Serial Pendekar Hina Kelana Eps 24 : Bencana Pedang Asmara

 
Eps 24 : Bencana Pedang Asmara


Perguruan Kerudung Biru merupakan sebuah perguruan silat beraliran putih, yang memiliki sejumlah murid yang terdiri dari kaum wanita. Sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, perguruan yang terletak di kaki bukit Arjuna ini sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan, justru karena kehebatan Jurus Pedang Delapan Penjuru Mautnya. Tak seorang pun berani mengusik ataupun mencari perkara dengan Perguruan Kerudung Biru yang dipimpin oleh nenek sakti berjuluk Bidadari Pedang Maut ini. Kalaupun ada, mereka itu tak lebih merupakan manusia-manusia nekad yang ingin mencari mati.

Pagi itu bukit Arjuna diguyur hujan lebat, keadaan seperti ini memang sering terjadi di daerah yang sangat subur ini. Tanah-tanah di sekitarnya nampak lembab dan becek. Dalam keadaan hujan lebat seperti itu, biasanya murid-murid Perguruan Kerudung Biru lebih suka berada di dalam pondok perguruan, mengurung diri dalam bilik kamar masing-masing. Atau berkumpul dengan sesama anggota perguruan sambil menikmati singkong rebus, yang mereka peroleh dari kebun di belakang pondok. Tradisi seperti itu telah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.

Namun tidak demikian halnya yang terjadi pada saat itu. Dalam keadaan hujan lebat, tiga sosok tubuh berjubah hitam nampak bermunculan dari balik bukit Arjuna. Mereka ini dengan mempergunakan ilmu mengentengi tubuh terus berlari-lari mendekati pondok. Ketika jarak mereka sudah berada begitu dekat dengan pondok Perguruan Kerudung Biru. Serta merta mereka hentikan langkah, tiap pasang mata berkilat-kilat aneh langsung memusatkan perhatiannya di seputar pondok yang lengang.

"Shinta...! Menurut laporanmu, murid-murid Perguruan Kerudung Biru jumlahnya mencapai belasan orang... tapi tak kulihat seorang pun di luar sana...?" tanya salah seorang yang memiliki tubuh ramping dengan wajah coreng moreng.

"Tiga orang diantaranya pasti berada di dalam pondok itu. Sedangkan lainnya seperti yang kuketahui selalu pulang ke tempat tinggal masing-masing tidak jauh dari tempat ini...!" jawab gadis yang bernama Shinta.

Perempuan bertubuh ramping yang memiliki nama Peri Lingga nampak mengeluarkan suara gumanan yang tak begitu jelas.

"Satu kemudahan bagi kita! Tak perlu mengotori tangan dengan banyak darah...!"

"Bagaimana kalau perawan-perawan yang berada di dalam itu mengadakan perlawanan sengit?" tanya Jubah Hitam wajah coreng moreng yang lainnya. "Kau tak perlu resah Santy, aku telah mempela-

jari semua situasi di tempat ini. Pula guru mereka Bidadari Tangan Maut sedang tak berada di tempat! Wakil ketua, Lingga! Lebih baik kita memulainya sekarang juga...!"

"Sebuah usul yang sangat baik! Mari kita urus orang-orang yang berada di dalam pondok itu...!" Tiada jawaban, tapi secara serentak tubuh jubah hitam wajah coreng moreng bergerak mengepung pondok. Pada saat mereka melakukan pengepungan itu, hujan lebat nampak sudah mulai reda. Walaupun gerakan mereka tidak menimbulkan suara mencurigakan, sebagai murid-murid yang sudah terlatih baik. Mereka yang berada di dalam pondok seperti mengetahui kehadiran mereka.

"Hhh. Dengar! Seperti ada sesuatu di luaran sana?" sentak salah seorang murid yang paling tua. Kemudian memberi isyarat pada tiga orang kawannya.

"Mungkin guru yang datang...!" sahut yang lainnya. Sambil berkata begitu gadis berpakaian kuning ini melangkah ringan ke sudut kamarnya untuk mengambil senjatanya yang berupa pedang Kembar.

"Kepulangan guru masih begitu lama, mereka pastilah orang-orang yang mempunyai maksudmaksud tak baik. Mari kita keluar...!"

Belum lagi langkah mereka mencapai pintu, satu pukulan yang begitu keras dari arah bagian luar pondok telah melabrak pintu itu sehingga hancur berkeping-keping. Secepatnya empat murid Perguruan Kerudung Biru membuang tubuhnya ke belakang dengan jalan bersalto beberapa kali. Tiada terduga-duga, dari bagian pintu belakang pukulan yang sama pun membuat porak poranda pintu yang terletak di bagian belakang.

"Pendatang-pendatang tengik, siapakah kalian ini...?" Bentak murid tertua bernama Sekar Asih, lalu membuang tubuhnya ke samping kiri untuk menghindari sambaran pukulan yang menebarkan rebawa aneh itu.

"Jangan banyak mulut! Perguruan Kerudung Biru telah kami kepung...! Sebaiknya kalian menyerah saja...!" perintah Peri Lingga sambil menyeruak memasuki pondok itu.

"Kurang ajar! Manusia muka hantu jubah hitam! Enyahlah...!" Sebuah bentakan nyaring terdengar. Empat orang murid Perguruan Kerudung Biru langsung menyongsong kedatangan Jubah Hitam dengan sambaran pedang kembar mereka. Tapi tiga orang pendatang itu lihainya bukan main, dengan gerakan yang sangat gesit mereka selalu berhasil menghindari serangan jurus Pedang Delapan Penjuru Maut, yang selama ini dikenal karena pamornya yang tinggi. Gebrakan-gebrakan seru terus berlangsung, menjelang pertarungan lima belas jurus, empat orang murid Kerudung Biru sudah mulai nampak terdesak.

"Hemm! Tak disangka hanya segitu saja kehebatan jurus Pedang Delapan Penjuru Maut yang sangat ditakuti oleh tikus-tikus persilatan itu...!" gumam si tubuh ramping, terus merangsak dalam jarak yang sangat dekat sambil lancarkan totokan-totokan ganas.

Pada satu kesempatan yang kritis, murid-murid Perguruan Kerudung Biru, dengan satu lompatan langsung menerjang ke arah lawan-lawannya. Gerakan serentak itu sebenarnya merupakan titik awal untuk membuka jurus 'Delapan Penjuru Maut" yang mereka miliki. Demikianlah dengan dimulainya gerakan berbareng seperti itu, maka senjata di tangan mereka pun bergerak cepat. Tusukan senjata maupun babatan pedang yang bertubi-tubi. Membuat lawan yang bertangan kosong untuk beberapa jurus di depan hanya mampu mengelak dan menangkis. Empat murid Perguruan Kerudung Biru merasa mendapat angin, serangan senjata mereka pun semakin lama semakin bertambah gencar. Tanpa disadari oleh murid Kerudung Biru kiranya tiga orang lawan wajah coreng moreng sedang mencari titik lemah jurus pedang yang mereka miliki.

"Hiih....! Breeet...!"

Satu sambaran pedang kembar di tangan gadis itu berhasil merobek pangkal lengan salah seorang si jubah hitam. Orang itu terhuyung-huyung, muridmurid Kerudung Biru merasa mendapat angin untuk melakukan gebrakan berikutnya. Tapi tiada mereka sangka-sangka, lawannya yang bernama Peri Lingga yang sudah mengetahui kelemahan jurus pedang mereka lancarkan serangan balasan.

"Haiit...!" "Tuuk...!"

"Gabruuk...!"

Satu totokan berhasil mengenai jalan gerak di bagian tubuh lawannya. Sehingga membuat salah seorang murid Kerudung terjatuh dengan keadaan tertotok.

"Keparaat...!" maki Sekar Asih merasa semakin terdesak.

"Gebrak murid-murid Kerudung Biru. Jangan lukai, ketua pasti menyukai orang-orang yang cantikcantik ini...!"

Sadarlah Sekar Asih dan kawan-kawannya, apa yang bakal terjadi andai sampai mereka tak dapat memenangkan pertarungan itu. Kenyataannya, sungguhpun mereka sudah berusaha mengerahkan segenap kepandaian yang mereka miliki, namun dengan gerakan-gerakan menghindar yang sangat manis. Serangan gencar yang mereka lancarkan selalu saja mencapai sasaran yang kosong. Bahkan secara hampir bersamaan si jubah hitam tubuh ramping berhasil menotok urat gerak di tubuh mereka.

"Tuuuk! Tuuuuk! Tuuuk...!"

"Ahhh...!"

Tiga orang murid Kerudung Biru kembali terjengkang dalam keadaan tertotok. Jubah hitam muka coreng moreng sunggingkan senyum sinis. Lalu memberi perintah pada dua orang lainnya.

"Mereka tak mungkin kita bawa semua! Pilih saja yang tercantik di antara keempat gadis ini...!" Tanpa membantah, orang-orang itupun langsung mengadakan pemeriksaan atas diri empat orang murid Kerudung Biru.

Sekar Asih, Sekar Taji dan Sekar Kencana ternyata gadis-gadis yang termasuk dalam daftar orangorang yang mereka anggap cantik. Akhirnya dengan gerakan yang gesit dengan memanggul tubuh gadisgadis itu. Tiga orang perempuan wajah coreng moreng berlari-lari cepat meninggalkan bukit Arjuna.

Tinggallah Sekar Sari, yang terus bergulingguling di atas lantai pondok dalam keadaan tertotok dan menangisi kepergian saudara-saudaranya yang telah dibawa lari oleh si jubah hitam.

***

Kematian Seranggana, Tapak Api dan belasan prajurit Katemenggungan ketika sedang melakukan tugas penyitaan di rumah saudagar Legawa. Membuat semua kerabat Jayeng Rono dan Lesmana menjadi gempar. Siang itu dalam suasana tegang, pembicaraan berlangsung di ruangan tengah. Dalam keadaan berkabung, Tumenggung Jayeng Rono. Lesmana dan Jelatu nampak berkumpul mengelilingi sebuah meja berukuran panjang.

"Paman Jelatu! Coba ceritakan padaku mengapa tugas yang telah saya perintahkan kepada rombongan yang dipimpin oleh Uwa Senggerana sampai mendapat musibah seperti ini...?" Tanya Tumenggung Jayeng Rono, dengan muka merah. Namun hatinya diliputi oleh kedukaan yang mendalam. Jelatu yang sempat luput dari kematian nampak menundukkan wajahnya. Ada rasa penyesalan membersit di sana.

"Begini tetua! Saat kami sampai di rumah saudagar Legawa, nampak-nampaknya saudagar itu memang tak ingin menyerahkan harta bendanya begitu saja. Hal ini terbukti saudagar yang telah membuat malu keluarga Katemenggungan itu telah pula menyiapkan para pembantunya dengan senjata lengkap. Dugaan saya kemudian terbukti dengan kemunculan seorang pemuda yang tidak kami kenal di tempat itu...!"

"Pemuda tak dikenal! Bagaimanakah yang pa-

man maksudkan?" tanya Lesmana merasa curiga. "Pemuda itu berpakaian kumal, bagai sudah

berbulan-bulan nggak pernah ganti. Wajahnya sangat tampan sekali. Rambutnya panjang dikuncir menjela sampai ke bahu. Sedangkan di bagian pinggangnya tergantung sebuah periuk berjelaga, pemuda itu memiliki senjata yang memancarkan sinar merah menyala, dan senjata itu pulalah yang telah menewaskan Kakang Senggerono dan Adik Tapak Api...!" Mendengar laporan Jelatu Tumenggung Jayeng Rono semakin memerah wajahnya karena dilanda kemarahan yang meluap-luap. Sebaliknya, putranya yang bernama Lesmana sedang berusaha mengingat-ingat siapakah gerangan pemuda yang disebut-sebut sebagai pembunuh orang-orang katemenggungan. Namun ciri-ciri yang disebutkan oleh Jelatu memang sama sekali tidak di kenalinya. Bahkan bertemupun rasa-rasanya belum pernah. Setelah lebih dari sepemakan sirih mereka saling berdiam diri, akhirnya suara Lesmana pun terdengar memecah keheningan.

"Paman Jelatu, dan ayahanda...! Aku merasa tak pernah mengenali orang yang baru saja disebutsebut oleh paman...! Mungkin pemuda itu sengaja disewa dari daerah lain oleh saudagar Legawa yang telah menipuku itu. Ananda tau, saudagar keparat itu pastilah tidak menginginkan harta bendanya disita oleh pihak Katemenggungan. Bahkan secara terang-terangan mereka telah membunuh orang-orang kita. Ini benarbenar sangat keterlaluan sekali. Mereka telah mengobarkan api peperangan pada pihak kita. Sebagai anak yang tahu berbakti pada orang tua dan bumi persada, ananda tidak akan tinggal diam. Dalam waktu dekat ini, ananda akan mengumpulkan seluruh sahabat kaum persilatan untuk menggantung saudagar Legawa, dan pemuda yang telah bergabung dengan saudagar itu...!"

"Usul yang sangat baik! Memang sesungguhnya, sekarang ini sudah saatnya bagimu untuk menunjukkan bakti pada orang tua. Pula ini menyangkut persoalan pribadimu, layak saja kalau kau berusaha mengatasinya...!"

"Tat... tapi Den Lesmana! Orang berperiuk itu memiliki ilmu kepandaian yang bermacam-macam. Saya takut, kalau pasukan kita tidak benar-benar tangguh. Usaha kita hanya akan menjadi sia-sia...!"

"Jangan memandang remeh. Paman Jelatu belum mengetahui tokoh-tokoh yang akan kuhubungi itu. Lihatlah! Tak sampai dua minggu mendatang mereka telah berkumpul di Katemenggungan ini...!" sahut Lesmana. Ada rasa kurang senang dalam nada ucapannya.

"Sudahlah, anakku Lesmana! Aku tak menginginkan kalian berbantahan dengan orang-orang sendiri. Kalau memang benar saudagar Legawa memiliki kekuatan yang tangguh. Ada baiknya mulai saat sekarang kita mempersiapkan diri...!"

"Baiklah tetua! Katemenggungan telah mendapat satu penghinaan yang sangat besar. Hal ini tidak mungkin kita biarkan begitu saja...!" kata Jelatu. Tumenggung Jayeng Rono dan Lesmana nampak mengangguk setuju. Setelah mereka menganggap tidak ada lagi pembicaraan yang perlu. Lesmana segera bermohon diri pada ayahandanya untuk pergi menghubungi tokoh-tokoh persilatan yang dikatakan oleh Lesmana sebagai sahabat baiknya. Entah tokoh persilatan yang bagaimana yang akan dihubungi oleh putera Tumenggung Jayeng Rono yang memiliki watak aneh ini. Hanya Lesmana sendirilah yang tahu. Sementara itu Jelatu dan Tumenggung Jayengrono, mulai saat itu mulai mempersiapkan pasukannya dalam jumlah yang lebih besar.

***

2

Di atas kubur belasan orang prajurit-prajurit Katemenggungan, sudah hampir tiga hari pemuda berwajah tampan itu berada di sana. Pabila dilihat sepintas lalu, maka pemuda ini tak ubahnya bagai sebuah arca berdiri tegak, tak pernah bergeming walau sengatan panas matahari dan dingin angin malam melanda tubuhnya hampir setiap waktu. Sesungguhnya apakah yang sedang dilakukan oleh pemuda itu, di tempat sunyi seperti di daerah pekuburan keramat ini? Setelah menguburkan jenazah prajurit-prajurit Katemenggungan beberapa hari bersama Legawa dan Indah Dewi. Entah mengapa secara tiba-tiba pemuda berbaju merah dengan rambut dikuncir ini teringat kembali pada almarhum gurunya, Si Bangkotan Koreng Seribu. Lalu teringat pula olehnya akan sebuah kematian. Teringat kematian, teringat pula olehnya tentang dirinya sendiri. Di sepanjang pengembaraannya selama ini, sudah beratus-ratus jiwa melayang di tangannya. Mereka semua terdiri dari berbagai golongan sesat yang selama hidupnya selalu membuat resah kaum persilatan dan masyarakat banyak. Namun pabila dia kembali berpaling pada dirinya sendiri. Benarkah pembunuhan-pembunuhan yang telah dilakukannya tidak membawa dosa? Satu koreksi diri yang dilakukannya di tempat itu hanyalah ingin bertemu dengan roh si Kakek Bangkotan Koreng Seribu. Cara satusatunya yang dapat dilakukannya adalah hanya dengan mempergunakan ajian Tinggal Rogo, yang sebenarnya masih belum dia kuasai dengan baik.

Tidak seperti waktu dulu, kali ini dia merasa begitu sulit untuk memisahkan diri antara raga yang kasar dengan rohnya yang tiada terlihat. Sungguhpun hal itu telah dia lakukan berulang kali. Hingga tanpa disadarinya pekerjaan konyol seperti itu telah berlangsung hampir tiga hari. Karena selama itu pemuda keturunan Raja Ular dari negeri alam gaib (Bunian) sudut-sudut matanya pun nampak cekung.

Roh di dalam jiwa yang tenang Sesaat aku ingin bertemu dengan guruku. Guru tua yang sudah tiada memiliki jasad. Dan tak terlihat dengan kasat mata....

Berilah aku Ridho, hai Sang Hyang Widi Perkenankanlah hajat seorang hamba Adalah diri kasarku si Hina Kelana Pertemukanlah dengan guruku, Bangkotan Koreng Seribu...

Sekejap tubuh pendekar ini nampak menggeletar bagai orang yang sedang dilanda badai salju. Alam pikiran kosong dari segala permasalah yang berhubungan dengan keduniawiaan, kosong tanpa beban apapun yang memberati. Sampai pada klimaksnya:

"Plaaass. !"

Roh Buang Sengketa meninggalkan jasad kasarnya, namun baru saja dalam jarak yang tak dapat diperhitungkan, di hadapan pemuda itu. Kakek Bangkotan Koreng Seribu dalam tubuh halusnya sudah menghadang perjalanan roh Pendekar Hina Kelana. Sebagaimana tabiat kakek aneh itu. Maka kini setelah bertemu terjadilah dialog alam gaib:

"Bocah Guoblok! Sekali lagi kau bertingkah konyol seperti dulu, ada apa kau memanggil-manggil diriku...?" tanya badan halus si Bangkotan Koreng Seribu.

