Serial Pendekar Hina Kelana Eps 17 : Dendam Manusia Kelelawar

 
Eps 17 : Dendam Manusia Kelelawar


Setiap kemarahan para bawahan Senopati Karpa meluap hingga sampai puncaknya. Maka sebuah pedang panjang di tangan algojo yang mengkilat tajam itu terayun mengarah batang leher salah seorang dari sekian banyak pencuri yang sedang antri menunggu pengadilan terakhir. Kalau sudah demikian keadaannya, maka tak banyak yang dapat dilakukan oleh para pencuri itu terkecuali bersikap pasrah. Menyerahkan nasibnya pada Sang Hyang Widi.

Dalam pengadilan yang tiada memiliki dasar, terkecuali pelampiasan amarah dan kebencian tersebut, sebagian besar dari golongan pencuri, perampok dan sejenisnya itu kebanyakan mereka mengalami nasib tragis. Tewas di tangan algojo secara semena-mena.

Kenyataannya memang begitulah halnya yang terjadi di daerah Muara Panjang sejak beberapa tahun terakhir kerajaan kecil itu dipimpin oleh seorang senopati yang telah berhasil menggulingkan raja yang lama Jaya Suprana.

Tiga tahun kerajaan Muara Panjang dalam pimpinan Senopati Karpa, kehidupan rakyat semakin bertambah melarat dan sengsara. Kesengsaraan itu semakin menjadi-jadi manakala pajak hidup dan upeti dibebankan di pundak rakyat jelata. Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, belum lagi ditambah kemarau yang berkepanjangan menjadikan beberapa gelintir penduduk melakukan pencurian di rumah-rumah pejabat kerajaan korup yang memiliki harta kekayaan berlimpah ruah.

Malang sekali nasib mereka, karena sesungguhnya para penduduk desa itu bukanlah jenis manusia yang biasa melakukan pencurian. Mereka-mereka ini pada akhirnya tertangkap, dipenjarakan dengan perlakuan-perlakukan yang sangat keji sekali.

Begitu besarnya kesulitan hidup yang mereka alami, sampai-sampai mereka sudah tiada mengenal rasa takut atas hukuman-hukuman yang telah menimpa kawan-kawannya. Begitulah hukuman atas diri pencuri-pencuri itu berlangsung setiap satu purnama sekali.

Sebagaimana halnya yang terjadi pada siang itu di pinggiran sebuah jurang yang sangat dalam luar biasa. Demikianlah satu demi satu para pencuri itu diadili secara kejam oleh algojo-algojo Senopati Karpa. Sesuai dengan nama-nama urut masing-masing. Maka akhirnya tibalah giliran seorang pemuda berbadan gempal dengan rambut dan kulit tubuhnya yang hitam mengkilat.

"Sagara. !" panggil salah seorang Algojo yang

bertugas memanggil nama-nama terhukum satu persatu. Yang dipanggil acungkan tangan ke atas, kemudian dengan pandangan matanya yang tiada mengenal takut, dia maju selangkah demi selangkah. Berbeda dengan para terhukum terdahulu, kali ini beberapa orang algojo yang bertugas tidak langsung memancung pemuda itu, sebaliknya mereka memandangi Sagara dengan sesungging senyum sinis.

Kemudian salah seorang dari sekian algojo yang berada di pinggiran jurang itu pun tanpa sadar menyela

"Kau yang bernama Sagara...?" hardik seseorang yang berbadan gemuk bagai seekor ikan buntal sembari mengamangkan pedangnya yang telah berlumur darah yang sudah mengering. Tanpa menjawab sebaliknya Sagara meludahi muka si Algojo yang memiliki badan bagai raksasa tersebut. Tindakan yang sangat sembrono itu sudah barang tentu membuatnya marah bukan main. Lalu sambil menggeram dengan gerakan yang agak lamban, si algojo itu ayunkan tinjunya yang sebesar kelapa gading itu ke arah bagian perut Sagara. Tak ayal lagi tubuh Sagara tersentak ke belakang, kemudian terpelanting sambil merintihrintih dan memegangi perutnya yang terasa mules bagai diaduk-aduk.

Para algojo yang berada di sekitar tempat itu keluarkan suara tawa tergelak-gelak. Dengan tertatihtatih pemuda yang bernama Sagara itu berusaha bangkit kembali, pertama sekali usahanya untuk berdiri pada posisinya mengalami kegagalan. Tapi setelah bersusah payah dan mengerahkan segenap tenaganya. Maka tak begitu lama kemudian dia telah berdiri tegak dengan agak terhuyung-huyung.

Kedua bola matanya kelihatan memerah, sebuah kebencian begitu saja membuncah di dalam hatinya. Algojo yang tadi telah menyodoknya dengan satu pukulan keras, tampak keluarkan suara tawa mengekeh, selanjutnya algojo itu pun mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

"Sudra Blonteng kata, kau bukanlah seorang pencuri biasa. Kau telah berani memasuki ruangan rahasia milik Sudra Blonteng tangan kanan Senopati Karpa...!" bentaknya memandang sejurus pada Sagara. "Coba kau akui apa sebenarnya yang ingin kau cari dalam ruangan rahasia milik saudara Sudra Blonteng itu...!"

Laki-laki muda berbadan hitam tegap itu gelengkan kepalanya. Saat itu dia pun sudah berpikir bahwa melawan terhadap algojo kerajaan itu rasarasanya sudah tiada gunanya. Begitu pun dia masih punya satu tekad untuk menyelamatkan diri.

"Coba jawab dengan kata-kata! Kami tak mau dengar alasan yang macam-macam, salah saja kau memberi pengakuan, maka nasibmu akan lebih buruk lagi dari para pendahulu-pendahulumu...!" kata salah seorang algojo lainnya dengan nada penuh ancaman.

Tegang wajah Sagara mendengar ancaman itu, dia bukanlah orang yang takut akan kematian, bahkan keberadaan prajurit-prajurit Muara Panjang baginya bukanlah apa-apa. Tiada rasa takut dan sejenisnya bersarang di hatinya. Sebab sebagai ketua penggerak rakyat dia sudah memperhitungkan segala sesuatunya. Kalau pun malam itu dia menyusup di tempat kediaman Sudra Blonteng hal itu hanyalah karena didorong oleh rasa penasaran apakah rahasia yang dimilik oleh si perut gemuk muka cekung itu, hingga dia sangat kebal dengan berbagai senjata pusaka.

Malangnya belum lagi dia dapat bertindak lebih leluasa di rumah kediaman Sudra Blonteng beberapa orang penjaga sempat memergoki segala tindak tanduknya. Walaupun saat itu dia berusaha melakukan perlawanan sebanyak yang dia mampu. Namun para pengawal kerajaan itu rata-rata berkepandaian sangat tinggi. Dalam pertarungan menjelang dua puluh jurus dia sudah kena dibekuk, kemudian digebuki bagai seorang maling.

"Bocah ireng yang bernama Sagara... cepat kau jawab pertanyaan kami. Kalau tidak maka kematianmu akan bertambah cepat karena ulah mu...!" bentak si algojo pertama yang tadi sempat memberinya satu pukulan yang telak.

"Aku ini orang melarat! Kedatanganku di rumahnya Sudra Blonteng hanyalah ingin mengambil sedikit hartanya yang berlimpah ruah itu...!"

"Buuuk...!" Sekali lagi tinju algojo itu kembali bersarang di dada Sagara.

"Arrrgghk...!" Sagara memekik keras sembari memegangi dadanya yang terasa bagai remuk. Dan pada kenyataannya darah menggelogok dari mulut Sagara. Tubuhnya kembali terbanting menyebabkannya memaki panjang pendek.

"Manusia-manusia dajal. argh... kalian memang sebangsanya anjing-anjing geladak pembunuh yang sangat memuakkan...!" teriaknya setengah tersendat-sendat. Semakin bertambah mendidihlah darah si algojo yang bernama Wintang Kelelep itu. Serta merta dia angkat kakinya tinggi-tinggi dengan maksud ingin menginjak tubuh Sagara yang menelentang di bawahnya, namun kejadian itu tidak sampai berlangsung karena algojo-algojo yang lain sudah keburu mencegahnya.

"Jangan lakukan itu saudara Wintang! Hal itu menyalahi peraturan hukum dalam mengadili manusia yang satu ini...!" tukas rekannya sembari menarikkan tangan Wintang Kelelep dengan tangan kirinya. Wintang Kelelep nampaknya masih kurang puas dengan tindakan pencegahan yang telah dilakukan oleh kawannya.

Pada dasarnya sebagai seorang algojo dia memang orang yang cepat naik darah, maka wajar saja jika dalam bertindak dia lebih cenderung mengikuti hawa amarah.

"Kutu busuk ini bikin aku marah saja...! Kalau tidak sedang menjalankan perintah, sudah sejak tadi dia kuangkat ke jurang...!" Mengumpat Wintang Kelelep sambil meludahi wajah Sagara berulang kali. Sukur kalau bau ludahnya itu harum!

"Sudahlah mengalah sedikit tak ada salahnya, tokh nanti juga dia bakal menerima hukuman yang sangat menyakitkan...!" menyela salah seorang kawannya yang bernama Godam sedikit sabar dari orang pertama. Wintang Kelelep melangkah undur, sebaliknya Godam mendekati Sagara. Dengan suaranya yang besar namun serak dia pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan pada Sagara.

"Sagara... hemm, sebuah nama yang cukup mengagumkan...!" gumam laki-laki gemuk bertelanjang baju tersebut sembari memilin-milin kumisnya yang lebat dan panjang-panjang. "Bocah, katakan dengan jujur, apakah tujuanmu hingga kau begitu berani memasuki ruangan rahasia Junjungan Sudra Blonteng...?"

Mendapat perlakuan yang sedikit lunak, sudah barang tentu Sagara pun bersikap lunak pula. Namun tidak mengurangi ketegasannya.

"Selama kerajaan Muara Panjang diperintah oleh Senopati Karpa! Belum pernah kulihat sebuah kejujuran dalam tindak tanduknya. Yang ada hanyalah para pembesar tukang korup, pemeras rakyat. Dan menghambur-hambur harta milik seluruh penduduk negeri ini. Tidakkah kalian lihat kesengsaraan yang diderita oleh rakyat. Tidak kalian lihatkah rintihan para penduduk dan bocah-bocah kecil dalam kelaparan yang menakutkan...! Kini kalian ingin memintaku agar berkata jujur? Kalau kejujuran merupakan satusatunya milik manusia, pernah kalian berpikir bahwa sebuah kejujuran itu sangat mahal harga-nya...!" gumam Sagara seperti buat dirinya sendiri.

"Bangsat! Aku tak butuh khotbahmu... yang kuinginkan adalah jawabmu...!" maki Godam panik juga akhirnya.

"Tidak usah diadili, penggal saja kepalanya...!" celetuk Wintang Kelelep terasa panas kupingnya. Namun nampaknya laki-laki yang berbadan sama gemuknya dengan kembrat-kembratnya yang lain ini masih berusaha meredam luapan kemarahannya yang sudah hampir memuncak.

"Bukan jawaban seperti itu yang kuinginkan, kampret...!" maki Godam sembari pelototkan kedua matanya.

"Sudah kukatakan sejak dari semula, bahwa aku ini hanyalah seorang maling kecil. Kalau saat itu aku sampai kesasar ke dalam ruangan rahasia milik si setan itu. Hal ini dikarenakan sebagai seorang pencuri yang awam aku tak tahu arah yang tepat...!" kilah Sagara tenang.

"Keparat pendusta...! Jangan kira kami tak tahu apa yang menjadi tujuanmu sehingga kau telah begitu berani memasuki ruangan rahasia milik Yang Mulia Sudra Blonteng...!" teriak Godam merasa semakin gatal tangannya. Selanjutnya dia menoleh pada konco-konconya yang lain, hanya sebentar saja dia sudah kembali memandang pada Sagara.

"Kawan-kawan! Hukuman apa yang paling pantas untuk seorang pendusta seperti maling ireng ini...?" tanyanya seolah meminta persetujuan.

"Pancung saja lehernya! Beres dah...!" sahut Wintang Kelelep dan beberapa orang algojo lainnya. Godam geleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak, terlalu enak hukuman itu buat dia! Aku tahu dia sengaja datang ke ruangan rahasia di rumah Yang Mulia Sudra Blonteng hanyalah untuk mencari titik kelemahan dari ilmu kebal yang dimiliki oleh yang Mulia Sudra Blonteng...!"

"Benarkah itu...?" tanya Wintang Kelelep terlongong-longong bagai tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

"Tidak salah, karena dialah yang punyai niat untuk menggerakkan amarah rakyat dalam melakukan pemberontakkan...!" sahut Godam, saat kemudian sudah mencabut pedang panjang yang mengkilat-kilat. "Hukuman apa yang akan kita jatuhkan buat manusia yang coba-coba berani membangkang pada kerajaan...?" tanya Wintang Kelelep, seraya melirik pada Godam yang kini nampak mulai menimang-nimang pedangnya.

"Menurut titah raja, orang ini paling pantas dibuntungi kedua tangannya dan sebelah kakinya...!" Tegas sekali nada ucapan Godam sehingga membuat Sagara menjadi menggigil tubuhnya. Keputusan Godam itu disambut gelak tawa oleh algojo-algojo lainnya. "Manusia iblis! Lebih baik kalian bunuh

aku...!" teriak Sagara.

"Terlalu enak bagimu untuk mati dengan cara seperti itu, nah sekarang siapa di antara kalian yang ingin memulai pesta ini terlebih dahulu...?" tanya Godam, lalu melirik Wintang Kelelep. Selanjutnya algojo yang bernama Wintang Kelelep tersebut tanpa berkatakata lagi langsung mengayunkan pedangnya ke arah tangan dan kaki Sagara.

"Jrees! Jrees! Jrees...!"

Tiga kali berkelebat pedang di tangan Wintang Kelelep, maka dua tangan dan sebelah kaki Sagara terkutung dari badannya. Pemuda itu menjerit-jerit kesakitan namun, tak mampu menutuk jalan darahnya yang terus mengalirkan darah. Tidak sampai di situ saja tindakan mereka, dengan beramai-ramai mereka melemparkan tubuh Sagara yang tiada daya itu ke dalam jurang yang sangat dalam. Selanjutnya pula tanpa berkata-kata lagi mereka pun membantai malingmaling yang tersisa. Kejam sekali tindakan mereka ini, tiada kemanusiaan sedikit pun. Sampai akhirnya pekerjaan mereka pun usai, dengan masih tergelak-gelak mereka meninggalkan jurang pembantaian itu menuju ke arah kerajaan. 2

Ketika pemuda berkuncir dengan sebuah periuk penuh jelaga melintasi Desa Kedung Meranti. Pemandangan kanan kiri jalan yang dia lewati hanyalah rumah-rumah reot, rintih dan gelepar anak-anak kecil yang sedang menderita kelaparan. Tak jarang pada tempat-tempat tertentu pemuda berwajah sangat tampan itu mendapati beberapa sosok mayat yang sudah mengering, dan menebarkan bau yang sangat menusuk hidung. Sampai di persimpangan jalan di tengahtengah desa itu, berpuluh-puluh kaum pengemis yang terdiri dari kaum anak, ibu, dan para orang tua menadahkan tangannya bagai orang yang sedang antri untuk menerima jatah dari tuannya. Keadaan mereka memang sangat memelas. Wajah pucat layu, badan kurus kering hingga menampakkan tulang belulang yang bertonjolan.

Pemuda tampan yang sudah tak asing lagi bagi kita ini, nampak merogoh saku jubahnya yang berwarna merah dan kumal. Beberapa keping uang perak dia bagi-bagikan kepada pengemis yang jumlahnya tidak kurang dari tiga puluh orang tersebut. Tetapi begitu Buang Sengketa selesai membagi-bagikan uang perak tadi, mendadak dari sebuah warung kumuh, kelihatan puluhan berhamburan keluar memburu ke arah si pemuda.

"De... aden... kami belum mendapat jatah...! Kasihan den... sudah empat hari kami belum makan...!" rintih orang-orang itu secara serentak mereka menadahkan tangannya. Buang jadi kelabakan juga melihat para pengemis yang sebenarnya masih merupakan penduduk daerah itu juga dengan jumlah yang tiada sedikit. "Hei... apa-apaan nih... aku bukan juragan kalian! Aku cuma pengelana, mana aku ada uang...?"

"Ah... tuan hanya berpura-pura... masa tuan tidak merasa kasihan pada kami yang sedang dilanda kelaparan...!" kata para pengemis itu hampir bersamaan.

"Hemm. Keadaan bisa semakin runyam andai aku terus bertahan di sini? Ada baiknya kalau aku kabur saja...!" batin Pendekar Hina Kelana.

Selanjutnya tanpa menoleh-noleh lagi, pemuda itu menggenjot tubuhnya. Sekali dia berkelebat, maka lenyaplah tubuhnya dari pandangan para pengemis desa itu. Terheran-heran, para pengemis itu memandangi kepergian Buang Sengketa dengan tatapan mata hampa.

Karena dalam berlari-lari itu Pendekar Hina Kelana mengerahkan ilmu lari cepatnya, yaitu ajian Sepi Angin, maka dalam waktu sekejap saja dia telah berlari menjauh meninggalkan desa itu.

Namun beberapa saat kemudian dia telah menghentikan langkah begitu dari kejauhan sana dia melihat sebuah kereta kuda berjalan pelan mengarah pada jalan yang dilaluinya. Buang Sengketa menyipitkan kelopak matanya untuk melihat lebih jelas siapa adanya rombongan tersebut. Tetapi karena jaraknya masih terlalu jauh, Buang masih belum dapat memastikan siapa adanya rombongan yang berada di atas kereta kuda tersebut. Maka tanpa buang-buang waktu lagi Pendekar Hina Kelana segera bersembunyi di balik sebatang pohon yang berukuran cukup besar.

Semakin lama, rombongan kereta kuda itu semakin mendekat ke arah di mana Buang Sengketa berada. Saat itu dengan seksama pemuda ini memperhatikan gerakan mereka.

Orang-orang tersebut terdiri dari tujuh orang laki-laki penunggang kuda yang mungkin saja bertindak sebagai pengawal atas diri orang yang berada di dalam kereta itu. Melihat pakaian yang mereka kenakan, nampak jelas bahwa orang-orang bertampang sangar dan sadis itu tak lain merupakan prajuritprajurit kerajaan. Mungkin inilah prajurit-prajurit kerajaan Muara Panjang yang dikatakan oleh para penduduk itu sebagai orang yang melakukan tindakan sewenang-wenang itu. Batin si pemuda.

"Hhh. Ada baiknya kalau aku mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan pada mereka....

Mungkin pula orang yang berada di dalam kereta kuda itu termasuk salah seorang yang penting dalam kerajaan Muara Panjang !" gumamnya pula.

"Heuup...!" Dengan sekali lompat saja, maka Pendekar Hina Kelana telah keluar dari semak-semak tempat di mana dia bersembunyi.

Kini dia telah berdiri di tengah-tengah jalan itu dengan sikap menghadang. Sudah barang tentu para pengawal kereta kuda itu di samping merasa terkejut juga sangat heran bercampur marah. Maka tanpa basa basi lagi, salah seorang di antara mereka langsung membentak

"Bocah gembel...! Minggir... majikanmu mau lewat. !" Bersikap seperti orang tuli, pemuda itu masih

tetap tegak di tengah-tengah jalan berbatu yang akan dilalui oleh rombongan kereta kuda itu. Hal ini membuat para pengawal kereta kuda menjadi gusar. Maka:

"Jlig.... Jlig !"

Tiga orang laki-laki berloncatan turun, sementara beberapa orang lainnya masih tetap berada di atas punggung kudanya masing-masing. Orang-orang yang sudah berloncatan dari atas punggung kudanya itu kembali menghardik dengan kata-kata yang sangat kasar. "Budak... berani sekali kau menghadang jalannya majikanmu, siapakah kau ini yang sebenarnya...?"

"Kakang Sumali! Melihat tampangnya, nampaknya dia merupakan orang asing di Desa Kedung Meranti ini! Jangan-jangan dia datang ke mari dengan membawa maksud yang tak baik...!" berkata salah seorang di antara mereka yang memiliki badan lebih pendek dibandingkan yang lainnya. Laki-laki yang dipanggil Sumali yang sekaligus dalam rombongan kereta kuda tersebut merupakan kepala pengawal tampak memperhatikan Buang dengan sangat teliti dan sorot mata penuh curiga. Kenyataannya memang benar apa yang dikatakan oleh bawahannya itu, pemuda berkuncir dengan pakaiannya yang lecek tersebut baru kali ini dia melihatnya. Padahal sudah hampir satu tahun dia dan orang yang berada di dalam kereta kuda sering datang ke Desa Kedung Meranti dalam upaya mengumpulkan upeti pemerintah kerajaan. Tapi selama itu belum pernah mereka bertemu muka dengan pemuda berpenampilan aneh seperti itu. Hh, agaknya benar seperti apa yang dikatakan oleh kembratnya tadi, mungkin saja kedatangan pemuda itu di daerah Kedung Meranti membawa maksud yang tak baik. Kalau memang benarlah apa yang diperkirakannya. Hal ini merupakan satu bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancam kewibawaan pemerintahan Senopati Karpa.

