Serial Pendekar Hina Kelana Eps 18 : Geger Di Bukit Seribu

 
Eps 18 : Geger Di Bukit Seribu


Bukit Seribu berdiri gagah, seolah menantang sang surya di pagi hari. Barisan bukit-bukit yang melingkar bagai belanga berwarna hijau, ditutupi dedaunan pohon-pohon lebat. Sementara di sana sini menganga jurang yang lebar, dan tebing-tebing runcing yang memancing kematian bagi mereka yang cobacoba mendakinya.

Di dataran yang agak luas di atas bukit, Ki Mangsapati duduk bersila di atas bale-bale. Beliau adalah tokoh tua dunia persilatan yang telah lama mengasingkan diri dari keramaian umum. Pada masa mudanya terkenal dengan julukan Rajawali Bukit Seribu, yang banyak membuat geger dunia persilatan dengan aksinya membantai penjahat-penjahat tengik, maling-maling coro, dan kaum persilatan golongan hitam.

Dalam pada itu, keheningan yang tercipta, terusik oleh sesosok tubuh yang meloncat-loncat dengan ringannya, mendekati si orangtua yang masih tetap bersila. Wajahnya tampan, dan mengenakan jubah hitam pada seluruh pakaiannya. Si orangtua itu terkejut sesaat, namun cepat tersenyum sambil anggukanggukkan kepala ketika si pemuda menjura hormat.

"Ampun guru, aku terlambat datang hari ini..." kata si pemuda.

"Tidak apa, tidak apa...." sahut orangtua itu masih tersenyum. "Bagaimana keadaan orangtua mu di desa? Baik? Mudah-mudahan begitu. Tapi kenapa engkau mengenakan pakaian hitam-hitam seperti ini? Apakah engkau sedang berkabung?"

Si pemuda seketika berubah murung. Lama dia tertunduk ketika akhirnya berkata lirih:

"Benar apa yang engkau katakan, guru. Saat ini aku sedang berkabung karena begitu aku tiba di rumah, keadaan desa telah hancur porak poranda. Orangtua ku pun terbunuh dalam kekacauan itu...!"

Si orangtua kerutkan alis dengan wajah terkejut. "Siapa pelaku kerusuhan itu?!"

"Menurut orang-orang yang masih hidup, mereka dari Persekutuan Iblis Hitam "

"Persekutuan Iblis Hitam ?!" gumam si orangtua

sambil kertakkan rahang menahan amarah. "Persekutuan orang-orang sesat yang dipimpin si Singalodra itu memang sangat meresahkan dunia persilatan saat ini. Mereka banyak membuat kekacauan di mana-mana, dan membunuh banyak tokoh-tokoh persilatan golongan putih yang coba-coba menentangnya. Sudah saatnya engkau bertindak saat ini, mewakili ku untuk bergabung dengan tokoh-tokoh golongan putih gua membasmi mereka, Pranajaya!"

"Apa... apakah aku sanggup melawan mereka dengan ilmu yang kupelajari selama ini padamu, guru?" Si pemuda ragu-ragu bertanya. Hatinya bimbang karena mengetahui bahwa sesungguhnya musuh berilmu sangat tinggi.

"Prana, engkau tak usah menjadi takut mendengar kehebatan lawan. Aku meski tak terlalu hebat, tapi nama Rajawali Bukit Seribu bukanlah nama kosong belaka. Dan saat ini seluruh ilmu yang kumiliki telah aku turunkan padamu. Lagipula engkau harus ingat, bahwa tugas untuk melenyapkan kebatilan tidak hanya terletak pada pundakmu. Engkau harus bergabung dengan pendekar-pendekar aliran putih lainnya untuk saling bahu-membahu menumpas mereka. Engkau ingat apa yang pernah kukatakan beberapa tahun yang lalu?"

"Aku ingat, guru. Engkau bersama-sama dengan Malaikat Gunung Selatan dan si Cangkul Maut menumpas si Iblis Merah Darah yang sesat itu!"

"Nah, sepatutnya engkau begitu. Menggalang persatuan dengan sesama golongan. Karena bersamasama itu lebih kuat dibanding engkau menumpasnya seorang diri. Menurut apa yang kudengar pula, si Singalodra itu berilmu tinggi dari ganas sekali. Aku pun turut sedih mendengar berita bahwa si Malaikat Gunung Selatan dan si Cangkul Maut telah tewas di tangannya. Apalagi saat ini, ketika mendengar berita tentang kematian orangtua mu...." Orangtua itu perlihatkan wajah berduka sambil gelengkan kepala pelan dan tarik nafas panjang sesaat.

"Guru...." panggil si pemuda dengan suara datar, "Tahukah engkau kenapa si Singalodra membunuh kedua sahabatmu itu?"

"Entahlah... tapi menurut berita yang

kudengar, Singalodra adalah anak si Iblis Merah Darah yang hendak menuntut balas atas kematian orangtuanya, dan melanjut-kan cita-cita untuk menjagoi dunia persilatan dengan menghalalkan segala cara "

"Apakah menurut guru ilmu silatku da-pat diandalkan untuk mengalahkan si Singalodra?"

Si orangtua terdiam sejenak. Kembali dia menghela nafas panjang sebelum menjawab lirih:

"Kalau benar si Singalodra itu anak si Iblis Merah Darah dan mewarisi seluruh ilmunya, ini adalah ancaman serius. "

"Kenapa, guru?!"

"Ilmunya sangat tinggi, Prana. Kami bertiga dulu dengan susah payah baru berhasil mengalahkannya "

Demi mendengar jawaban itu si pemuda tersenyum tipis sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sebilah pedang dengan sarung dan gagangnya yang hitam bagai arang. Ki Mangsapati terperanjat kaget ketika melihat benda di tangan si pemuda. Dia segera berdiri dan undur beberapa tindak ke belakang. Si pemuda sebaliknya dengan tenang berdiri tegak sambil memandang si orangtua dengan senyum sinis.

"Prana, apa-apaan engkau ini?! Dari mana engkau peroleh Pedang Iblis itu?!" bentak si orangtua heran bercampur was-was.

Sebaliknya mendengar bentakan itu si pemuda tertawa terbahak-bahak.

"Ha... ha... ha... ha...! Bagus, engkau masih mengenali benda ini. Kau pikir siapa yang berhak mewariskannya kalau bukan putranya sendiri?"

"Jadi... jadi... engkau anaknya si Iblis Merah Darah?!" tanya si orangtua kecut. Wajahnya sedikit pucat. Dia tahu betul bagaimana kehebatan senjata di tangan si pemuda. Bila dimainkan dengan jurus-jurus ilmu pedangnya, benda itu akan bergerak bagai setan menguber mangsa tanpa henti, sebelum lawan binasa dengan darah kering tersedot ke dalamnya.

"Ki Mangsapati, tunjukkanlah kehebatan sebagai tokoh kosen yang pernah menggetarkan dunia persilatan, bukan orangtua pikun yang bertahun-tahun kubodohi dengan mengaku sebagai anak desa biasa di kaki bukit ini, dan tak pernah mau menetap di tempatmu yang bau apek. Jangan menampakkan wajah pucat ketakutan seperti itu. Mana kegaranganmu sebagai Rajawali Bukit Seribu?!" ejek si pemuda sinis.

"Bocah keparat! Murid murtad celaka! Jadi benar bahwa engkau ini Singalodra anak si Iblis Merah Darah yang beberapa tahun yang lewat memohon-mohon padaku agar diangkat jadi murid?!"

"Bukan hanya engkau saja yang berhasil kubodohi, tapi juga si Malaikat Gunung Selatan dan si Cangkul Maut. Kini kedua kembratmu itu telah kukirim ke neraka setelah aku berhasil menguasai ilmunya. Tapi untukmu kuberi kehormatan memenggal kepalamu sendiri!" sahut si pemuda tak perduli dengan kemarahan orangtua itu. Dia tertawa pelan sambil memandang sinis penuh kebencian.

"Bertahun-tahun aku memendam dendam, kiranya hari ini akan terbalas kecurangan dengan kelicikan pula," lanjut si pemuda telah bersiap-siap mencabut pedang ketika dilihatnya si orangtua mulai bersiap-siap dengan satu serangan. Agaknya Ki Mangsapati menyadari, bila si pemuda telah berhasil memegang pedang itu berarti betul dia telah menguasai ilmu Iblis Merah Darah. Sebab untuk memegang pedang itu diperlukan tenaga dalam yang kuat dan tinggi untuk mengendalikannya. Maka dia pun tak bisa memandang enteng pada si pemuda dengan mengeluarkan jurusjurus permulaan. Namun hal itu tentu saja diketahui oleh si pemuda.

"Bagus orangtua, engkau keluarkanlah jurusjurusmu yang paling mematikan untuk menerima kematianmu di tanganku, kalau engkau tak mau memenggal kepalamu sendiri. Dengan begitu aku pun bisa mendapat kehormatan meladeninya!"

"Haaaaaaaaait...!"

Ki Mangsapati membuka kedua belah lengannya lebar-lebar membentuk paruh bu-rung pada jarijarinya. Sebelah kakinya terangkat. Dengan satu loncatan tinggi, dia mencelat sambil mengeluarkan suara bentakan bagai seekor rajawali yang sedang marah. Jurus ini sangat ganas dan mematikan, yang dikenal si pemuda dengan nama Rajawali Mencakar Bukit. Apalagi saat ini dikeluarkan dengan kemarahan serta kejengkelan yang dirasa si orangtua. Dengan gerakangerakan cepat yang sulit diikuti kasat mata, dia mencecar bagian-bagian mematikan dari tubuh si pemuda. Seolah-olah ke mana pun gerakan si pemuda menghindar, kedua tangan yang membentuk paruh itu siap menghantamnya.

Tapi tak percuma si pemuda telah menguasai seluruh ilmu orangtua itu kalau tak mampu menghindarinya. Apalagi saat ini dia betul-betul telah menguasai ilmu silat si Iblis Merah Darah yang beberapa puluh tahun lalu menggemparkan dunia persilatan dengan sepak terjangnya yang sadis pada musuhmusuhnya dan disegani oleh tokoh-tokoh golongan hitam maupun putih karena ketinggian ilmu silatnya. Maka setelah menunggu beberapa belasan jurus untuk memberi kesempatan pada orangtua itu melampiaskan kemarahannya, dia pun mulai membalas. Pedangnya berputar-putar bagai kitiran yang menyambarnyambar tubuh si orangtua dari segala penjuru. Terkejutlah si orang tua melihatnya. Jurus itu pernah dikenalnya dan telah pernah pula dihadapi ketika melawan Iblis Merah Darah. Jangankan tergores kulit tubuh, terkena sambaran anginnya pun terasa perih bagai diiris-iris dan seolah pedang itu menyedot aliran darah lawan. Itulah keganasan dari jurus Pedang Iblis Neraka yang dimainkan si pemuda saat ini.

Merasa dicecar dari segala penjuru dan lawan terlihat tak memberi kesempatan untuk bernafas, si orangtua segera melentik ke belakang untuk membuka jurus baru.

Namun si pemuda nampaknya tak memberi kesempatan orangtua itu untuk berbuat ma-cam-macam. Ujung pedangnya segera menyambar dengan kecepatan tinggi seolah menarik-narik tubuhnya guna mengiris-iris kulit keriput si orangtua.

Ki Mangsapati terkejut bukan main. Baru saja dia menjejakkan kaki, mata pedang itu telah menyambar tenggorokannya. Agaknya hanya pengalaman dan kematangan ilmu silatnya saja yang menyelamatkan nyawa orangtua itu. Sambil tundukkan kepala ke belakang, ujung pedang itu lewat beberapa mili di atas wajahnya. Si orangtua langsung bersalto ke belakang dengan menggunakan jurus Rajawali Mengamuk yang merupakan puncak dari ilmu silatnya, guna menghantam pergelangan tangan si pemuda. Namun betapa kagetnya Ki Mangsapati ketika pedang di tangan si pemuda dengan cepat berputar ke kanan membentuk lingkaran, membabat pinggangnya dengan mengeluarkan suara mendengung. Kemudian dengan kecepatan yang sulit diikuti kasat mata, kembali pedang itu bergerak dari bawah ke atas.

"Cras...! Cras...!"

"Prok...! Prol...!"

Ki Mangsapati tak sempat lagi berteriak. Tubuhnya kutung menjadi empat bagian dengan kulit tubuh yang pucat pasi bagai mayat. Tak setetes darah yang terlihat. Seolah-olah pedang di tangan si pemuda yang berwarna hitam, semakin legam setelah menghirup darah orangtua yang malang itu. Ada seringai sinis dan rona kepuasan berbayang di wajah si pemuda yang sebetulnya tampan. Dengan satu gerakan ringan, ditendangnya keempat potongan tubuh orangtua itu ke jurang setelah menyarungkan kembali pedangnya.

Beberapa saat terdengar tawa panjang yang menggema di seluruh tebing-tebing. Mengagetkan burung-burung yang hinggap dan sedang melintas!

2

Dukuh Kembang Asem adalah sebuah desa yang makmur dan ramai dikunjungi orang, sebab desa itu merupakan persinggahan antara satu daerah dan daerah yang lain yang  tak kalah ramainya. Selama ini penduduk desa itu hidup dengan damai dan aman. Namun di pagi ini, seluruh penghuni kampung dikejutkan dengan kedatangan serombongan orang-orang berjubah hitam yang mereka kenal sebagai Persekutuan Iblis Hitam. Mereka merampok harta penduduk, menculik anak-anak perawan yang cantik, bahkan janda dan istri orang pun mereka jarah juga. Beberapa orang di antaranya bahkan sangat brutal dengan memperkosa perempuan-perempuan malang itu.

Banyak di antara penduduk itu yang tewas terbunuh karena coba-coba melawan untuk mempertahankan miliknya.

Seperti di sebuah rumah sebelah pinggir kampung itu. Seorang laki-laki setengah baya berusaha mati-matian mempertahankan harta benda serta istri dan seorang anak perempuannya yang cantik. Namun dengan kesadisan yang tak berperikemanusiaan, empat orang berjubah hitam dengan mudah melemparkannya ke luar halaman. Laki-laki itu langsung tersungkur mencium tanah. Dari sela-sela bibir dan hidungnya keluar cairan kental berwarna merah. Dia berusaha bangkit, namun sekujur tubuhnya terasa sakit luar biasa. Agaknya beberapa tulang rusuknya ada yang patah, karena sebelum mereka melemparnya ke luar, keempat orang itu telah menghajarnya habishabisan.

"Bapaaaaaaak...!" teriak anak perempuannya cemas dan ketakutan. Namun dua di antaranya langsung menarik tubuhnya ke kamar sambil mempreteli seluruh pakaian-nya. Gadis itu meronta-ronta untuk melepaskan diri, tapi apalah artinya tenaga seorang perempuan lemah dibanding dengan dua orang lakilaki bertubuh besar dengan tenaga yang kuat. Meski dia berteriak setinggi langit, tak nanti bisa melepaskan diri dari cengkeraman kedua laki-laki kasar itu. Belum lagi pemandangan yang dilihat laki-laki tua itu lewat matanya yang sayu namun mengandung kemarahan yang amat sangat, ketika melihat istrinya pun mendapat perlakuan yang sama oleh kedua kawan orang berjubah hitam itu. Dia hanya bisa memakimaki sambil berusaha mendekati mereka dengan merangkak-rangkak.

"Persekutuan Iblis Hitam keparat! Ku-bunuh kalian! Kubunuh kalian!!" teriaknya sengit dengan sekuat tenaga. Tapi belum lagi dia jauh merangkak, tiba-tiba keluarlah cairan kental berwarna merah dari mulutnya. Kali ini lebih banyak dari yang pertama, disertai dengan batuk keras yang membuat nafasnya terasa perih dan sesak.

Namun laki-laki itu seolah tak memperdulikan keadaannya. Dia kembali berteriak-teriak seperti orang kesetanan.

"Bajingan laknat! Lepaskaaaan anakku! Lepaskaaaan istriku...!! Keparat! Kuhajar kalian...!!"

Dan teriakannya semakin keras ketika telinganya mendengar jeritan kedua perempuan itu. Penuh dengan ketakutan, tak berdaya, dalam mempertahankan kehormatan diri.

Tapi mana mau keempat orang itu per-duli dan meninggalkan keasyikan mereka. Laki-laki itu merasa putus asa dalam ketidak berdayaannya, dan tanpa sadar dia menangis kecil sambil bergumam pelan:

"Mudah-mudahan dewata melaknat perbuatan kalian...!"

Entah doanya dikabulkan atau hanya karena kebetulan, dalam pada itu melesat-lah sosok bayangan berwarna biru ke hadapannya. Laki-laki itu tertegun sejenak. Seorang gadis cantik berpakaian biru dan menyandang pedang di pundaknya mengangguk ramah. Lalu berujar pelan: "Apakah yang terjadi di desa ini, Pak?"

"Oh... oh... siapakah engkau? Apakah engkau salah satu dari Persekutuan Iblis Hitam keparat itu? Kalau betul, lebih baik engkau cabut pedangmu, dan bunuhlah aku saat ini, daripada menanggung malu tak mampu membela keluargaku sendiri  "

"Tenanglah, Pak. Saya bukan dari orang yang bapak maksudkan...." Belum lagi selesai bicara, telinga gadis itu yang tajam dan menandakan dia berasal dari dunia persilatan, segera mendengar teriakan dua perempuan dari dalam rumah. Meski terdengar pelan, namun dia tahu apa yang sedang terjadi pada keduanya. Dengan satu loncatan ringan gadis itu melesat ke dalam.

Laki-laki itu tak tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Namun untuk beberapa saat dia melihat dua orang berjubah hitam tadi, terlempar ke luar dalam keadaan yang mengerikan. Nyawa mereka langsung meregang dengan luka-luka sabetan pedang di perut dan punggungnya. Sedang kedua orang lagi lebih mujur, hanya terluka-luka kecil dan cepat selamatkan diri dengan meloncat ke luar lewat atap rumah. Namun tak urung wajah keduanya terlihat pucat dan ketakutan melihat sepak terjang si gadis berbaju biru. Apalagi ketika melihat kedua kawannya telah tewas, sementara si gadis itu telah berdiri gagah mendekati dengan ujung pedangnya masih berlumur darah.

"Persekutuan Iblis Keparat!" makinya sinis. "Beruntung hari ini aku menemukan kalian di sini, jadi tak bersusah payah mencari kalian ke mana-mana!"

"Nona...." berkata seseorang di antaranya, "Kita tak bermusuhan dan tak punya sangkut paut apa-apa. Kenapa nona begitu telengas membunuh kedua kawan kami?"

Huh! Telengas katamu? Apa yang kalian lakukan pada kedua perempuan itu? Dan apa yang kalian lakukan pada laki-laki itu? Lalu apa yang telah kalian lakukan pada yang lain-lain? Apakah engkau kira sebanding dengan perbuatanku tadi? Kalian sepatutnya menerima ganjaran setimpal atas kelakuan anjing kalian!"

Meski hati kecut, namun dimaki-maki begitu, mau tak mau panas juga hati mereka. Kawannya segera menyela dengan garang sambil hunuskan goloknya.

"Nona, Persekutuan Iblis Hitam tak bisa dihina begitu. Hari ini biarlah aku mewakili ketua untuk memancung kepala dan mulutmu yang ceriwis itu!"

"Haiiiiit...!"

Selesai berkata begitu, dia bersalto dua kali ke depan dan menyabet si gadis dengan jurus Ular Mematuk Mangsa. Gerakannya gesit dan kuat dibarengi tenaga dalam penuh. Sesungguhnya orang ini bukanlah anggota sembarangan Persekutuan Iblis Hitam, yang bisa dikalahkan dengan begitu mudah. Dalam dunia persilatan mereka dikenal dengan sebutan Empat Iblis Utara. Dan kalaupun kedua kawannya berhasil dijatuhkan gadis itu hingga tewas, bisa jadi karena kelengahan mereka yang sedang diamuk nafsu birahi, sehingga tak menyadari bahaya yang mengancam.

