pada saat itu Beruang Hitam yang sudah kalap sudah mendesaknya dengan jurus Rentangan Cakar Berbisa. Pendekar Hina Kelana berkelit menghindar, cakaran yang sangat berbahaya itu berhasil dielakkannya. Lagi-lagi satu tendangan kilat yang tiada diduga-duga mendarat di perut Buang Sengketa.

"Argkh...!"

Buang Sengketa terpelanting roboh. Dari bagian mulutnya meleleh darah segar. Beruang Hitam tersenyum tipis, raut wajahnya berubah merah menggidikkan. Sebelum Buang Sengketa sempat melancarkan jalan darahnya yang kacau, Beruang Hitam telah menyerangnya lagi.

"Hiaa...!" Agaknya kali ini Buang Sengketa yang sedang menderita luka dalam itu tidak mampu lagi menghindari serangan mematikan yang dilakukan oleh Beruang Hitam. Terlebih-lebih serangan itu datangnya terlalu cepat sekali, bahkan sangat sulit diikuti kasat mata. Pada detik-detik yang kritis itu terlihat sinar merah menyala yang menebarkan udara sedingin es. Melihat semua ini Beruang Hitam nampak terperangah wajahnya bahkan berubah pucat pasi. Masih syukur ia mampu menghentikan arus pukulannya, bahkan sempat menarik balik tangannya yang mengancam bagian kepala Buang Sengketa.

"Pendekar Golok Buntung! Ka... kau Pendekar Hina Kelana?" desis Beruang Hitam dengan suara bergetar.

Sementara Buang Sengketa sendiri telah bangkit berdiri. Pusaka Golok Buntung sekarang telah berada dalam genggamannya. Hawa hangat terasa mengalir deras dari senjata andalan yang digenggamnya itu. Rasa sesak yang memenuhi dadanya sekarang sedikit demi sedikit mulai berkurang, Buang Sengketa perlahan membuka matanya yang terpejam. Sesungging seringai menggidikkan menghias di bibirnya.

"Sekarang kau benar-benar telah mengetahui siapa aku. Karena kau tidak mau menyerahkan Patung Kematian secara baik-baik padaku. Maka sekarang terimalah kematianmu! Haiit...!" dengan di sertai lengkingan ilmu Pemenggal Roh, tubuh Pendekar Hina Kelana berkelebat lenyap. Senjata di tangannya menderu dan menimbulkan suara bercuitan. Sementara udara di sekelilingnya berubah dingin luar biasa.

Beruang Hitam terkesiap, ia terpaksa mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi pendengarannya dari suara lengkingan ilmu Pemenggal Roh yang dikerahkan oleh lawannya.

"Hees...!" Ngungg...!

Dengan tunggang langgang Beruang Hitam berusaha menghindari sergapan senjata di tangan lawannya. Tapi usaha-usaha seperti itu hanya beberapa kali saja berhasil dilakukannya. Sampai pada satu waktu, tubuh Buang Sengketa berputar cepat mematikan setiap gerak langkahnya. Pusaka yang menebarkan hawa sedingin badai es itupun menyambar ke bagian perut Beruang Hitam.

Nguuung...! Craak! Craaak!

"Aarrrhkg...!" Beruang Hitam melolong bagai serigala terluka saat bagian perutnya terbelah. Isi perut memburai keluar disertai menyemburnya darah dari luka itu.

"Ka... kau memang hebat, boc... aaah...!" Beruang Hitam jatuh tersungkur dengan tubuh menekuk. Seketika itu juga nyawanya melayang meninggalkan raga. Buang menarik nafas lega, namun begitu berpaling ke arah buntalan. Ia melihat sesosok bayangan berkelebat menyambar buntalan itu, kemudian berlari cepat ke arah lain. Pendekar Hina Kelana hanya sesaat saja sempat terperangah. Kemudian...

"Hei... berhenti! Tinggalkan Patung Kematian!" teriak Buang Sengketa. Karena bayangan itu terus berlari, maka pemuda inipun segera melakukan pengejaran. Tapi bayangan hijau itu cepat bukan main. Buang Sengketa terpaksa mengerahkan Ajian Sepi Angin untuk menyusul orang di depannya. Hanya dalam waktu singkat ia berhasil mempersempit jarak. Di luar dugaan orang yang dikejarnya menyambitkan senjata rahasia ke arahnya.

"Keparaaat!" Buang bersalto beberapa kali untuk menghindari serangan itu. Begitu ia menjejakkan kakinya, bayangan hijau itu telah lenyap dari hadapannya.

"Tidak salah lagi, orang yang mempergunakan senjata rahasia pastilah si Tokoh Misterius...!" gumamnya sambil terus bergerak ke arah hilangnya bayangan tadi.

***

5

Setelah lebih dari satu purnama Pendekar Hina Kelana yang ditunggu-tunggu oleh Wiku Swanda tidak kembali juga ke perguruan Teratai Putih. Maka laki-laki berusia lanjut ini kemudian memutuskan untuk segera menyusulnya sekaligus mencari Patung Kematian yang telah jatuh ke tangan golongan sesat. Pagi itu dengan mempergunakan kuda-kuda tunggangan. Berangkatlah Wiku Swanda dengan disertai oleh lima belas orang muridnya. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, tidak seorangpun diantara mereka yang berani buka bicara. Yang terdengar hanyalah derap langkah kuda mereka yang dipacu dengan kecepatan luar biasa.

Kuda-kuda tunggangan itu terus menelusuri jalan berbatu kapur menuju arah Utara. Menjelang setengah hari, Wiku Swanda dan rombongan telah jauh meninggalkan daerah Bayur Kemuning yaitu tempat perguruan yang mereka tinggalkan. Kecepatan kuda terus dipacu hingga terdengar suara hiruk pikuk memekakkan telinga. Dan debu tebal nampak mengepul tinggi di angkasa. Ketika mereka sampai di sebuah tikungan jalan tiba-tiba kuda-kuda yang mereka tunggangi meringkik keras. Bahkan beberapa diantaranya ada yang melonjak-lonjak, sehingga membuat murid-murid Wiku Swanda jatuh terpelanting dari atas punggung kuda. Serentak dalam waktu yang bersamaan terdengar suara bentakan-bentakan nyaring dari sebelah kiri bukit.

"Berhenti...!"

Belum lagi gema suara teriakan itu hilang dari pendengaran penunggang kuda ini, dari kanan dan kiri jalan itu nampak berlompatan beberapa sosok tubuh berpakaian kuning gading. Dalam waktu yang singkat sepuluh orang berpakaian kuning bertampang kasar telah mengepung rombongan perguruan Teratai Putih yang di pimpin oleh Wiku Swanda.

"Siapa kalian!" tanya Wiku Swanda sambil memperhatikan orang-orang yang telah mengepung mereka itu satu demi satu. Kemudian ketua perguruan Teratai Putih itu melihat salah seorang diantara mereka maju dua langkah mendekati kuda Wiku Swanda. Ketua perguruan Teratai Putih itu terdiam, tapi pandangan matanya terus memperhatikan gerak-gerik laki-laki bercambang serta bawuk lebat.

"Hahaha! Kalau tak salah, anda semua merupakan orang-orang dari perguruan Teratai Putih. Dan yang paling tua dan hendak masuk kubur, pastilah Wiku Swanda. Hemm. Kelihatannya akhirakhir ini anda sibuk sekali, Wiku? Apakah anda merasa bingung untuk menyembunyikan Patung Kematian supaya aman dari incaran kalangan rimba persilatan? Kalau begitu alangkah baiknya jika Wiku menyerahkan Patung Kematian kepada kami agar selalu dalam keadaan aman." kata lakilaki berpakaian kuning yang menjadi pimpinan sembilan orang lainnya sambil tersenyum licik.

Wiku Swanda maupun murid-muridnya sudah barang tentu menjadi marah atas sikap lancang orang-orang yang tidak mereka kenal itu. Bahkan dua orang murid perguruan Teratai Putih itu tanpa berkata apa-apa langsung mencabut pedangnya. Tetapi niat mereka untuk menerjang laki-laki bersenjata tombak pendek berwarna putih ini menjadi urung begitu melihat guru mereka mengangkat tangannya memberi isyarat.

Tidak lama setelah itu, Wiku Swanda kembali berpaling pada lakilaid yang menjadi pimpinan gerombolan itu. Sekejap diamatinya orang itu dengan pandangan tajam menusuk.

"Umur seusia jagung. Kalian kelompok garong dari manakah, sehingga begitu berani mengguruiku orang yang sudah tua bangka?" bentak Wiku Swanda dengan suara menggelegar.

Beberapa orang diantara mereka nampak terkesiap ketika mendengar ucapan Wiku Swanda yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi. Namun yang menjadi ketua orang-orang berpakaian kuning bersenjata tombak pendek ini malah tertawa tergelak-gelak.

"Wiku, suaramu yang melengking itu hanya pantas untuk mengusir monyet-monyet di hutan. Ah... mengapa tidak kau serahkan saja Patung Kematian itu kepada kami, agar semua urusan menjadi beres."

"Kalau itu yang kalian inginkan. Lebih baik kalian bermimpi telah mendapatkan benda itu daripada mendapatkannya secara kenyataan tapi jiwa kalian tidak dapat diselamatkan...!" ucap Wiku Swanda dengan sikap tenang berwibawa.

"Hemm. Kau tidak bisa menggertak si Tombak Perak dengan segala bualanmu itu, Wiku. Dan kami akan membuktikannya." teriak ketua Tombak Perak. Selanjutnya tanpa berkata apa-apa lagi ia memberi isyarat pada sembilan orang bawahannya. Tanpa menunggu di perintah dua kali. Sembilan orang bawahan laki-laki berbadan tinggi besar ini mencabut senjata mereka yang berupa sebilah tombak pendek berwarna putih keperakan dari pinggang mereka. "Hiyaa...!"

Secara serentak dengan disertai teriakanteriakan melengking tinggi kesembilan orang-orang bawahan si Tombak Perak atau Rahasia ini menerjang Wiku Swanda dan murid-muridnya yang sudah berlompatan dari punggung kuda menyambut kedatangan serangan ganas orang-orang berpakaian kuning gading ini.

