Serial Pendekar Hina Kelana Eps 21 : Prahara Rimba Buangan

 
Eps 21 : Prahara Rimba Buangan


Gelegar petir sambung menyambung, awan hitam bergumpal-gumpal dan bergerak cepat menuju langit sebelah Barat. Tidak lagi terlihat kemerahan matahari senja di ufuk Barat. Suasana keremangan senja telah berganti dengan kegelapan kabut pekat. Di langit kelam, kembali suara petir menyambut, alam di sekitarnya sekejapan menjadi terang benderang. Namun kemudian adalah kegelapan yang nyata. Sementara gerimis mulai menetes membasahi hutan, bukit maupun lembah-lembah di sekitarnya.

Manakala hujan turun menderas, pada saat  itulah tampak seorang laki-laki tua berpakaian serba putih dengan rambut dan kumis putih berjalan gontai menelusuri hutan lebat Rimba Buangan. Mempergunakan sebuah tongkat yang selalu menimbulkan bunyi gemerincing, kakek berpenampilan serba putih ini terus menyeruak hutan belukar di depannya. Sekali-kali tongkat di tangannya dia gerak-gerakkan ke samping kanan, kiri dan depan. Seolah ingin  memastikan bahwa jalan yang akan dilaluinya bukanlah sebuah jurang yang sewaktu-waktu dapat mencelakakan dirinya.

Memang sesungguhnyalah bahwa kakek yang berpenampilan serba putih ini merupakan seorang laki-laki tuna netra yang menjadi ketua perkumpulan orang-orang cacat di Rimba Buangan, yang banyak dikenal oleh kalangan persilatan sebagai si Tanpa Nama Tongkat Selaksa Perak. Ilmu Tongkat Selaksa Perak sangat ditakuti oleh berbagai kalangan persilatan. Karena selain terkenal sangat cepat dan ganas, juga mempunyai daya tahan yang luar biasa terhadap benturan berbagai senjata tajam dan juga senjata lainnya. Kini kakek itu tampak hentikan langkahnya, sepasang matanya yang tak pernah mampu melihat apapun sejak masa kecilnya tampak mengerjap. Kemudian terdengar pula suaranya yang serak namun besar.

"He... he... he...! Hujan deras, hujan lagi! Membuat tubuhku yang sudah lapuk ini semakin kisut saja. Berrrrt... dinginnya alah emak...! Tapi aku tak pernah melihat rupamu, dingin! Kalau rasamu memang ada...!"

"Glegeeeerrr!"

Terdengar petir menyambar, dan tubuh si Tanpa Nama terlonjak sekejap. Matanya yang tiada melihat apa-apa itu menengadah ke angkasa kelam.

"Heh... suara makhluk apakah itu,  kok bikin kaget saja...?" ujarnya tanpa maksud melucu. "Percuma saja kalau kupelototkan mataku, tak ada bedanya antara siang dan malam, hanya kegelapan saja yang ada. Huh... andai mataku ini dapat melihat, betapa akan kutatap wajah bintang dan rembulan, kemudian pohon-pohon yang hijau. Lalu...!" Si Kakek Tanpa Nama diam sesaat, dia tercenung. Dan sepasang  matanya yang buta itu mendadak menyipit. Di wajahnya ada gurat-gurat kesedihan yang dalam, dan tiada disangka-sangka dua butir air matanya menggelinding jatuh, menuruni pipinya yang sudah keriputan.  Seumurumur belum pernah Kakek Tanpa Nama itu menitikkan air mata, apalagi menangis. Tetapi kini, mengapa dia berubah secengeng itu?

"Nasibku tak pernah kupikiri! Tetapi nasib mereka hanya aku yang perduli. Aku tak habis mengerti, mengapa begitu tega mereka yang punya anak-anak membuang begitu saja darah daging mereka sendiri. Cacat seolah sebuah aib yang memalukan, apakah orang-orang itu tak tahu bahwa cacat bukanlah satu pilihan mereka yang lahir. Tak seorangpun manusia di dunia ini berkeinginan dilahirkan sebagai orang yang memiliki cacat tubuh. Seperti aku juga tak ingin memiliki mata yang buta. Semprul! Apa yang mereka derita kiranya tidak cukup sampai di  situ  saja.  Kini  dunia luar telah pula melemparkan sebuah fitnahan yang keji terhadap kaum cacat yang tinggal di tengah-tengah hutan Rimba Buangan. Kaumku yang tersisih mereka permalukan, mereka benar-benar keterlaluan sekali. Malapetaka tetap malapetaka, begitu juga musibah penyakit  yang terjadi itu  bukan salah  kaumku...!" desah si Tanpa Nama sedih. "Gabruk...!" 

Mendadak kakek berpakaian serba putih itu menjatuhkan diri dan duduk berlutut. Seluruh pakaiannya telah basah oleh siraman air hujan. Tapi dia tiada memperdulikan keadaan dirinya  sendiri,  apa yang ada dalam pikirannya hanyalah tentang nasib kaum cacat yang saat ini tinggal di Rimba Belantara Buangan. Mereka semua tentu tak  mengetahui  apa yang sesungguhnya sedang terjadi di dunia luar, yang saat itu sedang meributkan adanya wabah penyakit menular yang sedang menjangkiti sekian banyak penduduk di seantero kadipaten.

Hampir setiap hari mereka yang terse-rang wabah penyakit aneh itu menemui ke-matian secara mengerikan. Mula-mula tubuh mereka kejang kemudian disertai muntah yang hanya terdiri darah kental berwarna hitam. Tubuh orang yang terserang wabah itu pun berobah menghitam pula. Hanya beberapa detik setelahnya, orang yang terserang wabah penyakit  aneh  itu pun menemui kematian. Mereka yang menjadi sesepuh desa atau pihak lain yang menjadi penanggung jawab atas ketenteraman kehidupan masyarakat di sekitarnya tentu menjadi panik. Terlebih-lebih hampir setiap hari mereka harus membuat dan menguburkan mereka yang tewas dengan jumlah yang tidak sedikit. Mau tak mau, puluhan kuburan masal pun mereka gali. Kakek Tanpa Nama yang selama ini tinggal di tengahtengah hutan Rimba Buangan bukan tak berusaha melakukan penyelidikan atas musibah yang diderita oleh masyarakat di luar golongannya itu. Namun jika sampai mendapat tuduhan bahwa wabah penyakit itu bersumber dari Rimba Buangan sungguh tak masuk akal bahkan merupakan tuduhan yang tidak beralasan sama sekali.

Apa yang ditakutkan oleh Kakek Tanpa Nama adalah bagaimana seandainya sewaktu-waktu mereka melakukan serbuan  ke  Rimba  Buangan?  Fitnahan yang keji itu harus dia cari dari mana sumbernya, dan dia sudah bertekad untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Tapi mungkinkah mereka mau percaya begitu saja? Seperti yang dia ketahui  selama ini, Rimba Buangan merupakan tempat penampungan orang-orang yang memiliki cacat tubuh maupun mereka yang menderita penyakit menahun. Selama ini sebagai ketua orang-orang cacat sudah barang tentu cukup mengetahui tentang status orang-orang yang menjadi asuhannya. Kalau pun  begitu  banyak  kegiatan yang mereka lakukan sudah barang tentu berkisar pada bidang bercocok tanam dan sedikit ilmu silat.

"Sangat tidak beralasan kalau mereka yang telah begitu tega mengucilkan kehidupan kami, sekarang malah justru menanamkan satu kecurigaan yang tiada beralasan seperti yang kudengar. Oh... orang-orangku yang malang, aku merasa tak rela andai kalian mengalami nasib yang lebih tragis dari penderitaan panjang yang kini sedang kalian jalani. Aku merasa bertanggung jawab atas keselamatan kalian...!" desahnya. Saat mana kakek buta ini merasa tidak ada sesuatu mencurigakan di sekelilingnya, kejab kemudian dia sudah bangkit dari duduknya. Namun ketika ia hendak melangkahkan kakinya menuju ke perkampungan orangorang cacat tempat selama dia tinggal. Kakek Tanpa Nama ini mendengar suara lolongan panjang bagai seekor serigala kelaparan. Kemudian bau busuk menyengat hidungnya, seperti bau bangkai yang sudah mengering, bahkan lebih dari itu. Mengandalkan ketajaman penciumannya, walau saat itu perutnya terasa mual, Kakek Tanpa Nama berusaha mengikuti ke arah sumber bau tadi. Berjalan tak lebih sepuluh langkah, kakek tuna netra itu hentikan langkahnya. Wajah mendongak ke langit. Kemudian bergumam seorang diri. "Hh. Sukur aku berada di daerahku sendiri, bau tak enak ini datangnya dari sebelah kananku. Dan  aku yakin pastilah Utara. Aku tak tahu ada apa di  sana, kalau kuikuti terus pasti aku akan sampai di sebuah jurang, kalau suara lolongan itu bersumber dari binatang mungkin aku mampu mengatasinya. Namun  andai suara itu berasal dari manusia dan bermaksud keji, keadaanku semakin bertambah repot.  Hemm,  bau tak sedap itu tiba-tiba saja hilang begitu saja. Kurasakan angin dari Utara memang tidak berhembus sekencang tadi, ee... baiknya aku pulang ke perkampungan dan nantinya akan kukabarkan hal ini pada muridmuridku...!" kata si Kakek Tanpa Nama mengambil satu kesimpulan. Kakek buta itu kemudian berbalik langkah, lalu melanjutkan perjalanannya menuju perkampungan orang-orang cacat di tengah-tengah hutan itu. Hujan masih deras ketika tubuh kakek berpakaian serba putih yang basah itu lenyap di sela-sela kerimbunan dedaunan yang lebat.

***

Udara dingin terasa menusuk sampai ke sumsum tulang, di seluruh seantero desa Lalang. Mungkin juga desa-desa lain yang bersebelahan dengannya. Langit kelam tiada berbintang. Tidak tampak lagi bulan sabit yang senja tadi menampakkan diri. Enggan. Angin laut mulai berhembus dari pelan hingga kencang. Suasana dingin yang berselimutkan sepi, membuat penduduk desa itu sejak sore menutup pintu, mengurung diri di dalam rumahnya masing-masing. Sesekali terdengar suara rintihan perempuan di sebuah rumah besar di tengah-tengah desa itu. Suaranya yang mengerangerang terasa membangkitkan rasa kalut dan membuat berdiri bulu tengkuk yang mendengarnya. Dari rumah yang lain terdengar pula suara erangan seorang lakilaki, kemudian dari rumah yang berada di pinggiran suara yang sama juga terdengar dari mulut seorang bocah kecil. Selanjutnya adalah isak tangis yang tersendat tertahan dari keluarga yang merasa ditinggalkan. Suara rintihan yang tak ubahnya saling bersahut-sahutan itu, semakin lama semakin jarang terdengar. Agaknya malaekat maut telah merenggutkan jiwajiwa yang menderita itu terbebas dari belenggu kesengsaraan.

Menjelang tengah malam yang terdengar hanyalah suara erangan dari rumah besar yang terletak di tengah-tengah desa itu. Semakin lama  suara erangan itu terdengar semakin lemah, bahkan suara perempuan itu nyaris tak terdengar saat mana di luar rumah besar tadi terdengar seseorang mengetuk daun pintu. Si pengetuk pintu memang tak terlihat bagaimana tampangnya, karena 1ampu minyak yang terletak di teras rumah tak pernah dinyalakan sejak salah seorang di rumah itu menderita sakit keras mulai semalam.

"Tok...! Tok...! Tok...!"

"Siapa...?" tanya suara dari dalam. Menilik suaranya yang berat dan serak, jelas kalau orang yang bertanya itu dalam suasana berduka. "Kami, Renggas dan Margono... Tuan Adipati...!" sahut yang di luar. Orang yang dipanggil sebagai Adipati menarik nafas lega. Kemudian terdengar lagi;

"Masuklah pintu tak terkunci...!" perintahnya. Orang yang mengaku sebagai Renggas dan Margono kemudian mendorongkan pintu yang terbuat dari kayu cendana itu pelan-pelan. Begitu pintu terkuak lebar, tampaklah suasana di dalam rumah yang serba mewah dan mahal. Menandakan bahwa pemiliknya termasuk orang yang berada dan terpandang di masyarakatnya. Kemudian dari ruangan dalam muncul sosok laki-laki dan perempuan berusia empat puluhan. Yang lakilakinya mengenakan pakaian serba mahal, dengan sebuah blangkon di kepalanya, dan keris menyelip di bagian pinggangnya.

"Duduk...!" perintahnya berwibawa. Tangan lakilaki itu menunjuk pada sebuah permadani yang membentang lebar di ruangan tamu. Dua orang pendatang tadi dengan sikap hormat mengikuti apa yang diperintahkan oleh laki-laki empat puluhan yang tiada memiliki kumis serta jengggot. Sebelum mereka membuka percakapan, laki-laki yang dipanggil Adipati itu menoleh sejenak pada istrinya; "Istriku baiknya masuk saja ke dalam, tunggui anak kita yang sedang sakit...!" pintanya. Lalu tanpa menghiraukan istrinya yang tampak beranjak menuju ke belakang. Sang Adipati kembali pada dua orang tamunya, sebagaimana dia memandang pada istrinya tadi, kini laki-laki itu memperhatikan wajah sang tamu satu persatu. Kemudian dia menarik nafas pendek.

"Bagaimana? Apakah kalian ada membawa hasil...?" ucapnya mengawali pembicaraan. Yang ditanya tundukkan wajah sekejap, lalu menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Tampak laki-laki berbelangkon itu menyimpan rasa kecewa yang dalam atas apa yang baru saja didengarnya.

"Maafkan kami Tuan Adipati....! Tugas yang tuan berikan pada kami tidak dapat kami kerjakan dengan baik...!" jawab seorang diantaranya yang bernama Ranggas.

"Apa alasanmu...?" tanya sang Adipati dengan wajah muram. Sekejapan dua orang utusan itu saling pandang sesamanya. Margono membungkuk, lalu:

"Sebenarnya bukan kami tak mampu menyelesaikan tugas yang tuan berikan. Dan bukan pula tabib itu tak mau mengobati puteri tuan...!"

"Lalu...?" potong  sang  Adipati  merasa  tak  saba-

ran.

"Tabib Canda  Muka  ketika  kami  sampai  di  ru-

mahnya telah tewas dengan sebuah lubang kehitaman di bagian dada dan leher-nya...!"

"Apa...?!" Setengah terlonjak tubuh sang Adipati, kedua matanya membelalak bagai melihat setan  di siang bolong.

"Bagaimana itu bisa terjadi...?" tanya  Adipati Gupta semakin bertambah murung.

"Kami memang sedikit terlambat sampai di rumah kediaman Tabib Canda Muka. Tapi melihat kematian dan tubuh tabib sakti itu, rasanya pembunuhan itu belum lama berlangsung...!" kata Margono menarik kesimpulan.

"Hemm... sakit putriku sudah  demikian  parah. Aku tak tau apakah nyawanya dapat bertahan sampai besok. Tabib Canda Muka, tewas saat-saat aku membutuhkan pertolongannya." desahnya seperti putus harapan. "Mungkinkah kematian kakek tabib itu ada hubungannya dengan wabah penyakit yang sekarang ini sedang melanda seluruh desa...?" tanpa Adipati Gupta setengah menyelidik.

"Kita  masih   belum   bisa   menarik   kesimpulan sampai sejauh itu, menurut hemat saya. Alangkah lebih baik lagi kalau mulai dari sekarang kita melakukan penyelidikan terhadap dunia persilatan.

***

2

"Sebuah ide yang cukup bagus! Tapi aku juga merasa sangat perlu untuk menghubungi tokoh-tokoh persilatan golongan putih,  untuk membantu usaha kita dalam menyingkap misteri penyakit yang selama beberapa purnama ini telah merenggutkan nyawa ratusan korban...!" Baik Margono maupun Ranggas tampaknya masih belum mengerti apa maksud kata-kata yang diucapkan oleh Adipati Gupta. "Maaf Tuan Adipati, untuk apa kita harus menghubungi kalangan persilatan. Apakah tuan merasa bahwa wabah yang saat ini melanda hampir lebih dari tiga puluh desa itu mempunyai sangkut paut dengan kalangan persilatan golongan sesat...!" tanya Margono, sepertinya sudah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Adipati Gupta.

"Kemungkinan itu masih dalam dugaan-ku. Aku sering mendengar laporan bahwa penyakit terkutuk itu akan mewabah pabila beberapa malam sebelumnya sosok bayangan mencurigakan bergentayangan di desa itu. Begitu pun halnya yang terjadi di daerah kita ini." kata sang Adipati, hampir-hampir berbisik.

"Apakah dia berujud sosok manusia,  binatang atau dalam bentuk benda-benda tertentu...!"

Adipati Gupta kembali geleng-gelengkan kepalanya. Seperti ada rasa kecut yang saat itu sedang membayangi dirinya.

"Masih belum  dapat  kusimpulkan.  Keterangan yang kudapat masih simpang siur!" ucapnya begitu cemas. "Untuk mencari jawabannya, semuanya kuserahkan pada kalian untuk melakukan penyelidikan."

"Lalu kapan kami harus menghubungi tokohtokoh golongan putih...?" tanya Ranggas. Tetapi Adipati Gupta tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh orang-orangnya. Sebab tak begitu lama kemudian terdengar suara erangan putrinya yang sedang dalam keadaan sakit di dalam kamarnya.

"Kalian! Berjaga-jagalah di luar sana! Sepertinya penyakit putriku semakin bertambah parah...!"

Ranggas dan Margono setelah menjura hormat, lantas melangkah keluar dari ruangan tamu. Begitu mereka melangkahkan kaki menuju gardu jaga. Keadaan di luar terasa sunyi sepi.

Sementara Adipati Gupta kini sudah berada di dalam kamar putrinya. Dilihatnya putri Asih terus merintih-rintih, badan panas menggigil, sementara wajah gadis itu tampak pucat dan berkeringat.

"Sudah kau berikan obat, yang tadi, istriku...!" tanyanya menoleh sebentar pada istrinya yang sejak tadi terus menangisi putri satu-satunya.

"Semuanya hampir tak bersisa...!" jawab sang istri tersendat. "Tapi panasnya tak pernah turun-turun. Bahkan semakin menggila...!"

"Aku tak tau apa yang sedang terjadi. Kalau penyakit itu merupakan kutuk sang Hyang Widi, mengapa sampai melanda hampir seluruh desa yang menjadi wilayah kekuasaanku. Mengapa desa di luar kekuasaanku tak pernah terserang  penyakit  aneh  ini...!" ucap Adipati Gupta seperti merasa iri.

Dalam keadaan diliputi kegelisahan seperti itu, mendadak bertiuplah angin yang sangat kencang. Horden jendela, kayu yang terdapat di dalam ruangan Putri Asih tampak berkibar-kibar. Adipati Gupta dan istrinya tercekat merasakan keganjilan itu. Suami istri saling berpandangan. "Aku merasa ada kekuatan gaib yang menyertai hembusan angin ini. Yang pasti seseorang berilmu sangat tinggi berada di sekitar rumahku. Tapi mungkinkah Margono dan Ranggas tidak melihat seseorang di luar sana? Atau sesuatu yang mencurigakan. Hhh. Kalau orang itu  memiliki  maksud-maksud tak baik, sudah sejak tadi dia pasti sudah mencelakakan kami!" membatin Adipati Gupta. Tapi tanpa disadarinya secara reflek dia sudah menyentuh hulu keris yang disengkelitkannya pada bagian pinggangnya.

"Apa apakah, Kakang? Mengapa angin tiba-tiba saja bertiup sekeras ini...?!" tanya istrinya yang biasa dipanggil dengan nama kecil Puja.

"Psst.. jangan keras-keras bicara! Ada sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi sewaktu-waktu di rumah kita...!" kata Adipati Gupta sambil memberi isyarat dengan mempergunakan jari telunjuknya. Pada kenyataannya apa yang baru saja dikatakan oleh Adipati Gupta tampaknya tidaklah berlebihan, justru karena beberapa saat kemudian setelah ucapannya itu hembusan angin yang menerpa daun jendela semakin bertambah keras. Kemudian disertai dengan terdengarnya suara lirih yang disampaikan melalui ilmu mengirimkan suara.