Tapi si gadis pun ternyata bukan orang sembarangan pula. Dari serangannya yang khas, akan mengingatkan, bahwa dia sebenarnya berasal dari Perguruan Walet Biru. Suatu perguruan yang pernah diobrak-abrik Persekutuan Iblis Hitam beberapa bulan yang lalu. Ki Pandaran, ketua perguruan itu meski berilmu tinggi dan disegani dalam dunia persilatan, akhirnya harus menemui ajal di tangan Singalodra. Bisa jadi hal ini yang membuat gadis itu dendam bukan main pada gerombolan ini.

Dalam pada itu melihat kawannya telah mencelat lebih dulu, dia pun segera mencabut goloknya dan ikut menyerang gadis itu. Barulah si gadis dapat merasakan tekanan berat dari serangan mereka berdua. Jurus-jurus Ular Mematuk Mangsa yang dimainkan dengan senjata golok, seolah hendak mematuk-matuk seluruh permukaan kulitnya jadi beberapa bagian. Tapi tak percuma si gadis berguru belasan tahun pada Ki Pandaran yang pernah kesohor sebagai tokoh kosen golongan putih puluhan tahun yang lalu, kalau dia merasa jeri melihat serangan mereka. Sambil kertakkan rahang menahan amarah, dia putar pedangnya sedemikian rupa ke sana sini bagai dua kepak sayap burung walet. Inilah jurus yang dinamakan Walet Terbang Sore Hari. Seolah-olah lawan melihat dua buah pedang yang berkelebat di tangan si gadis menyambarnyambar sekujur tubuhnya dengan cepat dari berbagai arah. Sebentar saja terlihat bahwa si gadis sedang berada di atas angin, dan lawan dibuat tak sempat balas menyerang.

Tiba-tiba dalam satu kesempatan. "Cras...!"

"Cras...!"

Kedua orang itu menjerit panjang ketika dengan kecepatan yang sulit diikuti kasat mata, si gadis membabat kutung masing-masing sebelah lengan mereka dengan jurus Pulang Ke Sarang. Suatu jurus yang banyak mengandalkan ilmu mengentengkan badan dengan loncatan-loncatan satu arah, namun tajam dan pasti ke tujuan.

Si gadis tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia kembali melentik ke arah mereka dengan jurus Walet Tertidur. Suatu jurus pamungkas yang dilakukan dengan mata terpejam dan hanya mengandalkan pendengaran belaka. Pedang di tangannya bergerak pada bagian-bagian yang mematikan di tubuh lawan seolah bermata, tapi ke mana pun lawan menghindar, pedang itu akan terus mengejarnya lewat pendengaran si gadis yang tajam.

Rasanya kedua orang itu telah pasrah menerima nasib di ujung pedang si gadis. Bahkan salah seorang telah memejamkan mata. Namun beberapa senti sebelum pedang itu mengoyak-ngoyak tubuh mereka, tibatiba...

"Trang...!"

Si gadis terkejut setengah mati hingga kelopak matanya terbuka. Tangannya terasa kesemutan, tapi masih untung pedang itu tak terlepas dari genggamannya. Padahal benturan yang dirasanya tadi sangat keras. Belum lagi habis terkejutnya, telinganya yang tajam segera merasakan sambaran angin dingin berbau racun mengarah ke tenggorokannya.

Buru-buru dia putar pedang menangkis. "Traaaang...!"

Untuk kedua kali tangannya terasa kesemutan. Tapi kali ini benturan itu lebih kuat dan berat. Hampir saja pedang di tangannya terlepas dari genggaman. Melihat lawan bergerak sangat cepat dan sepertinya tak memberi kesempatan padanya, tubuh gadis itu tiba-tiba melentik ke udara sambil bersalto beberapa putaran. Pedangnya berputar-putar ke sana sini membentuk perisai, menjaga serangan lawan dari berbagai arah. Inilah yang disebut jurus Menguak Kerumunan Badai Pasir, suatu jurus pertahanan yang sangat ampuh, sebab bila sekali serangan lawan tertangkis, maka selanjutnya akan diikuti dengan serangan balasan yang mematikan.

Tapi lawan ternyata tak tertipu dengan pancingan itu, dan tak ada serangan yang kembali menyusul beberapa saat kemudian. Si gadis segera menjejakkan kaki dengan ringan setelah dirasanya tak ada lagi ancaman. Pertama kali yang terlihat olehnya adalah seorang laki-laki kurus jangkung dengan punggung agak bungkuk. Rambutnya hitam kusut menjela-jela hingga ke dada. Wajahnya berlipat-lipat bagai kulit kayu yang telah tua, dengan sorot mata tajam dan bibir yang menyungging senyum sinis di bawah kumisnya yang tumbuh jarang. Di tangannya terlihat sebatang tongkat berkepala ular berwarna hijau muda. Tongkat itu kelihatan alot karena terbuat dari kayu besi. Si gadis menduga-duga, pastilah tongkat itu yang tadi membentur pedangnya

"Segala bocah bau kencur mau jual lagak di hadapan Persekutuan Iblis Hitam!" oceh laki-laki itu yang dalam dunia persilatan dikenal dengan julukan Iblis Ular Hijau. Konon dia adalah kembratnya si Iblis Merah Darah ketika tokoh itu masih hidup, dan menghilang entah ke mana selama puluhan tahun. Baru hari ini kembali terlihat kemunculannya. Si gadis pun tahu kehebatan tokoh ini lewat cerita almarhum gurunya, namun kini mengetahui bahwa tokoh kosen golongan hitam itu ada di depannya. Benaknya hanya tahu bahwa orang-orang Persekutuan Iblis Hitam harus dibasmi! Berpikir sampai di situ, dia mendengus sinis sambil memandang enteng pada orang itu.

"Huh, segala setan, dari neraka kiranya hendak coba-coba menakut-nakuti aku! Engkau boleh coba pada tikus-tikus got tak berguna, tapi jangan padaku!"

3

Demi mendengar kata-kata si gadis, meledaklah tawa Iblis Ular Hijau.

"Ha... ha... ha... ha...! Baru sekali ini kudengar seorang bocah pentil memandang rendah pada si Iblis Ular Hijau yang selama malang melintang di dunia persilatan tak pernah dihina sedemikian rupa. Bagus bocah! Aku senang dengan semangatmu. Engkau tentu juga akan lebih bersemangat jika telah berada dalam pelukanku. Ha... ha... ha...!"

Selesai tawanya, tiba-tiba wajahnya berubah sinis dan garang. Lalu memandang nyalang pada kedua orang berjubah hitam yang telah kutung sebelah lengannya itu sambil berkata:

"Kalian urus yang lainnya, dan setelah itu bakar seluruh rumah-rumah di kampung ini. Urusan dengan gadis cantik ini biar aku yang akan menyelesaikannya. Katakan pada Singalodra, aku membawa gadis cantik luar biasa untuknya!"

Kedua orang itu menjura hormat, dan cepat berkelebat menyambar kedua perempuan tadi, yang masih berada di situ sambil menangisi laki-laki malang yang kelihatan terbujur kaku tak bergerak.

Dalam pada itu si gadis terkejut bukan main ketika lawan menyebutkan namanya. Diam-diam dia mengeluh sendiri. Melulu menghadapi anak buah Persekutuan Iblis Hitam telah begitu berat, bagaimana mungkin dia bisa kalahkan si Singalodra guna membalas sakit hati ini. Dia baru tersentak kaget ketika mendengar jerit kedua perempuan yang sedang merontaronta dalam bopongan sebelah lengan kedua laki-laki berjubah hitam itu.

"Iblis cabul keparat! Lepaskan mereka!" maki si gadis sambil melompat ke arah mereka dengan pedang terhunus. Tapi tentu saja dia tak melupakan si orangtua berwajah buruk, itulah sebabnya dia tak mau menggunakan jurus sembarangan. Dengan jurus Membagi Arah Angin, dia telah mempersiapkan diri seandainya lawan membokong dari belakang. Tapi Iblis Ular Hijau bukanlah tokoh picisan yang mau berbuat begitu. Dengan satu teriakan nyaring, dia melesat sambil menyodorkan tongkat di tangannya memapak pedang di tangan si gadis dari arah depan. Serangan lewat tongkat yang melesat ke sana sini sedemikian rupa disebut Lecutan Ekor Naga. Sesuai dengan namanya, dia menusuk ujung tongkatnya yang runcing ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan bagai pecut mencari sasaran.

Mau tak mau terpaksa si gadis urungkan niat untuk meneruskan serangannya pada kedua orang berjubah hitam itu, yang dengan cepat kabur. Dia membalik cepat dengan jurus kedua Membagi Arah Angin untuk menghadapi gebukan tongkat lawan. Inilah keuntungan jurus itu. Dia tak berusaha memapak senjata lawan, melainkan dengan ilmu mengentengkan tubuh yang lumayan, badannya yang ramping seakan mengapung di udara secara mendatar dengan kedua tangan terentang bagai sayap seekor walet, untuk menghindari serangan lawan. Lalu dengan kecepatan tinggi menyabetkan mata pedang pada jantung lawan secara tiba-tiba.

"Kampret...!" maki si Iblis Ular Hijau sambil miringkan badan jungkir balik ke kanan. Nyaris dadanya tertusuk ujung pedang si gadis kalau dia tak cepat mengelak. Tak urung terkejut nyalinya sesaat melihat kecepatan gadis itu bergerak. Tapi bukanlah Iblis Ular Hijau kalau masih bisa dipecundangi anak kemarin sore, pikirnya. Sambil kertakkan rahang menahan geram, dia buka jurus Ganti Kulit Di Sarang Naga. Kehebatan jurus ini terletak dari berkelebatnya seluruh anggota badan ke segala penjuru yang sama berbahayanya dengan permainan tongkat di tangannya. Sebentar saja terlihat si gadis mulai terdesak. Baru saja dia berusaha menghindari kejaran tongkat itu, tangan Iblis Ular Hijau telah menyusul, diikuti oleh sebelah lengannya yang lain, dan kedua kaki yang siap menerjang. Meski si gadis telah mengeluarkan jurus Walet Tertidur pada bagian yang tertinggi, tak nanti dia bisa melepaskan diri dari serangan-serangan Iblis Ular Hijau itu.

* * *

Kita tinggalkan sejenak pertarungan itu untuk melihat ke suatu tempat yang tak Begitu jauh dari kampung itu. Seorang pemuda berwajah tampan dengan pakaian ku-mal berwarna merah, sedang asyik menyan-tap makanan sambil bersandar pada sebuah batang pohon. Dengan rambut dikuncir pada bagian belakang dan periuk besar di bagian belakang tubuhnya, sepintas dia terlihat seperti gembel yang kelaparan. Sebentar-sebentar tatap matanya jauh memandang ke depan dengan kosong. Seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Siapakah pemuda ini? Siapa lagi kalau bukan pendekar kita, si Hina Kelana alias Buang Sengketa, murid si Bangkotan Koreng Seribu yang kesohor itu.

Dalam pada itu tiba-tiba matanya melihat asap hitam mengepul dari kejauhan. Firasatnya mengatakan, pasti ada sesuatu yang tak beres di sana. Cepat dia berdiri dan melesat ke arah itu sambil mengerahkan ajian Sepi Angin yang membuat tubuhnya berkelebat dengan cepat dan sulit diikuti kasat mata. Sebentar saja terlihat sebuah Perkampungan yang diamuk kobaran api yang menyala-nyala. Beberapa rumah habis terbakar dan sisanya porak poranda. Jerit ketakutan dan teriakan cuma terdengar dari beberapa orang penduduk yang masih tersisa. Pemandangan pertama yang dilihatnya ketika mendekati tempat itu adalah, pertarungan seru antara seseorang yang berwajah buruk dengan tongkat ular di tangannya dengan seorang gadis cantik jelita berpakaian biru bersenjata sebilah pedang. Meski pertarungan itu sulit diikuti mata orang biasa, tapi bagi si pemuda yang berilmu tinggi itu, sebentar saja dia bisa melihat bahwa si buruk rupa itu berada di atas angin.

Melihat pertarungan yang tak seimbang itu, tentu saja si pemuda tak bisa mendiamkan begitu saja. Apalagi ketika dilihatnya si buruk rupa mulai mengeluarkan uap racun lewat mulut ular di tongkatnya. Sebentar saja terlihat si gadis terbatuk-batuk dengan tubuh limbung ketika uap racun itu menyelimuti wajahnya.

"Ha... ha... ha...! Segala anak kemarin sore sudah merasa giginya bertaring bagai harimau di hadapan Persekutuan Iblis Hitam!"

Iblis Ular Hijau tertawa terbahak-bahak sambil pandangi tubuh si gadis yang menggeletak tak berdaya terkena uap beracun di tongkatnya. Baru saja dia hendak menyambar tubuh itu ketika mendengar suara tawa mengejek.

"Ha... ha... ha...! Segala Persekutuan Iblis Hitam hanya berani melawan perempuan tak berdaya. Dasar iblis cabul, ternyata hanya berisi orang-orang sundal dan bangsat rendah!"

Dimaki demikian rupa bukan main pa-nas dan jengkelnya Iblis Ular Hijau. Yang dilihatnya hanya ada seorang pemuda dengan pakaian gembel warna merah dengan rambut dikuncir dan periuk besar di punggungnya, tertawa nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Amarahnya meluap seketika.

"He, Bocah sialan! Apakah engkau ingin digebuk karena mencampuri urusan Iblis Ular Hijau? Pergilah segera! Aku tak bernafsu untuk membunuh orang hari ini."

"Segala iblis bau busuk, untuk apa aku musti takut pada kau? Aku datang dan pergi sesukaku, dan melakukan apa pun yang ku suka. Kalau aku tak mau pergi dan berniat mencampuri urusanmu, engkau bisa berbuat apa?"

Diejek terus-terusan seperti itu, semakin meluap amarah orang buruk rupa itu.

Sambil kertakkan rahang, dia mengayunkan tongkat hendak menggeprak batok kepala si pemuda dari Negeri Bunian itu dengan pukulan Ular Hijau. Suatu pukulan yang mengandung racun yang mematikan dan bengis sekali, sebab walau hanya mencium uapnya saja dalam beberapa saat lawan akan tewas dengan seluruh tubuh kejang membiru. Gerakan pukulan itu lambat, namun seperti ular mematuk, dia akan bergerak bagai kilat begitu mendekati lawan.

"Bocah kurang ajar! Biar bapak moyangmu sekali pun tak akan berani berkata begitu di hadapanku. Kini mampuslah engkau!" teriak Iblis Ular Hijau yakin bahwa dengan sekali pukul, hancurlah batok ke-pala pemuda itu.

Tapi tak percuma Buang Sengketa sebagai keturunan si Piton Utara, raja dari Negeri Bunian yang berujud seekor piton raksasa, kalau menghadapi uap racun yang dikeluarkan si buruk rupa itu saja menjadi keder. Sebab seperti kita ketahui, pemuda itu kebal terhadap racun apa pun. Dan lagi pula, meski serangan itu bengis dan sadis karena bermaksud menghabisi lawan seketika, tapi kekurangannya adalah tak memikirkan bahwa lawan bisa menghindar dan kemudian mengirim serangan balasan. Seperti apa yang dilakukan si pemuda.

Dengan menggunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra, tubuh Buang Sengketa berkelebat sedemikian cepat menghindari serangan lawan, dan dengan tiba-tiba tangannya terpentang hendak menggaplok wajah lawan dengan jurus Si Hina Mengusir Lalat. Iblis Ular Hijau kaget bukan main, dan tidak menyangka gerakan lawan bisa secepat itu. Lagi pula tak terpengaruh dengan uap racun yang di keluarkannya. Malah kalau dia tak cepat-cepat berkelit, bisa-bisa wajahnya yang berlipat-lipat itu akan kena tamparan si pemuda.

"Haram jadah!" makinya kesal dan penasaran. "Hak... hak.. hak...!" Buang Sengketa tertawa

ganda. "Itulah upah orang yang suka memandang rendah. Engkau pikir nama Iblis Ular Hijau mampu menakut-nakutiku? Huh, segala manusia tak karuan cuma punya nama kosong!"

Meledaklah amarah Iblis Ular Hijau diejek demikian. Tapi saat ini dia betul-betul tak punya waktu ketika mendengar suitan panjang. Sambil kertakkan rahang menahan geram, dia kirim serangan kilat lewat ujung tongkat yang menyambar-nyambar bagai lembaran kipas baja ke tenggorokan si pemuda. Jurus yang dinamakan Ular Hijau Berbulan Madu ini hanyalah suatu jurus tipuan yang sangat berbahaya, sebab bila lawan sedikit lengah, maka sambaran ujung tongkat yang runcing akan mengiris-ngiris kulit tubuh, namun begitu lawan kerepotan berkelit ke sana sini, dengan tiba-tiba dari mulut ular di tongkat itu menyemburlah uap beracun berwarna hijau.

Buang Sengketa memang kebal racun, namun menghadapi sambaran ujung tongkat lawan yang bergerak sedemikian rupa, agak repot juga. Belum bagi kabut tebal dari uap beracun yang menghalangi pandangan. Melihat lawan menggunakan jurus curang begitu, bangkitlah kemarahan pemuda dari Negeri Bunian itu. Selarik gelombang Sinar Ultra Violet dari Pukulan Empat Anasir Kehidupan segera menyambar ke berbagai arah menembus uap beracun itu. "Blar...! Blaar...!"

Buang Sengketa segera mencelat ke atas sambil bersalto beberapa kali ke belakang.

Namun ketika menjejakkan kaki ke tanah, ternyata lawan sudah tak ada lagi. Hanya lapat-lapat terdengar suara yang dikerahkan lewat tenaga dalam yang tinggi ke telinganya.

"Bocah sialan! Aku belum merasa kalah denganmu. Kalau engkau masih penasaran denganku, engkau boleh menyambangiku di Bukit Seribu. Siapa tahu di sana aku akan sempat menggali liang kubur untukmu. Hak... hak... hak...!"

Buang Sengketa kesal bukan main. Jengkel dan marah melihat lawan kabur di depan hidungnya sendiri, dia menghantam sebuah pohon dengan pukulan Empat Anasir Kehidupan.

"Blaaaar...!"

"Kraaaaaak...!"

Pohon besar itu tumbang dan jatuh berdebum. Tokh belum redakan amarahnya. Namun tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada gadis berpakaian biru yang masih tergeletak pingsan. Sepintas saja dia dapat melihat bahwa gadis itu terkena racun si Iblis Ular Hijau. Pemuda itu segera memberi pertolongan padanya. Barangkali hanya begitu yang bisa diberikannya. Sementara pada saat itu Dukuh Kembang Asem telah musnah terbakar, dan nama Persekutuan Iblis Hitam adalah biang keladi kekacauan yang mulai melekat di benaknya.

4

Singalodra duduk di singgasananya yang terbuat dari batu pualam hitam. Beberapa orang kepercayaannya sedang memberi laporan tentang hasil kerja mereka selama ini. Sementara di samping kanannya terlihat seorang laki-laki dengan wajah terlipat-lipat bagai kulit kayu yang sudah tua. Memegang sebuah tongkat berkepala ular. Siapa lagi kalau bukan Iblis Ular Hijau adanya!

"Sanggalangit telah kami musnakan, dan ketuanya yang bernama Cakrabuana tewas," kata salah seorang yang melapor. Singalodra manggut-manggut sambil tersenyum kecil.

"Sayang, sungguh sayang. Padahal kalau mereka mau bergabung baik-baik dengan kita tak akan begitu jadinya. Tapi orang keras kepala seperti itu memang harus dilenyapkan!" sahut Singalodra. "Bagaimana dengan kalian, Setan Lembah Neraka?" lanjutnya bertanya pada tiga orang laki-laki botak dengan wajah seram menakutkan. Di tangan mereka masing-masing terdapat senjata gada berduri.

