Serial Pendekar Hina Kelana Eps 23 : Satria Pedang Asmara

 
Eps 23 : Satria Pedang Asmara


Lembah Patah Hati merupakan sebuah dataran curam yang selalu berselimut kabut abadi hampir sepanjang musim. Sangat jarang mahluk hidup betah tinggal di sana. Tidak dapat ditaksir seberapa dalam lembah yang selalu memberi kesan angker itu. Karena tak seorangpun manusia yang berani menjejakinya. Sepintas lalu, tempat itu tidak menarik perhatian. Justru di sana tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan sampai saat ini, telah banyak kalangan persilatan dari berbagai golongan. Yang mencoba-coba untuk menyingkap rahasia Lembah Patah Hati, hilang raib tak tentu rimbanya. Bahkan tak satu pun diantara orang-orang nekad itu ada yang kembali dengan selamat.

Namun di luar sepengetahuan kalangan manapun, beberapa tahun terakhir. Setiap malam menjelang saat-saat bulan purnama memancarkan cahaya kuning kemilau. Dari lembah yang sangat sunyi itu, terdengar lantunan sair-sair yang begitu menyentuh kalbu. Dewa kayangankah yang telah melantunkan baitbait sair bernada sebuah keputus asaan itu? Ataukah hantu yang bergentayangan atau sebangsa iblis yang merasa kecewa karena tak mampu menggoda hati seorang Brahma? Tak seorangpun yang mampu mengatakan begitu. Tapi apabila kita mau melihat secara lebih dekat lagi apa sesungguhnya yang terjadi di tempat itu. Maka akan terlihatlah sosok tubuh bertelanjang dada sedang duduk di atas sebongkah batu besar. Melalui cahaya rembulan yang hanya mampu menembus kepekatan kabut secara samar-samar itu, dengan jelas bahwa sosok tubuh itu merupakan ujud seorang manusia yang berusia masih begitu muda. Bahkan mungkin usianya baru berkisar dua puluh lima tahun.

Pemuda itu dalam keadaan duduk bersila, di pangkuannya terlihat sebuah pedang dengan rangka berbentuk selembar daun Waru, sedangkan di tengahtengah bentuk daun Waru itu terlihat pula sebuah hiasan lain yang merupakan sebatang anak panah yang menembus daun Waru tadi. Kira-kira seperti itulah bentuk warangka pedang yang berada dalam pangkuan laki-laki muda berbadan kekar tinggi, namun berwajah totol-totol bagai orang yang pernah terserang penyakit cacar. Tidak tampan, namun justru memberi kesan angker. 

Siapakah pemuda berpenampilan angker dengan sorot mata dingin dan hampa ini? Tak seorangpun kalangan persilatan yang mengenalnya. Bahkan asal usulnya pun tidak jelas. Hanya sang waktu sajalah yang mengetahuinya. Bahkan mulai saat pertama kali dia menerjunkan dirinya ke dasar jurang Lembah Patah Hati. Saat itu dengan caranya yang nekad dia berharap maut segera akan menjemputnya. Dia ingin meninggalkan dunia ini dengan membawa sejuta kecewa dan penderitaan batin yang kian menghimpit kehidupannya. Ah, sayang dengan caranya itu kiranya maut masih belum sudi membebaskan dirinya dari derita panjang. Lembah Patah Hati rupanya ditumbuhi dengan pohon-pohon menjalar dan berdaun rindang. Tubuh yang sudah pasrah dalam menyongsong belaian sang maut itu tersangkut di atas ranting-ranting pohon yang tidak terhitung jumlahnya. Dia merasa putus asa dan mulai mencaci maki keadaan. Hanya keadaanlah yang dapat dipersalahkannya.

Dalam hati sering kali dia bertanya-tanya, mengapa dulu dia tak terlahir dari rahim seorang ibu yang kaya raya, bapak berpangkat dan memiliki pengaruh yang luas dalam lingkungan masyarakatnya. Sehingga semua orang akan menghormati dirinya atau bahkan menjunjung dirinya tinggi-tinggi, karena pangkat dan keberadaan orang tuanya. Tapi mengapa justru dia terlahir dari rahim seorang ibu pedagang Ikan Asin dan bapak seorang juragan Tape Uli. Yang selama hidupnya tak pernah memberi kasih sayang yang cukup dan bahkan sering pula menyiksa dirinya. Ketika pemuda muka totol-totol itu mendapatkan dirinya tidak juga mati, saat dia telah menghempaskan tubuhnya ke dalam jurang. Betapa hatinya merasa sangat kecewa. Sebenarnya pemuda itu ingin bunuh diri dengan mempergunakan senjata tajam. Namun dia merasa tak mampu untuk melakukannya ketika melihat kilatan pisau yang begitu tajam. Jalan satu-satunya adalah dengan cara yang telah ditempuhnya itu, namun tidak juga berhasil. Sebuah ketololan memang pernah dia lakukan, namun hal itu telah berlalu kira-kira tiga tahun yang lalu. Ketika itu, dia merupakan seorang pemuda biasa yang tidak memiliki kepandaian apa-apa, jangankan lagi yang berupa harta benda. Kini setelah tiga tahun berada di dasar lembah yang sangat,. menakutkan itu, keadaannya telah berubah sama sekali. Baik pisik maupun kekuatan batin. Saat sekarang dia telah berubah menjadi seorang Andika yang memiliki kepandaian sangat tinggi bahkan mustahil dapat dikalahkan oleh siapapun.

Dengan pedangnya yang bernama Pedang Asmara, pemuda itu merasa begitu yakin mampu memenuhi ambisi sebagai pelampiasan sakit hati yang selama ini hampir membuat dirinya celaka. Lesmana, saudagar Legawa dan Bergawa Hitam adalah nama-nama yang tidak dapat dia lupakan. Namun pabila pemuda berwajah, totol-totol itu teringat kembali pada orang-orang ini. Rasa penasarannya kian memuncak, hati panas bagai terbakar. Lalu dia pun menggeram marah: "Hemm... Orang-orang sombong, harta dunia menjadi tolak ukur tinggi rendahnya derajat dan martabat seseorang. Lesmana berlegalah kau karena menjadi seorang anak Tumenggung. Dan saudagar Legawa, manusia tengik tak tahu diri. Gila kehormatan namun tak pernah menghiraukan penderitaan anak sendiri... ah... sedangkan aku...!" Kata-kata Andika itu terhenti tibatiba. Wajahnya menunduk dengan air mata hampir runtuh. Namun terburu-buru dia tengadahkan wajahnya agar air mata yang telah lama mengering tidak lagi menggelinding jatuh. Hatinya terasa sedih bagai tertusuk-tusuk sembilu.

Di saat lain Andika teringat pada sesosok wajah seorang gadis yang begitu sangat dicintainya. Wajah orang yang sangat dikasihinya itu kembali menari-nari di pelupuk matanya. Gadis itu memang tidak begitu cantik, bahkan lebih cantik bila dibandingkan kekasihkekasihnya yang dulu. Cintanya yang pertama harus berakhir dengan kekecewaan, karena orang tuanya telah menjodohkan kekasihnya itu dengan seorang kepala desa. Kemudian Andika membina hubungan lagi dengan seorang gadis keturunan tiongkok, semuanya berjalan begitu baik. Bahkan gadis yang bernama Lan Sui itu memberinya cinta yang berlebih. Namun hubungan itu tak begitu lama, karena gadis berkulit putih itu meninggal dunia dengan penyakit yang tak begitu jelas. Saat itu Andika memang benar-benar merasa sangat kehilangan sekali, selama ini dia memang kurang begitu memperhatikan Lan Sui yang sangat setia itu. Dalam beberapa bulan hanya sekali saja dia menemui Lan Sui. Barulah ketika ajal datang menjemput. Andika menyadari, betapa dia merasa kehilangan seorang kekasih yang selama ini selalu merindukan kehadirannya. Mulai saat itu dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari seorang pengganti. Andainya penggantinya itu dia dapatkan, Andika bertekad untuk menjadikannya seorang istri sampai akhir hidupnya. Kenyataannya dalam perantauannya itu dia menemukan seorang gadis yang tidak begitu cantik. Entah mengapa Andika tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Gadis itu terdidik dalam ilmu agama yang sangat diyakininya. Mungkin hal itu yang membuat dia merasa tertarik. Sayang, orang tuanya yang saudagar itu tak memberinya restu. Bahkan pada Andika selalu bersikap sinis. Tiada pertemuan yang terjadi di antara mereka, terkecuali pabila larut malam. Dan itu-pun secara rahasia dan saling berbisik pada sebuah tembok.

Sampai suatu saat, Andika mendengar pembicaraan suami istri saudagar itu. Tidak sengaja, hanya secara kebetulan belaka. Ah betapa saudagar itu ingin menjodohkan anaknya dengan putra seorang Tumenggung. Selain itu dia juga mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan. Hatinya terasa perih, tiada dia menyangka orang sebaik saudagar Legawa memiliki prinsip lain dalam soal harta keduniawian. Padahal dia merupakan seorang penganut agama yang taat. Mulai saat itu, Andika yang menjadi tetangga saudagar Legawa sudah tidak ingin memikirkan tentang Indah Dewi kekasihnya. Tapi semudah itu telah dia mampu melupakannya? Ternyata tidak semudah itu, setiap saat Andika ingin membunuh cinta, tetapi justru rasa sayang itu semakin melekat. Dia tidak mampu, inilah satu ketololan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Akhirnya dengan membawa kekecewaan yang mendalam pergilah pemuda itu, satu tujuan yang pasti. Dia ingin secepatnya sampai di Lembah Patah Hati

Kembali pada si pemuda berwajah totol-totol yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Ketika itu udara di dasar Lembah Patah Hati terasa begitu dingin menggigit. Tetapi Andika yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu tidak pernah menghiraukannya. Tubuhnya yang telanjang dada seolah tiada merasakan hawa dingin itu. Lewat keremangan cahaya bulan diperhatikannya batu demi batu yang menjadi dinding Lembah Patah Hati. Pada permukaan batu pualam yang licin lagi keras, tertulis tulisan-tulisan yang berupa guratan tangan yang pernah dibuatnya sendiri dalam beberapa tahun yang lalu. Andika tersenyum sinis ketika membaca tulisan-tulisan itu.

Tiada kesan lucu, sebaliknya terasa menyakitkan dan menusuk. Untuk beberapa saat, pemuda itu diam mematung. Namun tanpa disadarinya jemari-jemari tangannya mengejang. Tiba-tiba dia melompat ke depan batu lainnya yang masih bersih dan belum terjamah oleh sentuhan tangan. Selanjutnya dengan ujung jemari tangannya yang telah dialiri tenaga sakti, Andika mulai menggores batu berpermukaan rata itu:

Kepada nasib yang tidak pernah berpihak pada kaum yang lemah.

Sang waktu bergulir, enggan menyapa... Dan aku berdiri di sini dalam sunyi sendiri Karena aku hanya sebentuk Biang Lala... Malam senandungkan sebait syair duka,

Di atas setumpuk surat cinta yang hampir basi Rohku mengambang dihempas keputusasaan. Namun sang maut kuharap

Tidak kunjung datang.....

Ohh....

Hempasan angin malam, datang dan datanglah...

Terbangkan diri dari sebuah nama,

Enyahkan cinta yang selalu datang membelenggu Agar jiwa menjadi damai.....

Selesai menggoreskan kata-kata hatinya di atas batu mar-mar yang berada di depannya pemuda berwajah totol-totol itu nampak memperhatikannya sejenak. Mendadak sepasang matanya yang selalu menatap hampa itu berubah menjadi liar dan beringas.

"Para dewata yang agung! Mengapa aku tak mampu melupakannya hingga sampai saat ini? Keparaaat...!" maki Andika. Saat itu entah apa yang sedang bergejolak di dalam hatinya. Mendadak bagai orang yang sedang kesurupan, Andika rangkapkan kedua tangannya di depan dada. Sebentar saja kedua tangan yang terangkap itu nampak menggeletar, wajahnya yang berkulit kuning langsat itu, tiba-tiba berubah kelam membesi. Selanjutnya dengan dibarengi teriakan melengking tinggi dan terasa menggetarkan dindingdinding lembah pemuda itu hantamkan kedua tangannya ke arah sebungkah batu sebesar gajah;

"Wuuuuss !"

Serangkum gelombang sinar yang menimbulkan rebawa aneh, melesat sedemikian cepatnya dengan menimbulkan hembusan angin yang sangat kencang. Rebawa aneh itu terus melesat bersama hembusan angin dan langsung menghantam sasarannya.

"Broool !"

"Gleduk! Gleduk.... Gledukh !"

Lamping batu pualam putih hancur berkepingkeping. Debu dan serpihan-serpihan batu kecil berhamburan. Lembah Patah Hati bagai dilanda gempa bumi dengan guncangan yang sangat hebat. Namun tidak sampai di situ saja tindakan Andika, diliriknya sebatang pohon yang memiliki ranting sangat rapat dan berdaun rimbun. Begitu teringat jurus Pedang Asmara, tanpa ragu lagi dia mencabut senjata sakti yang memiliki kekuatan gaib itu.

"Triiing !"

Mula-mula begitu senjata sakti itu tergenggam di tangannya. Andika tiada merasakan apa-apa. Pedang Asmara seperti tak memiliki pamor seperti apa yang tertulis di dinding gua. Lama dipandanginya senjata sakti itu. Tak ada yang berubah, namun ketika pemuda itu teringat pada Indah Dewi, dan orang-orang yang telah membenci dirinya. Mendadak senjata itu mengeluarkan bunyi mendengung. Seperti ada tenaga yang tak terlihat menggerakkan pedang itu. Suara mendengung yang ditimbulkannya, semakin lama semakin bertambah keras. Andika jadi terpengaruh dengan adanya sesuatu yang tiada terlihat merasuki jiwanya. "Haiiiiaaat. !"

Pemuda berwajah totol-totol inipun kembali mengeluarkan bentakan kerasnya. Dengan kecepatan yang sangat sulit untuk diikuti kasat mata, tubuhnya melenting ke arah pohon tadi.

"Brees...! Craak...! Craaak !"

Hanya dalam waktu beberapa detik setelah pedangnya berkelebat, ranting-ranting pohon yang berukuran lumayan besar terbabat habis bahkan nyaris gundul sampai ke pucuknya.

"Jliigkh !"

Setelah selesai memainkan jurus pertama dengan membuat gundul pohon tadi, Andika berjumpalitan di udara beberapa kali. Dengan mulus sepasang kakinya mendarat di atas sebongkah batu licin berlumut. Namun Pedang Asmara masih juga memperdengarkan suara mendengung. "Jurus kedua adalah jurus di Tinggal Kekasih!" Membatin pemuda itu, seterusnya dengan kaki agak ditekuk, pedang di tangannya terangkat tinggi-tinggi persis orang yang berniat melakukan bunuh diri. Lalu terjadilah gerakan-gerakan aneh. Pedang di tangan bukan sebagaimana lajimnya, menyerang ke arah muka. Namun sebaliknya Pedang Asmara selalu bergerak menusuk ke sisi kiri dan kanan. Sambaran angin menderu-deru. Hawa aneh terasa menyelimuti sekujur tubuhnya. Tapi pemuda itu terus bergerak-gerak, begitu lincah dan sangat cepat.

"Heeeiit !"

Serta merta gerakan silat si pemuda terhenti. Tatapan matanya semakin bertambah dingin, namun tetap hampa.

Dalam keadaan diam seperti itu, hanya sesaat saja terjadi. Selanjutnya tanpa menghiraukan keringat yang telah membasahi sekujur tubuhnya, Andika melanjutkan jurus ketiga. Jurus ketiga ini, sebagaimana tertulis pada pelajaran di bagian dinding gua dan telah dikuasainya bernama jurus pedang 'Menanti Kekasih Tak Kunjung Datang'. Detik selanjutnya nampak si pemuda merapatkan kedua kakinya. Tangannya bersidekap dengan pedang menyilang ke depan dada. Selangkah demi selangkah dia menggeser kaki kirinya ke arah samping. Selanjutnya dengan diiringi gerakan menggeledek, pemuda berwajah totol-totol itu babatkan pedangnya ke arah depan. Lalu memutar tubuh sembilan puluh derajat, kembali babatkan pedangnya ke arah atas, bawah dan samping kanan kiri. Gerakan itu dilakukan berulang-ulang. Sampai akhirnya Andika merasa sudah cukup.

Permainan Pedang Asmara itu ditutup dengan empat jurus. Jurus terakhir yang telah berhasil dikuasainya adalah jurus pedang 'Hidup Hampa'. Inilah tingkatan yang paling dahsyat. Terlihat senjata di tangan Andika bergetar hebat, kekuatan aneh benarbenar dapat dia rasakan telah menguasai diri pemuda itu.

"Wuaaaa..... ngiiiing.... siiiiing   !"

Angin kencang menderu dahsyat saat senjata di tangan Andika berkelebat menyambar ke segala penjuru arah, anehnya tubuhnya seperti terbetot mengikuti gerakan tangannya. Secara reflek pemuda itu terus mengikuti gerak senjatanya sendiri, semakin lama langkahnya semakin terseret jauh mendekati sebatang pohon yang cukup besar. Tanpa dapat dikendalikan lagi, pedang itupun menghantam pohon tadi.

"Breees !"

Pohon sebesar batang kelapa itupun ambruk terbabat Pedang Asmara dengan menimbulkan bunyi berdebum. Tapi nampaknya gerakan pedang itu terlalu sulit untuk dihentikan, Andika menjadi bingung sendiri. Sekujur tubuhnya saat itu telah bermandikan keringat, tapi senjata di tangan terus memaksa dirinya untuk terus bergerak.

"Senjata aneh, tapi memiliki kekuatan yang sangat hebat! Eee. aku jadi teringat pada pesan yang ter-

tulis di dinding gua! Bahwa pabila telah mencapai jurus paling puncak, senjata akan terus bergerak tak wajar. Pedang Asmara baru mau diam pabila telah masuk rangkanya. Hhh. Mengapa aku sampai lupa pada pesan itu...!" Batin pemuda berwajah dingin itu pada dirinya sendiri. Selanjutnya dengan gerakan cepat dia angkat rangka pedang itu tinggi-tinggi. Begitu pedang di tangan meluncur ke arah depan, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada. Andika membelokkan pedang itu ke arah sarungnya.

"Sreeek !"

Lega hati pemuda berwajah totol-totol itu, keringat sebesar-besar jagung terus bergulir membasahi sekujur tubuhnya. Sesaat dipandangi dan ditimangnya pedang di tangan. Disertai sesungging senyum sinis, Andika berucap pelan:

"Dengan senjata dan kesaktian yang kumiliki saat ini. Sangat mustahil orang dengan seenaknya menghina diriku. Lesmana putranya Tumenggung Jayeng Rono dan saudagar Legawa itu bagiku sudah tak ada apa-apanya...!"

"Inilah saat yang tepat bagiku untuk keluar dari Lembah Patah Hati....!" ucapnya pula. Kemudian setelah memberi penghormatan di depan makam tokoh sakti yang terletak di mulut gua. Andika mulai bergerak meninggalkan Lembah Patah Hati yang selama ini dikenal sebagai sebuah daerah yang cukup angker oleh kalangan persilatan.

