Serial Pendekar Hina Kelana Eps 27 : Dendam Dalam Darah

 
Eps 27 : Dendam Dalam Darah


Pagi nan sejuk udara berselimut kabut. Tetes-tetes embun pagi terasa menyengat kulit tubuhnya yang halus mulus. Tetapi tidak sekalipun gadis bertopi caping itu menghiraukan suasana seperti itu, seolah keadaan seperti itu sudah menjadi kebiasaan dalam hari-hari kehidupannya di kaki Gunung Gilatama.

"Hiaaaa... haiiit... haiiit...!" Terdengar suara teriakan si gadis yang begitu nyaring dan merdu. Sementara seorang nenek tua berpakaian biarawati dengan bertumpu pada sebelah kakinya nampak berdiri mengawasi semua gerakan-gerakan silat yang dilakukan oleh gadis bertopi caping itu.

"Tangan terkepal, menghantam ke arah depan. Kemudian kaki kiri melakukan tendangan dengan mengerahkan sepertiga dari tenaga dalam yang kau miliki. Setelahnya senjata rahasia yang berada di tangan kirimu menyerang empat bagian tubuh orang yang berdiri di hadapanmu itu...!" kata nenek berpakaian biarawati ini memberi pengarahan pada gadis berwajah cantik yang sedang melakukan latihan.

"Heeeuuup...! Ciaaat...!"

Gadis itu kembali keluarkan suara teriakan tinggi melengking. Selanjutnya dia pun melakukan gerakan-gerakan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh si nenek berkaki buntung yang berdiri tegak tidak begitu jauh di depannya.

"Jeb... deb... weeer...!" Tiga gerakan cepat secara berturut-turut dia lakukan, manakala gadis berkulit kuning langsat ini hantamkan tangannya ke arah depan, selanjutnya disusul dengan kaki kiri. Maka menderulah angin yang begitu kuat menyambar ke seluruh sisi tubuh orang-orangan yang berada di depannya. Kalau saja nenek berpakaian biarawati itu menancapkan bagian kaki orang-orangan ini tidak kuat dan dalam. Sudah dapat dipastikan orang-orangan sebagai sasaran latihan si gadis terpelanting roboh.

"Jes...! Ces...! Ceeess...!"

Senjata rahasia yang berupa sengat Kala Hitam itu pun dengan tepat mencapai sasaran-nya. Sesaat nenek berpakaian biarawati itu memeriksa bagian badan yang menjadi sasaran serangan muridnya.

"Bagus... hi... hi... hi...! Murid berbakat yang kudapat rasanya sangat sesuai dengan apa yang sering ku impi-impikan dulu." kata si nenek, lalu berjingkrak-jingkrak dalam luapan kegembiraannya. Beberapa saat lamanya nenek ini menatap tajam pada gadis bertopi caping yang berdiri tidak begitu jauh di depannya.

"Teruskan latihanmu dengan jurus 'Menggempur Badai Selatan'...!" Sekali lagi si nenek kaki buntung memberi perintah pada muridnya.

"Aku akan melakukannya, Nenek Gombrang...!"

Gadis bertopi caping ini undur tiga langkah, kaki dia tekukkan membentuk kuda-kuda yang kokoh. Sementara itu kedua tangannyapun telah pula disilangkannya ke depan dada. "Hiiiaat...! Bet... bet...!"

Dengan gerakan yang begitu lincah, gadis ini terus menghindari jebakan-jebakan yang sengaja dipasang oleh si nenek berkaki buntung yang menjadi gurunya. Selanjutnya tubuh gadis ini berloncatan dari sebuah batu ke batu lainnya. Sebagaimana yang terlihat, batu-batu tempat si gadis berloncatan terletak di sebuah kolam yang airnya begitu dalam dan nampak menggelegak dan mengepulkan uap putih. Sedangkan jarak antara batu yang satu dengan batu yang lainnya tak lebih dari lima meter. Dan batu yang dijadikan tumpuan oleh si gadis sebenarnya berukuran sangat kecil lagi runcing. Dapat dibayangkan seandainya dia tergelincir di atas kolam alam yang senantiasa menggelegak itu, setidak-tidaknya tubuh gadis itu lumer menjadi bubur.

Namun gadis bertopi caping ini merupakan murid tunggal si nenek kaki buntung yang mendapat gemblengan selama hampir tujuh tahun. Nenek berpakaian biarawati yang menjadi guru gadis bertopi caping, juga bukan hanya sekedar guru biasa. Dalam dunia persilatan dia dikenal sebagai Penyihir Tunggal Pantai Selatan. Nenek buntung berusia sekitar enam puluh lima tahun ini pada jamannya sangat dikenal sebagai seorang ahli sihir yang sangat tangguh dan memiliki pendirian yang selalu cenderung membela kaum yang lemah. Berada pada aliran putih, Penyihir Dari Pantai Selatan, dan kerap dipanggil Nenek Gombrang oleh murid tunggalnya. Dalam dunia persilatan dikenal sebagai seorang tokoh yang begitu tegas dan jarang memberi keampunan bagi setiap lawan dari golongan sesat. Tindakannya terkadang brutal namun beralasan. Tetapi di lain waktu dia sering bersikap acuh pada keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Sifatnya yang selalu angin-anginan dan misterius ini, sering berakibat kaum golongan putih menaruh kecurigaan besar pada dirinya. Itulah sebabnya, sungguh pun telah belasan tahun Nenek Gombrang kaki tunggal telah mengasingkan diri dari dunia ramai, namun tetap saja orangorang yang dulunya pernah berurusan dengan dirinya dan pernah pula merasa dirugikan, hingga saat ini terus mencarinya.

Hanya saja mereka merasa kehilangan jejak buronannya, sejak nenek ini berpindah-pindah tempat sampai akhirnya dia menemukan sebuah tempat yang dia kenal sebagai Tanah Bernyawa.

Sejak mulai saat itu, di Tanah Bernyawa inilah Nenek Gombrang hidup dengan murid tunggalnya Lukita Sari. Kepada gadis yang kini telah berusia remaja, Nenek Gombrang menurunkan seluruh kepandaian yang dimilikinya. Tidak sampai di situ saja si nenek berbuat untuk muridnya. Di Tanah Bernyawa si nenek menciptakan ilmu sakti dan berbagai ilmu sihir lainnya, khusus diperuntukkan buat Lukita Sari.

"Haap... Ita... lihatlah! Di hadapanmu ada seekor ular raksasa yang telah bersiap-siap memangsa tubuhmu...!"

Pelan saja ucapan si Nenek Gombrang, tapi suara itu cukup berpengaruh dan terasa menggetarkan rongga dan seisi perut Lukita Sari. Si gadis nampak tercekat begitu melihat ke arah depannya. Benar seperti apa yang dikatakan oleh gurunya. Saat itu dari dalam air kolam yang menggelegak, secara tiba-tiba muncul seekor ular raksasa berkulit hijau lumut. Lidah binatang berbau amis luar biasa ini nampak menjulur-julur, dengan mulut terbuka lebar dan siap memangsa tubuh Lukita Sari.

Tanpa membuang-buang waktu lagi gadis bertopi caping ini mengerahkan tenaga dalam yang dimilikinya, tapi sebelum dia mampu berbuat banyak. Tubuh ular raksasa berwarna hijau itu telah meliuk dan langsung menyambar tubuhnya.

"Haiiit...!"

Lukita Sari lentingkan tubuhnya ke udara, selanjutnya satu pukulan telak yang berintikan tenaga dalam yang kuat dilepaskannya mengarah pada bagian kepala ular buas tadi. Namun ular berkulit hijau ini memiliki naluri yang begitu peka. Menyadari adanya sambaran angin pukulan yang begitu dingin, ular raksasa itu meliukkan tubuhnya, membentuk gerakan sebuah cambuk yang melecut ke udara. Satu pukulan telak yang dilakukan oleh Lukita Sari berhasil dielakkan oleh ular jejadian ini dengan sangat baik. Pukulan yang menebarkan hawa panas itu terus menderu, hingga akhirnya menghantam batu yang berada di tengah-tengah kolam alam tadi. Batu tersebut hancur berantakan, bahkan air panas di dalam kolam alam itu muncrat ke udara terkena sambaran angin pukulan yang tidak mengenai pada sasarannya.

"Zsssss...!"

Ular raksasa jejadian ini mendesis-desis, air liur berlelehan dari lidahnya yang menjulur panjang dan bercabang. Selanjutnya dengan gerakan yang sangat cepat, ular itupun menjulur-kan tubuhnya. Bagian kepala dengan disertai bunyi mendesis, nampak menyambar ke arah tubuh Lukita Sari. Gadis bertopi caping ini menyambutnya dengan satu pukulan yang disertai dengan pengerahan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya.

"Dweees...! Hoooooss...!"

Bagai tiada merasakan adanya sambaran hawa panas yang datang ke arahnya, ular bersisik hijau ini malah menyambut. Dan keanehan pun terjadi, pukulan 'Awan Biru' yang telah dilepaskan oleh Lukita Sari seolah lenyap begitu saja tanpa bekas. Gadis bertopi caping ini memandangnya dengan mata membelalak. Namun ketika dia mendengar suara gelak tawa dari mulut orang yang sangat dikenalnya, maka teringatlah gadis ini pada sesuatu. "Uh, tolol betul aku ini! Sudah jelas apa yang kulihat sebetulnya adalah permainan sihir Nenek Gombrang! Mengapa aku tak menyadarinya sejak tadi?" batin gadis itu.

"Heeeaaa...!"

Lagi-lagi Lukita Sari terus berkelit menghindar saat mana ular bersisik hijau kembali menyerangnya dengan ganas.

"Wuuut...!"

Satu gerakan ringan dengan cara bersalto mengikuti lurusnya batang pohon, membuatnya telah berada diatas pohon tersebut. Dengan cepat dia merapal ajian ilmu sihir yang telah dikuasainya. Hanya dalam waktu sekedipan mata saja, tubuh Lukita Sari telah mengembar jadi tiga. Tidak sampai di situ saja, tubuh kembar itu hanya dalam tempo yang singkat telah pula berubah menjadi tiga ekor burung rajawali raksasa.

"Kaaakk... Kroaaak...!"

Burung penjelmaan Lukita Sari ini langsung menyambar ular hijau yang berada di dalam kolam itu. Akhirnya ular dan tiga ekor burung raksasa itupun terlibat pertarungan sengit dengan ular tersebut.

Dengan mengandalkan kepakan sayapnya yang luar biasa, burung rajawali itu terus mencecar ular hijau yang berada di tengah-tengah kolam berair panas. Pada dasarnya menghadapi salah seekor dari burung rajawali itu saja, ular raksasa ini sudah keteter, jangankan menghadapi serangan berbareng yang dilakukan oleh ketiga burung berukuran sangat besar ini.

Dalam waktu yang begitu singkat, binatang melata dan berbau amis menjijikkan ini pun sudah terdesak hebat. Hingga beberapa saat setelahnya cakar-cakar burung rajawali itu berhasil dengan telak melukai tubuh ular berukuran sangat besar ini.

"Buuueees...!"

Bersamaan dengan terlukanya tubuh ular raksasa itu, sedetik kemudian ular inipun raib dari hadapan si nenek. Sebagai akibatnya tubuh Nenek Gombrang terhuyung-huyung dua tom-bak. "Kreaaak... Kreaaak...!"

Burung rajawali penjelmaan Lukita Sari itu pun kembali dalam ujudnya semula.

"Bagus...! Kau benar-benar seorang murid yang dapat ku andalkan!" gumam Nenek Gombrang memuji. "Hemm! Lukita Sari...!" panggil perempuan tua berkaki buntung ini tanpa menoleh pada lawan bicaranya.

"Iya nek...! Ada apakah...?" tanya Lukita Sari sambil melangkah mendekat.

"Tahukah kau sudah berapa lama engkau tinggal bersamaku...?" bertanya si nenek tanpa menghiraukan pertanyaan gadis cantik bertopi caping yang berdiri tegak di hadapannya.

"Eem...! Mungkin sudah hampir tujuh tahun! Atau bahkan lebih...!"

"Tujuh tahun! Sebuah waktu yang cukup lama, tetapi apakah yang telah kau peroleh selama itu dari seorang guru sepertiku ini?" tanya si nenek dengan sorot mata tajam. Yang ditanya nampak terdiam sejenak, namun tak begitu lama kemudian dia telah menjawab

"Guru... ee... Nenek Gombrang telah memberiku banyak bekal yang nantinya dapat kupergunakan untuk membela kaum yang lemah! Dan murid tak tahu bagaimana murid harus berterima kasih atas segala apa yang pernah nenek berikan...!" ujar Lukita Sari dengan sikap takjim.

Penyihir Tunggal Pantai Selatan nampak sunggingkan seulas senyum, hingga menampakkan giginya yang cuma tinggal tiga buah saja. "Hik... hik... hik...! Ternyata untuk mengucapkan kata-kata terima kasih saja bagimu sulitnya bagai orang yang mau melahirkan! Bueh... murid macam apa engkau ini...?" bentak si nenek, uring-uringan.

"En... anu nek! Maksudku bagaimana caranya agar aku bisa membalas segala kebaikan yang pernah kau berikan kepadaku...!" ucap si gadis bertopi caping terbata-bata.

"Bagiku bukan itu yang paling penting! Tetapi kata-kataku yang harus kau patuhi dan pertanyaan sanggup untuk mengerjakannya. Bagaimana apakah kau setuju?" tanya si nenek dengan suara datar.

"Apapun yang nenek perintahkan, seandainya aku mampu, sudah barang tentu dengan sangat senang hati akan kukerjakan...!"

"Buagus itu... kau memang murid dan cucuku yang begitu berbakti.. Hik... hik...!" kata si nenek begitu bangga. Sekejap dia memandang pada Lukita Sari dalam-dalam. Namun di lain waktu secara mendadak saja wajahnya berubah murung. Selama ini belum pernah sekalipun Nenek Gombrang bersikap seperti itu, biasanya dalam menghadapi persoalan serumit apapun, nenek keriputan ini selalu tertawa-tawa, atau tersenyum lepas bagai orang sinting. Tapi kali ini lain, si nenek bagai sedang menghadapi gunung yang mau meletus. Nampak panik bahkan kerut merut di wajahnya semakin berlipat ganda.

"Apa yang kau pikirkan, Nek...!" bertanya si gadis dengan sikap berhati-hati. 2

Yang ditanya nampak diam saja, bahkan seperti ada satu beban di hatinya yang terasa berat untuk disampaikan pada muridnya, tetapi lebih berat lagi bila dia menanggungnya seorang diri.

"Ita muridku...! Aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu. Tetapi alangkah lebih baik jika kita membicarakannya di dalam pondok!"

"Mari, guru...!" kata Lukita Sari, kemudian mengiringi langkah terpincang-pincang gurunya dari belakang.

"Kreooot...!"

Pintu pondok bertonggak tinggi tersebut menimbulkan suara berkereotan saat mana Lukita Sari mendorongkannya. Murid dan guru melangkah memasuki ruangan pondok yang hanya berukuran tiga kali empat meter dan begitu sangat sederhana sekali. Menunggu Lukita Sari mengambilkan kendi berisi air dingin, nampak Nenek Gombrang tercenung seorang diri. Entah mengapa secara tiba-tiba dia teringat tentang perjalanan masa lalunya.

Kala itu rasa-rasanya segala sepak terjang yang pernah dilakukannya begitu sadis dan tak pernah mengenal kompromi. Ilmu sihir yang berhasil dia pelajari dari dasar lembah Tanpa Ujud selama belasan tahun, ternyata telah begitu banyak menimbulkan korban dari berbagai golongan persilatan kala itu. Kehadirannya di dunia persilatan selalu dimusuhi oleh tokoh-tokoh sakti. Semua itu tak terlepas dan akibat dari keserakahan abang tirinya yang berusaha mengangkangi seluruh harta kekayaan peninggalan orang tua mereka. Sebagai adik tiri dan perempuan pula. Sudah jelas dia tak memiliki kekuatan apa-apa untuk menuntut sekedar hak yang sudah selayaknya menjadi miliknya. Walaupun dia menyadari kalaupun dia mendapatkan bagian harta itu, sudah pasti sedikit sekali. Kedua orang tua meninggalkan mereka untuk selama-lamanya akibat malapetaka yang menimpa, dalam satu perjalanan dagang ke kota raja. Sejauh itu dia masih belum berhasil mendapatkan siapa pembunuh kedua orang tuanya. Hanya sebuah benda yang berbentuk bintang empat dan terbuat dari bahan tembaga itulah yang dapat dia anggap sebagai bukti, bahwa kematian yang dialami oleh orang tuanya, tentu para pelakunya yang memiliki benda itu. Mengharapkan abang tirinya untuk melacak jejak pembunuh orang tua, rasa-rasanya begitu sulit. Orang yang bernama Durga Wungu ternyata bersikap tak mau perduli atas kematian kedua orang tuanya. Dan dia menjadi sangat kecewa sekali, karena tak lama setelah itu Durga Wungu mengusir dirinya begitu saja.

Antara sedih dan kecewa, akhirnya Gombrang atau yang memiliki nama kecil Sangra Wulan itu pergi tanpa tujuan. Namun Rimba Persilatan sesungguhnya bukanlah kehidupan yang ramah. Berulang kali Sangra Wulan yang memiliki paras lumayan ini harus berjuang mati-matian menyelamatkan diri dan tangan orang-orang sesat yang bermaksud tak baik padanya. Namun sampai di manakah kemampuan seorang gadis yang tak memiliki kepandaian apa-apa ini. Beberapa bulan kemudian dia berhasil dinodai oleh Gembong Hitam, yaitu kepala partai terbesar yang bermarkas di bagian Tenggara. Betapa hancur hati Sangra Wulan menerima kenyataan pahit seperti ini. Akibatnya dengan membawa luka hati yang teramat dalam, dia berhasil membebaskan diri dari cengkeraman Gembong Hitam. Sepanjang hari dia terus menempuh perjalanan tanpa arah dan tujuan. Hingga pada akhirnya sampailah gadis ini di lembah sesat. Dan di tempat itulah Sangra Wulan menemukan sebuah kitab yang berisi pelajaran silat dan sebuah kitab lainnya yang berisi pelajaran ilmu sihir. Sejak mulai saat itu, dengan tekun di tempat yang sama Sangra Wulan mempelajari kedua kitab yang memiliki kehebatan yang sangat mengagumkan. Dalam waktu satu tahun segalanya dapat dia selesaikan dengan baik. Terkecuali pelajaran pamungkas yang terdapat dalam kitab ilmu sihir tadi. Bahkan sampai akhirnya dia malang melintang dalam dunia persilatan, Sangra Wulan masih belum mampu memecahkan rahasia puncak yang terkandung dalam kitab ilmu sihir itu.

Waktu itu dunia persilatan menjadi gempar dengan kemunculannya. Begitu banyak kaum sesat terbantai di tangannya, apa yang ingin dilakukannya pada saat itu adalah mencari tahu siapa sesungguhnya yang telah membunuh kedua orang tua, serta membalas dendam pada Ketua Gembong Hitam yang bermarkas di bagian Tenggara. Sedangkan hal lain yang ingin pula dia ketahui adalah mengenai harta dan tanah warisan yang telah dikuasai oleh abang tirinya.