Salah seorang menyahut, "Si Gelang-gelang Terbang bersedia bergabung dengan kita, dan beberapa hari lagi dia akan ke sini."

"Bagus! Bagus! Ternyata beliau masih menghormati nama besar ayahanda Iblis Merah Darah. Usahakan kalian terus membujuk para tokoh-tokoh golongan hitam lain agar mau bergabung dengan kita. Persekutuan Iblis Hitam akan terus berdiri dan merajai dunia persilatan, dan tak seorang pun boleh untuk menghalang-halanginya!" Wajah Singalodra terlihat semangat, dan hawa dendam mewarnai cita-citanya untuk menjadi raja diraja dunia persilatan seperti cita-cita bapaknya dahulu.

Beberapa saat kemudian Singalodra menyuruh mereka untuk keluar dari ruangan, sementara dia sendiri hendak beranjak ke kamarnya setelah seseorang membisikkan sesuatu ke telinganya. Wajahnya kelihatan berseri dengan ketawa kecil menghiasi wajahnya yang tampan.

"Paman boleh bersenang-senang mencari perempuan-perempuan yang paman sukai," katanya pada Iblis Ular Hijau. Agaknya orangtua itu telah mengerti apa yang hendak dikerjakan ketua Persekutuan Iblis Hitam itu. Dia cuma mengangguk kecil dan kemudian berkata pelan.

"Singalodra, barangkali kita akan sedikit mendapat hambatan...." Dia tak meneruskan kata-katanya, melainkan berpikir sesaat. Singalodra jadi penasaran dibuatnya. Dia segera kembali duduk dan memandang orang itu dengan serius.

"Hambatan apa, Paman?"

"Ada beberapa tokoh-tokoh muda berilmu tinggi yang bisa jadi ancaman buat kita nantinya. Seperti yang paman ceritakan ketika kami membumihanguskan Dukuh Kembang Asem itu "

"Paman...." Berkata Singalodra sambil tersenyum meremehkan, "Ilmu silat Iblis Merah Darah tiada tertandingi. Paman sendiri mengakui hal itu. Kenapa segala anak kemarin sore harus kita khawatirkan?"

Iblis Ular Hijau terdiam untuk beberapa saat tak menjawab. Sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu tentang pemuda yang dihadapinya di Dukuh Kembang Asem itu, yang membuatnya penasaran setengah mati. Pasalnya dia teringat pada seorang tokoh legendaris puluhan tahun lalu yang sangat menjagoi dunia persilatan. Tokoh yang seluruh tubuhnya penuh dengan bercak-bercak koreng, yang tak seorang pernah mengalahkannya. Tidak untuk si Iblis Merah Darah yang pernah berduel dengannya, dan hanya keberuntungan bisa melarikan diri yang menyelamatkannya. Pada pertarungan itu pun dia ikut menempur tokoh kosen tersebut. Yang justru membuatnya khawatir adalah, jurus-jurus si pemuda sangat mirip dengan tokoh itu!

Tapi Singalodra telah berpaling ke kamarnya, dan sebentar saja terdengar tawanya yang berkepanjangan diikuti dengan teriak ketakutan dari seorang perempuan; yang diculiknya dari sebuah perguruan silat yang ditaklukkannya beberapa hari yang lalu.

* * *

Puji Lestari berjalan pelan-pelan. Sebentarsebentar matanya melirik pemuda yang berjalan tak acuh di sampingnya. Hatinya tak henti bertanya-tanya. Pemuda itu sangat tampan, tapi pakaiannya aneh betul. Dengan jubah lusuh dan dekil, lalu rambut dikuncir dan periuk besar di punggungnya, dia betul-betul persis gembel. Tapi acuhnya itu yang membuatnya gregetan. Seolah dia tak perduli dengan kehadirannya di sini. Padahal gadis itu tak terlalu jelek. Cantik malah iya. Barangkali juga dia seorang pemalu, pikirnya. Teringat ke situ dia mencari-cari bahan omongan.

"Namamu aneh...?"

Pemuda itu hanya nyengir sebelum men-jawab. "Nama itu penuh dengan riwayat yang berkepanjangan. Aku bagai orang terbuang yang lahir seperti tak diharapkan, tapi justru kelahiranku membuat banyak persengketaan. Itulah sebab aku dinamakan Buang Sengketa." 

"Barangkali kita tak jauh beda. Kedua orangtua ku pun telah tiada. Ki Pandaran memungut ku sejak kecil. Tapi orangtua itu telah tewas pada saat aku tak berada di tempat. Aku tak sempat membalas budinya. Barangkali hanya dengan jalan menumpas orangorang Persekutuan Iblis keparat itulah bisa membuat batin ku sedikit tenang..."

"Jadi kenapa kita musti menuju ke Perguruan Kilat Buana dahulu? Bukankah lebih baik langsung menuju ke Bukit Seribu menumpas manusia-manusia laknat itu?" tanya si pemuda yang tak lain Buang Sengketa adanya, dengan wajah bingung.

"Beliau meninggalkan pesan agar aku bergabung dengan perguruan itu, dan bersama-sama menumpas gerombolan iblis itu."

"Jauh lagi perjalanan ke sana?"

Gadis itu tertawa renyah. "Kalau kita terus bersantai begini, mungkin tiga hari lagi baru tiba di sana." "Kalau begitu tunggu apa lagi?!" kata si pemuda sambil mengeluarkan ajian Sepi Angin dan melesat ce-

pat.

Si gadis terkejut setengah mati. Tiba-tiba saja si pemuda telah lenyap dari sampingnya. Tahulah dia, bahwa selain memiliki kepandaian yang hebat waktu menolongnya memunahkan racun di tubuhnya akibat bertarung dengan Iblis Ular Hijau, pemuda itu pun ternyata hebat ilmu larinya. Belum lagi hatinya yang bertanya-tanya sampai sejauh mana kehebatan ilmu silat pemuda itu.

Berpikir begitu malu benar hatinya sebab ilmu larinya tak ada seujung kuku dibanding si pemuda. Padahal dia telah mengerahkan seluruh kebisaannya.

Buang Sengketa melihat gadis itu terengah-engah dari kejauhan, segera perlambat larinya hingga kembali bersama-sama.

"Gila! Engkau berlari seperti angin saja," puji si gadis. "Barangkali engkau ini anak jin!" lanjut si gadis bercanda.

Tawanya renyah diselingi nafasnya yang terengah-engah. Buang Sengketa justru tersenyum kecil penuh arti. Kalau saja si gadis tahu bahwa apa yang ditebaknya itu benar, entah apa jadinya, pikir Pendekar Hina Kelana itu. Barangkali juga dia akan ketakutan atau malah terkejut kegirangan!

"Kenapa Singalodra membunuh gurumu?" tanya Buang Sengketa setelah reda senyumnya.

"Mereka mengajaknya untuk bergabung ke dalam Persekutuan Iblis Hitam. Tapi Ki Pandaran tak mau. Beliau lebih baik me-milih mati daripada harus bekerjasama dengan mereka."

Pendekar dari Negeri Bunian itu anggukanggukkan kepala. "Apakah banyak dari tokoh-tokoh golongan putih yang bergabung dengan Persekutuan Iblis Hitam?"

"Menurut guruku banyak juga. Rata-rata mereka dibujuk dengan harta keduniaan, dan sebagian kecil karena ditaklukkan. Mereka yang takut mati lebih baik memilih bergabung...." Wajah gadis itu tiba-tiba mendengus sinis. "Mereka itu pengecut dan lebih pantas mati!" lanjutnya.

Buang Sengketa menyadari bahwa gadis ini sedang diamuk dendam. Dia hanya men-diamkan saja, dan tak banyak bicara lagi. Sampai akhirnya mereka tiba di suatu desa, gadis itu perlambat larinya dan berjalan seperti biasa. Buang Sengketa pun mengikutinya. "Aku belum pernah ke sini sebelumnya. Tapi menurut almarhum guruku, Perguruan Kilat Buana di desa ini," kata gadis itu sambil memandang ke sekelil-

ing.

"Desa ini aneh!" Berkata Buang Sengketa setelah matanya memperhatikan orang-orang di sekitar itu. "Mereka kelihatan takut akan kedatangan kita. Ada apa gerangan?"

Gadis itu pun merasakannya. Wajah-wajah penduduk yang menatap mereka seolah curiga. Kemudian cepat-cepat menutup pintu rumah mereka. Atau yang sedang duduk di depan rumah, buru-buru menghindar. Bahkan yang berselisih jalan dengan mereka, buru-buru kembali surut.

"Ada apa?" tanya gadis dalam hatinya. Dia bermaksud mendekati salah seorang. Namun orang itu buru-buru kabur seperti ketakutan.

"Aneh...!" desis si pemuda. "Coba kita tanya orang-orang di warung sana. Barangkali kita akan mendapat penjelasan." Gadis itu menyetujui. Namun ketika mereka baru saja mendekati pintu, orang-orang yang berada di sana buru-buru keluar dengan wajah ketakutan. Begitu pun halnya dengan si pemilik warung. Dia buru-buru masuk ke dalam. Namun si gadis yang sudah kepalang penasaran dan kesal karena tak menemukan jawab atas sikap mereka, segera memburunya dan menangkap pergelangan laki-laki setengah baya berperut buncit itu.

"Tunggu, Pak! Ada apa sebenarnya di desa ini? Kenapa setiap orang yang kami jumpai seolah-olah ketakutan?"

Laki-laki itu menampakkan wajah gelisah. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu, dan mereka berdua secara bergantian. Tiada kata yang keluar selain dari hentakan tangannya yang ingin melepaskan diri dari cengkeraman gadis itu. Tapi mana mau si gadis melepaskannya sebelum dia dapat penjelasan.

"Kedatangan kami ke sini bermaksud baik, Pak. Bapak tak perlu takut!" kata si gadis berusaha ramah sambil tersenyum. "Coba bapak jelaskan, ada apa sebenarnya di desa ini?"

Dia kembali menatap pintu depan dan kedua orang itu bergantian. Kali ini tangannya tak berontak lagi. Hanya wajahnya yang memelas menatap pada mereka. Kemudian katanya lirih: "Aduh, Nona lebih

baik tinggalkan desa ini secepatnya, Kalau tidak, kami bisa celaka! Tolonglah... cepat tinggalkan desa ini secepatnya " "Ada apa, Pak? Apa yang terjadi dengan desa ini?" tanya si pemuda ikut penasaran. Laki-laki itu sejenak memperhatikan si pemuda. Hatinya hendak tertawa lucu melihat dandanan si pemuda. Barangkali juga bertanya-tanya, mengapa seorang gadis cantik jelita ini mau berjalan bersama pemuda gembel yang aneh ini? Tapi apa perlunya dia bertanya kalau hal itu berarti mengundang kematiannya?

"Sa... saya tak bisa menjelaskannya. Lebih baik kalian pergi secepatnya dari tempat ini...!"

Buang Sengketa garuk-garuk rambut di kepalanya yang tak gatal. Meski jengkel, tapi apakah harus dilampiaskan dengan menghajar orang ini? Dia sudah ketakutan begitu, pasti ada sesuatu yang membuatnya demikian. Pemuda itu hanya angkat bahu ketika si gadis meliriknya. Tapi Puji Lestari bukanlah gadis yang terlalu sabar menghadapi persoalan seperti ini. Kejengkelannya bisa memuncak menjadi amarah. Dengan satu sentakan, ditariknya pemilik warung itu ke atas dengan sebelah tangan. Laki-laki setengah baya berperut buncit itu seketika berwajah pucat. Kedua muda mudi ini berilmu tinggi, pikirnya. Dia seolah berada dalam dua pilihan yang sama tak enak.

"Katakan! Ada apa sebenarnya di balik semua ini? Atau tubuhmu akan kulempar ke seluruh ruangan ini hingga porak poranda!" ancam si gadis sambil mulai memutar-mutar tubuh orang itu. Makin ketakutanlah si pemilik warung. Dengan suara cemas, dia berteriak-teriak ketakutan.

5

"Baiklah! Baiklah! Tapi turunkan dulu, dan kalian berjanji akan melindungiku!" Si gadis segera hentikan perbuatannya sambil anggukkan kepala. Orang itu menarik nafas sesaat. Kemudian katanya,

"Beberapa hari yang lewat orang-orang Persekutuan Iblis Hitam menyerbu ke sini. Mereka merampok dan menculik semua perempuan-perempuan cantik di desa ini. Tujuan mereka sebenarnya memancing pihak Perguruan Kilat Buana yang bermarkas di ujung desa itu untuk keluar membela para penduduk, di samping tujuan-tujuan pribadi. Kilat Buana tadinya tak terpancing kalau tindakan mereka tak melampaui batas seperti itu. Tapi.... Persekutuan Iblis Hitam terlalu tangguh buat mereka. Seluruh murid-murid Kilat Buana dibunuh habis semuanya, dan... dan desa ini dikuasai oleh mereka. Kami... kami, dilarang berhubungan dengan orang-orang asing yang bukan termasuk anggota Persekutuan Iblis Hitam. Bahkan untuk berbicara "

Belum lagi selesai ucapan laki-laki itu, tiba-tiba dia menjerit kesakitan dan langsung roboh.

"Awas!" Buang Sengketa memperingatkan si gadis sambil berjumpalitan ketika beberapa buah benda melesat ke arah mereka. Si gadis pun ternyata bukan orang sembarangan. Tak percuma dia menjadi murid Perguruan Walet Biru yang kesohor dengan ilmu pendengarannya yang baik kalau tak mampu merasakan sesuatu yang berdesir ke arah mereka. Sambil melompat tinggi ke atas, dia mengikuti gerakan si pemuda menerobos lewat atap warung dan turun dengan sempurna.

Baru saja mereka menjejakkan kaki ke tanah, kembali berdesir sesuatu ke arah mereka. Kali ini terasa lebih berat seolah-olah radius satu tombak dari mereka berada dipenuhi oleh sesuatu yang tak terlihat namun terasa hawa dingin yang menusuk pernafasan  mereka. Pemuda dari Negeri Bunian itu jadi jengkel dibuatnya. Begitu dilihatnya si gadis telah membabatkan pedang ke sana ke mari, dia pun segera menjulurkan sebelah lengannya. Selarik gelombang Ultra Violet segera menyebar ke segala penjuru dan menabrak segala sesuatu yang menghalanginya. Pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dikeluarkan Buang Sengketa ternyata membawa hasil. Paling tidak badai serangan gelap itu menjadi sirna untuk sementara. Barulah mereka dapat melihat dengan jelas, siapa adanya si penyerang itu.

Seorang laki-laki tinggi kurus bermuka lonjong dengan kulit hitam, tersenyum sinis pada mereka. Di belakangnya beberapa orang berseragam jubah hitam nampaknya mengurung rapat-rapat tempat itu. Seolah-olah tiada jalan keluar sedikit pun untuk mereka bisa kabur. Melihat hal itu Buang Sengketa malah ketawa ganda.

"Pucuk dicinta ulam tiba! Jauh-jauh dicari ternyata malah datang sendiri mencari mati. Hak... hak... hak...!" kata si pemuda. Pikirnya, tentulah mereka ini orang-orang dari Persekutuan Iblis Hitam, sebab menurut si gadis, gerombolan itu selalu berseragam jubah hitam pada tiap anggotanya, seperti apa yang dilihatnya saat ini.

"Bocah, kematianmu telah di ujung mata, tertawalah sepuas hati sebelum kami mencabut selembar nyawamu yang tak berguna!" balas si muka lonjong sinis. Dia segera mengeluarkan sepasang trisula dari pinggangnya. Agaknya orang ini tak suka berbasa basi dan berdarah dingin, sebab tanpa penjelasan apa-apa dia telah menyerang mereka berdua dengan jurusjurus yang mematikan.

Buang Sengketa tentu saja telah men-duga hal itu, dan menyiapkan jurus tangkisan. Tapi tak terduga sama sekali bahwa manusia bermuka lonjong itu langsung mengeluarkan ilmu silat kelas tinggi untuk menghajarnya. Tentu saja si pemuda yang tak menyangka demikian jadi kelabakan sendiri. Pikirnya, pastilah lawannya saat ini anggota biasa dari gerombolan itu, mengingat pakaiannya yang biasa saja dan senjata di tangannya yang terlihat tidak luar biasa. Akibatnya sungguh tak terduga buatnya. Dada si pemuda terkena goresan senjata lawan setelah dia berusaha menghindar dari satu pukulan yang dibarengi dengan sapuan kaki.

Murid si Bangkotan Koreng Seribu itu terhuyunghuyung kesakitan, dan darah segar mulai menetes dari dadanya. Melihat itu si muka lonjong tertawa keras.

"Bocah! Engkau telah terkena Racun Kelabang Hitam yang mematikan. Sebentar lagi tubuhmu akan membiru dan kejang-kejang, dan setelah itu engkau boleh menemui bapak moyangmu. Ha... ha... ha...!"

Tapi tak percuma Buang Sengketa sebagai keturunan raja dari Negeri Bunian yang kebal terhadap racun apa pun. Yang membuatnya kesal hanya rasa penasaran dan jengkel akibat memandang rendah pada lawan. Sambil kertakkan rahang menahan geram, hawa kesadisan menyatu dalam jiwanya melihat kepada manusia telengas itu. Dengan satu teriakan nyaring, dia melesat ke arah lawan dengan mempergunakan Jurus Si Jadah Terbuang. Suatu jurus handal yang jarang dikeluarkan kalau tidak pada kejengkelan yang memuncak. Tubuhnya berkelebat ke sana sini dengan kecepatan yang sulit diikuti kasat mata.

Si muka lonjong yang dalam dunia persilatan dikenal sebagai si Kelabang Hitam, tokoh sesat yang paling ditakuti dalam dunia persilatan. Baik tokoh golongan hitam maupun putih. Senjata trisulanya kelihatan biasa tapi sebetulnya mengandung racun mematikan yang tak terlihat dan tak berbau. Lawan yang tak mengetahui hal itu pasti akan menganggapnya remeh, dan di situlah keberuntungan si Kelabang Hitam. Seperti yang terjadi pada Buang Sengketa tadi. Tapi dia tak bisa langsung bergirang, sebab setelah beberapa saat berlalu, tak terlihat tanda-tanda bahwa si pemuda terkena pengaruh racunnya. Malah serangannya semakin hebat dan membuat si Kelabang Hitam jadi kerepotan sendiri dibuatnya.

"Oh, jadi engkau yang bergelar si Kelabang Hitam bermuka jelek itu?" ejek si pemuda sambil terkekeh mempermainkan lawan. "Racun kelabangmu betulbetul obat yang paling mujarab. Sebentar saja tubuhku yang tadi pegal-pegal kini terasa segar untuk menggebuk mukamu yang jelek itu!" Ucapan si pemuda terbukti ketika dalam satu kesempatan berhasil menghajar lawan.

Kelabang Hitam merasakan punggungnya sakit luar biasa terkena pukulan si pemuda. Untung saja murid si Bangkotan Koreng Seribu itu tak mengerahkan pukulan yang mematikan, kalau tidak, niscaya nama Kelabang Hitam akan sirna saat itu juga.

Tapi manusia satu ini kedot luar biasa. Dalam satu kesempatan dia merangkapkan kedua telapak tangan setelah tadi trisulanya terpental dengan tendangan susulan yang dilancarkan si pemuda. Meski dirasanya tenaga lawan sangat kuat, terbukti tangannya masih kesemutan terkena hajaran si pemuda, tapi tak nanti pemuda itu bisa melepaskan diri dari Pukulan Arang Beracunnya, pikir si muka lonjong itu.

