-->

Serial Pendekar Hina Kelana Eps 12 : Satria Penggali Kubur

 
Eps 12 : Satria Penggali Kubur


Hujan deras yang turun sejak pagi membuat tanah di sepanjang jalan yang mereka lalui menjadi lembab dan becek di sana sini. Namun sejauh itu tanpa menghiraukan derasnya curahan air hujan yang terus menggila, mereka tetap memacu kereta kuda yang berwarna hitam kecoklat-coklatan itu. Rombongan kereta kuda itu tak lama kemudian telah membelok di sebuah tikungan jalan yang sangat sempit. Kuda-kuda itu terus dipacu, sementara gerobak di belakang mereka yang memuat dua peti jenazah nampak tergoyang-goyang. Ketika lewat sepemakan sirih, sampailah mereka di sebuah makam yang sangat luas namun mengisyaratkan kesan angker.

Rombongan yang paling depan segera menghentikan laju kuda mereka, kemudian diikuti pula oleh kawan-kawan mereka yang berada di belakangnya. Sesaat setelahnya, beberapa orang di antara mereka nampak melompat dari punggung kudanya masingmasing.

Setelah saling berpandangan sesamanya, tak lama kemudian salah seorang di antara mereka nampak mengitarkan pandangan matanya ke segenap penjuru di sekitar makam tersebut. Tak seorang pun yang terlihat di sana, sejauh-jauh mata memandang. Hanya kerimbunan pohon kamboja yang sedang berbunga lebat saja adanya. Harum semerbak terasa menusuk penciuman rombongan itu.

Kini si Tinggi Tegap Muka Kunyit dan berpakaian seragam bergambar Kala Hitam di dada kiri, kembali menoleh pada orang-orang yang berada tidak begitu jauh dari padanya. Kemudian sambil mengeluselus jambangnya yang hitam lebat, maka dia pun berkata:

"Hemm! Agaknya si Tapak Dewa, manusia penggali kubur itu tidak ada di tempat saat ini...!" ucapnya seperti pada dirinya sendiri.

"Kalau begitu kita harus menunggu sampai dia kembali, Kakang Inggil...!" kata salah seorang di antara mereka yang berwajah buruk dan berambut sebatas pinggang.

Mendapat jawaban seperti itu, mendadak si Tinggi Tegap Muka Kunyit yang bernama Inggil itu nampak kernyitkan alisnya. Wajahnya yang kuning dan pucat itu segera berubah bagai kulit bunglon. Dan tiba-tiba saja dia berkata tegas.

"Apa katamu, Adik Karsa? Menunggu...? Bagiku tidak ada waktu untuk menunggu. Jenazah eyang guru sudah empat hari dalam perjalanan, waktu yang empat hari itu sudah sangat menyiksa jasadnya. Belum lagi jenazah Kakang Bonta yang sudah lima hari termasuk dalam perjalanan. Dua hari di depan jasad orang-orang yang paling kita hormati tentu sudah menjadi busuk...!"

"Aku tahu, tapi apa yang harus kita lakukan?" tanya Karsa dengan perasaan segan.

Si Tinggi Tegap Muka Kunyit nampak tercenung sesaat lamanya. Tetapi kemudian dia pun sudah berkata lagi.

"Kalau Tapak Dewa tidak ada di tempat, apa salahnya kalau kita yang menggali kubur untuk orangorang yang kita hormati...?"

"Tapi kakang, mana mungkin kita boleh melakukannya tanpa seizin Tapak Dewa?" Menyela Karsa dengan hati diliputi keraguan,

"Sungguhpun makam ini di bawah pengawasan Tapak Dewa, namun bukankah eyang guru dan Kakang Bonta juga merupakan orang-orang yang terhormat. Sudah selayaknya kita menguburkannya di tempat terhormat pula...!" tukas si Tinggi Tegap Muka Kunyi tegas.

"Kakang! Penjaga kubur ini seperti apa yang kudengar merupakan orang yang sangat sakti, dan makam ini juga berada dalam kekuasaannya. Bagaimana mungkin kita bisa berbuat sesuka hati kita...?" tanya Karsa, merasa tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh si Tinggi Tegap Muka Kunyit.

Diingatkan seperti itu, tiba-tiba laki-laki berjambang lebat itu kertakkan rahang. Dia nampak tidak senang mendengar apa yang dikatakan oleh salah seorang bawahannya yang juga masih merupakan adik seperguruannya.

"Perduli apa? Setan belang dari neraka sekalipun aku tak mau tahu. Sekarang suruh orang-orang kita mulai menggali dua kubur sekaligus...!" perintah Inggil tegas sekali.

"Tapi, Kakang...!" ucap Karsa ingin mengatakan sesuatu. Namun urung, karena dilihatnya orang yang menjadi wakil dari Perguruan Kala Hitam itu sudah menghitam parasnya. Dan secara tiba-tiba dia membentak;

"Kurang ajar...! Kau sudah mulai berani membantah perintah...?"

"Maa... maafkan aku yang bodoh ini, Kakang...!" kata Karsa terbata-bata.

"Kerjakan apa yang aku perintahkan!"

"Baik, Kakang...!" jawab Karsa. Lalu tanpa buang waktu lagi dia pun segera memberi isyarat pada beberapa orang anak buahnya. Orang-orang itu nampak berloncatan dari punggung kudanya masingmasing. Dua orang mengambil cangkul dan dua orang lainnya mengambil dua sekop yang berukuran besar. Lalu dengan diikuti oleh Inggil dan Karsa, kini mereka sudah memasuki pemakaman yang sangat luas itu. Kemudian tanpa menunggu perintah, empat orang murid Perguruan Kala Hitam itu pun mulai melakukan pekerjaannya. Begitu cangkul-cangkul yang mereka ayunkan itu menghempas tanah yang lembab, betapa terkejutnya murid maupun wakil ketua Perguruan Kala Hitam. Sebab cangkul-cangkul itu bagai menggempur lantai batu marmer saja layaknya. Terdengar bunyi berdenting begitu keras, orang-orang itu menjadi sangat penasaran sekali. Mereka mengulanginya! Tetapi tetap tanah yang mereka cangkul tetap tiada bergeming. Bahkan seolah-olah tanah tersebut semakin membatu.

Inggil dan Karsa saling berpandangan sesamanya, hati mereka diliputi rasa kejut dan tanda tanya. Tak lama setelahnya Inggil atau yang lebih dikenal dengan sebutansi Muka Kunyit Tangan Baja terdengar bergumam.

"Seumur hidup, baru kali ini aku menyaksikan kejadian seaneh ini...!"

"Agaknya apa yang didesas desuskan oleh kalangan persilatan bahwa Tapak Dewa selalu melindungi makam ini dengan Ajian Watu Pamiluto, inilah salah satu buktinya, Kakang...?" kata Karsa setengah ragu.

Inggil nampak tercenung untuk seketika lamanya begitu mendengar kata-kata adik seperguruannya. Wajahnya yang kuning kepucat-pucatan itu mendadak berubah memerah tetapi kemudian telah berubah kembali.

"Tapak Dewa benar-benar manusia sirik, tak pernah kusangka kalau manusia yang mengaku setengah dewa itu kiranya merupakan orang yang berpikiran picik...!" maki Inggil nampak gusar sekali.

"Sssst...! Kakang jangan keras-keras, kabarnya Tapak Dewa memiliki indera pendengar yang bisa menembus sampai ke alam gaib...!"

"Kucing kurap... kau kira aku mau percaya begitu saja dengan kabar yang tidak berketentuan itu. Puihh... sungguhpun Tapak Dewa memiliki indera setajam mata pedang sekalipun, jangan kira aku mau percaya...!" tukas Inggil semakin bertambah marah.

Usai dengan ucapannya itu, mendadak Inggil nampak berdiri bagai sebuah arca, sepasang matanya menatap tajam pada tanah tempat di mana dia berpijak. Sementara, bibirnya yang menyungging senyum sinis itu pun tampak berkemak kemik.

Tahulah Karsa maupun yang lain-lainnya bahwa saat itu Wakil Ketua Perguruan Kala Hitam itu sedang merapal Ajian Tangan Baja. Seperti mereka ketahui, kemampuan Ajian Tangan Baja selama ini jangankan hanya manusia biasa, sedangkan dinding karang sekalipun akan hancur berantakan dilanda ajian tersebut. Jangankan hanya tanah biasa yang secara aneh telah berubah mengeras seperti lantai beton. Tentu tidak ada apa-apanya.

Saat itu, setelah selesai merapal Ajian Tangan Baja, kedua tangan Inggil yang terkepal erat itu nampak terayun deras mengarah ke tanah tempat di mana dia berpijak. Satu sambaran angin yang sangat keras menyertai melesatnya kedua tangan yang telah teraliri tenaga dalam tersebut.

"Hiaaa...!" "Buk! Buk!"

Tanah tempat di mana mereka berpijak terasa bergetar hebat manakala kedua tangan Inggil membentur tanah kuburan itu. Namun betapa terkejutnya hati mereka karena ternyata tanah tersebut tidak bergeming sedikitpun juga. Inggil sendiri merasakan dadanya sesak dan tergetar hebat. Tangan kesemutan bagai ditusuki ribuan jarum. Wakil Ketua Perguruan Kala Hitam itu mencaci maki panjang pendek.

Lalu cepat-cepat dia berdiri dan kembali pada posisi semula. Kini dikerahkannya hampir segenap kemampuan yang dimiliki, dengan suara bergetar dia merapal Ajian Tangan Baja keras-keras. Tentu saja hal ini di luar kebiasaan, dan orang-orang Kala Hitam menyadari kalau wakil ketua mereka yang memiliki sifat angkuh ini sedang dalam keadaan marah besar.

Laki-laki bermuka kunyit itu terus melantunkan mantra-mantra Ajian Tangan Baja. Tak lama setelahnya, dari kedua tangan yang terkepal itu mengepullah uap putih yang menebarkan bau bunga tahi ayam. Sementara kedua tangannya telah memancar pula sinar merah menyala.

Sesaat tubuh Inggil tergetar, keringat menetes membasahi bajunya yang berwarna putih kecoklatan. Lalu setelah kedua tangan itu benar-benar telah berubah warna bagai bara api, maka tanpa buang waktu lagi dengan diiringi satu jeritan tinggi melengking. Inggil langsung saja menghantamkan tinju kanan kirinya pada tanah dekat telapak kakinya.

"Bruaaak!"

Terdengar bunyi berdebum, manakala tangan itu mencapai sasaran. Bumi bagai dilanda selaksa gempa, beberapa orang anak buahnya sendiri terpental beberapa depa jauhnya. Sementara itu kuda-kuda penarik kereta jenazah meringkik keras dengan kaki terlonjak-lonjak ke atas.

Sungguhpun begitu, tetapi nampaknya kali ini usahanya benar-benar mendatangkan hasil. Sebab begitu kedua tangannya dia sentakan kembali, nampak tanah tersebut melubang besar, bahkan muat untuk ukuran seorang jenazah. Inggil bangkit berdiri dengan sesungging senyum puas di bibirnya. Dari sorot matanya yang memancar tajam, nampak sekali kalau laki-laki setengah baya dan berjambang sangat lebat itu semakin bertambah sombong saja. Sesaat dia melirik pada kawan-kawannya. Lalu dengan sikap yang pongah dia pun segera berkata pada semua bawahannya.

"Kalian turunkan jenazah eyang guru dan Kakang Bonta. Tak usah bersusah pa-yah membuang tenaga. Sekejap aku mau membuat sebuah kubur lagi untuk Kakang Bonta...!" perintahnya dengan sikap yang dibuat-buat. Lalu tanpa berani membantah lagi, Karsa dan beberapa orang lainnya segera berjalan menuju kereta jenazah.

Sesaat setelahnya, murid-murid dari Perguruan Kala Hitam itu pun telah kembali ke tanah pemakaman tempat di mana Inggil sedang bersiap-siap untuk melepaskan pukulan Tangan Baja yang terkenal dahsyat itu. Bau bangkai mulai menyebar ke mana-mana, manakala dua peti jenazah itu mereka gotong memasuki halaman kuburan yang sepi dan angker.

Saat itu, tubuh Inggil nampak kembali tergetar, wajah semakin menegang. Seluruh pakaiannya basah kuyup oleh siraman air hujan dan keringatnya sendiri. Lagi-lagi dengan disertai jeritan menggeledek, laki-laki berewokan Muka Kunyit ini pun pukulkan tangan kanannya.

"Hiaaat...!"

"Dieerr...!"

Tanah di sekitarnya kembali tergetar, bahkan hampir saja dua peti jenazah yang sedang dipikul oleh para bawahan Inggil sendiri terlepas dari tangan para pengusungnya. Di lain pihak kembali terjadi keanehan yang membuat Inggil menjadi terperanjat bukan alang kepalang. Tanah yang dipukulnya tiada bergeming sedikitpun juga. Hal ini benar-benar di luar dugaan lakilaki yang memiliki kesombongan selangit itu. Inggil nampak memerah parasnya, dia sangat gusar dalam kegagalannya sendiri. Tanpa sadar, sebagaimana kebiasaannya, maka sumpah serapah pun berhamburan dari mulut Wakil Perguruan Kala Hitam.

"Kakang, mungkin si empunya tempat tidak merestui kita berbuat sembarangan di dalam pemakaman ini...?" ujar Karsa mencoba menyadarkan laki-laki bermuka pucat itu.

Mendengar ucapan Karsa yang seolah-olah mengguruinya, semakin bertambah gusarlah Wakil Perguruan Kala Hitam dibuatnya. Serta merta, sepasang matanya menatap tajam pada adik seperguruannya, dengan suara ketus dia pun segera menyela;

"Adi Karsa...! Sejak kapan eyang guru mendidik murid-muridnya menjadi sepengecut engkau? Sudah kukatakan bahwa eyang guru dan Kakang Bonta merupakan orang terhormat dan sudah selayaknya pula dikubur di tempat terhormat pula. Kita ini selalu berada di pihak yang benar. Jadi menurut hematku, sungguhpun Tapak Dewa yang menjadi pemilik kubur ini tidak ada, apa salahnya kalau kita mengubur orang yang kita muliakan di tempat ini. Sungguhpun kita belum mendapat izinnya. Pula soal itu bisa kita selesaikan kemudian...!" ucapnya marah.

Ucapan laki-laki Muka Kunyit itu, kiranya sungguh besar pengaruhnya bagi Karsa dan beberapa orang murid lainnya. Mereka menyadari andai saja Karsa berani membantah apa yang dikatakan oleh Inggil yang sedang dalam keadaan marah besar, semua itu bisa berakibat tak baik bagi mereka semua. Inggil adalah seorang wakil ketua perguruan yang sangat angkuh dan keras kepala. Itu sebabnya setelah dibentak sedemikian rupa, baik Karsa maupun yang lainnya menjadi terdiam seribu bahasa.

Namun di luar dugaan, tiba-tiba terdengar suara derai tawa yang membuat bulu kuduk mereka meremang berdiri.

Seiring dengan derai tawa itu, nampak pula melesat sosok tubuh dari halaman luar tanah pekuburan itu. Lalu dengan tanpa menimbulkan suara orang itu menjejakkan kakinya tidak begitu jauh dari tempat rombongan itu berdiri.

Laki-laki itu berusia berkisar enam puluh tahun, mengenakan jubah warna kuning yang sudah sangat lusuh. Tubuh laki-laki itu secara hampir keseluruhan dipenuhi dengan bulu-bulu halus. Badannya sangat kekar berotot liat, sepasang matanya nampak mencorong tajam, tak ubahnya bagai mata burung hantu di kegelapan malam.

Sungguhpun orang-orang dari Perguruan Kala Hitam ini belum pernah bertemu dengan Tapak Dewa atau yang lebih dikenal dengan julukan Satria Penggali Kubur, namun dari penampilan yang mereka lihat, mereka sudah dapat menduga bahwa laki-laki itulah orangnya.

Ketika mereka sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing, saat itulah laki-laki berjubah kuning itu berkata, pelan, tetapi penuh teguran.

"Lancang sekali kalian begitu berani memasuki peristirahatan terakhir milikku. Sudahkah kalian mendapat ijin dariku...?"

Ucapan yang bernada tidak senang ini sudah barang tentu membuat murid-murid Kala Hitam menjadi ciut nyalinya.

Seperti mereka ketahui, Tapak Dewa adalah seorang penggali kubur orang-orang terhormat. Tempat itu masih merupakan wakaf dari leluhurnya. Lebih dari itu dia juga merupakan seorang tokoh sakti yang dikenal sebagai satria yang dapat mendengar pembicaraan dari alam gaib. Dari kemampuan yang dimilikinya itu saja sudah merupakan satu bukti betapa kesaktian yang dimiliki oleh Tapak Dewa, sangat sulit untuk dijajaki. Namun nampaknya Inggil yang memiliki watak sombong yang berlebihan ini tidak mau perduli dengan apa yang didengarnya selama ini. Dengan pongahnya dia lalu menyela

"Saudara Tapak Dewa... sesungguhnya kami tidak bermaksud demikian. Tetapi karena tadi anda tidak berada di tempat, maka kami mengambil keputusan untuk membuat kubur buat eyang guru dan Kakang Bonta di tempat yang anda tunggui selama ini...!" Mendapat jawaban dari Wakil Kala Hitam, Ta-

pak Dewa nampak mendengus dengan wajah memerah karena tersinggung.

"Enak betul! Kubur ini bukan untuk nenek moyangnya siapa-siapa. Pekerjaanmu yang telah melanggar peraturan di sini saja sudah merupakan satu bukti bahwa kalian benar-benar tak pernah menghargai milik orang lain...!"

"Tapi saudara Tapak Dewa, semua itu kami lakukan karena sangat terpaksa sekali. Mayat eyang guru dan Kakang Bonta sudah hampir lima hari dalam perjalanan. Kami tak mau orang-orang yang kami hormati merasa sangat tersiksa karena terlalu berlama-lama dikuburkan. Karena kami sangat menghormatinya, apa salahnya kalau kami menguburkannya di tempat yang terhormat pula...?" kata Wakil Kala Hitam nampak membantah. Sudah barang tentu hal ini membuat Tapak Dewa semakin bertambah gusar dibuatnya.

"Siapa suruh bawa nenek moyangmu ke mari! Tokh yang namanya kuburan di mana-mana sama saja. Terhormat menurut ukuran manusia belum tentu terhormat di hadapan Sang Pencipta. Begitu juga sebaliknya...!"

"Jadi menurutmu apakah eyang guru dan Kakang Bonta bukanlah orang yang layak untuk dikubur di tempat ini...?" tanya Inggil dengan pandangan berapi-api. Tapak Dewa menyungging seulas senyum, kedua matanya menatap tajam pada Inggil. Sungguhpun selama ini dia sering dikenal sebagai orang misterius yang sangat jarang berkata-kata. Tetapi melihat tingkah Wakil Perguruan Kala Hitam, semakin lama dia merasa semakin tak sabar saja. Sesaat setelahnya dengan polos dia pun menyela;

"Manusia Muka Kunyit! Siapa pun boleh dikubur di makam ini, tetapi mereka harus minta ijin terlebih dulu denganku. Dalam penglihatanku eyang gurumu meninggal secara wajar. Tetapi kakang mu yang bernama Bonta itu mampus karena keserakahannya dalam mempelajari pukulan-pukulan sakti...!"

Ucapan Tapak Dewa benar-benar sungguh di luar dugaan mereka, Ingil memang tidak menyangkal bahwa eyang gurunya meninggal karena faktor usianya yang sudah sangat tua sekali. Dan sebaliknya dia pun tidak membantah bahwa Bonta tewas karena salah dalam menghimpun hawa murni. Tetapi sedikit pun dia tiada menyangka kalau Tapak Dewa dapat mengetahui secara persis semua kejadian itu. Sesaat laki-laki berjambang lebat itu nampak diam membisu. Wajahnya sebentar tertunduk dan di lain saat memandang pada Tapak Dewa dengan perasaan sangat penasaran sekali. Tak lama kemudian dia pun berkata:

"Lalu bagaimana...?"

"Aku hanya mengizinkan eyang gurumu saja yang pantas dikubur di peristirahatan milikku!" jawab Tapak Dewa tanpa ragu.

