-->

Serial Pendekar Hina Kelana Eps 13 : Siluman Harimau Kumbang

 
Eps 13 : Siluman Harimau Kumbang


Batu Siwak sesungguhnya masih merupakan anak Gunung Singkang Lelembut. Dikatakan anak gunung adalah karena kemunculannya di permukaan bumi ini setelah ratusan tahun kemudian. Dilihat sepintas lalu kedua gunung yang menjulang ke angkasa dengan ketinggian ribuan meter ini. Nampak seperti gunung kembar saja layaknya. Namun walaupun kemunculan Gunung Batu Siwak setelah kemudiannya. Tetapi kalangan persilatan lebih mengenal gunung itu daripada induknya Gunung Singkang.

Apa pun yang dikenal oleh kaum persilatan tentang Gunung Batu Siwak selama puluhan tahun, adalah karena gunung ini menyimpan seribu satu macam misteri yang selama ini belum pernah terungkap.

Lereng Gunung Batu Siwak yang sangat curam kemudian diakhiri sebuah lembah memanjang. Hampir setiap tahunnya sering dilanda guncangan gempa yang sangat hebat. Pemandangan di sekitar lembah hanyalah rengkahan batu gunung dan juga tanah-tanah yang menganga lebar yang tak terukur kedalamannya.

Tak satu makhluk hidup pun yang tinggal di sana, kalaupun ada kebanyakan tak akan dapat bertahan lama menghadapi keganasan alam yang tak pernah ramah. Walaupun Gunung Batu Siwak dikenal sebagai daerah yang terkenal angker dan menyimpan seribu satu macam misteri. Tapi bukan berarti tak seorang pun yang berani memasuki daerah itu. Banyak orang-orang pemberani atau sekedar nekat dengan didasari rasa penasaran, berkeliaran di sana.

Sebegitu jauh, selain rasa penasaran dan keingintahuan mereka tidak terjawabkan namun juga mereka tak pernah kembali. Tak seorang pun yang berani melakukan pencaharian kerabatnya, perguruan maupun saudara dekat mereka. Mereka hanya mampu berharap dan berdoa, semoga mereka-mereka yang hilang itu suatu saat akan kembali ke dalam pangkuan keluarga. Penantian yang sia-sia!

Rasa penasaran ini kiranya tidak bisa terhenti dengan hilangnya orang-orang terdahulu. Terbukti pagi itu nampak sosok tubuh berkelebat ringan menjarah daerah itu.

Gerakannya yang sedemikian cepat, lincah dan gesit menandakan bahwa laki-laki berpakaian bangsawan itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf yang sangat sempurna. Bagai terbawa hembusan angin saja, laki-laki itu kemudian telah menghilang dari pandangan mata.

Sementara itu jauh tertinggal di belakangnya nampak puluhan orang dengan senjata terhunus, sedang melakukan pengejaran. Orang-orang berpakaian seragam hijau dengan simbol kepala burung walet merah itu terus melakukan pengejaran terhadap laki-laki berpakaian bangsawan yang tak terlihat dari pandangan mereka. Pada saat itu mendadak terdengar bentakan.

"Hentikan...!"

Bagai dikomando secara serentak orang berseragam hijau itu pun menghentikan larinya. Kemudian mereka menoleh! Maka nampaklah oleh mereka seorang penunggang kuda tak jauh di belakang mereka.

Melihat dari warna pakaian yang dipakainya tak salah kalau laki-laki berbadan tinggi kurus ini merupakan pemimpin dari Perguruan Walet Merah.

Saat itu si penunggang kuda putih memandang lurus pada jalan yang dilewati oleh si laki-laki berpakaian bangsawan tadi. Begitu cepat Rajenta menghilang dalam pengejaran itu. Padahal lima orang muridnya adalah merupakan murid-murid kelas satu yang ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang tinggi. Saat itu salah seorang muridnya dengan sikap hormat menegur:

"Guru...! Mengapa guru menghentikan kami...?" Pimpinan Walet Merah yang bernama Jali Saji-

wa itu kemudian berucap pelan namun penuh peringatan:

"Orang itu telah memasuki Lembah Gunung Siwak, sekarang kita telah berada di perbatasannya. Lebih baik kita tak usah ke sana. Aku yakin dia pasti tak bakal dapat keluar hidup-hidup dari sana." kata Luga Kencana ketua pemimpin Partai Perguruan Walet Merah, merasa sangat yakin sekali.

"Tapi, Ketua! Orang itu telah membunuh sekian banyak orang dari perguruan kita. Masakan kita harus membiarkannya lolos begitu saja?" protes yang lainnya.

"Hei... kalian pada tolol semua? Rajenta telah minggat menyongsong ajal mengapa kita harus memburunya? Lembah Gunung Batu Siwak pasti akan mengubur hidup-hidup Rajenta. Dan kematiannya tak perlu kita fikirkan...!"

"Mari kita kembali ke perguruan...!" sambungnya pula setelah beberapa saat setelah murid-murid Walet Merah hanya diam saja.

Tak lama kemudian dengan didahului oleh ketuanya yang menunggang kuda. Murid-murid dari Perguruan Walet merah mengikutinya dari belakang dengan hanya berjalan kaki saja.

Sementara itu Rajenta yang sudah terlalu jauh memasuki Lembah Gunung Batu Siwak masih belum menghentikan kecepatan ilmu larinya yang sangat luar biasa. Sambil menghindari rengkahan-rengkahan tanah yang menganga lebar dan tak terukur dalamnya, tubuh laki-laki berpakaian bangsawan itu terus melesat bagaikan meteor.

Begitulah yang dia lakukan secara terus menerus. Sampai saat kemudian secara tiba-tiba dia menghentikan langkah. Kedua matanya membelalak tak percaya. Di depan Rajenta nampak sebuah rengkahan yang sangat luar biasa lebarnya. Mungkin lebih dari lima belas tombak lebarnya, atau bahkan lebih. Rengkahan tanah yang miring dengan jurang yang sangat dalam dan gelap di bagian dasarnya tak mungkin untuk dilalui dengan sekali lompatan saja.

Namun apabila dia memandang ke seberang rengkahan tanah yang menganga lebar itu. Hatinya lebih tergetar lagi. Sebuah Patung Harimau Kumbang atau tepatnya sebuah arca dan tulang belulang berserakan bekas kerangka mayat manusia. Itulah yang dilihat saat itu.

Pandangan matanya lebih dia pertajam lagi. Mengherankan, sungguhpun tanah-tanah di sekeliling sudah berlongsoran tiada berketentuan. Tapi mengapa area itu tidak roboh terkena guncangan gempa yang sering terjadi di daerah itu. Padahal setiap orang tahu bahwa hampir setiap tahun sekali daerah itu selalu diguncang gempa bumi yang sangat hebat. Dan patung Arca Harimau Kumbang itu seperti tak pernah terusik dengan kejadian alam yang sering beruntun terjadi di tempat itu. Seolah ada tangan-tangan gaib yang mempertahankan keberadaannya. Dan apabila dia melihat tulang-tulang berserakan di sekeliling arca itu, Rajenta semakin bertambah heran dan diliputi rasa ketidak mengertian. Mereka tewas tiada yang menguburkannya. Hal itu sudah lumrah dan dapat dimaklumi, namun apa yang menyebabkan mereka tewas? Itulah yang tidak dimengerti oleh Rajenta. Dia bergidik sendiri. Namun rasa penasaran membuat dia mulai memikirkan jalan lain untuk dapat sampai ke sana. Tak ayal lagi dia mulai mengitarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu. Mengerikan!

Mendadak Lembah Gunung Batu Siwak terasa tergetar, selanjutnya terdengar suara bergemuruh bagai tanah di lereng bukit yang hendak longsor. Rajenta terkesiap, tubuhnya gemetar dan mulai terguncang keras. Bahkan saat itu matanya sudah terpejam, siapsiap untuk menerima kematian.

Namun setelah menunggu sekian lamanya, dia merasakan tak ada batu gunung yang menimpa kepalanya, tidak juga longsoran tanah yang mengubur tubuhnya dalam suasana takut mencekam. Sebaliknya dia merasakan tanah tempat dia berpijak bergerak cepat ke satu arah. Seolah di bawahnya ada kekuatan yang sangat dahsyat berusaha menggeser tanah itu dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

Sampai sejauh itu Rajenta masih belum berani membuka matanya yang terpejam. Hanya dengan perasaan sajalah dia melihat apa yang sedang terjadi. Padahal andai saja saat itu dia melihat kejadian yang sesungguhnya, sudah barang tentu dia akan dibuat terbelalak atau bahkan mungkin kaku pingsan karena tak kuat melihat pemandangan yang sangat ganjil.

Kejadian yang sesungguhnya saat itu, Arca Harimau Kumbang yang diam tegak bagaikan patung, nampak mengerjap-ngerjapkan matanya. Pada bagian tubuhnya bergetar seolah tersentak dan menggeliat terjaga dari sebuah tidur yang teramat panjang. Mata Arca Harimau Kumbang itu menatap tajam pada Rajenta yang masih tetap memejamkan matanya. Sepasang mata arca yang sangat tajam dan menyimpan kebuasan itu terus memandang ke arah bumi tempat Rajenta berada. Sinar merah mengkilap tersebut seperti menyimpan sebuah kekuatan gaib. Menggeser lebih cepat lagi tanah yang terpisah membentuk sebuah jurang. Semakin lama tebing-tebing rengkahan itu semakin mendekat sesamanya, sehingga pada saat yang tak terukur kecepatannya.

"Bum!"

Tebing yang satu dengan tebing rengkahan lainnya menyatu kini. Dengan hati diliputi keingintahuan Rajenta buka kedua matanya. Jarak antara dia dengan Arca Harimau Kumbang hanya tinggal dua tombak saja. Sangat mengherankan dan sekaligus membuat nyalinya menciut. Rasa keheranan itu kemudian telah memaksanya untuk berani memandang para Arca Harimau Kumbang yang saat itu juga sedang menatap tajam padanya.

"Serr!"

Jantung terasa bagai terhenti dari denyutnya, area itu bagaimana mungkin bisa memandang padanya sebagaimana makhluk hidup adanya? Selanjutnya terdengar pula suara auman yang terasa menggetarkan seisi lembah. Menggoyahkan lutut Rajenta yang terpana dalam ketakutan yang teramat sangat. Auman panjang itu kemudian terhenti. Lalu menggema suara seorang laki-laki yang tidak terlihat keberadaannya.

"Ha... ha... ha...! Selamat datang di Lembah Harimau Kumbang, Rajenta...! Kau merupakan orang yang beruntung untuk bergabung dengan kami!"

Rajenta terdiam di tempatnya berpijak. Dia merasa heran mengapa suara itu dapat mengenali namanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika suara itu kembali berkata:

"Siapakah anda orang tua yang mulia...?" tanya Rajenta harap-harap cemas. Suara serak macam auman harimau itu kembali tertawa ganda. Sesaat setelah suara tawanya terhenti. Maka terdengar pula ucapannya kembali.

"Aku merupakan majikan Lembah Gunung Batu Siwak yang ganas ini, Rajenta. Sudah sangat lama aku memerlukan kehadiran orang-orang sepertimu...!"

Rajenta melengak, dia tidak tahu apa maksud dari ucapan suara itu.

"Aku tidak tahu apa maksudmu?"

"Rajenta, bukankah kau bekas seorang bangsawan yang kini telah jatuh melarat! Engkau seorang bekas saudagar, tapi seluruh harta mu telah digarong habis oleh para iblis dari Lembah Weling. Anak istrimu telah pula mereka culik. Tidak cukup sampai di situ, berbagai perguruan yang ada malah memburumu, karena menganggap engkaulah dalang pencurian Arca Emas Harimau Kumbang yang menjadi lambang persatuan dari kaum bergolongan lurus...!" Suara itu berkata secara panjang lebar. Sehingga membuat Rajenta terpana dengan mulut menganga lebar. Rajenta benarbenar merasa sangat heran, bagaimana mungkin suara yang belum pernah dikenalnya itu bisa tahu sedemikian banyak apa yang telah menimpa diri dan keluarganya.

"Tapi aku sendiri merasa tak pernah menjadi tukang tadah Arca Harimau Kumbang yang sangat menghebohkan itu. Sungguh, orang tua, aku tak pernah melakukannya. Bahkan aku sendiri merasa heran bahwa area itu kini telah berada di sini dengan bentuk yang lebih besar lagi."

"He... he... he...! Yang kau lihat memang benda yang sama, Rajenta. Tetapi di depanmu itu bukan areca yang hilang itu. Arca raksasa Harimau Kumbang yang kau saksikan itu sesungguhnya jalan menuju pintu masuk memasuki ruangan istana di bawah tanah. Mulut arca itu akan membuka apabila kau mau menekan bagian matanya sebelah kanan...!"

"Tetapi begitu mudahkah kau mengizinkan aku masuk? Lalu untuk apa...?" tanya Rajenta merasa bingung dalam ketidak mengertiannya.

"Rajenta! Dari sekian banyak dari mereka yang pernah memasuki daerah terlarang ini. Hanya kau seorang yang kubiarkan hidup?! Aku menaruh harapan padamu. Dengan maksud agar kau dapat mencari Area Harimau Kumbang yang telah hilang itu...!"

"Aku masih belum mengerti apa yang kau inginkan, Orang tua yang mulia!" kata Rajenta semakin bertambah bingung.

"Rajenta, Rajenta! Tahukah kau bahwa Arca Harimau Kumbang itu andai sampai jatuh ke tangan orang-orang sesat, maka malapetaka yang sangat besar tak mungkin dapat menimbulkan malapetaka di mana-mana. Siapa pun yang menguasai arca itu sewaktu-waktu dapat merubah ujudnya menjadi Siluman Harimau Kumbang yang sangat ganas!" menukas suara serak macam auman harimau itu menjelaskan.

Rajenta tertegun, sama sekali dia tiada menyangka kalau area tersebut dapat menyebarkan malapetaka. Namun dia juga merasa masih ragu dengan keterangan yang diberikan oleh suara tersebut.

"Orang tua, dari mana engkau bisa tahu bahwa arca tersebut dapat menyebarkan maut di manamana?"

Terdengar suara mengekeh mengikuti ucapannya yang semakin bertambah serak saja. "Mengapa aku tak tahu? Sebab dari lembah inilah arca itu berasal, ratusan tahun yang lalu area itu pernah dicuri oleh seorang tokoh sesat, sehingga membuat kutuk buyut guruku menjadikan daerah ini dilanda malapetaka, karena murid-muridnya tak ada yang berhasil membawa pulang arca yang telah hilang itu...!"

Akhirnya mengertilah Rajenta, kiranya Arca Harimau Kumbang yang telah membuat berantakan rumah tangganya itu rupanya berasal dari Lembah Gunung Batu Siwak. Dia terhenyak, mendadak teringat pula olehnya pada anak istrinya yang dengan cara paksa dibawa lari oleh Jali Sarjiwa dan orang-orangnya ke Lembah Weling. Saat itu Rajenta yang memiliki kepandaian sangat tinggi saja dapat dikalahkan oleh para iblis dari Lembah Weling. Bahkan kalau tidak melarikan diri dia sudah tak tahu bagaimana nasibnya. Walaupun saat itu dia merasa tak sampai hati untuk meninggalkan istri dan anaknya, namun bukan berarti dia merupakan seorang laki-laki yang tiada memiliki tanggung jawab. Baginya alangkah baiknya dia menyelamatkan diri terlebih dahulu, baru kemudian setelah segala bekal ilmu silat yang dimiliki benar-benar di atas lawannya, maka di situ Rajenta mulai mengadakan perhitungan. Tapi dia juga harus mulai belajar sesuatu yang tak pernah dimilikinya selama ini. Mendadak dia kembali memandang pada Area Harimau Kumbang dan kembali berkata:

"O... orang tua yang mulia! Bolehkah aku menjadi murid di sini...?" tanya Rajenta dengan suara gemetar. Suara tanpa rupa itu kembali tergelak-gelak.

"Kau terlalu banyak disakiti orang, Rajenta! Engkau bukan saja hanya sekedar menjadi seorang murid, tapi juga kujadikan seekor Siluman Harimau Kumbang yang handal."

"Ja... jadi aku akan kau jadikan seorang siluman selamanya, ah... mungkinkah aku sanggup menurutmu?" tanya Rajenta setengah meragu.

"Tidak, Rajenta! Hanya dalam waktu-waktu tertentu saja kau dapat merubah ujud mu. Setelah kau menjadi siluman. Tak seorang pun yang dapat mengalahkan kau...!" menyambung suara tanpa rupa itu kembali.

"Sekarang kau berjalanlah menuju Istana Indah di bawah tanah. Tekan bagian mata sebelah kanan Area Harimau Kumbang...!" perintah suara itu. Rajenta tak berniat membantah. Dengan langkah mantap, akhirnya mendekati Area Harimau Kumbang. Lalu setelah menekan bagian mata kanan area itu, maka tak lama setelahnya bagian mulut itu menganga, dari sana Rajenta melangkahkan kaki kembali. Semakin ke dalam dan terus ke dalam.

* * *

2

Cahaya lampu minyak yang menerangi seisi warung itu hanya kelihatan remang-remang saja. Suasana di sekeliling warung dan deretan desa nelayan Sungai Sembilang sunyi mencekam. Tiada terlihat cahaya rembulan maupun kerlip bintang-bintang di angkasa lepas. Langit mendung, walaupun hujan belum juga turun. Setidak-tidaknya sampai saat itu.

Suasana di dalam warung nampak lebih mencekam lagi, tiada terdengar orang yang bicara walau barang sepatah kata pun. Sungguhpun saat itu nampak beberapa orang sedang melewatkan makan malamnya di tempat itu.

Sementara itu pemilik warung yang boleh dibilang cukup lumayan, kelihatan duduk terpaku di belakang gerobak yang berisi makanan dagangannya. Wajah menunduk, menandakan bahwa dia merasa sangat ketakutan sekali.

Sesekali matanya melirik pada dua orang bertopi lebar yang mirip topinya para nelayan. Dua orang berwajah angker itu terus meneguk tuak yang berada di dalam bumbung di depan mereka. Sudah berpuluhpuluh bumbung tuak itu mereka teguk, sejauh itu masih belum kelihatan adanya tanda ingin mabuk. Hanya mata mereka saja yang semakin merah. Bicaranya kacau, mengatakan sesuatu yang tak jelas.

Kedua orang itu terus tenggelam dalam impiannya. Tanpa menghiraukan orang-orang yang berada di warung itu.

Siapakah dua tokoh misterius berumur empat puluhan dengan sebilah pedang panjang yang menggelantung di pinggangnya masing-masing itu? Rimba persilatan mengenal mereka dengan julukan si Kembar Pedang Dewa dari Pulau Bawean. Tokoh sesat yang sering berkelana dengan sepak terjangnya yang dapat membuat lawan maupun kawan terasa takluk padanya.

Mereka memang sering berada di daerah Nelayan Sungai Sembilang. Justru karena mereka sering mendengar desas desus adanya Arca Harimau Kumbang yang sangat menghebohkan itu. Jauh-jauh mereka datang menyeberang laut dari tempat kediaman mereka di Pulau Bawean. Pada saat lain mereka berhasrat untuk memiliki arca itu namun sejauh itu masih belum juga dapat keterangan di tangan siapakah Arca Harimau Kumbang itu berada. Hal itulah yang membuat mereka semakin bertambah penasaran. Arca Harimau Kumbang adalah lambang persatuan kaum golongan lurus, dan yang ada di hati mereka, andai saja mereka dapat menguasai arca itu. Bukan tidak mustahil semua kaum golongan putih berada dan tunduk di bawah pengaruh mereka.

