Serial Pendekar Hina Kelana Eps 15 : Badai Selat Malaka

 
Eps 15 : Badai Selat Malaka


Bila dia memandang pada hamparan laut luas yang terbentang di hadapannya. Maka hanya satu saja yang ada di dalam hatinya, tentang gurunya yang tak pernah dia lupa. Si Bangkotan Koreng Seribu, manusia sakti yang hidup selama ratusan tahun. Padanya dia pernah berhutang segala-galanya yang tak mungkin terbayar walau sampai kapanpun. Padanya dia sering menyimpan rindu, padanya dia selalu ingin bertemu lalu berkumpul kembali. Tapi, akh... sedalam apapun kerinduannya pada kakek sakti itu. Untuk bertemu rasa-rasanya sangat tidak mungkin, kakek yang memiliki perangai sangat aneh itu sudah pasti akan marah padanya, petualangannya masih belum berakhir. Jalan hidup yang akan dilalui masih terlalu panjang dan sangat melelahkan.

Kini satu-satunya harapan yang masih terus membuncah di hatinya adalah ingin bertemu dan mencari ayahandanya. Raja Ular Piton Utara dari negeri alam gaib (Negeri Bunian). Namun setelah bertahuntahun melakukan petualangan, ke mana pun dia mencari, masih belum juga bertemu dengan orang yang telah menyebabkan kehadirannya di dunia ini.

Menurut si Tangan Setan yang tinggal di Pulau Bidadari (Dalam Episode: Kembalinya si Tangan Setan). Perempuan sakti itu merupakan penunggu pertapaan Raja Piton Utara. Dia tahu banyak tentang ayahnya, sialnya dalam pertarungan dengan lawanlawannya, gadis itu lenyap begitu saja bahkan dia sendiri kehilangan jejak untuk mengikuti perempuan bertangan sakti tersebut.

Terkadang kalau mengingat tentang nasibnya yang sebatang kara, dia menjadi sangat sedih sekali. Selanjutnya bagai seorang penyair saja layaknya dia pun berkata pada dirinya sendiri:

Kepada nasib yang selalu tak pernah berfihak pada kaum yang lemah.

Manusia terlahir sebagai penyebar malapetaka di mana-mana.

Manusia ingin berkuasa atas diri manusia yang lain

Harta benda selalu menjadi tolak ukur dalam menentukan tinggi rendahnya derajat hidup seseorang.

Di atas penderitaan kaum yang lemah. Mereka menari-nari

Oh....

Kepada raja yang berkuasa di mana pun, lihatlah apa yang terjadi di bawah sana....

Lihat pula bumi hidup dan telah enggan menyapa

Jangan pula mata pedang ikut bicara

Karena mereka juga masih seorang manusia.

Sampai di situ Buang Sengketa atau yang lebih kita kenal sebagai Pendekar Sakti Hina Kelana nampak terdiam. Selanjutnya tepuk-tepuk jidatnya sendiri.

"Goublok, mengapa bicaraku sampai ngelantur tak karuan. Aku sendiri hidup dalam ketidakmenentuan. Mengapa harus ku pikirkan orang lain, dasar sinting!" makinya seorang diri.

Selanjutnya pemuda berwajah sangat tampan itu mengitarkan pandangan matanya ke segenap penjuru laut. Sejauh-jauh mata memandang, hanya kebiruan air laut saja yang menampak di depan sana.

"Hemm. Mungkinkah sebaiknya saat ini juga aku menyelam di dalam laut itu. Tapi sejauh manakah daya tahan ku untuk berenang di dalamnya. Mungkinkah Pati Rasa dapat mengatasi kesulitan yang aku alami? Ah, sebaiknya aku coba saja, siapa tahu kemungkinan itu masih dapat kumiliki..." batinnya, selanjutnya untuk beberapa saat lamanya dia nampak terdiam. Lalu terdengar pula dari bibirnya mengeluarkan bunyi mendesis bagai seekor anak ular yang ingin menemukan kedamaian di sisi orang tuanya. Menyertai suara desisan itu, mulut Pendekar Golok Buntung itupun berkomat-kamit. Lalu dari bagian tubuh dan terlebih-lebih pada bagian ubun-ubunnya, nampak pula mengepul kabut putih. Tubuh pendekar keturunan Raja Negeri Alam Gaib itupun menggeletar, se-kejab saja tubuhnya pun telah bermandikan keringat. Mulamula dari bagian kakinya terasa kebas, semakin lama semakin tak terasa sama sekali, selanjutnya rasa kesemutan itu menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.

Buang Sengketa merasakan tubuhnya bagaikan mati, semua indera yang dimilikinya seolah bagai sudah tiada berfungsi lagi. Ringan tubuhnya tak melebihi dari kapas yang diterbangkan angin. Kenyataan yang lebih jauh lagi, Buang Sengketa telah lebih berani melangkah satu tingkat di atas ajian Pati Rasa. Yaitu ajian Tinggal Rogo yang sesungguhnya merupakan sebuah ilmu langka yang dulu pernah diajarkan oleh gurunya si Bangkotan Koreng Seribu (Dalam Episode: Utusan Orang-Orang Sesat). Ajian itu sesungguhnya tidak dapat dipergunakan secara sembarangan. Sebab, secara umum diketahui bahwa siapa pun yang memilih ajian Tunggal Rogo, dan mempergunakan ajian tersebut. Itu sama saja artinya, perpisahan sementara antara jasad dan roh. Semuanya dapat berlangsung dalam waktu-waktu tertentu lamanya. Atau tak akan lebih dari satu jam saja, dan itupun dengan satu ketentuan tak ada orang lain yang mengganggu jasad yang ditinggalkannya. Dan Buang Sengketa nampaknya telah begitu berani mengambil satu keputusan yang memiliki resiko yang sangat besar. Semua itu dia lakukan hanya demi orang yang paling dia rindukan sepanjang hidupnya yang pernah dia lalui.

Saat itu posisi Pendekar Hina Kelana dalam keadaan tegak bagaikan arca. Wajahnya dengan matanya yang terpejam itu memandang ke laut lepas. Sedangkan kesadarannya adalah antara ada dan tiada. Secara perlahan namun cukup pasti rohnya mulai bergerak meninggalkan raganya.

Semakin lama rohnya telah pula mengambang jauh, selanjutnya secara cepat laksana kilat roh itu melayang, menuju ke sebuah tempat dan mencari-cari ke alam dasar laut. Tapi roh Buang Sengketa pada akhirnya harus terperangah, begitu sosok yang sama menghadang di depannya. Sosok roh itu begitu sangat dikenalnya, dia memandang pada Pendekar Hina Kelana, selanjutnya menyunggingkan senyum mencibir. Namun semua itu hanya sekejapan saja. Sebab tak lama kemudian roh yang tak lain merupakan gurunya sendiri sudah menegurnya dengan kemarahan yang teramat sangat.

"Buang Sengketa, murid konyol dan tolol. Apakah kau ingin mati dengan ketololan mu itu? Jasad mu kau tinggalkan begitu saja, padahal alam dunia penuh dengan kekerasan dan kelicikan. Bagaimana nanti kalau jasad mu yang bagaikan patung goblok itu digotong orang, atau mereka cincang menjadi dendeng. Kemanakah kau akan kembali? Bocah geblek! Ajian Mati Rogo yang kau miliki itu belumlah sempurna benar, mengapa kau malah menyiksa batin dan raga mu sendiri. Cepat kau kembali ke raga mu, sebelum orang lain menemukan tubuhmu kemudian membuangnya ke laut...!" kata roh si Bangkotan Koreng Seribu memberi peringatan.

"Guru...! Ammpuuun... murid ingin bertemu dengan ayahanda, hanya cara inilah jalan satu-satunya yang dapat kutempuh agar aku bisa sampai padanya!" katanya, selanjutnya roh Buang Sengketa berlutut di depan roh si Bangkotan Koreng Seribu.

"Murid tolol, berjumpa dengan ayahmu bukan dengan cara begini, bapak moyangmu bisa menendang mu sampai babak belur andai kamu berani-berani menyiksa jasad mu sendiri. Cepat kau kembali, atau kau ingin aku menggebuk mu?" tanya si Bangkotan Koreng Seribu. 

"Ba... ba... baiklah, Guru... tapi tolong katakan padaku mengapa guru bisa sampai ke alam yang sekarang sedang ku telusuri ini...?" tanya roh Buang Sengketa, merasa sangat penasaran sekali. Roh si Bangkotan Koreng Seribu terdiam beberapa saat lamanya. Selanjutnya dia pun berkata pelan namun tanpa kehilangan wibawa.

"Bocah tolol, setelah ku nanti sekian tahun lamanya. Ternyata kau terlalu lama mengembara. Tapi aku senang karena apa yang kuberikan padamu telah kau pergunakan pula untuk jalan kebenaran. Tapi kau juga harus ingat, hidupku selama seratus delapan puluh tahun. Adalah usia yang sangat renta untuk bertahan hidup. Buang... sungguh ini merupakan sebuah pertemuan yang konyol dan paling tidak aku sukai. Bocah... aku sudah meninggalkan dunia mu lebih dari setahun yang lalu...!"

Maka tak dapat dicegah lagi, demi mendengar ucapan gurunya. Buang Sengketa menjadi tersentak kaget. Kedua bola matanya terbelalak ke luar, serta merta dia pun menangis sejadi-jadinya.

"Ahik... ahuk...! Guru, mengapa kau harus mati terlebih dulu, kau kan tahu kalau muridmu yang tolol ini belum dapat membalas segala kebaikan yang pernah kau berikan padaku. Bagaimana ini, Guru...?!" tanya Buang Sengketa sesenggukan.

Roh si Bangkotan Koreng Seribu tertawa tergelakgelak, wajahnya yang selasam itu semakin bertambah kusam saja.

"Murid sinting, percuma saja setelah berkelana sekian tahun ternyata bukan bertambah pengalamanmu. Tetapi malah sebaliknya. Goblok dan bego, tahukah kau bahwa aku hidup damai di alamku. Jangan kau hiraukan segala macam balas jasa. Tapi kuminta secepatnyalah kau kembali ke jasad mu, setelah itu pergilah ke tempat tinggalku di Tanjung Api. Beberapa golongan persilatan tingkat tinggi, sedang bergerak ke sana. Dengan tujuan ingin memiliki kitab-kitab jurus Golok Buntung yang terakhir kuciptakan untukmu." kata roh si Bangkotan Koreng Seribu.

"Tapi, bagaimana persoalanku ingin bertemu dengan ayahanda! Guru telah pergi meninggalkan dunia. Guru bilang, guru cukup bahagia di sana, tapi di alam dunia muridmu ini menderita, bagaimana kalau aku ikut dengan kakek saja...?" tanya roh Buang Sengketa. Dan pertanyaan yang konyol ini sudah barang tentu membuat roh si Bangkotan Koreng Seribu semakin bertambah masam saja.

"Dengan ajian Tinggal Rogo yang cuma setahi kuku itu, kau secara sembrono mau meninggalkan dunia mu? Kau tinggalkan jasad mu... sungguh satu tindakan yang sangat ceroboh kau mengambil satu keputusan yang tidak pada tempatnya. Kau harus banyak belajar, Buang Sengketa. Belajar dalam segala banyak hal yang pada akhirnya membuat seseorang itu dapat bertindak lebih dewasa. Apakah kau mengerti dengan segala apa yang kukatakan itu...? Dan engkau jangan sekali-kali mencoba menyalahi kodrat, Sang Hyang Widi bisa murka padamu. Sekarang juga kau harus kembali ke jasad mu. Kalau tidak para bajak laut yang melihat yang sudah berada sangat dekat dengan tubuhmu di pinggiran pantai itu akan segera menggotongnya ke laut...!" katanya. Membuat roh Pendekar Hina Kelana menjadi ciut.

"Baiklah, Guru.... Aku akan segera kembali ke dalam jasad ku...!" Setelah berkata begitu dan menghaturkan sembah. Roh Buang Sengketa secepatnya melayang kembali mendekati jasadnya yang masih tetap terpacak di tempatnya.

Namun baru saja dia hampir sampai pada jasadnya mendadak dari semak-semak belukar bermunculan beberapa sosok tubuh bertelanjang dada. Di pinggang mereka menggelantung sebuah senjata yang berupa sebilah pedang yang sangat pendek. Mereka yang berjumlah tidak lebih dari tujuh orang itu langsung mendekati jasad Buang Sengketa yang berdiri terpacak bagaikan arca.

Roh Buang Sengketa menjadi kebat kebit, dan sebelum mereka yang ada di situ sempat bertindak sesuatu, laksana kilat roh Pendekar Hina Kelana kembali memasuki jasadnya. Begitu semuanya telah menyatu kembali, maka tubuhnya pun bergerak-gerak lalu kedua matanya yang mengatup itupun membuka. Kenyataan itu sudah barang tentu membuat kejut hati mereka yang ada di situ.

"Kupret. Dia bukan arca...!"

"Kubilang tadi juga begitu, coba kalau tadi cepatcepat pereteli harta bendanya. Pasti resikonya tidak terlalu besar...!" Menyela salah seorang laki-laki berbadan kurus dengan kumisnya yang jarang-jarang. Dan sesungguhnya mereka yang berjumlah tujuh orang itu kesemuanya memiliki badan kurus kering.

"Kalian mau apa...?" tanya Buang Sengketa tanpa mengalihkan perhatiannya dari laut yang membentang di hadapannya.

Ketujuh orang itu saling berpandangan sesamanya, lalu derai tawa mereka pun berhamburan meningkahi suara deburan ombak yang menghempas di pantai.

"He... he... he....! Bocah, kirain kau arca yang berharga. Eee... tak taunya cuma seorang gembel yang lagi ketiduran. Sialan betul...!" maki salah seorang dari mereka.

"Tapi... jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, Sobat. Siapa tau di dalam periuk bututnya dia menyimpan harta benda yang berharga. Lumayan kan untuk menyambung hidup sampai esok hari...!"

Pemuda dari Negeri Bunian ini yang sejak semula berusaha menahan kesabarannya, kini menjadi naik pitam.

***

2

"Ha... ha... ha...! Harta benda? Hemm, memang betul. Di dalam periukku ini ada ku simpan emas dan permata. Kalau kalian mau, ambillah...!" kata pemuda itu sembari mengembangkan kedua tangannya.

Kata-kata Pendekar Hina Kelana yang hanya berpura-pura itu ternyata membuat para bajak laut berbadan kurus kerempeng itu jadi jejingkrakan. Mereka mengira apa yang dikatakan oleh Buang Sengketa adalah benar adanya. Maka dengan keangkeran yang dibuat-buat salah seorang di antaranya membentak:

"Lekas kau serahkan periuk yang berharga itu pada kami, kalau tidak...!" "Kalau tidak kalian bisa berbuat apa, Cacing kurus...?" tanya pendekar ini lalu tersenyum mengejek.

Geram bukan main para bajak laut itu dibuatnya. Lalu tanpa basa basi lagi mereka segera mencabut pedang pendek yang terselip di bagian pinggangnya.

"Criiing! Cruuk...!"

"Wah para cacing ingin minta di gebuk. Kasihan badan kurus begitu, kalau sekali ku pukul tulang belulangnya pasti pada remuk...!"

Belum lagi Buang Sengketa usai dengan katakatanya, secara serentak mereka sudah mengurung pemuda itu dengan serangan-serangan yang sangat mematikan. Sungguhpun badan mereka kurus tinggal kulit pembalut tulang, namun para bajak laut itu memiliki tenaga yang sangat besar sekali. Bahkan jurusjurus pedang Bajak Laut Menggulung Mangsa, kelihatan benar-benar sebuah jurus pedang yang oleh Pendekar Hina Kelana dinilai sangat berbobot.

Namun betapapun hebatnya mereka ini, tapi Pendekar Hina Kelana bukanlah seorang lawan yang dapat dianggap ringan. Selama malang melintang dalam dunia persilatan hanya beberapa gelintir tokoh persilatan saja yang dapat menandingi kesaktian yang dimilikinya. Itupun pada akhirnya harus mengakui keunggulan pendekar itu, setelah Pusaka Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto ikut bicara. Sungguhpun dia merupakan seorang tokoh muda dan masih terhitung baru beberapa tahun saja turun dalam dunia persilatan. Tetapi banyak orang merasa gentar bila berhadapan dengan dirinya.

"Haeees...! Cacing kurapan...!" makinya begitu salah sebuah pedang lawannya sempat membabat beberapa helai rambutnya yang berkibar-kibar. Maka dengan perasaan kesal, tubuhnya pun berkelebat cepat. Tak ayal lagi, begitu menghadapi serangan ganas yang  datangnya bertubi-tubi. Pemuda ini pun cepat-cepat mempergunakan jurus silat tangan kodong, Membendung Gelombang Menimba Samudra. Menghadapi perubahan dan gerakan-gerakan kaki dan tangan secepat itu. Nampaknya para bajak laut itu dibuat bingung untuk beberapa saat lamanya. Namun keadaan itu tidak berlangsung lama ketika detik berikutnya, salah seorang yang jadi pimpinannya berseru lantang.

"Kutu kampret! Bocah gombal amoh ini kiranya punya kebisaan juga. Anak-anak cepat pergunakan jurus Bajak Laut Memenggal Kepala Bangau...!" teriaknya memberi aba-aba semua anak buahnya.

"Wuuut!"

"Sialan...!" maki pemuda itu, sambil mengkelit tusukan pedang yang datangnya secara beruntun itu.

Baru saja dia terlepas dari sergapan yang pertama, mendadak sebelum dia sempat menarik napas, serangan berikutnya datang menggebu. Buang Sengketa coba-coba kirim-kan satu sapuan mengarah pada bagian ba-wah yang lowong. Nampaknya orang-orang itu tiada menyadari adanya serangan yang sangat mendadak itu.

"Plook! Kraaak...!"

"Argggkh...!" Tiga orang pembajak terjengkang tubuhnya. Sementara kaki mereka nampak patah akibat tersapu tendangan kaki Buang Sengketa yang teraliri tenaga dalam.

"Kurang asem...! Nguuuung...!" maki kepala bajak laut, sambil babatkan pedangnya. Andai saja Buang tidak cepat-cepat menundukkan kepalanya, sudah barang tentu kepala akan terputus terbabat pedang.

"Bangsat! Terimalah ini...!" Sambil berteriak begitu, Buang Sengketa berjumpalitan. Selanjutnya tubuhnya melentik bagaikan seekor udang sungai menghindari terjangan mata pedang yang dibabatkan oleh keempat lawannya. "Mampuslah. Wuuut...!"

Saat tubuh pendekar ini menukik ke bawah, dia telah kirimkan pukulan Empat Anasir Kehidupan yang menebarkan hawa panas yang sangat luar biasa itu. Selanjutnya selarik Sinar Ultra Violet yang dilepaskan oleh Buang Sengketa menggerung memapaki datangnya kilatan pedang yang dilakukan oleh lawanlawannya.

"Beeees! Praaang...!"

Keempat orang itu terpental tubuhnya sampai puluhan tombak, tiga di antaranya menabrak beberapa batang kayu api. Dan tak ampun lagi dalam keadaan tubuh hangus, tulang belulang mereka pun berpatahan.

Tiada erangan maupun jeritan yang terdengar, sementara itu yang jadi pimpinannya nampak tersuruk ke dalam pasir. Keadaan yang dideritanya pun tak lebih baik dari apa yang dialami oleh kawan-kawannya.

Darah kental menggelogok dari bibirnya, sementara kedua matanya memandang jeri pada lawan yang tetap berdiri tegak tanpa kekurangan sesuatu apapun. Sesungging seringai menghiasi bibir Buang Sengketa, tapi tiada hawa pembunuhan yang terpancar di bola matanya.

"Cacing kurus... cepat-cepatlah merat dari hadapanku sebelum aku berobah pendirian...!" bentak Pendekar Hina Kelana.

Bentakan yang disertai tenaga dalam itu, nampaknya cukup berpengaruh bagi kepala bajak dan ketiga kawannya. Dengan terbata-bata mereka menyahut.

"Ba... baiklah... pendekar! Kau memang hebat, kami mengaku kalah...!" katanya hampir bersamaan.

Lalu dengan langkah tergesa dan kaki terpincang-pincang, orang itupun cepat-cepat bergegas meninggalkan Buang Sengketa yang saat itu juga telah berlari sangat cepat menuju Tanjung Api tempat kediaman gurunya si Bangkotan Koreng Seribu. (Dalam Episode: Utusan Orang-Orang Sesat).