Tidak terelakkan lagi pertempuran sengitpun terjadi. Masingmasing lawan telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Bahkan di pihak murid-murid perguruan Teratai Putih pun telah pula mengeluarkan senjata mereka yang berupa sebilah pedang berwarna putih mengkilat karena ketajamannya. Pada kenyataannya meskipun bawahan Tombak Perak hanya berjumlah sembilan orang, namun dalam melakukan penyerangan gerakan mereka sangat cepat dan gesit. Mereka terus merangsak murid-murid Wiku Swanda yang berjumlah lima belas orang ini. Menyadari betapa berbahaya serangan tombak yang menimbulkan angin menderu-deru ini. Muridmurid perguruan Teratai Putih laksana kilat langsung memutar pedang mereka sehingga membentuk perisai diri yang begitu kokoh. 

"Haiit! Shaaa..!"

Begitu beberapa orang bawahan Rahasia berhasil menerobos pertahanan murid-murid Wiku Swanda. Maka tiga orang diantaranya langsung terpelanting roboh dengan dada tertembus tombak pendek di tangan lawannya. Semua yang terjadi pada murid-muridnya kiranya tidak terlepas dari perhatian Wiku Swanda yang sudah mulai menjatuhkan bawahan Rahasia hanya dengan mengandalkan jurus-jurus tangan kosong saja. Tentu saja laki-laki berusia tujuh puluhan ini menjadi sangat marah sekali. "Keparaat. Kalian memang benar-benar ingin cepat di buat mampus!" dengus Wiku Swanda sambil menerjang lawannya yang bersenjata tombak itu dengan serangan-serangan yang sangat mematikan. Dengan tendangan-tendangan kakinya yang disertai tenaga dalam yang tinggi, beberapa kali ia berhasil membuat tersungkur lawannya dengan dada hancur akibat terhantam tendangan yang menggeledek tadi. Tapi tidak sampai di situ saja Wiku yang sudah dirasuki hawa amarah ini bertindak. Beberapa kali ia melontarkan pukulan keras ke arah bawahan Rahasia yang hanya tinggal beberapa orang itu. Melihat gelagat yang kurang menguntungkan ini Rahasia segera bertindak cepat dengan menghentakkan tangannya ke arah Wiku Swanda.

Wus!

Terasa adanya sambaran angin berhawa panas luar biasa menderu ke arah laki-laki berusia lanjut ini. Selanjutnya benturan keras pun terdengar, membuat seisi dada bagai terguncang.

Bledaar...! "Wuaakh...!"

Tubuh ketua perguruan Teratai Putih itu tergetar hebat. Dirasakannya telapak tangannya berdenyut-denyut sakit. Namun setelah mengerahkan tenaga dalamnya untuk melancarkan jalan darahnya yang agak kacau, sebentar kemudian keadaan tubuhnya sudah kembali seperti biasa. Di pihak Rahasia sendiri selain tubuhnya sempat terbanting roboh, namun ia juga merasakan pukulannya membalik seolah telah membentur tembok baja. Bahkan selain ia merasakan dadanya sesak luar biasa. Namun juga dari celah-celah bibirnya telah mengalir darah segar. Sekarang sadarlah ketua Tombak Perak itu betapa lawan yang dihadapinya kali ini memiliki tenaga dalam yang berada jauh di atasnya.

Namun orang yang satu ini nampaknya tidak ingin bersurut langkah. Meskipun saat itu ia melihat seluruh bawahannya telah terbunuh di tangan Wiku Swanda dan murid-muridnya. Dengan cepat laki-laki berpakaian kuning gading ini telah bangkit kembali. Kemudian dipandanginya murid-murid perguruan Teratai Putih yang hanya tinggal sepuluh orang. Dengan perasaan geram ia menoleh ke arah Wiku Swanda yang juga sedang memandang ke arahnya dengan tatapan tajam menusuk.

"Kau hebat, Wiku! Tapi kau jangan bangga dulu, karena aku sama sekali belum kalah. Satu yang perlu kau ingat bahwa Patung Kematian harus dapat kumiliki."

"Kau benar-benar manusia yang tolol. Apa yang kau harapkan dari pertarungan ini sedangkan aku sendiri sekarang sedang berusaha menemukan kembali Patung Kematian yang telah di rampas oleh orang lain...!" sahut laki-laki itu merasa geli sendiri. Tapi mana mungkin ketua Tombak Perak ini percaya dengan kata-kata Wiku Swanda.

Sebagai orang yang datang dari sebuah tempat yang jauh dari kaki gunung Cimanuk sana tentu saja berita tentang Patung Kematian yang sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang rimba persilatan menarik perhatiannya. Apalagi seperti yang didengarnya patung itu selain mengandung racun yang sangat ganas. Juga di dalam tubuh patung itu tersimpan pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi. Hal ini tentu saja menarik minat Rahasia yang selalu keranjingan terhadap berbagai ilmu silat. Itulah sebabnya dari tempat yang jauh di bagian Tenggara sana ia rela menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan, semata-mata hanya ingin merebut Patung Kematian dari tangan Wiku Swanda. Tidak heran jika begitu bertemu ketua perguruan Teratai Putih ini sama sekali tidak mengenali si Tombak Perak karena sebelum itu mereka memang tidak pernah bertemu sama sekali.

Sekarang setelah berhadapan langsung dengan Wiku Swanda. Laki-laki tua itu mengatakan Patung Kematian telah hilang dari perguruannya. Mana mungkin Rahasia bisa percaya begitu saja.

"Hmm...!" Wiku Swanda menggumam tidak jelas. Namun perhatiannya tetap tertuju pada Rahasia yang nampak tercenung seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

"Aku tidak percaya patung itu telah hilang, Wiku...!" katanya kemudian setelah agak lama hanya berdiam diri. Ketua perguruan Teratai Putih itu tersentak kaget. Hal ini bukan karena Wiku Swanda merasa gentar menghadapi si Tombak Perak. Namun disebabkan sikap Rahasia yang ngotot, seolah ia merupakan pemilik Patung Kematian. Padahal sejak beradunya tenaga dalam tadi, jelasjelas Wiku tua ini dapat merasakan betapa tenaga dalam yang dimilikinya jauh berada di atas lawannya. Apakah dengan kenyataan ini Rahasia masih juga belum tahu gelagat?

"Kalau kau tetap tidak percaya, silahkan mampus saja!" geram Wiku Swanda. Kemudian setelah menghembuskan nafasnya dalam-dalam, ketua perguruan Teratai Putih ini mendadak berteriak keras menggelegar. Seketika itu juga tubuhnya melesat secepat kilat ke udara. Ketika sebentar kemudian tubuhnya telah meluncur kembali ke bawah. Maka Wiku Swanda telah melontarkan pukulan jarak jauh ke arah Rahasia. Si Tombak Perak yang sudah merasakan kehebatan lawannya sejak gebrakan-gebrakan pertama tadi, sekarang terlihat nampak berhati-hati sekali. Terbukti ketika ia merasakan angin keras menderu dari atas kepalanya. Dengan gerakan luar biasa cepatnya ia membanting dirinya sambil memutar tombak pendek di tangannya. Terdengar suara mendengungdengung ketika tombak perak di tangan Rahasia diputar laksana baling-baling. Dalam keadaan seperti itu tentu merupakan kesulitan tersendiri bagi Wiku Swanda yang tidak menyangka akan mendapat serangan balik ini. Dengan cepat ia menghentikan arus pukulan. Namun ketika kakinya telah menjejak di atas tanah, Wiku Swanda segera melepaskan pukulannya kembali. "Hiyaa!"

Dengan jari-jari terkembang membentuk kuntum bunga teratai, lakilaki berusia lanjut ini mendorongkan kedua tangannya ke depan. Ketika tangan itu telah menghantam ke arah lawan. Maka gelombang hawa panas yang disertai gemuruh suara angin menghantam pertahanan Rahasia. Lakilaki dari lereng gunung Cimanuk ini langsung tersentak ke belakang. Tombak pendek yang ia pergunakan untuk melindungi diri terpental jauh dan jatuh entah ke mana. Dapat dibayangkan betapa kerasnya pukulan yang dilakukan oleh Wiku Swanda ini.

Wajah Rahasia langsung berubah pucat seputih kain kafan, tapi rasa keterkejutannya itu tidak berlangsung lama, karena pukulan yang dilancarkan oleh Wiku Swanda telah kembali menderanya. Sedapat-dapatnya Rahasia berusaha menyelamatkan diri dari pukulan maut yang terus memburunya ke mana pun ia berusaha menghindar.

"Heaa..!"

Ketua Tombak Perak ini mengibaskan tangannya. Kemudian beberapa batang tombak yang lebih pendek dan sangat tipis meluncur dari telapak tangannya itu. Tetapi pukulan yang dilakukan oleh Wiku Swanda datangnya lebih cepat lagi dari dugaan laki-laki itu.

Brees!

"Aaa...!" terdengar jeritan Rahasia yang melengking tinggi ketika pukulan Kuntum Bunga Teratai yang dilepaskan lawan dengan telak menghantam tubuhnya. Untuk yang kesekian kalinya Rahasia jatuh terpelanting. Sementara tombaktombak pendek yang disambitkan oleh Rahasia dengan baik dapat dihindari oleh Wiku Swanda, sehingga senjata-senjata itu mengenai tempat kosong.

"Ka... kau...!" Rahasia yang sudah terluka parah itu nampak ingin mengatakan sesuatu.

Tapi niatnya itu tidak pernah kesampaian karena ternyata ajal lebih cepat menjemputnya. Melihat kematian lawannya, ketua perguruan Teratai Putih ini langsung menarik nafas dalamdalam. Hanya sekejap dipandanginya mayat Rahasia yang mulai dingin membeku. Ketika laki-laki berpakaian serba putih ini memandang pada murid-muridnya. Maka dilihatnya mereka sedang sibuk mempersiapkam kubur buat lima orang saudara seperguruan mereka yang menjadi korban serangan anak buah Tombak Perak.

"Berapa orang kawan-kawan kalian yang tewas, Narada?" tanya lakilaki itu pada salah seorang murid tertuanya.

"Semuanya ada lima orang, Eyang guru!" sahut Narada dengan sikap hormat.