Sementara itu tidak begitu jauh dari warung tempat si Kembar Pedang Dewa sedang duduk merenung sambil menikmati tuaknya. Nampak seorang pemuda dengan pakaian merah, namun sudah kumuh berjalan melenggang menuju ke arah warung.

"Sebaiknya aku singgah ke warung itu. Sejak siang tadi perutku sudah berkerukukkan minta diisi. Mungkin di sana juga ada dendeng ikan lumba-lumba kesukaan ku!" gumam pemuda berwajah tampan itu tanpa merubah langkahnya.

Sekejap kemudian dia telah berada di dalam warung itu, setelahnya dia duduk di sebuah kursi yang terletak di sebelah pintu depan. Sesaat dia menyapu pandang pada seisi warung, juga pada beberapa gelintir manusia yang berada dalam ruangan. Manakala matanya membentur pada sosok si pemilik warung yang diam merunduk di belakang gerobak makanan, maka dia segera memanggilnya.

"Bapak pemilik warung...!" Tanpa melanjutkan ucapannya. Si pemuda tampan, atau Pendekar Hina Kelana melambaikan tangannya. Pemilik warung itu datang menghampiri. Walaupun sesungguhnya dia merasa enggan karena rasa takut masih menyelimuti hatinya. Sebaliknya walaupun suara Buang Sengketa sangat lirih, namun cukup didengar oleh dua bertopi lebar ini. Kedua orang itu memandang kehadiran pemuda dari Negeri Bunian sekilasan saja. Pada saat itu Buang Sengketa tanpa menghiraukan pandangan sinis si Kembar Pedang Dewa terus menyampaikan apa yang diinginkannya pada pemilik warung yang sudah berdiri dengan sikap ketakutan di depannya.

"Tuan mau pesan apa...?" tanya pemilik warung yang sudah berusia lanjut ini. Setengah berbisik, Pendekar Hina Kelana bertanya:

"Dendeng ikan lumba-lumba dan sebumbung tuak yang sudah lama tersimpan! Ada tidak...?" tanya pemuda itu sopan.

"Semuanya ada, tapi maaf, Tuan... khusus malam ini kami tak bisa melayani tamu yang manapun terkecuali kedua orang itu...!" Lirih suara pemilik warung, sementara sudut matanya melirik pada dua orang berwajah angker.

Buang Sengketa terdiam, sejurus dia memperhatikan pemilik warung yang berdiri menggigil di depannya. Mungkin kedua orang itu telah mengancam pemilik warung itu, sehingga laki-laki itu dicekam rasa ketakutan yang teramat sangat. Selanjutnya dengan suara yang sengaja dikeraskan dia pun berkata:

"Pak tua, apakah kau bisa menunjukkan padaku di mana ada warung lagi selain di tempat ini?"

Maka semakin bertambah menggigillah pemilik warung itu dibuatnya. Sementara si Kembar Pedang Dewa sudah memanggil pemilik warung.

"Pak tua. Cepat kau sediakan lagi tuak dan seluruh makanan yang tersisa!" perintah salah seorang dari laki-laki kembar itu setengah marah.

"Maaf, Tuan. Aku harus melayani mereka. Lebih baik tuan cari saja sendiri, jangan tuan berlamalama di sini. Orang itu bisa membahayakan keselamatan tuan...!" kata pemilik warung dengan perasaan was-was. "Pelayan! Apakah kau ingin agar kami menghukum mu. Jangan kau hiraukan gembel itu. Kalau dia ingin makan beri saja makanan sisa bekas anjingmu di belakang sana, cepat...!" bentak salah seorang si kembar yang berbadan gemuk pendek.

Saat itu si pemilik warung dengan sangat tergesa-gesa segera mengambilkan semua makanan dan bumbung tuak yang masih tersisa, lalu dengan cepat pula dia menghidangkan tuak berikut makanannya di atas meja tempat kedua laki-laki kembar berada.

Pemilik warung itu baru saja bermaksud melangkah menghampiri Pendekar Hina Kelana, kala terdengar suara bentakan lagi.

"Hendak ke manakah kau, Tua Bangka?

Kubilang kau ambil makanan bekas sisa anjing untuknya. Setelah itu usir dia pergi dari hadapan kami." teriak si Kembar Pedang Dewa mulai gusar.

Saat itu bukan main jengkelnya Pendekar Hina Kelana demi mendengar ucapan si Kembar yang sangat menghinanya itu. Namun dia masih berusaha bertahan dan menahan kedongkolannya.

Selanjutnya dengan nada rendah, namun dipenuhi kemarahan dia berkata pada pemilik warung:

"Lakukanlah apa yang dia inginkan, Pak tua!" ucapnya sambil menyorot tajam pada laki-laki tua tersebut.

"Tapi, Tuan... makanan sisa itu sudah dua hari. Bahkan sekarang mungkin sudah menjadi busuk. Anjing milik kami saja tak mungkin mau memakan makanan itu, tetapi...!" Tiba-tiba laki-laki pemilik warung itu menjadi gugup, sehingga tak mampu meneruskan kata-katanya.

"Pelayan, lakukanlah perintah kami. Mungkin kucing kurap itu sudah sedemikian laparnya. Makanan sisa anjing pun dia tidak menolak...!" kata salah seorang dari orang-orang kembar itu sambil terkekehkekeh.

Buang Sengketa masih tetap diam saja, namun wajahnya bertambah tegang. Sungguhpun pelayan itu merasa berat hati untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh si kembar. Tapi apa daya, melawan baginya hanyalah merupakan kematian yang sia-sia. Pemilik warung itu akhirnya menghilang di balik pintu. Buang Sengketa menunggu dengan hati mendongkol.

Sementara itu si Kembar Pedang Dewa dengan sikap acuh terus meneguk tuaknya bumbung demi bumbung.

Tak sampai sepeminum teh, pemilik warung telah kembali lagi dengan membawa sisa makanan bekas anjing yang sudah busuk. Buang Sengketa segera menutup jalan nafasnya manakala tercium bau yang sangat memualkan perutnya itu.

"Tunggu apa lagi! Kami merasa terhormat untuk mempersilahkan seorang gembel menikmati hidangannya...!" Lagi-lagi terdengar suara yang benar-benar membuat Pendekar dari Negeri Bunian ini kehilangan kesabarannya.

Akhirnya tanpa bicara sepatah kata pun pemuda ini menggebrak mejanya. Nasi bekas yang sudah hampir menjadi bubur dan terletak di dalam sebuah waskom itu terlonjak dari atas meja. Selanjutnya dengan sekali sentilan saja, waskom itu melesat sedemikian cepatnya. Kejadian ini tentu tak pernah didugaduga oleh si Kembar Pedang Dewa yang sedang enakenakkan melahap makanan dan meneguk tuaknya. Hanya sekedipan mata saja waskom berisi nasi bekas itu sudah melabrak wajah salah seorang dari orang itu lalu semua isinya menumpah di wajah si tinggi gemuk. Karuan saja semua kejadian itu membuat marah si Kembar Pedang Dewa ini. Lalu sambil membuang sisasisa nasi yang melekat di wajahnya, si tinggi gemuk segera beranjak menghampiri Pendekar Hina Kelana. Setindak demi setindak dia melangkah melewati kursi dan meja. Melintasi ruangan tengah warung yang samar-samar cahayanya. Begitu sampai di depan Buang Sengketa orang itu meludah di lantai sebanyak tiga kali, selanjutnya memandang pada pemuda berpakaian dekil dengan sorot mata diliputi kebencian.

"Bocah gembel! Siapakah engkau ini sehingga begitu berani melempar ku dengan makanan yang sudah busuk menjijikkan...?"

* * *

Buang Sengketa terdiam sesaat lamanya, wajahnya menunduk. Namun bukan berarti dia tak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Dia sabar dan tetap sabar sebagaimana dipesankan oleh gurunya si Bangkotan Koreng Seribu (dalam episode: Utusan Orangorang Sesat).

"Bocah sial, kau jawab pertanyaanku atau kau lebih memilih untuk mampus secepatnya...!" gertak si tinggi gemuk sambil bertolak pinggang.

"Hemm... sombong sekali bicaramu, Manusia gembrot. Kau menghinaku sedemikian rupa, seolah kau sendirilah yang mampu membeli seisi warung ini. Masih untung nasi busuk itu hanya mengenai matamu, tapi kalau sampai menyumbat mulutmu yang busuk itu. Aku yakin semua orang yang ada di sini pasti menertawaimu...!"

"Celaka kau bocah gembel, punya kepandaian setahi kuku saja, tapi lagakmu sebakul...!" bentak si tinggi gemuk lalu menggertakkan rahangnya.

Pendekar Hina Kelana tersenyum sinis, dia menduga bahwa orang itu merupakan sebangsanya golongan sesat yang sangat angkuh. Orang-orang semacam itulah yang paling dia benci selama ini. Dan dia merasa

tak perlu memakai segala peradatan.

"Di mana pun aku berada, tak pernah sekalipun aku bertingkah di depan orang lain. Hanya kau sajalah yang sangat keterlaluan sekali...!"

Melihat perdebatan itu nampaknya si Kembar Gemuk Pendek sudah tak sabar lagi. Maka tak tertahankan lagi kini dia ikut menyela:

"Kakang. Agaknya dia tidak tahu siapa kita! Baiknya kita beri saja dia pelajaran yang setimpal atas kekurangajarannya...!"

"Mestinya akulah yang paling pantas memberi pelajaran pada kalian...!" tukas pemuda dari Negeri Bunian itu, sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Sialan.... Heh   "

Masih dalam posisinya, si kembar gemuk tinggi mendorong meja yang berada di depan Pendekar Hina Kelana. Dia berharap dengan sekali dorong saja pemuda gembel pembawa periuk itu segera tergencet. Kalaupun tidak mati, setidak-tidaknya tulang iganya akan remuk berantakan.

Maka ketika dia mendorong meja itu, si tinggi gemuk sudah mengerahkan tiga seperempat tenaga dalamnya. Saat itu pemuda dari Negeri Bunian demi mengetahui lawannya bermaksud mencelakakan dirinya. Dia pun tidak tinggal diam, lalu dengan menekan meja itu memakai sebelah siku kirinya, Buang Sengketa menahan meja itu demi menghindari agar dirinya jangan sampai tergencet.

Tak dapat dihindari lagi saling dorong dan saling tekan itu pun terjadilah. Salah seorang dari Kembar Pedang Dewa ini nampak terkejut sekali demi melihat usahanya untuk menggencet pemuda tampan berpakaian kumuh masih belum juga mendatangkan hasil. Padahal saat berikutnya dia telah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Kampret!" makinya dalam hati.

Namun sungguhpun dia telah mengetahui bahwa pemuda yang dihadapinya bukanlah orang sembarangan, tapi mana mau dia mengalah begitu saja. Tanpa sungkan maupun malu dia pukulkan tangannya mengarah bagian muka Buang Sengketa.

"Wer!"

Satu gelombang berhawa dingin menderu dengan begitu cepatnya. Pendekar Hina Kelana tak dapat berfikir panjang. Cepat-cepat dia buang tubuhnya ke samping.

"Braak!"

Jelas saja pukulan itu mencapai sasaran kosong, selanjutnya langsung melabrak meja dan kursi di belakangnya sehingga kursi dan meja itu hancur berkeping-keping karenanya.

Sementara itu Buang Sengketa setelah menghindari pukulan maut itu langsung bangkit berdiri. Lalu memandang tajam pada si tinggi gemuk dan si gemuk pendek yang saat itu sudah pula berdiri di samping kambratnya.

"Hemm! Kiranya kau memiliki kepandaian yang dapat kau andalkan. Agaknya kau ini merupakan gembongnya pencuri Arca Harimau Kumbang itu?" menyela si Kembar Gemuk Pendek.

"Jangan-jangan dia sengaja memata-matai kita, Adi...!" ucap si Kembar Gemuk Tinggi. Buang Sengketa memerah parasnya demi mendengar ucapan manusia kembar itu. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa yang dia dengar dari orang yang lalu lalang bahwa berita menghebohkan tentang arca itu benar adanya.

"Bangsat Kembar! Bertemu dengan tampang kalian saja baru kali ini, begitu mudahkah kau melontarkan tuduhan yang tiada beralasan itu padaku...?"

Si Kembar Pedang Dewa tergelak-gelak. Sesaat mereka saling berpandangan sesamanya. Selanjutnya dengan penuh kelicikan mereka kembali menoleh pada Pendekar Hina Kelana. Si Tinggi Gemuk lalu menyela:

"Kucing gembel, di mana pun kemungkinan itu bisa saja terjadi. Semua orang tahu. Arca Harimau Kumbang merupakan lambang persatuan kaum persilatan golongan lurus. Arca itu sekarang telah lenyap dari Perguruan Walet Merah yang merupakan pihak penanggung jawab. Siapa pun yang memiliki area itu sudah jelas dialah merupakan orang yang paling berkuasa atas segala golongan yang ada. Melihat tampang dan kemampuanmu, nampaknya engkau lebih pantas sebagai pencuri arca itu...!"

Buang Sengketa semakin bertambah memerah saja parasnya, sikap mereka yang mengada-ada benarbenar tak bisa dia diamkan begitu saja. Lalu dengan tubuh menggigil karena menahan mar ah. Maka Pendekar Hina Kelana membentak:

"Manusia tidak tahu diri! Selamanya aku tak pernah menjadi seorang pencuri. Seumur hidup baru kalian saja yang telah begitu berani menghinaku sedemikian rupa. Sungguh kalian manusia yang berpikiran picik...!"

"Hua... ha... ha......! Siapa mau percaya pada bualan seorang gembel pemakan nasi bekas...!" "Jangan sekali-kali mencoba berbohong di hadapan si Kembar Pedang Dewa...!" Ikut menyela pula si Gemuk Tinggi.

Semakin bertambah dingin tatapan mata Pendekar Hina Kelana, wajahnya berubah kelam membesi. "Terhadap kunyuk lutung berpedang karatan

siapa takut. Sekali kubilang tidak, selamanya tetap itu yang kukatakan. Kalian bisa apa...?"

"Heh... berani mati kau menantang kami. Tahukah kau sekali pedang kembar kami keluar dari sarungnya. Dia tak akan mau kembali ke sarangnya sebelum menghirup darah manusia...!"

"Mengapa tidak darah anjing saja atau darah kunyuk lutung yang kini tengah meracau di depanku...!"

"Keparat! Orang sinting ini benar-benar telah menghina kita, Kakang...!" ucap si Gemuk Pendek, selanjutnya sudah bersiap-siap pula dengan kudakudanya.

"Kalau begitu mari kita cincang tubuhnya bersama-sama”.

“Haiiit...!"

Usai dengan ucapannya, maka kedua orang itupun segera menerjang Pendekar Hina Kelana dengan jurus-jurus tangan kosongnya yang sangat hebat itu.

"Manusia muka lutung, kalian benar-benar sudah gila...!" maki Buang Sengketa sambil menghindari terjangan-terjangan pihak lawan yang menggebu-gebu.

* * * 3

Sementara itu pemilik warung yang sudah dalam keadaan ketakutan segera bergegas menjauh, bahkan meninggalkan warungnya dari bagian pintu belakang. Begitu juga halnya dengan beberapa orang nelayan yang sedang berada dalam warung itu. Tidak seorang pun yang tersisa terkecuali mereka yang sedang terlibat pertarungan sengit.

Saat itu, si Kembar Pedang Dewa dengan mempergunakan jurus Dewa Kembar Menggila, dengan serentak mereka melancarkan tendangan-tendangan yang dahsyat mengarah pada bagian lutut rusuk, maupun bagian kepala Pendekar Hina Kelana. Sementara itu Buang Sengketa dengan mempergunakan jurus Membendung Samudra Menimba Gelombang terus saja memapaki serangan gencar yang datangnya bertubi-tubi. Kedua kakinya terus bergerak lincah, sedangkan kedua tangannya kadang berputar sedemikian cepatnya. Menangkis, melancarkan serangan balasan dalam keadaan yang tak dapat diduga-duga oleh pihak lawannya.

Mengetahui lawannya dapat mematahkan serangan-serangan beruntun yang mereka lancarkan. Dan bahkan beberapa kali serangan balik yang dilancarkan lawan hampir mencederai mereka. Maka secara hampir bersamaan, si Kembar Pedang Dewa ini pun melompat mundur.

"Kau memang tangguh, Monyet gembel! Siapakah kau yang sebenarnya?" tanya si Tinggi Gemuk dengan hati panas.

"Nama hanya perlu diingat, Monyet lutung! Bukan untuk digembar gemborkan bagai tukang jual obat di pasar...!" tukas Buang Sengketa dengan sesungging senyumnya yang konyol.

Maka semakin bertambah penasaran dua orang kembar itu dibuatnya. Lalu si gemuk pendek pun menyela:

"Sialan! Kuburmu tak akan dikenal orang apabila kau tak mau menyebutkan namamu...!" membentak orang itu dengan hidung kembang kempis.

Sesaat Buang Sengketa mendengus, selanjutnya.

"He... he... he....! Dulu pernah ada seorang penyair berkata padaku, bahwa nama itu sesungguhnya merupakan penjelmaan dari jiwa yang bergelora. Tapi bagiku nama adalah nama. Kecuali untuk dikenali, nama itu cuma untuk diingat. Tak perlu aku memperkenalkan namaku di depan dua ekor monyet lutung yang menjijikkan...!"

Merah padam wajah kedua orang itu, bahkan gigi-gigi mereka sampai bergeletuk. Kemudian:

"Kau pasti merasa menyesal sampai hari matimu karena kesombonganmu itu!"

"Terimalah pukulan ini! Siaaaa...!"

Dengan sangat kompak si Kembar Pedang Dewa kirimkan pukulan yang sangat dikenal dengan nama Dewa Kembar Menyongsong Matahari.

Tak dapat ditawar-tawar lagi dua gelombang pukulan yang menimbulkan suara menggemuruh dan berhawa sangat panas menderu sedemikian cepatnya mengarah pada tubuh si pemuda yang nampak berkelebat di tengah-tengah ruangan.

Saat itu Pendekar Hina Kelana dalam gerakannya yang gesit itu masih dapat menyadari adanya hawa pukulan yang sangat panas menyambar. Maka tanpa membuang waktu lagi Buang Sengketa yang sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan segera mengerahkan sebagian tenaga dalamnya ke bagian tangan kanannya. Tak pelak lagi tangan pemuda itu menggetar, selanjutnya dengan disertai satu jeritan tinggi. Pemuda itu pukulkan tangannya memapaki datangnya pukulan Dewa Kembar Menyongsong Matahari. Pukulan Empat Anasir Kehidupan yang menimbulkan panas sangat luar biasa itu pun menderu. Melesat sedemikian cepatnya meluruk dua pukulan yang datangnya dalam waktu yang hampir bersamaan. Tak terelakkan dua pukulan yang sama-sama berhawa panas luar biasa itu pun saling bertemu di atas udara.

"Blam! Blam!"

Terdengar bunyi berdentum yang sangat memekakkan gendang-gendang telinga. Warung yang menjadi ajang pertarungan nampak tergetar. Segala barang pecah belah yang mengisi warung tersebut jatuh berantakan di atas lantai tanah. Sementara itu tubuh Pendekar Hina Kelana terpelanting menabrak dinding papan. Dinding papan jebol berantakan, sehingga membuat Buang Sengketa tercampak ke luar warung.

Darah meleleh dari celah bibir dan hidung pemuda ini, dada terasa menyesak serasa bagai remuk. Secepatnya dia bangkit kembali. Lalu setelah mengatur jalan nafasnya apa yang dia rasakan menjadi agak mendingan. Tetapi di luar sangat gelap gulita.

Sementara itu di dalam warung, si Kembar Pedang Dewa yang hanya tergetar saja tubuhnya tanpa mengalami kekurangan suatu apapun segera memburu Pendekar Hina Kelana yang sudah berada di luar warung itu.