Ketika Sangra Wulan meluruk markas Gembong Hitam, seluruh murid dan pentolannya dia tumpas hingga tiada bersisa lagi, hancurnya Gembong Hitam dan murid-murid perguruan itu mengundang kemarahan para sahabat partai Tenggara ini, hingga membuat dirinya dimusuhi oleh tokoh-tokoh kaum sesat. Di manapun dia berada selalu saja maut mengincar dirinya. Korbanpun terus berjatuhan, bahkan abang tirinya yang akhirnya dia ketahui sebagai orang yang telah bergabung dengan para manusia sesat berulang kali sempat bentrok dengan dirinya. Tapi pada kenyataannya, kakak tirinya itu memiliki ilmu kepandaian setingkat lebih tinggi dengan kepandaian yang dimilikinya, hingga akhirnya dia sendiri nyaris tewas di tangan saudara tirinya itu.

Dalam keadaan terluka di bagian kaki akibat sabetan senjata di tangan saudara tirinya, Sangra Wulan melarikan diri. Dan dalam perjalanan melewati sungai yang tengah dilanda banjir, perempuan ini menemukan Lukita Sari yang kemudian dia angkat sebagai muridnya. Sambil berusaha memecahkan inti pamungkas yang terdapat dalam kitab ilmu sihir itu yang kemudian mendatangkan hasil. Sangra Wulan yang kemudian bertukar nama dengan Nenek Gombrang, terus mendidik Lukita Sari dengan berbagai ilmu kepandaian yang dimilikinya. Dan tanpa terasa waktu yang tujuh tahun itu pun berlalu, segala rahasia yang terkandung dalam kitab ilmu sihir yang dulu tak dapat dipecahkannya. Kini sepenuhnya telah dikuasai dengan baik oleh Lukita Sari. Nenek Gombrang merasa sekaranglah saatnya mengutus murid tunggalnya untuk turun ke dunia ramai guna mengadakan perhitungan dengan Durga Wungu juga mencari tahu simbol bintang persegi empat yang dia ketahui sebagai pembunuh kedua orang tuanya. Demikianlah ketika hatinya sedang diliputi oleh galau masa lalunya, secara tiba-tiba Lukita Sari yang telah kembali dari dapur dengan membawakan kendi berisi air langsung menegur:

"Nek! Apa sih yang nenek pikirkan? Sejak tadi kulihat nenek nampak melamun melulu...!" ujar si gadis setelah duduk persis di depan Penyihir Tunggal Pantai Selatan ini.

"Eeeh... tidak ada apa-apa...!" ucap si nenek tersentak dari lamunannya.

"Sepertinya, nenek merahasiakan sesuatu terhadapku! Katakan saja nek... bukankah aku sudah berjanji untuk mengerjakan sesuatu seperti apa yang nenek inginkan...?" sentak Lukita Sari tanpa ragu-ragu lagi.

"Huuus... bocah tau apa! Tak usah kau minta, apa yang sedang ku renungi ini juga nantinya merupakan pekerjaanmu...!" kata si nenek. Kejab kemudian dia telah menyambar kendi itu dan langsung pula meneguknya. Terdengar suara bercekglukan saat mana air itu melewati kerongkongannya yang kering. Beberapa saat lamanya setelah menghabiskan air di dalam kendi itu lebih dari setengahnya, maka Penyihir Tunggal Pantai Selatan itupun dengan sikapnya yang begitu berwibawa kembali berkata kepada Lukita Sari:

"Ita muridku...! Lama sebelum kau menjadi muridku, tahukah engkau siapa dan apa saja yang kulakukan di kalangan persilatan?" Yang ditanya gelengkan kepalanya berulang-ulang. Tapi Nenek Gombrang menanggapinya dengan sesungging senyum.

"Nenek tak pernah mengatakan apa-apa padaku, mustahil aku bisa mengetahui segala apa yang terjadi dengan nenek ketika itu...!"

"Hik... hi... hi...! Kau memang tak kan tahu apa-apa, karena aku belum mengatakannya padamu...!" ujarnya. "Hemm! Saat itu hidupku terlalu banyak dilanda kesengsaraan dan kenangankenangan yang sangat menyakitkan. Tapi rasarasanya hal itu tak perlu ku ungkap. Sungguhpun begitu, dalam usia senja dan menjelang akhir hidupku ini, aku punya satu keinginan yang nantinya merupakan sebuah tugas penting yang harus kau kerjakan...! Pahamkah engkau dengan apa yang kumaksudkan...?"

"Paham, Nek...! Tapi belum seluruhnya dapat kuketahui maknanya...!" jawab Lukita Sari. Nenek Gombrang kembali terdiam, nampaknya perempuan berusia senja ini sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu tentang masa lalunya.

"Setelah kau meninggalkan Tanah Bernyawa ini, satu yang harus kau lakukan adalah mencari orang yang bernama Durga Wungu. Tanyakan tentang warisan peninggalan orang tua kami pada laki-laki itu. Kalau pun pendiriannya tetap tidak berubah bahkan terus menunjukkan permusuhan padamu. Maka kau wajib membunuhnya...!"

"Tapi nek! Orang yang nenek sebutkan itu mana mungkin bisa percaya dengan segala omonganku...!"

"Tidak percaya? Hik... hi... hik...! Dia pasti masih mengenali benda ini!" ujar si nenek. Lalu menunjukkan sesuatu pada Lukita Sari. Gadis bertopi caping itupun menerimanya. Sejenak diperhatikannya benda pemberian si nenek. Benda itu sesungguhnya hanya berupa kelenengan mainan anak-anak kecil yang bentuknya sangat mirip dengan kelenengan yang dipasang di leher lembu penarik pedati. "Aneh! Nenek ini hanya menunjukkan sesuatu yang sebenarnya tak memiliki arti apa-apa?" batin Lukita Sari dalam hati.

"Dengan mengatakan bahwa kau merupakan murid tunggalku. Durga Wungu pasti akan mempercayainya. Tapi ingat sungguh pun dia merupakan saudara tiriku, jangan sekali-kali kau termakan bujuk rayunya. Orang itu manusia iblis yang patut kau waspadai setiap waktu...!" kata Nenek Gombrang wanti-wanti.

"Hal itu bisa aku mengerti, Nek! Tapi apakah selain Kakek Durga Wungu, masih ada lagi orang lain di rumah kediamannya...?" tanya Lukita Sari dengan dipenuhi rasa keingintahuan.

"Cukup banyak! Bahkan mungkin lebih dari lima puluh orang, dan perlu kau ketahui selain menguasai seluruh harta benda peninggalan orang tua. Durga Wungu juga mendirikan sebuah perguruan yang cukup besar di rumahnya. Untuk saat sekarang, mungkin juga dia telah memiliki pembantu-pembantu yang sangat tangguh. Tapi aku merasa yakin dengan kemampuan dan ilmu sihir tingkat pamungkas yang telah kau kuasai dengan baik. Orang itu pasti dapat kau tundukkan...!"

"Kalau memang itu yang nenek kehendaki, sebagai murid aku akan melaksanakannya dengan baik...!" kata Lukita Sari menyanggupi. "Eiit... masih ada satu lagi...!" sergah Penyihir Tunggal Pantai Selatan ini. Nenek Gombrang tak lama kemudian telah pula mengambil sebuah benda terbuat dari bahan perunggu berbentuk bintang segi empat. Perempuan keriputan ini selanjutnya menyerahkan bintang perunggu tersebut pada Lukita Sari. Setelah menyerahkan bintang persegi empat pada muridnya, sambil menatap lurus ke depannya. Perempuan ini kemudian bergumam:

"Ketika aku merambah dunia persilatan! Saat itu aku masih belum berhasil mencari tahu siapa sesungguhnya yang memiliki simbol bintang seperti ini. Kalau pun dia merupakan sebuah perguruan, tapi perguruan manakah? Itu pun aku belum tahu. Sedikit sekali petunjuk yang kudapatkan tentang benda ini. Mungkin juga bintang tembaga ini merupakan sebuah lambang persatuan dari golongan tertentu. Komplotan garong, atau lambang persatuannya orang-orang golongan hitam. Aku masih belum mampu menemukan jawabannya...!"

"Yakinkah nenek, benda ini ada sangkut pautnya dengan pembunuhan yang terjadi atas diri orang tua...?" tanya Lukita Sari ragu-ragu.

"Aku merasa sangat yakin sekali! Sebab benda itu kutemukan berada dalam genggaman ibuku. Begitu erat bahkan terlalu sulit bagiku untuk mengambilnya...!" Lukita Sari menganggukkan kepalanya berulang-ulang.

"Sekarang aku sudah mengerti, Nek! Semoga nantinya aku tidak mengecewakan harapanmu…!"

"Yaah... itulah yang selalu nenek harapkan darimu! Tapi sebelum kau pergi ke dunia ramai. Nenek punya sesuatu yang nantinya dapat menyelamatkan dirimu apabila engkau menghadapi bahaya maut yang sangat sulit untuk kau hindari...!" kata Nenek Gombrang, sekejap kemudian dia telah beranjak dari tempat duduknya, selanjutnya melangkah menuju ke arah kamarnya. Sekejap saja Nenek Gombrang berada di dalam kamarnya, ketika dia muncul kembali menghampiri Lukita Sari.

Nenek Gombrang kemudian memperlihatkan sebuah benda lainnya yang memiliki panjang tak lebih dari sejengkal. Ketika perempuan tua ini menarikkan sarung berwarna merah yang membungkusnya. Maka terlihatlah sebilah keris lekuk tiga berwarna hitam pekat. Anehnya begitu keris lekuk hitam itu tercabut keseluruhannya dari sarungnya secara tiba-tiba saja tubuh Nenek Gombrang lenyap tanpa bekas. Hal ini sudah barang tentu membuat kejut di hati Lukita Sari.

"Dapatkah kau melihatku, Lukita Sari...?" "Aku tak dapat melihatmu, Nek...! Dimanakah kau...?" tanya si gadis dengan pandangan mata mencari-cari.

"Aku masih berada di tempat! Tapi kau memang tak akan pernah melihatku, karena tubuhku dilindungi oleh Keris Jalak di tanganku...! Engkau pun bisa melakukannya asalkan kau cabut pusaka kegelapan dari sarungnya maka tubuhmu selamanya tak mungkin dapat dilihat oleh orang lain...!" kata Nenek Gombrang secara panjang lebar. Tak lama setelah itu, begitu Nenek Gombrang menyarungkan senjata kegelapan itu ke dalam warangkanya yang terbungkus kain merah. Maka tubuh Nenek Gombrang terlihat kembali sebagaimana mestinya.

"Sebuah senjata yang hebat dan tak pernah kulihat sebelumnya." kata Lukita Sari berseru memuji.

"Nah sekarang tibalah saatnya bagimu untuk meninggalkan Tanah Bernyawa! Kuharap kau tidak akan kembali ke sini sebelum apa yang menjadi tugasmu dapat kau selesaikan dengan baik...!" kata si Nenek Gombrang, lalu menyerahkan senjata kegelapan yang berada dalam genggamannya.

"Baiklah nek! Sungguh pun hatiku merasa sangat berat untuk berpisah denganmu, namun demi tugas yang telah nenek berikan padaku. Maka aku pun akan melakukannya...!" ujar Lukita Sari tegar.

"Berangkatlah! Semoga Sang Hyang Widi selalu melindungimu...!"

Untuk selanjutnya tanpa menoleh-noleh lagi, Lukita Sari segera berangkat meninggalkan Tanah Bernyawa yang selama ini merupakan tempat menimba berbagai ilmu kanuragan.

3

Tiada kebimbangan tersembunyi, itulah kesan pertama yang dapat ditangkap bagi siapa saja yang kebetulan bertemu dengan pemuda berwajah sangat tampan ini. Dalam keremangan menjelang senja, saat matahari telah turun di kaki bukit dan memandarkan cahaya kuning kemilau keemasan. Saat itu pemuda berperiuk dengan rambut panjang di kuncir sampai ke bahu ini telah hampir sampai di pinggiran Kota Hantu. Dengan langkah pasti pemuda ini terus melangkahkan kaki menuju kota yang sudah tiada berpenghuni tersebut. Tiada di perdulikannya dinginnya udara senja yang menyibakkan anak-anak rambutnya yang menjela dan berkibar-kibar.

Hanya satu yang ada di dalam hatinya, dia ingin menyingkap tabir yang selama ini menjadi misteri yang sangat mengerikan bagi setiap orang seperti apa yang selalu didengarnya di sepanjang perjalanan menuju Kota Hantu. Perjalanan yang dilakukannya selama tiga hari tiga malam ternyata tidaklah sia-sia. Setelah menempuh berbagai hambatan dan rintangan, senja itu dia telah hampir sampai di tempat tujuan. Kota Hantu bila dilihat dari jarak yang tidak begitu jauh, nampak menimbulkan kesan angker. Begitu sunyi, bahkan bangunan megah yang didirikan dengan cita rasa tinggi pada jamannya. Hampir sepanjang hari selalu diliputi kegelapan. Si pemuda berkuncir, atau yang lebih di kenal dengan julukan Pendekar Hina Kelana, dari jarak yang tidak begitu jauh berusaha mengawasi kota yang begitu menyeramkan ini. Tiba-tiba saja dia bergumam seorang diri:

"Tak seorang pun yang mampu memberi jawaban apa yang pernah dan sedang terjadi di tempat itu. Kota Hantu tak ubahnya bagai sebuah kota mati tiada berpenghuni! Mungkinkah apa yang kukatakan itu sesuai dengan kenyataan yang ada...? Alangkah lebih baik kalau aku melakukan penyelidikan ke sana.!" batin si pemuda. Selanjutnya dengan mengerahkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah begitu sempurna pemuda keturunan Raja Piton Utara dari Negeri Bunian itu segera pula mengerahkan

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<< 31 32

daan, semakin dia melangkah lebih jauh lagi, maka gerakannya pun semakin berhati-hati.

"Aku tak dapat melihat, apakah sosok bayangan yang membuntutiku itu merupakan manusia atau bukan. Yang jelas bila melihat gelagat, siapa pun adanya bayangan yang bergerak-gerak itu pasti membawa maksud-maksud yang tak baik...!" batin si pemuda.

"Heeuuup...!"

Dengan gerakan yang sangat ringan sekali Pendekar Hina Kelana menjejakkan kaki, selanjutnya tubuh pemuda itu melentik ke udara. Di lanjutkan dengan gerakan bersalto beberapa kali, sampailah dia diatas atap sebuah bangunan yang sudah begitu tua dan usang. Bahkan ketika menerima berat tubuhnya, bangunan itu menimbulkan suara berderak-derak bagai hendak patah.

Celakanya ketika pemuda ini telah berada di atas bangunan itu, bayangan dalam bentuk lain telah pula mengincarnya

"Mbu...!" Terdengar satu seruan yang sangat mirip dengan dengus seekor lembu jantan yang sedang terserang radang tenggorokan. Suara lengguh seekor lembu ini sudah barang tentu semakin bertambah curiga. Pemuda dari Negeri Bunian ini pun mulai bersikap sangat hati-hati sekali.

"Mbuu...! Mbuuu...Mbuuuuu...!" Suara bersahut-sahutan yang membuat bingung si pemuda, mulai bermunculan dari segala penjuru arah. Jumlah mereka semakin lama juga semakin bertambah banyak. Dan suara-suara senada nampaknya semakin bertambah gencar, terasa merobek kegelapan malam. Seiring dengan gemuruh suara lengguh lembu jantan itu, terlihat pula bermunculan beberapa sosok bayangan tubuh mendekat ke arah si pemuda.

" Jleegkh... Jleegkh...!"

Keanehan pun terjadi, sungguh pun bangunan tua itu telah banyak menanggung beban dengan hadirnya sosok yang tidak begitu jelas. Namun bangunan tua ini tidak berderak patah. Satu sisi lain yang sangat sulit untuk dipercaya begitu saja, bagi Pendekar Hina Kelana.

"Siapakah orang-orang ini! Tubuh mereka begitu ringan bagai tak memiliki bobot! Padahal tadi saja ketika aku menjejakkan kaki di atas bangunan tua ini, kayu penyanggah di bawah ku sana sudah menimbulkan bunyi berderak-derak.

"Mbuuuh...!"

Satu sambaran lidah api yang keluar dari mulut orang yang memiliki kepala tak jauh bedanya dengan bentuk kepala seekor lembu.

"Sialan...!" maki si pemuda sambil berusaha menghindari semburan api yang mengarah ke bagian tubuhnya dengan satu pukulan yang begitu dahsyat.

"Wuuus!" "Bleeess...!"

Pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dilakukan oleh si pemuda secara telak menghantam semburan lidah api yang di semburkan melalui mulut manusia berkepala lembu tadi. Sosok berbentuk aneh ini keluarkan suara jeritan tertahantahan saat mana gelombang pukulan berhawa panas luar biasa menghantam tubuhnya. Orang ini pun terjengkang. Tubuhnya jatuh dari atas bangunan tua tadi, anehnya tiada suara apa pun yang terdengar. Sementara itu begitu melihat kawannya jatuh dari atas bangunan tua tadi maka yang lainnya datang menyerbu. Kembali semburan api yang begitu gencar datang dari mulut berpuluh-puluh sosok berbentuk aneh yang kini telah mengepung dan menyerang Buang Sengketa dari jarak yang begitu dekat. "Gila,...! Entah iblis dari mana yang mampu melakukan pekerjaan seperti ini! Benar-benar edan dan sulit untuk kupercaya...!" rutuk si pemuda.

"Caaaiit...! Wuuus...!" "Hueer...!"

Satu pukulan si Hina Kelana Merana dengan lidah api yang di semburkan dari segala penjuru oleh lawannya, datang menyambut.

"Braaar...!"

Tubuh Buang Sengketa nampak melayang jatuh dari atas bangunan tua itu, hanya dengan cara bersalto saja pemuda itu dapat menginjakkan kedua kakinya dengan baik di atas tanah. Sementara lawan-lawannya yang memiliki hati setengah iblis masih tetap berada di atas bangunan itu tanpa kekurangan sesuatu apapun.

"Mbuuuuh...!" Kembali terdengar suara hiruk pikuk mirip lengguh lembu jantan. Tapi nampaknya mereka tiada punya keinginan untuk mengejar lawan yang telah terjatuh di bawahnya.

Sungguh pun lawan yang berada di atas tidak memburu pendekar Hina Kelana, namun bukan berarti pemuda itu telah terlepas dari ancaman maut. Sama sekali tidak. Di bawah sana beberapa sosok bayangan lain yang sejak pertama tadi mengikuti dirinya dalam waktu tidak begitu lama telah pula menyergap Buang Sengketa.

"Hoaaar... Roaaar... Grauuung...!" Sosok penyerbu yang berada di lorong-lorong gelap itu keluarkan bunyi bagai binatang buas.

"Sialan betul! Makhluk apa pula ini...!" maki si pemuda, kemudian berlari-lari cepat menuju lorong lainnya.

"Hoaar...!"