***

2

Suara irama gamelan terdengar sayup-sayup di kejauhan, berbagai tari-tarian tradisi adat sudah sejak siang tadi dimulai. Sesungguhnya pesta perkawinan itu memang berlangsung sangat meriah. Tamu-tamu yang hadir pun terdiri dari berbagai kalangan pembesar istana, pejabat daerah, juga dari kalangan persilatan. Sang mempelai yang sedari tadi duduk di pelaminan nampak didampingi oleh sepasang suami istri berpakaian mentereng dan mahal. Laki-laki setengah baya itu, sejak tadi nampak tersenyum-senyum puas. Saat itu hatinya memang sedang diliputi kegembiraan yang berlebih-lebihan. Apalagi dia merasa telah berhasil menjodohkan anak perempuannya dengan putra seorang Tumenggung. Orang yang sangat berpengaruh dalam masyarakat. Kehadiran sang menantu sudah barang tentu dia harapkan membuat masyarakatnya semakin menghormatinya.

Sedangkan di atas pelaminan mempelai wanita nampak terus-menerus tundukkan wajah, hatinya merasa begitu terpukul dengan perjodohan paksa yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Hanya gadis itu sendirilah yang tahu apa yang sedang terjadi dalam hatinya. Walau bagaimanapun dia tak bisa melupakan sebuah nama yang selama ini sangat dikasihinya, dan nama itu mencintai dirinya dengan sepenuh hati. Kuasakah dia menolak kehendak orang tuanya? Kenyataannya sampai saat ini dia telah menjadi istri orang yang tidak dicintainya.

"Dengan dandanan pengantin seperti ini kau nampak bertambah cantik, putriku!" kata laki-laki setengah baya berkumis tipis yang sejak tadi mendampingi putrinya. Yang diajak bicara nampak diam tiada menyahut. Sebaliknya mempelai pria yang duduk di sebelah mempelai wanita, sembari tersenyum penuh arti langsung menyahuti: "Bapak mertua! Adik Indah Dewi, kalau mantu lihat malam ini tak ubahnya bagai bidadari yang turun dari kayangan. Aku bangga mempunyai seorang istri seperti dia...!"

"Aah... ah... mantuku! Engkau memang seorang suami yang sangat berbakti pada istrinya....!" ujar saudagar Legawa lalu tertawa lebar.

"Anakku ini memang penuh pengertian, besan Legawa! Maklum sejak kecil kami se-bagai orang tua, berusaha mendidiknya dengan berbagai disiplin yang sangat ketat...!" yang bicara seperti itu adalah seorang laki-laki berpakaian bangsawan berbadan tegap. Dengan wajah menyiratkan kebengisan.

"Terima kasih, terimakasih....! Semua hajat yang kita inginkan selama ini, kini terkabullah sudah. Lihatlah anak-anak kita nampak bahagia sekali... semoga kehidupan mereka kekal sampai ke anak cucu. Hari ini sebagai tuan rumah aku merasa berbesar hati. Sebab hajatku untuk bermenantukan orang terpandang dan terhormat telah terpenuhi....!" Kata saudagar Legawa begitu bangga.

"Aku pun sangat bersyukur besan, Legawa! Karena hari ini hajatku untuk berbesan pada seorang saudagar kaya juga telah kesampaian....!" sahut Tumenggung Jayeng Rono. Masing-masing besan itu memang nampak sedang diliputi kegembiraan, namun mereka sesungguhnya tak mengetahui apa yang sedang terjadi di hati kedua mempelai.

Sementara itu, dalam kegelapan malam di atas genteng dan persis di kamar mempelai nampak sesosok tubuh sedang mengendap-endap. Bayangan tubuh misterius itu nampak merogoh sesuatu dari dalam saku celananya. Kemudian dia membuka salah sebuah genteng, lalu melemparkan sesuatu ke dalamnya. Benda yang dilemparkannya tadi jatuh tepat di atas meja rias. Sekejap sepasang matanya nampak berkaca-kaca memandang ke bawah sana. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang telah menghunjam ulu hatinya. Tubuh bayangan itupun tampak menegang. Pandangan matanya berubah dingin, tapi bayangan itupun nampaknya tak ingin berlama-lama berada di sana. Dengan gerakan yang tidak menimbulkan suara, sekali bayangan itu berkelebat. Maka bayangan tadi lenyap dalam kegelapan malam.

Saat itu di dalam ruangan besar beranda depan, tamu-tamu undangan pun sudah berpulangan. Bunyi tabuhan dan alat-alat musik lainnya telah terhenti sejak sejam yang lalu. Rumah saudagar Legawa kelihatan sunyi sepi. Tumenggung Jayeng Rono, istri berikut para pengikutnya juga sudah pulang ke Katemenggungan. Di ruangan lain Legawa nampak sedang bercakap-cakap dengan bapak, ibu dan saudagar mempelai perempuan lainnya. Sementara itu mempelai wanita sejak tadi telah berada di dalam kamarnya. Pintu kamar sengaja dia kunci, hal itu dia lakukan semata hanyalah ingin mencari ketenangan batin. Karena saat itu sedang terjadi perang batin yang begitu hebat di dalam jiwanya. Terkadang timbul juga pertanyaan, haruskah demi orang tua dia menyerahkan kehormatannya pada pemuda yang tidak dicintai dan mencintainya. Hatinya begitu sedih, gadis itupun menangis. Tiba-tiba Indah Dewi teringat pada Andika, seorang pemuda biasa, yang dulu begitu menyayangi dirinya. Dia pun merasa menyesal dulu dia tiada begitu menghiraukan kata-kata pemuda itu, bahkan dia sering mengacuhkan keberadaan pemuda itu. Kini setelah pemuda itu pergi, betapa dia sering merindukan kehadirannya, gadis itu merasa kehilangan dan bersalah. Indah Dewi terisak, menyesali dirinya sendiri. Dia terkadang menyadari betapa selama ini keegoisan selalu bercokol di dalam hatinya. Tapi apalah gunanya segala penyesalan yang ada, pemuda yang pernah mencintainya dengan sepenuh hati telah pergi dengan membawa penderitaan batin yang hebat. Ah! Seandainya pemuda itu masih berada di sisinya, pasti dia akan mengadukan segala unek-unek yang terasa mengganjal di hatinya. "Kakang Andika maafkanlah atas segala keegoisanku. Kini aku baru menyadarinya, aku menyadari segala kesalahanku padamu. Aku tak pernah mampu mencintai laki-laki pilihan orang tuaku...!" Jerit hati Indah Dewi dan air matanya pun semakin deras menetes.

Masih dalam keadaan terisak-isak, gadis itu beranjak dari atas ranjang pengantin. Langkahnya gontai menghampiri meja rias, agak lama dia berkaca di sana. Dia melihat matanya telah membengkak karena terlalu banyak menangis. Lalu pengantin baru itupun menangkupkan kedua tangan pada wajahnya yang basah oleh air mata. Lagi-lagi, batinnya menjerit: "Kakang Andika, aku begitu menyesal telah mengecewakan harapanmu! Ya aku merasa sangat menyesal sekali... dulu aku merasa begitu bangga bila telah mampu mem-  buat hatimu susah. Bahkan tanpa menghiraukan bagaimana perasaanmu aku tertawa-tawa di depanmu, saat itu... oh... tidak! Maafkan aku kakang....!" Tanpa sadar Indah Dewi bermaksud kembali menuju ranjang pengantin, tapi saat kaki terasa menginjak sesuatu di lantai dekat meja rias. Dengan perasaan enggan Indah Dewi memungut benda itu yang tak lain merupakan selembar kain kecil yang setelah dibuka terdapat tulisan-tulisan yang begitu rapi. Jantung pengantin baru itu berdetak keras, darah berdesir dengan hati berdebar tak menentu. Masih dalam keadaan berdiri, Indah Dewi mulai membaca isi surat itu.

Indah Dewi....

Di atas kenangan-kenangan indah, sebuah lukaluka lama kini telah terobek kembali. Dan kau yang telah merobeknya. Luka itu mengucurkan banyak darah, dan air mata ini. Bukan lagi air mata duka, lebih menyakitkan dari sekedar itu.

Dewi !

Sepanjang jalan onak duri yang ku lalui. Dilingkup kabut hitam yang sangat sulit untuk ditembus kasat mata. Adalah kau dan aku berada di simpang jalan yang berbeda. Mana pungguk merindukan hadirnya sang rembulan, itulah diriku yang tercabik-cabik sebuah tradisi.

Hemm... cinta bukanlah teori dan logika, tapi merupakan sebuah perasaan dan naluri. Dan aku adalah si miskin papa yang selalu terhempas ke dalam jurang ketiadaberdayaan.

Pengantin baru. !

Kau lihatlah sebuah gambar daun waru yang tertusuk anak panah ini, betapa darah tak pernah mengering disana. Itulah sepotong hati yang dulu hampir musnah dalam belenggu ketololannya. Hehh. Kelak katakataku terbukti, harta bukan jaminan kebahagiaan. Bersukurlah andai pendampingmu berlaku setia, jujur, dan saling sayang menyayangi!

Sang pengantin.

Usah kau ingat-ingat aku lagi, karena antara kau dan aku bukanlah yang dulu lagi.

Dariku Satria Pedang Asmara

Usai membaca tulisan di atas selembar kain itu, bergetarlah tubuh Indah Dewi, sepasang lututnya terasa goyah bagai tak memiliki kekuatan apa-apa. Dengan tubuh sempoyongan dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang pengantin. Tanpa sadar bibirnya mendesis: "Kakang Andika! Kau datang tapi tak pernah membawaku pergi. Aku yakin kau tak pernah berubah. Oh... ayah juga sangat keterlaluan sekali, mereka tak pernah mau mengerti bagaimana perasaanku...!" Jerit hati Indah Dewi, lalu kembali menangis.

"Took! Took.... Tok !"

Terdengar daun pintu diketuk seseorang dari luar. Indah Dewi buru-buru menyusut air matanya.

"Siapa. ?" tanyanya dengan perasaan waswas.

"Aku! Suamimu...!" sahut sebuah suara dari luar kamar. Untuk tidak memancing terjadinya keributan, Indah Dewi membukakan pintu. Setelah pintu terbuka, si pengantin pria cepat-cepat masuk langsung mengunci pintu. Begitu dia membalikkan tubuh, segera dipeluknya tubuh Indah Dewi. Selanjutnya dengan sikap brutal dia menjatuhkan ciuman-ciuman ganas pada istrinya. Indah Dewi berontak mendapat perlakuan seperti itu. Namun dekapan kokoh tangan Lesmana semakin lama terasa semakin kencang.

"Beginikah caramu sebagai seorang suami   ?"

sentak   Indah   Dewi   sambil   menghindari   ciumanciuman ganas yang dilakukan oleh suaminya. Dengan nafas memburu, di sela-sela kesibukannya Lesmana menyahut: "Cara bagaimanapun bagiku sama saja! Sudah lama aku merindukan malam pertamamu...!"

"Malam pertamaku, jadi bukan malam pertamamu juga....!" desis Indah Dewi dengan mata membelalak.

"Tidak....! Yang begini bagiku sudah biasa kulakukan pada orang-orang yang kusukai....!" jawab Lesmana tanpa menghiraukan bagaimana perasaan Indah Dewi. Semakin terkejut sajalah gadis itu dibuatnya. Tiba-tiba Indah Dewi mendorongkan tubuh Lesmana kuat-kuat sehingga menyebabkan tubuh tinggi ceking itu terjerembab menghantam kursi dekat meja rias.

"Laki-laki bajingan! Jadi kau tidak mencintaiku, rupanya. !" dengus Indah Dewi nampak marah sekali.

Sebaliknya Lesmana seperti tidak pernah terjadi apaapa dengan dirinya kembali memburu.

"Sudah kukatakan aku mencintai wanita manapun yang aku suka.  !" kata Lesmana tenang.

"Keparat! Jadi untuk apa kau menikahi diriku ?"

"Aku hanya ingin berbakti pada orang tua yang kuhormati! Sudahlah, malam ini adalah malam yang indah bagi kita, disinilah sorga dunia itu....!" kata Lesmana dengan pandangan bernafsu. Tanpa buangbuang waktu lagi, pemuda itupun kembali memeluk Indah Dewi. Namun gadis itu terus meronta sehingga menimbulkan bunyi gaduh. Orang tua Indah Dewi hanya tersenyum-senyum di ruangan depan, menyangka semua itu ulah pengantin.

"Aku tak mau dengan cara kasar seperti ini "

"Hei... mengapa tak mau, engkau istriku, milikku...!" tukas Lesmana nampak mulai menanggalkan pakaian istrinya. Gadis itu terus meronta dan berontak, tapi apalah daya tenaga seorang wanita, bila dibandingkan dengan tenaga Lesmana yang telah dirasuki iblis. Indah Dewi hanya mampu menitikkan air mata, saat-saat Lesmana menindih tubuhnya. Tinggallah gerakan-gerakan tubuh Lesmana yang menggila, tanpa menghiraukan bagaimana perasaan Indah Dewi, dia terus melampiaskan nafsunya. Tangis gadis itu akhirnya meledak saat mana dia merasakan sesuatu yang sangat berharga selama ini telah direnggut oleh laki-laki yang tidak dicintainya. Pedih hatinya melebihi rasa perih di bagian selangkangannya. Sementara tanpa menghiraukan sang istri Lesmana kembali mengenakan pakaiannya dengan sesungging senyum puas.

"Kau benar-benar masih murni!" kata laki-laki bejat anak Tumenggung Jayeng Rono itu sambil merebahkan tubuhnya di sisi Indah Dewi. Sebentar saja laki-laki itupun telah mendengkur bagai seekor kerbau kelelahan. Tinggallah Indah Dewi yang terus menangis menyesali nasib.

Pada saat itu di luar sepengetahuan penghuni rumah maupun pengawal saudagar Legawa yang berada di bagian depan. Tampak tiga sosok bayangan tubuh berjalan mengendap-endap di atas genteng. Gerakan mereka begitu ringan, sehingga tidak menimbulkan suara mencurigakan. Langkah mereka baru terhenti ketika telah sampai di atas kamar pengantin. Sesaat tiga sosok bayangan itu nampak saling berbisik sesamanya. Kemudian dua orang diantaranya langsung berjongkok dan menyingkapkan genteng. Setelah memperhatikannya dengan seksama, secara hampir bersamaan tubuh ketiga orang itu melayang turun. Indah Dewi sempat melihat gelagat yang tak baik itu, namun dia menyangka salah seorang dari ketiga orang itu merupakan Andika, bekas kekasihnya. Sehingga dia hanya diam saja, bahkan hatinya bersorak kegirangan malah. Tapi ketika secara mendadak Indah Dewi mendapat satu totokan bagian urat leher, sadarlah pengantin baru itu, bahwa kedatangan mereka dengan membawa maksud-maksud tak baik. Dia berusaha menjerit, namun suaranya hanya sampai sebatas kerongkongan saja. Beberapa saat kemudian tubuh tiga orang bayangan itu melesat kembali ke atas genteng dengan membawa Indah Dewi di bagian pundaknya.

***

3

Sungai Bilah Hulu, merupakan sebuah sungai yang memiliki lebar empat puluh meter, dengan panjang tidak terukur. Setiap hari sungai itu dilalui oleh para nelayan yang akan pergi ke laut. Sungai Bilah Hulu bermuara ke laut tiongkok, hampir setiap hari sungai itu mengalami pasang surut, akibat pasang naiknya air laut di bagian muaranya. Pabila malam hari, sungai itu merupakan sebuah tempat yang sangat sunyi lagi angker. Tak sebuah perahu pun yang berani melintasi daerah itu, pabila malam menjelang. Kalaupun nelayan-nelayan penangkap ikan itu merasa kemalaman pulang melaut, maka mereka lebih memilih tinggal di tengah lautan untuk sementara menunggu matahari terbit. Atau berkumpul di bagian muara bersama para nelayan lain. Malam hari, Sungai Bilah Hulu merupakan tempat berkeliarannya para begal dan bajak sungai. Jarang ada orang yang bisa selamat melintasi daerah itu pabila malam hari. Selain merampoki harta benda, juga tak segan-segan mereka membunuhi setiap mangsanya.

Pelayaran melalui Sungai Bilah Hulu pabila malam hari di samping harus berhadapan dengan para begal, juga harus berhadapan dengan sekawanan masyarakat buaya tembaga, yang terkadang panjangnya saja ada yang mencapai enam belas meter. Namun terlepas dari semua itu, malam itu nampak seorang pemuda bercapil dengan rambut dikuncir di bagian belakang. Hanya dengan mempergunakan sepotong kayu sebesar tangan tampak melewati daerah yang terkenal rawan itu. Seandainya kejadian itu dilihat oleh orang lain, tentu mereka akan langsung membelalakkan matanya melihat ulah si pemuda itu. Bagaimana tidak. Pemuda itu melakukan perjalanan lewat air bukan dengan mempergunakan sebuah sampan atau sejenisnya. Sebaliknya hanya mempergunakan sepotong kayu kering sebesar lengan bocah bayi dan panjangnya pun tak lebih dari setengah depa. Kayu kering yang dipergunakan oleh si pemuda tidak tenggelam, mengapung dan bahkan nampak meluncur dengan lajunya. Bila diingat sampai ke situ, betapa pemuda yang tengah melakukan perjalanan di atas air itu memiliki ilmu mengentengi tubuh sudah begitu sempurna.

Demikianlah tombak demi tombak dia lalui, tanpa ada kesulitan bahkan tiada pula rasa curiga. Namun beberapa meter di depannya, si pemuda menghentikan gerakan meluncur pada kayu yang menyanggah berat tubuhnya. Pandangan matanya yang setajam mata elang, menatap lurus ke depannya. Apa yang dilihat oleh pemuda itu adalah berpasang-pasang mata merah yang meluncur deras di depannya di atas permukaan air. Agaknya mahluk-mahluk air itu mengetahui adanya mangsa yang telah berada begitu dekat dengan mereka. Dengan gerakan yang tiada mencurigakan pemilik berpasang-pasang mata itu terus meluncur mendekati si pemuda. Si pemuda berkuncir yang sudah tak asing lagi buat kita ini nampak sunggingkan seulas senyum.

"Oh sobat! Kau lapar ya, dagingku enggak enak! Kalau pahit memang iya...!" kata si pemuda yang tak lain pendekar Hina Kelana adanya. Sesaat pemuda itu terdiam, dengan cepat dia mengerahkan kekuatan batinnya untuk mengetahui lebih jelas apakah mahluk air itu merupakan mahluk siluman atau mahluk biasa. Ternyata mahluk melata itu bukan mahluk siluman. "Oh, pantas binatang-binatang itu tidak dapat ku pengaruhi. Jumlah mereka tidak sedikit, lucu sekali andai aku sampai mandi pada saat malam dan dingin-dingin begini. Weii... binatang-binatang itu kini telah mengepungku!" kata pemuda itu, gerakan selanjutnya dengan mengegoskan kayu yang dipergunakannya untuk meluncur, pemuda ini mulai menghindari taring-taring yang tajam serta kibasan ekor yang mirip gergaji dari puluhan buaya yang menyerangnya dengan ganas. Sekali dua pemuda itu melentingkan tubuhnya ke udara, anehnya kayu yang menjadi tumpuannya berpijak tetap melekat sedemikian eratnya. Tiada membuang waktu lagi, begitu tubuhnya melayang turun di atas permukaan air. Buang Sengketa hantamkan pukulan Empat Anasir Kehidupan ke arah buaya-buaya tadi. Empat ekor buaya berwarna kuning dengan ukuran sangat panjang tampak menggelupur di atas permukaan air. Tempat di sekitarnya berubah memerah, air sungai bergolak-golak menimbulkan gelombang yang sangat besar. Tapi pendekar berwajah sangat tampan itu tidak berhenti sampai di situ saja. Sekali lagi dia lepaskan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Selarik gelombang sinar Ultra Violet melesat sedemikian cepat ke arah buaya-buaya lain memburu dirinya dengan beringas sekali.

