Serial Pendekar Hina Kelana Eps 22 : Peri Bunga Iblis

 
Eps 22 : Peri Bunga Iblis


Setelah sekian lama ditinggal oleh ke dua orang tuanya, kedua pemuda itu kemudian memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya yang hampir sepanjang tahun dilanda kekeringan. Tiada tujuan lain dalam pengembaraan mereka itu terkecuali mencari ibu mereka dan sekedar pengalaman untuk bekal hidup mereka di masa-masa yang akan datang. Enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu pula mereka hidup dalam asuhan nenek Kreot, yaitu salah seorang tokoh persilatan golongan putih yang telah berumur kurang lebih enam puluh sembilan tahun. Karena usia mereka baru berkisar lima tahun ketika ditinggal oleh ibu kandungnya, maka wajah sang ibu, bagi mereka sudah agak kabur dalam ingatannya. Hanya dua buah kalung yang terbuat dari tanduk menjangan merah itulah sebagai bekal untuk mencari ibu kandung mereka.

Sungguhpun begitu, kedua pemuda ini merupakan dua anak manusia yang berpribadi lugu, bahkan selama ini orang-orang di sekeliling mereka mengenalnya dengan julukan Dwi Tolol. Sebuah julukan yang tak sedap didengar, namun mereka menyukai-nya. Demikianlah setelah mereka ini melewati beberapa desa dan merambah dua buah hutan belantara. Tiga hari kemudian bekal yang mereka bawa pun sudah semakin me-nipis. Langkah dua pemuda pengembara itu tampak mulai terseok-seok. Terlebih-lebih yang berjalan di bagian paling belakang.

"Kakang Ginuk...! Berhenti dulu ah,... badanku sudah letih sekali...!" Pinta yang lebih muda, serta merta langsung ngedeprok di atas semak-semak yang mereka lalui. Pemuda yang berada di bagian paling depan hentikan langkahnya, dengan sikap enggan palingkan kepala ke belakang.

"Kau ini selalu membuat aku kesal, adik Gindrung...! Kalau nggak kuat jalan, baiknya kau tak usah ikut. Tinggal saja di gubuk reot desa kita...!" umpat kakaknya yang paling tua.

"Kakang keterlaluan! Tinggal di rumah sama siapa? Nungguin kuburan nenek Kreot? Huh, aku paling takut !"

"Mengapa harus takut...!" kata Ginuk masih tetap berdiri. "Bukankah nenek Kreot selama ini sangat baik pada kita....?" Yang ditanya nampak terdiam seketika lamanya. Gindrung seperti merenungi kata-kata yang baru saja diucapkan oleh kakaknya. Memang kalau diingat-ingat, selama hidupnya, nenek Kreot selalu bersikap baik pada mereka. Bahkan ketika umur lima tahun mereka terlunta-lunta karena ditinggal oleh ayah dan ibunya yang tergila-gila dalam petualangan. Nenek Kreotlah yang mengurus mereka, membesarkannya, walau setiap hari mereka cuma ketemu singkong. Itupun sudah sukur. Bahkan mereka malah berterima kasih, karena beberapa tahun kemudian nenek Kreot bersedia menurunkan ilmu silat 'Kurung Setra' pada mereka berdua. Tolol-tolol begitu, mereka masih mampu menyelesaikan jurus-jurus silat pemberian nenek Kreot dengan sangat baik.

Tapi sebaik-baiknya nenek kreot, bukankah kini sudah meninggal dunia. Bahkan sudah dikubur lebih dari enam purnama yang lalu. Gindrung selamanya paling takut pada orang yang sudah mati. Apalagi bila melihat kuburan. Bagaimana kalau sewaktu-waktu orang yang sudah mati itu bangkit kembali dengan sosok yang lain? Hhh, Gindrung benar-benar tak berani membayangkan akibatnya.

"Apakah kau mau mungkir, kalau nenek Kreot memang sangat baik pada kita?" ulang Ginuk, membuat adiknya tersentak dari lamunannya. Lalu, dengan cengengesan, Gindrung membantah: "Siapa bilang nenek Kreot tidak baik! Tapi aku takut tinggal di rumah! Apalagi kuburan nenek Kreot ada di situ...!"

"Ya, sudah kalau begitu kita jalan lagi...!" bentak kakaknya, mulai melangkah kembali. Namun baru beberapa langkah, Gindrung sudah memanggilnya kembali.

"Kakaaaaang !"

"Ah, masa bodoh! Kalau kau tetap duduk di situ, biarkan saja sebentar lagi pasti ada macan yang akan memakan dagingmu...!" kata Ginuk, sambil terus memperlebar langkahnya.

"Ah... kampret juga kakangku itu, nggak mau ngerti padahal perutku sudah sangat lapar sekali !"

batin Gindrung. Sebentar kemudian dengan langkah terseok-seok, pemuda berumur dua puluhan itu kembali mengejar kakaknya yang sudah berada jauh di depan sana.

"Nyusul juga kau heh....! Kukira mau tetap ngejoprok di sana...!" dengus saudaranya. Tanpa menyahuti sindiran kakaknya, Gindrung mengeluh.

"Lapar, kang.....! Dua hari lagi berjalan terus, dua hari lagi nggak makan, aku bisa mati kakang !"

"Bekal sudah habis, tukang loak tak mungkin ada di pinggiran hutan ini! Kau makan apa....?" kata Ginuk bersungut-sungut.

"Ah, celaka! Ini perut nggak bisa diajak kompromi kang...!" sambil memegangi perutnya yang terasa perih dan melilit, Gandrung menyahuti.

"Bilang saja sama perutmu, masih belum ada makanan!" kata Ginuk sekenanya. Namun beberapa saat kemudian wajahnya berubah cerah ketika dia melihat tak begitu jauh di depan mereka terdapat sebuah ladang penduduk yang sangat luas. "Hei... lihat, di depan kita...!" Ginuk berseru sambil menunjuk pada sebuah tempat tak begitu jauh di depan mereka.

"Mana kang....! Huh itu cuma sebuah ladang yang nggak ada makanannya...!" sahut Gindrung semakin tak bersemangat.

"Goblok! Tidak kau lihatkah pohon aren yang ada bambunya itu...?" gerutu pemuda berpakaian belangbelang itu setengah marah.

"Eee... ya... yaa aku melihatnya !"

"Pasti ada orang yang menyadap air Nira (aren) di situ !" ujar Ginuk dengan mata berbinar-binar.

"Air nira untuk apa, Kang...!" tanya adiknya, tiada mengerti. Sang kakak jadi garuk-garuk kepalanya tanda merasa kesal dengan cara berpikir adiknya yang dia anggap terlalu tolol, (padahal dia sendiri tidak lebih pintar dari adiknya).

"Air Nira itu untuk diminum...!" kata Ginuk, meskipun dongkol tapi dikatakannya juga.

"Rasanya bagaimana, Kakang ?"

"Rasanya....?" Ditanya rasanya, Ginuk pun geleng-gelengkan kepalanya. Karena sebenarnya seumur hiduppun dia memang belum pernah meminum air Nira itu rasanya bagaimana. Tapi untuk tidak membuat kecewa adiknya, pemuda itu pun berkata: "Rasanya Nira, mungkin bisa manis, asin... ah entahlah kalau

perlu nanti kita curi !"

"Mencuri... mencuri itu dilarang, Kakang...!" sergah Gindrung merasa tidak setuju.

"Siapa bilang....?" tanya Ginuk dengan mata membelalak.

"Nenek Kreot pernah bilang begitu !"

"Nenek Kreot sudah mati, dan kita sekarang lapar...!" bantah Ginuk sambil terus melangkahkan kakinya mendekati ladang. Tak sampai sepemakan sirih, sampailah mereka di ladang yang sangat luas itu. Lalu Ginuk dan Gindrung menyapu pandang pada daerah sekitarnya.

"Aman, kang....! Nggak ada siapa-siapa !"

"Kalau begitu, kita panjat sekarang!" kata kakaknya sambil mendekati sebatang pohon Aren yang paling dekat dengan mereka.

"Kau yang duluan manjat, Kang !"

"Kau saja. Adik Gindrung,..!"

"Baiklah...!" kata Gindrung. Kemudian tiada menyia-nyiakan waktu lagi, pemuda bertampang tolol itu mulai memanjat tangga yang terbuat dari sebatang pohon bambu yang diberi lubang di sisi kanan kirinya. Setelah menapak tujuh anak tangga, sampailah Gindrung pada bumbung yang di pasang melekat pohon aren itu dengan maksud untuk menampung air yang menetas dari bekas goresan tangkai bunga Nira. Tercium bau harum, saat mana Gindrung mulai meneguk, air Nira yang terdapat dalam bumbung yang telah penuh.

"Cgluuk... Cgluuuk... Cgluuuuk !"

"Muanis... muaniiis... maniiis, Kakang....!" teriak Gindrung sambil terus meneguknya.

"Sisakan untukku, jangan kau habisi !"

"Ya...ya... kusisakan banyak untukmu....!" Dari atas pohon Gindrung menyahuti.

"Cepat-cepatlah kau turun, Adik...!" perintah Ginuk tak sabaran. Sebenarnya saat itu Ginuk masih belum merasa kenyang dengan air Nira yang telah diminumnya. Tapi dia pun menyadari kalau saat itu, kakak kandungnya juga sedang kelaparan. Itu sebabnya begitu dia mendapat aba-aba dari kakaknya, pemuda tolol itu pun langsung turun. Begitu Gindrung telah berada di bawah, maka Ginuk pun ganti memanjat pohon aren itu. Lebih cepat lagi pemuda yang merasa penasaran itu sampai ke atas. Cepat-cepat dia melakukan hal yang sama.

"Gluuuk... Gluuuuk   Gluuuuk!"

"Wei iya, manis adik !" katanya sambil meneng-

gak isi bumbung itu hingga tuntas.

"Aku mau manjat pohon yang satunya lagi, Kakang...!" Tanpa menunggu. jawaban Ginuk, pemuda ini langsung memanjat pohon Aren yang terletak di sebelahnya. Hal yang sama pun dia lakukan. Demikianlah hal itu terulang dan terulang lagi, hingga akhirnya Dwi Tolol itu merasakan kenyang luar biasa.

"Kang sekarang hari telah menjelang senja, ada

baiknya kalau kita nginap saja di gubuk itu."

"Iya. Aku pun jadi mengantuk sekali. baiknya

kita tidur di gubuk itu saja!", jawab Ginuk, langsung menyetujui.

Demikianlah setelah berada dalam gubuk itu dan merebahkan tubuhnya. Tak sampai setengah jam kemudian, Dwi Tolol pun telah terlelap. Bahkan mereka tak menyadari, beberapa jam kemudian pemilik ladang itu terpaksa harus mencak-mencak begitu mengetahui bumbung yang di pasangnya sejak pagi kosong tanpa air nira.

"Kurang ajar! Tidak biasa-biasanya, bumbung bambu pada kosong begini. Mungkin sebangsanya memedi kelaparan dan berkeliaran di sini...! Baiknya tak usah kusadap hari ini. Biar keberaki saja   !" batin

laki-laki pemilik kebun itu. Selanjutnya tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya, laki-laki itu membuka celananya dan langsung buang hajat. Setelah selesai, kotoran itu dia bagi men-jadi sepuluh bagian, kemudian dimasukkan-nya ke dalam sepuluh bumbung, lalu diisinya bumbung itu dengan air sumur yang terdapat di tengah-tengah ladang. Setelah itu bumbung yang telah terisi air dan kotoran dia aduk-aduk hingga rata. Selesai dengan pekerjaannya, pemilik ladang segera pula memasang bumbung demi bumbung pada tempatnya. Ketika hari merembang malam, pulanglah laki-laki berbadan gemuk pendek itu dengan sesungging senyum kemenangan di bibirnya.

Keesokan paginya Gindrung yang masih merasa penasaran dengan kelezatan air nira, begitu terjaga langsung memanjat pohon aren yang kemarin telah dipanjatnya. Tak ketinggalan kakaknya yang memiliki pikiran tak lebih dari adiknya itu mengekor di belakangnya. Setelah menoleh kanan kiri, maka tanpa membuang-buang waktu lagi, Gindrung menoleh pada Ginuk. Salah seorang Dwi Tolol itu pun nyeletuk:

"Semalam aku yang telah memanjat duluan, sekarang giliranmu pula yang duluan!" kata Gindrung bersemangat.

"Tak jadi soal! Hari ini merupakan hari terakhir kita menikmati nira di sini!" kata pemuda itu.

"Heuuup...!" Dengan sekali lompat, maka pekerjaan memanjat itu pun dimulai. Sebentar kemudian Ginuk telah sampai pada bumbung itu. Lalu tanpa ragu-ragu lagi langsung meneguk isi bumbung tersebut.

"Gleeegk... gleegk... gleeek...!"

"Ha... air ini rasanya kok tidak seperti nira, ada bau pesing dan bau kotoran!" membatin pemuda itu.

"Kakang, sisain untukku...!" sela Gindrung yang saat itu telah bersiap-siap untuk memanjat.

"Jangan takut. Bahkan bumbung ini akan kubawa turun. Tapi yang belakangan kebagian ampas...!" kata Ginuk, sambil terus meluncur ke bawah dengan menggendong bumbung itu. Sesampainya di bawah Gindrung segera merampas bumbung itu, dan langsung:

"Gluuk... gluuuk... gluuuk...!"

"Wuaaaah... kurang ajar! Ini bukan air nira kakang... tapi kotoran manusia yang bercampur air kencing...!" teriak Gindrung marah-marah. Kemudian tanpa menghiraukan kakaknya, pemuda itu terus berlari-lari meninggalkan kakak kandungnya.

"Adik. Tunggu, semuanya harus serba adilkan...!" ucapnya sambil memburu adiknya.

***

2

Dunia persilatan menjadi gempar dengan kemunculan seorang tokoh wanita beraliran sesat yang memiliki julukan 'Peri Bunga Iblis'. Sudah banyak tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi, tewas di tangannya. Di antaranya orang-orang segolongan sendiri. Dengan mengandalkan senjatanya yang berupa Jarum Bunga Iblis.

Tokoh sesat yang namanya cepat kesohor di kalangan persilatan itu mampu membunuh lawanlawannya, tanpa melalui pertarungan sengit.

Konon 'Peri Bunga Iblis' yang tokoh misterius itu, memiliki kaki tangan yang sangat setia. Merekamereka ini merupakan tokoh-tokoh golongan sesat yang berhasil dibujuk dengan tipu muslihat kelicikan, atau pun dengan melalui pertarungan yang menegangkan. Kian tahun anggota 'Peri Bunga Iblis', kian bertambah kuat bahkan telah memiliki markas besar yang berpusat di hutan Jajaran yang selama ini di kenal oleh kalangan persilatan sebagai daerah larangan yang angker. Tak seorang pun pernah kembali dari tempat itu, bahkan akhir-akhir ini banyak orangorang persilatan terperangkap di Hutan Jajaran. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada diri mereka, tak seorang pun yang tahu.

Siang itu dua orang penunggang kuda nampak memasuki Teratak, yang selama ini banyak di kenal orang sebagai tempat yang terdekat letaknya dengan hutan Jajaran. Suasana desa sebagaimana biasanya kelihatan ramai, karena secara kebetulan desa Teratak merupakan sebuah pasar tempat jual beli barangbarang keperluan sehari. Tanpa menghiraukan orang yang lalu lalang, kedua penunggang kuda berpakaian cokelat dengan sebilah pedang yang menggelantung di pinggangnya itu, terus saja menggebrak kuda-kuda tunggangannya. Debu beterbangan ke udara, orangorang yang berada di sekitar tempat itu nampak gusar dan keluarkan kata-kata bernada tak enak. Itu pun tak mereka perduli. Nampaknya mereka saat itu sedang dalam keadaan terburu-buru. Beberapa saat setelah berlalunya dua orang itu, menyusul pula penunggang kuda lainnya yang berjumlah tak lebih dari empat orang. Sama seperti dengan penunggang kuda terdahulu, kali ini keempat orang penunggang kuda itu pun nampak memacu kuda-kuda mereka dengan kecepatan penuh.

"Kurang ajar! Penunggang kuda tak tahu adat. Ketahuan di sini banyak orang begini rupa, masih juga mereka memacu kuda secepat itu...!" umpat salah seorang pedagang yang barang-barang jualannya sempat terinjak-injak kaki kuda.

"Kau seperti tak tahu saja San! Kita ini orang kecil, jangan banyak tingkah. Kalau dengar orang-orang itu, bisa-bisa kepalamu menggelinding nggak ketemu anak bini?!" kata yang lainnya, sesama pedagang.

"Ah paling-paling mereka para persilatan yang sengaja cari mampus, begitu berani memasuki hutan Jajaran!" sela orang pertama menunjukkan rasa ketidak senangan. "Sudahlah itu bukan urusan kita...! Peri Bunga Iblis tidak mengganggu penduduk daerah sini saja sudah seharusnya kita bersukur...!" kata kawannya, tampak mulai sibuk melayani para pelanggannya.

Kenyataannya benar seperti apa yang dikatakan oleh pedagang-pedagang tadi, para penunggang kuda itu menuju hutan Jajaran tempat bermukimnya 'Peri Bunga Iblis' dan begundal-begundalnya.   Sementara itu penunggang kuda yang berada di belakangnya, kini sudah semakin dekat dengan dua orang penunggang kuda yang berada di bagian paling depan. Kejarkejaran itu pun terus berlangsung, hingga sampai di tikungan jalan setapak dua penunggang kuda yang pertama pun sudah hampir tersusul. Dalam keadaan seperti itulah tiba-tiba salah seorang dari empat penunggang di belakangnya membentak: "Kembar Kirik Cokelat! Lebih baik batalkan niatmu untuk memasuki hutan Jajaran! Serahkanlah Kitab Dewa Murka milik perguruan, kami menjamin guru kita akan mengampuni jiwa kalian dengan hukuman yang paling ringan...!" Kata yang berada di belakang. Tak terdengar suara jawaban apa pun, terkecuali suara mendengus yang menandakan bahwa penunggang kuda yang berada di bagian paling depan meremehkan perintah orang yang berada di belakang mereka.

"Tak ada gunanya kita memperingati mereka...!" Gumam kawannya, kemudian tanpa membuang waktu lagi, orang yang berada di belakang penunggang kuda pertama tampak mencabut empat buah pisau yang terselip di bagian pinggangnya. Dalam keadaan kuda berlari sangat cepat, orang bertampang keren itu sambitkan empat buah pisaunya mengarah pada bagian kaki kuda yang berada di depannya. Dengan sekali sambit:

"Ziiiiing   !" Laksana kilat keempat pisau yang di sambitkan oleh laki-laki bertampang keren itu menghantam kaki kuda.

"Jeb....! Jeeeeb....!" Dua ekor kuda tunggangan meringkik keras, ketika pisau itu mengenai bagian kaki kuda bernasib sial ini. Tanpa ampun kuda-kuda itu ambruk dan melemparkan kedua orang penunggangnya ke udara. Karena mereka berdua memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf lumayan. Maka dengan berjumpalitan beberapa kali, mereka ini mampu menjejakkan kakinya dengan baik di atas permukaan tanah berbatu. Serentak dengan kejadian itu, maka keempat penunggang kuda yang terdiri dari tiga laki-laki dan seorang gadis yang masih muda remaja itu melompat dari punggung kuda masing-masing. Begitu lincah gerakan tubuh mereka ini, hingga dalam waktu sekedipan mata saja mereka telah mengurung rapat dua penunggang kuda berpakaian cokelat.