Di depannya sosok yang sama telah pula menghadang langkahnya. Pendekar Hina Kelana membalikkan tubuh dan bermaksud menuju ke tempat semula. Namun orang-orang aneh yang mengejar dibelakangnya saat itu juga telah berada begitu dekat dengan pemuda ini dengan sikap mengancam. Baginya tiada pilihan lain lagi. Secara bersamaan kedua tangannya yang telah teraliri tenaga dalam dia pukulkan kedua arah sekaligus.

"Weeer! Weeer...!"

"Buum! Bruaaak...!"

Para pengejar dan penghadang di depannya nampak berpelantingan ke segala penjuru. Pukulan si Hina Kelana Merana, sesungguhnya berakibat fatal bagi mereka, tetapi anehnya me-rekamereka ini seperti tidak merasakan akibat yang mereka alami. Bahkan tubuh aneh yang hangus akibat pukulan itu nampak bangkit kembali, selanjutnya langsung menyerang pemuda itu dengan cara lebih beringas lagi.

"Setan alas...! Aku yakin mereka pastilah bukan bangsanya manusia biasa. Tapi mungkinkah ada satu kekuatan yang tiada terlihat telah mengendalikan sosok tanpa ekspresi ini?" Batin pemuda itu, secara diam-diam diantara kesibukannya dalam menghadapi serangan yang begitu gencar. Pendekar Hina Kelana mengerahkan segenap kekuatan batinnya.

"Hemm! Benar seperti dugaanku...! Orangorang ini pasti ada yang telah mengendalikannya...!" gumam Buang Sengketa dalam hati.

"Kalau begitu, mereka ini merupakan sosok yang tiada pernah mengalami mati. Atau bahkan mereka ini sudah mati, namun ada seseorang dengan cara-cara tertentu dengan sengaja membangkitkannya. Aku telah menyerang mereka dengan cara apa pun, tenaga terkuras secara percuma. Satu yang harus kulakukan adalah mencari sumber kekuatan yang telah membangkitkan mereka secara tak wajar...!" Berpikir sampai di situ, secara mendadak Buang Sengketa keluarkan teriakan nyaring satu lengkingan Ilmu Pemenggal Roh telah di lepaskannya. Bangunan tua yang terletak di sekitar tempat itu runtuh. Tanah tempat mereka berpijakpun tergetar hebat. Tubuh tanpa nyawa yang telah dikendalikan sebuah kekuatan yang tiada terlihat itupun tergetar dan terhuyunghuyung. Namun tak seorangpun diantara mereka merasa terpengaruh oleh akibat yang ditimbulkan Ilmu Lengkingan Pemenggal Roh yang begitu dahsyat.

"Aku harus cari selamat...! Hiaaaa...!" Dengan mengerahkan ajian Sepi Angin pen-

dekar inipun tak begitu lama setelahnya telah melesat pergi. Tetap saja orang-orang tanpa ekspresi itu mengejarnya. Namun nampaknya mereka kalah cepat dalam hal mengadu ilmu berlari. Hingga sedetik kemudian merekapun telah kehilangan jejak. Sementara itu, pendekar Hina Kelana terus saja berlari dan berlari, dia sudah tiada perduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Sampai akhirnya pemuda inipun telah begitu jauh meninggalkan Kota Hantu.

4

Suasana di dalam gudang ruangan bawah tanah tampak remang-remang menyeramkan, lantai dasar ruangan itu senantiasa becek licin dan menebarkan bau amis darah. Sementara itu beberapa orang laki-laki berkulit hitam legam dan bertelanjang dada, nampak berjalan mondarmandir mengelilingi ruangan demi ruangan yang jumlahnya tak lebih dari delapan buah. Sesekali terdengar pula erangan-erangan lemah yang keluar dari mulut orang-orang yang terantai kaki dan tangannya di pojok-pojok ruangan. Dan pabila di lihat secara lebih dekat lagi, maka dengan jelas beberapa sosok tubuh terkapar dan terbelenggu rantai baja itu hampir keseluruhannya dalam keadaan terluka parah bekas cambukan maupun benturan benda tumpul lainnya. Keadaan mereka memang benar-benar sangat mengenaskan sekali, tubuh yang terluka yang sebagian besar telah mulai membusuk itu begitu kurus. Hanya tinggal kulit pembalut tulang. Tetapi yang lebih menyedihkan lagi, justru mereka yang berada di dalam kerangkeng ini kurang di beri makan. Sehingga menimbulkan kesan, hidup segan mati tak mau.

" Jletaaar... Jtaar...!"

"Ampun...ampun... jangan tuan siksa diriku seperti itu. Lebih baik tuan-tuan membunuhku saja...!" rintih sebuah suara berasal dari ruangan lain.

"Apa! Mati bagimu terlalu enak, Godot...! Selama belasan tahun kau telah kuberi pekerjaan yang begitu enak! Siapa suruh kau menyalah gunakan kepercayaan yang kuberikan padamu...?" Sayup-sayup terdengar suara bentakan seseorang.

"Maafkanlah aku tuan! Sungguh aku tak pernah menyalahgunakan kepercayaan yang tuan berikan...!" rintih orang yang mendapat lecutan cambuk tadi.

"Heh...! Kau tak pernah menyalahgunakan kepercayaan yang telah kuberikan padamu, jadi kau kemanakan hasil sawah dan ladangku selama ini...?" bentak orang itu dengan suara begitu dingin.

"Sebagian hasil sawah dan ladang tuan telah saya bagi-bagikan pada orang yang tidak memiliki kemampuan lahir batin...!" jawab laki-laki berbadan tegap itu dengan tubuh menggigil. Si Kakek renta yang masih memegang cambuk dan tetap berdiri di hadapan laki-laki gemuk itu memandang sinis pada lawan bicaranya. Kerut merut di wajahnya semakin bertambah banyak menandakan bahwa laki-laki berpakaian hitam ini sedang dilanda kemarahan besar.

Tiada terduga-duga kakek ini kembali mencambuki si laki-laki gemuk tanpa mengenal perasaan sedikitpun.

"Jraat...! Jtaaar... taaarr...!"

"Agffgkh... ampun! Emaaak.... huuu... hu... hu.... Tolong, bapaaaak...!" jerit laki-laki itu sambil terus meronta-ronta.

"Menangislah engkau sepuasmu! Sungguh memalukan pahlawan kesiangan sepertimu masih mengenal tangis seperti anak kecil..."

"Ampuni saya tuan! Semua kesalahan itu, hanya berdasarkan atas rasa kasihan terhadap orang lain yang benar-benar membutuhkan pertolongan...!"

"Bagus! Sekarang melolonglah engkau seperti seekor anjing. Aku jadi ingin lihat apakah orang yang pernah kau tolong, sekarang juga akan datang membalas pertolongan yang pernah kau berikan...?"

Dengan nafas terengah-engah.

"Mereka hanya orang desa biasa, tak mungkin mereka dapat melakukannya, tuan?"

"Dan kau menganggap dirimu sebagai seorang dewa penolong,...?" hardik kakek berpakaian serba hitam itu merasa sangat tersinggung.

"Sama sekali tidak! Saya hanya merasa kasihan pada mereka...!" rintih laki-laki gemuk bernama Godot ini tersendat-sendat.

"Dasar celaka...! Hiaaat...!" maki kakek tua ini, kemudian kembali melecutkan cambuknya kebagian tubuh Godot yang sudah memar membiru. Karena saat mengayunkan cambuk itu disertai tenaga dalam yang tinggi, maka sudah barang tentu tubuh laki-laki gemuk ini terbanting kian kemari. Jeritan-jeritan histerispun terus terdengar, tapi semakin lama semakin bertambah melemah hingga akhirnya hanya tinggal rintihan belaka.

"Bleeegkh...!" Godot jatuh pingsan dan menggeletak di lantai ruangan bawah tanah yang becek lagi licin. Kakek berpakaian serba hitam ini tergelak-gelak, bahkan perutnya yang buncit itupun bergoyanggoyang. Setelah tawanya reda, kemudian dia berpaling pada dua orang laki-laki bertampang sangar yang berdiri tegak tak begitu jauh di belakangnya.

"Iblis Dua muka!"

"Saya, Tuan Durga Wungu...!" Laki-laki bertelanjang dada yang dipanggil Iblis Dua Muka menyahuti.

"Dan kau Setan Gila...!" tukasnya sambil melirik pada laki-laki kurus yang berada di sebelah Iblis Dua Muka.

Sesaat yang ditanya tundukkan wajahnya memberi hormat. Dengan sikap acuh laki-laki berpakaian serba hitam itupun melangkahkan kakinya menuju ruangan penjara kearah jalan keluar.

"Ada apakah, Tuan Durga Wungu...?" tanya Setan Gila, lalu mengikuti langkah Durga Wungu dari belakangnya.

"Kota Hantu! Huaaa... ha... ha... ha...!" Kakek tua berperut buncit itu keluarkan tawa tergelak-gelak. Ruangan bangunan di bawah tanah tergetar hebat begitu suara kakek ini bergema memantul diantara dinding penjara. "Sudahkah kota itu kau isi dengan hantu-hantu bergentayangan...?"

"Sepuluh tahun Kota Hantu berada dalam kekuasaan kita, tiada berpenghuni manusia yang bernyawa terkecuali mereka yang sudah mati, dan kami bangkitkan kembali menurut kehendak para iblis...!" jawab Iblis Dua Muka. Sebagaimana biasanya, laki-laki berbadan hitam legam inipun sunggingkan seulas senyum sinis. Sementara sepasang matanya yang senantiasa merah menyala inipun nampak berkilat-kilat.

"Apa yang dilakukan oleh saudara Iblis Dua Muka, semuanya tak bisa lepas dari bantuan yang saya berikan, Tuan Durga Wungu! Sayalah yang telah melakukan penculikan terhadap siapa saja yang berani berkeliaran atau mencari tahu tentang rahasia yang tersimpan di Kota Hantu. Saya yang membunuh mereka, lalu saudara Iblis Dua Muka yang menghidupkan mereka dalam bentuk lain sehingga dengan mudah dapat dikendalikan...!" ujar Setan Gila tak mau kalah.

"Benar, tuan...! Semua usaha yang saya lakukan tak mungkin bisa berhasil dengan baik. Jika tidak di bantu oleh saudara Setan Gila...!" Kata Iblis Dua Muka mendukung ucapan sahabatnya si Setan Gila.

"Sebuah kerja sama yang cukup baik! Dan upah yang kuberikan padamu juga pastilah berupa imbalan yang sangat memuaskan. Tapi untuk sekarang ini aku hanya memberikan sebagian diantaranya. Satu tugas lain yang belum kalian selesaikan adalah mencari Keris Jalak Senjata Kegelapan yang telah hilang dari dalam kamarku. Aku yakin, senjata itu masih di sembunyikan oleh seseorang di Kota Hantu." ujar Durga Wungu sambil terus melangkah menuju lorong ruangan lainnya.

"Kami bersama-sama dengan manusia tanpa nyawa telah memeriksa setiap sudut ruangan yang terdapat di kota ini, Tuanku... tapi kami belum mendapatkan apa yang seperti tuan katakan itu....!" Selak Iblis Dua Muka berusaha memberi penjelasan tentang usaha mereka mencari senjata kegelapan yang telah dilarikan oleh seseorang beberapa tahun yang lalu. Durga Wungu mendengus, lalu cepat-cepat palingkan muka.

"Cuuuh...!"

Sekali saja laki-laki itu meludah pada dinding tembok sebagai pelampiasan kekesalannya. Maka dinding yang diludahinya menjadi bolong. Dapat dibayangkan betapa tingginya ilmu yang dimiliki oleh kakek berpakaian serba hitam ini.

"Aku tak ingin mendengar segala alasan yang tak bisa kuterima. Bagiku tugas adalah tugas. Laporan keberhasilan yang kalian peroleh, hanya itulah yang ingin kudengarkan....!" bentak Durga Wungu dengan wajah berubah sinis.

"Beb...baiklah....! Tuan tak perlu merasa risau tentang segala urusan yang kami kerjakan   !

Saya Iblis Dua Muka dan kawan saya, Setan Gila pasti segera mendapat petunjuk untuk memperoleh senjata kegelapan yang telah hilang itu. !"

janji Iblis Dua Muka pada Durga Wungu.

"Hemm. Baiklah... melihat cara-cara kerja kalian selama ini, aku percaya dengan apa yang kalian katakan. ! Asal tahu saja. Aku tak mau ka-

lian mengalami kegagalan dalam hari-hari selanjutnya....!" kata Durga Wungu setengah mengancam.

"Percayalah, Tuan....! Sebagaimana harihari kemarin, untuk selanjutnya kami pasti tak akan mengalami kegagalan....!" Dalam kesempatan itu, secara tiba-tiba Iblis Dua Muka berpaling ke arah belakang lorong.

"Para Suruhan! Lemparkan dua orang tangkapan itu untuk di periksa....!" Perintahnya begitu berwibawa. Dari kegelapan malam terdengar suara bergemuruh di sertai rintihan-rintihan kecil. Selanjutnya terlihat dua sosok tubuh terlempar bagai dua buah karung yang tiada guna.

"Gubraak !"

"Auuuh... ala emaaak....!" jerit kedua orang itu secara hampir bersamaan.

"Siapa mereka....?"'tanya Durga Wungu setelah meneliti wajah para tawanan satu persatu.

"Tikus-tikus comberan ini coba-coba memasuki Kota Hantu, Tuan....!" lapor Setan Gila, dan tanpa di sangka-sangka orang inipun me-nendang kedua-duanya.

"Duuuk... Buuk !"

"Aduh... hiii... salit... eeh sakiit. !"

"Tendangan orang jelek itu memang sakit! Tapi rasa sakitmu di bagian mana?" tanya kawannya yang juga sama-sama kena tendang begitu melihat kawannya berjingkrak-jingkrak.

"Anuku... orang itu sungguh kejam! Anuku... huhu... hu... hu....!" rintih si laki-laki bertampang lucu sambil memegang bagian selangkangannya.

"Anumu... anumu sakit ya....! Apa sekarang masih ada di tempatnya? Coba periksa....!" Selak yang satunya lagi. Sungguhpun dia sendiri merasakan sakit di bagian punggungnya akibat tendangan, tapi masih juga dia bersikap konyol. "Apa...anuku harus kuperiksa! Ah, jangan...

aku malu sama orang-orang...!" Tukasnya lugu. "Ya sudah....!" Kata kawannya dengan tu-

buh menggigil ketakutan.

"Diaamm....!" bentak Durga Wungu. Nampaknya laki-laki berusia tujuh puluhan ini merasa tak sabar menghadapi dua laki-laki setengah baya bertampang tolol itu. Sejenak lamanya, suasana di sekeliling ruangan itu menjadi hening, tapi keheningan itu tidak berlangsung lama. Karena Setan Gila sudah pula menyelak.

"Tikus-tikus penyelundup! Katakan siapa nama kalian! Dari mana asal usul, dan apa maksud tujuan kalian memasuki Kota Hantu ?"

Dua orang laki-laki bertampang tolol itupun saling berpandangan sesamanya. Tapi demi menghindari siksaan, salah seorang diantaranya cepatcepat berkata:

"Namaku Panjul, Tuan....! Sedangkan kawanku ini Panut! Alkisah dulunya kami merupakan murid-murid dari Perguruan Besar Jagad Kelanggengan! Tapi akhirnya guru kami tewas di tangan seorang pendekar gembel yang berjuluk Pendekar Hina Kelana... lalu kami pulang kampung dan menjadi petani biasa. !"

"Cukup! Keterangan kalian tidak bermutu !" potong Iblis Dua Muka marah sekali.

"Beri kesempatan pada mereka untuk bicara....!" ujar Durga Wungu berwibawa. Sebentar dia menoleh pada Panjul dan Panut (Untuk lebih jelasnya siapa kedua orang ini terdapat dalam Episode Satria Penggali Kubur). Setelah memperhatikan kedua laki-laki bertampang tolol ini, kemudian dia pun berkata: "Sekarang coba katakan mengapa kalian memasuki Kota Hantu?"

"Kami tak sengaja! Kami tersesat ketika mencari tiga ekor kambing kami yang tiada kembali. !"

"Bohong....!" bentak Setan Gila. Sekali lagi ditendangnya Panjul dan Panut. Begitu keras tendangan itu sehingga selain dua-duanya terlempar menabrak dinding juga dari mulut mereka mengalirkan darah kental.

"Hoeeek....! Hoeeek....!" Dengan napas tersengal-sengal dan dada terasa menyesak, Panjul dan Panut coba-coba merangkak. Tapi tangan dan kakinya goyah tiada bertenaga, tak dapat dicegah, tubuh mereka pun ambruk kembali dengan posisi menelungkup.

"Amm...ampun tuan....! Kami benar-benar tak memiliki maksud-maksud tertentu ketika memasuki Kota Hantu !"

"Omong kosong! Kalian kami curigai....! Seumur hidup selama kalian masih belum mau mengaku, maka kebebasan bagi kalian hanyalah berupa isapan jempol belaka....!" kata Durga Wungu. "Rantai mereka dan siksa sampai mau mengaku....!" perintahnya pada dua orang tangan kanannya.

Dengan cepat kedua orang itu segera melakukan pekerjaannya, hanya dalam waktu sebentar saja Panjul dan Panut telah terantai tangan dan kakinya. Tanpa banyak tanya lagi orang-orang itupun langsung mencambuki tubuh dua laki-laki bertampang tolol ini tanpa merasa kasihan sedikitpun. Sementara itu Durga Wungu sudah tak kelihatan lagi berada di sana.

5

Sudah begitu jauh aku meninggalkan Tanah Bernyawa. Tempat-tempat yang tidak ku kenalpun telah banyak yang kulalui. Tetapi bintang tembaga atau tanda-tanda yang hampir sama tak juga kudapat. Mungkin apa yang dikatakan Nenek Gombrang tentang apa yang terjadi dan menimpa orang tuanya puluhan tahun yang lalu itu tidak pernah ada. Dalam arti bintang persegi empat yang terbuat dari tembaga ini tidak memiliki sangkut paut apa-apa dengan kematian orang tuanya. Terbukti selama puluhan tahun hingga kini tanda-tanda ditemukannya pelaku pembunuhan itu masih belum juga dia dapat. Bagiku tugas yang diberikan oleh Nenek Gombrang merupakan tugas berat yang harus kupikul....! Kata gadis bertopi caping ini seorang diri.

Gadis berkulit kuning langsat dan merupakan murid tunggal Nenek Gombrang di Tanah Bernyawa nampak terdiam sesaat lamanya. Sepasang matanya yang begitu teduh berkesan curiga pada siapa saja memandang lurus-lurus ke depannya. Tak ada hal-hal yang mencurigakan terlihat, terkecuali pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, serta hamparan bukit dan lembah yang membiru.

"Iihh...!"

Tiba-tiba gadis itu berjingkrak kaget. Apabila matanya kembali memandang ke arah semula, maka terlihat olehnya satu kilatan cahaya putih yang dipantulkan sinar matahari. Kilatan putih itu tak ubahnya bagai sebuah cermin yang berukuran besar dan berasal dari lereng bukit sebelah Utara tidak begitu jauh dari posisinya saat itu.