Begitu cepat sekali gerakannya, karena pada saat itu dia telah pula mengerahkan ilmu lari cepatnya yang diberi nama Ajian Sepi Angin. Tak ayal lagi kalau hanya dalam waktu sekedipan mata pemuda dari Negeri Bunian itu telah lenyap dari pandangan mata,

* * *

Bara Seta adalah merupakan seorang Ketua Perguruan Candak Ginaka yang selama ini bermukim di Lubuk Sikaping, daerah bagian Barat Tanjung Api!

Murid-muridnya tidak banyak, hanya berjumlah belasan orang saja. Namun sungguhpun begitu, murid-muridnya yang hanya berjumlah lima belas orang itu, merupakan murid yang pilih tanding. Selama Bara Seta selalu mendidiknya dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Sehingga mereka menjadi muridmurid yang berkepandaian tinggi. Beberapa tahun belakangan dia telah pula menjalin hubungan yang sangat baik dengan Kakek Bangkotan Koreng Seribu. Dengan orang tua yang sakti mandraguna itu dia diangkat sebagai seorang anak. Itu makanya begitu mendengar tentang kabar kematian si Bangkotan Koreng Seribu, yang agak terlambat sampai padanya. Bara Seta sejak dua hari yang lalu sudah melakukan perjalanan ke daerah Tanjung Api.

Tujuannya sudah jelas ingin menyelamatkan semua peninggalan orang tua angkatnya itu dari tangantangan orang yang bermaksud menguasainya. Seperti yang diketahui, dalam beberapa purnama terakhir, si Bangkotan Koreng Seribu telah menciptakan sebuah kitab jurus-jurus Koreng Seribu untuk seorang muridnya yang selama ini sedang melakukan pengembaraan dalam mencari ayahandanya. Bara Seta masih ingat, kala dalam keadaan sakit-sakitan bapak angkatnya itu pernah berkata padanya.

"Bara Seta...! Hidup selama seratus delapan puluh tahun. Sesungguhnya aku ini sudah sangat letih, dan pada saatnya aku juga akan kembali pada Sang Hyang Widi. Tubuhku sudah lapuk, dan dalam usia yang menjelang malam ini. Aku telah menciptakan jurus-jurus silat Koreng Seribu untuk kuwariskan pada si Hina Kelana murid tunggalku itu...!" katanya dalam sisa-sisa kelelahan yang menggurat di wajahnya yang keriput. Masih teringat oleh Bara Seta saat itu Kakek Bangkotan Koreng Seribu menyambung lagi. "Sebenarnya aku sudah sangat rindu pada murid geblek itu. Tapi salahku sendiri, dulu aku pernah memberi perintah padanya agar tidak segera kembali. Sebab aku ingin agar dia menimba pengalaman sebanyakbanyaknya di dunia luar sana agar pengalaman yang didapatnya membuat dia menjadi lebih dewasa. Namun terkadang sebagai seorang guru dan ayah angkatnya, ada perasaan tak tega melihat dia pergi begitu jauh dariku. Tahukah kau bahwa muridku itu terkadang selalu terlambat untuk mengambil keputusan maupun tindakan yang sesungguhnya sangat perlu untuk menjaga keselamatan dirinya. Aku suka merasa kasihan padanya. Sejak kecil dia telah ditinggal mati oleh ibunya, aku yang menemukan dirinya dalam keadaan terombang ambing di permainkan Badai Selat Malaka di atas sebuah kotak yang membawanya dalam sebuah perjalanan yang sangat menyedihkan...!"

"Lalu bersama bapak dia tinggal di sini?" tanya Bara Seta saat itu. "Betul, aku juga telah mengajarkan segala sesuatu yang menjadi milikku selama aku malang melintang dalam dunia persilatan dulu. Kalaupun hari ini aku memanggilmu, Bara Seta, tak lain karena aku ingin menyampaikan satu rahasia yang nantinya harus kau sampaikan pula pada si Buang Sengketa.  "

"Rahasia apakah itu, Bapak...?" tanya Bara Seta yang telah berumur tak kurang dari lima puluh empat tahun itu penuh perhatian.

Si Bangkotan Koreng Seribu menarik nafasnya pendek: "Aku telah menyimpan sebuah kitab terakhir hasil ciptaanku, yang kuberi nama Jurus-jurus Koreng Seribu. Kitab itu telah kusimpan di sebuah karang gua yang terdapat di jajaran karang yang sangat banyak itu. Murid tunggalku itu pasti mengetahui di gua karang yang mana telah kusimpan kitab itu. Pesanku, andai umurku tak sampai hingga menjelang Buang Sengketa kembali ke Tanjung Api ini. Maka jagalah tempatku ini dari tangan orang-orang yang mempunyai keinginan tak baik. Akan celakalah dunia persilatan andai saja kitab ciptaanku yang terakhir itu sampai jatuh ke dalam golongan orang-orang yang sesat !"

"Tapi, Bapak. Mungkinkah murid yang telah lama mengadakan pengembaraan itu akan segera kembali lagi ke sini. ?" tanya Bara Seta kala itu.

Kakek berwajah murung itu, nampak tersenyum. Sebuah senyum enggan yang Menandakan rasa malas dari usianya yang telah lanjut.

"Aku yakin dia pasti akan kembali pada gurunya, kalau pun tidak maka aku yang akan memanggilnya pulang !"

"Baiklah, aku akan mengingat pesan-pesan bapak, dan mudah-mudahan aku tidak akan mengecewakan harapan bapak. !"

"Ingat, selamatkan dan pertahankanlah tempat ini sampai muridku si Buang Sengketa kembali ke tempat ini...!" Pesan si Bangkotan Koreng Seribu.

Apa yang dikatakan oleh orang tua angkatnya itu terus mengiang di telinga Bara Seta. Serta merta dia menggebrak laju kudanya, tanpa komentar muridmuridnya pun melakukan hal yang sama.

Lebih kurang tiga jam kemudian maka mereka sudah hampir sampai di Tanjung Api. Namun betapa terperanjatnya mereka ketika melihat kepulan asap hitam membubung tinggi di udara. Sesaat lamanya Bara Seta menghentikan laju kudanya. Sementara kedua matanya memandang pada kepulan asap yang disertai kobaran api yang menjulang tinggi.

Seperti yang dia ketahui di pantai sekitar Tanjung Api tak ada penghuni lain terkecuali hanya sebuah rumah yang merupakan tempat tinggal Kakek Bangkotan Koreng Seribu. Dalam kegusarannya itu, tiba-tiba dia berseru lantang pada murid-muridnya:

"Kebakaran! Sumber asap itu berasal dari rumah orang yang sangat aku hormati. Anak-anak, pertahankan rumah dan seluruh yang ada di tempat tinggal Bapak Bangkotan Koreng Seribu. Ayo kita ke sana secepatnya...!" teriak Bara Seta yang sedang diliputi kegusaran yang teramat sangat.

Selanjutnya bagai dikejar-kejar setan saja, kudakuda itupun melesat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Akhirnya tak sampai sepemakan sirih, sampailah mereka di Tanjung Api. Dan rombongan berkuda ini lebih terperanjat lagi, karena mereka melihat di sekeliling rumah tempat tinggal mendiang si Bangkotan Koreng Seribu. Telah dikerumuni banyak tokoh dari berbagai aliran.

Mereka yang hadir di situ, hanya memandang sekilas begitu melihat kehadiran Bara Seta dan muridmuridnya. Selanjutnya mereka kembali memandang kobaran api yang membakar rumah tinggal si Bangkotan Koreng Seribu. Bahkan salah seorang di antara mereka yang memiliki tampang sangar dengan pakaiannya yang terbuat dari kulit Beruang Merah menyela:

"Ha... ha... ha...! Bangkotan Koreng Seribu, ternyata setelah kau mampus. Nama besarmu yang menjulang ke langit itu tidak ada apa-apanya. Lihatlah rumahmu yang kami bakar ini saja tak menimbulkan reaksi apa-apa. Sungguhpun mayatmu tidak kami ketahui. Tapi kami puas, dan kami akan mencari kitab ciptaanmu yang terakhir itu, sungguhpun sampai ke lubang semut sekalipun...!" kata laki-laki itu dengan sorot matanya yang penuh ambisi.

***

3

"Engkau pun tolol, Adi Basra Panewu, orang yang sudah mati mana bisa berbuat apa-apa. Pula untuk apa kita hiraukan segala macam mayatnya yang tiada berharga dan jauh-jauh kita datang ke mari hanyalah untuk mendapatkan Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu yang sangat berharga itu...!" Menyela Sudak Pari sambil memandang pada murid-muridnya yang berjumlah lebih dari dua puluh orang.

Sementara itu Bara Seta dan murid-muridnya sangar marah sekali, begitu orang-orang itu mengucapkan kata-kata yang bernada sangat menghina terhadap orang yang paling dihormatinya. Maka begitu melompat dari atas punggung kudanya masing-masing orang itu langsung tunjuk hidung.

"Kepada maling-maling yang tidak di undang! Hmm, kulihat kalian semuanya terdiri dari empat perguruan. Bangsat... kalian telah begitu berani membakar rumah orang yang sangat kami hormati...!"

Sekejap wakil ketua Beruang Merah yang bernama Basra Panewu memandang pada Bara Seta dengan sinisnya. Lalu dia pun membentak marah:

"Keparat... begitu datang kau malah marahmarah sedemikian rupa? Apamukah almarhum si Bangkotan Koreng Seribu itu...?"

"Kampret. Orang tua itu merupakan ayah angkatku, aku sebagai anaknya wajib melindungi semua peninggalan milik si Bangkotan Koreng Seribu...!" bantah Bara Seta lalu gertakkan rahang.

"Oho, kiranya si Bangkotan Koreng Seribu merupakan bapak moyang angkatmu. Bagus! Kalau begitu kau pasti tahu di mana orang tua yang namanya menjadi momok dalam dunia persilatan itu menyimpan Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu...?" menyela Sudak Pari yang merupakan ketua Perguruan Bruang Merah. Sementara itu beberapa perguruan yang lain hanya diam saja, melihat perdebatan yang mulai memanas.

"Hemm. Kalian memang benar-benar bangsat sialan. Sudah membakar rumahnya, kini inginkan pula yang sesungguhnya tak pernah ada itu...!" menukas Bara Seta coba menutup-nutupi.

Tapi mana mau orang-orang Beruang Merah dan lain-lainnya percaya begitu saja. Dari keterangan yang dapat dipercaya, hampir menjelang akhir hidupnya si Bangkotan Koreng Seribu telah menciptakan jurusjurus yang paling dahsyat. Dari semua jurus silat yang pernah ada. Keterangan itu benar-benar sangat mutlak kebenarannya, dan kalau sekarang ini, Bara Seta mengatakan sebaliknya mereka beranggapan bahwa dengan begitu berarti jurus-jurus Koreng Seribu tak akan pernah terjatuh ke tangan orang lain. Keparat betul. Maki Sudak Pari dalam hati. Sejenak dia meneliti lawan bicaranya, sekilas rasa-rasanya dia pernah mengenali laki-laki enam puluhan yang berbadan gemuk bagai karung itu. Mendadak dia tertawa tergelak-gelak. Selanjutnya begitu tawanya usai:

"Karung kubut! melihat tampangmu rasanya kau ini dari Lubuk Sikaping, tokoh golongan lurus yang dulu hampir mampus di tangan Tiga Iblis dari Pulau Berhala. He... he... he... Syukur kalau kau mau bersikap jujur padaku. Kami pasti akan mengampuni jiwamu...!" bentak Sudak Pari dengan liciknya.

"Oho... orang-orang Beruang Merah manusia serakah! Bisa berbuat apakah kalian padaku. Tokh aku sendiri merasa tak pernah bermusuhan pada siapa pun...?"

Mendengar ucapan itu, baik Basra Panewu, Sudak Pari maupun tiga kelompok kaum persilatan lainnya berseru mencemooh.

"Dasar karung bodol! Bicaramu sebakul-bakul, kalau kau memang tak mengatakan di mana Bangkotan Koreng Seribu menyimpan Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu. Maka kami akan mengobrak-abrik Tanjung Api berikut kau dan murid-muridmu itu...!" teriak Sudak Pari, lalu meludah ke tanah.

Sudah barang tentu murid-murid Candak Ginaka menjadi sangat marah sekali. Seperti mereka ketahui, selama ini Bara Seta adalah orang yang paling dihormati oleh banyak orang. Bahkan seingat mereka selama ini Bara Seta adalah orang yang sering bertindak bijaksana pada siapa pun. Tak pernah menyakiti orang lain. Mungkin seekor semut pun dia tak tega untuk membunuhnya.

"Ketua mengapa hanya diam saja! Orang-orang itu sangat keterlaluan sekali. Baiknya kita rejam mereka beramai-ramai...!" kata salah seorang murid dari perguruan Candak Ginaka.

"Weii... kurang ajar betul, kau bocah pentil...? Kurobek-robek nanti mulutmu yang tak tahu adat itu...!" teriak salah seorang dari tiga perguruan yang diketuai oleh Lukas Asmoro. Lalu tanpa basa-basi lagi dia sambitkan tangannya yang telah menggenggam beberapa batang jarum perak.

"Weeer!"

Selarik sinar berwarna putih mengkilat melesat sedemikian cepatnya mengarah pada beberapa orang murid-murid Perguruan Candak Ginaka. Namun sangat mengagumkan sekali. Tanpa berkesip dari tempatnya berdiri, mereka segera pukulkan tangannya ke depan. Sungguh di luar dugaan Lukas Asmoro, kalau dalam waktu yang sangat singkat. Jarum perak itu beberapa batang di antaranya sempat berpelantingan dan tak kurang tiga di antaranya membalik. Lukas Asmoro berkelit ke samping, lalu lambaikan tangannya sehingga membuat jarum-jarum itu berjatuhan ke tanah.

"Bangsaaat! Murid-murid Perguruan Candak Ginaka kiranya punya kepandaian juga...! Anak-anak! Bunuh mereka semua...!" Perintah Lukas Asmoro pada beberapa orang murid-muridnya.

Baru saja murid-murid itu hendak bergerak, mendadak terdengar suara bentakan yang sangat memekakkan gendang-gendang telinga.

"Kalian tak perlu bersusah-susah membantai orang-orang dari Lubuk Sikaping ini. Biarkan aku yang akan membereskannya...!" kata Basra Panewu, dan sebentar saja sudah turun ke dalam kalangan. Tak ayal lagi murid-murid Perguruan Candak Ginaka yang ratarata memiliki ilmu yang sangat tangguh itupun segera mengurung Basra Panewu. Laki-laki berkumis tebal yang merupakan wakil dari Perguruan Beruang Merah itupun segera memainkan jurus-jurus Beruang Merah yang sangat diandalkannya. Dalam waktu sekejap saja pertarungan yang sangat menegangkan pun terjadilah. Maka tinggallah perguruan lain menjadi penonton dalam pertarungan yang sangat seru itu.

"Hiaaa...!"

Mendadak Basra Panewu kirimkan satu tendangan dan satu cakaran memapaki datangnya serangan senjata yang berupa golok yang panjang hampir dari satu meter itu.

"Wuuung!"

Senjata-senjata yang sangat tajam itu menderu ke arah bagian dada, leher, kaki dan perut Basra Panewu. Lalu dengan sekali genjot, tubuhnya sudah melayang membubung ke udara. Selanjutnya begitu dia kembali menjejakkan kakinya di atas tanah. Maka satu pukulan yang diberi nama Beruang Merah Merobek Sarang Lebah dilepaskan oleh Basra Panewu.

Selanjutnya tak dapat disangkal lagi, serangkum sinar berwarna putih kebiru-biruan menderu melabrak para pengeroyoknya. Namun sebelum pukulan yang dilepaskannya mencapai sasaran yang tepat, mendadak kejadian yang tiada diduga-duga pun terjadi. Muridmurid Candak Ginaka pukulkan tangannya mengarah serangkum gelombang yang menderu ke arah mereka.

"Wuuut!"

Maka tak pelak lagi, beberapa larik gelombang pukulan yang diberi nama Candak Ginaka Memburu Mangsa yang berwarna ungu itupun saling bertubrukan dengan pukulan yang dilepas oleh Basra Panewu. Akibatnya benturan dengan menimbulkan suara berdentum yang berkepanjangan pun terdengar.

Murid-murid Candak Ginaka tersentak tubuhnya, namun Basra Panewu juga hampir terjengkang. Dalam adu tenaga dalam itu ternyata satu lawan lebih dari lima orang sama-sama memiliki kekuatan yang berimbang.

Basra Panewu nampak mengurut dadanya yang terasa sesak. Namun begitu dia mengerahkan tenaga dalamnya, rasa sesak itupun segera menghilang. Baik Basra Panewu maupun yang lain-lainnya kelihatan sangat gusar sekali. Sama sekali mereka tiada menyangka kalau murid-murid Candak Ginaka kiranya merupakan murid-murid yang tangguh.

"Caiiiit... Huaaa...!" Basra Panewu yang sudah dalam keadaan emosi itupun kembali menghantamkan kedua tangannya ke arah lawannya. Lagi-lagi selarik gelombang pukulan Beruang Merah Merobek Sarang Lebah dia lepaskan. Pukulan itu berisi kurang lebih tiga perempat dari tenaga dalamnya. Mengetahui kawankawannya dalam keadaan bahaya, maka yang lainnya pun turun membantu. Sambil berjumpalitan tak kurang dari delapan orang Candak Ginaka, kiblatkan tangannya memapaki datangnya serangan yang berhawa panas itu.

"Bluduuk...!"

Tubuh Basra Panewu terpelanting bahkan nyaris terjerumus ke dalam kobaran api yang hanya tinggal baranya saja. Sebaliknya delapan murid Candak Ginaka terjengkang satu tombak. Terlihat darah segar meleleh dari hidung mereka, keadaan Candak Ginaka malah lebih parah lagi. Sungguhpun dia berusaha menyembunyikan apa yang sedang dideritanya, namun dari raut wajahnya yang pucat, nampak nyata sekali kalau dia sedang menderita luka dalam yang cukup serius. Dadanya masih terasa menyesak, pandangan matanya mengabur dan berkunang-kunang. Namun demi menjaga gengsi di depan orang yang begitu banyak, dia cepat-cepat bangkit berdiri.

Saat itu murid-murid Candak Ginaka sudah siapsiap untuk melakukan serangan balasan. Tapi mendadak segalanya berubah begitu cepatnya. Sudak Pari begitu melihat wakilnya tunggang langgang dalam menghadapi murid-murid Candak Ginaka nampaknya menjadi sangat murka sekali. Selanjutnya dengan teriakan-teriakan yang sangat lantang, ketua Partai Beruang Merah itupun memerintah:

"Kuharap. Dari semua perguruan yang ada marilah beramai-ramai mencincang tikus-tikus dari Candak Ginaka... tapi kalau tak setuju, cepat-cepat tinggalkan tempat ini. Sebab tak satu pun di antara kalian nantinya kubiarkan terima bersih dalam mendapatkan Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu...!" Sejenak suasana di se-kitar tempat itu menjadi hening, masing-masing perguruan saling pandang sesamanya.

Sementara itu Bara Seta sendiri nampak sedang berfikir keras bagaimana caranya mengatasi lawan yang jumlahnya tidak kurang dari enam puluh orang. Andaipun memang benar, murid-muridnya merupakan murid-murid yang tangguh. Tapi jumlah lawan boleh di bilang cukup besar. Sehebat apapun kekuatan mereka, namun mungkinkah mereka dapat mempertahankan diri?

Persetan, mati berkorban untuk orang yang dia hormati adalah jauh lebih baik daripada harus berdiam diri membiarkan orang-orang itu menghancurkan dan mengobrak abrik tempat itu. Batinnya dalam hati.

Maka akhirnya tanpa pikir panjang lagi dia pun memberi isyarat pada murid-muridnya. Lalu dengan mempergunakan jurus-jurus Candak Ginaka, mereka ini pun tanpa basa basi lagi segera melakukan serangan menghadapi enam puluh orang murid dan ketua gabungan dari empat perguruan.

Semakin bertambah gusarlah, Basra Panewu, Sudak Pari dan Lukas Asmoro dibuatnya. Maka, dengan kemarahan yang menggebu-gebu, masing-masing ketua perguruan itu memberi perintah serupa pada murid-muridnya:

"Basmi orang-orang Candak Ginaka...!" "Hoiiaaat...!"

"Cring! Cring!"

Dalam sekejap saja kobaran pertarungan pun sudah tak dapat dihindari lagi, denting beradunya berbagai senjata tajam meningkahi jerit menyayat dari korban-korban dari kedua belah pihak yang mulai berjatuhan. Enam puluh orang murid perguruan gabungan bertarung melawan lima belas orang murid-murid Bara Seta.