"Adipati Gupta! Apakah kau tidak menyadari bahwa penyakit putrimu itu semakin bertambah parah? Aku sendiri  merasa usia anakmu itu hanya tinggal dua hari lagi. Dan  kau harus menyadari bahwa obat yang diberikan oleh istrimu untuk anakmu itu tidak ada gunanya sama sekali. Putrimu itu  akan segera mati jika... he... he...  he...!"  Terdengar  suara  mengekeh, dan semua itu hanya Gupta sendirilah yang tahu karena di antara dia dan istrinya, hanya dia seorang saja yang mengerti tentang dunia persilatan. Sementara itu tampak sekali wajah Adipati Gupta selain berubah memerah juga mulai tampak tegang. Kemudian melalui ilmu mengirimkan suara dia pun berkata:

"Siapakah kau ini, dari mana kau tahu bahwa putriku akan segera mati?" tanyanya tanpa mampu menutupi rasa kecemasan hatinya. Orang yang bicara melalui ilmu mengirimkan suara tadi kembali tertawa mengekeh.

"Mengenai siapa aku, itu tidak penting bagimu, Gupta! Yang perlu kau pertanyakan bagaimanakah caranya agar kau dapat memperoleh obat untuk menyembuhkan putrimu!" Adipati Gupta  termangumangu demi mendengar apa yang dikatakan oleh si pengirim suara. Sejauh itu dia masih belum mengerti ada maksud apa di sebalik kata-kata yang terdengar bagai memberi petunjuk ini.

"Heh... kau sepertinya memang benar! Tapi apa dayaku, aku bukannya tak mau berusaha. Tapi satusatunya tabib yang kuanggap dapat menyembuhkan penyakit terkutuk itu telah pula tewas  entah  siapa yang telah membunuhnya...!" Berkata Adipati Gupta seperti orang yang sedang putus asa.

"Ha... ha... ha...!" Terdengar suara tawa bergelakgelak menyeramkan. "Benarkah Tabib Canda Muka telah tewas?" tanyanya seolah pada dirinya sendiri.

"Begitulah menurut kabar yang pernah kudengar!" jawab Adipati Gupta tanpa ragu.

"He... he... he...! Tabib Canda Muka tewas, bagaimana mungkin, atau mungkinkah?"

"Keterangan orang-orangku tak pernah mengandung dusta...!" ucap sang Adipati tampak memerah wajahnya.

"Manusia sering tertipu oleh penglihatannya sendiri, aku tak pernah yakin tabib sehebat Canda Muka dapat tewas semudah itu. Dunia selalu penuh dengan tipu-tipu, heh! Sekali lagi cobalah cari tau, benarkah Tabib Canda Muka telah wafat...?" Pertanyaan yang berisi makna-makna yang tiada dimengerti oleh Adipati Gupta ini membuat dia tenggelam dalam keraguraguan.

"Secara logika aku masih belum mengetahui arti dari semua ucapanmu. Tapi apakah putriku masih dapat disembuhkan?" Bergetar suara Adipati Gupta ketika mengajukan pertanyaan seperti itu. Angin kencang kembali menerpa, mengibarkan horden kain jendela. Mengibarkan anak-anak rambut Adipati Gupta yang tidak tertutup blangkon. Lalu menyapu wajah sang Adipati yang pucat pias karena kurang tidur dan dibebani dengan perasaan kalut.

"He... he... he...! Tergantung keberuntungan yang dimiliki oleh putrimu...!" Ringan saja si pengirim suara memberi jawaban. Seolah nyawa manusia baginya tiada memiliki arti apa-apa di matanya. Sebaliknya Adipati Gupta semakin tercengang begitu mendengar kata-kata yang sangat menyepelekan ini. Sebagai Adipati baru kali ini ada seorang tamu yang tiada terlihat ujudnya telah begitu berani bicara seenaknya tanpa tata krama dan peradatan. Selama ini tak seorang pun berani bicara sembarangan begitu saja. Apalagi dengan kata-kata meremehkan seperti itu. Kecemasan tentang keselamatan putrinya, dan rasa penasaran karena tamunya tidak mau menunjukkan diri. Membuat sang Adipati mulai terbakar kemarahannya.

"Siapakah kau...! Kedatanganmu secara sembunyi-sembunyi seperti ini, jangan-jangan kaulah orangnya yang telah menyebarkan wabah penyakit ini di seantero desa?" tukas sang Adipati tanpa sungkansungkan lagi. Tiada rasa amarah yang terdengar dari jawaban si pengirim suara.

"Manusia sering  terlalu  curiga  terhadap  sesamanya. Dan kau pun tak pantas mengetahui siapa aku ini adanya. Apakah aku ini manusia  sepertimu,  apakah ujudku sebagai binatang, atau bahkan sebagai jin, itu bukan urusanmu...!"

"Keparat! Selain kau tak mengenal tata krama, kiranya kau sosok misterius yang perlu kucurigai "

Menggeram Adipati Gupta. Walaupun perbincangan mereka tidak dapat didengar oleh istri sang  Adipati, tapi ketegangan yang terlihat membuat Puja diliputi tanda tanya.

"Ada apa, Kakang  ?"

Tak terdengar jawaban, terkecuali erangan tertahan dari bibir sang Adipati Gupta.

"Heh...! Tiada yang mampu mencegah setiap tindakanmu, Adipati! Sekarang kau berdiri di dalam kekuasaanmu. Tapi ingat, aku bukanlah orang yang bisa terpengaruh dengan pangkat manusia mana pun."

"Jangan  kau  buat  aku  semakin  bertambah  penasaran. Saat sekarang ini diriku sedang dalam kekalutan. Kalau kau tak mempunyai urusan apa-apa denganku, cepat pergilah...!" perintah Adipati Gupta semakin bertambah berang. Sekali lagi angin berhembus kencang. Pada saat itulah terdengar kata-kata yang tak ubahnya bagai sebuah sajak terdengar:

Aku datang bersama hembusan sang bayu Rupaku tiada pernah terlihat.

karena aku berada antara ada dan tiada Dalam kegelapan aku melihat apa-apa yang tiada terlihat, dalam tidur,

dalam mimpi aku selalu menjaga. Tapi aku tiada pernah mengusik Tiada pula pernah menyapa, Kebenaran ada pada hati yang tulus, sedangkan kejujuran hanya ada dalam nurani yang putih....

Kalau jiwa telah dirasuki dengan ambisi dan nafsu

Manusia lebih jahat dari hanya sekedar binatang buas

Hitam warnanya, angkara murka tindakannya,

Maka jangan sesalkan andai kehancuran yang didapatnya

Aku datang bersama hembusan bayu....

Sekali lagi terdengar suara tawa bergelak-gelak, lalu seiring dengan hembusan angin yang sangat kencang, maka si pengirim suara itu pun lenyap begitu saja. Heran bercampur bingung berbaur menjadi satu. Adipati Gupta menyadari kata-kata si pengirim suara yang berupa untaian sajak itu berisikan petunjuk yang perlu dicari tahu jawabannya. Dia merasa yakin siapa pun adanya orang yang telah berkata-kata dengannya melalui ilmu menyusupkan suara, pastilah seorang tokoh golongan putih yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Tapi kalau pun memang benar, mengapa orang itu tak mau mengatakan apa yang menjadi penyebab terjadinya wabah penyakit menular yang telah melanda hampir tiga puluh buah desa, dan tentang Tabib Canda Muka, benar-benarkah masih hidup sampai sekarang ini? "Aku harus menyelidiki tentang semua kebenaran yang ada." membatin Adipati Gupta. Seraya lalu melirik ke arah putrinya yang masih saja terus merintih dengan tubuh menggigil. Sementara istrinya sudah tampak tertidur dengan posisi duduk di samping pembaringan anaknya.

*** 3

Dalam perjalanan hidupnya yang panjang dan dipenuhi dengan liku-liku serta kekerasan itu. Ada satu hal yang selalu dia ingat! Yaitu tentang semua  pesan almarhum gurunya, si Bangkotan Koreng Seribu. Perjalanan nasib selamanya memang tidak harus berpihak pada seseorang. Tapi jangan salahkan keadaan dan menyesali diri, karena semua yang terjadi sudah ada yang mengaturnya.

"Kakek Bangkotan Koreng Seribu! Semoga aku tetap berjalan pada langkah yang selalu kau restui!" menggumam pemuda itu. Tiada mengurangi niatnya untuk mencari tahu tempat pertapaan ayahandanya Raja Ular Piton Utara yaitu raja diraja dari negeri alam gaib (negeri Bunian) pemuda tampan dengan rambut dikuncir dengan sebuah periuk berjelaga yang menggelantung di bagian pinggangnya ini terus mengayunkan langkah. Sesekali anak-anak rambutnya tampak melambai-lambai ditiup semilir hembusan angin pagi nan lembut.

Sementara pakaiannya yang berwarna merah itu tampak sudah basah  oleh keringat. Hal itu pun tak juga dia hiraukan. Yang selalu mengganggu pikirannya adalah, selama melakukan perjalanan melewati desadesa yang masih merupakan wilayah kadipaten Unggaran. Dia selalu melihat iring-iringan penduduk yang sedang mengusung beberapa keranda. Dari beberapa keterangan yang dia kumpulkan dia mengetahui bahwa orang-orang itu tewas karena terserang wabah penyakit misterius yang telah menewaskan banyak korban. Namun pabila dia melewati desa  di  sebelahnya dan mendapati kejadian yang serupa, mau tak mau dihatinya timbul sebuah tanda tanya. "Mengapa sekian banyak desa sampai terserang bahwa yang sama? Sudah berapa banyak yang meninggal? Lebih celaka lagi hampir setiap mata selalu memandangku dengan tatapan sinis dan rasa curiga. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu di balik semua peristiwa ini." batin si pemuda.

Tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya, Pendekar Hina Kelana terus saja melangkah. Matanya melirik ke kanan dan kiri, mencari-cari sebuah warung tempat penjual makanan. Tapi kalau pun ada, warung di kanan kiri jalan itu tampak tutup. Barulah ketika dia sampai di sudut desa, pemuda ini melihat sebuah warung berukuran besar yang sarat pengunjung. Tanpa merasa ragu, Buang Sengketa mengayunkan langkahnya ke sana. Tiada dia hiraukan beberapa pasang mata yang memandang curiga padanya. Dengan sikap tenang, si pemuda menghampiri pemilik warung. Lalu setelah memesan makanan, pemuda ini pun segera duduk di sebuah kursi panjang yang terdapat di sudut ruangan. Sekejapan dia mengitarkan pandangan matanya menyapu ke segenap penjuru ruangan. Melihat cara mereka menatap, tampak bagi pemuda itu kalau kehadirannya tidak disukai oleh orang-orang di dalamnya. Tapi Buang tiada memperdulikannya, sebaliknya dia langsung menyantap makanan yang telah dipesannya begitu pemilik warung menghantarkan makanan itu.

"Pak tua...!" Terdengar bentakan seseorang memanggil pemilik warung itu. Yang dipanggil perlihatkan wajah cemas bercampur rasa bersalah. Dengan gugup, pemilik warung yang sudah berusia berkisar lima puluh lima tahun ini datang menghampiri orang yang memanggilnya.

"Sese... saya tuan...! Apakah makanannya perlu ditambah...!" tanya si pemilik warung, gemetaran. Tanpa berkata seorang laki-laki berpakaian hitam putih yang tadi memanggil si pemilik warung, langsung menyentakkan ikat kepala yang membungkus kepala pemiliknya. Begitu ikat kepala pemilik warung disentakkan. Maka terlihatlah kepalanya yang botak plontos. Sehingga mengundang tawa mereka yang hadir di warung itu. Semakin pucat wajah pemilik warung, kemudian sambil menggaruk kepalanya yang tiada ditumbuhi rambut, laki-laki tua ini berkata dengan penuh permohonan: "Maafkan saya tuan. Sungguh saya benar-benar lupa dengan pesan-pesan yang pernah tuan berikan pada saya...!"

"Creep...!"

Dengan sekali sambar, maka krah baju si pemilik warung telah tergenggam erat di tangan laki-laki berpakaian hitam putih itu. Dengan keras laki-laki berpakaian hitam putih itu menyentakkan tubuh si pemilik warung ke atas, hingga membuat kakinya tidak dapat dipergunakan  untuk  menjaga  keseimbangan   tubuhnya. Tubuh laki-laki tua ini bergoyang-goyang bagai kentongan yang habis dipukul peronda.

"Sudah kubilang padamu, jangan kau layani tikus-tikus pendatang di warungmu ini. Siapa tahu dia merupakan penyebar kuman penyakit...!" geramnya dengan kedua mata melotot.

"Berp... ee... maafkanlah saya tuan! Saya berjanji untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Percayalah tuan...!" Gemetaran suara pelayan itu menandakan bahwa dia sedang dilanda rasa takut yang teramat sangat. Laki-laki berpakaian hitam putih dengan beberapa orang kawannya, mendengus. Tanpa diduga-duga dicampakkannya tubuh laki-laki itu ke salah sebuah bangku yang terletak paling dekat dengan Buang Sengketa,

"Gubraaak...!" Laki-laki itu menjerit saat mana bagian iganya menghantam kursi panjang tak begitu jauh darinya. Tubuhnya menggeliat-geliat merasakan sakit yang tiada tertahankan.

"Bangunlah, Pak tua...!" kata Buang Sengketa. Saat itu dia baru saja selesai menyantap pesanannya. Dengan dibantu oleh si pemuda, laki-laki pemilik warung itu sudah terduduk di bangku yang tadi ditempati oleh Buang Sengketa. Sekejapan dia memeriksa bagian perut hingga ke bagian dada. Pemilik warung itu kemudian menjerit saat mana tangan Buang Sengketa meraba tulang rusuknya yang patah. Pemuda itu lalu menarik nafas pendek. "Kejam sekali tindakan orang itu!" batinnya.

"Bocah tak dikenal! Biarkan pemilik warung yang tak tahu adat itu. Satu hukuman memang layak dijatuhkan padanya untuk satu kesalahan yang seharusnya tidak dia lakukan di depan mata kami!"  bentak yang lainnya di antara empat orang yang tergabung bersama laki-laki itu.

"Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh orang tua ini...?" tanyanya. Lalu melangkah dua tindak ke depan. Masih tetap berada di tempatnya, orang itu menjawab ketus:

"Apa yang telah dilakukan olehnya? Huh... coba kau tanyakan saja pada orangnya...!" Dari nada ucapannya, tampak sekali kalau keempat orang itu memang tidak menunjukkan rasa persahabatan. Akan tetapi Buang sudah tiada perduli, perlahan-lahan dia berpaling pada pemilik warung.

"Apakah kesalahan yang telah pak tua lakukan...?" desisnya. Orang tua itu tidak segera  menjawab. Ada keragu-raguan membayang di wajah yang telah keriput itu. Sesekali dia menoleh pada keempat orang yang tadi sempat membuat tulang rusuknya patah.

"Katakan dengan  jelas,  botak  pikun!  Asal  tahu

saja, salah jawab berarti kepalamu yang botak itu kami pecahkan...!"

"Jangan   hiraukan   kunyuk-kunyuk   itu   pak   tua! Bicaralah dengan jelas, siapa tahu aku dapat membantumu...!" Hampir berbisik suara si pemuda terdengar. Sementara lebih dari sepuluh pasang mata tampak memusatkan perhatiannya pada Buang Sengketa dan pemilik warung.

"Anda bukan orang sini, Tuan muda...!"

"Betul! Aku memang bukan orang sini, tapi mengapa...?" selak si pemuda keheranan.

"Tahukah tuan apa yang sedang terjadi di daerah kami ini...?" tanya si pemilik warung, sambil menyeringai menahan rasa sakit di bagian dadanya. Buang mengangguk pelan. "Sedikit saja yang kuketahui, yaitu tentang orang-orang yang tewas itu...!"

"Desa kami terserang semacam wabah penyakit misterius. Kami mendapat pesan untuk tidak melayani tamu asing di warungku ini...!" Buang manggutmanggut, lalu katanya: "Oh itu sebabnya maka orangorang itu menghukummu...?" tanya Buang Sengketa dengan suara sengaja dikeraskan.

"Mereka adalah kaum persilatan golongan putih yang sengaja disewa oleh Adipati Gupta untuk melakukan penyelidikan siapa  sebenarnya  yang  bertanggung jawab atas wabah yang sedang melanda banyak desa...!" kata si pemilik warung dengan suara hampirhampir tak terdengar. Mendengar penjelasan yang diberikan oleh orang itu, serta  merta  dia  palingkan  wajah, dan memandang pada empat orang laki-laki berpakaian hitam putih  itu.  Namun  baru  saja  mata  mereka saling beradu pandang, tiba-tiba salah seorang dari empat laki-laki yang bernama Sona Kirana, membentak: "Kalau kau sudah tahu tentang  un-dangundang yang berlaku di sini, cepatcepat menyingkirlah...!" perintahnya garang.

"Ah, aku bukan seekor kucing kurap, bukan pula seorang pengacau. Tak perlu anda mengusirku, kalau aku mau pergi tak seorang pun punya hak memberi perintah...!"

"Brengsek! Berani sekali bocah berperiuk ini membantah perintah Adipati, Kakang Sona...!"

"Bocah berpakaian gembel ini cukup beralasan untuk dicurigai...!" kata Sona Kirana sambil melompat dari tempat duduknya.

"Kalau begitu, kita ringkus dia untuk dibawa ke hadapan Adipati...!" menyela salah seorang yang berbadan gemuk pendek.

Pendekar Hina Kelana tampak tersenyumsenyum, lalu sambil bertolak pinggang pemuda ini lantas nyeletuk: "Wuee... enak betul kalian bicara! Aku bukan seorang maling. Dan kalian tak  punya  bukti yang kuat untuk mencurigaiku...!"

"Kampret! Kita tak perlu berdebat dengan orang ini. Kawan-kawan, ringkus dia...!" perintah Sona Kirana. Tiga orang lainnya langsung berloncatan dari tempat duduk masing-masing. Dengan sangat cepat sekali keempat tokoh dari Gunung Slamet ini mengurung Pendekar Hina Kelana. Sementara itu pemilik warung yang sudah tampak ketakutan itu, dengan langkah terseok-seok tampak meninggalkan warungnya. Begitu pun dengan para pengunjung lainnya.

"Kalian terlalu berburuk sangka pada orang lain, Sobat...!" keluh si pemuda, sambil mengelakkan tinju Sona Kirana yang mendera ke arah wajahnya.

"Wuuut...!"

Serangan yang dilancarkan oleh Sona Kirana luput, tapi bagian kaki kanannya datang menyambut. Dengan sedikit mengerahkan tenaga dalamnya, Buang memapaki dengan kepalan tangan kanannya.

"Duuuk...!"

"Auhh...!"

Sona Kirana terlonjak-lonjak kesakitan. Mengetahui salah seorang kawan dapat dicelakakan oleh si pemuda berkuncir. Maka tiga orang kawannya segera sadar, kalau pemuda itu kiranya memiliki kepandaian yang dapat diandalkan. Maka mereka ini  akhirnya tanpa sungkan-sungkan lagi langsung melakukan pengeroyokan dengan jurus-jurus silat tangan kosong yang paling ampuh. Sekarang Sona Kirana yang kena dihantam oleh Buang pun kembali turun ke gelanggang ikut melakukan pengeroyokan.

Tapi Buang Sengketa juga tidak tinggal diam, dengan mempergunakan jurus Mem-bendung Gelombang Menimba Samudra, dia papaki setiap serangan lawannya dengan kecepatan yang sangat sulit didugaduga.

"Heaaat.... Shaaaaa...!"

Mempergunakan jurus 'Badai Topan Utara' keempat orang itu tampak mundur dua tindak. Lalu tangan mereka terpentang membentuk dua buah cakar mirip cakar elang yang sedang bersiap-siap untuk menerkam mangsanya.

"Deb... deb... deb...!"

Terdengar suara bergemuruh saat tangan-tangan yang terpentang itu berkelebat-kelebat mengawali sebuah serangan. Secara serentak mereka ini bergebrak. Pukulan-pukulan mempergunakan jurus tangan kosong itu memang dapat dirasakan oleh si pemuda akan kecepatannya. Bahkan pemuda itu merasa tak sempat untuk menghindarinya. Hanya dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh saja, kemudian dia lentingkan badannya ke udara. Keempat orang itu terus memburunya.