"Ahh...! Kilau benda berwarna putih di bukit itu semakin bertambah banyak. Ingin ku tahu sesungguhnya benda apakah yang bisa memantulkan cahaya seperti itu?" gumam Lukita Sari. Selanjutnya gadis bertopi caping itu pun mengayunkan langkahnya menuju lereng bukit yang jaraknya tidak begitu jauh dengan posisinya saat itu.

Hanya beberapa saat setelah itu, Lukita Sari terpaksa menghentikan langkahnya. Di depannya sebuah jurang menganga dalam, gadis ini mengitarkan pandangan matanya ke segenap penjuru. Tak sesuatu benda apapun yang dapat dipergunakan dalam menuruni jurang itu. Tapi sebagai gadis yang memiliki pikiran cerdik, sedikit pun dia tiada merasa putus asa. Ketika dilihatnya di sekitar tempat itu banyak terdapat sulur-sulur tumbuhan merambat. Maka harapan lain pun bermunculan di benaknya.

"Sulur tumbuhan merambat ini pasti dapat kupergunakan sebagai tali untuk mencapai lereng bukit di sebelah sana." membatin gadis itu. Selanjutnya dengan cekatan diraihnya sulur tadi. Dengan cara bergelantungan sekejap kemudian Lukita Sari mengerahkan sebagian tenaga dalamnya untuk melompati jurang yang ada.

"Haaaat...!"

Tubuh gadis bertopi caping ini nampak melayang melewati jurang yang tidak terlihat bagian dasarnya.

"Jleeegkh...!"

Dengan gerakan ringan tiada menimbulkan suara sampailah dia pada tebing jurang yang berada di seberangnya.

"Melihat keadaan jurang ini, rasa-rasanya ada sesuatu yang tersimpan di depan sana. Untuk tidak menimbulkan kecurigaan sebaiknya aku akan merobah ujudku menjadi seekor musang...!" kata Lukita Sari. Tak begitu lama kemudian setelah merapal mantra-mantra ilmu sihir yang dimilikinya. Maka berubahlah ujud Lukita Sari menjadi seekor musang berbulu abu-abu. Musang penjelmaan gadis bertopi caping ini kemudian melompat dari dahan ke dahan, mendekati lereng bukit.

Di luar sepengetahuan si gadis kiranya ada sepasang mata yang sejak dari tadi terus menerus mengawasinya. Pemilik sepasang mata itu tak lain merupakan seorang pemuda berkuncir si Hina Kelana.

"Gadis bertopi caping itu sekarang telah merubah dirinya menjadi seekor musang. Aku jadi ingin tahu apa saja yang dilakukannya di tempat seperti ini...?"

"Heeep...!"

Dengan kecepatan yang luar biasa, pemuda keturunan manusia negeri alam gaib itu melompat pada sebatang pohon, selanjutnya dari dahan ke dahan dia berloncatan bagai seekor tupai. Walaupun gerakannya sedemikian cepat, namun dia tetap menjaga jarak agar kehadirannya tidak diketahui oleh gadis bertopi caping yang kini telah merubah ujudnya menjadi seekor musang. Ketika musang penjelmaan Lukita Sari telah menuruni sebatang pohon berdaun lebat. Pendekar Hina Kelana hentikan gerakannya sejenak. Lalu diperhatikannya musang penjelmaan Lukita Sari yang sedang berusaha mendekati barak-barak kecil yang sunyi seolah tiada berpenghuni. Barak demi barak ditelitinya. Namun dia tak melihat siapa pun berada di sana.

"Heran! Melihat keadaannya, barak-barak yang kosong ini pastilah dihuni oleh manusia biasa! Tapi kemanakah perginya mereka, dan pula aku tak melihat benda putih berkilau yang bentuknya sangat mirip dengan bintang tembaga yang ada bersamaku ini. Mungkinkah agak di sebelah sana...?" batin Lukita Sari. Selanjutnya musang penjelmaan gadis bertopi caping itu berjalan menuju barak yang terletak di sebelah kanannya. Namun tidak juga dijumpainya siapa pun di barak itu, maka musang penjelmaan Lukita Sari mulai memeriksa suasana di lereng bukit itu.

"Ahh. Benda di depan itu seperti yang memancarkan kilauan cahaya ketika pertama tadi. Baiknya kuperiksa lebih teliti lagi...!" desis Lukita Sari, selanjutnya musang jejadian itupun bergerak cepat mendekati sebuah benda persegi yang melekat di atas tanah lebih kurang satu tombak di depannya.

"Hem. Jadi benda inilah yang tadi memancarkan sinar berkilauan ketika aku sampai di pinggiran jurang itu? Aku yakin benda ini pasti ada pemiliknya...!" Gadis bertopi caping merogoh sesuatu dari saku bajunya. Selanjutnya mengeluarkan benda berbentuk bintang persegi empat pemberian Nenek Gombrang beberapa waktu yang lalu.

"Bintang ini sangat mirip sekali dengan bintang besar yang melekat di atas permukaan tanah ini. Tapi mengapa tak pernah kulihat seorang manusia pun berada di tempat ini...!" batinnya pula. "Ada baiknya kalau kuselidiki apa yang tersembunyi di balik semua yang terlihat...!"

Musang penjelmaan gadis bertopi caping menggerakkan kaki depannya menyentuh ujung bintang yang terdapat di sisi kirinya. Di luar dugaannya begitu ujung bintang itu tersentuh. Terdengarlah suara bergemuruh bagai suara gempa bumi. Bintang bersisi empat itu amblas, secara cepat seperti ada kekuatan yang tidak terlihat membetotnya ke dalam. Bintang bersisi empat lenyap dari penglihatan Lukita Sari secara tiba-tiba. Sebagaimana bintang tadi, maka tanah di balik bintang itu berlubang membentuk sebuah gua berbentuk bintang. Gua berbentuk bintang itu terus memperdengarkan suara-suara bergemuruh. Musang penjelmaan gadis bertopi caping sudah berniat menjauhi gua bintang yang muncul secara tiba-tiba tadi. Namun sebuah kekuatan yang tidak terlihat telah menyentakkan musang berbulu abuabu itu, hingga menyebabkan tubuhnya terpelanting memasuki gua tersebut.

"Kampret! Gua ini begitu gelap, aku tak tahu apa yang sedang terjadi di sini?" gumam Lukita Sari. Sementara tubuh musang jejadian terus terseret mengikuti kekuatan gaib yang menariknya.

Sementara di luar sepengetahuan si gadis, Pendekar Hina Kelana yang merasa tertarik untuk mengikuti perkembangan selanjutnya, diam-diam ikut menyelinap memasuki gua bintang yang telah menyeret tubuh musang tadi. Keanehan pun kembali terjadi. Dari bagian luar sebuah bintang lain menutup gua yang telah dimasuki oleh Pendekar Hina Kelana dan Lukita Sari.

"Breeeeng...!"

"Celaka! Gua ini menutup kembali. Aku yakin semua ini hanyalah berupa jebakan belaka. Sialnya gua ini semakin bertambah gelap saja, tak bisa kulihat di mana posisi gadis jejadian itu berada...!" gerutu si pemuda merutuki diri sendiri. Dalam pada itu jauh di depannya terdengar suara bentakan sayup-sayup.

"Selamat datang tamu tak diundang di Istana Bintang. He... he... he...! Seekor musang cerdik lagi cantik,..!" Secara tiada terduga-duga, begitu suara sayup-sayup di depan sana lenyap, mendadak ruangan di dalam gua itu berubah menjadi terang benderang.

"Cepat-cepatlah rubah ujud mu menjadi sebagaimana semula...!"

"Ngoeeeek...!" Di dalam sana musang penjelmaan Lukita Sari melompat undur tiga tombak. Kemudian setelah merapal ajian yang dimilikinya:

"Plaaas...!"

Tubuh musang penjelmaan gadis bertopi caping telah kembali ke dalam ujudnya semula.

"Hak... hak... hak...! Apa kubilang, kau memang merupakan seekor musang yang cantik. Heh... sudah lebih dua puluh tahun musang cantik sepertimu atau yang sejenis dengan dirimu tak pernah ada yang berani muncul di daerahku ini. Bahkan seekor kunyuk jelek pun tak ada yang berani menyaba daerah kekuasaanku. Tapi kini seekor musang cantik bersedia datang dengan seekor monyet gembel... sungguh aku merasa ka-gum dengan keberanian yang dimilikinya...!"

"Sialan! Orang itu mengetahui kehadiranku...!" maki Buang Sengketa dari tempat persembunyiannya.

Lukita Sari yang tidak mengetahui kehadiran orang yang disebut-sebut oleh suara yang belum menampakkan diri itu, sudah tentu merasa heran dan terkejut sekali. Seingatnya hanya dia seoranglah yang terperangkap memasuki gua itu. Kini orang yang berkata-kata itu menyebut-nyebut kehadiran orang lain selain dirinya sendiri, dari sini saja Lukita Sari sudah dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang sedang berkata-kata itu tentulah seorang tokoh yang memiliki kesaktian tinggi.

"Kau menjebakku seperti seekor tikus comberan yang begitu pengecut! Kini kau bicara dalam kegelapan bagai orang sinting yang lagi kumat gilanya! Manusia macam apakah...!" ejek Lukita Sari dalam kegusarannya.

"Hak... he... ha... ha...! Mulutmu kelewat takabur bocah ayu, kau mau pun kunyuk gembel yang ngumpet di lorong sana masih hijau untuk mengetahui siapa sesungguhnya diriku ini...!" gerutu sang suara.

Sekali lagi gadis bertopi caping itu melirik ke arah belakang, namun tak seorang pun yang dia lihat. Merasa tidak sabar, maka gadis itu pun kembali berpaling ke arah datangnya suara tadi.

"Kau hanya seorang pembohong besar! Tak seorang pun yang datang bersamaku, terkecuali diriku sendiri...!"

"Kaulah yang pembohong! Kuharap gembel berperiuk yang masih ngumpet di depan gua bintang sana segera tunjukkan diri...!"

"Kurang ajar! Sungguh pun bangsat itu tidak melihatku, tapi justru dia melihat bagaimana keadaanku...! Aku pun bukan seorang pengecut.... Haaiiit...!"

Dengan sekali berkelebat saja, maka tubuh Buang Sengketa telah berada di belakang Lukita Sari.

"Ka... kau... siapakah anda...!" tanya Lukita Sari merasa terkejut bukan alang kepalang.

"Jangan bermain sandiwara di hadapanku, musang cantik dan kunyuk gembel! Siapapun yang telah begitu berani memasuki Gua Bintang, hanya ada satu kemungkinan baginya. Yaitu mati... tapi sebelum kematian itu sendiri aku pun harus mengetahui apa yang menjadi tujuan kalian memasuki daerah yang menjadi kekuasaanku secara turun temurun...?"

"Kau mau apa kemari...!" tanya Lukita Sari pada Buang Sengketa, tanpa menghiraukan pertanyaan Penguasa Gua Bintang.

"Aku... he... he... he...!" Buang Sengketa cengar cengir. "Hanya secara kebetulan saja aku memasuki daerah ini tanpa tujuan apa-apa...!"

"Bohong...!" bentak Lukita Sari. "Kalaupun nona menginginkan jawaban yang benar! Maka tujuanku sampai terjebak di dalam gua terkutuk ini hanyalah ingin melihat bagaimana caranya seekor musang cantik melepaskan diri dari perangkap seekor bandot tua...!"

"Keparaat...!" maki suara tanpa ujud. Serak. Tiba-tiba dari kegelapan menderu satu pukulan ganas berhawa dingin luar biasa.

"Hi... hi... hi...! Inilah caranya menyambut kedatangan tamu seekor musang dan seekor kunyuk gembel. Elakkanlah kisanak, kalau kau tidak mampu. Silakan merat ke neraka dulu-an...!" kata Lukita Sari. Dengan cepat gadis ini menghindar.

"Plaaaas...!"

Secara tiba-tiba pula tubuh Lukita Sari lenyap begitu saja. Tinggallah Buang Sengketa sendirian yang menghadapi serangan mendadak itu. Karena ruangan di dalam gua itu begitu luas, maka dengan cara berjumpalitan si pemuda membuang tubuhnya ke samping. Namun pukulan yang dilepas oleh lawannya terus memburunya kemana pun dia menghindar. "Kurang ajar...!" maki Buang Sengketa. "Melompat-lompatlah seperti seekor monyet,

Kisanak...! Hi... hi... hi...!" kata Lukita Sari yang merasa luput dari serangan yang dilakukan oleh lawannya.

"Aku tak perduli apakah ruangan ini cukup kuat untuk menahan terjangan pukulanku... haaaiiit...!"

Buang Sengketa bersalto tiga kali. Kemudian dikerahkannya sebagian tenaga dalam yang dia miliki. Begitu tangannya dia hantamkan ke arah pukulan lawan yang terus memburu. Tak ayal selarik sinar Ultra Violet yang menimbulkan hawa panas luar biasa, bertemu di udara:

"Buuummmm...!"

"Gila-...!"

Terdengar satu seruan tertahan saat mana ruangan di dalam gua itu runtuh sebagian. Kemudian berkelebat pula sesosok tubuh dari kegelapan mendekati si pemuda yang saat itu nampak tertatih-tatih dan berusaha bangkit berdiri.

"Anda memang hebat kunyuk gembel...!" puji Lukita Sari. Tahu-tahu telah berada tidak begitu jauh dari Buang Sengketa.

"Segala pukulan picisan kau pamerkan di hadapanku, bocah gembel...!" maki penghuni Gua Bintang, yang sesungguhnya seorang laki-laki berbadan bongkok berwajah pucat dan hanya memiliki sebelah mata.

"Sekarang coba kalian katakan apa yang kalian cari di tempat ini sehingga kalian begitu berani memasuki daerah Gua Bintang...!" bentak si Bungkuk muka pucat mata picak.

Karena perhatian laki-laki bungkuk itu tertuju pada Buang Sengketa, maka mau tak mau pemuda ini pun menjawab: "Aku tak mempunyai tujuan tertentu, hanya seorang pengelana belaka...!"

"Melihat tampangmu, mungkin aku bisa sedikit mempercayaimu... tapi kalau musang jejadian itu apa juga hendak mengaku sebagai seorang pengembara juga...?" tanya laki-laki bungkuk mata picak menyindir.

"Berkata terus terang! Aku merasa tertarik dengan gua bintangmu ini...!" jawab Lukita Sari ketus. Mendengar pengakuan gadis bertopi caping, mata picak langsung tergelak-gelak. Perlu diketahui walaupun laki-laki berusia setengah abad ini merupakan tokoh sesat, namun dalam hal berkata-kata dia suka bersikap apa adanya.

"He... hek... he...! Dua puluh tahun aku menjadi seorang kacung, hingga aku tak pernah memikirkan kehidupan diri sendiri. Aku memiliki murid yang begitu banyak. Begitu setianya pengabdianku. Tapi seorang majikan tak pernah menghargai segala pengorbanan yang pernah kulakukan. Satu kesalahan kecil yang pernah kulakukan, membuat semua muridku bergentayangan tanpa nyawa di Kota Hantu...! Nasibmu terlalu buruk Candra Kila...!" ujar laki-laki bungkuk mata picak seperti pada dirinya sendiri.

Kata-kata laki-laki bungkuk yang tiada terduga-duga itu sudah barang tentu membuat Buang Sengketa yang pernah memasuki kota hantu menjadi terperangah. Namun sampai saat itu tiada niat dalam hatinya untuk memotong pembicaraan Candra Kila.

"Bicaramu ngaco manusia jelek! Aku tak sudi mendengar segala ocehanmu...?" bentak Lukita Sari.

"Jangan bersikap kasar padaku, Nona Cantik! Sungguh pun aku sudah tua, namun aku masih seorang perjaka yang selalu mendamba-kan kehadiran seorang gadis cantik sepertimu. Istana Gua Bintang ini akan ku persembahkan padamu andai kau mau menjadi istriku...!" ujar laki-laki bungkuk Candra Kila, lalu sunggingkan seulas senyum misterius. Memerah wajah gadis bertopi caping itu, tiba-tiba dia meludah tiga kali

"Cuih... manusia jelek bau tanah! Bicaramu kacau tak ubahnya orang yang kurang waras. Tapi...!" ucap si gadis, nampak seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu rumit.

"Tapi mungkin aku akan mempertimbangkan keinginanmu itu, andai kau bersedia memberi ku beberapa petunjuk yang kuinginkan...!" katanya tanpa ragu. Jawaban Lukita Sari membuat Candra Kila yang hampir sepanjang hidup-nya terus hidup membujang menjadi terlonjak kegirangan.

6

"Nona boleh mengatakan segala keinginan nona, dan aku akan menyanggupi, bahkan memenuhinya jika aku mampu...!" ujar si Picak Candra Kila tanpa menghiraukan keberadaan Buang Sengketa di tempat itu, dan begitu pun halnya dengan Lukita Sari. Gadis bertopi caping ini nampak mengeluarkan sebuah bintang per-segi empat dari balik sakunya. Tak lama setelah memperlihatkannya pada Candra Kila, maka tanpa basa basi lagi Lukita Sari langsung bertanya:

"Kulihat pintu gua ini tertutup oleh sebuah pintu berbentuk bintang empat sisi. Bahkan di bagian bajumu juga terdapat benda yang sama, aku hanya memilikinya satu di antara sekian banyak. Nah coba katakan, apakah gunanya bintang yang berada di tanganku ini bagi kalian...?" tanya Lukita Sari dengan pandangan tiada berkedip.

"He... hek... hek...! Pertanyaanmu menyeramkan yang sesungguhnya tak perlu kujawab untuk seorang calon istriku...!" tukas Candra Kila.

"Kalau akulah yang diberi pertanyaan seperti itu, oleh seorang gadis seperti Nona ini... hemmm...! Aku tak ingin kehilangan kesempatan yang begitu menarik!" celetuk Buang Sengketa memanas-manasi.

"Tutup mulutmu gembel berperiuk...!" maki Candra Kila merasa tersinggung.

"Nah! Kalau engkau tak mau menjawab pertanyaanku itu, maka aku akan segera pergi dari tempat ini...!" ancam Lukita Sari. Dengan katakatanya itu, dia pun memutar langkah.

"Eiiit... tunggu...! Aku akan mengatakannya padamu, jantung hatiku...!"

"Cepatlah! Sebelum kesabaranku habis...!" Sebentar Candra Kila memandang tajam pada Buang Sengketa, dengan suaranya yang serak bahkan hampir tak terdengar: "Aku percaya kau pasti tak bermaksud usil dengan urusan kami berdua. Kalau pun kau melakukannya, nasibmu menjadi lebih buruk dari mereka-mereka terdahulu yang pernah memasuki Gua Bintang...!"

"Bicaralah dengan sesuka kalian, sementara waktu, aku merasa aman berada dalam ruangan menyeramkan ini...!" tukas si pemuda tanpa dapat mengerti apa sebenarnya yang dikehendaki gadis bertopi caping dari laki-laki berpunggung bungkuk seperti onta.