Segulungan uap hitam perlahan-lahan keluar dari telapak tangannya. Untuk se-saat Buang Sengketa terperanjat kaget. Naluri silumannya segera mengingatkan akan bahaya yang mengancam keselamatannya. Apalagi ketika perlahan-lahan uap itu membentuk suatu sinar hitam yang melesat cepat ke arahnya. Buru-buru pemuda itu berjumpalitan menghindari diri. Terlihat olehnya batang pohon di samping warung yang terkena pukulan itu tiba-tiba seluruh daundaunnya menjadi layu dan perlahan-lahan meranggas. Pemuda itu bergidik sendiri membayangkan bila tubuhnya yang terkena pukulan itu.

Sementara itu si gadis sedang kerepotan menghadapi kerubutan beberapa orang berjubah hitam. Pedangnya berkelebat ke sana sini dengan kecepatan penuh. Namun tak seorang pun dari mereka yang terkena.

Gadis ini jadi penasaran sendiri dibuatnya. Bahkan beberapa kali dia kena didesak dan kerepotan untuk menangkis serangan-serangan balasan. Hatinya panas bukan main melihat keadaan itu, dan bertanyatanya, bila saja anak buahnya sudah begini hebat, bagaimana dengan Singalodra sendiri? Berpikir begitu timbul rasa putus asa dalam dirinya.

Sebenarnya si gadis tidak mengetahui bahwa yang dihadapinya saat ini adalah sebagian pasukan inti Persekutuan Iblis Hitam yang ditugaskan menjaga desa ini dari kedatangan orang-orang asing yang dicurigai seperti mereka. Sebagai pasukan inti, tentu saja kepandaian mereka tak sembarangan. Rata-rata ilmu silat mereka seimbang dengan kepandaian si gadis. Maka tak heran kalau sebentar saja si gadis sudah terdesak hebat, bahkan beberapa kali senjata lawan hampir melukai tubuhnya.

"Jangan!" teriak salah seorang di antara mereka ketika kawannya hendak membabat kutung sebelah lengan gadis yang sudah terpojok tak berdaya ketika sebelah kakinya kena dihantam lawan dan tubuhnya jatuh berdebum ke tanah. "Gadis ini sangat cantik. Sebaiknya kita persembahkan saja pada ketua!" lanjutnya. "Beliau pasti senang sekali dengan persembahan kali ini. Sebaiknya ditotok saja agar gampang membawanya."

Salah seorang segera bergerak hendak. menotok gadis itu. Namun pada saat itu berkelebatlah selarik gelombang sinar berwarna merah menghantam dua orang di antara mereka, dan jerit kesakitan segera mengiring kematiannya. Kawan-kawannya terkejut setengah mati melihat itu. Reflek mereka segera menoleh ke arah datangnya pukulan itu, dan terlihat pemuda berkuncir yang sedang bertempur dengan si Kelabang Hitam sedang terkekeh-kekeh.

"Iblis-iblis keparat! Apa kalian pikir bisa berbuat seenaknya di hadapanku? Huh, jangan coba-coba untuk berbuat kurang ajar pada gadis itu. Kalau tidak, kalian rasakan sendiri akibatnya!" gertak si pemuda sambil kiblatkan tangan dan kemudian selarik gelombang merah menyala melesat cepat ke arah si Kelabang Hitam. Masih bagus si muka lonjong itu bisa menghindarinya dan melancarkan serangan balasan dengan pukulan Arang Beracunnya.

"Blaaar...!"

Dua pukulan beradu menimbulkan suara hebat. Si Kelabang Hitam terhuyung-huyung beberapa tindak. Dari sela-sela bibirnya keluar darah merah kehitamhitaman. Dia cepat bersila di tanah melancarkan jalan darah dan atur pernafasan. Sementara si pemuda hanya bergetar tubuhnya, namun tak urung jalan darahnya terasa berdenyut kencang tak beraturan.

Dalam pada itu si gadis kembali mengamuk mengayunkan pedangnya ke sana sini dengan sebat. Seolah semangatnya kembali bangkit ketika mengetahui bahwa pemuda aneh yang sejak tadi berjalan bersamanya ternyata berilmu tinggi. Tapi walaupun kedua kawannya telah tewas, tetap saja dia tak mampu untuk mendesak orang-orang berjubah hitam itu. Kini kembali mereka mendesaknya habis-habisan. Namun pada saat itu, muncullah seseorang yang langsung menghajar dua orang berjubah hitam itu hingga terhuyung-huyung sambil men-dekap dada. Si gadis segera melirik pada orang yang baru muncul itu. Seorang pemuda yang berwajah tampan, berambut pen-dek dengan ikat kepala warna hitam serta berpakaian serba putih. Di pinggangnya terselip sebilah golok yang agak panjang. Sesaat dia melirik pada gadis itu, dan kembali menempur orang-orang berjubah hitam setelah anggukkan kepala sambil tersenyum.

Sementara itu pertarungan antara Buang Sengketa dan si Kelabang Hitam telah mencapai persoalan hidup atau mati. Si pemuda telah mencabut pusaka Golok Buntung sambil mengeluarkan suara mendesis laksana Ular Piton mengamuk. Dalam pada itu si Kelabang Hitam sangat terkejut melihat aksi si pemuda. Apalagi ketika melihat senjata di tangannya yang mengeluarkan sinar merah menyala, dibarengi dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sum-sum dan suara berisik bagai auman puluhan harimau terluka. Dia takjub untuk beberapa saat, namun kelengahannya harus dibayar mahal karena senjata di tangan si pemuda berkelebat dengan cepat ke pangkal lehernya.

"Craaas...!"

Si Kelabang Hitam tak sempat berteriak saat kepalanya menggelinding ke tanah. Beberapa orang berjubah hitam yang melihat si Kelabang Hitam tewas, ada yang coba-coba melarikan diri. Tapi kedua lawannya tentu saja tak bisa membiarkannya begitu saja. Lebih-lebih si gadis yang merasa sangat penasaran tak mampu melukai lawan sedikit pun.

"Jangan harap kalian bisa pergi dengan bernyawa!" teriak si gadis sambil ayunkan pedang. Tapi hal itu sia-sia, sebab sambil melompat menghindarkan diri, orang itu lemparkan suatu bungkusan yang begitu jatuh ke tanah, langsung menimbulkan asap tebal yang menghalangi penglihatan. Begitu asap sirna, orang-orang berjubah hitam itu tak terlihat lagi.

6

Singalodra segera berdiri dari kursi dengan mata melotot garang pada mereka. Kedua alisnya terangkat tinggi-tinggi, dengan gerakan yang sangat cepat, tibatiba tangannya telah menggenggam sebilah pedang yang seluruh permukaannya berwarna hitam mengkilat. Pucatlah wajah orang-orang berjubah hitam di hadapannya yang sejak tadi menundukkan kepala dengan wajah ketakutan.

"Buat Persekutuan Iblis Hitam, tak ada cerita untuk melarikan diri dari pertempuran. Kalian telah melanggar hal itu dan membuat malu nama Persekutuan Iblis Hitam. Kematian lebih pantas untuk kalian!" ucap Singalodra dingin.

"Aaaa...   ampun,   Tuanku   Singalodra. Ka... kami berlima bukan bermaksud lari dari pertempuran. Ta... tapi, siapa yang akan memberitahukan hal ini kepada Tuanku kalau kami binasa semua. "

"Craaaaaas. !"

Kelima orang berjubah hitam itu segera melolong setinggi langit ketika pedang di tangan Singalodra berkelebat dengan cepat dan sulit diikuti kasat mata. Tubuh mereka segera ambruk dengan satu sabetan panjang pada bagian dada. Namun tak satu pun di antaranya yang mengeluarkan darah. Tubuh-tubuh mereka pucat dan kering bagai mayat yang telah tergeletak berhari-hari. Beberapa orang yang berada di situ bergidik bulu kuduknya menyaksikan hal itu. Dengan takut-takut beberapa orang yang membawa mayat-mayat itu keluar.

"Peringatan buat kalian yang lain untuk jujur mengikuti segala perintahku!" kata Singalodra sambil putar pandangan ke seluruh ruangan. "Kalau kataku harus pertahankan sesuatu, maka nyawa kalian taruhannya dan jangan kembali dengan nyawa melekat di tubuh walau untuk alasan apa pun. Beda kalau kuperintahkan kalian untuk merampok atau menculik perempuan-perempuan cantik. Kalian wajib menyelamatkan selembar nyawa kalian bila musuh terlalu tangguh untuk dihadapi. Ingat baik-baik hal itu!"

Setelah orang-orang yang berada di situ anggukanggukkan kepala, Singalodra segera menyuruh mereka untuk keluar. Kecuali si Iblis Ular Hijau yang selalu berada di sampingnya.

"Apakah mereka itu yang paman maksudkan tempo hari?" tanya Singalodra pada si Iblis Ular Hijau dengan wajah serius. "Apakah sekarang paman meragukan bahwa ilmu silat Iblis Merah Darah yang diwariskan ayahanda padaku adalah ilmu silat yang sulit dicari tandingannya?"

Iblis Ular Hijau hela nafas panjang sebelum menjawab pelan. "Ilmu silat ayahandamu memang hebat dan sulit dicari tandingannya. Si Rajawali Bukit Seribu beserta dua kembratnya itu tak mungkin mampu mengalahkan ayahandamu kalau beliau tak terluka parah akibat pertarungan dengan salah seorang tokoh kosen yang sulit dicari tandingannya "

"Siapa? Siapa tokoh yang paman maksudkan itu?!" Singalodra nampak penasaran sekali. Pasalnya dia yakin sekali bahwa ilmu silat yang dimilikinya saat ini, tak ada yang menandingi.

"Tokoh itu berasal dari Barat dan malang melintang di tanah ini, dan banyak menaklukkan tokohtokoh sesat golongan hitam. Salah satu di antaranya adalah kami berdua pada saat itu. Seluruh tubuhnya penuh dengan bercak-bercak koreng, itulah sebabnya dia mendapat julukan si Bangkotan Koreng Seribu. Senjata andalannya adalah sebuah pecut yang apabila dilecutkan akan menimbulkan awan gelap dan petir yang menggelegar bagaikan badai alam yang dahsyat. Hanya karena kekuatan ilmu tenaga dalam ayahandamu sajalah yang menyebabkan dia tidak langsung tewas ketika pecut itu menghantam tubuhnya. Tapi dia terluka parah dan tak seorang pun bisa menyembuhkannya. Barangkali pun kematiannya hanya tinggal waktu saja. Itulah sebabnya dia masih sempat menulis kitab ilmu silatnya yang kelak akan diwariskan padamu. Jadi sebenarnya tidak benar bahwa ayahandamu mati di tangan Rajawali Bukit Seribu beserta dua kembratnya itu. Meski mereka bertiga punya ilmu yang tak bisa dipandang enteng, namun untuk melawan Iblis Merah Darah, mereka tak akan ungkulan. Dengan luka berat yang dideritanya, mereka bertiga hanya mempercepat kematiannya saja "

"Tapi apa hubungan cerita paman itu dengan mereka?!" tanya Singalodra tak sabar.

"Ada," sahut Iblis Ular Hijau tenang. "Aku pernah bertempur dengan si pemuda berkuncir yang diceritakan orang-orangmu yang telah engkau bunuh tadi. Ada beberapa gerakan ilmu silatnya yang kukenal sangat mirip dengan ilmu silatnya tokoh itu. Kalau benar dia muridnya, pastilah hal ini akan mengancam Persekutuan Iblis Hitam!"

"Paman, jangan coba-coba untuk melemahkan semangatku. Ilmu silat Iblis Merah Darah tak ada tandingannya, dan aku sendiri telah membuktikan hal itu. Sejauh ini tak ada seorang pun yang mampu menahan ajian Kidung Neraka!" sahut Singalodra tersenyum sinis.

"Singalodra, paman pun mengakui hal itu, tapi tugas paman saat ini hanya sebagai penasehat. Kalaukalau hal itu memang benar, tapi syukur kalau hal itu cuma omong kosong belaka. Namun walau bagaimana pun kita patut waspada "

"Aku tidak gentar, Paman!" potong Singalodra cepat. "Dan kuharap pun paman bukan hanya mencaricari alasan karena takut menghadapi pemuda itu setelah merasakan ilmu silatnya."

Iblis Ular Hijau segera terkekeh panjang. Lalu berkata pelan namun terasa bahwa ia tersinggung dengan ucapan ketua Persekutuan Iblis Hitam tadi.

"Iblis Ular Hijau selamanya tak pernah takut menghadapi siapa pun asal orang itu bukan si Bangkotan Koreng Seribu!"

"Nah, sekarang paman bawa beberapa orang pilihan untuk meringkus mereka dan tunjukkan padaku bahwa paman adalah tokoh golongan hitam yang tak takut menghadapi siapa pun!"

"Maksudmu engkau ingin agar kami meringkus mereka? Kenapa tak sekalian membunuhnya saja?"

"Begitu lebih baik. Tapi ingat, jangan ciderai gadis itu!" Singalodra tersenyum penuh arti. "Paman tahu maksudku bukan?"

Iblis Ular Hijau kembali terkekeh panjang sebelum berlalu dari ruangan itu.

***

Sore telah berganti malam ketika ketiganya telah beranjak dari desa itu. Mereka terpaksa menginap di dalam sebuah hutan yang lumayan lebat. Tapi untung, agaknya laki-laki itu telah terbiasa dengan kehidupan demikian, sebab tak berapa lama kemudian dia berhasil menangkap dua ekor kelinci untuk santap malam mereka.

"Tidak terlalu gemuk, tapi lumayan untuk pengganjal perut!" katanya tersenyum sambil menyalakan api dari batu pemantiknya. Sebentar kemudian setumpuk api unggun mulai menerangi wajah ketiganya. Pemuda itu mulai memanggang hasil buruannya. Sementara dua orang kawannya sebentar-sebentar membantu membolak baliknya.

"Jadi engkau satu-satunya murid Kilat Buana yang berhasil meloloskan diri?" tanya si gadis sambil mencicipi sekerat daging.

"Ya. Aku terpaksa kabur ketika kulihat semua kawan-kawan yang lain dibantai mereka dengan sangat keji. Tapi tak jauh dari desa itu. Aku mencari-cari kesempatan untuk menghancurkan mereka secara perlahan-lahan, sambil menunggu pendekar-pendekar golongan putih yang singgah ke sini dan bergabung bersama-sama menghancurkan Persekutuan Iblis Hitam itu."

"Memang keterlaluan mereka!" cetus pemuda dengan rambut dikuncir. Dia hanya menolak ketika daging kelinci itu sudah matang dan si gadis menyodorkan sekerat untuknya, sebab di tangannya sendiri masih tersisa beberapa potong dendeng lumba-lumba yang selalu tersedia cukup dalam periuk besar yang selalu dibawa-bawanya. Barangkali mereka berdua belum terbiasa, hingga menolak saat ditawarkannya tadi. Mungkin juga karena si pemuda berbaju putih itu merasa bahwa soal makanan tak terlalu merepotkannya. Buktinya dia dengan gampang mendapatkan dua ekor kelinci itu.

"Barangkali kalian hanya tahu bahwa apa yang mereka lakukan cuma sekedar me-rampok dan membuat onar di mana-mana. " Pemuda itu menghentikan

ucapannya untuk beberapa saat. "Tapi lebih dari itu," katanya melanjutkan, "Mereka adalah sekumpulan iblis cabul tukang memperkosa anak bini orang, dan salah satu korban mereka adalah   " Pemuda itu tak me-

neruskan kata-katanya. Dia menundukkan kepala dengan wajah gundah. Dari cahaya api unggun yang menjilat wajahnya, terlihat bahwa pemuda itu sangat berduka.

"Kenapa, Saudara Jaka Sumbawa?" tanya pemuda berkuncir itu heran.

"Tunanganku pun yang tinggal di desa itu turut menjadi korban mereka. Aku tak tahu bagaimana nasibnya saat ini, tapi apa pun yang terjadi dengannya, aku bersumpah akan membunuh Singalodra dengan tanganku!" katanya dengan wajah beringas. Tangannya terkepal dengan kuat hingga terlihat otot-otot di bukubuku jarinya menegang. Kemudian dia berpaling pada pemuda berkuncir itu. Lalu katanya pelan. "Saudara Buang Sengketa, bila perjalanan kita telah tiba di sana, aku minta agar Singalodra bagianku!"

"Kalau saja anak buahnya sedemikian hebat, tentulah Singalodra berilmu tinggi. Barangkali dia bukan tandinganmu, Saudara Jaka Sumbawa. Biarlah aku yang mewakili engkau untuk menempurnya "

"Tidak!" sahut pemuda itu sengit. "Dia harus mati di tanganku agar dendamku terbalas impas! Di depan mataku mereka membunuh guru yang telah mengasuhku sejak kecil dan telah kuanggap sebagai orangtua ku sendiri, kemudian membunuh saudara-saudara seperguruanku, dan terakhir di depan mataku sendiri menculik tunanganku tanpa aku bisa berbuat apaapa!"

Pemuda berkuncir yang tak lain adalah Buang Sengketa, putra raja dari Negeri Bunian dan murid dari si Bangkotan Koreng Seribu itu tundukkan kepala untuk beberapa saat. Dia dapat memahami apa yang dirasakan si pemuda, tapi kalau untuk berlaku nekad seperti itu, sama halnya dia dengan mengantarkan nyawa dengan per-cuma. Kalau saja melawan anak buah Singalodra yang memporak porandakan perguruannya dan menculik tunangannya di depan mata sendiri dia tak mampu untuk melawan, apalagi menghadapi Singalodra sendiri seperti tekadnya tadi. Buang Sengketa hela nafas pendek.

Seperti kita tahu, ternyata pemuda itu adalah orang yang mereka temui di desa yang tak begitu jauh dari Perguruan Kilat Buana, yang ikut membantu si gadis ketika dikerubuti orang-orang Persekutuan Iblis Hitam. Setelah tak menemui siapa-siapa lagi di sana, mereka akhirnya bertekad untuk menyambangi Singalodra di tempat kediamannya di Bukit Seribu. Apalagi setelah mereka mengetahui ternyata si pemuda berilmu cukup tinggi, semangat mereka tambah menyala untuk menghadapi ketua Persekutuan Iblis Hitam itu beserta anak buahnya.

Dalam pada itu malam semakin kelam. Jaka Sumbawa telah tertidur lelap bersama anganangannya untuk membebaskan tunangannya dan membunuh Singalodra di sarangnya sendiri. Sementara Buang Sengketa sendiri masih tidur-tidur ayam tak jauh dari tempat pemuda itu. Matanya akhirnya terbuka lebar menengadah ke langit hitam di angkasa setelah sekian lama terpejam tak juga mau terlelap. Banyak hal yang dipikirkannya selama ini, dan hal itu akan kembali melintas pada saat-saat sepi seperti saat ini. Kenangan ketika bersama gurunya si Bangkotan Koreng Seribu ketika mereka masih bersama-sama di pantai karang Tanjung Api, kemudian ayahandanya yang bertapa entah di mana dalam ujud seekor ular raksasa. Semua hal itu membuat batinnya seakan teriris-iris mengingat hidupnya yang seorang diri tanpa sanak saudara.

Tiba-tiba reflek dia bergerak ketika merasakan sesuatu yang mendekat secara perlahan ke arahnya. Hela nafasnya lega ketika mengetahui siapa bayangan itu. Ternyata si gadis yang berjalan mendekatinya dan tersipu malu ketika pemuda itu mengetahuinya. Dia menundukkan kepala sambil duduk di depan api unggun mengais-ngais beberapa potong kayu yang ujungnya membara.

"Ada apa?" tanya si pemuda pelan. Si gadis itu masih tetap menunduk tak menjawab. Buang Sengketa segera bangkit mendekatinya dan duduk di sebelah gadis itu sambil mengangsurkan kedua telapak tangannya di atas api unggun. Kemudian menggosokgosokkannya. 

7

"Malam ini terasa dingin, ya?" lanjut si pemuda itu mencari-cari bahan omongan. Gadis itu melirik sekilas padanya sambil tersenyum. Murid si Bangkotan Koreng Seribu itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas senyumnya.

"Kenapa tidak tidur?"