Dugaan yang masih mereka-reka itu membuatnya semakin bertambah curiga atas diri pemuda asing yang masih tetap berdiri di hadapan mereka.

"Bocah, katakanlah apa yang menjadi tujuanmu sehingga kau berani menghadang perjalanan rombongan pemungut upeti kerajaan...!" Sengaja katakata terakhir itu agak ditekan dengan maksud memamerkan siapa adanya mereka itu Buang Sengketa hanya tersenyum mencibir demi mendengar penjelasan laki-laki berbadan gemuk yang bernama Sumali itu. Sebaliknya dengan suara merendah dia berucap pelan; "Maaf Ki Sanak! Kukira kalian merupakan rombongan dermawan yang datang ke Desa Kedung Meranti untuk membagi-bagikan harta benda yang berlebih, tak tahunya... kiranya kalian ini tak lebih seorang pemeras tengik yang semakin membuat penderitaan rakyat semakin parah...!" Ucapan Buang yang begitu berani ini sama sekali di luar dugaan para pemungut upeti kerajaan, jelas saja membuat orang-orang itu menjadi gusar sekali. Begitu pun mereka masih berusaha menekan kemarahannya.

Di luar dugaan orang yang berada di dalam kereta kuda yang sedari tadi hanya diam saja kini telah menyela dengan suaranya yang serak, namun menggetarkan udara di sekitarnya.

"Sumali! Kau telah membuang-buang waktu dengan melayani tikus buduk bicara. Apakah kau telah kehilangan nyali untuk menabrak siapa saja yang berani menghalangi jalannya orang-orang penting kerajaan...?" bentak si laki-laki yang berada di dalam kereta kuda tersebut dengan nada kurang senang. Buang Sengketa tersenyum tipis, dalam hati dia mengakui bahwa orang yang berada di dalam kereta kuda itu memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna. Terbukti dia sempat merasakan, betapa tubuhnya bergetar sesaat ketika orang itu berbicara tadi. Sungguh pun begitu hal itu tak punya pengaruh berarti terhadap pendekar titisan Raja siluman tersebut. Dalam pada itu Sumali dengan tergagap-gagap berusaha memberikan penjelasan pada atasannya; "Maaf junjungan! Nam... nampaknya kunyuk yang ada di depan kita ini merupakan orang yang mencurigakan. Jangan-jangan dia merupakan sahabatnya Sagara yang telah mampus beberapa hari yang lalu di tangan algojo...!"

"Tak usah banyak tanya... kalian ringkus gembel itu...!" perintah orang yang dipanggil junjungan tersebut ketus sekali. Buang Sengketa sebenarnya masih belum mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh orang-orang itu. Bahkan dia sendiri pun merasa tak mengenal dengan orang yang bernama Sagara. Namun menurut perhitungannya, siapapun adanya orang yang bernama Sagara tersebut, yang jelas mungkin merupakan orang yang dimusuhi oleh pihak kerajaan Muara Panjang. Menyadari para pengawal pemungut upeti itu telah bergerak mengurung dirinya, sambil melangkah undur dia berseru: "Tunggu... tunggu dulu! Kalian tidak boleh seenaknya menuduh orang secara sembarangan. Aku sama sekali tak mengenal siapa adanya orang yang baru saja kalian sebut-sebut tadi...!" selak si pemuda berusaha membantah.

"Jangan coba-coba berdalih monyet gembel! Jelaskanlah persoalanmu nanti andai telah berhadapan dengan gusti Senopati Karpa...!" bentak Subali. Belum lagi sedetik ucapannya itu usai, mendadak dia melompat ke depan dengan sebilah pedang terhunus. Cepat sekali gerakan pengawal kepala ini sehingga di luar kesadaran Buang, tahu-tahu tubuhnya telah hinggap di atas tanah dekat Buang Sengketa. Belum lagi hilang rasa terkejut di hati si pemuda, tiga babatan pedang yang sangat tajam dan berhawa racun ganas itu telah menderu ke arah bagian kepala, perut dan kakinya. Pendekar Hina Kelana terlonjak dan cepatcepat buang dirinya ke samping kanan, bergulingguling menjauhi ancaman pedang; Celakanya Sumali yang berbadan gembul itu terus memburunya tanpa memberi peluang pada Buang walau barang sedikit pun. "Gila!" maki Buang Sengketa, lalu dengan sedikit mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna tubuh Buang melentik ke udara.

Serangan pedang Subali luput dari sasarannya, tapi dalam keadaan seperti itu enam orang pengawal lainnya telah mengurung Buang Sengketa dengan beringas sekali.

"Haiiit! Ciat... ciaat...!"

Nampaknya para pengawal itu merupakan orang-orang yang sudah terlatih baik, dan rata-rata memiliki ilmu silat dan tenaga dalam yang tidak mengecewakan, Terbukti setiap serangan yang mereka lancarkan mengandung jurus-jurus maut yang sewaktuwaktu dapat membahayakan keselamatan lawannya.

Menjelang pertarungan sampai sepuluh jurus, Buang masih saja mempergunakan jurus pertama dari empat Jurus Koreng Seribu yang dimilikinya. Inti jurus pertama dari Jurus Koreng Seribu masih merupakan gerak mengelak dan menghindari serangan-serangan ganas lawan-lawannya. Gerakan mengelak menghindar yang sangat luar biasa cepatnya itu membuat Subali dan enam orang kawannya menjadi gusar bukan alang kepalang.

"Pergunakan Jurus Bayang-bayang Menggila...!" teriak Subali pada kawan-kawannya. Serentak dengan teriakan Subali itu, maka detik selanjutnya tubuh lawan-lawannya sudah berkelebat lenyap. Buang menjadi gugup seketika begitu menghadapi sambaran angin pedang yang datangnya bertubi-tubi. Namun dengan masih mempergunakan Jurus Koreng Seribu tingkat kedua dan dibantu dengan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sangat sempurna sekali, dia masih berhasil lolos dari sergapan-sergapan senjata lawannya.

"Hieee...!" Pedang di tangan Subali menyambar dahsyat mengarah pada bagian kepala si pemuda. Buang Sengketa cepat mengegoskan kepalanya lalu balas kirimkan satu pukulan tangan kosong pada bagian dada Subali. Pengawal kepala ini nampaknya tidak menduga adanya serangan balasan yang sangat cepat luar biasa itu. Secepatnya dia berusaha berkelit ke samping kiri, tidak terduga tangan kanan lawannya datang menyambut.

"Buukk...!"

Sungguh luar biasa daya tahan tubuh lakilaki berkumis melintang itu. Pukulan yang dilancarkan Buang sebenarnya bukanlah pukulan biasa, bahkan lawan-lawannya yang lain juga merasakan betapa pukulan yang dilakukan oleh Buang mendatangkan angin menderu dan hawa panas yang hebat. Namun hanya berakibat terhuyung-huyung saja bagi pengawal gemuk itu.

"Shaaat   Ngungg!..!"

Pengawal lainnya marah sekali melihat atasannya kena dipukul oleh pihak lawan. Mereka menyadari andai saja kembratnya tidak memiliki ilmu kebal "Kulit Baja" sudah dapat dipastikan menerima akibat yang sangat patal. Sungguh pemuda itu merupakan seorang lawan yang sangat berbahaya. Maka serentak mereka berusaha mendesak pemuda berperiuk itu dengan serangan dari pukulan-pukulan ganas yang sangat berbahaya sekali.

Sementara itu, laki-laki berperut gemuk yang berada di dalam kereta kuda, kelihatannya sudah tak sabar lagi melihat pertempuran yang bertele-tele ini. Para pengawalnya merupakan orang-orang terlatih dengan memiliki jurus pedang yang sangat dahsyat. Namun kenyataannya setelah pertarungan sudah mencapai lebih dari dua puluh jurus, mereka masih juga belum mampu membekuk pemuda itu. Hal itu saja sudah merupakan satu bukti baginya, betapa kepandaian yang dimiliki oleh pihak lawan masih berada di atas para pengawalnya.

"Minggir...!" bentak orang yang berada di dalam kereta kuda itu. Suara bentakan tersebut diikuti dengan melesatnya sosok tubuh dari dalam kereta kuda tadi. Melihat cara dan gerakan laki-laki berperut buncit saat menginjakkan kakinya di atas tanah, tahulah pemuda itu bahwa laki-laki tersebut sesungguhnya memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna. Begitu laki-laki ini sampai di hadapan Buang Sengketa sejenak dia memandang padanya dengan sinis.

"Berani mati kau jual lagak di depan orangorang penting kerajaan!" bentak si perut buncit yang tak lain adalah Sudra Blonteng adanya. Melihat kepada si perut buncit, maka teringatlah oleh Buang akan penderitaan yang dialami oleh penduduk Desa Kedung Meranti. Kehidupan mereka sudah begitu sangat menderita, tapi masih juga dibebani pajak yaitu yang berupa upeti. Di lain pihak dia melihat kehidupan kaum bangsawan maupun para pembesar kerajaan yang bergelimpangan dengan kemewahan. Semua itu mereka dapatkan dengan cara memeras hasil keringat golongan bawah, sungguh satu keadaan yang sangat keterlaluan sekali. Sebenarnya dia menjadi sangat marah sekali, namun betapapun besar kemarahannya dia masih dapat menahannya dengan dimilikinya jurusjurus Koreng Seribu warisan si Bangkotan Koreng Seribu.

"Sekali lagi, maafkan aku...! Kiranya aku yang bodoh ini tidak tahu betapa aku sedang berhadapan dengan anjing-anjing kerajaan pemeras rakyat...!" ucapnya sambil tertawa-tawa jenaka. Dihina sedemikian rupa Sudra Blonteng memerah wajahnya, tangannya terkepal erat tanda bahwa dia sedang dilanda kemarahan luar biasa. "Keparaaat...! Seumur hidup baru kau seorang berani menghina kami sedemikian rupa. Tak tahukah kau, betapa ucapanmu itu dapat menyeret mu ke tiang gantungan...?" maki Sudra Blonteng.

Saat itu juga laki-laki gemuk muka angker itu telah pula bersiap-siap melancarkan pukulan mautnya. Buang meskipun kelihatan masih tenang-tenang saja, namun sebenarnya telah mempersiapkan Jurus Koreng Seribu tingkat tiga.

"Seluruh desa dalam kekuasaan kerajaan kalian semuanya sudah terlalu lelah dalam penderitaan. Itu sebabnya mereka tak berani melakukan perlawanan terhadap kaum pemerintah kerajaan. Betapapun tiang gantungan selamanya membuat kecut setiap makhluk yang bernyawa. Namun bagiku, kematian itu sendiri merupakan sesuatu yang bakal menimpa makhluk mana pun...!"

Ketenangan Buang Sengketa dalam berbicara itu saja sudah merupakan tanda bahwa sebenarnya dia merupakan seorang pemuda yang tak pernah mengenal rasa takut akan sebuah kematian. Namun kenyataan itu kiranya masih belum juga membuka mata si perut Buncit, bahwa seseorang yang berani berkata begitu, sudah pasti memiliki sesuatu yang dapat diandalkannya.

"Budak hina    Sebutkanlah siapa kau ini se-

belum kematian benar-benar menjemput mu?!" bentak Sudra Blonteng dengan gigi-gigi bergemeletukkan. Sementara tujuh orang pengawalnya sudah mengepung Buang dengan posisi melingkar.

*** 3

Melihat lingkaran kepungan tersebut, Buang sunggingkan seulas senyum sinis. Namun walaupun sudah dalam keadaan terkepung sedemikian rupa, tapi pemuda titisan raja siluman dari negeri Bunian ini masih kelihatan tenang-tenang saja.

"Namaku! He... he... he...! Rasa-rasanya tak perlu ku sebut-sebut. Tapi agar kalian tidak penasaran, orang-orang selalu menyebutku si Hina Kelana!"

"Hina Kelana?" kata Sudra Blonteng setengah menggumam, alisnya mengerenyit seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. Namun sepertinya dia merasa sangat asing dengan julukan pemuda itu. Maka detik selanjutnya tanpa berkata-kata lagi dia sudah menerjang Buang Sengketa dengan diawali satu lengkingan keras.

Angin pukulan yang mengandung hawa yang sangat dingin itu menyambar dahsyat mengarah pada bagian perut lawannya. Buru-buru pemuda itu membuang tubuhnya ke samping kiri. Tapi gerakan itu pun segera pula disambut dengan babatan pedang yang dilakukan oleh para pengawal Sudra Blonteng. Merasa diburu dengan serangan pedang yang datangnya silih berganti. Maka Buang Sengketa pada satu kesempatan yang sangat baik melentikkan, tubuhnya ke udara. Nampaknya dia mulai merasa kewalahan menghadapi utusan kerajaan pemungut upeti yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi. Tapi sejauh itu pendekar ini masih tetap mempergunakan jurus Koreng Seribu.

"Haiiit.... Hiaaaaat...!"

Orang-orang kerajaan tersebut mulai mendesak lawannya dengan cara memperkecil jarak pertarungan. Pedang-pedang mereka berkelebat dari segala menusuk dan membabat pada satu arah. Mendapat keroyokan sedemikian rupa dalam jarak yang sangat rapat pula. Maka pendekar Hina Kelana dengan sedikit mengerahkan tenaga dalamnya berusaha memapaki serangan yang bertubi-tubi itu dengan jurus Koreng Seribu. Demikianlah, begitu tusukan pedang, dan beberapa babatan lainnya datang menderu. Dengan kedua tangan terpentang Buang Sengketa sedikit pun tiada bermaksud mengelakkan serangan itu.

"Desss! Jeees! Bleeek...!"

Namun sebagai akibatnya sungguh sangat sulit untuk dipercaya bagi pihak lawan-lawannya. Bagaimana tidak, senjata-senjata yang menghunjam di tubuh Buang menjadi lengket sehingga sangat sulit untuk ditarik kembali.

Sudra Blonteng yang melihat kejadian itu menjadi terpana, kedua matanya terbelalak. Sebagai orang yang sudah sangat berpengalaman dalam pertarungan bagaimana pun bentuknya. Sedikit banyaknya dia tahu bahwa saat itu pihak lawan sedang membetot tenaga dalam lawannya. Hal itu andai tetap dibiarkan terus berlanjut, sudah pasti akan berakibat sangat patal bagi para pengawalnya.

"Sumali...! Kita harus bersama-sama menyelamatkan mereka. Mari kita pergunakan Pukulan Banteng Ketaton Menyeruduk Singa Gurun...!" ucapnya setengah berbisik. Tanpa menjawab, kepala pengawal itu hanya menganggukkan kepalanya. Hampir secara bersamaan, Sumali dan Sudra Blonteng mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas, sejajar dengan kepalanya. Terdengar bunyi berkerokotan saat mana kedua utusan pemungut upeti ini mengarahkan tenaga dalamnya mengaliri bagian telapak tangan mereka. Tubuh mereka sekejap kemudian sudah nampak menegang dengan kulit merona merah. Selanjutnya tubuh mereka mengepulkan uap tipis, semakin lama semakin bertambah menebal. Serentak dengan berhembusnya angin dari bagian tenggara, maka tercium pula bau belerang yang sangat menusuk penciuman. Semua itu sebenarnya tidak luput dari perhatian Buang, tapi saat itu dia masih memusat-kan perhatiannya pada penyaluran hawa murni, untuk membersihkan pengaruh racun yang ikut tersedot dari tenaga dalam pihak lawanlawan yang mengalir deras melalui senjata lawan yang menempel di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara itu enam orang pengawal sudah nampak mulai pucat wajahnya, nafas terengah-engah bagai baru habis berlari puluhan ribu tombak. Keringat dingin terus membanjiri tubuh mereka. Saat-saat menegangkan seperti itu, mereka merasakan tubuh masing-masing sangat lemas luar biasa.

Buang Sengketa masih terus bertahan pada jurus Koreng Seribu tingkat ketiga.

Namun beberapa detik selanjutnya, secara mendadak dia menyentakkan tubuhnya dari senjatasenjata yang menempel di badannya saat mana dia melihat Sumali dan Sudra Blonteng melesat cepat ke arahnya.

Enam orang pengawal terpelanting dengan tubuh lemah lunglai tiada bertenaga, namun dia sudah tiada memperdulikannya lagi. Sebaliknya sekali tubuhnya melentik ke udara untuk menghindari pukulan beracun yang dilancarkan oleh pihak lawan, maka pada saat Buang menjejakkan kakinya di atas permukaan tanah. Kedua lawannya telah memburunya kembali dengan pukulan Banteng Ketaton Menyeruduk Singa Gurun yang sangat ampuh itu. Jarak yang sangat dekat itu, sebenarnya sudah tak memungkinkan bagi si pemuda untuk mengelakkan pukulan kedua lawannya. Dia telah bertekad untuk memapaki serangan lawan dengan tujuan membentur beberapa sisi tubuh lawan-lawannya. Tapi Sumali maupun Sudra Blonteng kiranya cukup cerdik. Mereka sudah mengetahui betapa akan sangat berbahaya andai sampai mereka bersentuhan dengan pihak lawan. Maka dalam jarak yang tak lebih hanya satu meter itu, kedua lawan ini secara bersamaan melepaskan pukulan beracunnya.

"Wuuut! Weeer!"

"Aghk...!" Pendekar Hina Kelana keluarkan pekik tertahan saat dia merasakan datangnya angin pukulan yang berhawa panas dan dingin menyambar bagian pundak dan kepalanya. Laksana kilat dia banting tubuhnya ke belakang, celakanya pukulan Banteng Ketaton Menyeruduk Singa Gurun masih terus mengejarnya, sungguh pun dia telah berguling-guling menghindari pukulan yang berhawa dingin dan panas.

"Der...! Arggk...!"

Pendekar Hina Kelana menggerung saat mana bagian bahunya masih saja tersambar pukulan yang dilancarkan oleh Sumali dan Sudra Blonteng. Masih untung dalam saat berguling-guling tadi dia mengerahkan seperempat tenaga dalamnya untuk melindungi bagian tubuhnya. Andai tidak sudah pasti tubuhnya akan hangus membeku dilanda pukulan lawannya. Sungguh pun begitu pendekar Hina Kelana masih saja merasakan bagian bahunya menjadi panas sekali.

Ternyata Sumali dan Sudra Blonteng tidak berhenti hingga sampai di situ saja. Dari pukulan yang mereka lancarkan tadi, mereka sudah menduga bahwa pemuda berpakaian lusuh itu, walaupun memiliki ilmu silat namun masih tidak seberapa bila dibandingkan dengan kepandaian yang mereka miliki. Walau memang tak dapat mereka pungkiri bahwa dalam bergebrak melawan para pengawalnya, pemuda itu memiliki semacam ilmu kepandaian yang dapat melumpuhkan lawan-lawannya tanpa melukai. Namun mereka teramat yakin, selama dalam pertarungan itu mereka menghindari bentrok tangan dengan si pemuda. Mereka beranggapan kemenangan sudah barang tentu berada di pihak mereka. Maka tanpa ayal-ayalan lagi, dalam gebrakan-gebrakan berikutnya mereka sudah melancarkan pukulan-pukulan mautnya yang sangat ganas disertai dengan tendangan kaki dan tangan hingga menimbulkan deru angin yang hebat pula.

"Caaatt...!"

"Blaaaaar.... Blaaaar...!"

Kembali Buang Sengketa terbanting tubuhnya, hawa panas dan dingin sempat pula dia rasakan menjalar di sekujur tubuhnya. Walaupun saat itu Buang sempat mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya. Tapi walau bagaimana pun dia harus mengakui bahwa pihak lawan dengan pukulan Banteng Ketaton Menyeruduk Singa Gurun benar-benar merupakan sebuah pukulan yang sangat dahsyat. Sedikit demi sedikit, batas kesabaran yang dimiliki oleh Buang Sengketa akhirnya pupus juga. Apalagi pukulan Banteng Ketaton Menyeruduk Singa Gurun masih menimbulkan nyeri luar biasa pada bagian dadanya. Selanjutnya dengan sekali lompat, maka dia sudah menjauh dari para lawan-lawannya. Liar pandangan matanya, menatap tajam pada lawan-lawannya satu demi satu.

"Cukup sudah kesempatan yang kuberikan pada kalian...!" katanya menggeram marah. Sebaliknya Sudra Blontang malah mendengus.

"Kau bisa apa bocah, daripada mati percuma! Alangkah lebih baik jika kau menyerahkan diri dengan sukarela...?" perintah Sudra Blonteng dengan nada meremehkan. Tiada terdengar jawaban. Diiringi dengusan keras, Buang Sengketa mengawali serangan pertama, dengan tapak tangan kanan terbuka mengancam bagian dada Sumali. Sedangkan tangan kiri yang terkepal mengarah pada bagian kepala Sudra Blonteng. Baik Sudra Blonteng maupun Sumali terperanjat bukan main. Keterkejutannya itu bukanlah karena pihak lawan telah mengerahkan pukulan andalannya, melainkan gerakan pukulan yang sedemikian cepat, hingga tahu-tahu telah memukul sasaran yang dituju tanpa sempat dielakkan oleh kedua orang itu.