"Kalau begitu cepat selesaikan penguburan mereka. Setelah itu kita secepatnya harus meneruskan perjalanan kembali." perintah Wiku Swanda dengan perasaan sulit diduga-duga. Pada saat itu Narada tanpa berkata apa-apa segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh guru mereka. Sepuluh orang murid perguruan Teratai Putih bahu membahu menguburkan kawan-kawan mereka sehingga pekerjaan menguburkan mayat pun hanya dalam waktu yang singkat telah selesai. Siang itu juga Wiku Swanda dan sepuluh orang muridnya kembali meneruskan perjalanan mereka yang sempat tertunda.

***

6

Buang merasa kesal sekali ketika ia kehilangan jejak orang yang diburunya. Padahal hari sudah mulai beranjak malam. Udara terasa dingin dengan datangnya hembusan angin yang sangat kencang. Namun suasana seperti itu tidak membuat Pendekar Hina Kelana ini menghentikan pencariannya. Patung Kematian sangat perlu untuk di selamatkan, terlebih-lebih ia pernah berjanji pada ketua perguruan Teratai Putih untuk mendapatkan patung itu kembali dalam waktu secepatnya. Tapi setelah lebih dari satu purnama Buang melakukan pencarian, hingga kini ia masih belum berhasil mendapatkan benda itu. Hal ini yang merisaukan hatinya.

Semua itu merupakan masalah nasib, jika saja saat itu tidak muncul si Tokoh Misterius dan melarikan Patung Kematian. Tentu saja sekarang ini ia telah kembali ke perguruan Teratai Putih untuk menyerahkan benda yang diperebutkan itu. Buang menggerutu kesal. Meskipun begitu dalam keadaan malam yang hanya diterangi oleh cahaya bulan purnama, Buang terus berlari cepat dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf sempurna. Begitu cepatnya seolah-olah ia berlari di atas angin saja layaknya.

Tapi Pendekar Hina Kelana ini secara mendadak terpaksa menghentikan larinya ketika dari arah depannya nampak melesat bayangan lain. Tiba-tiba di depan Buang Sengketa telah menghadang belasan laki-laki berjubah hitam mirip orang yang hampir membunuh Buang di perguruan Teratai Putih. Hanya saja bedanya orang-orang yang telah bergerak mengepungnya itu tidak memakai topeng tengkorak seperti mereka terdahulu.

"Siapa kalian?" tanya pemuda itu sambil memperhatikan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Anehnya tidak seorangpun yang mau menjawab pertanyaan Buang. Hal inilah yang membuatnya terheran-heran. Angin dingin tibatiba saja berhembus kencang.

"Uhp...!"

Buang hampir saja muntah ketika penciumannya yang tajam itu mengendus bau sesuatu yang sangat menusuk, bau bangkai.

"Aneh. Tiba-tiba saja di sekitar sini tercium bau begini rupa. Siapakah mereka ini? Gerakannya kaku bagai patung, wajah mereka pucat bagai kain kafan. Tapi pandangan mata mereka kosong seolah tiada kehidupan di sana." gumam Pendekar Hina Kelana ini dengan suara tidak begitu jelas. Tiba-tiba sesuatu yang tidak pernah diduga-duga terlintas di dalam benaknya. Orang itu jelas sekali seperti digerakkan oleh satu kekuatan yang tidak terlihat sama sekali. Buang Sengketa yakin pasti ada sesuatu yang berbentuk kekuatan gaib berada di belakang mereka. Hanya ia belum begitu menyadari siapakah yang bersembunyi di balik semua orang tanpa perasaan yang berada dalam posisi siap menyerangnya ini.

Tidak lama setelah itu para pengepungnya yang berjumlah belasan orang memperdengarkan suara ribut dengan makna yang tidak jelas bagi Pendekar Hina Kelana ini. Buang terperangah melihat keganjilan-keganjilan yang dilakukan oleh orang-orang berpakaian serba hitam ini. Terlebihlebih ketika tidak lama kemudian ia mendengar suara tiupan seruling tidak jauh dari tempat ia berada. Bersamaan dengan terdengarnya suara tiupan seruling itu, maka bagai dikomando. Belasan laki-laki yang telah mengurung Buang itu bergerak serentak menyerang si pemuda. Dari serangan yang dilakukan secara bersamaan itu saja sekilas Buang dapat melihat. Meskipun gerakan mereka agak lamban, namun serangan-serangan itu menimbulkan hawa kematian yang tidak dapat di tawar-tawar lagi. Menghadapi kenyataan seperti ini, tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Hina Kelana langsung melompat menerjang orangorang berpakaian hitam yang berada begitu dekat dengan dirinya. Bukan main cepatnya serangan yang dilakukan oleh Buang, sehingga orang yang diterjangnya dan memiliki gerakan kaku bagai patung sudah tidak punya kesempatan lagi untuk menghindar. Diegkh...!

Pukulan telak yang dilakukan oleh Buang dengan tepat menghajar tubuh dua orang yang berada didepannya. Selanjutnya dengan memutar tubuhnya ke samping kiri, kaki kanan melakukan tendangan beruntun. Tiga orang lawan berpakaian serba hitam itu terpelanting roboh menyusul dua orang lainnya. Begitu kerasnya pukulan maupun tendangan kilat yang dilakukan oleh Pendekar Hina Kelana ini sehingga ia dapat memperhitungkan lima orang yang tersungkur roboh itu pastilah telah menemui ajal.

Di lain saat ketika melihat kawan-kawannya terpelanting terhantam tendangan Buang. Orangorang berpakaian hitam lainnya nampak berubah menjadi beringas. Dengan gerakan kaku mereka menerjang Pendekar Hina Kelana ini, secara bersamaan. Meskipun gerakan dan langkah-langkah mereka agak lamban. Namun serangan-serangan yang dilancarkan oleh mereka ini berbahaya sekali. Setiap sambaran tangan-tangan mereka yang menebarkan bau busuk selalu terarah pada sasarannya. Hanya saja berkat kelincahan Buang dalam menghindari sergapan-sergapan serangan mereka, sampai sejauh itu Buang masih dapat menyelamatkan diri. Hanya saja terkadang, Buang agak terkecoh menghadapi serangan lawan yang tidak pernah bicara sama sekali.

"Hiyaa...!"

Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna, tubuh Buang melenting ke udara. Beberapa kali ia melakukan salto dengan gerakan-gerakan yang sangat manis. Begitu tubuhnya meluncur ke bawah. Pemuda ini langsung mengembangkan kedua tangannya sambil melontarkan pukulan Si Hina Kelana Merana ke arah lawan-lawan yang berada di bawahnya.

Wuus! Wuss! Blamm! Blaam!

Terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat saat pukulan yang dilepaskan oleh Buang menghantam tubuh mereka. Tanah di sekitar tempat itu bagai diguncang gempa bumi yang dahsyat. Beberapa orang berpakaian serba hitam itu berpelantingan tidak tentu arah. Bahkan dua orang diantaranya terkapar di tempat itu juga dengan tubuh hangus menghitam. Tidak lama kemudian terciumlah bau bangkai terbakar, sehingga membuat Pendekar Hina Kelana ini terperangah untuk yang kesekian kalinya.

"Tubuh mereka menebarkan bau busuk bangkai. Hemm. Aku merasa yakin ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada mereka." gumam Pendekar Hina Kelana sambil menghindari serangan beberapa laki-laki berpakaian serba hitam yang semakin bertambah beringas menyerangnya. "Ups...!"

Tiba-tiba Buang memekik tertahan ketika merasakan adanya pukulan yang menghantam bagian punggungnya. Pemuda ini tersungkur ke depan. Bukan main kerasnya pukulan yang dilakukan lawan, sehingga Buang merasakan sekujur tubuhnya terasa lemah tiada bertenaga. Dan sebelum pemuda ini dapat berdiri pada posisinya, enam orang lainnya segera memburunya bagai serigala yang haus darah. Pendekar Hina Kelana terus berguling-guling. Hingga pada satu kesempatan, Buang menyentakkan tubuhnya sendiri. "Haiit!"

Dengan mengandalkan gerakan cepat, Buang Sengketa melompat ke samping kanan. Kemudian secepat gerakan pertamanya tadi ia melepaskan pukulan si Hina Kelana Merana ke arah lawan-lawannya. Serangkum cahaya berwarna merah menyala dan menimbulkan hawa panas luar biasa menghantam dua orang pengeroyok yang berada di depannya. Blaar..!

Tanpa terdengar suara apa-apa, tubuh mereka terpelanting beberapa tombak ke belakang. Dan sebelum sisa-sisa para pengeroyoknya bertindak lebih jauh, Buang Sengketa mencabut pusaka Golok Buntung dari sarungnya. Udara di sekitar tempat itu berubah sedingin es seketika itu juga. Senjata di tangan Buang Sengketa memancarkan sinar merah menyala. Lalu, tanpa membuangbuang waktu lagi pemuda inipun segera bertindak. Dengan cepat tubuhnya berkelebat, senjata di tangan menyambar ke bagian leher lawan-lawannya.

Craas! Crees!

Buang Sengketa tersentak kaget ketika melihat luka yang dialami lawan-lawannya sama sekali tidak mengeluarkan darah. Celakanya orangorang yang telah terluka parah akibat tebasan senjata Buang Sengketa bagai tidak merasakan sakit sama sekali terus berjalan menghampiri Buang Sengketa.

"Celaka! Kiranya orang-orang ini merupakan orang yang tidak bernyawa. Ilmu Iblis dari mana yang telah dipergunakan oleh pemilik mayat-mayat hidup ini?" desis Pendekar Hina Kelana sambil bergerak mundur.

Pada saat Buang Sengketa diliputi oleh rasa penasaran dan ketegangan itulah secara tiba-tiba ia mendengar suara tawa seseorang yang melengking tinggi.

"Haiiaha...! Pemuda berkuncir. Kalau tidak salah mataku yang lamur ini, kau pastilah orang yang telah membunuh salah seorang jubah hitam topeng tengkorak di tempat kediaman Wiku Swanda? Sekarang kau telah pula membunuh mayat bayangan milikku. Apakah kalau mayat-mayat bayangan itu kubangkitkan kembali kau mampu menghadapi mereka?"