"Eee... anu kek! Aku cuma ingin bertemu denganmu, sekalian jalan-jalan melihat alam asing yang sebelumnya tak pernah dilihat oleh siapapun terkecuali orang-orang yang sudah mati...!" ujar si pemuda jenaka.

"Weiii...! Bocah ini benar-benar semakin keblinger...! Tahukah kau resiko apa yang bakal kau hadapi andai jasad kasarmu sampai diketahui oleh orang lain...?" Bentak Kakek Bangkotan Koreng Seribu, semakin bertambah murung.

"Tau kek! Tapi salah kakek sendiri, nggak mau muncul! Mencari tempat tapa ayah juga sejak dulu belum ketemu... hidupku selalu diwarnai dengan kesepian kek...!" kata pemuda itu mengeluh.

"Tolol! Kita sudah berada dalam alam yang berbeda, mana mungkin aku bisa menemuimu. Pula kalau aku masih hidup siapa sudi menjumpai murid berperiuk sepertimu...!"

"Ah kakek! Aku sendiri sekarang bisa menemuimu. Mengapa engkau tidak...?"

"Semua itu berkat ilmu Tinggal Rogo yang kau pelajari. Andai tidak jangan harap kau dapat berbuat seperti sekarang ini...! Pula kalau kamu merasa kesepian, mengapa nggak cepat-cepat kawin saja...?"

"Siapa sudi dengan pemuda Hina seperti ini, Kek! Hanya seorang pengelana yang tiada berharta, kesetiaan dan kejujuran di jaman ini mana dipandang mata oleh kaum wanita, Kek...!"

"Hhh. Bicara denganmu selamanya memang membuat kuping berdenyut-denyut...!" sentak Kakek Bangkotan Koreng Seribu gusar.

"Kek...!" Buang Sengketa merengek seperti anak

kecil. "Ada apa...?" dengus si kakek.

"Menurutmu, benarkah apa yang telah kulakukan selama ini...?" tanya si pemuda, ragu-ragu.

"Kalau tidak benar! Sungguhpun aku sudah berada di alam lain pasti akan menegurmu...!" ujar si kakek begitu yakin.

"Kalau sekarang aku membela saudagar Legawa, apakah tindakanku itu juga benar?" Kakek Bangkotan Koreng Seribu terdiam beberapa saat lamanya. Kemudian dengan berwibawa diapun berkata: "Selama pertolonganmu itu tanpa pamrih dan mengharapkan imbalan atas jerih payahmu, aku menganggap hal itu baik. Sebab akupun tahu kalau saudagar yang baru insap dari gemerlapnya dunia itu memang sedang diliciki oleh putranya katemenggungan. Nah tunggu apa lagi, cepat-cepatlah merat dari hadapanku. Sebentar lagi tentu anak saudagar yang patah hati itu telah datang menyusulmu...!"

"Baa... baik kek...! Akupun tak pernah mengharapkan apa-apa dari mereka. Kalaupun aku mengajukan persaratan seperti yang pernah kuucapkan itu, hal ini semata-mata hanya untuk mengetahui seberapa jauh niat saudagar Legawa dengan segala keinginannya..."

Si Bangkotan Koreng Seribu yang memang sudah begitu hapal dengan watak muridnya, hanya mendengus.

"Sudah muak aku melihatmu! Cepat kembali ke dalam jasadmu, orang-orang itu segera sampai di tempat ini...!" Tanpa berkata-kata lagi, pendekar dari negeri Bunian segera kembali pada jasadnya.

"Plaaas...!"

Roh dan jasad itupun kembali menyatu, sebentar kemudian tubuh pemuda itu sudah bergerak-gerak kembali. Lalu sepasang matanya yang terpejam pun telah membuka pula.

Kenyataannya memang benar seperti apa yang dikatakan oleh roh Kakek Bangkotan Koreng Seribu. Tak lama setelah bersatunya antara jasad dan roh si pemuda, dari jalan setapak pinggiran kuburan itu, muncul beberapa orang berkuda yang sudah sangat dikenali oleh si pemuda.

"Kakang Kelana...!" seru wanita berpakaian ungu, lalu melompat dari atas punggung kudanya diikuti oleh empat orang pengiring.

"Indah Dewi! Mengapa kau justru menyusulkan kemari...?" tanya si pemuda keheranan. Gadis yang dihianati oleh suami yang tidak dicintainya itupun hanya tersenyum dikulum, kemudian dia mendekati si pemuda. (Untuk jelasnya siapa Indah Dewi, terdapat pada episode terdahulu dalam judul ‘Ksatria Pedang Asmara’) Setelah mereka saling berhadap-hadapan: "Ayah yang menyuruhku menyusulmu! Sudah tiga hari kakang tidak pulang. Ayah khawatir kalau ada sesuatu yang terjadi denganmu...!"

"Ternyata aku tak kekurangan sesuatu apapun.

Ada baiknya kalau kau pulang duluan saja."

"Apa yang kau lakukan di tempat ini...?" tanya Indah Dewi curiga.

"Aku tidak apa-apa...!" ujar Buang Sengketa

tawar.

"Tapi ayah mengharap agar kakang bisa pulang

ke rumah saat ini juga, katanya dia takut kalau sewaktu-waktu orang-orang dari Katemenggungan datang menyerbu...!" Pemuda dari negeri Bunian itu gelenggeleng kepalanya: "Ayahmu tak perlu khawatir. Setidak-tidaknya orang dari Katemenggungan masih perlu waktu yang agak lama untuk melakukan penyerangan. Aku tak bisa pulang ke rumahmu sekarang, karena aku perlu melakukan penyelidikan terlebih dahulu...!" "Baiklah kalau kakang Kelana sudah memutuskan begitu, maka sekarang juga aku akan kembali. Tapi ingat, jangan terlalu lama bepergian, tanpamu kami pasti akan mengalami nasib yang sulit untuk dibayangkan...!" katanya wanti-wanti.

"Aku akan menepati janjiku...!" jawab Buang Sengketa tanpa ragu-ragu lagi. Setelah memberikan perbekalan buat si pemuda, Indah Dewi kemudian membalikkan langkah. Berjalan cepat menghampiri kudanya dengan diikuti oleh empat orang pembantu. Setelah melompat ke punggung kuda masing-masing, Indah Dewi pun langsung membedal kudanya tanpa menoleh-noleh lagi.

"Ah, gadis malang! Korban keegoisan orang tua yang selalu silau dengan harta benda, pangkat serta kedudukan. Tak disangka-sangka kalau akhirnya malah menimbulkan malapetaka...!" gumam pemuda itu, selanjutnya menjauh meninggalkan Kuburan Kramat menuju ke arah Tenggara.

***

Langit terang resik tiada berawan, di langit lepas bintang berkerlap kerlip memancarkan cahaya putih kebiruan. Dan bulan purnama, baru saja menampakkan diri dari balik bukit.

Pada saat itu di sebuah gua batu cadas yang terletak tidak begitu jauh dari lereng bukit. Suasana di dalam sana nampak lengang, seolah gua yang selalu diterangi dengan cahaya lampu minyak yang berwarna merah tiada berpenghuni. Keadaan itu berlangsung selama beberapa jam sampai akhirnya beberapa orang berjubah hitam wajah coreng moreng menyeruak memasuki gua itu. Orang-orang tersebut kemudian duduk di sebuah altar yang berukuran sangat luas. Dalam waktu yang sangat singkat jumlah merekapun semakin bertambah banyak hingga mencapai belasan orang. Orang bercadar dengan jubah hitamnya yang menjela sampai ke tanah itu. Kemudian secara serentak seperti sedang mengucapkan kalimat doa. Tapi kata-kata yang keluar dari mulut mereka tak begitu jelas. Bagai suara gumanan.

Sementara itu di dalam sebuah ruangan lain, tiga orang gadis nampak terbaring lemah di atas ranjang dalam keadaan tertotok dan tubuh menelentang. Tiga orang gadis berwajah cantik itu tak lain, Sekar Asih, Sekar Taji dan juga Sekar Kencana. Yang merupakan murid-murid Perguruan Kerudung Biru yang bermarkas di kaki bukit Arjuna. Sebagaimana diketahui tiga orang murid Bidadari Pedang Maut ini berhasil diculik oleh wakil kerudung Hitam dan kawannya setelah kalah dalam pertarungan yang cukup sengit.

Kini dalam ruangan yang hanya diterangi oleh beberapa lampu minyak itu, tiga orang gadis murid Perguruan Kerudung Biru seperti sedang menunggu ponis hukuman mati. Hati masing-masing diliputi berbagai tanda tanya bagaimanakah rupanya laki-laki yang menjadi ketua perserikatan jubah hitam.

Dalam menunggu dengan diliputi ketegangan ini, mendadak muncul seorang laki-laki berusia sangat muda, dengan wajah coreng moreng dan juga mengenakan jubah hitam menjela. Laki-laki muda bertampang dingin ini nampak berjalan menghampiri mereka bertiga. Beberapa saat pemuda itu memperhatikan calon-calon korbannya satu persatu.

"Gadis-gadis cantik! Tubuhnya padat berisi... sayang aku tak pernah mendambakan kehangatan tubuh gadis manapun! Darah mereka sangat pantas untuk kupersembahkan pada Pedang Asmara...!" gumam pemuda bernama Andika dalam hati. Namun apa yang sedang bergolak di dalam hatinya, serta merta pemuda berjubah hitam ini nampak mengatupkan gerahamnya erat-erat, lalu terdengar pula suaranya yang begitu pelan, namun membuat mengkirik bulu kuduk tiga orang gadis itu:

Gadis-gadis malang...

Dulu pernah kusimpan cinta di selembar harap Saat kasih sayang selalu kudamba

Tapi mengapa semuanya membuat aku kecewa Kini lihatlah mataku yang tiada tetes tangis Dan luka-luka yang dulu tiada kunjung sembuh Karena asmara celaka

Yang telah membawa sebuah derita teramat panjang...

Usai berkata begitu, pemuda wajah coreng moreng jubah hitam ini menatap sinis pada ketiga gadis yang terlentang di atas ranjang tiada berdaya.

"Sriiing...!"

Serta merta Andika mencabut senjatanya yang menggelantung di bagian pundaknya. Pedang itu berwarna hitam kebiru-biruan, yang membuat gadis-gadis yang dalam keadaan tertotok itu menjadi ketakutan setengah mati justru karena Pedang Asmara di tangan Andika nampak menggeletar dan menimbulkan bunyi yang sangat aneh.

"Bocah-bocah cantik! Sesungguhnya aku ingin meniduri kalian satu persatu. Sering kubayangkan betapa indahnya bersama-sama seorang wanita. Namun keinginan seperti itu kini tiada lagi. Anak-anak manis... lantunkanlah doa, sebelum maut menyambut. Semoga kematian tak ubahnya bagai sebuah tidur yang teramat panjang... Hiaaat...!"

Seusai mengucapkan segala sesuatunya, tubuh Andika nampak berputar-putar. Di salah sebuah ranjang calon korbannya. Pandangan matanya yang kosong dan dingin itu memandang tiada berkedip ke sekujur tubuh gadis yang bernama Sekar Taji. Yang dipandang kelihatan semakin bertambah ketakutan, jantung berdetak kian cepat. Nafas tersengal-sengal, hingga membuat bagian dadanya yang padat berisi itu terguncang-guncang turun naik. Tiada rangsangan birahi atas diri pemuda ini, sebaliknya sorot matanya berubah menjadi sinis. Pelan namun cukup pasti, pemuda jubah hitam menjela-jela ini menggerakkan senjatanya ke arah bagian dada.

"Breet...!"

"Auuu...!"

Gadis yang bernama Sekar Taji itupun keluarkan jeritan tertahan saat mana, pakaiannya di bagian dada robek lebar di sambar pedang. Yang membuat wajahnya semakin memerah adalah akibat terobeknya pakaian di bagian depan itu membuat dua bukit kembarnya yang halus mulus padat dan berwarna putih itu tersingkap, menantang. Tapi pemuda dari Lembah Patah Hati ini nampaknya tiada menghiraukan pemandangan seperti itu. Sekar Taji yang dalam keadaan tertotok bagian urat geraknya hanya mampu menjeritjerit.

"Lepaskan kami, laki-laki keparat! Kami akan mengadu jiwa atas perlakuanmu yang memalukan ini...?" teriak gadis itu, namun tetap tak memiliki kemampuan untuk menutupi bagian dadanya yang tersingkap begitu lebar.

"Jangan banyak tingkah! Tak banyak pilihan yang dapat kulakukan untuk kalian. Darah perawan memang sangat dibutuhkan oleh Pedang Asmara milikku. Agar lebih ampuh untuk membasmi siapapun yang coba-coba berani menghalangi sepak terjangku...!" gumam si pemuda. Selanjutnya tanpa ampun lagi pedang di tangan pemuda itupun terangkat tinggitinggi, kemudian laksana kilat. Senjata itu melesat ke arah bagian dada si gadis. Gadis itu hanya membelalakkan matanya saat pedang di tangan Andika meluncur. Cepat ke tengah-tengah dada.

"Haaiiit...!"

"Jrooos...!"

"Ahhkkgh...!"

Hanya pekik tertahan yang terdengar, saat mana senjata di tangan Andika menembus bagian dada Sekar Taji. Tiada pula darah yang menetes, tubuh Sekar nampak berkelojotan untuk sesaat lamanya. Lalu diam tiada berkutik-kutik lagi.

Melihat kematian kawannya, Sekar Asih dan Sekar Kencana nampak membelalakkan kedua matanya. Sama sekali mereka tiada menyangka kalau pemuda yang mereka hadapi kiranya tak ubahnya bagai seorang pembunuh berdarah dingin. Namun mereka juga nampaknya tiada memiliki pilihan lain. Tubuh mereka tertotok, ini yang membuat mereka tak memiliki kemampuan untuk berbuat banyak.

"Manusia terkutuk...! Begitu kejam perbuatanmu itu... Sang Hyang Widi pasti tak pernah mengampuni dosa-dosamu...!" teriak Sekar Asih, dengan kemarahan yang tiada tertahankan lagi.

"Kaummu juga pernah berbuat lebih dari apa yang kulakukan. Wajar saja kalau kini aku melakukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang pernah ku rasakan dulu! Hemm...!" kata Andika, lalu dari sela-sela bibirnya terdengar suara geraman yang begitu aneh. Tubuh kembali bergetar hebat, pedang di tangannya mendengung-dengung dan mulai terasa sulit untuk dikendalikan.

"Baiklah! Kuturuti segala keinginanmu, hei Pedang Asmara...!" teriak Andika bagai sedang berbicara dengan sesuatu yang tiada terlihat. Selanjutnya dengan disertai satu bentakan yang sangat keras. Tubuh pemuda itu melompat ke atas, dan sebelum bagian kepalanya menyentuh langit-langit gua. Maka tubuh lakilaki wajah coreng moreng itu telah kembali melesat ke bawah sambil lakukan dua babatan menyilang dalam waktu berbarengan:

"Hiaaat...!"

"Jrooos! Jreees...!"

Luka akibat sabetan senjata Andika nampak begitu memanjang, tapi sama seperti yang terjadi atas korban yang pertama tadi. Kali ini pun bekas luka itu tiada berdarah sama sekali. Mungkin inilah kharisma yang dimiliki Pedang Asmara di tangan Andika. Dan anehnya setelah pedang itu menghirup darah korbankorbannya, maka senjata yang memancarkan prabawa aneh itupun tidak lagi mengeluarkan bunyi mendengung-dengung seperti pertama tadi. Dengan gerakan yang sangat cepat Andika memasukkan senjata itu ke dalam sarungnya. Selanjutnya terdengarlah suara tawanya yang begitu dingin, lalu menjauh dan menuju ke arah ruangan lain.

Sesampainya di ruangan lain, suara bergemuruh menyambut kehadirannya. Mereka itu merupakan anak buah dan pembantunya sendiri. Orang-orang itu sama seperti dirinya juga mengenakan jubah berwarna hitam.

"Terima kasih atas bakti yang telah kalian lakukan selama ini! Tetapi aku tak pernah puas sebelum semua kalangan persilatan bertekuk lutut di bawah kakiku...!" kata pemuda itu, setelah agak lama memperhatikan anggotanya yang berjumlah lebih dari duapuluh orang.

"Ketua! Beberapa murid maupun guru di kalangan persilatan telah kita culik. Bahkan hampir semua orang-orang itu telah kita bunuh pula...! Sebenarnya yang manakah di antara sekian banyak kaum persilatan yang menjadi musuh besar ketua...?" tanya perempuan berwajah cantik, tubuh ramping yang bernama Peri Lingga. Andika tidak buru-buru menjawab, sebaliknya sepasang matanya terbuka lebar-lebar. Ada rasa tidak senang yang terpancar lewat tatapan mata itu.

"Kau benar! Peri Lingga... memang telah begitu banyak kaum persilatan berbagai golongan yang telah tewas di tanganku. Tapi aku tak pernah merasa puas atas kematian mereka...?"

"Justru mengapa ketua membunuh mereka begitu saja tanpa ada keinginan untuk merasakan kehangatan tubuh mereka...!"

"Heeh... kau tau apa! Sisa-sisa hidupku tak pernah membutuhkan kehangatan apa-apa. Satu yang ingin kulakukan bahwa setiap wanita yang berada di kolong langit ini harus patuh di bawah perintahku...!" Pemuda bertubuh tegap itu pun mendengus.

"Sebuah ide yang bagus ketua! Tapi cuma sebegitukah cita-citamu...?" tanya Peri Lingga lebih jauh lagi.

"Hoo... tentu tidak...! Dalam waktu tidak begitu lama lagi aku ingin menunjukkan bakti pada orang tuaku yang telah tiada... ha... ha... ha...! Keparat saudagar Legawa! Selain begitu tega menghinakan diriku, kiranya dia juga telah membunuh kedua orang tuaku...! Mereka adalah orang-orang yang telah masuk dalam daftar kematian. Begitu pun halnya dengan Lesmana dan Tamenggung Jayeng Rono yang telah menghancurkan semua harapanku... ya mereka memang pantas mati... harus...!" geram pemuda itu dengan geraham berkerokotan. "Kami selalu mendukung segala rencanamu, ketua yang kami hormati...!" teriak pengikut-pengikut Andika secara serentak.

"Bagus...! Namun sebelum rencana besar itu kita mulai, alangkah baiknya kekuatan lain yang tiada seberapa itu kita hancurkan...!"

"Kami pun mendukung gagasan baru yang ketua rencanakan itu...!" ujar Peri Lingga merasa setuju.