"Buk! Buk...!"

Sumali dan Sudra Blonteng terpelanting tubuhnya, berserosotan hingga dua tombak. Kepala pengawal itu merasakan kepalanya berdenyut-denyut bagai mau pecah. Lain lagi halnya dengan Sudra Blonteng, hanya sekejapan saja dia merasakan dadanya yang terpukul itu seperti remuk dan mendatangkan rasa nyeri. Di luar dugaan sambil menyeringai beringas, dia telah bangkit kembali bagai tak merasakan pukulan lawan yang sebenarnya menggunakan sepertiga tenaga dalamnya. Lalu dengan disertai jeritan membahana Sudra Blonteng, untuk yang kesekian kalinya lancarkan satu pukulan Banteng Ketaton Menyeruduk Singa Gurun.

Pukulan maut yang menimbulkan udara dingin dan panas serta mengandung racun yang sangat keji itu pun kembali menghajar Buang Sengketa, namun kali ini nampaknya pendekar dari negeri Bunian itu sudah tak ingin lagi memberi hati pada lawannya. Maka dengan mempergunakan jurus Si Gila Mengamuk, tubuhnya berloncatan kian kemari. Sekali waktu dia pun kirimkan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Laksana kilat, satu rangkaian gelombang sinar violet yang mengandung hawa panas luar biasa menderu memapaki datangnya sinar hitam dan biru yang melesat dari tangan Sudra Blonteng. 4

Enam pengawal yang siap berjaga-jaga, nampak terperanjat bahkan tiga di antaranya keluarkan suara pekikan tertahan. Apalagi pada saat dua pukulan yang mengandung tenaga sakti itu saling bertubrukan satu sama lainnya.

"Buuum!"

Tak dapat dibayangkan betapa besarnya akibat yang ditimbulkan atas pertemuan tenaga dalam itu. Keenam pengawal pemungut upeti kerajaan Muara Panjang terjajar, dua di antaranya terpelanting menabrak sebuah pohon secara beruntun. Dua pengawal berbadan tegap itu hanya menggeliat begitu kepalanya remuk membentur pohon tak jauh di belakangnya. Sedangkan keempat orang sisanya, walaupun masih mampu bertahan hidup, namun tak luput dari luka dalam yang sangat parah.

Saat itu Sudra Blonteng nampak kerengkangan berusaha bangkit dari semak-semak tempat di mana dia roboh. Laki-laki berperut buncit ini merasakan dadanya sesak bukan alang kepalang. Kemudian terbatuk-batuk dengan disertai menggelogoknya darah kental kehitaman dari mulutnya.

Di pihak Buang Sengketa sendiri, selain kedua kakinya amblas sebatas betis, juga baju bagian depan terobek sebesar telapak tangan. Kini sadarlah dia bahwa pihak lawan selain memiliki kekebalan terhadap segala senjata tajam, namun juga memiliki pukulan yang sangat keji. Secepatnya dia seka darah yang meleleh di celah-celah hidung dan bibirnya. Saat itu dari sisi kiri, Sumali dengan senjata terhunus, telah pula menerjang ke arahnya. Cepat-cepat Buang hentakkan kakinya, hingga detik berikutnya tubuh pemuda itu telah melesat ke udara, pedang di tangan Sumali yang mengancam pada bagian perutnya mencapai tempat kosong. Hanya angin sambaran pedang yang begitu cepat berkibas sejengkal di bawah kakinya.

"Sialan...!" rutuk kepala pengawal tersebut. Dalam kemarahannya itu dia kirim satu pukulan Badak Gila. Kembali serangkum gelombang sinar keluarkan bunyi mendesing saat mana tangan laki-laki bertelanjang baju itu dorongkan tangannya ke atas.

"Weeer...!"

Pendekar Hina Kelana yang masih berjumpalitan di udara terkesiap juga, demi melihat Sumali masih sempat kirimkan satu pukulan yang cukup berbahaya. "Hiiik.... Chaaa...!"

Sambil terus berjumpalitan menghindar, Buang lepaskan satu pukulan si Hina Kelana Merana. Akibatnya sungguh luar biasa, kiranya dalam jeritan tadi, Buang juga ternyata keluarkan jeritan Ilmu Pemenggal Roh yang sangat mematikan itu. Tidak sampai di situ saja. Selarik sinar merah menyala yang bersumber dari pukulan Si Hina Kelana Merana telah pula menyebabkan perubahan yang sangat dahsyat. Bumi terasa panas terbakar, sementara suara teriakan yang sangat dahsyat tersebut membuat tubuh mereka menggeletar. Begitu masing-masing pukulan saling bertemu, maka tanpa ampun terdengar suara ledakan keras bagai letusan gunung berapi. Tampaknya Sumali memiliki tenaga dalam jauh di bawah pendekar Hina Kelana. Tanpa ampun tubuh Sumali amblas ke dalam bumi, lenyap begitu saja seolah ada tangan-tangan gaib yang menyentakkannya hingga pada kedalaman yang tiada terukur.

Tiada terdengar jerit suara lolongan dari mulut Sumali, empat orang pengawal yang dalam keadaan terluka parah terkapar tanpa nyawa lagi. Dari telinga mereka mengalir darah kental.

Diam-diam di luar sepengetahuan pendekar Hina Kelana, Sudra Blonteng yang melihat kejadian itu menjadi lumer juga nyalinya. Mempergunakan kesempatan yang sangat terbatas. Sudra Blonteng menyelinap pergi dengan membawa luka dalam yang cukup lumayan.

"Ahh, si perut buncit telah merat di luar dugaan! Aku yakin urusan pasti semakin runyam. Untung-untung aku masih dapat menyelamatkan penduduk dari amukan tentara kerajaan. Aku yakin mereka pasti mengira, bahwa aku bersekongkol dengan rakyat untuk memberontak...!" gumam pemuda itu. Kemudian tanpa menghiraukan mayat-mayat para pengawal kerajaan Muara Panjang yang bergelimpangan tak karuan. Buang Sengketa menghampiri kereta kuda dan mendapatkan seorang kusir yang sudah sangat tua sekali bersembunyi di balik dinding kereta dengan wajah ketakutan sekali. Tanpa menghiraukan kusir itu, Buang memeriksa keadaan di dalamnya. Tak terdapat barang apapun terkecuali beberapa kantung uang perak di dalam sebuah peti yang berlapiskan emas.

Setelah mengambil dua kantung di antaranya, pemuda berkuncir itu pun menghampiri kusir kereta.

"Pak tua...! Angkat mayat-mayat tiada berguna itu. Beri laporan pada rajamu, bahwa satu saat kelak, andai dia tidak menghentikan pemungutan upeti ini. Maka aku akan menghancurkan kerajaan Muara Panjang...!" tukasnya, kemudian tanpa menoleh-noleh lagi Buang cepat-cepat melangkah pergi.

Kusir kereta kuda yang sudah sangat tua itu hanya mengangguk-angguk dengan tubuh gemetaran. Selama ini kusir itu sadar akan kehebatan yang dimiliki oleh majikannya itu. Tapi siapa sangka kalau hari ini seorang pemuda berpakaian gembel mampu mengalahkan majikannya. Bahkan ternyata pemuda itu memiliki kesaktian yang sangat sulit untuk diukur kehebatannya.

* * *

Waktu terus bergulir tanpa terasa, hari berganti minggu, musim berganti musim. Dalam guyuran air hujan lebat, nampak sosok tubuh cacat kedua tangan dan sebelah kakinya sedang melatih diri dengan jurus-jurus silat yang sangat ampuh dan dahsyat. Sungguh pun keadaan tubuhnya cacat sedemikian rupa, namun tiada, sedikit pun rasa putus asa membayang di wajahnya. Sepanjang hari yang dilakukannya hanyalah berlatih dan terus berlatih. Semangat dan dendam telah menyatu di dalam dirinya, orangorang kerajaan Muara Panjang! Pabila dia teringat sampai ke situ, maka semakin berkobarlah tekad di dalam dadanya untuk selekasnya dapat menyelesaikan jurus-jurus Kelelawar yang terdapat di dalam dinding gua tempat di mana dia tinggal selama ini.

Tidak begitu jauh dari tempat laki-laki cacat itu melatih diri memang terdapat sebuah gua yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Di sanalah dia menetap selama kurang lebih dua tahun, setelah para ponggawa kerajaan membuntungi kedua lengan dan sebelah kaki kirinya untuk kemudian mencampakkannya ke dalam jurang yang sangat dalam itu.

Masih untung dalam keadaan seperti itu, tubuhnya yang terluka parah jatuh tepat di sebuah dahan yang berdaun rimbun. Sehingga dia masih dapat terhindar dari kematian, begitupun dia tetap tak sadarkan diri karena hampir kehabisan darah. Di luar sepengetahuannya, serombongan kelelawar yang berdiam di dalam gua yang terdapat di dasar lembah, berkenan memberi pertolongan padanya. Dan nampaknya masyarakat kelelawar itu bukanlah kelelawar biasa. Terbukti setelah dia siuman dari pingsannya masyarakat kelelawar itu melalui mulutnya memberikan semacam obat untuk menyembuhkan luka-luka yang dideritanya. Ribuan kelelawar yang tinggal di tempat itu nampaknya sangat bersahabat dengan laki-laki cacat yang tak lain Sagara adanya. Mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran Sagara, sebaliknya Sagara tanpa menghiraukan bau busuk yang menyengat tinggal pula bersama masyarakat kelelawar yang berada di dalam goa tersebut.

Kesembuhan yang dia derita akhirnya datang juga, hampir setiap hari dia berusaha untuk melatih kekurangan-kekurangan akibat cacat yang dideritanya. Sampai akhirnya beberapa ekor kelelawar memberinya petunjuk tentang adanya rahasia yang tersembunyi di dalam gua itu 'Rahasia Jurus-Jurus Kelelawar Hitam'. Jurus-jurus kelelawar itu tertulis di dinding gua yang berbatu cadas. Dari tulisan-tulisan yang digurat dengan tangan biasa jelas nyata. Kalau orang yang menciptakan jurus-jurus itu tentu merupakan seorang tokoh yang memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna. Demikianlah sejak saat itu, Sagara mulai giat melatih diri dengan jurus-jurus Kelelawar Hitam peninggalan seorang tokoh yang tidak dikenalnya. Ternyata jurus kelelawar ini sangat sesuai dengan cacat fisiknya Tiada kenal lelah Sagara terus berlatih dan

berlatih hampir setiap waktu yang terluang. Sebaliknya Sagara pun tiada menyadari perubahan-perubahan fisik yang dialaminya. Badannya yang berkulit hitam itu semakin bertambah hitam, dari pori-pori kulitnya tumbuh pula bulu-bulu halus yang tidak terbatas banyaknya. Keanehan lainnya, pada saat-saat mengerahkan tenaga dalam maupun pada waktu melepaskan pukulan 'Kelelawar Terbang Malam', sebagian wajah Sagara berubah secara total menjadi ujud kepala kelelawar hitam yang sangat beringas. Kini laki-laki cacat itu duduk di depan mulut gua, tak lama tadi dia baru saja menyelesaikan latihan jurus terakhir yang terdapat pada batu dinding gua itu. Perhatian Sagara kini terarah pada tebing curam yang berada di atasnya, dia memperhitungkan tak mungkin rasanya dapat keluar melalui tebing yang sangat curam yang dalamnya lebih dari seratus meter. Sungguh pun saat itu dia telah menguasai ilmu Kelelawar Hitam Merayap. Cacat kaki dan tangannya telah membuatnya selalu mengalami banyak kesulitan untuk berbuat banyak di dasar jurang itu. Nampaknya tiada jalan lain untuk dapat keluar dari tempat itu. Sebab beberapa hari yang lalu pun dia telah memeriksa seluruh sudut-sudut lembah. Semua jalan terasa buntu. "Hh. Aku seperti sudah ditakdirkan untuk menghuni lembah ini sampai hari matiku. Tinggal dengan masyarakat kelelawar memang terasa enak, tiada rasa iri, dengki atau sejenisnya. Mereka semua walaupun tinggal di sebuah tempat yang sama, namun aku tak pernah melihat mereka bertengkar, saling cakar, maupun saling tindas sesamanya. Tapi...! Andai aku tetap tak dapat menemukan jalan keluar dari lembah ini pupuslah sudah harapanku untuk mengadili orang-orang yang telah hampir membuatku celaka. Entah bagaimana nasib penduduk desa sampai saat ini, mereka pasti menjadi korban kelaparan yang sangat panjang!" gumam Sagara lirih. Pada saat itu mendadak dia teringat pada adik satusatunya. Ambarwati. Masih di Desa Kedung Meranti gadis itu tinggal, tiada sanak dan keluarga selain Sagara satu-satunya. "Aku berharap moga tak terjadi sesuatu apapun pada adikku, tapi kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan. Kerajaan Muara Panjang akan ku-bumihanguskan...!"

Dengan hanya mengandalkan kakinya yang hanya tinggal sebelah, Sagara mulai menuruni gua tempat dia tinggal selama ini. Tanpa mengenal rasa putus asa, kini laki-laki cacat itu kembali memeriksa setiap sudut lembah. Menjelang senja Sagara melihat serombongan kelelawar mulai bergerak keluar meninggalkan gua yang juga merupakan tempat tinggalnya. Binatang-binatang itu terus bergerak bukannya menembus ketinggian jurang! Tetapi menuju ke satu arah yang dipenuhi dengan tetumbuhan yang berdaun lebat. Semua itu tak luput dari perhatian Sagara. Dia terperangah begitu melihat kelelawar itu tak munculmuncul dari kerimbunan pohon yang tadi mereka serbu.

"Tak mungkin kelelawar-kelelawar itu berpindah tempat hanya untuk tidur. Yang ku tahu selama ini makhluk-makhluk kawanku itu tinggal di dalam gua bersamaku. Sebentar lagi malam tiba, aku yakin mereka keluar untuk mencari makan. Tapi... eeh...!" Sagara setengah berjingkrak manakala dia teringat sesuatu yang dapat membesarkan hatinya. "Baiknya kuperiksa kerimbunan pohon itu, mungkin juga merupakan jalan keluar satu-satunya dari lembah ini...!"

Ketika Sagara mulai bergerak memeriksa tempat kelelawar-kelelawar itu lenyap, kala itu bulan purnama penuh kelihatan memancarkan sinarnya yang kuning keemasan. Sesekali terdengar pula cicit makhluk-makhluk yang selama ini telah menjadi kawannya di lembah itu. Tak sampai setengah jam kemudian Sagara telah menemukan sebuah gua kecil memanjang yang tadinya merupakan jalan yang dilalui oleh kelelawar-kelelawar itu. Sagara tersenyum tipis.

"Akhirnya kutemukan juga jalan menuju kebebasan...!" batin Sagara, selanjutnya dalam kegelapan lorong gua kecil itu, Sagara terus melangkahkan kakinya yang hanya tinggal sebelah itu. Sungguh pun sepanjang lorong dalam gua kecil itu dalam keadaan gelap gulita. Tapi bagi Sagara bukanlah merupakan hambatan yang berarti. Kegelapan di dalam gua kelelawar tempat dia tinggal selama ini telah melatih penglihatannya dalam suasana kegelapan yang bagaimana pun ujudnya. Tiada hambatan apapun sepanjang lorong yang dilaluinya, kemudian setelah berjalan kurang lebih dua ratus meter, maka di ujung lorong itu, Sagara melihat cahaya terang benderang di sana. "Tak salah lagi, inilah akhir dari lorong yang sangat panjang ini...!" batinnya lagi. Setelah sesampainya di luar lorong gua kecil itu, Sagara membalikkan badannya, sejurus dia menatap ke arah lorong yang baru saja dilaluinya. Kemudian dengan mempergunakan tangannya yang terkutung sebatas siku, Sagara menjura hormat.

"Kepada orang tua mulia yang telah menciptakan jurus-jurus Kelelawar Hitam! Kuucapkan rasa terima kasihku yang tiada terhingga padamu. Semoga apa yang kudapat darimu bermanfaat kelak buat kehidupan orang banyak. Terima kasih, Guru...!" ucapan sambil bersimpuh di depan pintu gua itu. Tak lama setelah itu, Sagara telah pula berlompatan menjauhi tempat itu.

***

5

Empat tahun Senopati Karpa memerintah kerajaan Muara Panjang, kehidupan rakyat semakin bertambah sengsara. Kekerasan terjadi di mana-mana, perampokan, penganiayaan dan perkosaan. Sudah merupakan hal yang sering terjadi di masyarakat. Semua kejadian-kejadian itu dilakukan oleh orang-orang kerajaan yang mengaku sebagai kaum bangsawan yang terhormat. Hampir setiap saat hati rakyat selalu dicekam rasa takut yang teramat sangat. Terlebih-lebih bagi mereka yang memiliki anak gadis yang berwajah cantik. Kepercayaan rakyat kepada rajanya hari demi hari akhirnya terpupus juga, kesengsaraan dan beban upeti yang sangat tinggi sering berakhir dengan pemberontakan-pemberontakan kecil di mana-mana. Tapi apalah daya rakyat kecil seperti mereka yang hanya bermodalkan tekad tapi tiada memiliki kepandaian apa-apa. Hampir setiap pemberontakan yang mereka lakukan selalu berakhir dengan pekik kematian dan tumpahan darah yang tiada dapat dicegah.

Kalaupun di antara rakyat yang memberontak itu masih ada yang mampu menyelamatkan diri. Biasanya mereka akan menjadi seorang buronan seumur hidup. Seperti yang terjadi di pagi itu, tampak tak lebih dari tiga puluh orang penduduk desa sedang mengeroyok tak kurang dari dua puluh orang prajurit kerajaan yang sedang melakukan pembersihan terhadap rakyat yang melakukan pemberontakan. Dalam pertarungan itu nampak seorang gadis berpakaian biru sedang memimpin tiga puluh orang penduduk bersenjatakan golok dan kampak. Melihat cara mereka melakukan serangan, nampaknya penduduk desa itu merupakan orang yang memiliki ilmu silat yang sangat lumayan. Tidak seperti para pendahulunya yang melakukan pemberontakan hanya bermodalkan tekad dan semangat. Kenyataannya gadis berpakaian serba biru itu pun memiliki kepandaian yang dapat diandalkan. Ilmu meringankan tubuhnya juga sudah mencapai taraf yang sempurna. Akan tetapi di pihak prajurit kerajaan Muara Panjang juga merupakan prajurit-prajurit yang terlatih dalam ilmu peperangan, apalagi seorang laki-laki berbadan gemuk pendek yang bernama Warok itu. Warok yang merupakan kaki tangan Senopati Karpa, semasa raja Muara Panjang yang sah masih berkuasa, sesungguhnya orang yang memiliki andil besar dalam merencanakan pemberontakan yang disusun oleh Karpa yang saat itu masih berstatus sebagai seorang Senopati. Warok jugalah yang memberi jalan pada Karpa untuk menggulingkan pemerintahan raja Jaya Suprana yang sangat tidak disukainya. Yang melatar belakangi Warok untuk bersekutu dengan para pemberontak adalah karena sebagai bendahara kerajaan dia telah dituduh melakukan penyelewengan terhadap kas keuangan dan kekayaan kerajaan. Sungguh pun memang benar dia dapat menerima tuduhan itu setelah adanya bukti-bukti yang kuat. Namun dia juga tak dapat membenarkan tuduhan yang lainnya.

Sejak saat itu, raja Jaya Suprana mencopot kedudukannya sebagai bendahara istana. Di luar sepengetahuan raja yang selama dalam memerintah selalu bersikap adil dan bijaksana. Kiranya Warok merasa sakit hati atas keputusan raja yang dia nilai terlalu gegabah. Dia begitu dendam pada raja Jaya Suprana, dalam keadaan diliputi dendam seperti itu, dia juga rupanya mencium gelagat pemberontakan yang dipimpin oleh Senopati Karpa. Tanpa ragu lagi, Warok yang dulunya juga merupakan seorang tokoh persilatan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ikut menggabungkan diri dalam pemberontakan itu. Kini setelah raja Jaya Suprana dan seluruh keluarganya dapat ditawan. Maka sebagai imbalan atas jasa-jasanya, Senopati Karpa sebagai raja baru setelah pemberontakan yang dilakukannya itu mengalami satu keberhasilan yang gemilang, memberikan satu kedudukan baru yang tak kalah hebatnya dibandingkan sebagai seorang bendahara istana.

