Serial Pendekar Hina Kelana Eps 30 : Dendam Gila Dari Kubur

 
Eps 30 : Dendam Gila Dari Kubur


Melakukan perjalanan tanpa menggunakan kuda tunggangan hal itu bukan merupakan kebiasaan laki-laki berpenampilan gagah, bertubuh tegap dan berkumis tipis ini. Apalagi saat itu dengan busur panah segala. Sepintas lalu penampilan seperti ini pasti akan menarik perhatian orang banyak. Apalagi laki-laki setengah baya berpakaian serba kelabu itu merupakan orang yang mempunyai pengaruh sangat besar di kota Tiram. Karena dia merupakan orang kepercayaan dari istana Datuk Lima.

Namun karena saat itu dalam suasana gelap gulita dan menjelang tengah malam pula. Maka kegiatan apapun yang dilakukannya tidak begitu menyolok pandangan orang lain. Menyertai orang itu adalah dua orang laki-laki bertubuh ceking berpakaian serba hitam. Sementara di bagian pinggang menggelantung senjata mautnya yang di bagian sisinya bergerigi sangat tajam. Demikian pula dengan kawannya yang berjalan bersisian dengan dirinya. Hanya saja dua orang laki-laki berpakaian hitam bertubuh ceking ini memiliki penampilan yang berbeda-beda. Jika yang satunya berwajah muram dan bagai orang yang hendak marah maka yang lainnya berpenampilan ramah, bibirnya selalu menyunggingkan senyum. Bahkan sering tertawa-tawa tanpa sebab. Kalangan persilatan mengenal mereka berdua sebagai 'Dwi Linglung dari Pulau Hantu'. Dalam kegelapan itu mereka terus berjalan menelusuri pinggiran pantai yang saat itu sudah mulai pasang. Tak lama setelah mereka berbelok pada sebuah tikungan jalan setapak berlumpur. Semakin lama mereka telah jauh meninggalkan pinggiran pantai. Sampai di tengah-tengah hutan Bakau, jalan di depan mereka menjadi buntu. "Jalan buntu! Mungkin mereka hanya mampu merintisnya sampai di sini...!" ujar laki-laki berpakaian kelabu, lalu menoleh pada dua orang laki-laki berpakaian hitam di belakangnya.

"Mungkin mereka sudah keburu mampus, sebelum sempat menemukan posisi tempat itu!" kata si wajah muram, acuh saja.

Suasana tiba-tiba menjadi hening, hati masing-masing diliputi perasaan tegang. Yang terdengar hanyalah suara deburan ombak bergemuruh menghempas batu-batu pantai di kejauhan sana.

"Hemm. Nampaknya kita harus merintis jalan baru! Tapi kita harus menentukannya sesuai dengan letak bintang di langit...!" desah si laki-laki berpakaian kelabu. Sekejap ia memandang ke langit yang cerah tiada berawan. Dilihatnya salah sebuah bintang yang paling terang. Arah Timur Laut itulah yang ingin mereka tuju.

"Aku sudah mendapatkan posisinya. Sekarang kita rintis jalan di bagian sebelah sini!" perintah laki-laki berpenampilan gagah, pada dua orang laki-laki yang menyertainya. Tanpa banyak tanya lagi, Dwi Linglung dari Pulau Hantu mencabut senjata lainnya yang berupa sebuah kapak yang berwarna putih mengkilat. Sraak! Sraaak...!

"Tumbuhan hutan pinggir pantai ini tidak begitu besar. Tapi perhatikan setiap ranting, siapa tahu ada ular bakau di sana. Sekali saja kalian digigitnya maka aku sendiri tak membawa racun penawarnya." kata si laki-laki gagah.

"Usah khawatir Datuk. Hanya binatang sekecil itu, kami pun kebal pada berbagai jenis bisa ular...!" yang menyahut adalah laki-laki yang suka tersenyum-senyum sendirian.

"Aku tahu dengan kemampuan yang kalian, miliki. Itu makanya aku memilih kalian untuk membantu usahaku...!"

Dua orang laki-laki berpakaian serba hitam, anggukkan kepala, selanjutnya tanpa berkata-kata lagi merekapun mulai melakukan tugasnya. Cepat sekali mereka merobohkan kayu api yang sebesar kaki orang dewasa itu. Suara gegap gempita meningkahi kesibukan mereka yang sedang bekerja.

"Coba berhenti dulu!" perintah si laki-laki gagah. Sekejap ia kembali memandang ke langit lepas. Sesungging senyum membias di bibirnya. Entah apa makna senyumannya itu tak seorangpun di antara laki-laki yang menyertainya tahu.

"Pekerjaan yang bagus! Jalan yang kita rintis memang tepat pada sasaran...! Teruskan sedikit lagi kita pasti sudah sampai ke sana...!" kata si laki-laki gagah yang di panggil datuk.

"Craak... Croook...!"

Dengan tubuh bermandi keringat, orangorang itu kembali meneruskan pekerjaannya. Tidak sampai setengah jam kemudian pekerjaan itupun selesai. Apa yang mereka lihat di depan sana benar-benar membuat mereka terbelalak takjub.

"Oh... sebuah tempat yang sangat indah!! Belum pernah seumur hidupku melihat pemandangan yang seindah ini. Siapapun orangnya yang telah menciptakan tempat seperti ini, pastilah merupakan seorang ahli yang memiliki cita rasa tinggi. Aku jadi ingin tahu, benarkah pedang Intan yang merupakan raja dari segala macam pedang memang terkubur di tempat ini...?" kata laki-laki gagah seperti pada dirinya sendiri.

"Jadi maksud kedatangan Datuk Mahendra ke tempat ini hanya ingin melihat pedang Intan yang sesungguhnya hanya merupakan sebuah dongeng belaka...?" tanya si wajah murung seperti menyesalkan sesuatu. Laki-laki berpakaian cokelat gelengkan kepalanya, kemudian tergelak-gelak.

"Tentu saja tidak! Peta tua yang kusimpan selama berpuluh-puluh tahun merupakan satu bukti bahwa pedang itu benar-benar ada. Yang harus kita lakukan sekarang ini adalah mencari posisi, di mana sesungguhnya pedang Intan itu terkubur...!"

"Memiliki pedang itu hanya akan berbuntut panjang, Datuk...! Pedang Intan mempunyai pemilik yang sah. Menurut kabar yang kudengar, andai pedang itu terangkat dari kuburnya. Maka sang pemiliknya juga akan hidup kembali, kemudian bergentanyangan mencari korban yang masih keturunan Raja Kerajaan Datuk Lima...!" bentak si muka cerah. Yang sedikit banyaknya memang mengetahui sejarah pedang Intan. "Tenanglah kalian. Tak perlu merasa khawatir pada dongeng yang tidak berfakta itu. Kalian akan kubayar mahal atas jerih payah kalian dalam melakukan tugas ini!" ujar Datuk Mahendra dengan sesungging senyum licik.

"Baiklah! Terlanjur sudah sampai di sini, walaupun kami sesungguhnya enggan melakukannya. Tapi tak mengapa. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengan kita...!"

Kembali Datuk Mahendra tersenyum sinis, andai saja dua laki-laki bayaran ini mengetahui bagaimana wajah Datuk Mahendra saat-saat tersenyum tadi, pasti mereka akan berpikir dua kali untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh pembesar kerajaan itu.

"Apakah Datuk ada membawa peta itu...?" tanya si wajah ramah tanpa mengalihkan perhatiannya dari beberapa kuburan tua yang hampir keseluruhannya berdinding mar-mar.

"Oho... tentu... tentu saja aku membawanya...! Tanpa peta di tanganku, jangan-jangan yang kita dapatkan hanyalah tulang belulang yang tiada guna...!" berkata Datuk Mahendra

Sekejap tangannya meraba ke bagian saku celananya. Bersamaan keluarnya tangannya itu, maka selembar kulit kera yang sudah lusuh berada dalam genggamannya pula. Cepat-cepat lakilaki ini membuka peta yang tertulis di atas kulit kera putih yang memang telah dipersiapkan dari rumah. Melalui keremangan cahaya bulan, terlihat dengan jelas petunjuk-petunjuk mengenai lokasi benda yang mereka cari-cari. "Nisan pertama yang berukir Gada Punggawa itu merupakan kuburan pembantu setia Jalak Beracun dan terletak di sebelah sana...!" kata Datuk Mahendra sambil menunjuk ke suatu tempat. "Kuburan kedua dan ketiga, batu marmarnya bergambar perempuan telanjang! Itu merupakan kuburan Jalak Rimang dan istrinya...! Sedangkan yang merupakan kuburan Pedang Intan...! Di sini tidak tertera dengan begitu jelas." gumam pembesar Kerajaan Datuk Lima. Otaknya bekerja cepat, memikirkan segala kemungkinan.

"Mungkin gambar api ini merupakan petunjuk yang merupakan kuburan senjata itu, Yang Mulia Datuk Mahendra...!" ujar si muka muram, setelah memperhatikan situasi peta yang berada di tangan Datuk Mahendra.

"Hemm. Mungkin juga!" seru sang Datuk, lalu mengangguk-angguk tanda setuju.

"Api adalah kehidupan, sekaligus merupakan sumber kematian. Tak salah pasti batu yang berbentuk obor yang terletak di sebelah sana itulah yang merupakan tempat penguburan pedang Intan yang merupakan raja dari segala macam senjata...!" kata sang Datuk dengan wajah berseriseri.

"Kalau begitu kita sudah dapat memulainya sekarang, Datuk...?" tanya salah seorang Dwi Linglung dari Pulau Hantu dengan suara tergetar.

"Sekarang...!" ulang sang Datuk seolah-olah tengah berpikir. "Ya... sekarang merupakan bulan purnama penuh, sebuah waktu yang tepat untuk memulai pekerjaan yang mendebarkan itu...!" "Kita ke sana...!" ujar sang Datuk, lalu melangkah mendahului dua laki-laki berpakaian serba hitam. Setelah sampai di dekat batu nisan berlukisan api tersebut. Datuk Mahendra hentikan langkah. Selanjutnya dengan keadaan berjongkok diperhatikan batu nisan yang terpisah jauh dari kuburan lain yang berada di tempat itu. Jantungnya terasa berdetak keras saat laki-laki itu mengelus nisan yang berada di depannya. Lama kelamaan bulu kuduknya meremang. Sementara dua orang lainnya tetap berdiri tidak begitu jauh di belakangnya. Mereka tak tahu bahwa saat itu Datuk Mahendra sedang mengucapkan sumpah di atas nisan. Bahwa andaipun Pedang Intan meminta korban, maka korban pertama yang menjadi sasaran adalah Dwi Linglung dari Pulau Hantu. Apakah sumpah itu bersambut atau malah sebaliknya, hanya Datuk Mahendra saja yang mengetahuinya. Setelah mengucapkan sumpahnya, sang Datuk kembali berdiri, sebentar dipandanginya dua orang jago bayaran yang berdiri terpaku di belakangnya.

"Bagaimana Datuk...! Apakah kita sudah bisa memulainya sekarang...?" salah seorang dari jago bayaran ini bertanya.

"Aku baru saja mohon doa restu dan keijinan. Nampaknya kita diperkenankan mengambil barang itu. Dan sekarang juga kalian bisa memulainya...!" Datuk Mahendra memberi perintah. Akhirnya tanpa membantah dan banyak tanya lagi, kedua orang itupun dengan mempergunakan cangkul, segera memulai tugasnya.

Tanah yang mereka gali tidak begitu keras karena tanah itu masih merupakan daerah pantai yang terkadang masih terpengaruh pasang surut. Dalam waktu sekejap, tanah galian telah menjadi dalam. Datuk Mahendra terus mengawasi pekerjaan Dwi Linglung dari Pulau Hantu dengan seksama. Menjelang penggalian mencapai kedalaman satu meter tanah mengalami perubahan dari tanah liat berganti dengan tanah pasir, masih belum ada tanda-tanda ditemukannya benda yang mereka cari-cari.

"Teruskan saja, mungkin tak sampai dua meter lagi benda itu telah kita temukan!" kata Datuk Mahendra memberi semangat.

"Semakin dalam kami melakukan penggalian, jantung kami berdetak semakin keras Datuk...!" tukas salah seorang di antara mereka yang sedang melakukan penggalian itu.

"Aku tahu kalian pasti terbawa perasaan dengan adanya dongeng-dongeng tak berfakta yang serba menakutkan itu!"

"Tidak juga Datuk! Terkadang sebuah dongeng mempunyai sejarah yang benar. Tak ada cerita kalau tak ada fakta...!" ujar si wajah muram setengah membantah. Datuk Mahendra tertawa renyah, kemudian kembali merogoh ke bagian baju. Terdengar bunyi bergerincing manakala sebuah kantong berwarna hitam dikeluarkan oleh sang Datuk dari dalam sakunya.

"Lima puluh keping uang emas bukanlah jumlah yang sedikit. Andai kalian bekerja, mungkin selama lima belas tahun kalian baru dapat mengumpulkannya. Bayangkan pekerjaan hanya satu malam mendapat imbalan uang sebanyak lima belas tahun bekerja sebagai tukang perahu atau nelayan lainnya. Jumlah ini bahkan masih akan kutambah lagi andai pekerjaan kita benarbenar membawa hasil yang sebagaimana kuharapkan...!" Datuk Mahendra menunjukkan uang yang dipegangnya pada orang yang sedang melakukan penggalian. Melihat mata uang dan janji sang Datuk yang berjanji akan menambah upah mereka sudah barang tentu hati 'Dwi Linglung dari Pulau Hantu' menjadi bungah tak karuan. Upah yang dijanjikan dan sangat menggiurkan hati, membuat mereka melupakan tentang dongengdongeng mengerikan yang pernah mereka dengar sebelumnya. Pekerjaanpun semakin bertambah giat. Dua orang itu bahu membahu dalam mengorek kuburan yang mereka perkirakan sebagai tempat mengubur pedang Intan peninggalan Jalak Beracun.

Bulan mulai condong ke arah barat, saat mana cangkul mereka membentur sesuatu yang sangat keras.

Craaak...!

Mereka sedikit tersentak kaget, seketika menghentikan gerakan cangkulnya.

"Hati-hati, mungkin kita sudah hampir selesai...! Coba kalian periksa benda apa yang telah membentur cangkul kalian...!" perintah sang Datuk dengan hati berdebar. Dengan patuh salah seorang diantaranya langsung melakukan pemeriksaan. Mula-mula benda yang membentur cangkul mereka tidak kelihatan sama sekali. Namun setelah tanah-tanah di sekelilingnya di-bersihkan. Maka terlihatlah sebuah peti berwarna putih yang terbuat dari bahan perak. Agak gemetar tangan si muka ramah manakala ujung-ujung jemarinya menyentuh peti yang berukuran tidak seberapa besar itu.

"Apa yang kau lihat...?" tanya sang Datuk, tegang.

"Sebuah peti terbuat dari perak...!" jawab si muka ramah dengan suara bergetar. Datuk Mahendra mengeluarkan gumaman yang tak dimengerti maknanya oleh Dwi Linglung dari Pulau Hantu.

"Mungkin itulah benda yang kita cari-cari...! Sekarang coba angkat peti yang telah kalian dapatkan itu...!" perintah Datuk Mahendra. Salah seorang dari mereka berusaha mengangkat peti yang berukuran tidak begitu besar seorang diri, tetapi apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat semua mata yang menyaksikannya membelalak tak percaya. Peti yang terbuat dari bahan perak itu tidak bergeming sedikitpun juga. Padahal si muka ramah telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya. Seolah ada sebuah kekuatan yang tidak terlihat mempertahankan benda itu dari bagian bawah sana.

"Seorang diri, peti ini tidak bergeming sedikitpun juga, Datuk...!" lapor si muka ramah. Sang Datuk anggukkan kepalanya, kemudian memberi isyarat pada si muka muram untuk segera turun membantu. Dua orang ini saling bahu membahu mengangkat peti perak yang mereka perkirakan berisi pedang Intan.

Dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang mereka miliki, secara bersamaan ke duanya segera mengangkat peti perak yang terletak di bawahnya.

"Heuuup...!"

"Broool...!"

Setelah bersusah payah, akhirnya peti yang terbuat dari perak itupun dapat mereka angkat ke permukaan tanah. Apa yang terjadi di kuburan Jalak Beracun setelah peti perak itu terangkat ke permukaan tak seorangpun diantara mereka yang mengetahuinya.

"Gledek...! Gledeek...!"

Terdengar suara tanah di bawah sana bergemuruh, melihat kejadian ini si muka ramah memberi perintah pada kawannya;

"Cepat naik ke atas! Mungkin tanah itu hendak runtuh...!" teriaknya sambil berusaha menggeser peti perak yang telah berada di atas tanah datar.

"Heuuup...!"

Dengan sekali lompat. Si muka muram telah pula meninggalkan lobang yang mereka gali. Angin laut bertiup kencang, udara hangat terasa menusuk. Namun beberapa detik kemudian mereka mengendus adanya bau tak sedap. Mereka saling berpandangan sesamanya, dua orang diantaranya merasa curiga. Namun perasaan curiga itu segera lenyap manakala Datuk Mahendra mengulurkan kantong hitam yang berisi lima puluh keping uang emas. "Jangan kalian hiraukan bau yang tak sedap itu. Hembusan angin laut yang baru saja kita rasakan, menandakan mungkin di pinggiran laut sana ada ikan besar yang mati dan terdampar. Tugas belum selesai...! Sekarang kita tinggal membuka tutup peti...! Lakukanlah segera!" Datuk Mahendra kembali memberi perintah. Karena baru saja mendapat upah yang sangat memuaskan, maka si muka muram dengan cepat dan tanpa perhitungan langsung mencabut kapaknya. Dengan sekali ayun. Kunci penutup peti itupun telah terbuka secara paksa.

"Buka...!" perintah sang Datuk kali ini suaranya agak lain dari yang biasanya. Sejauh itu Dwi Linglung dari Pulau Hantu masih belum menyadari apa sesungguhnya yang sedang terjadi atas diri Datuk Mahendra.

Kali ini dengan gerakan sangat berhati-hati, salah seorang diantaranya mulai membuka penutup peti.

"Brraaak...!"

Begitu penutup peti terbuka, meluncur beberapa batang senjata rahasia yang berupa anak panah beracun yang berukuran kecil. Si muka muram keluarkan jeritan tertahan saat mana sebatang anak panah itu menancap di bagian telapak tangannya. Kiranya anak panah yang dijadikan sebagai senjata rahasia di dalam peti itu mengandung racun yang sangat ganas. Dengan cepat sekali tangan si muka muram berubah membiru. Beberapa detik setelahnya, seluruh tubuh si muka muram berubah total dari biru menjadi hitam pekat. Laki-laki bertubuh ceking ini mengerang, seluruh pori-pori kulitnya mengeluarkan darah berwarna hitam gelap.