"Siapakah kau?" dengus Buang Sengketa sambil memperhatikan ke satu arah.

"Aku adalah orang yang memerlukan Patung Kematian dan satu-satunya orang yang akan memenggal kepala Pendekar Hina Kelana...!" teriak orang itu sinis.

"Siapapun engkau jika menginginkan Patung Kematian yang bukan milikmu. Sama saja artinya menghendaki kematian dariku." bentak Buang Sengketa dengan suara tajam menusuk.

"Sombong sekali bicaramu, orang muda. Kau tidak pernah memandang betapa tingginya gunung dan dalamnya lautan..."

Tidak lama kemudian terdengar suara alunan seruling. Nada suara seruling itu tidak beraturan sama sekali. Setelah itu angin kencang berhembus. Buang kembali terperanjat, secara reflek matanya memandang ke atas langit. Aneh, desisnya. Padahal langit terang tiada berawan, bahkan sinar bulan purnama pun memancarkan cahayanya yang kuning keemasan.

"Herrk!"

Pendekar Hina Kelana kembali memperhatikan suasana di sekelilingnya. Ketika itu dia mendengar suara-suara yang sangat aneh disertai bergeraknya tubuh-tubuh yang bergelimpangan tadi, bagai disihir mayat-mayat itu bangkit kembali seiring dengan terdengarnya suara seruling yang mendayu-dayu dengan nada yang tidak beraturan sama sekali.

"Gila. Ini benar-benar gila! Rasanya aku tidak mungkin menjatuhkan mereka selama aku belum meringkus orang yang mempergunakan seruling itu." gumam Buang Sengketa. Namun sebelum ia sempat melakukan tindakan sesuatu, dari kegelapan sesosok bayangan berkelebat. Sebentar saja orang itu telah berdiri dihadapannya.

"Bagaimana, pendekar!" desis orang itu si-

nis.

"Kau memang hebat. Tapi aku tidak men-

gerti mengapa kalian menghadang jalanku." kata Buang dengan amarah tertahan. Laki-laki berwajah murung itu tersenyum tipis. Tapi sinar matanya tetap dingin menggidikkan.

"Kau jangan berpura-pura bodoh. Bukankah kau telah membunuh salah seorang anggota Iblis Tengkorak Hitam? Selain itu karena kehadiranmu, kami mengalami kegagalan meringkus si Tokoh Misterius yang kami ketahui membawa Patung Kematian." dengus pemimpin mayat-mayat bergentanyangan ini. "Hahaha... rupanya kau mempunyai niat yang tidak jauh berbeda dengan si Tokoh Misterius itu? Kalian ingin memperebutkan benda yang bukan milik kalian. Kalau begitu jangan coba-coba menghalangi langkahku. Aku mempunyai urusan yang tidak dapat ditunda dengan orang yang ingin kalian ringkus."

"Kurang ajar! Kalau begitu kau benar-benar memilih jalan ke neraka!" teriak Tua Duka Tongkat Naga.

"Heaa...!"

Ketua Pengemis Partai Utara ini langsung menerjang Pendekar Hina Kelana dengan serangan tongkatnya yang berujung runcing itu. Sementara itu mayat-mayat yang dikendalikan oleh Tua Duka hanya menatap kosong ke arah pertempuran yang sedang terjadi.

"Uts! Yeaah...!"

Buang cepat sekali merunduk sambil memiringkan tubuhnya ketika serangan tongkat lawannya menyambar deras ke bagian kepalanya. Dan saat itu juga ia cepat mencabut senjata andalannya.

Nguung!

Tua Duka Tongkat Naga memekik tertahan saat melihat berkelebatnya sinar merah menyala ke arah tubuhnya. Dengan cepat ia memutar tongkat di tangannya.

Traang...!

Tua Duka Tongkat Naga memekik tertahan ketika merasakan tangannya yang memegang tongkat terasa nyeri dan berdenyut-denyut sakit. Dan laki-laki ini menjadi terbelalak begitu melihat bagian tongkatnya telah terpotong menjadi dua bagian.

"Gila...!" desis Tua Duka Tongkat Naga. Mempergunakan kesempatan yang hanya beberapa detik itu. Tubuh Buang Sengketa berkelebat ke arahnya. Laki-laki ini kembali tersentak saat merasakan sambaran angin menerpa bagian pinggangnya. Ketika Buang bergerak menjauhinya, tahu-tahu di tangan pemuda itu sekarang telah menggenggam sebuah seruling yang dipergunakan Tua Duka untuk menggerakkan mayat-mayat itu.

"Kembalikan seruling itu!" teriak Tua Duka dengan wajah berubah pucat. Buang menanggapinya dengan sesungging senyum sinis.

"Jangan coba-coba mendekat orangtua, jika kau tetap nekad juga maka seruling ini akan kuhancurkan!" ancam Buang Sengketa. Tua Duka menghentikan langkahnya.

"Sekali lagi kuperingatkan padamu. Kembalikan seruling itu! Setelah itu aku berjanji untuk menyudahi pertarungan ini."

Buang sama sekali tiada mengubrisnya, malah di luar dugaan dia dengan geram meremas seruling di tangannya sehingga menjadi serpihanserpihan kecil. Maka mayat-mayat yang berdiri tegak tidak jauh darinya itu langsung ambruk tanpa dapat berkutik lagi. Tidak lama setelah itu, terciumlah bau busuk memenuhi sekitar daerah tersebut. Melihat serulingnya hancur. Bukan main geramnya ketua Pengemis Partai Utara ini.

"Keparaat! Kau benar-benar ingin mencari mampus bocah!" teriak lawannya. Selanjutnya tanpa berkata apa-apa lagi Tua Duka Tongkat Naga meluruk deras ke arah Buang Sengketa dengan tusukan tongkat dan tendangan kaki.

Pemuda ini terkejut juga melihat datangnya serangan secepat itu. Sambil melompat ke samping, Buang Sengketa menghantamkan senjata di tangannya. Creees!

"Uaarrkgh...!" terdengar jeritan melengking tinggi pada saat pusaka Golok Buntung menghantam pangkal leher Tua Duka Tongkat Naga. Tidak terhindari lagi tubuh Tua Duka tersungkur roboh dengan darah membasahi sekujur tubuhnya.

"Hmm...!" Buang Sengketa menggumam tidak jelas sambil memandangi mayat lawannya yang tergeletak tidak begitu jauh darinya.

***

7

Sosok bayangan berpakaian serta berkerudung hijau itu terus berlari-lari bagai di kejar setan. Tanpa disengaja semakin jauh ia berlari, langkah kakinya menyeret dirinya ke daerah pinggiran lembah Tapis Angin. Bayangan berkerudung hijau ini baru menghentikan larinya ketika di depannya mengangga sebuah lembah yang cukup dalam. Sebentar ia menoleh ke arah belakang, ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan di sana. "Lembah Tapis Angin adalah tempat kediaman Iblis Tengkorak Hitam. Ahh, jika aku sampai bertemu dengan manusia yang satu itu apalagi jika ia sempat melihat Patung Kematian berada di tanganku. Urusan pasti semakin bertambah runyam. Tapi jika aku berbalik langkah, bukan mustahil pemuda berpakaian kulit harimau itu akan bertemu denganku. Tapi rasanya aku tidak mempunyai pilihan lain. Mana mungkin aku sanggup menerobos semak belukar di depan sana. Baiknya aku mengambil jalan lain agar aku tidak bertemu dengan siapapun." batin orang berkerudung hijau ini sambil memutar langkah dan bermaksud berlari kembali. Celakanya sebelum niatnya itu kesampaian, entah dari mana datangnya tahu-tahu di depannya telah berdiri tiga orang laki-laki berjubah hitam. Dua orang diantaranya memakai topeng tengkorak. Sedangkan seorang lagi berwajah bengis. "Eeh...!"

Orang berkerudung hijau ini bergerak mundur sejauh tiga langkah. Sedangkan laki-laki berjubah hitam bertampang bengis sekaligus merupakan penguasa di lembah Tapis Angin nampak menyeringai, sehingga membuat semakin angker penampilannya.

"Hahaha! Pucuk dicinta ulam tiba." kata Iblis Tengkorak Hitam dengan suara menggelegar. "Kau pastilah Tokoh Misterius yang menggemparkan itu. Hemm. Sedangkan bungkusan itu mungkin saja merupakan Patung Kematian yang kuimpi-impikan. Yang membuat hatiku senang, justru karena Tokoh Misterius merupakan seorang wanita." Iblis Tengkorak Hitam kembali tertawa-tawa. "Menyingkirlah, kau tidak akan sanggup

menghadapiku!" bentak Tokoh Misterius itu sambil berkacak pinggang. Mendengar suaranya yang kecil dan merdu. Sekarang Iblis Tengkorak Hitam semakin bertambah yakin kalau orang yang berdiri di hadapannya itu merupakan seorang wanita.

"Hmm. Suaramu merdu sekali, kau pastilah seorang gadis cantik yang bersembunyi di balik kerudungmu. Mengingat aku masih menghargaimu, lebih baik kau serahkan Patung Kematian secara baik-baik padaku. Siapa tahu aku berkenan mengangkatmu menjadi seorang istri." ujar laki-laki berjubah hitam ini dengan sesungging senyum penuh kelicikan. Andai saja Tokoh Misterius itu tidak memakai kerudung. Tentu Iblis Tengkorak Hitam dapat melihat betapa orang yang dihadapinya nampak berubah memerah parasnya.

"Kau akan mati sia-sia karena kelancangan mulutmu itu, Iblis Tengkorak Hitam!" bentak perempuan berkerudung hijau ini tanpa maksud mengancam.

"Apa? Mati secara sia-sia? Tentu saja aku rela jika aku mati di dalam pelukanmu." ejek penguasa lembah Tapis Angin itu sambil bergerak mendekati Tokoh Misterius.

"Berhenti...!"

"Aku tidak akan berhenti, terkecuali kau menyerahkan patung itu berikut dirimu." jawab Iblis Tengkorak Hitam sambil tersenyum sinis.

Mendengar kata-kata yang bernada sebuah penghinaan ini. Si Tokoh Misterius sudah tidak dapat lagi menahan kemarahannya. "Hiyaaa...!"