Kini kembali pada pertarungan yang sedang berlangsung seru-serunya. Saat itu satu demi satu korban mulai berjatuhan di kedua belah pihak. Namun dalam kenyataannya di pihak gadis berpakaian biru korban jatuh lebih banyak lagi. Bahkan boleh dikata dalam pertarungan selanjutnya, pihak pemberontak yang jumlahnya hanya puluhan orang itu sudah mulai terdesak hebat. Mati-matian mereka bertahan, segala kemampuan mereka kerahkan untuk membendung serangan senjata pihak prajurit kerajaan yang datangnya secara cepat dan sulit untuk diduga-duga. Sebaliknya pertarungan antara gadis berpakaian biru dengan Warok juga sedang mencapai puncak-puncaknya. Dengan mempergunakan sebuah kipas terbuat dari tembaga, gadis jubah biru yang bernama Ambarwati sedapatnya berusaha merubuhkan Warok dengan seranganserangan ganas dari jurus-jurus kipas yang dimilikinya. Sementara di pihak Warok sendiri dengan masih mempergunakan jurus-jurus silat tangan kosong terus bergerak cepat menghindari setiap sergapan senjata maut di tangan si gadis.

"Chaaaat...! Traaat.... Traaaat...!"

Kipas di tangan Ambarwati bergerak ke arah bagian dada Warok dengan tujuan melakukan satu totokan pada jalan gerak lawannya. Sementara bagian kaki kanannya melakukan satu tendangan ke arah bagian perut lawannya.

"Uuuts... Sialan kau bocah manis...!" Warok menarik kakinya dua langkah ke belakang dengan sangat cepat, serangan kilat ke bagian dada dan perut Warok luput, sebaliknya tanpa diduga-duga tangan Warok menyambar ke arah kaki Ambarwati yang masih terayun dan gagal mencapai sasarannya. "Creeep!" "Auuugh...!" Ambarwati keluarkan suara pe-

kikkan tertahan begitu dia merasakan adanya jemari yang sangat kokoh telah mencengkeram erat bagian tumitnya. Gadis itu benar-benar sangat terkejut dan berusaha meronta sambil mengebutkan kipasnya ke bagian wajah Warok, sambil mengekeh jago istana Muara Panjang itu dengan nekad merampas kipas di tangan Ambarwati.

"Sreeet! Brebeet...!"

Sungguh besar tenaga dalam yang dimiliki oleh Warok, dengan sekali renggut, kipas di tangan Ambarwati telah pula berpindah tangan. Lebih cepat lagi dia menotok bagian dada dan kaki Ambarwati, sehingga menyebabkan tubuh gadis berwajah menawan tersebut terasa sangat sulit untuk digerakkan. Menyadari keadaannya dan melihat cara Warok memandang kepadanya, tiba-tiba gadis itu menyadari nasib apa yang bakal dialaminya jika dia sampai tertawan. Dalam pada itu Warok tanpa menghiraukan para bawahannya yang sedang bertarung melawan beberapa gelintir lawan lagi terus saja tertawa-tawa senang.

"Anak manis, mengapa wajahmu jadi sepucat itu? Pemberontakan.... he.... he... he...! Gadis secantikmu tidak pantas melakukan pemberontakan. Dipancung kepalamu, itu hukuman yang paling ringan!" desisnya tanpa ada maksud mengancam. "Sekarang ini kalau aku menyeret mu ke kota Raja, setidak-tidaknya mimpi yang sangat buruk itu benar-benar akan kau alami. Tapi kau masih punya pilihan lain untuk menghindari kematianmu. Asal saja...!" Tanpa melanjutkan ucapannya, Warok terus terkekeh-kekeh. Ambarwati sadar ke mana arah ucapan Warok itu, sebagai jawabannya dia meludahi wajah Warok yang bopengbopeng bekas penyakit cacar dulu. Sementara itu pertarungan antara prajuritprajurit kerajaan dengan kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Ambarwati sudah terhenti. Seluruh pemberontak yang berjumlah tiga puluh orang, semuanya tewas dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Sedangkan di pihak prajurit kerajaan hanya bersisa sepuluh orang. Tak jarang di antara mereka yang selamat mengalami luka-luka yang tidak ringan.

"Tuan Warok... kami telah berhasil membunuh tikus-tikus pemberontak itu, tapi di pihak kita telah gugur, sepuluh orang...!" lapor salah seorang di antaranya mewakili yang lain-lainnya. Warok mendengus, tadi dia juga memandang pada prajurit itu seketika lamanya.

"Kuburkan kawan-kawanmu secepatnya. Biarkan aku akan mengadili gadis ini!" perintah jago istana Muara Panjang tegas, prajurit itu berbalik langkah dengan tubuh terbungkuk-bungkuk memberi hormat. Seperginya prajurit tersebut Warok kembali berpaling pada Ambarwati yang masih tetap terlentang tidak begitu.

"Bagaimana, manis? Apakah kau mau memenuhi permintaanku...!" tanya Warok dengan hidung kembang kempis. Ambarwati mendengus, ingin rasanya dia mencakar mulut Warok yang tiada berkumis itu, ingin pula rasanya dia mencincang-cincang tubuh gemuk laki-laki bermuka pucat itu. Tapi tubuhnya yang kaku tertotok itu tak memungkinkan untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkannya.

"Keparat... tikus gemuk! Mau bunuh silakan bunuh, mengapa harus berbasa basi?" maki Ambarwati berusaha terus meronta.

"Membunuhmu! Itu tidak terlalu sulit...! Tapi menurutku, lebih baik kau jadi isteriku. Kau pasti hidup enak bersamaku, pula aku belum terlalu tua untuk hidup berdampingan dengan ku...!"

"Keparat! Bandot tua, jangan kira aku bersedia hidup bersama dengan seorang pemeras rakyat. Bagiku lebih baik...!" teriak Ambarwati histeris. Memerah wajah Warok yang pucat seketika, nampaknya dia sudah hilang rasa kesabarannya. Kemudian selangkah demi selangkah dia menghampiri Ambarwati, sampai akhirnya langkahnya terhenti sejengkal tepat berada di depan tawanannya. Kedua matanya sebentar memandang berkeliling, suasana sepi menyelimuti daerah itu. Darah berdesir saat mana dia memandang pada bagian dada Ambarwati yang bergerak sedemikian cepat karena menahan marah. Mendadak, sekali tangannya bergerak mencengkeram;

"Brebet...!"

"Auugh...! Bangsat cabul...!" maki Ambarwati manakala bagian dadanya terobek besar. Dari pakaian yang tercabik itu, menampakkan dua bukit kembar yang sangat indah bentuknya. Sedapatnya Ambarwati berusaha menggerakkan tubuhnya dalam usaha menutupi bagian dadanya yang terbuka lebar. Keadaan seperti itu membuat jantung Warok semakin berdetak tak karuan. Wajahnya semakin bertambah memerah karena gejolak nafsu yang meledak-ledak. Tiba-tiba setelah celingak celinguk kanan kiri, Warok langsung menjatuhkan dirinya di atas tubuh Ambarwati.

Sementara di luar sepengetahuan Warok, beberapa orang prajurit yang masih merupakan bawahannya melihat kejadian itu dengan pandangan melotot. Tanpa memperdulikan sekelilingnya, Warok yang sudah dirasuki nafsu iblis itu pun terus menjatuhkan ciuman bertubi-tubi atas diri si gadis, kedua tangannya bergerak liar meranjah apa yang saja yang dimiliki oleh Ambarwati. Dalam keadaan tertotok seperti itu, tiada kemampuan baginya untuk melakukan perlawanan. Hanya linangan air mata membayangkan rasa takut yang teramat sangat.

"Breeet...!"

Warok menyentakkan pakaian bagian bawah yang melilit tubuh Ambarwati, kejab kemudian dia sudah mulai berusaha menindih tubuh si gadis. Tetapi secara tiba-tiba di luar sepengetahuan mereka semua. Nampak, melesat sebuah batu berukuran sangat kecil mengarah pada bagian tengkuk jago istana Muara Panjang ini. Sungguh pun sedang dalam keadaan dilanda nafsu, kiranya Warok memiliki naluri yang sangat tajam. Begitu dia merasakan adanya angin sambaran yang cukup keras di belakangnya, cepat-cepat dia bergeser, lalu menyampok luncuran benda tadi dengan tangan kanannya.

"Puuut! Auuughk...!" keluh Warok. Memang pada kenyataannya biar pun dia berhasil menghindari adanya serangan senjata rahasia itu, tetapi dia merasakan tangannya terasa sakit luar biasa. Antara nafsu birahi dan amarah karena mendapat bokongan dari orang yang tidak dikenalnya. Warok cepat-cepat bangkit, pandangan matanya menatap liar pada keadaan di sekelilingnya. Tapi dia tidak melihat adanya tandatanda kehadiran orang lain di tempat itu, terkecuali para bawahannya sendiri.

"Manusia kampret...! Jangan bersikap pengecut seperti itu, tuajukkanlah diri kalau memang benar engkau seorang yang jantan...!" tantangnya penuh percaya diri. Sesaat lamanya keadaan sunyi sepi, hanya gaung suara Warok menggema di sepanjang tebing batu gamping yang mengapit jalan itu. Tapi setelah gema suara Warok berlalu untuk kemudian lenyap sama sekali. Maka terdengarlah suara tawa berkepanjangan yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang sangat hebat. "Heaaaa... ha... ha... Hei manusia tolol yang berjuluk Warok Selatan. Yang jantan adalah sosok binatang sepertimu. Bukan aku, lihat sajalah caramu yang hendak memperkosa orang lain. Bukankah cara itu tak lebih merupakan tanda bagimu sebagai binatang yang sangat menjijikkan...!" berkata begitu sesosok tubuh melayang sedemikian ringannya dari atas sebatang pohon yang terdapat di atas tebing itu.

"Jleeek!"

Begitu indahnya kedua kaki pemuda berkuncir itu menjejakkan kakinya di atas permukaan tanah. Baik Warok maupun sepuluh orang prajurit yang saat itu sudah bergerak mengepungnya nampak terperangah. Laki-laki berwajah tampan itu kelihatan masih sangat muda, tapi dari caranya bergerak dari cabang pohon serta begitu merasakan suara tawanya tadi. Jelas pemuda berpakaian dekil ini bukanlah pemuda sembarangan, namun Warok sendiri menyadari baru pertama kali inilah dia bertemu dengan si pemuda.

***

6

Sungguh pun dia masih belum dapat menduga kehebatan pemuda asing itu, namun sebagai jagoan istana Muara Panjang. Sedikit pun dia tidak pernah merasa gentar berhadapan dengan pemuda itu. Dengan sikapnya yang sangat angkuh, Warok membentak dengan diiringi sesungging senyum mencemooh

"Bocah... melihat tampangmu. Kukira engkau seorang pengemis yang suka usilan dengan urusan orang lain... benar sekali, agaknya engkau merupakan gembel yang sudah bosan hidup...!"

Tanpa menjawab sepatah kata pun Buang Sengketa mendekati Ambarwati yang masih dalam keadaan tertotok dengan keadaan pakaian tak karuan. Mulanya dia merasa ragu-ragu, tapi akhirnya dibesarkannya niat dengan satu tujuan yang baik. Tetapi sebelum tangannya bergerak untuk membebaskan totokan itu, Warok datang menerjangnya dengan satu cakaran mengarah pada bagian lambung dan rusuk kirinya. Menyadari bahaya itu. Buang bukanlah mengurungkan niatnya untuk membebaskan gadis itu. Sebaliknya dengan tangan kirinya dia memapaki cakaran maut yang dilakukan oleh Warok, sementara tangan yang lainnya membebaskan totokan di bagian dada dan kaki Ambarwati.

"Auugh...!"

Ambarwati keluarkan pekikan tertahan saat mana jemari tangan pendekar Hina Kelana menyentuh salah satu bukit kembar itu, walau pur Ambarwati tahu bahwa pemuda itu bermaksud baik kepadanya, namun nampaknya dia tidak mau terima begitu saja.

Begitu dia terbebas dari pengaruh totokan Warok, tanpa menghiraukan keadaan dirinya yang setengah telanjang, dia langsung menyerang Buang Sengketa secara membabi buta.

Sudah barang tentu, saat itu tangan Buang Sengketa yang melekat erat dengan jemari tangan Warok, tidak dapat digerakkan dengan sangat leluasa. Terlebih-lebih detik itu dia sedang mengerahkan jurus Koreng Seribu, yang sifatnya membetot tenaga dalam lawannya dan memerlukan konsentrasi yang penuh. Karuan saja pukulan jarak dekat tersebut tak dapat dielakkannya. Dia menerima dengan sambutan tangan kanannya.

"Plaak!" Laksana terbang semangat Ambarwati demi melihat kenyataan yang didapatnya, sebelum melakukan pukulan 'Mega Biru', tadi pun dia sempat melihat tangan Warok melekat erat begitu jemari tangan yang membentuk cakar itu membentur tangan si pemuda. Mulanya dia menyangka bahwa Warok sengaja mengadu tenaga dalam dengan lawannya. Pada kenyataannya dia sendiri merasakan tangannya melekat erat pada tangan Buang Sengketa. Semakin dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menarik balik tangannya, maka dia merasakan ada sesuatu yang mengalir deras melalui tangannya, untuk selanjutnya berpindah ke tangan Buang Sengketa.

"Jangan kau kerahkan tenagamu untuk menarik balik tanganmu!" kata si pemuda melalui ilmu menyusupkan suara. Dan tampaknya Ambarwati juga sedikit banyaknya mengetahui tentang ilmu menyusupkan suara. Secara perlahan jemari tangan Ambarwati mulai mengendor, sebaliknya demikian juga halnya yang terjadi pada Warok.

"Wuut! Wuut!"

Secara hampir bersamaan Warok dan Ambarwati menyentakkan tangannya masing-masing.

"Sialan... kiranya bandot Warok itu tahu juga tentang ilmu menyusupkan suara!" gerutu pendekar Hina Kelana.

Ambarwati pucat wajahnya, apalagi kini semua mata memandang padanya. Buang Sengketa menyadari apa sesungguhnya yang sedang dirisaukan oleh gadis yang belum dikenalnya itu. Kemudian tanpa ragu lagi, segera mengambil beberapa helai pakaian di dalam periuknya. Selanjutnya melemparkannya pada Ambarwati, tanpa membuang waktu Ambarwati langsung menerimanya, untuk kemudian berlari-lari kecil menuju sebuah tempat yang terlindung dari pandangan mata.

Saat itu sepuluh orang prajurit telah mengurung Buang dengan jarak yang sangat rapat. Sementara Warok sendiri masih dalam keadaan sempoyongan. Dia merasakan tubuhnya sangat lemas luar biasa, tenaga bagai lenyap tak ubahnya orang yang baru saja melakukan pertarungan ratusan jurus.

"Ah... ah... ah...! Tikus-tikus kerajaan dan yang seekor lagi tikus Warok istana. Bangsat betul... melihat perut kalian yang pada buncit kayak perempuan bunting. Pantas saja berpuluh-puluh desa yang telah kulalui, badan orang-orang desa pada kurus macam orang cacingan. Tak dinyana, rupanya makanan mereka telah kalian serobot dengan dalih pembayaran upeti...!"

"Keparaaat... Siapakah engkau ini yang sebenarnya Ki Sanak... tampangmu baru kali ini aku melihatnya!" bentak Warok tak kalah geramnya.

Pendekar Hina Kelana keluarkan tawa bergelak; "Mengenai siapa diriku? Hemm. Rasa-rasanya itu tak terlalu penting. Tapi untuk tidak membuatmu penasaran, orang-orang memanggilku sebagai si Hina Kelana...!" kata Buang Sengketa tanpa ada maksud menyombongkan diri.

Sungguh pun begitu pengakuan Buang membuat Warok sedikit memucat wajahnya. Sedikit banyaknya tentu dia pernah mendengar tentang sepak terjang seorang tokoh yang masih sangat muda di tanah air bagian barat. Pemuda golongan putih dan masih merupakan titisan rajanya para siluman itu, konon sangat ditakuti oleh datuk-datuk persilatan dari berbagai golongan karena kehebatan "Pusaka Golok Buntung" dan "Cambuk Gelap Sayuto" yang sangat dahsyat itu.

Warok berfikir, masa iya tokoh muda yang memiliki kesaktian luar biasa itu hanyalah berujud sosok tampan namun gembel, bahkan periuk yang menggelantung di pinggangnya memberi sebuah kesan orang yang kurang waras.

"Kau jangan mengada-ada, Ki Sanak...!" tukas Warok, hatinya diliputi keraguan. Sementara itu, para prajurit yang tidak memiliki pengetahuan luas tentang kehadiran dan sepak terjang pendekar Hina Kelana, kelihatan masih tenang-tenang tanpa memperlihatkan keterkejutan sedikit pun. Bahkan di luar dugaan mereka sudah semakin rapat mengurung Buang dengan senjata terhunus.

"Tikus Warok... kalau kau pernah mendengar tentang pendekar Golok Buntung, si Hina Kelana, akulah orangnya...!"

"Oho... jadi gembel sepertimu inilah orangnya?" maki Warok marah sekali. Dia pun cukup menyadari adanya bahaya yang sangat besar bakal mengancam kekuasaan Senopati Karpa. Bagi dirinya andai dapat menangkap pemuda itu hidup atau mati, sudah pasti raja akan memberinya hadiah yang sangat besar. Tapi dia pun tahu kalau dalam pertarungan nanti apakah dia berada di pihak yang menang atau malah sebaliknya. Begitu pun dia selalu yakin pada kemampuan yang dimilikinya.

"Ki Sanak, baiknya kau menyingkirlah dari wilayah kekuasaan kerajaan Muara Panjang. Jika tidak, maka tiang gantungan telah menantimu...!" ancam Warok tanpa bermaksud menakut-nakuti. Sesungging senyum sinis menghias di wajah Buang Sengketa, tanpa sungkan-sungkan dia pun menyelak: "Tikus Warok... sungguh tidak kusangka sama sekali, kalau orang terhormat sepertimu sekaligus sebagai bekas bendahara kerajaan engkau telah begitu tega bersekutu dengan pihak pemberontak seperti Anjing Karpa! Ternyata kau seorang pendendam yang berjiwa pengecut! Bahkan tak segan-segan melakukan pembunuhan terhadap kaum yang lemah. Yang lebih memalukan lagi, di depan hidung para bawahanmu kau hendak melakukan perkosaan. Apakah tidak sama artinya kau mengajarkan pada prajurit-prajurit itu untuk melakukan perkosaan terhadap selir raja...?"

Kata-kata yang bernada ejekan itu karuan saja membuat kemarahan Warok bergolak memenuhi rongga dadanya.

"Bocah! Mulutmu benar-benar sangat keterlaluan sekali. Kalau kubiarkan terus engkau nyerocos, sebentar lagi kau pasti menginjak-injak kewibawaan pemerintah kerajaan...!"

"Bukan saja hanya ku injak-injak, tapi pada saatnya aku akan mengobrak abrik kekuasaan Senopati Karpa dan membebaskan rajanya yang sah...!"

Nampaknya Warok sudah tak mampu membendung kemarahannya, lagi kemudian dia memberi isyarat pada para prajuritnya. Tanpa menunggu diperintah dua kali, prajurit-prajurit kerajaan Muara Panjang langsung membuka serangan-serangan ganas. Namun sebelum mereka sempat bertindak lebih lanjut terdengar seruan tinggi melengking

"Pendekar Hina Kelana! Tikus-tikus kerajaan itu menjadi bagianku...!" teriak Ambarwati yang saat itu telah berganti pakaian pemberian Buang Sengketa. Begitu datang, gadis ini langsung menerjang dengan jurus-jurus tangan kosong, "Hembusan Bayu". Hebat sekali serangan-serangan yang dilancarkan oleh Ambarwati ini. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf lumayan serta kelincahan tubuh dalam bergerak. Membuat lawanlawannya yang bersenjatakan pedang kerepotan juga. Seperti diketahui Ambarwati sebenarnya masih merupakan saudara kandung Sagara, atau si Manusia Kelelawar yang sampai saat sekarang masih belum diketahui nasibnya oleh adik kandungnya tersebut. Pada saat terjadinya penangkapan dan akhirnya Sagara menjalani hukuman pancung. Ambarwati yang sedang berguru pada seorang tokoh yang tidak begitu ternama. Beberapa bulan setelah kejadian yang menimpa abangnya itu, Ambarwati muncul dengan maksud membantu usaha abangnya dalam menyusun kekuatan untuk menyerang kekuasaan raja baru yang sangat sewenang-wenang itu. Tapi hampir tak dapat dia percaya, saat mana dia menerima kabar dari orangorangnya, bahwa kakak kandungnya telah tertangkap oleh prajurit-prajurit kerajaan, bahkan konon menurut beberapa saksi mata bersama orang-orang yang melakukan tindak pencurian, Sagara telah pula menjalani hukuman yang lebih mengerikan. 'Dibuntungi sebelah kaki dan kedua belah tangannya'. Ketika itu, tiada harapan lain, maka Ambarwati dengan bekal kepandaian yang dimilikinya serta dibantu oleh beberapa puluh orang yang bersimpati dengan perjuangannya, secara sembunyi-sembunyi melakukan pemberontakan.