"Hhh. Kurasa untuk saat ini, hanya itulah dulu yang perlu kusampaikan pada kalian. Dan jangan lupa, mulai dari sekarang hancurkan kaum persilatan golongan manapun. Seret setiap perempuan yang kalian jumpai, hingga berhadapan dengan aku...!" kata pemuda itu begitu tandas.

"Kami akan melakukannya, ketua...!" sahut mereka hampir bersamaan.

"Heiii... jangan semuanya yang berangkat! Tinggalkan beberapa orang untuk tetap menemaniku di sini...!"

"Aku hanya membutuhkan enam orang yang memiliki kepandaian tinggi...!" ujar Peri Lingga, sambil menunjuk pada orang-orang yang dimaksudkan.

"Kalau begitu, cepatlah kalian pergi... kukira saatnya sekarang ini kita mulai melakukan kejutankejutan itu...!" katanya dengan suara semakin bertambah dingin menggidikkan.

Tak lama setelahnya, rombongan itu pun berangkat meninggalkan gua merah yang merupakan markasnya orang-orang patah hati. Sesungging senyum sinis menyertai kepergian orang-orangnya. Entah apa makna dari senyum itu, hanya Andika sendirilah yang mengetahuinya.

*** 3

Tiga kawan-kawan persilatan berhasil dihubungi oleh Lesmana dalam upayanya untuk menghancurkan saudagar Legawa bekas mertuanya sendiri. Adapun orang-orang yang berhasil dihubungi oleh Lesmana antara lain, Baja Kuning yaitu kelompok Begal dan bajak sungai dari daerah sungai Bilah Hulu. Kemudian Roda Paksi, yaitu sekelompok pemburu wanita yang dikenal karena kejahatannya dalam menculik dan memperkosa anak istri orang. Sedangkan satu kelompok lagi adalah merupakan kelompok Maling Durjana. Tak jauh bedanya dengan maling-maling lainnya, maka pekerjaan mereka pun mencuri segala bentuk harta benda.

Dapat dibayangkan orang yang bagaimana putranya Tumenggung Jayeng Rono ini. Kawankawannya di dunia persilatan saja kebanyakan terdiri dari golongan hitam. Yang pasti berbagai kelicikanlah yang selalu bercokol di dalam hati Lesmana. Demikianlah siang itu, orang-orang yang telah berhasil dihubungi oleh Lesmana nampak sedang berkumpul di halaman rumah Kincir Mabur, yaitu salah seorang tokoh sesat yang sangat sakti dan merupakan sahabat baik Lesmana sejak puluhan tahun. Sebagaimana pembicaraan terdahulu, yang telah sama-sama mereka sepakati. Kincir Angin mengatakan kesanggupannya untuk membantu Lesmana dalam menyelesaikan masalahnya dengan saudagar Legawa.

Demikianlah ketika mereka telah berkumpul di halaman rumah Kincir Angin yang begitu luas, maka pembicaraan seriuspun berlangsung: "Kami sengaja mengumpulkan saudara-saudara sekalian di rumah kediaman Paman Kincir Angin, tak lain karena saya membutuhkan uluran tenaga saudara-saudara sekalian untuk menghadapi saudagar Legawa yang telah membuat malu bahkan berani menentang kewibawaan Katemenggungan...!"

"Eee... iiyee... mulutku yang tua bangka ini... saudagar Legawa merupakan seorang saudagar yang tiada memiliki kepandaian apa-apa..! Jadi bagaimana mungkin orang-orang Katemenggungan dapat dikalahkan oleh orang itu...?!" tanya si Kincir Angin dengan suaranya yang agak sengau.

"Mestinya orang-orang kepercayaan ayahanda tidak mungkin dapat dikalahkan oleh saudagar Legawa dan pembantunya, Paman Kincir Angin...! Namun karena ada seorang pemuda tak dikenal dengan penampilannya yang aneh telah turut membantu saudagar Legawa. Maka mau tak mau orang-orang kepercayaan ayahanda menjadi kucar kacir...!" jawab Lesmana berbohong, karena yang sesungguhnya hampir seluruh orang-orang kepercayaan ayahandanya tewas, ketika sedang berusaha melakukan penyitaan di rumah saudagar Legawa beberapa hari yang lalu.

"Tuan Lesmana!" Kali ini yang membuka suara adalah ketua dari Kepala Bajak Sungai Bilah Hulu yang bernama Baja Kuning. "Maksud tuan menghubungi kami, telah dapat kami mengerti maknanya. Namun setiap kerja sama pasti akan ada balas jasa sebagai imbalannya. Maaf... kami tanyakan hal ini dengan arti bukan kami tak mempercayai Tuan Lesmana! Tapi kami kira itu perlu demi menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diingini terjadi di kemudian hari...!" Wajah Lesmana maupun, Kincir  Angin,  Roda

Paksi maupun Maling Durjana nampak memerah seketika begitu mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Baja Kuning. Walau bagaimana pun mereka sesama golongan sendiri pertanyaan yang baru saja diucapkan oleh Baja Kuning sebagai kata-kata yang dianggap sangat keterlaluan sekali.

"Saudara Baja Kuning! Mengumbar kata-kata seperti itu, adalah sesuatu yang tak pantas diucapkan oleh seorang sahabat sesama kaum kepada sahabatnya yang sedang ditimpa kesusahan...!" tukas Roda Paksi nampak sangat marah. Dan memang pada kenyataannya, kelompok Bajak Sungai ini memang termasuk kalangan persilatan segolongan yang banyak menentang segala tindak tanduk kawan yang lainnya.

"Ah... Saudara Roda Paksi terlalu polos dan jujur. Masakan anda tidak tahu, bahwa apa yang akan diperjuangkan ini menyangkut sejumlah harta yang tak pernah habis walau dimakan tujuh turunan...!" tukas Baja Kuning dengan sesungging senyum licik.

"Memang tidak salah! Tapi apa yang diperjuangkan adalah menyangkut nama baik keluarga Katemenggungan. Kalaupun harta itu ada, semuanya juga tidak dapat diganggu gugat. Karena merupakan barang sitaan...!" kilah Lesmana semakin merasa tak enak saja hatinya.

"Hemm. Sungguhpun terhadap sahabat sendiri, kami tak ingin membantu tanpa pamrih apa-apa, terkecuali kami menolong orang-orang yang hendak masuk ke liang kubur!" kata Baja Kuning tanpa memperhitungkan akibatnya.

"Keparat! Kau benar-benar telah menghinaku kaummu sendiri, Baja Kuning...!" teriak Kincir Angin. Sambil berkata begitu laki-laki berumur lima puluh lima tahun ini dorongkan telapak tangannya ke depan. Begitu tangan itu berkiblat, maka serangkum gelombang angin pukulan yang begitu dingin menusuk tulang sungsum Baja Kuning dan sepuluh orang anggotanya. Laki-laki yang memiliki tampang mirip Tikus Warok itu keluarkan seruan tertahan. Namun dia pun tidak tinggal diam. Dengan satu gerakan yang manis tubuhnya melenting ke udara. Masih dalam keadaan seperti itu Baja Kuning berucap:

"Tak pernah kusangka, kalau akhirnya memilih jalan kekerasan hanya untuk membela orang yang selama ini telah menyuapi kalian dengan janji yang muluk-muluk."

"Baja Kuning! Sedari dulu kau dan kaummu memang merupakan orang-orang yang paling suka membangkang pada kawan sendiri. Maka tidak salah andai hari ini kami berusaha memberi sedikit gambaran atas kecerobohanmu itu,..!" sentak Maling Durjana. Dan nampaknya orang itu pun tidak tinggal diam. Dengan cepat Maling Durjana hantamkan tinjunya mengarah pada bagian dada Baja Kuning. Sambaran angin yang sangat kencang menyertai datangnya pukulan yang dilakukan oleh Maling Durjana.

Seperti diketahui, selama ini Maling Durjana sangat disegani oleh lawan-lawannya justru karena pukulan Tinju Guntur yang mampu membuat remuk dada setiap lawannya. Baja Kuning nampaknya maklum akan kelebihan yang dimiliki oleh lawannya. Itu sebabnya begitu mengelak dia langsung cabut senjatanya dan memapaki datangnya pukulan menggeledek yang dilancarkan oleh Maling Durjana.

"Weees! Cleeeng...!" terdengar satu benturan yang sangat keras begitu, pedang di tangan Baja Kuning yang juga memiliki warna kuning saling berbenturan dengan pukulan lawannya. Baja Kuning menjadi tercengang justru pedang di tangannya dia rasakan tak ubahnya bagai membentur batu gunung. Secara kenyataan Maling Durjana kiranya sangat kebal terhadap berbagai senjata tajam.

"Minggir saudara-saudara semua! Sekali sekali, begal dari sungai Bilah Hulu ini memang perlu diberi pelajaran...!" teriak Maling Durjana memberi peringatan pada orang-orang yang hadir di situ.

"Sekali waktu, seorang maling pengecut memang perlu berhadapan dengan seorang bajak sungai sepertiku...!" guman Baja Kuning dengan sesungging seringai sinis.

"Jangan banyak bacot! Majulah...!" tantang Maling Durjana sambil bersiap-siap membangun sebuah serangan.

"Hiaaat...!"

Sekali saja tubuh Baja Kuning menerjang ke depan. Maka pedang ditangannya pun berbicara. Maling Durjana tergelak-gelak begitu melihat berkelebatnya senjata di tangan Baja Kuning yang nyaris membabat buntung bagian kakinya. Dengan gerakan yang manis Maling Durjana membuang tubuhnya ke samping kiri. Serangan lawan luput, sebagai gantinya Maling Durjana kirimkan satu tendangan dengan disertai satu jotosan mengarah bagian pelipis lawannya.

"Sial...!" maki Baja Kuning begitu berhasil menghindari tendangan yang dilakukan oleh Maling Durjana, sebaliknya satu jotosan keras yang datang menyusul tendangan itu tak dapat di hindari oleh lakilaki muka tikus warok dari Sungai Bilah Hulu ini.

"Dess...!"

"Gusraak...!"

Tubuh Baja Kuning terpelanting tiga tombak, bagian wajahnya yang kena dijotos oleh Maling Durjana, memar bengkak dan membiru. Namun orang ini nampaknya sudah tiada menghiraukan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Secepat kilat dia bangkit kembali, dan langsung kirimkan satu pukulan 'Si Raja Air Menerjang Pusara.' Begitu cepat sekali pukulan yang dilepas oleh Baja Kuning. Sehingga dalam waktu hanya sekedipan mata, serangkum gelombang sinar yang menimbulkan hawa panas luar biasa telah mengancam diri si Maling Durjana. Namun seperti meremehkan pukulan yang dilakukan oleh pihak lawannya untuk kali ini pun Maling Durjana keluarkan suara tawa tergelak-gelak. Hal ini membuat orang-orang yang menyaksikan pertandingan itu menjadi kebat kebit hatinya. Di luar dugaan, Maling Durjana julurkan tangannya ke depan. Selanjutnya melakukan satu gerakan memukul.

"Weeer...!"

"Deeerr...!"

Maling Durjana nampak terhuyung-huyung tiga tindak. Sebaliknya tubuh Baja Kuning kembali terpelanting tujuh tombak. Begitu tubuh gembong bajak sungai itu membentur batu, maka tak ayal lagi, dari mulut, lubang hidung serta dari bagian telinganya mengalir darah kental.

"Baja Kuning! Kuperingatkan bagimu untuk menyudahi pertengkaran yang tiada arti ini. Jika tidak aku takkan pernah mau mengampuni jiwamu lagi...!" bentak Maling Durjana ketika menyadari pihak lawan yang sebenarnya masih kawan sendiri ini tak mungkin mampu menahan pukulan berikutnya. Namun Baja Kuning sungguhpun telah menderita luka dalam yang cukup parah tidak pernah mengindahkan peringatan Maling Durjana. Dengan tubuh terhuyung-huyung. Baja Kuning memberi isyarat pada kawan-kawannya.

"Berhenti! Jangan kalian turuti keinginan ketua kalian. Berhenti kataku...!" bentak Kincir Angin dengan suaranya yang tak begitu jelas. Antara memenuhi kewajiban dan mematuhi perintah tokoh kosen yang bernama Kincir Angin itu. Membuat belasan orang anak buah Baja Kuning menjadi ragu-ragu. Dalam keadaan seperti itu. Baja Kuning kembali keluarkan suara bentakan menggelegar: "Orang-orang tolol! Jangan hiraukan perintah mereka. Lebih baik kita mengadu jiwa dengan seorang maling yang telah melakukan penghinaan terhadap kaum bajak sungai...!" teriak pemimpinnya. Benar saja seperti dugaan Kincir Angin dan Roda Paksi, orangorang dari Sungai Bilah Hulu ini kemudian menuruti segala perintah atasannya. Namun nampaknya Kincir Angin dan Roda Paksi tidak tinggal diam begitu saja. Dengan masih tetap berdiri tegak di tempatnya, secara bersamaan kedua orang itu kirimkan pukulan mengarah pada anak buah Baja Kuning yang sedang berusaha membantu ketuanya. "Wuuut...!"

Karena pukulan yang dilepas oleh dua tokoh sesat itu hanya dengan tujuan untuk menghalau orang-orang Baja Kuning, tanpa maksud melukai. Maka akibatnya cuma membuat belasan orang begal sungai terpelanting roboh tanpa mengalami luka dalam yang cukup serius. Dengan kerengkangan mereka berusaha bangkit kembali, namun satu bentakan keras kembali terdengar: "Kalian harus berhenti menyerang! Andai tidak, nyawa kalian tidak pernah kami ampuni...!" Yang berkata sekali ini adalah Kincir Angin, yaitu orang yang memiliki pengaruh tinggi di antara mereka. Mau tak mau orang-orang bajak sungai itu menghentikan serangannya.

Namun lain halnya lagi dengan Baja Kuning yang sudah dilanda kemarahan besar. Dengan mempergunakan jurus Sekawanan Bajak membunuh Anai Anai, pedang di tangan laki-laki muka tikus itu berputar cepat membentuk perisai diri. Detik-detik selanjutnya senjata itu menerjang Maling Durjana dengan tujuan mengincar bagian punggungnya. Lagi-lagi secara nekad Maling Durjana yang kebal terhadap senjata jenis apapun ini, hantamkan tinjunya secara beruntun.

"Traak...!" "Ihhk...!"

Karena saat menghantamkan pukulan itu disertai dengan tenaga dalam yang cukup tinggi, begitu juga halnya yang dilakukan oleh lawannya. Maka saat pukulan tangan dengan pedang itu saling bertemu, maka tubuh mereka sama-sama tergetar hebat. Bahkan Maling Durjana sendiri merasakan tangannya sampai terasa sakit dan berdenyut-denyut nyeri. Akan tetapi di luar dugaan, Maling Durjana kirim satu tendangan satu pukulan susulan yang memiliki kecepatan luar biasa. Baja Kuning yang masih dalam keadaan terhuyung-huyung itu kiranya masih belum siap dengan posisinya.

"Weees...!"

"Deees...!"

Tanpa dapat dicegah lagi, akibat pukulan yang dilakukan lawannya membuat tubuh Baja Kuning terlempar begitu jauh. Sangat telak sekali pukulan yang dilakukan oleh Maling Durjana, sehingga membuat Baja Kuning tak mampu bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya. Mengetahui ketuanya tewas di tangan si Maling Durjana. Pucatlah wajah belasan anak buah Baja Kuning.

"Hemm...! Hanya kalian yang masih hidup, apakah kalian ingin panjang umur atau mau mampus sekarang menyusul ketua kalian?" sentak Kincir Angin bukanlah hanya gertakan kosong.

"Kami ingin panjang umur, Tuan...! Jangan bunuh kami... kami bersedia melakukan semua perintah yang akan tuan-tuan berikan kepada kami. Asal saja kami diberi hidup untuk melihat hari esok...!" ujar salah seorang di antara mereka terbata-bata.

"Baik. Kalau kalian memang ingin tetap hidup, mulai dari sekarang harus mengikuti semua perintah yang kami berikan pada kalian... dan jangan sekali-kali meninggalkan kami terkecuali ada ijin dari kami...!" "Kami semua akan patuh kepada tuan...!" janji

orang-orang sungai itu dengan kepala menganggukangguk. Roda Paksi untuk selanjutnya memandang pada kawan-kawannya yang berada di tempat itu.

"Kakang Kincir Angin, Adi Maling Durjana dan Adi Lesmana...!" Semua-semuanya telah terjadi dengan keadaan yang begini menyedihkan! Kakang Baja Kuning telah tewas, di tangan Adi Maling Durjana...! Hal itu kukira tak perlu di sesalkan. Apa yang sekarang ini mengganggu pikiranku adalah, apakah kita masih menunggu waktu terbaik untuk menyerang saudagar Legawa itu...?" tanyanya, lalu melirik pada Lesmana yang sedari tadi hanya diam saja.

"Ttt... tidak begitu Kakang Roda Paksi! Menurutku karena tak ada lagi persoalan di antara kita, maka ada baiknya kalau kita berangkat sekarang juga...!" jawab Lesmana.

"Usul yang baik! Akupun merasa setuju kalau kita berangkat sekarang juga...!" kata Kincir Angin. Nampaknya masing-masing mereka yang berada di tempat itu saling menyetujui apa yang baru saja dikatakan oleh Lesmana. Itu makanya tak begitu lama kemudian berangkatlah rombongan itu, untuk bergabung dengan orang-orang Katemenggungan yang sudah tentu telah pula bersiap-siap untuk melakukan penyerangan ke rumah kediaman Saudagar Legawa.

***

4

Matahari mengintip di upuk Timur, embun yang menempel di ujung-ujung dedaunan luruh satusatu. Dan burung-burung masih tetap bermalasmalasan di dalam sangkarnya. Udara memang terasa begitu sejuk, karena daerah sekitarnya merupakan dataran tinggi yang sangat langka oleh musim kemarau. Karena daerahnya yang subur. Maka tak begitu heran jika di daerah itu tumbuh bermacam-macam kayu hitam dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Dalam suasana pagi seperti itu biasanya daerah Cagak Langit ini sunyi sepi. Tak seorang pun kelihatan sedang melakukan kesibukan di sana.