"Haiiit...!"

Merasa sangat kewalahan, Buang Sengketa segera merobah jurus silatnya dengan jurus si Gila Mengamuk. Detik itu juga permainan silat si pemuda berobah secara total. Tubuhnya tampak terhuyung-huyung ke depan dan ke belakang. Sementara tangan dan kakinya melakukan tendangan dan pukulan yang tiada terduga-duga. Sungguh pun pihak lawan mampu dibuat kelabakan, namun mereka tetap terus  merangsak. Dengan sangat bernafsu Sona Kirana dan seorang yang lainnya hantamkan tangan  kanannya  mengarah ke bagian pelipis, sedangkan lawan yang lain lakukan satu tendangan satu jotosan. Buang Sengketa  kali ini tak ingin bersikap ayal-ayalan. Tiada alasan baginya untuk mengelakkan pukulan yang dilakukan oleh lawannya. Maka secepatnya dia kerahkan jurus Koreng Seribu untuk memapakinya.

"Desss! Creeep... creeep...!"

Satu tangan kanan tampak melekat erat di  bagian pelipis Buang Sengketa, sedangkan tangan  dan kaki Sona Kirana melekat pada bagian perut dan tumit si pemuda.

Bukan main terkejut dua orang tokoh dari Gunung Slamet ini, sedapatnya mereka mencoba membebaskan diri dari daya tarik yang sangat luar biasa itu, namun semakin kuat mereka mengerahkan tenaga dalamnya untuk membetot tangan maupun kaki yang melekat itu, maka mereka merasakan tenaga mereka semakin terkuras habis. Sedangkan dua orang lainnya tampaknya merasa sangat penasaran sekali. Tanpa berpikir panjang lagi, mereka sudah bersiap-siap untuk hantamkan pukulan jarak dekatnya. Buang Sengketa kiranya menyadari akan semua itu. Namun dalam keadaan sedemikian rupa mana mungkin dia dapat menghindarinya, akalnya pun bekerja. Dengan mempergunakan tenaga yang didapatnya dari pihak lawan, maka dia lipatgandakan tenaga untuk melindungi seluruh tubuhnya.

"Hiaa.... Hiaaa...!"

Begitu lawan hantamkan tangannya ke depan, maka tak pelak lagi selarik sinar warna putih menghantam telak tubuh Buang Sengketa.

"Bleees.... Bleees...!"

Semakin menjadi-jadi rasa kejut di hati lawan yang baru saja melepaskan satu pukulan tadi. Terlebih-lebih selain pukulan itu terasa bagai menembus ruangan hampa, juga mereka merasakan ada kekuatan tak terlihat membetot tubuh mereka mendekati si pemuda yang tadi diserangnya.

Sementara mereka terlibat tarik menarik dengan pihak lawan. Di jalanan tak jauh dari warung itu, tampak beberapa ekor kuda dengan penunggangnya tampak menuju ke arah warung tersebut. Begitu  kudakuda itu berhenti di depan warung tadi, maka  tiga orang penunggang kuda itu pun berlompatan turun. Pabila mereka memandang ke dalam warung. Maka terkejutlah hati si penunggang kuda yang tak lain merupakan orang-orang kepercayaan Adipati Gupta yang sedang menjalankan tugasnya. Dengan sangat tergesagesa mereka memasuki warung itu. Tampaknya tiga orang penunggang kuda itu mengenai cukup baik siapa orang yang berpakaian hitam putih dari Gunung Slamet ini.

"Hentikan... hentikan pekerjaan yang gila-gilaan ini...!" teriak salah seorang di antaranya yang bernama Margono. Sontak keempat orang yang sedang berusaha membebaskan diri dari pengaruh tarikan pihak Buang Sengketa menoleh. Dalam keadaan seperti itu sudah barang tentu tenaga yang mereka kerahkan sedikit berkurang. Dan Buang Sengketa sendiri sudah merasa cukup memberi pelajaran pada orang-orang itu. Maka dengan sekali menghentakkan tangannya, keempat penyerangnya jatuh terduduk dengan tubuh terasa lemah lunglai. Setelah memperhatikan orang-orang dari Gunung Slamet,  maka kini tiga orang penunggang kuda itu beralih pada Buang Sengketa.

"Hebat.... Sekali seumur hidup aku menyaksikan permainan silat yang luar biasa sepertimu!" Berkata Ranggas sambil memperhatikan pemuda berpakaian kumuh itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Maafkan atas penyambutan yang kurang baik oleh kawan-kawan kami. Kalau kami boleh tahu siapakah anda...?"

"Aku hanya seorang pengelana, bukan perampok menjijikkan yang perlu dicurigai!" kata pendekar keturunan Raja Ular Piton Utara. Hilang keramahannya.

"Aha... sudah saya bilang,  maafkanlah  sobatsobat kami itu. Mereka hanya menjalankan perintah Adipati Gupta." ujar Margono. Dari sikap  mereka, Buang dapat menarik satu kesimpulan bahwa keramahan mereka memang tidak dibuat-buat.

"Baik, aku memaafkannya! Dan aku harus pergi sekarang...!" kata si pemuda lalu bergegas melangkah keluar warung. Namun baru beberapa tindak dia melangkahkan kaki, salah seorang dari penunggang kuda itu memanggilnya.

"Sobat! Tunggu dulu, kami ingin membicarakan sesuatu dengan anda...!"

Tanpa menoleh, pemuda berperiuk itu hentikan langkahnya. Lalu: "Cepatlah katakan aku tak memiliki banyak waktu untuk  melanjutkan  perjalanan...!"  kata si pemuda dingin.

"Sobat! Adipati Gupta saat ini sedang membutuhkan orang-orang persilatan yang memiliki kepandaian tinggi. Bahkan beliau berani membayar berapa saja. Asal yang menjadi penyebab terjadinya wabah penyakit misterius di seantero pelosok desa dapat diketahui siapa pelakunya...!" ucap salah seorang tangan kanan Adipati Gupta sambil mendekati Buang Sengketa. Pemuda keturunan alam gaib itu hanya tersenyumsenyum saja begitu mendengar penjelasan Ranggas.

***

4

"Aku bukan jagoan bayaran! Pun tidak memiliki kepandaian apa-apa, terkecuali hanya seorang pengelana hina. Carilah orang lain yang lebih tepat untuk bidang itu, maaf aku harus pergi sekarang juga...!" Hanya dengan sekedipan mata, tubuh Pendekar Hina Kelana telah lenyap dari pandangan orang-orang yang berada di depan warung itu. Kejadian itu membuat mereka terperangah, sama sekali mereka tiada menyangka kalau pemuda berpakaian lusuh itu memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi.

"Saudara Ranggas! Kami bilang apa, pemuda itu memang pantas untuk dicurigai! Mungkin saja dia terlibat dan bertanggung jawab atas  wabah  misterius yang kini melanda seluruh desa...?" sela Sona Kirana bersungut-sungut. Ranggas dan  Margono  sebagai orang yang berpengalaman, cepat geleng-gelengkan kepala.

"Kita harus punya bukti yang kuat untuk mencurigai seseorang. Sudahlah, alangkah lebih baik  kalau kita melakukan penyelidikan ke Utara. Adipati membutuhkan laporan sudah berapa banyak penduduk yang tewas akibat wabah terkutuk itu...!" selak Margono. Kemudian tanpa berkata-kata lagi berangkatlah mereka menuju ke arah Utara.

Saat itu Pendekar Hina Kelana yang baru saja meninggalkan orang-orang kepercayaan Adipati tampak masih terus berlari-lari. Dengan mempergunakan ajian Sepi Angin tubuh pemuda itu tampak melesat laksana terbang. Apa yang menjadi tujuannya kini adalah berusaha mencari keterangan di rumah kediaman sang Adipati. Demikianlah setelah bertanya-tanya pada orang yang dijumpainya di jalanan, maka tak sampai satu jam kemudian sampailah pemuda ini di Desa Lalang. Setelah menghentikan ilmu larinya, pemuda itu kemudian melangkah perlahan mendekati sebuah bangunan rumah mewah, yang pada bagian luarnya dijaga ketat oleh beberapa orang penjaga bertampang angker.

"Berhenti...!" bentak salah seorang penjaga rumah mewah itu yang berada di bagian paling depan.

"Kau orang asing, ada keperluan apakah...!?" tukas orang itu, kemudian beberapa kawannya yang lain tampak mendekati, lalu bergabung dengan laki-laki pertama berusia sekitar limapuluh tahun.

"Maaf... namaku Buang Sengketa, ingin bertemu dengan Adipati Gupta...!" ujar pemuda itu dengan nada bersahabat. Orang-orang yang berada di situ tampak saling pandang sesamanya. Lalu kembali pada si pemuda.

"Ada keperluan apakah...?" tanya si laki-laki yang memiliki kumis serta janggut serba putih itu.

"Aku ingin bicara mengenai penyakit putrinya...!" jawab Buang Sengketa yang secara kebetulan dia sempat mendengar tentang sakit yang diderita oleh putri sang Adipati.

"Kalau begitu baiklah! Mari ikuti aku..." kata lakilaki tua itu, kemudian tanpa menghiraukan Buang Sengketa laki-laki itu terus melangkah pergi. Sebenarnya pemuda itu merasa kurang senang dengan sikap orang tua itu. Tapi dia pun tak mungkin bisa protes terkecuali mengikuti dari belakangnya. Tak lama kemudian setelah melewati pintu depan, maka akhirnya sampailah mereka pada sebuah ruangan yang sangat luas dan bertikar permadani tebal. Laki-laki tua tadi kemudian masuk ke ruangan dalam, kemudian keluar lagi dengan seorang laki-laki berpakaian bangsawan. Setelah memperhatikan pemuda itu sejenak, maka dengan ramah laki-laki berpakaian bangsawan tadi mempersilahkan tamunya duduk di atas tikar permadani.

"Benarkah anda menanyakan tentang penyakit putri kami itu, orang muda...?" tanya Adipati Gupta.

"Ya... memang benar...!" jawab si pemuda lugas. "Apakah anda seorang tabib...?" tanya sang Adi-

pati sambil memandang penuh selidik. Sementara lakilaki tua yang bernama Karsa, sejak tadi terus menerus memperhatikan Buang Sengketa.

"Aku bukan seorang tabib yang mulia Adipati, sungguh pun aku bukan seorang ahli obat, tapi melihat penyakit yang diderita oleh banyak orang, sedikit banyaknya aku jadi ingin mengetahui sebuah kemungkinan apakah penyakit itu hasil perbuatan usil manusia, atau karena azab yang diturunkan oleh Sang Hyang Widi...!"

Adipati Gupta tampak angguk-anggukkan kepalanya pelan.

"Hemmm...! Sudah sekian banyak tabib yang berusaha menyembuhkan mereka dan juga penyakit putriku. Tapi tak seorang pun yang mampu memberi kesembuhan pada mereka...!" ucap Adipati Gupta. Dari nada suaranya pemuda itu dapat merasakan bahwa laki-laki setengah baya itu merasa putus asa. "Bolehkah aku melihat keadaan putri yang mulia...?" tanya Buang Sengketa dengan sangat hati-hati.

"Bolehkah aku  tahu  siapa  namamu,  se-belum kau kuberi izin melihat putriku, orang muda...?" ujar Adipati Gupta curiga. Sementara Buang Sengketa sendiri hanya tersenyum-senyum saja.

"Namaku Buang Sengketa, yang mulia Adipati...!" kata si pemuda tanpa punya keinginan untuk menyebutkan julukan yang dimilikinya di rimba persilatan.

"Buang Sengketa...!" kata Adipati Gupta setengah mengeja nama si pemuda yang baginya masih terasa begitu asing,  "Baiklah,  Buang...!  Mari  aku  antarkan kau ke sana!" kata Adipati Gupta ramah.  Ditemani Karsa dan sang Adipati, pendekar itu kemudian memasuki sebuah ruangan lain merupakan kamar Putri Asih. Buang Sengketa melihat seorang gadis terbaring lemah di atas sebuah ranjang yang sangat indah. Wajah gadis itu tampak pucat dan layu, badan kurus sekali. Pendekar keturunan alam gaib itu merasa sangat iba sekali. Lalu tanpa meminta persetujuan terlebih dulu, dia pun mendekat ke arah ranjang si gadis.

Sekejap dia memperhatikan keadaan tubuh si gadis, lalu terlihatlah olehnya bercak-bercak merah yang timbul di atas seluruh permukaan pori-porinya. Tanpa disadarinya, kedua belah matanya membelalak.

"Racun Pembunuh Iblis...?" serunya  tertahan. "Apa yang kau ucapkan, orang muda...!" selak

Karsa juga tak kalah kagetnya.

"Tak seorang pun manusia di kolong langit ini yang bertahan hidup lebih lama  setelah  racun  maut itu. Tapi... mengherankan, anak yang mulia bisa bertahan hidup sampai hari ini...!" kata si pemuda itu keheranan. Penasaran sekali Adipati Gupta mendengar ucapan yang baru saja disampaikan oleh si pemuda. Bahkan dia pun merasa takjub, melihat pengalaman yang dimiliki oleh orang yang baru saja dikenalnya itu. "Orang muda, bagaimana kau bisa menarik ke-

simpulan bahwa penyakit yang diderita  oleh  putriku itu bukan merupakan wabah biasa...?" tanyanya diliputi rasa keingintahuan.

"Sungguh pun aku bukan seorang tabib, tapi melihat keadaan putri tuan, aku dapat menarik kesimpulan bahwa hanya Racun Pembasmi Iblis saja yang dapat meracuni sekian banyak desa. Karena sesungguhnya Racun Pembasmi Iblis sudah dapat bekerja dengan sendirinya hanya dengan bantuan hembusan angin." jelasnya tanpa merasa perlu dicurigai.

"Menurutmu! Siapakah pemilik Racun Pembasmi Iblis itu! Dan apa pula yang menjadi tujuannya. Hingga orang itu begitu tega menyebarkan maut di manamana?"

"Aku tak berani mengatakan siapa orangnya, setahuku di kolong langit ini hanya seorang tabib golongan sesat yang mampu membuat Racun Pembasmi Iblis itu. Tabib itu bernama Tabib Sapta Rengga yang dulu pernah bermukim di Gunung Tengger...!" kata pemuda itu.

"Tabib Sapta Rengga...?" desis Adipati  Gupta. "Baru kali ini aku mendengar adanya tabib sesat seperti itu. Menurutmu mungkinkah orang itu masih ada sampai saat ini...?"

"Berita terakhir yang kudengar, Tabib Sapta Rengga sudah tidak berada lagi di  Gunung  Tengger, ada yang bilang tabib itu hidup mengelana di berbagai tempat. Kalaulah memang benar dugaanku ini berarti Tabib Sapta Rengga telah melakukan petualangannya sampai ke mari... dan bukan tak mungkin seluruh penduduk desa akan mengalami celaka dalam waktu yang singkat...!" kata Buang Sengketa berpendapat.

"Hemmm, bagaimana  dengan  putriku...!"  tanya sang Adipati semakin bertambah cemas. Buang Sengketa tampak terdiam untuk beberapa saat lamanya. Baginya untuk menyembuhkan racun yang mengendap di dalam darah  putri Adipati Gupta hanya ada satu kemungkinan saja. Yaitu dengan jalan menyedotnya dengan perantaraan Pusaka Golok Buntung. Hanya cara itulah yang dapat dipergunakan.

"Bagaimana orang muda! Apakah nyawa putriku masih dapat tertolong...?" tanyanya dengan sikap waswas.

"Kemungkinan dan cara satu-satunya adalah dengan jalan menyedot habis racun yang telah mengendap di dalam darah putri yang mulia. Andai nasib baik, dan kondisi pisik putri tuan memungkinkan, sudah jelas dia akan segera sembuh sebagaimana mestinya. " jawab Buang Sengketa panjang lebar.

"Kalau begitu, daripada dia menanggung penderitaan yang tiada berkesudahan. Lakukanlah !"

"Yang mulia gusti...!" Laki-laki pendek dari Gunung Semeru yang sejak tadi hanya diam saja kini ikut bicara.

"Ada apa paman  ?"

"Cara pengobatan yang akan dilakukan oleh pemuda ini, merupakan cara yang sangat berbahaya. Kondisi tubuh Putri Asih sudah tidak memungkinkan lagi. Bagaimana nanti jika jiwa putri tak tertolong ?"

ucap Karsa merasa sangat khawatir dan begitu tak yakin dengan apa yang akan dilakukan oleh si pemuda.

"Kurasa tak ada jalan lain lagi, Paman Karsa! Kalau pun jiwa putriku sampai tidak tertolong, setidaktidaknya kita telah melakukan sesuatu untuk kesembuhannya." jawab Adipati Gupta tanpa ragu-ragu. "Lakukanlah orang muda !" perintah sang Adipati, tabah.

*** 5

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Hina Kelana segera menghampiri ranjang Putri Asih. Kemudian pemuda itu mencabut Pusaka Golok Buntung yang terselip di bagian pinggangnya. Begitu senjata maut itu tergenggam di tangan si pemuda, terkejutlah Adipati Gupta dan Karsa, manakala mereka merasakan udara di sekitar kamar itu secara tiba-tiba menjadi dingin luar biasa. Sampai akhirnya mereka pun mengeluarkan seruan tertahan ketika melihat  senjata di tangan si pemuda memancarkan sinar merah menyala.

"Pusaka Golok Buntung! Jadi kaulah Pendekar Hina Kelana dengan Pusaka Golok Buntungnya yang sangat menghebohkan itu...?" desis Adipati Gupta dan Karsa hampir bersamaan. Selama ini mereka hanya mendengar tentang sepak terjang seorang pendekar muda yang menamakan dirinya sebagai Pendekar Hina kelana. Siapa sangka secara tak terduga mereka malah kedatangan tamu berpakaian kumuh yang ternyata pendekar yang sangat kesohor itu.  Maka hilanglah rasa curiga di hati Adipati Gupta maupun Karsa tokoh persilatan yang disewanya.

Sementara itu tanpa menjawab, Buang Sengketa tampak mulai sibuk dengan tugas-tugasnya. Golok Buntung yang sangat tajam itu dia goreskan di tangan Putri Asih. Bekas goresan Golok Buntung di bagian telapak tangan gadis itu kini telah pula mengalirkan darah kehitam-hitaman. Tanpa membuang-buang waktu lagi pemuda itu langsung menempelkan golok itu ke bagian luka tadi. Begitu golok pusaka itu menempel di bagian luka si gadis. Maka golok yang memancarkan sinar merah itu tampak meredup, bahkan sekejap lamanya berubah pula kehitam-hitaman. Tubuh si pemuda kini telah basah oleh keringat, sementara darah berwarna kehitaman itu sudah semakin banyak yang tersedot oleh golok di tangan si pemuda. Sampai akhirnya warna hitam itu lenyap sama sekali dan Golok Buntung itu pun kembali memancarkan sinar merah seperti sediakala. Sepemakan sirih mereka menunggu, bercak-bercak merah di bagian tubuh Putri Asih pun tampak mulai lenyap sama sekali. Melihat  perobahan itu bukan main gembiranya Adipati Gupta dan istrinya Puja, terlebih-lebih saat-saat kemudian terdengar suara Putri Asih menjelang kesadarannya. Tiada hentihentinya mereka memanjatkan sukur kehadirat Sang Hyang Widi. Sementara itu Buang dan Karsa sudah tampak berada di ruang tengah kembali.

"Atas kesembuhan Putri Asih, kami mengucapkan rasa terima kasih yang tiada terhingga kepadamu, hai orang muda! Namun  terlepas  dari  semua itu, alangkah baik-nya kalau kita membicarakan tentang tindakan selanjutnya untuk mencari tahu, keberadaan tabib sesat Sapta Rengga." ujar tokoh dari Gunung Tengger itu bersahabat.

"Apakah adipati telah menyebarkan orangorangnya...?" tanya Buang Sengketa seolah ingin tahu lebih banyak lagi sebagai bahan pertimbangan.

"Tidak begitu banyak! Namun mereka terdiri dari tokoh-tokoh persilatan kelas satu."