Perempuan berkerudung hijau yang merasa tidak ada pilihan lain lagi, pada saat itu juga menerjang Iblis Tengkorak Hitam. Gerakan Tokoh Misterius ini cepat dan tidak dapat di duga-duga. Membuat penguasa lembah Tapis Angin terperanjat kaget. Dan sebelum Iblis Tengkorak Hitam menyadari apa yang dilakukan oleh perempuan itu. Tiba-tiba saja ia telah menghantamkan telapak tangannya ke arah Iblis Tengkorak Hitam dan dua orang pembantunya. Desiran halus segera menerpa ke arah laki-laki berjubah hitam ini, namun ia segera melompat ke samping menghindari serangan paku-paku beracun yang dikibaskan oleh lawannya. Dua orang pembantu Iblis Tengkorak Hitam yang tidak sempat menyelamatkan diri langsing terpelanting roboh sambil melolong tinggi. Tubuh dua orang pembantu yang mengenakan topeng tengkorak itu langsung berubah menghitam ketika paku-paku beracun itu menembus tubuh mereka Iblis Tengkorak Hitam menjadi terkejut setengah mati melihat kecepatan gerak perempuan berkerudung hijau ini.

"Setan keparaat! Kau telah membunuh pembantuku...!" desis Iblis Tengkorak Hitam.

"Silahkan kau cari pembantu lain di Neraka...!" sambut Tokoh Misterius sambil menerjang ke arah lawannya yang nampak sangat marah karena kematian dua orang pembantunya.

"Haaa!"

Diiringi teriakan melengking tinggi. Iblis Tengkorak Hitam segera menghindari terjangan lawan sambil melancarkan serangan balasan yang berupa pukulan jarak jauh yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Angin keras menderu ketika Iblis Tengkorak Hitam melontarkan pukulannya ke arah depan. Merasakan datangnya serangan balasan yang menebarkan hawa dingin luar biasa. Dengan cepat sekali perempuan berkerudung serta berpakaian hijau ini segera menarik balik serangannya. Sebagai gantinya ia mengebutkan lengan bajunya yang panjang dan longgar. Maka begitu bagian baju itu mengibas. Dari balik baju itu menderu hawa yang sangat aneh. Dengan telak hawa panas aneh itu menghantam pukulan jarak jauh yang dilepaskan oleh Iblis Tengkorak Hitam. Wuus!

Blaam! Bledeer!

Terdengar dua kali ledakan berturut-turut sehingga membuat tanah yang mereka pijak bagai dilanda selaksa gempa. Iblis Tengkorak Hitam tergetar tubuhnya. Sedangkan perempuan berkerudung hijau itu setelah berlompatan dengan gerakan-gerakan yang sangat indah, segera menjejakkan kakinya kembali di atas rerumputan tidak jauh dari tempat lawannya berdiri.

"Hem. Rupanya si Tokoh Misterius bukanlah nama kosong. Tapi jangan merasa menang dulu. Karena apa yang baru saja kau lihat hanyalah sebuah permulaan saja." geram Iblis Tengkorak Hitam sambil meludah beberapa kali.

"Jangan banyak mulut! Terimalah!" sebelum teriakan perempuan berkerudung hijau ini lenyap sama sekali. Pada saat itu juga tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat. Semakin lama gerakannya semakin bertambah cepat laksana kilat, sehingga dalam waktu sebentar saja tubuhnya telah lenyap, sehingga hanya tinggal merupakan sambaransambaran angin yang sangat deras menerpa tubuh Iblis Tengkorak Hitam.

"Keparaat!" maki Iblis Tengkorak Hitam merasa dipermainkan oleh lawannya. Tiba-tiba ia menghentakkan tangannya secara membabi buta. Detik itu juga dari telapak tangannya menderu angin kencang yang menebarkan hawa panas tiada tertahankan. Pukulan maut itu dihantamkan oleh Iblis Tengkorak Hitam ke delapan penjuru mata angin. Jelas salah satu pukulan yang dilepaskan secara untung-untungan ini menghantam lawannya. Brees!

Terdengar pekikkan tertahan disertai terpentalnya sesosok tubuh ramping perempuan itu. Melihat pukulannya berhasil mengenai sasaran. Iblis Tengkorak Hitam langsung tertawa tergelakgelak. Di luar sepengetahuannya, perempuan kerudung hijau yang sedang tertatih-tatih untuk bangkit kembali dengan kecepatan laksana kilat mengibaskan tangannya.

Weer! "Iih...!"

Gerakan yang tiada di duga-duga ini tentu sangat mengejutkan lawannya. Sehingga membuat Iblis Tengkorak Hitam menghentikan tawanya tibatiba. Dalam keadaan terperanjat itu ia berusaha menghindari serangan senjata rahasia paku beracun dengan memutar kedua tangannya membentuk perisai diri.

Wuts! "Uaah...!"

Beberapa paku beracun berhasil diruntuhkan oleh Iblis Tengkorak Hitam. Namun dua diantaranya tidak dapat dihindarinya lagi. Laki-laki berwajah menyeramkan ini terhuyung-huyung beberapa tindak ke belakang. Dengan cepat ia mencabut paku beracun yang menancap di bagian paha dan pergelangan tangannya. Setelah itu dengan cepat pula ia menotok jalan darah di sekitar luka untuk mencegah agar racun tidak cepat menjalar ke sekujur tubuhnya.

"Sebentar lagi kau pasti segera menyusul dua orang pembantumu, Tengkorak Hitam." dengus perempuan berkerudung hijau ini sambil melancarkan pukulan susulan.

"Sekarang kau boleh tertawa. Tapi sebentar lagi kau akan kubuat menangis dan minta ampun padaku." teriak Iblis Tengkorak Hitam sambil merangkapkan kedua tangannya di atas bagian kepalanya. Tidak lama kemudian kedua tangan yang telah menyatu di atas kepala itu telah mengepulkan asap putih. Tubuh Iblis Tengkorak Hitam bergetar hebat, keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya. Tapi rupanya perempuan kerudung hijau ini sadar betapa lawan sekarang telah mengerahkan pukulan Racun Pembebas Sukma yang pernah dia dengar akan kehebatannya. Meskipun Tokoh Misterius ini sempat terkejut. Namun sedetik kemudian ia telah pula mengerahkan pukulan yang sangat diandalkannya. Dalam waktu yang bersamaan...

"Hiyaa! Hiyaa!" Buuum!

Dengan cepat kedua pukulan berisi dua tenaga sakti itu saling menyambut. Iblis Tengkorak Hitam tidak bergeming di tempatnya. Tetapi di pihak perempuan berkerudung hijau nampak jatuh terduduk. Ia merasakan tulang belulangnya remuk. Tubuhnya meskipun tidak mengalami luka dalam, namun lemas tiada bertenaga.

Pabila ia mencoba menggerakkan kaki dan tangannya. Maka tangan dan kakinya terasa kaku. Pucat wajah Tokoh Misterius itu seketika. Bukan main gembiranya Iblis Tengkorak Hitam melihat lawannya tidak berdaya sama sekali.

"Hahaha! Mimpi apa aku semalam. Hari ini aku mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Patung Kematian berhasil kumiliki, lebih dari itu hari ini aku juga akan melihat betapa cantiknya wajah si Tokoh Misterius yang telah menghadiahkan Patung Kematian itu padaku...!"

Iblis Tengkorak Hitam kemudian berjalan lambat menghampiri Patung Kematian yang tergeletak tidak jauh dari tempat perempuan berkerudung hijau itu. Setelah memungut patung itu sebentar, laki-laki berjubah hitam itu mengamati bungkusan itu sebentar. Kemudian ia menggumam...

"Tepat seperti dugaanku, Patung Kematian mengandung racun yang sangat keji. Aku tidak boleh membukanya di sini. Hahaha, lebih baik kubuka kerudung yang menutupi wajah Tokoh Misterius."

Walaupun kata-kata yang diucapkan oleh Iblis Tengkorak Hitam hanya lirih saja, namun sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, perempuan berkerudung itu dapat menangkap katakata yang diucapkan lawannya. Celakanya hingga sampai saat itu ia masih belum mampu menggerakkan tubuhnya sama sekali. Sehingga membuatnya merasa takut setengah mati.

"Kurang ajar! Jangan kau dekati aku." bentak perempuan berkerudung hijau tanpa mampu beringsut dari tempatnya.

"Jangan takut! Aku hanya akan memberi kesenangan padamu!" kata Iblis Tengkorak Hitam. Kemudian setelah ia berada di samping Tokoh Misterius yang sudah tidak mampu berbuat sesuatu karena pukulan beracun Pembebas Sukma yang menghantam tubuhnya. Selanjutnya tanpa berkata apa-apa lagi, laki-laki berjubah hitam ini merenggut kerudung yang menutupi wajahnya.

"Ahh...!"

Iblis Tengkorak Hitam terpekik kaget. Di luar dugaannya rupanya perempuan bersuara merdu itu meskipun berusia sangat muda namun wajahnya jelek tidak ketulungan.

"Hihihi! Apakah setelah melihat wajahku, engkau masih tertarik untuk mempermainkan aku." kata Tokoh Misterius sambil tersenyum mencibir.

"Sekarang aku sedang berpikir-pikir!" dengus laki-laki berjubah hitam ini dengan pandangan tajam menusuk.

"Keparaat! Bebaskan aku dari racun Pembebas Sukma, setelah itu kita bertarung sampai salah seorang diantara kita menemui ajal." teriak perempuan berwajah buruk itu dengan sikap menantang. Tapi Iblis Tengkorak Hitam membalasnya dengan senyum rawan.

"Meskipun wajahmu jelek. Dari pada kita harus bertarung mati-matian. Alangkah lebih baik lagi kalau kita bersenang-senang saja."

Sesaat setelah itu laki-laki berjubah hitam ini di luar dugaan segera mencabik-cabik pakaian Tokoh Misterius. Dan sinar matanya berubah liar dan jalang ketika ia melihat sesuatu yang sangat jarang di lihatnya. "Auu, lepaskan...!"

Tokoh Misterius berusaha meronta, ketika jemari tangan yang kokoh itu menyentuh kedua bukit yang ternyata sangat indah. Perempuan itu semakin berteriak-teriak histeris dan menggelinjang saat tangan-tangan yang kokoh itu terus meluncur ke arah bagian perutnya.