Sayangnya niat yang baik tersebut tidak ditunjang dengan kemampuan fisik maupun kepandaian yang memadai. Hingga baru berhadapan dengan Warok saja dia dan sudah kena dikalahkan. Masih untung seorang pemuda yang berjuluk pendekar 'Hina Kelana' itu dapat menyelamatkannya dari ancaman yang lebih mengerikan daripada sekedar kematian. Menyadari sampai ke situ, mengamuklah Ambarwati secara membabi buta. Sekali waktu dia merampas pedang milik prajurit-prajurit itu, selanjutnya membabatkan pedang rampasan tersebut ke arah lawanlawannya. Tak ayal lagi, jerit kematian pun menggema di sekitar tempat pertarungan itu. Pada saat yang sama pertarungan antara Buang Sengketa dengan jago istana Muara Panjang sedang berlangsung seru-serunya. Berulang kali bentrok tenaga dalam pun tak dapat dihindari lagi, dalam adu tenaga dalam ini nampaknya Warok berada setingkat di bawah lawannya. Pukulan demi pukulan dilepaskan silih berganti, dari Pukulan Empat Anasir Kehidupan tingkat pertama sampai tingkat ke empat, hanya membuat tubuh Warok tergetar dan terhuyung-huyung beberapa langkah, pukulan selanjutnya Buang mempergunakan serangan maut 'Si Hina Kelana Merana', sampai pada pukulan ini, Buang Sengketa hanya mampu membuat tubuh lawan terpelanting tiga tombak dengan memuntahkan darah kental dari mulut Warok. Begitu pun Warok masih dapat mempertahankan diri dengan pukulan andalannya 'Beruang Es Menggulung Badai Salju', tingkat satu, dua, dan tiga. Sungguh sangat luar biasa. Selama malang melintang di rimba persilatan, banyak lawan-lawannya yang tewas hangus dengan hanya mempergunakan pukulan 'Empat Anasir Kehidupan', tapi kini seorang jago istana kerajaan yang bernama Warok tidak tumbang dengan pukulan andalan 'Si Hina Kelana Merana'. Walaupun sampai detik itu Warok hanya mampu bertahan tanpa sedikit pun dapat melakukan serangan balik. Namun bagi Buang Sengketa hal itu adalah sesuatu yang sangat langka dan tak pernah dia temukan pada lawan-lawannya terdahulu. Diam-diam pendekar Hina Kelana memuji dalam hati.

"Ciaaat...!"

Tubuh Buang Sengketa berkelebat undur tiga tombak, dia pun dapat merasakan betapa hawa dingin masih menyerang ke arah dirinya. Sedapatnya dia mulai mengerahkan tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin yang ditimbulkan oleh pukulan yang dilepaskan oleh Warok.

Saat itu bagai tak merasakan sakit yang mendera di sekujur tubuhnya, Warok sembari menyeka darah yang meleleh di bibirnya, nampak menyunggingkan seulas senyum getir. Walau dia pun secara pribadi tetap tidak memungkiri bahwa dirinya sedang menderita luka dalam yang sangat hebat. Namun dengan sikapnya yang tetap menantang detik kemudian dia sudah menyela

"Kuakui, kau benar-benar seorang pendekar yang hebat! Namun sampai mati pun aku tak percaya bahwa kau ini merupakan pendekar Hina Kelana, sebelum aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana hebatnya pusaka Golok Buntung, yang membuat kucar kacir kaum persilatan itu...!" menyelak Warok merasa masih penasaran.

"Hak... ha... ha...! Menyesal sobat, begitu pusaka Golok Buntung tercabut dari sarungnya. Kau tak akan pernah mampu melihatnya. Mulanya banyak juga orang-orang yang cari penyakit menginginkan sesuatu yang seperti apa yang kau ingin kan itu, namun seperti para pendahulunya mereka pun tak pernah mampu menyaksikan kehebatan golok itu...!" bentak pendekar Hina Kelana, dan saat itu, kedua mata pemuda dari negeri Bunian itu nampak berubah memerah saga. Dari celah-celah bibirnya terdengar bunyi mendesis bagai ular Piton yang sedang dilanda kemarahan. Dan itulah satu tanda baginya bahwa saat itu dia sedang berada pada puncak kemarahannya. Warok sebenarnya melihat perubahan itu, namun rasa penasaran akan kebenaran tentang apa yang dikatakan oleh Pendekar Hina Kelana, membuat kecutnya lenyap sama sekali. Bahkan dengan sangat berani dia nyeletuk;

"Kalau kau memang benar-benar pendekar Hina Kelana, tunjukkanlah satu bukti padaku tentang kehebatanmu itu...!" katanya mencemooh.

Kala itu Buang Sengketa sudah tiada memperdulikan kata-kata Warok, sebagai jawabannya, serta merta dia meraba pinggangnya. Kemudian laksana kilat, dia cabut pusaka Golok Buntung yang pamornya sangat menghebohkan itu. Jago istana Muara Panjang merasa tersirap darahnya begitu melihat sinar merah menyala yang terpancar dari pusaka di tangan Buang Sengketa. Bahkan mendadak dia dapat merasakan betapa udara di sekitar tempat itu berubah menjadi dingin luar biasa. Bahkan baik Warok, maupun Ambarwati yang baru saja menyelesaikan pertarungan dengan prajurit-prajurit kerajaan dan saat itu menonton pertarungan tak begitu jauh dari tempat itu terpaksa mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir hawa dingin yang terasa menggigit sampai ke tulang sumsum.

Dalam keadaan seperti itu, nampaknya Buang Sengketa sudah tiada memperdulikan keadaan lawannya. Selanjutnya dengan disertai jeritan panjang bagai hendak meruntuhkan tebing di pinggiran jalan. Tubuh pendekar Hina Kelana, mendadak berkelebat lenyap. Detik berikutnya Warok hanya merasakan hawa dingin berkelebat-kelebat menyambar di sekitar tubuhnya, sementara itu sinar merah menyala menyertakan bunyi berdengung-dengung terasa menyambarnyambar di sekelilingnya. Menghadapi bahaya yang sedang mengintainya, Warok dengan mengandalkan jurus Singa Bayangan, berusaha menyelamatkan diri dari ancaman senjata maut tersebut. Satu ketika;

"Wuuut...!" "Haeees!"

Secara bersusah payah, Warok masih dapat membuang tubuhnya menghindari sergapan golok di tangannya. Celakanya bagai bermata saja, Golok Buntung di tangan lawannya terus memburunya ke mana pun dia pergi. Hingga pada saat yang sangat tepat, tak ayal lagi senjata itu menyambar.

"Jrooos...!"

"Akkkhh...!"

Terdengar suara pekikan tertahan saat mana tubuh Warok terpelanting jatuh akibat sambaran golok di tangan Buang. Begitu tubuh gemuk itu terbanting di atas tanah, maka Warok pun tiada berkutik untuk selama-lamanya.

Buang Sengketa masih dapat melihat sebuah luka yang sangat lebar menggurat di bagian perut lawannya. Selanjutnya dia memasukkan golok itu ke dalam sarungnya. Seperti tak pernah terjadi apa-apa, kemudian dengan wajah tertunduk Buang mengayunkan langkah tanpa memperdulikan Ambarwati, yang terkagum-kagum memandangi kehebatan pemuda itu.

"Kelana... tunggu...!" teriak gadis itu, seraya tanpa sadar mengikuti Buang Sengketa dari belakang.

***

7

Istana kerajaan Muara Panjang sebenarnya merupakan sebuah bangunan yang sangat besar lagi indah. Pada halamannya yang sangat luas ditanami dengan berbagai tanaman yang terdiri dari tanaman pelindung. Sedangkan di sekeliling istana itu berdiri kokoh sebuah tembok yang menjulang tinggi yang berfungsi sebagai benteng pertahanan dari seranganserangan pihak musuh. Biasanya suasana di dalam istana Muara Panjang saat-saat senja hari begitu selalu dalam keadaan lengang.

Namun di senja itu, suasana di dalam ruangan istana disibuki oleh kehadiran para pembesar dan orang-orang penting istana.

Di sebuah ruangan pertemuan nampak hadir Wintang Kelelep, Godam dan para algojo penting lainnya. Sedangkan di sebelah kiri yang menghadap kursi singgasana raja nampak pula Sudra Blonteng, Senopati Salya, yaitu senopati pengganti raja yang menduduki tahta kerajaan saat itu. Suasana di dalam ruangan pertemuan itu nampak sunyi mencekam. Raja Karpa, atau yang dulunya lebih dikenal dengan Senopati Karpa nampak termangu di atas singgasananya. Selama hampir empat tahun memerintah kerajaan Muara Panjang, akhir-akhir ini dia merasa mendapat teror yang sangat mengejutkan hatinya.

Mula-mula Raja Karpa mendapat laporan Sudra Blonteng bentrok dengan seorang pemuda yang menamakan dirinya 'Pendekar Hina Kelana', terkecuali Sudra Blonteng sendiri, semua orang-orangnya tewas di tangan pemuda berkuncir yang konon memiliki tingkat kepandaian yang dapat disejajarkan dengan Dewa. Tak lama setelah itu, hampir setiap malamnya, beberapa orang prajurit kerajaan yang sedang melakukan ronda ditemukan tiada bernyawa dengan luka bekas gigitan dan guratan bergambar kelelawar hitam di bagian prajurit-prajurit yang malang itu

Hampir setiap malam, penjagaan baik di dalam maupun di luar istana semakin diperketat. Sejauh itu tetap saja korban berjatuhan tiada mengenal henti.

Dan sekarang Raja Karpa baru saja menerima laporan tentang tiada kembalinya Warok dari tugasnya melakukan patroli di seluruh desa yang menjadi kekuasaan kerajaan Muara Panjang. Sungguh merupakan kejadian yang sangat mengejutkan, apalagi tidak didapat kabar ke mana atau apa yang sedang terjadi pada jago istana tersebut. Dan barusan algojo yang bernama Godam mengutus beberapa orang kepercayaan yang berilmu sangat tinggi untuk mencari tahu tentang kabar Warok dan beberapa puluh prajurit istana kerajaan.

Dalam hati Raja Karpa mulai mencemaskan tentang adanya teror-teror itu. Tiba-tiba pandangan matanya menatap ke sekelilingnya.

"Sudah hampir tiga hari, saudara Warok belum juga kembali dari tugasnya. Apakah di antara anda semua sudah mencari tahu tentang kabar saudara Warok...?" bertanya Raja Karpa memecahkan keheningan suasana.

Sudra Blonteng, algojo Godam dan Wintang Kelelep secara hampir bersamaan sama-sama mengangkat wajahnya. Semua mata kini tertuju pada rajanya.

"Yang mulia paduka...! Baru saja pagi tadi saya mengutus beberapa orang kepercayaan untuk mencari tahu tentang saudara Warok...!" sela si algojo yang bernama Godam sembari menunduk hormat. Raja Karpa kelihatannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ya... bagus sekali kalau hal itu sudah anda lakukan. Nampaknya untuk selanjutnya kita tak bisa berleha-leha lagi dengan segala fasilitas yang ada. Sekelompok orang-orang tertentu atau bahkan lebih dari itu kelihatannya sudah mulai berusaha merongrong kewibawaan pemerintah kerajaan. Yang kuinginkan dari anda-anda semua adalah mencari tahu dan sekaligus menangkap siapa adanya pendekar Hina Kelana. Satu hal yang cukup membuat pusing kepalaku adalah tentang adanya teror makhluk kelelawar yang akhirakhir ini terjadi di lingkungan istana...!"

"Ee... ralat... yang mulia! Iblis yang melakukan pembunuhan terhadap prajurit ronda di lingkungan istana ini bukanlah sosok makhluk atau pun binatang. Melainkan seorang manusia cacat yang berilmu sangat tinggi sekali...!" sela Sudra Blonteng memberitahukan duduk persoalan yang sebenarnya. Raja Karpa kerutkan alis matanya yang sudah mulai memutih, namun sosok tubuhnya masih kekar dan gagah.

"Benarkah itu, Paman Sudra Blonteng...? Apakah paman melihatnya...?" selak Karpa seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sudra Blonteng.

"Apa yang saya katakan ini adalah yang sesungguhnya, Gusti! Bahkan tadi malam pun saya hampir dapat menangkap orang itu, setelah saya ketahui dia membunuh dua orang penjaga malam. Sayangnya dalam pengejaran tersebut saya kehilangan jejak!" Semua orang yang berada di dalam ruangan itu nampak terperanjat bukan main. Terlebih-lebih saat mana Sudra Blonteng menyebutkan tentang ciri-ciri orang yang melakukan teror tersebut.

"Apa...? Paman bilang pelaku pembunuhan atas diri prajurit-prajurit jaga malam ternyata hanyalah seorang cacat...!" selak Godam dan Wintang Kelelep tersentak bagai disengat lebah.

"Ya... bahkan dalam keadaan berlari itu, dengan tangannya yang buntung sebatas siku dia masih sempat menuliskan sesuatu di atas daun lontar kemudian menyambitkannya padaku...!" Selanjutnya Sudra Blonteng merogoh sesuatu di dalam saku celananya" Sementara Karpa dan para algojo-algojo istana nampak saling pandang antara yang satu dengan yang lainnya secara silih berganti. Mereka seolah bagai tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sudra Blonteng. Sulit di percaya seseorang yang sedang mengerahkan lari cepat masih sempat menuliskan sesuatu di atas daun lontar, apalagi yang melakukan itu hanyalah orang yang memiliki cacat tubuh.

Saat itu, Sudra Blonteng sudah pula menyerahkan daun lontar itu kepada Raja Karpa. Secara cermat Karpa meneliti daun lontar pemberian Sudra Blonteng, alis matanya semakin berkerut begitu melihat sederetan kata-kata yang tertulis rapi di atas daun lontar yang berada di tangannya. Adapun tulisan itu berbunyi:

Senopati Karpa raja keparat! Terkadang hukuman kejam tak pernah menyelesaikan satu persoalan. Sayang... kau tak pernah sadar, bahwa ada saatnya manusia itu salah perhitungan. Kau tentu mengira, orang yang telah kau hukum melalui tangan algojomu dengan cara membuntungi kedua tangan dan sebelah kakinya sudah menjadi tulang belulang saat ini. Raja gemblung.... Di atas jurang Bukit Kelelawar, hukuman menyakitkan itu aku jalani. Tak ada salahnya kalau saat ini dari bawah lembahnya kuawali sebuah dendam...!

Tertanda Manusia Kelelawar

Usai membaca tulisan yang terdapat di atas daun lontar, wajah Senopati Karpa sebentar memerah sebentar memucat. Sorot matanya memperlihatkan rasa kecut yang teramat sangat. Tiba-tiba dia memandang pada para algojo istana. Tanpa diduga-duga terdengar pula suaranya yang sember namun cukup berpengaruh buat para abdi-abdinya: "Saudara Godam... dan saudara Wintang Kelelep...!" ucap Raja Karpa. "Masih ingatkah saudara-saudara saat mana dulu saya memerintahkan satu hukuman pada seorang pemuda yang menyantroni tempat tinggal Paman Sudra Blonteng?" Bagai tercekap, baik Wintang Kelelep maupun Godam demi mendengar pertanyaan seperti itu. Cepatcepat mereka menghaturkan sembah, lalu salah seorang di antaranya menjawab: "Kami masih ingat, Gusti...! Kalau tak salah orang itu bernama Sagara...!" menjawab Wintang Kelelep yang sangat ditakuti oleh kalangan persilatan karena kekejamannya. Raja Karpa mengangguk sembari melemparkan sesungging senyum rawan.

"Hukuman apakah yang telah kalian berikan pada pemuda itu...?" Dengan tubuh sedikit gemetaran, kedua algojo itu menjawab serentak; "Sesuai dengan perintah gusti raja, kami membuntungi kedua tangan pemuda itu, juga sebelah kakinya. Setelah itu kami pun melemparkannya ke dalam jurang kelelawar!" Walau sebenarnya Raja Karpa merasa sangat puas dengan hasil kerja para abdi-abdinya, namun di lubuk hatinya dia juga kecewa. Kecewa karena ternyata Sagara yang pada waktu dulu mempunyai niat untuk melakukan pemberontakan, ternyata setelah menjalani hukuman yang sangat mengerikan itu masih tetap hidup juga. Begitu pun dia mana mungkin bisa menyalahkan para bawahannya.

Tercekat hati Raja Karpa untuk mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya dia memaksakan diri untuk mengatakannya juga.

"Orang itu ternyata masih tetap hidup... memang sangat sulit dipercaya. Tapi ini adalah satu kenyataan yang harus dan pasti akan kita hadapi. Sebagai raja aku pun belum tahu, ada hubungan apa antara Manusia Kelelawar dengan pemuda yang berjuluk 'Pendekar Hina Kelana' itu... tapi apapun tujuan mereka yang pasti mereka mempunyai maksud-maksud tak baik yang nantinya dapat mengancam keselamatan kita semua,..!" desah sang raja cemas. "Gusti...!" menyela Senopati Salya yang sedari tadi hanya berdiam diri. "Menurut hamba, mengapa kita harus mencemaskan kehadiran dua ekor tikus cecurut! Kita memiliki kekuatan yang sangat besar, dan orang-orang kita juga bukan merupakan prajuritprajurit sembarangan. Sebagai senopati hamba selalu merasa yakin dengan kekuatan yang kita miliki. Pula hamba berani jamin mereka pasti tak punya keberanian untuk menyerbu ke mari...!" kata senopati yang masih berusia sangat muda tersebut penuh percaya diri.

Tapi akhirnya dia terkesiap begitu melihat raja Karpa menggelengkan kepala pelan.

"Persoalannya tidak semudah itu, saudara Salya...!" desahnya. "Aku merasa khawatir andai kedua orang itu saling bersatu, kemudian menghasut rakyat untuk melakukan pemberontakan terhadap kita. Nah di sinilah mereka akan menjadi lawan yang sangat tangguh bagi kita...!"

Orang-orang penting kerajaan yang di ruangan itu serentak mengangguk-angguk setuju. Tapi tidak begitu halnya dengan Senopati Salya yang berpikiran sangat cerdik. Kemudian dia melanjutkan gagasannya!

"Menurut hamba, untuk melatih para penduduk desa dalam ilmu silat maupun ilmu peperangan membutuhkan waktu yang cukup lama, dalam keadaan paceklik seperti ini, tentu setiap orang lebih mementingkan isi perut daripada hanya sekedar pemberontakan yang tiada pasti hasilnya. Kalaupun mungkin kedua orang itu dapat bersatu kemudian melatih penduduk biasa dengan berbagai ilmu kanuragan. Setidak-tidaknya patroli kerajaan yang kita adakan dalam waktu sesering mungkin. Pasti dapat membongkar kegiatan mereka. Satu-satunya yang harus kita perketat adalah penjagaan di sekitar istana ini. Dan jangan pula beri kesempatan pada penduduk untuk berkasak kusuk sesamanya...!" ujar Senopati Salya sembari tersenyum puas.

Wajah Raja Karpa sedikit berubah cerah saat mana mendengar semua gagasan yang diberikan oleh senopatinya. Rasa-rasanya semua apa yang dikatakan oleh Senopati Salya memang tak dapat dipungkiri kebenarannya.

"Kupuji kecerdikanmu dalam berpikir. Semoga apa yang menjadi ganjalan di hatiku akhir-akhir ini, kelak tidaklah menjadi suatu kenyataan...!"

"Terima kasih, Gusti....! Sebagai seorang abdi sekaligus sebagai seorang senopati, keselamatan kerajaan memang sudah menjadi tanggung jawab hamba...!"

"Baiklah... kukira pertemuan ini kita sudahi sampai di sini dulu. Jangan lupa kirim para utusan lagi untuk mencari tahu kabar tentang saudara Warok. Andai sampai besok juga belum kembali...!" pesannya sebelum meninggalkan ruangan pertemuan yang sangat luas itu.

"Perintah akan kami jalankan, Gusti...!" menyahut para pembesar kerajaan Muara Panjang secara serentak.

***

8

Kedua bola matanya yang kecoklat-coklatan tiada henti-hentinya memandangi wajah pemuda ganteng yang berjalan tak jauh dari sisinya. Ada terbersit rasa kagum yang membias lewat tatapan mata gadis itu. Dia merasakan ada perasaan aneh menjalar perlahan di lubuk hati sanubarinya yang paling dalam. Bahkan dia pun tak pernah memiliki kemampuan untuk saling berpandangan mata dengan pemuda berpakaian lusuh di sampingnya itu. Pendekar Hina Kelana, hmm. Tak kusangka di balik kesaktian yang kau miliki, ternyata kau seorang pemuda rendah hati, yang lebih akrab dengan kesederhanaan. Penampilanmu sangat sesuai dengan julukan yang kau terima.

"Apa yang kau pikirkan, Ambarwati?! Tidak cukupkah kau tangisi kepergian kakakmu selama semalam suntuk...!" Suara teguran si pemuda yang berjalan lambat di sisi Ambarwati membuat gadis itu tersentak dari lamunannya.