"Agrkh... tolong aku saudara muka ramah...!" suara teriakannya hanya sampai se-batas kerongkongan saja. Kedua tangannya menggapai, kemudian tubuhnyapun tersungkur di atas tanah berpasir. Pucat wajah si muka ramah, tubuhnya gemetaran tiada menentu, sementara dengan sikap tenang Datuk Mahendra mendekati peti yang sempat merengut korban jiwa.

"Bahaya telah berlalu...!" ucapnya begitu acuh. Seolah kematian orang bayaran yang masih merupakan sahabatnya sendiri, merupakan sesuatu yang wajar-wajar saja. Dengan sigap dia langsung memeriksa isi peti perak yang bagian dalamnya nampak bersih dan memancarkan cahaya putih berkilauan.

"Ha... ha... ha...ha...! Sudah kudapat. Semua apa yang menjadi cita-citaku pasti segera akan menjadi kenyataan...!" kata Datuk Mahendra. Kemudian secara perlahan diapun bangkit berdiri. Tiada disadari oleh Datuk Mahendra, di atas kubur Jalak Beracun terdapat sosok putih tembus pandang terbangkit dari tidurnya. Sosok putih itu tersenyum pias begitu melihat ke arah Datuk Mahendra yang telah menggenggam pedang Intan yang memancarkan cahaya putih berkilauan. Sosok putih tembus pandang ini kemudian melayang, berputar-putar di atas ubun-ubun sang Datuk. Kemudian menyatu dengan jiwa raga Datuk Mahendra. Seusai menyatunya sosok yang tiada berujud itu dengan sang Datuk. Mendadak sepasang mata sang Datuk yang mulanya sayu dan berwibawa, kini telah berubah liar dan beringas. Kejadian dan perubahan yang dialami oleh Datuk Mahendra kiranya tak luput dari perhatian si muka ramah.

"Datuk... kawanku tewas secara menyedihkan...! Dan... dan kau mengapa tiba-tiba saja berubah seperti itu...?" tanyanya begitu tegang.

"Aku tidak pernah berubah, sobat...! Pedang ini telah kudapatkan...! He... he... he...!" suara Datuk Mahendra tidak sebagaimana biasanya berobah serak menyeramkan.

"Kau... akan memberi tambahan upah padaku, Datuk...!" tanya si muka ramah menagih janji. Datuk Mahendra gelengkan kepalanya.

"Ja... jadi...!" si muka ramah terbata.

Datuk Mahendra yang sudah dirasuki arwah Jalak Beracun menggeram. Sebagai jawabannya dengan gerakan secepat kilat. Datuk Mahendra tusukkan pedang Intan yang baru saja didapatnya tepat menembus bagian dada si muka ramah. Laki-laki bertubuh ceking itu hanya sempat belalakkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Sebagaimana yang dialami oleh kawannya, dengan cepat terjadilah perubahan warna pada tubuh si muka ramah. Dari pori-pori Dwi Linglung Pulau Hantu ini nampak mengalir darah kental kehitam-hitaman. Datuk Mahendra tertawa gelak-gelak. Dengan gerakan sangat kasar disentakkannya senjata yang telah menembus bagian dada sampai ke punggung si muka ramah, kuat-kuat. Tak ayal lagi tubuh si muka ramah terbanting roboh tanpa mampu bangkit kembali.

"Pedang yang hebat! Senjata pamungkas yang sangat luar biasa. Ha... ha... ha...! Dengan senjata ini Kerajaan Datuk Lima akan menjadi geger. Segala yang kuinginkan pasti segera tercapai...! Mungkin akulah yang paling pantas berkuasa atas tahta singgasananya...!" gumam Datuk Mahendra. Sekejap dipandanginya dua sosok mayat yang menggeletak tak begitu jauh di depannya. Entah karena sebab apa, mayat yang baru beberapa menit itu menebarkan bau busuk yang menusuk hidung.

"Kalian sahabat-sahabat yang turut berjasa dalam mewujudkan impianku. Aku pasti tak akan melupakannya. Uang itu... he... he...!" Datuk Mahendra berjalan perlahan menghampiri mayat si muka muram. Kemudian menyentakkan kantong hitam yang masih berada di dalam genggamannya. "Orang yang sudah mampus tak pernah membutuhkan uang! Emas ini baiknya kubawa lagi...!" kata Datuk Mahendra. Lalu tanpa menghiraukan mayat-mayat yang masih merupakan sahabatnya. Sambil tergelak-gelak. Laki-laki berpakaian cokelat ini berlari-lari menjauh meninggal-

kan tempat itu.

*** 2

Hampir satu purnama pemuda berkuncir ini meninggalkan hutan Sungai Buluh. Namun kenangan tentang kekasihnya yang terjatuh ke dalam jurang ketika bertempur melawan manusia Iblis Pemburu Perawan. Masih juga belum hilang dari ingatannya, bahkan saat tidurpun bayangan buruk itu menjelma menjadi mimpi yang menyedihkan. Baginya si manusia iblis itu merupakan seorang lawan yang memiliki kesaktian tinggi, sekaligus orang yang telah menghancurkan segalagalanya. Kini pemuda berwajah sangat tampan itu memang merasakan telah kehilangan segala apa yang dimilikinya. Kehilangan gadis yang dicintainya pernah beberapa hari membuatnya merenung di pinggir jurang itu. Dia merasakan hatinya menjadi hampa, hidup semakin tiada berarti. Siang malam si pemuda berada di pinggiran jurang itu, tiada bergeming sedikitpun ketika dia melihat gadis bertelanjang dada yang telah terbebas dari pengaruh ilmu iblis milik si Cindek menghaturkan sembah sebagai ucapan terima kasih mereka. Tidak juga ketika Giri Wisa dan si Duwur memberi ucapan selamat tinggal kepadanya. (Dalam Episode Iblis Pemburu Perawan).

Sampai pada satu purnama kemudian Buang Sengketa memutuskan untuk meninggalkan hutan Sungai Buluh yang lenggang. Dengan membawa duka dan kepedihan hati, sepanjang hari pemuda ini terus melakukan perjalanan menuju ke arah barat. Terkadang iapun mempergunakan ilmu larinya, Ajian Sapu Angin untuk mempercepat perjalanan. Hanya pabila tubuhnya terasa letih benar, baru dia mau istirahat melepas lelah.

Siang itu si pemuda telah sampai di pinggiran wilayah Kerajaan Datuk Lima. Panas yang begitu terik membuatnya mempercepat langkah, tiada pepohonan yang dapat dijadikannya sebagai tempat untuk berteduh. Karena hampir sepanjang jalan yang di laluinya hanya merupakan perkebunan kelapa yang luas serta tumbuhan nipah yang menjalar tidak teratur. "Mengherankan, sepanjang jalan ini tak pernah aku bertemu dengan seorang pendudukpun. Padahal kulihat begitu banyak rumah yang terdapat di daerah ini. Setiap rumah pintunya tertutup rapat, padahal aku tahu di balik pintu dan jendela berpasang-pasang mata memandang kehadiranku dengan tatapan curiga. Apa agaknya yang telah terjadi di daerah ini? Pemberontakan, perampokan, perkosaan atau apa! Sialnya mereka tak ada yang mau keluar. Hanya mengintip di balik pintu. Kalau aku nekad mendatangi salah sebuah rumah, aku takut malah mereka berteriak dan mengundang perhatian orang banyak." membatin pemuda itu. Merasa bosan sendiri, akhirnya diapun mengerahkan Ajian Sapu Angin. Bagai dikejar-kejar setan tubuh Buang Sengketa melesat sedemikian cepatnya. Hanya dalam waktu yang singkat dia telah begitu jauh meninggalkan hutan kelapa.

Menjelang sampai di kota ramai yang bernama Tiram, pemuda ini menghentikan langkah. Kemudian berjalan sebagaimana kebanyakan orang yang berada di tempat itu. Penampilannya yang begitu aneh, membuat dirinya menjadi perhatian orang banyak, beberapa di antaranya ada yang menyingkir saat berpapasan dengan dirinya. Atau ada pula yang memalingkan muka. Pendekar Hina Kelana tiada perduli, apa yang dicarinya adalah menemukan sebuah warung penjual makanan. Singgah sebentar kemudian pergi lagi untuk meneruskan perjalanan.

Tetapi belum lagi dia menemukan warung yang cocok dengan seleranya, mendadak di tengah-tengah keramaian di depan sana. Terdengar suara ribut-ribut disusul dengan denting beradunya senjata tajam dan teriakan-teriakan maut dari mulut yang menyongsong ajal. Berpuluhpuluh orang berlarian menjauhi tempat terjadinya keributan. Heran dan penasaran si pemuda demi melihat kejadian ini. Dalam hatinya timbul satu pertanyaan bagaimana mungkin di tengah-tengah kota seramai itu bisa terjadi keributan, sementara para pamong keamanan dengan sikap acuh tetap banting kartu di meja judi. Benar-benar sebuah kebiasaan jelek yang tidak patut dibiarkan berlarut-larut. Dengan sikap tidak sabar, Buang Sengketa menyeruak di antara kerumunan orang yang sedang menyaksikan pertempuran itu.

Kemudian terlihat olehnya seorang gadis berpakaian kuning gading dengan senjatanya berupa cambuk yang terbuat dari ekor ikan pari sedang menghadapi keroyokan tiga orang laki-laki bertampang kasar bersenjatakan pedang pendek. Pabila si pemuda memandang ke arah lain, di sana terlihat dua orang laki-laki lainnya dalam keadaan roboh, muka hancur berlumuran darah.

"Haeess...!"

Gadis berpakaian kuning gading kembali membentak garang, cambuk ekor ikan pari kembali menggelepar di udara menyambut datangnya serangan ganas yang dilakukan oleh tiga orang lakilaki bertampang kasar. Tiga orang lawan yang nampaknya sudah dapat mengetahui kelemahan permainan cambuk gadis berpakaian kuning langsung menyeruak. Begitu si gadis itu menyadari keadaan yang dapat membahayakan keselamatan jiwanya. Dia sudah tak sempat lagi menghindar.

Brebeet...! "Auuughk...!"

Si gadis memekik keras dan jatuh bergulung-gulung. Namun lawan yang berhasil membabatkan pedangnya terus memburu dengan tujuan mengakhiri hidup lawannya.

"Tahan...! Jangan kita bunuh buronan itu, adi...! Dia bisa kita hadapkan pada Datuk. Siapa tahu sang Datuk berkenan dengan kecantikan Puteri Samba yang aduhai ini...!" kata salah seorang diantara ketiga laki-laki itu, dingin.

"Keparaat! Kalian para begundal tengik yang telah begitu tega membunuh majikan kalian sendiri. Aku akan mengadu jiwa dengan para tikus pengecut...!" teriak si gadis berpakaian kuning gading dalam kegusarannya.

"Datuk Empat, ayahmu bermaksud melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Datuk Lima. Tidak salah kalau kami berpihak pada yang benar...!"

"Keparaat...! Semua itu fitnah, pasti ada orang dalam Kerajaan Datuk Lima yang telah melakukan pekerjaan keji ini...!" bantah si gadis berpakaian kuning gading dengan wajah merah padam.

"Tak usah berdalih, kau harus kami tangkap dan kami laporkan pada sang Datuk selaku Kepala Pasukan Keamanan di kota ini...!" kata salah seorang diantara mereka yang memiliki nama Roka Geni.

"Di dalam kedatuan ayahandaku, kalian hanyalah para pembantu yang tidak memiliki wewenang apa-apa, kalian hanyalah seorang abdi yang telah begitu tega menjadi seorang penghianat. Bukan tak mungkin Kerajaan Datuk Lima sekarang sedang berada dalam bahaya...!"

"Ringkus dia...!" perintah Roka Geni kepada dua orang kawannya. Baru saja mereka hendak bergerak, mendadak terdengar satu bentakan yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Jangan kalian lakukan itu...!"

Merasa ada orang berkepandaian tinggi mencampuri urusan mereka, secara serentak baik ketiga laki-laki bertampang kasar itu maupun gadis berpakaian kuning gading menoleh ke arah si pemilik suara. Dari kerumunan orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu, nampak seorang pemuda berpakaian merah menghampiri mereka. Melihat penampilan Buang Sengketa yang sedemikian dekilnya membuat tiga orang laki-laki yang sedang mengurung gadis berpakaian kuning langsung tertawa-tawa. Sedangkan si gadis tertegun penuh kagum.

"Melihat tampangmu, nampaknya kau orang asing di kota ini. Apa maksudmu menghalangi niat kami...!" bentak orang itu begitu gusar.

"Melakukan pengeroyokan terhadap seorang perempuan yang sudah terluka, apalagi bekas Puteri majikan sendiri. Tidak jauh bedanya dengan orang yang tak tau membalas guna...!" bentak si pemuda tanpa merasa sungkan-sungkan lagi.

"Keparaat...! Kau benar-benar ingin mencari penyakit telah berurusan dengan orang kepercayaan Datuk...!" sentak Roka Geni dengan gigi berkerokotan.

Tanpa menghiraukan kata-kata, laki-laki bertampang kasar. Buang Sengketa nyeletuk:

"Manusia tidak tahu membalas budi! Kebaikan majikan sendiri kalian lupakan setelah melihat tumpukan uang yang tiada seberapa...! Kalau aku lebih baik membunuh diri...!" ejek Pendekar Hina Kelana sengaja ingin memancing kemarahan lawan.

"Kampret! Cacing gembel ini memang sengaja mencari urusan dengan kita, kakang Roka Geni...!"

"Kalau begitu, cincang dia...!" perintah Roka Geni. Gadis berpakaian kuning gading bergerak menepi meninggalkan gelanggang pertempuran. Kini berhadapanlah Buang Sengketa dengan Roka Geni, Roka Bayu dan Roka Tirta. Dengan ganas mereka menyerang si pemuda. Pedang pendek di tangan mereka menderu keras, mengancam bagian pertahanan lawan yang tidak terjaga dengan baik. Tetapi para pengeroyok nampak harus memendam kekecewaan manakala serangan-serangan ganas mereka selalu kandas di tengah jalan. Sebaliknya Buang Sengketa hanya mengandalkan jurus silat tangan kosong, Membendung Gelombang Menimba Samudra dan jurus Si Gila Mengamuk. Dengan tenang masih mampu menghalau setiap serangan lawannya dengan baik. Sepuluh jurus telah berlalu, namun sejauh itu tiga pengeroyoknya masih belum mampu melakukan tekanan-tekanan yang berguna kepada lawannya.

"Gunakan jurus Pedang Menggorok Babi Hutan...!" teriak Roka Tirta. Sebentar saja permainan pedang mereka berobah total, serangan datangnya semakin menggebu-gebu. Setiap jurus mengandung tipu-tipu. Berulang kali pedang pendek di tangan lawannya nyaris merobek bagian perut Buang Sengketa. Pemuda keturunan manusia Negeri Alam Gaib ini melompat mundur, bibirnya memperdengarkan suara gumaman yang tak begitu jelas.

"Heiiit...!"

Sekali lagi mata pedang di tangan Roka Geni menyambar dari arah belakang. Buang Sengketa miringkan tubuhnya berusaha mengkelit serangan lawan. Kemudian kirimkan satu tendangan kaki yang begitu telak

"Deek...!"

"Hoeeek...!"

Gubrak...!" Terdengar suara tawa riuh rendah manakala Roka Geni tersungkur mencium tanah. Melihat kemampuan yang dimiliki oleh lawannya. Dua orang kawannya menerjang maju dengan mengandalkan segenap kemampuan yang ada. Sejauh itu usaha yang mereka lakukan untuk mendesak lawannya tetap saja tidak mendatangkan hasil.

"Tikus comberan! Dengan sangat terpaksa aku menggusur kalian...!" geram si pemuda. Dengan gerakan bersalto beberapa kali, Buang Sengketa lambaikan tangan kanannya ke arah depan. Serangkum gelombang berwarna Ultra Violet menyambar deras ke arah tiga orang lawannya. Menyadari adanya bahaya yang mengancam jiwa mereka, maka ke tiga orang itu putar pedangnya membentuk perisai diri. Dengan telak pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dilepaskan oleh si pemuda menghantam tubuh mereka.

"Brees...!"

"Wuaargkh...!"

Terdengar jeritan lolongan maut manakala pukulan yang mengandung hawa panas yang tiada terkirakan itu mencapai sasarannya. Tubuh mereka terpelanting dalam keadaan hangus dan jiwa melayang. Mengetahui kehebatan yang dimiliki oleh pemuda berkuncir, maka mereka yang sempat menyaksikan pertarungan sengit itu, bergegas menjauh. Bahkan secara diam-diam beberapa orang diantaranya ada yang menuju ke rumah kediaman orang yang dipanggil Datuk oleh lawan yang telah binasa. Tinggallah Buang Sengketa dan gadis berpakaian kuning yang memandangi dirinya dengan penuh takjub. "Anda telah menyeret diri anda dalam kemelut yang seharusnya saya hadapi sendiri, pendekar...!" kata si gadis setengah menyesalkan.

"Panggil saja, Kelana...! Mengenai apa yang baru saja nona katakan itu, sesungguhnya tidak menjadi masalah. Yang terpenting nona berada pada pihak yang benar...!" jawab si pemuda dengan sikap tak acuh.

"Ee... nama saya Samba...!" tanpa diminta gadis berkulit kuning langsat itu memperkenalkan diri.

"Tepatnya Puteri Samba! Benarkan...?" Wajah si gadis merona merah.

"Saya tak suka dengan sebutan seperti itu, pendekar... apalagi saya hanya merupakan bekas Puteri Datu yang tiada apa-apanya...!" bantah si gadis berpakaian kuning gadis berpakaian kuning gading merasa tak setuju.

"Kalau begitu jangan sebut diriku pendekar! Panggil saja Kelana...!" ujar si pemuda, lalu tersenyum ramah.

"Baiklah Kelana! Tahukah anda bahwa dengan membunuh tiga orang kepercayaan Datuk Mahendra. Secara tak langsung anda telah membuat perkara dengan Kerajaan Datuk Lima. Anda bisa dihukum gantung...!"

"Mengapa begitu! Siapa Datuk Mahendra yang anda maksudkan itu...?" tanya Buang Sengketa tiada mengerti. Gadis berpakaian kuning gading itu nampak memperhatikan sekelilingnya, seperti ada sesuatu yang ditakutkannya. "Baiknya kita cari tempat yang aman. Dengan terbunuhnya orang kepercayaan sang Datuk, sebentar lagi tempat ini pasti sudah di kurung dengan pasukan pemanah. Nanti di sana baru kuceritakan segala-galanya." ujar Puteri Samba. Buang Sengketa hanya menganggukkan kepala. Tampa buang-buang waktu lagi. Puteri Samba dan pemuda itu berlari cepat menuju keluar kota Tiraun.