"Bangsat! Kalian benar-benar sangat keterlaluan sekali. Membuat malu perguruan bahkan tak pernah memandang nama besar guru, Darah Swanda...!" maki si wajah keren sambil meludah ke tanah beberapa kali. Dua laki-laki berpakaian cokelat yang selama ini di kenal sebagai 'Kembar Kirik Cokelat' nampaknya merasa menang dengan pelarian itu. Bahkan sorot mata mereka nampak memandang remeh pada empat orang penyusulnya. Salah seorang dari dua Kirik Cokelat ini maju dua tindak. Kemudian dengan penuh kesombongan laki-laki muka anjing ini mencemooh.

"Heh.... Kitab Cakar Buana telah berhasil kami dapatkan! Tak ada salahnya kalau kami meninggalkan Perguruan Sangga Buana. Lalu apa-apaan kalian menyusul kami ?"

"Mungkin mereka sengaja mencari mati, Kakang !" kata salah seorang yang berbadan semampai. "Keparaat! Kalian benar-benar murid murtad! Para Dewa pasti akan mengutuki segala tindakan kalian yang sangat tidak terpuji itu...!" kata si Wajah Keren berusaha meredakan emosinya yang terasa mulai memuncak.

"Hiee... he... he....! Pulanglah, Nak! Tak ada gunanya kalian melawan kami. Sebentar lagi pemimpin besar seluruh kaum persilatan akan menemui kami. Beliau paling tidak senang melihat ada orang yang tidak dikenalnya bebas bergerak di daerah kekuasaannya. Demi mengingat hubungan baik di antara kita selama ini. Kurasa peringatan kami ini sudah cukup sebagai imbalan buat Kitab Cakar Buana yang kami bawa ini!" kata Kembar Kirik Cokelat dengan penuh kemenangan.

"Keparaaaaat, murid iblis! Kiranya kalian telah bersekutu dengan betina sesat yang menjadi penguasa di Jajaran ini...?" maki gadis berpakaian putih yang turut menyertai ketiga rombongan itu.

"He... he... he....! Untuk sesuatu yang mendapat imbalan sangat besar.. Rasa-rasanya tak ada salahnya andai kami melakukannya. Pula guru Darah Swanda yang rada pikun itu sejak dulu-dulu sudah tidak senang dengan kami."

"Sekali lagi, kuperingatkan pada kalian, cepatcepatlah tinggalkan tempat ini sebelum Penguasa Jajaran membunuh kalian semua. !" sentak Kembar Ki-

rik Cokelat dengan nada mengancam.

"Kurang ajar! Kalian benar-benar menjadi seorang penghianat yang sangat keji! Heh   jangan sekali-

kali bermimpi dapat lolos dari tangan kami   !" bentak

si wajah keren sambil mengedipkan mata pada kawankawannya untuk menjaga segala kemungkinan.

"Sedari tadi kerjamu hanya ngebacot saja, Abi Lawa....! Kalau kalian merasa mampu merebut kitab Cakar Buana mengapa tidak kalian lakukan ?"

"Sial dangkal! Kembar Kirik Cokelat murid keparaat! Lihat serangan....!" teriak Abi Lawa. Serta merta laki-laki berwajah keren ini melompat ke depan, lalu hantamkan tinju kanannya di sertai dengan sapuan kaki mengarah bagian perut kembar Kirik Cokelat. Dua manusia kembar berkepala anjing itu tentu menyadari bahwa pukulan yang dilakukan oleh Abi Lawa bukanlah sembarangan pukulan. Mereka mengenal pukulan itu sebagai pukulan 'Si Langlang Buana" tingkatan kesepuluh. Gebrakan pertama yang dilakukan oleh Abi Lawa ini saja menandakan bahwa murid dari perguruan Sangga Buana ini benar-benar menghendaki nyawa mereka. Sambaran angin yang sangat keras menderu dan membuat sesak dada si kembar ini. Menyadari jiwanya dalam keadaan terancam, maka dengan mempergunakan jurus yang sama, kedua orang ini langsung membanting tubuhnya ke samping kiri. Selanjutnya berguling-guling menghindar. Namun dari arah lain, menyambut pula serangan yang sama. Maka tak ayal lagi dalam waktu sekejapan saja dua orang ini langsung menjadi keteter. Apalagi mengingat dalam tingkatan murid-murid Sangga Buana, kedua orang ini masih memiliki kepandaian di bawah Abi Lawa.

"Hiaaaat !"

"Wuuuuus.....!" Gadis berwajah cantik yang bernama Andini hantamkan pukulan tangannya ke bagian punggung Kembar Kirik Cokelat. Pada saat itu Kembar Kirik Cokelat yang sedang menghadapi serangan Abi Lawa, Basra dan Jatra, tampaknya sudah tak sempat menghindari dua sodokan beruntun yang dilakukan oleh Andini. Maka: "Buuuuuk !"

"Wuuuuah......! Gusraaak....!" Salah seorang dari kembar Kirik Cokelat terjerembab ke depan, wajahnya mencium tanah tanpa ampun. Namun tanpa menghiraukan rasa sakit yang mendera punggungnya, manusia berkepala anjing ini cepat bangkit kembali. Kemudian tanpa merasa sungkan-sungkan lagi, mereka langsung cabut senjatanya yang berupa palu yang terbuat dari batu hitam. Dengan adanya senjata aneh di tangan mereka ini, sudah tentu keempat murid Perguruan Sangga Buana yang ditugaskan untuk mengambil Kitab Cakar Buana yang tengah dilarikan oleh kedua murid murtad itu merasa terkejut sekali. Sebab selama ini mereka ketahui bahwa Kembar Kirik Cokelat tidak memiliki senjata jenis apa pun terkecuali sebilah pedang pendek yang sewaktu-waktu dapat di pergunakan sebagai senjata rahasia.

"Keparat....! Benar-benar manusia iblis yang telah merencanakan maksud-maksud terkutuk dengan menyamar sebagai murid Sangga Buana." maki Jatra nampak sangat marah sekali. Kembar Kirik Rogo hanya diam saja, sebaliknya sebagai jawabannya, senjata palu yang berada dalam genggaman mereka menderu.

"Nguuuuung !" Empat orang murid Sangga Bu-

ana jadi terkesiap manakala merasakan adanya sambaran angin dingin menerpa wajah mereka. Tapi mereka juga bukanlah murid-murid kemarin sore, kalau hanya menghadapi senjata yang berbau aneh ini menjadi keder. Walaupun mereka belum mengetahui sejauh mana kehebatan senjata di tangan lawannya, namun Kembar Kirik Cokelat masih merupakan murid-murid yang berada di bawah tingkatannya.

"Wuuuuus!"

"Arggkh.......!" Salah seorang dari keempat orang itu menjerit tertahan saat mana tangan kanannya yang bermaksud menyarangkan satu pukulan ke bagian perut lawan terhantam palu yang memiliki sisi pipih dan tajam itu. Dengan cepat sekali luka yang mengalirkan darah itu berubah menghitam. Sadarlah Basra kalau senjata di tangan lawannya mengandung racun yang sangat keji. Semua apa yang dialami oleh Basra rupanya tak luput dari perhatian Abi Lawa, ketika Basra menyeringai menahan rasa sakit, keadaan itu sudah cukup bagi murid kedua Perguruan Sangga Buana untuk mengerti bahwa senjata Kembar Kirik Cokelat benar-benar sangat berbahaya. Serta merta kemarahannya pun sudah tak mampu dia bendung lagi. Mulai saat itu dia mulai berpikir-pikir untuk mempergunakan pisau terbangnya. Namun dalam keadaan melakukan keroyokan seperti itu, tampaknya sangat tidak memungkinkan bagi dia untuk melakukannya. Salah, salah bisa nyasar menghantam kawannya sendiri.

"Kawan-kawan! Minggir kalian semuanya....!" teriak Abi Lawa memberi perintah pada adik-adik seperguruannya.

"Bet! Bet....!" Tiga orang lainnya serentak berlompatan menjauh. Tak banyak yang bisa mereka lakukan terkecuali menjaga setiap kemungkinan. Dalam pada itu, Abi Lawa berseru lantang:

"Sungguh pun kalian mempergunakan senjata milik para iblis! Ingin kulihat sampai di mana kehebatan kalian...! Maka bersiap-siaplah, heaaaaa !"

Tanpa ampun lagi pertarungan antara hidup dan mati berlangsung sengit. Kini Abi Lawa tanpa merasa sungkan-sungkan lagi segera cabut beberapa buah pisau yang terselip di pinggangnya. Dengan mempergunakan jurus ‘Kilat Buana Membelah Gunung’, tubuh Abi Lawa sekejap kemudian telah pula berkelebat lenyap. Hanya sambaran angin bersiuran saja yang menandakan Abi Lawa saat itu telah bersiap-siap melepaskan senjata rahasianya. 3

Kembar Kirik Cokelat tentu menyadari adanya bahaya ini, sejurus kemudian mereka putar senjata palunya membentuk sebuah perisai diri. Selanjutnya tubuh Kembar Kirik Cokelat telah pula terbungkus gulungan sinar berwarna hitam. Perobahan yang sangat mendadak ini membuat Abi Lawa kehilangan kesempatan untuk menyambitkan pisaunya. Kenyataannya memang pertahanan yang di bentuk oleh Kembar Kirik Cokelat selain sangat rapi, juga terlalu sulit untuk ditembus. Tapi bukan Abi Lawa orangnya kalau hanya dalam menghadapi keadaan seperti itu saja dia lantas menyerah. Detik selanjutnya Abi Lawa mulai bersiapsiap kirimkan satu pukulan yang dinamakan ‘Dewa Menyabit Rum-put’. Tubuh laki-laki berpenampilan rapi ini nampak menggeletar beberapa saat lamanya ketika dia berusaha menghimpun tenaga sakti ke arah bagian tangannya.

"Hiaaa.....!" Dengan disertai jeritan tinggi melengking, tubuh Abi Lawa bersalto ke udara, begitu tubuhnya menukik ke bawah, dua pukulan beruntun dia lepaskan. Diikuti sambitan senjata rahasianya yang berupa beberapa buah pisau.

"Wuuuus.....Wuuuuuss !"

"Ziiiiing.....!" Tanpa ampun lagi pukulan 'Dewa Menyabit Rumput' membobolkan pertahanan si Kembar Kirik Cokelat.

"Blaaak !"

"Wuaaaaeee......!" Kedua orang itu langsung terjengkang tubuhnya, sebelum mereka sempat berbuat sesuatu. Senjata rahasia yang disambitkan oleh Abi Lawa nyaris menghantam tubuh mereka. Namun si Kembar Kirik Cokelat kiranya dua ekor manusia berkepala anjing yang memiliki penglihatan yang sangat jeli. Begitu mereka melihat beberapa benda berwarna putih meluruk ke arah mereka. Maka tanpa ampun lagi keduanya hantamkan senjatanya ke arah bendabenda itu.

"Ting....! Tanggg........! Traaaang !"

"Arggghk.....!" Walaupun beberapa senjata rahasia itu dapat diruntuhkan dengan putaran senjata di tangan mereka, tak urung dua di antaranya sempat menghantam bagian bahu kiri dua orang kembar berkepala anjing tadi.

Begitu pun tampaknya daya tahan tubuh si Kembar hebat luar biasa. Walaupun darah sudah terlalu banyak yang mengalir ke luar dan bahkan pisau yang disambitkan oleh Abi Lawa menghunjam bagian bahu kirinya sampai begitu dalam, namun tetap saja mereka melakukan perlawanan sengit. Melihat kenekatan yang dilakukan oleh Kembar Kirik Cokelat, sebagaimana pesan guru mereka Darah Swanda. Abi Lawa telah bersiap-siap pula untuk menghabisi riwayat dua manusia kembar bersaudara ini.

"Shaaaaa.....!" Luka-luka di bahu mereka membuat kembar itu marah, lalu lebih nekad lagi mereka bergerak mendahului melakukan serangan. Dengan Palu terayun mengancam bagian kepala Abi Lawa, manusia kembar berkepala anjing ini juga melakukan satu tendangan dengan mempergunakan kaki kirinya. Sementara dari bagian belakang, kembar yang satunya juga sedang melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh saudaranya. Menyadari saudara seperguruannya terancam bahaya, sudah barang tentu, Andini, Basra dan Jatra tidak tinggal diam. Di luar dugaan Abi Lawa hantamkan beberapa buah pisau menyongsong ke tangan tubuh mereka.

"Siiiiing......!" Kembar kepala anjing terpaksa menarik balik serangan mereka, dan cepat-cepat membanting tubuhnya ke samping saat senjata yang disambitkan oleh Abi Lawa secara cepat hampir menghajar tubuhnya.

"Kurang ajar. !" maki Kembar Kirik Cokelat.

"Zaaaass.....!" Tiga senjata rahasia dari tujuh yang disambitkan oleh Abi Lawa, kembali menghantam mereka berdua. Kali ini nampaknya Kembar Kirik Cokelat tak memiliki daya apa-apa setelah bagian kaki kanannya terhunjam senjata rahasia yang mengandung hawa panas luar biasa itu. Setelah terhantam senjata-senjata itu Kembar Kirik Cokelat hanya mampu mengerang dan beringsut-ingsut menjauh. Abi Lawa dan tiga orang lainnya tersenyum penuh kemenangan. Setindak demi setindak mereka mendekati si Kembar Kirik Cokelat. Pucat wajah dalam bentuk sosok anjing itu. Bagaimana pun dalam keadaan seperti itu mereka merasa tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk melakukan perlawanan.

"Badan manusia, kepala anjing....!" bentak Abi Lawa. "Kau serahkan kitab 'Cakar Buana', atau kalian lebih memilih untuk mati...?" ancamnya pula. Bukannya menjadi takut, si kembar malah mendengus dengan suara hampir tak jelas. Kemudian salah seorang di antara mereka menjawab: "Cakar Buana jauh-jauh kami bawa dari perguruan kalian semata-mata hanya akan kami persembahkan pada junjungan ketua persilatan di seluruh jagat ini." kata Kembar Kirik Cokelat menyeringai. "Ya. hanya ketua 'Peri Bunga Iblis' saja-

lah yang pantas memiliki kitab Cakar Buana yang hebat ini. Sungguh pun kalian mampu mencincang tubuh kami, tidak nanti kami serahkan kitab yang telah kami curi itu pada kalian !"

Bukan main marahnya keempat orang murid setia perguruan Sangga Buana ini. Nampaknya mereka tak memiliki pilihan lain lagi, terkecuali membunuhnya. Maka setelah saling berpandangan sesama beberapa saat lamanya, kini tanpa membuang-buang waktu lagi. Andini yang sudah sejak tadi merasa muak melihat tampang si Kembar Kirik Cokelat langsung membentak.

"Kepada manusia yang tidak tahu membalas guna seperti kalian ini. Maka jalan yang paling baik bagi kalian adalah mampus !"

"Sriiiiiing !"

"Ciaaaaaat......!" Setelah mencabut senjatanya yang berupa sebilah pedang tipis, gadis berwajah ayu ini langsung menerjang si Kembar Kirik Cokelat dengan satu tujuan, yaitu ingin memenggal kepalanya. Namun pada saat tubuhnya melayang di udara seperti itu, dari berbagai arah tampak melesat berbagai jenis senjata rahasia. Jatra yang memang sejak awal-awal selalu memperhatikan keadaan sekelilingnya, segera mengetahui adanya bahaya yang mengancam adik seperguruannya.

"Adik Andini... awaaas    !" teriak Jatra memberi

peringatan. Andini menyadari arti peringatan itu, bahkan gadis itu merasakan adanya sambaran angin yang sangat keras dari berbagai penjuru. Pedang yang mulanya dia pergunakan untuk menebas batang leher si Kembar Kirik Cokelat, kini dia putar untuk melindungi tubuh dari serangan senjata rahasia. Saat yang sama Jatra yang selama ini terlalu memberi perhatian berlebih pada Andini, sudah datang membantu dengan gulungan sinar pedang di tangannya.

"Weeeees! Weees. !"

"Traaaaaang....! Traaaang....!" tanpa diduga-duga satu jeritan keras terdengar. Kemudian disertai berdebumnya sosok tubuh Jatra.

"Jatra ?" "Kakang Jatra....!" pekik Andini berusaha memburu tubuh Jatra yang terkulai tewas dengan paku bunga iblis menancap di beberapa bagian punggungnya.

"Pengecut.....!" teriak Abi Lawa sambil mengitarkan pandangan matanya ke arah sekelilingnya. Saat itu si Kembar Kirik Cokelat nampaknya mulai menyadari datangnya pertolongan buat dirinya. Sedikit banyaknya mereka menjadi lega, karena merasa terbebas dari kematian. Begitu pun tak banyak yang dapat mereka lakukan terkecuali memandangi pihak Abi Lawa yang terus-menerus mengelakkan senjata-senjata rahasia yang datangnya tiada mengenal henti itu.

"Andini, Basra... cepat-cepat kalian tinggalkan tempat ini! Iblis-iblis itu telah keluar dari sarangnya....!" Teriak Abi Lawa sambil berusaha menyambitkan senjata pisaunya untuk menyerang mereka yang bersembunyi di atas pohon-pohon yang berada di sekitar tempat itu.

"Arrggkh !" Beberapa orang yang berada di atas

pohon keluarkan teriakan kesakitan diiringi berjatuhannya beberapa sosok tubuh. Namun dari pihak penyerang gelap juga tampaknya semakin bertambah gencar saja dalam melakukan serangannya yang berupa senjata Paku Bunga Iblis. Menghadapi serangan yang datangnya bertubi-tubi itu, semakin bertambah kerepotan sajalah, Abi Lawa, Basra dan Andini.

"Andini, Basra.....! Cepat tinggalkan tempat ini......!" ulang Abi Lawa di sela-sela kesibukannya memutar pedang melindungi diri dan adik seperguruannya.

"Bagaimana dengan Kitab Cakar Buana, kakang !?" tanya Basra merasa cemas.

"Baiknya kalian beri laporan pada guru Darah Swanda bahwa dua kembar berkepala anjing ini ternyata murid kesasar yang telah bersekutu dengan penguasa sesat di Jajaran ini !"

"Tap... tapi.... engkau sendiri bagaimana, Kakang....?" tanya Andini merasa tak sampai hati untuk meninggalkan kakak seperguruannya yang paling tua.

"Jangan hiraukan aku, cepat tinggalkan aku!

Cepat... ku lindungi kalian !" teriak Abi Lawa.

"Kakang, lebih baik kita hadapi mereka bersamasama. !" kata Basra, tahu-tahu telah berada di samp-

ing Abi Lawa sambil memutar pedangnya, dengan sebat sekali.

"Tolol, siapa yang akan memberi laporan pada guru andai kita semua tewas di sini ?" kata Abi Lawa

nampak gusar. Tampaknya kali ini tiada pilihan lain lagi bagi Basra dan Andini terkecuali menuruti apa yang dikatakan oleh saudara seperguruannya.

"Cepat, aku melindungi kalian !"