"Ee... anu... saat ini rasanya bukan itu yang ku pikirkan!" ujarnya tersipu malu. "Aku cuma ingin, secepatnya sampai ke kerajaan Muara Panjang, tidakkah kakang lihat betapa kehidupan rakyat sudah sangat menderita? Pula aku harus membalaskan kematian kakang Sagara yang sangat mengenaskan itu...!" Pemuda berbaju merah di samping gadis itu menyunggingkan seulas senyum maklum, tapi kemudian dia telah berkata pula; "Pernahkah kau lihat seekor semut melawan gajah...?"

"Apa maksudmu...?" tanya si gadis tiada mengerti.

"Maksudku, janganlah mengambil suatu tindakan hanya menuruti kehendak nafsu belaka. Apalagi kalau sampai punya niat menyatroni sarang macan...! Kita menyerang mereka dengan kekuatan dua gelintir, sedangkan mereka berjumlah puluhan, atau bahkan mungkin ratusan, kita harus mencari kekuatan tambahan untuk menghadapi bala tentara kerajaan. Ataupun kalau tidak mungkin, kita harus menjalankan taktik teror.... Kita rongrong kekuatan mereka sedikit demi sedikit, ini pasti banyak membantu dalam usaha kita untuk menghancurkan Senopati Karpa dan begundal-begundalnya. Kalau tidak dengan cara itu, aku tak berani menjamin apakah kita ada kemungkinan untuk menang...?"

Ambarwati tercenung demi mendengar penjelasan Buang Sengketa, namun sesungguhnya apa yang dikatakan oleh pemuda itu benar adanya. Dengan hanya berdua mana mungkin dapat mengalahkan prajurit-prajurit kerajaan yang jumlahnya mencapai ratusan belum lagi pembantu-pembantu raja yang ratarata dia ketahui berilmu sangat tinggi. Namun apabila dia teringat sesuatu, maka saat selanjutnya dia sudah berucap lagi; "Kelana, mengenai gagasanmu tadi, nampaknya ada seseorang yang menamakan dirinya sebagai 'Kelelawar Hitam' juga seperti apa yang kudengar telah pula melakukannya. Hampir setiap malam aku mendengar kabar bahwa orang itu melakukan aksi teror terhadap prajurit peronda malam. Aku merasa yakin orang itu mempunyai maksud-maksud yang sama dengan kita...!"

"Dari mana kau tahu tentang semua itu...?" tanya pendekar Hina Kelana. Sejenak dia menghentikan langkahnya, namun tak lama kemudian setelah menatap tajam pada Ambarwati, dia telah melanjutkan langkahnya kembali.

Gadis berhidung bangir tersebut kemudian menceritakan tentang mata-mata yang berkomplot padanya. Dari laporan yang dia terima, diketahui bahwa sudah lebih dari dua purnama seorang laki-laki cacat, dengan jurus-jurus kelelawarnya yang sangat dahsyat hampir setiap malamnya melakukan aksi pembunuhan terhadap prajurit-prajurit kerajaan. Bahkan beberapa tokoh penting kerajaan yang melakukan pengejaran sempat tewas di tangan Manusia Kelelawar itu. Dari sikap dan perbuatannya, jelas sekali kalau Manusia Kelelawar itu mempunyai dendam kesumat pada orang-orang kerajaan.

Sebaliknya Buang Sengketa demi mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ambarwati, nampaknya sudah dapat menduga-duga siapa adanya lakilaki cacat itu. Dari keterangan yang dia peroleh jelas ciri-ciri Manusia Kelelawar sangat sesuai betul dengan hukuman yang dijatuhkan atas diri Sagara. Namun sebelum dia dapat melihat fakta yang sebenarnya, dia akan tetap berusaha untuk tidak bercerita tentang apa yang diketahuinya pada Ambarwati.

* * *

Sementara itu pada saat yang sama tidak begitu jauh dari tempat kedua orang ini berada. Serombongan penunggang kuda yang terdiri dari prajuritprajurit kerajaan nampak sedang melalui sebuah jalan berbatu tak jauh dari Desa Batu Gantung. Melihat cara mereka membedal kuda-kuda tungganggannya, nampaknya mereka dalam keadaan tergesa-gesa.

Kenyataannya memang begitu, siang yang sangat terik itu mereka sedang menjalankan tugas menyusul orang-orang kerajaan yang bertugas mencari Warok yang tiada kembali dari patroli sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan begitu juga halnya yang terjadi dengan prajurit-prajurit yang menyusulnya kemudian. Kenyataan seperti itu benar-benar membuat resah hati sang Raja Karpa. Tanpa pikir panjang lagi, pagi itu dia mengutus beberapa orang algojo kepercayaannya yang bernama Wintang Kelelep bersama beberapa orang prajurit pilihan.

Kini setelah melewati sebuah hutan tua, di sebuah tikungan jalan mereka melihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Mayat-mayat bergelimpangan berikut kuda-kuda tunggangan, berbaur menjadi satu. Wintang Kelelep dan Godam demi melihat kenyataan ini segera melompat dari punggung kudanya.

"Lihatlah saudara Godam! Tiga puluh orang prajurit berikut kuda-kuda tunggangan mereka, semuanya tewas terbantai...!" teriak Wintang Kelelep sembari memeriksa keadaan mayat-mayat itu. Algojo yang dipanggil Godam itu, dan selalu membawa-bawa pedang panjang ke mana pun dia pergi nampak menghampiri kawannya yang sedang memeriksa mayatmayat tersebut. Setelah melihat sebuah luka bekas gigitan, serta sebuah tanda yang berbentuk Kelelawar Hitam. Maka tanpa sadar dia pun mengeluarkan seruan tertahan. 

"Manusia Kelelawar...!"

"Apa katamu, pembunuh terkutuk itu...!" gumam Wintang Kelelep, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, sebagai seorang algojo dia merasakan hatinya diliputi rasa cemas.

"Paman Warok dan orang-orangnya tiada kembali ke kerajaan sampai saat ini dan tiba-tiba prajurit-prajurit yang menyusulnya juga menemui kematian secara menyedihkan begini...!" desah Godam setengah mengeluh melihat nasib yang dialami oleh prajurit-prajurit itu. "Aku sendiri bukanlah orang yang takut mati, tapi menghadapi seorang lawan yang menyimpan dendam lama, aku merasa yakin dia memiliki persiapan yang berlipat ganda...!"

Sesaat lamanya kedua algojo kerajaan ini saling berpandangan sesamanya, ada rasa khawatir terpancar lewat tatapan mata mereka. Apalagi bila mengingat cara Manusia Kelelawar membantai lawanlawannya. Nampaknya sama sekali prajurit-prajurit itu tiada diberi kesempatan sedikit pun untuk mengadakan perlawanan dan bahkan di antara prajurit-prajurit yang tewas, mereka tak sempat mencabut pedang dari sarungnya. Sungguh merupakan ilmu sakti yang sangat langka yang mengandalkan kecepatan gerak dan pukulan jarak jauh.

"Saudara Wintang Kelelep.... Aku merasakan bahwa manusia keparat itu masih berada di sekitar tempat ini. Cobalah kau lihat darah yang masih menetes di bagian luka di tubuh mereka...!" ucap algojo berbadan raksasa itu hampir-hampir tiada terdengar. Saat itu suasana memang benar-benar terasa mencekam, tidak saja kedua orang itu yang merasakannya, tapi juga prajurit-prajurit yang ikut serta dengan mereka. Dalam kebisuan suasana, mendadak Wintang Kelelep memberi perintah pada para prajurit yang menyertainya, suaranya cukup keras meningkahi rasa cemas yang menyelimuti hatinya sendiri.

"Kalian semua! Cepat buat sebuah kuburan massal untuk menguburkan mayat-mayat kawankawan kita...!" perintahnya tegas.

Tanpa memberi jawaban apapun, sangat cepat sekali belasan orang prajurit kerajaan Muara Panjang segera mengerjakan perintah atasannya. Tak sampai sepemakan sirih pekerjaan menggali kubur itu pun selesailah sudah.

Kini satu demi satu mayat-mayat bergelimpangan itu mereka usung untuk kemudian mereka masukkan ke liang lahat.

Wintang Kelelep dan Godam hanya mengawasi pekerjaan para prajurit-prajurit itu sambil menjaga setiap kemungkinan. Begitu pekerjaan itu usai, rombongan ini bermaksud meneruskan perjalanannya dalam upaya mencari tahu kejadian apa yang sesungguhnya telah menimpa atas diri Warok dan yang lainlainnya. Namun sebelum mereka sempat membedal tali kekang kuda, terdengar satu bentakan keras yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang sangat hebat;

"Kalau kubur untuk kembrat-kembrat kalian telah selesai kalian buat. Sekarang kalian buatlah sebuah kubur baru sebagai tempat peristirahatan terakhir buat kalian kunyuk-kunyuk kerajaan...!"

Meremang bulu kuduk prajurit-prajurit kerajaan, begitu mendengar nada ucapan yang mengancam. Terlebih-lebih ketika mereka menoleh ke sekelilingnya tak seorang pun orang asing ada di tempat itu.

"Godam... Wintang Kelelep...! Kalian kuharap masih mengenali suaraku. Hukuman itu selain meninggalkan cacat, namun juga telah menggoreskan luka yang teramat pedih...!" teriak suara yang masih belum terlihat rupanya. Sudah barang tentu, baik Godam maupun Wintang Kelelap masih mengenali suara orang yang dulu pernah dihukumnya. "Sagara!" gumam hati mereka.

"Jangan bertindak seperti setan, main teror namun tak berani menunjukkan muka...!" maki Wintang Kelelep, kejab kemudian dia telah mencabut pedang panjang dari sarungnya.

Masih di dalam tempat persembunyian yang tidak diketahui oleh lawan-lawannya. Sagara atau yang lebih ditakuti dengan julukan "Manusia Kelelawar" perdengarkan suara tawa menyeramkan.

"Keadaan tubuhku mungkin kau masih dapat membayangkannya manusia keparaaat! Bahkan aku sendiri masih dapat merasakan betapa pedihnya pedang terkutuk di tanganmu itu saat mana dia terayun menebas bagian-bagian tubuhku...!" maki Sagara dalam suaranya. "Saat itu aku menjadi manusia yang kalah tanpa daya, dan kau tertawa puas dalam kemenanganmu. Tapi kau selalu lupa bahwa hidup manusia ini selalu dipenuhi dengan segala kemungkinan...!"

"Bangsaaat! Tak perlu berkotbah tunjukkanlah dirimu...!" sentak Godam merasa tidak sabar lagi.

Masih belum lenyap gema suara Godam, tahu-tahu sosok bayangan tubuh melesat dari ketinggian pohon yang terdapat di pinggiran jalan itu. Mengagumkan sekali cara laki-laki itu menjejakkan kakinya di atas tanah. Sungguh pun tubuhnya dalam keadaan cacat tapi dia masih mampu menjaga keseimbangan dengan sangat baik sekali.

Sebaliknya di pihak prajurit-prajurit kerajaan demi melihat kehadiran laki-laki cacat yang berjuluk "Manusia Kelelawar" ini, dengan cepat pula segera mengepung laki-laki itu. Sagara sejenak lamanya menyapu pandang pada orang-orang yang mengepung dirinya. Dia mendengus disertai sesungging senyum tipis sebagai isyarat maut setiap gerakannya.

Kemudian tanpa menghiraukan prajuritprajurit itu dia memandang tajam pada Godam dan Wintang Kelelep silih berganti. Sorot matanya yang merah menyala, cukup mengisyaratkan dendam yang selama ini terpendam di lubuk hatinya.

"Kau lihatlah bekas luka-luka ini... hemm sungguh... sekarang merupakan saat yang tepat untuk melakukan pembalasan...!" geram Sagara. Selanjutnya tanpa basa basi lagi, dia kibaskan tangannya yang hanya sebatas pangkal lengan itu. Selarik sinar berwarna hitam pekat, kontan menyambar pada beberapa orang prajurit Muara Panjang. Dalam gebrakan pertama ini, lima orang prajurit itu terpelanting tubuhnya dan langsung berkelejetan meregang ajal. Luar biasa kecepatan gerak yang dilakukan oleh Sagara ini, sehingga Godam dan Wintang Kelelep sendiri tidak dapat mengikuti gerakan kilat yang mengeluarkan hawa dingin yang sangat hebat ini. Dan mereka lebih terkejut lagi ketika mendapati tubuh kawan-kawannya terkapar tanpa nyawa hanya dalam segebrakan saja.

"Keparaaat... Ka...!" "Wuuut...!"

Wintang Kelelep belum lagi sempat melanjutkan kata-katanya, tahu-tahu Sagara telah mengibaskan tangannya yang buntung ke arah delapan penjuru mata angin. Satu gelombang pukulan datang menggebu, meluruk ke arah delapan penjuru mata angin, pontang panting prajurit-prajurit yang jumlahnya hanya belasan orang itu berusaha menyelamatkan diri. Namun tetap saja mereka terhempas oleh pukulan 'Kelelawar Hitam' yang dilancarkan oleh Sagara. Dari sekian banyak orang yang ada di situ hanya Wintang Kelelep dan Godam saja yang dapat luput dari serangan ganas itu. Dan yang pasti andai saja kedua orang itu tidak memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sudah sejak tadi mereka menyusul kawan-kawannya. Melihat kematian yang menggenaskan itu Wintang Kelelep dan Godam nampak menjadi sangat gusar sekali, sembari mengamang-amangkan pedangnya dia berseru membentak: "Manusia iblis...!" makinya.

***

9

Sesaat setelah bentakannya itu, secara berbareng Wintang Kelelep dan Godam langsung menyerang Sagara dengan pedang panjangnya. Terasa ada angin menderu akibat sambaran pedang yang dilakukan oleh lawannya. Sekejap saja gulungan sinar pedang di tangan lawannya telah mengurung Sagara dari berbagai penjuru. Sungguh pun Wintang Kelelep dan Godam memiliki tubuh yang gemuk luar biasa, namun gerakan silat mereka ternyata sebat dan cukup ganas. Apalagi sepuluh jurus kemudian Godam dan Wintang Kelelep sudah mempergunakan jurus pedang 'Para Raksasa Memukul Setan' tak ayal semakin lama Sagara semakin terkurung dalam posisi yang sangat rapat. Tapi Sagara juga tidak ingin keadaan itu berlangsung begitu saja, sebab apa yang ada di dalam benak lakilaki itu adalah bagaimana caranya menjatuhkan pihak lawan yang paling dibencinya sesegera mungkin.

Maka setelah pertarungan sengit itu berlangsung lebih kurang lima belas jurus, dengan bertumpu sebelah kakinya, tubuh Sagara langsung melentik ke udara. Saat itu dia telah bersiap-siap dengan pukulan dahsyat yang diberi nama 'Kelelawar Hitam Menembus Kepekatan Malam' secara spontanitas, tubuh Sagara yang masih berkelebat-kelebat di atas kepala lawannya itu terlihat mengepulkan uap berwarna hitam pekat. Sungguh hebat sekali pengaruhnya bagi pihak lawannya, sebab tak begitu lama setelah kepulan uap itu. Godam yang berada paling dekat dengan 'Manusia Kelelawar' ini langsung terbatuk-batuk. Wajahnya sebentar saja memucat dengan keringat dingin mulai terasa membasahi tubuhnya yang tiada berbaju. Sadarlah Wintang Kelelep bahwa uap yang mengepul dari tubuh lawannya ternyata mengandung racun yang sangat ganas. Masih untung se-belum Wintang Kelelep memberi peringatan pada kawannya itu, Godam telah mengetahui apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi. Maka tak menunggu lebih lama lagi, laki-laki algojo istana itu langsung menutup jalan nafasnya. Sebelum dia dapat menguasai situasi,

Sagara telah melepaskan pukulan mautnya melalui tangannya yang buntung. "Weng...!"

Pukulan itu menderu dahsyat mengarah pada tubuh Godam, mengetahui kawannya terancam bahaya, maka Wintang Kelelep dengan pedang panjangnya bergerak memapaki serangan lawan dengan sikap ayal-ayalan.

"Wees! Blaaaam...!"

Bukan saja pedang di tangan Wintang Kelelep mental entah ke mana, namun juga tubuhnya terbanting dan membentur batu besar yang ada di belakangnya. Bahkan pukulan 'Kelelawar Menembus Kepekatan Malam' sempat pula menyambar bagian lengannya. Nampak lengan yang tersambar pukulan itu menjadi kehitam-hitaman. Masih untung bagi Wintang selain memiliki tenaga yang sangat besar ternyata juga dia kebal terhadap berbagai racun ganas. Begitu pun dia merasakan dadanya bagai remuk, bahkan kedua tangannya terasa kesemutan. Dia cepat bangkit, namun Godam yang selamat dari serangan itu telah bergerak mendahului. Satu babatan pedang secara beruntun mengarah pada bagian kaki Sagara yang hanya tinggal satu-satunya.

"Uutt...!"

Dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai taraf paling sempurna Sagara masih mampu menyelamatkan kaki tunggalnya. Tetapi saat dia menjejakkan kakinya di atas tanah, satu pukulan Wintang Kelelep yang mengandalkan tenaga besar dengan ditopang berat tubuhnya menghantam bagian punggungnya.

"Buuuk...! Gusraaak...!"

Tanpa ampun tubuh 'Manusia Kelelawar' terpelanting roboh, pukulan algojo yang sangat dibencinya itu membuat tulang punggungnya terasa bagai melesak ke depan. Tiada tercegah, darah kental menggelogok dari mulutnya, beribu kunang-kunang bermain-main di matanya. Bahkan dia merasakan perutnya mual bagai hendak muntah. Mempergunakan kesempatan itu, Godam yang masih memegang pedang terus memburunya. Sagara bukan tak mengetahui akan datangnya bahaya itu, namun dia terasa sangat sulit untuk menggerakkan tubuhnya yang cacat. Dia hanya berguling-guling menghindari sergapan pedang panjang di tangan lawannya.

Penuh hawa nafsu membunuh, dua algojo yang terkenal karena kekejamannya ini terus melakukan tekanan-tekanan agar 'Manusia Kelelawar' tidak mempunyai kesempatan untuk bangkit pada posisinya.

Semua kejadian itu kiranya tidak luput dari perhatian Buang Sengketa dan Ambarwati yang sudah berada di tempat itu sesaat setelah mereka mendengar suara pekik kematian dari mulut para prajurit-prajurit kerajaan Muara Panjang. Sudah barang tentu Ambarwati yang sudah mengenali kakak kandungnya sejak pertama tadi menjadi sangat cemas, dan Buang Sengketa cukup mengetahui kecemasan yang ada di dalam hati Ambarwati. Tanpa menunggu diperintah tubuh pendekar Hina Kelana sekejap saja telah melesat sedemikian cepatnya menuju arena pertempuran. Masih dalam keadaan melayang itu Buang hantamkan telapak tangannya ke depan, tak pelak pukulan 'Empat Anasir Kehidupan' dia lepaskan. Selanjutnya serangkum gelombang sinar ultra violet menderu mencari sasarannya pada bagian punggung Godam. Saat itu algojo itu sudah mengayunkan pedang panjangnya mengancam pada bagian leher Sagara, tetapi akhirnya dia terpaksa mengurungkan niatnya begitu merasakan adanya sambaran angin pukulan yang berhawa panas, itu mengancam bagian punggungnya. Cepat-cepat Godam membanting tubuhnya ke samping kiri. Kesempatan yang hanya sesaat itu dipergunakan oleh Sagara untuk bergulingan menjauh.

"Blaaam!"

Gagal menghajar sasarannya, pukulan 'Empat Anasir Kehidupan' yang dilepaskan oleh Buang Sengketa menghantam tempat kosong. Bumi terasa bergetar saat mana pukulan itu menghantam tanah hingga berantakan.

"Keparat! Siapa kau...!" maki Godam begitu terhindar dari pukulan maut itu. Sebaliknya Sagara memandang pada Buang Sengketa dengan hati diliputi tanda tanya. Buang tersenyum sinis begitu mendapat pertanyaan seperti itu, dengan sikap acuh dia menjawab; "Aku adalah seorang pengelana yang bertugas membasmi algojo bangsat seperti kalian. Tapi karena saudara Sagara mempunyai persoalan yang lebih penting dengan kalian. Maka di sini aku hanya bertindak sebagai juri dalam pertarungan ini...! Nah saudara Sagara, lakukanlah apa yang pantas untuk saudara lakukan...!" ucap Buang sembari melangkah mundur. Sementara itu setelah saling berpandangan sesamanya, Wintang Kelelep berseru marah.

"Bocah gembel, nampaknya kalian telah bersekutu dengan manusia cacat itu untuk berkomplot menyerang kerajaan. Puiiih, jangan harap...!"

Sebagai jawabannya, Sagara kirimkan satu pukulan 'Kepakan Sayap Kelelawar Hitam'.

Secara spontan dari tangan Sagara yang terkutung sebatas siku menderu serangkaian gelombang berhawa sangat dingin bergelung-gelung menghajar tubuh Wintang Kelelep yang berada paling dekat dengan dirinya. Algojo kejam yang sudah tiada bersenjata itu tanpa mengenal rasa takut lagi langsung memapaki serangan lawan yang datangnya bagai gemuruh suara air bah. "Jungg...!"