Breet! Breet!

Tokoh Misterius berteriak-teriak dengan suaranya yang semakin parau ketika Iblis Tengkorak Hitam melemparkan kain penutup tubuhnya yang terakhir. Akhirnya tanpa berpikir panjang lagi. Laki-laki berjubah hitam inipun segera pula menanggalkan jubahnya.

Detik-detik selanjutnya hanyalah dengus suara nafas yang tidak beraturan. Si Tokoh Misterius, hanya mampu merintih sedih dan putus asa ketika Iblis Tengkorak Hitam menindih tubuhnya. Saat laki-laki berjubah hitam ini melampiaskan nafsu iblisnya. Mendadak terdengar suara bentakan-bentakan yang disertai dengan derap langkah kaki kuda mendekat ke arahnya.

"Keparaat. Setan mana lagi yang berani mengganggu pekerjaanku." geram Iblis Tengkorak Hitam. Dengan sikap tergesa-gesa ia segera mengenakan pakaiannya kembali yang berserakan. Sementara dibiarkannya Tokoh Misterius yang dalam keadaan terlentang tanpa sehelai lembar benangpun.

"Kalian memang pasangan iblis yang tidak mempunyai rasa malu sedikitpun...!" bentak salah seorang penunggang kuda yang tidak lain adalah ketua perguruan Teratai Putih bersama sepuluh orang muridnya.

"Bangsat ini hendak memperkosaku orang tua, untung kau cepat datang." sambut Tokoh Misterius sambil berusaha menggapai pakaiannya yang terobek di beberapa bagian. Sebentar Wiku Swanda menoleh ke arah perempuan yang dalam keadaan setengah membugil itu. Dan matanya menjadi terbelalak ketika melihat perempuan berwajah buruk itu.

"Kau mengenaliku, orangtua!" ucap perempuan yang sedang dalam keadaan tidak berdaya itu, dingin menusuk.

"Kau... kau, Tokoh Misterius yang telah membunuh beberapa orang muridku?" tanya Wiku Swanda dengan suara bergetar.

Perempuan itu kembali tersenyum, sesungging senyum yang hanya diketahui maknanya oleh Wiku Swanda.

"Baiklah, aku punya persoalan tersendiri padamu, tapi saat sekarang ini aku merasa perlu membereskan manusia yang satu ini."

Wiku Swanda berpaling pada Iblis Tengkorak Hitam, tidak begitu lama perhatiannya segera terpaku pada bungkusan kain sutera merah di tangan laki-laki berjubah hitam ini.

"Benda yang terbungkus kain sutera merah itu pastilah Patung Kematian milikku. Sekarang cepat kau serahkan padaku, Iblis Tengkorak Hitam!" perintah Wiku Swanda dengan suara melengking tinggi. Laki-laki berjubah hitam ini tersenyum mencibir.

"Tidak perduli Patung Kematian milik siapa. Tetapi apabila telah terjatuh ke tanganku. Maka tidak seorangpun yang akan kubiarkan merebutnya."

"Kurang ajar! Ringkus dan bunuh penghuni lembah Tapis Angin itu...!" teriak Wiku Swanda memberi perintah pada sepuluh orang muridnya. Secara serentak murid-murid perguruan Teratai Putih berlompatan dari atas punggung kuda masing-masing. Dengan cepat pula mereka segera menyerang Iblis Tengkorak Hitam dengan pedang terhunus. Laki-laki berjubah hitam ini menyambut serangan sepuluh orang murid perguruan Teratai Putih dengan tawanya yang tinggi melengking, membuat sakit gendang-gendang telinga.

"Shaa!"

Sepuluh mata pedang menderu deras ke arah Iblis Tengkorak Hitam. Penguasa lembah Tapis Angin ini tanpa sungkan-sungkan lagi melontarkan pukulan deras ke arah lawan-lawannya. Cepat sekali serangan ganas yang dilakukan oleh laki-laki berjubah hitam ini sehingga membuat dua orang murid Wiku Swanda sudah tidak sempat mengelak lagi.

Wuss! Blaaar! "Aaah...!"

Begitu terhantam pukulan yang menebarkan dingin beracun itu, maka dua orang murid Wiku Swanda nampak terpelanting roboh dengan tubuh berubah membiru dan darah menyembur dari mulut mereka. Melibat muridnya terkapar tanpa mampu bergerak-gerak lagi. Ketua perguruan Teratai Putih ini menjadi sangat marah sekali. Dengan perasaan geram, diterjangnya Iblis Tengkorak Hitam dengan serangan gencar yang mengandung tenaga dalam cukup tinggi.

"Bagus. Guru dan murid ingin mencari mati bersama-sama." dengus laki-laki berjubah hitam sambil melentingkan tubuhnya ke udara untuk membebaskan diri dari kepungan lawan-lawannya. Sementara itu Tokoh Misterius yang sedang berusaha mengembalikan tenaga dalamnya yang sempat punah karena serangan laki-laki berjubah hitam itu nampak terus memperhatikan ke tempat terjadinya pertempuran. Di hatinya ia sama-sama membenci kedua belah pihak yang sedang terlibat pertempuran sengit itu. Kepada Iblis Tengkorak Hitam ia benci bahkan ingin membunuh laki-laki berjubah hitam ini karena hampir saja berhasil memperkosanya. Hal ini merupakan satu kejahatan yang tidak dapat dimaafkannya. Sebaliknya dengan Wiku Swanda. Hmm, dendamnya setinggi langit dan sebanyak buih di lautan.

Masih terbayang dalam ingatannya peristiwa tujuh tahun yang lalu di Bukit Kematian. Waktu itu malam dalam keadaan gelap gulita dan dalam suasana hujan lebat pula ketika datang seorang laki-laki ke tempat tinggal Nyai Mawar Merah. Laki-laki itu dikenal sebagai adik kandung gurunya. Kedatangan laki-laki yang saat itu masih merupakan tokoh persilatan aliran hitam merupakan kejadian buruk yang tidak dapat dilupakannya. Kepada Nyai Mawar Merah, laki-laki berumur enam puluhan itu secara langsung menyatakan keinginannya untuk meminta Patung Kematian yang selama berpuluh-puluh tahun tersimpan di sebuah tempat yang aman.

Sebagai seorang kakak yang paham betul akan sifat adiknya yang ugal-ugalan itu. Tentu saja Nyai Mawar Merah yang merupakan guru si gadis tidak memberikan benda itu padanya. Rupanya laki-laki yang seusia hampir sama dengan gurunya itu tidak mau terima begitu saja. Ia tetap ngotot ingin memiliki benda berharga peninggalan almarhum orangtua mereka yang berjuluk Sepasang Pedang Kembar. Perselisihan pendapat itu rupanya terus berlanjut dengan adu pedang dan kekerasan. Dalam keadaan hujan lebat dan gelap gulita. Pertempuran sengit antara adik dan kakak ini terjadi. Si murid yang saat itu baru berumur belasan tahun ini hanya mampu memperhatikan pertempuran yang terjadi dengan perasaan khawatir tanpa mampu berbuat apa-apa.

Dalam pertempuran sengit yang berlangsung puluhan jurus itu sebenarnya Nyai Mawar Merah masih unggul dalam hal segala-galanya. Hanya saja ia terlalu memberi hati kepada adik kandungnya itu. Keadaan seperti itu sudah jelas dimanfaatkan oleh sang adik untuk mendesak kakaknya. Akhirnya dengan cara yang amat licik, laki-laki itu berhasil menjatuhkan Nyai Mawar Merah. Perempuan yang menjadi guru si gadis itu tewas dengan bagian punggung tertembus pedang. Sebagai seorang murid kematian gurunya tentu merupakan satu pukulan yang sangat berat. Apalagi hal seperti itu terjadi di depan matanya. Sambil berteriak-teriak histeris, ia berlari-lari mendapatkan gurunya yang telah terkapar menjadi mayat. Di luar dugaannya, setelah tidak berhasil menemukan Patung Kematian di dalam rumah tinggal Nyai Mawar Merah. Laki-laki itu keluar lagi, kemudian menyeret gadis belasan tahun yang bernama 'Wulan Angraeni' untuk menunjukkan tempat penyimpanan Patung Kematian. Gadis itu berontak bahkan melakukan perlawanan yang sengit. Namun sampai sejauh mana kepandaian yang dimiliki oleh Wulan saat itu. Dalam pertarungan mencapai belasan jurus ia telah kena ditotok oleh laki-laki berusia enam puluhan. Ketika Wulan Angraeni masih saja tetap menolak menunjukkan tempat penyimpanan Patung Kematian. Tanpa mengenal rasa kemanusiaan sedikitpun, laki-laki itu terus menyiksanya dengan cara-cara penyiksaan yang amat kejam. Bahkan ketika sampai keesokan harinya Wulan Angraeni masih juga tidak mau membuka mulut. Laki-laki itu dengan cara yang sangat pengecut menyeret gadis belasan tahun ini dengan beberapa ekor kuda. Sehingga wajah gadis cantik itu mengalami luka-luka yang sangat mengerikan. Tidak dapat menahan siksaan yang begitu rupa akhirnya dengan sangat terpaksa menunjukkan tempat penyimpanan Patung Kematian. Setelah mendapatkan patung itu, laki-laki telenggas itu kemudian meninggalkan Wulan begitu saja. Bukan main marahnya gadis yang terluka parah pada bagian wajahnya ini menyaksikan sepak terjang orang yang bernama Wiku Swanda itu. Bahkan ia telah bersumpah di depan kubur gurunya. Ia akan membunuh Wiku Swanda di samping mendapatkan Patung Kematian yang telah dilarikan oleh laki-laki itu.

Sejak peristiwa yang menghancurkan kehidupannya itu, Wulan Angraeni semakin tekun memperdalam ilmu olah kanuragan melalui kitabkitab peninggalan gurunya. Hingga kemudian sampailah berita kepadanya bahwa musuh besarnya telah mendirikan sebuah perguruan silat aliran putih di daerah Bayur Kemuning.