"Blaaar. !"

Kembali kawanan buaya-buaya itu menggelepar mati dengan kepala hangus, dan langsung tenggelam ke dasar sungai. Lama kelamaan melihat kematian kawan-kawannya, agaknya yang masih hidup menjadi jerih. Terbukti beberapa saat kemudian buaya-buaya yang tersisa berlarian menjauhi Buang Sengketa, pemuda itu tersenyum-senyum sendiri. Lalu pemuda ini pun kembali menggerakkan kayu yang menyanggah tubuhnya. Baru dua tombak pemuda itu meninggalkan tempat kejadian. Detik selanjutnya terdengar bentakan-bentakan yang terasa begitu menusuk gendanggendang telinga. Buang Sengketa sadar, pastilah pemilik suara tadi memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Buang pun tak mau kalah, dan langsung menyambutnya dengan gelak tawa yang disertai dengan pengerahan ilmu Lengkingan Pemenggal Roh. Terdengar suara tawa serasa merobek kegelapan malam. Si orang tak dikenal yang berada di sebuah tempat terlindung nampak terkejut bukan alang kepalang. Sedikit pun dia tiada menyangka kalau pemuda yang tengah melakukan perjalanan dengan mempergunakan kayu di atas permukaan air itu. Selain memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat, juga memiliki kelebihan lain yang tiada terduga.

Orang itu sendiri pun merasa andai tidak cepatcepat menutup indera pendengarannya pasti dia sudah terjengkang sebagaimana lima orang kawannya. Kenyataan ini membuat orang itu menjadi marah, sedetik kemudian dia pun membentak kembali.

"Hebat.... setelah membunuh buaya-buaya milikku. Dengan ilmu setan itu kau telah pula membunuh lima orangku sekaligus...!" Bergetar suara itu hingga membuat bulu kuduk si pemuda merinding.

"Mereka telah mengganggu perjalananku. Sedangkan kematian kawan-kawanmu! Hemm. Kurasa itu kesalahanmu sendiri, membentak-bentak orang yang lewat!"

"Kurang ajar! Melihat tampangmu, rasanya baru kali ini aku bertemu seorang saudagar gembel melintasi daerah kekuasaanku. Tapi kau telah begitu berani jual lagak di depan Iblis Sungai Bilah Hulu. Sangat keterlaluan !"

Pemuda itu mendengus: "Setiap iblis yang berkuasa atas sungai-sungai yang tiada bertuan. Pastilah mereka itu sebangsa tikus perampok yang perlu mendapat ganjaran yang setimpal...!" Ucapannya itu sebenarnya hanya berupa gertak belaka, karena sedetik kemudian dengan tanpa menoleh-noleh lagi, Buang Sengketa sudah kembali meneruskan perjalanannya. Tetapi baru saja dia menggenjot kakinya yang berpijak pada sepotong ranting kayu, dari sisi kanan dan sisi kiri pinggiran sungai meluncur beberapa buah senjata milik bajak laut. Senjata itu berupa sebuah jangkar yang dibagian ujungnya bersisi tajam. Senjata tadi terus bergerak, mengikuti kemana saja tubuh si pemuda berkelit. Karena senjata itu memiliki tali yang panjang, maka dengan mudahnya pemilik senjata itu menarik dan mengulurkannya.

"Minggirlah! Atau kau segera tenggelam menjadi santapan buaya-buaya milikku yang kelaparan...!" teriak para bajak laut di sisi kanan dan kiri Sungai Bilah Hulu.

"Siiing.... Weert. !"

Senjata-senjata maut itu nyaris menghantam tubuhnya, hanya mengandalkan jurus si Gila Mengamuk sajalah Buang Sengketa berhasil mengelakkan sambaran senjata-senjata itu dengan baik. Kenyataan ini sudah barang tentu membuat sekawanan bajak sungai berpakaian hitam itu menjadi sangat berang sekali. Selama hampir lima belas tahun berkuasa di Sungai Bilah Hulu belum pernah seorang korban pun yang dapat selamat dari serangan senjata-senjata ini. Bahkan saudagar Legawa yang kaya raya itu sampai bersedia memberi mereka semacam setoran wajib, hanya karena saudagar itu tidak ingin mendapat gangguan dari bajak Laut Sungai Bilah Hulu.

Tapi malam itu seorang pemuda berperiuk dengan begitu mudahnya mampu menghindari setiap serangan beruntun yang mereka lakukan? Hal ini benarbenar diluar dugaan mereka.

"Hiyaaa !"

Bentakan-bentakan menggeledek menyertai berkelebatnya beberapa buah senjata jenis lainnya.

"Zet.... Set... Wreet. !"

Si pemuda dapat merasakan adanya sambaran angin yang sangat keras ke arahnya. Sekejap dia menjadi gugup, karena senjata-senjata itu datangnya dari berbagai penjuru dan mengancam bagian-bagian yang mematikan. Buang Sengketa segera mengambil tindakan yang sangat cepat.

"Hemm....!" Si pemuda mendengus, lalu hantamkan kedua tangannya ke arah empat penjuru mata angin. Selarik gelombang berwarna Ultra Violet menderu dahsyat memapasi datangnya senjata-senjata itu.

"Braaak !"

"Ihhh !"

Terdengar seruan tertahan saat mana senjatasenjata di tangan mereka membalik. Bahkan beberapa diantaranya hancur berantakan dihantam pukulan Empat Anasir Kehidupan.

"Tikus-tikus pada kurang ajar semua! Ingin kulihat bagaimana tampangnya kunyuk yang mengaku sebagai begal sialan itu !"

"Heeuuuuup !"

Dengan meminjam daya kambang yang dimiliki sepotong kayu tadi, pendekar Hina Kelana nampak melesat ke arah sisi kanan sungai itu. Selagi tubuhnya masih berjumpalitan di udara. Tanpa diduga-duga, beberapa senjata rahasia menyongsong tubuhnya. "Keparaaat. !" maki si pemuda sambil membuang tubuhnya

ke arah pinggiran sungai. Sungguh pun dia berusaha menghindarkan diri supaya tidak sampai kecebur ke dalam sungai, namun tetap saja.

"Byuuur. !"

Terdengar suara tawa bergelak-gelak menyertai terceburnya tubuh Buang Sengketa ke dalam sungai. Sekejap tubuh si pemuda lenyap, begitu muncul ke permukaan air, dengan sangat cepat dia menepi. Dengan keadaan tubuh basah kuyup, pemuda itu kembali melompat. Sesampainya di daratan serangan-serangan ganas datang menyambut-nya.

"Kurang ajar...!" maki Buang Sengketa. Tak ayal lagi dia menyambutnya dengan jurus silat tangan kosong diberi nama Membendung Gelombang Menimba Samudra. Tak dapat disangkal, pertarungan sengit pun segera terjadi. Karena mengetahui pihak lawan memiliki kepandaian lumayan, maka begitu bergebrak para bajak sungai itu langsung mempergunakan jurusjurus andalan.

Saat pertarungan itu berlangsung, dari arah seberang sungai nampak meluncur tiga buah perahu anggota kawanan bajak lainnya. Buang Sengketa tiada menghiraukan orang-orang itu, sebaliknya si pemuda nampak mulai mengerahkan jurus Si Jadah Terbuang. Tingkatan jurus andalan ini dipergunakan untuk memporak porandakan pertahanan lawannya.

"Splaak...! Dees.... Dees !"

Tiga orang dari lima pengeroyoknya nampak terpelanting roboh, melihat kejadian yang dialami oleh kawan-kawannya. Yang menjadi kepala dari para begal itu menjadi gusar dan langsung cabut senjatanya yang berupa sebuah tombak berwarna hitam, sedangkan di bagian ujungnya terdapat sebuah kaitan yang menyerupai sebuah arit yang memiliki dua sisi yang sangat tajam. Senjata itu menyambar-nyambar memburu ke arah lawannya. Buang Sengketa merasakan adanya hawa dingin menyertai sambaran senjata itu. Sadarlah dia betapa senjata di tangan lawannya mengandung racun yang sangat keji.

Sementara para bajak lainnya yang berada di seberang sungai telah pula bergabung dengan kawankawannya yang sedang melakukan pengeroyokan. Merasa dikerubuti sedemikian rupa, Buang akhirnya nampak mulai keteter. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna, tubuh pemuda itu berkelebat cepat. Jeritan Ilmu Pemenggal Roh pun dia kerahkan.

"Heiiigkh !"

Beberapa orang pengeroyok kembali mengalami nasib sial. Tubuh mereka terpelanting roboh dengan darah mengalir dari bagian telinga. Sekejap saja tubuh mereka berkelejotan, lalu diam untuk selama-lamanya. Kepala bajak sungai yang bernama Baja Kuning, walaupun menjadi keder namun juga diliputi kemarahan yang meluap-luap. Kenyataan gugurnya beberapa anggota merupakan pukulan yang sangat pahit bagi dirinya. Bagaimana nanti andai ketua tertinggi kaum bajak sungai sampai mengetahuinya? Pasti dia kena didamprat, terlebih-lebih apa yang mereka perjuangkan saat itu bukanlah pertempuran yang memperebutkan harta benda. Hanya melawan seorang pemuda gembel yang tidak ada apa-apanya.

"Dasar manusia kampret...!" desis Baja Kuning, dibakar amarah. Laki-laki baju hitam tampang amburadul itu kembali hantamkan senjata mautnya ke arah bagian lambung dan leher lawannya. Sementara dari arah lain, menyusul pula serangan berbagai senjata aneh milik kawanan para begal itu. Kali ini Buang Sengketa merasakan nyawanya berada di ujung tanduk. Tiada diduga-duga, pemuda titisan Raja Piton Utara dari Negeri Bunian ini mengerahkan pula jurus Koreng Seribu. Dalam keadaan pasrah, pemuda ini menyambut:

"Creep !"

Berbagai jenis senjata nampak melekat erat sedemikian erat di bagian tangan maupun bagian tubuh lainnya. Masing-masing lawannya tampak terkejut luar biasa, kemudian dengan sekuat tenaga mereka berusaha menyentakkan senjata yang melekat di tubuh Buang Sengketa. Celakanya semakin keras mereka membetot senjata itu, maka semakin sulitlah bagi mereka untuk membebaskan senjata-senjata miliknya.

"Ilmu Iblis !"

Terdengar suara Baja Kuning dalam rasa penasaran yang tiada terkirakan. Sementara itu si pemuda nampak menyeringai, penyaluran tenaga dalam dari pihak lawan untuk membebaskan senjatanya. Bagi si pemuda merupakan keuntungan tersendiri, tanpa disadari oleh mereka, secara perlahan namun pasti Jurus Koreng Seribu telah menyedot tenaga lawan-lawannya, sehingga pemuda itu mendapat tambahan tenaga yang tidak sedikit.

"Ha... ha... ha! Sobat begal goblok. Terima kasih atas bantuan dan kebaikan kalian. Sekarang aku sudah tidak membutuhkannya! Hiaaat....!" teriak Pendekar Hina Kelana sambil mengibaskan tangannya. Senjata berikut pemiliknya berpelantingan dengan tubuh lemah lunglai bagai sudah tiada memiliki tenaga lagi.

"Pergilah sebelum kesabaranku habis...!" Bentak pemuda itu, lalu memandang tajam pada lawanlawannya. Dengan tergopoh-gopoh dan rasa penasaran yang terpendam. Kawanan bajak sungai itu tanpa menunggu lebih lama lagi langsung tunggang langgang meninggalkan tempat. Ketika mereka menjauh dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Terdengar suara Baja Kuning dalam ancamannya: "Kau jangan merasa menang, pemuda berperiuk. Suatu saat kelak kami pasti mencarimu untuk menagih hutang nyawa !"

"Hmmm..... aku tak perlu takut menghadapi kalian. Sekalian saja bapak moyangmu suruh berhadapan denganku, aku tak pernah gentar...!" kata Buang Sengketa tanpa maksud menyombongkan diri. Dari kawanan bajak sungai tiada jawaban apa pun, namun dari arah lainnya terdengar suara gumaman seseorang yang disampaikan melalui ilmu mengirimkan suara.

"Sobat! Di daerah yang penuh dengan keangkaramurkaan ini. Jangan sekali-kali kau menjual lagak dengan ilmu picisan yang kau miliki. Bisa-bisa nyawamu menjadi taruhannya...!" kata suara itu mengancam.

"Siapakah kau! Aku merasa tidak pernah berbuat apapun. Aku hanya memberi pelajaran kepada mereka. Agar mereka tak mengulangi pekerjaan yang busuk itu...!" jawab pemuda itu melalui ilmu yang sama. Terdengar sebuah tawa yang begitu dingin menggidikkan. Lalu disambung dengan kata-kata yang mengandung ancaman: "Jangan kau ganggu mereka! Mereka dalam pengawasan-ku. Kau ingat itu ?"

"Hemm. Kalau begitu, kau pasti kepalanya perampok-perampok tengik itu !"

"Tak perlu kau tahu...!" kata suara tadi menunjukkan kemarahannya. Hal ini membuat Buang Sengketa menjadi penasaran. "Aku jadi ingin tahu, bagaimana kunyuk yang bersembunyi dalam kegelapan itu!" Pemuda ini membatin. Kemudian tanpa diduga-duga, Buang Sengketa melesat ke arah tempat suara itu berasal.

"Brebet !"

Orang yang dikejarnya bergerak mendahului meninggalkan tempat itu. Tak dapat dihindari lagi, kejarkejaran pun terjadi. Tapi orang yang berada di depannya berlari kencang laksana setan. Semakin lama jaraknya diantara mereka semakin bertambah menjauh. Begitu si pemuda teringat pada ajian Sepi Angin yang menjadi ilmu lari cepatnya. Orang yang dikejarnya pun telah lenyap dari pandangan mata.

***

4

Kabar hilangnya Indah Dewi dalam waktu sekejap telah tersebar di seantero penjuru Katemenggungan. Berbagai reaksi timbul di kedua belah pihak keluarga yang baru saja mengikat hubungan persaudaraan itu. Hilangnya Indah Dewi membuat saudagar Legawa merasa begitu terpukul, apalagi dengan ditemukannya surat di dalam kamar putrinya. Bagi Legawa, begitu melihat tulisan itu langsung dapat menebak siapa kiranya yang telah melakukan penculikan atas diri putrinya. Tulisan di atas selembar kain itu dia kenal sebagai tulisan milik Andika, bekas kekasih putrinya. Tapi bagaimana mungkin pemuda dusun yang telah diusirnya itu kini muncul kembali pada saat hari pernikahan anaknya. Padahal menurut keterangan orang-orang kepercayaannya yang mengantar kepergian Andika dari tempat tinggalnya, tiga tahun yang lalu memberi laporan, pemuda yang sangat dibencinya itu telah membunuh diri di Lembah Patah Hati. Mungkinkah orang-orang kepercayaannya itu telah memberi laporan palsu kepada saudagar itu? Kemungkinan itu bisa saja terjadi, dan sebenarnya persoalan yang dihadapi oleh saudagar Legawa tidak serumit itu, andai saja Lesmana yang menjadi menantunya tidak memberi laporan padanya, bahwa pada saat malam pertama itu, Indah Dewi sudah tak memiliki kehormatan lagi. Menurut pemuda itu hal ini merupakan satu penghinaan dan penipuan yang tak dapat dimaafkan. Bahkan sebelum meninggalkan rumah kediaman Legawa menuju Katemenggungan tempat tinggal orang tuanya, pemuda ini sempat mengancam. Andai Indah Dewi tidak dapat ditemukan dalam waktu satu purnama. Maka Lesmana akan menuntut ganti rugi atas penghinaan yang telah dilakukan oleh putri saudagar Legawa. Tidak tanggung-tanggung, sebagai ganti rugi atas penipuan itu, Lesmana akan menyita seluruh kekayaan yang dimiliki oleh saudagar Legawa. Betapa kecut hati Legawa mendengar keputusan mantunya itu. Bagaimana tidak, Lesmana adalah seorang putra Tumenggung yang perintahnya selalu dituruti oleh orang tuanya. Tuduhan Lesmana bahwa putri Legawa yang pada malam pertama itu tidak memiliki keperawanan lagi, bagi sang saudagar merupakan sebuah tamparan keras yang membuat dirinya kehilangan muka. Seandainya itu disebarkan oleh Lesmana ke seantero penjuru negeri, betapa saudagar yang selalu silau dengan kemilaunya dunia itu akan merasa sangat malu sekali. Seingat Legawa, satu-satunya orang yang pernah membina hubungan cinta dengan Indah Dewi hanyalah pemuda yang bernama Andika itu. Pasti semua itu akibat perbuatan pemuda kere yang telah diusirnya beberapa tahun yang lalu. Laki-laki setengah baya itu kemudian berfikir, sebelum ancaman menantunya menjadi kenyataan, lebih baik dia menyewa kalangan persilatan untuk mencari Andika dan Indah Dewi. Yang menurut perhitungan Legawa telah melarikan diri secara bersama-sama.

Demikianlah, siang itu saudagar Legawa nampak sedang bercakap-cakap dengan istrinya yang bernama Nendang Asri. Wajahnya yang kusut masai menandakan bahwa laki-laki berusia lima puluh tahun itu sedang menghadapi masalah yang sangat rumit dan kurang istirahat.

"Kejadian ini benar-benar sangat memalukan sekali. Indah Dewi anak yang tidak tahu berbakti pada orang tua...! Coba kau bayangkan mau ditaruh di mana mukaku ini, istriku !"

"Selalu saja kita menyalahkan seorang anak! Coba kakang pikir, tidak kelirukah tindakan kita menjodohkan Indah Dewi dengan Lesmana, yang ku tahu selama ini memiliki sifat yang sangat jauh berbeda sebagaimana layaknya anak kalangan terhormat lainnya. ?" bantah Nendang Asri, seolah ingin protes pada

suaminya.

"Hei... kau tahu apa? Tumenggung Jayeng Rono adalah orang terhormat! Merupakan kebanggaan bagi kita, karena kita telah berhasil menjodohkan anak kita dengan putranya orang berpangkat....!" sentak Legawa merasa tersinggung.

"Selama ini kau banyak disibuki dengan segala urusan perdagangan, kakang! Kau tak mungkin bisa melihat apa-apa saja yang telah dilakukan oleh Lesmana dalam kehidupan sehari-hari !"