Akibat benturan dua tenaga sakti yang dilepaskan oleh masing-masing lawan, telah menyebabkan tubuh Sagara mencelat ke udara, namun begitu dia berjumpalitan ke bawah, 'Manusia Kelelawar' ini masih mampu mendaratkan kakinya dengan baik di atas tanah berbatu. Sementara Tubuh Raksasa Wintang Kelelep setelah roboh dengan menimbulkan suara berdebum bagai pohon roboh nampak kerengkangan berusaha bangun dari tempatnya. Namun pukulan yang dilepaskan oleh Sagara, sungguh pun sebagian dapat dia papaki dengan baik, tapi sebagian lagi tetap menghantam bagian dadanya. Dia merasakan tubuhnya mendadak saja terasa kaku lemas tiada bertenaga bahkan terasa sangat sulit untuk digerak-gerakkan.

"Hoeeek...!"

Darah meleleh dari sela-sela hidung bibir serta pori-pori tubuhnya. Hal ini membuat Godam menjadi sangat terkejut sekali, bahkan kedua matanya terbelalak bagai tak percaya. Rasa jeri mencekam hati sanubarinya, tapi apabila dia memandangi keadaan kawannya sendiri, ada rasa tak tega membayang lewat tatapan matanya. Mendadak Godam berubah menjadi sangat beringas dan buas. Serta merta dia menerjang 'Manusia Kelelawar' dengan kedua tangan terpentang membentuk cakar-cakar raksasa. Angin menyambar keras saat mana kedua tangannya berkelebat menyerang bagian pelipis dan dada Sagara, begitu ganas serangan-serangan itu, dan kenyataannya, dalam puncak kemarahannya Godam telah mempergunakan jurus pamungkas yang dinamakan 'Raksasa Buta Memukul Macan Gila'. Debu mengepul ke udara, suasana di sekitar pertarungan nampak samar-samar. Godam tiada mempedulikan hal itu, sebaliknya dalam melakukan setiap serangan dari mulutnya terdengar suara mendengus bagai seekor banteng terluka.

"Kraaak...!"

Laksana cakar baja, Godam berhasil mencakar bagian dada 'Manusia Kelelawar', pakaian laki-laki cacat itu tercabik-cabik. Bahkan bagian dada yang tercakar tangan-tangan yang bertenaga besar itu tampak meninggalkan luka, tak dapat dicegah, dari guratan luka memanjang di dada Sagara mulai mengeluarkan darah. Dalam keadaan seperti itu pun Sagara masih sempat bersyukur. Sebab selama melakukan pertarungannya dengan algojo-algojo yang telah membuat tubuhnya menjadi cacat. Secara terus-menerus dia tetap melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam. Andai tidak bagian dada yang tersambar cakaran jemari-jemari tangan lawan yang dialiri tenaga dalam itu tentu membuat bagian dadanya menjadi berantakan.

Akibat dari serangan kilat yang dilancarkan oleh Godam kiranya telah mengobarkan kemarahan pula di pihak Sagara.

"Jahanam...!" makinya   sambil   melompat

mundur.

"Heaaa...!" Tanpa memperdulikan makian Sa-

gara, tubuh Godam telah memburu Sagara. Sebaliknya Sagara pun telah bersiap-siap melepaskan pukulan 'Kelelawar Sayap Tunggal'nya.

"Chaaat...!"

Satu teriakan membahana dengan disertai melesatnya sinar biru dari tangan cacat Sagara, membuat Godam menjadi tergagap, pada saat-saat yang kritis itu dia bermaksud menarik balik serangannya. Tapi kecepatan pukulan 'Manusia Kelelawar' benarbenar terasa sangat sulit untuk dia percaya. Akibatnya.

"Buuum!" "Argghkh...!"

Dalam keadaan terpelanting itu, dari mulut Godam nampak menyemburkan darah kental berwarna hitam pekat. Terkecuali Sagara sendiri, semua mata yang melihat kejadian itu nampak terpejam. Rasa ngeri membuat mereka tak tega memperhatikan penderitaan yang dialami oleh algojo kejam tersebut. Sementara begitu gemuk Godam jatuh berdebum menghempas batu, dia menggeliat-geliat meregang ajal. Akibat pukulan 'Kelelawar Sayap Tunggal' yang mengandung racun sangat ganas, tubuh Godam walaupun kebal terhadap serangan racun, namun tetap juga mengalami perubahan. Mula-mula tubuh gemuk itu membiru, kemudian secara cepat berubah menjadi hitam macam arang. Begitu pula halnya yang terjadi atas diri Wintang Kelelep.

Kejadian yang luar biasa ini benar-benar membuat Buang dan Ambarwati yang saat itu telah berdiri di samping Pendekar Hina Kelana menjadi sangat terkejut sekali. Tanpa sadar, Buang berseru memuji.

"Hebat! Sebuah pukulan sakti yang sangat langka...!" ucapnya polos. Secara perlahan 'Manusia Kelelawar' menoleh. Mulanya dia merasa tersinggung dengan kata seperti itu, namun setelah dia melihat seorang gadis yang sangat dikenalnya maka dia malah berteriak;

"Adikku Ambarwati...!"

"Kakang Sagara... oh tak kusangka kau masih hidup sampai saat ini...!" Kedua kakak beradik itu kemudian saling memburu, selanjutnya mereka pun berpelukan sangat erat sekali.

"Jhee... mesra banget...!" batin Pendekar Hina Kelana, seraya agak menjauhi tempat itu. Setelah saling melepas rindu, selanjutnya kakak beradik ini saling berpandangan. Ambarwati kemudian memperhatikan tangan dan kaki Sagara yang cacat.

"Jangan kau perhatikan aku seperti itu, keadaan tubuhku memang sudah sedemikian parahnya. Bangsat itu...!" Sejenak Sagara memandang pada mayat Godam dan Wintang Kelelep. "Kalau saja mereka tak keburu mampus, aku sudah pasti akan memperlakukan mereka seperti mereka memperlakukan diriku waktu dulu...!" kertaknya geram. Ambarwati merasa sangat kasihan dengan cacat yang diderita oleh kakak kandungnya itu. Untuk tidak menimbulkan perasaan tidak enak berlarut-larut, selanjutnya dia berkata:

"Sudahlah kakang, di balik penderitaan itu, sudah pasti ada hikmah lain yang tersembunyi. Bersyukurlah pada Sang Hyang Widi, bahwa sampai saat ini kakang masih diberi umur yang panjang. Oh ya ada baiknya kalau kita membicarakan rencana kita yang dulu. Aku sangat prihatin kakang, kehidupan rakyat sekarang ini benar-benar sangat menyedihkan...!" ucap gadis itu sendu. Sebaliknya Sagara malah menoleh dan memandang ke arah tempat Buang Sengketa berdiri. Tadi!

"Ada apa kakang...?" tanya Ambarwati seperti tak teringat sesuatu.

"Tadi aku melihat seorang pemuda ada bersamamu...!"

"Eeh, iya... sampai lupa...!" Ambarwati cepatcepat menoleh, namun dia pun tak melihat Buang Sengketa berada di tempat mereka berdiri.

"Kelana...!" panggilnya. Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ah jatuh cintakah dia pada pemuda berbudi luhur itu. Kakak beradik itu kemudian memandang berkeliling. Dari kejauhan mereka melihat sebuah batu berukuran besar nampak ditulis dengan guratan-guratan tangan. Dan nampaknya tulisan-tulisan itu dibuat dalam keadaan terburu-buru. Agaknya ketika mereka terlibat pembicaraan tadilah pendekar yang telah mampu menggetarkan hatinya itu menulis di atas batu tersebut.

"Itu seperti ada pesan, Ambarwati...!" "Ayo kita ke sana...!"

Sesampainya di dekat batu itu, ternyata memang terdapat sebuah tulisan yang berbunyi;

Kuucapkan selamat bertemu dengan saudaramu kembali Ambarwati. Maaf aku tak mau mengganggu pertemuan yang sangat bersejarah ini bagi kalian. Beruntung kau masih memiliki saudara, daripada aku yang hina papa. Tapi jangan pikirkan aku. Saat ini aku sedang menuju istana Muara Panjang. Menyelidiki suasana, dan mungkin pula akan menyerbu ke dalamnya. Persiapkanlah diri kalian, mungkin juga kehadiran kalian banyak gunanya demi meringankan kehidupan rakyat yang tertindas selama ini.

Terima kasih!

Tertanda Si Hina Kelana

Selesai membaca tulisan di atas tersebut, Sagara dan adiknya saling pandang sesamanya.

"Dia orang yang sangat nekad...!" keluh Ambarwati merasa terharu.

"Sebaiknya kita susul dia...!" kata Sagara, seraya segera menggandeng tangan adiknya. Selanjutnya dengan mengandalkan ilmu lari cepatnya. Tubuh kedua kakak beradik itu pun melesat laksana terbang.

*** 10

Pabila malam menjelang pada saat sang kegelapan mengembangkan sayapnya memeluk bumi. Maka pada saat itulah kegiatan semua makhluk jadi terhenti. Tiada terdengar lagi kicau burung tiada pula tangis dan rengek bocah-bocah kelaparan di desa-desa dalam kekuasaan kerajaan Muara Panjang.

Hanya keresahan menanti esok, melewatkan malam-malam mencekam. Bukan saja hati penduduk yang dilanda penderitaan itu saja yang gelisah. Tapi para pembesar dalam istana Muara Panjang juga. Apalagi menyadari jumlah mereka semakin menyusut dan para utusan itu tak pernah kembali ke istana. Tidak juga Godam dan Wintang Kelelep, algojo yang sangat ditakuti karena kekejamannya.

Di dalam benteng istana, kelihatan beberapa puluh orang prajurit sedang melakukan ronda mengelilingi halaman istana Muara Panjang yang sangat luas. Dalam keadaan melakukan ronda seperti itu juga hati mereka juga diliputi oleh rasa was-was. Tak dapat disangkal kalau saat itu ketakutan memang benarbenar menyelimuti hati mereka. Malam memang semakin bertambah pekat, apalagi di langit sana tidak terlihat bulan menampakkan diri. Di luar sepengetahuan para prajurit-prajurit itu, di atas tembok, nampak sosok tubuh bergerak cepat di dalam kegelapan. Tanpa mereka sadari bahaya memang sedang mengancam jiwa mereka. Hal itu segera terbukti, ketika tak begitu lama kemudian sosok bayangan itu menyambitkan sesuatu ke arah beberapa orang prajurit penjaga malam itu. Tanpa menimbulkan suara prajurit-prajurit itu roboh dengan jiwa melayang. Demikianlah bayangan itu terus menjatuhkan prajurit-prajurit itu dari yang satu berpindah pada yang lainnya. Dalam pada itu muncul pula dua sosok bayangan lainnya di atas benteng istana itu, sama seperti apa yang dilakukan oleh bayangan pertama tadi, dua sosok bayang itupun kemudian berpencar antara sesamanya. Korban-korban pun mulai banyak yang berjatuhan, namun sejauh itu mereka masih kelihatan leluasa melakukan aksinya. Sementara itu di dalam ruangan pertemuan, nampak sedang berkumpul Sudra Blonteng, Senopati Salya dan juga Raja Karpa. Suasana di dalam ruangan yang sangat besar ini kelihatan hening dan sepi. Yang jelas, dalam pertemuan ini mereka sedang membicarakan orangorang penting kerajaan Muara Panjang yang hingga saat itu belum juga kembali dan tugasnya.

"Bagaimana saudara Salya...! Kita tidak mungkin terus berdiam diri seperti sekarang ini! Paman Warok, mungkin tiada pernah kembali lagi. Begitu juga halnya dengan saudara Godam dan Wintang Kelelep." desah Raja Karpa memecah keheningan suasana. "Sebagai seorang raja, aku merasa kehilangan muka, jika tidak mampu mengatasi keadaan seperti ini. Coba anda bayangkan saja, hampir setiap malam prajuritprajurit kerajaan jatuh bergelimpangan berlumuran darah. Tiap saat kita mendapat rongrongan, kita sendiri hampir tak mampu menangkap si keparat itu. Belum lagi mereka-mereka yang tiada kembali dalam tugasnya mencari Warok. Tiga rombongan dalam jumlah yang cukup besar. Ini benar-benar sangat keterlaluan sekali." berkata Raja Karpa membayangkan kecemasan.

"Maaf gusti...! Kalaupun memang demikian adanya, kita sebenarnya masih dapat menyewa tokohtokoh bayaran atau setidak-tidaknya kita bisa bersekutu dengan orang-orang persilatan segolongan. Ini adalah cara yang paling mudah...!" selak Senopati Salya mencoba memberikan pendapatnya.

"Tidak bisa...!" bantah Sudra Blonteng tegas. "Sebuah kerajaan akan hancur berantakan andai ada orang luar ikut campur tangan di dalamnya. Apalagi orang itu merupakan kalangan persilatan golongan hitam. Ini tak boleh terjadi...!"

"Tapi kita butuh kekuatan yang sangat besar...!" tukas Senopati Salya dengan wajah memerah.

"Sebagai senopati, kau punya kewajiban untuk menjaga keselamatan kerajaan dari rongrongan musuh...!" bentak Sudra Blonteng mulai panas hatinya. Memang sesungguhnya selama ini Sudra Blonteng yang juga merupakan sesepuh kerajaan memiliki penilaian bahwa Senopati Salya terlihat kurang mampu mengatasi teror-teror yang terjadi. Bahkan terhadap rakyat yang melakukan pemberontakan saja dia terlalu lamban dalam bertindak. Bagi Sudra Blonteng Senopati Salya hanyalah merupakan sosok yang cerdik, namun tak memiliki kesaktian yang dapat diandalkan. Seandainya dia merupakan seorang raja, sudah barang tentu senopati seperti Salya itu tidak masuk dalam hitungannya.

"Aku tahu paman, tapi semua itu memerlukan waktu untuk memikirkannya...!" Semakin sengit saja senopati itu menangkis setiap ucapan yang dilontarkan oleh Sudra Blonteng, yang pasti keadaan itu membuat Raja Karpa menjadi tersinggung. Dengan kata-kata berwibawa dia menegur.

"Paman Sudra Blonteng! Saudara dalam keadaan seperti ini, apa yang anda perdebatkan itu tak mungkin dapat menyelesaikan persoalan. Orang-orang kita semakin sedikit. Masihkah anda berdua bermaksud memperkeruh suasana...?"

Mendapat teguran seperti itu, baik Senopati Salya maupun Sudra Blonteng yang sekaligus merupakan tangan kanannya kelihatan menundukkan kepala.

"Gusti! Maafkanlah kami...!" ucap kedua orang itu hampir bersamaan. Karpa hanya menganggukkan kepalanya pelan.

"Sudahlah, sekarang ini aku meminta pendapat anda berdua...!" selak pemberontak yang telah berhasil menjadi raja ini.

"Bagaimana maksud, Gusti...?" tanya Sudra Blonteng masih dengan wajah tertunduk. Raja Karpa menghela nafasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkan apa yang menjadi ganjalan di dalam hatinya.

"Maksudku, apakah kita harus bertahan di dalam istana ini sampai orang-orang itu menyerbu ke mari...!"

"Hamba kira itu bukanlah merupakan jalan yang paling baik, mengingat orang-orang kita yang semakin tiada seberapa jumlahnya...!" selak Sudra Blonteng.

"Menyesal sekali, prajurit-prajurit yang masih setia terhadap Raja Jaya Suprana pada melarikan diri dan kini entah berada di mana. Kalau tidak sesungguhnya kekuatan kita sangat besar sekali...!"

"Tak perlu disesalkan gusti! Masih banyak cara untuk dapat mengatasi dua ekor tikus cecurut itu. Sebab di kolong langit ini, tidak hanya 'Manusia Kelelawar dan Pendekar Hina Kelana' saja yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Bahkan hamba pun punya kawan di daerah selatan yang memiliki kesaktian luar biasa. Jika gusti menghendaki sewaktuwaktu hamba dapat menghubungi mereka...!" ucap Senopati Salya penuh percaya diri.

"Kalau begitu, besok saudara Salya sudah dapat melakukan perjalanan untuk menghubungi orang-orang itu...!" "Akan hamba lakukan gusti...!" janji Senopati Salya dengan wajah berseri-seri.

Namun saat pembicaraan itu belum usai, dari arah lorong bagian luar ruangan pertemuan terdengar jerit salah seorang prajurit kerajaan, kemudian disertai dengan ambruknya salah seorang tubuh prajurit kerjaan tidak jauh di belakang Senopati Salya.

"Ahh... gubraaaak...!"

Spontanitas ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah ambruknya tubuh prajurit mereka.

"Arrrghk... gusti, tiga orang tak dikenal menyerbu ke dalam halaman istana me... mereka berilmu sangat tinggi, ce... cep... cepatlah gusti. Tak seorang pun prajurit-prajurit kerajaan mampu membendung laju gerak mereka...!"

"Karta...!" sentak Senopati Salya begitu melihat salah seorang prajurit tewas seketika.

"Saudara Salya... Paman Sudra Blonteng... cepat bantu mereka! Pertahankan istana ini jangan sampai jatuh ke tangan bangsat-bangsat itu...!" teriak Raja Karpa kemudian tanpa membuang-buang waktu lagi, dia segera berlari ke dalam ruangan pribadinya untuk mengambil pedang pusaka.

Sebaliknya Sudra Blonteng dan Senopati Salya tanpa menunggu lebih lama lagi segera melesat ke luar. Sekejap saja mereka berdua telah sampai di luar halaman istana kerajaan. Mereka juga menjadi terperangah begitu melihat sudah sangat banyak prajurit-prajurit istana bergelimpangan menjadi mayat.

"Hentikan...!" suara bentakan Salya yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang kuat membuat suaranya bagai merobek kegelapan malam. Dan secara serentak pula orang-orang yang sedang terlibat pertempuran itu menghentikan pertarungannya. Serentak baik prajurit kerajaan maupun tiga orang penyerbu yang terdiri dari, Buang Sengketa, 'Manusia Kelelawar' dan juga Ambarwati itu menoleh ke arah datangnya suara tadi.

"Senopati Salya... Sudra Blonteng...! Hemm... aku tak melihat si keparat Karpa...!" desis Manusia Kelelawar sinis.

"Inilah Manusia Kelelawar itu, Paman Sudra...!" bisik Senopati Salya sembari mencabut senjatanya yang berupa pedang bermata ganda.

"Senopati! Mengapa kau hanya diam saja, di mana raja keparat itu bersembunyi saat ini...!" teriak Sagara sudah tak sabaran lagi.

"Ha... ha... ha...! Aku tak pernah berbuat sepengecut itu manusia cacat...!" Mendadak terdengar suara tawa bergelak disusul berkelebatnya sosok tubuh menuju halaman istana yang begitu luas.

"Jlek...!"

Sangat ringan sekali gerakan raja Karpa, hingga saat dia menjejakkan kakinya di halaman istana itupun tiada menimbulkan suara sedikit pun.

"Hemmm... kiranya kalian telah membantai sekian banyak prajurit-prajurit istana. Sungguh kalian merupakan orang yang berani mampus dan berusaha melawan pemerintah yang syah...!" geram Raja Karpa gusar.

"Raja yang syah... apakah kuping ku ini sudah sedemikian rusaknya untuk mendengar pengakuan seorang pemberontak sepertimu, Karpa...?" selak pendekar Hina Kelana.

"Jahanam!" maki raja pemberontak itu, sorot matanya tajam menusuk, menyiratkan rasa benci yang tak terhingga. "Bocah gembel... mungkin engkaulah yang punya julukan 'Pendekar Hina Kelana'. Budak hina... kunyuk cacat! Puh, kiranya hanya kunyuk macam kalian yang coba-coba berani melakukan pemberontakan...!"

"Tiada siapa-siapa lagi yang dapat kalian andalkan, raja pemberontak! Warok telah mampus di tangan Hina Kelana, Sudra Blonteng kalau tidak melarikan diri juga sudah mampus. Sementara algojo keparat yang telah membuat cacat kedua tangan dan sebelah kakiku juga telah mampus berikut begundalbegundalnya. Nah kini hanya kalian bertiga berikut prajurit-prajurit yang tiada berguna itu, menyerah atau pilih mampus...?" selak Sagara.

Sebaliknya demi mendengar kata-kata Sagara tentang kematian orang-orangnya. Baik Karpa, Sudra Blonteng, maupun Senopati Salya kelihatan menjadi berang. Tak dapat disangkal lalu dia segera mencabut sebilah pedang hitam yang terselip di pinggangnya. Sebaliknya Sudra Blonteng telah mendahului mencabut toya baja yang tiada seberapa panjangnya.

"Anak-anak! Ringkus tiga ekor kunyuk itu hidup atau mati...!" teriak Raja Karpa memberi aba-aba pada prajurit-prajuritnya.