Namun tidak demikian halnya yang terjadi di pagi itu, dari kejauhan nampak berkelebat sesosok bayangan tubuh menuju ke arah Utara. Orang yang sedang melakukan1 perjalanan itu nampaknya dalam keadaan tergesa-gesa. Terbukti, hampir sepanjang jalan yang di tempuhnya. Secara terus-menerus dia mengerahkan ilmu lari cepatnya. Kalau dilihat secara seksama, maka semakin jelaslah bahwa orang yang sedang melakukan perjalanan itu ternyata seorang wanita, dengan rambut disanggul, badan kurus kering. Sedangkan di bagian punggungnya menggelantung dua bilah pedang yang tidak seberapa panjang dan besarnya. Karena badannya sedemikian kurus, maka dalam keadaan berlari seperti itu tubuhnya nampak seperti melambai-lambai ditiup angin. Namun perempuan tua berusia sekitar lima puluh lima tahun ini sudah tiada menghiraukan hal itu. Dia terus berlari-lari, semakin lama tubuhnya semakin menjauh melewati hutanhutan di sekitarnya.

Di luar sepengetahuan si nenek, kiranya dalam jarak yang tak begitu jauh. Nampak berkelebat pula bayangan merah mengikuti kemana saja si nenek berlari. Semakin lama jarak di antara mereka nampaknya sudah semakin bertambah dekat. Sampai pada satu kesempatan yang tiada dapat diduga-duga, sambil berlari-lari. nenek bertubuh kerempeng itu menggempos badannya.

"Weeess...!"

Mendadak saja tubuh perempuan itu lenyap bagai ditelan bumi. Orang yang menguntit di belakangnya merasa kehilangan jejak. Kemudian celingukan memandang ke arah sekelilingnya. Tapi pemuda berkuncir itu tak melihat siapapun bersembunyi di tempat itu. Sambil garuk-garuk kepalanya, pemuda ini pun kemudian berucap seperti untuk dirinya sendiri:

"Wei... perempuan itu lenyap begitu saja. Padahal aku belum melihat tampangnya. Entah neneknenek atau masih perawan... Sayang semestinya aku tanyakan hal itu ketika masih berlari tadi. Janganjangan orang itu sebangsanya kuntilanak kesiangan...!" gumam si pemuda masih tetap memperhatikan suasana di sekelilingnya.

"Tapi kuntilanak biasanya rambutnya panjang, sedangkan orang itu disanggul. Pula di bagian punggungnya menyandang dua bilah pedang...!"

"Bocah! Sejak tadi kau mengikuti terus, apa yang kau inginkan!"

"Ee... aku hanya ingin melihat-lihat pemandangan di sini...!" sahut si pemuda yang tak lain Buang Sengketa adanya.

"Hanya ingin melihat-lihat, tapi mengikuti aku terus ke mana pun aku melangkah...?"

"Mungkin kita hanya kebetulan belaka...!" jawab si pemuda, lalu tersenyum-senyum.

"Kurang ajar... kau bilang hanya kebetulan...? Kau kira aku tak tau sejak tadi kau terus mengekor di belakangku...?"

"Maaf orang tua! Sungguh aku tak punya niat apa-apa, walau aku mengikutimu sejak tadi...!" ujar Pendekar Hina Kelana, lalu mengangguk hormat. Perempuan tua itu hentakkan kakinya beberapa kali. Di luar dugaan tanah di sekitar tempat itu terasa bergetar bagai dilalui lintasan gempa. Tingkah si nenek yang semula dianggap hanya iseng saja oleh si pemuda sudah tentu berbalik dengan rasa kagumnya terhadap tenaga dalam yang dimiliki oleh perempuan ini. Dan akhirnya dia mengetahui bahwa nenek yang sedang berdiri di hadapannya itu tak dapat dianggap sembarangan, maka dengan gugup pemuda ini kembali menjura hormat beberapa kali. Kemudian lanjutnya: "Siapakah engkau ini orang tua? Maafkan aku karena aku yang bodoh ini telah begitu berani mempermainkanmu...!" Yang diajak bicara nampak diam saja, sebaliknya matanya yang cekung menjorok ke dalam rongga itu memandang sinis pada Buang Sengketa dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.

"Melihat tampangmu, rasanya aku baru kali bertemu dengan seorang gembel berperiuk sepertimu! Kalau kulihat lagi dengan mata hatiku, sungguhpun gembel namun kau bukan pemuda sembarangan. Aku si Bidadari Pedang Maut yang telah kehilangan beberapa orang murid kesayangan jadi ingin tahu. Apakah kau cukup pantas melakukan sebuah penculikan ataukah lebih pantas lagi untuk bersedia membantuku dalam mencari murid-muridku yang hilang...!" kata si nenek berpedang kembar yang ternyata ketua Perguruan Kerudung Biru yang berjuluk Bidadari Pedang Maut. Buang Sengketa yang masih baru satu purnama berada di daerah yang masih merupakan kekuasaan Tumenggung Jayeng Rono, sudah barang tentu tidak mengenal siapa adanya 'Bidadari Pedang Maut' ini. Apa yang dia ketahui dari setiap gelagat yang tak baik adalah, mempertahankan diri dari segala kemungkinan yang dapat mencelakakan dirinya sendiri.

"Orang tua, kurasa aku tak memiliki kesalahan apa-apa denganmu, tapi mengapa secara tiba-tiba kau malah bermaksud menyerangku...?" Nampaknya siasia saja kata-kata bernada memberi peringatan yang diucapkan oleh Buang Sengketa. Si nenek bagai orang tuli sudah membuka jurus-jurus silatnya.

"Ah... orang tua ini agaknya jenis manusia sinting! Susah diajak kompromi, dan bukan tak mungkin dia memiliki maksud untuk membunuhku...!" batin Buang Sengketa. Masih dalam keadaan terlolonglolong.

"Bocah geblek! Kau jangan merasa mampu mengatasi jurus-jurus silatku. Bersiap-siaplah! Hiaaaat...!"

"Wuuus...!"

Begitu melakukan gebrakan pertama, Bidadari Pedang Maut telah pula menurunkan pukulan tangan kosong yang bernama, 'Bidadari Cakar Seribu'. Buang Sengketa merasakan adanya sambaran angin pukulan mengancam bahu sebelah kiri. Namun hatinya yang dalam keadaan ragu-ragu itu, kiranya juga tidak mendukung posisi kuda-kuda si pemuda. Akibatnya sambaran angin yang sangat keras membuat tubuh si pemuda terdorong ke belakang dan terjengkang. Bidadari Pedang Maut dari Perguruan Kerudung Biru ini nampaknya merasa belum puas sampai di situ saja. Dia terus memburu, dan hantamkan pukulan-pukulan mautnya secara gencar. Melihat gelagat yang ada, Buang Sengketa menyadari bahwa nenek ceking ini memang bermaksud untuk mengakhiri hidupnya. Siapapun adanya nenek berkepandaian tinggi ini, yang jelas Buang Sengketa tak mungkin mau menerima begitu saja. Selanjutnya dengan mempergunakan jurus 'Membendung Gelombang Menimba Samudra', Buang Sengketa nampak mulai membuat satu pertahanan yang sangat kokoh dengan jalan memutar kedua tangannya sedemikian cepat. Sedangkan bagian kaki kanan melakukan sapuan yang telak pada bagian pertahanan tubuh lawan bagian bawah.

Bidadari Pedang Maut kembali lakukan satu sodokan keras, kaki si pemuda datang menyambut.

"Deees...!"

"Gubraaak...!"

Kali ini tubuh kurus Bidadari Pedang Maut terlempar dua tombak. Celakanya bagian kepala perempuan itu ini menghantam sebatang pohon, dan pohon sebesar dua pelukan orang dewasa itu pun tergetar, tapi bukan itu yang membuat Bidadari Pedang Maut menjadi uring-uringan, tetapi karena akibat benturan dengan pohon tadi dia mendapat benjol di kepalanya sebesar telur angsa. Bahkan selain itu, kepalanya juga jadi berkunang-kunang.

"Sudahlah orang tua! Di antara kita tak ada permusuhan, untuk apa kita bertengkar?" kata Buang Sengketa mengingatkan. Tapi sebaliknya Bidadari Pedang Maut menjadi gusar dan marah atas teguran Buang Sengketa. Kemudian dengan rahang gemertakan menahan amarah, nenek berbadan ceking ini mencabut pedang kembarnya, "Sriiing... Sriiing...!"

Pedang di tangan Bidadari Pedang Maut nampak berkilat keemasan ditimpa cahaya matahari yang baru saja menampakkan diri di upuk Timur.

"Kau harus merasai dulu kehebatan jurus pedang yang kumiliki...!"

"Aku tak memiliki kepandaian apa-apa, orang tua. Aku bisa celaka di tanganmu...!"

"Kalau kau tak memiliki kepandaian apa-apa...! Mungkin kau luput dari daftar orang-orang yang kucurigai, namun tak pernah lepas dari maut...!" teriak Bidadari Pedang Maut.

Belum sempat si pemuda mengucapkan katakata protes, senjata kembar di tangan ketua Perguruan Kerudung Biru itupun telah berkelebat menyambar bagian-bagian tubuh si pemuda dengan gencarnya. Mempergunakan jurus Si Gila Mengamuk, pendekar keturunan raja Ular Piton Utara ini mencoba menghindari setiap babatan maupun tusukan pedang yang datangnya secara sambung menyambung dan tiada kunjung henti.

Tubuh Buang Sengketa terkadang nampak meliuk-liuk, di lain saat terhuyung-huyung dan bagai orang yang akan terjerembat. Tetapi di saat lain, dengan gerakan yang tiada terduga-duga pemuda ini menerjang lawannya dengan kecepatan yang sangat sulit untuk diikuti kasat mata.

"Hiaat...!"

"Weuuus...!"

"Kurang ajar! Nyeploss lagi...!" teriak si nenek begitu mengetahui serangannya berhasil dihindari oleh pihak lawannya.

"Nih jurus Bidadari Menimba Sumur...!" gumam Bidadari Pedang Maut. Lalu sekali saja tubuhnya melompat ke udara dengan satu gerakan yang sangat manis, maka ketika tubuh kurus itu kembali melayang turun. Dengan gerakan secepat Burung Walet menyambar ikan. Bidadari Pedang Mautpun hantamkan pedangnya mengarah pada bagian kepala si pemuda. Buang merasakan adanya satu sambaran angin yang sangat keras dari bagian atas kepalanya. Tanpa merasa sungkan-sungkan lagi pemuda ini hantamkan tangannya ke arah atas. Serangkum gelombang Ultra Violet melesat sedemikian pesatnya ke arah si nenek ceking yang hampir saja membacok bagian kepala lawannya. Namun akhirnya dia harus mengurungkan niatnya, lalu membuang tubuhnya ke samping kiri saat dia sendiri merasakan adanya sambaran hawa yang begitu panas ke arah bagian dadanya. "Weiii...!"

"Zeeet... serr...!"

Pukulan yang dilepas oleh Buang Sengketa lenyap begitu saja ditelan udara. Sebaliknya, begitu menjatuhkan diri Bidadari Pedang Maut terus berguling-guling sambil babatkan pedang kembarnya ke arah bagian kaki.

"Wuuuk...!"

"Jreep...!"

Pedang yang menghantam kaki Buang Sengketa melekat sedemikian erat, nenek ceking yang merupakan ketua Perguruan Kerudung Biru menjadi terkejut bukan alang kepalang. Namun kiranya diapun menjadi penasaran juga. Tanpa menunggu lebih lama perempuan ini hantamkan pedang yang satunya lagi.

"Creep...!"

Tak jauh bedanya dengan apa yang telah terjadi pada pedang pertama tadi. Kali inipun senjata di tangan si nenek melekat sedemikian eratnya di bagian kaki si pemuda. Bidadari Pedang Maut nampaknya juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dengan mempergunakan sebagian tenaga dalamnya dia berusaha menarik senjatanya yang semakin menempel erat di kaki Buang Sengketa.

Namun sehebat apapun Bidadari Pedang Maut mengeluarkan tenaga untuk membetot senjatanya. Tapi tetap saja tidak mendatangkan hasil yang sebagaimana dia harapkan. Bahkan serang ketua Perguruan Kerudung Biru itu mulai merasakan kehilangan tenaga yang begitu besar. Pada kenyataannya saat itu Buang Sengketa memang telah mempergunakan jurus Koreng Seribu, peninggalan terakhir almarhum Gurunya, Si Bangkotan Koreng Seribu.

"Heh...! Ilmu iblis... mengapa sekarang ini aku menjadi sedemikian bodoh. Aku merasakan sejak tadi tenagaku tersedot keluar. Ini berarti sifat ilmu yang dimiliki oleh pemuda aneh ini menarik sebanyak mungkin tenaga dalam yang dimiliki oleh lawannya. Itu sama saja artinya dengan membuang tenaga dalam percuma. Seharusnya aku menarik balik tenagaku...!" batin ketua Perguruan Kerudung Biru ini. Kemudian:

"Chaaat...!"

Dengan tiada mengerahkan kekuatannya, si nenek ceking menyentakkan senjatanya. Pedang terlepas, tubuh Bidadari Pedang Maut terguling-guling dengan wajah pucat seputih kain kapan. Namun perempuan ini segera pula bangkit, lalu memandang tajam pada Buang Sengketa yang tetap tegak di tempatnya sambil cengengesan.

"Bocah berperiuk! Siapakah engkau ini...?" tanya ketua Perguruan Kerudung Biru tanpa merasa malu.

"Untuk apa kau tanyakan namaku, nenek pikun...!" tukas si pemuda bersungut-sungut.

"Ah... kau masih marah dengan segala tindakanku tadi...?"

"Mungkin saja tidak! Tapi karena engkau hampir saja membelah kepalaku, sudah selayaknya kalau aku marah...!" Sambutnya ketus.

"Hemm...! Maafkanlah aku...! Karena aku telah berperasangka buruk padamu. Penampilanmu yang tidak meyakinkan itu membuat aku mencurigaimu...!"

"Aku tak mengerti mengapa justru kau malah mencurigaiku...! Padahal aku tak pernah membuat kesalahan di daerah ini...!"

"Omong kosong...! Pekerjaanmu membantu saudagar Legawa saja sudah merupakan satu kesalahan bagimu. Masihkah kau mau mungkir...?"

"He... orang ini mengetahui, aku membantu saudagar Legawa! Padahal sebelumnya aku tak pernah bertemu dengannya...!" batin Buang Sengketa.

"Kau tak perlu berpura-pura! Aku telah melihatnya...!"

"Tapi aku hanya ingin menjernihkan suasana yang keruh dalam keluarga kedua belah pihak...!"

"Omong kosong...!" dengus Bidadari Pedang Maut. "Mereka yang kau bela, dan mereka yang memusuhi sama-sama memiliki sifat tamak. Tak berguna kau membela mereka mati-matian... kau harus ingat Katemenggungan sebagaimana biasanya tentu tidak tinggal diam melihat orang-orang kepercayaannya tewas di tanganmu..."

"Aku tak takut menghadapi siapapun...!" kata si pemuda ketus.

"Ah, sayangnya aku sedang banyak urusan orang muda, kalau tidak aku ada minat melihat kehebatan seorang pendekar yang berjuluk, Si Hina Kelana itu. Nantilah kalau urusanku mencari murid-murid yang hilang sudah kutemukan. Dan nyawa masih melekat di badanku, mudah-mudahan kau dapat bertemu denganku...!" kata nenek ceking ketua Perguruan Kerudung Biru, lalu seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun di tempat itu, Bidadari Pedang Maut segera pergi meninggalkan tempat itu.

"Aku seperti mengenali suaranya...! Suaranya seperti seorang gadis muda. Tapi wajahnya sudah keriputan dan tua... jangan-jangan dia merupakan...! Ah tak mungkin Wanti Sarati berkeliaran di tempat ini...!" batin si pemuda. (Untuk jelasnya siapa si Cantik Wanti Saraty, terdapat dalam Episode Satria Penggali Kubur). "Mudah-mudahan bukan dia...!" ujar si pemu-

da, kemudian tanpa menoleh-noleh lagi langkahnya pun terayun menuju rumah kediaman Saudagar Legawa. 5

Di atas batu-batu yang terdapat di depan gua, setiap hari mayat-mayat yang terdiri dari kaum wanita berumur belasan tahun bergelimpangan. Dan setiap kali pembunuhan itu terjadi. Selalu saja diakhiri dengan sebuah doa yang diucapkan dengan gumamangumaman yang tak jelas. Biasanya setelah melampiaskan kemarahannya, Andika atau yang berjuluk Satria Pedang Asmara itu selalu menyunggingkan seulas senyum puas. Selanjutnya terdengar pula untaian kata-katanya yang berpangkal dari galau masa lalunya:

Di sepanjang jalan berselimut kabut Dalam lorong sepi tiada pelita...

Kegelapan menyambut datangnya sang Aku Di sini ini...

Dalam jurang nestapa,

Ada jiwa dibakar angkara murka.

Duh...

Andai masih mungkin, ingin kugapai bintang dan rembulan

Yang sunggingkan senyum mengejek, Setiap diri berada dalam belengguh cinta... Tapi mungkinkah?

Hari-hariku kini, sudah enggan bicara...

Tangan menyapa dengan ujung pedang berlumur darah...

Oh...

Angkara, kau datang coba tepiskan dendam Sebuah dendam lama yang membuat jiwa berge-

limang tanpa nyawa

Puaskah aku dengan semua yang kudapat? Kujawab dengan kata puas...

Namun Pedang Asmara mengatakannya tidak Lalu siapakah yang akan kuturut...

Andai setiap waktu maut datang menjemput...

Selalu saja seusai melantunkan bait-bait syairnya pemuda ini tergelak-gelak. Sebuah tawa yang sesungguhnya hanyalah merupakan penjelmaan rasa pedih yang menyelimuti hatinya. Hanya dia sendiri yang tau, apa sesungguhnya sedang terjadi di dalam hatinya; 

Tak sampai sepeminum teh, pemuda berjubah hitam dengan wajah coreng moreng ini memandangi mayat-mayat tanpa darah yang saat itu sedang diusung oleh para anak buahnya, menuju jurang tempat pembuangan mayat yang berada tak begitu jauh dari tempat itu.

"Peri Lingga!" sapanya, dingin. Perempuan yang berada tak begitu jauh dari tempat si pemuda berdiri nampak menoleh.

"Ada apa ketua...?" tanya perempuan wajah coreng moreng dengan sikap sungkan.

"Aku merasakan kehadiran tamu tak diundang di sekitar tempat kita ini. Coba kalian periksa...!" perintah pemuda dari Lembah Patah Hati ini dengan sikap acuh.