"Heh.... kau jangan memburuk-burukkan mantu kita. Terbukti anak kitalah yang tidak berbakti pada orang tuanya. Coba kau lihat apa yang kini telah terjadi! Andika telah merusak kehormatan Indah Dewi. Lebih dari itu, pemuda keparat itu juga telah begitu berani membawa lari anak kita....!" kata saudagar Legawa begitu sengit.

"Adatmu memang terlalu keras, kakang! Sebagai istri aku telah melakukan segala-galanya untuk kebaikan keluarga kita. Mungkin ini satu karma karena engkau telah membunuh orang tua Andika....!" Semakin bertambah memerah wajah Legawa begitu mendengar kata-kata istrinya. Dengan tubuh gemetaran karena menahan amarah, laki-laki itupun membentak: "Cukup! Tak perlu kau menggurui aku. Orang tua pemuda tak tahu diri itu memang sudah selayaknya mati. Aku tak pernah merasa berdosa telah membunuhnya, bahkan kali ini aku juga akan mencari Andika." ucap Legawa. Se-pasang matanya nampak berkilatkilat me-nyimpan dendam. "Sungguh pun aku seorang saudagar, namun aku juga seorang pendekar yang sangat disegani. He... he... he....! Andika bocah ingusan.... kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu....!" gumam saudagar Legawa. Selanjutnya tanpa dapat dicegah lagi, dengan disertai beberapa orang kepercayaan, laki-laki berkumis tipis itupun membedal kudanya menuju ke arah matahari terbit.

* * *

Kaki bukit Malabar sepintas lalu kelihatan sunyi sepi sepanjang hari. Tidak ada tanda-tanda berkeliarannya manusia di sana. Tidak juga anak-anak gembala yang biasanya mengembalakan ternak-ternaknya yang berupa puluhan ekor domba. Sungguh pun begitu bukan berarti tak ada kegiatan di sana. Kalau diperhatikan lebih teliti lagi, nun jauh menelusuri jalan setapak menuju lengkungan bukit. Terdapat sebuah tenda dengan penjagaan beberapa orang pengawal tak resmi. Mereka yang melakukan penjagaan bergilir itu terdiri dari orang-orang bertampang sadis, rambut tergerai sampai ke pinggang. Dengan senjata menggelantung di bagian bahunya. Lalu apakah isi di dalam tenda itu, sehingga belasan orang-orang bertampang seram itu melakukan penjagaan sedemikian ketat? Bila diperhatikan secara lebih dekat lagi, maka dari dalam tenda itu terdengar suara rintihan seorang wanita. Di lain saat terdengar pula suara seorang laki-laki sedang membujuk.

"Kembalikan aku ke rumah orang tuaku! Aku tak mengenal kalian, aku... aku muak melihat tampang kalian... bencii....!" Di luar tenda terdengar suara bergelak-gelak penjaga, menyambut.

"Aku tak dapat mengembalikan mu sampai ayahmu mau membawa tebusan yang cukup besar untuk ketua...!" terdengar suara berat dari dalam tenda.

"Siapakah ketuamu yang telah begitu berani mempertaruhkan nyawa itu...?" bentak si wanita dengan suara bergetar.

"Hoho.... ketua kami sudah barang tentu lebih hebat dari suamimu yang suka main paksa itu !"

"Kurang ajar! Jangan kau sebut-sebut dia!" kata si wanita yang tak lain Indah Dewi adanya, dengan suara keras. Kembali terdengar suara serak si laki-laki yang berada di dalam tenda: "Kau pasti tak suka pada suamimu itu. He... he... he... Saudagar Legawa memang orang yang paling suka memaksakan kehendaknya untuk sesuatu yang terlalu berbau keduniaan!" kata laki-laki berbadan tinggi kurus, kulit keriput muka cekung seperti pada dirinya sendiri.

"Laki-laki ceriwis! Siapakah engkau ini....?" Yang ditanya keluarkan suara tawa bergelak-gelak. Sesaat laki-laki kurus itu memandangi Indah Dewi dengan mata berkilat-kilat. Sementara air liurnya nampak menetes-netes bagai seekor anjing yang baru saja berlarilari dengan jarak yang cukup jauh. Pengantin baru putri tunggalnya saudagar Legawa itu nampak mulai ketakutan, dengan keadaan tangan terikat ke depan dia beringsut-ingsut menjauh.

"Kau tak tahu siapa aku ini? Bagusnya kau memang tak usah tahu siapa diriku. Aku hanya utusannya sang Pangeran, untuk menculikmu dan memaksa saudagar Legawa menyerahkan sebagian hartanya sebagai tebusan kebebasan anaknya !"

"Kurang ajar! Kau dan pangeranmu itu pasti tak akan mendapatkannya....!" teriak Indah Dewi nampak semakin bertambah gusar.

"Kau tak tahu apa-apa tentang hidup dan kehidupan ini bocah! Di depanku kau jangan banyak rewel. Salah-salah aku bisa menelanjangimu....!" kata lakilaki kurus itu menggeram marah.

"Aku tak perduli! Bagiku hidup pun sudah tak berarti banyak     aku tak suka pada Lesmana yang te-

lah kurang ajar itu !" Di luar tenda kembali terdengar

suara beberapa orang penjaga tergelak-gelak. Disambut dengan suara sumbang seseorang: "Kerjain saja kakang    kita sudah bosan menanti, namun pangeran

belum juga muncul !"

"Diam kalian....!" bentak laki-laki kurus yang berada di dalam tenda. Sesaat suasana menjadi hening sepi, namun kesunyian itu kemudian dipecahkan dengan adanya suara laki-laki itu.

"Aku tak akan mendengar berbagai ma-cam alasan. Apa pun yang akan terjadi, orang tuamu harus menyerahkan apa yang diinginkan oleh pangeran kami !"

"Tanyakan saja hal itu pada mereka. Aku berharap kedua orang tuaku tak menyerahkan apa pun pada kalian !"

"Kuraaang ajar !" maki laki-laki berbadan kurus

kering yang dikalangan persilatan lebih dikenal dengan Bergawa Hitam. Makian itu disertai dengan dua tamparan yang cukup keras, sehingga tubuh Indah Dewi terjajar ke dinding tenda, bekas tamparan itu nampak memerah. Dari sudut bibirnya nampak mengalirkan darah kental. Begitu nanar gadis itu memandangi lakilaki keriputan itu. Tiba-tiba kebenciannya kepada lakilaki itu muncul.

"Biadab.... Kau benar-benar laki-laki biadab !"

jerit Indah Dewi. Dalam pada itu, dari kejauhan di atas bukit sana, mendadak terdengar suara sayup-sayup. Seperti sudah mengenal siapa mereka yang berada di bawah bukit itu.

"Bergawa Hitam! Aku yang datang....!" Nampaknya Bergawa Hitam begitu menghormati pemilik suara itu, terbukti baik Bargawa Hitam maupun orang-orang yang berada di luar tenda membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

"Apa yang pangeran inginkan telah kami laksanakan! Sekarang ini kami tinggal menunggu perintah selanjutnya. !" kata Bargawa Hitam memberi laporan.

Sementara itu, Indah Dewi begitu mendengar suara orang yang disebut pangeran nampak sangat terperanjat. Suara itu rasa-rasanya seperti dia kenal secara samar-samar. Bedanya suara itu hanya sedikit agak sengau. Dia berusaha mengingat-ingat siapakah orang yang sedang bicara dengan jarak cukup jauh itu?

"Pekerjaan kalian memang patut untuk mendapat penghargaan. Tapi penyelesaian dengan imbalan yang memuaskan masih cukup jauh.... banyak rintangan yang akan kita hadapi. Wilayah Sungai Bilah Hulu saat ini juga sedang menghadapi persoalan yang cukup runyam. Baja Kuning memberi laporan padaku tentang kehadiran seorang pemuda asing dengan kepandaiannya yang cukup tinggi. Nah... untuk sementara waktu kau uruslah putrinya saudagar Legawa itu, aku telah mengutus seorang kurir ke rumahnya untuk menyampaikan surat yang membicarakan masalah tebusan dan kebebasannya."

"Pangeran sendiri hendak kemana....?" tanya Bergawa Hitam dengan perasaan sungkan. Terdengar suara gelak tawa, dari siempunya suara tadi.

"Aku.... he.... he... he...! Sudah barang tentu mau menemui Baja Kuning..... ingin ku tahu seberapa hebatnya orang yang telah begitu berani mencampuri segala urusanku !" jawabnya berwibawa.

"Kami selalu mematuhi apa yang pangeran pesankan pada kami!" ujar Bergawa Hitam. Sebagaimana kedatangannya tadi, kepergiannya pun tanpa kata. Hanya kesunyian alam sekitar sebagai tanda pemilik suara yang disebut pangeran itu sudah tak berada di tempat. Seperginya orang yang nampak begitu dihormati oleh Bergawa Hitam dan kawan-kawannya. Indah Dewi langsung pula menghamburkan kata-katanya.

"Aku seperti mengenal pemilik suara tadi ! Pas-

tilah dia... aku merasa yakin sekali !"

"Dia siapa. ?" sentak Bergawa Hitam, dengan so-

rot mata menyelidik.

"Hemm.... aku yakin dialah orangnya....!" gumamnya lagi seperti pada dirinya sendiri.

"Bekas kekasihmu ?" pancing Bergawa Hitam.

"Keparaaat! Kau tak layak menyebut-nyebut orang itu ?"

"Dua orang itu suaranya sama betul! Mungkinkah orang-orang seperti mereka mau mengerjakan pekerjaan sekeji ini? Atau semuanya ini hanyalah merupakan sebuah perangkap, yang akhirnya menjerumuskan ayah pada jurang kemelaratan....?" batin Indah Dewi mulai merasa was-was.

"Kini mengapa kau diam? Pasti kau mulai merindukan kehangatan suamimu itu?" dengus Bergawa Hitam dengan sesungging senyum mengejek.

"Cacing kurus! Kau benar-benar membuat aku mau muntah... pergilah !"

"Bisa berbuat apakah, kau...! Jangan kira kalau aku mau, aku tak mampu berbuat apa pun atas dirimu !"

"Semua laki-laki memang iblis....!" teriak Indah Dewi dalam kegusarannya.

***

5

Pada saat itu di luar sepengetahuan mereka, dari tempat yang agak tersembunyi. Sepasang mata berkilat-kilat nampak menatap kosong ke arah tenda. Sudah hampir satu jam dia berada di situ mengawasi daerah sekitar dengan pandangan nanar. Ketika dia merasa tiada kelompok lain lagi yang berada di daerah itu, maka melantunlah suaranya bagai bait-bait sebuah syair: ru nya. Hitam darah beku dari goresan luka lama dan ba-

Nyanyian anak unggas, merintih ditinggal induk-

Jiwa hampa meluluh latahkan ganasnya angkara, Yang berdiri di atas jiwa-jiwa merana

Aku kini bukanlah serapuh yang dulu lagi Duduk bersimpuh mengharap kasih raja Tidak juga ketika kasih terhempas dilanda Badai prahdra......

Jiwa ini menjadi suka bertarung melawan maut Dan setiap jiwa pasti akan terenggut Dalam hatiku hanya satu yang kutuntut

Enyahkan angkara murka dengan pedang asmara

Karena diucapkan dengan pengerahan tenaga dalam, maka suara yang ditimbulkannya merambah jauh sampai ke ujung lembah. Sudah barang tentu baik orang yang berada di luar maupun di dalam tenda mendengar suara yang disertai pengerahan tenaga dalam itu. Setelah menotok jalan darah Indah Dewi, maka Bergawa Hitam nampak berkelebat keluar meninggalkan tenda.

"Ada apa....?" tanyanya begitu telah bergabung dengan sebelas orang kawannya.

"Seseorang nampaknya sedang mengawasi daerah kita ini, ketua Bergawa Hitam! Seorang bertelanjang dada dengan sebuah golok besar di tangannya memberi laporan pada Bergawa Hitam.

"Hemm. Kalau begitu, daerah ini telah diketahui oleh orang lain. Ada baiknya kalau kalian periksa siapa kunyuknya yang telah begitu berani mendengar pembicaraan orang....!" kata Bergawa Hitam. Baru saja setindak lima dari sebelas orang itu melangkahkan kakinya menuju tempat persembunyian si pelantun syair. Serta merta dari semak-semak belukar, nampak melesat sesosok tubuh mendekati Bergawa Hitam. Dengan gerakan tanpa menimbulkan suara. Pemuda bertelanjang dada itu menjejakkan kedua kakinya persis di depan Bergawa Hitam. Sekejap pemuda berwajah totoltotol dan berpenampilan dingin itu nampak memperhatikan Bergawa Hitam dan orang-orangnya. Kemudian terlihat dengan jelas, sesungging senyum tipis menghias di bibirnya.

"Bocah muka macan tutul! Berani sekali engkau menunjukkan tampang di depan hidungku....?"  Terdengar suara mendengus, mengisyaratkan rasa ketidaksenangannya.

"Secara kebetulan aku melewati daerah ini !"

jawabnya acuh. Sudah barang tentu sikap yang ditunjukkan oleh si pemuda membuat Bergawa Hitam menjadi tersinggung

"Kalau memang secara kebetulan kau melewati daerah ini. Maka aku mengampuni jiwamu. Untuk itu, cepat-cepatlah kau menyingkir dari hadapanku !"

bentak Bergawa Hitam dengan suara sengaja dikeraskan. Tetapi tingkah si pemuda benar-benar di luar dugaannya. Pemuda berwajah totol-totol itu bukannya bergegas meninggalkan tempat itu, sebaliknya malah kembali tersenyum dingin, sementara sepasang matanya melirik ke arah tenda.

"Aku baru segera berlalu dari daerah ini jika perempuan yang kau sekap itu, kau bebaskan sekarang juga !"

"Kurang ajar...! Dikasih hati malah meminta jantung...! Sungguh keterlaluan...! Bergawa Hitam pasti tak akan mengampuni jiwamu....!" teriak laki-laki berbadan kurus kering ini dengan wajah merah padam.

"Jerangkong hidup! Ha... ha... ha...! Pikirkanlah keselamatan dirimu! Karena aku pun tak akan mengampuni jiwa Setiap orang-orang yang kujumpai !"

geram pemuda bertelanjang baju yang telah sama kita ketahui bernama Andika.

"Cuih! Kalau begitu kau memang ingin mencari perkara dengan Bergawa Hitam....?" Kata laki-laki bersenjatakan Kebutan itu, dengan kemarahan yang sudah tiada terbendung lagi.

"Tak usah banyak mulut! Cepat cabutlah senjata kalian, jika tak ingin mati percuma...!" Tak terkirakan betapa Bergawa Hitam sudah tak mampu menguasai dirinya lagi, serta merta laki-laki bertubuh tengkorak itupun memberi isyarat pada kawan-kawannya. Hanya dalam waktu sekejap, sebelas orang kawan-kawan Bergawa Hitam langsung menyerbu. Pemuda berwajah totol-totol menyambutnya dengan tawa dingin menyeramkan, lalu dilanjutkan pula dengan bentakan mengancam: "Lembah Patah Hati telah begitu jauh ku tinggalkan. Tiada sisa-sisa kenangan terkecuali sebuah duka lama dan sebuah kekecewaan....! Ah, orangorang malang! Betapa Pedang Asmara tak mungkin kembali ke dalam sarungnya, terkecuali telah menghisap darah kalian... nah, bersiap-siaplah kalian untuk mampus !"

"Chaaaat !"

Di awali dengan satu lengkingan panjang, pemuda wajah totol-totol itu langsung melompat dan melakukan tendangan kaki ke bagian tangan lawannya yang memegang senjata. Tendangan kilat itu membuat dua orang yang berada di dekatnya menjerit roboh. Senjata di tangan mental, sedangkan bagian tulang iganya remuk. Gebrakan mematikan yang dilakukan oleh si pemuda membuat Bergawa Hitam terbelalak matanya. Sama sekali dia tiada menyangka pemuda bertelanjang dada itu memiliki kepandaian yang begitu hebat. Sesaat laki-laki kurus itu menjadi lebih terkejut lagi saat mana mendengar jeritan tiga orang kawannya. Tubuh orang-orang itu roboh dengan luka memanjang di depan dada. Sementara dari luka itu tak terlihat adanya darah yang mengalir keluar. Pabila Bergawa Hitam menoleh ke arah si pemuda, maka sebilah pedang berwarna biru kehitam-hitaman nampak tergenggam di tangannya. Pada ujung pedang itu terlihat sisasisa darah yang telah mengering. Yang membuat Bergawa Hitam sangat terkejut, adalah selain pedang di tangan lawannya nampak bergetar, juga pedang itu sendiri mengeluarkan suara mendengung-dengung menggiriskan hati.

"Lima ekor tikus telah mampus! Tapi rasa dahaga pedangku tak kan pernah kunjung berkesudahan sebelum darah kalian dihirupnya !"

"Setan.... keparaaat. !" maki laki-laki kurus ker-

ing. Kemudian segera mencabut senjatanya yang berupa kebutan.

Dengan senjata itu, Bergawa Hitam bersama enam orang lainnya segera pula mengepung Andika dari berbagai jurusan. Tiada kata-kata yang terucap dari mulut laki-laki bertampang dingin itu terkecuali suara angin bersiuran disertai suara mendengung yang berkepanjangan. Sungguh pun Bergawa Hitam dan orang-orangnya telah mengerahkan segenap kemampuannya. Bahkan mereka pun telah pula mempergunakan jurus andalannya masing-masing, sejauh itu mereka masih belum juga mampu menguasai pertarungan. Melihat kenyataan ini, Bergawa Hitam menjadi sangat gusar sekali. Pertama-tama dia putar kebutannya sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah pertahanan yang begitu kuat. Dengan pertahanan seperti itu, Bergawa Hitam sedikit demi sedikit mulai merangsak ke depan. Namun gerakan itu kemudian tertahan, manakala Andika memutar pedangnya ke arah si laki-laki kurus. Semakin lama tubuh Bergawa Hitam semakin terdorong ke depan. Laki-laki kurus itu untuk selanjutnya hantamkan senjatanya untuk membubarkan rebawa aneh yang telah mulai menguasai dirinya.

"Weet..... Breees   "

Tanpa terduga Pedang Asmara di tangan si pemuda menyambut. "Jreees !"

"Uhh !"

Senjata kebutan milik Bergawa Hitam berantakan menjadi serpihan-serpihan kecil dihantam pedang di tangan lawan yang memiliki rebawa aneh itu. Tidak sampai di situ saja, sebaliknya tubuh laki-laki kurus itupun terdorong tiga tindak. Andai saja Bergawa Hitam tidak memiliki tenaga dalam yang kuat sudah pasti tubuhnya terjengkang. Sebelum laki-laki kurus macam jerangkong itu siap dengan posisinya, lagi-lagi terdengar satu jeritan dari mulut dua orang kawannya. Orang itu langsung roboh, kepala mereka nyaris terpisah dari tubuhnya. Sama halnya seperti dialami oleh korban-korban terdahulu. Kali inipun dari bekas-bekas luka itu tak terlihat adanya darah yang mengalir.