Mendengar keputusan Tapak Dewa, betapa terperanjatnya semua murid-murid Perguruan Kala Hitam dibuatnya. Sementara itu Inggil sudah tak dapat lagi membendung kesabarannya. Laki-laki Muka Kunyit itu memerah parasnya. Tubuhnya nampak menggigil karena menahan perasaan amarah yang sejak tadi dia pendam-pendam. Serta merta dia membentak.

"Tapak Dewa, lancang sekali mulutmu! Engkau benar-benar telah menghina kami! Jauh-jauh kami dari Puncak Berkabut datang ke pemakaman mu ini, kiranya sedikit pun engkau tak memandang muka pada Eyang Guru Anjasmoro...!"

"Weeeiii... sial betul engkau ini! Muka setan tak tahu adat... siapa suruh membawa-bawa bangkai sampai sejauh itu? Kolong langit masih sangat luas, aku sendiri tak pernah menyuruh kalian datang ke mari...!" tukas Tapak Dewa tak kalah gusarnya.

"Bangsat... engkau benar-benar telah membuat aku marah Tapak Dewa! Kalau kau tetap bersikeras tidak mengijinkan jenazah Kakang Bonta dikubur di sini. Kau benar-benar akan menyesal...!" ancam Wakil Ketua Perguruan Kala Hitam.

Tapak Dewa tersenyum pahit begitu mendengar ucapan Inggil, sebagai orang yang memiliki indra pendengar yang mampu menembus alam gaib. Betapa dia teringat sangat banyak sekali manusia-manusia seperti Inggil itu, yang hingga pada akhirnya sampai hari matinya tetap mengalami siksaan-siksaan yang tiada kunjung berakhir.

Begitu pun dia masih dapat bersikap lunak pada laki-laki Muka Kunyit dari Perguruan Kala Hitam itu.

"Hemmm! Sungguh tak kusangka kalau Perguruan Kala Hitam yang begitu kondang ke seantero penjuru negeri, kiranya memiliki murid yang tidak pernah memandang muka pada orang lain...!" kata Tapak Dewa, seraya geleng-gelengkan kepalanya.

"Tapak Dewa! Aku tak butuh khotbah mu, katakan saja engkau memberi izin pada Kakang Bonta untuk dikubur di sini atau tidak...?" kata Inggil setengah berteriak.

"Sebagaimana ucapanku tadi, semuanya tidak akan pernah ku rubah." jawab Tapak Dewa nampak tenang sekali.

"Sreeek...!"

Mendadak Inggil sudah menarik setengah badan senjata dari sarungnya. Dalam pada itu, Tapak Dewa cepat-cepat mencegah.

"Manusia Muka Kunyit! Kuperingatkan padamu, sarungkan kembali Pedang Kala Hitam pada tempatnya. Andai tidak...!"

"Andai tidak kau bisa apa Tapak Dewa...?" tukas Inggil menyela.

Laki-laki penggali kubur itu terdiam, sebaliknya tangan kanannya malah memilin-milin jenggotnya yang tidak seberapa lebat. Sementara itu, beberapa orang murid Kala Hitam lainnya nampak sangat cemas sekali. Sebab andai Inggil terlibat dalam pertarungan, sudah barang tentu mereka juga akan terbawa-bawa juga. Di lain pihak mereka sendiri belum mengetahui secara pasti betapa hebatnya Satria Penggali Kubur yang bernama Tapak Dewa. Saat itu, dengan ketenangan luar biasa dia menyambungi ucapannya yang sempat terhenti.

"Ah... di mana-mana manusia selalu sengsara karena tidak tahu siapa dirinya sendiri. Mereka sering bertanya-tanya, tentang siapa dirinya, tentang keberadaannya. Untuk apa dilahirkan. Menyesal datangnya selalu terlambat dan betapa pula mereka jarang yang tahu, kalau dosa itu selalu menyeret mereka dalam penderitaan yang teramat panjang...!"

"Tutup khotbah mu, Gembel Penggali Kubur...!" maki Inggil sambil mencabut Pedang Kala Hitam yang berwarna hitam pula.

"Kau telah melanggar apa yang seharusnya tidak kau lakukan, Muka Kunyit. Tidak kau dengarkan rintihan dan jerit di alam kubur sana? Mereka-mereka itu semasa di dunia mengaku dan diakui sebagai orang terhormat. Tetapi di alam kubur mereka tak menutupi segala perbuatan baik buruk. Kini mereka merasakannya, aku mendengar apa yang tidak kalian dengar...!"

"Jahanam! Manusia sinting mampus-lah...!" "Hiaaa...!"

Bersamaan dengan makian dan teriakanteriakannya, serentak Inggil langsung menyerang Tapak Dewa. Sungguhpun mereka ini berasal dari golongan lurus, namun dari sambaran angin yang ditimbulkan akibat babatan maupun tusukan pedang di tangannya, Tapak Dewa dapat merasakan adanya hawa keji yang menyertai serangan-serangan ganas tersebut. Sejauh itu Tapak Dewa masih nampak tenangtenang saja. Begitu serangan yang bertubi-tubi itu menderu ke arahnya, dia geser kaki kanannya ke belakang. Sementara badan nampak membungkuk seten-

gahnya. Wakil Ketua dari Perguruan Kala Hitam itu nampak sangat penasaran sekali begitu serangannya yang pertama dapat dikelit oleh pihak lawan dengan begitu mudah. Lalu dengan mempergunakan jurus Pedang Kala Hitam Menyengat Babi Hutan, dia kirimkan satu serangan susulan.

Pedang Kala Hitam kembali menderu dan berkelebat mencecar pertahanan lawan dari berbagai penjuru. Tapak Dewa keluarkan suara tawa tertahan, dan seiring dengan suara tawanya itu tiba-tiba tubuhnya berkelebat lenyap. Hanya desiran-desiran angin yang begitu keras saja yang memberi tanda bahwa Satria Penggali Kubur yang sudah cukup berumur ini ada di sekitar laki-laki Muka Kunyit.

"Hiaaat...!"

Kembali terdengar pekikan Inggil, Pedang Kala Hitam membabat ke arah bayang-bayang tubuh Tapak Dewa. Pedang di tangan laki-laki sombong dari Perguruan Kala Hitam semakin bertambah sebat, hawa keji semakin terasa ganas memenuhi udara di sekitarnya. Tapi sejauh itu, pedang di tangan Inggil masih belum juga mampu menyentuh kulit tubuh lawannya. Bahkan Inggil sendiri merasakan, semakin cepat dia menyerang Tapak Dewa, semakin bertambah gila pula gerakan si Penggali Kubur dalam menghindar. Setelah pertarungan berlangsung belasan jurus, lama kelamaan Inggil menjadi sangat jengkel sekali. Apalagi dia melihat orang yang menjadi lawannya bertarung tak pernah membalas serangannya. Sebaliknya malah cuma mengelak dan menghindar. Maka dia pun sudah tak dapat menahan kesabarannya, sesaat kemudian dia membentak;

"Manusia siluman...! Nama besarmu melambung setinggi langit, namun tak kusangka kalau hatimu sepengecut tikus cecurut...?!"

"Jleeeeegk!" Lima langkah Tapak Dewa tepat berdiri dari hadapan Wakil Ketua Perguruan Kala Hitam. Sesaat dia memandang pada semua orang yang berada di sekelilingnya. Dan kiranya pada saat itu, baik Karsa maupun delapan orang murid lainnya telah diperintahkan oleh Inggil untuk mengepung Tapak Dewa.

"Sialan Muka Kunyit, kalau engkau ingin caricari perkara denganku. Janganlah kau bawa-bawa orang lain...!"

"Hua ha ha.,.! Engkau takut! Itu makanya ada baiknya kalau kamu memberi izin kubur untuk Kakang Bonta !" rutuk Inggil dengan tawa mengejek.

"Tidak pernah. Tetapi aku malah takut pada diri sendiri !"

Dengan sesungging seringai menjijikan, lakilaki angkuh itu pun memberi aba-aba pada orangorangnya.

"Anak-anak mari kita cincang tikus kuburan ini beramai-ramai !"

Usai dengan ucapannya itu, tanpa berani membantah murid-murid Perguruan Kala Hitam langsung menyerbu Tapak Dewa.

Tak dapat dihindari lagi, dalam waktu sekejap pertarungan sengit pun terjadi. Areal kuburan yang tadinya sunyi sepi, kini telah berubah menjadi hiruk pikuk suara teriakan dan denting beradunya senjata yang terus berkelebat tanpa ampun.

*** 3

Tapak Dewa bergerak lebih cepat lagi, sungguhpun begitu orang-orang dari Perguruan Kala Hitam terus memburunya ke mana pun dia menghindar. Pedang sejenis yang dipergunakan oleh murid-murid Kala Hitam memang agak merepotkan Tapak Dewa. Sebab sungguhpun mereka hanya merupakan murid, namun mereka adalah murid-murid pilihan yang memiliki ilmu silat dan kepandaian yang sudah mencapai taraf sempurna.

Di lain pihak, Tapak Dewa sungguhpun seorang pendekar yang memiliki watak angin-anginan, namun selamanya dia belum pernah turun tangan secara keji. Apalagi dia menyadari bahwa murid-murid Kala Hitam itu hanyalah demi menjalankan perintah seorang atasan. Maka dia sudah memutuskan untuk melumpuhkan Manusia Muka Kunyit yang jadi biang keonaran di pekuburan yang dia jaga selama ini.

Beberapa jurus di depan, Tapak Dewa kelihatan mulai terdesak. Senjata di tangan laki-laki Muka Kunyit, nyaris merobek bagian punggungnya. Sementara itu Karsa yang menyerang Tapak Dewa dari bagian depan terus mendesaknya dengan babatan-babatan pedang di tangannya.

"Hiaat...!"

Tubuh Tapak Dewa nampak melentik ke udara, bersamaan dengan itu Inggil telah pula melepas beberapa ekor kala berbisa menyusul melesatnya tubuh Tapak Dewa.

"Jiiit!"

Empat ekor kala hitam meluruk tubuh Tapak Dewa yang masih berjumpalitan di udara. Lesatan senjata rahasia yang berupa Kala Hitam itu sedemikian cepatnya. Masih untung saat itu yang mendapat serangan mendadak itu Tapak Dewa adanya, andai tidak sudah dapat dipastikan orang yang mendapat serangan Kala Hitam akan menemui ajalnya pada saat itu juga.

"Heeeeess!"

Tapak Dewa pergunakan ujung jubahnya untuk menangkis datangnya serangan kala-kala berbisa tersebut.

Karena samplokan ujung jubahnya itu sengaja dialiri tenaga dalam yang cukup kuat. Akibatnya senjata rahasia yang berupa kala hitam tersebut kandas di tengah jalan. Bahkan kala yang mengandung racun yang sangat mematikan itu berpentalan ke segala arah dengan keadaan mati.

Inggil memaki panjang pendek begitu mengetahui serangan-serangan mautnya dapat dipatahkan oleh Tapak Dewa dengan cara yang sangat begitu mudahnya. Dalam kemarahannya yang meledak-ledak itu, tiba-tiba dia sambitkan Pedang Kala Hitam yang berada dalam genggamannya.

"Ziiing...!"

Tapak Dewa yang baru saja menjejakkan kakinya di atas permukaan tanah, nampak terkejut sekali. Namun itu hanya sekejaban saja, karena saat berikutnya dengan tangkas sekali dia sudah berkelit.

"Creeep...!"

Alangkah terkejutnya Inggil dan murid-murid Kala Hitam lainnya begitu melihat kenyataan bahwa Tapak Dewa menangkap lesatan Pedang Kala Hitam dengan giginya.

Satu kelihaian yang sangat langka. Dan seumur hidup mereka belum pernah melihat kepandaian seperti apa yang dimiliki oleh Tapak Dewa. Dalam ketertegunan mereka, tiba-tiba Satria Penggali Kubur sudah membentaknya:

"Bangsat Muka Kunyit! Kukira aku cukup bersabar atas kesombonganmu, tetapi karena engkau seperti menghendaki nyawaku. Maka aku tak akan memberi hidup lebih lama lagi. Kini bersiap-siaplah engkau untuk mati. Hiiaaaa...!"

Seiring dengan teriakan yang serasa bagai meruntuhkan gendang-gendang telinga itu. Maka dengan mempergunakan Pedang Kala Hitam milik lawannya, Tapak Dewa langsung menerjang si Muka Kunyit yang sangat sombong itu. Selain Inggil seorang. Muridmurid Kala Hitam tak ada yang berani turun tangan untuk membantu wakil ketua mereka.

Di lain pihak, saat itu juga Tapak Dewa dengan pedang terhunus milik lawannya, segera kirimkan serangan-serangan yang sangat dahsyat. Karena laki-laki penggali kubur itu mempergunakan Jurus Bayangan Malaikat, maka sepuluh jurus kemudian, Inggil sudah nampak jatuh di bawah angin. Laki-laki berjambang lebat yang merupakan wakil dari Perguruan Kala Hitam itu, berusaha mati-matian keluarkan segenap kemampuannya. Jurus demi jurus silih berganti, namun semua itu tetap tidak merubah kedudukan. Hingga sampai pada akhirnya, sampailah dia pada puncak kesaktian yang dimilikinya.

"Haiiitt...!"

Laki-laki Muka Kunyit bersalto beberapa kali, sengaja dia menjauhi gempuran-gempuran pedang Tapak Dewa. Lalu, tanpa membuang-buang waktu lagi, Inggil segera rangkapkan kedua tangannya. Sesaat kemudian terdengar bunyi mencicit bagai suara ribuan ekor tikus dari bibirnya. Tubuh bergemetaran, peluh sekejap saja telah membasahi jubah hitam yang dikenakannya. Seiring dengan itu dari kedua tangannya yang menyatu di depan dada. Keluarlah uap hitam yang semakin lama semakin menebal, sehingga lamakelamaan menyelimuti dirinya sendiri.

Di lain pihak nampaknya murid-murid Perguruan Kala Hitam dan juga Karsa, menjadi terkesima. Mereka menyadari saat itu wakil ketua perguruan mereka sudah mengerahkan satu pukulan sakti yang diberi nama Raja Kala Merah yang di kolong langit ini tiada duanya. Pukulan itu terkenal sangat keji dan berbahaya sekali. Siapa pun yang terkena pukulan maut itu, sedetik pun nyawanya tidak bisa tertolong lagi. Dan seperti mereka ketahui pula, bahwa eyang gurunya dulu sempat berpesan. Siapa pun dari mereka sangat dilarang mempergunakan Pukulan Raja Kala Merah itu terkecuali bila dirinya merasa benar-benar berada di pihak yang benar. Tetapi kenyataannya kini wakil ketua mereka sengaja mempergunakannya, hanya demi sebuah kesombongan. Sungguhpun hati mereka merasa sangat tidak setuju dengan cara-cara yang ditempuh oleh Inggil. Tetapi untuk melarang mereka tiada memiliki keberanian.

Saat itu Tapak Dewa yang sudah menghentikan serangan, begitu mengetahui gelagat yang kurang baik, dia langsung membentak:

"Anak manusia yang bernama Inggil! Engkau tarik baliklah Pukulan Raja Kala Merah yang sangat keji itu. Andai tidak, engkau akan menjadi manusia yang paling merugi di liang kubur sana...!"

Saat itu, sungguhpun laki-laki Muka Kunyit itu terkejut hatinya karena dia tiada menyangka kalau lawannya dapat pula mengetahui pukulan yang akan dilepaskannya. Namun bibirnya tetap menyungging senyum licik. Kemudian tanpa menghiraukan peringatan pihak lawannya. Dengan diawali satu jeritan keras dan sambung menyambung maka tubuhnya melesat laksana kilat meluruk ke arah di mana posisi lawan berada. Satu sapuan gelombang hitam yang berhawa dingin luar biasa menderu tanpa dapat terbendung lagi. Tapak Dewa tidak tinggal diam. Dengan mempergunakan Ajian Mayat Arca dia nampak berdiri mematung. Seluruh pikirannya menyatu dengan hati, sedangkan sepasang matanya langsung terpejam.

Laki-laki Muka Kunyit mengira bahwa apa yang dilakukan oleh Tapak Dewa adalah sesuatu yang sangat sembrono. Bahkan dia sendiri sudah memastikan, sekali saja pukulan yang dilepaskannya menghantam pihak lawan. Maka akan tamatlah riwayat manusia yang berjuluk Ksatria Penggali Kubur itu.

Sedetik kemudian pukulan Raja Kala Merah yang dilepas oleh Wakil Ketua Perguruan Kala Hitam itu melabrak tanpa ampun.

"Praaangg...!"

Bukannya tubuh lawan yang hancur maupun tewas akibat pukulan yang sangat keji itu, sebaliknya malah tubuh Inggil terbanting di atas tanah. Sementara itu Tapak Dewa tetap tegak bagaikan arca.

Sungguhpun Wakil Ketua Perguruan Kala Hitam, bagai remuk dadanya bahkan sempat muntah darah kental akibat pukulannya membalik. Akan tetapi begitu melihat lawannya tiada bergeming sedikitpun juga, maka dengan cepat dia bangkit kembali. Kedua tangannya langsung merangkap ke depan dada. Kini dia sudah bersiap-siap kembali melepas pukulan maut tersebut. Tubuh Inggil semakin tergetar hebat, wajahnya yang kuning kunyit itu kini berubah memerah, sepasang matanya tak kalah merahnya. Saat itu Tapak Dewa masih tetap dengan posisinya. Detik selanjutnya, laki-laki Muka Kunyit itu dengan diawali satu bentakan bagai ribuan suara tikus kembali kirimkan satu pukulan yang lebih ganas lagi.

"Wuuut!" "Krontaaang...!"

Tak ubahnya bagai membentur arca dewa saja layaknya, pukulan yang dilakukan oleh Inggil mencapai sasarannya. Tapak Dewa tiada berkedip sedikitpun juga, sebaliknya Inggil menerima akibat yang lebih parah lagi. Ajian Mayat Area benar-benar merupakan satu perisai yang benar-benar sangat luar biasa. Sebab ajian itu memiliki sifat mengembalikan serangan yang dilakukan oleh pihak lawannya.

Kala itu Inggil yang terlempar sepuluh tombak jauhnya. Pada bagian kepalanya nampak remuk karena membentur batu nisan kuburan. Tubuhnya membiru akibat pukulan yang dilepaskan membalik dan memakan dirinya sendiri. Laki-laki angkuh yang memiliki jambang lebat itu kelihatan mengerang lirih, dengus napas terdengar bagai seekor kerbau yang disembelih. Sementara darah kental yang bergumpal-gumpal terus meleleh dari kuping hidung serta mulutnya.

Ketika itu Tapak Dewa seperti biasa saja, seolah merasa tak pernah terjadi sesuatu di tempat itu. Beberapa tindak dia melangkah, kemudian secara silih berganti dipandanginya tubuh Inggil yang sudah putus nyawanya.

Setelah itu dia berpaling pada murid-murid Perguruan Kala Hitam lainnya. Setelah itu, dengan suara pelan namun berwibawa dia memberi perintah.

"Kuberi kesempatan pada kalian untuk menguburkan jenazah eyang guru kalian di pemakaman ini. Tetapi aku tetap tidak memberi izin pada saudara kalian yang bernama Bonta itu, apalagi manusia sombong yang bernama Inggil...!"

"Lalu bagaimana dengan mayat kakang-kakang kami itu, Ki Sanak...?" tanya Karsa mencoba memberanikan diri.

"Jenazah dua orang lainnya aku tak perduli! Aku muak mendengar lolongan orang-orang yang berlumur dosa di dalam liang kubur sana...!" tukas Tapak Dewa tegas-tegas.

"Baiklah, Ki Sanak, kami berterima kasih atas kemurahanmu...!"

"Kerjakan...!"

Jawaban Tapak Dewa sudah terdengar menjauh, bahkan begitu mereka menoleh, Satria Penggali Kubur itu telah lenyap dari pandangan mereka.

"Hemmm. Dia datang dan pergi bagai setan kuburan saja layaknya...!" gumam salah seorang di antara mereka.

"Ssst! Jaga mulutmu, dia mendengar apa saja yang kita bicarakan. Bisa-bisa kita mampus semua!" menyela Karsa dengan perasaan was-was.

Sesaat kemudian keadaan di sekitarnya menjadi sepi kembali. Hanya sesekali saja terdengar bunyi cangkul mereka menghunjam ke dalam tanah.