Sementara Bara Seta sendiri tengah berjuang menghadapi empat orang ketua perguruan yang ratarata memiliki ilmu sangat tinggi. Tubuh Bara Seta sebentar saja sudah bermandi peluh, sejauh itu pertarungan tokoh-tokoh kelas menengah ini masih saja mempergunakan jurus-jurus tangan kosong. Sekali dua pukulan-pukulan maut pun mereka lancarkan silih berganti. Namun nampaknya Bara Seta yang memiliki ajian Inti Bumi itu merupakan manusia yang matang dalam hal pertempuran. Kala itu, Basra Panewu, Sudak Pari, Lukas Asmoro dan Tiklu Sara dengan aliran yang berbeda-beda mulai melancarkan pukulanpukulan mautnya. Dengan sangat gencar dan datangnya bertubi-tubi.

"Wess! Wut! Wut! Wut!"

Dari empat penjuru mata angin pukulan maut yang memiliki hawa dingin dan panas itupun datang menggebu.

Bara Seta menyadari kalaupun dia bermaksud untuk memapaki pukulan yang datangnya secara bersamaan itu. Pasti akibatnya sangat patal sekali. Tubuhnya bisa hancur berkeping-keping, atau paling kurang tulang belulangnya menjadi remuk dengan jiwa tiada tertolong lagi.

***

4

Maka dalam keadaan yang sangat kritis itu secepatnya dia kerahkan ajian Inti Bumi yang sangat ampuh itu.

"Bleeees!"

Begitu tangan kanannya dia pukulkan pada permukaan tanah yang merupakan tempat dia berpijak, maka kejab kemudian tubuhnya pun lenyap begitu saja. Sementara pukulan yang dilepaskan oleh lawanlawannya saling bertubrukan sesamanya. Tak dapat disangkal lagi pukulan yang dilepas dengan kobaran nafsu membunuh itupun berakibat sangat patal bagi murid-murid kedua belah pihak yang saat itu sedang melakukan pertarungan.

"Kampret! Si bangsat itu kiranya memiliki ilmu setan. Cari dia sampai ketemu...!" teriak Sudak Pari merasa penasaran sekali dibuatnya.

"Tak usah dicari-cari segala, beruang celaka. Aku ada di sini...!" kata Bara Seta, serta merta bagai setan gentayangan saja telah pula berdiri di depan lawanlawannya dengan sikapnya yang angker.

"Setan pengecut! Nih makan pukulanku...!"

Belum lagi ucapannya usai, mendadak dia telah kirimkan satu pukulan yang sangat dahsyat menyongsong tubuh Bara Seta yang sudah melayang sambil lepaskan satu pukulan maut yang diberi nama, Candak Ginaka Kibarkan Bendera. Selaksa gelombang menderu sedemikian cepatnya. Sudak Pari yang sama sekali tidak menyangka kalau Bara Seta masih sempat kirimkan satu pukulan penangkal nampaknya menjadi sangat geram, lalu kirimkan satu pukulan susulan.

"Bum! Bum!"

"Auooooo...! Kampret...!" maki Sudak Pari begitu pukulan lawannya beradu dengan pukulan Beruang Merah Menggerung, miliknya. Sudak Pari tunggang langgang dengan posisi tubuh melipat bagai seekor trenggiling yang berjungkiran di atas tanah berbatu. Sementara Bara Seta dengan sangat baik masih dapat mendaratkan kakinya, tiga tombak jauhnya dari para lawan-lawannya. Namun belum lagi dia sempat menarik napas, tiga orang ketua perguruan lainnya dengan sikap tak sabar telah pula menyerangnya dengan senjata mereka yang beraneka ragam.

Saat itu murid-murid Candak Ginaka yang sedang berusaha bertahan mati-matian menghadapi serangan-serangan brutal yang dilakukan oleh tak kurang dari empat puluh orang murid gabungan empat perguruan.

Pihak Candak Ginaka, kini hanya tinggal berjumlah sepuluh orang saja. Lima orang di antaranya telah tewas dengan keadaan yang sangat menyedihkan sekali. Sungguhpun mereka hanya tinggal berjumlah sepuluh orang saja, namun semangat tempur mereka semakin menggila. Dengan tubuh saling merapat berpunggungan sesamanya, mereka bahu membahu dalam mempertahankan diri. Tapi juga di lain saat secara serentak mereka melakukan serangan kilat yang tiada terduga-duga. Pukulan-pukulan maut yang tak kalah hebatnya dari guru mereka sendiri pun mereka lepaskan. Akibatnya celakalah bagi murid-murid gabungan empat perguruan yang coba-coba menghancurkan pertahanan Candak Ginaka. Jerit dan lolongan maut pun kembali terdengar. Masing-masing ketua perguruan pihak lawan menjadi sangat marah sekali melihat murid-murid mereka terbantai secara mengerikan oleh musuh murid-murid Candak Ginaka. Maka tak sabaran lagi Lukas Asmoro dari Perguruan Batu Kiambang dan Tiklu Sara dari Perguruan Hamparan Perak segera bergabung dengan murid-muridnya. Sementara itu saudara kakak beradik, Basra Panewu dan Sudak Pari terus bertarung melawan Bara Seta.

"Keparat kalian murid-murid Candak Ginaka...!" maki Lukas Asmoro, selanjutnya mendahului sekutunya, Tiklu Sara dan langsung memporak porandakan pertahanan murid-murid Candak Ginaka. Tiklu Sara pun tiada tinggal diam.

"Sobat Lukas Asmoro! Jangan ajak bicara mereka, kita mampusin saja semuanya biar mereka tidak bisa ketemu anak bini lagi...!" Sambil mengekeh Tiklu Sara.

"Ku pertahankan dan tidak kami biarkan anjing mana pun merongrong tempat tinggal orang tua yang sangat kami hormati hingga titik darah yang penghabisan!" teriak salah seorang murid Candak Ginaka. Saat itu mereka sudah mencabut pedangnya masingmasing, selanjutnya menggempur lawan-lawannya tanpa ampun lagi.

"Segala kutu kupret, mau bertingkah di hadapan empat perguruan gabungan. Caaat, mampus...!" maki Tiklu Sara. Dan sekali saja senjatanya yang berupa kebutan itu menyambar. Maka hancurlah wajah salah seorang murid Candak Ginaka yang tak sempat menangkis serangan itu.

Tubuhnya terhempas di atas tanah berpasir, menggelupur sekejab selanjutnya diam untuk selamalamanya. Tiklu Sara yang sudah kerasukan setan itu tiada lagi menghiraukan lawannya yang sudah terkapar itu. Sebaliknya bagai tak pernah mengenal puas, Tiklu Sara sudah menghantam murid-murid Candak Ginaka yang lainnya. Satu demi satu murid-murid Bara Seta berguguran, sungguhpun hal itu tidak terlepas dari perhatian gurunya. Namun Bara Seta tak mampu berbuat banyak, sebab dia sendiri sedang berjuang menghadapi Basra Panewu dan Sudak Pari yang ternyata memiliki ilmu simpanan yang sangat berbahaya sekali bagi Bara Seta. Malang sekali nasib Bara Seta dan gurunya. Agaknya murid-muridnya yang hanya tinggal empat orang itu sekejab lagi pasti akan terbantai habis andai saja pada saat-saat yang sangat kritis itu tidak muncul sosok bayangan berpakaian merah-merah. Begitu sosok bayangan itu melayang turun dari atas sebuah pohon kayu api-api. Maka tak ampun lagi dia langsung kirimkan pukulan Empat Anasir Kehidupan secara bertubi-tubi, pada murid-murid gabungan empat perguruan. Sontak keadaan menjadi berbalik, begitu pukulan yang memancarkan Sinar Violet dan berhawa panas luar biasa itu melabrak tubuh mereka, jerit kematian dan lolongan kesakitan pun membahana bagai merobek angkasa yang diselimuti mendung.

Kehadiran pemuda yang tak lain merupakan murid tunggal si Bangkotan Koreng Seribu ini benarbenar membuat keadaan pihak lawan menjadi kacau balau. Tubuh-tubuh berpelantingan dengan keadaan hangus dan jiwa melayang. Namun Buang Sengketa tak ingin berhenti sampai di situ saja, Pukulan si Hina Kelana Merana yang menimbulkan udara dingin yang teramat sangat itupun dia lepaskan silih berganti. Dalam waktu tidak sampai sepemakan sirih, murid-murid perguruan gabungan itupun hanya tinggal beberapa gelintir saja. Maka terkejutlah empat ketua partai itu demi melihat sepak terjang pemuda yang tiada mereka kenal itu. Dan lebih terbelalak lagi begitu melihat murid-murid mereka terbantai habis di tangan pemuda itu.

Dengan kegusaran yang bukan alang ke-palang,

serentak mereka-mereka yang sedang terlibat pertarungan itupun bagai dikomando saja segera menghentikan pertarungan.

Di antara mereka yang hadir di situ hanya Bara Seta saja yang kelihatan tenang-tenang. Sebab begitu dia melihat kehadiran Buang Sengketa, menurut ciriciri yang diberikan oleh almarhum si Bangkotan Koreng Seribu. Apa yang dilihat dari pemuda itu adalah sangat persis sekali. Baik pakaiannya, wajahnya yang sangat tampan, mau pun sebuah periuk yang menggelantung di pinggangnya. Semuanya persis dengan apa yang dikatakan oleh orang tua angkatnya.

"Hmm. Masih sedemikian muda, namun memiliki kepandaian yang sangat mengagumkan sekali!" batin Bara Seta.

Sementara itu, Buang Sengketa setelah lama memandang rumah tempat tinggal almarhum gurunya, kini memandang pada semua orang yang hadir di situ secara silih berganti. Begitu dingin dan angker tatapan matanya, menandakan bahwa pemuda itu benar-benar merasa sangat tidak senang dengan tindakan yang sangat menghina tersebut,

"Sungguh hanya setan-setan yang berani mati saja, yang begitu sanggup membakar rumah guruku. Tak satu pun di antara kalian yang kubiarkan hidup. Celaka sekali nasib kalian hari ini...!"

"Bangsat... begitu datang kau bagai iblis membunuhi murid-murid kami. Kemudian manusia gembel semacammu berani pula mengaku-ngaku sebagai muridnya si Bangkotan Koreng Seribu... siapakah kau ini, Bocah hina...?" tanya Basra Panewu sangat gusar bercampur jerih.

Memerah wajah Buang Sengketa saat itu juga, kedua gerahamnya mengatup rapat. Namun sedikitpun perhatiannya tiada pernah berpaling dari Basra Panewu yang bermulut runcing bagai tikus curut itu.

"Orang-orang celaka, akulah Buang Sengketa murid tunggalnya Kakek Bangkotan Koreng Seribu yang rumahnya telah kalian bakar itu...!"

"Kami tak pernah percaya...!"

"Aku juga yang hampir lapuk dimakan usia tidak pernah mempercayai keterangan-mu itu, Bocah sinting...!" Sudak Pari, Lukas Asmoro dan Tiklu Sara menyahut hampir berbarengan.

"Hak... kek... kak... ke...! Percaya atau tidak percaya itu bukan urusanku. Yang jelas kalian datang ke mari hanya ingin merampok Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu yang telah diciptakan oleh guruku, nah sekarang bersiap-siaplah kalian untuk kukirim ke neraka. Hiaaat...!"

Selanjutnya tanpa mengenal kompromi lagi, Buang segera menerjang Basra Panewu dan Sudak Pari. Sementara itu Bara Seta segera pula berhadapan dengan Lukas Asmoro dan Tiklu Sara.

Menghadapi Lukas Asmoro dan Tiklu Sara bagi Bara Seta bukanlah sesuatu yang sangat istimewa. Sebab seperti yang dia ketahui, Tiklu Sara dan Lukas Asmoro hanyalah merupakan wakil maupun kurir dari salah satu perguruan yang berasal dari daerah Tenggara. Itu sebabnya dalam waktu hanya sekejab saja dia telah pula mengetahui kunci dari jurus-jurus yang dimainkan oleh kedua lawannya. Begitu segala rahasia jurus-jurus silat lawannya telah diingatnya dengan baik, maka detik kemudian dia telah melakukan serangan balasan dengan mempergunakan tenaga yang berlipat ganda.

Sementara itu Buang Sengketa yang berhadapan dengan Basra Panewu dan Sudak Pari nampak sedang menggempur lawannya dengan mempergunakan jurusjurus tangan kosong yang diberi nama si Gila Mengamuk.

Selanjutnya senjata Basra Panewu dan Sudak Pari yang berupa sebatang toya itupun menderu mengirimkan gempuran-gempuran yang sangat dahsyat. Namun Pendekar Hina Kelana bukanlah pendekar kemarin sore, sungguhpun usianya relatip sangat muda, tapi dia merupakan tokoh silat yang memiliki ilmu sakti yang beraneka ragam. Jurus silat si Gila Mengamuk juga merupakan jurus tingkat dua setelah jurus tangan kosong Membendung Gelombang Menimba Samudra. Sungguhpun mempergunakan jurus ini, permainan silatnya nampak kacau balau dan sangat tidak teratur. Namun serangan toya yang begitu gencar itupun masih belum mampu menyentuh selembar rambut Buang Sengketa.

Orang-orang dari Perguruan Beruang Merah itupun gusarnya bukan main, sebaliknya kini tubuh Buang Sengketa berkelebat sangat cepat, hanya terasa angin sambaran tubuh pemuda itu saja yang mengibar-ngibarkan pakaian Basra Panewu dan Sudak Pari. Sekejab kedua orang itu nampak kebingungan sekali. Pada saat seperti itulah, dengan diawali jerit tinggi melengking Buang Sengketa pukulkan tangannya ke depan. Serangkum sinar berwarna Ultra Violet yang menimbulkan hawa sangat panas luar biasa datang menggebu meluruk ke arah lawan-lawannya.

Akibat pukulan yang sangat ganas itu tadi mereka sempat melihat dari apa yang dialami oleh muridmuridnya. Dan mereka pun sadar bahwa saat itu lawan pasti mempergunakan pukulan maut yang berkekuatan besar. Maka secepatnya mereka putar toyanya untuk melindungi diri.

"Weeertt...! Blaaaam...!" Pukulan Empat Anasir kehidupan yang dilepas oleh Pendekar Hina Kelana menghantam kedua orang itu, tunggang langgang tubuh mereka terbanting, toya berantakan menjadi beberapa keping. Pada saat itu terdengar teriakan Bara Seta:

"Bangsat! Setelah merasa tidak ungkulan, kalian mau kabur, jangan harap...!" Berkata begitu Bara Seta bermaksud melakukan pengejaran. Tetapi Buang Sengketa mencegahnya.

"Jangan, Paman...! Masih banyak persoalan yang harus kita selesaikan di sini. Pula kedua bangs...!" Buang Sengketa tak melanjutkan ucapannya karena begitu dia menoleh, lawan-lawannya yang tadi terpelanting itupun sudah tidak ada di tempatnya.

"Mereka juga kabur! Namun aku yakin cepat atau lambat mereka pasti akan kembali lagi ke sini...!" kata Buang Sengketa, lalu menarik nafas pendek. Sementara itu Bara Seta dan empat orang murid yang tersisa sudah menghampiri si pemuda. Selanjutnya tanpa ragu-ragu lagi dia pun menyela:

"Engkaukah yang bernama Buang Sengketa?" tanyanya penuh perhatian.

Pendekar Hina Kelana anggukkan kepalanya pe-

lan.

***

5

"Kalau begitu tak salah seperti apa yang dikatakan oleh Bapak Bangkotan Koreng Seribu. Bahwa Pendekar Hina Kelana itu, engkaulah adanya...!" Dalam nada ucapannya, jelaslah sudah bahwa kepulangan Buang Sengketa di Tanjung Api membuat Bara Seta dan keempat muridnya merasa sangat girang sekali. "Mengapa kejadian ini sampai terjadi, dan siapa-

kah adanya paman ini...?" tanya pemuda itu setelah gejolak di dalam hatinya menjadi reda kembali.

Kemudian secara singkat Bara Seta menceritakan mengenai hubungannya dengan Kakek Bangkotan Koreng Seribu. Akhirnya mengertilah Pendekar Hina Kelana tentang duduk persoalan yang sebenarnya. Selanjutnya dengan sikap persaudaraan Buang Sengketa segera bertanya:

"Paman! Apakah paman tahu di mana kira-kira jenazah kakek guru berada?" Ditanya begitu Bara Seta nampak tercenung beberapa saat lamanya. Lalu sepasang matanya yang agak menyipit itupun memandang pada hamparan batu-batu karang yang ada di pinggiran pantai.

"Sebagai muridnya, tentu kau tahu tentang guagua yang ada di celah-celah batu karang itu. Nah mungkin di sanalah dia berada...!"

Pendekar keturunan Raja Ular Piton Utara itupun nampak angguk-anggukkan kepalanya.

"Gua di batu karang itu banyak sekali, namun aku merasa sangat khawatir andai sekarang ini kita ke sana, nantinya akan datang lagi tokoh-tokoh persilatan untuk merampas Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu hasil ciptaan yang terakhir kali...!"

"Ya, ancaman itu akan selalu ada, Buang! Tapi akan tegakah kita-kita membiarkan jenazah orang yang kita hormati menderita lebih lama lagi di alam pana ini...?" tanya Bara Seta seperti pada dirinya sendiri.

"Betul juga!" kata pemuda itu, lalu anggukanggukkan kepalanya. Lalu sambungnya lagi: "Apapun yang akan terjadi kita harus dapatkan kakek guru hari ini juga " "Kalau begitu sekarang juga kita mulai pencaharian itu...!" ajak Bara Seta, maka berangkatlah keenam orang itu menelusuri tebing karang yang saat itu sedang dalam keadaan pasang surut.

"Paman! Aku melihat semua pintu gua karang yang ada di sini tertutup dengan sangat baik. Aku sendiri merasa yakin pintu batu karang itu tak akan terbuka walau didorong oleh sepuluh tenaga kuda. Yang mana satu kira-kira yang merupakan tempat peristirahatan terakhir guru...?" ujar Buang Sengketa merekareka.

"Sebagai muridnya, tentu kau tahu gua yang mana yang paling sering dipergunakan oleh bapak untuk keperluan-keperluan tertentu...!"

"Guru orangnya payah sekali, Paman! Tingkahnya suka yang aneh-aneh dan bikin kepalaku pusing berdenyut-denyut. Sesuatu yang pasti tak pernah ada dalam hidupnya. Kecuali kematian dan hidupnya sendiri. Aku bisa saja menduga kalau guru berada di sebuah gua karang yang sangat besar itu! Namun siapa tahu dia malah sengaja menyembunyikan diri di atas pohon-pohon. Atau barangkali di dalam perut bumi...!"

Sesungguhnya mendengar kata-kata Buang Sengketa, Bara Seta menjadi geli hatinya, namun hanya keadaanlah yang membuat dia menahan segala bentuk tawanya cukup di dalam hati saja. Sebaliknya dia malah berkata serius sekali.

"Rasanya dalam keadaan yang sangat serius, dia tak akan pernah main-main, Buang? Menurutmu, yang mana satu gua yang sering dipergunakan oleh bapak untuk menyimpan sesuatu yang sangat rahasia...?"

"Maksud paman tentang kitab itu...?" Buang Sengketa malah balik bertanya. Bara Seta gelengkan kepalanya. "Maksudku bukan itu! Mengenai kitab semuanya bisa kita selesaikan kemudian! Yang terpenting bagaimana caranya kita cari tahu tentang jenazah kakek Bangkotan Koreng Seribu...!"

Pendekar Hina Kelana nampak terdiam untuk sesaat lamanya, kembali pandangannya menerawang ke laut lepas. Lalu teringat pula olehnya masa-masa ketika masih kecil dulu. Di tempat itu, di Pantai Tanjung Api yang memiliki ombak yang sangat ganas. Kakek tua itu telah menggemblengnya sedemikian rupa, siang dan malam tanpa mengenai lelah. Dengan segenap jiwa raganya, kakek sakti itu menciptakan jurus-jurus, maupun pukulan-pukulan yang sangat ampuh. Semua itu hanya diperuntukkan untuk dirinya, ah, betapa hatinya menjadi pedih, sampai akhir hayatnya dia sebagai orang yang pernah dididik dan diberi kasih sayang sedemikian rupa. Namun tak sekalipun dia pernah mampu membalas segala kebaikan yang pernah diberikan oleh orang tua itu. Mengapa semuanya begitu cepat berlalu, padahal selama ini dalam pengembaraan yang sangat melelahkan itu dia teramat sering ingin bertemu dengan orang tua yang baginya merupakan segala-galanya. Mengenang semua itu, tanpa sadar air mata pemuda itupun menetes, dan tentu saja keadaan itu membuat heran semua yang ada di tempat itu. Namun sebelum keheranan itu tertanyakan, mendadak Buang Sengketa bergumam seperti pada dirinya sendiri.