"Senjata iblis....!" teriak Bergawa Hitam, dengan wajah pucat. Pemuda wajah totol-totol kembali sunggingkan seulas senyum. Selanjutnya tertawa tergelakgelak: "Ha... ha... ha...! Cacing kurus.... kau lihat Pedang Asmara yang tetap haus dengan darah. Dan kau lihat pula Jurus di Tinggal Kekasih yang ingin kupersembahkan sebagai Kidung Pengantar Maut....

hiaaat....!" Satu teriakan menggelegar menyertai suara mendengung yang ditimbulkan oleh senjata di tangan Andika. Baik senjata maupun tubuh pemuda wajah totol-totol berkelebat lenyap. Hawa aneh dapat dirasakan oleh lawan-lawan si pemuda yang sedang melakukan pengeroyokan. Kembali senjata-senjata jenis lainnya menderu, Andika menyambutnya dengan...

"Traaaang.... Jraas   !"

"Arggkh !"

Senjata di tangan lawannya hancur berkepingkeping, sebaliknya Pedang Asmara di tangan Andika terus meluncur menghantam sisi perut bagian kiri. Kawan Bergawa Hitam yang cuma tinggal satu-satunya keluarkan jeritan tertahan. Laki-laki itu terjengkang dengan isi perut memburai. Kini tinggallah Bergawa Hitam seorang diri, wajah laki-laki kurus itu nampak pucat masai. Tapi nampaknya dia pun tiada pernah merasa putus asa, dengan mengandalkan pukulan Kabut Hitam. Laki-laki berbadan kurus kering itu nampak merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Selanjutnya tubuh Bergawa Hitam nampak tergetar hebat, keringat dingin mengalir membasahi tubuh yang hanya tinggal kulit pembalut tulang. Melihat apa yang dilakukan oleh Bergawa Hitam, Andika kembali tertawa dingin. Pandangan matanya yang berkilat-kilat redup, menatap kosong pada Bergawa Hitam yang sedang berusaha mengerahkan segenap kemampuannya. "Huaaaa.... haa... haa....! Orang-orang sengsara seperti diriku. Kau pasti akan merasa kecewa dengan apa yang kau lakukan....! Pekerjaan yang sia-sia adalah Menanti Kekasih Yang Tak Kunjung Datang....

huaaat....!" teriak Andika sambil hantamkan pedangnya ke arah lawannya. Pada saat yang sama Bergawa Hitam pun hantamkan pukulannya ke arah Andika. Tak dapat dicegah lagi, serangkum gelombang sinar berwarna kelabu nampak melesat sedemikian cepat menyongsong musuhnya. Tapi di luar dugaan Bergawa Hitam, begitu Pedang Asmara di tangan Andika diputar sedemikian cepat, pukulan itu menjadi tertahan, bahkan mulai terasa membalik. Pemuda wajah totol-totol melipat gandakan tenaga dalamnya. Sedikit demi sedikit tubuh Bergawa Hitam nampak mulai terdorong ke belakang. Melihat kenyataan ini, Bergawa Hitam terus mengerahkan segenap kemampuannya. Wajahnya yang kurus cekung itu semakin lama semakin bertambah pucat bagai kehilangan darah. Kini sadarlah dia bahwa kesaktian yang dimiliki oleh lawannya ternyata berada jauh di atas tingkatannya. Sedetik laki-laki kurus itu berpikir, namun detik-detik yang sangat berharga itu dipergunakan oleh lawannya untuk melepas satu pukulan yang diberi nama 'Penantian Sia-Sia'......

"Weeert.... Seeb   !"

Kepulan asap berwarna biru mengawali melesatnya serangkum gelombang pukulan berhawa aneh. Begitu pukulan yang dilepaskan oleh Andika sampai pada sasarannya, tak dapat dihindari lagi. Tubuh kurus kering itu pun terpelanting tujuh tombak. Bagian pahanya menghantam batu cadas sebesar kambing. Batu itu hancur berantakan. Dapat dibayangkan sebenarnya Bergawa Hitam merupakan seorang tokoh yang juga memiliki ilmu sangat tinggi. Namun pada kenyataannya ilmu yang dimiliki oleh Andika melebihi tingkat kepandaian yang dimiliki oleh Bergawa Hitam. Begitupun laki-laki itu cepat-cepat bangkit kembali, namun dalam saat yang sama dengan sekali lompat pedang di tangan Andika yang terus menggeletar mencari sasaran datang menyambut. Satu inci ujung pedang itu mencapai bagian dada Bergawa Hitam. Laki-laki kurus itu hanya mampu membelalakkan matanya, tanpa sempat lagi mengelak dan menangkis.

"Jraaaakgh !"

Tiada keluhan maupun rintihan yang terdengar. Pedang di tangan pemuda wajah totol-totol itu telah merenggut nyawa si kurus. Kali ini luka yang ditimbulkan akibat sambaran Pedang Asmara juga tidak meninggalkan darah. Semakin bertambah dingin tatapan mata si pemuda, pada saat itu terdengar suara teriakan perempuan yang berada di dalam tenda.

"Kakang Andika....!" panggil Indah Dewi dengan kegembiraan yang meluap-luap pengantin baru itu berlari-lari menghampiri.

Tapi pemuda itu mendengus dan bersikap seolaholah tiada mengenali Indah Dewi.

"Kakang... kau sekarang telah menjadi seorang pemuda yang sangat sakti! Tahukah kau selama ini aku sangat merindukan kehadiranmu....?" ucapnya dengan mata berbinar-binar menahan keharuan. Tapi di luar dugaannya, laki-laki berwajah totol-totol itu palingkan mukanya ke arah jurusan lain. Lalu nada suara tanpa perasaan pun terdengar: "Maaf nona! Aku tak pernah mengenalmu! Mungkin kau salah alamat !"

Indah Dewi terbelalak matanya, sama sekali dia tiada menyangka bahwa Andika yang dulu sangat mencintai dirinya kini telah berubah sama sekali. Hatinya pun menjerit, jiwanya protes.

"Kakang, apakah kau masih marah atas kekasaranku dulu padamu....?" tanya gadis itu dengan wajah tertunduk sedih.

"Aku tak mengenal wanita manapun! Aku tak juga mengerti apa yang nona ucapkan!" kata si pemuda tiada bergeming.

"Kau keterlaluan kakang, kau tidak dapat membohongiku, kau pasti kakang Andika!" jerit gadis itu dengan berurai air mata.

"Andika yang dulu telah mati tercabik-cabik belati asmara! Andika yang melarat yang dulu dicemoohkan oleh banyak orang itu telah bunuh diri di Lembah Patah Hati. Dia telah pergi jauh karena merasa tak mampu mengatasi getirnya cinta. Dia memang layak mati, karena hidup tak pernah berpihak kepadanya !" ucapnya bertambah dingin.

"Kakang Andika....!" teriak Indah Dewi histeris. "Mengapa kau berkata seperti itu?" jeritnya lagi.

"Sudah kukatakan aku bukan Andika ! Pergilah

aku telah menolongmu dari cengkeraman tangan mereka !"

"Kakang, sia-sialah penantianku selama ini. !"

"Tiada penantian yang sia-sia! Bahkan nona telah hidup bahagia dengan pemuda pilihan orang tua yang kaya raya. Bukankah benar kata orang tua nona, kebahagiaan itu terletak pada harta benda. Bukan seperti kata-kata almarhum Andika, bahwa kebahagiaan bisa terwujud dengan adanya kasih sayang, kasih mengasihi, dan rasa pengertian yang mendalam." sindir pemuda berwajah totol-totol itu. "Ucapan almarhum Andika itu tak usah nona percaya, kata-kata itu hanyalah sebait syair tembang pengantar tidur orangorang melarat !"

Semakin bertambah perih hati Indah Dewi begitu mendengar kata-kata si pemuda. Sama sekali dia tiada menyangka, bahwa pemuda yang telah begitu mencintainya itu kini telah berubah banyak. Salahkah pemuda itu? Seharusnya dia menyalahkan dirinya sendiri. Dulu dia telah menelantarkan harapan si pemuda, hatinya terlalu angkuh, justru karena dia merasa terlalu diperhatikan. Kini saat-saat hati dan jiwanya membutuhkan orang yang benar-benar dikasihinya itu. Tapi rasa-rasanya harapan yang terpendam selama ini pupus. Melihat wajah dan cara pemuda itu memandang, Indah Dewi cukup mengetahui bahwa Andika memendam kekecewaan yang mendalam.

"Kakang....!" jerit Indah Dewi. Namun begitu dia menoleh, pemuda berwajah totol-totol itu sudah tak ada di tempatnya. Pengantin baru itu sambil menangis terus berusaha mengejar pemuda yang menjadi tumpuan harapannya itu, tapi dia merasa kehilangan jejak, justru karena dia tak tahu ke arah mana pemuda itu berkelebat pergi.

***

6

Sejak menginjakkan kakinya di daerah Sungai Bilah Hulu, membunuh kawanan bajak sungai kemudian melakukan pengejaran atas diri seseorang yang belum dikenalnya. Buang Sengketa di pertengahan jalan merasa kehilangan jejak. Mulai saat itu pemuda berwajah sangat tampan itu telah memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke arah utara. Sepanjang pengembaraan dalam mencari tempat tapa ayahandanya itu, berbagai hambatan datang silih berganti. Dunia persilatan bukanlah sebuah kalangan yang dipenuhi keramah tamahan. Itu cukup dia sadari, hanya karena berkat bekal ilmu kepandaian yang cukup. Yang diwariskan oleh almarhum gurunya, yaitu kakek Bangkotan Koreng Seribu. Hingga sampai saat kini pemuda keturunan Raja Ular Piton Utara dari negeri Bunian (gaib) itu masih bertahan hidup. Begitu-pun terkadang terlintas dalam pikirannya, haruskah sepanjang sisa-sisa hidupnya dia terus melakukan pengembaraan itu? Kenyataannya tempat tapa ayahandanya sangat sulit ditemukan. Sepanjang pesisir pantai telah dia telusuri. Bahkan sekali waktu dia pun tanpa segan-segan menyelami dasar lautan. Tak terdapat seekor ular piton raksasa bertapa di sana. Ular-ular yang dijumpainya hanyalah ular kecil, pendek, bahkan tiada berbuntut. Ular biasa itu bukanlah ayahandanya.

"Beet. !"

Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh, pemuda berkuncir itupun melesat ke atas dahan salah sebuah cabang pohon yang berukuran besar. Detik selanjutnya pemuda itu telah pula menyandarkan tubuhnya di cabang pohon tadi. Mulutnya menguap beberapa kali. Iseng dibukanya periuk besar yang menggelantung di bagian pinggangnya. Sekejap, pemuda itu telah mencomot beberapa potong dendeng ikan lumbalumba yang dibuatnya sendiri. Sepotong demi sepotong, dendeng ikan yang sangat lejat itu telah pula memasuki tenggorokannya

"Uaoooo   ! Kalau sudah kenyang begini, rasanya

aku ingin tidur saja. Hidup kalau dipikir-pikir mana ada habisnya. Yang susah ingin hidup senang. Yang kaya ingin bertambah kaya, bandot tua sudah punya bini satu, juga ingin nambah satu, dua tiga sampai sepuluh." Berkata begitu, tiba-tiba pemuda berwajah tampan itu tersenyum-senyum kayak orang senewen. "He... he... he   ! Aku sendiri juga belum kawin? Punya

pacar pada mati semua. Tapi....!" kata Buang Sengketa, seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Gadis itu begitu cerdik, wajahnya juga cantik. Gadis yang penuh pengertian! Aku yakin setiap pemuda pasti suka padanya. Sifatnya juga keibuan. Sangat jarang di jaman ini gadis bersipat seperti dia, kebanyakan baru pacaran saja sudah berani membentak-bentak.... he...

he... he   ! Mungkin Wanti Sarati sudah berjodoh den-

gan orang lain. Sungguh pun aku selalu merindukan kehadirannya, tapi biarlah. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan-nya !" gumam pemuda itu sendu.

Ketika Pendekar Hina Kelana sedang melamun seorang diri di atas pohon itu. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar suara isak tangis. Sayupsayup kedengarannya. Pemuda itu nampak menyapu pandang ke arah sekelilingnya. Tapi dia belum melihat adanya orang lain di sekitar tempat itu. Namun ketika Buang Sengketa menoleh ke arah lain, maka terlihatlah sesosok tubuh berjalan tersaruk-saruk dengan wajah tertunduk, sekali dua perempuan itu menyeka air matanya yang bergulir di pipi. Melihat keadaan perempuan itu, Buang dapat memastikan pastilah dia seorang anak orang berada. Tapi yang membuat si pemuda merasa keheranan mengapa perempuan itu, berkeliaran di tempat yang sunyi seorang diri? Padahal selain binatang buas. Bukan tak mungkin sewaktuwaktu orang jahat berkeliaran pula di tempat itu. Sejauh itu, sungguh pun hatinya diliputi oleh rasa keingintahuan, namun dia masih tetap berada di tempatnya. Hingga pada akhirnya terdengar juga suara si wanita: "Kakang Andika ! Begitu tega kau meninggalkan

diriku, aku menyadari sikapku yang dulu padamu. Tapi mengapa kini kau malah pergi begitu saja...?" rintih si gadis, dengan dada terasa menyesak.

"Kalau begini rasanya aku ingin mati saja, kakang Andika !" ucap si gadis. Tiada diduga-duga gadis

itu mencabut sebilah keris berlekuk tiga dengan ukurannya yang sangat pendek. Dengan kedua tangannya, digenggamnya senjata berwarna hitam itu erat-erat. Secara perlahan senjata itupun mulai terangkat tinggitinggi. Buang Sengketa nampak membelalakkan matanya, ketika senjata itu terayun ke bawah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuh Buang Sengketa melesat sedemikian cepat dari tempat persembunyiannya.

"Selamat tinggal, kakang Andika...?" Senjata itu terayun deras. Dengan ujung tangannya, si pemuda menyentil ujung tangan si wanita.

"Wuus !"

"Tuuuk !"

Satu totokan yang begitu telak, tepat mengenai sasarannya. Wanita yang bernama Indah Dewi itupun mengeluh. Tangannya kaku dalam keadaan tertotok. Menyadari keadaan dirinya sendiri, dan melihat apa yang baru saja akan dilakukan oleh si wanita, diamdiam Buang Sengketa merasa geli sendiri.

"Dunia tidak selebar daun kelor, nona...! Kematian yang paling sia-sia adalah kematian dengan cara menganiaya diri sendiri !" kata si pemuda sambil ter-

senyum-senyum. Sebaliknya begitu usahanya ada yang menggagalkan perempuan yang bernama Indah Dewi itu nampak sangat marah sekali.

"Pemuda gemblung...! Berani sekali kau mencampuri urusanku !" sengatnya dengan mata melotot. "Mati dengan cara bunuh diri adalah cara yang sangat keji. Dewata pasti akan mengutuk setiap tindakan seperti itu !" jawab si pemuda begitu tenang.

"Huh... apa pun yang kulakukan itu hakku! Tak pantas kau mencampuri urusan orang lain !" bentak

Indah Dewi. Sementara kedua tangannya yang tertotok masih tetap dengan posisinya.

"Apa yang kau katakan itu memang benar! Selamanya aku tak pernah mencampuri segala macam urusan orang lain. Tapi karena kejadian ini di depan mataku, masa aku harus tinggal diam menyaksikan kematian yang menyesatkan itu....!" Semakin memerahlah paras Indah Dewi mendengar kata-kata si pemuda. Kemudian dengan kemarahan yang meluapluap, pengantin baru ini bermaksud menyerang si pemuda dengan mempergunakan kerisnya. Namun begitu sadar tangannya tidak dapat dia gerakkan, perempuan itupun merasa putus asa. Sambil menghentakhentakkan kakinya, Indah Dewi keluarkan kata-kata kasar.

"Gembel keparat. Bebaskan totokan ini, aku pasti akan membunuhmu.... cepat bebaskan....!" jeritnya tertahan-tahan.

"Tak perlu kau meronta-ronta seperti itu, nona....

Aku pasti akan membebaskan dirimu. Tapi sebelumnya, cobalah sadari apa yang baru saja hampir kau perbuat." ujar si pemuda setengah menggurui.

"Kau jangan coba-coba mengajariku. Aku merasa hidup lebih lama lagi bagiku merupakan sebuah siksaan yang terlalu menyakitkan.

"Kau merasakannya begitu, aku pun yakin bahwa orang yang kau sebut-sebut itu mengalaminya lebih dari sekedar yang kau rasakan....!" kata Buang Sengketa. Selanjutnya dia menambahkan lagi: "Nona. Sudahlah, jangan kau ingat-ingat tentang sesuatu yang menyakitkan. Pulanglah kepada orang tuamu, jalan hidupmu masih terlalu panjang...!" kata si pemuda menasehati. Indah Dewi nampak terdiam dengan wajah menunduk. Apa yang baru saja dikatakan oleh si pemuda memang masuk di akalnya. Tetapi bila dia teringat pada kedua orang tuanya. Tiba-tiba jiwanya menjadi berontak. Tanpa sadar Indah Dewi gelenggelengkan kepalanya.

"Aku tak mau pulang! Orang tuaku selain akan menghukumku, aku juga tak sudi bertemu dengan laki-laki yang bernama Lesmana itu...!" sungut si gadis, dengan sepasang mata memancarkan rasa kebencian.

"Apakah kau sudah bersuami...?" tanya Buang Sengketa konyol. Sesaat wajah Indah Dewi berona merah: "Aku memang sudah bersuami, bahkan dia anaknya Tumenggung Jayeng Rono... tapi aku tak pernah mencintainya. Dan ternyata dia pun tak pernah mencintaiku....!" ujar si gadis. Alis si pemuda nampak mengerenyit, seperti yang dia dengar Tumenggung Jayeng Rono adalah orang yang berkuasa atas daerah tertentu. Semuanya atas titah sang Raja. Berdasarkan atas sebuah kepercayaan yang penuh. Kalau gadis itu sampai mendapat kehormatan menjadi istri putra seorang Tumenggung. Sudah dapat dipastikan bahwa orang tua si gadis tentu merupakan orang yang terpandang di tengah-tengah masyarakatnya.

"Siapakah orang tuamu...?" Indah Dewi merasa heran dengan pertanyaan yang diucapkan oleh si pemuda, sekejap pandangan matanya nampak meneliti pada Buang, Tapi akhirnya dia menjawab juga. "Orang tuaku bernama saudagar Legawa !"

"Saudagar Legawa! Hmm. Rasa-rasanya aku pernah mendengar nama itu...!" ujar si pemuda, teringat tentang pembicaraan para bajak sungai beberapa hari yang lalu. "Apakah kau kabur dari rumah, untuk menghindari suami yang tidak kau cintai?"

"Beberapa orang tak kukenal telah menculikku seusai pesta perkawinanku!" jawab Indah Dewi tanpa malu-malu.

"Tapi kini kau bebas berkeliaran sampai ke sini....!" gumam si pemuda seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Indah Dewi. Tiba-tiba perempuan itu kembali menangis, suaranya pun menjadi serak. Mungkin sepanjang perjalanan yang dilaluinya dia terlalu banyak mencucurkan air mata sehingga kini akibatnya mulai terasa.

"Maafkan aku! Sungguh aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu...?!" kata si pemuda dengan perasaan menyesal.