***

3

Pagi itu Datuk Mahendra nampak menghadap Raja Kerajaan Datuk Lima di istana kediamannya tidak jauh di Timur Laut kota Tiram. Dalam ruangan besar yang dihiasi dengan berbagai benda berharga yang terdiri dari emas dan perak. Di atas singgasana sana nampak duduk pemimpin tinggi Kerajaan yang bernama Datuk Satu, mendampingi sang Raja, di sebelah kanan Permaisuri Dewi Kerudung Sutra yang memiliki wajah cantik rupawan. Sedangkan di sisi kiri singgasana Datuk Satu, duduk bersimpuh dua orang Puteri Raja yang bernama Puteri Kenanga dan Puteri Cempaka. Tiga tombak di depan singgasana Datuk Satu, dalam posisi melingkar, nampak duduk Panglima Nawang, Patih Dahana, Datuk Mahendra dan beberapa Pejabat Tinggi Kerajaan yang jumlahnya lebih dari empat orang. Dengan sikapnya yang berwibawa, satu demi satu Datuk Satu memperhatikan wajah para abdinya yang sejak dari tadi menunduk hormat.

"Datuk Mahendra!" ujar Datuk Satu membuka pembicaraan. "Sebagai orang kepercayaan di luar keluarga Kerajaan, engkau telah mendapat kehormatan dengan sebutan Datuk. Semua itu karena jasa-jasamu yang tidak sedikit pada Kerajaan Datuk Lima ini. Bukti yang dikumpulkan cukup kuat, bahwa laporanmu tentang usaha saudaraku yaitu Datuk Empat untuk melakukan pemberontakan terhadap Raja yang sah sudah kami ketahui dengan jelas. Sebagai orang luar yang telah menunjukkan bakti yang cukup besar terhadap pemerintahan. Maka kami telah sepakat untuk mengangkatmu sebagai Penasihat Kerajaan baru. Apakah engkau merasa setuju dengan keputusan kami ini...?" tanya sang Raja kepada Datuk Mahendra.

Orang berwajah dingin yang bernama Datuk Mahendra nampak membungkukkan badannya dalam-dalam. Setelah menyembah tiga kali, orang itupun berkata.

"Ampun Paduka Raja! Hamba kira kedudukan itu begitu tinggi buat diri hamba yang hina dan berasal dari masyarakat biasa. Adapun segala apa yang pernah hamba lakukan untuk Kerajaan Datuk Lima, sebagai rakyat hamba merasa berkewajiban untuk menjaga kewibawaan pemerintahan...!"

Datuk Satu nampak tersenyum dan semakin takjub dengan sifat yang dimiliki oleh Datuk Mahendra. Sesungguhnya Raja Kerajaan Datuk Lima tak tahu bagaimana kelicikan yang sedang direncanakan oleh Mahendra yang sudah disusupi arwah Jalak Beracun itu.

"Ah... anda tidak sepantasnya menampik kepercayaan Paduka Raja yang telah diberikan pada anda, Datuk Mahendra...!" yang ikut bicara adalah seorang laki-laki bertubuh tegap dan berpakaian perang. Dialah Panglima Nawang, jago istana Kerajaan Datuk Lima yang memiliki kepandaian tinggi. Yang diajak bicara kembali menjura dalam-dalam.

"Hamba bukannya menampik, Panglima! Cuma hamba sedang bertanya pada diri hamba sendiri. Pantaskah hamba menerima jabatan setinggi itu...!" kata Datuk Mahendra begitu merendah. Sang Raja yang duduk di singgasananya, nampak tergelak-gelak.

"Mengatakan tidak pantas, berarti engkau menerima tawaran kami, Datuk! Ah betapa Kerajaan Datuk Lima akan menjadi semakin kuat dengan kehadiran dirimu. Aku merasa sangat bergembira sekali. Dan perlu kau ketahui, mulai saat ini Datuk harus tinggal di salah sebuah rumah pembesar yang masih terdapat di sekeliling istanaku ini!" kata sang Raja memberi keputusan. Bukan main girangnya hati Datuk Mahendra demi mendengar keputusan sang Raja. Terlebih-lebih roh Jalak Beracun yang telah menyatu di dalam jiwa Datuk Mahendra. Dengan diangkatnya dirinya menjadi Penasehat Kerajaan hal ini merupakan satu keuntungan baginya untuk melakukan sesuatu tanpa dicurigai oleh pihak manapun. Begitupun Datuk Mahendra yang licik ini masih memperlihatkan wajah sedih.

"Yang Mulia Paduka Raja!" ucapnya setelah menghaturkan sembah. "Bukan hamba menolak kehendak Paduka, supaya hamba tetap tinggal di dalam lingkungan istana. Tetapi hamba khawatir tentang sesuatu...!"

"Engkau mengkhawatirkan sesuatu, sesuatu apakah gerangan...!" tanya sang Raja diliputi dengan rasa keingintahuan. Datuk Mahendra nampak memperhatikan suasana sekelilingnya, sekali dia memandang ke arah Raja yang sedang duduk di singgasananya, terlihat pula olehnya Permaisuri dan Puteri Raja yang ayu rupawan. Membuat hatinya semakin bergembira, namun perasaan seperti itu hanya tersimpan di dalam hati, tak seorangpun dari mereka yang hadir mengetahui hal itu.

"Begini Paduka! Dua hari yang lalu, tiga orang kepercayaan hamba tewas secara menyedihkan. Tubuhnya hangus bahkan sangat sulit untuk dikenali, padahal mereka merupakan orang-orang yang paling hamba percaya...!" ujar Datuk Mahendra berpura-pura sedih. Apa yang diceritakan oleh Datuk Mahendra seperti yang telah diduganya menarik perhatian mereka yang hadir di ruangan itu.

"Tiga orang kepercayaan Datuk tewas! Siapa yang telah melakukannya...?" tanya Patih Dahana yang sejak tadi hanya diam saja.

"Yang melakukannya, maaf...! Hamba tidak dapat mengatakannya karena orang itu masih punya hubungan darah dengan Yang Mulia Raja...!" jawab Datuk Mahendra berpura-pura sungkan.

Wajah Datuk Satu nampak memerah, tanda dirinya sedang diliputi perasaan gusar.

"Maaf Yang Mulia, hamba tidak bermaksud menyinggung perasaan Yang Mulia...!" kata Datuk Mahendra, lalu rangkapkan ke dua tangannya sebagai pernyataan atas penyesalannya. Tetapi sang Raja cepat-cepat gelengkan kepala.

"Tidak! Engkau tidak bersalah, siapapun yang telah melakukan pembunuhan atas orangorang kepercayaanmu yang telah sama kita ketahui berpihak pada pemerintah. Tidak perduli orang itu masih memiliki hubungan darah dengan kerajaan, harus dihukum. Engkau tak perlu ragu, Datuk! Coba katakan siapakah orangnya...!" perintah sang Raja dengan perasaan tegang.

"Orang itu merupakan Putrinya Datuk Empat...!" jelas Datuk Mahendra dengan suara hampir-hampir tak terdengar.

"Puteri Samba...!" bergetar suara sang Raja ketika menyebut nama itu. Bagaimana tidak. Puteri Samba masih merupakan keponakannya sendiri. Cuma ayahandanya terpaksa dihukum mati karena berusaha melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. "Mungkinkah Puteri Samba yang mempunyai watak pendiam itu, berusaha membalas dendam atas kematian ayahandanya. Tetapi kalaulah memang benar, mengapa harus membunuh orang-orang kepercayaan Datuk Mahendra...? Mungkinkah dia mengetahui bahwa yang melaporkan rencana pemberontakan yang akan dilakukan oleh ayahandanya, adalah Datuk Mahendra. Kenyataan itu cukup beralasan!" batin Datuk Satu.

"Puteri Samba, meskipun pernah kuketahui berguru ilmu silat pada seseorang, tetapi kupikir tidak memiliki kesaktian sehebat itu. Bagaimana mungkin dia dapat membunuh seseorang dengan akibat sehebat yang kau ceritakan Datuk...?" tanya Panglima Nawang seolah tak percaya. Dengan sangat berhati-hati, Datuk Mahendra berucap: "Kalau hanya Puteri Samba. Jelas tak mungkin mampu melakukan tindakan sehebat itu. Tetapi saat dia melakukan di kota Tiram, tiba-tiba hadir seorang pemuda tampan, berpakaian kumal, dengan sebuah periuk di pinggang datang membantu sang Puteri. Nah pemuda asing itulah yang telah menewaskan orang-orang kepercayaan hamba...!" jelas Datuk Mahendra lebih lanjut.

"Hem... sudah kau selidiki siapa gerangan pemuda itu...!" tanya sang Raja dengan tujuan ingin mengetahui lebih jauh.

"Sudah Yang Mulia! Tetapi secara pasti hamba masih belum mengetahui identitasnya. Beberapa orang memberi laporan pada hamba, bahwa Puteri Samba dan pemuda berkuncir melarikan diri ke luar kota Tiram...!"

Datuk Satu terdiam beberapa saat lamanya, suasana di dalam ruangan pertemuan hening sepi. Masing-masing orang tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Tak seorangpun di antara pembesar-pembesar Kerajaan ada yang berani angkat bicara.

"Puteri Samba mungkin saja begitu men-

dendam atas kematian ayahandanya! Dulu aku masih berpikir untuk menangkapnya. Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Datuk Mahendra dulu. Kelak keturunan Datuk Empat adikku dapat menjadi duri dalam daging...!" ucap sang Raja tanpa sadar. Hal ini hanya semakin membesarkan hati Datuk Mahendra yang telah menyusun siasat licik. "Kanda Prabu, bukan hamba bermaksud mencampuri urusan pemerintahan. Tetapi tuduhan dan hukuman yang dijatuhkan pada adinda Datuk Empat nampaknya terlalu tergesa-gesa. Siapa tahu dia bukannya memiliki maksud untuk melakukan pemberontakan. Mungkin saja dia mengumpulkan banyak orang untuk membangun sebuah padepokan atau kuil buat para Brahma...!" "Adi Permaisuri! Apapun alasan dinda, yang

jelas Datuk Empat memiliki tujuan tertentu untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah...!" tukas Datuk Satu agak gusar. Membuat Permaisuri Dewi Kerudung Sutra terdiam seribu bahasa. Datuk Mahendra tertawa penuh kemenangan, meskipun hanya di dalam hati. Sesungguhnya ada yang merasa kurang begitu setuju dengan sikap sang Raja ini, yaitu Panglima Nawang. Laki-laki berumur dua puluh delapan tahun ini menilai Datuk Satu dalam bertindak hanya dengan mempergunakan patokan dan keterangan yang diberikan oleh Datuk Mahendra. Padahal yang mengetahui sedikit banyaknya tentang siapa Datuk Mahendra yang sebenarnya hanya Panglima Nawang sendiri. Itulah sebabnya ketika Panglima Nawang ditugaskan menangkap Datuk Empat hatinya diliputi kebimbangan. Sebab dia tidak begitu yakin kalau Datuk Empat bermaksud melakukan pemberontakan. Mulai saat itulah secara diam-diam Panglima Nawang mulai melakukan penyelidikan atas diri Datuk Mahendra yang begitu dipercaya oleh sang Raja. Entah mengapa Panglima Kerajaan yang berumur masih begitu muda itu begitu curiga pada Datuk Mahendra. Sungguhpun kecurigaan itu tak pernah dinampakkan di depan siapapun.

"Panglima Nawang! Merupakan tugasmu untuk mencari di mana Puteri Samba dan pemuda asing itu bersembunyi...!" perintah sang Raja, menyentakkan Panglima itu dari lamunannya.

"Perintah gusti akan hamba jalankan...!" kata Panglima Nawang agak gelagapan.

Sebentar kemudian sang Raja kembali pada Datuk Mahendra, dengan sikap serius beliau pun bertanya: "Nah Datuk! Semuanya sudah beres, atau adakah hal-hal lain yang Datuk khawatirkan...?" tanya Datuk Satu.

Sekali lagi Datuk Mahendra menghaturkan sembah, lalu berkata: "Untuk saat ini hamba kira tak ada persoalan apapun!"

"Kalau begitu pertemuan kita kali ini kita cukupkan sampai di sini dulu...!" ujar Datuk Satu, menutup pembicaraannya.

*** 4

Hampa tatapan matanya memandang ke laut lepas, sesekali ia tengadahkan wajahnya untuk menjaga air matanya tidak sampai jatuh menetes. Sejauh itu Buang Sengketa yang duduk tak begitu jauh di sampingnya terus berusaha membujuk si gadis agar tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.

"Air mata dan tangis tidak pernah menyelesaikan persoalan yang engkau hadapi. Lebih baik kau ceritakan segala persoalan yang telah menimpa ayahanda mu, siapa tahu aku dapat membantu menyelesaikan persoalan yang engkau hadapi...!"

Gadis berpakaian kuning gading itu gelengkan kepalanya.

"Terlalu besar resiko yang bakal kuhadapi, aku tak ingin orang lain ikut terseret dalam kemelut keluargaku...!" kata gadis itu tersendat.

"Apakah kau pikir semua persoalanmu dapat kau selesaikan sendiri Puteri Samba?" tanya Buang Sengketa dengan nada tertekan.

"Justru itulah masalahnya yang membuat aku bingung! Aku tahu ayahanda tidak bersalah, beliau hanya merupakan korban fitnah. Andai saja aku terlahir sebagai seorang laki-laki, pasti aku akan lebih leluasa lagi untuk melakukan penyelidikan!"

"Ayahanda mu korban fitnah! Sudah jelas pasti ada keluarga Kerajaan yang tidak begitu suka dengan keberadaan ayahanda mu...!" kata Buang Sengketa berusaha menarik kesimpulan.

Puteri Samba kembali gelengkan kepalanya keras-keras. Kemudian terdiam, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.

"Aku kenal betul dengan Datuk Satu, yaitu yang menjadi Kepala Pemerintahan yang sekarang ini. Karena beliau masih merupakan kakak kandung ayahandaku. Beliau tidak asal sembarang perintah, jika tidak ada bukti-bukti yang sah ataupun laporan yang kuat dari orang yang dipercayainya...!"

"Maksudmu...?" tanya si pemuda tiada mengerti.

"Sejak dulu aku selalu curiga pada orang yang bergelar Datuk Mahendra itu. Dia orang luar yang begitu dipercaya oleh Datuk Satu karena jasa-jasanya dalam menumpas kekacauankekacauan yang terjadi di kota Tiram. Karena jasajasanya itulah maka sang Raja memberinya gelar kehormatan dengan sebutan Datuk. Aku tak tahu apakah dia yang telah menyusun semua rencana terkutuk itu. Tetapi ketika aku berusaha melakukan penyelidikan, orang-orangnya malah berusaha meringkusku. Masih untung engkau datang menolong Kelana, jika tidak entah bagaimana nasibku...!" kata Puteri Samba sedih.

"Nampaknya ada satu kekuatan tersembunyi yang telah bercokol, dalam pemerintahan uwamu. Bukan tak mustahil cepat atau lambat kekuatan itu malah akan meruntuhkan kekuasaan Raja yang sah...!" komentar si pemuda sambil menatap tajam pada Puteri Samba. "Hem... selain Datuk Empat yang merupakan orang tuamu, Datuk Satu yang menjadi Kepala Pemerintahan di Kerajaan Datuk Lima. Apakah masih ada Datuk-Datuk lainnya?" tanya Pendekar Hina Kelana.

"Masih ada. Yaitu Datuk Dua dan Datuk Tiga. Datuk Dua tinggal di Pesisir sedangkan Datuk Tiga tinggal di Panjang...! Memang kenapa...?"

Puteri Samba memandangi si pemuda dengan perasaan curiga. Yang dipandangi hanya tersenyum-senyum saja. Tanpa menghiraukan pertanyaan si gadis pemuda itu kembali mengajukan pertanyaan:

"Apakah mereka tahu tentang hukuman mati yang telah dijatuhkan pada ayahanda mu...?"

"Mungkin mereka sudah tahu! Aku sendiri, setelah kematian ayahanda belum pernah lagi berkunjung ke sana...!" kata si gadis.

"Apakah hubungan ayahanda mu dengan saudara-saudaranya pernah terjadi pertengkaran atau sejenis dengan itu...?"

"Tidak! Hubungan kekeluargaan selama ini kuketahui berjalan dengan baik. Perlu engkau... ehh... kakang ketahui bahwa pengangkatan Raja sesuai dengan hukum adat yang berlaku secara turun temurun. Jadi tidak masuk akal sama sekali kalau ayahanda bermaksud melakukan pemberontakan. Karena ayahanda dulu pernah bicara padaku bahwa beliau sendiri tak pernah punya minat menjadi seorang Raja. Sungguhpun beliau sendiri masih merupakan keturunan seorang Raja yang sah...!" "Aku begitu yakin dengan apa yang dikatakannya. Kulihat sebuah kejujuran di matanya. Kuat dugaanku, pasti ada sesuatu yang tak beres dalam pemerintahan Raja sekarang. Datuk Mahendra... mungkinkah dia merupakan dalang atas fitnah yang telah dijatuhkan pada orang tua Puteri Samba? Atau masih adakah orang lain yang turut memegang peranan dalam hal ini, Panglima Kerajaan, Patih atau...!" gumam Pendekar Hina Kelana mencoba mereka-reka segala kemungkinan.

"Menurutmu, apakah Datuk Dua dan Tiga percaya dengan apa yang dilakukan oleh ayahanda mu...?"

"Mungkin juga ya, tetapi aku lebih cenderung untuk mengatakan tidak. Sebab seperti yang kuketahui Datuk Dua dan Datuk Tiga cukup mengenal betul bagaimana sifat ayahanda...!"

"Kalau begitu kita masih dapat menghubungi mereka...!"

Buang Sengketa nampak tersenyum cerah. "Untuk apa, kakang...?"

"Kita harus meminta pendapat mereka mengenai fitnah yang telah dijatuhkan pada orang tuamu...!" kata si pemuda.

"Percuma kakang...! Sebagaimana ayahanda, mereka juga merupakan orang-orang yang tidak begitu perduli dengan segala macam urusan Kerajaan. Pula sungguhpun ayahanda masih merupakan adik Datuk Satu, tetapi yang namanya hukum tetap berlaku bagi siapapun...!" kata Puteri Samba dengan suara tersendat.

"Kita belum melakukannya. Siapa tahu mereka masih mau turut memikirkan tentang hukuman yang semena-mena itu...!"

"Bagaimana jika di sana juga telah dipasang mata-mata untuk menangkap kita?" tanya gadis berpakaian kuning gading ini nampak cemas sekali.

"Kalau itu sampai terjadi, demi menegakkan kebenaran. Maka aku siap mengatakan perang pada mereka...!" jawab si pemuda tanpa ragu-ragu lagi.

"Peraang...!" ulang si gadis dengan mata membelalak tak percaya.

"Ya...!"

"Dua orang anak manusia ingin memerangi kekuasaan Raja yang memiliki Panglima Perang tangguh, dan ratusan prajurit yang terlatih dengan baik. Apa hal itu tidak sama saja artinya dengan membunuh diri secara menyedihkan...?" ujar Puteri Samba semakin merasa cemas dengan kenekatan si pemuda yang baru beberapa hari di kenalnya itu.