"Hiaaaat.... Trang... Traaaang.... Traaaang   !"

Beberapa senjata rahasia yang disambitkan oleh pihak penyerang gelap berpentalan ke berbagai arah saat membentur pedang di tangan Abi Lawa. Dari benturan senjata gelap dengan pedang di tangannya. Abi Lawa sudah dapat merasakan bahwa dia kalah beberapa tingkat dalam hal tenaga dalam.

Sementara itu Andini dan Basra dengan perasaan tak tega sudah mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Namun semuanya tak dapat berjalan mulus, barulah setelah melalui beberapa gebrakan, Basra dan Andini dapat membebaskan diri dari ancaman maut itu. Belum sampai dua puluh tombak mereka meninggalkan Abi lawa seorang diri. Mendadak terdengar suara teriakan yang begitu keras.

"Arrggkhhhh.......!" Basra merasa tak tega, lalu menoleh ke belakang. Dia jadi terpana begitu melihat apa yang terjadi atas Abi Lawa. "Kakang Abi Lawa roboh? Mudah-mudah-an aku dapat menolongnya!" batin Basra.

"Adik Andini, kau teruskan dan tinggalkan tempat ini! Biarkan aku menolong kakang Abi Lawa !"

teriak Basra, lalu berbalik langkah. "Berbahaya, Kakang !" kata Andini

memberi peringatan. Namun dia tetap berlari cepat meninggalkan tempat itu. Tiada terdengar jawaban Basra, karena saat itu dia sudah harus bertahan matimatian untuk menyelamatkan diri Abi Lawa maupun dirinya sendiri.

"Ziiiiing! Ziiiiing!" Serangkum senjata rahasia yang berwarna kekuning-kuningan yang selama ini dikenal oleh kalangan persilatan sebagai Paku Bunga Iblis menderu ke arah Basra.

"Jeb... Jeb.....!" Dengan telak senjata-senjata rahasia itu menghajar tubuh Basra, sungguh pun sebelumnya dia telah memutar pedang dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Tetap saja tubuhnya terjungkal menyusul Abi Lawa yang telah tewas beberapa saat setelah terhantam senjata yang sama. Sesaat setelah kematian Abi Lawa dan Basra, beberapa orang penyerang gelap itu nampak berloncatan turun dari tempat persembunyiannya, tanpa basa basi lagi orangorang itu langsung menyambar tubuh si Kembar Kirik Cokelat. Lalu membawanya pergi dengan sangat tergesa-gesa.

***

4

Begitu banyak warung yang masih buka di sepanjang pinggiran kota yang dilalui oleh pemuda berkuncir ini. Padahal saat itu malam telah menunjukkan pukul tiga dini hari. Di warung-warung pinggiran jalan itu, sering terlihat para penduduk bergerombol di sana. Bahkan di jalan yang dilalui oleh pemuda tampan berpakaian merah dan kumuh itu. Dalam hati dia merasa heran juga begitu melihat orang-orang yang pada bergerombol ini, sedemikian banyaknya. Tetapi pemuda berperiuk yang sudah tak asing lagi bagi kita ini menjadi lebih terperanjat lagi saat mendengar suara tangis dari setiap rumah yang terbuka bagian pintunya. Akhirnya rasa keingintahuan membuat Buang Sengketa menghampiri orang-orang yang sedang bergerombol di pinggiran jalan yang dia lalui.

"Bapak.... apakah yang terjadi di tempat ini   ?"

tanya Pendekar Hina Kelana dengan sikap menghormat. Tak ada jawaban apa-apa, orang yang ditanya bergeming pun tidak! Mengapa orang-orang di sini pada acuh semuanya? Sudah dua kali aku berusaha menanyai orang-orang itu, tapi tetap saja mereka tak mau bicara...? batin Buang Sengketa. Tapi ketika pemuda itu benar-benar meneliti, maka tahulah pemuda keturunan Raja Ular Piton Utara itu, bahwa sebenarnya orang-orang yang berada di pinggiran jalan atau pun yang berada di dalam warung itu dalam keadaan tertotok urat bicaranya. "Apa yang telah terjadi di sini, ada baiknya kalau aku bertanya pada salah seorang dari mereka ini." batinnya lagi. Dengan agak tergesagesa Pendekar Hina Kelana mendekati salah seorang di antara mereka. Kemudian setelah memijit-mijit jalan darah di bagian-bagian tertentu, maka orang itu pun langsung bicara dengan suara terbata-bata.

"Cel... celaka... orang-orang itu selain merampok juga memperkosa anak istri orang sini! Tu... tuan, tolonglah kami! Orang-orang itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Tolonglah selamatkan mereka, Tuan !" kata orang itu menghiba.

"Berapa banyakkah mereka semuanya....?" tanya Buang Sengketa mencoba mencari kepastian.

"Banyak! Bahkan sangat banyak sekali. !"

"Kenalkah bapak siapa mereka itu....?" tanya Buang Sengketa sambil memandang ke arah rumahrumah penduduk yang terbuka pintunya.

"Mereka menamakan dirinya dengan sebutan 'Peri Bunga Iblis', Tuan....!" jawab laki-laki itu dengan wajah ketakutan.

Setelah mendengar keterangan dari laki-laki tadi, Buang Sengketa terus melesat pergi. Dalam kegelapan malam seperti itu siapa pun tak dapat melihat kalau kecepatan bergerak pemuda itu hebat sekali. Dalam waktu sekejap saja pemuda itu telah sampai di sebuah rumah, tanpa basa basi langsung saja mendobrak.

Pemuda berkuncir itu menjadi marah bercampur malu ketika melihat pemilik rumah dalam keadaan telanjang dan dipaksa melayani nafsu binatang para perampok-perampok yang mengaku sebagai anggota 'Peri Bunga Iblis'. Melihat kehadiran Buang Sengketa, tentu para perampok sekaligus pemerkosa itu menjadi terperanjat kaget. Namun sebelum mereka sempat bertindak apa-apa, laksana kilat tubuh Buang Sengketa telah berkelebat. Dan tahu-tahu telah mencengkeram kaki maupun tangan mereka dengan sangat kasar sekali. Sekali saja Pendekar Hina Kelana mengerahkan tenaga dalamnya, maka tubuh kedua orang itu langsung melayang menghantam dinding yang terbuat dari papan, dinding itu langsung bobol. Tubuh kedua orang perampok dan pemerkosa itu terus melayang dan terkapar setelah menabrak pohon kelapa yang terletak di samping rumah.

"Tolooooooong !" Terdengar suara teriakan yang

sama dari dalam rumah yang terletak di sebelahnya. "Keparaaat... terbukti mereka tidak hanya beberapa orang saja !" Maki si pemuda sambil berkelebat

mengejar ke arah rumah yang terletak di sebelahnya itu. Hanya beberapa saat kemudian Buang Sengketa pun telah sampai di dalam rumah yang terletak di sebelah rumah pertama. Namun kali ini bukan perkosaan yang sedang terjadi. Namun pertarungan sengit antara seorang gadis melawan tiga orang laki-laki bertampang kasar.

Dilihatnya gadis berpakaian hijau lumut dengan senjatanya yang berupa, sebilah pedang tipis tampak sedang berusaha mati-matian mempertahankan diri dari gempuran pihak lawan yang bersenjatakan Arit yang berbentuk melengkung seperti bulan Sabit. Nampaknya pertarungan itu baru saja terjadi, tetap bagi pemuda itu sudah cukup mengerti bahwa sebenarnya gadis berpakaian hijau lumut itu sudah sejak-sejak tadi telah jatuh di bawah angin. Walaupun Buang Sengketa masih belum mengetahui siapakah gadis yang sedang menghadapi keroyokan itu, namun akhirnya dia memutuskan untuk membantu gadis berpakaian hijau lumut itu.

Sekali saja tubuhnya berkelebat, maka detik selanjutnya terdengar suara memekik tertahan. Tiga laki-laki bertampang kasar yang sedang melakukan pengeroyokan nampak terjengkang tubuhnya menghantam dinding rumah yang terbuat dari belahan bambu. Namun secepatnya mereka bangkit kembali. Sesaat setelah meneliti pemuda yang telah menggagalkan usaha mereka dalam meringkus gadis berpakaian hijau lumut itu. Maka secara serentak dengan senjata terhunus mereka menerjang Buang Sengketa. Dengan ketenangan yang sangat luar biasa, pemuda itu melayaninya dengan jurus 'Membendung Gelombang Menimba Samudra'. Dalam pada itu, di luar sepengetahuan Buang Sengketa maupun gadis berpakaian hijau lumut itu. Di luar rumah itu beberapa orang koncokonco dari tiga orang yang sedang melakukan pertarungan tampak sedang melakukan pembakaran atas rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar tempat tersebut. Tak terkecuali rumah yang sedang dijadikan ajang pertarungan oleh Buang Sengketa dan lawannya.

"Tuan... rumah ini telah terbakar...!" teriak gadis berpakaian hijau lumut itu ketika melihat api mulai berkobar di sana sini. Sekejap Pendekar Hina Kelana menoleh dan memperhatikan segala sesuatunya yang sedang terjadi. Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh gadis itu, kepengecutan pihak lawan dan perlakuan sewenang-wenang membuat pendekar itu menjadi marah sekali.

"Jahanam....! Hiaaaat....!" Sambil menyambar tubuh gadis berpakaian hijau lumut, pemuda itu lepaskan pukulan 'Empat Anasir Kehidupan'. Detik itu juga serangkum gelombang sinar berwarna Ultra Violet menderu dahsyat menghantam ke arah lawan-lawannya. Sebagai orang yang sudah sangat terlatih dalam berbagai pertempuran, sudah barang tentu mereka bertiga menyadari adanya bahaya yang mengancam diri mereka. Itulah sebabnya dengan sangat cepat mereka memutar arit yang berada dalam genggaman mereka. Sementara itu api telah menjadi semakin membesar. Tanpa ampun tubuh tiga orang bertampang kasar itu pun terhantam pukulan yang telah dilepas oleh Pendekar Hina Kelana.

"Blaaar. !"

"Buuuuumm   !" Satu ledakan yang sangat keras

menyertai runtuhnya rumah yang terbakar itu. Api dengan sangat cepat telah pula membesar. Tanpa sempat keluar lagi dari kobaran api itu, ketiga lawannya yang sempat terkena pukulan 'Empat Anasir Kehidupan', mendapat luka yang cukup parah. Sudah tak sempat lagi untuk menyelamatkan diri dari kobaran api yang semakin bertambah besar. Tanpa ampun lagi mereka terbakar dalam keadaan hidup-hidup.

Sementara itu Buang Sengketa dan Gadis berpakaian hijau lumut telah menjauh dari rumah yang terbakar itu. Namun saat Buang Sengketa menurunkan tubuh si Gadis dari atas pundaknya, tiba-tiba nampak berkelebat beberapa sosok bayangan tubuh dari pintu rumah-rumah yang terbakar. Dalam waktu sekejap saja mereka telah mengepung si Pemuda dan si Gadis dengan senjata siap di tangan

"Pemuda berperiuk! Berani mati kau mencampuri urusan orang-orang Peri Bunga Iblis !" sambut se-

buah suara begitu dingin dan berwibawa. Pendekar Hina Kelana memperhatikan orang yang baru saja buka suara tadi, maka terlihatlah oleh pemuda ini, sesosok tubuh jangkung dengan pakaian sangat rapi. Sama seperti orang yang tewas dalam kobaran api tadi, orang-orang yang kini mengepungnya juga bersenjatakan arit yang bentuknya hampir serupa dengan bulan sabit.

Tiada di duga-duga, mendadak Buang Sengketa tertawa bergelak-gelak.

"Ha... ha... ha...! Kalau kutanya apa saja yang kalian kerjakan di tempat ini !" kata si Pemuda den-

gan sesungging senyum mengejek.

"Manusia hina! Kau tak perlu tahu apa yang kami kerjakan di sini !" hardik orang itu.

"Memperkosa dan merampoki harta benda penduduk! Itukah yang tidak boleh aku tahu?" ejeknya dengan pandangan mata berapi-api.

"Keparaaaat! Bocah, kuperingatkan padamu, cepat-cepatlah kau menyingkir dari sini. Kalau tidak kau akan menyesal selama-lamanya...!"

"Jangan coba-coba menggertakku, Orang Tua...!" Dengus Buang Sengketa. Melihat mereka saling berbantahan itu, nampaknya beberapa orang yang menjadi bawahan laki-laki berjenggot panjang itu menjadi tak sabaran lagi, satu dua tindak mereka melangkah. Lalu dengan suara lantang salah seorang dari mereka membentak:

"Kakang Wisesa.....! Percuma saja kita berdebat dengan kunyuk gembel ini. Hantam saja !"

"Akur, hantam biar mampus! Kakang Wisesa !"

Teriak yang lainnya. Laki-laki berjenggot panjang yang dipanggil Wisesa itu memperhitungkan dengan segebrakan saja, binasalah pemuda berkuncir sekaligus gadis yang menyertainya. Itu sebabnya tanpa menunggu lebih lama lagi orang ini pun segera memberi aba-aba:

"Serbuuuu......!" Serentak dengan suara teriakannya itu, lebih dari sepuluh orang pengeroyok langsung menerjang sambil sambitkan senjata rahasia mengarah pada Buang Sengketa dan gadis berjubah hijau lumut.

"Singgg.....! Weeeerr. !" Puluhan bahkan ratusan

senjata rahasia datang dari berbagai penjuru. Menghadapi kenyataan seperti itu, gadis yang berada di sebelah Buang keluarkan jeritan tertahan. Sebaliknya Pendekar Hina Kelana sendiri sambil memaki langsung hantamkan tangannya ke segenap penjuru.

"Weeer! Weeer!" Dalam kegelapan yang hanya diterangi dengan nyala api rumah yang terbakar itu selarik gelombang sinar Ultra Violet melesat sedemikian cepat, menyongsong datangnya senjata rahasia berupa Paku Bunga Iblis yang telah disambitkan oleh pihak lawannya.

"Blaaarr....!" Senjata-senjata yang mengandung racun sangat keji itu berpentalan ke segala penjuru. Bahkan beberapa di antaranya membalik dan hampir saja memakan tuannya sendiri. Sukur mereka cepatcepat membanting tubuhnya ke samping, selanjutnya berguling-guling menghindari sengatan hawa panas yang bersumber dari pukulan yang dilepaskan oleh Pendekar Hina Kelana.

"Buummm !"

Sebagian pukulan yang dilepas si Pemuda mengenai sasaran kosong. Debu dan pasir muncrat di udara. Tanah di sekitar tempat itu tergetar hebat. Kenyataan ini sudah barang tentu membuat Wisesa menjadi terbelalak tak percaya. Setelah bangkit berdiri, laki-laki berjenggot panjang itu bertanya: "Bocah! Siapakah engkau ini ! Pukulanmu seperti pernah kukenal,

bahkan mungkin aku pernah melihatnya....!" ujar Wisesa, tampak berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Yaa... ya... kalau tak salah itulah pukulan Empat Anasir Kehidupan....ja....di, kau muridnya Kakek Bangkotan Koreng Seribu....!?" katanya dengan tubuh menggeletar.

"Hemm! Melihat caramu bicara, aku merasa kau bukanlah orang kasar Uwa Wisesa! Aku juga yakin dulunya kau pasti berasal dari golongan baik-baik. Tapi mengapa justru tindakanmu cenderung ke arah sesat ?" Tanya si pemuda tanpa ada maksud menjawab

apa yang ditanyakan oleh laki-laki berjenggot panjang ini.

"Kampret! Jawab dulu pertanyaanku...!" bentak Wisesa merasa tersinggung dengan ucapan-ucapan si pemuda. Pendekar Hina Kelana geleng-gelengkan kepala, sejurus memandang sinis pada si Jenggot Panjang dan orang-orangnya.

"Kau mengenal pukulan Empat Anasir Kehidupan dan kenal pula dengan guruku! Kalau memang benar, sekarang kuperintahkan kalian bersujud di bawah telapak kakiku...!" ujar pemuda itu sambil tergelak-gelak. Sementara itu, Wisesa tampaknya sangat marah sekali mendengar pengakuan Buang Sengketa. Tiba-tiba wajahnya berubah tegang.

***

5

Tanpa dimengerti maksudnya oleh Buang Sengketa, mendadak Wisesa malah balik tergelak-gelak.

"Keparat si Bangkotan Koreng Seribu! Gara-gara dia hidupku semakin jauh tersesat dan terlunta-lunta! Dia pembunuh orang tuaku, mestinya kucincang dia sejak dulu-dulu! Tapi.... he... he... he...! Kala itu ilmu kepandaianku masih terlalu cetek. Kini setelah kepandaianku cukup tinggi, si keparaat Bangkotan Koreng Seribu telah mampus pula...!" Kata Wisesa dengan pandangan sinis. Memerah wajah pemuda itu bagai kepiting direbus, begitu mendengar Wisesa dengan seenaknya saja mencaci maki nama gurunya. Seumur hidup baru manusia jenggot panjang ini saja yang telah begitu berani menghina gurunya secara serampangan. Itu benar-benar sangat keterlaluan sekali.

"Wah... manusia sinting jenggot kambing...! Kunyuk betul kau ini, begitu berani kau menghina nama almarhum guruku sedemikian rupa? Benar-benar cari penyakit!" Teriak Buang Sengketa gusar bukan alang kepalang.

"Bacot sebakul! Mewakili ketua Peri Bunga Iblis, hari ini ku basmi muridnya si Cambuk Gelap Sayuto yang bikin sengsara kedua orang tuaku itu...!"

"Tak mungkin orang tuamu bentrok dengan guruku jika orang tuamu itu bukanlah sebangsanya manusia sesat....!" kata Buang Sengketa lugas. Namun nampaknya tiada reaksi, sebagai jawabannya, baik Wisesa maupun kawan-kawannya segera melompat ke depan dan langsung menyerang Buang Sengketa dan gadis berpakaian hijau lumut. Kali ini masing-masing lawan sudah tak ingin bersikap sungkan-sungkan lagi, dalam gebrakan kedua itu mereka segera keluarkan jurus silat tangan kosong, 'Badai Iblis Menawan Bianglala'. Kiranya walaupun jurus-jurus silat itu terdiri dari satu sumber. Namun pada kenyataannya, setiap dari mereka mempergunakan jurus itu ternyata tetap saja memiliki variasi yang berbeda-beda.

Baik gadis berpakaian hijau lumut maupun Buang Sengketa sendiri nampak mulai mengeluarkan jurus silat andalannya. Buang Sengketa dengan mempergunakan jurus Si Gila Mengamuk, tampak memapaki setiap serangan-serangan lawannya yang datang bertubi-tubi. Dengan hanya bersikap seperti orang pemabukan, terhuyung-huyung ke depan dan belakang. Sekali dua baik pukulan tangan maupun tendangan kaki dia lakukan. Tak jarang lawan-lawannya jadi kelabakan dan terjengkang tiada berketentuan. Sementara itu Andini dengan pedang tipis di tangannya tampak mulai merangsak keroyokan yang berjumlah sangat banyak itu. Sekali dua pedang di tangannya menyambar ke bagian pertahanan lawan yang nampak kosong. Namun kiranya orang-orang Peri Bunga Iblis ternyata juga bukanlah lawan yang begitu mudah dirubuhkan. Bahkan berulangkali senjata rahasia yang mereka pergunakan untuk menyerang lawanlawannya nyaris mendarat ke arah sasarannya dengan sangat baik. Hanya karena ilmu meringankan tubuh dan kelincahan memainkan pedang saja gadis berpakaian hijau lumut yang tak lain merupakan Andini adanya dapat terhindar dari kematian.