"Kami akan melakukannya, Ketua...!" jawab Peri Lingga. Selanjutnya dengan gerakan yang sangat ringan tubuh Peri Lingga dalam sekejaban saja telah lenyap dalam kerimbunan pohon. Namun tiada disangka-sangka, dari arah lain nampak melompat beberapa sosok tubuh menghampiri si pemuda yang berdiri tegak dengan sikap menunggu.

"Jleeek...!" "Jliiik...!"

Begitu menjejakkan kakinya di atas tanah dua orang pendatang yang terdiri dari seorang kakek dan nenek tua renta langsung menyerang Andika dengan senjatanya yang berupa sebuah ruyung berwarna kuning emas. Pemuda wajah coreng moreng ini memang merasa terkejut dengan kehadiran dua tokoh ini. Namun dia tak begitu terkejut dengan adanya serangan yang dilakukan secara tiba-tiba ini. Dengan gerakan yang sangat indah, Andika geser tubuhnya ke samping satu langkah. Tapi senjata di tangan lawannya terus memburu ke arahnya. Satu sambaran angin yang ditimbulkan oleh senjata di tangan lawannya terasa menerpa bagian wajah Andika. Ada hawa keji yang menyertai berkelebatnya senjata itu.

"Haiiit!" "Hemmm...!"

Dengan sekali lompatan yang tiada menimbulkan suara sedikitpun. Sepasang kakinya yang kokoh berotot telah mendarat dengan mulus di atas sebongkah batu. Kakek nenek dengan ruyung mautnya terus memburu. Dan secara hampir bersamaan hantamkan ruyungnya ke arah bagian pinggang lawannya.

"Hiaaat...!"

Sekali lagi, pemuda wajah coreng moreng dengan sangat mudahnya menghindar. Senjata di tangan lawannya terus menerjang ke arah batu itu.

"Dweeer...!"

Batu bekas tempat bertumpunya si pemuda hancur berkeping-keping, serpihan debu dan batu kecil-kecil bertebaran di mana-mana.

"Peri Lingga! Tamunya sudah datang sendiri! Apa saja kerjamu di situ, heh...!" tanyanya dengan sesungging senyum rawan.

"Wuuus! Jleeek...!" Dari semak-semak yang terletak di sebelah Utara, sesosok tubuh ramping dengan jubah menjela telah hadir pula di tempat itu. Bahkan tak lama kemudian di depan mulut gua itu telah dipenuhi oleh belasan wanita dan pria berjubah hitam.

"Minggir kalian semuanya! Biarkan aku sendiri yang akan menjajal kehebatan aki nini bersenjata ruyung penggebuk anjing ini...!" perintah Andika, begitu melihat para bawahannya mulai bergerak dengan tujuan menyerang dua kakek nenek yang belum mereka ketahui identitasnya ini.

"Mampuslah kalian orang-orang berpenyakit jiwa...!" teriak si nenek berambut merah. Lalu hantamkan satu pukulan yang menimbulkan serangkum gelombang berhawa panas luar biasa. Pada saat yang sama kakek rambut putih juga kirimkan satu pukulan yang menimbulkan udara dingin melebihi salju.

Dua pukulan sakti yang dilepas dengan sasaran yang sama membuat Andika mengerutkan alisnya. Walau bagaimanapun dua kekuatan ini memiliki akibat yang berbeda-beda. Antara dingin dan panas. Semuanya sama-sama dapat menimbulkan akibat yang sangat patal. Tapi Andika adalah seorang tokoh muda yang memiliki senjata serta tenaga dalam yang dapat menimbulkan rebawa aneh. Dan bahkan pemuda ini tak pernah gentar menghadapi resiko yang bagaimana pun bentuknya. Maka dengan nekad dia memapaki pukulan 'Geletar Jagat' yang dilepaskan oleh dua lawannya dengan pukulan 'Jiwa Merana Di Tinggal Kekasih' yang telah dikuasainya dengan baik.

"Wuuuk...!"

Pukulan tanpa ujud namun menimbulkan akibat yang sangat luar biasa ini laksana kilat menyongsong datangnya pukulan yang membawa dua sifat beda. "Duuummm...!" Kakek nenek rambut merah putih terdorong dua tindak ke belakang. Sementara pemuda wajah coreng moreng jubah menjela, hanya tergetar saja beberapa saat lamanya. Dapat dibayangkan betapa tenaga dalam yang dimiliki oleh pemuda itu berada satu tingkat di atas lawan-lawannya.

"Hebat! Dari dulu hingga kini, baru kutemui dua ekor monyet ompong yang memiliki tenaga dalam yang lumayan." Tanpa merasa malu-malu, Andika memuji. "Sebelum kalian binasa di ujung Pedang Asmara, kukira tak salah kalau kalian harus menyebutkan asal usul kalian. Dan mengapa pula datangdatang langsung menyerang...?" hardik Andika dengan wajah tanpa ekperesi.

"Huh... manusia berpenyakit sarap. Sudah berbulan-bulan kami mencari murid kami yang hilang tiada tentu rimbanya. Tiada dinyana, kiranya disinilah sarangnya para iblis pembunuh berdarah dingin itu...! Manusia keparaaat... apakah salah dan dosa mereka...?" maki si kakek rambut putih dengan senjata menyilang di depan dada. Andika hanya mendengus mendengar kata-kata kasar yang diucapkan oleh si kakek. Kini mengertilah dia akan duduk persoalan yang sebenarnya. Di luar dugaan si nenek maupun kakek itu, seperti pada dirinya sendiri, pemuda wajah coreng moreng ini berucap: kan Langit hitam, cakrawala hati hitam Manusia tak tahu bagaimana bumi bermula

Juga tiada mengerti bagaimana langit ditegak-

Gelimang harta hanya menimbulkan keegoisan Tapi lihatlah sekeping hati

Dalam jiwa ini...

Yang dulu tergilas oleh ketidakpastian jaman tahu,

tian... Ah...

Engkau dan aku, juga siapa saja tak mungkin

Apa yang akan terjadi di hari esok Tiada manusia tempat bertanya, Juga tiada yang pasti...

Karena kepastian itu, hanyalah sebuah kemaKakek dan nenek yang dalam dunia persilatan terkenal dengan julukan 'Sepasang Ruyung Emas', nampak saling pandang sesamanya. Rasanya kali ini mereka berhadapan dengan orang berpenyakit jiwa yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Dari pulau Tak Bertuan mereka datang untuk mencari muridnya yang tiada pernah kembali. Tetapi begitu mereka telah menemukan jejaknya, kiranya tokoh yang dihadapinya itu memiliki kepandaian yang sangat luar biasa.

Sebagaimana murid-murid dari berbagai perguruan yang tiada dikenalnya, kakek rambut putih dan nenek rambut merah merasa yakin bahwa mayat yang telah membusuk yang mereka temukan di dalam jurang pembuangan mayat itu, tiga diantaranya pastilah merupakan murid-murid wanitanya. Apabila mereka mengingat kematian murid-muridnya yang secara menggenaskan itu, maka amarah di dalam dada merekapun berkobar-kobar. Mereka pada akhirnya sudah tiada perduli lagi dengan kehebatan yang dimiliki oleh lawannya. Dengan amarah yang tertahan-tahan, akhirnya dua orang tokoh dari pulau Tak Bertuan inipun membentak:" Penyair edan... manusia sinting, berotak miring! Kau telah menculik dan membunuh tiga orang muridku! Sungguhpun kepandaianmu setinggi gunung dan sebanyak buih sabun! Kami tak pernah merasa gentar untuk menghadapimu...!" Lagi-lagi Andika menyambutnya dengan sesungging senyum yang begitu dingin.

"Perjuangan yang sia-sia adalah perjuangan yang tak pernah di perhitungkan dengan matang...! Begitu juga halnya dengan kematian yang sia-sia, juga karena hanya menuruti api dendam...! Hak... hak... hak...! Kuberi kesempatan pada kalian untuk mengalahkanku. Namun jika kalian tak mampu melakukannya. Kalian harus bersedia berbakti kepadaku...!" kata Andika mengancam.

"Jangan banyak mulut! Makanlah senjata kami ini...!" bentak si nenek rambut merah. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat, dua-duanya langsung menerjang dengan hantamkan ruyung berwarna emas yang dapat mengembang dan menguncup secara sepontan.

"Ha... ha... ha...!" Andika tergelak-gelak. Gerakan tubuhnya ringan saja, seolah senjata yang dihadapinya hanya merupakan senjata mainan anak-anak. Dalam keadaan mengkelit menghindari sambaran senjata lawannya, Andika meraba bagian punggungnya dan langsung mencabut senjatanya yang berupa sebilah Pedang berwarna hitam kebiru-biruan. Ketika senjata yang telah menelan banyak korban itu tercabut dari sarungnya. Maka mendengunglah bunyi aneh yang tiada berketentuan. Tangan pemuda wajah coreng moreng ini langsung bergetar hebat. Wajah kedua lawannya terkesiap, mereka menyadari betapa berbahayanya senjata di tangan lawannya itu. Bahkan sebelum mereka bertarung dengan pemuda itu, mereka melihat betapa senjata itu secara terus menerus mengeluarkan bunyi mendengung. Selanjutnya dengan mempergunakan jurus 'Di Tinggal Kekasih', senjata di tangan Andika menerpa deras ke arah senjata di tangan kakek rambut putih. Namun sebelum senjata itu berhasil mencapai sasarannya, senjata di tangan nenek rambut merah menyambut dari bagian samping kanannya. "Traaak...!"

Secara aneh senjata di tangan pemuda muka coreng moreng berbalik menghantam senjata di tangan si nenek. Ruyung emas di tangan nenek rambut merah terbelah menjadi dua. Bahkan seandainya nenek ini tidak cepat-cepat menarik tangannya, sudah barang tentu tangannyapun menjadi korban Pedang Asmara di tangan Andika.

"Keparat...!" maki nenek rambut merah sambil berusaha mengembalikan keseimbangan tubuhnya.

"Kubun...!" mengetahui senjata istrinya dapat dihancurkan oleh Andika, kakek rambut putih menjadi gusar. Namun belum lagi dia berhasil melampiaskan amarahnya, senjata di tangan Andika berhasil membabat buntung senjata di tangan kakek rambut putih. Bahkan mungkin, jika Andika mau melakukannya tangan si kakek yang keriputan itupun dapat dia buntungi sekaligus. Sungguhpun dia tak berniat membuntungi tangan si kakek. Namun satu tendangan yang begitu telak tetap dilakukannya.

"Buuk...!"

"Gusruuk...!"

"Kampret! Pemuda iblis itu telah memaksaku mencium kotoran sapi!" maki si kakek di dalam hati. Dengan bersusah payah dia berusaha bangkit kembali, setelah melap mukanya yang belepotan kotoran sapi, laki-laki dari pulau Tak Bertuan ini bermaksud menerjang kembali dengan pukulan-pukulan tangan kosongnya. Namun tiada diduga-duga tubuh Andika nampak melesat laksana terbang. Cepat sekali gerakan Andika, hingga satu detik kemudian dua pekerjaan yang membutuhkan kelihaian luar biasa berhasil dia selesaikan dengan baik: "Tuuk! Tuuk!"

Dua totokan berturut-turut mendarat tepat di bagian tubuh, nenek rambut merah dan si kakek rambut putih. Secara peraktis tubuh yang dalam keadaan tertotok itupun terasa sulit untuk digerakkan. Tiada yang dapat dilakukan oleh tokoh dari pulau Tak Bertuan ini terkecuali mencaci maki dengan kata-kata yang begitu kasar.

"Kalau aku mau, bukankah sejak dari tadi aku dapat membunuh kalian berdua? Heh tapi aku tak ingin melakukannya. Tenaga kalian masih kubutuhkan untuk menggempur Saudagar Legawa...!" kata Andika dengan senyum mengejek.

"Jangan kira kami mau bersekongkol dengan manusia iblis sepertimu...!" tukas kakek dan nenek dari Pulau Tak Bertuan hampir bersamaan. Tanpa menghiraukan kata-kata kedua orang tua ini. Andika memberi isyarat pada Peri Lingga untuk memenjarakan mereka di ruangan bawah tanah. Pembantu-pembantu setia inipun dengan sigap melakukan perintah yang diberikan oleh atasan mereka.

***

6

Hampir setiap malam rumah besar yang sangat mewah dijaga ketat oleh belasan orang para pembantu saudagar Legawa. Penjagaan bukan saja dilakukan di bagian depan, namun di bagian belakang rumah yang berpagar tembok tinggi itu juga tak luput dari penjagaan. Demikianlah hal seperti itu secara terusmenerus di lakukan oleh saudagar Legawa sejak adanya peristiwa pertempuran yang menelan korban belasan orang prajurit-prajurit Katemenggungan.

Setiap saat hati saudagar ini selalu diliputi oleh rasa was-was dan perasaan bersalah. Bagaimanapun orang yang sekarang ini dihadapinya adalah merupakan orang yang mempunyai pengaruh besar terhadap pemerintahan kerajaan Rantingkam yang berpusat di Kota Sabuk Intan. Bukan mustahil seandainya Tumenggung Jayeng Rono meminta bantuan dari Kota Raja akan berdatangan sekian banyak bala bantuan yang sudah pasti memiliki ilmu perang yang sangat tinggi. Sedangkan dipihaknya sendiri, orang yang paling dia andalkan adalah Pendekar Hina Kelana. Dan pemuda itupun hingga sampai saat itu masih belum juga kembali dari bepergian. Menghadapi kenyataan seperti itu, hampir sepanjang malam saudagar yang dulunya silau dengan pangkat dan kedudukan ini menjadi semakin gelisah.

Sementara itu di halaman yang begitu luas, nampak beberapa orang pembantu saudagar Legawa dengan senjata siap di tangan berjalan hilir mudik melakukan tugasnya. Udara malam yang terasa begitu menggigit sudah tiada mereka hiraukan. Mereka nampak bersemangat dalam melakukan tugasnya. Hal ini dapat dimaklumi karena saudagar Legawa telah memberi mereka tambahan upah yang begitu besar.

"Njul...! Malam ini rasanya sangat dingin sekali ya...! Masih jam sembilan mataku sudah ngantuk... eeh... ngantuk...!" Selak salah seorang dari penjaga itu pada kawan yang berjalan di sisinya.

"Ho'oh...! Aku pun begitu, mana lagi malam sangat dingin sekali...!" Kata kawannya yang disebut panjul.

"Hmm! Pantesan, malam ini malam Jumat Kliwon! Saat-saat seperti ini hantu pasti pada bergentayangan..." "Ahk... kau bikin suasana jadi serem aja...!" "Sangkut... Sangkut... kau ini orang pengecut!

Tak pantas menjadi centeng apalagi peronda malam seperti sekarang ini...!" celetuk Baginjul.

"Pantesnya aku jadi apa...?"

"Kalau kau mau jadi pedagang terasi atau ubi... malam-malam begini kau pasti di rumah bersama anak bini... Hidup anteng, malam yang dingin jadi anget...!"

"Ah bicaramu parno melulu...!"

"Bukan parno, goblook...!" protes kawannya. "Jadi apa...?"

"Porno...!"

"Porno...?!" Sambut Sangkut merasa terheranheran dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kawannya.

"Porno makanan apa sih...!"

"Makanan ringan, tolol...!" celetuk Baginjul sekenanya. Kedua penjaga malam itu kemudian tertawa ngakak, kemudian berjalan cepat menuju ke arah bangunan bagian belakang. Namun serta merta suara tawa mereka terhenti saat mana terdengar suara jeritan yang begitu panjang menyayat. Kedua orang itu nampak saling berpandangan untuk beberapa saat lamanya. Detik kemudian mereka mendengar suara denting beradunya senjata tajam.

"Di sebelah Utara rumah ini...!" teriak Sangkut pada Baginjul. Dengan gerakan yang sangat gesit, keduanyapun berlarian ke arah itu. Ketika mereka sampai di tempat terjadinya pertempuran. Mereka melihat dua orang pendatang telah berhasil merobohkan enam orang penjaga yang berada di tempat itu.

Melihat sepak terjang orang-orang ini, Baginjul dan Sangkut sudah dapat menduga bahwa dua orang pendatang ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi. Tanpa sungkan-sungkan lagi, Baginjul dan Sangkut yaitu pembantu Legawa yang memiliki kepandaian yang lumayan tinggi bila dibandingkan dengan kawankawannya segera menerjang maju sambil hantamkan senjatanya yang berupa tombak berukuran sangat panjang. Mendapat tekanan yang datangnya secara tiba-tiba ini sudah tentu membuat dua orang pendatang jadi terkejut. Namun hal itu hanya sesaat saja terjadi, karena beberapa detik kemudian mereka pun sudah berhadapan dengan Baginjul dan Sangkut.

"Kepandaianmu boleh juga, Sobat...!" geram salah seorang dari pendatang itu sambil mengerahkan jurus-jurus tangan kosongnya.

"Pendatang tengik. Siapakah kalian ini...?" teriak Baginjul, dengan suara menggembor bagai banteng marah.

"Siapa kami? Huh... suruh dulu keluar saudagar Legawa manusia terkutuk itu. Nanti baru akan ku jelaskan pada kalian...!" dengus salah seorang pendatang bertubuh pendek kurus. Lalu tanpa sungkansungkan pula terus berusaha mendesak Sangkut, dengan sabetan-sabetan kipasnya yang dapat mengembang dan menguncup. Nampaknya Sangkut dan Baginjul sebagai orang yang telah berpengalaman dan memiliki ilmu lumayan tinggi tidak mudah di tundukkan begitu saja, terbukti sampai sejauh itu serangan senjata lawannya masih dapat dielakkan oleh Sangkut dan Baginjul. "Hemm. Keparaat juga, anjing-anjing penjaga saudagar Legawa ini...!" maki si pendatang sambil melompat ke belakang beberapa kali.

"Heeuuup...!"

Dua orang pendatang bertubuh kurus pendek ini secara serentak nampak merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Kemudian secara perlahan tangan itu menyilang dengan senjata kipas merentang lebar. "Zeeb... Zeeeb...!"