"Mengapa! Kau takut...?" tanya si pemuda, lalu memandang tiada berkedip.

"Bukannya aku takut. Kita ini tak ubahnya bagai dua ekor semut yang berada di antara ratusan gajah. Apa yang akan kita lakukan hanya akan sia-sia belaka...!"

"Jangan selalu merasa putus harapan, Puteri Samba...! Banyak jalan yang dapat kita tempuh andai kita benar-benar ingin melakukannya...!"

"Yakinkah, kakang dengan   kemampuan yang kakang miliki...?" tanya gadis berpakaian kuning gading ragu-ragu.

"Sudah kubilang jangan cepat putus asa. Akal harus kita lawan dengan akal pula. Yang penting kita harus segera ke Pesisir mengunjungi Datuk Dua...!"

"Baiklah kalau begitu...!" jawab si gadis menyerah.

* * *

Malam setelah lebih dari dua purnama Datuk Mahendra yang kini telah diangkat menjadi Penasehat Kerajaan tinggal di lingkungan istana. Saat itu hujan deras yang turun sejak sore, masih kelihatan belum ada tanda-tanda akan reda. Langit kelam, mendung di langit kian menebal. Sesekali terlihat prajurit-prajurit Kerajaan meronda dalam suasana hujan lebat begitu. Udara dingin menggigit membuat mereka bertahan di pos jaganya masing-masing. Suasana Kerajaan Datuk Lima kelihatan sunyi bagai tiada berpenghuni. Hal itu bukan berarti tiada manusia yang tidak berkeliaran dalam suasana hujan lebat seperti itu.

Nun di belakang rumah kediaman Datuk Mahendra, terlihat sosok bayangan bertopeng nampak melangkah ke arah bagian dapur pembantunya. Mendadak lampu yang menerangi ruangan itu padam. Tak seorangpun melihat kejadian ini. Dalam kegelapan itu, si manusia bertopeng menyeringai. Sesungging senyum yang tak jelas ditujukan pada siapa nampak menghiasi bibirnya. "Beberapa hari aku telah melakukan penyelidikan di sekitar sini. Penjagaan yang dilakukan oleh prajurit-prajurit ronda nampaknya begitu ketat. Cara satu-satunya yang dapat kutempuh hanyalah dengan melalui genteng. Teror yang telah kurencanakan nampaknya sudah mulai dapat kulakukan mulai sekarang. Begitulah menurut orang kutemui dalam mimpiku. Tetapi mengapa orang itu malah menyuruhku membunuh Permaisuri sang Raja dan Putrinya.

Bukan Datuk Satu saja, atau Panglima Perangnya yang membuatku hampir tersudut? Dalam mimpi itu aku melihat pemuda berpakaian serba putih begitu mendendam keluarga Raja. Bahkan dengan jelas dia menyebutkan satu persatu orang yang harus kubunuh. Mulai Datuk Satu sampai Datuk Tiga. Apakah mereka ini merupakan musuh terpenting, dengan adanya pedang Intan miliknya, aku dapat meraih segala cita-citaku...!" gumam si orang bertopeng. Kemudian tanpa menghiraukan derasnya hujan. Orang inipun langsung melompat ke atas genteng. Gerakannya ringan sekali, menandakan bahwa si laki-laki bertopeng memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna sekali. Tanpa menimbulkan kecurigaan apa-apa. Dengan cepat orang itu terus mengendap-endap di atas genteng. Selanjutnya menuju ke arah bagian kamar Puteri Raja. Di salah satu tempat yang terletak di bagian sudut Kerajaan. Laki-laki bertopeng ini hentikan langkah. Sebentar sepasang matanya menyapu ke segenap halaman yang sunyi sepi. Tidak terdapat tandatanda mencurigakan di sana.

Tanpa berpikir panjang si orang bertopeng langsung membuka dua buah genteng yang berada di bawahnya. Kemudian terlihatlah olehnya salah seorang Puteri Raja yang tengah tidur begitu pulas. Si orang bertopeng belum dapat memastikan yang mana satu diantara dua Puteri Raja yang menempati ruangan itu. Lima buah genteng kembali digesernya, lalu tanpa menunggu lebih lama lagi. Tubuhnya melayang ke bawah, sesampainya di dalam kamar Puteri Raja, dia langsung lakukan dua totokan pada bagian gerak dan jalan suara. Sang Puteri yang sedang bernasib sial itu rupanya bernama Puteri Kenanga, yaitu seorang Puteri yang paling cantik bila dibandingkan dengan kakak sulungnya Puteri Cempaka. Dia tersentak kaget manakala merasakan kehadiran orang lain di dalam kamar tidurnya. Matanya membelalak ketika melihat si orang bertopeng, tetapi dia tak mampu berbuat apa-apa, jangankan bergerak, sedangkan untuk berteriak saja dia tak mampu. Wajah di balik topeng menyeringai, sepasang matanya nampak berkilat-kilat memandang pada Puteri Kenanga yang dalam keadaan terlentang. Semakin lama orang itu melangkah mendekati sang Puteri yang dalam keadaan ketakutan. Tiada henti-hentinya sepasang mata iblis itu menyapu pandang mulai dari bagian wajahnya yang putih mulus, lalu ke arah dada yang membusung kemudian terus turun dan berhenti di suatu tempat.

"Hanya sekali aku melihat Puteri yang cantik ini di ruangan pertemuan Raja beberapa hari yang lalu. Sebelum aku membunuhnya alangkah baiknya kalau aku mencicipi kehangatan tubuhnya. He...!" si orang bertopeng mendengus. Lalu menghampiri peraduan Puteri Kenanga. Mengetahui gelagat tidak baik gadis itu ketakutan setengah mati. Tapi tetap saja dia tak mampu berbuat banyak, ketika tangan-tangan yang kokoh itu menyelinap di balik pakaiannya. Di sela-sela bukit kembar jemari kokoh itu bermain-main sekejap. Puteri Kenanga tak mampu berbuat apa-apa ketika si orang bertopeng mencabik habis semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Wajah di balik topeng itu kembali menyeringai ketika melihat tubuh mulus yang tergolek di depannya tanpa sehelai benangpun. Tanpa menunggu lagi, si orang bertopeng yang memang sedang ditunggangi roh iblis langsung menindih tubuh sang Puteri. Semakin deras air mata yang meleleh membasahi pipi sang Puteri, saat dia merasakan rasa sakit yang begitu mendera di bagian bawah perutnya. Tetapi si orang bertopeng nampaknya sudah tiada perduli. Terus saja dia melampiaskan nafsu iblisnya.

Waktu terus berlalu tanpa terasa, di luar istana hujan lebat masih belum juga reda. Sementara di dalam kamar tubuh si orang bertopeng nampak bermandikan keringat. Laki-laki itu nampak turun dari peraduan Puteri Raja, dengan cepat dia mengenakan pakaiannya kembali. Puteri Kenanga nampak menangis sejadi-jadinya, meskipun suaranya tetap tak pernah keluar. Selesai mengenakan pakaiannya, si orang bertopeng langsung menghunus senjatanya. Pedang Intan di tangannya nampak memancarkan cahaya putih berkilat laksana perak. Ada hawa aneh yang menebar lewat pancaran cahaya yang ditimbulkannya.

"Kau telah berkorban sesuatu yang paling berarti dalam hidupmu! Agar kau tidak menanggung rasa malu. Aku akan melenyapkan penderitaanmu. Hih...!"

Sekali saja pedang Intan berkelebat. Maka senjata iblis menembus bagian perut Puteri Kenanga yang tiada berpakaian walau selembarpun. Sang Puteri menggeliat. Darah memancar membasahi kulitnya yang halus. Manakala senjata itu disentakkan oleh pemiliknya. Sekejap kemudian kulit tubuh Puteri Kenanga berubah biru, lalu menghitam. Bahkan seluruh pori-pori tubuhnya berwarna hitam dan mengeluarkan darah yang lebih hitam pula. Puteri yang bernasib sial itupun tewas seketika itu juga. Dengan cepat si orang bertopeng kembali melesat ke atas genteng. Tanpa menutupkannya kembali dia terus bergerak menuju kamar yang terletak di sebelahnya. Dua buah genteng dia geser dari tempatnya. Ketika kepalanya melongok ke arah bawah, tak dilihatnya Puteri Cempaka berada di ruangan itu. Ditutupkannya kembali genteng itu. Kemudian dengan gesit tubuhnya bergerak menuju peraduan Permaisuri Raja. Hal yang samapun kembali dilakukannya. Ketika matanya melihat ke bawah, maka wajah di balik topeng itupun tersenyum sinis. "Tak salah lagi itulah Dewi Kerudung Sutra! Raja akan kubuat berduka dengan kematian anak dan istrinya." kata si orang bertopeng. Empat buah genteng digesernya dalam suasana hujan lebat. Setelah memperhatikan suasana di sekelilingnya, orang itupun melayang turun, malangnya Permaisuri Dewi Kerudung Sutra terjaga dari tidurnya. Istri Raja nampak terkejut sekali begitu melihat kehadiran orang lain didalam kamarnya.

"Jangan coba-coba berteriak Permaisuri! Aku pasti akan membunuhmu...!" ancam si orang bertopeng sambil menghunus pedangnya. Dewi Kerudung Sutra terperangah, dia menyadari adanya bahaya yang tiada terduga ini. Dengan nekad tangannya menyambar sebilah pedang pendek yang terletak di atas peraduannya. Namun lebih cepat lagi, senjata di tangan orang bertopeng menyambar ke arah bagian lehernya.

"Jraas...!"

Permaisuri Raja Datuk Lima terkulai tubuhnya. Darah membasahi ranjang dan seprei. Sama seperti apa yang dialami oleh putrinya, maka sebentar kemudian tubuh Dewi Kerudung Sutra berubah jadi menghitam dan tiada berkutik lagi.

"Sebuah tontonan yang menarik. Sayang aku tak menemukan di mana adanya Puteri Cempaka...!" dengus orang itu, kemudian berkelebat pergi. Ketika si orang bertopeng menyelinap di kegelapan malam, saat itu hujan hanya tinggal rintik-rintik belaka.

*** 5

Masih jauhkah tempat itu dari sini, Puteri Samba...?" yang bertanya adalah si pemuda tampan yang berjalan di sisi gadis berkulit kuning langsat.

"Kakang sudah capek?" Puteri Samba balik bertanya. Si pemuda gelengkan kepala sambil tepuk periuknya.

"Kalau tidak capek mengapa tanya jauh dekat jarak yang kita tempuh...?"

"Ah... tidak...! Aku hanya pingin pipis saja...! Tapi di sini tak ada pepohonan sebagai tempat berlindung...!" ujar si pemuda malu-malu. Wajah Puteri Samba merona merah sekejap. Kemudian membuang mukanya ke arah lain.

"Cih... tak bermalu...! Mestinya tidak kakang katakan itu, dengan seorang perempuan...!"

"Habis aku mau bicara sama siapa? Sejak tadi kita terus berlari. Engkau di belakang aku di depan. Tidak lucu kalau aku kencing sambil berlari, sementara engkau seperti mengejarku dari belakang...!"

"Apa aku mengejarmu...!" tukas Puteri Samba, cemberut.

"Maksudku bukan mengejar, tapi mengikutiku terus dari belakang...!" ralat Buang Sengketa, lalu tersenyum-senyum.

"Ah, sial. Mau kencing, kencing saja! Tokh aku tak ingin mengintip!"

"Sekarang kau berjalan duluan, biarkan aku di sini sebentar...!" kata si pemuda.

Puteri Samba tanpa berkata apa-apa langsung berlari-lari kecil mendahului, Buang Sengketa berbalik langkah, lalu cepat-cepat turunkan celananya. Sebentar saja dia telah menarik celananya ke atas.

"Ah lega rasanya...!" ucapnya seorang diri. Pabila dia memandang ke arah jalan di depannya. Maka dilihatnya Puteri Samba sudah begitu jauh. Tanpa berpikir lagi, pemuda inipun langsung mengejar. Hanya beberapa kedipan mata saja, gadis berpakaian kuning gading inipun telah terkejar.

"Mengapa kau tak mau menungguku?" tanyanya setelah menyamai langkah si gadis.

"Kalau aku menunggumu, aku takut orangorang yang mengintipmu mengatakan bahwa aku gadis kurang ajar...!"

"Orang mengintai aku? Siapa...? Aku tak melihat siapapun di belakang sana...!" ujar si pemuda keheranan.

"Kakang memang tak melihat mereka! Tapi mereka dan aku sama-sama melihat kakang!"

Beberapa kali pemuda keturunan Raja Piton Utara ini menggaruk kepalanya. Bagaimana mungkin Puteri Samba melihat orang di belakangnya, sedang dia sendiri tak pernah melihat apaapa.

"Kakang tahu...! Perjalanan kita ke Pesisir untuk menjumpai Datuk Dua mungkin sudah ada yang mengetahuinya. Tepatnya kita dimata-matai oleh orang-orang Kerajaan...!" kata Puteri Samba tanpa ragu-ragu lagi. "Bagaimana mungkin mereka bisa secepat itu mengetahui rencana kita...?"

"Mata-mata Datuk Mahendra tersebar di mana-mana. Bahkan di lobang tikuspun matamata itu selalu ada. Kita sekarang menjadi buronan, kakang...!"

"Mengapa harus takut. Buronan yang tidak bersalah bukanlah merupakan persoalan yang rumit bagiku...!" ujar si pemuda, acuh.

"Kalau kita sampai tertangkap. Tanpa melalui proses pengadilan, kita segera menghadap tiang gantungan seperti ayahandaku...!"

"Itu juga tidak membuatku takut! Tokh bukan aku saja yang digantung, kaupun akan digantung!" kata si pemuda tanpa ekpresi, Puteri Samba semakin cemas saja hatinya demi mendengar ucapan si pemuda yang tanpa perasaan itu.

"Eeh... sebuah Kuil! Bagaimana mungkin di tempat yang terpencil ini dibangun sebuah Kuil. Siapa yang menjadi jema'ahnya...?"

Buang Sengketa memang nampak keheranan begitu melihat Kuil yang terletak jauh terpencil dari keramaian penduduk.

"Itu bukan Kuil, kakang...! Di sanalah tempat tinggal uwa Datuk Dua selama bertahuntahun" jelas Puteri Samba. Tanpa menunggu ataupun mengajak, gadis berkulit kuning langsat ini berlari-lari ke arah bangunan itu.

"Uwa... uwa... aku yang datang uwa...!" terdengar suara si gadis memanggil-manggil Datuk Dua. Tiada jawaban dari dalam, padahal pintu bagian depan terbuka.

"Bagaimana, kau telah ketemu uwamu...?" tanya Buang Sengketa beberapa saat setelah sampai di depan halaman Kuil.

"Orangnya tak ada di tempat. Tetapi mengapa pintu terbuka? Tidak biasanya uwa Datuk Dua berbuat teledor seperti ini...!"

Si pemuda hanya diam saja mendengar penjelasan Puteri Samba, sebaliknya dia meneliti ke sekeliling bangunan yang sudah berusia tua, namun masih menampilkan sisa-sisa keindahannya ini.

"Tetes-tetes darah! Mungkin telah terjadi sesuatu di sini. Tetapi ini darah siapa... Datuk Dua...?" Buang Sengketa mereka-reka.

"Arrrkgh...!"

Tiba-tiba terdengar jeritan Puteri Samba dari dalam Kuil. Buang Sengketa terkejut bukan alang kepalang. Cepat sekali dia berputar dari bagian belakang Kuil menuju pintu depan. Dengan tergesa-gesa pemuda ini menyeruak masuk. Apa yang dilihatnya kemudian adalah merupakan sebuah pemandangan yang menggenaskan.

Di atas sebuah ranjang, nampak sosok tubuh dengan keadaan hangus menghitam. Sebuah luka bekas tusukan senjata tajam, meninggalkan darah menggumpal yang sudah mengering dan berwarna hitam. Sementara tak jauh di sebelahnya, Puteri Samba terus menjerit-jerit meratapi kematian Datuk Dua. Buang Sengketa mendekat, lalu memeriksa keadaan mayat yang menebarkan bau busuk itu. "Dua buah luka bekas tusukan senjata tajam. Pastilah senjata milik si pembunuh mengandung racun yang sangat ganas. Kalau melihat luka ini, mungkin saja kejadiannya baru tadi malam, atau menjelang dinihari tadi. Belum pernah aku melihat senjata beracun sehebat ini. Masih belum bisa kuduga hasil perbuatan siapa...!" batin si pemuda dalam hati.

"Uwa... uwa Datuk. Mengapa kau pergi pada saat-saat aku butuh nasehatmu...!" kata Puteri Samba sambil memeluki jenazah Datuk Dua. Nampaknya dia tidak perduli, meskipun jenazah itu menebarkan bau yang menusuk hidung. Pendekar Hina Kelana mendekat, kemudian memegang bahu si gadis dengan tujuan memberinya kekuatan.

"Kita telah didahului oleh seseorang, Puteri...! Aku hanya dapat menyimpulkan uwamu dibunuh pada saat-saat dia tertidur. Orang itu memiliki senjata yang mengandung racun sangat ganas. Sebaiknya kita cepat-cepat menyingkir dari tempat ini, siapa tahu semua hanyalah merupakan sebuah perangkap untuk menjebak kita...!" kata si pemuda, dengan paksa diapun menarik tangan Puteri Samba untuk segera meninggalkan ruangan itu. Namun baru saja mereka sampai di bagian pintu depan. Beberapa batang anak panah telah menyambut mereka secara bertubi-tubi.

"Tiarap...!" perintah Buang Sengketa sambil menekan bagian punggung Puteri Samba hingga rata dengan tanah.

"Bukit ini sudah terkepung dengan pasukan pemanah dari Kerajaan, Puteri! Apakah engkau tak dapat mempergunakan pengaruhmu untuk memerintahkan mereka mundur?" tanya si pemuda, lalu memandang wajah Puteri Samba yang kelihatan pucat pasi.

"Sebelum ayahandaku mendapat fitnah dulu, mungkin bisa...! Tetapi sekarang ini aku tak ubahnya bagai seekor kucing kurap yang pasrah dimasukkan ke dalam karung...!"

"Kita benar-benar berada dalam posisi yang paling sulit. Andai mereka sampai naik ke sini. Mereka pasti menuduh bahwa kitalah yang telah melakukan pembunuhan atas diri Datuk Dua...!" geram si pemuda.

"Apakah lebih baik kita menyerah saja...!" Puteri Samba mengajukan sebuah pendapat.

"Apa! Menyerah...! Tiada istilah bagiku untuk menyerah pada siapapun...!" sergah si pemuda begitu gusar. Dalam pada itu terdengar teriakanteriakan dari bawah bukit sana.