Di lain pihak, nampaknya Buang Sengketa sudah merasa tidak sabar lagi melihat gelagat pertarungan yang tidak menguntungkan di pihaknya itu. Bahkan andai secara terus menerus pemuda ini tetap mengelak dan melompat. Lama kelamaan bisa celaka. Tak ayal lagi, kini pemuda itu telah pula memutuskan untuk mempergunakan Lengkingan Suara Ilmu Pemenggal Roh yang sangat dahsyat itu.

"Nona baju hijau! Tutuplah indera pendengaranmu.... aku akan berbuat sesuatu sebagai hadiah untuk mereka....!" Kata Buang Sengketa melalui ilmu menyusupkan suara. Sambil terus mengkelit setiap serangan yang datang, sedetik kemudian satu teriakan menggelegar pun keluar dari mulutnya:

"Heeeiiggkh !"

Angkasa malam laksana terobek dengan gaung yang ditimbulkannya akibat lengkingan Ilmu Pemenggal Roh. Bumi tempat mereka berpijak pun seolah mau runtuh. Tak kurang dari lima orang kawankawan Wisesa terjengkang roboh, menggelepar sesaat, kemudian diam untuk selama-lamanya. Dari telinga mereka mengalir darah segar, sementara mata mereka membelalak bagai melihat iblis pencabut nyawa. Heran bercampur kecut laki-laki berjenggot putih itu demi melihat apa yang terjadi. Kini mereka hanya tinggal empat orang saja, lima dengan Wisesa sendiri. Namun empat orang kawan-kawan Wisesa tampaknya sudah tak dapat diharapkan lagi. Ilmu Lengkingan Pemenggal Roh membuat mereka bagai orang linglung. Mungkin semua itu karena syaraf berpikirnya yang rusak. Empat orang laki-laki itu nampak mondar mandir di sekitar tempat pertarungan bagai empat ekor monyet sinting yang sudah kehabisan akal. Dalam keadaan yang tiada menguntungkan itu, Wisesa bergumam seorang diri, "Muridnya musuh bebuyutanku ini ternyata memiliki ilmu kepandaian yang lebih gila lagi. Seorang diri sudah barang tentu aku tak mungkin mampu memenangkan pertarungan. Tapi aku yakin dia tak bakal ungkulan menghadapi keroyokan orang-orang nomor satu anggota Peri Bunga Iblis. ! Heh, ada baiknya ka-

lau aku melapor pada ketua yang mulia...!" Batinnya. Saat itu pendekar Hina Kelana yang sedang terbengong-bengong melihat Wisesa yang terdiam membisu, cepat pula membentak:

"Mengapa kau diam saja, Jenggot Kambing ?

Katanya kau mau melayaniku sampai seribu jurus   !"

Gadis berpakaian hijau lumut atau Andini yang sudah tak sabaran lagi langsung menyambut: "Tuan pendekar...! Mengapa harus berbasa-basi dengan tikus perampok berjenggot seperti dia...?" Si pemuda merasa geli sendiri mendengar ucapan si gadis, tapi sebenarnya setuju dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tibatiba Wisesa telah melemparkan satu bungkusan ke arah mereka.

"Buuuummm.....!" Terdengar satu ledakan kecil, yang akhirnya menimbulkan gumpalan uap putih menyerupai kabut. Baik Andini maupun Pendekar Hina Kelana menjadi gelagapan dan berusaha membebaskan diri dari kungkungan kabut tebal itu. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba terdengar suara Wisesa yang mulai bergerak menjauh.

"He... he... he...! Uap Asmara Iblis... hemmm...

kalian pasti telah menghirupnya. Sementara ini aku memberi laporan pada ketua kami, inilah satu kesempatan bagi kalian untuk menikmati sorga dunia sebagaimana layaknya sepasang suami istri...!" kata Wisesa sayup-sayup.

"Keparat! Hiaaat....!" Sambil menyambar tubuh Andini, pemuda keturunan raja dari negeri bunian itu tampak melesat membebaskan diri dari kepungan asap terkutuk itu.

Selanjutnya tanpa menghiraukan keadaan di sekelilingnya dan dalam keadaan sempoyongan kedua muda mudi itu meninggalkan perkampungan yang padat penduduknya. Namun pada hakekatnya memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Wisesa, kedua muda mudi itu telah menghirup asap Asmara Iblis yang memiliki pengaruh rangsangan yang sangat hebat sekali. Bahkan pengaruh aneh itu, kini sedikit demi sedikit mulai dirasakan akibatnya oleh Buang Sengketa dan Andini. Dalam kegelapan malam dengan langkah terhuyung-huyung seperti itu, Andini yang hanya memiliki tenaga dalam mencapai tarap lumayan, nampak mulai meracau.

"Tuan pendekar! Siapakah engkau ini...!" Tanyanya dengan suara gemetaran.

"Jangan kau panggil aku tuan, aku bukan seorang pangeran yang patut dihormati! Namaku Buang Sengketa! Seorang pengelana yang tiada berketentuan...!" kata pemuda itu berusaha menepiskan rangkulan tangan kiri Andini yang terasa begitu mencekik pangkal lehernya.

"Nama yang bagus, aku suka nama itu...!"

"Dan kau...!?" Andini tidak buru-buru menjawab, sebaliknya dia berusaha merangkul kembali tubuh pemuda yang berada di sebelahnya.

"Gila! Meskipun aku masih mampu menguasai diri, tapi sampai di manakah daya tahanku. Sekarang ini saja aku mulai merasakan ada hawa aneh yang secara terus menerus menguasai jiwaku. Dan mungkin, gadis ini mengalami kejadian yang lebih hebat lagi dariku. Sebaiknya ku kerahkan hawa murni untuk membuyarkan pengaruh iblis yang telah merasuki jiwaku ini...!" Batin pemuda itu. Kemudian secara perlahan pemuda itu mulai mengerahkan tenaga dalamnya untuk membuyarkan pengaruh aneh yang sedang menguasai jiwanya. Namun setelah berulangkali dia mencoba, usahanya itu tidak juga mendatangkan hasil. "Celaka! Apa yang telah terjadi dengan diriku?" Dalam keadaan kebingungan akibat pengaruh aneh itu. Tiba-tiba Andini dengan suaranya yang lirih dan hampir-hampir tak terdengar berkata kembali.

"Namaku, Andini....! Ka... kakang... bukankah aku lebih pantas memanggilmu begitu...!" Kata Andini dengan tubuh menggigil karena dibakar gejolak nafsu. Sementara Buang Sengketa sendiri terus berusaha memerangi pengaruh aneh yang telah di timbulkan oleh Asap Asmara Iblis. Namun tampaknya usaha itu tidak juga mendatangkan hasil.

"Kakang !"

"Hemm !"

"Malam ini terasa sangat dingin sekali yaa ?"

"Begitulah...!" jawab si pemuda sekenanya. Kemudian Andini menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Tetapi selang beberapa detik berikutnya kembali terdengar suaranya. Pelan, namun cukup untuk didengar oleh Pendekar Hina Kelana.

"Kita istirahat, Kakang ! Badanku terasa sangat

letih sekali." Sambil berkata begitu Andini yang sudah tak mampu mengendalikan diri itu, langsung menyentakkan tubuh pemuda ini, hingga sama-sama terjerembab jatuh. Dalam peperangan batin itu, dalam keadaan terlentang, Buang Sengketa diam tiada bergeming. Lain lagi halnya dengan Andini, gadis itu nampak mulai menindih tubuh si pemuda. Sementara jantungnya berdetak keras tiada teratur, desahandesahan nafasnya yang hangat pun menyapu wajah Pendekar Hina Kelana. "Sialan, dewata pasti akan mengutukku jika sampai aku melakukan perbuatan yang sangat terkutuk itu." makinya sambil terus berusaha bertahan pada keadaannya.

"Kakang...! Aku tak tahan kakang? Apakah kau tidak merasakannya, mengapa justru malah diam bagai tugu...?" kata gadis itu sambil terus menciumi wajah pemuda tampan yang berada di bawahnya.

Ketika Andini membuka pakaiannya sendiri satu demi satu. Terbelalaklah mata pendekar itu.

"Andini! Jangan kau lakukan perbuatan terkutuk itu. Kosongkan jiwamu dari hal-hal yang dapat mencelakakan diri kita...!" Cegah Buang Sengketa. Tapi gadis itu seperti tak mendengar apa yang di katakan oleh Buang Sengketa. Setelah melepas pakaiannya, Andini kembali menghampiri si pemuda.

"Oh, Dewata yang Agung! Selamatkanlah kehormatanku dan dia...!" keluh si pemuda dan tanpa disangka-sangka oleh Andini, Tangan Buang melakukan satu totokan. "Tuuuk...!"

"Uuhhh....!" Andini mengeluh pendek, kemudian roboh tak sadarkan diri. Sedangkan Buang Sengketa sendiri terus berusaha mengembalikan keseimbangannya. Dalam saat-saat menegangkan seperti itu, teringatlah Buang Sengketa dengan Golok Buntung yang terselip di bagian pinggangnya. "Kakek guru, dulu pernah mengatakan pusaka Golok Buntung mampu mengusir pengaruh jahat dari tubuh seseorang, mudah-mudahan usahaku ini mendatangkan hasil seperti apa yang kuharapkan." Membatin pemuda ini sambil mencabut golok yang terselip di pinggangnya ketika golok itu tercabut dari sarungnya maka terlihatlah sinar merah menyala dan menerangi sebagian wajah si pemuda. Secara perlahan pemuda itu menempelkan ujung golok di bagian dadanya. Ketika itu juga ada hawa hangat mengalir, ke sekujur tubuhnya, secara aneh kekuatan iblis yang telah merasuki jiwanya itu lama-kelamaan hilang sirna sama sekali.

"Hemm! Sungguh keterlaluan sekali orang-orang dari hutan Jajaran itu. Suatu saat kelak akan kucincang manusia yang bernama Wisesa itu...!" geram pendekar ini dengan kemarahan yang tertahan-tahan.

Kini pemuda itu dengan pasti cepat pula menempelkan ujung golok di bagian punggung Andini yang tiada berpakaian sama sekali. Tubuh gadis itu nampak tergetar beberapa saat lamanya. Kemudian terdengar pula rintihannya, sebuah rintihan kesadaran. Cepat-cepat si pemuda melemparkan pakaian Andini yang berserakan di atas rumputan. Secara praktis pakaian itu menutupi tubuh Andini yang dalam keadaan menelungkup.

Begitu sadar dalam keadaannya yang normal, gadis berwajah ayu itu keluarkan suara pekikan tertahan.

"Kenakan pakaianmu...!" kata pemuda itu sambil palingkan wajahnya ke arah lain. Heran bercampur malu gadis ini dengan tergesa-gesa mengenakan pakaiannya kembali.

"Kakang apa yang telah kita lakukan...?" tanya si gadis tersendat dan wajah memerah.

"Sukur para dewa melindungi kita berdua! Andai tidak sudah tentu kita terseret dalam gelimang dosa...!" kata si pemuda, ketus.

"Maafkan atas ketololanku, Kakang...!" desah Andini tersipu malu.

"Sudahlah, kau tidak bersalah. Uap Asmara Iblis itulah yang telah menjadi penyebabnya !"

"Orang-orang Peri Bunga Iblis! Heh mereka juga telah membunuh tiga orang saudara seperguruanku...!" Gerutu gadis berwajah ayu itu sambil mengepalkan kedua tangannya. Kata-kata bernada geram yang diucapkan oleh si gadis tentu membuat pendekar ini merasa terperanjat. Selanjutnya dia pun bertanya:

"Mengapa mereka sampai membunuh saudara seperguruanmu...?" tanya si pemuda penuh dengan keingintahuan. Tanpa merasa ragu lagi, Andini segera menceritakan tentang Kembar Kirik Cokelat yang telah melarikan kitab Cakar Buana milik perguruan. Hingga sampai akhirnya mereka bentrok dengan orang-orang Peri Bunga Iblis yang menyerang mereka dengan senjata rahasia yang mengandung racun sangat jahat itu.

"Jangan takut! Aku pasti membantumu, sekaligus mengobrak abrik markas peri terkutuk yang telah banyak menyeret kalangan golongan putih menjadi sekutu-sekutunya...!" Janji si pemuda berkuncir itu.

"Tapi kita harus memberi laporan pada guru Darah Swanda, Kakang...!" Pendekar Hina Kelana gelenggelengkan kepalanya: "Itu tidak perlu! Nanti saja kalau urusan kita beres...!" sergahnya.

"Baiklah, aku menuruti mana yang ter-baik menurutmu...!" Demikianlah tanpa berkata-kata lagi, mereka bergerak melangkah lagi. Saat itu di ufuk timur semburat merah sudah mulai membayang ketika mereka meninggalkan desa Gunting Saga.

***

6

Panas yang terik, sepanjang jalan pemuda bertampang tolol yang bernama Gindrung itu terus menerus mengeluh panjang pendek. Sepasang kaki Dwi Tolol memang sudah melepuh di sana sini. Pada kenyataannya hidup selama dua puluh tahun mereka baru sekali ini melakukan perjalanan yang sangat jauh, wajar saja kalau keadaan sangat menyedihkan itu terjadi. "Kakang... sampai kapankah kita harus berjalan seperti ini...?" tanya Gindrung dengan langkah terpincang-pincang. Tetapi orang yang diajaknya bicara hanya diam saja, sebaliknya dengan keadaan yang sama pula Ginuk terus saja berjalan menelusuri ping-

giran hutan lebat di samping kiri mereka.

"Kakang...!" teriak Gindrung merasa kesal. Sekejap Ginuk hentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang. Walaupun saat itu dia merasakan sakit di bagian kakinya, namun melihat adiknya dia jadi ingin tertawa sejadi-jadinya.

"Apakah kau sudah tidak kuat berjalan...?" "Bukan tidak kuat lagi, malahan hampir mam-

pus...!" Selak Gindrung merajuk.

"Bagaimana kalau kugendong...?" tanyanya Gindrung menyeringai, walaupun tolol begitu namun dia masih mampu memperhitungkan sampai di mana kekuatan saudara tuanya. Itu makanya dengan sikap enggan dia menggeleng.

"Ayolah, aku tahu kau sudah terlalu letih !"

"Kakang! Mana mungkin, aku gemuk sedangkan kau agak kurus! Mungkinkah kau kuat menggendongku ?" tanyanya, lalu tertawa bekakakan.

"Jangan menganggap remeh, aku pasti kuat menggendongmu! Asal ingat saja, setelah kugendong, nanti kau gantian pula menggendongku !"

"Sama aja bohong! Tapi tak mengapa, ayolah!" Serta merta Gindrung melompat ke punggung Ginuk, kemudian sambil tertawa-tawa Gindrung menepuknepuk bahu Ginuk:

"Husyaa... hiaaa... larilah hei kudaku, kuda kurus nggak pernah mandi !" Dengan sempoyongan dan

tanpa memperdulikan rasa sakit di bagian kakinya yang telah banyak mengalirkan darah bercampur nanah, Ginuk mulai berlari-lari kecil. Karena pada dasarnya beban yang memberati pundaknya lebih besar dari tubuhnya sendiri, maka sekejap kemudian dia sudah merasa keletihan. Dengan nafas ngos-ngosan, Ginuk berucap: "Ah kampret! Tubuhmu berat sekali! Kau pasti terlalu banyak dosa...!"

"Bilang saja nggak kuat menggendong aku, mengapa harus basa basi !"

"Gubraaak...!" Tanpa di duga-duga Ginuk membantingkan tubuh Gindrung, hingga pemuda tolol itu menjerit-jerit kesakitan.

"Kurang ajar! Tega nian kau membantingku....

hu.... hu    hu! Emak, orang itu kurang ajar sekali, to-

long emaaak !" Rintih Gindrung sesenggukan.

"Gobloook! Cengeng....! Mengapa emak kau panggil-panggil, ketahuan kita sedang mencarinya !"

"Keterlaluan kau kakang...! Bukannya aku pemuda cengeng, tapi gara-gara kau banting. Bisulku jadi pecah...!" rintih Gindrung sambil melap darah yang merembes dari bagian pantatnya.

"Oh.... mana aku tau maaf aku tak sengaja!"

"Su... sudahlah... sekarang kita diam di sini dulu! Setelah itu kita melanjutkan perjalanan kembali."

"Karena aku merasa bersalah, biarlah kali ini aku menuruti keinginanmu...!" kata Ginuk, lalu mendekati adiknya dan langsung duduk di sisinya. Namun belum sampai sepemakan sirih, mereka berada di tempat itu tiba-tiba bermunculan beberapa sosok tubuh dari kanan kiri mereka. Selanjutnya terdengar suara bentakan dari salah seorang pendatang yang sama sekali tidak dikenali oleh Dwi Tolol.

"Dua ekor tikus bertampang tolol! Berani sekali kalian memasuki daerah kekuasaan Peri Bunga Iblis! Siapakah yang telah memberi izin pada kalian...?" Ginuk dan Gindrung jadi salah tingkah dan saling pandang sesamanya. Mereka memang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki gemuk berpakaian loreng-loreng mirip kulit macan itu.

"Kami...!" Diam sebentar. "Kami cuma numpang istirahat di sini, lihatlah kakiku dan kaki kakangku sudah pada lecet semuanya...!" kata Gindrung, lalu memperlihatkan bagian kakinya yang sudah lecet-lecet mengeluarkan nanah dan menimbulkan bau menyengat hidung. Sesaat lamanya, orang-orang berpakaian loreng-loreng kulit macan itu saling berbisik sesamanya.

"Melihat tampang dan keadaan mereka, tak ada alasan bagi kita untuk mencurigai mereka. Kalau pun kita tangkap mereka, tak ada gunanya. Paling juga hanya bisa menjadi kacung pengurus kuda...!" kata salah seorang dari mereka melalui ilmu mengirimkan suara.

"Siapa pun yang mencoba-coba memasuki kawasan ini, dia patut di curigai." Ucap yang lainnya melalui ilmu yang sama. Dalam keragu-raguan itu, tibatiba laki-laki gemuk berpakaian loreng-loreng kembali membentak dengan nada mengancam.

"Kau pasti punya maksud-maksud tertentu berkeliaran di tempat ini...! Cepat mengaku, atau kupotong kakimu yang tiada berguna itu!"

"Bagaimana kakang...! Kita disuruh mengaku, apa yang harus kita katakan pada mereka agar bisa percaya...?" tanya Gindrung, raut wajahnya membayangkan kecemasan yang tiada alang kepalang.

"Apanya yang harus di akui. Lha wong kita nggak nyolong apa-apa kok...!" Lain halnya dengan Ginuk, walaupun dibentak sedemikian rupa namun di wajahnya tiada terlihat rasa takut.

"Akui apa yang kalian kerjakan di tempat ini! Atau kalian mau ke mana, heh...?" Dwi Tolol langsung cengengesan begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh si gemuk berpakaian loreng-loreng.