Nampaknya mereka bekerja sangat cepat sekali, sebentar saja pekerjaan penggalian itu sudah selesai. Cepat-cepat mereka membuka peti mayat eyang gurunya. Bau bangkai menebar ke mana-mana saat peti jenazah itu terbuka, keadaan jenazah sudah membengkak di sana sini, bahkan pada bagian perut mayat tersebut sudah membusung sebesar tempayan. Dengan sangat berhati-hati mereka menggotong jenazah eyang guru mereka untuk dimasukkan ke liang lahat. Pekerjaan itu pun usai setelah lebih kurang setengah jam kemudian.

Setelah memberi penghormatan yang terakhir, mereka pun segera memberesi mayat Wakil Ketua perguruan mereka yang masih tetap tersender di bibir batu nisan. Mayat laki-laki berjambang lebat itu kemudian mereka masukkan ke dalam peti bekas dipakai eyang guru mereka.

Semuanya nampak berlalu begitu cepat, kereta kuda kembali berjalan menelusuri jalan yang sempit lagi becek. Sementara dua peti jenazah yang berada di belakang kereta kuda nampak terguncang-guncang dihempas batu-batu jalanan.

4

Dengan langkah tertatih-tatih, gadis itu dengan sabar dan ketabahan luar biasa, terus memapah pemuda tampan yang berada di sebelahnya. Sesekali si gadis terpaksa mengurungkan langkahnya, manakala pemuda yang bergelayut di bahu kanannya itu merintih-rintih sambil memegangi dadanya yang terus berdenyut sakit luar biasa.

Pukulan Iblis Menembus Maut, yang bersumber dari tenaga inti murni itu memang berakibat sangat luar biasa bagi pemuda yang berjuluk Pendekar Hina Kelana ini. Bagaimana kan tidak, Buang Sengketa yang masih keturunan Raja Piton Utara yang berasal dari Negeri Bunian itu, sesungguhnya adalah seorang pendekar tangguh yang memiliki kekebalan terhadap segala jenis racun berbisa sekalipun.

Tetapi pukulan Iblis Menembus Maut yang pernah dilancarkan oleh si guru iblis (Dalam episode Sepasang Iblis Bermata Dewa) kiranya merupakan pukulan raja dari segala macam pukulan beracun pula.

Hal inilah yang tak pernah disadari oleh pemuda dari Negeri Bunian itu. Sehingga kini dia harus menerima akibat yang sangat fatal sekali. Sungguhpun dia masih mempunyai harapan hidup sekitar dua puluh hari lagi, namun untuk hidup selanjutnya dia harus berusaha keras untuk mencari seorang tabib yang benar-benar tahu bagaimana caranya menyembuhkan pukulan beracun yang kini sudah mulai menjalar ke segenap pembuluh darahnya.

Masih untung dalam keadaan begitu, Wanti Sarati, yaitu gadis yang selama ini merindukan kehadiran si pemuda dapat bertemu dengan Pendekar Hina Kelana. Andai tidak, tentu memperjuangkan hidup seorang diri akan lebih sulit lagi.

Siang malam gadis bermata sendu ini selalu dengan setia merawat orang yang paling dia kagumi di dalam hidupnya. Gadis itu tidak pernah mengeluh, bahkan setiap saat dia selalu mengkhawatirkan keadaan si pemuda yang kian hari kian memburuk. Berpuluh-puluh tabib telah mereka temui, namun tak seorang pun dari mereka yang mampu menyembuhkan pukulan beracun yang diderita oleh Pendekar Hina Kelana.

Tubuh pemuda itu nampak semakin pucat, panas badannya selalu berubah-ubah. Terkadang tubuhnya panas luar biasa, namun di lain saat menjadi dingin bagai sudah tak bernyawa.

Keadaan seperti itu sudah barang tentu membuat cemas hati si gadis. Dia nampak bingung. Bahkan sering tidak memperdulikan dirinya sendiri. Sungguhpun begitu Wanti Sarati kiranya bukanlah seorang gadis yang kenal putus asa. Dia terus berusaha mencari  tabib yang mampu menyembuhkan racun yang diderita oleh pendekar yang sangat dikaguminya itu.

Langkah selalu membawanya untuk berusaha, tanpa sadar kini dia telah sampai di daerah Tanah Putih. Yaitu sebuah daerah yang hampir keseluruhan tanahnya terdiri dari tanah batuan kapur. Setiap siang hari, daerah itu panasnya bukan main.

Pendekar dari Negeri Bunian itu kembali merintih, lalu memberi isyarat pada Wanti Sarati untuk beristirahat.

Setelah sampai di sebuah pohon yang sangat rindang, maka si gadis segera menyandarkan tubuh Buang Sengketa di bawah sebatang pohon besar itu. Pendekar Hina Kelana menarik nafasnya yang agak tersengal-sengal. Sejenak setelahnya dia memandang pada si gadis dengan tatapan iba. Dia merasa sangat kasihan sekali pada gadis itu, sudah berhari-hari si gadis kurang tidur. Semua itu telah dilakukannya dengan sangat ikhlas, penuh kasih sayang bahkan, ah... pendekar itu mengeluh dalam hati. Sejenak dia membuang gundah di hatinya jauh-jauh. Dia tak ingin melihat Wanti Sarati menangisinya, apabila dia menutup mata nantinya. Sampai akhirnya dia pun berkata pelan.

"Wanti...! Kecil sekali harapanku untuk dapat terbebas dari racun terkutuk ini. Aku merasa tak kuat untuk bertahan hidup lebih lama, bernapas pun rasanya sangat sulit bagiku...!" rintih Pendekar Hina Kelana. Sudah barang tentu ucapan si pemuda membuat pedih hati Wanti Sarati.

"Paman...! Paman tak boleh berkata begitu, kita akan terus berusaha, pula. Waktu yang ditentukan masih dua puluh hari lagi. Kita masih punya waktu dan kesempatan...!" Pendekar Hina Kelana nampak tersenyum pias, begitu mendengar ucapan si gadis. "Kau tak tahu, Nduk. Betapa pukulan beracun

yang ku derita benar-benar sangat berbahaya sekali...!" "Aku tahu paman, tapi sebagai manusia dalam keadaan bagaimana pun kita harus selalu berusaha untuk mencapai sesuatu...!" kata Wanti Sarati lirih se-

kali.

"Aurrgghk...!"

Mendadak Buang Sengketa menjerit keras sambil memegangi dadanya. Begitu dia terbatuk, maka menggelogoklah darah kental kehitam-hitaman dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, maka tubuh pemuda berwajah tampan itu terkulai, Wanti Sarati menjerit histeris begitu melihat keadaan Buang Sengketa yang sangat mengenaskan ini. Si gadis segera meraba denyut nadi si pemuda, sungguhpun denyut darah itu masih ada tetapi sangat lemah sekali. Bahkan kini seluruh tubuh si pemuda menjadi dingin luar biasa. Walaupun Wanti Sarati merupakan seorang gadis yang sangat tabah, namun nalurinya sebagai wanita membuat dia menangis demi melihat keadaan yang terjadi pada Buang Sengketa.

"Paman... Paman Kelana, jangan kau tinggalkan Wanti, Paman.... Paman...!" isak Wanti Sarati sambil memeluki tubuh Pendekar Hina Kelana.

Sementara pada saat itu di luar sepengetahuan Wanti Sarati kiranya ada dua pasang mata yang sejak tadi memandangi keadaan mereka berdua. Pemilik dua pasang mata itu terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan berusia sudah sangat lanjut sekali. Baik laki-laki maupun perempuan berumur itu masing-masing berkepala botak. Berpakaian kembangkembang, sementara dari mulutnya terdengar bunyi mendesis bagai suara sempritan. Di tangan kedua orang ini nampak pula tergenggam sebuah tasbih berukuran besar. Sementara di bagian pinggang mereka nampak sebuah senjata berbentuk bulan sabit. Dunia persilatan mengenalnya sebagai si Pengumpul Barang Kuno dari Bangkalan. Selama malang melintang dalam dunia persilatan mereka dikenal dengan julukan Sepasang Clurit Maut dari Bangkalan. Dua botak dari Bangkalan ini terkenal sebagai orang yang telengas dan sangat berangasan sekali.

Dan kalau hari itu dia sampai di Tanah Putih hal itu hanyalah demi ingin mengetahui lebih jelas tentang sepak terjang seorang pendekar muda dengan Pusaka Maut Golok Buntungnya. Lebih dari itu mereka juga berhasrat ingin memiliki Pusaka Golok Buntung dan periuk bertuah yang saat ini juga berada di bagian bahu kiri si pemuda.

Dalam pada itu laki-laki botak sudah menoleh pada perempuan botak yang berdiri di sebelahnya. Lalu dua orang bangkotan yang sudah bau tanah itu pun saling berbisik sesamanya.

"Istriku... agaknya pemuda yang dalam keadaan kelenger itulah yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia persilatan di seantero negeri...!" ujar si laki-laki botak yang bernama Nanang.

"Hemm, dugaanku pun begitu suamiku... tetapi mengapa dia sampai bisa terkena pukulan beracun seperti itu. Bukankah menurut cerita yang kita dengar, bahwa pendekar muda yang berjuluk si Hina Kelana dengan senjata andalan Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto yang maha dahsyat itu merupakan pendekar yang sangat kebal dengan segala macam pukulan beracun...?" jawab si nenek berkepala botak.

Dari nada pembicaraan mereka yang terdengar mesra dan akrab, nyata sekali kalau keduanya merupakan pasangan sejoli tua yang sangat serasi.

"Istriku, ada baiknya kalau kita turun tangan sekarang juga! Pemuda berpakaian gembel itu lagi semaput...!"

"Tetapi bagaimana dengan gadis yang menyertainya itu...?" tanya si nenek berkepala botak, hampirhampir tak terdengar.

Si kakek botak tersenyum simpul, lalu tanpa menoleh dia pun menjawab.

"Itu persoalan yang gampang. Kita rebut dulu Pusaka Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto yang bikin gempar itu. Jika saja perempuan manis itu menghalangi maksud kita. Biar ku kepruk kepalanya...!"

"Hemm! Ide yang cukup jitu. Engkau memang suami yang selalu berpikiran cerdas. Itu makanya dulu aku begitu tergila-gila padamu...!" ucap nenek berkepala botak sambil lirik-lirik mesra.

"Lha wong aku kok... he... he... he...!" Si kakek botak bangga, bahkan hidungnya yang mancung ke dalam itu sampai kembang kempis saking bungahnya. Bersamaan dengan ucapannya itu, maka kakek dan nenek berkepala botak nampak melesat ke luar dari tempat persembunyiannya.

Dari gerakan mereka yang lincah dan gesit itu saja sudah dapat diduga bahwa kedua orang ini memiliki ilmu mengentengi tubuh yang benar-benar sudah mencapai taraf kesempurnaan.

Hanya dalam waktu sekedipan mata, Sepasang Clurit Maut itu sudah menjejakkan kakinya tiga tindak di belakang Wanti Sarati.

Nampaknya gadis itu sangat terkejut sekali demi melihat kehadiran kakek nenek berkepala botak ini. Dan kiranya dia menyadari bahwa kehadiran dua orang manusia yang belum dikenalnya itu membawa maksud-maksud tak baik.

Tetapi belum lagi keraguan dalam hatinya terjawabkan. Tiba-tiba si nenek berkepala botak sudah menghardiknya:

"Bocah! Pacaran di tempat yang sepi memang sungguh asyik sekali, berpeluk-pelukan mesra seperti itu. Hemmm... bukan main, tetapi ada baiknya kalau sekalian kau telanjangi saja pemuda itu, dia pemuda yang gagah dan tampan. Yang pasti engkau tak bakalan kecewa karenanya. !"

Bukan main gusar nya Wanti Sarati demi mendengar ucapan si nenek botak yang mesum dan sangat kurang ajar itu. Dia benar-benar merasa terhina, bahkan sebentar kemudian parasnya yang kuning langsat itu pun nampak menjadi merah padam. Lalu cepatcepat digesernya kepala Buang Sengketa yang tak sadarkan diri itu dari pangkuannya. Sekejap kemudian dia sudah bangkit berdiri. Sepasang matanya mencorong tajam dan memandang pada kedua orang yang berdiri di hadapannya. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Kakek botak dan nenek botak itu sedikit pun tiada dia kenal.

Karena nenek kepala botak itu telah bersikap kurang ajar padanya, maka kini Wanti Sarati tanpa menaruh sikap hormat sedikit pun pada orang itu langsung membentak si. nenek botak.

"Weii... kutu kupret. Manusia tuyul berotak ngeres, berani sekali engkau menghinaku...!" tukas Wanti Sarati sambil bertolak pinggang.

"Hi... hi... hi...! Bocah kencur bau ingus, aku tak mau basa basi. Sekarang serahkan saja pemuda itu pada kami. Tokh engkau tak becus mencarikan obat buatnya. !" kata si nenek botak menyahuti. "Hemm. Tanpa tujuan yang pasti, tidak nantinya paman ku kuserahkan pada siapa pun. Aku tahu kalian pasti punya maksud-maksud tertentu pada Paman Kelana!"

"Bocah tolol! Pamanmu itu sudah terserang pukulan beracun yang teramat parah. Dan satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan luka dalam pamanmu itu hanyalah kami berdua. Mengapa kau harus curiga...!" bujuk si kakek botak dengan sesungging senyum penuh kelicikan.

"Kakek botak, siapa mau percaya dengan segala bualan mu. Kalian pasti menginginkan sesuatu dari Paman Kelana...!"

"Ho... ho... ho...! Tajam juga penglihatanmu bocah. Aku tak mengingkari apa yang kau katakan itu." jawab si kakek botak terang-terangan.

"Untuk tidak membuat persoalan menjadi panjang, sekarang serahkanlah Pusaka Golok Buntung, Cambuk Gelap Sayuto serta Priuk Mustika yang ada pada pamanmu itu...!" Nenek botak pun ikut-ikutan menimpali.

Mendengar ucapan mereka, maka sadarlah Wanti Sarati, bahwa keselamatan pamannya, kini benar-benar dalam keadaan terancam. Maka tanpa banyak kata lagi, gadis cerdik dan pemberani itu segera melepaskan selendang merah yang melilit di pinggangnya. Sementara itu demi melihat gelagat, Sepasang Clurit Maut itu secara hampir bersamaan segera membentak:

"Bocah, kau mau apa dengan selendang itu...?" Saat itu Wanti Sarati sudah bersiap-siap melin-

dungi Pendekar Hina Kelana dari segala kemungkinan. "Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berkalang tanah. Paman Kelana adalah orang yang paling berarti dalam hidupku, maka aku tak akan membiarkan walau seekor lalat sekalipun menyentuhnya !" dengus Wanti Sarati tegas-tegas.

Demi mendengar ucapan si gadis, maka berderailah tawa Sepasang Clurit Maut ini.

"Mati muda adalah sia-sia, Bocah. Bahkan engkau tak akan dapat merasakan bagaimana nikmatnya sorga dunia ini. Namun karena hal ini merupakan pilihan mu, maka andai kepalamu menggelinding di tanah. Jangan kau salahkan aku !" ancam nenek botak

sambil mendesis keluarkan bunyi bagai terompet maut.

5

Namun kiranya Wanti Sarati sudah tak menghiraukan apapun yang dikatakan oleh si nenek botak. Sebaliknya dengan diawali satu lecutan selendang yang sekaligus merupakan senjata ampuhnya. Maka sekejap kemudian tubuhnya sudah berkelebat lenyap.

Tak pelak lagi, kini dia mulai mempergunakan jurus-jurus aneh yang sangat dahsyat yang pernah diciptakan oleh Padri Agung Sindang Darah (Dalam episode Air Mata di Sindang Darah).

Tubuh Wanti Sarati bergerak lincah, berulangkali selendang merah di tangannya melecut ke segala arah. Dan sudah barang tentu hal ini membuat repot Sepasang Clurit Maut yang sebelumnya tiada menduga kalau gadis itu ternyata memiliki jurus-jurus silat yang sangat aneh dan cukup dahsyat. Bahkan terjangan kaki si gadis tak kalah dahsyatnya dengan lecutan selendang yang bergerak cepat, meliuk-liuk bagaikan seekor kepala seekor ular cobra.

Mendapat tekanan-tekanan dan serangan gencar seperti itu, nenek botak memberi isyarat pada si kakek botak. Kemudian pada gebrakan berikutnya dengan mempergunakan tasbih yang berukuran sangat besar, maka keduanya pun menyerang Wanti Sarati tanpa malu-malu lagi.

"Bagus kalian memang sepasang tuyul yang sangat serasi. Majulah sekalian kalau perlu keluarkan sekalian clurit yang menggelantung di pinggang kalian itu...!"

"He... he... he...! Tak perlu kau perintah sebentar nanti juga Clurit Maut akan memenggal kepalamu!"

"Ciaaat!"

Tasbih di tangan si kakek botak mencecar bagian dada lawannya. Sementara pada saat yang sama, tasbih di tangan si nenek menyambar ke bagian kaki Wanti Sarati. Si gadis melentik ke udara, begitu serangan gencar itu terus memburunya. Maka Wanti Sarati terus melecutkan selendangnya.

Pertemuan dua senjata sakti sudah tidak dapat dihindari lagi. Maka tak pelak lagi benturan keras membahana menggelegar memekakkan gendanggendang telinga.

"Craas! Ctar...!"

Tubuh Wanti Sarati terjengkang tiga tombak, sementara si kakek dan nenek botak sungguhpun tidak sampai terpelanting namun tubuh mereka nampak tergetar hebat. Sadarlah Sepasang Clurit Maut dari Bangkalan ini bahwa tenaga dalam si gadis tidak begitu jauh di bawah mereka berdua. Bahkan andai tadi tidak menghadapi Wanti Sarati secara bersamaan, belum tentu mereka masih tetap tegak pada posisinya. Gadis yang mereka hadapi itu masih begitu muda, tetapi tenaga dalam dan ilmu silat yang dimilikinya sudah sedemikian tangguh. Hal ini saja sudah membuat Pengumpul Barang Langka dari Bangkalan itu menjadi penasaran sekali.

Kemudian dengan gusar, kakek botak meng-

hardik;

"Bocah, sungguh mengagumkan. Selama ini be-

lum pernah ada orang yang mampu menahan gempuran Tasbih Kudungga milik kami. Tetapi kau mampu menahannya. Hemmm, siapakah gurumu...?"

"Tak usah tanya-tanya! Terimalah... hiaaa...!" Tanpa perduli lagi, Wanti Sarati kembali mela-

kukan serangan-serangan gencar.

"Haiiit! Ctar.... ctaar...!" Selendang di tangan Wanti Sarati melecut. Tetapi kali ini Sepasang Clurit Maut itu sudah tak sabar lagi untuk cepat-cepat memberesi, maka.

"Sriiingg! Sriiingg...!"

Kakek dan nenek berkepala botak secara serentak sudah mencabut senjata mautnya yang berbentuk bulan sabit itu.

Begitu keduanya bergerak menyerang, maka tak dapat disangkal lagi senjata-senjata yang terkenal sangat berbahaya itu menderu dan bahkan timbulkan suara laksana raung seekor macan gembong yang kelaparan. Silih berganti, baik Tasbih Kudungga maupun Clurit yang sangat berbahaya itu mencecar Wanti Sarati dari segala penjuru.

Tak pelak lagi pada jurus-jurus selanjutnya gadis itu nampak mulai terdesak. Tiada kesempatan baginya untuk melaksanakan serangan-serangan balasan. Terpaksalah dia bertahan mati-matian.

"Bocah pentil. Lebih baik kau menyerah saja, kalau tidak dua jurus di muka kepalamu akan kami buat menggelinding...!" teriak si kakek botak marah sekali.

"Tak semudah itu...!" bentak Wanti Sarati. Kali ini selendang di tangannya kembali melecut. Namun pada saat itu clurit di tangan si kakek lebih cepat lagi menyambar.

"Praaas...!"

Wanti Sarati terhuyung tiga langkah, selendang di tangannya berantakan dilanda clurit milik si kakek! Sungguhpun dia nampak sangat terkejut sekali, namun dia sudah tak dapat berpikir panjang. Karena pada saat itu kedua lawannya sudah memburunya dengan sabetan-sabetan senjata mautnya.