"Mm... baiklah...!" ujar Candra Kila, sesaat laki-laki bungkuk muka pucat mata picak memperhatikan Lukita Sari dan Buang Sengketa secara silih berganti. Acuh tak acuh diapun berkata:

"Dulu aku merupakan seorang penguasa di daerah sini. Tapi ketika manusia yang menamakan dirinya sebagai Durga Wungu dan merupakan pewaris tunggal seluruh kekayaan milik orang tuanya menyerang dan mengalahkan diriku. Maka dia telah memaksaku menjadi seorang kacung (Suruhan) di dalam singgasananya yang terdapat di Kota Hantu...!"

"Tunggu dulu! Kau menyebut-nyebut adanya Durga Wungu dan Kota Hantu. Apakah maksudmu yang sesungguhnya...?" sentak Lukita Sari dengan hati berdebar-debar.

"Kota Hantu adalah kota terkutuk yang hampir saja membuatku mampus di sana, sedangkan Durga Wungu mungkin saja majikan pemilik hantu-hantu yang bergentayangan...!" celetuk Buang Sengketa. Dari tatapan matanya, nampak sekali kalau pemuda keturunan negeri alam gaib ini masih diliputi kecemasan. Ucapan pendekar dari Negeri Bunian ini membuat Candra Kila terlonjak bagai disengat kalajengking. Bagaimana tidak, selama ini dia tahu persis, siapapun yang berani datang ke Kota Hantu. Tak mungkin dapat ke luar dari sana hidup-hidup. Bahkan banyak diantara mereka yang terperangkap, tewas atau kemudian dihidupkan kembali menjadi hantu, atau mayat-mayat bergentayangan. Tidak masuk di akal kalau pemuda berpakaian gembel ini bisa lolos dari perangkap-perangkap yang tidak sedikit yang sengaja dipasang di setiap sudut Kota Hantu. Kalau pun memang benar apa yang dikatakan oleh pemuda berperiuk ini, Candra Kila dapat menarik kesimpulan pastilah pemuda berpakaian merah ini memiliki ilmu kepandaian yang sangat luar biasa sekali. Dalam keragu-raguannya itu, secara tiba-tiba Candra Kila membentak: "Bocah! Tidak salahkah apa yang kudengar ini? Setahuku belum pernah seorang manusia pun yang mampu membebaskan diri dari maut, apabila pernah memasuki Kota Hantu. Dan kau mengaku pernah memasuki kota itu, bahkan kini telah pula berada di gua milikku. Kalaulah kau bukan manusia setengah dewa, pastilah kau keturunan para siluman...!"

"Aha... ha... ha...! Kuakui Kota Hantu dihuni oleh mayat-mayat tanpa nyawa, para iblis bergentayangan di sana. Bahkan tidak ku pungkiri, kalau mereka tak mempan dengan segala jenis pukulan yang kumiliki. Namun bagaimana pun hebatnya ilmu setan yang dipergunakan untuk membangkitkan mereka dari sebuah kematian. Tetapi, kebenaran melebihi segala-galanya...!" kata Buang Sengketa sambil tertawa-tawa.

"Bangsat! Tutup mulutmu, Kisanak! Pembicaraanku dengan orang yang berhajat untuk memiliki aku belum selesai...!" bentak Lukita Sari, nampak mulai memasang taktiknya. "Candra Kila! Apakah kau masih berminat meneruskan pembicaraan kita atau tidak? Kalau kau sudah tidak tertarik untuk beristrikan aku, maka kupikir pembicaraan tak perlu ada lagi...!" ancam gadis bertopi caping berpura-pura marah.

"Kunyuk gembel! Gara-gara mulutmu yang terlalu jumawa, aku hampir kehilangan kesempatan untuk memperistri gadis secantik dia, kuperingatkan padamu untuk sementara tutup mulutmu, aku ingin membicarakan persoalan kami...!" tukas Candra Kila, kemudian kembali berpaling pada Lukita Sari.

Buang Sengketa menjadi panas hatinya demi mendengar kata-kata Candra Kila yang secara terus menerus menyebutnya sebagai seorang kunyuk gembel. Tapi demi menghargai Lukita Sari yang sedang menjalankan suatu muslihat, maka Buang Sengketa hanya diam saja.

"Cepatlah jawab apa yang kutanyakan tadi...!" desak gadis bertopi caping itu nampak sudah tak sabaran lagi.

"Baiklah...! Seingatku, tadi kau bertanya tentang bintang bersegi empat itu bukan? Hhh...!" Candra Kila menarik nafasnya dalam-dalam. "Dulu... aku memiliki tidak lebih tiga puluh orang murid yang ku didik sebagai algojo-algojo bayaran. Tawaran apapun yang diberikan oleh orang-orang segolongan dengan bayaran yang tinggi tak pernah kutolak, baik itu melakukan perampokan, pembunuhan-pembunuhan sadis atau pun melakukan penculikan-penculikan. Tak pernah satu usaha pun yang pernah gagal."

"Lalu setiap kalian melakukan satu perbuatan yang tidak terpuji itu, kemudian satu tanda kalian tinggalkan...?" tanya Lukita Sari dengan hati berdebar.

"Ya... tapi tidak selamanya...!"

"Dan sepanjang hidupmu, anggota kalian terus melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti itu...?" pancing Lukita Sari lebih jauh.

"Tidak! Setelah satu pekerjaan yang membuat malapetaka bagi kami semua, Sejak saat itu, bukan saja kami tak mampu bergerak bebas, tapi juga telah membuat semua anak buahku terbantai di Kota Hantu. Durga Wungu... manusia keparat itulah yang telah menghancurkan kami, hingga kami tak memiliki kekuatan apa-apa...!"

"Kau kalah bertarung dengan mereka...?" pancing Lukita Sari lebih jauh.

"Ya... segala-galanya kami kalah. Hehh... kalau saja dulu kami tidak melakukan satu kesalahan yang begitu fatal. Tidak nantinya aku menjadi bungkuk seperti ini. Mataku tidak akan picak seperti yang sekarang yang kau lihat...!" desah laki-laki setengah baya ini seperti menyesalkan diri sendiri.

"Kesalahan apa...?" tanya Lukita Sari. Sementara Buang Sengketa yang turut mendengar pembicaraan mereka hanya mampu garuk-garuk rambutnya yang tak gatal.

"Hhh. Durga Wungu itu sesungguhnya manusia picik yang selalu dibayang-bayangi ketakutan akibat keserakahannya sendiri. Sebenarnya dialah manusia yang paling terkutuk dan paling keji yang pernah kujumpai di kolong langit ini...?!" umpatnya sudah tak mampu menahan kegusarannya. Tetapi Lukita Sari merupakan seorang gadis cerdik yang tak mudah terpengaruh dan terbawa oleh arus perasaan orang lain.

"Kau mengatakan Durga Wungu merupakan orang paling keji dan terkutuk! Apakah kau tidak menyadari bahwa pekerjaanmu sendiri telah menyimpang jauh, apakah itu tidak merupakan pekerjaan sesat...?" ejek si gadis bertopi caping dengan sesungging senyum kemenangan.

"Hmmm! Kutahu pekerjaan yang kami lakukan bukanlah pekerjaan yang mulia, tapi bentuk apapun hasil rampokan yang kami peroleh, semua itu kami sumbangkan pada mereka yang membutuhkannya...!" sahut Candra Kila. Kemudian beberapa saat lamanya matanya yang hanya tinggal sebelah itu memandang ke langitlangit gua. Seperti ada sesuatu yang coba dia ingat dan ingin dikatakannya pada Lukita Sari, yang secara mendadak menarik perhatian hati-nya.

"Lain lagi halnya dengan Durga Wungu!" Candra Kila menyambung. "Saat itu laki-laki keparat itu memerintahkan kami untuk menghadang perjalanan seorang pedagang yang tidak begitu kaya dengan imbalan yang tidak memadai pula. Karena mengingat nama besarnya maka pekerjaan itu kami terima, sayang dalam pelaksanaan tugastugas itu orang-orangku membunuh korbannya. Sehingga Durga Wungu marah besar, bahkan orang itu membunuh seluruh anak buahku. Mulanya aku tak tahu sebabnya mengapa Durga Wungu melakukan tindakan yang begitu kejam. Tapi setelah kuselidiki, barulah aku tahu bahwa orang yang telah dibunuh oleh murid-muridku itu ternyata masih merupakan orang tuanya Durga Wungu...!"

"Tindakan yang sangat keji...!" desis Buang Sengketa dengan wajah memerah. Sementara Lukita Sari sendiri, sungguhpun kemarahannya telah meluap-luap tapi dia berusaha untuk tetap menahannya. Bahkan dia pun bertanya: "Mengapa Durga Wungu begitu tega menyuruh kalian untuk menghadang orang tuanya yang sedang melakukan perjalanan...?"

"Keserakahan, hanya itulah jawaban yang paling tepat...! Durga Wungu mempunyai seorang adik tiri yang bernama, Sangra Wulan. Mungkin dia berniat mengangkangi semua peninggalan yang ada. Terbukti tak lama setelah orang tuanya meninggal, adik tirinya yang bernama Sangra Wulan itu pun diusirnya mentah-mentah. Beberapa tahun kemudian berita mengenai Sangra Wulan lenyap begitu saja, dan ketika dia muncul kembali dengan ilmu sihirnya yang menggemparkan itu. Semua golongan menjadi musuh besarnya. Dia pun akhirnya menemui Durga Wungu, tapi kesaktian yang dimilikinya masih kalah tinggi. Dia kalah dalam satu pertarungan yang seru, bahkan perempuan itu harus kehilangan sebelah kakinya...! Ah... sungguh aku telah terjebak oleh tipu muslihat penguasa Kota Hantu...!" geram Candra Kila.

"Keparaaat...!" maki Lukita Sari, setindak demi setindak gadis bertopi caping ini melangkah undur.

"Ee... ada apakah dengan kau, calon istriku...?" tanya Candra Kila diliputi ketidak mengertian.

"Calon istri...? Siapa yang sudi menjadi istri gembong pembunuh orang tua gurunya sendiri... heh... aku bukanlah seorang murid yang tak tahu membalas guna, seandainya aku bersedia menjadi istri manusia bungkuk sepertimu...?!" bentak Lukita Sari marah.

"Gurumu! Eee... bicaramu membingungkan. Apakah engkau bermaksud mengingkari janjimu sendiri...?" tanya Candra Kila dengan sebelah biji mata membelalak karena tak percaya.

"Hi... hi... hi...! Siapa yang sudi berjanji dengan manusia sesat sepertimu? Jangankan aku... iblis sekali pun tak mungkin mau berjanji denganmu...!"

"Bangsat! Perempuan pengecut. Heh... jangan kira kau dapat lolos dari tanganku bocah cantik...!" bentak si laki-laki bungkuk mata picak dalam kegusarannya. Dalam situasi menegangkan seperti itu, tiba-tiba Candra Kila menoleh ke samping, namun dia tidak melihat adanya Buang Sengketa di tempat itu. Lalu sesungging senyum licik pun menghiasi bibir Candra Kila.

"Kawanmu pemuda gembel itu sudah merat secara diam-diam! Kini hanya tinggal kau seorang. He... he... he...! Hanya kita berdua sekarang, kau pasti tak akan lolos dari tanganku, percayalah. !"

"Oho   jangan terlalu yakin dengan kemam-

puan yang kau miliki manusia bungkuk. Kau, Durga Wungu si biang kerok dan orang-orangnya pasti akan kubasmi sampai ke akar-akarnya. !"

geram Lukita Sari.

"Bicaramu terlalu jumawa. Berhadapan dengan aku saja kau belum tentu bisa ungkulan. Apalagi berhadapan dengan Durga Wungu dan orang-orangnya. !" ejek Candra Kila.

"Tutup mulutmu! Majulah kalau memang benar merupakan orang yang pernah membunuh orang tua Sangra Wulan. Nah, sekarang majulah. !"

"Kurang ajar...! Kau benar-benar membuat kesabaranku habis...!"

"Haiiiit...!"

Dengan gerakan yang sangat gesit, laki-laki bungkuk itu menerkam Lukita Sari, tapi dengan gerakan yang sangat gesit, gadis bertopi caping itu berkelit menghindar.

"Hemmm. Kiranya kau memiliki kebolehan juga, Bocah...!" geram Candra Kila, tak ayal lagi laki-laki bungkuk itu pun membangun seranganserangan susulan. Tapi pada saat pukulanpukulan yang dilepaskan oleh Candra Kila datang menggeledek, pada saat itu Lukita Sari telah pula merapal mantra-mantra ilmu sihirnya.

"Orang jelek, lihatlah... di depanmu begitu banyak binatang berbisa yang datang menyerang...!" Teriak Lukita Sari begitu berpengaruh. Kenyataannya apa yang dilihat oleh Candra Kila memang pada saat itu di depannya entah dari mana datangnya telah dipenuhi oleh ratusan ekor binatang berbisa yang menebarkan bau amis menjijikkan.

7

Anehnya seperti apa yang dikatakan oleh Lukita Sari, binatang melata yang terdiri dari berbagai jenis itu langsung menyerang Candra Kila. Namun tokoh yang satu ini bukanlah merupakan seorang tokoh yang baru dalam dunia persilatan. Dengan mengandalkan pukulan Segara Geni, lakilaki bertubuh bungkuk ini hantamkan kedua tangannya ke depan. Secara praktis suasana di sekitarnya menjadi panas luar biasa. Api dengan cepat menyambar dari tangan Candra Kila yang menyala bagai bara, bahkan dengan cara berjumpalitan tangan Candra Kila kembali dia pukulkan ke depan. Ular-ular berbisa yang tadinya datang mengeroyok laki-laki mata picak ini sebagian besar diantaranya musnah terbakar.

"Hak... ha... ha...! Keluarkanlah seluruh kepandaian yang kau miliki...!" Dengus Candra Kila sambil terus keluarkan tawa tergelak-gelak. "Janganlah terlalu berpuas diri...!" sengat

Lukita Sari. Lalu melangkah undur tiga tindak. Selanjutnya gadis bertopi caping ini rangkapkan kedua tangannya ke depan dada. Begitu mulutnya berkemik-kemik, maka seketika itu juga angin yang sangat kencang menderu, masih di dalam gua itu hujan yang sangat lebat pun terjadi. Candra Kila tak mau mengalah begitu saja, laki-laki ini angkat tangannya tinggi-tinggi. Tubuhnya sesaat saja telah tergetar hebat. Sementara tubuh dan pakaiannya telah basah oleh keringat. Api yang diciptakan oleh Candra Kila sekejap berkobar-kobar, namun di lain saat meredup bahkan kehilangan cahayanya. Tetapi hujan yang diciptakan oleh Lukita Sari semakin lama semakin bertambah deras. Secara perlahan namun cukup pasti tubuh Lukita Sari mulai basah oleh air hujan dan keringatnya sendiri. Tapi sampai sejauh itu dia masih belum mampu memunahkan api yang diciptakan Candra Kila. "Mengembarlah tubuhku...!" gumam si gadis bertopi caping.

"Jlek... Jlek...!"

Dengan tiada terduga-duga oleh lawannya, kini tubuh Lukita Sari telah mengembar tiga. Bahkan kembarannya dengan tangan menyilang di depan dada berusaha membantu Lukita Sari yang asli dalam menciptakan hujan seperti yang dikehendakinya.

Dengan kehadiran dua kembaran Lukita Sari yang palsu, maka hasil apa yang diinginkannya juga sangat mengejutkan. Hujan yang tercurah semakin bertambah deras. Api yang diciptakan oleh Candra Kila semakin lama semakin meredup. Tetapi Candra Kila bukanlah tokoh yang mudah putus asa. Dia lipat gandakan tenaga sakti yang dimilikinya, kemudian dua pukulan beruntun dilepaskannya mengarah tubuh kembar Lukita Sari.

"Yeaaahh.... Bleeem...!"

Satu dentuman keras terdengar saat mana, pukulan yang dilepaskan oleh Candra Kila tepat menghantam sasarannya. Tubuh Lukita Sari terlempar tiga tombak ke belakang. Tidak sampai disitu saja, bagian kepala gadis bertopi caping itu menghantam dinding gua yang kerasnya melebihi baja. Tak ayal lagi dalam pandangan Candra Kila, darah muncrat dari batok kepala si gadis yang rengkah. Laki-laki bungkuk, muka pucat mata picak tergelak-gelak. Kemudian dengan begitu angkuhnya dia pun berucap: "Menghadapi aku saja kau telah mampus hanya dalam beberapa gebrakan. Jangankan kau bermimpi dapat berhadapan dengan si keparat Durga Wungu...!" Belum juga hilang gema ucapan Candra Kila memenuhi seantero dinding gua, dari bagian belakang laki-laki bungkuk itu, meledak pula suara tawa Lukita Sari.

"Hiii... hi... hi...! Candra Kila manusia lamur! Kau kira aku begitu mudahnya dapat kau kalahkan? Coba kau lihatlah betul-betulkah aku sudah mati...!" geramnya dengan suara tergetar. Dalam kesempatan itu.

"Deees...!"

"Gubraaaak...!" Mendapat pukulan curi yang tiada disangka-sangka itu, membuat tubuh Candra Kila terbanting ke depan. Hampir seluruh wajahnya mencium ke tanah. Namun sungguh pun bagian punggungnya yang kena dipukul oleh lawan se-rasa remuk. Tapi laki-laki berbadan bungkuk ini cepat bangkit kembali. Lebih cepat lagi matanya memandang ke arah tubuh Lukita Sari yang tadinya tewas di pinggiran dinding gua. Tetapi apa? Dia hanya melihat sebongkah batu berbentuk tubuh manusia teronggok di sana. Sumpah serapah berhamburan dari mulut Candra Kila.

"Jahanam! Kau memiliki ilmu siluman kiranya...!" maki Candra Kila. Serta merta laki-laki mata picak ini berbalik langkah, sekali lagi dihantamkannya kedua tangannya ke depan. ‘Pukulan Segoro Geni’ tingkat satu terlepas. Tapi ketika pukulan yang menimbulkan kobaran api ini sedang meluruk ke arah lawannya! Tiada terduga-duga, Lukita Sari telah menciptakan seekor ular naga yang begitu besar. Ular naga bermata merah menyala ini julur-julurkan lidahnya, sementara mulutnya ternganga lebar-lebar. Anehnya begitu mulut naga hasil ciptaan Lukita Sari keluarkan bunyi mencicit-cicit bagai seekor tikus kejepit pintu. Pukulan Candra Kila langsung tersedot memasuki mulut naga ciptaan si gadis bertopi caping. Bara api yang begitu panas lenyap tanpa bekas. Kalau saja Candra Kila tidak cepat-cepat buang tubuhnya ke samping. Sudah barang tentu, tubuh lakilaki bungkuk itu terbetot dan melayang, masuk ke dalam mulut naga itu. "Hoooss...!"

Naga berwarna merah itu menghembuskan nafas. Bersamaan dengan hembusan nafas itu menyembur pula lidah api yang memiliki hawa panas berlipat ganda. Lidah api yang tersembur dari mulut naga itu nampak berusaha menggulung tubuh Candra Kila.

"Hhhhaaaa...!"