"Orang-orang yang berada dalam Kuil! Lebih baik kalian menyerah secara baik-baik untuk menerima hukuman. Andai tidak, sebentar lagi Kuil itu akan kami hujani dengan anak panah...!" ancam sebuah suara dari bagian bawah sana.

"Bagaimana ini, kakang! Mereka mengancam kita...!" tanya Puteri Samba begitu cemas. Buang mendengus sebagai tanda bahwa tiada gentar dengan ancaman itu.

"Sekalipun mereka dapat menciptakan hujan badai, aku tak akan pernah menyerah. Sekarang lebih baik kau kembali ke dalam Kuil, kunci pintunya dari dalam. Jangan lupa kalau dirimu dalam keadaan bahaya, cepat-cepat kau kasih tanda dengan teriakan yang keras...!"

"Kakang hendak ke mana...?" tanya Puteri Samba nampak begitu mengkhawatirkan keselamatan si pemuda.

"Aku ingin menghadang anak panah mereka. Kalau terpaksa aku harus membunuh!" jawabnya dingin.

"Cepatlah kau masuk ke Kuil itu sebelum mereka naik ke puncak bukit ini...!" perintah Buang Sengketa. Sungguhpun saat itu ia merasa tak tega meninggalkan si pemuda. Namun akhirnya dia menurut juga begitu melihat perubahan air muka si pemuda. Dengan cepat gadis itu berlari kembali ke dalam Kuil, kemudian menguncikan pintunya dari dalam.

"Kalian yang berada di atas bukit! Jangan salahkan kami...! Serang...!"

Belum habis gema suara orang yang memberi perintah. Dari segala penjuru hujan anak panah mendera tubuh Buang Sengketa. Pemuda ini begitu menyadari adanya bahaya yang mengancam tubuhnya. Tidak mau mengambil resiko, dengan cepat tubuhnya bergerak sambil melakukan tangkisan-tangkisan yang menakjubkan. Sementara sebagian tenaga dalamnya dia pergunakan untuk melindungi diri dalam membentuk kekebalan tubuh, sebagian tenaganya yang lain dipergunakannya untuk melakukan perlawanan. Jurus demi jurus silih berganti untuk menghindari hujan anak panah yang tiada henti. Mula-mula pemuda ini mempergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra, dari jurus ini kemudian beralih ke jurus Si Gila Mengamuk, selanjutnya jurus paling pamungkas, yaitu Si Jadah Terbuang. Mempergunakan jurus pamungkas ini, tubuh si pemuda berkelebat lenyap, hanya tinggal bayangbayang merah yang terus bergerak menghindari serangan anak panah yang tiada terhitung jumlahnya itu.

Dalam gerakannya itu tubuh si pemuda terus meluncur ke arah bawah bukit. Laksana kilat begitu tiga tombak berada di hadapan lawanlawannya. Pemuda titisan Raja Siluman dari Negeri Alam Gaib ini lepaskan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Serangkum Gelombang Ultra Violet yang menebarkan hawa panas tiada tertahankan, melabrak tubuh prajurit-prajurit pemanah tadi.

"Breess...!"

Beberapa orang pemanah terpelanting roboh, tubuh mereka nampak hangus menghitam. Dari sela-sela bibir dan hidung mengalir darah kental kehitam-hitaman. Mereka hanya berkelejatkelejat sekejap. Lalu terdiam untuk selamalamanya. Melihat nasib yang dialami oleh beberapa orang kawan, yang lain-lainnya dengan kemarahan yang tiada tertahankan langsung mengarahkan panah mereka ke arah Buang Sengketa. Sementara dari arah lain juga mengarahkan panah mereka ke arah lawannya. Beberapa orang pemanah dengan arah berlawanan sama-sama melepaskan busurnya. Buang Sengketa tergelak-gelak, lalu melesat ke udara sejauh lima tombak. Luput dari sasarannya, puluhan batang anak panah itu saling memakan kawan-kawannya sendiri.

"Agkkrh... Arghk...!"

Sepuluh orang prajurit pemanah tersungkur roboh ditembus panah mereka sendiri, Buang Sengketa kembali tergelak-gelak.

"Weii... sudah pada gilakah kalian. Kawan sendiri kalian bantai bagai membunuh monyet hutan...!" ejek si pemuda sesaat setelah menjejakkan kakinya di atas permukaan tanah.

"Keparaat...! Pasukan pemanah, berhenti... berhenti kataku...!" perintah salah seorang yang berpakaian Panglima Perang. Mendengar perintah atasannya, prajurit-prajurit pemanah itu menghentikan tugasnya. Kemudian laki-laki berusia sekitar dua puluh delapan tahun datang menghampiri si pemuda yang tetap berdiri tegak sambil tersenyum-senyum.

"Kau telah membunuh prajuritprajuritku...!" bentaknya garang.

"Siapa yang membunuh mereka? Panglima gagah! Mula-mula aku berada di atas Kuil sana, datang-datang kalian menyerangku dengan hujan anak panah. Kemudian prajurit-prajurit tolol itu saling memanah antara sesamanya. Itukah yang kau maksud dengan membunuhi prajuritprajuritmu...?"

"Keparaat! Dosa-dosamu telah melebihi takaran, bocah asing...! Kau telah berkomplot dengan Puteri Samba untuk melawan pemerintahan yang sah. Kemudian kau menyusup ke dalam keputren. Kau perkosa Puteri Kenanga, kau bunuh dia lalu engkau habisi pula jiwa Permaisuri, ketika kami menyelidiki kemari. Rupanya engkau juga telah membunuh Datuk Dua dengan cara yang sangat terkutuk...!"

Merah padam wajah Pendekar Hina Kelana demi mendengar tuduhan yang tiada beralasan itu. Bagaimana mungkin kejadian yang begitu komplit dan sangat memalukan itu dapat dia terima sedangkan letak Kerajaan Datuk Lima saja dia sama sekali tidak tahu.

"Oh Dewata yang agung, mimpi apa aku semalam. Kemanapun kami melangkah, lagi-lagi hanya fitnahan keji yang kuterima...!" ucapnya lirih. Sebentar ia menundukkan wajahnya, dicobanya untuk menekan gejolak perasaan yang sedang berkecamuk di dalam jiwanya. Dan pabila dia memandang ke arah Panglima Nawang, maka wajah pemuda itu telah berubah kelam membesi. Geraham terkatup rapat, mata memerah. Ingin sekali diterjangnya Panglima yang berdiri tidak seberapa jauh darinya. Namun pabila dia teringat pada Puteri Samba yang sedang melakukan upaya untuk menjernihkan persoalan yang sebenarnya, perasaan marah itu sedikit demi sedikit menjadi berkurang.

"Panglima gagah. Sama seperti para prajuritmu, ternyata engkaupun merupakan seorang Panglima yang tolol. Beberapa saat yang lalu aku baru saja mendaki dan memasuki Kuil milik Datuk Dua bersama Puteri Samba. Puteri itu mendapati uwanya tewas di atas ranjangnya. Kami sendiri bingung dengan kejadian yang telah menimpa Datuk Dua, kalau kalian lebih dulu sampai di tempat ini pantaskah kalian menuduh kami sebagai orang yang telah membunuh sang Datuk...?" bentak si pemuda.

"Persetan! Kami hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh Raja. Apapun alasanmu engkau boleh mengatakannya pada Raja, nanti setelah kalian sampai di istana!" maki Panglima Nawang tak kalah gusarnya.

"Kau menginginkan agar kami menyerah...?" tanya Buang Sengketa mengejek.

"Tentu saja...!"

"Kalau itulah yang kau inginkan, tak perduli engkau Panglima Perang Kerajaannya para iblis. Langkahi dulu mayatku...!" desis si pemuda merasa hilang kesabarannya.

Bukan main gusarnya Panglima Nawang begitu melihat ulah si pemuda yang sangat merendahkan martabatnya. Seumur hidup belum pernah dia mendapat penghinaan yang serendah itu.

"Sikaaat...!" perintahnya memberi aba-aba. "Tunggu...!" teriak Buang Sengketa. "Tak

perlu kau mengorbankan nyawa sebanyak itu Panglima. Kalau kau benar-benar seorang Panglima Perang yang berjiwa ksatria, maka hadapilah aku. Mari kita bertarung secara ksatria. Seandainya aku kalah, kau boleh memperlakukan diriku dan Puteri Samba sesuka hatimu. Tetapi kalau engkau yang kalah...!" si pemuda mengurungkan katakatanya.

"Kalau aku yang kalah. Engkau mau apa, pemuda gembel...?" tanya Panglima Nawang sambil berkacak pinggang.

"Kalau engkau kalah! Cukup engkau harus mau mendengar apa yang ingin kami sampaikan. Tetapi jika kau tetap tidak mau maka aku hanya ingin meminta kepalamu...!" desis si pemuda. Kemudian tergelak-gelak.

"Kurang ajar! Kuterima tantanganmu...! Aku yakin dalam sepuluh jurus di muka kepalamulah yang kubuat menggelinding...!"

"Heaaaa...!"

Tanpa basa-basi lagi, Panglima Nawang langsung menerjang dengan menghantamkan satu pukulan tangan menggeledek. Sementara bagian kakinya menyapu ke arah perut Buang Sengketa. Begitu cepat gerakan Panglima Nawang, angin tendangan maupun jotosan menderu deras ke bagian tubuh pemuda itu. Kenyataan ini membuktikan meskipun Panglima Nawang berumur begitu muda, namun memiliki tenaga dalam yang handal.

Pendekar Hina Kelana cepat-cepat geser tubuhnya ke samping kanan. Serangan luput, tak mau kalah diapun kirimkan satu tendangan balasan yang mengarah ke bagian lambung lawannya

*** 6

Serangan ini dipapaki oleh lawannya dengan hantamkan tinju kirinya ke arah kaki si pemuda yang menderu deras ke arah dadanya.

Plaak... Duuuk...!

"Uuuh...!"

Tubuh Panglima Nawang terhuyung dua tindak ke belakang. Sementara tubuh si pemuda nampak tergetar. Pemuda ini menyeringai begitu merasakan kakinya bagai menendang batu karang. "Kepandaianmu boleh juga, pemuda gem-

bel...! Tapi jangan berpuas dulu... terimalah...!" teriak Panglima Nawang dalam kegusarannya. Sekali lagi lawan mencoba mendesak si pemuda dengan mempergunakan jurus-jurus silat tangan kosong yang handal. Sebaliknya Buang Sengketa dengan mempergunakan jurus 'Si Gila Mengamuk' terus melayani permainan silat lawannya.

"Heaah...!" dengus si pemuda. Tubuhnya kembali melompat mundur manakala tangan Panglima Nawang yang berbentuk cakar hampir saja merobek bagian wajahnya.

"Jangan terus menghindar tolol! Layanilah aku sampai seribu jurus...!" maki Panglima Nawang. Serta-merta tubuhnya melesat ke udara melakukan salto beberapa kali. Begitu kembali meluncur ke bawah. Tak pelak lagi diapun hantamkan tangannya ke arah lawannya. Serangkum gelombang pukulan berhawa dingin dan panas melesat ke arah Buang Sengketa. Pemuda ini tidak tinggal diam. Segera pula dia kibaskan tangannya menyongsong pukulan yang dilepaskan oleh lawannya.

"Blaamm...!"

Terdengar sebuah ledakan yang membuat debu dan pasir berhamburan di udara. Tanah di sekitar tempat itu bergetar bagai dilanda selaksa gempa. Buang Sengketa nampak mencelat tiga tombak, sementara Panglima Nawang terjungkal lima tombak. Dari bibirnya meleleh darah kental. Panglima bertubuh semampai ini merasakan bagian dadanya begitu nyeri. Setelah menghimpun hawa murni, barulah rasa sakit itu agak berkurang. Cepat sekali dia bangkit. Dilihatnya Buang Sengketa masih kerengkangan sambil memegangi bagian perutnya.

"Cepatlah bangkit sobat! Empat jurus di muka andai kau kalah, tidak segan-segan aku akan memenggal kepalamu...!" geram Panglima Nawang begitu menyadari ternyata lawannya memiliki kepandaian tinggi. Buang Sengketa mendengus, masih sempat bibirnya menyungging senyum mengejek. Membuat lawannya menjadi marah luar biasa.

"Haaaa...!"

Satu teriakan membahana yang disertai dengan lengkingan Ilmu Pemenggal Roh. Terasa menghancurkan gendang-gendang telinga. Beberapa orang prajurit tersungkur roboh dengan jiwa melayang seketika itu juga. Masih untung Panglima Nawang memiliki tenaga dalam yang tinggi andai tidak diapun mungkin akan mengalami nasib yang tidak begitu berbeda dengan para bawahannya. Terperangah Panglima Kerajaan Datuk Lima demi melihat kenyataan ini, tanpa sadar dia berseru lantang:

"Ilmu ibliss...!" desisnya.

Kali ini tanpa sungkan-sungkan lagi diapun mencabut sebilah pedang panjang berwarna putih mengkilat karena ketajamannya. Pedang itu langsung disilangkan ke depan dada.

"Sobat! Cabutlah senjatamu, bertarung secara ksatria adalah pertarungan yang adil dan tidak membawa penyesalan di kedua belah pihak...!"

Buang Sengketa tersenyum tawar, dalam hati dia mengagumi pendirian Panglima Nawang yang gagah perkasa.

"Bagiku kau bukanlah seorang musuh yang harus kubasmi. Kau hanya menjalankan perintah. Aku baru mau mencabut senjataku andai engkau merupakan seorang lawan yang paling kubenci di kolong langit ini. Nah jangan sungkan-sungkan. Kukira aku masih sanggup melayani permainan pedangmu...!" kata si pemuda begitu tenang. Hal ini hanya membuat kemarahan Panglima Nawang semakin bertambah memuncak.

"Kau terlalu sombong, sobat! Jangan salahkan aku andai pedangku yang tiada bermata ini sampai menembus dadamu...!"

"Aku sudah bersiap segala-galanya, sobat...!

Kau tak perlu ragu...!"

"Kalau itu maumu, terimalah...!" Sebat sekali permainan pedang Panglima Kerajaan ini. Sebentar saja pedang di tangannya berputar cepat. Sinar putih bergulung-gulung disertai sambaran angin dingin menggigit. Beberapa saat setelahnya sinar pedang telah mengurung tubuh si pemuda dari berbagai penjuru. Dengan mempergunakan jurus si Jadah Terbuang, pemuda ini masih mampu menghindari sambaran senjata yang begitu ganas.

"Cabutlah senjatamu, sobat...!"

Dalam keadaan mendesak lawannya, sekali lagi Panglima Nawang sempat memberi peringatan.

"Hiiih...!"

Sebagai jawabannya pemuda Raja dari Negeri Alam Gaib ini, merobah jurus-jurus silatnya dengan jurus Koreng Seribu.

"Heiiit...!"

Terlihat gerakan Buang Sengketa semakin lamban bagai tanpa tenaga. Pada saat itu Panglima Nawang mengira pihak lawannya telah terkuras tenaganya. Tak pelak lagi orang inipun babatkan senjatanya ke arah bagian tangan lawan dengan maksud membabat putus.

Wuuuut...!

Jemari tangan si pemuda malah mengibas dengan satu hentakan.

"Creeep...!"

Pedang di tangan lawannya melekat sedemikian erat pada jemari tangan Buang Sengketa. Panglima Nawang yang nampak terkejut berusaha menarik senjatanya. Aneh sekali, semakin kuat Panglima Perang ini berusaha menarik balik senjatanya. Maka dia merasakan tenaganya malah tersedot dan mengalir lepas senjatanya, semakin banyak dia mengerahkan tenaga. Senjata di tangan Panglima ini telah berpindah tangan. Tanpa diduga lawan melakukan satu totokan telak pada bagian urat geraknya.

Tuuk...!

Panglima Perang Kerajaan Datuk Lima merasakan tubuhnya mendadak menjadi kaku. Buang Sengketa tersenyum mencibir, sementara wajah sang Panglima sebentar memerah sebentar berobah pucat.

"Lihatlah Panglima yang gagah! Betapa andai aku mau membuntungi kepalamu, pekerjaan itu tidak terlalu sukar untuk kulakukan...!" desis si pemuda.

Mengetahui Panglimanya dapat ditawan oleh si pemuda. Berpuluh-puluh prajurit pemanah telah bersiap-siap untuk membela atasannya.

"Orang-orangmu hendak berbuat konyol, Panglima...! Suruh mereka simpan busurnya! Kalau tidak dirimu sendiri yang akan kujadikan tameng...!" ancamnya tanpa maksud main-main.

"Hei kalian semua, jangan memanah...! Mundur... mundur kataku orang-orang tolol...!" bentak Panglima Nawang dengan wajah pucat pasi. "Tapi... tapi Panglima dalam keadaan bahaya...!" kata salah seorang diantara mereka begi-

tu cemas.

"Kurang ajar...! Kubilang kalian mundurrr...!" gusar bukan alang kepalang Panglima ini demi melihat sikap konyol prajurit-prajurit yang dapat membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Tanpa membantah lagi, puluhan prajuritprajurit pemanah itupun bergerak mundur. Buang Sengketa menoleh ke arah Kuil.

"Puteri Samba...! Perang telah usai. Turunlah kemari...!" teriaknya.

Tak lama kemudian setelah suara panggilannya lenyap, maka terlihatlah seorang gadis berpakaian kuning gading berlari-lari menuruni lereng bukit.

"Keadaan sudah aman, Puteri...! Sekarang kita harus membicarakan segala sesuatunya pada Panglima ini...!"

Sebentar Pendekar Hina Kelana memperhatikan Panglima Nawang yang berdiri kaku dalam keadaan tertotok.

"Kakang pikir dia mau membicarakan tentang segala sesuatu yang kakang ketahui...?" kata Putri Samba ragu-ragu.

"Harus mau! Kalau dia tidak ingin melihat Kerajaan Datuk Lima runtuh begitu saja...!"

"Siapakah engkau ini? Ilmu kepandaianmu begitu tinggi...!" tanya si Panglima masih diliputi rasa curiga. Yang ditanya hanya tersenyumsenyum.

"Mengenai siapa aku, kukira tidak begitu penting. Justru yang perlu kau ketahui bahwa saat ini Kerajaan Datuk Lima mungkin dalam keadaan bahaya...!"

"Apa maksudmu...?" tanya Panglima Nawang tiada mengerti.

"Kau bilang, Puteri Raja dan Permaisuri terbunuh...?" ulang si pemuda. Puteri Samba nampak terkejut mendengar kabar itu. "Benarkah itu Panglima...?"

Panglima kerajaan Datuk Lima hanya mengangguk pelan.

"Dan ketika engkau sampai di sini bersama prajurit-prajurit itu, engkaupun melihat Datuk Dua terbunuh pula!"

"Betul...!"

"Apakah kematian mereka dalam keadaan yang sama...?" tanya si pemuda penuh selidik.

"Untuk apa kau tanyakan itu...?" Panglima Nawang balik bertanya.