Gadis itu menjadi kalang kabut, secepatnya dia berusaha membebaskan diri dari gulungan senjata lawan yang mengurungnya. Pada saat itu sungguhpun dia dapat membebaskan diri dari terjangan senjata si kakek. Tetapi bokongan clurit si nenek botak di bagian belakangnya sudah tak dapat terhindarkan lagi.

"Brebet!"

Wanti Sarati mengeluh pendek. Bagian punggungnya terobek sejengkal. Darah mengucur deras dari luka akibat sambaran clurit. Sungguhpun tidak begitu parah tetapi cukup membuat si gadis kehilangan banyak tenaga.

Kakek dan nenek botak menyeringai dalam kelicikan, namun tiada sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka yang sudah tiada bergigi lagi.

"Ciaaat...!"

Tubuh kedua orang itu berkelebat lenyap, senjata maut terus menderu dan mengancam pada bagian-bagian tubuh yang sangat rawan.

Saat itu posisi si gadis memang benar-benar dalam keadaan yang sangat gawat sekali. Nampaknya apa yang diucapkan oleh si kakek memang benar-benar segera terbukti. Namun dalam detik-detik yang sangat berbahaya itu, nampak pula berkelebat sosok bayangan yang sangat cepat. Bayangan itu nampak menyambar tubuh Pendekar Hina Kelana yang sedang tidak sadarkan diri.

Wanti Sarati sangat terkejut sekali, begitu juga halnya dengan si kakek dan nenek botak. Masingmasing lawan jadi terkesima, kesempatan yang hanya sedetik itu tidak disia-siakan oleh si bayangan yang tidak dikenal. Tangan kiri nampak merogoh sesuatu dari balik jubahnya. Laksana kilat tangan itu bergerak.

"Bummm! Bummm!"

Bersamaan dengan terdengarnya bunyi ledakan, asap hitam segera memenuhi tempat sekitar itu. Wanti Sarati masih belum menyadari apa yang sedang terjadi, manakala bayangan tadi menyambar tubuhnya dengan cepat. Gadis itu merasakan badannya laksana terbang ketika bayangan tersebut terus membawanya berlari menjauhi tempat itu.

Sementara itu, kakek dan nenek botak terus terbatuk-batuk. Tubuhnya limbung dan lemas luar biasa. Sambil mengebutkan jubahnya masing-masing, orang itu pun berteriak.

"Asap pembius... bangsat... siapakah orang

itu...?"

"Menghindar...!"

Apes sekali nasib mereka hari itu, belum lagi

mereka dapat keluar dari kepulan asap tersebut, Sepasang Clurit dari Bangkalan itu sudah tak sadarkan diri.

* * * Saat itu laki-laki berbaju kuning, terus mengerahkan ilmu lari cepatnya. Tubuhnya berkelebat bagai tak pernah mengenal lelah. Padahal saat itu tubuh Wanti Sarati dan tubuh pendekar dari Negeri Bunian, membebani kedua pundaknya. Sungguh kemampuan yang sangat langka, dan tidak sembarang orang memiliki kemampuan seperti itu.

Lewat sepemakan sirih, sampailah orang itu di sebuah pemakaman yang sangat sunyi. Orang itu menghentikan ilmu lari cepatnya. Dengan langkah tegap, dia terus memasuki tanah pekuburan itu. Semakin lama orang itu semakin menuju ke tengah-tengah makam tersebut. Sampai akhirnya dia berhenti di bawah sebatang pohon kamboja yang sangat besar dan berbunga lebat.

Wanti Sarati tak tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki berpakaian kuning ini. Sungguhpun dia belum mengenal laki-laki berbulu itu, tetapi dia dapat mengerti bahwa orang itu bermaksud untuk menolong mereka.

Sementara itu laki-laki jubah kuning nampak mengetuk-ngetuk pohon kamboja tiga kali. Sesaat setelah ketukan tersebut, maka tanah yang berada di depannya nampak merekah dan menguak lebar. Terdengar bunyi bergemuruh, manakala tanah tersebut membuka. Laki-laki berpakaian kuning segera melangkah, kemudian nampaklah anak tangga yang terbuat dari batu di bawah tanah tersebut.

Dengan masih memanggul tubuh Wanti Sarati dan Buang Sengketa, laki-laki itu segera menuruni anak tangga. Tak lama kemudian rengkahan tanah kuburan yang tak ubahnya bagai sebuah pintu rahasia itu pun menutup kembali. Ruangan bawah tanah itu tak ubahnya bagai sebuah ruangan rahasia untuk tempat tinggal. Di sana sini terdapat lampu minyak yang menerangi segenap ruangan tersebut.

Orang tersebut segera membaringkan tubuh Buang Sengketa pada sebuah dipan yang terbuat dari batu pualam putih. Tak lama kemudian dia pun segera meletakkan tubuh Wanti Sarati pada sebuah dipan lainnya. Terdengar rintihan gadis itu, manakala luka di punggungnya bersentuhan dengan dipan pualam yang sangat dingin.

"Diamlah di sini. Aku harus melihat luka dalam yang diderita oleh pamanmu itu...!" kata laki-laki berbaju kuning, yang tak lain Tapak Dewa adanya.

Sebelum Wanti Sarati sempat menanyakan sesuatu. Tapak Dewa telah meninggalkannya.

Laki-laki itu kemudian duduk di sisi Pendekar Hina Kelana. Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi dia segera membuka pakaian si pemuda pada bagian pinggang. Tapak Dewa atau yang lebih dikenal sebagai Satria Penggali Kubur nampak sangat terkejut sekali begitu melihat bekas telapak tangan menghitam di dada Buang.

Tapak Dewa kerutkan keningnya, dia berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu. Seingatnya di dalam dunia persilatan tokoh sesat yang memiliki pukulan beracun yang bersumber dari tenaga inti murni hanyalah guru iblis yang bermukim di Kayu Agung, mungkinkah orang ini pernah sampai di daerah itu? Batin Tapak Dewa. Mengingat sampai ke situ, cepat-cepat Tapak Dewa meraba denyut nadi Buang Sengketa. Denyut nadi itu memang masih ada, namun sudah terlalu lemah sekali.

"Uuh... pukulan beracun Iblis Menembus Maut sudah menyatu dengan darahnya. Seandainya bocah ini tidak memiliki hawa murni yang sangat sempurna, paling tidak dia sudah menemui ajal saat ini." gumamnya seorang diri.

"Aku merasa tak mungkin mampu menyembuhkan luka dalam yang teramat parah ini. Sungguh malang sekali nasibmu bocah." batin Tapak Dewa.

Saat itu Wanti Sarati yang selalu mengkhawatirkan keselamatan Pendekar Hina Kelana, nampak tertatih-tatih datang menghampiri. Dengan harapharap cemas dia pun bertanya.

"Kakek... bagaimanakah keadaan paman ku...?" Tapak Dewa menoleh, dia melihat mata si gadis membersitkan kecemasan. Tetapi sebagai orang tua yang berjiwa polos, dia tak ingin menutup-nutupi ten-

tang keadaan Buang Sengketa.

"Maafkan aku, Nduk.... Kukira aku tak mampu menyembuhkannya. Pukulan beracun Iblis Menembus Maut di dunia ini tak ada obat pemunahnya. Hanya kebesaran Sang Hyang Widilah yang mampu merubah segala sesuatunya!" ucap Tapak Dewa dengan suara sangat lirih sekali.

Wanti Sarati nampak terpukul batinnya, sedih dan putus asa berbaur menjadi satu. Tanpa dia sadari air matanya bergulir menuruni kedua pipinya yang halus lembut.

"Kakek, tolong, lakukanlah sesuatu! Paman ku harus sembuh, dia sering menderita dalam hidupnya kek...! Kalau kakek mengenal jenis pukulan beracun itu, mustahil kakek tak tahu obat pemunahnya...?"

Tapak Dewa geleng-gelengkan kepala, sebentar wajahnya menunduk. Namun sekejap kemudian memandang pada Buang Sengketa yang terbaring tiada daya.

"Guru iblis sendiri tak memiliki obat pemunah pukulan beracun miliknya...!"

Kedua bola mata Wanti Sarati terbelalak lebarlebar. Seolah dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Dari mana kakek tahu semua itu...?"

"Dulu pun aku sendiri sempat melihat, betapa orang yang pernah terkena pukulan Iblis Menembus Maut. Tak seorang pun ada yang dapat diselamatkan. Bahkan ketika murid-murid si guru iblis terkena pukulan itu. Manusia sesat itu pun tak pernah berhasil menyembuhkan muridnya !" kata Tapak Dewa.

6

Sesaat lamanya, Wanti Sarati nampak terdiam. Semakin sedih saja hatinya. Namun sebagai seorang gadis yang masih muda usia dan belum berpengalaman banyak dalam dunia persilatan, dia tak tahu apa yang akan dilakukan untuk selanjutnya.

Tak lama kemudian gadis itu beringsut mendekati Buang Sengketa. Lalu dipandanginya wajah pemuda itu lama-lama. Wajah semakin pucat bagaikan kain kafan, sementara tubuhnya menjadi panas luar biasa.

Tapak Dewa yang mengetahui keadaan itu nampak sangat terkejut sekali.

"Hemmm. Pemuda ini nampaknya memiliki kekuatan lain di luar kemampuan manusia. Lihatlah, badannya memberikan reaksi yang kuat terhadap racun yang nampak hampir menguasai pembuluh otaknya...!" kata Tapak Dewa. Dan mereka yang berada di situ menjadi lebih terkejut lagi ketika mereka melihat dari tubuh si pemuda timbul bintik-bintik kecil yang menyerupai sisik seekor Ular Piton. Reaksi itu terus terjadi. Tanpa mereka sadari di luar ruangan bawah tanah, mendung tebal nampak bergulung-gulung. Petir dan halilintar saling sambung menyambung. Tak lama kemudian setelahnya hujan hebat pun turun bagai tercurah dari langit. Suasana di luar ruangan bawah tanah dalam pekuburan itu mendadak menjadi gelap gulita. Bersamaan dengan turunnya hujan lebat dan gelegar petir yang seakan menggoncang seisi bumi. Pada saat itu pula seberkas sinar pelangi bergerak cepat menuju ke tengah-tengah pekuburan tersebut. Sinar pelangi tersebut terus melesat bagaikan meteor. Semakin lama semakin nyata ujudnya. Kalau sinar pelangi itu benar-benar diperhatikan lebih jelas, maka akan terlihatlah bahwa sebenarnya sinar yang bergerak cepat itu sesungguhnya merupakan ujud dari seekor ular raksasa. Di atas kepala ular raksasa nampak pula bertengger sebuah mahkota yang memancarkan cahaya kuning keemasan. Selarik cahaya pelangi yang berujud seekor ular itu terus melesat. Dalam waktu hanya sekedipan mata sinar pelangi itu telah pula sampai di tengah-tengah pekuburan itu. Sekejap sinar itu pun berputar-putar.

Sementara itu hujan dan guntur terdengar terus berkepanjangan. Manakala kemudian terdengar gelegar halilintar, pada saat itu pula cahaya pelangi tersebut menembus ruangan bawah tanah.

Kejadian yang tak pernah terduga-duga itu, benar-benar membuat Wanti Sarati maupun Tapak Dewa menjadi terkejut luar biasa. Terlebih-lebih Tapak Dewa yang masih merupakan keturunan para siluman. Nampaknya dia kenal betul dengan sinar pelangi yang berujud seekor ular raksasa itu. Raja Ular Piton Utara dari Negeri Bunian! Siapa yang tak kenal, sebab Piton Utara masih merupakan junjungan yang sangat dihormati di negeri alam gaib dan juga di negerinya para siluman.

Cepat-cepat, Tapak Dewa menjatuhkan diri di lantai ruangan, lalu Satria Penggali Kubur itu menghaturkan sembah beberapa kali.

"Sinuhun yang mulia! Terimalah hormat hamba yang papa ini...!" ujar Tapak Dewa dengan suara gemetaran.

"Hmm. Sembahmu kuterima wahai keturunan para siluman. Bangkitlah...!" kata Raja Ular Piton Utara yang saat itu telah berdiri tegak dalam ujudnya sebagai seekor Ular Piton yang tak terukur besarnya.

"Sinuhun yang mulia! Gerangan apakah yang membuat Sinuhun berkenan datang di ruangan bawah tanah tempat tinggal hamba ini...!" tanya Tapak Dewa dengan masih membungkuk hormat.

Raja Ular Piton Utara keluarkan bunyi mendesis yang sangat memekakkan gendang-gendang telinga. Lalu terdengar pula suaranya yang serak dan berat. "Tapak Dewa...! Bocah laki-laki yang kau tolong

itu adalah titisan ku. Aku mau kau merawatnya dengan baik...!" kata Raja Ular Piton Utara begitu berwibawa. Tapak Dewa sungguhpun sangat terkejut luar biasa, namun kembali membungkuk hormat.

"Sinuhun yang mulia. Hamba tidak memiliki kemampuan apa-apa, luka gusti pangeran teramat parah. Berilah hamba petunjuk apa yang harus hamba lakukan untuk menyelamatkan jiwa pangeran...!" kata Tapak Dewa dengan nada serendah-rendahnya.

"Ssssss...!" Raja Piton Utara keluarkan bunyi mendesis, dari dalam mulutnya keluar lidah api. Namun tak lama kemudian api yang keluar dari mulut raja dari negeri alam gaib yang bernama Bunian itu pun padam. Dari dalam mulutnya, secara mengejutkan keluar pula sebuah puntungan golok pusaka. Puntungan golok itu mengeluarkan sinar merah yang sangat terang benderang.

Baik Wanti Sarati maupun Tapak Dewa, keduanya memandang tiada berkedip.

"Tapak Dewa, kau ambillah puntungan golok yang berada di dalam mulutku ini. Kemudian satukanlah dengan golok buntung yang terletak di bagian pinggang putra ku. Setelah golok itu menyatu maka lekatkanlah di bagian dadanya. Lakukanlah sekarang juga...!" 

Tanpa membantah, dan dengan sikap hormat, Tapak Dewa segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja Piton Utara. Setelah mengambil puntungan golok yang berada di bibir mulut Raja Piton Utara. Maka dengan sangat hati-hati dia menghampiri Pendekar Hina Kelana, yang kemudian diketahuinya sebagai putra raja dari negeri alam gaib. Tapak Dewa menyembah tiga kali sebelum mencabut pusaka golok puntung yang terselip di bagian pinggang Buang Sengketa.

Tak lama kemudian setelah puntungan golok tersebut saling didekatkan. Maka terdengar pula bunyi menggeledek bagai memecah langit-langit ruangan bawah tanah. Hawa dingin segera menyebar memenuhi ruangan itu, sementara Tapak Dewa yang memegang golok yang sudah saling menyatu itu merasakan panas yang luar biasa. Golok yang sudah saling menyatu ini nampak sangat indah sekali. Pada badan golok terdapat ukiran seekor Ular Piton bermahkota. Sekejap Satria Penggali Kubur memandang takjub pada pusaka tersebut. Namun belum lagi hilang rasa kekagumannya, mendadak terdengar perintah dari Raja Piton Utara.

"Satria Penggali Kubur! Cepat-cepat engkau

tempelkan golok itu di dada putra ku...!"

"Perintah hamba laksanakan, Yang mulia...!"

Usai dengan ucapannya, Tapak Dewa segera menempelkan golok itu tepat di dada Pendekar Hina Kelana. Begitu senjata pusaka itu menempel di dada si pemuda, nampak jelas tubuhnya tergetar hebat. Sinar merah yang terpancar dari pusaka itu meredup. Racun maut yang mengeram di tubuh Buang Sengketa nampak tersedot mengikuti kekuatan dahsyat golok pusaka yang menghisapnya. Golok itu sendiri lama kelamaan berubah warnanya menjadi merah kehitam-hitaman. Setelah racun yang mengeram di tubuh si pemuda benar-benar telah tersedot habis. Maka bagian ujung golok yang menempel dengan sendirinya itu segera terlepas dari tubuh si pemuda.

Tetapi betapa terkejutnya hati Tapak Dewa maupun Wanti Sarati, karena tak lama kemudian golok buntung yang sudah saling menyatu sesamanya ini. Secara tak terduga nampak memisah kembali.

"Criing!"

Satria Penggali Kubur terpana, pada saat itu Raja Piton Utara sudah berkata;

"Engkau tak perlu heran, titisan para siluman! Golok Buntung memang masih belum waktunya untuk menyatu. Ketahuilah, selama di atas dunia ini masih dipenuhi dengan berbagai kejahatan. Maka selama itu pula, golok buntung tidak akan pernah menyatu dengan puntungan yang berada bersamaku...!"

"Lalu bagaimanakah dengan luka dalam yang diderita oleh gusti pangeran?" tanya Tapak Dewa.

"Tak perlu engkau risaukan, racun ganas yang mengendap di dalam tubuhnya sudah hilang sama sekali. Cuma perlu waktu satu purnama untuk menyembuhkannya. Dan kuminta selama itu engkau benar-benar harus mengawasinya...!"

"Kepercayaan yang mulia Sinuhun, bagi hamba merupakan sebuah kehormatan yang benar-benar tiada disangka-sangka...!"

Tiada kata-kata yang terucap dari mulut Raja Piton Utara, hanya terdengar bunyi mendesis disertai jilatan lidah api. Dalam waktu yang bersamaan pula dari sepasang mata Raja Piton Utara keluar seberkas cahaya berwarna merah menyala.

Cahaya tersebut bergulung-gulung, tak lama kemudian nampak menyerap ke segenap pori-pori Buang Sengketa. Tanpa diketahui oleh siapa pun, kiranya saat itu Piton Utara sedang menyalurkan tenaga saktinya kepada putra satu-satunya yang sampai saat itu masih belum sadarkan diri.

Tak sampai lima menit kemudian, Raja Piton Utara hentikan gerakannya. Lalu dia kembali memandang pada Tapak Dewa dan Wanti Sarati secara bergantian.

"Tapak Dewa! Kau kembalikanlah Pusaka Golok Buntung pada anakku. Sedang-kan bagian yang lain kau kembalikan pula padaku...!" perintah Raja Piton Utara.

"Baik, Sinuhun...!" kata Tapak Dewa. Sementara itu raja ular dari negeri alam gaib itu kini memandang pada Wanti Sarati. Kemudian tanpa disangkasangka dia pun menyela:

"Engkau bocah baik, Bocah bagus. Aku tahu isi hatimu terhadap putra ku! Tapi janganlah kau berharap terlalu banyak padanya. Dia orang yang sangat dibutuhkan dalam membasmi bibit penyakit dari permukaan bumi ini. Dan engkau sendiri aku berharap agar mau menjadi murid Tapak Dewa. Bukankah engkau mau melakukannya Tapak Dewa...?!" tanya Raja Piton Utara sambil menerima kembali sambungan golok yang diangsurkan oleh Satria Penggali Kubur.

"Dengan sangat senang hati, Yang mulia...!" jawab Tapak Dewa lalu bersujud memberi hormat pada Raja Piton Utara. Tak ketinggalan Wanti Sarati pun melakukan hal yang sama.

Sementara itu di luar ruangan dalam tanah, hujan lebat masih turun tiada henti-hentinya. Sesekali terdengar pula gelegar bunyi petir. Saat itu sinar pelangi yang menjadi ujud Raja Piton Utara berputarputar mengitari ruangan itu. Gelegar halilintar kembali terdengar. Sinar pelangi yang berujud seekor ular raksasa itu semakin terang benderang.

"Keturunan para siluman...! Ku sudahi pertemuan ini sampai di sini. Aku akan kembali ke pertapaanku...!"

Bersamaan dengan ucapannya itu, sinar pelangi yang merupakan ujud dari Piton Utara lenyap dari pandangan mereka. Angin ribut kembali menggila menyertai kepergian Raja Piton Utara.

Keanehan pun kembali terjadi, hujan lebat yang turun sejak tadi nampak reda kembali. Tiada terdengar suara petir, tiada kilat. Langit terang resik tiada berawan.

Sementara itu di dalam ruangan bawah tanah, Wanti Sarati dan Tapak Dewa nampak mendekati Buang Sengketa. Bintik-bintik kecil yang tadinya menyerupai sisik seekor ular sekarang sudah tiada terlihat lagi. Namun sejauh itu Pendekar Hina Kelana belum juga sadarkan diri.