"Aku ini seorang murid yang tolol! Tak pernah mampu berbakti pada orang yang paling berarti dalam hidupku! Dia yang merupakan segala-galanya bagiku kini telah tiada. Pada siapa aku harus membalas segala kebaikannya. Oh... dasar... nasib, hidup di atas dunia hanya sebatang kara.... Pendekar Hina Kelana... manusia hina sengsara...! Buang Sengketa... bocah terbuang yang kehadirannya dipersengketakan oleh banyak orang. Ahik... hu... hu...hu...! Guru, jalan yang manakah semestinya yang harus kutempuh. Semuanya jadi serba rumit dan membingungkan. Guru engkau manusia terdahulu sebelum kehadiranku. Kau bilang aku ini tak boleh menangis menyesali nasib, tapi aku juga tak pernah menyesalkannya, Guru...! Namun berilah aku titik terang, agar hatiku dijauhkan dari keresahan dan rasa bersalah...!" kata pemuda itu, tubuhnya nampak terguncang-guncang. Dia merasa sangat terpukul sekali atas kepergian gurunya.

Bara Seta dan murid-muridnya nampak sedih melihat apa yang sedang dialami oleh pemuda yang sangat mengagumkan itu. Selanjutnya sambil memegang pundak si pemuda dia berkata setengah menasihatkan:

"Sudahlah, Buang! Mengapa kau tangisi orang yang sudah tiada! Hal itu hanya akan membuat resah arwah bapak di nirwana. Berbuat kebaikan sesama umat manusia sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat terpuji. Kalau pun dia kini telah tiada lagi. Tokh kau bisa melakukan kebaikan pada orang lain. Pahalanya juga sama. Nah sekarang lebih baik kita coba membuka dinding gua itu satu demi satu. Jangan bersedih, malu nanti kalau sampai orang-orang persilatan tahu, kalau pendekar yang namanya kesohor di mana-mana itu ternyata memiliki hati yang rapuh...!" ujar Bara Seta dengan sikapnya yang kebapakan.

Mendengar ucapan Bara Seta, pemuda itu banting-banting kakinya sambil berkelesetan bagai anak kecil yang kehilangan tetek ibunya. Lalu dengan tersendat-sendat dia berucap:

"Ma... masa bodoh! Aku tak bisa bersikap purapura! Biarkan semua orang di penjuru dunia tahu, aku tak akan perduli. Aku paling tak bisa memendam perasaan. Kakek guru bilang, kalau banyak memendam perasaan jika sampai memuncak ke kepala bisa jadi uban, kalau bergerak ke muka jadi jerawat. Sebaliknya kalau turun ke pantat bisa jadi bisul. Oho... aku tak ingin berpura-pura, Paman! Paman dengarkah itu?" ucap Buang Sengketa setengah bertanya.

Semakin bertambah geli saja hati Bara Seta. Bahkan keempat orang murid tersisa sudah tak dapat memendam tawanya lagi. Serta merta Buang Sengketa menyadari tingkahnya yang bagaikan anak kecil itu, lalu teringat pula kebencian gurunya akan sebuah kecengengan. Selanjutnya cepat-cepat dia seka air matanya. Mendadak saja wajahnya berubah menjadi ceria seperti sediakala. Sementara itu, Bara Seta sudah angguk-anggukkan kepalanya bagai burung puntul yang mengais ikan di pinggiran pantai.

"Gurumu mau pun bapak angkatku memang tidak salah. Itu makanya aku ingin sekarang juga kita mencari lokasi di mana Kakek Bangkotan Koreng Seribu berada, setelah kita temukan jenazahnya, maka kita adakan upacara sederhana untuk selanjutnya menyemayamkan jenazahnya di tempat yang sangat layak...!"

"Marilah, kita mulai dari yang di tengah itu. Namun untuk mendobrak pintunya, aku harus menggerakkan segenap pukulan sakti yang kumiliki...!" kata Buang tegas.

"Cara apapun yang akan kau lakukan sepenuhnya kuserahkan padamu...!"

Lalu tanpa menjawab, mereka pun me-langkah kembali. Barulah setelah sampai di depan pintu gua yang tertutup batu karang, pemuda itu menghentikan langkahnya diikuti oleh yang lain-lainnya.

"Hemm! Nampaknya aku harus mempergunakan pukulan si Hina Kelana Merana." batin Buang Sengketa. Selanjutnya tanpa banyak basa basi lagi, dia segera mengerahkan tenaga saktinya ke arah kedua belah tangannya.

Tubuh Buang Sengketa menggeletar untuk beberapa saat lamanya, selanjutnya dari kedua belah tangannya itu mengeluarkan uap panas, semakin lama tangan itu berobah memerah. Mereka yang menyaksikan kejadian itu nampak sangat terkejut sekali, namun sebelum kejut mereka hilang sama sekali. Mendadak Buang Sengketa berteriak dengan suara tinggi melengking.

"Haaiiiit...! Huaaa!!"

Buang pukulkan kedua tangannya mengarah pada pintu gua karang, maka sekejab kemudian satu gelombang sinar berwarna merah menyala meluruk ke arah pintu gua karang yang berukuran sangat tebal itu.

"Bluuuuaarrr...!"

Pintu gua karang itupun jebol berantakan, Pendekar Hina Kelana langsung menyerbu ke dalamnya. Setelah jalan hilir mudik dalam ruangan yang berukuran sangat luas itu dia pun terdiam di tengah-tengah ruangan yang berhawa hangat udara laut.

"Bagaimana, Buang...?" tanya Bara Seta sambil mengitarkan pandangan matanya. Pemuda itu gelenggelengkan kepalanya perlahan.

"Nampaknya tak ada tanda-tanda kalau Kakek Bangkotan Koreng Seribu mengakhiri hayatnya di tempat ini...!" ujar Pendekar Hina Kelana dengan alis mengerimit tanda bahwa dia sedang memikirkan tempat yang sering merupakan pengasingan bagi gurunya tersebut.

"Lalu bagaimana...?"

"Masih banyak gua karang yang belum kita lihat! Cobalah kita ke gua lainnya, barangkali dia ada di tempat itu...!" kata Buang Sengketa. Selanjutnya dia meninggalkan gua yang sudah berantakan pintunya menuju gua karang yang lainnya. Sesampainya di gua karang yang terletak tak begitu jauh dari gua karang pertama Buang Sengketa kembali menghentikan langkahnya. Dalam pada itu Bara Seta sudah pula berkata: "Mestinya ada tanda-tanda tertentu yang dapat kau pahami maknanya...!"

Saat itu Pendekar Hina Kelana sudah bersiapsiap dengan pukulan dahsyatnya si Hina Kelana Merana, namun begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Bara Seta akhirnya dia menjadi urung. Dia tercenung, dalam hati membenarkan apa yang dikatakan oleh Bara Seta.

"Betul juga! Mengapa tak kucari saja, tandatanda seperti apa yang dikatakan oleh Paman Bara Seta. Almarhum Kakek Bangkotan Koreng Seribu pasti ada meninggalkan sesuatu yang hanya aku dan dia saja yang mengetahui maknanya." batinnya lagi. Selanjutnya dia melangkah mendekat, lalu memperhatikan dengan seksama kalau apa yang diharapkannya ada di depan pintu gua karang yang tertutup.

Dibantu oleh Bara Seta dan keempat orang murid-muridnya, satu demi satu pemuda ini meneliti setiap pintu gua yang ada, dua empat dan enam telah mereka periksa, namun mereka tak menemui apa yang mereka harapkan. Sehingga setelah sampai pada pintu gua karang yang ke delapan mereka mulai menemukan sebuah titik terang yang mungkin juga merupakan sebuah petunjuk untuk menemukan di mana adanya mayat gurunya berada.

"Lihat, Paman! Sepertinya guratan-guratan ini merupakan sebuah petunjuk yang dibuat oleh kakek guru...!" Buang Sengketa setengah berseru. Bara Seta dan keempat orang muridnya mendekat, dan ikut pula meneliti. Namun mereka tiada pula mengerti akan makna dari coretan-coretan yang ada.

"Betul katamu, Buang! Namun aku yang telah lamur ini tak tahu apa arti dari tulisan yang digurat dengan jemari bapak!"

Agak lama juga Pendekar Hina Kelana ini merenung di situ, sampai akhirnya teringatlah dia akan jurus-jurus di Gila Mengamuk yang pernah diajarkan oleh si Bangkotan Koreng Seribu.

"Hemm. Tulisan ini sungguh mirip sekali dengan jurus-jurus si Gila Mengamuk seperti yang tertulis dalam kitab terdahulu." batinnya lagi. Selanjutnya dia coba-coba mengingat tentang abjad jurus-jurus si Gila Mengamuk yang telah dikuasainya. Maka dalam tulisan yang seperti cakar ayam itu, dapatlah dia artikan sebagai berikut:

"Buat muridku yang goblok. Usah tangisi kepergianku, aku telah pergi meninggalkan dunia ini.. Tapi jangan pula kau menangis, karena menangis itu hanyalah pekerjaan perempuan atau pekerjaan bayi.. Ada satu yang ku tinggalkan padamu, yaitu tentang sebuah Kitab Jurus-jurus ‘Koreng Seribu’ hasil ciptaan ku. Tapi ingat, berhati-hatilah dalam mempelajari kitab itu, sebab salah sedikit saja kau mengerahkan tenaga, maka jiwamu bisa melayang. Hal lain yang perlu kau perhatikan adalah tentang jenazah ku. Dia berada di gua kesepuluh, seandainya jasad itu masih ada, maka itu berarti aku masih seperti manusia biasa. Namun andai tidak, maka itu berarti aku ini manusia setengah dewa. Satu saja pesanku, Buang! Kitab itu ada di sebuah gua kecil yang menghadap ke Timur Laut. Selama kau mempelajari kitab tersebut, bahaya akan selalu mengancam mu. Maka bekerja samalah dengan baik pada Bara Seta. Mudah-mudahan segala rintangan dapat kau atasi! Buat Murid Guoblok Si Bangkotan Koreng Seribu "Sialan," umpat Buang Sengketa begitu selesai membaca, tanda-tanda yang mirip dengan cakar ayam itu. Sebentar dia memandang pada Bara Seta dan keempat murid-muridnya. Lalu dengan suara hampirhampir tak terdengar dia pun berkata:

"Kita harus pergi ke gua karang yang kesepuluh, Paman. Menurut petunjuk di sini, di gua itulah Kakek Bangkotan Koreng Seribu berada... marilah secepatnya kita ke sana...!"

"Ayolah...!"

Selanjutnya mereka pun melangkah kembali menuju ke gua kesepuluh. Sekejab kemudian mereka pun telah sampai di depan mulut gua karang kesepuluh.

"Inilah tempat yang dimaksudkan oleh kakek! Menjauhlah sedikit, Paman! Aku akan mengerahkan pukulan Hina Kelana Merana."

Tanpa menjawab, Bara Seta dan murid-muridnya menjauh, sekejab kemudian mereka telah merasakan betapa udara di sekitarnya menjadi sangat panas luar biasa. Padahal saat itu angin laut berhembus sangat kencang sekali. Maka sekejab kemudian, kedua tangan Buang Sengketa menggeletar, selanjutnya berubah warna merah pun terjadilah.

"Heiiiik...!"

Pendekar Hina Kelana pukulkan kedua tangannya ke depan. Lalu selarik gelombang berhawa panas luar biasa menderu menerjang pintu gua batu karang yang berada satu tombak di hadapannya.

Pintu gua batu karang itupun hancur berantakan. Debu dan batu-batu kecil beterbangan ke udara. Dan sekejab kemudian pintu gua batu karang itupun sudah menganga lebar sekali.

6

Selanjutnya tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Hina Kelana dengan diikuti oleh yang lainnya segera memasuki gua tersebut. Keadaan di dalam gua itu gelap gulita adanya, sehingga menimbulkan kesan yang sangat angker. Namun setelah Buang Sengketa menyalakan sebuah pelita, maka ruangan di dalam gua karang yang lembab dan licin itupun menjadi terang temaraman. Buang dan Bara Seta mengitarkan pandangan matanya ke segenap penjuru ruangan itu, tetapi nampaknya di ruangan induk tak mereka dapati adanya jenazah si Bangkotan Koreng Seribu, maka untuk selanjutnya dia bergerak ke ruangan yang lainnya. Dan di dalam ruangan yang berukuran sangat kecil itulah Buang Sengketa melihat sebuah pelita lain dengan nyalanya yang terang benderang. Di sebuah lantai dalam ruangan yang sangat sempit itu, Buang Sengketa melihat adanya sebuah keranda yang ditutupi dengan selembar kain putih yang sangat panjang. Kain itu terjuntai sampai menutupi keseluruhan keranda.

Buang Sengketa berdebar hatinya, selanjutnya dengan langkah gemetaran dia menghampiri keranda tersebut. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat Buang Sengketa segera membuka penutup keranda. Begitu penutup keranda itu dibuka, maka terciumlah bau harum semerbak dari dalamnya. Maka terlihatlah jenazah si Bangkotan Koreng Seribu, tubuhnya terbujur, dengan wajahnya yang keriput dan pucat bagaikan kapas. Namun anehnya, sungguhpun si Bangkotan Koreng Seribu sudah meninggal lebih dari satu purnama, namun tak tercium bau bangkai sebagaimana mestinya. "Kakek...!" Tak urung Buang Sengketa merintih, kemudian berlutut di depan jenazah si Bangkotan Koreng Seribu. Dipandanginya wajah orang tua renta yang kini nampak diam tiada bergeming lagi.

"Bapak, eee... aku merasa bersyukur sekarang ini aku telah dipertemukan dengan muridmu! Tapi, Bapak... rumah tinggalmu telah terbakar... orang-orang sialan itulah yang telah membakarnya...!" ucap Bara Seta pula.

Suasana di sekelilingnya kemudian adalah keheningan belaka. Masing-masing mereka sama-sama tenggelam dalam fikirannya.

"Sebaiknya sekarang juga kita rumat jenazah kakek, hari masih siang! Kesempatan masih ada hanya untuk mengadakan upacara pemakaman secara kecilkecilan."

"Marilah, Buang...!" jawab Bara Seta, seraya beranjak berdiri dari tempatnya. Selanjutnya keempat orang murid Bara Seta segera mengusung keranda yang berisi jenazah si Bangkotan Koreng Seribu. Sekejab kemudian di tempat itu terlihatlah kesibukankesibukan untuk mengebumikan jenazah orang tua yang mereka hormati.

Keempat murid Bara Seta segera membuat sebuah lubang kubur, sementara Buang Sengketa dengan dibantu oleh Bara Seta segera merawat jenazah si Bangkotan Koreng Seribu. Saat itu di langit lepas, nampak awan hitam bergumpal dan bergulung-gulung dihembus angin tenggara.

Tak lama kemudian terdengar pula gelegar bunyi petir bagaikan membelah jagad. Selanjutnya, hujan pun mulai turun rintik-rintik. Namun mereka tiada menghiraukan semua itu, sebaliknya jenazah si Bangkotan Koreng Seribu telah mulai memasuki liang lahat. Tubuh Buang Sengketa nampak menggigil dalam duka. Tetapi dia selalu berusaha untuk tetap tabah menghadapi kenyataan yang ada.

Murid-murid Bara Seta tak lama kemudian telah pula mengurus jenazah si Bangkotan Koreng Seribu dengan tanah. Hujan mulai turun sangat lebat, dan pada saat yang sama gelegar bunyi petir sambung menyambung tiada henti. Namun mereka yang sedang mengikuti upacara pemakaman sederhana itu, sedikitpun tiada pula merasa terusik. Bahkan tak lama kemudian terdengar pula suara Buang Sengketa meningkahi gemuruh suara hujan:

"Kapal tua yang selama ini memberi perlindungan hangat terhadap seorang bocah. Kini telah pergi berlayar menuju pelabuhan terakhir. Dia tetap akan berlabuh di sana selama-lamanya menunggu pengadilan Yang Maha Adil. Tinggallah sebuah kenangan atas jasa-jasanya. Seorang bocah pasti selalu mengingatnya. Pergilah hai, Kapal tua, aku melepasmu dengan hati ridho, dan moga pula engkau selalu diridhoi."

Usai berkata begitu, Buang Sengketa dengan diikuti oleh yang lainnya nampak merangkapkan kedua tangannya di depan dada, selanjutnya dia pun membungkuk penuh hormat. Sementara itu hujan semakin bertambah lebat, terlihat pula air laut mulai pasang naik. 

Lewat sepemakan sirih upacara pemakaman itupun segera usai, Buang Sengketa dan yang lainnya yang sudah basah kuyup cepat-cepat meninggalkan tempat itu, kemudian melangkah memasuki gua karang tempat di mana si Bangkotan Koreng Seribu tadinya berada.

* * * Perguruan Batu Kiambang adalah sebuah perguruan yang memiliki murid yang sangat besar jumlahnya. Perguruan itu dipimpin oleh seorang tokoh sakti yang memiliki badan sangat kerdil sekali.

Siang itu Jumparing Retno atau si tokoh kerdil yang jadi pimpinan partai sekaligus merupakan ketua Perguruan Batu Kiambang. Nampak sedang berkumpul dengan para murid-muridnya.

Sejenak laki-laki katai itu memandang pada semua murid-muridnya, lalu perhatiannya pun terhenti setelah kedua matanya yang angker itu bersitatap dengan mata Lukas Asmoro.

Laki-laki berjenggot kambing itu nampak menundukkan kepalanya begitu, Jumparing Retno memandang tajam padanya.

"Baru kali ini seumur hidupku aku mempunyai seorang murid nomor satu, namun memiliki jiwa yang sangat pengecut sekali. Kawan-kawanmu terbunuh semuanya, padahal menurut laporanmu kalian bergabung dengan ketiga partai yang lainnya. Lalu partai semacam apakah yang merupakan sebuah persekutuan bagi kalian? Kalau dalam menghadapi murid si Bangkotan Koreng Seribu saja, kalian sudah keok?"

"Orang itu sangat sakti sekali, Ketua! Dia memiliki pukulan yang sangat dahsyat. Padahal sebelum kehadirannya, kami sudah hampir dapat menghancurkan orang-orang Candak Ginaka...!" jawab Lukas Asmoro masih dengan wajah tertunduk.

"Dan nyatanya kau lari terkencing-kencing, setelah mengetahui kehebatan tikus itu. Puih...! Padahal aku memberi perintah padamu, dengan cara bagaimana pun kalian harus mendapatkan kitab jurus-jurus Koreng Seribu yang sangat luar biasa itu. Semuanya jadi berantakan, murid-murid pada kojor semuanya. Lalu apa yang dapat aku harapkan dari kalian sebagai seorang murid...?" tanya si Katai Jumparing Retno dengan nada meninggi. Maka semakin bertambah menciut sajalah hati Lukas Asmoro dibuatnya. Lalu dengan terbata-bata dia menyahut:

"Gu... guru dan ketua... maafkan muridmu yang bodoh ini, murid berjanji untuk menebus kesalahan ini, walau nyawa sebagai taruhannya...!"

Jumparing Retno yang hanya bercawat itupun hanya tersenyum sinis begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Lukas Asmoro.

"Omonganmu seperti beo saja, Lukas Asmoro! Tapi kau memiliki jiwa seorang pengecut. Kau kira aku akan membiarkanmu pergi dengan kawan-kawanmu yang lain? Sama sekali tidak! Kalau pun kau pergi ke Tanjung Api, maka aku juga akan ke sana, dan aku pun ingin lihat bagaimana sih hebatnya murid si Bangkotan Koreng Seribu yang membuat heboh dunia persilatan itu...?" tukas Jumparing Retno mencemooh.

Sebaliknya Lukas Asmoro demi mendengar keputusan gurunya nampak menarik nafas pendek.

"Jadi kapan kita berangkat, Guru...?" tanyanya bersemangat.

"Sekarang juga kita harus berangkat ke sana!" jawabnya berapi-api.

Lukas Asmoro nampak meragu, dengan sangat hati-hati dia berucap:

"Mengapa harus sekarang, Ketua...? Bukankah lebih baik esok, atau bahkan lusa saja..."

Jumparing Retno nampak terkesiap, bahkan tubuhnya sangat pendek itu sampai terlonjak dari atas singgasananya yang berlapiskan kain sutera. Dengan sangat gusar sekali, laki-laki kerdil itu menghentakkan kakinya ke lantai. Lantai itupun amblas hingga membuat kaki laki-laki kerdil itu terbenam sebatas lutut. Lalu cepat-cepat dia menyentakkan kakinya yang terbenam itu.