"Kalau engkau ingin Rajamu selamat. Jawab dulu pertanyaanku...!"

"Kematian mereka memang tidak jauh berbeda. Dada ditembus senjata tajam yang sangat berbisa. Dan tubuh mereka hangus serta menebarkan bau busuk."

"Kematian yang sangat menyedihkan, dilakukan oleh tangan yang sama...! Tapi jangan sekali-kali engkau mempunyai prasangka yang bukanbukan kepada kami. Aku hanya ingin membantumu, dan mencari siapa sesungguhnya yang melakukan teror dengan cara di luar batas ini...!" kata si pemuda berusaha meyakinkan.

"Pertama-tama yang ingin kutanyakan padamu, siapakah yang memberi perintah untuk melakukan penangkapan atas diri Datuk Empat...?"

Panglima Nawang nampaknya kurang senang dengan pertanyaan yang diajukan oleh si pemuda.

"Kau bukan seorang mantri penyidik. Sobat...! Pertanyaan yang kau ajukan itu rasanya tidak berguna sama sekali...!" geramnya.

"Engkau sudah menjadi tawananku, Panglima...! Berguna atau tidak yang ku mau jawablah pertanyaanku ini...!"

"Aku menjalankan tugas setiap kali sang Raja memberi perintah padaku...!" jawabnya kemudian.

"Apakah anda punya bukti yang kuat, bahwa Datuk Empat memang benar berniat melakukan pemberontakan...?" komentar si pemuda.

Panglima Kerajaan Datuk Lima kembali gelengkan kepala.

"Kalau begitu perintah penangkapan Datuk Empat berdasarkan atas laporan seseorang, siapakah yang memberi laporan yang sebenarnya hanya berupa fitnahan ini?" tanyanya lebih jauh.'

Panglima Nawang terdiam seribu bahasa. Wajahnya tertunduk seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

"Katakanlah Panglima...!" desak Buang Sengketa merasa sudah tak sabar lagi.

Setelah membuang pandangan matanya jauh-jauh, Panglima Perang ini kemudian menjawab: "Waktu itu yang memberi laporan adalah seorang yang sangat di percaya oleh sang Raja...!"

"Siapa...?"

"Datuk Mahendra, yang tinggal di kota Tiram...!" jawab Panglima Nawang, lesu.

"Jelas! Sejak dulupun aku sudah menduga... manusia keparat itulah yang telah melakukan segala-galanya...!" sergah Puteri Samba begitu geram. "Lalu sekarang ini orang yang bernama Datuk Mahendra itu di mana? Aku tak melihatnya bercokol di kota Tiram...!" ujar Buang Sengketa lebih lanjut.

"Datuk Satu telah mengangkatnya menjadi Penasehat Kerajaan...!"

"Apa...? Telah mengangkat seekor ular menjadi seorang Penasehat Kerajaan? Sebuah kekeliruan yang sangat fatal yang dapat menghancurkan segala-galanya...!" sentak Pendekar Hina Kelana dengan mata membelalak tak percaya.

"Apa maksudmu, sobat...! Aku benar-benar tidak mengerti apa makna pembicaraanmu...?" kata Panglima Nawang begitu polos.

"Panglima, lebih baik anda pulang selekas mungkin ke Kerajaan. Coba selidiki iblis yang bernama Datuk Mahendra itu. Atau kalau perlu, kau tangkap dia...!" kata Puteri Samba begitu serius.

"Tanpa alasan-alasan yang kuat. Mencurigai seorang kepercayaan Raja. Bisa-bisa aku dihukum gantung...!"

"Kau akan menyesal, Panglima...! Perlu kau ketahui saat ini seisi Kerajaan sedang terancam...! Sungguhpun aku masih belum bisa mengungkapkannya secara pasti siapa sebenarnya Datuk Mahendra itu. Tetapi aku merasa yakin dia punya niat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah...!"

"Dapatkah kata-katamu di percaya...?"

"Aku tidak memintamu untuk mempercayai kata-kataku. Yang ku mau coba kau buktikan sendiri mengenai kebenaran kata-kataku...!" sentak Buang Sengketa mendongkol sekali.

"Hemh...! Kalau ternyata apa yang kau katakan itu tidak terbukti, tentu sang Raja tidak akan memperdayaiku lagi...!"

"Jangan bodoh Panglima. Maksudku jangan kau beri laporan pada sang Raja mengenai apa yang kukatakan padamu tadi. Kau selidikilah dulu, kalau perlu kau tangkap Datuk Mahendra kalau apa yang kukatakan ini terbukti. Sekarang lebih baik anda segera kembali ke Kerajaan...!"

"Aku masih punya tugas menghubungi Datuk Tiga! Pula aku harus mencari akal mengenai kegagalanku dalam menangkap kalian...!" kata Panglima Nawang.

"Apakah para prajurit pemanah itu begitu patuh padamu...?" tanya Buang Sengketa.

"Mereka bukan lagi patuh. Tetapi malah selalu berada di pihakku...!"

"Kalau begitu mereka bisa menutup mulut dengan segala kejadian di tempat ini." ujar si pemuda.

"Jadi mengenai Datuk Tiga bagaimana...?" tanya Panglima Nawang.

"Biarlah kami yang akan menghubunginya...! Setelah urusan itu selesai kamipun segera menyusulmu ke Kerajaan Datuk Lima. Pesanku berhati-hatilah menghadapi manusia iblis yang bernama Datuk Mahendra itu...!" kata si pemuda.

Panglima Nawang menganggukkan kepa-

lanya.

"Baiklah kita berpisah sampai di sini dulu,

sobat...! Semoga kita masih ada umur untuk dapat saling bertemu...!"

Setelah berkata begitu. Panglima Nawang berbalik langkah. Tak lama kemudian terdengar derap langkah kaki kuda meninggalkan tempat itu. "Moga-moga Panglima itu mempercayai omongan kakang...!" kata Puteri Samba, lalu tersenyum cerah dan langsung menggenggam erat

jemari pendekar ini.

"Masih banyak yang harus kita selesaikan...! Mari kita pergi...!" ujar Buang Sengketa sambil melangkahkan kaki.

***

7

Panjang sebenarnya merupakan sebuah daerah yang padat penduduk dengan mata pencaharian sebagai nelayan. Penduduknya yang ramah tamah membuat siapapun merasa kerasan tinggal di sana. Melalui desa itu agak ke pedalaman, sebuah rumah yang cukup mewah berdiri kokoh selama hampir puluhan tahun. Setiap orang di daerah itu pasti mengenal pemilik rumah mewah ini. Beliau masih merupakan keturunan Kerajaan Datuk Lima. Orang itu tak lain adalah Datuk Tiga, saudara kandung Datuk Satu yang kini menjadi Kepala Pemerintahan di Kerajaan Datuk Lima. Dia seorang laki-laki berusia lima puluh enam tahun, berkumis serta berjenggot putih dan sepanjang hidupnya belum pernah berkeluarga. Hanya sendiri yang menempati bangunan besar yang serba mewah ini, wataknya pendiam dan acuh terhadap semua orang, namun memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, Datuk Tiga tahu betul tentang sejarah Kerajaan Datuk Lima mulai dari jaman nenek moyang hingga pada kejadian yang sekecilkecilnya. Laki-laki bertubuh semampai ini selamanya paling tak suka dengan segala urusan yang berbau pemerintahan Kerajaan. Itulah sebabnya selama hampir tiga puluh tahun beliau belum pernah sekalipun mengunjungi saudara tuanya yang memerintah di Kerajaan Datuk Lima. Hanya sesekali saja pabila malam hari Datuk Tiga yang memiliki watak aneh ini mengunjungi dua saudaranya yang lain. Yaitu Datuk Dua dan Datuk Empat.

Tak urung beliau menjadi sangat kecewa dan sedih ketika mendengar berita tentang kematian saudaranya, yaitu Datuk Empat yang tewas di tiang gantung. Dengan tuduhan yang sangat menyakitkan pula. Siang malam dia hampir tidak dapat memejamkan mata walau sekejappun. Kematian Datuk Empat terasa benar memukul perasaannya. Bagaimana tidak, sejak kecil Datuk Empat adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Bila dibandingkan dengan dua orang saudaranya yang lain. Kemanapun mereka selalu bersamasama. Saat bermain-main, saat tidur mereka tak pernah terpisah. Pabila teringat kenangan masa kecil dulu, ingin sekali dia datang ke Kerajaan Datuk Lima untuk meminta pertanggung jawaban atas kematian Datuk Empat pada saudara tuanya. Namun hal itu tak pernah dilakukannya. Sebab dia pernah bersumpah untuk tidak menginjak Kerajaan Datuk Lima. Selama Kepala Pemerintahannya tidak mau bekerja sama dengan saudarasaudaranya yang lain.

Kini laki-laki bertubuh jangkung itu nampak berjalan mondar mandir mengitari kamar ruangan tengah. Wajahnya sebentar menunduk, sekejap kemudian telah pula membasah oleh air mata. Entah apa yang membebani perasaannya saat itu. Tiba-tiba dia menghempaskan tubuhnya di atas permadani yang begitu tebal lagi lebar. Beberapa saat dipandanginya langit-langit ruangan itu.

"Adikku Datuk Empat telah pergi! Orang yang paling baik dalam hidupku telah tiada. Aku tak tahu kemana perginya Puteri Samba! Kasihan anak itu, ibunya telah tiada. Semestinya aku membawanya kemari, tetapi dia menghilang ketika aku sampai tak seorangpun kulihat di sana, tidak juga para pembantu Datuk Empat...! Kini kudengar pula Permaisuri Raja dan Puterinya tewas terbunuh. Aku mulai mengkhawatirkan pasti ada sesuatu yang tak beres telah terjadi di Kerajaan. Seluruh keturunan Datuk Lima mungkin saja terancam kehancuran. Tetapi untuk datang ke kota Raja memberi kabar tentang keadaan itu. Aku tak sudi, apalagi Datuk Satu telah menghukum orang yang paling dekat denganku. Aku tak mau perduli apapun yang akan terjadi dengan kerajaan Datuk Lima, andai aku belum dapat berjumpa dengan Puteri Samba...!" gumamnya dalam hati.

Datuk Tiga bangkit berdiri, saat itu hari telah menjelang senja. Apa yang ingin dilakukannya adalah mengurung diri di dalam kamarnya, itulah kebiasaan yang selalu dilakukannya selama ini. Namun baru saja beberapa tindak dia melangkah, terdengar daun pintu depan diketuk oleh seseorang.

"Heran! Hampir lima tahun aku tak menerima tamu. menjelang malam begini ada orang yang mengetuk pintu. Apakah mungkin Puteri Samba keponakanku itu yang datang...?" batin Datuk Tiga sambil melangkah ke arah pintu.

"Siapa...!" tanya Sang Datuk ketika sampai di depan pintu.

"Saya, Datuk...! Cepatlah buka pintunya...!" jawab seseorang dari luar sana.

"Saya siapa...?" tanya Sang Datuk curiga. "Dari kota Tiram, ingin membicarakan se-

suatu yang sangat penting pada Datuk...!" jawab orang di luar, mendengar suaranya. Nampaknya orang yang berada di depan pintu luar dalam keadaan tergesa-gesa. Meskipun Datuk Tiga merasa curiga, namun akhirnya dibuka juga kunci pintu. Laki-laki berjanggut putih ini sedikit terkejut begitu melihat tamunya memakai sebuah topeng. Datuk Tiga cepat menjaga jarak sambil memperhitungkan segala sesuatunya.

"Kau siapa...?" tanya Datuk Tiga dengan pandang penuh selidik.

Yang ditanya hanya mendengus.

"Aku hanya seorang utusan Datuk...!" desis wajah di balik topeng itu begitu sinis.

"Utusan...? Utusan siapa...?" sentak Datuk Tiga, lalu melangkah mundur tiga langkah. Si orang bertopeng kembali mendengus.

"Utusan orang penasaran yang selama berpuluh-puluh tahun begitu mendendam pada seluruh keturunan Raja Datuk Lima...!"' cibir orang itu, sementara sepasang matanya yang tidak tertutup topeng nampak berkilat-kilat memandang tajam pada Datuk Tiga. Laki-laki berjanggut putih mengerutkan alisnya yang keriput. Orang bertopeng itu mengatakan dirinya sebagai utusan orang penasaran yang telah berpuluh tahun mendendam pada keturunan Datuk Lima. Siapakah dia, seingatnya keluarga Datuk Lima tak mempunyai seorang musuhpun? Hemm... mungkinkah orang itu...? Gumam Datuk Tiga.

"Datuk Tiga...! Sepanjang sejarah Kerajaan, hanya engkaulah yang mengetahui segala sesuatu yang pernah terjadi di Kerajaan Datuk Lima. Engkaulah yang menjadi kunci segala-galanya. Kurasa engkau tahu dan mengenal suaraku, Datuk Tiga...?" tanya si orang bertopeng. Mendadak suaranya telah berubah menyeramkan. Datuk Tiga terperangah. Dia merasa kenal betul dengan suara itu. Tapi bukankah orang itu telah mati dan terkubur di tengah-tengah Hutan Bakau bersama-sama keluarganya?

"Jalak Beracun...! Bukankah engkau telah mati beberapa puluh tahun yang lalu?" tanya Datuk Tiga tak percaya.

"Ha... ha... ha...! Jasadku boleh mati Datuk, tetapi rohku tetap hidup selamanya. Dulu aku memang gagal membasmi seluruh keluarga Kerajaan. Tetapi seseorang telah membangkitkan aku. Ya, orang yang berdiri di hadapanmu inilah yang telah berhasil membangkitkan tidurku. Kini aku telah menyatu dengannya. Kerajaan berikut seluruh keluarga Kerajaan termasuk engkau akan ku binasakan seluruhnya. Tak seorangpun mampu menghalang-halangi diriku...!"

Lemas seluruh persendian Datuk Tiga, wajahnya kian pucat. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Masih dapat dia bayangkan betapa Jalak Beracun dulunya masih merupakan adik tiri ayahandanya. Berambisi ingin menguasai tahta Kerajaan. Ilmunya sangat tinggi luar biasa. Lebih dari itu, dia memiliki sebuah pedang Intan yang sangat beracun. Tetapi akhirnya dalam suatu pertempuran sengit Jalak Beracun dan ayahandanya sama sama terluka. Dua-duanya tewas pada saat itu juga. Kalau kini Jalak Beracun muncul kembali adalah sosoknya yang lain, hal ini benar-benar di luar dugaannya.

"Sekarang engkau sudah ingat siapa aku, Datuk Tiga...?" desis si orang bertopeng begitu dingin.

"Aku mengenalmu sebagai adik tiri ayahandaku yang serakah dan selalu bermimpi yang muluk-muluk. Sekarang engkau memperalat orang lain untuk membunuh seluruh keturunan Datuk Lima, sungguh kau merupakan seorang pengecut yang paling menjijikkan...!" kata Datuk Tiga dengan wajah merah padam. "Keparat...! Aku tak pernah memperalatnya. Dia sendiri mempunyai tujuan yang sama dengan tujuanku dulu...! Aku hanya membantu kekuatannya...!" dengus si orang bertopeng, lalu menghentakkan kakinya di atas tanah. Tanah itu nampak berlubang dan mengepulkan uap putih. Dapat dibayangkan betapa laki-laki bertopeng memiliki tenaga dalam yang tiada terukur.

"Gila. Aku tak mungkin bisa menang menghadapi Jalak Beracun. Moga-moga saja orang bertopeng ini tidak membawa serta pedang Intan yang sangat berbisa itu...!" batin Datuk Tiga begitu waswas.

"Keturunan Datuk Lima...! Kurasa segalanya telah menjadi jelas. Sekarang serahkanlah nyawamu...!"

"Heaaah...!"

Cepat sekali gerakan laki-laki bertopeng itu, tahu-tahu sepuluh jari tangannya telah menderu ke arah bagian wajah Datuk Tiga. Terasa ada sambaran angin dingin yang begitu menggigit menerpa wajah Datuk Tiga. Dengan gesit dia melompat keluar halaman rumahnya. Si laki-laki bertopeng terus memburu sambil hantamkan satu pukulan jarak jauhnya. Angin kencang yang mengandung hawa dingin luar biasa menderu memburu Datuk Tiga. Menyadari pukulan yang dilepaskan oleh lawannya mengandung racun yang ganas, Datuk Tiga lempar tubuhnya ke samping, kemudian langsung bergulingan di atas tanah.

"Dweeer...!"

Pukulan itu luput dan menghantam pohon yang terletak di belakang Datuk Tiga. Pohon itu tidak tumbang. Tetapi daun-daunnya langsung layu dan runtuh seketika itu juga. Datuk Tiga terkejut bukan alang kepalang. Laki-laki bertopeng tergelak-gelak, lalu kembali hantamkan tangannya ke arah Datuk Tiga. Angin kencang yang disertai sinar kebiru-biruan kembali menderu. Datuk Tiga tidak tinggal diam, atau hanya sekedar berkelit menghindar. Kali itu dengan mempergunakan seluruh tenaga dalamnya dia melepaskan sebuah pukulan sakti pula.

"Wuuus...!"

Selarik sinar pelangi nampak menyongsong datangnya sinar biru yang dilepaskan oleh lawannya. Tak terelakkan lagi, dua kekuatan sakti saling bertubrukan di udara.

"Blaaam...!"

Terdengar suara mengekeh saat mana suara ledakan yang serasa menggoncangkan bumi itu terjadi. Tubuh laki-laki bertopeng itu hanya tergetar saja, sementara tubuh Datuk Tiga terpelanting roboh, wajahnya pucat pasi, nafas tersengal tiada beraturan. Sedangkan dari celah-celah bibirnya nampak pula mengalir darah kental kehitamhitaman.

"Gila! Tenaga dalamnya hebat luar biasa. Dia pasti telah melepaskan pukulan beracun. Tubuhku terasa kaku dan tak bisa digerakkan...!" desis Datuk Tiga.

"Hak... kek... kek... kek...! Pertarungan seri hanya terjadi sekali dalam hidupku. Kau bukan lawanku Datuk Tiga...! Kini tibalah saatmu untuk mati...!" geram wajah di balik topeng. Pelan namun cukup pasti orang yang dirasuki roh Jalak Beracun ini meraba bagian pinggangnya.

"Sriing...!"

Pedang itu kini telah tergenggam di tangan si laki-laki bertopeng.

"Pedang Intan...!" seru Datuk Tiga dengan mulut terperangah. "Senjata beracun itu tak mungkin dapat ku tahan...!" kata Datuk Tiga, sementara matanya tak pernah lepas dari pedang di tangan lawan yang memancarkan cahaya putih laksana perak.

"Kau pasti gentar menghadapi senjataku, Datuk...!" begitu dingin suara si laki-laki bertopeng membuat bulu tengkuk sang Datuk meremang. "Tak seorangpun dapat mengatasi senjata ini...! Kau memang pantas mati, Datuk Tiga...!"