"Ke mana saja mereka melakukan penyelidikan...?"

"Di antaranya ke daerah Bumi Ayu, dan ada juga yang ke daerah Rimba Buangan, yang selama ini sangat dikenal sebagai tempat pengasingan orang-orang cacat dan yang mengidap penyakit menular lainnya...!" "Hemmm...  Rimba  Buangan!  Sebuah  nama  yang cukup menarik!" gumam pemuda itu. Sejenak nampak tercengang.

"Paman!  Tolong sampaikan salamku. Saat ini juga aku harus pergi untuk mencari tahu tentang Tabib Sapta Rengga." kata Buang Sengketa, walau bagaimana pun dia sudah mengambil satu keputusan bahwa dirinya tidak ingin dijadikan sebagai  orang  upahan oleh Adipati Gupta.

"Hei... tunggu dulu orang muda! Adipati belum memberimu satu hadiah apa pun!" ujar Karsa berusaha mencegah kepergian Buang Sengketa.

"Kalau pun adipati yang sangat baik itu memberiku hadiah, ambillah untukmu, Paman Karsa! Aku tak membutuhkannya...!" Samar-samar pendekar keturunan raja alam gaib itu menyahuti dari kejauhan. Lakilaki setengah baya dari Gunung Semeru itu gelenggelengkan kepalanya. Sementara itu Adipati Gupta telah pula sampai di ruangan tamu, namun jadi tertegun ketika dia tidak melihat lagi si pemuda berada di ruangan itu.

"Paman Karsa! Ke mana perginya pendekar pengelana itu?"

"Dia baru saja pergi, yang mulia! Padahal saya telah melarangnya."

"Tidak paman tanya, ke mana perginya...?" tanya Adipati Gupta merasa tak enak. Laki-laki dari Gunung Semeru itu tampak geleng-gelengkan kepalanya. Lalu: "Aku belum sempat mengucapkan rasa terima kasihku padanya. Pula aku butuh bantuannya untuk mencari tahu tentang tabib yang disebutkannya tadi." ucapnya menyesalkan.

"Mungkin kepergiannya semata-mata hanya untuk mencari manusia penyebar malapetaka di seluruh pelosok desa kita. Tapi begitu pun ada  baiknya  kita ikut ambil bagian untuk mencari Tabib Sapta Rengga...!" "Saya pun berharap yang mulia adipati mengambil tindakan seperti itu...!" kata Karsa.

Selanjutnya mulai saat itu Adipati Gupta dan beberapa orang sewaannya mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai perjalanannya.

***

Rimba Buangan hampir sepanjang hari berselimut kabut. Sangat jarang sekali orang yang berlalu lalang di sana. Apalagi daerah itu banyak dikenal orang sebagai tempat pembuangan bagi orangorang cacat. Tak seorang pun penduduk dari kadipaten maupun desa-desa lainnya yang mau datang ke tempat itu. Bagi mereka mungkin keberadaan orang-orang cacat itu tak ubahnya sebagai makhluk  yang  sangat  menjijikkan dan perlu untuk dijauhi. Saat itu di bagian  sebelah Utara tidak begitu jauh dari tempat bermukimnya para orang-orang cacat. Tampak mengendap-endap beberapa sosok tubuh berpakaian aneka warna. Dari gelagat yang terlihat tampak jelas kalau mereka sedang melakukan pengintaian terhadap perkampungan orangorang cacat.

Sementara itu dari sebuah bukit yang tersembunyi di bagian Timur Rimba Buangan, tampak seorang laki-laki berpakaian pendeta juga sedang mengawasi ke arah perkampungan itu. Laki-laki berpakaian ungu dengan sebuah tasbih di tangannya ini berusia sekitar tujuh puluh tahun. Pada bagian wajahnya yang tiada ditumbuhi oleh jenggot dan kumis tampak rusak di sana sini. Sehingga menimbulkan kesan menyeramkan bagi orang yang melihatnya. Sesekali sepasang matanya yang berwarna merah itu tampak memandang lurus ke arah lereng di bawahnya. Namun di lain saat mata yang cekung ke dalam dan membentuk sebuah rongga itu kembali terpejam. Kemudian terlihat pula sesungging senyum pias di bibirnya yang setengah sumbing. Lalu tanpa terduga-duga, laki-laki berpakaian ungu itu seperti mendesah. Namun mengherankan karena justru suara yang terdengar tak ubahnya bagai suara lolongan serigala hutan. Dan pabila angin berhembus kencang, maka menebarlah bau bangkai di sekitar tempat itu. Selanjutnya manakala angin kencang berhembus ke arah lereng bukit yang selama ini merupakan pemukiman orang-orang cacat. Maka seluruh penghuni perkampungan orang-orang cacat jadi terbatuk-batuk. Kemudian beberapa orang di antaranya langsung menggelupur roboh sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.

Kejadian itu sudah hampir satu purnama berlangsung, dan sering terulang pabila bau bangkai yang mengandung racun itu telah menebar ke arah bagian bawah bukit, maka beberapa orang penghuni perkampungan itu langsung menemui ajal secara menyedihkan. Kejadian demi kejadian yang terjadi sudah barang tentu membuat kepala dusunnya yang bernama Kakek Buta Tanpa Nama menjadi pusing dibuatnya. Seingatnya selama puluhan tahun mereka menetap di situ, kejadian ganjil seperti yang sedang terjadi saat sekarang sangat jarang terjadi, bahkan boleh dikata tak pernah ada. Tapi mengapa penyakit misterius itu tibatiba menyerang mereka, padahal mereka sangat jauh dalam keterasingan. Di lain pihak dia pun merasa sangat terpukul dengan adanya berita dari kalangan luar. Bahwa malapetaka yang terjadi di daerah-daerah juga bersumber dari mereka. Ini sangat keterlaluan sekali, padahal selama ini sungguh pun mereka merasa dikucilkan dari kehidupan ramai, namun mereka merasa tidak pernah membuat ulah maupun semacam pelampiasan dendam kepada orang-orang yang berada di dunia ramai.

Sementara itu di atas bukit, laki-laki berpakaian ungu itu masih tampak tersenyum-senyum seorang diri. Bahkan senyumannya kini telah berubah menjadi sebuah seringai puas.

"Auuuunngg...!" Lolongnya lirih. "Kaing.., kaing...! Biarkan saja orang-orang cacat itu pada mampus semua. Racun Pembasmi Iblis hasil ciptaanku memang terlalu ampuh. Bahkan puluhan kampung telah berhasil kuracuni, putrinya Adipati Gupta juga! He... he... he...! Salah siapa? Dulu dia begitu berambisi menjadi adipati. Kalau tidak karena bantuanku, mana mungkin sekarang dia bisa hidup enak dan dihormati oleh orang banyak. Dia kira siapa Tabib Canda Muka itu? Pernahkah dia berpikir jika tanpa bantuanku dia dapat menggantikan Adipati Tambak Yoso yang telah tewas karena Racun Pembasmi Iblis milikku. Tapi di dunia ini terlalu jarang orang yang mampu membalas guna. Sekarang biarkan saja Adipati Gupta mumet memikirkan siapa yang menjadi penyebab maut atas desa-desa yang menjadi kekuasaannya. Hek... hek... hek...!" Sekejap dia memperhatikan ke arah lereng bukit. Di sana memang terlihat sedang terjadi kekacauan. Kemudian kembali terdengar suara lolongannya, sayup-sayup.

"Auuung... kaing... kaing...! Bagus... saling mampusin saja, biar orang-orang segolongan jadi cerai berai...!" dengusnya sinis.

Saat itu di lereng bukit memang sedang terjadi kekacauan. Beberapa orang pengintai yang sejak pagi mengawasi daerah perkampungan orang-orang cacat itu kini sudah turun menyerbu, dan mulai membantai orang-orang cacat yang hanya memiliki sedikit kepandaian. Raungan maut pun mulai membahana memenuhi seluruh lereng, hingga sampai ke atas bukit tempat di mana Sapta Rengga berada. Bumi perkampungan orang-orang cacat mulai basah bersimbah darah. Tapi para penyerang yang sudah diliputi api amarah itu tampaknya sudah tiada memiliki rasa kasihan lagi. Orang-orang cacat yang tiada memiliki kepandaian tinggi itu dalam waktu se-kejap saja menjadi kocarkacir dalam mem-pertahankan diri.

Sementara itu dari dalam sebuah pondok yang berukuran sangat besar, tampak seorang kakek tua berkelebat memasuki arena pertempuran. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, tongkat di  tangannya pun segera berkelebat.

"Traang.... Traaang... Traaang...!" Terdengar benturan keras antara senjata si kakek  dengan  senjata yang telah dipergunakan oleh pihak penyerang untuk membunuhi orang-orang cacat itu. Tampak tergetar tubuh para penyerang tadi begitu senjata pedang mereka membentur tongkat di tangan kakek buta.

"Tua keparat! Siapakah engkau ini...!" tanya  salah seorang di antara mereka sambil bersurut langkah. Pemimpin perkampungan orang-orang cacat itu mendengus, lalu silangkan tongkatnya ke depan dada.

"Aku Tua Bangka Tanpa Nama yang me-mimpin perkampungan orang-orang cacat!" kata laki-laki buta itu, dan wajahnya mendadak berubah merah padam saat dia mendengar jeritan salah seorang masyarakatnya.

"Hentikan kawan-kawan kalian itu!" sentak kakek buta. "Kalau pun kalian memang ingin memusnahkan kami, setidak-tidaknya sebelum menutup mata kami harus mengetahui persoalan yang sebenarnya...!" bentak Kakek Buta Tanpa Nama. Si penyerang memandang sejenak pada kawan-kawannya, seolah ingin minta sebuah persetujuan.

"Kawan-kawan, berhenti dulu...!" perintah yang jadi pemimpin pada kawan-kawannya. Kemudian orang itu menyambung: "Orang-orang cacat tiada guna ini ingin tahu apa sebabnya kita membantai mereka...!" "Kakang Suroso, menunda pembunuhan itu sa-

ma saja artinya kalau kita menunda kematian mereka...!" cela salah seorang berbadan kecil kurus merasa kurang begitu senang dengan keputusan pemimpinnya.

"Sabar, Adik Bungkring! Tak ada salahnya kita meluluskan permintaan orang yang hendak mampus...!"

"Sekarang cepat kau tanyakan apa saja yang ingin kau ketahui, tua buta..?" sentak Suroso sembari menimang-nimang toyanya.

"Aku ingin tahu, mengapa tiba-tiba saja kalian datang langsung membunuhi orang-orang yang tiada berdosa?"

"Heh... apa katamu! Kalian bukan orang-orang yang bersalah? Pernahkah kalian dengar tentang kematian beratus-ratus warga dari tiga puluh desa karena terserang wabah terkutuk itu...?" sentak Suroso.

"Siapakah kalian ini...?" tanya si  Kakek  Buta Tanpa Nama dengan mata berkeriapan. Lagi-lagi lakilaki yang bernama Suroso itu mendengus.

"Siapa kami! Cukup kau tahu bahwa kami ini merupakan utusan Adipati Gupta. Ditugaskan untuk mencari biang penyakit yang melanda hampir seluruh pelosok desa." kata laki-laki itu sembari menyunggingkan senyum sinis.

"Lalu kalian menuduh kami sebagai bapak moyangnya penyebar wabah terkutuk itu? Huh tidak tahukah kalian bahwa orang-orangku sendiri hampir setiap hari kedapatan tewas dengan sebab-sebab yang tak jelas...!" kata Kakek Buta Tanpa Nama balas membentak.

*** 6

"Wue... pandai sekali kau berkilah kakek buta! Padahal menurut penyelidikan kami. Dari Rimba Buangan sinilah sumbernya dari segala macam penyakit yang telah merenggut banyak korban itu...!"

"Bohong! Semua itu hanya fitnah! Kami selama hidup berpuluh-puluh tahun di sini selamanya tak pernah mengganggu urusan dunia luar! Apalagi sampai menyebarkan segala macam penyakit...!" bentak Kakek Buta Tanpa Nama sangat marah sekali.

"Jadi  kau  tetap  membantah,  orang  tua...!"  tanya Suroso tampak gusar sekali.

"Kalau kami merasa, bahwa kami berada di pihak yang benar. Maka kami tetap tidak akan mengakuinya walaupun nyawa sebagai taruhannya...!" Suroso, Bungkring, Kethu Dadap dan Kali Gundil tampaknya sudah tiada mampu lagi mengendalikan emosinya.

"Tak ada gunanya lagi kita saling berbantahan dengan mereka Kali Gundil. Baiknya kita hancurkan mereka." teriak Kethu Dadap.

"Seraaaang...!" teriak lawan-lawannya beramairamai.

Sekejap kemudian peperangan pun berkecamuk kembali. Karena keempat orang-orang itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan sekaligus merupakan tokoh sewaan terpilih maka dalam waktu sepuluh jurus kemudian sebagian besar penghuni perkampungan cacat itu tewas terbantai. Sungguh pun Kakek Buta Tanpa Nama tiada dapat melihat apa yang sedang terjadi, namun dia dapat merasakan betapa orang-orang yang segolongan dengannya banyak yang sudah menemui ajal secara menyedihkan.

"Kalian mengaku-ngaku  sebagai  golongan  lurus. Tapi tindakan kalian melebihi kebrutalan iblis. Keparat... aku akan mengadu jiwa dengan kalian...!" teriak Kakek Buta Tanpa Nama sambil mengayunkan tongkatnya ke arah.

"Jangan   banyak   mulut!   Kau   harus   mampus   di tangan kami, Kakek Buta...!" selak Suroso. Maka pengeroyokan pun terjadilah.

Dengan hanya mengandalkan indera perasa dan permainan tongkat di tangannya. Kakek Tanpa Nama ini terus melakukan serangan-serangan gencar. Sekali waktu tongkat di tangannya menderu dan timbulkan suara bercuitan. Hal ini menandakan bahwa Kakek Tanpa Nama sebenarnya memiliki tenaga dalam yang tinggi. Tetapi yang dihadapi oleh kakek itu bukanlah lawan sembarangan. Selain mereka ini mempunyai pengalaman yang tidak jauh beda dengan yang dimiliki oleh Kakek Tanpa Nama, juga mereka memiliki senjata andalan yang tentunya beraneka ragam.

Tidak keliru kalau dalam beberapa jurus selanjutnya Kakek Tanpa Nama, sudah mulai terdesak hebat. Bahkan lima jurus di depan dia sudah harus memutar tongkatnya untuk melindungi diri dari sabetan dan tusukan senjata pusaka di tangan lawannya. Satu ketika dengan disertai jeritan tinggi melengking, keempat orang itu secara bersama-sama langsung melakukan penyergapan dengan toya, golok dan pedang terhunus. Tampaknya Kakek Tanpa  Nama  menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya. Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai tahap sempurna Tubuh Kakek Tanpa Nama meletik ke udara, namun dalam kesempatan itu. Lebih cepat lagi, pedang di tangan Suroso berkelebat.

"Breet...!"

"Ahkk...!" Tubuh kakek Tanpa Nama terlonjak ke atas, bagian bahunya terobek sebesar ibu jari hingga membuat sebuah luka yang terus mengalirkan darah. Tapi pihak Suroso dan kawan-kawannya nampaknya sudah tidak perduli lagi. Tanpa mengenai rasa belas kasihan mereka bermaksud untuk menghabisi nyawa Kakek Tanpa Nama. Tak ayal lagi, baik toya, golok maupun pedang di tangan lawan-lawannya tampak terayun ke atas. Sekali ini dengan sekali sabet maka tewaslah kakek malang itu, namun di  luar  dugaan  dalam  keadaan yang sangat kritis itu mendadak berkelebat sosok bayangan merah begitu cepatnya. Bayangan itu terus menyambar ke arah Kethu Dadap dan kawankawannya: "Traang... trang... traang...!"

Tak ayal lagi tubuh mereka terjengkang dengan senjata masih tergenggam di tangan masing-masing. Namun secepatnya mereka sudah bangkit kembali. Begitu dia memandang pada Kakek Tanpa Nama, mereka melihat seorang pemuda yang tak dikenal sedang berusaha menolong kakek itu. Karuan saja mereka menjadi sangat marah sekali.

"Kurang ajar! Siapakah engkau, bocah pembawa periuk nasi...?" hardik Bungkring dengan tubuh gemetaran karena memendam luapan emosi. Begitu dingin tatapan si pemuda, menyapu pandang pada keempat laki-laki yang telah melakukan pembantaian terhadap orang-orang cacat di Rimba Buangan.

"Mestinya kalian tak perlu bertanya siapa aku ini. Karena sesungguhnya kalian sendiri tiada mengerti siapa diri kalian sendiri...!" gumam pemuda itu geram.

"Keparat! Ditanya malah balas bertanya! Ada hubungan apakah kau dengan kakek buta ini...?!"

"Hemmm...! Aku tak memiliki hubungan apa-apa, cuma aku tak habis pikir, manusia yang mengakungaku sebagai golongan lurus seperti kalian kok begitu tega membunuhi orang yang lemah tanpa daya...?" "Kurang ajar! Kau tau apa bocah gembel? Sudah

jelas mereka yang telah membuat sengsara orang banyak, tetapi mengapa justru kau membelanya...?" bentak Suroso dengan mata melotot.

"Apakah kalian melihat dengan mata kepala sendiri...?" bertanya Buang Sengketa dengan pandangan berapi-api. Tampak orang-orang itu saling pandang sesamanya, biar bagaimana pun selama ini mereka menjalankan perintah hanya berdasarkan laporan yang mereka terima dari orang-orang kepercayaan sang adipati. Tetapi sebagai orang yang merasa derajat golongannya lebih tinggi dari si pemuda maupun kakek buta, mana mungkin mereka mau mengakui kesalahan mereka begitu saja.

"Sungguh pun tidak! Tapi semua itu berdasarkan laporan orang-orang kepercayaan kadipaten?" kata Kali Gundil, mewakili kawan-kawannya.

"Kalau sudah merupakan orang-orang upahan kadipaten. Lantas  kalian  bisa  berbuat  sewenangwenang pada orang-orang yang selama hidupnya telah banyak menelan penderitaan ini...?" sentak pemuda itu mulai terseret-seret dalam api kemarahan.

"Kampret! Kau tau apa tentang kadipaten...?" tanya seorang di antara mereka membanggakan diri.

"Ah... ha... ha... ha...! Sombong sekali kau ini sobat! Yang ku tahu di kadipaten sedang mewabah tokoh-tokoh persilatan upahan seperti kalian ini. Juga termasuk sakitnya Putri Asih karena Racun Pembasmi Iblis itu. Heh... tak kusangka kalau Adipati Gupta yang sedang dilanda kebingungan itu malah mengupah para begal pembunuh memuakkan seperti kalian ini. Kuperintahkan pada kalian untuk menyingkir dan jangan ganggu lagi orang-orang yang tiada berdosa ini...!" bentak Buang Sengketa. Akan tetapi, mana mau orang-orang itu menerima begitu saja. Sebaliknya Kethu Dadap yaitu merupakan orang-orang yang paling tua di antara keempat utusan sang adipati malah balas membentak: "Kampret! Kau benar-benar tidak memandang muka terhadap utusan dari kadipaten...!"

"Harus kulihat dulu apa yang  telah  dilakukan oleh kunyuk-kunyuk upahan seperti kalian ini.  Baru aku akan memperhitungkan baik buruknya...!" kata Buang Sengketa lugas.

"Kurang ajar! Menghina kami itu berarti sama saja kau menghina adipati. Ringkus kunyuk keparat ini hidup atau mati...!" teriak Suroso marah.

"Beet...!"

Hanya sekejapan mata saja keempat orang itu telah mengurung si pemuda dari empat jurusan. Suroso tak perlu mengulangi perintahnya untuk yang kedua kalinya, karena secara serentak mereka telah melakukan serangan-serangan mautnya dengan gencar.

"Kakek Tanpa Nama, menyingkirlah...!"  kata Buang Sengketa sambil berusaha mengkelit serangan gencar pihak lawan yang datangnya bertubi-tubi.