"Kakek Tapak Dewa! Benarkah yang datang tadi benar-benar merupakan ayah kandung Paman Kelana?"

"Benar...! Dan aku pun baru tahu, kalau pe-

muda ini sesungguhnya merupakan pangeran dari negeri kami!" Tapak Dewa menyahuti.

"Jadi kakek pun benar keturunan seorang siluman?" tanya Wanti Sarati, terheran-heran.

"Ya... sebab ibuku juga berasal dari alam gaib...!"

"Benarkah...?"

"Begitulah menurut keterangan ayahku, sebelum meninggal dulu. Dan secara tidak langsung, pemuda ini sesungguhnya merupakan pangeran yang di Negeri Bunian sangat dihormati oleh rakyatnya...!"

"Maksudmu negeri alam gaib...?"

"Ya... negeri itu memang benar-benar ada. Dia terletak di sebuah pesisir Pulau Andalas. Namun negeri itu tak mungkin pernah dilihat oleh kasat mata...!" jelas Tapak Dewa lebih lanjut.

Mendengar penjelasan Satria Penggali Kubur, Wanti Sarati tercenung beberapa saat lamanya. Baginya terlalu sulit untuk mengerti akan arti dari semua apa yang dikatakan oleh Tapak Dewa. Walaupun hatinya masih diliputi dengan berbagai tanda tanya, namun dia merasa bersyukur bahwa Pendekar Hina Kelana, pada akhirnya masih dapat diselamatkan jiwanya. Lalu sepintas dia memandang pada pemuda yang sangat dikasihinya itu. Kemudian dirabanya nadi di bagian pergelangan tangan. Denyut darah itu masih sangat lemah, namun sudah teratur. Hanya kesadaran yang masih belum ada.

"Kau tak perlu cemas, Nduk...! Tidak sampai satu purnama di depan, dia sudah pulih kembali. Oh, ya bagaimana dengan lukamu...?"

"Lukaku tidak seberapa, bukankah kakek tadi juga sudah memeriksanya?"

"Hemm! Betul... tetapi ada baiknya kalian tetap tinggal di ruangan ini untuk beberapa waktu lamanya...!"

"Kakek hendak ke mana?" tanya Wanti Sarati, begitu melihat Tapak Dewa sudah menaiki anak tangga menuju pintu keluar.

"Aku akan mencari bekal makanan untuk kalian!" jawab Tapak Dewa, terus pergi.

7

Perguruan Jagad Kelanggengan adalah merupakan sebuah perguruan yang sangat besar dan memiliki pengaruh yang sangat besar pula di kalangan rimba persilatan. Perguruan itu terletak di puncak bukit yang bernama Puncak Perdamaian. Perguruan Jagad Kelanggengan yang sangat besar itu dipimpin oleh seorang nenek tua renta, berusia berkisar tujuh puluh lima tahun. Asmarini Sudra, demikianlah nama ketua perguruan yang memiliki pamor di segenap penjuru persilatan tersebut.

Sungguhpun dia seorang wanita, namun kesaktian dan ilmu silat yang dimilikinya tiada tanding. Bahkan dengan sepasang pedang kembarnya, Juluk Duka dia masih mampu mempersatukan beberapa perguruan kecil yang tersebar di berbagai daerah. Di antara perguruan silat yang dipersatukannya itu antara lain adalah Perguruan Kala Hitam, yang menempati daerah bernama Puncak Berkabut.

Itu sebabnya, kejadian apa pun yang berlangsung di perguruan-perguruan kecil yang dipersatukannya. Biasanya secepatnya, pula dapat dia ketahui. Sebagaimana berita duka tentang meninggalnya Eyang Guru Buris Genta, juga sudah dia ketahui. Bahkan dia pulalah yang memberi saran agar Eyang Guru Buris Genta dikuburkan di peristirahatan orang-orang terhormat milik Tapak Dewa.

Tetapi betapa terperanjatnya Asmarini Sudra begitu mendapat laporan bahwa salah seorang murid Kala Hitam yang bernama Bonta tidak diijinkan dikubur di tempat itu. Bahkan si Muka Kunyit atau Inggil yang menjadi Wakil Perguruan Kala Hitam, tewas pula di tangan Tapak Dewa.

Bagi Asmarini Sudra, hal ini merupakan sebuah penghinaan yang sangat memalukan sekali. Tapak Dewa telah begitu berani membuat urusan dengan Perguruan Kala Hitam. Yang berarti juga telah memancing kericuhan buat perguruan induk, Jagad Kelanggengan. Hutang nyawa harus dibayar nyawa. Terkecuali Tapak Dewa mau memohon maaf pada Jagad Kelanggengan.

Hari itu juga Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan mengirim dua puluh utusan untuk menemui Tapak Dewa.

Maka berangkatlah utusan dari Jagad Kelanggengan itu dengan disertai Karsa dari Perguruan Kala Hitam sebagai saksi.

Menjelang sore hari rombongan berkuda itu telah sampai di sebuah tempat yang bernama Lembah Begundal Iblis. Karena perjalanan masih memakan waktu kurang lebih satu hari perjalanan berkuda. Maka dua puluh orang utusan itu berniat melewatkan malam di pinggiran Lembah Begundal Iblis.

Tenda-tenda darurat pun segera mereka bangun, saat itu senja sudah berganti malam. Keadaan di sekitarnya menjadi sepi mencekam. Di luar tenda beberapa orang murid Perguruan Jagad Kelanggengan dan murid dari Kala Hitam nampak sedang berjagajaga. Sejauh itu, mereka masih belum menyadari kalau di sekitar tempat itu ada beberapa pasang mata yang terus mengawasi tenda mereka.

Kuda-kuda yang ditambat tak jauh dari tempat itu pun sudah mulai nampak resah. Agaknya naluri kehewanannya menyadari bahwa ada bahaya yang sedang mengintai keselamatan majikannya. Sesekali terdengar ringkiknya yang memecah keheningan malam. Kegelisahan kuda-kuda itu sudah barang tentu membuat curiga beberapa orang murid yang sedang berjaga-jaga di luar tenda. Lalu mereka pun saling pandang sesamanya.

"Njul... tidak biasanya kuda-kuda itu gelisah seperti itu. Ada apa ya...?" tanya seorang murid yang bernama Sukron pada kawannya.

Yang ditanya nampak menarik napas panjangpanjang.

"Kita sekarang ini kan sedang berada di Lembah Begundal Iblis. Mungkin saja, kuda-kuda itu melihat setan-setan gentayangan...!" jawab Sukron sekenanya.

"Tapi aku merasakan seperti ada sesuatu yang sangat menakutkan. Lihatlah bulu kudukku pada merinding semuanya !"

"Bulu kudukku juga merinding...!" menyahuti salah seorang murid yang lain bernama Panut.

"Kalian benar-benar pengecut, selama ini baru kalian saja murid dari Jagad Kelanggengan yang sepengecut ini. Kalau sampai kedengaran kakang guru, kalian bisa-bisa dipecat sebagai murid."

"Kron... bicaramu jangan keras-keras. Lihatlah kuda-kuda itu semakin bertambah gelisah...!" kata Panjul, menunjuk pada kuda-kuda itu.

Sekilas Sukron memperhatikan kuda-kuda yang tertambat pada beberapa batang pohon kecil. Sukron manggut-manggut.

"Benar juga! Jangan-jangan selain kita, masih ada orang lain di sekitar tempat ini!"

"Krosak!" Terdengar bunyi bergemerosak di semak-semak. Serentak ketiga murid penjaga itu menoleh ke arah datangnya suara.

"Cepat bangunkan orang-orang yang berada di dalam tenda!" perintah Sukron pada Panjul dan Panut. Namun baru saja mereka akan bergerak, bebe-

rapa buah senjata rahasia yang berbentuk bulan sabit telah menghunjam di dada Sukron. Salah seorang murid dari Perguruan Jagad Kelanggengan ini pun ambruk seketika itu juga.

Melihat keadaan kawannya, Panjul dan Panut cepat-cepat menyelinap ke dalam tenda. Kedua orang itu langsung berteriak-teriak membangunkan orangorang yang berada di dalamnya.

Dari dalam tenda darurat itu, murid-murid Perguruan Jagad Kelanggengan berserabutan ke luar.

Begitu sampai di luar, mereka melihat seorang kakek dan seorang nenek berkepala botak. Sungguhpun murid-murid dari Perguruan Jagad Kelanggengan belum mengenal siapa gerangan orang yang berdiri di hadapan mereka itu. Namun melihat tasbih raksasa dan sebuah clurit yang menggelantung di pinggang orang tersebut. Tak dapat disangkal lagi, merekalah Sepasang Clurit dari Bangkalan.

Saat itu salah seorang dari Jagad Kelanggengan yang sering dipanggil kakang guru. Kelihatan menatap tajam pada kakek dan nenek botak. Mendadak lakilaki berbadan pendek namun berotot kekar itu pun sudah membentak.

"Orang tua, kesalahan apakah gerangan. Hingga kalian telah begitu berani membunuh salah seorang dari rombongan kami...?"

Yang ditanya menyeringai dan menampakkan mulutnya yang sudah tiada bergigi lagi.

"Tikus ompong, cepat katakan apa kesalahan kawanku...!" teriak Panjul setengah takut-takut.

"Ha... ha... ha...! Membunuh apa susahnya, mengapa harus dicari-cari kesalahannya...!" menyahuti si kakek botak.

"Bangsat! Membunuh sewenang-wenang itu merupakan pekerjaan iblis. Kami sendiri merasa tidak pernah berurusan denganmu...!" maki kakang guru marah sekali.

Bibir si kakek botak kembali menyungging se-

nyum!

"Kalau kau merasa tidak pernah berurusan

denganku, apa salahnya kalau kami mencari urusan dengan kalian...?"

"Sial betul kau, tikus ompong. Katakanlah apa yang kau inginkan dari kami...!"

"Hi... hi... hi...! Kami cuma ingin tahu apakah kalian melihat seorang bocah yang bernama Hina Kelana atau tidak...!" kata si nenek botak ikut menyela.

"Cacing kurap! Kami tak tahu tentang orang yang kalian tanyakan itu." maki kakang guru semakin panas saja hatinya.

"Bohong! Kami melihat seseorang telah melarikan bocah laki-laki dan seorang perempuan yang melintasi daerah ini. Mengaku sajalah...!"

"Jangan-jangan murid-murid kutu kupret inilah yang telah menyembunyikan buruan kita, suamiku...!" kata si nenek botak curiga.

Semakin mendidihlah darah kakang guru demi mendengar tuduhan yang sangat keji itu. Bahkan Karsa yang menjadi murid Perguruan Kala Hitam telah pula mencabut sebilah pedang, begitu pula dengan murid-murid dari Jagad Kelanggengan, mereka sudah semakin tak sabar saja.

"Kiranya kalian sepasang tikus yang lamur. Tak tahu membedakan mana yang salah dan mana pula yang benar! Kini setelah membunuh kawanku, cobacoba berdalih pula...!" bentak Karsa sambil menimangnimang pedangnya.

"Karena kalian tidak mau mengaku, maka kalian akan kubunuh semuanya!" teriak kakek dan nenek botak tanpa menghiraukan kata-kata si Panjul.

Nampaknya murid-murid dari Perguruan Jagad Kelanggengan memang sudah tak punya pilihan lain lagi, apalagi saat itu kedua orang tua bangka sinting itu telah bergerak menyerang mereka dengan tasbih raksasanya. Lalu tanpa menunggu perintah dari kakang guru, murid-murid itu pun langsung melakukan serangan-serangan gencar.

Denting beradunya senjata segera memecah keheningan malam, pekik riuh suara ketakutan dari monyet-monyet hutan berbaur menjadi satu. Sementara di langit sana bulan nampak bersembunyi di balik awan.

Pertempuran terus berlanjut, masing-masing pihak sama-sama memiliki ambisi untuk menjatuhkan lawan dengan waktu secepatnya.

Sungguhpun orang-orang dari Jagad Kelanggengan itu hanyalah merupakan murid. Namun mereka terdiri dari murid-murid pilihan yang sengaja diutus oleh Asmarini Sudra untuk mendengar kata maaf dari Tapak Dewa. Bahkan seandainya Satria Penggali Kubur menolak apa yang dikehendaki oleh guru mereka. Mereka itu berkewajiban untuk menyeret orang itu ke Perguruan Jagad Kelanggengan. Maka tak salah bila beberapa jurus di muka, kakek dan nenek botak dari Bangkalan itu nampak mulai terdesak dalam menghadapi serangan-serangan gencar yang dilakukan oleh murid-murid Jagad Kelanggengan. Dua jurus berikutnya bahkan pedang di tangan kakang guru berhasil menyambar bahu kiri si nenek botak.

"Brebet!"

"Uarrghh!" jerit si nenek botak sambil memegangi bahu kirinya yang mengucurkan darah. Mengetahui pasangannya berhasil dilukai oleh pihak lawan, kakek botak marah sekali.

"Orang gendut kayak badut, kurang ajar kau. Berani sekali engkau melukai istriku yang tercinta...!"

"Ha... ha... ha... ha...! Istrimu sudah tua, peot dan tiada guna. Kubunuh dia dan kau boleh cari yang lebih muda!" tukas kakang guru, seraya kembali kirimkan satu tusukan satu babatan.

Kakek botak yang sedang menghadapi keroyokan sepuluh orang murid-murid pilihan, kelihatan sangat gusar sekali, maka dengan sekali melompat dia sudah menjauhi kepungan lawan-lawannya.

"Criiiing!"

Sekali dia sentakan clurit yang menggelantung di pinggangnya, maka senjata maut itu telah keluar dari sarungnya.

Lewat penerangan bulan yang samar-samar, senjata yang sangat berbahaya itu berkilat-kilat tanda tajam sekali.

Kakek botak keluarkan tawa mendesis, mulutnya yang sudah tiada bergigi lagi mendecap-decap keluarkan isyarat maut.

"He... he... he...! Dengan senjata maut ini, akan ku cabuti nyawa kalian semua...!" teriak kakek botak.

"Hiaaatt...!"

Sekali lagi dia menjejakkan kakinya, maka terdengar dua jeritan lolong maut. Dua orang murid Jagad Kelanggengan menggelinding kepalanya. Darah memancar dari luka pada bagian leher yang terkutung. Pakaian murid-murid itu basah bermandi darah. Sesaat saja tubuh mereka terhuyung-huyung, lalu ambruk dengan jiwa melayang. Kakek botak tidak berhenti sampai di situ saja, senjata di tangannya kembali berkelebat ganas.

Sementara itu si nenek botak yang akhirnya juga menyadari bahwa lawan yang dihadapinya benarbenar tangguh. Akhir-nya sudah tak dapat lagi menahan gempur-an-gempuran dahsyat dari pihak lawan. Tak ayal dia pun mencabut clurit mautnya.

"Ngunggg!"

Senjata itu menderu, kakang guru nampak sangat terkejut sekali. Senjata di tangan si nenek benar-benar sangat berbahaya. Maka tanpa sungkansungkan lagi, dia segera pergunakan jurus Pedang Asmara. Saat itu juga gerakan-gerakan silat kakang guru segera berubah sama sekali. Terkadang senjatanya berputar sebat membentuk perisai, di lain saat senjata itu membabat pada bagian pertahanan yang agak rawan. Sungguhpun begitu, dia merasakan bahwa nenek botak dengan tasbih dan clurit di tangannya. Kini benar-benar telah berubah menjadi seorang lawan yang sangat tangguh dan sangat membahayakan. Sekali tasbih di tangan lawan menghantam ke bagian muka, pada saat yang hampir bersamaan menyusul pula serangan clurit yang tak kalah hebatnya. 8

"Ihh!" Kakang guru nampak terkejut, lalu cepatcepat hantamkan pedangnya memapasi datangnya serangan beruntun itu.

"Crak! Criiing!"

Tasbih di tangan si nenek hancur berantakan dilanda terjangan Pedang Jagad Kelanggengan milik kakang guru. Tapi begitu senjata itu membentur clurit di tangan si nenek. Terlihat percikan bunga api memancar dari kedua senjata itu.

Pedang kakang guru rompal di beberapa bagian, hal itu membuat kejut di hati wakil dari Perguruan Jagad Kelanggengan. Tetapi sungguhpun begitu, dia pantang mundur walau setapakpun juga, dia terus berusaha mendesak pihak lawannya.

Saat itu kakek botak dengan clurit di tangannya terus mengganas. Lebih dari sepuluh orang murid dari Jagad Kelanggengan menemui ajal secara mengerikan. Saat itu murid Jagad Kelanggengan hanya bersisa kira-kira enam orang lagi. Sepasang Clurit dari Bangkalan itu terus mengamuk bagai orang edan kerasukan iblis. Dan tentu saja tindakan si kakek yang sangat brutal dan beringas itu, lama kelamaan membuat ciut nyali lawan-lawannya.

Mengetahui situasi yang sangat tidak menguntungkan itu, kakang guru yang juga dalam keadaan terdesak itu nampak memberi aba-aba pada kawankawannya.

"Panjul dan Panut! Cepat tinggalkan tempat ini. Kabarkan pada Ketua Asmarani Sudra, tentang tuyultuyul gila itu...!" teriak kakang guru sambil terus bertahan mati-matian. giii...!" "Tapi bagaimana dengan kau, Kakang...!" "Jangan hiraukan aku, Guoblook...! Cepat per-

Tanpa menunggu perintah, empat orang murid lainnya berusaha mendesak kakek botak, dengan maksud memberi kesempatan pada Panjul dan Panut untuk melarikan diri. Tapi pada saat yang sangat kritis itu, kakek botak sambil keluarkan tawa mengekeh. Langsung merogoh saku bajunya.

"Tak seekor monyet pun kubiarkan kabur...!" "Weer!"

Senjata rahasia berbentuk bulan sabit itu pun melesat sedemikian cepatnya. Namun kiranya semua itu sudah berada dalam perhitungan kakang guru. Pada saat yang sama, melesat pula serangkuman cahaya putih memapaki sambitan senjata rahasia si kakek.

"Breees!"

Senjata yang disambitkan oleh si kakek berpentalan ke berbagai arah, sementara Panjul dan Panut sudah menggebrak kuda tunggangan. Kuda-kuda itu melesat bagai anak panah, hingga dalam waktu sekejap saja mereka telah lenyap ditelan kegelapan malam.

Gusar sekali kakek botak demi melihat serangan senjata rahasianya dapat digagalkan oleh lawan.

"Sialan, kubunuhi kalian semua...!"

Kakek botak memaki, kemudian langsung membabat lawan yang berada paling dekat dengan posisinya.

"Croook! Croook!"

Tanpa sempat melolong, dua orang lawan terbabat roboh. Clurit di tangannya kembali berkelebat.

"Crook! Crook!"

Dua orang murid itu melolong setinggi langit. Kepala mereka pecah berantakan dihantam clurit di tangan si kakek. Otak dan cairan yang berwarna putih kecoklat-coklatan berhamburan ke mana-mana. Kakek botak menyeringai puas dengan hasil perbuatannya.

Kini hanya tinggal Kakang guru berjuang matimatian seorang diri. Tetapi begitu kakek botak datang membantu si nenek. Maka keadaannya kemudian benar-benar telah berubah. Kakang guru segera jatuh di bawah angin.

Kakek dan nenek botak menyerang kakang guru dari berbagai penjuru. Clurit di tangan mereka menderu bahkan menimbulkan sambaran angin menggiriskan.

"Ciaaat!"

"Hiaaat!"

Kakek dan nenek botak kirimkan satu sabetan secara berbareng. Keadaan ini benar-benar sangat menyulitkan posisi kakang guru.

"Wuuut!" "Craaang! Cresss!"

Satu babatan clurit si nenek dapat dia hindari, namun dia tak dapat mengelakkan sambaran clurit si kakek yang mengarah pada bagian perutnya.

Sambil menyeringai menahan sakit, kakang guru nampak mendekap perutnya yang terobek besar. Dengan langkah terhuyung-huyung dia masih berusaha untuk mempertahankan diri. Darah yang merembes dari celah-celah tangannya sudah tidak dia perdulikan lagi.

"He... he... he...! Akhirnya kau mampus juga di tangan Sepasang Clurit Dari Bangkalan...!"