"Gembel ini belum mampus, Kakang...!" teriak si Gemuk Pendek begitu melihat lawannya sudah berdiri tegak di depan mereka.

"Dengan sekali pukul lagi, jiwanya pasti tak akan dapat diselamatkan...!" sahut si Tinggi Gemuk, lalu bersiap-siap melakukan pukulan kembali.

Saat itu Buang Sengketa tanpa berkata sepatah kata pun cepat-cepat bersiap dengan pukulan si Hina Kelana Merana.

Dari beradunya dua tenaga dalam tadi, nampaknya Buang Sengketa mulai menyadari bahwa pukulan Empat Anasir Kehidupan tak akan banyak membantu untuk secepatnya dapat merobohkan lawannya.

Maka jalan satu-satunya adalah mengirimkan serangan balasan dengan pukulan yang mengandung unsur panas dan dingin. Lalu tanpa menunggu lagi, Pendekar Hina Kelana segera bergerak mendahului!

"Hiaaat...!"

Tubuhnya berkelebat, saat yang sama dua kembar itu pun kiranya tidak tinggal diam. Secepat pendekar itu bergerak, lebih cepat lagi dua tubuh lainnya.

"Wuss!"

Pendekar Hina Kelana melepaskan pukulan mautnya.

"Werrr!"

Tak kalah cepat, si kembar itu pun melancarkan serangan pamungkas. Bagai saling berlomba dua pukulan bertenaga sakti ini datang menggebu. Udara di sekitar tempat itu berobah dingin dan panas.

"Bum! Bum!"

Terdengar bunyi dua letupan berturut-turut, saat mana tiga pukulan saling bertubrukan. Suara yang sangat dahsyat itu membangunkan penduduk yang tinggal di sekitar warung itu. Tapi tak seorang pun yang berani keluar meninggalkan rumah mereka. Saat itu terdengar suara raungan berupa jeri-

tan dari mulut dua orang kembar berbadan bongsor itu. Tubuh keduanya terpelanting jauh, kemudian tersungkur dengan muka mencium tanah. Bumi terasa berputar, pandangan mata mengabur dan berkunangkunang. Namun sungguh luar biasa daya tahan dua orang kembaran ini. Walaupun saat itu mereka merasakan dadanya bagai remuk. Secepatnya mereka bangkit. Tetapi mereka terbatuk-batuk, lalu menggelogoklah darah kental dari mulut mereka. Dengan cepat pula mereka telan dua butir pil berwarna kuning. Barulah setelah menelan pil itu wajah mereka yang pucat telah berubah kembali seperti sediakala.

Sementara itu Buang Sengketa sendiri mengalami luka dalam yang tidak ringan. Dalam dua pukulan tadi tubuhnya sempat terpelanting empat tombak. Sungguhpun dia sempat muntah darah, namun dengan mengatur jalan nafas dan mengerahkan hawa murni dia malah lebih sigap lagi bangkit berdiri.

Tubuh tegak bagaikan area, sepasang mata menatap tajam pada si Kembar Pedang Dewa. Wajah pemuda dari Negeri Bunian kini semakin bertambah kelam membesi, dari sela-sela bibirnya keluar pula bunyi mendesis bagaikan Ular Piton yang sangat marah. Dan sekejap kemudian dia pun sudah membentak:

"Hemmm! Manusia-manusia sinting, nampaknya kalian benar-benar ingin mempertaruhkan nyawa...!"

"Kami memang menghendaki nyawamu...!" Tak kalah sengitnya orang itu pun balik pula membentak.

"Ha... ha... ha...! Agaknya kau mulai ketakutan, Gembel penyandang periuk?" Si Tinggi Gemuk ikutikutan pula menimpali.

"Kalau kau takut melihat ketajaman pedang kembar kami. Maka goroklah lehermu dengan senjatamu sendiri...!"

Bukan main semakin bertambah gusarnya pendekar keturunan Raja Ular Piton Utara itu demi mendengar ucapan yang sangat mencemoohnya.

"Bertahun-tahun aku berjalan menyeberangi lautan, mendaki gunung, lintasi belukar. Berpuluhpuluh nyawa manusia sesat telah pula melayang di tanganku dalam kesombongannya. Dan kini ada lagi monyet tersesat yang menghendaki nyawaku. Sayang sekali, karena nyawaku tak ada dijual di warung mana pun. Maka aku tak akan memberikannya...!"

"Bangsat. Jiwa anjingmu tiada harganya di mata kami." menghardik si Tinggi Tegap. Selanjutnya secara hampir bersamaan mereka melolos pedang kembarnya.

"Sriing!" Sring!

Sungguhpun malam itu tak terlihat bulan maupun bintang di langit. Namun pedang di tangan mereka tetap mengeluarkan sinar putih berkilauan.

Buang Sengketa terkesiap karenanya, dia melihat bahwa senjata di tangan lawannya bukanlah senjata yang bisa dianggap sembarangan. Tanpa berkatakata lagi, pedang di tangan si kembar menderu.

"Shiaaat...! Nguuung...!"

Tubuh Pendekar Hina Kelana melentik manakala pedang itu menerjang ke arah bagian leher dan lambungnya.

Melihat pihak lawan dapat mengelakkan jurus pedang mereka yang diberi nama Dewa Kembar Menyergap Rajawali. Sudah barang tentu si Kembar Pedang Dewa ini pun menjadi semakin bertambah penasaran saja. Namun mereka juga tidak merasa perlu cepat putus asa, sebagai orang yang sudah malang melintang di rimba persilatan selama dua puluh tahun. Sudah barang tentu mereka sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan. Mereka selalu merasa yakin dengan kemampuan yang mereka miliki.

Selanjutnya, dengan disertai teriakan menggelegar dua kembar ini berusaha mendesak Pendekar Hina Kelana dengan tusukan maupun babatan pedang yang sangat berbahaya sekali. Pedang di tangan mereka berkelebat-kelebat menimbulkan suara bercuitan. Beberapa jurus berikutnya Buang Sengketa sudah kelihatan mulai keteter. Satu kesempatan si gemuk pendek dan si gemuk tinggi secara bersamaan melakukan serangan dahsyat.

"Nguung!"

"Ih, pedang iblis...!" seru pendekar ini tertahan begitu merasakan pedang di tangan kembar terus mengejarnya ke mana pun dia berusaha menghindar.

"Ciaaat! Heiik...!" "Brebet!"

Buang Sengketa mengeluh pendek begitu bagian bahunya tersambar mata pedang lawannya yang sangat tajam luar biasa. Dengan terhuyung-huyung Pendekar Hina Kelana berusaha menghindari babatan pedang berikutnya yang nyaris menyambar bagian lehernya. Darah mengucur deras membasahi bahunya yang terobek agak dalam. Perih sekali rasanya!

"Heaaat...!" teriak Buang Sengketa yang sudah sangat marah. Lalu dengan mempergunakan jurus si Jadah Terbuang, tubuhnya sebentar saja sudah berkelebat sedemikian cepat. Membingungkan pihak lawan. Hanya angin berseliweran saja yang dapat dirasakan oleh si kembar. Dan suara desisan bagai suara seekor ular raksasa, hanya itulah yang dapat mereka dengar. "Jadah! Ilmu siluman...!" maki si kembar pena-

saran.

Buang Sengketa yang sudah mencapai puncak

kemarahannya itu sudah tiada perduli lagi. Sekali saja kedua tangannya menyambar.

"Bletak! Bletuk!"

Tinju Buang Sengketa menghantam tepat pada bagian kening lawannya. Kepala mereka langsung benjol sebesar buah mangga. Dan masih untung si kembar memiliki kekebalan yang cukup dapat diandalkan. Andai tidak, sudah barang tentu kepala mereka akan remuk terhajar pukulan yang telah teraliri setengah dari tenaga dalam yang dimiliki oleh Buang Sengketa.

Si kembar merasakan kepala mereka berdenyut-denyut sakit, sumpah serapah pun berhamburan dari mulut mereka.

"Hiaaa...!"

Si kembar bagai setan gila kembali menggebrak dengan mempergunakan jurus-jurus yang paling sangat mereka andalkan.

"Nguung!"

Mendadak menyertai bunyi berdengung bagai suara auman puluhan ekor harimau yang kelaparan. Dalam kegelapan itu terlihat nyala sebuah benda yang berwarna merah bagaikan bara. Maka terkejutlah si kembar demi melihat apa yang ada dalam genggaman Pendekar Hina Kelana.

"Golok Buntung! Dia Pendekar Golok Buntung yang bernama si Hina Kelana itu, Kakang...!" seru si gemuk pendek tanpa sadar.

Mereka benar-benar terperangah, selama ini mereka hanya mendengar sepak terjang yang sangat hebat pendekar dari bagian Barat ini. Sama sekali mereka tiada menyangka kalau hari ini mereka secara tak terduga telah berbentrokan dengan pendekar yang sangat menggemparkan kalangan persilatan ini.

Dalam ketermanguannya, mendadak terdengar pula pendekar yang sangat disegani semua golongan itu:

"Manusia kembar keturunannya kunyuk lutung...! Kalau kalian masih ingin hidup. Tinggalkanlah sebelah tangan kalian sebagai penebus kesalahan yang telah kalian lakukan...!"

"Siapa sudi, lebih baik kami mengadu jiwa denganmu "

"Caiiiit !"

Kejap selanjutnya terjadilah pertarungan yang sangat sengit. Golok di tangan Pendekar Hina Kelana menderu dahsyat, sehingga menampak bayang-bayang merah saja di tengah-tengah kegelapan itu.

Dengan senjata andalannya itu, maka kini keadaan menjadi terbalik. Si Kembar Pedang Dewa sebentar saja sudah terdesak hebat.

Nampaknya Buang Sengketa sudah tiada memberinya kesempatan yang banyak. Golok menderu mengarah pertahanan lawannya yang sangat sarat dengan kiblatan pedang kembar mereka di tangan.

Golok di tangan Buang Sengketa melesat cepat, kedua kembar menjadi gugup. Kemudian dengan sangat nekad memapaki senjata di tangan lawannya.

"Trang! Trang!"

Terlihat percikan bunga api manakala senjatasenjata mereka saling berbenturan keras. Tubuh si kembar bergetar. Dada terasa menyesak bagai remuk. Sementara pedang di tangan mereka rompal di dua bagian. Buang Sengketa tidak membuang waktu lagi.

"Hiaaat!" "Craas! Craaas!"

Si Kembar Pedang Dewa keluarkan lolongan setinggi langit. Tangan kanan mereka yang terkutung memancarkan darah yang luar biasa banyaknya. Selanjutnya dengan membawa lukanya. Si kembar segera melarikan diri menembus kegelapan malam.

"Aku akan membalas segala apa yang telah kau lakukan, Pendekar Golok Buntung!" Masih terdengar suara sayup-sayup si Tinggi Gemuk.

Buang Sengketa hanya menggeleng saja tanpa bermaksud melakukan pengejaran.

Selanjutnya sambil memegangi luka di bahunya dia melangkah pergi menuju ke arah Utara.

* * *

4

Lembah Weling adalah merupakan sebuah lembah yang memiliki pemandangan yang sangat indah. Subur tanahnya, apa pun yang ditanam di sana akan tumbuh subur. Seolah alam sangat bersahabat dengan para penghuninya yang terdiri dari segolongan manusia-manusia sesat.

Selama ini tak seorang pun yang berani datang ke sana, penghuni lembah yang terkenal telengas dan dapat membunuh siapa saja tak pernah memberi ampun pada siapa pun yang coba-coba berani memasuki kawasan itu.

Biasanya suasana di daerah itu sering terlihat lengang dan sepi, namun di pagi itu keramaian terlihat di sana. Kesibukan masak memasak sejak subuh buta sudah dimulai. Sementara itu para murid Lembah Weling sedang bersiap-siap mengadakan upacara perkawinan ketua mereka Jali Sajiwa dengan anak bekas bangsawan Rajenta yang mereka culik. Yaitu Dewi Wening Asih yang sangat cantik luar biasa. Sungguhpun Dewi Wening Asih menolak keinginan Jali Sajiwa untuk menjadikan dia sebagai istrinya. Bahkan berulang kali dia berusaha melakukan bunuh diri.

Namun apalah dayanya sebagai seorang wanita. Usahanya selalu gagal, sebab di seluruh ruangan kamarnya terdapat beberapa orang pengawal pribadi Jali Sajiwa. Yang selalu mengawasi setiap gerak yang dia lakukan. Tak banyak yang dapat dilakukannya terkecuali menangis sepanjang hari. Menangis meratapi nasib hidupnya yang begitu malang.

Saat itu di sebuah ruangan penjara bawah tanah, Jali Sajiwa sedang berusaha untuk melunakkan Nyai Wendah, yaitu ibu kandung Dewi Wening Asih.

"Sudahlah, mengapa kau ingat-ingat suamimu yang kabur meninggalkanmu itu! Menurut kabar yang kudengar suamimu telah diburu-buru oleh Perguruan Walet Merah karena mereka menyangka bahwa suamimu yang telah menjadi tukang tadah pencurian Arca Harimau Kumbang lambang persatuan kaum persilatan golongan lurus. He... he... he...! Mungkin sekarang Rajenta telah mampus karena ketololannya memasuki Lembah Gunung Batu Siwak yang sangat berbahaya itu...!"

"Jali Sajiwa manusia rendah. Sampai mati pun aku tetap tak akan memberimu ijin untuk menikahi anakku. Aku akan selalu mengutukmu atas tindakanmu yang ceroboh, dan bukan tidak mungkin engkaulah yang telah mencuri Arca Harimau Kumbang dari Perguruan Walet Merah...!"

Jali Sajiwa semakin panas hatinya. Dibujuk dengan jalan baik kiranya Nyai Wendah tak mau kompromi, bahkan telah pula menuduhnya dengan perbuatan yang tak pernah dia lakukan. Maka dengan kasar dia pun menyentakkan kerah baju Nyai Wendah secara kasar. Tubuh wanita malang itu agak terangkat ke atas. Nafasnya tersengal-sengal karena merasa sulit untuk bernafas.

"Sial betul engkau ini. Kujadikan mertua kau tak mau. Kau kira dengan tetap membangkang seperti itu niatku untuk mengawini anakmu akan kubatalkan! Hem tidak sama sekali. Bahkan kau pun akan mendapat giliran yang paling pertama. He... he... he...!" berkata begitu. Jali Sajiwa segera menotok jalan suara dan bagian gerak Nyai Wendah yang masih kelihatan awet muda dan cantik seperti anaknya. Begitu tangan Jali Sajiwa melepaskan cengkeramannya. Maka tak terhindarkan lagi tubuh Nyai Wendah terjengkang ke lantai.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, tangan Jali Sajiwa pun bergerak menyambar pada bagian dada Nyai Wendah,

"Brebet...!"

Bagian dada Nyai Wendah terobek pakaiannya. Wanita berumur setengah baya itu menjerit. Namun tiada suara yang terdengar. Jali Sajiwa tertawa penuh kemenangan.

"Kau haus, membayar mahal atas kekerasan hatimu, Nyai Wendah. Sungguh pun kau dapat menjerit setinggi langit. Namun suamimu yang sudah mampus di Lembah Gunung Batu Siwak tak akan mendengar...! He... he... he...!"

Setelah melepas habis seluruh pakaiannya sendiri. Tak lama kemudian Jali Sajiwa segera menindih tubuh molek Nyai Wendah yang tak mampu menjerit, bergerak apalagi meronta.

Dengan brutal sekali Jali Sajiwa melampiaskan nafsu binatangnya. Nyai Wendah menangis, namun hanya lelehan air matanya saja yang menetes deras. Dia merasa sangat terpukul dengan kejadian itu, batinnya terguncang.

Tiada suara apa pun yang terdengar di ruangan penjara bawah tanah tersebut, terkecuali desah nafas tokoh sesat yang memburu. Hingga beberapa saat setelah segala-galanya pun berakhir. Jali Sajiwa dengan tubuh bermandi keringat segera mengenakan pakaiannya kembali. Sesungging senyum puas membias di bibirnya yang dipenuhi oleh jambang dan kumis.

Sesaat saja dia memandang pada Nyai Wendah yang tiada mengenakan sehelai pakaian pun. Nyai Wendah memalingkan wajahnya, caci maki pun tak pernah keluar dari pangkal tenggorokannya yang tertotok.

"Tidurlah kau di sini untuk selama-lamanya, Perempuan tolol. Pesta perkawinan akan dilangsungkan. Kau sendiri dapat merasakan betapa hebatnya aku... he... he...!" kata Jali Sajiwa sambil ngeloyor pergi.

Saat itu tanpa sepengetahuan Jali Sajiwa maupun murid-murid sesat Lembah Weling. Seorang pemuda nampak menyusup memasuki daerah mereka. Gerak gerik pemuda ini kelihatan sangat hati-hati sekali.

Pemuda berkuncir dengan pakaian kumuh dan berparas tampan ini. Siapa lagi kalau bukan Buang Sengketa atau si Pendekar Hina Kelana.

Mengapa pemuda ini sampai kesasar ke Lembah Weling?

Setelah bertarung dengan si Kembar Pedang Dewa dan berhasil membuntungi tangannya. Semula dia bermaksud untuk terus menelusuri sepanjang pantai. Dengan tujuan ingin mencari tempat yang pasti tentang pertapaan ayahandanya. Si Raja Ular Piton Utara. Namun begitu dia teringat pada Arca Harimau Kumbang yang telah lenyap dari Perguruan Walet Merah. Lebih jauh dia ingin mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi keistimewaan arca tersebut sehingga diperebutkan oleh banyak orang dari berbagai perguruan.

Karena langkahnya menuju Utara, maka secara tidak sengaja dia melewati daerah Lembah Weling yang merupakan jalan pintas untuk menempuh arah itu.

Namun sesampainya di pinggiran lembah dia sedikit agak heran melihat keramaian yang luar biasa itu. Lalu rasa penasaran membuat dia ingin mengetahui apa sesungguhnya yang sedang berlangsung di lembah itu.

Sungguhpun dasar lembah dengan tebingnya terletak puluhan bahkan ratusan tombak jauhnya dari pinggiran lembah. Bahkan jalannya pun tidaklah sebaik jalan-jalan yang pernah dia lewati. Tapi dengan mempergunakan ilmu mengentengi tubuh didukung lagi dengan ajian Sapu Angin, maka dalam waktu sekejap saja dia sudah menginjakkan kakinya di atas wuwungan rumah tanpa menimbulkan suara sedikitpun juga. Selanjutnya dia mulai mempergunakan ilmu menyusupkan suara untuk mencuri dengar apa saja yang terjadi di dalam rumah perguruan yang sangat besar dan indah itu.

Tak lama kemudian Buang Sengketa mendengar ada suara beberapa orang sedang bercakap-cakap.

"Bagaimana? Apakah pengantin perempuan sudah dirias...?" tanya suara laki-laki berat dan serak. Dialah Jali Sajiwa ketua Perguruan Sesat Lembah Weling.

"Belum, Ketua. Dewi Wening Asih tidak mau dirias, dia terus menangis memanggil manggil ibunya...!"

"Hemm. Anak itu keras kepala seperti ibunya...!"

"Nampaknya dia harus dijebloskan ke penjara menyusul ibunya, Ketua...?" menimpali salah seorang muridnya.

Jali Sajiwa nampak marah, begitu mendengar usul salah seorang murid yang bernama Gento itu.

"Goblok! Mau tidak mau, suka tidak suka, bocah itu harus menjadi istriku. Kalau kalian tidak becus semuanya nanti ku hukum. Bujuk dia dan rias wajahnya sekarang juga...!" perintah Jali Sajiwa berwibawa.

"Tapi, Ketua...!"