"Hmm. Betapa sangat liciknya manusia yang satu ini. Ia menyembunyikan segala kebusukkannya di balik topeng kebaikan yang ia tawarkan kepada orang lain." dengus Tokoh Misterius yang ternyata merupakan pemilik Patung Kematian yang sah.

"Aku harus dapat mengembalikan kekuatanku dalam waktu yang tepat. Sehingga aku dapat menghadapi siapapun diantara mereka yang keluar menjadi pemenang...!" kata Wulan sambil memejamkan matanya.

Sementara itu di tempat terjadinya pertempuran, terlihat beberapa orang murid Wiku Swanda sudah tergeletak tanpa nyawa lagi. Bahkan tidak kepalang tanggung, tindakan yang dilakukan Iblis Tengkorak Hitam ini. Ia kelihatan semakin memperhebat serangannya. Setiap tendangan kilat yang dilakukannya maupun pukulan-pukulan yang dilepaskannya selalu meminta korban di pihak Wiku Swanda. Sehingga dalam gebrakangebrakan selanjutnya tidak seorangpun murid perguruan Teratai Putih yang tersisa. Semuanya habis terbantai di tangan Iblis Tengkorak Hitam secara menyedihkan.

"Hemm. Adakah niat di hatimu untuk tetap bersikeras memiliki benda ini, Wiku?" tanya Iblis Tengkorak Hitam dengan sesungging senyum mengejek.

"Kurang ajar. Selain telah merampas Patung Kematian dari tanganku. Engkau juga telah membunuh seluruh muridku. Aku akan mengadu jiwa denganmu." teriak Wiku Swanda.

Lalu dengan sekali lompatan Wiku Swanda telah mencabut pedang dari rangkanya. Pedang di tangan ketua perguruan Teratai Putih itu menderu dan menimbulkan angin yang sangat dingin luar biasa. Setiap tebasan pedang yang dilakukan oleh Wiku Swanda, pasti menimbulkan hawa dingin yang membuat nyeri kulit  lawannya. Dapat dibayangkan betapa beracunnya pedang di tangan Wiku Swanda ini. Iblis Tengkorak Hitam tersentak kaget ketika merasakan betapa berbahayanya senjata di tangan lawannya. Bahkan ia merasa sejak lawan mempergunakan senjatanya. Setiap serangan yang dilancarkan oleh laki-laki berjubah hitam ini selalu dapat dimentahkan oleh Wiku Swanda. Sekarang sadarlah Iblis Tengkorak Hitam ini, betapa lawannya menjadi sangat hebat setelah pedang berwarna hitam itu berada di tangannya.

***

8

Untuk pertama kalinya dalam menghadapi Wiku Swanda, laki-laki berjubah hitam ini merangkapkan kedua tangannya di atas kepala. Tapi Wiku Swanda yang sudah melihat akibat dari pukulan yang akan dilepaskan oleh Iblis Tengkorak Hitam sudah tidak memberinya kesempatan untuk melepaskan pukulan maut itu. "Hiyaa...!"

Dengan senjata terhunus, Wiku Swanda menerjang lawannya dengan gerakan yang sangat cepat luar biasa. Sehingga Iblis Tengkorak Hitam gagal melepaskan pukulannya. Sebagai kelanjutannya ia terpaksa melompat ke samping kiri sambil merundukkan kepalanya. Serangan itu luput, namun Wiku Swanda kembali memutar pedangnya menyusul gerakan lawannya yang terus bergulingguling menghindari senjata di tangan ketua perguruan Teratai Putih itu. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan oleh Iblis Tengkorak Hitam dalam menghadapi serangan yang datangnya bertubi-tubi ini, terkecuali menyambut serangan lawan yang datangnya bertubi-tubi ini. Setelah berhasil menghindari serangan ganas tadi, laki-laki berjubah hitam ini bagaikan kilat memutar tubuhnya. Kemudian melakukan tendangan kilat ke bagian kaki Wiku Swanda. Namun lebih cepat lagi lawan telah mengibaskan pedangnya ke arah bawah. Sambil mengumpat geram, Iblis Tengkorak Hitam menarik balik serangannya yang berhasil di mentahkan oleh Wiku Swanda. Namun begitu serangan kakinya luput. Ia telah melontarkan pukulannya ke arah bagian wajah lawannya.

Wuts!

Wiku Swanda yang merasakan adanya desiran halus dari arah depannya segera memutar pedang di tangannya dengan gerakan yang sangat cepat luar biasa.

Bress! "Uhh...!"

Tubuh Iblis Tengkorak Hitam sempat terhuyung-huyung tiga tindak ke belakang ketika pukulan yang dilepaskannya membentur senjata lawannya. Bukan main marahnya laki-laki berwajah angker ini ketika melihat pukulan maupun tendangan kilat yang dilakukannya selalu saja berhasil dihalau oleh lawannya.

"Setan keparaat! Rupanya dengan pedang di tanganmu itu kau berubah menjadi tangguh. Buih. Tapi jangan bangga dulu, sama sekali aku belum merasa kalah...!" dengus Iblis Tengkorak Hitam di sela-sela kemarahan dan rasa putus asa yang mendalam.

"Kalau kau masih mempunyai ilmu simpanan. Cepat kau keluarkan semuanya sebelum keburu mampus!" kata Wiku Swanda seolah memberi kesempatan pada laki-laki berjubah hitam ini untuk mengeluarkan semua kepandaian yang dimilikinya.

Di luar dugaan, tiba-tiba saja Iblis Tengkorak Hitam mencabut sebuah seruling dari balik jubahnya. Dengan cepat ia segera meniup seruling itu sehingga menimbulkan bunyi yang tidak beraturan. Sebelum Wiku Swanda menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba belasan muridnya yang menggeletak menjadi mayat, nampak bergerak-gerak bangkit kembali. Iblis Tengkorak Hitam terus meniup seruling di tangannya, dan anehnya mayat-mayat murid perguruan Teratai Putih itu seperti dikomando segera bergerak mengepung Wiku Swanda.

"Orangtua musuh bebuyutanku. Awas di belakangmu!" teriak Wulan Angraeni yang saat itu telah dapat memulihkan tenaga dalamnya memperingatkan. Rupanya gadis berwajah buruk ini tidak rela jika orang yang telah membunuh gurunya serta melarikan Patung Kematian ini sampai tewas di tangan Iblis Tengkorak Hitam.

* * *

"Seruling Iblis!" desis ketua perguruan Teratai Putih sambil memutar pedangnya membabat mayat-mayat muridnya yang bergerak mengikuti irama seruling di tangan Iblis Tengkorak Hitam. Marah bukan main Wiku Swanda melihat ulah laki-laki berjubah hitam ini, walau bagaimanapun mayat-mayat yang bergerak menyerangnya itu masih merupakan muridnya sendiri. Yang pernah hidup bersamanya selama beberapa tahun. Tapi mengingat keselamatan dirinya sendiri. Akhirnya hilanglah kesabaran di hati laki-laki berusia tujuh puluhan ini. Tanpa berpikir panjang lagi ia mengayungkan pedangnya yang sangat berbisa itu ke segala penjuru arah. Beberapa mayat langsung bergelimpangan roboh. Tubuh mereka terpotongpotong menjadi beberapa bagian. Bahkan kepala mereka pun ada yang menggelinding.

"Hiyaa...!"

Wiku Swanda segera melesat setelah melihat mayat-mayat bergentayangan itu berusaha bangkit sekali lagi. Luar biasa cepatnya gerakan laki-laki tua itu sehingga Iblis Tengkorak Hitam yang sedang berusaha membangkitkan mayatmayat lainnya tidak memperhatikan gerakan senjata lawan yang menderu deras ke arahnya. Ketika laki-laki berjubah hitam itu merasakan adanya desiran halus ke arahnya. Ia hanya mampu terperangah tapi masih sempat menggerakkan seruling di tangannya dengan satu sentakan yang kuat. Seruling di tangan Iblis Tengkorak Hitam terbabat putus menjadi beberapa bagian. Namun pedang di tangan Wiku Swanda tanpa mengenal ampun terus menderu ke arah lawannya, akibatnya...

Bet! Jrees! "Wuakgh...!"

Iblis Tengkorak Hitam menjerit setinggi langit saat pedang di tangan Wiku Swanda menghantam kepala laki-laki itu. Tubuh Iblis Tengkorak Hitam jatuh tersungkur. Tubuhnya berkelojotan sebentar, kemudian terdiam untuk selama-lamanya, mati. Sekejap saja ketua perguruan Teratai Putih itu memandangi mayat lawannya yang memiliki ilmu luar biasa. Tidak lama setelah itu ia segera memungut bungkusan yang berisi Patung Kematian yang tergeletak tidak jauh dari mayat Iblis Tengkorak Hitam.

"Tinggalkan Patung Kematian itu, Wiku keparaat...!" terdengar bentakan nyaring.

"Ehh," Wiku Swanda segera berpaling, ketika teringat gadis yang dalam keadaan tidak berdaya tadi. Tapi ia menjadi terkejut ketika melihat gadis berwajah buruk itu telah berdiri sambil bertolak pinggang tidak begitu jauh darinya.

"Kau muridnya Nyai Mawar Merah." desisnya bagai melihat hantu di siang hari.

Tanpa berkata apa-apa gadis itu tersenyum menggidikkan. Tatapan matanya menyimpan seribu dendam atas perlakuan yang pernah dirasakannya dari Wiku Swanda beberapa tahun yang lalu.

"Kau memang manusia licik, Wiku. Kau bunuh kakak kandungmu sendiri, kemudian kau rusak wajah muridnya. Sehingga ia tidak memiliki arti hidup sama sekali. Semua kekejianmu kau lakukan tanpa perasaan sama sekali, hanya sematamata karena Patung Kematian itu. Sayangnya hanya aku sendiri yang mengetahui tentang kelicikanmu itu. Kini kau berlindung dengan kedok kebaikan yang kau lakukan di dalam lingkunganmu. Kau memang terlalu rapi membuang jejak, Wiku keparaat... tapi kau tidak akan pernah mampu menghilangkan bekas-bekas luka yang membuat wajahku menjadi buruk rupa. Ah... sayang! Sayang sekali Pendekar Hina Kelana tidak pernah menyadari kalau dirinya kau peralat." bentak Wulan Angraeni dengan pandangan dingin tajam menusuk.