"Kami mau mencari emak, Tuan....! Sudah hampir lima belas tahun kami ditinggal emak...!" jawab Ginuk tanpa ragu-ragu. Laki-laki pakaian loreng kulit macan berbadan gemuk nampak terperangah. Heran, namun juga geli. Bahkan setelah tidak mampu menahan rasa lucunya, sesaat kemudian dia pun tertawa terbahak-bahak. Demi melihat si gemuk tertawa-tawa, sudah tentu yang lain-lainnya pada bengong. Sebab seperti yang mereka ketahui, selama ini tidak sekali pun laki-laki yang dalam lingkungannya dikenal dengan julukan 'Macan Liar' tak pernah tertawa-tawa begitu rupa. Sikapnya yang kejam dan telengas di kalangan persilatan membuat dia menduduki urutan ketiga dalam kekuasaan 'Peri Bunga Iblis'. Tak dapat dibayangkan dan sulit untuk mencari sebab-sebabnya mengapa hari ini si Macan Liar bertingkah di luar kebiasaannya. Namun mereka yang menyertai Macan Liar juga tak berani bertanya-tanya pada orang yang sangat mereka segani itu. Takut kalau-kalau orang yang mereka takuti itu menjadi marah dan turun tangan. 

"Bocah-bocah tolol! Bagaimanakah rupa emak mu itu, apakah masih perawan dan cantik?" tanya si Macan Liar, konyol. Pada dasarnya mereka yang ditanya itu memang orang-orang tolol, maka dengan polos mereka menjawab

"Aku tak tahu apakah emakku masih perawan atau tidak, itu bukan urusanku. Mengenai ciri-cirinya, nenek Kreot sebelum meninggal pernah mengatakan bahwa emak kami itu berwajah cantik melebihi bidadari, alis matanya melengkung bagai semut hitam beriring. Wajah bulat lonjong kayak telur ayam, matanya redup seperti orang yang mengantuk. Terus... terus... apa kakang!" tanya Gindrung lalu berpaling pada saudara tuanya.

"Terus... di bagian dagunya ada tahi lalat. !" ka-

ta Ginuk menambahi. Bukan tertawa-tawa lagi si Macan Liar, sebaliknya ke dua matanya membelalak tak percaya. Begitu pun dengan orang-orang yang menyertai si Macan Liar. Ciri-ciri orang yang baru disebutsebut oleh Dwi Tolol itu rasanya tak begitu asing bagi mereka. Ketua 'Peri Bunga Iblis', mengapa sama betul. Merasa penasaran, akhirnya tanpa dapat dibendung lagi si Macan Liar pun melanjutkan pertanyaannya.

"Apakah emak mu itu memiliki kulit seputih telur bebek ?"

"Ya... ya... kulitnya memang mirip dengan kulit telur bebek...!" jawab kedua pemuda itu secara serentak.

"Anak-anak, ringkus mereka....!" perintah Macan Liar kepada orang-orangnya. Secara serentak mereka pun bergerak, tangan-tangan mereka yang kokoh terjulur dengan maksud sekali raih dapat menangkap dua pemuda bertampang tolol. Namun di luar dugaan Dwi Tolol berkelit menghindar. Kemudian berdiri berjingkrakan dan balas membetot tubuh lawannya dengan maksud yang sama. Kali ini si Macan Liar yang berdiri menonton bukan semakin gusar melihat adegan itu, sebaliknya malah tertawa bekakakan.

"Bagus! Ada perlawanan, mau di ringkus malah balas meringkus! He.... ha... ha...! Ayo anak-anak, kalian tak mampu meringkus dua tikus tolol, maka kalian mendapat hukuman yang setimpal dariku...!" kata si Macan Liar. Meskipun dia masih terus tertawa-tawa. Tapi orang-orangnya menyadari, bahwa ancaman itu bukanlah ancaman kosong.

Maka dengan kemarahan dan kegusaran yang meluap-luap, lima orang anggota si Macan Liar langsung kerahkan jurus-jurus silat yang mereka miliki.

"Jangan sampai kalian melukainya...!" teriak si Macan Liar mengingatkan. Dengan adanya peringatan itu, sudah tentu kelima orang itu merasa sangat terbatas kesempatan untuk menguasai lawannya. Sebaliknya Dwi Tolol yang memang tanpa senjata itu begitu bergebrak langsung mempergunakan jurus silat tangan kosong "Sosor Bangau Mencatok Cacing', mereka beberapa kali nyaris membuat lawannya celaka. Melihat gelagat yang kurang menguntungkan itu, tiba-tiba melalui ilmu mengirimkan suara, si Macan Liar memberi petunjuk.

"Anak buah pada tolol, coba kalian pergunakan jurus 'Menggusur Karang Membuat Lubang' pasti sejak tadi kedua tikus tolol itu sudah kena kalian ringkus...!" Begitu mendapat makian dari orang yang mereka hormati! Cepat-cepat mereka merubah jurus silat yang mereka mainkan. Lima orang lawan maju sekaligus, tiga meringkus bagian kaki, sedangkan yang dua orang lagi meringkus bagian tangan. Namun Dwi Tolol telah bergerak mendahului.

"Wuut. !"

"Dess...! Deees...!" Dengan tangan menyilang di depan dada, dua tendangan beruntun mereka lakukan sekaligus. Dua lawan yang bermaksud menangkap kaki Ginuk dan Gindrung kena ditendang bagian hidungnya sehingga mengeluarkan darah.

"Ala emak, hidungku bosor....!" Keluh laki-laki kurus berpakaian kulit macan.

"Lakukan sekali lagi, goblook...!" maki Macan Liar bersungut-sungut. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan segenap kemampuan yang mereka miliki. Sekali lagi mereka melakukan sergapan serentak sambil lancarkan totokan. "Hiaaat...." Masih dengan memandang remeh, Dwi Tolol berkelit. Sekali lagi melakukan satu tendangan. Namun luput, sebaliknya totokan-totokan yang dilakukan oleh penyerangnya menyambar bagian tubuh Ginuk dan Gindrung.

"Tuuuk.... tuuuuk !"

"Ahgk....!" Dwi Tolol keluarkan keluhan pendek, kemudian roboh dengan keadaan tubuh kaku tak dapat digerakkan.

"He... he... he....! Bagus sekali pekerjaan kalian. Sekarang gotong tubuh mereka...!" kata Macan Liar sambil tertawa-tawa kayak orang sinting.

"Kakang, kita mau dibawa ke mana...?" tanya Gindrung nampak cemas.

"Terserah mereka, dibawa ke mana kek, yang penting kita tidak dipaksa jalan kaki !" Dengan sikap

pasrah, Ginuk dan Gindrung diikat kedua tangan dan kakinya, kemudian bagai membawa hasil buruan Dwi Tolol diboyong memasuki kawasan hutan lebat.

***

7

Melangkah ke Tenggara hutan Jajaran, belok kiri jalan berlapis batu gamping yang sangat licin, kemudian membelok ke arah jalan sempit yang diapit dua jurang menganga. Mendaki lagi anak tangga yang jumlahnya mencapai seratus anak tangga. Di situlah berdiri dengan megah singgasana berlapis perak milik Peri Bunga Iblis berikut begundal-begundalnya. Pabila panas terik, dari kejauhan nampak sinar putih bagai mutiara terpantul dari singgasana yang sangat mirip dengan istana mini itu. Mendekati singgasana milik Peri Bunga Iblis, terlihatlah berlapis-lapis penjaga bersenjata lengkap mondar mandir di seputar lingkungan singgasana itu. Keadaan seperti itu memang tidak sebagaimana biasanya. Hal ini dilakukan sejak adanya laporan dari Wisesa tentang seorang tokoh muda berpenampilan aneh dan memiliki kepandaian yang sulit diukur.

Demikianlah siang itu terjadi pembicaraan serius di ruangan pertemuan yang sangat rahasia, antara begundal-begundal dengan ketuanya. Di ruangan yang sangat rahasia itu berkumpullah, Wisesa, Macan Liar, Kebo Bogel, yaitu tangan kanan pertama Peri Bunga Iblis.

"Sampai saat ini aku masih meragukan tentang keberadaan seorang pemuda aneh berilmu tinggi seperti apa yang dikatakan oleh saudara Wisesa itu! Sebab sepengetahuanku, selama ini di seluruh bagian Tenggara tak seorang pun kaum persilatan yang bagaimana pun hebatnya dapat lolos atau pun mampu menghadapi kita...!" Kata perempuan berumur empat puluhan itu namun masih tetap memiliki wajah yang cantik.

"Maaf ketua! Tidak nantinya saya mengarang cerita palsu, hanya untuk menyelamatkan diri dan mengelabuhi sesama kawan sendiri....!" jawab laki-laki berwajah pucat yang bernama Wisesa itu, dengan wajah semakin bertambah kelam. Peri Bunga Iblis yang sedang tampak duduk angker di atas singgasana berlapiskan perak, kembali mengangguk pelan. Tak lama kemudian pandangan matanya memperhatikan wajah para pembantunya satu demi satu. Sekejap berhenti pada Macan Liar dan Kebo Bogel.

"Bagaimana paman Macan Liar dan Uwa Kebo Bogel? Pernahkah anda berdua mendengar tentang adanya seorang pemuda berkuncir berkeliaran di sekitar wilayah kekuasaan kita?" tanya Peri Bunga Iblis dengan pandangan matanya berkilat-kilat.

"Dunia persilatan itu tidak hanya mencakup wilayah Jajaran dan sekitarnya. Bahkan hampir di seluruh kolong jagat itu, orang-orang sakti dan berkepandaian tinggi berkeliaran. Siapa tahu apa yang dikatakan oleh Adi Wisesa mengandung satu kebenaran yang patut kita waspadai. Bukan mustahil orang berperiuk yang di sebut-sebut oleh adi Wisesa merupakan orang luar yang patut kita curigai keberadaannya!" sahut Kebo Bogel tanpa ragu. Mendengar jawaban tangan kanan yang sangat di percayainya, Peri Bunga Iblis berpaling pada Macan Liar yang berada di sebelah laki-laki yang berbadan gemuk.

"Bagaimana pendapat   paman   Macan Liar. ?"

Yang ditanya kali ini adalah laki-laki berpakaian loreng-loreng kulit macan. Berwajah sangar menyeramkan. Seperti yang telah kita ketahui, seumur hidup baru sekali saja orang ini tersenyum dan tertawa-tawa. Sekarang ini demi mendapat giliran pertanyaan, mata si Macan Liar yang sipit bagai kurang tidur itu berkeriapan. Dengan suaranya yang selalu serak bergetar orang ini menjawab:

"Menurutku siapa pun adanya tokoh itu patut dicurigai! Terkadang orang yang memiliki kepandaian tinggi selalu berlagak bego, sebaliknya juga begitu. Dalam pertemuan ini juga aku ingin melaporkan tentang dua orang bertampang tolol yang mengaku-ngaku sebagai anak ketua di sini !" Memerah paras Peri Bunga

Iblis seketika, sama sekali dalam pertemuan itu dia tiada menduga kalau Macan Liar akan mengatakan sesuatu yang sama sekali di luar perhitungannya. Tadi malam Peri Bunga Iblis memang sempat mendengar tentang adanya hasil tangkapan yang kemudian disekap di ruangan bawah tanah. Tapi dia tidak begitu perduli. Sebab sudah menjadi kebiasaan di wilayahnya, siapapun yang patut dicurigai akan selalu ditangkap hidup ataupun mati.

"Ini benar-benar sangat keterlaluan sekali. Dua pemuda bertampang bego, mengaku dirinya sebagai anak hantunya rimba persilatan." batin Peri Bunga Iblis. Dalam keadaan diliputi kebimbangan seperti itu, tiba-tiba perempuan setengah baya ini berkata tegas: 

"Paman Macan Liar! Dari manakah asal-nya dua pemuda tolol yang mengaku sebagai anakku itu?" Semua orang yang berada di dalam ruangan pertemuan itu nampak saling pandang dengan sorot mata meragu.

"Aku tidak mengatakan mereka itu anakmu, Ketua....! Cuma ciri-ciri yang mereka katakan padaku, rasa-rasanya mirip dengan ketua. Bahkan mereka pun tak tahu apakah benar ketua merupakan orang tuanya. Sebab aku pun belum mengatakannya pada mereka!" jawab Macan Liar tenang.

Peri Bunga Iblis nampak menarik napas pendek, rasa sesak yang tadinya menghimpit rongga dadanya, kini berangsur-angsur lenyap.

"Banyak orang di dunia ini yang memiliki persamaan wajah! Aku pun ingin tahu apakah dua pemuda gendeng itu benar-benar anakku! Enam belas tahun aku dirundung kesedihan hanya karena aku kehilangan anak. Mereka semua tewas karena musibah banjir yang melanda desa kami. Herannya suamiku Loga Wisa yang kini meringkuk dalam tahanan itu malah bersuka ria atas kematian anak-anakku. Aku hampir gila karena kuketahui kemudian si keparat Loga Wisa ternyata memiliki banyak istri serta menjadi kaki tangan si Tapak Bayangan yang telah membunuh kedua orang tuaku! Sukur manusia sesat itu telah mampus di tangan guruku. Kalau pun ku bangun istana Selaksa Perak ini. Kemudian kita bergabung di dalamnya. Semua itu semata-mata atas nama dendam! Aku baru merasa puas setelah semua tokoh-tokoh persilatan menjadi pecundang dan berlutut di bawah kekuasaanku...!" kata Peri Bunga Iblis melampiaskan segala unek-uneknya. Semua bawahan yang berada dalam ruangan itu nampak diam membisu. Suasana menjadi hening. Sepi. Masing-masing orang tenggelam dalam pikirannya. Sama sekali mereka tiada menduga, kalau akhirnya ketua mereka begitu terbuka membeberkan masa lalunya. Merekapun tak dapat menyalahkan Peri Kumala Hijau, jika Loga Wisa dijebloskan oleh istrinya sendiri ke dalam sel penjara bawah tanah. Tak sampai sepeminum teh, keheningan itu kembali terpecah oleh suara dingin perempuan telenggas itu.

"Selesai pertemuan ini, aku ingin melihat hasil tangkapanmu itu paman Macan Liar? Sebelum aku memberi keputusan, kuminta jangan di apa-apakan pemuda itu!" Kata Peri Bunga Iblis.

"Kami akan mematuhinya, Ketua...!" Jawab para begundal-begundalnya serentak.

"Satu lagi yang harus kalian kerjakan, yaitu cari pemuda berperiuk dan gadis yang menyertainya. Aku yakin gadis itu muridnya Darah Swanda dari perguruan Cakar Buana..,.!"

"Perintah ketua akan kami jalankan....!" Jawab Kebo Bogel. Tak lama setelah pembicaraan penting itu dianggap usai, maka Peri Bunga Iblis dengan ditemani oleh Macan Liar dan Kebo Bogel berangkat menuju penjara yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat kediamannya. Sementara itu, Wisesa dengan disertai Kembar Kirik Cokelat dan dua puluh orang anak buah segera meninggalkan istana Selaksa Perak untuk mencari pemuda yang hampir membuat dirinya celaka. * * *

Kecepatan ilmu lari yang dimiliki oleh laki-laki tua berjenggot putih berpakaian kembang-kembang itu memang sangat luar biasa. Anehnya sungguh pun laki-laki tua berkulit merah itu membawa seekor kuda tunggangan berwarna putih bersih. Namun sepanjang perjalanan yang di tempuhnya. Tidak sekali pun kuda itu dia pergunakan sebagaimana lajimnya. Layaknya laki-laki itu seperti sedang adu lomba kecepatan dengan kuda yang sangat terlatih itu.

"Criiing.... Criiing !"

"Hieee.....!" Bersamaan dengan terdengarnya bunyi bergemerincingan, kuda putih yang menyertai laki-laki berusia tujuh puluh tahun itu meringkik keras. Mendadak menghentikan larinya dan memandang pada laki-laki tua yang berada di sampingnya. Sekali dua, laki-laki berpakaian kembang-kembang mengusap-usap bagian hidung kuda yang sudah sangat terlatih itu. Tiba-tiba kuda kesayangannya membuka mulutnya lebar-lebar.

"Criingg....!" Suara bergemerincingan kembali terdengar, di iringi kata-kata bersahabat dari pemiliknya.

"Aku tahu engkau letih! Kita memang sudah sama-sama semakin tua. Dalam umur yang sudah setua kita inipun, urusan dunia tidak kunjung selesai!" kata laki-laki itu. Kemudian memasukkan sesuatu ke dalam mulut kuda yang ternganga. Terdengar bunyi mendecap-decap saat kuda tadi mengunyah sesuatu yang dimasukkan oleh tuannya. Sesaat laki-laki ini memandang jauh kedepannya.

"Putih....! Bagaimana firasatmu tentang muridmuridku yang tiada pernah kembali itu...!"

"Hieeee...! Bletak.... bletok.....!" Kuda putih meringkik keras, lalu hentak-hentakkan kakinya dua kali. Alis putih di atas rongga mata si laki-laki yang cekung mengernyit.

"Kau bilang murid-muridku mengalami nasib yang jelek....!" gumam laki-laki itu dengan wajah tertunduk lesu.

"Murid-murid perguruan Sangga Buana yang malang! Aku yakin bukan Kembar Kirik

Cokelat yang telah melakukannya. Mungkin begundalbegundalnya Peri Bunga Iblis!" Membatin laki-laki aneh yang tak lain adalah Darah Swanda ketua perguruan Sangga Buana.

"Mengapa waktu itu bukan aku saja yang melakukan pengejaran atas murid berkepala Anjing itu. Kitab Cakar Buana mungkin saat ini telah berada di tangan Iblis sesat itu! Sia-sia saja aku telah menciptakannya selama hampir dua puluh tahun terakhir. Padahal kitab itu kuciptakan untuk membasmi manusia iblis yang telah membuat ludes kaum persilatan golongan putih. Kutu kupret, aku benar-benar telah kecolongan dengan hadirnya Kembar Kirik Cokelat !"

geram Darah Swanda. Dalam kemarahannya itu, mendadak Darah Swanda hantamkan tangannya ke satu arah rimbunan pepohonan. Selarik cahaya berwarna putih tak ubahnya laksana kilat menderu menghantam sasarannya.

"Wuuuus.... Buuum....!" Pukulan yang dilepas oleh Darah Swanda menghantam telak kerimbunan pohon hingga hancur berantakan. Lima orang yang bersembunyi dalam kerimbunan pohon itu terpelanting roboh dalam keadaan hangus.

"Kurang ajar...! Sungguh orang tua tak tahu adat, berada di daerah orang malah cari perkara   !"

Terdengar satu bentakan geram ditujukan pada Kakek Darah Swanda. Kuda putih di sampingnya meringkik keras, alis mata Darah Swanda mengernyit. Agaknya dia menyadari orang yang baru membentak dirinya itu memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Namun sebagai seorang tokoh tua yang sudah banyak mengecap asam garam dunia persilatan. Sama sekali dia tidak merasa terpengaruh dengan adanya bentakan yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam tadi. Tanpa berkata apa-apa, ketua perguruan Sangga Buana ini kembali hantamkan pukulan 'Kilat Buana'

"Deeer....!" Pohon yang menjadi sasaran pukulan kakek Darah Swanda roboh dengan menimbulkan suara berdebum. Sementara dari atas pohon nampak melesat beberapa sosok tubuh dengan suara tawanya, bergelak-gelak.