"Aku tak... ak... akan menyerah!" Kakang guru bermaksud menyambitkan Pedang Jagad Kelanggengan di tangannya. Namun sudah tidak keburu lagi. Tak dapat dicegah, orang kedua dari Perguruan Besar Jagad Kelanggengan itu pun ambruk di atas tanah berbatu dengan jiwa melayang.

Dua orang tua dari Bangkalan menyeringai puas, lalu mereka saling berpandangan sesamanya.

"Bagaimana lukamu, Istriku...?" tanya si kakek. "Hemmm. Hanya luka kecil, sebentar juga akan

sembuh dengan sendirinya...!" jawab si nenek botak. "Kita telah banyak buang-buang waktu! Orang-

orang sudah pada mampus, tapi kita masih belum dapat keterangan di mana bocah yang bergelar si Hina Kelana itu berada...!"

"Jangan putus asa suamiku! Masih banyak waktu untuk menemukan barang-barang yang sangat berharga itu...!" Nenek botak mencoba menyabarkan.

"Kalau begitu mari kita pergi!"

Cepat sekali tubuh mereka berkelebat, tahutahu kedua orang itu telah lenyap dari pinggiran Lembah Begundal Iblis. Maka tinggallah mayat-mayat bergelimpangan yang diam membeku dalam dinginnya udara malam.

* * *

Dalam ruangan bawah tanah, saat itu Wanti Sarati sedang sibuk menyuapi Buang Sengketa. Sejak dua hari yang lalu pemuda itu sudah sadarkan diri. Sungguhpun begitu dia masih belum dapat bergerak banyak, hanya Wanti Saratilah yang mengurusi Buang Sengketa dengan sangat telaten sekali. Sementara Tapak Dewa, nampaknya sungkan dalam berhadapan dengan pendekar itu. Sungguh pun si pemuda sudah mengetahui segala-galanya dari Wanti Sarati, tetapi sebenarnya dia merasa tidak enak melihat sikap Tapak Dewa yang terlalu menghormat padanya. Apalagi mengingat Tapak Dewa pernah menyelamatkan jiwanya dari ancaman Sepasang Clurit Maut dari Bangkalan.

"Apa yang paman pikirkan...?!" tanya Wanti Sarati sambil menyuapi pemuda itu. Pendekar Hina Kelana menarik napas panjang-panjang. Dipandanginya Wanti Sarati sejenak lamanya.

"Tentang Kakek Tapak Dewa. Aku kurang suka dengan sikapnya yang terlalu berlebihan itu!" jawab si pemuda polos.

"Tetapi rasanya apa yang dilakukannya itu, wajar-wajar saja. Bukankah paman memang anak Raja Piton Utara. Layak saja kalau Kakek Tapak Dewa yang masih keturunan para siluman itu menaruh hormat pada putra rajanya!" Buang Sengketa tersenyum getir.

"Negeri Bunian bukanlah alam nyata. Negeri itu merupakan negaranya orang gaib. Sedangkan aku hanyalah titisan, begitu pula halnya dengan Satria Penggali Kubur itu. Di mataku, semua manusia sama, tiada yang lebih mulia, terkecuali kadar imannya pada Sang Hyang Widi. Untuk apa harus sungkan, sedangkan aku dan Kakek Tapak Dewa sama-sama berada di alam nyata...!"

"Tapi, Paman...!"

"Tiada yang ditetapikan. Dulu aku pernah bercerita padamu, bahwa aku sendiri sudah merasa hampir bosan mencari tempat tapa ayahku. Terkadang aku sudah merasa bosan untuk mencarinya. Di hatiku, kasih sayang itu hanya untuk orang tua yang mulia. Yaitu Kakek Bangkotan Koreng Seribu, tiada yang lain lagi. Ahk, entah bagaimana keadaan beliau saat ini, masih hidupkah, atau bahkan sudah mati!" kata Buang Sengketa mengeluh sedih.

Wanti Sarati menjadi iba karenanya.

"Paman jangan memikirkan yang bukan-bukan. Kesehatan paman belum pulih benar, dan untuk sementara lupakanlah segala sesuatunya...!"

"Kau bocah baik nduk. Aku tak tahu bagaimana harus membalas segala kebaikanmu...!" kata Buang Sengketa sambil membelai rambut Wanti Sarati. "Sesungguhnya sayalah yang harus berterima

kasih padamu paman...!" ucap Wanti Sarati pilu. Dan dalam hatinya berkata; "Paman, tak tahukah kau bahwa sesungguhnya aku sangat mencintaimu? Tapi mengapa kau masih tetap memperlakukan aku seperti anak kecil!" batin si gadis.

"Eh, mengapa kau menangis! Apakah kata-kata paman ini terlalu kasar? Ah, maafkanlah...!"

Menyadari keadaannya, Wanti Sarati cepatcepat seka air matanya. Lalu dengan senyum yang sangat dipaksakan dia berucap lirih sekali.

"Apakah paman tidak merasakan seperti apa yang sedang aku rasakan...!" tanya si gadis malu-malu.

Sesungging senyum menghias di bibir pemuda yang sangat tampan itu. Dia sudah mulai dapat meraba ke mana arah pembicaraan gadis yang masih baru menginjak ke masa remaja ini. Dulu pun dia pernah mengalami apa yang sedang terjadi pada diri Wanti Sarati. Kepada Sri Pamuja dia pernah jatuh cinta, tetapi sejak gadis yang sangat dicintainya itu tewas di tangan si Jubah Hitam (Dalam episode Neraka Gunung Dieng). Rasa-rasanya rasa cinta itu telah pergi bersama Sri Pamuja yang sangat dia cinta.

Pada Wanti Sarati dia juga ada menaruh cinta, tetapi rasa cinta itu tak lebih dari perasaan cinta seorang kakak terhadap adik kandungnya. Atau seorang paman dengan kemenakannya. Dia tak ingin mengecewakan gadis yang sangat baik itu, dan dia berniat untuk mengatakan sesuatu yang dianggapnya paling tepat.

"Wanti... seandainya paman mengatakan sesua-

tu yang baik untukmu, maukah kau menurutinya...?" Si gadis menganggukkan kepala.

"Menurut ayahku, bukankah Kakek Tapak Dewa sudah berkenan mengangkatmu sebagai muridnya?"

"Yaa...!"

"Cintakah kau pada pamanmu ini..."

Dengan wajah memerah, Wanti Sarati kembali menganggukkan kepalanya.

"Kalau kau sayang pada pamanmu ini! Paman berharap agar kau mau belajar sebaik mungkin pada Satria Penggali Kubur...!"

"Kalau itu semua sudah merupakan kehendak paman, maka aku tak dapat menolaknya..." jawab si gadis dalam keresahan.

"Apakah kau merasa terpaksa dan dipaksa?" "Tidak paman... bahkan saya merasa sangat be-

runtung sekali mendapat seorang guru yang sangat sakti...!" Sebelum Buang Sengketa sempat berkata lebih lanjut, tiba-tiba pintu ruangan yang menghubungkan dunia luar dengan ruangan bawah tanah nampak terbuka. Begitu mereka menoleh, kiranya Tapak Dewa telah kembali dengan membawa berbagai perbekalan yang berupa buah-buahan hutan. Kakek berusia enam puluhan ini membungkuk dalam-dalam pada Buang Sengketa, seraya lalu berkata;

"Gusti pangeran, hanya inilah sekedar makanan yang ku peroleh dari dalam hutan sana. Maafkanlah hamba...!" ucap Satria Penggali Kubur sambil meletakkan buah-buahan tersebut di sisi pembaringan Buang Sengketa. Diperlakukan seperti itu, Buang Sengketa merasa sangat jengah sekali. Lalu dengan suara berat dia pun menegur.

"Kakek Tapak Dewa! Masihkah engkau memandangku sebagai anak raja? Kalau kakek selalu menyebutku dengan sebutan pangeran. Lebih baik lemparkan saja tubuhku ke dalam jurang yang paling dalam!"

"Tap... tapi, Pangeran...!"

"Sekali lagi kakek memanggilku dengan sebutan pangeran. Lebih baik kau bunuh saja dengan pukulan maut mu...!" kata si pemuda.

9

Mendengar ucapan Pendekar Hina Kelana yang sangat berwibawa, namun penuh teguran itu. Tapak Dewa menjadi maklum!

"Namaku Buang Sengketa. Kakek cukup memanggilku Buang atau Kelana saja. Kakek Tapak Dewa, aku ini cuma seorang gembel, aku merasa risih dengan panggilan seperti itu...!",

"Ba... baiklah Kelana! Maafkan atas ketololanku

tadi...!"

"Sudahlah, tak ada yang harus dimaafkan. Oh

ya. Apakah kakek sudah berjumpa dengan orang yang gila barang-barang langka itu...?" tanya si pemuda masih dengan keadaan terbaring.

"Keluar masuk hutan aku tiada jumpa! Tetapi pendengaranku merasakan seperti ada beberapa orang menuju ke tempat ini!"

"Hemmm, luka dalamku belum sembuh betul, tapi kukira kakek mampu mengatasi orang-orang itu!"

"Akan saya coba. Tetap sajalah kalian berada di dalam ruangan bawah tanah ini. Aku akan melihat ke luar...!"

Selesai dengan ucapannya, Tapak Dewa segera menaiki anak tangga menuju pintu keluar. Sekejap pintu rahasia itu membuka. Setelah Satria Penggali Kubur berada di ruangan bawah tanah. Pintu itu pun menutup kembali. Tubuh Tapak Dewa segera melesat menjauhi pintu rahasia. Tidak begitu jauh dari kuburan peristirahatan terakhir nampak seorang kakek dan nenek botak yang sangat dikenal oleh Tapak Dewa. Dua orang pemburu barang langka itu nampak mengitarkan pandangannya ke segenap penjuru kuburan yang sangat sepi dan berkesan angker tersebut.

"Menurut keterangan tukang jagal babi hutan, di sinilah tempat kediaman Satria Penggali Kubur itu...!" ujar kakek berkepala botak.

"Tadi sudah ku acak-acak ke seluruh penjuru kuburan, tapi tak ku dapati laki-laki yang telah melarikan buruan kita...!"

"Mungkin kau kurang teliti istriku...!"

Si nenek botak pelototkan matanya, nampaknya dia kurang senang dengan ucapan laki-laki di sebelahnya.

"Kurang teliti dengkulmu amoh. Tadi sampai kukorek-korek batu nisan, bahkan sampai ke lubang semut pun sudah ku obrak abrik. Setan kuburan itu tidak nampak...!"

"Kalau begitu kita babat saja pohon kamboja itu, siapa tahu dia ada di atas pucuknya...!"

"Mari...!"

Dengan ucapannya itu, Sepasang Clurit Maut dari Bangkalan segera cabut cluritnya. Lalu bagai orang yang sedang kesurupan, mereka langsung menebangi pohon kamboja yang sebesar kaki kerbau. Karena babatan-babatan clurit itu disertai dengan tenaga dalam. Maka dalam waktu sekejap saja, pohon-pohon kamboja itu sudah pada berobohan.

Ketika pekerjaan itu hampir selesai, mendadak menderu satu gelombang angin kencang melanda tubuh mereka.

"Weeees! Weeer!"

"Setan alas kutu kampret! Iblis dari mana yang coba-coba berani lancang pada Sepasang Clurit Maut?!" maki kakek dan nenek berkepala botak sambil kibaskan cluritnya. Gelombang angin kencang itu buyar seketika, manakala bertemu dengan libasan clurit di tangan mereka.

Belum lagi hilang keterkejutan di hati Sepasang Clurit Maut, pada saat itu nampak melesat sosok tubuh berpakaian kuning.

"Jiiing!"

Tak salah lagi, dialah si Tapak Dewa alias Satria Penggali Kubur. Sepasang Clurit Maut menatap tajam pada Tapak Dewa.

"Engkaukah kunyuknya yang berjuluk Satria Penggali Kubur?" tanya nenek botak merasa yakin.

"Sialan, seharusnya akulah yang bertanya. Mengapa pohon-pohon yang tiada berdosa itu kalian tebangi...!" maki Tapak Dewa dengan rahang bergemeletukkan menahan marah.

"Pohon tiada guna, tumbuh di atas kuburan orang gila hormat. Apa salahnya kalau kami tebang!"

"Bagus. Kalian benar-benar cari mampus telah merusak pekarangan orang lain!" Menggeram Tapak Dewa.

"Suamiku, dialah Satria Penggali Kubur yang telah melarikan bocah itu!" Begitu mendengar ucapan si nenek botak, si kakek nampak kerutkan alisnya.

"Kau ke manakan bocah-bocah itu setan kuburan...?"

Tapak Dewa mendengus.

"Orang-orang sinting, milik orang lain kalian

buru. Kalau orang-orang itu berada bersamaku, kalian bisa apa...?"

"Cepat serahkan!"

"Tidak bisa, mereka masih, keluargaku...!"

"Jadi kau benar-benar tak mau memenuhi keinginan kami...?" bentak si kakek botak gusar.

"Sampai mampus pun tak akan kuserahkan...!" "Mampuslah...!"

"Sriiiing! Sringgg!"

Clurit yang sangat tajam itu telah berada di dalam genggaman si kakek dan nenek botak. Sekejap kemudian mereka sudah menyerang Tapak Dewa dengan jurus-jurus clurit yang sangat ampuh. Menghadapi serangan-serangan yang sangat ganas itu, Tapak Dewa tak ingin bertarung dalam jarak yang sangat dekat.

Setiap saat dia senantiasa menjaga jarak, satu kesempatan dia pun kirimkan pukulan-pukulan jarak jauh yang diberi nama Berbangkit Dari Alam Kubur.

Pukulan itu terkenal sangat ganas dan berbahaya, apa pun yang sempat dilanda pukulan tersebut akan terbakar dan meleleh.

Walaupun begitu, Sepasang Clurit Maut adalah tokoh sesat yang telah banyak makan asam garam dunia persilatan. Mereka mengetahui betapa sangat berbahaya pukulan yang dilancarkan oleh Tapak Dewa. Jalan satu-satunya adalah dengan tidak memberi kesempatan pada lawan. Mendesak dalam jarak sedekat mungkin.

"Haiiii...!"

Clurit di tangan si kakek dan nenek botak menderu! Tapak Dewa yang sudah kirimkan satu sodokan mengarah pada bagian dada si nenek, cepatcepat tarik pulang tangannya. Sebagai gantinya dia kirimkan satu sapuan mengarah pada bagian kaki.

"Gasruuuk!"

Sabetan clurit si nenek bukan saja melenceng dari sasarannya, tetapi tubuhnya juga malah terbanting mencium tanah.

"Wut!"

Sambaran clurit kakek botak menderu di bagian punggung Tapak Dewa, lebih cepat lagi Satria Penggali Kubur, buang tubuhnya ke samping kiri. Laki-laki berbulu itu terus berguling-guling menghindari terjangan clurit si kakek yang terus memburunya.

"Ciaaat!"

Tubuh Tapak Dewa melentik bagai seekor udang, kemudian berkelebat lenyap. Sehingga membuat bingung pihak lawannya.

Saat itu si nenek botak telah bangkit kembali, dengan cepat pula dia kirimkan satu pukulan yang diberi nama Setan Bangkalan Menerkam Bidadari. Selarik gelombang cahaya berwarna putih keperak-perakan menderu dahsyat mengarah pada bayang-bayang berkelebatnya tubuh Tapak Dewa. Hal inilah yang dinantinanti oleh Tapak Dewa.

Laksana kilat laki-laki itu kirimkan pula pukulan Berbangkit Dari Alam Kubur tingkat kedua.

"Wuuuus! Blaaaam!"

Dengan clurit di tangannya, tubuh nenek botak terbanting sejauh tiga tombak. Sementara tubuh Tapak Dewa cuma terhuyung-huyung saja.

Dari pertemuan dua tenaga sakti tadi, nyatalah bahwa sesungguhnya tenaga dalam Tapak Dewa tiga tingkat di atas lawannya. Saat itu nenek botak setelah seka darah kental yang mengalir dari celah-celah bibirnya, segera bangkit kembali. Sementara Tapak Dewa sendiri sedang sibuk menghadapi serangan yang dilakukan oleh kakek botak.

Pertarungan sudah berjalan puluhan jurus, sejauh itu Sepasang Clurit Maut masih belum juga mampu mengatasi lawannya. Bahkan pasangannya sendiri nyaris menjadi korban kelihaian lawannya.

"Caaat!" Tapak Dewa memekik keras, sekali ini dia kirimkan satu pukulan Berbangkit Dari Kubur tingkat pamungkas. Satu gelombang pukulan yang berhawa sangat panas menderu bersamaan mengepulnya uap putih dari kedua tangannya yang terangkap menjadi satu.

Si kakek botak sangat terkejut sekali, dari sambaran angin itu saja dia merasakan tubuhnya panas laksana terbakar. Hal itu sudah cukup bagi si kakek botak untuk memutar cluritnya membentuk perisai diri.

"Brees!" "Arrrggghk...!"

Pukulan Berbangkit Dari Kubur tanpa ampun melanda pertahanan si kakek botak, clurit di tangannya meleleh bagaikan air. Tak sampai di situ saja, pukulan tersebut terus melanda tubuh si kakek. Salah seorang dari Sepasang Clurit maut itu benar-benar mengalami nasib yang sangat mengenaskan.

Tubuhnya terbanting roboh dalam keadaan hangus dan sulit untuk dikenali. Bau daging terbakar dengan segera menyebar menusuk hidung.

Melihat nasib yang dialami oleh suaminya, si nenek botak meraung keras. Serta merta dia menubruk suaminya yang sudah tiada bernyawa lagi, dia terus menangis dan menangis, tetapi manakala dia teringat akan sesuatu. Maka dengan penuh kebencian dipandanginya Tapak Dewa yang masih tetap tegak di tempatnya.

"Kau... telah membunuh suamiku...!" tukasnya dengan tubuh gemetaran menahan amarah.

"Dia sudah selayaknya mati, begitu pun kau... dosa kalian sudah melebihi takaran. Perlu kau ingat, selama hidup belum pernah kulihat kalian berbuat kebaikan pada sesama manusia. Nafsu serakah dan angkara murka itulah yang selalu memenuhi hati kalian !"

"Setan kuburan... kau harus membayar nyawa suamiku dengan nyawamu yang tiada berharga. !"

maki nenek botak kalap. Tapak Dewa tersenyum rawan

"Di dunia ini, tak seorang pun berkuasa atas orang lain. Sungguhpun manusia itu hanyalah seorang budak sekalipun...!"

"Setan cacingan. Aku tak butuh khotbah mu, hiaaa...!"

Bersamaan dengan berkelebatnya tubuh si nenek botak, maka senjata di tangannya pun menderu laksana terbang. Tetapi nampaknya kali ini Tapak Dewa tiada mempunyai maksud untuk mengelak. Dia segera merapal Ajian Arca Mayat.

Baru saja dia selesai merapal ajian tersebut, clurit di tangan si nenek botak telah menghajarnya.

"Craaak! Craak!"

Tubuh Tapak Dewa diam tiada bergeming. Clurit di tangan si nenek rompal di beberapa bagian. Merasa penasaran dia mengulang lagi.

"Crak! Croook!"

Keadaan tidak berubah, nenek botak kembali ayunkan cluritnya. Namun sebelum senjata itu mencapai sasarannya. Tangan Tapak Dewa telah bergerak lebih cepat lagi.

"Proook!"

Kepala si nenek botak rengkah dihantam pukulan tangan Tapak Dewa yang sudah teraliri tenaga dalam penuh. Darah dan otak memuncrat dari batok kepala nenek tersebut. Tubuh si nenek terhuyunghuyung. Kedua matanya melotot seolah memandang tak percaya pada apa yang dialaminya. Tak lama kemudian tubuh itu pun limbung, lalu berkelojotan meregang ajal.

Tanpa menghiraukan keadaan, Tapak Dewa segera melangkah menuju ruangan bawah tanah.

10

Pagi itu Pendekar Hina Kelana, Wanti Sarati dan Tapak Dewa nampak sedang membersihkan Peristirahatan Terakhir. Pohon kamboja yang roboh dan tumpang tindih tiada berketentuan segera mereka singkirkan dari tanah pekuburan itu. Tiada sepatah kata pun yang terucap dari bibir mereka. Masingmasing tenggelam dalam kesibukannya.