"Puiiiit...!" Ambarwati bersuit nyaring. Tiada diduga dari arah pintu istana yang sudah terbuka, bermunculan pula prajurit-prajurit lain yang masih setia pada rajanya yang lama. Jumlah mereka juga cukup besar, begitu datang mereka langsung menyerang prajurit-prajurit raja pemberontak. Tak pelak lagi pertempuran sengit pun terjadilah. Denting beradunya senjata tajam berbaur menjadi satu dengan pekik lolong kesakitan dari mulut-mulut mereka yang meregang ajal. Dengan dibantu oleh Ambarwati, prajuritprajurit yang masih setia pada rajanya yang lama itu terus berusaha mendesak prajurit-prajurit di bawah pimpinan raja pemberontak. Saat itu 'Manusia Kelelawar' berhadapan dengan Sudra Blonteng dan Senopati Salya. Sedangkan Raja Karpa berhadapan pula dengan pen dekar Hina Kelana.

Raja Karpa nampaknya sangat terkejut sekali demi melihat kehadiran prajurit-prajurit yang masih setia dengan raja yang lama datang menyerbu ke dalam istana. Sama sekali dia tiada menyangka kalau apa yang direncanakan oleh Senopati Salya benarbenar meleset dari perhitungan. Kini sadarlah dia bahwa rencana penyerbuan yang dilakukan oleh ketiga orang itu ternyata telah direncanakan dengan perhitungan cukup matang.

"Keparaaaat...!" makinya sembari membabatkan pedangnya ke arah bagian perut pendekar Hina Kelana. Sambaran pedang itu disadari oleh si pemuda sebagai gerakan yang sangat cepat dan mengandung tenaga dalam yang luar biasa. Bahkan ketika Buang menghindarinya dengan jurus silat tangan kosong 'Membendung Samudera Menimba Gelombang', dia merasakan adanya sambaran angin yang sangat keras dan mengandung hawa panas menerpa bagian bahunya. Itulah sebabnya sejak awal-awal bergebrak, Buang tidak mau mempergunakan jurus kesabaran hasil ciptaan terakhir almarhum gurunya 'Si Bangkotan Koreng Seribu'. Sebab baginya tak perlu lagi bersikap sungkan-sungkan dalam bertarung dengan raja yang telah banyak menyengsarakan masyarakat banyak. Setidak-tidaknya itulah alasannya mengapa dia tidak mau mempergunakan jurus 'Koreng Seribu' itu.

Tetapi Raja Karpa, adalah seorang jagoan dalam mempergunakan ilmu pedang, apalagi sebelum menduduki tahta kerajaan dulunya dia merupakan seorang panglima perang yang sangat tangguh. Sudah barang tentu dia bukanlah lawan yang ringan bagi Buang Sengketa. Masih dalam mempergunakan jurus 'Membendung Gelombang Menimba Samudera' pendekar keturunan raja Piton Utara itu berusaha menghindari serangan pedang yang dilancarkan oleh Karpa. Celakanya selain permainan pedang yang dimiliki oleh Karpa sangat tangguh luar biasa, namun juga gerakan tangan dan kakinya juga mengancam bagian-bagian tubuh Buang yang sangat rawan.

"Haiiit!"

Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, pemuda itu menggenjot tubuhnya ke udara, satu jotosan dan dua kali babatan pedang yang dilancarkan oleh Karpa luput mencapai sasarannya. Mengetahui serangannya mencapai sasaran kosong. Maka semakin bertambah menggilalah serangan-serangan beruntun selanjutnya. Beberapa jurus berikutnya, Buang Sengketa sudah kelihatan mulai terdesak, walaupun saat itu dia telah mempergunakan jurus 'Si Gila Mengamuk', tetap saja dia masih belum mampu mengimbangi permainan pedang lawannya. Pada pertarungan yang sangat melelahkan itu, Raja Karpa telah pula keluarkan jurus 'Pedang Pembasmi Iblis'.

Jurus pedang yang dimainkan oleh Karpa memang tak dapat dipungkiri sebagai jurus pedang yang sangat hebat. Bahkan dulu pun sebelum menjadi senopati untuk kemudian menjadi raja. Karpa memang dikenal dan ditakuti oleh kalangan persilatan karena jurus-jurus pedangnya.

Sementara itu pada satu kesempatan, Raja Karpa yang terus memburu lawannya secara beruntun mengayunkan pedang di tangannya. Tiga kali sabetan pedang itu masih dapat dielakkan oleh Buang Sengketa, namun saat mana dia benar-benar dalam keadaan terdesak, maka

"Brebet...!"

"Arghk...!"

Buang mengeluh, kemudian jatuh tergulingguling. Dari bagian punggungnya yang terobek nampak mengalir darah segar. Perih sekali rasanya. Kejadian itu sesungguhnya tak luput dari perhatian Sagara, namun dia juga tak mampu berbuat banyak, sebab saat itu dia sedang menghadapi serangan toya, dan pedang bermata ganda milik Senopati Salya dan Sudra Blonteng. Dan pada kenyataannya kedua orang itu bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng.

Kembali pada pendekar Hina Kelana yang dalam keadaan terluka itu masih saja terus diburu oleh Raja Karpa.

Kemarahan nampak jelas terpancar dari sepasang mata Buang yang telah berubah memerah itu, desisan-desisan halus bagai suara seekor ular piton mulai menyertai berkelebatnya tubuh si pemuda pada detik berikutnya. Mendadak Karpa merasakan setiap serangan pedangnya selalu mencapai sasaran yang kosong. Ini benar-benar membuatnya terheran-heran. Namun keheranan itu sirna seketika saat mana dia mendengar suara bentakan Buang Sengketa yang masih saja terus berkelebat.

"Karpa kalau kau punya pukulan yang sangat kau andalkan! Maka bersiap-siaplah untuk menyambut pukulan milikku...!"

"Jahanam...!" maki raja pemberontak itu sembari menyalurkan tenaga dalamnya ke arah pedang yang tergenggam di tangannya. Senjata di tangan Raja Karpa tampak menggeletar seiring dengan teriakannya itu maka pedang di tangannya diputar sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah pertahanan yang sangat kokoh. Putaran pedang yang sangat cepat itu membuat tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar pedang yang berwarna hitam-pekat.

Kala itu Buang Sengketa telah pula melepaskan pukulan 'Empat Anasir Kehidupan' yang dimilikinya. Tak dapat disangkal lagi begitu tangan Buang didorong ke depan. Maka satu gelombang sinar Ultra Violet yang berhawa panas luar biasa meluruk membentur pertahanan Raja Karpa.

"Dweer...!"

"Gila...!" desis Buang Sengketa begitu melihat pukulan yang dilancarkannya malah membuat tubuhnya terpelanting roboh. Sebaliknya di pihak lawan, jangankan bergeming bergetar pun tidak.

"Kau tak kan menang menghadapiku, kunyuk hina...!" teriak Karpa tetap memutar pedangnya.

"Kita lihat saja nanti...!" gerung pendekar ini sembari meringis-ringis kesakitan. Begitu pun dia sudah bangkit kembali, sekali lagi dia mengerahkan dua pertiga tenaga dalamnya, dengan tujuan ingin mengerahkan pukulan 'Si Hina Kelana Merana'.

"Haiiiik...!" jerit pendekar ini, seraya kembali dorongkan tangannya ke depan. Menderulah satu gelombang sinar merah menyala yang menimbulkan hawa panas berlipat ganda. Karpa masih tetap berada di tempat semula saat mana pukulan yang dilepaskan oleh Buang melabrak tubuhnya kembali.

"Blaaaam...!"

"Wuaaaah...!"

Raja Karpa keluarkan seruan tertahan, tubuhnya laksana terbang dilanda pukulan 'Si Hina Kelana Merana', setelah terjengkang beberapa tombak. Kerengkangan Raja Karpa berusaha bangkit kembali. Dia sudah tiada perduli dengan darah yang berlelehan di bibirnya. Pukulan terakhir yang dilepaskan oleh si pemuda benar-benar dia rasakan bagai memanggang tubuhnya. Panas luar biasa! Masih untung dia memiliki kesaktian yang luar biasa andai tidak, mungkin begitu tubuhnya terpelanting tadi sudah pasti dia tergeletak menjadi mayat. Karpa sadarlah kini, bahwa nama besar Pendekar Hina Kelana bukanlah nama kosong. Namun kenyataan itu bukanlah membuat dirinya berpikir dua kali untuk terus melakukan perlawanan. Baginya tiada kamus untuk menyerah sampai titik-titik darahnya yang penghabisan.

"Kau memang hebat, bocah! Namun jangan kau sangka aku akan bertekuk lutut di bawah kakimu...!" sentaknya penuh dendam.

Buang Sengketa tiada memperdulikan ucapan Karpa sebaliknya kini dia sudah mencabut pusaka Golok Buntung yang menyelip di bagian kanan pinggangnya.

"Siiiig...!"

Begitu senjata maut itu tercabut dari sarungnya, maka mendadak saja udara di sekitar tempat itu berobah menjadi dingin sekali. Tentu saja kenyataan ini membuat kejut di hati Karpa, terlebih-lebih saat mana dia melihat golok di tangan Buang memancarkan cahaya merah menyala.

"Golok Buntung... kau Pendekar Golok Buntung...!" desisnya dengan pandangan mata terbelalak tak percaya.

***

11

"Sudah sangat terlambat, Karpa! Tiada guna kau menyesali segala apa yang telah terjadi. Maka sekarang tibalah giliranmu untuk mampus.... Chaaat...!" teriak Buang Sengketa. Sebentar saja golok di tangannya dengan menimbulkan suara menggemuruh telah berkelebat-kelebat menyambar.

"Auh...!" Karpa keluarkan seruan tertahan saat mana golok di tangan Buang hampir saja mencapai lehernya. Buru-buru dia kiblatkan pedangnya memapaki golok di tangan lawannya.

"Trang.... Trang...!"

Raja Karpa terbelalak matanya ketika pedang pusaka di tangannya hancur berkeping-keping dilanda golok di tangan Buang Sengketa.

"Shaaat...! Ngguuuuung...!" "Ciaaaat...!"

Tubuh Karpa mumbul ke udara menghindari terjangan senjata lawannya. Kini tanpa senjata di tangannya terasa sulitlah bagi raja pemberontak itu untuk menghindari setiap serangan lawannya. Apalagi kini Buang Sengketa tanpa memberi kesempatan lagi terus memburunya. Keadaan masing-masing lawan memang telah berbalik kini. Kalau pada saat awal pertarungan tadi Karpa mendesak Buang, maka kini malah sebaliknya yang terjadi. Bahkan beberapa detik selanjutnya Raja Karpa benar-benar dalam keadaan kepepet sekali. "Nguuuuung...!" Golok di tangan Buang kem-

bali menyambar. Karpa yang dalam keadaan jungkir balik sudah tak mungkin mengkelit serangan kilat itu.

"Haaat.... Craaaas.... Craaaas...!" "Arggh...!"

Karpa menjerit-jerit sembari memegangibagian perutnya yang terburai, darah terus menetes deras dari luka yang sangat lebar. Sejenak tubuh raja pemberontak itu terhuyung-huyung ke depan. Dengan kedua bola mata membeliak, tanpa mampu berucap lagi, Karpa ambruk untuk selama-lamanya. Sinis tatapan mata pendekar Hina Kelana melihat tubuh yang sudah tiada bernyawa itu. Selanjutnya setelah menyimpan Golok Buntung ke dalam sarungnya. Buang Sengketa menoleh pada Ambarwati yang sedang melakukan pertarungan melawan prajurit-prajurit Karpa. Mungkin karena dibantu oleh prajurit-prajurit lama yang masih setia pada raja Jaya Suprana. Maka Ambarwati dan prajurit itu dengan cepat sudah mampu membereskan prajurit pimpinan Karpa yang jumlahnya tidak seberapa. Bahkan saat itu Buang tiada melihat adanya Ambarwati di tempat itu. "Hemm. Agaknya gadis itu sedang berusaha membebaskan raja yang lama di dalam penjara." batinnya.

Dalam ketermanguannya itu mendadak dia mendengar suara pekik tertahan dari suara orang yang sangat dikenalnya.

"Sagara...!" pekiknya begitu melihat Sagara terhuyung-huyung terhantam toya di tangan Sudra Blonteng. Kiranya dalam pertarungan yang cukup melelahkan antara Sagara melawan Sudra Blonteng dan Senopati Salya masih belum ada tanda-tanda siapa yang bakal keluar sebagai pemenangnya. Tapi melihat pertarungan itu, Buang sudah dapat meraba bahwa saat itu 'Manusia Kelelawar' kelihatan mulai jatuh di bawah angin menghadapi tekanan-tekanan yang dilakukan oleh Sudra Blonteng dan Senopati Salya.

Maka tanpa mengenal kompromi lagi pendekar Hina Kelana, bergebrak melancarkan satu tendangan telak mengarah bagian punggung Sudra Blonteng.

Sudra Blonteng saat itu sedang mencecar Sagara dengan toyanya, namun kelihatannya dia cukup mengetahui adanya angin sambaran mengancam bagian punggungnya. Tiada terduga dia kiblatkan pula serangan toya tadi setelah sebelumnya memutar tubuhnya setengah lingkaran.

"Plaaak! Duuuk!" "Auuu...!"

Ternyata Buang sama sekali memang tiada menduga kalau secepat itu Sudra Blonteng dapat memutar tubuhnya, sehingga tendangan kilat yang berisi setengah tenaga dalam itu pun membentur toya di tangan Sudra Blonteng. Buang Sengketa meringisringis kesakitan, sementara Sudra Blonteng sendiri merasakan tangannya yang memegang toya itu tergetar dan menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat.

Saat itu pertarungan antara 'Manusia Kelelawar' dengan Senopati Salya sedang seru-serunya. Dalam pertarungan perorangan ini, nyatalah sudah. Walaupun Senopati Salya bersenjatakan pedang bermata ganda. Namun tak dapat dipungkiri kalau senopati itu sesungguhnya kalah dalam segala-galanya. Kalau pun dalam pertarungan terdahulu dia selalu luput dari pukulan-pukulan maut yang dilepaskan oleh Sagara, hal itu dikarenakan Sudra Blonteng dengan putaran toya baja di tangannya selalu bertindak melindunginya. Dan kini setelah Sudra Blonteng terlibat pertarungan dengan pendekar Hina Kelana. Maka pontang pantinglah Senopati Salya berusaha menghindari pukulanpukulan 'Kelelawar Sayap Tunggal' yang dilepaskan oleh Sagara. 'Manusia Kelelawar' lama kelamaan menjadi hilang kesabarannya, tiada terduga-duga dia melepaskan pukulan 'Taring Kelelawar Hitam' yang sesungguhnya ilmu pukulan pungkasan yang dimiliki oleh Sagara.

"Mampuslah. Hiaaat...!"

Setelah tubuh cacat yang hanya memiliki sebelah kaki itu berputar-putar sangat cepat tak ubahnya bagai baling-baling. Maka Sagara telah bersalto ke udara, begitu tubuhnya menukik ke bawah kembali, tangannya yang buntung sebatas siku itu menghantam tubuh Senopati Salya yang masih berputar-putar mencari posisi lawannya.

"Weeet..."

"Blukkk...! Wuaaaa...!" Tak dapat dibayangkan betapa tubuh Senopati Salya yang hangus itu sudah tak karuan bentuknya. Nyawa melayang pada saat tubuhnya masih meluncur di udara. Tubuh hangus akibat pukulan 'Taring Kelelawar Hitam' akhirnya melesak menabrak sebuah pohon kering tiga tombak di belakangnya. 'Manusia Kelelawar' itu kemudian menarik nafas dalam-dalam, apabila dia menoleh pada Buang Sengketa dan Sudra Blonteng, maka terlihat dengan jelas bahwa laki-laki berperut buncit itu sedang menjadi bulanbulanan pendekar Hina Kelana. Rasanya tidak pantas bagi Sagara untuk membantu pendekar yang sangat menggemparkan itu, maka secara diam-diam dia mulai meninggalkan halaman istana menuju ruangan penjara bawah tanah untuk bergabung dengan prajurit kerajaan yang tetap setia pada raja yang lama beserta adiknya Ambarwati. Membebaskan raja yang sah dari penjara. Itu sudah barang tentu.

Kita kembali pada pendekar Hina Kelana yang saat itu sedang mempermainkan Sudra Blonteng.

"Ah... cacing gemuk... pukulan toyamu lagilagi meleset.... Baiknya ku tendang saja pantatmu...!" kata Buang sembari melompat-lompat bagaikan seekor lutung kebakaran ekor. Begitu sabetan toya di tangan Sudra Blonteng luput. Maka, kaki kanannya menyambar ke bagian pantat Sudra Blonteng.

"Buuuk...!"

Tubuh laki-laki gemuk, yang pada perjumpaan pertama dengan Buang Sengketa sempat melarikan diri nampak melambung ke udara. Tapi tanpa disangka-sangka begitu tubuh itu kembali meluncur ke bawah, satu sabetan toya menghajar bagian iga, pendekar itu. 

"Tak...!"

"Uaaah... kampret...!" maki pemuda itu tergetar sesaat dengan tulang-tulang terasa sakit sekali. "Kubunuh kau keparaat....!" maki Sudra

Blonteng. Kejab kemudian dia telah lepaskan satu pukulan yang diberi nama 'Setan Kubur Memburu Hantu'.

"Wuuus...!"

Berkibar rambut si pemuda berkuncir saat angin pukulan milik Sudra Blonteng hampir pada tubuhnya. Tak kalah cepatnya, Buang Sengketa melepaskan pukulan 'Si Hina Kelana Merana'. Saat itu dia hanya mengerahkan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya. Selarik gelombang sinar merah untuk yang kesekian kalinya di tempat itu melesat memapaki gelombang pukulan berwarna kuning milik Sudra Blonteng.

"Blaam! Blaam!"

Bumi terasa terguncang hebat saat mana dua pukulan yang berisi tenaga dalam itu saling berbenturan. Masing-masing lawan terpelanting roboh. Tapi yang menerima akibat paling parah dari pertemuan dua tenaga Sakti itu adalah Sudra Blonteng.

Sebab selain toyanya terlempar entah ke mana, juga tepat di tengah-tengah bagian dadanya nampak hangus dan segera menimbulkan bau tak sedap. Bahkan ketika dari mulutnya sesaat kemudian menggelogok darah. Maka darah yang mengental itu sesungguhnya setengah matang. Sudra Blonteng menggelepar pelan, kedua matanya yang membeliak ke luar itu semakin lama semakin meredup. Pa Bila bagian kepalanya terkulai lemas, maka jiwa Sudra Blonteng pun sudah tiada dapat diselamatkan lagi.

Sementara itu, keadaan Buang Sengketa hanya sedikit lebih baik, tak kalah hebatnya dari mulut pemuda itu menyembur darah segar. Kepalanya berdenyut-denyut. Dengan sangat bersusah payah dia berusaha merogoh saku bajunya, kemudian diambilnya beberapa butir pel yang berwarna merah dan kuning. Setelah menelan pel itu, Buang Sengketa lalu mengambil sikap seperti orang yang sedang melakukan semedhi, dengan tujuan untuk memulihkan dan mengerahkan hawa murninya ke arah bagian tubuh yang terasa sakit. Barulah setelah keringat bercucuran membasahi tubuhnya, tak sampai setengah jam kemudian dia merasakan rasa sakit di bagian tubuhnya mulai berkurang.

Pemuda itu kemudian memandang ke kanan dan ke kiri. Namun Sagara dan Ambarwati masih juga belum muncul dari ruangan bawah tanah.

"Baiknya aku tak usah menunggu mereka! Aku tak ingin Ambarwati menaruh harapan yang sangat besar padaku. Aku merasa yakin tak mampu mencintai siapapun terkecuali dia... namun sampai sekarang aku tak tahu gadis itu entah berada di mana... Wanti Sarati... oh, baiknya ku tinggalkan saja tempat ini...!" kata pendekar Hina Kelana sendu. Kemudian tanpa menoleh-noleh lagi dia sudah melompati benteng untuk kemudian lenyap ditelan kegelapan fajar. Saat hari mulai pagi, dan semburat merah mulai menampak di ufuk timur, Sagara, Ambarwati dan beberapa puluh orang prajurit lama kelihatan keluar dari dalam ruangan penjara bawah tanah. Raja Jaya Suprana berikut permaisuri dan keluarganya juga ada bersama mereka. Yang bergerak mendahului mereka adalah Ambarwati. Gadis itu memang ingin mengetahui apa yang terjadi dengan pendekar Hina Kelana. Namun setelah memandang ke sekelilingnya dan tak mendapati Buang Sengketa, maka terdengar ucapannya yang memelas.

"Kakang, dia telah pergi...!" ujarnya sedih, kemudian terisak-isak.

"Relakanlah adikku...!" "Tapi aku mencintainya, Kakang...!" bantah gadis cantik itu. Sagara saat itu memang telah berada di dekat adiknya, langsung saja memeluknya.

"Ada kalanya kita akan kehilangan orangorang yang kita cintai...!" ucap Sagara sembari menghapus dan membelai belai rambut adiknya.

"Dan aku pun belum pernah membalas kebaikan yang dia perbuat...!" desah Raja Jaya Suprana sembari mengajak orang-orang itu memasuki istana miliknya.

TAMAT