Begitu beraneka ragam pukulan yang dimiliki oleh Candra Kila, begitu lidah api yang disemburkan oleh naga merah mengancam keselamatannya. Maka dia pun melindungi dirinya dengan ajian Inti Es. Tak terbayangkan betapa dinginnya tubuh Candra Kila saat mana dia selesai merapal ajian itu. Bahkan Lukita Sari sempat merasakan pengaruh ajian yang dikerahkan oleh lawannya. Tubuh gadis ini menggigil, gigi-giginya bergemeletukan. Bahkan tubuhnya pun terasa kaku sulit untuk digerakkan. Namun setelah mengerahkan sebagian tenaga dalamnya. Maka hawa dingin luar biasa itu sirna seketika. Selanjutnya gadis bertopi caping ini pun berusaha mengerahkan kemampuan yang dimiliki oleh naga merah hasil ciptaannya. Lidah api terus menggulung tubuh Candra Kila, sejauh itu tubuh yang sudah terbungkus api lawannya tidak juga hangus terbakar. Bahkan selembar rambutnya pun tidak berkurang sedikit pun.

"Gila! Pertahanan yang dimiliki oleh laki-laki bungkuk itu begitu hebat. Aku harus me-robah siasat."

"Plaaaas...!" Naga hasil ciptaan Lukita Sari lenyap secara tiba-tiba. Sebagai gantinya gadis bertopi caping itu menciptakan hujan es. Tubuh Candra Kila yang sudah begitu dingin bahkan hampir membeku itu nampak tiada berkutik. Mula-mula dia tak menyadari akan adanya ancaman bahaya seperti itu. Namun ketika laki-laki bungkuk ini merasakan udara di sekitar gua itu menjadi semakin bertambah dingin luar biasa, sedangkan dia merasa tidak melipat gandakan tenaganya, maka sadarlah Candra Kila bahwa semua itu merupakan ulah lawan untuk membuat dirinya lumpuh tak berdaya. "Heeuuup...!" Candra Kila menarik balik Ajian Inti Es yang telah dikerahkannya. Maka secara perlahan tubuhnya yang berobah dingin itu kembali ke dalam keadaan normal. Kini yang tinggal hanyalah pengaruh hawa dingin yang dikerahkan oleh Lukita Sari. Namun begitu laki-laki bungkuk ini mengerahkan sebagian tenaga dalamnya, maka lenyaplah pengaruh pukulan lawan. Dengan wajah semakin bertambah pucat dipandanginya Lukita Sari dalam-dalam.

"Kau memiliki ilmu siluman. Jangan kau kira manusia Gua Bintang tak mampu melakukannya...!"

"Chiaaa... haaa... ha...!" Sekali saja Candra Kila berteriak, maka gema suaranya pun sambung menyambung tiada henti memenuhi dinding dan seisi gua. Bahkan suara menggelegar itu terus menembus ke seluruh pelosok penjuru gua sampai jauh ke dalam sana.

Bersamaan dengan suara sambung menyambung tiada henti. Mendadak tubuh Candra Kila lenyap begitu saja. Laki-laki mata picak itu ternyata memang tidak omong kosong. Sebab dengan mempergunakan Ajian Palemunan (ilmu menghilang) beberapa detik berikutnya Candra Kila menyerang Lukita Sari dengan tendangan kaki juga gaplokkan tangan. Berulang kali tubuh gadis bertopi caping ini jatuh bangun. Bahkan dari celah-celah bibirnya telah pula mengalirkan darah. Bagaimana pun dia berusaha untuk mengatasi serangan lawannya. Namun tetap saja dia merasa kerepotan.

"Chhaaaait...! Hilang...!" teriak Lukita Sari. Seperti apa yang diucapkannya maka detik selanjutnya tubuh gadis itu pun menyusul lenyap. Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh kedua tokoh yang saling terlibat pertempuran ini.

"Hah...!" Dalam keadaan sama-sama tak terlihat itu, Candra Kila membelalak tak percaya. "Bagaimana mungkin kau bisa menghilang sebagaimana halnya dengan diriku...?"

"Hik... hii... hiii...! Di dunia ini bukan hanya kau saja yang dapat lenyap begitu saja. Nah... sekarang rasakanlah ini...!" Teriak Lukita Sari. Seraya langsung melemparkan sesuatu berwarna hitam dan panjang.

"Ular...!" Desis Candra Kila. Lalu dengan gerakan refleks, laki-laki bungkuk ini segera mencabut senjatanya berupa sebilah belati tipis yang memiliki panjang lebih dari satu meter. Belati di tangan Candra Kila memiliki gagang berbentuk bintang segi empat, sedangkan belati itu sendiri berwarna hitam, menandakan senjata itu mengandung racun yang ganas. Begitu belati di tangan Candra Kila tergenggam di tangannya. Maka tanpa menunggu lagi, belati di tangannya dia babatkan ke arah ular-ular yang disambitkan oleh lawannya.

"Weeer...!" "Ceees.... Creees...!"

Ular-ular yang disambitkan oleh Lukita Sari terkutung menjadi beberapa bagian.

"Groaaar...! Hauuung...!"

Belum lagi sempat menarik nafas lega, dua ekor harimau ciptaan Lukita Sari telah pula menerkam Candra Kila. Tubuh Candra Kila melompat ke udara, begitu tangannya menderu. Dua tusukan berturut-turut dilakukannya.

"Blesss...! Blesss...!"

Laki-laki berbadan bungkuk itu semakin terbelalak matanya. Tusukan yang dia lakukan memang benar mencapai sasaran. Tetapi hunjaman belati itu dia rasakan bagai menembus ruangan kosong.

"Edan...!" Makinya sambil terus menghindari terjangan dan cakaran kuku-kuku harimau yang begitu runcing dan tajam.

"Keluarkan seluruh kebisaan mu, Candra Kila...!" teriak Lukita Sari yang berdiri tidak begitu jauh dari tempat pertempuran.

"Aku kehabisan tenaga dan mampus sendiri! Orang itu memiliki ilmu yang sangat tangguh...! Ada baiknya kalau aku menghindar untuk sementara waktu. Kalau aku kalah, itu sama artinya tak dapat membalas sakit hati ini pada Durga Wungu dan kawan-kawannya...!" Batin laki-laki berbadan bungkuk ini. Saat itu dia sudah mulai berfikir-fikir untuk melarikan diri sementara waktu.

"Haiiit...!"

"Grauuung...!"

Satu teriakan Candra Kila disambut oleh dua terkaman dua ekor harimau jejadian milik Lukita Sari.

"Brebet...!"

Terkaman seekor harimau loreng-loreng berhasil menyambar bagian punggung Candra Kila. Tubuh laki-laki bungkuk itu terhuyunghuyung. Darah nampak mulai merembes dari luka memanjang tadi. Nampaknya laki-laki muka picak itu menyadari, sudah tidak mungkin melakukan perlawanan lebih lama lagi. Apa yang ada di dalam benaknya saat itu adalah membalas dendam pada Durga Wungu. Cepat-cepat dia merogoh sesuatu dari dalam jubahnya.

"Bummmm...!"

"Keparaat! Dalam keadaan tak terlihat kasat mata seperti ini, kiranya dia juga tidak bermalu mempergunakan asap penghilang jejak...!" maki Lukita Sari. Ketika asap yang menyelimuti sekitar tempat itu sirna, gadis bertopi caping ini sudah tak melihat lagi adanya Candra Kila di tempat itu.

"Plaaaas...!"

Setelah merapal mantra-mantra sihir yang dimilikinya, maka tubuh Lukita Sari kembali nampak seperti sediakala. "Ada baiknya kalau kukejar ke arah sana...!" batin gadis bertopi caping ini, seraya bermaksud melakukan pengejaran ke arah bagian dalam lorong Gua Bintang. Namun sebelum niatnya itu kesampaian, terdengar suara teguran seseorang.

"Jangan kau lakukan pekerjaan tolol itu, Nona...! Di dalam sana terlalu banyak perangkap yang dapat mencelakakan dirimu...!"

"Kk... kau belum juga minggat dari tempat ini...!" Bentak Lukita Sari ketika melihat Buang Sengketa muncul dari lorong gua yang terletak di sebelah Utara.

"Mengapa harus tergesa-gesa! Bukankah di ruangan ini tadi baru saja terjadi permainan sulap yang sangat menarik...?"

"Kurang asem! Jadi kau tadi sempat melihat pertarunganku...?" rutuk Lukita Sari dengan wajah cemberut.

"Tontonan gratis, kalau tak dilihat mubajir...!" jawab si pemuda sambil tersenyum-senyum.

"Pemuda konyol, siapakah kau...!" Bentak Lukita Sari marah. Tetapi hatinya berdebar-debar dan mulai tertarik.

"Panggil saja, Kelana...!" jawab si pemuda apa adanya.

"Huhh... sebuah nama yang jelek...!"

Buang Sengketa hanya mampu cengarcengir. "Sudahlah Nona...!"

"Lukita Sari...!" gadis bertopi caping menyambung.

"Ee... boleh aku memanggilmu Ita...?" "Nenekku juga biasa memanggilku begitu...!" jawab si gadis begitu polos.

"Begini, Adik Ita...! Kalau kau bermaksud mengejar dan membasmi musuh gurumu alangkah lebih baik kalau kita pergi ke Kota Hantu secara bersama-sama...!"

"Aku... pergi bersama-sama denganmu...?" tukas si gadis merasa ragu-ragu.

"Kau tak perlu curiga padaku...!" kata Buang Sengketa memberi keyakinan.

"Baik aku setuju...!"

Akhirnya secara bersama-sama, kedua orang ini pun tanpa diliputi perasaan curiga antara satu dengan lainnya. Segera meninggalkan Gua Bintang.

8

Sejak tertangkapnya Panjul dan Panut, penjagaan di Kota Hantu semakin diperketat. Mayatmayat hidup hampir sepanjang hari terus menerus mengadakan ronda. Sudah barang tentu semua itu dilakukan atas perintah Setan Gila dan juga Iblis Dua Muka. Setiap hari bangunan-bangunan yang sudah tiada berpenghuni diperiksa oleh para abdi Durga Wungu. Namun sampai sejauh itu tandatanda ditemukannya Senjata Kegelapan milik Durga Wungu masih belum dapat titik terangnya.

Sementara itu di ruangan bawah tanah, Godot, Panjul dan Panut yang tangan dan kakinya dalam keadaan terikat nampak dalam pembicaraan serius.

"Kalau kita tak mau berusaha! Sampai kapan kita harus terkurung di ruangan menjijikkan ini...!" terdengar suara serak Godot memecah keheningan.

"Ya... walaupun diberi makan! Tapi kalau setiap hari harus dipukuli, siapa sudi....'" bela Panut sambil memperhatikan luka-luka bekas cambukan yang terdapat di sekujur tubuhnya.

"Coba lihatlah orang-orang kurus macam jerangkong hidup itu! Kalau kuperhatikan orang itu, rasanya keadaan kita masih lumayan... tapi kalau kupikir lagi, alangkah enaknya hidup di dunia ramai...!" selak Panjul tak mau kalah.

"Sebetulnya memasuki Kota Hantu bukan merupakan kesalahan yang begitu besar bagi kita. Tapi mengapa orang-orang terkutuk itu malah menangkap kita, kemudian menjebloskan kita di tempat yang berbau busuk ini...?"

"Apakah Kota Hantu menyimpan sesuatu yang sangat penting artinya bagi mereka?" tanya Panjul, serta merta dia mengerling ke arah Godot.

"Jangan keras-keras bicara. Salah-salah lehermu bisa dipancung oleh mereka." sentak lakilaki bekas kepercayaan Durga Wungu dengan suara lirih.

"Memangnya kenapa...?" tanya Panjul hampir berbisik.

"Kota Hantu kabarnya ada menyimpan senjata pusaka yang memiliki kharisma tinggi. Siapa pun yang memiliki senjata kegelapan konon kabarnya dapat lenyap sedemikian rupa. Yang pasti orang yang menguasai senjata itu dapat menguasai dunia persilatan berbagai golongan...!"

"Kau mengetahui begitu banyak, seolah kau ini merupakan seorang pendekar sakti yang punya hubungan dekat dengan Durga Wungu...!" ejek kedua orang itu, lalu garuk-garuk koreng bekas cambukan. Sejenak lamanya, Godot ter-diam. Secara mendadak wajahnya yang agak memucat itu pun bersemu merah. Tapi kemudian laki-laki ini mendengus.

"Durga Wungu tua bangka yang tak tahu membalas guna! Dia kangkangi semua harta benda yang ada, seolah masih akan hidup seribu tahun lagi. Siapa yang tak kenal dengan orang yang pernah menyuruh orang lain untuk membegal orang tuanya yang sedang melakukan perjalanan itu. Bahkan aku mengenalnya begitu dekat...!" ucap Godot seolah pada dirinya sendiri.

"Ha...! Jadi kau merupakan kaki tangannya...?" tanya Panjul dan Panut dengan kedua mata membelalak. Tanpa sadar mereka ini pun mulai beringsut menjauh. Tetapi begitu Godot menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Maka legalah kedua laki-laki konyol ini.

"Ah... kami pikir, kau merupakan kaki tangan setan terkutuk itu. !"

"Walaupun aku bukan kaki tangannya, tetapi dulu aku bekas tukang kebunnya selama berpuluh-puluh tahun. !"

"Lha... tukang kebun, kok sekarang ada di dalam penjara...!" desak Panjul seolah tidak percaya. Godot tersenyum getir. Selanjutnya secara singkat namun gamblang dia menceritakan segala sesuatunya pada Panjul dan Panut.

"Sungguh biadab perbuatan manusia yang bernama Durga Wungu itu. Misalkan aku ini adalah dirimu, sudah tentu aku melakukan apa yang kau lakukan. Sebab di dunia ini tolong menolong dalam berbuat kebajikan, semua pendeta atau ahli Budha juga menganjurkannya. Jadi bukan malah sebaliknya, yang memiliki kekuasaan menekan rakyat kecil. Yang kaya raya menari-nari di atas penderitaan orang lain. Huh, andai saja aku memiliki ilmu kepandaian seperti Pendekar Hina Kelana. Orang yang bernama Durga Wungu pasti tak akan kubiarkan hidup lebih lama di kolong langit ini...!" dengus salah seorang dari laki-laki bertampang konyol itu. Tanpa sadar dia meludahi wajah Godot. "Keparaat.... Kau menghinaku...!" maki

laki-laki berbadan gemuk itu tidak terima.

"Eeh... siapa yang menghinamu! Aku tak pernah bermaksud menghinamu...!"

"Kalau tak bermaksud menghina, mengapa kau meludahiku...?"

"Siapa suruh kau duduk di depanku! Aku meludah, seharusnya dibuang ke mana...?"

"Kan bisa ke samping kiri atau ke samping kanan...!" bentak Godot dengan dada kembang kempis menahan amarah.

"Goblook! Leherku yang terluka, susah sekali untuk digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri...!" Panjul menyahuti dengan wajah cemberut.

"Eee... he... he...! Betul juga ya...!" "Sebaiknya kita tak usah saling berbantahan. Pernahkah kalian memikirkan bagaimana caranya agar terbebas dari tempat seperti ini...?" tanya Panut yang sedari tadi hanya diam saja. Suasana di dalam ruangan penjara di dalam gudang bawah tanah itu kemudian sunyi sepi. Masingmasing orang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang dipikirkan oleh dua orang lainnya. Yang jelas saat itu, Panjul sedang teringat pada istrinya Loro Item yang sedang hamil sembilan bulan. Entah bagaimana keadaan istrinya saat itu. Entah sudah melahirkan atau belum. Kalaupun sudah, apakah anak yang terlahir itu hitam legam kulit tubuhnya sama mirip dengan kulit ibunya. Semoga saja tidak begitu. Mudah-mudahan saja anaknya mirip dengan dirinya. Tak pernah marah. Ah jangan. Jangan seperti dirinya, nanti kehidupannya sengsara terus. Jadi murid di Perguruan Jagad Kelanggengan nasibnya apes. Punya kambing dua ekor juga, akhirnya malah menyeret dirinya ke dalam jurang kesengsaraan. Anaknya tidak boleh menuruni nasibnya. Dia berharap, moga-moga saja anaknya yang terlahir bisa menjadi seorang pendekar tangguh seperti Pendekar Golok Buntung. Pendekar Penegak Keadilan itu, ya seperti itulah yang diharapkannya.

"Panjul... apakah kau sudah menemukan jalan keluar dari penjara celaka ini?" tanya Panut. Membuat laki-laki berusia tiga puluhan itu tersentak dari lamunannya.

"Jalan keluar apa? Ketahuan sejak tadi tangan dan kakiku terbelenggu rantai terkutuk seperti ini. Bagaimana aku bisa keluar...?" "Tolol! Bukan itu yang kumaksudkan...!" gerutu Panut merasa kesal dengan ulah kawannya yang satu ini.

"Jadi apa yang kau pikirkan sejak tadi...?" "Ah, aku sih cuma memikirkan apakah saat

ini istriku sudah melahirkan apa belum...!"

"Dasar sinting. Otakmu tak pernah lepaslepas dari memikirkan istrimu melulu!" Panjul hanya terkekeh. Sementara itu Panut sekarang beralih pada Godot.

"Bagaimana menurutmu, Saudara...!" "Kalau aku tahu jalan keluar dari tempat

celaka ini, sudah barang tentu sejak kemarinkemarin aku telah merat dari sini. Cobalah kalian lihat. Mereka yang berbadan kurus kering yang terbelenggu rantai baja itu, sesungguhnya memiliki kepandaian tinggi tidak setolol kalian. Tokh mereka saja tak mampu menghindar dari tempat ini. Jangankan hanya kita...!"

"Kalaupun bisa keluar semua usaha menjadi sia-sia. Kota Hantu tak pernah luput dari penjagaan mayat-mayat bergentayangan. Aku sendiri merasa takut dengan yang namanya mayat hidup...!"

"Kalau begitu sampai mampus kita tetap terkurung di tempat ini...!" Godot akhirnya hanya menggerutu, lalu merebahkan tubuhnya di lantai becek dan lembab.

***

"Masih jauhkah tempat itu dari sini...?" tanya gadis bertopi caping itu pada pemuda yang berjalan di sisinya. Sementara perhatiannya tak lepas-lepas dari pemuda berwajah tampan ini.

"Hmmm. Tidak begitu jauh, mungkin satu hari lagi kita akan sampai di sana!" kata si pemuda seadanya.

"Tiga hari tiga malam kita melakukan perjalanan tanpa henti, Kakang...! Tubuhku terasa letih sekali, bahkan perutku terus melilit minta diisi...!"

"Dendeng ikan lumba-lumba telah habis kau makan semuanya, masak makan sebegitu banyak kau masih merasa lapar juga...?" kata Buang Sengketa sambil terus mengayunkan langkahnya.

"Ah... hanya empat potong saja. Mana cukup membuatku kenyang...!" kilah si gadis bersungut-sungut.

"Yang lapar itu, mulutmu atau perutmu...?" "Perutku…!"

"Tapi kulihat bibirmu yang berkata begitu...!"

"Ah, Kakang jangan bercanda...!" rengek Lukita Sari begitu manja.

Buang Sengketa tergelak-gelak. Dalam hatinya merasa senang juga sepanjang perjalanan ditemani oleh seorang gadis cantik yang memiliki kepandaian yang mengagumkan pula.

"Aha... lihat...!" kata pemuda itu, mendadak dia hentikan langkah.