"Karena tidak mengantuk," sahut si pemuda bercanda.

"Engkau tentu sangat lelah sekali, ya?" Gadis itu tak menggubris.

"Tidak! Aku telah terbiasa hidup seperti ini "

"Engkau tidak merasa kesepian ?"

"Kadang-kadang."

"Saat ini aku merasa hidup sendiri tanpa sanak saudara. Keluargaku dibantai dengan keji oleh orangorang Persekutuan Iblis Hitam, begitu pun dengan guru serta saudara-saudara seperguruanku. Masih untung saat itu aku tak berada di tempat, kalau tidak, entah apa yang terjadi denganku." Si gadis menghela nafas pendek untuk beberapa saat sebelum melanjutkan ucapannya. "Menghadapi anak buah Singalodra saja aku sudah merasa kerepotan, apalagi coba-coba untuk membalas dendam dengan iblis keparat itu. Rasanya sampai kiamat pun aku tak akan mampu "

"Engkau tak boleh berkata begitu. Di atas langit masih ada langit, begitu pun dengan ilmu silat. Biar Singalodra malang melintang tak terkalahkan selama ini, belum tentu tak ada orang yang bisa mengalahkannya."

"Oh, engkau mau membalaskan sakit hati ku padanya?" seru si gadis girang. Wajahnya penuh harap menatap si pemuda berkuncir itu. Tanpa sadar jarijarinya mencekal lengan si pemuda. Dia baru tersadar ketika Buang Sengketa merasa rikuh dan serba salah.

"Oh... ng... maaf," katanya melanjutkan sambil membuang muka setelah tersipu-sipu tadi. "Tunangan mu pasti akan cemburu jika melihat hal ini."

"Aku tak punya tunangan siapa-siapa "

"Orang seperti engkau pasti suka berbohong.

Mana mungkin engkau tak punya tunangan "

"Betul! Mana ada orang yang mau pada gembel sepertiku ini."

Gadis itu palingkan wajah sambil memperhatikan wajah Buang Sengketa untuk beberapa saat. Diperhatikan sedemikian rupa, murid si Bangkotan Koreng Seribu itu jadi salah tingkah sendiri.

"Ada yang aneh pada mukaku?"

Si gadis malah tersenyum kecil. "Aku melihat rona kejujuran di wajahmu, dan... aku aku suka sekali pada laki-laki yang jujur," kata si gadis melanjutkan dan kembali palingkan wajah sambil tersipu-sipu setelah berkata begitu. "Tapi... melihat keadaanku seperti ini, tentu aku tak punya harga sama sekali di hadapanmu "

Buang Sengketa mengerti apa yang dirasakan gadis itu. Meski dengan jari-jari yang gemetaran, dia paksakan diri untuk mencekal pergelangan gadis itu sambil berkata pelan. Suaranya pun terdengar gamang.

"Aku... aku bahkan yang merasa tak berharga "

Si gadis kembali menoleh, dan meremas jemari pemuda itu. Wajahnya lekat menatapnya. Ada nuansa haru yang tersirat lewat tatapannya, dan membuat murid si Bangkotan Koreng Seribu itu menjadi rikuh.

"Buang.... eh, boleh aku memanggilmu begitu?" Setelah si pemuda mengangguk pelan, dia kembali meneruskan kata-katanya. "Aku aku tak pernah me-

rasa suka pada laki-laki lain seperti aku suka padamu...." Dia tak meneruskan kata-katanya untuk beberapa saat, melainkan menatap si pemuda lekat-lekat seakan mencari sesuatu di wajah pemuda tampan itu. "Ng... apakah engkau pun suka padaku ?"

"Ya, aku suka sekali padamu " sahut si pemuda

masih dengan suara yang bergetar. Tiba-tiba dia merasa kelabakan ketika dengan tiba-tiba si gadis memeluk tubuhnya erat-erat dan memberi ciuman di bibirnya. Pemuda itu jadi salah tingkah untuk beberapa saat dan tak tahu harus berbuat apa. Dia baru tersadar ketika gadis itu mengejeknya pelan.

"Kini aku percaya bahwa engkau belum pernah kenal perempuan   " katanya sambil tersenyum penuh

arti. "Mulanya kupikir engkau pasti seorang laki-laki mata keranjang yang selalu punya kekasih di manamana, ternyata dugaanku salah. Dalam ilmu silat engkau boleh merasa hebat, tapi menghadapi perempuan engkau tolol sekali!" Gadis itu tertawa ngikik pelan. Seolah-olah takut suaranya terdengar oleh Jaka Sumbawa yang sedang terlelap tak jauh dari mereka.

"Aku memang tolol, tapi bukan berarti aku tak bisa berdekatan dengan seorang perempuan. Kalau engkau ingin bukti, ini!" kata Buang Sengketa cepat menarik lengan gadis itu hingga wajahnya persis berhadap-hadapan. Kemudian dengan tiba-tiba mencium gadis itu, lamaaaaaa sekali! Seolah-olah keheningan malam larut bersama mereka dan api unggun yang jadi saksi atas kemesraan itu.

"Uh, nakal!" jerit si gadis pelan begitu lepas dari cengkeraman si pemuda. Dia bersungut-sungut sendiri, namun tersenyum ketika melihat si pemuda cengengesan. Lalu dengan suara pelan, dia berkata:

"Engkau tentu akan segera meninggalkanku begitu selesai dengan tugas ini, bukan?"

"Tidak. Aku akan mengajakmu serta ke mana saja aku pergi."

"Sungguh?!"

Si pemuda mengangguk pasti. Gadis itu baru saja akan melampiaskan kegembiraan-nya dengan memeluk pemuda itu, namun reflek telinganya yang tajam mendengar sesuatu. Buang Sengketa pun merasakan hal itu. Dengan cepat dia berguling ke arah Jaka Sumbawa untuk membangunkannya. Tapi hal itu ternyata tak perlu, sebab pemuda itu telah mengetahui ancaman yang akan segera datang.

"Uap racun! Tutup jalan nafas kalian!" perintah Buang Sengketa ketika naluri hewannya merasakan sesuatu yang selama ini begitu akrab dengannya, bahkan melindunginya dari hal yang sejenis.

Kedua orang itu segera mengerjakan apa yang disuruh oleh pemuda berkuncir itu. Tiba-tiba mereka melihat selarik gelombang Ultra Violet yang dilancarkan pemuda itu ke segala arah. Malam yang dingin dipecahkan oleh suara menggelegar pohon-pohon yang tumbang dihantam sinar itu. Barangkali mereka tak tahu di mana posisi lawan saat ini. Gelapnya malam dan banyaknya pepohonan di sekitar situ membantu pihak lawan untuk bersembunyi dari penglihatan mereka.

Jaka Sumbawa segera bertindak dengan cepat mematikan api unggun agar mereka tak menjadi sasaran empuk lawan. Tapi begitu dia selesai memadamkan api, tiba-tiba terdengar jerit tertahan beberapa orang yang disusul jatuhnya orang-orang berjubah hitam dari pepohonan. Tapi kekagetan itu hanya berlangsung beberapa saat, karena sedetik kemudian, terdengar teriak berkepanjangan dari segala pen-juru mengepung tempat itu dan langsung menyerang mereka. Mau tak mau ketiganya terpaksa mengadakan perlawanan dalam keadaan gelap begitu rupa.

Dari beberapa orang yang dirontokkan si pemuda berambut dikuncir itu tahulah mereka bahwa penyerang-penyerang ini adalah anggota Persekutuan Iblis Hitam. Itulah yang menyebabkan mereka tak lagi sungkan-sungkan untuk mengeluarkan senjatanya dan langsung membabat ke segala arah. Beda dengan Buang Sengketa. Buatnya mengeluarkan senjata itu adalah dalam posisi yang sangat terjepit sekali. Dia tak akan sembarangan mengeluarkan dua senjata pusakanya.

Dalam pada itu si gadis yang bernama Puji Lestari dan Jaka Sumbawa dibuat ka-get. Pikiran mereka pastilah anggota-anggota Persekutuan Iblis Hitam ini adalah anggota biasa yang kebetulan menemukan mereka sedang bermalam di hutan ini. Jadi dengan satu sabetan dan hunuskan senjata, mereka dengan gampang akan dibinasakan. Tapi dugaan itu keliru. Lawan yang mereka hadapi ternyata punya kepandaian yang tak jauh di bawah mereka. Bahkan beberapa orang berada di atas ilmu silat mereka. Melihat keadaan itu, betapa mereka jadi bingung. Belum lagi ditambah dengan sua-sana yang gelap gulita. Jelas mereka lebih banyak mengandalkan pendengarannya ketimbang penglihatan semata.

Puluhan jurus telah berlangsung. Nam-pak si pemuda berkuncir itu agak kerepotan ketika lima orang berkepandaian tinggi mengepungnya dari segenap penjuru. Kalaupun di antara mereka ada yang pernah dikenalnya, paling-paling si Iblis Ular Hijau. Tapi keempat orang lagi bukanlah orang sembarangan. Satu orang yang bersenjata sebuah lingkaran baja yang ujung-ujungnya terdapat jarum-jarum sebesar kelingking, dikenai sebagai si Gelang-gelang Terbang. Dia adalah salah seorang pentolan tokoh golongan hitam. Kemudian tiga orang laki-laki berkepala botak dengan senjata gada berduri di tangannya lebih dikenai sebagai Setan Lembah Neraka.

Sambil kertakkan rahang menahan geram, tubuhnya berkelebat ke sana sini dengan menggunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra, menghindari kejaran sepasang gelang berduri milik si Gelang-gelang Terbang yang seolah bermata mengejarnya ke mana saja menghindar.

Sekali-sekali dia juga lancarkan pukulan Empat Anasir Kehidupan ke arah mereka. Dan selarik gelombang Ultra Violet segera menghajar kelima orang-orang itu. Tapi mereka bukanlah orang sembarangan. Nama kelima tokoh itu telah dikenal sebagai tokoh golongan sesat yang selain ganas dan telengas terhadap musuhmusuhnya, mereka juga berkepandaian cukup tinggi. Buang Sengketa juga merasakan hal itu. Lebih-lebih mereka kini berlima mengeroyoknya dengan menggunakan jurus jurus yang mematikan. Sebentar saja terlihat bahwa dia terdesak cukup hebat. Bahkan dalam suatu kesempatan, bahunya kena keserempet gelang berduri itu setelah menghantamnya.

"Bocah! Kematianmu telah berada di ambang pintu!" ejek si Gelang-gelang Terbang. "Sebentar lagi tentu engkau akan menyusul ibumu, dan mengadu padanya di akhirat!"

"Ah, ternyata aku salah duga." sambung si Iblis Ular Hijau. "Kukira engkau ada sangkut pautnya dengan si Bangkotan Koreng Seribu, ternyata cuma seekor tikus yang tak patut hidup lebih lama. Seekor tikus yang hendak mengaum pada sekumpulan harimau lapar!" Orangtua dengan wajah berlipat-lipat itu tertawa ngakak.

Mendengar ejekan itu, bukan main marahnya si pemuda dari Negeri Bunian itu. Dia segera berdiri tegak dan kembali mainkan satu jurus ampuhnya yaitu si Jadah Terbuang untuk menghadapi mereka. Sekalisekali dari telapak tangannya keluar selarik gelombang pukulan berwarna merah menyala. Itulah pukulan Si Hina Kelana Merana yang sangat dahsyat. Jangankan tubuh manusia yang terkena, seekor banteng liar yang sangat tangguh dan kuat pun akan hangus terbakar bila terkena pukulan itu. Tapi si pemuda tak cukup berhenti sampai di situ. Begitu lawan mulai terkocar kacir menghindari serangan dan jurus-jurusnya, dia mulai menghantam mereka dengan salah satu jurus ampuhnya yaitu si Gila Mengamuk.

"Buk....! Buk...! Buk...! Buk...!"

Setan Lembah Neraka beserta si Gelang-gelang Terbang segera terjengkang sambil keluarkan darah segar dari mulutnya yang terkena hantaman si pemuda. Sedangkan si Iblis Ular Hijau masih beruntung bisa menghindar sambil ayunkan tongkat ularnya menusuk ke jantung Buang Sengketa. Terpaksa pemuda itu menarik kepalan tangannya dan jumpalitan menghindari sambaran ujung tongkat yang berbalik menyambar-nyambarnya. Dalam keadaan seperti itu, dia pentangkan tangan, dan selarik gelombang merah menyala segera melesat ke arah Iblis Ular Hijau. Orangtua itu segera memapagnya dengan suatu pukulan jarak jauhnya.

"Blaaar...!"

Suatu benturan dahsyat terjadi antara sinar merah menyala yang keluar dari tangan si pemuda, dengan pukulan Ular Hijau berwarna hijau keputihputihan yang dikeluarkan si Iblis Ular Hijau. Pemuda itu mental satu tombak, namun cepat kembali tegak di atas kakinya sambil mengatur jalan nafasnya yang terkacau akibat benturan itu. Dari mulutnya keluar darah segar.

8

Keadaan si Iblis Ular Hijau ternyata lebih parah lagi. Setelah berguling-guling beberapa tombak, dari mulutnya muntah darah yang berwarna merah kehitam-hitaman. Dia segera bersila untuk atur jalan nafas ketika Buang Sengketa telah bersiap lancarkan satu pukulan kembali. Masih untung nyawanya bisa terselamatkan saat si Gelang-gelang Terbang dan Setan Lembah Neraka memapak serangan si pemuda. Pemuda itu kembali terpental beberapa tombak. Dadanya terasa sesak, dan seluruh peredaran darahnya terasa kacau. Darah meleleh dari bibir serta kedua lobang hidungnya. Agaknya gabungan tenaga dalam si Gelanggelang Terbang beserta tiga orang botak yang tergabung dalam Setan Lembah Neraka sangat dahsyat. Bukan saja si pemuda tak sempat untuk bangkit, untuk bergerak pun rasanya sudah kepayahan. Untuk beberapa saat pikirannya ngawang entah ke mana sampai dia mendengar sesuatu yang sangat dikenalnya.

"Tidak! Tidaaaaaak...!"

"Sudah cepat bawa!" teriak seseorang. "Dia masih melawan!" sahut yang lain. "Totok saja! Cepaaaaaaat! Goblok!" "Ya, ya "

Lalu beberapa saat kemudian sepi, tapi dia sadar. Ada sesuatu yang tak beres dengan gadis itu. Berpikir sampai di situ Buang Sengketa menyadari bahaya yang sedang mengancam. Bukan saja untuk dirinya, tapi juga untuk kedua orang kawannya. Perlahan-lahan tangannya bergerak mencabut pusaka Golok Buntung di pinggangnya. Begitu senjata itu tergenggam di tangannya, terasa aliran darahnya perlahan-lahan kembali normal, dan dadanya pun terasa lapang meski rasa nyeri masih terasa. Perlahan-lahan dia bangkit dan bersila untuk menghimpun tenaga murni. Ketika pandangannya mengarah pada lawan, terlihat kelima orang itu pun telah bersiap-siap akan menempurnya. Tapi mereka seakan terperanjat kaget dengan senjata yang dikeluarkan si pemuda. Terasa hawa dingin yang menusuk hingga ke sum-sum tulang. Belum lagi sinar merah menyala yang menyelubungi senjata itu seakan mengandung hawa kematian yang dahsyat.

Kelima orang itu baru tersentak ketika si pemuda berkelebat dengan cepat sambil mengeluarkan suara mendesis-desis dari mulutnya seperti seekor ular yang sedang marah, dan senjata di tangannya pun mengeluarkan suara menakutkan bagai puluhan harimau terluka. Belum sempat mereka menduga-duga serangan lawan, suatu bayangan melintas dengan cepat ke arah pangkal leher.

"Cras...! Cras...! Cras...! Cras...! Trak...!"

Kepala si Gelang-gelang Terbang dan tiga orang Setan Lembah Neraka segera menggelinding. Iblis Ular Hijau dengan kepandaian dan geraknya yang cepat masih sempat menghindar dari serangan si pemuda dan menghantamkan tongkat ular di tangannya. Tapi benda itu terbabat kutung dihantam pusaka Golok Buntung di tangan si pemuda.

Iblis Ular Hijau tersentak kaget melihat senjatanya kutung menjadi dua bagian. Belum lagi habis rasa terkejutnya, selarik gelombang pukulan berwarna merah menyala yang dilepaskan si pemuda menghantamnya bertubi-tubi. Terpaksa si orangtua berwajah buruk itu jumpalitan menghindarkan diri. Namun saat itu juga melesatlah kilatan cahaya merah menyala menyambar pangkal lehernya, dan.....

"Cras !"

Iblis Ular Hijau tak sempat lagi berteriak ketika kepalanya menggelinding dari tubuhnya terbabat pusaka Golok Buntung di tangan Buang Sengketa. Pemuda itu palingkan mata ke sekeliling tempat. Tak ada siapa-siapa lagi di situ. Beberapa orang mayat berjubah hitam nampak tergeletak di situ, dan yang membuatnya merasa iba justru mayat si pemuda berpakaian putih itu pun ikut tergeletak di sana. Teringatlah dia akan cita-cita si pemuda yang akan membunuh Singalodra dengan kedua belah tangannya sendiri. Tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi jika menghadapi anak buah Persekutuan Iblis Hitam pun dia tak mampu bahkan harus menemui ajal. Perlahan dia berjongkok sambil pandangi wajah pemuda itu dan bergumam

"Sobat, biarlah nanti aku balaskan dendammu pada Singalodra. Mudah-mudahan aku mampu melenyapkan iblis sesat itu. Tenangkanlah dirimu di akhirat sana..."

Tiba-tiba matanya mencari sesuatu. Ke mana gadis itu? Apakah dia pun tewas? Mengingat itu Buang Sengketa segera mencari-cari ke sekeliling tempat itu, namun setelah berputar-putar beberapa kali, tak juga ditemukannya si gadis. Dia mulai mengingat-ingat kejadian tadi saat dirinya dalam keadaan kritis dan mendengar suara-suara yang membangkitkan semangatnya. Teringat itu dia sudah bisa menduga-duga bahwa gadis itu pasti telah dilarikan oleh beberapa orang anggota Persekutuan Iblis Hitam. Darahnya mulai mendidih dan menjalar hingga ke ubun-ubun ketika teringat bahwa Singalodra dan orang-orang sesat di Persekutuan Iblis Hitam adalah sekumpulan manusia-manusia cabul. Bagaimana dengan nasib Puji Lestari?

Buang Sengketa segera genjot tubuhnya dengan menggunakan ajian Sepi Angin.

Sebentar saja dia telah lenyap dari pandangan, dan tujuannya saat ini hanya satu tempat, Bukit Seribu!

Singalodra menyeringai buas melihat tubuh molek tak berdaya di tempat tidurnya. Matanya hendak melotot ke luar ketika satu persatu tangannya melucuti pakaian gadis itu dan melihat keindahan tubuhnya.

"Bangsat cabul! Lepaskan aku...! Keparat! Akan kubunuh engkau! Lepaskan aku dari totokan ini biar kita bertempur hingga seribu jurus! Bangsat pengecut! Lepaskaaaaaan...!"

Tapi mana mau Singalodra melepaskan begitu saja buruan yang telah didapatnya dengan susah payah. "Jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja. Harga mu terlalu mahal, dan aku harus menebusnya dengan beberapa orang terbaikku yang binasa. Mana mungkin aku melepaskanmu," katanya tersenyum puas.

"Iblis pengecut! Singalodra, engkau tak akan lepas dari tanganku!" ancam si gadis. Mendengar itu Singalodra hanya tersenyum kecil sambil julurkan dua jarinya.

"Tuk!"