Namun datangnya serangan itu tak ubahnya bagai luapan air bah,  variasi  jurus-jurus  silat  mereka pun sangat banyak dan beraneka ragam. Sampai detik itu, Pendekar Hina Kelana masih mempergunakan jurus silat tangan kosong 'Membendung Samudra Menimba Gelombang'. Satu kesempatan Bungkring hantamkan senjatanya yang berupa sebuah toya yang pada bagian ujungnya terdapat sebuah pisau tajam yang berwarna kekuning-kuningan.

"Wuuus!"

Angin sambaran toya bermata pisau itu menderu ganas mengarah pada bagian perut Buang Sengketa. Pemuda itu menghindari-nya dengan cara berjumpalitan dan kirimkan satu tendangan satu pukulan terhadap lawan yang berada di belakangnya.

"Wuuut!"

Sambaran ujung pisau yang terdapat  di  ujung toya lawan, luput. Suroso yang berada di bagian belakang si pemuda tampak gelagapan.

"Buuuk! Ngeeek...!"

Terhuyung tubuh  laki-laki  berbadan  jangkung ini, isi perutnya terasa bagai diaduk-aduk. Saat itu semakin bertambah meluaplah amarahnya. Serta merta tubuhnya melentik ke udara, kemudian setelah berjumpalitan dan melayang turun. Pedang di tangannya diarahkan pada bagian kepala si pemuda. Masih untung dalam keadaan sangat kerepotan seperti  itu, Buang sempat menyadari adanya bahaya yang mengancamnya dari bagian atas. Seketika itu juga, pemuda ini segera robah jurus silatnya dari jurus 'Membendung Gelombang Menimba Samudra' kepada jurus "Si Gila Mengamuk'. Total permainan silat si pemuda berubah, namun tetap saja bagian lengannya tersambar pedang di tangan Suroso.

"Sreet...!"

"Aughk...!"

Pendekar Hina Kelana mengeluh pendek, namun hal itu tidak mengurangi gerakan tubuhnya yang bagai seorang pemabukan. Sungguh pun setelah merobah jurus-jurus silatnya pemuda ini mampu mengelakkan setiap serangan, bahkan dengan menggeser kaki dan dalam keadaan terhuyung-huyung itu dia mampu mengkelit tusukan pedang maupun babatan senjata lainnya. Namun hal itu tak pernah merobah keadaan. Karena saat itu si pemuda menyadari tak perlu turun tangan kejam untuk menundukkan mereka-mereka yang sedang salah paham itu, maka sering terlihat di pihak si pemuda selalu berada dalam posisi terdesak. Namun bagi pihak lawan mana mau tahu dengan apa yang sedang terjadi atas diri si pemuda. Dari setiap serangan-serangan yang dapat dikandaskan oleh si pemuda, bukan membuat mereka menyadari bahwa pihak lawannya masih memberi angin pada mereka. Walaupun memang keempat orang itu juga merupakan kaum persilatan yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Bahkan permainan jurus-jurus pedang, toya maupun golok mereka juga cukup tinggi.

Sebaliknya dengan kemarahan yang me-luapluap, keempat lawannya mulai mengerahkan jurusjurus simpanannya yang paling ampuh. Keadaan yang sangat membahayakan ini tentu membuat Buang semakin terjepit. Dia pun tak ingin hanya karena mengharap pengertian dari keempat orang itu, tubuhnya menjadi korban keganasan senjata di tangan mereka. Fikirannya pun bekerja cepat, lalu dia memutuskan untuk mempergunakan jurus Koreng Seribu untuk memberi sebuah kesadaran pada lawan-lawannya. Akhirnya setelah mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi diri dari tebasan senjata lawan, maka pemuda itu pun menyalurkan sebagian tenaga dalamnya ke arah kedua belah tangannya. Dengan sikap pasrah, Buang Sengketa menyongsong datangnya serangan senjata itu.

"Traaak! Creep...!"

Begitu senjata di tangan lawannya menghantam tubuh Pendekar Hina Kelana, maka senjata-senjata itu langsung melekat sedemikian erat. Kethu Dadap, Kali Gundil, Bungkring dan Suroso tampak berusaha menarik senjata mereka yang melekat erat di tangan lawannya. Wajah masing-masing lawan membayangkan rasa takut yang teramat sangat, tapi rasa keterkejutan lebih menguasai diri mereka. Adegan  tarik  menarik pun terus berlanjut, masing-masing lawan tubuh maupun pakaiannya sudah bersimbah keringat. Celakanya semakin banyak mereka mengeluarkan tenaga untuk menyentakkan senjata-senjata yang melekat itu, semakin terasa tubuh mereka menjadi lunglai tidak bertenaga.

"Ilmu gila...!" pekik Kali Gundil yang sepanjang hidupnya belum pernah menghadapi lawan yang memiliki ilmu kepandaian seperti yang dimiliki oleh si pemuda. Pendekar Hina Kelana hanya memperlihatkan sesungging seringai menggidikkan. Namun beberapa saat kemudian dengan disertai satu jeritan melengking. Pemuda keturunan raja di negeri alam gaib itu menyentakkan tangannya ke atas.

"Wuaaaa...!"

Bagai ranting-ranting kering ditiup angin, tubuh keempat orang itu terpelanting roboh. Mereka memang merasakan tubuhnya terasa lemah tiada bertenaga, namun demi menjaga harga diri, orang-orang itu pun segera bangkit kembali.

"Jangan  kalian  tunggu  sampai  habis  kesabaranku! Pergilah, mereka sesungguhnya merupakan orangorang yang patut kalian kasihani. Bukan dibantai seperti ini!" kata pemuda itu berwibawa.

"Tidak...! Walaupun kau memiliki kepandaian seperti dewa, jangan kira kami akan menyerah begitu saja. Kau coba-coba melindungi biangnya penyakit, maka kami berkesimpulan bahwa kau juga merupakan orang-orang yang patut dicurigai...!" maki Kethu Dadap dengan sinar mata memancarkan dendam. Memerah wajah pendekar ini seketika, telinganya terasa panas mendengar tuduhan yang tidak beralasan itu.

"Baik! Kalau kalian masih tetap pada pendirian kalian, lakukanlah! Tapi aku minta supaya kalian bicarakan dulu pada adipati!" ucap si pemuda.

*** 7

"Huh...! Membunuh kunyuk-kunyuk penyebar sial seperti kalian tak perlu harus meminta persetujuan adipati. Bahkan adipati akan merasa sangat berterima kasih sekali andai kami telah berhasil membunuh beberapa orang yang mencurigakan seperti kalian ini...!" dengus Suroso tetap ngotot dengan pendiriannya.

"Ah... kiranya kalian bertindak bukan berdasarkan atas petunjuk adipati. Kalian telah menjadi manusia-manusia keparat pembabi buta! Mustahil sekali Adipati Gupta yang bijaksana itu dapat membiarkan kalian bertindak semau-maunya  tanpa  bukti-bukti yang kuat...!"

"Jangan   kau   bawa-bawa  nama  adipati,   kau  tak layak menyebutnya...!"

"Tak pantas...? Hanya kalian saja yang berkata begitu. Sang adipati itu baik sekali, hanya kalian sajalah yang terlalu egois...!"

"Diammm...!" bentak Kali Gundil semakin panas saja hatinya. "Menyingkirlah kau kunyuk pembawa periuk. Kami akan memusnahkan sarang manusiamanusia cacat itu!"

"Kalau itulah keinginan kalian, maka  langkahi dulu mayatku...!" tukas Pendekar Hina Kelana dengan sorot mata menggidikkan.

"Bocah keras kepala, kami akan mengadu jiwa denganmu...?!" teriak Bungkring, dan kejab kemudian dia telah menghantamkan toyanya mengarah pada bagian bahu si pemuda. Sadarlah Buang Sengketa, kini tiada gunanya memberi peringatan apa pun pada mereka. Tiada pilihan lain lagi, terkecuali menempur mereka sampai titik darah penghabisan.

"Hemm! Kalau  itulah  keinginan  kalian,  berarti aku lebih menghargai jiwa orang-orang cacat di sini. Kau dan kembrat-kembratmu (kawan-kawan), memang pantas untuk mendapat ganjaran yang setimpal dariku...!"

"Hiyaaaa...!"

"Nguung.... Nguuung...!"

Hanya dalam waktu sesaat saja pertarungan sengit pun terjadi kembali, kalau mulanya Buang Sengketa dalam bertindak masih memperhitungkan  jiwa orang lain, tapi kali ini semua itu lenyap dalam ingatannya. Apa yang sedang bergejolak di dalam dadanya adalah unsur siluman yang diwariskan oleh ayah kandungnya, Raja Ular Piton Utara dari negeri alam gaib.

Tak dapat disangkal lagi, dalam detik-detik selanjutnya wajah pemuda itu berubah kelam membesi, sepasang matanya tampak memerah saga, sementara dari celah-celah bibirnya memperdengarkan bunyi mendesis bagai seekor ular piton yang sedang dilanda kemarahan. Sejurus kemudian pihak lawan-lawannya telah pula melancarkan pukulan-pukulan mautnya. Suroso, saat itu telah bersiap-siap dengan pukulan 'Dewa Mabok Mengejar Peri' sedangkan Bungkring dan Kathu Dadap saudara seperguruan yang memiliki pukulan yang sama telah pula mengerahkan pukulan 'Malaikat Seribu Muka'. Orang terakhir yang juga mengerahkan pukulan mautnya adalah Kali Gundil.  Laki-laki  tua renta itu mengerahkan pula pukulan 'Dewa Renta Memburu Perawan Ting-Ting'.

Terkesiaplah Pendekar Hina Kelana dibuatnya, tapi dia juga tidak kehabisan akal untuk menghadapi pukulan maut yang datangnya secara bersamaan itu. Dengan menyertakan ilmu 'Lengkingan  Pemenggal Roh', pendekar berwajah sangat tampan ini melepaskan pukulan tingkat tertinggi yang dimilikinya. Tak ayal, pukulan si "Hina Kelana Merana' pun dia persiapkan.

"Wuuuss...!"

"Heiiik...!"

Sambil melepaskan pukulan 'Si Hina Kelana Merana' yang memancarkan cahaya merah berkilauan itu, ilmu Lengkingan Pemenggal Roh turut menyertainya. Pukulan pamungkas yang dilepaskan si pemuda terpecah menuju keempat penjuru  mata  angin.  Sungguh pun pukulan itu menjadi tak sehebat andai dilepaskan secara utuh tetapi lengkingan ilmu Pemenggal Roh, memang terasa banyak membantu. Terbukti kosentrasi lawan menjadi terganggu sehingga tak dapat melakukan pukulan susulan lagi.

"Buuuuummm...!"

Bumi bagai dilanda selaksa gempa. Perkampungan orang-orang cacat menjadi porak poranda. Sementara pohon-pohon yang berada di sekitar tempat itu tampak bertumbangan, pasir dan debu mengepul ke udara, membubung tinggi dan membuat suasana di sekitarnya menjadi samar-samar. Mayat-mayat kaum cacat yang tergeletak di sekitar pertempuran berpelantingan ke segala penjuru. Sementara tubuh lawanlawan si pemuda tercampak entah ke mana. Dengan susah payah pemuda itu berusaha membebaskan diri dari kungkungan tanah yang menjepit tubuhnya. Rupanya saat pukulan sakti mereka saling bertenturan tadi, tubuh pemuda itu melesak ke dalam tanah  sampai sebatas pinggang. Dengan masih memegangi bagian dadanya yang terasa bagai remuk pemuda itu akhirnya dapat keluar dari himpitan tanah tadi. Tapi kemudian dia terbatuk-batuk, sesaat setelah itu menggelogoklah darah kental dari dalam mulutnya.

"Tuan penolong! Tidak apa-apakah kau...!" ucap sebuah suara, secara tiba-tiba telah mengurut bagian dada pemuda itu. Dengan pandangan masih berkunang-kunang, Buang Sengketa menoleh. Dan terlihatlah olehnya bahwa orang yang sedang melakukan pertolongan itu, si Kakek Buta Tanpa Nama. Buang geleng-gelengkan kepalanya. Sungguh pun dadanya terasa mau pecah, walaupun kepalanya bagai remuk. Namun begitu melihat lawan-lawannya telah mengurung dirinya dan telah siap pula melancarkan pukulan mautnya. Pemuda itu lalu memberi perintah pada si Kakek Buta Tanpa Nama:

"Kakek! Menyingkirlah...! Manusia-manusia berhati iblis itu nampaknya memang benar-benar menginginkan jiwaku...!" Menggeram suara si pemuda bagai banteng yang terluka. Tapi di luar dugaan Kakek Tanpa Nama gelengkan kepala berulang-ulang.

"Tidak... kau telah pertaruhkan jiwamu, hanya demi membela nyawaku yang sudah  tiada  harganya itu. Agar iblis yang mengaku sebagai kaum yang lurus ini puas, biarlah nyawaku sebagai tebusannya..."  jawab Kakek Tanpa Nama begitu tegas.

"Bagus! Kalian berdua memang  pantas  untuk mati secara bersama-sama." tukas Kathu Dadap sinis.

"Kakek Tanpa Nama... kuperingatkan padamu, cepat-cepatlah menyingkir. Biar kuhadapi orang-orang sinting ini seorang diri...!" teriak Pendekar Hina Kelana merasa sangat gusar. Tampaknya Kakek Tanpa Nama menyadari bahwa dirinya tak mungkin membantah keinginan si pemuda. Maka dengan sekali berkelebat, lenyaplah kakek itu dari arena pertarungan.

"Wuuus...!"

"Blaaar...!"

Pukulan yang dilakukan dengan mempergunakan kelengahan Pendekar Hina Kelana, memang sama sekali di luar dugaan pemuda ini. Tak ayal lagi tubuhnya pun terbanting keras beberapa tombak ke belakang.

"Hoeeekgh...!" Semakin bertambah banyaklah darah kental yang menggelogok dari mulut si pemuda. Tubuhnya terasa panas bagai terbakar. Dengan bersusah payah dia berusaha bangkit kembali.

"Keparaaaat...!"

Maki si pemuda, serta merta dia cabut senjata yang terselip di bagian pinggangnya. Begitu senjata itu tergenggam di tangannya, maka terasa ada aliran hangat menjalar di sekujur tubuhnya hingga menyebabkan rasa sakit itu pun sedikit berkurang. Sebaliknya mereka yang hadir di situ secara tiba-tiba merasakan hawa dingin luar biasa. Dan mereka lebih terkejut lagi begitu melihat senjata yang tergenggam di tangan pemuda itu memancarkan sinar merah menyala.

"Kepalang basah, majulah kalian semuanya! Sampai di sini aku benar-benar tak bisa mengampuni jiwa kalian...!" desis pemuda itu. Walaupun hati mereka kini diliputi oleh rasa ragu, namun  semuanya  sudah terlambat.

Bahkan Kali Gundil  sendiri  yang  selama  ini hanya mendengar tentang adanya seorang tokoh yang berjuluk si Hina Kelana, hanya mampu berharap, semoga pemuda yang sedang mereka hadapi itu bukanlah Pendekar Golok Buntung. Tak perduli dia sudah melihat bahwa kini pemuda itu sudah menggenggam Pusaka Golok Buntung di tangannya.

"Heaaa... heaaa...!"

Mempergunakan senjata dan pukulan-pukulan mautnya, keempat orang itu secara serentak maju menyerang. Golok di tangan Buang Sengketa menggaung memperdengarkan suara puluhan ekor harimau terluka. Angin akibat sambaran golok itu menyambarnyambar dan membuat ngilu tulang belulang lawanlawannya.

Satu kesempatan  dengan  disertai  jeritan  tinggi melengking tubuh pemuda itu tampak berkelebat lenyap. Jurus 'Si Jadah Terbuang' telah menyebabkan gerakan senjata maupun tubuhnya hanya kelihatan bagai bayang-bayang saja. Hal itu membuat lawanlawannya menjadi bingung dan merasa kesulitan untuk melakukan serangan.

"Ihh...!"

Kali Gundil berseru kaget saat mana merasakan adanya sambaran angin di belakangnya. Dia berkelit, tubuhnya hampir saja menabrak si Bungkring yang berada di samping kirinya. Laksana kilat, satu kelebatan bayangan merah menyambar.

"Creess.... Creees...!"

"Wuaaghrk... arggghkt...!"

Terdengar dua kali jeritan berturut-turut. Kali Gundil dan Bungkring tampak mendekap bagian perutnya yang terobek besar. Darah terus merembas membasahi bagian tangan yang mereka pergunakan untuk mendekap bagian luka tadi. Namun tetap saja aliran darah tak dapat dicegah. Dengan mata melotot, tubuh kedua orang itu kemudian ambruk tanpa sempat berkelojotan lagi.

Pucat pasi wajah Suroso dan Kethu Dadap demi melihat apa yang dialami oleh kawan-kawannya. Tibatiba seramnya kematian membayangi jiwa mereka. Bagaimana pun mereka sadar pemuda itu bukanlah lawan sembarangan. Bahkan rupa kematian pun mereka tak berani membayangkannya. Mana lagi masih bujangan dan belum pernah merasakan bagaimana enaknya sebuah perkawinan dan hidup serumah dengan seorang perempuan. Secara tak terduga mereka mengambil keputusan yang sama. Kabur! Itulah. Namun kiranya pemuda itu dapat membaca gelagat. Maka dengan geram dia berseru:

"Kalian baru boleh kabur, setelah meninggalkan sebelah tangan masing-masing...!" Buang Sengketa kembali memburu, dalam keadaan jiwa tak menentu, lawannya menjadi gugup. Golok Buntung di tangan pemuda dengan telak menyambar ke bagian bahu Suroso dan Kethu Dadap.

"Jraaas.... Creeess...!"

"Auuu.... sakiit..,!" teriak Suroso dan  Kethu  Dadap sambil berusaha meninggalkan tempat itu.

"So... tanganmu tidak kau ambil...!" jerit Kethu Dadap, sambil terus berlari dia berusaha menotok jalan darah untuk mencegah agar darahnya tidak  banyak yang keluar.

"Masa bodoh...! Kehilangan sebelah tangan tidak berarti apa-apa daripada harus kehilangan nyawa...!" balas Suroso, terbirit-birit. Tak lama kemudian Suroso dan Kethu Dadap telah lenyap pula dari pandangan si pemuda.

"Kakek Tanpa Nama... uruslah jenazah orangorangmu...!" kata pemuda itu beberapa saat setelah itu.

"Aku akan mengurusnya, Pendekar...! Dan kuucapkan banyak terima kasih padamu." kata Kakek Tanpa Nama. Namun tiada sahutan, karena sesungguhnya Pendekar Hina Kelana telah bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

***

8

Merambah hutan rimba, bagi orang-orang kepercayaan Adipati Gupta bukanlah satu hal yang baru. Namun menginjakkan kaki di  Rimba  Buangan  baru kali inilah mereka lakukan. Namun Ranggas dan Margono serta kaum persilatan golongan putih lainnya juga termasuk Karsa yang tergabung dalam regu penumpasan penyebar Racun Pembasmi Iblis, untuk kali ini diliputi oleh rasa was-was yang teramat sangat. Bagaimana tidak, waktu pertama kali mereka menambatkan kuda-kuda di pinggiran Rimba Buangan, mereka menemukan mayat Lawuk Ambara tergeletak dalam keadaan membusuk. Ternyata setelah diperiksa sana sini, tak terdapat adanya luka ataupun bekas pukulan beracun lainnya. Wajah Lawuk Ambara yaitu orangorang utusan kadipaten dan termasuk  orang  upahan itu tampak menggembung kebiru-biruan, sepasang mata melotot, sementara kedua tangannya mendekap erat pada bagian leher. Melihat mulutnya yang berbusa dan menebarkan bau busuk. Rasa-rasanya kematian Lawuk Ambara tak jauh beda  dengan  yang  dialami oleh para penduduk yang terserang wabah.

Kemudian ketika mereka melangkah dan menelusuri hutan agak lebih ke dalam lagi, maka rombongan Ranggas dan Margono menemukan pula mayat Giling Wesi dengan keadaan tidak begitu berbeda dengan apa yang dialami oleh Lawuk Ambara. Orang bayaran dari 'Puncak Sinar Akherat' itu juga tewas dengan keadaan mata melotot. Sedangkan di bagian tangannya masih tergenggam seruling maut yaitu yang merupakan sebuah senjata andalan milik Giling Wesi. Namun Margo, Ranggas, Karsa serta beberapa orang lainnya yang turut serta dalam rombongan itu sedikit terperanjat begitu melihat tangan kiri Giling Wesi. Margono langsung mendekat, lalu berjongkok dan memeriksa bagian tangan Giling Wesi. Tetapi benda yang berada dalam genggaman tangan Giling Wesi terasa sangat sulit untuk diambil karena genggaman jemari yang Sudah kaku itu ternyata mencengkeram begitu eratnya.