"Tidak. Aku hanya merasa sangat kecewa dengan sikap orang yang sangat kukasihi itu. Padahal dialah yang telah membebaskan aku dari tangan orang-orang yang menculikku !"

"Apakah dia meninggalkan dirimu....?" tanya Buang Sengketa dengan penasaran sekali.

"Dia bukan saja hanya meninggalkan aku begitu saja, tapi dia juga bahkan mengaku tak mengenal diriku !" jerit Indah Dewi pilu.

"Mungkin orang yang kau cintai itu pernah merasa sangat kecewa. Sehingga dia bersikap seperti itu....?!" Sela Pendekar Hina Kelana bagai seorang ahli nujum. Indah Dewi hanya menganggukkan kepalanya pelan, dia memang tidak menyangkal kebenaran katakata yang baru saja diucapkan oleh si pemuda. Selanjutnya tanpa sungkan-sungkan lagi Nyonya muda itu menceritakan segala sesuatunya pada si pemuda yang baru saja dikenalnya. Setelah Buang Sengketa mengerti duduk persoalan yang sebenarnya. Tak lama kemudian dia pun mengajukan satu pertanyaan. "Nampaknya sampai saat ini kau begitu mencintainya, sedangkan seperti apa yang kau katakan pemuda itu tidak mencintaimu lagi. Mungkin juga sakit hati. Tapi apakah kau tidak ada niat untuk berusaha mencintainya....?" tanya Buang Sengketa. Sepasang mata Indah Dewi nampak membelalak lebar, sebuah kebencian yang begitu mendalam nampak menggurat di wajah yang kemerah-merahan itu.

"Siapa sudi! Daripada aku harus bertemu dengan laki-laki kasar seperti Lesmana itu, lebih baik aku mampus....!" teriak Indah Dewi, lalu meronta-ronta. "Lepaskan totokan terkutuk ini... cepat lepaskan !"

"Totokan sebentar lagi akan dilepas ! Tapi harap

kau bersikap tenang !

"Sedari tadi kau mengatakan mau membebaskan totokan terkutuk sial ini. Tapi mana pelaksanaannya.... jangan-jangan kau merupakan begundalnya Lesmana!"

"Jangan gegabah, aku bukan suruhannya siapapun percayalah. Aku hanya seorang pendatang di si-

ni !"

"Kalau begitu cepat bebaskan totokan ini ?" pe-

rintah Indah Dewi.

"Apakah kau masih ingin membunuh diri ?"

tanya si pemuda merasa sangsi.

"Pemuda ceriwis! Cepat kau bebaskan... aku segera pergi dari daerah ini....!" Tanpa berkata-kata lagi, Buang Sengketa langsung membebaskan totokan yang terletak di bagian pergelangan tangan Indah Dewi. Setelah merasa terbebas dari totokan itu, selanjutnya tanpa berkata apa-apa lagi perempuan itupun berlalu begitu saja. Dari tempatnya berdiri, si pemuda terus mengawasi langkah perempuan itu, hingga sampai pada akhirnya Indah Dewi pun lenyap dari pandangan matanya. "Karena patah hati, perempuan nekad bunuh diri.... ! Tapi ada baiknya kalau kubayangi perempuan itu dari jarak jauh. Aku merasa begitu yakin sesuatu pasti bakal terjadi atas dirinya....! gumam Pendekar Hina Kelana. Akhirnya dengan gerakan yang sangat ringan, pemuda itupun berkelebat pergi.

***

7

Udara berkabut mengiringi perjalanan berkuda yang dilakukan oleh saudagar Legawa dan tujuh orang pembantu utama. Perjalanan berulang itu dilakukannya sudah hampir tiga minggu lebih. Sejauh itu usahanya untuk mencari putrinya yang dianggapnya telah dilarikan oleh Andika, masih kelihatan belum ada tanda-tanda mendatangkan hasil. Sementara perjanjian penyitaan harta kekayaan yang akan dilakukan oleh pihak Katemenggungan hanya tinggal seminggu lagi. Dapat dibayangkan betapa ruwetnya masalah yang sedang dihadapi oleh saudagar Legawa saat itu. Dia sudah berpikir andai dalam waktu satu minggu ini saudagar itu tak dapat menemukan Indah Dewi maupun Andika, sudah pasti semua harta kekayaan yang dimilikinya menjadi milik Lesmana. Dalam menghadapi masalah rumit seperti itu, satu yang tak pernah terpikirkan oleh Legawa, adalah mengenai benar tidaknya apa yang dikatakan oleh anak Tumenggung Jayeng Rono. Yang mengatakan bahwa pada saat malam pertama istrinya sudah tak memiliki kehormatan lagi. Hal ini oleh pihak keluarga Tumenggung Jayeng Rono dianggap merupakan satu penipuan keji yang tak pantas dilakukan oleh keluarga kalangan terhormat. Satu sisi dan merupakan kunci dari maksudmaksud keji demi untuk mengangkangi harta benda saudagar itu, telah dilakukan oleh Lesmana. Tapi siapakah yang dapat mengungkap tabir kebusukan yang sedang dilakukan oleh Lesmana, selain Indah Dewi sendiri? Hal inilah yang tak pernah disadari oleh saudagar Legawa. Apa yang ada dalam pikiran saudagar itu adalah bagaimana caranya agar harta bendanya dapat terhindar dari penyitaan yang akan dilakukan oleh pihak Katemenggungan? Bagaimanapun caranya dalam waktu yang hanya tinggal enam hari itu, sedapat mungkin dia harus bekerja keras untuk menemukan Indah Dewi, kalaupun nantinya dia berjumpa juga dengan Andika. Maka dia telah memutuskan untuk membunuh pemuda itu, bahkan untuk, lebih puasnya dia akan cincang pemuda itu.

Demikianlah siang itu mereka telah sampai di sebuah lereng gunung. Udara di daerah itu terasa dingin menusuk. Namun rombongan Legawa yang sudah diliputi perasaan tegang nampak sudah tak menghiraukan keadaan seperti itu. Sejenak rombongan berkuda yang dipimpin langsung oleh Legawa nampak menghentikan laju kuda tunggangan. Berpasang-pasang mata terus memperhatikan daerah sekitarnya. Tiada tanda-tanda sesuatu apa pun yang mencurigakan. Mereka sudah hampir meneruskan perjalanannya kembali, saat mana saudagar melihat adanya bayangan dua buah titik dari arah berlawanan menuju ke arah mereka. Legawa menyipitkan sebelah matanya untuk memastikan secara lebih jelas, siapakah adanya dua orang itu. Karena jarak mereka masih terlalu jauh, maka Legawa tidak dapat mengenali dengan jelas dua orang pejalan kaki ini. Selanjutnya sambil memberi isyarat pada para pembantunya, Legawa memutuskan untuk menunggu orang-orang itu sampai mendekat pada posisi mereka.

Setelah berlompatan dari atas punggung kudanya masing-masing, rombongan berkuda itupun bersembunyi di satu tempat yang agak terlindung. Setelah menunggu dengan waktu yang agak lama, dua orang pejalan kaki itu pun sudah dapat dilihat dengan jelas. Yang seorang merupakan pemuda tampan dengan pakaiannya berwarna merah, sedangkan yang seorang lagi merupakan seorang perempuan berusia muda yang pasti sudah sangat dikenal oleh Legawa. Dengan hati berdebar bercampur rasa amarah, saudagar kaya raya itu menanti kedatangan mereka.

"Tuan    orang itu telah sampai! Salah seorang di

antaranya ternyata merupakan putri tuan !" lapor sa-

lah seorang yang berada begitu dekat dengan saudagar Legawa.

"Aku telah melihatnya! Kita dapat memulainya sekarang....!" kata laki-laki setengah umur ini. Lalu dengan sekali lompat, maka tubuh Legawa dan tujuh orang lainnya telah mengurung dua orang itu. Orang yang paling pertama merasa terkejut atas pengepungan itu adalah Indah Dewi. Bahkan di luar kesadarannya dia keluarkan seruan tertahan: "Ayah !"

"Herrgk....! Anak kurang ajar, bikin sengsara orang tua...!" sentaknya marah. Lalu dengan sekali berkelebat. Maka tangan Indah Dewi pun telah berhasil dia raih. Pengantin baru itupun meronta, hal ini hanya membuat Legawa menjadi marah sekali.

"Anak kampret tak tahu diuntung, bisanya hanya bikin malu orang tua saja !"

"Tuan..... maafkan aku! Sebenarnya aku bukan bermaksud mengguruimu, tapi kalau menurut apa yang dikatakan oleh putrimu. Sebenarnya tuan selama ini telah keliru dalam memandang sebuah masa depan. Tahukah tuan siapa pemuda yang bernama Lesmana itu?"

"Kurang ajar! Siapakah engkau ini budak hina...? Mulutmu yang lancang itu begitu beraninya menggurui manusia terhormat sepertiku...?" Bentak Legawa dengan pandangan liar penuh amarah.

"Aku hanya seorang pengembara biasa, tuan! Hanya secara kebetulan saja aku menemukan putrimu yang hampir mengakhiri hidupnya secara menyedihkan....!" kata Buang Sengketa tanpa bermaksud melebih-lebihkan. Mendengar keterangan si pemuda, saudagar Legawa terbelalak bagai tak percaya. Bagaimana mungkin? Selama ini dia cukup mengenal bagaimana perangai anak satu-satunya yang selalu menurut apa yang diperintahkan oleh orang tuanya. Apa yang dikatakan oleh pemuda berpakaian kumuh itu sebagai satu hal yang tak dapat diterima oleh akal sehatnya. Bukan tidak mustahil pemuda berperiuk itu hanya mengadaada.

"Mulutmu tak bisa kupercaya, bocah! Bahkan aku mulai merasa yakin kaulah yang telah membawa lari putriku...!"

Buang Sengketa gelengkan kepalanya berulangulang, ketika dia baru akan mengatakan sesuatu, Indah Dewi mendahului: "Ayah! Tuduhan ayah tidak beralasan sama sekali. Yang menculikku adalah belasan orang yang tidak kukenal... tapi kini orang-orang itu telah tewas di tangan 'Satria Pedang Asmara' !"

"Satria    Pedang    Asmara?     Siapakah dia   ?"

tanya Legawa acuh. Mendengar pertanyaan orang tuanya, sudah barang tentu Indah Dewi merasa terpojok. Masih untung Buang Sengketa tahu membaca gelagat. Maka tanpa merasa ragu lagi pemuda itupun menyambung: "Satria Pedang Asmara adalah seorang sahabatku dari Lembah Patah Hati....!" saudagar Legawa terdiam, sebentar-sebentar memandang tajam pada si pemuda, namun di saat lain beralih pula pada putri tunggalnya. Dalam hati mungkin laki-laki setengah baya ini dapat menerima semua penjelasan pemuda maupun putrinya sendiri. Tapi manakala dia teringat tentang ancaman Tumenggung Jayeng Rono dan keselamatan harta bendanya. Maka rasa percaya itupun lenyap begitu saja. Kini dengan pandangan tajam, ditatapnya wajah putrinya. Lalu sebuah pertanyaan yang tiada terduga-duga oleh Indah Dewi pun menyambutnya bagai sebuah tamparan yang sangat keras:

"Menurut Lesmana! Kau... kau telah kehilangan kehormatanmu saat malam pertama?" tanya saudagar Legawa dengan suara bergetar karena menahan berbagai goncang-an jiwa yang begitu hebat. Bukan saja Indah Dewi yang berubah parasnya demi mendengar ucapan itu, namun juga si pemuda merasa tak enak hatinya.

"Dusta. Anjing Lesmana merupakan laki-laki biadab, iblis berkedok manusia yang pantas untuk dicincang....!" teriak Indah Dewi histeris. "Dia bukan laki-laki baik. Bahkan lebih pantas kalau disebut sebagai seorang pemerkosa. Aku diperlakukannya tak lebih dari pada seekor hewan. Tapi tak mengapa agar ayah dan ibu menjadi puas. Tapi ayah! Aku juga bukan perempuan bodoh, aku tahu dengan segala rencana liciknya. Dia bermaksud untuk mengangkangi semua harta kekayaanmu, bahkan bajingan anak tumenggung terhormat itu kuketahui telah bekerja sama dengan puluhan tokoh golongan hitam. Manusia terhormat seperti itukah yang kau inginkan menjadi mantumu ayah?" tukas Indah Dewi hampir putus asa.

"Dewi! Mulutmu terlalu berlebihan....! Dapatkah kau pertanggungjawabkan apa yang kau katakan itu...?" "Huh....! Semua yang telah kukatakan itu sudah pasti dapat kupertanggungjawabkan. Lesmana bilang pada ayah, pada saat itu aku sudah tiada memiliki kehormatan lagi, sebagai bukti atas kelicikannya akan kujawab dengan ini...!" Berkata begitu Indah Dewi mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Benda yang dikeluarkan oleh Indah Dewi kiranya hanya merupakan sobekan kain berwarna putih bersih, tapi pada kain itu terdapat sebuah noda merah bekas sisasisa darah yang telah mengering. Semua orang yang berada di tempat itu pasti mengetahui makna yang terkandung dalam kata-kata putri saudagar Legawa. Tak lain darah yang melekat pada kain berwarna putih itu adalah darah kehormatan seorang gadis.

"Masihkah ayah tak percaya dengan apa yang telah kuperbuat ini! Lesmana ternyata memang manusia licik. Tapi hanya ayah dan ibu saja yang kena dilicikinya !"

"Kurang ajar!" geram Legawa dengan rahang tertutup rapat. "Aku hampir saja tertipu mentah-mentah! Tapi bagaimana ini? Keluarga Katemenggungan pasti

tak mau terima begitu saja, Tumenggung Jayeng Rono adalah orang yang paling sayang pada putranya. Sudah pasti dia pun tak mungkin mau percaya dengan bukti-bukti dari pihak keluarga kita?" kata Legawa harap-harap cemas.

"Apakah mereka akan menyita kekayaan milikmu, tuan...?" tanya Pendekar Hina Kelana begitu berhati-hati.

"Begitulah kenyataan yang akan terjadi...,?" desah saudagar gila kehormatan itu dengan suara hampir-hampir tak terdengar.

"Dan tuan merasa tak kuasa mencegah maksudmaksud mereka. ?" tanyanya lagi secara lebih jauh.

"Aku hanya seorang bekas murid perguruan. Status ku yang sekarang cuma seorang saudagar yang hanya mampu menghitung laba-rugi. Kalau pun aku membangkang, mereka memiliki sejumlah pengawal yang rata-rata berkepandaian sangat tinggi. Oh... dasar nasib mau bangkrut. Pasti ada-ada saja penyebabnya !"

"Masih banyak jalan untuk mencegah tindakan yang sewenang-wenang itu, tuan !" ujar Buang Seng-

keta seperti memberi harapan. Kata-kata pemuda berpakaian kumuh itu, sudah tentu menarik perhatian saudagar Legawa yang memang tidak menginginkan hartanya tersita begitu saja.

"Kalau aku sanggup membantu dalam menyelesaikan persoalanmu itu, apakah kau bersedia memberiku satu imbalan sesuai dengan apa yang kuinginkan, tuan ?" pancing si pemuda.

"Apakah kau bisa diandalkan dalam menyelesaikan masalah yang sedang kuhadapi sekarang ini ?"

"Mungkin aku mampu.....!" saudagar Legawa tersenyum mencemooh: "Tahukah kau siapa yang bakal kuhadapi itu?"

"Aku tahu !"

"Kalau hanya bersipat untung-untungan, pasti kau juga sudah mengerti bagaimana akibat yang ditimbulkannya andai usaha itu sampai gagal....!" ujar laki-laki setengah baya itu serius.

"Tumenggung pasti akan menggantung kita semua. !" saudagar Legawa nampak angguk-anggukkan

kepalanya.

"Betul! Tiang gantungan pasti menunggu kita! Kalau kau sudah mengetahuinya, masih jugakah kau membantuku?"

"Sudah kukatakan, aku tetap akan membantumu !" kata pemuda itu pasti. itu?" "Kalau begitu, coba katakan apa keinginanmu

"Aku tak bisa mengatakannya sekarang, tapi nanti andai semuanya telah kukerjakan dengan baik, aku baru mengatakan keinginanku itu...!" Lagi-lagi, Legawa anggukkan kepala tanda setuju. Tak berapa lama setelahnya dia memberi perintah pada pembantunya untuk mengambil kuda yang sengaja mereka sembunyikan tak begitu jauh dari tempat mereka berada.

"Waktu yang tersisa, lebih kurang hanya tinggal enam hari lagi. Kita masih mempunyai kesempatan untuk menyusun semua rencana yang cukup penting. Untuk itu alangkah baiknya kalau sekarang ini kita berangkat menuju rumah kediamanku...!"

Selanjutnya berangkatlah rombongan berkuda itu dengan disertai oleh Buang Sengketa dan Indah Dewi menuju ke tempat tinggal saudagar Legawa yang jaraknya kira-kira setengah hari perjalanan berkuda.

***

8

Dalam gelapnya malam, pemuda berwajah totoltotol itu nampak berjalan meleng-gang. Tubuhnya yang bertelanjang dada telah pula basah dengan tetesantetesan embun malam. Sepintas lalu dia seperti tidak merasakan dinginnya angin malam yang terasa menggigit. Entah apa yang dicarinya di sekitar tempat itu, yang pasti sepasang matanya yang selalu membersitkan kehampaan itu memandang nanar pada situasi di sekelilingnya. Matanya terus mencari-cari dalam kegelapan malam yang tiada berbintang itu. Lalu ketika sudah sampai di sebatang pohon yang cukup besar, dengan gerakan seringan kapas.

"Heeuuup! Teep !"

Sekali berkelebat tubuhnya telah mendarat di atas ranting pohon yang besarnya tak lebih dari pangkal lengannya sendiri. Sama seperti apa yang dilakukannya ketika berada di bawah tadi. Kali inipun dia memandang ke arah sekitarnya.

"Kalau kuhitung-hitung, berbagai komplotan yang ada jumlahnya lebih dari tujuh kelompok. Tapi mereka memiliki satu ketua yang mereka sendiri tak mengenalnya. Mengherankan? Mungkin orang yang disebut-sebut sebagai ketua itu adalah orang berselubung topeng yang kukejar-kejar tempo hari. Dan pemuda berkuncir itu sekarang ini telah pula bergabung dengan saudagar Legawa! Aku jadi curiga padanya, yang ku tahu dia mulai terlibat dalam urusanku. Sekali waktu aku ingin menjajal seberapa hebatnya kepandaian yang dimilikinya...!" batin Andika tersenyum sinis.

"Tapi... hehh....! Ada baiknya kalau kuselesaikan pekerjaanku yang satu ini! Aku mulai curiga ada kalangan tertentu yang turut terlibat secara tak langsung dalam berbagai kejahatan yang terjadi. Orang-orang katemenggungan, itu mungkin saja!" Pemuda berwajah totol-totol itu nampak memanjat dahan pohon lebih tinggi lagi, setelah sampai di ujung dahan yang berukuran sangat kecil dia pun berhenti di situ.

"Heh....!" Sepasang mata si pemuda membelalak dalam keterkejutannya: Pandangan matanya kemudian tertumpu pada satu arah.