"Tapi apa? Masih kurangkah tukang rias pengantin di kamarnya...?"

Dengan perasaan takut-takut salah seorang murid yang lain menyela: "Tidak, Ketua, bahkan jumlah mereka ada sepuluh orang. Namun mereka harus menyembuhkan luka-luka di bagian mata yang banyak mengeluarkan darah...!"

"Mengapa itu sampai terjadi...?" tanya Jali Sajiwa gusar.

"De.... Dewi Wening Asih mencakari wajah tukang-tukang rias itu bahkan beberapa kali dia berusaha membunuh diri...!"

"Goublook...! Percuma saja kalian menjadi murid-muridku, kalau hanya mengatasi seorang perempuan saja tidak becus! Sekarang aku tak mau dengar apa yang akan kalian katakan. Pengantin perempuan harus secepatnya didandani, terserah bagai-mana cara kalian membujuknya...!" bentak Jali Sajiwa lalu masuk ke dalam kamarnya.

Tak banyak yang dapat dilakukan oleh muridmurid Lembah Weling, terkecuali kembali ke dalam kamar Dewi Wening Asih yang masih saja memberontak.

Buang Sengketa yang sudah sedikit mulai paham segera mengikuti kepergian pengawal itu tanpa meninggalkan wuwungan rumah. Selanjutnya sesampainya di ruangan lain, Pendekar Hina Kelana sempat pula mendengar pembicaraan murid-murid yang memberi laporan pada Jali Sajiwa tadi.

"Bagaimana, Nisanak? Apakah Dewi Wening Asih sudah mau dirias?" tanya Gento dengan suara sangat lirih sekali. Perempuan setengah tua yang dipanggil nisanak itu mewakili kawan-kawannya membungkuk hormat, selanjutnya berkata:

"Dengan sangat terpaksa kami menotoknya. Tapi sekarang semuanya sudah beres hanya tinggal menunggu pengantin laki-laki saja...!"

"Pengantin laki-laki sudah beres sejak tadi-tadi. Sebaiknya upacara perkawinan yang sangat terhormat ini sudah bisa kita mulai...!" berkata begitu Gento dan kawan-kawannya segera berbalik kemudian menuju ke sebuah ruangan pribadi Jali Sajiwa.

Saat itu pemuda dari Negeri Bunian tetap menelungkup di atas wuwungan yang di bawahnya merupakan ruangan kamar yang disediakan untuk Dewi Wening Asih. Nampaknya pemuda itu sangat penasaran. Macam apa kiranya gadis anak bekas bangsawan yang akan dijadikan istri oleh Ketua Perguruan Lembah Weling yang manusia sesat itu.

Maka dengan sangat hati-hati, dia menyibakkan sebuah genteng untuk sekedar melihat suasana di bawah sana. Begitu genteng di atas wuwungan rumah itu membuka sedikit, betapa terkejutnya hati Buang Sengketa. Gadis yang dalam keadaan tertotok itu benar-benar sangat cantik luar biasa. Kecantikannya melebihi bidadari. Kulitnya putih mulus, dengan wajah bulat lonjong.

"Hemm! Gadis itu cantik luar biasa, namun agaknya dia banyak menangis dan menderita batin, sehingga wajahnya agak pucat, sedangkan matanya pun agak bengkak. Aku tak tahu anak siapakah yang diculik oleh gembong manusia sesat ini. Namun ada baiknya aku menyelamatkannya dari cengkeraman tangan Jali Sajiwa. Dan kalau tak ingin banyak resiko aku harus melakukannya sejak sekarang. Tapi aku perlu membereskan pengawal-pengawal itu terlebih dahulu!" batin Buang Sengketa. Selanjutnya dia sibakkan beberapa genteng untuk membuatnya bisa leluasa dalam bertindak. Tapi sungguhpun apa yang dia kerjakan itu sudah sangat berhati-hati, namun beberapa orang pengawal yang berada di dalam ruangan itu nampak terkejut. Tanpa diduga-duga mereka melihat ke atas. Hampir saja suara teriakan terdengar andai Pendekar Hina Kelana tidak cepat-cepat bertindak.

Dengan mempergunakan genteng pecahan, Buang Sengketa membungkam mulut pengawal itu.

"Ziiing!"

"Pletak!"

Tiga orang pengawal roboh tanpa mampu bangkit kembali. Tak membuang-buang waktu tubuh pemuda itu pun melayang turun.

"Jangan ribut, siapa saja yang berani berteriak, kubunuh...!" ancam pemuda itu. Selanjutnya melangkah menghampiri Dewi Wening Asih yang tergeletak di atas ranjang dalam keadaan tertotok.

Secepatnya dia segera menyambar tubuh gadis itu, lalu dengan sekali lompatan dia sudah berada di atas wuwungan kembali. Namun pemuda itu dibuat terkejut begitu melihat belasan murid dari Lembah Weling sudah mengurungnya sedemikian ketat.

"Maling tengik! Berani mati kau menyantroni tempat tinggal kami!" membentak salah seorang dari mereka yang bertampang bengis.

Pendekar dari Negeri Bunian itu tersenyum kecut, tapi otaknya juga berfikir cepat. Jumlah mereka sedemikian banyak, bukan tak mungkin sebentar lagi Ketua Lembah Weling hadir di situ. Dengan memanggul tubuh Dewi Wening Asih di pundaknya, terasa sangat sulitlah bagi pemuda itu untuk mengatasi lawan yang sedemikian banyaknya. Selanjutnya dia cepat-cepat berbisik pada gadis yang berada di pundak kanannya.

"Nona! Tutuplah jalan pendengaranmu, aku akan melakukan sesuatu!" kata pemuda itu memberi peringatan. Saat itu sungguh-pun Dewi Wening Asih tak tahu apa yang akan diperbuat oleh pemuda yang berusaha melarikan dirinya, namun dia menuruti apa yang dikatakan oleh Pendekar Hina Kelana.

“Maaf, Sobat. Aku tak punya waktu banyak untuk melayani kalian, janganlah coba-coba menghalangi jalanku...!" berkata begitu, Buang Sengketa sudah bersiap-siap mengerahkan ajian Pemenggal Roh yang sangat dahsyat dan tiada duanya di dunia persilatan.

"Keparat! Kau telah begitu lancang mencoba membawa kabur calon istri orang. Mampuslah...!" teriak salah seorang dari mereka sambil menghunuskan sebilah pedang yang sangat mengkilat. Tajam!

Namun sebelum orang itu dan yang lainnya bertindak, mendadak Buang Sengketa keluarkan satu jeritan yang sangat panjang, suara jeritan itu bagaikan gelegar suara petir. Mengguncangkan rumah dan isinya, meruntuhkan daun dan ranting-ranting kering. Lebih tragis lagi dua belas murid Lembah Weling berpelantingan roboh. Dari kuping dan hidung mereka mengalirkan darah segar. Sedangkan dua orang lainnya yang masih dapat bertahan nampak terhuyunghuyung. Buang Sengketa tanpa memberi kesempatan cepat kirim dua pukulan telak. Hingga mengakibatkan tubuh mereka terguling-guling menuruni genteng rumah hingga kemudian terjatuh dengan menimbulkan bunyi berdebum.

Kesempatan yang hanya sedikit itu pun tak disia-siakan oleh Buang Sengketa. Dengan mempergunakan ajian Sapu Angin tubuh Buang Sengketa pun melesat sedemikian cepat meninggalkan tempat yang sangat berbahaya itu.

Saat itu Jali Sajiwa yang sudah bersiap-siap untuk naik pelaminan demi mendengar suara ributribut di atas genteng dan terdengarnya bunyi berdebum dari sosok tubuh para muridnya segera bergerak ke luar.

"Apa yang terjadi?" tanyanya begitu sampai di depan tubuh anak muridnya yang tengah menyongsong ajal.

"Ket... ketua... seseorang telah melarikan Dewi Wening Asih, calon pengantin perempuan...!" kata orang itu dengan suara terputus-putus.

"Keparat! Kalian tolol semua.... Anak-anak, ayo kejar bangsat itu...!" teriaknya pula pada puluhan murid yang tersisa.

Selanjutnya tanpa membuang-buang waktu lagi, Jali Sajiwa dan murid-muridnya segera melakukan pengejaran atas diri Buang Sengketa yang sudah tak terlihat lagi dalam pandangan mata. 5

Sejak hilangnya Arca Harimau Kumbang, maka Perguruan Walet Merah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keamanan arca itu segera menyebar puluhan mata-mata ke seluruh penjuru riba persilatan.

Siang itu nampak beberapa orang penunggang kuda sedang menggebrak lari kudanya bagai orang yang sedang dikejar-kejar setan. Tubuh mereka nampak terguncang-guncang. Sesekali terdengar pula ringkik kuda mereka! Debu mengepul ke udara, pemandangan di belakang mereka tak terlihat sama sekali.

Melihat dari sikap mereka ini nampaklah kalau lima orang penunggang kuda itu baru saja habis melakukan perjalanan yang sangat jauh dan dalam keadaan tergesa-gesa.

Sementara itu tidak begitu jauh di depan mereka, nampak pula seorang kakek berpakaian tambaltambal dengan celana bututnya sedang berjalan melenggang dengan arah berlawanan. Kakek ini sudah sangat tua sekali, rambut, kumis dan jenggotnya yang hanya beberapa helai itu pun sudah memutih.

Di tangan kakek itu tergenggam pula sebuah tongkat berkepala naga dan berwarna merah. Dunia persilatan mengenalnya sebagai Gembel Pengemis dari Pulau Naga. Selama malang melintang dalam dunia persilatan kakek renta ini terkenal sebagai s-sepuh tokoh sesat yang sangat keji.

Dengan tongkat mautnya yang berkepala naga merah yang sewaktu-waktu dapat menyemburkan uap beracun, dia dapat membunuh lawan-lawannya tanpa bersusah payah turun tangan. Saat itu tanpa menghiraukan orang-orang berkuda yang berlari cepat di depannya, dia terus saja mengayunkan langkahnya. Dalam gemuruh derap kuda itu, mendadak terdengar suara bentakan salah seorang dari penunggangnya.

"Minggir...!" teriak salah seorang dari mereka. Yang dibentak bagai tak mendengar saja terus berjalan sambil menundukkan kepalanya. Mau tak mau orangorang yang berada di atas punggung kuda itu cepatcepat menarik kendali kuda tunggangan masingmasing. 

"Sialan kau, Orang tua pikun! Cepat minggir kami mau lewat...!"

Gembel Pengemis dari Pulau Naga ini pun hentikan langkahnya, sejenak dia memandang tajam pada lima orang penunggang kuda itu. Pelan saja dia berkata, namun suaranya yang disertai tenaga dalam membuat para penunggang kuda itu pun sangat terkejut bukan alang kepalang.

"Jalan masih begitu luas. Lagipula jalan ini bukan milik bapak moyangmu! Mengapa pula kalian malah mengganggu perjalananku...?" tanya si Gembel Pengemis.

Lima orang penunggang kuda itu pun saling berpandangan sesamanya. Mereka berfikir bahwa apa yang baru saja diucapkan oleh Gembel Pengemis adalah sesuatu yang mereka anggap sangat keterlaluan sekali. Bagaimana mungkin mereka bisa melewati jalan lainnya kalau di kanan kiri mereka merupakan sebuah jurang yang menganga.

Ini merupakan keadaan yang sangat keterlaluan sekali. Kalau tak boleh dibilang merupakan satu penghinaan yang sangat memalukan.

"Tua gembel, kau sangat keterlaluan sekali. Bagaimana mungkin kami bisa lewati jalan lain sedangkan di kanan kiri jalan ini merupakan jurang yang tak terukur dalamnya...?"

Gembel pengemis tergelak-gelak bagai tawa seorang bocah kecil. Lalu lanjutnya:

"Siapa mau perduli, mampus pun kalian bersama kuda-kuda itu aku tidak perduli...!" kata Gembel Pengemis acuh. Hal ini benar-benar menimbulkan kemarahan para penunggang kuda itu.

"Kuperintahkan padamu, Orang tua. Minggirlah kalau kau tak ingin mati terinjak-injak kuda kami...!"

Dalam pada itu salah seorang dari mereka mendadak berseru:

"Kawan-kawan, lihatlah dalam buntalan yang berada di punggung gembel ini. Bukankah dia membawa Arca Harimau Kumbang yang telah hilang dari perguruan kita...?!"

Ucapan salah seorang dari penunggang kuda yang berkepala botak plontos itu membuat terkejut yang lain-lainnya. Serentak mereka memandang ke bagian punggung kakek tua renta, ternyata memang benar adanya bahwa di bagian punggung Gembel Pengemis dari Teluk Naga ini terdapat sebuah benda yang terbungkus selembar kain butut. Benda yang terbungkus itu tidak tertutup keseluruhannya sehingga sebagian masih terlihat. Tak salah itulah Arca Harimau Kumbang yang terbuat dari emas murni.

"Bangsat! Kiranya kamulah orang yang telah mencuri Arca Harimau Kumbang lambang persatuan dari kaum persilatan golongan lurus. Cepat serahkan area itu, semoga kaum persilatan golongan kami mau mengampuni jiwamu yang keropok itu!" bentak salah seorang lainnya dengan kemarahan yang tertahantahan. Gembel Pengemis dari Pulau Naga itu pun tertawa mencemooh. Satu demi satu dipandanginya mata-mata dari Perguruan Walet Merah. Sekali dia meludah di tanah, selanjutnya dia menyambung kembali.

"Bocah-bocah kemarin sore, mampu berbuat apakah kau padaku? Jangankan kalian yang hanya tikus-tikus curut menjijikkan. Andai pun seluruh kaum persilatan yang mengaku bergolongan lurus itu maju di hadapanku. Hanya dengan beberapa jurus saja aku pasti akan mengirim mereka ke neraka...!" ejek Gembel Pengemis dari Pulau Naga lalu leletkan lidah.

Maka tak terbendung lagilah amarah kelima murid dari Perguruan Walet Merah ini dibuatnya. Selanjutnya tanpa dikomando lagi mereka melompat dari punggung kuda-nya masing-masing.

"Cring! Cring!"

Dengan sekali sentak, senjata-senjata mereka pun telah tergenggam di tangannya masing-masing.

"Gembel kropok, mulutmu sombong sekali. Hadapilah kami...!" Serentak mereka berteriak, lalu menyerang si Gembel Pengemis dengan jurus-jurus Pedang Walet Merahnya.

Sebaliknya Gembel Pengemis nampak tenangtenang saja, lalu berseru mengancam.

"Orang-orang sengsara, celakalah nasib kalian karena telah bertemu dengan Dedengkot Iblis dari Pulau Naga. Ah... sayang sekali, kalian haru mati dalam keadaan begini muda. Cepatlah kerahkan kemampuan kalian, andai tidak empat jurus di depan nyawa kalian pasti tidak akan tertolong lagi...!"

"Bet! Bet!"

Sambaran mata pedanglah sebagai jawabannya. Tetapi dengan sangat mudah sekali si Gembel Pengemis dari Pulau Naga mengkelit terjangan pedang yang datangnya bertubi-tubi. Masih dengan terkekehkekeh Gembel Pengemis terus berjingkrak-kan kian ke mari, sungguhpun murid-murid dari Walet Merah berusaha sedapat mungkin untuk mengadakan tekanantekanan pada Gembel Pengemis, biar pun mereka telah memainkan jurus Pedang Walet Merah Menyambar Ikan yang terkenal sangat hebat karena variasi jurusjurusnya yang beragam, namun tetap saja mereka belum berhasil mendesak Gembong Iblis dari Pulau Naga tersebut.

Semakin lama mereka bertarung, semakin bertambah hebatlah gerakan-gerakan menghindar Gembel Pengemis. Sungguhpun saat itu Gembel Pengemis masih belum melancarkan serangan balasan.

"Cukup...!" Gembel Pengemis dari Pulau Naga dorongkan tangannya ke segala penjuru, hingga membuat tubuh mereka tertahan bahkan terhuyung beberapa tindak ke belakang.

Sungguhpun Gembel Pengemis hanya terlihat bagai melambaikan tangannya saja, namun hal itu cukup membuka mata murid-murid Perguruan Walet Merah, bahwasanya saat itu mereka sedang berhadapan dengan tokoh sesat yang memiliki kepandaian yang tiada terukur.

Namun untuk mundur bagi mereka adalah merupakan pantangan yang sangat menyakitkan. Terlebih-lebih mereka sudah mengetahui bahwa arca yang hilang itu kini berada di tangan kakek tua berpakaian tambal-tambal.

"He... he... he...! Kukira sudah cukup kuberi waktu untuk kalian bermain-main sekejap. Sekarang sudah waktunya bagi kalian untuk segera berangkat ke liang kubur. Bersiap-siaplah...!"

"Hiaaat!" Dengan mempergunakan setengah dari seluruh kemampuan yang dimilikinya, Gembel Pengemis segera bergebrak. Tendangan-tendangan maupun pukulanpukulan gencar datang bertubi-tubi. Sehingga dalam waktu sekejap saja kelima orang murid-murid dari Perguruan Walet Merah ini dibuat kalang kabut untuk mempertahankan diri.

"Shaaa...! Ha... ha... ha...! Dua jurus di muka kalian benar-benar akan mengalami nasib celaka...!" teriak Gembel Pengemis sambil memperhebat serangan mautnya. Saat itu secara serentak serangan pedang datang menggebu, mengurung tubuh Gembel Pengemis.

"Ngung! Ngung!"

Sambaran pedang menderu hingga menimbulkan suara bersiuran. Gembel Pengemis mengebutkan tongkatnya mengawasi sambaran pedang lawan yang tiada mengenal ampun.

"Traak! Traang! Trang!"

Terlihat percikan bunga api berpijar saat senjata di tangan mereka menghantam tongkat di tangan si Gembel Pengemis. Bukan saja tangan mereka kesemutan dan tergetar hebat. Tetapi juga pedang mereka berpentalan terlepas dari tangan masing-masing. Maka tak dapat dibayangkan betapa terkejutnya muridmurid dari Partai Perguruan Walet Merah dibuatnya. Wajah mereka nampak pucat pasi, tubuh gemetaran menahan sakit yang teramat sangat di bagian dada.

Gembel Pengemis tertawa ngakak. Dia nampak puas sekali dapat mempermainkan lawannya. Namun tawanya mendadak berubah total menjadi sesungging senyum sadis dan hawa membunuh yang meledakledak,

Dari niat semula untuk menghabisi mereka dengan cara menyemburkan uap beracun yang terletak di bagian kepala Naga Merah di pangkal tongkatnya. Kini berubah pendirian. Sekali ini dia ingin mencoba kebenaran tentang isi sebuah kitab tipis yang berada di bagian tersembunyi di mulut Arca Harimau Kumbang itu. Dia telah mempelajari isi kitab tersebut dengan baik dan sekarang sudah tibalah masanya untuk mengetahui kebenaran tentang Siluman Harimau Kumbang tersebut.

Sejenak dia memandang pada calon korbannya yang masih berdiri terlolong-lolong di tempatnya.

Selanjutnya dia pun berkata pelan tetapi membuat bulu kuduk lawan-lawannya meremang berdiri.

"Orang-orang malang, betapa kalian merupakan manusia-manusia pertama yang akan menjadi bahan percobaan Siluman Harimau Kumbang... berdoalah selagi kalian masih bisa berdoa...!" berkata begitu Gembel Pengemis jatuhkan diri bagai orang yang sedang bersujud, tanpa diketahui oleh lawanlawannya Gembel Pengemis mulai melafalkan kalimatkalimat yang terdapat dalam Kitab Arca Harimau Kumbang.