Barulah setelah dibantu oleh Ranggas dan Karsa benda yang tergenggam di tangan Giling Wesi dapat diambil.

"Hemmm... tiga buah batu menyerupai untaian tasbih, apakah benda ini ada hubungannya dengan penyebar wabah penyakit itu...!" gumam Margono dengan alis mata berkerut. Yang lainnya langsung saling pandang.

"Kemungkinan hal itu ada hubungannya. Tapi siapa-siapa sajakah yang tinggal di hutan seperti ini selain para orang-orang cacat itu...?" tanya Karsa seperti menuduh.

"Kita tak mungkin berprasangka sampai sejauh itu. Tapi menurut Adipati Gupta, seperti yang pernah dikatakan oleh Pendekar Hina Kelana yang telah menyelamatkan putrinya. Wabah penyakit misterius itu sesungguhnya berasal dari seorang tabib yang memiliki racun ampun yang diberi nama 'Racun Pembasmi Iblis'. Di kolong langit ini hanya manusia sesat Ki Sapta Rengga seoranglah yang memilikinya. Justru begitu aku sendiri merasa heran mengapa Tabib Canda Muka yang beberapa hari lalu kudapati tewas. Namun saat mana kami datang kembali ke tempat kediamannya, mayatnya mendadak raib begitu saja...!"

"Kejadian yang pelik...!" sergah Ranggas merasa pusing sendiri. "Sungguh pun pemuda yang memiliki julukan Pendekar Hina Kelana itu telah menolong tuan putri. Tapi entah mengapa justru aku menaruh rasa curiga padanya. Bukan tak mungkin bahwa wabah penyakit yang melanda banyak desa itu, dialah yang menjadi biang keladinya,..!"

"Tidak mungkin...!" bantah Karsa dan dengan terburu-buru langsung geleng-gelengkan kepalanya. "Jauh   sebelum   aku   bertemu   dengan   Pendekar   Golok Buntung, aku telah mendengar tentang sepak terjangnya. Dia seorang tokoh muda yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Berasal dari golongan  lurus  dan tak pernah bertindak setengah-setengah dalam membasmi kejahatan...!!" bela laki-laki dari Gunung  Semeru itu tegas.

"Kalaulah benar tapi mengapa dia pergi meninggalkan rumah kediaman Adipati Gupta begitu saja...?"

"Heh... bagi kalian hal itu memang terasa janggal, karena selama ini kalian hidup dalam lingkungan tata krama dan peradatan. Tapi tingkah orang-orang persilatan memang selalu begitu, aneh menurut kita, tetapi biasa bagi mereka yang sudah mengerti...?"

"Menurut Paman Karsa, mungkinkah saat sekarang ini pendekar berperiuk itu juga sedang mencari biang keladi penyebab malapetaka itu...?" tanya Ranggas berusaha ingin mencari kepastian.

"Kemungkinan itu ada, tapi aku tak dapat memastikan apakah dia sedang berusaha mencari tabib sesat Ki Sapta Rengga atau tidak! Tokh selamanya dia tak mau terikat dengan segala macam hal yang berbau kerja sama...!"

"Sulit juga! Tapi tak mengapa, ada baiknya kalau sekarang kita teruskan saja perjalanan kita ini menuju perkampungan orang-orang cacat." kata Margono. Kemudian tanpa berkata-kata lagi delapan orang utusan Adipati Gupta itu pun kembali melanjutkan perjalanannya.

***

Sementara itu di sela-sela teriknya cahaya mentari tengah hari, tampak sesosok tubuh berpakaian serba putih dengan sebuah tongkat yang selalu menyertainya kemanapun dia pergi, tengah mendaki Bukit yang terletak di bagian Barat perkampungan kaum cacat. Sekali dua tongkat di tangannya dia pukulpukulkan ke arah bagian depan. Kakek berpakaian serba putih ini tak lain adalah Kakek Buta Tanpa Nama. Rupanya kejadian yang menimpa para muridmuridnya membuat kakek ini merasa terpukul. Tak dapat dibayangkan bahwa pembantaian yang membabi buta yang telah dilakukan oleh Suroso, Kali Gundil, Bungkring dan Kethu Dadap telah membangkitkan sebuah dendam dan kemarahan terhadap biang penyebar wabah misterius yang dia tahu telah pula merenggut jiwa orangorangnya. Sebagian besar orang-orang sengsara yang telah dikucilkan dari kehidupan ramai selama puluhan tahun itu, kini  telah  tewas.  Tetapi yang membuat batinnya terguncang justru kematian mereka disebabkan oleh segolongan manusia yang mengaku dirinya sebagai kaum yang lurus dan memiliki derajat hidup yang tinggi.

Sungguh hal ini benar-benar tak dapat diterima oleh akal sehatnya. Dia  memang  ingin  marah,  atau pun melakukan balas dendam, tapi mungkinkah? Atau pantaskah hal itu untuk dilakukannya? Dia berpikir, dendam mendendam sesungguhnya  tiada  guna-nya dan itu tak perlu dilakukannya. Biarlah mereka merupakan kaum yang tersisihkan dan dikucilkan oleh masyarakat banyak. Asalkan sampai menutup mata mereka tak pernah melakukan kejahatan dalam  bentuk apa pun! Membatin Kakek Buta Tanpa Nama. Kini kakek berpakaian putih itu tanpa memperdulikan teriknya sang surya yang terasa begitu menyengat terus mendaki bukit terjal itu. Tekadnya sudah bulat, yaitu ingin mencari tau sumber bau yang berasal dari atas bukit yang kini sedang didakinya. Kalau pun nantinya dia menemukan tempat dan menjadi sumber malapetaka itu, dia telah bertekad untuk memusnahkannya. Tak perduli apakah di atas bukit itu dihuni oleh binatang buas, jin, setan apalagi manusia. Kalau perlu dia akan mengadu jiwa dengan orang itu.

Demikianlah Kakek Tanpa Nama yang sudah terbiasa dengan kegelapan itu, sedikit demi sedikit terus merangsak medan yang sulit dan berbatu terjal. Bukan hal yang mudah bagi si kakek untuk cepat sampai di tempat yang ditujunya. Berulangkali, tubuhnya terpeleset bahkan hampir terpelanting jatuh. Hanya karena mengandalkan ilmu meringankan tubuh dan memiliki keseimbangan gerak saja. Kakek Buta Tanpa Nama sampai sejauh itu masih mampu menghindari ancaman batu-batu runcing yang terdapat di bawah bukit. Lewat sepemakan sirih, sampailah kakek itu di atas bukit. Tenaganya yang sudah terkuras habis, membuat dirinya langsung ngejeplok di atas rerumputan hijau. Napas ngos-ngosan bagai habis dikejar-kejar perempuan setan muka jelek, sementara matanya yang tiada dapat melihat, bekerlipan. Sekejap kemudian Kakek Buta Tanpa Nama sudah mulai memasang indera pendengarannya, yang dalam usia lanjut ini sudah mulai rada-rada budek.

Lamat-lamat dia mendengar adanya suara lolongan serigala hutan. Mula-mula kakek itu mendengar lolongan serigala tadi dari berbagai penjuru, tetapi beberapa saat kemudian suara itu bersumber dari satu arah. Menyertai hembusan angin dari Barat Laut, tercium pula bau bangkai. Kakek Tanpa Nama segera menyadari bahwa bau tak sedap itu terkadang sampai menjarah ke bagian lereng bukit. Dan  bau  itu  pula yang telah menyebabkan orang-orang cacat tewas secara mengerikan. Cepat-cepat, ketua perkampungan orang-orang cacat itu menutup pernapasannya. Begitu pernapasan tertutup, bau menjijikkan itu  pun  sudah tak tercium lagi. Namun seberapa lamakah Kakek Buta Tanpa Nama dapat bertahan seperti itu?  Bagaimana pun saktinya kakek ini, dia tak mungkin terus menerus menutup jalan nafasnya. Pada saat itu tiupan  angin dari satu arah terasa semakin bertambah kencang. Pohon-pohon sebesar paha kerbau berderak patah. Bahkan andai Kakek Buta Tanpa Nama tidak mengerahkan tenaga dalamnya untuk bertahan, sudah pasti tubuhnya yang sudah renta itu akan terbang tertiup angin yang datangnya bagai badai topan yang sangat dahsyat.

"Hehhh...!" Menggigil tubuh Kakek Buta Tanpa Nama, "Angin sehebat ini jelas bukan badai topan biasa. Setidak-tidaknya seorang tokoh sakti yang telah melakukan pekerjaan gila-gilaan ini...! Tapi siapakah...?" gumam kakek itu sambil terus bertahan agar tubuhnya tidak ikut terbetot hembusan angin.

"Mahluk Tuna Netra! Turunlah kau dari atas bukit ini... apa yang kau cari-cari itu sesungguhnya bukanlah lawanmu!" Dalam hembusan angin itu terdengar pula suara gaib yang tiada dikenal oleh kakek buta.

"Siapakah kau... apakah kau penyebar wabah penyakit itu...?" tanya kakek itu dengan tubuh menggigil.

"Bukan! Justru akulah yang menjadi  pencegah agar tidak jatuh banyak korban!" kata suara dalam hembusan angin itu menyahuti.

"Kalau begitu, engkau tahu siapa biang keladi semua yang telah terjadi...?" tanya si kakek.

"Aku tahu! Tapi aku tak mampu menghentikan sepak terjangnya...!" jawab suara gaib dalam hembusan angin tadi.

"Coba tolong kau sebutkan manusia-nya...?" pinta Kakek Buta Tanpa Nama.

"Orang itu bernama Ki Sapta Rengga!" jawab  si suara gaib.

Alis  mata   Kakek   Buta   Tanpa   Nama   tampak mengkerut. Dicoba-cobanya untuk mengingat sesuatu, hingga beberapa saat. Namun tetap saja dia tak bisa mengingat siapa adanya Ki Sapta Rengga yang disebutsebut oleh si suara gaib itu.

"Kau pasti tak mengenalnya, manusia... sudahlah cepat-cepat kau turun dan tinggalkan bukit ini. Orang itu sebentar lagi akan sampai di depanmu...!" kata si suara gaib merasa khawatir.

"Tidak! Percuma saja aku menghabiskan sisa-sisa hidupku andai selamanya aku dan masyarakatku selalu terhina!" Kakek Buta Tanpa Nama membantah.

"Kau memang keras kepala orang tua! Jangan salahkan aku, karena aku tak mampu melakukan pembelaan atas keselamatan dirimu!"

"Pergilah! Saat ini aku tidak memerlukan pembelaan siapa pun...!" pinta Kakek Buta Tanpa Nama penuh percaya diri. Seiring dengan hembusan angin yang sangat kuat, maka suara gaib itu pun tak terdengar lagi. Tinggallah pohon-pohon yang berserakan, dan kesunyian yang mencekam. Tapi sunyi itu tidak berlangsung lama, karena saat selanjutnya terdengar pula suara lolongan serigala. Meremang bulu tengkuk Kakek Buta Tanpa Nama, kala itu Kakek Buta telah membuka jalan pernafasannya. Hingga tak ayal lagi, bau tak sedap pun kembali tercium.

"Jliigkh...!"

Dari kerimbunan pohon sesosok bayangan nampak melayang turun dan mendaratkan kakinya persis di depan si kakek. Sejenak lamanya sepasang mata orang itu memandang sinis pada laki-laki  tuna  netra ini. Kemudian dia mendengus dan kembangkan sesungging senyum yang hanya membuat wajahnya yang buruk itu semakin bertambah mengerikan.

"Kau orang buta! Ada keperluan apakah sehingga berani lancang memasuki pekarangan orang lain?" bertanya laki-laki bertampang menyeramkan berpakaian ungu pada Kakek Buta Tanpa Nama.

"Sering kudengar lolongan anjing kurap, selalu pula kuendus bau bangkai yang berasal dari bukit ini. Selama berpuluh-puluh tahun  baru  beberapa  waktu ini saja aku merasakannya. Sialnya bau bangkai itu justru bukan membuat kehidupan kaumku dan kaum orang banyak semakin bertambah makmur! Malah sebaliknya, pabila bau celaka itu menyebar, maka orangorangku pada bergelimpangan menemui ajal...!" berkata Kakek Buta Tanpa Nama setengah menuduh.

"Hehh...! Sekali pun penduduk perkampungan orang-orang cacat pada mampus semuanya, aku  belum puas. Terkecuali bila seluruh penduduk yang berada di bawah perintah Adipati Gupta yang pada mampus, itulah yang ku ingini."

"Jad...   jadi   kaulah   yang   menyebar   malapetaka yang sekarang ini melanda seluruh desa dan perkampunganku...!" tanya Kakek Buta Tanpa Nama dengan mata membelalak.

"Tidak salah!" kata laki-laki berpakaian pendeta sambil memutar-mutar tasbih di tangannya.

"Tapi mengapa pula kau pergunakan Rimba Buangan sebagai markas besarmu...?" sentak Kakek Buta Tanpa Nama, penuh teguran.

***

9

Laki-laki berpakaian warna ungu itu tergelakgelak, kalau di dengarkan dengan seksama sesungguhnya suara laki-laki itu tak ubahnya bagai lolongan serigala. Dengan nada dingin sekali kemudian laki-laki itu berucap: "Engkau ini selain buta rupanya sangat tolol sekali! Dengan bersembunyi di Rimba  Buangan ini! Tentu dunia luar akan menyangka kalau semua sumber malapetaka itu berasal dari kalian...?"

"Dan niatmu itu telah kesampaian...?" tanya Kakek Buta Tanpa Nama sudah merasakan sangat geram sekali.

"Ya, tapi tidak keseluruhannya! Sebab Adipati Gupta pada gilirannya harus pula mampus di tanganku, setelah sebelumnya kubuat dia jadi kelabakan...!"

"Keparaaat...! Jadi engkaulah yang disebut-sebut oleh seorang pendekar muda, sebagai biangnya penyebar Racun Pembasmi Iblis?"

Mendengar disebut-sebutnya 'Racun Pembasmi Iblis' laki-laki pemegang tasbih yang bernama Ki Sapta Rengga itu tampak membelalakkan matanya. Sama sekali dia tiada menyangka kalau masih saja ada orang lain yang mengetahui siapa dirinya. Tapi sebagaimana sifatnya yang sering berterus terang, maka kali ini diapun mengakui dengan pasti.

"Tabib Sapta Rengga, namaku! Racun Pembasmi Iblis hasil ciptaanku! Dan semua orang yang ada di kolong langit ini akan kujadikan manusia-manusia percobaan dari semua hasil ciptaanku...!"

"Keparat...!" maki Kakek Buta sudah tak mampu lagi membendung amarahnya. "Aku benar-benar akan mengadu jiwa dengan-mu...!" teriak kakek itu  kalap, dan serta merta dia hantamkan tongkatnya ke depan. Tapi dengan sangat mudahnya Ki Sapta Rengga mengkelit serangan kilat yang dilakukan oleh Kakek Buta Tanpa Nama. Hanya sambaran angin saja yang terasa menerpa tubuh Ki Sapta  Rengga,  sementara  tongkat itu sendiri menerpa tempat yang kosong. Tampak debu mengepul di udara. Laki-laki pemegang tasbih itu keluarkan suara tawa bergelak-gelak. Kakek Buta Tanpa Nama  menyadari  kalau  saat itu dia sedang berhadapan dengan seorang tokoh sesat yang tiada terukur kesaktiannya. Bahkan dia pun menyadari pukulan tongkatnya yang diberi nama 'Tongkat Baja Menghantam Setan Kembar'  yang  tiada  duanya itu masih mampu dikelit oleh pihak lawan. Ini menandakan bahwa Ki Sapta Rengga ternyata memang selain seorang pencipta segala macam racun, ternyata juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.  Tiada  pilihan lain lagi, sebelum  pihak lawan sempat berbuat sesuatu, maka dengan mempergunakan jurus tongkat 'Badai Gila Menerpa Gurun', Kakek Buta Tanpa Nama  kembali menyerang Ki Sapta Rengga dengan segenap kemampuannya.

"Wuuut... wuuut...!"

Tongkat di tangan Kakek Buta kembali menderu mengintai pertahanan Ki Sapta Rengga yang lowong. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya pada bagian tangan, Ki Sapta Rengga dengan berani memapaki hantaman tongkat tadi.

"Duuk...!"

"Plaaak...!"

Begitu tongkat di tangan Kakek Buta membentur tangan Ki Sapta Rengga, tubuh laki-laki itu terhuyung. Tidak berhenti sampai di situ saja, satu tamparan keras membuat tubuh Kakek Buta terbanting roboh.

"Auuung... kek... kek... kek...!"  Lepas  tawa  lakilaki berwajah seram itu melihat si Kakek Buta terguling-guling dan kerengkangan bangkit kembali. "Sebelum kau mampus dengan Racun Pembasmi Iblis milikku, memang tak salah kalau aku terpaksa harus menjajal permainanmu itu, tua buta...!" dengus Ki Sapta Rengga.

Bagai orang tuli saja, Kakek Buta Tanpa Nama langsung berdiri pada posisi, kemudian dia putarputarkan tongkatnya, sehingga membentuk sebuah benteng pertahanan yang kokoh. Sementara itu tangan kirinya telah pula bersiap-siap melakukan satu pukulan jarak dekat.

"Beet! Wuuuus...!"

Satu sabetan satu tusukan tongkat disertai dengan satu pukulan yang bernama 'Macan Sehari Tiga', datang menghantam tubuh Ki Sapta Rengga yang diam tiada bergerak. Satu sambaran  angin yang sangat keras langsung menghajar tubuh laki-laki berpakaian ungu ini.

"Buuuum...!"

Terdengar satu ledakan terasa menggoncangkan bukit itu, celakanya malah tubuh si Kakek Buta yang terpental jauh, bahkan hampir terpental ke dalam jurang. Sedangkan Ki Sapta Rengga hanya tergetar saja, sambil geleng-gelengkan kepalanya.

"Hek... permainan tongkat yang tiada guna! Juga pukulan yang tiada bermutu...!" maki laki-laki bertasbih itu dengan wajah memerah. "Permainanmu yang tiada guna kurasa cukuplah sudah. Kini tibalah giliranmu untuk mampus...!" teriak laki-laki iblis ini. Sedetik kemudian dia sudah rangkapkan kedua tangannya di atas kepala. Sekejap mulutnya berkomat kamit. Tasbih dia kalungkan ke bagian leher. Sedangkan kedua tangan yang telah menyatu itu tampak menggeletar, tubuh basah oleh keringat. Tak sampai sepemakan sirih, kedua tangan yang menyatu tadi telah pula mengeluarkan uap berwarna hitam. Tubuh Ki Sapta Rengga kini telah terbungkus kabut yang semakin menebal. Bersamaan dengan semakin menebalnya kabut hitam yang menyelimuti diri Ki Sapta Rengga, maka tercium pula bau busuk yang sangat mengganggu pernapasan Kakek Buta Tanpa Nama. Ketika dia menyadari bahwa sesungguhnya bau busuk itu mengandung racun yang sangat mematikan. Segalanya terasa sudah sangat terlambat. Tapi dia masih berusaha menutup jalan pernapasannya. Kemudian manakala Ki Sapta Rengga meluruk ke arah dirinya dengan satu pukulan 'Racun Pembasmi Iblis'. Maka Kakek Buta Tanpa Nama hantamkan tongkatnya ke depan.

"Braak...!"

Tongkat di tangan Kakek Buta hancur berkepingkeping, satu pukulan mempergunakan tangan kanan dengan telak menghantam tubuh renta Kakek Buta Tanpa Nama. Tidak berhenti sampai di situ saja, Ki Sapta Rengga hamtamkan pula tangan kirinya ke arah bagian perut lawannya.

"Hoeeeek...!"