"Tadi aku tidak melihat adanya cahaya lantera di sana! Tapi sekarang cahaya itu ada? Aku yakin orangorang yang tadi sore itu kutemui di pinggiran hutan ini pastilah ada sangkut pautnya dengan lentera itu! Alangkah lebih baik lagi  kalau kudekati  saja mereka !"

"Heeiiit !"

Dari atas pohon yang cukup tinggi itu, tubuh Andika nampak melayang laksana terbang. Kemudian di sela-sela ranting pohon lainnya, tubuh pemuda wajah totol-totol itu berkelebat ringan. Semakin lama jarak antara lantera dengan dirinya semakin bertambah dekat. Sampai pada akhirnya semuanya terlihat dengan jelas.

"Ha...!" Pemuda berwajah totol-totol itu belalakkan matanya. Sekawanan orang-orang bercadar hitam nampak mengerumuni sebuah pelita yang berukuran cukup besar. Dalam kesunyian malam itu, terdengar pula suara gumaman yang tak begitu jelas. Sepertinya bagai orang yang sedang memanjatkan doa. Yang membuat Andika keheranan adalah karena hampir seluruh wajah bercadar itu nampak coreng moreng hingga sulit untuk membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Andika menjadi tertarik untuk menyaksikan kejadian selanjutnya.

"Aku harus tahu apa yang sedang mereka lakukan di tempat ini!" Batinnya.

Sang waktu berlalu bagaikan roda pedati, semuanya terjadi begitu lambat. Orang-orang bercadar dengan jubah hitamnya yang menjela sampai menyentuh tanah. Kiranya terdiri dari kaum laki-laki dan wanita. Andika terus menanti dengan sabar namun hati sedikit tegang. Detik berikutnya, di antara kerumunan orangorang bercadar hitam yang mengelilingi lantera itu. Nampak menyeruak sosok tubuh ramping, sama seperti yang lain-lainnya. Orang itupun pada bagian wajahnya coreng moreng dipenuhi angus. Sembari menadahkan kedua tangannya ke atas, lalu terdengarlah suaranya yang halus dan kecil. Pemuda wajah totoltotol itu dapat memastikan tubuh ramping yang berdiri tegak dekat lantera itu pastilah seorang wanita: batu Kepada mambang dan peri yang tinggal di atas

Kepada iblis yang berkuasa atas pohon-pohon kehidupan

Hadirkan di tengah-tengah kami seorang pemim-

pin

Atas jiwa-jiwa yang patah tak bersemangat

Dewa asmara dan dewi surga Bimbinglah.....

Kami dari kegelisahan yang panjang

Di sini orang-orang tersisih dan disisihkan berada Hadirkan seorang pemimpin pada jiwa yang sama

Kami mendambakan kehadirannya selalu Kami yakin atas kedatangannya....

Dia telah begitu dekat Dan dekat sekali

Pada jiwa yang patah yang hampir putus asa Kehadirannya membawa sebilah pusaka Pedang

Asmara

Dari Lembah Patah Hati dia berasal

Sang pemimpin yang kami damba....

Jurus Pedang Asmara tingkat pembuka Ditinggal Kekasih awal dari kematian

Menanti Kekasih Tak Kunjung Datang adalah luka tanpa darah

Hidup Hampa kehidupan yang ada musnah tanpa karena.... Bergidik bulu kuduk Andika demi mendengar kata-kata yang diucapkan oleh perempuan bercadar yang diikuti oleh kawan-kawannya yang lain. Saat itu dia masih menyadari apa yang disebut-sebut oleh mereka tak lain merupakan dirinya sendiri. Siapa lagi orang yang berasal dari Lembah Patah Hati dengan membawa Pedang Asmara dan empat jurus Pamungkasnya terkecuali dirinya sendiri. Andika memang sedang berada di persimpangan jalan kebimbangan saat itu. Mengikuti suara hati kecilnya dia sudah bertekad, walau pun dia pernah dilanda sakit hati dan dendam, dia bertekad untuk tetap berada pada jalan yang lurus. Namun pada saat yang, sama suara bisikan-bisikan lain yang begitu berpengaruh terus datang menggoda. Bahkan semakin lama bisikan-bisikan gaib itu terasa menguasai jiwanya.

"Kau adalah pemimpin kami Satria Pedang Asmara! Kehadiranmu benar-benar dibutuhkan oleh orangorang segolongan dengan dirimu.... Kau adalah pemimpin yang tiada tanding. Jadilah pemimpin kami, dan kau akan memperoleh segala-galanya. Jadilah... karena sorga itu ada pada mereka....!" kata suara gaib itu semakin terasa mengusik hatinya. Bagai dihipnotis, Andika merasa tergetar hatinya. Tanpa disadarinya, iblis mulai bercokol di dalam hati si pemuda. Sebuah kebenaran yang berusaha dia pertahankan selama ini musnah begitu saja. Mulai detik itu, jiwa angkara murkalah yang memegang kendali di atas hati nurani.

"Sang pemimpin. Mengapa musti sung-kansungkan dan bersembunyi di tempat itu? Kami sejak lama sering mendambakan kehadiranmu. Setelah kini kau datang, cepatlah mendekat. Kami segera menghormatimu....!" kata perempuan bercadar dengan wajah coreng moreng ini sambil melirik ke satu arah di mana Andika bersembunyi. Sepasang mata Andika yang selalu menatap hampa itu nampak berkilat-kilat. Seluruh pembuluh darahnya menegang. Kata demi kata yang diucapkan oleh perempuan bercadar dengan jubah hitamnya yang menjela-jela sampai menyentuh tanah itu memang benar-benar mengandung kekuatan gaib yang sangat tinggi. Suara itu memang mampu mempengaruhi hati siapa saja, tak terkecuali hati Andika sendiri.

Beberapa detik kemudian tanpa merasa ragu lagi, pemuda berwajah totol-totol itu menyeruak dari tempat persembunyiannya. Kemunculan Andika membuat orang-orang yang sedang berada di tempat itu nampak menjatuhkan diri. Wajah mereka berada di atas permukaan tanah. Ini adalah satu penghormatan pertama bagi kelompok pemuja setan buat Andika yang selalu mereka sebut-sebut sebagai seorang pemimpin. Semakin bertambah dingin saja tatapan mata si pemuda, di luar dugaan pemuda itu. Perempuan bercadar yang sejak tadi memimpin upacara itu dari arah belakang langsung kirimkan satu pukulan jarak jauh yang begitu dahsyat.

"Buuees !"

Orang-orang yang tadinya menghaturkan sembah atas kehadiran Andika, sekarang lenyap begitu saja. Pemuda wajah totol-totol ini sudah barang tentu menjadi keheranan. Tapi sebelum rasa keheranannya itu lenyap. Andika merasakan adanya sambaran angin yang sangat dingin menyengat bagian punggungnya. Pemuda itu mengempos tubuhnya, bagai karet yang sangat lentur. Tubuh pemuda bertelanjang dada itupun melenting ke udara. Pukulan yang dilepas oleh si jubah hitam bercadar dengan wajah coreng moreng itupun luput. Tapi pukulan lain yang dilepas oleh si tubuh ramping menyusul mengikuti bergeraknya tubuh si pemuda. Geram bercampur marah, Andika keluarkan tawa berkepanjangan. Pemuda wajah totoltotol itu hantamkan tangan kirinya dengan gerakan menepis. Serangkum gelombang yang menimbulkan rebawa aneh menyambut pukulan yang dilepaskan oleh perempuan bercadar.

"Duuumm !"

Satu ledakan yang sangat keras terasa mengguncang jagat. Tubuh si wanita terlempar, tapi dengan gerakan yang begitu indah dia bersalto beberapa kali, sehingga dengan mulus pula perempuan wajah coreng moreng itu dapat mendaratkan kakinya tanpa terlihat goyah sedikit pun.

"Hebaat....!" terdengar satu seruan memuji. Namun sebaliknya pemuda wajah totol-totol itu keluarkan suara mendengus. Menandakan bahwa hatinya sedang terbakar kemarahan. Detik itu, perempuan bercadar telah pula membangun sebuah serangan yang lebih gencar lagi. Agaknya dia ingin menguji sampai di mana kemampuan yang dimiliki oleh si pemuda yang mereka anggap sebagai pemimpin.

"Ciaaat. !"

Serangkum gelombang pukulan yang menimbulkan suara menggemuruh dengan menerbangkan batu pasir dan kerikil datang menggebu. Andika merasakan rasa dingin yang sangat luar biasa menyergap tubuhnya.

"Aha... ha... ha...! Keluarkan segala kemampuan yang kau miliki...!" Terdengar suara teriakan yang begitu keras. Kemudian disusul dengan lantunan katakata yang tak ubahnya bagai sebuah syair: "Lihatlah betapa sunyi malam yang datang membelenggu. Di cakrawala kelam, tiada berbintang. Aku terlunta-lunta dalam kabut badai asmara. Orang-orang pun mencaci maki atas kehadiranku. Sosok tubuh muda lemah tanpa daya, terseok-seok menjauh membawa sebuah luka. Duka di atas luka yang menyakitkan: Adalah masa laluku yang hitam pekat. Orang-orang terkucil, rintihan menghiba. Kini tiada lagi! Inilah sosok tegar yang datang bersama Pedang Asmara, tuk mencabik-cabik kemunafikan tradisi....Haaat !"

"Siiiing !"

Dalam kegelapan malam itu, pukulan 'Kabut Biru' yang telah dilepaskan oleh si perempuan bercadar, menjadi buyar seketika itu juga, saat mana Pedang Asmara di tangan Andika berkelebatan, menggulung apa saja yang berada di sekelilingnya. Tak terkecuali pohon-pohon yang berada di sekitar tempat pertarungan. Nampak memperdengarkan suara berderak-derak, bertumbangan.

Nampaknya pedang yang telah tercabut dari sarungnya ini tidak ingin berhenti sampai di situ saja. Sambil terus memperdengarkan suara mendengung Pedang Asmara terus memburu ke arah lawannya. Si perempuan bercadar, wajah coreng moreng merasa keadaan itu andai terus dibiarkan maka sulit dibayangkan akibatnya. Bagaimanapun apa yang dilakukannya adalah hanya bersifat menguji kebenaran wangsit yang telah diterimanya lewat tapa. Dan sekarang setelah mengetahui segala-galanya, sudah pasti dia tidak menginginkan pertarungan itu berlanjut.

"Hiaaat !"

Dengan gerakan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna, perempuan wajah coreng moreng itu nampak me-lompat ke salah sebatang pohon. Andika memburunya dengan membabatkan senjatanya ke batang pohon tersebut. Pohon yang menjadi tumpuan bagi perempuan bercadar untuk mencari kesempatan bicara tumbang. Si Tubuh Ramping Jubah menjela berpindah ke pohon lainnya.

"Satria Pedang Asmara....!" kata si perempuan wajah coreng moreng dengan mengerahkan segenap kekuatan batinnya. "Sarungkan kembali Pedang Asmara... dia tak akan mau menghirup darah orang-orang yang senasib denganmu. Cepatlah sarungkan....!" perintah si cadar Hitam begitu berpengaruh. Andika sepertinya menuruti apa yang diperintahkan oleh si perempuan wajah coreng moreng. Anehnya Pedang Asmara yang biasanya sulit dimasukkan ke dalam rangkanya sebelum menghisap darah korbannya. Tapi saat itu dapat dikembalikan ke dalam rangkanya begitu saja. Setelah memasukkan pedang itu pada wadahnya. Laki-laki wajah totol-totol itu nampak memandang tajam pada perempuan jubah menjela yang saat itu telah berdiri tegak di hadapannya.

"Siapakah engkau ini....?" tanya Andika semakin bertambah dingin.

"Aku Peri Lingga yang mewakilimu selama ini !"

"Wakil....?!" tanya Andika dengan wajah membe-

lalak.

"Ya... aku adalah wakilmu di sini...!" jawab pe-

rempuan itu.

"Jadi aku ini apamu ?" tanya Andika dalam ke-

bingungannya.

"Kau adalah pemimpin kami! Yang memiliki hak penuh atas diri perempuan dan laki-laki itu....!" kata Peri Lingga sambil menunjuk ke satu arah yang membentuk sebuah gua yang memiliki cahaya terang benderang.

"Bagaimana mungkin kau secara tiba-tiba menyebutku sebagai pemimpin. Sedangkan aku sendiri tak mengenal siapakah diri kalian...?' tanyanya lagi dengan hati diliputi rasa ketidakmengertian.

"Wangsit dalam tapaku menyebutkan ciri-ciri yang kau miliki. Anda pasti berasal dari Lembah Patah Hati. Di sana anda mempelajari jurus-jurus pedang yang tertulis pada dinding gua. Kemudian anda menemukan sebuah kuburan yang sudah sangat tua. Di atas kuburan itu terdapat sebuah pedang Asmara yang sekarang ini menggelantung di punggung ketua !" je-

lasnya begitu lancar. Sudah barang tentu Andika merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh si wanita. Bagi dirinya perempuan wajah coreng moreng itu, tak ubahnya bagai seorang ahli nujum yang mengetahui segala perjalanan masa lalunya.

"Apa yang dapat kulakukan buat kalian ?" tanya

Andika dalam kepolosannya. Yang ditanya hanya tersenyum, dan keluarkan suara gumaman yang tidak begitu jelas.

"Pimpinlah kami dalam satu kemenangan. Aku berkeyakinan anda memiliki kemampuan yang tidak mungkin dapat dikalahkan oleh orang lain. Kekecewaan yang ketua alami dan juga seperti apa yang dirasakan oleh orang-orang di sini, satu saat kelak pasti dapat membangkitkan sebuah kemenangan di pihak kita. ?" kata Peri Lingga merasa begitu yakin.

"Ha... ha... ha...! Hidup menjadi orang baik-baik saja orang masih selalu usil. Martabat begitu rendah nilainya dari harta yang menyilaukan. Kepalang tanggung, kehancuran rasanya masih belum seberapa! Bersatu dengan orang-orang senasib mungkin bagiku lebih baik untuk menghilangkan duka lama....!" kata pemuda itu seperti pada dirinya sendiri.

"Aku merasa kagum dengan semangat ketua. Kami pasti akan mendukung segala rencana yang tuan kehendaki....!" Dengan kaku, Andika menganggukkan kepalanya.

"Aku jadi ingin melihat orang-orang yang senasib denganku ke dalam gua yang kau maksudkan !"

"Dengan senang hati aku akan mengantarnya   !"

Selanjutnya kedua orang itu berjalan menuju arah pintu gua. Tak sampai sepemakan sirih mereka pun telah memasuki ruangan gua yang dihias sedemikian rupa. Begitu Andika menginjakkan kakinya ke dalam ruangan itu. Maka orang-orang yang berada di dalam ruangan itu langsung memberi penghormatan pada Andika dengan diiringi teriakan: "Selamat datang pemimpin yang baru. Kami orang-orang yang senasib denganmu !" kata mereka secara hampir bersamaan.

"Hemmm....!" Andika kembali bergumam dengan suara hampir-hampir tak terdengar.

"Acara pesta peresmian diangkatnya ketua sejati sebentar lagi akan kita mulai. Segala sesuatunya telah tersedia di ruangan tengah. Ketua....!" ujar Peri Lingga memandang genit pada Andika. "Mari kita ke ruangan sana....!" Tanpa berkata-kata lagi, Andika dan Peri Lingga melangkah ke ruangan lain. Sementara beberapa orang berjubah hitam bercadar dengan muka coreng moreng mengiringi mereka dari belakang. Tak lama kemudian sampailah mereka di ruangan tengah. Ruangan itu memiliki sebuah meja yang terbuat dari batu mar-mar putih yang berukuran sangat panjang. Di atas meja itulah terhidang berbagai macam buahbuahan segar, dan berbagai jenis daging panggang yang menyebarkan bau gurih dan menimbulkan selera untuk dicicipi.

Andika tiada menghiraukan hidangan-hidangan yang berbagai jenis itu. Sebaliknya dia merasa begitu tertarik dengan jubah hitam yang terlipat rapi dan terletak di atas sebuah nampan yang terbuat dari bahan tembaga.

"Ketua harus mengenakan jubah yang sama seperti kami....!" kata Peri Lingga seperti dapat menebak apa yang ada dalam pikiran Andika. Dua orang bercadar hitam tanpa diperintah, langsung melangkah mengambil jubah yang terletak di atas nampan itu. Selanjutnya kembali lagi dengan membawa jubah itu. Peri Lingga menerima jubah itu dan langsung mengenakan jubah kebesaran itu pada Andika. Jubah berwarna hitam dengan sulaman putih bergambar daun Waru yang ditusuk anak panah. Nampak begitu serasi dengan bentuk tubuh Andika yang kekar berotot.

"Bagus! Anda memang pantas menjadi pimpinan kami...?!" kata Peri Lingga dan lain-lainnya berseru memuji.

"Sekarang saatnya untuk merayakan pengangkatan ini dengan pesta yang telah tersedia....!" Setelah berkata begitu, maka pesta pengangkatan ketua kaum senasib itupun segera berlangsung dengan sangat meriah sekali. Tapi tiada suara tawa dan canda. Karena sesungguhnya mereka adalah segolongan orang-orang yang pernah menderita kekecewaan yang sangat berat.

***

9

Halaman rumah Katemenggungan saat itu dipenuhi dengan prajurit bersenjata lengkap. Kuda-kuda tunggangan pun telah dipersiapkan sedemikian rupa. Demikian pula dengan kereta kuda pengangkat harta sitaan milik saudagar Legawa. Di dalam ruangan yang sangat besar, Tumenggung Jayeng Rono para pembantu serta pejabat penting lainnya. Nampak sedang berbincang-bincang dengan para pembantu-pembantunya itu. Tidak terlihat kehadiran Lesmana di sana. Kenyataannya memang sudah hampir tiga hari putra tunggal Tumenggung Jayeng Rono tak kembali dari bepergian yang tidak diketahui arah dan tujuannya.

"Aku berharap, semuanya dapat diselesaikan dengan baik. Penyitaan ini adalah untuk yang ketujuh kalinya buat orang yang telah begitu berani membuat malu keluargaku. Sayang... Lesmana pada saat hari penentuan ini tidak kunjung pulang. Entah kemana saja perginya putraku itu !"

"Tapi menurut tetua Tumenggung, apakah rencana ini harus diundur menunggu kepulangan den Lesmana....?" tanya laki-laki berbelangkon dengan sebilah keris terselip di bagian punggungnya.

"Paman Jelatu ? Tak pernah ada sejarahnya pe-

kerjaan Katemenggungan tertunda hanya karena urusan kecil yang begitu sepele !"

"Hamba sependapat dengan tetua Tumenggung Jayeng Rono !" sahut laki-laki berbadan kecil, berku-

lit langsat dengan rambut jarang-jarang itu mendukung.

"Tapi bagaimana seandainya nanti, saudagar Legawa menolak keputusan yang telah berlaku ?" Yang

bertanya adalah seorang laki-laki muka lonjong mata sipit, yang dalam kalangan persilatan lebih dikenal dengan julukan si Tapak Api. Tumenggung Jayeng Rono nampak tersenyum dikulum. Satu demi satu diperhatikannya wajah para pembantunya. Tak ada tandatanda mencurigakan terkecuali sebuah kesetiaan.