Sementara itu murid-murid dari Perguruan Walet Merah dengan atau tanpa mempergunakan senjata, kembali mengeroyok Gembong Iblis dari Pulau Naga itu. Dikeroyok sedemikian rupa gembong dari Pulau Naga ini tiada bergeming sedikitpun juga.

Bahkan perubahan perlahan pun terjadilah. Mula-mula di sekujur tubuh Gembel Pengemis tumbuh bulu-bulu halus yang semakin lama semakin bertambah lebat. Lama-kelamaan pada bagian kepalanya berubah menjadi ekor, dan bagian kaki berubah pula menjadi kepala Harimau Kumbang.

Selanjutnya dengan diawali satu auman yang sangat keras. Maka tubuh Gembong Pengemis melesat ke udara. Tiga kali dia berjumpalitan dan begitu kakinya telah kembali menapak ke bumi. Maka secara total Gembel Pengemis telah berubah ujudnya menjadi seekor Siluman Harimau Kumbang.

"Grauuuung! Grrrrrr!"

Buas dan liar ujud dari harimau siluman itu, sepasang matanya menyorot tajam pada kelima orang murid dari Perguruan Walet Merah. Menciut nyali mereka, lalu dengan suara gemetar salah seorang di antara mereka membentak gusar.

"Gembel gila manusia siluman! Kau benarbenar seorang manusia siluman berhati pengecut...!" teriak laki-laki berkepala setengah botak sambil berusaha menjaga setiap kemungkinan.

"Grauuung...!"

Hanya suara auman itulah yang terdengar sebagai jawaban. Selanjutnya tanpa mengenal kompromi lagi dengan sekali lompatan saja disertai dengan suara auman yang menggelegar. Siluman Harimau Kumbang itu pun sudah menerkam lawannya yang paling dekat.

Dengan kuku-kukunya yang panjang dan dengan gigi-gigi taringnya yang tajam-tajam. Sekejap saja tubuh salah seorang dari lawannya terobek-robek begitu buas. Harimau Kumbang itu menghirup darah yang memancar dari bagian tengkuk lawan yang menggelupur di atas tanah berdebu.

Setelah puas menghisap habis darah lawan, maka korban-korban selanjutnya pun berjatuhan.

Saat itu sungguhpun sisa-sisa murid Perguruan Walet Merah telah memukul Harimau Kumbang itu dengan segala cara, bahkan pula membabatkan pedangnya ke tubuh Siluman Harimau Kumbang itu, namun di luar dugaan tubuh Harimau Kumbang itu kebal pada senjata tajam. " Grauuuumm...!"

Kembali terdengar suara auman yang benarbenar sangat memekakkan gendang-gendang telinga.

"Arggk! Arggkh!"

Terdengar jeritan kesakitan dan robekan kain yang tercabik-cabik. Dengan buas siluman itu membantai mangsanya. Namun begitu lawan-lawannya itu meregang ajal dengan luka-luka yang sangat mengerikan, maka Siluman Harimau Kumbang tak lama kemudian sudah berlari menjauh meninggalkan mayatmayat bekas korbannya yang bergeletakan begitu saja.

* * *

6

Bangunan di dalam ruangan bawah tanah yang sangat luas itu, sesungguhnya menyerupai sebuah istana yang sangat indah. Hampir seluruh lantainya terbuat dari marmer putih. Sedangkan bagian dinding atau tepatnya tembok yang menyerupai dinding, berlapiskan emas permata.

Selain itu tak ada perabotan apa pun di sana, terkecuali sebuah singgasana yang terletak di sudut ruangan ujung. Hanya itu!

Yang lainnya hanyalah merupakan sebuah ruangan yang mirip dengan lapangan latihan untuk belajar dan berlatih ilmu tenaga batin dan juga Siluman Harimau Kumbang.

Suasana di dalam ruangan yang mirip istana itu nampak sangat sunyi sekali. Tiada orang lain di sana, terkecuali seorang laki-laki setengah baya yang saat itu nampak duduk bersila, mata terpejam dengan wajah tertunduk menekur di lantai. Begitu khusuknya orang ini dalam semedinya. Sampai-sampai helaan nafasnya pun tak terdengar sama sekali.

Sudah satu purnama laki-laki itu dalam keadaan seperti itu, tiada makan tiada minum. Keadaannya bagai orang yang sedang tertidur saja. Dalam situasi seperti itu, jiwanya sudah menyatu dengan alam gaib. Begitu pun dengan pikirannya.

Hari itu adalah merupakan hari terakhir dia melakukan tapa, seperti apa yang pernah dikatakan oleh suara tanpa rupa bahwa sebelum dia berangkat mencari Arca Harimau Kumbang dia harus memiliki bekal ilmu siluman yang cukup untuk mengimbangi lawan-lawannya yang mungkin saja telah mempelajari isi kitab yang terdapat di dalam mulut Arca Harimau Kumbang tersebut.

Sementara itu di dalam ruangan yang sangat luas, mendadak bertiup angin yang sangat kencang, angin itu terus bertiup, semakin lama semakin menggila. Lalu sesaat setelahnya, maka terdengar pula suara tanpa rupa yang sekaligus merupakan guru dari lakilaki bersemedi di tengah-tengah ruangan tersebut.

"Rajenta! Kukira cukup sampai di sinilah tapamu. Kau telah melakukannya dengan baik. Sekarang rapalkanlah ajian Siluman Harimau Kumbang yang telah kau kuasai dengan baik...!!" kata suara tanpa rupa memberi perintah.

"Hemm...!" Terdengar gumaman yang tak jelas.

Selanjutnya tanpa membuka matanya terlebih dulu, Rajenta mulai merapalkan ajian Harimau Kumbang yang baru selesai dipelajarinya. Angin bertiup semakin keras saat mana Rajenta hampir selesai merapal Ajian Siluman Harimau Kumbang tersebut. "Gerrr! Hauuuung...!"

Tubuh Rajenta dalam waktu sekejap saja telah malih rupa menjadi seekor Siluman Harimau Kumbang yang sangat besar namun tiada menampakkan kebuasannya. Suara tanpa rupa berseru memujinya.

"Bagus...! Ujud mu sangat sempurna Rajenta, itu menandakan bahwa tapamu benar-benar sangat sempurna. Sekejap lagi engkau harus bertarung melawanku, Rajenta...!"

"Grauuung...!" Siluman Harimau Kumbang penjelmaan Rajenta seperti mengangguk hormat pada gurunya.

Lalu bersamaan dengan tiupan angin kencang, maka muncul pula kabut putih tipis. Semakin lama semakin menebal. Bergulung-gulung, berputar-putar hingga akhirnya membentuk sosok ujud Siluman Harimau Kumbang yang besarnya hampir sama dengan Harimau Kumbang penjelmaan Rajenta.

Dua ekor Harimau Kumbang itu pun saling menggeram satu dengan yang lainnya, selanjutnya menyeringai memperlihatkan taring-taringnya yang sangat tajam.

Sesaat selanjutnya dua ekor harimau siluman itu pun sudah saling serang dan saling terkam sesamanya.

Suara auman yang sangat panjang terdengar memekakkan telinga memenuhi seisi ruangan. Duaduanya merupakan lawan-lawan yang sangat tangguh. Dan dalam waktu hanya sekejap saja pertarungan sengit itu pun telah berlangsung sepuluh jurus. Saat berikutnya Siluman Harimau Kumbang penjelmaan Rajenta, dengan mengawali suara auman yang panjang. Sudah bersiap-siap pula untuk menyerang Siluman Harimau Kumbang penjelmaan suara tanpa rupa.

Dengan sekali lompatan saja, tubuh harimau

siluman itu telah melesat sedemikian cepatnya. Namun pada waktu yang bersamaan Siluman Harimau Kumbang penjelmaan suara tanpa rupa telah bersiap-siap menadahkan kaki bagian depannya.

"Grauuung!" "Bruuk!"

Dua ekor siluman harimau itu sama-sama terpental tubuhnya, namun seolah bagai tak merasakan apa yang sedang terjadi atas diri mereka masingmasing. Dengan secepatnya mereka kembali lancarkan serangan-serangan ganas. Baik kuku-kukunya yang tajam maupun taring-taringnya yang runcing turut ambil peranan yang sangat penting dalam pertarungan antara guru dan murid.

Sampai pada akhirnya kaki bagian depan masing-masing siluman itu saling bertemu.

"Plak!"

Kaki depan itu saling melekat dengan kaki lawannya bertarung, maka dorong-dorongan pun tak dapat dihindari lagi.

Begitu Siluman Harimau Kumbang penjelmaan Rajenta mengerahkan tenaga saktinya pada saat yang sama pun siluman harimau penjelmaan suara tanpa rupa melepaskan pukulan saktinya.

"Weerrtt!" "Blummm...!"

Terdengar satu letupan yang teramat keras manakala pukulan melepas dan menahan itu saling berbenturan. Dua-duanya sama-sama terpental dengan menderita luka dalam yang tiada berarti.

"Hauuuung!" Siluman Harimau Kumbang penjelmaan suara tanpa rupa melolong panjang. "Grauuung...!" Siluman Harimau Kumbang penjelmaan Rajenta menyahut. Layaknya seperti mengerti saja makna dari auman tersebut. Tak lama setelahnya, siluman penjelmaan suara tanpa rupa segera menjauh. Lalu:

"Busss!"

Siluman suara tanpa rupa itu pun raib begitu saja, kemudian terdengar pula ucapannya.

"Siluman harimau yang kau pelajari sudah sangat sempurna, Rajenta...! Sekarang kembalilah dalam ujud mu! Aku ada beberapa petunjuk yang perlu kusampaikan padamu...!" perintah guru suara tanpa rupa pada Rajenta.

Maka tanpa menunggu diperintah dua kali, Rajenta yang masih dalam ujud Siluman Harimau Kumbang ini pun segera merapal Ajian asal Siluman Harimau Kumbang.

Maka secara perlahan ujud Siluman Harimau Kumbang sudah berubah kembali menjadi ujud Rajenta yang sesungguhnya. Rajenta lalu menjura hormat pada suara tanpa rupa, lalu ucapnya.

"Terima kasih atas segala petunjuk yang kau berikan, Guru...!"

Suara tanpa rupa tergelak-gelak karenanya. "Terhadap guru para siluman, kau tak perlu

memakai segala peradatan, Rajenta! Tidak seperti sebagaimana layaknya sesama manusia...!"

"Maafkan aku, Guru...!"

"Juga tak perlu minta maaf. Nah sekarang dengarlah apa yang ingin kukatakan padamu...!" kata suara tanpa rupa pelan namun cukup menggetarkan gendang telinga dan tembok batu marmer yang berlapis emas.

"Katakanlah, Guru, aku sudah merasa siap untuk mendengarnya   "

Sunyi sesaat, hanya terdengar desiran angin perlahan. Rajenta menarik nafas pendek, menunggu dengan hati berdebar.

"Rajenta...! Sebagai siluman, siapa pun tak pernah terlepas dari sumpahnya. Dan barang siapa saja yang berani melanggar sumpah itu, maka alamat celakalah baginya. Sumpah yang pertama, kau harus memiliki hati yang jujur. Dilarang membunuh terkecuali sangat terpaksa. Itu pun kau tak dibenarkan walau setetes menghisap atau memakan daging korbanmu. Tidak boleh berubah ujud andai kau tidak sedang menghadapi lawan yang sangat tangguh. Itu pun jika lawan itu benar-benar menyakiti hatimu, tubuhmu, atau pun keluargamu. Jika pesan dan larangan itu tidak kau langgar, aku merasa yakin kau tak akan jatuh di dalam kutuk ku! Satu saja pesan buatmu carilah Arca Harimau Kumbang sampai ketemu, seandainya telah kau temukan, maka secepatnya kau harus kembali ke sini. Arca itu sangat perlu dikembalikan ke asalnya agar daerah Gunung Batu Siwak itu terlepas dari malapetaka yang berkepanjangan. Nah sudah pahamkah apa yang kukatakan itu, Rajenta. !" tanya su-

ara tanpa rupa.

"Paham, Guru...! Tetapi...!" Rajenta menjadi ragu untuk mengatakan sesuatu.

"Tetapi apa, Rajenta. Katakanlah !" desak sua-

ra tanpa rupa.

"Apakah kau tahu bagaimana nasib anak dan istriku, dan di mana pula arca itu kini berada. ?"

"Kau nampaknya lebih mengutamakan kepentingan pribadi, Rajenta? Kalau tujuanmu menjadi Siluman Harimau Kumbang hanya untuk kepentingan itu, yang pasti tersimpan dalam hatimu hanyalah dendam. Hal itu sia-sia saja, Rajenta. Aku bersusah payah mendidikmu adalah untuk mencari arca yang hilang. Itu semua demi keselamatan kaum mu. Tidakkah kau paham...?" bentak suara tanpa rupa nampak sangat marah sekali, Rajenta menjadi tergagap karenanya.

"Maafkan aku, Guru. Sudah barang tentu aku akan mengutamakan mencari arca yang hilang itu, ketimbang mencari anak dan istriku...!" jawab Rajenta dengan wajah sangat pucat sekali.

"Aku tidak melarangmu untuk mencari istri dan anakmu, Rajenta. Namun selesaikanlah tugas yang telah kuberikan ini padamu...!" kata suara tanpa rupa dengan nada tertekan.

"Ba... baik, Guru! Perintahmu segera aku laksanakan...!" jawab Rajenta sambil mengangguk pasti.

"Ha... ha... ha...! Rajenta... manusia yang dipegang adalah janjinya. Sekali saja kau berani mengingkari janji terhadap para siluman, maka kutuk kami benar-benar sangat menyakitkan   bagi   siapapun...!”

Tanpa menjawab, Rajenta hanya menganggukkan kepalanya. Selanjutnya tanpa menoleh-noleh lagi, laki-laki bekas bangsawan itu segera meninggalkan ruangan yang sangat luas. Kemudian melangkah ke bagian mulut Area Harimau Kumbang yang saat itu sudah membuka. Selang beberapa saat lamanya, lakilaki setengah baya itu pun setelah menjura pada area segera berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.

* * *

Udara di siang hari itu terasa sangat terik sekali. Sementara jalan yang dilalui oleh dua orang ini tak lebih dari pada semak belukar dan hutan rotan yang penuh dengan duri.

Sungguhpun begitu bukan berarti halangan bagi Pendekar Hina Kelana yang saat itu baru saja membebaskan diri dari kejaran para murid Lembah Weling yang sangat besar jumlahnya itu.

Sementara itu tak begitu jauh di sebelahnya nampak Dewi Wening Asih berjalan bersamanya. Wajah gadis itu menunduk lesu. Dia memang kelihatan sedih sekali, sungguhpun Pendekar Hina Kelana telah menolongnya.

Sejauh itu Buang Sengketa masih belum berani mengatakan sesuatu pada perempuan yang ada bersamanya.

Saat-saat berikutnya Dewi Wening Asih sudah pula berkata:

"Tuan sudah menyelamatkan aku, lalu apa yang akan Tuan lakukan atas diriku?" tanya Dewi Wening Asih dengan wajah tertunduk.

Sementara itu bagai disengat puluhan kala berbisa Buang Sengketa nampak terlonjak demi mendengar pertanyaan yang sangat mengejutkan hatinya.

"Nona, kau ini bicara apa? Pantaskah hal semacam itu kau tanyakan padaku?" tanya Pendekar Hina Kelana setengah tersinggung.

"Laki-laki di mana saja sama, setiap melakukan pertolongan pasti ada yang dimaunya...!" tukas Dewi Wening Asih sambil memalingkan muka.

"Hemm! Sebegitu jauhkah kau menilai diriku. Puih... aku memang manusia gembel yang sangat hina di depan manusia mana pun. Tetapi untuk melakukan perbuatan serendah itu. Alangkah lebih baik kalau aku menggorok leherku sendiri. Pada siapa pun aku tak pernah mengenal pamrih. Aku melihat kau dalam kesulitan, salahkah aku bila aku menolongmu...?" "Kau... oh, maafkan aku... fikiran ku terlalu kacau, sehingga kau menilai mu dengan cara yang tak masuk diakal. Tetapi... ibu-ku... ibuku merekalah yang telah memenjarakannya di bawah tanah...!" Tersendatsendat suara Dewi Wening Asih. Akhirnya gadis itu pun kembali menangis. Sedih berpisah dengan ibunya.

* * *

7

Pendekar Hina Kelana menjadi tertegun-tegun demi melanggar tutur kata Dewi Wening Asih. Sama sekali dia tiada menyangka kalau sesungguhnya gadis yang sangat cantik itu berada di sarang para iblis bersama dengan ibunya. Apa yang dikata-kan oleh gadis itu membuatnya semakin tertarik. Akhirnya kekesalannya pun hilang sudah. Maka dengan hati diliputi rasa keingintahuan dia pun bertanya:

"Mengapa Nona dan ibu Nona sampai jatuh ke dalam cengkeraman orang itu?"

"Jangan memanggilku Nona. Namaku Dewi Wening Asih! Dan Tuan siapa...?" tanya gadis itu masih dengan wajah tertunduk.

Buang Sengketa nampak tersenyum-senyum begitu melihat Dewi Wening Asih nampak tersipu ketika menyebutkan namanya sendiri.

"Hmm. Dewi Wening Asih, sebuah nama yang sangat bagus, sebagus dan secantik pemilik nama itu!" puji pemuda dari Negeri Bunian itu polos.

"Jangan memujiku setinggi langit, sebaliknya anda sendiri belum menyebutkan nama anda...!" ujar Dewi Wening Asih. Sekejap saja sudah nampak akrab. Buang Sengketa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sambil tetap mengayunkan langkahnya, dibuangnya pandangan matanya jauh-jauh. Selanjutnya dia pun menjawab.

"Ah, aku yang rendah ini, Buang Sengketa namaku. Orang-orang menjuluki aku sebagai si Hina Kelana...!" kata pemuda itu merendah.

Sebaliknya Dewi Wening Asih begitu mendengar si pemuda menyebut dirinya sebagai si Hina Kelana nampak sangat terkejut sekali. Sedikitpun dia tiada pernah menyangka kalau pemuda tampan yang telah menyelamatkan dirinya dari cengkeraman para iblis dari Lembah Weling itu, masih begini muda. Selama ini dia memang pernah mendengar tentang adanya tokoh sakti yang berjuluk Pendekar Hina Kelana yang sangat terkenal dengan sepak terjangnya dalam membasmi segala bentuk kejahatan.

"Engkaukah Pendekar Golok Buntung yang sangat menggemparkan itu...?" tanya si gadis jelita tertegun untuk sesaat lamanya.

Buang Sengketa tersenyum tawar, namun dia tetap mengayunkan langkahnya. Selanjutnya tanpa menoleh dia pun berucap.

"Aku adalah aku, tiada sesuatu pun yang dapat ku agung-agungkan. Hanya mereka sajalah yang terlalu menggembar gemborkan tentang diriku sampai ke mana-mana. Padahal si Hina Kelana adalah seperti yang kau lihat. Seorang gembel yang tiada memiliki apa-apa...!"

"Kau terlalu merendah, Kelana...! Padahal seluruh kaum persilatan tahu siapa sesungguhnya kau ini...!" bantah Dewi Wening Asih sambil memandang penuh kekaguman pada pendekar yang berhati luhur ini. Buang Sengketa menjadi tidak enak hatinya, maka cepat-cepat dia mengalihkan pembicaraan itu.

"Eee... tadi kau belum menjawab mengapa kalian, maksudku engkau dan ibumu bisa sampai berada di kediaman rumah Jali Sajiwa, bahkan mau dijadikan istri lagi." tanya Buang Sengketa tanpa ada maksud menyinggung perasaan lawan bicaranya.

Yang ditanya nampak terdiam sesaat lamanya, lalu wajahnya cepat-cepat menunduk seolah ada sesuatu yang sangat dirahasiakannya agar si pemuda tiada sampai melihatnya. Sesuatu itu adalah air matanya yang sudah hampir tumpah membasahi pipinya yang kemerah-merahan tertimpa cahaya matahari.