"Haaiiiit...!" Terdengar dua teriakan menggeledek, saat mana dua orang pendatang ini membuka jurus silat 'Kipas Berkabut', yaitu sebuah jurus kipas andalan yang selama ini telah mengangkat nama mereka di dalam dunia persilatan. Sangat jarang orang yang tau tentang asal usul si Kipas Kembar ini, tapi kalangan persilatan cukup mengenal mereka sebagai orang yang tidak menyukai segala bentuk kerja sama dengan partai maupun pihak lain. Permainan kipas mereka yang dikenal sebagai sangat beracun dengan uapnya yang kebiru-biruan telah banyak merenggut korban jiwa. Namun sesungguhnya bukan itu saja yang dikuasai, Kipas Kembar adalah merupakan tipe manusia yang punya kegemaran mengumpulkan benda-benda langka. Salah satu diantaranya adalah mengumpulkan berbagai jenis mutiara.

Konon dari daerah yang terletak di Selatan sana, sering mereka mendengar berita yang disampaikan dari mulut ke mulut. Di daerah yang masih merupakan wilayah kekuasaan Tumenggung Jayeng Rono, terdapat saudagar yang sangat kaya yang selama ini dikenal sebagai pedagang mutiara dan intan. Apa yang mereka dengar sudah barang tentu sangat menarik perhatian mereka, bahkan merekapun berambisi ingin menguasai barang-barang yang sangat berharga itu. Dengan modal tekad dan semangat yang menggebugebu, berangkatlah mereka menuju ke Utara. Yaitu yang merupakan tempat tinggal saudagar kaya yang kemudian mereka ketahui bernama Legawa. Di sepanjang perjalanan yang mereka tempuh, tak bosanbosannya mereka bertanya pada orang yang mereka temui. Akhirnya mereka pun mengetahui bahwa saudagar Legawa sesungguhnya telah membina hubungan kekeluargaan dengan pihak Katemenggungan. Namun hubungan itu seperti diketahui berubah menjadi sebuah permusuhan yang telah merenggut korban jiwa, hanya dikarenakan keluarga Tumenggung merasa tertipu atas perkawinan yang dilakukan oleh putranya atas putri saudagar Legawa. Seperti diketahui dari pihak keluarga saudagar Legawa kemudian tak mau terima begitu saja.

Nah mempergunakan kesempatan itu si Kipas Kembar cepat-cepat mengambil keputusan dan langsung bertindak. Karena mengira para penjaga di seputar tempat itu tidak begitu ketat, maka seenaknya saja mereka melompati dinding tembok yang memiliki tinggi tak lebih dari tiga meter. Tapi ketika mereka harus berhadapan dengan Sangkut dan Baginjul, mereka merasa di dalam rumah kediaman saudagar Legawa masih terdapat banyak lawan-lawan yang mungkin saja berilmu tangguh. Itu sebabnya mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang terbatas itu. Sesaat setelah si Kipas Kembar keluarkan jurus-jurus andalannya, maka dalam waktu beberapa jurus di muka permainan tombak di tangan Baginjul dan Sangkut nampak sudah tidak berkembang lagi. Bahkan beberapa jurus di muka, dua orang pembantu saudagar Legawa ini sudah kena di desak.

"Wuut...!"

"Haeees...!"

Tubuh Baginjul nyaris terhantam kipas tembaga di tangan lawannya. Sedangkan Sangkut saat itu sudah kena ditendang oleh lawannya yang lain. Dalam keadaan tunggang langgang ini Sangkut cepat-cepat bangkit kembali, lalu berteriak-teriak memberi perintah kepada kawan-kawannya.

"Cepat kalian beri tahu saudagar...!" "Cepaaat...!" Baginjul yang sudah dalam keadaan semakin terdesak itu menyambung. Tanpa buang-buang waktu lagi, tiga orang pembantu, langsung berlari-lari menuju ke dalam bangunan besar itu. "Keadaan bisa runyam, Hiihh...!" Sambil berguman salah seorang dari lawannya hantamkan kipas di tangannya mengarah bagian dada Baginjul. Masih untung laki-laki bersenjata tombak ini masih sempat membaca kemana arah gerakan senjata lawannya.

Dengan sangat cepat dia miringkan tubuhnya ke samping.

"Breet...!"

"Ahkgh...!"

Baginjul keluarkan seruan tertahan saat mana bagian bahunya masih juga tersambar ujung kipas di tangan lawannya. Darah kehitam-hitaman meleleh dari bagian luka yang terobek. Rasa nyeri dan linu segera menjalari bagian tubuh yang terluka ini. Sadarlah Baginjul ternyata senjata di tangan lawannya mengandung racun yang sangat keji. Si Kipas Kembar dari Selatan ini keluarkan suara tawa mengekeh. Sedetik kemudian kedua orang itu memburu dua orang lawannya dengan maksud menghabisinya sekaligus. Kali ini kemungkinan untuk menghindari serangan mematikan dari lawannya sudah sangat tipis sekali.

"Wuuuk...!"

Baginjul dan Sangkut masih berusaha menangkis serangan kipas yang datangnya begitu cepat.

"Ahh. Nyeplos...!" seru salah seorang lawannya. Kemudian dengan disertai sesungging senyum mengerikan kipas di tangan kedua orang itu menderu. Baginjul dan Sangkut masih berusaha menghindari terjangan kipas itu. Namun agaknya sebentar lagi maut pasti akan menjemput mereka andai pada saat-saat yang sangat menegangkan itu tidak berkelebat sosok bayangan merah ke arah mereka! "Braaak! Braak...!" Si Kipas Kembar keluarkan seruan tertahan. Tubuh mereka terdorong tiga tombak ke belakang. Orang-orang ini merasakan senjata mereka membentur sesuatu yang begitu keras, hingga menyebabkan tangan-tangan mereka terasa nyeri dan sakit.

"Keparat...! Siapakah kau ini...?" bentak salah seorang diantara mereka begitu melihat kehadiran seorang pemuda berpakaian merah dengan rambut panjang dikuncir. Pemuda itu berdiri tegak dengan kedua tangan menyilang di depan dada,

"Semestinya akulah yang bertanya, siapakah kalian ini...!" gumam si pemuda dengan sikap acuh.

"Saudara Baginjul dan Sangkut! Menepilah aku ingin menjajal sampai di mana kehebatan dua ekor kunyuk ini...!" Perintahnya lagi tanpa memperdulikan dua orang lawannya yang masih dalam keadaan terbengong-bengong. Yang diperintah nampak menuruti apa yang diinginkan oleh pemuda berkuncir yang sudah tak asing lagi bagi kita ini.

"Kurang ajar! Sebelum kau mampus di tangan kami, lebih baik kau sebutkan nama bapak moyangmu...!"

"Tak perlu! Aku sudah mengetahui siapa adanya kalian ini. Bahkan siang tadi aku juga sudah mendengar apa yang kalian bicarakan... he... he... he...! Maling tengik, kalau kalian tidak cepat-cepat merat dari hadapanku. Kalian segera tahu apa akibatnya...!"

"Kalau begitu kau akan segera mampus...!" bentak dua orang itu. Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, keduanya pun mulai membuka serangan-serangan gencar. Tapi mungkin Kipas Kembar tiada menyadari bahwa lawan yang dihadapinya kali ini adalah seorang tokoh muda yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Dan mereka pada akhirnya harus membuka matanya lebar-lebar saat mana serangan-serangan sengit yang dilakukannya selalu saja mencapai sasaran yang kosong. Sebaliknya yang menjadi lawannya masih dengan mempergunakan jurus Si Gila Mengamuk terus bergerak cepat tak berketentuan. Kadang tubuhnya nampak terhuyung-huyung, di lain saat dengan kecepatan yang sangat luar biasa dia menerjang lawannya dengan tendangan-tendangan yang mematikan. Keadaan seperti itu tak berlangsung lama, sekejap kemudian si pemuda melentingkan tubuhnya ke arah tembok batu, selanjutnya pemuda dari negeri Bunian inipun hantamkan tangannya mengarah pada pihak lawan yang berusaha memburu dirinya. "Wuuust...!"

Serangkum gelombang sinar Ultra Violet dengan telak menghantam tubuh mereka. Dua orang lawannya terpelanting roboh dengan keadaan tubuh setengah matang. Tiada erangan maupun rintihan yang keluar dari mulut mereka ini. Tubuh mereka hanya berkelojotan sesaat, kemudian terdiam untuk selamalamanya.

"Untung anda cepat datang saudara Kelana! Jika tidak entah bagaimana dengan nasib kami semua...!" sambut saudagar yang selalu takut pada kematian ini dengan disertai sesungging senyum kemenangan.

"Sudahlah! Aku sudah mengetahui semuanya. Orang-orang ini datang dari Selatan dengan tujuan ingin merampok harta bendamu...!" jawab si pemuda tawar.

"Tapi kita pantas merayakan kepulanganmu dan atas kemenangan yang kau peroleh." ujar Legawa.

"Di depan sana masih terlalu banyak musuh yang mengancam keselamatanmu, saudagar! Ada baiknya kalau kita istirahat malam ini...!"

"Baiklah... silakan...!" ujar saudagar Legawa dengan sikap mengalah.

***

7

Sesuai dengan keputusan yang sudah samasama disetujui oleh Lesmana dan orang tuanya. Yaitu Tumenggung Jayeng Rono sendiri, berikut para pembantu-pembantunya. Penyerangan yang akan dilakukan oleh keluarga Katemenggungan terhadap keluarga Legawa dilakukan dua tahap. Tahap pertama dipimpin oleh Lesmana putera Tumenggung Jayeng Rono. Yang ikut serta dalam penyerangan pertama ini antara lain adalah Roda Paksi dan Maling Durjana serta puluhan prajurit-prajurit Katemenggungan yang bersenjata lengkap. Sedangkan serangan kedua dipimpin langsung oleh Tumenggung Jayeng Rono sendiri dengan dibantu oleh Kincir Angin, Jelatu dan dua puluh orang perajuritnya yang bersenjatakan panah.

Hampir tiga hari persiapan yang telah di perhitungkan secara matang itu dilakukan. Dan ketika matahari hampir tenggelam di upuk Barat, dan suasana di seluruh alam diliputi kegelapan. Maka iring-iringan pasukan yang sudah siap melakukan pertempuran itu berangkatlah menuju tempat kediaman Saudagar Legawa.

Di sepanjang perjalanan yang mereka tempuh, tak seorangpun yang berani mengeluarkan suara atau bahkan bicara barang sepatah katapun. Yang terdengar saat itu hanyalah derap langkah kaki kuda tunggangan yang jumlahnya mencapai puluhan ekor. Sedangkan yang selebihnya hanyalah kesunyian belaka. Perjalanan berkuda yang mereka tempuh sebenarnya tidaklah begitu jauh, bahkan hanya memakan waktu tak kurang dari tiga jam. Namun daerah yang mereka lalui setelah meninggalkan istana Katemenggungan adalah daerah yang di kelilingi oleh hutan lebat yang di dalamnya selalu berkeliaran binatang buas, terlebihlebih pabila malam hari begini.

Setengah jam melewati hutan perawan di sepanjang jalan itu, jalan yang ditempuh selanjutnya adalah lereng-lereng bukit gundul dan berbatu cadas serta agak sulit untuk dilalui, karena selain jalan itu sempit, di sebelah sisi kiri jalan itu adalah sebuah jurang menganga yang sangat sulit untuk diukur kedalamnya. Sampai di jalan terjal berbatu ini, rombongan berkuda itu dengan sangat terpaksa harus mengurangi kecepatan lari kuda-kuda tunggangan mereka. Saat itu Lesmana yang berada di depan rombongan itu nampak memberi isyarat pada kawan-kawannya:

"Orang-orang yang berada di belakang, kurangi kecepatan kalian. Jalan ini terlalu sulit buat kita lalui. Berhati-hatilah, salah melangkah di sisi kiri jurang telah siap menanti kalian...!" Kawan-kawan dan para bawahannya nampaknya tak perlu memberi jawaban atas peringatan Lesmana itu. Sebab mereka pun sudah melihat tentang adanya bahaya yang mengancam di sisi kiri mereka. Demi menjaga terjadinya sesuatu yang tidak diingini, maka perjalanan itu bagai rangkak kuda-kuda tunggangan yang baru saja belajar berlari. Namun dengan sikap sabar para penunggangnya terus menghela kuda-kuda itu dengan kewaspadaan penuh. Dalam kegelapan yang hanya diterangi sinar bulan yang remang-remang, mendadak kuda tunggangan yang berada di bagian paling depan meringkik keras, kaki depan terangkat ke udara, bahkan kuda-kuda itu kemudian melonjak-lonjak bagai melihat sesuatu yang menakutkan. Andai saja para penunggangnya tidak lihai dalam mengendalikan kuda, dapat dipastikan mereka sudah terbanting sejak tadi.

"Hiihiiieeeh...! Hieeeeh...!"

"Hitam! Apakah yang kalian lihat, hingga hampir membuat celaka tuanmu sendiri?"

"Mungkin ada sesuatu yang tak beres di tempat ini, Tuan Lesmana...?" Yang menyahuti adalah Roda Paksi yang saat itu juga sedang berusaha mengendalikan kudanya.

"Tapi aku tak melihat sesuatu apapun di depan sana...?" bantah Lesmana setelah memperhatikan suasana di depan.

"Hikhik... hieehh...!" Kuda tunggangan itu kembali meronta-ronta dan berubah liar. Hampir saja Lesmana terbanting dari atas kuda yang ditungganginya.

"Keparaat! Pada dedemit yang bersembunyi di kegelapan! Cepat-cepatlah tunjukkan diri, sebelum tuanmu ini benar-benar menjadi marah...!" bentak Lesmana dengan disertai pengerahan tenaga dalam yang cukup kuat. Sejenak adalah kesunyian belaka. Tiada jawaban apapun. Dan suara Lesmana bergema sampai ke dasar jurang. Barulah saat kemudian terdengar suara tawa menyeramkan yang bersumber dari balik bukit batu cadas yang terletak di sebelah kanan mereka.

"Hee...ha... hhaaa... haa... huaaa... ha,...! Manusia licik yang bernama Lesmana! Setelah kau renggut kehormatan istrimu sendiri, kini kau datang dengan tujuan ingin menyebar malapetaka...! Sayang... sungguh sayang...! Manusia gila kehormatan seperti Legawa tak pernah menyadari atas kelicikanmu...!" Sambut suara itu seperti mencemoohkan diri Lesmana. Mendengar kata-kata yang terasa bagai menelanjangi dirinya di depan orang banyak sudah barang tentu Lesmana menjadi gusar. Selanjutnya laki-laki berusia  lebih dari seperempat abad inipun melompat dari atas punggung kudanya dengan diikuti oleh Roda Paksi dan Maling Durjana.

"Manusia bangsat yang bersembunyi di kegelapan. Kau benar-benar seorang pemfitnah keji, keluarlah...!" teriak Lesmana. Jika saja saat itu suasana dalam keadaan terang benderang, sudah barang pasti mereka yang berada di sekeliling Lesmana dapat melihat betapa wajah pemuda itu nampak memerah.

"Putra Tumenggung keparaat...! Orang-orang lain boleh mendewa-dewakan dirimu seperti seorang Maharaja besar. Tapi tidak buat si Pedang Asmara... aku akan membongkar semua kedokmu Lesmana!" kata Satria Pedang Asmara dari balik kepekatan malam. Selanjutnya terdengarlah lantunan bait-bait sairnya: but Lembah Patah Hati sehari telah tertinggal jauh... Si anak malang berjalan gontai menelusuri ka-

Antara ada dan tiada ia  mendengar gamelan pengantin

Nun jauh di sana, di sebuah tempat yang tersa-

mar

Desah keriangan adalah senyummu yang penuh

kelicikan

Malam pengantin bernoda dengan darah... Selembar kesucian telah terengkut

Titik-titik air mata, terbalas sesungging senyum iblis ran... Dan kau berlalu dalam malam

Tidak lebih dari perampok jalanan yang kelapa-

Kau adalah anak singa

Yang mampu mencabik-cabik raga dengan taring dan kuku-kukumu Dan korbanmu adalah keledai-keledai dunguh Yang selalu dahaga karena kemarau panjang Sedangkan siaku yang empunya bicara, adalah

sisi terhempas

Yang kini menuntut balas...

Andika atau yang lebih dikenal sebagai Satria Pedang Asmara, terdiam sejenak. Dari balik kegelapan itu dia dan orang-orangnya dapat melihat. Betapa Lesmana, Roda Paksi dan Maling Durjana nampak saling pandang sesamanya. Kemudian setelah maju selangkah Roda Paksi mewakili yang lain-lainnya.

"Penyair sinting yang berjuluk Satria Pedang Asmara...? Kami tak pernah mengenalmu, mengapa kau menghadang perjalanan kami...!" kata laki-laki bertubuh jangkung ini, menyadari lawan berilmu tinggi dia berbicara dengan suara merendah. Terdengar suara erangan marah, kemudian disertai dengan berkelebatnya beberapa sosok tubuh menghampiri rombongan Lesmana. Dengan tanpa menimbulkan suara, Andika dan orang-orangnya menjejakkan kakinya tepat lima langkah di depan Lesmana dan kawan-kawannya.

"Manusia pembawa roda pedati! Kau tak mengetahui duduk persoalannya. Kuperintahkan menyingkirlah kau...!" bentak Andika, namun sepasang matanya tak pernah beralih dari Lesmana. Sebaliknya Lesmana berusaha mengenali siapa laki-laki berwajah coreng moreng ini. Mendengar suaranya sepertinya dia pernah mengenal si pemilik suara yang saat itu terus memandang sinis ke arah dirinya.

"Persoalanmu dengan Tuan Lesmana, itu berarti persoalanku juga! Jangan harap kami mau mematuhi perintahmu...!"

"Kalau begitu, kaupun termasuk anjing-anjing Katemenggungan yang perlu dihukum!" maki Satria Pedang Asmara. Saat itu dia sudah memberi aba-aba pada Peri Lingga, kakek rambut putih, nenek rambut merah yang berhasil dia pengaruhi dengan serbuk Racun Bunga Asmara. Namun sebelum mereka sempat melakukan gebrakan, terdengar suara bentakan keras dari mulut Lesmana:

"Tahan...!" teriak laki-laki itu, lalu melompat ke

depan.

"Kau takut mati, manusia tengik...?"

"Hemm!" Lesmana berguman. "Rasa-rasanya

aku seperti mengenalmu, kau pasti Andika, yang dulu pernah terusir dari rumah saudagar Legawa...!" ucapnya dengan sesungging senyum sinis.

"Bagus! Di saat ajal menjemputmu, kau ternyata masih mengenaliku...!"