"Ada apa Kakang...?" tanya Lukita Sari. Pendekar Hina Kelana kemudian dengan te-

lunjuknya menunjuk pada sebuah dahan pohon yang terdapat di depannya.

"Yang kau maksudkan ayam hutan itu...?" "Ya...! Ayam jantan yang gemuk... kalau kita

tangkap, kita pasti dapat menikmati dagingnya...!" Berkata begitu si pemuda memungut se-

buah batu sebesar ibu jari. Kemudian dengan sikap ayal-ayalan. Pemuda ini pun menyambitkan batu itu.

"Taakk...!" Batu tepat menghantam bagian kepala ayam hutan yang bertengger di atas sebatang pohon. Sesaat ayam jantan itu menggelupur, kemudian tubuhnya melayang jatuh di atas rerumputan. Kedua muda-mudi ini kemudian berjalan menghampiri ayam tadi. Setelah memungut dan mengurut-ngurut dadanya.

"Lumayan! Ayam ini cukup gemuk...! Sekarang kau yang membersihkan bulu dan kotorannya. Biarkan aku yang mengumpulkan kayu bakar dan membuat apinya...!" Buang Sengketa dan Lukita Sari tak begitu lama kemudian telah tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Ketika Lukita Sari selesai mengerjakan ayam itu, maka bara apipun telah disiapkan oleh si pemuda. Tak lama setelahnya ayam hutan itu pun telah dipanggang di atas bara yang merah menyala. Menunggu daging ayam itu masak, sebentar-sebentar Lukita Sari memperhatikan wajah Buang Sengketa. Entah mengapa setiap memandang sosok wajah yang sangat tampan itu, hati gadis itu terasa bergetar. Bahkan secara diamdiam dia mulai mengagumi pendekar dari Negeri Bunian ini. "Jangan kau pandangi aku sedemikian rupa...!" sindir Buang Sengketa ketika secara tak sengaja mata mereka saling beradu pandang. Wajah Lukita Sari berubah memerah.

"Kenapa, memang tidak boleh...!" desah si gadis mengajuk. Buang Sengketa tertawa lepas

"Bukan tak boleh! Tapi aku takut, nanti kan jatuh cinta padaku...!"

"Ah.... Kakang... mana mungkin ada orang yang sudi dengan perempuan macamku ini...!" ucap Lukita Sari salah tingkah.

"Nah... nah... apa kubilang...!"

"Memang apa...?" tanya Lukita Sari tersipu

malu.

"Kalau kau jelek, mana mungkin Candra Ki-

la mengharapkan kau menjadi istrinya!" kata Buang Sengketa sambil terus membolak balik ayam panggang yang hampir matang.

"Terhadap manusia jelek seperti dia siapa mau...!"

"Kalau kamu nggak mau sama dia, apakah kau mau sama aku...?" ledek Buang Sengketa langsung tunjuk hidung.

"Iiih.... Kakang! Pandai sekali kau merayu...!" kata gadis bertopi caping ini. Saat itu wajahnya yang bersemu merah terpanggang panas matahari semakin bertambah merah karena dihinggapi perasaan salah tingkah.

"Eee... sudahlah...! Sekarang ayam yang kupanggang ini sudah matang! Coba kau cicipi...!" kata Buang Sengketa, seraya menyodorkan sebagian daging panggang di tangannya pada Lu-kita Sari. Sambil mengunyah daging ayam panggang yang sangat lezat, pemuda ini pun selanjutnya berkata:

"Hari sudah mendekati malam. Kota Hantu sungguh berbahaya sekali pabila malam hari. Ada baiknya kalau besok kita meneruskan perjalanan...!"

"Apapun keputusanmu, aku akan menu-

rut...!"

Pendekar Hina Kelana angguk-anggukkan

kepalanya.

9

Ketika laki-laki berbadan bungkuk itu sampai di Kota Hantu. Matahari baru saja menapak di ufuk timur. Embun pun masih menempel di atas dedaunan, tiada menghiraukan suasana seperti itu. Candra Kila yang baru saja membebaskan diri dari kejaran Lukita Sari di Gua Bin-tang, dengan mantap terus melangkah mendekati Kota Hantu yang lengang. Dengan gerakan yang sangat lincah. Laki-laki bungkuk mata picak ini menyelinap dari lorong ke lorong.

"Kukira sekaranglah saatnya yang paling tepat untuk menghancurkan Durga Wungu dan orang-orangnya! Sesuai dengan rencanaku untuk tidak mengalami banyak rintangan dari mayatmayat hidup yang dikendalikan oleh Iblis Dua Muka dan Setan Gila. Maka mulai dari sini kota akan kubakar....'" bathin laki-laki ini. Tak lama setelahnya dia pun telah menurunkan buntalan yang di dalamnya terdapat berpuluh potongan tepas kelapa yang telah dicelup dengan minyak pembakar.

"Bleep.... Whueeeer...!"

Api pun segera membesar ketika Candra Kila menghidupkan sabut kelapa yang sudah dicelup bahan minyak bakar. Nampaknya segala sesuatunya telah diperhitungkan oleh Candra Kila. Terbukti ketika api mulai berkobar-kobar. Laki-laki bungkuk ini pun telah pula bergerak membakar bangunan tua yang terdapat di sebelah selatannya. Kemudian berpindah lagi di bagian sebelah barat. Sehingga Kota Hantu akhirnya benar-benar terkepung api dari segala penjuru. Entah apa yang menjadi tujuan Candra Kila membakar kota yang selama ini sangat ditakuti oleh banyak orang.

Tetapi akibat dari pembakaran-pembakaran yang dilakukan Candra Kila tak sampai sesaat kemudian sudah mulai kelihatan hasilnya. Dari atas bangunan maupun dari lorong-lorong yang begitu banyak jumlahnya. Nampak berlarian berpuluh-puluh laki-laki maupun wanita bertubuh aneh pakaian hitam ke segala penjuru. Tak terdengar suara-suara teriakan. Hanya dengusandengusan bagai suara seekor lembu jantan yang sedang marah. Melihat gelagat ini, nampaknya Candra Kila mengetahui siapa sebenarnya orangorang yang sedang berlarian menghindari amukan api itu.

"Ha... ha... ha....! Begitu lama aku mengadakan penyelidikan, akhirnya ku tahu juga bahwa sebenarnya mayat-mayat bergentayangan tanpa nyawa ini kiranya takut pada api. Tak terbayangkan oleh ku betapa marahnya Setan Gila dan Iblis Dua Muka yang menjadi majikan mayatmayat itu....!" batin Candra Kila. Saat itu dia memang sedang bersiap-siap menyambut kedatangan mayat gentayangan yang sedang berusaha menghindari api.

"Hayaa... pada mampuslah kalian semuanya....'" teriak Candra Kila, lalu menyabetkan obornya ke segala penjuru. Keanehan demi keanehanpun terjadilah. Setiap mayat-mayat gentayangan itu tersentuh api. Maka tubuhnya langsung melepuh, kemudian terhuyung-huyung. Selanjutnya tersungkur ke atas tanah. Tidak sampai di situ saja tubuh mayat bergentayangan itu pun meleleh dan menimbulkan bau busuk yang sangat menyengat hidung.

Api semakin lama semakin bertambah membesar. Seolah ingin meluluh lantakan bangunan-bangunan tua yang terdapat di Kota Hantu. Korban terus berjatuhan, Candra Kila yang bekerja seorang diri menghadapi sekian banyak mayatmayat yang berusaha membebaskan diri dari kepungan api. Tentu saja semakin lama semakin keteter juga. Hanya karena semangatnya yang begitu tinggi untuk membalas dendam pada Durga Wungu. Dia tidak begitu menghiraukan dirinya sendiri. Sedang gencar-gencarnya laki-laki bungkuk mata picak melakukan pembantaian terhadap mayatmayat yang bergentayangan itu. Dari kobaran api di atas bangunan-bangunan yang sudah tua itu. Nampak berkelebat dua  sosok bayangan  tubuh mendekati Candra Kila. Melihat gerakan tubuhnya yang begitu lincah dan ringan. Jelas sekali kalau mereka ini memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

"Wuuut...! Wuuuut...!"

Begitu datang langsung kirimkan dua pukulan ke arah Candra Kila yang sedang membantai mayat-mayat gentayangan. Laki-laki bungkuk ini merupakan tokoh yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan, sudah tentu begitu ada sambaran angin pukulan dia menyadari adanya bahaya yang sedang mengancam dirinya. Dengan gerakan yang sangat cepat, Candra Kila melompat ke samping kiri. Lalu lambaikan tangannya pula.

"Blaaam…!"

Tubuh laki-laki mata picak ini tergetar sesaat lamanya. Sementara dua orang yang sangat dikenalnya telah sampai pula di depannya.

"He... kau...! Kukira sejak menjadi pecundang engkau tak berani lagi datang ke sini. Ternyata kau masih mempunyai muka untuk menimbulkan kekacauan di Kota Hantu...!" selak Iblis Dua Muka dengan wajah berang.

"Huh...! Kedatanganku tak ada sangkut pautnya dengan diri kalian. Aku sengaja datang untuk mengadakan perhitungan lama yang belum dilunasinya...!" dengus Candra Kila, dari nada suaranya nampak sangat meremehkan sekali.

"Sombong sekali bicaramu, punggung bungkuk...!" sentak Setan Gila nampak kurang begitu senang dengan kehadiran Candra Kila yang dulu pernah dikalahkan oleh Durga Wungu.

"Aku tidak hanya sekedar bicara, iblis dan setan muka dajal. Cepat-cepat engkau panggillah Durga Wungu untuk menghadap ku, jika tidak bukan Kota Hantu saja yang akan ku ratakan dengan tanah, tetapi jiwa kalian pun akan kubuat melayang...!" kata Candra Kila mengancam.

"Krrrtttkh... Grrrr.... Ingin kulihat, apakah berhadapan dengan Iblis Dua Muka kau mampu...!" geram laki-laki berbadan tinggi semampai dan berkulit sawo gosong ini penasaran sekali.

"Hiaaat...!" teriak Candra Kila, lalu dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna. Laki-laki berbadan bungkuk ini pun mulai membuka serangan dengan jurus-jurus tangan kosongnya. Nam-paknya Iblis Dua Muka pun yang sudah dirasuki kemarahan tidak mau kalah. Terbukti orang ini pun menyambut serangan Candra Kila dengan pukulanpukulan tangan kosong yang lebih he-bat lagi.

Hanya dalam tempo yang singkat, pertarungan pun telah berlangsung belasan jurus. Tetapi masih belum ada tanda-tanda siapa yang keluar sebagai pemenangnya dalam pertarungan itu. Hal ini membuat Candra Kila menjadi gusar bukan alang kepalang. Kemudian satu lompatan yang disertai dengan lolongan panjang, melambungkan tubuh Candra Kila. Dalam kesempatan seperti itu, dia mengerahkan sebagian tenaga dalam yang dimilikinya ke bagian telapak tangannya. Dengan sangat cepat sekali tangan Candra Kila yang telah teraliri tenaga dalam itu berubah menjadi merah bara. Tak salah lagi, saat itu Candra Kila sudah bersiap-siap melepaskan Pukulan Segara Geni yang sangat hebat itu.

"Huaaa...! Wuuuus...!"

Iblis Dua Muka menjadi pucat wajahnya, namun dalam keadaan begitu masih juga ia sempat tergelak-gelak. Satu gerakan yang lebih cepat menghantam ke arah Pukulan Segara Geni yang dilepaskan oleh Candra Kila! Pukulan yang mengandung hawa dingin dengan pukulan yang menebarkan hawa panas saling beradu.

"Blaaaam...!" Tanah di sekitar tempat itu tergetar, sementara tubuh Candra Kila dan Iblis Dua Muka sama-sama terdorong lima tombak. Dada terasa sesak luar biasa. Melihat kejadian seperti itu, Setan Gila yang sejak awal menyaksikan jalannya pertempuran nampak tertawa tergelakgelak.

"Saudara Iblis...! Mengapa banyak mengulur waktu, lebih baik kau kerahkan pukulan 'Iblis Penggoda' atau kau cincang saja tubuhnya menjadi dendeng...!"

"Diamlah sobat! Tak lama lagi, aku pasti akan membuatnya menjadi hantu bergentayangan di tempat ini. !"

"Jangan mimpi, iblis muka jelek...?" sentak Candra Kila. Belum lagi usai kata-kata yang diucapkannya. Secara tiba-tiba tubuhnya berputarputar. Sementara di tangan laki-laki bungkuk itu tergenggam senjata pusakanya yang berupa belati yang memiliki panjang tak kurang dari satu meter.

Berputarnya tubuh Candra Kila semakin lama semakin cepat, hingga lama kelamaan tak ubahnya bagai sebuah gasing mainan anak-anak. Dalam keadaan seperti itulah tubuh orang ini melabrak apa saja yang begitu dekat dengan dirinya.

"Mengapa harus menghindar seperti itu, Saudara Iblis? Cepat hantamkan pukulanmu...!" teriak Setan Gila memanas-manasi.

"Hiaaat.... Huaaa...!"

Tubuh Iblis Dua Muka nampak melenting ke samping kiri, tapi Candra Kila dengan senjata tetap tergenggam di tangannya terus memburu. Pada satu kesempatan yang sangat baik, tubuh Candra Kila mendekat.

"Kreeess...! Brebeeeet...!"

"Ahh... kurang ajar...!"

Iblis Dua Muka berteriak keras saat mana bagian bahunya tergores senjata di tangan Candra Kila. Kiranya tak terhenti sampai di situ saja, lakilaki berbadan bungkuk itu kembali memburu. Iblis Dua Muka saat sedang bersiap-siap untuk melepaskan pukulan mautnya.

"Jraaaas...!"

"Akkkhg...!"

"Wueeeer...!"

Sungguh pun tubuhnya dalam keadaan terhuyung-huyung akibat luka di bagian dadanya, namun Iblis Dua Muka masih sempat juga lepaskan pukulan. Tak dapat dicegah lagi, serangkum gelombang pukulan yang menimbulkan hawa panas luar biasa memburu ke arah Candra Kila. Laki-laki berbadan bungkuk muka pucat ini segera kerahkan Ajian Palingmunan. "Plaaaaass...!"

Bukan saja pukulan yang dilancarkan oleh Iblis Dua Muka mencapai sasaran kosong, tetapi juga tubuh lawannya raib begitu saja. Menyadari keadaan seperti ini Iblis Dua Muka secara hampir bersamaan memaki: "Jadah...!"

"Bagaimana sobat...! Si punggung onta kiranya dapat menghilang seperti setan." kata Setan Gila, lalu tersenyum-senyum mengejek.

"Dia kira aku tak mampu melakukan apa yang dia tunjukkan. Puih, hanya mainan anakanak seperti itu...?"

"Buk....! Buuuk...!" "Uhkgh...!"

Belum lagi sempat Iblis Dua Muka mengakhiri kata-katanya, satu tendangan yang begitu telak mendarat di punggungnya. Apa yang dialami oleh Iblis Dua Muka, rupanya menimbulkan kemarahan yang sangat besar di hati Setan Gila. Tak ayal lagi, sambil membentak dia pun langsung terjun ke dalam arena pertarungan.

"Saudara Iblis...! Kita sudah terlalu banyak membuang-buang waktu. Bahkan korban di pihak kita sudah terlalu banyak. Hancurkan manusia siluman itu !"

"Pergunakan pukulan Iblis Penunggu Kegelapan. '" teriaknya.

"Zeeeb...! Zeeeb !"

Tanpa berkata-kata lagi. Iblis Dua Muka dan Setan Gila membuka sebuah jurus sesat tingkat tinggi. Tubuh mereka nampak terdiam tiada bergeming. Tapi di saat yang lain kaki dan tangan yang telah teraliri tenaga dalam itu bergerak perlahan, seolah sedang berusaha mencari posisi lawan yang tidak terlihat oleh kasat mata.

"Wuuusss...!" "Dhaaaak.... Thaaaak...!"

Satu sambaran angin yang sangat keras menderu, lalu menghantam tubuh Iblis Dua Muka dan Setan Gila. Tapi tubuh mereka tiada bergeming sedikit pun. Sebaliknya orang-orang ini malah keluarkan tawa menyeramkan.

"Sudah kutemukan posisinya...!"

"Ya... aku pun sudah mengetahui posisinya...!" sahut Setan Gila tak mau kalah. Serta merta kedua orang ini berbalik, lalu mereka mengarahkan pukulannya ke satu arah.

"Heeeup...!"

"Chaaaa...!"

Begitu kedua orang ini hantamkan kedua tangannya ke depan. Serangkum gelombang pukulan yang menimbulkan hawa dingin dan panas menderu. Pada saat yang sama, kira juga Candra Kila yang tak terlihat kasat mata karena Aji Panglemunan, sudah pula melepaskan Pukulan Segara Geni.

"Herrrrtk...!"

"Blaaaammm...!"

Terdengar suara jeritan tinggi melengking dari mulut Candra Kila. Tubuh laki-laki besar dan bungkuk ini pun terpelanting tujuh tombak sedangkan di pihak lawan hanya tergetar saja. Walaupun memang tidak dapat disangkal, saat itu mereka merasakan dada mereka sesak luar biasa. Namun setelah menghimpun hawa murni, maka rasa sesak itu pun mulai berkurang.

Laki-laki bungkuk mata picak, yang sudah tidak dilindungi oleh Ajian Panglemunan nampak tertatih-tatih. Wajahnya yang pucat bagaikan mayat, semakin bertambah pucat. Sementara dari bibir dan hidungnya mengalir darah kental kehitam-hitaman. Nampaklah kalau saat itu Candra Kila sedang menderita luka dalam yang cukup parah.

"Ha... ha... ha...! Kau akan segera mampus, Candra Kila...!"

"Jangan diberi kesempatan hidup padanya lebih lama lagi...!" geram Setan Gila.

"Ciaaat...!"

Setan Gila kembali hantamkan pukulan mautnya. Dengan tubuh sempoyongan laki-laki bungkuk dari Gua Bintang ini berusaha menghindari pukulan yang dilancarkan oleh Setan Gila.

"Dwuuuuueeer...!"

"Geeeekh...!"

Candra Kila terpelanting roboh. Tubuhnya yang berubah membiru itu hanya berkelojotan sesaat saja. Selanjutnya terdiam untuk selamalamanya.

"Mampus juga laki-laki bungkuk ini akhirnya...!" geram Iblis Dua muka. Lalu kedua manusia sesat ini saling berpandangan sesamanya. Tetapi mereka akhirnya dibuat terperangah ke-tika mereka mendengar suara teriakan-teriakan dan dentingan beradunya senjata tajam.

"Jahanam! Pekerjaan siapa lagi itu, Saudara Setan Gila...!"

"Aku pun tidak tahu, tapi ada baiknya kalau kita ke sana. Siapa tahu manusia bungkuk ini membawa orang lain ke sini...!"

"Ayolah...!"

Tanpa buang-buang waktu lagi, keduanya pun segera berlari-lari di sela-sela kobaran api yang sedang berkobar membumihanguskan Kota Hantu.