"Mereka pernah datang merampok habis segala kekayaan yang dimiliki oleh ayahku. Bahkan kalau saja ayahku tak melarikan diri setelah bertempur dengan mereka, sudah barang pasti sudah dibunuhnya. Jali Sajiwa yaitu kepala garong besar yang sangat ditakuti oleh banyak orang itu pada akhirnya melarikan kami. Aku sendiri tak tahu bagaimana nasib ayah kini...?" Tak tertahankan lagi, Dewi Wening Asih pun menangis tersedu-sedu. Buang Sengketa jadi tak sampai hati melihatnya.

"Mengapa ayahmu begitu pengecut telah meninggalkanmu...?" tanya Buang Sengketa merasa sangat penasaran dibuatnya.

Mendadak Dewi Wening Asih seka sisa-sisa air mata yang masih mengalir menuruni pipinya.

"Ayahku tak sepengecut yang kau duga, Kelana! Setelah ibu melihat bahaya ayah hampir saja kalah bertarung dengan Jali Sajiwa dan para muridnya. Maka ibu meminta pada ayah untuk melarikan diri...!"

"Hemm. Jali Sajiwa dan orang-orangnya, andai bertemu denganku kapan saja, aku pasti tidak memberinya ampun...!" geram Buang Sengketa dengan geraham bergemeletukkan.

Setelah itu Buang Sengketa terdiam, Dewi Wening Asih pun sama juga. Nampak nya mereka tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Tetapi langkah terus terayun. Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di pinggiran hutan. Dalam pada itu terdengar puluhan derap langkah kaki kuda, lama kelamaan suara kaki kuda itu pun semakin mendekat. Sehingga semakin bertambah dekat saja jaraknya di antara mereka.

Baik Pendekar Hina Kelana maupun Dewi Wening Asih, tertegun-tegun melihat kehadiran para penunggang kuda yang jumlahnya tidak lebih dari dua puluh orang ini. Sebaliknya para penunggang kuda yang di bagian baju kanannya terdapat simbol kepala burung walet merah juga tak kalah kagetnya. Bahkan secara serentak mereka menarik tali kekang kuda sehingga kuda-kuda tunggangan itu berhenti saat itu juga.

"Seorang gadis cantik, berjalan dengan seorang aneh berperiuk, agaknya pemuda sinting ini mengetahui banyak tentang arca itu...!"

"Langsung saja tanya, Ketua! Barangkali dia mengetahui tentang arca lambang persatuan seluruh kaum persilatan golongan lurus...!"

"Hemm. Betul juga, barangkali orang ini mengetahui tentang arca yang hilang itu...!" batin Luga Kencana Ketua Perguruan Walet Merah yang berbadan tinggi kurus. Kemudian.

"Langsung saja tanya, apakah kau mengetahui atau pernah berjumpa dengan seorang kakek tua renta yang berjuluk Gembel Pengemis dari Pulau Naga?" tanya Luga Kencana sambil mengerling pada Dewi Wening Asih dengan pandangan mata curiga.

"Bertemu dengan anda sekalian saja baru kali ini, bagaimana mungkin aku mengenal orang yang seperti tuan maksudkan...?" ujar Buang Sengketa bersungguh-sungguh.

"Ada keperluan apakah sehingga tuan-tuan mencari seorang gembel pengemis, kalau aku boleh tahu...!"

"Menurut beberapa orang saksi mata. Gembel Pengemis dari Teluk Naga telah membunuh muridmurid perguruan kami. Dengan merubah ujudnya menjadi seekor Siluman Harimau Kumbang. Keterlaluan sekali dia itu! Kami harus menagih hutang nyawa pada gembel busuk tersebut...!" kata Luga Kencana dengan kemarahan yang tertahan-tahan.

Dalam pada itu beberapa orang murid Walet Merah yang sedari tadi memperhatikan Dewi Wening Asih tiba-tiba berseru pada ketua perguruannya.

"Guru. Bukankah gadis yang bersama pemuda ini merupakan anak dari Rajenta yang telah merat dalam pengejaran kita di Lembah Gunung Batu Siwak?"

Luga Kencana begitu mendengar ucapan salah seorang muridnya langsung menatap tajam pada Dewi Wening Asih.

"Hei... benarkah kau anaknya Rajenta yang telah mampus di Lembah Gunung Batu Siwak...?" hardik Luga Kencana, mendadak parasnya berubah memerah. Dewi Wening Asih dan Buang Sengketa saling berpandangan. Namun di luar dugaan semua orang, dengan sangat berani sekali Dewi Wening Asih menga-

kui.

"Benar. Akulah anaknya Rajenta! Dan pasti kalian akan terus menuduh ayahku sebagai tukang tadah Arca Harimau Kumbang yang sangat menghebohkan itu, bukan?"

"He... he... he...! Sungguhpun kami belum yakin betul tentang keterlibatan ayahmu dalam pencurian Area Harimau Kumbang yang hilang itu, namun ada kemungkinan ayahmu juga ikut terlibat dalam masalah itu. Dan bukan tak mungkin pula bahwa kau juga tahu tentang arca lambang persatuan dari kaum bergolongan putih...!" tebak Luga Kencana tanpa menghiraukan kehadiran Buang Sengketa di tempat itu.

Merah padam wajah Dewi Wening Asih demi mendengar tuduhan yang sangat tidak beralasan itu.

"Ketua Perguruan Walet Merah, kiranya orang tua yang berpandangan picik! Tidak tahukah kalian gara-gara arca sialan itu aku dan ibuku hampir saja mengalami nasib celaka kalau tidak ditolong oleh pemuda ini?" bentak gadis jelita itu sambil menuding Luga Kencana yang masih duduk di atas pelana kudanya. "He... he... he...! Apapun alasanmu, kami tak

mau dengar. Kalau kalian berdua tidak mau memberi keterangan di mana adanya Gembel Pengemis dari Pulau Naga berada, maka kalian akan kami tahan. Atau bila perlu kalian akan menjalani siksaan yang sangat berat." ancam Luga Kencana dengan sangat berang dan memandang penuh kebencian.

"Hak... hak... hak...! Ketua Perguruan Walet Merah, perguruan macam apakah sehingga kalian berani mengaku sebagai orang yang berasal dari kaum golongan lurus. Setahuku engkau berpikiran sempit, bahkan mungkin kepandaianmu tak lebih daripada seekor keledai yang sangat tolol" Membentak Buang Sengketa karena merasa sangat tersinggung sekali.

"Gembel berperiuk! berani sekali engkau menghina guru kami. Agaknya engkau sejenisnya setan kuburan yang sudah merasa bosan hidup?" teriak salah seorang murid Perguruan Walet Merah gusar.

"Ha... ha... ha...! Beginikah tampangnya orang yang dipercaya untuk menjaga keselamatan arca yang sangat menghebohkan itu? Bukan tak mungkin menjaga anak bini saja tak becus...!" Maki Pendekar dari Negeri Bunian itu sambil tertawa mengejek.

"Keparat! Kiranya kau sengaja berpihak pada gadis cantik yang bersamamu itu, Bocah Hina...?" maki Ketua Perguruan Walet Merah sudah tak dapat membendung kemarahannya lagi.

"Ha... ha... ha...! Aku memang manusia hina, namun sekali-kali tidak aku berpihak kepada siapa pun terkecuali pada kebenaran...!"

"Sial! Anak-anak, ringkus kedua mata-mata pencuri itu...!" perintah Luga Kencana pada muridmuridnya.

Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, secara serentak mereka berlompatan dari punggung kuda mereka masing-masing. Selanjutnya dengan pedang terhunus mereka itu pun secara berbareng sudah mengepung Pendekar Hina Kelana dari berbagai penjuru. Menghadapi bahaya yang mengancam keselamatan mereka. Maka tanpa membuang waktu lagi, Buang Sengketa segera menyambar tubuh Dewi Wening Asih.

"Maaf, Dewi. Aku terpaksa memasukkan engkau ke dalam periuk ku." berkata begitu pemuda itu segera memasukkan tubuh Dewi Wening Asih ke dalam periuk yang menyimpan berbagai kegaiban itu.

"Anak-anak, tunggu apa lagi! Ringkuuus...!" teriak Luga Kencana sudah tak sabaran lagi.

Maka dalam waktu hanya sekejap saja, pedang di tangan lawan-lawannya menderu, mengejar pemuda ini ke mana pun dia berusaha menghindar. Lalu terjadilah pertarungan yang seru. Pedang di tangan masing-masing lawan menderu, menyambar bagian-bagian tubuh yang sangat mematikan. Menghadapi seranganserangan senjata tajam yang sangat berbahaya itu. Tak ayal lagi Pendekar Hina Kelana segera keluar-kan jurus silat Membendung Gelombang Menimba Samudra.

Dengan mempergunakan jurus tersebut tubuh pemuda itu nampak bergerak ringan. Kadang tubuh bergerak sedemikian cepatnya. Di saat lain dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sangat sempurna berjumpalitan ke udara menghindari hujan senjata tajam yang datangnya sangat cepat dan bertubi-tubi. Sungguhpun begitu, namun sejauh itu Pendekar Hina Kelana masih dapat menghindari seranganserangan gencar yang sangat mematikan itu.

Luga Kencana melihat murid-muridnya masih belum juga berhasil meringkus Buang Sengketa. Dia nampak sangat geram sekali, padahal seperti yang diketahui oleh Luga Kencana, saat itu semua muridmuridnya sudah mempergunakan jurus pedang yang sangat hebat. Yaitu jurus pedang Sekawanan Walet Merah Menyergap Capung. Ini sangat keterlaluan sekali. Terlalu hebatkah pemuda itu? Menurut penglihatannya sendiri, Buang Sengketa tidak terlalu hebat. Hanya murid-muridnya saja yang tidak becus dan sangat keterlaluan sekali. Maka tak ayal lagi dia pun membentak murid-muridnya.

"Murid-murid pada goblok! Meringkus tikus gembel cacingan saja tidak becus, awas kalian kalau sampai memalukan perguruan." teriak Luga Kencana gusarnya bukan alang kepalang.

Mendapat ancaman dari gurunya sudah tentu membuat murid-murid Walet Merah itu menjadi sangat ketakutan sekali. 8

Maka selanjutnya dengan tiada membuangbuang waktu lagi, semua murid-murid Perguruan Walet Merah dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Kini jurus-jurus pedang mereka berubah secara total. Gerakan-gerakan tubuh maupun pedang menjadi sangat cepat dan mematikan. Berulang kali nyaris saja pemuda itu terkena sambaran senjata-senjata yang sangat tajam tersebut. Buang Sengketa pada empat puluh jurus berikutnya nampak mulai terdesak hebat.

"Ciaaat!"

Bagai seekor udang yang menghindari sergapan-sergapan lawannya. Tubuh Pendekar Hina Kelana melentik ke udara. Maka begitu tubuhnya kembali meluncur ke bawah, tak ayal lagi dia segera melepaskan pukulan Empat Anasir Kehidupan yang sangat dahsyat itu. Selarik sinar ultra violet menderu sedemikian cepatnya meluruk pada lawan-lawannya yang tiada menyadari akan datangnya pukulan yang berhawa panas luar biasa ini.

"Blam...!"

Bumi terguncang hebat, terdengar jerit kematian yang menyayat hati. Tubuh mereka yang terkena pukulan Empat Anasir Kehidupan nampak terpental ke segala arah. Di antara mereka ada yang tewas seketika itu juga dengan keadaan tubuh hangus, tapi ada pula yang masih dalam keadaan sekarat atau pun terluka parah.

Bukan main terkejutnya Luga Kencana demi menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya. Lima orang tewas seketika, hanya pukulan yang benarbenar sangat hebat sajalah yang dapat menjatuhkan para muridnya. Namun di balik keterkejutan itu sesungguhnya dia sangat gusar sekali. Pemuda yang tidak dikenalnya itu masih begitu sangat muda, namun memiliki pukulan yang sangat hebat. Sungguh dia sangat penasaran sekali dibuatnya.

"Bocah kau telah begitu berani membunuh murid-muridku. Kau harus menerima pembalasan yang setimpal...!"

"Sama seperti gurunya. Murid-muridmu juga merupakan orang tolol yang perlu diberi pelajaran...!" ejek Pendekar Hina Kelana sambil bersiap-siap dengan gebrakan-gebrakan selanjutnya.

"Anak-anak, mari kita cincang pemuda gembel ini beramai-ramai...!" berteriak begitu Luga Kencana langsung melompat dari atas punggung kuda tunggangannya. Maka tak dapat terhindarkan lagi, pertarungan sengit pun segera berlangsung kembali di pinggiran hutan yang sangat sunyi tersebut.

Kini dengan turun tangannya Luga Kencana dalam pertempuran itu, maka kejab kemudian Buang Sengketa sudah kelihatan mulai terdesak. Selanjutnya tanpa ayal-ayalan lagi Pendekar Hina Kelana segera memainkan jurus-jurus si Gila Mengamuk. Bagai orang sinting yang sedang mabok, tubuhnya sempoyongan kian kemari. Bahkan jurus-jurus silat yang dimainkan nampak kacau tak beraturan. Sekali waktu dia terhuyung-huyung, di lain saat dia berkelit menghindari babatan-babatan mata pedang yang datangnya menggebu-gebu. Namun di saat yang lain tubuhnya berkelebat lenyap membingungkan para lawanlawannya.

Hingga pada satu saat teringat pulalah olehnya tentang Ajian Pemenggal Roh. Pemuda itu langsung bertindak cepat. Lalu terdengar pula bunyi mendesisdesis bagaikan seekor raja ular yang sedang dilanda kemarahannya. Lalu tanpa ampun tubuhnya kembali berkelebat. Selanjutnya satu hal yang tiada pernah disangka-sangka oleh orang-orang itu.

"Huaiiiik,..!"

Jeritan tinggi melengking sambung menyambut dan tiada berkeputusan itu menggetarkan tempat mereka berpijak. Murid-murid Perguruan Walet Merah melolong setinggi langit. Mereka menggelepar roboh, darah mengalir dari gendang telinga yang rusak total akibat lengkingan Ilmu Pemenggal Roh. Di antara lima belas orang murid itu sepuluh di antaranya meregang ajal saat itu juga. Sedangkan yang lainnya berlarian kian ke mari bagai orang yang terganggu sarapnya.

Bukan alang kepalang terkejutnya Ketua Perguruan Walet Merah dibuatnya. Sama sekali dia tiada menyangka kalau pemuda yang dihadapinya justru memiliki ilmu yang sangat berbahaya sekali. Hal lebihlebih di luar jangkauan perhitungannya. Sungguhpun dengan mata kepala sendiri dia sudah menyaksikan betapa hebatnya ilmu yang dimiliki oleh pemuda gembel yang berdiri di hadapannya, tapi kematian sekian banyak murid-muridnya telah membuatnya gelap mata. Maka dengan kemarahan yang tiada terkirakan Luga Kencana memaki habis-habisan.

"Keparat! Dengan pembunuhan yang kau lakukan ini, kau benar-benar telah mengundang permusuhan terhadap seluruh kaum persilatan golongan lurus. Kau benar-benar sangat keterlaluan sekali...!" maki Luga Kencana saat itu sudah bersiap-siap dengan pukulan mautnya yang diberi nama Seribu Walet Merah Memburu Burung Hantu.

"Kau... kau sendirilah yang memulainya, Ketua sinting. Tuduhanmu yang tiada beralasan itu benarbenar merupakan satu penghinaan yang benar-benar tidak dapat dimaafkan...!" tukas Pendekar Hina Kelana dengan pandangan berapi-api.

"Kutu kupret! Sebutkanlah namamu, andai kau mati agar tak susah-susah aku menuliskannya di batu nisan mu...?"

Buang Sengketa hanya tersenyum-senyum saja, saat itu dia berpendapat. Sungguhpun Perguruan Walet Merah merupakan sebuah perguruan yang sangat besar. Tetapi sedikitpun juga dia tiada menyangka kalau ketua perguruannya merupakan orang yang memiliki pandangan sempit.

"Hemm, baiklah agar kau tak menjadi penasaran siapa adanya aku ini. Pasanglah kuping mu baikbaik, Kisanak. Aku yang jelek ini bernama Buang Sengketa, orang-orang mengenalku sebagai si Hina Kelana...!" ujar Buang Sengketa tanpa ada maksud untuk membanggakan diri.

Sungguhpun saat itu Luga Kencana merasa sangat terkejut demi mendengar pengakuan si pemuda. Namun demi menjaga gengsinya sedapatnya dia berusaha menutup-nutupi tentang kegelisahan hatinya.

"Oho, kiranya kaulah pendekar yang sangat kesohor itu, pantas sekali kau berani jual lagak di depanku." kata Luga Kencana dengan suara datar. Namun sekejap kemudian dia sudah bergelak-gelak sambil memandang penuh kebencian pada pemuda yang telah banyak membunuh para muridnya.

"Ha... ha... ha...! Pendekar Hina Kelana rupanya tidak lebih dari seorang gembel busuk. Puih... aku jadi ingin melihat sebagai mana hebatnya Pusaka Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto yang sangat menghebohkan itu...!" Pendekar Hina Kelana tersenyum getir, begitu iba dia memandang pada Luga Kencana yang saat itu sedang dirasuki setan amarah. Lalu dengan suara tertahan, dia mengingatkan.

"Kisanak. Sebaiknya kau batalkanlah niatmu untuk mengetahui bagaimana hebatnya Pusaka Golok Buntung! Niat yang sama juga dulu pernah diucapkan oleh banyak orang. Tapi sungguh malang niat mereka itu tidak pernah berkesampaian...!"

Luga Kencana tergelak-gelak. Senyumnya sinis, dengan tatapan matanya yang diliputi nafsu membunuh.

"Mulutmu terlalu sombong, Hina Kelana. Sekarang terimalah pukulan ini. Hiaaat!" Secara sontak Luga Kencana pukulkan kedua tangannya mengarah pada tubuh lawannya.

"Weeer...!"

Tak ayal lagi satu gelombang pukulan yang berhawa sangat dingin menderu laksana kilat hingga timbulkan suara bersiuran. Buang Sengketa terkesiap karenanya. Lalu dalam keadaan yang sangat kritis itu.

"Hiaaaa...!"

Tubuhnya melentik ke udara. Selanjutnya begitu dia melayang ke bawah, satu pukulan yang tak kalah hebatnya dia lepaskan. Tak salah lagi, itulah pukulan Empat Anasir Kehidupan yang mengandung hawa yang sangat panas sekali. Gelombang sinar ultra violet itu laksana kilat memapaki datangnya pukulan yang dilepas oleh Luga Kencana yang berhawa sangat dingin. Selanjutnya tanpa terhindarkan lagi dua tenaga sakti itu pun saling bertubrukan di udara.

"Blam mm...!"

Tubuh kedua orang itu sama-sama terpelanting jauh. Sama-sama pula muntah darah namun Pendekar Hina Kelana lah yang paling parah menerima akibatnya. Pemuda itu masih terus terbatuk-batuk. Dalam batuknya itu mengalir pula darah kental dari mulut dan lubang hidungnya. Dada masih terasa sesak dan nyeri sakit, pandangan mata berkunang-kunang.

Sungguhpun tidak terluka, tapi yang paling sengsara menerima akibatnya adalah Dewi Wening Asih yang masih tersekap di dalam periuk gaib tersebut. Sebab begitu tubuh Buang Sengketa terpelanting dan terguling-guling, maka tak ayal lagi periuk itu pun ikut pontang panting sehingga menyebabkan tubuh di dalamnya menjadi tunggang langgang tak karuan.