"Jligk!. Jligk.....!" Dengan tanpa menimbulkan suara, orang-orang yang bersembunyi di atas pohon itu menjejakkan kakinya persis di depan Darah Swanda. Tersirap darah kakek ini begitu mengenali dua orang di antara belasan laki-laki yang telah mengurungnya.

"Kau.... Kembar Kirik Cokelat....!" Geramnya dengan mulut menganga lebar. "Murid murtad     ! Ce-

pat serahkan kitab yang telah kau larikan itu   !" ben-

tak Darah Swanda.

"He... he... he...! Kitab apa, Guru pikun...!" sentak salah seorang dari Kembar Kirik Cokelat dengan sesungging senyum mengejek. Wajah kakek Darah Swanda mendadak berubah kelam membesi. Tubuhnya nampak gemetaran karena menahan amarah yang meluap-luap. 

"Tak pernah kuduga kiranya kalian sekutunya manusia iblis....! Kini aku menyadari kiranya muridmuridku yang tiada pernah kembali itu, telah kalian bunuh. Hhh.   hutang nyawa, di tambah dengan kesa-

lahan telah melarikan Kitab Cakar Buana! Rasarasanya kalau pun kupenggal kepala kalian masih juga belum lunas....!" Menggeram si kakek sambil melirik pada laki-laki berbadan semampai yang berada di sebelah Kembar Kirik Cokelat.

"Inikah manusianya yang telah menjadi guru kalian, Saudara Kembar...!" gumam laki-laki yang bernama Wisesa itu memandang remeh.

***

8

"Tak salah lagi! Kunyuk tua muka merah inilah yang dulu pernah kuangkat sebagai guru keblinger. !"

"Beranikah kalian menghadapinya....?" pancing Wisesa memanas-manasi.

"He... he... he   ! Di wilayah kekuasaan ketua Pe-

ri Bunga Iblis, dia bukanlah apa-apa !" jawab Kembar

Kirik Cokelat berapi-api. Wisesa tertawa lebar, dia merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh orang yang masih termasuk bawahannya itu.

"Ilmu silat kalian sudah tentu sangat dikenal oleh si tua muka merah ini. Alangkah baiknya kalau aku yang menghadapi dan menjajal sampai di mana pamor ketua perguruan Sangga Buana ini !" kata Wi-

sesa. Kemudian di awali satu bentakan keras, tubuh laki-laki berbadan semampai itu melompat ke depan sambil lancarkan satu jotosan ke arah kepala Darah Swanda. Ketua Perguruan Sangga Buana, geser kakinya satu langkah ke samping kiri. Dengan sedikit miringkan badan, kakek Darah Swanda menyambut serangan itu dengan satu cakaran dan tendangan menyilang. Wisesa nampak terperanjat melihat sambaran yang datang dari bagian kaki pihak lawannya. Secara praktis dia tarik balik tangannya yang hampir tersambar kaki lawan. Selanjutnya dengan mempergunakan jurus 'Tiga Singa Gurun', tubuhnya berkelebat sangat cepat. Dalam pandangan lawan, tubuh Wisesa mengembar menjadi tiga orang. Namun Darah Swanda juga selain memiliki kepandaian tinggi, juga mempunyai pandangan batin yang jernih. Dengan mata meram dan konsentrasi yang terkontrol dengan baik dia terus mengincar tubuh lawannya.

"Husyaaa...!" Satu bentakan menyertai berdesingnya senjata rahasia yang disambitkan oleh Wisesa dan kawan-kawannya. Sementara itu Kembar Kirik Cokelat masih terus menonton jalannya pertarungan yang semakin bertambah sengit. Saat itu Darah Swanda bukan tak menyadari adanya serangan senjata rahasia yang datang dari berbagai penjuru itu. Namun dia pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk menghajar tubuh asli pihak lawan yang telah menjadi kembar tiga. Untuk menghindari serangan senjata rahasia yang berupa Paku Bunga Iblis, ketua Perguruan Sangga Buana kebutkan jubahnya yang berwarna kembang-kembang. Secara aneh serangkum gelombang angin yang sangat kencang menderu dari jubah yang dikebutkan oleh Darah Swanda. Senjata rahasia yang disambitkan oleh Wisesa dan anak buahnya dengan tenaga penuh jadi tertahan di udara. Bahkan sedetik kemudian mental kembali menyerang pemiliknya. Yang tak sempat menghindari serangan balik senjatanya sendiri nampak terpelanting roboh dengan tubuh menghitam dan jiwa melayang. Tercengang mereka yang masih selamat dari maut yang mengancamnya. Sama sekali mereka tiada menduga kalau ketua Perguruan Sangga Buana memiliki kepandaian yang sehebat itu.

Sementara pertarungan terus berlanjut, dengan mata masih terpejam, kakek berusia senja ini terus menggebrak dengan serangan-serangan ganas. Kali ini dia memang sengaja mempergunakan jurus-jurus andalan untuk menggempur anggota Peri Bunga Iblis yang selama ini dia dengar telah membantai begitu banyak kaum persilatan golongan lurus. Saat itu tubuh Wisesa yang beberapa kali sempat kena gebuk kembali dalam ujud tunggalnya. Dalam keadaan kembar tiga orang nomor tiga dalam urutan anggota Peri Bunga Iblis, tak mampu berbuat banyak. Padahal saat itu dia telah menguras banyak tenaga. Setengah kesal dia memberi isyarat pada kawan-kawannya untuk melakukan pengeroyokan. Tanpa menunggu lebih lama, baik Kembar Kirik Cokelat dan belasan orang lainnya, langsung memasuki gelanggang pertarungan.

"Cring.... Criiiing.... criiiing !"

Terdengar bunyi bergemerincing saat Darah Swanda menghentakkan kakinya yang bergelang itu memberi isyarat pada si putih. Kuda yang sangat terlatih itu meringkik keras. Kemudian dengan gerakangerakan aneh, kuda milik ketua Perguruan Sangga Buana menerjang ke arah anggota Wisesa yang nampak mulai melabrak dengan senjata terhunus. Terdengar teriakan-teriakan maut saat tubuh-tubuh yang tidak sempat menghindar, terinjak-injak kaki kuda yang sudah kalap melihat majikannya dikeroyok sedemikian rupa.

"Hantam tubuh kuda itu...!" teriak Wisesa pada si Kembar Kirik Cokelat yang masih terus berusaha menghindari dan menyerang kuda milik Darah Swanda.

"Craaak.... Craaak !"

"Hieeeeeh !" Pedang pendek yang dipergunakan

oleh Kembar Kirik Cokelat mental entah ke mana, tubuh kuda putih milik ketua Perguruan Sangga Buana kiranya kebal terhadap berbagai senjata tajam. Bukan saja Kembar Kirik Cokelat yang selama ini pernah menjadi murid Darah Swanda yang terperangah, namun juga Wisesa yang sempat melihat kejadian itu menjadi sangat terkejut. Dia sendiri merasa selama ini belum pernah melihat seekor kuda mampu melakukan gerakan silat dan bahkan kebal terhadap serangan senjata tajam. Tapi kali ini dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan kejadian yang ganjil seperti itu. Sungguh satu hal yang sangat langka.

"Manusia sekutu iblis! Jangan bengong, makan seranganku...!" teriak Darah Swanda sambil hantamkan pukulan Kilat Buana. Wisesa terkesiap dengan adanya sambaran udara panas yang menerpa bagian bahunya. Secepatnya dia mencabut sebilah arit berwarna putih mengkilat karena ketajamannya. Senjata itu dia putar sedemikian rupa sehingga membentuk gulungan sinar putih yang membungkus tubuhnya.

"Breees....!" Tanpa ampun tubuh Wisesa terhantam pukulan Kilat Buana yang menimbulkan hawa panas itu. Namun hal itu hanya berakibat terdorongnya tubuh lawan beberapa tindak ke belakang. Setelah terhuyung-huyung kemudian kembali siap dengan kuda-kudanya. Laki-laki berpakaian hitam ini merogoh sesuatu dari balik bajunya. Lalu melontarkannya ke arah Darah Swanda. Apa yang dilakukan oleh Wisesa kiranya sudah berada dalam perhitungan ketua Perguruan Sangga Buana. Lalu kesempatan yang hanya sesaat itu dia pergunakan untuk menutup jalan pernapasannya. Tiga buah benda berwarna hitam yang besarnya tak lebih dari sebutir telur itik itu dengan sengaja dia sampok dengan tangan kanannya.

"Dweer....!" Terdengar tiga kali ledakan kecil berturut-turut ketika benda itu pecah dan menimbulkan asap putih menyerupai kabut. Namun siapa sangka kalau dalam keadaan masih terbungkus kabut yang berupa racun pembius itu, Kakek Darah Swanda masih dapat tergelak-gelak, dan bahkan masih dapat mengetahui di mana posisi lawan berada. Tanpa di duga oleh Wisesa, Kakek Darah Swanda hantamkan pukulan andalannya yang berupa pukulan 'Sejuta Geledek' yang sangat dahsyat itu.

"Duuuk! Kraaak.....!" Dengan telak Wisesa kena dihajar oleh Kakek Darah Swanda. Tubuh laki-laki berbadan gempal itu terbanting keras di atas tanah berbatu. Tiga buah tulang rusuknya patah. Begundal Peri Bunga Iblis terbatuk beberapa kali.

"Hoeek....!" Darah menyembur dari mulut dan hidungnya, wajahnya yang hitam berubah pucat bagai sudah tiada berdarah lagi. Dengan tubuh gemetaran, laki-laki itu berusaha bangkit berdiri, namun limbung dan langsung jatuh tersungkur. Satu pukulan dengan mengerahkan segenap kesaktian yang ada kembali di lepas oleh Darah Swanda yang sudah gelap mata.

"Paman Sesa, awaaas. !" Teriakan salah seorang

dari Kembar Kirik Cokelat nampaknya sudah tidak banyak artinya. Karena ternyata pukulan yang dilepas oleh Darah Swanda telah melabrak tubuh sekarat tiada daya tersebut. Laksana terbang tubuh yang sudah tiada berdaya itu dilanda pukulan Sejuta Geledek milik Darah Swanda. Begitu tubuh laki-laki berbadan gempal itu terbanting di atas tanah, berkelojotan sebentar lalu terdiam untuk selama-lamanya.

Secara perlahan Darah Swanda mengerling ke arah Kembar Kirik Cokelat dengan sudut matanya. Selanjutnya menoleh pula pada kuda putih miliknya yang masih terus mengamuk melawan beberapa gelintir orang-orang Wisesa.

"Criiing... Criiing "

"Heiiiieeeh....!" Begitu Darah Swanda memberi isyarat pada kuda putih miliknya. Binatang terdidik itu langsung menghentikan sepak terjangnya. Kemudian berlari-lari kecil mendekati pemiliknya.

"Cukup putih! Sekarang tenang-tenang-lah kau di sini, kau lihatlah bagaimana cara seorang bekas guru memberi hukuman pada murid murtad berkepala binatang ini!" kata Darah Swanda dengan nada mengancam.

"He... he.., he...! Sungguh pun kau bekas seorang guru kami, jangan kira kami takut menghadapimu. Majulah....!" tukas salah seorang dari Kembar Kirik Cokelat dengan suara lantang.

"Keberanian kalian memang patut di puji! Namun sebelum kalian mati, jawab dulu beberapa pertanyaan dariku...!"

"Heh... kau pasti mau menanyakan Kitab Cakar Buana yang telah kami curi itu...!" katanya mengejek.

"Bukan itu saja !"

"Yang satunya pasti tentang murid-murid mu yang tiada kembali ke perguruan !" tebak kembar Ki-

rik Cokelat sekenanya.

"Tak salah !" kata ketua Perguruan Sangga Bu-

ana dengan tatapan dingin. Kembar Kirik Cokelat berpandangan sesamanya, selanjutnya kembali menoleh pada bekas gurunya.

"Apakah dengan kami beritahukan hal yang sebenarnya lalu engkau mengampuni kami ?"

"Tergantung memuaskan tidaknya jawab-an yang kalian berikan !"

"Kalau begitu, di antara kita tak perlu ada kompromi. Asal kau tau saja, bahwa tiga orang muridmu telah tewas di tangan kawan-kawan kami. Sedangkan kitab Cakar Buana telah kami berikan pada ketua Peri Bunga Iblis !" kata Kembar Kirik Cokelat tenang.

"Keparaaaat....! Aku benar-benar akan mencincang tubuh busuk kalian!" maki Darah Swanda dengan kemarahan yang meluap-luap.

"Cabutlah senjata agar kalian tak mati percuma !"..

"Baik, menghadapi guru pikun sepertimu, kami memang memerlukan senjata...!" tukas kembar Kirik Cokelat sambil meraba gagang pedangnya.

"Sriiing! Sriiiing!" Di tangan Kembar Kurik Cokelat kini telah tergenggam sebilah pedang pendek tipis. Sebaliknya Darah Swanda yang sudah terbakar kemarahan nampak tak ingin mengulur-ulur waktu lagi. Segera pula mencabut senjatanya yang berupa senjata sebilah pedang mustika berukuran panjang berkilatkilat karena ketajamannya.

"Hiaaat..... Ciaaaa   !" Secara nekad murid mur-

tad itu menyerang gurunya dengan senjata terhunus. Dengan ganas murid berkepala anjing itu menyerang Darah Swanda dari dua arah sekaligus. Pedang di tangan berkelebat menyambar mencari sasaran. Ketua Perguruan Sangga Buana nampak tenang sambil tersenyum penuh amarah. Bagaimanapun yang dilawan oleh mereka kali ini adalah bekas gurunya sendiri. Ilmu silat mereka berasal dari satu sumber. Dan yang pasti Darah Swanda mengetahui kelemahankelemahan jurus yang dimainkan oleh bekas muridnya. Demikianlah setelah pertarungan mencapai belasan jurus, nampaknya Darah Swanda sudah merasa habis kesabarannya. Detik selanjutnya tubuh laki-laki berusia tujuh puluhan itu berkelebat lenyap. Dua kali pedang di tangannya menderu dahsyat.

"Jrees! Jrees !" Dua Kembar Kirik Cokelat melo-

long setinggi langit. Sebelah tangannya masing-masing yang memegang senjata terbabat buntung.

"Itu hukuman untuk kesalahan kalian telah mengkhianati perguruan... dan yang ini....!" Kembali pedang di tangan Darah Swanda berkelebat. "Jrees... Jrooos !"

"Argghk....!" Suara teriakan menyayat kembali terdengar.

"Itu hukuman buat kesalahan kalian yang telah membuat murid-murid tewas!" kata Darah Swanda sambil memandang tajam tanpa ekspresi.

"Dan yang ini....!" Pedang di tangan laki-laki itu kembali menyambar.

"Jraaak.... Jroook....!" Dua kepala manusia yang berupa kepala anjing itu menggelinding ke tanah. Darah menyembur dari luka yang mengerikan itu. Sementara kepala yang terpenggal terus menggelinding dengan mata melotot dan lidah terjulur. Bagian badan yang sudah tiada berkepala itu nampak sempoyongan dan melangkah tanpa tujuan. Namun setelah darah yang mengalir dalam tubuhnya asat, tak dapat dicegah lagi, secara hampir bersamaan tubuh Kembar Kirik Cokelat ambruk ke bumi. Hanya sesaat saja tubuh yang sudah dalam keadaan menggenaskan itu berkelejat-kelejat, kemudian diam membeku. Begitu dingin dan tanpa perasaan, ketua Perguruan Sangga Buana itu memperhatikan mayat bekas murid-murid yang sangat menjengkelkan itu.

"Kalian memang pantas mati. Keberadaan kalian di kolong langit ini hanya membikin onar saja. Heh...

tiga orang muridku telah tewas, tentu salah seorang di antara mereka selamat. Tapi siapakah di antara mereka itu? Ada baiknya kalau aku menyerbu markas Peri Bunga Iblis, sekalian mencari tahu tentang kabar muridku yang selamat itu!" batin Darah Swanda. Selanjutnya setelah memberi tanda pada kuda putih miliknya. Maka mereka pun kembali berlari cepat menuju tempat kediaman Peri Bunga Iblis. 9

Dalam kerangkeng penjara yang luasnya tak lebih dari dua kali tiga meter itu. Di sanalah Ginuk dan Gindrung dipenjarakan. Sepanjang kerangkeng yang jumlahnya lebih dari lima puluh kamar itu berbagai kaum persilatan yang membangkang menjalani hukuman yang cukup berat. Hampir setiap hari terdengar rintihan dari mulut orang-orang yang sedang mendapat siksa. Di antara sekian banyak orang, hanya Ginuk dan Gindrung saja yang mendapat perlakukan istimewa. Kenyataan ini membuat para tahanan yang berada di sisi kanan kirinya menjadi iri. "Apa sih istimewanya dua kunyuk bertampang tolol itu sehingga mereka mendapat perlakuan istimewa seperti itu." tanya mereka dalam hati. Padahal menurut mereka Dwi Tolol hanyalah manusia biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa terkecuali ketololannya. Hal ini patut dipertanyakan! Batin salah seorang yang berada di sebelah kerangkeng Dwi Tolol. Hingga sampai seminggu kemudian rasa penasaran itu akhirnya tercetus juga.

"Hei... siapa nama kalian! Berasal dari mana hingga sampai nyasar kemari...?" tanya si laki-laki yang di sekujur badannya penuh dihiasi tatto dan hampir setiap hari mendapat siksaan itu, penasaran.

"Kakang... orang itu menanyai kita, matanya melotot seperti tidak senang!" lapor Gindrung sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ginuk yang sejak pagi terus saja mendengkur.

"Apa kau bilang, adi... siapa tanya siapa...?" kata Gipuk lalu mengucek-kucek matanya yang terasa pedas. Laki-laki bertatto menggebrak kerangkeng yang di huninya.

"Aku yang tanya, gobloook....! Cepat jawab !" bentak laki-laki itu dengan nada geram.

"Eee.... namaku Ginuk, sedangkan adikku ini Gindrung...!" jawab yang paling tua sambil cengengesan.

"Dari mana asal kalian...?" sentaknya lagi. "Dower... eee... maksudku, kami berasal dari du-

sun dower....!" Si laki-laki bertatto manggut-manggut, lalu "Nama yang cukup tak memberi kesan dusun kalian agaknya tak tertulis dalam peta persilatan !"

"Peta persilatan... aku pun tak tahu....!" jawab Gindrung mendahului saudara tuanya. Si laki-laki bertatto mendengus menampakkan rasa ketidak senangannya.

"Ada hubungan apa kalian dengan ketua Peri Celaka itu...?" tanyanya lagi. Kedua orang itu serentak geleng-gelengkan kepalanya.

"Jadi kalian tak tahu...? Pantesan. Dasar kalian orang-orang tolol...! Lalu mengapa kalian sampai ditangkap oleh orang-orang Peri Bunga Iblis, heh ?"

"Lha wong kami cari emak   !"

"Cari emak ?" batin laki-laki bertatto merasa ge-

li sendiri, "Kalau hanya sekedar mencari orang tua mengapa sampai orang-orang itu menangkap kalian ?"

"Mana aku tahu, mungkin emak kami ada di sini... sehingga orang-orang itu membawa kami kemari !"