"Haiiit...!"

Didahului dengan jeritan menggelegar, lakilaki bertopeng menghunuskan senjatanya mengarah pada bagian perut Datuk Tiga yang sudah tiada memiliki kekuatan untuk menggerakkan tubuhnya. Namun pada saat-saat menegangkan itu, mendadak berkelebat bayangan merah dengan senjatanya yang berwarna merah pula.

"Traaang...!"

Si laki-laki bertopeng terhuyung tiga tindak ke belakang. Sedangkan bayangan merah tadi jatuh bergulingan, namun cepat bangkit kembali.

"Puteri Samba...! Cepat kau bantu Datuk Tiga...!" teriak si pemuda berpakaian merah sambil memperhatikan ke satu tempat. Seorang gadis berpakaian kuning gading muncul, berteriak histeris dan langsung memapah tubuh Datuk Tiga dan membawanya masuk ke dalam rumah.

"Kau...!" desis wajah di balik topeng itu nampak terkejut. "Senjatamu lumayan hebat. Kau telah membantunya untuk melakukan pemberontakan. Kau harus mampus di ujung pedang Intan...!"

"Sekarang sedikit banyaknya aku sudah mulai mengerti, iblis mana yang berada di balik topeng itu. Jahanam...! Kau telah membuat sengsara banyak orang...!" bentak Buang Sengketa.

Akhirnya tanpa banyak bicara lagi, Buang Sengketa hantamkan senjatanya saat mana lakilaki bertopeng itu menyerangnya dengan dua tusukan menjurus ke bagian dada dan perutnya.

Sinar merah dan sinar putih nampak berkelebat-kelebat dalam kegelapan malam. Sekali dua. Dua senjata yang sangat ampuh ini saling berbenturan. Terkadang laki-laki bertopeng nampak menyerang si pemuda dengan gerakan-gerakan yang aneh. Namun tak kalah cepatnya si pemuda selalu berhasil mematahkan serangan si laki-laki bertopeng yang dirasuki roh Jalak Beracun.

Sekejap saja pertempuran telah mencapai lebih dari tiga puluh jurus, tetapi masih belum terlihat tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan itu. Masing-masing lawan nampaknya menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Hingga pada satu kesempatan, laki-laki bertopeng ini membentak marah. Tubuhnya nampak berkelebat cepat. Sekejap saja dia mulai merangsak lawannya dengan serangan senjata yang tiada putus-putusnya. Buang Sengketa terkurung oleh gulungan sinar putih yang menimbulkan udara dingin menggigit.

"Hiyaaaa...!"

Sekali saja menjejakkan kakinya di atas tanah, dengan menggunakan jurus Si Jadah Terbuang. Maka tubuh si pemuda telah terbebas dari kepungan sinar putih yang mengurung dirinya. Senjata Golok Buntung yang berada dalam genggaman tangannya menderu dan timbulkan suara bercuitan. Sinar merah berkelebat mendominasi sinar putih. Udara dingin semakin bertambah dingin sekali.

"Haiiit...!" Traaang!

Terlihat bunga api berpijar manakala dua senjata sakti yang dialiri tenaga dalam tinggi saling berbenturan. Sekali lagi si laki-laki bertopeng bersurut langkah. Tubuh si pemuda terhuyunghuyung. Tetapi diapun tak kehilangan semangat, langsung mengebrak kembali dengan babatkan senjata di tangannya. Dalam pada itu yang menjadi lawannya mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, kemudian melemparkannya ke arah si pemuda.

"Buuum...!"

Terdengar satu letupan kecil, yang menimbulkan asap tebal. Buang Sengketa terbatukbatuk. Tetapi matanya tetap memandang ke depan. Begitu asap penghilang jejak itu sirna, dilihatnya lawan sudah tak berada lagi di depannya. Buang Sengketa yang sudah berada dalam kemarahan ini bermaksud melakukan pengejaran. Namun sebuah suara dari dalam rumah memanggilnya.

"Kakang Kelana...! Cepatlah kemari." teriak Puteri Samba. Buang Sengketa menoleh sebentar, lalu bergegas menghampiri Puteri Samba.

"Ada apa?" tanya si pemuda setelah berada di depan Puteri Samba.

"Uwa Datuk terluka dalam! Nampaknya terkena pukulan beracun...!" ujar Puteri Samba nampak begitu cemas.

"Bagaimana, apakah nafasnya masih ada...?"

"Masih, kakang. Tetapi keadaannya sudah sangat payah sekali...!"

"Coba mari kita lihat."

Dengan tergesa-gesa Buang dan Puteri Samba segera memasuki rumah yang berukuran besar itu. Di atas permadani tubuh Datuk Tiga nampak tergeletak tiada daya. Si pemuda langsung menghampiri. Tak lama setelahnya diapun telah mulai memeriksa denyut nadi Datuk Tiga.

"Nampaknya uwamu masih dapat diselamatkan. Untung beliau memiliki tenaga dalam yang lumayan. Andai tidak mungkin jiwanya sudah sejak tadi berlalu...!" kata si pemuda tanpa maksud melucu. Dengan cepat dia keluarkan senjata andalannya. Senjata maut itu tetap memancarkan sinar merah menyala. Selanjutnya si pemuda menggores telapak kaki Datuk Tiga. Nampak darah kental kehitam-hitaman mengalir dari luka yang dibuat oleh si pemuda. Sekali lagi Buang Sengketa menempelkan senjata pada luka itu sambil menyalurkan tenaga dalamnya. Demikianlah keadaan itu terus berlanjut. Barulah setelah darah yang mengalir keluar berwarna sebagaimana mestinya. Buang Sengketa menarik balik senjatanya.

"Masa-masa kritis sudah lewat. Sebentar lagi mungkin dia sudah siuman...!"

"Kakang, siapakah orang bertopeng itu...?" tanya Puteri Samba, beberapa saat setelah memperhatikan Datuk Tiga yang sudah mulai siuman.

"Dialah yang menyebabkan kematian orang tuamu, Datuk Dua, juga Permaisuri dan Puteri Raja. Puteri Samba, tetaplah engkau berada di tempat ini. Aku akan mengejar bajingan itu ke kota Raja...!" kata Buang Sengketa memutuskan.

Kemudian tanpa menunggu persetujuan Puteri Samba. Pendekar dari Negeri Bunian ini langsung melangkah pergi.

"Hati-hati, kakang...!" ujar si gadis merasa khawatir atas keselamatan Buang Sengketa

***

8

Kematian Puteri dan Permaisurinya benarbenar membuat sang Raja menjadi berduka. Hampir sepanjang hari beliau mengurung diri di dalam kamarnya. Siang itu di atas singgasananya, Datuk Satu kelihatan sangat muram sekali, saat seperti itu sesungguhnya beliau merasa enggan untuk mengadakan pertemuan dengan para pembesarpembesarnya. Namun karena pertemuan kali ini dianggap cukup penting. Maka mau tak mau beliau harus menghadirinya juga.

Sebagaimana biasanya dalam pertemuan itu hadir, Patih Dahana, Panglima Nawang tak ketinggalan Menteri Penasehat Kerajaan Datuk Mahendra. Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi hening ketika Datuk Satu memperhatikan para abdinya satu demi satu dengan perasaan curiga.

"Hari ini kulihat para pembesar-pembesar Kerajaan berkumpul semua. Apapun yang ingin kuketahui adalah mengenai usaha anda semua dalam mencari orang yang telah membunuh Permaisuri dan Puteriku. Bagaimana pendapatmu, Datuk Mahendra...?" tanya sang Raja. Sekejap beliau kembali memandang ke arah Datuk Mahendra yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya. Yang ditanya langsung memberi hormat dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

"Ampun Yang Mulia! Bukankah sebagaimana biasanya orang yang bertugas mencari seseorang yang dicurigai telah melanggar hukum berada di pihak Patih Dahana dan juga Panglima Nawang...!" jawab Datuk Mahendra tanpa berani menoleh pada orang-orang yang dimaksudkannya.

"Hemm. Aku tahu hal itu...! Tetapi bukankah beberapa hari yang lalu, aku juga memberimu tugas untuk melakukan penyelidikan, Menteri Penasehat...?" sentak Sang Raja seperti ada sesuatu yang sedang mengganjal perasaannya.

"Maaf Yang Mulia...! Mengenai tugas Yang Mulia berikan itu telah hamba laksanakan. Dua hari hamba melakukan penyelidikan jauh di luar kota. Bahkan hamba telah sampai di Pesisir untuk menjumpai Datuk Dua dan meminta pendapatnya. Tetapi ketika hamba sampai di sana, Datuk Dua telah pula tewas dalam keadaan yang sama seperti apa yang dialami oleh Yang Mulia Permaisuri dan Puteri...!"

"Apa...? Saudaraku Datuk Dua juga tewas oleh tangan yang sama...?" tanya Sang Raja, semakin bertambah gusar. "Apakah engkau juga pergi ke Panjang menjumpai saudaraku Datuk Tiga...?" tanya Datuk Satu lebih lanjut.

Penasehat Kerajaan itu menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian dengan sangat hati-hati dia berkata: "Ketika hamba sampai di kediaman Datuk Tiga itulah hamba mendapati sesuatu yang tak pernah hamba duga sebelumnya...!"

"Coba katakan lebih jelas lagi, Datuk Mahendra...!" perintah Sang Raja.

"Maafkanlah hamba beribu kali maaf, Yang Mulia Paduka Raja...! Saat sampai di sana hamba melihat Datuk Tiga sedang terlihat pertengkaran dengan seorang pemuda dan Puteri Samba. Orang itu kemudian terlihat pertempuran. Nampaknya Datuk Tiga terluka parah saat itu, tetapi hamba tidak berani bertindak gegabah karena hamba lihat pemuda itu memiliki kepandaian tinggi sekali...!"

"Kurang ajar! Jadi Puteri Samba telah berkomplot dengan pemuda itu...! Kuat dugaanku. Puteri Samba pasti ingin membalas dendam atas kematian ayahandanya. Lalu apa yang akan kita lakukan...?" tanya Sang Raja. Kemudian memandangi para abdi-abdinya satu persatu.

Suasana ruangan pertemuan kembali menjadi sepi. Masing-masing orang tenggelam dalam pikirannya. Lain lagi halnya dengan Panglima Nawang. Apa yang diceritakan oleh Datuk Mahendra itu membuat hatinya menjadi bimbang. Menurut pengakuan Datuk itu, dia pernah datang dan melihat kematian Datuk Dua di Pesisir sana, kemudian melihat pula Buang Sengketa sedang bertarung melawan Datuk Tiga. Mungkinkah katakatanya ini dapat dipercayai? Jangan-jangan Datuk Mahendra merupakan musuh di dalam selimut. Sebab satu yang diingat oleh Panglima Nawang, selama ini dia tahu betul kalau Datuk Empat merupakan adik kesayangan Datuk Tiga, begitupun dia begitu menyayangi keponakannya. Pemuda itu datang ke Panjang, hal ini diketahui oleh Panglima Nawang. Tak mungkin Puteri Samba memusuhi uwanya sendiri. Apalagi sampai meminjam tangan pendekar itu. Jangan-jangan Datuk Mahendra sendirilah yang memerangi Datuk Tiga!

Diam-diam kecurigaan Panglima Nawang semakin membuncah.

"Baginda...! Walaupun kita berusaha menangkap ke dua orang itu, kemudian menjatuhkan hukuman kepadanya. Tetapi kita tidak boleh lalai dengan musuh dalam selimut!" kata Datuk Mahendra, memecah keheningan. Bagai disengat kalajengking, Panglima Nawang terlonjak. Sebentar wajahnya tertunduk itu nampak memucat. "Akal iblis mana lagi yang akan dipergunakan oleh Menteri Penasehat Kerajaan ini,"

"Maksud Datuk Mahendra bagaimana...?" tanya Baginda Raja tercengang.

Sebelum menjawab Datuk Mahendra nampak melirik ke arah Panglima Nawang.

"Maaf Baginda! Terkadang musuh dalam selimut lebih berbahaya dari pada musuh yang menyerang secara terang-terangan. Coba saja Baginda pikir, mungkinkah orang yang telah membunuh Permaisuri dam Puteri bisa mengetahui secara pasti di mana letaknya ruangan pribadi Permaisuri dan Puteri Kenanga andai tidak ada orang dalam yang bersedia berkomplot dengan pemuda itu...!" sela Menteri Penasehat Kerajaan.

"Heh... betul juga! Tapi menurutmu mungkinkah diantara pembesar Kerajaan ada yang coba-coba berkhianat?"

"Kemungkinan itu selalu ada, Baginda!" "Kalau begitu apa yang menjadi tujuannya

sehingga orang itu mau berkomplot dengan buronan kita...!"

Datuk Mahendra rangkapkan ke dua tangannya, kemudian membungkuk hormat. Sementara suasana pertemuan itu berobah menjadi panas. Baik Patih maupun Panglima Nawang semakin geram saja melihat ulah Datuk Mahendra nampak mulai mengacaukan suasana.

"Baginda! Beberapa hari yang lalu, orang penting Kerajaan bersama puluhan prajurit pemanah melakukan pencarian atas diri Puteri Samba dan pemuda itu. Mereka juga saat itu sebenarnya telah bertemu dengan para buronan, bahkan sempat terlihat pertempuran sengit. Tapi entah mengapa, pada saat buronan kita hampir tertangkap. Pembesar kita malah melakukan perundingan...!"

"Apaa...? Dan siapakah orangnya...?" "Dialah Panglima Nawang, Baginda...!" kata

Datuk Mahendra tanpa ragu-ragu lagi.

Merah padam wajah Panglima Nawang mendengar kata-kata yang berupa fitnah busuk dari Menteri Penasehat celaka itu. Diapun bangkit berdiri. Andai saja tidak dilerai oleh Patih Dahana yang juga merasa terperanjat atas pengaduan itu. Sudah tentu diterjangnya Datuk Mahendra.

"Kau telah melakukan fitnah yang begitu keji, Datuk...! Sengaja kau hancurkan istana Datuk Lima dengan cara mengadu domba dengan berbagai tipu muslihatmu...!" geram Panglima Nawang.

"Benarkah apa yang dikatakan oleh Datuk Mahendra itu, Panglima?" tanya Sang Raja setengah tak percaya.

"Dia pembohong Paduka! Orang ini benarbenar ingin menghancurkan keturunan Raja Datuk Lima. Aku mendengarnya sendiri dari Puteri Samba...!" teriak Panglima Nawang dalam kegusarannya.

"Lihatlah. Betapa dia telah berhubungan dengan Puteri Samba. Paduka, apakah itu bukan merupakan bukti, bahwa kata-kata hamba betul adanya...!" tukas Datuk Mahendra. "Ringkus dan gantung, Panglima penghianat ini...!" teriak Datuk Satu dengan kemarahan meluap-luap.

Beberapa orang prajurit yang berada di depan pintu ruangan pertemuan bermunculan. Langsung mengurung Panglima Nawang dengan senjata terhunus. Bahkan Datuk Mahendra sendiri ikut ambil bagian. Diantara para pembesar yang hadir di situ, hanya Patih Dahana sendiri yang tidak ambil bagian dalam meringkus Panglima Nawang. Dia merasa tak yakin kalau Panglima Nawang mau berkomplot dengan Puteri Samba. Patih Kerajaan yang berumur hampir enam puluh tahun ini tahu betul bagaimana watak Panglima Nawang. Kalaupun Panglima ini bersedia bicara dengan Puteri Samba, pasti ada sesuatu yang sangat penting yang mungkin sangat perlu disampaikan pada Panglima ini. Itu makanya untuk tidak menarik perhatian, Patih Dahana berpura-pura melindungi Sang Raja.

Sementara itu posisi Panglima Nawang nampak semakin terdesak, walau bagaimanapun dia tak ingin melukai prajurit-prajurit Kerajaan yang rata-rata begitu setia padanya.

"Panglima penghianat! Lebih baik kau menyerah saja...!" perintah Datuk Mahendra.

"Aku tak akan pernah menyerah padamu, Datuk keparat...!" teriak Panglima Nawang.

"Panglima Nawang kuperintahkan padamu untuk menyerah...!" kali ini yang memerintah adalah Datuk Satu. Walau bagaimanapun sekeraskerasnya Panglima Perang ini, namun begitu mendengar perintah Raja. Dia langsung takluk dan menyerah.

"Ringkus...!" perintah Datuk Satu.

Karena Panglima Nawang tidak melakukan perlawanan maka dengan mudah saja dia kena diringkus.

"Penjarakan dia untuk sementara waktu...!" Dengan diantar oleh Patih Dahana, Pangli-

ma Kerajaan ini kemudian digiring menuju ruangan penjara. Sementara Datuk Mahendra dan Sang Raja masih tetap berada di atas singgasananya dengan ditemani oleh Datuk Mahendra terus melanjutkan pembicaraan. Tak lama kemudian Panglima Nawang telah dimasukkan ke dalam sel penjara.

Seusainya prajurit-prajurit meninggalkan ruangan penjara. Nampak Panglima Nawang sedang terlihat pembicaraan serius dengan Patih Dahana.

"Benarkah apa yang dikatakan oleh Datuk Mahendra itu, Nawang...?" tanya Patih Dahana dengan suara berbisik.

"Selama ini paman Patih tahu bagaimana watakku, kehidupanku dan segala-galanya tentang hidupku. Tak ada sedikitpun di hatiku terlintas ingin berkomplot dengan Puteri Samba. Aku bukan manusia sepengecut itu. Kalau aku mau melakukan seperti apa yang dituduhkan pada diriku, bagiku hal ini sangat mudah. Semua prajurit-prajurit yang ada di istana ini ada di pihakku, bukan di pihak Baginda Raja...!" katanya tanpa emosi.

"Tapi benarkah engkau pernah bentrok dengan pemuda dan Puteri Samba...?" tanya Patih Dahana penuh pengertian.

"Aku memang pernah bentrok dengan pemuda itu paman. Tetapi dengan satu perjanjian andai aku menang bertarung dengannya, maka dia akan menyerah begitu juga dengan Puteri Samba. Tetapi jika aku kalah, maka harus bersedia mendengar apa yang ingin disampaikannya. Ternyata pemuda itu memiliki ilmu yang sangat tangguh. Aku kalah dalam pertarungan itu. Dengan terpaksa aku harus mendengarkan segala apa yang kemudian disampaikannya padaku. Paman hanya padamu aku menaruh harap, andai aku esok mati di tiang gantungan. Tolong lindungilah Paduka Raja, bukti bagiku telah cukup bahwa sesungguhnya Datuk Mahendra ingin menggulingkan pemerintahan yang sah...!" kata sang Panglima sendu. Hati Patih Dahana jadi tersentuh, tetapi nampaknya diapun tak mempunyai kekuatan untuk melawan Datuk Mahendra yang begitu dipercaya oleh Sang Raja.