Sementara itu Luga Kencana sudah bangkit berdiri, dia lalu seka bibirnya yang belepotan darah kental. Dalam hati dia memuji kehebatan pukulan yang dimiliki oleh Pendekar Hina Kelana. Bahkan tadi dia merasakan betapa pukulan miliknya yang berhawa sangat dingin itu hampir saja tertelan bulat-bulat oleh pukulan lawan yang berhawa sangat panas luar biasa. Dan bahkan andai saja dia tiada memiliki kekebalan tubuh, sudah barang tentu dia akan menerima akibat yang lebih parah lagi dari lawannya.

Tekadnya membara, dia sudah tidak ingin mundur walau apa pun yang bakal terjadi. Dia berkeyakinan dua pukulan yang lebih dahsyat yang dia miliki mungkin saja mampu menjatuhkan Pendekar Golok Buntung. Seandainya tidak pun dia masih memiliki sebilah pedang dan jurus-jurus pedang yang sangat diandalkan. Itulah sebabnya sambil bersiapsiap dengan kuda-kudanya dia berseru lantang.

"Bocah! Ternyata Pendekar Hina Kelana bukanlah nama kosong. Kau benar-benar seorang gembel yang sangat tangguh." puji Luga Kencana tanpa tedeng aling-aling. Selanjutnya sambungnya:

"Tapi engkau jangan sombong dulu, aku masih punya pukulan pamungkas dan jurus pedang yang dapat membantai ratusan kawanan serigala. Dan kalau kau benar-benar merupakan seorang pendekar yang sangat digjaya, akulah yang akan menghapus namamu yang sangat kesohor itu. Andai aku dapat membunuhmu, maka aku akan tersohor melebihi kau, aku akan menjadi sangat terkenal...!" kata Luga Kencana disambung dengan suara tawa bergelak-gelak.

Buang Sengketa tersenyum kecut, lalu dengan suara yang sangat lirih namun disertai tenaga dalam dia berkata seolah-olah pada dirinya sendiri.

"Masih sangat banyak jalan untuk menjadi terkenal. Tapi mengapa justru kau menempuh cara yang paling sulit...?"

Nanar pandangan mata Luga Kencana demi mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh si pemuda. Selama malang melintang dalam dunia persilatan, baru kali ini ada seorang gembel yang telah begitu berani menghinanya sedemikian rupa. Ini sangat keterlaluan sekali. Pemuda yang berdiri tegak di hadapannya itu benar-benar sangat perlu untuk dihajar. Yang lebih setimpal lagi dibunuh secepatnya.

"Bangsat sombong. Justru bagiku membunuhmu adalah merupakan satu cara yang paling mudah untuk kulakukan...! Mampuslah!" jerit Luga Kencana. Saat itu dengan sekali berkelebat saja, pukulan Walet Merah Menerjang Ombak dia lepaskan.

"Ngung...!"

Pasir-pasir beterbangan, suasana sunyi itu dikejutkan dengan suara riuh rendah bergemuruhnya gelombang pukulan yang terlepas. Buang Sengketa kali ini tak mau bersikap ayal-ayalan lagi. "Wuuuus!"

Pukulan yang paling sangat diandalkan yang bernama si Hina Kelana Merada dia lepaskan.

Bagai auman harimau terluka terdengar bersamaan melesatnya selarik sinar merah yang berhawa sangat panas luar biasa. Belum lagi pukulan itu saling bertemu. Tanah di sekitarnya tergetar hebat. Tak lama kemudian tanpa dapat dicegah lagi.

"Blaaar...!"

Malang sekali nasib Pendekar Hina Kelana ini, tubuhnya kembali terpelanting tujuh tombak. Sementara Luga Kencana hanya tergetar saja. Laki-laki setengah baya itu pun menyeringai dengan sesungging senyum penuh kemenangan. Tanpa memberi waktu pada lawannya. Dia segera mencabut pedangnya. Selanjutnya segera memburu lawannya yang dalam keadaan terkapar karena luka dalam yang sangat parah.

Masih untung dalam detik-detik yang sangat kritis bagi keselamatannya sendiri. Buang Sengketa masih dapat menyadari bahwa lawannya saat itu memang benar-benar menghendaki nyawanya.

"Wuuut!"

Pedang Pusaka Perguruan Walet Merah dan berwarna merah pula menyambar tubuh Buang Sengketa. Masih untung sesaat sebelumnya dengan sisasisa tenaganya dia bangkit lalu mengelak.

"Beeet!"

Serangan pedang Luga Kencana luput, tetapi baik tubuhnya maupun pedangnya terus memburu ke mana pun Pendekar Hina Kelana ini berusaha berkelit menghindar.

"Jadah!" maki Luga Kencana, mendesak dan Buang Sengketa sedikit lengah.

"Brebet...!" Pedang di tangan Luga Kencana menyambar. Buang Sengketa mengeluh begitu merasakan pedang di tangan lawan merobek pangkal lengannya. Sehingga pakaiannya terobek dan darah mengucur dari luka yang menimbulkan rasa nyeri. Pendekar Hina Kelana yang sejak tadi mencoba memendam rasa amarahnya, kini sudah hilang kesabarannya. Dengan tiga kali berjumpalitan tubuh Buang Sengketa telah melompat menjauh. Selanjutnya dia berseru lantang.

"Untuk terakhir kalinya kuperingatkan padamu, Kisanak. Lebih baik kita sudahi pertarungan ini. Kalau tidak kau benar-benar akan menyesali atas segala kekeliruan mu...!"

Dengan melintangkan pedang pusaka di depan dada, sebaliknya Luga Kencana malah berkata mencemooh.

"Siapa mau perduli dengan akal bulus mu. Sudah mau mampus masih juga berusaha menggertak ku...!"

Buang Sengketa akhirnya menjadi gelap mata, wajahnya sebentar saja sudah nampak menegang. Bibir Buang Sengketa berkemik-kemik mengeluarkan bunyi mendesis. Luga Kencana memang nampak terkejut, tetapi kemudian langsung menerjang dengan senjata terhunus.

Tiada menyia-nyiakan kesempatan lagi, tubuh Buang Sengketa berkelit menghindar. Selanjutnya berkelebat sehingga merupakan bayang-bayang saja.

"Ngung...!"

Dalam teriknya matahari siang hari, nampak sinar merah berkelebat mengurung diri Luga Kencana. Tak salah lagi, itulah Pusaka Golok Buntung yang terkenal sangat dahsyat itu.

Golok Buntung yang berada dalam genggaman si pemuda mengalirkan hawa hangat ke bagian tubuhnya yang terluka, hingga lama-kelamaan rasa menyesak di dalam rongga dadanya semakin lama semakin berkurang. Sebaliknya bagi pihak lawan kehadiran senjata di tangan Buang Sengketa malah menimbulkan hawa dingin yang teramat sangat hingga menimbulkan kejut di hati Luga Kencana.

Tiada kesempatan bagi ketua Perguruan Walet Merah ini untuk berfikir panjang. Golok di tangan Buang Sengketa menderu, kemudian mendesaknya.

Luga Kencana keluarkan seruan tertahan saking kagetnya karena tahu-tahu senjata maut itu tiga jengkal di depan hidungnya. Tiada pilihan lain terkecuali memapaki babatan golok di tangan lawan dengan pedang pusaka milik perguruan Walet Merah.

"Traaaang! Criiiing!"

Tanpa ampun, senjata di tangan Luga Kencana menjadi rompal di beberapa bagian. Dengan tangan bagai kesemutan Luga Kencana berusaha menghindari babatan golok yang terasa bagai memiliki mata itu.

"Ngung...!"

"Aaiyaaaaa...!" teriak ketua Perguruan Walet Merah sambil berusaha menghindar selanjutnya berjumpalitan di udara.

Begitu tubuhnya melayang turun dan belum lagi sempat menjejakkan kakinya di atas permukaan tanah, Golok Buntung di tangan Buang Sengketa menyambutnya. Dalam kegugupannya dia kembali babatkan pedangnya memapaki datangnya sambaran golok di tangan Pendekar Hina Kelana.

"Praaang!"

Tubuh Luga Kencana tersentak ke belakang, senjata pedang pusaka milik Perguruan Walet Merah patah menjadi beberapa bagian. Buang Sengketa yang sudah gelap mata itu kembali babatkan goloknya. Belum lagi hilang keterkejutan Luga Kencana, dia merasa adanya angin sambaran senjata di bagian bahu kirinya. Begitu dia menoleh dan berusaha untuk menghindar, segalanya sudah terlambat.

"Craaaas!"

Luga Kencana menjerit setinggi langit, tangannya yang terbabat golok di tangan Buang Sengketa terjatuh di bawahnya sendiri. Cepat-cepat Luga Kencana menotok beberapa bagian jalan darah di pangkal lengannya. Dengan wajah pucat dan sangat ketakutan sekali. Dia melompat ke punggung kudanya.

"Hati-hati kau, Pendekar keparat! Lain waktu seluruh golongan persilatan akan mencincang tubuhmu...!" kata Luga Kencana. Lalu bersamaan dengan itu tanpa menoleh-noleh lagi, ketua Perguruan Walet Merah yang sudah kehilangan sebelah tangannya itu langsung menggebrak kudanya.

Pendekar Hina Kelana tiada perduli. Yang ada dalam hatinya saat itu adalah bagaimana caranya untuk menemukan Arca Harimau Kumbang yang telah menimbulkan banyak korban itu.

Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi dia pun berkelebat pergi, tetapi begitu teringat pada Dewi Wening Asih yang masih berada di dalam periuk gaibnya. Sambil terus berlari dia menyambar tubuh Dewi Wening Asih yang sudah basah kuyup mandi keringat karena terlalu lama disekap di dalam periuk itu. Sungguhpun saat itu Dewi yang sangat cantik itu marahmarah. pada Buang Sengketa, namun pemuda itu tiada perduli. Dia terus berlari dan berlari hingga akhirnya tubuh mereka lenyap setelah melewati sebuah tikungan jalan. 9

Sejak tangan mereka kena dibuntungi oleh Pendekar Hina Kelana mulai saat itu selama beberapa purnama si Kembar Pedang Dewa bergiat melatih diri dengan ilmu pedang mereka yang baru. Dengan nama baru pula, yaitu si Kembar Pedang Dewa Tangan Tunggal. Selama berbulan-bulan mereka melatih diri di sebuah daerah terpencil yang diberi nama Lembah Putus Asa.

Sejak Pendekar Hina Kelana mempermalukan diri mereka, manusia kembar dari Pulau Bawean itu sudah bertekad untuk membalas dendam. Dari niatnya semula untuk memiliki Areca Harimau Kumbang kini berbalik jadi ingin membalaskan dendam secepatcepatnya.

Siang dan malam tanpa kenal rasa lelah mereka melatih diri, hingga enam purnama kemudian mereka sudah merasakan bahwa segala sesuatunya telah dianggap cukup. Maka di pagi buta keesokan harinya si kembar telah meninggalkan Lembah Putus Asa.

Sementara itu pada saat yang sama di sebuah daratan tinggi yang banyak terdapat batu kapur. Nampak seorang kakek tua renta berpakaian tambaltambal dan sudah kelihatan sudah sangat usang. Dengan sebuah tongkat berkepala Kepala Naga Merah dan sebuah Arca Harimau Kumbang yang terbungkus kain bekas terletak di bagian punggungnya.

Kakek tua renta itu tak lain adalah Gembel Pengemis dari Teluk Naga yaitu orang yang telah melarikan Area Harimau Kumbang telah dicurinya dari Perguruan Walet Merah. Pagi itu di atas sebuah batu cadas, Gembel Pengemis nampak sedang duduk di sana. Wajahnya yang sudah keriputan itu nampak tertunduk, sementara tubuhnya sedikit menggigil seperti kedinginan.

Sesungguhnya bukan kedinginan karena udara pagi, sebenarnya tidak begitu dingin. Tapi rasanya ada sesuatu yang dia derita, rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya bagai orang yang terkena demam malaria.

Tak dapat disangkal kenyataan seperti itu membuat Gembel Pengemis merasa terus tersiksa sepanjang hari. Nampaknya Gembel Pengemis dari Pulau Naga itu tiada menyadari bahwa saat itu Kutuk Harimau Kumbang sedang terjadi atas dirinya. Caranya yang sangat ceroboh mempelajari kitab yang terdapat di dalam mulut area tersebut tanpa bimbingan seorang guru benar-benar telah menyesatkan jalan darah di dalam tubuhnya. Siapa pun orangnya yang berani mempelajari Kitab Siluman Harimau Kumbang yang terdapat di dalam mulut area tersebut maka akan mengalami suatu resiko yang tak dapat dianggap ringan. Gembel Pengemis sudah tahu hal itu. Namun sejak dia berhasil merubah ujudnya menjadi ujud Siluman Harimau Kumbang, semua pesan-pesan yang ada itu terlupakan begitu saja. Apalagi setelah menyaksikan sendiri betapa hebatnya dia dengan siluman jejadian yang merupakan penjelmaan dari dirinya sendiri. Kini dengan seenak perutnya dia dapat berubahubah dalam waktu yang dia kehendaki. Korban pun berjatuhan di mana-mana. Dengan sangat sengaja sekali dia menyebarkan teror. Sejauh itu dia merasa masih belum puas, sebelum dunia persilatan menjadi gempar karenanya.

Sementara itu tidak begitu jauh dari tempat Gembel Pengemis berada, si Kembar Pedang Dewa Tangan Tunggal yang kebetulan melintasi daerah itu. Dengan mengendap-endap nampak mendekat Gembel Pengemis dari bagian belakangnya.

Beberapa saat kemudian jarak di antara mereka benar-benar semakin bertambah dekat saja.

Sebagai orang yang berpengalaman Gembel Pengemis bukan tiada mengetahui kehadiran si kembar yang sejak tadi mencurigai keberadaan Gembel Pengemis di tempat itu. Namun dia kelihatan acuh saja, bersikap masa bodoh dan seolah-olah tak mengerti.

Dalam hati dia ingin tahu apa sesungguhnya yang akan diperbuat oleh si kembar padanya. Sementara itu dua kembar dari Pulau Bawean itu nampak saling berbisik sesamanya.

"Lihatlah, nampaknya benda yang terbungkus kain di punggung Gembel Pengemis itu merupakan Arca Harimau Kumbang yang dicari-cari oleh banyak tokoh-tokoh persilatan. Agaknya kalau kita mau, kita berdua punya kesempatan untuk merampas area itu dari tangan si Gembel...!" berkata si kembar yang berbadan gemuk tinggi. Sementara salah seorang yang berbadan gemuk pendek nampak garuk-garuk kepalanya.

"Nampaknya kakek itu bukanlah orang yang bisa dianggap sembarangan, Kakang! Lagipula aku sudah tidak begitu berminat dengan benda yang ada bersama kakek gembel tersebut. Pula bukankah kita sekarang ingin mencari pendekar yang telah membuat buntung tangan kita...?"

"Itu betul, tapi apa salahnya kalau sekalian kita dapatkan arca yang ada bersama dengan gembel itu...!" Si Kembar Gemuk Pendek geleng-gelengkan ke-

palanya.

"Kau tidak setuju?" tanya si Gemuk Tinggi. "Aku sih setuju-setuju saja, tapi kalau orang itu mengadakan perlawanan bagaimana nantinya...?" ujar si gemuk pendek seperti sudah mengenali siapa sesungguhnya yang berpakaian tambal-tambal itu.

"Mengapa harus takut, aku tahu dia itu dedengkotnya tokoh sesat dari Pulau Naga. Tetapi dengan kemajuan pesat ilmu Pedang Tangan Tunggal yang kita miliki bukan mustahil kita tak dapat mengalahkannya...!" kata si kembar tinggi gemuk merasa sangat yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

"Kalau hal itu sudah merupakan kemauanmu, maka aku hanya menurut saja, Kakang!"

Dalam pada itu terdengar suara bentakan Gembel Pengemis tanpa beranjak dari tempat duduknya.

"Kusak kusuk kayak monyet betina yang lagi jatuh cinta. Keluar dari persembunyian atau kuseret kalian dari tempat itu...?" kata Gembel Pengemis, pelan namun mengancam.

"Hemm. Apa kubilang, Kakang. Gembel sialan itu benar-benar mengetahui kehadiran kita di sini...!" ucap si Gemuk Pendek. Lalu mereka pun saling berpandangan sesamanya.

"Keluar kataku...!" bentak Gembel Pengemis gusar. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi. "Krosaaaak...!"

Dua orang kembar itu langsung melesat dari tempat persembunyiannya. Sejenak masing-masing mereka saling berpandangan sesamanya. Kemudian Gembel Pengemis tertawa terkekeh-kekeh.

"Ah... ah...! Kalian ini benar-benar dua monyet kembar yang sangat kompak sekali. Pertama-tama. Muka kalian kayak lutung. Badan gemuk kayak babi hutan. Lucunya tangan kalian dibuntungi pada bagian yang sama. He... he... he...!"

"Kurang ajar! Kau benar-benar telah menghina kami, .Gembel cacingan...!" maki si Tinggi Gemuk dengan wajah merah padam. Karena wajahnya yang ditumbuhi bulu dan hitam legam, maka kalau pun dia marah, maka hal itu di luar sepengetahuan Gembel Pengemis. Saat itu Gembel Pengemis masih saja tertawa tergelak-gelak.

"Sialan, monyet lutung berani sekali kau memakiku. Tidak tahukah kau dengan siapa kalian berhadapan...?"

Baik si Tinggi Gemuk maupun si Gemuk Pendek sama-sama nampak tersenyum sinis.

"Terhadap dedengkot pencuri Arca Harimau Kumbang dari Pulau Naga siapa takut. Tua renta sudah bau tanah...!"

"Hemm. Bagus kalau kalian mengenalku. Agaknya kalianlah yang berjuluk si Kembar Pedang Dewa dari Pulau Bawean. Heran... mengapa kalian sampai keliaran mencari mampus saja sampai sejauh ini...?"

"Ha... ha... ha...! Bukan kematian yang kami cari, Gembel bau! Tapi Arca Harimau Kumbang yang kau curi itulah yang sangat menarik perhatian kami!" tukas si Gemuk Pendek sambil tersenyum mencemooh. Bukan main gusar Gembel Pengemis dari Pulau

Naga ini demi mengetahui apa maksud tujuan dari Si Kembar Pedang Dewa itu.

"Hebat! Ambisi kalian untuk memiliki arca yang ada padaku memang patut kupuji. Tetapi yakinlah keinginan kalian yang muluk-muluk itu akhirnya hanya akan berubah menjadi mimpi yang sangat menakutkan sekali...!" "Gembel keparat! Sungguhpun kepandaianmu setinggi langit. Walaupun kesaktian yang kau miliki sebanyak buih di lautan. Jangan kira aku dan adikku takut menghadapimu...!"

"Sriiing...!"

Si Kembar Pedang Dewa sudah mencabut senjata mereka yang berupa sebilah pedang kembar yang sangat putih berkilau-kilauan karena ketajamannya.

Gembel Pengemis hanya tersenyum saja demi melihat apa yang dilakukan oleh si kembar dari Pulau Bawean itu. Sebaliknya setelah sesaat setelahnya dia segera berseru memberi peringatan.

"Kuperingatkan padamu. Karena kita masih segolongan, baiknya sarungkanlah senjata kalian itu. Kalau tidak kalian benar-benar orang yang paling menyesal karena kesalahan sendiri...!"

"Keder juga kau, Gembel Pengemis. Tapi ketahuilah, bahwa senjata kami baru akan kembali ke sarungnya apabila kau bersedia menyerahkan arca itu ke tangan kami!" kata si tinggi gemuk. Ketus.

"Hoho...! Kalau begitu tidak salah kalau aku merobek-robek tubuhmu...!" teriak Gembel Pengemis dari Pulau Naga sudah tidak dapat menahan kesabarannya.