"Apakah emak kalian itu rupanya mirip dengan Peri Bunga Iblis?"

"Wow... mirip sekali! Bahkan kami menyangka orang itulah emakku..!" jawab Dwi Tolol hampir bersamaan. Merah padam wajah si laki-laki bertatto mendengar pengakuan Dwi Tolol. Serta merta di kerahkannya tenaga dalam yang di milikinya. Kemudian dengan sekali lompat diterjangnya dinding kerangkeng yang terbuat dari kayu jati itu.

"Bruaaaak.....!" Kerangkeng yang berjeruji kayu sebesar betis seorang anak kecil itu pun hancur berkeping-keping. Laki-laki bertatto menyeruak keluar, selanjutnya menyerbu ke arah kerangkeng yang di huni oleh Dwi Tolol.

"Keparaaat! Tampang kalian berlagak mirip orang bego, nggak tahunya kalian ini anaknya si keparat Peri Bunga Iblis! Hhh... aku harus mampusin kalian berdua... Ciaaat. !" teriak si laki-laki bertatto sambil me-

lakukan satu terjangan.

"Bruaak !" Di saksikan para tawanan yang begi-

tu banyak jumlahnya. Pintu kerangkeng itu pun hancur berantakan.

"Keluar kalian anaknya ratu sesat...!" perintah laki-laki itu sambil menudingkan telunjuknya. Tapi perintahnya yang menggeledek tidak segera dituruti oleh Dwi Tolol. Hal ini hanya membuat darah laki-laki itu semakin menggelegak sampai ke ubun-ubun. "Kurang ajar! Kalian semakin berpura-pura bego mam-

puslah...!" Si laki-laki bertatto menyerbu ke dalam kerangkeng. Kemudian menyentakkan tubuh Ginuk dan Gindrung, hingga membuat dua pemuda bertampang tolol itu terjajar ke dinding kerangkeng.

"Kakang! Apa salah kita, orang ini kok mengamuk kayak orang gila...?" tanya Gindrung dengan tubuh menggigil dan wajah pucat pasti.

"Manusia kampret... hiih...!" Dengan geram lakilaki bertatto berbadan gemuk itu menyentakkan krah baju yang dipakai oleh Ginuk dan Gindrung. Sehingga tubuh pemuda itu terangkat tinggi. "Ketahuan kalian berdua anaknya Peri Bunga Iblis, masih juga kalian berpura-pura tolol !"

"Buk... bukan...! Kalau memang benar perempuan cantik itu emak kami. Siapa sudi punya emak jahat.... Kata nenek Kreot yang sudah meninggal, emak kami baik sekali bukan seperti iblis...!" Sementara para tahanan lainnya nampak tergelak-gelak menyaksikan adegan itu. Namun sejauh itu mereka tak ada niat untuk membela si laki-laki bertatto, jangankan lagi memberontak. Sebab mereka menganggap hal itu hanyalah akan sia-sia belaka. Apalagi mengingat di sekitar lingkungan tembok benteng berkeliaran berlapis-lapis penjaga yang rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Saat itu, Ginuk sedang berusaha melepaskan cengkraman laki-laki berwajah kasar itu. Namun nampaklah usaha yang dilakukannya tidak membuahkan hasil. Cengkraman si laki-laki bertatto semakin bertambah kuat bagai jepitan baja

"Adi... masih hidupkah kau...!" teriak Ginuk, megap-megap dan terasa sulit bernafas.

"Mmm... masih! Tapi sudah hampir kelenger...!" "Gunakan jurus cocor bebek mencatok cacing,

adi Gindrung !"

"Bagus! Gunakan saja jurus konyol pengantar mampus yang kalian miliki! Aku jadi ingin lihat seberapa hebat anak-anaknya Peri Bunga Iblis....!" geram si laki-laki bertatto.

"Husraaa....!" Kedua pemuda itu mengerahkan segenap kemampuan yang ada. Laki-laki bertatto kali ini malah tertawa terbahak-bahak. Tiada di sangkasangka, secara berbarengan Dwi Tolol hantamkan tinjunya ke wajah orang itu, kemudian bagian kaki menyodok ke arah bagian perut yang paling bawah.

"Buuk...! Buuuk !"

"Jrooot. !"

"Auuuuh....!" Cengkeraman tangan si laki-laki bertatto terlepas, sambil memegangi bagian terlarang miliknya. Laki-laki itu menjerit dan berjingkrak jingkrak.

"Kena... kena kakang...!" kata Gindrung polos. "Kau apakan dia...?" tanya Ginuk berusaha ke-

luar dari dalam kerangkeng. "Kutendang anunya, Kakang...!"

"Ha... anunya kau tendang?" kata Ginuk dengan mata membelalak tak percaya.

"Biar kapok, Kang...! Biar cuti, kalau perlu untuk selamanya....!" sahut Gindrung, berjingkrak jingkrak. Sementara itu dengan langkah masih terpincangpincang, si laki-laki bertatto nampak mengejar keluar kerangkeng.

"Keparaat kalian...! Tidak boleh tidak, aku harus membunuhmu...!" teriak laki-laki itu terus menerjang.

"Pergunakan jurus Cocor Bebek Mencatok Cacing, Adi...!" teriak Ginuk sambil berusaha berkelit menghindar, begitu juga halnya yang dilakukan oleh Gindrung. Karena saat melakukan serangan si lakilaki bertatto yang dalam kalangan persilatan lebih dikenal dengan si Tenaga Gajah mengandalkan tenaga. Maka begitu serangannya luput dari sasarannya. Tubuh si Tenaga Gajah langsung tersungkur mencium tanah. Dengan wajah dipenuhi debu, laki-laki bertatto ini segera bangkit, selanjutnya melakukan serangan kembali.

"Akur! Teruskan... kalian memang badut-badut yang menggelikan." Teriak orang-orang yang berada di dalam kerangkeng memberi semangat.

"Kampreet...!" maki si laki-laki bertatto menyambut ejekan kawan-kawannya. Dengan satu gerakan yang sulit untuk di duga-duga, laki-laki gemuk itu menggelindingkan tubuhnya dengan maksud lancarkan sapuan ke arah bagian kaki lawan-lawannya. Dwi Tolol bengong melihat keganjilan yang dilakukan oleh lawannya. Namun kelengahan yang hanya beberapa detik itu dipergunakan oleh pihak lawan untuk menghantamkan kaki kanannya.

"Duuuuk! Buuuuuk !" Dua kali tendangan ber-

turut-turut berhasil mencapai sasarannya dengan telak. Dwi Tolol terjungkal, sambil memegangi perutnya yang terasa mual, salah seorang dari mereka nyeletuk: "Waduuh, aku kena adi Gindrung !"

"Sama! Aku juga kena ditendang !"

"Kalian memang pantas untuk menjadi raja cacing tanah....!" jerit si Tenaga Gajah, terus memburu dengan maksud untuk mengakhiri nyawa lawanlawannya. Tiada terduga, Dwi Tolol meraup segenggam pasir. Begitu si Tenaga Gajah mendekat.

"Weeeeerr. !"

"Aaaahh... kurang ajar...!" maki laki-laki bertatto sambil mengucek-ucek matanya yang kelilipan. Mempergunakan kesempatan seperti itulah, Dwi Tolol langsung mencecar lawannya dengan pukulan-pukulan yang cukup keras. Si Tenaga Gajah, kini menjadi bulan-bulanan Ginuk dan Gindrung. Si Laki-laki bertatto hanya mampu mengeluh dan keluarkan kata-kata yang kotor. Dasar orang-orang tolol yang sedang dilanda kemarahan, mana mau perduli dengan segala apa yang dikatakan oleh si Tenaga Gajah. Sampai akhirnya terdengar suara bentakan disertai berdatangannya beberapa orang penjaga meluruk ke arah mereka.

"Hentikan !" hardik laki-laki berpakaian loreng-

loreng kulit macan. Seperti diketahui, laki-laki bertampang angker itu berjuluk si Macan Liar. Bagai dihipnotis, Dwi Tolol tarik balik serangannya. Hampir bersamaan mereka memutar langkah, lalu memandang barisan pengawal yang menyertai Macan Liar.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya laki-laki itu sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya. Matanya membelalak ketika melihat kerangkeng tempat mengurung si Tenaga Gajah jebol berantakan.

"Kalian telah merusak penjara?" hardik si Macan Liar menuduh.

"Eh... bukan kami yang merusak! Tapi orang itu yang telah melakukannya...!" bantah Ginuk, lalu menuding ke arah laki-laki bertatto.

"Benarkah seperti yang di katakan oleh pemuda ini?" tanya Macan Liar, lalu memandang tajam pada lawan Dwi tolol.

"Tidak kubantah !"

"Mengapa kau lakukan...?" kata Macan Liar, menyelidik. Sebelum menjawab, sesungging seringai menghias di bibir si Tenaga Gajah.

"Aku harus menghajar mereka, bahkan kalau perlu membunuhnya. Karena aku tahu dua kunyuk bertampang tolol itu puteranya ketua kalian !"

"Keparat!" maki si Macan Liar. Kemudian dengan sekali lompat, sampailah begundal kedua Peri Bunga Iblis. Tanpa basa-basi langsung hantamkan tinjunya ke arah bagian perut si Tenaga Gajah. Laki-laki bertatto itu terjungkal, tidak cukup sampai di situ saja. Macan Liar terus memburu kemudian hantamkan pukulan ke bagian wajah si laki-laki bertatto.

"Buuuuk...!" Bagian yang terhantam pukulan itu langsung membiru dan mengeluarkan darah. Si Macan Liar menoleh pada bawahannya.

"Seret dia ke dalam kerangkeng bawah tanah   !"

perintahnya. "Dan kalian berdua mendekat kemari   !"

Dwi Tolol mendekat.

"Apakah tuan akan menghukum kami juga !"

tanya Ginuk dengan wajah pucat.

"Hooo   tidak! Malah ketua kami me-manggil ka-

lian berdua untuk menghadap...!" kata si Macan Liar ramah. "Apakah benar kami anak-anaknya Peri Bunga Iblis...?" tanya Gindrung dengan suara gemetar.

"Aku tak layak menjawabnya. Sebaiknya kalian tanyakanlah hal itu pada ketua kami. Sekarang patuhi perintah...!" Tak begitu lama kemudian, dengan diikuti oleh para pengawal Peri Bunga Iblis, berangkatlah Dwi Tolol untuk menghadap Peri Bunga Iblis.

***

10

Sepanjang jalan menuju sarang Peri Bunga Iblis yang bermarkas di tengah-tengah hutan Jajaran bukanlah merupakan jalan setapak yang sangat mulus yang tiada memiliki rintangan apa-apa. Banyak sekali jebakan-jebakan yang sangat berbahaya terpasang di sepanjang jalan dan tempat-tempat yang dianggap strategis untuk dilalui oleh pihak lawan-lawannya. Syukur hal itu telah diperhitungkan oleh Pendekar Hina Kelana dan gadis yang menyertainya. Sehingga sedikit banyaknya mereka terhindar dari bahaya yang datangnya tiada dapat di duga-duga. Hanya terkadang-kadang saja sekali dua mereka bentrok dengan beberapa orang penjaga di sepanjang hutan yang mereka lalui.

Di lain saat mereka juga merasa agak terkejut dengan mereka temukan adanya korban-korban dari pihak Peri Bunga Iblis yang tewas dengan keadaan sangat menyedihkan. Jika melihat kondisi tubuh mereka, nampaknya kematian mereka belumlah begitu lama. Bahkan di antara korban-korban itu masih ada yang sekarat. Situasi seperti itu membuat Buang Sengketa berpikir, mungkin di depan mereka telah beberapa gelintir pendekar persilatan yang telah mendahului rencananya. Begitu pun dia tak dapat menduga apa yang akan terjadi di depan sana, bahkan siapa pun yang telah melakukan pembunuhan atas diri penjaga di sepanjang jalan yang mereka lalui, yang jelas pasti memiliki persoalan dengan Peri Bunga Iblis dan para begundal-begundalnya. Demikianlah sambil terus mengerahkan kecepatan ilmu larinya, pemuda berkuncir ini melalui ilmu mengirimkan suara berkata pada Andini! "Andini! Mungkin kita telah kedahuluan oleh orang lain. Aku yakin orang itu pasti memiliki kepandaian yang sangat tinggi...!" kata pemuda menduga-duga.

"Mayat-mayat itu masih baru, Kakang...! Melihat bekas-bekas luka yang dialami oleh mayat-mayat itu. Nampaknya tidak ada perlawanan yang terjadi, tokoh yang telah menyantroni daerah ini sepertinya tak lebih dari pada seorang pembunuh berdarah dingin...!" ucap Andini melalui ilmu yang sama.

"Moga-moga tidak terjadi sesuatu dengan orang itu!" desis si pemuda harap-harap cemas. "Aku yakin walaupun orang yang setujuan dengan kita itu memiliki kepandaian setinggi apa pun, andai datang seorang diri ke sarang iblis, firasatku mengatakan kemenangan baginya sangat sulit untuk didapatkan...!"

"Eee... kakang... mayat-mayat di sekitar tempat ini semakin bertambah banyak! Mungkinkah kita sudah berada tidak jauh dari singgasana Peri Bunga Iblis...?" tanya gadis berwajah ayu itu membelalakkan matanya yang indah.

"Agaknya begitu! Mulai saat sekarang berhatihatilah... jangan-jangan semua ini hanya merupakan satu jebakan buat kita...!" ujar si pemuda mulai meningkatkan kewaspadaannya.

Setelah melewati hutan rotan yang sangat luas lagi lebat. Tak sampai sepeminum teh, sampailah pemuda dan gadis itu di sebuah lapangan yang sangat luas. Dengan cara mengendap-endap mereka melewati lapangan itu tanpa kejadian apa pun. Akhir dari lapangan itu adalah jurang yang tak terhitung dalamnya. Sebentar pemuda titisan Raja Ular Piton dari negeri alam gaib itu menoleh pada Andini.

"Sebuah tempat yang sangat berbahaya sekali. Terlanjur kita memasuki daerah di seberang itu. Tak ada jalan lain untuk selamat dari kematian terkecuali kita mampu membasmi mereka hingga tiada bersisa.  !" desah si pemuda tanpa ragu-ragu lagi.

"Mungkinkah kita dapat melalui bukit-bukit tajam di atas jurang yang tiada terukur dalamnya itu, Kakang !"

"Apakah engkau merasa mampu untuk melakukannya ?" Si pemuda balik bertanya.

"Terus terang, aku tak bisa....!" Buang Sengketa terdiam sesaat, sepasang matanya yang tajam berkilatkilat, nampak menyapu pandang pada keadaan di sekelilingnya.

"Pasti ada jalan rahasia untuk dapat sampai di singgasananya Peri Bunga Iblis....!" gumamnya seperti untuk dirinya sendiri.

"Sangat berbahaya kalau kita lalui jalan itu, Kakang...! Jangan mengambil resiko terlalu besar. !" ka-

ta Andini mengingatkan.

"Bukit di atas jurang-jurang itu mungkin dapat ku lalui, tapi bagaimana dengan kau... apakah kau mau kutinggal seorang diri di tempat ini ?" Andini ge-

lengkan kepalanya berulang-ulang.

"Aku takut, Kakang Kelana! Aku merasa lebih baik turut denganmu...!" ujar si gadis. Dari nada ucapannya terasa jelas bahwa gadis itu tak ingin berpisah dengan Pendekar Hina Kelana. Kenyataan inilah yang membuat si pemuda jadi pusing. Tak ada jalan lain terkecuali dia harus menggendong Andini untuk dapat melewati jurang-jurang itu secara bersama-sama.

"Dini...!" gumam si pemuda dengan wajah sedikit memerah.

"Ada apa kakang...?"

"Kalau kau terus mau ikut denganku, apakah kau mau untuk sementara ini kugendong...?"

"Digendong....!" sentak gadis itu dengan mata membelalak. Buang Sengketa tanpa berani menoleh hanya mampu mengangguk kecil.

"Tak ada jalan lain! Terkecuali kau merasa mampu untuk melewati bukit-bukit yang jaraknya cukup lumayan itu...!" Mendengar kata-kata si pemuda yang cukup beralasan itu, rasanya Andini tidak punya pilihan lain lagi. Selanjutnya dengan wajah memerah, gadis itu mengangguk.

"Kalau tak ada cara lain! Aku merasa tak keberatan, tokh aku tau engkau tak mempunyai niat-niat tak baik terhadap diriku...!" selak Andini tanpa merasa sungkan-sungkan lagi. Pendekar Hina Kelana hanya diam saja begitu mendengar jawaban si gadis. Tapi kemudian dia maju selangkah ke hadapan si gadis, lalu membalikkan tubuhnya dengan sikap menunggu.

"Kita tak punya banyak waktu, cepatlah kau naik ke punggungku. Pejamkan matamu, dan jangan sekali-kali buat kesalahan yang dapat berakibat bagi kita berdua...!" kata si pemuda tanpa maksud-maksud tertentu. Sedetik kemudian tanpa merasa ragu lagi, Andini telah berpegangan erat pada bahu si pemuda.

"Maafkan aku, Kakang...! Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu....!" Buang Sengketa hanya diam saja, saat itu dia mulai memusatkan segenap konsentrasinya untuk mulai melakukan perjalanan yang sangat berbahaya itu. Berulangkali usahanya hampir saja mengalami kegagalan saat mana dia merasakan dua bukit kembar si gadis yang kenyal dan liat itu bergeser-geser di punggungnya.

"Kurang ajar! Dalam keadaan seperti ini gadis bengal ini masih juga menguji ketabahanku....!" maki si pemuda diam hati. Tapi akhirnya terdengar pula suaranya, memberi peringatan keras pada Andini.

"Kau jangan bertingkah macam-macam, Andini! Perbuatanmu yang konyol itu bisa membuat kita celaka...!" dengusnya sinis.

"Maa... maaf! Aku tak sengaja kakang...!" ucapnya merasa malu sendiri. Buang Sengketa sudah tidak menghiraukan jawaban Andini lagi. Selanjutnya dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sangat sempurna dan juga dengan mempergunakan Ajian Sepi Angin. Tubuh Pendekar Hina Kelana bersama Andini tampak melesat laksana terbang.

Seringan kapas tubuh si pemuda nampak melompat dari bukit yang satu ke bukit yang berada di sebelahnya. Andini yang berada dalam keadaan mata di pejamkan hanya merasakan suara angin bersuitan, menderu-deru menyapu dingin bagian telinga dan tengkuknya.

"Hiaa... hiaaat....!" Tubuh pendekar itu terus berkelebat-kelebat semakin melesat jauh ke depan. Tak sampai sepeminum teh. Sampailah mereka di atas dataran yang sangat tinggi, Buang menarik nafas pendek. Sepasang matanya kemudian membelalak saat dia melihat ke arah lain. Ternyata saat itu mereka telah berada di bagian belakang Singgasana putih milik Peri Bunga Iblis. Tapi ketika mengamati suasana di lingkungan singgasana yang di kelilingi benteng tinggi itu, alis matanya mengernyit. Dia melihat sedang terjadi pertarungan sengit di sana. Cepat-cepat pemuda berwajah sangat tampan itu menurunkan tubuh Andini.