Matahari mulai bersinar terik manakala mereka hampir selesai dengan pekerjaannya. Tetapi saat itu tiba-tiba saja Tapak Dewa nampak mendongakkan kepalanya. Lalu sepasang matanya melirik pada satu arah. Dia geleng-gelengkan kepalanya sendiri, manakala pendengarannya yang sangat tajam itu merasakan adanya derap langkah kuda menuju ke arah mereka.

Sudah barang tentu, segala ulah Tapak Dewa tak luput dari perhatian Pendekar Hina Kelana. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi pemuda itu pun bertanya. "Ada apa, Kek...?"

"Mereka menuju ke mari...!" jawab si Tapak Dewa tanpa menjelaskan lebih lanjut.

"Mereka siapa...?" tanya si pemuda merasa heran sekali.

Tapak Dewa urungkan pekerjaannya, lalu dia segera duduk di sebuah batang kamboja yang roboh. Wanti Sarati dan Buang Sengketa mengikuti apa yang dilakukan oleh Tapak Dewa.

"Orang-orang itu mungkin berasal dari Perguruan Kala Hitam atau mungkin pula dari perguruan pusat, Jagad Kelanggengan...!"

"Apa mereka datang dengan membawa maksud yang kurang baik...?" tanya Wanti Sarati pula.

"Mungkin juga...!"

"Apa salah kakek pada mereka...?"

Tapak Dewa nampak terdiam, wajahnya ditundukkan, lalu dia geleng-geleng kepala pelan.

"Aku pernah tidak memberi izin pada salah seorang dari kerabat mereka untuk dikubur di sini...!" jawab Tapak Dewa parau.

"Lho, itukan hak kakek... kuburan ini milik leluhur kakek...!" kata Wanti Sarati lugu.

"Ya, tapi mereka tak terima. Mereka beranggapan bahwa aku telah melakukan penghinaan terhadap perguruan mereka...!"

"Lalu apa yang kakek lakukan...?" tanya si pe-

muda.

"Salah seorang wakil mereka tewas di tangan-

ku. Tetapi itu pun karena kesombongannya sendiri!" "Hemm. Orang-orang itu aneh sekali, di kolong

langit ini kuburan bukan cuma di sini saja. Apakah karena mungkin mereka beranggapan bahwa tempat ini merupakan tempat yang terhormat...?" ucap Buang Sengketa seperti pada dirinya sendiri.

"Mungkin juga begitu. Banyak manusia di dunia ini selalu gila pangkat dan gila hormat, padahal semua itu hanyalah sebuah nilai yang tersamar yang akhirnya hanya melahirkan sebuah kesombongan belaka...!"

"Menurutmu, apakah orang-orang yang dikubur di sini merupakan orang-orang yang terhormat...?"

Mendapat pertanyaan seperti itu, Tapak Dewa tersenyum dikulum.

"Tidak juga...! Bagiku orang yang sering mengaku dirinya terhormat biasanya selalu melupakan kesalahannya. Padahal orang yang merasa dirinya bersalah, justru itulah yang paling baik. Sebab dengan begitu dia akan berpikir-pikir bila ingin melakukan kesalahan kembali...!" ujar Tapak Dewa.

Saat itu derap langkah kuda terdengar semakin jelas, debu mengepul ke udara mengiringi laju kuda tersebut.

"Itu mereka datang.,.!" seru Wanti Sarati sambil menunjuk ke suatu tempat.

"Mari kita songsong mereka!"

"Untuk apa kek... bukankah mereka musuh kakek...!" bantah si gadis.

Kembali bibir Tapak Dewa menyunggingkan senyum berwibawa.

"Sungguhpun mereka musuh, tetapi setiap tamu yang datang, kita layak menghormatinya...!"

Tanpa berani membantah, maka berangkatlah ketiga orang itu menyambut kedatangan orang-orang penunggang kuda yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang.

Orang-orang penunggang kuda itu langsung menghentikan laju kudanya begitu sampai di depan Tapak Dewa. Melihat pakaian yang dikenakan mereka, agaknya Tapak Dewa mengenali siapa-siapa penunggang kuda tersebut. Dengan diikuti oleh Wanti Sarati dan Buang Sengketa. Tapak Dewa segera menjura hormat pada pendatang berkuda.

"Tak disangka hari ini Ketua Perguruan Besar Jagad Kelanggengan dan Ketua Perguruan Kala Hitam berkenan datang di tempat kediamanku. Ada keperluan apakah?" tanya Tapak Dewa berbasa basi.

"Manusia yang berjuluk Satria Penggali Kubur. Berani Sekali engkau menghina Perguruan Kala Hitam. Engkau benar-benar tak memandang muka pada Perguruan Jagad Kelanggengan...!"

"Ah, maafkan ketololanku, bisakah anda jelaskan apa kesalahanku...?" tanya Tapak Dewa kembali membungkuk hormat.

"Kura-kura dalam botol, semakin tua semakin tolol. Setelah kau tolak jenazah Bonta, kau bunuh pula Wakil Ketua Kala Hitam. Apakah hal itu bukan merupakan penghinaan yang sangat sulit untuk dimaafkan...?"

Tapak Dewa manggut-manggut begitu mendengar penjelasan Asmarani Sudra, yaitu Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan.

"Bonta memang aku rasa tidak layak dikuburkan di tempat ini. Sedangkan Inggil tewas, karena terlalu memaksaku...!" jawab Tapak Dewa tegas.

"Kalau begitu, merangkaklah seperti seekor kucing kurap. Kemudian minta ampun pada kami kalau ingin kami mengampunimu...!" perintah Ketua Perguruan Kala Hitam marah sekali. Sebaliknya Tapak Dewa pun menjadi berang. Sama sekali dia tak akan menuruti apa yang dikatakan oleh Subali, Ketua Perguruan Kala Hitam itu. "Tunggu apa lagi, cepat lakukan...!"

"Aku tak akan pernah melakukannya...!" bantah Tapak Dewa.

"Kalau begitu, kau benar-benar telah menyulut api kemarahan kami!" teriak Asmarani Sudra, lalu perempuan tua itu pun segera melompat dari punggung kudanya. Tak lama setelah itu menyusul pula yang lainnya.

"Kalian ini mengaku sebagai orang gagah, tetapi tak memiliki timbang rasa sedikitpun juga. Perguruan saja yang besar, tapi jalan pikiran kalian tak ada setahi kuku...!" kata Wanti Sarati begitu tiba-tiba.

Baik Ketua Perguruan Kala Hitam Subali maupun Ketua Jagad Kelanggengan serentak menoleh pada si gadis.

"Eeh, Bocah pentil. Kau tak tahu urusan kami, jangan coba-coba campuri urusan orang tua. Menyingkirlah...!" bentak Subali sambil memandang sinis pada Wanti Sarati.

"Kurasa apa yang dikatakan oleh adikku benar adanya paman. Seandainya orang-orang Kala Hitam benar-benar mengaku sebagai manusia yang paling benar. Tidak nantinya orang yang bernama Inggil itu memaksakan kehendaknya!" tukas Pendekar Hina Kelana ikut bicara.

"Kutu kupret, Gembel berperiuk. Melihat tampangmu, kiranya kau juga merupakan seekor kunyuk yang paling suka mencampuri urusan orang lain...!" maki Asmarani Sudra dengan suara tergetar.

Buang Sengketa pencongkan mulut, sesungging senyum getir menghias di bibirnya yang agak pucat.

"Bukannya aku usil dengan segala urusan orang lain, tetapi melakukan fitnah terhadap orang yang tiada memiliki salah, dosa besar hukumnya !" "Gembel   cacingan.   Tutup   mulutmu, kami tak butuh khotbah mu...!"

"Mengapa harus banyak bicara? Mereka sudah jelas-jelas menantang kita. Ser-Buuu...!" teriak Asmarani Sudra memberi aba-aba.

Dalam waktu sekejap saja, meledaklah pertarungan besar-besaran. Tiga orang anak manusia dikeroyok oleh lebih dari empat puluh orang murid dan guru dari Perguruan Kala Hitam dan Jagad Kelanggengan.

Suara teriakan dan denting beradunya senjata tajam bercampur baur menjadi satu. Tapak Dewa segera menyambar sebuah cangkul yang tak begitu jauh dari tempat dia berada. Sementara Buang Sengketa berhadapan dengan Subali. Wanti Sarati menghadapi murid-murid Jagad Kelanggengan dan Kala Hitam. Sedangkan Tapak Dewa berhadapan dengan Asmarani Sudra.

Tanah kuburan itu kini menjadi ajang pertarungan, tak dapat dihindari lagi. Korban pun mulai berjatuhan. Peristirahatan Terakhir mandi darah.

Saat itu dengan sebuah selendang baru yang terbuat dari sutera, Wanti Sarati berusaha membendung terjangan-terjangan senjata-senjata murid Jagad Kelanggengan maupun Kala Hitam. Dua belas jurus aneh yang diwarisi dari Padri Agung Sindang Darah benar-benar sangat berperan banyak dalam menghadapi serangan-serangan ganas lawannya.

Sekali waktu secara bertubi-tubi dia melecutkan selendangnya, memapaki serangan-serangan pedang yang datangnya bertubi-tubi.

Selendang itu terus melecut, meliuk-liuk bagai seekor ular berbisa memburu mangsanya. Sementara tangan kirinya bergerak sebat melakukan pukulan bagi semua lawan yang berani mendekat. Semakin mencapai tingkat lebih tinggi, maka gerakan silat si gadis terasa semakin sulit untuk diduga-duga. Terkadang tubuh si gadis berkelebat lenyap dan di lain saat dari arah belakang dia melakukan tendangan-tendangan kilat. Terkadang masing-masing lawan saling bertubrukan sesamanya. Bahkan tak jarang senjata mereka menusuk kawannya sendiri. Tentu saja kejadian ini membuat suasana menjadi semakin kacau balau.

"Ciaaat... hi... hi... hi...!" Wanti Sarati keluarkan tawa panjang-panjang. Kemudian ucapnya; "Orangorang sinting, mengapa malah kalian bunuhi kawan sendiri. Apakah kalian sudah pada gila...?" teriak Wanti Sarati. Kata-katanya itu sengaja diucapkan keraskeras dengan maksud untuk membuyarkan konsentrasi Subali dan Asmarani Sudra yang mudah naik darah. Ternyata memang pancingan itu berpengaruh bagi Subali, namun tidak buat Asmarani Sudra.

Ketua Perguruan Kala Hitam itu sangat marah sekali. Lalu sambil terus melakukan seranganserangan gencar, dia pun berteriak-teriak bagai orang yang sedang kesurupan.

"Murid-murid pada guoblok! Awas kalian semua, ku hukum berat nanti...!"

"Subali. Biarkan muridmu yang tolol itu, nih terimalah...!" geram Buang Sengketa pukulkan tangan kanannya ke depan. Tak ayal lagi selarik gelombang cahaya Ultra Violet melesat begitu cepatnya mengarah pada pertahanan Ketua Perguruan Kala Hitam. Tak salah lagi itulah satu di antara pukulan andalan yang dimiliki oleh Pendekar Hina Kelana. Pukulan Empat Anasir Kehidupan yang menyebarkan hawa yang sangat panas itu pun menderu laksana badai. Muridmurid Jagad Kelanggengan yang bertarung dekat dengan Subali dan Buang Sengketa keluarkan seruan tertahan. Hawa pukulan yang terasa panas membakar itu pun menyebar ke mana-mana.

Ketua Perguruan Kala Hitam ini pun tak kalah terkejutnya, sedikit pun dia tiada menyangka kalau pemuda itu memiliki pukulan yang dahsyat.

"Haiiit!"

Tubuh Subali melesat ke udara, pada saat itu juga dia sudah bersiap-siap melancarkan pukulan Raja Kala Merah yang sama dahsyatnya.

"Jeb! Jeb!"

Serangkum gelombang sinar biru yang berhawa dingin luar biasa memapaki datangnya sinar Ultra Violet yang berhawa sangat panas. Tak dapat dicegah lagi, dua pukulan bertenaga sakti itu pun bertemu di udara.

"Bumm! Bummm!"

Terdengar bunyi ledakan berturut-turut. Bumi laksana runtuh, tanah tempat mereka berpijak terasa bergetar hebat.

Tubuh Pendekar Hina Kelana terpelanting sepuluh tombak. Dari celah bibir, hidung dan kupingnya meleleh darah segar. Pemuda itu merasakan dadanya sesak sekali. Begitu dia terbatuk, lalu menggelogoklah darah kental dari mulutnya. Sementara tubuh lawannya nampak melesak ke dalam tanah. Wajah Ketua Perguruan Kala Hitam nampak putih pucat. Namun secepatnya dia bangkit. Lalu memburu Buang Sengketa yang masih dalam posisi terlentang.

Kejadian yang menimpa Buang Sengketa kiranya tak luput dari perhatian Tapak Dewa dan Wanti Sarati. Tetapi Tapak Dewa yang sedang menghadapi lawan yang sangat tangguh tak mungkin mampu berbuat banyak. "Paman awaaaas!" teriak Wanti Sarati.

11

Peringatan yang hanya sedetik itu bagi Buang Sengketa telah cukup menyadarkannya dari ancaman maut.

"Wus! Blaaam...!"

Masih untung Pendekar Hina Kelana masih sempat berguling-guling ke samping. Sehingga pukulan susulan yang dilancarkan oleh Subali menemui tempat yang kosong. Sambil terus berguling-guling pendekar ini mengerahkan pukulan pamungkas yang diberi nama si Hina Kelana Merana.

Sementara itu celaka bagi Wanti Sarati, kelengahannya yang hanya sekejap membuat lawanlawannya yang tidak sedikit itu memiliki kesempatan untuk membabatkan senjatanya.

"Bet! Cres! Cres!"

Wanti Sarati mengeluh, bagian punggung dan pinggangnya terobek hampir sejengkal. Tetapi dia terus berusaha bertahan. Hal ini kiranya tak luput dari perhatian Buang, pemuda itu gusar sekali, cepat-cepat dia putar haluan. Dibatalkannya niat untuk memukul Subali. Lalu dengan kekuatan berlipat ganda diarahkannya pukulan si Hina Kelana Merana, mengarah pada pengeroyok Wanti Sarati.

"Wanti... menghindar dari pukulanku...!" Buang Sengketa memperingatkan.

"Wuut! Wuut!"

Serangkum gelombang yang memancar-kan sinar merah menyala, menderu hingga timbulkan suara bergemuruh. Tubuh Wanti  Sarati  sudah melesat ke atas. Sementara badai sinar merah tersebut melesat laksana meteor menghajar telak pada pengeroyok Wanti Sarati.

"Blaar...!"

Teriakan-teriakan maut terdengar memekakkan telinga. Sepuluh pengeroyok Wanti Sarati berpelantingan ke segala arah. Tubuh mereka hangus terbakar, berkelejat-kelejat kemudian terkapar mati. Dari sekian banyak murid-murid Jagad Kelanggengan dan Kala Hitam, hanya murid-murid yang berkepandaian tinggi sajalah yang mempunyai nasib baik.

Saat itu tubuh Wanti Sarati nampak terhuyung-huyung. Luka babatan pedang yang mengandung racun ganas itu terus mengalirkan darah. Ketika itu Buang Sengketa sambil terus melakukan pukulanpukulan gencar pada lawannya segera memperingatkan.

"Wanti, cepat berlindunglah di ruangan bawah tanah. Biarkan kami berdua yang akan menghadapi orang-orang ini !"

"Baik paman...!" jawab Wanti Sarati sambil menyeringai menahan sakit.

"Wei... mau lari ke mana kau bocah ? Tinggal-

kan kepalamu...!" teriak murid-murid Perguruan Kelanggengan sambil berusaha memburu. Buang Sengketa kembali pukulkan kedua tangannya dengan maksud memberi kesempatan pada Wanti untuk melarikan diri.

Kembali serangkum sinar merah meluruk ke arah para pengejar Wanti Sarati.

"Iiih !" seru murid-murid Jagad Kelanggengan,

mereka bermaksud bersurut langkah. Tetapi sudah tidak keburu lagi

"Bummm !"

Lima orang murid Jagad Kelanggengan menjerit roboh, Wanti Sarati sudah menghilang dari pandangan mereka. Kini murid-murid Asmarani Sudra hanya tinggal belasan orang saja. Melihat murid-muridnya tewas secara mengerikan di tangan si pemuda, Asmarani Sudra dan Subali menjadi semakin panas hatinya. Kini dengan dibantu oleh para muridnya, masing-masing ketua perguruan telah keluarkan jurus-jurus silat yang paling sangat mereka andalkan.

Sementara itu pertarungan antara Tapak Dewa dengan Asmarani Sudra, yaitu dedengkot ketua perguruan besar, sudah mencapai puncaknya. Kedua orang itu adalah merupakan dua lawan yang sangat tangguh yang memiliki kepandaian tiada ter-ukur. Dengan mempergunakan pedang pusaka Jagad Kelanggengan, Asmarani Sudra terus mencecar lawannya tanpa ampun. Sebaliknya dengan mempergunakan cangkul penggali kubur. Tapak Dewa terus bertahan sambil melakukan serangan-serangan balasan.

"Chaaa... mampus...!" teriak Asmarani Sudra, tubuhnya melentik lalu lenyap sekelebatan. Saat itu dedengkot Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan itu sudah, bersiap-siap dengan jurus Pedang Pembasmi Setan.

Bersamaan dengan melesatnya tubuh Asmarani Sudra, pedang di tangannya menderu mengarah pada bagian leher Tapak Dewa.

Satria Penggali Kubur, keluarkan seruan tertahan. Laksana kilat dia pun ayunkan cangkulnya memapasi datangnya serangan pedang yang menebarkan hawa beracun.

"Traang...!"

Terlihat percikan bunga api manakala dua senjata yang telah teraliri tenaga dalam itu saling bertemu. Tubuh Tapak Dewa tergetar hebat, begitu pun halnya dengan Asmarani Sudra. Namun di luar dugaan Tapak Dewa, Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan itu kirimkan satu pukulan ke bagian dada Tapak Dewa.

"Buuuk!" "Auuughk...!"

Tubuh Satria Penggali Kubur terbanting keras, darah berwarna kehitam-hitaman menyembur dari mulutnya. Wajahnya nampak pucat sekali, namun dia cepat-cepat menghimpun hawa murni. Sehingga rasa sakit di dadanya menjadi berkurang.

Saat itu Asmarani Sudra sambil keluarkan tawa mengekeh kembali kirimkan satu pukulan susulan.

Tapak Dewa cepat bangkit lalu ayunkan cangkulnya, menebas ke arah tangan Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan.

"Uuh! Sialan...!" maki Asmarani Sudra sambil menarik balik tangannya. Tanpa menghiraukan makian Asmarani Sudra, Tapak Dewa terus menyerang perempuan itu. Kini dia sedang mencari sela untuk melan-carkan pukulan dahsyat yang diberi nama Pukulan Mayat Sakti.

Begitu tangan Tapak Dewa terpentang ke udara, maka tak lama setelahnya, bagai sebuah gasing yang keluarkan bunyi berdengung-dengung. Tubuh Tapak Dewa berputar-putar. Semakin lama gerakannya semakin cepat. Satu gelombang angin ribut menyertai berputarnya tubuh Tapak Dewa itu. Tubuh Tapak Dewa kaku laksana arca, tetapi tetap saja terus berputar bagai sebuah gasing. Dia bergerak ke mana pun Asmarani Sudra coba menghindar. Benda maupun tumbuhan apa pun yang dilanggarnya menjadi hancur berantakan.

Asmarani Sudra sungguhpun seorang tokoh persilatan yang sudah banyak makan pengalaman nampak bingung dan gugup. Dia memaki panjang pendek. Berulangkali dia membabat tubuh yang berputar-putar itu, namun tubuh Tapak Dewa menjadi keras melebihi baja. Dia kembali babatkan pedangnya sambil kirimkan satu pukulan dahsyat yang diberi nama Dewa Gunung Membalik Bukit.

"Wuuus! Traaang!"

Babatan pedang pusakanya membalik bahkan pedang itu sendiri patah menjadi dua bagian. Hanya pukulan Dewa Gunung Membalik Bukitlah, yang sedikit dapat menggoyahkan tubuh Tapak Dewa yang sedang berputar.

"Sialan, ilmu iblis...!" "Wuuut!"