"Lukas Asmoro, andai saja kau bukan murid yang paling kuperhatikan selama ini. Sudah pasti aku telah membunuhmu sejak tadi-tadi...!" bentaknya dengan tubuh menggigil karena dilanda kemarahan yang tertahan-tahan. Pucat wajah Lukas Asmoro, seketika itu juga. Tiada kata yang terucap. Wajahnya semakin menunduk dalam-dalam.

"Aku tak mau tahu, yang penting sekarang juga kita harus berangkat. Siapkan kuda-kuda yang terbaik. Aku tak ingin Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu sampai terjatuh ke tangan orang lain...!" teriak Jumparing Retno.

Sementara itu Lukas Asmoro tanpa berani berkata apapun, segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh ketuanya.

Tidak sampai setengah jam kemudian rombongan berkuda itupun telah berlalu meninggalkan perguruan, menuju Pantai Tanjung Api.

***

7

Guru Beruang Merah sesungguhnya merupakan seorang perempuan tua renta yang berusia sekitar sembilan puluh tahun. Pada jaman jaya-jayanya dulu, selama hampir tiga puluh tahun malang melintang di dunia persilatan. Perempuan renta yang bernama Nyai Tambak Sari ini merupakan seorang tokoh sesat yang sangat telengas dan suka berlaku sewenang-wenang terhadap berbagai golongan kaum persilatan. Dengan jurus dan pukulan-pukulan Beruang Merah yang membuat geger dunia persilatan, dia menyebarkan onar di mana-mana. Ratusan jiwa telah melayang direnggutkan tangannya yang keji.

Dari sekian banyak tokoh-tokoh tingkat tinggi, hanya seorang saja tokoh persilatan yang selama itu mampu mengalahkan dirinya. Bahkan kedua matanya pun buta akibat ulah laki-laki itu. Sampai menjelang pengasingannya di Pulau Beruang Merah dia masih menaruh dendam pada laki-laki itu

Beberapa waktu yang lalu, manakala dia mendengar musuh bebuyutannya itu meninggal dunia, maka dengan segera dia mengutus murid, sekaligus merupakan Ketua Beruang Merah.

Namun nampaknya dia terpaksa harus menelan kina pahit, setelah seminggu kemudian para utusannya itu kembali dengan membawa kekalahan. Dia sangat terpukul sekali dengan kejadian yang dialami oleh murid-muridnya.

Sebagai seorang guru yang telah menurunkan segala apa yang dipunyainya kepada murid-muridnya. Sedikit banyaknya timbul juga tanda tanya di hatinya. Basra Panewu dan Sudak Pari adalah dua orang murid, yang selama ini sepak terjangnya menjadi hantu dalam dunia persilatan. Ilmu kepandaian dan juga pukulan Beruang Merah yang mereka miliki juga sudah mencapai taraf yang sangat sempurna.

Dan menurut laporan murid-muridnya, yang mengalahkan mereka di Tanjung Api hanyalah seorang pemuda yang berpakaian gembel bahkan terbilang masih sangat muda. Yang membuat heran Nyai Tambak Sari adalah karena pemuda berkuncir itu mengakuaku sebagai muridnya si Bangkotan Koreng Seribu. Padahal seperti dia ketahui, selama ini si Bangkotan Koreng Seribu tak memiliki atau bahkan tak pernah mengangkat seorang murid pun. Rasa penasaran dan keingintahuan pada akhirnya telah membulatkan tekadnya untuk sampai di Tanjung Api, sekaligus untuk mendapatkan Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu.

Hari itu juga dengan membawa rombongan yang sangat besar, berangkatlah Nyai Tambak Sari, Basra Panewu dan Sudak Pari menuju Pantai Tanjung Api. Sementara itu pada saat yang sama di sebuah tempat yang bernama Sendang Hamparan Perak. Kegiatan yang sama pun nampak sedang berlangsung di tempat itu. Jauh berbeda dengan par-tai-partai lainnya. Tiklu Sara dan beberapa orang murid yang tersisa, kelihatan sedang menghadap ke arah sendang yang memiliki air sangat jernih sekali.

Tak lama setelahnya, Tiklu Sara segera melaporkan segala sesuatunya yang telah menimpa mereka. Suaranya begitu lantang, sehingga menggema di manamana. Bahkan getaran suara itu sampai pula menembus ke dasar sendang.

Suara Tiklu Sara nampaknya cukup di-dengar oleh sosok mahluk yang berada di dasar sendang itu. Mahluk yang berujud sangat mengerikan itu seperti terjaga dari tidurnya. Mula-mula bagian ekornya menggeliat, air di dalam sendang itu bergolak-golak. Selanjutnya manakala sosok panjang yang berujud seekor ular naga itu meluncur ke atas permukaan air. Maka saat itu pula ujudnya yang sangat mengerikan itu secara perlahan pun telah berubah menjadi sosok tubuh berjubah putih.

"Byuur!"

Sosok naga yang telah berubah menjadi manusia setengah tua dan rambut, kumis serta jenggotnya yang sangat panjang dan telah memutih pula, kelihatan berdiri tegak di atas permukaan air. Begitu melihat kehadiran laki-laki itu, maka serentak Tiklu Sara dan  beberapa murid yang hadir di tempat itu, nampak segera menghaturkan sembah.

"Guru Bagawan Ardi Soma! Murid kembali dengan membawa sebuah kekalahan... maafkanlah muridmu ini. Kami telah berusaha sedapat yang kami bisa, namun ternyata, si Bangkotan Koreng Seribu memiliki seorang murid yang sangat tangguh sekali...!" berkata Tiklu Sara dengan wajah bersemu merah.

Laki-laki setengah tua dengan tubuhnya yang semampai itu memandang sejenak pada muridnya. Sorot matanya tajam, dan membuat jeri bagi siapapun yang memandangnya. Laki-laki itu menggumam dengan suara yang hampir saja tak terdengar.

"Tiklu Sara... tahukah kau tugas apa yang telah aku berikan padamu?" tanya Begawan Ardi Soma penuh teguran.

"Murid selalu mengingatnya...!"

Begawan Ardi Soma geleng-gelengkan kepalanya. "Bohong! Kau tak pernah mengingatnya,

Tiklu Sara...! Beberapa waktu yang lalu aku sengaja mengutus mu ke sana adalah untuk melihat benarkah si Bangkotan Koreng Seribu telah meninggal dunia? Namun ternyata setelah kau sampai di sana pendirianmu berubah, kau telah bersekutu dengan orangorang sesat. Kau bergabung dengan mereka, untuk kemudian kalian maju bersama-sama mengeroyok murid-murid Candak Ginaka yang tak berdosa itu. Tidakkah segala tindakanmu itu memalukan aku sebagai seorang begawan yang seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing semua umat yang membutuhkan pertolongan...?"

"Guru...!" sergah Tiklu Sara, lalu menjatuhkan diri dan berlutut di atas tanah. "Murid takut pada ancaman orang-orang Beruang Merah, pula mereka tak tahu dari golongan manakah murid berasal...!" bantah Tiklu Sara setengah membujuk. Sesungging senyum yang tak dapat diduga maknanya oleh Tiklu Sara menghiasi bibir Begawan Ardi Soma. Namun sekejab kemudian dia sudah berkata: "Hemm. Beginikah tingkah laku orang yang ingin mengorbankan hidupnya sebagai seorang begawan? Sejak dulu pun aku selalu meragukan kejujuran hatimu, Tiklu Sara. Itu makanya walaupun sudah berpuluh-puluh tahun kau menjadi muridku, aku masih belum juga mengangkatmu menjadi seorang calon begawan. Sebab apa? Semua itu karena aku masih selalu melihat ketidak jujuran hatimu... tahukah kau bahwa menjadi orang tua yang baik itu terlalu sulit. Tapi menjadi orang tua yang benarbenarnya orang tua jauh lebih sulit lagi. Tiklu Sara, satu kesalahan yang tak pernah terampuni adalah apabila sebuah kepercayaan tak pernah dilaksanakan sebagaimana mestinya. Karena kesalahan itu telah kau perbuat, dan kulihat pula ketidak jujuran di hatimu. Maka sebagai kutuk ku. Tetaplah kau tinggal di dalam sendang ini selama sepuluh tahun. Sementara itu biar aku sendiri yang akan berangkat ke Tanjung Api untuk melihat keramaian yang akan terjadi di sana!" berkata Begawan Ardi Soma pada Tiklu Sara dan tiga orang murid-murid tersisa.

Tak dapat disangkal lagi, menggigillah tubuh Tiklu Sara demi mendengar keputusan gurunya.

"Guru, sampai hatikah engkau menghukum muridmu sampai sedemikian rupa? Bukankah baru sekali ini saja murid melakukan sebuah kesalahan...?" kata Tiklu Sara menghiba.

"Ha... he... he...he...! Karena kau telah melakukan banyak kesalahan, maka kesalahan yang paling besar saja yang selalu kau ingat! Hemm. Sungguh sekalipun segala keputusanku tak pernah berobah, dan kau harus dengan rela menjalaninya. Sebab hanya jalan inilah satu-satunya yang terbaik buatmu...!"

"Guru, mengapa kau tak pernah memberiku maaf?" tanya Tiklu Sara merasa kurang puas dengan keputusan yang telah diambil oleh gurunya.

"Maaf selalu kuberikan pada siapa pun! Namun kalau maaf itu kuberikan padamu, maka kau akan menjadi manusia yang paling banyak melakukan dosa...!"

"Kalau begitu murid, tak terima...!" bantah Tiklu Sara dengan wajah memerah karena menahan amarah yang sejak tadi dipendamnya. Kiranya segala apa yang ada di hati Tiklu Sara, rupanya bagi Begawan Ardi Soma sudah berada di dalam perhitungannya.

"Tiklu Sara murid murtad! Karena kedurhakaan mu itu, maka aku telah mengutukmu menjadi sebuah Patung Naga Banjaran. Diamlah kau di situ selamalamanya, tak akan pernah berakhir kutuk ku itu, terkecuali akan datang seseorang padamu, seorang pemuda pengelana dengan membawa sebuah Cambuk Gelap Sayuto di tangannya. Jalanilah kutukan mu itu, semoga kau menyadari sejauh mana kau telah melangkah di sebuah jalan yang sangat lurus...!" kata Begawan Ardi Soma.

Sesaat saja setelah ucapan itu, maka bertiuplah angin yang sangat kencang sekali. Nampaknya kutuk yang telah dijatuhkan oleh Begawan Ardi Soma pada muridnya mulai berlaku.

Mula-mula, tubuh Tiklu Sara tersentak ke belakang. Sementara sepatah kata pun tak mampu terucap dari bibir Tiklu Sara, lidah terasa kelu membeku. Tanah di sekitar tempat itu kemudian tergetar, mata murid Begawan Ardi Soma terbelalak, bagai melihat setan di tengah hari bolong.

Kemudian seiring dengan berhembusnya badai topan, maka tubuh Tiklu Sara sedikit demi sedikit mulai mengalami perubahan ujud. Empat orang murid lainnya nampak terheran demi melihat kejadian yang berlangsung di depan mata mereka. Dan dalam hati mereka timbul satu pertanyaan, akankah keadaan seperti itu juga menimpa, diri mereka semuanya.

Saat itu tubuh Tiklu Sara benar-benar telah berubah menjadi sosok Naga Banjaran dengan rupa yang sangat menyeramkan. Mulut menganga dengan lidah menjulur ke luar. Sorot matanya memancarkan rasa ketidak senangan yang tiada tertahankan. Namun Begawan Ardi Soma sudah tiada memperdulikan keadaan itu. Satu kalimat kemudian terucap dari bibirnya.

"Itulah karmaku. Sebuah karma kebenaran! Dan kalian empat murid lainnya, jadilah kalian penjaga patung Tiklu Sara di tempat ini selama-lamanya, sampai kemudian datang seseorang pada kalian. Kalau kalian selama menjalani kutukan ini dapat melakukannya dengan ikhlas, maka dewata akan menggugah hati pemuda itu untuk membebaskan diri kalian dari kutuk ku...! Nah selamat menjalani...!" kata begawan yang dapat merobah-robah ujudnya itu dengan hati mantap. Selanjutnya tanpa berkata-kata lagi, Begawan

Ardi Soma segera bergerak tubuhnya dari atas permukaan air sendang nan jernih. Tubuh tokoh sakti keagamaan itu akhirnya melayang bagai tiada memiliki bobot. Dalam waktu sekejab saja begawan yang mendiami Sendang Hamparan Perak itupun telah lenyap dari pandangan keempat muridnya yang tiada sanggup bergerak ke mana-mana.

*** 8

"Haiiiit... Shaaa...!" Tubuh Buang Sengketa bergerak sedemikian cepatnya, sehingga tinggal merupakan bayang-bayang belaka. Tubuhnya yang bertelanjang dada itupun sudah bercucuran dengan keringat. Sungguhpun begitu bagai tak kenal rasa lelah saja dia terus melatih diri dengan jurus-jurus baru peninggalan terakhir, si Bangkotan Koreng Seribu. Baginya jurusjurus tangan kosong Koreng Seribu, merupakan jurus silat yang paling rumit yang pernah dia pelajari. Selain itu juga banyak menyita tenaga dan harus berkonsentrasi penuh, andai tidak ingin celaka.

Jurus silat tangan kosong Koreng Seribu secara lahiriah tak ubahnya bagai jurus si Gila Mengamuk. Gerakan maupun pukulannya tiada beraturan dan tidak pula berketentuan, tapi tak dapat disangkal kalau jurus peninggalan si Bangkotan Koreng Seribu itu memiliki banyak kelebihan dibandingkan jurus-jurus silat tangan kosong yang telah dikuasainya.

"Hiaaat.... Wuuut.... Bluaaar...!"

Sambil berkelebat cepat, Buang lepaskan satu pukulan ke arah deretan batu-batu karang yang menjulang tinggi. Pukulan yang dilepaskannya menderu dahsyat dan bahkan sampai timbulkan suara bercuitan. Begitu satu rangkaian gelombang sinar yang berhawa panas luar biasa itu mencapai pada sasarannya. Maka satu letupan yang membuat berantakan batu karang itupun terdengar.

Begitulah halnya yang terjadi hampir setiap harinya di tempat itu. Apa yang ada dalam hati Pendekar Hina Kelana adalah bagaimana caranya agar dalam waktu yang sangat singkat dia sudah dapat menguasai semua jurus Koreng Seribu yang merupakan warisan gurunya yang terakhir.

"Buang! Istirahatlah... sejak pagi kau tenggelam dalam latihanmu yang sangat melelahkan itu...!" berkata Bara Seta, selanjutnya laki-laki berbadan gemuk dari Lubuk Sikaping itu mengangsurkan beberapa ekor ikan laut yang baru saja di panggangnya.

Buang Sengketa menerimanya, kemudian di atas batu-batu karang mereka terlibat percakapan.

"Buang Sengketa...!" ucap Bara setelah agak lama dia memandangi wajah pemuda yang sangat tampan ini. Yang dipanggil hanya menelengkan kepalanya sebentar, tapi kemudian telah kembali lagi tatapan matanya ke laut lepas,

"Ada apa, Paman...?"

Bara Seta menarik nafas pendek, seperti ada sesuatu yang mendesak dan ingin ditanyakan secara langsung.

"Aku ingin mengetahui sesuatu lebih banyak lagi tentang kau, tetapi...?" Bara Seta sejenak nampak meragu.

"Katakan saja, Paman... mengapa harus sungkan-sungkan...?!" menyela pemuda dari Negeri Bunian itu dan kali ini sudah menatap tajam pada Bara Seta.

"Buang! Menurut bapak, benarkah kau hidup sebatang kara di dunia pana ini?"

Pendekar Hina Kelana untuk sesaat lamanya hanya terdiam, tapi tak lama kemudian dia sudah menganggukkan kepalanya pelan.

"Kau seorang keturunan raja di alam gaib sana, apakah juga benar...?" lanjut Bara Seta setengah menyelidik.

Buang hanya tersenyum-senyum saja, walau sesungguhnya hati kecilnya menjerit. Raja Ular Piton di alam Negeri Bunian, itu memang benar adanya. Tetapi untuk apa Bara Seta menanyakan hal itu? Batin Pendekar Hina Kelana merasa risih dengan pertanyaanpertanyaan yang diajukan oleh Bara Seta.

"Mungkin begitu, Paman! Aku sendiri tak dapat memastikannya, sebab sejauh ini aku belum pernah bertemu dengan ayahanda ku...!" jawab si pemuda akhirnya.

"Sendiko, Gusti! Kalau begitu aku harus mengabdikan hidupku padamu, Buang!" kata Bara Seta, kemudian menjura hormat dalam-dalam.

"Ha... apa-apaan ini, Paman Bara Seta!" ucap si pemuda nampak terperangah.

"Sudah menjadi kodrat seandainya aku bertemu dengan seorang pemuda dari negeri alam gaib, aku harus mengabdi padanya...!"

"Tapi aku tak mau begitu, Paman...?" sahutnya setengah tersentak. Sebaliknya Bara Seta dan keempat orang muridnya masih tetap dengan posisinya. Membungkuk hormat.

"Jangan sungkan-sungkan, Buang! Kami akan mengabdi padamu...!"

"Aku tetap tak mau!" kata Buang Sengketa tetap pada pendiriannya.

Sementara dalam keadaan seperti itu, di luar sepengetahuan mereka serombongan orang-orang berkuda nampak telah mengepung Pantai Tanjung Api yang merupakan tempat tinggal mereka.

Jumlah para pengepung itu tak lebih dari lima belas orang. Suatu jumlah yang sesungguhnya tidak terlalu besar. Namun karena mereka telah siap dengan pasukan pemanahnya maka hal itu akan menjadi sangat berbahaya sekali bagi keselamatan Buang Sengketa, Bara Seta dan keempat orang muridnya. Masih untung dalam keadaan terkepung seperti itu, salah seorang murid Bara Seta sempat melihat beberapa orang di atas batu karang dengan senjata siap di tangan. "Guru, lihat! Orang-orang itu akan menghujani

kita dengan panah-panah mereka!" teriaknya, dan saat itu juga mereka langsung mencabut senjatanya. Hanya sekejab saja Bara Seta dan Pendekar Hina Kelana menyapu pandang pada bukit karang yang ada di sekitarnya, ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh salah seorang muridnya. Tempat itu kini telah terkepung oleh murid-murid Batu Kiambang.

"Buat pertahanan Candak Ginaka Mempertahankan Pedang Mustika!" perintah Bara Seta. Dan sungguh luar biasa sekali, belum lagi Bara Seta usai dengan ucapannya keempat orang muridnya sudah membentuk posisi melingkar, membentuk sebuah pertahanan yang sangat kokoh.

Demi menghadapi kenyataan yang tiada terdugaduga sebelumnya, Buang nampak menjadi sangat gusar sekali.

"Manusia-manusia pengecut! Kalian benar-benar ingin mencari penyakit telah begitu berani berurusan denganku...!" maki pemuda itu dengan suara yang lantang sekali.

Sesaat suasana di sekitarnya menjadi sunyi sepi, tiada apapun yang terdengar, hanya deburan ombak di laut nan luas. Namun sesaat kemudian terdengar suara tawa yang sangat menyakitkan gendang-gendang telinga bagi siapa saja yang mendengarnya.

Selanjutnya terdengar pula suara ucapan yang lebih condong pada perintah dan makian.

"Kepada bocah yang mengaku dirinya sebagai si Hina Kelana. Menyerah dan serahkan Kitab Jurusjurus Koreng Seribu. Jika tidak, aku Jumparing Retno dari Perguruan Batu Kiambang, akan menghapuskan nama besarmu dari permukaan bumi ini!"

Buang Sengketa terpana, dari nada suaranya rasa-rasanya dia baru kali ini melihat orang itu. Tapi dia pun tak dapat menyangkal bahwa orang yang baru bicara tadi sesungguhnya memiliki tenaga dalam yang sudah sangat sempurna sekali. Diam-diam dia mulai memperhitungkan seberapa banyak orang-orang yang berada di atas bukit-bukit karang tersebut. Akhirnya tanpa mengesampingkan lawan bersenjatakan panah yang jumlahnya sangat lumayan itu, Buang Sengketa pun balas membentak:

"Hemm. Enak betul bicaramu! Sungguhpun kau seorang iblis dari neraka sekalipun, jangan kira aku akan undur walau barang setapak pun!" bantahnya dengan suara dingin sekali. Sudah barang tentu, jawaban si pemuda yang di luar perhitungannya itu, membuat Jumparing Retno. Atau si tokoh kerdil ini menjadi gusar luar biasa.

"Kuperingatkan sekali lagi, serahkanlah Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu kepada kami. Jika tidak, seandainya gurumu masih hidup sekalipun tidak nantinya dia ungkulan menghadapi aku!"

"Hanya manusia edan saja yang mau percaya dengan segala bualanmu...!" ejek Buang Sengketa.