Tetapi Wiku Swanda menanggapinya dengan tawa bergelak-gelak. Dengan tidak kalah sengitnya ia memperhatikan Wulan Angraeni. Sinar matanya yang biasanya lembut dan memancarkan kewibawaan, sekarang sirna sama sekali. Tatapannya liar dan mengandung maksud licik.

"Selamanya Pendekar Hina Kelana memang tidak pernah mengetahuinya, Tokoh Misterius. Karena kau satu-satunya orang yang mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, sebentar lagi kau akan mati di tanganku." bentak Wiku Swanda berubah beringas. Sebenarnya pada saat gadis berwajah buruk itu menyebut gelar pemuda yang bernama Buang itu. Wiku Swanda merasa terkejut juga, sebab ia sendiri sama sekali tidak menyangka kalau pemuda berpakaian kulit harimau yang telah berjanji untuk membantunya dalam menemukan Patung Kematian itu ternyata seorang pendekar rimba persilatan yang memiliki julukan Pendekar Hina Kelana.

Apa yang ditakutkan oleh Wiku Swanda adalah bagaimana seandainya nanti Buang mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya. Ia berpikir jalan satu-satunya untuk melenyapkan bukti bahwa Patung Kematian sebenarnya bukanlah miliknya yang sah. Wiku Swanda harus membunuh Wulan Angraeni, karena gadis itulah satu-satunya saksi hidup yang sewaktu-waktu dapat membongkar kedoknya. Itulah sebabnya tanpa berpikir panjang lagi ia segera menghunus pedangnya untuk menyingkirkan lawan yang satunya ini. Namun sebelum niatnya itu kesampaian, tiba-tiba dari satu arah berkelebat sosok bayangan begitu cepatnya ke arah mereka. Tidak sampai sekedipan mata, mendadak seorang pemuda berpakaian serba merah telah berdiri tegak tidak begitu jauh dari kedua orang itu. Bukan main terkejut hatinya, melihat kehadiran Buang yang secara tiba-tiba itu.

Tapi hal yang sesungguhnya bukan secara kebetulan Buang sampai di tempat itu. Karena sejak Iblis Tengkorak Hitam dan Wiku Swanda terlibat pertempuran. Pendekar Hina Kelana yang terus mengikuti ke manapun Tokoh Misterius itu melarikan diri, Buang terus bergerak mengikuti. Dan pemuda ini baru menghentikan langkahnya jika orang yang dikejarnya juga menghentikan larinya. Pemuda berpakaian serba merah ini menjadi tertegun ketika mendengar isak tangis Tokoh Misterius yang menyebut-nyebut Wiku Swanda sebagai orang yang menyebabkan malapetaka di rimba persilatan.

Bahkan di sela-sela isak tangisnya itu Tokoh Misterius itu menyatakan penyesalannya karena merasa tidak mampu menjaga rahasia tentang tempat disembunyikannya Patung Kematian. Dari situlah Buang tertegun dan menjadi ragu dengan segala apa yang pernah dikatakan oleh Wiku Swanda kepadanya beberapa hari yang lalu. Begitu pun ia tidak ingin melepas orang yang diincarnya. Ke manapun Tokoh Misterius itu pergi. Dari jarak tertentu Buang terus mengikutinya. Hingga akhirnya sampailah mereka di pinggiran lembah Tapis Angin. Kini Pendekar Hina Kelana itu memandang pada Wiku Swanda dengan tatapan tiada berkedip sedikitpun.

"Wiku! Berkatalah jujur padaku. Benarkah semua apa yang dikatakan oleh gadis itu...!" pancing Buang seolah tidak mengerti duduk persoalan yang sebenarnya.

"Mengapa kau harus percaya dengan semua ucapannya, Buang!" Wiku Swanda balik bertanya. "Perempuan muka buruk ini mencoba memutar balikkan fakta. Kau jangan terpancing omongannya." lanjut laki-laki berpakaian serba putih ini dengan wajah berubah merah padam.

Mendengar kata-kata Wiku Swanda, Pendekar Hina Kelana ini tersenyum tipis. Sekarang jelaslah sudah, bahwa orang yang dibelanya selama ini ternyata tidak lebih dari pada manusia licik yang tidak perlu di kasihani.

"Mengapa kau ingin membunuhnya, Wiku! Mengapa...?" pertanyaan Buang yang tidak pernah diduga oleh Wiku Swanda sama sekali membuat laki-laki berumur tujuh puluhan ini semakin bertambah kaget. Begitupun ia masih berusaha menutupi kegelisahan jiwanya. "Dia ingin merampas patung ini!" katanya sambil mengangkat bungkusan yang dipegangnya tinggi-tinggi.

Pendekar Hina Kelana terdiam. Meskipun hatinya merasa geram sekali karena Wiku Swanda ternyata masih terus berbohong kepadanya. Dengan sikap seolah tidak mengetahui duduk persoalan sebenarnya ia berpaling pada gadis berwajah buruk itu, kemudian...

"Benarkah apa yang dikatakan oleh orang itu Nisanak?"

"Kau telah termakan bualannya, Pendekar Hina Kelana. Aku bukan ingin merampas Patung Kematian dari tangannya, karena sebenarnya patung itu ia dapatkan setelah membunuh kakak kandungnya sendiri!" teriak gadis itu histeris. Selanjutnya secara gamblang Wulan Angraeni menceritakan segala sesuatunya kepada Buang dari awal hingga akhir. Pendekar Hina Kelana yang sebenarnya telah mengetahui segala sesuatunya tentang Patung Kematian semakin bertambah marah. Sekarang dengan pandangan tajam menusuk diperhatikannya laki-laki berusia tujuh puluhan itu.

"Ternyata kau seorang pembohong besar, Wiku! Sangat menyesal sekali aku telah membantumu. Sekarang, cepat kau serahkan Patung Kematian pada gadis ini, Wiku! Karena hanya dialah yang berhak mengembalikan patung itu ke tempat asalnya." perintah Buang Sengketa.

"Hem. Kalian anak-anak ingusan coba-coba memaksa aku?"

"Kalau kau tetap tidak mau mengembalikan patung itu aku akan menempuh jalan kekerasan, Wiku!" geram Buang merasa semakin tidak sabar lagi.

"Keparaat! Demi Patung Kematian ini aku rela mengadu jiwa denganmu, Pendekar Hina Kelana." bentak Wiku Swanda sambil melintangkan pedangnya di depan dada. Tentu saja tindakan gegabah yang dilakukan oleh Wiku Swanda ini membuat Pendekar Hina Kelana sudah tidak mampu lagi membendung amarahnya. Apalagi selama ini ia merasa ditipu mentah-mentah oleh ketua perguruan Teratai Putih ini.

"Manusia semacammu memang tidak pantas di kasih hati Wiku keparat!"

"Heaa!"

Belum lagi Buang sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba dengan senjata di tangannya Wiku Swanda berteriak nyaring sambil melakukan serangan-serangan ganas ke arah Buang Sengketa. Dengan sikap waspada Buang menggeser kakinya ke kanan beberapa tindak. Sambil memiringkan tubuhnya dengan kepala merunduk. Serangan pedang yang mengandung racun ganas ini menemui sasaran yang kosong. Namun begitu serangan kilat yang dilakukan, oleh Wiku Swanda menemui kegagalan. Dengan cepat tubuhnya berbalik, kemudian kembali melancarkan serangan dengan kekuatan berlipat ganda. Buang yang merasa tidak punya pilihan lain lagi. Seketika itu juga menerjang mendahului tusukan pedang yang dilakukan lawannya. Dengan cepat ia melepaskan satu tendangan telak ke arah tubuh Wiku Swanda. Wust! Diegkh! "Uuh...!"

Mendapat serangan mendadak yang datangnya lebih cepat dari tusukan pedang di tangannya. Eyang Wiku Swanda sudah tidak sempat mengelak lagi, sehingga dengan telak tendangan itu menghantam dadanya. Bungkusan yang berada dalam genggaman Wiku Swanda terpental ke arah gadis berwajah jelek. Wiku Swanda yang menderita luka dalam itu menjadi sangat marah sekali. Dengan cepat ia memburu Buang Sengketa. Tapi pada saat itu juga Pendekar Hina Kelana yang sudah merasa tertipu mentah-mentah ini sudah mencabut senjata andalannya.

Nguuung!

Terasa menebarnya udara sedingin es di sekitar tempat itu, seberkas sinar merah menyala bergulung-gulung mengurung Wiku Swanda. Lakilaki berusia tujuh puluhan ini merasa terkejut bukan main. Namun dia sudah tidak dapat berpikir lebih jauh lagi. Dengan segenap tenaga yang dia miliki, Wiku Swanda memapaki serangan golok Buntung itu dengan pedang di tangannya.

"Hiaat! Ciaaat!" Traaang! Traaang!

Pedang di tangan Wiku Swanda hancur berkeping-keping dilanda senjata di tangan Buang Sengketa. Tidak sampai di situ saja. Golok itu terus menderu menyambar bagian perut Wiku Swanda. Lakilaki tua ini benar-benar sudah tidak dapat berkelit lagi. Nguung! Ngungg! Craaas!

"Arrrgkh...!" terdengar jeritan melengking tinggi disertai ambruknya tubuh Wiku Swanda. Pada saat itu tubuh Wulan Angraeni berkelebat.

"Eh... jangan...!" teriak Buang Sengketa bermaksud mencegah. Tapi Wulan Angraeni yang sudah diliputi dendam itu tidak mengubris sama sekali. Diayunkan pedangnya menghantam tubuh Wiku Swanda. Hingga tubuh laki-laki itu tidak berbentuk lagi.

Ketika Wulan selesai melampiaskan nafsunya dan menoleh ke arah Pendekar Hina Kelana. Ia tidak melihat pemuda itu di sana. Dari kejauhan sana ia mendengar suara seseorang yang terus bergerak semakin menjauh.

"Maafkan aku, nona. Karena selama ini aku telah membantu pihak yang salah." suara itu tidak lain merupakan suara Pendekar Hina Kelana yang disampaikan melalui ilmu mengirimkan suara. Wulan Angraeni hanya menggelengkan kepalanya sambil tertunduk lesu.

TAMAT