"Ha... ha... ha!" Tanpa tertahankan lagi, tawa Lesmana pun lepas. "Selama ini kau pasti menderita karena cintamu selalu di tolak. Bertahun-tahun kau menghilang, kukira kau sudah mampus karena putus asa. Tak dinyana kini kau muncul lagi dengan sebuah julukan yang tidak lucu...!" kata Putra Tumenggung Jayeng Rono dengan disertai tawa berkepanjangan. Andika nampak diam saja begitu mendengar kata-kata yang terasa merobek luka-luka lama ini. Otot-otot tubuhnya terasa menegang, sepasang matanya mencorong tajam tanpa ekperesi. Tiada diduga-duga, pemuda wajah coreng moreng jubah menjela ini pun hantamkan satu pukulan ke arah Lesmana. Selarik Gelombang sinar yang tiada berujud menerjang ke depan. Roda Paksi, Maling Durjana secara hampir berbareng melompat ke samping menghindari datangnya pukulan yang mendatangkan hawa aneh ini. Tapi beberapa orang prajurit Katemenggungan berikut kuda-kuda tunggangan menjadi korban pukulan ganas yang dilepaskan oleh Andika. Lima orang prajurit Katemenggungan berikut kuda yang mereka tunggangi terjungkal roboh dan tiada berkutik-kutik lagi. Terbelalak setiap pasang mata demi melihat akibat pukulan yang dilepaskan oleh pihak lawannya. Roda Paksi yang tergabung dalam rombongan itu, dan gampang naik darah. Langsung saja melepas roda-roda yang memiliki empat sisi tajam yang selama ini merupakan senjata yang di andalkannya. Senjata berbentuk bulat macam roda pedati ini mendesing dan mengancam bagian leher serta kepala Andika. Namun lebih cepat lagi, pemuda dari lembah Patah Hati ini berhasil menghindari terjangan senjata yang berbentuk aneh ini.

Tanpa dapat dihindari lagi, pertarunganpun pecah. Perempuan jubah hitam beserta belasan orang bawahannya langsung merangsak ke arah prajuritprajurit berkuda, Nenek rambut merah dan kakek rambut putih dari Pulau Tak Bertuan secara bersamaan menggempur Maling Durjana. Sedangkan Andika atau Satria Pedang Asmara berhadapan dengan Roda Paksi dan Lesmana. Dalam gebrakan pertama ini, Lesmana maupun Roda Paksi langsung mencecar lawannya dengan senjata mautnya. Sejauh itu Andika masih terus melayaninya dengan pukulan-pukulan andalannya.

Di lain pihak pertarungan Peri Lingga yang dibantu oleh belasan anak buahnya melawan prajuritprajurit kerajaan nampak berlangsung tak seimbang, Hanya dalam waktu beberapa jurus saja, prajuritprajurit Katemenggungan ini telah berdesak hebat. Bahkan secara pelan namun cukup pasti, satu demi satu prajurit-prajurit Katemenggungan ini bergelimpangan dengan tubuh berlumur darah terbabat senjata di tangan Peri Lingga dan kawan-kawannya. Pada kenyataannya, lawan-lawan yang dihadapi oleh prajurit Katemenggungan ini memang merupakan lawan yang tangguh, bahkan boleh dikata bukan tandingan mereka. Terbukti menjelang pertempuran empat puluh jurus, seluruh prajurit-prajurit Katemenggungan terbabat habis dan tiada bersisa lagi. Peri Lingga dan kawan-kawannya yang telah berhasil memenangkan pertempuran, akhirnya hanya diam di tempat sambil menjaga segala kemungkinan yang tidak diingini.

Sementara itu pertarungan antara Maling Durjana melawan keroyokan sepasang Ruyung Maut, nampak berlangsung seru dan seimbang. Masingmasing lawan sudah mengarahkan jurus-jurus mautnya. Bahkan pukulan-pukulan yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam cukup tinggi yang mereka milikipun telah mereka lepaskan. Sejauh itu masih belum ada tanda-tanda siapa yang bakal keluar sebagai pemenangnya.

Denting beradunya senjata andalan yang mereka miliki terasa bagai merobek keheningan malam. Di sudut lain, Lesmana dan Roda Paksi sudah banyak menguras tenaga dalam usaha merubuhkan lawanlawannya. Tubuh mereka bahkan telah bermandi keringat, padahal saat itu malam terasa begitu dingin. Pukulan-pukulan beruntun tak ayal lagi saling bertubrukan, bunga api berpijar. Hingga membuat kegelapan yang menyungkup itu menjadi terang diperciki bunga api. Menjelang pertempuran tujuh puluh lima jurus, senjata Lesmana yang berupa sebilah pedang bergagang Intan berhasil melukai bagian pangkal lengan Andika. Bahkan selang beberapa saat setelahnya, roda maut yang melayang bagaikan gasing dari tangan Roda Paksi berhasil pula melukai bagian dada Satria Pedang Asmara. Sungguhpun luka-luka yang ditimbulkan akibat sambaran senjata di tangan lawannya tidak begitu parah. Namun cukup membuat tubuh Andika terhuyung-huyung, darah merembas tanpa henti. Melihat kenyataan ini, Peri Lingga sudah bermaksud turun ke gelanggang pertempuran membantu ketua mereka. Namun niat itu akhirnya mereka urungkan begitu melihat ketuanya mencabut Pedang Asmara yang menggelantung di bagian punggungnya. Seiring dengan tercabutnya pedang yang telah banyak merenggut korban jiwa itu dari bagian punggungnya, maka tanpa ayal lagi, kata-katanyapun menyambut:

Kepada si empunya jiwa Serakah...

Sambutlah nyanyian kematian yang tiada membekas...

Pedang Asmara menghunjam tanpa darah Dan aku yang akan melakukannya...

"Hiaaat...!" teriakan yang terasa bagai mencabik-cabik gendang telinga di sertai suara mendengung yang begitu aneh. Sementara pedang itu terus menggeletar tanpa dapat dikendalikan lagi. Begitu bergebrak, Andika telah pula mempergunakan jurus ‘Menanti Kekasih Tiada Kunjung Datang’ yaitu jurus tingkatan ketiga dari empat jurus Pedang Asmara yang telah dikuasainya. Menghadapi saat-saat menegangkan seperti itu Roda Paksi lontarkan senjatanya yang bulat namun bersisi tajam. Tanpa ayal, senjata aneh itu melesat mengancam bagian tenggorokan Andika. Tapi Satria Pedang Asmara, tiada bergeming sedikitpun, pedang di tangan tetap berputar sedemikian rupa, membuat sebuah perisai diri. Hingga sampai senjata yang berupa roda terbang itu melabrak ke arah pertahanan dirinya.

"Braaak...!"

Menyusul roda-roda yang satunya lagi. "Braaal...!"

Senjata itu hancur berkeping-keping. Roda Paksi tercengang, namun kelengahan yang hanya beberapa detik itu harus ditebusnya dengan sangat mahal.

"Jrees...!" Andika tiada melihat bagaimana dada yang tertembus senjata miliknya itu berkelojotan, karena pada saat itu senjata di tangannya yang secara terus menerus memperdengarkan bunyi mendengung ini telah membelok ke arah lain. Dan yang menjadi sasaran mata pedangnya kali ini adalah Lesmana. Putra Tunggal Tumenggung Jayeng Rono itu menjadi terkesiap, sama sekali dia tiada menyangka senjata di tangan lawannya mampu melakukan gerakan aneh seperti itu. Menyadari bahaya mengancam jiwanya, Lesmana putar senjatanya untuk melindungi diri. Namun tetap saja senjata di tangan Andika mampu menembus pertahanan lawan.

"Braak... Praaang... Jroos !"

Pedang di tangan Lesmana hancur menjadi beberapa bagian, sebaliknya Pedang Asmara terus menderu meminta korban. Putra Tumenggung Jayeng Rono keluarkan jeritan menyayat. Sesaat tubuhnya limbung, kemudian ambruk ke bumi tanpa mengeluarkan darah setetespun. Pada saat yang hampir bersamaan terdengar pula jeritan lain. Begitu Andika menoleh sambil menyarungkan pedang pada rangkanya, pemuda wajah coreng-moreng itu melihat tubuh Maling Durjana juga ambruk ke bumi termakan senjata ruyung di tangan kakek dan nenek dari Pulau Tak Bertuan.

"Bagus! Kalian telah melakukannya dengan baik! Tapi tugas kita belum selesai." kata Andika pelan. "Aku ingin menjajal kehebatan saudagar Angkuh Legawa dan Tumenggung Jayeng Rono yang pasti akan menuntut balas atas kematian putranya. !"

"Apakah kita akan meluruk ke rumah kediaman Saudagar Legawa. !" tanya Peri Lingga.

"Kita memang harus berangkat sekarang juga...!" kata Andika, dingin.

***

8

"Menurut kabar yang kudengar dari orangorangku, iring-iringan rombongan Lesmana yang bermaksud meluruk ke mari, semuanya tewas terbantai di Bukit Tumojong...!" kata saudagar Legawa siang itu ketika mengadakan pertemuan dengan pendekar Hina Kelana di ruangan pribadinya.

"Aku telah melihatnya sendiri, sebelum orangorangmu melihat mayat-mayat bergelimpangan di tepian jurang berikut kuda-kuda yang mereka tunggangi...!"

"Bagus! Si keparaat Lesmana mampus, mungkin itu sudah karmanya...!" selak Indah Dewi. Pada roman mukannya tidak sedikitpun menunjukkan rasa duka atas kematian bekas suami yang tiada dicintainya itu.

"Mungkin malam itu mereka akan melakukan penyerbuan kemari! Namun keburu dihadang oleh orang lain...!" desah Legawa tanpa menghiraukan katakata putrinya yang begitu sinis.

"Puluhan prajurit bersenjata lengkap, dengan di bantu oleh beberapa orang tokoh golongan hitam. Tak salah, pastilah putranya Tumenggung Jayeng Rono itu termasuk sahabatnya para golongan sesat!" gumam si pemuda. "Tapi melihat luka-luka yang tiada meninggalkan darah sedikitpun, aku jadi tak mengerti bagaimana mungkin di kolong langit ini ada senjata yang memiliki keanehan seperti itu?"

"Kakang, Kelana...?" "Hemm! Ada apa...?" tanya si pemuda, kemudian melirik pada Indah Dewi.

"Tahukah kakang siapa yang telah melakukan pembunuhan itu...?" Buang Sengketa gelengkan kepalanya pelan.

"Aku yakin pasti dia yang telah melakukan-

nya...!"

"Dia siapa, putriku...?" tanya Legawa secara se-

pontanitas Indah Dewi nampak terdiam, ada keraguraguan membayangi wajahnya yang tidak begitu cantik.

"Katakanlah, putriku... siapa yang kau maksudkan dengan dia...?" desak Saudagar Legawa dengan hati berdebar.

"Orang yang telah melakukan pembunuhan itu pastilah, Kakang Andika...!" jawab Indah Dewi tersendat-sendat.

"Andika...?" desis Legawa terperangah. "Bagaimana mungkin...?"

"Di dunia ini, kemungkinan apapun bisa terjadi, Tuan Legawa... oh ya, siapakah Andika itu...?" tanya Buang Sengketa. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Buang Sengketa, maka semakin bertambah memerahlah wajah saudagar Legawa dibuatnya

"Sebuah kesalahan besar dulu pernah kulakukan. Ya, saat itu mata hatiku memang benar-benar buta..! Sering kunilai kehebatan seseorang itu dari segisegi kemampuan duniawi...! Hingga aku mengabaikan kesucian cinta seorang anak manusia terhadap lawan jenisnya...!" desah saudagar kaya ini sambil menarik nafas pendek.

"Apakah maksudmu, Tuan...?" tanya si pemuda penasaran.

"Orang yang bernama Andika itu dulunya adalah kekasih Indah Dewi. Kuakui, dia dan putriku ini sama-sama saling mencinta. Sayangnya sebagaimana yang kukatakan tadi, bahwa saat itu aku benar-benar buta dan tergila-gila pada pangkat dan kedudukan...! Aku dengan sengaja telah memisahkan mereka, bahkan orang-orangku telah melakukan penyiksaan pada pemuda itu. Tanpa sengaja ayah ibunyapun tewas di tangan orang-orang kepercayaanku... oh betapa besar kesalahanku pada anak itu, dia telah begitu menderita. Semua ini gara-gara ulah si keparat Tumenggung Jayeng Rono dan putra Tunggalnya Lesmana...!" gumam Legawa sambil berusaha menahan air matanya agar tak sampai menggelinding jatuh.

Semua apa yang dikatakan oleh Legawa sudah barang tentu membuat kaget mereka, yang hadir di ruangan itu. Terlebih-lebih Indah Dewi, yang selama ini menyangka bahwa kematian orang tua Andika hanyalah sebuah kecelakaan biasa yang terjadi diladang orang tuanya. Seperti diketahuinya, orang tua Andika bekerja di kebun saudagar Legawa setengah hari, setelah kembali dari berdagang tape uli dan ikan asin.

"Jad... jadi, ayahlah yang telah menyebabkan kematian orang tua, Kakang Andika?" kata Indah Dewi tersendat-sendat. "Sungguh keterlaluan, orang terhormat semacammu begitu tega melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tiada berdaya...!" Semakin bertambah merah wajah saudagar Legawa mendengar kata-kata pedas yang baru saja diucapkan oleh putrinya. Dalam hati dia mengakui kesalahannya, tapi dia sadar, penyesalan yang terjadi juga sudah tiada gunanya. Tak mungkin dapat membangkitkan orang yang sudah mati.

"Itulah sisi terburuk dari kehidupan masa laluku, Indah...! Rasa-rasanya sekarang ini aku tak punya muka untuk menghabiskan sisa-sisa hidupku lebih lama lagi!" ucap saudagar Legawa seperti putus asa. Buang Sengketa terdiam untuk sesaat lamanya, bagaimanapun dia maklum dengan guncangan batin yang dialami oleh laki-laki berumur lima puluhan ini. Selanjutnya dengan suara berwibawa, pemuda ini berucap:

"Sudahlah! Tiada guna menyesalkan masa lalu, kesedihan yang berlarut-larut tak akan pernah menyelesaikan masalah dalam bentuk apapun! Katakanlah, sekarang ini sang Hyang Widi telah membukakan cakrawala hati tuan, dan anda pantas bersukur karenanya." 

"Dosa-dosaku bertumpuk. Bahkan sulit untuk diampuni, ah... semoga saja, satu saat kelak pemuda itu datang kemari untuk menagih hutang nyawa...!" katanya pasrah.

"Hemm! Aku hanya berdoa, semoga pemuda itu masih punya hati untuk memaafkan segala kesalahanmu...!"

"Apa? Memaafkan aku...? Heh... tidak, semua itu hanya akan menyeretku dalam penyesalan yang berkepanjangan...!" sentak saudagar itu dengan mata melotot.

"Ayah! Untuk apa bersikeras, semuanya sudah berlalu, ayah...!" rintih janda kembang ini dengan hati pedih.

Ketika mereka sedang terlibat perbincangan seperti itu, tiba-tiba salah seorang pembantu saudagar Legawa datang tergopoh-gopoh memberi laporan:

"Laporan saudagar!" kata pembantu merangkap pengawal ini dengan nafas terengah-engah.

"Apa yang telah terjadi...?" tanya saudagar Legawa dengan perasaan cemas.

"Tumenggung Jayeng Rono beserta prajuritperajuritnya mengamuk di halaman depan. Lima orang bawahan tewas, juga dua ekor kerbau yang berada di kandang sebelah dibunuhnya...!"

"Kurang ajar! Segala macam kerbau kau bawabawa...! Sudah kembali ke depan, kami segera datang ke sana...!" bentak saudagar Legawa. Kemudian beranjak dari tempat duduknya, namun begitu dia menoleh ke arah Pendekar Pedang Kelana. Pemuda berkuncir itu sudah tak ada lagi di tempatnya. Dengan sangat tergesa-gesa, bapak dan anak ini tak menunggu lebih lama terus bergegas menuju halaman depan rumahnya.

Sementara itu, Buang Sengketa yang paling duluan sampai di halaman rumah saudagar Legawa, langsung berhadapan dengan Tumenggung Jayeng Rono yang telah berdiri di halaman luas beserta belasan orang anak buahnya yang bersenjatakan panah.

"Pemuda gembel! Mana saudagar Legawa yang telah bikin sengsara putraku...! Suruh dia keluar cepat...! Kalau tidak, rumah mewah ini akan kubakar...!" teriak Tumenggung Jayeng Rono dalam kemarahannya.

"Kau datang telah membunuhi sekian banyak orang! Dan putramu tewas bukan di tempat ini. Kesalahan manakah yang kau tuntut...?" tanya si pemuda begitu tenangnya.

"Aku tak perlu bicara denganmu, bocah berperiuk..! Yang kuinginkan nyawanya saudagar Legawa... dan putrinya...!" bentak Tumenggung Jayeng Rono, dan wajahnya yang sudah dipenuhi kerut-merut ini berubah kelam membesi.

"Aku telah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Kuharap engkau mau menyudahi persoalan ini sampai di sini saja, pulanglah...!" kata si pemuda bagai memerintah seorang anak kecil.

"Keparaat! Kau malah mau mengguruiku...!" "Ha,... ha... ha...!" Buang Sengketa tergelakgelak. "Putramu yang licik itu kau bela mati-matian. Kau merupakan orang terhormat, Tumenggung...! Tapi kulihat kau tak pernah becus mengurus putramu yang telah begitu banyak membuat kesalahan-kesalahan besar...!"

"Jadah! Kau benar-benar membuat kesabaranku lenyap, budak gembel...! Kuperingatkan padamu sekali lagi, cepat suruh keluar Saudagar Legawa...!" perintah Tumenggung Jayeng Rono, dengan nafas memburu karena dibakar api kemarahannya sendiri.

"Tak perlu kau memerintah pemuda ini, bekas besan! Sekarang katakan apa yang kau inginkan...!" Tukas Legawa, yang secara tiba-tiba telah berdiri di sisi Buang Sengketa bersama putrinya. Begitu sinis tatapan mata Tumenggung Jayeng Rono begitu melihat kehadiran Legawa dan Indah Dewi. Sementara itu, belasan prajurit Katemenggungan yang bersenjatakan panah telah siap membidik ke arah sasarannya.