Saat itu kemarahan Jumparing Retno sudah sampai pada puncak kemarahannya, maka tanpa banyak cakap lagi dia langsung memberi isyarat pada murid-muridnya.

"Hajar mereka, dengan hujan panah...!" teriak Jumparing Retno. Maka sedetik kemudian berhamburanlah anak-anak panah yang jumlahnya sangat besar sekali. Murid-murid Candak Ginaka yang jumlahnya hanya empat orang itu, segera putar pedangnya. Sedangkan Bara Seta dan Pendekar Hina Kelana, sebelum panah-panah beracun itu sampai padanya telah pula kirimkan pukulan jarak jauhnya.

"Wus... wusss.... Trang... trang...!" Panah-panah itu berpentalan ke segala arah, begitu pedang di tangan murid Bara Seta maupun pukulan-pukulan yang dilepas-kan oleh Buang dan Bara Seta menyongsong datangnya hujan panah yang tiada henti-hentinya itu.

"Arrrrrgkh...!"

Beberapa orang yang berada di atas batu karang itu menjerit roboh, saat mana Buang menyambitkan beberapa batang anak panah yang berada di dekatnya. Namun karena datangnya hujan panah itu tiada henti. Maka mau tak mau Buang Sengketa habis juga kesabarannya. Lalu satu pukulan Empat Anasir Kehidupan dia lepaskan mengarah pada pasukan pemanah itu.

Satu gelombang sinar yang berhawa sangat panas luar biasa datang menggebu. Beberapa murid Batu Kiambang tersentak, namun sudah tidak keburu untuk menyelamatkan diri. Tanpa ampun lagi, sinar Ultra Violet itupun langsung menghajar tubuh mereka.

"Blaaaar!" "Arrrgghk!"

Mereka ini tewas seketika dengan keadaan tubuh hangus secara mengerikan. Baik Lukas Asmoro maupun Jumparing Retno, nampaknya sangat terperanjat demi melihat nasib yang dialami oleh murid-muridnya. Tapi sebelum rasa kejut di hati mereka lenyap sama sekali, Buang Sengketa telah lepaskan satu pukulan si Hina Kelana Merana. Lagi-lagi selarik gelombang yang menimbulkan hawa lebih panas lagi melesat menghantam murid-murid Batu Kiambang. Lebih dari lima orang pemanah menemui ajalnya menyusul kawankawannya terdahulu.

"Berhenti...!" perintah Jumparing Retno, merasa tak tega melihat nasib tragis yang dialami oleh muridmuridnya. Diikuti oleh Lukas Asmoro, Jumparing Retno melesat dari tempat persembunyiannya. "Jliiik! Jliiiik!"

Jumparing Retno dan Lukas Asmoro mendaratkan kakinya di atas tanah berpasir putih tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Selanjutnya dia mengitarkan pandangan matanya pada Buang Sengketa, Bara Seta dan juga pada keempat orang murid yang lainnya.

Pada saat itu, hal yang sama pun dilakukan oleh Buang Sengketa. Pemuda ini tampak agak tertegun begitu melihat sosok katai yang hanya mengenakan cawat saja. Manusia katai itu berusia berkisar lima puluh enam tahun. Di tangannya menggenggam tongkat berkepala srigala, sedangkan pada bagian kepalanya yang hanya ditumbuhi rambut beberapa helai itu ditutup dengan sebuah topi dari kulit menjangan.

"Heh, kiranya engkaulah kunyuknya yang telah begitu berani kelayapan sampai ke Tanjung Api ini...?" gerutu Pendekar Hina Kelana dengan sesungging senyum mengejek.

Laki-laki katai itu mendengus, masih dengan memandang remeh tak kalah sengitnya dia pun ikut membentak.

"Kaukah yang punya julukan si Hina Kelana itu? Beh, kau lebih pantas menjadi rajanya para gembel. Sayangnya kau segera mampus... dan kematianmu hanya bisa ditunda pabila kau mau menyerahkan Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu!" bentak Jumparing Retno sambil tudingkan telunjuknya yang hanya dua inci itu.

Buang Sengketa tersenyum sinis, wajahnya membayangkan sesungging seringai maut. Sementara itu Bara Seta yang sudah tiada sabaran lagi, segera pula membentak.

"Buang, mengapa harus bertele-tele, lebih baik kita gebuk cacing kerdil kurang makan ini, biar dia tidak ngebacot di depan kita...!" tukas Bara Seta merasa sudah tak sabaran lagi.

Jumparing Retno menjadi semakin panas saja hatinya, maka dengan kedua bola mata melotot bagai mau melompat ke luar dia pun berseru:

"Ikan Buntal tak tahu adat, makanlah nih pukulanku. Sheaaat...!" Berkata begitu, Jumparing Retno pukulkan tangan kanannya mengarah pada Bara Seta. Sudah barang tentu Bara Seta yang sudah bersiap siaga sejak tadi juga tidak tinggal diam. Serta merta dia pun pukulkan tangan kirinya memapaki serangan yang dilancarkan oleh si kerdil.

Maka tak terelakkan lagi, pukulan Candak Ginaka Menjungkir Batu Membabat Bukit, itupun menderu memapaki datangnya pukulan Srigala Hutan Menerkam Mangsa itupun saling bertemu.

"Bluuummm!"

Tanah di sekitar pantai itu nampak tergetar, pasir-pasir yang berwarna putih itupun beterbangan. Bara Seta terpelanting sampai tiga tombak jauhnya, sementara itu darah mengalir dari celah-celah bibirnya yang berkumis sangat lebat. Tapi sungguh hebat daya tahan Bara Seta, sebab tak lama kemudian dia telah bangkit kembali dengan keadaan siap melakukan serangan balasan.

Saat itu Jumparing Retno yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya tanpa kekurangan sesuatu apapun, keluarkan tawa mengekeh.

"Ah... ahh... ha...! Cuma segitu saja rupanya kekuatan dedengkot Candak Ginaka!"

Sejenak dia berpaling pada Pendekar Hina Kelana, lalu lanjutnya. "Bocah gembel! Maju saja sekalian, biar aku tak usah bersusah payah mengirim kalian ke neraka!" tantangnya dengan nada sangat meremehkan sekali. "Baik... itulah keinginanmu, Paman Bara Seta! Hadapilah tikus-tikus itu! Biar akan kujajal sampai di mana kehebatan kerdil jelek ini...!" berkata begitu, Buang Sengketa segera melangkah setindak dua. Saat itu Bara Seta sudah pula berhadapan dengan Lukas Asmoro dan beberapa orang murid yang tersisa.

"Sekarang kita ketemu lagi, Lukas Asmoro. Apakah dengan mengandalkan cacing kerdil itu kau berharap dapat berbuat banyak?" tanya Bara Seta dengan disertai sesungging senyum mengejek.

"Kutu kampret! Kali ini aku akan mengadu jiwa denganmu...!" maki Lukas Asmoro. Sesaat kemudian dengan dibantu oleh murid-muridnya, Lukas Asmoro sudah menggempur Bara Seta dan keempat orang murid yang tersisa.

Sementara itu Buang Sengketa dan si kerdil berkancut, sudah bergebrak mendahului, dengan serangan-serangan yang sangat dahsyat. Buang Sengketa juga tak ingin bertindak sungkan-sungkan. Dengan mempergunakan jurus-jurus silat tangan kosong. Buang Sengketa mengerahkan segenap kemampuannya. Maka dalam waktu sekejab saja pertarungan itupun berlangsung sangat seru sekali. Buang segera pula mempergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra saat mana Jumparing Retno menyerangnya dengan jurus Srigala Menyergap Harimau Tua.

Pukulan-pukulan dahsyat untuk selanjutnya mereka lancarkan. Sementara tubuh mereka berkelebat sangat cepat sekali. Masing-masing lawan nampaknya berusaha secepatnya ingin menjatuhkan pihak lawan.

"Ciaaaaat.... Haiiiiit...!" Dalam kesempatan itu guru kerdil dari Batu Kiambang itu telah lancarkan pukulan dahsyat yang diberi nama Srigala Bergabung Menghalau Burung Hantu. Tak pelak lagi selarik sinar yang berwarna biru keperak-perakan melesat sedemikian cepatnya mengarah ke bagian dada Pendekar Hina Kelana. Menyadari bahaya yang sedang mengancam jiwanya, Buang juga melepaskan satu pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

Pukulan Empat Anasir Kehidupan, maka saat itu juga segelombang sinar yang berwarna Ultra Violet dengan menebarkan hawa panas luar biasa datang menggebu memapaki datangnya sinar yang berhawa sangat dingin luar biasa.

"Blaaaaam!"

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, tubuh si kerdil Jumparing Retno terpelanting sepuluh tombak. Andai saja dia tidak memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai taraf yang sudah sangat sempurna, sudah barang tentu tubuhnya akan menjadi remuk manakala membentur batu karang yang berada di belakangnya.

***

9

Sementara tubuh Pendekar Hina Kelana sendiri nampak tergetar dengan kaki amblas ke tanah sampai sebatas lututnya. Dengan cepat dia cabut kedua kakinya yang terbenam di dalam pasir pantai itu. Kemudian dia hanya leletkan lidahnya saat mana dia merasakan dadanya sesak luar biasa. Maka secepatnya dia himpun hawa murni, dan tak lama kemudian tubuhnya telah kembali seperti sediakala. Karena saat itu Jumparing Retno telah kembali menyerangnya dengan pukulan-pukulan andalan. Maka Buang tak ingin lagi membuang-buang waktu dengan percuma, sekejab kemudian tubuhnya telah berkelebat lenyap hingga tinggal merupakan bayang-bayang mereka.

"Shaaaa...!"

Lagi-lagi Jumparing Retno kirimkan satu pukulan yang sangat ganas, yaitu pukulan Selaksa Halilintar Menggempur Bukit. Begitu tangannya berkiblat, maka detik kemudian menderulah serangkum gelombang berwarna kuning menggebrak ke arah tubuh Buang Sengketa. Saat itu juga Buang yang sudah sangat kesal melihat tingkah si katai bertopi kulit manjangan ini segera melepas pukulan si Hina Kelana Merana.

Detik itu serangkum sinar berwarna merah menyala datang membadai memapaki datangnya pukulan yang dilepaskan oleh Jumparing Retno. Dua tenaga sakti itupun tanpa dapat dihindari lagi akhirnya saling bertubrukan di udara.

"Dhweeeeer!"

Kembali tubuh Jumparing Retno tunggang langgang dengan posisi tak karuan, dan keadaan Buang sendiri saat itu tidak lebih baik dengan apa yang dialami oleh si katai yang merupakan guru dari Partai Batu Kiambang.

"Sialan! Bangsat cebol itu kiranya memiliki pukulan beracun yang hebat. Hmm untung aku kebal terhadap segala pukulan beracun, andai tidak sudah sejak tadi aku kojor dibuatnya!" batin pemuda itu. Selanjutnya dengan tubuh sempoyongan pemuda yang merupakan keturunan raja dari segala macam mahluk halus (Siluman) segera bersiap-siap dengan posisinya. Tapi kali ini kemarahan yang tiada tertahankan lebih menguasai dirinya.

Sementara itu Bara Seta yang sedang bertarung melawan Lukas Asmoro dan murid-muridnya nampak sedang dalam keadaan terdesak hebat. Walaupun saat itu memang sudah banyak murid-murid dari Batu Kiambang yang berguguran termakan pukulan Candak Ginaka Membahana, akan tetapi di lain pihak murid Bara Seta yang tinggal empat orang saja, saat itu tiga di antaranya telah gugur pula dengan keadaan yang sangat menggenaskan.

Masing-masing lawan kelihatannya telah melepaskan pukulan-pukulan mautnya, sedangkan muridmurid Batu Kiambang yang tersisa hanya tinggal beberapa gelintir itupun menyerang Bara Seta dengan senjatanya yang beraneka ragam.

"Caiiiit...! Mampusss!" teriak Lukas Asmoro. Pedang pendek yang sangat tipis dengan warnanya yang hitam legam itupun berkelebat.

Hanya sesaat sebelum senjata tajam dan mengandung racun yang sangat keji itu mencapai sasarannya. Bara Seta telah membuang dirinya ke samping kanan, selanjutnya dia berguling-guling. Akan tetapi senjata di tangan Lukas Asmoro terus memburunya tanpa kenal ampun.

Bara Seta yang bertubuh gemuk itu tak ubahnya bagai sebuah karung saja, terus menggelinding kian ke mari. Namun bersikap seperti itu tak mungkin selamanya dapat dia pertahankan. Hingga kemudian kesabarannya pun benar-benar telah melampaui takarannya. Dia sudah naik pitam, tanpa ampun lagi begitu dia menggenjot tubuhnya dengan mempergunakan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna. Maka badan yang beratnya lebih dari satu kwintal itupun sudah melesat ke udara. Dalam keadaan seperti itu, dia pun mencabut senjatanya yang berupa sebilah keris bereluk sepuluh.

Begitu keris pusaka Perguruan Candak Ginaka itu berada di tangannya, maka terlihat cahaya berkilatkilat karena ketajamannya yang dipantulkan oleh sinar matahari.

Selanjutnya dengan teriakan menggembor bagai seekor kerbau jantan terluka. Senjata di tangan Bara Seta menderu mencari titik lemah pertahanan pihak lawan yang bersenjatakan sebilah pedang pendek.

Sesaat kemudian terdengar pula lolongan maut, saat mana salah seorang murid Batu Kiambang berusaha menyerobot pertahanan Bara Seta secara curang. Murid bertubuh tinggi semampai itu menekan bagian lambungnya yang terobek keris Bara Seta tak kurang dari sejengkal lebarnya.

Tubuh si tinggi semampai terhuyung-huyung, sementara tangannya yang mendekap bagian lambung sudah basah oleh darah. Mata melotot bagai melihat setan yang bangkit dari neraka. Selanjutnya tubuh itupun limbung, lalu ambruk manakala darah terakhir membanjiri pasir yang putih.

Bukan main marahnya Lukas Asmoro demi melihat kawan dekatnya tewas di tangan Bara Seta secara menggenaskan.

"Keparat! Ka... kau... telah membunuh orang yang paling berharga dalam hidupku. Kau benar-benar sangat keji...!" maki Lukas Asmoro sangat marahnya.

Bara Seta tergelak-gelak demi melihat kegusaran lawannya. Maka masih dengan sesungging senyum sinis dia berkata tajam.

"He... he... he...! Membantai orang-orang kesasar merupakan pekerjaanku. Mengapa harus disesali. Tokh kematian itu juga akan datang pada setiap mahluk bernyawa secara cepat atau lambat...!"

"Kutu kupret...! Mampus...!" "Ngguuuung!"

Lukas Asmoro yang sudah sangat kesal itu tanpa banyak cingcong lagi, kembali babatkan pedangnya. Bara Seta pun tidak ingin bertindak setengah-setengah lagi, segera saja mencecar dan melakukan seranganserangan balasan dengan gerakan yang sangat cepat dan sulit diduga-duga.

Sementara itu pertarungan antara Pendekar Hina Kelana dan Jumparing Retno telah mencapai puncaknya. Baik Buang maupun si katai bertopi kulit menjangan, sejak tadi jatuh bangun dalam adu tenaga sakti yang saling mereka lepaskan. Hingga beberapa saat kemudian, nampaknya si kerdil ini sudah tidak sabar lagi menghadapi perlawanan yang cukup sengit dari pihak lawannya.

Kini tanpa sungkan-sungkan lagi, Jumparing Retno sudah mencabut sebuah tongkat sakti yang berkepala srigala. Tongkat itu berwarna hitam mengkilat tertimpa cahaya matahari. Demi melihat apa yang dilakukan oleh lawannya yang masih tetap saja nekad, maka Buang semakin bertambah jengkel saja dibuatnya. Kini sudah jelaslah baginya, bahwa Jumparing Retno benar-benar menghendaki nyawanya.

"Mampuslah, kau! Budak hina...!" berkata begitu manusia katai dari Partai Batu Kiambang itu sudah menyerang si pemuda dengan serangan-serangan tongkatnya yang sangat berbahaya itu. Pemuda keturunan Raja Ular Piton Utara dari Negeri Bunian itu, sudah tak dapat berpikir panjang lagi.

"Emaaaak...!" jeritnya, manakala tongkat di tangan Jumparing Retno, nyaris memukul remuk batok kepalanya. Masih belum dia berhasil menghindari terjangan tongkat itu dengan baik. Satu sodokan susulan datang beruntun. Semakin lama semakin menggila. Karena memang sesungguhnya saat itu Jumparing Retno sedang mempergunakan jurus Tongkat Srigala Menggila.

Buang meskipun sudah mempergunakan jurus silat tangan kosong si Gila Mengamuk, namun keselamatannya masih juga terancam. Dalam keadaan kepepet seperti itu, tiba-tiba dia teringat akan sebuah jurus awal yang belum sepenuhnya dipelajari dan dikuasainya, dari jurus-jurus Koreng Seribu, ciptaan terakhir gurunya.

"Hiaaaa...!" Buang keluarkan jeritan melengking bagai gaung suara ratusan para siluman yang terluka. Seiring dengan suara jeritannya yang membahana itu, maka bagai ditelan bumi. Pemuda itu lenyap dari pandangan mata Jumparing Retno.

"Bangsat! Ilmu siluman...!" maki manusia katai itu sambil celingukkan bagai seekor monyet yang ketinggalan rombongannya. Tahu-tahu:

"Buuuuk!"

Kaki Buang Sengketa mendarat di bagian punggung Jumparing Retno. Namun dalam keadaan sempoyongan itu dia masih sempat hantamkan tongkatnya.

"Breeeet...!"

"Arrgggh...!" jerit Buang Sengketa. Bagian bawah ketiaknya terasa perih sekali. Dalam keadaan sakit, namun cepat bangkit kembali. Buang Sengketa sempat berfikir. Mengapa jurus-jurus Koreng Seribu hasil ciptaan gurunya yang terakhir tidak ada apa-apanya? Bahkan tidak memiliki kekuatan yang dapat diandalkan? Bagai orang bego yang tiada memiliki kepandaian apa-apa, selanjutnya dirinya dipermainkan oleh Jumparing Retno yang semakin bertambah besar kepala. Jangan-jangan kelanjutan jurus Koreng Seribu hanyalah sebuah kitab mainan bocah cilik! Kalau begitu sungguh keterlaluan kakek pemuram itu. Batin Buang Sengketa dalam hati.

Akhirnya sampailah dia pada kesimpulan demi untuk menyelamatkan selembar jiwanya yang tiada dijual di warung mana pun, dia segera merubah jurusjurus silatnya yang paling sangat diandalkan selama ini.

Si Jadah Terbuang! Tak salah lagi, jurus yang sangat dahsyat itulah yang kini dipergunakan oleh Buang Sengketa dalam menghadapi serangan tongkat sakti yang berada dalam genggaman tangan lawannya.

Menghadapi perubahan yang sangat mendadak itu, sudah barang tentu manusia kerdil dari Perguruan Batu Kiambang ini menjadi terkejut bukan alang kepalang. Sama sekali dia tiada menyangka kalau si pemuda memiliki jurus silat tangan kosong yang sangat hebat luar bias!

***

10

Di lain pihak, Pendekar Hina Kelana demi merasakan rasa sakit yang teramat sangat akibat pukulan maupun sabetan tongkat sakti milik Jumparing Retno. Nampak sudah tak dapat lagi menahan kesabarannya, dalam posisi berdiri sejauh empat meter jaraknya dari pihak lawan. Pemuda itu memandang tajam pada Jumparing Retno. Kedua bibirnya terkatup rapat, dengan rahang bergemeletukkan. Dingin pandangan matanya, hawa pembunuhan terpancar dari wajahnya yang menegang. Selanjutnya adalah bunyi mendesis bagai seekor Ulat Piton yang sedang dilanda kemarahan.

"Manusia katai berfikiran picik! Semua kesabaranku sebagai seorang anak manusia telah kuberikan! Sepanjang itu kau tak pernah menyadarinya. Kau kira dengan kemampuan yang kau miliki itu, kau sanggup meruntuhkan kodrat yang telah digariskan. Bukan kesombonganku kalau hari ini aku harus menggusur nama besar Perguruan Batu Kiambang. Maafkan aku, karena aku juga masih merupakan keturunan raja di negeri alam gaib, terkadang kodratku sebagai titisan raja siluman menjadi peredam dalam kodrat amarahku sebagai seorang anak manusia!" ucap Pendekar Hina Kelana.

"Kentut busuk! Katakan saja kalau kau merasa jera berhadapan denganku!" maki Jumparing Retno.