Darah muncrat dari mulut Kakek Buta Tanpa Nama, darah yang menyembur itu berwarna hitam pekat. Ketua perkampungan orang-orang cacat ini tak lagi sempat mengeluh, jangankan lagi melolong. Dalam waktu sebentar saja tubuhnya telah berubah menghitam secara keseluruhan.  Lalu tubuh renta tanpa nyawa itu pun ambruk untuk selama-lamanya. Ki Sapta Rengga tergelak-gelak tanda puas, kemudian terdengar pula suara lolongannya yang tak ubahnya bagai serigala kelaparan.

"Kaum persilatan sebentar lagi memang akan kubuat cerai berai. Tak satu orangpun tokoh yang kuanggap sakti kuberi hidup. Jangankan cuma Adipati Gupta manusia pengecut yang tak tahu membalas budi itu...! Kek... kek... kek...!" Laki-laki  berpakaian  ungu itu tiba-tiba saja hentikan tawanya. Sejurus matanya memandang ke arah lereng bukit bawah sana. Tampak olehnya beberapa orang laki-laki sedang memasuki perkampungan orang-orang cacat yang hanya dihuni oleh beberapa gelintir manusia saja.

Dengan cermat Ki Sapta Rengga mengawasi gerak gerik  orang-orang  yang  berada  di  bawah  bukit  itu. "Aku merasa yakin orang-orang itu pasti meru-

pakan kaki tangan Adipati Gupta! Hek...  kek...  kek...! Ada baiknya kalau aku menyingkir dulu, atau kupapak mereka di bawah lereng bukit sana!" batin Ki Sapta Rengga sambil berlalu dari bukit itu.

***

Saat itu rombongan Ranggas dan kawankawannya tampak sudah mulai memeriksa keadaan di sekitar perkampungan orang-orang cacat yang sudah berantakan. Tak terlihat  sesuatu  yang  mencurigakan di sana, kecuali beberapa orang bisu berpakaian gembel yang ternyata sangat sulit untuk diajak bertanya jawab. Sementara di bagian halaman rumah perkampungan orang cacat yang tak ubahnya bagai sebuah kandang ayam itu. Tampak berpuluh-puluh mayat bergelimpangan tak tentu ujudnya. Dengan teliti Ranggas, Margono dan Karsa memeriksa keadaan mayatmayat itu. Setelah melakukan pemeriksaan sana sini. Salah seorang dari mereka kemudian berteriak sembari membalikkan tubuh mayat yang sedang dihadapinya.

"Lihat! Ini mayat Kali Gundil dan Bungkring...!" desis Ranggas dengan mata membelalak tak percaya. Dengan tergesa-gesa beberapa orang lainnya segera mendatangi Ranggas, dan ternyata memang benar bahwa mayat itu tak lain merupakan mayat Kali Gundil dan Bungkring, dua orang tokoh persilatan yang mereka sewa.

"Agaknya telah terjadi pembantaian di sini!" gumam Karsa, tanpa sadar meraba bagian hulu pedangnya.

"Mungkinkah Kali Gundil dan Bungkring yang melakukan pembunuhan terhadap orang-orang cacat ini, lalu kemana perginya Suroso dan Kethu Dadap? Padahal mereka pergi secara bersama-sama...!" ucap Margono penuh tanda tanya.

"Heh... benar! Kemana perginya kedua orang itu? Atau mungkinkah ada orang lain lagi, yang telah membunuh orang-orang kita. Lihatlah... luka di  bagian perut kawan-kawan kita ini bagai bekas sabetan senjata yang sangat tajam! Tak mungkin ketua perkampungan orang-orang cacat yang telah melakukannya!"

"Tapi Kakek Buta Tanpa Nama juga tidak ada di tempat...!" membantah salah seorang anggota rombongan.

"Kalau begitu pasti ada orang lain yang telah melakukan pembantaian di sini!" sergah Ranggas menarik satu kesimpulan. Karsa maupun Margono tampak sama-sama terdiam. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tapi sesaat setelah itu kesunyian itu pun terpecah dengan terdengarnya suara Margono.

"Melihat mayat orang-orang cacat ini, rasarasanya, pembunuhannya tidak dilakukan oleh seorang saja, dua orang atau bahkan lebih. Bukan tak mungkin Kali Gundil dan Bungkring yang telah melakukan penyerangan terhadap orang-orang cacat ini. Kemudian datang seseorang berusaha menyelamatkan orang-orang yang malang! Sayang sekali Kali  Gundil dan Bungkring terlalu bertindak ceroboh, sehingga sekian banyak korban tanpa dosa menjadi pelampiasan tindakan yang membabi buta...!" keluh Karsa menyesalkan.

"Hei... Paman bisa mengambil kesimpulan seperti itu, apakah paman mengenal siapa  orang-orang  cacat di sini?" tanya Margono curiga.

"Kenal mereka secara keseluruhan, sih tidak! Tapi aku mengenal Kakek Buta Tanpa Nama yang jadi pimpinan mereka dengan baik! Seharusnya kita merasa tak perlu untuk mencurigai mereka secara berlebihlebihan. Karena mereka pun selama hidupnya tak pernah pula mencampuri segala urusan yang berhubungan dengan dunia luar...!"

"Bukankah asalnya wabah itu berasal dari Rimba Buangan ini...?" bantah Ranggas. Laki-laki  dari  Gunung Semeru itu angguk-anggukkan kepalanya.

***

10

Seraya pun berucap: "Kalau memang benar, itu bukan berarti orang-orang cacat itu yang menjadi penyebabnya. Mungkin saja ada orang lain yang sengaja memanfaatkan tempat ini menjadi sarangnya dalam bergerak...!"

"Kejadian-kejadian yang mencurigakan! Tapi aku tak pernah dan belum melihat se-suatu yang ada hubungannya dengan wabah penyakit itu!" keluh orang kepercayaan Adipati Gupta yang bernama Ranggas.

"Sudahlah tak ada gunanya kita saling bertanyatanya. Ada baiknya kalau kita meneruskan pencarian...!" kata Margono. Namun belum lagi rombongan utusan adipati yang berjumlah delapan orang itu sempat beranjak meninggalkan perkampungan orangorang cacat. Tiba-tiba salah seorang dari kelima orangorang cacat yang tersisa, tampak menyeruak dari dalam sebuah gubuk yang sudah berantakan. Orang ini selain memiliki cacat lahir pada kedua belah tangannya, ternyata juga gagu (alias tidak bisa bicara). Setelah berlari-lari mendekati mereka, kemudian tanpa merasa curiga apa pun dengan mempergunakan sebatang ranting yang terkepit pada bagian ketiaknya kayu itu dia tudingkan ke arah atas bukit.

"Hei... apa maksudmu..?" tanya Margono tiada mengerti.

"Auu... auuu...!"

"Coba biar aku saja yang menanyainya!" kata Karsa yang sedikit banyaknya mengetahui bahasa isyarat. Beberapa saat kemudian pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh laki-laki dari Gunung Semeru ini.

"Apa yang ingin  kau  katakan..,?"  tanya  Karsa, dan laki-laki itu pencong-pencongkan bibirnya ke atas dan ke bawah. "Kau bilang ketuamu mendaki ke atas bukit itu?" Laki-laki tiada bertangan itu anggukanggukkan kepalanya. Kemudian dia menggerakgerakkan bibirnya lagi.

"Ha.... .... dia bilang... dari atas bukit sanalah sumber terjadinya malapetaka...!" kata Karsa setelah sedapatnya berusaha mengerti apa yang dikatakan oleh si cacat gagu barusan.

"Hhh.... Mungkin dari sanalah kita bisa memulai pemburuan terhadap biang kerok penyebab terjadinya wabah penyakit itu...!" selak Margono.

"Kita ke sana sekarang...!" perintah Ranggas. Kemudian tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, mereka pun bergerak ke arah bukit. Namun tak sampai setengah jam kemudian rombongan itu mulai melintasi batu-batu yang sangat tajam. Namun dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna, rombongan itu pun dapat melalui daerah berbatu itu dengan sangat baik. Namun menuju jalan mendaki yang berada di depannya lagi, keadaan jalan yang mereka lalui terasa sulit dan licin. Berulang kali mereka hampir saja tergelincir jatuh.

"Wuuust...!"

Tanpa mereka duga, tiba-tiba satu sambaran angin yang begitu keras menerpa dengan telak tubuh mereka ini.

"Sialan...!" maki Ranggas dan lain-lainnya hampir bersamaan. Mereka jatuh terguling-guling. Namun tidak percuma karena sesungguhnya mereka ini terdiri dari orang-orang pilihan. Andai tidak sudah dapat diduga serangan gelap yang datangnya secara mendadak itu pasti membuat tubuh mereka jatuh ke dalam jurang yang lumayan dalamnya. Dengan sigap mereka segera bangkit kembali, kemudian membentuk sebuah pertahanan dengan posisi melingkar dengan posisi punggung saling berhadap-hadapan.

"Pembokong gelap! Cepat-cepatlah tunjukkan muka, kalau tidak jangan kau salahkan kami...!" teriak Ranggas dan Margono hampir bersamaan. Suara teriakan mereka menggema menjarah sampai ke lereng bukit bahkan hingga sampai pada tebing batu yang sangat curam itu.  Sesaat  kemudian  adalah  kesunyian yang mencekam. Namun utusan Adipati Gupta itu tidak bisa lengah dari kewaspadaan.

"Tidak seorang pun muncul dari depan sana! Pukulan yang hampir saja mencelakakan kita tadi sudah jelas bukan pukulan  biasa,  bahkan  aku  yang  sudah tua lapuk ini dapat merasakan bahwa di sekitar tempat ini terdapat hawa racun jahat. Berhati-hatilah kita. Siapa tahu nyawa kita masih melekat hingga  kita dapat kembali ke kadipaten dengan keadaan utuh...!" menggumam laki-laki dari Gunung Semeru melalui ilmu menyusupkan suara.

"Kita tak mungkin bertahan seperti ini secara terus menerus, Paman Karsa...!" jawab Margono, juga melalui ilmu menyusupkan suara.

"Atau ada baiknya kalau kita terus mendaki bukit jahanam ini hingga sampai pada puncaknya...?" desah Ranggas memberi usul. "Jangan,   terlalu   berbahaya   andai   kita   melakukannya! Aku yakin, si keparat itu berada tidak begitu jauh di sekeliling kita. Atau bahkan mungkin sekarang ini si penyebar maut itu malah sedang mentertawakan kita...!" kata Karsa, melalui  ilmu  mengirimkan  suara itu masih juga dia sempat bercanda demi mengurangi ketegangan.

"Paman! Aku tak suka kau bertingkah konyol seperti itu, seharusnya kita pecahkan bagaimana jalan keluarnya...!" kata Ranggas dengan wajah memerah. Gusar.

"Jangan  bertindak  gegabah,  tak  ada  gunanya  kita melakukan tindakan ceroboh. Salah-salah nyawa kita yang akan melayang."

"Tapi apakah kita harus tetap bertahan dengan posisi menggelikan seperti ini? Orang-orang persilatan pasti akan mentertawai kita andai mereka sampai melihat kepengecutan ini...!" sentak Margono masih dengan mempergunakan ilmu mengirimkan suara. Karsa geleng-gelengkan kepalanya, detik kemudian dilayangkannya pandangan matanya jauh-jauh ke depan tempat di mana pukulan gelap tadi berasal. Karena selain sebagai tokoh persilatan dan kiranya juga Karsa merupakan seorang ahli kebatinan. Maka tak  salah  kalau saat itu sepasang matanya yang telah berubah memerah saga dapat melihat sepasang mata yang mirip dengan mata binatang buas tampak mengintai ke arah mereka dari jarak tak kurang dari dua puluh tombak. Mengkirik bulu tengkuk laki-laki berbadan kecil dari Gunung Semeru itu dibuatnya. Tanpa sadar kemudian dia berkata,

"Benar! Musuh tidak begitu jauh lagi di depan kita, celakanya kita sekarang berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Aku tak tahu, apakah pemilik sepasang mata dalam kelebatan pohon itu, binatang menjijikkan, jin setan atau apa. Tapi aku merasa ada darah siluman mengalir dalam tubuhnya  "

"Apa maksudmu, Paman! Kau jangan bi-kin bingung kami. Di depan sana aku tak melihat apa-apa   !"

kata Margono dengan perasaan serba tak menentu. "Kalian memang tak melihat. Tapi mata batinku

melihat dengan jelas...!" bantah laki-laki berbadan pendek kurus itu dengan bibir terus berkomat kamit membacakan sesuatu yang tak jelas.

"Sukur-sukur Adipati Gupta  tak  pernah  muncul di Rimba Buangan ini. Sehingga dia akan memerintah daerahnya hingga akhir hayatnya. Tapi kalau orangorang dari kadipaten sampai ke mari semua, alamat celakalah kita...!" Akhirnya habislah sudah kesabaran Ranggas, Margono dan yang lain-lainnya. Apalagi katakata Karsa semakin melantur tak menentu. Selanjutnya tanpa mempergunakan ilmu menyusupkan suara lagi, Margono berkata ketus:

"Bicaramu semakin kacau balau, Paman...! Padahal semua orang juga tau kau bukan seorang pemabuk! Apalagi sinting ! Namun kami semakin tak men-

gerti saja dengan apa yang kau katakan...!"  kata lakilaki berkumis tipis itu.

Karsa terdiam, sepasang matanya tampak membeliak bagai hendak melompat ke-luar. Semua keanehan yang terjadi atas diri Karsa kiranya tak luput dari perhatian Margono dan kawan-kawannya.

"Ada apa, Paman  !"

"Musuh sudah datang...!" jawab Karsa sambil menunjuk ke arah depan mereka. Apa yang baru saja dikatakan oleh Karsa memang tak dapat dipungkiri, karena sebentar kemudian berhembuslah angin yang sangat kencang. Disertai dengan suara lolongan serigala hutan. Kemudian terendus bau yang sangat busuk. Serta merta, tampak sesosok tubuh melayang dari kerimbunan pohon.

"Jleeekgh...!"

Di atas sebuah batu besar, sosok tubuh berpakaian ungu telah berdiri di sana. Sepasang matanya yang menjorok ke dalam tampak berkilat-kilat penuh kesadisan ketika menyapu pandang pada orangorang kadipaten, kemudian sesungging senyum maut menghias di bibirnya yang berwarna hitam pekat. Hanya Karsa seorang yang tiada merasa terkejut atas kehadiran orang ini, sedangkan Margono dan  Ranggas sampai keluarkan suara memekik:

"Tabib Canda Muka...?" seru Margono, dengan mata membelalak tak percaya.

"Bukankah engkau telah mati...?" tanya Ranggas, secara tak sadar dia sudah meraba bagian hulu pedangnya. Si jubah ungu hanya keluarkan suara menggereng bagai suara lolongan serigala lapar.

"Tabib Canda Muka memang telah mampus! Justru karena itu hanya nama samaran belaka. Sedangkan namaku yang sebenarnya adalah Tabib Sapta Rengga dari Gunung Tengger...!" kata laki-laki pemegang tasbih muka menyeramkan itu ketus.

"Hah...!" Mata Margono semakin membelalak lebar. Sementara tubuhnya tersentak ke belakang.

"Jadi   betul,   kau   iblis   penyebar   wabah   penyakit misterius itu...?" tanya Ranggas masih kurang begitu yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Tak salah...!"

"Mengapa kau lakukan itu, bukankah selama ini kau bersahabat baik dengan Adipati  Gupta...?"  Lakilaki berwajah menyeramkan itu, lagi-lagi mendengus.

"Secara lahiriah memang aku bersahabat baik dengan junjunganmu itu, namun secara batin, aku menaruh dendam dengannya setinggi langit...!"

"Tidak salahkah apa yang kudengar?" tanya Margono semakin keheranan.

"Sama sekali tidak! Hek... hek... hek...!  Sebenarnya aku segan memberi penjelasan pada anjing-anjing Adipati. Tapi karena kalian termasuk dalam daftar orang-orang yang harus mampus. Kukira tak ada salahnya kalau aku memberi sedikit penjelasan pada kalian...!" Ki Sapta Rengga alias Tabib Canda Muka, tampak terdiam sesaat lamanya. Suasana dingin mencekam menyelimuti utusan dari kadipaten. Kemudian Ki Sapta Rengga menyambung: "Sedikit banyaknya kalian pasti tau bahwa Adipati Gupta tidaklah terpilih menjadi seorang adipati, andai bukan  aku yang  membantu dia dalam melenyapkan nyawa Adipati Tambak Yoso. Aku yang telah meracuninya, sehingga adipati tua Tambak Yoso tewas secara misterius. Kalian pikir apakah semua itu tidak ada imbalannya? Huh... Adipati Gupta keparat itu telah memberiku janji yang mulukmuluk. Katanya aku akan diberi hadiah sebidang  tanah yang luas. Sebuah istana yang  bagus,  juga  sepuluh istri yang cantik-cantik. Tak taunya janji hanya tinggal janji, bahkan dia malah mengulur-ngulur waktu...! Kalau aku dapat secara tidak langsung mengangkat derajat hidupnya. Apakah kalian pikir aku tak mampu menjatuhkan martabatnya...?" sentak Ki Sapta Rengga dingin.

"Bicaramu ngaco, tabib celaka! Adipati Gupta menduduki jabatan itu melalui pemilihan yang sah...!" bantah Ranggas merasa sangat tersinggung.

"Omong kosong! Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui...!"

"Keparat! Kau benar-benar telah menghina adipa-

ti...!"

"Bukan hanya sekedar menghina saja, tapi tidak

lama lagi, jiwanya pun akan kurenggut...!" ancam Ki Sapta Rengga. Kata-kata laki-laki berpakaian ungu itu benar-benar telah membuat kesabaran Ranggas dan kawan-kawannya hilang sama sekali. Detik kemudian dengan disertai kemarahan yang meluap-luap. Kedelapan orang itu pun langsung melakukan seranganserangan gencar.

Pertarungan sengit di celah yang sempit itu pun tak dapat dihindari lagi. Walau pun Ki Sapta Rengga mendapat keroyokan sedemikian rupa dari orangorang yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Tapi masih belum terlihat tanda-tanda dirinya menjadi keteter. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna. Tubuhnya terus berkelebat di antara cecaran serangan pihak lawannya. Kenyataan ini sudah barang tentu di luar perhitungan Margono dan Ranggas, yang selama ini mengetahui secara pasti. Bahwa Tabib Canda Muka yang sesungguhnya, tidak memiliki ilmu silat yang luar biasa selain ilmu ketabiban. Tapi kenyataannya, kiranya Tabib Canda Muka alias Ki Sapta Rengga merupakan tokoh persilatan yang sangat tangguh. Bahkan dalam pertarungan sengit menjelang lima belas jurus itu. Jangankan serangan kedelapan orang itu mencapai sasaran dengan baik. Sebaliknya menyentuh pakaiannya  saja tak dapat. "Benar-benar sangat keterlaluan sekali, manusia iblis ini" membatin Margono.

"Sebelum mampus, aku memang suka mempermainkan setiap lawan supaya jangan mati penasaran...!" celetuk Ki Sapta Rengga sambil terus tergelakgelak. Tanpa memperdulikan ocehan Ki Sapta Rengga, orang-orang itu segera mencabut senjatanya masingmasing.

"Sriiing! Sriiing...!"

Senjata pedang di tangan mereka tampak berkilat-kilat diterpa cahaya matahari. 11

Tapi walaupun Ki Sapta Rengga telah melihat pihak lawan telah mencabut senjatanya. Tetap saja dia masih kelihatan masih tenang-tenang saja.

"Keluarkanlah semua kebisaan kalian! Masih kuberi waktu untuk memamerkan ilmu silat picisan yang kalian miliki...!"

"Jahanam...!  Kau  harus  mampus  di  tangan  kami, tabib keparat...!" teriak salah seorang utusan Adipati Gupta sambil melompat dan hantamkan senjatanya ke bagian dada si laki-laki pemegang tasbih. Sambaran angin yang sangat kuat menderu ke arah Ki Sapta Rengga. Tiada mengelak laki-laki berwajah angker ini kembangkan sebelah tangannya. Sedangkan tangan yang lain terkepal membentuk tinju, kemudian dia hantamkan ke muka.

"Creep! Pletak...!"

"Braaak...!"