"Saudagar Legawa tak mungkin punya kekuatan untuk menolak semua keputusan yang ada. Justru dia harus menyadari bahwa akan fatal akibatnya bila coba-coba bermain api dengan seorang pembesar ! Nah

sekarang berangkatlah kalian! Semuanya kupercayakan pada Uwa Senggerono, Paman Jelatu dari Paman Tapak Api !"

"Titah tetua akan kami laksanakan dengan baik....!" jawab orang-orang itu hampir berbarengan. Tak begitu lama kemudian, berangkatlah iring-iringan kuda itu meninggalkan halaman rumah mewah Katemenggungan. Tumenggung Jayeng Rono hanya mengantar iring-iringan berkuda itu hanya sampai di serambi depan rumahnya. Setelah iring-iringan berkuda itu lenyap, Tumenggung Jayeng Rono nampak menyunggingkan seulas senyum yang hanya dia sendirilah yang mengetahui maknanya.

Waktu terus berlalu tanpa terasa, roda kehidupan pun berputar sebagaimana mestinya. Menjelang tengah hari, sampailah rombongan berkuda itu di halaman rumah saudara Legawa. Namun begitu melihat orang-orang saudagar Legawa yang bersenjata lengkap, nampaknya mereka menyadari bahwa saudagar itu tidak mau menerima keputusan yang telah dibicarakan beberapa minggu yang lalu. Suasana runyam seperti itu, sudah pasti mengundang ketegangan di kedua belah pihak. Namun ketegangan itu agak mereda ketika tidak begitu lama kemudian, saudagar Legawa muncul bersama Buang Sengketa dan Indah Dewi.

"Kami datang menjalankan perintah ketua Tumenggung Jayeng Rono....!" kata Senggerono begitu melihat kehadiran Legawa.

"Kedatangan kalian dengan kereta pembawa harta, sudah pasti ingin menyita semua harta benda yang kami miliki....!" tukas saudagar Legawa langsung pada pokok persoalan.

"Hal itu sudah pernah dibicarakan pada waktu sebelumnya.....!" Yang menyahut adalah laki-laki berkumis tebal bernama Jelatu.

"Tapi kini segalanya telah berubah. Penyitaan dianggap batal, karena Lesmana ternyata telah menyebarkan berita bohong....!" sengat saudagar Legawa dengan wajah merah padam. Ucapan Legawa yang begitu keras sudah barang tentu membuat kaget orangorang dari Katemenggungan. Mereka beranggapan saudagar Legawa sengaja memutar balikkan fakta untuk menggagalkan penyitaan yang dilaksanakan pada hari itu.

"Kau hendak menghindari ketentuan yang telah sama-sama disepakati oleh kedua belah pihak !" ben-

tak Senggerono dengan pandangan berapi-api. Saudagar Legawa geleng-gelengkan kepalanya berulangulang.

"Sama sekali tidak! Andai kebenaran cerita Lesmana memang dapat dia pertanggungjawabkan, sudah pasti aku akan mematuhi segala ketentuan yang berlaku. Aku bicara berdasarkan bukti. Dan anakkulah yang mengatakan tentang kelicikan-kelicikan yang dilakukan oleh Lesmana....!" ucap Legawa Sambil menunjuk ke arah putrinya. Sejenak orang-orang utusan Katemenggungan itu nampak saling pandang sesamanya. Kemudian mereka pun tanpa diminta segera berlompatan dari punggung kuda masing-masing.

"Apa yang akan dikatakan oleh putrimu, saudagar Legawa....?" bentak si Tapak Api yang sejak tadi hanya diam saja melihat perdebatan itu. Indah Dewi tanpa diminta, maju dua langkah ke depan. Dari caranya memandang, jelas dia merasa tak senang dengan kehadiran orang-orang Katemenggungan ini.

"Lesmana anaknya Tumenggung Jayeng Rono yang terhormat itu, sebenarnya lebih pantas bila dijuluki si bajingan pemerkosa. Begitu kasarnya dia melampiaskan nafsu bejatnya pada orang yang telah menjadi istrinya. Tiada kemesraan, terkecuali sikap kasar saat dia memaksaku untuk melayaninya. Dan ketika segala-galanya telah dia renggutkan. Bajingan itupun masih begitu tega memutar balikkan fakta! Katemenggungan berisi manusia-manusia keparat yang harus dibasmi....!" teriak Indah Dewi, sambil menangis dan menjerit-jerit. Gadis itu berlari-lari meninggalkan ayahnya. Ucapan Indah Dewi sudah pasti membuat utusan Tumenggung Jayeng Rono menjadi, ragu-ragu. Sungguh pun Tumenggung Jayeng Rono tidak dapat mengetahui secara pasti tentang prilaku putranya di luaran sana. Namun sebagai abdi yang selalu banyak melakukan kesibukan di luaran sana, sudah barang tentu sedikit banyaknya mereka hapal dengan perangai Lesmana yang sering bertingkah macam-macam itu. Begitupun demi menjalankan tugas atasan, mereka tetap tak mau menerima kenyataan yang ada.

"Kiranya selain tidak menepati janji. Engkau pun coba-coba menyebarkan fitnah!" Bentak Jelatu.

"Tunggu apa lagi! Ringkus mereka....!" perintah Tapak Api. Pada saat yang sangat menegangkan itu, tubuh Buang Sengketa telah berkelebat menghadang.

"Berhenti....!" bentak Pendekar Hina Kelana dengan disertai tenaga dalam. Sehingga membuat mereka yang hadir di situ menjadi sangat terkejut.

"Eeh... siapa pula kau ini, manusia berpakaian gembel !"

"Kuperingatkan pada kalian untuk tidak mengotori tempat ini dengan darah!" kata si pemuda tanpa menghiraukan pertanyaan Senggerono.

"Kurang ajar. Kau telah begitu berani mencampuri urusan Katemenggungan? Tahukah kau apa akibatnya ! geram si Tapak Api.

"Kalau perintah atasan kalian itu mengandung sebuah kebenaran, sudah barang tentu, siapapun tak ada yang berani turut campur. Tapi karena perintah Tumenggung-mu hanya berisikan sebuah kelicikan, maka aku akan menghalanginya....!" jawab pendekar ini begitu ketus.

"Kurang ajar. Perbuatanmu itu benar-benar tak dapat kami maafkan !"

"Serbuuu....!" perintah Jelatu, lalu menerjang ke depan dan langsung menyerang Buang Sengketa dengan jurus-jurus yang sangat berbahaya sekali. Pertempuran besar pun tanpa dapat dicegah meletus, denting beradunya senjata tajam dengan disertai jeritan-jeritan histeris bergema. Bahkan Legawa sendiri saat itupun sudah nampak mulai terlibat dalam pertempuran. Lawan yang dihadapinya adalah Jelatu, laki-laki tinggi kurus dengan blangkon berwarna hitam. Begitu bergerak, saudagar kaya itu langsung mencabut senjatanya yang berupa sebilah pedang berwarna kuning. Sementara Jelatu menghadapinya dengan sebuah keris tipis yang memiliki gagang panjang hampir dua meter.

Di sisi lain, prajurit-prajurit Katemenggungan nampak sedang berhadapan dengan pembantu setia saudagar Legawa. Jumlah pembantu yang memiliki kepandaian lumayan itu tak lebih dari sepuluh orang. Sedangkan di pihak prajurit Katemenggungan jumlahnya mencapai dua puluh orang. Masing-masing mereka bersenjata lengkap. Andai saja saat itu Indah Dewi tidak turun membantu, sudah dapat dipastikan dalam beberapa jurus di muka. Para pembantunya Legawa sudah kena didesak. Namun dengan turunnya Indah Dewi ke gelanggang pertarungan, gadis yang hanya dalam waktu singkat mendapat gemblengan dari pendekar Hina Kelana itu, mampu membendung sepak terjang prajurit-prajurit Katemenggungan yang rata-rata sudah berpengalaman dalam peperangan.

Yang merasa gelisah dalam pertarungan itu adalah pendekar Hina Kelana. Sebab, walau bagaimanapun dia menyadari, tiga orang lawannya merupakan musuh yang sangat tangguh. Bahkan mereka pun membawa prajurit dua kali lipat bila dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh saudagar Legawa. Kenyataannya, dia melihat Legawa pun nampak mulai keteter menghadapi serangan keris lawan yang memiliki gagang sangat panjang lagi. Sedangkan pabila dia menoleh ke arah pembantu-pembantu setia saudagar Legawa. Maka dengan jelas pula, satu demi satu para pembantu itu mulai berguguran. Dalam menghadapi serangan Senggerono dan Tapak Api yang sedemikian gencar dan cukup membuatnya repot. Pemuda dari negeri Bunian itu mulai berpikir-pikir untuk mempergunakan ilmu Lengkingan Pemenggal Roh yang sangat dahsyat itu.

Keputusan itu telah disepakati bersama antara si pemuda dengan Legawa dan para pembantunya. Tak heran kalau di bagian telinga orang-orangnya Legawa terlihat satu benda berwarna hijau menyumpal bagian itu. Dengan mempergunakan jurus silat tangan kosong "Si Gila Mengamuk". Tubuh pendekar ini nampak terhuyung-huyung bagai seorang pemabukan. Gerakan silatnya kacau tak beraturan. Sungguh pun begitu, senjata Senggerono yang berupa keris itu, tak sekali pun berhasil menyentuhnya. Bahkan si Tapak Api yang sudah mulai mengeluarkan pukulan-pukulan mautnya masih belum juga berhasil menghantamkan pukulannya pada sasaran yang nampak meliuk-liuk bagai gerakan seekor ular kepanasan.

"Haiiit !"

Baik Senggerono maupun si Tapak Api yang sudah dibakar kemarahan, nampak mulai mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Pada detik itu dengan mempergunakan jurus Si Jadah Terbuang, tubuh pendekar Hina Kelana telah pula berkelebat lenyap. Hanya angin sambaran tubuhnya saja yang menandakan betapa pemuda dari negeri Bunian ini sedang berusaha mencari peluang untuk memukul lawannya.

"Hiiikgh !"

Satu lengkingan Ilmu Pemenggal Roh terlepas sudah, daerah sekitar pertempuran itu seakan dilanda badai halilintar. Bumi bergetar, daun-daun yang masih hijau pun runtuh dan bertebaran di atas tanah halaman rumah saudagar Legawa. Yang lebih mengerikan adalah terdengarnya jeritan-jeritan maut, disertai menggelaparnya beberapa sosok tubuh prajuritprajurit Katemenggungan yang meregang ajal. Darah pun mengalir dari lubang telinga dan hidung mereka yang tewas. Sisa-sisa prajurit Katemenggungan yang hanya tinggal tiga orang itupun rasa-rasanya sudah mulai terganggu syarafnya. Tubuh mereka berputarputar. Kemudian berteriak-teriak ketakutan bagai melihat hantu di siang bolong. Lebih celaka lagi, mereka lari tunggang langgang meninggalkan gelanggang pertempuran.

Baik Jelatu, Senggerono dan Tapak Api setelah berhasil menghimpun hawa murni untuk mengembalikan semangat mereka yang hampir terbang. Nampak terperanjat sekali begitu melihat orang-orangnya pada terkapar mati. Mereka merasa, seumur hidup baru kali inilah berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki ilmu aneh yang dapat membunuh sekian banyak orang hanya dalam sekali bergebrak. Sungguh pun setelah melihat kenyataan yang terjadi mereka merasa menjadi sungkan dan keder. Namun untuk menyerah begitu saja, bagi mereka tak ada kamusnya. Setelah prajurit-prajurit Katemanggungan terbantai secara menyedihkan. Maka Indah Dewi dan pembantupembantu ayahnya segera pula menggabungkan diri dengan Legawa untuk mengeroyok Jelatu. Tanpa basabasi lagi, pertempuran pun kembali berlanjut.

Di pihak Buang Sengketa saat itu sedang menghadapi tekanan-tekanan berat yang dilakukan oleh kedua lawannya. Pertarungan antara hidup dan mati itupun berlangsung menegangkan. Keris di tangan Senggerono begitu dahsyat menyambar mengarah bagian-bagian tubuh si pemuda, sementara dari arah lain si Tapak Api yang sudah dilanda kemarahan besar itupun menyerang si pemuda dengan pukulan-pukulan mautnya yang berwarna putih namun menimbulkan panas yang hebat.

"Heiih !"

Si pemuda berusaha mengkelit sambaran keris yang hampir saja menghunjam bagian lambungnya. Namun pada saat itu dari arah yang berlawanan, datang sambaran angin pukulan yang berhawa panas mengancam bagian punggungnya. Buang coba membantingkan diri ke arah samping. Tapi senjata lawan masih juga menyambar:

"Crees !"

"Ahkkh !"

Tidak sampai di situ saja, pukulan pertama yang berhasil dielakkan oleh pendekar Hina Kelana membuat si Tapak Api merasa semakin bertambah kalap. Kemudian dia mengumbar pukulan berikutnya. Sungguh pun Buang Sengketa telah bergulung-gulung di atas tanah demi menyelamatkan nyawanya. Namun tetap saja pukulan itu melabraknya. Detik itu, Buang masih sempat pergunakan jurus Koreng Seribu.

"Deep !"

Keris di tangan Senggerono juga menyambar, dengan mempergunakan tangan kirinya dia menyambut.

"Kreep !"

Sama sekali pendekar ini hanya mempergunakan sebagian kecil tenaga dalamnya, sesuai dengan sipatsipat jurus Koreng Seribu, yang membetot tenaga dalam lawannya. Demikianlah halnya yang sedang terjadi pada saat itu. Sinar putih yang dilepas oleh si Tapak Api, layaknya bagai sebuah gala panjang yang diperebutkan oleh dua orang anak. Begitu juga halnya keris milik Senggerono yang melekat begitu erat di tangan kiri si pemuda. Kejut bercampur kecut hati kedua lawannya demi melihat kenyataan ini. Serta merta mereka melipat gandakan tenaganya untuk menyentakkan senjata maupun pukulan yang telah mereka lepaskan. Namun semakin banyak mereka menguras tenaga mereka merasakan senjata maupun pukulan yang telah terlepas terasa semakin sulit untuk dilepaskan. Sedikit demi sedikit mereka mulai merasakan hilangnya tenaga sakti mereka. Pendekar Hina Kelana nampak menyeringai puas, kemudian dengan lembut dia menyentakkan kedua tangannya.

"Hiaaat !"

Sungguh pun gerakan tangan Buang Sengketa hanya pelan saja, namun akibatnya membuat tubuh si Tapak Api maupun Senggerono terpelanting tiga tombak. Lumer nyali Senggerono, sebaliknya tidak begitu halnya yang terjadi pada diri si Tapak Api. Laki-laki berumur itu segera bangkit kemudian kembali menyerang si pemuda. Merasa malu dianggap sebagai seorang pengecut, maka Senggerono pun ikut pula menempur.

"Chaaaiit. !"

Buang Sengketa bersalto mundur tiga langkah, begitu kakinya menjejak di atas tanah maka dia pun memberi peringatan keras:

"Kuperintahkan pada kalian untuk pergi dari hadapanku! Beri laporan pada Tumenggungmu. Bahwa dia harus mendidik putranya yang berengsek itu. Kalau tidak aku pasti akan datang membunuhnya !"

"Keparaaat.... siapa sudi....!" teriak si Tapak Api, lalu hantamkan pukulan saktinya. Tindakan gegabah seperti itu, membuat Buang Sengketa kehilangan kesabarannya lagi. Tak ayal dari mulutnya keluar bunyi mendesis bagai Raja Piton yang sedang dilanda kemarahan. Begitu tubuhnya berkelebat, maka mengaunglah suara bagaikan suara puluhan harimau terluka. Pusaka golok Buntung itu, kini telah tergenggam di tangannya. Mendadak udara di sekelilingnya berubah dingin luar biasa. Karena tubuh maupun senjata di tangan si pemuda berkelebat sedemikian cepat. Maka pihak lawan tidak dapat memastikan bagaimana bentuknya senjata yang memancarkan sinar merah menyala itu. Hanya dalam segebrakan saja mereka sudah dibuat kalang kabut. Dengan kerisnya, Senggerono hanya mampu mengelak. Namun dalam keadaan terdesak, dia berusaha memapaki senjata lawannya; "Kraaang !" Senjata di tangan Senggerono hancur be-

rantakan, sebaliknya golok di tangan Buang Sengketa kembali menyambar.

"Craaas !"

"Arggk !"

Satu lolongan maut menyertai terhempasnya tubuh Senggerono yang mengalami luka pada bagian lehernya. Darah mengalir membasahi tubuh sekarat Senggerono, Kejadian ini membuat si Tapak Api menjadi nekad, dan langsung kirimkan satu tendangan kilat ke arah bagian selangkangan si pemuda. Dengan mengandalkan satu gerakan berkelit yang sedemikian cepatnya, Buang Sengketa mampu menghindari serangan yang dapat berakibat fatal itu. Serangan si Tapak api mencapai sasaran yang kosong. Sementara itu Golok di tangan Buang Sengketa menyambut ke arah bagian kaki dan perut.

"Jraaas....! Jraaas !"

Perut terobek, pangkal paha terkutung. Tiada erangan maut yang terdengar. Hanya kedua matanya saja yang membelalak keluar. Keadaan seperti itu hanya berlangsung beberapa detik. Karena begitu tubuh si Tapak Api ambruk ke bumi, laki-laki jangkung itu sudah tak mampu bergerak lagi.

Sementara itu, Jelatu yang sedang bertarung melawan Legawa dan Indah Dewi. Begitu melihat kematian kawan-kawannya, merasa sudah kehilangan nyali untuk meneruskan pertempuran. Dia berpikir lebih baik mencari selamat, dan melaporkan kejadian itu kepada Tumenggung Jayeng Rono. Itulah sebabnya ketika Indah Dewi, Legawa dan lain-lainnya lengah karena terpengaruh dengan jeritan Senggerono tadi. Maka kesempatan itu dipergunakan oleh Jelatu untuk meninggalkan tempat.

"Kurang ajar! Keparat itu mau meloloskan diri....!" bentak Indah Dewi begitu berpaling kembali pada lawannya.

"Biarkan! Suatu hari nanti mereka pasti akan datang kemari !" cegah Buang Sengketa sambil melang-

kah mendekati anak-beranak itu.

"Kita telah membunuh begitu banyak prajurit Katemenggungan. Malapetaka besar pasti bakal menimpa kita !" kata Legawa harap-harap cemas.

"Aku tetap akan membantumu, tak perlu risau dengan kedatangan mereka, kita tunggu sampai kapan pun !" jawab si pemuda.

"Kami berhutang nyawa padamu, pendekar aneh !"

"Nyawa adalah urusan Sang Hyang Widi    Ada

baiknya kalau kita urus mayat-mayat itu....!" kata si pemuda, lalu melangkah ke arah belakang rumah saudagar Legawa.

Nah, bagaimanakah nasib saudagar Legawa dan keluarganya? Bagaimana pula pembalasan yang dilakukan oleh Lesmana, dan apa saja kegiatannya di luaran sana? Dalam judul 'Bencana Pedang Asmara' Betapa sepak terjang Andika membuat pendekar wanita manapun bertekuk lutut di bawah perintahnya.

TAMAT