Tiada kata yang terucap dari mulut pemuda itu, hanya satu lengkingan ilmu Pemenggal Roh saja yang menyertai berkelebatnya tubuh pemuda dari Negeri Bunian itu. Begitupun membuat tubuh murid-murid Batu Kiambang yang hanya bersisa tiga orang itu menggelepur roboh dengan telinga mengalirkan darah. Baik Bara Seta, Lukas Asmoro, maupun Jumparing Retno nampak terkesima. Demi mendengar lengkingan ilmu Pemenggal Roh yang dapat merontokkan tebing batu karang yang ada di sekitarnya. Namun rasa keterkejutan itu nampaknya tidak berlangsung lama, karena detik kemudian dia harus berjuang mati-matian demi mempertahankan keselamatannya sendiri.

"Wuuus!"

Tongkat di tangan Jumparing Retno datang mengibas manakala Buang kirimkan satu pukulan ke arah bagian dada manusia katai itu. Tangkisan yang tiada terduga-duga itu membuat pendekar kita ini tak sempat menarik balik pukulannya.

"Bleetak!"

"Auggh...!" Pendekar Hina Kelana terpekik, saat mana tangannya yang telah teraliri tenaga dalam itu membentur tongkat di tangan Jumparing Retno. Tangan Buang yang membentur tongkat sakti tersebut terasa sakit luar biasa. Maka sambil menyeringai menahan sakit. Tak tertahankan lagi Buang segera cabut pusaka Golok Buntung yang sangat menggemparkan itu. Begitu senjata maut itu telah tergenggam di tangan pendekar ini. Tak ayal lagi, seberkas sinar warna merah menyala terpancar dari senjata yang sangat tinggi pamornya. Jumparing Retno jadi keder nyalinya, bahkan wajahnya semakin bertambah pucat saja, saat mana dia merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat dingin luar biasa. Namun Pendekar Hina Kelana yang sudah mencapai puncak kemarahannya itu, nampaknya sudah tiada memperdulikan keadaan Jumparing Retno.

"Heiiik!"

Teriak si pemuda, sementara dari bibirnya terus memperdengarkan bunyi mendesis bagai seekor Ular Piton yang sedang marah.

"Hiaaat... cia... ciaaa...!" Jumparing Retno bertindak mendahului, dan dengan tongkatnya dia berusaha mendesak Buang dari segala penjuru.

Pendekar Hina Kelana habis sudah kesabarannya, pada satu kesempatan tubuhnya kembali bergerak cepat, hingga tinggal merupakan bayang-bayang merah saja. Saat itu, golok di tangannya menderu hingga timbulkan suara bergemuruh dan menerbangkan pasir dan mengibarkan rambut lawannya yang hanya beberapa helai saja.

"Wuuus!"

Manusia katai kiblatkan tongkatnya dengan maksud menangkis senjata pihak lawan.

"Braaaak!"

Tongkat sakti di tangan manusia katai itu hancur berkeping-keping, manakala golok di tangan Buang menyambarnya. Pucat wajahnya membayangkan ketakutan yang teramat sangat. Namun lagi-lagi pendekar ini sudah tidak memberi kesempatan lagi pada lawannya. Senjata di tangan Buang Sengketa kembali berkelebat sangat cepat, Jumparing Retno hanya terkesima begitu melihat berkelebatnya sinar merah, mengarah pada bagian tubuhnya.

Maka tak terelakkan lagi:

"Craaat! Craaas!"

Jumparing Retno menjerit setinggi langit. Tubuhnya limbung, sesaat kemudian kedua tangannya nampak menekan bagian luka yang sangat mengerikan itu. Namun semua usahanya itu tidak juga mampu. menghentikan darah yang menyembur ke luar. Detik kemudian tubuh Jumparing Retno ambruk ke bumi, berkelojotan sebentar, untuk kemudian terdiam dengan jiwa melayang.

Pendekar Hina Kelana menarik nafas pendek, sekejab dipandanginya mayat manusia katai dari Partai Batu Kiambang, kemudian beralih pula pada mayatmayat yang lainnya. Wajahnya tertunduk, saat itu Pusaka Golok Buntung masih tergenggam erat di tangannya. Nampaknya pemuda dari Negeri Bunian itu larut dalam lamunannya. Tetapi manakala dia mendengar denting suara beradunya senjata tajam tak jauh dari tempat dia berada, maka teringatlah olehnya Bara Seta, yang sedang bertarung melawan Lukas Asmoro. Sekilas dia menoleh, maka tampak saat itu Bara Seta setengah kewalahan dalam menghadapi Lukas Asmoro.

"Kampret sialan muridnya kerdil dungu itu memang perlu secepatnya diberangkatkan ke liang kubur...!" batinnya dalam hati.

Dengan sekali lompat dan bahkan dengan gerakan yang sangat ringan dia telah berada di tengahtengah pertarungan.

"Paman Bara Seta! Menyingkirlah...!"

Bara Seta tanpa menunggu diperintah dua kali segera menuruti apa yang diperintahkan oleh Pendekar Hina Kelana. Maka begitu berhadapan dengan Buang, menggigillah tubuh murid Jumparing Retno yang cuma tinggal satu-satunya ini.

Lalu ditudingnya Lukas Asmoro dengan jari telunjuknya. Kemudian dengan berapi-api dia pun membentak.

"Kau... ha... ha... ha...!" Buang Sengketa tertawa mengekeh. "Jangan kira aku akan membiarkanmu hidup...!" Berkata begitu pendekar ini langsung menerjang Lukas Asmoro dengan senjata andalannya. Kalau Jumparing Retno saja sebagai gurunya menjadi kelabakan saat mana menghadapi kehebatan Pusaka Golok Buntung. Tak terbayangkan lagi, kalau saat itu juga Lukas Asmoro menjadi ciut nyalinya.

"Nguuung...!"

Golok di tangan Buang menderu dahsyat, dan detik selanjutnya tanpa mengalami banyak kesulitan Buang Sengketa kembali babatkan golok di tangannya. Lukas Asmoro hanya sesaat saja terperangah, lalu:

"Craas...! Craaas...!" "Arggghk...!"

Lukas Asmoro menjerit, darah muncrat dari punggungnya yang terbabat golok di tangan lawannya. Setelah memutar tubuh Lukas Asmoro menggeletar, kemudian terjengkang tanpa mampu berkutik lagi.

"Hemm. Banyak orang di kolong langit ini menemui kematian karena ulahnya sendiri...!" Bergumam pendekar ini seperti pada dirinya sendiri.

Saat itu Bara Seta telah pula berdiri di samping si pemuda dengan hanya ditemani seorang muridnya yang cuma tinggal satu-satunya.

"Satu ilmu langka yang telah kulihat untuk pertama kalinya, di dalam hidupku. Hemm... Pusaka Golok Buntung itu... baru kali ini aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang apa yang selama ini diceritakan oleh Bapak Bangkotan Koreng Seribu. Kau benar-benar seorang pendekar sejati, Kelana...!" puji Bara Seta tanpa bermaksud melebih-lebihkan. Sementara Buang Sengketa hanya geleng-gelengkan kepalanya pelan.

"Sudahlah, Paman. Aku bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan kebesaran Sang Hyang Pencipta. Pula nampaknya kita akan menghadapi lawan-lawan yang sangat berbahaya sekali. Sedangkan di lain pihak, aku merasakan seperti ada sesuatu rahasia di balik Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu yang diciptakan oleh Kakek Bangkotan Koreng Seribu...!" ujar Buang Sengketa berhati-hati.

"Apa maksudmu, Buang...?" tanya Bara Seta penuh ketidak mengertian.

Pendekar Hina Kelana membuang pandangan matanya jauh-jauh. Selanjutnya Bara Seta mendengar helaan nafasnya yang terasa berat.

"Paman! Mempelajari Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu, nampaknya memerlukan waktu beberapa purnama. Aku menyadari betapa tololnya aku ini, selama beberapa hari aku mempelajari kitab itu, ternyata aku melakukan satu kesalahan yang bisa berakibat sangat patal sekali...!"

Bara Seta nampaknya semakin tidak me-ngerti saja dengan apa yang dikatakan oleh pendekar yang sangat dikaguminya itu.

"Buang! Katakanlah sesuatu padaku agar aku dapat menjadi mengerti...!"

"Paman Bara Seta! Agaknya paman pun harus tahu bahwa selama ini Kakek Bangkotan Koreng Seribu sengaja merahasiakan intisari dari jurus-jurus hasil ciptaannya yang terakhir. Hari-hari kemarin ternyata aku mempelajari sesuatu yang tiada gunanya. Katakanlah bahwa itu sebuah tipuan atau mainan anakanak yang tidak ada manfaatnya." kata Buang Sengketa lirih. Lalu sesaat kemudian dia telah mengambil kitab yang tebalnya tak lebih dari empat puluh halaman. Sebentar dia membolak balik kitab yang terbuat dari kulit ikan hiu tersebut. Satu halaman di antaranya dia angkat tinggi-tinggi menghadap ke arah matahari. Lalu tampaklah olehnya sebuah guratan-guratan yang tiada teratur. Dan saat mana dia meletakkan lembaran kitab tersebut di atas batu karang, maka guratan-guratan tadi sudah tidak kelihatan lagi. Yang ada hanyalah gerakan-gerakan silat yang hari-hari kemarin telah dipelajarinya. Namun ternyata salah besar!

Buang Sengketa tanpa sadar tepuk-tepuk jidatnya sambil leletkan lidah yang terasa kelu. Lalu tanpa ditanya dia pun berucap:

"Sungguh, kakek merupakan orang yang berpikiran cerdas. Begitu pandai dia menjaga rahasia kitab dan isinya, hingga andai pun sampai terjatuh ke tangan orang lain. Sampai botak sekalipun mereka tetap tak akan mampu memahami makna yang terkandung di dalamnya. Oh betapa besar perhatiannya padaku si Hina Kelana, sampai akhir hayatnya ini pun aku tak mampu membalas sedikit dari sekian banyak kebaikan yang pernah dia berikan padaku. Kakek... guru... maafkanlah muridmu yang tak dapat membalas budi ini...!" kata Buang Sengketa dengan hati pedih.

Saat itu nampaknya Bara Seta merasa tak sampai hati membiarkan Buang Sengketa berlarut-larut dalam kesedihan, sambil menepuk-nepuk bahu si pemuda, Bara Seta pun pada akhirnya berucap.

"Sudahlah, Kelana...! Dalam kehidupan manusia, tolong menolong adalah merupakan satu perbuatan yang sangat terpuji. Kalau pun engkau tak dapat membalas segala kebaikan bapak, maka kau dapat melakukannya pada orang lain. Yang terpenting sekarang ini kita harus memikirkan jalan keluarnya untuk mencari tempat yang aman guna mempelajari kitab warisan gurumu yang terakhir...!"

Nampaknya Pendekar Hina Kelana jadi terkesima demi mendengar apa yang dikatakan oleh Bara Seta. Dia pun berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh lakilaki dari Lubuk Sikaping itu benar adanya. Tanjung Api kini bukanlah merupakan sebuah tempat yang aman untuk mempelajari sebuah kitab yang sangat dahsyat.

"Menurutmu bagaimanakah, Paman?"

"Satu-satunya jalan kita harus meninggalkan tempat ini, untuk mencari sebuah tempat yang tersembunyi demi keselamatan kitab itu!"

Buang Sengketa angguk-anggukkan kepalanya.

Lalu dipandanginya Bara Seta dengan hati masgul. "Aku menurut apa yang paman katakan, kalau

bisa secepatnya pula kita tinggalkan tempat ini...!" Tanpa berkata-kata lagi, Buang Sengketa, Bara

Seta dan seorang muridnya yang bernama Pamuja ini pun segera menghampiri makam si Bangkotan Koreng Seribu. Selanjutnya setelah memberi penghormatan pada makam guru dan sekaligus merupakan orang tua angkat Bara Seta. Maka ketiga orang itupun berlalu meninggalkan Tanjung Api.

***

11

Rombongan berkuda dari Partai Beruang Merah yang dipimpin langsung oleh ketua-nya, Nyai Tambak Sari itu kini telah sampai di Tanjung Kait. Itu berarti tak sampai setengah jam lagi mereka telah sampai di Tanjung Api. Dalam keadaan tergesa-gesa takut didahului oleh yang lainnya. Rombongan itu semakin mempercepat laju kuda-kuda mereka.

Sementara itu tanpa mereka sadari, sosok tubuh yang sedang menggerakkan lari cepatnya itu terus mengikuti gerak laju kuda orang-orang Beruang Merah. Namun agaknya orang yang sedang mengerahkan ilmu lari cepatnya itu sudah tak sabaran lagi. Karena tak sampai satu menit kemudian dia telah menghadang jalan yang akan dilalui oleh rombongan orangorang berkuda ini. Tentu saja gerakannya yang sangat cepat itu membuat terkejut para penunggang kuda tersebut. Serta merta mereka menarik tali kekang kudanya, dan kuda-kuda itu meringkik keras langsung hentikan langkah.

Nyai Tambak Sari yang menjadi kepala rombongan dan bermata buta itu bagai me-ngerti saja bahwasanya ada orang yang sedang menghadang jalan mereka. Maka tanpa sabar lagi dia pun membentak.

"Sialan betul! Kunyuk mana yang telah begitu berani menghadang jalan yang akan kami lalui...?" teriak Nyai Tambak Sari sambil kedip-kedipkan matanya yang berongga mengerikan.

"Kunyuk berpakaian pendeta ini nampaknya sengaja mencari gara-gara pada kita, Ketua...!" menyela Basra Panewu, memberi gambaran tentang ciri-ciri orang yang menghadang mereka.

Alis Nyai Tambak Sari menggemirit, dia berusaha mereka-reka siapakah gerangan orang yang berdiri tegak di hadapannya itu. Sekali lagi dia membentak gusar: "Kunyuk tuli! Kuperintahkan sekali lagi padamu, cepat-cepat minggirlah kau dari hadapanku...!"

Orang yang menghadang di tengah jalan dan tak lain Begawan Ardi Soma adanya tertawa ganda. Suara tawanya sesungguhnya hanya pelan saja, namun karena suara tawa itu disertai dengan tenaga dalam yang lumayan. Tak urung beberapa orang murid Beruang Merah cepat-cepat menutup telinganya yang berdenyut-denyut sakit. Bahkan kuda-kuda tunggangan mereka pun meringkik keras.

Nyai Tambak Sari yang buta matanya itu nampak geleng-gelengkan kepalanya. Nampaknya dia berusaha keras untuk mengingat-ingat suara tawa yang tak ubahnya bagai jerit seekor ular naga tersebut. Sepertinya dia masih ingat siapa adanya. laki-laki ini. Tak salah di dunia persilatan hanya ada seorang tokoh saja yang mampu mengeluarkan suara tawa seperti itu. Begawan Ardi Soma, ya hanya dialah satu-satunya tokoh yang dapat berubah ujud seperti itu. Batin Nyai Tambak Sari. Namun sebelum Nyai Tambak Sari mampu berkata apa-apa, mendadak orang yang sedang dipikirkannya, sudah pula berkata:

"Kalian orang-orang sableng dari Beruang Merah! Hendak ke manakah hingga kelihatan bagai dikejarkejar setan...?!"

"Kampret sialan! Begawan Ardi Soma, jangan kira aku tak dapat mengenali siapa adanya engkau itu. Aku tak punya urusan denganmu, maka cepat menyingkirlah...!" maki Nyai Tambak Sari

Lagi-lagi Begawan Ardi Soma tertawa mengekeh, sepanjang sepak terjang ketua Beruang Merah ini, rasa-rasanya dia sudah mengetahui ke mana tujuan rombongan berkuda yang dipimpin oleh manusia sesat tersebut. Maka tanpa sungkan-sungkan lagi dia pun menyela: 

"Nyai Tambak Sari! Kulihat dulu matamu pernah dibutakan oleh si Bangkotan Koreng Seribu. Kulihat hari ini kau mau ke Tanjung Api, ada keperluan apakah gerangan...?" pancing Begawan Ardi Soma dengan sesungging senyum penuh misteri. Kata-kata sang begawan meskipun diucapkan biasa-biasa saja namun bagi Nyai Tambak Sari merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan hatinya.

"Begawan palsu! Dulu si Bangkotan Koreng Seribu, boleh unjuk gigi di depan siapapun. Tapi tidak untuk saat ini. Akan kubuntungi kedua tangan dan kakinya, kemudian kubutakan pula matanya, agar dia tahu bahwa di kalangan persilatan akulah yang paling berkuasa...!" tukas Nyai Tambak Sari berusaha menutup-nutupi tujuan yang sesungguhnya.

"Hua... ha... ha... ha...! Si Bangkotan Koreng Seribu telah meninggal dua purnama yang telah lewat. Bahkan jenazahnya pun telah dikuburkan lebih dari satu purnama yang lalu. Hemm, si Bangkotan Koreng Seribu yang manakah yang akan kau buntungi kedua kaki dan tangannya? Dan mata siapakah yang akan kau butakan...? Aku malah khawatir bahwa kedatangan kalian ke sana hanyalah untuk membunuh Pendekar Hina Kelana sekaligus untuk mendapatkan Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu yang dahsyat itu...!" selanya tanpa tedeng aling-aling lagi.

Saat itu juga baik Basra Panewu, Sudak Pari maupun Nyai Tambak Sari kelihatan berubah parasnya. Terlebih-lebih dedengkot Beruang Merah, tubuhnya sampai tergetar karena menahan kemarahan yang luar biasa. Dengan gigi-gigi bergemeletukkan, Nyai Tambak Sari membentak:

"Keparat tengik! Kiranya kau memang sengaja mencari permusuhan dengan kami dan bukan tak mungkin pula bahwa kau juga punya ambisi untuk mendapatkan kitab yang tiada ternilai harganya itu...!"

"Kita cincang saja begawan gila ini, Ketua...!" Sudak Pari yang sudah tidak sabaran itupun ikut pula menyela. Tanpa menghiraukan ucapan Sudak Pari, Begawan Ardi Soma menatap tajam pada Nyai Tambak Sari, nenek renta namun punya ambisi setinggi langit. "Tambak Sari manusia salah kaprah! Tiada sedi-

kit pun terbetik di hatiku untuk mengangkangi segala kitab yang berbau keduniawian. Asal kau tahu saja, bahwasanya si Bangkotan Koreng Seribu adalah salah seorang yang merupakan sahabat karib ku... keberadaan kami tak ubahnya bagai daging dengan darah...!"

Nenek buta terperangah begitu mendengar katakata Begawan Ardi Soma. Dalam hati sedikitpun dia tiada menyangka kalau laki-laki yang berdiam di Sendang Hamparan Perak itu masih merupakan sahabat karib si Bangkotan Koreng Seribu. Kalau memang benar apa yang dikatakan oleh Begawan Ardi Soma, maka itu berarti bahwa dia harus berhadapan dengan tokoh yang berilmu sangat tinggi. Dia pun tahu kepandaian yang dimiliki mungkin hanya setingkat di atas begawan itu. Namun itu adalah beberapa puluh tahun yang lalu. Sedangkan sebagaimana hebat kesaktian Begawan Ardi Soma saat ini, sama sekali dia tidak ketahui. Buta sebuta matanya.

"Ho... ho... ho! Jadi sekarang apa yang kau inginkan dari kami...?" tanya Nyai Tambak Sari berusaha menghindari terjadinya bentrokan dengan Begawan Ardi Soma. Laki-laki berambut, kumis serta jenggot yang sudah memutih ini berobah tegas.

"Mengingat di antara kita tidak ada permusuhan. Aku minta batalkan niat kalian untuk datang ke Tanjung Api. Andai tidak...?"

"Andai tidak kau mau apa, Begawan sinting...?" tanya Nyai Tambak Sari seolah sudah mengerti ke mana arah pembicaraan Begawan Ardi Soma.

"Andai tidak! Aku akan merintangi tujuan kalian...!"

"Caile... enak betul! Jangan kira aku akan mundur dalam menghadapimu, Begawan keparat...!" maki Nyai Tambak Sari dalam kemarahan yang sudah tiada terkontrol lagi. Serta merta dia memberi isyarat pada Basra Panewu dan Sudak Pari. Maka tanpa dapat dicegah lagi, dengan masih berada di atas punggung kudanya masing-masing, baik Basra Panewu dan Sudak Pari langsung kirimkan satu pukulan yang diberi nama Sekawanan Beruang Merah Menyergap Harimau Tua.

"Weeees!"

Serangkum gelombang berhawa sangat dingin luar biasa menderu ke arah Begawan Ardi Soma. Dan nampaknya begawan ini tahu betul bahwa pukulan maut yang memancar-kan sinar ungu itu mengandung racun yang sangat ganas. Sebagai seorang begawan yang sudah kenyang makan asam garam kelicikan kaum sesat. Dia tak ingin ambil resiko yang dapat membahayakan keselamatan dirinya. Dalam gebrakan pertama ini dia juga ingin menjajal sampai di mana kehebatan murid-murid Beruang Merah. Maka tanpa bergeser dari tempatnya dia kirimkan empat pukulan beruntun sekaligus.