"Kita telah sampai! Coba kau lihat ke arah bawah

sana...!" kata si pemuda sambil menunjuk kesatu tempat di bawahnya.

"Pertempuran...! Tapi aku kurang begitu jelas, Kakang...!"

"Mari kita dekati tempat itu...!" kata si pemuda. Lalu berlari-lari kecil menuruni bukit diikuti oleh Andini. Setelah jarak antara mereka dengan istana perak itu sudah begitu dekat. Tampaklah oleh mereka puluhan pengawal Peri Bunga Iblis sedang mengurung seorang kakek berwajah merah dengan seekor kuda putih. Di sisi kanan dan sisi kiri kakek dan kuda itu, tampak puluhan pengawal istana perak terkapar berkubang darah. Sementara di tangan si kakek sebilah pedang panjang nampak tergenggam erat. Darah masih menetes dari ujung pedang yang berwarna merah. Buang Sengketa merasa kagum dengan keberanian si kakek berpakaian kembang-kembang ini. Orang tua itu memiliki keberanian yang sangat luar biasa. Datang entah dari mana, menyebar maut di sepanjang jalan yang dilaluinya. Padahal dia hanya berdua berikut kuda putih yang nampaknya sangat terlatih dengan baik. Lain lagi halnya dengan Andini, sejak matanya melihat kuda putih yang menyertai si kakek. Dia menjadi sangat terkejut. Bahkan wajahnya mendadak berubah pucat pasi. Jelas dia mengenali si kakek berbaju kembang-kembang berikut kuda yang menyertainya. Karena orang yang sedang melakukan pertarungan itu tak lain merupakan gurunya sendiri.

"Kakang! Itu guruku, Kakek Darah Swanda...!" seru si gadis mencemaskan keselamatan gurunya.

"Gurumu! Hmm... luar biasa keberanian yang dia miliki. Pertarungan yang cukup seru...! Namun aku tak melihat adanya Peri Bunga Iblis dan pembantupembantu utamanya?" kata si pemuda mulai menyapu pandang ke arah bagian belakang istana perak.

"Heh....!" sentak Buang Sengketa terperanjat. "Di belakang istana putih ini ada kerangkeng! Pasti itu penjara buat orang-orang yang dicurigai. Setidaktidaknya mereka kaum golongan putih. Orang-orang di dalam kerangkeng itu pun begitu banyak! Tenaga mereka pasti berguna untuk menempur Peri Bunga Iblis dan orang-orangnya." kata si pemuda pada Andini.

"Apakah mereka mau membantu kita, Kakang...?" tanya si gadis ragu-ragu.

"Mereka pasti butuh kebebasan! Mereka pasti membantu kita...!"

"Lalu bagaimana, Kakang !" tanya Andini mera-

sa masih belum dapat menangkap rencana apa yang terkandung di hati si pemuda.

"Kau boleh menghubungi mereka dengan maksud ingin membebaskan mereka. Katakan saja bahwa mereka segolongan dengan kita. Setelah itu ajak mereka bertarung me-lawan begundal-begundalnya Peri Bunga Iblis...!" kata si pemuda begitu gamblang. Dan Andini nampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Nah sekarang kau berangkatlah ke sana! Kulihat gurumu dan kuda putih miliknya sudah mulai kewalahan... eee... yang itu sepertinya Peri Bunga Iblis! Aku akan membantu gurumu... cepat kau kerjakan perintahku....!" kata Buang Sengketa. Lalu tanpa menunggu jawaban Andini, tubuh Pendekar Hina Kelana melesat cepat ke halaman depan Istana Perak. Saat itu sedang terjadi perdebatan sengit antara Kakek Darah Swanda dengan Peri Bunga Iblis, Kebo Bogel, dan Macan Liar ketika Buang menjejakkan kakinya di samping kakek berpakaian kembang-kembang dengan disertai ucapan: "Kakek Darah Swanda, Andini ada bersamaku. Dan aku mau membantumu...!" kata si pemuda. Sungguh pun Kakek Darah Swanda merasa belum begitu mengerti akan maksud-maksud si pemuda, namun dengan    disebut-sebutnya Andini. Akhirnya dia merasa berlega hati juga.

"Hmm... selain tikus merah. Kiranya datang seorang lagi pemuda gembel menjijikkan....! Apakah tujuan kalian yang sebenarnya...?" geram Peri Bunga Iblis.

"Masih kurang jelaskah bagimu, Peri Keparat! Bahwa niat kedatanganku kemari adalah untuk mengambil Kitab Cakar Buana, yang telah dilarikan oleh murid-murid terkutuk itu! Dan satu lagi, aku ingin menagih hutang darah atas kematian murid-murid kesayanganku...!" bentak Darah Swanda tanpa merasa gentar walaupun puluhan pengawal terus mengurungnya begitu rapat.

"Hebat!" decak Peri Bunga Iblis. "Apakah engkau sendiri merasa mampu untuk membayar hutang nyawa sekian banyak orang-orangku yang telah kalian bunuh...?" dengus Peri Bunga Iblis. Kakek Darah Swanda tertawa bergelak.

"Sebagaimana halnya dengan nyawamu, aku menganggap nyawa mereka tak lebih berharga dari nyawa binatang...!"

"Keparaat! Lancang sekali bicaramu, Kakek sinting! Kau benar-benar telah menghina ketua kami !"

Sentak Kebo Bogel merasa panas hatinya.

"Kalau kau merasa tak senang, bisa berbuat apakah...?" sergah Buang Sengketa ikut pula menimpali.

"Jahanam. Gembel berperiuk ini agaknya sudah pengin cepat-cepat mampus, Uwa...!" kata Peri Bunga Iblis pada Kebo Bogel.

"Tunggu apa lagi, tujuan mereka sudah jelas! Cincang mereka...!" perintah Macan Liar pada puluhan pengawalnya. Tak begitu lama kemudian terdengar suara riuh rendah dan ringkik si putih yang juga sudah mulai menerjang lawan-lawannya.

***

11

Pada saat yang sama dari arah penjara terlihat pula puluhan tahanan dengan senjata terhunus membaur dalam arena pertempuran. Di antara para tahanan itu, Andini terus meluruk ke arah pengawal istana perak. Sambil berteriak-teriak memberi peringatan gadis itu terus memutar pedangnya. Kebo Bogel, Macan Liar, juga Peri Bunga Iblis nampak sangat terkejut sekali melihat para tawanan dapat lepas dari kerangkengnya. Namun mereka juga sudah tak dapat berpikir lebih jauh lagi. Karena pada saat itu mereka sudah harus mengimbangi serangan-serangan yang dilancarkan oleh Buang Sengketa dan Kakek muka merah.

Buang Sengketa nampak sedang berhadapan dengan Kebo Bogel dan Macan Liar. Sedangkan Kakek Darah Swanda berhadapan pula dengan ketua Istana Perak. Yaitu Peri Bunga Iblis. Pertarungan dua tokoh dengan aliran berbeda itu memang benar-benar nampak seru dan menegangkan. Dua-duanya begitu bergebrak langsung mengeluarkan jurus-jurus andalannya: Sementara itu di pihak Peri Bunga Iblis, tiada henti-hentinya menyambitkan senjata rahasia yang sangat berbisa yang sudah dikenal oleh si kakek, yaitu Paku Bunga Iblis. Sejauh itu dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh dan kecepatan gerak, Kakek Darah Swanda selalu mampu menghindari serangan senjata gelap milik lawannya. Kenyataan ini membuat wanita berwajah cantik tersebut menjadi berang. Dalam gebrakan selanjutnya dia mulai mengeluarkan pukulan 'Dewi Iblis Pengguncang Jagat' Yang di kenal sangat ganas dan merenggut banyak korban. Sungguh pun Kakek Darah Swanda belum mengenal secara pasti kehebatan pukulan beracun yang sedang dikerahkan oleh lawannya. Namun begitu melihat tangan Peri Bunga Iblis mulai mengeluarkan uap putih yang menebarkan bau menyengat. Secara naluri dia dapat merasakan betapa berbahayanya pukulan itu. Dengan sangat cepat pula, Ketua Perguruan Sangga Buana itu kerahkan pukulan ‘Sejuta Geledek’ tingkatan kedua. Begitu dia mengerahkan tenaga saktinya, maka kedua telapak tangannya berubah menjadi putih dan berkilauan. Peri Bunga Iblis merasa sangat kaget dengan apa yang dilihatnya. Betapa pun dia merasa belum pernah berhadapan dengan tokoh kosen yang satu ini. Namun dari keterangan-keterangan yang di perolehnya, pukulan pihak lawannya mampu merobohkan dua puluh ekor gajah dalam sekali pukul. Tak ayal lagi perempuan berusia empat puluhan ini segera mendahului.

"Wuuus....!" Terdengar suara menderu disertai udara sangat dingin menggigit saat mana pukulan 'Dewi Iblis Pengguncang Jagat' melesat dari bagian telapak tangan si wanita. Darah Swanda juga kiranya tak mau kalah. Sedetik kemudian dia telah hantamkan tangannya ke arah depan. Sinar putih mengkilat yang menebarkan hawa panas memapaki datangnya pukulan ganas pihak lawannya.

"Dweeeerr.....!" Suasana di sekitar. pertempuran berubah mengabur dilingkupi kabut dan debu yang terus mengepul ke udara. Baik para pengawal istana perak mau pun orang-orang dari kerangkeng penjara yang sedang terlibat pertarungan sengit dengan pihak lawan. Tampak berpelantingan roboh begitu tersambar dua kekuatan yang berlawanan itu. Tubuh ketua Perguruan Kilat Buana dan tubuh Peri Bunga Iblis samasama tergetar hebat. Dari sudut bibir masing-masing nampak mengeluarkan darah kental. Hal ini merupakan suatu tanda bahwa masing-masing lawan samasama memiliki tenaga dalam yang seimbang. Begitu pun mereka sama-sama maklum bahwa di antara mereka pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tanpa ada terlihat berkurangnya semangat bertempur. Pukulan-pukulan yang sama pun kembali terulang. Keadaan tetap tidak berubah, Peri Bunga Iblis mulai berpikir dan mencari jalan lain untuk memenangkan pertarungan itu lebih cepat. Akal licik pun bermunculan dalam benaknya. Kali ini bukan pukulan-pukulan dahsyat yang digelarnya. Sebaliknya dia mulai mencabut senjata andalannya yang berupa sebuah paku berukuran besar, berwarna kuning dan di bagian hulunya bergagang tengkorak kepala Burung Nazar. Dengan senjata andalannya ini dia mulai mencecar Darah Swanda yang bersenjatakan pedang mustika yang berukuran sangat panjang.

Sementara itu pertarungan antara Pendekar Hina Kelana dengan Kebo Bogel dan Macan Liar nampak sudah mencapai puncaknya. Sejak awal secara berturut-turut pendekar berperiuk ini sudah mulai mempergunakan jurus silat tangan kosong 'Membendung Samudra Menimba Gelombang', jurus ini kemudian kena didesak oleh pihak lawannya setelah kedua lawannya mempergunakan dua jurus berbeda, yang satu bernama jurus 'Macan Siluman Memporak porandakan Hutan' sedangkan yang satu lagi mempergunakan jurus 'Kebo Selaksa Iblis'. Buang Sengketa merasa tidak pernah kehilangan kesempatan. Lalu dia pun pergunakan jurus 'Si Gila Mengamuk'. Jurus silat yang tak ubahnya bagai seorang pemabokan itu hanya dapat bertahan lima belas jurus, setelah pihak lawannya menyerang si pemuda dengan pukulan-pukulan yang sangat berbahaya. Tidak cukup waktu baginya untuk mempergunakan jurus 'Si Jadah Terbuang' baginya. Terkecuali mengimbangi pukulan dua orang lawan dengan pukulan 'Empat Anasir Kehidupan'. Kesempatan itu juga dipergunakannya untuk melepaskan ilmu Lengkingan Pemenggal Roh. Bukan saja di pihak lawan yang telah menyusut jumlahnya itu berpelantingan dan tewas seketika dengan telinga mengalirkan darah. Namun di pihaknya, yaitu para tawanan yang bergabung dengan mereka juga mengalami nasib yang tragis. Hanya mereka yang memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi saja yang mampu bertahan dari serangan Lengkingan Ilmu Pemenggal Roh.

Di kedua belah pihak nampak sama-sama terkejut sekali begitu merasakan kehebatan yang di miliki si pemuda. Bahkan Peri Bunga Iblis merasa dadanya menjadi sesak. Dan kakek Darah Swanda, andai tidak cepat-cepat menutup indera pendengarannya mungkin akan merasakan hal yang sama seperti apa yang dialami oleh lawannya. Sungguh pun begitu, ketua istana perak dan dua orang begundal utamanya ini tidak merasa gentar sedikit pun. Bahkan mereka kini mulai mengeluarkan senjata-senjata mautnya. Macan Liar nampak mulai memutar senjatanya yang berbentuk Cakar Harimau, sedangkan Kebo Bogel juga sudah mulai hantamkan dua bola baja yang di setiap sudutnya terdiri dari gerigi-gerigi yang sangat tajam lagi mengandung racun yang sangat ganas. Berulangulang senjata maut itu nyaris menghantam tubuh Buang Sengketa, bahkan saat kesempatan yang sangat baik, Macan Liar sempat mencedrai bagian iga si Pemuda melalui sambaran Cakar Baja yang sangat mirip dengan kuku macan. Darah mulai mengucur dari luka yang tidak seberapa parah, namun menimbulkan rasa nyeri luar biasa. Buang Sengketa menggeram, serta merta terdengar suara mendesis bagaikan seekor raja ular yang sedang dilanda kemarahan. Sementara itu sepasang matanya berubah memerah saga. Memandang setiap gerakan lawannya dengan gumaman yang tiada berketentuan. Selanjutnya pemuda ini memang tak pernah berkata apa-apa, namun secara pelan dan cukup pasti kedua tangannya bergerak turun dan meraba dua senjata yang sangat tinggi pamornya. Begitu senjata itu tercabut, golok di tangan kanannya memancarkan sinar merah menyala. Udara di sekeliling tempat itu mendadak dirasakan oleh lawanlawannya menjadi dingin luar biasa. Sementara Buang Sengketa merasakan adanya hawa hangat menjalari tubuhnya lewat Pusaka Golok Buntung di tangannya. Saat itu pertarungan antara Andini, kuda putih dan orang-orang yang tergabung dengan mereka, telah terhenti. Para pengawal istana perak hampir keseluruhannya terbunuh. Sedangkan sisanya melarikan diri. Hanya tinggal tiga orang tokoh istana perak, saat ini. Yaitu Peri Bunga Iblis, Kebo Bogel dan Macan Liar. Tapi dua orang yang disebut belakangan kemudian juga harus mati-matian mempertahankan nyawa, dari serangan ganas dua senjata yang tiada terukur pamornya.

Golok Buntung di tangan menderu, sedangkan cambuk di tangan kiri melecut. Sebagaimana biasanya begitu Cambuk Gelap Sayoto meliuk-liuk di udara. Maka Gelegar petirpun sambung menyambung. Suasana alam sekitarnya menjadi gelap gulita berselimutkan kabut tebal dan mendung hitam. Dalam kegelapan itu, hanya kilatan sinar merah menyala memancar dari Golok Pusaka yang berada dalam genggaman si pemuda. Tubuh Pendekar Hina Kelana, berkelebat, golok dan pecut di tangan menyambar ganas. Baik kawan mau pun lawan yang berada di sekitar tempat itu dihantui rasa takut, cemas dan ngeri. Terlebihlebih ketika terdengar suara menggeledek yang di ucapkan dengan menyertakan pengerahan tenaga dalam tinggi:

"Sebuah nama menyeramkan akan kuhapus dari noda bumi! Peri Bunga Iblis, paling ringan kepala dan kakinya akan kubuntungi.... Hiaaat. !"

"Nguuung !"

"Ctaaar....! Ctaaar....!" Golok Buntung menderu dan menimbulkan bunyi bising menyakitkan gendang telinga, sementara Pecut Gelap Sayuto terus melecut dan timbulkan suara menggeledek. Tiada memberi kesempatan sedikit pun, Buang Sengketa terus mengejar kemanapun lawan-lawannya menghindar. Suatu saat ketika mereka dalam keadaan kepepet. Dua orang lawan hantamkan senjatanya masing-masing.

"Traaak....! Praaaak....!" Senjata andalan mereka hancur berkeping-keping dilanda golok yang tergenggam di tangan si pemuda.

Tiada berhenti sampai di situ saja, golok itu terus menyambar laksana memiliki mata.

"Jrees! Craaaat....!" Terdengar jeritan panjang, saat mana senjata itu meminta korban. Dada Kebo Bogel terbelah. Sungguh pun tidak sampai terpisah menjadi dua bagian, namun telah cukup untuk merenggutkan nyawanya. Sementara itu tubuh si Macan Liar juga menyusul ambruk ke bumi setelah terobek bagian pangkal lehernya. Kejadian yang dialami oleh dua orang begundalnya kiranya tak luput dari perhatian Peri Bunga Iblis. Perempuan itu bermaksud untuk kabur meninggalkan tempat itu, namun sebelum niatnya kesampaian. Pendekar Hina Kelana telah mengambil alih pertarungan itu. Merasa tugasnya diteruskan oleh pemuda berkepandaian luar biasa, maka dalam kegelapan akibat pengaruh lecutan Cambuk Gelap Sayuto. Kakek Darah Swanda, mengajak muridnya, Andini untuk menyerbu ke dalam istana perak milik Peri Bunga Iblis guna mendapatkan kembali Kitab Cakar Buana milik perguruan mereka.

Sementara itu, dalam pertarungan yang sangat menentukan ini, Peri Bunga Iblis yang sudah mulai menciut nyalinya. Tampak sudah tak dapat lagi melakukan kontrol dengan baik. Sekali waktu dengan nekad dia juga memapaki serangan senjata yang sangat berbahaya itu.

"Craaaang...!"

"Aiiih....!" Terdengar satu seruan tertahan saat mana senjata mereka saling berbenturan. Bahkan ratunya manusia sesat itu lebih terperanjat lagi ketika mengetahui senjatanya patah menjadi dua bagian.

"Ctaar! Wuuut....!" Belum lagi hilang rasa kagetnya ketika sedetik berikutnya tubuh Peri Bunga Iblis tersambat cambuk. Yang lebih celaka lagi cambuk itu melilit pinggangnya sedemikian keras. Dengan segenap kemampuannya dia berusaha melepaskan lilitan cambuk, ketika usahanya itu hampir mendatangkan hasil, sebuah sentakan keras menerbangkan tubuhnya ke arah jurang yang menganga.

"Aaaaahhh    !" Dua jeritan yang sama terdengar,

pertama saat tubuh ratu sesat itu meluncur deras ke arah jurang. Yang kedua saat tubuh perempuan cantik itu membentur batu-batu runcing yang berada di dasar, jurang itu. Tubuh si pemuda diam mematung, perlahan-lahan dia menyelipkan Golok dan melilitkan Cambuk Gelap Sayuto di bagian pinggangnya. Sambil berkelebat pergi, pemuda itu melalui ilmu mengirimkan suara berkata: "Semoga usahamu berhasil, Kakek Darah Swanda! Selamat tinggal, Andini !"

"Kakang... aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku....!" jerit gadis berwajah ayu itu terdengar lamatlamat.

TAMAT