Sebentar saja si gadis tak mampu berteriak-teriak karena urat suaranya telah tertotok. Dia hanya bisa melotot garang ketika melihat Singalodra tersenyum buas sambil melepaskan pakaiannya satu persatu. Kemudian perlahan-lahan menggerayangi tubuhnya. Gadis itu tak mampu berbuat sesuatu untuk mempertahankan kehormatannya. Dari matanya hanya meleleh air mata hangat yang membasahi pipinya perlahanlahan. Dadanya penuh dengan dendam sedalam lautan pada orang di hadapannya itu. Tapi apalah dayanya saat ini. Jangankan untuk menempur ketua Persekutuan Iblis Hitam itu, untuk menggerakkan tubuhnya pun dia tak mampu.

"Percuma engkau berontak, Manis. Engkau tak akan mampu melepaskan diri dari totokanku. Aku masih memerlukanmu untuk beberapa hari lagi sebelum engkau ku-berikan pada anak buahku!" kata Singalodra sambil tertawa terbahak-bahak. "Paling tidak kalau engkau cukup punya tenaga dalam yang hebat engkau akan terlepas dari totokan itu dalam tempo yang cukup lama. Tapi saat itu pula engkau harus kembali melayaniku." Kembali Singalodra tertawa panjang hingga gemanya berputar-putar di ruangan itu. Gadis itu dapat merasakan telinganya sakit luar biasa mendengar tawa Singalodra yang diiringi tenaga dalam yang hebat. Matanya hanya mampu melotot parang ke arah orang itu.

"Percuma engkau marah-marah. Lebih baik engkau menurut saja apa yang kukatakan, tentu engkau tak akan menderita seperti ini. Tapi aku terpaksa berbuat begini karena tindakanmu juga. Kalau engkau mau bersikap baik, paling tidak aku akan melepaskanmu dari totokan."

Tapi mana mau gadis itu menurut begitu saja pada apa yang dikatakan Singalodra setelah barusan apa yang dilakukan manusia itu terhadapnya. Saat ini dalam benaknya hanya ada satu kata, yaitu membunuh manusia keparat itu dengan tangannya sendiri. Kembali matanya melotot garang pada manusia di hadapannya itu.

Singalodra melihat itu bukannya malah takut, tetapi kembali bangkit nafsu setannya. Apalagi sejak tadi dia membiarkan perempuan itu tergolek tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Berkali-kali matanya menatap nyalang pada bagian-bagian tertentu di tubuh gadis itu sembari menyeringai buas bagai hewan buas kelaparan melihat santapan di depannya. Dan ketika mata gadis itu melotot garang, dia tak dapat mengendalikan nafsu setannya. Dan untuk kedua kalinya terpaksa gadis itu melayani kebuasan ketua Persekutuan Iblis Hitam itu tanpa mampu memberi perlawanan sedikit pun. Dia hanya bisa mengeluarkan air mata dan menjerit-jerit pilu di relung hatinya.

Setelah puas melampiaskan nafsu setannya, Singalodra segera keluar dari kamarnya sambil tertawatawa puas.

Gadis itu masih terisak-isak pilu menyesali nasibnya yang buruk. Namun tak satu pun suaranya terdengar ke luar. Hanya air mata dan wajahnya yang kuyu mengisyaratkan penderitaan batinnya. Betapa buruk nasibnya. Sudahlah orangtuanya binasa di tangan iblis keparat itu, kemudian guru serta saudarasaudara seperguruannya yang juga tewas di tangan mereka, kemudian dia harus menanggung beban malu yang berkepanjangan di tangan iblis cabul itu. Teringat ke situ rasanya dia tak layak untuk hidup lebih lama lagi. Ah, Puji Lestari kembali mengeluh pendek di hatinya.

Tiba-tiba dia teringat pada Buang Sengketa. Oh, bagaimanakah nasib pemuda itu? Apakah dia bisa meloloskan diri dari keroyokan musuh-musuhnya yang berilmu tinggi itu? Seandainya saja dia bisa mengalahkan mereka, kemudian datang ke sini untuk membebaskannya, alangkah bahagia hatinya saat ini. Tapi... apakah aku masih punya muka berhadapan dengannya? Oh, tidak! Diriku saat ini sangat kotor berhadapan dengannya. Gadis itu kembali membatin sesali diri. Dia tentu tak mau menerima keadaanku seperti ini. Hina dan ternoda. Aku betul-betul tak pantas berhadapan dengannya. Jangan lagi berharap dia akan membalas perasaan sukanya yang besar di lubuk hati, mungkin untuk melihat keadaannya yang terhina seperti ini pun pemuda itu tak akan sudi. Dia kembali menyesali nasibnya.

Berpikir seperti itu timbullah nekad di hati gadis itu. Diam-diam dia merasa bahwa hidupnya tak berguna lagi saat ini. Tapi walaupun dia harus mati, hendaklah hal itu membawa kepuasan dalam jiwanya. Paling tidak ada sesuatu yang harus dibawanya serta ke akhirat. Dan untuk itu dia harus bebas terlebih dahulu dari pengaruh totokan ini, keluhnya pelan sambil bersiap-siap menghimpun segenap tenaga dalamnya untuk membebaskan diri dari totokan.

*** 9

Pemuda itu masih terus berlari dengan kecepatan penuh. Batinnya penuh sesak dengan bayangan keji Singalodra terhadap gadis itu. Bukan, bukan hanya itu. Tapi kalau Singalodra dibiarkan terus hidup, kejahatan akan terus merajalela. Dia merasa berkewajiban membasmi manusia seperti itu, dan merasa tanggung jawab itu berada di pundaknya. Siapa lagi yang akan diharapkan setelah Persekutuan Iblis Hitam membasmi satu persatu perguruan-perguruan dan tokoh-tokoh golongan putih yang menentangnya. Dan selama ini, tak seorang pun yang mampu menghentikan semua aksinya. Seolah-olah dunia mengakui keperkasaannya sebagai raja diraja dunia persilatan dan tak seorang pun yang mampu menandingi ilmu silatnya. Manusia itu akan menjadi besar kepala kalau hal ini terus dibiarkan.

Namun perjalanan Buang Sengketa menuju tempat kediaman Singalodra bukanlah hal yang gampang. Sebab selain medannya yang sulit, satu-satunya jalan menuju tempat itu dijaga ketat oleh barisan orangorang berjubah hitam secara berlapis-lapis. Singalodra ternyata bukan hanya ahli dalam ilmu silat, dia juga ahli dalam strategi pertahanan. Begitu Buang Sengketa tiba di kaki bukit, puluhan orang telah mengurung tempat itu.

"Biarkan aku berlalu dan bertemu dengan Singalodra keparat itu!" bentaknya sengit pada orang-orang yang berada di situ. "Aku tak mau ada lagi pertumpahan darah yang lebih banyak!"

Tapi bukan mereka takut mendengar ancaman itu, sebaliknya malah tersenyum sinis. Sebagian malah ada yang terbahak-bahak. "Bocah! Engkau telah berada di kawasan Persekutuan Iblis Hitam dan tak ada seorang pun yang bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini. Kalau pun engkau baru mengetahuinya saat ini, itu sudah terlambat. Setiap orang yang datang ke sini harus mati!" sahut salah seorang dengan wajah bengis.

"Sialan! Aku tak perduli dengan sekumpulan manusia-manusia bejad seperti kalian!" bentak Buang Sengketa mulai kesal. "Cepat kalian panggil Singalodra ke sini dan suruh potong lehernya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya. Lalu setelah itu kalian boleh mengikuti jejaknya, atau kalau beruntung, kalian bisa mendapat ampunanku dan kembali ke jalan yang benar."

"Hak... hak... hak...!"

Seketika tempat itu penuh dengan gelak tawa. Buat mereka hal itu sangat menggelikan. Selama ini Persekutuan Iblis Hitam adalah sebuah nama yang paling ditakuti oleh siapa pun dalam kalangan dunia persilatan. Dan tiba-tiba saat ini ada seorang pemuda dengan baju gembel serta dandanan aneh berkaokkaok menantang ketua mereka Singalodra. Tentulah orang ini tak waras, pikir mereka.

"Bocah! Lebih baik engkau cepat-cepat minggat dari sini. Kami akan mengampuni nyawamu yang tak berguna itu. Cepat! Sebelum kami merubah pendirian! Jarang ada kami membiarkan orang lewat dengan nyawa masih melekat di tubuhnya. Karena engkau orang tak waras, nah, pergilah cepat!" kata orang tadi.

"Bangsat!" maki pendekar dari Negeri Bunian itu dengan emosi yang meluap. Sungguh kurang ajar betul orang-orang ini, pikirnya. Mengingat itu, dia merasa tak ada gunanya lagi debat omong dengan mereka. Maka sambil pentangkan sebelah lengan, keluarlah selarik gelombang berwarna Ultra Violet yang menghantam ke segala penjuru. Sebentar saja pukulan Empat Anasir Kehidupan pemuda itu mendapatkan korban. Beberapa orang yang lengah dan betul-betul menganggap si pemuda sebagai orang tak waras, tentu saja tak menyangka hal demikian. Mereka segera memekik panjang sambil menggelepar-gelepar kesakitan. Sebentar saja terlihat beberapa orang yang tewas di tempat itu.

"Kurang ajar!" maki orang-orang itu setelah hilang dari keterkejutannya. Mereka segera mengurung si pemuda rapat-rapat, seolah tak ada celah untuk meloloskan diri sedikit saja bagi si pemuda itu melarikan diri dari tempat itu. Untuk Buang Sengketa hal itu memang kebetulan sekali. Tujuannya ke sini bukan untuk melarikan diri, justru ingin mendaki lereng bukit ini dan menemui Singalodra di sarangnya. Dikepung sedemikian rupa berarti lebih mempercepat kematian buat orang-orang itu. Pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dilancarkannya berkali-kali telah meminta beberapa orang korban lagi bagi mereka.

Sebenarnya para penyerang itu bukan-lah orangorang yang berkepandaian rendah. Rata-rata mereka berasal dari perguruan-perguruan silat yang terkenal, lalu bergabung dengan Singalodra dalam Persekutuan Iblis Hitam. Yang membuat mereka kelihatan mudah dihantam si pemuda adalah karena mereka telah kepalang menganggap bahwa si pemuda adalah orang tak waras dan tentu saja hal itu tak membawa bahaya besar buat mereka. Dan kesalahan itu telah ditebus dengan banyaknya korban di antara mereka.

Namun setelah beberapa jurus di depan, nampak mereka mulai berhati-hati. Terlebih-lebih untuk menghindari gelombang pukulan yang dikeluarkan si pemuda. Namun meski mereka berhati-hati bagaimana pun, korban kembali berjatuhan. Hal itu tak aneh, sebab dalam kemarahannya si pemuda mengeluarkan jurusjurus andalannya secara berganti-ganti dan sulit ditebak oleh penyerang-penyerangnya itu. Sebentar dia berkelebat dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh kasat mata dengan mempergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra untuk menghindar dari serangan lawan-lawannya, kemudian dengan tiba-tiba menghantam lawan dengan jurus Si Jadah Terbuang. Lalu ketika lawan kembali mengepung, dia mainkan jurus Si Gila Mengamuk. Belum lagi pukulan Empat Anasir Kehidupan yang sekali-sekali menghantam dengan ganas ke arah lawan.

Maka tak heran ketika baru belasan jurus, lawan dibuat porak poranda, darah manusia mulai membanjiri tempat itu. Meski jumlah mereka kini tinggal beberapa orang saja, namun nampaknya mereka tak berniat untuk kabur, sebaliknya malah menyerang semakin ganas. Malah si pemuda sendiri yang akhirnya menarik nafas kesal dan serba salah.

"Lebih baik kalian biarkan aku ke puncak bukit dengan aman. Aku tak ingin menambah korban lebih banyak lagi, membuatku bertambah marah," kata pemuda itu menasehati. Tapi bukanlah wajah-wajah memelas dan ketakutan yang didapatinya, melainkan sikap-sikap yang rela mati untuk menjalankan tugasnya.

"Puih! Persekutuan Iblis Hitam pantang dihina begitu rupa!" sahut salah seorang, "Kami lebih baik mati daripada tak bisa menjalankan perintah Singalodra. Engkau tak akan bisa menghalang-halangi kami, Bocah! Langkahi dulu mayat-mayat kami, baru engkau bisa menemui ketua!"

"Bangsat! Kalian memang patut mendapat ganjaran yang setimpal atas perbuatan kalian!" bentak murid si Bangkotan Koreng Seribu sambil kertakkan rahang menahan geram. Tangannya kembali terpentang sambil mencelat ke arah mereka. Selarik gelombang berwarna Ultra Violet kembali menghantam orangorang itu. Bagusnya mereka telah bersiap-siap dengan serangan itu, hingga mampu menghindarinya. Namun pada saat itu justru serangan si pemuda cepat menghantam beberapa orang.

"Buk....! Buk...! Buk...!" Tiga orang kembali terjengkang dan langsung muntah darah dihantam pukulan si pemuda yang dialiri tenaga dalam tinggi.

Untuk sesaat mereka menggelepar-gelepar bagai ayam dipotong, kemudian muntah darah dan tak bangun-bangun lagi. Kini hanya tinggal dua orang lagi di hadapan pemuda itu. Namun tetap saja mereka tak merasa gentar sedikit pun. Dengan teriakan mengguntur keduanya langsung menyerang si pemuda. Tapi apalah artinya kedua orang itu menghadapi murid si Bangkotan Koreng Seribu. Sedang dalam jumlah mereka yang banyak saja bisa dibuat kocar kacir, apalagi saat ini.

Si pemuda segera menyambut mereka dengan setengah hati. Dia mencelat beberapa tombak ke depan, dan pentangkan tangan ke depan. Kali ini dengan sekali gaplok kedua orang itu pasti akan kojor. Maka ketika keduanya sabetkan senjata golok di tangan masing-masing ke arah tubuh si pemuda, pendekar dari Negeri Bunian itu cukup berkelit dengan mudah, dan sebelah tangannya melayang ke tengkuk mereka dengan menggunakan jurus Si Hina Mengusir Lalat.

"Plak...! Plak...!"

Keduanya segera menjerit setinggi langit ketika tangan si pemuda mendarat. Seolah-olah leher menjadi patah hingga mereka tak mampu menggerak-gerakkan kepala. Namun meski demikian, keduanya masih tetap penasaran. Sambil kesakitan memegangi kepala, sebelah lengan yang lain segera hantamkan golok ke leher si pemuda dengan gerakan yang sama. Si pemuda gelengkan kepala sambil mendecah kesal melihat kebandelan mereka. Dibiarkannya mereka merasa dengan mudah akan memenggal lehernya, namun setengah jengkal lagi senjata itu akan menyentuh pangkal lehernya, dia segera tundukkan kepala.

"Cras! Cras!"

Senjata makan tuan! Kedua kepala itu terpisah dari tubuhnya dan tak ada suara teriakan yang terdengar ketika senjata menghantam leher kawan.

"Hadiah yang setimpal atas kebandelan kalian, dan setimpal pula untuk kejahatan yang kalian lakukan selama ini," kata Buang Sengketa pelan sambil bersiap hendak lanjutkan perjalanan mendaki bukit.

Tapi baru saja dia palingkan wajah, telah berdiri empat orang bertubuh jangkung dengan bulu rambut dan kumis lebat berwarna putih menjela-jela hingga ke leher. Wajah mereka tidak kelihatan seram, namun bukan berarti bisa disebut tampan. Apalagi dengan senjata toya berwarna hitam yang sama dengan warna pakaian mereka. Mereka terlihat biasa saja. Kalaupun ada yang bisa disebut luar biasa adalah, keempat orangtua itu berwajah mirip satu sama lain.

Dalam dunia persilatan keempat tokoh ini dikenai sebagai Empat Setan Kembar. Barangkali mereka kelihatan biasa dan kurang garang, namun sesungguhnya mereka termasuk dalam jajaran pentolan datuk golongan hitam. Dan nama mereka tak bisa dikatakan di bawah si Iblis Merah Darah atau Iblis Ular Hijau. Tiap orang dari mereka saja berilmu sangat tinggi, apalagi bila mereka menempur lawan secara bersamaan. Bisa dibayangkan lawan tak mungkin luput dari serangan mereka.

"Kalau kalian tak ada sangkut paut dengan urusan ini, sebaiknya menyingkirlah dari hadapanku!" bentak Buang Sengketa kesal melihat tingkah mereka yang seperti orang bego. Dikatakan senyum, mereka tokh tidak sedang girang melihat pembantaian di depan matanya. Tapi bila disebut sinis atau amarah, tak terlihat emosi itu terpancar lewat raut wajahnya. Ekspresi mereka biasa dan wajar. Apalagi ketika mereka pada akhirnya sibuk berbicara satu sama lain dengan kawan-kawannya.

"Oh, jadi ini yang namanya menggetar-kan dunia persilatan akhir-akhir ini?" tanya salah seorang.

"Pendekar dari Barat yang punya gelar si Hina Kelana?" tanya yang lain seperti meyakinkan.

"Murid si Bangkotan Koreng Seribu?!"

"Wah, wah! Kebetulan sekali! Pucuk di cinta ulam tiba!" sambung yang lain. "Apa kalian tak hendak belajar kenal dengannya?"

"Oh, tentu! Tentu!" sahut yang pertama. "Akan kita apakan dia? Kita sate, dendeng, atau kita buat seluruh tubuhnya penuh luka hingga seperti gurunya yang penuh dengan koreng menjijikkan itu?!"

"Bagaimana kalau nanti saya minta kuncirnya untuk jimat penangkal maling?" ledek yang kedua.

"Saya kepengin periuk besarnya itu saja," timpal yang ketiga. "Maklum. Kalau sedang masak di rumah suka kerepotan men-cari periuk yang besar seperti punyanya itu."

"Aduh! Aduh! Coba lihat!" seru yang keempat. "Dia punya cambuk. Tapi mana kambingnya? Apakah bocah ini suka menggembalakan kambing punya orang?!"

Diperlakukan begitu, amarah Buang Sengketa seakan hendak tumpah. Dia kembali membentak dengan suara mengguntur. 10

"Orangtua celaka! Menyingkirlah lekas dari depanku. Kalau tidak, aku akan terpaksa pelintir kumiskumis kalian yang rusak seperti tikus got itu!"

"Ladalah! Celaka! Kiamat! Kiamat!" teriak mereka berempat sambil menutup kuping dengan jari telunjuk dan berputar-putar di tempatnya. "Suara apakah barusan itu?"

"Barangkali suara tikus kejepit?" sahut orang pertama.

"Atau barangkali suara periuk besarnya yang pecah?" kata orang kedua sambil meneliti dengan bola matanya ke periuk besar di punggung si pemuda.

"Bukan! Itu suara tangisnya minta susu pada emaknya?" tukas orang ketiga.

"Bukan!" timpal orang keempat. "Saya sendiri tidak tahu. Mungkin suara orang menjerit minta mati."

"Bangsat! Orangtua celaka tak mau mampus?" maki si pemuda kesal di permainkan begitu. Tak sedikit pun ucapan-ucapan itu dikeluarkan dengan nada amarah. Malah lebih tepat dengan mengejek dan mempermainkannya seperti anak kecil. Barangkali keempatnya adalah orang gila yang kesasar, pikir si pemuda. Mengingat itu dia segera tak mengacuhkan mereka dan mulai melangkah untuk melewatinya saja tanpa ambil pusing. Namun begitu dia mulai bergerak, keempat orang itu pun bergerak menghalangi jalannya pada jarak lima tombak dan masih dengan wajah bego yang tak perduli sama sekali dengan kehadiran si pemuda di situ.

"Orang tua! Menepilah segera! Aku masih ada urusan lain yang lebih penting daripada mengurusi orang-orang tak waras seperti kalian!" "Apakah engkau tak waras?" tanya orang pertama pada kawannya.

"Lucu! Tadi engkau yang mengatakan aku tak waras, sekarang malah aku yang mengatakan engkau tak waras," sahut orang kedua dengan ucapan ngawur tak karuan.

"Barangkali kita sekumpulan orang-orang tak waras?" menimpali orang ketiga.