"Panglima apakah tidak ada kemungkinan jalan lain bagimu untuk meloloskan diri!" ujar Patih Dahana dengan suara begitu lirih.

"Aku bukan manusia sepengecut itu, paman...! Aku rela mati demi sebuah kebenaran." desah Panglima Nawang lugas.

"Tetapi bagaimana dengan dirimu...?" "Jangan hiraukan diriku, paman...! Yang

penting, lindungi Raja. Perketat penjagaan di sekitar kamarnya. Aku yakin si bangsat Mahendra pasti akan datang untuk membunuh Sang Raja...!" "Nawang...! Kita lebih baik memberontak dan menghancurkan Datuk Mahendra...!" sentak Patih Dahana saking geramnya.

"Jangan! Aku masih menunggu kedatangan pendekar itu. Aku begitu mempercayai janjinya...!"

"Bagaimana aku bisa mengenalinya seandainya dia benar-benar kemari...?" tanya Patih Dahana.

"Gampang paman, pemuda itu berpakaian merah. Di pinggangnya menggelantung sebuah periuk, sedangkan bagian rambutnya di kuncir sebatas bahu...!"

"Kalau begitu aku akan melakukan penjagaan tersembunyi setiap malam...!"

"Panglima, baiknya pintu ini tak usah dikunci. Aku akan memberitahu beberapa penjaga. Kalau sewaktu-waktu aku membutuhkanmu...! Maka aku akan memanggilmu dengan tiga kali suitan..." kata Patih Dahana.

"Aku sudah paham paman...! Sekarang paman pergilah...! Berlama-lama paman di sini bisa dicurigai oleh Datuk Mahendra!"

"Baiklah, Panglima. Hati-hatilah kau menjaga diri...! pesan Patih Dahana, lalu bergegas pergi.

*** 9

Beberapa prajurit penjaga nampak hilir mudik mengitari halaman depan dan belakang istana. Sementara itu hampir di setiap sudut nampak beberapa prajurit lainnya dengan senjata siap di tangan terus mengamati suasana di dalam dan di luar tembok benteng istana. Di sebuah tempat yang tidak terlihat oleh siapapun Patih Dahana terus memperhatikan bangunan rumah yang ditinggali oleh Datuk Mahendra.

Suasana hening mencekam mewarnai seluruh penghuni istana. Masih untung sore tadi Patih Dahana berhasil membujuk Sang Raja untuk mengosongkan kamar tidurnya. Bahkan beberapa jam kemudian kamar peraduan Raja digantikan oleh seorang prajurit yang begitu rela menghadapi resiko apapun. Ketika hati Patih Dahana sedang diliputi suasana tegang. Tiba-tiba dia melihat lampu bagian belakang rumah Datuk Mahendra padam. Tak terlihat sesuatu apapun di belakang sana. Patih Dahana langsung melompat ke atas genteng dengan posisi menelungkup serendah mungkin.

"Mungkin kali inilah aku dapat membuktikan apa yang telah dikatakan oleh Panglima Nawang. Mudah-mudahan malam ini dia muncul dengan sepak terjangnya. Kalau hal itu dilakukannya, itu sama saja artinya dia benar-benar hendak melakukan bunuh diri." batin Patih Dahana harapharap cemas. Tepat seperti dugaannya, tak berapa lama setelahnya dari atas genteng rumah yang didiami oleh Datuk Mahendra, nampak muncul sosok bayangan berpakaian serba hitam. Bayangan itu dengan gerakan yang sangat ringan langsung melompat ke atas genteng yang menuju Kerajaan. Sosok bayangan itu terus bergerak cepat menuju kamar peraduan Raja yang terletak di bagian belakang. Mengherankan sekali, para prajurit ronda yang begitu banyak dan mondar-mandir di bawah sana tidak melihat kehadiran si orang bertopeng ini.

"Kini saatnyalah aku bertindak...!" gumam Sang Patih. Kemudian dari arah yang sama Patih Dahana terus mengikuti laki-laki bertopeng tadi. Suatu saat mungkin si orang bertopeng merasakan seperti ada sesuatu yang membuatnya curiga. Secara reflek dia berbalik, maka terlihatlah olehnya kehadiran orang lain di tempat itu. Orang ini melangkah mundur dan bermaksud melarikan dir. Mengetahui gelagat kurang baik, Patih Dahana membentak:

"Berhenti…! Siapakah kau... menyerah atau orang-orang di bawah sana akan menghujanimu dengan anak panah...!" teriakan Patih Dahana cukup keras, membuat prajurit-prajurit jaga tersentak kaget, kemudian langsung berloncatan di atas genteng istana

"Prajurit! Kepung kunyuk yang telah membunuh Permaisuri dan Puteri Raja!" perintah Patih Dahana pada prajurit-prajurit yang berada di atas genteng dan juga yang berada di bawah sana. Secara serentak mereka mengadakan pengepungan.

"Kau dan orang-orang tolol itu tak mungkin mampu menangkapku, Patih Dahana...! Kalian semua hanya akan mati secara sia-sia... Menyingkirlah... aku segera berlalu dari sini...!" dengus si laki-laki bertopeng.

"Hemm. Mendengar suaramu, pastilah kau merupakan tukang fitnah busuk, Datuk Mahendra...!"

"Hebat. Matamu benar-benar jeli, monyet tolol...! Tapi kau jangan mimpi dapat menangkapku...!" sentak Datuk Mahendra.

"Kuperingatkan padamu untuk menyerah, Datuk Mahendra...!" perintah Patih Dahana.

Tiba-tiba Datuk Mahendra tergelak-gelak. "Kau akan melihat bagaimana seorang Ma-

hendra menyerah, Patih keparaat...!" berkata begitu laki-laki ini hantamkan ke dua tangannya ke arah delapan penjuru mata angin. Serangkum gelombang sinar biru yang disertai hembusan angin yang sangat keras menderu dan melabrak tubuh para pengawal yang sedang mengepung Datuk Mahendra. Disertai jerit lolongan maut prajuritprajurit yang naas itu berpelantingan roboh dan jatuh dari atas genteng. Patih Dahana terkejut bukan alang kepalang demi melihat kehebatan yang dimiliki oleh Sang Datuk. Sama sekali dia tiada menyangka kalau diam-diam Menteri Penasehat Kerajaan ini memiliki kesaktian yang sedemikian dahsyat. Selangkah demi selangkah Patih Dahana mulai mendekat, sementara beberapa puluh prajurit-prajurit yang berada di bawah nampak berlompatan naik ke atas genteng.

"Serbuu...!" perintah Sang Patih pada prajurit-prajurit itu. Tanpa menunggu diperintah dua kali dengan senjata terhunus prajurit Kerajaan inipun kembali menyerang Datuk Mahendra. Sambil tergelak-gelak Penasehat Kerajaan ini kembali hantamkan tangannya ke berbagai arah.

Wuuuss...! "Arrgkh...!"

Jeritan-jeritan maut kembali membahana memenuhi daerah di sekitar Kerajaan Datuk Lima. Sudah barang tentu suara teriakan prajurit menarik perhatian prajurit lainnya. Semakin lama orang-orang yang mengepung Datuk Mahendra semakin bertambah banyak dan berlapis-lapis. Hal itu bagi Datuk Mahendra tidak memiliki arti apaapa, bahkan beberapa saat kemudian laki-laki bertubuh semampai ini sambil terus tertawa-tawa berkata lantang:

"Patih Dahana! Ratusan prajurit kau kerahkan untuk menangkapku, tak memiliki arti apaapa. Mengapa engkau tidak maju sekalian saja, Patih...? Apakah engkau takut mampus...?" teriak Datuk Mahendra.

Kata-kata Penasehat Kerajaan ini sudah barang tentu membuat Patih Dahana menjadi marah. Tanpa membuang waktu diapun menerjang Datuk Mahendra dengan senjatanya yang berupa keris berlekuk tujuh. Sebagai seorang Patih kerajaan ternyata beliau memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Terbukti begitu bergerak beliau langsung melepaskan pukulan-pukulan dahsyat dengan tujuan ingin secepatnya menjatuhkan pihak lawannya. Mengatasi pukulan beruntun yang dilakukan oleh Patih Dahana, nampaknya Datuk Mahendra tidak begitu kerepotan. Sebaliknya dengan cepat diapun melancarkan pukulan balasan yang lebih dahsyat lagi.

"Patih goblook...! Kau tahanlah pukulanku ini...!" teriak Datuk Mahendra, lalu lambaikan ke dua tangannya mengarah pada Sang Patih. Selarik sinar biru kemilau yang menebarkan hawa dingin luar biasa menderu ke arah Patih Dahana. Patih inipun lepaskan satu pukulan sakti pula.

Wueeees...! "Blaaar...!"

Terdengar suara ledakkan keras manakala dua pukulan sakti itu saling bertemu. Patih Dahana tanpa ampun lagi terpelanting dan jatuh terguling-guling di atas genteng. Dari mulutnya nampak menyembur darah kental. Datuk Mahendra yang hanya terhuyung-huyung saja nampak menyeringai. Kemudian mencabut senjatanya.

"Sriiing...!"

Patih Dahana membelalakkan mata saat mana melihat sinar putih menyilaukan mata memancar dari senjata yang tergenggam di tangan Datuk Mahendra. Terasa adanya pengaruh iblis yang menyebar dari pedang di tangan lawannya itu. Tetapi Patih Dahana merupakan orang yang pantang bersurut langkah, dengan tubuh terasa sakit luar biasa beliau mencoba bangkit kembali, keris di tangannya di genggam dengan erat. Tiga kali suitan dia lakukan dengan tujuan memanggil Panglima Nawang yang berada di dalam penjara.

"Ha... ha... ha...! Patih tolol, biasanya orang yang sudah mau mampus memang sering buang tabiat. Contohnya seperti engkau ini...! Tetapi aku tak perduli, sekarang terimalah kematianmu...!" teriak Datuk Mahendra.

Pedang di tangan Datuk Mahendra menderu dahsyat mengurung tubuh Patih Dahana, sinar putih terus berkelebat dan timbulkan suara mendengung-dengung hingga membuat sakit gendanggendang telinga. Dalam waktu sepuluh jurus, Patih Dahana sudah nampak terdesak hebat. Beberapa orang prajurit yang bermaksud membantu Sang Patih berpelantingan dengan dada ditembus pedang.

"Hiaaat...!"

Patih Dahana dengan nekad tusukkan senjata mengarah pada bagian lambung kiri lawannya. Namun Datuk Mahendra lebih cepat lagi berkelit, lalu hantamkan senjatanya ke arah Patih Dahana.

"Jraaas...!"

"Wuaargkh...!"

Terdengar jeritan tinggi menyayat manakala senjata di tangan Datuk Mahendra memanggang batang leher Sang Patih. Tubuh yang tiada bernyawa itu langsung ambruk menuruni genteng. Pada saat itu dari arah samping Datuk Mahendra melesat pula sebuah pukulan yang dilakukan dalam jarak jauh. Sang Datuk yang masih terus memperhatikan mayat Patih Dahana nampaknya tidak merasakan datangnya pukulan ini. Begitu dia berpaling, laki-laki itu hanya terpana.

"Breess...!"

Sang Datuk langsung terguling-guling tubuhnya, tapi dalam keadaan terguling-guling itu, dia malah keluarkan suara tawa bergelak-gelak. Rupanya pukulan yang menghantam tubuhnya tidak membawa sakit apa-apa. Terbukti hanya beberapa saat setelahnya dia sudah bangkit kembali. Saat dia menoleh ke arah belakangnya, di sana telah melihat Panglima Nawang telah berdiri tegak dengan gagahnya.

"Kau...! Rupanya kau dapat meloloskan diri dari penjara itu, Panglima...! Atau Patih Dahana yang telah mampus itu memang membiarkan pintu penjara tidak terkunci. Aha... ha... ha...! Kedatanganmu kemari hanya mempercepat kematianmu saja, Panglima." kata Datuk Mahendra sambil mengamang-amangkan pedangnya.

"Manusia iblis...! Pengangkatanmu menjadi Penasehat Kerajaan hanya menimbulkan malapetaka belaka. Menyesal sekali, Raja tak pernah mau mendengar segala apa yang pernah aku katakan...!" geram Panglima Nawang, hatinya begitu tersentuh saat mana melihat mayat Patih Dahana yang berubah hitam seperti hangus.

"Segalanya telah terlambat, Panglima...! Sayangnya Datuk Satu tidak berada di dalam kamarnya! Seandainya dia ada di tempat, malam ini Kerajaan Datuk Lima benar-benar runtuh...!"

"Penasehat keparat! Engkaulah yang telah merencanakan segala sesuatunya secara keji. Mula-mula kau fitnah Datuk Empat dengan tuduhan Datuk itu ingin melakukan pemberontakan. Kemudian kau perkosa Puteri Kenanga dan kau bunuh pula. Kemudian Permaisuri Raja. Bukan tak mungkin yang membunuh Datuk Dua di Pesisir engkaulah orangnya."

"Ha... ha... ha...! Engkau memang lebih bijak bila di bandingkan dengan Patih Dahana. Apa yang kau katakan itu semuanya kuakui! Memang akulah orangnya yang telah merencanakan segalagalanya...! Sayang, sebelum niatku kesampaian untuk membunuh Raja dan menjadi penguasa di Kerajaan ini, Patih terkutuk itu telah menjebakku. Hemm. Apa boleh buat, rencanaku boleh tertunda tetapi yang paling penting kau harus kubunuh...!" desis Datuk Mahendra

Pedang di tangannya nampak tergetar, Panglima Nawang yang sempat melihat keampuhan senjata di tangan lawannya segera pula mencabut pedang panjang yang berada di belakang punggungnya. Sekejap kemudian terjadilah pertarungan sengit antara Panglima Nawang dan Datuk Mahendra. Namun baru saja pertarungan berlangsung lebih kurang lima jurus. Serangkum sinar merah menyala nampak melesat ke arah Datuk Mahendra. Laki-laki berusia setengah baya ini nampak terkejut sekali. Dia tidak dapat menduga siapa yang telah melepaskan pukulan sakti itu. Namun dengan mempergunakan pedang Intan di tangannya diapun memapaki datangnya pukulan itu.

Traaang! Tubuh Datuk Mahendra hanya terhuyunghuyung saja, namun hampir saja senjatanya terlepas dari tangan. Sama seperti apa yang dilakukan oleh Panglima Nawang, dalam ke-terkejutannya itu, dia memandang ke satu arah.

Sesosok bayangan merah nampak berloncatan dari arah dinding tembok. Begitu cepat gerakan orang ini, hingga tahu-tahu telah berada tidak jauh di depan Datuk Mahendra.

"Panglima Nawang! Mundur...! Iblis ini bukan tandinganmu...!" perintah pemuda berpakaian merah yang tak lain Buang Sengketa. Gembira sekali Sang Panglima melihat kehadiran Pendekar Hina Kelana. Tanpa berkata apa-apa diapun bergerak mundur, namun tetap tidak meninggalkan tempat itu.

"Kau datang, keparaat...!" desis Datuk Mahendra begitu geram.

"Sekedar meminta padamu untuk melanjutkan pertempuran kita yang belum selesai, Datuk iblis...! Engkau penyebar fitnah yang paling terkutuk, kau fitnah Panglima itu, kemudian kau laporkan pada Raja bahwa aku telah membunuh Datuk Tiga, padahal engkaulah yang hampir membunuhnya, Puih. Hari ini segala sepak terjangmu segera akan berakhir manusia terkutuk. Percayalah kau padaku, bahwa roh Jalak Beracun yang mendekam di dalam tubuhmu telah kulihat saat itu. Dialah angkara murka dari kubur. Tapi jangan mimpi dapat mengelabui aku keturunan Raja Siluman...! Tunggu apa lagi Datuk, marilah kita bertarung sampai salah seorang diantara kita ada yang mampus...!"

"Haeees...!"

Tiada banyak komentar lagi. Buang Sengketa yang sudah mengetahui kekuatan lawannya ini langsung mencabut senjata andalannya. Begitu Pusaka Golok Buntung tergenggam di tangannya. Maka mengaunglah suara selaksa harimau terluka. Sinar merah dan sinar putih nampak berkelebat saling menyambar. Berulang kali senjatasenjata ampuh itu saling berbenturan. Kembang api berpijar dan menerangi suasana di sekitarnya. Hanya dalam waktu sekejap, masing-masing lawan telah bermandi keringat. Setiap kali senjata itu saling membentur, maka tubuh masing-masing lawan sama-sama tergetar. Sampai sejauh itu Buang Sengketa nampaknya tidak berani mengeluarkan jurus Koreng Seribu. Mungkin dia tidak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan diri sendiri.

"Heaaat...!"

Merasa lawannya memiliki kekuatan tidak begitu jauh di bawahnya. Maka pemuda inipun segera pula mengeluarkan Cambuk Gelap Sayuto yang melilit di bagian pinggangnya.

"Ctaar! Ctaaar...!"

Terdengar suara menggeledek saat mana senjata itu melecut ke arah pergelangan tangan Datuk Mahendra. Laki-laki berusia setengah baya ini langsung memaki habis-habisan, ketika beberapa kali cambuk itu hampir saja membuat jatuh senjatanya. Malam berubah gelap gulita, tiada terlihat lagi bintang di langit. Yang terdengar hanyalah deru angin ribut. Keadaan itu tentu saja membuat heran semua orang yang berada di sekitarnya. Datuk Mahendrapun merasakan perobahan ini, tetapi dia sudah tiada perduli lagi. Dengan gerakan sangat cepat dia coba menerobos pertahanan lawannya, namun tetap saja cambuk di tangan Buang Sengketa selalu menghalangi niatnya. Bahkan beberapa saat setelahnya pedang di tangan Datuk Mahendra telah pula tersambar cambuk si pemuda. Senjata yang mengandung racun ganas itu sekarang telah berpindah tangan. Datuk Mahendra terperangah, pada saat laki-laki ini lengah golok di tangan si pemuda berkelebat tiga kali.

"Craas... Cereees... Sreeet...!"

Tubuh laki-laki itu langsung menyemburkan darah dari beberapa tempat. Tak lama kemudian roboh dengan jiwa melayang.

Buang Sengketa menarik nafas panjang, Panglima Nawang mendekatinya dengan pandangan penuh kagum.

"Sobat. Engkau telah menyelamatkan Kerajaan ini dari kehancuran. Raja pasti merasa berhutang jasa padamu! Marilah anda akan kuperkenalkan pada Raja...!" tawar Panglima Nawang begitu akrab.

Buang Sengketa gelengkan kepala: "Maafkan aku Panglima. Aku tak bisa memenuhi keinginanmu. Sampaikan saja salam hormatku padanya, aku ingin menemui Datuk Tiga dan Puteri Samba, untuk menyerahkan pedang celaka ini padanya...!" kata Buang Sengketa, kemudian berkelebat pergi. Tinggallah Panglima Nawang dan belasan prajurit yang berdiri terpaku menatap kepergian sang pendekar.

TAMAT