Dengan tenaga berlipat ganda, Asmarani Sudra kembali pukulkan Dewa Gunung Membalik Bukit. Begitu pukulan yang berisi tiga perempat bagian tenaga dalam itu melanda tubuh Tapak Dewa yang sedang berputar cepat. Maka tak ayal lagi Tapak Dewa terpelanting. Tetapi laki-laki berumur enam puluhan itu cepat-cepat bangkit kembali. Bibirnya yang mengalirkan darah itu, menyunggingkan seulas senyum. Bersamaan dengan itu dia pun kirimkan satu pukulan yang lebih ganas lagi. Asmarani Sudra tertawa panjang pendek.

Sementara itu Buang Sengketa yang sedang bertempur menghadapi Subali dan keroyokan muridmurid Jagad Kelanggengan. Kini nampak mulai terdesak, beberapa jurus di depan dia semakin jatuh di bawah angin. Jurus silat Membendung Gelombang Menimba Samudra telah dia kerahkan, berlanjut dengan jurus si Gila Mengamuk. Namun sejauh itu jurus-jurus yang sangat ampuh itu masih belum juga mampu mengatasi serangan gencar yang dilakukan olehlawan-lawannya. Nyatalah sudah bahwa sesungguhnya murid-murid Perguruan Jagad Kelanggengan merupakan murid-murid yang cukup tangguh. Buang Sengketa cepat-cepat merobah jurus silatnya. Sekejap saja tubuhnya telah lenyap bagai ditelan bumi. Baik Subali, Karsa maupun Panjul dan Panut nampak menjadi bingung. Begitu melihat lawannya tiba-tiba saja lenyap bagaikan setan. Saat-saat begitu, tiba-tiba terdengar sebuah seruan.

"Aku di sini, Bangsat...!"

Begitu mereka menoleh, tahu-tahu Buang Sengketa sudah kirimkan satu jotos-an beruntun.

Dua orang murid Jagad Kelanggengan menjeritjerit sambil mendekap ke bagian matanya yang hancur.

"Kampret...! Mengapa harus main kucingkucingan...!" maki Subali.

"Bukan main kucing-kucingan, Tikus lamur! Inilah jurus si Jadah Terbuang!" tukas Buang Sengketa sambil menghindari serangan senjata lawan-lawannya.

Saat itu, Pendekar Hina Kelana semakin kesal saja hatinya, mendadak dia teringat sesuatu. Lalu secara cepat dia menyurut sepuluh langkah, dari bibirnya keluarkan gumaman yang tidak jelas.

Mendadak dia keluarkan jeritan tinggi melengking. Tak salah lagi itulah jeritan dari Ilmu Pemenggal Roh yang terkenal dahsyat.

"Heiiighk!" teriaknya. Saat itu juga bumi seakan runtuh dan ranting-ranting kering berjatuhan ke bumi. Beberapa orang murid dari Perguruan Jagad Kelanggengan nampak berteriak-teriak panik sekali. Dari telinga mereka mengalirkan darah kental. Tak ayal orang-orang itu pun roboh ke atas tanah berpasir. Tubuh mereka nampak berkelejat-kelejat sesaat, lalu terdiam untuk selama-lamanya. Lagi-lagi Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan itu dibuat terbelalak tak percaya.

"Ilmu demit!" maki Subali menjadi panik, nyalinya nampak mulai menciut. Sungguhpun begitu sudah tiada kesempatan lagi bagi Ketua Perguruan Kala Hitam itu. Sebab sekejap kemudian Pendekar Hina Kelana sudah kirimkan satu pukulan andalan yang diberi nama si Hina Kelana Merana.

"Weer! Weer!"

Pukulan   yang   memancarkan    sinar merah itu pun menderu mengarah, pada sisa-sisa murid dari Perguruan Jagad Kelanggengan dan murid Kala Hitam. Sejenak mereka jadi terperangah, begitu mereka berusaha menghindar. Pukulan si Hina Kelana Merana sudah melanda tubuh mereka.

"Bummm!"

"Arrrghk... tolong...!" jerit murid-murid Jagad Kelanggengan menyayat hati. Tak dapat dicegah lagi, tubuh mereka berpelantingan ke berbagai penjuru. Mengetahui kejadian yang sangat mengerikan itu, baik Subali maupun Asmarani Sudra berteriak marah.

"Bangsat gembel berperiuk! Kau telah membunuhi semua murid-murid kami...! Kau harus melunasi hutang nyawa murid-muridku...!" teriak Asmarani Sudra.

"Tutuplah mulutmu nenek peot. Main-mainlah dulu dengan kakekku...!" kata Buang Sengketa dengan sesungging senyum sinis.

"Aku masih hidup guru...!" kata Panjul, tibatiba bangkit dari pingsannya.

"Aku juga, Guru...!" Menyusul Panut, seraya beringsut menjauhi pertarungan.

"Eeh, kalian mau merat ke mana...!" teriak Asmarani Sudra.

"Aku takut, Guru...! Orang itu ilmunya sangat tinggi sekali! Lebih baik kami pulang kampung mengurusi anak bini!" kata Panjul dan Panut hampir bersamaan.

"Pulanglah...!" bentak Buang Sengketa.

"Kalian membikin malu perguruan, lebih baik mampus saja...!" teriak Asmarani Sudra, lalu kirimkan satu pukulan gencar. Buang Sengketa tidak tinggal diam, dia pun kirimkan satu pukulan pula. Baik Panut maupun Panjul ketakutan setengah mati, masih untung Buang Sengketa masih berkenan menyelamatkan mereka.

"Bruaaak!"

Asmarani Sudra dan Buang Sengketa samasama terpental jauh. Namun cepat-cepat perempuan berusia lanjut itu bangkit kembali. Dia merasa sangat penasaran sekali, lalu bermaksud kirimkan satu pukulan yang lebih hebat.

"Eeiit! Permainan kita belum selesai, Ketua edan...!" kata Tapak Dewa menghadang Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan.

"Sialan, kau pun harus ku mampusi...!" maki Asmarani Sudra sambil lancarkan satu tendangan.

Sementara itu Buang Sengketa setelah melihat Panjul dan Panut berlalu dari tempat itu, segera berhadapan kembali dengan Subali.

"Subali, semua kawanmu sudah pada mampus! Masihkah kau tak mau menyudahi persoalan ini...?" tanya Buang Sengketa dengan nada sedikit lunak.

"Puih, persoalan ini terlalu besar untuk dianggap selesai begitu saja! Murid-muridku tewas semua di tanganmu...!"

"Ha... ha... ha...! Tiada gunanya kau menghadapi aku, Sobat...!" kata Pendekar Dari Negeri Bunian itu sambil tergelak-gelak.

Subali kertakkan rahang.

"Jangan sombong dulu kunyuk! Aku belum kalah, masih ada sesuatu yang belum pernah kau lihat...!"

"Keluarkanlah semuanya, kalau perlu nenek moyangmu suruh juga berhadapan denganku... "

"Sombong sekali mulutmu. Hiaaat...!" teriak Subali. Lalu tubuhnya melesat menjauhi Buang Sengketa. Dia nampak berdiri tegak bagai terpacak di bumi. Dari mulutnya keluar bunyi mencicit, lalu berkomat kamit membacakan mantra-mantra. Sekejap kemudian tubuhnya mengepulkan uap putih. Uap tersebut lalu berobah menjadi kabut yang sangat tebal. Kabut itu pun bergulung-gulung menyelimuti tubuh Subali. Tak lama setelahnya tubuh Subali tak terlihat sama sekali.

Pendekar Hina Kelana tercenung, sampai akhirnya kedua matanya terbelalak. Dia melihat tubuh Subali yang terbungkus kabut itu berhamburan ratusan kala hitam dan kala merah. Kala-kala berbisa itu pun segera cepat menyerang Buang Sengketa. Buang Sengketa terlonjak-lonjak menghindari sengatan kalakala berbisa itu. Dia menghindar kian ke mari. Tetapi begitu dia menghindar, kala hitam dan kala merah itu terus mengejarnya. Nampaknya Buang Sengketa semakin kerepotan menghindari sengatan-sengatan kalakala itu. Tiada pilihan lain, pemuda dari Negeri Bunian itu pun segera mencabut Cambuk Gelap Sayuto yang melilit di pinggangnya. Bersamaan dengan itu, dia pun mencabut Pusaka Golok Buntung yang sangat menggemparkan.

Bibir Buang Sengketa keluarkan bunyi mendesis, bagai seekor Ular Piton yang sedang marah. Sepasang matanya berubah merah saga, hawa membunuh mulai mendesak-desak memenuhi rongga dadanya.

Tak lama setelah itu, dengan diawali satu teriakan membahana, Buang Sengketa segera lecutkan cambuknya. Kala hitam dan kala merah yang jumlahnya mencapai ratusan itu, hancur berkeping-keping dilanda cambuk tersebut. Cambuk itu terus melecut memperdengarkan bunyi yang sangat menyakitkan gendang-gendang telinga. Lalu bersamaan dengan beruntunnya lecutan cambuk di tangan si pemuda. Tibatiba menderu angin kencang, gelegar petir di angkasa sambung menyambung. Langit menjadi hitam pekat, mendadak suasana di sekelilingnya menjadi gelap gulita. Perubahan pun terjadi, tubuh Subali yang tadinya terbungkus kabut. Kini sudah terlihat kembali, bahkan kala hitam dan kala merah hilang raib entah ke mana.

Dalam kegelapan itu, mendadak Buang Sengketa berkata lantang.

"Anak manusia yang bernama Subali! Telah kuperingatkan padamu untuk menyudahi urusan, namun kiranya kau jenis manusia yang keras hati, kini tiada pilihan lain bagimu, terkecuali mati...!"

Teriakan Buang Sengketa benar-benar sangat mengejutkan Asmarani Sudra, tak terkecuali Tapak Dewa. Gelegar petir dan suara gelap itu saja sudah membuat Asmarani Sudra mulai ciut nyalinya.

12

Semua kejadian itu jelas tergambar dari lecutan cambuk yang berada dalam genggaman Pendekar Hina Kelana.

Sementara itu Buang Sengketa sudah menyerang Subali dengan lecutan cambuk dan golok di tangan kanannya. Golok di tangan memancarkan sinar merah, sehingga menampakkan sebagian wajah Buang Sengketa yang nampak dingin.

"Ctar! Ctar! Ctar!"

Cambuk Gelap Sayuto terus menyambarnyambar, sehingga membuat suasana semakin bertambah gelap gulita.

Sementara Subali saat itu terus berusaha menghindari terjangan-terjangan golok yang menyebarkan hawa maut tersebut. Namun Buang Sengketa nampaknya sudah tidak memberi kesempatan lagi bagi Subali. Dia terus mendesaknya. Golok Buntung di tangannya berkelebat. Menyadari bahaya yang sedang mengancamnya. Ketua Perguruan Kala Hitam, segera kiblatkan Pedang Kala Hitam.

"Trang!"

Pedang milik Subali hancur berkeping-keping dilanda pusaka Golok Buntung di tangan si pemuda. Ketua Perguruan Kala Hitam jadi terkesima, tetapi itu hanya sekejaban mata. Sebab tak lama setelahnya tubuh Pendekar Hina Kelana sudah berkelebat mendekat. Lalu secepatnya kirimkan satu tebasan mengarah pada bagian leher Subali.

"Creees!"

Tubuh Ketua Perguruan Kala Hitam, nampak terhuyung-huyung. Kedua tangan menekap pada bagian leher. Tiada jeritan yang terdengar, selain Seperti suara kerbau disembelih. Tubuh yang sudah mulai kehabisan darah itu meliuk-liuk. Lalu tersungkur bagaikan sebatang pohon yang roboh.

Pendekar Hina Kelana menarik napas pendek, Pusaka Golok Buntung segera masuk ke dalam sarungnya. Secara perlahan kegelapan yang mendadak itu pun sirna seketika, mendung hitam di langit hilang tiada berbekas.

Sementara itu, Asmarani Sudra sungguhpun masih tetap melanjutkan pertarungan dengan Tapak Dewa. Namun dia sudah tidak mampu lagi berbuat banyak. Agaknya kejadian yang baru saja dia lihat berpengaruh banyak dalam jiwanya. Bagaimana tidak! Hampir empat puluh orang mereka datang ke pemakaman itu, bahkan masing-masing dari mereka berilmu sangat tinggi, begitu pun dengan murid-muridnya. Tetapi semuanya tewas di tangan pemuda berpakaian kumuh itu. Satu kejadian yang belum pernah dia alami selama hidup.

"Nenek Peot! Masih jugakah kau berkeinginan melanjutkan pertarungan...?"

Terdengar teguran Pendekar Hina Kelana.

"Kau pikir dengan tewasnya orang-orang itu, aku terus menjadi takut?" maki Asmarani Sudra lalu meludah di tanah.

"Jadi kau benar-benar tak mau menyudahi pertarungan ini?"

"Puih. Aku malah jadi ingin menjajal kehebatanmu...!"

Buang Sengketa lalu melirik pada Tapak Dewa. "Kakek Tapak Dewa, lihatlah keadaan Wanti

Sarati. Biar nenek bau ini menjadi bagianku...!" kata Buang Sengketa geram sekali. Tapak Dewa lalu bersurut mundur, lalu berkelebat pergi meninggalkan tempat itu. Seperginya Tapak Dewa, tanpa menunggu lebih lama lagi, Asmarani Sudra langsung menyerang Pendekar Hina Kelana dengan pukulan-pukulan mautnya, terkadang pedang Jagad Kelanggengan yang putih mengkilat itu membabat dan menusuk pada bagian tubuh lawannya. Di lain saat dengan mempergunakan pukulan Dewa Gunung Membalik Bukit. Dia kirimkan pukulan menggeledek;

Buang Sengketa sedikit banyaknya sudah mengetahui kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh Asmarani Sudra. Baginya daripada harus mengumbar pukulan, selain hanya akan membuang-buang tenaga, juga hanya membuat Asmarani Sudra memiliki peluang banyak dalam bertindak; Pendekar Hina Kelana segera raba bagian pinggangnya.

"Cring!"

Golok Buntung kembali tunjukkan keangkerannya. Sinar merah menyala memancar dari golok tersebut. Saat itu sungguhpun Asmarani Sudra nampak terkejut. Tetapi dia sudah sangat kalap dan nekad. Ditendangnya Pendekar Hina Kelana dengan pedang terhunus. Buang Sengketa berkelit. Serangan yang dilancarkan oleh Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan itu pun luput. Tetapi tanpa putus asa dia segera lakukan serangan susulan yang berupa pukulan jarak jauh.

"Bet! Bet!"

"Weeer!"

Satu gelombang sinar berwarna biru, nampak menderu meluruk ke arah Buang Sengketa. Pemuda itu, segera kiblatkan golok di tangannya.

"Prang! Blaam!"

Buang Sengketa merasakan dadanya sesak dan sulit untuk bernapas, sebaliknya Asmarani Sudra terpental tujuh tombak. Darah berlelehan dari hidung dan bibirnya.

Keadaan Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan itu sudah nampak sangat payah sekali. Buang Sengketa merasa kasihan karenanya. Lalu pemuda itu pun berseru memberi peringatan. "Tua renta! Lebih baik sudahi saja pertarungan ini. Keadaanmu sudah sangat payah...!"

"Piuh. Aku tak butuh nasehatmu...!" "Kuperingatkan masih ada kesempatan bagimu

untuk menyingkir...!"

"Jahanam kau bocah gembel. Bagiku daripada hidup menanggung malu. Lebih baik aku mati menjadi bangkai...!" maki Asmarani Sudra marah sekali.

"Nenek tak tahu diuntung. Jangan kau salahkan aku...!"

"Caaat!"

Dengan nekad, Asmarani Sudra sambitkan pedang pusakanya. Mungkin pada saat itu Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan mungkin sudah merasa putus asa, sedangkan untuk menyingkir dari tempat itu dia merasa sangat malu.

"Ngungg!"

Pendekar ini kiblatkan golok pusakanya. "Trang!"

Pedang Jagad Kelangggengan jadi berantakan, manakala bertubrukan dengan Golok Buntung yang berada di tangan si pemuda.

Mengetahui kenekadan Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan, pendekar dari Negeri Bunian itu nampak sangat gusar sekali.

Tiba-tiba kedua bibirnya mengatup rapat, sepasang matanya memandang tajam pada Asmarani Sudra.

"Kenekadan mu benar-benar membuat kesabaranku habis. Mampuslah kau...!"

"Ngung...!"

Debu dan pasir beterbangan manakala Golok Buntung di tangan Pendekar Hina Kelana menyambar ke arah pertahanan lawannya. Tubuh si pemuda terus berkelebat, bergerak mengejar ke mana saja Asmarani Sudra mencoba menghindar.

Ketua Perguruan Jagad Kelanggengan itu semakin terdesak hebat. Dalam keadaan seperti itu, dia mencoba melepaskan satu pukulan. Pada saat yang sama pula Pendekar Hina Kelana membabatkan Golok Buntung di tangannya.

"Cres! Crees!"

Asmarani Sudra melolong bagai serigala kelaparan, kedua lengannya yang terkutung langsung saja memancarkan darah.

"Apakah engkau masih tidak mau menyudahi persoalan ini, Nenek sinting...?"

"Dendam ku akan kubawa sampai mati...!" "Kalau begitu kau memang pantas mampus...!"

teriak Buang Sengketa. Lalu kembali golok di tangannya berkelebat kembali:

Saat itu pandangan Asmarani Sudra yang sudah mulai nanar karena kehabisan darah. Sudah tak melihat berkelebatnya golok di tangan si pemuda. Tanpa ampun.

"Craaas!"

Tubuh Asmarani Sudra yang sudah banyak kehabisan darah itu pun limbung sesaat. Lalu terbanting di atas sebuah batu nisan yang sangat runcing. Batu nisan itu pun amblas ke dalam tubuh Asmarani Sudra dengan keadaan yang sangat mengerikan.

Buang Sengketa menarik napas dalam-dalam, tubuhnya bermandikan keringat. Tak lama setelahnya dipandanginya mayat-mayat yang bergelimpangan tak karuan itu. Tetapi dia hanya diam, dan pada saat itu pula terdengar teguran halus di belakangnya.

"Paman Kelana! Engkau benar-benar seorang pendekar yang tangguh!" kata Wanti Sarati. Lalu tanpa menghiraukan Tapak Dewa, gadis itu langsung menghambur ke dalam pelukan si pemuda.

"Bagaimana lukamu?" tanya Buang Sengketa sambil membelai rambut si gadis. Lembut sekali.

"Kakek Tapak Dewa telah mengobati-nya. Tak lama lagi juga sembuh...!"

"Anak baik! Bukankah kini kau sudah menjadi muridnya kakek Tapak Dewa?" tanyanya lagi.

"Ya...!" jawab si gadis resah.

"Jadilah seorang murid yang baik. Kalau engkau benar-benar sayang pada pamanmu ini. Kau harus patuh pada apa yang paman katakan...!"

Wanti Sarati hanya mengangguk.

"Bagus. Empat atau lima tahun lagi. Paman pasti akan menemuimu...!"

"Jadi paman mau pergi lagi...?" tanya si gadis, pilu hatinya.

"Paman adalah milik orang banyak!"

"Tapi aku masih rindu padamu, Paman...!" desah Wanti Sarati tanpa dapat membendung air matanya lagi...!

"Cah baik. Suatu saat paman juga akan datang ke mari...!" kata Buang Sengketa. Lalu dibelainya pipi si gadis, kemudian diciumnya bagian kening Wanti Sarati dengan lembut. Setelah melepaskan pelukan si gadis, dia berpaling pada Tapak Dewa.

"Kutitipkan Wanti Sarati padamu, Kakek Tapak Dewa...!"

"Kepercayaan Pangeran, sungguh merupakan suatu kehormatan bagiku...!" kata Tapak Dewa lalu membungkuk hormat. Tetapi manakala dia memandang kembali, Pendekar Hina Kelana sudah tak nampak lagi.

"Dia pergi lagi, Kakek...!" "Sudahlah, Nduk. Jangan bersedih, kakek akan tunjukkan sesuatu padamu...!" ujar Tapak Dewa sambil menggandeng tangan Wanti Sarati. Sekejap kemudian kedua orang itu pun telah melangkah pergi.

TAMAT