"Ya, ya. Kita pasti orang-orang tak waras yang tidak gila!" sahut orang keempat tak kalah ngawur ucapannya.

Melihat keempat orang itu yang ternyata sengaja menghalangi jalannya, tampak kedua bibir pemuda itu terkatup rapat dengan rahang bergemeletukan menahan amarah. Dia segera pentangkan lengan dan selarik gelombang Ultra Violet segera menghajar keempat orangtua aneh itu. Dalam pikirannya, tentu mereka ini tokoh-tokoh dunia persilatan kalau bukan orang gila. Dan kalau itu terbukti, tentu mereka dengan gampang akan menghindari pukulan-nya itu. Atau kalau ternyata betul mereka orang gila betulan, dia tak mau ambil pusing melihat kematian orang-orang itu. Tapi kalau mereka orang-orang persilatan, tentu mereka berilmu tinggi. Bukankah orang-orang yang berilmu tinggi suka bertingkah yang aneh-aneh? Kalau benar, tentu dia akan mendapat halangan yang lebih berat ketimbang para penyerangnya tadi.

"Pras!"

Pukulan itu menghantam semak-semak di sekitar tempat itu, sebab dengan tubuh ringan, keempat orang itu seolah terbang menghindar dengan gerakan serempak. Toya di tangan mereka berputar-putar di atas kepala bagai kitiran. Kemudian kembali mendarat dengan empuk.

"Ah, kalau tak salah itulah yang disebut pukulan Empat Anasir Kehidupan," celoteh orang pertama.

"Dia masih punya satu pukulan handal. Kalau tak salah, Si Hina Kelana Merana!" timpal orang kedua.

"Wah, hebat betul kalian! Dari mana bisa tahu?" tanya orang ketiga.

"Makanya jadi orang jangan tidur terus!" sahut orang keempat. "Sekali-sekali buka mata dan telinga lebar-lebar agar bisa melihat perkembangan dunia luar."

Pendekar Hina Kelana bukan main geregetannya mendengar celoteh mereka. Dari mana mereka tahu pukulannya? Barangkali pun mereka mengetahui semua jurus-jurus yang dimilikinya. Dan kalau sampai hal itu terjadi, bisa jadi kali ini dia akan menghadapi lawan tangguh yang sulit untuk ditaklukkan. Berpikir begitu, Pendekar Hina Kelana tarik nafas dalam-dalam. Barangkali tak ada gunanya dia cari permusuhan dengan orang-orang ini, dan alangkah baiknya dia mencari persahabatan saja. Siapa tahu mereka adalah sahabatsahabat gurunya. Dia segera menjura hormat.

"Orang tua, maafkanlah atas kelancangan ucapan dan sikapku. Tapi sudilah engkau memberi jalan, sebab saat ini aku ada urusan penting yang harus diselesaikan selekasnya," kata Pendekar Hina Kelana.

"Hak... hak... hak...!" Keempat orang itu malah tertawa. Dan salah seorang berkata pada si Pendekar Hina Kelana dengan suara datar.

"Tak sangka! Tak sangka! Ternyata murid si Bangkotan Koreng Seribu masih punya peradatan segala. Sini! Biar kuterima segala hormatmu!"

Melihat gelagat yang kelihatan bersahabat itu, Buang Sengketa segera hampiri orang itu. Tapi kirakira tinggal dua tombak lagi jarak mereka, salah seorang segera mengayunkan toya ke kepala si pemuda. Tentu saja Buang Sengketa kaget setengah mati melihat itu. Dia menghindar dengan cepat, namun toya yang lain segera mengejarnya. Disusul dengan kedua orang yang menyusul secara beruntun hendak menghajar batok kepalanya. Si pemuda yang tak menyangka hal itu, menghindar sejadi-jadinya. Namun karena dirinya tak siap menghadapi serangan itu, tak urung pundaknya terkena hajaran toya salah seorang di antara mereka.

"Buk!"

Si pemuda merasakan sakit luar biasa akibat hantaman tadi. Belum lagi dia sempat atur nafas guna membuka jurus baru, keempat orangtua aneh itu kembali meluruk ke arahnya dengan kecepatan tinggi yang sulit diikuti kasat mata. Dia terpaksa bergulingguling menghindarkan diri, tapi periuk di punggungnya itu terasa menghalangi gerakannya. Terpaksa dia melompat-lompat bagai kodok. Tapi itu pun tak membantu. Keempat toya lawan siap menghancurkan batok kepalanya ketika dia terjerembab, saat kakinya terkait akar.

"Mampuslah engkau, Bocah!" bentak orang pertama.

"Walau kami tak bisa membalaskan den-dam kesumat pada gurumu, muridnya pun jadilah!" timpal orang kedua.

Rasanya jalan untuk meloloskan diri dari serangan itu sangat tipis sekali. Tak ada jalan lain, pikir Pendekar Hina Kelana. Dia segera keluarkan Pusaka Golok Buntung dari pinggang. Pada saat itu juga rasa sakit di pundaknya perlahan-lahan sirna, dan lawan merasakan hawa dingin luar biasa setelah si pemuda mengeluarkan golok yang berwarna merah menyala.

"Trak! Trak! Trak! Trak!"

Toya di tangan keempat orangtua itu terbelah masing-masing menjadi dua bagian. Namun ketika golok itu terus meluruk ke pangkal leher keempatnya, mereka ternyata telah mencelat ke belakang dengan gerakan ringan dan cepat. Luputlah mereka dari kematian.

"Hebat! Hebat!" puji orang pertama sambil tersenyum getir.

Pendekar Hina Kelana segera bangkit sambil acungkan goloknya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia terus mencelat ke arah mereka. Kelebatan pusaka Golok Buntung di tangannya mengeluarkan suara puluhan harimau terluka yang mengaum yang menggiris hati para lawannya. Agaknya kemarahan Buang Sengketa telah sampai pada batas-nya. Nyawanya hampir saja melayang oleh akal licik keempat orang itu. Tapi kali ini dia tak mau lagi tertipu. Mereka harus menanggung akibatnya.

Tapi keempat orang itu bukanlah orang sembarangan. Nama Empat Setan Kembar sangat dikenal dalam dunia persilatan mereka adalah orang-orang yang senang mengembara ke lain tempat dan membuat heboh dengan segala aksinya. Bisa jadi mereka cukup mengenal si Bangkotan Koreng Seribu dalam salah satu pengembaraannya dan kemudian terjadi bentrokan dengan tokoh kosen itu, lalu dapat dikalahkan. Karena merasa bahwa selama ini ilmu silatnya tak ada yang menandingi, mereka jadi penasaran dan berniat untuk balas dendam. Tapi siapa pun akan tahu, mereka yang berani menantang si Bangkotan Koreng Seribu adalah mereka yang punya kepandaian yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Meski toya di tangan telah kutung menjadi dua bagian, namun senjata itu tak kalah hebat di tangan mereka. Bagai dua pentungan yang siap menghancurkan batok kepala lawan. Begitulah keadaan yang dialami Pendekar Hina Kelana. Seakan empat pasang tangan-tangan baja selalu mengintai titik kelemahannya dan siap menghajar bila sedikit saja lengah. Bahkan keempat lawan seperti tak terpengaruh dengan hawa dingin yang keluar dari golok di tangan si pemuda.

Melihat keadaan begitu, amarah Pendekar Hina Kelana rasanya tak dapat dibendung lagi. Dengan Pusaka Golok Buntung di tangan kanan, dia pentangkan tangan kirinya dan sebentar saja pukulan si Hina Kelana Merana yang berwarna merah menyala telah menghantam keempat lawan. Masih bagus mereka bisa cepat menghindar karena telah menduga hal itu sebelumnya. Namun ketika Pendekar Hina Kelana mainkan jurus si Gila Mengamuk, barulah keempat lawannya mulai kerepotan.

Empat Setan Kembar mulai kewalahan menerima serangan itu. Satu saat mereka harus menghindari sabetan golok di tangan Pendekar Hina Kelana yang mengeluarkan hawa dingin yang membuat kaku otototot tubuh, dan di lain saat mereka harus pon-tang panting mengelak dari pukulan yang berwarna merah menyala. Belum lagi mereka menduga-duga ke mana gerakan si pemuda selanjutnya, tiba-tiba saja nyawa mereka hampir di ujung tanduk. Barangkali kalau orang biasa yang ilmu silatnya tak setinggi mereka, akan tewas sejak tadi menghadapi serangan beruntun yang dahsyat dan cepat itu. Untung saja yang dihadapi si pemuda kali ini adalah Empat Setan Kembar, salah satu nama datuk golongan sesat yang memiliki ilmu tak kepalang tinggi. Tapi meski begitu, tokh mereka tak bisa terus-terusan menghindar tanpa mampu membalas sedikit pun. Dan pada jurus yang ke empat puluh dua, dengan tiba-tiba.

"Cras! Cras!" Dua dari Empat Setan Kembar tak lagi sempat menjerit ketika kepala mereka terpisah dari tubuh dihantam Pusaka Golok Buntung karena mereka terpisah dari dua kawannya. Hal itu telah diketahui Pendekar Hina Kelana. Mereka selalu bergerak dengan arah yang sama, dan agak sulit untuk menghantam keempatnya sekaligus sebab yang satu segera akan melindungi yang lain ketika serangan akan menghantamnya. Satu-satunya jalan adalah dengan membuat gerakan mereka kacau balau. Untuk itulah dia menggebrak mereka dengan pukulan si Hina Kelana Merana, dan ketika dua orang terpisah dari gerakan yang semestinya saat itu pula golok di tangan Pendekar Hina Kelana menghantam mereka.

Kedua kawannya kaget melihat hal itu. Mereka tak menyangka bahwa pemuda itu mampu melakukan hal seperti itu. Dengan marah keduanya segera menyerang si pemuda secara bertubi-tubi. Tapi dalam kemarahannya itu ternyata keuntunganlah yang didapat si pemuda. Dia mulai melihat bahwa gerakan mereka mulai kacau dan tak terarah seperti tadi. Maka dengan mudah dia menghalaunya, kemudian balas menyerang. Sebelah tangannya menghantam pukulan si Hina Kelana Merana, dan sebelah lagi mengayunkan Pusaka Golok Buntung. 

"Blar...! Craas...!"

Keduanya terjengkang dan tewas seketika. Seorang terhantam pukulan, dan seorang lagi terbabat putus lehernya. Pendekar Hina Kelana tak perdulikan mereka lagi. Dia segera genjot tubuh ke atas bukit. Dan tiba di dataran yang agak luas dilihatnya suatu bangunan yang terbuat dari batu-batu kapur namun disusun secara rapi. Batinnya yakin bahwa di sinilah tempat bersarangnya Singalodra, ketua Persekutuan Iblis Hitam itu. "Singalodra! Keluarlah engkau!!" teriak Buang Sengketa dengan mengerahkan tenaga dalamnya yang tinggi. Bisa saja dia langsung masuk ke dalam, tapi siapa tahu lawan telah menyediakan jebakan. Bisabisa dia mati konyol tanpa bisa menempur manusia durjana itu.

Namun setelah ditunggu beberapa saat, tak kelihatan tanda-tanda jawaban dari dalam. Pemuda itu baru akan kembali berteriak ketika sesuatu berkelebat dari arah belakang. Reflek dia menoleh.

11

"Hak... hak... hak... hak...! Jadi engkaukah pendekar muda yang sangat ditakuti itu?! Hebat! Hebat! Pantas si Iblis Ular Hijau dan Empat Setan Kembar merasa jerih berhadapan denganmu, dan terpaksa menemui ajal di tangan bocah sepertimu!" ucap Singalodra yang telah berdiri pada jarak sepuluh tombak di belakangnya.

Buang Sengketa meneliti wajah ketua Persekutuan Iblis Hitam ini. Tidak jelek, malah tampan, katanya dalam hati. Tapi siapa nyana manusia seperti dia menyimpan iblis dalam hatinya.

"Jadi engkaukah yang bernama Singalodra?" tanya Pendekar Hina Kelana meyakinkan.

"Tidak salah, Bocah! Akulah Singalodra, raja di raja dalam dunia persilatan!" Kembali ketua Persekutuan Iblis Hitam itu tertawa terbahak-bahak. Buang Sengketa terkesiap. Telinganya tergetar dengan hebat. Dia cepat menyadari bahwa suara tawa Singalodra dialiri tenaga dalam yang sangat kuat dan menusuknusuk jantungnya. "Bangsat!" umpatnya dalam hati. "Sudah menyebutku bocah, seperti dia orang tua renta saja, kini hendak pamer kekuatan segala." Murid si Bangkotan Koreng Seribu itu cepat kerahkan tenaga dalam untuk melawan pengaruh tekanan lawan. Setelah dirasa tekanan lawan tak lagi mempengaruhinya, pemuda itu segera meningkahi dengan suara lengkingan nyaring dari ilmu Lengkingan Pemenggal Roh dengan pengerahan setengah bagian kekuatannya.

"Heiiiiggggkkhh...!"

Singalodra terperanjat. Tawanya seketika terhenti, dan ganti dia yang segera tutup kuping.

"Bocah kurang ajar! Engkau hendak pamer kebisaan di depan Singalodra?!"

Buang Sengketa hentikan suara lengkingan itu, dan nyengir sambil garuk-garuk rambut di kepalanya yang tak gatal.

"Orangtua sialan!" balasnya mengejek. "Aku bukan hendak pamer kebisaan di hadapanmu, tapi di belakangmu pun telah kulakukan. Apakah ada lagi yang hendak engkau keluarkan untuk menghadapiku? Atau jiwa pengecutmu telah kabur jauh-jauh?!"

Diejek demikian rupa, Singalodra ma-rah bukan main. Selama ini tak seorang-pun menyebutnya pengecut. Tapi pemuda gembel dengan rambut dikuncir dan periuk di punggungnya itu telah kurang ajar berkata demikian. Kalau dia tak miliki nyali macan, bisa jadi dia orang gila kesasar. Tapi tak mungkin kalau orang gila mampu membabat orang-orangnya hingga tuntas semua.

"Bocah! Selamanya Singalodra tak pernah dihina begitu rupa. Ada sangkut paut apa hingga dengan tibatiba engkau mengacak-acak tempat kediamanku ini?! Jawab! Kalau engkau tak beri jawaban yang memuaskan, jangan harap engkau bisa keluar dari tempat ini dengan nyawa masih me-lekat di tubuh!" Wajah Singalodra nampak merah padam menahan amarah. Tapi melihat itu Buang Sengketa malah ganda tertawa.

"Orangtua! Aku tak punya sangkutan serius padamu, tapi jelas engkau membuat aku mau tak mau harus terpaut dengan segala tingkahmu yang selama ini engkau lakukan," sahut Pendekar Hina Kelana tenang. "Jadi jelasnya, kedatanganku ke sini cuma ingin pinjam sebentar nyawamu untuk ku tukarkan dengan nyawa seekor anjing, engkau memang patut mendapatkannya."

"Bangsat...!!" Singalodra tak lagi bisa menahan amarah. "Bocah! Engkau harus terima akibatnya!" teriaknya sambil pentangkan kedua belah tangan membentuk paruh burung. Kemudian dengan cepat melesat ke arah si pemuda. Kedua belah tangannya menghantam ke sana sini dengan kecepatan yang sulit diikuti kasat mata. Ke mana lawan menghindar, secepat itu kedua tangannya susul menyusul menghajar. Itulah kehebatan jurus Rajawali Mencakar Bukit yang pernah dipelajarinya dari si Rajawali Bukit Seribu.

Untuk beberapa saat Pendekar Hina Kelana hanya menghindar untuk mengetahui sifat serangan lawan. Setelah mengetahui titik-titik kelemahannya, dia segera kebutkan lengan ke bagian-bagian tertentu di tubuh lawan sambil bergerak menghindari serangan. Jurus Si Hina Mengusir Lalat ini memang tidak berakibat yang terlalu parah untuk lawan, namun sebagai tandingan dari jurus lawan rasanya masih sepadan. Akibatnya bisa ditebak, bahwa dalam belasan jurus yang telah berlalu keadaan mereka masih seimbang. Namun memasuki jurus keduapuluh, Singalodra segera ubah serangan. Mula-mula dia menyerang Pendekar Hina Kelana dengan menggunakan jurus Rajawali Mengamuk dan membuat lawan kerepotan. Kemudian secepat kilat dia kembali merubah jurusnya dengan Meniup Badai Selatan. Suatu jurus ampuh yang dipelajarinya dari Malaikat Gunung Selatan.

Buang Sengketa agak kerepotan juga menghadapi serangan lawan yang berubah-ubah tak menentu. Kadang Singalodra hantamkan sebelah kaki, namun ternyata yang diutamakan adalah pukulan tangan. Begitu pun sebaliknya. Dan tak jarang kadang-kadang bertiup angin kencang ketika sebelah telapak tangannya terpentang ke depan. Lalu dengan cepat tubuhnya bagai bergulung-gulung mendekati pendekar dari Negeri Bunian itu.

"Splaaak...!"

Masih untung Buang Sengketa bisa dengan cepat memapak serangan lawan, kalau tidak tentu pukulan Singalodra yang di-iringi tenaga dalam tinggi itu akan menghantam dadanya. Namun tak urung tangannya terasa hendak lepas dari pergelangan. Begitu hebat dan tingginya tenaga dalam lawan, pikirnya dalam hati. Belum lagi dadanya yang terasa dilanda gempa bumi dahsyat terasa sakit dengan denyutan kencang. Dia merasa ada sesuatu yang menetes lewat pipi. Ketika ujung telunjuknya menyentuh, terlihat darah segar yang keluar dari sela-sela mulutnya.

Singalodra pun bukan tak merasakan hal itu. Dadanya seakan mau remuk di-iringi sakit yang luar biasa. Untung saja dia cepat menelan sebutir pel berwarna merah dari saku jubah, kalau tidak, mungkin dari mulutnya akan tersembur darah segar bagai air memancur. Untuk beberapa saat ia mengatur jalan nafas sambil duduk bersila setelah menyeka lelehan darah di pipi.

"Singalodra, kalau engkau mau kembali ke jalan yang lurus, kemudian sangkutan-nya denganku, engkau mau membebaskan gadis yang engkau culik, barangkali kita tak perlu meneruskan pertarungan ini," kata Buang Sengketa menyarankan sebuah usul. Tak biasanya Pendekar Hina Kelana berkata demikian. Bisa jadi ini karena pengaruh dari jurus-jurus Koreng Seribu yang membuatnya lebih sabar dalam menghadapi musuh-musuhnya. Apa salahnya menyudahi pertarungan bila lawan bisa dikalahkan dengan jalan menginsyafkannya lewat kata-kata?

Tapi Singalodra bukanlah jenis manusia seperti itu. Barangkali wajahnya bisa tampan dan lembut seperti wajah bayi tanpa dosa, namun hatinya tak seperti itu. Dia akan kokoh setegar batu karang yang tak mampu digoyahkan apa pun. Malah terkekeh-kekeh mendengar ocehan Pendekar Hina Kelana itu.

"Bocah! Apakah engkau takut untuk melanjutkan pertarungan ini?!" katanya mengejek. "Kalau engkau takut, sudah terlambat untuk melarikan diri. Aku tak akan pernah mengampuni musuh-musuhku hidup-hidup. Lagipula, apa yang tadi engkau minta? Ingin gadismu itu dikembalikan?" Singalodra ketawa pajang sambil bangkit dari duduknya. "Sungguh cantik dia. Tak menyesal aku telah kehilangan banyak anak buahku. Sungguh sepadan dengan kenikmatan yang diberikannya. Hak... hak... hak...!"

Mendengar itu, terkesiaplah wajah Buang Sengketa. Tubuhnya menggigil menahan amarah.

"Singalodra! Apa maksudmu?!" bentak-nya dengan garang.

"Apa maksudku? Sederhana, Bocah. Gadismu itu telah memberikan kenikmatan pa-daku secara cumacuma."

"Tidak mungkin!"