Maka tak ayal lagi pertarungan sengit pun sudah tak mungkin dapat dihindari lagi. Sekejap saja terdengar suara beradunya senjata tajam di tempat yang sangat sunyi itu. Secara bersamaan si Kembar dari Pulau Bawean itu menyerang Gembel Pengemis dengan jurus-jurus pedang baru hasil ciptaan mereka sendiri.

Bertarunglah tokoh-tokoh sesat tingkat tinggi itu dengan mengerahkan segenap kemampuannya! Dengan pedang di tangan mereka, senjata mustika yang sangat besar pamornya itu berkelebat ke segala arah, mengarah pada bagian pertahanan Gembel Pengemis. Serangan-serangan gencar itu datangnya sangat beruntun, sambung menyambung tiada henti. Sungguh merupakan jurus-jurus silat yang sengaja diciptakan oleh si kembar dengan hati diliputi oleh dendam.

Terbukti setelah pertarungan berlangsung lebih kurang lima belas jurus, Gembel Pengemis dari Pulau Naga ini nampak terdesak hebat. Hanya karena memang pengalaman saja maka Gembel Pengemis dengan tongkat mautnya yang berkepala Naga Merah dia mampu bertahan.

Sekali waktu, Gembel Pengemis yang sudah sangat terdesak itu keluarkan jerit tinggi melengking. Tubuhnya nampak melesat ke udara. Tanpa ampun si kembar memburunya.

Di luar dugaan para si kembar, begitu tubuh Gembel Pengemis meluncur ke bawah, dia langsung tekan salah satu sisi tongkatnya.

"Buuus!"

Udara beracun tersembur dari mulut tongkat yang di bagian pangkalnya merupakan ujud dari kepala naga. Udara di sekitarnya mendadak gelap gulita. Si kembar terbatuk-batuk, sebaliknya Gembel Pengemis tertawa mengekeh.

"Bet! Bet!"

Sinar pedang di tangan si kembar bergulunggulung, sehingga lama-kelamaan membuyarkan asap beracun yang mengurung tubuh mereka. Bukan main terkejutnya Gembel Pengemis dibuatnya, karena ternyata si Kembar Pedang Dewa tidak mempan terhadap uap beracun yang sesungguhnya sangat ganas.

"Jlik! Jlik!" Si Kembar balik mengekeh.

"Gembel bau! Segala uap beracun mainan anak-anak kau gelar di hadapan kami. Heh Tiada

gunanya. Kau manusia sesat, kami juga! Di Pulau Bawean juga tak kalah banyaknya dengan segala racun meracun.... Baiknya kau serahkan saja arca itu pada kami!" perintah si tinggi gemuk.

"Jangan bangga dulu sobat sesat! Masih banyak pukulanku yang bisa membuat kalian mampus seketika !" maki laki-laki renta berambut putih ini.

"Kerahkanlah segenap yang kau punya, Gembel Tua. Kami siap melayani sampai kau terbujur menjadi bangkai !" ejek si kembar gemuk pendek.

"Lihat tongkat dan jaga pukulan. Seaaa. !"

Tongkat di tangan Gembel Pengemis menderu, pedang di tangan si Kembar berkelebat memapaki. Tak ayal lagi kini si Kembar dari Pulau Bawean itu telah pula memainkan jurus pedang hasil ciptaan mereka. Pedang Kembar Membalas Dendam.

Bukan main hebatnya jurus-jurus pedang mereka. Walaupun saat itu dua kembar itu dalam posisi menahan dan Gembel Pengemis dalam keadaan menyerang. Namun terlihat bahwa posisi gembel pengemis-lah yang terdesak. Berulang kali serangan beruntun yang dibangun oleh Gembel Pengemis selalu kandas di tengah jalan. Sekali dua Gembel Pengemis menusukkan tongkat naganya, yang sangat tajam bagian ujungnya itu. Tetapi sialnya tubuh si Kembar malah alot luar biasa. Menghadapi kegagalan demi kegagalan itu, lama kelamaan Gembel Pengemis menjadi hampir putus asa.

"Ciaaaat!"

Gembel Pengemis melompat mundur satu tombak, selanjutnya dia sudah bersiap-siap dengan pukulan Naga Merah Memburu Gajah. Begitu tangannya berkiblat, maka tanpa ampun menderulah satu gelombang pukulan yang sangat dingin dan keji ke arah tubuh si kembar.

Mengetahui adanya pukulan yang sangat dahsyat dan bahkan pernah di kenalnya. Si kembar pun tiada tinggal diam. Laksana kilat mereka putar pedangnya melindungi diri.

"Nguuung!"

Sekejap tubuh si kembar lenyap terbungkus gulungan sinar pedang yang menderu dahsyat.

"Bluaaar!"

Tubuh Gembel Pengemis tergetar, sebaliknya si kembar terdorong dua langkah, dengan keadaan sempoyongan. Wajah masing-masing lawan menjadi pucat pasi. Dada mereka terasa sesak sekali, sungguhpun masing-masing tak sampai muntah darah tetapi mereka sadar dalam segi kekuatan mereka tiada yang lebih tinggi dan tiada pula yang lebih rendah.

Saat itu Gembel Pengemis sudah berpikir-pikir untuk mengeluarkan Siluman Harimau Kumbang. Tapi apabila dia teringat pada lawannya yang juga kebal terhadap semua apa yang dimilikinya. Dia jadi urung, semuanya akan jadi sia-sia. Dia merasa sungguhpun dia dapat berubah menjadi Harimau Kumbang, tapi apalah gunanya kalau pada akhirnya dia tak berhasil merobek-robek tubuh lawannya. Bukan mustahil kalau lawannya sampai tahu kelemahan seekor siluman dia dapat saja terbantai dengan sangat mudah saja. Pikirannya bekerja cepat. Sampailah kesimpulannya andai saja mereka bersatu mempertahankan Arca Harimau Kumbang tersebut. Bukankah mereka akan menjadi kuat. Tapi sebelum persatuan itu dia laksanakan dia masih ingin melepaskan satu pukulan yang sangat hebat.

"Gembel Pengemis, kau atau pun kami samasama kuatnya. Tapi kalau kau masih tetap keras kepala tidak mau menyerahkan arca itu, lama kelamaan kami pasti dapat menjatuhkan mu...!" teriak Gemuk Pendek.

"Jangan banyak bacot, tahanlah ini...!" Dengan ucapannya itu, Gembel Pengemis langsung kirimkan satu pukulan yang lebih ganas lagi. Pukulan Naga Merah Menggusur Gelombang. Tak salah lagi. Sementara itu, si kembar pun sudah siap dengan jurus pedang Perisai Pedang Dewanya.

Tak pelak, begitu tubuh masing-masing lawan berkelebat. Maka Gembel Pengemis lepaskan satu pukulan yang sangat hebat dan berhawa lebih dingin membekukan urat-urat darah.

Sementara itu si kembar putar pedangnya, begitu sebat dan sangat perih mata melihatnya.

"Weeer!"

"Traaang! Bluuum!"

Terdengar suara bagai gempa melanda begitu pukulan yang dilepaskan oleh Gembel Pengemis dengan pedang di tangan si kembar bertubrukan. Tubuh si kembar terpelanting tiga tombak, tangan terasa dingin bagai membeku, sementara itu tanpa terasa oleh mereka darah kental meleleh dari lubang hidung mereka. Sementara itu di pihak Gembel Pengemis sendiri tidak jauh lebih baik. Tubuhnya yang sudah sangat renta itu pun terjengkang empat tombak tanpa ampun. Darah pun meleleh dari celah bibir dan hidungnya. Semua itu diakibatkan sebagian besar pukulan yang dilepaskannya membalik dan menghantam dirinya sendiri.

Dengan tertatih-tatih Gembel Pengemis bangkit, sebagian wajahnya nampak semakin bertambah kotor diliputi debu. Sementara saat itu si kembar sudah berdiri bertolak pinggang dengan nafas senin kamis.

Gembel Pengemis begitu bangkit segera angkat tangannya tinggi-tinggi. Selanjutnya gembong manusia sesat itu pun berucap.

"Cukup. Kita sudahi saja urusan ini sampai di sini...!" ucapnya dengan tersendat-sendat.

"Apa maksudmu. Di antara kita belum ada yang kojor mengapa harus berhenti?" tukas si gemuk tinggi.

"Bagaimana kalau kita berdamai saja. Maksudku sama-sama menjaga keselamatan arca ini dari ancaman siapa pun. Kalau kalian mau, aku pasti memberi kesempatan pada kalian untuk mengetahui sesuatu yang tak pernah kalian miliki...!" kata Gembel Pengemis. saran. "Sesuatu apa...?" tanya si Gemuk Pendek pena-

"Baiknya kita cari tempat yang aman... di sana kita bisa berbicara banyak!!"

"Kalau bilang sejak tadi kan kita tak perlu buang-buang tenaga...!" celoteh si gemuk tinggi. Gembel Pengemis tiada menyahut. Tetapi kemudian mereka tertawa tergelak-gelak sambil berkelebat meninggalkan tempat itu.

* * *

10

Sejak meninggalkan Lembah Gunung Batu Siwak. Rajenta sesuai dengan pesan guru para siluman, langsung saja menuju Perguruan Walet Merah. Adapun tujuan utamanya adalah ingin menanyakan ten-tang kabar Arca Harimau Kumbang yang telah lenyap dari perguruan itu. Sungguhpun dia pernah dimusuhi oleh Luga Kencana dan murid-muridnya. Namun sedikit pun tidak dendam di hatinya, dia ingin menjernihkan persoalan yang menjadi kemelut para kaum persilatan. Untuk itu tanpa membuang-buang waktu lagi dia segera mengerahkan ilmu lari cepatnya.

Namun baru saja beberapa ratus tombak dia mengerahkan ilmu lari cepatnya. Mendadak terdengar suara bentakan tidak jauh dari tempat laki-laki itu berada.

Rajenta menghentikan langkahnya. Sejenak dia memandang berkeliling. Lalu bermunculan sosoksosok tubuh dari semak-semak belukar. Orang-orang itu segera mengurung Rajenta. Laki-laki itu menatap sinis pada orang-orang yang sangat dikenalnya. Kemudian dia membentak gusar.

"Hemm. Sangat kebetulan sekali, kalian tentunya para murid dari Lembah Weling yang telah menculik istri dan anakku." ucap Rajenta. Tapi begitu matanya memandang berkeliling dan tak dilihatnya Jali Sajiwa bersama para murid-muridnya. Maka dengan sangat penasaran sekali dia berseru.

"Tak kulihat si bangsat Jali Sajiwa bersamasama kalian...?"

Merah wajah murid-murid sesat dari Lembah Weling ini, demi mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Rajenta yang selama ini telah mereka anggap mati terkubur di Lembah Gunung Batu Siwak yang sangat angker itu.

"Untuk apa kau tanya tentang ketua kami, dulu pun andai kau tidak melarikan diri dari kami, sudah pasti kami dapat membunuhmu...!" ejek Wakil Ketua Perguruan Lembah Weling yang bernama Setra.

"Bagus kalau kau merasa sudah sangat hebat.

Tapi jawab dulu ke mana iblis ketua kalian itu...?" Sambil tersenyum-senyum penuh kelicikan,

maka Setra pun menjawab.

"Ketua kami sedang mencari pemuda gembel yang membawa lari Dewi Wening Asih calon istrinya...!"

Mendengar disebut-sebutnya Dewi Wening Asih yang merupakan anak kandungnya sendiri sebagai calon istri Jali Sajiwa. Maka detik itu juga wajah Rajenta nampak sangat marah sekali.

"Bangsat kalian semua! Lalu di mana istriku sekarang ini...?" makinya dengan sangat gusar sekali.

"Istrimu... he... he... he..,! Istrimu telah membunuh diri beberapa purnama yang lalu...!" kata Setra berterus terang.

Maka menggigillah tubuh Rajenta mendengar ucapan yang tiada pernah dia sangka-sangka sebelumnya. Bagaimana mungkin Wendah sampai membunuh diri? Pasti Jali Sajiwa telah melakukan sesuatu atas diri istrinya.

"Manusia-manusia iblis. Kalian benar-benar telah memporak porandakan segala apa yang pernah kumiliki. Aku pasti tak akan mengampuni kalian semuanya...!" teriak Rajenta geram sekali.

"Kau bisa apa, Rajenta...?" ejek Setra, lalu memberi isyarat pada orang-orangnya. Maka tanpa menunggu lagi murid-murid Lembah Weling segera mencabut berbagai senjata yang mereka miliki.

"Celakalah nasib kalian hari ini, aku benarbenar akan membunuh kalian semuanya...!" teriak Rajenta. Selanjutnya tanpa berkata-kata lagi, Rajenta segera menyongsong serangan-serangan senjata lawan yang datangnya susul menyusul. Dalam kesempatan itu, sungguhpun dulunya Rajenta pernah kalah bertarung melawan mereka, namun Rajenta yang dulu sungguh jauh berbeda dengan Rajenta yang kini. Sekarang sewaktu-waktu dia dapat merubah ujudnya menjadi Siluman Harimau Kumbang.

Dengan mempergunakan ilmu silat tangan kosong, tubuhnya bergerak sangat cepat sekali. Satu dua kali terdengar jeritan murid-murid Lembah Weling, manakala tangan maupun kaki Rajenta menyerang dan memukul tubuh lawan-lawannya.

Perkembangan ilmu silat yang dimiliki oleh Rajenta yang sedemikian pesat sudah barang tentu membuat terkejut lawan-lawannya. Terlebih-lebih lagi Setra yang saat itu merupakan orang kedua setelah Jali Sajiwa.

Maka tanpa sungkan-sungkan lagi, dia pun ikut menerjang Rajenta yang sedang menghadapi keroyokan murid-murid Lembah Weling yang jumlahnya tidak kurang dari sembilan belas orang.

"Pergunakan jurus Pedang Iblis!" teriaknya kepada kembrat-kembratnya yang sedang berusaha menekan Rajenta.

"Criiiing!"

Pedang Setra yang berwarna kehitam-hitaman dan mengandung racun yang sangat keji itu pun telah tercabut dari sarungnya. Tak ayal lagi keroyokan itu pun semakin bertambah seru.

Sebaliknya, Rajenta sendiri dengan mempergunakan ilmunya para siluman, sampai sejauh itu masih mampu mengkandaskan serangan-serangan gencar yang datang menggebu-gebu.

"Shaaa...!"

Mengatasi yang lain-lainnya tubuh Setra yang sudah dilanda nafsu angkara murka itu langsung berkelebat-kelebat. Pedang di tangannya menderu mencecar pada bagian leher dan dada lawannya. Pada saat yang sama pula tujuh belas murid-murid Lembah Weling datang mencecar dari bagian belakang, depan dan samping. Sesaat Rajenta nampak kelabakan, dia berkelit sambil berusaha membebaskan diri dari sambaran pedang di tangan Setra.

"Wuuut!"

Serangan kilat yang dilancarkan oleh Setra luput, namun dari bagian belakang datang pula serangan dari kambrat-kambratnya.

"Brebet...!"

Rajenta mengeluh panjang, lalu membuang dirinya ke samping kini, selanjutnya berguling-guling menghindari serangan-serangan susulan.

"Groaaauuung!"

Dalam keadaan terguling-guling itu, Rajenta keluarkan jeritan yang sesungguhnya tak ubahnya bagai suara auman seekor harimau. Kenyataan itu membuat murid-murid dari Lembah Weling menjadi kaget, lalu tertegun sesaat.

Di lain pihak tidak hanya sampai di situ saja, suara auman beruntun itu pun seolah menyentakkan Rajenta dari tidurnya yang sangat menyakitkan.

"Hauuung! Groaar!"

Terdengar kembali suara auman itu, tapi tubuh Rajenta masih terus berguling-guling. Selanjutnya perubahan pun terjadi. Begitu tubuh Rajenta melompat, maka menjelmalah dia menjadi Siluman Harimau Kumbang yang sangat besar.

Pucat wajah murid-murid dari Lembah Weling dibuatnya. Namun sebelum rasa keterkejutannya itu lenyap sama sekali. Maka tanpa ampun lagi, Siluman Harimau Kumbang itu langsung menerjang mereka dengan sangat beringas sekali.

Satu demi satu lawan-lawan pun berjatuhan, tubuh mereka tercabik-cabik darah mengalir di manamana. Setra yang merupakan pemimpin dari mereka semua menjadi sangat marah sekali, maka tanpa ampun lagi dia segera memberi perintah pada sisa-sisa muridnya.

"Jangan gentar! Cincang tubuhnya...!" teriaknya kepada beberapa gelintir orang kawannya.

"Hiaaaa...!"

Setra kembali membabatkan pedangnya, saat mana Harimau Kumbang itu sedang sibuk merobekrobek tubuh lawannya dengan taring dan kukunya yang panjang-panjang.

"Craaaak...!"

Pedang di tangan Setra bagai membentur batu gunung saja layaknya manakala menghantam badan Siluman Harimau Kumbang tersebut. Setra sangat terkejut sekali.

"Arggh...!"

Kembali terdengar jerit menyayat murid-murid perguruan Lembah Weling.

"Grauuung...!"

Kembali terdengar suara auman yang sangat menggetarkan gendang-gendang telinga dan setiap hal itu terjadi, maka korban pun berjatuhan. Semakin lama murid-murid dari Lembah Weling itu hanya tinggal beberapa gelintir saja. Bukan main gusarnya Setra menghadapi Siluman Harimau Kumbang yang kebal terhadap berbagai senjata tajam itu.

"Grauuuung!"

Dengan sekali lompatan saja Harimau Kumbang yang sudah kalap itu menerjang ke arah Setra. Sementara Setra sendiri yang sudah merasa tidak sabaran itu pun telah membabatkan pedangnya dengan cukup telak. Kaki depan Siluman Harimau Kumbang datang menangkis.

"Criing! Craaak!"

Lagi-lagi tubuh Harimau Kumbang itu tidak terluka oleh babatan dan bacokan pedang di tangan Setra, sebaliknya dengan sangat beringas. Siluman Harimau Kumbang tanpa ampun menghajar tubuh Setra. Sungguhpun orang kedua dari Lembah Weling itu berusaha mati-matian untuk menghindari gigi dan kukukuku tajam Harimau Kumbang tersebut, namun tetap saja tubuhnya menjadi korban keganasan Harimau Kumbang itu.

Setra menjerit tertahan-tahan manakala kuku dan taring-taring tajam itu membenam di bagian pangkal leher, dada dan juga bagian tubuh yang lainnya.

Tubuhnya dalam waktu sekejap saja sudah tak tentu ujudnya. Hanya beberapa detik setelahnya. Tubuh Setra berkelejat-kelejat. Untuk kemudian tiada bangun dan bergerak-gerak lagi.

Siluman Harimau Kumbang itu mengaum memperdengarkan bunyi yang membuat ciut nyali siapa pun. Lalu sesaat dipandanginya mayat-mayat yang bergeletakan tumpang tindih tak karuan. Namun Harimau Kumbang itu nampaknya acuh saja. Selanjutnya dengan berjumpalitan tiga kali. Maka Siluman Harimau Kumbang penjelmaan Rajenta sudah berubah kembali ke dalam ujudnya semula.

"Kalian telah menebus kesalahan sendiri! Sayang Jali Sajiwa tidak ada bersama kalian. Tugasku masih banyak. Aku harus mencari Arca Harimau Kumbang itu! Kemudian baru kucari anakku, aku yakin dia masih ada di atas dunia ini...!" kata Rajenta seorang diri. Selanjutnya dengan langkah lesu dia meninggalkan mayat-mayat itu. Meninggalkannya begitu saja. Sampai kemudian tubuhnya menghilang begitu saja.

TAMAT