"Kau telah menipu kami dengan rasa malu yang begitu besar. Sesuai perjanjian semua harta bendamu harus disita! Tapi... kiranya kalian membangkang. Kalian pikir kehadiran bocah berperiuk itu mampu melindungi dirimu dari hunjaman panah-panah kami...?"

"Untuk sebuah kebenaran kami tak pernah takut mati, Tumenggung keparat!" tantang saudagar Legawa tanpa merasa sungkan.

"Jahanam...!" geram Tumenggung Jayeng Rono. Kemudian tanpa berkata-kata lagi dia memberi isyarat pada belasan prajurit pemanah.

"Bunuh mereka...!" teriak Tumenggung itu pa-

nik.

"Menepi dan berlindung tuan Legawa...!" perin-

tah Buang Sengketa. Kemudian laksana kilat dia hantamkan pukulan Empat Anasir Kehidupan, menyongsong ratusan batang anak panah yang memburu ke arah dirinya.

"Brees...!"

Ratusan batang anak panah yang meluncur deras ke arah dirinya hancur berkeping-keping di tengah jalan. Sedangkan yang lainnya berpentalan ke segala arah. Namun belum lagi si pemuda sempat menarik nafas. Ratusan batang anak panah, kembali mendera ke arahnya. Dengan mengandalkan jurus si Jadah Terbuang, tubuh si pemuda bergerak cepat, menghindar. Sekali lagi dia hantamkan pukulan Empat Anasir Kehidupan yang menimbulkan hawa panas itu ke arah panah yang telah terlepas dari busurnya. Lagi-lagi ratusan batang anak panah itu hancur berkepingkeping. Tumenggung Jayeng Rono demi melihat kehebatan yang dimiliki oleh si pemuda nampak terkagumkagum, di samping rasa kejut yang bukan alang kepalang.

"Panah...!" Tumenggung Jayeng Rono sekali lagi memberi perintah. Dengan cepat pasukan pemanah itupun mengerjakan apa yang dikatakan oleh atasannya.

"Edan! Kalau terus kuumbar pukulan-pukulan saktiku, lama-kelamaan tenagaku bisa terkuras habis. Padahal dalam tabung busur di punggung mereka jumlah anak panah masih sedemikian banyaknya...! Aku harus menghemat tenaga, sementara biarlah saudagar Legawa dan putrinya bersembunyi di tempat yang aman...!" batin pemuda titisan raja Ular Piton Utara ini di dalam hati.

Demikianlah saat ratusan anak panah itu kembali menghunjam dirinya, tak ayal lagi, pemuda inipun lepaskan pukulan maut pamungkas Si Hina Kelana Merana, dengan disertai Lengkingan Ilmu Pemenggal Roh.

"Heiiikgh...!" Pemuda ini melesat ke udara, begitu tubuhnya berjumpalitan ke bawah. Maka diapun hantamkan tangannya ke depan.

"Wuuuuss...!"

Serangkum gelombang sinar berwarna merah menyala, menyambar ke arah ratusan batang anak panah tadi, bahkan akibatnya tidak sampai disitu saja. Ratusan batang anak panah itu hancur menjadi serpihan kecil, sedangkan pukulan itu terus menderu dan menghantam belasan regu pemanah. Tubuh orangorang itu berpelantingan roboh dengan keadaan hangus. Sedangkan sisanya yang selamat, beberapa detik kemudian juga tersungkur roboh. Semua yang terjadi ini sudah pasti akibat lengkingan ilmu Pemenggal Roh. Memang tak dapat disangkal karena ternyata dari telinga dan hidung mereka mengalirkan darah kental. Tak satupun prajurit-prajurit Katemenggungan yang tersisa, mereka semua roboh dalam keadaan menggenaskan. Sedangkan yang tertinggal adalah tiga orang pentolan yang sudah jelas memiliki tenaga dalam yang tinggi. Mereka itu antara lain, Kincir Angin, Jelatu dan Tumenggung Jayeng Rono sendiri.

"Tunggu apa lagi, manusia-manusia keparaat!" "Jahanam, kau telah membunuhi semua anak

buahku hanya dalam waktu beberapa gebrakan saja! Siapakah kau ini...!" bentak Jayeng Rono, masih belum hilang rasa keterkejutannya.

"Ha... ha... ha...! Kalau kalian ingin tahu, akulah si Hina Kelana...?" kata si pemuda.

Hal ini tentu membuat terperanjat Kincir Angin yang telah begitu banyak mengetahui tentang sepak terjang pemuda keturunan negeri alam gaib itu. Jangankan dirinya, sedangkan gurunya sendiri, yaitu Padri Mata Elang tewas di tangan Pendekar Golok Buntung ketika terjadi pertempuran di Sindang Darah. Sedangkan ilmu kepandaian yang sekarang di milikinya tak lebih dari apa yang diberikan oleh gurunya dulu. "Ah, aku tak mungkin menandingi pemuda ini. Lesmana sahabat yang akan kutolong telah mati. Biarlah suatu saat kelak andai kepandaianku telah memenuhi persaratan, akan kucari pemuda berkuncir itu...!" batin si Kincir Angin. Selanjutnya tanpa menoleh-noleh lagi, laki-laki berbadan kurus itupun pontang panting melarikan diri.

"Hei... saudara Kincir Angin, mau kemana kau...?" tanya Tumenggung Jayeng Rono tidak mengerti.

"Ah... urusanku masih banyak! Aku segan berhadapan dengan gembel itu! Uruslah persoalanmu sendiri sampai selesai...!" kata Kincir Angin, dengan sekali berkelebat lenyaplah orang itu dari pandangan mereka.

"Kau tak ikut-ikutan kabur Tumenggung Jayeng Rono...?" sindir Buang Sengketa sambil menatap sinis pada sang Tumenggung.

"Aku tak sepengecut dia! Lihatlah, aku ingin mengadu jiwa denganmu...!" teriak Tumenggung itu, selanjutnya dengan dibantu oleh Jelatu. Kedua orang ini segera menerjang ke arah lawannya dengan pedang di tangan masing-masing. Buang Sengketa nampaknya sudah memperhitungkan seberapa jauh kemampuan yang dimiliki oleh seorang Tumenggung. Dia tak ingin bertindak setengah-setengah. Tanpa menunggu lebih lama. Pemuda dari negeri Bunian ini langsung mencabut pusaka Golok Buntung yang terselip di bagian pinggangnya. Suasana di sekeliling tempat itu mendadak berubah dingin luar biasa, dan Tumenggung Jayeng Rono serta Jelatu menjadi lebih terkejut lagi saat melihat senjata di tangan Buang Sengketa memancarkan sinar merah menyala. Tapi mereka tak sempat lagi berpikir lebih lama, karena saat-saat selanjutnya senjata di tangan si pemuda telah menderu mencecar pertahanan lawan.

Di luar sepengetahuan siapapun, kiranya ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan sepak terjang si pemuda dengan cermat. Pemilik sepasang mata itu diam-diam mengagumi kehebatan yang dimiliki si pemuda. Namun di lain saat orang itupun tersenyum sinis.

"Dia berada di pihak saudagar Legawa! Pasti pemuda berperiuk itu merupakan lawan yang paling tangguh buatku. Aku yakin Pedang Asmara di tanganku mampu mengatasi senjatanya yang berupa golok buntung itu...!" batin si pemilik sepasang mata yang tak lain Andika adanya. Tapi pemuda wajah corengmoreng itu kemudian memusatkan perhatian ke arah pertempuran saat mana dia mendengar jeritan salah seorang dari mereka yang sedang bertempur. Saat itu tubuh Jelatu, yaitu yang merupakan pembantu kedua Tumenggung Jayeng Rono, nampak terhuyunghuyung. Luka menganga di bagian lehernya begitu banyak menyemburkan darah. Tak lama setelahnya tubuh laki-laki itu terjengkang, berkelojotan sesaat kemudian diam untuk selama-lamanya. Belum lagi hilang keterkejutan pemuda dari Lembah Patah Hati ini, lagi-lagi terdengar satu jeritan. Dan yang menjadi korbannya adalah Tumenggung Jayeng Rono sendiri. Mata pemuda itu membelalak, tapi kejadian itu tidak pernah mengurangi niatnya untuk menghadapi pemuda itu. "Sungguh Hebat... dalam waktu yang begitu singkat dia telah membunuh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi." batinnya lagi. Sementara itu, Buang Sengketa sudah menyarungkan pusaka Golok Buntung ke dalam tempatnya. Saudagar Legawa dan Indah Dewi datang menghampiri, dari sebuah tempat persembunyiannya.

"Pendekar yang sangat tangguh! Kau telah menyelesaikan segala-galanya...!" puji Legawa sambil menepuk bahu si pemuda.

***

9

"Segala-galanya belum berakhir, saudagar terhormat! Kau belum membayar hutang nyawa dua orang tukang kebunmu, yang dulu dibunuh dengan cara menyiksanya. Hanya karena anaknya telah menaruh cinta pada putrimu...!" kata Andika dari atas tembok pagar.

"Kakang Andika...!" pekik Indah Dewi memburu. Tapi jawaban yang keluar dari mulut pemuda wajah coreng-moreng menyambut dingin.

"Aku bukan Andika! Pemuda yang kau cintai itu telah mati terkubur di dasar Lembah Patah Hati, orang tuamu yang menyuruh dirinya untuk membunuh diri. Haha... ha... ha...! Sedangkan aku adalah orang yang mewakilinya, untuk menagih hutang nyawa pada laki-laki yang bernama Legawa...!" berkata begitu, pemuda berjubah hitam ini melompat turun dari atas tembok pagar yang tingginya tidak lebih dari tiga meter. Gerakan tubuhnya begitu ringan, dan tanpa menimbulkan suara dia telah menjejakkan kakinya di depan Buang Sengketa dan Legawa.

"Andika... aku menyadari kekeliruanku dulu. Kalau sekarang engkau datang ingin menagih nyawa padaku, aku rela untuk kau bunuh dengan cara apapun, asalkan hatimu puas. Tapi jangan sakiti putriku, karena akulah yang bersalah. Sedangkan putriku tak tahu apa-apa...!" kata si saudagar, pasrah.

"Huh... sudah kukatakan aku bukan Andika! Orang itu telah mati di Lembah Patah Hati...!" dengus Andika dengan sikap acuh.

"Baiklah kalau kau tak mengakui dirimu sendiri, sekarang kalau kau menghendaki nyawaku, lakukanlah...!" kata saudagar Legawa.

"Kematianmu segera datang, secara pelan namun pasti! Tapi sebelumnya aku akan menjajal sampai di mana kehebatan yang dimiliki oleh pemuda berperiuk yang selama ini menjadi kaki tanganmu...!"

"Kakang Andika! Jangan lakukan, kakang! Orang itu selama ini telah banyak menolong keluargaku dari maut...!" desis Indah Dewi dengan mata berkaca-kaca.

"Sudah kukatakan aku bukan Andika! Pula apa perdulimu jika aku ingin menjajal kehebatan manusia gembel yang menjadi pelindung keluarga terhormat saudagar Legawa...?" kertak Andika dengan sikap semakin bertambah acuh. Pedih rasanya hati Indah Dewi mendapat kenyataan seperti itu. Telah begitu dinginkah hati pemuda yang dulu pernah mencintai dirinya dengan sepenuh hati? Dalam pada itu, Pendekar Hina Kelana yang sudah merasa tersinggung. Langsung membentak marah:

"Mulutmu keterlaluan sekali, Satria Pedang Asmara! Tak pernah kusangka urusan asmara dalam hidupmu kiranya merupakan persoalan yang sangat besar dan paling berarti. Tapi tak kulihat orangorangmu turut serta bersamamu, apakah kau merasa malu bila orang-orang itu tahu duduk persoalan yang sebenarnya...?" sindir pendekar ini tanpa sungkansungkan lagi.

"Itu bukan urusanmu... Cabut senjatamu, mari kita buktikan siapa yang paling hebat di antara kita...!" "Hiaaaat... Chaiiiit...!" "Siiingg...!"

Menyadari yang menjadi lawannya kali ini adalah seorang tokoh muda yang sangat tangguh. Maka begitu menggerakkan tubuhnya mengawali serangan, Satria Pedang Asmara langsung mencabut senjatanya yang berwarna hitam kebiru-biruan.

"Tuan Legawa, Indah Dewi...! Menyingkirlah...!" Perintah Buang Sengketa begitu merasakan hawa yang sangat keji menyebar lewat sambaran-sambaran pedang yang sangat ganas. Buang Sengketa melentikkan tubuhnya ke udara, dengan mempergunakan jurus si Gila Mengamuk dan juga jurus Si Jadah Terbuang. Gerakan-gerakan silat kedua pemuda itu ternyata sangat cepat luar biasa. Hanya dalam waktu yang begitu singkat, pertempuran yang menentukan hidup matinya kedua orang ini telah berlangsung lima belas jurus. Keringat meleleh membasahi pakaian kedua belah pihak. Tapi kenyataan ini malah membuat keduanya bagai dirasuki iblis yang sudah siap saling bunuh. Satu ketika Andika sambil membabatkan pedangnya yang mengeluarkan bunyi aneh, juga lepaskan satu pukulan yang diberi nama 'Menanti Kekasih Tidak Kunjung Datang' Pukulan itu sesungguhnya tidak berwujud, namun Buang dapat merasakan akibat yang ditimbulkannya. Begitu pukulan itu menderu ke arah pertahanannya, tubuh Buang Sengketa terdorong beberapa tindak, dada secara tiba-tiba terasa sesak dan sulit bernafas. "Bangsat! Orang itu benar-benar bermaksud ingin membunuhku!" batinnya. Tapi dia pun tidak tinggal diam, lalu dia kerahkan tiga perempat tenaga dalamnya. Selanjutnya pukulan si 'Hina Kelana Merana' yang memancarkan cahaya merah menyala itupun dia lepaskan dengan telak.

"Wuuus...!" Serangkum gelombang berhawa panas luar biasa menyongsong datangnya pukulan tanpa ujud yang dilepas oleh Andika.

"Blaaam...!"

Akibat bertemunya dua kekuatan sakti itu membuat tubuh keduanya terpelanting roboh. Masingmasing lawan nampaknya sama-sama mendapat luka dalam yang cukup berarti. Bahkan darah kentalpun nampak meleleh dari celah hidung dan bibir mereka. Namun bagai tak merasakan akibat apa-apa, Andika cepat-cepat bangkit mengatur posisi. Pedang Asmara di tangannya terus bergetar dan memperdengarkan suara yang sangat aneh. Sementara itu Buang Sengketa sendiri saat itu dengan tertatih-tatih berusaha bangkit dan mengatur pernafasan serta mengimpun tenaga dalamnya.

"Hiaat...!"

Diiringi dengan satu jeritan tinggi melengking. Tubuh Andika nampak melesat dengan senjata terhunus.

"Heiiikgh...!"

Di sertai lengkingan Ilmu Pemenggal Roh, pemuda itupun cabut senjatanya yang berupa Golok andalan.

"Nguuung...!"

Tak ayal lagi senjata yang memiliki pamor tinggi itupun berputar sedemikian cepat membentuk perisai diri. Secara peraktis tubuh Buang Sengketa terbungkus sinar Merah yang ditimbulkan oleh pusaka Golok Buntung di tangannya. Dingin beradu dengan dingin membuat tubuh masing-masing lawan terasa beku. Tapi Buang Sengketa juga berusaha mengerahkan tenaga dalamnya sebaik mungkin agar dirinya tak terpengaruh dengan pamor pedang yang berada dalam genggaman lawannya. "Traaang...!"

Terlihat percikan bunga api berpijar manakala dua buah senjata yang memiliki pamor tinggi itu saling berbenturan dengan keras. Tangan masing-masing lawan sama-sama tergetar dan kesemutan. Sesaat kedua pemuda yang sedang bertarung itupun terhuyunghuyung. Dan merekapun sama-sama menyeringai. Tapi kejab kemudian mereka telah terlibat lagi dalam pertarungan yang lebih seru. Andika pun telah mengeluarkan jurus pedang 'Hidup Hampa' yaitu jurus tingkatan terakhir yang dimilikinya.

"Haiiit...!"

Teriakan pemuda wajah coreng-moreng itu membahana, terasa bagai merobek suasana pagi. Di pihak Buang Sengketa, tanpa sungkan-sungkan lagi segera pula mencabut senjata lain yang berupa Cambuk Gelap Sayuto.

"Nguung... Jdarr... Jdaar...!"

Cambuk itu melecut, akibat yang ditimbulkannya sungguh membuat Andika jadi terperangah. Keadaan di sekelilingnya mendadak menjadi redup. Petir dan halilintar sambung-menyambung, kemudian suasana adalah kegelapan yang menakutkan. Tapi Andika nampaknya sudah tiada memperdulikan keadaan ini. Kemudian dia babatkan pedangnya, cambuk di tangan Buang menyambut...!

"Praaang... Jdaaarr...!"

Cambuk di tangan pendekar Hina Kelana berhasil melibat pertengahan Pedang Asmara yang berada dalam genggaman Andika. Betot membetotpun akhirnya berlangsung. Masing-masing lawan mengerahkan segenap tenaga dalamnya. Tapi keadaan tidak berubah. Dan pabila Buang Sengketa teringat pada jurus Koreng Seribu. Serta merta dia menarik balik tenaga dalamnya. Anehnya Andika merasakan tenaganya amblas begitu saja, tubuhnya bagai tersedot oleh satu kekuatan yang tiada kelihatan.

"Lepas...!"

Dengan sekali sentak, pedang yang menimbulkan hawa aneh itupun telah berpindah tangan. Begitu pedang itu berada di tangan Buang Sengketa, dia merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya.

"Pedang Iblis!" teriak si pemuda kemudian menyambitkan pedang di tangannya dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.

"Ahhk, pedangku...!" rintih Andika, kemudian terhuyung-huyung. Selanjutnya ambruk.

"Maafkan aku, Indah Dewi...!"

"Kakang Andika...!" jerit Indah Dewi yang ternyata tetap mencintai pemuda itu.

"Bawalah dia! Dalam bimbinganmu, kurasa dia dapat mengobati luka-luka hatinya!" kata Buang Sengketa. Dan dalam kegelapan itu, pemuda keturunan raja dari negeri Bunian itupun berkelebat pergi. Tiada yang mengetahui kepergiannya, sebab

saat itu saudagar Legawapun sedang sibuk mengurusi calon mantunya yang dalam keadaan pingsan.

TAMAT