"Lho! Lho! Kenapa engkau malah ma-rah-marah tak karuan?! Mungkin dia tidak suka padamu!" ejek Singalodra lagi. "Bangsat cabul! Engkau pasti telah memperkosanya!"

Meledaklah tawa Singalodra kembali melihat si pemuda mencak-mencak menahan amarah. Namun dia kaget ketika dengan tiba-tiba lawan lancarkan satu pukulan. Selarik gelombang Ultra Violet segera menghajarnya. Untung Singalodra cepat berkelit sambil tertawa-tawa panjang. Terasa oleh Buang Sengketa bagai iblis yang sedang melampiaskan dan puas melihat korbannya celaka dan sengsara. Hatinya panas bukan main. Gejolak darahnya seolah, mendidih hingga ke ubun-ubun. Apalagi terbayang di benaknya gambar seorang gadis yang sedang meronta-ronta melawan cengkraman menjijikkan manusia di hadapannya ini. Barangkali dia tak akan bakal mengampuni manusia yang satu ini. Bahkan kematiannya pun tak akan setimpal dengan apa yang dilakukannya.

"Hei! Apakah engkau sedang main kembang api?!" ejek Singalodra masih dengan tawanya yang terkekeh-kekeh.

"Bangsat cabul! Tertawalah sepuasmu setelah di neraka nanti!" sahut Pendekar Hina Kelana. Singalodra terpaksa pontang panting menghindarkan diri ketika pukulan lawan terasa semakin gencar menghantamnya.

"Kurang ajar!" teriak Singalodra ketika selarik gelombang pukulan berwarna Ultra Violet yang dilepaskan Buang Sengketa hampir menyerempet batok kepalanya. Masih untung hanya ujung rambutnya yang terpapas sebagian hingga ikat kepalanya seketika itu juga lepas. Rambutnya yang panjang hingga ke punggung, kini tergerai-gerai ditiup angin. Ada bau sangit yang seketika menebar. Barangkali yang dirasanya hanya itu, tapi kejengkelannya terasa meluapluap. Dia yang merasa paling hebat dengan segala ilmu silatnya, ternyata masih bisa dihantam lawan meski hanya terserempet. Sambil kertakkan geraham tanda emosinya mulai bangkit, tangannya terpentang. Sesaat kemudian sebuah pukulan yang bergelombang warna merah bagai darah menghantam Pendekar Hina Kelana.

Buang Sengketa saat melihat angin yang menderu-deru dengan hebatnya mengiringi gelombang pukulan, tak mau setengah-setengah memapagnya. Dia segera keluarkan pukulan Si Hina Kelana Merana.

"Blaaam...!"

Kedua pukulan itu beradu. Bumi terasa bergoncang, dan suara yang memekakkan telinga terasa menusuk-nusuk telinga mereka akibat dari pukulan itu. Keduanya sama-sama terpental beberapa tombak sambil muntahkan darah segar. Tapi pada saat itu Singalodra cepat bangkit sambil keluarkan pedang yang sejak tadi berada di punggungnya setelah menelan sebutir pel warna merah.

"Srang!"

Pedang Iblis di tangan Singalodra yang berwarna hitam berkilat-kilat, menebar bau busuk yang menusuk penciuman di sekitar tempat itu. Seolah-olah mencekik segala makhluk yang berada di dekatnya dan menghisap darah yang berada di tubuhnya.

Buang Sengketa terkejut untuk beberapa saat ketika merasakan hawa yang dikeluarkan pedang lawan. Dengan cepat dia keluarkan Pusaka Golok Buntung, dan seketika itu juga selarik sinar merah menyala yang dibarengi hawa dingin yang menyengat hingga ke tulang sum-sum menghantam bau busuk yang dikeluarkan pedang Singalodra. Badannya terasa segar, meski sakit yang dirasanya masih belum sembuh betul. Dengan satu teriakan dahsyat dia bangkit untuk memapak serangan lawan. Suaranya bagai puluhan harimau terluka yang mengaum seakan memberi satu dorongan semangat yang hebat padanya.

"Trang...!"

Pendekar Hina Kelana terkejut melihat benturan senjata itu. Bukan oleh bunga api yang ditimbulkannya, tapi pada keampuhan pedang lawannya kali ini. Selama malang melintang di dunia persilatan, jarang dia menemukan senjata lawan yang mampu menghadapi Pusaka Golok Buntung. Rata-rata senjata lawan akan terbabat kutung, tapi pedang di tangan Singalodra betul-betul hebat. Bukan hanya tangannya yang terasa kesemutan, namun dia juga merasakan satu daya tolak yang ditimbulkan akibat benturan kedua senjata tadi yang seakan berasal dari senjata lawan. Apakah ini berarti dia akan ketemu batunya kali ini?

12

Akan halnya dengan Singalodra pun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan lawannya. Selama ini pedangnya akan membabat apa saja yang menahannya. Tapi menghadapi golok di tangan pemuda berkuncir itu, seakan tak ada apa-apanya. Bahkan dia berpikir, apakah pedang pusakanya ini telah hilang keampuhannya?

Sebenarnya masing-masing mereka tak menyadari akan apa yang terjadi. Kedua senjata itu bukan hilang keampuhannya, melainkan karena mereka bertemu dengan senjata lawan yang mempunyai keampuhan hampir sama. Seperti Pedang Iblis di tangan Singalodra yang punya daya hisap yang keji pada darah lawan yang dilukai. Padahal dalam jarak beberapa jengkal pun daya sedot itu masih terasa seakan menusuk-nusuk kulit lawan. Begitu juga halnya dengan Pusaka Golok Buntung di tangan Buang Sengketa. Meski tak sekeji senjata lawan, namun bila telah keluar dari sarungnya, dia akan bergerak mengejar lawan dan menghabisinya dengan segera. Di samping keampuhannya yang lain menyedot tenaga inti lawan. Itulah sebab, ketika kedua senjata itu bertemu, ada saling tolak menolak antara keduanya yang pada akhirnya menghantam pemiliknya sendiri.

Ketika mereka kembali melakukan hal yang sama, kejadian itu terulang. Hingga beberapa kali. Akhirnya sadarlah mereka bahwa dalam hal adu senjata tak akan banyak berguna. Selain menyiksa mereka sendiri akibat tenaga dalam yang menghantam diri sendiri, juga membuang-buang waktu secara percuma. Padahal masing-masing punya dendam yang harus dilampiaskan secepatnya.

Mengingat itu Singalodra segera ubah jurusjurusnya dengan ilmu silat warisan dari Iblis Merah Darah. Sebentar saja Buang Sengketa merasakan tekanan yang hebat dari gerakan lawan. Dia mencelat ke sana ke mari menghindari diri dengan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra. Tubuhnya seolah terbungkus oleh gerakan-gerakannya sendiri. Melihat lawan yang mampu menghindari jurus-jurus pembukanya, Singalodra segera tingkatkan jurus-jurusnya. Kedua tangannya membentuk cakar dan mengeluarkan asap secara perlahan-lahan. Kemudian berubah menjadi merah bagai bara. Lalu dengan satu teriakan panjang, dia mencelat ke arah si Pendekar Hina Kelana.

Buang Sengketa yang melihat lawan telah kembali menyarungkan pedang, dia pun ingin bersikap adil dengan menyelipkan kembali Pusaka Golok Buntungnya dan melayani lawan dengan jurus-jurus tangan kosong. Tapi alangkah kagetnya ketika tangan lawan yang berbentuk cakar itu menghantam sebongkah batu besar di belakangnya dengan melewati beberapa senti dari lehernya. Batu itu hancur berkeping-keping, dan lehernya sendiri seperti terbakar api. Terasa kering dan panas. Namun belum lagi sempat dia untuk meyakinkan bahwa tak terjadi sesuatu pada lehernya, sekonyong-konyong pukulan lawan kembali mengejarnya bertubi-tubi. Terpaksa dengan pontang-panting Buang Sengketa menghindarinya, namun jari-jari lawan yang berbentuk cakar itu, terus mengejarnya seakan tak memberi peluang untuk barang sekejap mengatur nafas bagi lawan.

Begitu hebatnya jurus Cakar Iblis Merah yang dikeluarkan Singalodra, membuat Pendekar Hina Kelana semakin terdesak tanpa bisa melakukan serangan balasan. Dan pada satu kesempatan.

"Buk!"

Buang Sengketa terjengkang sejauh beberapa tombak. Darah segar muncrat dari mulutnya akibat pukulan Singalodra yang menghantam dadanya. Bukan hanya remuk yang dirasakannya, tapi juga sakit luar biasa, membuat tubuhnya sulit untuk digerakkan. Kalau saja tadi tubuhnya tidak dilindungi dengan tenaga dalam penuh, bisa jadi akan hancur seperti batu yang dihantam ketua Persekutuan Iblis itu.

"Mampuslah engkau, Bocah!" teriak Singalodra sambil mencelat ke arah Pendekar Hina Kelana dan pentangkan kedua tangannya dengan jari-jari yang masih merah seperti bara. Buang Sengketa yang merasakan ancaman mematikan dari lawan, diam-diam bergidik juga hatinya. Perlahan-lahan dicabutnya Pusaka Golok Buntung dan sesaat kemudian terasa hawa hangat menjalar di seluruh tubuhnya menghilang-kan rasa sakit yang menusuk-nusuk dan me-lancarkan aliran darahnya yang tadi sempat kacau. Tepat pada saat kedua jari-jari Singalodra yang membentuk cakar itu hendak menghantam batok kepalanya, dia segera sabetkan Pusaka Golok Buntung itu.

Singalodra yang melihat lawan hendak sabetkan senjatanya secepat itu menarik mundur tangannya dan berjumpalitan beberapa kali di udara untuk menghindarkan diri dari sabetan-sabetan lawan berikutnya. Tapi kali ini Pendekar Hina Kelana tak mau dipecundangi untuk kedua kalinya. Dia segera mainkan jurus Si Jadah Terbuang untuk menghadapi aksi lawan. Dengan jurus itu dia bisa menghindarkan dan cepat mengirim pukulan balasan pada lawan. Hingga untuk beberapa saat, sulit ditebak, siapa yang lebih unggul dalam pertempuran itu.

Tapi Singalodra nampaknya tak lagi mau buangbuang waktu. Ketika dalam satu kesempatan, dia mencelat mundur dan hinggap di kedua kakinya dengan ringan. Se-belah tangannya segera merapat ke dada dengan jari-jari terbuka lurus. Sementara sebelah tangannya yang lain melintang di depan yang pertama tadi. Lalu dengan gerakan yang tak perduli pada lawan, tubuhnya segera bergeser perlahan-lahan membentuk putaran-putaran yang berjalan mendekati si pendekar dari Negeri Bunian itu. Lama kelamaan putaran-putaran itu semakin cepat dan akhirnya sulit diikuti oleh kasat mata, menghantam ke arah Buang Sengketa berada. Pemuda itu cepat menghindar dengan meloncat, namun putaran itu bagai angin puting beliung, terus mengikuti ke mana saja tubuhnya bergerak dan menghindar. Inilah salah satu jurus andalan Singalodra yang diberi nama Iblis Menggoda Iman. Kelihatannya remeh dan sepele, namun sesungguhnya bila lawan tersentuh oleh putaran tubuhnya, bukan hanya satu pukulan yang terkena namun dari kedua kaki dan tangan serta tubuh akan menghantam lawan secara bertubi-tubi. Lalu kesadisan yang lain dari jurus ini justru terletak pada hawa pukulan yang dilancarkannya. Dialiri tenaga dalam yang penuh dan kuat serta mematikan.

Buang Sengketa keluarkan jurus Si Gila Mengamuk untuk menghindarinya. Tubuhnya berkelebat ke sana sini menghindari sapuan lawan. Lalu sekali-sekali lontarkan pukulan si Hina Kelana Merana. Namun bagai bermata, tubuh Singalodra yang bergulung-gulung itu meliuk-liuk menghindari selarik gelombang berwarna merah menyala itu dengan lincahnya. Sampai beberapa kali Pendekar Hina Kelana melancarkan pukulan si Hina Kelana Merana, namun tak ada satu pun yang berhasil menyentuh lawan. Batu-batu serta pepohonan di tempat itu telah porak poranda dilanda pukulan-pukulan Buang Sengketa.

Singalodra yang melihat bahwa serangannya kali ini belum juga berhasil menghajar pemuda itu, segera merubah taktik. Dalam keadaan tubuhnya yang masih berputar, dia keluarkan pedangnya dan kerahkan tenaga dalam penuh pada sebelah lengannya yang lain. Tujuannya sudah jelas, akan menghantam Pendekar Hina Kelana dengan kekuatan penuh.

Murid si Bangkotan Koreng Seribu bukannya tak menyadari hal itu. Dia dapat merasakan hawa sambaran tubuh lawan yang masih berputar seperti gasing itu terasa kuat dan ganas. Tubuhnya terasa ditariktarik oleh sesuatu benda yang dipegang ketua Persekutuan Iblis Hitam itu.

Sadarlah dia bahwa lawan kali ini telah mengerahkan seluruh ilmu yang dimilikinya untuk segera membuatnya binasa. Dia pun dengan nekad telah berniat memapak serangan lawan sambil kembali mencabut Pusaka Golok Buntung dan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki. Kemudian dalam satu kesempatan.

"Blaaaaaaar...!"

Suatu benturan dahsyat terjadi. Bukit itu terasa bergoncang-goncang seperti dilanda gempa yang hebat. Istana Singalodra terlihat mulai retak-retak di sana sini diikuti oleh runtuhnya atap serta beberapa batu tembok bagian atas. Pepohonan yang berada dalam radius sepuluh tombak dari pertempuran itu pada bertumbangan. Kedua tubuh mereka terpental kira-kira sepuluh tombak sambil muntah darah berkali-kali. Dari hidung dan telinga keduanya mengalir darah segar. Ini adalah pertarungan tinggi yang sama-sama dialami oleh mereka. Keduanya cepat bersila mengatur jalan nafas dan peredaran darahnya. Barulah mereka sadari bahwa senjata yang tergenggam telah terpental entah ke mana. Yang paling merasakan parahnya adalah Pendekar Hina Kelana. Tanpa Pusaka Golok Buntung di tangannya, luka yang dideritanya akan semakin parah.

Sebaliknya setelah menelan beberapa pel warna merah Singalodra merasa tubuhnya agak lebih membaik meski belum bisa dikatakan sembuh total. Melihat lawan masih duduk bersila menandakan bahwa jalan darahnya masih kacau, dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sambil mencelat tinggi, dia keluarkan suara bersuitan yang panjang dan menusuk telinga. Siapa pun yang mendengar pasti akan berakibat buruk padanya. Batu-batu di sekitar tempat itu kembali hancur menjadi beberapa kepingan kecil, pohon-pohon terbelah bagai dicabik-cabik oleh suatu tangan yang tak terlihat, dan tanah tempat mereka berpijak tibatiba mulai retak satu persatu. Bisa dibayangkan bila ada manusia yang berada di tempat itu, bisa dipastikan binasa seketika.

Buang Sengketa menyadari bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya. Satu-satunya harapan saat ini yang mampu diandalkannya adalah mengeluarkan jurus-jurus Koreng Seribu. Namun tak mungkin dimainkannya sambil berdiri, sebab untuk menggerakkan tubuh saja terasa sakit luar biasa. Mau tak mau dia hanya bisa memainkannya sambil duduk bersila. Matanya mulai terpejam seiring pikirannya yang mulai berkonsentrasi menghalau suara yang dikeluarkan lawan. Pelan-pelan pengaruh itu mulai menghilang dari telinga dan seluruh permukaan tubuhnya. Bahkan kini telinganya menangkap suara-suara yang lebih aneh seperti teriakan-teriakan Singalodra menahan kesakitan.

"Lepaskan jahanam! Lepaskaaaaan...!

Aaaaaaaakh...!"

Teriakan melolong setinggi langit mengiringi tubuh Singalodra ambruk ke tanah dan tewas seketika. Setelah tak terdengar lagi suara-suara yang mencurigakan, barulah Pendekar Hina Kelana buka matanya dan memperhatikan ke sekeliling sambil bangkit dan berjalan tertatih-tatih. Pertama-tama yang dilihatnya adalah tubuh Singalodra yang pucat pasi seakan seluruh darahnya hilang entah ke mana. Buang Sengketa menghela nafas pendek sambil gelengkan kepala. Dia tak sangka keampuhan jurus-jurus Koreng Seribu sampai sedemikian hebat menyedot seluruh tenaga dalam lawan hingga dia tewas dengan tubuh lemas tak berdaya. Makin tinggi tenaga dalam yang dikeluarkan lawan, makin cepat tubuhnya yang sedang mengerahkan jurus-jurus Koreng Seribu menyedotnya. Lawan yang tak mengerti dan panik melihat keadaan itu, akan semakin marah dan terus mengerahkan tenaga dalamnya hingga semaksimal mungkin. Seperti halnya yang dilakukan oleh Singalodra tadi.

Kemudian Buang Sengketa memutar pan-dang ke sekeliling tempat. Batu-batu yang hancur, pohonpohon tumbang, dan terakhir istana Singalodra yang telah runtuh. Tiba-tiba matanya yang tajam menatap sosok tubuh berpakaian biru di depan istana Singalodra yang runtuh. Darahnya segera terkesiap. Dia segera menghampiri, dan melihat tubuh seorang wanita yang tewas dengan darah yang mengalir lewat seluruh tubuhnya. Dan pada jarak tiga jengkal dari tangannya yang menjulur, tergeletak Pusaka Golok Buntung yang terpental tadi. Tentu gadis itu tadi berusaha untuk menggapainya, pikir si pemuda. Tapi yang membuatnya lebih terperanjat adalah ketika mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.

"Puji Lestari...?" bisik Pendekar Hina Kelana pelan dan tertegun untuk beberapa saat lamanya. Ada sesuatu yang hilang dalam hatinya. Entah apa, namun sangat terasa menyesak. Pelan-pelan dia tundukkan kepala dalam larut penyesalan.

"Kalau saja aku lebih cepat datang, tentu nasibmu tak akan begini. Tapi kenapa engkau malah keluar mendekati? Seharusnya engkau tahu bahwa tenaga dalammu tak akan cukup untuk menyaksikan pertarungan kami dari jarak yang dekat. Kenapa engkau keluar juga?" ucap pendekar berambut kuncir itu berkata seorang diri bagai orang gila sambil menatap pada mayat gadis itu. Dia berusaha menggoncanggoncangkan tubuh si gadis sambil memanggil-manggil namanya berkali-kali.

Tiba-tiba pada saat demikian matanya tertumbuk pada tulisan yang tertera di tanah. Berwarna merah karena bercampur dengan darah.

Untuk Buang Sengketa, atau siapa pun namamu.

Aku sangat mencintaimu, tapi sekarang merasa sangat tak berharga sebab Singalodra keparat telah menodai ku berkali-kali. Barangkali kematianku akan lebih baik, tapi sebelum itu aku ingin agar kematianku bisa ber...

Tulisan itu terputus. Buang Sengketa menyadari, pasti gadis itu tak mampu meneruskan kalimatnya karena pengaruh ilmu yang dikeluarkan Singalodra tadi yang membuatnya tak berdaya. Dari sikap tangannya yang hendak meraih Pusaka Golok Buntungnya yang terpental di dekatnya, mengertilah Pendekar Hina Kelana bahwa gadis itu berniat meraihnya dan bermaksud menyerang Singalodra dengan senjata itu. Tapi sebelum dia mampu mendapatkannya, dia telah tewas tak berdaya.

Pendekar Hina Kelana tak mampu berkata sepatah pun melihat kenyataan itu. Hatinya luka dan ada satu yang terlepas. Mungkin dengan pengembaraanpengembaraan berikutnya dia akan bisa melupakan semua kenangan ini. Ada yang menyenangkan, namun juga ada yang menyakitkan. Barangkali itulah hidup!

TAMAT