Tangan kiri berhasil menangkap pedang di tangan lawan, sekaligus membetot dan mematahkannya, sedangkan tangan kanan berhasil memukul hancur wajah salah seorang dari utusan kadipaten itu. Dengan muka remuk, laki-laki malang itu terbanting  tubuhnya, berkelojotan sesaat kemudian terdiam untuk selama-lamanya.

"Bagus, majulah semuanya! Aku pasti akan melayani kalian dengan senang hati!" kata Ki Sapta Rengga dengan diiringi tawa menggidikkan.

"Heaa.... ciaaat...!"

"Weeer...! Weeeeer...!"

Senjata di tangan Margono dan Karsa menderu laksana kilat, saat itu dari bagian belakang Ki Sapta Rengga, senjata yang sama juga tampak meluruk ke arahnya. Laki-laki  berpakaian  ungu  itu  hantamkan dua pukulan berturut-turut ke arah belakang dan muka. Dua larik gelombang bersinar hitam kebiru-biruan menghajar mereka dengan telak. Sementara Margono dan Ranggas serta Karsa mampu mengelakkan pukulan yang datang dengan cepat berguling-guling. Sebaliknya keempat orang kawan mereka yang berada di bagian belakang Ki Sapta Rengga, sudah tak  sempat lagi.

"Breeess...!"

Bagai ranting kering tubuh keempatnya tersapu pukulan Ki Sapta Rengga, celakanya di belakang mereka merupakan sebuah jurang yang menganga. Hingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh yang sudah dalam keadaan hangus akibat terkena pukulan beracun itu melayang ke bawah. Sementara di dasar jurang sana, batu-batu yang sangat tajam telah pula siap memanggang tubuh mereka. Tidak lagi  terdengar  lolongan maut saat mana keempat tubuh yang sudah tiada berdaya itu menghantam batu yang berada di dasar jurang itu hingga menimbulkan suara berdebum. Demi melihat kematian keempat kawannya hanya dalam waktu segebrakan saja, bukan main marahnya Margono, Ranggas dan Karsa.

"Kau... kau telah membunuh kawan-kawan kami...?" jerit Margono. "Cincang iblis berkedok manusia ini...!" perintah laki-laki berbadan tegap itu, kalap.

"Ha... hak...  hak...!  Cincang  bagian  mana  saja yang kalian suka...!" bentak Ki Sapta Rengga dengan sikap pasrah. Tak ayal lagi sambaran-sambaran senjata di tangan mereka datang menggebur. Kemudian menghunjani tubuh Ki Sapta Rengga dari berbagai penjuru. Namun ternyata tubuh laki-laki berpakaian pendeta itu tidak mempan dengan bacokan-bacokan senjata di tangan mereka. Tiada perduli lagi, Karsa, Margono dan Ranggas terus membabatkan senjatanya ke sekujur tubuh Ki Sapta Rengga.

"Craak... craaak... craaak...!"

"Terus... terus hantam mana saja yang kalian suka...!" kata Ki Sapta Rengga dengan disertai tawa bergelak-gelak.

"Keparat... ternyata iblis ini kebal segala macam senjata...!" teriak Margono. Dan tampaknya mereka merasa tak putus asa, pukulan dan babatan pedang mereka lakukan secara silih berganti, namun hanya pakaian laki-laki itu saja yang tercabik-cabik di beberapa bagian sehingga Ki Sapta Rengga nyaris tak berbaju.

"Creeep...!"

"Kurasa cukup waktu bagi kalian untuk mainmain dengan Tabib Sapta Rengga. Lihatlah betapa pakaianku yang mahal ini harus kalian gantikan dengan jiwa kalian"

"Creeep...!"

Dua kepala dengan dua kali renggut telah berada dalam cengkeraman jemari tangannya. Margono dan Ranggas meronta-ronta, namun semakin dia memperhebat gerakannya, maka semakin bertambah eratlah cengkeraman tangan itu.

"Hrrr...! Kalian sekejap lagi akan mampus secara mengerikan...!" geram Ki Sapta Rengga menggeram. Menyadari bahaya yang sedang mengancam keselamatan kawan-kawannya, maka Karsa pun tidak tinggal diam. Dia hantamkan pukulan 'Segara Geni', yang selama ini merupakan pukulan maut yang sangat diandalkannya. Dengan sangat cepat begitu dia mengerahkan tenaga dalamnya ke arah bagian tangan  kanannya, maka beberapa saat kemudian tangan itu telah berubah pula menjadi merah laksana bara.

Alis mata  Ki  Sapta  Rengga  tampak  mengkerut, tapi dia juga tak melepaskan rambut lawannya yang masih tetap berada dalam genggaman tangannya. Di luar sepengetahuan Karsa, Ki Sapta Rengga telah pula mengerahkan Racun Pembasmi Iblis ke segenap tubuhnya.

"Haaaaaat...!"

Tubuh Karsa langsung melompat dan hantamkan tangan kanannya yang telah berubah merah laksana bara.

"Buuuk...!"

"Wuaaaah...!"

Terdengar jeritan, keluar dari mulut Karsa. Sementara itu, tubuh laki-laki dari Gunung Semeru itu terhuyung-huyung ke belakang. Rupanya ketika dia menghantamkan tangan kanannya ke bagian dada lawan tadi, selain pukulan miliknya membalik dan menghantam tubuhnya sendiri. Kiranya  tangannya yang sempat menyentuh dada lawan yang mengandung racun ganas tak dapat dia elakkan lagi, tak dapat disangkal kalau kemudian dengan sangat cepat dia berusaha menyelamatkan diri dengan cara menarik balik serangan itu. Namun terlambat karena selain terkena pukulannya sendiri tapi juga 'Racun Pembasmi Iblis' milik Ki Sapta Rengga sempat tersentuh oleh laki-laki itu.

"Hoeeeeekgh...!"

Dengan mata melotot, Karsa muntahkan darah kental berwarna hitam pekat. Tidak sampai di situ saja, secara perlahan namun pasti, sekujur tubuh Karsa pun mulai mengalami perubahan. Mula-mula tubuh yang sudah tiada nyawa itu, tampak pucat bagaikan kapas. Semakin lama berubah kebiru-biruan hingga menghitam.

"Hek... hek... hek...! Lihat... lihatlah kematian kawan-kawan kalian itu! Menggelikan. Konyol... dan...! Sebentar lagi giliran kalian berdua...!" kata Ki Sapta Rengga. Serta merta Ki Sapta Rengga menotok urat gerak Margono dan Ranggas. Tubuh kedua orang itu langsung menjadi kaku. Sementara kedua tangan Ki Sapta Rengga sekarang telah terangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Margono dan Ranggas hanya mampu membelalakkan matanya saat mana kedua tangan Ki Sapta Rengga tampak menggeletar dan mengepulkan asap tipis berwarna kehitam-hitaman. Setelah asap beracun itu semakin menebal dan bertambah banyak, tiada ragu-ragu lagi. Ki Sapta Rengga bersiap-siap dengan posisinya untuk segera lepaskan pukulan beracun yang sangat ganas itu.

Tak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh Ranggas dan Margono, jangankan untuk melawan atau pun menghindar. Sedangkan untuk menggerakkan tubuhnya saja sudah terasa sangat sulit sekali. Tak ada pilihan lain bagi mereka berdua terkecuali pejamkan matanya untuk menerima kematian dengan sikap pasrah.

"Hiaaaat...!"

Ki Sapta Rengga menerjang ke depan dengan sekali lompatan saja. Namun pada saat-saat yang sangat menegangkan itu, dari atas bukit tampak berkelebat bayangan merah dengan gerakan sangat cepat sekali.

"Buuuum...!"

Terdengar satu ledakan keras saat mana bayangan merah tadi berusaha memapaki serangan maut yang bersumber dari kekuatan Racun Pembasmi Iblis. Tampak tubuh Ki Sapta Rengga terhuyung beberapa tindak ke belakang. Sementara si bayangan merah dengan mengandalkan kecepatan gerak dan ilmu mengentengi tubuh, setelah berjumpalitan langsung menjejakkan kakinya di atas sebuah batu besar. Siapakah pemuda berpakaian merah dengan rambut dikuncir ini? Tak lain dan tak bukan adalah Pendekar Hina Kelana adanya.

Seperti diketahui setelah pemuda itu menolong Kakek Buta Tanpa Nama dari serangan, Suroso, Bungkring, Kethu Dadap dan Kali Gundil. Buang Sengketa meninggalkan perkampungan orang-orang cacat begitu saja. Pemuda itu terus memburu ke arah bagian Barat Rimba Buangan dengan maksud ingin menyelidiki sumber bau bangkai yang sempat dia endus dan berasal dari arah itu. Namun setelah mencaricari, di bagian yang dia maksud. Ternyata di sana tidak ada apa-apanya terkecuali sosok mayat yang sudah membusuk. Melihat keadaan  mayat  yang  sudah tak karuan ujudnya, sadarlah pemuda keturunan raja alam gaib itu, bahwa sebenarnya orang itu mati karena Racun Pembasmi Iblis. Dia dapat berkesimpulan begitu justru sebelumnya dia pernah mengerti berbagai jenis racun yang sangat ganas sekali pun. Pemuda ini akhirnya merasa curiga bahwa Rimba Buangan merupakan sarangnya tabib sesat Sapta Rengga, yang telah meninggalkan Gunung Tengger beberapa tahun yang lalu. Akhirnya Buang Sengketa merasa perlu untuk melakukan penyelidikan di sekitar tempat itu. Barulah ketika dia tidak menemukan Ki Sapta Rengga di sekitar mayat yang dia temukan, akhirnya pemuda ini memutuskan untuk kembali ke perkampungan orangorang cacat.

***

12

Kebetulan saat dia sampai di tempat itu,  dua orang utusan adipati yang pernah dia jumpai pada salah sebuah warung hampir saja mendapat celaka di tangan Ki Sapta Rengga. Tanpa sungkan-sungkan pemuda itu pun langsung bertindak. Setelah menggagalkan pukulan yang dilakukan oleh Ki Sapta  Rengga, maka kembali tubuh Pendekar Hina Kelana berkelebat membebaskan totokan yang dialami oleh Margono dan Ranggas. Ketika kedua utusan dari kadipaten itu telah terbebas dari pengaruh totokan yang telah dilakukan oleh Ki Sapta Rengga, maka keduanya cepat-cepat menyingkir menjauh. Bukan main gusar laki-laki muka bengis dari Gunung Tengger itu demi melihat ada seorang bocah asing telah menggagalkan rencananya untuk membunuh orang-orang kepercayaan Adipati Gupta.

Tetapi sedikit banyaknya dia menjadi terkejut juga, pabila mengingat bahwa pemuda berpakaian gembel itu dengan baik dapat memapaki pukulan beracunnya. Padahal dia menyadari selama ini belum pernah seorang tokoh persilatan golongan mana pun yang mampu menahan pukulan sakti yang mengandung racun jahat miliknya. Menurutnya pemuda yang kini sedang memandang sinis padanya itu paling-paling baru berusia dua puluh satu tahun. Tapi bagaimana mungkin bocah semuda itu sudah memiliki tenaga dalam yang sudah sangat sempurna, pula tidak mempan dengan racun ganas miliknya. Sungguh luar biasa. Ketika Ki Sapta Rengga sedang berpikir atau tepatnya merenungkan kehebatan yang dimiliki oleh si pemuda, dalam pada itu Buang Sengketa sudah membentak:

"Manusia muka jelek dari Gunung Tengger! Sudah berapa banyakkah jiwa yang me-layang karena ulahmu...?"

"Heh... kau tau dari  mana asal  usulku...!"  sentak Ki Sapta Rengga, dan entah mengapa tiba-tiba saja darahnya bagai tersirep. Jantung terasa kian lambat berdetak: "Ha... mata itu! Rasanya dia bukanlah manusia biasa...!" batinnya pula.

"Bahkan aku tau  siapa  kau  yang  sesungguhnya Ki Sapta Rengga! Cepat kau tarik kembali Racun Pembasmi Iblis yang telah kau sebarkan bersama hembusan bayu, di beberapa puluh desa...!" perintah Pendekar Hina Kelana, secara tak diduga-duga, bersama hembusan angin, pemuda itu mengendus adanya bau siluman.

"Tidak bisa! Adipati Gupta harus mampus di tanganku dulu...!" bantah Ki Sapta Rengga. "Eee...  mengapa bicara padanya aku tak selantang ketika aku bicara dengan orang lain? Tatapan matanya terasa menembus ke ulu hati. Suaranya yang pelan itu bagai suara gelegar halilintar! Mungkinkah  ini  manusianya yang masih merupakan titisan rajanya para siluman. Andai benar, aku tak mungkin mampu mengalahkannya...!" batin Ki Sapta Rengga. Diamdiam dia mulai mempersiapkan segala sesuatunya.

"Aha... ha... ha...!" Tawa pemuda itu, dan dalam tawanya itu, Buang menyertakan ilmu 'Lengkingan Pemenggal Roh', yang sangat dahsyat itu. Sehingga Margono dan Ranggas terpaksa menyumpal lubang telinganya dengan kedua jari telunjuknya. Sementara Ki Sapta Rengga cukup menutupi telinganya dengan jemari tangan terkembang

"Aku tau siapa kau manusia setengah siluman, bahkan aku mengenal kembaranmu yang selalu bicara melalui perantaraan angin. Aku kenal dengan Batara Bayu yang selalu memberi peringatan padamu, apakah kau masih mau mungkir bahwa Batara Bayu itu sesungguhnya masih merupakan saudara kembar mu...!" kata Buang Sengketa yang mengenal dengan baik silsilah keluarganya para siluman. Pucat pasi wajah  Ki Sapta Rengga, tahulah dia kini mengapa tubuhnya terasa lemah tiada bertenaga. Karena  sebenarnya  saat itu dia berhadapan dengan titisan raja  negeri  alam gaib.

"Engkaukah yang berjuluk Pendekar Hina Kelana?" tanya Ki Sapta Rengga menyelidik.

"Tak salah...!"

"Kalau begitu kau merupakan titisan rajanya negeri alam gaib...!" desah laki-laki berpakaian ungu itu bagai tak percaya.

"Kalau kau sudah tau, cepatlah kau sujud di depanku, kemudian tarik kembali Racun Pembasmi Iblis yang telah kau sebar di mana-mana...!" perintah pemuda itu.

"Enak saja, kau pikir aku bisa percaya begitu saja. Huh tidak nantinya aku bersikap seperti itu sebelum kulihat sampai di maha kehebatan titisan raja para siluman...!"

"Manusia siluman sepertimu memang terlalu sulit untuk diajak kompromi, Ki Sapta Rengga. Mampuslah... heeeeeaa...!"  Buang  Sengketa  memang  merasa tak perlu lagi berdebat dengan Ki Sapta Rengga. Maka sebelum manusia setengah siluman itu berkata lebih lanjut. Sekali menerjang pemuda ini langsung hantamkan pukulan 'Empat Anasir Kehidupan', tapi Ki Sapta Rengga bukanlah manusia bodoh, dia tau pukulan yang memancarkan sinar Ultra Violet itu masih merupakan hasil ciptaan manusia. Tak ayal  lagi,  dia pun lepaskan pukulan 'Banteng Topan Melanda Iblis'. Serangkum sinar berwarna biru melesat memapaki pukulan yang dilepas Pendekar Hina Kelana. Dua rangkum gelombang dari arah berlawanan menderu dahsyat, untuk kemudian saling bertubrukan.

"Blaaar...!"

Lereng bukit Rimba Buangan terasa bagai diguncang gempa bumi. Tubuh Buang Sengketa terpelanting roboh dan langsung muntahkan darah segar. Sementara di pihak lawan hanya tergetar saja.

"Sialan! Dia benar-benar manusia siluman...!" gumam pemuda itu,  lalu  dengan  terhuyung-huyung dia seka darah yang terus meleleh membasahi bibirnya. Setelah itu, cepat-cepat si pemuda mengerahkan tenaga dalam untuk melepaskan pukulan 'Si Hina Kelana Merana' yaitu puncak dari segala pukulan sakti yang dimilikinya. Ki Sapta Rengga hanya mendengus begitu melihat pendekar ini hantamkan tangan kanannya ke depan. Ketika dia melihat berkelebatnya sinar merah menyala dan menimbulkan udara panas luar biasa. Ki Sapta Rengga hantamkan pula kedua tangannya ke depan. Serangkum gelombang sinar hitam pekat dan menebarkan bau bangkai tampak melesat lebih cepat lagi.

"Buuuuum...!" "Aghhk... hoeeeeek...!"

Buang Sengketa kembali muntahkan darah kental, masih sukur dia kebal terhadap segala jenis racun. Andai tidak sudah tentu dia menemui ajalnya sudah sejak tadi. Sungguh pun begitu, pemuda  ini  merasakan kepalanya berdenyut-denyut sakit. Dada semakin bertambah sesak dan terasa sulit untuk bernafas. Sementara itu Margono dan Ranggas hanya mampu memandangi Pendekar Hina Kelana, tanpa kuasa untuk memberi pertolongan. Di lain pihak, Ki Sapta Rengga, tampaknya merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya. Dia memang menyadari, pendekar titisan raja dari negeri alam gaib itu tak mungkin mempan dengan jenis racun apa pun yang  ada  padanya.  Tapi dia masih punya senjata yang pasti dapat membuat remuk batok kepala Buang Sengketa.

Akhirnya tanpa membuang-buang waktu, lagi, Ki Sapta Rengga segera mengayunkan senjatanya yang berupa tasbih. Senjata itu langsung menderu menyambar ke arah bahu lawannya yang masih  belum siap dengan kuda-kudanya. Menyadari adanya bahaya yang mengancam, pemuda itu membuang tubuhnya ke samping, selanjutnya terus berguling-guling sambil mencabut senjatanya yang berupa Golok Buntung. Begitu senjata menggemparkan itu tergenggam di tangannya, tak ayal lagi dia hantamkan golok itu ke arah tasbih yang terus menderu merangsak tubuhnya.

"Traak... praaang...!"

Secepatnya Buang Sengketa melompat bangkit, tasbih di tangan Ki Sapta Rengga hancur berantakan terhantam senjata di tangan pemuda ini. Saat itu keanehan pun terjadi. Ki Sapta Rengga tampak meraungraung dan undur selangkah demi selangkah ketika laki-laki setengah siluman itu melihat golok pusaka yang memancarkan sinar merah menyala.

"Touuubaaat...! Pusaka kebesaran milik raja negeri Bunian. Oh... ampun, aku mengaku kalah...! Ak... aku akan a... kan menarik balik wabah penyakit yang telah merenggut nyawa banyak orang... tobaat...!" teriak Ki Sapta Rengga.

"Kau harus mampus... heaaa...!"

Pendekar Hina Kelana yang sudah  kalap ini, terus mencecar dengan senjatanya. Tubuh laki-laki setengah siluman itu terus pula terguling-guling menjauh. Dengan mempergunakan sebagian tenaga dalamnya, pendekar ini melompat sambil babatkan goloknya.

"Craaas...!"

"Wuaaaa...!"

Bersamaan dengan lolongan Ki Sapta Rengga, maka bertiuplah angin yang sangat kencang. Dan tibatiba saja tubuh laki-laki setengah siluman itu pun lenyap. Beberapa saat setelah lenyapnya tubuh Ki Sapta Rengga, maka terdengar pula bisikan gaib, yang dapat didengar oleh semua orang yang hadir di situ:

"Kuucapkan terima kasih padamu pangeran dari negeri Bunian. Aku Batara Bayu, saudara kembar Ki Sapta Rengga, saudaraku

itu memang bengal. Tapi jangan khawatir. Sebab dengan kekalahannya itu, dia telah menarik balik wabah yang telah melanda desa-desa di sekitar  sini.  Aku hanya berpesan, janganlah coba-coba berjanji, apalagi dengan para siluman, karena janji itu adalah  hutang...!" kata Batara Bayu.

Sekali lagi angin kencang berhembus, maka suara gaib itu sudah tak terlihat lagi. Begitu pun Pendekar Hina Kelana telah lenyap pula dari hadapan utusan Adipati Gupta. Tinggallah Margono dan Ranggas saling pandang dan mengurut dada, karena mereka merasa terlepas dari maut.

TAMAT