"Wret! Wer! Wer! Wer...!"

Dalam gebrakan pertama ini saja Begawan Ardi Soma sudah mempergunakan pukulan Ekor Naga Melecut Karang. Saat itu juga menderulah satu gelombang sinar berwarna jingga. Begitu pukulan Begawan Ardi Soma terlepaskan, maka udara yang teramat dingin menyelimuti daerah sekitarnya. Sejenak lawanlawannya nampak tersentak, tapi hanya sekejapan saja, karena tak lama berselang terdengar dua letupan disertai pekik ringkik kuda milik Basra Panewu dan Sudak Pari.

Bersamaan dengan ambruknya kuda tunggangan kedua orang itu, tubuh Basra Panewu dan Sudak Pari mencelat dari punggung kudanya. Akan tetapi mereka cepat-cepat bangkit kembali tanpa kekurangan sesuatu apapun. Namun begitu melihat kuda-kuda miliknya tewas dengan tubuh membeku. Dua orang murid utama ini menjadi berang. Dan langsung menuding Begawan Ardi Soma yang masih tetap berdiri tegak tanpa kekurangan sesuatu apapun.

"Kampret! Kau telah membunuh kuda kesayangan kami. Puih, jika nyawa kuda itu ditukar dengan nyawamu, itupun belum bisa dianggap lunas!" maki Sudak Pari.

"Kuda adalah tetap kuda! Siapa sudi menukar nyawaku dengan nyawa kudamu?" teriak Begawan Ardi Soma semakin bertambah jengkel saja.

Dalam kesempatan itu, Nyai Tambak Sari masih memberi kesempatan pada dua orang pembantunya untuk menjajal kepandaian yang dimiliki oleh Begawan Ardi Soma. Sungguhpun kedua matanya sudah tidak dapat melihat apa-apa, namun nalurinya mengatakan bahwa ternyata murid-muridnya yang cukup tangguh itupun masih kalah dalam hal adu tenaga dalam. Diam-diam dia ingin mengikuti perkembangan selanjutnya.

Sementara Begawan Ardi Soma sudah terlibat pertarungan kembali dengan Sudak Pari dan Basra Panewu. Namun kali ini mereka dibantu oleh muridmurid utama lainnya yang berjumlah tak kurang dari sepuluh orang. Mereka-mereka ini dengan mempergunakan senjatanya yang terbuat dari kebutan kelihatan merangsek Begawan Ardi Soma dari segala penjuru.

Mau tak mau begawan dari Sendang Ham-paran Perak dibuat kerepotan juga. Dengan gerakan-gerakan silat mengkelit dan menghindar yang diberi nama Naga Sendang Gelengkan Kepala. Berulang kali seranganserangan gencar yang dilakukan oleh pihak lawan menjadi luput.

Dalam keadaan seperti itu dan berlangsung terus menerus, pada akhirnya membuat murid-murid Beruang Merah menjadi gusar, yang pasti Sudak Pari dan Basra Panewu tak dapat melepaskan pukulan mautnya kalau tak ingin mengenai kawannya sendiri.

Salah satu keuntungan yang dimiliki oleh Begawan Ardi Soma untuk melepaskan pukulan-pukulan Naga Kibarkan Ekor. Tak dapat dihindari lagi lolongan maut pun terdengar dari murid-murid Beruang Merah yang terhantam pukulan yang dilepaskan oleh sang begawan. 

"Minggir kalian semua...!" teriak Basra Panewu dan Sudak Pari hampir bersamaan. Selang beberapa saat setelahnya murid-murid Beruang Merah telah pula mengikuti perintah Basra Panewu dan Sudak Pari.

Kini dengan sangat leluasa mereka dapat melepaskan pukulan-pukulan mautnya. Begitu pun Begawan Ardi Soma bukanlah lawan yang enteng bagi mereka. Sebab setiap mereka melepaskan pukulan Beruang Merah Menyergap Harimau Tua, Begawan Ardi Soma selalu saja dapat mematahkan pukulan gencar itu di tengah jalan.

Berulang kali mereka dibuat jatuh bangun oleh pukulan mereka yang membalik, sementara darah pun tiada henti mengalir diri celah-celah bibir mereka. Namun sebagai golongan sesat yang tiada kenal menyerah mereka masih saja berusaha menekan pihak lawan dengan jalan apapun.

Murka Nyai Tambak Sari demi melihat pembantu-pembantu utamanya masih belum juga dapat mengatasi Begawan Ardi Soma. Sebaliknya dia pun sungguh tidak melihat, masih dapat merasakan bahwa murid-muridnya merasa kewalahan dalam menghadapi tokoh sakti itu. Dia tidak ingin lagi bicara, namun indera pendengarannya mulai memperkirakan posisi pihak lawan saat itu berada. Tak lama kemudian setelah mengetahui keberadaan Begawan Ardi Soma, maka satu pukulan menggeledek yang sangat memekak-kan gendang-gendang telinga pun menyambar ke bagian tubuh laki-laki dari Sendang Hamparan Perak ini.

Begawan Ardi Soma adalah seorang tokoh yang penuh dengan pengalaman, itu makanya begitu merasakan adanya sambaran angin pukulan di belakangnya, laksana kilat tubuh Ardi Soma melesat ke udara.

"Blaaammm!"

Pukulan Beruang Merah yang dilepaskan oleh Nyai Tambak Sari mencapai pada sasaran yang kosong.

***

12

Nyai Tambak Sari mencaci maki habis-habisan. Serta merta dia melompat dari atas punggung kudanya. Sesaat berikutnya dia pun sudah membentak:

"Begawan keparat! Jangan panggil aku sebagai Ketua Beruang Merah jika aku tak dapat membunuhmu...!" teriaknya.

Yang dibentak hanya diam saja, namun di dalam hatinya telah pula membaca ajian Naga Sendang yang telah dikuasainya dengan baik selama berpuluh-puluh tahun. Begitu dia selesai merapal ajian Naga Sendang, kemudian.

"Peeesss!" "Hieeek... hurrr...!"

Dengan memperdengarkan bunyi yang sangat menggidikkan tubuh Naga Sendang itupun meliuk-liuk dalam kemarahannya. Selanjutnya dengan ekor dan kepalanya dia melabrak apa saja yang berada di sekitar tempat itu. Celakalah nasib murid-murid Beruang Merah yang berjarak sangat dekat dengan naga penjelmaan Begawan Ardi Soma. Sekali waktu dia menjulurkan lidahnya, satu demi satu murid-murid malang itu lenyap dalam mulut naga yang bergigi runcing mengerikan.

"Ketua... hati-hati, begawan sialan itu kini telah berubah menjadi seekor naga yang ganas. " teriak Ba-

sra Panewu.

Mendengar peringatan Basra Panewu, Nyai Tambak Sari malah tertawa tergelak-gelak.

"Hemm. Naga belekan bisa berbuat apa pada Ketua Beruang Merah...!" maki Nyai Tambak Sari. Selanjutnya begitu tubuhnya mencelat, secara berbarengan dengan gerakan yang dilakukan oleh pembantu utamanya. Maka mereka pun secara bersamaan melepaskan satu pukulan tingkat tinggi yang diberi nama, Beruang Merah Mencabik Musuh Besar.

"Weeer! Weeer! Weeer!"

Nampaknya Naga Sendang itu juga menyadari bahaya yang mengancamnya. Dengan posisi setengah tegak dia pun membuka mulutnya lebar-lebar. Lalu begitu naga itu menghembuskan nafasnya, maka semburan lidah api melesat lebih cepat lagi memapaki datangnya pukulan yang dilepaskan oleh lawanlawannya.

"Bruuus! Bluaaaar. !"

Tiga orang tokoh tingkat tinggi itupun terpelanting jatuh, dua di antaranya menderita luka dalam yang cukup serius. Sedangkan Nyai Tambak Sari masih tetap terkekeh-kekeh, sungguhpun dadanya terasa sesak luar biasa.

Di lain pihak, Naga Sendang yang merupakan penjelmaan Begawan Ardi Soma ter-banting tubuhnya. Tubuhnya menggelepar, dan berusaha bangkit dari keadaan yang tidak menyenangkan itu. Matanya yang merah semakin bertambah merah.

"Ngiiik...!"

Bagai merintih dia berusaha kembali ke dalam ujudnya semula. Detik selanjutnya. Naga Sendang itupun telah berubah menjadi Begawan Ardi Soma.

"Kalian benar-benar manusia sesat yang memiliki ilmu sangat tangguh. Aku berpikir, aku memang tak bakal ungkulan menghadapi kunyuk-kunyuk sesat seperti kalian. Tapi kutuk yang kuberikan pada siapapun akan tetap berlaku bagi siapapun...!" Berkata Begawan Ardi Soma, sambil berpikir-pikir kutukan apa yang paling pantas dijatuhkan pada orang-orang Beruang Merah.

Namun sebelum dia memperoleh kepastian untuk menjatuhkan hukuman pada orang-orang Beruang Merah dan murid-muridnya. Tiba-tiba terdengar suara teguran seorang. Bersamaan dengan suaranya itu, mendadak muncul seorang pemuda berkuncir yang tak lain Buang Sengketa adanya.

Mengapa Buang Sengketa sampai di tempat itu? Seperti diketahui Buang dan Bara Seta Setelah mengalahkan Jumparing Retno dan murid-muridnya, bermaksud meninggalkan Pantai Tanjung Api guna mencari sebuah tempat yang aman untuk mempelajari Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu hasil ciptaan terakhir gurunya yaitu si Bangkotan Koreng Seribu.

Namun baru saja setengah jam melakukan perjalanan, baik Bara Seta maupun Pendekar Hina Kelana mendengar adanya orang yang sedang bertarung. Didesak oleh rasa keingintahuan, maka bergeraklah Buang Sengketa dan Bara Seta mendekati tempat pertarungan. Karena keduanya sempat mendengar perdebatan dari mereka yang sedang bertarung, maka mengertilah mereka siapa sesungguhnya Begawan Ardi Soma. Tapi sejauh itu mereka masih belum juga mau turun tangan membantu Begawan Ardi Soma. Barulah kemudian setelah merasa bahwa sang begawan dalam keadaan kepepet. Maka dengan meninggalkan Bara Seta untuk menjaga keselamatan Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu, di tempat persembunyiannya. Buang Sengketa berkelebat dan menghambur ke dalam pertarungan.

Saat itu, mereka yang saling bersitegang itu nampak sama-sama terkesima melihat kehadiran Buang Sengketa.

"Paman Begawan Ardi Soma! Aku muridnya Kakek Bangkotan Koreng Seribu, kuminta paman menepilah, sebab sekedar kutukan tak mungkin membuat mereka menjadi jera. Aku ingin membasmi cecurut Beruang Merah ini sekarang juga...!" berkata Buang Sengketa lalu memandang dingin pada Nyai Tambak Sari yang buta dan juga pada Basra Panewu dan Sudak Pari silih berganti. Sementara Begawan Ardi Soma kelihatan menyingkir dari kalangan pertarungan, tetapi Nyai Tambak Sari malah tertawa tergelak-gelak.

"Kau kiranya yang telah membuat tunggang langgang para pembantuku. Heii, kunyuk Bangkotan Koreng Seribu sudah mampus, padahal dia telah menghutangkan matanya padaku. Karena sampai akhir hayatnya si Bangkotan Koreng Seribu itu tak dapat membayar hutang-hutangnya, maka sebagai muridnya. Kaulah yang harus membayar hutang-hutangnya yang tak pernah terlunasi itu...!" teriak Nyai Tambak Sari dengan rahang bergemeletukkan.

"Ha... ha... ha...! Simpanlah mimpimu sampai ke alam sana, Nenek keriput. Semua dalih yang kau pergunakan untuk menutup-nutupi ambisimu dalam menguasai kitab jurus Koreng Seribu telah kuketahui. Satu pilihan saja yang ada padamu, menyingkir berarti keselamatan bagimu...!" ancam Pendekar Hina Kelana rawan.

"Puih, Bocah bau kencur! Makanlah pukulan Beruang Merah Menggebrak Landak Hutan...!"

Satu rangkaian sinar berwarna merah kebirubiruan meluruk pada si pemuda, dan hal ini sudah dalam perhitungannya.

"Weeeer!"

Tak kalah dahsyatnya dia pun lepaskan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Tak ayal lagi selarik sinar Ultra Violet datang menggebu menyongsong pukulan yang dilepaskan oleh Nyai Tambak Sari. Benturan dua tenaga sakti itupun tak dapat dihindari lagi.

"Blaaam!"

Tubuh kedua orang itu sama-sama tergetar hebat, bahkan dari mulut Pendekar Hina Kelana meleleh darah kental kehitam-hitaman. Belum lagi dia sempat menghimpun hawa murni untuk mengurangi rasa sesak yang terasa menghimpit rongga dadanya. Mendadak datang lagi sambaran angin pukulan yang tak kalah ganasnya. Pukulan yang sama itu dilepaskan oleh Basra Panewu dan Sudak Pari secara berbarengan.

"Sialan!" maki pendekar ini, sedapatnya berusaha memapaki serangan yang datangnya sangat cepat itu.

Lagi-lagi benturan tenaga sakti itupun saling bertubrukan. Tanpa ampun tubuh Buang Sengketa terbuntang tiga tombak. Dari mulutnya menggelogok darah segar. Melihat kejadian ini sudah barang tentu Begawan Ardi Soma sangat marah sekali. Tak dapat dicegah lagi mengamuklah sang begawan, dengan pukulan-pukulan yang sangat handal. Satu saja yang ada dalam hatinya, membela kebenaran walau dengan jalan kekerasan sekalipun bila perlu harus dilakukan.

Kini yang menjadi sasaran pukulan-pukulan mautnya adalah murid-murid Beruang Merah lainnya. Sekejab saja jerit kematian menggema di tempat itu. Sementara itu, Buang Sengketa yang secara terus menerus diburu oleh lawan-lawannya akhirnya menjadi lenyap pula kesabarannya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membangkitkan amarah yang tak dapat ditawar-tawar lagi.

"Heiiiik...!" Satu jeritan dari ajian Pemenggal Roh, disertai tercabutnya Pusaka Golok Buntung dari balik pinggangnya. Membuat ketiga lawannya jadi terkesima. Suara lengkingan ajian ilmu Pemenggal Roh itu saja sudah membuat jantung mereka serasa bagai copot. Sementara telinga terasa sakit luar biasa. Andai saja mereka ini tidak memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, sudah barang tentu mereka kojor sejak tadi-tadi.

Kini masing-masing lawan saling pan-dang sesamanya, ada rasa jeri membayang dalam sinar mata mereka. Apalagi, terkecuali Nyai Tambak Sari, Basra Panewu dan Sudak Pari dapat melihat betapa golok di tangan Buang Sengketa memancarkan sinar merah menyala. Satu hal lain yang dapat mereka sama-sama rasakan adalah karena mendadak udara di sekitar tempat itu berubah menjadi sangat dingin luar biasa. Hanya Buang Sengketa saja yang tidak perduli dengan perubahan itu, sebab saat itu hawa membunuh sudah bersarang di dadanya yang masih berdenyut-denyut sakit. Selanjutnya dengan disertai bunyi mendesis bagai seekor raja piton yang sedang marah. Golok di tangan pendekar ini menderu memburu lawan-lawannya ke mana pun mereka bergerak.

"Weeer!"

Membela keselamatan para muridnya, Nyai Tambak Sari lepaskan satu pukulan dahsyat. Sesaat kemudian pukulan yang mengandung unsur racun yang sangat ganas itupun segera melabrak ke arah Pendekar Hina Kelana. Menyadari pukulan yang sangat ganas itu, maka tak ayal lagi Buang Sengketa kiblatkan senjatanya.

"Traaaang...!"

Pukulan yang dilepaskan oleh Nyai Tambak Sari membalik bahkan nyaris menghantam tubuhnya, andai saja dia tidak cepat-cepat mengelak. Semakin penasaran saja Pendekar Hina Kelana dibuatnya. Sambil bersurut dua tombak si pemuda berseru lantang.

"Nenek buta dan kembrat-kembratnya manusia sial! Jangan salahkan aku karena kecerobohan kalian ini "

"Jangan   banyak    cingcong,    Bocah    edan   !

Hiaaaat...!" Satu pukulan pamungkas melesat dari tangan Nyai Tambak Sari.

Namun tubuh Buang Sengketa telah berkelebat lenyap. Manakala kemudian terdengar suara lecutan. Maka pucatlah wajah orang-orang yang berada di sekitar tempat yang terlebih-lebih di pihak lawanlawannya.

"Ctarrr...! Ctaaar...! Ctaaar. !"

Cambuk Gelap Sayuto yang melilit di pinggang pendekar itu, kini ikut pula bicara. Begitu cambuk itu memperdengarkan gelegar bagai suara petir. Maka perubahan yang sangat cepat pun terjadilah.

Terik matahari yang tadinya terasa panas membakar kini telah tertutup awan hitam, bagai topan bertiup sangat kencang sekali. Seiring dengan lecutan cambuk selanjutnya. Maka di angkasa kelam sana terdengar gelegar petir sambung menyambung tiada henti. Saat itu hanya kilatan sinar merah yang terpancar dari pusaka Golok Buntung saja yang terlihat menerangi sebagian wajahnya yang dipenuhi kobaran amarah. "Nguuuuung!"

Berkelebatnya tubuh Pendekar Hina Kelana menyertai menderunya senjata yang berada dalam genggaman si pemuda. Orang pertama yang menjadi sasaran senjata maut itu adalah yang paling dekat posisinya dengan si pemuda.

"Haiiiit!" jerit pendekar itu. Menggigillah tubuh Sudak Pari begitu senjata itu berkelebat mengarah padanya.

"Craas!"

Sudak Pari sudah tak sempat menjerit lagi, tubuhnya limbung dengan tenggorokan hampir terputus. Namun Buang sudah tiada perduli, dia terus saja bergerak merangsek Basra Panewu. Kembali senjata maut itu menghajar tubuh lawannya.

"Crak! Craaas!" "Arrrrrgk...!"

Basra Panewu melolong setinggi langit, bagian lambungnya terobek hampir sejengkal. Tak lama kemudian sambil tetap memegangi bagian perutnya, pembantu Ketua Partai Beruang Merah itupun ambruk untuk selama-lamanya.

Pendekar Hina Kelana menoleh dengan maksud menggempur Nyai Tambak Sari, namun dalam kegelapan itu dia tak melihat adanya tokoh nomor satu dari Beruang Merah ini. Bukan main gusarnya dia demi melihat kenyataan ini.

"Sialan! Nenek peot itu kiranya telah kabur di luar sepengetahuan siapapun!" makinya dalam hati.

Secepatnya Buang Sengketa menyimpan kedua senjata yang sangat menggemparkan itu. Secara perlahan dan berangsur-angsur langit kembali berubah cerah. Mataharipun kembali menampakkan sinarnya. Tiada orang lain yang terlihat di sana terkecuali, Begawan Ardi Soma dan Bara Seta yang telah keluar dari tempat persembunyiannya. Sedangkan yang lainnya adalah tubuh tumpang tindih dari murid-murid Beruang Merah yang telah binasa di tangan Begawan Ardi Soma. Setelah memperkenalkan diri, di antara mereka kemudian saling berucap:

"Tidak percuma kalau sahabatku Koreng Seribu telah memiliki murid tunggal yang setangguh kau." Sekejab Begawan Ardi Soma melirik Bara Seta dan seorang muridnya. Kemudian lanjutnya: "Kutitipkan murid kawanku ini padamu Saudara Bara Seta. Selama mempelajari Kitab Jurus-jurus Koreng Seribu. Jagalah keselamatannya. Mudah-mudahan dengan kerja sama yang baik itu segala sesuatunya berjalan lancar...!"

"Terima kasih, Paman...!" kata Buang Sengketa menjura hormat.

"Kepercayaan begawan sungguh merupakan satu kehormatan bagiku. Aku akan memenuhinya...!"

"Berhati-hatilah kalian selalu...!" pesan Begawan Ardi Soma, lalu kejab kemudian tubuhnya telah lenyap dari pandangan mereka. Bara Seta, Pendekar Hina Kelana dan seorang murid Bara Seta tanpa berkata-kata lagi segera bergerak pula untuk mencari tempat yang aman guna mempelajari jurus-jurus Koreng Seribu peninggalan terakhir sang guru. (Kisah ini masih bersambung pada Episode Rahasia Kitab Jurus Koreng Seribu).

TAMAT