10

Ketika Pendekar Hina Kelana dan Lukita Sari sampai di Kota Hantu. Mereka melihat kota angker ini sudah dilanda kobaran api. Siapapun yang melakukan pembakaran atas Kota Hantu, keduanya tidak perduli. Yang pasti orang itu setidak-tidaknya telah mengetahui situasi di dalamnya. Juga termasuk mayat-mayat bergentayangan yang selama ini menghuni di dalamnya.

"Jleeek...!"

Dengan posisi yang berada di sebelah Timur. Dengan jelas mereka dapat melihat pertarungan yang sedang terjadi di ujung lorong. Antara seorang tokoh melawan puluhan mayat-mayat bergentayangan yang sedang berusaha membebaskan diri dari kepungan api. Dari sini sadarlah Buang Sengketa maupun Lukita Sari, sesungguhnya kelemahan mayat-mayat suruhan itu terletak pada api. Tanpa sungkan-sungkan lagi, kedua muda mudi menyerbu ke tengah-tengah kota yang di sekelilingnya sudah dilanda kobaran api. Dengan menggunakan obor, Buang maupun gadis bertopi caping itu membantai mayat suruhan yang sedang sibuk menyelamatkan diri dan dilanda kepanikan. Sepuluh tombak maju ke depannya, Buang Sengketa melihat beberapa sosok tubuh menggapai-gapai tangannya dari sebuah ruangan bawah tanah.

Tanpa menunggu lebih lama keduanya pun menyerbu ke sana. Setelah melihat keadaan orangorang yang terbelenggu rantai dan mengenali secara pasti, dua diantaranya. Tahulah pemuda keturunan Raja Ular Piton Utara dari Negeri Bunian ini, bahwa mereka adalah para tawanan yang berusaha mencari selamat.

Karena rantai yang membelenggu tangan dan kaki mereka, terasa begitu sulit untuk dibuka. Tak ayal lagi Buang Sengketa mempergunakan Pusaka Golok Buntung untuk memutuskan rantai yang membelenggu tangan dan kaki para tawanan itu.

"Craaaang...! Traaas...! Traaaas...!" "Pendekar Golok Buntung...!" seru Panjul

dan Panut yang dulunya pernah bertemu bahkan terlibat pertarungan dengan pendekar itu, ketika mereka masih menjadi murid di perguruan Jagad Kelanggengan. (Dalam episode Satria Penggali Kubur).

"Cepat bebaskan kawan-kawan kalian yang lain...!" perintah pemuda itu tanpa menghirau-kan ucapan Panjul yang terus membelalak begitu melihat berkelebatnya Pusaka Golok Buntung di tangan Buang Sengketa.

"Lagi-lagi! Kami berhutang nyawa padamu, Pendekar...!"

"Bagaimana kami harus membalasnya...!" kata Panut ikut bicara.

"Guobloook...! Sudah kubilang, kalian selamatkan kawan-kawanmu...!" bentak pemuda itu. Dengan tergopoh-gopoh, orang-orang itu kembali menuruni tangga menuju ruangan bawah tanah. Tak begitu lama setelah orang-orang yang baru saja dibebaskan pendekar ini lenyap dari pandangan si pemuda. Dari arah lain, nampak berkelebat sesosok tubuh ke arah mereka.

"Weeer...!"

Tanpa diduga-duga, pendatang tak dikenal ini lambaikan jubahnya. Akibatnya sungguh di luar dugaan Buang Sengketa dan Lukita Sari. Tubuh kedua muda mudi ini terhuyung-huyung. Andai saja mereka tidak cepat-cepat memasang kuda-kuda. Dapat dipastikan dua-duanya terjengkang.

Begitu menjejakkan kakinya, satu bentakan yang disertai pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi pun menggeledek.

"Bocah-bocah pentil...! Berani kalian datang ke Kota Hantu, itu sama saja artinya kalian membuat urusan yang cukup dengan kami...!" kata laki-laki tua berjubah hitam tanpa dapat menyembunyikan kemarahannya.

Buang Sengketa terdiam, tetapi Lukita Sari nampak terus menerus memandangi laki-laki itu dengan pandangan tiada berkedip sedikitpun juga. "Mungkin inilah kakek Durga Wungu, yang merupakan kakak tiri Nenek Gombrang. Tak salah, manusia yang sudah hendak masuk liang kubur ini tak pernah berubah seperti apa yang dikatakan oleh Penyihir Tunggal Pantai Selatan." batin gadis bertopi caping itu.

"Belum pernah aku melihat tampang kalian sebelumnya, sekarang cepat-cepatlah katakan padaku. Siapa kalian yang sesungguhnya...!"

"Engkaukah yang bernama Durga Wungu...?" selak Lukita Sari tanpa menghiraukan pertanyaan kakek berjenggot panjang itu.

"Hrrrrt.... Keparat...! Ditanya malah balik bertanya. Tapi baiklah, kalau aku memang Durga Wungu, engkau mau apa…?"

"Kalau memang betul anda Durga Wungu. Maka maksud kedatanganku ke sini adalah untuk mengambil jiwamu...!"

"Haah... apa....! Tidak salahkah apa yang kudengar...? Ha... ha... ha....! Begitu berhargakah jiwa lapukku ini hingga kau menginginkannya...?" menggeram kakek berjubah hitam ini.

"Ingatkah anda pada adik tiri anda yang bernama Sangra Wulan....!" desis gadis bertopi caping ini sinis.

Begitu Lukita Sari menyebut-nyebut nama Sangra Wulan. Durga Wungu pun nampak terdiam beberapa saat lamanya. Alis mata mengkerut, tanda hatinya sedang diliputi dengan berbagai perasaan.

"Sangra Wulan, adik tiri yang tiada guna. Dengan ilmu sihir picisan dia coba-coba menuntut balas padaku... he... he... he....! Andai saja waktu itu dia tak kabur dalam pertempuran. Mungkin saat ini hanya tinggal namanya belaka. !"

"Bocah! Apakah kedatanganmu kemari sengaja mewakilinya...?" bentak Durga Wungu dengan pandangan berapi-api.

"Terkutuklah engkau tua bangka. Kaupembunuh orang tua sendiri, kau kangkangi harta bendanya. Lalu kau singkirkan pula adik sendiri....!" sentak Lukita Sari, nampaknya saat itu dia sudah merasa tak mampu membendung luapan kemarahannya.

"Aku... aku pembunuh orang tuaku sendiri.... huhu... hu... hu...! Bangsat bajingan Candra Kila itulah yang telah melakukannya. Aku menyesalkan hal itu, tetapi segalanya mungkin memang harus terjadi. Dan itu bukanlah kesalahanku...

ya... bukan kesalahanku !"

"Kau mau memungkiri semuanya! Dosadosamu kelewat besar, para Dewa sekalipun tak mungkin mau memaafkanmu. Kalau pun engkau mati, itu pun belum setimpal untuk menebus segala kesalahan yang pernah kau lakukan. !" teriak

Lukita Sari. Menyadari kakek tua berpakaian serba hitam ini memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Maka sejak awal dia telah mempersiapkan segala sesuatunya.

"Herrng...! Kau utusannya si Buntung Sangra Wulan. Hok... hok... hooo...! Pucuk dicinta ulam menyerah. Kau memang pantas mampus di tanganku !" geram Durga Wungu.

Kejap kemudian dia sudah bermaksud membuka serangan, namun pada saat itu terdengar satu seruan yang disertainya berkelebatnya dua sosok tubuh, dan langsung berdiri di sisi Durga Wungu.

"Tuan...! Biarkan kami yang meringkus dua ekor tikus muda ini untuk tuan...!" sergah Setan Gila.

Sejenak Durga Wungu memandangi dua orang tangan kanannya, lalu mendengus dengan sikap tidak senang: "Kota Hantu yang selama ini ku bangga-banggakan sudah diambang kehancuran, kini kalian datang hanya dengan maksud menghibur ku.... Puih...! Kalian berdua hadapi bocah gombal itu! Biarkan gadis cantik ini menjadi bagianku '" bentak kakek renta berpakaian serba

hitam ini gusar.

Menyadari majikannya sedang dilanda kemarahan, maka tanpa menunggu diperintah dua Iblis Dua Muka dan Setan Gila segera menyerang Pendekar Hina Kelana dengan jurus-jurus andalannya.

"Hiaaaat. !"

"Haeeees...!" Buang Sengketa mengelakkannya dengan cara menggeser tubuhnya ke samping kiri. Selanjutnya satu tendangan kilat dia lakukan, namun dengan cara berjumpalitan Setan Gila dan Iblis Dua Muka berhasil pula menghindari serangan lawannya. Sebentar saja pertarungan seru pun segera terjadi. Nampaknya masingmasing lawan mulai mengeluarkan jurus-jurus simpanannya.

Sementara itu, pertarungan antara Lukita Sari dan Durga Wungu juga tak kalah hebatnya. Apalagi kakek berpakaian serba hitam ini merupakan tokoh sesat yang dulunya pernah mengalahkan guru si gadis. Sungguh pun begitu, Lukita Sari juga bukanlah bocah kemarin sore yang dapat dianggap remeh.

Rahasia Ilmu Sihir yang diberi nama 'Bayang-Bayang Dewa' yang berhasil dipelajarinya merupakan Ilmu Sihir yang sangat langka dan mengandung banyak tipu muslihat. Maka ketika pertarungan tingkat tinggi itu berlangsung, kesaktian yang mereka miliki pun segera mereka gelar dalam pertempuran itu.

"Chaaaa...!"

Tubuh Durga Wungu melambung tinggi ke angkasa dalam keadaan seperti itu sambil bersiap-siap melepaskan pukulan 'Musnah Tanpa Karana', kakek berpakaian serba hitam ini berseru.

"Bocah bau ingus! Kau tahanlah pukulan mautku ini, kerahkan segala kemampuan yang kau miliki. Seandainya nasibmu baik, mungkin kau masih dapat melihat matahari esok pagi...!" teriak Durga Wungu. Pada saat seperti itu, kedua tangan kakek tua ini telah pula berubah putih menyilaukan mata. Bahkan sebentar kemudian seluruh tubuhnya telah pula berubah putih. Tak dapat dibayangkan betapa hebatnya pukulan yang akan dilepaskan oleh lawannya.

Lukita Sari menyadari akan datangnya bahaya ini, dalam pertarungan menghadapi tokoh tingkat tinggi untuk kali ini, dia tak mau mempergunakan segala bentuk ilmu sihir yang dimilikinya, karena dia pun berpikir. Walau bagai mana pun lawannya yang pernah bentrok dengan gurunya pastilah mengetahui kelemahan ilmu sihir yang dimilikinya. Akhirnya tanpa merasa canggung-canggung lagi, gadis bertopi caping ini mencabut Keris Jalak. Yaitu senjata pemberian gurunya yang berhasil dicurinya dari tangan Durga Wungu ketika mereka saling bentrok dulu.

"Hiaaaiiit...!" "Hwwwweeeeeesss...!"

Serangkum gelombang sinar putih yang menimbulkan angin ribut dan hawa panas tak tertahankan menghantam tubuh Lukita Sari yang halus mulus. Sedemikian cepatnya datangnya gelombang pukulan yang dilepaskan oleh Durga Wungu itu, sehingga semua orang yang berada di tempat itu memperkirakan gadis bertopi caping ini tak mungkin mampu menghindarinya.

"Sriiing...!"

Dalam keadaan yang sangat kritis itu, serta merta Lukita Sari mencabut senjata kegelapan yang terselip di bagian pinggangnya.

"Plaaas...!"

Tubuh Lukita Sari secara gaib lenyap begitu saja, begitu pun dia tetap tidak bergeser dari tempatnya semula.

"Jleeeeng...!"

Pukulan yang dilepaskan oleh Durga Wungu bagai membentur dinding baja. Bahkan pukulan itu membalik dengan sendirinya. Andai Durga Wungu tidak cepat-cepat membuang tubuhnya. Pasti dia termakan pukulannya sendiri. "Celaka...! Senjata kegelapan milikku, kiranya ada di tanganmu.... Sangra Wulan benarbenar seorang pencuri yang licik...!" maki Durga Wungu di dalam hati.

"Kerahkanlah segenap kemampuan yang kau miliki Durga Wungu. Senjata kegelapan yang merupakan segala kelemahan dari ilmu kesaktian yang kau miliki, kini telah berada di tanganku...!" ejek Lukita Sari dalam suaranya yang tidak berujut.

"Kau hanya membual! Aku tak kan pernah dapat dikalahkan dengan senjata jenis apapun...!" balas Durga Wungu berusaha menutupi keresahan hatinya.

"Kalau begitu, bersiap-siaplah kau untuk mampus...!" desis Lukita Sari. Kali ini malah berbalik menyerbu.

Ketika itu, tidak jauh dari tempat pertarungan antara Durga Wungu dengan Lukita Sari. Buang Sengketa sedang berusaha mengatasi gempuran-gempuran yang dilakukan oleh Iblis Dua Muka dan Setan Gila. Pada hakekatnya ilmu pukulan tangan kosong yang dimiliki oleh kedua lawannya memang mengandung racun yang sangat panas. Bahkan dalam menghadapi setiap lawanlawannya, selama ini kedua tokoh sesat tingkat tinggi ini cukup hanya mengandalkan pukulan ‘Mayat Gentayangan’ yang tidak perlu diragukan lagi keampuhannya.

Menjelang pertarungan lima puluh jurus, Buang dengan telak kena dihajar pukulan yang dilepaskan oleh Setan Gila. Tubuh pemuda ini terjengkang tiga tombak, darah meleleh dari hidung dan bibirnya, sementara bagian dada maupun perut, terasa sesak luar biasa.

"Ha... ha... ha...! Pukulan Mayat Gentayangan tidak dapat dianggap sembrono, Bocah...! Racun yang bekerja di dalam tubuhmu sebentar lagi segera membuat nyawamu terbang ke neraka...!"

"Hoeeek...! Glook.... Glook...!" Dua kali Buang Sengketa terbatuk. Maka darah kental pun menggelogok dari mulutnya. Dalam keadaan seperti itu pun pemuda ini masih mampu menyunggingkan seulas senyum rawan. Di luar dugaan kedua lawannya, Buang Sengketa dengan langkah terhuyung-huyung segera bangkit berdiri. "Nguuuung...!"

Begitu dia meraba pinggangnya, maka Pusaka Golok Buntung pun telah tercabut dari sarungnya. Baik Setan Gila maupun Iblis Dua Muka nampak sama-sama terkejut begitu melihat senjata di tangan lawannya memancarkan sinar merah menyala.

"Pendekar Golok Buntung...!"

"Hmmm...!" gumam Pendekar Hina Kelana. Sementara itu dari sela-sela bibirnya mengeluarkan bunyi mendesis-desis bagai seekor ular piton yang sedang marah. "Seandainya aku merupakan seekor monyet tolol, tentu aku sudah mampus di tangan kalian para iblis! Berpuluh-puluh kesempatan telah kuberikan pada kalian. Menyesal ka-

lian tak pernah becus mempergunakan setiap kesempatan dengan baik. Kini rasakanlah akibatnya...!" geram pemuda itu. "Hiaaaaat. !" Tubuh Buang Sengketa kemudian melompat ke depan, Golok Buntung di tangannya berkelebat-kelebat menyambar. Sekejap saja tubuh pemuda itu telah terbungkus sinar merah yang dipancarkan oleh senjata pusaka yang memiliki pamor sangat tinggi ini. Sekali dua untuk memporakporandakan pertahanan lawannya, pemuda ini melepaskan pukulan Si Hina Kelana Merana. Yang menimbulkan hawa sedemikian hebat panasnya.

Pada kenyataannya setelah pertempuran dengan mempergunakan senjata berlangsung tidak lebih tujuh jurus. Setan Gila dan Iblis Dua Muka sudah terdesak hebat. Tidak sedikit pun peluang bagi mereka untuk melepaskan pukul-an-pukulan saktinya.

Semakin lama jarak antara si pemuda dengan lawannya semakin bertambah dekat, lagi-lagi pemuda dari Negeri Bunian ini melompat sambil membabatkan senjatanya.

"Hiaaaat...!"

"Craaas...!"

Setan Gila terhuyung-huyung sambil mendekap bagian mukanya yang berlumuran darah. Tetapi tiada terdengar suara apapun dari mulutnya. Buang Sengketa tiada perduli. Sekali ini dia merangsak ke arah Iblis Dua Muka. Laki-laki berwajah menyeramkan ini melompat mundur dan bermaksud meninggalkan pertempuran. Namun nampaknya Buang sudah tidak memberikan kesempatan lagi....

"Jraaas. !" "Akgrrr...!"

Begitu bagian leher Iblis Dua Muka tersambar senjata di tangan Buang Sengketa, sekejap kemudian tubuh orang ini ambruk ke bumi. Berkelejat-kelejat sebentar, lalu diam untuk selamalamanya. Belum lagi Pendekar Hina Kelana menoleh ke arah Setan Gila yang sudah tak berada di tempatnya. Terdengar pula satu jeritan.

"Kau memang pantas mampus, manusia paling durhaka di kolong langit...!" geram Lukita Sari. Rupanya saat itu, gadis bertopi caping yang sedang terlibat pertempuran dengan Durga Wungu berhasil merobohkan kakek renta itu dengan senjata kegelapan pemberian Penyihir Tunggal Pantai Selatan.

"Satu orang lawan berhasil lolos dari tanganku, Adik Ita...!" kata si pemuda setelah keduanya saling mendatangi.

"Suatu saat, Setan Gila pasti akan mencari kita Kakang...!" kata si gadis dengan tatapan sendu.

"Yeaaah... di suatu saat kelak! Mungkin kita pun kan bertemu kembali...!"

"Kakang... aku harus kembali menemui guruku di Daerah Tanah Bernyawa! Apakah kau mau ikut...?" tanya si gadis penuh harap.

"Tidak sekarang! Tetapi di suatu saat ke-

lak...!"

"Kita berpisah, Kakang...!" ujar Lukita Sari

dengan tatapan kecewa.

Tanpa berkata apa-apa pemuda berwajah tampan ini semakin mendekat. Wajah si gadis semakin memerah.

"Kau tak ingin memberi ku satu kenangkenangan Kakang...!". tanya si gadis ketika membalikkan langkah.

"Ya...!" ujar Buang Sengketa. Lalu wajah mereka saling mendekat, Lukita Sari gemetar tubuhnya lalu memejamkan mata. Dengan tulus pemuda dari Negeri Bunian ini pun mencium bibir si gadis. Begitu lembut, namun tak sampai sekedipan mata.

"Itulah sebuah kenangan yang ingin kuberikan padamu...!" kata Buang Sengketa ketika gadis bertopi caping itu membuka matanya kembali.

"Aha... asyiiik...!" kata Panjul, Panut dan Godot ketika melihat adegan itu. Lukita Sari semakin bertambah memerah wajahnya, karena merasa malu maka tanpa membuang-buang waktu, gadis itu pun berlari-lari cepat meninggalkan si pemuda dengan meninggalkan kerlingan penuh arti.

"Maafkan kami Pendekar...! Kami bukan bermaksud mengganggu Pendekar! Sama sekali tidak... kami hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih...!" ucap ketiga orang lalu membungkuk hormat. Namun begitu mereka menoleh dan memandang ke depannya, Pendekar Hina Kelana sudah tak ada lagi di depan mereka.

TAMAT